PUISI PINTU TINGKAT 89 NAFIS AHBAQIMULLOH
KATA PENGANTAR
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Segala puji bagi Alloh, Tuhan Yang Maha Mengasihi, yang memberikan manusia hati untuk merasa, akal untuk memahami, serta kehidupan sebagai tempat belajar memperbaiki diri.
Puisi “Pintu Tingkat 89 – NAFIS AHBAQIMULLOH” lahir sebagai perjalanan simbolik tentang manusia yang mencari kejernihan hati.
Di dalamnya terdapat 3 bunga ungu bersinar, 9 bunga pelangi jernih, dan 14 bunga putih suci. Semua itu bukan sekadar hiasan dalam puisi, tetapi bahasa perlambang yang mengajak pembaca masuk lebih dalam kepada dirinya sendiri.
Tiga bunga ungu mengingatkan tentang ketenangan, kejernihan pikiran, dan pengendalian diri.
Sembilan bunga pelangi menggambarkan keluasan jalan kehidupan, perbedaan manusia, serta berbagai sifat baik yang dapat tumbuh dalam diri.
Empat belas bunga putih suci menjadi lambang penjagaan hati, niat, ucapan, ilmu, amanah, keluarga, persaudaraan, waktu, harta, hingga tanggung jawab manusia kepada Alloh.
Sedangkan Pintu Tingkat 89 dalam puisi ini merupakan simbol perjalanan batin.
Semakin jauh seseorang berjalan, ia tidak diarahkan untuk merasa semakin tinggi, melainkan semakin sadar bahwa ilmu, pengalaman, kemampuan, dan kepercayaan merupakan amanah yang harus melahirkan akhlak.
Karena itu perjalanan dalam puisi ini akhirnya tidak berhenti pada pintu, cahaya, taman, ataupun bunga.
Ia kembali kepada kehidupan sehari-hari.
Kepada bagaimana seseorang berbicara.
Bagaimana ia memperlakukan keluarga.
Bagaimana ia menjaga amanah.
Bagaimana ia menggunakan ilmu.
Bagaimana ia bersikap ketika memiliki kekuasaan.
Bagaimana ia bertindak ketika disakiti.
Dan bagaimana ia tetap bersyukur ketika mendapatkan kebaikan.
Puisi ini hendak mengatakan bahwa perjalanan batin tidak cukup hanya menghasilkan pengalaman yang indah.
Perjalanan itu baru memperoleh makna ketika menjadikan seseorang:
lebih lembut,
lebih sabar,
lebih jujur,
lebih dapat dipercaya,
lebih rendah hati,
dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Karena cahaya yang paling berharga bukanlah cahaya yang sekadar terlihat oleh mata.
Cahaya yang paling berharga adalah cahaya yang berubah menjadi akhlak dan manfaat.
Semoga setiap pembaca tidak hanya menemukan keindahan kata-kata dalam puisi ini, tetapi juga menemukan sebuah cermin untuk melihat kembali dirinya sendiri.
Jika ada kesombongan, semoga dapat dilembutkan.
Jika ada luka, semoga dapat disembuhkan.
Jika ada amanah, semoga dapat dijaga.
Jika ada ilmu, semoga dapat dimanfaatkan.
Jika ada kemampuan, semoga dapat digunakan untuk menolong.
Dan apabila kehidupan membawa kita semakin tinggi, semoga hati justru semakin mampu merendah di hadapan Alloh.
Sebab pada akhirnya, bukan berapa banyak pintu yang telah kita buka yang terpenting.
Tetapi:
berapa banyak kebaikan yang lahir setelah kita melewatinya.
Semoga puisi ini menjadi bacaan perenungan, pengingat diri, serta ajakan untuk menjadikan kehidupan sebagai Taman Seribu Manfaat.
PUISI PINTU TINGKAT 89
NAFIS AHBAQIMULLOH
Di hadapan Pintu Delapan Puluh Sembilan,
tiga bunga ungu menyala tanpa membakar,
menjadi tanda bahwa kekuatan sejati
tidak selalu datang dengan suara keras,
tetapi lahir dari hati yang tenang.
Lalu sembilan bunga pelangi jernih terbuka,
sembilan warna, sembilan jalan,
namun semuanya memantulkan cahaya yang sama.
Yang berbeda tidak harus berpisah,
yang berwarna tidak harus kehilangan kejernihan.
Sesudahnya tumbuh empat belas bunga putih suci,
seakan menjadi pagar bagi niat,
agar langkah tidak dikotori kesombongan,
agar ilmu tidak berubah menjadi keangkuhan,
dan agar kekuatan tetap tunduk kepada kasih.
NAFIS AHBAQIMULLOH—
jiwa yang belajar mencintai Alloh
dengan kejernihan, kesabaran, dan adab.
Tiga adalah peneguh batin.
Sembilan adalah keluasan jalan.
Empat belas adalah penyempurnaan penjagaan.
Maka Pintu 89 bukan sekadar pintu untuk dibuka,
melainkan lambang bahwa sebelum seseorang
melangkah lebih jauh,
hatinya harus lebih dahulu menjadi terang.
Bukan siapa yang paling tinggi tingkatnya,
melainkan siapa yang semakin rendah hati
ketika cahaya semakin banyak diberikan kepadanya.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — NAFIS AHBAQIMULLOH
Sesudah tiga bunga ungu bersinar,
sesudah sembilan bunga pelangi jernih,
sesudah empat belas bunga putih suci,
datanglah satu keheningan panjang
yang tidak berbentuk bunga,
namun menjadi ruang bagi seluruh bunga untuk bernapas.
Di sanalah hati diuji.
Bukan diuji dengan kegelapan,
melainkan dengan cahaya yang terlalu terang.
Sebab tidak semua jiwa mampu tetap rendah
ketika merasa telah melihat sesuatu yang tinggi.
Tiga bunga ungu berkata:
“Jangan terburu menyebut dirimu telah sampai.”
Sembilan bunga pelangi menjawab:
“Setiap warna hanyalah jalan,
bukan tujuan terakhir.”
Empat belas bunga putih kemudian terbuka perlahan,
satu demi satu,
seperti empat belas lapisan kesadaran
yang membersihkan pandangan dari rasa memiliki.
Bunga pertama membersihkan niat.
Bunga kedua menjaga lisan.
Bunga ketiga menenangkan amarah.
Bunga keempat melembutkan pandangan.
Bunga kelima menguatkan sabar.
Bunga keenam mengingatkan amanah.
Bunga ketujuh menjaga rahasia.
Bunga kedelapan memurnikan pengabdian.
Bunga kesembilan menundukkan kesombongan.
Bunga kesepuluh menghidupkan kasih.
Bunga kesebelas meneguhkan istiqamah.
Bunga kedua belas mengajarkan diam.
Bunga ketiga belas membuka kejernihan.
Bunga keempat belas mengembalikan semuanya kepada Alloh.
Lalu terdengar bahasa simbolik dari balik Pintu 89:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Bukan suara yang memerintah,
melainkan panggilan agar jiwa
tidak mencintai cahaya lebih daripada Sumber Cahaya.
Karena bunga dapat gugur.
Warna dapat memudar.
Penglihatan dapat berubah.
Tetapi hati yang menjaga adab
akan tetap menemukan jalan pulang.
Maka siapa yang berdiri di Pintu 89,
jangan membawa kebanggaan.
Bawalah kerendahan hati.
Jangan membawa tuntutan.
Bawalah doa.
Jangan merasa paling mengetahui.
Bawalah kesediaan untuk terus belajar.
Sebab pintu yang paling tinggi
bukanlah pintu yang membawa manusia
merasa lebih mulia daripada yang lain.
Pintu tertinggi adalah
ketika semakin banyak cahaya yang dipahami,
semakin lembut pula cara seseorang
memperlakukan sesamanya.
Dan di ujung lembar itu tertulis:
“Jangan hitung berapa bunga yang telah engkau lihat.
Hitunglah berapa sifat buruk
yang telah gugur dari dalam dirimu.”
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — TAMAN DI BALIK CAHAYA
Setelah empat belas bunga putih suci
menutup lingkaran pertama,
terbukalah taman yang tidak gaduh oleh warna.
Di sana, tiga bunga ungu
tidak lagi berdiri sebagai tanda kekuatan,
melainkan sebagai penjaga ketenangan.
Sembilan bunga pelangi
tidak lagi memamerkan keindahan,
tetapi memecah satu cahaya
menjadi banyak jalan pengertian.
Dan empat belas bunga putih
berdiri seperti saksi
bahwa kejernihan tidak lahir dari banyak bicara,
melainkan dari hati yang terus dibersihkan.
Lalu angin tipis melintas.
Ia membawa pesan:
“Barang siapa ingin masuk lebih dalam,
jangan bertanya lebih dahulu
apa yang akan ia dapatkan.
Tanyakan apa yang harus ia lepaskan.”
Maka satu demi satu
beban batin diletakkan di tanah:
rasa ingin dipuji,
rasa ingin dianggap mengetahui,
rasa ingin menang sendiri,
rasa ingin didahulukan,
rasa ingin diakui paling dekat dengan cahaya.
Setelah semuanya diletakkan,
barulah bunga-bunga itu kembali bersinar.
Bukan karena cahayanya bertambah,
tetapi karena penghalangnya berkurang.
Di tengah taman,
terdapat satu titik putih
lebih kecil daripada embun.
Namun dari titik itulah
seluruh warna memancar.
Tiga bunga ungu menunduk.
Sembilan bunga pelangi merapat.
Empat belas bunga putih mengelilinginya.
Lalu tertulis satu kalimat:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Jiwa yang lembut
tidak sibuk menunjukkan dirinya.
Jiwa yang jernih
tidak mudah menghakimi.
Jiwa yang mencintai Alloh
semakin banyak memberi teduh,
bukan semakin banyak menuntut pengakuan.
Dan Pintu 89 kembali berbisik:
“Bila engkau melihat cahaya,
jangan buru-buru merasa menjadi cahaya.
Jadilah tempat
di mana orang lain menemukan ketenangan.”
Di situlah perjalanan berikutnya dimulai.
Bukan menuju tempat yang lebih tinggi,
melainkan menuju hati
yang semakin luas.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — LINGKARAN KEJERNIHAN
Ketika taman di balik cahaya mulai hening,
tiga bunga ungu kembali bergetar pelan.
Bukan karena angin,
melainkan karena satu panggilan
yang datang dari dalam diri.
Sembilan bunga pelangi jernih
membentuk lingkaran.
Empat belas bunga putih suci
berdiri di luarnya,
seperti pagar kesadaran
agar jiwa tidak tersesat oleh keindahan yang dilihatnya sendiri.
Lalu cahaya di tengah lingkaran berkata:
“Jangan hanya mencari tanda di luar dirimu.
Periksalah apa yang tumbuh di dalam hatimu.”
Jika yang tumbuh adalah kasih,
maka cahaya sedang bekerja.
Jika yang tumbuh adalah kesabaran,
maka bunga sedang mekar.
Jika yang tumbuh adalah kejujuran,
maka pintu sedang terbuka.
Namun jika yang tumbuh adalah kesombongan,
maka berhentilah sejenak.
Sebab tidak semua kilau
adalah petunjuk untuk melangkah lebih jauh.
Ada saatnya manusia perlu diam,
merapikan niat,
membersihkan pandangan,
dan mengembalikan semuanya kepada Alloh.
Tiga bunga ungu lalu menyatu dalam satu makna:
tenang dalam hati,
jernih dalam pikiran,
lembut dalam tindakan.
Sembilan bunga pelangi menyambung:
sembilan jalan boleh berbeda,
tetapi semuanya harus menuju kebaikan.
Empat belas bunga putih kemudian bersinar bersama:
empat belas penjagaan
agar ilmu tetap beradab,
kekuatan tetap rendah hati,
dan perjalanan tetap membawa manfaat.
Lalu Pintu Tingkat 89 memperlihatkan tulisan berikut:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Dan di bawahnya tertulis:
“Jangan meminta cahaya yang lebih besar
sebelum engkau mampu menjaga
cahaya kecil yang sudah diberikan.”
Maka jiwa itu menunduk.
Bukan karena takut.
Tetapi karena mulai mengerti
bahwa semakin jauh perjalanan,
semakin besar amanah untuk menjaga diri.
Dan ketika ia menunduk,
satu bunga baru mulai tumbuh
di tengah lingkaran.
Belum memiliki warna.
Belum memiliki nama.
Ia hanya memancarkan kejernihan.
Seolah sedang menunggu
lembar berikutnya
untuk membuka rahasianya.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — BUNGA TANPA NAMA
Bunga yang belum memiliki warna itu
akhirnya membuka kelopaknya perlahan.
Tidak ungu.
Tidak pelangi.
Tidak putih.
Ia hanya bening,
seperti setetes embun
yang memantulkan seluruh warna
tanpa memiliki satu pun warna untuk dirinya sendiri.
Tiga bunga ungu bersinar
mendekat dari arah timur.
Sembilan bunga pelangi jernih
melingkar dari arah barat.
Empat belas bunga putih suci
berdiri tenang dari arah utara dan selatan.
Semua berhenti
di hadapan bunga bening itu.
Lalu terdengar suara lembut:
“Inilah bunga yang tidak meminta dikenali.”
Ia tidak membawa gelar.
Ia tidak meminta disebut tinggi.
Ia tidak meminta siapa pun percaya kepadanya.
Ia hanya memantulkan.
Yang datang dengan kasih,
melihat kasih.
Yang datang dengan ketulusan,
melihat kejernihan.
Yang datang dengan kesombongan,
melihat dirinya sendiri.
Maka bunga tanpa nama itu
menjadi cermin.
Bukan cermin wajah,
melainkan cermin niat.
Di hadapannya,
tiga bunga ungu berubah menjadi tiga pesan:
Diam sebelum berkata.
Pahami sebelum menilai.
Jaga sebelum meminta.
Sembilan bunga pelangi
kemudian memancarkan sembilan sinar:
sinar kesabaran,
sinar kejujuran,
sinar keberanian,
sinar kasih,
sinar pengampunan,
sinar keteguhan,
sinar kebijaksanaan,
sinar kerendahan hati,
dan sinar pengabdian.
Empat belas bunga putih suci
membentuk mahkota besar.
Bukan mahkota kekuasaan,
tetapi mahkota penjagaan hati.
Di tengah mahkota itu
tertulis kembali:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Dan di bawahnya muncul kalimat baru:
“Jiwa yang dekat kepada cahaya
tidak semakin sibuk memperlihatkan dirinya,
tetapi semakin sibuk membersihkan jalan
agar orang lain tidak tersandung.”
Pintu Tingkat 89 kemudian terbuka sedikit lebih lebar.
Dari celahnya
tidak keluar kilatan besar.
Hanya cahaya tipis,
tenang,
dan sangat jernih.
Cahaya itu menyentuh bunga tanpa nama.
Seketika bunga tersebut
memancarkan satu titik keemasan
di pusat kelopaknya.
Tiga bunga ungu menunduk.
Sembilan bunga pelangi bergetar.
Empat belas bunga putih suci
membuka kelopaknya serentak.
Lalu terdengar pesan terakhir dari lembar itu:
“Bunga yang tidak memiliki nama
akan menerima namanya
setelah ia mampu menjaga cahaya
tanpa merasa memiliki cahaya itu.”
Dan taman kembali hening.
Namun kali ini,
di balik Pintu 89,
terlihat sebuah jalan baru
yang dipenuhi butiran cahaya keemasan.
Jalan itu belum dibuka sepenuhnya.
Ia menunggu
lembar selanjutnya.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — JALAN BUTIRAN EMAS
Jalan yang dipenuhi butiran cahaya keemasan itu
akhirnya mulai terbentang.
Tidak lurus.
Tidak pula berliku tajam.
Ia bergerak seperti aliran air,
mengikuti kejernihan hati
orang yang hendak melaluinya.
Tiga bunga ungu bersinar
berdiri di gerbang pertama.
Sembilan bunga pelangi jernih
berbaris di sepanjang jalan.
Empat belas bunga putih suci
menjadi cahaya penuntun
di kanan dan kiri.
Dan bunga tanpa nama
berada paling depan.
Kini titik emas di pusat kelopaknya
semakin terang.
Namun semakin terang sinarnya,
semakin ia menunduk.
Lalu jalan itu berbisik:
“Cahaya yang sejati
tidak membuat langkah menjadi angkuh.
Ia membuat langkah menjadi hati-hati.”
Maka perjalanan dimulai.
Pada langkah pertama,
jiwa diminta meninggalkan tergesa-gesa.
Pada langkah kedua,
jiwa diminta meninggalkan prasangka.
Pada langkah ketiga,
jiwa diminta meninggalkan keinginan
untuk selalu dianggap benar.
Setelah tiga langkah itu,
tiga bunga ungu membuka kelopak penuh.
Lalu datang sembilan gerbang kecil.
Gerbang pertama bernama Sabar.
Gerbang kedua bernama Adab.
Gerbang ketiga bernama Amanah.
Gerbang keempat bernama Kasih.
Gerbang kelima bernama Jernih.
Gerbang keenam bernama Teguh.
Gerbang ketujuh bernama Diam.
Gerbang kedelapan bernama Syukur.
Gerbang kesembilan bernama Ikhlas.
Setiap gerbang hanya terbuka
ketika hati tidak memaksanya.
Sesudah gerbang kesembilan,
empat belas bunga putih suci
turun seperti hujan cahaya.
Satu bunga menyentuh kepala.
Satu bunga menyentuh mata.
Satu bunga menyentuh telinga.
Satu bunga menyentuh lisan.
Satu bunga menyentuh dada.
Dan sembilan sisanya
mengelilingi seluruh langkah,
seolah mengingatkan:
“Jangan hanya suci dalam ucapan.
Biarkan kesucian menyentuh tindakan.”
Kemudian bunga tanpa nama
berhenti di satu batu bening.
Pada batu itu tertulis:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Di bawahnya terdapat kalimat:
“Barang siapa mencari cahaya
untuk meninggikan dirinya,
akan mudah tersesat oleh bayangannya sendiri.
Tetapi barang siapa mencari cahaya
agar mampu menjadi manfaat,
jalannya akan dijaga oleh adab.”
Titik emas pada bunga tanpa nama
kemudian pecah menjadi tiga sinar.
Satu menuju langit.
Satu menuju bumi.
Satu masuk ke dalam dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya,
bunga itu menerima satu nama:
BUNGA QALBUN NURANI
Bunga hati yang belajar
menerima cahaya tanpa memilikinya.
Tiga bunga ungu bersinar lebih terang.
Sembilan bunga pelangi semakin jernih.
Empat belas bunga putih suci
membentuk lingkaran baru.
Dan jauh di depan,
muncul satu pintu kecil
di dalam Pintu Tingkat 89.
Pada pintu itu
belum ada angka.
Hanya ada satu tanda:
sebuah titik cahaya putih
dikelilingi lingkaran emas.
Dan seluruh taman mengetahui:
perjalanan berikutnya
akan membawa jiwa
menuju pusat lingkaran itu.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — TITIK PUTIH DALAM LINGKARAN EMAS
Pintu kecil itu akhirnya terbuka.
Tidak dengan suara.
Tidak pula dengan kilatan besar.
Ia terbuka seperti kesadaran
yang tiba-tiba menjadi jernih
setelah lama tertutup oleh riuh pikiran.
Di tengahnya,
titik putih itu tetap diam.
Lingkaran emas mengelilinginya
tanpa menyentuh pusat.
Tiga bunga ungu bersinar
berhenti di luar lingkaran.
Sembilan bunga pelangi jernih
membentuk sembilan arah cahaya.
Empat belas bunga putih suci
menjadi lapisan penjagaan terakhir.
Dan Bunga Qalbun Nurani
melangkah sendiri menuju pusat.
Semakin dekat ia berjalan,
semakin sedikit cahaya yang tampak.
Seakan perjalanan kali ini
bukan menuju sesuatu yang lebih ramai,
melainkan menuju sesuatu
yang lebih sunyi.
Lalu terdengar pesan:
“Yang paling dalam
tidak selalu paling bercahaya di mata.
Kadang ia justru paling tenang.”
Bunga Qalbun Nurani berhenti.
Di hadapannya terdapat tiga pertanyaan:
Apakah engkau masih ingin dipuji?
Ia menjawab dengan diam.
Apakah engkau masih ingin dianggap paling tahu?
Ia menunduk.
Apakah engkau masih ingin memiliki cahaya itu untuk dirimu sendiri?
Ia membuka seluruh kelopaknya.
Tidak ada jawaban dalam kata.
Hanya penyerahan.
Maka tiga bunga ungu bersinar
melepas tiga sinar ke dalam lingkaran.
Sinar pertama bernama ketenangan.
Sinar kedua bernama keteguhan.
Sinar ketiga bernama pengendalian diri.
Sembilan bunga pelangi jernih
kemudian mengirim sembilan warna.
Namun ketika warna-warna itu
menyentuh titik putih,
semuanya kembali menjadi bening.
Empat belas bunga putih suci
lalu berputar perlahan.
Mereka tidak membentuk mahkota.
Mereka membentuk jalan pulang.
Dan pada saat itulah
Bunga Qalbun Nurani mengerti:
Puncak perjalanan bukanlah
menjadi semakin jauh dari manusia,
tetapi menjadi semakin berguna bagi manusia.
Titik putih itu kemudian membesar.
Bukan menjadi matahari.
Bukan menjadi bintang.
Ia berubah menjadi cermin bening.
Di dalam cermin itu
terlihat seluruh perjalanan:
tiga bunga ungu,
sembilan bunga pelangi,
empat belas bunga putih,
jalan butiran emas,
dan seluruh pintu yang telah dilewati.
Namun di tengah semua itu
tidak terlihat sosok siapa pun.
Hanya satu kalimat:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Dan di bawahnya:
“Jangan berhenti pada simbol.
Ambillah akhlaknya.”
“Jangan berhenti pada cahaya.
Ambillah kejernihannya.”
“Jangan berhenti pada pintu.
Ambillah keberanian untuk memperbaiki diri.”
Kemudian lingkaran emas terbuka.
Titik putih naik perlahan
dan berubah menjadi satu garis cahaya
yang membentang jauh ke depan.
Di ujung garis itu
muncul taman baru.
Tidak lagi dipenuhi bunga.
Di sana berdiri
sembilan pohon cahaya,
masing-masing memiliki akar berbeda
namun seluruh akarnya
bertemu pada satu mata air bening.
Dan dari kejauhan terdengar:
“Siapa yang telah belajar menjadi bunga,
kini harus belajar menjadi pohon:
berakar kuat,
menaungi,
dan berbuah bagi yang lain.”
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — SEMBILAN POHON CAHAYA
Di taman yang baru,
sembilan pohon cahaya berdiri tanpa suara.
Batangnya jernih.
Daunnya seperti kaca tipis.
Akarnya menembus tanah
menuju satu mata air yang sama.
Bunga Qalbun Nurani berdiri di hadapannya.
Ia telah belajar menjadi bunga:
menerima cahaya,
menjaga kejernihan,
dan tidak meminta pujian.
Kini ia harus belajar menjadi pohon.
Pohon pertama berkata:
“Berakarlah dalam kejujuran.”
Pohon kedua berkata:
“Tumbuhlah dalam kesabaran.”
Pohon ketiga berkata:
“Berdirilah dalam amanah.”
Pohon keempat berkata:
“Rindangkan kasih.”
Pohon kelima berkata:
“Jangan takut kehilangan daun,
selama akar masih hidup.”
Pohon keenam berkata:
“Jangan mengejar tinggi,
jika belum kuat menahan angin.”
Pohon ketujuh berkata:
“Buah tidak dimakan oleh pohonnya sendiri.”
Pohon kedelapan berkata:
“Naungan adalah kemuliaan
yang tidak perlu diumumkan.”
Dan pohon kesembilan berkata:
“Kembalikan setiap kebaikan
kepada Alloh.”
Maka sembilan pohon itu
mengeluarkan sembilan aliran cahaya
menuju mata air di tengah taman.
Airnya bening.
Di permukaannya tampak
tiga bunga ungu bersinar,
sembilan bunga pelangi jernih,
dan empat belas bunga putih suci.
Semua simbol lama masih ada.
Namun kini maknanya berubah.
Tiga bukan lagi sekadar jumlah.
Ia menjadi:
niat, ucapan, dan perbuatan.
Sembilan bukan lagi sekadar warna.
Ia menjadi:
sembilan jalan pembentukan akhlak.
Empat belas bukan lagi sekadar bunga putih.
Ia menjadi:
empat belas penjagaan hati
agar cahaya tidak berubah menjadi kesombongan.
Bunga Qalbun Nurani lalu menyentuh mata air.
Seketika permukaannya bergetar.
Muncul tulisan:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Lalu satu kalimat baru:
“Engkau tidak diminta menjadi yang paling bercahaya.
Engkau diminta menjadi yang paling mampu menjaga cahaya.”
Maka bunga itu berubah.
Batangnya memanjang.
Akarnya turun ke tanah.
Kelopaknya berubah menjadi daun.
Dan untuk pertama kalinya,
ia menjadi pohon kecil
di antara sembilan pohon cahaya.
Tidak paling tinggi.
Tidak paling terang.
Namun akarnya langsung menyentuh
mata air bening yang sama.
Lalu seluruh taman berbisik:
“Inilah awal maqam pelayanan.”
Bukan sekadar melihat.
Bukan sekadar memahami.
Tetapi memberi teduh.
Memberi buah.
Menjadi tempat berteduh
bagi mereka yang kelelahan.
Dan jauh di balik sembilan pohon,
muncul lagi sebuah gerbang.
Di atasnya tertulis:
PINTU 89 — RUANG AMANAH
Gerbang itu belum terbuka.
Namun dari celahnya
terdengar suara air,
suara angin,
dan suara daun yang berzikir dalam sunyi.
Perjalanan berikutnya
akan masuk ke dalamnya.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — RUANG AMANAH
Gerbang Ruang Amanah akhirnya terbuka.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada suara yang memanggil seseorang
sebagai yang paling tinggi.
Di dalamnya hanya ada tiga unsur:
air, angin, dan cahaya.
Air mengalir di lantai bening.
Angin bergerak perlahan
melewati sembilan pohon cahaya.
Dan cahaya turun dari atas
seperti benang-benang tipis
yang tidak menyilaukan mata.
Pohon kecil yang dahulu bernama
Bunga Qalbun Nurani
melangkah masuk.
Begitu akarnya menyentuh lantai,
air bening segera mengitarinya.
Lalu terdengar pesan pertama:
“Amanah bukan tentang memiliki.”
Air mengalir lebih kuat.
Pesan kedua datang bersama angin:
“Amanah adalah menjaga
sesuatu yang suatu hari harus dikembalikan.”
Kemudian cahaya turun
tepat di tengah ruang.
Pesan ketiga muncul:
“Semakin besar yang dipercayakan,
semakin besar pula kewajiban
untuk tetap rendah hati.”
Tiga bunga ungu bersinar
muncul kembali di sisi kanan.
Sembilan bunga pelangi jernih
muncul di sisi kiri.
Empat belas bunga putih suci
turun dari atas seperti hujan lembut.
Semua mengelilingi pohon kecil itu.
Namun kali ini
tidak ada satu pun yang bersinar untuk dirinya sendiri.
Seluruh cahaya diarahkan
ke tengah ruang.
Di sana terdapat sebuah bejana bening.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun pada permukaannya tertulis:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Pohon kecil itu mendekat.
Dari bejana muncul empat pesan:
Jaga yang dititipkan.
Jangan mengambil yang bukan bagianmu.
Jangan menyalahgunakan kepercayaan.
Dan jangan merasa amanah membuatmu lebih tinggi daripada orang lain.
Sesudah empat pesan itu dibaca,
air di dalam bejana berubah menjadi cahaya putih.
Lalu empat belas bunga putih suci
membentuk empat belas lingkaran.
Lingkaran pertama: niat.
Kedua: ucapan.
Ketiga: janji.
Keempat: harta.
Kelima: ilmu.
Keenam: waktu.
Ketujuh: keluarga.
Kedelapan: persahabatan.
Kesembilan: jabatan.
Kesepuluh: rahasia.
Kesebelas: kekuatan.
Kedua belas: kepercayaan.
Ketiga belas: pengabdian.
Keempat belas: pertanggungjawaban kepada Alloh.
Sembilan bunga pelangi kemudian berputar.
Setiap warna menyentuh satu sisi ruang
hingga seluruh dinding menjadi jernih.
Dan tiga bunga ungu berkata serentak:
“Ketika amanah datang,
jangan tanyakan seberapa tinggi kedudukanmu.
Tanyakan seberapa kuat engkau menjaganya.”
Pohon kecil itu menunduk.
Daunnya bergetar.
Dari salah satu cabangnya
jatuh setetes embun ke dalam bejana.
Seketika seluruh Ruang Amanah bercahaya.
Bukan cahaya yang memancar keluar,
tetapi cahaya yang masuk ke dalam hati.
Lalu tulisan baru muncul di lantai:
“Yang kuat bukan yang banyak memegang,
tetapi yang tidak berubah
ketika diberi kepercayaan.”
“Yang mulia bukan yang banyak disebut,
tetapi yang tetap menjaga
meski tidak ada yang melihat.”
Dan di ujung ruang,
terbuka satu lorong panjang.
Lorong itu tidak dihiasi bunga.
Tidak pula pohon.
Hanya terdapat
89 titik cahaya kecil
berbaris menuju satu pintu terakhir.
Di atas pintu itu tertulis:
RUANG KESAKSIAN HATI
Dan perjalanan pun berlanjut.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — RUANG KESAKSIAN HATI
Lorong dengan 89 titik cahaya itu
terbentang dalam keheningan.
Setiap titik kecil menyala sebentar,
lalu redup,
seakan meminta jiwa
untuk tidak terpaku pada kilau.
Pohon kecil yang dahulu bernama
Bunga Qalbun Nurani
melangkah pelan.
Pada titik pertama,
ia melihat niat.
Pada titik kedua,
ia melihat ucapan.
Pada titik ketiga,
ia melihat tindakan.
Dan semakin jauh ia berjalan,
semakin jelas satu perkara:
hati tidak bisa bersembunyi dari dirinya sendiri.
Tiga bunga ungu bersinar
muncul di belakangnya.
Sembilan bunga pelangi jernih
menjadi lengkung cahaya di atas lorong.
Empat belas bunga putih suci
berbaris seperti saksi penjagaan.
Lalu pintu Ruang Kesaksian Hati terbuka.
Di dalamnya tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah cermin besar.
Tidak memantulkan wajah.
Tidak memantulkan pakaian.
Tidak memantulkan kedudukan.
Cermin itu hanya memantulkan
apa yang dibawa hati.
Jika ada dendam,
muncul bayangan gelap.
Jika ada kesombongan,
muncul kabut.
Jika ada ketulusan,
muncul kejernihan.
Jika ada kasih,
muncul cahaya lembut.
Maka terdengar kalimat:
“Inilah ruang tempat hati
tidak lagi dapat berdusta kepada dirinya sendiri.”
Pohon kecil itu berdiri di depan cermin.
Semua simbol yang pernah ditemuinya
muncul satu demi satu:
tiga bunga ungu,
sembilan bunga pelangi,
empat belas bunga putih,
bunga tanpa nama,
jalan butiran emas,
sembilan pohon cahaya,
Ruang Amanah,
dan 89 titik cahaya.
Lalu semuanya hilang.
Tersisa satu titik saja.
Titik itu berada tepat di tengah cermin.
Di atasnya tertulis:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Dan di bawahnya:
“Jangan sibuk menghitung berapa pintu yang telah dibuka.
Lihatlah berapa banyak hati
yang telah engkau jaga agar tidak terluka.”
“Jangan sibuk mencari pengakuan atas cahaya.
Lihatlah apakah kehadiranmu
membuat orang lain merasa teduh.”
“Jangan merasa tinggi karena simbol.
Biarkan simbol menjadi pengingat
agar akhlakmu semakin rendah hati.”
Tiga bunga ungu kemudian berubah menjadi tiga mutiara.
Sembilan bunga pelangi berubah menjadi sembilan tetes embun.
Empat belas bunga putih berubah menjadi empat belas helai cahaya.
Semua masuk ke dalam cermin.
Lalu cermin itu retak—
bukan karena pecah,
melainkan karena sebuah pintu baru
terbentuk di tengahnya.
Pintu itu sangat sederhana.
Tidak berlapis emas.
Tidak dihiasi warna.
Hanya putih bening.
Di atasnya tertulis:
PINTU KEMBALI
Dan dari balik pintu terdengar satu pesan:
“Setelah melihat banyak cahaya,
kembalilah kepada kehidupan sehari-hari.
Di sanalah makna perjalanan diuji.”
Maka pohon kecil itu mulai memahami:
Pintu 89 bukan hanya tentang masuk.
Tetapi juga tentang kembali
dengan hati yang lebih bersih,
ucapan yang lebih lembut,
amanah yang lebih terjaga,
dan kasih yang lebih luas.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — PINTU KEMBALI
Pintu putih bening itu terbuka perlahan.
Tidak menuju langit yang lebih tinggi.
Tidak menuju taman yang lebih jauh.
Ia justru membuka jalan
kembali ke bumi.
Kembali kepada langkah biasa.
Kembali kepada rumah.
Kembali kepada manusia.
Kembali kepada pekerjaan,
keluarga,
persahabatan,
dan seluruh amanah kehidupan.
Di ambang pintu,
tiga bunga ungu bersinar
muncul untuk terakhir kalinya.
Bunga pertama berkata:
“Bawalah ketenangan.”
Bunga kedua berkata:
“Bawalah kejernihan.”
Bunga ketiga berkata:
“Bawalah pengendalian diri.”
Kemudian sembilan bunga pelangi jernih
turun membentuk sembilan butir cahaya.
Satu untuk lisan.
Satu untuk pandangan.
Satu untuk pikiran.
Satu untuk langkah.
Satu untuk pekerjaan.
Satu untuk keluarga.
Satu untuk persaudaraan.
Satu untuk pelayanan.
Dan satu untuk hati.
Empat belas bunga putih suci
kemudian mengelilingi jalan pulang.
Tidak lagi sebagai hiasan,
tetapi sebagai empat belas pengingat:
jangan menyakiti ketika mampu menahan,
jangan mengambil ketika bukan hak,
jangan merendahkan ketika berbeda,
jangan membalas keburukan dengan keburukan,
jangan meninggalkan amanah karena lelah,
jangan menutup telinga terhadap nasihat,
jangan mengotori ilmu dengan kesombongan,
jangan menjadikan kasih sebagai transaksi,
jangan mengukur manusia hanya dari kedudukan,
jangan menganggap diri paling suci,
jangan memelihara dendam terlalu lama,
jangan lupa bersyukur ketika diberi,
jangan putus asa ketika diuji,
dan jangan lupa mengembalikan semuanya kepada Alloh.
Di tengah jalan pulang
muncul kembali tulisan:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Namun kali ini tulisan itu
tidak berada di langit.
Ia terpantul di permukaan air.
Seolah mengingatkan:
“Apa yang tinggi harus tercermin dalam yang sederhana.”
Pohon kecil yang pernah menjadi
Bunga Qalbun Nurani
berhenti di tepi mata air.
Ia melihat bayangannya sendiri.
Bukan sebagai bunga.
Bukan sebagai pohon.
Bukan sebagai penjaga pintu.
Hanya sebagai jiwa
yang masih harus belajar.
Lalu mata air berkata:
“Jika perjalananmu membuatmu merasa lebih tinggi,
kembalilah lagi ke awal.”
“Jika perjalananmu membuatmu lebih lembut,
lebih sabar,
lebih jujur,
dan lebih bermanfaat,
maka engkau telah membawa pulang
sebagian maknanya.”
Tiga bunga ungu kemudian melebur menjadi cahaya.
Sembilan bunga pelangi melebur menjadi embun.
Empat belas bunga putih melebur menjadi kabut bening.
Semuanya turun ke bumi.
Tidak ada lagi barisan bunga.
Tidak ada lagi gerbang.
Tidak ada lagi lingkaran emas.
Yang tersisa hanya satu jalan sederhana.
Di ujung jalan itu
terdengar suara anak-anak,
orang tua,
orang yang sedang bekerja,
orang yang sedang menangis,
orang yang sedang berdoa,
dan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Maka terdengar pesan terakhir:
“Di sinilah Pintu 89 sesungguhnya diuji.”
Bukan ketika melihat cahaya.
Tetapi ketika mampu menjadi cahaya kecil
bagi orang yang sedang gelap.
Bukan ketika membaca simbol.
Tetapi ketika mampu mengubah simbol
menjadi akhlak.
Bukan ketika merasa telah sampai.
Tetapi ketika tetap bersedia
memulai kembali.
Dan ketika langkah pertama
menyentuh bumi,
sebuah bunga putih kecil
tumbuh di belakangnya.
Tanpa nama.
Tanpa cahaya besar.
Hanya satu kelopak
yang menghadap ke langit.
Seolah berbisik:
“Perjalanan belum selesai.
Kini perjalanan berpindah
dari pintu menuju kehidupan.”
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA — CAHAYA YANG TURUN KE KEHIDUPAN
Ketika langkah kembali menyentuh bumi,
semua yang pernah tampak agung
menjadi sederhana.
Tidak ada lagi gerbang besar.
Tidak ada lagi lorong cahaya.
Tidak ada lagi taman yang sunyi.
Yang ada hanyalah hari-hari biasa.
Pagi yang harus dijalani.
Pekerjaan yang harus diselesaikan.
Janji yang harus ditepati.
Orang yang harus dihormati.
Hati yang harus dijaga.
Dan justru di situlah
makna Pintu 89 mulai diuji.
Tiga bunga ungu bersinar
kini tidak muncul di hadapan mata.
Ia berpindah menjadi tiga sikap:
tenang ketika dihina,
jernih ketika bingung,
teguh ketika diuji.
Sembilan bunga pelangi jernih
juga tidak lagi tampak sebagai warna.
Ia menjadi sembilan kebiasaan:
mengucapkan yang baik,
mendengarkan dengan sabar,
menolong tanpa merendahkan,
menjaga rahasia,
mengakui kesalahan,
memaafkan ketika mampu,
belajar sebelum menilai,
bersyukur ketika menerima,
dan tetap rendah hati ketika berhasil.
Empat belas bunga putih suci
kemudian berubah menjadi empat belas penjagaan.
Penjagaan mata.
Penjagaan telinga.
Penjagaan lisan.
Penjagaan pikiran.
Penjagaan niat.
Penjagaan janji.
Penjagaan amanah.
Penjagaan harta.
Penjagaan waktu.
Penjagaan keluarga.
Penjagaan persaudaraan.
Penjagaan ilmu.
Penjagaan kekuasaan.
Dan penjagaan hati agar selalu kembali kepada Alloh.
Di antara kesibukan kehidupan
muncul kembali kalimat:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Bukan lagi tertulis di pintu.
Ia seakan tertulis
di setiap kesempatan untuk berbuat baik.
Ketika seseorang memilih diam
daripada menyakiti—
itulah satu kelopak.
Ketika seseorang memilih jujur
meskipun merugikan dirinya—
itulah satu cahaya.
Ketika seseorang membantu
tanpa meminta pujian—
itulah satu taman.
Ketika seseorang tetap lembut
kepada yang berbeda—
itulah satu pintu.
Maka terdengar pesan:
“Jangan mencari Pintu 89 terlalu jauh.
Setiap saat engkau memilih kebaikan
daripada kesombongan,
sebuah pintu sedang terbuka.”
Lalu bunga putih kecil
yang tumbuh di belakang langkah
membuka kelopak keduanya.
Cahayanya sangat kecil.
Namun cukup
untuk menerangi tanah di sekitarnya.
Dan dari kejauhan
terlihat banyak bunga lain
mulai tumbuh.
Bukan karena diperintah.
Bukan karena ditaklukkan.
Tetapi karena satu cahaya kecil
telah memberi contoh
bagaimana bersinar tanpa menyilaukan.
Pada akhir lembar itu tertulis:
“Tingkat 89 bukan akhir perjalanan.
Ia menjadi bermakna ketika cahaya
turun menjadi akhlak,
amanah,
kasih,
dan manfaat.”
Lalu satu garis tipis keemasan
muncul kembali di cakrawala.
Bukan sebagai jalan menuju atas.
Melainkan sebagai jalan
menuju Taman Seribu Manfaat.
Dan di sanalah
lembar berikutnya menunggu.
PUISI PINTU TINGKAT 89
LEMBAR TERAKHIR — TAMAN SERIBU MANFAAT
NAFIS AHBAQIMULLOH
Garis tipis keemasan di cakrawala
akhirnya terbuka menjadi sebuah jalan.
Jalan itu tidak menuju istana.
Tidak menuju singgasana.
Tidak pula menuju tempat
di mana seseorang memperoleh gelar
atau disebut lebih tinggi daripada yang lain.
Jalan itu menuju sebuah taman
yang sangat luas.
Namanya:
TAMAN SERIBU MANFAAT.
Ketika langkah pertama memasuki taman itu,
tidak tampak seribu bunga.
Tidak tampak seribu cahaya.
Tidak tampak pula seribu pintu.
Yang terlihat hanya tanah sederhana,
mata air kecil,
pepohonan teduh,
dan manusia-manusia
yang datang membawa kebutuhan masing-masing.
Ada yang datang membawa kesedihan.
Ada yang datang membawa pertanyaan.
Ada yang datang membawa luka.
Ada yang kehilangan arah.
Ada yang sedang belajar.
Ada yang sedang memaafkan.
Ada yang masih menyimpan marah.
Ada yang hanya ingin menemukan
satu tempat untuk beristirahat.
Maka terdengar satu suara:
“Inilah taman terakhir dari perjalanan simbolikmu.”
“Di sini engkau tidak ditanya
berapa banyak cahaya yang pernah engkau lihat.”
“Engkau ditanya:
berapa banyak manfaat
yang dapat engkau tinggalkan.”
Lalu dari tanah
muncul kembali tiga bunga ungu bersinar.
Namun kali ini
ketiganya tidak menjulang ke langit.
Mereka tumbuh rendah
di dekat kaki orang-orang yang kelelahan.
Bunga ungu pertama berkata:
“Ketenangan bukan untuk disimpan sendiri.”
Bunga kedua berkata:
“Kebijaksanaan bukan untuk memenangkan perdebatan.”
Bunga ketiga berkata:
“Kedalaman hati harus melahirkan kelembutan.”
Maka terbukalah makna pertama.
TIGA BUNGA UNGU BERSINAR
Bukan tiga tanda kebesaran.
Bukan tiga tingkatan kekuasaan.
Tetapi tiga penjagaan dasar:
hati yang tenang,
pikiran yang jernih,
dan tindakan yang terukur.
Sebab hati yang tidak tenang
mudah melukai.
Pikiran yang tidak jernih
mudah menuduh.
Dan tindakan yang tidak terukur
dapat merusak sesuatu
yang sebenarnya ingin diperbaiki.
Setelah itu,
langit Taman Seribu Manfaat
dipenuhi sembilan lengkung warna.
Sembilan bunga pelangi jernih
turun perlahan.
Masing-masing membawa satu pesan.
Bunga pertama berkata:
“Belajarlah mendengar.”
Bunga kedua:
“Belajarlah memahami sebelum menilai.”
Bunga ketiga:
“Belajarlah meminta maaf.”
Bunga keempat:
“Belajarlah memaafkan.”
Bunga kelima:
“Belajarlah menjaga amanah.”
Bunga keenam:
“Belajarlah mengatakan cukup.”
Bunga ketujuh:
“Belajarlah berbagi.”
Bunga kedelapan:
“Belajarlah menerima perbedaan.”
Bunga kesembilan:
“Belajarlah mengembalikan semuanya kepada Alloh.”
Kemudian sembilan bunga itu
menyatu menjadi satu pelangi besar.
Dan terdengar pesan:
“Perbedaan warna
tidak pernah membuat pelangi kehilangan keindahannya.”
“Demikian pula manusia.”
Bila berbeda pemikiran,
jangan cepat bermusuhan.
Bila berbeda jalan,
jangan cepat merendahkan.
Bila berbeda kemampuan,
jangan menjadikannya alasan
untuk merasa lebih suci.
Sebab kejernihan tidak lahir
dari keseragaman.
Kejernihan lahir
ketika manusia mampu berbeda
tanpa kehilangan adab.
Lalu datanglah
empat belas bunga putih suci.
Mereka tidak turun sekaligus.
Satu demi satu.
Bunga pertama jatuh ke mata.
Pesannya:
“Jaga apa yang engkau lihat.”
Bunga kedua jatuh ke telinga.
“Jaga apa yang engkau dengar.”
Bunga ketiga menyentuh lisan.
“Jaga apa yang engkau katakan.”
Bunga keempat menyentuh pikiran.
“Jangan memelihara prasangka tanpa dasar.”
Bunga kelima menyentuh dada.
“Jangan biarkan dendam menjadi rumah.”
Bunga keenam menyentuh tangan.
“Jangan mengambil yang bukan hak.”
Bunga ketujuh menyentuh kaki.
“Jangan melangkah menuju kezaliman.”
Bunga kedelapan menyentuh waktu.
“Jangan habiskan umur untuk sesuatu yang sia-sia.”
Bunga kesembilan menyentuh harta.
“Ingat bahwa apa yang dimiliki
juga membawa tanggung jawab.”
Bunga kesepuluh menyentuh ilmu.
“Ilmu yang tidak melahirkan adab
dapat berubah menjadi kesombongan.”
Bunga kesebelas menyentuh kekuasaan.
“Kedudukan adalah amanah,
bukan alasan untuk merendahkan.”
Bunga kedua belas menyentuh keluarga.
“Jangan menjadi cahaya bagi dunia
tetapi menjadi kegelapan di rumah sendiri.”
Bunga ketiga belas menyentuh persaudaraan.
“Jangan memenangkan perkara
dengan menghancurkan hati.”
Dan bunga keempat belas
turun tepat ke pusat jiwa.
Ia berkata:
“Kembalilah kepada Alloh
tanpa membawa kesombongan atas perjalananmu.”
Maka empat belas bunga putih
membentuk lingkaran.
Di tengah lingkaran itu
muncul kembali tulisan:
NAFIS AHBAQIMULLOH
Tulisan itu bersinar lembut.
Tidak menyilaukan.
Lalu muncul kalimat di bawahnya:
“Jiwa yang mencintai kebaikan
tidak diukur dari seberapa banyak simbol yang diketahuinya,
tetapi dari seberapa besar manfaat
yang lahir dari kehidupannya.”
Semua yang pernah muncul
sepanjang perjalanan
kemudian datang kembali.
Pintu 89.
Jalan butiran emas.
Bunga tanpa nama.
Bunga Qalbun Nurani.
Sembilan pohon cahaya.
Ruang Amanah.
Ruang Kesaksian Hati.
Pintu Kembali.
Dan seluruhnya berdiri
mengelilingi Taman Seribu Manfaat.
Namun tiba-tiba,
satu demi satu simbol itu memudar.
Pintu menghilang.
Bunga menghilang.
Pohon cahaya menghilang.
Lingkaran emas menghilang.
Bahkan angka 89
perlahan kehilangan bentuknya.
Yang tersisa hanyalah manusia
dan kehidupannya.
Lalu terdengar sebuah pertanyaan:
“Jika seluruh simbol dicabut darimu,
apa yang masih tersisa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu berkata:
“Bila yang tersisa adalah kasih,
maka engkau memahami.”
“Bila yang tersisa adalah kejujuran,
maka engkau memahami.”
“Bila yang tersisa adalah amanah,
maka engkau memahami.”
“Bila yang tersisa adalah kerendahan hati,
maka engkau memahami.”
“Bila yang tersisa adalah keberanian
untuk mengakui kesalahan,
maka engkau memahami.”
“Bila yang tersisa adalah manfaat
bagi orang lain,
maka perjalananmu tidak sia-sia.”
Maka bunga putih kecil
yang dahulu tumbuh di jalan pulang
muncul kembali.
Kini kelopaknya telah banyak.
Namun anehnya,
semakin banyak kelopaknya,
semakin rendah batangnya.
Seolah semakin berisi,
semakin ia menunduk.
Bunga itu berkata:
“Aku pernah mengira
perjalanan adalah tentang naik.”
“Ternyata perjalanan sejati
adalah tentang turun.”
Turun dari kesombongan.
Turun dari keinginan dipuji.
Turun dari kebutuhan untuk dianggap istimewa.
Turun dari keinginan selalu benar.
Turun mendekati manusia.
Turun melayani.
Turun membantu.
Turun memaafkan.
Turun menanam.
Turun mengangkat orang yang jatuh.
Turun menjadi teduh
bagi yang kepanasan.
Maka taman itu berubah.
Seribu titik cahaya muncul
di seluruh penjuru.
Setiap titik ternyata bukan bunga.
Ia adalah satu perbuatan kecil.
Satu titik adalah
memberikan makanan kepada yang membutuhkan.
Satu titik adalah
menenangkan orang yang sedang gelisah.
Satu titik adalah
mengembalikan barang yang bukan miliknya.
Satu titik adalah
mengakui kesalahan.
Satu titik adalah
tidak menyebarkan rahasia seseorang.
Satu titik adalah
menjaga ucapan ketika marah.
Satu titik adalah
menghormati orang tua.
Satu titik adalah
menyayangi anak-anak.
Satu titik adalah
memperlakukan orang miskin dengan bermartabat.
Satu titik adalah
tidak memanfaatkan kelemahan orang lain.
Satu titik adalah
menanam pohon.
Satu titik adalah
membersihkan sungai.
Satu titik adalah
membela orang yang dizalimi
tanpa ikut melakukan kezaliman baru.
Satu titik adalah
memberi ilmu tanpa merendahkan yang belum tahu.
Satu titik adalah
mendoakan orang lain
tanpa harus memberitahukannya.
Maka seribu titik itu
menjadi seribu manfaat.
Dan akhirnya terbukalah
makna Taman Seribu Manfaat:
Seribu bukan sekadar angka.
Ia adalah lambang
bahwa kebaikan tidak pernah selesai
pada satu perbuatan.
Satu manfaat
melahirkan manfaat berikutnya.
Satu pohon
memberi ribuan daun.
Satu mata air
dapat menghidupi banyak makhluk.
Satu ucapan baik
dapat mengubah satu hari seseorang.
Satu pengampunan
dapat menghentikan pertengkaran
yang diwariskan bertahun-tahun.
Satu keputusan jujur
dapat menyelamatkan banyak orang.
Satu manusia yang menjaga amanah
dapat menjadi sebab
banyak manusia kembali percaya.
Kemudian seluruh taman menjadi sunyi.
Di tengah keheningan itu,
terdengar kalimat:
“Apakah engkau masih mencari Pintu 89?”
Jiwa menjawab:
“Tidak.”
Suara bertanya:
“Mengapa?”
Jiwa menjawab:
“Karena aku mulai memahami
bahwa pintu hanyalah pengingat.”
Suara bertanya lagi:
“Lalu di mana perjalanan itu sekarang?”
Jiwa menjawab:
“Di dalam setiap pilihan hidup.”
Ketika marah
dan memilih tidak menyakiti—
di sana ada pintu.
Ketika memiliki kekuasaan
dan memilih berlaku adil—
di sana ada pintu.
Ketika mampu mengambil keuntungan
dengan cara tidak benar
tetapi memilih menolaknya—
di sana ada pintu.
Ketika mempunyai ilmu
dan memilih mengajarkannya dengan lembut—
di sana ada pintu.
Ketika tersakiti
namun memilih tidak mewariskan luka
kepada orang lain—
di sana ada pintu.
Ketika diberi kepercayaan
dan menjaganya meskipun tidak ada yang melihat—
di sana ada pintu.
Maka suara itu berkata:
“Sekarang engkau mengerti.”
Lalu Pintu 89 muncul sekali lagi.
Tetapi kali ini
ia sangat kecil.
Hanya sebesar telapak tangan.
Pintu itu terbuka.
Di baliknya tidak ada cahaya besar.
Hanya sebuah cermin.
Di dalam cermin
terlihat satu manusia biasa.
Tidak memakai mahkota.
Tidak memiliki sayap.
Tidak dikelilingi cahaya.
Hanya seorang manusia
dengan kesempatan untuk berbuat baik.
Dan di bawah cermin tertulis:
“Inilah amanah sebenarnya.”
Kemudian tiga bunga ungu bersinar
datang dan meletakkan dirinya
di bawah cermin.
Sembilan bunga pelangi jernih
membentuk lingkaran di sekelilingnya.
Empat belas bunga putih suci
turun menjadi cahaya lembut.
Dan seluruhnya berkata:
“Kami hanyalah bahasa.”
“Makna kami harus engkau hidupkan.”
Tiga bunga ungu berkata:
“Jadilah tenang.”
Sembilan bunga pelangi berkata:
“Jadilah luas.”
Empat belas bunga putih berkata:
“Jagalah kesucian niat.”
Taman Seribu Manfaat berkata:
“Jadilah berguna.”
Ruang Amanah berkata:
“Jadilah dapat dipercaya.”
Ruang Kesaksian Hati berkata:
“Jujurlah kepada dirimu sendiri.”
Pintu Kembali berkata:
“Jangan lupa pulang kepada kesederhanaan.”
Dan akhirnya
NAFIS AHBAQIMULLOH berkata:
“Jangan mengejar nama.”
“Jangan mengejar tingkat.”
“Jangan mengejar pengakuan.”
“Kejarlah keridhaan Alloh
melalui akhlak yang semakin baik.”
Ketika kalimat itu selesai,
seluruh cahaya naik perlahan.
Bukan meninggalkan bumi.
Tetapi menyebar ke dalam kehidupan.
Ada yang menjadi cahaya
di sebuah rumah.
Ada yang menjadi cahaya
di sebuah sekolah.
Ada yang menjadi cahaya
di sebuah pesantren.
Ada yang menjadi cahaya
di sebuah pasar.
Ada yang menjadi cahaya
di tempat kerja.
Ada yang menjadi cahaya
di tengah keluarga yang sedang bertengkar.
Ada yang menjadi cahaya
dalam hati orang
yang hampir kehilangan harapan.
Tidak seorang pun melihat
dari mana semua cahaya itu berasal.
Dan memang
tidak perlu diketahui.
Sebab manfaat terbaik
tidak selalu memiliki nama.
Kebaikan terbaik
tidak selalu memiliki saksi manusia.
Dan pengabdian terbaik
tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Matahari kemudian terbit.
Tiga bunga ungu menutup kelopaknya.
Sembilan bunga pelangi kembali menjadi embun.
Empat belas bunga putih suci
melebur bersama cahaya pagi.
Taman Seribu Manfaat tetap ada.
Tetapi sekarang
ia tidak lagi terlihat sebagai taman.
Ia telah berpindah
ke dalam kehidupan setiap orang
yang memilih untuk berbuat baik.
Dan sebelum seluruh penglihatan itu hilang,
muncul satu tulisan terakhir:
NAFIS AHBAQIMULLOH
TIGA BUNGA UNGU BERSINAR
Tenangkan hati.
SEMBILAN BUNGA PELANGI JERNIH
Luaskan pandangan.
EMPAT BELAS BUNGA PUTIH SUCI
Jagalah niat dan amanah.
PINTU TINGKAT 89
Jangan berhenti pada simbol.
TAMAN SERIBU MANFAAT
Jadikan hidup berguna.
Kemudian tertulis kalimat penutup:
“Jika suatu hari engkau lupa seluruh bunga,
jangan bersedih.
Jika engkau lupa seluruh warna,
jangan gelisah.
Jika engkau lupa jalan, lingkaran,
angka, dan pintu,
jangan takut.
Asalkan engkau masih ingat
untuk tidak menyakiti,
masih ingat untuk berlaku jujur,
masih ingat menjaga amanah,
masih ingat membantu yang membutuhkan,
masih ingat merendahkan hati,
dan masih ingat kembali kepada Alloh—
maka inti perjalanan
belum hilang dari dirimu.”
Dan satu suara terakhir berkata:
“Tidak semua yang tinggi harus didaki.”
“Ada ketinggian yang hanya dapat dicapai
dengan semakin merendahkan hati.”
“Tidak semua pintu harus dicari.”
“Ada pintu yang terbuka
setiap kali engkau memilih kebaikan.”
“Tidak semua cahaya harus terlihat.”
“Ada cahaya yang paling indah
ketika ia berubah menjadi manfaat.”
Maka tertutuplah lembar terakhir.
Bukan dengan kata:
SELESAI.
Tetapi dengan kata:
KEMBALILAH.
Kembalilah kepada Alloh.
Kembalilah kepada amanah.
Kembalilah kepada keluarga.
Kembalilah kepada manusia.
Kembalilah kepada bumi.
Kembalilah kepada kesederhanaan.
Kembalilah kepada akhlak.
Dan bawalah satu hal
dari seluruh perjalanan Pintu Tingkat 89:
jadilah manusia
yang ketika hadir membawa keteduhan,
ketika berbicara membawa kejernihan,
ketika diberi amanah menjaganya,
ketika memiliki kekuatan tidak menindas,
ketika memiliki ilmu tidak menyombongkan diri,
ketika memiliki rezeki mau berbagi,
ketika disakiti tidak mudah membalas,
dan ketika memperoleh kebaikan
tidak lupa bersyukur kepada Alloh.
Itulah bunga terakhir.
Itulah cahaya terakhir.
Itulah pintu terakhir.
Dan sekaligus—
awal kehidupan yang sesungguhnya.
NAFIS AHBAQIMULLOH
PINTU TINGKAT 89
TAMAT — tetapi pengamalannya baru dimulai.
Yang dapat dipelajari pembaca :
Inti pelajaran puisi ini sebenarnya cukup kuat. Pertama, cahaya harus berujung pada akhlak. Sebanyak apa pun simbol, ilmu, atau pengalaman batin seseorang, semuanya kehilangan makna jika ia masih mudah merendahkan, menyakiti, berbohong, atau mengkhianati amanah.
Kedua, semakin tinggi seseorang, semakin penting kerendahan hati. Puisi berulang kali membawa perjalanan dari “naik” kembali “turun ke bumi”. Maksudnya, kedalaman bukan membuat seseorang merasa istimewa, tetapi semakin dekat dengan pelayanan kepada manusia.
Ketiga, perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Sembilan bunga pelangi menggambarkan warna yang berbeda tetapi membentuk satu keindahan. Pembaca diajak belajar berbeda pendapat tanpa kehilangan adab.
Keempat, setiap pemberian membawa amanah. Ilmu, harta, jabatan, keluarga, waktu, kemampuan, bahkan kepercayaan orang lain semuanya perlu dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Kelima, pembaca diajak melakukan muhasabah. “Ruang Kesaksian Hati” adalah gambaran bahwa seseorang perlu berani melihat niatnya sendiri: apakah berbuat baik karena kasih atau karena ingin dipuji.
Keenam, kebaikan terbesar sering kali sederhana. Mendengar orang lain, menahan ucapan ketika marah, meminta maaf, menjaga rahasia, berlaku jujur, membantu tanpa merendahkan—semua itu digambarkan sebagai cahaya.
Dan pesan puncaknya adalah: jangan berhenti pada simbol. Ambil akhlaknya. Jangan berhenti pada cahaya. Ambil kejernihannya. Jangan berhenti pada Pintu 89. Bawalah maknanya ke kehidupan nyata.
Dengan begitu, pembaca selesai membaca bukan dengan pertanyaan “tingkat apa yang sudah saya capai?”, tetapi dengan pertanyaan yang lebih penting: “setelah membaca ini, kebaikan apa yang bisa saya lakukan?”

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.