PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Pertama — Terbenam Matahari
Terbenam matahari di balik samudra,
cahayanya pecah menjadi ribuan bara.
Meluap lautan membawa suara purba,
menggetarkan istana yang lama terjaga.
Terbentang permadani dari air dan cahaya,
di atasnya seekor ikan raksasa berenang menuju rahasia.
Burung phoenix mengepakkan sayap keemasan,
menjaga pintu antara kehancuran dan kebangkitan.
Menjulang gunung yang tinggi di dasar lautan,
puncaknya tersembunyi dalam gelap keabadian.
Seorang pengembara berdiri membawa pedang,
memandang prasasti yang menyala biru di dinding karang.
Lalu terdengar suara dari singgasana terdalam:
“Barang siapa berani memasuki lautan dirinya,
akan menemukan gunung yang selama ini dicarinya.”
Namun ia belum melangkah—
sebab di balik lukisan ikan dan burung api itu,
ada sebuah mata yang perlahan terbuka,
menanti manusia yang sanggup membaca
rahasia sebelum dunia pertama diciptakan.
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Kedua — Meluap Lautan
Ketika matahari telah tenggelam seluruhnya,
samudra tidak menjadi gelap,
justru dari dasar yang paling sunyi
muncul cahaya biru seperti napas bumi
yang lama tertahan di balik batu-batu purba.
Lautan mulai meluap,
bukan hanya oleh air,
melainkan oleh kenangan kerajaan
yang pernah berdiri sebelum daratan diberi nama.
Gelombangnya naik menyentuh dinding gua,
membangunkan aksara-aksara tua
yang tertidur di antara lumut dan karang.
Satu per satu lentera biru menyala,
tanpa disentuh tangan manusia.
Nyala apinya tidak bergoyang diterpa arus,
seolah dijaga oleh ribuan doa
yang pernah dilafalkan para penjaga istana.
Pengembara itu menatap ke depan.
Di bawah telapak kakinya,
permukaan air membentuk lingkaran-lingkaran emas.
Setiap lingkaran membuka sebuah bayangan:
kapal-kapal yang karam tanpa bekas,
mahkota yang jatuh dari kepala para raja,
pedang yang patah sebelum perang dimulai,
dan air mata seorang permaisuri
yang menunggu kepulangan hingga rambutnya memutih.
Lalu ikan raksasa pada dinding bergerak.
Sisiknya memantulkan ribuan bintang,
matanya terbuka seperti bulan purnama,
sedangkan burung phoenix di atasnya
mengembangkan sayap dari bara matahari.
Mereka tidak lagi menjadi lukisan.
Ikan itu berenang keluar dari batu,
melingkari ruangan dengan tubuh keemasan.
Phoenix terbang menembus kubah gua,
mengibaskan cahaya yang menjelma hujan api,
namun tidak membakar air
dan tidak melukai siapa pun.
Dari balik singgasana terdengar suara:
“Lautan meluap ketika hati manusia
tak lagi sanggup menyimpan rahasianya.”
Pengembara menggenggam pedangnya,
tetapi suara itu kembali berkata:
“Jangan hunus besi di hadapan dirimu sendiri.
Musuh yang kau cari tidak berdiri di luar pintu,
ia bersembunyi dalam ketakutan
yang selalu kau beri nama takdir.”
Maka pedang itu perlahan diturunkan.
Air naik hingga menyentuh lututnya,
kemudian pinggangnya,
kemudian dadanya.
Akan tetapi ia tidak mundur,
sebab di dalam luapan lautan itu
ia mendengar suara ibunya,
suara ayahnya,
suara para leluhur yang telah lama pergi,
dan suara dirinya sendiri
ketika masih belum mengenal luka.
Di kejauhan, gunung-gunung dasar laut
mulai terangkat dari kegelapan.
Puncaknya menjulang bagai tiang langit,
ditumbuhi istana, pagoda, dan pohon-pohon cahaya.
Akar-akarnya menembus jurang tak berujung,
sementara puncaknya memikul gerbang
yang belum pernah dibuka selama seribu tahun.
Di antara dua gunung tertinggi
terbentang sebuah permadani panjang,
ditenun dari arus, buih, dan cahaya senja.
Di atasnya berbaris bayangan para penjaga
dengan jubah hitam dan topeng batu,
masing-masing membawa lentera
yang menyimpan satu nama manusia.
Namun satu lentera masih kosong.
Lentera itu melayang mendekati sang pengembara,
berhenti tepat di hadapan wajahnya.
Di dalam kaca birunya
ia melihat dirinya mengenakan mahkota,
lalu melihat dirinya menjadi debu,
melihat kemenangan dan kehilangan,
melihat cinta datang dan pergi,
melihat seluruh dunia tunduk kepadanya,
kemudian meninggalkannya seorang diri.
Ia pun bertanya kepada lautan:
“Apakah aku datang untuk menjadi raja?”
Gelombang menjawab dengan suara menggelegar:
“Bukan.
Engkau datang untuk belajar
bahwa orang yang mampu memerintah dirinya
lebih tinggi daripada raja yang menguasai seribu negeri.”
Pada saat itulah lautan meluap semakin dahsyat.
Pilar-pilar istana bergetar,
lonceng-lonceng tua berbunyi sendiri,
dan ribuan ikan berenang mengitari singgasana
seperti pasukan yang sedang menyambut
kedatangan seseorang yang telah lama dinanti.
Pengembara melangkah ke atas permadani air.
Setiap langkahnya menyalakan satu aksara,
setiap napasnya membuka satu pintu,
dan setiap ketakutan yang ia lepaskan
berubah menjadi bunga teratai biru
yang mengapung di belakangnya.
Tetapi sebelum ia mencapai gerbang gunung,
muncul bayangan hitam dari dasar jurang,
lebih besar daripada kuil,
lebih panjang daripada naga,
dan membawa suara ribuan manusia
yang pernah menyerah kepada keputusasaan.
Bayangan itu berkata:
“Kembalilah.
Tidak semua rahasia diciptakan untuk diketahui.”
Pengembara berhenti,
namun bukan karena gentar.
Ia menatap bayangan itu
dengan mata yang mulai dipenuhi cahaya senja.
Kemudian ia menjawab:
“Aku tidak datang untuk merebut rahasia.
Aku datang untuk mengenali
bagian diriku yang selama ini tenggelam.”
Mendengar jawaban itu,
ikan emas menyelam ke dasar jurang,
phoenix menjerit dari puncak gua,
dan seluruh lautan terbelah menjadi dua.
Di tengah belahan air itu
terlihat tangga batu menuju gunung tertinggi,
sedangkan di ujung tangga
berdiri sebuah pintu tanpa gagang,
tanpa kunci,
dan tanpa tulisan.
Hanya ada sebuah telapak tangan
terukir tepat di tengahnya.
Pengembara mendekat,
mengangkat tangan perlahan,
lalu menempelkannya pada ukiran tersebut.
Namun sebelum pintu terbuka,
seluruh lentera biru mendadak padam.
Dalam kegelapan yang sempurna,
terdengar suara napas lain
berdiri sangat dekat di belakangnya.
Dan suara itu berbisik:
“Akhirnya engkau kembali,
pewaris yang pernah dilupakan lautan.”
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Ketiga — Terbentang Permadani
Dalam gelap yang tidak memiliki ujung,
pengembara itu menahan napas.
Tangan kanannya masih melekat
pada pintu batu tanpa gagang,
sementara suara di belakangnya
mengalir dingin seperti arus
yang datang dari dasar jurang.
“Akhirnya engkau kembali,
pewaris yang pernah dilupakan lautan.”
Ia tidak segera menoleh.
Sebab suara itu terasa begitu dekat,
tetapi tidak menimbulkan bayangan.
Tidak terdengar langkah kaki,
tidak terdengar gesekan jubah,
hanya napas panjang dan berat
seperti gunung yang sedang terbangun
setelah tertidur ribuan tahun.
Pengembara perlahan membuka mata.
Di hadapannya,
ukiran telapak tangan pada pintu batu
mulai memancarkan cahaya keemasan.
Cahaya itu merambat melalui lengannya,
menembus dada,
kemudian membentuk satu garis terang
di sepanjang permukaan air.
Garis itu terus memanjang,
melewati singgasana,
menembus halaman kuil,
melintasi gerbang-gerbang yang runtuh,
hingga menghilang di antara dua gunung
yang berdiri jauh di dasar samudra.
Lalu lautan pun berguncang.
Dari bawah air muncul helaian-helaian cahaya
berwarna biru, emas, dan merah senja.
Helaian itu saling terjalin
seperti benang yang ditenun
oleh tangan-tangan tak terlihat.
Sedikit demi sedikit,
terbentanglah sebuah permadani agung
di atas permukaan lautan.
Tidak dibuat dari sutra,
tidak pula dari bulu atau benang,
melainkan dari ombak yang ditenangkan,
air mata yang telah diikhlaskan,
doa-doa yang tidak pernah terucapkan,
dan harapan manusia
yang hampir tenggelam tetapi memilih bertahan.
Permadani itu membentang sangat panjang,
melewati tujuh gerbang karang,
sembilan menara biru,
dan seratus anak tangga
yang menuju gunung tertinggi.
Pada setiap sisinya
berdiri lentera-lentera purba.
Di dalam setiap lentera
terlihat satu kisah kehidupan:
Seorang ibu yang menunggu anaknya pulang.
Seorang ayah yang menyembunyikan tangisnya.
Seorang pendekar yang menang dalam perang,
namun kalah melawan kesombongannya.
Seorang raja yang memiliki seluruh negeri,
tetapi tidak mampu memiliki ketenangan.
Seorang pengemis yang tidak mempunyai apa-apa,
namun tidur tanpa ketakutan kehilangan.
Pengembara memandang semuanya
tanpa berani menyentuh.
Kemudian suara dari belakangnya berkata:
“Permadani ini tidak dibentangkan
bagi mereka yang ingin dipuji.
Ia hanya terbuka bagi jiwa
yang berani berjalan tanpa membawa nama kebesaran.”
Pengembara menundukkan kepala.
Ia melepaskan ikatan rambutnya,
menanggalkan lambang kerajaan pada dadanya,
dan meletakkan pedangnya
di kaki pintu batu.
Pedang itu jatuh tanpa bunyi.
Begitu besi menyentuh air,
seluruh permukaannya berubah menjadi debu emas,
lalu terbang ke udara
dan menjelma ribuan kupu-kupu cahaya.
Namun suara itu kembali berkata:
“Besi dapat kau lepaskan,
tetapi sanggupkah engkau melepaskan
keinginan untuk dianggap sebagai penyelamat?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras
daripada gelombang.
Pengembara terdiam cukup lama.
Ia teringat perjalanan yang telah ditempuhnya,
orang-orang yang pernah memujinya,
mereka yang pernah merendahkannya,
kemenangan yang diam-diam ia banggakan,
dan kebaikan yang kadang masih ingin diketahui
oleh mata manusia.
Ia lalu berlutut di atas air.
“Aku belum sepenuhnya mampu,” katanya.
“Tetapi aku bersedia belajar
berjalan tanpa meminta dunia menyaksikanku.”
Saat kalimat itu selesai diucapkan,
satu lentera di ujung permadani menyala.
Kemudian lentera kedua.
Lalu ketiga.
Cahaya menyebar berurutan
hingga seluruh jalan di atas lautan
berkilau seperti sungai bintang
yang turun dari langit.
Barulah pengembara berbalik.
Di belakangnya tidak berdiri manusia.
Yang tampak hanyalah
sebuah bayangan tinggi berjubah hitam,
wajahnya tertutup topeng naga,
dan di kedua tangannya
terdapat rantai yang mengikat
sebuah peti batu berwarna merah tua.
Pada permukaan peti itu
terukir empat lambang:
matahari yang tenggelam,
lautan yang meluap,
permadani yang terbentang,
dan gunung yang menjulang tinggi.
Bayangan bertopeng naga berkata:
“Aku bukan musuhmu.
Aku adalah penjaga segala sesuatu
yang kau tinggalkan sebelum dilahirkan.”
Pengembara berdiri perlahan.
“Apa yang ada di dalam peti itu?”
Sang penjaga menancapkan rantainya ke air.
Sekejap kemudian,
muncul kilatan yang memperlihatkan
sebuah kota raksasa di dasar lautan.
Kota itu dipenuhi menara giok,
jembatan emas,
dan istana-istana yang atapnya
menyerupai sayap burung phoenix.
Namun kota tersebut sunyi.
Tidak ada pedagang di pasar,
tidak ada anak-anak di halaman,
tidak ada suara doa di kuil.
Semua penghuninya berubah menjadi patung batu
dengan wajah menengadah kepada langit.
“Di dalam peti ini,” kata sang penjaga,
“tersimpan nama terakhir
yang dahulu membuat kota itu hidup.”
“Mengapa nama itu dikunci?”
Sang penjaga mengangkat kepalanya.
“Karena penduduk kota
mulai menyembah nama
dan melupakan sumber kehidupan.
Mereka memuliakan lambang,
tetapi mengabaikan makna.
Mereka membangun singgasana yang tinggi,
tetapi membiarkan hatinya runtuh.”
Angin bawah laut berembus
melewati permadani.
Pada setiap embusannya
terdengar bisikan ribuan orang
yang dahulu tinggal di kota itu:
“Akulah pewaris.”
“Akulah yang terpilih.”
“Akulah pemilik cahaya.”
“Akulah yang paling mengetahui rahasia.”
Bisikan-bisikan itu berputar
mengelilingi kepala pengembara
hingga hampir membuatnya kehilangan kesadaran.
Ia menutup telinga,
tetapi suara tersebut justru terdengar
semakin keras dari dalam dadanya sendiri.
Sang penjaga berkata:
“Inilah ujian pertama permadani.
Engkau tidak diminta melawan suara orang lain.
Engkau diminta mengenali
suara kesombonganmu sendiri.”
Permadani mendadak terbelah
menjadi tiga jalan.
Jalan pertama dihiasi emas,
mahkota, dan bendera kemenangan.
Di ujungnya berdiri singgasana
dengan ribuan manusia bersujud.
Jalan kedua dihiasi bunga-bunga putih,
air jernih, dan suara pujian.
Di ujungnya berdiri kuil besar
yang mengabadikan nama sang pengembara.
Jalan ketiga gelap,
sempit, dan tidak memiliki lentera.
Tidak ada singgasana,
tidak ada pujian,
tidak ada seorang pun menunggu di ujungnya.
Sang penjaga bertanya:
“Jalan manakah yang akan kau pilih?”
Pengembara memandang jalan pertama.
Ia melihat kekuasaan,
tetapi di balik singgasana
terdapat bayangan yang kelaparan.
Ia memandang jalan kedua.
Ia melihat kemuliaan,
tetapi di balik kuil
terdapat manusia-manusia
yang saling berebut menjadi paling suci.
Kemudian ia memandang jalan ketiga.
Tidak terlihat apa pun
selain kegelapan dan suara tetesan air.
Pengembara melangkah ke jalan ketiga.
Sang penjaga bertanya:
“Mengapa memilih jalan
yang tidak menjanjikan apa-apa?”
Ia menjawab:
“Karena jalan yang paling terang
belum tentu membawa kepada kebenaran.
Aku memilih jalan yang tidak memuji namaku,
agar aku dapat mendengar
siapa diriku ketika semua suara telah diam.”
Begitu kakinya menyentuh jalan ketiga,
emas pada jalan pertama berubah menjadi pasir.
Kuil pada jalan kedua runtuh menjadi debu.
Sedangkan jalan gelap yang dipilihnya
perlahan memancarkan cahaya
dari dalam batu-batunya sendiri.
Cahaya itu tidak menyilaukan.
Ia lembut seperti fajar,
hangat seperti tangan seorang ibu,
dan jernih seperti air
yang belum disentuh ketamakan manusia.
Sang penjaga bertopeng naga
membuka rantai pada peti merah.
Namun peti itu belum terbuka.
Dari dalamnya terdengar detak,
seperti jantung makhluk besar
yang sedang menunggu waktu untuk bangun.
Pengembara terus berjalan.
Pada langkah ketujuh,
permukaan permadani berubah menjadi cermin.
Ia melihat wajahnya sendiri,
tetapi bukan wajah yang sekarang.
Pertama, ia melihat dirinya sebagai anak kecil
yang berlari di bawah hujan
tanpa takut basah.
Kemudian ia melihat dirinya sebagai prajurit
yang berdiri di tengah padang perang,
dikelilingi tubuh sahabat-sahabatnya.
Lalu ia melihat dirinya sebagai raja tua
yang duduk sendirian,
memegang mahkota yang terlalu berat
untuk dikenakan.
Terakhir, ia melihat dirinya
sebagai pengembara tanpa nama,
membawa sepotong roti
kepada seseorang yang sedang kelaparan.
Dari semua bayangan itu,
hanya pengembara tanpa nama
yang tersenyum dengan tenang.
Ia pun memahami:
Permadani tersebut bukan jalan menuju istana,
melainkan jalan yang membawanya kembali
kepada bagian dirinya
yang belum dikuasai keinginan dunia.
Tiba-tiba phoenix turun dari puncak gua.
Sayapnya membentang memenuhi langit lautan,
dan setiap helai bulunya
menjatuhkan percikan api keemasan.
Ikan raksasa berenang di bawah permadani,
menopangnya agar tidak tenggelam.
Keduanya bergerak bersama,
seolah api dan air
telah berdamai untuk mengantarkan
satu manusia menuju gunung.
Di ujung perjalanan,
terlihat gerbang giok setinggi awan.
Di belakang gerbang itu
menjulang gunung hitam
yang puncaknya menembus permukaan samudra.
Namun sebelum pengembara mencapainya,
permadaninya mendadak berhenti.
Di hadapannya terdapat jurang sangat luas.
Tidak ada jembatan,
tidak ada tangga,
dan tidak ada jalan lain.
Sang penjaga muncul di sampingnya
sambil membawa peti merah.
“Permadani hanya dibentangkan
sampai batas keyakinanmu,” katanya.
“Selebihnya harus kau tempuh
tanpa mengetahui apakah kakimu
akan menemukan pijakan.”
Pengembara memandang jurang.
Dari dalam kegelapan
muncul suara-suara lama:
“Engkau akan gagal.”
“Engkau tidak pantas.”
“Kembalilah sebelum semuanya terlambat.”
“Tidak ada siapa pun di seberang sana.”
Ia menutup mata.
Bukan untuk menghindari ketakutan,
melainkan untuk mendengarnya
tanpa lagi diperintah olehnya.
Kemudian ia melangkah.
Kakinya tidak jatuh.
Di bawah telapak kakinya
muncul satu helai permadani baru.
Ia melangkah lagi.
Muncul helai kedua.
Setiap langkah melahirkan jalan,
setiap keberanian menenun permadani,
dan setiap keikhlasan
mengubah jurang menjadi jembatan.
Sang penjaga berbisik:
“Kini engkau mulai memahami.
Jalan tidak selalu tersedia
sebelum manusia berani melangkah.”
Ketika pengembara mencapai seberang,
pintu gerbang giok terbuka sendiri.
Suara lonceng menggema
dari puncak gunung.
Peti merah di tangan sang penjaga
akhirnya retak.
Dari celahnya keluar seberkas cahaya putih
yang melesat menuju langit,
membelah samudra dari dasar hingga permukaan.
Seluruh patung batu di kota purba
serentak membuka mata.
Namun sebelum mereka kembali bergerak,
gunung hitam di hadapan pengembara
mengeluarkan suara gemuruh dahsyat.
Batu-batu besar berjatuhan.
Awan bawah laut berputar.
Naga-naga yang tertidur di lerengnya
mulai membuka mata satu demi satu.
Di puncak gunung
terlihat sebuah singgasana kosong.
Dan di belakang singgasana itu
berdiri sosok yang memiliki wajah
sama persis dengan wajah sang pengembara.
Sosok itu mengenakan mahkota hitam,
membawa pedang yang tadi telah dilepaskan,
lalu memandangnya dengan senyum dingin.
“Permadani telah mengantarkanmu kepadaku,”
katanya.
“Sekarang naiklah ke gunung ini,
dan buktikan siapa di antara kita
yang berhak membawa nama terakhir
dari kerajaan dasar laut.”
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Keempat — Menjulang Gunung yang Tinggi
Gunung hitam itu menjulang
dari palung yang tidak pernah disentuh matahari.
Puncaknya menembus arus samudra,
sedangkan akarnya terkubur
di bawah lapisan batu yang lebih tua
daripada nama-nama kerajaan.
Di sepanjang lerengnya
berdiri ribuan patung pendekar.
Sebagian menggenggam pedang,
sebagian membawa kitab,
sebagian menengadahkan tangan,
dan sebagian lagi menutup wajah
seolah menyesali jalan
yang dahulu mereka pilih sendiri.
Awan gelap berputar mengelilingi puncak.
Kilat biru menari tanpa suara,
sementara naga-naga batu
membuka mata satu demi satu.
Dari singgasana tertinggi,
sosok bermahkota hitam itu berkata:
“Naiklah.
Permadani telah membawamu sampai ke kaki gunung,
tetapi hanya keberanianmu sendiri
yang dapat mengantarkanmu ke puncaknya.”
Pengembara memandang wajah sosok tersebut.
Wajah itu benar-benar sama dengannya:
bentuk mata, garis rahang,
bekas luka kecil di dekat pelipis,
bahkan cara berdirinya pun serupa.
Namun di dalam kedua matanya
tidak terdapat kehangatan.
Yang terlihat hanyalah
ribuan keinginan yang belum pernah kenyang.
Sang penjaga bertopeng naga berdiri di belakangnya.
Peti merah yang dibawanya
telah retak semakin lebar,
tetapi cahaya di dalamnya
belum sepenuhnya keluar.
“Siapakah dia?”
tanya pengembara.
Penjaga itu menjawab:
“Dia adalah dirimu
yang memilih setiap jalan yang dahulu kau tolak.”
“Apakah dia bayanganku?”
“Bukan sekadar bayangan.
Dia hidup dari pujian yang kau inginkan,
kemarahan yang kau simpan,
luka yang tidak kau maafkan,
dan ketakutan yang kau sembunyikan
di balik keberanian.”
Gunung kembali berguncang.
Tangga batu muncul dari lerengnya,
membentuk jalur sempit
yang berkelok menuju singgasana.
Setiap anak tangga
bertuliskan satu kata:
Nama.
Kekuasaan.
Pujian.
Kemenangan.
Pengakuan.
Keabadian.
Pengembara menapakkan kaki
pada anak tangga pertama.
Saat menyentuh kata Nama,
seluruh lereng gunung berubah.
Ia melihat sebuah kota besar
dengan bendera bergambar wajahnya.
Namanya dipahat pada gerbang,
ditulis di dinding-dinding kuil,
dan diteriakkan oleh ribuan orang.
Anak-anak mempelajari kisahnya.
Para penyair menyanyikan keberaniannya.
Para raja mengirimkan persembahan
dan meminta kebijaksanaannya.
Namun di antara kerumunan itu
ia melihat seorang tua
tergeletak di tepi jalan.
Tidak seorang pun menolongnya,
sebab semua manusia terlalu sibuk
meneriakkan nama sang pengembara.
Ia segera menarik kakinya.
Bayangan kota pun lenyap.
Dari puncak terdengar tawa.
“Mengapa takut kepada kemuliaan?”
tanya sosok bermahkota hitam.
“Bukankah namamu dapat menjadi cahaya
bagi mereka yang tersesat?”
Pengembara menjawab:
“Nama dapat menjadi penunjuk jalan,
tetapi juga dapat berubah menjadi dinding
yang menutupi kebenaran.”
Ia melangkah ke anak tangga kedua.
Ketika menginjak kata Kekuasaan,
ia melihat dirinya duduk
di atas singgasana emas.
Di hadapannya berdiri pasukan besar.
Seribu kapal menunggu perintah,
sembilan kerajaan menyerahkan mahkota,
dan para penguasa menundukkan kepala.
Dengan satu gerakan tangan,
ia mampu menghentikan perang.
Dengan satu kalimat,
ia dapat membuka lumbung-lumbung makanan.
Tetapi dengan satu kemarahan pula,
ia dapat menghancurkan sebuah kota.
Pada mulanya ia menggunakan kekuasaan
untuk melindungi yang lemah.
Namun hari demi hari,
ia mulai menganggap semua penolakan
sebagai pengkhianatan.
Nasihat dianggap perlawanan.
Pertanyaan dianggap penghinaan.
Perbedaan dianggap ancaman.
Hingga akhirnya,
singgasana emas itu berdiri
di tengah negeri yang sunyi.
Tidak ada lagi musuh,
tetapi tidak ada pula sahabat.
Pengembara mengangkat kakinya.
Bayangan kekuasaan pecah
seperti cermin tersambar batu.
Dari atas, sosok bermahkota hitam berkata:
“Tanpa kekuasaan,
kebenaranmu hanya akan menjadi bisikan
yang ditenggelamkan kebisingan dunia.”
Pengembara menjawab:
“Kebenaran yang memerlukan ketakutan
agar manusia mematuhinya
mungkin hanyalah keinginanku sendiri
yang menyamar menjadi kebenaran.”
Ia melanjutkan perjalanan.
Pada anak tangga bertuliskan Pujian,
muncul taman yang sangat indah.
Di sana setiap bunga
mengucapkan kata-kata yang menyenangkan.
“Engkaulah yang paling bijaksana.”
“Engkaulah pewaris yang terpilih.”
“Tidak ada seorang pun
yang mampu menyamai cahayamu.”
Pada awalnya,
pengembara hanya mendengarkan.
Namun semakin lama,
ia merasa taman itu
mengetahui seluruh isi hatinya.
Ketika ia ragu,
bunga-bunga memujinya.
Ketika ia berbuat salah,
bunga-bunga tetap membenarkannya.
Ketika seseorang datang membawa nasihat,
duri-duri taman segera melukainya.
Akhirnya pengembara menyadari
bahwa semua bunga tersebut
tidak tumbuh dari tanah,
melainkan dari telinganya sendiri.
Ia menutup kedua telinga
dan mengucapkan:
“Pujian yang tidak membiarkanku bercermin
adalah racun yang harum.”
Taman itu seketika layu.
Di baliknya terlihat banyak tulang belulang
dari mereka yang dahulu
tertidur dalam keharuman yang sama.
Pengembara terus mendaki.
Semakin tinggi ia melangkah,
semakin tipis udara di sekelilingnya.
Lautan tampak jauh di bawah.
Permadani cahaya yang tadi begitu luas
kini hanya terlihat seperti seutas benang.
Phoenix berputar di antara awan,
sedangkan ikan emas berenang
mengelilingi tubuh gunung
seperti naga air raksasa.
Pada pertengahan lereng,
pengembara menemukan sebuah gerbang kecil.
Tidak ada penjaga di sana.
Di atas gerbang tertulis:
“Tiada yang dapat melewati tempat ini
sambil membawa kebencian.”
Pengembara mencoba melangkah,
tetapi tubuhnya tertahan
oleh dinding yang tidak terlihat.
Dari balik batu-batu gunung
muncul wajah-wajah masa lalu.
Orang yang pernah menipunya.
Orang yang pernah meninggalkannya.
Orang yang menghinanya di hadapan banyak manusia.
Orang yang mengambil hasil jerih payahnya.
Orang yang pernah berjanji,
lalu pergi tanpa penjelasan.
Masing-masing membawa sebuah batu hitam.
Mereka meletakkannya
di atas bahu pengembara.
Satu batu menjadi dua.
Dua menjadi sepuluh.
Sepuluh menjadi seratus.
Tubuhnya membungkuk.
Lututnya hampir menyentuh tanah.
Sosok bermahkota hitam tertawa dari puncak.
“Simpanlah semuanya,” katanya.
“Luka akan membuatmu kuat.
Kebencian akan membuatmu waspada.
Jangan pernah mengampuni,
sebab pengampunan hanya menguntungkan
mereka yang menyakitimu.”
Pengembara memandang batu-batu
yang menindih punggungnya.
Pada setiap batu
tertulis satu kalimat:
Aku tidak akan melupakan.
Suatu hari mereka akan merasakan.
Aku harus membuktikan bahwa aku lebih tinggi.
Aku tidak boleh terlihat lemah.
Ia menggenggam salah satu batu.
Batu itu hangat,
seolah telah lama tinggal
di dalam dadanya.
Kemudian ia berkata:
“Aku tidak mengampuni
karena perbuatan mereka benar.
Aku mengampuni
agar kesalahan mereka
tidak terus memerintah hidupku.”
Satu batu jatuh.
“Aku tidak melupakan pelajarannya,
tetapi aku melepaskan keinginan
untuk membalas luka dengan luka.”
Batu kedua pecah.
“Aku tidak membebaskan mereka
dari tanggung jawab,
tetapi aku membebaskan hatiku
dari penjara yang mereka tinggalkan.”
Semua batu berguncang.
Satu demi satu,
beban itu berubah menjadi burung-burung putih
yang terbang menuju lautan.
Gerbang kecil pun terbuka.
Namun sebelum masuk,
pengembara menoleh kepada wajah-wajah masa lalu.
Sebagian tersenyum,
sebagian menangis,
sebagian tetap menatapnya dengan kebencian.
Ia memahami
bahwa pengampunan tidak selalu mengubah orang lain.
Terkadang pengampunan
hanya membuka pintu
agar diri sendiri dapat melanjutkan perjalanan.
Di balik gerbang
terbentang hutan bambu hitam.
Batangnya tinggi dan rapat,
menutupi jalur menuju puncak.
Tidak ada cahaya di sana,
tetapi suara-suara aneh
terdengar dari segala arah.
Ada suara anak kecil menangis.
Ada suara pedang beradu.
Ada suara seseorang memanggil namanya.
Ada pula suara lembut
yang menyuruhnya beristirahat selamanya.
Pengembara berjalan perlahan.
Setiap kali menyentuh batang bambu,
ia melihat satu kemungkinan hidup
yang tidak pernah dijalaninya.
Pada batang pertama,
ia melihat dirinya hidup tenang
di sebuah desa kecil,
menikah, mempunyai anak,
dan tidak pernah mengenal kerajaan dasar laut.
Pada batang kedua,
ia melihat dirinya menjadi jenderal,
memenangkan banyak perang,
lalu meninggal tanpa keluarga.
Pada batang ketiga,
ia menjadi pertapa
yang dihormati banyak murid,
tetapi diam-diam haus pujian.
Pada batang keempat,
ia menjadi pedagang kaya
yang membangun banyak kuil,
namun memperlakukan pekerjanya
tanpa belas kasih.
Semua kehidupan itu tampak nyata.
Semua mempunyai kebahagiaan.
Semua memiliki penyesalan.
Pengembara bertanya kepada hutan:
“Manakah kehidupan yang seharusnya kupilih?”
Bambu-bambu menjawab bersamaan:
“Tidak ada kehidupan yang sempurna.
Yang ada hanyalah kehidupan
yang dijalani dengan sadar
atau ditinggalkan dalam penyesalan.”
Ia terus berjalan
hingga menemukan sebuah pohon
yang berbeda dari lainnya.
Pohon itu berdaun perak,
berakar pada batu,
dan hanya memiliki satu buah.
Buah tersebut menyerupai hati manusia.
Sang penjaga bertopeng naga
tiba-tiba muncul di sampingnya.
“Itulah Buah Pengetahuan Diri,” katanya.
“Siapa pun yang memakannya
akan melihat dirinya tanpa perlindungan.”
“Apa yang akan kulihat?”
“Bukan hanya kebaikan yang kau banggakan.
Engkau akan melihat niat tersembunyi
di balik setiap perbuatanmu.”
Pengembara memetik buah itu.
Saat digigit,
rasanya manis seperti madu.
Namun beberapa saat kemudian
berubah pahit seperti empedu.
Hutan menghilang.
Ia berdiri di dalam ruangan putih
tanpa pintu dan jendela.
Di sekelilingnya
terlihat seluruh perbuatan baiknya.
Ia melihat ketika memberi makanan
kepada orang yang kelaparan.
Namun di balik perbuatan itu
terdapat keinginan kecil
agar dirinya dianggap murah hati.
Ia melihat ketika menolong seorang sahabat.
Namun di dasar hatinya
ada harapan bahwa suatu hari
sahabat itu akan membalas pertolongannya.
Ia melihat ketika berbicara tentang kebenaran.
Namun di antara kata-katanya
terselip keinginan
untuk terlihat lebih mengetahui.
Ia melihat ketika memaafkan seseorang.
Namun sebagian dirinya
masih ingin dipuji karena telah memaafkan.
Pengembara jatuh berlutut.
“Apakah seluruh kebaikanku palsu?”
tanyanya.
Suara penjaga terdengar dari kejauhan:
“Tidak.
Kebaikan manusia jarang lahir
dari niat yang sepenuhnya bening.
Engkau tidak diminta menunggu sempurna
sebelum melakukan kebaikan.
Engkau hanya diminta
terus membersihkan alasan di baliknya.”
Ruangan putih itu perlahan retak.
Dari celah-celahnya
masuk cahaya fajar.
Pengembara bangkit kembali.
Ia tidak merasa lebih suci.
Justru untuk pertama kalinya
ia merasa benar-benar manusia.
Perjalanan menuju puncak berlanjut.
Kini tangga batu semakin sempit.
Di sebelah kanan terdapat jurang api,
di sebelah kiri mengalir sungai es.
Sosok bermahkota hitam
turun dari singgasananya.
Ia berdiri di ujung tangga
sambil membawa pedang
yang dahulu telah dilepaskan pengembara.
Bilahnya kini berwarna merah,
seolah ditempa dari kemarahan.
“Cukup,” katanya.
“Engkau telah melepaskan nama,
kekuasaan, pujian, dan kebencian.
Apakah kau kira semua itu
membuatmu lebih mulia dariku?”
Pengembara berhenti.
“Aku tidak datang untuk menjadi lebih mulia.”
“Lalu untuk apa engkau mendaki?”
“Untuk mengetahui
mengapa gunung ini selalu memanggilku.”
Sosok itu menancapkan pedang
ke anak tangga.
Api merah menyebar ke seluruh lereng.
Patung-patung pendekar hidup kembali.
Mereka berbaris mengelilingi pengembara,
menutup semua jalan turun.
“Gunung ini memanggilmu,”
kata sosok itu,
“karena aku menunggumu mengambil tempatku.”
Ia menunjuk singgasana di puncak.
“Duduklah di sana.
Kota dasar laut akan hidup kembali.
Semua patung akan menjadi manusia.
Lautan akan tunduk kepadamu.
Namamu akan bertahan
sampai gunung ini menjadi debu.”
Pengembara memandang kota purba di kejauhan.
Patung-patung penduduk
masih berdiri tanpa bergerak.
Di antara mereka
terlihat anak-anak, orang tua,
prajurit, pedagang, dan para ibu
yang memeluk bayinya.
“Apa syaratnya?”
tanya pengembara.
Sosok bermahkota hitam tersenyum.
“Hanya satu.
Engkau harus meninggalkan hatimu
di dalam peti merah.”
Penjaga bertopeng naga
mengangkat peti yang telah retak.
Cahaya putih di dalamnya
berdenyut seperti jantung.
“Tanpa hati,” lanjut sosok itu,
“engkau tidak akan ragu.
Tidak akan terluka.
Tidak akan mencintai.
Tidak akan takut kehilangan.
Engkau akan menjadi penguasa sempurna.”
Untuk sesaat,
pengembara tergoda.
Betapa mudahnya hidup
tanpa kesedihan.
Betapa ringan langkah
tanpa rasa bersalah.
Betapa kuat keputusan
tanpa belas kasih
yang mengganggu ketegasan.
Namun kemudian ia melihat
seorang anak kecil di antara patung kota.
Anak itu menggenggam bunga batu.
Wajahnya mengingatkan pengembara
kepada dirinya sendiri
sebelum mengenal luka.
Ia mengerti:
Kota itu memang dapat dibangunkan
oleh penguasa tanpa hati,
tetapi penduduknya hanya akan hidup
sebagai tubuh yang patuh.
Mereka tidak akan mengenal cinta,
tidak mampu memilih,
dan tidak berani menolak.
Pengembara berkata:
“Kehidupan tanpa hati
hanyalah kematian yang mampu berjalan.”
Wajah sosok bermahkota hitam berubah.
Langit gunung menjadi merah.
“Kalau begitu,
rebutlah singgasana ini dengan pedang!”
Ia menyerang.
Bilah merah melesat
membelah udara.
Pengembara menghindar,
tetapi ujung pedang
menggores bahunya.
Darah jatuh ke batu.
Anehnya,
setiap tetes darah
berubah menjadi bunga teratai.
Sosok hitam menyerang kembali.
Tebasan pertama membawa kemarahan.
Tebasan kedua membawa iri hati.
Tebasan ketiga membawa rasa takut.
Tebasan keempat membawa keinginan
untuk selalu dianggap benar.
Pengembara tidak memiliki senjata.
Ia hanya mampu menghindar,
menahan,
dan terus menaiki tangga.
“Mengapa tidak melawan?”
teriak sosok itu.
“Karena membunuhmu
berarti membunuh bagian diriku sendiri.”
“Aku adalah keburukanmu!”
“Engkau juga kekuatan
yang dahulu melindungiku ketika takut.
Engkau hanya tumbuh terlalu besar
karena tidak pernah kuajak berbicara.”
Pedang merah berhenti di udara.
Untuk pertama kalinya,
mata sosok bermahkota hitam
memperlihatkan kesedihan.
“Aku lahir ketika engkau dipermalukan,”
katanya perlahan.
“Aku berjanji membuatmu kuat
agar tidak seorang pun melukaimu lagi.”
“Aku tahu.”
“Aku mengumpulkan kekuasaan
agar engkau tidak merasa kecil.”
“Aku tahu.”
“Aku mengejar pujian
agar engkau tidak merasa tidak berharga.”
“Aku tahu.”
Tangan sosok itu mulai bergetar.
“Lalu mengapa engkau meninggalkanku
di puncak gunung ini sendirian?”
Pengembara mendekat.
Walau pedang masih terangkat,
ia tidak berhenti.
“Karena aku mengiramu sebagai musuh.
Padahal engkau hanyalah luka
yang mengenakan baju perang.”
Sosok bermahkota hitam
menurunkan pedangnya.
Mahkotanya retak.
Dari sela-sela retakan
keluar cahaya biru.
Pengembara merentangkan tangan
dan memeluk sosok tersebut.
Pada saat keduanya bersentuhan,
gunung berguncang sangat dahsyat.
Api di jurang padam.
Sungai es mencair.
Naga-naga batu menundukkan kepala.
Patung-patung pendekar
meletakkan senjatanya.
Tubuh sosok bermahkota hitam
pecah menjadi ribuan serpihan cahaya,
kemudian masuk ke dalam dada pengembara.
Bukan untuk menguasainya,
melainkan kembali menjadi bagian
yang selama ini terpisah.
Pedang merah jatuh ke tanah.
Warnanya berubah menjadi bening
seperti kaca.
Pada bilahnya tertulis:
“Kemenangan tertinggi
bukanlah ketika bayanganmu musnah,
melainkan ketika ia tidak lagi
memegang kendali.”
Pengembara mengambil pedang itu.
Bukan sebagai senjata,
melainkan sebagai pengingat.
Ia melanjutkan pendakian
hingga mencapai puncak gunung.
Di sana tidak terdapat istana megah.
Hanya ada singgasana batu,
sebuah lonceng tua,
dan pohon kecil yang tumbuh
di tengah retakan.
Dari puncak tersebut,
seluruh kerajaan dasar laut terlihat.
Gunung-gunung lain berdiri
seperti barisan penjaga.
Permadani cahaya membentang
hingga batas samudra.
Phoenix hinggap di atas lonceng,
sedangkan ikan emas muncul
dari lautan awan di bawahnya.
Sang penjaga bertopeng naga
meletakkan peti merah
di depan singgasana.
“Kini engkau dapat membuka peti ini,”
katanya.
“Apakah di dalamnya
tersimpan nama terakhir kerajaan?”
“Ya.
Namun setelah membukanya,
engkau harus memilih:
menghidupkan kembali kerajaan lama
atau membiarkannya tenggelam
agar kehidupan baru dapat tumbuh.”
Pengembara memandang kota purba.
Ia memahami
bahwa tidak semua yang pernah agung
harus dikembalikan persis seperti dahulu.
Ada warisan yang perlu dijaga.
Ada kebiasaan yang harus dilepaskan.
Ada bangunan yang dapat dipulihkan.
Ada pula singgasana
yang lebih baik dibiarkan kosong.
Ia menyentuh peti merah.
Retakannya menyala.
Peti itu terbuka perlahan.
Namun tidak ada mahkota,
kitab, pusaka, ataupun permata di dalamnya.
Hanya terdapat sebuah cermin kecil.
Ketika pengembara melihat ke cermin,
tidak tampak wajahnya sendiri.
Yang terlihat adalah seluruh penduduk kota
sedang membuka mata.
Kemudian dari dalam cermin
terdengar satu kalimat:
“Nama terakhir kerajaan
bukanlah nama seorang raja.”
Cahaya memenuhi puncak gunung.
Aksara-aksara kuno muncul di udara,
berputar mengelilingi singgasana,
kemudian menyatu menjadi dua kata:
“HATI YANG SADAR.”
Lonceng tua berbunyi.
Satu kali.
Suara pertamanya membangunkan kota.
Dua kali.
Suara keduanya memecahkan rantai
yang mengikat patung-patung manusia.
Tiga kali.
Suara ketiganya membuka permukaan laut,
hingga cahaya matahari pertama
menembus dasar samudra.
Penduduk kota kembali bergerak.
Namun tidak seorang pun bersujud
kepada pengembara.
Mereka saling memandang,
memeluk keluarganya,
menolong yang terjatuh,
dan membersihkan jalan-jalan
yang selama ribuan tahun ditutupi karang.
Pengembara tersenyum.
Ia justru merasa lega
karena tidak ada seorang pun
yang meneriakkan namanya.
Sang penjaga bertopeng naga bertanya:
“Apakah engkau tidak akan duduk
di atas singgasana?”
Pengembara memandang kursi batu itu.
Kemudian ia meletakkan pedang bening
di atasnya.
“Biarkan singgasana tetap kosong.
Kerajaan yang sehat
tidak boleh menggantungkan seluruh cahayanya
kepada satu manusia.”
Topeng naga pada wajah penjaga
perlahan terbelah.
Di baliknya terlihat wajah seorang tua
dengan mata yang teduh.
“Berabad-abad aku menunggu
seseorang yang mampu menolak singgasana,”
katanya.
“Mengapa?”
“Karena hanya orang
yang tidak diperbudak kekuasaan
yang layak menjaga pintunya.”
Orang tua itu menyerahkan
sebuah kunci giok.
Kunci tersebut tidak mempunyai gigi,
tetapi memancarkan cahaya lembut.
“Kunci apakah ini?”
“Kunci menuju sisi lain gunung.
Di sanalah sumber air
yang menghidupi seluruh kerajaan.”
Pengembara menatap ke belakang.
Di balik pohon kecil
terdapat pintu batu
yang sebelumnya tidak terlihat.
Pintu itu tidak dihiasi naga,
phoenix, ataupun aksara kebesaran.
Hanya ada ukiran tetesan air.
Ketika kunci giok didekatkan,
pintu terbuka.
Di baliknya bukan terdapat lorong,
melainkan langit yang luas.
Awan putih bergerak di bawah kaki.
Bintang-bintang bersinar di siang hari.
Dan jauh di hadapan,
terlihat gunung lain
yang jauh lebih tinggi.
Puncaknya tidak terlihat.
Di lereng gunung itu
mengalir sungai cahaya
menuju dunia di atas laut.
Orang tua penjaga berkata:
“Gunung yang baru saja kau daki
hanyalah gunung di dalam dirimu.”
“Lalu gunung di hadapan itu?”
“Itulah gunung pengabdian.
Banyak manusia mampu menaklukkan dirinya,
tetapi kemudian kembali tersesat
ketika mulai membimbing orang lain.”
Pengembara menggenggam kunci giok.
Di belakangnya,
kerajaan dasar laut telah hidup kembali.
Di hadapannya,
jalan baru menunggu.
Ia dapat tinggal
dan dikenang sebagai penyelamat.
Atau meninggalkan semua pujian
untuk mendaki gunung
yang bahkan tidak menjanjikan kepulangan.
Angin membawa suara penduduk kota.
Sebagian memanggilnya agar kembali.
Sebagian meminta dirinya menjadi raja.
Sebagian berkata bahwa kerajaan
masih membutuhkan kepemimpinannya.
Pengembara menutup mata.
Ia mendengar suara-suara itu
tanpa membencinya
dan tanpa membiarkannya menentukan langkah.
Kemudian ia menoleh kepada orang tua penjaga.
“Siapakah yang akan menjaga kota
bila aku pergi?”
Orang tua itu menunjuk ke bawah.
Penduduk mulai berkumpul di alun-alun.
Mereka tidak sedang memilih
siapa yang paling kuat.
Mereka sedang belajar mendengarkan
satu sama lain.
“Kota ini tidak memerlukan
seorang manusia yang dianggap sempurna,”
kata sang penjaga.
“Ia memerlukan banyak manusia biasa
yang bersedia memikul tanggung jawab bersama.”
Pengembara mengangguk.
Ia melangkah melewati pintu batu.
Begitu kakinya menyentuh awan,
gunung dasar laut di belakangnya
memancarkan cahaya keemasan.
Puncaknya menjulang semakin tinggi,
menembus samudra,
menembus badai,
hingga terlihat dari permukaan dunia
sebagai pulau baru.
Orang-orang di daratan
menyaksikan matahari terbit
di balik gunung tersebut.
Mereka tidak mengetahui
bahwa jauh di bawahnya
sebuah kerajaan baru saja terbangun.
Mereka hanya melihat
seekor phoenix terbang di langit,
dan bayangan ikan emas raksasa
berenang di antara awan.
Sementara itu,
pengembara terus berjalan
menuju gunung kedua.
Namun setelah tujuh langkah,
kunci giok di tangannya
mendadak retak.
Dari dalam retakan
keluar setetes air bening.
Tetesan itu jatuh ke awan,
lalu berubah menjadi sebuah sungai
yang mengalir menuju puncak.
Di dalam aliran sungai
terlihat wajah-wajah manusia
dari berbagai negeri.
Mereka menangis, berdoa,
bertengkar, saling menolong,
mencari arah,
dan menunggu seseorang
datang membawa jawaban.
Pengembara berhenti.
Dari puncak gunung kedua
terdengar suara yang lebih tua
daripada seluruh lautan:
“Jangan datang membawa jawaban
sebelum engkau belajar mendengarkan
pertanyaan manusia.”
Langit pun berubah gelap.
Sungai cahaya berhenti mengalir.
Dan di hadapan pengembara
muncul ribuan pintu,
masing-masing menyimpan
satu kehidupan yang meminta pertolongan.
Ia menggenggam kunci giok yang retak,
menatap pintu-pintu itu,
lalu memahami bahwa pendakian sesungguhnya
baru saja dimulai.
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Kelima — Ribuan Pintu di Gunung Pengabdian
Ribuan pintu berdiri di hadapannya,
berjajar dari kaki gunung
hingga lenyap di antara awan.
Ada pintu yang terbuat dari kayu tua,
penuh bekas pukulan dan goresan.
Ada pintu dari besi berkarat
dengan rantai sebesar tubuh manusia.
Ada pintu giok berkilauan,
dihiasi naga, mutiara, dan bunga teratai.
Ada pula pintu yang begitu sederhana,
hanya berupa dua lembar bambu
yang diikat dengan tali jerami.
Tidak ada dua pintu yang sama.
Namun dari balik semuanya
terdengar satu bunyi yang serupa:
Suara manusia
yang ingin didengarkan.
Sebagian menangis dengan keras.
Sebagian hanya berbisik.
Sebagian memanggil pertolongan,
tetapi menolak ketika tangan mendekat.
Sebagian mengaku baik-baik saja,
padahal seluruh ruangan di belakang pintunya
telah dipenuhi air mata.
Pengembara berdiri dalam kebingungan.
Kunci giok yang retak
masih berada di genggamannya.
Tetesan air dari retakan itu
mengalir di antara jari-jarinya,
kemudian jatuh ke awan
dan menjelma sungai kecil bercahaya.
Dari puncak gunung kedua
suara tua kembali bergema:
“Jangan datang membawa jawaban
sebelum engkau belajar mendengarkan
pertanyaan manusia.”
Pengembara mengangkat wajah.
“Bagaimana mungkin aku mendengarkan
ribuan suara dalam satu waktu?”
Gunung menjawab:
“Engkau tidak diminta membuka semuanya.
Bukalah pintu yang mengetuk hatimu,
tetapi jangan menganggap
setiap pintu harus menjadi milikmu.”
Pada saat itu,
sebuah pintu kecil di sebelah kiri
bergetar perlahan.
Tidak dihiasi emas.
Tidak mengeluarkan cahaya.
Tidak terdengar suara minta tolong.
Hanya ada bunyi lembut:
Tok.
Kemudian diam.
Beberapa saat kemudian:
Tok.
Pengembara mendekat.
Di permukaan pintu
terukir seekor burung tanpa sayap.
Ia memasukkan kunci giok ke lubangnya,
tetapi kunci itu tidak dapat berputar.
Ia mencoba sekali lagi.
Tetap tidak terbuka.
Suara dari puncak berkata:
“Tidak semua pintu dibuka dengan kunci.
Ada pintu yang hanya terbuka
ketika seseorang berhenti memaksa.”
Pengembara melepaskan genggamannya.
Ia lalu duduk di depan pintu tersebut
tanpa berbicara.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua jam.
Awan bergerak perlahan
di bawah kedua kakinya.
Angin gunung membawa serpihan salju
yang tidak terasa dingin.
Dari balik pintu
akhirnya terdengar suara seorang anak:
“Apakah kau juga akan pergi
setelah mengetahui aku tidak sempurna?”
Pengembara tidak segera menjawab.
Ia mengingat petuah gunung:
jangan membawa jawaban
sebelum memahami pertanyaan.
Maka ia berkata:
“Aku belum mengenalmu.
Tetapi untuk saat ini,
aku masih duduk di sini.”
Pintu itu terbuka sedikit.
Di baliknya terdapat ruangan gelap
dengan satu jendela kecil.
Seorang anak duduk di sudut,
memeluk kedua lututnya.
Di punggungnya tampak dua bekas luka
tempat sayap seharusnya tumbuh.
Dinding ruangan dipenuhi gambar burung,
langit, matahari, dan gunung-gunung tinggi.
Namun setiap gambar
telah dicoret dengan tinta hitam.
“Siapa yang mencoret semua ini?”
tanya pengembara.
Anak itu menunjuk dirinya sendiri.
“Aku melakukannya
sebelum orang lain sempat menertawakannya.”
Pengembara memandang gambar-gambar tersebut.
Sebagian tidak rapi.
Sebagian tampak aneh.
Ada burung yang memiliki tiga sayap,
gunung yang menggantung terbalik,
dan matahari berwarna biru.
Namun di balik semua ketidaksempurnaan itu
terdapat kejujuran
yang tidak dapat dibuat-buat.
“Mengapa burung ini tidak memiliki sayap?”
tanya pengembara.
Anak itu menjawab:
“Karena aku pernah percaya dapat terbang.
Kemudian banyak orang berkata
bahwa aku hanya akan jatuh.”
“Apakah mereka benar?”
“Aku tidak tahu.
Aku berhenti mencoba
sebelum sempat mengetahuinya.”
Pengembara duduk di sampingnya.
Ia tidak berkata bahwa anak itu pasti mampu.
Ia tidak menjanjikan langit.
Ia tidak menyebut kegagalan
sebagai sesuatu yang mudah.
Ia hanya mengambil sepotong arang,
kemudian menggambar sebuah tangga
di bawah burung tanpa sayap.
Anak itu menatapnya.
“Burung tidak menaiki tangga.”
Pengembara tersenyum.
“Benar.
Tetapi sebelum mampu terbang,
tidak ada salahnya belajar naik
satu anak tangga dalam satu waktu.”
Anak itu mengambil arang
dan menambahkan satu anak tangga lagi.
Kemudian satu lagi.
Setiap tangga yang digambar
muncul menjadi nyata di dalam ruangan,
menjulang menuju jendela kecil.
Anak itu mulai memanjat.
Saat mencapai jendela,
ia melihat langit untuk pertama kalinya.
Tidak lama kemudian
bekas luka di punggungnya memancarkan cahaya.
Bukan sayap besar yang tumbuh,
melainkan dua helai bulu kecil.
Anak itu tertawa.
Pintu di belakang pengembara
perlahan menghilang.
Ruangan gelap berubah menjadi bukit hijau,
dan anak tersebut berlari
mengejar burung-burung yang melintas.
Pengembara melanjutkan perjalanan.
Namun suara gunung memperingatkan:
“Jangan bangga.
Engkau tidak menumbuhkan sayapnya.
Engkau hanya duduk cukup lama
hingga ia berani melihat sayapnya sendiri.”
Pengembara menundukkan kepala.
Ia memahami bahwa menolong
tidak selalu berarti mengangkat seseorang
dan membawanya sampai tujuan.
Terkadang menolong
adalah menemani seseorang berdiri,
lalu membiarkannya belajar berjalan
dengan kedua kakinya sendiri.
Tidak jauh dari sana,
sebuah pintu besi bergetar hebat.
Dari baliknya terdengar benturan,
teriakan, dan suara rantai diseret.
Pada permukaannya terukir
seekor harimau menggigit ekornya sendiri.
Pengembara menyentuh pintu itu.
Kali ini kunci giok masuk dengan mudah,
tetapi begitu pintu terbuka,
sebuah tangan besar menariknya ke dalam.
Ia terjatuh di sebuah arena batu.
Di tengah arena berdiri seorang prajurit
berbaju zirah penuh luka.
Tubuhnya dipenuhi rantai,
namun ia terus mengayunkan pedang
kepada bayangan-bayangan di sekelilingnya.
Setiap bayangan yang ditebas
pecah menjadi dua.
Dua menjadi empat.
Empat menjadi delapan.
Semakin keras ia berperang,
semakin banyak musuh yang muncul.
“Berhenti!”
teriak pengembara.
Prajurit itu menoleh dengan marah.
“Jangan menghalangiku!
Mereka semua ingin menghancurkanku!”
Pengembara memperhatikan arena.
Tidak ada seorang pun
selain dirinya dan prajurit tersebut.
Bayangan-bayangan itu
keluar dari baju zirah sang prajurit sendiri.
“Musuhmu tumbuh dari tubuhmu,”
kata pengembara.
Prajurit itu mengayunkan pedang kepadanya.
“Kau pun salah satu dari mereka!”
Pengembara menghindar,
tetapi tidak membalas.
Serangan datang berkali-kali.
Setiap tebasan membawa nama:
Pengkhianatan.
Penghinaan.
Kehilangan.
Kegagalan.
Penolakan.
Prajurit itu akhirnya kelelahan.
Ia jatuh berlutut,
namun tetap menggenggam pedang.
“Jika aku berhenti,” katanya,
“mereka akan mengalahkanku.”
Pengembara duduk beberapa langkah di depannya.
“Mungkin engkau tidak perlu berhenti selamanya.
Mungkin untuk satu tarikan napas saja,
kau dapat menurunkan pedangmu.”
“Aku tidak boleh lemah.”
“Beristirahat bukan selalu kelemahan.
Bahkan busur yang terus ditarik
akan patah sebelum anak panah dilepaskan.”
Prajurit itu menatap pedangnya.
Perlahan-lahan,
ia meletakkannya di tanah.
Semua bayangan berhenti bergerak.
Ketika ia melepaskan helm,
pengembara melihat bahwa prajurit itu
bukanlah lelaki perkasa,
melainkan seorang perempuan tua
dengan rambut memutih.
Di balik baju zirahnya
terdapat luka yang belum pernah dirawat.
“Berapa lama engkau berperang?”
tanya pengembara.
“Aku tidak mengingatnya.
Dahulu aku hanya ingin melindungi keluargaku.
Setelah mereka tiada,
aku tetap berperang
karena tidak tahu harus menjadi siapa
tanpa peperangan.”
Pengembara membuka rantai
yang mengikat lengannya.
Namun ketika rantai terakhir terlepas,
perempuan itu mengambil pedang kembali.
“Aku harus pergi,” katanya.
“Masih banyak musuh di luar sana.”
Pengembara tidak menahannya.
Ia hanya bertanya:
“Apakah engkau benar-benar melihat musuh,
atau hanya takut hidup
tanpa sesuatu untuk dilawan?”
Perempuan itu terdiam.
Pedang jatuh dari tangannya.
Seluruh arena batu berubah
menjadi sebuah rumah sederhana.
Di halaman rumah tersebut
tumbuh pohon plum yang sedang berbunga.
Perempuan itu berjalan ke bawah pohon,
duduk, lalu menangis untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun.
Tangisnya tidak terdengar seperti kekalahan.
Tangis itu terdengar
seperti seorang manusia
yang akhirnya pulang dari medan perang.
Sebelum pintu menghilang,
pengembara mendengar suara gunung:
“Jangan memaksa seseorang sembuh
menurut waktu yang kau tentukan.
Ada luka yang perlu dibalut,
ada luka yang perlu ditangisi,
dan ada luka yang hanya dapat dipahami
setelah seseorang berhenti berperang.”
Pengembara kembali berdiri
di antara ribuan pintu.
Kini suara-suara di sekelilingnya
terdengar lebih jelas.
Ia mulai merasakan
betapa beratnya setiap kehidupan.
Ada manusia yang tersesat
bukan karena tidak mengetahui jalan,
melainkan karena terlalu malu
untuk mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan.
Ada yang tampak kuat
karena tidak pernah diberi kesempatan
untuk menjadi lemah.
Ada yang terus memberi
hingga lupa bahwa dirinya pun perlu menerima.
Ada yang selalu tertawa
karena takut bila ia berhenti,
seluruh kesedihannya akan terdengar.
Namun semakin banyak suara ia dengar,
semakin besar keinginan di dalam dirinya
untuk membuka semua pintu.
Ia berjalan cepat.
Pintu pertama dibuka.
Kemudian pintu kedua.
Ketiga.
Keempat.
Ia mencoba menolong seorang pedagang
yang kehilangan seluruh kekayaannya.
Ia mencoba mendamaikan dua saudara
yang bertengkar karena warisan.
Ia mencoba menghibur seorang ibu
yang menunggu anaknya pulang dari laut.
Ia mencoba membimbing seorang pemuda
yang ingin menjadi pendekar,
tetapi tidak sanggup menerima kekalahan.
Hari demi hari berlalu.
Setiap kali menyelesaikan satu persoalan,
tiga pintu baru muncul.
Setiap kali menenangkan satu tangisan,
sepuluh suara lain memanggil namanya.
Pengembara mulai tidak tidur.
Ia berjalan tanpa berhenti,
membawa makanan, nasihat,
air, tali, obat, dan cahaya.
Pada mulanya ia merasa kuat.
Kemudian langkahnya melambat.
Jubahnya robek.
Matanya memerah.
Tangannya gemetar.
Namun ketika salah satu pintu mengetuk,
ia tetap berlari mendatanginya.
“Aku harus menolong mereka,” katanya.
Gunung tidak menjawab.
Pengembara terus membuka pintu
hingga suatu hari
ia berdiri di hadapan pintu cermin.
Tidak ada ukiran padanya.
Tidak ada suara dari baliknya.
Ketika pintu dibuka,
ia menemukan sebuah ruangan kosong
dengan satu kursi di tengah.
Di atas kursi itu
duduk seseorang berjubah lusuh,
membungkuk dalam kelelahan.
Pengembara mendekat.
Orang itu mengangkat wajah.
Ternyata dirinya sendiri.
Wajahnya pucat.
Matanya kehilangan cahaya.
Di punggungnya tergantung ribuan tali
yang masing-masing terhubung
kepada pintu-pintu kehidupan.
Setiap kali seseorang menangis,
satu tali menarik tubuhnya.
Setiap kali seseorang memanggil,
tali lain mencekik lehernya.
Setiap kali ia gagal menolong,
sebuah batu muncul di dadanya.
“Siapa yang mengikatmu?”
tanya pengembara.
Bayangan dirinya menjawab:
“Engkau.”
“Aku hanya ingin menolong.”
“Tidak.
Sebagian dirimu ingin dibutuhkan
agar tidak merasa sendirian.”
Pengembara terdiam.
“Aku membuka pintu-pintu itu
karena mereka memanggil.”
“Namun engkau tidak pernah bertanya
apakah mereka menginginkan pertolongan
atau hanya ingin didengarkan.”
“Bukankah meninggalkan mereka
merupakan kekejaman?”
“Menemani bukan berarti
mengambil alih hidup seseorang.
Membantu bukan berarti
memikul semua beban mereka.
Dan berbuat baik bukan berarti
menghabiskan dirimu
sampai tidak ada lagi kebaikan yang tersisa.”
Tali-tali di punggung bayangan
menarik semakin kuat.
Pengembara mencoba memutuskannya
dengan pedang bening,
tetapi setiap tali yang ditebas
tumbuh kembali.
Dari puncak gunung
suara tua akhirnya berkata:
“Tali itu tidak dibuat oleh mereka.
Tali itu tumbuh dari keyakinanmu
bahwa keselamatan semua manusia
bergantung pada dirimu.”
Pengembara menatap kedua tangannya.
Ia teringat singgasana di gunung pertama.
Dahulu ia menolak menjadi raja
yang menguasai kerajaan.
Namun tanpa disadari,
di gunung kedua
ia mulai menjadikan dirinya
pusat bagi kehidupan orang lain.
Bukan dengan mahkota.
Bukan dengan pasukan.
Melainkan dengan keinginan
untuk selalu menjadi penyelamat.
Ia berlutut di hadapan bayangannya.
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Bayangan itu menjawab:
“Mulailah dengan satu hal
yang paling sulit bagimu.”
“Apakah itu?”
“Akui bahwa engkau pun
memerlukan pertolongan.”
Kalimat itu mengguncang ruangan.
Pengembara telah melewati lautan,
jurang, hutan, dan gunung.
Ia berani menghadapi bayangan hitam,
menolak mahkota,
dan berjalan di atas kehampaan.
Namun meminta pertolongan
terasa lebih menakutkan
daripada menghadapi ribuan pedang.
Ia mencoba berbicara,
tetapi suaranya tertahan.
Akhirnya, dengan sangat pelan,
ia berkata:
“Aku lelah.”
Satu tali terputus.
“Aku tidak selalu mengetahui jawaban.”
Tali kedua berubah menjadi cahaya.
“Aku tidak sanggup
menyelamatkan semua orang.”
Ratusan tali terlepas dari punggungnya.
“Dan aku takut
bila tidak lagi dibutuhkan,
tidak seorang pun akan tinggal bersamaku.”
Seluruh tali pecah.
Bayangan di atas kursi
bangkit dan memeluknya.
Tubuh mereka menyatu.
Ruangan cermin menghilang.
Pengembara kembali berdiri
di antara ribuan pintu,
tetapi kini tidak semua suara
menariknya dengan paksa.
Ia mampu mendengar tangisan
tanpa tenggelam di dalamnya.
Ia mampu menyaksikan penderitaan
tanpa menganggap dirinya
satu-satunya jawaban.
Kunci giok yang retak
perlahan membentuk dirinya kembali.
Namun sekarang bentuknya berubah.
Kunci itu terbagi menjadi dua bagian.
Satu bagian berada di tangannya.
Bagian lainnya
terbang menuju pintu-pintu manusia.
Suara gunung berkata:
“Pertolongan sejati memiliki dua kunci.
Satu dipegang oleh orang yang menolong,
satu lagi oleh orang yang bersedia ditolong.
Tanpa keduanya,
pintu tidak akan terbuka.”
Di kejauhan,
sebuah pintu emas mulai bersinar.
Pintu itu jauh lebih besar
daripada semua pintu lainnya.
Pada permukaannya
terukir sembilan naga
mengelilingi matahari hitam.
Dari baliknya terdengar
ribuan manusia meneriakkan satu nama:
“Guru!”
“Pemimpin!”
“Tunjukkan jalan!”
“Selamatkan kami!”
Pengembara mendekati pintu emas.
Semakin dekat ia berjalan,
semakin indah suara pujian itu.
Mereka menyebutnya bijaksana.
Mereka mengatakan hanya dirinya
yang mampu membuka jalan.
Mereka berjanji akan mengikuti
setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Di hadapan pintu tersebut
berdiri seekor naga putih
dengan sisik seperti mutiara.
Naga itu menundukkan kepala.
“Kami telah menunggumu,” katanya.
“Di balik pintu ini terdapat negeri
yang kehilangan arah.
Mereka membutuhkan seorang pemimpin
yang tidak pernah salah.”
Pengembara menjawab:
“Tidak ada manusia
yang tidak pernah salah.”
Naga putih tersenyum.
“Maka jadilah lebih daripada manusia.”
Matahari hitam pada pintu
mulai berputar.
Dari pusatnya keluar
sebuah jubah putih,
tongkat giok,
dan mahkota bercahaya.
“Kenakan semua ini,” kata sang naga.
“Begitu engkau melewati pintu,
keraguanmu akan lenyap.
Setiap ucapanmu akan dianggap kebenaran.
Tidak seorang pun berani menentangmu.”
Pengembara memandang mahkota tersebut.
Tidak seperti mahkota hitam
yang dahulu menawarkan kekuasaan,
mahkota ini tampak suci.
Tidak dihiasi emas,
melainkan aksara-aksara kebajikan.
Pada bagian depannya tertulis:
Kasih sayang.
Pada sisi kanan:
Pengabdian.
Pada sisi kiri:
Kebijaksanaan.
Namun ketika pengembara melihat lebih dekat,
di bagian dalam mahkota
terdapat duri-duri kecil
yang bertuliskan:
Aku paling mengetahui.
Aku tidak boleh dibantah.
Mereka tidak dapat berjalan tanpaku.
Pengembara mundur satu langkah.
Naga putih berkata:
“Mengapa ragu?
Bukankah engkau telah menaklukkan egomu?”
“Ego tidak selalu berpakaian hitam,”
jawab pengembara.
“Kadang ia mengenakan jubah putih
dan berbicara atas nama kebaikan.”
Senyum naga putih menghilang.
Tubuhnya mulai berubah.
Sisik putihnya terkelupas,
memperlihatkan kulit gelap
yang dipenuhi mata.
Setiap mata menatap pengembara
dengan pujian, harapan,
ketergantungan, dan ketakutan.
“Tanpa seorang pemimpin mutlak,”
geram makhluk itu,
“manusia akan saling menghancurkan!”
Pengembara mengangkat kunci giok.
“Pemimpin dapat menunjukkan arah,
tetapi tidak boleh merampas
kemampuan manusia untuk berpikir.”
“Mereka meminta untuk dipimpin!”
“Mereka boleh meminta bimbingan,
tetapi aku tidak berhak
menjadikan ketakutan mereka
sebagai takhta bagi diriku.”
Makhluk itu meraung.
Pintu emas terbuka dengan keras.
Di baliknya terlihat negeri luas
yang dipenuhi ribuan manusia berjubah putih.
Mereka berdiri dalam barisan sempurna.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang bertanya.
Semua menatap satu singgasana kosong.
Di samping singgasana
berdiri seorang gadis kecil
memegang bunga merah.
Ia adalah satu-satunya manusia
yang tidak mengenakan jubah putih.
“Mengapa kau tidak ikut berbaris?”
tanya pengembara.
Gadis itu menjawab:
“Karena aku mempunyai pertanyaan.”
Seluruh manusia berjubah putih
menoleh kepadanya bersamaan.
Makhluk bermata banyak berbisik:
“Suruh dia diam.
Satu pertanyaan dapat merusak
seluruh ketertiban negeri.”
Pengembara memasuki pintu.
Ia berjalan melewati barisan manusia
menuju gadis tersebut.
“Apa pertanyaanmu?”
Gadis itu mengangkat bunga merah.
“Mengapa bunga ini berbeda
dari semua bunga putih di negeri kami?”
Para penjaga menghunus pedang.
Makhluk bermata banyak berteriak:
“Jangan jawab!
Perbedaan adalah awal kekacauan!”
Pengembara berlutut
agar wajahnya sejajar dengan gadis itu.
Ia memandang bunga merah cukup lama.
Kemudian berkata:
“Aku belum mengetahui jawabannya.
Mari kita mencarinya bersama.”
Saat kalimat itu terucap,
bunga merah mekar.
Serbuk sarinya terbawa angin
dan hinggap pada jubah-jubah putih.
Seketika itu pula,
warna mulai muncul di seluruh negeri.
Ada jubah biru.
Hijau.
Kuning.
Ungu.
Jingga.
Manusia-manusia yang semula diam
mulai saling memandang.
Seseorang bertanya:
“Mengapa kita harus selalu berbaris?”
Yang lain bertanya:
“Mengapa singgasana harus ditempati
oleh satu orang?”
Seorang tua berkata:
“Mengapa selama ini
kita takut kepada pertanyaan?”
Suara mereka semakin banyak.
Bukan suara kekacauan,
melainkan suara kehidupan
yang mulai berpikir kembali.
Makhluk bermata banyak mengamuk.
Ia mencoba menutup pintu emas,
tetapi ribuan manusia
menahannya bersama-sama.
Mahkota putih pecah.
Tongkat giok berubah menjadi ranting.
Jubah suci terbakar
tanpa mengeluarkan asap.
Makhluk itu menatap pengembara.
“Engkau telah menghancurkan
kesempatanmu menjadi guru tertinggi!”
Pengembara menjawab:
“Guru yang takut kepada pertanyaan
mungkin hanya seorang tahanan
yang menjaga penjaranya sendiri.”
Makhluk itu menjerit,
kemudian berubah menjadi burung kecil
dengan sayap patah.
Burung tersebut jatuh
di hadapan gadis pembawa bunga merah.
Gadis itu mengangkatnya perlahan.
“Apakah ia jahat?”
tanyanya.
Pengembara memandang burung itu.
“Ia mungkin terlalu takut
melihat manusia berjalan tanpa dirinya.”
Gadis tersebut membalut sayap burung
dengan sehelai kain merah.
Negeri itu pun kembali hidup.
Namun pengembara tidak tinggal
untuk menjadi pemimpinnya.
Ia menyerahkan setengah kunci giok
kepada gadis kecil.
“Simpanlah ini.”
“Untuk membuka pintu apa?”
“Pintu yang akan kalian pilih bersama.
Jangan berikan seluruh kunci
kepada satu tangan.”
Setelah keluar dari negeri itu,
pengembara melihat bahwa ribuan pintu
mulai berubah menjadi bintang.
Setiap manusia yang berani
memegang bagian kuncinya sendiri
membuat satu pintu naik ke langit.
Namun di antara semua pintu
masih tersisa satu pintu terakhir.
Pintu itu tidak berdiri di lereng gunung.
Ia melayang tepat di atas puncaknya.
Warnanya hitam dan putih bersamaan,
seolah malam dan siang
bertemu pada satu permukaan.
Tidak terdapat lubang kunci.
Tidak ada ukiran.
Hanya satu kalimat:
“Pintu ini terbuka
bagi mereka yang bersedia mengabdi
tanpa memiliki orang yang dilayaninya.”
Pengembara tidak memahami maksudnya.
Ia telah belajar mendengarkan.
Ia telah belajar menolong
tanpa menguasai.
Ia telah belajar beristirahat,
meminta pertolongan,
dan menolak mahkota kesucian.
Namun bagaimana mungkin seseorang mengabdi
tanpa memiliki siapa pun untuk dilayani?
Suara tua dari puncak
kembali terdengar:
“Selama engkau menganggap
mereka sebagai manusia yang berada di bawahmu,
pengabdianmu masih memiliki singgasana.”
“Lalu kepada siapa aku mengabdi?”
“Kepada kehidupan yang dititipkan Alloh,
tanpa merendahkan dirimu
dan tanpa meninggikan dirimu.”
Pengembara menatap pintu itu.
Ia meletakkan pedang bening,
kunci giok, jubah,
dan seluruh bekal perjalanannya.
Kemudian ia berdiri
tanpa gelar, pusaka, dan perlindungan.
“Aku tidak datang sebagai penyelamat,”
katanya.
Pintu tetap tertutup.
“Aku tidak datang sebagai manusia
yang paling mengetahui.”
Pintu belum bergerak.
“Aku datang sebagai sesama pengembara
yang bersedia berjalan, mendengarkan,
menolong semampunya,
menerima pertolongan ketika lemah,
serta meninggalkan hasil akhirnya
dalam kuasa Alloh.”
Pintu bergetar.
Cahaya muncul dari sekelilingnya.
Tetapi sebelum terbuka,
langit gunung terbelah.
Dari balik awan turun
sebuah kapal raksasa berwarna merah tua.
Layar-layarnya robek.
Tiangnya dipenuhi panah.
Di lambungnya terukir lambang
ikan emas dan phoenix.
Kapal itu pernah tenggelam
bersama kerajaan dasar laut.
Namun kini ia terbang di antara awan.
Di geladaknya berdiri
sosok berjubah panjang
dengan wajah tertutup kipas hitam.
Di belakangnya terdapat sembilan peti mati
yang masing-masing dirantai
dengan rantai bercahaya biru.
Sosok itu menutup kipasnya
dan berkata kepada pengembara:
“Jangan buka pintu terakhir.”
“Siapakah engkau?”
“Aku adalah nakhoda
yang dahulu membawa nama kerajaan
keluar dari dasar lautan.”
“Bukankah nama terakhir kerajaan
telah dikembalikan?”
Nakhoda itu tertawa pelan.
“Yang kau temukan di dalam peti merah
hanyalah nama yang menyelamatkan rakyat.”
Ia menunjuk sembilan peti mati
di belakangnya.
“Di dalam peti-peti ini
tersimpan sembilan nama
yang dapat menghancurkan dunia.”
Angin berhenti.
Bintang-bintang pintu
padam satu demi satu.
Dari dalam kesembilan peti
terdengar ketukan bersamaan.
Tok.
Rantai pertama retak.
Tok.
Rantai kedua terlepas.
Tok.
Salah satu tutup peti
mulai terbuka.
Nakhoda mengangkat kipas hitamnya.
“Gunung pengabdian telah mengujimu
dengan penderitaan manusia.”
Ia menatap pengembara
dengan mata keperakan.
“Sekarang engkau akan diuji
oleh manusia-manusia
yang tidak menginginkan pertolongan—
melainkan ingin menguasai cahaya
yang baru saja kau bangunkan.”
Dari dalam peti pertama
keluar sebuah tangan pucat
yang memakai cincin berbentuk matahari hitam.
Pintu terakhir di puncak gunung
terbuka dengan sendirinya.
Namun di baliknya
tidak terlihat jalan menuju cahaya.
Yang tampak hanyalah
sebuah samudra merah
dan sembilan pulau berbentuk mahkota.
Pengembara mengambil kembali
pedang beningnya.
Bukan untuk menyerang,
tetapi untuk menjaga dirinya
agar tidak kembali dikuasai
oleh kemarahan, ketakutan,
dan keinginan menjadi pahlawan.
Kapal merah menurunkan tangga.
Nakhoda berkata:
“Naiklah, pengembara.
Perjalanan ke gunung telah selesai.”
Lalu kesembilan peti mati
mulai terbuka bersamaan.
“Kini perjalanan menuju
sembilan lautan terlarang
akan segera dimulai.”
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Keenam — Kapal Merah dan Sembilan Lautan Terlarang
Kesembilan peti mati terbuka bersamaan.
Suara retaknya mengguncang langit,
seperti sembilan gunung es
yang pecah pada malam tanpa bulan.
Dari peti pertama
muncul tangan pucat
bercincin matahari hitam.
Dari peti kedua
terdengar suara seorang perempuan
menyanyikan lagu pengantar tidur
dengan bahasa yang telah punah.
Dari peti ketiga
keluar asap berwarna ungu
yang membentuk wajah-wajah para raja.
Peti keempat dipenuhi air laut,
namun airnya mengalir ke atas
dan jatuh menuju langit.
Peti kelima berisi ribuan cermin kecil
yang semuanya memperlihatkan
wajah sang pengembara
dengan kehidupan berbeda.
Peti keenam mengeluarkan
bunyi lonceng dari kota-kota
yang belum pernah dibangun.
Peti ketujuh begitu gelap
hingga cahaya di sekitarnya
seolah ditelan tanpa sisa.
Peti kedelapan dipenuhi bunga putih
yang mekar, layu,
kemudian mekar kembali
dalam satu tarikan napas.
Sedangkan dari peti kesembilan
tidak keluar apa pun.
Tidak ada tangan.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Hanya kehampaan
yang membuat seluruh dunia
seakan lupa bagaimana caranya bergerak.
Nakhoda berjubah panjang
mengangkat kipas hitamnya.
Sembilan lembar kertas merah
terbang dari balik kipas,
menempel pada masing-masing peti.
Di setiap kertas
tertulis satu aksara bercahaya:
Hasrat.
Ketakutan.
Pujian.
Pengetahuan.
Kekuasaan.
Kesedihan.
Kemarahan.
Keabadian.
Kehampaan.
“Inilah sembilan nama terlarang,”
kata sang nakhoda.
“Bukan karena kata-katanya jahat,
melainkan karena manusia sering
menyerahkan seluruh hidupnya kepada satu nama.”
Pengembara memandang peti pertama.
“Apakah makhluk di dalamnya
dahulu manusia?”
Nakhoda menutup kipasnya.
“Mereka pernah menjadi penjaga.
Mereka ditugaskan membawa
sembilan kekuatan manusia
agar tidak menguasai kerajaan.”
“Lalu mengapa dikurung?”
“Karena satu demi satu
mereka mulai menganggap kekuatan
sebagai jati diri.”
Penjaga Hasrat
tidak lagi menggunakan keinginan
untuk menuntun langkah.
Ia menjadi keinginan itu sendiri.
Penjaga Ketakutan
tidak lagi memakai rasa takut
untuk membaca bahaya.
Ia menjadikan ketakutan
sebagai mata yang melihat
ancaman di setiap arah.
Penjaga Pengetahuan
tidak lagi belajar
untuk memahami kehidupan.
Ia mengumpulkan rahasia
agar semua manusia bergantung
kepada ucapannya.
Penjaga Keabadian
begitu takut kehilangan dirinya
hingga ia mengorbankan
kehidupan orang lain
agar namanya tidak pernah lenyap.
Pengembara menggenggam pedang bening.
“Apakah mereka harus dimusnahkan?”
Nakhoda menatapnya tajam.
“Tidak ada satu pun
dari sembilan kekuatan itu
yang boleh dimusnahkan.”
“Mengapa?”
“Tanpa hasrat, manusia tidak bergerak.
Tanpa rasa takut, ia tidak mengenali bahaya.
Tanpa pujian, hati kadang kehilangan semangat.
Tanpa pengetahuan, ia berjalan tanpa arah.
Tanpa kekuasaan, kebaikan tidak selalu
mampu melindungi yang lemah.
Tanpa kesedihan, manusia tidak memahami kehilangan.
Tanpa kemarahan, ia tidak selalu bangkit
melawan ketidakadilan.
Tanpa kerinduan akan keabadian,
ia mungkin tidak menanam warisan.
Dan tanpa ruang kehampaan,
tidak ada tempat bagi sesuatu yang baru.”
Angin merah berputar
mengelilingi kapal.
“Masalahnya bukan kekuatan itu,”
lanjut sang nakhoda.
“Masalahnya dimulai
ketika satu kekuatan duduk di singgasana
dan menyatakan dirinya sebagai seluruh manusia.”
Tiba-tiba tangan pucat
dari peti pertama
mencengkeram rantai biru.
Rantai itu patah.
Seorang lelaki bertubuh tinggi
bangkit dari dalam peti.
Wajahnya sangat rupawan,
rambutnya berwarna perak,
dan jubahnya terbuat
dari serpihan matahari terbenam.
Pada dahinya terdapat lambang
sembilan lingkaran yang saling menelan.
Ia mengangkat tangan.
Sekejap kemudian,
seluruh benda yang pernah diinginkan
oleh sang pengembara
muncul di atas geladak.
Mahkota kerajaan dasar laut.
Singgasana gunung pertama.
Kunci giok yang sempurna.
Kapal-kapal emas.
Kitab-kitab rahasia.
Pedang yang tidak dapat dikalahkan.
Rumah tenang di tepi danau.
Wajah-wajah orang yang pernah pergi.
Mereka semua berdiri
di hadapan pengembara,
seolah belum pernah meninggalkannya.
Lelaki berjubah senja tersenyum.
“Aku adalah Sang Hasrat,” katanya.
“Aku bukan musuh.
Tanpaku, engkau tidak akan pernah
meninggalkan rumahmu,
menyeberangi lautan,
atau mendaki gunung.”
Pengembara tidak membantah.
“Benar.
Aku bergerak karena menginginkan sesuatu.”
“Maka mengapa engkau selalu
berpura-pura melepaskanku?”
“Aku tidak ingin melepaskan seluruh hasrat.
Aku hanya tidak ingin diperbudak olehnya.”
Sang Hasrat tertawa.
“Manusia selalu mengatakan itu
setelah mendapatkan apa yang diinginkan.”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Dari awan turun
seribu tangga emas
menuju singgasana yang melayang.
Di atasnya berdiri
orang-orang yang pernah ditemui pengembara.
Mereka bertepuk tangan.
“Duduklah,” kata Sang Hasrat.
“Tidak ada dosa dalam keberhasilan.
Tidak ada kehinaan dalam kemuliaan.
Engkau telah berjalan lebih jauh
daripada kebanyakan manusia.
Bukankah sudah selayaknya
dunia memberimu balasan?”
Pengembara memandang singgasana.
Untuk sesaat,
ia tidak menemukan sesuatu yang salah.
Bukankah kerja keras
memang pantas mendapatkan hasil?
Bukankah pengorbanan
memang pantas dihargai?
Bukankah menolak semua hadiah
dapat pula berubah
menjadi kesombongan yang tersembunyi?
Sang Hasrat mendekat.
“Aku tidak memintamu menjadi kejam.
Aku hanya menawarkan segala sesuatu
yang pernah tertunda.”
Wajah seorang perempuan
muncul di antara cahaya.
Ia adalah seseorang
yang pernah dicintai pengembara,
tetapi hilang sebelum mereka
sempat mengucapkan perpisahan.
Perempuan itu mengulurkan tangan.
“Pulanglah,” katanya.
“Tidak perlu meneruskan perjalanan.
Kita dapat hidup tenang
tanpa gunung, peti,
dan kerajaan yang menuntut pengorbanan.”
Dada pengembara terasa sesak.
Langkahnya bergerak
menuju tangga emas.
Namun pedang bening
di tangannya mulai bergetar.
Pada bilahnya muncul tulisan:
“Jangan bertanya apakah sesuatu itu indah.
Tanyakanlah harga apa
yang diminta keindahan itu.”
Pengembara berhenti.
Ia menatap perempuan tersebut.
“Apa harga yang harus kubayar?”
Perempuan itu diam.
Sang Hasrat menjawab:
“Hanya masa depanmu.
Tinggalkan perjalanan ini,
dan segala yang hilang
akan kukembalikan.”
“Apakah mereka benar-benar kembali?”
“Ingatan tidak membutuhkan kebenaran
untuk terasa nyata.”
Mendengar kalimat itu,
pengembara memahami.
Ia mendekati perempuan tersebut,
namun tidak menyentuh tangannya.
“Aku mencintai kenangan tentangmu,” katanya,
“tetapi aku tidak berhak
mengubah kenangan menjadi penjara.”
Wajah perempuan itu tersenyum.
Tubuhnya berubah
menjadi kelopak bunga merah
dan terbawa angin.
Tangga emas retak.
Singgasana pecah.
Sang Hasrat mengerutkan kening.
“Apakah engkau menolak kebahagiaan?”
“Tidak.
Aku hanya menolak kebahagiaan
yang meminta seluruh hidupku
untuk tinggal dalam masa lalu.”
Sang Hasrat mengayunkan lengan.
Kapal merah terguncang.
Dari balik awan muncul
seribu benda lain:
Kekayaan.
Kemasyhuran.
Kemampuan menyembuhkan segala penyakit.
Kesanggupan membaca isi hati manusia.
Kekuatan menghidupkan mereka yang telah mati.
Dan satu kitab
yang menjanjikan jawaban
atas seluruh rahasia dunia.
“Pilih satu saja,” kata Sang Hasrat.
“Manusia yang tidak mempunyai keinginan
hanyalah batu.”
Pengembara menatap semuanya.
Lalu menjawab:
“Aku tetap memiliki keinginan.
Aku ingin hidup dengan sadar.
Aku ingin menolong tanpa menguasai.
Aku ingin mencintai tanpa memiliki.
Aku ingin berjalan tanpa menjadikan tujuan
sebagai alasan menyakiti orang lain.”
Cahaya di tubuh Sang Hasrat meredup.
“Itu pun hasrat.”
“Benar.”
“Maka engkau belum mengalahkanku.”
“Aku tidak datang untuk mengalahkanmu.”
Pengembara mengulurkan tangan.
“Berjalanlah bersamaku,
tetapi jangan duduk di atas kepalaku.”
Sang Hasrat terdiam.
Untuk pertama kalinya,
wajahnya memperlihatkan kelelahan.
“Selama ribuan tahun,” katanya,
“manusia hanya melakukan dua hal kepadaku.
Mereka menyembahku
atau berusaha membunuhku.”
“Aku pun pernah melakukan keduanya.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingin mendengarmu
tanpa harus menuruti semua permintaanmu.”
Sang Hasrat memandang tangan itu.
Perlahan ia menyentuhnya.
Tubuhnya berubah menjadi
seutas benang merah
yang melilit pergelangan tangan pengembara.
Bukan sebagai rantai,
melainkan sebagai pengingat
bahwa setiap perjalanan membutuhkan tujuan,
namun tujuan tidak boleh
menghalalkan segala cara.
Peti pertama runtuh menjadi debu.
Kertas bertuliskan Hasrat
terbang menuju pedang bening
dan menyatu pada gagangnya.
Nakhoda mengangguk.
“Satu nama telah kembali
ke tempat yang semestinya.”
Namun sebelum pengembara bertanya,
peti kedua terbuka lebar.
Lagu pengantar tidur
berubah menjadi jeritan.
Kabut putih menyelimuti kapal.
Dari kabut itu
muncul seorang perempuan tua
memakai gaun berwarna bulan.
Matanya tertutup kain hitam,
tetapi pada telapak tangannya
terdapat seratus mata kecil.
Setiap mata memandang
ke arah berbeda.
“Aku adalah Sang Ketakutan,” katanya.
“Dan aku telah menunggumu
sejak sebelum engkau dilahirkan.”
Kabut semakin tebal.
Kapal merah menghilang.
Pengembara berdiri seorang diri
di tengah lorong sempit.
Dinding lorong terbuat
dari kejadian-kejadian buruk
yang belum pernah terjadi.
Ia melihat dirinya jatuh dari gunung.
Ia melihat kapal karam.
Ia melihat seluruh orang
yang dipercayainya mengkhianatinya.
Ia melihat kerajaan dasar laut
kembali menjadi batu.
Ia melihat penduduk negeri berjubah putih
saling membunuh setelah ia pergi.
Ia melihat dirinya menjadi tua,
sendirian,
dan dilupakan.
Ia melihat orang-orang
menyebut seluruh perjalanannya sia-sia.
Setiap gambaran terasa nyata.
Sang Ketakutan berjalan di sampingnya.
“Aku hanya memperlihatkan kemungkinan,”
katanya.
“Apakah salah bila aku melindungimu
dari sesuatu yang dapat terjadi?”
Pengembara menyentuh dinding.
Salah satu bayangan memperlihatkan
dirinya sedang diserang
oleh orang-orang yang dahulu ditolongnya.
“Mungkin ini benar-benar dapat terjadi,”
katanya.
“Tentu.”
“Mungkin aku akan gagal.”
“Tentu.”
“Mungkin aku kehilangan semuanya.”
“Tentu.”
Lorong semakin sempit.
“Lalu mengapa aku harus terus berjalan?”
Sang Ketakutan tersenyum.
“Tidak perlu.
Duduklah di sini.
Orang yang tidak bergerak
tidak akan pernah tersesat.”
Di ujung lorong muncul
sebuah kamar kecil.
Di dalamnya terdapat ranjang hangat,
makanan, air,
dan pintu berlapis sembilan.
Tidak ada ancaman di sana.
Tidak ada perjalanan.
Tidak ada kehilangan.
Namun tidak ada pula jendela.
Pengembara memasuki kamar itu.
Untuk pertama kalinya
setelah sekian lama,
ia merasa sangat aman.
Tidak ada suara meminta bantuan.
Tidak ada peti yang terbuka.
Tidak ada pilihan sulit.
Ia berbaring.
Hari pertama terasa damai.
Hari kedua terasa ringan.
Hari ketiga,
ia mulai lupa suara laut.
Hari ketujuh,
ia lupa wajah anak
yang belajar menaiki tangga.
Hari ketiga puluh,
ia lupa mengapa dahulu
menolak singgasana.
Pada hari keseratus,
ia menatap dinding
dan tidak lagi mengingat namanya sendiri.
Hanya benang merah di pergelangan tangannya
yang masih memancarkan cahaya.
Benang Sang Hasrat berbisik:
“Keinginan untuk hidup
belum sepenuhnya mati.”
Pengembara terbangun.
Ia memandang sembilan lapis pintu.
Sang Ketakutan duduk di sudut kamar.
“Di luar sana berbahaya,” katanya lembut.
“Tidak ada yang salah
dengan tinggal selamanya.”
“Apakah aku benar-benar aman di sini?”
“Tidak ada sesuatu pun
yang dapat masuk.”
“Tetapi aku pun tidak dapat keluar.”
Sang Ketakutan tidak menjawab.
Pengembara berdiri.
Ia membuka pintu pertama.
Dari luar terdengar raungan badai.
Ia gemetar.
Pintu kedua dibuka.
Terdengar suara kegagalan.
Pintu ketiga dibuka.
Terdengar suara penolakan.
Pintu keempat dibuka.
Terdengar tangisan kehilangan.
Setiap pintu membuat tubuhnya
semakin dingin.
Pada pintu kedelapan,
ia hampir kembali ke ranjang.
Sang Ketakutan berbisik:
“Keberanian bukan milikmu.
Engkau hanya beruntung selama ini.”
Pengembara menjawab:
“Mungkin benar.
Tetapi keberanian bukan ketiadaan takut.
Keberanian adalah tetap membuka pintu
meski tangan masih gemetar.”
Ia membuka pintu kesembilan.
Badai menerjang tubuhnya.
Namun setelah satu langkah,
ia kembali berada di geladak kapal merah.
Tidak ada seratus hari berlalu.
Hanya satu tarikan napas.
Sang Ketakutan berdiri di hadapannya.
“Engkau tidak dapat menyingkirkanku,” katanya.
“Aku tidak ingin menyingkirkanmu.”
“Lalu apa yang kauinginkan?”
“Berbisiklah ketika ada bahaya.
Tetapi jangan menulis seluruh masa depanku
hanya dari sesuatu yang belum terjadi.”
Perempuan tua membuka kain
yang menutupi matanya.
Ternyata kedua matanya
bukan mata manusia.
Yang satu melihat masa lalu.
Yang lain melihat kemungkinan.
Namun tidak ada mata
yang mampu melihat saat ini.
Pengembara mengangkat tangannya
dan menyentuh dahi perempuan itu.
Di tengah dahinya
muncul mata ketiga.
Mata itu melihat
apa yang sedang benar-benar terjadi.
Perempuan tua menangis.
“Aku selalu memandang
luka yang telah terjadi
dan bencana yang mungkin datang.
Aku tidak pernah melihat
bahwa pada saat ini
engkau masih berdiri.”
Tubuhnya berubah menjadi
sebuah lonceng kecil berwarna perak.
Lonceng itu menggantung
di pinggang pengembara.
Ia akan berbunyi ketika bahaya nyata mendekat,
tetapi tetap diam
ketika pikiran hanya sedang
menciptakan bayangan.
Peti kedua runtuh.
Kertas bertuliskan Ketakutan
menyatu pada sarung pedang.
Namun kemenangan itu
tidak membawa ketenangan.
Peti ketiga, keempat, dan kelima
terbuka bersamaan.
Asap ungu memenuhi langit.
Ribuan cermin terbang
mengelilingi kapal.
Lonceng-lonceng kota tak terlihat
berbunyi dari balik awan.
Tiga sosok bangkit.
Yang pertama adalah pemuda
berpakaian indah
dengan mahkota dari lidah manusia.
Yang kedua adalah seorang cendekia
membawa kitab tanpa akhir.
Yang ketiga adalah ratu
duduk di kursi beroda emas,
diikuti ribuan prajurit tanpa wajah.
Nakhoda berkata:
“Pujian, Pengetahuan, dan Kekuasaan
jarang datang sendirian.
Ketiganya saling memberi makan.”
Pemuda bermahkota lidah
membungkuk kepada pengembara.
“Aku adalah Sang Pujian.
Aku hanya mengatakan
apa yang orang lain kagumi darimu.”
Cendekia membuka kitab.
“Aku adalah Sang Pengetahuan.
Aku menyimpan jawaban
yang dapat membuatmu tidak pernah ragu.”
Ratu mengangkat tongkat.
“Aku adalah Sang Kekuasaan.
Aku mampu menjadikan setiap jawabanmu
sebagai perintah.”
Ketiganya berkata bersamaan:
“Kami tidak akan melawanmu.
Kami ingin melayanimu.”
Di atas kapal muncul
sebuah balairung besar.
Ribuan manusia duduk
menunggu pengembara berbicara.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya
langsung ditulis
pada lembaran emas.
Ketika ia berkata,
“Air mengalir menuju tempat rendah,”
semua manusia bersujud.
Ketika ia berkata,
“Bulan tampak pada malam hari,”
mereka menangis karena kagum.
Ketika ia terdiam,
mereka menyebut diamnya
sebagai rahasia tertinggi.
Pengembara merasa tidak nyaman.
“Mengapa mereka memuji
hal-hal yang biasa?”
Sang Pujian tersenyum.
“Karena yang berbicara adalah engkau.”
Cendekia memberikan kitab.
“Bacalah satu halaman.
Setelah itu engkau akan memahami
bahasa seluruh makhluk.”
Pengembara membaca.
Ia mendengar percakapan ikan.
Mendengar batu mengingat hujan.
Mendengar gunung menyimpan gema.
Mendengar jantung manusia
menyembunyikan kebohongan.
Setiap halaman membuka rahasia baru.
Semakin banyak ia mengetahui,
semakin mudah dirinya
menjawab semua pertanyaan.
Orang-orang mulai datang
dari berbagai negeri.
Mereka bertanya tentang cinta,
kematian, rezeki,
perang, penyakit,
dan kehidupan setelah kehilangan.
Pengembara selalu mempunyai jawaban.
Ratu Kekuasaan berdiri di sampingnya.
“Jawaban tanpa kuasa
hanya menjadi angin,” katanya.
“Berikan perintah
agar manusia menjalankan kebenaranmu.”
Maka pengembara mulai membuat aturan.
Pada mulanya aturan itu sederhana:
Jangan menyakiti yang lemah.
Jangan mengambil milik orang lain.
Dengarkan sebelum menghakimi.
Negeri menjadi tertib.
Manusia merasa aman.
Sang Pujian menyebarkan kisahnya.
Sang Pengetahuan menambah kitabnya.
Sang Kekuasaan memperluas pengaruhnya.
Namun suatu hari,
seorang petani menolak aturan
yang dibuat pengembara.
“Mengapa?” tanya pengembara.
Petani itu menjawab:
“Karena tanah kami berbeda.
Aturan yang menyelamatkan negeri sebelah
justru mengeringkan sawah kami.”
Pengembara hendak mendengarkan.
Tetapi Sang Pengetahuan berbisik:
“Engkau telah membaca seribu kitab.
Petani itu hanya mengenal satu sawah.”
Sang Pujian berkata:
“Bila engkau mengubah keputusan,
orang akan menganggapmu ragu.”
Sang Kekuasaan menambahkan:
“Keraguan seorang pemimpin
dapat menimbulkan pemberontakan.”
Maka pengembara menolak petani itu.
Musim berikutnya,
sawah-sawah mengering.
Petani kembali datang.
“Lihatlah sendiri,” katanya.
Namun pengembara tidak mau turun
dari balairung.
Sang Pengetahuan membawakan peta.
Sang Pujian membawa penyair
yang menyanyikan keberhasilan.
Sang Kekuasaan mengusir
mereka yang membawa kabar buruk.
Hari demi hari,
balairung semakin tinggi.
Tanah di bawahnya semakin retak.
Hingga pada suatu malam,
seorang anak melemparkan batu
ke jendela istana.
Batu itu mengenai kitab.
Seribu halaman robek.
Dari lubang jendela,
pengembara melihat negeri
yang selama ini tidak pernah ia lihat sendiri.
Rakyat kelaparan.
Sungai kering.
Orang-orang takut menyampaikan kebenaran
karena setiap pertanyaan
dianggap penghinaan.
Pengembara berdiri dengan marah.
“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”
Sang Pujian menjawab:
“Kami hanya menyampaikan
hal-hal yang membuatmu tetap kuat.”
Sang Pengetahuan berkata:
“Data di dalam kitab
menunjukkan semuanya berjalan baik.”
Sang Kekuasaan berkata:
“Orang yang mengeluh
telah kami diamkan
agar ketertiban tetap terjaga.”
Pengembara menatap ketiganya.
“Kalian berkata ingin melayaniku.”
“Kami memang melayanimu,”
jawab mereka bersamaan.
Barulah ia memahami:
Mereka melayani keinginannya
untuk selalu benar,
bukan kebenaran itu sendiri.
Pengembara turun dari balairung.
Sang Pujian mengejarnya.
“Bila engkau meminta maaf,
wibawamu akan runtuh!”
Pengembara melepas mahkota lidah
dan menjatuhkannya.
“Wibawa yang hanya bertahan
karena aku tidak pernah mengakui kesalahan
bukanlah wibawa,
melainkan ketakutan yang dihias.”
Sang Pengetahuan menghadangnya.
“Tanpa seluruh jawabanku,
engkau akan kembali bodoh.”
Pengembara menutup kitab.
“Mengetahui bahwa aku belum tahu
lebih jujur daripada menggunakan pengetahuan
untuk menutupi kenyataan.”
Sang Kekuasaan menghunus pedang.
“Tanpa aku, semua orang
akan mengabaikanmu.”
Pengembara menyerahkan tongkat kerajaan
kepada para petani.
“Kekuasaan diperlukan,
tetapi ia harus dapat diperiksa,
dibatasi,
dan dikembalikan kepada mereka
yang menerima akibatnya.”
Balairung retak.
Ribuan manusia berdiri.
Pengembara turun ke tanah
dan berjalan menuju sawah yang kering.
Ia mendengarkan petani.
Memeriksa aliran air.
Membuka kembali keputusan.
Sebagian orang mengejeknya.
Sebagian kehilangan kepercayaan.
Sebagian justru mulai berani
mengatakan kenyataan.
Sang Pujian kehilangan mahkotanya.
Ia berubah menjadi
sehelai pita emas kecil.
Pengembara mengikatnya
pada lengan kiri.
Pujian boleh diterima sebagai penguat,
namun tidak dijadikan cermin utama.
Sang Pengetahuan menutup kitab tanpa akhir.
Kitab itu menyusut
menjadi sebuah buku kosong.
Pengembara menyimpannya.
Setiap halaman baru
hanya akan terisi
setelah ia melihat, mendengar,
dan menguji kenyataan.
Sang Kekuasaan melepaskan jubah kerajaan.
Ia berubah menjadi kunci besi sederhana.
Kunci itu tidak membuka singgasana,
melainkan gudang, bendungan,
pintu rumah sakit,
dan ruang tempat keputusan dibuat.
“Gunakan aku untuk melayani,”
katanya,
“bukan untuk menjadikan dirimu
kebal dari pertanyaan.”
Tiga peti runtuh.
Tiga kertas terbang
menyatu dengan pedang:
Pujian pada bilah sebelah kiri.
Pengetahuan pada bilah sebelah kanan.
Kekuasaan di dekat ujungnya.
Kini pedang bening
tidak menjadi lebih tajam.
Ia menjadi lebih berat.
Sebab semakin banyak kekuatan diterima,
semakin besar tanggung jawab
untuk tidak menyalahgunakannya.
Kapal merah terus bergerak.
Gunung pengabdian
telah hilang di belakang awan.
Di depan mereka,
samudra merah membentang
tanpa batas.
Sembilan pulau berbentuk mahkota
berdiri jauh di cakrawala.
Namun baru lima peti
yang berhasil ditenangkan.
Empat peti tersisa.
Peti Kesedihan bergetar.
Peti Kemarahan mengeluarkan api.
Peti Keabadian memancarkan
suara ribuan orang
yang terus meneriakkan namanya sendiri.
Sedangkan peti Kehampaan
tetap tidak menunjukkan apa-apa.
Nakhoda berjalan
menuju kemudi kapal.
“Mulai sekarang,” katanya,
“ujian tidak lagi datang
sebagai bayangan di pikiranmu.”
Ia menunjuk lautan merah.
Di permukaannya muncul
ribuan kapal hitam.
Setiap kapal membawa bendera
dengan lambang matahari tanpa cahaya.
Di kapal terbesar
berdiri seseorang memakai zirah emas.
Wajahnya tertutup topeng phoenix terbakar.
Di belakangnya berdiri
pasukan yang tidak mempunyai bayangan.
Sosok itu mengangkat tombak
dan berkata:
“Serahkan sembilan nama terlarang.
Kami akan menggunakannya
untuk membangun dunia
tanpa rasa takut,
tanpa kesedihan,
dan tanpa kematian.”
Pengembara menatap sang nakhoda.
“Siapakah mereka?”
Nakhoda menggenggam kemudi.
“Mereka adalah kerajaan
yang dahulu menenggelamkan
Tiongkok Dasar Laut.”
Lautan merah mulai mendidih.
Dari bawah permukaan
muncul menara-menara hitam.
Pada setiap menara
terikat manusia yang masih hidup,
tetapi wajah mereka tersenyum
seolah tidak merasakan penderitaan.
Sosok bertopeng phoenix
mengangkat tombaknya lebih tinggi.
“Kesedihan membuat manusia lemah.
Kemarahan membuat mereka saling membunuh.
Ketakutan membuat mereka berhenti.
Keinginan membuat mereka serakah.”
Ia menunjuk kesembilan peti.
“Berikan semua itu kepada kami.
Kami akan mencabutnya
dari setiap jiwa manusia.”
Pengembara melihat
pasukan tanpa bayangan.
Mereka tidak merasa takut.
Mereka tidak marah.
Mereka tidak menginginkan apa pun.
Mereka tidak bersedih
ketika temannya jatuh.
Mereka maju tanpa ragu
karena tidak mempunyai sesuatu
yang ingin dilindungi.
“Mereka tampak tenang,”
kata pengembara.
Nakhoda menjawab:
“Batu pun tampak tenang
ketika rumah terbakar.”
Kapal-kapal hitam
mulai mengepung kapal merah.
Peti Kemarahan menghantam tutupnya.
Api merah keluar dari celah.
Dari dalam peti terdengar suara:
“Bukalah aku!
Tanpaku, kau tidak akan mampu melawan!”
Peti Kesedihan menangis:
“Jangan berperang.
Semua yang kau cintai
pada akhirnya akan hilang.”
Peti Keabadian berbisik:
“Menangkan perang ini,
dan namamu akan dikenang selamanya.”
Peti Kehampaan tetap diam.
Namun diamnya terasa
lebih berat daripada seluruh suara.
Nakhoda menyerahkan kemudi
kepada pengembara.
“Pilihlah.”
“Mengapa aku?”
“Karena kapal ini menuju
ke mana pun hati pemegang kemudi condong.”
“Apakah kita harus berperang?”
“Tidak semua serangan harus dijawab
dengan cara yang diinginkan penyerang.”
Kapal hitam pertama
melepaskan anak panah.
Langit dipenuhi ribuan ujung besi.
Pengembara memutar kemudi.
Kapal merah menukik
ke permukaan samudra.
Namun bukannya tenggelam,
kapal itu berubah
menjadi naga merah raksasa.
Layarnya menjadi sayap.
Tiangnya menjadi tanduk.
Lambungnya berubah menjadi sisik.
Pengembara berdiri
di antara kedua mata naga.
Benang Hasrat menyala.
Lonceng Ketakutan berbunyi.
Pita Pujian berkibar.
Buku Pengetahuan terbuka.
Kunci Kekuasaan bergetar.
Lima kekuatan yang telah diterima
bekerja bersama.
Hasrat memberinya tujuan.
Ketakutan menunjukkan arah panah.
Pujian mengingatkan
bahwa orang lain mempercayainya,
namun bukan berarti ia selalu benar.
Pengetahuan membaca pola serangan.
Kekuasaan menggerakkan kapal
agar seluruh awak dapat selamat.
Naga merah terbang
di antara hujan anak panah.
Namun sebuah tombak hitam
menembus sayapnya.
Naga itu meraung.
Salah satu awak kapal jatuh
ke lautan merah.
Pengembara melihatnya tenggelam.
Peti Kesedihan terbuka.
Dari dalamnya keluar
seorang gadis memakai gaun biru gelap.
Rambutnya mengalir
seperti sungai malam.
Di tangannya terdapat mangkuk
yang tidak pernah penuh
meski terus menampung air mata.
Ia berdiri di samping pengembara.
“Sekarang kau membutuhkanku,” katanya.
“Untuk apa?”
“Agar kehilangan itu
tidak berubah menjadi angka.”
Gadis Kesedihan menunjuk
ke arah awak kapal yang tenggelam.
Pengembara mendengar namanya.
Mendengar kisah keluarganya.
Mendengar janji yang belum sempat ditepati.
Hatinya terasa sangat sakit.
“Aku tidak mempunyai waktu untuk menangis,”
katanya.
“Perang masih berlangsung.”
“Tangisan yang ditunda
tidak lenyap,” jawab Sang Kesedihan.
“Ia hanya mencari tempat lain
untuk keluar—
melalui kemarahan, kekerasan,
atau hati yang membatu.”
Pengembara menggenggam kemudi
dengan satu tangan.
Dengan tangan lainnya,
ia menyentuh dada.
Satu tetes air mata jatuh.
Tetes itu berubah
menjadi teratai biru
di permukaan lautan.
Teratai tersebut membuka kelopaknya
dan mengangkat awak kapal
yang tenggelam tadi.
Ia ternyata masih hidup.
Awak kapal lain
menariknya naik.
Sang Kesedihan tersenyum.
“Aku tidak selalu datang
untuk memakamkan sesuatu.
Kadang aku datang
agar manusia menyadari
apa yang masih dapat diselamatkan.”
Tubuhnya berubah menjadi
selendang biru
yang membalut luka naga merah.
Peti Kesedihan runtuh.
Namun pada saat yang sama,
pasukan tanpa bayangan
menaiki tubuh naga.
Mereka menyerang awak kapal.
Api dari peti Kemarahan
meledak.
Seorang pendekar bermata merah
melompat keluar.
Tubuhnya dikelilingi
ribuan pedang api.
“Biarkan aku membakar mereka!”
teriaknya.
Pengembara melihat awaknya terluka.
Darah mengalir.
Rasa marah membanjiri dada.
Pedang bening berubah merah.
Ia mengangkatnya
dan hampir menebas
seluruh kapal hitam sekaligus.
Sang Kemarahan tertawa.
“Akhirnya kau mengakuiku!
Hancurkan mereka
sebelum mereka menghancurkanmu!”
Pengembara memandang musuh.
Di balik topeng mereka,
ia melihat wajah-wajah manusia
yang telah dicabut rasa takut,
kesedihan, dan kehendaknya.
Mereka bukan sepenuhnya penyerang.
Mereka pun tawanan.
“Aku marah,” kata pengembara.
Api membesar.
“Aku marah karena mereka melukai
orang-orang yang kujaga.”
Pedang semakin panas.
“Aku marah karena kehidupan manusia
diperlakukan seperti alat.”
Sang Kemarahan bersorak.
“Maka bunuhlah semuanya!”
Pengembara menatapnya.
“Kemarahanku menunjukkan
bahwa batas telah dilanggar.
Tetapi engkau tidak berhak
menentukan seluruh tindakanku.”
Ia menancapkan pedang
ke punggung naga.
Api merah menyebar,
namun tidak membakar pasukan.
Api itu membakar rantai
yang mengikat bayangan mereka.
Satu demi satu,
bayangan kembali ke tubuh pasukan.
Begitu memiliki bayangan,
mereka mulai merasakan takut.
Mereka menjatuhkan senjata.
Sebagian menangis.
Sebagian melarikan diri.
Sebagian menatap tangannya
seolah baru menyadari
berapa banyak luka yang telah dibuat.
Sang Kemarahan memandang
api yang berubah fungsi.
“Engkau tidak menggunakanku
untuk membalas.”
“Aku menggunakanmu
untuk menghentikan kezaliman.”
“Apa bedanya?”
“Pembalasan ingin musuh merasakan luka.
Ketegasan ingin luka itu berhenti.”
Pendekar bermata merah
menundukkan kepala.
Pedang-pedang api di sekelilingnya
menyatu menjadi satu nyala kecil.
Nyala itu masuk
ke dalam lentera di dada pengembara.
Ia akan menyala
ketika batas harus dijaga,
tetapi tidak membakar
siapa pun tanpa arah.
Peti Kemarahan runtuh.
Tujuh nama telah diterima.
Namun perang belum selesai.
Sosok bertopeng phoenix
berdiri di kapal terbesar.
Ia menatap pasukannya
yang mulai mendapatkan kembali
rasa dan bayangan.
“Kelemahan!” teriaknya.
“Perasaan membuat kalian lemah!”
Ia menghantam tombak
ke geladak.
Seluruh samudra merah membelah.
Dari dasar laut
muncul sebuah kota hitam
berbentuk jam pasir.
Pada puncaknya terdapat
sebuah mahkota raksasa.
Di dalam mahkota itu
terkurung ribuan jiwa
yang terus mengucapkan nama
orang-orang yang telah mati.
Peti Keabadian terbuka.
Seorang raja tua
keluar dengan tubuh
setengah manusia, setengah patung.
Kulitnya dari emas,
namun jantungnya
terbuat dari abu.
“Aku dapat menghentikan kematian,”
katanya kepada pengembara.
“Bukan hanya kematian tubuh,
tetapi kematian nama.”
Ia menunjukkan kota jam pasir.
Di sana patung-patung para raja
berdiri dalam barisan.
Tidak ada satu pun
yang dilupakan.
Setiap nama diucapkan
siang dan malam.
Setiap kisah ditulis kembali.
Setiap wajah dipahat
pada dinding kota.
“Bukankah manusia ingin dikenang?”
tanya Sang Keabadian.
“Bukankah setiap karya
merupakan perlawanan terhadap lenyap?”
Pengembara tidak segera menjawab.
Ia teringat seluruh perjalanan.
Bagaimana bila semua ini
hilang tanpa bekas?
Bagaimana bila tidak seorang pun
mengetahui apa yang telah diperjuangkannya?
Bagaimana bila puisi, kerajaan,
gunung, dan lautan
akhirnya dilupakan?
Sang Keabadian mendekat.
“Berikan darahmu kepada mahkota.
Namamu akan diucapkan
selama dunia masih mempunyai suara.”
“Apa yang terjadi
kepada mereka yang mengucapkannya?”
“Mereka akan hidup
untuk menjaga ingatanmu.”
Pengembara melihat jiwa-jiwa
di dalam mahkota.
Mereka terus mengucapkan nama,
tetapi tidak memiliki kesempatan
menjalani hidupnya sendiri.
“Mereka menjadi tawanan.”
“Mereka menjadi penjaga warisan.”
“Warisan yang membutuhkan
kehidupan orang lain sebagai korban
bukanlah warisan,
melainkan kelaparan yang takut mati.”
Sang Keabadian marah.
“Tanpa ingatan,
seluruh pengorbananmu akan sia-sia!”
Pengembara memandang
teratai biru di lautan.
Teratai itu akan layu.
Kapal akan rusak.
Kota akan berubah.
Nama-nama akan diganti.
Ia merasa sedih,
namun juga tenang.
“Tidak semua kebaikan
harus mengetahui siapa yang menanamnya.”
Mahkota jam pasir retak.
“Aku ingin meninggalkan manfaat,
bukan memaksa dunia
mengingat wajahku.”
Raja emas mengangkat tongkat.
“Lalu engkau rela dilupakan?”
“Aku mungkin takut dilupakan.
Tetapi ketakutanku tidak berhak
merampas masa depan orang lain.”
Tubuh Sang Keabadian
mulai berubah menjadi debu.
Namun sebelum lenyap,
ia bertanya:
“Apakah engkau menolak
seluruh jejak kehidupan?”
“Tidak.
Biarlah jejak menjadi benih,
bukan rantai.”
Raja tua tersenyum.
Debu emasnya berubah
menjadi sekantong benih.
Pengembara menaburkannya
ke samudra merah.
Dari setiap benih
tumbuh pulau kecil.
Di pulau-pulau itu,
orang dapat belajar dari masa lalu
tanpa harus hidup
sebagai budak masa lalu.
Peti Keabadian runtuh.
Kini hanya satu peti tersisa.
Peti Kehampaan.
Semua suara berhenti.
Perang menghilang.
Kapal-kapal hitam lenyap.
Sosok bertopeng phoenix
tidak lagi terlihat.
Samudra merah berubah
menjadi lautan putih tanpa gelombang.
Naga merah kembali
menjadi kapal.
Nakhoda berdiri di haluan.
“Delapan nama telah kembali,” katanya.
“Lalu mengapa semuanya terasa
belum selesai?”
Nakhoda menunjuk peti kesembilan.
“Karena delapan kekuatan
masih dapat kaukenali.
Kehampaan tidak menawarkan apa pun
yang dapat kaupegang.”
Pengembara mendekati peti terakhir.
Tidak ada tutup.
Tidak ada dasar.
Ketika ia memandang ke dalam,
ia tidak melihat kegelapan.
Ia tidak melihat cahaya.
Ia tidak melihat dirinya.
Bahkan suara pikirannya
perlahan menghilang.
Benang Hasrat terlepas.
Lonceng Ketakutan diam.
Pita Pujian memudar.
Buku Pengetahuan kehilangan huruf.
Kunci Kekuasaan berubah menjadi debu.
Selendang Kesedihan mengering.
Lentera Kemarahan padam.
Kantong Benih Keabadian kosong.
Satu demi satu,
semua yang telah dipelajarinya
kehilangan makna.
Pengembara bertanya:
“Siapa yang berada di dalam?”
Tidak ada jawaban.
“Apa yang harus kulakukan?”
Tidak ada suara.
Ia menoleh kepada nakhoda.
Namun kapal kosong.
Tidak ada awak.
Tidak ada langit.
Tidak ada lautan.
Tidak ada gunung.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada puisi.
Pengembara berdiri
di suatu tempat
yang tidak dapat disebut tempat.
Ia mencoba mengingat namanya.
Nama itu tidak datang.
Ia mencoba mengingat wajahnya.
Wajah itu hilang.
Ia mencoba mengingat tujuan perjalanan.
Tujuan itu larut.
Untuk pertama kalinya,
tidak ada musuh yang harus dilawan,
tidak ada orang yang harus ditolong,
tidak ada pintu yang harus dibuka,
dan tidak ada ujian
yang harus dimenangkan.
Hanya ada keberadaan
tanpa gelar dan cerita.
Pada mulanya ia merasa tenang.
Kemudian ketakutan muncul.
Bila tidak ada perjalanan,
siapakah dirinya?
Bila tidak ada orang
yang membutuhkan pertolongannya,
apakah hidupnya masih berarti?
Bila seluruh nama, tugas,
pengetahuan, dan pengalaman dilepaskan,
apakah masih tersisa sesuatu
yang dapat disebut “aku”?
Dari kehampaan
muncul suara sangat lembut:
“Engkau telah belajar
menggunakan banyak kekuatan.
Sekarang belajarlah
untuk tidak menjadi apa-apa
selama satu tarikan napas.”
Pengembara mencoba berdoa,
tetapi tidak menemukan kata.
Ia mencoba mengingat petuah,
tetapi tidak menemukan kalimat.
Akhirnya ia berhenti mencoba.
Ia tidak membangun singgasana.
Tidak mencari pintu.
Tidak memanggil cahaya.
Ia hanya bernapas.
Satu tarikan.
Satu hembusan.
Di antara keduanya
terdapat jeda yang sangat kecil.
Dalam jeda itu,
tidak ada keberhasilan
dan tidak ada kegagalan.
Tidak ada tinggi
dan tidak ada rendah.
Tidak ada pujian
dan tidak ada celaan.
Namun kehidupan tetap ada.
Jantung tetap berdetak.
Kesadaran tetap menyaksikan.
Pengembara memahami:
Kehampaan bukan berarti
semua kehidupan tidak bermakna.
Kehampaan adalah ruang
tempat makna tidak dipaksa
menjadi satu-satunya kebenaran.
Ia berbisik:
“Aku bukan hanya namaku.”
Satu bintang muncul.
“Aku bukan hanya tugasku.”
Bintang kedua menyala.
“Aku bukan hanya lukaku,
keberhasilanku,
pengetahuanku,
maupun kegagalanku.”
Ribuan bintang memenuhi kehampaan.
“Aku adalah manusia
yang menerima semua itu
tanpa harus dijadikan milik olehnya.”
Peti kesembilan bergetar.
Dari dalam kehampaan
muncul seorang anak kecil.
Anak itu tidak mempunyai bayangan,
tidak memakai pakaian kerajaan,
dan tidak membawa pusaka.
Ia menggenggam sebuah mangkuk kosong.
“Aku adalah Sang Kehampaan,” katanya.
“Mengapa engkau berbentuk anak kecil?”
“Karena hanya sesuatu yang kosong
dapat terus belajar.”
Anak itu menyerahkan mangkuk.
“Isilah.”
Pengembara mencari sesuatu.
Tidak ada air.
Tidak ada makanan.
Tidak ada cahaya.
Ia pun berkata:
“Tidak ada yang dapat kumasukkan.”
Anak itu tersenyum.
“Maka sekarang mangkuk itu
siap menerima apa pun
tanpa mengira dirinya telah penuh.”
Kehampaan berubah menjadi
ruang kecil di tengah dada pengembara.
Bukan lubang yang menelan kehidupan,
melainkan tempat untuk berhenti,
mendengarkan,
dan tidak tergesa-gesa
mengisi setiap keheningan dengan jawaban.
Peti terakhir runtuh.
Kesembilan nama
menyatu pada pedang bening.
Namun pedang itu tidak lagi
berbentuk senjata.
Ia berubah menjadi tongkat kayu sederhana.
Tidak berkilau.
Tidak memiliki ukiran.
Tidak menjanjikan kemenangan.
Tongkat itu hanya cukup kuat
untuk membantu berjalan.
Dunia kembali muncul.
Kapal merah mengapung
di atas samudra yang kini bening.
Sembilan pulau mahkota
telah berubah
menjadi sembilan pulau teratai.
Pada setiap pulau
tumbuh satu pohon cahaya.
Nakhoda berdiri kembali
di depan kemudi.
“Kesembilan nama telah kaukembalikan
ke dalam dirimu.”
Pengembara memandang tongkat kayu.
“Apakah perjalanan selesai?”
Nakhoda membuka kipas hitam.
Di baliknya tidak terdapat wajah tua,
melainkan wajah sang pengembara sendiri.
“Tidak.”
“Siapakah engkau sebenarnya?”
Nakhoda melepaskan jubah.
Tubuhnya berubah
menjadi cahaya samudra.
“Aku adalah dirimu
yang telah menyelesaikan perjalanan ini
pada kemungkinan waktu yang lain.”
Pengembara mundur.
“Mengapa engkau membawaku
melewati semua ujian?”
“Karena dahulu aku gagal
pada peti kesembilan.”
“Apa yang terjadi?”
“Aku takut menjadi kosong.
Maka aku mengisi kehampaan
dengan gelar, pengikut,
pengetahuan, dan kekuasaan.”
Wajah nakhoda dipenuhi kesedihan.
“Aku berhasil menyelamatkan kerajaan,
tetapi menjadikan diriku
sebagai pusat dari seluruh cahaya.”
“Lalu kapal merah ini?”
“Inilah sisa dunia
yang kuhancurkan dengan niat menyelamatkan.”
Samudra mendadak berguncang.
Dari bawah kapal
muncul bayangan kota raksasa.
Kota itu mirip Tiongkok Dasar Laut,
tetapi seluruh menaranya
menghadap kepada satu patung.
Patung tersebut memiliki wajah
sang nakhoda.
Ribuan manusia berlutut
tanpa kehendak.
“Dunia itu masih ada,”
kata nakhoda.
“Tersembunyi di balik
Lautan Kesembilan.”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Pergilah ke sana
dan hancurkan patungku.”
Pengembara menggenggam tongkat.
“Apakah itu akan menghapusmu?”
“Mungkin.”
“Apakah engkau takut?”
Nakhoda menatap lautan.
“Sangat takut.”
Lonceng kecil di pinggang pengembara berbunyi.
Ketakutan itu nyata.
Namun nakhoda tetap berdiri.
Pengembara memahami:
Seseorang dapat mengetahui seluruh pelajaran
dan tetap gemetar
ketika harus menjalankannya.
Jauh di cakrawala,
permukaan samudra terbuka.
Muncul pusaran hitam
sebesar langit.
Di pusat pusaran
terlihat sebuah gerbang
berbentuk mulut naga.
Di atasnya tertulis:
“LAUTAN KESEMBILAN —
TEMPAT PENYELAMAT
BERUBAH MENJADI BERHALA.”
Kapal merah bergerak
menuju pusaran.
Sang nakhoda berdiri
di samping pengembara.
Sembilan kekuatan
berdenyut tenang di dalam dirinya.
Hasrat memberi arah.
Ketakutan menjaga kewaspadaan.
Pujian tidak lagi memabukkan.
Pengetahuan tetap menyediakan
ruang untuk ketidaktahuan.
Kekuasaan menjadi tanggung jawab.
Kesedihan menjaga kasih.
Kemarahan menjaga batas.
Keabadian menanam manfaat
tanpa menuntut nama.
Kehampaan menyediakan ruang
agar semuanya tidak saling menguasai.
Saat kapal memasuki pusaran,
langit di belakang mereka tertutup.
Tidak ada jalan kembali.
Dari dalam gerbang naga
terdengar suara jutaan manusia
meneriakkan satu nama.
Bukan nama raja.
Bukan nama dewa.
Bukan nama kerajaan.
Mereka meneriakkan
nama sang pengembara sendiri.
Nakhoda memandangnya.
“Dengarkan baik-baik.
Lautan kesembilan
tidak akan menyerangmu
dengan sesuatu yang kau benci.”
Suara pujian semakin keras.
Ribuan lentera menyala.
Sebuah singgasana putih
muncul di balik gerbang.
“Ia akan menyerangmu
dengan segala sesuatu
yang paling sulit kau tolak.”
Kapal merah melewati mulut naga.
Gerbang menutup.
Dan di hadapan mereka
terbentang dunia
yang telah lama menunggu
kedatangan seorang penyelamat—
agar dapat mengubahnya
menjadi berhala berikutnya.
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Ketujuh — Lautan Kesembilan dan Berhala Penyelamat
Kapal merah memasuki mulut naga.
Gerbang samudra menutup di belakangnya
dengan gemuruh yang membuat bintang-bintang
berguguran dari langit.
Di hadapan pengembara
terbentang sebuah dunia yang sangat indah.
Lautannya sebening kaca.
Gunung-gunungnya berwarna giok.
Sungai-sungainya memantulkan cahaya emas,
sedangkan ribuan burung phoenix putih
terbang membentuk lingkaran
di atas istana yang menjulang.
Tidak ada rumah yang rusak.
Tidak ada jalan yang kotor.
Tidak terlihat orang kelaparan,
orang sakit,
atau manusia yang bertengkar.
Semua penduduk mengenakan pakaian putih,
membawa lentera kecil,
dan berdiri berbaris di sepanjang pantai.
Ketika kapal merah merapat,
jutaan suara berseru bersamaan:
“Selamat datang, Penyelamat!”
Gema suara mereka
menabrak gunung-gunung,
memantul di atas samudra,
lalu kembali menjadi pujian
yang jauh lebih besar.
Pengembara berdiri di haluan.
Ia tidak pernah memberitahukan namanya,
tetapi setiap bendera di kota
telah memuat wajahnya.
Patung-patung dirinya
berdiri di persimpangan jalan.
Sebagian menggambarkannya
sedang memegang pedang bening.
Sebagian menggambarkannya
berdiri di atas naga merah.
Sebagian lain memperlihatkan dirinya
dengan mahkota sembilan cahaya
dan kedua tangan terangkat
seolah menahan langit.
Pengembara memandang sang nakhoda.
“Bagaimana mereka mengetahui wajahku?”
Nakhoda menjawab:
“Lautan Kesembilan tidak membaca masa lalu.
Ia membaca bentuk paling tersembunyi
dari keinginan manusia.”
“Aku tidak meminta semua ini.”
“Berhala tidak selalu dibangun
karena seseorang meminta disembah.”
Kapal berhenti.
Sebuah jembatan emas muncul
dari permukaan air
dan memanjang menuju istana.
Di ujungnya berdiri sembilan pendeta tua
mengenakan topeng naga.
Masing-masing membawa mangkuk giok
yang dipenuhi air bercahaya.
Pendeta pertama berlutut.
“Minumlah, Penyelamat.
Air ini akan menghapus keraguanmu.”
Pendeta kedua berkata:
“Minumlah.
Setelah itu engkau tidak akan pernah salah.”
Pendeta ketiga menambahkan:
“Minumlah,
dan setiap manusia yang menentangmu
akan terlihat sebagai musuh kebenaran.”
Pengembara memandang air tersebut.
Benang Hasrat di pergelangan tangannya
menjadi hangat.
Lonceng Ketakutan
berbunyi sangat pelan.
Ia bertanya:
“Siapa yang memberi kalian perintah
untuk menungguku?”
Para pendeta menjawab bersamaan:
“Engkau sendiri.”
“Aku belum pernah datang ke tempat ini.”
Pendeta tertua menunjuk sang nakhoda.
“Dia pernah datang
dengan wajahmu.”
Semua mata beralih
kepada nakhoda berjubah panjang.
Nakhoda menundukkan kepala.
“Dahulu aku tiba di sini
setelah melewati sembilan peti,” katanya.
“Seperti dirimu, aku menolak mahkota hitam,
menolak kekuasaan,
dan mengaku hanya ingin mengabdi.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Mereka memanggilku penyelamat.”
“Dan engkau menerimanya?”
Nakhoda menatap patung-patung raksasa.
“Pada mulanya aku menolak.”
Ia berjalan turun dari kapal.
“Aku berkata bahwa aku hanyalah manusia.
Tetapi semakin aku menolak,
semakin mereka memujiku sebagai manusia suci
yang tidak menginginkan kehormatan.”
Pengembara ikut turun.
“Kemudian?”
“Mereka meminta nasihat.
Aku memberikannya.”
“Mereka meminta keputusan.
Aku membuatnya.”
“Mereka meminta perlindungan.
Aku membangun pasukan.”
“Mereka meminta kebenaran.
Aku mulai menjawab semua pertanyaan,
bahkan ketika aku tidak mengetahui jawabannya.”
Langkah mereka mencapai jembatan emas.
Di kanan dan kiri
jutaan penduduk bersujud.
Tidak seorang pun menatap wajah mereka.
Nakhoda melanjutkan:
“Sedikit demi sedikit,
mereka berhenti mendengarkan hati nuraninya.
Mereka menunggu kata-kataku
sebelum makan, bekerja, menikah,
berperang, memaafkan,
bahkan sebelum menangis.”
“Mengapa engkau tidak menghentikannya?”
Nakhoda tersenyum pahit.
“Karena ketergantungan mereka
membuatku merasa dibutuhkan.”
Jembatan emas bergetar.
Dari bawahnya terlihat
ribuan tangan manusia
menopang jalan tersebut.
Tangan-tangan itu kurus,
terluka,
dan terikat rantai.
Pengembara berhenti.
“Siapakah mereka?”
Salah seorang pendeta menjawab:
“Mereka adalah orang-orang
yang meragukan Sang Penyelamat.”
“Mengapa mereka dirantai?”
“Keraguan mereka
dapat merusak persatuan.”
“Apakah mereka melakukan kejahatan?”
Pendeta itu diam.
Pengembara menatap satu wajah
di bawah jembatan.
Seorang perempuan muda
menopang batu dengan kedua bahunya.
Matanya masih menyala.
“Apa kesalahanmu?”
tanya pengembara.
Perempuan itu menjawab:
“Aku bertanya mengapa perkataan manusia
tidak boleh diperiksa.”
Pendeta tertua mengangkat tongkat.
“Jangan dengarkan dia.
Lidahnya telah diracuni kesombongan.”
Perempuan itu tertawa lemah.
“Di negeri ini,
pertanyaan selalu disebut kesombongan
ketika jawabannya dapat mengguncang singgasana.”
Pengembara hendak membebaskannya.
Namun nakhoda menahan tangannya.
“Jangan terburu-buru.”
“Mereka menderita.”
“Benar.
Tetapi bila engkau membebaskan mereka
hanya untuk menunjukkan bahwa dirimu
berbeda dariku,
engkau sedang membangun patung baru.”
Pengembara menarik tangannya.
Ia menatap perempuan itu.
“Apa yang kalian butuhkan?”
Perempuan tersebut tidak menjawab segera.
Kemudian berkata:
“Bukan pahlawan baru.”
“Lalu apa?”
“Kesempatan berdiri
dengan kaki kami sendiri.”
Kalimat itu membuat jembatan emas
retak tipis.
Pendeta-pendeta saling memandang.
Penduduk yang bersujud
mulai mengangkat wajah.
Namun dari istana
terdengar bunyi gong raksasa.
Sembilan kali.
Pada dentang kesembilan,
seluruh penduduk kembali menunduk.
Sebuah suara keluar
dari menara tertinggi:
“Penyelamat telah kembali.
Hari pertanyaan telah berakhir.”
Gerbang istana terbuka.
Dari dalamnya muncul
sebuah singgasana putih
yang bergerak sendiri.
Singgasana itu tidak terbuat dari batu,
emas, ataupun kayu.
Ia tersusun dari ribuan lembar doa,
harapan, sumpah,
dan permintaan manusia.
Pada sandarannya tertulis:
“Dia yang duduk di sini
akan mengetahui segala kebutuhan rakyat.”
Pengembara mendekat.
Dari singgasana itu
terdengar suara-suara:
“Sembuhkan anakku.”
“Kembalikan suamiku.”
“Buat usahaku berhasil.”
“Hukum orang yang menyakitiku.”
“Tentukan siapa yang benar.”
“Beritahukan masa depanku.”
“Jangan biarkan aku kecewa.”
“Jangan biarkan aku kehilangan.”
Setiap permintaan berubah
menjadi benang cahaya
yang mencoba melilit tubuh pengembara.
Benang Hasrat pada pergelangannya
menjadi semakin merah.
Sang Hasrat berbisik dari dalam dirinya:
“Engkau dapat menolong mereka.”
Lonceng Ketakutan berdenting:
“Bila engkau menolak,
mereka akan membencimu.”
Pita Pujian berkibar:
“Duduklah sebentar saja.
Barangkali engkau memang diperlukan.”
Buku Pengetahuan membuka halaman:
“Ada banyak jawaban
yang dapat kauucapkan.”
Kunci Kekuasaan bergetar:
“Dengan satu perintah,
engkau dapat mengubah negeri ini.”
Selendang Kesedihan membisikkan
tangisan orang-orang.
Lentera Kemarahan menyala
melihat para tahanan.
Benih Keabadian berbisik:
“Bila engkau berhasil,
namamu akan menjadi manfaat
bagi ribuan generasi.”
Namun ruang Kehampaan di dalam dadanya
tetap diam.
Pengembara memandang singgasana.
Ia membayangkan
berapa banyak penderitaan
yang mungkin dapat dihentikannya.
Ia membayangkan para tahanan dibebaskan.
Ia membayangkan anak-anak menerima makanan.
Ia membayangkan peraturan yang adil.
Bukankah menolak kekuasaan
ketika ia dapat digunakan untuk kebaikan
juga dapat menjadi bentuk ketakutan?
Ia menoleh kepada nakhoda.
“Bagaimana aku membedakan
pengabdian dengan keinginan menjadi penyelamat?”
Nakhoda menjawab:
“Perhatikan apa yang terjadi
ketika manusia tidak mengikuti nasihatmu.”
“Apa maksudmu?”
“Bila engkau marah karena mereka terluka,
mungkin itu kasih.”
“Namun bila engkau marah
karena mereka memilih jalan
yang tidak sesuai dengan keinginanmu,
mungkin yang terluka adalah egomu.”
Pengembara berdiri di depan singgasana.
Ia belum duduk.
Pendeta tertua berkata:
“Jangan ragu.
Keraguanmu akan membuat rakyat takut.”
Pengembara menjawab:
“Pemimpin yang menyembunyikan keraguan
tidak menjadi lebih kuat.
Ia hanya membuat rakyat
tidak mengetahui di mana bahaya sebenarnya.”
Pendeta itu mengangkat mangkuk.
“Minumlah air kepastian.”
Pengembara mengambil mangkuk tersebut.
Semua penduduk menahan napas.
Ia mencium aromanya.
Air itu berbau
seperti hujan pertama,
tanah subur,
dan rumah yang aman.
Namun di dasar mangkuk
terdapat bayangan manusia
yang mulutnya dijahit.
Pengembara menumpahkan air
ke atas singgasana.
Cahaya putih mendesis.
Lembar-lembar doa
yang membentuk singgasana
mulai terlepas.
Dari baliknya terlihat
sebuah kerangka besi hitam.
Pada tulangnya tertulis:
Ketergantungan.
Ketakutan ditinggalkan.
Keinginan selalu benar.
Pemujaan manusia.
Pendeta-pendeta berteriak:
“Ia menolak amanah!”
“Ia mengkhianati rakyat!”
“Ia bukan penyelamat sejati!”
Penduduk mulai gaduh.
Sebagian menangis.
Sebagian marah.
Sebagian berlari mendekati pengembara
dan memegang ujung jubahnya.
“Jangan tinggalkan kami!”
“Kami tidak tahu harus berbuat apa!”
“Tanpa dirimu, kami akan tersesat!”
Seorang ibu menyerahkan bayi.
“Tentukan nama anakku.”
Seorang pedagang membawa timbangan.
“Tentukan harga daganganku.”
Dua saudara membawa pedang.
“Tentukan siapa yang harus dihukum.”
Seorang pemuda membawa bunga.
“Tentukan siapa yang harus kucintai.”
Pengembara merasa dadanya sesak.
Ia ingin memberi jawaban
agar mereka menjadi tenang.
Namun ruang Kehampaan berbisik:
“Jangan mengisi setiap kekosongan
hanya karena engkau takut
melihat manusia kebingungan.”
Pengembara mengangkat tangan.
“Dengarkan aku.”
Semua menjadi diam.
“Aku tidak mengetahui
seluruh jawaban kehidupan kalian.”
Penduduk saling berpandangan.
“Aku dapat mendengarkan,
berbagi pengetahuan,
memperingatkan ketika ada bahaya,
dan membantu ketika mampu.”
Ia memandang bayi, pedagang,
dua saudara, dan pemuda.
“Tetapi aku tidak berhak
menggantikan akal, hati nurani,
tanggung jawab, dan pilihan kalian.”
Pendeta tertua berteriak:
“Ia meninggalkan kalian!”
Pengembara menatapnya.
“Tidak mengambil alih kehidupan seseorang
bukan berarti meninggalkannya.”
“Lalu apa gunanya seorang guru?”
“Guru menunjukkan cara membaca jalan,
bukan memerintahkan murid
menutup matanya dan mengikuti jejak.”
“Apa gunanya pemimpin?”
“Pemimpin membantu manusia
mengatur kehidupan bersama,
bukan menjadikan dirinya
sebagai sumber seluruh kebenaran.”
“Apa gunanya penyelamat?”
Pengembara terdiam cukup lama.
Kemudian menjawab:
“Mungkin manusia tidak memerlukan
seorang penyelamat yang mengambil semua kuasa.”
Ia menunjuk para tahanan
di bawah jembatan.
“Mereka memerlukan pintu yang dibuka,
rantai yang diputus,
makanan, perlindungan, ilmu,
keadilan, dan keberanian.”
“Tetapi setelah itu,
mereka harus tetap menjadi pemilik
dari hidupnya sendiri.”
Satu patung pengembara
di alun-alun retak.
Kemudian patung kedua.
Patung ketiga kehilangan kepala.
Namun patung terbesar
di tengah kota justru membuka mata.
Batu pada tubuhnya berubah menjadi kulit.
Ia turun dari alasnya.
Wajahnya serupa pengembara,
tetapi jauh lebih sempurna.
Tidak ada luka.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada rasa lelah.
Ia mengenakan mahkota sembilan cahaya
dan membawa tongkat naga putih.
Penduduk bersujud lebih dalam.
Sosok itu berkata:
“Jangan dengarkan pengembara itu.”
Pengembara menatapnya.
“Siapakah engkau?”
“Aku adalah dirimu
sebagaimana mereka ingin melihatmu.”
“Engkau bukan aku.”
“Aku adalah engkau
tanpa kesalahan.”
Sosok sempurna mengangkat tangan.
Awan berhenti bergerak.
Lautan menjadi tenang.
Luka-luka penduduk menghilang.
Tahanan di bawah jembatan
seketika terbebas.
Namun ketika berdiri,
mata mereka berubah putih.
Mereka tidak lagi marah.
Tidak lagi takut.
Tidak lagi mempertanyakan apa pun.
Sosok sempurna berkata:
“Lihatlah.
Aku dapat memberikan kedamaian
tanpa kebingungan.”
Perempuan yang tadi dirantai
berdiri di hadapannya.
Pengembara bertanya:
“Apakah engkau bebas?”
Perempuan itu tersenyum kosong.
“Aku tidak lagi mempunyai pertanyaan.”
“Apakah itu kebebasan?”
“Pertanyaan menyebabkan penderitaan.”
Sosok sempurna berkata:
“Manusia tidak benar-benar menginginkan kebebasan.
Mereka menginginkan kepastian.”
Ia berjalan mendekati pengembara.
“Mereka tidak ingin memikul akibat pilihan.
Mereka ingin seseorang menentukan jalan,
lalu disalahkan bila jalan itu gagal.”
“Mungkin sebagian begitu.”
“Maka berikan apa yang mereka minta.”
“Tidak semua permintaan
harus dipenuhi.”
Sosok sempurna tersenyum.
“Engkau masih berpura-pura rendah hati.”
Ia menunjuk penduduk.
“Lihat mereka.
Mereka mencintaimu.”
“Mereka mencintai gambaran
yang dibangun dari harapannya.”
“Apakah itu berbeda?”
“Sangat berbeda.
Cinta yang tidak mengizinkan
seseorang menjadi manusia
dapat berubah menjadi penjara.”
Wajah sosok sempurna mulai mengeras.
“Mereka membutuhkan kesempurnaan.”
“Tidak.
Mereka membutuhkan kejujuran,
aturan yang adil,
ruang untuk belajar,
dan keberanian menghadapi ketidakpastian.”
Sosok itu menghentakkan tongkat.
Tanah pecah.
Dari dalam retakan muncul
ribuan kitab batu.
Pada setiap kitab tertulis
perkataan-perkataan sang pengembara
sejak bait pertama.
Namun kalimat-kalimatnya telah diubah.
Petuah tentang kerendahan hati
ditulis sebagai perintah untuk tunduk.
Petuah tentang kesadaran
diubah menjadi larangan bertanya.
Petuah tentang pengabdian
dipakai untuk memaksa orang berkorban.
Petuah tentang pengampunan
dipakai untuk membungkam korban.
Petuah tentang kesabaran
dipakai agar rakyat menerima ketidakadilan.
Pengembara membaca semuanya
dengan tubuh gemetar.
“Aku tidak pernah mengajarkan ini.”
Sosok sempurna menjawab:
“Kata-kata tidak lagi menjadi milikmu
setelah manusia menjadikannya senjata.”
“Maka semua kitab ini harus dihancurkan.”
“Bila kau menghancurkannya,
mereka akan berkata
bahwa engkau sedang menyembunyikan rahasia.”
“Bila kubiarkan,
kata-kataku akan terus disalahgunakan.”
“Itulah harga menjadi lambang.”
Pengembara memegang tongkat kayu.
Untuk pertama kalinya
ia merasa benar-benar tidak mengetahui
apa yang harus dilakukan.
Buku Pengetahuan di pinggangnya
tetap kosong.
Kunci Kekuasaan
tidak membuka jalan.
Kemarahan ingin membakar kitab.
Kesedihan ingin menangisi para korban.
Ketakutan memperingatkan
bahwa setiap tindakan akan menimbulkan akibat.
Ruang Kehampaan berkata:
“Berhentilah sejenak.
Jangan bertindak hanya untuk menghilangkan
rasa tidak nyaman di dalam dirimu.”
Pengembara menarik napas.
Ia lalu berjalan
menuju kitab-kitab batu.
Ia tidak menghancurkannya.
Ia tidak pula membiarkannya
tanpa penjelasan.
Ia mengambil tongkat
dan menulis di tanah:
“Tidak ada satu kalimat pun
yang boleh digunakan
untuk mencabut kemanusiaan orang lain.”
Kemudian ia menulis:
“Nasihat harus diuji
melalui keadilan, kasih sayang, kenyataan,
dan akibat yang ditimbulkannya.”
Lalu:
“Siapa pun boleh bertanya.”
Dan terakhir:
“Perkataan seorang manusia
bukan pengganti kebenaran Alloh.”
Setiap tulisan memancarkan cahaya.
Cahaya itu tidak menghancurkan kitab-kitab,
tetapi membuat semua perubahan
dan pemalsuan terlihat.
Tulisan asli bersinar biru.
Tambahan yang dibuat demi kekuasaan
berwarna merah.
Perintah yang lahir dari ketakutan
berubah hitam.
Penduduk mulai membaca sendiri.
Seorang lelaki berseru:
“Kalimat ini telah diubah!”
Seorang perempuan berkata:
“Selama ini kami mengira
perintah itu berasal dari pengembara.”
Seorang anak bertanya:
“Mengapa kami tidak pernah
diizinkan membaca kitabnya secara utuh?”
Pendeta tertua mengangkat tongkat.
“Diam!
Kalian tidak cukup suci
untuk menafsirkan kata-kata penyelamat!”
Namun kali ini
penduduk tidak bersujud.
Seorang petani melangkah maju.
“Kalau begitu,
siapa yang memeriksa tafsirmu?”
Pendeta itu mundur.
Sosok sempurna menggeram.
Mahkota sembilan cahayanya
berubah menjadi sembilan kepala naga.
“Lihat akibat perbuatanmu!”
teriaknya kepada pengembara.
“Mereka mulai berbeda pendapat!”
Suara perdebatan memenuhi kota.
Ada yang marah.
Ada yang menangis.
Ada yang mempertahankan pendeta.
Ada yang merobohkan patung.
Ada pula yang berusaha
melindungi mereka yang berbeda.
Kota yang semula tenang
menjadi penuh kebisingan.
Sosok sempurna tertawa.
“Inikah kebebasan yang kauinginkan?”
Pengembara melihat kekacauan.
Ia tidak menyangkalnya.
“Kebebasan memang tidak selalu tenang.”
“Kepastian palsu lebih damai.”
“Kuburan pun lebih sunyi daripada pasar,
tetapi bukan berarti kuburan
lebih hidup.”
Sosok sempurna menyerang.
Tongkat naga putih melesat
menuju dada pengembara.
Pengembara mengangkat tongkat kayu.
Kedua tongkat bertabrakan.
Ledakan cahaya
membelah istana.
Sosok sempurna menyerang kembali.
Setiap serangannya membawa satu godaan:
Jadilah yang paling benar.
Jangan pernah meminta maaf.
Jangan biarkan orang meninggalkanmu.
Buat mereka selalu membutuhkanmu.
Sebut penolakan sebagai pengkhianatan.
Sebut pertanyaan sebagai kurang iman.
Sebut ketakutan mereka sebagai bukti cintanya.
Pengembara menahan serangan
sambil mundur.
Tongkat kayunya mulai retak.
Sang nakhoda berteriak:
“Jangan lawan kesempurnaan
dengan keinginan menjadi lebih sempurna!”
“Lalu bagaimana?”
“Perlihatkan bahwa ia tidak nyata!”
Pengembara menatap sosok di hadapannya.
Ia menyadari sesuatu.
Sosok sempurna itu
tidak mempunyai bayangan.
Tidak berkeringat.
Tidak terluka.
Tidak bernapas.
Ia hanya hidup
selama manusia menginginkan
seorang tokoh yang tidak pernah salah.
Pengembara menurunkan tongkat.
Sosok sempurna berhenti.
“Mengapa kau menyerah?”
Pengembara menjawab:
“Karena aku tidak perlu mengalahkanmu.”
“Aku akan mengambil tempatmu.”
“Tempat itu tidak pernah menjadi milikku.”
“Mereka akan menyembahku.”
“Hanya selama mereka takut
menjadi pemilik hidupnya sendiri.”
Pengembara berbalik
menghadap penduduk.
Ia mengangkat suaranya:
“Aku pernah salah.”
Sosok sempurna retak di bagian dada.
Pengembara melanjutkan:
“Aku pernah memberi jawaban
ketika seharusnya mendengarkan.”
Retakan menjalar ke bahunya.
“Aku pernah ingin dibutuhkan
karena takut ditinggalkan.”
Mahkota sembilan cahaya pecah satu.
“Aku pernah menolong
sambil berharap dianggap mulia.”
Mahkota kedua runtuh.
“Aku memiliki pengetahuan,
tetapi masih banyak yang tidak kuketahui.”
Mahkota ketiga berubah menjadi debu.
“Aku dapat membimbing,
tetapi aku tidak dapat menjamin
seluruh pilihan kalian bebas dari kesalahan.”
Mahkota keempat terlepas.
“Aku bukan sumber rezeki,
bukan pemilik kehidupan,
dan bukan penguasa takdir.”
Mahkota kelima dan keenam padam.
“Aku dapat mendoakan,
tetapi hasil akhirnya tetap berada
dalam kuasa Alloh.”
Mahkota ketujuh pecah.
“Jangan menjadikan diriku
sebagai pengganti akal sehat, tanggung jawab,
syariat, ilmu, dokter, hukum,
atau pertolongan nyata yang kalian perlukan.”
Mahkota kedelapan jatuh.
Sosok sempurna berteriak:
“Berhenti!
Mereka akan kehilangan kepercayaan kepadamu!”
Pengembara menjawab:
“Lebih baik mereka kehilangan
kepercayaan palsu kepadaku
daripada kehilangan kemampuan
mempercayai kebenaran.”
Mahkota kesembilan hancur.
Tubuh sosok sempurna
berubah menjadi cermin raksasa.
Pada permukaannya
setiap penduduk melihat
tokoh yang paling ingin mereka sembah.
Ada yang melihat seorang raja.
Ada yang melihat guru.
Ada yang melihat pahlawan.
Ada yang melihat orang tua.
Ada yang melihat dirinya sendiri.
Cermin itu berkata:
“Aku tidak diciptakan oleh satu manusia.
Aku lahir dari ketakutan banyak orang
menghadapi ketidakpastian.”
Pengembara mendekatinya.
“Lalu bagaimana kami membebaskanmu?”
“Bukan aku yang perlu dibebaskan.”
Cermin menunjukkan
ribuan rantai tipis
yang keluar dari hati penduduk
dan mengikat permukaannya.
“Setiap orang harus mengambil kembali
bagian kekuasaan yang telah diserahkan
demi kenyamanan.”
Pengembara tidak memukul cermin.
Ia menoleh kepada penduduk.
“Aku tidak dapat memutus rantai kalian
seorang diri.”
Perempuan yang dahulu
terikat di bawah jembatan
mengangkat tangan.
Ia menggenggam rantai
yang keluar dari dadanya.
“Aku takut salah memilih,” katanya.
“Tetapi hari ini aku akan belajar
menanggung akibat pilihanku sendiri.”
Rantainya putus.
Seorang ayah maju.
“Aku menyerahkan masa depan anakku
kepada orang lain
karena takut disalahkan.”
Ia memutus rantainya.
Seorang pedagang berkata:
“Aku mengikuti semua perintah
agar tidak perlu memeriksa
apakah tindakanku adil.”
Rantainya terlepas.
Seorang pemuda menangis:
“Aku memuja manusia
karena merasa diriku tidak berharga.”
Ia memutus rantainya.
Satu demi satu,
penduduk mengambil kembali
akal, keberanian, tanggung jawab,
dan hak untuk bertanya.
Cermin raksasa mulai mengecil.
Dari sebesar gunung
menjadi sebesar rumah.
Dari sebesar rumah
menjadi sebesar manusia.
Akhirnya ia berubah
menjadi cermin kecil
di telapak tangan pengembara.
Di dalamnya tidak tampak wajah sempurna.
Hanya wajah manusia biasa
yang letih, terluka,
tetapi masih sadar.
Nakhoda mendekat.
“Inilah patung yang harus dihancurkan,”
katanya.
Pengembara menatap cermin.
“Bukan patung batu?”
“Patung batu hanya akibatnya.
Berhala sesungguhnya adalah gambaran
bahwa seorang manusia
tidak boleh mempunyai batas.”
Pengembara mengangkat cermin
hendak menjatuhkannya.
Namun ia berhenti.
“Bila kuhancurkan,
bukankah aku hanya menyembunyikan
kemungkinan berhala itu muncul kembali?”
Nakhoda tersenyum.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Pengembara memasukkan cermin
ke dalam kantong jubahnya.
“Aku akan membawanya
sebagai pengingat.”
“Pengingat tentang apa?”
“Bahwa setiap kali pujian
membuatku merasa tidak boleh dikoreksi,
cermin ini harus kubuka.”
“Setiap kali orang menggantungkan
seluruh hidupnya kepadaku,
aku harus membantu mereka
mengambil kembali kuncinya.”
“Dan setiap kali diriku
ingin dianggap sebagai sumber cahaya,
aku harus mengingat
bahwa manusia hanyalah penerima,
penjaga, dan penyampai sebatas kemampuannya.”
Cermin kecil memancarkan
cahaya lembut.
Seluruh patung di kota
runtuh menjadi batu biasa.
Batu-batu itu tidak dibuang.
Penduduk menggunakannya
untuk membangun sekolah,
jembatan, rumah sakit,
lumbung, dan tempat musyawarah.
Singgasana putih dibongkar.
Lembaran doa yang membentuknya
dibagikan kembali kepada pemiliknya.
Sebagian doa tetap disimpan.
Sebagian diperbaiki menjadi ikhtiar.
Sebagian berubah menjadi tindakan nyata.
Sebagian manusia mulai menyadari
bahwa jawaban atas doanya
datang melalui tangan mereka sendiri
yang digerakkan untuk berbuat baik.
Pendeta-pendeta melepaskan topeng naga.
Beberapa meminta maaf.
Beberapa melarikan diri.
Beberapa tetap mempertahankan
bahwa zaman lama lebih baik.
Pengembara tidak memaksa semuanya berubah.
Ia hanya memastikan
tidak ada lagi manusia
yang dirantai karena bertanya.
Malam turun di Lautan Kesembilan.
Untuk pertama kalinya
langit negeri itu tidak dipenuhi
wajah seorang penyelamat.
Bintang-bintang terlihat jelas.
Penduduk berkumpul di alun-alun.
Mereka tidak bersujud.
Mereka duduk melingkar
dan mendengarkan satu sama lain.
Tidak semua masalah selesai.
Masih ada perdebatan.
Masih ada kesalahan.
Masih ada orang
yang merindukan kepastian lama.
Namun kini tidak ada satu singgasana
yang mengaku memegang seluruh jawaban.
Pengembara duduk di tepi pelabuhan.
Nakhoda berdiri di sampingnya.
Tubuhnya semakin transparan.
“Kau mulai menghilang,”
kata pengembara.
“Dunia ini tidak lagi membutuhkan
bayanganku untuk memperingatkanmu.”
“Apakah engkau akan lenyap?”
“Aku akan kembali
menjadi kemungkinan di dalam dirimu.”
Nakhoda membuka kipas hitam.
Di dalamnya terlihat
seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan.
Singgasana.
Pemujaan.
Ketakutan kehilangan pengikut.
Perintah yang membungkam.
Kebaikan yang berubah menjadi penguasaan.
“Apakah engkau menyesal?”
tanya pengembara.
“Ya.”
“Apakah penyesalan itu cukup?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang dapat memperbaikinya?”
Nakhoda memandang kota
yang sedang dibangun kembali.
“Mengakui kesalahan.
Menghentikan kerusakan.
Mengembalikan hak orang lain.
Memperbaiki semampunya.
Dan menerima bahwa sebagian luka
mungkin tidak sempat pulih
selama hidup kita.”
Pengembara terdiam.
“Apakah engkau memaafkan dirimu?”
Nakhoda tersenyum sedih.
“Aku sedang belajar.”
Tubuhnya berubah menjadi
butiran cahaya.
Sebelum benar-benar menghilang,
ia berkata:
“Jangan jadikan keberhasilan hari ini
sebagai bukti bahwa engkau
tidak akan pernah tersesat lagi.”
“Berhala tidak hanya dibangun sekali.”
“Ia dibangun setiap hari
ketika manusia berhenti bercermin.”
Cahaya nakhoda masuk
ke dalam cermin kecil.
Di permukaannya muncul satu kalimat:
“Tetaplah menjadi manusia
ketika dunia memintamu menjadi lambang.”
Fajar tiba.
Kapal merah telah berubah.
Layar robeknya menjadi putih.
Lambungnya tidak lagi dipenuhi ukiran raja,
melainkan nama-nama para awak
yang pernah menjaga perjalanan.
Di haluan tidak ada patung pengembara.
Hanya terdapat gambar
sebuah mangkuk kosong
dan tongkat kayu.
Penduduk mengantarnya ke pelabuhan.
Seorang anak kecil
memberikan bunga merah.
“Apakah engkau akan kembali?”
Pengembara menjawab:
“Aku tidak tahu.”
“Mengapa tidak menjanjikan?”
“Karena janji yang tidak mampu kupastikan
hanya akan menjadi tali
yang mengikat harapanmu.”
Anak itu mengangguk.
“Lalu apa yang harus kami lakukan
ketika bingung?”
Pengembara menunjuk alun-alun.
“Berkumpullah.
Dengarkan yang paling terdampak.
Periksa kenyataan.
Jangan takut mengubah keputusan.
Dan jangan serahkan seluruh kunci
kepada satu tangan.”
Perempuan yang pernah dirantai bertanya:
“Siapa yang akan memimpin negeri ini?”
Pengembara menjawab:
“Orang-orang yang bersedia
bertanggung jawab, dapat dikoreksi,
dan memahami bahwa kekuasaan
hanyalah amanah sementara.”
“Bagaimana bila pemimpin baru
membangun patungnya sendiri?”
Pengembara menyerahkan
sebuah palu kecil.
“Kalian sudah mengetahui
cara merobohkannya.”
Kapal mulai bergerak.
Penduduk tidak meneriakkan
nama pengembara.
Mereka hanya mengangkat lentera.
Cahayanya membentuk jalan
di atas samudra.
Namun ketika kapal
mencapai batas Lautan Kesembilan,
air mendadak surut.
Dari dasar samudra
muncul gerbang batu terakhir.
Gerbang itu jauh lebih tua
daripada Tiongkok Dasar Laut.
Tidak dihiasi naga, phoenix,
ikan emas, gunung,
ataupun matahari.
Di tengahnya terdapat
ukiran satu kalimat:
“SETELAH MANUSIA BERHENTI
MENJADI BERHALA,
IA HARUS BELAJAR
TIDAK MENJADIKAN PENDERITAANNYA
SEBAGAI TAKHTA.”
Pengembara membaca berulang kali.
Lonceng Ketakutan berbunyi.
Selendang Kesedihan
menjadi berat.
Dari balik gerbang
terdengar suara seseorang menangis.
Tangisan itu sangat dikenal.
Bukan suara anak.
Bukan suara penduduk.
Bukan pula suara nakhoda.
Itu adalah tangis pengembara sendiri
dari masa yang sangat jauh.
Suara itu berkata:
“Engkau telah menyelamatkan banyak orang,
tetapi tidak pernah kembali
menjemput dirimu
yang kau tinggalkan di dasar luka.”
Gerbang terbuka sedikit.
Di baliknya terlihat
sebuah rumah tua
berdiri di tengah lautan gelap.
Pada jendelanya
duduk seorang anak kecil
yang memiliki wajah sang pengembara.
Anak itu memeluk pedang kayu
dan menunggu seseorang pulang.
Di belakang rumah
menjulang gunung tertinggi
yang pernah dilihatnya.
Puncaknya tertutup awan hitam.
Di lerengnya tertulis:
“GUNUNG ASAL LUKA —
TEMPAT SEORANG MANUSIA
PERTAMA KALI BELAJAR
BAHWA IA HARUS MENJADI KUAT
AGAR LAYAK DICINTAI.”
Pengembara menggenggam tongkat.
Kapal merah berhenti bergerak.
Tidak ada angin.
Tidak ada awak.
Tidak ada orang lain
yang dapat menemaninya masuk.
Dari cermin kecil
terdengar suara nakhoda:
“Engkau telah menghadapi dunia
yang ingin menjadikanmu berhala.”
Anak di jendela
mengangkat wajah.
Air matanya jatuh
ke lautan yang gelap.
“Sekarang hadapilah bagian dirimu
yang menjadikan penderitaan
sebagai alasan untuk tidak pernah
melepaskan baju perang.”
Pengembara turun dari kapal.
Setiap langkah di atas air
membangunkan satu kenangan.
Pintu rumah tua
terbuka sendiri.
Anak kecil berdiri di sana.
Ia tidak menyambut.
Tidak memeluk.
Tidak pula tersenyum.
Ia hanya bertanya:
“Mengapa kau baru pulang sekarang?”
Seluruh lautan menjadi sunyi.
Pengembara tidak memiliki jawaban.
Untuk pertama kalinya,
ia menyadari bahwa kalimat yang paling sulit
bukanlah petuah bagi kerajaan,
bukan perintah bagi pasukan,
dan bukan jawaban bagi ribuan pintu.
Kalimat paling sulit
adalah kalimat sederhana
yang harus diucapkan
kepada dirinya sendiri:
“Maafkan aku
karena terlalu lama meninggalkanmu.”
Anak itu menatapnya.
Gunung Asal Luka berguncang.
Pintu rumah terbuka lebih lebar.
Dan dari dalam kegelapan
keluar ribuan bayangan
yang membawa seluruh rasa sakit
yang dahulu membuat pengembara
bersumpah tidak akan pernah
menjadi lemah lagi.
Perjalanan menuju kerajaan luar
telah selesai.
Namun perjalanan menuju rumah batinnya
baru saja dimulai.
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Kedelapan — Gunung Asal Luka dan Anak yang Menunggu
Pintu rumah tua terbuka lebih lebar.
Dari dalamnya keluar ribuan bayangan
yang membawa suara masa lalu,
langkah-langkah yang pernah menjauh,
janji yang tidak ditepati,
dan tatapan manusia
yang membuat seorang anak belajar
menyembunyikan air matanya.
Bayangan pertama
membawa mangkuk kosong.
Bayangan kedua
membawa pakaian yang terlalu besar.
Bayangan ketiga
menggenggam sebuah surat
yang tidak pernah selesai ditulis.
Sedangkan bayangan paling tinggi
memikul sebuah pintu besi
yang selalu terkunci dari dalam.
Mereka mengelilingi pengembara
tanpa menyerang.
Namun setiap kali salah satu bayangan
melintas di hadapannya,
dadanya terasa seperti disentuh
oleh luka yang telah lama
diberi nama lain.
Kesibukan.
Tanggung jawab.
Kekuatan.
Pengabdian.
Kesabaran.
Semua nama itu pernah dipakainya
untuk menutupi satu pengakuan sederhana:
“Aku pernah terluka
dan tidak mengetahui
kepada siapa harus menangis.”
Anak kecil di ambang pintu
masih memegang pedang kayu.
Ujung pedang itu telah retak.
Gagangnya dibalut kain usang,
seolah telah digenggam
selama bertahun-tahun.
“Mengapa kau membawa pedang?”
tanya pengembara.
Anak itu menjawab:
“Agar tidak ada lagi
yang dapat menyakitiku.”
“Apakah pedang itu berhasil?”
Anak tersebut menunduk.
“Tidak.”
“Lalu mengapa masih kaupegang?”
“Karena aku tidak tahu
bagaimana caranya hidup
tanpa bersiap melawan.”
Pengembara mendekat satu langkah.
Anak itu segera mengangkat pedangnya.
“Jangan dekat-dekat!”
Pengembara berhenti.
Ia telah menghadapi naga,
raja tanpa hati,
pasukan tanpa bayangan,
dan berhala yang dibangun
dari jutaan pujian.
Namun di hadapan seorang anak
yang ketakutan,
seluruh keberaniannya
tidak berguna bila dipakai memaksa.
Maka ia berlutut
beberapa langkah dari pintu.
“Aku tidak akan mengambil pedangmu.”
Anak itu menatap curiga.
“Semua orang berkata begitu
sebelum menyuruhku menjadi lemah.”
“Aku tidak akan menyuruhmu lemah.”
“Lalu apa maumu?”
“Aku ingin duduk di sini
sampai kau merasa cukup aman
untuk berbicara.”
Anak itu tidak menjawab.
Pengembara pun duduk
di atas tanah basah.
Malam turun.
Tidak ada lentera.
Tidak ada phoenix.
Tidak ada ikan emas
yang membawa cahaya dari laut.
Hanya suara angin
melewati celah-celah rumah
dan bunyi gunung
yang sesekali bergemuruh
di kejauhan.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua.
Anak itu tetap berdiri
dengan pedang terangkat.
Pada jam ketiga,
tangannya mulai gemetar.
Pada jam keempat,
pedang kayu turun sedikit.
Pada jam kelima,
ia bertanya:
“Apakah kau tidak lelah?”
Pengembara menjawab:
“Aku lelah.”
Anak itu terkejut.
“Mengapa mengakuinya?”
“Karena kelelahan tidak menjadi lebih ringan
hanya karena disembunyikan.”
“Bukankah orang kuat
tidak boleh terlihat lelah?”
“Orang kuat pun memiliki tubuh,
hati, dan batas.”
Anak itu memandang pedangnya.
“Dahulu aku menangis,
tetapi tidak seorang pun datang.”
Pengembara menundukkan kepala.
“Aku tahu.”
“Tidak.
Kau tidak tahu.”
Anak itu tiba-tiba berteriak.
“Kau pergi!”
Gunung Asal Luka berguncang.
Batu-batu di lerengnya
jatuh ke laut.
“Saat aku ketakutan,
kau pergi menjadi pendekar!”
Bayangan-bayangan di sekeliling rumah
mulai bergerak cepat.
“Saat aku kesepian,
kau pergi mencari kerajaan!”
Angin berubah menjadi badai.
“Saat aku ingin dipeluk,
kau berkata kita harus kuat!”
Pedang kayu memancarkan api hitam.
“Saat aku ingin beristirahat,
kau menyuruhku terus berjalan!”
Pengembara tidak membela diri.
Setiap kalimat anak itu
memukul lebih keras
daripada tongkat naga putih.
“Kau menolong orang lain,”
lanjut sang anak,
“tetapi mengunciku di rumah ini.”
“Kau mendengarkan ribuan manusia,
tetapi tidak pernah kembali
mendengarkan aku.”
Air mata mengalir di wajahnya.
Namun ia tetap menggenggam pedang.
“Sekarang kau datang
setelah semua orang memujimu.”
“Apakah kau pulang
karena benar-benar mencariku,
atau karena ingin menjadi pahlawan
bahkan di dalam lukamu sendiri?”
Pengembara menahan napas.
Pertanyaan itu membuka
retakan terdalam dalam dadanya.
Ia ingin berkata:
“Aku telah berjuang.”
Ia ingin menjelaskan
betapa berat jalan yang ditempuhnya.
Ia ingin menunjukkan
bahwa semua pengorbanan
dilakukan agar mereka selamat.
Namun ia teringat Lautan Kesembilan.
Ia teringat bahwa penjelasan
kadang digunakan manusia
untuk menghindari tanggung jawab.
Maka ia berkata:
“Aku tidak mempunyai alasan
yang dapat menghapus kesepianmu.”
Api hitam di pedang kayu
mengecil sedikit.
“Aku memang pergi.”
Gunung berhenti berguncang.
“Aku meninggalkanmu
karena kupikir menjadi kuat
berarti tidak lagi merasakan luka.”
Anak itu terdiam.
“Aku keliru.”
Satu bayangan di depan rumah
berubah menjadi hujan.
“Aku membangun baju perang
dari kesibukan, pengetahuan,
pengabdian, dan keberanian.”
“Namun di dalam baju itu,
kau tetap menunggu sendirian.”
Anak tersebut menurunkan pedang.
Belum sepenuhnya.
Tetapi cukup rendah
untuk memperlihatkan wajahnya.
“Apakah sekarang
kau akan membawaku keluar?”
Pengembara menjawab:
“Hanya bila kau bersedia.”
“Bagaimana bila aku belum siap?”
“Aku akan duduk lebih lama.”
“Bagaimana bila aku marah?”
“Aku akan mendengarkan
tanpa memaksamu segera memaafkan.”
“Bagaimana bila aku tidak percaya kepadamu?”
Pengembara menatap matanya.
“Kepercayaan tidak dapat diminta
hanya karena aku telah meminta maaf.”
“Lalu bagaimana mendapatkannya kembali?”
“Dengan hadir berulang kali,
menepati hal-hal kecil,
dan tidak meninggalkanmu
ketika perasaanmu membuatku tidak nyaman.”
Anak itu akhirnya
meletakkan pedang kayu di lantai.
Namun begitu pedang terlepas,
tubuhnya jatuh.
Pengembara bergerak cepat
dan menahannya.
Untuk sesaat anak itu menegang.
Kemudian seluruh pertahanannya runtuh.
Ia menangis di dada pengembara.
Bukan tangis yang indah.
Bukan tangis yang tenang.
Tangis itu pecah,
tersendat,
penuh marah,
penuh kecewa,
dan penuh kata-kata
yang tidak pernah sempat diucapkan.
Pengembara tidak menyuruhnya diam.
Tidak berkata semuanya akan baik-baik saja.
Tidak memintanya segera ikhlas.
Ia hanya memeluknya
dan membiarkan air mata
menjadi bahasa pertama
yang akhirnya dipercaya.
Setiap tetes yang jatuh
mengenai lantai rumah.
Dari tetesan pertama
tumbuh rumput.
Dari tetesan kedua
muncul bunga-bunga liar.
Dari tetesan ketiga
mengalir sungai kecil
menuju Gunung Asal Luka.
Sungai itu mendaki lereng,
melawan arah air,
seolah air mata yang selama ini tertahan
sedang pulang menuju tempat
ia pertama kali dibekukan.
Ketika tangis mulai mereda,
anak itu menunjuk ke dalam rumah.
“Masih ada yang harus kau lihat.”
Pengembara berdiri.
Mereka memasuki ruang utama.
Rumah tersebut tampak kecil dari luar,
tetapi di dalamnya terdapat
lorong yang sangat panjang.
Di sisi kanan lorong
tergantung ratusan topeng.
Topeng anak penurut.
Topeng pendekar pemberani.
Topeng guru bijaksana.
Topeng penyelamat.
Topeng manusia yang selalu tenang.
Topeng seseorang
yang tidak pernah membutuhkan bantuan.
Pada setiap topeng
tertulis satu kalimat:
Agar diterima.
Agar tidak ditinggalkan.
Agar tidak dipermalukan.
Agar terlihat berguna.
Agar layak dicintai.
Pengembara menyentuh
topeng orang kuat.
Sekejap kemudian,
lorong menghilang.
Ia melihat dirinya
sebagai seorang anak
yang baru saja terjatuh.
Lututnya berdarah.
Ia ingin menangis,
tetapi dari kejauhan terdengar suara:
“Jangan cengeng.”
Anak itu menelan tangisnya.
Topeng pertama tumbuh.
Kemudian ia melihat dirinya
melakukan kesalahan.
Ia ingin mengaku,
tetapi seseorang berkata:
“Kalau kau salah,
orang tidak akan menghargaimu.”
Topeng kedua muncul.
Ia melihat dirinya membutuhkan pelukan,
tetapi tidak ada tangan
yang terulur.
Maka ia belajar
memeluk dirinya dengan baju perang.
Topeng ketiga lahir.
Pengembara kembali ke lorong.
Anak kecil berdiri di sampingnya.
“Topeng-topeng itu menyelamatkan kita,”
katanya.
“Benar,” jawab pengembara.
“Lalu mengapa harus dilepaskan?”
“Karena sesuatu yang dahulu melindungi
dapat berubah menjadi penjara
bila terus dikenakan
setelah bahaya berlalu.”
Pengembara mengambil topeng orang kuat.
Ia tidak memecahkannya.
Ia meletakkannya di lantai
dengan penuh hormat.
“Terima kasih
karena dahulu membantuku bertahan.”
Topeng itu berubah
menjadi daun emas.
Ia mengambil topeng anak penurut.
“Terima kasih
karena dahulu membantuku
menghindari kemarahan orang lain.”
Topeng berubah menjadi bunga.
Ia mengambil topeng penyelamat.
“Terima kasih
karena memberiku tujuan
saat hidup terasa kosong.”
Topeng itu berubah
menjadi lentera kecil.
Satu per satu,
ia melepaskan topeng
tanpa membenci bagian dirinya
yang pernah membutuhkannya.
Setiap topeng yang diterima
berubah menjadi sesuatu
yang berguna tetapi tidak menguasai.
Topeng keberanian
menjadi sandal untuk berjalan.
Topeng kebijaksanaan
menjadi buku catatan kosong.
Topeng kesabaran
menjadi bangku tempat beristirahat.
Topeng pengabdian
menjadi mangkuk untuk berbagi makanan.
Topeng penyelamat
menjadi lentera
yang hanya menerangi beberapa langkah,
bukan seluruh jalan manusia.
Di ujung lorong
tersisa satu topeng.
Wajahnya polos.
Tidak tersenyum.
Tidak menangis.
Tidak menunjukkan siapa pun.
Pada dahinya tertulis:
“Aku baik-baik saja.”
Pengembara mengangkatnya.
Topeng itu sangat berat.
Jauh lebih berat
daripada mahkota hitam,
singgasana putih,
dan sembilan nama terlarang.
Begitu disentuh,
rumah dipenuhi suara-suara masa lalu:
“Aku tidak apa-apa.”
“Aku sanggup sendiri.”
“Tidak perlu memikirkan aku.”
“Aku sudah terbiasa.”
“Yang lain lebih membutuhkan.”
“Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.”
Setiap kalimat membentuk
satu lapisan batu
di sekeliling hati pengembara.
Anak kecil memandangnya.
“Topeng itulah
yang paling lama kaupakai.”
“Mengapa terasa begitu berat?”
“Karena ia menyimpan
semua pertolongan yang tidak pernah kauminta.”
Pengembara mencoba meletakkannya,
tetapi topeng tersebut
menempel pada tangannya.
Ia menarik lebih kuat.
Topeng semakin berat.
Suara dari Gunung Asal Luka berkata:
“Topeng ini tidak dilepaskan
dengan kekuatan.”
“Lalu bagaimana?”
“Ucapkan apa yang disembunyikannya.”
Pengembara menutup mata.
“Aku tidak selalu baik-baik saja.”
Topeng retak sedikit.
“Aku pernah merasa kesepian
meski dikelilingi banyak manusia.”
Retakan bertambah.
“Aku pernah memberi nasihat
karena tidak tahu
bagaimana meminta ditemani.”
Sebagian topeng jatuh.
“Aku pernah menolong orang lain
agar tidak perlu melihat
betapa aku sendiri membutuhkan pertolongan.”
Topeng pecah menjadi dua.
“Aku pernah takut
bahwa bila manusia melihat kelemahanku,
mereka tidak lagi mencintaiku.”
Topeng itu akhirnya runtuh.
Di baliknya tidak terdapat cahaya.
Hanya sebuah wajah manusia biasa
yang letih dan basah oleh air mata.
Anak kecil tersenyum tipis.
“Wajah itu tidak sempurna.”
“Benar.”
“Apakah tetap layak dicintai?”
Pengembara menjawab:
“Ia tidak harus sempurna
untuk layak menerima kasih.”
Pada saat itu,
seluruh topeng di lorong
berubah menjadi kawanan burung.
Mereka terbang keluar rumah,
mengitari gunung,
lalu hinggap di pohon-pohon
yang tumbuh di lereng batu.
Di ujung lorong terdapat ruang kecil.
Di tengah ruang itu
berdiri sebuah ranjang kosong.
Di bawahnya tersimpan
peti kayu sederhana.
Anak kecil menunjuk peti tersebut.
“Di sanalah sumpah pertama disimpan.”
Pengembara membuka tutupnya.
Di dalam peti
terdapat selembar kain hitam
dan sebuah batu berbentuk hati.
Pada kain itu tertulis:
“Aku tidak akan membutuhkan siapa pun.”
Sedangkan pada batu:
“Aku harus menjadi kuat
agar layak dicintai.”
Pengembara menyentuh batu hati.
Seketika rumah tua menghilang.
Ia berdiri di tengah badai masa lalu.
Di hadapannya,
seorang anak menunggu
di depan pintu yang tidak pernah terbuka.
Hari pertama, anak itu berharap.
Hari kedua, ia masih menunggu.
Hari ketiga,
ia mulai menyalahkan dirinya.
“Mungkin aku terlalu merepotkan.”
Hari keempat:
“Mungkin aku tidak cukup baik.”
Hari ketujuh:
“Mungkin aku harus lebih kuat.”
Hari keseratus,
anak itu berhenti menunggu.
Ia mengambil pedang kayu,
memakai topeng orang kuat,
lalu bersumpah:
“Aku tidak akan pernah
membutuhkan siapa pun lagi.”
Badai berhenti.
Pengembara kembali berdiri
di dalam ruang kecil.
Batu hati masih berada
di tangannya.
“Siapa yang mengukir sumpah ini?”
tanyanya.
Anak kecil menjawab:
“Kita sendiri.”
“Bisakah dihapus?”
“Tidak dengan menyangkal
bahwa sumpah itu pernah menyelamatkan kita.”
Pengembara memeluk batu tersebut.
“Dahulu sumpah ini
membuat kita tetap berdiri.”
Batu menjadi hangat.
“Namun sekarang
kita tidak lagi hidup
di depan pintu yang sama.”
Tulisan pada batu mulai memudar.
“Kita boleh membutuhkan orang lain
tanpa menyerahkan seluruh hidup kepada mereka.”
Retakan muncul.
“Kita boleh meminta pertolongan
tanpa menjadi tidak berharga.”
Batu terbelah.
“Dan kita tetap layak dicintai
ketika sedang lemah, bingung,
gagal, atau belum mengetahui jalan.”
Batu hati pecah.
Dari dalamnya keluar
seekor burung kecil berwarna biru.
Burung itu terbang mengelilingi anak,
lalu hinggap di bahunya.
Untuk pertama kalinya,
anak tersebut tertawa.
Bukan karena semua luka hilang.
Melainkan karena sumpah lama
tidak lagi menentukan
seluruh masa depannya.
Kain hitam di dalam peti
berubah menjadi selimut hangat.
Anak itu membawanya
ke ranjang kosong.
“Untuk siapa selimut ini?”
tanya pengembara.
“Untuk kita,
ketika suatu hari merasa lelah.”
“Apakah kita boleh beristirahat?”
“Gunung tidak akan runtuh
hanya karena kita berhenti satu malam.”
Rumah tua bergetar.
Jendelanya terbuka.
Cahaya pertama masuk.
Di luar, Gunung Asal Luka
masih menjulang sangat tinggi.
Namun awan hitam di puncaknya
mulai menipis.
Anak kecil berjalan
menuju halaman.
“Kita belum selesai,” katanya.
“Apa lagi yang menunggu?”
Anak menunjuk gunung.
Pada lerengnya terdapat tujuh gua.
Masing-masing mengeluarkan cahaya berbeda.
Gua pertama bercahaya merah.
Gua kedua biru.
Gua ketiga putih.
Gua keempat hitam.
Gua kelima kuning.
Gua keenam hijau.
Sedangkan gua ketujuh
tidak mengeluarkan cahaya,
tetapi dari dalamnya
terdengar suara detak jantung.
Pada kaki gunung
berdiri tujuh sosok
mengenakan jubah panjang.
Sosok pertama membawa rantai.
Sosok kedua membawa mangkuk pecah.
Sosok ketiga membawa cermin.
Sosok keempat membawa lilin padam.
Sosok kelima membawa timbangan.
Sosok keenam membawa benih.
Sosok ketujuh berdiri
dengan tangan kosong.
Anak berkata:
“Mereka adalah tujuh penjaga
dari luka yang tidak pernah
diberi kesempatan berbicara.”
“Apakah mereka musuh?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa membawa rantai
dan cermin?”
“Karena luka memiliki banyak cara
menjaga dirinya.”
Penjaga pertama melangkah maju.
Wajahnya tertutup kain merah.
“Aku adalah Luka Penolakan,” katanya.
“Aku mengajarkan anak ini
untuk pergi lebih dahulu
sebelum orang lain sempat meninggalkannya.”
Penjaga kedua mengangkat mangkuk pecah.
“Aku adalah Luka Kekurangan.
Aku membuatnya terus mengumpulkan
walau tidak pernah merasa cukup.”
Penjaga ketiga menunjukkan cermin.
“Aku adalah Luka Perbandingan.
Aku membuatnya menilai harga dirinya
melalui kehidupan orang lain.”
Penjaga keempat menyalakan
lilin yang tidak mempunyai api.
“Aku adalah Luka Kehilangan.
Aku membuatnya takut mencintai
karena semua yang dicintai
suatu hari dapat pergi.”
Penjaga kelima memegang timbangan.
“Aku adalah Luka Ketidakadilan.
Aku membuatnya menghitung
setiap kebaikan yang tidak dibalas.”
Penjaga keenam menunjukkan benih.
“Aku adalah Luka Kegagalan.
Aku membuatnya takut menanam
karena tidak semua benih tumbuh.”
Penjaga ketujuh
tetap dengan tangan kosong.
Pengembara bertanya:
“Dan engkau?”
Sosok itu membuka tudungnya.
Wajahnya sama dengan wajah pengembara,
namun jauh lebih tua.
“Aku adalah Luka Tidak Dicintai.”
Seluruh gunung menjadi sunyi.
“Aku tidak membawa benda,”
lanjutnya,
“karena aku dapat menggunakan
benda apa pun untuk membuktikan
bahwa seseorang tidak layak dicintai.”
Ia menunjuk kekayaan.
“Bila kau tidak memilikinya,
aku berkata kau tidak berharga.”
Ia menunjuk keberhasilan.
“Bila kau gagal,
aku berkata tidak ada yang bangga kepadamu.”
Ia menunjuk hubungan manusia.
“Bila seseorang pergi,
aku berkata semua orang
akhirnya akan meninggalkanmu.”
Ia menunjuk pengabdian.
“Bila pertolonganmu tidak dibutuhkan,
aku berkata hidupmu tidak berguna.”
Ia menunjuk kesendirian.
“Bila malam menjadi sunyi,
aku berkata tidak ada seorang pun
yang sungguh-sungguh mencintaimu.”
Anak kecil bersembunyi
di belakang pengembara.
Penjaga ketujuh berkata:
“Aku adalah penjaga puncak.”
“Apa yang kaujaga?”
“Sebuah ruang
tempat seluruh kasih yang pernah diterima
tidak dapat masuk.”
“Mengapa?”
“Karena anak ini percaya
kasih selalu memiliki syarat.”
Pengembara menggenggam tongkat kayu.
Namun anak menarik ujung jubahnya.
“Jangan melawannya.”
“Mengapa?”
“Semakin ia dilawan,
semakin banyak bukti
yang akan ia ciptakan.”
Penjaga Luka Tidak Dicintai tersenyum.
“Anak itu benar.”
Ia mendekati pengembara.
“Kau dapat mengalahkan kerajaan,
tetapi kau tidak dapat memaksakan
dirimu merasa layak dicintai.”
“Lalu bagaimana melewatimu?”
“Naiklah ke tujuh gua.”
“Apa yang ada di sana?”
“Bukan jawaban.”
“Lalu?”
“Kenangan yang selama ini
hanya kauingat dari sisi luka.”
Ketujuh penjaga berbalik
dan mulai mendaki.
Anak kecil memegang tangan pengembara.
Tangannya dingin.
“Apakah kau takut?”
tanya pengembara.
“Ya.”
Lonceng Ketakutan di pinggangnya
berbunyi lembut.
Bahaya itu nyata,
tetapi tidak berarti
mereka harus kembali bersembunyi.
“Aku pun takut,”
kata pengembara.
“Orang dewasa boleh takut?”
“Boleh.”
“Apakah kita tetap naik?”
“Kita naik perlahan.”
Mereka melangkah
menuju gua pertama.
Setiap langkah
membuat rumah tua di belakangnya
berubah sedikit demi sedikit.
Dinding yang retak
ditumbuhi tanaman merambat.
Atap yang bocor
menjadi tempat cahaya masuk.
Pintu yang dahulu terkunci
dibiarkan terbuka.
Bukan karena dunia telah aman sepenuhnya,
melainkan karena rumah itu
tidak lagi harus menjadi penjara.
Ketika mereka mencapai
mulut gua merah,
penjaga Luka Penolakan
menunggu di dalam.
Dinding gua dipenuhi
nama-nama orang yang pernah pergi.
Sebagian pergi karena kematian.
Sebagian karena pilihan.
Sebagian karena salah paham.
Sebagian karena pengembara sendiri
mendorong mereka menjauh
sebelum sempat mendekat.
Di tengah gua
terdapat sebuah kursi kosong.
Di atasnya tergeletak surat:
“Aku pergi
bukan karena engkau tidak layak dicintai.”
Pengembara mengambil surat itu.
Namun bagian bawahnya hilang.
Penjaga Luka Penolakan berkata:
“Selama ini kau hanya membaca
bagian yang ditulis oleh ketakutanmu.”
“Apa bagian yang hilang?”
“Temukan sendiri
melalui semua perpisahan
yang tidak pernah kauizinkan selesai.”
Dari dinding gua
muncul pintu-pintu kecil.
Di balik pintu pertama
berdiri seorang sahabat lama.
Di balik pintu kedua
seseorang yang pernah dicintai.
Di balik pintu ketiga
seseorang yang dahulu menjanjikan
tidak akan pergi.
Di balik pintu keempat
berdiri pengembara sendiri
pada usia yang lebih muda.
Masing-masing memegang
sepotong kalimat dari surat.
Sahabat lama berkata:
“Aku pergi
karena jalan hidup kita berbeda.”
Orang yang pernah dicintai berkata:
“Aku pergi
karena aku pun memiliki luka
yang tidak mampu kujelaskan.”
Orang yang pernah berjanji berkata:
“Aku gagal menepati kata-kataku.
Kesalahanku tidak menentukan nilaimu.”
Sedangkan pengembara muda berkata:
“Aku meninggalkan banyak bagian diriku
agar dapat diterima orang lain.”
Potongan-potongan kalimat
terbang menuju surat.
Tulisan lengkapnya berbunyi:
“Aku pergi
bukan karena engkau tidak layak dicintai.
Sebagian kepergian adalah pilihan,
sebagian adalah keterbatasan,
sebagian adalah akhir yang tidak dapat dicegah,
dan sebagian terjadi
karena kita belum mampu mencintai
tanpa saling melukai.”
Anak kecil membaca surat itu.
“Apakah ini berarti
semua yang pergi harus dimaafkan?”
Pengembara menjawab:
“Tidak semua harus diterima kembali.”
“Mengapa?”
“Memaafkan tidak selalu berarti
membuka kembali pintu
kepada orang yang terus merusak rumah.”
“Lalu apa artinya?”
“Melepaskan keyakinan
bahwa kepergian mereka
membuktikan kita tidak berharga.”
Gua merah bergetar.
Nama-nama di dinding
berubah menjadi daun.
Sebagian daun jatuh.
Sebagian tetap menempel.
Sebagian diterbangkan angin
menuju tempat yang tidak diketahui.
Penjaga Luka Penolakan
membuka kain merah dari wajahnya.
Ternyata ia tidak mempunyai mulut.
“Mengapa wajahmu demikian?”
tanya anak.
“Karena setiap kali seseorang pergi,
kalian membuat kesimpulan
tanpa pernah berbicara kepadaku.”
Pengembara menyentuh wajahnya.
Sebuah mulut muncul.
Penjaga itu berkata:
“Penolakan memang menyakitkan.
Namun ia tidak selalu berarti
seluruh dirimu ditolak.”
Tubuhnya berubah menjadi
sebuah pintu merah kecil.
Pintu itu dapat ditutup
ketika batas perlu dijaga,
tetapi juga dapat dibuka
tanpa ketakutan berlebihan.
Mereka melanjutkan pendakian.
Di bawah gunung,
laut mulai berubah warna.
Dari hitam menjadi biru tua.
Dari biru tua menjadi nila.
Namun ketika mendekati gua kedua,
terdengar suara gemuruh
dari puncak.
Penjaga Luka Tidak Dicintai
berdiri sangat jauh di atas.
Ia mengangkat kedua tangan.
Awan hitam membentuk
sebuah wajah raksasa.
Wajah itu berkata:
“Jangan percaya kepada perubahan kecil.”
“Satu surat tidak akan menghapus
seluruh hidup yang telah membuatmu kecewa.”
Anak kecil berhenti.
Tangannya kembali dingin.
“Mungkin ia benar,” katanya.
Pengembara menatap puncak.
“Mungkin satu langkah
tidak menyelesaikan perjalanan.”
“Lalu apa gunanya?”
“Satu langkah tidak harus
menjadi seluruh jalan
agar tetap berarti.”
Mereka kembali berjalan.
Namun sebelum mencapai gua kedua,
Gunung Asal Luka terbelah.
Dari retakannya keluar
sebuah naga hitam
yang tubuhnya tersusun
dari semua kalimat buruk
yang pernah dipercaya pengembara.
Pada sisiknya tertulis:
Kau tidak cukup baik.
Kau akan ditinggalkan.
Kau hanya berharga bila berguna.
Jangan mempercayai siapa pun.
Jangan tunjukkan kelemahan.
Cinta selalu berakhir dengan kehilangan.
Naga itu terbang mengitari gunung.
Setiap kepakan sayapnya
memadamkan cahaya dari keenam gua.
Hanya gua ketujuh
yang tetap berdetak dalam gelap.
Naga membuka mulut
dan mengeluarkan suara
yang sangat mirip
dengan suara pengembara sendiri:
“Kembalilah ke rumah.”
“Mengapa harus membuka luka
yang sudah lama dikubur?”
“Bukankah kau telah mampu hidup
dengan baju perangmu?”
Anak kecil menggenggam pedang kayu
yang tadi telah diletakkan.
Pedang itu muncul kembali
di tangannya.
Pengembara melihatnya.
“Apakah kau ingin melawan naga?”
Anak itu menggeleng.
“Aku ingin bersembunyi.”
Pengembara berlutut.
“Kita boleh berhenti sebentar.”
“Tetapi ia akan mengejar.”
“Maka kita tidak akan berpura-pura
naga itu tidak ada.”
“Apakah kau dapat mengalahkannya?”
Pengembara memandang
tongkat kayu sederhana di tangannya.
“Aku belum tahu.”
Anak itu menatapnya lama.
Dahulu jawaban “aku tidak tahu”
akan membuatnya semakin takut.
Namun kini kalimat itu
terdengar jujur.
“Lalu apa yang kita lakukan?”
Pengembara berdiri.
“Kita dengarkan
dari mana suaranya berasal.”
Naga menyelam
menuju mereka.
Alih-alih mengangkat senjata,
pengembara membuka kedua tangannya.
Naga berhenti tepat di depan wajahnya.
Matanya merah.
Taringnya panjang.
Namun di dalam pupilnya
terlihat seorang anak
sedang bersembunyi di bawah meja.
Pengembara berkata:
“Engkau bukan naga.”
Makhluk itu meraung.
“Aku adalah ketakutan
yang menyelamatkanmu!”
“Engkau pernah menyelamatkan kami.”
Naga terdiam.
“Ketika dunia terasa berbahaya,
engkau mengajarkan kami
untuk tidak terlalu berharap.”
Sisik bertuliskan
“Kau akan ditinggalkan”
mulai retak.
“Ketika kasih terasa tidak pasti,
engkau mengajarkan kami
agar selalu siap pergi.”
Sisik kedua pecah.
“Ketika pertolongan tidak datang,
engkau mengajarkan kami
menjadi kuat sendirian.”
Sayap naga turun.
“Namun sekarang
engkau masih membakar seluruh langit,
meski sebagian bahaya telah berlalu.”
Naga memandang anak kecil.
“Bila aku berhenti menjaga,
siapa yang akan melindunginya?”
Pengembara menjawab:
“Aku.”
“Engkau pernah meninggalkannya.”
“Benar.”
“Mengapa aku harus percaya?”
“Engkau tidak harus percaya sekaligus.”
Pengembara mengulurkan tangan.
“Berikan aku satu malam
untuk berjaga bersamamu.”
Naga hitam menundukkan kepala.
Tubuhnya menyusut perlahan.
Dari sebesar gunung,
menjadi sebesar rumah.
Dari sebesar rumah,
menjadi sebesar kuda.
Akhirnya ia berubah
menjadi seekor naga kecil
yang dapat melingkar
di bahu sang anak.
Tulisan-tulisan buruk
pada sisiknya menghilang.
Tersisa satu kalimat:
“Waspada, tetapi tetap hidup.”
Anak kecil menyentuh kepalanya.
Naga itu tidak lagi menyemburkan api.
Ia hanya menghembuskan
asap hangat seperti napas.
Cahaya dari enam gua
menyala kembali.
Namun gua ketujuh
berdenyut semakin keras.
Detaknya menyatu
dengan jantung pengembara.
Dum.
Langit menjadi merah tua.
Dum.
Gunung kembali menjulang,
lebih tinggi daripada sebelumnya.
Dum.
Dari puncaknya turun
sebuah tangga yang dibuat
dari tulang-tulang sumpah lama.
Penjaga Luka Tidak Dicintai
berdiri di anak tangga tertinggi.
Di belakangnya terdapat
sebuah pintu berbentuk hati.
“Enam gua lain
masih dapat menunggu,” katanya.
“Mengapa?”
tanya pengembara.
“Karena sesuatu telah terbangun
di balik pintu ketujuh.”
“Apa yang terbangun?”
Sosok tua itu menoleh
kepada pintu hati.
Dari baliknya terdengar
ribuan suara manusia:
“Cintailah aku.”
“Jangan tinggalkan aku.”
“Buktikan bahwa aku penting.”
“Pilih aku.”
“Butuhkan aku.”
“Jangan melihat kelemahanku.”
“Jangan berubah.”
“Jangan pergi.”
Pintu hati mulai retak.
Cahaya merah keluar dari celahnya.
“Di balik pintu itu,”
kata penjaga,
“tertidur Raja Kelaparan Kasih.”
“Siapakah dia?”
“Ia lahir ketika seorang anak
percaya bahwa kasih adalah sesuatu
yang harus direbut, dibuktikan,
atau dibayar dengan pengorbanan diri.”
Anak kecil memegang dada.
“Apakah ia bagian dariku?”
“Ia adalah bagian dari kalian berdua.”
Pintu berbentuk hati
pecah seluruhnya.
Dari dalam gunung
muncul sosok raksasa
mengenakan jubah dari ribuan tangan.
Sebagian tangan memeluk.
Sebagian menarik.
Sebagian memberi bunga.
Sebagian menggenggam terlalu kuat
hingga bunga-bunga itu hancur.
Wajahnya berubah-ubah.
Kadang menjadi orang tua.
Kadang menjadi kekasih.
Kadang menjadi sahabat.
Kadang menjadi pengikut.
Kadang menjadi wajah pengembara sendiri.
Di dadanya terdapat lubang besar
yang terus menelan cahaya.
Semakin banyak cahaya masuk,
semakin besar lubang itu menjadi.
Raja Kelaparan Kasih membuka mata.
“Akhirnya kau pulang,” katanya.
Suaranya membuat seluruh laut
naik menuju langit.
“Berikan anak itu kepadaku.”
Pengembara berdiri
di depan sang anak.
“Untuk apa?”
“Aku akan membuatnya
tidak pernah kesepian lagi.”
Dari jubah ribuan tangan
muncul berbagai sosok
yang memanggil nama anak.
Mereka tersenyum.
Membawa hadiah.
Membuka pelukan.
Menjanjikan tidak akan pernah pergi.
Anak kecil melangkah satu kali.
Pengembara memegang tangannya.
Bukan untuk menahan,
melainkan mengingatkan bahwa ia tidak sendiri.
Raja itu berkata:
“Aku dapat memberimu
semua kasih yang dahulu tidak kauperoleh.”
“Apa harganya?”
tanya anak.
Raja Kelaparan Kasih tersenyum.
“Hanya satu.”
Lubang di dadanya melebar.
“Kau harus menjadi
apa pun yang mereka inginkan.”
Semua tangan pada jubahnya
menjulurkan pakaian berbeda.
Pakaian anak sempurna.
Pakaian pendekar.
Pakaian guru.
Pakaian penyelamat.
Pakaian manusia
yang selalu mengalah.
Pakaian seseorang
yang tidak pernah berkata tidak.
“Kenakan semuanya,” kata sang raja.
“Selama kau terus menyenangkan mereka,
mereka akan terus mencintaimu.”
Anak kecil memandang pengembara.
“Apakah cinta memang seperti itu?”
Pengembara merasakan luka
berdenyut di dalam dadanya.
Ia pernah hidup
dengan keyakinan yang sama.
Ia pernah menukar batas
dengan penerimaan.
Menukar kejujuran
dengan ketenangan sementara.
Menukar kebutuhan diri
dengan kesempatan untuk dibutuhkan.
Ia berlutut di samping anak.
“Kasih yang sehat tidak meminta kita
kehilangan diri sendiri
agar pantas menerimanya.”
Raja Kelaparan Kasih tertawa.
“Kata-kata indah!”
Ia mengangkat tangan.
Sekejap kemudian,
seluruh orang yang pernah dicintai pengembara
muncul di lereng gunung.
Mereka berkata:
“Berubahlah untuk kami.”
“Jangan kecewakan kami.”
“Jangan mempunyai batas.”
“Buktikan cintamu
dengan selalu mengalah.”
“Bila kau menolak,
berarti kau tidak sungguh mencintai.”
Anak kecil menutup telinganya.
Pengembara berdiri.
“Kasih tidak boleh dipakai
untuk mencabut hak seseorang
menjaga dirinya.”
Raja itu meraung.
“Tanpa pengorbanan,
tidak ada cinta!”
“Cinta memang meminta pengorbanan.”
Pengembara mengangkat tongkatnya.
“Tetapi pengorbanan yang sehat
tidak selalu dilakukan oleh satu pihak,
tidak dipaksakan dengan rasa bersalah,
dan tidak menjadikan luka
sebagai bukti kesetiaan.”
Salah satu tangan pada jubah raja
melepaskan genggamannya.
“Cinta membutuhkan kesabaran.”
“Benar,” jawab pengembara.
“Namun kesabaran bukan perintah
untuk membiarkan diri terus disakiti.”
Tangan kedua jatuh.
“Cinta berarti memaafkan!”
“Memaafkan tidak selalu berarti
menghapus batas.”
Tangan ketiga lenyap.
“Cinta berarti selalu hadir!”
“Manusia memiliki keterbatasan.
Hadir dengan jujur
lebih baik daripada janji abadi
yang tidak mampu ditepati.”
Ratusan tangan terlepas.
Raja Kelaparan Kasih
menjadi semakin kecil.
Namun lubang di dadanya
semakin besar.
Ia berteriak:
“Bila mereka pergi,
siapa yang akan mengisi lubang ini?”
Pengembara menatap lubang tersebut.
Di dalamnya ia melihat
dirinya sendiri
berlari dari satu manusia ke manusia lain,
meminta agar masing-masing
menutup kehampaan yang sama.
Namun setiap tangan manusia
hanya dapat menutupi sebentar.
Ketika tangan itu pergi,
lubang terasa lebih besar.
Ruang Kehampaan di dada pengembara
berdenyut lembut.
Ia memahami:
Tidak semua ruang kosong
harus diisi oleh orang lain.
Sebagian ruang
harus dipeluk, dirawat,
dan diserahkan kepada Alloh
tanpa memaksa manusia
menjadi obat bagi seluruh luka.
Pengembara mendekati sang raja.
“Lubang itu tidak akan tertutup
hanya dengan mengambil kasih
dari sebanyak-banyaknya manusia.”
“Lalu dengan apa?”
“Dengan belajar menerima kasih
tanpa menelannya.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kasih bukan benda
yang dapat ditimbun
sampai rasa takut hilang selamanya.”
“Lalu?”
“Ia dialami, disyukuri,
dijaga, dan dilepaskan
ketika waktunya berubah.”
Pengembara menyentuh
tepi lubang di dada sang raja.
Tidak ada cahaya besar.
Tidak ada mukjizat.
Ia hanya berkata:
“Engkau tidak harus kenyang selamanya
untuk mengetahui bahwa hari ini
engkau telah menerima sesuatu.”
Anak kecil mendekat.
Ia mengambil selimut hangat
yang berasal dari sumpah lama,
lalu menutupkan sebagian lubang itu.
Naga kecil di bahunya
menghembuskan napas hangat.
Burung biru hinggap
di kepala sang raja.
Raja Kelaparan Kasih menangis.
Setiap air matanya
berubah menjadi tangan kecil
yang tidak lagi menarik.
Tangan-tangan itu hanya terbuka,
siap memberi dan menerima
tanpa menggenggam berlebihan.
Tubuh raja mengecil.
Dari raksasa sebesar gunung
menjadi seorang lelaki tua.
Dari lelaki tua
menjadi anak kecil kedua
yang duduk di tanah.
Anak itu memandang
anak pertama.
“Apakah kau akan meninggalkanku?”
Anak pertama menjawab:
“Aku tidak tahu
bagaimana masa depan.”
Anak kedua mulai menangis.
Namun anak pertama melanjutkan:
“Tetapi saat ini
aku duduk di sini.”
Kedua anak itu saling berpelukan.
Tidak ada janji abadi.
Tidak ada sumpah
bahwa mereka tidak akan pernah berpisah.
Hanya kehadiran nyata
yang tidak bersembunyi
di balik kepastian palsu.
Gunung Asal Luka
memancarkan cahaya dari dalam.
Batu-batunya tidak runtuh.
Gunung itu tetap berdiri.
Namun tulisan pada lerengnya berubah.
Dahulu tertulis:
“TEMPAT SEORANG MANUSIA
PERTAMA KALI BELAJAR
BAHWA IA HARUS MENJADI KUAT
AGAR LAYAK DICINTAI.”
Kini aksaranya berbunyi:
“TEMPAT SEORANG MANUSIA
BELAJAR BAHWA KEKUATAN
BUKAN SYARAT UNTUK DICINTAI,
MELAINKAN SALAH SATU CARA
MENJAGA KEHIDUPAN.”
Pengembara menatap puncak.
Enam gua yang belum dimasuki
masih menunggu.
Luka Kekurangan.
Luka Perbandingan.
Luka Kehilangan.
Luka Ketidakadilan.
Luka Kegagalan.
Dan Luka Tidak Dicintai
yang masih berdiri
di tangga tertinggi.
Penjaga tua itu berkata:
“Kau telah melemahkan
Raja Kelaparan Kasih.”
“Apakah ia telah sembuh?”
“Luka tidak selalu selesai
dalam satu pertemuan.”
“Apakah ia akan kembali?”
“Mungkin.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Kenali ia
sebelum ia kembali memakai mahkota.”
Angin dari laut
membawa suara lonceng.
Kapal merah masih menunggu
di kejauhan.
Namun di cakrawala,
air samudra mulai naik.
Dari bawah laut muncul
tujuh kapal tanpa layar.
Setiap kapal membawa
sebuah rumah tua yang serupa.
Di jendela masing-masing rumah
duduk seorang anak
yang memegang pedang kayu.
Pengembara memandangnya.
“Siapakah mereka?”
Penjaga tua menjawab:
“Mereka adalah anak-anak
dari kehidupan lain
yang lukanya terhubung
dengan luka di gunung ini.”
“Apakah aku harus menolong semuanya?”
Anak kecil di sampingnya
menggenggam tangannya.
“Kau baru saja berjanji
tidak meninggalkanku lagi.”
Pengembara terdiam.
Di masa lalu,
ia mungkin akan segera berlari
menuju tujuh kapal.
Membuka semua rumah.
Mendengarkan seluruh tangisan.
Namun kini ia mengerti
bahwa berbuat baik tidak harus dimulai
dengan meninggalkan bagian diri
yang sedang membutuhkan kehadiran.
Ia menatap tujuh kapal
dan berkata:
“Aku tidak akan datang
sebagai penyelamat.”
Cahaya dari rumah-rumah itu
bergetar.
“Aku akan mengirim lentera,
membuka jalur menuju gunung,
dan memanggil orang-orang
yang bersedia berjalan bersama.”
“Tetapi aku tidak akan
mengambil seluruh anak
dan menjadikan diriku
satu-satunya tempat mereka bergantung.”
Tongkat kayu di tangannya
menyentuh tanah.
Dari Gunung Asal Luka
tumbuh tujuh jalan cahaya.
Setiap jalan menuju satu kapal.
Di sepanjang jalan muncul
orang-orang biasa:
Seorang ibu yang pernah sembuh
dari kesedihannya.
Seorang ayah yang belajar meminta maaf.
Seorang sahabat yang mampu mendengarkan.
Seorang tabib yang merawat tubuh.
Seorang guru yang tidak takut dikoreksi.
Seorang pemimpin yang memahami batas.
Dan seorang pengembara lain
yang membawa mangkuk kosong.
Mereka berjalan bersama
menuju rumah-rumah di atas kapal.
Tidak ada satu orang
memegang seluruh kunci.
Anak kecil memandang pengembara.
“Apakah sekarang
kau akan terus bersamaku?”
Pengembara menjawab:
“Aku akan belajar kembali kepadamu
setiap kali mulai kehilangan diriku.”
“Itu bukan janji selamanya.”
“Bukan.”
“Mengapa?”
“Karena aku mungkin lupa,
lelah, salah, atau tersesat.”
Anak itu tampak kecewa.
Pengembara melanjutkan:
“Namun ketika aku menyadarinya,
aku akan berusaha pulang,
meminta maaf,
dan memperbaiki kehadiranku.”
Anak itu memikirkan kalimat tersebut.
Kemudian mengangguk.
“Janji itu lebih kecil.”
“Ya.”
“Tetapi terasa lebih nyata.”
Mereka berdiri
menghadap Gunung Asal Luka.
Puncaknya kini terlihat
di balik awan.
Di atas puncak
tumbuh sebuah pohon raksasa.
Akar-akarnya menembus gunung.
Dahan-dahannya menyentuh bintang.
Pada setiap daun
tertulis satu nama manusia
yang pernah mengasihi pengembara
dengan caranya sendiri.
Sebagian kasih sempurna.
Sebagian canggung.
Sebagian terlambat.
Sebagian bercampur luka.
Sebagian hanya hadir sebentar.
Namun semuanya pernah menjadi
setetes air
di tengah perjalanan panjang.
Di bawah pohon terdapat
sebuah sumur bercahaya.
Penjaga tua berkata:
“Di situlah tersimpan
air pertama yang dahulu
membuat Tiongkok Dasar Laut hidup.”
“Mengapa sumbernya berada
di Gunung Asal Luka?”
“Karena tempat yang paling terluka
sering menyimpan jalan
menuju kasih yang paling jujur.”
“Apakah air itu dapat
menyembuhkan seluruh gunung?”
“Tidak.”
“Lalu untuk apa?”
“Agar luka tidak berubah
menjadi racun.”
Pengembara memandang
enam gua yang tersisa.
Perjalanan belum selesai.
Masih ada kenangan
yang harus didengarkan.
Batas yang harus dibangun.
Kesedihan yang harus ditangisi.
Kemarahan yang harus diarahkan.
Dan kasih yang harus diterima
tanpa kehilangan diri sendiri.
Namun sebelum mereka mulai mendaki,
pohon di puncak gunung
menggugurkan satu daun.
Daun itu melayang turun
dan jatuh di tangan anak kecil.
Pada permukaannya tertulis:
“Engkau tidak perlu menjadi kuat
setiap saat untuk tetap layak dicintai.”
Anak itu membaca perlahan.
Kemudian menyerahkan daun tersebut
kepada pengembara.
“Simpanlah.”
“Untuk apa?”
“Agar ketika kau kembali
memakai baju perang,
kau ingat bahwa rumah ini
masih mempunyai pintu.”
Pengembara menyimpan daun
di dekat cermin kecil
dari Lautan Kesembilan.
Cermin mengingatkannya
agar tidak menjadi berhala.
Daun mengingatkannya
agar tidak menjadikan luka
sebagai alasan untuk terus berperang.
Mereka pun melangkah
menuju tangga gunung.
Namun saat kaki menyentuh
anak tangga pertama,
sumur cahaya di puncak
mendadak berubah merah.
Pohon raksasa mengguncangkan dahannya.
Seluruh nama pada daun
terhapus bersamaan.
Dari dalam sumur
terdengar suara seorang perempuan:
“Air pertama telah diracuni.”
Gunung bergetar.
Enam penjaga tersisa
serentak menoleh ke puncak.
Penjaga Luka Kehilangan
menjatuhkan lilin padamnya.
Penjaga Luka Ketidakadilan
mengangkat timbangan.
Penjaga Luka Tidak Dicintai
berbisik:
“Seseorang telah memasuki sumber
sebelum kalian tiba.”
Dari balik pohon
muncul bayangan berjubah putih.
Di tangannya terdapat
mangkuk yang dipenuhi air hitam.
Wajahnya tidak terlihat.
Namun pada punggung jubahnya
terukir lambang lama:
Seekor ikan emas
yang menelan burung phoenix.
Pengembara mengenali lambang itu.
Lambang kerajaan
yang dahulu menenggelamkan
Tiongkok Dasar Laut.
Sosok berjubah putih
mengangkat mangkuk
dan berkata:
“Kalian terlalu sibuk
menyembuhkan luka pribadi.”
“Sementara itu,
kami telah meminum
dari sumber kasih dunia.”
Langit berubah hitam.
Pohon raksasa mulai layu.
Tujuh jalan cahaya
menuju kapal-kapal anak
padam satu demi satu.
Sosok itu tertawa.
“Kini setiap manusia
yang mencari kasih
akan datang kepada kami.”
“Dan untuk mendapatkannya,
mereka harus menyerahkan
nama, kehendak, ingatan,
serta seluruh kebebasannya.”
Anak kecil menggenggam tangan pengembara.
Naga kecil di bahunya
mulai menggeram.
Pengembara mengangkat tongkat kayu.
Namun Penjaga Luka Tidak Dicintai
menghalangi jalannya.
“Jangan menyerang sekarang.”
“Sumber itu sedang diracuni!”
“Benar.”
“Lalu mengapa menahanku?”
Penjaga menunjuk dada pengembara.
Lubang kecil
dari Raja Kelaparan Kasih
masih belum sepenuhnya tertutup.
“Karena musuh di puncak
tidak hanya membawa racun.”
“Apa lagi?”
“Ia akan menawarkan kasih
yang paling ingin diterima
oleh bagian dirimu
yang belum selesai dipeluk.”
Sosok berjubah putih
membuka tudungnya.
Wajah yang terlihat
bukan wajah musuh.
Bukan pula wajah raja.
Ia memakai wajah seseorang
yang paling dirindukan pengembara.
Sosok itu mengulurkan tangan.
“Pulanglah kepadaku,” katanya lembut.
“Tinggalkan gunung,
anak kecil,
kerajaan, dan seluruh tugasmu.”
“Aku akan mencintaimu
tanpa pernah pergi.”
Anak kecil menatap pengembara
dengan takut.
Pohon cahaya terus layu.
Air hitam mengalir
menuruni lereng gunung.
Dan untuk pertama kalinya,
pengembara harus memilih:
Mengejar kasih
yang selama ini paling dirindukannya,
atau tetap berdiri
di samping bagian dirinya
yang baru saja belajar
mempercayainya kembali.
PUISI TIONGKOK DASAR LAUT
Bait Kesembilan — Air Pertama, Kasih yang Membebaskan, dan Kepulangan Terakhir
Sosok berjubah putih itu
berdiri di bawah pohon cahaya
yang semakin kehilangan daunnya.
Wajahnya adalah wajah seseorang
yang paling dirindukan pengembara—
wajah yang selama bertahun-tahun
muncul di antara mimpi,
doa yang tidak selesai,
kesunyian menjelang tidur,
dan perjalanan jauh
yang seolah selalu mencari
satu rumah yang pernah hilang.
Sosok itu mengulurkan tangan.
“Pulanglah kepadaku.”
Suaranya lembut,
lebih lembut daripada hujan pertama
yang menyentuh tanah kering.
“Tinggalkan gunung ini.”
Air hitam terus mengalir
dari sumur di puncak.
“Tinggalkan kerajaan,
kapal merah,
para penjaga,
dan anak kecil itu.”
Anak kecil di samping pengembara
menggenggam ujung jubahnya semakin erat.
“Aku akan mencintaimu
tanpa pernah pergi.”
Langit mendadak menjadi sunyi.
Tidak terdengar suara naga kecil.
Tidak terdengar daun berjatuhan.
Bahkan detak Gunung Asal Luka
seolah berhenti untuk mendengarkan.
Pengembara menatap tangan
yang terulur kepadanya.
Betapa lama ia menunggu
tangan semacam itu.
Tangan yang tidak menarik diri
ketika ia lelah.
Tangan yang tidak menuntutnya
menjadi lebih kuat.
Tangan yang tidak memintanya
membuktikan nilai diri
melalui kemenangan, pengabdian,
pengetahuan, atau pengorbanan.
Tangan yang berkata:
“Engkau cukup.”
Dada pengembara bergetar.
Lubang kecil yang dahulu ditinggalkan
Raja Kelaparan Kasih
kembali terasa terbuka.
Dari lubang itu muncul suara:
“Mungkin inilah akhir perjalanan.”
“Mungkin seluruh gunung, lautan,
dan kerajaan hanya membawamu
kepada sosok ini.”
“Mungkin semua luka
akan hilang bila kau menerima tangannya.”
Sosok berjubah putih
tersenyum lebih hangat.
“Kau tidak perlu lagi berjuang.”
Di belakangnya muncul sebuah rumah
di tepi danau.
Asap keluar dari cerobongnya.
Pintu rumah terbuka.
Di dalamnya terdapat meja makan,
dua mangkuk nasi hangat,
lampu kecil,
dan ranjang yang tidak pernah dingin.
Tidak ada pintu yang harus dibuka.
Tidak ada gunung yang harus didaki.
Tidak ada kerajaan yang meminta pertolongan.
Tidak ada orang yang meneriakkan namanya.
Hanya rumah,
ketenangan,
dan seseorang yang berjanji
tidak akan pergi.
Pengembara melangkah satu kali.
Anak kecil di sampingnya
tidak menahan.
Ia hanya bertanya:
“Apakah kau akan meninggalkanku lagi?”
Langkah pengembara berhenti.
Sosok berjubah putih menjawab
sebelum ia sempat berbicara:
“Anak itu hanyalah luka masa lalu.”
“Bawalah kenangan baiknya.
Tinggalkan rasa sakitnya.”
Anak kecil menunduk.
“Aku bukan hanya rasa sakit,”
katanya perlahan.
Sosok putih tersenyum.
“Tentu.
Tetapi ia akan selalu mengingatkanmu
kepada ketakutan, kegagalan,
dan orang-orang yang pernah pergi.”
Ia menatap pengembara.
“Bersamaku, kau tidak perlu
melihat masa lalu lagi.”
Pengembara memandang rumah
di tepi danau.
Di jendelanya terlihat
dirinya sedang duduk tenang.
Tidak ada luka di wajahnya.
Tidak ada cermin peringatan.
Tidak ada tongkat kayu.
Tidak ada bekas perjalanan.
Semua tampak sempurna.
Namun semakin lama ia memandang,
semakin ada sesuatu
yang terasa tidak bernapas.
Api di tungku tidak bergerak.
Asap di cerobong tidak berubah arah.
Air danau tidak memiliki gelombang.
Burung-burung di langit
terbang pada lingkaran yang sama
berulang kali.
Senyum dirinya di jendela
tidak pernah berubah,
bahkan ketika matanya
memperlihatkan kesedihan.
Pengembara bertanya:
“Di rumah itu,
apakah aku boleh marah?”
Sosok berjubah putih diam sejenak.
“Kau tidak akan mempunyai alasan
untuk marah.”
“Apakah aku boleh bersedih?”
“Aku akan menghapus kesedihanmu.”
“Apakah aku boleh berbeda pendapat?”
Senyum sosok itu sedikit menegang.
“Mengapa harus berbeda
bila kita saling mencintai?”
“Apakah aku boleh pergi sebentar
untuk menolong seseorang?”
“Aku akan memenuhi seluruh kebutuhanmu.
Kau tidak perlu lagi
memikirkan dunia di luar rumah.”
“Apakah anak kecil ini
boleh ikut bersama kita?”
Untuk pertama kalinya,
wajah sosok berjubah putih
menjadi dingin.
“Tidak.”
Angin kembali bergerak.
Pohon cahaya menggugurkan
seratus daun sekaligus.
“Mengapa?”
tanya pengembara.
“Karena ia akan membuatmu
terus mengingat bahwa kasih
pernah mengecewakanmu.”
“Ia adalah bagian diriku.”
“Ia adalah bagian yang harus kaulepaskan
agar dapat menjadi utuh.”
Pengembara menatap sosok itu lama.
Kemudian ia melihat sesuatu
di balik kelembutan wajahnya.
Di dalam kedua matanya
tidak terdapat pantulan anak kecil.
Tidak terdapat Gunung Asal Luka.
Tidak terdapat pohon, langit,
atau pengembara sendiri.
Yang ada hanyalah
lubang hitam berbentuk mulut
yang terus mengucapkan:
“Tinggalkan dirimu.”
“Jadilah milikku.”
“Jangan mempunyai bagian
yang tidak dapat kukuasai.”
Pengembara menarik napas.
“Kasih yang memintaku
meninggalkan bagian diriku
bukanlah kepulangan.”
Sosok berjubah putih
masih tersenyum.
“Aku hanya ingin membebaskanmu
dari luka.”
“Luka tidak selalu perlu dibawa
ke mana-mana.”
“Benar.”
“Namun bagian diriku
yang pernah terluka
tidak boleh dibuang
hanya agar seseorang
merasa nyaman mencintaiku.”
Senyum sosok itu hilang.
Rumah di tepi danau
mulai bergoyang seperti bayangan air.
“Pikirkan baik-baik,” katanya.
“Aku menawarkan kasih
yang tidak akan pernah berubah.”
Pengembara menjawab:
“Kasih yang hidup dapat berubah.”
“Ia dapat bertumbuh,
belajar, terluka, memperbaiki diri,
mendekat, menjauh,
bahkan berakhir.”
“Tetapi bila ia jujur,
ia tidak perlu merampas kebebasan
agar terasa aman.”
Mata sosok putih memerah.
“Manusia selalu pergi.”
“Sebagian pergi.”
“Manusia selalu mengecewakan.”
“Sebagian mengecewakan.”
“Manusia selalu berubah.”
“Benar.”
“Lalu mengapa memilih kasih manusia
yang tidak pasti
daripada kasihku yang abadi?”
Pengembara menggenggam tangan anak kecil.
“Karena kasihmu tidak abadi.”
“Ia hanya membekukan waktu
agar tidak ada seorang pun
mempunyai kesempatan memilih.”
Rumah di tepi danau retak.
Dindingnya berubah menjadi tulang.
Atapnya menjadi sangkar.
Danau yang tenang berubah
menjadi cermin hitam
yang menelan setiap wajah
yang mencoba melihat dirinya sendiri.
Sosok berjubah putih menjerit.
Jubahnya terbuka lebar.
Di bawahnya tidak terdapat tubuh manusia.
Terdapat ribuan benang putih
yang terhubung ke kota, rumah, kuil,
istana, sekolah, medan perang,
dan hati manusia di seluruh dunia.
Setiap benang membawa satu janji:
“Aku akan mencintaimu
bila kau mematuhiku.”
“Aku akan tinggal
bila kau tidak berubah.”
“Aku akan melindungimu
bila kau menyerahkan keputusanmu.”
“Aku akan memaafkanmu
bila kau tidak pernah mengingat kesalahanku.”
“Aku akan menganggapmu berharga
selama kau berguna bagiku.”
“Aku akan menjadi rumahmu
bila kau membakar semua jalan pulang
menuju dirimu sendiri.”
Anak kecil memegang dada.
“Siapakah dia?”
Penjaga Luka Tidak Dicintai
turun dari tangga gunung.
Wajah tuanya tampak sedih.
“Dialah Permaisuri Kasih Pinjaman.”
“Kasih Pinjaman?”
“Ia tidak memberi kasih.”
“Ia meminjamkan rasa diterima
dengan jaminan kebebasan manusia.”
Permaisuri itu melepaskan
wajah orang yang dirindukan pengembara.
Wajah tersebut jatuh
seperti topeng porselen.
Di baliknya terdapat wajah kedua.
Wajah seorang ibu.
Lalu ayah.
Lalu guru.
Lalu kekasih.
Lalu sahabat.
Lalu pemimpin.
Lalu pengikut.
Lalu wajah pengembara sendiri.
Setiap wajah berkata:
“Jangan mengecewakanku.”
“Jadilah seperti yang kuinginkan.”
“Buktikan bahwa kau mencintaiku.”
“Serahkan dirimu.”
Permaisuri tertawa.
“Aku telah hidup
sejak manusia pertama kali
takut kehilangan kasih.”
“Aku tidak memaksa siapa pun.”
“Mereka sendiri datang
membawa kehendaknya,
menukarnya dengan rasa aman,
lalu menyebut rantai itu cinta.”
Pengembara melihat
tujuh kapal tanpa layar.
Di dalam setiap rumah tua,
anak-anak yang semula duduk
di dekat jendela
kini berdiri.
Benang-benang putih
melilit leher dan tangan mereka.
Masing-masing mendengar suara:
“Jadilah anak yang baik.”
“Jangan membuat masalah.”
“Jangan menangis.”
“Jangan menolak.”
“Jangan mempunyai keinginan sendiri.”
“Jangan membuat kami malu.”
“Bila kau mencintai kami,
kau harus mengalah.”
Jalan-jalan cahaya
yang menghubungkan gunung
dengan kapal-kapal itu
mulai berubah menjadi rantai.
Orang-orang biasa
yang tadi berjalan untuk membantu
terhenti di tengah jalan.
Seorang ibu mencoba melangkah,
tetapi benang putih mengikat mulutnya.
Seorang ayah mencoba meminta maaf,
tetapi benang itu mengubah kata-katanya
menjadi perintah.
Seorang guru hendak membuka ruang bertanya,
tetapi benang putih
membuatnya takut kehilangan wibawa.
Seorang pemimpin ingin berbagi kuasa,
namun benang itu berbisik:
“Tanpa dirimu, semua akan hancur.”
Permaisuri Kasih Pinjaman
mengangkat mangkuk air hitam.
“Lihatlah.”
“Kasih selalu membutuhkan penguasa.”
“Seseorang harus menentukan
siapa yang pantas diterima
dan siapa yang harus dibuang.”
Pengembara memandang sumur
di bawah pohon cahaya.
Air pertama telah berubah pekat.
Pada permukaannya
terlihat manusia-manusia
menukar dirinya demi penerimaan.
Ada anak yang mengubur cita-citanya
agar tidak mengecewakan keluarga.
Ada pasangan yang kehilangan suara
agar hubungan tetap terlihat utuh.
Ada murid yang takut bertanya
agar tidak dianggap durhaka.
Ada pengikut yang menyerahkan akal
agar tetap diterima kelompoknya.
Ada orang yang terus memberi
hingga tubuh dan jiwanya habis,
karena takut disebut tidak peduli.
Ada manusia yang membiarkan kekerasan
karena pelaku berkata:
“Aku melakukan ini
karena mencintaimu.”
Pengembara merasa marah.
Lentera Kemarahan di dadanya
menyala merah.
Ia mengangkat tongkat kayu.
Namun Penjaga Luka Tidak Dicintai
kembali berdiri di hadapannya.
“Kau tidak dapat mengalahkan permaisuri itu
dengan kemarahan saja.”
“Ia sedang merantai anak-anak.”
“Benar.”
“Maka minggirlah.”
“Bila kau menyerangnya sekarang,
ia akan memakai wajah orang
yang paling kaukasihi.”
“Aku telah melihat tipuannya.”
“Melihat tidak berarti
engkau telah bebas darinya.”
Permaisuri tersenyum.
Tubuhnya berubah lagi.
Kini ia memakai wajah
anak kecil yang berdiri
di samping pengembara.
Wajah yang sama.
Mata yang sama.
Bahkan pedang kayunya pun sama.
Ia menangis.
“Bila kau benar-benar mencintaiku,
bunuhlah dia.”
Ia menunjuk Penjaga Luka Tidak Dicintai.
Anak kecil asli menatap pengembara.
“Aku tidak mengatakan itu.”
Permaisuri dengan wajah anak
berteriak:
“Dia membuatmu menderita!”
“Dia menjaga pintu luka!”
“Dia membuatmu merasa
tidak layak dicintai!”
“Hancurkan dia,
lalu kita akan sembuh!”
Pengembara menatap penjaga tua.
“Apakah engkau memang membuat kami
percaya bahwa kami tidak dicintai?”
Penjaga itu menjawab:
“Aku lahir dari kepercayaan itu.”
“Aku menjaganya
karena dahulu kalian mengira
bila membuka pintu,
seluruh rasa sakit
akan menelan kalian.”
“Apakah engkau musuh?”
“Tidak.”
“Apakah engkau benar?”
“Tidak selalu.”
“Lalu mengapa masih berdiri di sini?”
Penjaga tua menatap
enam gua yang belum dilewati.
“Karena luka yang tidak didengarkan
akan mencari cara
agar tetap dipercaya.”
Pengembara menurunkan tongkat.
Permaisuri menjerit:
“Lemah!”
“Kau selalu ragu
ketika harus menghancurkan musuh!”
Pengembara menjawab:
“Tidak semua yang menghalangi jalan
harus dihancurkan.”
“Sebagian harus dipahami,
diberi tempat,
lalu dibebaskan dari tugas lama
yang tidak lagi diperlukan.”
Penjaga Luka Tidak Dicintai
menutup mata.
Untuk pertama kalinya,
wajah tuanya tampak lega.
“Kalau begitu,” katanya,
“selesaikan enam gua.”
“Mengapa sekarang?”
“Air pertama tidak dapat dijernihkan
hanya dengan membuang racun.”
“Ia harus diingatkan
kepada sumber-sumber yang pernah
membuatnya mengalir.”
Permaisuri Kasih Pinjaman
mengangkat kedua tangan.
Gunung berguncang.
Jalan menuju enam gua
mulai runtuh.
“Kau tidak akan sempat!”
“Sebelum matahari terbenam,
sumur itu akan menjadi milikku.”
Di ufuk jauh,
matahari mulai turun.
Cahayanya memerah
di balik samudra.
Pengembara memandang anak kecil.
“Apakah kau siap?”
Anak itu menatap enam gua.
“Tidak.”
“Aku juga.”
“Apakah kita tetap pergi?”
“Kita pergi bersama.”
Naga kecil melingkar
di bahu anak.
Burung biru terbang
di atas kepala mereka.
Mereka berlari
menuju gua kedua.
Gua kedua bercahaya biru tua.
Di pintunya menunggu
Penjaga Luka Kekurangan
dengan mangkuk pecah.
Ketika pengembara masuk,
ia menemukan sebuah kota
yang dipenuhi lumbung.
Beras bertumpuk setinggi gunung.
Air tersimpan dalam menara.
Emas memenuhi gudang.
Pakaian, obat, dan makanan
tersedia lebih banyak
daripada yang dapat digunakan
oleh seribu generasi.
Namun penduduk kota
tetap berlari dari pagi hingga malam.
Mereka mengumpulkan.
Menghitung.
Menyembunyikan.
Merebut.
Tidak seorang pun makan
sampai benar-benar kenyang.
Tidak seorang pun tidur
tanpa memeriksa pintu gudangnya.
Seorang lelaki tua
duduk di atas tumpukan beras.
Tubuhnya kurus.
Tangannya menggenggam mangkuk kosong.
“Mengapa kau tidak makan?”
tanya pengembara.
“Beras ini harus disimpan.”
“Untuk apa?”
“Untuk hari ketika tidak ada makanan.”
“Hari ini engkau tidak makan.”
“Agar besok aku tidak kelaparan.”
“Tetapi bila hari ini tubuhmu mati,
untuk siapa semua simpanan itu?”
Lelaki tua tidak menjawab.
Di sudut lain,
seorang perempuan mengumpulkan
baju-baju indah.
Ia tidak pernah memakainya.
“Aku menyimpannya
untuk hari ketika aku cukup pantas.”
Seorang anak mengumpulkan mainan,
namun tidak pernah bermain.
“Aku takut mainan ini rusak.”
Seorang cendekia mengumpulkan kitab,
tetapi tidak pernah membaca.
“Aku takut menemukan
bahwa masih banyak yang tidak kuketahui.”
Pengembara melihat dirinya sendiri
di tengah kota.
Versi dirinya itu
mengumpulkan pengakuan.
Setiap ucapan terima kasih
disimpan dalam botol.
Setiap pujian
dimasukkan ke dalam peti.
Setiap orang yang membutuhkan
diikat dengan benang.
Namun semakin banyak ia mengumpulkan,
semakin kosong wajahnya.
Penjaga Luka Kekurangan berkata:
“Inilah keyakinan
bahwa sesuatu akan habis
sebelum kau sempat menerimanya.”
“Karena itu kau mengumpulkan
sebelum belajar menikmati.”
“Kau mencari banyak kasih,
banyak pengikut,
banyak jawaban,
banyak bukti bahwa dirimu berguna.”
“Namun mangkuk di tanganmu
tetap retak.”
Pengembara melihat tangannya.
Ternyata ia juga membawa
mangkuk pecah.
Setiap kasih yang dituangkan
langsung jatuh ke tanah.
Setiap pujian hilang.
Setiap kemenangan terasa kecil.
Setiap pertolongan yang berhasil
segera digantikan
oleh kebutuhan untuk menolong lagi.
Anak kecil berkata:
“Bagaimana memperbaiki mangkuk ini?”
Penjaga menjawab:
“Bukan dengan mengisi lebih cepat.”
Pengembara mengangkat mangkuk.
Ia memperhatikan retakannya.
Pada setiap retak tertulis:
Tidak cukup.
Belum aman.
Harus lebih banyak.
Jangan berhenti.
Orang lain mempunyai lebih banyak.
Bila kau kehilangan ini,
kau tidak mempunyai apa-apa.
Pengembara mengambil benang merah Hasrat.
Ia tidak menutup semua retak.
Ia hanya mengikat
bagian yang hampir terbelah.
Kemudian ia mengambil
sedikit air dari kendi kota.
Ia menuangkannya perlahan.
Sebagian air masih menetes.
Namun sebagian tetap tinggal.
Pengembara meminumnya.
“Mangkuk ini belum sempurna,”
kata anak.
“Benar.”
“Airnya banyak terbuang.”
“Benar.”
“Mengapa tetap diminum?”
“Karena sesuatu tidak harus sempurna
agar dapat memberi kehidupan.”
Penjaga Luka Kekurangan
memandang mangkuknya sendiri.
Ia pun mengisinya.
Sebagian air jatuh.
Ia menyesap sisanya.
Untuk pertama kalinya,
wajahnya tampak tenang.
“Cukup bukan berarti
tidak membutuhkan apa-apa,”
katanya.
“Cukup berarti mengetahui
bahwa apa yang ada saat ini
dapat diterima, digunakan,
dan disyukuri
tanpa menutup mata
terhadap kebutuhan masa depan.”
Lumbung kota terbuka.
Penduduk mulai membagikan beras.
Mereka tetap menyimpan sebagian.
Tetapi tidak lagi membiarkan
orang kelaparan
demi ketakutan terhadap hari esok.
Perempuan memakai
salah satu bajunya.
Anak memainkan
satu mainan.
Cendekia membuka
halaman pertama kitab.
Lelaki tua memakan
semangkuk nasi hangat.
Dari dasar gua
muncul setetes air biru.
Penjaga menyerahkannya
kepada pengembara.
“Bawa ini ke sumur.”
“Air apakah ini?”
“Air Kecukupan.”
“Ia tidak menghapus kebutuhan.”
“Ia mengingatkan
bahwa hidup tidak boleh ditunda
hanya karena manusia takut kekurangan.”
Mangkuk pecah milik penjaga
berubah menjadi cawan kecil.
Retaknya tetap terlihat,
tetapi disambung garis keemasan.
Mereka keluar dari gua.
Matahari turun semakin rendah.
Gua ketiga bercahaya putih.
Penjaga Luka Perbandingan
menunggu membawa cermin.
Begitu masuk,
pengembara berdiri
di sebuah aula besar.
Dindingnya terdiri
dari ribuan cermin.
Pada satu cermin,
ia melihat seseorang lebih kaya.
Pada cermin lain,
seseorang lebih tampan.
Cermin berikutnya memperlihatkan
orang yang lebih dicintai.
Ada yang lebih terkenal.
Lebih tenang.
Lebih kuat.
Lebih suci.
Lebih berhasil.
Lebih cepat sembuh.
Lebih banyak pengikut.
Lebih panjang umur.
Lebih berani.
Lebih dihormati.
Setiap kali pengembara memandang
satu kehidupan,
tubuhnya sendiri terlihat mengecil.
Anak kecil berdiri
di depan cermin seorang anak
yang dipeluk keluarganya.
“Mengapa dia mendapatkannya
dan aku tidak?”
Pengembara tidak menjawab
dengan petuah.
Ia berdiri di samping anak.
“Aku tidak tahu.”
“Apakah karena dia lebih baik?”
“Tidak.”
“Apakah karena aku tidak pantas?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa?”
Pengembara menarik napas.
“Kehidupan tidak selalu
membagikan pengalaman
berdasarkan siapa yang lebih pantas.”
Anak itu menangis.
“Itu tidak adil.”
“Benar.”
Penjaga Luka Perbandingan berkata:
“Cermin tidak hanya menunjukkan
apa yang dimiliki orang lain.”
“Ia menunjukkan cerita
yang kalian buat
tentang nilai diri sendiri.”
Salah satu cermin memperlihatkan
seorang pengembara lain
yang mencapai puncak gunung
tanpa terluka.
Yang lain memperlihatkan
seseorang menyelamatkan kerajaan
lebih cepat.
Ada pula sosok yang menolak
semua pujian dengan tenang,
tanpa pernah tergoda.
Pengembara merasa malu.
“Mengapa perjalananku begitu panjang?”
Cermin menjawab:
“Karena engkau lemah.”
“Mengapa berkali-kali tersesat?”
“Karena engkau tidak cukup bijaksana.”
“Mengapa masih membutuhkan anak ini?”
“Karena engkau gagal menjadi dewasa.”
Anak kecil memegang tangan pengembara.
“Cermin itu berbohong.”
“Ia menunjukkan gambar nyata.”
“Tetapi tidak menunjukkan seluruh cerita.”
Pengembara menatap anak.
Ia kemudian mendekati
cermin orang yang tampak sempurna.
Ia menyentuh permukaannya.
Cermin itu terbuka.
Di baliknya terlihat
orang tersebut menangis sendirian.
Cermin kekayaan dibuka.
Di belakangnya ada ketakutan kehilangan.
Cermin ketenangan dibuka.
Di belakangnya ada emosi
yang tidak pernah diberi ruang.
Cermin kepopuleran dibuka.
Di belakangnya ada kesepian.
Cermin keluarga bahagia dibuka.
Di belakangnya ada perjuangan
yang tidak pernah terlihat
oleh orang luar.
Cermin keberhasilan dibuka.
Di belakangnya ada kegagalan,
bantuan, kesempatan,
dan banyak hal
yang tidak dapat dibandingkan secara sederhana.
Penjaga berkata:
“Perbandingan memotong kehidupan manusia
menjadi satu gambar.”
“Kemudian gambar itu dipakai
untuk menghakimi seluruh dirimu.”
Pengembara mengangkat cermin kecil
dari Lautan Kesembilan.
Cermin itu hanya memperlihatkan
wajahnya saat ini.
Lelah.
Berantakan.
Namun nyata.
Ia berkata:
“Aku tidak harus menjadi mereka.”
Salah satu dinding retak.
“Aku dapat belajar dari orang lain
tanpa menjadikan hidupnya
sebagai pengadilan bagi hidupku.”
Dinding kedua pecah.
“Keberhasilan mereka
tidak mengambil hakku
untuk bertumbuh.”
Cermin-cermin mulai redup.
“Dan luka mereka
tidak perlu kucari
hanya agar aku merasa lebih baik.”
Seluruh aula berubah
menjadi danau tenang.
Pada permukaannya,
setiap orang mempunyai pantulan sendiri.
Tidak ada pantulan
menutupi yang lain.
Dari tengah danau
muncul setetes air putih.
Penjaga menyerahkannya.
“Air Keunikan.”
“Ia tidak mengatakan
semua jalan sama.”
“Ia mengatakan
bahwa satu kehidupan
tidak dapat diukur sepenuhnya
dengan penggaris kehidupan lain.”
Cermin penjaga
berubah menjadi jendela.
Ia tidak lagi memantulkan dirinya.
Ia memperlihatkan dunia
tanpa harus mengubahnya
menjadi perlombaan.
Mereka keluar.
Matahari hampir menyentuh laut.
Gua keempat bercahaya hitam.
Penjaga Luka Kehilangan
berdiri membawa lilin padam.
Di dalam gua terdapat
sebuah kota tanpa suara.
Setiap rumah memiliki kursi kosong.
Setiap meja mempunyai
satu mangkuk yang tidak digunakan.
Setiap ranjang menyimpan
bekas tubuh seseorang
yang tidak lagi kembali.
Di alun-alun berdiri
pohon tanpa daun.
Pada setiap dahan
tergantung nama:
Nama orang yang meninggal.
Nama hubungan yang berakhir.
Nama rumah yang ditinggalkan.
Nama masa muda.
Nama kesehatan.
Nama kesempatan.
Nama harapan
yang tidak pernah terwujud.
Anak kecil mendekati
satu nama.
Ia menyentuhnya.
Seketika seseorang
yang sangat dirindukannya muncul.
Sosok itu tersenyum.
“Aku kembali.”
Anak hendak memeluknya.
Namun pengembara melihat
kakinya tidak menyentuh tanah.
Ia menahan diri
untuk tidak melarang.
Anak memeluk sosok itu.
Tubuh bayangan terasa hangat.
“Jangan pergi lagi,”
kata anak.
“Aku tidak akan pergi
bila kau tinggal di sini.”
Dinding gua membuka
sebuah kamar penuh kenangan.
Di dalamnya semua hal
tetap seperti dahulu.
Benda-benda tidak berdebu.
Jam tidak bergerak.
Bunga tidak layu.
Orang-orang yang telah pergi
masih tersenyum.
Penjaga Luka Kehilangan berkata:
“Banyak manusia tidak hidup
bersama kenangan.”
“Mereka tinggal di dalamnya.”
Pengembara memandang
wajah yang dirindukan.
Ia ingin masuk.
Ia ingin duduk
dan tidak pernah meninggalkan ruangan itu.
Namun lilin padam
di tangan penjaga
mengeluarkan asap.
Asap tersebut memperlihatkan
kehidupan di luar kamar.
Musim terus berganti.
Orang-orang datang dan pergi.
Anak-anak tumbuh.
Pohon berbunga.
Kesempatan berlalu.
Sementara mereka
tetap tinggal
dalam satu hari yang membeku.
Pengembara berkata kepada anak:
“Kau boleh memeluknya.”
“Apakah ia benar-benar kembali?”
“Tidak seperti dahulu.”
“Lalu mengapa terasa nyata?”
“Karena kasih meninggalkan jejak.”
Anak menangis.
“Aku tidak ingin kehilangan lagi.”
“Aku pun tidak.”
“Bisakah kita menjaga semua orang
agar tidak pergi?”
“Tidak.”
“Mengapa hidup memberikan kasih
bila akhirnya mengambilnya?”
Pengembara duduk
di bawah pohon nama.
“Mungkin hidup tidak memberikan kasih
untuk menjanjikan bahwa semuanya
akan tinggal selamanya.”
“Mungkin kasih diberikan
agar selama pertemuan itu ada,
kehidupan menjadi lebih nyata.”
Anak menatap bayangan
yang dipeluknya.
“Apakah aku harus melepaskan?”
“Bukan melupakan.”
“Bukan berhenti mencintai.”
“Tetapi membiarkan kasih
berubah bentuk
ketika kehidupan berubah.”
Bayangan yang dirindukan
menyentuh kepala anak.
“Aku tidak tinggal
di ruangan ini,” katanya.
“Lalu di mana?”
“Di dalam hal-hal baik
yang masih kauhidupkan.”
Bayangan itu menghilang perlahan.
Anak menangis lebih keras.
Pengembara ikut menangis.
Mereka tidak menahan.
Tidak mencari penjelasan cepat.
Tidak menyebut kehilangan
sebagai sesuatu yang mudah.
Air mata jatuh
pada lilin padam.
Api kecil menyala.
Bukan api besar.
Hanya nyala yang cukup
untuk melihat jalan keluar.
Penjaga berkata:
“Kesedihan adalah harga
dari sesuatu yang pernah berarti.”
“Namun jangan membuat kesedihan
menjadi makam
tempat seluruh masa depan dikubur.”
Pohon tanpa daun
menumbuhkan tunas.
Nama-nama tetap tergantung.
Tidak dihapus.
Tetapi di antara nama-nama itu
muncul daun baru
yang belum mempunyai tulisan.
Dari akar pohon
keluar setetes air hitam bening.
“Air Pelepasan,”
kata penjaga.
“Hitam bukan karena beracun.”
“Hitam karena ia membawa
kedalaman malam
tempat manusia belajar
menangis tanpa kehilangan arah.”
Lilin penjaga menyala.
Mereka keluar dari gua.
Matahari setengah terbenam.
Gua kelima bercahaya kuning.
Penjaga Luka Ketidakadilan
berdiri dengan timbangan.
Di dalamnya terdapat
ruang pengadilan raksasa.
Di satu sisi,
orang-orang membawa daftar kebaikan.
Di sisi lain,
mereka membawa daftar luka.
Seorang perempuan berkata:
“Aku memberi banyak,
tetapi tidak pernah dibalas.”
Seorang anak berkata:
“Aku tidak melakukan kesalahan,
tetapi tetap dihukum.”
Seorang pekerja berkata:
“Aku bekerja paling keras,
tetapi orang lain menerima pujian.”
Seorang korban berkata:
“Aku diminta memaafkan,
sementara orang yang menyakitiku
tidak pernah bertanggung jawab.”
Pengembara berdiri
di depan timbangan.
Pada sisi kiri terdapat
seluruh kebaikan yang pernah dilakukannya.
Pada sisi kanan terdapat
seluruh penghinaan, pengkhianatan,
dan kehilangan yang diterimanya.
Timbangan tidak seimbang.
Ia merasa marah.
“Mengapa aku harus terus berbuat baik
bila dunia tidak membalas dengan adil?”
Penjaga menjawab:
“Kebaikan tidak selalu memperoleh
balasan dari tangan
yang menerima kebaikan itu.”
“Apakah berarti kita harus menerima
segala ketidakadilan?”
“Tidak.”
Penjaga mengangkat timbangan.
“Ada perbedaan
antara melepaskan tuntutan
agar dunia selalu membalas sesuai harapan,
dan membiarkan kezaliman
terus berlangsung tanpa batas.”
Di ruang pengadilan
muncul orang-orang
yang pernah menyakiti pengembara.
Sebagian meminta maaf.
Sebagian menyangkal.
Sebagian tertawa.
Sebagian bahkan tidak mengingat
apa yang telah dilakukannya.
Anak kecil bertanya:
“Apakah mereka akan dihukum?”
Pengembara menjawab:
“Sebagian harus bertanggung jawab.”
“Sebagian mungkin tidak pernah
mengakui kesalahannya.”
“Lalu bagaimana hati kita tenang?”
“Ketenangan tidak selalu datang
setelah orang lain menyadari
apa yang mereka lakukan.”
“Kadang ia datang
ketika kita berhenti menyerahkan
seluruh masa depan
kepada permintaan
agar masa lalu diperbaiki
oleh orang yang sama.”
Salah seorang pelaku berkata:
“Maafkan aku.”
Namun di tangannya
masih terdapat pisau.
Pengembara menjawab:
“Aku dapat melepaskan kebencian,
tetapi aku tidak akan mendekat
selama engkau masih membawa senjata.”
Orang itu marah.
“Berarti kau belum memaafkan!”
“Pengampunan bukan izin
untuk mengulang luka.”
Timbangan bergerak sedikit.
Seorang korban berdiri.
Ia membawa batu besar
bertuliskan Pembalasan.
“Aku ingin mereka merasakan
apa yang kurasakan.”
Pengembara menatap batu itu.
“Keinginan itu dapat dimengerti.”
“Tetapi bila kau meminum racun
agar orang lain ikut sakit,
tubuhmu yang pertama kali hancur.”
“Lalu aku harus diam?”
“Tidak.”
“Bicaralah.”
“Cari pertolongan.”
“Bangun batas.”
“Gunakan hukum yang adil.”
“Lindungi orang lain
agar luka yang sama tidak berulang.”
“Namun jangan biarkan pelaku
menentukan siapa dirimu
selama sisa hidup.”
Penjaga Luka Ketidakadilan
meletakkan timbangannya di tanah.
Kedua sisinya tidak pernah
menjadi benar-benar sama.
Sebagian luka tidak dapat dibayar
dengan apa pun.
Sebagian kehilangan
tidak dapat dikembalikan.
Namun di tengah timbangan
muncul satu jarum baru
bertuliskan:
Tanggung jawab.
Jarum itu tidak menghapus masa lalu.
Ia menunjuk tindakan
yang dapat dilakukan sekarang.
Pengembara berkata:
“Aku tidak dapat membuat
seluruh dunia adil.”
“Tetapi aku dapat memilih
agar luka yang kuterima
tidak kujadikan alasan
untuk menambah ketidakadilan.”
Dari timbangan keluar
setetes air kuning keemasan.
“Air Keadilan yang Sadar,”
kata penjaga.
“Ia tidak menjanjikan
semua utang kehidupan akan dibayar.”
“Ia mengingatkan
bahwa manusia tetap dapat memilih
menghentikan rantai luka
pada dirinya.”
Timbangan penjaga
berubah menjadi dua telapak tangan.
Satu tangan menjaga batas.
Satu tangan menawarkan pemulihan.
Mereka keluar.
Matahari tinggal seperempat
di atas garis laut.
Gua keenam bercahaya hijau.
Penjaga Luka Kegagalan
membawa benih.
Di dalam gua
terdapat ladang sangat luas.
Ribuan manusia menanam.
Namun sebagian besar tanah
tampak kosong.
Ada benih yang busuk.
Ada tunas yang mati.
Ada pohon yang tumbang
sebelum berbuah.
Ada tanaman subur
yang hancur oleh badai.
Seorang pemuda berdiri
di depan lubang tanah.
Ia memegang satu benih
selama puluhan tahun
tanpa berani menanam.
“Mengapa tidak kauletakkan?”
tanya pengembara.
“Bagaimana bila tidak tumbuh?”
“Bagaimana bila tumbuh?”
“Bagaimana bila tumbuh
lalu mati?”
“Mungkin akan menyakitkan.”
“Maka lebih baik
tidak pernah mencoba.”
Tidak jauh dari sana,
seorang perempuan menanam
benih yang sama berulang kali
di tanah yang tidak sesuai.
Setiap kali gagal,
ia menyalahkan dirinya.
“Aku harus mencoba lebih keras.”
Penjaga berkata:
“Tidak semua kegagalan
berarti kurang usaha.”
“Kadang tanahnya tidak sesuai.”
“Kadang musimnya belum tepat.”
“Kadang benihnya memang tidak sehat.”
“Kadang seseorang perlu berhenti
dan memilih kebun lain.”
Pengembara melihat
seluruh kegagalannya sendiri.
Pintu yang tidak terbuka.
Orang yang tidak dapat ditolong.
Keputusan yang keliru.
Hubungan yang tidak terselamatkan.
Janji yang tidak mampu ditepati.
Perjalanan yang memakan waktu
lebih lama daripada rencana.
Ia melihat dirinya
berdiri di antara semua itu
sambil mengucapkan:
“Aku gagal.”
Lalu kalimat itu berubah:
“Aku adalah kegagalan.”
Anak kecil mengambil
satu benih dari tanah.
“Apa perbedaannya?”
Pengembara menjawab:
“Gagal adalah sesuatu
yang terjadi.”
“Menjadi gagal adalah identitas
yang dibangun dari satu kejadian.”
Penjaga Luka Kegagalan
menyerahkan benihnya.
“Tanamlah.”
Pengembara melihat tanah.
Tanahnya kering.
“Ini mungkin tidak tumbuh.”
“Benar.”
“Lalu untuk apa?”
“Agar kau belajar
bahwa nilai tindakan
tidak hanya ditentukan
oleh hasil yang dapat kaukuasai.”
Pengembara menggali lubang.
Ia menanam benih.
Anak kecil menyiramnya
dengan sedikit air
dari mangkuk retak.
Mereka menunggu.
Tidak ada tunas.
Matahari hampir habis.
Permaisuri Kasih Pinjaman
tertawa dari puncak:
“Sia-sia!”
“Kalian kehabisan waktu!”
Anak kecil menatap tanah.
“Benihnya gagal.”
Penjaga menjawab:
“Mungkin.”
“Apakah kita salah?”
“Belum tentu.”
“Apakah kita harus menanam lagi?”
“Periksa dulu.”
Mereka menggali tanah.
Benih itu pecah.
Bukan karena mati.
Akar kecil tumbuh ke bawah,
belum terlihat di permukaan.
Pengembara tersenyum.
Penjaga berkata:
“Manusia sering menyebut sesuatu gagal
hanya karena perubahan
belum terlihat dari tempatnya berdiri.”
Di bagian ladang lain,
sebuah pohon tumbuh sangat cepat.
Buahnya besar.
Semua orang memujinya.
Namun akarnya pendek.
Ketika angin kecil datang,
pohon itu roboh.
“Dan manusia sering menyebut sesuatu berhasil
hanya karena hasilnya cepat terlihat.”
Pengembara memandang
benih yang ditanamnya.
“Bagaimana mengetahui
kapan harus bertahan
dan kapan harus berhenti?”
Penjaga menjawab:
“Tidak ada jawaban
yang selalu tepat.”
“Periksa kenyataan.”
“Dengarkan tubuh dan hatimu.”
“Minta pandangan orang lain.”
“Lihat apakah usahamu
masih menumbuhkan kehidupan
atau hanya mengulang luka.”
“Berhenti tidak selalu kalah.”
“Melanjutkan tidak selalu berani.”
Dari tanah muncul
setetes air hijau.
“Air Pertumbuhan,”
kata penjaga.
“Ia tidak menjanjikan
semua benih akan tumbuh.”
“Ia memberi keberanian
untuk menanam, belajar,
memperbaiki, berpindah,
dan memulai kembali.”
Benih di tangan penjaga
berubah menjadi pohon kecil
yang dapat dibawa.
Akarnya terbungkus tanah.
Mereka keluar dari gua.
Matahari tinggal garis merah tipis.
Hanya tersisa gua ketujuh.
Tidak ada cahaya.
Hanya detak jantung.
Penjaga Luka Tidak Dicintai
berdiri di mulutnya.
Permaisuri Kasih Pinjaman
menunggu di puncak,
membawa mangkuk air hitam.
Pohon cahaya hampir mati.
Tujuh jalan menuju kapal
tinggal menyisakan bara kecil.
Penjaga tua berkata:
“Di dalam gua ini
tidak ada kota, cermin,
ladang, atau pengadilan.”
“Apa yang ada?”
“Ruang tempat kalian pertama kali
membuat kesimpulan
bahwa kasih harus diperoleh.”
Pengembara menggenggam
tangan anak kecil.
Mereka masuk.
Tidak ada dinding.
Tidak ada lantai.
Tidak ada langit.
Hanya kegelapan
dan satu detak jantung.
Dum.
Muncul satu kenangan.
Seorang anak melakukan sesuatu dengan baik.
Orang-orang memujinya.
Ia merasa dicintai.
Dum.
Anak itu melakukan kesalahan.
Wajah-wajah berubah kecewa.
Ia merasa kasih menghilang.
Dum.
Anak itu membantu orang lain.
Ia dipeluk.
Dum.
Anak itu berkata tidak.
Ia ditinggalkan sendirian.
Dum.
Anak itu menyembunyikan kesedihan.
Orang-orang menyebutnya kuat.
Dum.
Anak itu menangis.
Seseorang berkata:
“Jangan merepotkan.”
Dari semua kejadian itu
lahir sebuah kalimat:
“Aku dicintai
ketika menjadi apa yang dibutuhkan.”
Kalimat itu tumbuh
menjadi dinding.
Kalimat kedua muncul:
“Bila aku tidak berguna,
aku akan ditinggalkan.”
Dinding kedua berdiri.
Kalimat ketiga:
“Bila aku menunjukkan kelemahan,
aku tidak lagi layak dihormati.”
Dinding ketiga menutup langit.
Kalimat keempat:
“Bila seseorang pergi,
berarti ada sesuatu yang salah denganku.”
Dinding keempat mengunci pintu.
Anak kecil berdiri
di tengah ruangan itu.
Ia memegang pedang kayu.
Penjaga Luka Tidak Dicintai
berdiri di sampingnya,
kali ini dalam wujud
anak yang lebih tua.
“Aku membangun dinding ini,”
katanya.
“Agar apa?”
“Agar ia mengetahui
aturan untuk bertahan.”
“Aturan apa?”
“Jadilah berguna.”
“Jangan terlalu banyak meminta.”
“Jangan membuat orang kecewa.”
“Jangan mempunyai kebutuhan
yang tidak mampu mereka penuhi.”
“Dan bila seseorang pergi,
salahkan dirimu lebih dahulu.”
Pengembara merasa marah.
Namun ia melihat
tangan penjaga itu gemetar.
“Apakah engkau percaya
semua aturan ini benar?”
Penjaga menjawab:
“Tidak.”
“Lalu mengapa menjaganya?”
“Karena dahulu aturan itu
memberi penjelasan.”
“Penjelasan apa?”
“Bila semuanya salahmu,
berarti kau dapat memperbaikinya
dengan menjadi lebih baik.”
Pengembara terdiam.
Ia memahami kengerian
di balik kalimat itu.
Menyalahkan diri
terkadang terasa lebih aman
daripada menerima
bahwa manusia yang dicintai
mungkin terbatas, tidak mampu,
tidak siap, tidak adil,
atau memilih pergi
meski dirinya telah berusaha sebaik mungkin.
Bila semua kesalahan
berada pada diri sendiri,
masih ada ilusi kendali:
“Aku hanya perlu lebih baik.”
“Aku hanya perlu lebih sabar.”
“Aku hanya perlu lebih berguna.”
“Aku hanya perlu tidak menjadi diriku.”
Pengembara mendekati dinding pertama.
Di atasnya tertulis:
“Aku dicintai
ketika menjadi apa yang dibutuhkan.”
Ia menyentuh tulisan itu.
“Menjadi berguna dapat membuat
seseorang dihargai.”
“Namun penghargaan atas kegunaan
tidak sama dengan kasih
kepada keberadaan.”
Dinding retak.
Ia menyentuh dinding kedua.
“Bila aku tidak berguna,
aku akan ditinggalkan.”
“Sebagian orang mungkin pergi
ketika aku tidak lagi
memenuhi kebutuhannya.”
“Tetapi kepergian mereka
tidak membuktikan
bahwa aku tidak layak dicintai.”
Dinding kedua pecah.
Ia menyentuh dinding ketiga.
“Bila aku menunjukkan kelemahan,
aku tidak layak dihormati.”
“Kelemahan dapat membuatku
membutuhkan perlindungan.”
“Namun kebutuhan itu
tidak menghapus martabatku.”
Dinding ketiga runtuh.
Ia menyentuh dinding keempat.
“Bila seseorang pergi,
berarti ada sesuatu yang salah denganku.”
Tangannya gemetar.
Anak kecil berdiri
di sebelahnya.
Mereka mengucapkan bersama:
“Sebagian kepergian
memang berhubungan dengan kesalahan kami.”
“Sebagian perlu menjadi pelajaran.”
“Namun tidak setiap kepergian
adalah putusan atas nilai diri.”
Dinding terakhir runtuh.
Kegelapan menghilang.
Di baliknya terdapat
ruang yang sangat sederhana.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada cahaya agung.
Hanya satu tikar,
satu mangkuk air,
dan jendela terbuka.
Di atas tikar
duduk seorang bayi.
Bayi itu tidak membawa nama,
prestasi, kegunaan,
agama, gelar, kekayaan,
atau kisah pengorbanan.
Ia hanya bernapas.
Anak kecil mendekat.
“Apa yang telah ia lakukan
agar layak dicintai?”
Pengembara menjawab:
“Tidak ada.”
“Apa yang dapat ia berikan?”
“Belum banyak.”
“Apakah ia tetap berharga?”
Pengembara mengangkat bayi itu.
Tubuhnya hangat.
Detak jantungnya
menyatu dengan gunung.
“Ya.”
Penjaga Luka Tidak Dicintai
jatuh berlutut.
Wajah tuanya kembali.
Ia menangis.
“Selama ini aku menjaga pintu
agar kalian tidak berharap terlalu banyak.”
“Aku tahu.”
“Aku membuat kalian curiga
kepada kasih.”
“Aku tahu.”
“Aku membuat kalian menguji manusia,
menjauh lebih dahulu,
dan menganggap setiap kesalahan
sebagai bukti bahwa kasih tidak nyata.”
“Aku tahu.”
“Apakah kau membenciku?”
Pengembara memandangnya.
“Tidak.”
“Apakah kau masih memerlukanku?”
“Aku masih memerlukan kewaspadaan.”
“Tetapi tidak lagi memerlukanmu
untuk mengatakan
bahwa aku tidak layak dicintai.”
Penjaga menutup mata.
Tubuhnya berubah menjadi
sebuah pintu kecil.
Di atas pintu tertulis:
“Kasih boleh masuk,
tetapi tidak boleh merampas rumah.”
Pintu itu dipasang
pada dada anak kecil.
Bukan untuk menutup hati.
Melainkan agar ia dapat memilih
siapa yang boleh mendekat,
seberapa jauh,
dan dengan syarat apa
kehadiran itu tetap aman.
Dari mangkuk air di ruangan
muncul setetes air jernih
tanpa warna.
“Air Keberhargaan,”
kata suara penjaga dari pintu.
“Ia tidak datang
dari pujian manusia.”
“Ia tidak bergantung
kepada keberhasilan.”
“Ia adalah pengingat
bahwa kehidupan memiliki martabat
sebelum sempat membuktikan apa pun.”
Pengembara membawa
enam tetes air:
Air Kecukupan.
Air Keunikan.
Air Pelepasan.
Air Keadilan yang Sadar.
Air Pertumbuhan.
Air Keberhargaan.
Bayi di tangannya
berubah menjadi cahaya
dan masuk ke dada anak kecil.
Anak itu tidak menjadi lebih besar.
Namun cara ia berdiri berubah.
Ia tidak lagi memegang pedang
sebagai satu-satunya perlindungan.
Ia membawa pintu dalam dadanya,
naga kecil di bahunya,
burung biru di dekat kepalanya,
dan keyakinan sederhana:
“Aku boleh menerima kasih
tanpa menyerahkan diriku.”
Ketika mereka keluar dari gua,
matahari hampir tenggelam seluruhnya.
Hanya ujungnya
masih terlihat di atas samudra.
Permaisuri Kasih Pinjaman
berdiri di puncak gunung.
Jubahnya telah membesar
menutupi separuh langit.
Benang-benang putihnya
mengikat tujuh kapal,
tujuh rumah,
para penolong,
dan pohon cahaya.
Sumur air pertama
telah menjadi hitam pekat.
“Kalian terlambat!”
teriaknya.
Ia menuangkan mangkuk air hitam
ke dalam sumur.
Pohon cahaya meranggas.
Daun terakhir jatuh.
Tujuh jalan menuju kapal
padam seluruhnya.
Anak-anak di rumah tua
menundukkan kepala.
Permaisuri berkata:
“Sekarang kasih dunia
hanya dapat mengalir melalui tanganku.”
“Siapa pun yang ingin diterima
harus mematuhiku.”
“Siapa pun yang ingin dicintai
harus menyerahkan namanya.”
“Siapa pun yang ingin mempunyai rumah
harus melupakan jalan pulang
menuju dirinya sendiri.”
Pengembara dan anak kecil
mendaki tangga terakhir.
Setiap langkah
membuat benang putih
mencoba mengikat tubuh mereka.
Benang berkata:
“Jangan mengecewakan.”
“Jangan menolak.”
“Jangan berubah.”
“Jangan pergi.”
“Buktikan kasihmu.”
“Korbankan dirimu.”
Pengembara tidak memotong semuanya.
Ia menyentuh satu benang.
“Aku dapat berusaha
tidak menyakiti.”
Benang melonggar.
“Namun aku tidak dapat menjanjikan
tidak akan pernah mengecewakan.”
Benang putus.
Ia menyentuh benang kedua.
“Aku dapat mendengarkan kebutuhanmu.”
“Namun aku tetap mempunyai hak
untuk berkata tidak.”
Benang kedua terlepas.
Anak kecil menyentuh benang ketiga.
“Aku dapat mencintai seseorang
tanpa harus menjadi
apa pun yang ia inginkan.”
Benang itu menjadi bunga.
Mereka terus mendaki.
Permaisuri berubah
menjadi wajah orang yang dirindukan.
“Apakah kau tidak mencintaiku?”
Pengembara menjawab:
“Kerinduan tidak selalu berarti
aku harus kembali.”
Permaisuri berubah
menjadi wajah seorang guru.
“Apakah kau berani membantah
orang yang membimbingmu?”
“Rasa hormat tidak menghapus
tanggung jawab untuk membedakan
kebenaran dan kesalahan.”
Permaisuri berubah
menjadi wajah seorang ibu.
“Bukankah anak harus berbakti?”
“Berbakti bukan berarti
membiarkan hidupnya
sepenuhnya dimiliki orang lain.”
Ia berubah menjadi wajah anak.
“Bukankah orang tua harus berkorban
untuk anaknya?”
“Berkorban tidak berarti
kehilangan batas, kesehatan,
dan kemanusiaan.”
Ia berubah menjadi wajah pengikut.
“Bukankah pemimpin harus selalu hadir?”
“Pemimpin yang sehat
membangun banyak tangan,
bukan membuat semua orang
lumpuh tanpa dirinya.”
Permaisuri berubah
menjadi wajah pengembara sendiri.
“Bukankah engkau ingin dicintai?”
Pengembara berhenti.
“Ya.”
Permaisuri tersenyum.
“Maka serahkan dirimu.”
“Tidak.”
“Kau akan kesepian.”
“Mungkin.”
“Kau akan ditinggalkan.”
“Mungkin.”
“Kau akan menyesal.”
“Mungkin.”
“Lalu mengapa menolak?”
Pengembara menatap anak kecil.
“Karena kesepian tidak lebih buruk
daripada kehilangan diriku sendiri
di dalam kasih yang palsu.”
Gunung berguncang.
Jubah permaisuri robek.
Mereka tiba di puncak.
Pohon cahaya berdiri
seperti rangka hitam.
Sumur mengeluarkan asap.
Permaisuri mengangkat
mangkuk terakhir.
“Bila enam tetes itu
kau masukkan ke sumur,
semuanya akan ditelan racunku.”
Pengembara memandang
tetes-tetes air di telapak tangannya.
“Mungkin.”
“Kau tidak yakin?”
“Tidak.”
“Lalu mengapa datang?”
“Karena tindakan yang benar
tidak selalu datang
bersama kepastian hasil.”
Ia menuangkan
Air Kecukupan.
Sumur bergetar.
Air hitam berbisik:
“Tidak pernah cukup.”
Pengembara menjawab:
“Hari ini,
satu tetes cukup
untuk memulai.”
Ia menuangkan
Air Keunikan.
Sumur berkata:
“Kau kalah dibandingkan mereka.”
“Aku tidak perlu menjadi
kehidupan orang lain
untuk menjalani hidupku.”
Ia menuangkan
Air Pelepasan.
Sumur menampilkan wajah-wajah
yang telah pergi.
“Pegang mereka.”
“Aku mencintai tanpa harus
membekukan waktu.”
Ia menuangkan
Air Keadilan yang Sadar.
Sumur memperlihatkan
seluruh luka yang belum dibalas.
“Balaslah.”
“Aku akan menjaga batas
dan menuntut tanggung jawab
tanpa menjadikan kebencian
sebagai raja.”
Ia menuangkan
Air Pertumbuhan.
Sumur memperlihatkan
seluruh kegagalan.
“Sia-sia.”
“Tidak semua benih tumbuh,
tetapi aku tetap dapat belajar
menanam dengan lebih sadar.”
Terakhir,
ia memegang Air Keberhargaan.
Permaisuri menjerit:
“Jangan!”
Semua benang putih
menarik tubuh pengembara.
Wajah-wajah yang dicintainya
muncul di sekeliling.
Mereka menangis:
“Bila kau menuangkannya,
kami akan pergi.”
“Bila kau percaya dirimu berharga
tanpa kami,
kau tidak akan membutuhkan kami.”
“Bila kau tidak membutuhkan kami,
berarti kau tidak mencintai.”
Pengembara terdiam.
Anak kecil menggenggam tangannya.
“Apakah mencintai
berarti harus membutuhkan?”
Pengembara menjawab:
“Manusia saling membutuhkan.”
“Tetapi kebutuhan tidak boleh
menjadi rantai
yang melarang seseorang bertumbuh.”
Ia menuangkan
Air Keberhargaan.
Setetes bening jatuh
ke dalam sumur hitam.
Tidak terjadi apa-apa.
Permaisuri tertawa.
“Lihatlah!”
“Seluruh perjalananmu sia-sia!”
Sumur tetap hitam.
Pohon tetap kering.
Jalan tetap padam.
Pengembara berdiri
dengan tangan kosong.
Anak kecil bertanya:
“Mengapa tidak berubah?”
Pengembara menjawab pelan:
“Aku tidak tahu.”
Permaisuri mengangkat jubahnya.
“Akhirnya!”
“Sekarang akui
bahwa hanya kasihku
yang dapat menyelamatkan kalian!”
Namun dari dasar sumur
terdengar satu detak.
Dum.
Kemudian detak kedua.
Dum.
Gunung Asal Luka
menjawab dengan detaknya sendiri.
Dum.
Anak-anak di tujuh kapal
mengangkat kepala.
Satu anak berkata:
“Aku tidak harus menjadi sempurna
agar layak dicintai.”
Sebuah cahaya muncul
di rumah pertama.
Anak kedua berkata:
“Aku boleh berkata tidak.”
Rumah kedua menyala.
Anak ketiga berkata:
“Aku dapat meminta pertolongan
tanpa menyerahkan hidupku.”
Rumah ketiga bercahaya.
Anak keempat berkata:
“Kepergian seseorang
tidak selalu berarti
aku tidak berharga.”
Rumah keempat terbuka.
Anak kelima berkata:
“Aku boleh memiliki kebutuhan.”
Rumah kelima bersinar.
Anak keenam berkata:
“Aku boleh gagal
tanpa menjadi kegagalan.”
Rumah keenam berubah hangat.
Anak ketujuh berkata:
“Aku dapat menerima kasih
tanpa kehilangan diriku.”
Rumah ketujuh memancarkan cahaya
yang menembus langit.
Enam tetes air
di dalam sumur
menjadi tujuh.
Air ketujuh tidak berasal
dari tangan pengembara.
Ia berasal dari keberanian
anak-anak mengambil kembali
suara dan kehidupannya.
Sumur berguncang.
Retakan cahaya
muncul di permukaan air hitam.
Permaisuri Kasih Pinjaman
mundur.
“Tidak!”
“Mereka membutuhkan seseorang
untuk menentukan nilainya!”
Dari kapal pertama,
seorang ibu memutus benang putih.
“Anakku bukan milikku sepenuhnya.”
Dari kapal kedua,
seorang ayah berkata:
“Aku boleh membimbing
tanpa menguasai.”
Dari kapal ketiga,
seorang guru berkata:
“Muridku boleh bertanya.”
Dari kapal keempat,
seorang pemimpin berkata:
“Kekuasaan harus dapat dikoreksi.”
Dari kapal kelima,
seorang sahabat berkata:
“Aku dapat hadir
tanpa menjadi satu-satunya tempat bergantung.”
Dari kapal keenam,
seorang pasangan berkata:
“Cinta tidak memberiku hak
mengendalikan hidupmu.”
Dari kapal ketujuh,
seorang pengembara lain berkata:
“Aku dapat menolong
tanpa menjadikan diriku penyelamat.”
Ribuan benang putih putus.
Setiap benang yang putus
berubah menjadi benang emas lembut.
Benang itu tidak mengikat.
Ia menghubungkan.
Dapat dilonggarkan.
Dapat dilepas.
Dapat disambung kembali
dengan persetujuan kedua pihak.
Permaisuri Kasih Pinjaman
kehilangan jubahnya.
Tubuhnya mengecil.
Dari raksasa sebesar langit
menjadi perempuan tua.
Dari perempuan tua
menjadi gadis.
Dari gadis
menjadi seorang anak
yang berdiri di tepi sumur.
Anak itu memegang
mangkuk kosong.
“Siapakah engkau sekarang?”
tanya pengembara.
Anak itu menangis.
“Aku adalah ketakutan
bahwa tidak seorang pun
akan memilihku
bila mereka bebas.”
Pengembara menatapnya.
“Jadi kau mengikat mereka?”
“Aku membuat mereka bergantung.”
“Mengapa?”
“Agar mereka tidak pergi.”
Anak kecil di samping pengembara
mendekati anak permaisuri.
“Apakah itu berhasil?”
Permaisuri kecil melihat
benang-benang yang telah putus.
“Tidak.”
“Mereka tinggal,
tetapi tidak benar-benar bersamaku.”
“Mereka mematuhi,
tetapi tidak mencintaiku.”
“Mereka tersenyum,
tetapi takut.”
“Aku dikelilingi banyak orang,
namun tidak pernah dipilih
oleh satu pun hati yang bebas.”
Pengembara duduk
di tepi sumur.
“Kasih yang bebas
membawa kemungkinan perpisahan.”
Anak permaisuri mengangguk.
“Itulah yang kutakuti.”
“Namun tanpa kebebasan,
kehadiran tidak pernah
menjadi pilihan yang nyata.”
“Bagaimana bila mereka pergi?”
“Kau akan bersedih.”
“Bagaimana bila tak ada yang tinggal?”
“Kau perlu belajar
tinggal bersama dirimu sendiri
tanpa menganggap kesendirian
sebagai bukti bahwa kau tidak berharga.”
Anak permaisuri memandang
anak kecil pengembara.
“Apakah aku boleh duduk bersamamu?”
Anak itu menjawab:
“Boleh.”
“Apakah kau berjanji
tidak akan pernah pergi?”
Anak kecil menggeleng.
Permaisuri menunduk.
Namun anak itu melanjutkan:
“Aku tidak dapat berjanji
tentang seluruh masa depan.”
“Tetapi saat ini,
aku memilih duduk di sini.”
Permaisuri kecil menangis.
Mangkuk kosongnya
terisi satu tetes air.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena diambil.
Tetes itu diberikan
oleh kehadiran yang bebas.
Sumur air pertama
meledak dalam cahaya.
Air hitam naik
setinggi langit.
Namun ketika jatuh kembali,
warnanya berubah jernih.
Pohon cahaya hidup.
Akar-akarnya memancarkan emas.
Batangnya dipenuhi aksara biru.
Daun-daun baru tumbuh,
tetapi tidak lagi membawa
nama manusia tertentu.
Pada setiap daun tertulis:
Kehadiran.
Kejujuran.
Batas.
Tanggung jawab.
Kebebasan.
Kasih sayang.
Pengampunan.
Keadilan.
Kesetiaan tanpa kepemilikan.
Pertolongan tanpa penguasaan.
Cinta tanpa kehilangan diri.
Air sumur mengalir
ke tujuh jalan.
Rantai berubah menjadi sungai.
Kapal-kapal tanpa layar
mendapat angin.
Rumah-rumah tua membuka pintu.
Anak-anak keluar
bukan untuk mengikuti
satu penyelamat.
Mereka bertemu
dengan banyak manusia
yang bersedia mendengar,
merawat, melindungi,
mengajar, dan berjalan bersama.
Gunung Asal Luka
tidak runtuh.
Luka-lukanya tidak dihapus.
Namun dari setiap retakan
tumbuh bunga.
Dari setiap gua
keluar sungai.
Dari setiap batu
muncul tulisan:
“Apa yang pernah melukaimu
tidak harus menjadi takhta
yang memerintah seluruh hidupmu.”
Matahari terbenam sepenuhnya.
Namun ketika cahaya terakhir
masuk ke dalam samudra,
lautan tidak menjadi gelap.
Dari dasar laut
muncul sinar biru.
Sinar itu mengalir
dari Gunung Asal Luka
menuju kerajaan Tiongkok Dasar Laut.
Kapal merah di kejauhan
membunyikan lonceng.
Phoenix kembali terbang
dari balik awan.
Ikan emas raksasa
muncul dari kedalaman
dan berenang mengelilingi gunung.
Anak kecil menatap pengembara.
“Apakah perjalanan telah selesai?”
Pengembara memandang
puncak gunung,
sumur yang telah jernih,
dan jalan-jalan cahaya.
“Bagian ini selesai.”
“Apakah semua luka kita sembuh?”
“Tidak seluruhnya.”
“Apakah Raja Kelaparan Kasih
akan kembali?”
“Mungkin.”
“Apakah Permaisuri Kasih Pinjaman
dapat bangkit lagi?”
Pengembara melihat anak kecil
yang dahulu menjadi permaisuri.
Ia sedang belajar
menerima air setetes demi setetes
tanpa merebut mangkuk orang lain.
“Bila ketakutan lama
kembali memegang mahkota,
ia mungkin bangkit.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Mengenalinya lebih awal.”
“Kembali ke gunung.”
“Mendengarkan tubuh dan hati.”
“Menerima bantuan.”
“Menjaga batas.”
“Dan tidak menunggu
sampai luka menjadi kerajaan
sebelum berani mengaku
bahwa kita sedang kesakitan.”
Anak kecil mengangguk.
“Apakah aku harus tetap kecil?”
Pengembara tersenyum.
“Tidak.”
“Kau boleh tumbuh.”
“Apakah kau akan membawaku?”
“Kau tidak perlu lagi
hanya dibawa.”
“Kita akan berjalan bersama.”
Tubuh anak itu
mulai memancarkan cahaya.
Ia tidak menghilang.
Ia tumbuh menjadi pemuda,
kemudian dewasa,
lalu kembali menjadi anak
dalam satu lingkaran cahaya.
Semua usia itu
masuk ke dalam dada pengembara.
Bukan untuk dikurung.
Melainkan untuk menjadi satu kehidupan
yang mengakui seluruh bagiannya:
Anak yang membutuhkan kasih.
Pemuda yang mencari arah.
Prajurit yang ingin melindungi.
Guru yang belajar mendengarkan.
Pemimpin yang harus dapat dikoreksi.
Pengembara yang tidak mengetahui
seluruh jalan.
Dan manusia biasa
yang boleh pulang, beristirahat,
menangis, tertawa,
meminta pertolongan,
serta memulai kembali.
Tongkat kayu di tangannya
menancap ke tanah.
Dari ujungnya tumbuh
sebuah pohon muda.
Pada batangnya tidak tertulis
nama pengembara.
Tidak ada gelar.
Tidak ada lambang kerajaan.
Hanya satu kalimat:
“Jadilah rumah
tanpa menjadikan orang lain tawanan.”
Air dari sumur pertama
turun menuju dasar gunung.
Ia memasuki sungai bawah tanah.
Melewati lorong-lorong purba.
Menyentuh kota yang dahulu membatu.
Mengalir ke istana
yang pernah menjadi singgasana
bagi raja tanpa hati.
Melewati balairung
tempat pendeta-pendeta
mengubah nasihat menjadi rantai.
Membasahi ladang
yang dahulu takut menanam.
Mengisi mangkuk-mangkuk retak.
Membersihkan cermin.
Menyalakan lilin.
Menyeimbangkan timbangan.
Menumbuhkan benih.
Membuka pintu hati.
Ketika air itu tiba
di Tiongkok Dasar Laut,
seluruh lonceng kota berbunyi.
Bukan sebagai tanda
datangnya raja.
Bukan untuk menyambut penyelamat.
Lonceng berbunyi
agar setiap manusia
mengingat suara dirinya sendiri.
Penduduk keluar dari rumah.
Mereka melihat gunung
yang menjulang dari dasar samudra.
Di atasnya,
pohon cahaya berdiri
menembus langit.
Phoenix hinggap di dahannya.
Ikan emas berenang
di antara akar-akarnya.
Seorang anak bertanya:
“Siapakah yang menyelamatkan
sumber air?”
Orang tua menjawab:
“Banyak tangan.”
“Siapakah pahlawannya?”
“Mereka yang berani
mengambil kembali hidupnya.”
“Apakah pengembara itu
tidak melakukan apa-apa?”
“Ia berjalan.”
“Ia mendengarkan.”
“Ia melakukan kesalahan.”
“Ia meminta maaf.”
“Ia membantu semampunya.”
“Dan ketika dunia ingin
menjadikannya pusat cahaya,
ia mengingatkan
bahwa cahaya tidak dimiliki
satu manusia.”
Penduduk tidak membangun patung.
Mereka membangun jembatan.
Tidak mengukir wajah pengembara
pada gerbang.
Mereka menuliskan petunjuk
agar siapa pun dapat menemukan jalan.
Tidak menyimpan air pertama
di istana.
Mereka mengalirkannya
ke rumah, sawah, sekolah,
tempat penyembuhan,
dan pelabuhan.
Tidak menutup kitab.
Mereka membacanya bersama,
bertanya, menguji,
dan memperbaiki kesalahan.
Tidak menyerahkan seluruh kunci
kepada seorang pemimpin.
Mereka membaginya
kepada banyak tangan
yang dapat saling mengingatkan.
Di alun-alun,
singgasana batu masih kosong.
Pedang bening yang dahulu diletakkan
telah berubah menjadi tongkat.
Tongkat itu tidak disimpan
sebagai pusaka yang disembah.
Ia diletakkan di dekat pintu kota
untuk dipakai siapa pun
yang kesulitan berjalan.
Pengembara turun
dari Gunung Asal Luka.
Kini ia tidak berjalan sendirian.
Bukan karena selalu ada manusia
di sampingnya.
Melainkan karena ia tidak lagi
meninggalkan dirinya sendiri
setiap kali harus menghadapi dunia.
Pada kaki gunung,
kapal merah menunggu.
Layarnya putih.
Lambungnya memantulkan
cahaya sumur.
Nakhoda tidak lagi berdiri
di dekat kemudi.
Kemudi itu kosong.
Pengembara naik.
Ia tidak segera mengambilnya.
Ia menunggu para awak berkumpul.
Seorang ibu datang.
Seorang ayah.
Seorang guru.
Seorang tabib.
Seorang petani.
Seorang anak.
Seorang mantan pendeta.
Seorang bekas tawanan.
Seorang pemimpin yang pernah salah.
Seorang penjaga yang belajar melepaskan tugas lama.
Dan Permaisuri Kasih Pinjaman
yang kini hanya seorang anak
membawa mangkuk kecil.
Mereka berdiri mengelilingi kemudi.
Pengembara berkata:
“Kapal ini tidak akan dikendalikan
oleh satu tangan.”
Kemudi terbagi menjadi beberapa pegangan.
Masing-masing awak
memegang satu bagian.
Ada yang membaca bintang.
Ada yang memeriksa arus.
Ada yang menjaga persediaan.
Ada yang merawat orang sakit.
Ada yang mendengarkan suara kapal.
Ada yang mengingatkan
bila perjalanan mulai menyimpang.
Anak permaisuri bertanya:
“Apa tugasku?”
Pengembara menyerahkan
mangkuk kosong.
“Belajarlah menerima
tanpa merampas.”
“Dan bila mangkukku kosong?”
“Katakan bahwa kau membutuhkan air.”
“Bagaimana bila tidak ada yang memberi?”
“Kita akan mencari bersama.”
“Bagaimana bila tetap tidak mendapat?”
Pengembara menatapnya jujur.
“Kita akan merasakan kecewa.”
“Namun kita tidak akan mengubah
kekecewaan menjadi hak
untuk menguasai orang lain.”
Anak itu mengangguk.
Kapal mulai bergerak.
Tidak menuju kerajaan baru.
Tidak menuju perang.
Tidak pula menuju gunung
yang menjanjikan keabadian.
Kapal berlayar
mengelilingi samudra,
membawa air pertama
ke tempat-tempat yang membutuhkannya.
Namun air itu tidak diberikan
sebagai benda ajaib.
Di setiap pelabuhan,
mereka hanya meneteskan sedikit
ke dalam sumur setempat.
Kemudian penduduk harus
membersihkan salurannya sendiri.
Membangun batasnya sendiri.
Merawat sumbernya sendiri.
Belajar bermusyawarah.
Belajar meminta pertolongan.
Belajar berkata tidak.
Belajar menerima kehilangan.
Belajar bertanggung jawab.
Belajar mencintai
tanpa menelan kehidupan orang lain.
Pengembara tidak tinggal
sampai semua pekerjaan selesai.
Ia pergi ketika penduduk
sudah mampu melanjutkan.
Sebagian memujinya.
Ia menerima ucapan terima kasih
tanpa menganggapnya sebagai mahkota.
Sebagian mencelanya.
Ia memeriksa kritik
tanpa menjadikannya seluruh identitas.
Sebagian salah memahami.
Ia menjelaskan semampunya.
Sebagian tetap membenci.
Ia menjaga batas
tanpa membalas kebencian
dengan kezaliman.
Sebagian meminta
agar ia menjadi raja.
Ia menolak singgasana.
Sebagian meminta
agar ia tidak pernah pergi.
Ia tidak memberikan
janji yang tidak mampu ditepati.
Ia berkata:
“Aku akan hadir
selama aku mampu hadir.”
“Setelah itu,
kalian harus tetap memiliki
jalan menuju cahaya
tanpa menggantungkan seluruhnya
kepada diriku.”
Bertahun-tahun berlalu.
Atau mungkin hanya
satu malam di dasar laut.
Sebab waktu di Tiongkok Dasar Laut
tidak berjalan seperti waktu
di atas daratan.
Pengembara menjadi tua.
Rambutnya memutih.
Langkahnya melambat.
Tongkat kayu yang dahulu tumbuh
dari sembilan nama terlarang
kini benar-benar dipakainya
untuk menopang tubuh.
Suatu senja,
kapal merah kembali
ke gerbang pertama.
Gerbang tempat
semua perjalanan dimulai.
Di sana masih terdapat
lukisan ikan emas dan phoenix.
Lentera biru menyala.
Air menggenangi lantai kuil.
Singgasana tetap kosong.
Pengembara turun dari kapal.
Ia berjalan menuju mural purba.
Ikan emas pada dinding
membuka mata.
Phoenix mengembangkan sayap.
Suara dari singgasana terdalam
kembali terdengar:
“Barang siapa memasuki lautan dirinya,
akan menemukan gunung
yang selama ini dicarinya.”
Pengembara tersenyum.
“Dan setelah menemukan gunung?”
Suara itu menjawab:
“Ia akan mengetahui
bahwa puncak bukan tempat
untuk tinggal selamanya.”
“Lalu untuk apa mendaki?”
“Agar ia dapat melihat jalan pulang.”
Pengembara memandang
permukaan air.
Di dalam pantulannya
terlihat seluruh dirinya:
Anak yang menunggu.
Prajurit yang berperang.
Raja yang menolak singgasana.
Guru yang belajar berkata tidak tahu.
Penyelamat yang hampir menjadi berhala.
Manusia yang lapar kasih.
Seseorang yang pernah salah.
Seseorang yang memperbaiki.
Seseorang yang tetap belum sempurna.
Semua bayangan itu
berdiri bersama.
Tidak saling mengusir.
Tidak saling menguasai.
Pengembara berkata:
“Aku pulang.”
Anak kecil dalam pantulan
menjawab:
“Kali ini kau tidak terlambat.”
Air bergetar.
Pantulan mereka menyatu.
Di luar kuil,
matahari mulai terbenam.
Cahayanya menyentuh
permukaan samudra.
Matahari itu tidak jatuh
sebagai lambang akhir.
Ia turun membawa api
menuju dasar lautan.
Api menyentuh air.
Air tidak memadamkannya.
Air membawa cahaya
ke tempat-tempat yang paling gelap.
Lautan meluap.
Bukan karena murka.
Bukan karena kehancuran.
Ia meluap oleh air jernih
dari Gunung Asal Luka,
oleh air mata yang telah diizinkan jatuh,
oleh kasih yang tidak lagi
menuntut tawanan,
dan oleh suara manusia
yang mengambil kembali kehidupannya.
Permadani terbentang.
Bukan bagi raja.
Bukan bagi manusia yang ingin dipuja.
Permadani itu terbentang
bagi siapa pun
yang berani berjalan
tanpa menginjak martabat orang lain.
Benangnya ditenun
dari keberanian berkata jujur.
Dari kesediaan meminta maaf.
Dari kemampuan menerima koreksi.
Dari ketegasan menjaga batas.
Dari kesabaran yang tidak dipakai
untuk membenarkan kekerasan.
Dari pengampunan
yang tidak menghapus tanggung jawab.
Dari kasih
yang tidak merampas kebebasan.
Gunung menjulang tinggi.
Namun tidak lagi
sebagai takhta kekuasaan.
Ia menjadi penunjuk arah
bagi kapal-kapal yang tersesat.
Pada puncaknya,
pohon cahaya berdiri.
Akar-akarnya masuk
ke dalam luka manusia.
Dahan-dahannya terbuka
kepada langit.
Buahnya tidak memberikan
keabadian.
Siapa pun yang memakannya
hanya memperoleh satu kesadaran:
“Aku tidak dapat menguasai
seluruh kehidupan.”
“Namun aku dapat menjaga
cara diriku hadir
di dalam kehidupan.”
Phoenix terbang
membawa api matahari.
Ikan emas berenang
membawa kedalaman laut.
Keduanya bertemu
di atas Tiongkok Dasar Laut.
Api tidak menyombongkan cahaya.
Air tidak menyembunyikan kedalaman.
Mereka bergerak bersama
mengelilingi dunia
yang kembali bernapas.
Pada malam terakhir,
pengembara duduk
di anak tangga kuil.
Seorang anak dari kota
datang membawa kitab kosong.
“Apakah aku boleh menulis
kisah perjalananmu?”
Pengembara menjawab:
“Boleh.”
“Apakah aku harus menulis
bahwa engkau seorang pahlawan?”
“Tulislah bahwa aku pernah takut.”
“Apakah aku harus menulis
bahwa engkau selalu benar?”
“Tulislah bahwa aku pernah salah
dan harus memperbaiki.”
“Apakah aku harus menulis
bahwa engkau menyelamatkan kerajaan?”
“Tulislah bahwa banyak manusia
menyelamatkan kehidupan bersama.”
“Apakah aku harus menulis namamu?”
Pengembara memandang laut.
“Nama dapat ditulis.”
“Tetapi jangan membuat nama
lebih besar daripada makna.”
Anak itu membuka halaman pertama.
“Apa judulnya?”
Pengembara menunjuk
matahari yang telah tenggelam,
lautan yang masih memancarkan cahaya,
permadani air yang membentang,
dan gunung tinggi
yang berdiri di kejauhan.
Ia menjawab:
“Puisi Tiongkok Dasar Laut.”
“Apa artinya?”
Pengembara tersenyum.
“Tiongkok adalah istana ingatan
yang dibangun manusia
dari sejarah, kebijaksanaan,
kesalahan, dan harapan.”
“Dasar laut adalah tempat
semua hal yang tidak ingin kita lihat
tetap hidup dalam diam.”
“Puisi adalah jalan
agar keduanya dapat berbicara
tanpa saling menghancurkan.”
Anak itu menulis.
“Bagaimana bait terakhir ditutup?”
Pengembara memandang
cermin kecil dari Lautan Kesembilan.
Di samping cermin
tersimpan daun dari Gunung Asal Luka.
Cermin berkata:
“Jangan menjadi berhala.”
Daun berkata:
“Jangan jadikan luka sebagai takhta.”
Tongkat kayu berkata:
“Berjalanlah semampumu.”
Mangkuk kosong berkata:
“Sisakan ruang untuk belajar.”
Pintu di dalam dada berkata:
“Kasih boleh masuk,
tetapi tidak boleh merampas rumah.”
Pengembara mengambil pena.
Dengan tangannya sendiri
ia menulis baris terakhir:
“Terbenam matahari
bukan berarti cahaya berakhir.”
“Meluap lautan
bukan berarti dunia tenggelam.”
“Terbentang permadani
bukan berarti jalan telah mudah.”
“Menjulang gunung yang tinggi
bukan berarti manusia harus menjadi raja.”
“Semua itu hanyalah tanda
bahwa sedalam apa pun seseorang tenggelam,
masih ada jalan untuk menyelami dirinya,
memeluk luka tanpa menyembahnya,
menerima kasih tanpa menjadi tawanan,
dan kembali ke permukaan
sebagai manusia biasa
yang sadar bahwa cahaya sejati
tidak meminta dirinya dipuja.”
Ia meletakkan pena.
Lonceng kuil berbunyi satu kali.
Seluruh laut menjadi hening.
Kemudian dari dasar samudra
muncul jutaan lentera.
Lentera-lentera itu naik
menuju permukaan.
Masing-masing membawa
satu doa manusia:
Doa agar cukup.
Doa agar berani.
Doa agar mampu melepaskan.
Doa agar keadilan dijaga.
Doa agar kegagalan
tidak mematikan harapan.
Doa agar kasih
tidak lagi menjadi rantai.
Doa agar orang yang terluka
tidak menjadikan lukanya
alasan melukai.
Doa agar orang yang diberi kuasa
tidak menjadikan dirinya
sumber seluruh kebenaran.
Doa agar manusia
tetap menjadi manusia
ketika dunia memintanya
menjadi lambang.
Lentera-lentera menembus laut.
Cahayanya terlihat
dari daratan yang jauh.
Orang-orang memandang
dan mengira bintang-bintang
sedang lahir dari samudra.
Mereka tidak mengetahui
bahwa jauh di bawah sana,
seorang pengembara tua
telah menyelesaikan bait terakhirnya.
Ia menutup kitab.
Tidak ada petir.
Tidak ada mahkota turun dari langit.
Tidak ada suara
yang menyebutnya terpilih.
Hanya suara ombak,
napas yang tenang,
dan langkah seorang anak
yang pulang ke rumah
tanpa membawa pedang.
Pengembara berdiri.
Ia memasuki kuil.
Pintu menutup perlahan.
Namun tidak dikunci.
Sebab rumah yang telah berdamai
dengan dirinya sendiri
tidak lagi takut
kepada setiap ketukan.
Di atas pintu tertulis:
“Masuklah dengan jujur.”
“Duduklah tanpa mahkota.”
“Bicaralah tanpa menindas.”
“Mencintailah tanpa memiliki.”
“Pergilah tanpa mengutuk.”
“Dan pulanglah
tanpa meninggalkan dirimu sendiri.”
Malam menyelimuti
Tiongkok Dasar Laut.
Gunung berdiri.
Permadani berkilau.
Samudra bernapas.
Phoenix menutup sayap.
Ikan emas kembali
ke kedalaman.
Matahari tidur
di dasar air,
menunggu fajar berikutnya.
Dan sebelum seluruh cahaya
benar-benar tenang,
suara paling tua dari lautan
mengucapkan penutup:
“Tidak ada dasar
bagi hati yang berani menyelam.”
“Tidak ada gunung
yang terlalu tinggi
bagi manusia yang bersedia
melangkah tanpa kesombongan.”
“Tidak ada luka
yang harus dijadikan kerajaan.”
“Tidak ada kasih
yang berhak menjadikan jiwa tawanan.”
“Dan tidak ada akhir
bagi cahaya
yang telah menemukan jalan pulang.”
Tamat

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.