QITAB SISA DUA JUZ PERJALANAN DUNIA

 



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR PERTAMA


KETIKA PERJALANAN DUNIA MEMASUKI BAGIAN AKHIR


Ketahuilah, wahai jiwa yang masih diberi napas, bahwa setiap perjalanan memiliki awal, pertengahan, dan akhir.


Dunia pun demikian.


Ia dimulai dengan kelahiran, dilalui dengan ujian, lalu ditutup dengan kepulangan.


Manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Ia tumbuh, mengenal nama, keluarga, harta, kedudukan, keinginan, luka, harapan, dan berbagai urusan kehidupan. Setelah itu, sedikit demi sedikit, semua yang pernah digenggam akan dilepaskan kembali.


Tidak ada seorang pun yang mampu menahan waktu.


Tidak ada kekayaan yang dapat membeli satu hari yang telah berlalu.


Tidak ada kekuasaan yang mampu memerintahkan umur agar berhenti berkurang.


Tidak ada tubuh yang dapat selamanya menolak kelemahan.


Setiap detik adalah langkah.


Setiap hari adalah halaman.


Setiap tahun adalah bagian kitab kehidupan yang telah selesai dibaca.


Maka ketika dikatakan:


“Perjalanan dunia hanya tersisa dua juz, yaitu Juz 29 dan Juz 30,”


janganlah engkau tergesa-gesa memahaminya sebagai perhitungan angka tentang kapan dunia akan berakhir.


Ungkapan itu adalah cermin.


Ia adalah panggilan agar manusia menyadari bahwa perjalanan telah jauh, waktu semakin menipis, dan masa untuk bermain-main tidaklah sepanjang yang dibayangkan.


DUA JUZ SEBAGAI PERUMPAMAAN


Juz 29 adalah lambang peringatan.


Juz 30 adalah lambang penutupan dan pertanggungjawaban.


Pada Juz 29, manusia masih dipanggil untuk bangun.


Pada Juz 30, manusia dipanggil untuk bersiap.


Peringatan datang lebih dahulu sebelum penutupan.


Kesempatan datang lebih dahulu sebelum keputusan.


Tobat dibukakan lebih dahulu sebelum lembar amal dilipat.


Alloh tidak menzalimi hamba-Nya.


Peringatan telah diturunkan.


Para nabi telah diutus.


Kitab telah disampaikan.


Akal telah diberikan.


Hati telah diciptakan.


Kematian orang lain telah diperlihatkan.


Perubahan tubuh telah dirasakan.


Namun manusia masih sering berkata:


“Masih ada waktu.”


“Besok saja bertobat.”


“Nanti saja memperbaiki sholat.”


“Nanti kalau sudah tua aku akan berubah.”


“Nanti kalau urusan dunia selesai aku akan mendekat kepada Alloh.”


Padahal urusan dunia tidak pernah benar-benar selesai.


Satu urusan ditutup, urusan lain datang.


Satu keinginan terpenuhi, keinginan baru tumbuh.


Satu masalah berakhir, masalah lain menunggu.


Apabila kedekatan kepada Alloh menunggu dunia selesai, manusia tidak akan pernah memulainya.


HALAMAN YANG TERUS BERKURANG


Bayangkan hidupmu sebagai sebuah kitab.


Halaman pertama adalah kelahiran.


Halaman berikutnya adalah masa kanak-kanak.


Lalu masa remaja.


Kemudian masa dewasa.


Setelah itu datang usia ketika tubuh mulai memberi tanda bahwa kekuatannya tidak kekal.


Ada halaman yang dipenuhi kegembiraan.


Ada halaman yang basah oleh air mata.


Ada halaman yang gelap karena dosa.


Ada halaman yang terang karena tobat.


Ada halaman yang ingin dilupakan.


Ada pula halaman yang kelak dirindukan.


Namun satu hal yang pasti:


Tidak ada halaman yang dapat diulang dalam keadaan yang sama.


Manusia dapat memperbaiki akibat masa lalu, tetapi ia tidak dapat kembali hidup di dalam waktu yang telah lewat.


Oleh sebab itu, jangan habiskan halaman yang tersisa hanya untuk menyesali halaman yang telah selesai.


Gunakan penyesalan sebagai pintu tobat.


Gunakan kesalahan sebagai pelajaran.


Gunakan luka sebagai jalan kelembutan.


Gunakan umur yang tersisa untuk memperbaiki akhir kitab kehidupanmu.


KIAMAT YANG PALING DEKAT


Manusia sering bertanya tentang kiamat besar.


Kapan bumi diguncangkan?


Kapan langit terbelah?


Kapan gunung dihancurkan?


Kapan semua manusia dibangkitkan?


Namun banyak yang lupa bahwa ada akhir yang lebih dekat daripada semua pertanyaan itu, yaitu akhir kehidupan dirinya sendiri.


Bagi seseorang yang meninggal hari ini, perjalanan dunianya telah selesai.


Baginya, pasar masih ramai.


Kendaraan masih berjalan.


Orang-orang masih bekerja.


Langit masih terlihat seperti biasanya.


Namun semua itu tidak lagi menjadi miliknya.


Karena itu, jangan hanya sibuk bertanya:


“Berapa lama dunia masih tersisa?”


Tanyakan juga:


“Berapa lama aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri?”


Manusia tidak mengetahui apakah ia masih memiliki puluhan tahun, beberapa bulan, satu pekan, atau hanya beberapa tarikan napas.


Rahasia waktu berada dalam kekuasaan Alloh.


Tugas manusia bukan menebak-nebak tanggal akhir.


Tugas manusia adalah mempersiapkan keadaan terbaik ketika akhir itu datang.


TANDA PERINGATAN DI DALAM DIRI


Peringatan tidak selalu datang melalui suara dari langit.


Kadang ia datang melalui tubuh.


Mata yang mulai melemah adalah peringatan.


Langkah yang mulai melambat adalah peringatan.


Rambut yang memutih adalah peringatan.


Sakit yang datang adalah peringatan.


Kematian sahabat dan keluarga adalah peringatan.


Anak-anak yang dahulu kecil lalu tumbuh dewasa adalah peringatan bahwa waktu telah berjalan jauh.


Bahkan rasa jenuh terhadap dunia dapat menjadi peringatan agar hati mencari makna yang lebih dalam.


Namun peringatan tidak berarti manusia harus meninggalkan tanggung jawab kehidupan.


Manusia tetap wajib bekerja.


Tetap wajib menjaga keluarga.


Tetap wajib mencari rezeki halal.


Tetap wajib membangun kebaikan.


Tetapi semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa dunia adalah amanah, bukan tujuan akhir.


JANGAN SALAH MEMAHAMI AKHIR ZAMAN


Kesadaran tentang akhir zaman seharusnya membuat manusia lebih baik, bukan lebih liar dalam menuduh.


Ia seharusnya membuat manusia lebih rajin beribadah, bukan sibuk menentukan tanggal.


Ia seharusnya membuat hati lebih lembut, bukan merasa diri paling mengetahui rahasia Alloh.


Ia seharusnya melahirkan tobat, bukan ketakutan yang berlebihan.


Ia seharusnya mendorong manusia menyelesaikan utang, menjaga keluarga, mendamaikan perselisihan, memperbaiki akhlak, dan menguatkan amal.


Apabila pembicaraan tentang akhir dunia justru membuat manusia meninggalkan kewajiban, menyebarkan kepanikan, atau merasa lebih suci daripada orang lain, maka pemahamannya perlu diluruskan.


Sebab tujuan peringatan bukan agar manusia tenggelam dalam ketakutan.


Tujuan peringatan adalah agar manusia kembali kepada Alloh dengan kesadaran.


PESAN LEMBAR PERTAMA


Wahai jiwa,


Barangkali engkau tidak mengetahui berapa halaman hidupmu yang masih tersisa.


Namun selama napas belum berhenti, pintu perbaikan masih terbuka.


Selama hati masih dapat menyesal, jalan tobat masih tersedia.


Selama lisan masih dapat meminta maaf, masih ada kesempatan menyembuhkan hubungan.


Selama tangan masih dapat bergerak, masih ada kesempatan menolong.


Selama kaki masih dapat melangkah, masih ada kesempatan menuju kebaikan.


Jangan menunggu tanda yang luar biasa.


Kesempatan hari ini telah menjadi tanda yang cukup.


Bangunlah sebelum dipanggil.


Perbaikilah sebelum ditutup.


Kembalilah sebelum perjalanan selesai.


Sebab manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang mengetahui kapan dunia berakhir, melainkan manusia yang mempersiapkan dirinya sebelum dunianya sendiri berakhir.


DOA LEMBAR PERTAMA


Yā Alloh,


bangunkan hati kami dari kelalaian.


Jangan biarkan umur kami habis tanpa arah.


Jangan biarkan kami mengetahui banyak nasihat, tetapi sedikit melakukan perbaikan.


Ajarkan kami menggunakan waktu sebagai amanah.


Ampuni halaman hidup kami yang dipenuhi kesalahan.


Terangilah halaman yang masih tersisa dengan iman, tobat, amal saleh, dan akhlak yang Engkau ridhoi.


Jadikan kami hamba yang tidak takut secara berlebihan kepada berakhirnya dunia, tetapi bersungguh-sungguh mempersiapkan perjumpaan dengan-Mu.


Tuntunlah kami untuk menyelesaikan amanah, meminta maaf, mengembalikan hak, menjaga sholat, membahagiakan orang tua, melindungi keluarga, dan meninggalkan manfaat bagi sesama.


Jangan Engkau tutup kitab kehidupan kami kecuali dalam keadaan iman.


Jangan Engkau ambil napas kami kecuali ketika hati kami sedang mengingat-Mu.


Dan jadikan akhir perjalanan kami sebagai awal dari rahmat-Mu yang tidak berkesudahan.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR PERTAMA


Jangan sibuk menghitung sisa umur dunia, sementara sisa umur diri sendiri tidak pernah diketahui.


Juz 29 adalah peringatan untuk bangun.

Juz 30 adalah peringatan untuk bersiap.

Sedangkan waktu penutupan adalah rahasia Alloh.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KEDUA


JUZ 29 — MASA PERINGATAN SEBELUM PENUTUPAN


Juz 29 adalah lambang masa ketika peringatan masih terus diberikan.


Ia belum menjadi penutupan.


Ia belum menjadi akhir keputusan.


Ia adalah ruang terakhir bagi manusia untuk berhenti, melihat kembali perjalanan, lalu bertanya kepada dirinya sendiri:


“Ke mana sebenarnya aku sedang berjalan?”


Banyak manusia hidup dengan langkah yang cepat, tetapi tidak mengetahui arah.


Ia sibuk membangun rumah, tetapi lupa membangun ketenteraman.


Ia sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa menyiapkan jawaban.


Ia sibuk menjaga nama baik di hadapan manusia, tetapi kurang menjaga keadaan hati di hadapan Alloh.


Ia takut kehilangan dunia, tetapi tidak takut kehilangan kejernihan jiwa.


Ia takut dianggap gagal, tetapi tidak takut gagal menjaga amanah.


Juz 29 datang sebagai suara yang mengetuk:


“Berhentilah sejenak. Lihatlah apa yang sedang engkau bawa.”


PERINGATAN TIDAK SELALU BERBENTUK MUSIBAH


Sebagian orang baru merasa diperingatkan ketika sakit datang.


Sebagian baru terbangun ketika kehilangan terjadi.


Sebagian baru kembali ketika pintu-pintu dunia tertutup.


Padahal peringatan Alloh tidak selalu berupa musibah.


Kesehatan adalah peringatan agar digunakan untuk kebaikan.


Rezeki adalah peringatan agar tidak lupa berbagi.


Kedudukan adalah peringatan agar tidak sewenang-wenang.


Ilmu adalah peringatan agar tidak sombong.


Waktu luang adalah peringatan agar tidak habis dalam kelalaian.


Pertemuan dengan orang baik adalah peringatan.


Nasihat yang menyentuh hati adalah peringatan.


Air mata yang turun ketika berdoa adalah peringatan.


Bahkan kegelisahan yang muncul setelah melakukan kesalahan dapat menjadi bentuk kasih sayang Alloh agar manusia segera kembali.


Tidak semua teguran datang dengan suara keras.


Ada teguran yang hadir dalam keheningan.


Ada teguran yang datang melalui rasa kosong.


Ada teguran yang hadir ketika segala sesuatu dimiliki, tetapi hati tetap tidak tenang.


KETIKA DUNIA TERASA PENUH, TETAPI HATI KOSONG


Manusia sering mengira bahwa ketenangan akan datang setelah seluruh keinginannya terpenuhi.


Ia berkata:


“Nanti kalau sudah punya rumah, aku akan tenang.”


“Nanti kalau sudah punya kendaraan, aku akan tenang.”


“Nanti kalau hutang selesai, aku akan tenang.”


“Nanti kalau kedudukanku tinggi, aku akan tenang.”


Namun setelah satu keinginan terpenuhi, keinginan baru kembali tumbuh.


Begitulah dunia.


Ia memberi rasa cukup hanya sebentar, lalu memunculkan rasa kurang yang baru.


Bukan berarti harta, rumah, pekerjaan, dan keberhasilan harus ditinggalkan.


Semuanya dapat menjadi kebaikan apabila berada di tangan yang bersyukur.


Namun jangan letakkan ketenangan di dalam sesuatu yang mudah hilang.


Jangan gantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia.


Jangan serahkan harga dirimu kepada penilaian orang lain.


Jangan jadikan keberhasilan dunia sebagai satu-satunya ukuran bahwa Alloh meridhoimu.


Sebab ada orang yang banyak memiliki, tetapi jiwanya sempit.


Ada orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya luas.


Ada orang yang dipuji manusia, tetapi gelisah ketika sendiri.


Ada orang yang tidak dikenal, tetapi hidupnya dekat dengan Alloh.


TIGA PERINGATAN TERBESAR


Ada tiga peringatan besar yang sering diabaikan manusia.


Pertama: Waktu Tidak Pernah Kembali


Hari ini hanya datang satu kali.


Jam yang terlewat tidak dapat dibeli.


Kesempatan untuk berbakti tidak selalu menunggu.


Kesempatan meminta maaf tidak selalu terbuka.


Kesempatan melihat wajah orang tua tidak selamanya ada.


Kesempatan memperbaiki rumah tangga dapat tertutup apabila terus ditunda.


Karena itu, jangan menunda kebaikan yang mampu dilakukan hari ini.


Jangan menunggu hati benar-benar siap untuk bertobat.


Tobatlah agar hati menjadi siap.


Jangan menunggu ikhlas sempurna untuk berbuat baik.


Berbuat baiklah sambil terus melatih keikhlasan.


Kedua: Tubuh Tidak Selalu Kuat


Tubuh adalah kendaraan perjalanan, bukan milik yang kekal.


Hari ini kaki dapat melangkah.


Besok mungkin membutuhkan bantuan.


Hari ini tangan dapat bekerja.


Besok mungkin bergetar.


Hari ini suara masih terdengar.


Besok mungkin hanya tinggal nama.


Maka gunakan tubuh untuk sujud sebelum ia tidak mampu membungkuk.


Gunakan lisan untuk berdzikir sebelum ia tidak mampu berbicara.


Gunakan tangan untuk menolong sebelum ia harus ditolong.


Gunakan kaki untuk mendatangi kebaikan sebelum langkah menjadi berat.


Ketiga: Hati Dapat Mengeras


Kesalahan yang diulang tanpa penyesalan dapat membuat hati kehilangan rasa.


Awalnya manusia takut berdusta.


Setelah sering dilakukan, dusta terasa biasa.


Awalnya manusia takut menyakiti.


Setelah terbiasa, ia tidak lagi merasa bersalah.


Awalnya manusia gelisah meninggalkan sholat.


Setelah berkali-kali, kegelisahan itu dapat menghilang.


Inilah bahaya terbesar.


Bukan hanya melakukan dosa, tetapi kehilangan rasa bahwa dosa adalah dosa.


Karena itu, ketika hati masih mampu menangis, bersyukurlah.


Ketika hati masih merasa bersalah, jangan dibungkam.


Ketika muncul keinginan untuk berubah, jangan ditunda.


Boleh jadi itu adalah pintu yang sedang dibukakan sebelum hati semakin jauh.


ORANG YANG MENDENGAR DAN ORANG YANG TERBANGUN


Banyak orang mendengar nasihat.


Sedikit yang benar-benar terbangun.


Mendengar adalah ketika telinga menerima kata-kata.


Terbangun adalah ketika hidup mulai berubah.


Mendengar berkata:


“Nasihat ini bagus.”


Terbangun berkata:


“Aku harus memperbaiki sesuatu setelah ini.”


Mendengar dapat berhenti pada rasa kagum.


Terbangun melahirkan tindakan.


Maka jangan hanya menyukai kata-kata tentang tobat.


Mulailah bertobat.


Jangan hanya menyukai pembicaraan tentang ikhlas.


Latihlah ikhlas ketika tidak dipuji.


Jangan hanya berbicara tentang akhirat.


Selesaikan amanah dunia dengan benar.


Jangan hanya menangis ketika membaca nasihat.


Bangkitlah setelah air mata itu turun.


Sebab air mata yang tidak diikuti perubahan dapat mengering tanpa meninggalkan bekas.


PERINGATAN BAGI ORANG YANG MERASA PALING BENAR


Juz 29 juga mengingatkan orang yang telah mengenal ilmu, agama, dzikir, dan jalan ruhani agar tidak merasa telah sampai.


Semakin banyak ilmu, seharusnya semakin besar rasa takut menyalahgunakan ilmu.


Semakin banyak ibadah, seharusnya semakin kecil keinginan merendahkan orang lain.


Semakin sering berbicara tentang Alloh, seharusnya semakin lembut akhlak kepada makhluk-Nya.


Apabila ilmu membuat seseorang mudah menghina, berarti ilmunya belum sepenuhnya turun ke hati.


Apabila ibadah membuat seseorang merasa paling suci, berarti ibadahnya masih bercampur dengan ego.


Apabila pengalaman batin membuat seseorang merasa mengetahui seluruh rahasia langit, berarti ia sedang berada di tepi kesesatan.


Orang yang benar-benar dekat kepada Alloh tidak sibuk meninggikan dirinya.


Ia justru semakin menyadari kelemahan.


Ia takut salah berbicara.


Ia hati-hati menilai orang.


Ia tidak mudah mengaku menerima kepastian gaib.


Ia menjaga agar manusia tidak menggantungkan diri kepadanya.


Sebab tugas seorang pembimbing bukan membuat orang kagum kepada dirinya, melainkan membantu manusia kembali kepada Alloh.


APA YANG HARUS DILAKUKAN PADA MASA PERINGATAN


Apabila hidup sedang berada dalam masa peringatan, lakukanlah tujuh langkah ini:


Pertama, berhenti dari satu kesalahan yang paling jelas.

Jangan menunggu mampu memperbaiki semuanya sekaligus.


Kedua, kembalikan satu hak yang masih tertahan.

Hak manusia tidak selesai hanya dengan istighfar.


Ketiga, perbaiki satu sholat yang selama ini sering dilalaikan.

Mulailah dari menjaga waktunya.


Keempat, minta maaf kepada satu orang yang pernah disakiti.

Jangan tunggu ia lebih dahulu datang.


Kelima, bersedekahlah secara diam-diam.

Latih hati agar tidak selalu mencari pengakuan.


Keenam, kurangi satu kebiasaan yang menghabiskan umur tanpa manfaat.

Waktu yang diselamatkan dapat menjadi ladang amal.


Ketujuh, luangkan waktu untuk diam dan mengoreksi diri.

Tidak semua jawaban ditemukan dalam keramaian.


Perbaikan besar sering dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.


JANGAN MENUNGGU PERINGATAN TERAKHIR


Ada manusia yang selalu meminta tanda.


Ia berkata:


“Kalau memang harus berubah, berikan aku tanda.”


Padahal tanda telah berulang kali datang.


Sakit pernah datang.


Kehilangan pernah terjadi.


Nasihat pernah didengar.


Mimpi tentang kematian pernah dialami.


Orang dekat pernah meninggal.


Hati pernah merasa takut.


Namun setelah semuanya berlalu, ia kembali seperti semula.


Jangan meminta tanda yang lebih keras apabila tanda yang lembut terus diabaikan.


Jangan menunggu tubuh jatuh untuk menghargai kesehatan.


Jangan menunggu orang pergi untuk menghargai kehadirannya.


Jangan menunggu pintu tertutup untuk menyesali kesempatan.


Jangan menunggu ajal mendekat untuk mengucapkan kalimat yang seharusnya disampaikan hari ini.


PESAN LEMBAR KEDUA


Wahai jiwa,


Juz 29 bukan suara untuk menakut-nakutimu.


Ia adalah panggilan kasih agar engkau tidak terlambat.


Ia seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya sebelum matahari meninggi.


Ia seperti seorang sahabat yang menarik tanganmu dari jalan yang salah.


Ia seperti cahaya kecil di kejauhan yang menunjukkan bahwa masih ada arah untuk pulang.


Selama peringatan masih dapat engkau dengar, berarti pintu belum tertutup.


Selama hati masih bergetar ketika mengingat Alloh, berarti cahaya belum padam.


Selama ada rasa ingin memperbaiki diri, berarti perjalanan belum selesai.


Namun jangan sia-siakan kelembutan itu.


Sebab kesempatan yang diabaikan terus-menerus dapat berubah menjadi penyesalan yang tidak berguna.


DOA LEMBAR KEDUA


Yā Alloh,


jadikan kami hamba yang peka terhadap peringatan-Mu.


Jangan biarkan hati kami mengeras karena dosa yang terus diulang.


Jangan biarkan nasihat hanya berhenti di telinga.


Turunkanlah nasihat itu ke dalam hati, lalu gerakkanlah anggota tubuh kami untuk memperbaiki diri.


Tunjukkan kesalahan yang harus kami tinggalkan.


Tunjukkan hak yang harus kami kembalikan.


Tunjukkan amanah yang harus kami selesaikan.


Tunjukkan jalan pulang ketika kami tersesat oleh keinginan sendiri.


Yā Alloh,


jangan Engkau tegur kami dengan teguran yang menghancurkan.


Cukuplah kelembutan-Mu membangunkan kami.


Cukuplah ayat-ayat-Mu menyadarkan kami.


Cukuplah kematian orang-orang di sekitar kami menjadi nasihat.


Cukuplah berkurangnya umur menjadi alasan untuk segera bertobat.


Jadikan kami manusia yang berubah sebelum dipaksa berubah oleh keadaan.


Jadikan kami manusia yang kembali sebelum jalan pulang tertutup.


Jadikan kami manusia yang menyelesaikan amanah sebelum nama kami dipanggil.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KEDUA


Peringatan adalah bentuk kasih sayang sebelum penutupan.


Jangan menunggu teguran menjadi keras, apabila teguran yang lembut telah berkali-kali datang.


Juz 29 bukan akhir perjalanan.

Ia adalah kesempatan terakhir untuk membenahi arah sebelum memasuki Juz 30.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KETIGA


JUZ 30 — KETIKA WAKTU UNTUK MENUNDA SEMAKIN SEMPIT


Apabila Juz 29 adalah masa peringatan, maka Juz 30 adalah lambang kedekatan kepada penutupan.


Pada bagian ini, kata-kata menjadi lebih singkat, tetapi maknanya semakin kuat.


Peringatan tidak lagi berputar panjang.


Ia langsung menyentuh inti:


Bumi akan diguncangkan.


Kubur akan dibuka.


Amal akan diperlihatkan.


Yang tersembunyi akan disingkapkan.


Yang dianggap kecil akan ditimbang.


Yang dilupakan manusia tidak akan hilang dari pengetahuan Alloh.


Juz 30 seakan berkata:


“Waktu untuk menunda semakin sempit. Bersiaplah.”


Bukan berarti manusia telah mengetahui kapan dunia berakhir.


Bukan pula berarti seseorang boleh menentukan tanggal kehancuran.


Maknanya adalah bahwa setiap manusia sedang bergerak menuju halaman terakhirnya sendiri.


Ada yang masih diberi puluhan tahun.


Ada yang hanya diberi beberapa hari.


Ada yang sehat pada pagi hari, lalu dipanggil sebelum malam.


Ada yang berbicara dengan keluarganya hari ini, lalu esok hanya tinggal nama dan kenangan.


Maka Juz 30 bukan sekadar gambaran tentang akhir dunia.


Ia adalah cermin tentang dekatnya akhir perjalanan setiap jiwa.


KETIKA ALASAN TIDAK LAGI BERGUNA


Di dunia, manusia mempunyai banyak alasan.


“Aku belum sempat.”


“Aku sedang sibuk.”


“Aku masih muda.”


“Aku belum siap.”


“Aku hanya mengikuti orang lain.”


“Aku tidak tahu.”


“Aku akan memperbaikinya nanti.”


Namun ketika lembar kehidupan telah ditutup, alasan tidak dapat menambah satu detik pun.


Waktu yang disia-siakan tidak dapat dipanggil kembali.


Hak yang belum dikembalikan tetap menjadi tanggungan.


Luka yang sengaja ditinggalkan dalam hati orang lain tidak hilang hanya karena pelakunya telah lupa.


Janji yang dilanggar tetap tercatat.


Kebaikan yang dilakukan secara tersembunyi pun tidak hilang.


Air mata yang jatuh karena tobat tidak sia-sia.


Sedekah kecil yang tidak diketahui siapa pun tetap diketahui Alloh.


Pertolongan yang pernah diberikan kepada orang lemah tetap mempunyai nilai.


Pada masa penutupan, bukan banyaknya alasan yang diperhitungkan, melainkan apa yang benar-benar dilakukan.


AMAL KECIL YANG MENJADI BESAR


Manusia sering mengejar amal yang terlihat besar.


Ia ingin membangun sesuatu yang dikenal.


Ia ingin namanya disebut.


Ia ingin kebaikannya disaksikan.


Padahal dalam timbangan Alloh, sesuatu yang kecil dapat menjadi besar karena niatnya.


Senyum yang menenangkan orang yang sedang bersedih dapat menjadi amal.


Menahan lisan ketika marah dapat menjadi amal.


Menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan dapat menjadi amal.


Memberi makan hewan yang lapar dapat menjadi amal.


Mendoakan seseorang tanpa sepengetahuannya dapat menjadi amal.


Menutup aib orang lain dapat menjadi amal.


Memaafkan ketika mampu membalas dapat menjadi amal yang berat nilainya.


Sebaliknya, sesuatu yang tampak besar dapat menjadi kosong apabila dilakukan demi pujian.


Maka jangan meremehkan kebaikan kecil.


Pada bagian akhir perjalanan, boleh jadi amal kecil yang ikhlas justru menjadi cahaya paling terang.


DOSA KECIL YANG DIANGGAP BIASA


Sebagaimana amal kecil tidak boleh diremehkan, dosa kecil juga tidak boleh dianggap sepele.


Banyak kerusakan besar bermula dari kebiasaan kecil yang dibiarkan.


Satu dusta membuka pintu dusta berikutnya.


Satu penghinaan menumbuhkan kesombongan.


Satu pengkhianatan yang dimaafkan oleh diri sendiri dapat menjadi kebiasaan.


Satu pandangan yang tidak dijaga dapat menyeret hati.


Satu ucapan fitnah dapat menghancurkan nama baik seseorang selama bertahun-tahun.


Satu pesan yang disebarkan tanpa pemeriksaan dapat melukai banyak orang.


Dosa tidak selalu terasa berat ketika pertama dilakukan.


Kadang yang paling berbahaya justru dosa yang telah menjadi biasa.


Apabila hati tidak lagi merasa bersalah, seseorang dapat terus berjalan menuju penutupan tanpa menyadari bahwa bekalnya semakin gelap.


Karena itu, periksalah kebiasaan yang dianggap kecil.


Boleh jadi di situlah pintu kerusakan berada.


SAAT SEGALA SESUATU DITAMPAKKAN


Di dunia, manusia dapat menyembunyikan banyak hal.


Ia dapat menampilkan senyum sambil menyimpan kebencian.


Ia dapat memperlihatkan kesalehan sambil mencari pujian.


Ia dapat berbicara tentang amanah sambil mengambil hak orang lain.


Ia dapat memuji di depan dan merendahkan di belakang.


Ia dapat mengaku ikhlas, padahal hatinya menuntut pengakuan.


Namun di hadapan Alloh, tidak ada yang tersembunyi.


Niat diketahui.


Kebohongan diketahui.


Air mata yang tulus diketahui.


Luka yang dipendam diketahui.


Kebaikan yang tidak pernah diceritakan diketahui.


Perjuangan yang tidak dipahami orang lain diketahui.


Oleh sebab itu, jangan terlalu sibuk membangun penampilan di hadapan manusia.


Bangunlah kejujuran di hadapan Alloh.


Lebih baik tampak biasa tetapi hati bersih, daripada tampak suci tetapi batin dipenuhi kesombongan.


Lebih baik tidak dikenal manusia tetapi dikenal karena ketulusan di sisi Alloh, daripada dikenal banyak orang tetapi kehilangan kejujuran.


TIMBANGAN YANG TIDAK DAPAT DISUAP


Timbangan manusia dapat dipengaruhi oleh harta, kedudukan, keluarga, dan kekuasaan.


Namun timbangan Alloh tidak dapat dibeli.


Di sana, gelar tidak menyelamatkan tanpa amal.


Keturunan tidak menghapus kezaliman.


Banyaknya pengikut tidak membuktikan kebenaran.


Pujian manusia tidak menggantikan keridhoan Alloh.


Pakaian keagamaan tidak menutupi hati yang rusak.


Kata-kata ruhani tidak menghapus hak orang yang dirampas.


Yang dinilai adalah iman, niat, amal, kejujuran, dan rahmat Alloh.


Maka jangan merasa aman hanya karena pernah melakukan banyak kebaikan.


Tetaplah rendah hati.


Jangan pula berputus asa hanya karena masa lalu dipenuhi kesalahan.


Selama hidup belum ditutup, tobat masih mungkin mengubah arah perjalanan.


EMPAT BEKAL MEMASUKI BAGIAN AKHIR


Pertama: Tobat yang Jujur


Tobat bukan sekadar berkata, “Aku menyesal.”


Tobat adalah berhenti.


Tobat adalah mengakui kesalahan tanpa menyalahkan orang lain.


Tobat adalah memperbaiki kerusakan apabila mampu.


Tobat adalah mengembalikan hak.


Tobat adalah berjuang agar tidak kembali mengulanginya.


Jangan menunggu menjadi suci untuk bertobat.


Tobatlah karena engkau belum suci.


Kedua: Amanah yang Diselesaikan


Periksa utangmu.


Periksa janji yang belum ditepati.


Periksa barang yang bukan hakmu.


Periksa tanggung jawab kepada keluarga.


Periksa pekerjaan yang diserahkan kepadamu.


Periksa pesan yang dipercayakan untuk dijaga.


Amanah tidak selalu berbentuk uang.


Nama baik orang lain adalah amanah.


Rahasia adalah amanah.


Anak adalah amanah.


Ilmu adalah amanah.


Kedudukan adalah amanah.


Tubuh dan umur pun merupakan amanah.


Ketiga: Hati yang Dibersihkan


Jangan bawa terlalu banyak kebencian menuju akhir perjalanan.


Belajarlah memaafkan.


Memaafkan tidak selalu berarti membenarkan kezaliman.


Memaafkan adalah membebaskan hati dari ikatan kebencian yang terus membakar diri.


Apabila hak harus dituntut, tuntutlah dengan adil.


Apabila batas harus dibuat, buatlah dengan tegas.


Namun jangan jadikan dendam sebagai makanan harian jiwa.


Hati yang penuh dendam akan sulit merasakan ketenangan.


Keempat: Amal yang Konsisten


Jangan hanya bersemangat satu malam lalu berhenti.


Jangan hanya berubah ketika takut, lalu kembali lalai ketika keadaan tenang.


Amal yang sedikit tetapi dijaga lebih baik daripada semangat besar yang segera padam.


Jagalah sholat.


Jagalah lisan.


Jagalah sedekah.


Jagalah istighfar.


Jagalah hubungan dengan keluarga.


Jagalah satu amal tersembunyi yang hanya diketahui olehmu dan Alloh.


SAAT DUNIA MULAI DILEPASKAN


Pada akhirnya, manusia akan melepaskan segala yang pernah dimiliki.


Rumah akan ditinggalkan.


Pakaian akan diwariskan atau dibagikan.


Telepon akan berhenti berdering untuknya.


Kamar akan ditempati orang lain.


Pekerjaan akan dilanjutkan orang lain.


Harta akan berpindah tangan.


Jabatan akan digantikan.


Perselisihan yang dahulu terasa besar akan tampak kecil setelah kematian datang.


Yang tersisa hanyalah amal, doa, pengaruh kebaikan, serta akibat dari keburukan yang pernah ditinggalkan.


Maka sebelum semuanya dilepaskan secara paksa, belajarlah melepaskan secara sadar.


Lepaskan kesombongan.


Lepaskan rasa ingin selalu menang.


Lepaskan kebutuhan untuk selalu dipuji.


Lepaskan kebiasaan merendahkan.


Lepaskan keterikatan kepada sesuatu yang membuatmu jauh dari Alloh.


Bukan berarti engkau harus meninggalkan dunia.


Gunakan dunia, tetapi jangan biarkan dunia menguasai hatimu.


JANGAN TAKUT KEPADA AKHIR, TAKUTLAH KEPADA KEADAAN SAAT AKHIR


Akhir bukanlah sesuatu yang dapat dihindari.


Ketakutan semata tidak akan menghentikannya.


Yang perlu dipersiapkan adalah keadaan hati ketika akhir itu datang.


Apakah masih membawa kesombongan?


Apakah masih membawa hak orang lain?


Apakah masih bermusuhan dengan keluarga?


Apakah masih menunda sholat?


Apakah masih menyimpan kebiasaan yang merusak?


Apakah sudah ada tobat yang jujur?


Apakah sudah ada amal yang dilakukan hanya karena Alloh?


Maka jangan hanya berkata:


“Aku takut mati.”


Katakanlah:


“Aku takut menghadap Alloh tanpa persiapan.”


Ketakutan yang benar akan melahirkan perbaikan.


Ketakutan yang tidak diiringi amal hanya akan menjadi kegelisahan.


PESAN LEMBAR KETIGA


Wahai jiwa,


Juz 30 bukan panggilan untuk meninggalkan kehidupan.


Ia adalah panggilan agar engkau menjalani kehidupan dengan kesadaran.


Bekerjalah, tetapi jangan curang.


Mencintailah, tetapi jangan menguasai.


Miliki harta, tetapi jangan diperbudak harta.


Carilah ilmu, tetapi jangan menjadi sombong.


Beribadahlah, tetapi jangan merasa paling suci.


Bicaralah tentang kebenaran, tetapi jangan kehilangan kelembutan.


Ingatlah akhir, tetapi tetaplah menanam kebaikan hari ini.


Sebab orang yang sadar bahwa waktunya terbatas akan lebih berhati-hati menggunakan setiap kesempatan.


Ia tidak mudah menyia-nyiakan pertemuan.


Ia tidak ringan menyakiti.


Ia tidak senang menunda meminta maaf.


Ia tidak menunggu sempurna untuk mulai berubah.


DOA LEMBAR KETIGA


Yā Alloh,


apabila perjalanan kami telah mendekati halaman akhirnya, jangan biarkan kami tetap berada dalam kelalaian.


Bangunkan kami sebelum penutupan.


Bersihkan kami sebelum perhitungan.


Lunakkan hati kami sebelum tidak ada lagi kesempatan untuk meminta maaf.


Tolong kami menyelesaikan utang, janji, amanah, dan hak manusia yang masih berada dalam tanggungan kami.


Terimalah tobat kami meskipun kami datang dengan banyak kekurangan.


Jangan ukur kami hanya dengan amal kami yang sedikit, tetapi limpahkanlah rahmat-Mu yang luas.


Jadikan amal kecil kami bernilai karena keikhlasan.


Jangan biarkan amal besar kami rusak karena kesombongan.


Lindungi kami dari kemunafikan, riya, kedengkian, fitnah, pengkhianatan, dan kezaliman.


Yā Alloh,


ketika dunia mulai terlepas dari tangan kami, jangan biarkan iman terlepas dari hati kami.


Ketika suara kami mulai melemah, kuatkan lisan kami untuk menyebut nama-Mu.


Ketika pandangan kami mulai redup, terangilah batin kami dengan rahmat-Mu.


Ketika halaman terakhir ditutup, tutuplah ia dengan ampunan, tauhid, dan keridhoan-Mu.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KETIGA


Juz 30 adalah lambang ketika alasan semakin sedikit dan pertanggungjawaban semakin dekat.


Jangan hanya takut halaman kehidupan ditutup.

Pastikan halaman terakhir tidak dipenuhi kesombongan, kezaliman, dan penundaan tobat.


Akhir perjalanan bukan untuk ditebak waktunya, tetapi untuk dipersiapkan keadaannya.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KEEMPAT


KETIKA ALAM MENJADI CERMIN KEADAAN MANUSIA


Alam tidak pernah berhenti berbicara.


Langit berbicara melalui perubahan cahaya.


Bumi berbicara melalui kesuburan dan kerusakannya.


Air berbicara melalui kejernihan dan pencemarannya.


Angin berbicara melalui kelembutan dan keganasannya.


Pepohonan berbicara melalui tumbuh, mengering, lalu tumbuh kembali.


Namun manusia sering tidak mendengar karena pikirannya terlalu dipenuhi oleh dirinya sendiri.


Dalam perjalanan menuju bagian akhir, alam menjadi cermin.


Ketika manusia menjaga keseimbangan, alam memberi banyak manfaat.


Ketika manusia melampaui batas, kerusakan mulai tampak.


Ketika kerakusan mengalahkan kebijaksanaan, bumi dipaksa menanggung akibatnya.


Maka kerusakan alam bukan hanya urusan tanah, air, udara, dan tumbuhan.


Ia juga mencerminkan keadaan batin manusia.


Hati yang rakus melahirkan tangan yang merusak.


Kesombongan melahirkan keputusan yang tidak peduli kepada akibat.


Keinginan menguasai melahirkan perampasan.


Kelalaian melahirkan pembiaran.


Karena itu, memperbaiki dunia tidak cukup dengan teknologi.


Dunia juga membutuhkan manusia yang hatinya ditata.


ALAM TIDAK BERSALAH


Gunung tidak sombong karena tinggi.


Laut tidak angkuh karena luas.


Matahari tidak meminta pujian karena memberi cahaya.


Pohon tidak mengumumkan setiap buah yang dihasilkannya.


Air tidak memilih siapa yang boleh dibasahinya.


Alam menjalankan ketetapan tanpa sibuk membangun citra.


Manusialah yang sering mengambil lebih banyak daripada yang diperlukan.


Manusialah yang mengotori apa yang dahulu jernih.


Manusialah yang memotong tanpa menanam kembali.


Manusialah yang membuang, membakar, merusak, lalu bertanya mengapa bencana datang.


Jangan mudah menuduh alam sedang menghukum.


Lebih dahulu periksalah apakah manusia telah lama menzaliminya.


Tidak semua musibah dapat disimpulkan sebagai hukuman atas kelompok tertentu.


Namun setiap musibah patut menjadi kesempatan untuk menilai ulang cara hidup manusia.


Apakah kita hidup secukupnya?


Apakah kita menjaga amanah bumi?


Apakah keputusan kita memberi manfaat bagi generasi sesudah kita?


Apakah kita hanya mengambil, tetapi tidak pernah memulihkan?


BUMI ADALAH AMANAH


Bumi bukan warisan pribadi yang boleh dihabiskan sesuka hati.


Bumi adalah amanah yang diterima dari generasi sebelumnya dan harus diserahkan kepada generasi sesudahnya dalam keadaan layak.


Tanah yang subur adalah amanah.


Mata air adalah amanah.


Hutan adalah amanah.


Laut adalah amanah.


Udara yang bersih adalah amanah.


Hewan yang hidup di dalam ekosistem adalah amanah.


Bahkan jalan kecil di depan rumah adalah amanah.


Manusia tidak harus memiliki tanah yang luas untuk menjaga bumi.


Ia dapat memulai dari hal sederhana:


Tidak membuang sampah sembarangan.


Tidak membakar sesuatu secara ceroboh.


Mengurangi pemborosan air.


Menanam pohon apabila mampu.


Menjaga kebersihan lingkungan.


Tidak merusak tumbuhan tanpa keperluan.


Tidak menyakiti hewan hanya untuk kesenangan.


Mengajarkan anak-anak bahwa bumi bukan tempat pembuangan bagi nafsu manusia.


Amal menjaga bumi mungkin tampak kecil, tetapi ia termasuk bentuk tanggung jawab.


KETIKA BENCANA DATANG


Ketika banjir datang, manusia melihat air.


Namun kadang ia tidak melihat keserakahan yang menutup resapan.


Ketika tanah longsor, manusia melihat tanah runtuh.


Namun kadang ia tidak melihat pohon-pohon yang telah lama ditebang.


Ketika udara menjadi panas, manusia merasakan suhu.


Namun ia tidak melihat kebiasaan yang terus menambah kerusakan.


Ketika sungai tercemar, manusia melihat air yang berubah.


Namun ia lupa kepada limbah, sampah, dan kelalaian yang dilemparkan setiap hari.


Tidak semua peristiwa memiliki sebab tunggal.


Alam memiliki sistem yang rumit.


Namun manusia tetap wajib memeriksa bagian yang menjadi tanggung jawabnya.


Jangan menggunakan bahasa ruhani untuk menutupi kesalahan nyata.


Apabila banjir diperparah oleh sampah, bersihkanlah sampah.


Apabila lereng rapuh karena penebangan, pulihkanlah tanaman.


Apabila air tercemar oleh limbah, hentikan pencemarannya.


Doa tidak menggantikan tanggung jawab.


Dzikir tidak membebaskan manusia dari kewajiban menjaga sebab-sebab kehidupan.


Doa menguatkan hati.


Ilmu menunjukkan jalan.


Tindakan memperbaiki keadaan.


Ketiganya harus berjalan bersama.


BENCANA BUKAN BAHAN KESOMBONGAN RUHANI


Ada orang yang melihat musibah lalu merasa dirinya paling mengetahui rahasia Alloh.


Ia segera menunjuk dosa orang lain.


Ia menyebut suatu wilayah sedang diazab.


Ia merasa kelompoknya selamat karena lebih benar.


Sikap seperti ini harus dijaga.


Musibah seharusnya melahirkan belas kasih, bukan kesombongan.


Ketika rumah orang lain hancur, tugas pertama bukan menghakimi.


Tugas pertama adalah menolong.


Ketika seseorang kehilangan keluarga, jangan menambah lukanya dengan tuduhan.


Ketika masyarakat mengalami kesulitan, hadirkan makanan, obat, tempat aman, tenaga, doa, dan dukungan.


Kebenaran tidak kehilangan nilainya ketika disampaikan dengan kasih.


Namun ucapan yang benar sekalipun dapat berubah menjadi kezaliman apabila disampaikan tanpa waktu, adab, dan empati.


ALAM SEBAGAI GURU KETUNDUKAN


Belajarlah dari matahari.


Ia terbit tanpa menuntut pujian.


Belajarlah dari air.


Ia mencari tempat yang rendah, tetapi memberi kehidupan.


Belajarlah dari pohon.


Akarnya masuk ke dalam, sedangkan buahnya diberikan keluar.


Belajarlah dari tanah.


Ia diinjak, tetapi tetap menumbuhkan.


Belajarlah dari malam.


Ia menutup kebisingan agar manusia beristirahat.


Belajarlah dari fajar.


Ia mengajarkan bahwa gelap tidak berlangsung selamanya.


Alam tidak hanya menjadi tanda tentang akhir.


Alam juga menjadi guru tentang bagaimana menjalani hidup.


Tinggi bukan alasan untuk sombong.


Rendah bukan berarti tidak berguna.


Diam bukan berarti tidak bekerja.


Memberi tidak harus selalu diumumkan.


Bertahan tidak berarti tidak pernah terluka.


KERUSAKAN TERBESAR DIMULAI DARI BATIN


Sebelum hutan dirusak, biasanya keserakahan telah tumbuh di dalam hati.


Sebelum hak orang dirampas, rasa cukup telah mati.


Sebelum sungai dicemari, kepedulian telah dibuang.


Sebelum kekerasan dilakukan, kasih telah melemah.


Karena itu, penyembuhan bumi berhubungan dengan penyembuhan manusia.


Manusia yang jujur akan lebih berhati-hati menggunakan amanah.


Manusia yang bersyukur tidak mudah berlebihan.


Manusia yang merasa diawasi Alloh akan berpikir sebelum merusak.


Manusia yang menyadari akhir perjalanan tidak akan ringan meninggalkan kehancuran bagi generasi berikutnya.


Jangan mengaku mencintai Alloh tetapi merusak ciptaan-Nya tanpa alasan.


Jangan mengaku bersyukur tetapi hidup dalam pemborosan.


Jangan mengaku menjaga amanah tetapi membiarkan lingkungan rusak karena kepentingan sesaat.


TANDA-TANDA DI LANGIT DAN BUMI


Perubahan alam dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak berkuasa mutlak.


Hujan dapat turun ketika manusia tidak menghendaki.


Angin dapat bertiup di luar perhitungan.


Tanah dapat bergerak.


Laut dapat bergelombang.


Musim dapat berubah.


Namun tidak setiap kejadian harus ditafsirkan sebagai pesan khusus kepada satu orang.


Jangan tergesa-gesa menyebut semua fenomena sebagai isyarat pribadi.


Langit yang cerah dapat dinikmati sebagai nikmat.


Hujan dapat disyukuri sebagai rahmat.


Petir dapat mengingatkan manusia kepada kebesaran Alloh.


Bencana dapat mendorong evaluasi dan pertolongan.


Tetapi batas antara tadabbur dan klaim gaib harus dijaga.


Tadabbur berkata:


“Peristiwa ini mengingatkanku kepada kebesaran Alloh dan tanggung jawabku.”


Klaim tanpa dasar berkata:


“Peristiwa ini pasti ditujukan khusus kepadaku dan membuktikan kedudukanku.”


Yang pertama melahirkan kerendahan hati.


Yang kedua mudah memberi makan ego.


TIGA AMANAH MANUSIA TERHADAP ALAM


Pertama: Tidak Merusak


Jangan melakukan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah.


Jangan mengambil lebih dari yang diperlukan.


Jangan mengorbankan keselamatan banyak orang demi keuntungan sesaat.


Kedua: Memulihkan


Apabila ada kerusakan, ambillah bagian dalam pemulihan.


Menanam kembali.


Membersihkan.


Menghemat.


Mengurangi limbah.


Mengedukasi.


Membantu korban.


Pemulihan adalah bentuk tobat yang diwujudkan dalam tindakan.


Ketiga: Mewariskan


Pikirkan orang yang belum lahir.


Jangan habiskan semua kenyamanan untuk generasi hari ini.


Jangan tinggalkan air yang kotor, udara yang sesak, tanah yang rusak, dan sistem yang rakus kepada anak cucu.


Orang yang mengingat akhirat akan memikirkan akibat jangka panjang.


Ia tidak hanya bertanya:


“Apa manfaatnya bagiku hari ini?”


Ia juga bertanya:


“Apa akibatnya bagi mereka yang datang setelahku?”


PESAN LEMBAR KEEMPAT


Wahai jiwa,


Ketika perjalanan dunia memasuki bagian akhirnya, jangan hanya menatap langit untuk mencari tanda.


Lihatlah juga tanah yang engkau pijak.


Lihatlah air yang engkau gunakan.


Lihatlah sampah yang engkau tinggalkan.


Lihatlah pohon yang engkau jaga atau engkau rusak.


Lihatlah apakah kehadiranmu membuat lingkungan lebih baik atau justru menambah beban.


Kesalehan tidak hanya terlihat di tempat ibadah.


Kesalehan juga tampak dari cara manusia memperlakukan bumi, hewan, tetangga, pekerja, jalan, air, dan ruang hidup bersama.


Boleh jadi satu pohon yang engkau tanam akan memberi teduh setelah engkau meninggal.


Boleh jadi satu kebiasaan baik yang engkau ajarkan akan menjaga banyak orang dari kerusakan.


Boleh jadi satu keputusan sederhana untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi amal yang terus berulang.


Jangan meremehkan penjagaan terhadap bumi.


Sebab bumi yang hari ini diinjak akan menjadi tempat tubuh dikembalikan.


DOA LEMBAR KEEMPAT


Yā Alloh,


jadikan kami hamba yang menjaga bumi sebagai amanah-Mu.


Jauhkan kami dari keserakahan yang merusak.


Jauhkan kami dari pemborosan yang melalaikan.


Jauhkan kami dari keputusan yang mengorbankan banyak kehidupan demi keuntungan sesaat.


Ajarkan kami bersyukur melalui tindakan.


Ajarkan kami menjaga air, tanah, udara, tumbuhan, hewan, dan lingkungan tempat kami hidup.


Ketika bencana datang, jadikan kami tangan yang menolong, bukan lisan yang menghakimi.


Ketika kerusakan tampak, berikan keberanian kepada kami untuk memperbaikinya.


Ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan keselamatan banyak orang, kuatkan kami memilih keadilan.


Yā Alloh,


sembuhkan hati manusia agar bumi tidak terus menjadi korban kerakusannya.


Tumbuhkan rasa cukup di dalam jiwa kami.


Tumbuhkan kasih kepada seluruh ciptaan-Mu.


Jadikan setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan sebagai amal yang Engkau terima.


Dan jangan biarkan kami meninggalkan dunia dengan membawa jejak kerusakan yang terus menyakiti generasi setelah kami.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KEEMPAT


Alam bukan hanya tempat manusia hidup. Alam adalah amanah yang akan ditanyakan.


Jangan menunggu bumi berbicara melalui bencana, sementara peringatan melalui kerusakan kecil terus diabaikan.


Orang yang benar-benar menyadari akhir perjalanan tidak hanya menyiapkan dirinya untuk pulang, tetapi juga menjaga bumi agar tetap layak bagi mereka yang masih melanjutkan perjalanan.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KELIMA


KETIKA MANUSIA SIBUK MEMBACA TANDA, TETAPI LUPA MEMBACA DIRINYA


Pada bagian akhir perjalanan, banyak manusia sibuk mencari tanda-tanda di luar dirinya.


Ia memandang langit.


Ia menghitung angka.


Ia menafsirkan mimpi.


Ia menghubungkan berbagai kejadian.


Ia mencari kabar tentang akhir zaman.


Ia membaca perubahan dunia.


Namun ia lupa membaca tanda yang paling dekat, yaitu keadaan hatinya sendiri.


Apakah hatinya semakin lembut?


Apakah lisannya semakin terjaga?


Apakah amanahnya semakin baik?


Apakah sholatnya semakin hidup?


Apakah kesombongannya semakin berkurang?


Apakah ia lebih mudah meminta maaf?


Apakah ia lebih sulit menyakiti?


Apakah ia semakin mencintai kebenaran atau justru semakin ingin dianggap benar?


Inilah pembacaan yang sering ditinggalkan.


Sebab membaca dunia terasa menarik, tetapi membaca diri sendiri terasa menyakitkan.


Membaca tanda di luar dapat membuat seseorang merasa istimewa.


Membaca diri sendiri dapat memaksanya mengakui kesalahan.


Namun justru di sanalah keselamatan dimulai.


TANDA PALING BESAR ADA DI DALAM AKHLAK


Tidak semua tanda harus dicari di langit.


Ada tanda yang muncul melalui perubahan akhlak.


Apabila seseorang dahulu mudah marah lalu belajar menahan diri, itu adalah tanda perbaikan.


Apabila dahulu suka merendahkan lalu mulai menghormati, itu adalah tanda cahaya.


Apabila dahulu senang dipuji lalu mulai nyaman beramal diam-diam, itu adalah tanda pemurnian.


Apabila dahulu sulit meminta maaf lalu mulai merendahkan ego, itu adalah tanda kebangkitan hati.


Apabila dahulu suka menunda sholat lalu mulai menjaganya, itu adalah tanda pulang.


Sebaliknya, apabila seseorang semakin banyak berbicara tentang ruhani tetapi semakin kasar, ia perlu berhenti dan menilai dirinya.


Apabila semakin banyak pengikut membuatnya semakin sulit menerima nasihat, ia perlu waspada.


Apabila pengalaman batin membuatnya merasa lebih tinggi daripada manusia lain, ia sedang berada dalam bahaya.


Apabila nama Alloh sering disebut tetapi hak manusia masih dilanggar, ada sesuatu yang belum beres di dalam perjalanan.


Tanda sejati bukan sekadar apa yang terlihat oleh mata.


Tanda sejati adalah perubahan yang membuat jiwa lebih tunduk kepada Alloh dan lebih baik kepada sesama.


BAHAYA MERASA MENJADI PUSAT SEGALA ISYARAT


Ada manusia yang menganggap setiap kejadian berhubungan dengan dirinya.


Burung terbang dianggap sebagai pesan khusus.


Angka tertentu dianggap sebagai penetapan takdir.


Suara yang terdengar dianggap perintah gaib.


Pertemuan dengan seseorang dianggap bukti kedudukan.


Perubahan cuaca dianggap pengesahan atas pendapatnya.


Sikap seperti ini harus dijaga dengan ilmu, kerendahan hati, dan pemeriksaan yang sehat.


Tidak semua kejadian adalah pesan khusus.


Tidak semua kebetulan adalah petunjuk.


Tidak semua lintasan batin harus diikuti.


Tidak semua mimpi adalah perintah.


Tidak semua rasa kuat di dalam dada merupakan kebenaran.


Manusia dapat dipengaruhi oleh harapan, ketakutan, kelelahan, ingatan, prasangka, dan keinginan untuk merasa istimewa.


Karena itu, setiap pengalaman batin harus ditimbang.


Apakah bertentangan dengan syariat?


Apakah mendorong kepada kebaikan nyata?


Apakah membuat seseorang lebih rendah hati?


Apakah aman bagi dirinya dan orang lain?


Apakah dapat diperiksa dengan akal sehat?


Apakah tidak merampas hak orang lain?


Apakah tidak melahirkan klaim berlebihan?


Apabila sebuah “isyarat” membuat seseorang merasa bebas menuduh, menghakimi, merugikan, atau menganggap dirinya pasti benar, maka isyarat itu tidak layak dijadikan pegangan.


ILHAM TIDAK MENGHAPUS KEWAJIBAN BERPIKIR


Alloh memberikan akal agar manusia tidak mudah terseret oleh prasangka.


Akal bukan musuh ruhani.


Ilmu bukan penghalang keimanan.


Pemeriksaan bukan tanda kurang percaya.


Justru kehati-hatian adalah bagian dari amanah.


Apabila seseorang bermimpi tentang penyakit, ia tetap perlu memeriksa kesehatan secara nyata.


Apabila merasa mendapat isyarat tentang seseorang, ia tidak boleh langsung menuduh.


Apabila muncul lintasan tentang keputusan besar, ia tetap perlu bermusyawarah.


Apabila mendapat perasaan kuat tentang uang, perjalanan, pernikahan, pekerjaan, atau keselamatan, ia tetap perlu memeriksa fakta.


Doa dan ikhtiar tidak saling meniadakan.


Tawakal bukan meninggalkan pertimbangan.


Keimanan bukan alasan untuk menolak kenyataan.


Seorang hamba yang matang tidak mudah berkata:


“Karena aku merasa, berarti pasti benar.”


Ia akan berkata:


“Aku merasakan sesuatu, tetapi aku tetap harus memeriksanya dengan ilmu, akhlak, kenyataan, dan petunjuk agama.”


EGO HALUS DALAM JALAN RUHANI


Ego kasar mudah dikenali.


Ia suka pamer harta.


Ia suka menghina.


Ia suka menang sendiri.


Namun ego halus lebih sulit dikenali.


Ia dapat memakai bahasa agama.


Ia dapat bersembunyi di balik istilah ruhani.


Ia dapat hadir dalam keinginan untuk dianggap wali, guru, pembawa pesan, pemilik rahasia, atau manusia pilihan.


Ego halus berkata:


“Aku berbeda dari manusia biasa.”


“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak tahu.”


“Aku menerima pesan yang tidak mereka terima.”


“Aku tidak perlu dikoreksi karena aku telah dituntun langsung.”


“Apa pun yang keluar dariku pasti benar.”


Inilah bahaya.


Semakin tinggi klaim seseorang, semakin besar kebutuhan untuk menguji dirinya.


Orang yang benar-benar dekat kepada Alloh tidak merasa aman dari kesalahan.


Ia tidak mudah memastikan kedudukan dirinya.


Ia tidak memaksa orang percaya.


Ia tidak marah hanya karena ditanya.


Ia tidak menganggap kritik sebagai penghinaan kepada langit.


Ia sadar bahwa manusia tetap manusia.


Ia dapat benar.


Ia dapat keliru.


Ia dapat diberi ilham.


Ia juga dapat dipengaruhi keinginan sendiri.


Kerendahan hati bukan merendahkan karunia.


Kerendahan hati adalah menjaga karunia agar tidak dirusak oleh ego.


EMPAT CERMIN UNTUK MEMBACA DIRI


Cermin Pertama: Sikap ketika Dikritik


Apabila nasihat membuatmu langsung marah, berhentilah.


Mungkin yang terluka bukan kebenaran, tetapi ego.


Tidak semua kritik benar.


Namun cara kita menerima kritik memperlihatkan keadaan hati.


Orang yang matang dapat membedakan antara kritik yang perlu diterima, kritik yang perlu diluruskan, dan penghinaan yang perlu dibatasi.


Ia tidak langsung menyerang.


Ia memeriksa.


Ia mengambil yang bermanfaat.


Ia meninggalkan yang merusak.


Cermin Kedua: Sikap ketika Tidak Dipuji


Berbuat baik ketika dipuji terasa ringan.


Tetap berbuat baik ketika tidak dilihat adalah ujian keikhlasan.


Apakah engkau tetap menolong ketika namamu tidak disebut?


Apakah engkau tetap menulis kebaikan ketika tidak ada yang memuji?


Apakah engkau tetap beribadah ketika tidak ada yang mengetahui?


Apabila amal berhenti karena pujian berhenti, mungkin yang dicari bukan hanya ridho Alloh.


Cermin Ketiga: Sikap kepada Orang yang Lemah


Akhlak sejati tampak bukan hanya kepada orang yang berkuasa, tetapi kepada mereka yang tidak dapat memberi keuntungan.


Bagaimana engkau berbicara kepada orang miskin?


Bagaimana engkau memperlakukan pekerja?


Bagaimana engkau bersikap kepada orang tua yang lambat?


Bagaimana engkau memperlakukan anak-anak?


Bagaimana engkau berbicara kepada orang yang tidak memahami istilahmu?


Orang yang benar-benar tinggi tidak perlu merendahkan yang lemah.


Cermin Keempat: Sikap ketika Memiliki Kuasa


Ketika tidak memiliki kuasa, semua orang dapat terlihat rendah hati.


Namun ketika diberi jabatan, pengikut, uang, ilmu, atau pengaruh, sifat asli sering muncul.


Apakah ia menggunakan kuasa untuk melayani?


Ataukah untuk mengendalikan?


Apakah ia melindungi?


Ataukah menakut-nakuti?


Apakah ia membuka ruang musyawarah?


Ataukah menganggap dirinya tidak boleh dibantah?


Kuasa adalah cermin yang tajam.


Ia dapat mengangkat amal.


Ia juga dapat membuka kesombongan yang selama ini tersembunyi.


JANGAN MENJADIKAN AKHIR ZAMAN SEBAGAI PANGGUNG DIRI


Pembicaraan tentang akhir zaman seharusnya mengurangi ego.


Sebab di hadapan kehancuran dunia, semua manusia kecil.


Namun ada yang justru menggunakan akhir zaman untuk membesarkan dirinya.


Ia menempatkan dirinya sebagai tokoh utama.


Ia merasa semua nubuat mengarah kepadanya.


Ia menganggap kelompoknya satu-satunya yang selamat.


Ia menyebut orang yang tidak percaya sebagai musuh kebenaran.


Ia membuat manusia takut agar bergantung kepadanya.


Ini bukan jalan penyadaran.


Ini adalah bahaya penguasaan.


Seorang pembawa nasihat yang benar tidak mengikat manusia kepada dirinya.


Ia mengarahkan kepada Alloh.


Ia menguatkan tanggung jawab pribadi.


Ia tidak menjual ketakutan.


Ia tidak menuntut ketaatan buta.


Ia tidak memanfaatkan kegelisahan orang.


Ia tidak menjadikan rahasia gaib sebagai alat mengendalikan.


Sebab semakin dekat manusia kepada akhir perjalanan, semakin penting kebebasan hati dari ketergantungan kepada selain Alloh.


TANDA KEDEWASAAN RUHANI


Kedewasaan ruhani tidak diukur dari banyaknya pengalaman aneh.


Ia diukur dari kestabilan akhlak.


Ia tidak diukur dari banyaknya istilah tinggi.


Ia diukur dari manfaat nyata.


Ia tidak diukur dari berapa banyak orang memanggil “guru.”


Ia diukur dari kesediaan untuk terus belajar.


Ia tidak diukur dari keberanian mengaku.


Ia diukur dari kehati-hatian menjaga amanah.


Tanda kedewasaan ruhani antara lain:


Lebih mudah bersyukur.


Lebih sulit menghina.


Lebih cepat meminta maaf.


Lebih tenang menghadapi perbedaan.


Lebih berhati-hati menyampaikan klaim.


Lebih mampu membedakan keyakinan pribadi dan kebenaran yang wajib diterima semua orang.


Lebih peduli kepada penderitaan nyata.


Lebih rajin menyelesaikan kewajiban.


Lebih sedikit membicarakan keistimewaan dirinya.


Semakin matang seseorang, semakin sederhana ia berjalan.


Tidak perlu banyak pertunjukan.


Tidak perlu banyak pengesahan.


Cukup akhlaknya menjadi saksi.


PESAN LEMBAR KELIMA


Wahai jiwa,


Sebelum membaca tanda-tanda dunia, bacalah dirimu.


Sebelum menilai zaman, nilailah akhlakmu.


Sebelum menafsirkan langit, periksalah amanah di bumi.


Sebelum merasa menerima pesan besar, selesaikan kewajiban kecil.


Sebelum mengaku membawa cahaya, pastikan kehadiranmu tidak membakar hati orang lain.


Tidak semua yang bercahaya adalah petunjuk.


Tidak semua yang menggetarkan adalah kebenaran.


Tidak semua yang terasa kuat harus diumumkan.


Kadang cahaya yang paling sejati justru hadir sebagai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan.


Jangan takut terlihat biasa.


Boleh jadi menjadi hamba yang biasa tetapi jujur lebih selamat daripada terlihat luar biasa tetapi dikuasai ego.


DOA LEMBAR KELIMA


Yā Alloh,


perlihatkan kepada kami keadaan diri kami dengan jujur.


Jangan biarkan kami sibuk membaca tanda di luar, tetapi buta terhadap kesalahan di dalam.


Lindungi kami dari ego yang memakai pakaian ruhani.


Lindungi kami dari keinginan merasa paling istimewa.


Lindungi kami dari klaim yang melampaui ilmu.


Lindungi kami dari prasangka yang kami anggap sebagai petunjuk.


Berikan kepada kami hati yang rendah.


Akal yang jernih.


Ilmu yang benar.


Guru yang jujur.


Sahabat yang berani menasihati.


Dan keberanian untuk mengakui ketika kami keliru.


Yā Alloh,


apabila Engkau memberi pengalaman batin, jadikan ia menambah ketundukan, bukan kesombongan.


Apabila Engkau memberi ilmu, jadikan ia menambah kasih, bukan penghinaan.


Apabila Engkau memberi pengikut, jadikan kami pelayan, bukan penguasa hati mereka.


Apabila Engkau memberi pengaruh, jadikan ia jalan manfaat, bukan panggung kebesaran diri.


Jadikan akhlak kami sebagai bukti bahwa cahaya-Mu menyentuh hati kami.


Dan jangan biarkan nama-Mu dipakai oleh ego kami untuk mencari kemuliaan di hadapan manusia.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KELIMA


Tanda terbesar bukanlah apa yang tampak di langit, tetapi apa yang berubah di dalam akhlak.


Semakin dekat seseorang kepada Alloh, semakin kecil keinginannya untuk menganggap dirinya istimewa.


Bacalah dunia dengan ilmu.

Bacalah isyarat dengan kehati-hatian.

Dan bacalah dirimu dengan kejujuran.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KEENAM


KETIKA UMAT TERBELAH OLEH KATA, NAMUN DIUJI OLEH AKHLAK


Pada bagian akhir perjalanan, perpecahan tidak selalu dimulai oleh perkara besar.


Kadang ia lahir dari satu kata.


Satu kalimat yang disalahpahami.


Satu pesan yang diteruskan tanpa diperiksa.


Satu perbedaan pendapat yang dibesarkan oleh ego.


Satu teguran yang disampaikan tanpa adab.


Satu keyakinan pribadi yang dipaksa menjadi kewajiban bagi semua orang.


Manusia lalu sibuk membela kelompok, nama, guru, jalan, dan pendapatnya.


Namun lupa membela kejujuran.


Lupa membela keadilan.


Lupa membela saudara yang dizalimi.


Lupa menjaga lisan.


Lupa bahwa sesama manusia lebih mudah terluka oleh ucapan daripada oleh perbedaan itu sendiri.


Maka pada masa ketika dunia terasa semakin sempit, umat tidak hanya diuji oleh fitnah besar.


Umat juga diuji oleh cara berbicara.


Apakah kata-kata menjadi cahaya?


Ataukah menjadi api?


KEBENARAN TIDAK MEMBUTUHKAN KEBENCIAN


Ada orang yang mengira bahwa semakin keras ia berbicara, semakin kuat kebenarannya.


Padahal suara keras tidak selalu menunjukkan dalil yang kuat.


Ada yang menganggap penghinaan sebagai keberanian.


Padahal merendahkan orang lain bukan tanda keteguhan.


Ada yang mudah menuduh sesat, kafir, munafik, bodoh, atau tertutup hanya karena berbeda pandangan.


Padahal vonis besar memerlukan ilmu, keadilan, syarat, dan tanggung jawab yang besar pula.


Kebenaran dapat disampaikan dengan tegas tanpa kasar.


Pelurusan dapat dilakukan dengan jelas tanpa mempermalukan.


Perbedaan dapat dijelaskan tanpa memutus persaudaraan.


Adab bukan kelemahan.


Kelembutan bukan berarti membenarkan kesalahan.


Diam sesaat untuk menimbang kata bukan tanda takut.


Justru orang yang mengerti beratnya ucapan akan berhati-hati sebelum melepaskannya.


FITNAH DI UJUNG JARI


Pada zaman dahulu, satu kabar palsu mungkin hanya beredar di satu pasar.


Kini satu sentuhan dapat membawanya melintasi kota, pulau, bahkan negara.


Manusia dapat merusak nama seseorang hanya dengan meneruskan pesan.


Dapat menimbulkan kepanikan hanya dengan membagikan potongan video.


Dapat memecah keluarga hanya dengan menyebarkan tangkapan layar.


Dapat menuduh tanpa pernah bertemu.


Dapat menghukum tanpa pernah memeriksa.


Teknologi mempercepat manfaat, tetapi juga mempercepat dosa.


Karena itu, tangan yang memegang alat komunikasi harus dijaga sebagaimana lisan dijaga.


Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan:


Apakah ini benar?


Apakah sumbernya jelas?


Apakah konteksnya utuh?


Apakah penyebarannya membawa manfaat?


Apakah ada kehormatan orang yang dirusak?


Apakah aku akan berani mempertanggungjawabkannya di hadapan orang yang dibicarakan?


Apakah aku siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Alloh?


Tidak semua yang menarik harus disebarkan.


Tidak semua yang mengejutkan adalah benar.


Tidak semua yang sesuai dengan prasangka kita layak dipercaya.


KETIKA NAMA AGAMA MENJADI ALAT PERTENGKARAN


Agama datang untuk membimbing manusia kepada penghambaan, keadilan, kasih sayang, dan akhlak.


Namun ego dapat memakai agama sebagai alat untuk meninggikan diri.


Seseorang dapat mengutip ayat untuk memenangkan pertengkaran, bukan mencari kebenaran.


Dapat membawa nama guru untuk menutup ruang pertanyaan.


Dapat memakai istilah suci untuk menghakimi.


Dapat menggunakan rasa takut kepada akhir zaman agar orang mengikuti kehendaknya.


Dapat menganggap kelompoknya paling bercahaya, sedangkan semua yang berbeda dianggap gelap.


Inilah ujian yang halus.


Nama suci tidak otomatis menyucikan niat.


Bahasa ruhani tidak otomatis membuat akhlak menjadi ruhani.


Pakaian agama tidak otomatis menutup kesombongan.


Sebuah perkataan harus tetap dinilai dari kebenaran, manfaat, adab, dan akibatnya.


Jangan tertipu hanya karena sebuah klaim dibungkus dengan kata-kata langit.


Periksalah apakah ia membawa manusia lebih dekat kepada Alloh atau justru lebih bergantung kepada tokoh.


Apakah ia melahirkan tanggung jawab atau ketakutan buta.


Apakah ia menumbuhkan akhlak atau permusuhan.


PERBEDAAN BUKAN SELALU PERMUSUHAN


Manusia berbeda dalam pemahaman, pengalaman, pendidikan, budaya, dan cara menyampaikan.


Tidak semua perbedaan dapat disatukan.


Tidak semua pendapat harus diterima.


Tidak semua jalan cocok bagi setiap orang.


Namun perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan kebencian.


Dua orang dapat tidak sepakat tanpa saling menghina.


Dua kelompok dapat memiliki metode berbeda tanpa menuduh niat satu sama lain.


Seorang murid dapat menghormati guru tanpa menutup akal.


Seorang guru dapat menerima pertanyaan tanpa merasa direndahkan.


Seseorang dapat meninggalkan suatu kelompok tanpa harus menyebarkan kebencian.


Seseorang dapat menolak ajaran tertentu tanpa merampas martabat orang yang mengikutinya.


Yang harus dilawan adalah kebatilan dan kezaliman.


Namun manusia tetap harus dijaga kehormatannya sejauh tidak menghalangi keadilan.


TIGA JENIS PERTENGKARAN


Pertama: Pertengkaran karena Kebenaran


Ada keadaan ketika manusia perlu bersuara.


Ketika hak dirampas.


Ketika kebohongan merugikan banyak orang.


Ketika kekerasan dibenarkan.


Ketika orang lemah tidak memiliki pembela.


Dalam keadaan seperti ini, diam dapat menjadi pembiaran.


Namun suara tetap harus dijaga dari dusta, fitnah, dan kebencian yang melampaui batas.


Membela kebenaran bukan berarti bebas berbuat zalim kepada lawan.


Kedua: Pertengkaran karena Kesalahpahaman


Banyak konflik dapat selesai apabila kedua pihak bersedia bertanya sebelum menuduh.


Satu kata mungkin memiliki maksud berbeda.


Satu kalimat mungkin terpotong.


Satu tindakan mungkin dilihat tanpa konteks.


Satu pesan mungkin disampaikan oleh pihak ketiga secara keliru.


Karena itu, tabayun adalah penjaga persaudaraan.


Bertanyalah langsung apabila memungkinkan.


Jangan membangun keputusan besar dari kabar yang belum utuh.


Ketiga: Pertengkaran karena Ego


Inilah pertengkaran yang paling melelahkan.


Masalah awalnya kecil.


Namun masing-masing ingin menang.


Tidak ada lagi pencarian kebenaran.


Yang ada hanya usaha mempertahankan harga diri.


Permintaan maaf dianggap kekalahan.


Mengakui kesalahan dianggap kehinaan.


Diam dianggap kalah.


Padahal boleh jadi kemenangan sejati adalah menghentikan perdebatan yang tidak lagi membawa manfaat.


Tidak semua pertempuran harus dimenangkan.


Sebagian harus ditinggalkan agar hati tetap selamat.


ADAB MENEGUR


Teguran yang benar dapat rusak karena cara yang salah.


Sebelum menegur, periksalah niat.


Apakah ingin memperbaiki?


Ataukah ingin mempermalukan?


Apakah ingin menyelamatkan?


Ataukah ingin menunjukkan bahwa diri lebih pintar?


Apabila kesalahan dilakukan secara pribadi, dahulukan teguran pribadi.


Apabila dampaknya terbuka dan luas, pelurusan terbuka mungkin diperlukan.


Namun tetap fokuslah pada pernyataan dan perbuatannya.


Jangan melebar kepada penghinaan fisik, keluarga, masa lalu, atau hal yang tidak berkaitan.


Sampaikan dasar pelurusan.


Berikan ruang bagi orang untuk memperbaiki.


Jangan jadikan kesalahan seseorang sebagai hiburan.


Jangan rayakan kehancuran orang yang sedang dikoreksi.


Tujuan teguran adalah kembalinya kebenaran, bukan hancurnya manusia.


ADAB MENERIMA TEGURAN


Menerima teguran juga memerlukan kelapangan.


Jangan langsung menolak hanya karena cara penyampaiannya tidak sempurna.


Boleh jadi di dalam kata yang kasar terdapat bagian yang benar.


Ambillah kebenarannya dan tinggalkan kekasarannya.


Namun menerima nasihat tidak berarti wajib menerima semua tuduhan.


Periksalah.


Mintalah dasar.


Jelaskan apabila ada kesalahpahaman.


Akui apabila memang keliru.


Mengatakan “aku salah” tidak menurunkan kemuliaan.


Justru ia memutus rantai kesalahan.


Orang yang mampu mengakui kesalahan lebih kuat daripada orang yang terus mempertahankan sesuatu yang telah diketahuinya keliru.


KETIKA PERSAUDARAAN DIUJI


Persaudaraan mudah diucapkan ketika semua sepakat.


Ujiannya datang ketika ada perbedaan.


Apakah kita masih mampu menjaga salam?


Apakah kita masih mampu mendoakan?


Apakah kita masih mampu berlaku adil?


Apakah kita masih mampu membedakan antara menolak pendapat dan membenci orangnya?


Apakah kita masih mampu mengingat kebaikan lama ketika satu kesalahan muncul?


Jangan karena satu perselisihan, seluruh kebaikan seseorang dihapus dari ingatan.


Jangan pula karena banyaknya kebaikan, kesalahan yang nyata ditutup-tutupi.


Keadilan berada di antara keduanya.


Mengakui kebaikan tanpa membenarkan kesalahan.


Meluruskan kesalahan tanpa meniadakan seluruh kemanusiaannya.


EMPAT PENJAGA LISAN DI AKHIR PERJALANAN


Pertama: Benar


Pastikan ucapan tidak dibangun di atas dusta.


Kedua: Perlu


Tidak semua yang benar harus diucapkan pada setiap waktu.


Ketiga: Baik Caranya


Kebenaran yang disampaikan dengan penghinaan dapat menutup hati.


Keempat: Siap Dipertanggungjawabkan


Jangan berkata sesuatu yang engkau tidak berani ulangi di hadapan orang yang dibicarakan.


Empat penjaga ini bukan untuk membuat manusia takut berbicara.


Ia untuk memastikan bahwa ucapan menjadi amanah.


PESAN LEMBAR KEENAM


Wahai jiwa,


Di masa peringatan, jangan jadikan lidahmu salah satu tanda kerusakan.


Jangan menambah gelap dunia dengan fitnah.


Jangan menambah luka umat dengan penghinaan.


Jangan merasa sedang membela Alloh, sementara cara yang digunakan melanggar akhlak yang diperintahkan-Nya.


Sebelum membagikan kabar, periksalah.


Sebelum menuduh, bertanyalah.


Sebelum membalas, tenangkan hati.


Sebelum menegur, luruskan niat.


Sebelum menghakimi, ingatlah bahwa engkau pun akan diadili.


Boleh jadi satu kata yang engkau tahan menjadi penyelamat.


Boleh jadi satu permintaan maaf mengakhiri permusuhan bertahun-tahun.


Boleh jadi satu penjelasan yang lembut menyelamatkan seseorang dari kesesatan.


Boleh jadi satu berita palsu yang tidak engkau teruskan menghindarkan banyak orang dari fitnah.


DOA LEMBAR KEENAM


Yā Alloh,


jagalah lisan dan jari-jari kami dari menyebarkan kebohongan.


Berikan kami kemampuan membedakan kabar yang benar dan kabar yang menyesatkan.


Jauhkan kami dari kesenangan melihat orang lain dipermalukan.


Jauhkan kami dari semangat membela kelompok tetapi melupakan keadilan.


Ajarkan kami menegur dengan adab.


Ajarkan kami menerima nasihat dengan lapang.


Ajarkan kami berbeda tanpa membenci.


Ajarkan kami tegas tanpa menzalimi.


Yā Alloh,


apabila ucapan kami pernah melukai, bukakan jalan untuk meminta maaf.


Apabila kami pernah menyebarkan kabar yang salah, berikan keberanian untuk mencabut dan meluruskannya.


Apabila kami pernah menuduh tanpa bukti, ampuni kami dan lindungi orang yang telah kami zalimi.


Jadikan setiap kata kami sebagai pembawa ketenangan, ilmu, keberanian, dan persaudaraan.


Jangan jadikan nama-Mu sebagai alat ego kami memenangkan pertengkaran.


Jadikan kami pembawa cahaya yang tidak membakar.


Pembawa kebenaran yang tidak kehilangan kasih.


Dan pembela keadilan yang tetap takut berbuat zalim.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KEENAM


Pada akhir perjalanan, umat tidak hanya diuji oleh apa yang dipercayainya, tetapi juga oleh bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda.


Kebenaran tanpa adab dapat berubah menjadi senjata ego.

Adab tanpa keberanian dapat berubah menjadi pembiaran.

Maka jagalah keduanya: kebenaran dan kasih sayang.


Jangan jadikan dunia yang sudah sempit semakin sesak oleh kata-kata yang tidak dijaga.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KETUJUH


KETIKA KELUARGA MENJADI UJIAN TERAKHIR SEBELUM KEPULANGAN


Pada bagian akhir perjalanan, manusia sering menyadari bahwa yang paling dekat justru paling mudah diabaikan.


Ia dapat bersikap lembut kepada orang jauh, tetapi keras kepada keluarganya.


Ia dapat sabar menghadapi orang lain, tetapi mudah marah di rumah.


Ia dapat terlihat ramah di hadapan banyak orang, tetapi meninggalkan luka kepada pasangan, anak, orang tua, atau saudara.


Ia dapat sibuk membicarakan keselamatan umat, tetapi tidak mengetahui kesedihan yang disimpan oleh orang-orang serumah.


Padahal rumah adalah tempat akhlak diuji tanpa panggung.


Di luar rumah, manusia dapat memilih kata.


Di dalam rumah, sifat asli lebih mudah muncul.


Karena itu, keluarga bukan sekadar tempat beristirahat.


Keluarga adalah amanah.


Keluarga adalah cermin.


Keluarga adalah ladang amal.


Dan bagi banyak orang, keluarga menjadi ujian paling berat sebelum perjalanan dunia ditutup.


KEBAIKAN YANG PALING DEKAT SERING DITUNDA


Manusia mudah berjanji akan membahagiakan keluarganya nanti.


“Nanti kalau rezeki sudah banyak.”


“Nanti kalau pekerjaan sudah ringan.”


“Nanti kalau masalah selesai.”


“Nanti kalau suasana hati sudah baik.”


Namun waktu tidak menunggu semua keadaan menjadi sempurna.


Orang tua dapat menua sebelum anak sempat berbakti dengan sungguh-sungguh.


Anak dapat tumbuh jauh sebelum orang tua sempat benar-benar hadir.


Pasangan dapat lelah sebelum kesalahpahaman diselesaikan.


Saudara dapat pergi sebelum permusuhan dilunakkan.


Jangan menunda kebaikan yang tidak membutuhkan biaya besar.


Duduk dan mendengarkan.


Mengucapkan terima kasih.


Meminta maaf.


Mendoakan.


Menanyakan kabar.


Menahan kata-kata kasar.


Menyediakan waktu.


Menepati janji kecil.


Semua itu tampak sederhana, tetapi sering menjadi hal yang paling dirindukan setelah seseorang tiada.


ORANG TUA ADALAH PINTU YANG TIDAK SELALU TERBUKA


Ketika kecil, manusia merasa orang tuanya akan selalu ada.


Ia terbiasa melihat wajah mereka.


Terbiasa mendengar suara mereka.


Terbiasa menerima bantuan mereka.


Lalu usia berjalan.


Rambut mulai memutih.


Tubuh melemah.


Pendengaran menurun.


Langkah melambat.


Kadang orang tua mengulang cerita yang sama.


Kadang pertanyaannya terasa sederhana.


Kadang kebutuhannya bertambah.


Di sinilah kesabaran anak diuji.


Jangan menganggap lambatnya orang tua sebagai beban.


Dahulu mereka pun bersabar ketika engkau belum mampu berjalan, makan, berbicara, dan menjaga dirimu.


Apabila orang tua masih hidup, jangan tunggu hari tertentu untuk berbakti.


Hubungi mereka.


Kunjungi apabila mampu.


Dengarkan keluhannya.


Bantu keperluannya.


Jangan hanya memberi uang lalu merasa seluruh kewajiban telah selesai.


Kadang mereka lebih membutuhkan kehadiran daripada pemberian.


Apabila orang tua telah wafat, jangan menganggap hubungan telah terputus sepenuhnya.


Doakan.


Jaga nama baiknya.


Sambung silaturahmi yang dahulu mereka jaga.


Teruskan kebaikannya.


Selesaikan tanggungannya apabila diketahui dan mampu.


PASANGAN BUKAN TEMPAT PELAMPIASAN


Rumah tangga sering rusak bukan hanya karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta tidak dijaga oleh adab.


Pasangan dijadikan tempat melampiaskan kemarahan dari luar.


Kesalahannya dibicarakan kepada banyak orang.


Kebaikannya dilupakan ketika satu kekurangan muncul.


Perbandingan dengan orang lain terus dilakukan.


Ucapan ancaman dianggap biasa.


Diam digunakan sebagai hukuman.


Agama dipakai untuk menekan, bukan membimbing.


Kepemimpinan dipahami sebagai kuasa, bukan tanggung jawab.


Ketaatan diminta, tetapi keadilan tidak diberikan.


Padahal pasangan bukan milik yang boleh diperlakukan sesuka hati.


Ia adalah manusia yang memiliki hati, batas, kebutuhan, dan hak.


Cinta tanpa penghormatan akan berubah menjadi penguasaan.


Tegas tanpa kasih akan berubah menjadi kekerasan.


Sabar tanpa batas yang sehat dapat berubah menjadi pembiaran terhadap kezaliman.


Karena itu, rumah tangga memerlukan kasih, musyawarah, tanggung jawab, dan batas yang adil.


ANAK BUKAN SALINAN KEINGINAN ORANG TUA


Anak adalah amanah, bukan alat memenuhi ambisi.


Ia bukan tempat melanjutkan mimpi orang tua yang gagal dicapai.


Ia bukan bahan perbandingan.


Ia bukan sasaran kemarahan.


Ia bukan bukti kehormatan keluarga.


Anak perlu diarahkan, tetapi juga didengarkan.


Perlu diberi batas, tetapi tidak dihina.


Perlu diajarkan agama, tetapi jangan dibuat takut kepada Alloh melalui kekerasan manusia.


Perlu dilatih bertanggung jawab, tetapi jangan dirampas seluruh ruang untuk tumbuh.


Orang tua sering mengingat kesalahan anak, tetapi lupa bahwa anak juga mengingat suara, tatapan, dan cara ia diperlakukan.


Ucapan yang dianggap biasa oleh orang tua dapat tinggal bertahun-tahun di dalam batin anak.


Maka berhati-hatilah.


Didiklah tanpa merendahkan.


Koreksilah tanpa mempermalukan.


Peluklah sebelum luka mencari pelarian di luar rumah.


Jadilah tempat pulang, bukan tempat yang paling ingin mereka jauhi.


SAUDARA DAN WARISAN PERSELISIHAN


Banyak keluarga terpecah setelah orang tua meninggal.


Harta yang sedikit dapat memisahkan hubungan yang dibangun puluhan tahun.


Tanah menjadi lebih berharga daripada persaudaraan.


Rumah menjadi sebab permusuhan.


Ucapan lama dibuka kembali.


Kebaikan bertahun-tahun hilang karena pembagian yang dianggap tidak adil.


Padahal warisan seharusnya diselesaikan dengan ilmu, keterbukaan, musyawarah, dan keadilan.


Jangan mengambil bagian yang bukan hak.


Jangan menekan saudara yang lemah.


Jangan menyembunyikan harta.


Jangan memakai kedekatan dengan orang tua sebagai alasan untuk menguasai semuanya.


Jangan menukar persaudaraan dengan sesuatu yang kelak juga akan ditinggalkan.


Harta warisan dapat habis.


Namun dosa merampas hak dapat dibawa sampai akhir perjalanan.


LUKA KELUARGA TIDAK BOLEH DITUTUP DENGAN NASIHAT KOSONG


Ada keluarga yang benar-benar mengalami kekerasan, penghinaan, penelantaran, manipulasi, atau pengkhianatan.


Dalam keadaan seperti itu, jangan hanya berkata:


“Bersabarlah.”


“Namanya juga keluarga.”


“Jangan membuka aib.”


“Memaafkan saja.”


Nasihat seperti itu dapat menjadi beban tambahan apabila tidak disertai perlindungan dan penyelesaian.


Memaafkan bukan berarti membiarkan kekerasan berulang.


Menjaga keluarga bukan berarti menutup kezaliman.


Sabar bukan berarti kehilangan hak untuk aman.


Apabila ada bahaya, cari pertolongan yang tepercaya.


Libatkan keluarga yang bijaksana, tokoh yang adil, pendamping profesional, atau pihak berwenang sesuai keadaan.


Utamakan keselamatan.


Setelah aman, barulah pemulihan, musyawarah, dan keputusan dapat dilakukan dengan lebih jernih.


Agama tidak memerintahkan seseorang menyerahkan dirinya kepada kezaliman tanpa perlindungan.


RUMAH YANG TERANG BUKAN RUMAH TANPA MASALAH


Rumah yang terang bukan rumah yang tidak pernah berbeda pendapat.


Rumah yang terang adalah rumah yang tahu cara menyelesaikan perbedaan.


Ada ruang untuk bicara.


Ada keberanian meminta maaf.


Ada kesediaan mengakui kesalahan.


Ada batas terhadap kekerasan.


Ada penghormatan kepada yang tua tanpa membungkam yang muda.


Ada kasih kepada yang muda tanpa mengabaikan tanggung jawab.


Ada ibadah, tetapi tidak digunakan untuk menutupi luka.


Ada doa, tetapi disertai usaha memperbaiki komunikasi.


Ada nasihat, tetapi juga teladan.


Rumah tidak menjadi suci karena banyaknya hiasan keagamaan.


Rumah menjadi teduh ketika penghuninya aman dari lisan dan tangan satu sama lain.


EMPAT AMANAH DI DALAM KELUARGA


Pertama: Amanah Kehadiran


Jangan selalu memberikan sisa waktu kepada keluarga.


Kehadiran tidak hanya berarti tubuh berada di rumah.


Kehadiran berarti mendengar tanpa terus melihat layar.


Berbicara tanpa tergesa.


Memperhatikan perubahan suasana.


Mengenali ketika seseorang sedang menyimpan beban.


Kedua: Amanah Nafkah


Nafkah bukan alat menguasai.


Orang yang memberi nafkah tidak membeli hak untuk menghina.


Nafkah adalah tanggung jawab yang harus diberikan secara halal, layak, dan penuh adab.


Orang yang menerima pun wajib menjaganya dengan amanah.


Ketiga: Amanah Rahasia


Jangan mudah membuka kelemahan keluarga kepada orang lain.


Carilah pertolongan apabila diperlukan, tetapi jangan menjadikan aib sebagai bahan hiburan.


Bedakan antara mencari bantuan dan menyebarkan kehinaan.


Keempat: Amanah Doa


Doakan keluarga bukan hanya ketika mereka sakit.


Doakan iman, akhlak, kesehatan, rezeki halal, perlindungan, dan akhir yang baik.


Kadang manusia tidak mampu mengubah orang lain dengan kata-kata.


Namun ia tetap dapat mendoakan sambil memperbaiki teladannya sendiri.


JANGAN PULANG MEMBAWA HAK KELUARGA


Sebelum perjalanan ditutup, periksalah hak orang-orang terdekat.


Apakah ada nafkah yang sengaja ditahan?


Apakah ada anak yang diabaikan?


Apakah ada pasangan yang terus direndahkan?


Apakah ada orang tua yang dibiarkan sendirian?


Apakah ada saudara yang haknya diambil?


Apakah ada kata-kata yang belum dimintakan maaf?


Apakah ada janji yang belum diselesaikan?


Jangan merasa aman karena orang terdekat memilih diam.


Diamnya seseorang tidak berarti ia tidak terluka.


Kesabarannya tidak berarti engkau bebas mengulang kesalahan.


Keluarga dapat memaafkan berkali-kali, tetapi Alloh tetap mengetahui setiap hak yang dilanggar.


PESAN LEMBAR KETUJUH


Wahai jiwa,


Jangan mencari amal yang jauh sementara pintu kebaikan di rumah dibiarkan tertutup.


Jangan sibuk menyelamatkan banyak orang sementara keluargamu takut berbicara kepadamu.


Jangan mengajarkan kelembutan kepada dunia tetapi membawa kemarahan ke dalam rumah.


Jangan menunggu kematian mengubah pertengkaran menjadi penyesalan.


Datanglah lebih dahulu.


Ucapkan salam.


Duduklah.


Dengarkan.


Akui kesalahanmu.


Maafkan yang mampu dimaafkan.


Buat batas terhadap yang membahayakan.


Selesaikan hak dengan adil.


Sebab ketika seseorang telah tiada, banyak manusia baru menyadari bahwa suara yang dahulu mengganggu ternyata adalah suara yang paling dirindukan.


DOA LEMBAR KETUJUH


Yā Alloh,


jadikan rumah kami tempat yang dipenuhi ketenteraman, kejujuran, dan kasih sayang.


Lembutkan hati kami kepada orang tua.


Berikan kesabaran dalam merawat mereka.


Ampuni kekasaran kami kepada orang yang dahulu merawat kelemahan kami.


Yā Alloh,


jaga pasangan kami dari pengkhianatan, penghinaan, kekerasan, dan ketidakadilan.


Ajarkan kami mencintai tanpa menguasai.


Menegur tanpa merendahkan.


Memimpin tanpa menindas.


Mendampingi tanpa menghilangkan martabat.


Yā Alloh,


lindungi anak-anak kami.


Jadikan kami teladan sebelum menjadi pemberi perintah.


Jauhkan lisan kami dari ucapan yang merusak batin mereka.


Tumbuhkan iman, keberanian, kecerdasan, kelembutan, dan tanggung jawab dalam diri mereka.


Yā Alloh,


damaikan saudara yang berselisih.


Jauhkan keluarga kami dari perebutan harta, iri, fitnah, dan putusnya silaturahmi.


Berikan jalan yang adil bagi setiap hak.


Apabila ada luka yang berat, hadirkan perlindungan, pertolongan, dan pemulihan.


Jangan biarkan nama keluarga dipakai untuk menutupi kezaliman.


Dan sebelum halaman hidup kami ditutup, berikan kesempatan untuk meminta maaf, memperbaiki, mengembalikan hak, serta memeluk mereka yang kami cintai.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KETUJUH


Ukuran akhlak seseorang bukan hanya bagaimana ia bersikap di hadapan banyak orang, tetapi bagaimana keluarganya merasakan kehadirannya.


Jangan menjadi cahaya bagi dunia, tetapi menjadi luka di dalam rumah.


Sebelum perjalanan ditutup, pulanglah kepada keluargamu dengan kasih, keadilan, permintaan maaf, dan amanah yang telah diselesaikan.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KEDELAPAN


KETIKA HARTA MENJADI UJIAN, BUKAN JAMINAN KESELAMATAN


Pada bagian akhir perjalanan, manusia diuji bukan hanya oleh kekurangan, tetapi juga oleh kelimpahan.


Kekurangan dapat membuat seseorang gelisah.


Namun kelimpahan dapat membuat seseorang lupa.


Kekurangan dapat mendorong manusia berdoa.


Namun kelimpahan dapat menumbuhkan perasaan tidak membutuhkan siapa pun.


Karena itu, harta bukan tanda mutlak bahwa seseorang dimuliakan.


Kemiskinan pun bukan bukti bahwa seseorang dihinakan.


Keduanya adalah ujian.


Yang sedikit diuji dengan kesabaran.


Yang banyak diuji dengan amanah.


Yang kekurangan ditanya apakah ia tetap menjaga kejujuran.


Yang berkelimpahan ditanya apakah ia tetap memiliki kasih.


Bukan jumlah harta yang menentukan keselamatan.


Yang menentukan adalah dari mana ia diperoleh, untuk apa ia digunakan, dan apakah ia membuat hati semakin dekat atau semakin jauh dari Alloh.


HARTA ADALAH TITIPAN YANG BERPINDAH


Manusia sering berkata:


“Ini hartaku.”


“Ini tanahku.”


“Ini rumahku.”


“Ini usahaku.”


Namun sebelum ia lahir, semua itu telah ada dalam tangan orang lain.


Setelah ia meninggal, semuanya akan berpindah lagi.


Rumah yang dibangun dengan susah payah akan ditempati orang lain.


Tanah yang diperebutkan akan diwariskan.


Uang yang disimpan akan dibagikan.


Barang yang dijaga akan dijual, diberikan, atau ditinggalkan.


Maka hakikat kepemilikan manusia hanyalah sementara.


Ia diberi kesempatan mengelola.


Bukan memiliki secara mutlak.


Harta datang sebagai titipan.


Dan setiap titipan akan ditanya.


DUA PERTANYAAN BESAR TENTANG HARTA


Ada dua pertanyaan besar yang tidak dapat dihindari.


Dari mana harta itu diperoleh?


Apakah melalui pekerjaan yang halal?


Apakah ada penipuan?


Apakah ada hak pekerja yang ditahan?


Apakah ada timbangan yang dikurangi?


Apakah ada kebohongan dalam jual beli?


Apakah ada suap?


Apakah ada warisan yang diambil secara tidak adil?


Apakah ada keuntungan yang dibangun di atas kesusahan orang lain?


Lalu pertanyaan kedua:


Untuk apa harta itu digunakan?


Apakah untuk menafkahi keluarga?


Apakah untuk menolong?


Apakah untuk pendidikan?


Apakah untuk kebaikan?


Ataukah untuk pamer?


Untuk merendahkan?


Untuk memuaskan kebiasaan yang merusak?


Untuk menguasai orang lain?


Untuk membiayai kezaliman?


Harta yang halal dapat berubah menjadi beban apabila digunakan secara salah.


Sebaliknya, harta yang sedikit dapat menjadi cahaya apabila dibelanjakan dengan niat yang bersih.


REZEKI BUKAN HANYA UANG


Manusia sering menyempitkan makna rezeki menjadi uang.


Padahal rezeki memiliki banyak bentuk.


Kesehatan adalah rezeki.


Waktu luang adalah rezeki.


Keluarga yang rukun adalah rezeki.


Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki.


Sahabat yang jujur adalah rezeki.


Tidur yang tenang adalah rezeki.


Makanan yang sederhana tetapi menyehatkan adalah rezeki.


Kemampuan untuk merasa cukup adalah rezeki yang besar.


Ada orang yang banyak uang, tetapi tidak memiliki ketenangan.


Ada yang memiliki rumah besar, tetapi tidak merasakan rumah sebagai tempat pulang.


Ada yang dikenal banyak orang, tetapi tidak mempunyai satu sahabat yang tulus.


Ada yang penghasilannya sederhana, tetapi hidupnya terasa lapang.


Maka jangan mengukur seluruh karunia Alloh hanya dengan angka.


Boleh jadi apa yang engkau miliki jauh lebih besar daripada yang selama ini engkau sadari.


BAHAYA HARTA YANG TIDAK DIJAGA


Harta dapat menjadi pelayan yang baik.


Namun ia dapat berubah menjadi tuan yang kejam.


Ketika hati mulai bergantung kepadanya, manusia dapat kehilangan arah.


Ia takut miskin hingga berani curang.


Ia takut kehilangan posisi hingga mengkhianati amanah.


Ia ingin terlihat berhasil hingga memaksakan gaya hidup.


Ia meminjam demi gengsi.


Ia menahan hak orang lain demi menambah simpanan.


Ia menilai manusia dari kekayaan.


Ia menghormati yang kaya dan merendahkan yang miskin.


Di sinilah harta mulai menguasai hati.


Bukan lagi tangan yang memegang harta.


Tetapi harta yang memegang manusia.


UTANG YANG DIBAWA SAMPAI AKHIR


Utang bukan sekadar angka.


Ia adalah amanah.


Orang yang berutang wajib bersungguh-sungguh membayar sesuai kemampuannya.


Jangan menunda apabila mampu.


Jangan menghilang.


Jangan memutus komunikasi.


Jangan memakai kesulitan sebagai alasan untuk menipu.


Apabila benar-benar belum mampu, jelaskan dengan jujur.


Mintalah waktu.


Buat kesepakatan.


Bayarlah sedikit demi sedikit.


Kesungguhan dan kejujuran berbeda dari kelalaian.


Bagi orang yang memberi pinjaman, jangan menindas orang yang sedang kesulitan.


Jangan mempermalukan.


Jangan mengancam secara berlebihan.


Jangan mengambil kesempatan dari penderitaannya.


Tegakkan hak, tetapi tetap jaga kemanusiaan.


Utang yang diselesaikan dengan kejujuran dapat menjadi jalan kebaikan.


Namun utang yang dipermainkan dapat menjadi beban sampai perjalanan ditutup.


SEDEKAH BUKAN PERTUNJUKAN


Sedekah adalah salah satu cara membebaskan hati dari perbudakan harta.


Namun sedekah pun dapat dirusak oleh ego.


Ada yang memberi agar namanya disebut.


Ada yang menolong agar dipuji.


Ada yang memotret kesusahan orang lain demi membesarkan citra dirinya.


Ada yang mengingat-ingat pemberiannya untuk menundukkan penerima.


Sedekah yang baik menjaga martabat.


Ia tidak mempermalukan.


Ia tidak menuntut balasan.


Ia tidak menjadi alat kekuasaan.


Ia diberikan dengan adab.


Kadang secara terbuka untuk mengajak kebaikan.


Kadang secara tersembunyi untuk menjaga keikhlasan.


Yang terpenting, jangan biarkan tangan yang memberi melukai hati yang menerima.


ORANG MISKIN BUKAN MANUSIA YANG LEBIH RENDAH


Kemiskinan bukan aib.


Kesulitan ekonomi bukan alasan untuk merendahkan seseorang.


Jangan menilai harga diri manusia dari pakaiannya.


Jangan menganggap orang yang berutang pasti malas.


Jangan menuduh orang miskin kurang berdoa.


Tidak semua keadaan dapat disederhanakan menjadi satu sebab.


Ada yang bekerja keras tetapi belum memperoleh hasil.


Ada yang menanggung keluarga besar.


Ada yang sakit.


Ada yang tertimpa musibah.


Ada yang kehilangan pekerjaan.


Ada yang menjadi korban sistem yang tidak adil.


Tugas orang yang memiliki kemampuan bukan menghakimi, melainkan membantu dengan bijaksana.


Bantuan terbaik bukan selalu memberi uang.


Kadang yang dibutuhkan adalah pekerjaan, pelatihan, akses, perlindungan, pendampingan, atau kesempatan.


Kasih yang matang tidak hanya memberi sesaat.


Ia juga berusaha memulihkan kemampuan seseorang untuk berdiri.


CUKUP ADALAH KEKAYAAN BATIN


Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha.


Rasa cukup adalah tidak membiarkan keinginan menguasai jiwa.


Orang yang merasa cukup masih boleh mempunyai cita-cita.


Masih boleh berkembang.


Masih boleh membangun usaha.


Namun ia tidak menjadikan keberhasilan sebagai syarat untuk bersyukur.


Ia tidak iri kepada setiap yang dimiliki orang lain.


Ia tidak memaksakan sesuatu di luar kemampuan hanya demi terlihat setara.


Ia memahami kebutuhan dan keinginan.


Ia tahu kapan harus mengejar.


Ia tahu kapan harus berhenti.


Ia tahu kapan harus berbagi.


Rasa cukup membuat yang sedikit terasa cukup.


Keserakahan membuat yang banyak selalu terasa kurang.


EMPAT CARA MEMBERSIHKAN HUBUNGAN DENGAN HARTA


Pertama: Jujur dalam Mencari


Jangan bangun rezeki di atas dusta, penipuan, atau pengkhianatan.


Kedua: Sederhana dalam Menggunakan


Belanjakan sesuai kemampuan.


Jangan jadikan gengsi sebagai pengatur hidup.


Ketiga: Adil dalam Membagi


Penuhi hak keluarga, pekerja, mitra, dan orang lain.


Keempat: Ringan dalam Memberi


Sisihkan bagian untuk membantu, sekecil apa pun.


Empat langkah ini menjaga agar harta tetap berada di tangan, bukan menguasai hati.


PESAN LEMBAR KEDELAPAN


Wahai jiwa,


Jangan menghabiskan umur hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya ditinggalkan.


Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.


Carilah rezeki halal.


Bangunlah kehidupan yang baik.


Tetapi jangan kehilangan hati di tengah usaha.


Jangan korbankan keluarga demi harta lalu memakai harta itu untuk mengganti kehadiran.


Jangan merusak kesehatan demi uang lalu menghabiskan uang untuk mengejar kesehatan.


Jangan membeli penghormatan dengan penampilan.


Jangan menyimpan terlalu banyak sementara hak orang lain tertahan.


Jangan merasa lebih tinggi karena memiliki lebih banyak.


Ketika halaman terakhir ditutup, manusia tidak membawa rekening, rumah, tanah, kendaraan, atau gelar.


Yang menyertainya adalah amal dari cara ia memperoleh dan menggunakan semuanya.


DOA LEMBAR KEDELAPAN


Yā Alloh,


karuniakan kepada kami rezeki yang halal, baik, cukup, dan membawa keberkahan.


Jauhkan kami dari harta yang diperoleh melalui kezaliman.


Jauhkan kami dari keserakahan.


Jauhkan kami dari pemborosan.


Jauhkan kami dari gengsi yang memaksa kami hidup di luar kemampuan.


Ajarkan kami membedakan kebutuhan dan keinginan.


Ajarkan kami membayar utang dengan jujur.


Ajarkan kami memenuhi hak keluarga, pekerja, saudara, dan sesama.


Yā Alloh,


apabila Engkau melapangkan rezeki kami, jangan biarkan hati kami menjadi sempit.


Apabila Engkau menguji kami dengan kekurangan, jangan biarkan kami kehilangan harapan.


Jadikan tangan kami ringan memberi.


Jadikan pemberian kami menjaga martabat penerima.


Jadikan harta sebagai jalan ibadah, bukan penghalang menuju-Mu.


Dan sebelum perjalanan kami selesai, bantu kami membersihkan setiap harta yang bukan hak, menyelesaikan setiap utang, serta meninggalkan bekal yang membawa manfaat setelah kami tiada.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KEDELAPAN


Harta bukan bukti bahwa manusia telah sampai. Harta adalah amanah yang menentukan bagaimana ia akan ditanya.


Orang yang kaya belum tentu memiliki banyak.

Orang yang memiliki rasa cukup tidak mudah diperbudak oleh kekurangan.


Carilah rezeki dengan jujur.

Gunakan dengan adil.

Bagikan dengan kasih.

Dan tinggalkan dunia tanpa membawa hak orang lain.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KESEMBILAN


KETIKA ILMU BANYAK, TETAPI HATI TIDAK BERUBAH


Pada bagian akhir perjalanan, manusia akan menemukan banyak pengetahuan.


Buku semakin mudah dijangkau.


Ceramah semakin mudah didengar.


Nasihat tersebar setiap hari.


Ayat, hadis, hikmah, dan kata-kata kebaikan dapat dibaca hanya melalui satu sentuhan.


Namun banyaknya pengetahuan tidak selalu berarti bertambahnya cahaya.


Ada orang yang hafal banyak kata, tetapi sulit menjaga lisan.


Ada yang memahami banyak hukum, tetapi tidak adil kepada orang terdekat.


Ada yang mampu menjelaskan kesabaran, tetapi mudah marah ketika kepentingannya terganggu.


Ada yang berbicara tentang tawakal, tetapi panik ketika kehilangan sedikit kendali.


Ada yang menyeru manusia kepada tobat, tetapi enggan mengakui kesalahannya sendiri.


Di sinilah ilmu diuji.


Apakah ia turun ke dalam akhlak?


Ataukah hanya berhenti di kepala dan lidah?


ILMU BUKAN HIASAN KEHORMATAN


Ilmu bukan pakaian untuk terlihat lebih tinggi.


Ilmu bukan tangga untuk merendahkan yang belum memahami.


Ilmu bukan alat memenangkan setiap perdebatan.


Ilmu bukan alasan agar manusia selalu didengar.


Ilmu adalah amanah.


Semakin banyak yang diketahui, semakin besar tanggung jawab untuk berhati-hati.


Orang yang berilmu seharusnya semakin takut berbicara tanpa dasar.


Semakin malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diajarkannya.


Semakin lembut kepada orang yang sedang belajar.


Semakin sadar bahwa apa yang belum diketahuinya jauh lebih luas daripada yang telah dipahami.


Apabila ilmu menumbuhkan kesombongan, berarti ada penyakit yang ikut tumbuh bersamanya.


Apabila ilmu membuat seseorang sulit dinasihati, berarti ia mulai menggunakan ilmu sebagai benteng ego.


Apabila ilmu membuatnya suka mempermalukan orang lain, berarti akhlak belum mampu memikul pengetahuan itu.


PENGETAHUAN YANG TIDAK DIAMALKAN


Manusia mudah merasa telah berubah hanya karena banyak mendengar nasihat.


Ia merasa dekat kepada Alloh karena menyimpan banyak tulisan ruhani.


Ia merasa telah memahami kesabaran karena menyukai kata-kata tentang kesabaran.


Ia merasa telah bertobat karena menangis ketika mendengar ceramah.


Namun perubahan tidak diukur dari apa yang disimpan.


Perubahan diukur dari apa yang dijalankan.


Apakah sholat lebih dijaga?


Apakah utang mulai dibayar?


Apakah amarah mulai dikendalikan?


Apakah keluarga lebih aman dari ucapan kasar?


Apakah kebiasaan berdusta mulai ditinggalkan?


Apakah waktu lebih banyak digunakan untuk manfaat?


Apakah hak orang lain dikembalikan?


Apabila jawaban atas semua itu belum berubah, maka ilmu masih menunggu untuk diamalkan.


Mengetahui jalan tidak sama dengan berjalan.


Memegang peta tidak sama dengan sampai.


Membicarakan air tidak menghilangkan dahaga.


Ilmu menjadi cahaya ketika ia masuk ke dalam keputusan sehari-hari.


BAHAYA MENGAJAR SEBELUM BELAJAR TUNDUK


Keinginan mengajar dapat muncul lebih cepat daripada kesiapan hati.


Seseorang membaca sedikit, lalu merasa telah memahami banyak.


Mendapat satu pengalaman, lalu menganggap dirinya mampu membimbing semua orang.


Menerima pujian, lalu merasa telah memiliki kedudukan.


Padahal membimbing manusia adalah amanah yang berat.


Seorang pembimbing dapat memengaruhi keputusan, keyakinan, rasa takut, harapan, bahkan kehidupan orang lain.


Karena itu, ia harus berani berkata:


“Aku tidak tahu.”


“Aku perlu memeriksa.”


“Aku mungkin keliru.”


“Dalam hal ini, bertanyalah kepada orang yang lebih ahli.”


Kalimat-kalimat itu bukan tanda kelemahan.


Itulah tanda amanah.


Orang yang selalu mempunyai jawaban justru patut diwaspadai.


Tidak ada manusia yang menguasai semua bidang.


Masalah kesehatan memerlukan ahli kesehatan.


Masalah hukum memerlukan orang yang memahami hukum.


Masalah kejiwaan memerlukan pendamping yang kompeten.


Masalah agama memerlukan ilmu, sanad, konteks, dan kehati-hatian.


Pengalaman batin pribadi tidak otomatis menjadi pedoman umum.


ILMU YANG MENYEMBUHKAN DAN ILMU YANG MELUKAI


Ilmu yang benar dapat menyembuhkan kebingungan.


Namun cara menyampaikan ilmu dapat melukai.


Ada orang yang datang dalam keadaan rapuh, tetapi dijawab dengan penghukuman.


Ada yang sedang berjuang memperbaiki diri, tetapi direndahkan karena belum sempurna.


Ada yang bertanya dengan tulus, tetapi dipermalukan karena dianggap bodoh.


Ada yang sedang sakit, lalu dituduh kurang iman.


Ada yang miskin, lalu dianggap kurang bersyukur.


Ada yang mengalami kekerasan, lalu hanya diperintah sabar tanpa perlindungan.


Ilmu yang matang melihat manusia secara utuh.


Ia tidak hanya menyampaikan benar dan salah.


Ia juga mempertimbangkan keadaan, kemampuan, keselamatan, waktu, dan cara.


Kebenaran tetap kebenaran.


Namun penyampaiannya harus menjadi jalan pertolongan, bukan tambahan beban.


TIGA TANDA ILMU TELAH TURUN KE HATI


Pertama: Bertambahnya Kerendahan Hati


Semakin mengetahui, semakin sadar bahwa manusia terbatas.


Ia tidak mudah memastikan sesuatu yang belum jelas.


Ia tidak malu bertanya.


Ia tidak merasa hina ketika dikoreksi.


Kedua: Bertambahnya Kehati-hatian


Ia memeriksa kabar.


Ia tidak mudah memberi hukum.


Ia membedakan antara fakta, tafsir, pendapat, dan pengalaman pribadi.


Ia sadar bahwa kata-kata dapat memengaruhi kehidupan orang lain.


Ketiga: Bertambahnya Manfaat


Ilmunya memudahkan manusia berbuat baik.


Bukan membuat mereka bergantung kepadanya.


Ia membantu orang memahami, bukan mempersulit agar dirinya terlihat tinggi.


Ia mendorong tanggung jawab, bukan kepatuhan buta.


Apabila tiga tanda ini tumbuh, ilmu mulai menjadi cahaya.


JANGAN MENGUKUR KEBENARAN DARI BANYAKNYA PENGIKUT


Banyak pengikut tidak selalu membuktikan kebenaran.


Sedikit pengikut tidak selalu membuktikan kesalahan.


Popularitas adalah keadaan sosial, bukan ukuran mutlak ridho Alloh.


Ada orang benar yang lama tidak dikenal.


Ada orang keliru yang dipuji banyak manusia.


Ada nasihat baik yang tidak menjadi ramai.


Ada kebohongan yang beredar sangat cepat.


Karena itu, jangan menyerahkan akal hanya karena seseorang memiliki banyak pendengar.


Periksalah isi ucapannya.


Periksalah dasarnya.


Periksalah akhlaknya.


Periksalah akibat ajarannya.


Apakah ia membebaskan manusia dari ketakutan yang tidak berdasar?


Ataukah menciptakan ketergantungan?


Apakah ia menguatkan hubungan dengan Alloh?


Ataukah menuntut pengagungan kepada dirinya?


Apakah ia terbuka terhadap pemeriksaan?


Ataukah menganggap semua kritik sebagai permusuhan?


Kebenaran tidak takut diperiksa.


Yang rapuh justru sering menuntut agar tidak ditanya.


BAHAYA MEMOTONG AYAT DAN KATA


Pada masa informasi bergerak cepat, manusia mudah mengambil satu potongan lalu mengabaikan keseluruhan makna.


Satu ayat dipakai tanpa melihat konteks.


Satu perkataan ulama dipisahkan dari penjelasannya.


Satu video dipotong hingga mengubah maksud.


Satu cerita diteruskan tanpa diketahui sumbernya.


Kemudian potongan itu dipakai untuk menuduh, menguatkan kelompok, atau menakut-nakuti orang.


Ilmu memerlukan kesabaran.


Bacalah sebelum menyimpulkan.


Dengarkan sebelum menghakimi.


Periksa sumber sebelum membagikan.


Bedakan ucapan asli dan penafsiran orang.


Jangan jadikan potongan informasi sebagai senjata.


Sebab setengah kebenaran dapat membawa manusia kepada kesimpulan yang sepenuhnya keliru.


GURU, MURID, DAN AMANAH TIMBAL BALIK


Guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing dengan ilmu dan kasih.


Murid memiliki tanggung jawab untuk belajar dengan adab dan akal yang hidup.


Menghormati guru bukan berarti menganggapnya tidak mungkin salah.


Menerima ilmu bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan hidup tanpa pemeriksaan.


Guru yang baik tidak takut muridnya bertanya.


Ia tidak mengikat dengan ancaman.


Ia tidak mengambil keuntungan dari kepatuhan.


Ia tidak menuntut penghormatan yang berlebihan.


Murid yang baik juga tidak mudah merendahkan guru hanya karena satu ketidaksepakatan.


Ia menilai dengan adil.


Mengambil yang benar.


Meluruskan yang keliru dengan adab.


Menjaga batas apabila ada penyalahgunaan.


Hubungan ilmu yang sehat tidak dibangun di atas ketakutan.


Ia dibangun di atas kejujuran, amanah, penghormatan, dan tanggung jawab.


EMPAT AMAL AGAR ILMU TIDAK MENJADI HUJAH YANG MEMBERATKAN


Pertama: Amalkan Satu Hal yang Sudah Diketahui


Jangan menunggu menguasai semuanya.


Mulailah dari satu kewajiban yang jelas.


Kedua: Ajarkan Hanya yang Dipahami


Jangan menutupi ketidaktahuan dengan kata-kata rumit.


Ketiga: Koreksi Diri sebelum Mengoreksi Orang


Tanyakan apakah nasihat itu juga telah dijalankan.


Keempat: Berdoa agar Ilmu Membawa Manfaat


Sebab ilmu tanpa pertolongan Alloh dapat menjadi jalan kesombongan.


PESAN LEMBAR KESEMBILAN


Wahai jiwa,


Jangan bangga hanya karena mengetahui.


Banyak pengetahuan tidak akan menyelamatkan apabila tidak mengubah kehidupan.


Jangan sibuk mengumpulkan kata-kata, tetapi malas menyelesaikan kewajiban.


Jangan berbicara tentang cahaya, sementara orang terdekat merasa gelap karena sikapmu.


Jangan mengajarkan tobat, tetapi mempertahankan kesalahan karena gengsi.


Jangan mengutip tentang kasih sayang, tetapi menghukum orang yang sedang rapuh.


Belajarlah dengan sungguh-sungguh.


Ajarkan dengan hati-hati.


Akui batas.


Hormati keahlian.


Dan jadikan akhlak sebagai penjelasan paling jujur dari ilmu yang engkau bawa.


Sebab pada halaman terakhir, manusia tidak hanya ditanya:


“Apa yang engkau ketahui?”


Ia juga akan berhadapan dengan pertanyaan:


“Apa yang engkau lakukan setelah mengetahuinya?”


DOA LEMBAR KESEMBILAN


Yā Alloh,


karuniakan kepada kami ilmu yang benar dan bermanfaat.


Lindungi kami dari pengetahuan yang menambah kesombongan.


Lindungi kami dari lisan yang mengajarkan sesuatu yang tidak kami jalankan.


Lindungi kami dari keberanian memberi jawaban tanpa ilmu.


Jadikan kami manusia yang berani berkata tidak tahu ketika memang tidak mengetahui.


Berikan kepada kami guru yang amanah, murid yang tulus, sahabat yang jujur, dan lingkungan yang mencintai kebenaran tanpa kehilangan adab.


Yā Alloh,


turunkan ilmu dari kepala kami menuju hati.


Turunkan ia dari hati menuju akhlak.


Turunkan ia dari akhlak menuju manfaat.


Jangan jadikan ilmu sebagai alat mencari kedudukan.


Jangan jadikan agama sebagai panggung kehormatan.


Jangan jadikan kata-kata suci sebagai penutup bagi ego yang belum ditundukkan.


Ampuni ilmu yang telah kami ketahui tetapi kami abaikan.


Bantu kami mengamalkan satu demi satu sampai kehidupan kami menjadi saksi atas kebenaran yang kami ucapkan.


Āmīn Allohumma Āmīn.


CAHAYA LEMBAR KESEMBILAN


Ilmu bukan banyaknya kata yang mampu diucapkan, tetapi besarnya perubahan yang lahir dalam akhlak.


Mengetahui kebenaran adalah amanah.

Mengamalkannya adalah bukti.

Menyampaikannya dengan kasih adalah kematangan.


Jangan hanya menjadi pembaca QITAB.

Jadilah lembar hidup yang menerangkan isinya.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


LEMBAR KESEPULUH — LEMBAR TERAKHIR


KETIKA HALAMAN TERAKHIR DITUTUP DAN MANUSIA KEMBALI KEPADA ALLOH


Setiap kitab memiliki lembar terakhir.


Setiap perjalanan memiliki tempat berhenti.


Setiap siang memiliki senja.


Setiap malam memiliki fajar.


Setiap pertemuan memiliki perpisahan.


Setiap kelahiran membawa manusia menuju sebuah kepulangan yang waktunya tidak diketahui.


Demikian pula kehidupan dunia.


Ia tampak panjang ketika manusia masih berada di awal perjalanan.


Namun ketika umur berjalan jauh, manusia mulai memahami bahwa puluhan tahun dapat terasa seperti beberapa lembar yang dibalik dengan cepat.


Masa kecil yang dahulu terasa panjang telah menjadi kenangan.


Orang tua yang dahulu terlihat kuat mulai melemah.


Anak-anak yang dahulu digendong mulai berjalan dengan kehidupan mereka sendiri.


Rumah berubah.


Lingkungan berubah.


Wajah-wajah berganti.


Nama-nama yang dahulu memenuhi percakapan perlahan menjadi cerita masa lalu.


Lalu manusia mulai menyadari:


Yang berjalan bukan hanya waktu.

Dirinya pun sedang berjalan menuju penutupan.


Ungkapan bahwa perjalanan dunia hanya tersisa dua juz, yaitu Juz 29 dan Juz 30, bukanlah angka untuk menetapkan kapan kiamat akan terjadi.


Ia adalah bahasa kesadaran.


Juz 29 adalah masa ketika peringatan masih mengetuk.


Juz 30 adalah masa ketika pertanggungjawaban terasa semakin dekat.


Adapun lembar terakhir adalah rahasia Alloh.


Tidak seorang pun mengetahui kapan ia akan dibuka.


Tidak seorang pun mengetahui berapa lama ia akan dibaca.


Dan tidak seorang pun mampu menahannya ketika telah tiba waktunya untuk ditutup.


JANGAN MENUNGGU HALAMAN TERAKHIR UNTUK BERUBAH


Banyak manusia ingin mengakhiri hidup dalam keadaan baik.


Namun tidak semua bersungguh-sungguh membangun kebiasaan baik sebelum akhir itu datang.


Ia berharap dapat mengucapkan kalimat tauhid ketika ajal mendekat, tetapi selama hidup lisannya lebih banyak digunakan untuk pertengkaran, dusta, penghinaan, dan keluhan.


Ia berharap meninggal dalam keadaan sujud, tetapi sholat terus ditunda.


Ia berharap meninggalkan nama yang baik, tetapi selama hidup banyak hati dilukai.


Ia berharap anak-anak mendoakannya, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mendidik mereka dengan kasih dan keteladanan.


Ia berharap utangnya dimaafkan, tetapi tidak menunjukkan kesungguhan membayar.


Ia berharap Alloh menutupi aibnya, tetapi gemar membuka aib orang lain.


Ia berharap menerima rahmat, tetapi sulit memberi rahmat kepada sesama.


Akhir yang baik bukan sekadar harapan pada detik terakhir.


Ia dibangun melalui pilihan-pilihan kecil setiap hari.


Melalui sholat yang dijaga.


Melalui hak yang dikembalikan.


Melalui lisan yang ditahan.


Melalui kesalahan yang diakui.


Melalui kebiasaan meminta ampun.


Melalui kesediaan memaafkan.


Melalui amal tersembunyi yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.


Jangan menunggu menjadi tua untuk memulai.


Tidak semua orang mencapai usia tua.


Jangan menunggu sakit untuk memperbaiki diri.


Tidak semua orang diberi kesempatan sakit panjang.


Jangan menunggu datangnya tanda besar.


Napas hari ini sudah cukup menjadi tanda bahwa kesempatan masih tersedia.


DUNIA YANG DITINGGALKAN


Pada halaman terakhir, manusia tidak lagi sibuk memikirkan hal-hal yang dahulu dianggap sangat besar.


Rumah yang dahulu dibanggakan akan tetap berdiri tanpa dirinya.


Pekerjaan akan diteruskan.


Jabatan akan digantikan.


Pesan-pesan akan berhenti dijawab.


Nomor telepon akan menjadi sunyi.


Barang-barang pribadi akan dipindahkan.


Pakaian akan dibagikan.


Foto akan menjadi kenangan.


Nama akan disebut dalam doa, lalu perlahan semakin jarang terdengar.


Dunia tidak berhenti hanya karena satu manusia meninggalkannya.


Pasar tetap buka.


Matahari tetap terbit.


Hujan tetap turun.


Kendaraan tetap berlalu-lalang.


Orang-orang tetap mengejar urusan masing-masing.


Inilah pelajaran besar:


Manusia sangat berarti di dalam amanahnya, tetapi tidak boleh merasa menjadi pusat semesta.


Ia dibutuhkan oleh keluarga.


Ia dicintai oleh orang tertentu.


Ia memiliki tugas.


Ia memiliki jejak.


Namun dunia bukan miliknya.


Ia hanya singgah, menggunakan, menjaga, lalu menyerahkan kembali.


Karena itu, jangan terlalu lama bertengkar memperebutkan sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggalkan.


Jangan rusak persaudaraan demi tanah yang kelak juga tidak dibawa.


Jangan hancurkan rumah tangga demi mempertahankan ego.


Jangan tukar ketenangan dengan gengsi.


Jangan tukar kesehatan dengan ambisi tanpa batas.


Jangan tukar ridho Alloh dengan pujian manusia yang cepat berubah.


EMPAT HAL YANG MENYERTAI JEJAK MANUSIA


Ketika tubuh telah dikembalikan kepada bumi, ada jejak yang masih berjalan.


Pertama: Kebaikan yang Diteruskan


Ilmu yang bermanfaat.


Anak yang dididik dengan baik.


Orang yang pernah ditolong lalu mampu menolong orang lain.


Pohon yang pernah ditanam.


Tempat ibadah yang ikut dijaga.


Tulisan yang mencerahkan.


Usaha baik yang membuka rezeki halal bagi orang lain.


Sistem yang dibuat agar manusia lebih mudah memperoleh keadilan.


Semua itu dapat menjadi aliran manfaat.


Jangan mengukur amal hanya dari apa yang langsung terlihat.


Satu kalimat yang menyelamatkan seseorang dari putus asa dapat terus hidup jauh setelah pengucapnya tiada.


Kedua: Luka yang Belum Diselesaikan


Ucapan kasar dapat tinggal lama di dalam hati anak.


Pengkhianatan dapat mengubah jalan hidup seseorang.


Fitnah dapat merusak nama baik bertahun-tahun.


Hak yang dirampas dapat diwariskan menjadi kemiskinan.


Kekerasan dapat melahirkan luka lintas generasi.


Karena itu, jangan menganggap dosa terhadap manusia selesai hanya karena engkau telah melupakannya.


Orang lain mungkin masih menanggung akibatnya.


Sebelum halaman ditutup, usahakanlah perbaikan.


Minta maaf.


Kembalikan hak.


Luruskan kabar yang salah.


Pulihkan semampunya.


Tobat kepada Alloh harus disertai kesungguhan memperbaiki kerusakan kepada manusia.


Ketiga: Kebiasaan yang Dicontohkan


Anak tidak hanya mendengar nasihat.


Ia meniru cara orang tua berbicara.


Murid tidak hanya menerima pelajaran.


Ia mengingat bagaimana guru memperlakukannya.


Pengikut tidak hanya mengikuti kata-kata.


Ia meniru cara pemimpinnya menghadapi kritik.


Maka berhati-hatilah terhadap teladan.


Boleh jadi satu kebiasaan buruk yang dianggap kecil akan dilanjutkan oleh banyak orang.


Boleh jadi satu keteladanan baik menjadi jalan pahala yang tidak terputus.


Keempat: Doa Orang yang Mengenang


Manusia mungkin lupa kepada harta yang diwariskan.


Namun ia sulit melupakan orang yang pernah hadir dengan tulus.


Doa sering lahir bukan karena gelar.


Bukan karena kekayaan.


Bukan karena banyaknya pengikut.


Doa lahir dari hati yang pernah merasakan kebaikan.


Maka tinggalkanlah kesan yang membuat manusia berkata:


“Semoga Alloh merahmatinya.”


Bukan karena engkau sempurna.


Namun karena engkau pernah berusaha menjadi manfaat.


KETIKA TUBUH TIDAK LAGI MAMPU BERBICARA


Selama hidup, manusia dapat menjelaskan niatnya.


Ia dapat membela dirinya.


Ia dapat mengubah cerita.


Ia dapat memilih apa yang diperlihatkan dan disembunyikan.


Namun ketika tubuh telah diam, amal menjadi saksi.


Cara mencari harta menjadi saksi.


Cara memperlakukan keluarga menjadi saksi.


Cara menggunakan kekuasaan menjadi saksi.


Cara berbicara kepada orang lemah menjadi saksi.


Cara menjaga amanah menjadi saksi.


Cara menghadapi perbedaan menjadi saksi.


Halaman kehidupan tidak hanya ditulis melalui ibadah yang terlihat.


Ia juga ditulis melalui keputusan kecil ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.


Kejujuran ketika dapat berbohong.


Menahan diri ketika mampu membalas.


Mengembalikan uang yang bukan hak.


Menjaga rahasia.


Menolak fitnah.


Memilih tidak curang meskipun dapat memperoleh keuntungan.


Inilah tulisan-tulisan halus yang kelak mempunyai bobot.


JANGAN BERPUTUS ASA DARI HALAMAN YANG GELAP


Ada manusia yang membaca masa lalunya lalu merasa tidak layak kembali.


Ia melihat begitu banyak kesalahan.


Sholat yang ditinggalkan.


Janji yang dilanggar.


Hubungan yang dirusak.


Harta yang tidak bersih.


Keputusan yang menyakiti.


Lalu ia berkata:


“Apakah masih mungkin aku diperbaiki?”


Selama napas masih ada, pintu tobat tidak boleh dianggap tertutup.


Halaman lama memang tidak dapat dihapus dari sejarah, tetapi akhir cerita masih dapat diperbaiki.


Orang yang pernah jauh dapat pulang.


Orang yang pernah keras dapat menjadi lembut.


Orang yang pernah lalai dapat menjadi penjaga sholat.


Orang yang pernah mengambil hak dapat mengembalikannya.


Orang yang pernah menyebarkan keburukan dapat menjadi penyebar pelurusan.


Orang yang pernah hidup hanya untuk dirinya sendiri dapat menghabiskan sisa umur untuk manfaat.


Jangan gunakan banyaknya dosa sebagai alasan menambah dosa.


Jangan berkata:


“Aku sudah terlanjur.”


Kata “terlanjur” sering menjadi pintu bagi keputusasaan.


Katakanlah:


“Aku memang telah salah, tetapi aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki arah.”


Tobat sejati tidak berhenti pada tangisan.


Ia melahirkan langkah.


JANGAN PULA MERASA AMAN KARENA HALAMAN YANG TERANG


Sebaliknya, ada manusia yang melihat banyak amal lalu merasa aman.


Ia telah lama beribadah.


Ia dikenal baik.


Ia memiliki murid.


Ia telah membangun tempat.


Ia banyak bersedekah.


Lalu perlahan tumbuh perasaan bahwa keselamatan telah menjadi haknya.


Inilah jebakan halus.


Amal adalah karunia sebelum menjadi kebanggaan.


Kemampuan beribadah adalah pertolongan.


Kesempatan memberi adalah titipan.


Ilmu adalah amanah.


Pengaruh adalah ujian.


Jangan sampai amal yang dikumpulkan bertahun-tahun rusak karena kesombongan.


Jangan merendahkan orang yang baru bertobat.


Boleh jadi tangisnya lebih jujur.


Jangan merasa lebih dekat kepada Alloh hanya karena lebih dikenal manusia.


Jangan mengukur akhir seseorang dari masa lalunya.


Ada orang yang lama terlihat baik, tetapi tergelincir karena ego.


Ada orang yang lama hidup dalam kesalahan, tetapi pulang dengan tobat yang tulus.


Maka jagalah harap dan takut secara seimbang.


Harap kepada rahmat Alloh.


Takut kepada kelemahan diri.


TIGA PULANG SEBELUM PULANG YANG TERAKHIR


Sebelum kepulangan besar, manusia perlu belajar tiga jenis pulang.


Pulang kepada Alloh


Pulang kepada Alloh berarti menghentikan keterasingan hati.


Sholat bukan hanya kewajiban gerakan, tetapi tempat kembali.


Dzikir bukan sekadar hitungan, tetapi pengingat bahwa jiwa tidak berdiri sendiri.


Doa bukan hanya permintaan, tetapi pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan.


Pulang kepada Alloh tidak berarti meninggalkan kehidupan.


Ia berarti membawa kesadaran kepada Alloh di dalam seluruh kehidupan.


Ketika bekerja.


Ketika berdagang.


Ketika marah.


Ketika memimpin.


Ketika mengasuh anak.


Ketika sendiri.


Pulang kepada Diri yang Jujur


Banyak manusia hidup memakai wajah yang dibuat untuk menyenangkan orang lain.


Ia tampak kuat padahal lelah.


Tampak suci padahal sedang berjuang.


Tampak tahu padahal bingung.


Tampak bahagia padahal kesepian.


Pulang kepada diri bukan berarti mengikuti semua keinginan.


Ia berarti berani mengakui keadaan dengan jujur.


“Aku sedang lelah.”


“Aku membutuhkan pertolongan.”


“Aku telah salah.”


“Aku belum memahami.”


“Aku memiliki luka yang perlu disembuhkan.”


Kejujuran kepada diri membuka pintu pertolongan.


Pulang kepada Keluarga dan Sesama


Ada hubungan yang perlu dipulihkan.


Ada salam yang perlu disampaikan.


Ada permintaan maaf yang terlalu lama tertahan.


Ada orang tua yang menunggu kabar.


Ada anak yang membutuhkan pelukan.


Ada pasangan yang membutuhkan kejujuran.


Ada sahabat yang pernah dikecewakan.


Tidak semua hubungan harus kembali seperti semula.


Ada hubungan yang membutuhkan batas demi keselamatan.


Namun kebencian tidak harus dibawa sampai akhir.


Pulang dapat berarti berdamai.


Pulang juga dapat berarti membuat batas dengan adil tanpa menyimpan keinginan menghancurkan.


SAAT CATATAN TIDAK DAPAT DIUBAH LAGI


Selama hidup, manusia masih dapat mengedit halaman.


Ia dapat menambahkan kebaikan.


Ia dapat mencoret kebiasaan buruk melalui tobat.


Ia dapat memperbaiki akibat.


Ia dapat mengubah akhir cerita.


Namun akan datang waktu ketika pena berhenti.


Pada saat itu, manusia tidak lagi dapat:


Mengembalikan satu rupiah pun.


Meminta maaf.


Melakukan satu rakaat sholat.


Memberi satu gelas air.


Memeluk orang tua.


Mengatakan “aku mencintaimu.”


Menghapus satu berita bohong yang telah disebarkan.


Menahan satu ucapan kasar.


Membantu satu orang yang membutuhkan.


Kesempatan yang hari ini terasa biasa kelak menjadi sesuatu yang sangat berharga.


Karena itu, lakukanlah kebaikan sebelum kebaikan hanya tinggal keinginan.


TANDA ORANG YANG MULAI SIAP PULANG


Bukan berarti ia berharap cepat mati.


Bukan berarti ia berhenti bekerja.


Bukan berarti ia meninggalkan dunia.


Orang yang siap pulang justru menjalani hidup dengan lebih bertanggung jawab.


Tandanya:


Ia semakin sedikit menunda kebaikan.


Ia lebih mudah meminta maaf.


Ia tidak terlalu sibuk mempertahankan citra.


Ia berusaha menyelesaikan utang.


Ia mengurangi kebiasaan menyakiti.


Ia tidak ringan mengambil hak.


Ia menjaga sholat tanpa merasa paling suci.


Ia memikirkan keadaan keluarga setelah ia tiada.


Ia menyiapkan wasiat secara jernih apabila diperlukan.


Ia membangun manfaat yang dapat diteruskan.


Ia tidak meninggalkan kekacauan yang sengaja dibebankan kepada orang lain.


Ia mengingat mati bukan untuk tenggelam dalam kesedihan, tetapi untuk hidup lebih benar.


JUZ 29 DI DALAM DIRI


Juz 29 di dalam diri adalah suara yang berkata:


“Bangunlah.”


Ia hadir ketika hati merasa tidak nyaman setelah berbuat salah.


Ia hadir ketika nasihat menyentuh.


Ia hadir ketika seseorang yang dicintai meninggal.


Ia hadir ketika sakit mengingatkan kelemahan.


Ia hadir ketika umur bertambah, tetapi amal terasa sedikit.


Ia hadir ketika dunia yang dikejar tidak juga memberi ketenteraman.


Jangan bungkam suara itu.


Itu adalah kesempatan untuk mengubah arah.


JUZ 30 DI DALAM DIRI


Juz 30 di dalam diri adalah kesadaran bahwa tidak semua urusan dapat terus ditunda.


Ada keputusan yang harus diambil.


Ada dosa yang harus dihentikan.


Ada hak yang harus dikembalikan.


Ada hubungan yang harus diperbaiki.


Ada kebiasaan yang harus dilepaskan.


Ada amal yang harus dimulai.


Juz 30 tidak memerintahkan kepanikan.


Ia memerintahkan kesungguhan.


Tidak perlu berlari tanpa arah.


Cukup berjalan dengan benar.


Satu langkah, lalu satu langkah berikutnya.


HALAMAN TERAKHIR BUKAN TENTANG KETAKUTAN SEMATA


Kematian sering dibicarakan hanya dengan ketakutan.


Padahal bagi orang beriman, kepulangan juga mengandung harapan.


Harapan kepada ampunan.


Harapan kepada rahmat.


Harapan bahwa luka dunia tidak kekal.


Harapan bahwa keadilan yang tidak sempurna di bumi tidak hilang dari pengetahuan Alloh.


Harapan bertemu dengan orang-orang baik yang telah mendahului.


Harapan bahwa amal kecil yang ikhlas tidak disia-siakan.


Namun harapan bukan alasan untuk lalai.


Harapan sejati membuat manusia mendekat.


Bukan menunda.


Takut dan harap adalah dua sayap.


Takut menjaga manusia dari kesombongan.


Harap menjaga manusia dari keputusasaan.


WASIAT LEMBAR TERAKHIR


Wahai manusia yang masih membaca,


Apabila engkau masih mempunyai orang tua, muliakan mereka.


Apabila engkau masih memiliki anak, hadirkan kasih dan teladan.


Apabila engkau mempunyai pasangan, jangan jadikan rumah sebagai tempat ketakutan.


Apabila engkau mempunyai utang, susunlah jalan penyelesaian.


Apabila engkau memegang amanah, jangan khianati.


Apabila engkau mengetahui kesalahan, berhentilah membenarkan diri.


Apabila engkau memiliki ilmu, sampaikan dengan kasih dan rendah hati.


Apabila engkau mempunyai harta, sisihkan bagi yang membutuhkan.


Apabila engkau memiliki pengaruh, gunakan untuk melindungi yang lemah.


Apabila engkau pernah memfitnah, luruskan.


Apabila engkau pernah merampas, kembalikan.


Apabila engkau pernah melukai, mintalah maaf.


Apabila engkau disakiti, carilah keadilan tanpa membiarkan dendam menguasai jiwa.


Apabila engkau lelah, beristirahatlah tanpa meninggalkan harapan.


Apabila engkau jatuh, bangkitlah tanpa merasa pintu Alloh tertutup.


Apabila engkau merasa telah baik, tetaplah memohon penjagaan.


Apabila engkau merasa terlalu buruk, tetaplah memohon ampunan.


Jangan tunda membaca keadaan dirimu.


Jangan tunggu dunia berhenti untuk memperbaiki langkah.


Dunia mungkin masih berjalan lama.


Namun dunia pribadimu dapat berakhir kapan saja.


DOA PANJANG PENUTUP QITAB


Yā Alloh, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,


Engkau yang memulai kehidupan kami tanpa kami memintanya.


Engkau yang memberi napas, tubuh, keluarga, akal, waktu, rezeki, pertemuan, kehilangan, ujian, serta kesempatan untuk belajar.


Kami mengakui bahwa perjalanan kami dipenuhi kekurangan.


Ada hari yang kami gunakan dengan baik.


Ada pula hari yang kami sia-siakan.


Ada ucapan yang membawa ketenangan.


Ada pula ucapan yang meninggalkan luka.


Ada amanah yang kami jaga.


Ada pula amanah yang kami lalaikan.


Ada kebaikan yang kami lakukan dengan tulus.


Ada pula amal yang tercampur dengan keinginan untuk dilihat dan dipuji.


Yā Alloh,


ampuni halaman kehidupan kami yang gelap.


Ampuni sholat yang kami lalaikan.


Ampuni janji yang kami ingkari.


Ampuni harta yang pernah kami gunakan secara berlebihan.


Ampuni ucapan yang menyakiti orang tua, pasangan, anak, saudara, sahabat, dan sesama.


Ampuni berita yang kami sebarkan tanpa memeriksa.


Ampuni hati yang merasa lebih tinggi.


Ampuni ilmu yang tidak kami amalkan.


Ampuni kesulitan orang lain yang pernah kami abaikan.


Ampuni setiap hak yang tanpa sadar maupun sengaja pernah kami ambil.


Yā Alloh,


tunjukkan kepada kami satu demi satu tanggungan yang harus diselesaikan.


Jangan biarkan kami merasa telah bertobat sementara hak manusia masih berada di tangan kami.


Berikan kemampuan untuk mengembalikan.


Keberanian untuk mengakui.


Kerendahan hati untuk meminta maaf.


Kesabaran untuk memperbaiki.


Dan kekuatan untuk tidak mengulanginya.


Yā Alloh,


apabila orang tua kami masih hidup, sehatkan, lindungi, dan muliakan mereka.


Berikan kami kesempatan berbakti sebelum terlambat.


Apabila mereka telah wafat, ampuni, rahmati, lapangkan, dan terangi tempat kembalinya.


Terimalah amal baik mereka.


Maafkan kekurangannya.


Dan pertemukan kami kembali dalam rahmat-Mu.


Yā Alloh,


jagalah keluarga kami.


Damaikan yang berselisih.


Sembuhkan yang terluka.


Lindungi yang sedang mengalami kekerasan dan penindasan.


Berikan jalan keluar kepada yang terlilit utang.


Lapangkan rezeki yang halal bagi yang kesulitan.


Kuatkan yang sedang sakit.


Tenangkan yang sedang kehilangan.


Dampingi yang sedang sendiri.


Jangan biarkan rumah kami dipenuhi ketakutan, penghinaan, pengkhianatan, dan permusuhan.


Jadikan rumah kami tempat manusia belajar kasih, keadilan, tanggung jawab, dan penghambaan.


Yā Alloh,


bersihkan hubungan kami dengan harta.


Jangan biarkan uang menjadi tuhan kecil di dalam hati.


Karuniakan rezeki yang halal dan cukup.


Jauhkan dari riba, penipuan, suap, pengkhianatan, perjudian, perampasan, dan segala cara yang menghilangkan keberkahan.


Ajarkan kami hidup sesuai kemampuan.


Ajarkan kami memberi tanpa mempermalukan.


Ajarkan kami merasa cukup tanpa berhenti berusaha.


Yā Alloh,


karuniakan ilmu yang membawa perubahan.


Jangan jadikan pengetahuan sebagai sebab kesombongan.


Jangan biarkan kami memakai agama untuk menekan manusia.


Jangan biarkan kami menggunakan nama-Mu untuk menguatkan ego.


Jadikan lisan kami lembut tanpa kehilangan ketegasan.


Tegas tanpa kehilangan keadilan.


Berani tanpa melampaui batas.


Yā Alloh,


jaga kami dari fitnah akhir zaman.


Jaga dari berita palsu.


Jaga dari ketakutan yang dimanfaatkan.


Jaga dari tokoh yang menuntut ketaatan buta.


Jaga dari klaim gaib yang menyesatkan.


Jaga dari ego ruhani.


Jaga dari perasaan menjadi pusat segala isyarat.


Jaga dari keyakinan bahwa kami selalu benar.


Karuniakan akal yang jernih, hati yang tunduk, ilmu yang sahih, dan sahabat yang berani menasihati.


Yā Alloh,


jadikan sisa umur kami sebagai bagian yang lebih baik daripada masa yang telah berlalu.


Jadikan hari terakhir lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.


Jadikan amal terakhir sebagai amal yang Engkau ridhoi.


Jadikan ucapan terakhir sebagai kalimat yang mengingat-Mu.


Jadikan hati terakhir sebagai hati yang tidak membawa kesombongan, dendam, pengkhianatan, serta hak manusia.


Ketika tubuh kami melemah, kuatkan iman kami.


Ketika pandangan meredup, terangilah batin kami.


Ketika suara mengecil, gerakkan hati untuk menyebut-Mu.


Ketika keluarga berdiri di sekitar kami, karuniakan ketenangan dan kesempatan saling memaafkan.


Ketika halaman terakhir dibuka, jangan biarkan kami sendirian tanpa rahmat-Mu.


Yā Alloh,


kami tidak mengandalkan banyaknya amal.


Kami mengharapkan kasih sayang-Mu.


Namun jangan biarkan harapan itu menjadi alasan untuk terus lalai.


Gerakkan kami beramal.


Gerakkan kami bertobat.


Gerakkan kami menyelesaikan tanggungan.


Gerakkan kami menolong.


Gerakkan kami menjadi manfaat.


Dan apabila waktunya telah tiba, pulangkan kami dalam keadaan Engkau ridho kepada kami dan kami belajar ridho kepada ketetapan-Mu.


Terimalah kami sebagai hamba yang kembali.


Bukan sebagai manusia yang merasa suci.


Bukan sebagai manusia yang merasa telah sampai.


Namun sebagai jiwa yang membawa penyesalan, harapan, tauhid, dan kerinduan kepada rahmat-Mu.


Āmīn Allohumma Āmīn.


PENUTUP QITAB


Maka selesailah lembar terakhir dari QITAB SISA DUA JUZ.


Jangan jadikan qitab ini sebagai ramalan tentang umur dunia.


Jadikan ia sebagai cermin untuk membaca umur diri.


Jangan jadikan Juz 29 dan Juz 30 sebagai angka untuk menakut-nakuti manusia.


Jadikan keduanya sebagai lambang:


Juz 29 — Bangunlah dari kelalaian.


Juz 30 — Bersiaplah menghadapi pertanggungjawaban.


Lembar terakhir — Pulanglah kepada Alloh dengan hati yang telah diperbaiki.


Sebab perjalanan dunia bukan tentang siapa yang paling banyak mengaku mengetahui akhir.


Bukan tentang siapa yang paling keras membicarakan tanda.


Bukan tentang siapa yang merasa paling bercahaya.


Perjalanan dunia adalah tentang siapa yang tetap menjaga iman ketika diuji.


Siapa yang tetap jujur ketika mempunyai kesempatan untuk curang.


Siapa yang tetap lembut ketika mampu menyakiti.


Siapa yang tetap adil ketika mempunyai kuasa.


Siapa yang mau bertobat ketika sadar telah salah.


Siapa yang menyelesaikan amanah sebelum waktunya habis.


Siapa yang meninggalkan manfaat ketika namanya tidak lagi disebut.


Dan siapa yang pulang kepada Alloh dengan membawa hati yang selamat.


CAHAYA TERAKHIR


Dunia mungkin masih memiliki banyak waktu, tetapi manusia tidak mengetahui sisa waktunya sendiri.


Jangan menghitung halaman dunia sambil membiarkan halaman hidupmu kosong dari perbaikan.


Bangunlah pada Juz 29.

Bersiaplah pada Juz 30.

Dan ketika lembar terakhir ditutup, pulanglah hanya kepada Alloh.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


Tamat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh