CERMIN KUNLUN


CERMIN KUNLUN

鏡照崑崙 — Jìng Zhào Kūnlún

Cermin yang Memantulkan Gunung di Dalam Diri

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak dan tersembunyi.

Dengan niat memperoleh kejernihan, memperbaiki diri, mengenali kesalahan tanpa membenci diri, serta menemukan jalan pulang kepada kebaikan, dibukalah lembar pertama Cermin Kunlun.


PEMBUKAAN CERMIN

Pada puncak gunung yang tidak tercatat dalam peta manusia, berdirilah sebuah gerbang tanpa pintu.

Di belakang gerbang itu tidak terdapat istana, tidak terdapat tumpukan emas, dan tidak terdapat pasukan penjaga.

Hanya ada sebuah cermin bundar berbingkai perunggu.

Permukaannya tidak memantulkan wajah.

Ia memantulkan sesuatu yang selama ini disembunyikan manusia dari dirinya sendiri.

Orang yang datang dengan kesombongan akan melihat ketakutannya.

Orang yang datang dengan kemarahan akan melihat lukanya.

Orang yang datang membawa kebencian akan melihat dirinya sedang meminta kasih sayang.

Namun orang yang datang dengan kerendahan hati akan melihat jalan yang selama ini berada tepat di hadapannya.

Di atas bingkai cermin tertulis:

“Jangan bertanya siapa dirimu pada bayangan.
Tanyakanlah apa yang harus engkau perbaiki setelah melihatnya.”


PANTULAN PERTAMA

Wajah yang Dipakai di Hadapan Dunia

Cermin Kunlun memperlihatkan bahwa manusia memiliki banyak wajah.

Ada wajah ketika dipuji.

Ada wajah ketika ditolak.

Ada wajah ketika memiliki kekuasaan.

Ada wajah ketika tidak seorang pun melihatnya.

Wajah yang diperlihatkan kepada dunia belum tentu wajah yang tinggal di dalam hati.

Seseorang dapat tersenyum sambil menyimpan kemarahan.

Seseorang dapat berbicara lembut sambil mengharapkan kehormatan.

Seseorang dapat terlihat kuat, tetapi sebenarnya sedang takut kehilangan tempatnya di hadapan manusia.

Cermin itu tidak menyuruh manusia mempermalukan dirinya.

Cermin itu hanya berkata:

“Akuilah apa yang ada, agar engkau dapat menatanya.”

Kejujuran kepada diri sendiri adalah pintu pertama.

Bukan untuk membuka aib kepada semua orang, melainkan untuk berhenti bersembunyi dari suara hati sendiri.


PANTULAN KEDUA

Gunung yang Selama Ini Dicari

Banyak manusia mendaki gunung di luar dirinya.

Mereka mencari guru, tanda, pusaka, gelar, pengakuan, dan rahasia.

Namun setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tetap merasa kosong.

Cermin Kunlun kemudian memperlihatkan sebuah gunung lain.

Gunung itu tumbuh di dalam dada.

Kakinya adalah kesabaran.

Lerengnya adalah perjuangan.

Kabutnya adalah keraguan.

Jurangnya adalah keputusasaan.

Puncaknya adalah kejernihan.

Tidak setiap orang harus meninggalkan rumah untuk mendakinya.

Kadang-kadang pendakian itu berlangsung ketika seseorang menahan ucapan yang menyakitkan.

Kadang-kadang ia berlangsung ketika seseorang meminta maaf.

Kadang-kadang ia berlangsung ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji.

Di sanalah Kunlun yang sesungguhnya mulai tampak:

bukan gunung untuk meninggikan diri, melainkan gunung untuk menundukkan kesombongan.


PANTULAN KETIGA

Ruang Ingatan

Cermin itu kemudian berubah menjadi danau yang sangat tenang.

Di dalamnya terlihat masa lalu.

Wajah-wajah yang pernah dicintai.

Janji yang belum ditunaikan.

Perkataan yang pernah melukai.

Kesempatan yang telah berlalu.

Manusia ingin memasuki pantulan itu dan mengubah semuanya.

Namun suara dari balik cermin berkata:

“Masa lalu tidak selalu dapat dikembalikan, tetapi maknanya masih dapat disucikan.”

Kesalahan dapat menjadi guru.

Kehilangan dapat menjadi kedewasaan.

Penolakan dapat menjadi jalan menuju tempat yang lebih baik.

Luka tidak harus dijadikan identitas.

Apa yang telah terjadi memang menjadi bagian dari perjalanan, tetapi tidak harus menjadi penguasa masa depan.

Orang yang terus hidup di dalam penyesalan akan kehilangan hari ini.

Orang yang melupakan seluruh kesalahan akan mengulanginya.

Maka jalan tengahnya adalah:

mengingat untuk belajar,
memaafkan untuk melanjutkan,
dan memperbaiki untuk menebus.


PANTULAN KEEMPAT

Bayangan yang Tidak Mau Diakui

Dari permukaan cermin muncul bayangan hitam.

Ia tidak menyerang.

Ia hanya mengikuti.

Semakin manusia berlari, semakin panjang bayangan itu.

Bayangan tersebut adalah bagian diri yang ditolak:

iri yang disembunyikan,

amarah yang dibungkus nasihat,

keinginan dipuji yang disamarkan sebagai pengabdian,

dan ketakutan yang ditutupi dengan sikap keras.

Cermin Kunlun tidak mengajarkan manusia untuk menuruti bayangannya.

Ia mengajarkan manusia untuk mengenali dan mendidiknya.

Karena sesuatu yang tidak dikenali akan mengendalikan dari tempat tersembunyi.

Sedangkan sesuatu yang telah dikenali dapat ditata dengan akal, doa, adab, dan latihan jiwa.

Maka dikatakan:

“Jangan menjadikan bayangan sebagai raja.
Jangan pula menyangkal bahwa ia mengikutimu.
Berjalanlah menuju cahaya, niscaya engkau mengetahui tempatnya.”


PANTULAN KELIMA

Dua Waktu

Cermin terbelah menjadi dua.

Pada bagian kiri terlihat seseorang yang terus menyesali masa lalu.

Pada bagian kanan terlihat seseorang yang terus mencemaskan masa depan.

Keduanya tidak menyadari bahwa kehidupan sedang berlangsung di antara mereka.

Cermin kemudian menyatukan kembali kedua sisinya dan berkata:

“Kemarin adalah guru.
Besok adalah amanah.
Hari ini adalah tempat engkau bekerja.”

Tidak semua yang dikhawatirkan akan terjadi.

Tidak semua yang diharapkan akan datang dengan bentuk yang sama.

Namun manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih sikap pada saat ini.

Ia dapat memilih berkata benar.

Ia dapat memilih menunaikan tanggung jawab.

Ia dapat memilih beristirahat ketika tubuh memerlukan.

Ia dapat memilih meminta pertolongan ketika beban terlalu berat.

Ia dapat memilih kembali kepada Alloh setelah menyadari kelalaiannya.

Itulah kekuasaan kecil yang sering dilupakan manusia:
kekuasaan memperbaiki satu langkah hari ini.


PANTULAN KEENAM

Mahkota yang Tidak Terlihat

Di dalam cermin tampak sebuah mahkota.

Banyak orang berebut untuk memakainya.

Namun setiap kali mahkota itu disentuh oleh tangan yang tamak, ia berubah menjadi beban besi.

Hanya orang yang tidak mengejarnya dapat mengangkatnya.

Mahkota itu bernama amanah.

Ketinggian bukan terletak pada banyaknya orang yang tunduk.

Ketinggian terlihat dari kemampuan seseorang melindungi yang lemah, menahan diri ketika berkuasa, serta tetap adil kepada orang yang tidak disukainya.

Orang yang hanya ingin dihormati belum siap memimpin.

Orang yang bersedia melayani, mendengar, belajar, dan bertanggung jawab sedang dipersiapkan untuk memimpin dirinya sendiri.

Cermin berkata:

“Sebelum memerintah sebuah wilayah, tertibkanlah kerajaan kecil di dalam dirimu.”

Pikiran adalah penasihatnya.

Hati adalah singgasananya.

Lisan adalah utusannya.

Perbuatan adalah pasukannya.

Apabila keempatnya tidak tertib, kerajaan luar pun akan dipenuhi kekacauan.


PANTULAN KETUJUH

Cermin Tanpa Bayangan

Pada lembar terakhir, semua gambaran menghilang.

Tidak ada gunung.

Tidak ada istana.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada masa lalu maupun masa depan.

Hanya permukaan bening.

Manusia bertanya:

“Di manakah diriku?”

Cermin menjawab:

“Selama ini engkau terlalu sibuk membangun gambaran tentang dirimu sehingga lupa menjalani kebaikan yang berada di hadapanmu.”

Engkau bukan hanya gelarmu.

Engkau bukan hanya pujian manusia.

Engkau bukan hanya kesalahanmu.

Engkau bukan hanya luka yang pernah datang.

Engkau adalah seorang hamba yang setiap hari diberi kesempatan untuk belajar, memilih, bertobat, berbuat baik, dan kembali kepada Alloh.

Ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh bayangan dirinya, cermin menjadi jernih.

Ketika cermin jernih, gunung di dalam diri terlihat.

Ketika gunung terlihat, jalan pendakian dimulai.

Ketika pendakian dimulai, ia tidak lagi bertanya:

“Apakah aku lebih tinggi daripada orang lain?”

Ia bertanya:

“Apakah hari ini akhlakku lebih baik daripada kemarin?”


TUJUH AMANAH CERMIN KUNLUN

Pertama, lihatlah kesalahan tanpa membenci diri.

Kedua, lihatlah kelebihan tanpa meninggikan diri.

Ketiga, ingatlah masa lalu tanpa menjadi tawanan masa lalu.

Keempat, persiapkan masa depan tanpa kehilangan hari ini.

Kelima, dengarkan nasihat tanpa menyerahkan akal sehat.

Keenam, hormati pengalaman batin tanpa menjadikannya ukuran kemuliaan.

Ketujuh, ukur perjalanan dengan akhlak, tanggung jawab, dan manfaat nyata.


PESAN PENJAGA CERMIN

Wahai orang yang berdiri di hadapan Cermin Kunlun,

jangan meminta cermin memperlihatkan nasib orang lain sebelum engkau berani melihat keadaan dirimu.

Jangan meminta jalan menuju langit apabila tanggung jawab di bumi masih engkau abaikan.

Jangan mencari pusaka yang dapat menundukkan manusia.

Carilah kebijaksanaan yang dapat menundukkan amarahmu.

Jangan mencari mata yang mampu melihat segala rahasia.

Carilah hati yang mampu menjaga rahasia dan kehormatan sesama.

Jangan meminta umur diputar kembali.

Gunakanlah sisa umur yang masih diberikan dengan lebih baik.

Sebab rahasia terbesar Cermin Kunlun bukanlah perjalanan menembus waktu.

Rahasia terbesarnya adalah kemampuan manusia mengubah arah hidupnya setelah memperoleh kesadaran.


DOA KEJERNIHAN CERMIN

Ya Alloh,
jernihkanlah hati kami ketika pikiran dipenuhi prasangka.

Tunjukkanlah kekurangan kami tanpa menjatuhkan harapan kami.

Tunjukkanlah kelebihan kami tanpa menumbuhkan kesombongan.

Jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran,
masa depan sebagai amanah,
dan hari ini sebagai ladang kebaikan.

Lindungilah kami dari tipu daya ego yang memakai pakaian kebenaran.

Bimbinglah lisan kami agar tidak mudah melukai.

Bimbinglah langkah kami agar tidak tersesat oleh pujian.

Bimbinglah hati kami agar tetap lembut tanpa kehilangan keteguhan.

Jadikanlah setiap pengetahuan menambah kerendahan hati,
setiap kedudukan menambah pelayanan,
dan setiap pengalaman batin menambah baiknya akhlak.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR PERTAMA

Cermin kembali tertutup oleh kabut.

Namun sebelum seluruh permukaannya menghilang, tampak satu kalimat terakhir:

“Yang engkau cari bukan berada di balik cermin.
Ia mulai ditemukan ketika engkau berani memperbaiki orang yang sedang berdiri di hadapannya.”

Tamat Lembar Pertama — Gerbang Pantulan Diri.


QACA KUNLUN

Lembar Kedua

LORONG TUJUH PANTULAN

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kabut yang menutupi Cermin Kunlun perlahan terbelah.

Dari permukaan cermin muncul sebuah lorong panjang yang tidak tersusun dari batu, kayu, ataupun logam. Lorong itu terbentuk dari lapisan-lapisan cahaya, ingatan, rasa takut, harapan, dan suara hati manusia.

Sang pengembara berdiri diam di depan lorong tersebut.

Ia tidak segera melangkah.

Sebab di sepanjang lorong itu terdapat tujuh pintu berbentuk pantulan. Pada setiap pintu terukir sebuah lambang, tetapi tidak ada satu pun tulisan yang dapat dibaca oleh mata biasa.

Suara dari balik gunung kemudian berkata:

“Siapa yang memasuki lorong ini bukan sedang berjalan menuju tempat yang jauh.
Ia sedang berjalan menuju bagian dirinya yang selama ini ditinggalkan.”

Pengembara itu menundukkan kepala.

Ia memahami bahwa perjalanan terbesar tidak selalu ditempuh dengan kaki.

Ada perjalanan yang ditempuh melalui keberanian mengakui kesalahan.

Ada perjalanan yang ditempuh melalui kesabaran memikul amanah.

Ada perjalanan yang ditempuh melalui kesediaan melepaskan pujian.

Ada pula perjalanan yang ditempuh melalui keteguhan untuk tetap berbuat baik ketika tidak seorang pun menyaksikan.

Maka dibukalah pintu pertama.


PINTU PERTAMA

PANTULAN NIAT

Di dalam pantulan pertama, pengembara melihat dirinya sedang menolong banyak orang.

Namun setiap orang yang ditolongnya kemudian membungkuk dan memujinya.

Semakin banyak pujian datang, semakin terang pakaian yang dikenakannya.

Ia mengira cahaya itu berasal dari kebaikan.

Tetapi ketika Cermin Kunlun menyapu seluruh gambaran dengan embun, terlihatlah bahwa cahaya tersebut berasal dari ribuan kata pujian yang melekat pada pakaiannya.

Ketika pujian-pujian itu dihilangkan, pakaiannya kembali biasa.

Pengembara merasa malu.

Ia bertanya:

“Apakah seluruh kebaikanku telah rusak?”

Suara cermin menjawab:

“Tidak setiap keinginan untuk dihargai membatalkan kebaikan.
Namun keinginan itu harus dikenali agar tidak menjadi tuan atas amalmu.”

Niat manusia tidak selalu murni sejak awal.

Kadang-kadang ia bercampur dengan keinginan dipuji, dihormati, dikenang, dianggap penting, atau dipandang lebih tinggi daripada orang lain.

Cermin Kunlun tidak menyuruh manusia berhenti berbuat baik hanya karena niatnya belum sempurna.

Ia mengajarkan:

perbaiki niat sebelum berbuat,

periksa niat ketika berbuat,

dan bersihkan niat setelah berbuat.

Sebab ego dapat masuk dari tiga pintu.

Sebelum amal, ia berkata:

“Lakukanlah agar engkau dikenal.”

Ketika amal berlangsung, ia berkata:

“Perlihatkanlah agar mereka mengetahui.”

Setelah amal selesai, ia berkata:

“Ingatlah bahwa semua ini terjadi karena dirimu.”

Maka pengembara meletakkan tangan di dadanya dan berdoa:

“Ya Alloh, apabila dalam kebaikanku masih terdapat keinginan dipuji, jangan biarkan pujian itu menguasai hatiku.
Ajarkan aku berbuat baik karena Engkau mencintai kebaikan.”

Pintu pertama pun terbuka.


PINTU KEDUA

PANTULAN LUKA

Pada pintu kedua, pengembara melihat seorang anak kecil duduk di sudut ruangan.

Anak itu memeluk lututnya.

Di sekelilingnya terdengar suara orang-orang yang dahulu meremehkan, meninggalkan, membandingkan, atau menyalahkannya.

Pengembara mengenali wajah anak itu.

Itulah dirinya sendiri pada masa yang telah lama berlalu.

Ia mendekat dan berkata:

“Aku datang untuk membawamu keluar.”

Anak kecil itu mengangkat wajahnya dan menjawab:

“Engkau tidak pernah benar-benar meninggalkanku.
Engkau hanya tumbuh besar sambil menyembunyikanku.”

Saat itulah pengembara menyadari bahwa sebagian kemarahannya bukan berasal dari kejadian hari ini.

Sebagian ketakutannya bukan berasal dari bahaya yang sedang dihadapi.

Sebagian keinginannya untuk menguasai bukan karena ia kuat, melainkan karena dahulu ia pernah merasa tidak berdaya.

Cermin Kunlun berkata:

“Luka yang tidak dikenali sering menyamar menjadi watak.”

Rasa takut dapat menyamar menjadi sikap keras.

Rasa tidak aman dapat menyamar menjadi kesombongan.

Rasa ditolak dapat menyamar menjadi keinginan mengendalikan.

Rasa tidak dihargai dapat menyamar menjadi kebutuhan untuk selalu dibenarkan.

Maka pengembara duduk di samping anak kecil itu.

Ia tidak memarahinya karena masih menangis.

Ia tidak menyuruhnya segera kuat.

Ia hanya berkata:

“Aku tidak dapat mengubah semua yang telah terjadi, tetapi aku tidak akan terus menghukummu karena sesuatu yang bukan kesalahanmu.”

Anak itu perlahan berdiri.

Tubuhnya berubah menjadi cahaya lembut, lalu masuk ke dalam dada pengembara.

Pintu kedua pun terbuka.


PINTU KETIGA

PANTULAN BAYANGAN

Ketika pintu ketiga dibuka, tidak ada cahaya di dalamnya.

Hanya terdapat sebuah bayangan hitam yang memiliki bentuk serupa dengan tubuh pengembara.

Bayangan itu berbicara dengan suaranya sendiri:

“Aku adalah bagian yang selalu engkau salahkan.”

Pengembara menghunus pedangnya.

Namun bayangan tersebut tidak menyerang.

Ia hanya menunjukkan berbagai keadaan yang pernah disembunyikan:

saat pengembara iri kepada keberhasilan orang lain,

saat ia marah karena nasihatnya tidak diikuti,

saat ia merasa lebih suci daripada orang yang sedang bersalah,

dan saat ia menggunakan kata-kata kebaikan untuk menutupi keinginan berkuasa.

Pengembara ingin menebas bayangan itu.

Tetapi suara cermin menghentikannya:

“Bayangan tidak dapat dibunuh dengan pedang.
Ia menjadi kecil ketika engkau berdiri di bawah cahaya kejujuran.”

Pengembara kemudian menurunkan pedangnya.

Ia berkata kepada bayangan:

“Aku mengakui keberadaanmu, tetapi aku tidak akan menyerahkan arah hidupku kepadamu.”

Bayangan itu mengecil.

Ia tidak hilang sepenuhnya, sebab selama manusia hidup, kemungkinan untuk tergelincir tetap ada.

Namun bayangan itu tidak lagi berdiri sebagai raja.

Ia menjadi pengingat bahwa hati harus terus dijaga.

Pintu ketiga pun terbuka.


PINTU KEEMPAT

PANTULAN MAHKOTA

Di balik pintu keempat terdapat sebuah singgasana.

Di atasnya terletak mahkota bercahaya.

Pengembara mendengar ribuan suara memanggilnya:

“Kenakanlah mahkota itu.”

“Engkau telah melewati tiga pintu.”

“Engkau lebih layak daripada mereka yang belum berjalan.”

“Engkau telah mengetahui rahasia yang tidak diketahui orang lain.”

Pengembara mulai mendekati singgasana.

Namun setiap langkah yang ia tempuh membuat mahkota itu semakin berat.

Ketika tangannya hampir menyentuhnya, permukaan mahkota berubah menjadi besi hitam.

Di bawahnya terukir kalimat:

“Kedudukan yang dicari untuk meninggikan diri akan berubah menjadi beban.”

Pengembara bertanya:

“Lalu siapakah yang berhak memakai mahkota?”

Cermin menjawab:

“Orang yang tidak sibuk memikirkan mahkota, tetapi sibuk menunaikan amanah.”

Mahkota bukan tanda bahwa seseorang lebih mulia daripada orang lain.

Mahkota adalah lambang tanggung jawab.

Semakin tinggi kedudukan, semakin besar kewajiban menjaga keadilan.

Semakin banyak pengikut, semakin berat tugas menjaga ucapan.

Semakin luas pengaruh, semakin besar bahaya apabila niat tidak dijaga.

Pengembara kemudian mengambil mahkota itu, bukan untuk dikenakan, melainkan untuk diletakkan di hadapan singgasana sebagai pengingat.

Saat itulah mahkota besi berubah kembali menjadi cahaya.

Pintu keempat pun terbuka.


PINTU KELIMA

PANTULAN WAKTU

Di dalam pintu kelima terdapat dua sungai.

Sungai pertama mengalir ke belakang.

Di dalam airnya terlihat seluruh penyesalan masa lalu.

Sungai kedua mengalir ke depan.

Di dalam airnya terlihat seluruh kecemasan tentang masa depan.

Pengembara berdiri di antara keduanya.

Ia tergoda memasuki sungai pertama untuk memperbaiki kesalahan lama.

Ia juga tergoda memasuki sungai kedua untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

Namun di tengah kedua sungai terdapat sebuah batu kecil.

Di atas batu itu tumbuh satu bunga putih.

Cermin berkata:

“Bunga itu adalah hari ini.
Banyak orang kehilangan mekarnya karena sibuk mengejar sungai yang tidak dapat mereka genggam.”

Masa lalu dapat dikenang, tetapi tidak dapat dihuni kembali.

Masa depan dapat dipersiapkan, tetapi tidak dapat dikuasai sepenuhnya.

Yang tersedia bagi manusia adalah saat ini:

satu doa yang dapat dibaca,

satu kesalahan yang dapat diperbaiki,

satu orang yang dapat dimaafkan,

satu tugas yang dapat diselesaikan,

dan satu langkah yang dapat diarahkan menuju kebaikan.

Pengembara memetik bunga putih itu.

Ketika disentuh, bunga tersebut berubah menjadi jam tanpa jarum.

Jam itu tidak menunjukkan berapa lama kehidupan akan berlangsung.

Ia hanya mengingatkan bahwa setiap kesempatan memiliki waktunya sendiri.

Pintu kelima pun terbuka.


PINTU KEENAM

PANTULAN NAMA

Pintu keenam dipenuhi ribuan nama dan gelar.

Nama raja.

Nama guru.

Nama pendekar.

Nama pertapa.

Nama orang suci.

Nama orang yang dikenang dan orang yang telah dilupakan.

Di antara nama-nama itu, pengembara menemukan namanya sendiri tertulis dengan huruf cahaya.

Ia merasa bangga.

Namun sesaat kemudian, seluruh nama itu jatuh seperti daun kering.

Cermin berkata:

“Nama dapat dikenang manusia, tetapi nilai seseorang ditimbang oleh apa yang ia lakukan ketika namanya tidak disebut.”

Nama adalah identitas di dunia.

Gelar adalah amanah dalam pergaulan.

Keduanya dapat dihormati selama tidak dijadikan berhala bagi ego.

Nama yang indah tidak menjamin akhlak yang indah.

Gelar yang tinggi tidak menjamin hati yang rendah.

Sebaliknya, seseorang yang tidak dikenal manusia dapat memiliki amal yang sangat bernilai di sisi Alloh.

Pengembara menghapus namanya dari dinding.

Bukan karena ia membenci identitasnya, tetapi karena ia tidak ingin identitas itu menghalangi dirinya untuk terus belajar.

Ketika namanya terhapus, muncul satu kalimat:

“Jadilah manusia yang tetap benar meskipun tidak ada seorang pun menyebut namamu.”

Pintu keenam pun terbuka.


PINTU KETUJUH

PANTULAN KOSONG

Pintu terakhir tidak menampilkan apa pun.

Tidak ada wajah.

Tidak ada gunung.

Tidak ada bayangan.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada nama.

Hanya kehampaan yang sangat bening.

Pengembara berdiri lama di hadapannya.

Ia bertanya:

“Apakah ini akhir perjalanan?”

Suara dari balik Cermin Kunlun menjawab:

“Ini bukan akhir.
Inilah tempat di mana engkau berhenti membawa semua gambaran tentang dirimu.”

Selama manusia sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya selalu benar, ia sulit menerima nasihat.

Selama manusia sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya selalu kuat, ia sulit meminta pertolongan.

Selama manusia sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya paling mengetahui, ia sulit belajar.

Selama manusia sibuk mempertahankan gambaran bahwa dirinya telah sampai, ia berhenti berjalan.

Pantulan kosong mengajarkan bahwa kejernihan muncul ketika hati tidak terus-menerus memenuhi dirinya dengan tuntutan untuk diakui.

Pengembara menatap ruang kosong itu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari sesuatu untuk dibanggakan.

Ia tidak meminta ramalan.

Ia tidak meminta kekuatan.

Ia tidak meminta agar manusia tunduk kepadanya.

Ia hanya berkata:

“Ya Alloh, tunjukkanlah apa yang harus aku perbaiki, lalu kuatkan aku untuk memperbaikinya.”

Mendengar doa itu, tujuh pintu menyatu menjadi satu cahaya.

Lorong panjang pun menghilang.

Pengembara kembali berdiri di depan Cermin Kunlun.

Namun kini cermin tersebut tidak lagi memantulkan gunung, singgasana, bayangan, ataupun mahkota.

Ia memantulkan dirinya dalam keadaan sederhana.

Tidak lebih tinggi daripada manusia lain.

Tidak lebih rendah daripada manusia lain.

Hanya seorang hamba yang sedang belajar berjalan.


TANDA ORANG YANG TELAH MELEWATI TUJUH PANTULAN

Bukan mampu melihat perkara tersembunyi.

Bukan mampu mengetahui nasib orang lain.

Bukan banyaknya pengikut.

Bukan tingginya gelar.

Bukan pula banyaknya kisah luar biasa.

Tandanya adalah:

ia lebih mudah mengakui kesalahan,

lebih berhati-hati dalam berbicara,

tidak cepat merendahkan orang lain,

tidak mabuk ketika dipuji,

tidak hancur ketika dicela,

lebih bertanggung jawab terhadap amanah,

serta semakin sadar bahwa segala kebaikan terjadi dengan pertolongan Alloh.


PESAN DARI LORONG PANTULAN

Wahai pengembara,

apabila engkau melihat kesalahan dalam dirimu, jangan berputus asa.

Apabila engkau melihat kebaikan dalam dirimu, jangan menjadi sombong.

Apabila engkau melihat luka, rawatlah dengan sabar.

Apabila engkau melihat bayangan, arahkanlah kepada cahaya.

Apabila engkau melihat mahkota, ingatlah amanah.

Apabila engkau melihat masa lalu, ambillah pelajaran.

Apabila engkau melihat masa depan, persiapkanlah dengan ikhtiar.

Namun apabila engkau tidak melihat apa pun, diamlah sejenak.

Sebab mungkin saat itu hatimu sedang dipersiapkan untuk mendengar sesuatu yang lebih jernih daripada suara egomu sendiri.


DOA MELEWATI TUJUH PANTULAN

Ya Alloh,

bersihkanlah niat kami tanpa membuat kami berhenti berbuat baik.

Sembuhkanlah luka kami tanpa membuat kami menyakiti orang lain.

Tunjukkanlah bayangan diri kami agar kami dapat menatanya.

Jauhkanlah kami dari mabuk kedudukan dan pujian.

Ajarkanlah kami mengambil hikmah dari masa lalu tanpa menjadi tawanan penyesalan.

Ajarkanlah kami menyiapkan masa depan tanpa kehilangan keberkahan hari ini.

Jadikanlah nama dan gelar kami sebagai amanah, bukan sebagai tempat tumbuhnya kesombongan.

Kosongkanlah hati kami dari merasa paling benar, paling suci, dan paling mengetahui.

Penuhilah hati kami dengan kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, keteguhan, serta kerendahan hati di hadapan-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KEDUA

Ketika tujuh pantulan telah tertutup, pada tepian Cermin Kunlun muncul sebuah retakan kecil bercahaya.

Dari balik retakan itu terdengar suara air mengalir.

Di dalamnya tampak sebuah lembah tersembunyi, tempat tujuh mata air bertemu menjadi satu sungai putih.

Namun sebelum pengembara dapat melihatnya lebih jelas, cermin kembali diselimuti kabut.

Pada kabut itu terukir pesan:

“Setelah manusia berani melihat dirinya, ia harus belajar membersihkan apa yang telah dilihatnya.”

Bersambung menuju Lembar Ketiga:
Lembah Tujuh Mata Air.


QACA KUNLUN

Lembar Ketiga

LEMBAH TUJUH MATA AIR

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Retakan bercahaya pada Cermin Kunlun perlahan melebar.

Dari baliknya terdengar suara air yang tidak deras, tetapi sangat jernih. Suara itu tidak hanya terdengar oleh telinga. Ia terasa menembus dada, seperti panggilan lembut yang mengingatkan sesuatu yang telah lama dilupakan.

Sang pengembara mengulurkan tangan.

Permukaan cermin berubah menjadi tirai air.

Ketika ia melangkah melewatinya, tubuhnya tidak menjadi basah. Namun seluruh suara dari dunia luar mendadak lenyap.

Di hadapannya terbentang sebuah lembah yang sangat luas.

Lembah itu dikelilingi tujuh gunung.

Dari setiap gunung mengalir satu mata air.

Ketujuh aliran itu bergerak menuju pusat lembah, lalu bertemu membentuk sebuah sungai putih yang mengalir tanpa diketahui ujungnya.

Tidak ada istana di sana.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada pasar.

Tidak ada orang yang memuji atau mencela.

Hanya terdapat pepohonan tua, batu-batu bening, rumput berembun, serta tujuh jalan kecil yang masing-masing menuju satu mata air.

Di dekat pintu masuk lembah berdiri seorang penjaga berjubah sederhana.

Wajahnya tidak tua dan tidak muda.

Di tangannya terdapat tongkat kayu tanpa hiasan.

Sang pengembara bertanya:

“Apakah engkau penjaga Cermin Kunlun?”

Orang itu menjawab:

“Aku hanya menjaga agar orang yang datang tidak meminum air yang belum siap ia terima.”

Pengembara merasa heran.

“Bukankah air ini untuk menyucikan?”

Penjaga berkata:

“Air dapat menyucikan, tetapi penyucian bukan sekadar membasuh.
Ia menuntut kesediaan melepaskan sesuatu yang selama ini dianggap bagian dari diri.”

Pengembara memandang ketujuh jalan.

“Dari mata air mana aku harus memulai?”

Penjaga mengangkat tongkatnya dan menunjuk jalan pertama.

“Mulailah dari air yang paling pahit.”


MATA AIR PERTAMA

AIR PENGAKUAN

Jalan menuju mata air pertama dipenuhi batu tajam.

Di sepanjang jalan, pengembara melihat bayangan dirinya melakukan berbagai kesalahan.

Ada kesalahan yang ia ingat.

Ada kesalahan yang telah lama ia benarkan.

Ada pula kesalahan yang pernah ia letakkan sepenuhnya pada orang lain.

Ketika sampai di sumber air, ia menemukan sebuah kolam kecil berwarna bening.

Di atasnya tertulis:

“Air ini tidak dapat diminum oleh orang yang masih sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.”

Pengembara berlutut.

Ia menciduk air dengan kedua tangannya.

Ketika air menyentuh bibirnya, rasanya sangat pahit.

Ia hampir memuntahkannya.

Namun dari dalam air terdengar suara:

“Akuilah tanpa membela diri.”

Pengembara kemudian mengingat perkataan yang pernah melukai.

Janji yang pernah ia tunda.

Amanah yang pernah ia abaikan.

Nasihat yang ia berikan kepada orang lain tetapi tidak ia jalankan sendiri.

Ia berkata:

“Aku mengakui bahwa tidak semua kesalahanku terjadi karena keadaan. Sebagian terjadi karena aku memilih jalan yang mudah bagi egoku.”

Saat pengakuan itu keluar, rasa pahit air perlahan berubah menjadi tawar.

Cermin Kunlun berkata dari kejauhan:

“Pengakuan bukan penghinaan kepada diri.
Pengakuan adalah keberanian berhenti bersembunyi dari tanggung jawab.”

Orang yang mengakui kesalahan belum tentu lemah.

Kadang-kadang justru diperlukan kekuatan besar untuk berkata:

“Aku keliru.”

“Aku telah berlebihan.”

“Aku belum menunaikan amanah.”

“Aku perlu memperbaikinya.”

Ketika pengembara bangkit, batu-batu tajam di belakangnya berubah menjadi jalan yang rata.

Air pertama telah masuk ke dalam dirinya.


MATA AIR KEDUA

AIR MAAF

Jalan menuju mata air kedua melewati hutan yang dipenuhi suara lama.

Di antara pepohonan terdengar kembali perkataan orang-orang yang pernah merendahkan, meninggalkan, mengkhianati, atau mengecewakannya.

Setiap suara berubah menjadi duri.

Duri-duri itu menempel pada jubah pengembara.

Semakin ia mengingat kesalahan mereka, semakin berat langkahnya.

Ketika sampai di mata air kedua, hampir seluruh tubuhnya tertutup duri.

Di atas air tertulis:

“Memaafkan tidak selalu berarti membenarkan.
Memaafkan berarti tidak terus membiarkan luka menguasai arah hidupmu.”

Pengembara berkata:

“Bagaimana aku dapat memaafkan sesuatu yang masih terasa menyakitkan?”

Air menjawab:

“Jangan menuntut hatimu melupakan dalam satu malam. Mulailah dengan berhenti memberi makan kebencian setiap hari.”

Ia mencelupkan tangannya ke dalam air.

Satu per satu duri terlepas.

Namun beberapa duri yang paling dalam tetap tertinggal.

Pengembara bertanya:

“Mengapa semuanya tidak hilang?”

Suara dari air berkata:

“Sebagian luka memerlukan waktu, batas yang sehat, percakapan yang jujur, pertolongan orang tepercaya, atau keberanian menjauh dari kezaliman.
Memaafkan bukan kewajiban untuk kembali berada di tempat yang terus melukaimu.”

Pengembara memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti memulihkan hubungan seperti semula.

Ada hubungan yang dapat diperbaiki.

Ada hubungan yang memerlukan jarak.

Ada keadaan yang harus dihentikan.

Ada pula kesalahan yang perlu diselesaikan dengan tanggung jawab dan keadilan.

Ia lalu berkata:

“Ya Alloh, aku tidak ingin kebencian mengubahku menjadi serupa dengan sesuatu yang telah melukaiku.”

Duri-duri yang tersisa berubah menjadi bekas tipis.

Bekas itu tidak lagi menghalangi langkahnya.

Air kedua telah masuk ke dalam dirinya.


MATA AIR KETIGA

AIR KERENDAHAN HATI

Jalan ketiga menuju dataran tinggi.

Semakin pengembara mendaki, semakin banyak suara memujinya.

“Engkau telah melewati tujuh pantulan.”

“Engkau telah meminum dua mata air.”

“Engkau lebih dalam daripada manusia biasa.”

“Engkau pantas berada di atas mereka.”

Setiap pujian berubah menjadi anak tangga emas.

Pengembara menaikinya dengan mudah.

Namun saat hampir mencapai puncak, anak-anak tangga itu retak.

Ia jatuh ke sebuah kolam yang sangat dangkal.

Mata air ketiga ternyata berada di tempat paling rendah.

Di atasnya tertulis:

“Air kerendahan hati selalu mengalir ke tempat yang rendah, tetapi darinya kehidupan tumbuh.”

Pengembara melihat sekeliling.

Rumput yang paling subur tumbuh di sekitar mata air itu.

Pohon-pohon yang paling besar menundukkan cabangnya.

Buah yang paling lebat tidak mengangkat rantingnya ke langit, melainkan membungkuk ke tanah.

Air berkata:

“Engkau boleh mengetahui sesuatu tanpa merasa mengetahui semuanya.”

“Engkau boleh memiliki pengalaman tanpa menjadikannya ukuran kemuliaan.”

“Engkau boleh dihormati tanpa menuntut semua orang tunduk.”

“Engkau boleh memimpin tanpa menganggap dirimu selalu benar.”

Pengembara mencuci wajahnya.

Di permukaan air ia melihat bahwa wajahnya sama seperti sebelumnya.

Tidak muncul mahkota.

Tidak muncul cahaya istimewa.

Tidak muncul tanda bahwa ia lebih tinggi daripada manusia lain.

Hanya wajah seorang hamba.

Ia berkata:

“Semakin banyak yang kupahami, semakin luas yang belum kuketahui.”

Air ketiga pun menjadi terang.


MATA AIR KEEMPAT

AIR KESABARAN

Jalan keempat sangat panjang.

Tidak ada pemandangan indah.

Tidak ada suara yang menyemangati.

Tidak ada tanda bahwa pengembara semakin dekat.

Ia berjalan dari pagi sampai malam.

Kemudian dari malam menuju pagi.

Namun mata air belum terlihat.

Pada hari kedua, ia mulai marah.

Pada hari ketiga, ia mulai ragu.

Pada hari keempat, ia ingin kembali.

Di tepi jalan terdapat sebuah batu bertuliskan:

“Kesabaran tidak selalu terasa agung.
Sering kali ia hanya berupa kesediaan melanjutkan satu langkah yang benar.”

Pengembara duduk.

Ia berkata:

“Aku lelah.”

Dari balik pohon terdengar jawaban:

“Beristirahatlah, tetapi jangan mengubah kelelahan menjadi alasan meninggalkan seluruh perjalanan.”

Ia berbaring sebentar.

Setelah tenaganya kembali, ia melanjutkan langkah.

Tidak jauh dari tempat ia beristirahat, ia menemukan mata air keempat.

Ia terkejut.

Ternyata mata air itu tidak tersembunyi jauh.

Ia hanya tidak dapat melihatnya ketika pikirannya dipenuhi keinginan untuk segera sampai.

Air kesabaran terasa hangat.

Di dalamnya ia melihat berbagai bentuk kesabaran:

seorang ibu merawat anaknya,

seorang ayah bekerja tanpa banyak bicara,

seorang murid mengulang pelajaran,

seorang petani menunggu panen,

seorang yang sakit menjalani pengobatan,

seorang yang terluka belajar mempercayai kembali,

dan seorang hamba yang terus berdoa sambil tetap berikhtiar.

Cermin Kunlun berkata:

“Kesabaran bukan berdiam diri menghadapi semua keadaan.
Kesabaran adalah keteguhan memilih langkah yang benar, termasuk ketika harus mencari pertolongan, menetapkan batas, atau meninggalkan jalan yang merusak.”

Pengembara meminum air itu.

Ia tidak menjadi kebal terhadap rasa lelah.

Namun ia belajar bahwa lelah bukan berarti gagal.

Air keempat telah masuk ke dalam dirinya.


MATA AIR KELIMA

AIR SYUKUR

Jalan kelima melewati taman yang tampak kering.

Tidak ada bunga.

Tidak ada buah.

Tidak ada burung bernyanyi.

Pengembara merasa kecewa.

Ia berkata:

“Mengapa mata air syukur berada di tempat yang tidak indah?”

Penjaga lembah muncul dari balik kabut.

Ia menjawab:

“Karena syukur yang hanya muncul ketika segala sesuatu sesuai keinginan belum selesai diuji.”

Pengembara berjalan lebih jauh.

Di tengah taman kering, ia menemukan satu daun hijau.

Di bawah daun itu terdapat setetes embun.

Setetes embun tersebut memantulkan langit.

Mata air kelima lalu muncul dari bawah tanah.

Airnya sangat sedikit, tetapi tidak pernah habis.

Di atasnya tertulis:

“Syukur bukan menyangkal kesulitan.
Syukur adalah kemampuan melihat bahwa di tengah kesulitan, masih ada kebaikan yang patut dijaga.”

Pengembara mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Ia masih dapat bernapas.

Ia masih dapat berjalan.

Ia masih dapat belajar.

Ia masih diberi kesempatan memperbaiki kesalahan.

Ia masih dapat menyebut nama Alloh.

Ia masih dapat memohon pertolongan.

Ia masih memiliki kemampuan memilih satu perbuatan baik.

Ketika ia menyadari semuanya, taman perlahan menghijau.

Namun mata air berkata:

“Jangan gunakan syukur untuk membungkam kesedihan.”

“Orang yang bersyukur tetap boleh menangis.”

“Orang yang beriman tetap boleh merasa lelah.”

“Orang yang kuat tetap boleh meminta bantuan.”

“Syukur dan kesedihan dapat berada dalam satu hati tanpa saling meniadakan.”

Pengembara mengangguk.

Ia meminum air kelima.

Rasanya sederhana, tetapi membuat pandangannya lebih jernih.


MATA AIR KEENAM

AIR AMANAH

Jalan menuju mata air keenam dipenuhi benda-benda yang pernah dipercayakan kepada manusia.

Ada kunci rumah.

Ada kitab.

Ada timbangan.

Ada tongkat kepemimpinan.

Ada mangkuk makanan.

Ada surat janji.

Ada tangan anak kecil yang mencari perlindungan.

Ada mata orang tua yang menunggu kepedulian.

Setiap benda memancarkan suara:

“Apakah aku telah dijaga?”

Pengembara memasuki sebuah halaman.

Di tengahnya terdapat mata air yang ditutup batu besar.

Pada batu itu tertulis:

“Air ini terbuka bukan oleh kekuatan, melainkan oleh tanggung jawab.”

Pengembara mencoba mendorong batu itu.

Batu tidak bergerak.

Ia mencoba mengangkatnya.

Tetap tidak bergerak.

Kemudian ia melihat di sekeliling halaman terdapat berbagai tugas kecil yang belum selesai.

Sebuah pohon perlu disiram.

Sebuah jalan perlu dibersihkan.

Sebuah mangkuk retak perlu diperbaiki.

Seekor burung terluka perlu ditolong.

Pengembara mulai menyelesaikannya satu per satu.

Setiap tugas yang selesai membuat batu penutup mata air menjadi lebih ringan.

Ketika tugas terakhir selesai, batu itu bergeser dengan sendirinya.

Air amanah pun mengalir.

Suara dari mata air berkata:

“Banyak orang menginginkan amanah besar, tetapi meremehkan tanggung jawab kecil.
Padahal amanah besar dibangun dari kesetiaan pada hal-hal yang tidak disaksikan banyak orang.”

Menjaga waktu adalah amanah.

Menjaga ucapan adalah amanah.

Menjaga tubuh adalah amanah.

Menjaga ilmu agar tidak digunakan untuk menipu adalah amanah.

Menjaga keluarga adalah amanah.

Menjaga kepercayaan adalah amanah.

Menjaga kedudukan agar tidak menjadi alat menindas adalah amanah.

Pengembara meminum air keenam.

Ia merasa bahunya menjadi lebih berat.

Namun langkahnya justru lebih teguh.

Sebab ia memahami bahwa amanah bukan perhiasan.

Amanah adalah sesuatu yang harus ditunaikan.


MATA AIR KETUJUH

AIR KEIKHLASAN

Jalan terakhir tidak memiliki petunjuk.

Pengembara berjalan mengikuti suara air, tetapi suara itu selalu berpindah.

Ketika ia menuju timur, suara terdengar dari barat.

Ketika ia menuju utara, suara terdengar dari selatan.

Ia berjalan berputar-putar sampai kembali ke tempat semula.

Di sana berdiri penjaga lembah.

Pengembara berkata:

“Aku tidak menemukan mata air ketujuh.”

Penjaga bertanya:

“Untuk apa engkau mencarinya?”

Pengembara menjawab:

“Agar aku menyelesaikan perjalanan dan menjadi orang yang telah melewati tujuh mata air.”

Penjaga tersenyum.

“Itulah sebabnya air itu bersembunyi.”

Pengembara terdiam.

Ia menyadari bahwa di balik pencariannya masih terdapat keinginan memperoleh gelar baru.

Ia ingin dikenal sebagai orang yang telah mencapai sesuatu.

Ia ingin memiliki kisah yang dapat diceritakan.

Ia ingin perjalanan ini menjadi bukti keistimewaan dirinya.

Pengembara menunduk.

“Aku tidak tahu apakah niatku benar-benar bersih.”

Penjaga berkata:

“Keikhlasan bukan keadaan yang selalu sempurna.
Ia adalah usaha terus-menerus mengembalikan tujuan ketika hati mulai menyimpang.”

“Lakukan kebaikan.”

“Periksa niatmu.”

“Ketika niat bercampur, bersihkan kembali.”

“Ketika pujian datang, jangan jadikan ia makanan utama.”

“Ketika tidak ada yang mengetahui amalmu, jangan merasa amal itu sia-sia.”

“Ketika hasil tidak sesuai harapan, jangan segera menganggap semua usahamu tidak bernilai.”

Pengembara melepaskan tas, pedang, tongkat, dan seluruh tanda perjalanan yang ia bawa.

Ia duduk di tanah.

Ia berkata:

“Ya Alloh, apabila tidak ada manusia yang mengetahui perjalananku, cukuplah Engkau mengetahui bahwa aku sedang berusaha memperbaiki diri.”

Saat kalimat itu selesai, dari bawah tempat duduknya muncul mata air ketujuh.

Airnya tidak berwarna.

Tidak bercahaya.

Tidak memiliki rasa istimewa.

Namun ketika diminum, seluruh kegaduhan di dalam dada menjadi tenang.

Bukan karena semua masalah telah hilang.

Bukan karena semua jawaban telah ditemukan.

Melainkan karena ia tidak lagi menuntut dunia menjadi saksi bagi setiap kebaikannya.


PERTEMUAN TUJUH AIR

Setelah pengembara meminum mata air ketujuh, ketujuh aliran mulai bergerak menuju pusat lembah.

Air pengakuan membawa kejujuran.

Air maaf membawa kelapangan.

Air kerendahan hati membawa keseimbangan.

Air kesabaran membawa keteguhan.

Air syukur membawa kejernihan pandangan.

Air amanah membawa tanggung jawab.

Air keikhlasan membawa ketenangan tujuan.

Ketujuhnya bertemu menjadi sungai putih.

Namun sungai itu tidak sepenuhnya putih karena cahaya.

Ia putih karena tidak lagi membawa warna kesombongan, kebencian, penyesalan, dan tuntutan untuk dipuji.

Penjaga lembah berkata:

“Sekarang engkau telah meminum tujuh air.
Tetapi jangan mengira seluruh kotoran hati telah hilang untuk selamanya.”

Pengembara bertanya:

“Apakah aku harus kembali ke lembah ini?”

Penjaga menjawab:

“Setiap hari.”

“Di mana pun engkau mengakui kesalahan, engkau kembali ke mata air pertama.”

“Di mana pun engkau belajar memaafkan, engkau kembali ke mata air kedua.”

“Di mana pun engkau menundukkan kesombongan, engkau kembali ke mata air ketiga.”

“Di mana pun engkau tetap berjalan dalam kebaikan, engkau kembali ke mata air keempat.”

“Di mana pun engkau melihat nikmat di tengah kesulitan, engkau kembali ke mata air kelima.”

“Di mana pun engkau menjaga kepercayaan, engkau kembali ke mata air keenam.”

“Di mana pun engkau berbuat baik tanpa menuntut pengakuan, engkau kembali ke mata air ketujuh.”


TUJUH TANDA AIR MULAI BEKERJA

Bukan tubuh menjadi kebal.

Bukan dapat membaca pikiran orang.

Bukan mampu melihat masa depan.

Bukan memperoleh kekuasaan tersembunyi.

Tandanya lebih sederhana:

kesalahan lebih cepat diakui,

permintaan maaf lebih mudah diucapkan,

pujian tidak terlalu memabukkan,

celaan tidak langsung menghancurkan,

kesulitan tidak segera menghapus rasa syukur,

amanah kecil tidak diremehkan,

dan kebaikan tetap dilakukan meskipun tidak terlihat.


PESAN PENJAGA LEMBAH

Wahai pengembara,

jangan bangga karena telah meminum air pengakuan jika engkau masih gemar membuka kesalahan orang lain tetapi menutup kesalahanmu sendiri.

Jangan bangga karena berbicara tentang maaf jika engkau menggunakan kata maaf untuk memaksa orang kembali ke tempat yang melukainya.

Jangan bangga karena berbicara tentang kerendahan hati jika diam-diam engkau ingin dipuji sebagai orang yang rendah hati.

Jangan bangga karena bersabar jika kesabaranmu hanya menjadi alasan untuk membiarkan kezaliman terus berlangsung.

Jangan bangga karena bersyukur jika engkau memakai syukur untuk menolak air mata orang lain.

Jangan bangga karena memegang amanah jika engkau lupa bahwa amanah adalah pelayanan, bukan kehormatan.

Jangan bangga karena mengaku ikhlas jika engkau masih marah ketika namamu tidak disebut.

Air tidak pernah membanggakan dirinya karena menghidupkan pohon.

Ia hanya mengalir menuju tempat yang membutuhkan.

Maka jadilah seperti air:

lembut tanpa kehilangan kekuatan,

rendah tanpa kehilangan nilai,

jernih tanpa mengaku suci,

dan bermanfaat tanpa menuntut dikenang.


DOA TUJUH MATA AIR

Ya Alloh,

alirkanlah kejujuran ke dalam hati kami agar kami mampu mengakui kesalahan tanpa kehilangan harapan.

Lembutkanlah hati kami agar mampu memaafkan tanpa membenarkan kezaliman.

Rendahkanlah ego kami tanpa merendahkan martabat kami.

Kuatkanlah kesabaran kami tanpa membuat kami pasif menghadapi keburukan.

Bukakanlah mata kami untuk melihat nikmat di tengah kesulitan.

Teguhkanlah kami dalam menjaga amanah yang kecil maupun yang besar.

Bersihkanlah niat kami dari keinginan menjadikan kebaikan sebagai tangga menuju pujian.

Jadikanlah ilmu sebagai cahaya akhlak.

Jadikanlah pengalaman sebagai jalan menuju kebijaksanaan.

Jadikanlah kedudukan sebagai sarana pelayanan.

Jadikanlah luka sebagai pintu kedewasaan.

Jadikanlah setiap langkah kami mendekat kepada ridho-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KETIGA

Sang pengembara mengikuti sungai putih menuju ujung lembah.

Semakin jauh ia berjalan, air semakin sunyi.

Di ujung sungai terdapat sebuah perahu kecil tanpa pendayung.

Di dalam perahu hanya ada sebuah lentera yang belum menyala.

Pada badan perahu terukir satu pesan:

“Setelah hati dibasuh, manusia harus belajar menyeberangi malam tanpa kehilangan arah.”

Pengembara menaiki perahu.

Sungai putih perlahan berubah menjadi lautan gelap.

Gunung-gunung menghilang dari pandangan.

Lembah tujuh mata air tertutup kabut.

Dan dari kejauhan, di tengah lautan tanpa bintang, tampak satu pulau hitam dengan menara cahaya yang padam.

Bersambung menuju Lembar Keempat:
Lautan Tanpa Bintang dan Lentera yang Belum Menyala.


QACA KUNLUN

Lembar Keempat

LAUTAN TANPA BINTANG DAN LENTERA YANG BELUM MENYALA

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Perahu kecil itu bergerak meninggalkan Lembah Tujuh Mata Air.

Tidak ada pendayung.

Tidak ada layar.

Tidak ada angin yang dapat dirasakan.

Namun perahu terus melaju mengikuti sungai putih yang perlahan melebar, kemudian berubah menjadi lautan tanpa batas.

Gunung-gunung di belakang sang pengembara semakin kecil.

Suara mata air menghilang.

Kabut menutup jalan pulang.

Di hadapannya hanya ada kegelapan.

Langit tanpa bulan.

Laut tanpa pantulan.

Tidak satu pun bintang tampak.

Di dasar perahu terdapat sebuah lentera tua.

Bingkainya terbuat dari logam hitam.

Kacanya bening, tetapi di dalamnya tidak ada nyala api.

Sang pengembara mengangkat lentera itu dan memeriksanya.

Tidak terdapat minyak.

Tidak terdapat sumbu.

Tidak terdapat batu pemantik.

Hanya ada sebuah tulisan kecil pada bagian bawahnya:

“Lentera ini tidak menyala karena dibakar dari luar.”

Pengembara membalik-balik lentera tersebut.

Ia tidak memahami maksudnya.

Ia menengadah ke langit dan bertanya:

“Bagaimana aku dapat menemukan pulau itu tanpa cahaya?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara air yang menyentuh lambung perahu.

Perlahan.

Teratur.

Seolah lautan sedang bernapas.


MALAM PERTAMA

KETIKA PETUNJUK TIDAK TERASA

Pada awal perjalanan, sang pengembara masih yakin bahwa cahaya akan segera muncul.

Ia menunggu kilat.

Ia menunggu bintang jatuh.

Ia menunggu suara dari langit.

Ia menunggu Cermin Kunlun memperlihatkan arah.

Namun malam terus berjalan dan tidak ada tanda apa pun.

Perahu bergerak, tetapi ia tidak tahu apakah sedang menuju pulau atau justru menjauh darinya.

Ia mulai gelisah.

“Apakah aku telah salah menaiki perahu?”

“Apakah sungai putih menyesatkanku?”

“Apakah penjaga lembah sengaja membiarkanku masuk ke dalam kegelapan?”

Semakin banyak pertanyaan muncul, semakin keras ia menggenggam sisi perahu.

Di dalam kegelapan terdengar suara yang menyerupai bisikan:

“Engkau hanya aman ketika memperoleh tanda.”

“Tanpa tanda, engkau tidak memiliki arah.”

“Tanpa pengalaman luar biasa, perjalananmu tidak berarti.”

“Tanpa jawaban yang cepat, doamu tidak didengar.”

Sang pengembara mengenali suara itu.

Bukan suara penjaga.

Bukan suara cermin.

Bukan pula suara dari langit.

Itu adalah suara ketakutannya sendiri.

Ia kemudian teringat pesan dari tujuh mata air:

Kesabaran bukan sekadar menunggu. Kesabaran adalah tetap memilih langkah yang benar ketika hasil belum terlihat.

Pengembara duduk dengan tenang.

Ia tidak dapat menentukan arah perahu.

Namun ia masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

Ia masih dapat melindungi lentera.

Ia masih dapat menahan diri agar tidak melompat ke laut karena panik.

Ia berkata:

“Aku tidak mengetahui seluruh perjalanan, tetapi aku masih mengetahui adab untuk langkah ini.”

Malam pertama pun berlalu.

Langit tetap gelap.

Tetapi ketakutan di dalam dadanya mulai memiliki nama.


MALAM KEDUA

GELOMBANG KERAGUAN

Pada malam kedua, lautan yang semula tenang mulai bergerak.

Gelombang kecil datang dari kanan.

Kemudian dari kiri.

Lalu dari segala arah.

Perahu terangkat dan jatuh berulang kali.

Sang pengembara memeluk lentera agar tidak terlempar.

Dalam setiap gelombang, ia melihat potongan bayangan.

Bayangan saat ia gagal.

Bayangan orang-orang yang pernah meremehkannya.

Bayangan keputusan yang dahulu membuatnya menyesal.

Bayangan hari esok yang belum terjadi, tetapi sudah membuatnya takut.

Gelombang berkata:

“Engkau tidak cukup kuat.”

“Engkau akan mengulang kesalahan yang sama.”

“Engkau tidak akan sampai.”

“Semua yang telah engkau pelajari akan hilang ketika ujian datang.”

Sang pengembara berusaha melawan gelombang dengan tangannya.

Namun semakin ia memukul air, semakin banyak air masuk ke dalam perahu.

Ia kemudian menyadari bahwa tidak semua gelombang harus dilawan dengan kekuatan.

Sebagian harus dilewati dengan keseimbangan.

Ia menurunkan tubuhnya.

Melemaskan bahunya.

Mengatur napas.

Menjaga pusat beratnya.

Setiap kali perahu miring, ia mengikuti geraknya tanpa menyerahkan diri sepenuhnya kepada arus.

Ia berkata:

“Keraguan boleh datang, tetapi ia tidak harus menentukan keputusanku.”

Gelombang tidak langsung berhenti.

Namun suaranya melemah.

Pengembara memahami bahwa keberanian bukan keadaan tanpa rasa takut.

Keberanian adalah kemampuan tetap menjaga sesuatu yang bernilai meskipun rasa takut hadir.

Malam kedua berlalu.

Lentera masih belum menyala.

Tetapi tangan yang memegangnya tidak lagi gemetar seperti sebelumnya.


MALAM KETIGA

SUARA-SUARA DARI KABUT

Pada malam ketiga, kabut turun sangat tebal.

Dari dalam kabut terdengar suara orang-orang memanggil namanya.

Ada suara yang lembut.

Ada suara yang memuji.

Ada suara yang menangis.

Ada suara yang mengancam.

“Berbaliklah.”

“Datanglah kemari.”

“Kami mengetahui jalan tercepat.”

“Engkau telah dipilih.”

“Engkau lebih tinggi daripada pengembara lain.”

“Tidak perlu menyeberang. Jadilah pemimpin kami di tengah laut ini.”

Sang pengembara melihat cahaya-cahaya kecil muncul di balik kabut.

Sebagian berwarna emas.

Sebagian biru.

Sebagian merah.

Setiap cahaya menawarkan jalan berbeda.

Ia hampir mengarahkan perahu menuju cahaya yang paling terang.

Namun sebelum melakukannya, ia mengangkat lentera yang belum menyala.

Pada kaca lentera terlihat pantulan cahaya-cahaya itu.

Anehnya, cahaya tersebut tidak memiliki pusat.

Ia hanya kabut yang membentuk dirinya menyerupai sinar.

Pengembara teringat:

“Tidak setiap yang terang adalah petunjuk.
Sebagian cahaya hanya memperbesar keinginan yang telah ada di dalam hati.”

Ia lalu bertanya kepada setiap suara:

“Apakah jalanmu membuatku lebih jujur?”

Suara pertama menghilang.

“Apakah jalanmu membuatku lebih bertanggung jawab?”

Suara kedua menjadi kabut.

“Apakah jalanmu membuatku lebih rendah hati?”

Suara ketiga padam.

“Apakah jalanmu menjagaku dari merugikan orang lain?”

Seluruh cahaya palsu lenyap.

Kabut kembali gelap.

Sang pengembara memahami bahwa petunjuk yang benar tidak hanya membuat seseorang merasa istimewa.

Petunjuk yang benar mengarahkan kepada akhlak, amanah, ketelitian, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Ia berkata:

“Aku tidak akan mengikuti setiap suara hanya karena ia memanggil namaku.”

Malam ketiga berlalu.

Lentera belum menyala.

Tetapi kaca lentera menjadi lebih bening.


MALAM KEEMPAT

BADAI KEHILANGAN

Pada malam keempat, datang badai yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Langit bergemuruh.

Air laut menghantam perahu.

Sisi perahu retak.

Barang-barang yang dibawa sang pengembara terlempar satu per satu.

Tasnya jatuh ke laut.

Pedangnya terlepas.

Tongkatnya hanyut.

Bekal makanannya lenyap.

Ia berusaha menyelamatkan semuanya, tetapi hanya dapat memegang lentera.

Dalam waktu singkat, hampir seluruh yang dibawanya hilang.

Ia berteriak:

“Mengapa setelah aku melewati tujuh mata air, semua yang kumiliki justru diambil?”

Tidak ada jawaban.

Badai semakin keras.

Sang pengembara melihat pedangnya menghilang ditelan ombak.

Pedang itu adalah lambang kekuatan.

Tongkatnya adalah lambang perjalanan.

Tasnya menyimpan catatan tentang segala pengalaman yang pernah dilalui.

Kini semuanya hilang.

Ia merasa seolah dirinya tidak lagi memiliki identitas.

“Siapakah aku tanpa benda-benda itu?”

“Siapakah aku tanpa kisah perjalananku?”

“Siapakah aku tanpa sesuatu yang dapat kutunjukkan kepada orang lain?”

Di tengah badai, lentera tua itu tiba-tiba menjadi berat.

Pengembara hampir melepaskannya.

Namun ia melihat tulisan baru muncul di kaca:

“Yang hilang darimu belum tentu dirimu.”

Ia menatap tulisan itu lama.

Pedang adalah alat, bukan keberaniannya.

Tongkat adalah penopang, bukan keteguhannya.

Catatan adalah kisah, bukan nilai hidupnya.

Pujian adalah suara luar, bukan harga dirinya.

Kedudukan adalah amanah, bukan hakikat dirinya.

Ia memeluk lentera dan berkata:

“Selama aku masih dapat memilih kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab, aku belum kehilangan seluruh diriku.”

Badai berangsur-angsur reda.

Perahu memang retak, tetapi belum tenggelam.

Pengembara tidak memperoleh kembali barang-barangnya.

Namun ia menemukan sesuatu yang lebih dalam:

dirinya tidak sepenuhnya ditentukan oleh apa yang dapat dimiliki, dipamerkan, dikenang, atau dipertahankan.

Malam keempat berlalu.

Lentera belum menyala.

Tetapi di dalam bingkainya muncul seutas sumbu putih.


MALAM KELIMA

PULAU-PULAU PALSU

Pada malam kelima, kabut mulai berkurang.

Di kejauhan tampak beberapa pulau.

Pulau pertama memiliki istana emas.

Pulau kedua dipenuhi taman yang sangat indah.

Pulau ketiga dipenuhi orang-orang yang menunggu kedatangannya.

Pulau keempat memiliki menara tinggi yang menyala sampai ke langit.

Dari masing-masing pulau terdengar seruan:

“Berlabuhlah di sini.”

“Perjalananmu telah selesai.”

“Engkau tidak perlu menuju pulau hitam.”

“Di sini semua orang akan mengakuimu.”

Sang pengembara melihat orang-orang di pantai pulau pertama membawa mahkota.

Di pulau kedua, semua keinginannya tampak tersedia.

Di pulau ketiga, orang-orang membungkuk dan menyebutnya guru.

Di pulau keempat, sebuah singgasana kosong menunggunya.

Hatinya tertarik.

Ia lelah.

Ia ingin beristirahat.

Ia ingin memperoleh hasil dari seluruh perjalanan.

Namun ketika perahu mendekati pulau pertama, air laut berubah menjadi cermin.

Di dalam air, ia melihat keadaan pulau yang sesungguhnya.

Istana emas berdiri di atas tanah yang retak.

Taman indah tumbuh dari akar yang mengikat kaki para penghuninya.

Orang-orang yang membungkuk tidak memiliki wajah.

Menara bercahaya mengisap cahaya dari siapa pun yang mendekat.

Pengembara mundur.

Ia memahami bahwa tidak semua tempat yang menawarkan kenyamanan adalah tujuan.

Tidak semua penghormatan adalah keberkahan.

Tidak semua kesempatan harus diterima.

Tidak semua pintu terbuka harus dimasuki.

Suara dari lentera berkata:

“Tujuan yang benar tidak selalu menjadi tempat yang paling memuji dirimu.”

Pengembara membiarkan pulau-pulau palsu itu berlalu.

Satu per satu mereka tenggelam ke dalam kabut.

Malam kelima berakhir.

Lentera belum menyala.

Namun di dasarnya muncul setetes minyak bening.


MALAM KEENAM

KETIKA DOA TERASA DIAM

Pada malam keenam, lautan kembali tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada gelombang.

Tidak ada suara.

Tidak ada kabut.

Tidak ada pulau.

Sang pengembara merasa seolah waktu berhenti.

Ia berdoa.

Tidak ada jawaban.

Ia mengulang doanya.

Langit tetap gelap.

Ia memohon petunjuk.

Perahu tidak berubah arah.

Ia menangis.

Laut tetap diam.

Kemudian muncul bisikan dari dalam dirinya:

“Barangkali doamu tidak didengar.”

“Barangkali engkau telah ditinggalkan.”

“Barangkali seluruh perjalanan ini sia-sia.”

Pengembara menundukkan kepala.

Malam-malam sebelumnya masih memberinya ujian yang dapat dihadapi.

Namun keheningan ini lebih berat.

Tidak ada sesuatu untuk dilawan.

Tidak ada sesuatu untuk dijelaskan.

Hanya penantian.

Ia memegang lentera dan berkata:

“Ya Alloh, aku tidak mengetahui mengapa jawabannya belum terlihat.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian melanjutkan:

“Namun aku tidak ingin menjadikan keterlambatan jawaban sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan.”

Ia tetap berdoa.

Bukan untuk memaksa langit segera memberi tanda.

Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya istimewa.

Ia berdoa karena doa adalah bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki batas.

Ia berdoa sambil memperbaiki perahu yang retak.

Ia mengikat kayu dengan potongan jubah.

Ia membuang air yang masuk.

Ia memeriksa arah arus.

Ia menjaga tubuhnya agar tidak kehilangan tenaga.

Pada saat itulah ia memahami:

“Tawakal bukan meninggalkan ikhtiar sambil menunggu keajaiban.
Tawakal adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh sambil menyadari bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaan manusia.”

Doa dan ikhtiar tidak saling meniadakan.

Doa menjaga hati agar tidak merasa menjadi penguasa hasil.

Ikhtiar menjaga manusia agar tidak menjadikan pasrah sebagai alasan untuk malas.

Malam keenam berlalu.

Lentera belum menyala.

Namun minyak di dalamnya bertambah hingga membasahi sumbu.


MALAM KETUJUH

BAYANGAN DIRI YANG PUTUS ASA

Pada malam ketujuh, permukaan laut berubah menjadi hitam pekat.

Dari bawah perahu muncul tangan-tangan bayangan.

Mereka menarik sisi perahu.

Kemudian dari air bangkit sosok yang sangat menyerupai sang pengembara.

Wajahnya sama.

Pakaiannya sama.

Namun matanya kosong.

Sosok itu berdiri di atas air dan berkata:

“Aku adalah dirimu yang telah menyerah.”

Pengembara bertanya:

“Mengapa engkau datang?”

Bayangan menjawab:

“Karena aku selalu hadir ketika engkau merasa tidak ada lagi jalan.”

Ia menunjuk ke tengah lautan.

“Lihatlah. Tidak ada bintang.”

Ia menunjuk lentera.

“Lihatlah. Tidak ada api.”

Ia menunjuk perahu.

“Lihatlah. Ia hampir hancur.”

Kemudian bayangan itu tersenyum.

“Lepaskan saja semuanya.”

Sang pengembara merasakan kelelahan yang sangat dalam.

Ia memang tidak tahu berapa jauh pulau itu.

Ia tidak tahu apakah lentera dapat menyala.

Ia tidak tahu apakah perahu akan bertahan.

Bayangan melanjutkan:

“Menyerahlah. Dengan begitu, engkau tidak perlu kecewa lagi.”

Pengembara hampir mempercayainya.

Namun ia melihat sumbu di dalam lentera.

Sumbu itu telah dibentuk oleh keteguhannya melewati kehilangan.

Minyaknya terkumpul dari doa dan ikhtiar.

Kaca lentera menjadi bening setelah ia menolak cahaya palsu.

Ia menyadari bahwa lentera sebenarnya sedang dipersiapkan sedikit demi sedikit.

Hanya apinya yang belum muncul.

Ia berkata kepada bayangan:

“Aku boleh lelah.”

Bayangan tersenyum.

“Aku boleh menangis.”

Bayangan mendekat.

“Aku boleh meminta pertolongan.”

Bayangan berhenti.

“Tetapi aku tidak akan menyerahkan seluruh hidupku kepada keputusasaan yang datang pada satu malam.”

Bayangan itu berubah marah.

“Engkau masih tidak mengetahui jalan!”

Pengembara menjawab:

“Aku tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk menjaga langkah yang berada di hadapanku.”

Bayangan mencoba menarik lentera.

Pengembara memegangnya erat.

Ia berkata:

“Harapan bukan keyakinan bahwa semua akan berjalan sesuai keinginanku.
Harapan adalah kesediaan mencari jalan baik meskipun keadaan belum memberi kepastian.”

Sosok bayangan perlahan retak.

Dari retakannya keluar cahaya kecil.

Cahaya itu terbang menuju lentera.

Untuk pertama kalinya, sumbu di dalamnya mengeluarkan asap tipis.

Namun belum menjadi api.

Bayangan tenggelam kembali ke laut.

Malam ketujuh berlalu.

Di ufuk yang gelap, tampak garis samar menyerupai daratan.


MALAM KEDELAPAN

PENJAGA API

Ketika perahu mendekati pulau hitam, sang pengembara melihat menara yang sebelumnya padam.

Menara itu tinggi, tetapi bagian puncaknya rusak.

Di sekeliling pulau terdapat batu-batu tajam.

Perahu tidak dapat berlabuh dengan mudah.

Pengembara turun ke air dan menarik perahu menuju pantai.

Airnya sangat dingin.

Setelah mencapai daratan, ia mendaki jalan berbatu menuju menara.

Di depan pintu menara duduk seorang perempuan tua berjubah abu-abu.

Di pangkuannya terdapat mangkuk kosong.

Ia bertanya:

“Apa yang engkau bawa?”

Pengembara menunjukkan lentera.

“Aku membawa lentera yang belum menyala.”

Perempuan tua itu bertanya lagi:

“Di mana apinya?”

“Aku tidak memilikinya.”

“Lalu mengapa engkau datang ke menara cahaya?”

“Aku berharap menemukan api di sini.”

Perempuan tua itu tertawa kecil.

“Semua orang datang ke sini dengan harapan yang sama. Mereka ingin mengambil api tanpa memahami bagaimana api itu dijaga.”

Pengembara duduk di hadapannya.

“Ajarkanlah kepadaku.”

Perempuan tua itu menunjuk mangkuk kosong.

“Isi mangkuk ini.”

“Dengan apa?”

“Dengan sesuatu yang tidak dapat engkau ambil dari laut, gunung, ataupun langit.”

Pengembara kebingungan.

Ia mencari air.

Perempuan tua menggeleng.

Ia mengambil tanah.

Perempuan tua menggeleng.

Ia mencoba mengisi mangkuk dengan cahaya fajar yang belum datang.

Mangkuk tetap kosong.

Akhirnya pengembara bertanya:

“Apakah yang harus kumasukkan?”

Perempuan tua menjawab:

“Masukkan keputusan yang tetap engkau jaga ketika tidak ada seorang pun melihat.”

Pengembara menatap mangkuk itu.

Ia teringat saat mengakui kesalahan meskipun memalukan.

Saat memilih tidak mengikuti cahaya palsu.

Saat menjaga lentera di tengah badai.

Saat tetap berdoa dan memperbaiki perahu dalam keheningan.

Saat menolak ajakan bayangan untuk menyerah.

Setiap ingatan berubah menjadi butiran cahaya kecil.

Butiran itu masuk ke dalam mangkuk.

Mangkuk yang semula kosong perlahan penuh.

Perempuan tua mengangguk.

“Inilah bahan bakar api batin: keputusan-keputusan kecil yang benar dan dijaga secara berulang.”

Ia menuangkan cahaya dari mangkuk ke dalam lentera.

Namun api masih belum muncul.

Pengembara bertanya:

“Apa yang kurang?”

Perempuan tua berkata:

“Keberanian untuk tidak menguasai cahaya.”

Ia menunjuk menara.

“Naiklah.”


TANGGA MENARA

CAHAYA BUKAN MILIK PRIBADI

Di dalam menara terdapat seribu anak tangga.

Pada setiap anak tangga terukir satu peringatan.

“Cahaya dapat berubah menjadi kesombongan.”

“Pengetahuan dapat berubah menjadi alat menguasai.”

“Pengaruh dapat berubah menjadi candu.”

“Pengalaman dapat berubah menjadi klaim.”

“Penghormatan dapat berubah menjadi tuntutan.”

“Nasihat dapat berubah menjadi penghakiman.”

“Simbol dapat berubah menjadi berhala.”

Semakin tinggi pengembara mendaki, lentera semakin berat.

Pada pertengahan tangga, ia hampir tidak mampu membawanya.

Ia bertanya:

“Mengapa cahaya ini menjadi beban?”

Dari bawah terdengar suara perempuan tua:

“Karena engkau masih membayangkan bahwa setelah lentera menyala, orang-orang akan melihat keistimewaanmu.”

Pengembara terdiam.

Ia memang membayangkan dirinya kembali membawa lentera.

Orang-orang akan berkumpul.

Mereka akan bertanya bagaimana ia mendapatkannya.

Ia akan menceritakan tujuh mata air, lautan tanpa bintang, badai, dan pulau hitam.

Tanpa disadari, ia telah menjadikan cahaya sebagai alat untuk meninggikan kisah dirinya.

Ia duduk di tangga.

Kemudian berkata:

“Apabila lentera ini menyala, semoga ia tidak membuatku menuntut penghormatan.”

Lentera menjadi sedikit lebih ringan.

“Apabila aku memperoleh pengetahuan, semoga pengetahuan itu tidak kugunakan untuk merendahkan.”

Lentera menjadi semakin ringan.

“Apabila manusia memerlukan cahaya, semoga aku tidak mengaku sebagai pemilik sumbernya.”

Lentera menjadi ringan seperti daun.

Pengembara melanjutkan pendakian.


PUNCAK MENARA

API YANG LAHIR DARI PENYAKSIAN

Di puncak menara tidak terdapat obor.

Tidak terdapat tungku.

Tidak terdapat matahari.

Hanya ada sebuah ruang terbuka yang menghadap ke seluruh lautan.

Dari sana sang pengembara melihat perjalanan yang telah dilaluinya.

Lembah tujuh mata air berada jauh di belakang.

Pulau-pulau palsu telah lenyap.

Badai hanya menyisakan garis gelap di cakrawala.

Perahu kecilnya tampak seperti titik di pantai.

Di tengah ruang terdapat sebuah batu bundar.

Pada batu itu tertulis:

“Letakkan lentera.
Jangan meminta cahaya untuk membuktikan dirimu.
Mintalah cahaya agar engkau dapat melihat tanggung jawabmu.”

Pengembara meletakkan lentera di atas batu.

Ia menutup mata.

Tidak ada mantra rahasia.

Tidak ada gerakan besar.

Ia hanya mengingat satu per satu pelajaran perjalanannya.

Kejujuran ketika mengakui kesalahan.

Kelapangan ketika melepaskan kebencian.

Kerendahan hati ketika menghadapi pujian.

Kesabaran ketika jalan terasa panjang.

Syukur di tengah kekurangan.

Kesetiaan menjaga amanah.

Keikhlasan ketika tidak ada saksi.

Keteguhan ketika petunjuk tidak terasa.

Kewaspadaan terhadap cahaya palsu.

Keberanian kehilangan alat tanpa kehilangan nilai.

Tawakal yang berjalan bersama ikhtiar.

Harapan yang tidak menyerahkan hidup kepada keputusasaan.

Semua itu berkumpul di dalam sumbu.

Kemudian dari dadanya keluar satu cahaya sangat kecil.

Bukan cahaya yang menyilaukan.

Bukan cahaya yang menggetarkan langit.

Hanya sebuah titik lembut seperti nyala pertama menjelang fajar.

Cahaya itu masuk ke dalam lentera.

Sumbu menyala.

Untuk pertama kalinya, Lentera Kunlun mengeluarkan api.

Anehnya, api itu tidak menerangi seluruh lautan.

Ia hanya menerangi beberapa langkah di sekitar menara.

Pengembara bertanya:

“Mengapa cahayanya tidak menunjukkan seluruh jalan?”

Suara dari Cermin Kunlun menjawab:

“Karena manusia tidak selalu memerlukan cahaya untuk seluruh perjalanan.
Sering kali ia hanya memerlukan cahaya yang cukup untuk satu langkah berikutnya.”

Lentera tidak memperlihatkan seluruh masa depan.

Ia tidak menghapus semua kesulitan.

Ia tidak menjamin tidak akan ada badai.

Namun ia cukup untuk membedakan tepi jurang dari jalan.

Cukup untuk melihat wajah orang yang memerlukan pertolongan.

Cukup untuk membaca amanah yang berada di hadapan.

Cukup untuk menjaga agar langkah tidak sepenuhnya dikuasai ketakutan.


MENYALAKAN MENARA

Setelah lentera menyala, pengembara melihat sebuah wadah besar di puncak menara.

Wadah itu terhubung dengan saluran cahaya menuju seluruh pulau.

Ia memahami bahwa lentera bukan hanya untuk dirinya.

Ia mendekatkan api kecilnya kepada wadah tersebut.

Namun sebelum menyentuhnya, terdengar peringatan:

“Api yang digunakan untuk menguasai akan membakar.
Api yang digunakan untuk melayani akan menerangi.”

Pengembara memeriksa niatnya.

Ia tidak ingin menyalakan menara agar dikenal sebagai penyelamat.

Ia tidak ingin menjadikan cahaya sebagai alasan meminta manusia tunduk.

Ia hanya teringat perahu-perahu lain yang mungkin masih berada dalam kegelapan.

Ia menyalakan wadah menara.

Api menyebar perlahan.

Menara yang padam mulai bercahaya.

Namun cahayanya tidak menyerupai kilat yang memaksa mata memandang.

Ia seperti fajar.

Lembut.

Bertahap.

Membantu orang melihat tanpa membutakan.

Dari kejauhan tampak perahu-perahu kecil di lautan.

Mereka mulai mengubah arah menuju tempat yang lebih aman.

Pengembara tersenyum.

Tidak satu pun dari mereka mengetahui siapa yang menyalakan menara.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa damai meskipun namanya tidak disebut.


TUJUH MAKNA LENTERA KUNLUN

Lentera bukan lambang kemampuan melihat semua perkara tersembunyi.

Lentera adalah lambang kejernihan untuk membedakan langkah yang patut dan tidak patut.

Apinya adalah niat yang terus dibersihkan.

Sumbunya adalah keteguhan.

Minyaknya adalah doa dan ikhtiar.

Kacanya adalah kejujuran.

Bingkainya adalah batas dan disiplin.

Pegangannya adalah tanggung jawab.

Cahayanya adalah manfaat yang diberikan tanpa mengaku sebagai sumber cahaya.

Lentera tidak menyala hanya karena seseorang memiliki banyak pengetahuan.

Ia menyala ketika pengetahuan mulai menjadi akhlak.

Lentera tidak menyala hanya karena seseorang mengalami perkara luar biasa.

Ia menyala ketika pengalaman membuatnya lebih rendah hati.

Lentera tidak menyala hanya karena seseorang banyak berbicara tentang kebaikan.

Ia menyala ketika ucapan dan tindakannya mulai saling mendekati.


TANDA LENTERA MULAI MENYALA

Bukan wajah memancarkan cahaya yang dapat dilihat orang.

Bukan mampu meramalkan masa depan.

Bukan mengetahui rahasia orang lain.

Bukan selalu memperoleh jawaban cepat.

Tandanya adalah:

ketika bingung, ia tidak langsung bertindak gegabah;

ketika takut, ia tetap mencari langkah yang aman;

ketika dipuji, ia memeriksa niat;

ketika kehilangan, ia tidak kehilangan seluruh nilai dirinya;

ketika doa belum terlihat jawabannya, ia tetap berikhtiar;

ketika tidak memperoleh pengakuan, ia tidak berhenti berbuat baik;

dan ketika memperoleh pengetahuan, ia semakin berhati-hati agar tidak merugikan.


PESAN PENJAGA API

Perempuan tua itu berdiri di pintu menara.

Ketika pengembara turun, ia berkata:

“Sekarang lenteramu telah menyala.”

Pengembara mengangguk.

“Apakah api ini akan hidup selamanya?”

Penjaga menjawab:

“Tidak apabila engkau berhenti menjaganya.”

“Kesombongan dapat mengotori kaca.”

“Kemalasan dapat menghabiskan minyak.”

“Keputusasaan dapat membasahi sumbu.”

“Kebencian dapat mengubah api menjadi panas yang membakar.”

“Keinginan menguasai dapat membuat lentera menjadi alat menyesatkan.”

Pengembara bertanya:

“Bagaimana menjaganya?”

Penjaga menjawab:

“Kembalilah kepada tujuh mata air dalam kehidupan sehari-hari.”

Akuilah ketika salah.

Maafkan tanpa membiarkan kezaliman.

Rendahkan ego tanpa merendahkan martabat.

Bersabar sambil tetap mengambil langkah.

Bersyukur tanpa menyangkal kesedihan.

Jaga amanah kecil.

Bersihkan niat berulang kali.

“Dan ketika lentera meredup,” lanjut penjaga, “jangan malu meminta pertolongan kepada orang yang amanah, berilmu, dan dapat dipercaya.”

“Manusia tidak harus memperbaiki seluruh perahunya sendirian.”


DOA LENTERA KUNLUN

Ya Alloh,

ketika jalan kami gelap, jangan biarkan ketakutan mengambil seluruh keputusan kami.

Ketika petunjuk belum terasa, kuatkan kami menjaga adab dan tanggung jawab yang telah kami ketahui.

Lindungilah kami dari cahaya palsu yang membesarkan ego, menyesatkan niat, dan membuat kami merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Apabila sesuatu hilang dari tangan kami, jangan biarkan kami kehilangan kejujuran, harapan, dan iman.

Apabila doa kami belum terlihat jawabannya, teguhkan kami untuk tetap berdoa, berikhtiar, mencari pertolongan, dan memperbaiki langkah.

Jauhkanlah kami dari keputusasaan yang membuat satu malam gelap terasa seperti seluruh kehidupan.

Nyalakanlah dalam hati kami cahaya yang cukup untuk membedakan kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudarat, amanah dan kesombongan.

Jadikanlah ilmu kami menerangi, bukan membakar.

Jadikanlah ucapan kami menenangkan, bukan menguasai.

Jadikanlah kedudukan kami melayani, bukan menindas.

Jadikanlah pengalaman kami menambah kerendahan hati, bukan memperbesar klaim.

Apabila Engkau memberi kami cahaya, ingatkanlah bahwa cahaya itu bukan milik kami.

Jadikanlah kami penjaga manfaat, bukan pemilik kemuliaan.

Terangilah langkah kami menuju ridho-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KEEMPAT

Menjelang fajar, langit di atas lautan mulai berubah.

Satu demi satu bintang muncul.

Namun sang pengembara tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada bintang-bintang itu.

Di tangannya telah ada lentera kecil yang dijaga dengan kesadaran, doa, ikhtiar, dan tanggung jawab.

Perempuan tua menunjukkan sebuah pintu batu di bagian bawah menara.

“Di balik pintu itu terdapat jalan menuju perut Gunung Kunlun.”

“Apa yang berada di sana?” tanya pengembara.

Penjaga menjawab:

“Ruang yang menyimpan semua suara yang tidak pernah diucapkan manusia.”

“Apakah aku harus masuk?”

“Apabila engkau ingin memahami mengapa banyak manusia terluka oleh kata-kata yang tidak pernah terucap, engkau harus melewatinya.”

Pintu batu terbuka.

Dari dalamnya keluar hembusan angin yang membawa suara tangisan, doa yang tertahan, permintaan maaf yang belum disampaikan, serta kasih sayang yang terlalu lama disembunyikan.

Pada dinding pintu terukir pesan:

“Setelah memperoleh cahaya, jangan hanya melihat jalanmu sendiri.
Gunakanlah cahaya itu untuk mendengarkan hati yang tidak mampu bersuara.”

Sang pengembara mengangkat Lentera Kunlun.

Ia melangkah memasuki lorong.

Di belakangnya, pintu batu menutup perlahan.

Bersambung menuju Lembar Kelima:
Gua Seribu Suara dan Kata-Kata yang Tidak Pernah Terucap.


QACA KUNLUN

Lembar Kelima

GUA SERIBU SUARA DAN KATA-KATA YANG TIDAK PERNAH TERUCAP

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Pintu batu di bawah Menara Kunlun tertutup perlahan.

Sang pengembara berdiri di dalam lorong yang sempit.

Di tangan kanannya, Lentera Kunlun menyala lembut. Cahayanya tidak menjangkau jauh, tetapi cukup untuk memperlihatkan dinding-dinding batu yang dipenuhi garis menyerupai gelombang suara.

Lorong itu menurun ke dalam perut gunung.

Semakin dalam ia berjalan, semakin banyak suara terdengar.

Mula-mula hanya bisikan.

Kemudian keluhan.

Lalu tangisan.

Ada suara anak yang ingin dipeluk.

Ada suara ayah yang tidak pernah mampu mengatakan bahwa ia takut kehilangan keluarganya.

Ada suara ibu yang menahan lelah agar rumah tetap terasa tenang.

Ada suara seorang sahabat yang ingin meminta maaf, tetapi terlambat.

Ada suara orang yang tampak kuat di hadapan dunia, tetapi setiap malam memohon agar hatinya tidak runtuh.

Anehnya, suara-suara itu tidak keluar dari mulut siapa pun.

Mereka tersimpan di dalam batu.

Pengembara bertanya:

“Apakah semua suara ini berasal dari manusia yang pernah datang ke Gunung Kunlun?”

Lentera bergetar pelan.

Dari dalam gua terdengar jawaban:

“Sebagian berasal dari manusia yang tidak pernah sampai ke sini.
Gunung menyimpan gema dari setiap kata yang terlalu berat untuk diucapkan.”

Pengembara melanjutkan langkah.

Di ujung lorong tampak ruang besar berbentuk kubah.

Pada pusat ruangan berdiri sebuah batu hitam menyerupai telinga manusia.

Di sekelilingnya terdapat seribu ceruk.

Setiap ceruk menyimpan satu cahaya kecil yang berdenyut seperti jantung.

Di depan batu hitam berdiri seorang lelaki tua tanpa tongkat.

Matanya tertutup kain putih.

Ia menyambut pengembara dengan berkata:

“Selamat datang di Gua Seribu Suara.”

Pengembara menundukkan kepala.

“Siapakah engkau?”

“Aku disebut Penjaga Pendengaran.”

“Mengapa matamu ditutup?”

Penjaga menjawab:

“Karena banyak manusia menilai cerita orang lain dari apa yang tampak.
Di tempat ini, engkau harus belajar mendengar sebelum menyimpulkan.”


RUANG PERTAMA

SUARA YANG TERTAHAN OLEH TAKUT

Penjaga membawa pengembara menuju ceruk pertama.

Di dalamnya terdapat cahaya kecil berwarna biru pucat.

Ketika lentera didekatkan, terdengar suara seorang anak:

“Aku ingin berkata bahwa aku takut.”

“Tetapi orang-orang selalu menyuruhku menjadi kuat.”

“Aku ingin menangis.”

“Tetapi mereka mengatakan air mata adalah tanda kelemahan.”

“Aku ingin bercerita.”

“Tetapi aku takut dianggap menyusahkan.”

Pengembara menatap cahaya itu.

Ia merasa iba.

Ia hendak berkata:

“Jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja.”

Namun Penjaga Pendengaran mengangkat tangan.

“Jangan buru-buru menghibur.”

“Mengapa?” tanya pengembara.

Penjaga menjawab:

“Penghiburan yang terlalu cepat kadang-kadang menutup pintu cerita sebelum seseorang selesai mengeluarkan beban.”

Pengembara kemudian duduk di depan ceruk.

Ia tidak memberi nasihat.

Ia tidak menyela.

Ia hanya berkata:

“Aku mendengar bahwa engkau takut. Ceritakanlah perlahan.”

Cahaya biru bergetar.

Suara anak itu menjadi lebih jelas.

Ia menceritakan kesepian.

Ketakutan dimarahi.

Keinginan untuk diterima.

Rasa bersalah karena tidak selalu mampu menjadi seperti harapan orang lain.

Pengembara mendengarkan sampai suara itu selesai.

Setelah itu, cahaya biru berubah menjadi lebih hangat.

Penjaga berkata:

“Banyak luka tidak langsung memerlukan jawaban.
Sebagian memerlukan tempat yang cukup aman untuk diakui.”

Sang pengembara memahami bahwa mendengarkan bukan menunggu giliran berbicara.

Mendengarkan adalah memberi ruang agar sesuatu yang terpendam dapat menemukan bentuknya.


RUANG KEDUA

KATA-KATA YANG MENJADI LUKA

Ceruk kedua memancarkan cahaya merah tua.

Ketika didekati, terdengar suara-suara kasar:

“Engkau tidak berguna.”

“Engkau selalu gagal.”

“Engkau tidak akan pernah berubah.”

“Semua ini karena kesalahanmu.”

“Lihatlah orang lain. Mengapa engkau tidak seperti mereka?”

Setiap perkataan berubah menjadi anak panah.

Anak-anak panah itu menancap pada bayangan seseorang yang berdiri di dalam cahaya.

Pengembara merasa marah.

“Siapa yang mengucapkan semua ini?”

Penjaga menjawab:

“Sebagian diucapkan oleh orang lain.”

“Sebagian terus diulang oleh orang yang terluka kepada dirinya sendiri.”

Pengembara mendekati bayangan itu.

Ia hendak mencabut seluruh anak panah sekaligus.

Namun ketika satu anak panah ditarik dengan kasar, bayangan itu menjerit.

Penjaga berkata:

“Luka karena ucapan tidak selalu sembuh dengan kalimat yang berlawanan.”

“Mengapa tidak cukup mengatakan bahwa ia berharga?” tanya pengembara.

“Karena orang yang terlalu lama mendengar bahwa dirinya tidak berharga mungkin belum mampu langsung mempercayai kalimat yang indah.”

“Lalu apa yang harus dilakukan?”

Penjaga menjawab:

“Bangunlah kepercayaan dengan kesabaran.”

“Jangan memaksa seseorang segera menerima kata-kata baik.”

“Tunjukkan melalui sikap yang konsisten bahwa ia aman, dihargai, dan tidak sedang dipermainkan.”

Pengembara kemudian duduk di dekat bayangan.

Ia berkata:

“Aku tidak akan memaksa engkau segera percaya kepadaku.”

“Aku hanya ingin mengatakan bahwa perkataan yang melukaimu bukan satu-satunya kebenaran tentang dirimu.”

Anak-anak panah tidak langsung hilang.

Namun cengkeramannya melemah.

Beberapa jatuh dengan sendirinya.

Penjaga berkata:

“Lisan dapat melukai dalam satu saat, tetapi pemulihan memerlukan waktu, tindakan, dan kejujuran.”


RUANG KETIGA

PERMINTAAN MAAF YANG TERLAMBAT

Ceruk ketiga memancarkan cahaya keemasan yang redup.

Di dalamnya terdengar suara seorang lelaki:

“Aku ingin meminta maaf.”

“Aku menunda karena merasa masih ada waktu.”

“Aku menunggu sampai rasa malu hilang.”

“Aku menunggu sampai ia datang lebih dahulu.”

“Tetapi waktu selesai sebelum kesombonganku selesai.”

Di hadapan suara itu terdapat sebuah surat yang tidak pernah dikirim.

Pengembara membuka surat tersebut.

Di dalamnya hanya tertulis:

“Aku tahu perkataanku melukaimu. Aku salah.”

Tulisan itu sangat pendek.

Namun kertasnya basah oleh air mata.

Pengembara bertanya:

“Apakah permintaan maaf masih berguna apabila orang yang dituju sudah tidak dapat mendengarnya?”

Penjaga menjawab:

“Permintaan maaf yang terlambat tidak mengubah masa lalu, tetapi dapat mengubah sikap orang yang masih hidup.”

“Bagaimana caranya?”

“Akuilah kesalahan tanpa mencari pembenaran.”

“Perbaiki kerusakan yang masih dapat diperbaiki.”

“Berhentilah mengulang pola yang sama kepada orang lain.”

“Doakanlah kebaikan bagi yang telah terluka.”

“Dan jangan menjadikan rasa bersalah sebagai pusat seluruh hidupmu.”

Pengembara memegang surat itu.

Ia menyadari bahwa sebagian orang tidak meminta maaf karena takut kehilangan kehormatan.

Padahal kehormatan tidak selalu jatuh ketika seseorang mengakui kesalahan.

Kadang-kadang justru dari sanalah martabat mulai dipulihkan.

Ia berkata:

“Maaf bukan kata untuk menghapus akibat.
Maaf adalah pintu menuju tanggung jawab.”

Surat itu berubah menjadi burung putih.

Burung tersebut terbang mengelilingi gua, lalu menghilang ke dalam cahaya.


RUANG KEEMPAT

KASIH SAYANG YANG TIDAK PERNAH DIUCAPKAN

Ceruk keempat berwarna hijau lembut.

Di dalamnya terdapat bayangan seorang ayah duduk membelakangi anaknya.

Sang ayah tidak berkata apa pun.

Ia bekerja.

Ia memperbaiki atap.

Ia membawa makanan.

Ia berjaga ketika anaknya sakit.

Namun ia tidak pernah mengucapkan:

“Aku menyayangimu.”

Anaknya tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahnya tidak peduli.

Di ceruk lain tampak seorang ibu yang selalu mengingat kebutuhan keluarganya, tetapi jarang mengatakan bahwa dirinya juga lelah dan membutuhkan perhatian.

Di ceruk lainnya terdapat dua saudara yang saling menyayangi, tetapi terlalu gengsi untuk memulai percakapan setelah pertengkaran.

Pengembara berkata:

“Mereka sebenarnya saling mengasihi. Mengapa mereka tetap terluka?”

Penjaga menjawab:

“Kasih sayang yang tidak pernah diterjemahkan kadang-kadang sulit dikenali oleh hati yang membutuhkannya.”

“Bukankah perbuatan lebih penting daripada kata-kata?”

“Perbuatan sangat penting. Namun sebagian hati juga memerlukan penjelasan, sentuhan, waktu, atau kalimat sederhana.”

Pengembara mendekati bayangan sang ayah.

Ia berkata:

“Tidak semua orang memahami kasih sayang dari cara yang sama.”

“Sebagian memahami melalui pekerjaan.”

“Sebagian melalui waktu.”

“Sebagian melalui pelukan.”

“Sebagian melalui kata-kata.”

“Kasih sayang perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat diterima oleh orang yang dituju.”

Sang ayah dalam bayangan perlahan menoleh.

Untuk pertama kalinya ia berkata:

“Aku mungkin tidak pandai mengucapkannya, tetapi aku menyayangimu.”

Anak itu menangis.

Tangisnya bukan tangis kemarahan.

Ia seperti hujan pertama setelah kemarau yang panjang.

Cahaya hijau menjadi terang.


RUANG KELIMA

NASIHAT YANG MENYAMAR SEBAGAI PENGHAKIMAN

Ceruk kelima berwarna putih tajam.

Di dalamnya tampak sekelompok orang sedang berbicara kepada seseorang yang jatuh.

Mereka berkata:

“Engkau kurang beriman.”

“Engkau terlalu lemah.”

“Seharusnya engkau bersyukur.”

“Orang lain lebih berat ujiannya.”

“Ini terjadi karena engkau tidak mendengarkan nasihat.”

Kata-kata mereka tampak seperti cahaya.

Namun setiap kalimat justru membuat orang yang jatuh semakin membungkuk.

Pengembara berkata:

“Mereka menyampaikan hal yang tampaknya baik. Mengapa orang itu semakin terluka?”

Penjaga menjawab:

“Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi beban.”

“Apakah nasihat tidak boleh diberikan?”

“Tentu boleh. Namun nasihat memiliki adab.”

Penjaga lalu menyebutkan lima adab:

Pertama, pahami keadaan sebelum memberi kesimpulan.

Kedua, bedakan antara mendampingi dan menguasai.

Ketiga, jangan memakai agama, ilmu, atau pengalaman untuk mempermalukan.

Keempat, pilih waktu dan bahasa yang memungkinkan hati menerima.

Kelima, jangan menjadikan nasihat sebagai tempat memperlihatkan kelebihan diri.

Pengembara masuk ke dalam cahaya.

Ia duduk di samping orang yang terjatuh.

Ia tidak berkata, “Bangkitlah segera.”

Ia berkata:

“Apa yang paling berat bagimu saat ini?”

Orang itu mengangkat wajahnya.

“Tidak ada yang bertanya seperti itu.”

Pengembara mendengarkan.

Setelah cerita selesai, barulah ia berkata:

“Aku tidak memiliki semua jawaban, tetapi aku dapat menemanimu mencari langkah yang aman.”

Cahaya putih yang tajam berubah menjadi lembut.

Penjaga berkata:

“Nasihat yang baik tidak selalu membuat pemberinya tampak pintar.
Kadang-kadang ia hanya membuat orang yang terluka merasa tidak sendirian.”


RUANG KEENAM

RAHASIA YANG TIDAK BOLEH DIBUKA

Ceruk keenam tidak memancarkan cahaya.

Ia tertutup pintu besi.

Pada pintu itu terdapat tulisan:

“Tidak semua yang engkau dengar menjadi milikmu untuk diceritakan.”

Pengembara hendak membuka pintu.

Penjaga segera menghentikannya.

“Di balik pintu ini terdapat cerita-cerita yang diberikan dengan kepercayaan.”

“Bukankah aku harus mengetahui semuanya agar dapat memahami?”

Penjaga menggeleng.

“Keinginan mengetahui bukan selalu tanda kepedulian.
Kadang-kadang ia hanyalah rasa ingin tahu yang memakai pakaian pertolongan.”

Penjaga lalu menjelaskan:

Ada cerita yang perlu disimpan.

Ada cerita yang boleh dibagikan dengan izin.

Ada cerita yang harus dibawa kepada orang yang lebih ahli demi keselamatan.

Ada rahasia yang tidak boleh dijadikan bahan percakapan.

Ada pula keadaan berbahaya yang tidak semestinya ditutupi hanya karena disebut rahasia.

Pengembara bertanya:

“Bagaimana membedakannya?”

Penjaga menjawab:

“Pertimbangkan keselamatan, amanah, izin, manfaat, dan akibat.”

“Apabila seseorang berada dalam bahaya nyata, mencari bantuan yang tepat bukanlah pengkhianatan.”

“Namun apabila sebuah cerita dibagikan hanya untuk hiburan, pujian, atau menunjukkan kedekatan, amanah telah dirusak.”

Pengembara menunduk.

Ia teringat betapa mudah manusia merasa penting ketika mengetahui rahasia orang lain.

Ia berkata:

“Aku tidak akan menjadikan luka seseorang sebagai panggung bagi diriku.”

Pintu besi tetap tertutup.

Namun di tengahnya muncul lambang sebuah kunci.

Kunci itu masuk ke dalam Lentera Kunlun sebagai tanda amanah menjaga cerita.


RUANG KETUJUH

SUARA YANG HARUS DIUCAPKAN

Ceruk ketujuh berwarna merah keemasan.

Di dalamnya terdapat seseorang yang terus diam ketika diperlakukan tidak adil.

Ia mengira diam selalu berarti sabar.

Ia takut berbicara dianggap tidak beradab.

Ia takut menolak dianggap tidak bersyukur.

Ia takut meminta pertolongan dianggap lemah.

Setiap kali ia menahan kata-kata, dinding di sekelilingnya menjadi semakin sempit.

Pengembara bertanya:

“Bukankah gua ini mengajarkan untuk mendengarkan? Mengapa sekarang seseorang justru harus berbicara?”

Penjaga menjawab:

“Diam memiliki tempat. Berbicara pun memiliki tempat.”

“Diam dapat menjaga lisan dari menyakiti.”

“Tetapi diam juga dapat membuat kezaliman terus berlangsung.”

“Berbicara dapat membuka pertengkaran.”

“Tetapi berbicara dengan jelas juga dapat menjaga batas dan keselamatan.”

Sang pengembara mendekati orang di dalam ceruk.

Ia berkata:

“Engkau berhak mengatakan bahwa engkau tidak nyaman.”

“Engkau berhak menolak perlakuan yang merendahkan.”

“Engkau berhak meminta pertolongan.”

“Engkau berhak menjelaskan kebutuhanmu tanpa harus menghina orang lain.”

Orang itu mencoba bersuara.

Mula-mula sangat kecil.

“Aku tidak setuju.”

Dinding berhenti menyempit.

Ia berkata lagi:

“Perlakuan ini menyakitiku.”

Dinding mulai menjauh.

“Aku membutuhkan bantuan.”

Pintu terbuka.

Penjaga berkata:

“Suara yang sehat tidak selalu keras.
Ia jelas, jujur, bertanggung jawab, dan tidak memakai kekerasan untuk membuktikan keberadaannya.”


RUANG KEDELAPAN

KATA-KATA KEPADA DIRI SENDIRI

Di ruang kedelapan tidak terdapat suara orang lain.

Hanya ada sebuah cermin kecil.

Ketika pengembara melihatnya, ia mendengar pikirannya sendiri:

“Aku selalu gagal.”

“Aku terlambat.”

“Aku tidak cukup baik.”

“Semua orang lebih jauh dariku.”

“Aku seharusnya tidak merasa seperti ini.”

“Aku tidak pantas beristirahat.”

Pengembara terkejut.

Ia tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan suara keras.

Namun ia telah mengulangnya berkali-kali di dalam hati.

Penjaga berkata:

“Sebagian manusia menjaga lisannya kepada orang lain, tetapi setiap hari menghina dirinya sendiri.”

“Apakah berarti kita harus memuji diri tanpa batas?”

“Tidak. Kejujuran bukan penghinaan, dan kasih kepada diri bukan kesombongan.”

Penjaga mengajarkan tiga bentuk kalimat:

Daripada berkata, “Aku selalu gagal,” katakanlah, “Aku mengalami kegagalan, tetapi aku masih dapat belajar.”

Daripada berkata, “Aku tidak berguna,” katakanlah, “Aku sedang kesulitan melihat nilai diriku, tetapi keberadaanku tidak hanya ditentukan oleh satu hasil.”

Daripada berkata, “Aku harus kuat terus,” katakanlah, “Aku boleh lelah dan tetap mencari cara untuk melanjutkan.”

Pengembara melihat cermin kecil itu kembali.

Wajahnya tidak berubah menjadi lebih indah.

Namun ia tampak lebih manusiawi.

Ia berkata kepada dirinya:

“Aku bertanggung jawab memperbaiki kesalahan, tetapi aku tidak harus membenci diriku untuk dapat berubah.”

Cermin kecil itu melebur menjadi cahaya dan masuk ke dalam dadanya.


RUANG KESEMBILAN

SUARA ORANG YANG TIDAK DAPAT KITA SELAMATKAN SENDIRI

Ceruk kesembilan sangat luas.

Di dalamnya terdengar tangisan yang berat.

Pengembara mendekat dan berkata:

“Aku akan menolongmu.”

Ia mencoba memasuki ceruk, tetapi langkahnya tertahan oleh dinding bening.

Ia memukul dinding itu.

Tidak pecah.

Ia mencoba memberikan lentera.

Cahaya tidak menembus.

Ia mulai merasa bersalah.

“Mengapa aku tidak dapat menyelamatkannya?”

Penjaga berkata:

“Karena tidak semua beban dapat engkau tanggung sendirian.”

“Tetapi bukankah aku harus membantu?”

“Membantu bukan berarti menjadi satu-satunya penolong.”

Penjaga menjelaskan bahwa ada luka yang memerlukan keluarga.

Ada masalah yang memerlukan guru atau tokoh yang amanah.

Ada keadaan yang memerlukan tenaga kesehatan.

Ada persoalan yang memerlukan perlindungan hukum.

Ada kesulitan yang membutuhkan komunitas dan waktu.

Ada pula jalan pemulihan yang tidak dapat dipaksakan dari luar.

Pengembara bertanya:

“Lalu apa tugasku?”

“Dengarkan.”

“Jangan meninggalkan tanpa alasan.”

“Dorong ia mencari pertolongan yang tepat.”

“Jaga batas agar engkau tidak ikut tenggelam.”

“Dan jangan menyalahkan diri apabila engkau bukan satu-satunya jawaban.”

Pengembara meletakkan lentera di depan dinding.

Ia berkata kepada suara di dalam:

“Aku mungkin tidak mampu menyelesaikan semuanya, tetapi aku akan membantu mencari pertolongan yang lebih tepat.”

Dari dalam ceruk terdengar jawaban kecil:

“Terima kasih karena tidak berpura-pura mampu melakukan semuanya.”

Dinding bening tidak hilang.

Namun sebuah pintu kecil terbuka menuju lorong lain, tempat beberapa sosok membawa perlengkapan pertolongan.

Pengembara memahami bahwa kerendahan hati juga berarti mengetahui batas kemampuan.


UJIAN PENJAGA PENDENGARAN

Setelah melewati sembilan ruang, pengembara kembali ke pusat Gua Seribu Suara.

Penjaga Pendengaran berdiri di depan batu hitam berbentuk telinga.

Ia bertanya:

“Apa yang telah engkau pelajari?”

Pengembara menjawab:

“Aku belajar bahwa tidak semua cerita memerlukan nasihat cepat.”

“Aku belajar bahwa kata-kata dapat menjadi luka atau obat.”

“Aku belajar bahwa permintaan maaf harus disertai tanggung jawab.”

“Aku belajar bahwa kasih sayang perlu diterjemahkan.”

“Aku belajar menjaga rahasia tanpa menutupi bahaya.”

“Aku belajar bahwa diam dan berbicara sama-sama memerlukan kebijaksanaan.”

“Aku belajar bahwa aku tidak mampu menyelamatkan semua orang sendirian.”

Penjaga mengangguk.

“Jawabanmu belum cukup.”

“Apa yang kurang?”

Penjaga menunjuk Lentera Kunlun.

“Padamkan lentera.”

Pengembara terkejut.

“Tanpa lentera aku tidak dapat melihat.”

“Justru itulah ujianmu.”

Dengan berat hati, pengembara meniup api lentera.

Gua menjadi gelap.

Seribu suara terdengar sekaligus.

Tangisan.

Kemarahan.

Permintaan maaf.

Pujian.

Keluhan.

Doa.

Tuduhan.

Semua bercampur.

Pengembara merasa pusing.

Ia ingin menutup telinga.

Penjaga berkata:

“Dengarkan tanpa mengambil semuanya menjadi milikmu.”

Pengembara mengatur napas.

Ia tidak mencoba memahami seluruh suara sekaligus.

Ia mendengarkan satu suara.

Lalu suara berikutnya.

Ia membedakan suara yang meminta didengar, suara yang memerlukan pertolongan, suara yang sedang meluapkan emosi, dan suara yang mencoba menguasai.

Ia belajar bahwa mendengarkan tidak berarti menyerap seluruh luka.

Ia boleh hadir tanpa kehilangan dirinya.

Ia boleh berempati tanpa menyerahkan seluruh batas.

Ia boleh peduli tanpa menjadikan dirinya tempat pembuangan yang tidak berujung.

Ketika ia memahami hal itu, Lentera Kunlun menyala sendiri.

Namun kini nyalanya berbeda.

Cahayanya tidak hanya menerangi jalan.

Ia juga menciptakan ruang tenang di sekitar pengembara, tempat suara-suara dapat terdengar tanpa menenggelamkannya.

Penjaga tersenyum.

“Sekarang engkau mulai mengetahui perbedaan antara mendengar, memikul, dan menyelamatkan.”


TUJUH ADAB LISAN KUNLUN

Pertama, berbicaralah setelah memahami, bukan hanya setelah bereaksi.

Kedua, jangan menjadikan kebenaran sebagai alasan untuk mempermalukan.

Ketiga, mintalah maaf tanpa menyisipkan pembelaan yang menghapus tanggung jawab.

Keempat, terjemahkan kasih sayang ke dalam bentuk yang dapat diterima.

Kelima, simpanlah cerita yang dipercayakan, kecuali keselamatan memerlukan bantuan yang tepat.

Keenam, ucapkan batas dengan jelas tanpa merendahkan.

Ketujuh, jangan memberi janji pertolongan di luar kemampuanmu.


TANDA PENDENGARAN MULAI JERNIH

Bukan mampu mengetahui isi hati orang tanpa mereka berbicara.

Bukan mampu membaca rahasia dari wajah.

Bukan selalu memiliki jawaban yang paling tepat.

Tandanya adalah:

ia tidak cepat menyela;

ia tidak langsung membandingkan luka;

ia tidak menjadikan cerita orang sebagai bahan pujian bagi dirinya;

ia bertanya sebelum menyimpulkan;

ia dapat menjaga rahasia;

ia berani mencari bantuan ketika keadaan melampaui kemampuannya;

dan ia mengetahui kapan harus hadir, kapan harus berbicara, serta kapan harus memberi ruang.


PESAN PENJAGA PENDENGARAN

Wahai pengembara,

jangan berkata, “Aku memahami sepenuhnya,” apabila engkau belum pernah menempuh jalan yang sama.

Katakanlah:

“Aku mungkin tidak memahami semuanya, tetapi aku bersedia mendengarkan.”

Jangan berkata:

“Jangan sedih.”

Katakanlah:

“Engkau tidak harus menyembunyikan kesedihanmu di hadapanku.”

Jangan berkata:

“Lupakan saja.”

Katakanlah:

“Semoga perlahan engkau menemukan cara agar kejadian itu tidak terus menguasai hidupmu.”

Jangan berkata:

“Engkau harus kuat.”

Katakanlah:

“Engkau boleh beristirahat, dan kita dapat mencari langkah berikutnya.”

Jangan menjanjikan bahwa seluruh masalah akan segera selesai.

Janjikan kejujuran, adab, dan kesediaan membantu sesuai kemampuan.

Sebab hati manusia bukan pintu yang harus didobrak.

Ia adalah ruang yang perlu diketuk dengan hormat.


DOA PENJAGAAN LISAN DAN PENDENGARAN

Ya Alloh,

bersihkanlah lisan kami dari ucapan yang merendahkan, mempermalukan, mengadu domba, dan menambah luka.

Ajarkanlah kami berkata benar dengan kasih sayang.

Ajarkanlah kami meminta maaf tanpa menyembunyikan kesalahan di balik alasan.

Ajarkanlah kami mengungkapkan kasih sebelum kesempatan berlalu.

Ajarkanlah kami mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi.

Jadikanlah hati kami cukup luas untuk menerima cerita, tetapi cukup bijaksana untuk menjaga batas.

Lindungilah amanah orang yang mempercayakan kisahnya kepada kami.

Tunjukkanlah kapan kami harus menyimpan, kapan meminta izin, dan kapan mencari pertolongan demi keselamatan.

Jauhkanlah kami dari kesombongan yang merasa mampu menyelesaikan semua penderitaan.

Berilah kami keberanian untuk berkata:

“Aku tidak tahu.”

“Aku salah.”

“Aku membutuhkan bantuan.”

“Aku menyayangimu.”

“Aku memaafkanmu.”

“Aku tidak dapat menerima perlakuan ini.”

“Marilah kita mencari pertolongan yang tepat.”

Jadikanlah kata-kata kami jembatan, bukan senjata.

Jadikanlah diam kami ruang ketenangan, bukan tempat bersembunyinya ketidakadilan.

Jadikanlah pendengaran kami sebagai bagian dari kasih sayang dan pengabdian menuju ridho-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KELIMA

Penjaga Pendengaran membuka kain putih yang menutupi matanya.

Namun di balik kain itu tidak terdapat mata.

Hanya ada dua lingkaran cahaya yang tenang.

Ia berkata:

“Aku menutup mata bukan karena dunia tidak layak dilihat.”

“Aku menutupnya agar tidak lupa bahwa manusia lebih luas daripada penampilannya.”

Kemudian ia memberikan sebuah lonceng kecil kepada sang pengembara.

Lonceng itu tidak memiliki pemukul.

“Untuk apa benda ini?” tanya pengembara.

“Lonceng ini hanya berbunyi ketika sebuah kata harus diucapkan.”

“Bagaimana aku mengetahui bahwa bunyinya benar?”

Penjaga menjawab:

“Apabila kata itu lahir dari kejujuran, adab, manfaat, dan tanggung jawab, lonceng akan berbunyi jernih.
Apabila ia lahir dari amarah, kesombongan, atau keinginan melukai, lonceng akan tetap diam.”

Di belakang batu hitam berbentuk telinga, sebuah pintu bundar terbuka.

Dari balik pintu itu terlihat jembatan panjang membentang di atas jurang tanpa dasar.

Pada ujung jembatan berdiri dua gerbang.

Gerbang pertama terbuat dari emas dan dipenuhi sorak-sorai.

Gerbang kedua terbuat dari kayu sederhana dan berada dalam kesunyian.

Di antara keduanya tertulis:

“Setelah belajar mendengarkan, manusia akan diuji oleh pilihan:
mengikuti suara yang paling ramai atau jalan yang paling benar.”

Sang pengembara menggantungkan lonceng kecil pada Lentera Kunlun.

Ia melangkah menuju jembatan.

Di belakangnya, Gua Seribu Suara perlahan menjadi sunyi.

Bersambung menuju Lembar Keenam:
Jembatan Dua Gerbang dan Ujian Suara Terbanyak.


QACA KUNLUN

Lembar Keenam

JEMBATAN DUA GERBANG DAN UJIAN SUARA TERBANYAK

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sang pengembara meninggalkan Gua Seribu Suara.

Di tangannya, Lentera Kunlun menyala lembut.

Pada bingkai lentera tergantung sebuah lonceng kecil tanpa pemukul. Lonceng itu tidak berbunyi oleh angin, gerakan tangan, ataupun guncangan langkah.

Ia hanya akan berbunyi ketika suatu perkataan benar-benar perlu diucapkan.

Di hadapan sang pengembara terbentang sebuah jembatan batu yang sangat panjang.

Jembatan itu melintasi jurang tanpa dasar.

Tidak tampak sungai di bawahnya.

Tidak terlihat tanah.

Hanya terdapat kabut hitam yang berputar perlahan, seolah menyimpan ribuan suara dari masa yang sangat jauh.

Di ujung jembatan berdiri dua gerbang.

Gerbang sebelah kiri terbuat dari emas.

Tingginya hampir menyentuh langit.

Di sekelilingnya berkibar panji-panji berwarna merah, ungu, dan keemasan.

Ribuan orang berdiri di depan gerbang itu.

Mereka bersorak.

Mereka bernyanyi.

Mereka membawa mahkota, bunga, dan kain kebesaran.

Pada bagian atas gerbang terukir kalimat:

“Masuklah melalui jalan yang dipilih oleh orang terbanyak.”

Gerbang sebelah kanan terbuat dari kayu tua.

Tidak tinggi.

Tidak memiliki hiasan.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada musik.

Tidak ada seorang pun yang menunggu.

Di atasnya hanya terdapat tulisan kecil:

“Masuklah melalui jalan yang dapat engkau pertanggungjawabkan.”

Sang pengembara berdiri di awal jembatan.

Dari arah gerbang emas terdengar suara:

“Datanglah!”

“Semua orang telah memilih jalan ini!”

“Tidak mungkin begitu banyak orang salah!”

“Di sini engkau akan dikenal!”

“Di sini namamu akan disebut!”

“Di sini tidak ada kesunyian!”

Dari gerbang kayu tidak terdengar suara apa pun.

Hanya angin tipis yang membawa aroma tanah setelah hujan.


BATU PERTAMA

SUARA YANG PALING RAMAI

Ketika sang pengembara melangkah ke atas jembatan, batu pertama menyala.

Di permukaannya muncul bayangan sebuah kota.

Di kota itu, orang-orang berkumpul di alun-alun.

Seseorang berdiri di atas panggung dan berkata:

“Karena semua orang mempercayainya, maka hal itu pasti benar.”

Kerumunan bersorak.

Tidak seorang pun bertanya.

Tidak seorang pun memeriksa.

Tidak seorang pun berani berbeda.

Seseorang yang berdiri di tepi kerumunan mengangkat tangan.

“Aku menemukan sesuatu yang tidak sesuai.”

Kerumunan langsung menoleh.

“Engkau melawan kami?”

“Apakah engkau merasa lebih pintar?”

“Apakah engkau tidak menghormati suara terbanyak?”

Orang itu mencoba menjelaskan.

Namun suaranya tenggelam oleh teriakan.

Sang pengembara melihat bahwa panggung itu berdiri di atas tanah yang retak.

Semakin keras orang-orang bersorak, semakin lebar retakannya.

Ia bertanya:

“Apakah suara terbanyak selalu salah?”

Dari dalam Lentera Kunlun terdengar jawaban:

“Tidak. Banyak orang dapat memilih sesuatu yang baik.
Namun jumlah tidak menggantikan kebenaran, bukti, adab, dan tanggung jawab.”

Suara terbanyak dapat membantu manusia melihat kebutuhan bersama.

Tetapi suara terbanyak juga dapat dipengaruhi ketakutan, kebiasaan, kepentingan, amarah, atau kesalahan yang diulang terus-menerus.

Karena itu, jumlah perlu didengar.

Namun jumlah tidak boleh disembah.

Sang pengembara melangkah melewati batu pertama.


BATU KEDUA

PUJIAN YANG MENJADI PENJARA

Batu kedua menampilkan sebuah istana.

Di dalamnya duduk seorang pemimpin yang selalu dikelilingi para pemuji.

Setiap keputusan yang dibuatnya disambut:

“Benar.”

“Luar biasa.”

“Tidak mungkin keliru.”

“Tidak ada yang lebih bijaksana.”

Pada awalnya, pemimpin itu tampak bahagia.

Namun semakin lama, wajahnya menjadi takut.

Ia tidak lagi mengetahui apakah keputusannya benar atau hanya dipuji.

Ia tidak lagi mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang sedang mencari keuntungan.

Setiap nasihat yang berbeda dianggap ancaman.

Setiap pertanyaan dianggap penghinaan.

Setiap kritik dianggap pengkhianatan.

Sang pengembara melihat pintu istana tertutup dari dalam.

Di luar istana, rakyat mulai kesulitan.

Tetapi suara mereka tidak sampai ke singgasana.

Para pemuji telah membangun dinding dari kata-kata manis.

Lentera Kunlun berkata:

“Pujian dapat menjadi hadiah.
Namun ketika seseorang hanya mau hidup di dalam pujian, hadiah itu berubah menjadi penjara.”

Pengembara menyadari bahwa orang yang hanya mendengarkan suara yang menyenangkan akan kehilangan kemampuan melihat bahaya.

Ia teringat Gua Seribu Suara.

Mendengar bukan hanya menerima dukungan.

Mendengar juga berarti menyediakan ruang bagi peringatan yang jujur.

Ia berkata:

“Orang yang benar-benar membantu bukan selalu orang yang membuat kita nyaman. Kadang-kadang ia adalah orang yang berani menunjukkan kekeliruan tanpa merendahkan.”

Batu kedua pun meredup.


BATU KETIGA

KETAKUTAN MENJADI BERBEDA

Pada batu ketiga, sang pengembara melihat sekelompok burung terbang menuju sebuah gunung.

Semua burung bergerak ke arah yang sama.

Namun seekor burung kecil melihat badai besar di depan.

Ia berteriak:

“Berbaliklah! Ada badai!”

Burung-burung lain mengejeknya.

“Engkau pengecut.”

“Engkau tidak setia kepada kawanan.”

“Semua orang bergerak ke depan. Mengapa engkau berbalik?”

Burung kecil itu ragu.

Ia ingin tetap bersama kawanan.

Ia takut terbang sendirian.

Akhirnya ia mengikuti mereka.

Tidak lama kemudian, badai menghantam seluruh kawanan.

Bayangan berhenti.

Sang pengembara berkata:

“Apakah berarti seseorang harus selalu berbeda?”

Lentera menjawab:

“Tidak. Berbeda bukan otomatis benar, sebagaimana mengikuti bukan otomatis salah.”

Keberanian bukan sekadar mengambil jalan berlawanan.

Keberanian adalah menimbang, memeriksa, dan bertanggung jawab atas pilihan.

Kadang-kadang jalan yang benar memang ditempuh bersama banyak orang.

Kadang-kadang jalan yang benar harus dimulai oleh seorang diri.

Yang dinilai bukan seberapa ramai jalan itu, melainkan alasan, akibat, dan amanah yang menyertainya.

Pengembara memandang gerbang emas.

Sorak-sorainya semakin keras.

Gerbang kayu tetap diam.


BATU KEEMPAT

KEBENARAN YANG DIPAKAI UNTUK MERENDAHKAN

Batu keempat menampilkan dua kelompok manusia.

Kelompok pertama berkata:

“Kami berada di pihak yang benar.”

Kelompok kedua juga berkata:

“Kamilah yang benar.”

Mereka membawa kitab, catatan, lambang, dan bendera.

Namun tidak seorang pun mendengarkan.

Setiap pihak hanya menunggu giliran menyerang.

Mereka menggunakan kebenaran sebagai tombak.

Mereka menyampaikan nasihat untuk mempermalukan.

Mereka mencari kesalahan lawan, tetapi menutup kesalahan sendiri.

Di tengah pertengkaran itu, seorang anak kecil terjatuh.

Tidak seorang pun menolongnya.

Semua terlalu sibuk membela nama kelompok masing-masing.

Sang pengembara berlari memasuki bayangan.

Ia mengangkat anak itu.

Saat itulah lonceng kecil di Lentera Kunlun berbunyi untuk pertama kalinya.

Suaranya sangat jernih.

Tidak keras.

Namun seluruh pertengkaran terdiam.

Dari dalam lonceng terdengar pesan:

“Kebenaran yang tidak menumbuhkan tanggung jawab dapat berubah menjadi alat kesombongan.”

Sang pengembara berkata:

“Kebenaran harus dijaga. Namun cara menjaganya juga akan memperlihatkan keadaan hati.”

“Apabila seseorang merasa benar lalu menjadi bebas menghina, menipu, dan menzalimi, mungkin yang sedang ia bela bukan lagi kebenaran, melainkan kebesaran dirinya.”

Kedua kelompok menunduk.

Namun ketika bayangan berakhir, sang pengembara menyadari bahwa tidak semua dari mereka berubah.

Sebagian kembali bertengkar.

Lentera berkata:

“Engkau dapat menyampaikan.
Tetapi engkau tidak dapat memaksa semua hati menerima.”


BATU KELIMA

KEPATUHAN DAN AKAL SEHAT

Di atas batu kelima terlihat sebuah padepokan.

Seorang guru berdiri di hadapan banyak murid.

Ia berkata:

“Jangan bertanya.”

“Jangan memeriksa.”

“Lakukan karena aku mengatakan.”

Sebagian murid merasa ragu.

Namun mereka takut dianggap tidak setia.

Salah seorang murid bertanya dengan sopan:

“Guru, dapatkah kami memahami alasan dan akibatnya?”

Guru itu marah.

“Pertanyaanmu adalah tanda kesombongan.”

Murid-murid lain segera menjauhinya.

Sang pengembara melihat bahwa di belakang guru terdapat jurang.

Perintah yang diberikan akan membawa murid-murid berjalan menuju jurang itu.

Ia segera mengangkat lentera.

Cahaya memperlihatkan tepi jurang.

Beberapa murid berhenti.

Sebagian tetap berjalan karena merasa kepatuhan lebih penting daripada keselamatan.

Sang pengembara bertanya:

“Bukankah murid harus menghormati guru?”

Lentera menjawab:

“Menghormati bukan berarti mematikan akal, hati nurani, keselamatan, dan tanggung jawab.”

Guru yang baik dapat dihormati.

Nasihat orang berilmu dapat diikuti.

Namun setiap manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya.

Tidak ada manusia yang kebal dari kekeliruan.

Tidak ada kedudukan yang mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Tidak ada gelar yang membuat tindakan berbahaya menjadi wajib ditaati.

Sang pengembara berkata:

“Kepatuhan yang beradab berjalan bersama ilmu, kejelasan, kemaslahatan, dan batas yang benar.”

Lonceng kecil berbunyi sekali lagi.

Bayangan padepokan menghilang.


BATU KEENAM

KERUMUNAN YANG MENYUKAI HUKUMAN

Pada batu keenam tampak seorang manusia berdiri di tengah lapangan.

Ia telah melakukan kesalahan.

Kerumunan mengelilinginya.

Mereka tidak lagi mencari kejelasan.

Mereka hanya mencari kesempatan menghukum.

Seseorang berteriak:

“Hancurkan namanya!”

Yang lain berkata:

“Jangan biarkan ia menjelaskan!”

Sebagian orang tidak mengetahui persoalannya.

Namun mereka ikut berteriak karena tidak ingin tampak berbeda.

Sebagian menikmati penderitaan orang itu.

Sebagian menggunakan kesalahannya untuk menutupi kesalahan sendiri.

Sang pengembara merasa marah melihat kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut.

Namun ia juga merasa takut melihat kegembiraan kerumunan saat menghukumnya.

Lentera berkata:

“Keadilan dan penghinaan bukanlah hal yang sama.”

Kesalahan perlu diakui.

Kerusakan perlu diperbaiki.

Orang yang dirugikan perlu dilindungi.

Batas dan akibat dapat diberikan.

Namun keadilan tidak memerlukan kebencian sebagai bahan bakarnya.

Orang yang bersalah tetap manusia.

Ia tidak harus dibebaskan dari tanggung jawab.

Tetapi ia juga tidak harus dijadikan hiburan bagi kemarahan orang banyak.

Pengembara bertanya:

“Bagaimana membedakan keadilan dan balas dendam?”

Lentera menjawab:

“Lihatlah tujuannya.”

“Keadilan mencari perlindungan, perbaikan, batas, dan tanggung jawab.”

“Balas dendam mencari kepuasan ketika orang lain dihancurkan.”

Pengembara berdiri di antara kerumunan dan orang yang bersalah.

Ia berkata:

“Periksa dengan jujur. Lindungi yang dirugikan. Berikan akibat yang patut. Namun jangan membiarkan kemarahan menghapus kemanusiaan.”

Sebagian orang terdiam.

Sebagian mengejeknya.

Ia tetap melanjutkan perjalanan.


BATU KETUJUH

KETIKA DIAM MENJADI PERSETUJUAN

Pada batu ketujuh, terlihat sebuah ruang pertemuan.

Seseorang mengusulkan tindakan yang merugikan banyak orang.

Beberapa orang mengetahui bahwa usulan itu salah.

Namun mereka diam.

Seorang takut kehilangan jabatan.

Seorang takut dijauhi.

Seorang berpikir bahwa orang lain pasti akan berbicara.

Seorang berkata dalam hati:

“Aku tidak ikut melakukannya. Jadi aku tidak bersalah.”

Akhirnya keputusan disetujui.

Kerusakan terjadi.

Orang-orang yang diam kemudian berkata:

“Aku sebenarnya tidak setuju.”

Sang pengembara merasakan lonceng kecil bergetar.

Namun belum berbunyi.

Ia bertanya:

“Apakah aku harus selalu berbicara ketika tidak setuju?”

Penjaga Pendengaran seolah menjawab dari kejauhan:

“Tidak setiap perbedaan harus diumumkan.
Tetapi ketika keselamatan, keadilan, amanah, atau hak orang lain terancam, diam perlu diperiksa.”

Berbicara memiliki risiko.

Diam juga memiliki akibat.

Ada saatnya seseorang perlu mengumpulkan bukti.

Ada saatnya mencari teman yang dapat dipercaya.

Ada saatnya memilih jalur yang aman.

Ada saatnya berkata langsung.

Ada pula saatnya pergi dan tidak ikut serta.

Keberanian tidak selalu berbentuk teriakan di hadapan banyak orang.

Kadang-kadang keberanian berbentuk satu kalimat yang jernih:

“Aku tidak dapat menyetujui ini.”

Lonceng kecil akhirnya berbunyi.

Sang pengembara mengucapkan kalimat itu.

Bayangan ruang pertemuan retak.

Udara segar masuk.


PERTENGAHAN JEMBATAN

PEDAGANG SUARA

Di tengah jembatan berdiri sebuah kedai kecil.

Seorang pedagang berjubah berwarna-warni duduk di belakang meja.

Di atas meja terdapat botol-botol kaca.

Setiap botol berisi suara.

Ada suara pujian.

Ada suara tangisan.

Ada suara dukungan.

Ada suara kemarahan.

Ada suara orang banyak yang menyebut satu nama.

Pedagang itu tersenyum.

“Selamat datang.”

“Apa yang engkau jual?” tanya pengembara.

“Aku menjual pengaruh.”

Ia mengangkat sebuah botol emas.

“Dengan ini, orang-orang akan memujimu.”

Ia mengangkat botol merah.

“Dengan ini, orang-orang akan marah kepada siapa pun yang tidak menyukaimu.”

Ia mengangkat botol biru.

“Dengan ini, kata-katamu akan diulang meskipun tidak diperiksa.”

Pengembara bertanya:

“Berapa harganya?”

Pedagang tertawa.

“Hanya sedikit.”

“Apa?”

“Kejujuranmu.”

Pengembara mundur.

Pedagang melanjutkan:

“Engkau tidak harus berbohong sepenuhnya. Cukup potong sebagian cerita.”

“Pilih hanya fakta yang menguntungkanmu.”

“Buat orang takut.”

“Buat mereka merasa sedang memilih sendiri.”

“Ulangi kata-kata yang sama sampai terdengar benar.”

“Berikan mereka musuh bersama.”

“Setelah itu, suara mereka akan menjadi milikmu.”

Gerbang emas bersinar semakin terang.

Sorak-sorai terdengar menyebut nama sang pengembara.

Ia melihat bayangan dirinya memasuki gerbang emas dengan ribuan pengikut.

Di kepalanya terdapat mahkota.

Di tangannya terdapat tongkat kekuasaan.

Namun di belakangnya, orang-orang mulai kehilangan suara masing-masing.

Mereka hanya mengulang kata-katanya.

Lentera Kunlun menjadi panas.

Lonceng tetap diam.

Pengembara memahami bahwa kata-kata yang lahir dari keinginan menguasai tidak akan dibenarkan oleh lonceng.

Ia berkata kepada pedagang:

“Aku tidak membeli suara manusia.”

Pedagang menyeringai.

“Kalau begitu, engkau akan berjalan sendirian.”

Sang pengembara menjawab:

“Lebih baik berjalan dengan sedikit orang yang sadar daripada memimpin banyak orang yang dibuat kehilangan akalnya.”

Kedai itu runtuh menjadi kabut.


BATU KEDELAPAN

NAMA BAIK DAN KEBENARAN

Batu kedelapan menampilkan dua timbangan.

Pada timbangan pertama tertulis:

“Nama baik.”

Pada timbangan kedua tertulis:

“Kebenaran.”

Seorang manusia berdiri di antara keduanya.

Ia mengetahui bahwa temannya telah melakukan kesalahan yang merugikan orang lain.

Namun ia takut apabila masalah itu dibuka, nama kelompok mereka akan rusak.

Ia berkata:

“Kita selesaikan diam-diam.”

Tetapi penyelesaian diam-diam itu tidak melindungi orang yang telah dirugikan.

Ia hanya melindungi citra.

Sang pengembara melihat banyak bangunan indah berdiri di atas luka yang disembunyikan.

Dari luar tampak mulia.

Dari dalam terdengar tangisan.

Lentera berkata:

“Nama baik yang dijaga dengan menutup kerusakan akan berubah menjadi topeng.”

Menjaga kehormatan adalah baik.

Tidak membuka aib tanpa manfaat juga baik.

Namun kehormatan tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan bahaya terus berlangsung.

Perbaikan tidak selalu harus dilakukan di depan kerumunan.

Tetapi perbaikan harus nyata.

Orang yang dirugikan harus didengar.

Pelaku harus bertanggung jawab.

Bahaya harus dihentikan.

Kebenaran tidak harus disampaikan dengan mempermalukan.

Namun ia juga tidak boleh dikubur demi citra.

Sang pengembara berkata:

“Menjaga nama baik bukan berarti menjaga kepalsuan.”

Timbangan kedua menjadi seimbang dengan timbangan pertama.


BATU KESEMBILAN

KESEPIAN ORANG YANG MEMILIH BENAR

Batu kesembilan menampilkan jalan sempit.

Seorang manusia berjalan sendirian.

Dari belakang terdengar ejekan.

“Pengkhianat.”

“Merasa paling suci.”

“Tidak tahu berterima kasih.”

Orang itu hampir berbalik.

Ia merindukan teman-temannya.

Ia merindukan tempatnya di dalam kelompok.

Ia bertanya kepada dirinya:

“Bagaimana apabila aku salah?”

Sang pengembara berdiri di sampingnya.

Ia tidak berkata:

“Engkau pasti benar.”

Ia berkata:

“Periksa kembali alasanmu.”

“Dengarkan nasihat.”

“Pastikan engkau tidak hanya didorong amarah.”

“Lihat akibat pilihanmu.”

“Apabila setelah memeriksa dengan jujur engkau tetap menemukan bahwa jalan lama merusak, jangan kembali hanya karena takut kesepian.”

Orang itu menangis.

Sang pengembara berkata:

“Kesepian bukan bukti bahwa jalanmu benar.
Namun keramaian juga bukan bukti bahwa engkau harus kembali.”

Kadang-kadang seseorang harus meninggalkan kebiasaan lama.

Kadang-kadang ia harus menjauh dari lingkungan yang merusak.

Kadang-kadang ia harus kehilangan dukungan untuk menjaga keselamatan, martabat, atau amanah.

Dalam keadaan seperti itu, ia tidak harus menjadi pahlawan sendirian.

Ia dapat mencari sahabat yang sehat.

Guru yang amanah.

Keluarga yang dapat dipercaya.

Komunitas yang tidak mengharuskan dirinya kehilangan akal dan batas.

Bayangan orang yang berjalan sendirian perlahan menemukan beberapa orang lain di kejauhan.

Mereka tidak berjumlah banyak.

Namun mereka berjalan tanpa memaksa satu sama lain kehilangan suara.


BATU KESEPULUH

KESOMBONGAN ORANG YANG MERASA BERANI

Batu terakhir menampilkan seorang manusia yang selalu mengambil jalan berbeda.

Ketika semua orang ke kanan, ia ke kiri.

Ketika semua orang diam, ia berteriak.

Ketika orang lain setuju, ia menolak.

Ia merasa dirinya paling berani.

Ia berkata:

“Aku tidak pernah mengikuti kerumunan.”

Namun di dalam dirinya terdapat kebutuhan untuk selalu tampak berbeda.

Ia tidak lagi memeriksa kebenaran.

Ia hanya memeriksa apakah pilihan itu membuatnya terlihat istimewa.

Sang pengembara terkejut.

Ia menyadari bahwa menolak suara terbanyak juga dapat menjadi bentuk kesombongan.

Lentera Kunlun berkata:

“Jangan menjadikan perlawanan sebagai identitas.”

Orang yang bijaksana tidak selalu menolak.

Ia dapat setuju ketika sesuatu benar.

Ia dapat menolak ketika sesuatu merusak.

Ia dapat menunggu ketika bukti belum cukup.

Ia dapat mengubah pendapat ketika menemukan kekeliruan.

Ia tidak mempertahankan perbedaan hanya demi kehormatan dirinya.

Pengembara menunduk.

Ia berdoa:

“Ya Alloh, jauhkan aku dari ketakutan mengikuti yang benar hanya karena banyak orang telah memilihnya.”

“Dan jauhkan aku dari kesombongan menolak yang benar hanya agar tampak berbeda.”

Batu kesepuluh pun terbuka menjadi jalan menuju ujung jembatan.


DI DEPAN DUA GERBANG

Kini sang pengembara berdiri tepat di antara Gerbang Emas dan Gerbang Kayu.

Gerbang Emas terbuka lebar.

Di baliknya tampak kota besar.

Jalan-jalannya dipenuhi manusia.

Namanya tertulis pada dinding.

Patung dirinya berdiri di alun-alun.

Semua orang mengenal wajahnya.

Semua orang mengulang perkataannya.

Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar berbicara dengan suara sendiri.

Gerbang Kayu hanya terbuka sedikit.

Di baliknya terdapat jalan tanah yang menanjak.

Tidak tampak istana.

Tidak ada jaminan bahwa perjalanan akan mudah.

Tidak ada janji bahwa namanya akan dikenang.

Di depan Gerbang Emas berdiri seorang penjaga berzirah mengilap.

Ia berkata:

“Masuklah. Engkau telah membuktikan dirimu.”

“Di sini, engkau akan memiliki pengaruh.”

“Orang-orang akan mengikuti.”

“Engkau tidak perlu lagi meragukan pilihanmu.”

Di depan Gerbang Kayu tidak ada penjaga.

Hanya terdapat mangkuk tanah liat berisi air.

Sang pengembara mendekati Gerbang Emas.

Sorak-sorai menjadi semakin kuat.

Lenteranya meredup.

Ia mendekati Gerbang Kayu.

Sorak-sorai terdengar jauh.

Lenteranya kembali terang.

Namun ia masih ragu.

“Apakah cahaya ini menunjukkan bahwa Gerbang Kayu selalu menjadi pilihan yang benar?”

Dari dalam cermin terdengar jawaban:

“Gerbang bukan dinilai dari bahannya.
Emas tidak selalu salah. Kayu tidak selalu benar.”

“Lalu bagaimana memilih?”

“Periksalah apa yang diminta oleh setiap jalan.”

Sang pengembara kembali melihat Gerbang Emas.

Gerbang itu meminta agar ia menyerahkan keraguannya.

Menyerahkan hak orang lain untuk berbeda.

Menyerahkan kejujuran demi citra.

Menyerahkan tanggung jawab kepada kerumunan.

Ia lalu melihat Gerbang Kayu.

Gerbang itu tidak menjanjikan kemenangan.

Namun meminta dirinya tetap memeriksa, mendengar, memperbaiki, dan bertanggung jawab.

Sang pengembara memahami bahwa yang diuji bukan kemewahan dan kesederhanaan.

Yang diuji adalah harga yang harus dibayar untuk memasuki jalan.

Ia meletakkan tangannya pada Gerbang Kayu.

Pada saat itu lonceng kecil berbunyi jernih.

Namun sebelum masuk, ia menoleh kepada manusia yang berada di depan Gerbang Emas.

Ia berkata:

“Aku tidak memilih jalan ini karena merasa lebih suci daripada kalian.”

“Aku memilihnya karena aku tidak sanggup menyerahkan akal, hati nurani, dan tanggung jawabku hanya agar diterima.”

Sebagian orang mengejeknya.

Sebagian melempar bunga layu.

Sebagian diam-diam mengikuti.

Sebagian tetap memilih Gerbang Emas.

Pengembara tidak memaksa mereka.

Ia memasuki Gerbang Kayu.


JALAN SETELAH GERBANG

Di balik Gerbang Kayu terdapat lembah yang sunyi.

Namun tidak lama kemudian ia menemukan beberapa pengembara lain.

Mereka berasal dari jalan berbeda.

Mereka tidak memakai pakaian yang sama.

Mereka tidak membawa lambang yang sama.

Sebagian membawa kitab.

Sebagian membawa alat pertanian.

Sebagian membawa obat-obatan.

Sebagian hanya membawa bekal sederhana.

Mereka tidak sepakat dalam segala hal.

Tetapi mereka memiliki satu kebiasaan:

ketika berbeda, mereka berhenti dan mendengarkan.

Ketika salah, mereka mengaku.

Ketika bukti baru muncul, mereka bersedia memperbaiki pendapat.

Ketika seseorang terluka, mereka tidak langsung menjadikannya bahan perdebatan.

Salah seorang bertanya kepada sang pengembara:

“Apakah engkau pemimpin kami?”

Ia hampir menjawab.

Namun lonceng kecil tetap diam.

Sang pengembara berkata:

“Aku adalah pejalan seperti kalian.”

“Apabila ada bagian jalan yang kuketahui, aku akan menyampaikannya.”

“Apabila ada yang tidak kuketahui, aku akan mengakuinya.”

“Apabila aku salah, ingatkan aku dengan adab.”

Lonceng kecil berbunyi.

Para pengembara mengangguk.

Mereka melanjutkan perjalanan bersama.

Tidak seorang pun berjalan di atas kepala orang lain.

Tidak seorang pun dipaksa kehilangan suara.


TUJUH TIMBANGAN PILIHAN KUNLUN

Sebelum mengikuti suara terbanyak atau suara yang berbeda, timbanglah dengan tujuh pertanyaan:

Pertama:

Apakah pilihan ini menjaga kebenaran atau hanya menjaga citra?

Kedua:

Apakah ia melindungi keselamatan dan martabat manusia?

Ketiga:

Apakah ia dapat dipertanggungjawabkan tanpa menutupi bagian penting?

Keempat:

Apakah ia membuat manusia lebih jujur dan bertanggung jawab?

Kelima:

Apakah perbedaan pendapat masih diberi ruang?

Keenam:

Apakah orang yang memimpin dapat dikoreksi?

Ketujuh:

Apakah pilihan ini tetap layak dilakukan apabila tidak ada pujian?

Apabila jawaban-jawaban itu semakin jernih, jalan mulai terlihat.

Apabila jawabannya hanya berisi ketakutan, paksaan, citra, atau keinginan menguasai, berhentilah dan periksa kembali.


TANDA TIDAK DIPERBUDAK SUARA TERBANYAK

Bukan selalu mengambil jalan berbeda.

Bukan membenci kerumunan.

Bukan merasa diri paling berani.

Tandanya adalah:

ia dapat mendengar pendapat banyak orang tanpa kehilangan kemampuan berpikir;

ia dapat menghormati pemimpin tanpa menjadikannya kebal dari koreksi;

ia dapat berbeda tanpa menghina;

ia dapat setuju tanpa menjilat;

ia dapat mengubah pendapat tanpa merasa kehilangan kehormatan;

ia berani berkata tidak ketika amanah terancam;

dan ia tidak memakai kebenaran sebagai alasan untuk menguasai manusia.


PESAN DARI JEMBATAN DUA GERBANG

Wahai pengembara,

jangan menganggap sebuah jalan benar hanya karena ramai.

Jangan pula menganggapnya salah hanya karena ramai.

Jangan menganggap jalan sunyi pasti suci.

Jangan pula meninggalkan jalan yang benar hanya karena engkau takut sendirian.

Dengarkan manusia.

Periksa bukti.

Timbang akibat.

Jaga adab.

Kenali kepentingan yang tersembunyi.

Beranilah bertanya.

Beranilah mengaku belum tahu.

Beranilah berubah.

Beranilah berkata tidak.

Beranilah berkata ya ketika kebaikan memang harus didukung.

Sebab kebijaksanaan bukan seni selalu melawan arus.

Kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui kapan harus mengikuti, kapan harus berhenti, dan kapan harus mencari jalan baru.


DOA KETEGUHAN PILIHAN

Ya Alloh,

jangan biarkan banyaknya suara membuat kami kehilangan kejernihan.

Jangan pula biarkan kesombongan membuat kami menolak kebenaran hanya karena ia datang dari orang banyak.

Ajarkanlah kami mendengar tanpa mudah dipengaruhi.

Ajarkanlah kami berpikir tanpa menjadi keras kepala.

Ajarkanlah kami taat dalam kebaikan tanpa mematikan akal dan hati nurani.

Jauhkanlah kami dari pemimpin yang menuntut kepatuhan tanpa tanggung jawab.

Jauhkanlah kami dari pengikut yang menyerahkan seluruh kesadarannya demi rasa aman.

Lindungilah kami dari pujian yang menutup mata.

Lindungilah kami dari kritik yang lahir hanya untuk melukai.

Berikanlah keberanian untuk menyampaikan yang benar dengan adab.

Berikanlah kerendahan hati untuk menerima koreksi.

Berikanlah kebijaksanaan untuk menjaga rahasia tanpa menutup bahaya.

Berikanlah kekuatan untuk meninggalkan jalan yang merusak meskipun ramai.

Berikanlah sahabat-sahabat yang tidak menuntut kami kehilangan suara.

Jadikanlah setiap pilihan kami semakin dekat kepada kejujuran, keselamatan, manfaat, dan ridho-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KEENAM

Jalan setelah Gerbang Kayu membawa para pengembara menuju dataran yang sangat luas.

Di tengah dataran itu berdiri sebuah pohon raksasa.

Akarnya menembus tujuh lapisan tanah.

Cabangnya menyentuh awan.

Pada setiap ranting tergantung ribuan topeng.

Ada topeng pemimpin.

Topeng guru.

Topeng orang suci.

Topeng korban.

Topeng pahlawan.

Topeng orang lemah.

Topeng orang bijaksana.

Ketika angin bertiup, topeng-topeng itu berbicara dengan suara manusia yang pernah memakainya.

Di bawah pohon terdapat sebuah singgasana kosong.

Pada sandarannya tertulis:

“Setelah memilih jalan, manusia akan diuji oleh peran yang ia mainkan di hadapan dunia.”

Sang pengembara mendekati pohon.

Salah satu topeng terlepas dan terbang menuju wajahnya.

Lentera Kunlun bergetar.

Lonceng kecil tidak berbunyi.

Dari dalam akar pohon terdengar suara:

“Hati-hatilah.
Topeng yang dipakai terlalu lama dapat membuat manusia lupa wajahnya sendiri.”

Bersambung menuju Lembar Ketujuh:
Pohon Seribu Topeng dan Singgasana Peran.


QACA KUNLUN

Lembar Ketujuh

POHON SERIBU TOPENG DAN SINGGASANA PERAN

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dataran setelah Gerbang Kayu membentang tanpa batas.

Tidak ada gunung di sebelah timur.

Tidak ada sungai di sebelah barat.

Hanya terdapat satu pohon raksasa yang berdiri sendirian di tengah hamparan tanah keperakan.

Batangnya begitu besar sehingga seratus manusia pun belum tentu mampu melingkarinya dengan tangan.

Akarnya menembus tujuh lapisan tanah.

Cabangnya menjulur sampai menembus awan.

Daunnya tidak berwarna hijau.

Setiap daun berbentuk wajah.

Ada wajah yang tersenyum.

Ada wajah yang menangis.

Ada wajah yang tampak bijaksana.

Ada wajah yang terlihat suci.

Ada wajah seorang pemimpin.

Ada wajah seorang korban.

Ada wajah seorang guru.

Ada wajah seorang pahlawan.

Ada wajah seorang pengemis.

Ada wajah seseorang yang selalu tampak kuat meskipun hatinya hampir runtuh.

Di antara seluruh daun itu tergantung ribuan topeng.

Topeng-topeng tersebut berkilau diterpa cahaya Lentera Kunlun.

Sebagian terbuat dari emas.

Sebagian dari kayu.

Sebagian dari batu.

Sebagian dari kain yang sangat tipis.

Ada pula topeng bening yang hampir tidak terlihat, sehingga orang yang memakainya merasa tidak sedang memakai apa pun.

Ketika angin bertiup, topeng-topeng itu berbicara.

“Aku adalah orang yang selalu benar.”

“Aku adalah orang yang selalu disakiti.”

“Aku adalah penyelamat semua manusia.”

“Aku adalah orang yang tidak pernah membutuhkan bantuan.”

“Aku adalah orang paling rendah hati.”

“Aku adalah orang yang harus selalu dihormati.”

“Aku adalah orang yang tidak boleh mengecewakan siapa pun.”

“Aku adalah orang yang selalu kuat.”

“Aku adalah orang yang telah sampai.”

Suara-suara itu memenuhi dataran.

Para pengembara lain menutup telinga.

Namun sang pengembara menatap salah satu topeng yang perlahan terlepas dari ranting.

Topeng itu berbentuk wajah seorang guru.

Ia terbang mendekatinya.

Sebelum sang pengembara sempat menghindar, topeng itu menempel pada wajahnya.

Lentera Kunlun meredup.

Lonceng kecil tetap diam.


TOPENG PERTAMA

ORANG YANG HARUS SELALU MENGETAHUI

Ketika topeng guru menempel, sang pengembara merasakan sesuatu berubah dalam dirinya.

Ia berdiri lebih tegak.

Suaranya terdengar lebih berat.

Kata-katanya terasa penuh keyakinan.

Seorang pengembara lain bertanya:

“Apakah jalan di depan aman?”

Sang pengembara sebenarnya tidak tahu.

Namun topeng itu berbisik:

“Seorang guru tidak boleh berkata tidak tahu.”

Maka ia menjawab:

“Aman. Ikutilah aku.”

Mereka berjalan.

Tidak lama kemudian, jalan terbelah oleh rawa yang dalam.

Beberapa orang hampir terjatuh.

Salah seorang berkata:

“Engkau mengatakan jalan ini aman.”

Sang pengembara merasa malu.

Namun topeng kembali berbisik:

“Jangan mengaku salah. Kehormatanmu akan jatuh.”

Ia berkata:

“Kesulitan ini bagian dari ujian kalian.”

Ucapan itu membuat lentera semakin redup.

Lonceng kecil tetap diam.

Dari akar pohon terdengar suara:

“Topeng pengetahuan tumbuh ketika seseorang lebih takut kehilangan wibawa daripada menyesatkan orang lain.”

Sang pengembara terdiam.

Ia melepas topeng itu dengan kedua tangannya.

Namun topeng menempel kuat.

Ia akhirnya berkata:

“Aku tidak mengetahui keadaan jalan ini. Aku seharusnya tidak berbicara seolah-olah mengetahui.”

Topeng retak.

Ia melanjutkan:

“Aku telah membuat kalian mengambil risiko karena aku takut terlihat tidak tahu.”

Topeng jatuh ke tanah.

Seketika Lentera Kunlun kembali menyala.

Sang pengembara memahami:

“Mengatakan ‘aku tidak tahu’ bukan selalu kelemahan.
Kadang-kadang itulah awal dari ilmu yang jujur.”

Ia kemudian bersama para pengembara mencari jalan lain.

Bukan dengan menebak.

Bukan dengan mengaku mendapat pengetahuan tersembunyi.

Mereka memeriksa tanah.

Mengamati arus air.

Menguji pijakan.

Berdiskusi.

Dan baru setelah itu mereka melangkah.


TOPENG KEDUA

PENYELAMAT SEMUA ORANG

Dari cabang lain jatuh topeng berwarna putih.

Topeng itu berbentuk wajah penuh belas kasih.

Ketika menempel pada sang pengembara, ia melihat setiap orang sebagai seseorang yang harus diselamatkan olehnya.

Seorang pengembara mengeluh kelelahan.

Ia segera membawa seluruh barang orang itu.

Seorang lainnya merasa bingung.

Ia mengambil alih semua keputusannya.

Seorang ketiga terjatuh.

Ia menggendongnya, meskipun orang tersebut masih mampu berjalan perlahan.

Mula-mula semua orang memujinya.

“Engkau sangat baik.”

“Engkau selalu menolong.”

“Tanpamu kami tidak dapat melanjutkan.”

Sang pengembara merasa dibutuhkan.

Namun semakin lama, bahunya semakin berat.

Orang-orang mulai menyerahkan segala sesuatu kepadanya.

Barang.

Keputusan.

Rasa takut.

Tanggung jawab.

Bahkan kesalahan mereka sendiri.

Ketika sang pengembara mencoba berhenti, topeng berbisik:

“Apabila engkau beristirahat, berarti engkau egois.”

“Apabila engkau mengatakan tidak, mereka akan meninggalkanmu.”

“Apabila mereka mampu berdiri sendiri, engkau tidak lagi dibutuhkan.”

Sang pengembara hampir roboh.

Lentera Kunlun menjadi panas.

Dari akar pohon terdengar pesan:

“Pertolongan yang membuat orang lain kehilangan kemampuan berdiri dapat berubah menjadi penguasaan yang memakai pakaian kasih sayang.”

Sang pengembara meletakkan barang-barang yang bukan amanahnya.

Ia berkata kepada orang yang masih mampu berjalan:

“Aku dapat mendampingimu, tetapi aku tidak akan mengambil seluruh langkahmu.”

Ia berkata kepada orang yang kebingungan:

“Aku akan membantumu menimbang, tetapi keputusan yang menjadi tanggung jawabmu tetap perlu kaupilih.”

Ia berkata kepada orang yang terus menyerahkan beban:

“Aku peduli kepadamu, tetapi aku memiliki batas.”

Topeng putih mulai retak.

Seorang pengembara menuduhnya:

“Engkau berubah. Dahulu engkau selalu menolong.”

Sang pengembara menjawab dengan tenang:

“Menolong tidak berarti membuat diriku hancur dan membuatmu tidak pernah belajar berdiri.”

Topeng itu jatuh.

Lonceng kecil berbunyi jernih.

Ia memahami:

“Kasih sayang yang sehat memberi dukungan tanpa merampas tanggung jawab.”


TOPENG KETIGA

KORBAN YANG TIDAK PERNAH SALAH

Topeng berikutnya berwarna abu-abu.

Pada permukaannya tergambar air mata.

Ketika topeng itu menempel, sang pengembara melihat seluruh hidupnya sebagai rangkaian kesalahan orang lain.

Ia mengingat orang yang pernah melukainya.

Keadaan yang pernah menekannya.

Kesempatan yang pernah hilang.

Janji yang pernah dikhianati.

Semua itu memang nyata.

Namun topeng mulai berbisik:

“Karena engkau pernah terluka, semua tindakanmu dapat dimaklumi.”

“Karena engkau pernah dikhianati, engkau boleh mencurigai siapa pun.”

“Karena orang lain pernah menyakitimu, engkau tidak perlu meminta maaf ketika melukai.”

“Karena engkau korban, engkau tidak memiliki tanggung jawab untuk berubah.”

Sang pengembara mulai berbicara kasar.

Ketika ditegur, ia menjawab:

“Kalian tidak memahami apa yang pernah kualami.”

Ketika seseorang terluka oleh ucapannya, ia berkata:

“Aku seperti ini karena masa laluku.”

Lentera Kunlun berkedip.

Dari balik batang pohon terdengar suara:

“Luka dapat menjelaskan perilaku, tetapi tidak selalu membenarkannya.”

Sang pengembara marah.

“Apakah penderitaanku tidak berarti?”

Suara menjawab:

“Penderitaanmu nyata.”

“Ketidakadilan yang engkau alami tetap salah.”

“Namun apabila engkau menjadikan luka sebagai izin untuk melukai, rantai yang sama akan terus berpindah.”

Sang pengembara terdiam.

Ia menyentuh topeng abu-abu.

Di baliknya terasa panas.

Ia berkata:

“Aku tidak bersalah atas semua luka yang datang kepadaku.”

Topeng tetap melekat.

Ia melanjutkan:

“Tetapi aku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan setelahnya.”

Topeng retak.

“Aku berhak memperoleh perlindungan, pertolongan, dan pemulihan.”

Retakan melebar.

“Namun aku tidak berhak menjadikan penderitaanku alasan untuk menyakiti orang lain.”

Topeng jatuh.

Di tanah, topeng itu berubah menjadi mangkuk.

Mangkuk tersebut menampung air hujan.

Sang pengembara memahami bahwa luka tidak harus dibuang atau disangkal.

Luka perlu ditampung, dirawat, dipahami, dan diarahkan agar tidak menjadi sumber kerusakan baru.


TOPENG KEEMPAT

ORANG YANG SELALU KUAT

Topeng keempat terbuat dari besi.

Ketika menempel, wajah sang pengembara menjadi kaku.

Ia tidak dapat menangis.

Ia tidak dapat mengaku lelah.

Ia tidak dapat meminta bantuan.

Seorang sahabat bertanya:

“Apakah engkau baik-baik saja?”

Ia menjawab:

“Aku kuat.”

Padahal dadanya terasa sesak.

Seseorang menawarkan untuk membawa sebagian barangnya.

Ia menolak.

“Aku tidak memerlukan siapa pun.”

Ketika tubuhnya mulai gemetar, ia menyembunyikannya.

Topeng berkata:

“Apabila mereka melihat kelemahanmu, mereka tidak akan menghormatimu.”

“Apabila engkau meminta pertolongan, berarti engkau gagal.”

“Apabila engkau beristirahat, berarti perjalanan mengalahkanmu.”

Sang pengembara terus berjalan sampai kedua lututnya jatuh menyentuh tanah.

Lentera Kunlun hampir padam.

Para pengembara lain mendekat.

Ia ingin menyuruh mereka pergi.

Namun lonceng kecil berbunyi pelan.

Dari dalamnya terdengar kalimat:

“Kekuatan bukan kemampuan menanggung segalanya sendirian.”

Sang pengembara mencoba berbicara.

Suaranya pecah.

“Aku lelah.”

Topeng besi bergetar.

“Aku memerlukan waktu untuk beristirahat.”

Sebuah retakan muncul.

“Aku membutuhkan bantuan membawa sebagian bekal.”

Topeng terbelah.

Para pengembara membantunya duduk.

Tidak seorang pun menertawakan.

Tidak seorang pun merendahkan.

Salah seorang berkata:

“Kami tidak melihatmu lebih kecil karena berkata jujur.”

Topeng besi jatuh.

Di baliknya, wajah sang pengembara dipenuhi air mata.

Ia tidak malu.

Ia memahami:

“Keteguhan bukan menolak seluruh bantuan.
Keteguhan adalah menjaga arah sambil mengakui batas manusia.”


TOPENG KELIMA

ORANG YANG HARUS SELALU MENYENANGKAN

Topeng kelima berbentuk senyum.

Senyumnya sangat indah.

Namun tidak pernah berubah.

Ketika topeng menempel, sang pengembara merasa harus membuat semua orang senang.

Ketika seseorang meminta waktunya, ia menjawab ya.

Ketika seseorang meminta barangnya, ia memberi meskipun membutuhkannya.

Ketika seseorang berkata kasar, ia tetap tersenyum.

Ketika berbeda pendapat, ia diam.

Ketika lelah, ia berpura-pura bersemangat.

Ia takut ditolak.

Ia takut disebut tidak baik.

Ia takut kehilangan tempat di dalam kelompok.

Semakin banyak ia berkata ya, semakin banyak retakan muncul pada tubuhnya.

Akan tetapi senyum di wajahnya tetap sempurna.

Suara topeng berkata:

“Nilaimu bergantung pada kepuasan mereka.”

“Apabila seseorang kecewa kepadamu, berarti engkau buruk.”

“Apabila engkau membuat batas, berarti engkau tidak memiliki kasih sayang.”

Dari akar pohon terdengar pesan:

“Kebaikan yang lahir hanya dari ketakutan ditolak perlahan akan berubah menjadi kepahitan.”

Salah seorang pengembara datang dan meminta lentera.

“Aku ingin membawanya untuk kepentinganku sendiri.”

Sang pengembara hampir menyerahkannya.

Namun lonceng tidak berbunyi.

Api lentera justru mengecil.

Ia berkata:

“Tidak. Lentera ini adalah amanah yang harus kujaga.”

Topeng tersentak.

Orang itu kecewa.

“Engkau egois.”

Sang pengembara merasa bersalah.

Namun ia mengulang:

“Aku dapat membantumu dengan cara lain, tetapi aku tidak akan menyerahkan amanah ini.”

Senyum palsu pada topeng retak.

Kemudian seorang lainnya meminta ia menemani perjalanan pada saat sang pengembara perlu beristirahat.

Ia berkata:

“Aku tidak dapat sekarang.”

Topeng pecah.

Di baliknya muncul wajah yang tidak selalu tersenyum, tetapi lebih jujur.

Sang pengembara memahami:

“Membuat batas dapat mengecewakan seseorang, tetapi kekecewaan orang lain tidak selalu berarti kita berbuat salah.”

Ia juga memahami bahwa berkata tidak perlu disampaikan dengan adab.

Tanpa menghina.

Tanpa merendahkan.

Tanpa menjadikan batas sebagai senjata.


TOPENG KEENAM

ORANG SUCI YANG TIDAK BOLEH MEMILIKI BAYANGAN

Topeng keenam berwarna emas pucat.

Pada dahinya terukir lingkaran cahaya.

Ketika dipakai, sang pengembara merasa dirinya harus selalu tampak tenang, bersih, dan jauh dari kesalahan.

Ia mulai menyembunyikan kemarahan.

Bukan menatanya, melainkan menyangkal bahwa kemarahan itu ada.

Ia menyembunyikan rasa iri.

Menyembunyikan keraguan.

Menyembunyikan keinginan dipuji.

Ia berbicara tentang kerendahan hati, tetapi marah ketika tidak dihormati.

Ia berbicara tentang keikhlasan, tetapi kecewa ketika namanya tidak disebut.

Ia berbicara tentang kasih sayang, tetapi diam-diam merendahkan orang yang belum menempuh jalan yang sama.

Semakin kuat ia menjaga citra kesucian, semakin besar bayangan hitam tumbuh di belakangnya.

Bayangan itu akhirnya lebih tinggi daripada pohon.

Para pengembara lain ketakutan.

Sang pengembara berkata:

“Itu bukan bagian dariku.”

Bayangan tertawa.

“Aku tumbuh dari semua yang engkau sangkal.”

Lentera Kunlun menyinari bayangan itu.

Di dalamnya tampak iri, amarah, keinginan berkuasa, rasa takut, dan kebutuhan untuk dianggap istimewa.

Sang pengembara menunduk.

Ia berkata:

“Aku memiliki kecenderungan-kecenderungan ini.”

Topeng emas bergetar.

“Aku tidak membenarkannya.”

Retakan muncul.

“Tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa aku telah bebas sepenuhnya.”

Topeng pecah.

Bayangan itu mengecil.

Tidak hilang.

Namun kembali berada di belakangnya dalam ukuran yang wajar.

Dari akar pohon terdengar suara:

“Kesucian yang dipamerkan mudah menjadi topeng.
Perbaikan yang jujur tidak takut mengakui bahwa pekerjaan batin masih berlangsung.”

Sang pengembara memahami bahwa kerendahan hati bukan mengaku buruk terus-menerus.

Kerendahan hati adalah berani melihat kebaikan dan kekurangan tanpa mengubah keduanya menjadi alasan untuk meninggikan atau membenci diri.


TOPENG KETUJUH

PEMIMPIN YANG MENJADI SINGGASANANYA

Topeng ketujuh berbeda dari yang lain.

Ia berbentuk mahkota yang menyatu dengan wajah.

Ketika topeng itu mendekat, singgasana kosong di bawah pohon mulai bercahaya.

Para pengembara menoleh kepada sang pengembara.

Salah seorang berkata:

“Engkau telah membawa Lentera Kunlun.”

Yang lain berkata:

“Engkau telah melewati banyak ujian.”

“Duduklah di singgasana.”

“Pimpinlah kami.”

Sang pengembara melihat singgasana itu.

Sandarannya terbuat dari batu hitam.

Pada kedua sisinya terdapat ukiran naga.

Di bagian atasnya tertulis:

“Siapa yang duduk di sini akan didengar oleh semua topeng.”

Sang pengembara mendekat.

Topeng mahkota melayang tepat di depan wajahnya.

Ia mendengar suara-suara:

“Engkau lebih siap daripada mereka.”

“Engkau berhak menentukan semua arah.”

“Kesalahanmu tidak perlu diketahui.”

“Orang yang menentangmu berarti menentang perjalanan.”

“Jagalah wibawamu.”

“Jangan biarkan mereka melihat keraguanmu.”

Ia duduk di singgasana.

Topeng mahkota menempel.

Seketika seluruh topeng di pohon menjadi diam.

Semua wajah menghadap kepadanya.

Sang pengembara merasakan kekuasaan besar.

Apa pun yang ia ucapkan akan diulang oleh ribuan topeng.

Ia berkata:

“Berjalanlah ke timur.”

Semua topeng mengulang:

“Ke timur.”

Ia berkata:

“Duduklah.”

Semua topeng berkata:

“Duduklah.”

Ia merasa dapat mengatur dunia.

Namun Lentera Kunlun padam.

Lonceng kecil membisu.

Para pengembara lain perlahan kehilangan wajah.

Wajah mereka berubah menjadi topeng kosong.

Sang pengembara terkejut.

Ia mencoba berdiri.

Namun akar singgasana melilit kakinya.

Dari dalam tanah terdengar suara:

“Pemimpin yang terlalu lama menyatu dengan kedudukannya akan mengira dirinya adalah sumber aturan, arah, dan keselamatan.”

Sang pengembara berusaha melepaskan mahkota.

Mahkota menempel kuat.

Ia berkata kepada para pengembara:

“Tunduklah kepadaku.”

Akar semakin erat.

Ia kemudian menyadari bahwa setiap perintah untuk mempertahankan kekuasaan membuat singgasana semakin menguasainya.

Ia mencoba berkata:

“Aku pemimpin kalian.”

Lonceng tetap diam.

Ia menarik napas.

Kemudian berkata:

“Aku dapat memegang amanah kepemimpinan, tetapi aku bukan pemilik kalian.”

Satu akar terlepas.

“Aku dapat menunjukkan jalan yang kuketahui, tetapi aku dapat salah.”

Akar kedua terlepas.

“Kalian berhak bertanya dan mengingatkanku.”

Akar ketiga terlepas.

“Kedudukan ini bukan identitasku.”

Mahkota retak.

“Apabila aku tidak lagi menjaga amanah, aku tidak berhak berlindung di balik gelar.”

Mahkota pecah.

Sang pengembara berdiri dari singgasana.

Lentera Kunlun menyala kembali.

Wajah para pengembara pulih.

Singgasana yang semula hitam berubah menjadi kursi kayu sederhana.

Dari akar pohon terdengar pesan:

“Pemimpin yang sehat tidak mengubah manusia menjadi topeng dirinya.”


PENJAGA POHON SERIBU TOPENG

Setelah topeng mahkota pecah, batang pohon terbuka.

Dari dalamnya keluar seorang perempuan berpakaian dari lembaran kulit kayu.

Rambutnya panjang dan dipenuhi daun-daun perak.

Di wajahnya tidak terdapat satu topeng pun.

Namun wajahnya terus berubah.

Kadang tampak muda.

Kadang tua.

Kadang seperti guru.

Kadang seperti ibu.

Kadang seperti ratu.

Kadang seperti rakyat biasa.

Ia berkata:

“Aku adalah Penjaga Peran.”

Sang pengembara menunduk.

“Apakah semua peran merupakan topeng?”

Penjaga menjawab:

“Tidak. Peran diperlukan agar kehidupan tertata.”

Seseorang dapat menjadi anak.

Orang tua.

Guru.

Murid.

Pemimpin.

Pengikut.

Sahabat.

Pekerja.

Penjaga.

Penyembuh.

Pemberi nasihat.

Penerima nasihat.

Setiap peran memiliki adab dan tanggung jawab.

“Lalu kapan peran berubah menjadi topeng?” tanya sang pengembara.

Penjaga menjawab:

“Ketika engkau tidak lagi dapat hidup tanpa pengakuan terhadap peran itu.”

“Ketika engkau memakai peran untuk menutupi luka.”

“Ketika engkau menganggap peranmu lebih berharga daripada manusia lain.”

“Ketika engkau takut mengaku salah karena citra peran harus selalu sempurna.”

“Ketika engkau menjadikan kedudukan sebagai hakikat dirimu.”

“Ketika engkau menuntut orang lain mempertahankan topengmu.”

Sang pengembara melihat ribuan topeng di pohon.

“Apakah topeng harus dihancurkan semuanya?”

Penjaga menggeleng.

“Tidak semua.”

Ia mengambil sebuah topeng pekerja.

“Topeng ini dapat dipakai ketika tugas memerlukan ketegasan.”

Ia mengambil topeng guru.

“Topeng ini dapat dipakai ketika seseorang harus mengajar dengan tanggung jawab.”

Ia mengambil topeng pemimpin.

“Topeng ini dapat dipakai ketika keputusan perlu dibuat.”

Kemudian ia meletakkan semuanya kembali.

“Masalahnya bukan memakai peran.
Masalahnya adalah lupa melepaskannya.”


RUANG DI BALIK BATANG POHON

Penjaga Peran membawa sang pengembara memasuki batang pohon.

Di dalamnya terdapat sebuah ruangan bundar.

Pada dindingnya tersusun cermin-cermin kecil.

Setiap cermin memperlihatkan sang pengembara dalam peran berbeda.

Sebagai guru, ia tampak berwibawa.

Sebagai murid, ia tampak rendah hati.

Sebagai pemimpin, ia tampak tegas.

Sebagai orang terluka, ia tampak rapuh.

Sebagai penolong, ia tampak penuh kasih.

Sebagai orang yang membutuhkan bantuan, ia tampak lemah.

Sebagai manusia biasa, ia tidak membawa lambang apa pun.

Penjaga bertanya:

“Manakah dirimu yang sejati?”

Pengembara melihat semuanya.

Ia hampir menunjuk cermin terakhir.

Namun Lentera Kunlun bergetar.

Ia menjawab:

“Semua itu bagian dari kehidupanku, tetapi tidak satu pun merupakan seluruh diriku.”

Penjaga tersenyum.

“Baik.”

Ia kemudian menunjuk sebuah cermin kosong.

“Lihatlah.”

Sang pengembara berdiri di depannya.

Tidak ada pantulan.

Ia bertanya:

“Mengapa aku tidak terlihat?”

Penjaga menjawab:

“Karena dirimu bukan benda yang selesai dibentuk.”

“Engkau terus memilih.”

“Terus belajar.”

“Terus memperbaiki.”

“Terus berubah.”

“Jangan membekukan dirimu dalam satu nama, satu kegagalan, satu keberhasilan, satu kedudukan, atau satu luka.”

Cermin kosong mulai memantulkan cahaya.

Bukan wajah.

Hanya jejak langkah.

Sebagian lurus.

Sebagian berbelok.

Sebagian kembali.

Sebagian berhenti.

Penjaga berkata:

“Manusia lebih tepat dikenali melalui arah yang terus ia pilih daripada topeng yang sesaat ia pakai.”


UJIAN TIGA NAMA

Di tengah ruangan muncul tiga lembar kain.

Pada kain pertama tertulis:

“NAMA YANG DIBERIKAN ORANG LAIN.”

Pada kain kedua:

“NAMA YANG ENGKAU BERIKAN KEPADA DIRIMU.”

Pada kain ketiga:

“AMANAH YANG ENGKAU JALANI.”

Penjaga berkata:

“Pilih satu.”

Sang pengembara mendekati kain pertama.

Di sana terdapat seluruh sebutan yang pernah diberikan kepadanya.

Baik.

Buruk.

Pintar.

Bodoh.

Suci.

Sesat.

Kuat.

Lemah.

Pahlawan.

Pengecut.

Ia menyadari bahwa apabila hidup hanya bergantung pada sebutan orang, dirinya akan terus berubah mengikuti mulut manusia.

Ia mendekati kain kedua.

Di sana tertulis berbagai gambaran yang ia bangun tentang dirinya.

Pengembara.

Penjaga cahaya.

Orang pilihan.

Orang terluka.

Guru.

Pemimpin.

Ia menyadari bahwa gambaran diri pun dapat berubah menjadi penjara.

Akhirnya ia mendekati kain ketiga.

Tidak terdapat gelar.

Hanya tertulis:

“Hari ini, amanah apa yang berada di hadapanmu?”

Sang pengembara memilih kain ketiga.

Kain itu berubah menjadi jubah sederhana.

Penjaga berkata:

“Nama dapat dihormati.”

“Identitas dapat dijaga.”

“Namun amanah menentukan apa yang harus dilakukan setelah semua nama disebut.”

Sang pengembara memakai jubah itu.

Tidak ada cahaya besar.

Tidak ada mahkota.

Namun langkahnya terasa lebih ringan.


TUJUH TANDA PERAN TELAH MENJADI TOPENG

Pertama, seseorang marah bukan karena kebenaran dilanggar, tetapi karena citranya terganggu.

Kedua, ia tidak mampu berkata “aku tidak tahu” karena perannya menuntut selalu tampak mengetahui.

Ketiga, ia merasa tidak berharga ketika tidak dibutuhkan.

Keempat, ia menolong sampai menghancurkan dirinya, lalu diam-diam membenci orang yang ditolong.

Kelima, ia menjadikan luka sebagai izin untuk tidak bertanggung jawab.

Keenam, ia menuntut penghormatan lebih besar daripada kesediaannya menerima koreksi.

Ketujuh, ia tidak mengetahui siapa dirinya ketika gelar, kedudukan, kelompok, atau pujian dilepaskan.


TUJUH CARA MELEPASKAN TOPENG

Pertama, luangkan waktu berada di hadapan Alloh tanpa gelar dan tanpa pertunjukan.

Kedua, milikilah orang tepercaya yang dapat berbicara jujur kepadamu.

Ketiga, akuilah keterbatasan sebelum keterbatasan itu melukai orang lain.

Keempat, bedakan antara membantu dan mengambil alih kehidupan orang.

Kelima, izinkan dirimu beristirahat tanpa merasa kehilangan nilai.

Keenam, periksa apakah keputusanmu menjaga amanah atau hanya menjaga citra.

Ketujuh, ingatlah bahwa peran dapat berganti, tetapi akhlak tetap mengikuti.


PESAN PENJAGA PERAN

Wahai pengembara,

pakailah pakaian pemimpin ketika engkau harus memimpin.

Namun lepaskanlah ketika engkau harus mendengar.

Pakailah pakaian guru ketika engkau harus mengajar.

Namun lepaskanlah ketika engkau harus belajar.

Pakailah pakaian kuat ketika engkau harus melindungi.

Namun lepaskanlah ketika engkau memerlukan pertolongan.

Pakailah pakaian lembut ketika engkau harus menenangkan.

Namun jangan gunakan kelembutan untuk membiarkan kezaliman.

Jangan terus menjadi korban setelah bahaya berlalu.

Jangan terus menjadi penyelamat ketika orang lain perlu belajar berdiri.

Jangan terus menjadi orang suci di hadapan manusia sambil membiarkan bayangan membesar di tempat tersembunyi.

Peran adalah pakaian amanah.

Ia dipakai sesuai kebutuhan.

Dijaga kebersihannya.

Dan dilepaskan sebelum manusia lupa bahwa dirinya adalah hamba.


DOA PELEPASAN TOPENG

Ya Alloh,

tunjukkanlah topeng yang kami pakai tanpa kami sadari.

Jangan biarkan gelar membuat kami takut mengaku tidak tahu.

Jangan biarkan penghormatan membuat kami kebal terhadap nasihat.

Jangan biarkan luka membuat kami merasa bebas melukai.

Jangan biarkan kebaikan berubah menjadi kebutuhan untuk selalu dibutuhkan.

Jangan biarkan kekuatan menjadi alasan menolak pertolongan.

Jangan biarkan kelembutan membuat kami kehilangan batas.

Jangan biarkan kepemimpinan membuat kami merasa memiliki manusia.

Ajarkanlah kami menjalankan setiap peran dengan adab.

Sebagai anak, jadikan kami berbakti tanpa kehilangan kebenaran.

Sebagai orang tua, jadikan kami melindungi tanpa menguasai.

Sebagai guru, jadikan kami mengajar tanpa merendahkan.

Sebagai murid, jadikan kami menghormati tanpa mematikan akal.

Sebagai pemimpin, jadikan kami melayani tanpa menuntut penyembahan.

Sebagai pengikut, jadikan kami setia dalam kebaikan tanpa menyerahkan tanggung jawab.

Sebagai penolong, jadikan kami bermanfaat tanpa merasa menjadi satu-satunya penyelamat.

Sebagai manusia yang terluka, jadikan kami mencari pemulihan tanpa meneruskan luka.

Ketika peran telah selesai, kuatkan kami untuk melepaskannya.

Ketika nama tidak disebut, cukupkan hati kami dengan pengetahuan bahwa Engkau mengetahui niat dan perbuatan kami.

Jadikanlah kami hamba yang tidak kehilangan dirinya di balik topeng dunia.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KETUJUH

Sang pengembara keluar dari batang Pohon Seribu Topeng.

Topeng-topeng masih tergantung di cabang.

Namun kini ia tidak lagi memandang semuanya sebagai musuh.

Ia memahami bahwa beberapa topeng adalah pakaian sementara bagi amanah.

Yang berbahaya adalah ketika topeng menempel terlalu kuat dan mulai berbicara menggantikan hati.

Penjaga Peran mengangkat tangannya.

Seluruh topeng berhenti bersuara.

Di belakang pohon, tanah perlahan terbelah.

Dari dalamnya muncul tangga batu yang menurun jauh ke bawah.

Pada setiap anak tangga terukir satu nama yang pernah dilupakan manusia.

Nama seorang ibu yang pengorbanannya tidak dikenang.

Nama seorang pekerja yang tidak pernah dipuji.

Nama seorang anak yang tidak pernah didengar.

Nama seorang guru yang mengajar tanpa dikenal.

Nama seseorang yang berbuat baik tanpa meninggalkan catatan.

Di dasar tangga terlihat sebuah kota yang seluruh bangunannya terbuat dari kenangan.

Penjaga berkata:

“Di bawah pohon ini terdapat Kota Nama-Nama yang Terlupakan.”

“Apa yang harus kupelajari di sana?” tanya sang pengembara.

Penjaga menjawab:

“Engkau telah belajar melepaskan topeng.
Sekarang engkau harus belajar bahwa manusia tidak kehilangan nilainya hanya karena dunia tidak mengingat namanya.”

Sang pengembara mengangkat Lentera Kunlun.

Lonceng kecil berbunyi satu kali.

Ia menuruni tangga.

Di belakangnya, Pohon Seribu Topeng kembali bergerak ditiup angin.

Namun di antara ribuan suara, terdengar satu pesan paling jernih:

“Jangan bertanya hanya tentang wajah yang dilihat dunia.
Tanyakanlah siapa dirimu ketika tidak ada panggung, gelar, sorak, atau saksi.”

Bersambung menuju Lembar Kedelapan:
Kota Nama-Nama yang Terlupakan dan Kitab Tanpa Penulis.


QACA KUNLUN

Lembar Kedelapan

KOTA NAMA-NAMA YANG TERLUPAKAN DAN KITAB TANPA PENULIS

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sang pengembara menuruni tangga batu di belakang Pohon Seribu Topeng.

Tangga itu sangat panjang.

Semakin dalam ia turun, cahaya dari langit semakin tipis.

Namun Lentera Kunlun di tangannya tetap menyala lembut.

Pada setiap anak tangga terukir satu nama.

Sebagian nama masih dapat dibaca.

Sebagian telah terkikis.

Sebagian hanya menyisakan satu huruf.

Ada pula batu yang tidak memiliki tulisan sama sekali, seolah nama pemiliknya tidak pernah diketahui sejak awal.

Sang pengembara membungkuk dan menyentuh salah satu ukiran.

Saat jarinya menyentuh batu, muncul sebuah bayangan.

Ia melihat seorang perempuan tua menyiapkan makanan bagi banyak orang.

Tidak seorang pun bertanya siapa namanya.

Tidak ada yang mencatat berapa kali ia bangun sebelum fajar.

Tidak ada yang mengenang berapa kali ia menyembunyikan lelah agar orang lain dapat makan dengan tenang.

Bayangan itu menghilang.

Pada anak tangga berikutnya, sang pengembara melihat seorang pekerja memperbaiki jembatan.

Ia bekerja ketika kota masih tidur.

Setelah jembatan selesai, ribuan manusia melewatinya.

Tidak ada yang mengetahui siapa yang menguatkan tiang-tiangnya.

Tidak ada patung untuknya.

Tidak ada pujian.

Hanya jejak telapak tangan yang tertinggal pada batu.

Pada tangga lainnya terlihat seorang guru mengajar tiga murid di sebuah rumah kecil.

Tidak pernah ada kerumunan besar.

Tidak pernah ada gelar yang terkenal.

Namun dari tiga murid itu lahir banyak kebaikan yang menyebar jauh.

Nama guru tersebut hilang dari catatan.

Tetapi pengaruh kebaikannya tetap hidup.

Sang pengembara berhenti.

Ia bertanya:

“Apakah semua nama ini milik orang-orang yang dilupakan dunia?”

Dari bawah tangga terdengar suara:

“Sebagian dilupakan dunia.
Sebagian tidak pernah dikenal.
Sebagian sengaja menyembunyikan kebaikannya.
Sebagian bahkan tidak menyadari bahwa perbuatannya telah menyelamatkan perjalanan orang lain.”

Sang pengembara melanjutkan turun.

Setelah anak tangga terakhir, ia tiba di sebuah kota yang sangat luas.


GERBANG KOTA

TEMPAT YANG TIDAK MEMILIKI PATUNG

Gerbang kota terbuat dari batu abu-abu.

Tidak ada ukiran raja.

Tidak ada lambang kemenangan.

Tidak ada nama pendiri.

Di atas gerbang hanya tertulis:

“Masuklah tanpa meminta namamu dipahat.”

Sang pengembara memasuki kota.

Jalan-jalannya bersih, tetapi tidak mewah.

Rumah-rumahnya sederhana.

Setiap bangunan tampak dibangun oleh banyak tangan, tetapi tidak satu pun memiliki tanda kepemilikan.

Di pusat kota terdapat lapangan yang luas.

Anehnya, tidak ada patung pahlawan.

Hanya terdapat sebuah sumur.

Di sekeliling sumur tertanam ribuan batu kecil.

Setiap batu mewakili satu kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui siapa pelakunya.

Seorang anak berlari di lapangan.

Ia membawa roti.

Sang pengembara bertanya:

“Siapa yang memberimu roti itu?”

Anak tersebut menjawab:

“Aku tidak tahu.”

“Apakah engkau ingin mengetahui namanya?”

Anak itu berpikir sejenak.

“Aku ingin berterima kasih. Tetapi penjaga kota berkata, apabila aku tidak menemukan orangnya, aku dapat meneruskan kebaikannya kepada orang lain.”

Anak itu kemudian membagi rotinya dengan seorang lelaki tua.

Sang pengembara melihat batu baru muncul di dekat sumur.

Tidak ada nama pada batu tersebut.

Hanya terdapat satu garis cahaya.


PENJAGA KOTA

LELAKI YANG TIDAK MEMPERKENALKAN DIRI

Di depan sumur berdiri seorang lelaki mengenakan pakaian penyalin naskah.

Di pinggangnya tergantung banyak pena.

Namun seluruh pena itu tidak memiliki tinta.

Sang pengembara menundukkan kepala.

“Apakah engkau penjaga kota ini?”

Lelaki tersebut menjawab:

“Aku menjaga agar nama tidak mengambil tempat yang seharusnya ditempati amanah.”

“Siapa namamu?”

Lelaki itu tersenyum.

“Pertanyaan pertama setiap pendatang selalu sama.”

“Apakah namamu rahasia?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa tidak menyebutkannya?”

Penjaga menjawab:

“Karena engkau belum memerlukan namaku untuk menerima pelajaran.”

Sang pengembara terdiam.

Lelaki itu kemudian berkata:

“Di sini engkau akan melihat tiga macam pelupaan.”

“Pelupaan oleh manusia.”

“Pelupaan oleh diri sendiri.”

“Dan pelupaan yang sengaja dipilih agar kebaikan tidak berubah menjadi panggung.”

Ia menunjuk sebuah bangunan besar di ujung lapangan.

Bangunan itu tidak memiliki pintu.

Dindingnya tersusun dari lembaran-lembaran kertas batu.

“Itulah Rumah Kitab Tanpa Penulis.”

Sang pengembara bertanya:

“Apa yang tertulis di dalamnya?”

“Segala kebaikan yang tidak diketahui pelakunya.”

“Siapa yang menulis?”

Penjaga menjawab:

“Perbuatan menuliskan dirinya sendiri.”


LORONG PERTAMA

KEBAIKAN YANG TIDAK DISAKSIKAN

Sebelum menuju rumah kitab, Penjaga Kota membawa sang pengembara melewati sebuah lorong.

Pada kedua sisi lorong terdapat jendela-jendela kecil.

Di balik setiap jendela terlihat satu peristiwa.

Pada jendela pertama, seorang pemuda menemukan kantong uang di jalan.

Tidak ada orang di sekitarnya.

Ia dapat mengambilnya.

Namun ia mencari pemiliknya dan mengembalikannya.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada yang merekam.

Tidak ada seorang pun selain pemilik uang yang mengetahui.

Pada jendela kedua, seorang perempuan membersihkan tempat ibadah ketika semua orang telah pulang.

Ia melakukannya perlahan.

Tidak ada yang memujinya.

Bahkan esok harinya, sebagian orang mengira tempat itu memang selalu bersih dengan sendirinya.

Pada jendela ketiga, seseorang menahan sebuah perkataan buruk.

Tidak ada yang mengetahui bahwa pertengkaran besar telah dicegah oleh satu kalimat yang tidak jadi diucapkan.

Pada jendela keempat, seorang lelaki mengembalikan hak orang lain meskipun ia dapat menyembunyikannya.

Pada jendela kelima, seorang anak mendoakan orang tuanya ketika tidak ada siapa pun yang mendengar.

Pada jendela keenam, seseorang menolak menyebarkan kabar yang belum jelas meskipun kabar itu dapat membuatnya menjadi pusat perhatian.

Pada jendela ketujuh, seorang pemimpin memperbaiki keputusan setelah menyadari kekeliruannya, tanpa menyalahkan bawahannya.

Sang pengembara berkata:

“Semua perbuatan ini tampak kecil.”

Penjaga menjawab:

“Yang tampak kecil di mata kerumunan belum tentu kecil dalam akibat.”

Satu perkataan yang ditahan dapat menyelamatkan hubungan.

Satu rahasia yang dijaga dapat melindungi martabat.

Satu hak yang dikembalikan dapat menjaga sebuah keluarga.

Satu permintaan maaf dapat menghentikan luka diwariskan.

Satu keputusan jujur dapat mengubah arah banyak orang.

Kebaikan tidak selalu datang dengan suara gemuruh.

Sebagian datang seperti akar.

Tidak terlihat, tetapi menyangga pohon.


LORONG KEDUA

ORANG YANG TERLUKA KARENA TIDAK DIKENANG

Lorong kedua lebih gelap.

Di balik jendelanya tampak manusia-manusia yang pernah berbuat baik, tetapi kecewa karena tidak memperoleh penghargaan.

Seorang pekerja berkata:

“Aku telah memberikan banyak tenaga. Mengapa namaku tidak disebut?”

Seorang ibu berkata:

“Semua orang menikmati rumah ini, tetapi tidak ada yang mengetahui betapa lelahnya aku.”

Seorang murid berkata:

“Aku membantu mereka, tetapi ketika berhasil mereka melupakanku.”

Seorang sahabat berkata:

“Aku selalu hadir ketika mereka susah. Mengapa saat aku membutuhkan, tidak ada yang datang?”

Sang pengembara merasakan kesedihan mereka.

Ia berkata:

“Apakah keinginan dihargai merupakan kesalahan?”

Penjaga Kota menjawab:

“Tidak. Manusia memiliki kebutuhan untuk dilihat, dihargai, dan disyukuri.”

“Lalu mengapa mereka berada di Kota Nama-Nama yang Terlupakan?”

“Karena sebagian orang menyembunyikan luka di balik kata ikhlas.”

Penjaga menunjuk salah satu jendela.

Di dalamnya tampak seseorang terus memberi, tetapi tidak pernah mengatakan bahwa dirinya lelah.

Ia berharap orang lain memahami dengan sendirinya.

Ketika tidak dipahami, ia merasa dikhianati.

Namun ia tetap berkata:

“Aku tidak mengharapkan apa pun.”

Sementara hatinya dipenuhi kepahitan.

Penjaga berkata:

“Ikhlas bukan larangan untuk menyampaikan kebutuhan.”

Seseorang boleh berkata:

“Aku memerlukan bantuan.”

“Aku merasa usahaku tidak dihargai.”

“Aku tidak dapat terus menjalankan semua ini sendirian.”

“Aku membutuhkan pembagian amanah yang lebih adil.”

Mengharapkan penghargaan tidak selalu merusak amal.

Yang perlu dijaga adalah agar penghargaan tidak menjadi satu-satunya alasan berbuat baik.

Dan agar kebaikan tidak berubah menjadi utang tersembunyi yang kelak ditagih dengan kemarahan.

Sang pengembara memahami bahwa manusia dapat berbuat karena Alloh sambil tetap memerlukan komunikasi yang sehat dengan sesama.

Ikhlas bukan berarti membiarkan diri terus diabaikan.

Ikhlas juga bukan berarti semua beban harus ditanggung tanpa batas.


LORONG KETIGA

NAMA YANG MENUTUPI KARYA BANYAK ORANG

Pada lorong ketiga terdapat sebuah istana besar.

Di atas gerbangnya tertulis satu nama.

Semua orang memuji pemilik nama itu.

Namun ketika sang pengembara melihat lebih dekat, ia menemukan ribuan orang bekerja di balik dinding.

Ada yang mengangkat batu.

Ada yang merancang bangunan.

Ada yang memasak.

Ada yang menjaga malam.

Ada yang membersihkan.

Ada yang menulis.

Ada yang memperbaiki kesalahan.

Ada yang menanggung risiko.

Namun hanya satu nama yang terpahat.

Sang pengembara bertanya:

“Apakah orang yang namanya terpahat telah mencuri jasa mereka?”

Penjaga menjawab:

“Belum tentu dengan sengaja.”

“Terkadang manusia terbiasa menyederhanakan sejarah dengan menyebut satu nama.”

“Terkadang pemimpin lupa bahwa keberhasilan berdiri di atas banyak tangan.”

“Terkadang pengikut sendiri hanya ingin satu tokoh untuk dipuja.”

“Namun apabila seseorang mulai percaya bahwa seluruh keberhasilan terjadi karena dirinya, ia telah ditipu oleh namanya sendiri.”

Sang pengembara melihat singgasana di dalam istana.

Di bawah singgasana terdapat tulisan:

“Setiap nama besar berdiri di atas pekerjaan yang sering tidak terlihat.”

Penjaga berkata:

“Pemimpin yang beradab menyebutkan peran orang lain.”

“Guru yang jujur mengakui sumber pengetahuannya.”

“Pemilik karya menghormati pembantu yang membuatnya selesai.”

“Orang yang berhasil tidak menghapus jejak mereka yang menopang.”

Sang pengembara teringat berbagai tempat yang pernah dilewatinya.

Jembatan yang ia lintasi.

Makanan yang ia makan.

Pakaian yang ia pakai.

Ilmu yang ia pelajari.

Tidak satu pun hadir hanya karena dirinya.

Ia berkata:

“Di balik satu langkahku terdapat banyak orang yang mungkin tidak pernah kukenal.”

Dinding istana berubah menjadi kaca.

Ribuan pekerja yang sebelumnya tersembunyi menjadi terlihat.

Nama besar di atas gerbang mengecil.

Di sampingnya muncul ribuan titik cahaya.


LORONG KEEMPAT

ORANG YANG BERBUAT BAIK AGAR DIKENANG

Pada lorong keempat berdiri sebuah taman pemakaman.

Setiap makam memiliki prasasti besar.

Semakin besar kebaikan yang pernah dilakukan seseorang, semakin tinggi prasastinya.

Namun beberapa orang masih hidup dan sibuk membangun prasasti mereka sendiri.

Seorang membagikan makanan sambil berkata:

“Pastikan namaku ditulis besar.”

Seorang mendirikan bangunan dan memahat wajahnya pada setiap dinding.

Seorang menolong orang miskin, tetapi meminta kesedihan mereka diperlihatkan kepada kerumunan.

Seorang menulis ilmu hanya agar generasi mendatang menyebutnya.

Sang pengembara berkata:

“Apakah salah menginginkan karya yang terus bermanfaat setelah kematian?”

Penjaga menggeleng.

“Tidak. Menginginkan manfaat berlanjut adalah niat yang baik.”

“Lalu apa yang salah?”

“Ketika manfaat hanya menjadi alat memperpanjang bayangan diri.”

Penjaga menunjukkan sebuah prasasti.

Di atasnya tertulis nama seseorang dengan huruf emas.

Namun di belakang prasasti, orang-orang yang pernah ditolongnya justru merasa dipermalukan.

Nama itu dikenang.

Tetapi sebagian kebaikannya kehilangan kelembutan.

Penjaga berkata:

“Karya boleh diberi nama agar dapat dikenali dan dipertanggungjawabkan.”

“Sejarah boleh mencatat pelaku.”

“Penghargaan boleh diberikan.”

“Namun manusia harus terus bertanya: apakah nama ini membantu amanah atau hanya memperbesar aku?”

Sang pengembara menyentuh salah satu prasasti.

Tulisan emasnya berubah menjadi pertanyaan:

“Apabila namamu dihapus, apakah engkau masih ingin kebaikan ini tetap berjalan?”

Sang pengembara menjawab:

“Ya.”

Prasasti itu runtuh.

Dari bawahnya tumbuh sebuah pohon buah.

Orang-orang dapat mengambil buahnya tanpa mengetahui siapa yang menanam.


LORONG KELIMA

NAMA BURUK YANG MEMENJARAKAN

Lorong kelima dipenuhi dinding yang bertuliskan sebutan buruk.

“Pembohong.”

“Gagal.”

“Pengkhianat.”

“Pengecut.”

“Anak nakal.”

“Orang sesat.”

“Tidak berguna.”

Di depan setiap tulisan berdiri seorang manusia.

Sebagian memang pernah melakukan kesalahan.

Namun sebutan itu telah menempel terlalu lama.

Seseorang yang pernah berbohong dianggap tidak mungkin jujur lagi.

Seseorang yang pernah gagal dianggap tidak akan mampu bangkit.

Seseorang yang pernah marah dianggap selamanya buruk.

Seseorang yang pernah tersesat dianggap tidak boleh kembali.

Sang pengembara berkata:

“Bukankah manusia harus bertanggung jawab atas kesalahannya?”

Penjaga menjawab:

“Benar. Tetapi tanggung jawab berbeda dari hukuman identitas tanpa akhir.”

Perbuatan perlu disebut dengan jujur.

Akibat perlu ditanggung.

Kepercayaan mungkin memerlukan waktu untuk dipulihkan.

Namun manusia tidak harus dibekukan selamanya menjadi kesalahan terburuknya.

Penjaga menunjuk salah satu dinding.

Seorang lelaki berdiri di bawah tulisan “Pembohong.”

Ia telah lama berhenti berbohong.

Ia memperbaiki kerugian.

Ia meminta maaf.

Ia menerima bahwa tidak semua orang segera percaya.

Namun setiap kali mencoba berjalan, orang-orang menyeretnya kembali ke dinding.

Sang pengembara berkata:

“Bagaimana ia dapat membuktikan perubahan?”

Penjaga menjawab:

“Melalui waktu, tindakan yang konsisten, dan tanggung jawab.”

“Namun orang lain pun perlu berhati-hati agar tidak mencintai hukuman lebih daripada perbaikan.”

Sang pengembara mengangkat Lentera Kunlun.

Cahayanya tidak menghapus tulisan.

Namun di bawah tulisan lama muncul kalimat baru:

“Ia pernah melakukan kesalahan itu, tetapi perjalanannya belum selesai.”

Dinding retak.

Lelaki tersebut melangkah keluar.


LORONG KEENAM

NAMA BAIK YANG MENJADI BEBAN

Pada lorong keenam terlihat seseorang yang dikenal sangat baik.

Semua orang datang kepadanya.

Mereka berkata:

“Engkau tidak pernah marah.”

“Engkau selalu sabar.”

“Engkau tidak pernah menolak.”

“Engkau pasti mampu menyelesaikannya.”

Orang itu tersenyum.

Namun di balik senyum, tubuhnya hampir roboh.

Ia takut berkata bahwa dirinya lelah.

Ia takut mengakui kekeliruan.

Ia takut satu kesalahan akan menghancurkan seluruh nama baik yang telah dibangun.

Sang pengembara bertanya:

“Bukankah nama baik merupakan sesuatu yang patut dijaga?”

Penjaga menjawab:

“Nama baik adalah amanah.
Tetapi manusia tidak boleh dipaksa menjadi patung dari harapan orang lain.”

Menjaga nama baik bukan berarti menutupi kesalahan.

Bukan berarti selalu berkata ya.

Bukan berarti tidak boleh beristirahat.

Bukan berarti tidak boleh berubah.

Bukan berarti harus terus tampak kuat.

Orang yang terlalu takut merusak citra dapat mulai berbohong kepada dirinya sendiri.

Ia menampilkan kesempurnaan.

Sementara masalah membesar di ruang tersembunyi.

Penjaga berkata:

“Nama baik paling kuat bukan nama yang tampak tanpa cacat.”

“Nama baik paling kuat adalah nama yang tetap jujur ketika cacat ditemukan.”

Sang pengembara mendekati orang itu.

Ia berkata:

“Engkau boleh berkata bahwa engkau lelah.”

Orang itu menggeleng.

“Mereka akan kecewa.”

“Engkau boleh berkata bahwa engkau pernah salah.”

“Mereka akan kehilangan kepercayaan.”

“Kepercayaan yang hanya bertahan karena kepalsuan bukanlah kepercayaan yang sehat.”

Orang itu akhirnya menangis.

Ia melepaskan jubah kebesarannya.

Di bawahnya hanya terdapat pakaian biasa.

Anehnya, sebagian orang pergi.

Namun sebagian tetap tinggal dan membantunya.

Penjaga berkata:

“Orang yang hanya mencintai topeng akan pergi ketika topeng dilepas.
Orang yang mencintai manusia akan belajar menerima kejujuran.”


LORONG KETUJUH

ORANG-ORANG YANG TIDAK PERNAH TAHU DAMPAK KEBAIKANNYA

Lorong ketujuh dipenuhi benang-benang cahaya.

Setiap benang menghubungkan satu perbuatan dengan akibat yang sangat jauh.

Sang pengembara melihat seorang guru mengatakan satu kalimat kepada muridnya:

“Engkau belum gagal. Cobalah sekali lagi.”

Kalimat itu membuat sang murid bertahan.

Bertahun-tahun kemudian, murid tersebut menolong banyak orang.

Guru itu tidak pernah mengetahuinya.

Ia melihat seorang perempuan memberikan air kepada musafir.

Musafir itu selamat mencapai desa berikutnya.

Kelak ia menjadi sebab terselamatkannya sebuah keluarga.

Perempuan tersebut tidak pernah mendengar kisahnya.

Ia melihat seorang lelaki menahan diri dari mempermalukan seorang anak.

Anak itu tumbuh tanpa membawa luka yang seharusnya dapat diwariskan kepada keturunannya.

Lelaki itu tidak pernah menyadari besarnya akibat keputusan kecil tersebut.

Sang pengembara berkata:

“Apakah semua kebaikan memiliki akibat sebesar ini?”

Penjaga menjawab:

“Tidak semua akibat terlihat besar.”

“Sebagian hanya memberi satu napas lega.”

“Sebagian hanya mencegah satu luka.”

“Sebagian tidak berkembang seperti yang diharapkan.”

“Tetapi manusia jarang mengetahui seluruh jangkauan perbuatannya.”

Karena itu, jangan meremehkan kebaikan kecil.

Jangan pula menganggap seluruh hasil berada dalam kekuasaanmu.

Tugas manusia adalah memilih dengan baik.

Adapun bagaimana satu kebaikan berkembang, sering kali berada di luar pandangannya.

Sang pengembara melihat benang-benang cahaya bersilangan.

Tidak satu pun berdiri sendiri.

Setiap hidup disentuh oleh banyak hidup.


RUMAH KITAB TANPA PENULIS

Setelah melewati tujuh lorong, sang pengembara tiba di bangunan besar tanpa pintu.

Dindingnya tersusun dari lembaran batu putih.

Penjaga Kota meletakkan telapak tangannya pada dinding.

Dinding terbuka seperti halaman buku.

Di dalamnya terdapat perpustakaan yang tidak berujung.

Rak-raknya menjulang sampai tidak terlihat puncaknya.

Setiap rak dipenuhi kitab.

Namun tidak ada satu pun nama penulis pada sampulnya.

Sang pengembara mengambil sebuah kitab.

Ketika dibuka, halaman pertama tampak kosong.

Kemudian huruf-huruf muncul dengan sendirinya.

Tertulis kisah seorang manusia yang bangun di malam hari untuk merawat orang sakit.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang memuji.

Di halaman terakhir tertulis:

“Perbuatan selesai. Nama tidak diperlukan.”

Sang pengembara membuka kitab lain.

Di dalamnya tertulis kisah seseorang yang mengembalikan barang temuan.

Kitab berikutnya mencatat seorang anak yang membagi makanannya.

Kitab lainnya mencatat seseorang yang menghentikan fitnah.

Kitab lain mencatat orang yang memilih tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Ada kitab yang sangat tebal.

Ada yang hanya berisi satu baris.

Namun semuanya disimpan dengan kehormatan yang sama.

Sang pengembara bertanya:

“Siapakah yang membaca semua kitab ini?”

Penjaga menjawab:

“Tidak semua kebaikan membutuhkan pembaca manusia.”

“Lalu mengapa kitab-kitab ini disimpan?”

“Karena tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang hanya karena dunia tidak mencatatnya.”


KITAB YANG MEMANGGIL NAMA SANG PENGEMBARA

Ketika sang pengembara berjalan di antara rak, salah satu kitab bergetar.

Kitab itu jatuh ke lantai.

Sampulnya kosong.

Namun ketika ia mendekat, namanya perlahan muncul.

Ia terkejut.

“Apakah ini kitab tentang diriku?”

Penjaga menjawab:

“Bukalah.”

Sang pengembara membuka halaman pertama.

Di sana tertulis seluruh perjalanannya.

Saat ia memasuki Cermin Kunlun.

Saat melewati tujuh pantulan.

Saat meminum tujuh mata air.

Saat melintasi lautan tanpa bintang.

Saat belajar mendengarkan.

Saat memilih Gerbang Kayu.

Saat melepaskan topeng.

Ia merasa bangga.

Semakin ia membaca, namanya pada sampul semakin besar.

Huruf-hurufnya berubah menjadi emas.

Lalu pada halaman berikutnya tertulis:

“Ia mulai mencintai kisah perjalanannya lebih daripada pelajaran yang harus dijalani.”

Sang pengembara terkejut.

Pada halaman selanjutnya tertulis:

“Ia mulai membayangkan bagaimana orang-orang akan memandangnya setelah mendengar semua ujian yang dilewati.”

Ia menutup kitab.

“Apakah kitab ini menuduhku?”

Penjaga menjawab:

“Kitab hanya memantulkan arah niat.”

Sang pengembara membuka kembali.

Di halaman berikutnya terlihat dua kemungkinan.

Pada kemungkinan pertama, ia kembali ke dunia dan menceritakan semua perjalanan agar manusia menganggapnya istimewa.

Ia membangun singgasana.

Ia menyebut dirinya penjaga rahasia.

Ia menuntut penghormatan.

Pelajaran berubah menjadi gelar.

Lentera berubah menjadi lambang kekuasaan.

Pada kemungkinan kedua, ia kembali dengan lebih sedikit cerita dan lebih banyak tanggung jawab.

Ia menggunakan pelajaran untuk menjaga ucapan.

Memperbaiki keputusan.

Mendengarkan orang lain.

Mengakui kesalahan.

Membantu tanpa menguasai.

Berbuat baik tanpa selalu menyebut perjalanan Kunlun.

Sang pengembara bertanya:

“Manakah yang akan terjadi?”

Penjaga menjawab:

“Kitab ini belum selesai karena pilihanmu belum selesai.”


UJIAN KITAB TANPA PENULIS

Penjaga Kota membawa sang pengembara ke sebuah meja batu.

Di atasnya terdapat pena tanpa tinta.

“Duduklah,” katanya.

“Apa yang harus kutulis?”

“Tulislah satu perbuatan baik yang pernah engkau lakukan.”

Sang pengembara mengambil pena.

Ia mencoba menulis:

“Aku telah membawa lentera melewati lautan.”

Tidak ada tulisan yang muncul.

Ia mencoba lagi:

“Aku telah menolong para pengembara.”

Halaman tetap kosong.

Ia menulis:

“Aku telah melewati banyak ujian.”

Tidak ada huruf.

Sang pengembara merasa bingung.

“Mengapa pena ini tidak menulis?”

Penjaga menjawab:

“Karena engkau masih menulis dirimu sebagai pusat.”

“Lalu bagaimana?”

“Jangan tulis siapa yang melakukan.”

“Tulis apa yang menjadi manfaat.”

Sang pengembara mencoba kembali.

Ia menulis:

“Seorang yang lelah mendapat tempat untuk beristirahat.”

Huruf muncul.

Ia menulis:

“Sebuah kesalahan diakui sebelum melukai lebih banyak orang.”

Huruf berikutnya muncul.

“Seorang yang terluka didengarkan tanpa dipermalukan.”

Tulisan menjadi semakin jelas.

“Sebuah amanah dijaga meskipun tidak ada saksi.”

Halaman memancarkan cahaya.

Nama sang pengembara menghilang dari sampul kitab.

Namun anehnya, hatinya terasa lebih ringan.

Penjaga berkata:

“Ketika manfaat menjadi pusat, nama menemukan tempatnya yang wajar.”


RUANG NAMA YANG DIKEMBALIKAN

Di bagian terdalam perpustakaan terdapat sebuah ruang kecil.

Berbeda dari kitab-kitab tanpa penulis, ruangan ini dipenuhi nama.

Nama orang-orang yang jasanya pernah dihapus.

Nama pekerja yang karyanya diambil orang lain.

Nama murid yang gagasannya diakui gurunya sendiri.

Nama perempuan yang pengorbanannya disebut sebagai kewajiban biasa.

Nama orang kecil yang keberaniannya digunakan untuk membesarkan nama orang berkuasa.

Sang pengembara bertanya:

“Bukankah kota ini mengajarkan untuk tidak bergantung kepada nama? Mengapa nama-nama ini dikembalikan?”

Penjaga menjawab:

“Melepaskan kesombongan tidak berarti membenarkan penghapusan keadilan.”

Ada perbedaan antara seseorang yang ikhlas tidak disebut dan seseorang yang haknya sengaja dihapus.

Ada perbedaan antara berbuat tanpa pujian dan hasil karya yang dicuri.

Ada perbedaan antara kerendahan hati dan pembiaran terhadap ketidakadilan.

Nama perlu disebut ketika:

tanggung jawab harus ditetapkan,

hak perlu dikembalikan,

sejarah harus diluruskan,

sumber ilmu perlu dihormati,

dan jasa tidak boleh dirampas oleh orang yang lebih berkuasa.

Penjaga berkata:

“Jangan memakai ajaran ikhlas untuk meminta orang yang dizalimi tetap diam.”

“Jangan memakai kerendahan hati untuk menghapus peran mereka.”

“Keikhlasan adalah urusan niat.”

“Keadilan adalah urusan hak.”

Keduanya harus dijaga.

Sang pengembara mengambil satu lempeng nama yang jatuh.

Ia meletakkannya kembali pada tempatnya.

Ruangan itu menjadi terang.


NAMA DAN TANGGUNG JAWAB

Penjaga Kota kemudian membawa sang pengembara ke sebuah timbangan.

Pada sisi pertama terdapat mangkuk bertuliskan:

“NAMA.”

Pada sisi kedua:

“TANGGUNG JAWAB.”

Ia berkata:

“Letakkan namamu pada mangkuk pertama.”

Sang pengembara menuliskan namanya pada selembar kertas dan meletakkannya.

Timbangan miring ke sisi nama.

“Sekarang letakkan tanggung jawab yang menyertai namamu.”

Sang pengembara mulai menulis:

Menjaga ucapan.

Mengakui kesalahan.

Tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Menolong sesuai kemampuan.

Menghormati hak orang lain.

Tidak mengklaim apa yang tidak diketahui.

Tidak memakai pengalaman untuk menguasai.

Tidak menjadikan orang lain sebagai pengikut tanpa suara.

Tidak menyebarkan rahasia.

Tidak membangun citra dengan mengorbankan kebenaran.

Setiap tanggung jawab diletakkan pada mangkuk kedua.

Timbangan perlahan menjadi seimbang.

Penjaga berkata:

“Semakin besar nama, semakin besar tanggung jawab yang harus mengimbanginya.”

Nama seorang guru membawa tanggung jawab mengajar dengan jujur.

Nama seorang pemimpin membawa tanggung jawab melindungi dan menerima koreksi.

Nama seorang penolong membawa tanggung jawab menjaga batas.

Nama seorang ahli membawa tanggung jawab tidak berbicara di luar pengetahuan.

Nama seorang yang dihormati membawa tanggung jawab tidak memanfaatkan rasa hormat.

Apabila nama membesar sementara tanggung jawab mengecil, nama itu akan menjadi beban bagi orang lain.


TUJUH PELAJARAN KOTA NAMA-NAMA YANG TERLUPAKAN

Pertama, kebaikan tidak kehilangan nilai hanya karena tidak dipuji.

Kedua, keinginan dihargai adalah manusiawi, tetapi perlu disampaikan dengan jujur agar tidak berubah menjadi kepahitan.

Ketiga, nama besar hampir selalu ditopang oleh banyak tangan yang tidak terlihat.

Keempat, karya boleh dikenal, tetapi manfaat harus lebih penting daripada bayangan diri.

Kelima, manusia tidak boleh dibekukan selamanya menjadi kesalahan terburuknya.

Keenam, nama baik harus dijaga melalui kejujuran, bukan kesempurnaan palsu.

Ketujuh, tidak disebut berbeda dari hak yang sengaja dihapus; ikhlas tidak membatalkan keadilan.


TANDA SESEORANG TIDAK DIPERBUDAK NAMA

Bukan membenci penghargaan.

Bukan menolak semua pujian.

Bukan menyembunyikan setiap karya.

Bukan menganggap nama tidak berguna.

Tandanya adalah:

ia dapat menerima penghargaan tanpa merasa menjadi sumber seluruh keberhasilan;

ia menyebut orang-orang yang turut bekerja;

ia tidak berhenti berbuat baik ketika namanya tidak disebut;

ia tidak memakai kebaikan sebagai utang tersembunyi;

ia menjaga sumber ilmu dan hak karya;

ia bersedia mengakui kesalahan meskipun nama baiknya terancam;

dan ia tetap memilih manfaat ketika harus memilih antara kebesaran nama dan kebenaran.


PESAN PENJAGA KOTA

Wahai pengembara,

jangan mengejar agar seluruh dunia mengingat namamu.

Dunia memiliki ingatan yang pendek dan berubah-ubah.

Hari ini seseorang dipuji.

Besok dilupakan.

Hari ini seseorang dicela.

Besok sejarah menemukan sisi yang lain.

Jangan pula berpura-pura tidak membutuhkan penghargaan apabila hatimu sedang terluka karena diabaikan.

Sampaikan kebutuhanmu dengan jujur.

Bangun pembagian amanah yang adil.

Berterima kasihlah kepada mereka yang bekerja dalam diam.

Sebut sumber ilmu.

Kembalikan hak karya.

Jangan mengambil cahaya orang lain lalu menuliskan namamu di atasnya.

Apabila namamu dikenal, jadikan ia pintu tanggung jawab.

Apabila namamu tidak dikenal, jangan mengira kebaikanmu hilang.

Apabila namamu dicela karena kesalahan, perbaikilah dengan tindakan.

Apabila namamu difitnah, jagalah kebenaran tanpa membiarkan kebencian menguasai.

Dan apabila namamu suatu hari dilupakan, semoga manfaatmu tetap hidup di dalam langkah orang-orang yang bahkan tidak mengetahui bahwa engkau pernah ada.


DOA PENJAGAAN NAMA DAN AMANAH

Ya Alloh,

jangan jadikan nama kami lebih besar daripada tanggung jawab kami.

Apabila Engkau memberi kami penghormatan, kuatkan kami untuk semakin jujur, adil, dan rendah hati.

Apabila nama kami tidak disebut, jangan biarkan kami berhenti berbuat baik.

Apabila usaha kami tidak dihargai, ajarkan kami menyampaikan kebutuhan tanpa menanam kebencian.

Lindungilah kami dari keinginan mengambil jasa orang lain.

Ajarkanlah kami menyebut mereka yang bekerja, menopang, mengajar, merawat, dan membantu.

Jauhkanlah kami dari kebaikan yang dilakukan hanya untuk memperpanjang bayangan diri.

Namun jangan pula biarkan ajaran ikhlas digunakan untuk menghapus hak orang yang telah berjasa.

Kembalikanlah hak kepada pemiliknya.

Luruskanlah sejarah yang diselewengkan.

Jagalah sumber ilmu dan karya dari perampasan.

Apabila kami pernah melakukan kesalahan, kuatkan kami untuk bertanggung jawab tanpa menjadikan kesalahan itu identitas abadi.

Apabila kami pernah dilukai oleh sebutan buruk, jangan biarkan sebutan itu menutup jalan perubahan.

Jadikanlah nama kami doa.

Jadikanlah gelar kami amanah.

Jadikanlah karya kami manfaat.

Jadikanlah kebaikan kami tetap hidup meskipun manusia lupa siapa yang memulainya.

Cukuplah Engkau mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN

Setelah ujian selesai, Penjaga Kota mengambil kitab yang sebelumnya memuat nama sang pengembara.

Ia menghapus seluruh tulisan pada sampulnya.

Kemudian ia menyerahkan kitab itu.

“Bawalah.”

“Bukankah kitab ini milik perpustakaan?” tanya sang pengembara.

“Kitab ini belum menjadi milik siapa pun.”

“Untuk apa aku membawanya?”

Penjaga menjawab:

“Halaman-halamannya akan terisi oleh pilihanmu setelah meninggalkan kota.”

Sang pengembara membuka kitab tersebut.

Semua halamannya kosong.

Pada halaman pertama hanya terdapat satu kalimat:

“Jangan sibuk menuliskan siapa dirimu.
Perhatikan apa yang sedang ditulis oleh perbuatanmu.”

Di belakang Rumah Kitab Tanpa Penulis, sebuah pintu rendah terbuka.

Dari baliknya terlihat padang putih yang tertutup salju.

Di tengah padang berdiri sebuah lonceng raksasa yang membeku.

Tidak ada tali untuk membunyikannya.

Di sekeliling lonceng terdapat ribuan jejak kaki yang berhenti sebelum mencapai pusat.

Penjaga Kota berkata:

“Di luar kota terdapat Padang Keheningan.”

“Apakah tidak ada suara di sana?”

“Bukan suara yang hilang.”

“Melainkan semua jawaban yang biasa digunakan manusia untuk menghindari pertanyaan terdalamnya.”

Sang pengembara memasukkan Kitab Tanpa Penulis ke dalam jubahnya.

Ia mengangkat Lentera Kunlun.

Lonceng kecil pada lentera berbunyi satu kali.

Kemudian ia melangkah menuju padang putih.

Di belakangnya, gerbang Kota Nama-Nama yang Terlupakan tertutup.

Namun dari seluruh penjuru kota terdengar satu pesan:

“Nama boleh tinggal atau hilang.
Yang akan terus berjalan adalah akibat dari apa yang pernah engkau lakukan.”

Bersambung menuju Lembar Kesembilan:
Padang Keheningan dan Lonceng yang Membeku.


QACA KUNLUN

Lembar Kesembilan

PADANG KEHENINGAN DAN LONCENG YANG MEMBEKU

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sang pengembara meninggalkan Kota Nama-Nama yang Terlupakan melalui pintu rendah di belakang Rumah Kitab Tanpa Penulis.

Begitu melewati pintu itu, udara berubah.

Tidak ada lagi jalan batu.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada pohon.

Di hadapannya terbentang padang salju yang sangat luas, seakan tidak memiliki ujung.

Langit berwarna putih keabu-abuan.

Tidak ada matahari.

Tidak ada bulan.

Tidak ada burung.

Bahkan angin pun tidak bersuara.

Salju turun perlahan, tetapi tidak terdengar ketika menyentuh tanah.

Sang pengembara berjalan beberapa langkah.

Jejak kakinya tertinggal di belakang.

Namun setiap kali ia menoleh, salju telah menutupnya kembali.

Seolah padang itu tidak mengizinkan seorang pun menjadikan jejaknya sebagai jalan bagi orang lain.

Di kejauhan berdiri sebuah lonceng raksasa.

Tingginya melebihi menara.

Tubuhnya terbuat dari logam putih kebiruan dan seluruh permukaannya tertutup es.

Tidak terdapat tali.

Tidak ada pemukul.

Di sekelilingnya terlihat ribuan jejak kaki dari orang-orang yang pernah mencoba mendekat.

Namun seluruh jejak itu berhenti pada jarak tertentu.

Tidak satu pun mencapai lonceng.

Sang pengembara mengangkat Lentera Kunlun.

Apinya masih menyala, tetapi tidak memancarkan panas.

Lonceng kecil yang tergantung pada bingkai lentera juga membeku.

Kitab Tanpa Penulis di dalam jubahnya terasa berat.

Pada halaman pertamanya muncul kalimat baru:

“Di tempat ini, jawaban yang dihafalkan tidak akan dapat melindungimu dari pertanyaan yang belum pernah kauhadapi dengan jujur.”

Sang pengembara menutup kitab.

Ia melangkah menuju lonceng.


LAPISAN PERTAMA

SUNYI DARI PUJIAN

Baru beberapa langkah berjalan, dari belakangnya terdengar suara sorak-sorai.

Ia menoleh.

Di kejauhan tampak Gerbang Emas.

Ribuan manusia memanggil namanya.

“Pengembara Kunlun!”

“Penjaga Lentera!”

“Pembawa Kitab!”

“Kembalilah!”

“Kami akan mendengarkanmu!”

“Kami akan mengenangmu!”

Sang pengembara terkejut.

Ia mengetahui bahwa Gerbang Emas telah jauh tertinggal.

Namun suara-suara itu terdengar sangat nyata.

Ia hampir berbalik.

Setelah perjalanan panjang, bagian dari dirinya masih merindukan pengakuan.

Ia ingin orang-orang mengetahui bahwa dirinya telah melewati lautan, gua, jembatan, pohon topeng, dan kota yang tersembunyi.

Namun Lentera Kunlun meredup ketika diarahkan kepada suara-suara itu.

Pada permukaan salju muncul tulisan:

“Dapatkah engkau terus berjalan ketika tidak ada yang mengetahui bahwa engkau sedang berjuang?”

Sang pengembara berdiri lama.

Ia kemudian menjawab:

“Aku berharap ada yang memahami perjalananku.”

Salju tetap diam.

“Aku berharap kebaikanku dihargai.”

Kabut tidak berubah.

Ia melanjutkan:

“Namun aku tidak ingin seluruh langkahku bergantung kepada pujian.”

Suara sorak-sorai mulai menjauh.

“Aku akan belajar berjalan meskipun tidak ada yang menyebut namaku.”

Gerbang Emas menghilang.

Sang pengembara melangkah kembali.

Lapis pertama keheningan telah terbuka.


LAPISAN KEDUA

SUNYI DARI KESIBUKAN

Beberapa langkah kemudian, padang salju berubah menjadi pasar yang sangat ramai.

Orang-orang berlari.

Ada yang membawa naskah.

Ada yang membangun rumah.

Ada yang berdebat.

Ada yang mengatur perjalanan.

Ada yang memanggil sang pengembara untuk membantu.

“Datanglah!”

“Pekerjaan ini tidak dapat selesai tanpamu!”

“Masalah ini harus segera diselesaikan!”

“Tidak ada waktu untuk berhenti!”

Sang pengembara merasakan tubuhnya kembali bersemangat.

Ia terbiasa bergerak.

Terbiasa memiliki tugas.

Terbiasa merasa dibutuhkan.

Ia hampir memasuki pasar.

Namun halaman kedua Kitab Tanpa Penulis terbuka dengan sendirinya.

Tertulis:

“Kesibukan dapat menjadi amanah.
Kesibukan juga dapat menjadi tempat manusia melarikan diri dari dirinya sendiri.”

Sang pengembara berhenti.

Ia bertanya kepada dirinya:

“Apakah aku bekerja karena tugas?”

“Apakah aku membantu karena kasih?”

“Ataukah aku takut diam karena dalam diam aku akan mendengar rasa kosong yang selama ini kusembunyikan?”

Pasar semakin ramai.

Orang-orang memanggil lebih keras.

Sang pengembara duduk di atas salju.

Ia tidak menolak seluruh tugas.

Ia hanya memilih tidak segera berlari.

Ia mengatur napas.

Merasakan kelelahan yang selama ini tertutup kesibukan.

Menyadari kesedihan yang tidak sempat diberi nama.

Menyadari ketakutan bahwa dirinya tidak berharga apabila tidak terus menghasilkan sesuatu.

Ia berkata:

“Nilai diriku tidak hanya ada ketika aku sibuk.”

Pasar menjadi samar.

“Aku boleh berhenti untuk menata hati.”

Bangunan-bangunan memudar.

“Beristirahat bukan berarti meninggalkan amanah.”

Seluruh pasar kembali menjadi padang salju.

Sang pengembara berdiri.

Langkahnya tidak secepat sebelumnya.

Namun kini setiap langkah lebih sadar.


LAPISAN KETIGA

SUNYI DARI CERITA LAMA

Semakin mendekati lonceng, salju berubah menjadi lembaran-lembaran kenangan.

Di sebelah kiri terlihat peristiwa ketika sang pengembara pernah disakiti.

Di sebelah kanan terlihat saat ia berhasil melewati ujian besar.

Di depan terlihat saat orang-orang memujinya.

Di belakang terlihat saat seseorang merendahkannya.

Semua kenangan itu berbicara.

Luka berkata:

“Tanpa aku, engkau bukan siapa-siapa.”

Keberhasilan berkata:

“Ceritakanlah aku agar dunia mengetahui nilaimu.”

Kesalahan berkata:

“Engkau tidak akan pernah benar-benar berubah.”

Pujian berkata:

“Inilah bukti siapa dirimu.”

Pengembara berdiri di tengah semua cerita.

Ia memahami bahwa hidupnya memang dibentuk oleh pengalaman.

Namun ia juga menyadari bahwa dirinya mulai terlalu sering menggunakan kisah lama untuk menjelaskan setiap pilihan baru.

Apabila ia marah, ia menunjuk luka lama.

Apabila ia takut, ia menunjuk kegagalan lama.

Apabila ia ingin dihormati, ia menunjuk keberhasilan lama.

Apabila ia menolak berubah, ia berkata bahwa itulah wataknya sejak dahulu.

Dari dalam salju terdengar suara:

“Masa lalu adalah bagian dari perjalananmu.
Ia bukan satu-satunya penulis masa depanmu.”

Sang pengembara membuka Kitab Tanpa Penulis.

Halaman-halamannya masih kosong.

Ia berkata:

“Aku tidak harus melupakan apa yang telah terjadi.”

Kenangan tetap berada di sekelilingnya.

“Tetapi aku juga tidak harus terus menjadikannya pusat dari setiap langkah.”

Bayangan keberhasilan memudar.

“Aku bukan hanya orang yang pernah menang.”

Bayangan kegagalan menjadi tipis.

“Aku bukan hanya orang yang pernah gagal.”

Bayangan luka perlahan berubah menjadi bekas cahaya.

“Aku adalah seseorang yang masih diberi kesempatan memilih.”

Seluruh kenangan kembali masuk ke dalam kitab.

Namun tidak menjadi tulisan tetap.

Mereka berubah menjadi catatan di tepi halaman.

Bukan sebagai penguasa cerita, melainkan sebagai pelajaran.


LAPISAN KEEMPAT

SUNYI DARI JAWABAN CEPAT

Ketika sang pengembara semakin dekat, muncul sebuah perpustakaan di tengah salju.

Rak-raknya dipenuhi kitab.

Setiap pertanyaan memiliki jawaban.

Tentang hidup.

Tentang kematian.

Tentang takdir.

Tentang cinta.

Tentang kehilangan.

Tentang manusia.

Tentang jalan ruhani.

Sang pengembara merasa lega.

Ia masuk dan mulai membaca.

Setiap kitab memberikan jawaban yang tegas.

Namun anehnya, kitab pertama bertentangan dengan kitab kedua.

Kitab ketiga menolak keduanya.

Kitab keempat mengatakan bahwa seluruh jawaban sebelumnya salah.

Pengembara membaca semakin cepat.

Semakin banyak ia membaca, semakin bingung pikirannya.

Ia bertanya:

“Manakah jawaban yang benar?”

Dari pusat perpustakaan terdengar suara:

“Pilih jawaban yang membuatmu paling istimewa.”

Suara lain berkata:

“Pilih yang paling mudah.”

Suara lain:

“Pilih yang membuatmu tidak perlu berubah.”

Lentera Kunlun bergetar.

Cahayanya memperlihatkan bahwa sebagian kitab hanya berisi ketakutan sang pengembara yang berubah menjadi kalimat-kalimat meyakinkan.

Ia menutup semua kitab.

Di atas meja terdapat satu lembar kosong bertuliskan:

“Tidak semua pertanyaan harus segera ditutup oleh jawaban.”

Sang pengembara duduk.

Ia menyadari bahwa manusia sering memilih jawaban cepat bukan karena jawaban itu benar, melainkan karena ketidakpastian terasa menakutkan.

Ia berkata:

“Aku belum mengetahui.”

Perpustakaan bergetar.

“Aku akan belajar.”

Beberapa rak menghilang.

“Aku akan bertanya kepada orang yang lebih memahami.”

Sebagian kitab berubah menjadi cahaya.

“Aku tidak akan mengisi kekosongan pengetahuanku dengan klaim.”

Seluruh perpustakaan lenyap.

Padang salju kembali sunyi.

Pada Kitab Tanpa Penulis muncul satu kalimat:

“Ketidaktahuan yang diakui lebih aman daripada keyakinan palsu yang dipaksakan.”


LAPISAN KELIMA

SUNYI DARI PERBANDINGAN

Tidak jauh dari lonceng, sang pengembara melihat banyak jejak kaki di salju.

Sebagian besar lebih panjang daripada jejaknya.

Sebagian menuju lebih dekat kepada lonceng.

Sebagian tampak ringan, seolah pemiliknya berjalan tanpa kesulitan.

Lalu muncullah bayangan para pengembara lain.

Seseorang membawa lentera lebih besar.

Seseorang memiliki kitab lebih tebal.

Seseorang berjalan lebih cepat.

Seseorang dikelilingi banyak pengikut.

Seseorang tampak lebih tenang.

Seseorang tampak tidak pernah ragu.

Suara dari jejak-jejak itu berkata:

“Mereka lebih jauh darimu.”

“Mereka lebih siap.”

“Perjalananmu terlalu lambat.”

“Lihatlah, lentera mereka lebih terang.”

“Engkau telah tertinggal.”

Sang pengembara memandang lenteranya.

Apinya memang kecil.

Kitabnya masih banyak halaman kosong.

Ia mulai malu.

Ia mempercepat langkah.

Namun karena terburu-buru, ia tergelincir.

Lentera hampir jatuh.

Kitabnya terbuka dan lembarannya tersapu angin.

Dari balik kabut terdengar pesan:

“Perbandingan dapat memberi pelajaran.
Namun apabila dipakai untuk menghukum diri, ia mengaburkan jalan.”

Sang pengembara mengumpulkan kembali lembar kitabnya.

Ia berkata:

“Aku dapat belajar dari perjalanan orang lain.”

Bayangan para pengembara tetap terlihat.

“Tetapi aku tidak mengetahui seluruh beban yang mereka bawa.”

Jejak-jejak mulai memudar.

“Aku tidak harus meniru kecepatan mereka.”

Kabut menjadi tipis.

“Aku bertanggung jawab menjaga arah langkahku sendiri.”

Bayangan menghilang.

Hanya jejak kakinya yang tersisa.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat jejak itu sebagai bukti tertinggal.

Ia melihatnya sebagai tanda bahwa dirinya masih berjalan.


LAPISAN KEENAM

SUNYI DARI GAMBARAN TENTANG ALLOH

Kini lonceng membeku hanya berjarak beberapa puluh langkah.

Namun padang tiba-tiba menjadi gelap.

Sang pengembara mendengar berbagai suara yang mengatasnamakan Alloh.

“Apabila engkau gagal, berarti Alloh menolakmu.”

“Apabila doamu belum terkabul, berarti engkau tidak cukup baik.”

“Apabila engkau menderita, berarti engkau sedang dihukum.”

“Apabila engkau memperoleh kemudahan, berarti engkau pasti paling dicintai.”

“Apabila orang lain berbeda denganmu, berarti mereka jauh dari jalan.”

Suara-suara itu mengenakan bahasa yang suci.

Namun membuat dada sang pengembara menjadi sempit.

Ia takut.

Ia mulai memandang setiap kesulitan sebagai tanda penolakan.

Setiap keterlambatan sebagai kemurkaan.

Setiap keberhasilan sebagai bukti keistimewaan.

Setiap perbedaan sebagai ancaman.

Lentera Kunlun mengecil hampir padam.

Dari dalam kitab muncul tulisan:

“Jangan menyempitkan kebesaran Alloh ke dalam gambaran yang dibentuk oleh ketakutan, kepentingan, dan kesombonganmu.”

Sang pengembara berlutut.

Ia berkata:

“Ya Alloh, aku sering memahami-Mu melalui ketakutanku sendiri.”

Salju di hadapannya mulai mencair.

“Aku sering menilai kasih-Mu hanya dari apakah keinginanku terpenuhi.”

Lentera kembali membesar.

“Aku sering menjadikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan dan kesulitan sebagai bukti kehinaan.”

Kabut gelap terbelah.

“Aku tidak mengetahui seluruh rahasia ketetapan-Mu.”

Langit sedikit terbuka.

“Tuntunlah aku beribadah bukan hanya karena aku memperoleh apa yang kuinginkan, tetapi karena Engkau memang layak disembah.”

Suara-suara yang menyesakkan berubah menjadi angin.

Sang pengembara tetap tidak memperoleh jawaban atas seluruh pertanyaannya.

Namun hatinya menjadi lebih luas untuk menjalani ketidakpastian tanpa menuduh Alloh secara tergesa-gesa.


LAPISAN KETUJUH

SUNYI DARI DIRI YANG INGIN SAMPAI

Sang pengembara akhirnya berdiri tepat di depan Lonceng Membeku.

Permukaan esnya sangat tebal.

Di bawah lapisan es terlihat tulisan-tulisan kuno.

Ia mencoba menyentuhnya.

Tangannya langsung membeku.

Ia mencoba memukul lonceng dengan gagang lentera.

Tidak terdengar suara.

Ia membaca doa.

Menyebut seluruh pelajaran yang telah diperoleh.

Mengulang semua jawaban dari perjalanan.

Namun lonceng tetap diam.

Kemudian dari balik es muncul bayangan dirinya.

Bayangan itu memakai mahkota.

Membawa lentera besar.

Memegang Kitab Kunlun yang telah selesai.

Di belakangnya berdiri ribuan manusia.

Bayangan berkata:

“Engkau hampir sampai.”

“Bunyikan lonceng.”

“Setelah itu perjalananmu sempurna.”

“Engkau akan menjadi orang yang telah menuntaskan Kunlun.”

Sang pengembara merasa sangat tertarik.

Selama ini ia terus berjalan untuk memperbaiki diri.

Namun di tempat terdalam, masih terdapat keinginan untuk mencapai sebuah keadaan akhir.

Keadaan ketika ia tidak lagi salah.

Tidak lagi ragu.

Tidak lagi terluka.

Tidak lagi membutuhkan pertolongan.

Ia ingin menjadi manusia yang telah selesai.

Dari dalam lonceng terdengar suara sangat pelan:

“Keinginan untuk sampai dapat menjadi topeng terakhir.”

Sang pengembara bertanya:

“Apakah perjalanan ini tidak memiliki tujuan?”

Suara menjawab:

“Memiliki.”

“Lalu mengapa keinginan mencapai tujuan menjadi topeng?”

“Karena engkau mulai membayangkan tujuan sebagai tempat di mana engkau tidak lagi perlu belajar.”

Sang pengembara terdiam.

Ia menyadari bahwa selama hidup, manusia akan terus menghadapi pilihan.

Niat perlu dibersihkan berulang kali.

Amanah perlu dijaga setiap hari.

Kesalahan baru mungkin terjadi.

Pelajaran lama mungkin terlupakan.

Keheningan tidak mengubah manusia menjadi sempurna.

Ia hanya membantu manusia melihat dirinya tanpa terlalu banyak suara.

Sang pengembara melepaskan bayangan mahkota dari pikirannya.

Ia berkata:

“Aku tidak datang untuk menjadi manusia yang telah selesai.”

Es pada lonceng retak sedikit.

“Aku datang untuk belajar kembali ketika tersesat.”

Retakan melebar.

“Aku tidak meminta dibebaskan dari seluruh kelemahan.”

Es mulai mencair.

“Aku memohon diberi kejujuran untuk mengenalinya dan kekuatan untuk menatanya.”

Sebagian tubuh lonceng terlihat.

“Aku tidak ingin dikenal sebagai orang yang telah sampai.”

Lapisan terakhir es menjadi air.

“Aku ingin tetap menjadi hamba yang berjalan.”

Lonceng kini terbuka sepenuhnya.

Namun tetap belum berbunyi.


PENJAGA PADANG KEHENINGAN

Dari belakang lonceng muncul seorang anak kecil berpakaian putih.

Ia tidak membawa senjata.

Tidak memakai mahkota.

Di tangannya hanya terdapat sebuah mangkuk berisi salju.

Sang pengembara menunduk.

“Apakah engkau penjaga tempat ini?”

Anak itu menjawab:

“Aku menjaga pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh kebisingan.”

“Bagaimana cara membunyikan lonceng?”

Anak itu bertanya balik:

“Mengapa engkau ingin membunyikannya?”

“Agar aku dapat melanjutkan perjalanan.”

“Apabila lonceng tidak berbunyi, apakah perjalananmu kehilangan arti?”

Sang pengembara terdiam.

“Agar aku mengetahui bahwa aku berhasil.”

“Apabila tidak ada tanda keberhasilan, apakah engkau akan berhenti melakukan yang benar?”

Pengembara tidak segera menjawab.

Anak itu meletakkan mangkuk salju di tanah.

“Lonceng ini membeku karena banyak manusia datang membawa keinginan memperoleh jawaban tentang dirinya sendiri.”

“Apakah aku terpilih?”

“Apakah aku telah sampai?”

“Apakah aku lebih tinggi?”

“Apakah perjalananku paling benar?”

“Mereka memukul lonceng dengan pertanyaan-pertanyaan itu sampai suaranya tertutup es.”

Sang pengembara bertanya:

“Pertanyaan apa yang dapat membunyikannya?”

Anak itu menjawab:

“Pertanyaan yang tidak berpusat pada kebesaran dirimu.”


TIGA PERTANYAAN DI HADAPAN LONCENG

Anak penjaga meminta sang pengembara meletakkan Lentera Kunlun, lonceng kecil, dan Kitab Tanpa Penulis di atas salju.

“Sekarang ajukan satu pertanyaan.”

Sang pengembara berkata:

“Siapakah diriku yang sebenarnya?”

Lonceng raksasa tetap diam.

Anak itu berkata:

“Pertanyaan itu penting, tetapi engkau masih menunggu jawaban yang dapat dijadikan identitas.”

Pengembara bertanya lagi:

“Apakah aku telah berada di jalan yang benar?”

Lonceng tetap diam.

“Pertanyaan itu juga penting,” kata penjaga, “tetapi engkau masih meminta kepastian yang membebaskanmu dari kewajiban memeriksa langkah.”

Sang pengembara menunduk.

Ia memandang lentera.

Memandang kitab kosong.

Memandang jejak kaki yang segera ditutup salju.

Kemudian ia mengajukan pertanyaan ketiga:

“Kebaikan apa yang harus kulakukan dengan jujur setelah meninggalkan tempat ini?”

Lonceng kecil pada lentera tiba-tiba mencair.

Ia berbunyi.

Bunyinya merambat menuju Lonceng Membeku.

Lonceng raksasa bergetar.

Namun belum mengeluarkan suara.

Anak penjaga berkata:

“Jawablah pertanyaanmu sendiri.”

Sang pengembara berkata:

“Aku harus mendengarkan lebih baik.”

Lonceng bergerak.

“Aku harus mengakui ketika tidak tahu.”

Getarannya bertambah.

“Aku harus menjaga amanah tanpa menjadikannya alat kebesaran.”

Es yang tersisa berjatuhan.

“Aku harus meminta maaf ketika melukai.”

Udara mulai bergetar.

“Aku harus beristirahat ketika tubuhku memerlukan.”

Salju di sekelilingnya mencair.

“Aku harus meminta pertolongan ketika beban melampaui kemampuanku.”

Lentera menyala lebih terang.

“Aku harus berbuat baik, meskipun tidak ada yang mencatat namaku.”

Lonceng raksasa akhirnya berbunyi.


SUARA LONCENG PERTAMA

KEHENINGAN YANG HIDUP

Suara lonceng tidak keras.

Namun ia terdengar menembus seluruh padang.

Salju berhenti turun.

Langit terbelah.

Dari dalam suara itu, sang pengembara mendengar seluruh hal yang selama ini ditutupi kebisingan.

Detak jantungnya.

Napasnya.

Rasa lelahnya.

Kerinduannya.

Ketakutannya.

Harapannya.

Suara orang-orang yang pernah ia abaikan.

Permintaan maaf yang belum ia ucapkan.

Amanah yang masih tertunda.

Namun suara lonceng tidak menuduh.

Ia hanya memperlihatkan.

Sang pengembara memahami bahwa keheningan sejati bukan ketiadaan suara.

Keheningan adalah ruang tempat suara-suara dapat didengar tanpa langsung dikuasai oleh reaksi.

Ia dapat mendengar rasa takut tanpa harus menaatinya.

Mendengar amarah tanpa harus meledakkannya.

Mendengar pujian tanpa harus memakannya.

Mendengar kritik tanpa langsung membenci.

Mendengar kebutuhan tanpa selalu menyerah.

Mendengar doa tanpa memaksa jawaban datang sesuai waktunya.

Suara lonceng kemudian melemah.

Namun gema terakhirnya masuk ke dalam Lentera Kunlun.

Pada kaca lentera muncul lambang lingkaran kosong.


SUARA LONCENG KEDUA

PERTANYAAN YANG HARUS DIBAWA PULANG

Lonceng berbunyi untuk kedua kalinya.

Kali ini tidak terdengar melalui telinga.

Ia muncul sebagai pertanyaan di dalam hati:

“Apakah kehidupan yang engkau jalani sesuai dengan nilai yang sering engkau ucapkan?”

Sang pengembara melihat dirinya berbicara tentang kesabaran, tetapi tergesa-gesa kepada orang lemah.

Berbicara tentang kasih sayang, tetapi keras kepada dirinya.

Berbicara tentang amanah, tetapi menunda tugas kecil.

Berbicara tentang kerendahan hati, tetapi masih ingin dipandang berbeda.

Berbicara tentang kejujuran, tetapi terkadang menyembunyikan bagian cerita yang tidak menguntungkan.

Ia merasa malu.

Namun anak penjaga berkata:

“Jangan gunakan pertanyaan ini untuk membenci dirimu.”

“Gunakan untuk mendekatkan ucapan dan tindakan.”

Sang pengembara membuka Kitab Tanpa Penulis.

Pada halaman pertama tertulis:

“Hari ini, kecilkan jarak antara apa yang kauyakini dan apa yang kaulakukan.”

Ia memahami bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sumpah besar.

Kadang-kadang dimulai dari satu janji yang ditunaikan.

Satu ucapan yang diperbaiki.

Satu batas yang ditegakkan.

Satu orang yang didengarkan.

Satu kesalahan yang diakui.

Satu tubuh yang diberi istirahat.

Satu kebaikan yang dilakukan tanpa pertunjukan.


SUARA LONCENG KETIGA

JALAN KEMBALI

Lonceng berbunyi untuk ketiga kalinya.

Seluruh padang salju berubah menjadi permukaan cermin.

Di bawah kaki sang pengembara terlihat semua tempat yang telah dilewati.

Cermin Kunlun.

Lorong Tujuh Pantulan.

Lembah Tujuh Mata Air.

Lautan Tanpa Bintang.

Gua Seribu Suara.

Jembatan Dua Gerbang.

Pohon Seribu Topeng.

Kota Nama-Nama yang Terlupakan.

Semua tempat itu tidak berada jauh di luar dirinya.

Mereka hidup dalam keputusan sehari-hari.

Setiap kali memeriksa niat, ia kembali ke Cermin Kunlun.

Setiap kali mengakui luka, ia memasuki pantulan.

Setiap kali meminta maaf, ia minum dari mata air.

Setiap kali bertahan dalam ketidakpastian, ia menyeberangi lautan.

Setiap kali mendengarkan, ia memasuki gua.

Setiap kali memilih kebenaran di tengah tekanan, ia menyeberangi jembatan.

Setiap kali melepaskan citra, ia kembali ke pohon topeng.

Setiap kali berbuat baik tanpa pujian, ia memasuki kota nama yang terlupakan.

Setiap kali berhenti dan jujur, ia berdiri kembali di Padang Keheningan.

Anak penjaga berkata:

“Kunlun bukan hanya tempat yang kaudatangi.
Ia adalah jalan yang harus dihidupkan setelah engkau kembali.”


TUJUH KEHENINGAN YANG MENYEHATKAN

Pertama, diam sebelum membalas ucapan yang melukai.

Kedua, berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan besar dalam emosi.

Ketiga, memberi ruang kepada tubuh untuk beristirahat.

Keempat, mendengarkan orang lain tanpa segera mengubah ceritanya menjadi nasihat.

Kelima, mengakui bahwa tidak semua pertanyaan telah memiliki jawaban.

Keenam, beribadah tanpa selalu menuntut tanda luar biasa.

Ketujuh, memeriksa kesesuaian antara ucapan, niat, dan perbuatan.


TUJUH KEHENINGAN YANG PERLU DIWASPADAI

Diam karena takut menyampaikan ketidakadilan.

Diam karena berharap orang lain menebak kebutuhan kita.

Diam untuk menghukum seseorang.

Diam sambil memelihara kebencian.

Diam karena menyerah kepada keputusasaan.

Diam karena merasa tidak layak mencari pertolongan.

Diam agar kesalahan tetap tersembunyi.

Keheningan yang sehat melahirkan kejernihan.

Keheningan yang tidak sehat membangun dinding.

Karena itu, manusia perlu mengetahui kapan harus berhenti berbicara dan kapan harus menemukan keberanian untuk bersuara.


PESAN PENJAGA PADANG

Wahai pengembara,

jangan takut kepada sunyi.

Tetapi jangan pula menjadikannya tempat melarikan diri dari manusia.

Carilah keheningan agar engkau dapat kembali kepada kehidupan dengan lebih jujur.

Bukan agar engkau merasa lebih suci daripada mereka yang hidup dalam keramaian.

Duduklah dalam diam ketika emosi menguasai.

Namun berbicaralah ketika hak harus dijaga.

Beristirahatlah ketika tubuh lelah.

Namun jangan menjadikan istirahat alasan meninggalkan seluruh tanggung jawab.

Akuilah bahwa engkau belum tahu.

Namun tetaplah belajar.

Jangan memaksa semua pertanyaan memperoleh jawaban malam ini.

Sebagian jawaban datang sebagai pengetahuan.

Sebagian datang sebagai keputusan.

Sebagian datang sebagai penerimaan.

Sebagian baru dipahami setelah waktu panjang.

Dan sebagian tetap menjadi rahasia yang mengajarkan manusia untuk rendah hati.


DOA DI PADANG KEHENINGAN

Ya Alloh,

tenangkanlah kegaduhan dalam hati kami tanpa mematikan kepekaan kami.

Ajarkanlah kami diam sebelum menyakiti.

Ajarkanlah kami berbicara ketika kebenaran, keselamatan, dan amanah memerlukannya.

Jauhkanlah kami dari kesibukan yang hanya menjadi pelarian.

Jauhkanlah kami dari kesunyian yang berubah menjadi pengasingan dan keputusasaan.

Ketika pujian tidak datang, teguhkan kami dalam kebaikan.

Ketika jawaban belum ditemukan, jaga kami dari klaim yang tidak benar.

Ketika kami melihat perjalanan orang lain, lindungi kami dari iri dan kebencian kepada diri sendiri.

Ketika masa lalu kembali bersuara, jadikan ia pelajaran tanpa membiarkannya mengambil alih masa depan.

Luruskanlah gambaran kami tentang-Mu.

Jangan biarkan ketakutan kami menyempitkan kasih dan kebijaksanaan-Mu.

Jangan biarkan kemudahan membuat kami merasa lebih mulia.

Jangan biarkan kesulitan membuat kami merasa telah Engkau tinggalkan.

Dekatkanlah ucapan kami kepada tindakan.

Dekatkanlah ilmu kami kepada akhlak.

Dekatkanlah doa kami kepada ikhtiar.

Dekatkanlah harapan kami kepada kesabaran.

Apabila kami belum sampai, jangan biarkan kami berhenti berjalan.

Apabila kami memperoleh cahaya, jangan biarkan kami merasa telah selesai belajar.

Jadikanlah keheningan sebagai cermin yang menuntun kami kembali kepada ridho-Mu.

Āmīn.


PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN

Setelah bunyi ketiga berakhir, Lonceng Membeku retak menjadi dua.

Namun tidak hancur.

Dari dalamnya muncul sebuah pintu berbentuk lingkaran.

Di balik pintu itu terlihat tangga cahaya yang naik menuju puncak Gunung Kunlun.

Anak penjaga mengambil segenggam salju dari mangkuknya.

Salju itu telah berubah menjadi air.

Ia menuangkannya ke dalam Lentera Kunlun.

Api lentera tidak padam.

Sebaliknya, nyalanya menjadi sangat bening.

“Apakah ini jalan menuju akhir?” tanya sang pengembara.

Anak itu menggeleng.

“Ini jalan menuju tempat engkau akan melihat semua jalan sekaligus.”

“Apa yang berada di puncak?”

“Cermin yang tidak memantulkan masa lalu, masa depan, nama, topeng, ataupun bayangan.”

“Lalu apa yang dipantulkannya?”

Anak penjaga menjawab:

“Ia memantulkan akibat dari pilihan yang belum engkau ambil.”

Sang pengembara mengambil kembali Kitab Tanpa Penulis.

Pada halaman terakhir tampak satu judul yang belum memiliki isi:

PUNCAK TANPA SINGGASANA.

Ia melangkah memasuki pintu lingkaran.

Tangga cahaya mulai naik.

Di belakangnya, padang salju perlahan tertutup kabut.

Sebelum pintu tertutup, anak penjaga berkata:

“Di puncak nanti, jangan mencari siapa yang harus memimpin dunia.
Tanyakanlah siapa yang harus engkau pimpin terlebih dahulu.”

Pintu lingkaran tertutup.

Sang pengembara mulai menaiki tangga menuju puncak.

Bersambung menuju Lembar Kesepuluh:
Puncak Tanpa Singgasana dan Cermin Pilihan yang Belum Terjadi.


QACA KUNLUN

Lembar Kesepuluh — Lembar Terakhir

PUNCAK TANPA SINGGASANA DAN CERMIN PILIHAN YANG BELUM TERJADI

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dengan niat memperoleh kejernihan, keberanian mengakui diri, keteguhan menjaga amanah, serta keselamatan dari kesombongan ilmu dan pengalaman, dibukalah lembar terakhir Qaca Kunlun.


TANGGA CAHAYA MENUJU PUNCAK

Sang pengembara menaiki tangga cahaya yang muncul dari dalam Lonceng Membeku.

Setiap anak tangga tidak terbuat dari batu.

Ia terbentuk dari keputusan-keputusan yang pernah diambilnya sepanjang perjalanan.

Pada tangga pertama terlihat saat ia mengakui kesalahan.

Pada tangga kedua terlihat ketika ia memilih mendengarkan daripada menghakimi.

Pada tangga ketiga terlihat ketika ia menolak cahaya palsu.

Pada tangga keempat terlihat saat ia meminta pertolongan.

Pada tangga kelima terlihat ketika ia mengatakan, “Aku tidak tahu.”

Pada tangga keenam terlihat saat ia berbuat baik tanpa meminta namanya disebut.

Namun di antara anak tangga yang bercahaya terdapat pula beberapa tangga gelap.

Tangga ketika ia berbicara tanpa memastikan kebenaran.

Tangga ketika ia membantu orang lain karena takut tidak lagi dibutuhkan.

Tangga ketika ia diam-diam menikmati pujian.

Tangga ketika ia menyebut kesabaran, tetapi melukai orang dengan ketergesa-gesaan.

Tangga ketika ia memakai luka lama untuk membenarkan kemarahannya.

Sang pengembara berhenti di hadapan salah satu tangga gelap.

Ia merasa malu.

Ia hampir melangkah mundur.

Dari dalam Lentera Kunlun terdengar suara:

“Puncak tidak dicapai oleh orang yang tidak pernah salah.
Puncak dicapai oleh orang yang bersedia melihat kesalahannya tanpa berhenti memperbaiki.”

Pengembara meletakkan kakinya pada tangga gelap.

Begitu disentuh, tangga itu tidak menghancurkannya.

Ia justru berubah menjadi batu pijakan yang kokoh.

Sang pengembara memahami bahwa kesalahan yang diakui dapat menjadi pelajaran.

Sedangkan kesalahan yang terus disembunyikan akan menjadi lubang di jalan.

Ia melanjutkan pendakian.

Semakin tinggi tangga membawanya, semakin kecil seluruh dunia di bawah.

Kota Nama-Nama yang Terlupakan tampak seperti titik cahaya.

Pohon Seribu Topeng tampak seperti satu helai rumput.

Jembatan Dua Gerbang menjadi garis tipis di antara kabut.

Lautan Tanpa Bintang terlihat seperti setetes tinta.

Namun Cermin Kunlun tetap terlihat.

Cermin itu mengambang jauh di bawah, memantulkan seluruh jalan yang telah dilalui.

Anehnya, sang pengembara tidak merasa lebih tinggi.

Semakin jauh ia mendaki, semakin ia menyadari luasnya gunung dan kecilnya dirinya.

Tangga akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang bulat.

Gerbang itu tidak memiliki daun pintu.

Di atasnya tertulis:

“Masuklah tanpa membawa pengakuan bahwa engkau telah sampai.”

Sang pengembara melepaskan jubah perjalanan.

Ia meletakkan Kitab Tanpa Penulis di dadanya.

Mengangkat Lentera Kunlun.

Kemudian melangkah melewati gerbang.


PUNCAK TANPA SINGGASANA

Di balik gerbang tidak terdapat istana.

Tidak terdapat pagoda.

Tidak terdapat altar kebesaran.

Tidak terdapat pasukan penjaga.

Puncak Gunung Kunlun hanyalah dataran batu yang luas dan sunyi.

Langit berada sangat dekat.

Awan mengalir di bawah tebing.

Bintang-bintang tampak meskipun hari belum malam.

Di tengah dataran berdiri sebuah cermin bundar tanpa bingkai.

Cermin itu tipis seperti permukaan air yang berdiri tegak.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada ukiran naga.

Tidak ada emas.

Tidak ada cahaya berlebihan.

Hanya sebuah lingkaran bening.

Di hadapannya terdapat tempat kosong yang menyerupai bekas singgasana.

Namun singgasananya telah diangkat.

Hanya tersisa empat bekas kaki kursi di atas batu.

Sang pengembara berjalan mendekat.

Ia bertanya:

“Di manakah singgasana puncak?”

Angin menjawab:

“Singgasana diangkat agar orang yang mencapai puncak tidak mengira dirinya datang untuk berkuasa.”

“Lalu mengapa tempatnya dibiarkan?”

“Agar setiap pendatang melihat godaan yang mungkin tumbuh di dalam dirinya.”

Sang pengembara berdiri di atas bekas singgasana.

Saat itu ia dapat melihat seluruh wilayah Kunlun.

Gunung-gunung.

Lembah.

Kota.

Lautan.

Jembatan.

Gua.

Padang salju.

Ia merasakan seolah seluruh dunia berada di bawah kakinya.

Lalu muncul bisikan:

“Duduklah.”

Meskipun tidak ada kursi, tubuhnya merasa seakan singgasana masih berada di sana.

Bisikan itu melanjutkan:

“Engkau telah melewati jalan yang tidak mampu dilewati banyak orang.”

“Engkau telah memegang lentera.”

“Engkau telah membawa kitab.”

“Engkau telah mendengar lonceng.”

“Engkau layak menentukan jalan bagi semua manusia.”

Sang pengembara merasakan godaan yang lebih kuat daripada semua topeng sebelumnya.

Ia membayangkan kembali ke dunia dengan gelar Penjaga Cermin Kunlun.

Ia membayangkan ribuan orang mendengarkan kisahnya.

Ia membayangkan manusia datang meminta arah, nama, ramalan, dan keputusan.

Ia membayangkan semua orang menganggap setiap ucapannya benar.

Lentera Kunlun mulai berwarna merah.

Kitab Tanpa Penulis menjadi semakin berat.

Pada sampulnya muncul huruf emas:

Sang Penguasa Puncak.

Sang pengembara hampir menyentuh tulisan itu.

Namun lonceng kecil pada lenteranya tidak berbunyi.

Ia teringat Pohon Seribu Topeng.

Teringat singgasana yang pernah mengikat kakinya.

Ia segera turun dari bekas singgasana.

“Aku tidak datang untuk menguasai manusia.”

Tulisan emas pada kitab memudar.

“Aku tidak berhak mengambil tanggung jawab pilihan mereka.”

Api lentera kembali lembut.

“Aku boleh berbagi pelajaran, tetapi tidak boleh menjadikan diriku sebagai sumber kebenaran yang tidak dapat diperiksa.”

Bekas singgasana retak.

Dari dalam retakan tumbuh satu bunga kecil berwarna putih.

Angin berkata:

“Puncak menjadi aman ketika orang yang berdiri di atasnya tidak mengubah ketinggian menjadi hak untuk merendahkan.”


CERMIN PILIHAN YANG BELUM TERJADI

Sang pengembara berdiri di depan cermin tanpa bingkai.

Ia mengira akan melihat wajahnya.

Namun permukaan cermin tetap kosong.

Ia bertanya:

“Apakah ini Cermin Kunlun yang terakhir?”

Suara dari dalam cermin menjawab:

“Aku adalah cermin dari segala pilihan yang belum engkau ambil.”

“Apakah engkau dapat memperlihatkan masa depanku?”

“Aku dapat memperlihatkan kemungkinan.
Namun aku tidak akan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.”

“Apakah jalan hidup telah tertulis?”

“Ada perkara yang berada di luar kuasamu.
Ada pula sikap dan keputusan yang menjadi amanahmu.
Jangan mencampurkan keduanya.”

Permukaan cermin mulai bergerak.

Muncul sepuluh lingkaran cahaya.

Setiap lingkaran membuka satu kemungkinan kehidupan sang pengembara setelah meninggalkan Kunlun.


PANTULAN MASA DEPAN PERTAMA

JALAN KEBESARAN NAMA

Pada lingkaran pertama, sang pengembara melihat dirinya kembali ke dunia.

Ia membawa Lentera Kunlun tinggi-tinggi.

Orang-orang berkumpul.

Ia menceritakan seluruh perjalanan dengan suara menggelegar.

Ia berkata:

“Aku telah sampai ke puncak.”

“Aku telah melihat Cermin Pilihan.”

“Aku mengetahui jalan kalian.”

Mula-mula ia hanya berbagi kisah.

Namun semakin banyak orang memujinya, semakin besar keyakinannya bahwa dirinya memang berbeda.

Ia mulai memberi jawaban atas pertanyaan yang tidak ia pahami.

Ia tidak lagi berkata, “Aku tidak tahu.”

Setiap keraguan orang dianggap kurang percaya.

Setiap kritik dianggap serangan kepada perjalanan suci.

Ia membangun sebuah singgasana.

Di belakangnya dipasang gambar Cermin Kunlun.

Orang-orang datang membawa persoalan hidup.

Sebagian meminta nasihat.

Sebagian meminta keputusan.

Sebagian meminta jaminan masa depan.

Sang pengembara mulai berkata:

“Lakukan ini, niscaya hidupmu akan berubah.”

“Jangan lakukan itu, sebab aku telah melihat akibatnya.”

Ketika nasihatnya berhasil, ia menyebutnya sebagai bukti kebijaksanaan.

Ketika nasihatnya gagal, ia menyalahkan orang yang mengikuti:

“Niatmu tidak cukup bersih.”

“Keyakinanmu kurang kuat.”

“Engkau tidak mengikuti dengan sempurna.”

Lambat laun, Lentera Kunlun berubah menjadi benda penghias.

Apinya tetap terlihat, tetapi tidak lagi menerangi.

Ia hanya memantulkan cahaya pujian.

Kitab Tanpa Penulis dipenuhi namanya sendiri.

Setiap halaman diawali:

“Aku telah…”

“Aku mengetahui…”

“Aku melihat…”

“Aku dipilih…”

Orang-orang di sekelilingnya kehilangan keberanian berpikir.

Mereka menunggu jawaban untuk setiap langkah.

Sang pengembara memiliki banyak pengikut.

Namun ia kehilangan kemampuan mendengar.

Di akhir pantulan, singgasananya berdiri sangat tinggi.

Tetapi di bawahnya terdapat retakan besar.

Tidak seorang pun berani memberi tahu.

Cermin berkata:

“Inilah jalan ketika pengalaman menjadi gelar, gelar menjadi kekuasaan, dan kekuasaan kehilangan koreksi.”

Lingkaran pertama padam.

Sang pengembara gemetar.

Ia berkata:

“Aku tidak ingin menjadi demikian.”

Cermin menjawab:

“Jangan hanya takut kepada akhir jalan itu.
Kenalilah langkah-langkah kecil yang dapat membawamu ke sana.”

Langkah kecil itu adalah:

takut mengaku tidak tahu,

terlalu menyukai pujian,

menganggap kritik sebagai penghinaan,

menggunakan bahasa suci untuk menghindari tanggung jawab,

dan membiarkan orang menyerahkan seluruh kesadarannya.


PANTULAN MASA DEPAN KEDUA

JALAN PENGASINGAN

Lingkaran kedua terbuka.

Sang pengembara melihat dirinya kembali dari Kunlun, tetapi tidak mau berbicara kepada siapa pun.

Ia berkata:

“Manusia tidak akan memahami.”

“Dunia terlalu ramai.”

“Lebih baik aku tinggal sendiri.”

Ia membangun rumah di atas gunung.

Menutup pintu.

Tidak menerima tamu.

Ia menjaga keheningan.

Membaca kitab.

Merawat lentera.

Pada awalnya hatinya tenang.

Namun perlahan keheningan berubah menjadi pengasingan.

Ia tidak lagi mendengar kesulitan manusia.

Tidak melihat bagaimana pelajaran harus diterapkan dalam kehidupan nyata.

Ia berbicara tentang kesabaran tanpa berhadapan dengan manusia yang menguji kesabarannya.

Berbicara tentang kasih sayang tanpa merawat siapa pun.

Berbicara tentang kerendahan hati tanpa menerima koreksi.

Berbicara tentang amanah tanpa memegang tanggung jawab bersama.

Ia merasa suci karena jauh dari kekacauan.

Namun sebenarnya ia hanya jauh dari ujian kehidupan.

Lentera Kunlun tetap bersih, tetapi tidak menerangi siapa pun.

Kitab Tanpa Penulis tetap kosong karena tidak ada perbuatan baru yang dituliskan.

Di akhir pantulan, sang pengembara duduk sendirian.

Ia memiliki banyak jawaban, tetapi tidak memiliki hubungan.

Ia tidak melukai banyak orang.

Namun ia juga tidak lagi memberikan manfaat yang mampu ia berikan.

Cermin berkata:

“Keheningan diperlukan untuk menata hati.
Namun keheningan yang tidak pernah kembali menjadi pelayanan dapat berubah menjadi tempat persembunyian.”

Lingkaran kedua padam.

Sang pengembara memahami bahwa pulang kepada kehidupan merupakan bagian dari jalan.


PANTULAN MASA DEPAN KETIGA

JALAN MENYELAMATKAN SEMUA ORANG

Lingkaran ketiga terbuka.

Sang pengembara terlihat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

Ia mendengarkan setiap orang.

Membawa semua beban.

Menanggung semua persoalan.

Tidak pernah menolak.

Tidak pernah beristirahat.

Ketika seseorang sedih, ia merasa harus membuatnya bahagia.

Ketika seseorang gagal, ia merasa dirinya kurang membantu.

Ketika seseorang menolak berubah, ia terus memaksakan pertolongan.

Ketika seorang pengikut melakukan kesalahan, ia menanggung akibatnya.

Orang-orang semakin bergantung kepadanya.

Mereka berhenti membuat keputusan.

Mereka berkata:

“Tanyakan kepada sang pengembara.”

“Tunggu petunjuknya.”

“Jangan bergerak sebelum ia menjawab.”

Sang pengembara merasa dibutuhkan.

Perasaan itu membuatnya terus memberi meskipun tubuhnya melemah.

Ia tidak lagi tidur cukup.

Tidak menjaga tubuh.

Tidak memiliki waktu untuk memeriksa niat.

Ketika kelelahan berubah menjadi kemarahan, ia berkata:

“Setelah semua yang kulakukan untuk kalian, mengapa kalian masih demikian?”

Kebaikan yang dahulu jernih berubah menjadi utang tersembunyi.

Orang-orang yang ditolong merasa bersalah apabila ingin berjalan sendiri.

Mereka takut kemandiriannya akan menyakiti sang penolong.

Di akhir pantulan, sang pengembara roboh.

Lenteranya jatuh.

Orang-orang di sekelilingnya kebingungan karena tidak tahu bagaimana menyalakan cahaya dari dalam diri mereka sendiri.

Cermin berkata:

“Menolong tidak berarti menjadi pusat seluruh kehidupan orang lain.”

Lingkaran padam.

Sang pengembara teringat topeng penyelamat.

Ia memahami bahwa batas bukan lawan dari kasih sayang.

Batas adalah salah satu bentuk penjagaannya.


PANTULAN MASA DEPAN KEEMPAT

JALAN KETAKUTAN BERBUAT SALAH

Pada lingkaran keempat, sang pengembara pulang membawa kesadaran bahwa manusia dapat keliru.

Namun kesadaran itu berubah menjadi ketakutan.

Ia takut mengambil keputusan.

Takut memberi nasihat.

Takut menerima amanah.

Takut memimpin.

Takut berbicara.

Setiap kali melihat seseorang membutuhkan bantuan, ia berkata:

“Bagaimana apabila aku salah?”

Setiap kali diminta mengambil keputusan, ia menunggu kepastian sempurna.

Kesempatan berlalu.

Masalah membesar.

Orang yang seharusnya dilindungi tidak memperoleh perlindungan.

Sang pengembara terus belajar.

Terus memeriksa.

Terus menunggu.

Namun tidak pernah melangkah.

Ia menggunakan kerendahan hati untuk menyembunyikan ketakutan.

Ia berkata:

“Aku bukan siapa-siapa.”

Padahal sebenarnya ia takut bertanggung jawab.

Di akhir pantulan, Lentera Kunlun tetap berada di tangannya.

Namun ia menutupinya dengan kain agar tidak ada yang meminta cahaya.

Cermin berkata:

“Mengakui keterbatasan bukan alasan untuk menghindari seluruh tindakan.”

Kesempurnaan tidak selalu tersedia sebelum keputusan.

Kadang-kadang manusia harus memilih berdasarkan pengetahuan terbaik yang dimiliki, menjaga adab, memperhitungkan risiko, lalu bersedia memperbaiki apabila keliru.

Lingkaran keempat padam.

Sang pengembara berkata:

“Aku harus berhati-hati, tetapi tidak boleh membiarkan kehati-hatian berubah menjadi kelumpuhan.”


PANTULAN MASA DEPAN KELIMA

JALAN KEKERASAN ATAS NAMA KEBENARAN

Lingkaran kelima terbuka.

Sang pengembara melihat dirinya menjadi sangat tegas.

Ia tidak tahan melihat kesalahan.

Setiap kekeliruan segera ditegur.

Setiap perbedaan segera diluruskan.

Ia berkata:

“Kebenaran harus disampaikan tanpa takut.”

Namun lambat laun ketegasan kehilangan kasih sayang.

Ia tidak lagi bertanya mengapa seseorang jatuh.

Tidak mendengarkan keadaan.

Tidak memilih waktu.

Tidak membedakan antara orang yang sedang belajar dan orang yang sengaja merugikan.

Semua dipukul dengan kata-kata yang sama.

Ia berkata:

“Aku hanya menyampaikan kebenaran.”

Namun di dalam hatinya terdapat kenikmatan ketika orang lain tidak mampu menjawab.

Ia merasa lebih tinggi karena dapat menunjukkan kekurangan.

Orang-orang mulai takut berbicara jujur di hadapannya.

Mereka menyembunyikan kesalahan.

Menampilkan wajah baik.

Masalah tidak hilang.

Ia hanya pindah ke ruang tersembunyi.

Di akhir pantulan, sang pengembara berdiri di sebuah ruangan yang sangat rapi.

Semua orang diam.

Tidak ada yang berani salah.

Namun tidak ada pula yang berani belajar.

Cermin berkata:

“Kebenaran yang kehilangan kasih sayang dapat membuat manusia takut kepada pembawanya, bukan mencintai kebaikan yang dibawanya.”

Lingkaran padam.

Sang pengembara teringat Gua Seribu Suara.

Ia memahami bahwa ketegasan dan kelembutan bukan musuh.

Ketegasan menjaga batas.

Kelembutan menjaga kemanusiaan.


PANTULAN MASA DEPAN KEENAM

JALAN KELEMBUTAN TANPA BATAS

Pada lingkaran keenam, sang pengembara melihat dirinya menjadi sangat lembut.

Ia takut melukai.

Takut mengecewakan.

Takut disebut keras.

Ketika seseorang menipu, ia berkata:

“Barangkali ia sedang terluka.”

Ketika amanah dilanggar, ia berkata:

“Berilah kesempatan lagi.”

Ketika orang lemah dirugikan, ia mencoba memahami semua pihak sampai lupa melindungi yang menjadi korban.

Ia menghindari keputusan sulit.

Tidak menetapkan batas.

Tidak memberikan akibat.

Kata maaf diucapkan berulang kali.

Namun kerusakan terus berlangsung.

Orang yang berbuat salah mengetahui bahwa tidak ada akibat nyata.

Mereka menggunakan kelembutan sang pengembara sebagai jalan untuk mengulang perbuatan.

Di akhir pantulan, ia berdiri di antara banyak orang yang terluka.

Ia menangis dan berkata:

“Aku tidak bermaksud membiarkan ini terjadi.”

Cermin menjawab:

“Kasih sayang tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi pembiaran.”

Memaafkan tidak selalu berarti mengembalikan kepercayaan seketika.

Memahami latar belakang tidak menghapus tanggung jawab.

Lembut bukan berarti tidak memiliki batas.

Sabar bukan berarti membiarkan bahaya.

Lingkaran keenam padam.

Sang pengembara meletakkan tangan di dada.

“Aku harus belajar kasih sayang yang mampu melindungi.”


PANTULAN MASA DEPAN KETUJUH

JALAN PENGAWASAN DIRI YANG BERLEBIHAN

Lingkaran ketujuh terbuka.

Sang pengembara tampak terus-menerus memeriksa dirinya.

Setiap ucapan dipikirkan berulang kali.

Setiap niat dicurigai.

Setiap kebaikan dianggap mungkin tercemar ego.

Ketika merasa senang karena dipuji, ia menghukum dirinya.

Ketika marah, ia merasa gagal.

Ketika sedih, ia menganggap dirinya kurang berserah.

Ketika lelah, ia merasa tidak ikhlas.

Ia ingin seluruh niatnya sempurna sebelum bergerak.

Lama-kelamaan, perjalanan batin berubah menjadi ruang pengadilan.

Ia menjadi hakim paling keras bagi dirinya sendiri.

Tidak ada perbuatan yang dianggap cukup baik.

Tidak ada istirahat tanpa rasa bersalah.

Tidak ada kegembiraan tanpa kecurigaan.

Ia berkata:

“Aku harus membersihkan diriku.”

Namun setiap hari ia semakin membenci dirinya.

Lentera Kunlun berubah menjadi lampu pemeriksaan yang menyilaukan.

Cahayanya tidak lagi menuntun.

Ia hanya memperbesar setiap kekurangan.

Cermin berkata:

“Muhasabah tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi penghukuman.”

Mengenali niat tidak berarti menunggu kemurnian sempurna.

Manusia memperbaiki niat sebelum berbuat, ketika berbuat, dan setelah berbuat.

Apabila menemukan campuran ego, ia membersihkan kembali.

Bukan membatalkan seluruh kebaikan.

Bukan membenci diri.

Bukan menganggap semua rasa manusiawi sebagai dosa kesombongan.

Lingkaran ketujuh padam.

Sang pengembara berkata:

“Aku bertanggung jawab memperbaiki diri, tetapi aku tidak harus menyiksa diri agar dapat berubah.”


PANTULAN MASA DEPAN KEDELAPAN

JALAN KEHIDUPAN YANG BIASA

Lingkaran kedelapan terbuka.

Kali ini tidak terdapat singgasana.

Tidak terdapat kerumunan besar.

Tidak terdapat perjalanan menakjubkan.

Sang pengembara hidup dalam rumah sederhana.

Ia bangun pada pagi hari.

Menyelesaikan tugas.

Menjaga hubungan.

Meminta maaf ketika salah.

Bekerja.

Beristirahat.

Mendengarkan keluarga.

Menolong sesuai kemampuan.

Ada hari ketika ia sabar.

Ada hari ketika ia tergesa-gesa.

Ada waktu ketika lenteranya terasa terang.

Ada waktu ketika ia lupa seluruh pelajaran.

Ketika lupa, ia kembali memeriksa diri.

Ketika lelah, ia beristirahat.

Ketika tidak tahu, ia bertanya.

Ketika melihat ketidakadilan, ia berusaha mengambil sikap sesuai kemampuan.

Tidak ada orang yang menyebutnya manusia agung.

Sebagian bahkan tidak mengetahui bahwa ia pernah memasuki Kunlun.

Namun pelajaran Kunlun hidup dalam tindakan kecilnya.

Ia tidak membuka aib yang dipercayakan.

Tidak mengaku mengetahui masa depan.

Tidak memanfaatkan orang yang menghormatinya.

Tidak memakai kata-kata ruhani untuk melarikan diri dari tanggung jawab nyata.

Ia masih memiliki kekurangan.

Namun ia tidak lagi menjadikan kekurangan sebagai alasan berhenti.

Di akhir pantulan, sang pengembara terlihat menyalakan sebuah lampu kecil di depan rumah agar orang yang berjalan malam tidak tersandung.

Tidak ada yang mengetahui siapa yang menyalakannya.

Namun seseorang selamat menemukan jalan.

Cermin berkata:

“Tidak semua perjalanan besar berakhir dengan kehidupan yang tampak besar.”

Lingkaran kedelapan tetap menyala lebih lama daripada yang lain.

Sang pengembara merasa hatinya tenang.


PANTULAN MASA DEPAN KESEMBILAN

JALAN PELAYANAN BERSAMA

Lingkaran kesembilan terbuka.

Sang pengembara melihat dirinya bergabung dengan banyak orang.

Mereka berbeda-beda.

Ada guru.

Ada petani.

Ada penyembuh.

Ada pekerja.

Ada orang tua.

Ada anak muda.

Ada yang berbicara banyak.

Ada yang bekerja dalam diam.

Mereka membangun tempat perlindungan.

Mengajar.

Merawat.

Menyediakan makanan.

Mendengarkan persoalan.

Menyusun aturan.

Tidak satu orang menjadi pusat segala sesuatu.

Sang pengembara membawa Lentera Kunlun.

Namun ia tidak memegangnya sendiri.

Lentera diletakkan di tengah pertemuan.

Setiap orang dapat mendekat.

Melihat.

Memberi masukan.

Ketika sang pengembara tidak tahu, orang lain membantu.

Ketika ia lelah, amanah dibagi.

Ketika ia salah, ada orang yang mengingatkan tanpa mempermalukan.

Ketika orang lain berbuat baik, nama mereka disebut.

Ketika keberhasilan datang, mereka bersyukur bersama.

Ketika kegagalan terjadi, mereka memeriksa sistem dan keputusan tanpa mencari kambing hitam.

Namun perjalanan itu tidak selalu mudah.

Ada perbedaan pendapat.

Ada salah paham.

Ada orang yang pergi.

Ada yang datang dengan kepentingan tersembunyi.

Ada masa ketika keputusan harus diambil meskipun tidak semua setuju.

Sang pengembara tidak menggunakan persatuan sebagai alasan menghapus perbedaan.

Ia juga tidak menggunakan perbedaan sebagai alasan merusak amanah bersama.

Di akhir pantulan, banyak lampu kecil menyala.

Tidak satu pun sebesar Lentera Kunlun.

Namun bersama-sama mereka menerangi lembah.

Cermin berkata:

“Cahaya yang dibagikan dengan sehat tidak membuat sumbernya mengecil.”

Lingkaran kesembilan bersinar.

Sang pengembara melihat kemungkinan tentang pelayanan yang tidak bergantung pada satu tokoh.


PANTULAN MASA DEPAN KESEPULUH

JALAN YANG TIDAK DAPAT DILIHAT

Lingkaran kesepuluh tetap gelap.

Sang pengembara menunggu.

Tidak ada gambaran.

Ia bertanya:

“Mengapa pantulan terakhir tidak terbuka?”

Cermin menjawab:

“Karena sebagian masa depan tidak dapat engkau persiapkan melalui gambaran.”

“Apakah itu berarti sesuatu yang buruk?”

“Tidak selalu.”

“Apakah sesuatu yang baik?”

“Tidak selalu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Bangunlah kemampuan untuk merespons, bukan hanya keinginan mengendalikan.”

Sang pengembara memahami bahwa tidak semua keadaan dapat diramalkan.

Ada pertemuan yang tidak direncanakan.

Kehilangan yang tidak disangka.

Kesempatan yang datang tiba-tiba.

Perubahan kesehatan.

Perubahan hubungan.

Pintu yang tertutup.

Pintu yang terbuka.

Tugas manusia bukan menguasai seluruh masa depan.

Tugasnya adalah menyiapkan nilai yang akan dibawa ketika masa depan datang.

Kejujuran.

Kesabaran.

Keberanian.

Akal sehat.

Kasih sayang.

Batas.

Tanggung jawab.

Doa.

Ikhtiar.

Kemampuan meminta bantuan.

Kesediaan memperbaiki keputusan.

Lingkaran kesepuluh tetap gelap.

Namun di tengah kegelapannya muncul satu titik cahaya.

Cermin berkata:

“Engkau tidak selalu akan mengetahui apa yang datang.
Tetapi engkau dapat memilih manusia seperti apa yang hendak menyambutnya.”


UJIAN TIGA CINCIN

Setelah sepuluh pantulan tertutup, permukaan cermin mengeluarkan tiga cincin.

Cincin pertama terbuat dari emas.

Pada permukaannya tertulis:

KEKUASAAN ATAS ORANG LAIN.

Cincin kedua terbuat dari perak.

Tertulis:

PENGETAHUAN TENTANG MASA DEPAN.

Cincin ketiga terbuat dari kayu sederhana.

Tertulis:

TANGGUNG JAWAB ATAS PILIHAN DIRI.

Suara cermin berkata:

“Ambillah satu.”

Sang pengembara memandang cincin emas.

Dengan kekuasaan, ia dapat memaksa manusia berjalan menuju sesuatu yang dianggapnya baik.

Ia dapat menghentikan pertengkaran.

Mengatur kehidupan.

Mencegah orang membuat pilihan yang salah.

Namun ia teringat bahwa kebaikan yang dipaksakan tanpa ruang kesadaran dapat berubah menjadi penjara.

Ia memandang cincin perak.

Dengan mengetahui masa depan, ia dapat menghindari kegagalan.

Mengetahui siapa yang akan mengkhianati.

Mengetahui jalan mana yang berbahaya.

Mengetahui kapan kehidupan akan berubah.

Namun ia teringat bahwa pengetahuan semacam itu dapat membuat manusia hidup dalam ketakutan, kehilangan kebebasan memilih, atau menyalahgunakan informasi.

Ia memandang cincin kayu.

Cincin itu tidak memberi kekuasaan besar.

Tidak memberi ramalan.

Ia hanya mengingatkan bahwa sang pengembara bertanggung jawab atas niat, ucapan, keputusan, dan tindakan yang mampu dipilihnya.

Sang pengembara mengambil cincin kayu.

Ketika dipakai, cincin emas dan perak melebur kembali ke dalam cermin.

Suara Kunlun berkata:

“Orang yang ingin menguasai dunia sering belum mampu menguasai reaksinya sendiri.”

“Orang yang ingin mengetahui masa depan sering belum menyelesaikan amanah hari ini.”

“Awal kepemimpinan adalah memimpin diri:
bukan menekan seluruh rasa, melainkan mengarahkannya kepada tindakan yang bertanggung jawab.”


EMPAT PENJURU KEPEMIMPINAN DIRI

Setelah cincin kayu dipakai, empat penjuru puncak terbuka.

Di timur muncul Matahari Keinginan.

Di barat muncul Bulan Ketakutan.

Di utara muncul Angin Pikiran.

Di selatan muncul Api Tindakan.

Cermin berkata:

“Siapa yang hendak memimpin diri harus belajar menjaga empat penjuru.”


PENJURU TIMUR

MATAHARI KEINGINAN

Di timur, sang pengembara melihat seluruh hal yang diinginkannya.

Penghormatan.

Kasih sayang.

Keamanan.

Kecukupan.

Keberhasilan.

Kedekatan.

Pengaruh.

Ketenangan.

Keinginan-keinginan itu tidak semuanya buruk.

Namun ketika dibiarkan tanpa arah, mereka tumbuh menjadi matahari yang terlalu panas.

Keinginan dihargai berubah menjadi haus pujian.

Keinginan membantu berubah menjadi kebutuhan menguasai.

Keinginan aman berubah menjadi ketakutan kepada perubahan.

Keinginan dicintai berubah menjadi kesediaan mengorbankan batas.

Keinginan berhasil berubah menjadi penghukuman diri ketika gagal.

Cermin berkata:

“Jangan membunuh seluruh keinginan.
Kenalilah, timbanglah, dan tempatkanlah dalam amanah.”

Sang pengembara bertanya kepada setiap keinginan:

“Apakah engkau membawaku kepada manfaat?”

“Apakah engkau merugikan orang lain?”

“Apakah engkau dapat ditempuh dengan cara yang halal dan jujur?”

“Apakah aku tetap mampu hidup apabila engkau belum terpenuhi?”

Keinginan-keinginan yang sehat berubah menjadi cahaya hangat.

Keinginan yang menguasai berubah menjadi asap dan menghilang.


PENJURU BARAT

BULAN KETAKUTAN

Di barat muncul seluruh ketakutannya.

Takut ditolak.

Takut gagal.

Takut kehilangan.

Takut dipermalukan.

Takut membuat keputusan salah.

Takut tidak dikenang.

Takut berjalan sendirian.

Takut hidupnya tidak berarti.

Ketakutan itu menutupi bulan.

Cermin berkata:

“Ketakutan tidak harus dibenci.
Sebagian ketakutan sedang berusaha melindungimu.
Namun perlindungan yang tidak diperiksa dapat berubah menjadi penjara.”

Sang pengembara mendengarkan setiap ketakutan.

Kepada takut gagal ia berkata:

“Aku akan mempersiapkan diri, tetapi tidak akan berhenti mencoba.”

Kepada takut ditolak:

“Aku akan menjaga hubungan, tetapi tidak akan menyerahkan seluruh martabatku.”

Kepada takut membuat keputusan salah:

“Aku akan memeriksa, meminta nasihat, dan bersedia memperbaiki.”

Kepada takut kehilangan:

“Aku akan menjaga apa yang dititipkan, tetapi tidak akan menganggap semua titipan sebagai milikku selamanya.”

Ketakutan tidak hilang.

Namun ia turun dari singgasana batin dan menjadi penasihat yang terbatas.

Bulan kembali terlihat.


PENJURU UTARA

ANGIN PIKIRAN

Di utara berembus ribuan pikiran.

Sebagian nyata.

Sebagian kemungkinan.

Sebagian kenangan.

Sebagian prasangka.

Sebagian suara orang lain yang tersimpan dalam kepala.

Pikiran berkata:

“Semua akan gagal.”

“Mereka pasti membencimu.”

“Engkau harus segera bertindak.”

“Engkau tidak boleh beristirahat.”

“Engkau telah tertinggal.”

“Engkau harus membuktikan sesuatu.”

Sang pengembara mencoba menghentikan semua pikiran.

Namun semakin dilawan, angin semakin kuat.

Cermin berkata:

“Tidak setiap pikiran adalah perintah.
Tidak setiap pikiran adalah kenyataan.
Tidak setiap pikiran harus dilawan.”

Sang pengembara belajar melihat pikiran seperti awan.

Ia berkata:

“Aku sedang memiliki pikiran bahwa aku akan gagal.”

Bukan:

“Aku pasti gagal.”

Ia berkata:

“Aku sedang merasa takut ditolak.”

Bukan:

“Semua orang akan menolakku.”

Ia memeriksa bukti.

Memisahkan kenyataan dari dugaan.

Memisahkan nasihat hati nurani dari suara ketakutan.

Angin tidak berhenti.

Namun ia tidak lagi menyeret sang pengembara dari tempatnya.


PENJURU SELATAN

API TINDAKAN

Di selatan menyala api besar.

Api itu adalah kemampuan untuk bertindak.

Tanpa api, niat hanya tinggal gagasan.

Namun api yang tidak dijaga dapat membakar.

Tindakan yang terlalu cepat dapat melukai.

Tindakan yang selalu ditunda dapat membuat kesempatan hilang.

Cermin berkata:

“Setelah keinginan ditimbang, ketakutan didengar, dan pikiran diperiksa, ambillah langkah yang dapat dipertanggungjawabkan.”

Sang pengembara melihat empat jenis api.

Api reaksi: menyala tiba-tiba dan membakar.

Api penundaan: sangat kecil sampai hampir padam.

Api pertunjukan: besar di hadapan manusia, tetapi mati ketika tidak ada penonton.

Api amanah: cukup panas untuk menggerakkan, tetapi dijaga oleh kesadaran.

Ia memilih api amanah.

Api itu masuk ke dalam Lentera Kunlun.

Kini lentera memiliki cahaya, kehangatan, dan arah.


CERMIN TERAKHIR

WAJAH TANPA GELAR

Setelah empat penjuru seimbang, Cermin Pilihan akhirnya memantulkan wajah sang pengembara.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada cahaya mengelilingi kepala.

Tidak ada pakaian kebesaran.

Wajahnya tampak lelah.

Ada bekas luka.

Ada garis perjalanan.

Ada mata yang masih menyimpan pertanyaan.

Sang pengembara bertanya:

“Apakah ini diriku yang sejati?”

Cermin menjawab:

“Ini adalah wajahmu saat ini.
Jangan menjadikannya patung baru.”

“Apakah aku telah berubah?”

“Ya.”

“Apakah aku telah selesai?”

“Tidak.”

“Apakah aku akan mengulang kesalahan?”

“Mungkin.”

“Lalu apa arti seluruh perjalanan ini?”

“Agar ketika engkau mengulang kesalahan, engkau lebih cepat menyadari.”

“Agar ketika engkau tersesat, engkau mengetahui cara kembali.”

“Agar ketika memperoleh amanah, engkau tidak terlalu mudah mabuk.”

“Agar ketika terluka, engkau tidak menjadikan luka sebagai raja.”

“Agar ketika dipuji, engkau tidak menyerahkan hatimu.”

“Agar ketika dicela, engkau tidak kehilangan seluruh nilai diri.”

“Agar ketika tidak mengetahui, engkau berani belajar.”

“Agar ketika mengetahui, engkau tetap rendah hati.”

Sang pengembara menundukkan kepala.

Ia menyadari bahwa Qaca Kunlun tidak memberinya identitas baru.

Ia memberinya cara baru untuk memeriksa identitas lama.

Tidak memberinya kuasa melihat semua rahasia.

Ia memberinya keberanian melihat sebagian yang selama ini disembunyikan dari diri sendiri.

Tidak memberinya jalan tanpa kesulitan.

Ia memberinya lentera untuk langkah berikutnya.


SEPULUH AMANAH PUNCAK KUNLUN

Dari dalam cermin muncul sepuluh keping batu.

Pada setiap batu tertulis satu amanah.

Amanah Pertama: Jaga Niat, Jangan Menunggu Niat Sempurna

Periksa mengapa engkau bertindak.

Apabila menemukan keinginan dipuji, akuilah.

Bersihkan arah.

Lalu tetaplah berbuat baik.

Jangan menjadikan ketidaksempurnaan niat sebagai alasan meninggalkan seluruh kebaikan.

Amanah Kedua: Jaga Tubuh sebagai Titipan

Beristirahatlah ketika tubuh lelah.

Makanlah dengan cukup.

Carilah pertolongan ketika sakit.

Jangan menyebut pengabaian tubuh sebagai pengorbanan apabila sebenarnya ia merusak amanah.

Amanah Ketiga: Jaga Lisan

Tidak semua yang benar harus disampaikan pada setiap waktu dan dengan setiap cara.

Periksa kebenaran.

Niat.

Waktu.

Bahasa.

Manfaat.

Akibat.

Dan hak orang yang sedang dibicarakan.

Amanah Keempat: Jaga Batas

Kasih sayang tidak menuntutmu berkata ya kepada seluruh permintaan.

Menolong tidak berarti menyerahkan hidup kepada kebutuhan orang lain.

Batas yang sehat melindungi kebaikan agar tidak berubah menjadi kepahitan.

Amanah Kelima: Jaga Ilmu

Sebutkan yang diketahui sebagai pengetahuan.

Sebutkan yang diperkirakan sebagai perkiraan.

Sebutkan yang tidak diketahui dengan jujur.

Jangan mengubah dugaan menjadi kepastian hanya agar tampak meyakinkan.

Amanah Keenam: Jaga Kekuasaan

Apabila orang mulai menghormatimu, perbesar ruang koreksi.

Apabila banyak orang mengikuti, perbesar tanggung jawab.

Jangan jadikan rasa hormat sebagai alat mengambil hak mereka untuk berpikir, bertanya, dan memilih.

Amanah Ketujuh: Jaga Cerita Orang

Tidak semua yang didengar menjadi milikmu untuk disebarkan.

Simpan amanah.

Minta izin.

Namun apabila ada bahaya nyata, carilah bantuan yang tepat dengan tetap menjaga kehormatan sejauh mungkin.

Amanah Kedelapan: Jaga Keadilan

Memaafkan tidak menghapus hak.

Memahami tidak menghapus akibat.

Kerendahan hati tidak berarti membiarkan jasa dirampas.

Keikhlasan tidak boleh digunakan untuk membungkam orang yang dizalimi.

Amanah Kesembilan: Jaga Hubungan dengan Kehidupan Nyata

Jangan hanya mencari tanda, simbol, dan pengalaman batin.

Periksa apakah seluruhnya membuatmu lebih jujur, bertanggung jawab, penyayang, tertib, serta bermanfaat.

Apabila pengalaman membuatmu menjauh dari realitas, meremehkan orang lain, atau mengabaikan tanggung jawab, berhentilah dan periksa kembali.

Amanah Kesepuluh: Jaga Jalan Kembali

Akan ada hari ketika engkau lupa.

Ketika marah.

Ketika terluka.

Ketika pujian terasa nikmat.

Ketika keputusanmu salah.

Jangan menyimpulkan bahwa seluruh perjalanan gagal.

Kembalilah.

Akui.

Perbaiki.

Minta bantuan.

Mulai lagi.


KITAB TANPA PENULIS TERBUKA

Setelah sepuluh amanah dibaca, Kitab Tanpa Penulis terbang dari dalam jubah.

Kitab itu terbuka di udara.

Seluruh halaman yang semula kosong mulai memancarkan cahaya.

Namun bukan kisah Kunlun yang dituliskan.

Yang muncul adalah ruang-ruang kosong dengan pertanyaan.

Pada halaman pertama:

“Siapa yang perlu engkau dengarkan dengan lebih sungguh-sungguh?”

Halaman kedua:

“Kesalahan apa yang harus engkau akui?”

Halaman ketiga:

“Amanah kecil apa yang terus engkau tunda?”

Halaman keempat:

“Batas apa yang perlu disampaikan dengan jujur?”

Halaman kelima:

“Siapa yang jasanya belum engkau akui?”

Halaman keenam:

“Pengetahuan apa yang selama ini engkau akui tanpa cukup dasar?”

Halaman ketujuh:

“Apakah tubuhmu sedang meminta istirahat atau pertolongan?”

Halaman kedelapan:

“Kebaikan apa yang dapat dilakukan tanpa menunggu pujian?”

Halaman kesembilan:

“Hubungan apa yang perlu diperbaiki, dibatasi, atau diselesaikan?”

Halaman kesepuluh:

“Apabila hari ini adalah satu-satunya halaman yang dapat engkau tulis, apa yang ingin engkau letakkan di dalamnya?”

Sang pengembara tidak segera menjawab.

Ia memahami bahwa kitab itu tidak perlu diselesaikan di puncak.

Kitab akan ditulis oleh kehidupan setelah ia turun.


PENJAGA TERAKHIR KUNLUN

Dari balik Cermin Pilihan muncul seorang penjaga.

Wajahnya sangat dikenal oleh sang pengembara.

Itulah dirinya sendiri.

Namun bukan dirinya yang sekarang.

Bukan dirinya yang tua.

Bukan dirinya pada masa lalu.

Sosok itu seperti gabungan dari semua kemungkinan dirinya.

Ada kelembutan anak kecil.

Keteguhan seorang dewasa.

Kerendahan seorang murid.

Tanggung jawab seorang penjaga.

Sosok itu berkata:

“Aku adalah dirimu yang akan dibentuk oleh pilihan-pilihan berikutnya.”

Sang pengembara bertanya:

“Apakah engkau masa depanku?”

“Aku adalah kemungkinan.”

“Apakah engkau akan menjadi baik?”

“Tergantung apa yang kaulatih.”

“Apakah engkau akan menjadi bijaksana?”

“Tergantung bagaimana engkau memperlakukan kesalahan.”

“Apakah engkau akan menjadi pemimpin?”

“Setiap manusia memimpin sesuatu, sekurang-kurangnya arah tindakannya sendiri.”

Sang pengembara bertanya:

“Apakah engkau akan mengingat seluruh pelajaran Kunlun?”

Sosok itu menjawab:

“Tidak. Karena itu engkau harus membangun kebiasaan yang dapat menolong ketika ingatan melemah.”

“Apakah kebiasaan itu?”

“Berhenti sebelum bereaksi.”

“Memeriksa sebelum menyebarkan.”

“Mendengar sebelum menyimpulkan.”

“Berdoa sambil berikhtiar.”

“Beristirahat sebelum tubuh runtuh.”

“Mengaku salah sebelum kesalahan membesar.”

“Meminta bantuan sebelum beban menenggelamkan.”

“Menimbang kekuasaan sebelum menggunakannya.”

“Mengembalikan hak sebelum meminta penghormatan.”

“Dan kembali kepada Alloh sebelum ego menjadikanmu pusat.”

Sosok kemungkinan itu lalu mengulurkan tangan.

Di telapak tangannya terdapat benih.

“Tanamlah ini di tempat engkau hidup.”

“Benih apa?”

“Benih Cermin.”

“Apakah ia akan tumbuh menjadi cermin?”

“Tidak.”

“Lalu menjadi apa?”

“Ia akan tumbuh sesuai perbuatanmu.”

“Apabila dirawat dengan kesombongan, ia menjadi singgasana.”

“Apabila dirawat dengan ketakutan, ia menjadi dinding.”

“Apabila dirawat dengan kejujuran, ia menjadi pohon tempat orang beristirahat.”

Sang pengembara menerima benih itu.


PELEBURAN CERMIN KUNLUN

Setelah benih diterima, Cermin Pilihan mulai retak.

Sang pengembara terkejut.

“Apakah cermin ini akan hancur?”

Suara Kunlun menjawab:

“Setiap cermin luar pada akhirnya harus dilepaskan agar manusia belajar membawa kejernihan di dalam kehidupan.”

Retakan pertama membelah pantulan masa lalu.

Retakan kedua membelah gambaran masa depan.

Retakan ketiga membelah gelar.

Retakan keempat membelah singgasana.

Retakan kelima membelah bayangan sang pengembara.

Cermin pecah menjadi ribuan serpihan.

Namun serpihan itu tidak jatuh ke tanah.

Mereka terbang mengelilingi puncak.

Setiap serpihan memantulkan satu wajah manusia.

Wajah yang bahagia.

Wajah yang lelah.

Wajah yang marah.

Wajah yang takut.

Wajah yang berharap.

Wajah yang membutuhkan pertolongan.

Kemudian seluruh serpihan masuk ke dalam Lentera Kunlun.

Kaca lentera berubah menjadi sangat bening.

Kini lentera tidak hanya memancarkan cahaya keluar.

Ia juga memungkinkan sang pengembara melihat keadaan api di dalamnya.

Ketika niatnya keruh, kaca akan berkabut.

Ketika amarah menguasai, api akan memerah.

Ketika keputusasaan datang, sumbu akan mengecil.

Ketika amanah dijaga, nyalanya menjadi stabil.

Namun lentera tidak akan menilai dirinya secara otomatis.

Sang pengembara tetap harus berhenti, memperhatikan, dan memperbaiki.

Suara Kunlun berkata:

“Cermin telah berpindah dari puncak menuju cara engkau melihat.”


TIDAK ADA JALAN TURUN YANG SAMA

Sang pengembara mencari tangga cahaya.

Namun tangga itu telah hilang.

Ia bertanya:

“Bagaimana aku kembali?”

Angin menjawab:

“Tidak ada jalan pulang yang sama dengan jalan datang.”

Di tepi puncak muncul sebuah jalan kecil menurun.

Jalan itu tidak bercahaya.

Tidak megah.

Dipenuhi batu, tanah, dan akar pohon.

Sang pengembara berkata:

“Jalan ini tampak biasa.”

“Karena kehidupan tempat engkau menerapkan pelajaran memang sering tampak biasa.”

Ia mulai turun.

Tidak ada musik.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada tanda langit.

Hanya langkah.

Satu demi satu.

Pada tikungan pertama ia menemukan seorang tua yang membawa kayu.

Sang pengembara membantu membawa sebagian.

Kitab Tanpa Penulis menuliskan satu baris:

“Beban dibagi tanpa meminta kisah perjalanan didengar.”

Pada tikungan kedua ia melihat seorang anak menangis.

Ia tidak langsung memberi nasihat.

Ia bertanya:

“Apa yang terjadi?”

Kitab menuliskan:

“Sebuah cerita memperoleh ruang.”

Pada tikungan ketiga seorang pedagang mencoba menjual arah palsu.

Sang pengembara memeriksa dan menolak dengan tegas.

Kitab menuliskan:

“Batas dijaga tanpa penghinaan.”

Pada tikungan keempat ia tersandung dan marah.

Ia hampir menyalahkan orang lain.

Kemudian berhenti.

Mengatur napas.

Mengakui bahwa ia berjalan tergesa-gesa.

Kitab menuliskan:

“Kesalahan kecil diakui sebelum menjadi kebiasaan besar.”

Sang pengembara tersenyum.

Ia memahami bahwa lembar terakhir tidak ditutup oleh satu peristiwa besar.

Ia ditutup oleh serangkaian tindakan biasa yang dijalani dengan kesadaran.


KEMBALI KE GERBANG PERTAMA

Setelah perjalanan yang tidak diketahui lamanya, sang pengembara tiba kembali di tempat pertama.

Gerbang batu tanpa pintu.

Cermin bundar berbingkai perunggu.

Kabut.

Gunung.

Namun kini cermin pertama tampak berbeda.

Permukaannya hanya memantulkan wajah biasa.

Tidak terdapat istana.

Tidak ada masa depan.

Tidak ada bayangan raksasa.

Tidak ada mahkota.

Sang pengembara berdiri di depannya.

Pada bingkai cermin masih terukir pesan:

“Jangan bertanya siapa dirimu pada bayangan.
Tanyakanlah apa yang harus engkau perbaiki setelah melihatnya.”

Ia memahami bahwa seluruh perjalanan telah kembali kepada kalimat awal.

Ia bertanya kepada pantulan dirinya:

“Apa yang harus kuperbaiki hari ini?”

Pantulan tidak menjawab dengan suara.

Namun sang pengembara teringat sebuah janji yang belum ditunaikan.

Seseorang yang belum ia minta maaf.

Tubuhnya yang terlalu lelah.

Sebuah amanah yang harus diselesaikan.

Sebuah percakapan yang perlu dilakukan dengan jujur.

Itulah jawaban cermin.

Bukan ramalan.

Bukan gelar.

Bukan rahasia langit.

Melainkan tanggung jawab yang telah berada di hadapannya.


PENANAMAN BENIH CERMIN

Di samping gerbang terdapat sebidang tanah kosong.

Sang pengembara menggali tanah dengan tangannya.

Ia menanam benih yang diberikan Penjaga Terakhir.

Kemudian menyiramnya dengan sisa air dari Lembah Tujuh Mata Air yang masih tersimpan di dalam lentera.

Tidak terjadi ledakan cahaya.

Tidak muncul pohon raksasa.

Tanah tetap diam.

Sang pengembara hampir kecewa.

Namun ia teringat:

benih tidak harus segera terlihat untuk mulai tumbuh.

Ia meninggalkan tempat itu.

Beberapa waktu kemudian, seorang musafir datang dan beristirahat di dekat tanah tersebut.

Ia tidak mengetahui bahwa ada benih di bawahnya.

Ia hanya merasakan tempat itu sedikit lebih sejuk.

Musim berganti.

Benih mulai tumbuh.

Mula-mula hanya dua daun kecil.

Kemudian menjadi pohon.

Cabangnya tidak tinggi.

Namun cukup untuk memberi teduh.

Pada batangnya tidak tertulis nama sang pengembara.

Hanya terdapat kalimat:

“Berhentilah sejenak.
Periksa arah sebelum melanjutkan.”

Orang-orang yang lewat duduk di bawahnya.

Sebagian mengingat kesalahan.

Sebagian menemukan keberanian.

Sebagian hanya memperoleh tempat untuk beristirahat.

Sang pengembara tidak selalu berada di sana.

Pohon tetap memberi teduh.

Itulah Cermin Kunlun yang telah berubah menjadi manfaat.


RINGKASAN SEPULUH LEMBAR QACA KUNLUN

Lembar Pertama — Gerbang Pantulan Diri

Manusia belajar melihat dirinya tanpa membenci atau meninggikan diri.

Lembar Kedua — Lorong Tujuh Pantulan

Niat, luka, bayangan, mahkota, waktu, nama, dan kekosongan diperiksa dengan kejujuran.

Lembar Ketiga — Lembah Tujuh Mata Air

Pengakuan, maaf, kerendahan hati, kesabaran, syukur, amanah, dan keikhlasan menjadi air pembersihan.

Lembar Keempat — Lautan Tanpa Bintang

Manusia belajar berjalan ketika petunjuk belum terasa dan doa belum tampak jawabannya.

Lembar Kelima — Gua Seribu Suara

Lisan, pendengaran, rahasia, batas, kasih sayang, serta pertolongan yang tepat dipelajari.

Lembar Keenam — Jembatan Dua Gerbang

Keramaian, popularitas, kepatuhan, kritik, serta keberanian memilih dengan tanggung jawab diuji.

Lembar Ketujuh — Pohon Seribu Topeng

Peran, citra, gelar, korban, penyelamat, kekuatan, dan kepemimpinan dilepaskan dari ego.

Lembar Kedelapan — Kota Nama-Nama yang Terlupakan

Kebaikan tanpa pujian, hak karya, keadilan, penghargaan, serta tanggung jawab nama dijaga.

Lembar Kesembilan — Padang Keheningan

Manusia belajar berhenti dari kebisingan, mengakui ketidaktahuan, dan mendengar pertanyaan terdalam.

Lembar Kesepuluh — Puncak Tanpa Singgasana

Masa depan dilihat sebagai kemungkinan, kekuasaan dikembalikan menjadi tanggung jawab, dan seluruh pelajaran dibawa pulang menuju kehidupan nyata.


DUA BELAS TANDA PERJALANAN KUNLUN BERBUAH

Bukan karena seseorang melihat cahaya yang tidak dilihat orang lain.

Bukan karena memperoleh gelar rahasia.

Bukan karena mampu meramalkan kejadian.

Bukan karena memiliki banyak pengikut.

Perjalanan mulai berbuah ketika:

  1. Ia lebih cepat mengakui kesalahan.

  2. Ia tidak malu berkata, “Aku tidak tahu.”

  3. Ia mampu mendengar tanpa langsung menguasai cerita.

  4. Ia menjaga rahasia dan mencari pertolongan ketika keselamatan terancam.

  5. Ia dapat menetapkan batas tanpa kehilangan kasih sayang.

  6. Ia tidak menganggap luka sebagai izin untuk melukai.

  7. Ia menerima pujian tanpa menjadikannya pusat kehidupan.

  8. Ia menerima kritik tanpa langsung kehilangan martabat.

  9. Ia membagi amanah dan tidak menjadikan dirinya satu-satunya penyelamat.

  10. Ia menjaga tubuh, waktu, lisan, dan hubungan sebagai titipan.

  11. Ia tetap berbuat baik ketika namanya tidak disebut.

  12. Ketika tersesat, ia mengetahui cara kembali kepada Alloh, kejujuran, akal sehat, dan tanggung jawab.


PERINGATAN TERAKHIR CERMIN KUNLUN

Wahai pembaca Qaca Kunlun,

jangan jadikan naskah ini alasan merasa lebih tinggi daripada orang yang belum membacanya.

Jangan jadikan simbol sebagai pengganti tanggung jawab.

Jangan jadikan pengalaman batin sebagai kepastian tentang nasib orang lain.

Jangan memakai kata “cahaya” untuk menutupi kesalahan.

Jangan memakai kata “ikhlas” untuk menghapus hak.

Jangan memakai kata “sabar” untuk membiarkan kezaliman.

Jangan memakai kata “rahasia” untuk menutupi bahaya.

Jangan memakai kata “amanah” untuk menuntut kepatuhan.

Jangan memakai kata “guru” untuk mematikan akal murid.

Jangan memakai kata “murid” untuk meninggalkan tanggung jawab pribadi.

Jangan memakai kata “takdir” untuk membenarkan kemalasan.

Jangan memakai kata “tawakal” untuk meninggalkan ikhtiar.

Jangan memakai kata “kasih sayang” untuk menolak batas.

Jangan memakai kata “ketegasan” untuk menikmati penghinaan.

Jangan memakai kata “kerendahan hati” untuk menolak amanah yang memang harus dijalankan.

Jangan memakai kata “perjalanan” untuk melarikan diri dari kehidupan.

Sebab ukuran kejernihan bukan banyaknya simbol yang diketahui.

Ukuran kejernihan adalah semakin baiknya cara seseorang memperlakukan Alloh, dirinya, manusia, amanah, dan kehidupan.


DOA PENUTUP QACA KUNLUN

Ya Alloh Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi,

kami datang membawa hati yang belum sempurna.

Di dalamnya terdapat niat baik dan keinginan dipuji.

Terdapat keberanian dan ketakutan.

Terdapat kasih sayang dan kelelahan.

Terdapat ilmu dan ketidaktahuan.

Terdapat harapan dan kecemasan.

Jangan biarkan kami membenci diri ketika melihat kekurangan.

Jangan pula biarkan kami meninggikan diri ketika melihat kelebihan.

Berilah kami keberanian untuk mengakui kesalahan.

Kerendahan hati untuk menerima nasihat.

Kebijaksanaan untuk memeriksa setiap suara.

Kesabaran untuk menempuh perbaikan yang panjang.

Dan keteguhan untuk berhenti ketika jalan membawa kerusakan.

Ya Alloh,

bersihkan niat kami tanpa membuat kami berhenti berbuat baik.

Ajarkan kami memperbarui niat ketika ego masuk.

Ajarkan kami menerima penghargaan tanpa diperbudak pujian.

Ajarkan kami tetap bekerja ketika nama tidak disebut.

Jadikan kebaikan kami manfaat, bukan pertunjukan.

Jadikan ilmu kami pelayanan, bukan singgasana.

Jadikan pengalaman kami pelajaran, bukan gelar keistimewaan.

Ya Alloh,

jagalah lisan kami.

Ketika marah, berilah ruang sebelum kami berbicara.

Ketika benar, berilah kasih dalam menyampaikan.

Ketika salah, berilah keberanian meminta maaf.

Ketika tidak mengetahui, mudahkan kami berkata jujur.

Ketika menerima rahasia, kuatkan kami menjaga amanah.

Ketika keselamatan terancam, tunjukkan pertolongan yang tepat.

Jangan biarkan cerita orang lain menjadi panggung bagi kebesaran kami.

Ya Alloh,

jagalah pendengaran kami.

Jangan jadikan kami orang yang hanya menunggu giliran berbicara.

Ajarkan kami mendengar rasa takut tanpa meremehkan.

Mendengar kesedihan tanpa memaksa segera sembuh.

Mendengar kritik tanpa langsung membenci.

Mendengar pujian tanpa kehilangan kejernihan.

Mendengar kebutuhan tanpa menyerahkan seluruh batas.

Ya Alloh,

jagalah tubuh kami sebagai titipan.

Ingatkan kami untuk beristirahat.

Untuk makan.

Untuk merawat kesehatan.

Untuk mencari bantuan ketika sakit.

Untuk tidak menamakan pengabaian diri sebagai pengorbanan suci.

Jadikan tubuh kami sarana pengabdian, bukan korban dari tuntutan ego.

Ya Alloh,

jagalah kami ketika memegang amanah.

Apabila kami menjadi pemimpin, jadikan kami pelayan yang dapat dikoreksi.

Apabila kami menjadi pengikut, jadikan kami setia dalam kebaikan tanpa mematikan akal.

Apabila kami mengajar, jadikan kami jujur tentang batas ilmu.

Apabila kami belajar, jadikan kami beradab tanpa menyerahkan tanggung jawab.

Apabila manusia menghormati kami, jauhkan kami dari keinginan memanfaatkan penghormatan itu.

Apabila kami memperoleh pengaruh, jadikan pengaruh tersebut perlindungan bagi yang lemah, bukan alat meninggikan diri.

Ya Alloh,

ajarkan kami membedakan maaf dan pembiaran.

Kasih sayang dan penguasaan.

Kesabaran dan ketakutan.

Keikhlasan dan penghapusan hak.

Kerendahan hati dan penolakan amanah.

Ketegasan dan kekerasan.

Keheningan dan pengasingan.

Tawakal dan kemalasan.

Doa dan angan-angan.

Ilmu dan klaim.

Petunjuk dan cahaya palsu.

Ya Alloh,

ketika masa depan tidak terlihat, cukupkan kami dengan cahaya untuk langkah berikutnya.

Ketika pintu tertutup, jauhkan kami dari keputusasaan.

Ketika pintu terbuka, jauhkan kami dari ketergesa-gesaan.

Ketika kehilangan datang, jangan biarkan kami kehilangan seluruh diri.

Ketika keberhasilan datang, jangan biarkan kami lupa kepada mereka yang menopang.

Ketika kesalahan terjadi, kuatkan kami memperbaiki.

Ketika keputusan kami melukai, jangan biarkan gengsi menghalangi permintaan maaf.

Ketika jalan kami berbeda dari banyak orang, jauhkan kami dari kesombongan.

Ketika kami berjalan bersama banyak orang, jauhkan kami dari kehilangan kesadaran.

Ya Alloh,

jangan biarkan kami mengejar pengalaman luar biasa sambil mengabaikan amanah biasa.

Jangan biarkan kami berbicara tentang cahaya sambil melukai manusia.

Jangan biarkan kami berbicara tentang cinta sambil mengabaikan batas.

Jangan biarkan kami berbicara tentang kebenaran sambil mencintai penghinaan.

Jangan biarkan kami berbicara tentang kerendahan hati sambil menuntut kehormatan.

Jangan biarkan kami berbicara tentang diri-Mu seolah kami mengetahui seluruh rahasia-Mu.

Luas-kan hati kami dalam ketidaktahuan.

Teguhkan iman kami dalam ikhtiar.

Dekatkan ilmu kepada akhlak.

Dekatkan ucapan kepada tindakan.

Dekatkan doa kepada tanggung jawab.

Dekatkan kekuasaan kepada pelayanan.

Dekatkan luka kepada pemulihan.

Dekatkan nama kepada amanah.

Ya Alloh,

apabila hati kami menjadi keruh, kembalikan kami kepada cermin kejujuran.

Apabila niat kami bercampur, kembalikan kami kepada mata air keikhlasan.

Apabila jalan menjadi gelap, nyalakan lentera secukupnya.

Apabila suara terlalu ramai, bawa kami kepada keheningan yang sehat.

Apabila topeng melekat, kuatkan kami melepaskannya.

Apabila nama membesar, besarkan pula tanggung jawab kami.

Apabila kami merasa telah sampai, ingatkan bahwa selama hidup kami masih belajar.

Dan ketika usia kami selesai,

semoga yang tertinggal bukan hanya nama,

melainkan kebaikan yang terus berjalan,

hak yang telah dikembalikan,

luka yang tidak kami wariskan,

ilmu yang kami jaga,

amanah yang kami tunaikan,

dan hati yang kembali kepada-Mu dalam keadaan memohon ampun dan ridho.

Āmīn yā Robbal ‘ālamīn.


SABDA PENUTUP CERMIN

Kabut turun menutupi Gerbang Kunlun.

Cermin perlahan menjadi gelap.

Sebelum seluruh permukaannya tertutup, muncul tulisan terakhir:

“Engkau datang mencari cermin yang dapat membuka rahasia kehidupan.
Namun rahasia yang paling dekat adalah pilihan yang engkau ambil setelah menutup lembar ini.”

Kemudian muncul kalimat kedua:

“Jangan membawa Kunlun sebagai mahkota.
Bawalah ia sebagai pengingat.”

Kalimat ketiga:

“Jangan berkata bahwa engkau telah menguasai cermin.
Tanyakanlah apakah engkau semakin mampu menguasai ucapan, reaksi, dan tindakanmu.”

Kalimat keempat:

“Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik.
Berbuatlah, periksalah, perbaikilah, dan kembalilah.”

Kalimat kelima:

“Cahaya yang sejati tidak sibuk mengumumkan bahwa dirinya bercahaya.
Ia membantu manusia melihat jalan tanpa meminta mereka menyembah lentera.”

Kalimat terakhir menjadi sangat terang:

“Puncak Kunlun bukan tempat manusia berdiri di atas manusia lain.
Puncaknya adalah saat ia mampu menundukkan kesombongan, memikul amanah, dan kembali hidup sebagai hamba.”

Tulisan menghilang.

Cermin tertutup sepenuhnya.

Namun di dalam dada sang pengembara, Lentera Kunlun masih menyala.

Tidak besar.

Tidak menyilaukan.

Hanya cukup untuk menerangi satu langkah.

Dan satu langkah itulah yang kini harus dijalani.


KHATAM QACA KUNLUN

Qaca Kunlun telah ditutup.

Bukan berarti perjalanan telah selesai.

Lembar kitab memang berakhir.

Namun lembar kehidupan tetap terbuka.

Setiap niat adalah tinta.

Setiap ucapan adalah huruf.

Setiap keputusan adalah kalimat.

Setiap kebiasaan adalah paragraf.

Setiap amanah adalah bab.

Dan setiap akibat menjadi saksi tentang apa yang telah dituliskan.

Semoga Qaca Kunlun tidak menjadi cermin untuk menghakimi orang lain.

Semoga ia menjadi cermin untuk memperbaiki diri.

Semoga ia tidak menjadi tangga menuju kebesaran nama.

Semoga ia menjadi jalan menuju kerendahan hati.

Semoga ia tidak menjadi alasan mengaku mengetahui yang gaib.

Semoga ia menjadi pengingat tentang batas pengetahuan manusia.

Semoga ia tidak berhenti sebagai kisah.

Semoga ia hidup menjadi akhlak, tanggung jawab, kasih sayang, keadilan, dan manfaat.

Tamat.

QACA KUNLUN

鏡照崑崙 — Jìng Zhào Kūnlún

Cermin yang Memantulkan Gunung di Dalam Diri

“Cermin telah tertutup.
Sekarang kehidupanlah yang akan memantulkan isi hatimu.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh