PUISI SAFANGAT ILLAHHI
PUISI SAFANGAT ILLAHHI
Nyala Emas dalam Perjanjian Dua Cahaya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di bawah lengkung langit yang diliputi cahaya,
dua insan berdiri dalam jubah keemasan,
bukan untuk meninggikan diri di hadapan dunia,
melainkan untuk merendahkan hati
di hadapan Alloh Yang Maha Kuasa.
Mahkota mereka menyerupai matahari,
namun bukan matahari yang membakar;
ia adalah lambang harapan
yang terbit setelah panjangnya malam,
lambang kesetiaan
yang tetap menyala ketika jalan kehidupan
diselimuti kabut dan ujian.
Safangat Illahhi…
engkau adalah semangat yang lahir
ketika hati hampir menyerah,
lalu pertolongan Alloh
mengetuk perlahan dari arah yang tak disangka.
Engkau bukan kesombongan kekuasaan,
bukan pula kemegahan yang menuntut pujian.
Engkau adalah keberanian untuk bangkit,
keikhlasan untuk memaafkan,
dan keteguhan untuk tetap berjalan
meskipun kaki telah penuh luka.
Di sebelah kanan berdirilah sang suami,
membawa keteguhan dalam tatapannya.
Bukan sebagai penguasa bagi pasangannya,
melainkan sebagai penjaga amanah,
tempat bersandar ketika badai datang,
dan tangan yang menguatkan
ketika dunia terasa terlalu berat.
Di sebelah kiri berdirilah sang istri,
membawa kelembutan dalam wajahnya.
Bukan kelembutan yang lemah,
melainkan kelembutan yang mampu
menenangkan amarah,
menyembuhkan luka,
dan menghidupkan kembali harapan
di dalam rumah yang hampir kehilangan cahaya.
Mereka tidak dipersatukan
hanya untuk tertawa bersama.
Mereka dipersatukan
agar saling mengingatkan ketika lupa,
saling menuntun ketika tersesat,
saling menjaga ketika rapuh,
dan saling mendoakan
ketika salah satu tak mampu berkata-kata.
Safangat Illahhi…
turunlah sebagai keteguhan dalam jiwa,
bukan sebagai suara yang mengaku paling suci,
melainkan sebagai bisikan lembut:
“Tetaplah berbuat baik,
meskipun kebaikanmu belum dimengerti.
Tetaplah mencintai,
meskipun cintamu sedang diuji.
Tetaplah berdoa,
meskipun jawaban belum terlihat.”
Mahkota matahari di atas kepala mereka
bukan tanda bahwa mereka terbebas dari ujian.
Justru semakin terang cahaya yang dipikul,
semakin besar tanggung jawab
untuk menjaga hati dari kesombongan.
Sebab mahkota yang sesungguhnya
bukanlah emas yang berkilauan,
melainkan kesabaran ketika dihina,
kejujuran ketika tak seorang pun melihat,
kesetiaan ketika banyak jalan menggoda,
dan kasih sayang ketika amarah
meminta untuk dilampiaskan.
Wahai dua jiwa yang berdiri
di hadapan singgasana cahaya,
jangan biarkan kemegahan
memisahkan kalian dari kerendahan hati.
Ketika rezeki diluaskan,
ingatlah mereka yang kekurangan.
Ketika kedudukan ditinggikan,
ingatlah tanah tempat kalian berpijak.
Ketika banyak orang memuji,
ingatlah bahwa seluruh kemuliaan
hanyalah titipan dari Alloh.
Dan ketika suatu hari
jubah emas itu harus dilepaskan,
mahkota itu harus ditanggalkan,
serta istana cahaya tinggal kenangan,
semoga yang tersisa bukan kebanggaan dunia,
melainkan jejak kebaikan
yang pernah kalian tanam bersama.
Safangat Illahhi…
Jadilah api yang tidak membakar,
tetapi menghangatkan jiwa yang membeku.
Jadilah sinar yang tidak menyilaukan,
tetapi menunjukkan jalan bagi yang tersesat.
Jadilah kekuatan yang tidak menindas,
tetapi mengangkat mereka yang terjatuh.
Jadilah cinta yang tidak membelenggu,
tetapi menuntun dua insan
semakin dekat kepada ridho Alloh.
Bila sang suami kehilangan arah,
jadilah sang istri penunjuk jalan
dengan doa dan kelembutan.
Bila sang istri kehilangan kekuatan,
jadilah sang suami benteng
dengan kesabaran dan perlindungan.
Bila keduanya sama-sama lelah,
duduklah bersama dalam keheningan,
menengadahkan tangan kepada langit
dan berkata:
“Yā Alloh, kami bukan pasangan yang sempurna.
Kami hanyalah dua hamba yang sedang belajar.
Ajarkan kami mencintai tanpa menyakiti,
menjaga tanpa menguasai,
menasihati tanpa merendahkan,
dan berjalan bersama tanpa meninggalkan-Mu.”
Kemudian cahaya dari langit
turun melewati celah-celah mahkota,
menyentuh dada mereka,
membersihkan kesedihan yang tersimpan,
dan mengubah air mata
menjadi mutiara pengertian.
Tidak semua luka harus diumumkan.
Tidak semua pertengkaran harus dimenangkan.
Ada saatnya diam menjadi ibadah,
memaafkan menjadi kemenangan,
dan saling menggenggam
menjadi doa paling jujur
yang tidak memerlukan kata-kata.
Safangat Illahhi…
bangkitlah di dalam keluarga mereka.
Saat rumah terasa sunyi,
jadilah suara dzikir yang menenteramkan.
Saat rezeki terasa sempit,
jadilah keyakinan yang mencegah keputusasaan.
Saat fitnah datang dari segala penjuru,
jadilah kejernihan
agar mereka tidak membalas keburukan
dengan keburukan yang sama.
Saat usia mulai menua,
jadilah kenangan indah
bahwa mereka pernah berjuang bersama,
pernah menangis bersama,
pernah jatuh bersama,
dan berkali-kali bangkit
dengan menyebut nama Alloh.
Wahai cahaya keemasan,
jangan hanya memenuhi pakaian mereka.
Masuklah ke dalam akhlaknya.
Hiduplah di dalam tutur katanya.
Bersemayamlah dalam kesabarannya.
Tampakkan dirimu melalui sedekah,
kasih sayang, kejujuran,
dan keberanian membela kebenaran.
Sebab jubah paling indah
adalah jubah ketakwaan.
Perhiasan paling mulia
adalah akhlak yang terjaga.
Istana paling damai
adalah rumah yang dipenuhi doa.
Dan pasangan paling bercahaya
adalah dua insan
yang saling menolong menuju kebaikan.
Pada akhirnya,
mereka bukan raja dan ratu
yang menguasai jagat raya.
Mereka hanyalah dua hamba
yang dipertemukan oleh takdir,
dipersatukan oleh kasih,
ditempa oleh ujian,
dan berharap dipulangkan
dalam keadaan saling meridhoi.
Safangat Illahhi…
tetaplah menyala.
Bukan hanya ketika dunia
menyambut mereka dengan kemuliaan,
tetapi terutama ketika dunia
meninggalkan mereka dalam kesunyian.
Tetaplah menyala
ketika tubuh melemah,
ketika wajah menua,
ketika suara mulai bergetar,
dan ketika tangan yang dahulu kuat
hanya mampu saling menggenggam perlahan.
Biarlah pada penghujung perjalanan,
keduanya masih dapat berbisik:
“Aku tidak menjanjikan hidup tanpa badai,
tetapi aku bersyukur
telah berjalan bersamamu melewatinya.
Semoga setiap luka yang kita sabarkan
menjadi jalan ampunan,
dan setiap cinta yang kita jaga
menjadi saksi di hadapan Alloh.”
Lalu mahkota matahari itu
memancarkan sinar terakhirnya,
bukan sebagai lambang kekuasaan,
melainkan lambang dua hati
yang telah belajar bahwa cinta sejati
bukan sekadar memiliki—
tetapi menjaga,
mengampuni,
mendoakan,
dan menyerahkan seluruh akhirnya
kepada Alloh.
Safangat Illahhi…
nyala yang datang dari harapan,
bertumbuh melalui kesabaran,
dimurnikan oleh pengorbanan,
dan kembali kepada Sang Pemilik Cahaya.
Menyatulah dalam doa.
Bertahanlah dalam amanah.
Bercahayalah dalam akhlak.
Dan pulanglah dalam ridho Alloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-2
Mahkota Cahaya dan Janji Kesetiaan
Di bawah pancaran singgasana keemasan,
dua jiwa berdiri dalam satu arah,
membawa janji yang tidak ditulis di atas kertas,
tetapi dipahat dalam kesabaran,
disaksikan oleh langit,
dan diserahkan sepenuhnya kepada Alloh.
Mahkota matahari di atas kepala mereka
bukanlah tanda bahwa hidup akan selalu mudah.
Setiap ujung cahayanya adalah amanah,
setiap ukirannya adalah ujian,
dan setiap kilaunya mengingatkan
bahwa kemuliaan tanpa kerendahan hati
hanya akan menjadi bayangan yang kosong.
Sang suami memandang jauh ke depan,
seakan melihat ribuan jalan
yang harus ditempuh bersama.
Dalam diamnya tersimpan ikrar:
“Aku tidak menjanjikan
seluruh dunia berada di tanganmu,
tetapi selama Alloh memberikan kekuatan,
aku akan berusaha menjaga hatimu
dari kesepian yang panjang.”
Sang istri menundukkan wajah dengan lembut,
namun jiwanya tidak pernah lemah.
Di dalam ketenangannya
tersimpan kekuatan yang mampu menahan badai,
dan dari bibirnya lahir doa:
“Aku tidak meminta hidup tanpa ujian,
aku hanya memohon agar kita
tidak saling meninggalkan
ketika ujian itu datang.”
Lalu cahaya dari atas singgasana
mengalir seperti sungai keemasan,
menyentuh kedua mahkota,
menembus jubah mereka,
dan bersemayam di dalam dada
sebagai pengingat:
Cinta bukan sekadar pertemuan dua wajah,
melainkan pertemuan dua kesabaran.
Cinta bukan hanya tertawa
ketika rezeki datang berlimpah.
Cinta adalah tetap duduk berdampingan
ketika pintu-pintu dunia terasa tertutup,
ketika harapan mulai melemah,
dan ketika doa terasa
belum memperoleh jawaban.
Safangat Illahhi…
Hadirlah sebagai semangat
yang menjaga dua hati dari keputusasaan.
Ketika sang suami pulang membawa kelelahan,
jadikan rumah sebagai tempat ketenangan,
bukan medan untuk saling menyalahkan.
Ketika sang istri menyimpan kesedihan,
jadikan pelukan sebagai bahasa
yang lebih jujur daripada seribu nasihat.
Ketika keduanya berbeda pendapat,
jangan biarkan amarah
menjadi raja di antara mereka.
Biarkan kesadaran duduk di tengah,
mengingatkan bahwa tidak semua perselisihan
harus melahirkan perpisahan.
Sebab dua jiwa yang dipersatukan
tidak selalu memiliki langkah yang sama.
Kadang seorang berjalan lebih cepat,
sementara yang lain tertinggal dan kelelahan.
Namun cinta yang diberkahi
tidak meninggalkan yang tertinggal.
Ia kembali, mengulurkan tangan,
kemudian berkata:
“Mari berjalan perlahan.
Sampai di tujuan bersamamu
jauh lebih berharga
daripada tiba lebih dahulu seorang diri.”
Mahkota mereka kemudian memancarkan
ribuan serpihan cahaya.
Setiap serpihan membawa satu pesan:
Ada cahaya bernama kejujuran,
yang membuat hati tidak perlu bersembunyi.
Ada cahaya bernama kesetiaan,
yang tetap bertahan
meskipun dunia menawarkan banyak pilihan.
Ada cahaya bernama memaafkan,
yang tidak menghapus pelajaran,
namun membebaskan jiwa dari dendam.
Ada cahaya bernama pengorbanan,
yang tidak selalu diketahui manusia,
tetapi tidak pernah luput
dari pengetahuan Alloh.
Dan ada cahaya bernama doa,
yang menghubungkan dua hati
bahkan ketika jarak dan keadaan
membuat keduanya tidak dapat saling menyentuh.
Wahai pasangan dalam jubah keemasan,
jangan hanya meminta cinta yang indah.
Mintalah pula hati yang kuat
untuk menjaga keindahan itu.
Jangan hanya berdoa agar selalu bersama.
Berdoalah agar kebersamaan tersebut
menjadi jalan menuju kebaikan.
Jangan hanya ingin saling memiliki.
Belajarlah saling memuliakan,
karena manusia bukan benda
yang dapat dikuasai sesuka hati.
Sang suami bukan pemilik mutlak istrinya.
Sang istri bukan penguasa kehidupan suaminya.
Keduanya adalah hamba Alloh
yang dipertemukan dalam satu amanah,
agar saling melindungi,
saling menguatkan,
dan saling mengingatkan
ketika salah satu mulai jauh dari kebenaran.
Safangat Illahhi…
Bila kelak kekayaan datang,
jangan biarkan emas dunia
mengalahkan emas di dalam akhlak.
Bila kedudukan datang,
jangan biarkan pujian manusia
menghapus rasa syukur kepada Alloh.
Bila banyak mata memandang kagum,
ingatlah bahwa di balik jubah kemuliaan
masih ada hati yang harus terus dijaga
dari riya, kesombongan, dan kelalaian.
Dan bila suatu hari kehilangan datang,
jangan mengira cahaya telah padam.
Sebab cahaya sejati
tidak bergantung pada istana,
harta, pakaian, maupun mahkota.
Cahaya sejati hidup
di dalam hati yang tetap bersyukur
meskipun dunia mengambil kembali
apa yang pernah dititipkan.
Malam pun turun perlahan
menutupi istana dengan kesunyian.
Namun kedua mahkota mereka
masih memancarkan sinar.
Sang suami menggenggam tangan istrinya.
Sang istri membalas genggaman itu
dengan ketenangan.
Tidak banyak kata yang diucapkan.
Hanya ada satu doa
yang melayang menuju langit:
“Yā Alloh,
ketika kami kuat,
jauhkan kami dari kesombongan.
Ketika kami lemah,
jauhkan kami dari keputusasaan.
Ketika kami berbeda,
ajarkan kami untuk memahami.
Ketika kami terluka,
ajarkan kami untuk memaafkan.
Ketika dunia memisahkan langkah kami,
satukan kembali hati kami
dalam kebaikan dan keridhoan-Mu.”
Langit menjawab bukan dengan suara,
tetapi dengan ketenteraman
yang turun perlahan ke dalam dada.
Mereka pun menyadari,
bahwa janji kesetiaan
bukanlah ucapan yang hanya terdengar
pada hari-hari bahagia.
Janji kesetiaan adalah pilihan
yang diperbarui setiap hari:
memilih untuk tetap jujur,
memilih untuk tetap menghormati,
memilih untuk tidak membuka luka lama,
memilih untuk mendengar sebelum menuduh,
dan memilih untuk memperbaiki
sebelum memutuskan pergi.
Safangat Illahhi…
Berkobarlah di antara dua hati itu,
namun jangan menjadi api kemarahan.
Jadilah api pengharapan
yang menerangi malam-malam panjang.
Jadilah nyala keberanian
untuk mengakui kesalahan.
Jadilah sinar kebijaksanaan
untuk menerima kekurangan.
Jadilah cahaya kesetiaan
yang tidak berubah
hanya karena musim kehidupan berganti.
Sebab cinta yang sejati
bukanlah bunga yang hanya mekar
di musim kebahagiaan.
Ia adalah akar yang tetap bertahan
di dalam tanah yang gelap,
menunggu hujan rahmat,
menembus kerasnya batu ujian,
hingga suatu hari
tumbuh kembali menjadi pohon
yang menaungi banyak kehidupan.
Maka berdirilah kedua jiwa itu
di bawah mahkota matahari,
bukan sebagai dua manusia sempurna,
tetapi sebagai dua insan
yang bersedia terus belajar.
Belajar mencintai tanpa menguasai.
Belajar menjaga tanpa mencurigai.
Belajar menasihati tanpa merendahkan.
Belajar mengalah tanpa kehilangan harga diri.
Belajar memaafkan tanpa membenarkan kezaliman.
Dan belajar menyerahkan seluruh akhir perjalanan
kepada Alloh Yang Maha Mengetahui.
Ketika fajar pertama menyentuh istana,
keduanya melangkah menuruni singgasana.
Mahkota masih berada di atas kepala,
namun hati mereka telah tertunduk.
Sebab mereka akhirnya memahami:
Kemuliaan terbesar bukanlah ketika manusia
melihat kita bercahaya,
melainkan ketika Alloh melihat hati kita
tetap bersih meskipun diberi kemuliaan.
Dan janji itu pun kembali bergema
di antara cahaya yang tidak bertepi:
“Aku akan berjalan bersamamu,
bukan karena jalan ini selalu indah,
tetapi karena bersamamu
aku ingin belajar menjadi hamba
yang lebih sabar, lebih tulus,
dan semakin dekat kepada Alloh.”
Safangat Illahhi…
Jagalah dua jiwa dalam satu amanah.
Terangkan langkahnya ketika gelap.
Kuatkan genggamannya ketika rapuh.
Lembutkan ucapannya ketika marah.
Dan jadikan setiap perjalanan cinta mereka
sebagai jalan pulang
menuju ridho Sang Pemilik Cahaya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-3
Ketika Dua Cahaya Diuji oleh Malam
Malam turun tanpa suara,
menyelimuti istana keemasan
dengan bayang-bayang yang panjang.
Lentera masih menyala,
mahkota masih berkilau,
namun tidak semua cahaya
mampu mengusir gelap yang tumbuh
di dalam hati manusia.
Sebab ada malam
yang datang bukan dari langit,
melainkan dari kecewa
yang terlalu lama disimpan.
Ada gelap
yang lahir dari kata-kata kecil,
namun diucapkan berulang kali
hingga menjadi luka yang dalam.
Ada jarak
yang tidak terbentuk oleh gunung dan lautan,
tetapi oleh dua hati
yang berhenti saling mendengarkan.
Pada malam itu,
sang suami berdiri di dekat jendela,
memandang halaman istana
yang basah oleh embun.
Wajahnya tetap tenang,
namun di balik ketenangan itu
ada beban yang tidak sanggup ia ceritakan.
Ia telah berjalan jauh,
menanggung banyak urusan,
menyimpan kekhawatiran,
dan berusaha terlihat kuat
agar orang-orang di sekitarnya
tidak ikut kehilangan harapan.
Namun manusia tetaplah manusia.
Ada saatnya bahunya melemah.
Ada saatnya hatinya ingin didengar.
Ada saatnya ia tidak membutuhkan nasihat,
melainkan seseorang yang berkata:
“Tidak mengapa bila hari ini engkau lelah.
Duduklah sebentar.
Aku tidak akan menuntutmu
menjadi kuat setiap waktu.”
Di sisi lain ruangan,
sang istri duduk dalam diam.
Tangannya menggenggam ujung jubah,
sementara matanya memandang lantai
yang memantulkan cahaya mahkota.
Ia pun menyimpan kesedihan.
Bukan karena tidak mencintai,
melainkan karena terlalu banyak perasaan
yang tidak menemukan jalan keluar.
Ia ingin dimengerti
tanpa harus berteriak.
Ia ingin dipeluk
tanpa terlebih dahulu menjelaskan
mengapa air matanya jatuh.
Ia ingin diyakinkan
bahwa dirinya tetap berharga,
bahkan ketika wajahnya tidak tersenyum
dan langkahnya tidak lagi ringan.
Namun dua hati itu
sama-sama memilih diam.
Mereka berada dalam satu ruangan,
namun terasa seperti berdiri
di dua ujung dunia.
Safangat Illahhi…
Di manakah engkau
ketika cinta diuji oleh kesalahpahaman?
Di manakah engkau
ketika ego lebih nyaring daripada kasih sayang?
Di manakah engkau
ketika mulut ingin meminta maaf,
namun kesombongan menahannya?
Ternyata engkau tidak pergi.
Engkau masih menyala,
namun tertutup oleh debu amarah,
prasangka, kelelahan,
dan harapan yang tidak diucapkan.
Cahaya itu tidak padam.
Ia hanya menunggu
salah satu hati bersedia merendah,
mengulurkan tangan,
dan membuka kembali pintu percakapan.
Lalu terdengarlah suara hujan
menyentuh atap istana.
Setiap tetesnya
seperti mengetuk kesadaran mereka:
Bukankah kalian pernah berjanji
untuk saling menjaga,
bukan saling mengalahkan?
Sang suami menoleh perlahan.
Ia melihat sang istri
yang selama ini tampak kuat,
namun malam itu
menyimpan air mata di pelupuk matanya.
Mahkota yang besar
tidak mampu menyembunyikan kerapuhan.
Jubah keemasan
tidak mampu menutup kesedihan.
Dan pada saat itulah
ia memahami bahwa seseorang
dapat terlihat bercahaya di hadapan dunia,
namun tetap membutuhkan kehangatan
dari orang yang paling dicintainya.
Ia pun melangkah mendekat.
Tidak dengan kebanggaan seorang raja.
Tidak pula dengan suara yang memerintah.
Ia datang sebagai seorang manusia
yang menyadari kekurangannya.
Dengan suara pelan ia berkata:
“Mungkin selama ini aku terlalu sibuk
berusaha menjadi pelindung,
hingga lupa bahwa melindungi
juga berarti mendengarkanmu.
Maafkan aku
bila kelelahan membuat kata-kataku keras.
Maafkan aku
bila diamku membuatmu merasa sendirian.”
Sang istri mengangkat wajahnya.
Air mata yang ditahan
akhirnya mengalir perlahan.
Namun air mata itu
bukan tanda kekalahan.
Ia adalah air yang membersihkan
dinding-dinding prasangka
yang telah lama berdiri di antara mereka.
Dengan suara bergetar ia menjawab:
“Aku pun meminta maaf.
Kadang aku berharap engkau memahami
semua isi hatiku
tanpa aku mengatakannya.
Ketika harapanku tidak terpenuhi,
aku memilih diam,
lalu menganggap engkau tidak peduli.
Padahal mungkin engkau hanya
tidak mengetahui apa yang kurasakan.”
Hujan semakin deras.
Namun di dalam ruangan itu,
jarak mulai mencair.
Tidak semua masalah selesai
dalam satu percakapan.
Tidak semua luka sembuh
oleh satu permintaan maaf.
Namun sebuah pintu telah terbuka.
Pintu untuk belajar mendengarkan.
Pintu untuk mengakui kesalahan.
Pintu untuk berhenti menebak-nebak
dan mulai berkata jujur.
Sebab banyak cinta berakhir
bukan karena hilangnya kasih,
melainkan karena dua orang
terlalu lama memendam isi hati
dan berharap pasangannya
mampu membaca semua yang tidak diucapkan.
Safangat Illahhi…
Ajarkan mereka bahwa keterbukaan
bukan tanda kelemahan.
Mengatakan, “Aku terluka,”
bukan berarti kehilangan kehormatan.
Mengatakan, “Aku membutuhkanmu,”
bukan berarti kehilangan kemandirian.
Mengatakan, “Aku salah,”
bukan berarti seluruh diri menjadi buruk.
Justru hati yang berani mengakui kesalahan
adalah hati yang sedang bertumbuh.
Pada malam itu,
mereka menanggalkan mahkota
dan meletakkannya di atas meja.
Tanpa mahkota,
mereka tidak lagi terlihat
seperti raja dan ratu.
Mereka hanyalah dua insan biasa
yang sedang belajar
menyelamatkan sesuatu yang berharga.
Mereka duduk berdampingan,
tidak untuk mencari siapa yang paling benar,
tetapi untuk memahami
bagaimana luka itu bermula.
Sang suami mulai menceritakan
ketakutannya tentang masa depan,
tentang tanggung jawab yang menumpuk,
tentang kegagalan yang ia sembunyikan,
dan tentang kecemasan
bahwa dirinya belum cukup baik
untuk orang-orang yang ia cintai.
Sang istri mendengarkan
tanpa memotong.
Untuk pertama kalinya,
ia melihat bahwa ketegasan suaminya
kadang hanyalah pakaian
yang menutupi rasa takut.
Kemudian sang istri
menceritakan kesepiannya,
tentang hari-hari ketika ia merasa
tidak diperhatikan,
tentang kata-kata yang tampak sederhana
namun terus teringat,
dan tentang keinginannya
untuk kembali diperlakukan
seperti seseorang yang berharga.
Sang suami mendengarkan
tanpa membela diri.
Untuk pertama kalinya,
ia memahami bahwa kelembutan istrinya
bukan berarti ia tidak dapat terluka.
Malam terus berjalan.
Percakapan mereka tidak selalu mudah.
Kadang suara meninggi,
lalu keduanya berhenti
agar amarah tidak mengambil alih.
Kadang air mata kembali jatuh,
namun kali ini tidak disembunyikan.
Kadang tidak ada kata-kata,
hanya dua tangan yang saling menggenggam
sebagai tanda bahwa mereka
masih memilih bertahan.
Di luar istana,
angin menggugurkan daun-daun tua.
Seolah alam sedang mengajarkan
bahwa sesuatu harus dilepaskan
agar musim baru dapat datang.
Maka mereka pun melepaskan:
keinginan untuk selalu dimengerti
tanpa berbicara,
kebiasaan membawa kesalahan masa lalu
ke dalam pertengkaran hari ini,
kebutuhan untuk selalu menang,
dan gengsi yang membuat permintaan maaf
terasa lebih berat
daripada kehilangan orang yang dicintai.
Safangat Illahhi…
Jadilah keberanian
untuk memilih damai
tanpa menutup kebenaran.
Sebab berdamai
bukan berarti membiarkan kesalahan
terus berulang.
Memaafkan
bukan berarti meniadakan batas.
Kesabaran
bukan berarti menerima penghinaan
atau kekerasan tanpa perlindungan.
Cinta yang sehat
tidak menuntut seseorang
mengorbankan martabat dan keselamatannya.
Cinta yang diberkahi
mengajarkan tanggung jawab,
perubahan, penghormatan,
dan kesungguhan memperbaiki diri.
Maka sang suami berkata:
“Aku tidak ingin permintaan maafku
hanya menjadi kata-kata.
Beritahukan kepadaku
apa yang harus kuperbaiki,
dan lihatlah kesungguhanku
melalui perbuatan.”
Sang istri menjawab:
“Aku pun tidak ingin
menjadikan luka sebagai senjata.
Aku akan belajar berbicara lebih jujur,
tanpa menyindir,
tanpa menghukum dengan diam,
dan tanpa merendahkanmu.”
Lalu keduanya bangkit
dan mengambil air wudhu.
Mereka berdiri dalam sholat,
bukan sebagai pasangan yang telah sempurna,
melainkan sebagai dua hamba
yang menyadari bahwa hati manusia
mudah berubah
dan membutuhkan pertolongan Alloh.
Dalam sujud yang panjang,
mereka tidak meminta
agar seluruh ujian dihilangkan.
Mereka memohon
agar diberi kebijaksanaan
untuk melalui ujian
tanpa saling menghancurkan.
“Yā Alloh,
bila kami sedang marah,
tahanlah lisan kami
dari kata-kata yang meninggalkan luka.
Bila kami sedang kecewa,
jauhkanlah kami dari prasangka.
Bila hati kami mengeras,
lembutkanlah dengan mengingat-Mu.
Bila cinta kami melemah,
hidupkan kembali melalui akhlak,
tanggung jawab, dan kasih sayang.
Jangan jadikan rumah kami
tempat bersemayamnya dendam.
Jadikanlah ia tempat
kami belajar memaafkan
dan memperbaiki diri.”
Selesai berdoa,
mereka kembali mengenakan mahkota.
Namun kini mahkota itu terasa berbeda.
Bukan lagi sekadar perhiasan,
melainkan pengingat
bahwa menjaga sebuah hubungan
memerlukan kebesaran jiwa.
Kebesaran untuk mengalahkan ego.
Kebesaran untuk mengakui kesalahan.
Kebesaran untuk menerima kritik.
Kebesaran untuk berubah.
Dan kebesaran untuk tidak mempermalukan
orang yang pernah mempercayakan hatinya.
Fajar perlahan datang.
Cahaya pertama menyusup
melalui jendela istana,
menyentuh wajah mereka
yang masih menyimpan bekas air mata.
Tidak semua persoalan telah hilang.
Namun pagi itu,
mereka telah menemukan kembali
jalan menuju satu sama lain.
Sang istri bersandar
di bahu suaminya.
Sang suami menggenggam tangannya
dengan lebih lembut.
Lalu mereka berbisik bersama:
“Kami tidak tahu
berapa banyak malam
yang masih harus kami lewati.
Namun selama hati ini
masih bersedia kembali kepada Alloh,
bersedia berbicara dengan jujur,
dan bersedia memperbaiki kesalahan,
kami tidak akan membiarkan
satu malam yang gelap
menghapus seluruh cahaya
yang pernah kami bangun.”
Safangat Illahhi…
Bukanlah cahaya
yang membuat manusia tidak pernah terluka.
Engkau adalah cahaya
yang menolong manusia
menemukan jalan pulang
setelah terluka.
Bukanlah kekuatan
yang membuat pasangan tidak pernah berbeda.
Engkau adalah kekuatan
yang mengajarkan mereka
untuk tetap saling menghormati
di tengah perbedaan.
Bukanlah jaminan
bahwa rumah akan selalu tenang.
Engkau adalah kesadaran
untuk tidak membakar rumah sendiri
hanya karena satu percikan amarah.
Maka nyalakanlah kembali
pelita di antara mereka.
Biarkan malam menjadi guru.
Biarkan air mata menjadi pembersih.
Biarkan luka menjadi pelajaran.
Dan biarkan permintaan maaf
menjadi awal dari perubahan nyata.
Sebab dua cahaya
tidak harus selalu bersinar dengan kekuatan yang sama.
Ketika salah satunya meredup,
yang lain dapat menjaganya.
Ketika keduanya meredup,
mereka dapat kembali bersama
kepada Sumber segala cahaya.
Dan dari istana yang semalam gelap,
terbitlah cahaya baru—
lebih tenang,
lebih dewasa,
lebih jujur,
dan lebih memahami
bahwa cinta sejati bukan hubungan
yang tidak pernah diuji,
melainkan hubungan
yang terus belajar memperbaiki diri
setelah setiap ujian berlalu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-4
Saat Kemuliaan Menjadi Amanah
Pagi telah membuka tirai langit,
dan istana kembali dipenuhi cahaya.
Sinar keemasan menembus jendela-jendela tinggi,
menyentuh lantai, dinding, dan singgasana,
lalu berhenti di hadapan dua insan
yang berdiri dalam mahkota matahari.
Namun setelah melewati malam ujian,
mereka tidak lagi memandang mahkota
sebagai lambang kemegahan.
Mereka mulai memahami
bahwa setiap cahaya yang dititipkan
selalu membawa tanggung jawab.
Setiap kemuliaan
meminta kerendahan hati.
Setiap kedudukan
meminta keadilan.
Setiap kelapangan rezeki
meminta kepedulian.
Dan setiap pujian manusia
menuntut penjagaan hati
agar tidak kehilangan arah menuju Alloh.
Di luar gerbang istana,
orang-orang mulai berdatangan.
Ada yang datang membawa harapan.
Ada yang membawa kesedihan.
Ada yang meminta pertolongan.
Ada pula yang hanya ingin didengar
setelah lama berjalan seorang diri.
Sang suami memandang mereka
dari puncak tangga keemasan.
Ia melihat wajah-wajah lelah,
tangan-tangan kasar karena bekerja,
dan mata-mata yang menyimpan doa
yang belum menemukan jawaban.
Pada saat itu ia berkata dalam hati:
“Untuk apa aku mengenakan mahkota
bila tidak mampu menundukkan kepala
kepada mereka yang membutuhkan?”
Sang istri berdiri di sisinya.
Ia melihat seorang ibu
menggendong anaknya yang sakit.
Ia melihat seorang perempuan tua
berjalan perlahan dengan tongkat.
Ia melihat seorang anak kecil
menatap kemegahan istana
dengan mata penuh rasa ingin tahu,
namun pakaiannya telah usang
dan kakinya tidak beralas.
Hatinya bergetar.
Lalu ia berkata:
“Kemuliaan tidak diberikan
agar kita semakin jauh dari manusia.
Kemuliaan diberikan
agar tangan kita mampu menjangkau
lebih banyak kehidupan.”
Maka keduanya menuruni tangga.
Bukan untuk menerima penghormatan,
melainkan untuk mendekat
kepada orang-orang yang menunggu.
Mahkota mereka masih bersinar,
namun cahaya paling terang
justru terlihat ketika mereka
mendengarkan keluhan tanpa merendahkan,
membantu tanpa mempermalukan,
dan memberi tanpa menuntut pujian.
Safangat Illahhi…
Engkau bukan semangat
untuk menguasai manusia.
Engkau adalah semangat
untuk menguasai diri sendiri.
Menguasai amarah
ketika ucapan orang lain menyakitkan.
Menguasai kesombongan
ketika dunia mulai memuji.
Menguasai keinginan
untuk selalu dipandang paling benar.
Menguasai rasa takut
ketika kebenaran harus disampaikan.
Sebab musuh terbesar
tidak selalu datang dari luar istana.
Kadang ia hidup
di dalam dada sendiri:
keinginan untuk dipuja,
rasa haus terhadap kedudukan,
kebiasaan meremehkan orang lemah,
dan keyakinan bahwa diri
lebih suci daripada manusia lain.
Pada hari itu,
sang suami duduk di tengah rakyatnya.
Tidak di atas singgasana,
melainkan di atas tikar sederhana.
Seorang petani menghampirinya
dan berkata:
“Tuan, tanah kami telah lama kering.
Kami bekerja dari pagi hingga malam,
tetapi hasilnya tidak cukup
untuk memberi makan keluarga.”
Sang suami tidak segera menjawab.
Ia mendengarkan sampai selesai,
bertanya tentang keadaan tanah,
tentang aliran air,
tentang beban yang mereka tanggung,
dan tentang bantuan
yang benar-benar mereka perlukan.
Ia tidak memberikan janji besar
hanya agar dianggap baik.
Ia memilih mencatat,
memeriksa,
dan bertindak dengan sungguh-sungguh.
Sebab ia menyadari:
Pertolongan bukan sekadar kata-kata indah.
Pertolongan membutuhkan keberanian
untuk memikul tanggung jawab.
Di sisi lain,
sang istri duduk bersama para perempuan.
Ia tidak mengajarkan mereka
dari tempat yang tinggi.
Ia mendengarkan kisah-kisah
tentang rumah tangga yang berat,
tentang anak-anak yang harus dibesarkan,
tentang kehilangan,
tentang kegagalan,
dan tentang air mata
yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Ia menggenggam tangan mereka
dan berkata:
“Kalian tidak lemah
hanya karena pernah menangis.
Kalian tidak gagal
hanya karena hidup tidak berjalan
seperti yang pernah kalian harapkan.”
Lalu ia mengajak mereka
untuk saling menguatkan,
belajar, bekerja, berdoa,
dan menjaga martabat
tanpa menindas manusia lain.
Hari demi hari,
istana yang dahulu hanya dipenuhi kemegahan
mulai berubah.
Sebagian aula dibuka
untuk tempat belajar.
Sebagian halaman digunakan
untuk membagikan makanan.
Sebagian ruangan dijadikan tempat
orang-orang dapat datang,
bercerita,
mendapatkan nasihat,
dan menemukan jalan pertolongan.
Tidak semua orang memuji perubahan itu.
Ada yang berkata:
“Kemuliaan akan berkurang
bila istana terlalu dekat dengan rakyat.”
Ada pula yang berbisik:
“Mengapa harus memberi terlalu banyak?
Bukankah semua yang dimiliki
adalah hasil perjuangan sendiri?”
Namun sang suami menjawab:
“Tidak ada kekayaan
yang sepenuhnya lahir dari tangan kita.
Ada kesehatan yang diberikan Alloh,
kesempatan yang dibukakan,
pertolongan manusia lain,
dan jalan yang dilapangkan
tanpa pernah kita rencanakan.”
Sang istri menambahkan:
“Apa yang berada di tangan kita
bukan seluruhnya milik kita.
Sebagiannya adalah hak mereka
yang dititipkan Alloh
melalui kelapangan hidup kita.”
Safangat Illahhi…
Jadilah cahaya
yang membuat hati tidak takut berbagi.
Namun ajarkan pula kebijaksanaan,
agar kemurahan tidak berubah
menjadi tindakan tanpa pertimbangan.
Menolong bukan berarti
membiarkan seseorang bergantung selamanya.
Memberi bukan berarti
mengabaikan tanggung jawab keluarga.
Mencintai manusia bukan berarti
mengikuti semua keinginannya.
Pertolongan yang baik
bukan hanya menghapus lapar hari ini,
tetapi membantu seseorang
menemukan kemampuan
untuk berdiri pada hari berikutnya.
Maka mereka tidak hanya membagikan makanan.
Mereka membuka tempat belajar,
mengajarkan keterampilan,
membantu orang mendapatkan pekerjaan,
dan menjaga agar orang lemah
tidak dipermainkan oleh mereka
yang memiliki kekuasaan.
Mahkota matahari di atas kepala mereka
semakin bersinar.
Namun semakin terang sinarnya,
semakin mereka merasakan
betapa berat amanah yang dipikul.
Pada suatu malam,
setelah semua orang meninggalkan istana,
sang suami duduk dalam kelelahan.
Ia berkata kepada istrinya:
“Aku takut tidak mampu
memenuhi semua harapan mereka.”
Sang istri memandangnya dengan lembut.
“Kita memang tidak mampu
menyelesaikan seluruh penderitaan dunia.
Kita hanya diperintahkan
untuk melakukan bagian kita
dengan jujur dan bersungguh-sungguh.”
Sang suami menunduk.
“Bagaimana bila aku salah mengambil keputusan?”
Sang istri menjawab:
“Mintalah petunjuk kepada Alloh.
Dengarkan orang-orang yang berilmu.
Jangan malu mengoreksi kesalahan.
Pemimpin yang baik
bukanlah orang yang tidak pernah salah,
melainkan orang yang tidak mempertahankan
kesalahan karena kesombongan.”
Kata-kata itu menenangkan hatinya.
Mereka pun memahami
bahwa kebersamaan mereka
bukan hanya untuk saling mencintai,
tetapi untuk saling menjaga
agar kekuasaan tidak mengubah hati.
Ketika sang suami terlalu keras,
sang istri mengingatkan dengan kelembutan.
Ketika sang istri terlalu terbawa perasaan,
sang suami membantu melihat
dengan pertimbangan yang lebih luas.
Ketika salah satu dipuji,
yang lain mengingatkan:
“Jangan lupa, seluruh kebaikan
hanyalah pertolongan Alloh.”
Ketika salah satu dicela,
yang lain berkata:
“Periksa dahulu dirimu.
Bila celaan itu benar, perbaikilah.
Bila tidak benar, bersabarlah
dan jangan membalas dengan kezaliman.”
Safangat Illahhi…
Jagalah mereka
dari mabuk pujian.
Sebab pujian dapat menjadi madu
yang mengandung racun kesombongan.
Ia terasa manis di telinga,
namun perlahan membuat seseorang
tidak mampu lagi mendengar kebenaran.
Jangan biarkan mereka
hanya dikelilingi orang-orang
yang selalu berkata benar
terhadap semua keinginan mereka.
Hadapkan mereka
kepada sahabat yang jujur,
penasihat yang berani,
dan guru yang tidak silau
oleh kedudukan.
Sebab orang yang hanya ingin dipuji
akan kehilangan cermin
untuk melihat kekurangannya sendiri.
Suatu hari,
seorang lelaki tua datang ke istana.
Ia tidak membawa hadiah.
Ia tidak menundukkan kepala berlebihan.
Ia hanya berdiri dengan tenang
dan berkata kepada sang suami:
“Tuan, ada keputusanmu
yang telah menyakiti banyak orang.”
Para penjaga menjadi marah.
Namun sang suami mengangkat tangan
dan memerintahkan mereka diam.
Ia mempersilakan lelaki itu berbicara.
Lelaki tua tersebut menjelaskan
dengan bukti dan kesaksian.
Ternyata benar,
sebuah keputusan yang dahulu dianggap tepat
telah menimbulkan kesulitan
bagi sebagian masyarakat.
Sang suami merasa malu.
Namun ia tidak menyembunyikannya.
Ia berdiri di hadapan orang banyak
dan berkata:
“Aku telah keliru.
Kesalahan ini terjadi dalam tanggung jawabku.
Aku tidak akan menyalahkan bawahan
untuk menyelamatkan kehormatanku.”
Lalu ia mencabut keputusan itu,
memperbaiki kerugian,
dan meminta maaf kepada mereka
yang terdampak.
Sebagian orang terkejut.
Mereka mengira seorang yang bermahkota
tidak pernah mengakui kesalahan.
Namun hari itu mereka melihat
bahwa kemuliaan tidak berkurang
karena permintaan maaf.
Justru kemuliaan bertambah
ketika seseorang berani
meletakkan kebenaran
di atas harga dirinya.
Sang istri memandangnya
dengan mata yang penuh syukur.
“Hari ini,” katanya,
“mahkotamu lebih bercahaya
daripada sebelumnya.”
Sang suami tersenyum.
“Bukan karena aku tidak bersalah,
melainkan karena Alloh
memberiku keberanian
untuk tidak bersembunyi
di balik kedudukan.”
Malam berikutnya,
mereka berjalan di taman istana.
Bunga-bunga emas bergoyang ditiup angin,
dan kolam memantulkan sinar bulan.
Sang istri berkata:
“Aku mulai memahami
mengapa cahaya harus dijaga.”
Sang suami bertanya:
“Mengapa?”
Ia menjawab:
“Karena cahaya yang besar
dapat menerangi banyak kehidupan,
tetapi bila dikuasai kesombongan,
ia dapat berubah menjadi api
yang membakar orang lain.”
Mereka berhenti di tepi kolam.
Bayangan dua mahkota
terlihat di permukaan air.
Namun ketika angin datang,
bayangan itu pecah menjadi gelombang.
Sang suami berkata:
“Begitulah kemuliaan dunia.
Terlihat kokoh,
tetapi dapat hilang
hanya oleh satu hembusan takdir.”
Sang istri menatap langit.
“Maka jangan cintai mahkotanya.
Cintailah amanah yang dibawanya.”
Safangat Illahhi…
Ajarkan mereka
untuk tetap sederhana
di tengah kelimpahan.
Ajarkan mereka makan
tanpa berlebih-lebihan.
Ajarkan mereka berbicara
tanpa merendahkan.
Ajarkan mereka berjalan
tanpa meminta semua kepala menunduk.
Ajarkan mereka mengingat
bahwa tubuh yang mengenakan jubah emas
kelak tetap akan kembali kepada tanah.
Tidak ada mahkota
yang dibawa menuju kubur.
Tidak ada singgasana
yang mampu menahan kematian.
Tidak ada pujian manusia
yang dapat menggantikan
satu amal yang ikhlas.
Yang akan tinggal hanyalah:
kebaikan yang pernah diberikan,
kezaliman yang pernah dilakukan,
doa orang-orang yang tertolong,
dan luka mereka
yang pernah diperlakukan tidak adil.
Maka sebelum hari perpisahan tiba,
gunakanlah kekuatan untuk melindungi.
Gunakanlah kekayaan untuk menolong.
Gunakanlah ilmu untuk menerangi.
Gunakanlah suara untuk membela kebenaran.
Dan gunakanlah cinta
untuk menyembuhkan rumah
sebelum berusaha menyembuhkan dunia.
Sebab tidak ada gunanya
tampak bijaksana di hadapan banyak orang,
namun berlaku kasar
kepada keluarga sendiri.
Tidak ada gunanya
memberi sedekah di tempat ramai,
namun membiarkan orang terdekat
hidup dalam ketakutan dan kesepian.
Tidak ada gunanya
mengucapkan kata-kata suci,
bila akhlak tidak ikut bercahaya.
Pada malam yang sunyi,
mereka berdiri bersama dalam sholat.
Mahkota telah ditanggalkan.
Jubah keemasan telah disimpan.
Di hadapan Alloh,
mereka tidak memiliki gelar.
Tidak ada raja.
Tidak ada ratu.
Tidak ada penguasa.
Tidak ada orang yang lebih tinggi
daripada hamba yang lain.
Mereka hanya dua manusia
yang membutuhkan ampunan,
petunjuk,
dan pertolongan.
Dalam sujud,
sang suami berdoa:
“Yā Alloh,
bila kekuasaan membuatku lupa diri,
runtuhkan kesombonganku
sebelum aku menzalimi hamba-Mu.”
Sang istri berdoa:
“Yā Alloh,
bila kemuliaan membuatku mencintai pujian,
kembalikan hatiku
kepada keikhlasan.”
Lalu mereka berdoa bersama:
“Jangan jadikan cahaya ini
alasan kami merasa lebih suci.
Jadikanlah ia penerang
untuk melihat kekurangan diri.
Jangan jadikan mahkota ini
alat untuk meninggikan kepala.
Jadikanlah ia beban amanah
yang membuat kami semakin tunduk.
Jangan jadikan kelapangan
menjauhkan kami dari orang yang menderita.
Jadikanlah ia jalan
untuk mengangkat mereka yang terjatuh.”
Fajar pun kembali datang.
Burung-burung terbang
melintasi menara istana.
Gerbang dibuka.
Orang-orang berdatangan
membawa kehidupan dengan segala persoalannya.
Dua insan itu kembali berdiri
dalam jubah keemasan.
Namun kali ini
mereka tidak melihat diri
sebagai pemilik cahaya.
Mereka hanyalah penjaga.
Penjaga amanah.
Penjaga keadilan.
Penjaga kasih sayang.
Penjaga satu sama lain.
Dan penjaga hati
agar tetap mengingat Sang Pemilik Cahaya.
Safangat Illahhi…
Teruslah menyala
di dalam keberanian untuk melayani.
Bukan menyala agar dikagumi,
melainkan agar jalan manusia
menjadi lebih terang.
Bukan berdiri agar disembah,
melainkan agar yang lemah
memiliki tempat berlindung.
Bukan memerintah untuk memuaskan diri,
melainkan untuk menjaga keseimbangan
dan menegakkan keadilan.
Karena mahkota yang paling tinggi
adalah akhlak yang rendah hati.
Singgasana yang paling kokoh
adalah kepercayaan manusia
yang dibangun dengan kejujuran.
Istana yang paling indah
adalah hati yang tidak menyimpan kezaliman.
Dan kemuliaan yang paling abadi
bukanlah ketika nama seseorang
diukir dengan emas,
melainkan ketika namanya
disebut dalam doa
oleh mereka yang pernah ditolongnya.
Maka berjalanlah,
wahai dua cahaya.
Berjalanlah tanpa merasa
bahwa dunia berada di bawah kaki kalian.
Berjalanlah sebagai dua hamba
yang saling mengingatkan:
“Semakin tinggi Alloh mengangkat kita,
semakin dalam kita harus menunduk.”
Dan saat senja kembali turun,
mahkota mereka memancarkan
warna emas yang lembut.
Bukan cahaya yang menyilaukan,
melainkan cahaya
yang menenteramkan.
Cahaya yang berkata:
Kemuliaan bukanlah hak untuk berkuasa.
Kemuliaan adalah kesempatan untuk mengabdi.
Safangat Illahhi…
Tetapkan hati mereka
dalam keadilan.
Lindungi langkah mereka
dari kesombongan.
Jadikan rumah mereka
tempat lahirnya kasih sayang.
Jadikan kekuatan mereka
perlindungan bagi yang lemah.
Dan ketika seluruh mahkota dunia
akhirnya harus ditanggalkan,
terimalah mereka sebagai dua hamba
yang pernah berusaha menjaga amanah
dengan cinta, kejujuran,
dan kerendahan hati.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-5
Warisan Cahaya yang Tidak Dapat Dibeli Dunia
Senja turun perlahan
di atas istana yang telah lama berdiri.
Langit keemasan berubah lembut,
burung-burung pulang ke sarangnya,
dan angin membawa harum bunga
melewati lorong-lorong panjang
yang dahulu hanya dipenuhi
gema langkah dua insan bermahkota.
Kini lorong itu tidak lagi sunyi.
Terdengar suara anak-anak belajar,
suara para ibu menenangkan buah hatinya,
suara para pemuda berdiskusi,
dan lantunan doa orang-orang tua
yang mengisi ruang dengan ketenteraman.
Sang suami dan sang istri
berdiri di balkon istana.
Mahkota matahari masih berada
di atas kepala mereka,
namun sinarnya kini lebih lembut.
Bukan lagi cahaya
yang menuntut perhatian,
melainkan cahaya yang menaungi.
Mereka telah memahami
bahwa kehidupan bukan hanya
tentang apa yang berhasil dikumpulkan,
tetapi tentang apa yang ditinggalkan
setelah tangan tidak lagi mampu menggenggam.
Harta dapat diwariskan.
Tanah dapat dibagikan.
Istana dapat berpindah kepemilikan.
Nama dapat diukir
pada batu yang paling mahal.
Namun ada warisan
yang tidak dapat dibeli oleh emas:
akhlak yang baik,
ilmu yang bermanfaat,
doa yang terus mengalir,
dan keberanian untuk hidup
di atas jalan kebenaran.
Sang suami memandang jauh
ke arah matahari yang tenggelam.
Dengan suara pelan ia berkata:
“Suatu hari nanti,
kita tidak lagi berdiri di tempat ini.
Mahkota akan berpindah tangan,
dan suara kita hanya tinggal kenangan.”
Sang istri menatap halaman istana
yang dipenuhi kehidupan.
“Karena itulah,” jawabnya,
“jangan hanya meninggalkan kemegahan.
Tinggalkanlah jalan
yang dapat mereka ikuti
ketika kita telah tiada.”
Safangat Illahhi…
Jadilah semangat
yang mengajarkan manusia
untuk memikirkan masa depan
tanpa melupakan akhir perjalanan.
Jadilah cahaya
yang menuntun mereka membangun
bukan hanya untuk satu hari,
tetapi untuk generasi
yang belum pernah mereka jumpai.
Jangan biarkan mereka
terlalu sibuk memperindah dinding,
namun lupa memperindah akhlak.
Jangan biarkan mereka
mendirikan bangunan yang tinggi,
namun membiarkan pikiran anak-anak
tetap gelap tanpa ilmu.
Jangan biarkan mereka
mengumpulkan kekayaan,
namun meninggalkan keluarga
dengan luka, pertengkaran,
dan perebutan warisan.
Sebab warisan yang besar
tanpa kebijaksanaan
dapat menjadi api perselisihan.
Sedangkan warisan yang sederhana
disertai iman, ilmu, dan kasih sayang
dapat menjadi taman
yang meneduhkan banyak keturunan.
Pada hari itu,
mereka memanggil anak-anak
dan para pemuda ke aula utama.
Tidak ada pesta kemegahan.
Tidak ada pertunjukan
untuk memamerkan kekuasaan.
Di tengah aula
hanya terdapat sebuah meja kayu,
beberapa kitab ilmu,
alat-alat pertanian,
lembaran kosong,
dan sebuah lentera yang menyala.
Seorang anak bertanya:
“Mengapa tidak ada emas
di atas meja ini?”
Sang suami tersenyum.
“Karena emas dapat hilang,
dirampas, atau dihabiskan.
Tetapi ilmu yang diamalkan
akan tumbuh semakin luas
ketika dibagikan.”
Anak yang lain menunjuk lentera.
“Apakah cahaya ini
lambang mahkota kita?”
Sang istri menjawab:
“Bukan.
Cahaya ini mengingatkan
bahwa siapa pun dapat menjadi penerang,
meskipun ia tidak mengenakan mahkota.”
Lalu sang suami mengambil kitab
dan meletakkannya di hadapan mereka.
“Bacalah,
tetapi jangan merasa paling tahu.”
Ia menunjukkan alat pertanian.
“Bekerjalah,
tetapi jangan merendahkan
pekerjaan orang lain.”
Ia menunjukkan lembaran kosong.
“Tulislah kebaikan,
gagasan, dan pengalaman kalian,
agar generasi berikutnya
tidak selalu memulai dari kegelapan.”
Kemudian ia menunjuk lentera.
“Dan jagalah hati.
Sebab ilmu tanpa kejernihan hati
dapat digunakan untuk menipu.
Kekuasaan tanpa akhlak
dapat berubah menjadi kezaliman.
Kekayaan tanpa rasa syukur
dapat menumbuhkan keserakahan.”
Anak-anak mendengarkan
dengan wajah penuh perhatian.
Namun salah seorang pemuda bertanya:
“Bagaimana kami menjaga warisan
agar tidak rusak oleh zaman?”
Sang istri melangkah ke depan.
“Jangan menjaga bentuknya saja.
Jagalah nilai yang berada di dalamnya.”
Ia mengambil sebuah cawan tua
yang telah diwariskan bertahun-tahun.
“Cawan ini dapat pecah.
Ukirannya dapat memudar.
Namun nilai yang mengajarkan
agar kita memberi minum kepada yang haus
harus tetap hidup,
sekalipun cawannya berganti.”
Kemudian ia menunjukkan istana.
“Bangunan ini pun dapat runtuh.
Namun selama kalian menjaga
keadilan, kasih sayang, ilmu,
dan pelayanan kepada sesama,
ruh kebaikannya tidak akan mati.”
Maka mereka mulai mengajarkan
bahwa menghormati warisan
bukan berarti membekukan zaman.
Tradisi yang baik dijaga.
Kesalahan masa lalu diperbaiki.
Ilmu baru dipelajari.
Kebijaksanaan lama direnungkan.
Dan semuanya ditimbang
dengan kebenaran, manfaat,
serta akhlak yang mulia.
Safangat Illahhi…
Jangan biarkan generasi baru
menjadi tawanan masa lalu.
Namun jangan pula biarkan mereka
memutus seluruh akar
hingga kehilangan arah.
Ajarkan mereka mengenal asalnya
tanpa membenci asal orang lain.
Ajarkan mereka mencintai budaya
tanpa menyembah kebanggaan.
Ajarkan mereka menghormati leluhur
tanpa menganggap leluhur
terbebas dari kekurangan.
Ajarkan bahwa kemuliaan seseorang
tidak ditentukan oleh garis keturunan,
tetapi oleh ketakwaan, amal,
dan manfaatnya bagi kehidupan.
Sebab nama besar keluarga
tidak dapat menyelamatkan
orang yang berlaku zalim.
Mahkota leluhur
tidak dapat menggantikan
akhlak keturunannya.
Dan kisah kejayaan masa silam
tidak akan berarti
bila hari ini dipenuhi kemalasan,
permusuhan, dan kesombongan.
Pada malam berikutnya,
sang suami mengajak anak-anak
berjalan mengelilingi istana.
Ia tidak menunjukkan
ruang penyimpanan emas.
Ia membawa mereka
ke dapur umum
tempat makanan dibagikan.
Ia membawa mereka
ke ruang belajar
tempat anak-anak miskin membaca.
Ia membawa mereka
ke tempat para tabib merawat orang sakit.
Ia membawa mereka
ke kebun tempat para pekerja
menanam bahan makanan.
“Inilah jantung istana,” katanya.
Seorang anak merasa heran.
“Bukankah singgasana
adalah pusat kekuasaan?”
Sang suami menggeleng.
“Singgasana hanyalah tempat duduk.
Sebuah kerajaan hidup
karena banyak tangan
yang bekerja dengan jujur.”
Ia menunjuk para petani.
“Tanpa mereka,
meja kita akan kosong.”
Ia menunjuk para guru.
“Tanpa mereka,
pikiran kita akan gelap.”
Ia menunjuk para penjaga.
“Tanpa mereka,
keamanan akan rapuh.”
Ia menunjuk para ibu
yang menyiapkan makanan.
“Tanpa kasih dan kerja mereka,
rumah sebesar apa pun
akan terasa dingin.”
Anak-anak mulai mengerti
bahwa kebesaran bukanlah
berdiri di atas banyak manusia,
melainkan mampu menghormati
peran setiap manusia.
Sementara itu,
sang istri mengajak para putri
dan perempuan muda
duduk di taman cahaya.
Ia berkata:
“Jangan kalian ukur harga diri
hanya dari wajah, pakaian,
atau pujian yang diberikan dunia.”
Ia melepaskan sebuah gelang emas
dan meletakkannya di atas tanah.
“Emas ini indah,
tetapi tidak dapat menghibur
hati yang sedang patah.”
Ia menunjuk sebuah buku.
“Ilmu dapat membantu kalian
memahami kehidupan.”
Ia menunjuk tangan mereka.
“Keterampilan membuat kalian
mampu berdiri dan berkarya.”
Ia menunjuk dada.
“Namun hati yang mengenal Alloh,
menjaga kehormatan,
dan menghargai sesama
adalah perhiasan
yang tidak dapat dicuri siapa pun.”
Seorang perempuan muda bertanya:
“Apakah kelembutan
membuat kami dianggap lemah?”
Sang istri menjawab:
“Tidak.
Kelembutan yang disertai ketegasan
adalah kekuatan yang besar.”
“Kalian boleh memaafkan,
tetapi jangan membiarkan kezaliman
terus berulang.”
“Kalian boleh mencintai,
tetapi jangan kehilangan diri.”
“Kalian boleh berkorban,
tetapi jangan menyerahkan
martabat dan keselamatan
kepada orang yang menyakiti.”
“Jadilah lembut tanpa mudah ditindas,
tegas tanpa menjadi kasar,
cerdas tanpa merendahkan,
dan bercahaya tanpa meminta disembah.”
Safangat Illahhi…
Alirkan semangat-Mu
ke dalam pendidikan generasi.
Jadikan rumah sebagai sekolah pertama
bagi kejujuran.
Jadikan orang tua sebagai teladan,
bukan hanya pemberi perintah.
Jangan biarkan seorang ayah
menyuruh anaknya berkata benar,
sementara dirinya hidup dalam kebohongan.
Jangan biarkan seorang ibu
mengajarkan kesabaran,
sementara setiap kesalahan kecil
dibalas dengan penghinaan.
Jangan biarkan nasihat
berjalan jauh dari perbuatan.
Sebab anak-anak
lebih kuat mengingat contoh
daripada seribu ucapan.
Ketika mereka melihat
orang tuanya meminta maaf,
mereka belajar kerendahan hati.
Ketika mereka melihat
orang tuanya menepati janji,
mereka belajar amanah.
Ketika mereka melihat
orang tuanya menghormati pekerja,
mereka belajar kesetaraan manusia.
Ketika mereka melihat
orang tuanya bersedekah diam-diam,
mereka belajar keikhlasan.
Dan ketika mereka melihat
orang tuanya kembali kepada Alloh
setelah melakukan kesalahan,
mereka belajar bahwa manusia
tidak harus sempurna
untuk menjadi baik—
tetapi harus bersedia
terus memperbaiki diri.
Pada suatu malam,
sang suami pulang dengan wajah sedih.
Ia baru saja mendengar
dua saudara berselisih
karena memperebutkan harta keluarga.
Keduanya dahulu tumbuh bersama,
makan dari meja yang sama,
dan bermain di halaman yang sama.
Namun setelah orang tuanya wafat,
tanah dan emas
membuat kasih mereka retak.
Sang suami berkata kepada istrinya:
“Aku takut apa yang kita tinggalkan
justru menjadi penyebab
mereka saling menyakiti.”
Sang istri menjawab:
“Maka jangan hanya membagi harta.
Tanamkanlah tanggung jawab
sebelum harta itu sampai ke tangan mereka.”
Mereka pun menyusun amanah
dengan terbuka dan adil.
Tidak ada keputusan yang disembunyikan.
Tidak ada anak yang dimanjakan
hingga merasa lebih berhak.
Tidak ada seorang pun
yang direndahkan karena pilihannya berbeda.
Mereka mengajarkan
bahwa menerima warisan
bukan sekadar memperoleh hak,
melainkan memikul kewajiban
untuk menjaganya dengan benar.
Tanah harus digunakan
untuk memberi kehidupan.
Ilmu harus dibagikan.
Kekayaan harus dikelola dengan amanah.
Dan nama keluarga
harus dijaga melalui akhlak,
bukan melalui kesombongan.
“Bila kalian menerima banyak,”
kata sang suami,
“maka banyak pula
yang akan dipertanggungjawabkan.”
“Bila kalian menerima sedikit,”
sambung sang istri,
“jangan merasa hidup kalian lebih rendah.
Nilai seorang manusia
tidak ditimbang oleh jumlah hartanya.”
Tahun demi tahun berlalu.
Rambut sang suami
mulai disisipi warna putih.
Wajah sang istri
menyimpan garis-garis halus
yang menjadi catatan perjalanan.
Jubah emas masih mereka kenakan
pada hari-hari tertentu.
Namun lebih sering
mereka memilih pakaian sederhana
dan berjalan tanpa iring-iringan.
Mereka mengunjungi kebun,
ruang belajar,
rumah-rumah masyarakat,
dan makam orang-orang
yang dahulu berjuang bersama mereka.
Di depan sebuah makam sederhana,
sang suami berlutut.
“Dahulu ia membantuku
ketika tidak seorang pun mengenalku,”
katanya.
Sang istri menaburkan bunga.
“Tetapi namanya tidak tertulis
di aula kehormatan.”
Sang suami menunduk.
“Maka mulai hari ini,
catatlah nama mereka
yang bekerja dalam kesunyian.
Jangan biarkan sejarah
hanya mengingat orang yang berada
di atas panggung.”
Sejak saat itu,
mereka mengumpulkan kisah
para petani, guru, ibu, pekerja,
penjaga, penyembuh, penulis,
dan orang-orang sederhana
yang menjaga kehidupan
tanpa mengharapkan pujian.
Mereka memahami
bahwa sejarah yang jujur
tidak hanya bercerita
tentang mahkota dan peperangan.
Sejarah juga harus mencatat
tangan-tangan yang menanam,
air mata yang disembunyikan,
doa yang dipanjatkan tengah malam,
dan pengorbanan orang-orang kecil
yang membuat peradaban tetap berdiri.
Safangat Illahhi…
Jadilah pena
yang mencatat kebenaran.
Jangan biarkan sejarah
ditulis hanya untuk meninggikan pemenang.
Catat pula kesalahan mereka,
agar generasi berikutnya
tidak mengulanginya.
Catat keberanian orang-orang sederhana,
agar dunia mengetahui
bahwa cahaya tidak selalu
datang dari istana.
Catat air mata para ibu,
perjuangan para ayah,
ketekunan para guru,
dan kesabaran anak-anak
yang tumbuh dalam kesulitan.
Sebab setiap kehidupan
memiliki ayat pengajaran.
Setiap luka
dapat menjadi pintu kebijaksanaan.
Dan setiap manusia
dapat meninggalkan cahaya
meskipun namanya tidak dikenal dunia.
Suatu malam,
kedua insan itu duduk
di bawah pohon tua.
Mahkota mereka diletakkan
di atas sebuah kain putih.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada penjaga.
Hanya ada suara angin
dan bintang-bintang.
Sang suami berkata:
“Apakah engkau menyesal
berjalan sejauh ini bersamaku?”
Sang istri tersenyum.
“Aku menyesali beberapa kata
yang pernah kuucapkan ketika marah.
Aku menyesali waktu
ketika aku tidak mendengarkanmu.
Namun aku tidak menyesali
perjalanan yang mengajarkan kita
untuk bertumbuh bersama.”
Sang suami menggenggam tangannya.
“Aku pun tidak sempurna.
Ada hari ketika aku terlalu keras.
Ada saat ketika kesibukan
membuatku lupa memandang wajahmu.”
Sang istri menjawab:
“Kita tidak dapat kembali
untuk mengulang masa lalu.
Tetapi kita masih memiliki hari ini
untuk memperbaiki apa yang tersisa.”
Mereka pun berdiam dalam syukur.
Tidak lagi meminta masa muda kembali.
Tidak lagi menyesali
setiap perubahan tubuh.
Sebab rambut yang memutih
adalah saksi ketabahan.
Garis di wajah
adalah jejak tawa dan air mata.
Tangan yang mulai bergetar
adalah tangan yang dahulu
mengangkat banyak beban.
Dan langkah yang melambat
adalah langkah yang telah menempuh
jalan sangat panjang.
Safangat Illahhi…
Ajarkan manusia menghormati usia.
Jangan biarkan orang tua
merasa tidak berguna
hanya karena tubuhnya melemah.
Mereka membawa pengalaman
yang tidak dapat diperoleh
dari satu malam pembelajaran.
Dengarkan kisah mereka.
Rawatlah mereka
sebagaimana dahulu
mereka merawat anak-anaknya.
Jangan hanya datang
ketika membutuhkan warisan.
Datanglah ketika mereka kesepian.
Duduklah di sisinya.
Tanyakan kesehatannya.
Dengarkan cerita
yang mungkin telah diulang berkali-kali.
Sebab suatu hari nanti,
kursi itu akan kosong,
dan suara yang dahulu dianggap biasa
akan sangat dirindukan.
Malam semakin dalam.
Dua insan itu bangkit
dan berjalan menuju ruang sholat.
Mereka melepaskan mahkota.
Meletakkan jubah kebesaran.
Kemudian berdiri sebagai dua hamba
yang semakin menyadari
pendeknya kehidupan.
Dalam sujud,
sang suami berdoa:
“Yā Alloh,
jangan jadikan peninggalanku
sebagai sumber pertengkaran.
Jadikanlah ia manfaat
bagi mereka yang datang setelahku.”
Sang istri berdoa:
“Yā Alloh,
bila suatu hari namaku dilupakan manusia,
jangan biarkan amal kebaikanku
terputus di sisi-Mu.”
Lalu mereka berdoa bersama:
“Ampunilah kesalahan kami
yang diketahui maupun tersembunyi.
Perbaikilah keturunan kami,
bukan hanya dalam kekayaan,
tetapi dalam iman, akhlak, ilmu,
kesehatan hati, dan kepedulian.
Jangan jadikan mereka
bangga karena nama kami,
namun lalai membangun namanya sendiri
melalui amal yang baik.
Bila mereka meneruskan perjuangan,
jagalah dari kesombongan.
Bila mereka memilih jalan berbeda,
tuntunlah agar tetap berada
dalam kebenaran dan ridho-Mu.”
Selesai berdoa,
mereka memandang lentera
yang tetap menyala di sudut ruangan.
Nyala itu kecil.
Tidak sebesar cahaya mahkota.
Namun cukup untuk menunjukkan jalan
di tengah gelap.
Sang istri berkata:
“Mungkin warisan kita
tidak harus menjadi matahari.”
Sang suami bertanya:
“Lalu harus menjadi apa?”
Ia menjawab:
“Cukuplah menjadi lentera
yang membantu seseorang
mengambil satu langkah
menuju kebaikan.”
Sang suami tersenyum.
“Dan bila lentera itu
menyalakan lentera lainnya,
cahaya akan terus berjalan
meskipun kita telah tiada.”
Fajar pun datang.
Generasi muda berkumpul
di halaman istana.
Mereka membawa buku,
benih tanaman,
alat kerja,
dan lentera-lentera kecil.
Dua insan bermahkota
berdiri di hadapan mereka.
Namun hari itu,
mereka tidak meminta siapa pun bersujud.
Mereka justru menundukkan kepala
dan berkata:
“Kami menitipkan bukan hanya
bangunan dan kekayaan.
Kami menitipkan amanah
untuk menjaga manusia,
merawat alam,
membela yang lemah,
mencari ilmu,
berkata jujur,
dan tidak menyalahgunakan kekuasaan.
Bila suatu hari kalian menemukan
kesalahan dalam jejak kami,
jangan kalian sembunyikan.
Perbaikilah dengan kebijaksanaan.
Bila kalian menemukan kebaikan,
jangan kalian sembah nama kami.
Teruskanlah manfaatnya
dan kembalikan seluruh pujian
kepada Alloh.”
Kemudian mereka mengambil api
dari lentera utama
dan menyalakan lentera
yang dibawa setiap orang.
Satu cahaya menjadi dua.
Dua menjadi puluhan.
Puluhan menjadi ratusan.
Halaman istana
dipenuhi nyala keemasan.
Namun tidak satu pun cahaya
kehilangan sinarnya
karena telah dibagikan.
Saat itulah semua memahami:
Ilmu tidak berkurang karena diajarkan.
Kasih sayang tidak habis karena diberikan.
Dan cahaya tidak menjadi lemah
karena menyalakan cahaya yang lain.
Safangat Illahhi…
Teruslah berjalan
dari hati ke hati.
Dari orang tua kepada anak.
Dari guru kepada murid.
Dari satu generasi
kepada generasi berikutnya.
Jangan berhenti
pada nama dan simbol.
Hiduplah dalam kejujuran.
Bergeraklah dalam pelayanan.
Tampaklah melalui kasih sayang.
Berkembanglah melalui ilmu.
Dan bersihkanlah setiap warisan
dari kesombongan serta perebutan dunia.
Sebab pada akhirnya,
manusia tidak akan ditanya
seberapa megah makamnya,
seberapa tinggi istananya,
atau berapa banyak orang
yang memuji namanya.
Yang akan menjadi saksi
adalah kebaikan yang ditanam,
ilmu yang diteruskan,
manusia yang dibantu,
keluarga yang dijaga,
dan hati yang kembali
kepada Alloh dengan tulus.
Maka berjalanlah,
wahai dua cahaya.
Selagi waktu masih diberikan,
peluklah mereka yang kalian cintai.
Mintalah maaf
sebelum terlambat.
Bagikan ilmu
sebelum ingatan melemah.
Tunaikan amanah
sebelum tangan kehilangan kekuatan.
Dan tinggalkanlah dunia
bukan sebagai pemilik segala kemegahan,
melainkan sebagai dua hamba
yang telah menyalakan lentera
bagi perjalanan manusia.
Safangat Illahhi…
Jadikan akhir mereka indah
bukan karena banyaknya pujian,
tetapi karena banyaknya doa
yang mengiringi kepulangan.
Jadikan keturunan mereka
bukan sekadar pewaris nama,
tetapi pewaris akhlak dan kemanfaatan.
Dan ketika mahkota matahari
akhirnya diletakkan untuk selamanya,
biarkan cahaya yang pernah mereka nyalakan
terus hidup di dalam hati manusia—
sebagai warisan cinta,
amanah, ilmu, keadilan,
dan jalan pulang
menuju ridho Sang Pemilik Cahaya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-6
Gerbang Pulang dan Cahaya yang Menetap
Malam datang membawa ketenangan
yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Tidak ada pesta di dalam istana.
Tidak ada genderang kemenangan.
Tidak ada barisan manusia
yang menyebut nama mereka dengan kagum.
Hanya ada angin
yang mengusap lembut tirai-tirai tua,
cahaya bulan yang jatuh di lantai,
dan dua insan
yang duduk berdampingan
memandang perjalanan panjang
yang telah mereka lewati.
Mahkota matahari
terletak di atas meja.
Cahayanya masih menyala,
namun tidak lagi mereka pandang
sebagai lambang kebesaran.
Bagi mereka, mahkota itu kini
hanyalah saksi bisu
tentang betapa banyak amanah
yang pernah dipikul,
betapa banyak air mata
yang pernah disembunyikan,
dan betapa sering mereka
harus belajar kembali
menjadi manusia yang rendah hati.
Sang suami memandang istrinya.
Rambut yang dahulu hitam berkilau
kini dipenuhi warna putih.
Wajah yang dahulu muda
kini menyimpan garis-garis waktu.
Namun di matanya,
ia tetap melihat cahaya yang sama—
cahaya seorang perempuan
yang pernah berdiri di sisinya
ketika dunia memuji,
yang tetap menggenggam tangannya
ketika dunia mencela,
dan yang tidak meninggalkannya
ketika seluruh kemegahan
terasa tidak berarti.
Dengan suara pelan ia berkata:
“Kita telah berjalan jauh.
Aku tidak tahu
berapa langkah lagi yang tersisa.”
Sang istri tersenyum.
“Tidak perlu menghitung
berapa langkah yang tersisa.
Yang perlu kita jaga
adalah agar setiap langkah
tidak menjauhkan kita dari Alloh.”
Mereka lalu terdiam.
Diam yang dahulu pernah menjadi jarak,
kini berubah menjadi ketenteraman.
Tidak semua kebersamaan
membutuhkan banyak kata.
Ada masa ketika dua hati
telah saling memahami
hanya dari cara bernapas,
dari genggaman tangan,
atau dari tatapan
yang mengatakan:
“Aku masih di sini.”
Safangat Illahhi…
Engkau telah menyertai mereka
ketika mereka muda dan penuh keberanian.
Engkau menguatkan
ketika mereka menghadapi badai.
Engkau menahan mereka
agar tidak terjatuh
ke dalam kesombongan.
Engkau menjadi lentera
ketika cinta mereka
hampir kehilangan arah.
Namun kini,
jadilah cahaya yang lebih lembut.
Tidak lagi mendorong mereka
untuk berlari jauh.
Cukuplah menuntun mereka
berjalan perlahan
menuju gerbang pulang.
Sebab setiap perjalanan
akan tiba pada batasnya.
Setiap tubuh
akan kehilangan kekuatannya.
Setiap suara
akan melemah.
Setiap mata
akan mengalami kabur.
Dan setiap mahkota
akan tiba waktunya
untuk diletakkan.
Namun apa yang ditanam dengan ikhlas
tidak akan hilang
hanya karena tangan
tidak lagi mampu bekerja.
Doa yang pernah dipanjatkan
akan tetap menjadi jejak.
Ilmu yang pernah diajarkan
akan terus hidup
di dalam pikiran generasi.
Kasih sayang yang pernah diberikan
akan kembali menjadi kekuatan
bagi mereka yang pernah menerimanya.
Dan kebaikan yang dilakukan
tanpa diketahui manusia
akan tetap berada
di dalam pengetahuan Alloh.
Pada pagi berikutnya,
sang suami berjalan
mengelilingi halaman istana.
Langkahnya tidak lagi cepat.
Tongkat kayu sederhana
membantunya berdiri.
Beberapa orang muda
ingin mengangkatnya
ke atas tandu kebesaran.
Namun ia menolak.
“Biarkan aku berjalan
selama kaki ini masih dapat melangkah.
Aku ingin mengingat
bahwa tubuh ini adalah titipan
yang suatu hari akan kembali
kepada tanah.”
Ia berhenti di kebun.
Pohon-pohon yang dahulu
ia tanam bersama istrinya
kini telah tumbuh besar.
Cabangnya menaungi anak-anak
yang bermain di bawahnya.
Buahnya dipetik
oleh banyak orang.
Sang suami menyentuh batang pohon
dan berkata:
“Ketika kami menanamnya,
kami belum tahu
siapa yang kelak akan berteduh.”
Seorang pemuda menjawab:
“Namun hari ini,
banyak orang mendapat manfaat.”
Sang suami tersenyum.
“Begitulah kebaikan.
Jangan menunggu mengetahui
siapa yang akan menerimanya.
Tanamlah karena itu benar.”
Di tempat lain,
sang istri berjalan
menuju ruang belajar.
Anak-anak berdiri menyambutnya.
Ia meminta mereka duduk
dan melanjutkan membaca.
Seorang anak perempuan
mendekatinya sambil membawa buku.
“Ibu, apakah engkau
masih ingin mengajar kami?”
Sang istri menjawab:
“Selama lidahku masih mampu berbicara
dan pikiranku masih mampu mengingat,
aku ingin membagikan
apa yang pernah kupelajari.”
Anak itu bertanya:
“Pelajaran apa yang paling penting?”
Sang istri memandangnya lama.
“Belajarlah membaca tulisan,
tetapi jangan lupa membaca keadaan.”
“Belajarlah menghitung harta,
tetapi jangan lupa menghitung nikmat.”
“Belajarlah berbicara,
tetapi ketahuilah kapan harus diam.”
“Belajarlah menjadi kuat,
tetapi jangan kehilangan kelembutan.”
“Dan belajarlah mengenal dunia,
namun jangan sampai dunia
membuatmu lupa
kepada tujuan kepulangan.”
Anak-anak mencatat perkataannya.
Namun ia berkata:
“Jangan hanya menulis di atas kertas.
Tuliskanlah dalam perbuatan.”
Safangat Illahhi…
Jadikan usia tua
bukan masa kehilangan makna.
Boleh jadi tubuh melemah,
namun doa semakin dalam.
Boleh jadi langkah melambat,
namun kebijaksanaan menjadi matang.
Boleh jadi mata mulai kabur,
namun hati dapat melihat
dengan lebih jernih.
Jangan biarkan mereka
merasa tidak berguna
karena tidak lagi mampu
melakukan apa yang dahulu mereka lakukan.
Ajarkan mereka
menerima perubahan tubuh
tanpa membenci diri.
Ajarkan generasi muda
untuk tidak menyingkirkan
mereka yang telah menua.
Sebab orang tua
bukan beban yang harus disembunyikan.
Mereka adalah lembar sejarah hidup
yang membawa kisah perjuangan,
kesalahan, pengorbanan,
dan pelajaran
yang tidak tertulis di banyak kitab.
Duduklah bersama mereka.
Dengarkan meskipun ceritanya berulang.
Genggamlah tangannya
meskipun mulai bergetar.
Bantulah berjalan
meskipun langkahnya lambat.
Sebab dahulu,
merekalah yang menunggu
ketika seorang anak
belum mampu berdiri.
Merekalah yang mengulang kata
hingga anak mampu berbicara.
Merekalah yang berjaga
ketika sakit datang pada malam hari.
Dan pada masa mereka melemah,
kasih sayang manusia
sedang diuji kembali.
Pada suatu sore,
sang suami jatuh sakit.
Tidak ada tanda besar.
Hanya tubuh yang terasa berat,
napas yang lebih pendek,
dan tenaga yang tidak lagi
kembali setelah beristirahat.
Tabib datang memeriksa.
Anak-anak berkumpul.
Para penjaga berdiri di luar ruangan
dengan wajah cemas.
Namun sang suami tetap tenang.
Ia berkata:
“Jangan membuat istana
dipenuhi ketakutan.
Sakit adalah bagian perjalanan.
Rawatlah aku dengan baik,
tetapi jangan gantungkan hati
kepada obat semata.
Kesembuhan dan akhir kehidupan
tetap berada dalam ketetapan Alloh.”
Sang istri duduk di sisinya.
Ia menyuapi air sedikit demi sedikit.
Malam demi malam,
ia membacakan doa,
mengusap tangannya,
dan mengingatkan:
“Kita tidak berjalan sendiri.”
Sang suami membuka mata
dan tersenyum lemah.
“Dahulu aku berjanji
akan menjagamu.”
Sang istri menjawab:
“Dan sekarang izinkan aku
menjagamu tanpa membuatmu
merasa kehilangan martabat.”
Tidak ada rasa malu
dalam menerima pertolongan.
Tidak ada kehinaan
ketika tubuh membutuhkan bantuan.
Sebab kekuatan manusia
memiliki batas.
Dan menerima bantuan
dengan rendah hati
adalah bagian dari kebijaksanaan.
Hari-hari berlalu.
Kadang kondisi sang suami membaik.
Ia kembali duduk di teras,
memandang matahari terbit.
Kadang tubuhnya kembali melemah,
hingga hanya mampu berbaring
dan berbicara pelan.
Namun setiap kali sadar,
ia memanggil anak-anak
dan orang-orang yang dipercayainya.
Ia tidak membicarakan
siapa yang paling berhak
mengenakan mahkota.
Ia justru bertanya:
“Siapa di antara kalian
yang paling sanggup mendengar nasihat?”
“Siapa yang berani mengakui kesalahan?”
“Siapa yang mampu melayani
tanpa mengharapkan pujian?”
“Siapa yang bersedia
meletakkan kepentingan bersama
di atas keserakahan pribadi?”
Mereka menjawab dengan diam.
Sang suami berkata:
“Kepemimpinan bukan hadiah
bagi orang yang paling haus kuasa.
Ia adalah amanah berat
yang seharusnya membuat seseorang takut
berbuat zalim.”
Ia lalu menatap mereka satu per satu.
“Jangan berebut mahkota.
Berebutlah kesempatan
untuk menjadi lebih jujur,
lebih adil,
dan lebih bermanfaat.”
Sang istri menambahkan:
“Dan bila kalian tidak dipilih
untuk berdiri di depan,
jangan merasa hidup kalian sia-sia.”
“Tidak semua cahaya
harus berada di atas menara.”
“Ada cahaya di dapur,
di sawah,
di ruang belajar,
di tempat orang sakit,
dan di dalam rumah
yang dijaga dengan kasih sayang.”
“Alloh mengetahui setiap amal
meskipun manusia tidak melihatnya.”
Safangat Illahhi…
Jauhkan generasi mereka
dari perebutan yang merusak persaudaraan.
Jangan biarkan mereka
menjadikan peninggalan
sebagai alasan saling membenci.
Ingatkan bahwa harta
yang membuat saudara bermusuhan
tidak lagi menjadi keberkahan.
Kedudukan yang diperoleh
dengan fitnah dan pengkhianatan
tidak akan memberi ketenteraman.
Nama besar
yang dipertahankan dengan kezaliman
hanya akan menjadi beban sejarah.
Ajarkan mereka bermusyawarah.
Ajarkan mereka mendengar.
Ajarkan mereka menerima
bahwa tidak semua kehendak pribadi
harus dituruti.
Dan ajarkan bahwa kemenangan sejati
bukan ketika seseorang
berhasil menguasai semua orang,
melainkan ketika ia mampu
mengalahkan keserakahan
di dalam dirinya sendiri.
Pada malam yang sangat sunyi,
sang suami meminta dibawa
ke ruang utama istana.
Ia ingin melihat sekali lagi
mahkota matahari
yang telah lama disimpan.
Mahkota itu diletakkan
di hadapannya.
Sinar keemasannya
memenuhi ruangan.
Orang-orang menunggu
apakah ia akan mengenakannya
untuk terakhir kali.
Namun ia menggeleng.
“Aku tidak membutuhkan mahkota
untuk menghadap Alloh.”
Ia meminta mahkota itu
diletakkan di atas kain putih.
Kemudian ia berkata:
“Jangan kalian sucikan benda ini.”
“Ia hanyalah simbol amanah.”
“Bila suatu hari simbol ini
membuat kalian sombong,
tinggalkanlah kesombongannya
dan kembalilah kepada nilai
yang seharusnya dijaga.”
“Mahkota tidak membuat seseorang mulia.
Akhlaklah yang menampakkan kemuliaan.”
Sang istri duduk di dekatnya.
Matanya dipenuhi air mata,
namun ia tidak meratap.
Sang suami menatapnya.
“Jangan menahan air matamu.”
Sang istri menjawab:
“Aku tidak menangis
karena tidak ridho kepada ketetapan Alloh.
Aku menangis karena hati manusia
mengetahui bahwa perpisahan
tetap terasa berat.”
Sang suami menggenggam tangannya.
“Menangislah.
Air mata tidak selalu berarti
kelemahan iman.”
“Namun setelah itu,
berdirilah kembali.”
“Teruskan kebaikan
yang pernah kita mulai.”
Sang istri menunduk
dan mencium tangannya.
“Aku tidak menjanjikan
tidak akan merasa kehilangan.”
“Namun aku berjanji
tidak akan membiarkan kehilangan
memadamkan seluruh cahaya
yang telah kita bangun.”
Mereka pun saling memandang
dalam keheningan yang panjang.
Di luar,
angin bergerak melewati pepohonan.
Bintang-bintang terlihat
lebih terang dari biasanya.
Bukan karena langit berubah,
melainkan karena hati mereka
tidak lagi sibuk memandang dunia.
Safangat Illahhi…
Temanilah manusia
ketika mereka menghadapi perpisahan.
Jangan biarkan kesedihan
berubah menjadi penolakan
terhadap ketetapan Alloh.
Namun jangan pula menuntut
hati yang berduka
untuk segera tersenyum.
Berilah waktu
untuk menangis.
Berilah ruang
untuk mengenang.
Berilah kesempatan
untuk menerima kenyataan
secara perlahan.
Sebab kehilangan
tidak disembuhkan oleh perintah:
“Jangan bersedih.”
Ia dirawat
dengan kehadiran,
doa,
kesabaran,
dan penerimaan
bahwa cinta meninggalkan jejak
yang tidak hilang dalam satu malam.
Ketika seseorang berduka,
jangan tergesa-gesa
menasihati terlalu banyak.
Duduklah di sisinya.
Dengarkan.
Bantu urusan yang mampu dibantu.
Tanyakan apa yang dibutuhkan.
Dan bila tidak ada kata
yang sanggup mengurangi kesedihan,
biarkan kehadiranmu berkata:
“Engkau tidak sendiri.”
Beberapa hari kemudian,
sang suami merasa sedikit kuat.
Ia meminta dibawa
ke halaman tempat lentera-lentera
pernah dinyalakan.
Generasi muda berkumpul.
Masing-masing membawa lentera kecil.
Sang suami mengangkat tangannya
dengan susah payah.
“Dahulu kami menyalakan cahaya ini
agar kalian meneruskannya.”
“Sekarang aku ingin mengingatkan:
jangan hanya membawa cahayanya.
Jagalah pula sumbernya.”
Seorang pemuda bertanya:
“Apakah sumber cahaya itu?”
Ia menjawab:
“Keikhlasan.”
“Cahaya tanpa keikhlasan
akan berubah menjadi pertunjukan.”
“Ilmu tanpa keikhlasan
akan menjadi alat kesombongan.”
“Sedekah tanpa keikhlasan
akan menjadi cara membeli pujian.”
“Kepemimpinan tanpa keikhlasan
akan menjadi jalan menguasai manusia.”
“Dan cinta tanpa keikhlasan
akan berubah menjadi keinginan memiliki.”
Ia menarik napas panjang.
“Jagalah niat kalian.
Periksa berulang kali.
Sebab hati mudah berubah
tanpa disadari pemiliknya.”
Kemudian sang istri berdiri.
“Dan jangan merasa
niat baik saja sudah cukup.”
“Niat harus ditemani ilmu.”
“Ilmu harus ditemani akhlak.”
“Akhlak harus ditemani tindakan.”
“Dan tindakan harus terus diperiksa
agar tidak menyakiti manusia
atas nama kebaikan.”
Orang-orang menundukkan kepala.
Malam itu,
ratusan lentera kembali menyala.
Namun sang suami
tidak melihatnya sebagai miliknya.
Ia berbisik:
“Semua cahaya berasal dari-Mu, yā Alloh.
Kami hanya meminjam nyalanya.”
Pada malam berikutnya,
tubuhnya kembali melemah.
Ia meminta agar ruangan
tidak dipenuhi banyak orang.
Hanya keluarga terdekat
dan beberapa sahabat
yang berada di sisinya.
Ia memohon maaf
kepada mereka yang pernah disakitinya.
Kepada anak-anak, ia berkata:
“Bila selama hidup
aku pernah terlalu keras,
jangan warisi kekerasanku.”
“Ambillah keteguhan
dan tinggalkan kemarahannya.”
Kepada para sahabat, ia berkata:
“Bila aku pernah mengabaikan nasihat kalian,
maafkan kesombonganku.”
Kepada para pekerja istana, ia berkata:
“Bila hak kalian pernah terlambat,
periksalah kembali seluruh catatan
dan selesaikan dengan adil.”
Kepada istrinya, ia berkata:
“Bila ada luka
yang belum sempat kusembuhkan,
aku memohon maaf.”
Sang istri menggenggam tangannya.
“Aku memaafkanmu.
Dan aku pun memohon maaf
atas kekuranganku.”
Mereka tidak mengaku
sebagai pasangan sempurna.
Mereka hanya dua manusia
yang ingin menutup perjalanan
tanpa membawa kesombongan
dan dendam yang sengaja dipelihara.
Safangat Illahhi…
Ajarkan manusia
untuk meminta maaf sebelum terlambat.
Jangan menunggu tubuh terbaring
untuk mengucapkan rasa sayang.
Jangan menunggu kehilangan
untuk mengakui kebaikan seseorang.
Jangan menunggu pemakaman
untuk mengatakan:
“Ia sangat berarti bagiku.”
Ucapkanlah selagi dapat didengar.
Peluklah selagi tubuh masih hangat.
Datanglah selagi pintu rumah
masih dapat dibuka.
Maafkanlah bila memang layak dimaafkan,
tanpa menghilangkan batas
dan tanggung jawab.
Selesaikan amanah.
Bayar utang.
Kembalikan titipan.
Jangan biarkan keluarga
menanggung urusan
yang sebenarnya dapat diselesaikan
semasa hidup.
Sebab mempersiapkan kepulangan
bukan tanda putus asa.
Ia adalah bentuk kesadaran
bahwa dunia hanya tempat singgah.
Menjelang fajar,
sang suami memandang jendela.
Langit masih gelap,
namun garis cahaya
mulai muncul di ufuk.
Ia berkata:
“Lihatlah,
malam tidak pernah mampu
menahan fajar selamanya.”
Sang istri mendekat.
“Dan kepergian
tidak mampu menghapus
seluruh kebaikan yang ditinggalkan.”
Sang suami tersenyum.
“Jangan jadikan makamku
tempat meninggikan namaku.”
“Jadikan kehidupanmu
sebagai penerus doa.”
“Bila kalian mencintaiku,
berbuat baiklah kepada manusia.”
“Bila kalian merindukanku,
bacakan doa
dan lanjutkan amanah.”
“Jangan hidup di dalam bayanganku.
Hiduplah sebagai diri kalian sendiri
dengan akhlak yang lebih baik.”
Kemudian ia memejamkan mata
untuk beristirahat.
Ruangan menjadi sangat tenang.
Setiap orang memanjatkan doa.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kesombongan
yang memerintah takdir untuk berubah.
Hanya ada penyerahan:
“Yā Alloh,
bila kesembuhan baik baginya,
limpahkanlah kesembuhan.
Bila perjalanan pulang telah dekat,
mudahkanlah,
ampunilah,
dan terimalah dalam rahmat-Mu.”
Fajar menembus jendela.
Cahayanya menyentuh mahkota
yang terletak jauh dari pembaringan.
Namun cahaya paling lembut
justru terlihat
di wajah orang-orang
yang saling menguatkan.
Di situlah mereka memahami:
Safangat Illahhi
bukan kekuatan untuk menolak akhir.
Ia adalah kekuatan
untuk menghadapi akhir
dengan iman, adab,
dan penyerahan diri.
Bukan keinginan
untuk hidup selamanya di dunia.
Melainkan keberanian
untuk menggunakan waktu yang tersisa
dengan sebaik-baiknya.
Bukan kemegahan
yang mempertahankan nama.
Melainkan kebaikan
yang tetap hidup
meskipun nama perlahan dilupakan.
Beberapa waktu kemudian,
sang suami kembali membuka mata.
Ia belum pergi.
Alloh masih memberinya kesempatan
untuk menjalani hari-hari berikutnya.
Namun sejak pagi itu,
setiap hari diperlakukan
sebagai hadiah.
Ia tidak lagi menunda
ucapan terima kasih.
Tidak lagi menyimpan
permintaan maaf.
Tidak lagi sibuk
membuktikan diri di hadapan dunia.
Ia lebih sering duduk
bersama keluarga.
Lebih banyak mendengar.
Lebih sedikit memerintah.
Lebih sering tersenyum
kepada orang-orang sederhana.
Dan setiap malam,
ia bersama istrinya
berdoa:
“Yā Alloh,
kami tidak mengetahui
kapan perjalanan ini berakhir.
Maka jangan biarkan hari terakhir kami
dipenuhi kezaliman.
Jangan biarkan kata terakhir kami
menjadi luka bagi orang lain.
Jangan biarkan tangan kami
masih menggenggam hak manusia.
Bersihkan hati kami
dari dendam, riya, kesombongan,
dan kecintaan berlebihan kepada dunia.
Berilah kami kesempatan
untuk memperbaiki apa yang mampu diperbaiki,
meminta maaf,
menunaikan amanah,
dan kembali kepada-Mu
dalam keadaan berharap
kepada rahmat-Mu.”
Hari-hari kembali berjalan.
Kadang tubuh kuat.
Kadang melemah.
Kadang istana dipenuhi tawa.
Kadang dipenuhi kekhawatiran.
Namun dua insan itu
tidak lagi bertanya:
“Mengapa hidup berubah?”
Mereka telah memahami
bahwa perubahan adalah tabiat dunia.
Musim datang dan pergi.
Anak-anak tumbuh.
Orang tua melemah.
Kedudukan berpindah.
Bangunan menua.
Dan manusia
terus bergerak menuju kepulangan.
Yang dapat dilakukan
adalah menjaga arah.
Menjaga hati.
Menjaga amanah.
Menjaga kasih sayang.
Dan ketika tersesat,
segera kembali kepada Alloh.
Safangat Illahhi…
Jadilah cahaya
di penghujung perjalanan.
Jangan menyilaukan.
Cukuplah menenteramkan.
Jadilah pengingat
bahwa manusia tidak pulang
membawa mahkota,
jubah, istana, atau pujian.
Manusia pulang
membawa amal,
utang, amanah,
doa,
dan keadaan hatinya.
Maka ringankan tangan mereka
untuk melepaskan dunia.
Ringankan lidah mereka
untuk memohon ampun.
Ringankan hati mereka
untuk memaafkan.
Ringankan langkah mereka
untuk kembali
kepada Sang Pemilik Cahaya.
Bila suatu hari
salah satu dari mereka
harus pulang lebih dahulu,
jangan jadikan yang tinggal
kehilangan seluruh tujuan hidup.
Biarkan kesedihan hadir,
namun jangan biarkan putus asa
menguasai jiwa.
Biarkan kenangan tetap hidup,
namun jangan jadikan kenangan
penjara yang menahan langkah.
Teruskan doa.
Teruskan kebaikan.
Teruskan kasih sayang
kepada keluarga dan manusia.
Sebab mencintai seseorang
yang telah pergi
bukan berarti berhenti hidup.
Mencintainya dapat diwujudkan
dengan meneruskan nilai baiknya
dan memperbaiki kekurangannya.
Pada suatu senja,
mereka kembali duduk
di bawah pohon tua.
Mahkota tidak dibawa.
Jubah emas tidak dikenakan.
Mereka memakai pakaian sederhana
dan menggenggam tangan
seperti dua insan biasa.
Sang istri bertanya:
“Setelah semua perjalanan ini,
apakah yang paling engkau syukuri?”
Sang suami menjawab:
“Bukan istana.”
“Bukan mahkota.”
“Bukan banyaknya orang
yang pernah mengenal namaku.”
Ia memandang istrinya.
“Aku bersyukur
Alloh memberiku kesempatan
untuk belajar mencintai,
meminta maaf,
memperbaiki diri,
dan mengenal bahwa kekuatan sejati
adalah ketundukan kepada-Nya.”
Sang istri tersenyum.
“Dan aku bersyukur
kita tidak hanya tumbuh bersama
dalam kebahagiaan.”
“Kita bertumbuh melalui kesalahan,
kehilangan,
kesabaran,
dan pengampunan.”
Matahari perlahan tenggelam.
Bayangan mereka memanjang
di atas tanah.
Dua bayangan itu
akhirnya menyatu
di dalam cahaya senja.
Bukan karena mereka
kehilangan diri masing-masing.
Melainkan karena keduanya
memilih berjalan
menuju tujuan yang sama.
Safangat Illahhi…
Tetaplah menyala
hingga langkah terakhir.
Bukan sebagai janji
bahwa manusia tidak akan mati.
Melainkan sebagai kesadaran
agar manusia tidak menyia-nyiakan hidup.
Tetaplah menyala
di dalam doa orang tua.
Di dalam akhlak anak-anak.
Di dalam ilmu yang diteruskan.
Di dalam tangan yang menolong.
Di dalam hati yang memaafkan.
Dan di dalam jiwa
yang tidak lagi takut kehilangan mahkota
karena telah menemukan
Sang Pemilik segala kemuliaan.
Ketika gerbang pulang terbuka,
jangan biarkan mereka datang
dengan kesombongan.
Biarkan mereka datang
sebagai dua hamba
yang membawa penyesalan,
harapan,
amal yang sederhana,
dan keyakinan
bahwa rahmat Alloh
lebih luas daripada kekurangan manusia.
Dan bila seluruh cahaya dunia
akhirnya padam dari pandangan,
semoga cahaya iman,
kejujuran,
kasih sayang,
dan pengharapan kepada Alloh
tetap menyala di dalam jiwa.
Sebab mahkota dapat diletakkan.
Istana dapat ditinggalkan.
Nama dapat dilupakan.
Tubuh dapat kembali kepada tanah.
Namun kebaikan yang dilakukan
dengan ikhlas
akan terus berjalan
melintasi waktu.
Safangat Illahhi…
Engkau bukanlah kemegahan
yang menolak kepulangan.
Engkau adalah keberanian
untuk pulang dengan tenang.
Engkau adalah cahaya
yang berkata kepada dua jiwa:
“Kalian telah berjalan sejauh yang mampu.
Kini serahkanlah yang tidak mampu
kepada Alloh.
Jangan takut melepaskan dunia,
selama hati tetap berpegang
kepada Sang Pemilik kehidupan.”
Maka dua insan itu
menengadahkan tangan
di bawah langit senja.
Dengan suara yang lembut,
mereka berdoa bersama:
“Yā Alloh,
indahkanlah sisa umur kami
dengan ketaatan dan kemanfaatan.
Jangan biarkan masa lalu
membuat kami berputus asa.
Jangan biarkan masa depan
membuat kami takut berlebihan.
Berilah kami hati
yang hidup pada hari ini,
menjalankan amanah,
mencintai dengan benar,
dan terus kembali kepada-Mu.
Bila tiba waktunya mahkota dunia
kami tinggalkan,
jangan tinggalkan kami
dari naungan rahmat-Mu.
Ampuni kekurangan kami,
terima kebaikan kami,
lindungi keluarga yang kami tinggalkan,
dan jadikan kepulangan kami
sebagai awal perjumpaan
dengan ampunan dan keridhoan-Mu.”
Angin membawa doa itu
melewati puncak istana,
melintasi pepohonan,
menembus langit keemasan,
dan menghilang
dalam keluasan rahmat Alloh.
Mahkota tetap berada di dalam istana.
Namun dua hati itu
telah menemukan cahaya
yang tidak membutuhkan mahkota.
Cahaya yang tidak dapat dicuri.
Tidak dapat dipadamkan oleh usia.
Tidak dapat dihancurkan
oleh perpisahan.
Cahaya yang hidup
di dalam kepasrahan,
keikhlasan,
dan harapan kepada Alloh.
Safangat Illahhi…
Bimbinglah mereka
sampai gerbang terakhir.
Dan ketika dunia berkata,
“Perjalanan telah selesai,”
biarkan langit menjawab:
“Kebaikan yang ikhlas
tidak pernah benar-benar berakhir.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-7
Ketika Satu Cahaya Tinggal Menjaga Amanah
Fajar datang dengan warna yang berbeda.
Langit tetap membuka tirainya,
burung-burung tetap bernyanyi,
dan cahaya matahari tetap menyentuh
puncak-puncak menara istana.
Namun pagi itu,
satu kursi di bawah pohon tua
telah kosong.
Satu cawan tidak lagi disentuh.
Satu langkah yang selama bertahun-tahun
terdengar di lorong istana
tidak kembali bergema.
Dunia tetap bergerak,
tetapi hati sang istri
seakan tertinggal
pada malam terakhir
ketika tangan suaminya
masih berada dalam genggamannya.
Mahkota matahari milik sang suami
diletakkan di atas kain putih.
Tidak seorang pun berani memindahkannya.
Cahaya keemasannya masih memantul
ke seluruh ruangan,
namun kilau itu kini terasa
seperti sebuah kenangan
yang tidak mampu dipeluk.
Sang istri berdiri di hadapannya.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Mahkotanya sendiri
tidak ia pakai.
Rambutnya diselimuti kain putih,
wajahnya pucat karena kurang tidur,
dan matanya menyimpan air
yang telah berkali-kali jatuh
sejak malam perpisahan.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak memerintahkan langit
mengembalikan apa yang telah diambil.
Namun di dalam dadanya
ada ruang yang terasa begitu kosong
hingga setiap tarikan napas
menjadi pengingat
bahwa seseorang yang amat dicintainya
tidak lagi duduk di sisinya.
Di hadapan mahkota itu
ia berbisik:
“Engkau pernah berkata
agar aku tidak menjadikan kehilangan
sebagai akhir dari seluruh perjalanan.
Namun maafkan aku,
hari ini langkahku terasa berat.
Aku mengetahui bahwa hidup dan mati
berada dalam ketetapan Alloh.
Tetapi mengetahui kebenaran
tidak serta-merta menghapus kerinduan.”
Air matanya pun jatuh.
Bukan sebagai penolakan
terhadap ketetapan Alloh.
Melainkan sebagai bahasa hati
yang kehilangan seseorang
yang telah menjadi saksi
dari sebagian besar hidupnya.
Safangat Illahhi…
Hadirlah bukan untuk memaksa
orang yang berduka segera kuat.
Jangan katakan kepadanya
bahwa menangis adalah kelemahan.
Jangan tuntut bibirnya tersenyum
ketika hatinya masih belajar
menerima kehilangan.
Duduklah bersamanya
dalam malam yang panjang.
Temani ketika kenangan datang
tanpa meminta izin.
Tenangkan ketika ia terbangun
dan untuk sesaat lupa
bahwa seseorang telah pergi.
Kemudian kenyataan kembali datang
seperti ombak yang dingin:
tempat tidur di sebelahnya kosong,
suara yang biasa menyapanya
tidak terdengar,
dan doa yang dahulu dipanjatkan berdua
kini ia lantunkan seorang diri.
Pada hari-hari pertama,
banyak orang memenuhi istana.
Mereka datang membawa bunga,
doa, pelukan,
dan kata-kata penghiburan.
Ada yang berkata:
“Bersabarlah.”
Ada yang berkata:
“Engkau harus kuat.”
Ada pula yang berkata:
“Jangan terlalu lama bersedih.”
Sang istri menerima semuanya
dengan kepala tertunduk.
Namun ketika malam tiba
dan seluruh tamu pulang,
kesunyian kembali duduk
di sampingnya.
Ia baru memahami
bahwa keramaian dapat menemani tubuh,
tetapi hanya Alloh yang mengetahui
kedalaman ruang kosong
di dalam hati seseorang.
Ia memasuki kamar lama mereka.
Di atas meja masih tersimpan
sebuah buku yang belum selesai dibaca.
Di dekat jendela ada tongkat kayu
yang dahulu digunakan suaminya
ketika berjalan mengelilingi kebun.
Di dalam lemari terdapat jubah emas
yang tidak sempat dikenakan kembali.
Sang istri menyentuh jubah itu
dengan tangan gemetar.
Dalam ingatannya,
ia kembali melihat masa muda mereka.
Ia melihat dua insan
berdiri di bawah mahkota matahari,
mengira kehidupan
akan berlangsung sangat panjang.
Ia melihat pertengkaran kecil
yang dahulu terasa besar.
Ia melihat malam-malam
ketika keduanya memilih diam.
Ia melihat permintaan maaf,
pelukan, doa,
dan hari-hari ketika mereka
belajar memperbaiki diri.
Kini ia menyadari:
betapa banyak waktu
yang dahulu dianggap biasa,
padahal sebenarnya adalah karunia
yang sangat berharga.
Secangkir minuman bersama.
Percakapan sederhana sebelum tidur.
Pertanyaan kecil:
“Apakah engkau sudah makan?”
Genggaman tangan ketika berjalan.
Saling menunggu selesai sholat.
Saling memandang tanpa berkata-kata.
Semua itu dahulu
tidak terlihat seperti kemewahan.
Namun setelah kehilangan,
hal-hal kecil itulah
yang paling dirindukan.
Safangat Illahhi…
Ajarkan manusia
menghargai kebersamaan
sebelum berubah menjadi kenangan.
Jangan menunggu rumah menjadi sunyi
untuk menyadari indahnya sebuah suara.
Jangan menunggu kursi menjadi kosong
untuk menghargai seseorang
yang dahulu duduk di atasnya.
Jangan menunggu tangan menjadi dingin
untuk mengungkapkan cinta
yang terlalu lama disimpan.
Ucapkan terima kasih
selagi telinga masih dapat mendengar.
Minta maaf
selagi pintu percakapan masih terbuka.
Peluklah
selagi tubuh masih dapat membalas pelukan.
Sebab manusia sering menyimpan
kata-kata terbaiknya
hingga waktu tidak lagi memberinya kesempatan.
Hari ketujuh setelah perpisahan,
sang istri berjalan menuju taman.
Ia membawa tongkat kayu suaminya.
Bukan untuk menggantikan kehadirannya,
tetapi karena benda itu
mengingatkannya pada langkah-langkah
yang pernah mereka tempuh bersama.
Di bawah pohon tua,
ia menemukan sebuah ukiran kecil
yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya:
“Cahaya bukan milik kita.
Kita hanya dititipi untuk menjaganya.”
Sang istri membaca kalimat itu
berulang kali.
Kemudian ia duduk
di kursi yang dahulu mereka gunakan berdua.
Angin menyentuh wajahnya.
Daun-daun bergerak perlahan.
Untuk pertama kalinya
sejak hari perpisahan,
ia membiarkan dirinya
mengingat tanpa melawan.
Ia mengingat tawa suaminya.
Ia mengingat kekurangannya.
Ia mengingat kata-kata keras
yang pernah membuatnya terluka.
Ia juga mengingat
betapa sungguh-sungguh lelaki itu
berusaha memperbaiki diri.
Cinta yang dewasa
tidak mengubah manusia yang telah pergi
menjadi makhluk tanpa kesalahan.
Ia mengenangnya dengan jujur:
sebagai seseorang yang pernah benar,
pernah salah,
pernah kuat,
pernah takut,
pernah melukai,
dan juga berkali-kali menyembuhkan.
Sang istri berkata dalam hati:
“Aku tidak akan menghapus kekuranganmu
hanya karena engkau telah pergi.
Namun aku juga tidak akan membiarkan
kesalahanmu menghapus seluruh kebaikan
yang pernah engkau perjuangkan.
Aku akan mengingatmu
sebagai seorang manusia
yang terus belajar pulang kepada Alloh.”
Kemudian ia menengadahkan tangan:
“Yā Alloh,
ampunilah kekurangannya.
Terimalah amal baiknya.
Bila ada hak manusia
yang belum terselesaikan,
tunjukkanlah kepadaku
agar dapat kami tunaikan.
Jangan jadikan kerinduanku
sebagai kesedihan yang sia-sia.
Jadikanlah ia doa
yang terus mengalir kepadanya.”
Sejak hari itu,
ia mulai memeriksa seluruh amanah
yang ditinggalkan suaminya.
Ia membuka catatan utang.
Ia memanggil para pengelola istana.
Ia bertanya kepada para pekerja
apakah ada hak yang belum dibayarkan.
Ia menemui orang-orang
yang pernah berselisih dengan suaminya.
Ia tidak menjaga nama suaminya
dengan menyembunyikan kebenaran.
Ia menjaganya
dengan menyelesaikan tanggung jawab
yang mungkin belum sempurna.
Seorang lelaki datang
membawa catatan lama.
“Dahulu,” katanya,
“aku pernah menjalin urusan dengannya.
Ada bagian yang belum diselesaikan.”
Para penjaga mencurigainya.
Namun sang istri berkata:
“Dengarkan dahulu keterangannya.
Jangan menolak hak seseorang
hanya untuk mempertahankan kehormatan
orang yang telah pergi.”
Setelah diperiksa,
keterangan lelaki itu terbukti benar.
Sang istri membayar haknya
dan meminta maaf atas keterlambatan.
Lelaki itu menangis.
“Aku tidak datang untuk mempermalukan.”
Sang istri menjawab:
“Menunaikan kebenaran
tidak mempermalukan siapa pun.
Justru menolak kebenaran
demi menjaga nama
akan menjadi kehinaan yang sebenarnya.”
Safangat Illahhi…
Jadilah keberanian
bagi keluarga yang ditinggalkan
untuk menyelesaikan amanah.
Jangan biarkan cinta kepada orang yang wafat
berubah menjadi pembelaan buta.
Bila ia memiliki utang,
bayarlah semampunya.
Bila ia meninggalkan janji,
usahakan menunaikannya.
Bila ia pernah berbuat salah,
jangan menyebarkan aibnya,
namun jangan pula menzalimi orang lain
untuk menyembunyikannya.
Doakan ia.
Teruskan amal baiknya.
Perbaiki kekeliruannya.
Sebab kesetiaan tidak selalu berarti
mengulang semua jejak seseorang.
Kadang kesetiaan berarti
meluruskan jalan
yang belum sempat ia selesaikan.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Luka itu belum hilang,
namun bentuknya perlahan berubah.
Pada awalnya,
setiap kenangan terasa seperti pisau.
Kemudian kenangan menjadi hujan:
masih membuat mata basah,
tetapi tidak lagi selalu
melumpuhkan langkah.
Sang istri mulai kembali
mengunjungi ruang belajar.
Anak-anak menyambutnya
dengan hati-hati.
Mereka takut menyebut nama suaminya
karena khawatir membuatnya bersedih.
Namun sang istri berkata:
“Jangan hapus namanya
hanya karena kalian takut aku menangis.”
“Biarkan aku menangis
bila kenangan datang.”
“Air mata tidak akan menghancurkanku.”
“Yang lebih menyakitkan
adalah bila semua orang bertingkah
seolah-olah ia tidak pernah hidup.”
Maka anak-anak kembali bercerita.
Seorang anak berkata:
“Ia pernah mengajariku
menanam pohon.”
Anak lain berkata:
“Ia pernah membantuku
ketika keluargaku kesulitan.”
Seorang pemuda berkata:
“Ia pernah menegurku dengan keras,
tetapi kemudian datang meminta maaf.”
Sang istri mendengarkan.
Ada kesedihan.
Namun di sela-selanya
muncul pula rasa syukur.
Ternyata hidup seseorang
tidak hanya menetap
di dalam ingatan keluarganya.
Ia tersebar
di dalam banyak hati:
dalam pengetahuan yang dibagikan,
dalam keberanian yang ditumbuhkan,
dalam makanan yang pernah diberikan,
dalam luka yang pernah diperbaiki,
dan dalam doa orang-orang
yang pernah merasakan kebaikannya.
Safangat Illahhi…
Jangan biarkan seseorang
hanya dikenang melalui batu nisan.
Biarkan ia dikenang
melalui manfaat yang diteruskan.
Batu dapat retak.
Tulisan dapat memudar.
Bangunan dapat runtuh.
Namun ilmu yang hidup
di dalam perbuatan manusia
dapat berjalan jauh
melampaui usia pencetusnya.
Kasih sayang yang diterima seorang anak
dapat ia teruskan kepada anaknya.
Nasihat yang jujur
dapat menyelamatkan seseorang
bertahun-tahun setelah pemberinya tiada.
Sebuah pohon
dapat terus menaungi orang asing
yang tidak pernah mengenal
siapa penanamnya.
Inilah cahaya yang menetap:
bukan nama yang selalu disebut,
melainkan manfaat
yang terus bergerak dalam kesunyian.
Pada suatu malam,
sang istri bermimpi
berjalan di sebuah jalan panjang.
Di hadapannya terlihat
cahaya yang sangat lembut.
Tidak ada istana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada singgasana.
Hanya sebuah jalan
yang dipenuhi ketenteraman.
Ia tidak melihat wajah dengan jelas.
Namun ia mendengar
sebuah suara yang terasa akrab:
“Jangan berhenti di tempat aku pergi.
Perjalananmu masih ada.”
Ketika terbangun,
matanya dipenuhi air mata.
Ia tidak tergesa-gesa
menganggap mimpi itu sebagai kepastian.
Ia hanya mengambil
pesan baik yang terasa di dalamnya:
bahwa hidupnya masih memiliki amanah.
Bahwa mencintai seseorang yang telah pergi
bukan berarti ia harus ikut mati
di dalam kesedihan.
Bahwa setiap manusia
memiliki waktu kepulangannya sendiri.
Dan selama napas masih diberikan,
hidup harus tetap dijaga
sebagai titipan Alloh.
Pagi itu,
ia membuka jendela kamar.
Cahaya masuk.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak menutup tirai.
Ia memandang taman,
ruang belajar,
dapur umum,
dan lentera-lentera
yang masih dinyalakan setiap malam.
Kemudian ia berkata:
“Aku akan melanjutkan perjalanan.
Bukan untuk melupakanmu,
tetapi untuk menjaga amanah
yang pernah kita bangun bersama.”
Ia memanggil keluarga
dan para pengelola istana.
“Mulai hari ini,” katanya,
“jangan seluruh keputusan
bergantung kepadaku.”
“Bangunlah musyawarah.”
“Bagikan tanggung jawab.”
“Ajarkan generasi muda
untuk berpikir dan melayani.”
“Sebab warisan yang sehat
bukan membuat semua orang
bergantung kepada satu nama.”
“Warisan yang sehat
melahirkan banyak manusia
yang mampu menjaga kebaikan bersama.”
Beberapa orang berkata:
“Engkaulah satu-satunya
yang layak meneruskan seluruh kepemimpinan.”
Namun ia menggeleng.
“Tidak ada manusia
yang menjadi satu-satunya sumber cahaya.”
“Ketika kita menganggap
seluruh kebaikan bergantung kepada satu orang,
kita sedang membangun kerapuhan.”
“Biarkan ilmu tersebar.”
“Biarkan amanah dibagi.”
“Biarkan generasi tumbuh.”
“Dan jangan jadikan aku bayangan baru
yang menghalangi mereka
menemukan tanggung jawabnya sendiri.”
Safangat Illahhi…
Jadilah cahaya
yang membebaskan manusia
dari pemujaan terhadap tokoh.
Hormatilah guru,
tetapi jangan mematikan akal.
Cintailah pemimpin,
tetapi jangan membenarkan kezaliman.
Kenanglah orang baik,
tetapi jangan mengangkatnya
melebihi kedudukan seorang hamba.
Sebab manusia tetap manusia.
Ia memiliki cahaya
dan juga bayangan.
Ia dapat memberi petunjuk
namun tidak menggantikan petunjuk Alloh.
Ia dapat mengajarkan jalan,
namun tidak berhak disembah.
Kemuliaan sejati seorang guru
bukan ketika muridnya
selamanya bergantung kepadanya.
Kemuliaannya tampak
ketika murid tumbuh dewasa,
mampu membedakan benar dan salah,
serta meneruskan manfaat
tanpa kehilangan kerendahan hati.
Tahun pertama setelah perpisahan
akhirnya berlalu.
Pada hari yang sama,
keluarga mengusulkan
mengadakan peringatan besar.
Mereka ingin memenuhi istana
dengan hiasan emas,
spanduk, pujian,
dan pembacaan riwayat panjang
tentang kemuliaan almarhum.
Sang istri berkata:
“Doakanlah ia.”
“Bacalah ayat-ayat Alloh.”
“Bagikan makanan kepada yang membutuhkan.”
“Selesaikan satu amanah
yang belum terselesaikan.”
“Tanamlah pohon.”
“Ajarkan ilmu.”
“Namun jangan jadikan kepergiannya
sebagai panggung untuk membesarkan nama.”
Hari itu,
tidak ada pesta megah.
Mereka berkumpul
dengan sederhana.
Sebagian membaca doa.
Sebagian memasak untuk masyarakat.
Sebagian membersihkan aliran air.
Sebagian memperbaiki ruang belajar.
Anak-anak menanam
seratus pohon di tanah kering.
Di setiap lubang tanah
mereka meletakkan satu harapan:
agar siapa pun yang kelak berteduh
mendapat manfaat
tanpa harus mengetahui
nama orang yang diperingati.
Sang istri berdiri
di antara pohon-pohon muda itu.
Ia berkata:
“Hari ini aku merindukannya.
Mungkin lebih dalam
daripada hari-hari sebelumnya.”
“Namun aku tidak ingin kerinduan
hanya menjadi air mata.”
“Aku ingin mengubahnya
menjadi sesuatu yang hidup.”
Kemudian ia menanam
satu pohon dengan tangannya sendiri.
Tanah melekat pada jari-jarinya.
Ia tersenyum tipis.
“Dahulu kami menanam pohon
tanpa mengetahui siapa yang akan berteduh.”
“Kini aku melanjutkannya.”
Safangat Illahhi…
Ajarkan manusia
mengubah kerinduan menjadi amal.
Ketika mengenang ayah,
lanjutkan tanggung jawab baiknya.
Ketika mengenang ibu,
rawatlah kasih sayang yang ia tanam.
Ketika mengenang pasangan,
jaga keluarga dan amanah
yang pernah dibangun bersama.
Ketika mengenang guru,
amalkan ilmu dengan benar.
Jangan hanya menghiasi makam
sementara nilai-nilai baiknya
ditinggalkan.
Jangan hanya mengucapkan pujian
sementara orang-orang
yang dahulu ia lindungi
dibiarkan tanpa pertolongan.
Doa adalah cahaya.
Namun doa yang disertai amal
menjadi langkah
yang dapat dirasakan manusia.
Musim terus berganti.
Sang istri semakin menua.
Kini ia berjalan
dengan tongkat yang dahulu
digunakan suaminya.
Bukan karena ingin menjadi dirinya,
melainkan karena tongkat itu
telah menjadi pengingat:
bahwa setiap kekuatan
akhirnya membutuhkan penopang.
Anak-anak yang dahulu belajar
kini telah tumbuh dewasa.
Sebagian menjadi guru.
Sebagian menjadi petani.
Sebagian menjadi penyembuh.
Sebagian menjadi penulis.
Sebagian mengelola keadilan.
Sebagian memilih hidup sederhana
dan menjaga keluarganya.
Tidak semuanya tinggal di istana.
Tidak semuanya melanjutkan
bentuk perjuangan yang sama.
Namun sang istri tidak kecewa.
Ia berkata:
“Cahaya tidak harus berjalan
melalui jalan yang seragam.”
“Selama kalian jujur,
menjaga akhlak,
tidak menzalimi manusia,
dan menghadirkan manfaat,
maka kalian sedang membawa
bagian dari amanah.”
Seorang pemuda bertanya:
“Apakah kami harus selalu
mempertahankan semua ajaran lama?”
Sang istri menjawab:
“Pertahankan kebenarannya.”
“Periksa pemahamannya.”
“Perbaiki cara yang tidak lagi bermanfaat.”
“Jangan mengubah prinsip
hanya untuk mengikuti hawa nafsu.”
“Namun jangan pula menganggap
semua bentuk lama sebagai sesuatu
yang tidak boleh disentuh.”
“Nilai harus hidup.”
“Dan sesuatu yang hidup
harus mampu menjawab zaman
tanpa kehilangan akarnya.”
Ia mengajarkan mereka
agar tidak menyembah masa lalu.
Sebab masa lalu adalah guru,
bukan penjara.
Kesalahan lama dipelajari
agar tidak diulang.
Kebaikan lama diteruskan
agar tidak hilang.
Dan generasi baru diberi ruang
untuk menambahkan cahaya
melalui ilmu dan pengalamannya sendiri.
Safangat Illahhi…
Jadilah jembatan
antara kenangan dan masa depan.
Jangan biarkan kesetiaan kepada leluhur
berubah menjadi penolakan
terhadap kebenaran baru.
Jangan pula biarkan kecintaan
kepada kebaruan
membuat generasi menghina
seluruh kebijaksanaan masa lalu.
Ambillah mutiara
dari setiap masa.
Timbanglah dengan ilmu.
Bersihkan dengan akhlak.
Arahkan kepada kemanfaatan.
Dan kembalikan seluruhnya
kepada keridhoan Alloh.
Pada suatu senja,
sang istri kembali duduk
di bawah pohon tua.
Kini batang pohon itu
semakin besar.
Cabangnya melebar.
Di sekelilingnya
tumbuh pohon-pohon muda
yang ditanam pada tahun pertama
setelah kepergian suaminya.
Anak-anak bermain
di bawah bayangannya.
Seorang anak kecil mendekat
dan bertanya:
“Nenek, apakah engkau masih sedih?”
Sang istri tersenyum.
“Ya. Kadang-kadang.”
Anak itu terlihat bingung.
“Mengapa engkau dapat tersenyum
bila masih sedih?”
Ia menjawab:
“Karena hati manusia
dapat membawa lebih dari satu rasa.”
“Aku dapat merindukannya
dan tetap bersyukur.”
“Aku dapat menangis
dan tetap melanjutkan hidup.”
“Aku dapat merasa kehilangan
sekaligus bahagia
karena pernah dipertemukan dengannya.”
Anak itu bertanya lagi:
“Apakah kesedihan akan hilang?”
Sang istri memandang langit.
“Mungkin tidak sepenuhnya.”
“Namun kesedihan akan belajar
duduk lebih tenang di dalam hati.”
“Pada awalnya ia datang
seperti badai.”
“Kemudian ia menjadi hujan.”
“Lalu suatu hari,
ia menjadi embun—”
“masih membasahi,
tetapi juga membuat kita
mengingat betapa berharganya cinta.”
Anak itu memeluknya.
Sang istri membalas pelukan tersebut.
Dalam keheningan itu,
ia merasa seolah kehidupan
sedang mengajarkan satu rahasia:
bahwa hati yang pernah patah
tidak selalu harus dibuang.
Ia dapat disusun kembali
menjadi tempat yang lebih luas
bagi kasih sayang.
Safangat Illahhi…
Jangan jadikan luka
sebagai alasan untuk menutup hati selamanya.
Namun jangan pula memaksa
orang yang terluka
membuka pintunya sebelum siap.
Biarkan penyembuhan berjalan
dengan jujur.
Ada hari untuk menangis.
Ada hari untuk berdiam.
Ada hari untuk bercerita.
Ada hari untuk kembali bekerja.
Ada hari ketika seseorang merasa kuat.
Ada pula hari ketika kenangan lama
membuatnya kembali rapuh.
Penyembuhan bukan jalan lurus.
Kadang langkah maju.
Kadang berhenti.
Kadang kembali terjatuh.
Namun selama seseorang
tidak menyerah kepada keputusasaan,
setiap napas adalah bagian
dari perjalanan pulang kepada kehidupan.
Pada malam peringatan tahun berikutnya,
sang istri tidak lagi berdiri sendiri.
Di sekelilingnya ada generasi
yang telah membawa lentera masing-masing.
Ia mengambil mahkota matahari
milik suaminya dari ruang penyimpanan.
Semua orang mengira
ia akan menyerahkannya
kepada seorang pewaris.
Namun ia meletakkannya
di tengah aula.
Di sampingnya,
ia meletakkan mahkotanya sendiri.
Dua mahkota berdampingan
seperti dahulu mereka berdiri.
Kemudian ia berkata:
“Mahkota ini tidak akan diberikan
kepada orang yang paling dekat darahnya.”
“Ia juga tidak akan menjadi alat
untuk membenarkan kekuasaan.”
“Biarkan ia tetap menjadi simbol
bahwa cahaya adalah amanah.”
“Siapa pun yang memimpin,
ia harus dipilih melalui ilmu,
kelayakan, musyawarah,
kejujuran, dan kesediaan melayani.”
“Jangan jadikan darah keturunan
sebagai alasan menutup mata
dari ketidakmampuan.”
“Dan jangan merendahkan orang baik
hanya karena ia lahir
dari keluarga sederhana.”
Aula menjadi hening.
Sang istri melanjutkan:
“Suamiku pernah berkata,
mahkota tidak membuat seseorang mulia.”
“Hari ini aku menambahkan:
bahkan nama besar
tidak berhak menghalangi kebenaran.”
“Bila keturunan kami baik,
hormatilah karena akhlaknya.”
“Bila ia salah,
nasihatilah.”
“Bila ia zalim,
hentikan kezalimannya.”
“Sebab kesetiaan kepada keluarga
tidak boleh menjadi pengkhianatan
terhadap keadilan.”
Safangat Illahhi…
Bersihkan warisan
dari kesombongan keturunan.
Tidak seorang pun menjadi suci
hanya karena nama keluarganya.
Tidak seorang pun menjadi hina
hanya karena asalnya sederhana.
Manusia dimuliakan
oleh ketakwaan,
kejujuran,
ilmu,
dan amal yang bermanfaat.
Silsilah dapat menjadi pengingat
tentang tanggung jawab.
Namun ia tidak boleh
menjadi tangga kesombongan.
Sebab seorang anak
tidak mewarisi seluruh kemuliaan orang tuanya
tanpa menghidupkan nilai kebaikannya.
Dan seorang manusia sederhana
dapat menjadi sangat mulia
meskipun tidak memiliki
nama besar di belakangnya.
Malam semakin larut.
Setelah semua orang pulang,
sang istri tetap berada di aula.
Dua mahkota masih terletak
di tengah ruangan.
Ia duduk di hadapannya
dan berkata pelan:
“Perjalanan kita telah berubah bentuk.”
“Dahulu kita menjaga amanah bersama.”
“Kini aku menjaganya
melalui doa, pendidikan,
dan keberanian melepaskan.”
“Aku mulai memahami
bahwa mencintaimu
tidak berarti menahanmu
di dunia melalui kesedihanku.”
“Mencintaimu berarti
merelakanmu berada
dalam ketetapan Alloh.”
Ia menutup mata.
Tidak ada suara gaib.
Tidak ada jawaban dari mahkota.
Hanya ada ketenteraman kecil
yang turun ke dalam dada.
Ia menyadari
bahwa keridhoan bukan berarti
tidak merasakan sakit.
Keridhoan adalah menerima
bahwa ada wilayah kehidupan
yang tidak dapat dikuasai manusia.
Kita boleh berusaha.
Boleh berdoa.
Boleh berharap.
Namun pada akhirnya,
ada pintu yang hanya dibuka
oleh kehendak Alloh.
Dan ketika pintu itu terbuka,
cinta belajar melepaskan
tanpa berhenti mendoakan.
Sang istri bersujud.
“Yā Alloh,
aku telah lama meminta
agar Engkau menjaga orang yang kucintai.”
“Kini aku memahami
bahwa penjagaan-Mu
tidak selalu berarti mempertahankannya
di sisiku.”
“Jagalah ia dalam rahmat-Mu.”
“Dan jagalah aku
agar tidak tenggelam
dalam kesedihan yang menjauhkan
dari amanah kehidupan.”
“Pertemukanlah kami kembali
hanya bila Engkau ridho,
dalam keadaan telah Engkau ampuni
dan bersihkan.”
Doa itu tidak meminta kepastian
yang tidak diketahuinya.
Ia hanya membawa harapan
kepada Alloh Yang Maha Pengasih.
Safangat Illahhi…
Jadilah harapan
yang tidak melampaui adab.
Jangan membuat manusia
merasa mengetahui rahasia alam akhirat
yang tidak dibukakan kepadanya.
Ajarkan mereka berkata:
“Kami berharap kepada rahmat Alloh.”
Bukan:
“Kami pasti mengetahui
bagaimana keadaan seseorang.”
Sebab yang tersembunyi
adalah milik Alloh.
Tugas manusia adalah berdoa,
memperbaiki diri,
menunaikan hak,
dan menyerahkan keputusan
kepada keadilan serta kasih sayang-Nya.
Harapan bukan kesombongan.
Harapan adalah tangan seorang hamba
yang terulur ke langit
sambil mengakui:
“Aku tidak memiliki apa-apa
selain rahmat-Mu.”
Beberapa tahun kemudian,
tubuh sang istri semakin lemah.
Ia mulai menyerahkan
urusan sehari-hari
kepada generasi yang telah matang.
Namun setiap pekan,
ia tetap meminta dibawa
ke ruang belajar.
Ia duduk di atas kursi sederhana
dan mendengarkan anak-anak membaca.
Suatu hari,
seorang murid bertanya:
“Apakah pelajaran terakhir
yang ingin engkau titipkan kepada kami?”
Sang istri terdiam lama.
Kemudian ia berkata:
“Jangan takut mencintai
hanya karena cinta dapat berakhir
dengan perpisahan.”
“Namun cintailah dengan benar.”
“Jangan menjadikan pasangan
sebagai pengganti Alloh.”
“Jangan menggantungkan seluruh hidup
kepada seorang manusia.”
“Sebab manusia dapat pergi,
berubah, sakit, atau meninggal.”
“Cintailah manusia
sebagai amanah dari Alloh.”
“Jagalah ketika bersama.”
“Doakan ketika berjauhan.”
“Maafkan kesalahan yang layak dimaafkan.”
“Lindungi diri dari kezaliman.”
“Dan ketika perpisahan datang,
kembalikan ia kepada Pemiliknya.”
Seorang murid bertanya:
“Apakah cinta tetap hidup
setelah seseorang pergi?”
Ia menjawab:
“Cinta dapat berubah menjadi doa.”
“Menjadi kebaikan.”
“Menjadi pelajaran.”
“Menjadi keberanian
untuk memperlakukan orang lain
dengan lebih baik.”
“Namun jangan biarkan cinta
berubah menjadi pemujaan
kepada makhluk.”
“Seluruh cinta
harus menuntun hati
semakin mengenal Alloh.”
Anak-anak menunduk.
Sebagian tidak sepenuhnya memahami.
Namun kata-kata itu
kelak akan kembali kepada mereka
ketika kehidupan mengajarkan
arti pertemuan dan perpisahan.
Safangat Illahhi…
Jadilah cahaya
bagi mereka yang tinggal.
Ketika satu jiwa lebih dahulu pulang,
jangan biarkan jiwa yang tertinggal
merasa hidupnya telah selesai.
Masih ada keluarga untuk dijaga.
Masih ada ilmu untuk dibagikan.
Masih ada utang untuk ditunaikan.
Masih ada tubuh yang harus dirawat.
Masih ada sholat yang ditegakkan.
Masih ada orang-orang
yang membutuhkan kehadirannya.
Menjaga hidup setelah kehilangan
bukan pengkhianatan kepada yang pergi.
Tertawa kembali
bukan tanda telah melupakan.
Makan dengan baik
bukan berarti tidak lagi berduka.
Membuka hati kepada kebahagiaan
bukan berarti cinta lama telah hilang.
Sebab orang yang telah pergi
tidak dimuliakan
dengan menghancurkan kehidupan
yang masih dititipkan Alloh.
Pada senja terakhir musim itu,
sang istri meminta dibawa
ke bawah pohon tua.
Ia duduk di kursi yang sama.
Di sebelahnya tetap ada kursi kosong.
Namun kini ia tidak memandangnya
dengan kepedihan yang sama.
Ia meletakkan tangannya
di atas sandaran kursi
dan berkata:
“Aku masih merindukanmu.”
“Namun kerinduan ini
tidak lagi memaksaku
berhenti berjalan.”
“Ia telah menjadi teman
yang mengingatkan
bahwa hidup sangat singkat.”
“Terima kasih
karena pernah berjalan bersamaku.”
“Maafkan kekuranganku.”
“Semoga Alloh mengampunimu.”
“Dan bila rahmat-Nya mempertemukan,
semoga kita berjumpa
tanpa mahkota,
tanpa luka,
dan tanpa kesombongan.”
Angin bertiup.
Daun tua jatuh
di atas pangkuannya.
Ia mengambil daun itu
dan tersenyum.
“Setiap yang hidup
memiliki musimnya.”
Matahari turun perlahan.
Bayangan satu tubuh
terlihat panjang di tanah.
Namun di sekelilingnya
ada ratusan bayangan pohon
yang tumbuh dari benih
yang dahulu ditanam berdua.
Ia tidak benar-benar sendiri.
Ada doa.
Ada generasi.
Ada ilmu.
Ada amanah.
Dan yang paling utama,
ada Alloh
yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Safangat Illahhi…
Tetaplah menyala
dalam hati yang telah belajar merelakan.
Bukan merelakan karena cinta telah habis.
Melainkan merelakan
karena cinta akhirnya mengetahui
kepada siapa seluruh kehidupan kembali.
Jadilah cahaya
yang membimbing orang berduka
dari pertanyaan:
“Mengapa ia diambil dariku?”
menuju kesadaran:
“Ia tidak pernah sepenuhnya milikku.”
Jadilah keteguhan
untuk mengucapkan:
“Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji‘ūn.”
Kami milik Alloh.
Orang yang kami cintai
juga milik Alloh.
Pertemuan adalah titipan.
Perpisahan adalah ketetapan.
Dan seluruh perjalanan
akan kembali kepada-Nya.
Ketika malam turun,
lentera-lentera istana kembali dinyalakan.
Sang istri memandangnya
dari kejauhan.
Satu lentera utama
yang dahulu dinyalakan bersama
masih berada di tengah halaman.
Namun kini cahayanya
telah menyebar ke ribuan rumah.
Ia tersenyum.
Suaminya telah pergi.
Dirinya pun suatu hari
akan menyusul perjalanan
yang sama.
Namun cahaya kebaikan
tidak lagi bergantung
kepada keberadaan mereka.
Ia telah hidup
di dalam banyak tangan.
Banyak pikiran.
Banyak hati.
Dan banyak langkah
yang terus bergerak menuju kemanfaatan.
Maka sang istri menengadahkan tangan:
“Yā Alloh,
terima kasih atas pertemuan
yang pernah Engkau titipkan.”
“Ampunilah kesalahan kami
ketika menjaganya.”
“Terima kasih atas cinta
yang mengajarkan kesabaran.”
“Terima kasih atas perpisahan
yang mengajarkan kepasrahan.”
“Jangan biarkan kami dikenang
hanya karena mahkota dan istana.”
“Biarkanlah kebaikan kecil
menjadi saksi bahwa kami
pernah berusaha menjalankan amanah.”
“Jagalah mereka
yang meneruskan cahaya ini.”
“Jauhkan dari kesombongan,
perselisihan, pemujaan,
dan penyalahgunaan nama.”
“Dan ketika tiba waktuku pulang,
mudahkanlah aku melepaskan dunia
sebagaimana Engkau mengajarkanku
melepaskan orang yang kucintai.”
Langit semakin gelap.
Namun ribuan lentera
menjadikan malam itu
tidak sepenuhnya sunyi.
Sang istri berdiri perlahan.
Ia menggenggam tongkat kayu.
Kemudian berjalan kembali
menuju istana.
Tidak ada tangan suami
di sampingnya.
Namun langkahnya tidak kosong.
Di dalam setiap langkah
ada doa.
Di dalam setiap napas
ada syukur.
Di dalam setiap air mata
ada cinta yang telah dimurnikan.
Dan di dalam hatinya
ada keyakinan yang tenang:
bahwa Alloh tidak menjanjikan
setiap pertemuan berlangsung selamanya
di dunia,
tetapi Alloh mengajarkan
agar setiap pertemuan
dijaga dengan amanah,
diakhiri dengan doa,
dan dikembalikan
kepada rahmat-Nya.
Safangat Illahhi…
Engkau bukan cahaya
yang menolak perpisahan.
Engkau adalah cahaya
yang menolong hati
melewati perpisahan
tanpa kehilangan iman.
Engkau bukan suara
yang memerintahkan manusia
melupakan orang yang dicintainya.
Engkau adalah kelembutan
yang mengajarkan mereka mengenang
tanpa terpenjara.
Engkau bukan janji
bahwa hidup akan kembali
seperti dahulu.
Engkau adalah keberanian
untuk membangun kehidupan baru
dengan membawa pelajaran lama.
Dan ketika hanya satu cahaya
yang terlihat berjalan di dunia,
ingatkanlah bahwa ia tidak sendiri.
Ada doa dari orang-orang baik.
Ada jejak cinta yang dijaga.
Ada amanah yang diteruskan.
Dan ada Alloh,
Sang Pemilik segala cahaya,
yang menjadi tempat seluruh jiwa
bermula dan kembali.
Maka berjalanlah,
wahai hati yang ditinggalkan.
Menangislah bila perlu.
Beristirahatlah bila lelah.
Mintalah pertolongan
bila langkah terlalu berat.
Namun jangan menyerah
kepada kegelapan.
Sebab orang yang engkau cintai
tidak dimuliakan
dengan memadamkan hidupmu.
Muliakanlah ia dengan doa.
Dengan menyelesaikan amanah.
Dengan menjaga keluarga.
Dengan meneruskan ilmu.
Dengan memperbaiki kesalahan.
Dengan mencintai Alloh
lebih tinggi daripada seluruh makhluk.
Dan ketika suatu hari
langkahmu pun tiba
di gerbang kepulangan,
datanglah bukan sebagai pemilik mahkota.
Datanglah sebagai seorang hamba
yang pernah mencintai,
pernah kehilangan,
pernah menangis,
namun tetap menjaga iman
hingga akhir perjalanan.
Safangat Illahhi…
Jagalah cahaya yang tinggal.
Kuatkan tanpa mengeraskan.
Lembutkan tanpa melemahkan.
Ajarkan ia mengenang
tanpa menyembah kenangan.
Ajarkan ia melanjutkan hidup
tanpa mengkhianati cinta.
Dan jadikan setiap kerinduan
sebagai doa yang terangkat
menuju keluasan rahmat Alloh.
Sebab satu cahaya yang tinggal
bukanlah sisa yang terlupakan.
Ia adalah penjaga amanah,
penerus doa,
saksi perjalanan,
dan lentera yang masih harus menyala
hingga Alloh sendiri
menentukan waktunya pulang.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAIT KE-8 — BAIT TERAKHIR
Ketika Seluruh Cahaya Kembali kepada Sang Pemiliknya
Tahun-tahun berjalan
seperti sungai yang tidak pernah berhenti.
Musim hujan datang,
membasahi tanah tempat pepohonan muda
dahulu ditanam dengan tangan penuh harapan.
Musim kemarau tiba,
mengajarkan akar-akar
untuk mencari air lebih dalam.
Daun-daun tumbuh, menguning, lalu gugur.
Anak-anak lahir, bertumbuh,
menjadi dewasa,
kemudian membawa anak-anak mereka sendiri
ke halaman istana yang dahulu
menjadi saksi perjalanan
dua insan bermahkota matahari.
Banyak wajah telah berganti.
Para penjaga tua
telah menyerahkan tugasnya
kepada generasi yang lebih muda.
Para murid yang dahulu
duduk bersila sambil mengeja huruf
kini menjadi guru
yang mengajarkan ilmu kepada banyak manusia.
Anak-anak yang dahulu berlari
di bawah pohon tua
kini datang dengan rambut mulai memutih,
membawa kisah tentang perjalanan hidup,
tentang keberhasilan dan kegagalan,
tentang pertemuan dan perpisahan,
serta tentang cahaya yang pernah mereka terima
ketika hati masih sangat muda.
Istana itu pun berubah.
Sebagian dindingnya telah diperbaiki.
Sebagian ruangan telah berganti fungsi.
Aula kebesaran
tidak lagi hanya digunakan
untuk upacara dan penghormatan.
Di sana kini tersimpan buku-buku,
catatan perjalanan,
alat-alat pembelajaran,
dan kisah orang-orang sederhana
yang pernah menjaga peradaban
tanpa meminta namanya diabadikan.
Mahkota matahari
milik sang suami dan sang istri
masih disimpan di tengah ruangan.
Tidak diletakkan terlalu tinggi.
Tidak pula dikeramatkan.
Di bawah kedua mahkota itu
terdapat sebuah tulisan sederhana:
“Cahaya bukanlah milik manusia.
Cahaya adalah amanah.
Siapa pun yang menerimanya
harus menggunakannya untuk melayani,
bukan untuk meninggikan diri.”
Setiap generasi yang datang
membaca tulisan itu.
Sebagian hanya melewatinya.
Sebagian berhenti dan merenung.
Sebagian menangis
karena teringat pada kesalahan hidupnya.
Sebagian pulang dengan keputusan
untuk memperbaiki diri.
Namun tidak seorang pun
diperintahkan bersujud di hadapan mahkota.
Sebab mahkota itu hanyalah benda.
Emasnya dapat kusam.
Ukirannya dapat rusak.
Cahayanya dapat redup
bila lentera di sekitarnya dipadamkan.
Sedangkan nilai yang dilambangkannya
hanya akan hidup
bila manusia menghidupkannya
melalui akhlak dan perbuatan.
Di usia yang semakin senja,
sang istri masih tinggal
di bagian sederhana istana.
Ia tidak lagi menempati
ruang kebesaran.
Ia memilih sebuah kamar kecil
yang jendelanya menghadap taman.
Dari sana, ia dapat melihat
pohon-pohon yang pernah ditanam
bersama suaminya.
Ia dapat mendengar
anak-anak membaca.
Ia dapat mencium aroma makanan
dari dapur umum.
Ia dapat menyaksikan
orang-orang berjalan membawa lentera
ketika malam tiba.
Tubuhnya telah sangat lemah.
Tangannya mudah bergetar.
Napasnya lebih pendek.
Langkahnya harus dibantu
oleh tongkat kayu
dan tangan orang-orang
yang mencintainya.
Namun pikirannya masih jernih.
Dan di dalam kelemahan tubuhnya,
hatinya justru menjadi semakin lapang.
Ia tidak lagi bertanya
mengapa masa muda berlalu.
Ia tidak lagi memohon
agar tubuhnya kembali seperti dahulu.
Ia telah berdamai
dengan rambut yang memutih,
wajah yang menua,
dan kaki yang tidak lagi mampu
menempuh jalan panjang.
Sebab ia memahami
bahwa tubuh bukan rumah abadi.
Ia hanyalah kendaraan
yang membawa jiwa
menjalani amanah kehidupan.
Ketika kendaraan itu melemah,
manusia tidak harus membencinya.
Ia perlu dirawat,
disyukuri,
dan dilepaskan
bila Sang Pemilik telah menentukan waktunya.
Pada suatu sore,
sang istri meminta dibawa
ke halaman tempat lentera utama berdiri.
Langit berwarna keemasan.
Awan bergerak pelan.
Angin membawa aroma bunga
dari taman yang dahulu
dirawat bersama suaminya.
Generasi muda berkumpul.
Mereka datang dari berbagai tempat.
Ada yang telah menjadi pemimpin.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang mengolah tanah.
Ada yang merawat orang sakit.
Ada yang menulis.
Ada yang menjaga anak-anak yatim.
Ada pula yang tidak memiliki
gelar maupun kedudukan,
namun menjalani kehidupan
dengan jujur dan bertanggung jawab.
Sang istri duduk
di bawah pohon tua.
Kursi kosong di sebelahnya
masih berada di sana.
Bukan sebagai lambang kesedihan,
melainkan sebagai pengingat
bahwa pernah ada seseorang
yang berjalan bersamanya
melewati begitu banyak musim.
Ia memandang seluruh orang
yang berkumpul.
Kemudian berkata dengan suara lemah,
namun cukup jelas untuk didengar:
“Aku telah hidup cukup lama
untuk melihat bahwa cahaya
dapat tumbuh
dan juga dapat disalahgunakan.”
“Aku telah melihat ilmu
menyelamatkan manusia.”
“Namun aku juga melihat ilmu
digunakan untuk memperdaya.”
“Aku telah melihat kekuasaan
melindungi yang lemah.”
“Namun aku juga melihat kekuasaan
menindas orang yang tidak mampu melawan.”
“Aku telah melihat cinta
menyembuhkan luka.”
“Namun aku juga melihat
nama cinta digunakan
untuk menguasai dan menyakiti.”
“Karena itu, jangan hanya bertanya
seberapa terang cahaya yang kalian bawa.”
“Tanyakan pula:
untuk apakah cahaya itu digunakan?”
Semua orang terdiam.
Sang istri melanjutkan:
“Cahaya yang tidak dijaga oleh akhlak
dapat berubah menjadi kesombongan.”
“Semangat yang tidak dijaga oleh ilmu
dapat berubah menjadi kebutaan.”
“Keberanian yang tidak dijaga oleh kasih sayang
dapat berubah menjadi kekerasan.”
“Dan keyakinan yang tidak dijaga
oleh kerendahan hati
dapat membuat seseorang
merasa berhak menentukan
nasib manusia lain.”
Ia menatap mahkota matahari
yang dibawa keluar
dan diletakkan di atas kain putih.
“Dahulu, orang-orang melihat
mahkota ini dan mengira
kami memiliki cahaya yang istimewa.”
“Padahal kami hanyalah
dua manusia yang berusaha
menjaga hati agar tidak tersesat
oleh kemegahan.”
“Kami pernah salah.”
“Kami pernah terluka.”
“Kami pernah membuat orang lain terluka.”
“Kami pernah hampir kehilangan arah.”
“Dan berkali-kali kami hanya mampu
kembali dengan meminta pertolongan Alloh.”
Ia berhenti untuk menarik napas.
Seseorang mendekat
dan menawarkan air.
Ia meminumnya sedikit.
Kemudian berkata:
“Jangan kalian ceritakan kehidupan kami
seolah-olah kami tidak pernah salah.”
“Bila sejarah hanya menyimpan pujian,
generasi berikutnya
tidak akan memperoleh pelajaran.”
“Ceritakan kebaikan
agar dapat diteruskan.”
“Ceritakan kesalahan dengan adab
agar tidak diulang.”
“Jangan membuka aib
hanya untuk merendahkan.”
“Namun jangan menyembunyikan kenyataan
hanya untuk membangun pemujaan.”
“Sebab manusia tidak membutuhkan
tokoh yang tampak sempurna.”
“Manusia membutuhkan teladan
yang jujur tentang bagaimana
seseorang jatuh, mengakui kesalahan,
lalu bangkit dan memperbaiki diri.”
Safangat Illahhi…
Pada bait terakhir ini,
janganlah engkau hadir
sebagai gemuruh yang menakutkan.
Hadirlah sebagai angin lembut
yang menyentuh hati
tanpa memaksanya.
Hadirlah sebagai cahaya fajar
yang tidak berteriak kepada malam,
namun perlahan membuat kegelapan
kehilangan tempatnya.
Hadirlah sebagai keyakinan
bahwa kehidupan tidak harus sempurna
untuk menjadi berarti.
Seorang manusia
tidak harus memiliki istana
untuk menebarkan ketenteraman.
Tidak harus mengenakan mahkota
untuk menjaga amanah.
Tidak harus dikenal banyak orang
untuk memberi manfaat.
Tidak harus memiliki kekayaan besar
untuk berbagi.
Tidak harus mampu menyelesaikan
seluruh persoalan dunia
untuk melakukan satu kebaikan
yang tulus hari ini.
Satu senyum kepada hati yang rapuh.
Satu makanan untuk orang yang lapar.
Satu permintaan maaf
yang diucapkan dengan jujur.
Satu nasihat
yang diberikan tanpa merendahkan.
Satu pohon yang ditanam
untuk generasi yang belum lahir.
Satu ilmu yang diajarkan.
Satu tangan yang menahan
agar orang lain tidak jatuh.
Satu doa dalam keheningan
untuk seseorang
yang bahkan tidak mengetahui
bahwa dirinya sedang didoakan.
Semua itu adalah cahaya.
Bukan cahaya
yang menjadikan seseorang terkenal.
Melainkan cahaya
yang membuat kehidupan manusia lain
sedikit lebih ringan.
Malam semakin mendekat.
Lentera-lentera mulai dinyalakan.
Sang istri meminta
agar lentera utama dibawa kepadanya.
Lentera itu telah sangat tua.
Kacanya memiliki goresan.
Pegangannya mulai aus.
Namun nyalanya tetap tenang.
Ia memandang api kecil itu
dan berkata:
“Dahulu aku mengira
cahaya harus selalu besar.”
“Aku mengira cahaya harus terlihat
dari tempat yang sangat jauh.”
“Namun perjalanan hidup mengajarkanku
bahwa cahaya yang paling dibutuhkan
sering kali adalah cahaya kecil
yang hadir di dekat seseorang
ketika seluruh dunianya terasa gelap.”
Ia menyerahkan lentera itu
kepada seorang anak perempuan.
Anak tersebut terkejut.
“Mengapa diberikan kepadaku?”
Sang istri tersenyum.
“Bukan untuk menjadi milikmu.”
“Bawalah kepada orang lain.”
“Nyalakan lentera mereka.”
“Lalu biarkan cahaya ini
terus berjalan.”
Anak itu menggenggam lentera
dengan kedua tangannya.
Sang istri berkata:
“Jangan takut
cahaya akan habis karena dibagikan.”
“Yang membuat cahaya hilang
bukanlah berbagi.”
“Cahaya hilang
ketika manusia menyimpannya
hanya untuk membesarkan dirinya sendiri.”
Kemudian satu demi satu
lentera generasi baru dinyalakan.
Satu nyala berpindah
tanpa kehilangan kekuatan.
Puluhan nyala menjadi ratusan.
Ratusan menjadi ribuan.
Cahaya memenuhi taman,
lorong-lorong istana,
jalan-jalan desa,
rumah-rumah sederhana,
dan tempat-tempat jauh
yang tidak pernah dikunjungi
oleh pasangan bermahkota itu.
Dari kejauhan,
istana tidak lagi terlihat
sebagai pusat satu cahaya besar.
Ia terlihat seperti bagian kecil
dari lautan lentera
yang menyebar ke segala arah.
Sang istri memandangnya
dengan mata berkaca-kaca.
“Inilah yang dahulu
ingin kami lihat.”
“Bukan agar semua orang
datang kepada satu nama.”
“Melainkan agar setiap orang
menemukan keberanian
untuk menjaga cahaya
di tempatnya masing-masing.”
Safangat Illahhi…
Jangan pusatkan seluruh harapan
kepada satu manusia.
Sebab manusia dapat lelah.
Manusia dapat keliru.
Manusia dapat berubah.
Manusia dapat pergi.
Sebarkan ilmu.
Sebarkan tanggung jawab.
Sebarkan kemampuan untuk berpikir.
Sebarkan keberanian
untuk berkata benar dengan adab.
Sebarkan kasih sayang
yang tidak membuat manusia bergantung,
melainkan membuat mereka
mampu berdiri dengan bermartabat.
Guru yang baik
tidak mengikat murid
agar selamanya berada di bawah bayangannya.
Pemimpin yang baik
tidak membuat masyarakat
takut hidup tanpa dirinya.
Orang tua yang baik
tidak mematikan pilihan anak
demi memenuhi ambisi pribadi.
Pasangan yang baik
tidak menghapus identitas orang yang dicintainya.
Cinta yang benar
tidak berkata:
“Engkau harus menjadi milikku sepenuhnya.”
Cinta yang benar berkata:
“Aku akan menjagamu sebagai amanah,
menghormati kehendak baikmu,
menegurmu bila engkau salah,
dan tidak menggunakan kasih sayang
untuk merampas kebebasan serta martabatmu.”
Karena cinta bukan penjara.
Cinta adalah tempat
dua manusia belajar bertumbuh
tanpa saling menghilangkan.
Malam itu,
setelah semua lentera menyala,
sang istri meminta
agar orang-orang tidak segera pulang.
Ia ingin menyampaikan
amanah terakhir.
“Jangan menjadikan perbedaan
sebagai alasan saling membenci.”
“Kalian mungkin menempuh
jalan kehidupan yang berlainan.”
“Ada yang tinggal di sini.”
“Ada yang pergi ke tempat jauh.”
“Ada yang meneruskan bentuk lama.”
“Ada yang menemukan cara baru.”
“Selama kalian menjaga kebenaran,
tidak menzalimi manusia,
terbuka terhadap nasihat,
dan mengembalikan hati kepada Alloh,
jangan saling merendahkan.”
“Jangan mengira
hanya jalan kalian yang bercahaya
hanya karena itulah jalan
yang paling kalian kenal.”
“Dengarkan.”
“Belajar.”
“Periksa.”
“Dan bila kalian berbeda,
jangan kehilangan adab.”
Seorang pemuda bertanya:
“Bagaimana bila perbedaan
tidak dapat disatukan?”
Sang istri menjawab:
“Tidak semua perbedaan
harus berakhir dengan keseragaman.”
“Ada perbedaan yang perlu dijelaskan.”
“Ada yang perlu dimusyawarahkan.”
“Ada yang perlu dibatasi
karena menimbulkan kezaliman.”
“Namun ada pula perbedaan
yang dapat hidup berdampingan
selama tidak menghapus hak
dan keselamatan manusia.”
“Jangan memaksakan kesatuan
dengan menghancurkan kejujuran.”
“Namun jangan pula memelihara perpecahan
hanya karena ego tidak ingin mengalah.”
Ia menatap generasi baru
dengan penuh kesungguhan.
“Keadilan bukan berarti
semua orang memperoleh hal yang sama.”
“Keadilan berarti
setiap orang menerima haknya
secara benar.”
“Kasih sayang bukan berarti
semua kesalahan dibiarkan.”
“Kasih sayang juga dapat berbentuk batas,
teguran, tanggung jawab,
dan perlindungan bagi yang disakiti.”
“Memaafkan bukan berarti
menyerahkan diri untuk disakiti kembali.”
“Dan kesabaran bukan alasan
untuk membiarkan kezaliman
tumbuh tanpa perlawanan.”
Safangat Illahhi…
Jadilah keseimbangan
antara kelembutan dan ketegasan.
Jangan membuat hati terlalu keras
hingga tidak mampu berbelas kasih.
Namun jangan pula menjadikannya
terlalu lemah
hingga tidak mampu menjaga kebenaran.
Ajarkan tangan untuk menolong.
Ajarkan kaki untuk berdiri
di hadapan ketidakadilan.
Ajarkan lisan berkata benar
tanpa menghina.
Ajarkan telinga mendengar
tanpa tergesa-gesa menghakimi.
Ajarkan mata melihat kekurangan diri
sebelum sibuk mencari kesalahan manusia.
Dan ajarkan jiwa
bahwa membela kebenaran
tidak memberi izin
untuk memperlakukan lawan
tanpa kemanusiaan.
Sebab manusia sering merasa suci
ketika sedang memusuhi orang lain.
Ia mengira kemarahannya
selalu berasal dari kebenaran.
Padahal sebagian kemarahan
lahir dari ego,
rasa ingin menang,
luka lama,
dan keinginan untuk dipuji
sebagai pembela yang paling berani.
Maka periksalah hati.
Tanyakan:
“Apakah aku benar-benar
sedang menjaga kebenaran?”
“Ataukah aku sedang mencari alasan
untuk melampiaskan kebencian?”
Tanyakan:
“Apakah ucapanku
akan memperbaiki keadaan?”
“Ataukah hanya mempermalukan
dan menambah luka?”
Tanyakan:
“Apakah aku bersedia
dikoreksi dengan ukuran
yang sama seperti ketika
aku mengoreksi orang lain?”
Sebab orang yang adil
tidak hanya menuntut kebenaran
dari pihak yang tidak disukainya.
Ia juga berani mengakui kesalahan
pihak yang dicintainya.
Ia tidak menutup mata
karena hubungan keluarga.
Tidak membela
hanya karena satu kelompok.
Tidak menyembunyikan pelanggaran
demi menjaga nama.
Keadilan berdiri
bahkan ketika kebenaran
terasa pahit bagi diri sendiri.
Sang istri menutup matanya sejenak.
Tubuhnya tampak lelah.
Para murid memintanya beristirahat.
Namun ia mengangkat tangan.
“Biarkan aku menyelesaikannya.”
“Mungkin tidak banyak waktu
yang masih diberikan.”
Tidak ada ketakutan
di dalam suaranya.
Hanya kesadaran yang tenang.
Ia lalu memandang langit
yang dipenuhi bintang.
“Sepanjang hidup,
manusia sering takut
bahwa dirinya akan dilupakan.”
“Karena takut dilupakan,
ia membangun nama besar.”
“Ia mengumpulkan pujian.”
“Ia meminta gambar dan kisahnya
ditempatkan di mana-mana.”
“Namun ketakutan terhadap dilupakan
dapat membuat seseorang
lupa menjalani hidup dengan tulus.”
Ia tersenyum lembut.
“Tidak mengapa bila suatu hari
nama kami tidak lagi diingat.”
“Tidak mengapa bila mahkota ini
menjadi debu.”
“Tidak mengapa bila istana ini runtuh
dan digantikan bangunan baru.”
“Asalkan manusia tetap belajar
berkata jujur.”
“Asalkan orang yang kuat
masih melindungi yang lemah.”
“Asalkan orang tua
masih mengajarkan kasih sayang.”
“Asalkan ilmu tetap dibagikan.”
“Asalkan orang yang bersalah
masih memiliki keberanian
untuk meminta maaf.”
“Asalkan hati yang terluka
tidak menjadikan lukanya
sebagai alasan menyakiti orang lain.”
“Bila nilai-nilai itu hidup,
kami tidak membutuhkan
nama yang terus disebut.”
“Sebab tujuan cahaya
bukan agar lentera dipuji.”
“Tujuannya adalah
agar orang dapat menemukan jalan.”
Safangat Illahhi…
Bebaskan manusia
dari keinginan untuk selalu dikenang.
Ajarkan mereka berbuat baik
meskipun nama tidak disebut.
Menanam meskipun tidak memetik.
Membangun meskipun tidak menempati.
Mengajar meskipun murid
kelak melampaui gurunya.
Mendoakan meskipun orang
yang didoakan tidak mengetahui.
Memberi tanpa memamerkan.
Menolong tanpa mengikat.
Mencintai tanpa menuntut
agar setiap pengorbanan dibalas.
Sebab keikhlasan
bukan berarti seseorang
tidak merasakan lelah.
Keikhlasan bukan berarti
tidak pernah kecewa.
Keikhlasan adalah usaha
untuk terus membersihkan niat
setiap kali pujian,
kepentingan, dan ego
mulai memasuki hati.
Manusia tidak selalu ikhlas
dalam satu langkah.
Ia belajar.
Ia memeriksa diri.
Ia tergelincir.
Ia kembali.
Ia meminta ampun.
Dan ia memperbaiki niat
berulang kali sepanjang hidup.
Maka jangan merasa diri
telah mencapai kesucian.
Selama masih hidup,
hati tetap perlu dijaga.
Sang istri lalu meminta
agar dua mahkota matahari
diletakkan di hadapannya.
Semua orang berdiri.
Mahkota sang suami
berada di sebelah kanan.
Mahkotanya sendiri
berada di sebelah kiri.
Dua mahkota itu
masih tampak megah
di bawah ribuan lentera.
Namun sang istri tidak menyentuhnya.
Ia hanya memandang.
Kemudian berkata:
“Dahulu kami berdiri
mengenakan mahkota ini.”
“Orang-orang memandang
seolah-olah kami adalah cahaya.”
“Hari ini aku ingin menyatakan
di hadapan kalian semua:”
“Kami bukan cahaya itu.”
“Kami hanyalah hamba
yang pernah menerima sedikit kesempatan
untuk membawa lentera.”
“Bila ada kebaikan
yang lahir melalui tangan kami,
itu terjadi dengan pertolongan Alloh.”
“Bila ada kesalahan,
itu adalah kekurangan kami
sebagai manusia.”
“Jangan campurkan keduanya.”
“Jangan mengangkat kesalahan
menjadi ajaran.”
“Dan jangan mengangkat manusia
menjadi pemilik cahaya.”
Semua kepala menunduk.
Sang istri melanjutkan:
“Tidak ada nama rahasia
yang dapat menggantikan akhlak.”
“Tidak ada simbol kebesaran
yang dapat menggantikan tanggung jawab.”
“Tidak ada pakaian bercahaya
yang dapat menutup kezaliman.”
“Tidak ada gelar ruhani
yang dapat membebaskan seseorang
dari kewajiban berkata jujur,
menunaikan hak,
menjaga ibadah,
dan menghormati manusia.”
“Nilailah pohon dari buahnya.”
“Nilailah ilmu dari manfaatnya.”
“Nilailah kepemimpinan dari keadilannya.”
“Dan nilailah perjalanan batin
dari perubahan akhlaknya.”
“Bila seseorang mengaku membawa cahaya
namun semakin suka merendahkan,
semakin haus dipuja,
semakin mudah mengambil hak orang lain,
dan semakin sulit menerima nasihat,
maka periksalah cahaya
yang ia katakan itu.”
“Sebab cahaya dari Alloh
tidak membuat manusia menjadi Tuhan
bagi sesamanya.”
Kata-kata itu bergema
di seluruh halaman.
Bukan sebagai tuduhan.
Bukan pula sebagai kemarahan.
Melainkan sebagai pagar
agar generasi baru
tidak tersesat oleh simbol-simbol
yang tampak suci
namun kehilangan akhlak.
Safangat Illahhi…
Jadilah pelurus hati.
Bila manusia terlalu terpukau
oleh pakaian,
ingatkan pada perbuatannya.
Bila terlalu kagum kepada gelar,
ingatkan pada amanahnya.
Bila terlalu percaya kepada pengakuan,
ingatkan untuk memeriksa bukti.
Bila terlalu mudah menyerahkan diri
kepada seseorang,
ingatkan bahwa setiap hamba
tetap bertanggung jawab
atas pilihannya sendiri.
Jangan biarkan orang
mematikan akal
atas nama kesetiaan.
Jangan biarkan rasa hormat
menjadi ketakutan.
Jangan biarkan cinta kepada guru
menghapus keberanian
untuk berkata:
“Ini tidak benar.”
Guru yang tulus
tidak takut terhadap pertanyaan jujur.
Pemimpin yang adil
tidak takut diperiksa.
Orang yang benar
tidak membutuhkan kebohongan
untuk mempertahankan kewibawaan.
Dan seseorang yang salah
tetap memiliki jalan kembali
bila bersedia mengakui,
memperbaiki,
serta bertanggung jawab.
Namun bila seseorang
terus menggunakan nama suci
untuk menutup kezaliman,
maka melindungi korban
lebih utama daripada melindungi citranya.
Malam menjadi semakin dalam.
Tubuh sang istri mulai menggigil.
Para murid menyelimutinya.
Ia tersenyum dan berkata:
“Jangan takut.”
“Aku tidak sedang pergi malam ini
hanya karena tubuhku lemah.”
“Dan bila pun waktunya dekat,
ketakutan kalian
tidak akan mengubah ketetapan.”
“Gunakanlah waktu ini
untuk mendengar amanah,
bukan untuk tenggelam
dalam bayangan kehilangan.”
Ia memandang seorang murid tertua.
“Jangan kalian membangun
patung kami.”
“Jangan menciptakan kisah
yang tidak pernah terjadi
hanya agar kami tampak luar biasa.”
“Jangan menjual nama kami
untuk memperkaya diri.”
“Bila karya-karya ini dicetak,
kelola dengan jujur.”
“Bila ada biaya,
jelaskan untuk apa.”
“Jangan mengambil hak penulis,
pekerja, pengelola,
maupun orang yang membantu.”
“Dakwah tidak membenarkan
kecurangan.”
“Nama suci tidak menghalalkan
pengelolaan yang gelap.”
“Kebaikan harus dijalankan
dengan amanah yang nyata.”
Murid tertua menunduk.
“Kami akan menjaganya.”
Sang istri menggeleng lembut.
“Jangan hanya berjanji kepadaku.”
“Bangunlah sistem
yang dapat diperiksa.”
“Catat pemasukan.”
“Catat pengeluaran.”
“Bagikan tanggung jawab.”
“Jangan serahkan semuanya
kepada satu orang tanpa pengawasan.”
“Sebab niat baik
tetap membutuhkan tata kelola yang baik.”
“Dan manusia yang baik
tetap dapat tergelincir
bila tidak ada batas
serta pertanggungjawaban.”
Semua orang menyadari
bahwa amanah terakhir itu
tidak hanya berbicara tentang puisi.
Ia berbicara tentang cara
sebuah cahaya dijaga
agar tidak berubah
menjadi kepentingan pribadi.
Safangat Illahhi…
Masuklah ke dalam pekerjaan sehari-hari.
Jangan hanya tinggal
di dalam kata-kata indah.
Hiduplah dalam catatan yang jujur.
Dalam upah yang dibayar tepat waktu.
Dalam janji yang ditepati.
Dalam hasil kerja
yang tidak diklaim seorang diri.
Dalam penghargaan
kepada mereka yang bekerja
di balik layar.
Dalam pengakuan:
“Aku tidak mampu melakukannya sendiri.”
Sebab banyak orang
menginginkan cahaya di panggung,
namun melupakan tangan
yang menyiapkan panggung.
Banyak orang ingin dikenal
sebagai pemimpin,
namun enggan mencuci luka
mereka yang dipimpinnya.
Banyak orang ingin namanya
tertera pada karya,
namun tidak menyebut
orang-orang yang membantu menyelesaikannya.
Maka jadilah adil.
Berikan penghargaan
tanpa berlebihan.
Sebut nama
mereka yang memang berjasa.
Jangan menghapus peran orang lain
demi terlihat paling besar.
Sebab cahaya yang sehat
tidak takut berbagi ruang.
Ia tidak merasa redup
ketika cahaya lain ikut menyala.
Sesudah menyampaikan amanah,
sang istri meminta
agar semua orang duduk.
Ia ingin mendengar mereka.
Bukan lagi memberikan nasihat.
Satu per satu
generasi baru berbicara.
Seorang guru berkata:
“Aku pernah merasa gagal
karena murid-muridku
tidak langsung berubah.”
Sang istri menjawab:
“Engkau bertugas menanam,
bukan memaksa benih tumbuh
pada hari yang engkau pilih.”
Seorang ibu berkata:
“Aku takut anakku
menempuh jalan yang berbeda dariku.”
Sang istri menjawab:
“Jagalah nilai,
bukan seluruh bentuk hidupnya.”
“Nasihati dengan kasih.”
“Berikan batas bila diperlukan.”
“Namun ingatlah bahwa anak
bukan salinan dirimu.”
Seorang pemuda berkata:
“Aku ingin menjadi pemimpin,
tetapi aku takut niatku
tercampur keinginan dipuji.”
Sang istri berkata:
“Rasa takut itu dapat menjadi penjaga
bila membuatmu terus memeriksa hati.”
“Namun jangan jadikan keraguan
sebagai alasan untuk tidak berbuat.”
“Belajar.”
“Mintalah nasihat.”
“Bangun pertanggungjawaban.”
“Dan bersedia turun
bila engkau tidak lagi layak.”
Seorang perempuan muda berkata:
“Aku pernah disakiti
oleh orang yang menggunakan
kata cinta dan agama.”
Wajah sang istri menjadi serius.
“Kesalahan orang itu
bukan kesalahanmu.”
“Jangan menyalahkan dirimu
karena pernah percaya.”
“Carilah perlindungan.”
“Ceritakan kepada orang yang aman.”
“Jangan merasa wajib diam
demi menjaga nama pelaku.”
“Agama tidak memerintahkan korban
melindungi kezaliman.”
“Penyembuhanmu mungkin panjang,
namun engkau tetap berharga.”
Perempuan itu menangis.
Sang istri membuka tangannya.
Ia memeluknya
dengan sisa tenaga yang dimiliki.
“Cahaya tidak menuntutmu
segera melupakan luka.”
“Cahaya membantumu
kembali mengenal dirimu
sebagai manusia yang layak dihormati.”
Seorang lelaki tua berkata:
“Aku telah melakukan kesalahan besar
kepada keluargaku.”
“Aku menyesal,
tetapi mereka tidak mau memaafkan.”
Sang istri menjawab:
“Penyesalanmu harus dibuktikan
dengan tanggung jawab.”
“Minta maaf tanpa memaksa mereka
segera menerima.”
“Perbaiki kerusakan
semampu yang dapat diperbaiki.”
“Hormati batas mereka.”
“Mereka berhak membutuhkan waktu.”
“Tobat tidak memberimu hak
untuk menuntut kepercayaan
kembali dalam satu hari.”
“Tugasmu adalah berubah.”
“Bukan mengatur kapan orang lain
harus merasa sembuh.”
Malam itu,
aula berubah
menjadi ruang kejujuran.
Tidak ada seorang pun
yang mengaku tanpa luka.
Tidak ada seorang pun
yang merasa seluruh hidupnya sempurna.
Mereka saling mendengar.
Tidak buru-buru memberi nasihat.
Tidak berlomba menjadi paling bijaksana.
Kadang seseorang
hanya membutuhkan ruang
untuk berkata:
“Aku lelah.”
Dan mendengar jawaban:
“Beristirahatlah.
Kami tetap bersamamu.”
Kadang seseorang berkata:
“Aku takut.”
Dan orang lain menjawab:
“Mari kita hadapi perlahan.”
Kadang seseorang berkata:
“Aku salah.”
Dan yang lain menjawab:
“Bertanggung jawablah.
Jalan perbaikan masih ada.”
Safangat Illahhi…
Jadilah ruang aman
bagi kejujuran.
Bukan ruang
yang membenarkan semua tindakan.
Namun ruang
yang memungkinkan manusia
mengakui kesalahan
tanpa dihancurkan harga dirinya.
Sebab rasa malu yang sehat
dapat membawa seseorang
kepada perbaikan.
Namun penghinaan yang berlebihan
dapat membuatnya bersembunyi,
berbohong,
dan semakin jauh dari perubahan.
Tegurlah tindakan salah.
Lindungi korban.
Tetapkan batas.
Minta pertanggungjawaban.
Namun jangan mengambil
kedudukan Alloh
dengan merasa mengetahui
seluruh isi hati manusia.
Kita menilai perbuatan
yang tampak.
Kita menjaga keadilan.
Kita mencegah bahaya.
Namun keputusan terakhir
tentang hati dan akhir seseorang
tetap berada pada Alloh.
Malam hampir mencapai ujungnya.
Bintang-bintang mulai memudar.
Sang istri menatap ufuk timur.
“Fajar akan datang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun seluruh orang
merasakan maknanya.
Setiap malam
memiliki batas.
Setiap luka
memiliki kemungkinan untuk dirawat.
Setiap kesalahan
memiliki pintu tobat
selama kehidupan masih diberikan.
Setiap kesombongan
dapat dihancurkan
oleh satu kesadaran jujur.
Setiap hati yang jauh
dapat mengambil satu langkah pulang.
Tidak semua hubungan
akan kembali seperti semula.
Tidak semua kerusakan
dapat dipulihkan seluruhnya.
Tidak semua orang
akan memberikan maaf.
Tidak semua kehilangan
dapat digantikan.
Namun manusia tetap dapat memilih
untuk tidak menambah kegelapan.
Ia dapat memilih
berhenti menyakiti.
Ia dapat memilih
menunaikan hak.
Ia dapat memilih
meminta pertolongan.
Ia dapat memilih
menjalani hari berikutnya
dengan lebih jujur.
Dan satu pilihan baik
dapat menjadi awal
dari perjalanan yang panjang.
Sang istri meminta
agar dua mahkota dibawa
ke ruang penyimpanan kembali.
Namun sebelum dibawa,
ia berkata:
“Mulai hari ini,
jangan lagi menyalakan cahaya
dari belakang mahkota.”
Orang-orang terkejut.
“Mengapa?”
Ia menjawab:
“Agar generasi berikutnya
mengetahui bahwa emas
tidak bercahaya dengan sendirinya.”
“Selama ini lentera ditempatkan
di belakangnya,
sehingga mahkota tampak
memancarkan sinar.”
“Padahal ia hanya memantulkan
cahaya dari luar.”
Semua orang memandang
kedua mahkota itu.
Ketika lentera dijauhkan,
emasnya tetap indah,
namun tidak lagi bersinar
seperti matahari.
Sang istri tersenyum.
“Begitulah manusia.”
“Kita tidak memiliki cahaya sendiri.”
“Kita memantulkan
rahmat, ilmu, kesempatan,
bantuan, dan petunjuk
yang Alloh izinkan sampai kepada kita.”
“Maka janganlah pantulan
mengaku sebagai sumber.”
Kalimat itu menjadi
penutup pengajaran malam tersebut.
Safangat Illahhi…
Engkau bukan sinar
yang menjadikan manusia
merasa sebagai pusat semesta.
Engkau adalah kesadaran
bahwa segala kebaikan
datang melalui izin Alloh.
Seorang guru memantulkan ilmu
yang pernah ia terima.
Seorang ibu memantulkan kasih sayang
yang tumbuh melalui rahmat.
Seorang ayah memantulkan perlindungan
yang diberikan kepadanya.
Seorang pemimpin memantulkan
keadilan yang seharusnya dijaga.
Seorang penyembuh
bukan pemilik kesembuhan.
Seorang penulis
bukan pemilik seluruh hikmah.
Seorang pembimbing
bukan pemilik hati manusia.
Semua adalah jalan.
Semua adalah perantara.
Semua memiliki batas.
Dan bila jalan itu
mulai menghalangi manusia
dari Sang Tujuan,
maka jalan tersebut
harus diperiksa kembali.
Fajar akhirnya muncul.
Cahaya alami
menyentuh taman.
Lentera-lentera
mulai dipadamkan satu per satu.
Bukan karena tidak berguna.
Melainkan karena matahari
telah memberikan cahaya yang lebih luas.
Sang istri memandang pemandangan itu.
Kemudian berbisik:
“Lentera mengetahui
kapan harus menyala.”
“Dan ia harus mengetahui
kapan tidak perlu
mempertahankan dirinya.”
Begitu pula seorang guru.
Ada masa ia berdiri di depan.
Ada masa ia mendampingi.
Ada masa ia menyerahkan tanggung jawab.
Ada masa ia harus membiarkan
generasi berikutnya
berjalan dengan keputusan mereka sendiri.
Bila seorang guru
tidak pernah bersedia melepaskan,
murid tidak akan dewasa.
Bila orang tua
tidak pernah memberikan kepercayaan,
anak tidak akan belajar bertanggung jawab.
Bila pemimpin
menganggap tidak ada seorang pun
mampu menggantikannya,
ia sedang menanam ketergantungan,
bukan kepemimpinan.
Maka sang istri berkata
kepada murid tertua:
“Mulai hari ini,
aku tidak lagi memimpin
urusan harian.”
“Bukan karena aku tidak peduli.”
“Namun karena amanah
harus mampu berjalan
tanpa bergantung pada tubuhku.”
Murid itu menangis.
“Kami masih membutuhkanmu.”
Ia menjawab:
“Kalian masih dapat datang
meminta nasihat selama aku mampu.”
“Namun jangan meminta
setiap keputusan kecil
kepada orang yang akan segera pergi.”
“Belajarlah.”
“Bertanggung jawablah.”
“Dan bila salah,
perbaiki dengan jujur.”
Hari itu,
kepemimpinan diserahkan
melalui musyawarah.
Bukan kepada satu keturunan
hanya karena darahnya.
Bukan kepada orang
yang paling keras suaranya.
Bukan kepada orang
yang paling pandai memuji.
Tanggung jawab dibagi
kepada mereka yang memiliki
ilmu, akhlak, kemampuan,
dan kesediaan untuk diperiksa.
Ada pengelola pendidikan.
Ada penjaga keuangan.
Ada pelayan masyarakat.
Ada orang yang menerima keluhan.
Ada majelis yang memeriksa keputusan.
Tidak satu orang pun
memegang seluruh kekuasaan.
Sebab amanah yang besar
memerlukan keseimbangan.
Dan kekuasaan tanpa pengawasan
dapat mengubah orang baik
menjadi lengah.
Safangat Illahhi…
Jadilah keberanian untuk melepaskan.
Tidak semua yang pernah kita bangun
harus selamanya berada
di bawah tangan kita.
Ada saatnya menyerahkan.
Ada saatnya mempercayai.
Ada saatnya mengakui
bahwa cara baru mungkin lebih baik.
Ada saatnya menerima
bahwa generasi berikutnya
akan melakukan kesalahan mereka sendiri.
Mereka tidak akan menjalani
kehidupan yang sama.
Mereka menghadapi zaman berbeda.
Ujian berbeda.
Bahasa berbeda.
Kebutuhan berbeda.
Namun nilai-nilai utama
tetap harus dijaga:
kejujuran,
keadilan,
kasih sayang,
tanggung jawab,
kerendahan hati,
dan ketundukan kepada Alloh.
Jangan paksakan kulit lama
bila isinya dapat disampaikan
dengan bentuk yang lebih bermanfaat.
Namun jangan membuang isi
hanya karena tergoda
oleh bentuk baru.
Ambillah inti cahaya.
Bawalah melintasi zaman.
Pada pekan-pekan berikutnya,
kesehatan sang istri menurun.
Ia lebih sering berbaring.
Namun kamar kecilnya
tidak pernah kehilangan ketenteraman.
Anak-anak datang membacakan buku.
Para perempuan datang
membawa bunga dari taman.
Para pemuda melaporkan
perkembangan pekerjaan.
Orang-orang tua duduk
mengenang masa lalu.
Ia mendengarkan semuanya
dengan senyum yang tenang.
Kadang ia tertidur
di tengah percakapan.
Kadang ia membuka mata
dan bertanya:
“Apakah hak para pekerja
telah dibayarkan?”
“Apakah anak-anak
mendapat makanan yang cukup?”
“Apakah keluarga yang rumahnya rusak
telah dibantu?”
“Apakah kalian mendengar
keluhan orang-orang
yang tidak memiliki kedudukan?”
Bahkan ketika tubuhnya lemah,
amanahnya tidak berubah
menjadi obsesi terhadap nama.
Ia tidak bertanya:
“Apakah orang masih memujiku?”
Ia bertanya:
“Apakah pelayanan masih berjalan?”
Itulah perbedaan
antara mencintai kemuliaan
dan mencintai amanah.
Suatu malam,
ia meminta mahkota milik suaminya
dibawa ke kamar.
Bukan untuk dikenakan.
Ia meminta agar mahkota itu
diletakkan di dekat jendela.
Cahaya bulan menyentuh emasnya.
Ia memandangnya lama.
“Dahulu engkau mengenakannya,”
bisiknya kepada kenangan.
“Dahulu kita berdiri
seolah perjalanan
tidak akan berakhir.”
“Kini aku telah memahami
bahwa setiap pertemuan
memiliki waktunya.”
“Aku tidak lagi meminta
agar masa lalu kembali.”
“Aku hanya memohon
agar Alloh menerima
setiap kebaikan yang pernah kita usahakan
dan mengampuni
seluruh kekurangan kita.”
Ia tidak mengaku mendengar jawaban.
Tidak mengaku melihat
sesuatu dari alam yang tersembunyi.
Ia hanya merasakan
ketenangan manusia
yang telah lama belajar
menerima bahwa tidak semua rahasia
harus diketahui.
Ada perkara yang cukup didoakan.
Ada kerinduan
yang cukup diserahkan.
Ada harapan
yang tidak perlu diubah
menjadi kepastian palsu.
Ia berkata:
“Aku berharap kepada rahmat Alloh.”
“Aku tidak mengetahui
keadaan yang tidak diperlihatkan kepadaku.”
“Namun aku mengetahui
bahwa tugasku adalah
memperbaiki diri
selama napas masih ada.”
Safangat Illahhi…
Ajarkan adab
di hadapan perkara yang tidak diketahui.
Jangan biarkan manusia
mengarang kepastian
tentang alam yang tersembunyi.
Jangan menjadikan mimpi,
perasaan, atau simbol
sebagai hukum mutlak.
Ambillah pesan baik
yang tidak bertentangan
dengan kebenaran dan akhlak.
Namun tetaplah rendah hati.
Katakan:
“Alloh lebih mengetahui.”
Sebab tidak mengetahui
bukanlah kehinaan.
Mengakui batas pengetahuan
adalah bagian dari kejujuran.
Dan kejujuran lebih bercahaya
daripada cerita indah
yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pada malam terakhir bulan itu,
sang istri memanggil
keluarga dan murid terdekat.
Ia meminta dibantu berwudhu.
Air disentuhkan perlahan
ke wajah dan tangannya.
Ia mengenakan pakaian putih sederhana.
Tidak ada jubah emas.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada mahkota.
Ia berkata:
“Ketika aku pulang nanti,
jangan kenakan mahkota ini kepadaku.”
“Jangan letakkan emas
bersama tubuhku.”
“Kembalikan aku kepada tanah
dengan sederhana.”
“Jangan jadikan pemakamanku
panggung kemegahan.”
“Doakan.”
“Tunaikan hak.”
“Bantulah mereka yang membutuhkan.”
“Dan lanjutkan kehidupan.”
Ia memandang satu per satu
wajah orang yang dicintainya.
Kepada keluarganya ia berkata:
“Jangan bertengkar
karena benda yang kutinggalkan.”
“Bila pembagiannya telah ditentukan,
jalankan dengan adil.”
“Bila ada yang merasa dirugikan,
dengarkan.”
“Jangan biarkan satu rumah
hancur hanya karena barang
yang tidak dapat dibawa mati.”
Kepada para murid ia berkata:
“Jangan saling mengklaim
sebagai pewaris paling utama.”
“Warisan terbesar
bukan kedekatan fisik kepadaku.”
“Warisan terbesar adalah
kesungguhan menjaga nilai baik
dan memperbaiki kesalahan.”
“Siapa pun yang lebih jujur,
lebih amanah,
lebih bermanfaat,
dan lebih rendah hati,
dialah yang lebih dekat
kepada ruh perjuangan ini.”
Kepada pengelola ia berkata:
“Jangan menjual janji gaib.”
“Jangan menakut-nakuti manusia
agar menyerahkan harta.”
“Jangan menjadikan kesedihan orang
sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.”
“Bantulah dengan ilmu,
doa, pendampingan,
serta rujukan kepada pertolongan nyata
ketika dibutuhkan.”
“Jangan menyalahkan semua penyakit
kepada gangguan yang tidak terlihat.”
“Rawat tubuh.”
“Carilah pertolongan medis
ketika ada tanda bahaya.”
“Doa dan ikhtiar
tidak perlu dipertentangkan.”
Kata-kata itu menjadi
amanah yang sangat jelas:
bahwa spiritualitas
harus melahirkan perlindungan,
bukan ketakutan.
Harus melahirkan kejujuran,
bukan klaim berlebihan.
Harus mendekatkan manusia
kepada tanggung jawab,
bukan membuatnya lari
dari kenyataan.
Safangat Illahhi…
Bersihkan jalan cahaya
dari penipuan.
Jangan biarkan orang sakit
disalahkan karena dianggap kurang iman.
Jangan biarkan orang berduka
dipaksa tersenyum.
Jangan biarkan korban
dituduh mengundang kezaliman.
Jangan biarkan kemiskinan
dianggap sebagai bukti
bahwa seseorang tidak diberkahi.
Hidup manusia lebih rumit
daripada penilaian yang terburu-buru.
Ada sakit
yang membutuhkan pengobatan.
Ada luka batin
yang membutuhkan pendampingan.
Ada persoalan keluarga
yang membutuhkan komunikasi, batas,
dan perlindungan.
Ada masalah ekonomi
yang membutuhkan kerja, kebijakan,
serta bantuan yang terencana.
Ada pula saat
ketika manusia hanya mampu
menangis dan berdoa.
Jangan gunakan satu jawaban
untuk semua persoalan.
Dengarkan keadaan.
Pelajari.
Rujuk kepada ahlinya.
Dan tetaplah berdoa
tanpa menjadikan doa
sebagai alasan meninggalkan ikhtiar.
Setelah menyampaikan semua amanah,
sang istri terlihat sangat lelah.
Ia berbaring.
Orang-orang membacakan doa
dengan suara tenang.
Tidak ada yang menyatakan
bahwa ia pasti akan pergi malam itu.
Tidak ada pula yang menyangkal
kemungkinan kepulangan.
Mereka hanya mendampinginya.
Sesekali ia membuka mata.
Ia memandang jendela
yang memperlihatkan pohon tua.
“Bukalah tirainya,” katanya.
Tirai dibuka.
Langit malam terlihat jernih.
Mahkota matahari
milik suaminya berada di dekat jendela,
namun tidak diberi cahaya dari belakang.
Ia tampak seperti benda emas biasa.
Sang istri tersenyum.
“Akhirnya mahkota itu
telah kembali menjadi benda.”
Kemudian ia menyentuh dadanya.
“Dan cahaya harus hidup di sini,
melalui iman dan akhlak.”
Ia meminta tangan
salah seorang anak kecil.
Anak itu mendekat
dengan air mata.
Sang istri menggenggamnya.
“Jangan takut kepada usia tua.”
“Jangan takut kepada perubahan.”
“Dan jangan habiskan hidupmu
hanya dengan takut mati.”
“Takutlah menyia-nyiakan hidup.”
“Takutlah menyakiti
tanpa mau meminta maaf.”
“Takutlah membawa hak manusia
menuju akhir perjalanan.”
“Takutlah memiliki ilmu
namun tidak mengamalkannya.”
“Dan berharaplah selalu
kepada rahmat Alloh.”
Anak itu menangis.
“Apakah kami akan bertemu lagi?”
Sang istri tidak memberikan
kepastian tentang perkara gaib.
Ia menjawab:
“Kita berharap
Alloh mengumpulkan hamba-hamba-Nya
dalam rahmat.”
“Namun tugasmu sekarang
adalah hidup dengan baik.”
“Jaga sholatmu.”
“Jujurlah.”
“Sayangi orang tuamu.”
“Jangan menyakiti yang lemah.”
“Belajarlah.”
“Dan bila engkau mengingatku,
doakanlah.”
Anak itu memeluk tangannya.
Malam berjalan perlahan.
Tidak ada keajaiban yang dipaksakan.
Tidak ada tanda-tanda
yang dilebih-lebihkan.
Hanya ada tubuh tua,
napas yang melemah,
keluarga yang mendampingi,
dan doa yang dipanjatkan
kepada Alloh.
Menjelang fajar,
sang istri membuka mata.
Ia berbisik:
“Apakah lentera masih menyala?”
Murid tertua menjawab:
“Masih.”
“Ribuan lentera menyala
di luar sana.”
Sang istri berkata:
“Padamkan lentera di kamarku
ketika matahari terbit.”
“Tidak perlu mempertahankan
cahaya kecil
ketika pagi telah datang.”
Kemudian ia membaca doa
semampu yang dapat diucapkan.
Ia memohon ampun.
Ia menyerahkan keluarga.
Ia menyerahkan amanah.
Ia tidak memanggil mahkota.
Tidak menyebut singgasana.
Tidak meminta namanya diabadikan.
Ia hanya berkata:
“Yā Alloh,
aku datang sebagai hamba.”
“Aku membawa banyak kekurangan.”
“Aku berharap kepada ampunan-Mu.”
“Terimalah apa yang baik
hanya dengan rahmat-Mu.”
“Ampuni apa yang salah.”
“Jaga mereka yang kutinggalkan.”
“Dan jangan biarkan cintaku kepada dunia
menghalangi kepulanganku kepada-Mu.”
Fajar mulai memutih.
Burung pertama bernyanyi.
Sinar matahari masuk
melalui jendela.
Ketika cahaya pagi
menyentuh wajahnya,
napas sang istri menjadi semakin lembut.
Orang-orang tidak berteriak.
Mereka menggenggam tangannya.
Membacakan doa.
Menemaninya dengan ketenangan.
Dan ketika kehidupannya
mencapai batas yang telah ditentukan,
ia pergi tanpa mahkota,
tanpa jubah emas,
tanpa singgasana—
sebagai seorang hamba
yang telah mencintai,
pernah salah,
pernah terluka,
pernah bangkit,
dan berusaha menjaga amanah
hingga sisa tenaga terakhir.
Tidak ada seorang pun
yang mengaku mengetahui
seluruh keadaan setelah kepulangannya.
Mereka hanya berkata:
“Innā lillāhi
wa innā ilayhi rāji‘ūn.”
Kami milik Alloh.
Kepadanya kami kembali.
Air mata jatuh.
Kesedihan memenuhi ruangan.
Namun kesedihan itu
tidak berubah menjadi penolakan.
Mereka mengingat amanahnya:
menangis tanpa kehilangan iman,
merindukan tanpa memuja,
mengenang tanpa membuat cerita palsu,
dan meneruskan kebaikan
tanpa menjadikan namanya
sebagai alat kekuasaan.
Jenazahnya dibawa
dengan sederhana.
Mahkota tidak ikut dibawa.
Jubah emas tetap disimpan.
Tidak ada pesta kemegahan.
Tidak ada perlombaan pujian.
Orang-orang berdoa.
Mereka menunaikan kewajiban.
Mereka memeriksa amanah.
Mereka memastikan
tidak ada hak yang sengaja disembunyikan.
Kemudian tubuhnya
dikembalikan kepada tanah.
Tanah yang sama
tempat pohon-pohon dahulu ditanam.
Tanah yang sama
tempat kaki mereka pernah berjalan.
Tanah yang tidak membedakan
raja dan rakyat.
Kaya dan miskin.
Terkenal dan tidak dikenal.
Semua tubuh kembali
dengan kesederhanaan yang sama.
Di dekat makam,
tidak dibangun singgasana.
Hanya ditanam sebuah pohon.
Di bawahnya diletakkan tulisan kecil:
“Di sini beristirahat seorang hamba.
Jangan berhenti pada namanya.
Teruskanlah kebaikan yang pernah dijaganya.”
Safangat Illahhi…
Kini dua insan itu
telah meninggalkan panggung dunia.
Namun jangan katakan
bahwa cahayanya
terperangkap di dalam makam.
Cahaya amal
berjalan melalui manusia
yang meneruskannya.
Ia hidup dalam guru
yang mengajar tanpa merendahkan.
Dalam pemimpin
yang mau diperiksa.
Dalam orang tua
yang meminta maaf kepada anaknya.
Dalam pasangan
yang belajar mendengarkan.
Dalam pekerja
yang dibayar dengan adil.
Dalam orang kaya
yang berbagi tanpa mempermalukan.
Dalam orang miskin
yang menjaga kejujuran.
Dalam korban
yang menemukan perlindungan.
Dalam pelaku kesalahan
yang benar-benar bertanggung jawab.
Dalam anak muda
yang berani berpikir
tanpa kehilangan adab.
Dalam orang tua
yang rela melepaskan kekuasaan.
Dalam setiap hati
yang mengembalikan pujian
kepada Alloh.
Tahun-tahun kembali berlalu.
Istana akhirnya tidak lagi
menjadi istana.
Sebagian bangunannya
berubah menjadi sekolah.
Sebagian menjadi tempat perawatan.
Sebagian menjadi perpustakaan.
Sebagian menjadi ruang musyawarah.
Tidak ada lagi singgasana utama.
Tempat singgasana dahulu berdiri
diubah menjadi meja panjang
tempat orang-orang duduk sejajar.
Mahkota matahari
diletakkan di dalam ruang sejarah.
Di sampingnya terdapat penjelasan:
“Kedua mahkota ini pernah digunakan
sebagai simbol amanah suami dan istri
yang berusaha melayani masyarakat.”
“Mereka bukan makhluk tanpa kesalahan.”
“Pelajarilah kebaikannya.”
“Periksalah kekurangannya.”
“Dan jangan menjadikan simbol
sebagai pengganti akhlak.”
Anak-anak datang
dan melihat mahkota itu.
Seorang anak bertanya kepada gurunya:
“Benarkah mahkota ini
dahulu bersinar seperti matahari?”
Guru tersenyum.
Ia mematikan lampu
yang berada di belakang kaca.
Mahkota menjadi redup.
“Ia memantulkan cahaya,”
jawab guru.
“Bukan menciptakannya.”
Anak itu mengangguk.
“Berarti manusia juga begitu?”
Guru menjawab:
“Ya.”
“Kebaikan yang ada pada kita
adalah amanah.”
“Kita tidak boleh sombong.”
Anak itu memandang mahkota
sekali lagi.
Kemudian berlari keluar
untuk membantu temannya
yang terjatuh.
Pada saat itulah
warisan cahaya benar-benar hidup—
bukan ketika anak itu
menghafal nama pemilik mahkota,
melainkan ketika ia
mengulurkan tangan
kepada manusia lain.
Safangat Illahhi…
Inilah rahasia bait terakhir:
Bahwa puisi tidak selesai
ketika kata terakhir dituliskan.
Puisi dilanjutkan
oleh kehidupan pembacanya.
Bila setelah membaca
seseorang menjadi lebih lembut
kepada keluarganya,
bait ini masih berjalan.
Bila seseorang mengembalikan hak
yang bukan miliknya,
bait ini masih berjalan.
Bila seorang pemimpin
mengakui kesalahan,
bait ini masih berjalan.
Bila seorang guru
menghormati pertanyaan,
bait ini masih berjalan.
Bila seseorang yang berduka
memutuskan untuk tetap hidup,
bait ini masih berjalan.
Bila korban menemukan keberanian
mencari perlindungan,
bait ini masih berjalan.
Bila orang yang bersalah
berhenti bersembunyi
dan mulai bertanggung jawab,
bait ini masih berjalan.
Bila seorang anak
memeluk orang tuanya
sebelum terlambat,
bait ini masih berjalan.
Bila seorang manusia
menolong tanpa meminta namanya disebut,
bait ini masih berjalan.
Dan bila hati yang hampir menyerah
kembali berbisik:
“Aku akan mencoba satu langkah lagi
dengan pertolongan Alloh,”
maka Safangat Illahhi
masih menyala.
Bukan sebagai sihir.
Bukan sebagai kekuatan
yang menjadikan manusia kebal
terhadap kesedihan.
Bukan pula sebagai jaminan
bahwa setiap keinginan
akan terpenuhi.
Safangat Illahhi
adalah semangat untuk tetap berbuat baik
ketika hasil belum terlihat.
Keberanian untuk mengakui
bahwa diri membutuhkan pertolongan.
Kesediaan untuk belajar.
Keteguhan untuk tidak membalas luka
dengan luka yang sama.
Kekuatan untuk bangun
setelah kegagalan.
Kerendahan hati
untuk berkata:
“Aku tidak mengetahui semuanya.”
Kejujuran untuk berkata:
“Aku telah salah.”
Ketulusan untuk berkata:
“Aku memaafkan,
tetapi aku tetap menjaga batas.”
Kebijaksanaan untuk berkata:
“Aku mencintaimu,
namun kita berdua tetap milik Alloh.”
Dan kesadaran untuk berkata:
“Aku tidak memiliki cahaya sendiri.
Aku hanya berusaha
memantulkan kebaikan
yang dititipkan kepadaku.”
Maka jangan cari dua insan bermahkota itu
di antara awan.
Jangan membangun cerita
tentang kedudukan gaibnya.
Jangan mengaku menerima pesan
yang tidak dapat dipastikan.
Carilah jejaknya
di dalam nilai yang dapat diamalkan.
Di meja makan
tempat keluarga saling mendengarkan.
Di tempat kerja
yang dikelola dengan jujur.
Di sekolah
yang menghormati pikiran.
Di rumah ibadah
yang menumbuhkan kasih sayang.
Di ruang pengobatan
tempat tubuh dirawat
tanpa mempermalukan rasa sakit.
Di ruang hukum
tempat orang lemah
mendapat perlindungan.
Di dalam diri
yang setiap malam memeriksa:
“Apakah hari ini
aku telah menjadi cahaya
atau justru menjadi luka
bagi manusia lain?”
Safangat Illahhi…
Pada bait terakhir ini,
jangan biarkan pembaca
hanya mengagumi keindahan kata.
Guncangkan hatinya dengan lembut.
Tanyakan:
Sudahkah engkau meminta maaf
kepada orang yang engkau lukai?
Sudahkah engkau menunaikan janji?
Sudahkah engkau mengembalikan titipan?
Sudahkah engkau mendengarkan
tanpa memotong?
Sudahkah engkau mengucapkan cinta
kepada orang yang masih hidup?
Sudahkah engkau berhenti
membela kesalahan
hanya karena pelakunya orang terdekat?
Sudahkah engkau menjaga tubuh
yang Alloh titipkan?
Sudahkah engkau mencari pertolongan
ketika beban terlalu berat?
Sudahkah engkau membedakan
antara kesabaran dan membiarkan diri dizalimi?
Sudahkah engkau membedakan
antara keyakinan dan kesombongan?
Sudahkah engkau membedakan
antara cahaya dan keinginan dipuja?
Tidak perlu menjawab
kepada dunia.
Jawablah dengan perbuatan.
Sebab jawaban paling jujur
bukan berada di bibir.
Ia terlihat
pada cara seseorang
memperlakukan manusia
ketika tidak ada yang melihat.
Hari-hari terakhir dunia
bagi setiap manusia
tidak diketahui.
Mungkin masih jauh.
Mungkin lebih dekat
daripada yang diperkirakan.
Karena itu,
jangan menunda seluruh kebaikan
hingga merasa sempurna.
Engkau tidak perlu menunggu
menjadi kaya untuk berbagi.
Tidak perlu menunggu
menjadi guru besar untuk mengajarkan
satu pengetahuan yang benar.
Tidak perlu menunggu
orang lain meminta maaf
untuk berhenti menambah permusuhan.
Tidak perlu menunggu
usia tua untuk mengingat kematian.
Namun jangan pula
menghabiskan hidup
dalam ketakutan terhadap akhir.
Hiduplah.
Bekerjalah.
Belajarlah.
Cintailah dengan bertanggung jawab.
Beristirahatlah ketika lelah.
Tertawalah tanpa melupakan syukur.
Menangislah tanpa merasa hina.
Mintalah bantuan
tanpa merasa kehilangan martabat.
Dan kembalilah kepada Alloh
setiap kali jalan terasa jauh.
Karena kepulangan
tidak dimulai pada saat kematian.
Kepulangan dimulai
ketika hati yang sombong
bersedia merendah.
Ketika lisan yang suka menyakiti
belajar meminta maaf.
Ketika tangan yang mengambil
mulai mengembalikan.
Ketika pikiran yang tertutup
bersedia mendengar.
Ketika seseorang yang hampir putus asa
memilih bertahan satu hari lagi.
Itulah langkah-langkah pulang.
Kecil.
Sederhana.
Namun nyata.
Di penghujung kisah,
bayangkanlah kembali
dua mahkota matahari.
Kini keduanya tidak lagi
berada di atas kepala siapa pun.
Mereka berdampingan
di dalam ruang sejarah.
Tidak bercahaya dari dirinya.
Tidak meminta penghormatan.
Hanya menjadi pengingat
bahwa pernah ada dua manusia
yang berusaha belajar:
mencintai tanpa menguasai,
menjaga tanpa memenjarakan,
memimpin tanpa menindas,
memberi tanpa mempermalukan,
mengakui salah tanpa kehilangan harapan,
berduka tanpa kehilangan iman,
menua tanpa membenci tubuh,
melepaskan tanpa berhenti mendoakan,
dan pulang tanpa membawa kemegahan dunia.
Di luar ruangan,
ribuan lentera masih menyala.
Namun fajar mulai datang.
Satu per satu lentera dipadamkan.
Bukan karena cahayanya gagal.
Melainkan karena tugasnya
telah ditunaikan.
Matahari terbit.
Cahayanya menyebar
tanpa mengenal dinding.
Menyentuh istana.
Menyentuh rumah sederhana.
Menyentuh makam.
Menyentuh sekolah.
Menyentuh wajah anak-anak
yang baru bangun.
Menyentuh orang yang sedang bekerja.
Menyentuh mereka yang berduka.
Menyentuh orang yang sedang berdoa.
Menyentuh manusia baik
dan manusia yang masih berjuang
memperbaiki dirinya.
Tidak ada satu makhluk pun
yang dapat mengaku
sebagai pemilik matahari itu.
Semua hanya menerima.
Semua hanya menikmati.
Semua hanya dititipi waktu
untuk menggunakan cahayanya
sebelum malam kembali datang.
Safangat Illahhi…
Engkau telah membawa puisi ini
dari pertemuan menuju perjanjian.
Dari perjanjian menuju ujian.
Dari ujian menuju amanah.
Dari amanah menuju warisan.
Dari warisan menuju kepulangan.
Dari kepulangan menuju kehilangan.
Dan dari kehilangan
menuju kesadaran
bahwa tidak ada cahaya manusia
yang berdiri sendiri.
Semuanya kembali
kepada Sang Pemilik Cahaya.
Maka selesailah mahkota
menjadi lambang kebesaran.
Ia kini menjadi pelajaran kerendahan hati.
Selesailah istana
menjadi tempat meninggikan nama.
Ia kini menjadi ruang pelayanan.
Selesailah cinta
menjadi keinginan memiliki.
Ia kini menjadi doa
yang membebaskan.
Selesailah kehilangan
menjadi penjara.
Ia kini menjadi pintu
menuju kematangan.
Selesailah puisi
menjadi rangkaian kata.
Ia kini harus menjadi akhlak
di dalam kehidupan.
Dan bila suatu hari
seluruh halaman ini terlupakan,
biarkan satu pesan
tetap tinggal di dalam hati:
Tidak seorang pun
menjadi mulia karena mahkotanya.
Tidak seorang pun
menjadi suci karena gelarnya.
Tidak seorang pun
menjadi cahaya karena pengakuannya.
Kemuliaan tampak
ketika ia berlaku adil.
Kesucian dijaga
dengan taubat dan kerendahan hati.
Dan cahaya dikenali
melalui manfaat yang diberikannya
kepada kehidupan.
Maka bangkitlah,
wahai jiwa yang membaca.
Tidak perlu mencari
mahkota matahari di atas kepalamu.
Cukuplah menjaga
cahaya kecil di dalam tindakanmu.
Jangan menunggu dunia berubah
untuk menjadi lebih jujur.
Jangan menunggu semua orang baik
untuk mulai berbuat baik.
Jangan menunggu tidak terluka
untuk berhenti menyakiti.
Jangan menunggu sempurna
untuk kembali kepada Alloh.
Mulailah dari satu langkah:
satu doa,
satu kejujuran,
satu pertolongan,
satu permintaan maaf,
satu batas yang sehat,
satu keputusan adil,
satu pelukan,
satu pekerjaan yang ditunaikan
dengan amanah.
Lalu ulangilah esok hari.
Dan esok berikutnya.
Sebab cahaya besar
lahir dari kesetiaan
menjaga kebaikan-kebaikan kecil.
Safangat Illahhi…
Bila seseorang sedang gelap,
jadilah teman, bukan hakim.
Bila seseorang sedang salah,
nasihatilah tanpa merasa suci.
Bila seseorang sedang terluka,
dengarkan sebelum menyimpulkan.
Bila seseorang sedang terjatuh,
ulurkan tangan tanpa mengikat.
Bila engkau sendiri sedang lemah,
jangan malu meminta pertolongan.
Bila jalanmu terasa buntu,
berhentilah sejenak,
bernapaslah,
dan carilah pintu yang nyata.
Bila hatimu jauh,
kembalilah melalui doa.
Bila kesalahanmu berat,
kembalilah melalui taubat
dan tanggung jawab.
Bila dunia memujimu,
ingatlah tanah.
Bila dunia menghinamu,
ingatlah bahwa nilai dirimu
tidak seluruhnya ditentukan
oleh suara manusia.
Bila engkau kehilangan,
menangislah.
Namun jangan biarkan kehilangan
menghapus seluruh kehidupan
yang masih dititipkan.
Bila engkau mencintai,
jagalah.
Namun jangan jadikan manusia
sebagai Tuhan bagi hatimu.
Dan bila waktumu tiba,
lepaskan mahkota.
Lepaskan nama.
Lepaskan pujian.
Datanglah sebagai hamba
yang berharap kepada rahmat Alloh.
Di sanalah puisi ini
menemukan akhir yang sesungguhnya.
Bukan pada kematian.
Bukan pada perpisahan.
Bukan pula pada mahkota
yang diletakkan.
Akhirnya berada
pada penyerahan:
bahwa kami milik Alloh,
cahaya kami adalah titipan,
cinta kami adalah amanah,
hidup kami adalah perjalanan,
dan kepulangan kami
berada dalam ketetapan-Nya.
Maka terangkatlah doa terakhir
dari seluruh bait
yang telah dilalui:
Yā Alloh, Sang Pemilik segala cahaya,
jangan jadikan cahaya yang Engkau titipkan
sebagai sebab kami menyombongkan diri.
Jadikanlah ia penerang
untuk melihat kekurangan kami sendiri.
Jangan jadikan cinta
sebagai jalan menguasai manusia.
Jadikanlah cinta sebagai amanah
untuk menjaga, menghormati,
menasihati, dan mendoakan.
Jangan jadikan ilmu
sebagai tangga menuju pujian.
Jadikanlah ilmu sebagai jalan
untuk mengurangi kebodohan,
penderitaan, dan kezaliman.
Jangan jadikan kekuasaan
sebagai alat memenuhi hawa nafsu.
Jadikanlah kekuasaan
sebagai perlindungan bagi yang lemah
dan jalan menegakkan keadilan.
Jangan jadikan kehilangan
sebagai pintu keputusasaan.
Jadikanlah kehilangan
sebagai pengingat bahwa seluruh titipan
akan kembali kepada-Mu.
Bila kami dipuji,
jaga hati kami dari kesombongan.
Bila kami dicela,
beri kami keberanian untuk memeriksa diri.
Bila celaan itu benar,
kuatkan kami untuk memperbaiki.
Bila tidak benar,
ajarkan kami bersabar
tanpa membalas dengan kezaliman.
Bila kami bersalah,
jangan biarkan gengsi
menutup pintu permintaan maaf.
Bila kami disakiti,
lindungi kami dari keinginan
untuk menjadi serupa dengan orang
yang telah menyakiti.
Berilah kami batas yang sehat,
pertolongan yang tepat,
dan hati yang tidak dikuasai dendam.
Jagalah keluarga kami.
Jadikan rumah sebagai tempat
tumbuhnya kejujuran, kasih sayang,
tanggung jawab, dan ketenteraman.
Jangan biarkan kata-kata suci
tinggal di bibir,
sementara akhlak kami
menyakiti orang terdekat.
Berkahilah pekerjaan kami.
Jadikan setiap pengelolaan
berlangsung dengan jujur, terbuka,
dan bertanggung jawab.
Jauhkan kami dari mengambil hak,
mempermainkan kepercayaan,
serta menggunakan agama
untuk kepentingan pribadi.
Rawatlah tubuh dan jiwa kami.
Beri kami kebijaksanaan
untuk berdoa dan berikhtiar,
mencari ilmu dan pertolongan,
serta tidak menutup mata
terhadap kenyataan.
Temani mereka yang berduka.
Kuatkan mereka yang hampir menyerah.
Lindungi mereka yang menjadi korban.
Bimbing mereka yang bersalah
menuju taubat dan tanggung jawab.
Berilah makan mereka yang lapar,
tempat aman bagi yang terancam,
ilmu bagi yang membutuhkan,
dan tangan-tangan baik
bagi mereka yang merasa sendirian.
Jangan jadikan kami
bergantung kepada simbol, gelar,
atau pengakuan manusia.
Tautkan hati kami kepada-Mu
tanpa menjadikan kami
lalai terhadap kewajiban
kepada sesama.
Bila usia kami dipanjangkan,
indahkan dengan kemanfaatan.
Bila tubuh kami melemah,
kuatkan hati dalam kesabaran.
Bila waktu kepulangan mendekat,
mudahkan kami menunaikan amanah,
meminta maaf, membayar utang,
mengembalikan titipan,
dan melepaskan dunia
tanpa kesombongan.
Ampunilah kedua insan
yang menjadi lambang perjalanan puisi ini.
Ampunilah kami yang membacanya.
Terimalah kebaikan yang sedikit.
Tutupilah kekurangan yang banyak.
Jangan serahkan kami
kepada diri kami sendiri
meskipun hanya sesaat.
Dan ketika seluruh lentera dunia
dipadamkan dari pandangan,
jangan padamkan harapan kami
terhadap rahmat-Mu.
Pulangkan kami sebagai hamba,
bukan sebagai pemilik cahaya.
Terimalah kami
dalam ampunan, kasih sayang,
dan keridhoan-Mu.
Angin terakhir
melewati halaman.
Daun-daun bergerak.
Pohon-pohon yang dahulu ditanam
oleh dua insan bermahkota
berdiri kokoh menaungi generasi.
Mahkota mereka tetap diam
di dalam ruang sejarah.
Tidak lagi bersinar.
Tidak lagi diperlukan.
Sebab cahaya yang sesungguhnya
telah berpindah
ke dalam ribuan perbuatan.
Ke dalam tangan yang menolong.
Ke dalam hati yang memaafkan.
Ke dalam pikiran yang jernih.
Ke dalam lisan yang jujur.
Ke dalam keberanian
untuk melindungi yang lemah.
Ke dalam kesediaan
untuk mengakui kesalahan.
Ke dalam doa
yang tidak meminta pujian.
Dan ketika matahari naik
semakin tinggi,
seluruh bayangan mahkota
menghilang dari lantai.
Yang tersisa hanyalah cahaya.
Bukan cahaya suami.
Bukan cahaya istri.
Bukan cahaya istana.
Bukan cahaya keturunan.
Bukan cahaya gelar.
Bukan cahaya nama.
Melainkan pengingat
bahwa seluruh sinar,
seluruh hidup,
seluruh cinta,
dan seluruh kepulangan—
berada dalam kuasa
Alloh, Sang Pemilik segala cahaya.
Maka berakhirlah puisi ini
dengan satu kesadaran:
Mahkota telah diletakkan.
Istana telah dibuka untuk manusia.
Lentera telah dibagikan.
Amanah telah diserahkan.
Dua jiwa telah kembali.
Namun kebaikan yang ikhlas
terus berjalan.
Safangat Illahhi…
Engkau tidak berakhir
di bait kedelapan.
Engkau bermula kembali
di dalam diri siapa pun
yang setelah membaca puisi ini
memilih menjadi sedikit lebih jujur,
sedikit lebih lembut,
sedikit lebih bertanggung jawab,
dan sedikit lebih dekat kepada Alloh.
Di situlah mahkota sejati berada.
Bukan di atas kepala.
Melainkan pada akhlak
yang menundukkan hati.
Di situlah istana sejati berdiri.
Bukan dari emas.
Melainkan dari keluarga
yang dipenuhi rasa aman.
Di situlah singgasana sejati dibangun.
Bukan untuk memerintah manusia.
Melainkan untuk menempatkan
kebenaran di atas ego.
Dan di situlah dua cahaya
yang dahulu berdiri berdampingan
menemukan makna terakhirnya:
bahwa cinta terbaik
bukan cinta yang membuat nama mereka abadi,
melainkan cinta
yang membuat kehidupan setelah mereka
menjadi lebih bercahaya.
Selesailah perjalanan dua mahkota.
Selesailah kisah dua insan.
Namun tidak selesai jalan kebaikan.
Sebab selama masih ada
satu hati yang memilih memaafkan,
satu tangan yang memilih menolong,
satu pemimpin yang memilih adil,
satu guru yang memilih jujur,
satu pasangan yang memilih mendengarkan,
satu anak yang memilih berbakti,
satu manusia yang memilih bangkit
setelah hampir menyerah—
maka Safangat Illahhi
masih menyala.
Menyala tanpa meminta disembah.
Menyala tanpa mengaku sebagai sumber.
Menyala sebagai amanah.
Menyala sebagai doa.
Menyala sebagai jalan pulang.
Dan seluruh nyalanya
kembali kepada Alloh—
Sang Awal tanpa permulaan,
Sang Akhir tanpa penghabisan,
Sang Pemilik seluruh kemuliaan,
dan Sang Sumber segala cahaya.
TAMAT
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.