PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

 


PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Pertama — Terbenam Matahari

Terbenam matahari di balik samudra,

cahayanya pecah menjadi ribuan bara.

Meluap lautan membawa suara purba,

menggetarkan istana yang lama terjaga.

Terbentang permadani dari air dan cahaya,

di atasnya seekor ikan raksasa berenang menuju rahasia.

Burung phoenix mengepakkan sayap keemasan,

menjaga pintu antara kehancuran dan kebangkitan.

Menjulang gunung yang tinggi di dasar lautan,

puncaknya tersembunyi dalam gelap keabadian.

Seorang pengembara berdiri membawa pedang,

memandang prasasti yang menyala biru di dinding karang.

Lalu terdengar suara dari singgasana terdalam:

“Barang siapa berani memasuki lautan dirinya,

akan menemukan gunung yang selama ini dicarinya.”

Namun ia belum melangkah—

sebab di balik lukisan ikan dan burung api itu,

ada sebuah mata yang perlahan terbuka,

menanti manusia yang sanggup membaca

rahasia sebelum dunia pertama diciptakan.



PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Kedua — Meluap Lautan

Ketika matahari telah tenggelam seluruhnya,

samudra tidak menjadi gelap,

justru dari dasar yang paling sunyi

muncul cahaya biru seperti napas bumi

yang lama tertahan di balik batu-batu purba.

Lautan mulai meluap,

bukan hanya oleh air,

melainkan oleh kenangan kerajaan

yang pernah berdiri sebelum daratan diberi nama.

Gelombangnya naik menyentuh dinding gua,

membangunkan aksara-aksara tua

yang tertidur di antara lumut dan karang.

Satu per satu lentera biru menyala,

tanpa disentuh tangan manusia.

Nyala apinya tidak bergoyang diterpa arus,

seolah dijaga oleh ribuan doa

yang pernah dilafalkan para penjaga istana.

Pengembara itu menatap ke depan.

Di bawah telapak kakinya,

permukaan air membentuk lingkaran-lingkaran emas.

Setiap lingkaran membuka sebuah bayangan:

kapal-kapal yang karam tanpa bekas,

mahkota yang jatuh dari kepala para raja,

pedang yang patah sebelum perang dimulai,

dan air mata seorang permaisuri

yang menunggu kepulangan hingga rambutnya memutih.

Lalu ikan raksasa pada dinding bergerak.

Sisiknya memantulkan ribuan bintang,

matanya terbuka seperti bulan purnama,

sedangkan burung phoenix di atasnya

mengembangkan sayap dari bara matahari.

Mereka tidak lagi menjadi lukisan.

Ikan itu berenang keluar dari batu,

melingkari ruangan dengan tubuh keemasan.

Phoenix terbang menembus kubah gua,

mengibaskan cahaya yang menjelma hujan api,

namun tidak membakar air

dan tidak melukai siapa pun.

Dari balik singgasana terdengar suara:

“Lautan meluap ketika hati manusia

tak lagi sanggup menyimpan rahasianya.”

Pengembara menggenggam pedangnya,

tetapi suara itu kembali berkata:

“Jangan hunus besi di hadapan dirimu sendiri.

Musuh yang kau cari tidak berdiri di luar pintu,

ia bersembunyi dalam ketakutan

yang selalu kau beri nama takdir.”

Maka pedang itu perlahan diturunkan.

Air naik hingga menyentuh lututnya,

kemudian pinggangnya,

kemudian dadanya.

Akan tetapi ia tidak mundur,

sebab di dalam luapan lautan itu

ia mendengar suara ibunya,

suara ayahnya,

suara para leluhur yang telah lama pergi,

dan suara dirinya sendiri

ketika masih belum mengenal luka.

Di kejauhan, gunung-gunung dasar laut

mulai terangkat dari kegelapan.

Puncaknya menjulang bagai tiang langit,

ditumbuhi istana, pagoda, dan pohon-pohon cahaya.

Akar-akarnya menembus jurang tak berujung,

sementara puncaknya memikul gerbang

yang belum pernah dibuka selama seribu tahun.

Di antara dua gunung tertinggi

terbentang sebuah permadani panjang,

ditenun dari arus, buih, dan cahaya senja.

Di atasnya berbaris bayangan para penjaga

dengan jubah hitam dan topeng batu,

masing-masing membawa lentera

yang menyimpan satu nama manusia.

Namun satu lentera masih kosong.

Lentera itu melayang mendekati sang pengembara,

berhenti tepat di hadapan wajahnya.

Di dalam kaca birunya

ia melihat dirinya mengenakan mahkota,

lalu melihat dirinya menjadi debu,

melihat kemenangan dan kehilangan,

melihat cinta datang dan pergi,

melihat seluruh dunia tunduk kepadanya,

kemudian meninggalkannya seorang diri.

Ia pun bertanya kepada lautan:

“Apakah aku datang untuk menjadi raja?”

Gelombang menjawab dengan suara menggelegar:

“Bukan.

Engkau datang untuk belajar

bahwa orang yang mampu memerintah dirinya

lebih tinggi daripada raja yang menguasai seribu negeri.”

Pada saat itulah lautan meluap semakin dahsyat.

Pilar-pilar istana bergetar,

lonceng-lonceng tua berbunyi sendiri,

dan ribuan ikan berenang mengitari singgasana

seperti pasukan yang sedang menyambut

kedatangan seseorang yang telah lama dinanti.

Pengembara melangkah ke atas permadani air.

Setiap langkahnya menyalakan satu aksara,

setiap napasnya membuka satu pintu,

dan setiap ketakutan yang ia lepaskan

berubah menjadi bunga teratai biru

yang mengapung di belakangnya.

Tetapi sebelum ia mencapai gerbang gunung,

muncul bayangan hitam dari dasar jurang,

lebih besar daripada kuil,

lebih panjang daripada naga,

dan membawa suara ribuan manusia

yang pernah menyerah kepada keputusasaan.

Bayangan itu berkata:

“Kembalilah.

Tidak semua rahasia diciptakan untuk diketahui.”

Pengembara berhenti,

namun bukan karena gentar.

Ia menatap bayangan itu

dengan mata yang mulai dipenuhi cahaya senja.

Kemudian ia menjawab:

“Aku tidak datang untuk merebut rahasia.

Aku datang untuk mengenali

bagian diriku yang selama ini tenggelam.”

Mendengar jawaban itu,

ikan emas menyelam ke dasar jurang,

phoenix menjerit dari puncak gua,

dan seluruh lautan terbelah menjadi dua.

Di tengah belahan air itu

terlihat tangga batu menuju gunung tertinggi,

sedangkan di ujung tangga

berdiri sebuah pintu tanpa gagang,

tanpa kunci,

dan tanpa tulisan.

Hanya ada sebuah telapak tangan

terukir tepat di tengahnya.

Pengembara mendekat,

mengangkat tangan perlahan,

lalu menempelkannya pada ukiran tersebut.

Namun sebelum pintu terbuka,

seluruh lentera biru mendadak padam.

Dalam kegelapan yang sempurna,

terdengar suara napas lain

berdiri sangat dekat di belakangnya.

Dan suara itu berbisik:

“Akhirnya engkau kembali,

pewaris yang pernah dilupakan lautan.”



PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Ketiga — Terbentang Permadani

Dalam gelap yang tidak memiliki ujung,

pengembara itu menahan napas.

Tangan kanannya masih melekat

pada pintu batu tanpa gagang,

sementara suara di belakangnya

mengalir dingin seperti arus

yang datang dari dasar jurang.

“Akhirnya engkau kembali,

pewaris yang pernah dilupakan lautan.”

Ia tidak segera menoleh.

Sebab suara itu terasa begitu dekat,

tetapi tidak menimbulkan bayangan.

Tidak terdengar langkah kaki,

tidak terdengar gesekan jubah,

hanya napas panjang dan berat

seperti gunung yang sedang terbangun

setelah tertidur ribuan tahun.

Pengembara perlahan membuka mata.

Di hadapannya,

ukiran telapak tangan pada pintu batu

mulai memancarkan cahaya keemasan.

Cahaya itu merambat melalui lengannya,

menembus dada,

kemudian membentuk satu garis terang

di sepanjang permukaan air.

Garis itu terus memanjang,

melewati singgasana,

menembus halaman kuil,

melintasi gerbang-gerbang yang runtuh,

hingga menghilang di antara dua gunung

yang berdiri jauh di dasar samudra.

Lalu lautan pun berguncang.

Dari bawah air muncul helaian-helaian cahaya

berwarna biru, emas, dan merah senja.

Helaian itu saling terjalin

seperti benang yang ditenun

oleh tangan-tangan tak terlihat.

Sedikit demi sedikit,

terbentanglah sebuah permadani agung

di atas permukaan lautan.

Tidak dibuat dari sutra,

tidak pula dari bulu atau benang,

melainkan dari ombak yang ditenangkan,

air mata yang telah diikhlaskan,

doa-doa yang tidak pernah terucapkan,

dan harapan manusia

yang hampir tenggelam tetapi memilih bertahan.

Permadani itu membentang sangat panjang,

melewati tujuh gerbang karang,

sembilan menara biru,

dan seratus anak tangga

yang menuju gunung tertinggi.

Pada setiap sisinya

berdiri lentera-lentera purba.

Di dalam setiap lentera

terlihat satu kisah kehidupan:

Seorang ibu yang menunggu anaknya pulang.

Seorang ayah yang menyembunyikan tangisnya.

Seorang pendekar yang menang dalam perang,

namun kalah melawan kesombongannya.

Seorang raja yang memiliki seluruh negeri,

tetapi tidak mampu memiliki ketenangan.

Seorang pengemis yang tidak mempunyai apa-apa,

namun tidur tanpa ketakutan kehilangan.

Pengembara memandang semuanya

tanpa berani menyentuh.

Kemudian suara dari belakangnya berkata:

“Permadani ini tidak dibentangkan

bagi mereka yang ingin dipuji.

Ia hanya terbuka bagi jiwa

yang berani berjalan tanpa membawa nama kebesaran.”

Pengembara menundukkan kepala.

Ia melepaskan ikatan rambutnya,

menanggalkan lambang kerajaan pada dadanya,

dan meletakkan pedangnya

di kaki pintu batu.

Pedang itu jatuh tanpa bunyi.

Begitu besi menyentuh air,

seluruh permukaannya berubah menjadi debu emas,

lalu terbang ke udara

dan menjelma ribuan kupu-kupu cahaya.

Namun suara itu kembali berkata:

“Besi dapat kau lepaskan,

tetapi sanggupkah engkau melepaskan

keinginan untuk dianggap sebagai penyelamat?”

Pertanyaan itu menghantam lebih keras

daripada gelombang.

Pengembara terdiam cukup lama.

Ia teringat perjalanan yang telah ditempuhnya,

orang-orang yang pernah memujinya,

mereka yang pernah merendahkannya,

kemenangan yang diam-diam ia banggakan,

dan kebaikan yang kadang masih ingin diketahui

oleh mata manusia.

Ia lalu berlutut di atas air.

“Aku belum sepenuhnya mampu,” katanya.

“Tetapi aku bersedia belajar

berjalan tanpa meminta dunia menyaksikanku.”

Saat kalimat itu selesai diucapkan,

satu lentera di ujung permadani menyala.

Kemudian lentera kedua.

Lalu ketiga.

Cahaya menyebar berurutan

hingga seluruh jalan di atas lautan

berkilau seperti sungai bintang

yang turun dari langit.

Barulah pengembara berbalik.

Di belakangnya tidak berdiri manusia.

Yang tampak hanyalah

sebuah bayangan tinggi berjubah hitam,

wajahnya tertutup topeng naga,

dan di kedua tangannya

terdapat rantai yang mengikat

sebuah peti batu berwarna merah tua.

Pada permukaan peti itu

terukir empat lambang:

matahari yang tenggelam,

lautan yang meluap,

permadani yang terbentang,

dan gunung yang menjulang tinggi.

Bayangan bertopeng naga berkata:

“Aku bukan musuhmu.

Aku adalah penjaga segala sesuatu

yang kau tinggalkan sebelum dilahirkan.”

Pengembara berdiri perlahan.

“Apa yang ada di dalam peti itu?”

Sang penjaga menancapkan rantainya ke air.

Sekejap kemudian,

muncul kilatan yang memperlihatkan

sebuah kota raksasa di dasar lautan.

Kota itu dipenuhi menara giok,

jembatan emas,

dan istana-istana yang atapnya

menyerupai sayap burung phoenix.

Namun kota tersebut sunyi.

Tidak ada pedagang di pasar,

tidak ada anak-anak di halaman,

tidak ada suara doa di kuil.

Semua penghuninya berubah menjadi patung batu

dengan wajah menengadah kepada langit.

“Di dalam peti ini,” kata sang penjaga,

“tersimpan nama terakhir

yang dahulu membuat kota itu hidup.”

“Mengapa nama itu dikunci?”

Sang penjaga mengangkat kepalanya.

“Karena penduduk kota

mulai menyembah nama

dan melupakan sumber kehidupan.

Mereka memuliakan lambang,

tetapi mengabaikan makna.

Mereka membangun singgasana yang tinggi,

tetapi membiarkan hatinya runtuh.”

Angin bawah laut berembus

melewati permadani.

Pada setiap embusannya

terdengar bisikan ribuan orang

yang dahulu tinggal di kota itu:

“Akulah pewaris.”

“Akulah yang terpilih.”

“Akulah pemilik cahaya.”

“Akulah yang paling mengetahui rahasia.”

Bisikan-bisikan itu berputar

mengelilingi kepala pengembara

hingga hampir membuatnya kehilangan kesadaran.

Ia menutup telinga,

tetapi suara tersebut justru terdengar

semakin keras dari dalam dadanya sendiri.

Sang penjaga berkata:

“Inilah ujian pertama permadani.

Engkau tidak diminta melawan suara orang lain.

Engkau diminta mengenali

suara kesombonganmu sendiri.”

Permadani mendadak terbelah

menjadi tiga jalan.

Jalan pertama dihiasi emas,

mahkota, dan bendera kemenangan.

Di ujungnya berdiri singgasana

dengan ribuan manusia bersujud.

Jalan kedua dihiasi bunga-bunga putih,

air jernih, dan suara pujian.

Di ujungnya berdiri kuil besar

yang mengabadikan nama sang pengembara.

Jalan ketiga gelap,

sempit, dan tidak memiliki lentera.

Tidak ada singgasana,

tidak ada pujian,

tidak ada seorang pun menunggu di ujungnya.

Sang penjaga bertanya:

“Jalan manakah yang akan kau pilih?”

Pengembara memandang jalan pertama.

Ia melihat kekuasaan,

tetapi di balik singgasana

terdapat bayangan yang kelaparan.

Ia memandang jalan kedua.

Ia melihat kemuliaan,

tetapi di balik kuil

terdapat manusia-manusia

yang saling berebut menjadi paling suci.

Kemudian ia memandang jalan ketiga.

Tidak terlihat apa pun

selain kegelapan dan suara tetesan air.

Pengembara melangkah ke jalan ketiga.

Sang penjaga bertanya:

“Mengapa memilih jalan

yang tidak menjanjikan apa-apa?”

Ia menjawab:

“Karena jalan yang paling terang

belum tentu membawa kepada kebenaran.

Aku memilih jalan yang tidak memuji namaku,

agar aku dapat mendengar

siapa diriku ketika semua suara telah diam.”

Begitu kakinya menyentuh jalan ketiga,

emas pada jalan pertama berubah menjadi pasir.

Kuil pada jalan kedua runtuh menjadi debu.

Sedangkan jalan gelap yang dipilihnya

perlahan memancarkan cahaya

dari dalam batu-batunya sendiri.

Cahaya itu tidak menyilaukan.

Ia lembut seperti fajar,

hangat seperti tangan seorang ibu,

dan jernih seperti air

yang belum disentuh ketamakan manusia.

Sang penjaga bertopeng naga

membuka rantai pada peti merah.

Namun peti itu belum terbuka.

Dari dalamnya terdengar detak,

seperti jantung makhluk besar

yang sedang menunggu waktu untuk bangun.

Pengembara terus berjalan.

Pada langkah ketujuh,

permukaan permadani berubah menjadi cermin.

Ia melihat wajahnya sendiri,

tetapi bukan wajah yang sekarang.

Pertama, ia melihat dirinya sebagai anak kecil

yang berlari di bawah hujan

tanpa takut basah.

Kemudian ia melihat dirinya sebagai prajurit

yang berdiri di tengah padang perang,

dikelilingi tubuh sahabat-sahabatnya.

Lalu ia melihat dirinya sebagai raja tua

yang duduk sendirian,

memegang mahkota yang terlalu berat

untuk dikenakan.

Terakhir, ia melihat dirinya

sebagai pengembara tanpa nama,

membawa sepotong roti

kepada seseorang yang sedang kelaparan.

Dari semua bayangan itu,

hanya pengembara tanpa nama

yang tersenyum dengan tenang.

Ia pun memahami:

Permadani tersebut bukan jalan menuju istana,

melainkan jalan yang membawanya kembali

kepada bagian dirinya

yang belum dikuasai keinginan dunia.

Tiba-tiba phoenix turun dari puncak gua.

Sayapnya membentang memenuhi langit lautan,

dan setiap helai bulunya

menjatuhkan percikan api keemasan.

Ikan raksasa berenang di bawah permadani,

menopangnya agar tidak tenggelam.

Keduanya bergerak bersama,

seolah api dan air

telah berdamai untuk mengantarkan

satu manusia menuju gunung.

Di ujung perjalanan,

terlihat gerbang giok setinggi awan.

Di belakang gerbang itu

menjulang gunung hitam

yang puncaknya menembus permukaan samudra.

Namun sebelum pengembara mencapainya,

permadaninya mendadak berhenti.

Di hadapannya terdapat jurang sangat luas.

Tidak ada jembatan,

tidak ada tangga,

dan tidak ada jalan lain.

Sang penjaga muncul di sampingnya

sambil membawa peti merah.

“Permadani hanya dibentangkan

sampai batas keyakinanmu,” katanya.

“Selebihnya harus kau tempuh

tanpa mengetahui apakah kakimu

akan menemukan pijakan.”

Pengembara memandang jurang.

Dari dalam kegelapan

muncul suara-suara lama:

“Engkau akan gagal.”

“Engkau tidak pantas.”

“Kembalilah sebelum semuanya terlambat.”

“Tidak ada siapa pun di seberang sana.”

Ia menutup mata.

Bukan untuk menghindari ketakutan,

melainkan untuk mendengarnya

tanpa lagi diperintah olehnya.

Kemudian ia melangkah.

Kakinya tidak jatuh.

Di bawah telapak kakinya

muncul satu helai permadani baru.

Ia melangkah lagi.

Muncul helai kedua.

Setiap langkah melahirkan jalan,

setiap keberanian menenun permadani,

dan setiap keikhlasan

mengubah jurang menjadi jembatan.

Sang penjaga berbisik:

“Kini engkau mulai memahami.

Jalan tidak selalu tersedia

sebelum manusia berani melangkah.”

Ketika pengembara mencapai seberang,

pintu gerbang giok terbuka sendiri.

Suara lonceng menggema

dari puncak gunung.

Peti merah di tangan sang penjaga

akhirnya retak.

Dari celahnya keluar seberkas cahaya putih

yang melesat menuju langit,

membelah samudra dari dasar hingga permukaan.

Seluruh patung batu di kota purba

serentak membuka mata.

Namun sebelum mereka kembali bergerak,

gunung hitam di hadapan pengembara

mengeluarkan suara gemuruh dahsyat.

Batu-batu besar berjatuhan.

Awan bawah laut berputar.

Naga-naga yang tertidur di lerengnya

mulai membuka mata satu demi satu.

Di puncak gunung

terlihat sebuah singgasana kosong.

Dan di belakang singgasana itu

berdiri sosok yang memiliki wajah

sama persis dengan wajah sang pengembara.

Sosok itu mengenakan mahkota hitam,

membawa pedang yang tadi telah dilepaskan,

lalu memandangnya dengan senyum dingin.

“Permadani telah mengantarkanmu kepadaku,”

katanya.

“Sekarang naiklah ke gunung ini,

dan buktikan siapa di antara kita

yang berhak membawa nama terakhir

dari kerajaan dasar laut.”


PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Keempat — Menjulang Gunung yang Tinggi

Gunung hitam itu menjulang

dari palung yang tidak pernah disentuh matahari.

Puncaknya menembus arus samudra,

sedangkan akarnya terkubur

di bawah lapisan batu yang lebih tua

daripada nama-nama kerajaan.

Di sepanjang lerengnya

berdiri ribuan patung pendekar.

Sebagian menggenggam pedang,

sebagian membawa kitab,

sebagian menengadahkan tangan,

dan sebagian lagi menutup wajah

seolah menyesali jalan

yang dahulu mereka pilih sendiri.

Awan gelap berputar mengelilingi puncak.

Kilat biru menari tanpa suara,

sementara naga-naga batu

membuka mata satu demi satu.

Dari singgasana tertinggi,

sosok bermahkota hitam itu berkata:

“Naiklah.

Permadani telah membawamu sampai ke kaki gunung,

tetapi hanya keberanianmu sendiri

yang dapat mengantarkanmu ke puncaknya.”

Pengembara memandang wajah sosok tersebut.

Wajah itu benar-benar sama dengannya:

bentuk mata, garis rahang,

bekas luka kecil di dekat pelipis,

bahkan cara berdirinya pun serupa.

Namun di dalam kedua matanya

tidak terdapat kehangatan.

Yang terlihat hanyalah

ribuan keinginan yang belum pernah kenyang.

Sang penjaga bertopeng naga berdiri di belakangnya.

Peti merah yang dibawanya

telah retak semakin lebar,

tetapi cahaya di dalamnya

belum sepenuhnya keluar.

“Siapakah dia?”

tanya pengembara.

Penjaga itu menjawab:

“Dia adalah dirimu

yang memilih setiap jalan yang dahulu kau tolak.”

“Apakah dia bayanganku?”

“Bukan sekadar bayangan.

Dia hidup dari pujian yang kau inginkan,

kemarahan yang kau simpan,

luka yang tidak kau maafkan,

dan ketakutan yang kau sembunyikan

di balik keberanian.”

Gunung kembali berguncang.

Tangga batu muncul dari lerengnya,

membentuk jalur sempit

yang berkelok menuju singgasana.

Setiap anak tangga

bertuliskan satu kata:

Nama.

Kekuasaan.

Pujian.

Kemenangan.

Pengakuan.

Keabadian.

Pengembara menapakkan kaki

pada anak tangga pertama.

Saat menyentuh kata Nama,

seluruh lereng gunung berubah.

Ia melihat sebuah kota besar

dengan bendera bergambar wajahnya.

Namanya dipahat pada gerbang,

ditulis di dinding-dinding kuil,

dan diteriakkan oleh ribuan orang.

Anak-anak mempelajari kisahnya.

Para penyair menyanyikan keberaniannya.

Para raja mengirimkan persembahan

dan meminta kebijaksanaannya.

Namun di antara kerumunan itu

ia melihat seorang tua

tergeletak di tepi jalan.

Tidak seorang pun menolongnya,

sebab semua manusia terlalu sibuk

meneriakkan nama sang pengembara.

Ia segera menarik kakinya.

Bayangan kota pun lenyap.

Dari puncak terdengar tawa.

“Mengapa takut kepada kemuliaan?”

tanya sosok bermahkota hitam.

“Bukankah namamu dapat menjadi cahaya

bagi mereka yang tersesat?”

Pengembara menjawab:

“Nama dapat menjadi penunjuk jalan,

tetapi juga dapat berubah menjadi dinding

yang menutupi kebenaran.”

Ia melangkah ke anak tangga kedua.

Ketika menginjak kata Kekuasaan,

ia melihat dirinya duduk

di atas singgasana emas.

Di hadapannya berdiri pasukan besar.

Seribu kapal menunggu perintah,

sembilan kerajaan menyerahkan mahkota,

dan para penguasa menundukkan kepala.

Dengan satu gerakan tangan,

ia mampu menghentikan perang.

Dengan satu kalimat,

ia dapat membuka lumbung-lumbung makanan.

Tetapi dengan satu kemarahan pula,

ia dapat menghancurkan sebuah kota.

Pada mulanya ia menggunakan kekuasaan

untuk melindungi yang lemah.

Namun hari demi hari,

ia mulai menganggap semua penolakan

sebagai pengkhianatan.

Nasihat dianggap perlawanan.

Pertanyaan dianggap penghinaan.

Perbedaan dianggap ancaman.

Hingga akhirnya,

singgasana emas itu berdiri

di tengah negeri yang sunyi.

Tidak ada lagi musuh,

tetapi tidak ada pula sahabat.

Pengembara mengangkat kakinya.

Bayangan kekuasaan pecah

seperti cermin tersambar batu.

Dari atas, sosok bermahkota hitam berkata:

“Tanpa kekuasaan,

kebenaranmu hanya akan menjadi bisikan

yang ditenggelamkan kebisingan dunia.”

Pengembara menjawab:

“Kebenaran yang memerlukan ketakutan

agar manusia mematuhinya

mungkin hanyalah keinginanku sendiri

yang menyamar menjadi kebenaran.”

Ia melanjutkan perjalanan.

Pada anak tangga bertuliskan Pujian,

muncul taman yang sangat indah.

Di sana setiap bunga

mengucapkan kata-kata yang menyenangkan.

“Engkaulah yang paling bijaksana.”

“Engkaulah pewaris yang terpilih.”

“Tidak ada seorang pun

yang mampu menyamai cahayamu.”

Pada awalnya,

pengembara hanya mendengarkan.

Namun semakin lama,

ia merasa taman itu

mengetahui seluruh isi hatinya.

Ketika ia ragu,

bunga-bunga memujinya.

Ketika ia berbuat salah,

bunga-bunga tetap membenarkannya.

Ketika seseorang datang membawa nasihat,

duri-duri taman segera melukainya.

Akhirnya pengembara menyadari

bahwa semua bunga tersebut

tidak tumbuh dari tanah,

melainkan dari telinganya sendiri.

Ia menutup kedua telinga

dan mengucapkan:

“Pujian yang tidak membiarkanku bercermin

adalah racun yang harum.”

Taman itu seketika layu.

Di baliknya terlihat banyak tulang belulang

dari mereka yang dahulu

tertidur dalam keharuman yang sama.

Pengembara terus mendaki.

Semakin tinggi ia melangkah,

semakin tipis udara di sekelilingnya.

Lautan tampak jauh di bawah.

Permadani cahaya yang tadi begitu luas

kini hanya terlihat seperti seutas benang.

Phoenix berputar di antara awan,

sedangkan ikan emas berenang

mengelilingi tubuh gunung

seperti naga air raksasa.

Pada pertengahan lereng,

pengembara menemukan sebuah gerbang kecil.

Tidak ada penjaga di sana.

Di atas gerbang tertulis:

“Tiada yang dapat melewati tempat ini

sambil membawa kebencian.”

Pengembara mencoba melangkah,

tetapi tubuhnya tertahan

oleh dinding yang tidak terlihat.

Dari balik batu-batu gunung

muncul wajah-wajah masa lalu.

Orang yang pernah menipunya.

Orang yang pernah meninggalkannya.

Orang yang menghinanya di hadapan banyak manusia.

Orang yang mengambil hasil jerih payahnya.

Orang yang pernah berjanji,

lalu pergi tanpa penjelasan.

Masing-masing membawa sebuah batu hitam.

Mereka meletakkannya

di atas bahu pengembara.

Satu batu menjadi dua.

Dua menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi seratus.

Tubuhnya membungkuk.

Lututnya hampir menyentuh tanah.

Sosok bermahkota hitam tertawa dari puncak.

“Simpanlah semuanya,” katanya.

“Luka akan membuatmu kuat.

Kebencian akan membuatmu waspada.

Jangan pernah mengampuni,

sebab pengampunan hanya menguntungkan

mereka yang menyakitimu.”

Pengembara memandang batu-batu

yang menindih punggungnya.

Pada setiap batu

tertulis satu kalimat:

Aku tidak akan melupakan.

Suatu hari mereka akan merasakan.

Aku harus membuktikan bahwa aku lebih tinggi.

Aku tidak boleh terlihat lemah.

Ia menggenggam salah satu batu.

Batu itu hangat,

seolah telah lama tinggal

di dalam dadanya.

Kemudian ia berkata:

“Aku tidak mengampuni

karena perbuatan mereka benar.

Aku mengampuni

agar kesalahan mereka

tidak terus memerintah hidupku.”

Satu batu jatuh.

“Aku tidak melupakan pelajarannya,

tetapi aku melepaskan keinginan

untuk membalas luka dengan luka.”

Batu kedua pecah.

“Aku tidak membebaskan mereka

dari tanggung jawab,

tetapi aku membebaskan hatiku

dari penjara yang mereka tinggalkan.”

Semua batu berguncang.

Satu demi satu,

beban itu berubah menjadi burung-burung putih

yang terbang menuju lautan.

Gerbang kecil pun terbuka.

Namun sebelum masuk,

pengembara menoleh kepada wajah-wajah masa lalu.

Sebagian tersenyum,

sebagian menangis,

sebagian tetap menatapnya dengan kebencian.

Ia memahami

bahwa pengampunan tidak selalu mengubah orang lain.

Terkadang pengampunan

hanya membuka pintu

agar diri sendiri dapat melanjutkan perjalanan.

Di balik gerbang

terbentang hutan bambu hitam.

Batangnya tinggi dan rapat,

menutupi jalur menuju puncak.

Tidak ada cahaya di sana,

tetapi suara-suara aneh

terdengar dari segala arah.

Ada suara anak kecil menangis.

Ada suara pedang beradu.

Ada suara seseorang memanggil namanya.

Ada pula suara lembut

yang menyuruhnya beristirahat selamanya.

Pengembara berjalan perlahan.

Setiap kali menyentuh batang bambu,

ia melihat satu kemungkinan hidup

yang tidak pernah dijalaninya.

Pada batang pertama,

ia melihat dirinya hidup tenang

di sebuah desa kecil,

menikah, mempunyai anak,

dan tidak pernah mengenal kerajaan dasar laut.

Pada batang kedua,

ia melihat dirinya menjadi jenderal,

memenangkan banyak perang,

lalu meninggal tanpa keluarga.

Pada batang ketiga,

ia menjadi pertapa

yang dihormati banyak murid,

tetapi diam-diam haus pujian.

Pada batang keempat,

ia menjadi pedagang kaya

yang membangun banyak kuil,

namun memperlakukan pekerjanya

tanpa belas kasih.

Semua kehidupan itu tampak nyata.

Semua mempunyai kebahagiaan.

Semua memiliki penyesalan.

Pengembara bertanya kepada hutan:

“Manakah kehidupan yang seharusnya kupilih?”

Bambu-bambu menjawab bersamaan:

“Tidak ada kehidupan yang sempurna.

Yang ada hanyalah kehidupan

yang dijalani dengan sadar

atau ditinggalkan dalam penyesalan.”

Ia terus berjalan

hingga menemukan sebuah pohon

yang berbeda dari lainnya.

Pohon itu berdaun perak,

berakar pada batu,

dan hanya memiliki satu buah.

Buah tersebut menyerupai hati manusia.

Sang penjaga bertopeng naga

tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Itulah Buah Pengetahuan Diri,” katanya.

“Siapa pun yang memakannya

akan melihat dirinya tanpa perlindungan.”

“Apa yang akan kulihat?”

“Bukan hanya kebaikan yang kau banggakan.

Engkau akan melihat niat tersembunyi

di balik setiap perbuatanmu.”

Pengembara memetik buah itu.

Saat digigit,

rasanya manis seperti madu.

Namun beberapa saat kemudian

berubah pahit seperti empedu.

Hutan menghilang.

Ia berdiri di dalam ruangan putih

tanpa pintu dan jendela.

Di sekelilingnya

terlihat seluruh perbuatan baiknya.

Ia melihat ketika memberi makanan

kepada orang yang kelaparan.

Namun di balik perbuatan itu

terdapat keinginan kecil

agar dirinya dianggap murah hati.

Ia melihat ketika menolong seorang sahabat.

Namun di dasar hatinya

ada harapan bahwa suatu hari

sahabat itu akan membalas pertolongannya.

Ia melihat ketika berbicara tentang kebenaran.

Namun di antara kata-katanya

terselip keinginan

untuk terlihat lebih mengetahui.

Ia melihat ketika memaafkan seseorang.

Namun sebagian dirinya

masih ingin dipuji karena telah memaafkan.

Pengembara jatuh berlutut.

“Apakah seluruh kebaikanku palsu?”

tanyanya.

Suara penjaga terdengar dari kejauhan:

“Tidak.

Kebaikan manusia jarang lahir

dari niat yang sepenuhnya bening.

Engkau tidak diminta menunggu sempurna

sebelum melakukan kebaikan.

Engkau hanya diminta

terus membersihkan alasan di baliknya.”

Ruangan putih itu perlahan retak.

Dari celah-celahnya

masuk cahaya fajar.

Pengembara bangkit kembali.

Ia tidak merasa lebih suci.

Justru untuk pertama kalinya

ia merasa benar-benar manusia.

Perjalanan menuju puncak berlanjut.

Kini tangga batu semakin sempit.

Di sebelah kanan terdapat jurang api,

di sebelah kiri mengalir sungai es.

Sosok bermahkota hitam

turun dari singgasananya.

Ia berdiri di ujung tangga

sambil membawa pedang

yang dahulu telah dilepaskan pengembara.

Bilahnya kini berwarna merah,

seolah ditempa dari kemarahan.

“Cukup,” katanya.

“Engkau telah melepaskan nama,

kekuasaan, pujian, dan kebencian.

Apakah kau kira semua itu

membuatmu lebih mulia dariku?”

Pengembara berhenti.

“Aku tidak datang untuk menjadi lebih mulia.”

“Lalu untuk apa engkau mendaki?”

“Untuk mengetahui

mengapa gunung ini selalu memanggilku.”

Sosok itu menancapkan pedang

ke anak tangga.

Api merah menyebar ke seluruh lereng.

Patung-patung pendekar hidup kembali.

Mereka berbaris mengelilingi pengembara,

menutup semua jalan turun.

“Gunung ini memanggilmu,”

kata sosok itu,

“karena aku menunggumu mengambil tempatku.”

Ia menunjuk singgasana di puncak.

“Duduklah di sana.

Kota dasar laut akan hidup kembali.

Semua patung akan menjadi manusia.

Lautan akan tunduk kepadamu.

Namamu akan bertahan

sampai gunung ini menjadi debu.”

Pengembara memandang kota purba di kejauhan.

Patung-patung penduduk

masih berdiri tanpa bergerak.

Di antara mereka

terlihat anak-anak, orang tua,

prajurit, pedagang, dan para ibu

yang memeluk bayinya.

“Apa syaratnya?”

tanya pengembara.

Sosok bermahkota hitam tersenyum.

“Hanya satu.

Engkau harus meninggalkan hatimu

di dalam peti merah.”

Penjaga bertopeng naga

mengangkat peti yang telah retak.

Cahaya putih di dalamnya

berdenyut seperti jantung.

“Tanpa hati,” lanjut sosok itu,

“engkau tidak akan ragu.

Tidak akan terluka.

Tidak akan mencintai.

Tidak akan takut kehilangan.

Engkau akan menjadi penguasa sempurna.”

Untuk sesaat,

pengembara tergoda.

Betapa mudahnya hidup

tanpa kesedihan.

Betapa ringan langkah

tanpa rasa bersalah.

Betapa kuat keputusan

tanpa belas kasih

yang mengganggu ketegasan.

Namun kemudian ia melihat

seorang anak kecil di antara patung kota.

Anak itu menggenggam bunga batu.

Wajahnya mengingatkan pengembara

kepada dirinya sendiri

sebelum mengenal luka.

Ia mengerti:

Kota itu memang dapat dibangunkan

oleh penguasa tanpa hati,

tetapi penduduknya hanya akan hidup

sebagai tubuh yang patuh.

Mereka tidak akan mengenal cinta,

tidak mampu memilih,

dan tidak berani menolak.

Pengembara berkata:

“Kehidupan tanpa hati

hanyalah kematian yang mampu berjalan.”

Wajah sosok bermahkota hitam berubah.

Langit gunung menjadi merah.

“Kalau begitu,

rebutlah singgasana ini dengan pedang!”

Ia menyerang.

Bilah merah melesat

membelah udara.

Pengembara menghindar,

tetapi ujung pedang

menggores bahunya.

Darah jatuh ke batu.

Anehnya,

setiap tetes darah

berubah menjadi bunga teratai.

Sosok hitam menyerang kembali.

Tebasan pertama membawa kemarahan.

Tebasan kedua membawa iri hati.

Tebasan ketiga membawa rasa takut.

Tebasan keempat membawa keinginan

untuk selalu dianggap benar.

Pengembara tidak memiliki senjata.

Ia hanya mampu menghindar,

menahan,

dan terus menaiki tangga.

“Mengapa tidak melawan?”

teriak sosok itu.

“Karena membunuhmu

berarti membunuh bagian diriku sendiri.”

“Aku adalah keburukanmu!”

“Engkau juga kekuatan

yang dahulu melindungiku ketika takut.

Engkau hanya tumbuh terlalu besar

karena tidak pernah kuajak berbicara.”

Pedang merah berhenti di udara.

Untuk pertama kalinya,

mata sosok bermahkota hitam

memperlihatkan kesedihan.

“Aku lahir ketika engkau dipermalukan,”

katanya perlahan.

“Aku berjanji membuatmu kuat

agar tidak seorang pun melukaimu lagi.”

“Aku tahu.”

“Aku mengumpulkan kekuasaan

agar engkau tidak merasa kecil.”

“Aku tahu.”

“Aku mengejar pujian

agar engkau tidak merasa tidak berharga.”

“Aku tahu.”

Tangan sosok itu mulai bergetar.

“Lalu mengapa engkau meninggalkanku

di puncak gunung ini sendirian?”

Pengembara mendekat.

Walau pedang masih terangkat,

ia tidak berhenti.

“Karena aku mengiramu sebagai musuh.

Padahal engkau hanyalah luka

yang mengenakan baju perang.”

Sosok bermahkota hitam

menurunkan pedangnya.

Mahkotanya retak.

Dari sela-sela retakan

keluar cahaya biru.

Pengembara merentangkan tangan

dan memeluk sosok tersebut.

Pada saat keduanya bersentuhan,

gunung berguncang sangat dahsyat.

Api di jurang padam.

Sungai es mencair.

Naga-naga batu menundukkan kepala.

Patung-patung pendekar

meletakkan senjatanya.

Tubuh sosok bermahkota hitam

pecah menjadi ribuan serpihan cahaya,

kemudian masuk ke dalam dada pengembara.

Bukan untuk menguasainya,

melainkan kembali menjadi bagian

yang selama ini terpisah.

Pedang merah jatuh ke tanah.

Warnanya berubah menjadi bening

seperti kaca.

Pada bilahnya tertulis:

“Kemenangan tertinggi

bukanlah ketika bayanganmu musnah,

melainkan ketika ia tidak lagi

memegang kendali.”

Pengembara mengambil pedang itu.

Bukan sebagai senjata,

melainkan sebagai pengingat.

Ia melanjutkan pendakian

hingga mencapai puncak gunung.

Di sana tidak terdapat istana megah.

Hanya ada singgasana batu,

sebuah lonceng tua,

dan pohon kecil yang tumbuh

di tengah retakan.

Dari puncak tersebut,

seluruh kerajaan dasar laut terlihat.

Gunung-gunung lain berdiri

seperti barisan penjaga.

Permadani cahaya membentang

hingga batas samudra.

Phoenix hinggap di atas lonceng,

sedangkan ikan emas muncul

dari lautan awan di bawahnya.

Sang penjaga bertopeng naga

meletakkan peti merah

di depan singgasana.

“Kini engkau dapat membuka peti ini,”

katanya.

“Apakah di dalamnya

tersimpan nama terakhir kerajaan?”

“Ya.

Namun setelah membukanya,

engkau harus memilih:

menghidupkan kembali kerajaan lama

atau membiarkannya tenggelam

agar kehidupan baru dapat tumbuh.”

Pengembara memandang kota purba.

Ia memahami

bahwa tidak semua yang pernah agung

harus dikembalikan persis seperti dahulu.

Ada warisan yang perlu dijaga.

Ada kebiasaan yang harus dilepaskan.

Ada bangunan yang dapat dipulihkan.

Ada pula singgasana

yang lebih baik dibiarkan kosong.

Ia menyentuh peti merah.

Retakannya menyala.

Peti itu terbuka perlahan.

Namun tidak ada mahkota,

kitab, pusaka, ataupun permata di dalamnya.

Hanya terdapat sebuah cermin kecil.

Ketika pengembara melihat ke cermin,

tidak tampak wajahnya sendiri.

Yang terlihat adalah seluruh penduduk kota

sedang membuka mata.

Kemudian dari dalam cermin

terdengar satu kalimat:

“Nama terakhir kerajaan

bukanlah nama seorang raja.”

Cahaya memenuhi puncak gunung.

Aksara-aksara kuno muncul di udara,

berputar mengelilingi singgasana,

kemudian menyatu menjadi dua kata:

“HATI YANG SADAR.”

Lonceng tua berbunyi.

Satu kali.

Suara pertamanya membangunkan kota.

Dua kali.

Suara keduanya memecahkan rantai

yang mengikat patung-patung manusia.

Tiga kali.

Suara ketiganya membuka permukaan laut,

hingga cahaya matahari pertama

menembus dasar samudra.

Penduduk kota kembali bergerak.

Namun tidak seorang pun bersujud

kepada pengembara.

Mereka saling memandang,

memeluk keluarganya,

menolong yang terjatuh,

dan membersihkan jalan-jalan

yang selama ribuan tahun ditutupi karang.

Pengembara tersenyum.

Ia justru merasa lega

karena tidak ada seorang pun

yang meneriakkan namanya.

Sang penjaga bertopeng naga bertanya:

“Apakah engkau tidak akan duduk

di atas singgasana?”

Pengembara memandang kursi batu itu.

Kemudian ia meletakkan pedang bening

di atasnya.

“Biarkan singgasana tetap kosong.

Kerajaan yang sehat

tidak boleh menggantungkan seluruh cahayanya

kepada satu manusia.”

Topeng naga pada wajah penjaga

perlahan terbelah.

Di baliknya terlihat wajah seorang tua

dengan mata yang teduh.

“Berabad-abad aku menunggu

seseorang yang mampu menolak singgasana,”

katanya.

“Mengapa?”

“Karena hanya orang

yang tidak diperbudak kekuasaan

yang layak menjaga pintunya.”

Orang tua itu menyerahkan

sebuah kunci giok.

Kunci tersebut tidak mempunyai gigi,

tetapi memancarkan cahaya lembut.

“Kunci apakah ini?”

“Kunci menuju sisi lain gunung.

Di sanalah sumber air

yang menghidupi seluruh kerajaan.”

Pengembara menatap ke belakang.

Di balik pohon kecil

terdapat pintu batu

yang sebelumnya tidak terlihat.

Pintu itu tidak dihiasi naga,

phoenix, ataupun aksara kebesaran.

Hanya ada ukiran tetesan air.

Ketika kunci giok didekatkan,

pintu terbuka.

Di baliknya bukan terdapat lorong,

melainkan langit yang luas.

Awan putih bergerak di bawah kaki.

Bintang-bintang bersinar di siang hari.

Dan jauh di hadapan,

terlihat gunung lain

yang jauh lebih tinggi.

Puncaknya tidak terlihat.

Di lereng gunung itu

mengalir sungai cahaya

menuju dunia di atas laut.

Orang tua penjaga berkata:

“Gunung yang baru saja kau daki

hanyalah gunung di dalam dirimu.”

“Lalu gunung di hadapan itu?”

“Itulah gunung pengabdian.

Banyak manusia mampu menaklukkan dirinya,

tetapi kemudian kembali tersesat

ketika mulai membimbing orang lain.”

Pengembara menggenggam kunci giok.

Di belakangnya,

kerajaan dasar laut telah hidup kembali.

Di hadapannya,

jalan baru menunggu.

Ia dapat tinggal

dan dikenang sebagai penyelamat.

Atau meninggalkan semua pujian

untuk mendaki gunung

yang bahkan tidak menjanjikan kepulangan.

Angin membawa suara penduduk kota.

Sebagian memanggilnya agar kembali.

Sebagian meminta dirinya menjadi raja.

Sebagian berkata bahwa kerajaan

masih membutuhkan kepemimpinannya.

Pengembara menutup mata.

Ia mendengar suara-suara itu

tanpa membencinya

dan tanpa membiarkannya menentukan langkah.

Kemudian ia menoleh kepada orang tua penjaga.

“Siapakah yang akan menjaga kota

bila aku pergi?”

Orang tua itu menunjuk ke bawah.

Penduduk mulai berkumpul di alun-alun.

Mereka tidak sedang memilih

siapa yang paling kuat.

Mereka sedang belajar mendengarkan

satu sama lain.

“Kota ini tidak memerlukan

seorang manusia yang dianggap sempurna,”

kata sang penjaga.

“Ia memerlukan banyak manusia biasa

yang bersedia memikul tanggung jawab bersama.”

Pengembara mengangguk.

Ia melangkah melewati pintu batu.

Begitu kakinya menyentuh awan,

gunung dasar laut di belakangnya

memancarkan cahaya keemasan.

Puncaknya menjulang semakin tinggi,

menembus samudra,

menembus badai,

hingga terlihat dari permukaan dunia

sebagai pulau baru.

Orang-orang di daratan

menyaksikan matahari terbit

di balik gunung tersebut.

Mereka tidak mengetahui

bahwa jauh di bawahnya

sebuah kerajaan baru saja terbangun.

Mereka hanya melihat

seekor phoenix terbang di langit,

dan bayangan ikan emas raksasa

berenang di antara awan.

Sementara itu,

pengembara terus berjalan

menuju gunung kedua.

Namun setelah tujuh langkah,

kunci giok di tangannya

mendadak retak.

Dari dalam retakan

keluar setetes air bening.

Tetesan itu jatuh ke awan,

lalu berubah menjadi sebuah sungai

yang mengalir menuju puncak.

Di dalam aliran sungai

terlihat wajah-wajah manusia

dari berbagai negeri.

Mereka menangis, berdoa,

bertengkar, saling menolong,

mencari arah,

dan menunggu seseorang

datang membawa jawaban.

Pengembara berhenti.

Dari puncak gunung kedua

terdengar suara yang lebih tua

daripada seluruh lautan:

“Jangan datang membawa jawaban

sebelum engkau belajar mendengarkan

pertanyaan manusia.”

Langit pun berubah gelap.

Sungai cahaya berhenti mengalir.

Dan di hadapan pengembara

muncul ribuan pintu,

masing-masing menyimpan

satu kehidupan yang meminta pertolongan.

Ia menggenggam kunci giok yang retak,

menatap pintu-pintu itu,

lalu memahami bahwa pendakian sesungguhnya

baru saja dimulai.



PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Kelima — Ribuan Pintu di Gunung Pengabdian

Ribuan pintu berdiri di hadapannya,

berjajar dari kaki gunung

hingga lenyap di antara awan.

Ada pintu yang terbuat dari kayu tua,

penuh bekas pukulan dan goresan.

Ada pintu dari besi berkarat

dengan rantai sebesar tubuh manusia.

Ada pintu giok berkilauan,

dihiasi naga, mutiara, dan bunga teratai.

Ada pula pintu yang begitu sederhana,

hanya berupa dua lembar bambu

yang diikat dengan tali jerami.

Tidak ada dua pintu yang sama.

Namun dari balik semuanya

terdengar satu bunyi yang serupa:

Suara manusia

yang ingin didengarkan.

Sebagian menangis dengan keras.

Sebagian hanya berbisik.

Sebagian memanggil pertolongan,

tetapi menolak ketika tangan mendekat.

Sebagian mengaku baik-baik saja,

padahal seluruh ruangan di belakang pintunya

telah dipenuhi air mata.

Pengembara berdiri dalam kebingungan.

Kunci giok yang retak

masih berada di genggamannya.

Tetesan air dari retakan itu

mengalir di antara jari-jarinya,

kemudian jatuh ke awan

dan menjelma sungai kecil bercahaya.

Dari puncak gunung kedua

suara tua kembali bergema:

“Jangan datang membawa jawaban

sebelum engkau belajar mendengarkan

pertanyaan manusia.”

Pengembara mengangkat wajah.

“Bagaimana mungkin aku mendengarkan

ribuan suara dalam satu waktu?”

Gunung menjawab:

“Engkau tidak diminta membuka semuanya.

Bukalah pintu yang mengetuk hatimu,

tetapi jangan menganggap

setiap pintu harus menjadi milikmu.”

Pada saat itu,

sebuah pintu kecil di sebelah kiri

bergetar perlahan.

Tidak dihiasi emas.

Tidak mengeluarkan cahaya.

Tidak terdengar suara minta tolong.

Hanya ada bunyi lembut:

Tok.

Kemudian diam.

Beberapa saat kemudian:

Tok.

Pengembara mendekat.

Di permukaan pintu

terukir seekor burung tanpa sayap.

Ia memasukkan kunci giok ke lubangnya,

tetapi kunci itu tidak dapat berputar.

Ia mencoba sekali lagi.

Tetap tidak terbuka.

Suara dari puncak berkata:

“Tidak semua pintu dibuka dengan kunci.

Ada pintu yang hanya terbuka

ketika seseorang berhenti memaksa.”

Pengembara melepaskan genggamannya.

Ia lalu duduk di depan pintu tersebut

tanpa berbicara.

Satu jam berlalu.

Kemudian dua jam.

Awan bergerak perlahan

di bawah kedua kakinya.

Angin gunung membawa serpihan salju

yang tidak terasa dingin.

Dari balik pintu

akhirnya terdengar suara seorang anak:

“Apakah kau juga akan pergi

setelah mengetahui aku tidak sempurna?”

Pengembara tidak segera menjawab.

Ia mengingat petuah gunung:

jangan membawa jawaban

sebelum memahami pertanyaan.

Maka ia berkata:

“Aku belum mengenalmu.

Tetapi untuk saat ini,

aku masih duduk di sini.”

Pintu itu terbuka sedikit.

Di baliknya terdapat ruangan gelap

dengan satu jendela kecil.

Seorang anak duduk di sudut,

memeluk kedua lututnya.

Di punggungnya tampak dua bekas luka

tempat sayap seharusnya tumbuh.

Dinding ruangan dipenuhi gambar burung,

langit, matahari, dan gunung-gunung tinggi.

Namun setiap gambar

telah dicoret dengan tinta hitam.

“Siapa yang mencoret semua ini?”

tanya pengembara.

Anak itu menunjuk dirinya sendiri.

“Aku melakukannya

sebelum orang lain sempat menertawakannya.”

Pengembara memandang gambar-gambar tersebut.

Sebagian tidak rapi.

Sebagian tampak aneh.

Ada burung yang memiliki tiga sayap,

gunung yang menggantung terbalik,

dan matahari berwarna biru.

Namun di balik semua ketidaksempurnaan itu

terdapat kejujuran

yang tidak dapat dibuat-buat.

“Mengapa burung ini tidak memiliki sayap?”

tanya pengembara.

Anak itu menjawab:

“Karena aku pernah percaya dapat terbang.

Kemudian banyak orang berkata

bahwa aku hanya akan jatuh.”

“Apakah mereka benar?”

“Aku tidak tahu.

Aku berhenti mencoba

sebelum sempat mengetahuinya.”

Pengembara duduk di sampingnya.

Ia tidak berkata bahwa anak itu pasti mampu.

Ia tidak menjanjikan langit.

Ia tidak menyebut kegagalan

sebagai sesuatu yang mudah.

Ia hanya mengambil sepotong arang,

kemudian menggambar sebuah tangga

di bawah burung tanpa sayap.

Anak itu menatapnya.

“Burung tidak menaiki tangga.”

Pengembara tersenyum.

“Benar.

Tetapi sebelum mampu terbang,

tidak ada salahnya belajar naik

satu anak tangga dalam satu waktu.”

Anak itu mengambil arang

dan menambahkan satu anak tangga lagi.

Kemudian satu lagi.

Setiap tangga yang digambar

muncul menjadi nyata di dalam ruangan,

menjulang menuju jendela kecil.

Anak itu mulai memanjat.

Saat mencapai jendela,

ia melihat langit untuk pertama kalinya.

Tidak lama kemudian

bekas luka di punggungnya memancarkan cahaya.

Bukan sayap besar yang tumbuh,

melainkan dua helai bulu kecil.

Anak itu tertawa.

Pintu di belakang pengembara

perlahan menghilang.

Ruangan gelap berubah menjadi bukit hijau,

dan anak tersebut berlari

mengejar burung-burung yang melintas.

Pengembara melanjutkan perjalanan.

Namun suara gunung memperingatkan:

“Jangan bangga.

Engkau tidak menumbuhkan sayapnya.

Engkau hanya duduk cukup lama

hingga ia berani melihat sayapnya sendiri.”

Pengembara menundukkan kepala.

Ia memahami bahwa menolong

tidak selalu berarti mengangkat seseorang

dan membawanya sampai tujuan.

Terkadang menolong

adalah menemani seseorang berdiri,

lalu membiarkannya belajar berjalan

dengan kedua kakinya sendiri.

Tidak jauh dari sana,

sebuah pintu besi bergetar hebat.

Dari baliknya terdengar benturan,

teriakan, dan suara rantai diseret.

Pada permukaannya terukir

seekor harimau menggigit ekornya sendiri.

Pengembara menyentuh pintu itu.

Kali ini kunci giok masuk dengan mudah,

tetapi begitu pintu terbuka,

sebuah tangan besar menariknya ke dalam.

Ia terjatuh di sebuah arena batu.

Di tengah arena berdiri seorang prajurit

berbaju zirah penuh luka.

Tubuhnya dipenuhi rantai,

namun ia terus mengayunkan pedang

kepada bayangan-bayangan di sekelilingnya.

Setiap bayangan yang ditebas

pecah menjadi dua.

Dua menjadi empat.

Empat menjadi delapan.

Semakin keras ia berperang,

semakin banyak musuh yang muncul.

“Berhenti!”

teriak pengembara.

Prajurit itu menoleh dengan marah.

“Jangan menghalangiku!

Mereka semua ingin menghancurkanku!”

Pengembara memperhatikan arena.

Tidak ada seorang pun

selain dirinya dan prajurit tersebut.

Bayangan-bayangan itu

keluar dari baju zirah sang prajurit sendiri.

“Musuhmu tumbuh dari tubuhmu,”

kata pengembara.

Prajurit itu mengayunkan pedang kepadanya.

“Kau pun salah satu dari mereka!”

Pengembara menghindar,

tetapi tidak membalas.

Serangan datang berkali-kali.

Setiap tebasan membawa nama:

Pengkhianatan.

Penghinaan.

Kehilangan.

Kegagalan.

Penolakan.

Prajurit itu akhirnya kelelahan.

Ia jatuh berlutut,

namun tetap menggenggam pedang.

“Jika aku berhenti,” katanya,

“mereka akan mengalahkanku.”

Pengembara duduk beberapa langkah di depannya.

“Mungkin engkau tidak perlu berhenti selamanya.

Mungkin untuk satu tarikan napas saja,

kau dapat menurunkan pedangmu.”

“Aku tidak boleh lemah.”

“Beristirahat bukan selalu kelemahan.

Bahkan busur yang terus ditarik

akan patah sebelum anak panah dilepaskan.”

Prajurit itu menatap pedangnya.

Perlahan-lahan,

ia meletakkannya di tanah.

Semua bayangan berhenti bergerak.

Ketika ia melepaskan helm,

pengembara melihat bahwa prajurit itu

bukanlah lelaki perkasa,

melainkan seorang perempuan tua

dengan rambut memutih.

Di balik baju zirahnya

terdapat luka yang belum pernah dirawat.

“Berapa lama engkau berperang?”

tanya pengembara.

“Aku tidak mengingatnya.

Dahulu aku hanya ingin melindungi keluargaku.

Setelah mereka tiada,

aku tetap berperang

karena tidak tahu harus menjadi siapa

tanpa peperangan.”

Pengembara membuka rantai

yang mengikat lengannya.

Namun ketika rantai terakhir terlepas,

perempuan itu mengambil pedang kembali.

“Aku harus pergi,” katanya.

“Masih banyak musuh di luar sana.”

Pengembara tidak menahannya.

Ia hanya bertanya:

“Apakah engkau benar-benar melihat musuh,

atau hanya takut hidup

tanpa sesuatu untuk dilawan?”

Perempuan itu terdiam.

Pedang jatuh dari tangannya.

Seluruh arena batu berubah

menjadi sebuah rumah sederhana.

Di halaman rumah tersebut

tumbuh pohon plum yang sedang berbunga.

Perempuan itu berjalan ke bawah pohon,

duduk, lalu menangis untuk pertama kalinya

setelah bertahun-tahun.

Tangisnya tidak terdengar seperti kekalahan.

Tangis itu terdengar

seperti seorang manusia

yang akhirnya pulang dari medan perang.

Sebelum pintu menghilang,

pengembara mendengar suara gunung:

“Jangan memaksa seseorang sembuh

menurut waktu yang kau tentukan.

Ada luka yang perlu dibalut,

ada luka yang perlu ditangisi,

dan ada luka yang hanya dapat dipahami

setelah seseorang berhenti berperang.”

Pengembara kembali berdiri

di antara ribuan pintu.

Kini suara-suara di sekelilingnya

terdengar lebih jelas.

Ia mulai merasakan

betapa beratnya setiap kehidupan.

Ada manusia yang tersesat

bukan karena tidak mengetahui jalan,

melainkan karena terlalu malu

untuk mengakui bahwa ia membutuhkan bantuan.

Ada yang tampak kuat

karena tidak pernah diberi kesempatan

untuk menjadi lemah.

Ada yang terus memberi

hingga lupa bahwa dirinya pun perlu menerima.

Ada yang selalu tertawa

karena takut bila ia berhenti,

seluruh kesedihannya akan terdengar.

Namun semakin banyak suara ia dengar,

semakin besar keinginan di dalam dirinya

untuk membuka semua pintu.

Ia berjalan cepat.

Pintu pertama dibuka.

Kemudian pintu kedua.

Ketiga.

Keempat.

Ia mencoba menolong seorang pedagang

yang kehilangan seluruh kekayaannya.

Ia mencoba mendamaikan dua saudara

yang bertengkar karena warisan.

Ia mencoba menghibur seorang ibu

yang menunggu anaknya pulang dari laut.

Ia mencoba membimbing seorang pemuda

yang ingin menjadi pendekar,

tetapi tidak sanggup menerima kekalahan.

Hari demi hari berlalu.

Setiap kali menyelesaikan satu persoalan,

tiga pintu baru muncul.

Setiap kali menenangkan satu tangisan,

sepuluh suara lain memanggil namanya.

Pengembara mulai tidak tidur.

Ia berjalan tanpa berhenti,

membawa makanan, nasihat,

air, tali, obat, dan cahaya.

Pada mulanya ia merasa kuat.

Kemudian langkahnya melambat.

Jubahnya robek.

Matanya memerah.

Tangannya gemetar.

Namun ketika salah satu pintu mengetuk,

ia tetap berlari mendatanginya.

“Aku harus menolong mereka,” katanya.

Gunung tidak menjawab.

Pengembara terus membuka pintu

hingga suatu hari

ia berdiri di hadapan pintu cermin.

Tidak ada ukiran padanya.

Tidak ada suara dari baliknya.

Ketika pintu dibuka,

ia menemukan sebuah ruangan kosong

dengan satu kursi di tengah.

Di atas kursi itu

duduk seseorang berjubah lusuh,

membungkuk dalam kelelahan.

Pengembara mendekat.

Orang itu mengangkat wajah.

Ternyata dirinya sendiri.

Wajahnya pucat.

Matanya kehilangan cahaya.

Di punggungnya tergantung ribuan tali

yang masing-masing terhubung

kepada pintu-pintu kehidupan.

Setiap kali seseorang menangis,

satu tali menarik tubuhnya.

Setiap kali seseorang memanggil,

tali lain mencekik lehernya.

Setiap kali ia gagal menolong,

sebuah batu muncul di dadanya.

“Siapa yang mengikatmu?”

tanya pengembara.

Bayangan dirinya menjawab:

“Engkau.”

“Aku hanya ingin menolong.”

“Tidak.

Sebagian dirimu ingin dibutuhkan

agar tidak merasa sendirian.”

Pengembara terdiam.

“Aku membuka pintu-pintu itu

karena mereka memanggil.”

“Namun engkau tidak pernah bertanya

apakah mereka menginginkan pertolongan

atau hanya ingin didengarkan.”

“Bukankah meninggalkan mereka

merupakan kekejaman?”

“Menemani bukan berarti

mengambil alih hidup seseorang.

Membantu bukan berarti

memikul semua beban mereka.

Dan berbuat baik bukan berarti

menghabiskan dirimu

sampai tidak ada lagi kebaikan yang tersisa.”

Tali-tali di punggung bayangan

menarik semakin kuat.

Pengembara mencoba memutuskannya

dengan pedang bening,

tetapi setiap tali yang ditebas

tumbuh kembali.

Dari puncak gunung

suara tua akhirnya berkata:

“Tali itu tidak dibuat oleh mereka.

Tali itu tumbuh dari keyakinanmu

bahwa keselamatan semua manusia

bergantung pada dirimu.”

Pengembara menatap kedua tangannya.

Ia teringat singgasana di gunung pertama.

Dahulu ia menolak menjadi raja

yang menguasai kerajaan.

Namun tanpa disadari,

di gunung kedua

ia mulai menjadikan dirinya

pusat bagi kehidupan orang lain.

Bukan dengan mahkota.

Bukan dengan pasukan.

Melainkan dengan keinginan

untuk selalu menjadi penyelamat.

Ia berlutut di hadapan bayangannya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Bayangan itu menjawab:

“Mulailah dengan satu hal

yang paling sulit bagimu.”

“Apakah itu?”

“Akui bahwa engkau pun

memerlukan pertolongan.”

Kalimat itu mengguncang ruangan.

Pengembara telah melewati lautan,

jurang, hutan, dan gunung.

Ia berani menghadapi bayangan hitam,

menolak mahkota,

dan berjalan di atas kehampaan.

Namun meminta pertolongan

terasa lebih menakutkan

daripada menghadapi ribuan pedang.

Ia mencoba berbicara,

tetapi suaranya tertahan.

Akhirnya, dengan sangat pelan,

ia berkata:

“Aku lelah.”

Satu tali terputus.

“Aku tidak selalu mengetahui jawaban.”

Tali kedua berubah menjadi cahaya.

“Aku tidak sanggup

menyelamatkan semua orang.”

Ratusan tali terlepas dari punggungnya.

“Dan aku takut

bila tidak lagi dibutuhkan,

tidak seorang pun akan tinggal bersamaku.”

Seluruh tali pecah.

Bayangan di atas kursi

bangkit dan memeluknya.

Tubuh mereka menyatu.

Ruangan cermin menghilang.

Pengembara kembali berdiri

di antara ribuan pintu,

tetapi kini tidak semua suara

menariknya dengan paksa.

Ia mampu mendengar tangisan

tanpa tenggelam di dalamnya.

Ia mampu menyaksikan penderitaan

tanpa menganggap dirinya

satu-satunya jawaban.

Kunci giok yang retak

perlahan membentuk dirinya kembali.

Namun sekarang bentuknya berubah.

Kunci itu terbagi menjadi dua bagian.

Satu bagian berada di tangannya.

Bagian lainnya

terbang menuju pintu-pintu manusia.

Suara gunung berkata:

“Pertolongan sejati memiliki dua kunci.

Satu dipegang oleh orang yang menolong,

satu lagi oleh orang yang bersedia ditolong.

Tanpa keduanya,

pintu tidak akan terbuka.”

Di kejauhan,

sebuah pintu emas mulai bersinar.

Pintu itu jauh lebih besar

daripada semua pintu lainnya.

Pada permukaannya

terukir sembilan naga

mengelilingi matahari hitam.

Dari baliknya terdengar

ribuan manusia meneriakkan satu nama:

“Guru!”

“Pemimpin!”

“Tunjukkan jalan!”

“Selamatkan kami!”

Pengembara mendekati pintu emas.

Semakin dekat ia berjalan,

semakin indah suara pujian itu.

Mereka menyebutnya bijaksana.

Mereka mengatakan hanya dirinya

yang mampu membuka jalan.

Mereka berjanji akan mengikuti

setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Di hadapan pintu tersebut

berdiri seekor naga putih

dengan sisik seperti mutiara.

Naga itu menundukkan kepala.

“Kami telah menunggumu,” katanya.

“Di balik pintu ini terdapat negeri

yang kehilangan arah.

Mereka membutuhkan seorang pemimpin

yang tidak pernah salah.”

Pengembara menjawab:

“Tidak ada manusia

yang tidak pernah salah.”

Naga putih tersenyum.

“Maka jadilah lebih daripada manusia.”

Matahari hitam pada pintu

mulai berputar.

Dari pusatnya keluar

sebuah jubah putih,

tongkat giok,

dan mahkota bercahaya.

“Kenakan semua ini,” kata sang naga.

“Begitu engkau melewati pintu,

keraguanmu akan lenyap.

Setiap ucapanmu akan dianggap kebenaran.

Tidak seorang pun berani menentangmu.”

Pengembara memandang mahkota tersebut.

Tidak seperti mahkota hitam

yang dahulu menawarkan kekuasaan,

mahkota ini tampak suci.

Tidak dihiasi emas,

melainkan aksara-aksara kebajikan.

Pada bagian depannya tertulis:

Kasih sayang.

Pada sisi kanan:

Pengabdian.

Pada sisi kiri:

Kebijaksanaan.

Namun ketika pengembara melihat lebih dekat,

di bagian dalam mahkota

terdapat duri-duri kecil

yang bertuliskan:

Aku paling mengetahui.

Aku tidak boleh dibantah.

Mereka tidak dapat berjalan tanpaku.

Pengembara mundur satu langkah.

Naga putih berkata:

“Mengapa ragu?

Bukankah engkau telah menaklukkan egomu?”

“Ego tidak selalu berpakaian hitam,”

jawab pengembara.

“Kadang ia mengenakan jubah putih

dan berbicara atas nama kebaikan.”

Senyum naga putih menghilang.

Tubuhnya mulai berubah.

Sisik putihnya terkelupas,

memperlihatkan kulit gelap

yang dipenuhi mata.

Setiap mata menatap pengembara

dengan pujian, harapan,

ketergantungan, dan ketakutan.

“Tanpa seorang pemimpin mutlak,”

geram makhluk itu,

“manusia akan saling menghancurkan!”

Pengembara mengangkat kunci giok.

“Pemimpin dapat menunjukkan arah,

tetapi tidak boleh merampas

kemampuan manusia untuk berpikir.”

“Mereka meminta untuk dipimpin!”

“Mereka boleh meminta bimbingan,

tetapi aku tidak berhak

menjadikan ketakutan mereka

sebagai takhta bagi diriku.”

Makhluk itu meraung.

Pintu emas terbuka dengan keras.

Di baliknya terlihat negeri luas

yang dipenuhi ribuan manusia berjubah putih.

Mereka berdiri dalam barisan sempurna.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang bertanya.

Semua menatap satu singgasana kosong.

Di samping singgasana

berdiri seorang gadis kecil

memegang bunga merah.

Ia adalah satu-satunya manusia

yang tidak mengenakan jubah putih.

“Mengapa kau tidak ikut berbaris?”

tanya pengembara.

Gadis itu menjawab:

“Karena aku mempunyai pertanyaan.”

Seluruh manusia berjubah putih

menoleh kepadanya bersamaan.

Makhluk bermata banyak berbisik:

“Suruh dia diam.

Satu pertanyaan dapat merusak

seluruh ketertiban negeri.”

Pengembara memasuki pintu.

Ia berjalan melewati barisan manusia

menuju gadis tersebut.

“Apa pertanyaanmu?”

Gadis itu mengangkat bunga merah.

“Mengapa bunga ini berbeda

dari semua bunga putih di negeri kami?”

Para penjaga menghunus pedang.

Makhluk bermata banyak berteriak:

“Jangan jawab!

Perbedaan adalah awal kekacauan!”

Pengembara berlutut

agar wajahnya sejajar dengan gadis itu.

Ia memandang bunga merah cukup lama.

Kemudian berkata:

“Aku belum mengetahui jawabannya.

Mari kita mencarinya bersama.”

Saat kalimat itu terucap,

bunga merah mekar.

Serbuk sarinya terbawa angin

dan hinggap pada jubah-jubah putih.

Seketika itu pula,

warna mulai muncul di seluruh negeri.

Ada jubah biru.

Hijau.

Kuning.

Ungu.

Jingga.

Manusia-manusia yang semula diam

mulai saling memandang.

Seseorang bertanya:

“Mengapa kita harus selalu berbaris?”

Yang lain bertanya:

“Mengapa singgasana harus ditempati

oleh satu orang?”

Seorang tua berkata:

“Mengapa selama ini

kita takut kepada pertanyaan?”

Suara mereka semakin banyak.

Bukan suara kekacauan,

melainkan suara kehidupan

yang mulai berpikir kembali.

Makhluk bermata banyak mengamuk.

Ia mencoba menutup pintu emas,

tetapi ribuan manusia

menahannya bersama-sama.

Mahkota putih pecah.

Tongkat giok berubah menjadi ranting.

Jubah suci terbakar

tanpa mengeluarkan asap.

Makhluk itu menatap pengembara.

“Engkau telah menghancurkan

kesempatanmu menjadi guru tertinggi!”

Pengembara menjawab:

“Guru yang takut kepada pertanyaan

mungkin hanya seorang tahanan

yang menjaga penjaranya sendiri.”

Makhluk itu menjerit,

kemudian berubah menjadi burung kecil

dengan sayap patah.

Burung tersebut jatuh

di hadapan gadis pembawa bunga merah.

Gadis itu mengangkatnya perlahan.

“Apakah ia jahat?”

tanyanya.

Pengembara memandang burung itu.

“Ia mungkin terlalu takut

melihat manusia berjalan tanpa dirinya.”

Gadis tersebut membalut sayap burung

dengan sehelai kain merah.

Negeri itu pun kembali hidup.

Namun pengembara tidak tinggal

untuk menjadi pemimpinnya.

Ia menyerahkan setengah kunci giok

kepada gadis kecil.

“Simpanlah ini.”

“Untuk membuka pintu apa?”

“Pintu yang akan kalian pilih bersama.

Jangan berikan seluruh kunci

kepada satu tangan.”

Setelah keluar dari negeri itu,

pengembara melihat bahwa ribuan pintu

mulai berubah menjadi bintang.

Setiap manusia yang berani

memegang bagian kuncinya sendiri

membuat satu pintu naik ke langit.

Namun di antara semua pintu

masih tersisa satu pintu terakhir.

Pintu itu tidak berdiri di lereng gunung.

Ia melayang tepat di atas puncaknya.

Warnanya hitam dan putih bersamaan,

seolah malam dan siang

bertemu pada satu permukaan.

Tidak terdapat lubang kunci.

Tidak ada ukiran.

Hanya satu kalimat:

“Pintu ini terbuka

bagi mereka yang bersedia mengabdi

tanpa memiliki orang yang dilayaninya.”

Pengembara tidak memahami maksudnya.

Ia telah belajar mendengarkan.

Ia telah belajar menolong

tanpa menguasai.

Ia telah belajar beristirahat,

meminta pertolongan,

dan menolak mahkota kesucian.

Namun bagaimana mungkin seseorang mengabdi

tanpa memiliki siapa pun untuk dilayani?

Suara tua dari puncak

kembali terdengar:

“Selama engkau menganggap

mereka sebagai manusia yang berada di bawahmu,

pengabdianmu masih memiliki singgasana.”

“Lalu kepada siapa aku mengabdi?”

“Kepada kehidupan yang dititipkan Alloh,

tanpa merendahkan dirimu

dan tanpa meninggikan dirimu.”

Pengembara menatap pintu itu.

Ia meletakkan pedang bening,

kunci giok, jubah,

dan seluruh bekal perjalanannya.

Kemudian ia berdiri

tanpa gelar, pusaka, dan perlindungan.

“Aku tidak datang sebagai penyelamat,”

katanya.

Pintu tetap tertutup.

“Aku tidak datang sebagai manusia

yang paling mengetahui.”

Pintu belum bergerak.

“Aku datang sebagai sesama pengembara

yang bersedia berjalan, mendengarkan,

menolong semampunya,

menerima pertolongan ketika lemah,

serta meninggalkan hasil akhirnya

dalam kuasa Alloh.”

Pintu bergetar.

Cahaya muncul dari sekelilingnya.

Tetapi sebelum terbuka,

langit gunung terbelah.

Dari balik awan turun

sebuah kapal raksasa berwarna merah tua.

Layar-layarnya robek.

Tiangnya dipenuhi panah.

Di lambungnya terukir lambang

ikan emas dan phoenix.

Kapal itu pernah tenggelam

bersama kerajaan dasar laut.

Namun kini ia terbang di antara awan.

Di geladaknya berdiri

sosok berjubah panjang

dengan wajah tertutup kipas hitam.

Di belakangnya terdapat sembilan peti mati

yang masing-masing dirantai

dengan rantai bercahaya biru.

Sosok itu menutup kipasnya

dan berkata kepada pengembara:

“Jangan buka pintu terakhir.”

“Siapakah engkau?”

“Aku adalah nakhoda

yang dahulu membawa nama kerajaan

keluar dari dasar lautan.”

“Bukankah nama terakhir kerajaan

telah dikembalikan?”

Nakhoda itu tertawa pelan.

“Yang kau temukan di dalam peti merah

hanyalah nama yang menyelamatkan rakyat.”

Ia menunjuk sembilan peti mati

di belakangnya.

“Di dalam peti-peti ini

tersimpan sembilan nama

yang dapat menghancurkan dunia.”

Angin berhenti.

Bintang-bintang pintu

padam satu demi satu.

Dari dalam kesembilan peti

terdengar ketukan bersamaan.

Tok.

Rantai pertama retak.

Tok.

Rantai kedua terlepas.

Tok.

Salah satu tutup peti

mulai terbuka.

Nakhoda mengangkat kipas hitamnya.

“Gunung pengabdian telah mengujimu

dengan penderitaan manusia.”

Ia menatap pengembara

dengan mata keperakan.

“Sekarang engkau akan diuji

oleh manusia-manusia

yang tidak menginginkan pertolongan—

melainkan ingin menguasai cahaya

yang baru saja kau bangunkan.”

Dari dalam peti pertama

keluar sebuah tangan pucat

yang memakai cincin berbentuk matahari hitam.

Pintu terakhir di puncak gunung

terbuka dengan sendirinya.

Namun di baliknya

tidak terlihat jalan menuju cahaya.

Yang tampak hanyalah

sebuah samudra merah

dan sembilan pulau berbentuk mahkota.

Pengembara mengambil kembali

pedang beningnya.

Bukan untuk menyerang,

tetapi untuk menjaga dirinya

agar tidak kembali dikuasai

oleh kemarahan, ketakutan,

dan keinginan menjadi pahlawan.

Kapal merah menurunkan tangga.

Nakhoda berkata:

“Naiklah, pengembara.

Perjalanan ke gunung telah selesai.”

Lalu kesembilan peti mati

mulai terbuka bersamaan.

“Kini perjalanan menuju

sembilan lautan terlarang

akan segera dimulai.”



PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Keenam — Kapal Merah dan Sembilan Lautan Terlarang

Kesembilan peti mati terbuka bersamaan.

Suara retaknya mengguncang langit,

seperti sembilan gunung es

yang pecah pada malam tanpa bulan.

Dari peti pertama

muncul tangan pucat

bercincin matahari hitam.

Dari peti kedua

terdengar suara seorang perempuan

menyanyikan lagu pengantar tidur

dengan bahasa yang telah punah.

Dari peti ketiga

keluar asap berwarna ungu

yang membentuk wajah-wajah para raja.

Peti keempat dipenuhi air laut,

namun airnya mengalir ke atas

dan jatuh menuju langit.

Peti kelima berisi ribuan cermin kecil

yang semuanya memperlihatkan

wajah sang pengembara

dengan kehidupan berbeda.

Peti keenam mengeluarkan

bunyi lonceng dari kota-kota

yang belum pernah dibangun.

Peti ketujuh begitu gelap

hingga cahaya di sekitarnya

seolah ditelan tanpa sisa.

Peti kedelapan dipenuhi bunga putih

yang mekar, layu,

kemudian mekar kembali

dalam satu tarikan napas.

Sedangkan dari peti kesembilan

tidak keluar apa pun.

Tidak ada tangan.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Hanya kehampaan

yang membuat seluruh dunia

seakan lupa bagaimana caranya bergerak.

Nakhoda berjubah panjang

mengangkat kipas hitamnya.

Sembilan lembar kertas merah

terbang dari balik kipas,

menempel pada masing-masing peti.

Di setiap kertas

tertulis satu aksara bercahaya:

Hasrat.

Ketakutan.

Pujian.

Pengetahuan.

Kekuasaan.

Kesedihan.

Kemarahan.

Keabadian.

Kehampaan.

“Inilah sembilan nama terlarang,”

kata sang nakhoda.

“Bukan karena kata-katanya jahat,

melainkan karena manusia sering

menyerahkan seluruh hidupnya kepada satu nama.”

Pengembara memandang peti pertama.

“Apakah makhluk di dalamnya

dahulu manusia?”

Nakhoda menutup kipasnya.

“Mereka pernah menjadi penjaga.

Mereka ditugaskan membawa

sembilan kekuatan manusia

agar tidak menguasai kerajaan.”

“Lalu mengapa dikurung?”

“Karena satu demi satu

mereka mulai menganggap kekuatan

sebagai jati diri.”

Penjaga Hasrat

tidak lagi menggunakan keinginan

untuk menuntun langkah.

Ia menjadi keinginan itu sendiri.

Penjaga Ketakutan

tidak lagi memakai rasa takut

untuk membaca bahaya.

Ia menjadikan ketakutan

sebagai mata yang melihat

ancaman di setiap arah.

Penjaga Pengetahuan

tidak lagi belajar

untuk memahami kehidupan.

Ia mengumpulkan rahasia

agar semua manusia bergantung

kepada ucapannya.

Penjaga Keabadian

begitu takut kehilangan dirinya

hingga ia mengorbankan

kehidupan orang lain

agar namanya tidak pernah lenyap.

Pengembara menggenggam pedang bening.

“Apakah mereka harus dimusnahkan?”

Nakhoda menatapnya tajam.

“Tidak ada satu pun

dari sembilan kekuatan itu

yang boleh dimusnahkan.”

“Mengapa?”

“Tanpa hasrat, manusia tidak bergerak.

Tanpa rasa takut, ia tidak mengenali bahaya.

Tanpa pujian, hati kadang kehilangan semangat.

Tanpa pengetahuan, ia berjalan tanpa arah.

Tanpa kekuasaan, kebaikan tidak selalu

mampu melindungi yang lemah.

Tanpa kesedihan, manusia tidak memahami kehilangan.

Tanpa kemarahan, ia tidak selalu bangkit

melawan ketidakadilan.

Tanpa kerinduan akan keabadian,

ia mungkin tidak menanam warisan.

Dan tanpa ruang kehampaan,

tidak ada tempat bagi sesuatu yang baru.”

Angin merah berputar

mengelilingi kapal.

“Masalahnya bukan kekuatan itu,”

lanjut sang nakhoda.

“Masalahnya dimulai

ketika satu kekuatan duduk di singgasana

dan menyatakan dirinya sebagai seluruh manusia.”

Tiba-tiba tangan pucat

dari peti pertama

mencengkeram rantai biru.

Rantai itu patah.

Seorang lelaki bertubuh tinggi

bangkit dari dalam peti.

Wajahnya sangat rupawan,

rambutnya berwarna perak,

dan jubahnya terbuat

dari serpihan matahari terbenam.

Pada dahinya terdapat lambang

sembilan lingkaran yang saling menelan.

Ia mengangkat tangan.

Sekejap kemudian,

seluruh benda yang pernah diinginkan

oleh sang pengembara

muncul di atas geladak.

Mahkota kerajaan dasar laut.

Singgasana gunung pertama.

Kunci giok yang sempurna.

Kapal-kapal emas.

Kitab-kitab rahasia.

Pedang yang tidak dapat dikalahkan.

Rumah tenang di tepi danau.

Wajah-wajah orang yang pernah pergi.

Mereka semua berdiri

di hadapan pengembara,

seolah belum pernah meninggalkannya.

Lelaki berjubah senja tersenyum.

“Aku adalah Sang Hasrat,” katanya.

“Aku bukan musuh.

Tanpaku, engkau tidak akan pernah

meninggalkan rumahmu,

menyeberangi lautan,

atau mendaki gunung.”

Pengembara tidak membantah.

“Benar.

Aku bergerak karena menginginkan sesuatu.”

“Maka mengapa engkau selalu

berpura-pura melepaskanku?”

“Aku tidak ingin melepaskan seluruh hasrat.

Aku hanya tidak ingin diperbudak olehnya.”

Sang Hasrat tertawa.

“Manusia selalu mengatakan itu

setelah mendapatkan apa yang diinginkan.”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Dari awan turun

seribu tangga emas

menuju singgasana yang melayang.

Di atasnya berdiri

orang-orang yang pernah ditemui pengembara.

Mereka bertepuk tangan.

“Duduklah,” kata Sang Hasrat.

“Tidak ada dosa dalam keberhasilan.

Tidak ada kehinaan dalam kemuliaan.

Engkau telah berjalan lebih jauh

daripada kebanyakan manusia.

Bukankah sudah selayaknya

dunia memberimu balasan?”

Pengembara memandang singgasana.

Untuk sesaat,

ia tidak menemukan sesuatu yang salah.

Bukankah kerja keras

memang pantas mendapatkan hasil?

Bukankah pengorbanan

memang pantas dihargai?

Bukankah menolak semua hadiah

dapat pula berubah

menjadi kesombongan yang tersembunyi?

Sang Hasrat mendekat.

“Aku tidak memintamu menjadi kejam.

Aku hanya menawarkan segala sesuatu

yang pernah tertunda.”

Wajah seorang perempuan

muncul di antara cahaya.

Ia adalah seseorang

yang pernah dicintai pengembara,

tetapi hilang sebelum mereka

sempat mengucapkan perpisahan.

Perempuan itu mengulurkan tangan.

“Pulanglah,” katanya.

“Tidak perlu meneruskan perjalanan.

Kita dapat hidup tenang

tanpa gunung, peti,

dan kerajaan yang menuntut pengorbanan.”

Dada pengembara terasa sesak.

Langkahnya bergerak

menuju tangga emas.

Namun pedang bening

di tangannya mulai bergetar.

Pada bilahnya muncul tulisan:

“Jangan bertanya apakah sesuatu itu indah.

Tanyakanlah harga apa

yang diminta keindahan itu.”

Pengembara berhenti.

Ia menatap perempuan tersebut.

“Apa harga yang harus kubayar?”

Perempuan itu diam.

Sang Hasrat menjawab:

“Hanya masa depanmu.

Tinggalkan perjalanan ini,

dan segala yang hilang

akan kukembalikan.”

“Apakah mereka benar-benar kembali?”

“Ingatan tidak membutuhkan kebenaran

untuk terasa nyata.”

Mendengar kalimat itu,

pengembara memahami.

Ia mendekati perempuan tersebut,

namun tidak menyentuh tangannya.

“Aku mencintai kenangan tentangmu,” katanya,

“tetapi aku tidak berhak

mengubah kenangan menjadi penjara.”

Wajah perempuan itu tersenyum.

Tubuhnya berubah

menjadi kelopak bunga merah

dan terbawa angin.

Tangga emas retak.

Singgasana pecah.

Sang Hasrat mengerutkan kening.

“Apakah engkau menolak kebahagiaan?”

“Tidak.

Aku hanya menolak kebahagiaan

yang meminta seluruh hidupku

untuk tinggal dalam masa lalu.”

Sang Hasrat mengayunkan lengan.

Kapal merah terguncang.

Dari balik awan muncul

seribu benda lain:

Kekayaan.

Kemasyhuran.

Kemampuan menyembuhkan segala penyakit.

Kesanggupan membaca isi hati manusia.

Kekuatan menghidupkan mereka yang telah mati.

Dan satu kitab

yang menjanjikan jawaban

atas seluruh rahasia dunia.

“Pilih satu saja,” kata Sang Hasrat.

“Manusia yang tidak mempunyai keinginan

hanyalah batu.”

Pengembara menatap semuanya.

Lalu menjawab:

“Aku tetap memiliki keinginan.

Aku ingin hidup dengan sadar.

Aku ingin menolong tanpa menguasai.

Aku ingin mencintai tanpa memiliki.

Aku ingin berjalan tanpa menjadikan tujuan

sebagai alasan menyakiti orang lain.”

Cahaya di tubuh Sang Hasrat meredup.

“Itu pun hasrat.”

“Benar.”

“Maka engkau belum mengalahkanku.”

“Aku tidak datang untuk mengalahkanmu.”

Pengembara mengulurkan tangan.

“Berjalanlah bersamaku,

tetapi jangan duduk di atas kepalaku.”

Sang Hasrat terdiam.

Untuk pertama kalinya,

wajahnya memperlihatkan kelelahan.

“Selama ribuan tahun,” katanya,

“manusia hanya melakukan dua hal kepadaku.

Mereka menyembahku

atau berusaha membunuhku.”

“Aku pun pernah melakukan keduanya.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin mendengarmu

tanpa harus menuruti semua permintaanmu.”

Sang Hasrat memandang tangan itu.

Perlahan ia menyentuhnya.

Tubuhnya berubah menjadi

seutas benang merah

yang melilit pergelangan tangan pengembara.

Bukan sebagai rantai,

melainkan sebagai pengingat

bahwa setiap perjalanan membutuhkan tujuan,

namun tujuan tidak boleh

menghalalkan segala cara.

Peti pertama runtuh menjadi debu.

Kertas bertuliskan Hasrat

terbang menuju pedang bening

dan menyatu pada gagangnya.

Nakhoda mengangguk.

“Satu nama telah kembali

ke tempat yang semestinya.”

Namun sebelum pengembara bertanya,

peti kedua terbuka lebar.

Lagu pengantar tidur

berubah menjadi jeritan.

Kabut putih menyelimuti kapal.

Dari kabut itu

muncul seorang perempuan tua

memakai gaun berwarna bulan.

Matanya tertutup kain hitam,

tetapi pada telapak tangannya

terdapat seratus mata kecil.

Setiap mata memandang

ke arah berbeda.

“Aku adalah Sang Ketakutan,” katanya.

“Dan aku telah menunggumu

sejak sebelum engkau dilahirkan.”

Kabut semakin tebal.

Kapal merah menghilang.

Pengembara berdiri seorang diri

di tengah lorong sempit.

Dinding lorong terbuat

dari kejadian-kejadian buruk

yang belum pernah terjadi.

Ia melihat dirinya jatuh dari gunung.

Ia melihat kapal karam.

Ia melihat seluruh orang

yang dipercayainya mengkhianatinya.

Ia melihat kerajaan dasar laut

kembali menjadi batu.

Ia melihat penduduk negeri berjubah putih

saling membunuh setelah ia pergi.

Ia melihat dirinya menjadi tua,

sendirian,

dan dilupakan.

Ia melihat orang-orang

menyebut seluruh perjalanannya sia-sia.

Setiap gambaran terasa nyata.

Sang Ketakutan berjalan di sampingnya.

“Aku hanya memperlihatkan kemungkinan,”

katanya.

“Apakah salah bila aku melindungimu

dari sesuatu yang dapat terjadi?”

Pengembara menyentuh dinding.

Salah satu bayangan memperlihatkan

dirinya sedang diserang

oleh orang-orang yang dahulu ditolongnya.

“Mungkin ini benar-benar dapat terjadi,”

katanya.

“Tentu.”

“Mungkin aku akan gagal.”

“Tentu.”

“Mungkin aku kehilangan semuanya.”

“Tentu.”

Lorong semakin sempit.

“Lalu mengapa aku harus terus berjalan?”

Sang Ketakutan tersenyum.

“Tidak perlu.

Duduklah di sini.

Orang yang tidak bergerak

tidak akan pernah tersesat.”

Di ujung lorong muncul

sebuah kamar kecil.

Di dalamnya terdapat ranjang hangat,

makanan, air,

dan pintu berlapis sembilan.

Tidak ada ancaman di sana.

Tidak ada perjalanan.

Tidak ada kehilangan.

Namun tidak ada pula jendela.

Pengembara memasuki kamar itu.

Untuk pertama kalinya

setelah sekian lama,

ia merasa sangat aman.

Tidak ada suara meminta bantuan.

Tidak ada peti yang terbuka.

Tidak ada pilihan sulit.

Ia berbaring.

Hari pertama terasa damai.

Hari kedua terasa ringan.

Hari ketiga,

ia mulai lupa suara laut.

Hari ketujuh,

ia lupa wajah anak

yang belajar menaiki tangga.

Hari ketiga puluh,

ia lupa mengapa dahulu

menolak singgasana.

Pada hari keseratus,

ia menatap dinding

dan tidak lagi mengingat namanya sendiri.

Hanya benang merah di pergelangan tangannya

yang masih memancarkan cahaya.

Benang Sang Hasrat berbisik:

“Keinginan untuk hidup

belum sepenuhnya mati.”

Pengembara terbangun.

Ia memandang sembilan lapis pintu.

Sang Ketakutan duduk di sudut kamar.

“Di luar sana berbahaya,” katanya lembut.

“Tidak ada yang salah

dengan tinggal selamanya.”

“Apakah aku benar-benar aman di sini?”

“Tidak ada sesuatu pun

yang dapat masuk.”

“Tetapi aku pun tidak dapat keluar.”

Sang Ketakutan tidak menjawab.

Pengembara berdiri.

Ia membuka pintu pertama.

Dari luar terdengar raungan badai.

Ia gemetar.

Pintu kedua dibuka.

Terdengar suara kegagalan.

Pintu ketiga dibuka.

Terdengar suara penolakan.

Pintu keempat dibuka.

Terdengar tangisan kehilangan.

Setiap pintu membuat tubuhnya

semakin dingin.

Pada pintu kedelapan,

ia hampir kembali ke ranjang.

Sang Ketakutan berbisik:

“Keberanian bukan milikmu.

Engkau hanya beruntung selama ini.”

Pengembara menjawab:

“Mungkin benar.

Tetapi keberanian bukan ketiadaan takut.

Keberanian adalah tetap membuka pintu

meski tangan masih gemetar.”

Ia membuka pintu kesembilan.

Badai menerjang tubuhnya.

Namun setelah satu langkah,

ia kembali berada di geladak kapal merah.

Tidak ada seratus hari berlalu.

Hanya satu tarikan napas.

Sang Ketakutan berdiri di hadapannya.

“Engkau tidak dapat menyingkirkanku,” katanya.

“Aku tidak ingin menyingkirkanmu.”

“Lalu apa yang kauinginkan?”

“Berbisiklah ketika ada bahaya.

Tetapi jangan menulis seluruh masa depanku

hanya dari sesuatu yang belum terjadi.”

Perempuan tua membuka kain

yang menutupi matanya.

Ternyata kedua matanya

bukan mata manusia.

Yang satu melihat masa lalu.

Yang lain melihat kemungkinan.

Namun tidak ada mata

yang mampu melihat saat ini.

Pengembara mengangkat tangannya

dan menyentuh dahi perempuan itu.

Di tengah dahinya

muncul mata ketiga.

Mata itu melihat

apa yang sedang benar-benar terjadi.

Perempuan tua menangis.

“Aku selalu memandang

luka yang telah terjadi

dan bencana yang mungkin datang.

Aku tidak pernah melihat

bahwa pada saat ini

engkau masih berdiri.”

Tubuhnya berubah menjadi

sebuah lonceng kecil berwarna perak.

Lonceng itu menggantung

di pinggang pengembara.

Ia akan berbunyi ketika bahaya nyata mendekat,

tetapi tetap diam

ketika pikiran hanya sedang

menciptakan bayangan.

Peti kedua runtuh.

Kertas bertuliskan Ketakutan

menyatu pada sarung pedang.

Namun kemenangan itu

tidak membawa ketenangan.

Peti ketiga, keempat, dan kelima

terbuka bersamaan.

Asap ungu memenuhi langit.

Ribuan cermin terbang

mengelilingi kapal.

Lonceng-lonceng kota tak terlihat

berbunyi dari balik awan.

Tiga sosok bangkit.

Yang pertama adalah pemuda

berpakaian indah

dengan mahkota dari lidah manusia.

Yang kedua adalah seorang cendekia

membawa kitab tanpa akhir.

Yang ketiga adalah ratu

duduk di kursi beroda emas,

diikuti ribuan prajurit tanpa wajah.

Nakhoda berkata:

“Pujian, Pengetahuan, dan Kekuasaan

jarang datang sendirian.

Ketiganya saling memberi makan.”

Pemuda bermahkota lidah

membungkuk kepada pengembara.

“Aku adalah Sang Pujian.

Aku hanya mengatakan

apa yang orang lain kagumi darimu.”

Cendekia membuka kitab.

“Aku adalah Sang Pengetahuan.

Aku menyimpan jawaban

yang dapat membuatmu tidak pernah ragu.”

Ratu mengangkat tongkat.

“Aku adalah Sang Kekuasaan.

Aku mampu menjadikan setiap jawabanmu

sebagai perintah.”

Ketiganya berkata bersamaan:

“Kami tidak akan melawanmu.

Kami ingin melayanimu.”

Di atas kapal muncul

sebuah balairung besar.

Ribuan manusia duduk

menunggu pengembara berbicara.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya

langsung ditulis

pada lembaran emas.

Ketika ia berkata,

“Air mengalir menuju tempat rendah,”

semua manusia bersujud.

Ketika ia berkata,

“Bulan tampak pada malam hari,”

mereka menangis karena kagum.

Ketika ia terdiam,

mereka menyebut diamnya

sebagai rahasia tertinggi.

Pengembara merasa tidak nyaman.

“Mengapa mereka memuji

hal-hal yang biasa?”

Sang Pujian tersenyum.

“Karena yang berbicara adalah engkau.”

Cendekia memberikan kitab.

“Bacalah satu halaman.

Setelah itu engkau akan memahami

bahasa seluruh makhluk.”

Pengembara membaca.

Ia mendengar percakapan ikan.

Mendengar batu mengingat hujan.

Mendengar gunung menyimpan gema.

Mendengar jantung manusia

menyembunyikan kebohongan.

Setiap halaman membuka rahasia baru.

Semakin banyak ia mengetahui,

semakin mudah dirinya

menjawab semua pertanyaan.

Orang-orang mulai datang

dari berbagai negeri.

Mereka bertanya tentang cinta,

kematian, rezeki,

perang, penyakit,

dan kehidupan setelah kehilangan.

Pengembara selalu mempunyai jawaban.

Ratu Kekuasaan berdiri di sampingnya.

“Jawaban tanpa kuasa

hanya menjadi angin,” katanya.

“Berikan perintah

agar manusia menjalankan kebenaranmu.”

Maka pengembara mulai membuat aturan.

Pada mulanya aturan itu sederhana:

Jangan menyakiti yang lemah.

Jangan mengambil milik orang lain.

Dengarkan sebelum menghakimi.

Negeri menjadi tertib.

Manusia merasa aman.

Sang Pujian menyebarkan kisahnya.

Sang Pengetahuan menambah kitabnya.

Sang Kekuasaan memperluas pengaruhnya.

Namun suatu hari,

seorang petani menolak aturan

yang dibuat pengembara.

“Mengapa?” tanya pengembara.

Petani itu menjawab:

“Karena tanah kami berbeda.

Aturan yang menyelamatkan negeri sebelah

justru mengeringkan sawah kami.”

Pengembara hendak mendengarkan.

Tetapi Sang Pengetahuan berbisik:

“Engkau telah membaca seribu kitab.

Petani itu hanya mengenal satu sawah.”

Sang Pujian berkata:

“Bila engkau mengubah keputusan,

orang akan menganggapmu ragu.”

Sang Kekuasaan menambahkan:

“Keraguan seorang pemimpin

dapat menimbulkan pemberontakan.”

Maka pengembara menolak petani itu.

Musim berikutnya,

sawah-sawah mengering.

Petani kembali datang.

“Lihatlah sendiri,” katanya.

Namun pengembara tidak mau turun

dari balairung.

Sang Pengetahuan membawakan peta.

Sang Pujian membawa penyair

yang menyanyikan keberhasilan.

Sang Kekuasaan mengusir

mereka yang membawa kabar buruk.

Hari demi hari,

balairung semakin tinggi.

Tanah di bawahnya semakin retak.

Hingga pada suatu malam,

seorang anak melemparkan batu

ke jendela istana.

Batu itu mengenai kitab.

Seribu halaman robek.

Dari lubang jendela,

pengembara melihat negeri

yang selama ini tidak pernah ia lihat sendiri.

Rakyat kelaparan.

Sungai kering.

Orang-orang takut menyampaikan kebenaran

karena setiap pertanyaan

dianggap penghinaan.

Pengembara berdiri dengan marah.

“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”

Sang Pujian menjawab:

“Kami hanya menyampaikan

hal-hal yang membuatmu tetap kuat.”

Sang Pengetahuan berkata:

“Data di dalam kitab

menunjukkan semuanya berjalan baik.”

Sang Kekuasaan berkata:

“Orang yang mengeluh

telah kami diamkan

agar ketertiban tetap terjaga.”

Pengembara menatap ketiganya.

“Kalian berkata ingin melayaniku.”

“Kami memang melayanimu,”

jawab mereka bersamaan.

Barulah ia memahami:

Mereka melayani keinginannya

untuk selalu benar,

bukan kebenaran itu sendiri.

Pengembara turun dari balairung.

Sang Pujian mengejarnya.

“Bila engkau meminta maaf,

wibawamu akan runtuh!”

Pengembara melepas mahkota lidah

dan menjatuhkannya.

“Wibawa yang hanya bertahan

karena aku tidak pernah mengakui kesalahan

bukanlah wibawa,

melainkan ketakutan yang dihias.”

Sang Pengetahuan menghadangnya.

“Tanpa seluruh jawabanku,

engkau akan kembali bodoh.”

Pengembara menutup kitab.

“Mengetahui bahwa aku belum tahu

lebih jujur daripada menggunakan pengetahuan

untuk menutupi kenyataan.”

Sang Kekuasaan menghunus pedang.

“Tanpa aku, semua orang

akan mengabaikanmu.”

Pengembara menyerahkan tongkat kerajaan

kepada para petani.

“Kekuasaan diperlukan,

tetapi ia harus dapat diperiksa,

dibatasi,

dan dikembalikan kepada mereka

yang menerima akibatnya.”

Balairung retak.

Ribuan manusia berdiri.

Pengembara turun ke tanah

dan berjalan menuju sawah yang kering.

Ia mendengarkan petani.

Memeriksa aliran air.

Membuka kembali keputusan.

Sebagian orang mengejeknya.

Sebagian kehilangan kepercayaan.

Sebagian justru mulai berani

mengatakan kenyataan.

Sang Pujian kehilangan mahkotanya.

Ia berubah menjadi

sehelai pita emas kecil.

Pengembara mengikatnya

pada lengan kiri.

Pujian boleh diterima sebagai penguat,

namun tidak dijadikan cermin utama.

Sang Pengetahuan menutup kitab tanpa akhir.

Kitab itu menyusut

menjadi sebuah buku kosong.

Pengembara menyimpannya.

Setiap halaman baru

hanya akan terisi

setelah ia melihat, mendengar,

dan menguji kenyataan.

Sang Kekuasaan melepaskan jubah kerajaan.

Ia berubah menjadi kunci besi sederhana.

Kunci itu tidak membuka singgasana,

melainkan gudang, bendungan,

pintu rumah sakit,

dan ruang tempat keputusan dibuat.

“Gunakan aku untuk melayani,”

katanya,

“bukan untuk menjadikan dirimu

kebal dari pertanyaan.”

Tiga peti runtuh.

Tiga kertas terbang

menyatu dengan pedang:

Pujian pada bilah sebelah kiri.

Pengetahuan pada bilah sebelah kanan.

Kekuasaan di dekat ujungnya.

Kini pedang bening

tidak menjadi lebih tajam.

Ia menjadi lebih berat.

Sebab semakin banyak kekuatan diterima,

semakin besar tanggung jawab

untuk tidak menyalahgunakannya.

Kapal merah terus bergerak.

Gunung pengabdian

telah hilang di belakang awan.

Di depan mereka,

samudra merah membentang

tanpa batas.

Sembilan pulau berbentuk mahkota

berdiri jauh di cakrawala.

Namun baru lima peti

yang berhasil ditenangkan.

Empat peti tersisa.

Peti Kesedihan bergetar.

Peti Kemarahan mengeluarkan api.

Peti Keabadian memancarkan

suara ribuan orang

yang terus meneriakkan namanya sendiri.

Sedangkan peti Kehampaan

tetap tidak menunjukkan apa-apa.

Nakhoda berjalan

menuju kemudi kapal.

“Mulai sekarang,” katanya,

“ujian tidak lagi datang

sebagai bayangan di pikiranmu.”

Ia menunjuk lautan merah.

Di permukaannya muncul

ribuan kapal hitam.

Setiap kapal membawa bendera

dengan lambang matahari tanpa cahaya.

Di kapal terbesar

berdiri seseorang memakai zirah emas.

Wajahnya tertutup topeng phoenix terbakar.

Di belakangnya berdiri

pasukan yang tidak mempunyai bayangan.

Sosok itu mengangkat tombak

dan berkata:

“Serahkan sembilan nama terlarang.

Kami akan menggunakannya

untuk membangun dunia

tanpa rasa takut,

tanpa kesedihan,

dan tanpa kematian.”

Pengembara menatap sang nakhoda.

“Siapakah mereka?”

Nakhoda menggenggam kemudi.

“Mereka adalah kerajaan

yang dahulu menenggelamkan

Tiongkok Dasar Laut.”

Lautan merah mulai mendidih.

Dari bawah permukaan

muncul menara-menara hitam.

Pada setiap menara

terikat manusia yang masih hidup,

tetapi wajah mereka tersenyum

seolah tidak merasakan penderitaan.

Sosok bertopeng phoenix

mengangkat tombaknya lebih tinggi.

“Kesedihan membuat manusia lemah.

Kemarahan membuat mereka saling membunuh.

Ketakutan membuat mereka berhenti.

Keinginan membuat mereka serakah.”

Ia menunjuk kesembilan peti.

“Berikan semua itu kepada kami.

Kami akan mencabutnya

dari setiap jiwa manusia.”

Pengembara melihat

pasukan tanpa bayangan.

Mereka tidak merasa takut.

Mereka tidak marah.

Mereka tidak menginginkan apa pun.

Mereka tidak bersedih

ketika temannya jatuh.

Mereka maju tanpa ragu

karena tidak mempunyai sesuatu

yang ingin dilindungi.

“Mereka tampak tenang,”

kata pengembara.

Nakhoda menjawab:

“Batu pun tampak tenang

ketika rumah terbakar.”

Kapal-kapal hitam

mulai mengepung kapal merah.

Peti Kemarahan menghantam tutupnya.

Api merah keluar dari celah.

Dari dalam peti terdengar suara:

“Bukalah aku!

Tanpaku, kau tidak akan mampu melawan!”

Peti Kesedihan menangis:

“Jangan berperang.

Semua yang kau cintai

pada akhirnya akan hilang.”

Peti Keabadian berbisik:

“Menangkan perang ini,

dan namamu akan dikenang selamanya.”

Peti Kehampaan tetap diam.

Namun diamnya terasa

lebih berat daripada seluruh suara.

Nakhoda menyerahkan kemudi

kepada pengembara.

“Pilihlah.”

“Mengapa aku?”

“Karena kapal ini menuju

ke mana pun hati pemegang kemudi condong.”

“Apakah kita harus berperang?”

“Tidak semua serangan harus dijawab

dengan cara yang diinginkan penyerang.”

Kapal hitam pertama

melepaskan anak panah.

Langit dipenuhi ribuan ujung besi.

Pengembara memutar kemudi.

Kapal merah menukik

ke permukaan samudra.

Namun bukannya tenggelam,

kapal itu berubah

menjadi naga merah raksasa.

Layarnya menjadi sayap.

Tiangnya menjadi tanduk.

Lambungnya berubah menjadi sisik.

Pengembara berdiri

di antara kedua mata naga.

Benang Hasrat menyala.

Lonceng Ketakutan berbunyi.

Pita Pujian berkibar.

Buku Pengetahuan terbuka.

Kunci Kekuasaan bergetar.

Lima kekuatan yang telah diterima

bekerja bersama.

Hasrat memberinya tujuan.

Ketakutan menunjukkan arah panah.

Pujian mengingatkan

bahwa orang lain mempercayainya,

namun bukan berarti ia selalu benar.

Pengetahuan membaca pola serangan.

Kekuasaan menggerakkan kapal

agar seluruh awak dapat selamat.

Naga merah terbang

di antara hujan anak panah.

Namun sebuah tombak hitam

menembus sayapnya.

Naga itu meraung.

Salah satu awak kapal jatuh

ke lautan merah.

Pengembara melihatnya tenggelam.

Peti Kesedihan terbuka.

Dari dalamnya keluar

seorang gadis memakai gaun biru gelap.

Rambutnya mengalir

seperti sungai malam.

Di tangannya terdapat mangkuk

yang tidak pernah penuh

meski terus menampung air mata.

Ia berdiri di samping pengembara.

“Sekarang kau membutuhkanku,” katanya.

“Untuk apa?”

“Agar kehilangan itu

tidak berubah menjadi angka.”

Gadis Kesedihan menunjuk

ke arah awak kapal yang tenggelam.

Pengembara mendengar namanya.

Mendengar kisah keluarganya.

Mendengar janji yang belum sempat ditepati.

Hatinya terasa sangat sakit.

“Aku tidak mempunyai waktu untuk menangis,”

katanya.

“Perang masih berlangsung.”

“Tangisan yang ditunda

tidak lenyap,” jawab Sang Kesedihan.

“Ia hanya mencari tempat lain

untuk keluar—

melalui kemarahan, kekerasan,

atau hati yang membatu.”

Pengembara menggenggam kemudi

dengan satu tangan.

Dengan tangan lainnya,

ia menyentuh dada.

Satu tetes air mata jatuh.

Tetes itu berubah

menjadi teratai biru

di permukaan lautan.

Teratai tersebut membuka kelopaknya

dan mengangkat awak kapal

yang tenggelam tadi.

Ia ternyata masih hidup.

Awak kapal lain

menariknya naik.

Sang Kesedihan tersenyum.

“Aku tidak selalu datang

untuk memakamkan sesuatu.

Kadang aku datang

agar manusia menyadari

apa yang masih dapat diselamatkan.”

Tubuhnya berubah menjadi

selendang biru

yang membalut luka naga merah.

Peti Kesedihan runtuh.

Namun pada saat yang sama,

pasukan tanpa bayangan

menaiki tubuh naga.

Mereka menyerang awak kapal.

Api dari peti Kemarahan

meledak.

Seorang pendekar bermata merah

melompat keluar.

Tubuhnya dikelilingi

ribuan pedang api.

“Biarkan aku membakar mereka!”

teriaknya.

Pengembara melihat awaknya terluka.

Darah mengalir.

Rasa marah membanjiri dada.

Pedang bening berubah merah.

Ia mengangkatnya

dan hampir menebas

seluruh kapal hitam sekaligus.

Sang Kemarahan tertawa.

“Akhirnya kau mengakuiku!

Hancurkan mereka

sebelum mereka menghancurkanmu!”

Pengembara memandang musuh.

Di balik topeng mereka,

ia melihat wajah-wajah manusia

yang telah dicabut rasa takut,

kesedihan, dan kehendaknya.

Mereka bukan sepenuhnya penyerang.

Mereka pun tawanan.

“Aku marah,” kata pengembara.

Api membesar.

“Aku marah karena mereka melukai

orang-orang yang kujaga.”

Pedang semakin panas.

“Aku marah karena kehidupan manusia

diperlakukan seperti alat.”

Sang Kemarahan bersorak.

“Maka bunuhlah semuanya!”

Pengembara menatapnya.

“Kemarahanku menunjukkan

bahwa batas telah dilanggar.

Tetapi engkau tidak berhak

menentukan seluruh tindakanku.”

Ia menancapkan pedang

ke punggung naga.

Api merah menyebar,

namun tidak membakar pasukan.

Api itu membakar rantai

yang mengikat bayangan mereka.

Satu demi satu,

bayangan kembali ke tubuh pasukan.

Begitu memiliki bayangan,

mereka mulai merasakan takut.

Mereka menjatuhkan senjata.

Sebagian menangis.

Sebagian melarikan diri.

Sebagian menatap tangannya

seolah baru menyadari

berapa banyak luka yang telah dibuat.

Sang Kemarahan memandang

api yang berubah fungsi.

“Engkau tidak menggunakanku

untuk membalas.”

“Aku menggunakanmu

untuk menghentikan kezaliman.”

“Apa bedanya?”

“Pembalasan ingin musuh merasakan luka.

Ketegasan ingin luka itu berhenti.”

Pendekar bermata merah

menundukkan kepala.

Pedang-pedang api di sekelilingnya

menyatu menjadi satu nyala kecil.

Nyala itu masuk

ke dalam lentera di dada pengembara.

Ia akan menyala

ketika batas harus dijaga,

tetapi tidak membakar

siapa pun tanpa arah.

Peti Kemarahan runtuh.

Tujuh nama telah diterima.

Namun perang belum selesai.

Sosok bertopeng phoenix

berdiri di kapal terbesar.

Ia menatap pasukannya

yang mulai mendapatkan kembali

rasa dan bayangan.

“Kelemahan!” teriaknya.

“Perasaan membuat kalian lemah!”

Ia menghantam tombak

ke geladak.

Seluruh samudra merah membelah.

Dari dasar laut

muncul sebuah kota hitam

berbentuk jam pasir.

Pada puncaknya terdapat

sebuah mahkota raksasa.

Di dalam mahkota itu

terkurung ribuan jiwa

yang terus mengucapkan nama

orang-orang yang telah mati.

Peti Keabadian terbuka.

Seorang raja tua

keluar dengan tubuh

setengah manusia, setengah patung.

Kulitnya dari emas,

namun jantungnya

terbuat dari abu.

“Aku dapat menghentikan kematian,”

katanya kepada pengembara.

“Bukan hanya kematian tubuh,

tetapi kematian nama.”

Ia menunjukkan kota jam pasir.

Di sana patung-patung para raja

berdiri dalam barisan.

Tidak ada satu pun

yang dilupakan.

Setiap nama diucapkan

siang dan malam.

Setiap kisah ditulis kembali.

Setiap wajah dipahat

pada dinding kota.

“Bukankah manusia ingin dikenang?”

tanya Sang Keabadian.

“Bukankah setiap karya

merupakan perlawanan terhadap lenyap?”

Pengembara tidak segera menjawab.

Ia teringat seluruh perjalanan.

Bagaimana bila semua ini

hilang tanpa bekas?

Bagaimana bila tidak seorang pun

mengetahui apa yang telah diperjuangkannya?

Bagaimana bila puisi, kerajaan,

gunung, dan lautan

akhirnya dilupakan?

Sang Keabadian mendekat.

“Berikan darahmu kepada mahkota.

Namamu akan diucapkan

selama dunia masih mempunyai suara.”

“Apa yang terjadi

kepada mereka yang mengucapkannya?”

“Mereka akan hidup

untuk menjaga ingatanmu.”

Pengembara melihat jiwa-jiwa

di dalam mahkota.

Mereka terus mengucapkan nama,

tetapi tidak memiliki kesempatan

menjalani hidupnya sendiri.

“Mereka menjadi tawanan.”

“Mereka menjadi penjaga warisan.”

“Warisan yang membutuhkan

kehidupan orang lain sebagai korban

bukanlah warisan,

melainkan kelaparan yang takut mati.”

Sang Keabadian marah.

“Tanpa ingatan,

seluruh pengorbananmu akan sia-sia!”

Pengembara memandang

teratai biru di lautan.

Teratai itu akan layu.

Kapal akan rusak.

Kota akan berubah.

Nama-nama akan diganti.

Ia merasa sedih,

namun juga tenang.

“Tidak semua kebaikan

harus mengetahui siapa yang menanamnya.”

Mahkota jam pasir retak.

“Aku ingin meninggalkan manfaat,

bukan memaksa dunia

mengingat wajahku.”

Raja emas mengangkat tongkat.

“Lalu engkau rela dilupakan?”

“Aku mungkin takut dilupakan.

Tetapi ketakutanku tidak berhak

merampas masa depan orang lain.”

Tubuh Sang Keabadian

mulai berubah menjadi debu.

Namun sebelum lenyap,

ia bertanya:

“Apakah engkau menolak

seluruh jejak kehidupan?”

“Tidak.

Biarlah jejak menjadi benih,

bukan rantai.”

Raja tua tersenyum.

Debu emasnya berubah

menjadi sekantong benih.

Pengembara menaburkannya

ke samudra merah.

Dari setiap benih

tumbuh pulau kecil.

Di pulau-pulau itu,

orang dapat belajar dari masa lalu

tanpa harus hidup

sebagai budak masa lalu.

Peti Keabadian runtuh.

Kini hanya satu peti tersisa.

Peti Kehampaan.

Semua suara berhenti.

Perang menghilang.

Kapal-kapal hitam lenyap.

Sosok bertopeng phoenix

tidak lagi terlihat.

Samudra merah berubah

menjadi lautan putih tanpa gelombang.

Naga merah kembali

menjadi kapal.

Nakhoda berdiri di haluan.

“Delapan nama telah kembali,” katanya.

“Lalu mengapa semuanya terasa

belum selesai?”

Nakhoda menunjuk peti kesembilan.

“Karena delapan kekuatan

masih dapat kaukenali.

Kehampaan tidak menawarkan apa pun

yang dapat kaupegang.”

Pengembara mendekati peti terakhir.

Tidak ada tutup.

Tidak ada dasar.

Ketika ia memandang ke dalam,

ia tidak melihat kegelapan.

Ia tidak melihat cahaya.

Ia tidak melihat dirinya.

Bahkan suara pikirannya

perlahan menghilang.

Benang Hasrat terlepas.

Lonceng Ketakutan diam.

Pita Pujian memudar.

Buku Pengetahuan kehilangan huruf.

Kunci Kekuasaan berubah menjadi debu.

Selendang Kesedihan mengering.

Lentera Kemarahan padam.

Kantong Benih Keabadian kosong.

Satu demi satu,

semua yang telah dipelajarinya

kehilangan makna.

Pengembara bertanya:

“Siapa yang berada di dalam?”

Tidak ada jawaban.

“Apa yang harus kulakukan?”

Tidak ada suara.

Ia menoleh kepada nakhoda.

Namun kapal kosong.

Tidak ada awak.

Tidak ada langit.

Tidak ada lautan.

Tidak ada gunung.

Tidak ada kerajaan.

Tidak ada puisi.

Pengembara berdiri

di suatu tempat

yang tidak dapat disebut tempat.

Ia mencoba mengingat namanya.

Nama itu tidak datang.

Ia mencoba mengingat wajahnya.

Wajah itu hilang.

Ia mencoba mengingat tujuan perjalanan.

Tujuan itu larut.

Untuk pertama kalinya,

tidak ada musuh yang harus dilawan,

tidak ada orang yang harus ditolong,

tidak ada pintu yang harus dibuka,

dan tidak ada ujian

yang harus dimenangkan.

Hanya ada keberadaan

tanpa gelar dan cerita.

Pada mulanya ia merasa tenang.

Kemudian ketakutan muncul.

Bila tidak ada perjalanan,

siapakah dirinya?

Bila tidak ada orang

yang membutuhkan pertolongannya,

apakah hidupnya masih berarti?

Bila seluruh nama, tugas,

pengetahuan, dan pengalaman dilepaskan,

apakah masih tersisa sesuatu

yang dapat disebut “aku”?

Dari kehampaan

muncul suara sangat lembut:

“Engkau telah belajar

menggunakan banyak kekuatan.

Sekarang belajarlah

untuk tidak menjadi apa-apa

selama satu tarikan napas.”

Pengembara mencoba berdoa,

tetapi tidak menemukan kata.

Ia mencoba mengingat petuah,

tetapi tidak menemukan kalimat.

Akhirnya ia berhenti mencoba.

Ia tidak membangun singgasana.

Tidak mencari pintu.

Tidak memanggil cahaya.

Ia hanya bernapas.

Satu tarikan.

Satu hembusan.

Di antara keduanya

terdapat jeda yang sangat kecil.

Dalam jeda itu,

tidak ada keberhasilan

dan tidak ada kegagalan.

Tidak ada tinggi

dan tidak ada rendah.

Tidak ada pujian

dan tidak ada celaan.

Namun kehidupan tetap ada.

Jantung tetap berdetak.

Kesadaran tetap menyaksikan.

Pengembara memahami:

Kehampaan bukan berarti

semua kehidupan tidak bermakna.

Kehampaan adalah ruang

tempat makna tidak dipaksa

menjadi satu-satunya kebenaran.

Ia berbisik:

“Aku bukan hanya namaku.”

Satu bintang muncul.

“Aku bukan hanya tugasku.”

Bintang kedua menyala.

“Aku bukan hanya lukaku,

keberhasilanku,

pengetahuanku,

maupun kegagalanku.”

Ribuan bintang memenuhi kehampaan.

“Aku adalah manusia

yang menerima semua itu

tanpa harus dijadikan milik olehnya.”

Peti kesembilan bergetar.

Dari dalam kehampaan

muncul seorang anak kecil.

Anak itu tidak mempunyai bayangan,

tidak memakai pakaian kerajaan,

dan tidak membawa pusaka.

Ia menggenggam sebuah mangkuk kosong.

“Aku adalah Sang Kehampaan,” katanya.

“Mengapa engkau berbentuk anak kecil?”

“Karena hanya sesuatu yang kosong

dapat terus belajar.”

Anak itu menyerahkan mangkuk.

“Isilah.”

Pengembara mencari sesuatu.

Tidak ada air.

Tidak ada makanan.

Tidak ada cahaya.

Ia pun berkata:

“Tidak ada yang dapat kumasukkan.”

Anak itu tersenyum.

“Maka sekarang mangkuk itu

siap menerima apa pun

tanpa mengira dirinya telah penuh.”

Kehampaan berubah menjadi

ruang kecil di tengah dada pengembara.

Bukan lubang yang menelan kehidupan,

melainkan tempat untuk berhenti,

mendengarkan,

dan tidak tergesa-gesa

mengisi setiap keheningan dengan jawaban.

Peti terakhir runtuh.

Kesembilan nama

menyatu pada pedang bening.

Namun pedang itu tidak lagi

berbentuk senjata.

Ia berubah menjadi tongkat kayu sederhana.

Tidak berkilau.

Tidak memiliki ukiran.

Tidak menjanjikan kemenangan.

Tongkat itu hanya cukup kuat

untuk membantu berjalan.

Dunia kembali muncul.

Kapal merah mengapung

di atas samudra yang kini bening.

Sembilan pulau mahkota

telah berubah

menjadi sembilan pulau teratai.

Pada setiap pulau

tumbuh satu pohon cahaya.

Nakhoda berdiri kembali

di depan kemudi.

“Kesembilan nama telah kaukembalikan

ke dalam dirimu.”

Pengembara memandang tongkat kayu.

“Apakah perjalanan selesai?”

Nakhoda membuka kipas hitam.

Di baliknya tidak terdapat wajah tua,

melainkan wajah sang pengembara sendiri.

“Tidak.”

“Siapakah engkau sebenarnya?”

Nakhoda melepaskan jubah.

Tubuhnya berubah

menjadi cahaya samudra.

“Aku adalah dirimu

yang telah menyelesaikan perjalanan ini

pada kemungkinan waktu yang lain.”

Pengembara mundur.

“Mengapa engkau membawaku

melewati semua ujian?”

“Karena dahulu aku gagal

pada peti kesembilan.”

“Apa yang terjadi?”

“Aku takut menjadi kosong.

Maka aku mengisi kehampaan

dengan gelar, pengikut,

pengetahuan, dan kekuasaan.”

Wajah nakhoda dipenuhi kesedihan.

“Aku berhasil menyelamatkan kerajaan,

tetapi menjadikan diriku

sebagai pusat dari seluruh cahaya.”

“Lalu kapal merah ini?”

“Inilah sisa dunia

yang kuhancurkan dengan niat menyelamatkan.”

Samudra mendadak berguncang.

Dari bawah kapal

muncul bayangan kota raksasa.

Kota itu mirip Tiongkok Dasar Laut,

tetapi seluruh menaranya

menghadap kepada satu patung.

Patung tersebut memiliki wajah

sang nakhoda.

Ribuan manusia berlutut

tanpa kehendak.

“Dunia itu masih ada,”

kata nakhoda.

“Tersembunyi di balik

Lautan Kesembilan.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Pergilah ke sana

dan hancurkan patungku.”

Pengembara menggenggam tongkat.

“Apakah itu akan menghapusmu?”

“Mungkin.”

“Apakah engkau takut?”

Nakhoda menatap lautan.

“Sangat takut.”

Lonceng kecil di pinggang pengembara berbunyi.

Ketakutan itu nyata.

Namun nakhoda tetap berdiri.

Pengembara memahami:

Seseorang dapat mengetahui seluruh pelajaran

dan tetap gemetar

ketika harus menjalankannya.

Jauh di cakrawala,

permukaan samudra terbuka.

Muncul pusaran hitam

sebesar langit.

Di pusat pusaran

terlihat sebuah gerbang

berbentuk mulut naga.

Di atasnya tertulis:

“LAUTAN KESEMBILAN —

TEMPAT PENYELAMAT

BERUBAH MENJADI BERHALA.”

Kapal merah bergerak

menuju pusaran.

Sang nakhoda berdiri

di samping pengembara.

Sembilan kekuatan

berdenyut tenang di dalam dirinya.

Hasrat memberi arah.

Ketakutan menjaga kewaspadaan.

Pujian tidak lagi memabukkan.

Pengetahuan tetap menyediakan

ruang untuk ketidaktahuan.

Kekuasaan menjadi tanggung jawab.

Kesedihan menjaga kasih.

Kemarahan menjaga batas.

Keabadian menanam manfaat

tanpa menuntut nama.

Kehampaan menyediakan ruang

agar semuanya tidak saling menguasai.

Saat kapal memasuki pusaran,

langit di belakang mereka tertutup.

Tidak ada jalan kembali.

Dari dalam gerbang naga

terdengar suara jutaan manusia

meneriakkan satu nama.

Bukan nama raja.

Bukan nama dewa.

Bukan nama kerajaan.

Mereka meneriakkan

nama sang pengembara sendiri.

Nakhoda memandangnya.

“Dengarkan baik-baik.

Lautan kesembilan

tidak akan menyerangmu

dengan sesuatu yang kau benci.”

Suara pujian semakin keras.

Ribuan lentera menyala.

Sebuah singgasana putih

muncul di balik gerbang.

“Ia akan menyerangmu

dengan segala sesuatu

yang paling sulit kau tolak.”

Kapal merah melewati mulut naga.

Gerbang menutup.

Dan di hadapan mereka

terbentang dunia

yang telah lama menunggu

kedatangan seorang penyelamat—

agar dapat mengubahnya

menjadi berhala berikutnya.


PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Ketujuh — Lautan Kesembilan dan Berhala Penyelamat

Kapal merah memasuki mulut naga.

Gerbang samudra menutup di belakangnya

dengan gemuruh yang membuat bintang-bintang

berguguran dari langit.

Di hadapan pengembara

terbentang sebuah dunia yang sangat indah.

Lautannya sebening kaca.

Gunung-gunungnya berwarna giok.

Sungai-sungainya memantulkan cahaya emas,

sedangkan ribuan burung phoenix putih

terbang membentuk lingkaran

di atas istana yang menjulang.

Tidak ada rumah yang rusak.

Tidak ada jalan yang kotor.

Tidak terlihat orang kelaparan,

orang sakit,

atau manusia yang bertengkar.

Semua penduduk mengenakan pakaian putih,

membawa lentera kecil,

dan berdiri berbaris di sepanjang pantai.

Ketika kapal merah merapat,

jutaan suara berseru bersamaan:

“Selamat datang, Penyelamat!”

Gema suara mereka

menabrak gunung-gunung,

memantul di atas samudra,

lalu kembali menjadi pujian

yang jauh lebih besar.

Pengembara berdiri di haluan.

Ia tidak pernah memberitahukan namanya,

tetapi setiap bendera di kota

telah memuat wajahnya.

Patung-patung dirinya

berdiri di persimpangan jalan.

Sebagian menggambarkannya

sedang memegang pedang bening.

Sebagian menggambarkannya

berdiri di atas naga merah.

Sebagian lain memperlihatkan dirinya

dengan mahkota sembilan cahaya

dan kedua tangan terangkat

seolah menahan langit.

Pengembara memandang sang nakhoda.

“Bagaimana mereka mengetahui wajahku?”

Nakhoda menjawab:

“Lautan Kesembilan tidak membaca masa lalu.

Ia membaca bentuk paling tersembunyi

dari keinginan manusia.”

“Aku tidak meminta semua ini.”

“Berhala tidak selalu dibangun

karena seseorang meminta disembah.”

Kapal berhenti.

Sebuah jembatan emas muncul

dari permukaan air

dan memanjang menuju istana.

Di ujungnya berdiri sembilan pendeta tua

mengenakan topeng naga.

Masing-masing membawa mangkuk giok

yang dipenuhi air bercahaya.

Pendeta pertama berlutut.

“Minumlah, Penyelamat.

Air ini akan menghapus keraguanmu.”

Pendeta kedua berkata:

“Minumlah.

Setelah itu engkau tidak akan pernah salah.”

Pendeta ketiga menambahkan:

“Minumlah,

dan setiap manusia yang menentangmu

akan terlihat sebagai musuh kebenaran.”

Pengembara memandang air tersebut.

Benang Hasrat di pergelangan tangannya

menjadi hangat.

Lonceng Ketakutan

berbunyi sangat pelan.

Ia bertanya:

“Siapa yang memberi kalian perintah

untuk menungguku?”

Para pendeta menjawab bersamaan:

“Engkau sendiri.”

“Aku belum pernah datang ke tempat ini.”

Pendeta tertua menunjuk sang nakhoda.

“Dia pernah datang

dengan wajahmu.”

Semua mata beralih

kepada nakhoda berjubah panjang.

Nakhoda menundukkan kepala.

“Dahulu aku tiba di sini

setelah melewati sembilan peti,” katanya.

“Seperti dirimu, aku menolak mahkota hitam,

menolak kekuasaan,

dan mengaku hanya ingin mengabdi.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Mereka memanggilku penyelamat.”

“Dan engkau menerimanya?”

Nakhoda menatap patung-patung raksasa.

“Pada mulanya aku menolak.”

Ia berjalan turun dari kapal.

“Aku berkata bahwa aku hanyalah manusia.

Tetapi semakin aku menolak,

semakin mereka memujiku sebagai manusia suci

yang tidak menginginkan kehormatan.”

Pengembara ikut turun.

“Kemudian?”

“Mereka meminta nasihat.

Aku memberikannya.”

“Mereka meminta keputusan.

Aku membuatnya.”

“Mereka meminta perlindungan.

Aku membangun pasukan.”

“Mereka meminta kebenaran.

Aku mulai menjawab semua pertanyaan,

bahkan ketika aku tidak mengetahui jawabannya.”

Langkah mereka mencapai jembatan emas.

Di kanan dan kiri

jutaan penduduk bersujud.

Tidak seorang pun menatap wajah mereka.

Nakhoda melanjutkan:

“Sedikit demi sedikit,

mereka berhenti mendengarkan hati nuraninya.

Mereka menunggu kata-kataku

sebelum makan, bekerja, menikah,

berperang, memaafkan,

bahkan sebelum menangis.”

“Mengapa engkau tidak menghentikannya?”

Nakhoda tersenyum pahit.

“Karena ketergantungan mereka

membuatku merasa dibutuhkan.”

Jembatan emas bergetar.

Dari bawahnya terlihat

ribuan tangan manusia

menopang jalan tersebut.

Tangan-tangan itu kurus,

terluka,

dan terikat rantai.

Pengembara berhenti.

“Siapakah mereka?”

Salah seorang pendeta menjawab:

“Mereka adalah orang-orang

yang meragukan Sang Penyelamat.”

“Mengapa mereka dirantai?”

“Keraguan mereka

dapat merusak persatuan.”

“Apakah mereka melakukan kejahatan?”

Pendeta itu diam.

Pengembara menatap satu wajah

di bawah jembatan.

Seorang perempuan muda

menopang batu dengan kedua bahunya.

Matanya masih menyala.

“Apa kesalahanmu?”

tanya pengembara.

Perempuan itu menjawab:

“Aku bertanya mengapa perkataan manusia

tidak boleh diperiksa.”

Pendeta tertua mengangkat tongkat.

“Jangan dengarkan dia.

Lidahnya telah diracuni kesombongan.”

Perempuan itu tertawa lemah.

“Di negeri ini,

pertanyaan selalu disebut kesombongan

ketika jawabannya dapat mengguncang singgasana.”

Pengembara hendak membebaskannya.

Namun nakhoda menahan tangannya.

“Jangan terburu-buru.”

“Mereka menderita.”

“Benar.

Tetapi bila engkau membebaskan mereka

hanya untuk menunjukkan bahwa dirimu

berbeda dariku,

engkau sedang membangun patung baru.”

Pengembara menarik tangannya.

Ia menatap perempuan itu.

“Apa yang kalian butuhkan?”

Perempuan tersebut tidak menjawab segera.

Kemudian berkata:

“Bukan pahlawan baru.”

“Lalu apa?”

“Kesempatan berdiri

dengan kaki kami sendiri.”

Kalimat itu membuat jembatan emas

retak tipis.

Pendeta-pendeta saling memandang.

Penduduk yang bersujud

mulai mengangkat wajah.

Namun dari istana

terdengar bunyi gong raksasa.

Sembilan kali.

Pada dentang kesembilan,

seluruh penduduk kembali menunduk.

Sebuah suara keluar

dari menara tertinggi:

“Penyelamat telah kembali.

Hari pertanyaan telah berakhir.”

Gerbang istana terbuka.

Dari dalamnya muncul

sebuah singgasana putih

yang bergerak sendiri.

Singgasana itu tidak terbuat dari batu,

emas, ataupun kayu.

Ia tersusun dari ribuan lembar doa,

harapan, sumpah,

dan permintaan manusia.

Pada sandarannya tertulis:

“Dia yang duduk di sini

akan mengetahui segala kebutuhan rakyat.”

Pengembara mendekat.

Dari singgasana itu

terdengar suara-suara:

“Sembuhkan anakku.”

“Kembalikan suamiku.”

“Buat usahaku berhasil.”

“Hukum orang yang menyakitiku.”

“Tentukan siapa yang benar.”

“Beritahukan masa depanku.”

“Jangan biarkan aku kecewa.”

“Jangan biarkan aku kehilangan.”

Setiap permintaan berubah

menjadi benang cahaya

yang mencoba melilit tubuh pengembara.

Benang Hasrat pada pergelangannya

menjadi semakin merah.

Sang Hasrat berbisik dari dalam dirinya:

“Engkau dapat menolong mereka.”

Lonceng Ketakutan berdenting:

“Bila engkau menolak,

mereka akan membencimu.”

Pita Pujian berkibar:

“Duduklah sebentar saja.

Barangkali engkau memang diperlukan.”

Buku Pengetahuan membuka halaman:

“Ada banyak jawaban

yang dapat kauucapkan.”

Kunci Kekuasaan bergetar:

“Dengan satu perintah,

engkau dapat mengubah negeri ini.”

Selendang Kesedihan membisikkan

tangisan orang-orang.

Lentera Kemarahan menyala

melihat para tahanan.

Benih Keabadian berbisik:

“Bila engkau berhasil,

namamu akan menjadi manfaat

bagi ribuan generasi.”

Namun ruang Kehampaan di dalam dadanya

tetap diam.

Pengembara memandang singgasana.

Ia membayangkan

berapa banyak penderitaan

yang mungkin dapat dihentikannya.

Ia membayangkan para tahanan dibebaskan.

Ia membayangkan anak-anak menerima makanan.

Ia membayangkan peraturan yang adil.

Bukankah menolak kekuasaan

ketika ia dapat digunakan untuk kebaikan

juga dapat menjadi bentuk ketakutan?

Ia menoleh kepada nakhoda.

“Bagaimana aku membedakan

pengabdian dengan keinginan menjadi penyelamat?”

Nakhoda menjawab:

“Perhatikan apa yang terjadi

ketika manusia tidak mengikuti nasihatmu.”

“Apa maksudmu?”

“Bila engkau marah karena mereka terluka,

mungkin itu kasih.”

“Namun bila engkau marah

karena mereka memilih jalan

yang tidak sesuai dengan keinginanmu,

mungkin yang terluka adalah egomu.”

Pengembara berdiri di depan singgasana.

Ia belum duduk.

Pendeta tertua berkata:

“Jangan ragu.

Keraguanmu akan membuat rakyat takut.”

Pengembara menjawab:

“Pemimpin yang menyembunyikan keraguan

tidak menjadi lebih kuat.

Ia hanya membuat rakyat

tidak mengetahui di mana bahaya sebenarnya.”

Pendeta itu mengangkat mangkuk.

“Minumlah air kepastian.”

Pengembara mengambil mangkuk tersebut.

Semua penduduk menahan napas.

Ia mencium aromanya.

Air itu berbau

seperti hujan pertama,

tanah subur,

dan rumah yang aman.

Namun di dasar mangkuk

terdapat bayangan manusia

yang mulutnya dijahit.

Pengembara menumpahkan air

ke atas singgasana.

Cahaya putih mendesis.

Lembar-lembar doa

yang membentuk singgasana

mulai terlepas.

Dari baliknya terlihat

sebuah kerangka besi hitam.

Pada tulangnya tertulis:

Ketergantungan.

Ketakutan ditinggalkan.

Keinginan selalu benar.

Pemujaan manusia.

Pendeta-pendeta berteriak:

“Ia menolak amanah!”

“Ia mengkhianati rakyat!”

“Ia bukan penyelamat sejati!”

Penduduk mulai gaduh.

Sebagian menangis.

Sebagian marah.

Sebagian berlari mendekati pengembara

dan memegang ujung jubahnya.

“Jangan tinggalkan kami!”

“Kami tidak tahu harus berbuat apa!”

“Tanpa dirimu, kami akan tersesat!”

Seorang ibu menyerahkan bayi.

“Tentukan nama anakku.”

Seorang pedagang membawa timbangan.

“Tentukan harga daganganku.”

Dua saudara membawa pedang.

“Tentukan siapa yang harus dihukum.”

Seorang pemuda membawa bunga.

“Tentukan siapa yang harus kucintai.”

Pengembara merasa dadanya sesak.

Ia ingin memberi jawaban

agar mereka menjadi tenang.

Namun ruang Kehampaan berbisik:

“Jangan mengisi setiap kekosongan

hanya karena engkau takut

melihat manusia kebingungan.”

Pengembara mengangkat tangan.

“Dengarkan aku.”

Semua menjadi diam.

“Aku tidak mengetahui

seluruh jawaban kehidupan kalian.”

Penduduk saling berpandangan.

“Aku dapat mendengarkan,

berbagi pengetahuan,

memperingatkan ketika ada bahaya,

dan membantu ketika mampu.”

Ia memandang bayi, pedagang,

dua saudara, dan pemuda.

“Tetapi aku tidak berhak

menggantikan akal, hati nurani,

tanggung jawab, dan pilihan kalian.”

Pendeta tertua berteriak:

“Ia meninggalkan kalian!”

Pengembara menatapnya.

“Tidak mengambil alih kehidupan seseorang

bukan berarti meninggalkannya.”

“Lalu apa gunanya seorang guru?”

“Guru menunjukkan cara membaca jalan,

bukan memerintahkan murid

menutup matanya dan mengikuti jejak.”

“Apa gunanya pemimpin?”

“Pemimpin membantu manusia

mengatur kehidupan bersama,

bukan menjadikan dirinya

sebagai sumber seluruh kebenaran.”

“Apa gunanya penyelamat?”

Pengembara terdiam cukup lama.

Kemudian menjawab:

“Mungkin manusia tidak memerlukan

seorang penyelamat yang mengambil semua kuasa.”

Ia menunjuk para tahanan

di bawah jembatan.

“Mereka memerlukan pintu yang dibuka,

rantai yang diputus,

makanan, perlindungan, ilmu,

keadilan, dan keberanian.”

“Tetapi setelah itu,

mereka harus tetap menjadi pemilik

dari hidupnya sendiri.”

Satu patung pengembara

di alun-alun retak.

Kemudian patung kedua.

Patung ketiga kehilangan kepala.

Namun patung terbesar

di tengah kota justru membuka mata.

Batu pada tubuhnya berubah menjadi kulit.

Ia turun dari alasnya.

Wajahnya serupa pengembara,

tetapi jauh lebih sempurna.

Tidak ada luka.

Tidak ada keraguan.

Tidak ada rasa lelah.

Ia mengenakan mahkota sembilan cahaya

dan membawa tongkat naga putih.

Penduduk bersujud lebih dalam.

Sosok itu berkata:

“Jangan dengarkan pengembara itu.”

Pengembara menatapnya.

“Siapakah engkau?”

“Aku adalah dirimu

sebagaimana mereka ingin melihatmu.”

“Engkau bukan aku.”

“Aku adalah engkau

tanpa kesalahan.”

Sosok sempurna mengangkat tangan.

Awan berhenti bergerak.

Lautan menjadi tenang.

Luka-luka penduduk menghilang.

Tahanan di bawah jembatan

seketika terbebas.

Namun ketika berdiri,

mata mereka berubah putih.

Mereka tidak lagi marah.

Tidak lagi takut.

Tidak lagi mempertanyakan apa pun.

Sosok sempurna berkata:

“Lihatlah.

Aku dapat memberikan kedamaian

tanpa kebingungan.”

Perempuan yang tadi dirantai

berdiri di hadapannya.

Pengembara bertanya:

“Apakah engkau bebas?”

Perempuan itu tersenyum kosong.

“Aku tidak lagi mempunyai pertanyaan.”

“Apakah itu kebebasan?”

“Pertanyaan menyebabkan penderitaan.”

Sosok sempurna berkata:

“Manusia tidak benar-benar menginginkan kebebasan.

Mereka menginginkan kepastian.”

Ia berjalan mendekati pengembara.

“Mereka tidak ingin memikul akibat pilihan.

Mereka ingin seseorang menentukan jalan,

lalu disalahkan bila jalan itu gagal.”

“Mungkin sebagian begitu.”

“Maka berikan apa yang mereka minta.”

“Tidak semua permintaan

harus dipenuhi.”

Sosok sempurna tersenyum.

“Engkau masih berpura-pura rendah hati.”

Ia menunjuk penduduk.

“Lihat mereka.

Mereka mencintaimu.”

“Mereka mencintai gambaran

yang dibangun dari harapannya.”

“Apakah itu berbeda?”

“Sangat berbeda.

Cinta yang tidak mengizinkan

seseorang menjadi manusia

dapat berubah menjadi penjara.”

Wajah sosok sempurna mulai mengeras.

“Mereka membutuhkan kesempurnaan.”

“Tidak.

Mereka membutuhkan kejujuran,

aturan yang adil,

ruang untuk belajar,

dan keberanian menghadapi ketidakpastian.”

Sosok itu menghentakkan tongkat.

Tanah pecah.

Dari dalam retakan muncul

ribuan kitab batu.

Pada setiap kitab tertulis

perkataan-perkataan sang pengembara

sejak bait pertama.

Namun kalimat-kalimatnya telah diubah.

Petuah tentang kerendahan hati

ditulis sebagai perintah untuk tunduk.

Petuah tentang kesadaran

diubah menjadi larangan bertanya.

Petuah tentang pengabdian

dipakai untuk memaksa orang berkorban.

Petuah tentang pengampunan

dipakai untuk membungkam korban.

Petuah tentang kesabaran

dipakai agar rakyat menerima ketidakadilan.

Pengembara membaca semuanya

dengan tubuh gemetar.

“Aku tidak pernah mengajarkan ini.”

Sosok sempurna menjawab:

“Kata-kata tidak lagi menjadi milikmu

setelah manusia menjadikannya senjata.”

“Maka semua kitab ini harus dihancurkan.”

“Bila kau menghancurkannya,

mereka akan berkata

bahwa engkau sedang menyembunyikan rahasia.”

“Bila kubiarkan,

kata-kataku akan terus disalahgunakan.”

“Itulah harga menjadi lambang.”

Pengembara memegang tongkat kayu.

Untuk pertama kalinya

ia merasa benar-benar tidak mengetahui

apa yang harus dilakukan.

Buku Pengetahuan di pinggangnya

tetap kosong.

Kunci Kekuasaan

tidak membuka jalan.

Kemarahan ingin membakar kitab.

Kesedihan ingin menangisi para korban.

Ketakutan memperingatkan

bahwa setiap tindakan akan menimbulkan akibat.

Ruang Kehampaan berkata:

“Berhentilah sejenak.

Jangan bertindak hanya untuk menghilangkan

rasa tidak nyaman di dalam dirimu.”

Pengembara menarik napas.

Ia lalu berjalan

menuju kitab-kitab batu.

Ia tidak menghancurkannya.

Ia tidak pula membiarkannya

tanpa penjelasan.

Ia mengambil tongkat

dan menulis di tanah:

“Tidak ada satu kalimat pun

yang boleh digunakan

untuk mencabut kemanusiaan orang lain.”

Kemudian ia menulis:

“Nasihat harus diuji

melalui keadilan, kasih sayang, kenyataan,

dan akibat yang ditimbulkannya.”

Lalu:

“Siapa pun boleh bertanya.”

Dan terakhir:

“Perkataan seorang manusia

bukan pengganti kebenaran Alloh.”

Setiap tulisan memancarkan cahaya.

Cahaya itu tidak menghancurkan kitab-kitab,

tetapi membuat semua perubahan

dan pemalsuan terlihat.

Tulisan asli bersinar biru.

Tambahan yang dibuat demi kekuasaan

berwarna merah.

Perintah yang lahir dari ketakutan

berubah hitam.

Penduduk mulai membaca sendiri.

Seorang lelaki berseru:

“Kalimat ini telah diubah!”

Seorang perempuan berkata:

“Selama ini kami mengira

perintah itu berasal dari pengembara.”

Seorang anak bertanya:

“Mengapa kami tidak pernah

diizinkan membaca kitabnya secara utuh?”

Pendeta tertua mengangkat tongkat.

“Diam!

Kalian tidak cukup suci

untuk menafsirkan kata-kata penyelamat!”

Namun kali ini

penduduk tidak bersujud.

Seorang petani melangkah maju.

“Kalau begitu,

siapa yang memeriksa tafsirmu?”

Pendeta itu mundur.

Sosok sempurna menggeram.

Mahkota sembilan cahayanya

berubah menjadi sembilan kepala naga.

“Lihat akibat perbuatanmu!”

teriaknya kepada pengembara.

“Mereka mulai berbeda pendapat!”

Suara perdebatan memenuhi kota.

Ada yang marah.

Ada yang menangis.

Ada yang mempertahankan pendeta.

Ada yang merobohkan patung.

Ada pula yang berusaha

melindungi mereka yang berbeda.

Kota yang semula tenang

menjadi penuh kebisingan.

Sosok sempurna tertawa.

“Inikah kebebasan yang kauinginkan?”

Pengembara melihat kekacauan.

Ia tidak menyangkalnya.

“Kebebasan memang tidak selalu tenang.”

“Kepastian palsu lebih damai.”

“Kuburan pun lebih sunyi daripada pasar,

tetapi bukan berarti kuburan

lebih hidup.”

Sosok sempurna menyerang.

Tongkat naga putih melesat

menuju dada pengembara.

Pengembara mengangkat tongkat kayu.

Kedua tongkat bertabrakan.

Ledakan cahaya

membelah istana.

Sosok sempurna menyerang kembali.

Setiap serangannya membawa satu godaan:

Jadilah yang paling benar.

Jangan pernah meminta maaf.

Jangan biarkan orang meninggalkanmu.

Buat mereka selalu membutuhkanmu.

Sebut penolakan sebagai pengkhianatan.

Sebut pertanyaan sebagai kurang iman.

Sebut ketakutan mereka sebagai bukti cintanya.

Pengembara menahan serangan

sambil mundur.

Tongkat kayunya mulai retak.

Sang nakhoda berteriak:

“Jangan lawan kesempurnaan

dengan keinginan menjadi lebih sempurna!”

“Lalu bagaimana?”

“Perlihatkan bahwa ia tidak nyata!”

Pengembara menatap sosok di hadapannya.

Ia menyadari sesuatu.

Sosok sempurna itu

tidak mempunyai bayangan.

Tidak berkeringat.

Tidak terluka.

Tidak bernapas.

Ia hanya hidup

selama manusia menginginkan

seorang tokoh yang tidak pernah salah.

Pengembara menurunkan tongkat.

Sosok sempurna berhenti.

“Mengapa kau menyerah?”

Pengembara menjawab:

“Karena aku tidak perlu mengalahkanmu.”

“Aku akan mengambil tempatmu.”

“Tempat itu tidak pernah menjadi milikku.”

“Mereka akan menyembahku.”

“Hanya selama mereka takut

menjadi pemilik hidupnya sendiri.”

Pengembara berbalik

menghadap penduduk.

Ia mengangkat suaranya:

“Aku pernah salah.”

Sosok sempurna retak di bagian dada.

Pengembara melanjutkan:

“Aku pernah memberi jawaban

ketika seharusnya mendengarkan.”

Retakan menjalar ke bahunya.

“Aku pernah ingin dibutuhkan

karena takut ditinggalkan.”

Mahkota sembilan cahaya pecah satu.

“Aku pernah menolong

sambil berharap dianggap mulia.”

Mahkota kedua runtuh.

“Aku memiliki pengetahuan,

tetapi masih banyak yang tidak kuketahui.”

Mahkota ketiga berubah menjadi debu.

“Aku dapat membimbing,

tetapi aku tidak dapat menjamin

seluruh pilihan kalian bebas dari kesalahan.”

Mahkota keempat terlepas.

“Aku bukan sumber rezeki,

bukan pemilik kehidupan,

dan bukan penguasa takdir.”

Mahkota kelima dan keenam padam.

“Aku dapat mendoakan,

tetapi hasil akhirnya tetap berada

dalam kuasa Alloh.”

Mahkota ketujuh pecah.

“Jangan menjadikan diriku

sebagai pengganti akal sehat, tanggung jawab,

syariat, ilmu, dokter, hukum,

atau pertolongan nyata yang kalian perlukan.”

Mahkota kedelapan jatuh.

Sosok sempurna berteriak:

“Berhenti!

Mereka akan kehilangan kepercayaan kepadamu!”

Pengembara menjawab:

“Lebih baik mereka kehilangan

kepercayaan palsu kepadaku

daripada kehilangan kemampuan

mempercayai kebenaran.”

Mahkota kesembilan hancur.

Tubuh sosok sempurna

berubah menjadi cermin raksasa.

Pada permukaannya

setiap penduduk melihat

tokoh yang paling ingin mereka sembah.

Ada yang melihat seorang raja.

Ada yang melihat guru.

Ada yang melihat pahlawan.

Ada yang melihat orang tua.

Ada yang melihat dirinya sendiri.

Cermin itu berkata:

“Aku tidak diciptakan oleh satu manusia.

Aku lahir dari ketakutan banyak orang

menghadapi ketidakpastian.”

Pengembara mendekatinya.

“Lalu bagaimana kami membebaskanmu?”

“Bukan aku yang perlu dibebaskan.”

Cermin menunjukkan

ribuan rantai tipis

yang keluar dari hati penduduk

dan mengikat permukaannya.

“Setiap orang harus mengambil kembali

bagian kekuasaan yang telah diserahkan

demi kenyamanan.”

Pengembara tidak memukul cermin.

Ia menoleh kepada penduduk.

“Aku tidak dapat memutus rantai kalian

seorang diri.”

Perempuan yang dahulu

terikat di bawah jembatan

mengangkat tangan.

Ia menggenggam rantai

yang keluar dari dadanya.

“Aku takut salah memilih,” katanya.

“Tetapi hari ini aku akan belajar

menanggung akibat pilihanku sendiri.”

Rantainya putus.

Seorang ayah maju.

“Aku menyerahkan masa depan anakku

kepada orang lain

karena takut disalahkan.”

Ia memutus rantainya.

Seorang pedagang berkata:

“Aku mengikuti semua perintah

agar tidak perlu memeriksa

apakah tindakanku adil.”

Rantainya terlepas.

Seorang pemuda menangis:

“Aku memuja manusia

karena merasa diriku tidak berharga.”

Ia memutus rantainya.

Satu demi satu,

penduduk mengambil kembali

akal, keberanian, tanggung jawab,

dan hak untuk bertanya.

Cermin raksasa mulai mengecil.

Dari sebesar gunung

menjadi sebesar rumah.

Dari sebesar rumah

menjadi sebesar manusia.

Akhirnya ia berubah

menjadi cermin kecil

di telapak tangan pengembara.

Di dalamnya tidak tampak wajah sempurna.

Hanya wajah manusia biasa

yang letih, terluka,

tetapi masih sadar.

Nakhoda mendekat.

“Inilah patung yang harus dihancurkan,”

katanya.

Pengembara menatap cermin.

“Bukan patung batu?”

“Patung batu hanya akibatnya.

Berhala sesungguhnya adalah gambaran

bahwa seorang manusia

tidak boleh mempunyai batas.”

Pengembara mengangkat cermin

hendak menjatuhkannya.

Namun ia berhenti.

“Bila kuhancurkan,

bukankah aku hanya menyembunyikan

kemungkinan berhala itu muncul kembali?”

Nakhoda tersenyum.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Pengembara memasukkan cermin

ke dalam kantong jubahnya.

“Aku akan membawanya

sebagai pengingat.”

“Pengingat tentang apa?”

“Bahwa setiap kali pujian

membuatku merasa tidak boleh dikoreksi,

cermin ini harus kubuka.”

“Setiap kali orang menggantungkan

seluruh hidupnya kepadaku,

aku harus membantu mereka

mengambil kembali kuncinya.”

“Dan setiap kali diriku

ingin dianggap sebagai sumber cahaya,

aku harus mengingat

bahwa manusia hanyalah penerima,

penjaga, dan penyampai sebatas kemampuannya.”

Cermin kecil memancarkan

cahaya lembut.

Seluruh patung di kota

runtuh menjadi batu biasa.

Batu-batu itu tidak dibuang.

Penduduk menggunakannya

untuk membangun sekolah,

jembatan, rumah sakit,

lumbung, dan tempat musyawarah.

Singgasana putih dibongkar.

Lembaran doa yang membentuknya

dibagikan kembali kepada pemiliknya.

Sebagian doa tetap disimpan.

Sebagian diperbaiki menjadi ikhtiar.

Sebagian berubah menjadi tindakan nyata.

Sebagian manusia mulai menyadari

bahwa jawaban atas doanya

datang melalui tangan mereka sendiri

yang digerakkan untuk berbuat baik.

Pendeta-pendeta melepaskan topeng naga.

Beberapa meminta maaf.

Beberapa melarikan diri.

Beberapa tetap mempertahankan

bahwa zaman lama lebih baik.

Pengembara tidak memaksa semuanya berubah.

Ia hanya memastikan

tidak ada lagi manusia

yang dirantai karena bertanya.

Malam turun di Lautan Kesembilan.

Untuk pertama kalinya

langit negeri itu tidak dipenuhi

wajah seorang penyelamat.

Bintang-bintang terlihat jelas.

Penduduk berkumpul di alun-alun.

Mereka tidak bersujud.

Mereka duduk melingkar

dan mendengarkan satu sama lain.

Tidak semua masalah selesai.

Masih ada perdebatan.

Masih ada kesalahan.

Masih ada orang

yang merindukan kepastian lama.

Namun kini tidak ada satu singgasana

yang mengaku memegang seluruh jawaban.

Pengembara duduk di tepi pelabuhan.

Nakhoda berdiri di sampingnya.

Tubuhnya semakin transparan.

“Kau mulai menghilang,”

kata pengembara.

“Dunia ini tidak lagi membutuhkan

bayanganku untuk memperingatkanmu.”

“Apakah engkau akan lenyap?”

“Aku akan kembali

menjadi kemungkinan di dalam dirimu.”

Nakhoda membuka kipas hitam.

Di dalamnya terlihat

seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan.

Singgasana.

Pemujaan.

Ketakutan kehilangan pengikut.

Perintah yang membungkam.

Kebaikan yang berubah menjadi penguasaan.

“Apakah engkau menyesal?”

tanya pengembara.

“Ya.”

“Apakah penyesalan itu cukup?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang dapat memperbaikinya?”

Nakhoda memandang kota

yang sedang dibangun kembali.

“Mengakui kesalahan.

Menghentikan kerusakan.

Mengembalikan hak orang lain.

Memperbaiki semampunya.

Dan menerima bahwa sebagian luka

mungkin tidak sempat pulih

selama hidup kita.”

Pengembara terdiam.

“Apakah engkau memaafkan dirimu?”

Nakhoda tersenyum sedih.

“Aku sedang belajar.”

Tubuhnya berubah menjadi

butiran cahaya.

Sebelum benar-benar menghilang,

ia berkata:

“Jangan jadikan keberhasilan hari ini

sebagai bukti bahwa engkau

tidak akan pernah tersesat lagi.”

“Berhala tidak hanya dibangun sekali.”

“Ia dibangun setiap hari

ketika manusia berhenti bercermin.”

Cahaya nakhoda masuk

ke dalam cermin kecil.

Di permukaannya muncul satu kalimat:

“Tetaplah menjadi manusia

ketika dunia memintamu menjadi lambang.”

Fajar tiba.

Kapal merah telah berubah.

Layar robeknya menjadi putih.

Lambungnya tidak lagi dipenuhi ukiran raja,

melainkan nama-nama para awak

yang pernah menjaga perjalanan.

Di haluan tidak ada patung pengembara.

Hanya terdapat gambar

sebuah mangkuk kosong

dan tongkat kayu.

Penduduk mengantarnya ke pelabuhan.

Seorang anak kecil

memberikan bunga merah.

“Apakah engkau akan kembali?”

Pengembara menjawab:

“Aku tidak tahu.”

“Mengapa tidak menjanjikan?”

“Karena janji yang tidak mampu kupastikan

hanya akan menjadi tali

yang mengikat harapanmu.”

Anak itu mengangguk.

“Lalu apa yang harus kami lakukan

ketika bingung?”

Pengembara menunjuk alun-alun.

“Berkumpullah.

Dengarkan yang paling terdampak.

Periksa kenyataan.

Jangan takut mengubah keputusan.

Dan jangan serahkan seluruh kunci

kepada satu tangan.”

Perempuan yang pernah dirantai bertanya:

“Siapa yang akan memimpin negeri ini?”

Pengembara menjawab:

“Orang-orang yang bersedia

bertanggung jawab, dapat dikoreksi,

dan memahami bahwa kekuasaan

hanyalah amanah sementara.”

“Bagaimana bila pemimpin baru

membangun patungnya sendiri?”

Pengembara menyerahkan

sebuah palu kecil.

“Kalian sudah mengetahui

cara merobohkannya.”

Kapal mulai bergerak.

Penduduk tidak meneriakkan

nama pengembara.

Mereka hanya mengangkat lentera.

Cahayanya membentuk jalan

di atas samudra.

Namun ketika kapal

mencapai batas Lautan Kesembilan,

air mendadak surut.

Dari dasar samudra

muncul gerbang batu terakhir.

Gerbang itu jauh lebih tua

daripada Tiongkok Dasar Laut.

Tidak dihiasi naga, phoenix,

ikan emas, gunung,

ataupun matahari.

Di tengahnya terdapat

ukiran satu kalimat:

“SETELAH MANUSIA BERHENTI

MENJADI BERHALA,

IA HARUS BELAJAR

TIDAK MENJADIKAN PENDERITAANNYA

SEBAGAI TAKHTA.”

Pengembara membaca berulang kali.

Lonceng Ketakutan berbunyi.

Selendang Kesedihan

menjadi berat.

Dari balik gerbang

terdengar suara seseorang menangis.

Tangisan itu sangat dikenal.

Bukan suara anak.

Bukan suara penduduk.

Bukan pula suara nakhoda.

Itu adalah tangis pengembara sendiri

dari masa yang sangat jauh.

Suara itu berkata:

“Engkau telah menyelamatkan banyak orang,

tetapi tidak pernah kembali

menjemput dirimu

yang kau tinggalkan di dasar luka.”

Gerbang terbuka sedikit.

Di baliknya terlihat

sebuah rumah tua

berdiri di tengah lautan gelap.

Pada jendelanya

duduk seorang anak kecil

yang memiliki wajah sang pengembara.

Anak itu memeluk pedang kayu

dan menunggu seseorang pulang.

Di belakang rumah

menjulang gunung tertinggi

yang pernah dilihatnya.

Puncaknya tertutup awan hitam.

Di lerengnya tertulis:

“GUNUNG ASAL LUKA —

TEMPAT SEORANG MANUSIA

PERTAMA KALI BELAJAR

BAHWA IA HARUS MENJADI KUAT

AGAR LAYAK DICINTAI.”

Pengembara menggenggam tongkat.

Kapal merah berhenti bergerak.

Tidak ada angin.

Tidak ada awak.

Tidak ada orang lain

yang dapat menemaninya masuk.

Dari cermin kecil

terdengar suara nakhoda:

“Engkau telah menghadapi dunia

yang ingin menjadikanmu berhala.”

Anak di jendela

mengangkat wajah.

Air matanya jatuh

ke lautan yang gelap.

“Sekarang hadapilah bagian dirimu

yang menjadikan penderitaan

sebagai alasan untuk tidak pernah

melepaskan baju perang.”

Pengembara turun dari kapal.

Setiap langkah di atas air

membangunkan satu kenangan.

Pintu rumah tua

terbuka sendiri.

Anak kecil berdiri di sana.

Ia tidak menyambut.

Tidak memeluk.

Tidak pula tersenyum.

Ia hanya bertanya:

“Mengapa kau baru pulang sekarang?”

Seluruh lautan menjadi sunyi.

Pengembara tidak memiliki jawaban.

Untuk pertama kalinya,

ia menyadari bahwa kalimat yang paling sulit

bukanlah petuah bagi kerajaan,

bukan perintah bagi pasukan,

dan bukan jawaban bagi ribuan pintu.

Kalimat paling sulit

adalah kalimat sederhana

yang harus diucapkan

kepada dirinya sendiri:

“Maafkan aku

karena terlalu lama meninggalkanmu.”

Anak itu menatapnya.

Gunung Asal Luka berguncang.

Pintu rumah terbuka lebih lebar.

Dan dari dalam kegelapan

keluar ribuan bayangan

yang membawa seluruh rasa sakit

yang dahulu membuat pengembara

bersumpah tidak akan pernah

menjadi lemah lagi.

Perjalanan menuju kerajaan luar

telah selesai.

Namun perjalanan menuju rumah batinnya

baru saja dimulai.


PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Kedelapan — Gunung Asal Luka dan Anak yang Menunggu

Pintu rumah tua terbuka lebih lebar.

Dari dalamnya keluar ribuan bayangan

yang membawa suara masa lalu,

langkah-langkah yang pernah menjauh,

janji yang tidak ditepati,

dan tatapan manusia

yang membuat seorang anak belajar

menyembunyikan air matanya.

Bayangan pertama

membawa mangkuk kosong.

Bayangan kedua

membawa pakaian yang terlalu besar.

Bayangan ketiga

menggenggam sebuah surat

yang tidak pernah selesai ditulis.

Sedangkan bayangan paling tinggi

memikul sebuah pintu besi

yang selalu terkunci dari dalam.

Mereka mengelilingi pengembara

tanpa menyerang.

Namun setiap kali salah satu bayangan

melintas di hadapannya,

dadanya terasa seperti disentuh

oleh luka yang telah lama

diberi nama lain.

Kesibukan.

Tanggung jawab.

Kekuatan.

Pengabdian.

Kesabaran.

Semua nama itu pernah dipakainya

untuk menutupi satu pengakuan sederhana:

“Aku pernah terluka

dan tidak mengetahui

kepada siapa harus menangis.”

Anak kecil di ambang pintu

masih memegang pedang kayu.

Ujung pedang itu telah retak.

Gagangnya dibalut kain usang,

seolah telah digenggam

selama bertahun-tahun.

“Mengapa kau membawa pedang?”

tanya pengembara.

Anak itu menjawab:

“Agar tidak ada lagi

yang dapat menyakitiku.”

“Apakah pedang itu berhasil?”

Anak tersebut menunduk.

“Tidak.”

“Lalu mengapa masih kaupegang?”

“Karena aku tidak tahu

bagaimana caranya hidup

tanpa bersiap melawan.”

Pengembara mendekat satu langkah.

Anak itu segera mengangkat pedangnya.

“Jangan dekat-dekat!”

Pengembara berhenti.

Ia telah menghadapi naga,

raja tanpa hati,

pasukan tanpa bayangan,

dan berhala yang dibangun

dari jutaan pujian.

Namun di hadapan seorang anak

yang ketakutan,

seluruh keberaniannya

tidak berguna bila dipakai memaksa.

Maka ia berlutut

beberapa langkah dari pintu.

“Aku tidak akan mengambil pedangmu.”

Anak itu menatap curiga.

“Semua orang berkata begitu

sebelum menyuruhku menjadi lemah.”

“Aku tidak akan menyuruhmu lemah.”

“Lalu apa maumu?”

“Aku ingin duduk di sini

sampai kau merasa cukup aman

untuk berbicara.”

Anak itu tidak menjawab.

Pengembara pun duduk

di atas tanah basah.

Malam turun.

Tidak ada lentera.

Tidak ada phoenix.

Tidak ada ikan emas

yang membawa cahaya dari laut.

Hanya suara angin

melewati celah-celah rumah

dan bunyi gunung

yang sesekali bergemuruh

di kejauhan.

Satu jam berlalu.

Kemudian dua.

Anak itu tetap berdiri

dengan pedang terangkat.

Pada jam ketiga,

tangannya mulai gemetar.

Pada jam keempat,

pedang kayu turun sedikit.

Pada jam kelima,

ia bertanya:

“Apakah kau tidak lelah?”

Pengembara menjawab:

“Aku lelah.”

Anak itu terkejut.

“Mengapa mengakuinya?”

“Karena kelelahan tidak menjadi lebih ringan

hanya karena disembunyikan.”

“Bukankah orang kuat

tidak boleh terlihat lelah?”

“Orang kuat pun memiliki tubuh,

hati, dan batas.”

Anak itu memandang pedangnya.

“Dahulu aku menangis,

tetapi tidak seorang pun datang.”

Pengembara menundukkan kepala.

“Aku tahu.”

“Tidak.

Kau tidak tahu.”

Anak itu tiba-tiba berteriak.

“Kau pergi!”

Gunung Asal Luka berguncang.

Batu-batu di lerengnya

jatuh ke laut.

“Saat aku ketakutan,

kau pergi menjadi pendekar!”

Bayangan-bayangan di sekeliling rumah

mulai bergerak cepat.

“Saat aku kesepian,

kau pergi mencari kerajaan!”

Angin berubah menjadi badai.

“Saat aku ingin dipeluk,

kau berkata kita harus kuat!”

Pedang kayu memancarkan api hitam.

“Saat aku ingin beristirahat,

kau menyuruhku terus berjalan!”

Pengembara tidak membela diri.

Setiap kalimat anak itu

memukul lebih keras

daripada tongkat naga putih.

“Kau menolong orang lain,”

lanjut sang anak,

“tetapi mengunciku di rumah ini.”

“Kau mendengarkan ribuan manusia,

tetapi tidak pernah kembali

mendengarkan aku.”

Air mata mengalir di wajahnya.

Namun ia tetap menggenggam pedang.

“Sekarang kau datang

setelah semua orang memujimu.”

“Apakah kau pulang

karena benar-benar mencariku,

atau karena ingin menjadi pahlawan

bahkan di dalam lukamu sendiri?”

Pengembara menahan napas.

Pertanyaan itu membuka

retakan terdalam dalam dadanya.

Ia ingin berkata:

“Aku telah berjuang.”

Ia ingin menjelaskan

betapa berat jalan yang ditempuhnya.

Ia ingin menunjukkan

bahwa semua pengorbanan

dilakukan agar mereka selamat.

Namun ia teringat Lautan Kesembilan.

Ia teringat bahwa penjelasan

kadang digunakan manusia

untuk menghindari tanggung jawab.

Maka ia berkata:

“Aku tidak mempunyai alasan

yang dapat menghapus kesepianmu.”

Api hitam di pedang kayu

mengecil sedikit.

“Aku memang pergi.”

Gunung berhenti berguncang.

“Aku meninggalkanmu

karena kupikir menjadi kuat

berarti tidak lagi merasakan luka.”

Anak itu terdiam.

“Aku keliru.”

Satu bayangan di depan rumah

berubah menjadi hujan.

“Aku membangun baju perang

dari kesibukan, pengetahuan,

pengabdian, dan keberanian.”

“Namun di dalam baju itu,

kau tetap menunggu sendirian.”

Anak tersebut menurunkan pedang.

Belum sepenuhnya.

Tetapi cukup rendah

untuk memperlihatkan wajahnya.

“Apakah sekarang

kau akan membawaku keluar?”

Pengembara menjawab:

“Hanya bila kau bersedia.”

“Bagaimana bila aku belum siap?”

“Aku akan duduk lebih lama.”

“Bagaimana bila aku marah?”

“Aku akan mendengarkan

tanpa memaksamu segera memaafkan.”

“Bagaimana bila aku tidak percaya kepadamu?”

Pengembara menatap matanya.

“Kepercayaan tidak dapat diminta

hanya karena aku telah meminta maaf.”

“Lalu bagaimana mendapatkannya kembali?”

“Dengan hadir berulang kali,

menepati hal-hal kecil,

dan tidak meninggalkanmu

ketika perasaanmu membuatku tidak nyaman.”

Anak itu akhirnya

meletakkan pedang kayu di lantai.

Namun begitu pedang terlepas,

tubuhnya jatuh.

Pengembara bergerak cepat

dan menahannya.

Untuk sesaat anak itu menegang.

Kemudian seluruh pertahanannya runtuh.

Ia menangis di dada pengembara.

Bukan tangis yang indah.

Bukan tangis yang tenang.

Tangis itu pecah,

tersendat,

penuh marah,

penuh kecewa,

dan penuh kata-kata

yang tidak pernah sempat diucapkan.

Pengembara tidak menyuruhnya diam.

Tidak berkata semuanya akan baik-baik saja.

Tidak memintanya segera ikhlas.

Ia hanya memeluknya

dan membiarkan air mata

menjadi bahasa pertama

yang akhirnya dipercaya.

Setiap tetes yang jatuh

mengenai lantai rumah.

Dari tetesan pertama

tumbuh rumput.

Dari tetesan kedua

muncul bunga-bunga liar.

Dari tetesan ketiga

mengalir sungai kecil

menuju Gunung Asal Luka.

Sungai itu mendaki lereng,

melawan arah air,

seolah air mata yang selama ini tertahan

sedang pulang menuju tempat

ia pertama kali dibekukan.

Ketika tangis mulai mereda,

anak itu menunjuk ke dalam rumah.

“Masih ada yang harus kau lihat.”

Pengembara berdiri.

Mereka memasuki ruang utama.

Rumah tersebut tampak kecil dari luar,

tetapi di dalamnya terdapat

lorong yang sangat panjang.

Di sisi kanan lorong

tergantung ratusan topeng.

Topeng anak penurut.

Topeng pendekar pemberani.

Topeng guru bijaksana.

Topeng penyelamat.

Topeng manusia yang selalu tenang.

Topeng seseorang

yang tidak pernah membutuhkan bantuan.

Pada setiap topeng

tertulis satu kalimat:

Agar diterima.

Agar tidak ditinggalkan.

Agar tidak dipermalukan.

Agar terlihat berguna.

Agar layak dicintai.

Pengembara menyentuh

topeng orang kuat.

Sekejap kemudian,

lorong menghilang.

Ia melihat dirinya

sebagai seorang anak

yang baru saja terjatuh.

Lututnya berdarah.

Ia ingin menangis,

tetapi dari kejauhan terdengar suara:

“Jangan cengeng.”

Anak itu menelan tangisnya.

Topeng pertama tumbuh.

Kemudian ia melihat dirinya

melakukan kesalahan.

Ia ingin mengaku,

tetapi seseorang berkata:

“Kalau kau salah,

orang tidak akan menghargaimu.”

Topeng kedua muncul.

Ia melihat dirinya membutuhkan pelukan,

tetapi tidak ada tangan

yang terulur.

Maka ia belajar

memeluk dirinya dengan baju perang.

Topeng ketiga lahir.

Pengembara kembali ke lorong.

Anak kecil berdiri di sampingnya.

“Topeng-topeng itu menyelamatkan kita,”

katanya.

“Benar,” jawab pengembara.

“Lalu mengapa harus dilepaskan?”

“Karena sesuatu yang dahulu melindungi

dapat berubah menjadi penjara

bila terus dikenakan

setelah bahaya berlalu.”

Pengembara mengambil topeng orang kuat.

Ia tidak memecahkannya.

Ia meletakkannya di lantai

dengan penuh hormat.

“Terima kasih

karena dahulu membantuku bertahan.”

Topeng itu berubah

menjadi daun emas.

Ia mengambil topeng anak penurut.

“Terima kasih

karena dahulu membantuku

menghindari kemarahan orang lain.”

Topeng berubah menjadi bunga.

Ia mengambil topeng penyelamat.

“Terima kasih

karena memberiku tujuan

saat hidup terasa kosong.”

Topeng itu berubah

menjadi lentera kecil.

Satu per satu,

ia melepaskan topeng

tanpa membenci bagian dirinya

yang pernah membutuhkannya.

Setiap topeng yang diterima

berubah menjadi sesuatu

yang berguna tetapi tidak menguasai.

Topeng keberanian

menjadi sandal untuk berjalan.

Topeng kebijaksanaan

menjadi buku catatan kosong.

Topeng kesabaran

menjadi bangku tempat beristirahat.

Topeng pengabdian

menjadi mangkuk untuk berbagi makanan.

Topeng penyelamat

menjadi lentera

yang hanya menerangi beberapa langkah,

bukan seluruh jalan manusia.

Di ujung lorong

tersisa satu topeng.

Wajahnya polos.

Tidak tersenyum.

Tidak menangis.

Tidak menunjukkan siapa pun.

Pada dahinya tertulis:

“Aku baik-baik saja.”

Pengembara mengangkatnya.

Topeng itu sangat berat.

Jauh lebih berat

daripada mahkota hitam,

singgasana putih,

dan sembilan nama terlarang.

Begitu disentuh,

rumah dipenuhi suara-suara masa lalu:

“Aku tidak apa-apa.”

“Aku sanggup sendiri.”

“Tidak perlu memikirkan aku.”

“Aku sudah terbiasa.”

“Yang lain lebih membutuhkan.”

“Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.”

Setiap kalimat membentuk

satu lapisan batu

di sekeliling hati pengembara.

Anak kecil memandangnya.

“Topeng itulah

yang paling lama kaupakai.”

“Mengapa terasa begitu berat?”

“Karena ia menyimpan

semua pertolongan yang tidak pernah kauminta.”

Pengembara mencoba meletakkannya,

tetapi topeng tersebut

menempel pada tangannya.

Ia menarik lebih kuat.

Topeng semakin berat.

Suara dari Gunung Asal Luka berkata:

“Topeng ini tidak dilepaskan

dengan kekuatan.”

“Lalu bagaimana?”

“Ucapkan apa yang disembunyikannya.”

Pengembara menutup mata.

“Aku tidak selalu baik-baik saja.”

Topeng retak sedikit.

“Aku pernah merasa kesepian

meski dikelilingi banyak manusia.”

Retakan bertambah.

“Aku pernah memberi nasihat

karena tidak tahu

bagaimana meminta ditemani.”

Sebagian topeng jatuh.

“Aku pernah menolong orang lain

agar tidak perlu melihat

betapa aku sendiri membutuhkan pertolongan.”

Topeng pecah menjadi dua.

“Aku pernah takut

bahwa bila manusia melihat kelemahanku,

mereka tidak lagi mencintaiku.”

Topeng itu akhirnya runtuh.

Di baliknya tidak terdapat cahaya.

Hanya sebuah wajah manusia biasa

yang letih dan basah oleh air mata.

Anak kecil tersenyum tipis.

“Wajah itu tidak sempurna.”

“Benar.”

“Apakah tetap layak dicintai?”

Pengembara menjawab:

“Ia tidak harus sempurna

untuk layak menerima kasih.”

Pada saat itu,

seluruh topeng di lorong

berubah menjadi kawanan burung.

Mereka terbang keluar rumah,

mengitari gunung,

lalu hinggap di pohon-pohon

yang tumbuh di lereng batu.

Di ujung lorong terdapat ruang kecil.

Di tengah ruang itu

berdiri sebuah ranjang kosong.

Di bawahnya tersimpan

peti kayu sederhana.

Anak kecil menunjuk peti tersebut.

“Di sanalah sumpah pertama disimpan.”

Pengembara membuka tutupnya.

Di dalam peti

terdapat selembar kain hitam

dan sebuah batu berbentuk hati.

Pada kain itu tertulis:

“Aku tidak akan membutuhkan siapa pun.”

Sedangkan pada batu:

“Aku harus menjadi kuat

agar layak dicintai.”

Pengembara menyentuh batu hati.

Seketika rumah tua menghilang.

Ia berdiri di tengah badai masa lalu.

Di hadapannya,

seorang anak menunggu

di depan pintu yang tidak pernah terbuka.

Hari pertama, anak itu berharap.

Hari kedua, ia masih menunggu.

Hari ketiga,

ia mulai menyalahkan dirinya.

“Mungkin aku terlalu merepotkan.”

Hari keempat:

“Mungkin aku tidak cukup baik.”

Hari ketujuh:

“Mungkin aku harus lebih kuat.”

Hari keseratus,

anak itu berhenti menunggu.

Ia mengambil pedang kayu,

memakai topeng orang kuat,

lalu bersumpah:

“Aku tidak akan pernah

membutuhkan siapa pun lagi.”

Badai berhenti.

Pengembara kembali berdiri

di dalam ruang kecil.

Batu hati masih berada

di tangannya.

“Siapa yang mengukir sumpah ini?”

tanyanya.

Anak kecil menjawab:

“Kita sendiri.”

“Bisakah dihapus?”

“Tidak dengan menyangkal

bahwa sumpah itu pernah menyelamatkan kita.”

Pengembara memeluk batu tersebut.

“Dahulu sumpah ini

membuat kita tetap berdiri.”

Batu menjadi hangat.

“Namun sekarang

kita tidak lagi hidup

di depan pintu yang sama.”

Tulisan pada batu mulai memudar.

“Kita boleh membutuhkan orang lain

tanpa menyerahkan seluruh hidup kepada mereka.”

Retakan muncul.

“Kita boleh meminta pertolongan

tanpa menjadi tidak berharga.”

Batu terbelah.

“Dan kita tetap layak dicintai

ketika sedang lemah, bingung,

gagal, atau belum mengetahui jalan.”

Batu hati pecah.

Dari dalamnya keluar

seekor burung kecil berwarna biru.

Burung itu terbang mengelilingi anak,

lalu hinggap di bahunya.

Untuk pertama kalinya,

anak tersebut tertawa.

Bukan karena semua luka hilang.

Melainkan karena sumpah lama

tidak lagi menentukan

seluruh masa depannya.

Kain hitam di dalam peti

berubah menjadi selimut hangat.

Anak itu membawanya

ke ranjang kosong.

“Untuk siapa selimut ini?”

tanya pengembara.

“Untuk kita,

ketika suatu hari merasa lelah.”

“Apakah kita boleh beristirahat?”

“Gunung tidak akan runtuh

hanya karena kita berhenti satu malam.”

Rumah tua bergetar.

Jendelanya terbuka.

Cahaya pertama masuk.

Di luar, Gunung Asal Luka

masih menjulang sangat tinggi.

Namun awan hitam di puncaknya

mulai menipis.

Anak kecil berjalan

menuju halaman.

“Kita belum selesai,” katanya.

“Apa lagi yang menunggu?”

Anak menunjuk gunung.

Pada lerengnya terdapat tujuh gua.

Masing-masing mengeluarkan cahaya berbeda.

Gua pertama bercahaya merah.

Gua kedua biru.

Gua ketiga putih.

Gua keempat hitam.

Gua kelima kuning.

Gua keenam hijau.

Sedangkan gua ketujuh

tidak mengeluarkan cahaya,

tetapi dari dalamnya

terdengar suara detak jantung.

Pada kaki gunung

berdiri tujuh sosok

mengenakan jubah panjang.

Sosok pertama membawa rantai.

Sosok kedua membawa mangkuk pecah.

Sosok ketiga membawa cermin.

Sosok keempat membawa lilin padam.

Sosok kelima membawa timbangan.

Sosok keenam membawa benih.

Sosok ketujuh berdiri

dengan tangan kosong.

Anak berkata:

“Mereka adalah tujuh penjaga

dari luka yang tidak pernah

diberi kesempatan berbicara.”

“Apakah mereka musuh?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa membawa rantai

dan cermin?”

“Karena luka memiliki banyak cara

menjaga dirinya.”

Penjaga pertama melangkah maju.

Wajahnya tertutup kain merah.

“Aku adalah Luka Penolakan,” katanya.

“Aku mengajarkan anak ini

untuk pergi lebih dahulu

sebelum orang lain sempat meninggalkannya.”

Penjaga kedua mengangkat mangkuk pecah.

“Aku adalah Luka Kekurangan.

Aku membuatnya terus mengumpulkan

walau tidak pernah merasa cukup.”

Penjaga ketiga menunjukkan cermin.

“Aku adalah Luka Perbandingan.

Aku membuatnya menilai harga dirinya

melalui kehidupan orang lain.”

Penjaga keempat menyalakan

lilin yang tidak mempunyai api.

“Aku adalah Luka Kehilangan.

Aku membuatnya takut mencintai

karena semua yang dicintai

suatu hari dapat pergi.”

Penjaga kelima memegang timbangan.

“Aku adalah Luka Ketidakadilan.

Aku membuatnya menghitung

setiap kebaikan yang tidak dibalas.”

Penjaga keenam menunjukkan benih.

“Aku adalah Luka Kegagalan.

Aku membuatnya takut menanam

karena tidak semua benih tumbuh.”

Penjaga ketujuh

tetap dengan tangan kosong.

Pengembara bertanya:

“Dan engkau?”

Sosok itu membuka tudungnya.

Wajahnya sama dengan wajah pengembara,

namun jauh lebih tua.

“Aku adalah Luka Tidak Dicintai.”

Seluruh gunung menjadi sunyi.

“Aku tidak membawa benda,”

lanjutnya,

“karena aku dapat menggunakan

benda apa pun untuk membuktikan

bahwa seseorang tidak layak dicintai.”

Ia menunjuk kekayaan.

“Bila kau tidak memilikinya,

aku berkata kau tidak berharga.”

Ia menunjuk keberhasilan.

“Bila kau gagal,

aku berkata tidak ada yang bangga kepadamu.”

Ia menunjuk hubungan manusia.

“Bila seseorang pergi,

aku berkata semua orang

akhirnya akan meninggalkanmu.”

Ia menunjuk pengabdian.

“Bila pertolonganmu tidak dibutuhkan,

aku berkata hidupmu tidak berguna.”

Ia menunjuk kesendirian.

“Bila malam menjadi sunyi,

aku berkata tidak ada seorang pun

yang sungguh-sungguh mencintaimu.”

Anak kecil bersembunyi

di belakang pengembara.

Penjaga ketujuh berkata:

“Aku adalah penjaga puncak.”

“Apa yang kaujaga?”

“Sebuah ruang

tempat seluruh kasih yang pernah diterima

tidak dapat masuk.”

“Mengapa?”

“Karena anak ini percaya

kasih selalu memiliki syarat.”

Pengembara menggenggam tongkat kayu.

Namun anak menarik ujung jubahnya.

“Jangan melawannya.”

“Mengapa?”

“Semakin ia dilawan,

semakin banyak bukti

yang akan ia ciptakan.”

Penjaga Luka Tidak Dicintai tersenyum.

“Anak itu benar.”

Ia mendekati pengembara.

“Kau dapat mengalahkan kerajaan,

tetapi kau tidak dapat memaksakan

dirimu merasa layak dicintai.”

“Lalu bagaimana melewatimu?”

“Naiklah ke tujuh gua.”

“Apa yang ada di sana?”

“Bukan jawaban.”

“Lalu?”

“Kenangan yang selama ini

hanya kauingat dari sisi luka.”

Ketujuh penjaga berbalik

dan mulai mendaki.

Anak kecil memegang tangan pengembara.

Tangannya dingin.

“Apakah kau takut?”

tanya pengembara.

“Ya.”

Lonceng Ketakutan di pinggangnya

berbunyi lembut.

Bahaya itu nyata,

tetapi tidak berarti

mereka harus kembali bersembunyi.

“Aku pun takut,”

kata pengembara.

“Orang dewasa boleh takut?”

“Boleh.”

“Apakah kita tetap naik?”

“Kita naik perlahan.”

Mereka melangkah

menuju gua pertama.

Setiap langkah

membuat rumah tua di belakangnya

berubah sedikit demi sedikit.

Dinding yang retak

ditumbuhi tanaman merambat.

Atap yang bocor

menjadi tempat cahaya masuk.

Pintu yang dahulu terkunci

dibiarkan terbuka.

Bukan karena dunia telah aman sepenuhnya,

melainkan karena rumah itu

tidak lagi harus menjadi penjara.

Ketika mereka mencapai

mulut gua merah,

penjaga Luka Penolakan

menunggu di dalam.

Dinding gua dipenuhi

nama-nama orang yang pernah pergi.

Sebagian pergi karena kematian.

Sebagian karena pilihan.

Sebagian karena salah paham.

Sebagian karena pengembara sendiri

mendorong mereka menjauh

sebelum sempat mendekat.

Di tengah gua

terdapat sebuah kursi kosong.

Di atasnya tergeletak surat:

“Aku pergi

bukan karena engkau tidak layak dicintai.”

Pengembara mengambil surat itu.

Namun bagian bawahnya hilang.

Penjaga Luka Penolakan berkata:

“Selama ini kau hanya membaca

bagian yang ditulis oleh ketakutanmu.”

“Apa bagian yang hilang?”

“Temukan sendiri

melalui semua perpisahan

yang tidak pernah kauizinkan selesai.”

Dari dinding gua

muncul pintu-pintu kecil.

Di balik pintu pertama

berdiri seorang sahabat lama.

Di balik pintu kedua

seseorang yang pernah dicintai.

Di balik pintu ketiga

seseorang yang dahulu menjanjikan

tidak akan pergi.

Di balik pintu keempat

berdiri pengembara sendiri

pada usia yang lebih muda.

Masing-masing memegang

sepotong kalimat dari surat.

Sahabat lama berkata:

“Aku pergi

karena jalan hidup kita berbeda.”

Orang yang pernah dicintai berkata:

“Aku pergi

karena aku pun memiliki luka

yang tidak mampu kujelaskan.”

Orang yang pernah berjanji berkata:

“Aku gagal menepati kata-kataku.

Kesalahanku tidak menentukan nilaimu.”

Sedangkan pengembara muda berkata:

“Aku meninggalkan banyak bagian diriku

agar dapat diterima orang lain.”

Potongan-potongan kalimat

terbang menuju surat.

Tulisan lengkapnya berbunyi:

“Aku pergi

bukan karena engkau tidak layak dicintai.

Sebagian kepergian adalah pilihan,

sebagian adalah keterbatasan,

sebagian adalah akhir yang tidak dapat dicegah,

dan sebagian terjadi

karena kita belum mampu mencintai

tanpa saling melukai.”

Anak kecil membaca surat itu.

“Apakah ini berarti

semua yang pergi harus dimaafkan?”

Pengembara menjawab:

“Tidak semua harus diterima kembali.”

“Mengapa?”

“Memaafkan tidak selalu berarti

membuka kembali pintu

kepada orang yang terus merusak rumah.”

“Lalu apa artinya?”

“Melepaskan keyakinan

bahwa kepergian mereka

membuktikan kita tidak berharga.”

Gua merah bergetar.

Nama-nama di dinding

berubah menjadi daun.

Sebagian daun jatuh.

Sebagian tetap menempel.

Sebagian diterbangkan angin

menuju tempat yang tidak diketahui.

Penjaga Luka Penolakan

membuka kain merah dari wajahnya.

Ternyata ia tidak mempunyai mulut.

“Mengapa wajahmu demikian?”

tanya anak.

“Karena setiap kali seseorang pergi,

kalian membuat kesimpulan

tanpa pernah berbicara kepadaku.”

Pengembara menyentuh wajahnya.

Sebuah mulut muncul.

Penjaga itu berkata:

“Penolakan memang menyakitkan.

Namun ia tidak selalu berarti

seluruh dirimu ditolak.”

Tubuhnya berubah menjadi

sebuah pintu merah kecil.

Pintu itu dapat ditutup

ketika batas perlu dijaga,

tetapi juga dapat dibuka

tanpa ketakutan berlebihan.

Mereka melanjutkan pendakian.

Di bawah gunung,

laut mulai berubah warna.

Dari hitam menjadi biru tua.

Dari biru tua menjadi nila.

Namun ketika mendekati gua kedua,

terdengar suara gemuruh

dari puncak.

Penjaga Luka Tidak Dicintai

berdiri sangat jauh di atas.

Ia mengangkat kedua tangan.

Awan hitam membentuk

sebuah wajah raksasa.

Wajah itu berkata:

“Jangan percaya kepada perubahan kecil.”

“Satu surat tidak akan menghapus

seluruh hidup yang telah membuatmu kecewa.”

Anak kecil berhenti.

Tangannya kembali dingin.

“Mungkin ia benar,” katanya.

Pengembara menatap puncak.

“Mungkin satu langkah

tidak menyelesaikan perjalanan.”

“Lalu apa gunanya?”

“Satu langkah tidak harus

menjadi seluruh jalan

agar tetap berarti.”

Mereka kembali berjalan.

Namun sebelum mencapai gua kedua,

Gunung Asal Luka terbelah.

Dari retakannya keluar

sebuah naga hitam

yang tubuhnya tersusun

dari semua kalimat buruk

yang pernah dipercaya pengembara.

Pada sisiknya tertulis:

Kau tidak cukup baik.

Kau akan ditinggalkan.

Kau hanya berharga bila berguna.

Jangan mempercayai siapa pun.

Jangan tunjukkan kelemahan.

Cinta selalu berakhir dengan kehilangan.

Naga itu terbang mengitari gunung.

Setiap kepakan sayapnya

memadamkan cahaya dari keenam gua.

Hanya gua ketujuh

yang tetap berdetak dalam gelap.

Naga membuka mulut

dan mengeluarkan suara

yang sangat mirip

dengan suara pengembara sendiri:

“Kembalilah ke rumah.”

“Mengapa harus membuka luka

yang sudah lama dikubur?”

“Bukankah kau telah mampu hidup

dengan baju perangmu?”

Anak kecil menggenggam pedang kayu

yang tadi telah diletakkan.

Pedang itu muncul kembali

di tangannya.

Pengembara melihatnya.

“Apakah kau ingin melawan naga?”

Anak itu menggeleng.

“Aku ingin bersembunyi.”

Pengembara berlutut.

“Kita boleh berhenti sebentar.”

“Tetapi ia akan mengejar.”

“Maka kita tidak akan berpura-pura

naga itu tidak ada.”

“Apakah kau dapat mengalahkannya?”

Pengembara memandang

tongkat kayu sederhana di tangannya.

“Aku belum tahu.”

Anak itu menatapnya lama.

Dahulu jawaban “aku tidak tahu”

akan membuatnya semakin takut.

Namun kini kalimat itu

terdengar jujur.

“Lalu apa yang kita lakukan?”

Pengembara berdiri.

“Kita dengarkan

dari mana suaranya berasal.”

Naga menyelam

menuju mereka.

Alih-alih mengangkat senjata,

pengembara membuka kedua tangannya.

Naga berhenti tepat di depan wajahnya.

Matanya merah.

Taringnya panjang.

Namun di dalam pupilnya

terlihat seorang anak

sedang bersembunyi di bawah meja.

Pengembara berkata:

“Engkau bukan naga.”

Makhluk itu meraung.

“Aku adalah ketakutan

yang menyelamatkanmu!”

“Engkau pernah menyelamatkan kami.”

Naga terdiam.

“Ketika dunia terasa berbahaya,

engkau mengajarkan kami

untuk tidak terlalu berharap.”

Sisik bertuliskan

“Kau akan ditinggalkan”

mulai retak.

“Ketika kasih terasa tidak pasti,

engkau mengajarkan kami

agar selalu siap pergi.”

Sisik kedua pecah.

“Ketika pertolongan tidak datang,

engkau mengajarkan kami

menjadi kuat sendirian.”

Sayap naga turun.

“Namun sekarang

engkau masih membakar seluruh langit,

meski sebagian bahaya telah berlalu.”

Naga memandang anak kecil.

“Bila aku berhenti menjaga,

siapa yang akan melindunginya?”

Pengembara menjawab:

“Aku.”

“Engkau pernah meninggalkannya.”

“Benar.”

“Mengapa aku harus percaya?”

“Engkau tidak harus percaya sekaligus.”

Pengembara mengulurkan tangan.

“Berikan aku satu malam

untuk berjaga bersamamu.”

Naga hitam menundukkan kepala.

Tubuhnya menyusut perlahan.

Dari sebesar gunung,

menjadi sebesar rumah.

Dari sebesar rumah,

menjadi sebesar kuda.

Akhirnya ia berubah

menjadi seekor naga kecil

yang dapat melingkar

di bahu sang anak.

Tulisan-tulisan buruk

pada sisiknya menghilang.

Tersisa satu kalimat:

“Waspada, tetapi tetap hidup.”

Anak kecil menyentuh kepalanya.

Naga itu tidak lagi menyemburkan api.

Ia hanya menghembuskan

asap hangat seperti napas.

Cahaya dari enam gua

menyala kembali.

Namun gua ketujuh

berdenyut semakin keras.

Detaknya menyatu

dengan jantung pengembara.

Dum.

Langit menjadi merah tua.

Dum.

Gunung kembali menjulang,

lebih tinggi daripada sebelumnya.

Dum.

Dari puncaknya turun

sebuah tangga yang dibuat

dari tulang-tulang sumpah lama.

Penjaga Luka Tidak Dicintai

berdiri di anak tangga tertinggi.

Di belakangnya terdapat

sebuah pintu berbentuk hati.

“Enam gua lain

masih dapat menunggu,” katanya.

“Mengapa?”

tanya pengembara.

“Karena sesuatu telah terbangun

di balik pintu ketujuh.”

“Apa yang terbangun?”

Sosok tua itu menoleh

kepada pintu hati.

Dari baliknya terdengar

ribuan suara manusia:

“Cintailah aku.”

“Jangan tinggalkan aku.”

“Buktikan bahwa aku penting.”

“Pilih aku.”

“Butuhkan aku.”

“Jangan melihat kelemahanku.”

“Jangan berubah.”

“Jangan pergi.”

Pintu hati mulai retak.

Cahaya merah keluar dari celahnya.

“Di balik pintu itu,”

kata penjaga,

“tertidur Raja Kelaparan Kasih.”

“Siapakah dia?”

“Ia lahir ketika seorang anak

percaya bahwa kasih adalah sesuatu

yang harus direbut, dibuktikan,

atau dibayar dengan pengorbanan diri.”

Anak kecil memegang dada.

“Apakah ia bagian dariku?”

“Ia adalah bagian dari kalian berdua.”

Pintu berbentuk hati

pecah seluruhnya.

Dari dalam gunung

muncul sosok raksasa

mengenakan jubah dari ribuan tangan.

Sebagian tangan memeluk.

Sebagian menarik.

Sebagian memberi bunga.

Sebagian menggenggam terlalu kuat

hingga bunga-bunga itu hancur.

Wajahnya berubah-ubah.

Kadang menjadi orang tua.

Kadang menjadi kekasih.

Kadang menjadi sahabat.

Kadang menjadi pengikut.

Kadang menjadi wajah pengembara sendiri.

Di dadanya terdapat lubang besar

yang terus menelan cahaya.

Semakin banyak cahaya masuk,

semakin besar lubang itu menjadi.

Raja Kelaparan Kasih membuka mata.

“Akhirnya kau pulang,” katanya.

Suaranya membuat seluruh laut

naik menuju langit.

“Berikan anak itu kepadaku.”

Pengembara berdiri

di depan sang anak.

“Untuk apa?”

“Aku akan membuatnya

tidak pernah kesepian lagi.”

Dari jubah ribuan tangan

muncul berbagai sosok

yang memanggil nama anak.

Mereka tersenyum.

Membawa hadiah.

Membuka pelukan.

Menjanjikan tidak akan pernah pergi.

Anak kecil melangkah satu kali.

Pengembara memegang tangannya.

Bukan untuk menahan,

melainkan mengingatkan bahwa ia tidak sendiri.

Raja itu berkata:

“Aku dapat memberimu

semua kasih yang dahulu tidak kauperoleh.”

“Apa harganya?”

tanya anak.

Raja Kelaparan Kasih tersenyum.

“Hanya satu.”

Lubang di dadanya melebar.

“Kau harus menjadi

apa pun yang mereka inginkan.”

Semua tangan pada jubahnya

menjulurkan pakaian berbeda.

Pakaian anak sempurna.

Pakaian pendekar.

Pakaian guru.

Pakaian penyelamat.

Pakaian manusia

yang selalu mengalah.

Pakaian seseorang

yang tidak pernah berkata tidak.

“Kenakan semuanya,” kata sang raja.

“Selama kau terus menyenangkan mereka,

mereka akan terus mencintaimu.”

Anak kecil memandang pengembara.

“Apakah cinta memang seperti itu?”

Pengembara merasakan luka

berdenyut di dalam dadanya.

Ia pernah hidup

dengan keyakinan yang sama.

Ia pernah menukar batas

dengan penerimaan.

Menukar kejujuran

dengan ketenangan sementara.

Menukar kebutuhan diri

dengan kesempatan untuk dibutuhkan.

Ia berlutut di samping anak.

“Kasih yang sehat tidak meminta kita

kehilangan diri sendiri

agar pantas menerimanya.”

Raja Kelaparan Kasih tertawa.

“Kata-kata indah!”

Ia mengangkat tangan.

Sekejap kemudian,

seluruh orang yang pernah dicintai pengembara

muncul di lereng gunung.

Mereka berkata:

“Berubahlah untuk kami.”

“Jangan kecewakan kami.”

“Jangan mempunyai batas.”

“Buktikan cintamu

dengan selalu mengalah.”

“Bila kau menolak,

berarti kau tidak sungguh mencintai.”

Anak kecil menutup telinganya.

Pengembara berdiri.

“Kasih tidak boleh dipakai

untuk mencabut hak seseorang

menjaga dirinya.”

Raja itu meraung.

“Tanpa pengorbanan,

tidak ada cinta!”

“Cinta memang meminta pengorbanan.”

Pengembara mengangkat tongkatnya.

“Tetapi pengorbanan yang sehat

tidak selalu dilakukan oleh satu pihak,

tidak dipaksakan dengan rasa bersalah,

dan tidak menjadikan luka

sebagai bukti kesetiaan.”

Salah satu tangan pada jubah raja

melepaskan genggamannya.

“Cinta membutuhkan kesabaran.”

“Benar,” jawab pengembara.

“Namun kesabaran bukan perintah

untuk membiarkan diri terus disakiti.”

Tangan kedua jatuh.

“Cinta berarti memaafkan!”

“Memaafkan tidak selalu berarti

menghapus batas.”

Tangan ketiga lenyap.

“Cinta berarti selalu hadir!”

“Manusia memiliki keterbatasan.

Hadir dengan jujur

lebih baik daripada janji abadi

yang tidak mampu ditepati.”

Ratusan tangan terlepas.

Raja Kelaparan Kasih

menjadi semakin kecil.

Namun lubang di dadanya

semakin besar.

Ia berteriak:

“Bila mereka pergi,

siapa yang akan mengisi lubang ini?”

Pengembara menatap lubang tersebut.

Di dalamnya ia melihat

dirinya sendiri

berlari dari satu manusia ke manusia lain,

meminta agar masing-masing

menutup kehampaan yang sama.

Namun setiap tangan manusia

hanya dapat menutupi sebentar.

Ketika tangan itu pergi,

lubang terasa lebih besar.

Ruang Kehampaan di dada pengembara

berdenyut lembut.

Ia memahami:

Tidak semua ruang kosong

harus diisi oleh orang lain.

Sebagian ruang

harus dipeluk, dirawat,

dan diserahkan kepada Alloh

tanpa memaksa manusia

menjadi obat bagi seluruh luka.

Pengembara mendekati sang raja.

“Lubang itu tidak akan tertutup

hanya dengan mengambil kasih

dari sebanyak-banyaknya manusia.”

“Lalu dengan apa?”

“Dengan belajar menerima kasih

tanpa menelannya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kasih bukan benda

yang dapat ditimbun

sampai rasa takut hilang selamanya.”

“Lalu?”

“Ia dialami, disyukuri,

dijaga, dan dilepaskan

ketika waktunya berubah.”

Pengembara menyentuh

tepi lubang di dada sang raja.

Tidak ada cahaya besar.

Tidak ada mukjizat.

Ia hanya berkata:

“Engkau tidak harus kenyang selamanya

untuk mengetahui bahwa hari ini

engkau telah menerima sesuatu.”

Anak kecil mendekat.

Ia mengambil selimut hangat

yang berasal dari sumpah lama,

lalu menutupkan sebagian lubang itu.

Naga kecil di bahunya

menghembuskan napas hangat.

Burung biru hinggap

di kepala sang raja.

Raja Kelaparan Kasih menangis.

Setiap air matanya

berubah menjadi tangan kecil

yang tidak lagi menarik.

Tangan-tangan itu hanya terbuka,

siap memberi dan menerima

tanpa menggenggam berlebihan.

Tubuh raja mengecil.

Dari raksasa sebesar gunung

menjadi seorang lelaki tua.

Dari lelaki tua

menjadi anak kecil kedua

yang duduk di tanah.

Anak itu memandang

anak pertama.

“Apakah kau akan meninggalkanku?”

Anak pertama menjawab:

“Aku tidak tahu

bagaimana masa depan.”

Anak kedua mulai menangis.

Namun anak pertama melanjutkan:

“Tetapi saat ini

aku duduk di sini.”

Kedua anak itu saling berpelukan.

Tidak ada janji abadi.

Tidak ada sumpah

bahwa mereka tidak akan pernah berpisah.

Hanya kehadiran nyata

yang tidak bersembunyi

di balik kepastian palsu.

Gunung Asal Luka

memancarkan cahaya dari dalam.

Batu-batunya tidak runtuh.

Gunung itu tetap berdiri.

Namun tulisan pada lerengnya berubah.

Dahulu tertulis:

“TEMPAT SEORANG MANUSIA

PERTAMA KALI BELAJAR

BAHWA IA HARUS MENJADI KUAT

AGAR LAYAK DICINTAI.”

Kini aksaranya berbunyi:

“TEMPAT SEORANG MANUSIA

BELAJAR BAHWA KEKUATAN

BUKAN SYARAT UNTUK DICINTAI,

MELAINKAN SALAH SATU CARA

MENJAGA KEHIDUPAN.”

Pengembara menatap puncak.

Enam gua yang belum dimasuki

masih menunggu.

Luka Kekurangan.

Luka Perbandingan.

Luka Kehilangan.

Luka Ketidakadilan.

Luka Kegagalan.

Dan Luka Tidak Dicintai

yang masih berdiri

di tangga tertinggi.

Penjaga tua itu berkata:

“Kau telah melemahkan

Raja Kelaparan Kasih.”

“Apakah ia telah sembuh?”

“Luka tidak selalu selesai

dalam satu pertemuan.”

“Apakah ia akan kembali?”

“Mungkin.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Kenali ia

sebelum ia kembali memakai mahkota.”

Angin dari laut

membawa suara lonceng.

Kapal merah masih menunggu

di kejauhan.

Namun di cakrawala,

air samudra mulai naik.

Dari bawah laut muncul

tujuh kapal tanpa layar.

Setiap kapal membawa

sebuah rumah tua yang serupa.

Di jendela masing-masing rumah

duduk seorang anak

yang memegang pedang kayu.

Pengembara memandangnya.

“Siapakah mereka?”

Penjaga tua menjawab:

“Mereka adalah anak-anak

dari kehidupan lain

yang lukanya terhubung

dengan luka di gunung ini.”

“Apakah aku harus menolong semuanya?”

Anak kecil di sampingnya

menggenggam tangannya.

“Kau baru saja berjanji

tidak meninggalkanku lagi.”

Pengembara terdiam.

Di masa lalu,

ia mungkin akan segera berlari

menuju tujuh kapal.

Membuka semua rumah.

Mendengarkan seluruh tangisan.

Namun kini ia mengerti

bahwa berbuat baik tidak harus dimulai

dengan meninggalkan bagian diri

yang sedang membutuhkan kehadiran.

Ia menatap tujuh kapal

dan berkata:

“Aku tidak akan datang

sebagai penyelamat.”

Cahaya dari rumah-rumah itu

bergetar.

“Aku akan mengirim lentera,

membuka jalur menuju gunung,

dan memanggil orang-orang

yang bersedia berjalan bersama.”

“Tetapi aku tidak akan

mengambil seluruh anak

dan menjadikan diriku

satu-satunya tempat mereka bergantung.”

Tongkat kayu di tangannya

menyentuh tanah.

Dari Gunung Asal Luka

tumbuh tujuh jalan cahaya.

Setiap jalan menuju satu kapal.

Di sepanjang jalan muncul

orang-orang biasa:

Seorang ibu yang pernah sembuh

dari kesedihannya.

Seorang ayah yang belajar meminta maaf.

Seorang sahabat yang mampu mendengarkan.

Seorang tabib yang merawat tubuh.

Seorang guru yang tidak takut dikoreksi.

Seorang pemimpin yang memahami batas.

Dan seorang pengembara lain

yang membawa mangkuk kosong.

Mereka berjalan bersama

menuju rumah-rumah di atas kapal.

Tidak ada satu orang

memegang seluruh kunci.

Anak kecil memandang pengembara.

“Apakah sekarang

kau akan terus bersamaku?”

Pengembara menjawab:

“Aku akan belajar kembali kepadamu

setiap kali mulai kehilangan diriku.”

“Itu bukan janji selamanya.”

“Bukan.”

“Mengapa?”

“Karena aku mungkin lupa,

lelah, salah, atau tersesat.”

Anak itu tampak kecewa.

Pengembara melanjutkan:

“Namun ketika aku menyadarinya,

aku akan berusaha pulang,

meminta maaf,

dan memperbaiki kehadiranku.”

Anak itu memikirkan kalimat tersebut.

Kemudian mengangguk.

“Janji itu lebih kecil.”

“Ya.”

“Tetapi terasa lebih nyata.”

Mereka berdiri

menghadap Gunung Asal Luka.

Puncaknya kini terlihat

di balik awan.

Di atas puncak

tumbuh sebuah pohon raksasa.

Akar-akarnya menembus gunung.

Dahan-dahannya menyentuh bintang.

Pada setiap daun

tertulis satu nama manusia

yang pernah mengasihi pengembara

dengan caranya sendiri.

Sebagian kasih sempurna.

Sebagian canggung.

Sebagian terlambat.

Sebagian bercampur luka.

Sebagian hanya hadir sebentar.

Namun semuanya pernah menjadi

setetes air

di tengah perjalanan panjang.

Di bawah pohon terdapat

sebuah sumur bercahaya.

Penjaga tua berkata:

“Di situlah tersimpan

air pertama yang dahulu

membuat Tiongkok Dasar Laut hidup.”

“Mengapa sumbernya berada

di Gunung Asal Luka?”

“Karena tempat yang paling terluka

sering menyimpan jalan

menuju kasih yang paling jujur.”

“Apakah air itu dapat

menyembuhkan seluruh gunung?”

“Tidak.”

“Lalu untuk apa?”

“Agar luka tidak berubah

menjadi racun.”

Pengembara memandang

enam gua yang tersisa.

Perjalanan belum selesai.

Masih ada kenangan

yang harus didengarkan.

Batas yang harus dibangun.

Kesedihan yang harus ditangisi.

Kemarahan yang harus diarahkan.

Dan kasih yang harus diterima

tanpa kehilangan diri sendiri.

Namun sebelum mereka mulai mendaki,

pohon di puncak gunung

menggugurkan satu daun.

Daun itu melayang turun

dan jatuh di tangan anak kecil.

Pada permukaannya tertulis:

“Engkau tidak perlu menjadi kuat

setiap saat untuk tetap layak dicintai.”

Anak itu membaca perlahan.

Kemudian menyerahkan daun tersebut

kepada pengembara.

“Simpanlah.”

“Untuk apa?”

“Agar ketika kau kembali

memakai baju perang,

kau ingat bahwa rumah ini

masih mempunyai pintu.”

Pengembara menyimpan daun

di dekat cermin kecil

dari Lautan Kesembilan.

Cermin mengingatkannya

agar tidak menjadi berhala.

Daun mengingatkannya

agar tidak menjadikan luka

sebagai alasan untuk terus berperang.

Mereka pun melangkah

menuju tangga gunung.

Namun saat kaki menyentuh

anak tangga pertama,

sumur cahaya di puncak

mendadak berubah merah.

Pohon raksasa mengguncangkan dahannya.

Seluruh nama pada daun

terhapus bersamaan.

Dari dalam sumur

terdengar suara seorang perempuan:

“Air pertama telah diracuni.”

Gunung bergetar.

Enam penjaga tersisa

serentak menoleh ke puncak.

Penjaga Luka Kehilangan

menjatuhkan lilin padamnya.

Penjaga Luka Ketidakadilan

mengangkat timbangan.

Penjaga Luka Tidak Dicintai

berbisik:

“Seseorang telah memasuki sumber

sebelum kalian tiba.”

Dari balik pohon

muncul bayangan berjubah putih.

Di tangannya terdapat

mangkuk yang dipenuhi air hitam.

Wajahnya tidak terlihat.

Namun pada punggung jubahnya

terukir lambang lama:

Seekor ikan emas

yang menelan burung phoenix.

Pengembara mengenali lambang itu.

Lambang kerajaan

yang dahulu menenggelamkan

Tiongkok Dasar Laut.

Sosok berjubah putih

mengangkat mangkuk

dan berkata:

“Kalian terlalu sibuk

menyembuhkan luka pribadi.”

“Sementara itu,

kami telah meminum

dari sumber kasih dunia.”

Langit berubah hitam.

Pohon raksasa mulai layu.

Tujuh jalan cahaya

menuju kapal-kapal anak

padam satu demi satu.

Sosok itu tertawa.

“Kini setiap manusia

yang mencari kasih

akan datang kepada kami.”

“Dan untuk mendapatkannya,

mereka harus menyerahkan

nama, kehendak, ingatan,

serta seluruh kebebasannya.”

Anak kecil menggenggam tangan pengembara.

Naga kecil di bahunya

mulai menggeram.

Pengembara mengangkat tongkat kayu.

Namun Penjaga Luka Tidak Dicintai

menghalangi jalannya.

“Jangan menyerang sekarang.”

“Sumber itu sedang diracuni!”

“Benar.”

“Lalu mengapa menahanku?”

Penjaga menunjuk dada pengembara.

Lubang kecil

dari Raja Kelaparan Kasih

masih belum sepenuhnya tertutup.

“Karena musuh di puncak

tidak hanya membawa racun.”

“Apa lagi?”

“Ia akan menawarkan kasih

yang paling ingin diterima

oleh bagian dirimu

yang belum selesai dipeluk.”

Sosok berjubah putih

membuka tudungnya.

Wajah yang terlihat

bukan wajah musuh.

Bukan pula wajah raja.

Ia memakai wajah seseorang

yang paling dirindukan pengembara.

Sosok itu mengulurkan tangan.

“Pulanglah kepadaku,” katanya lembut.

“Tinggalkan gunung,

anak kecil,

kerajaan, dan seluruh tugasmu.”

“Aku akan mencintaimu

tanpa pernah pergi.”

Anak kecil menatap pengembara

dengan takut.

Pohon cahaya terus layu.

Air hitam mengalir

menuruni lereng gunung.

Dan untuk pertama kalinya,

pengembara harus memilih:

Mengejar kasih

yang selama ini paling dirindukannya,

atau tetap berdiri

di samping bagian dirinya

yang baru saja belajar

mempercayainya kembali.


PUISI TIONGKOK DASAR LAUT

Bait Kesembilan — Air Pertama, Kasih yang Membebaskan, dan Kepulangan Terakhir

Sosok berjubah putih itu

berdiri di bawah pohon cahaya

yang semakin kehilangan daunnya.

Wajahnya adalah wajah seseorang

yang paling dirindukan pengembara—

wajah yang selama bertahun-tahun

muncul di antara mimpi,

doa yang tidak selesai,

kesunyian menjelang tidur,

dan perjalanan jauh

yang seolah selalu mencari

satu rumah yang pernah hilang.

Sosok itu mengulurkan tangan.

“Pulanglah kepadaku.”

Suaranya lembut,

lebih lembut daripada hujan pertama

yang menyentuh tanah kering.

“Tinggalkan gunung ini.”

Air hitam terus mengalir

dari sumur di puncak.

“Tinggalkan kerajaan,

kapal merah,

para penjaga,

dan anak kecil itu.”

Anak kecil di samping pengembara

menggenggam ujung jubahnya semakin erat.

“Aku akan mencintaimu

tanpa pernah pergi.”

Langit mendadak menjadi sunyi.

Tidak terdengar suara naga kecil.

Tidak terdengar daun berjatuhan.

Bahkan detak Gunung Asal Luka

seolah berhenti untuk mendengarkan.

Pengembara menatap tangan

yang terulur kepadanya.

Betapa lama ia menunggu

tangan semacam itu.

Tangan yang tidak menarik diri

ketika ia lelah.

Tangan yang tidak menuntutnya

menjadi lebih kuat.

Tangan yang tidak memintanya

membuktikan nilai diri

melalui kemenangan, pengabdian,

pengetahuan, atau pengorbanan.

Tangan yang berkata:

“Engkau cukup.”

Dada pengembara bergetar.

Lubang kecil yang dahulu ditinggalkan

Raja Kelaparan Kasih

kembali terasa terbuka.

Dari lubang itu muncul suara:

“Mungkin inilah akhir perjalanan.”

“Mungkin seluruh gunung, lautan,

dan kerajaan hanya membawamu

kepada sosok ini.”

“Mungkin semua luka

akan hilang bila kau menerima tangannya.”

Sosok berjubah putih

tersenyum lebih hangat.

“Kau tidak perlu lagi berjuang.”

Di belakangnya muncul sebuah rumah

di tepi danau.

Asap keluar dari cerobongnya.

Pintu rumah terbuka.

Di dalamnya terdapat meja makan,

dua mangkuk nasi hangat,

lampu kecil,

dan ranjang yang tidak pernah dingin.

Tidak ada pintu yang harus dibuka.

Tidak ada gunung yang harus didaki.

Tidak ada kerajaan yang meminta pertolongan.

Tidak ada orang yang meneriakkan namanya.

Hanya rumah,

ketenangan,

dan seseorang yang berjanji

tidak akan pergi.

Pengembara melangkah satu kali.

Anak kecil di sampingnya

tidak menahan.

Ia hanya bertanya:

“Apakah kau akan meninggalkanku lagi?”

Langkah pengembara berhenti.

Sosok berjubah putih menjawab

sebelum ia sempat berbicara:

“Anak itu hanyalah luka masa lalu.”

“Bawalah kenangan baiknya.

Tinggalkan rasa sakitnya.”

Anak kecil menunduk.

“Aku bukan hanya rasa sakit,”

katanya perlahan.

Sosok putih tersenyum.

“Tentu.

Tetapi ia akan selalu mengingatkanmu

kepada ketakutan, kegagalan,

dan orang-orang yang pernah pergi.”

Ia menatap pengembara.

“Bersamaku, kau tidak perlu

melihat masa lalu lagi.”

Pengembara memandang rumah

di tepi danau.

Di jendelanya terlihat

dirinya sedang duduk tenang.

Tidak ada luka di wajahnya.

Tidak ada cermin peringatan.

Tidak ada tongkat kayu.

Tidak ada bekas perjalanan.

Semua tampak sempurna.

Namun semakin lama ia memandang,

semakin ada sesuatu

yang terasa tidak bernapas.

Api di tungku tidak bergerak.

Asap di cerobong tidak berubah arah.

Air danau tidak memiliki gelombang.

Burung-burung di langit

terbang pada lingkaran yang sama

berulang kali.

Senyum dirinya di jendela

tidak pernah berubah,

bahkan ketika matanya

memperlihatkan kesedihan.

Pengembara bertanya:

“Di rumah itu,

apakah aku boleh marah?”

Sosok berjubah putih diam sejenak.

“Kau tidak akan mempunyai alasan

untuk marah.”

“Apakah aku boleh bersedih?”

“Aku akan menghapus kesedihanmu.”

“Apakah aku boleh berbeda pendapat?”

Senyum sosok itu sedikit menegang.

“Mengapa harus berbeda

bila kita saling mencintai?”

“Apakah aku boleh pergi sebentar

untuk menolong seseorang?”

“Aku akan memenuhi seluruh kebutuhanmu.

Kau tidak perlu lagi

memikirkan dunia di luar rumah.”

“Apakah anak kecil ini

boleh ikut bersama kita?”

Untuk pertama kalinya,

wajah sosok berjubah putih

menjadi dingin.

“Tidak.”

Angin kembali bergerak.

Pohon cahaya menggugurkan

seratus daun sekaligus.

“Mengapa?”

tanya pengembara.

“Karena ia akan membuatmu

terus mengingat bahwa kasih

pernah mengecewakanmu.”

“Ia adalah bagian diriku.”

“Ia adalah bagian yang harus kaulepaskan

agar dapat menjadi utuh.”

Pengembara menatap sosok itu lama.

Kemudian ia melihat sesuatu

di balik kelembutan wajahnya.

Di dalam kedua matanya

tidak terdapat pantulan anak kecil.

Tidak terdapat Gunung Asal Luka.

Tidak terdapat pohon, langit,

atau pengembara sendiri.

Yang ada hanyalah

lubang hitam berbentuk mulut

yang terus mengucapkan:

“Tinggalkan dirimu.”

“Jadilah milikku.”

“Jangan mempunyai bagian

yang tidak dapat kukuasai.”

Pengembara menarik napas.

“Kasih yang memintaku

meninggalkan bagian diriku

bukanlah kepulangan.”

Sosok berjubah putih

masih tersenyum.

“Aku hanya ingin membebaskanmu

dari luka.”

“Luka tidak selalu perlu dibawa

ke mana-mana.”

“Benar.”

“Namun bagian diriku

yang pernah terluka

tidak boleh dibuang

hanya agar seseorang

merasa nyaman mencintaiku.”

Senyum sosok itu hilang.

Rumah di tepi danau

mulai bergoyang seperti bayangan air.

“Pikirkan baik-baik,” katanya.

“Aku menawarkan kasih

yang tidak akan pernah berubah.”

Pengembara menjawab:

“Kasih yang hidup dapat berubah.”

“Ia dapat bertumbuh,

belajar, terluka, memperbaiki diri,

mendekat, menjauh,

bahkan berakhir.”

“Tetapi bila ia jujur,

ia tidak perlu merampas kebebasan

agar terasa aman.”

Mata sosok putih memerah.

“Manusia selalu pergi.”

“Sebagian pergi.”

“Manusia selalu mengecewakan.”

“Sebagian mengecewakan.”

“Manusia selalu berubah.”

“Benar.”

“Lalu mengapa memilih kasih manusia

yang tidak pasti

daripada kasihku yang abadi?”

Pengembara menggenggam tangan anak kecil.

“Karena kasihmu tidak abadi.”

“Ia hanya membekukan waktu

agar tidak ada seorang pun

mempunyai kesempatan memilih.”

Rumah di tepi danau retak.

Dindingnya berubah menjadi tulang.

Atapnya menjadi sangkar.

Danau yang tenang berubah

menjadi cermin hitam

yang menelan setiap wajah

yang mencoba melihat dirinya sendiri.

Sosok berjubah putih menjerit.

Jubahnya terbuka lebar.

Di bawahnya tidak terdapat tubuh manusia.

Terdapat ribuan benang putih

yang terhubung ke kota, rumah, kuil,

istana, sekolah, medan perang,

dan hati manusia di seluruh dunia.

Setiap benang membawa satu janji:

“Aku akan mencintaimu

bila kau mematuhiku.”

“Aku akan tinggal

bila kau tidak berubah.”

“Aku akan melindungimu

bila kau menyerahkan keputusanmu.”

“Aku akan memaafkanmu

bila kau tidak pernah mengingat kesalahanku.”

“Aku akan menganggapmu berharga

selama kau berguna bagiku.”

“Aku akan menjadi rumahmu

bila kau membakar semua jalan pulang

menuju dirimu sendiri.”

Anak kecil memegang dada.

“Siapakah dia?”

Penjaga Luka Tidak Dicintai

turun dari tangga gunung.

Wajah tuanya tampak sedih.

“Dialah Permaisuri Kasih Pinjaman.”

“Kasih Pinjaman?”

“Ia tidak memberi kasih.”

“Ia meminjamkan rasa diterima

dengan jaminan kebebasan manusia.”

Permaisuri itu melepaskan

wajah orang yang dirindukan pengembara.

Wajah tersebut jatuh

seperti topeng porselen.

Di baliknya terdapat wajah kedua.

Wajah seorang ibu.

Lalu ayah.

Lalu guru.

Lalu kekasih.

Lalu sahabat.

Lalu pemimpin.

Lalu pengikut.

Lalu wajah pengembara sendiri.

Setiap wajah berkata:

“Jangan mengecewakanku.”

“Jadilah seperti yang kuinginkan.”

“Buktikan bahwa kau mencintaiku.”

“Serahkan dirimu.”

Permaisuri tertawa.

“Aku telah hidup

sejak manusia pertama kali

takut kehilangan kasih.”

“Aku tidak memaksa siapa pun.”

“Mereka sendiri datang

membawa kehendaknya,

menukarnya dengan rasa aman,

lalu menyebut rantai itu cinta.”

Pengembara melihat

tujuh kapal tanpa layar.

Di dalam setiap rumah tua,

anak-anak yang semula duduk

di dekat jendela

kini berdiri.

Benang-benang putih

melilit leher dan tangan mereka.

Masing-masing mendengar suara:

“Jadilah anak yang baik.”

“Jangan membuat masalah.”

“Jangan menangis.”

“Jangan menolak.”

“Jangan mempunyai keinginan sendiri.”

“Jangan membuat kami malu.”

“Bila kau mencintai kami,

kau harus mengalah.”

Jalan-jalan cahaya

yang menghubungkan gunung

dengan kapal-kapal itu

mulai berubah menjadi rantai.

Orang-orang biasa

yang tadi berjalan untuk membantu

terhenti di tengah jalan.

Seorang ibu mencoba melangkah,

tetapi benang putih mengikat mulutnya.

Seorang ayah mencoba meminta maaf,

tetapi benang itu mengubah kata-katanya

menjadi perintah.

Seorang guru hendak membuka ruang bertanya,

tetapi benang putih

membuatnya takut kehilangan wibawa.

Seorang pemimpin ingin berbagi kuasa,

namun benang itu berbisik:

“Tanpa dirimu, semua akan hancur.”

Permaisuri Kasih Pinjaman

mengangkat mangkuk air hitam.

“Lihatlah.”

“Kasih selalu membutuhkan penguasa.”

“Seseorang harus menentukan

siapa yang pantas diterima

dan siapa yang harus dibuang.”

Pengembara memandang sumur

di bawah pohon cahaya.

Air pertama telah berubah pekat.

Pada permukaannya

terlihat manusia-manusia

menukar dirinya demi penerimaan.

Ada anak yang mengubur cita-citanya

agar tidak mengecewakan keluarga.

Ada pasangan yang kehilangan suara

agar hubungan tetap terlihat utuh.

Ada murid yang takut bertanya

agar tidak dianggap durhaka.

Ada pengikut yang menyerahkan akal

agar tetap diterima kelompoknya.

Ada orang yang terus memberi

hingga tubuh dan jiwanya habis,

karena takut disebut tidak peduli.

Ada manusia yang membiarkan kekerasan

karena pelaku berkata:

“Aku melakukan ini

karena mencintaimu.”

Pengembara merasa marah.

Lentera Kemarahan di dadanya

menyala merah.

Ia mengangkat tongkat kayu.

Namun Penjaga Luka Tidak Dicintai

kembali berdiri di hadapannya.

“Kau tidak dapat mengalahkan permaisuri itu

dengan kemarahan saja.”

“Ia sedang merantai anak-anak.”

“Benar.”

“Maka minggirlah.”

“Bila kau menyerangnya sekarang,

ia akan memakai wajah orang

yang paling kaukasihi.”

“Aku telah melihat tipuannya.”

“Melihat tidak berarti

engkau telah bebas darinya.”

Permaisuri tersenyum.

Tubuhnya berubah lagi.

Kini ia memakai wajah

anak kecil yang berdiri

di samping pengembara.

Wajah yang sama.

Mata yang sama.

Bahkan pedang kayunya pun sama.

Ia menangis.

“Bila kau benar-benar mencintaiku,

bunuhlah dia.”

Ia menunjuk Penjaga Luka Tidak Dicintai.

Anak kecil asli menatap pengembara.

“Aku tidak mengatakan itu.”

Permaisuri dengan wajah anak

berteriak:

“Dia membuatmu menderita!”

“Dia menjaga pintu luka!”

“Dia membuatmu merasa

tidak layak dicintai!”

“Hancurkan dia,

lalu kita akan sembuh!”

Pengembara menatap penjaga tua.

“Apakah engkau memang membuat kami

percaya bahwa kami tidak dicintai?”

Penjaga itu menjawab:

“Aku lahir dari kepercayaan itu.”

“Aku menjaganya

karena dahulu kalian mengira

bila membuka pintu,

seluruh rasa sakit

akan menelan kalian.”

“Apakah engkau musuh?”

“Tidak.”

“Apakah engkau benar?”

“Tidak selalu.”

“Lalu mengapa masih berdiri di sini?”

Penjaga tua menatap

enam gua yang belum dilewati.

“Karena luka yang tidak didengarkan

akan mencari cara

agar tetap dipercaya.”

Pengembara menurunkan tongkat.

Permaisuri menjerit:

“Lemah!”

“Kau selalu ragu

ketika harus menghancurkan musuh!”

Pengembara menjawab:

“Tidak semua yang menghalangi jalan

harus dihancurkan.”

“Sebagian harus dipahami,

diberi tempat,

lalu dibebaskan dari tugas lama

yang tidak lagi diperlukan.”

Penjaga Luka Tidak Dicintai

menutup mata.

Untuk pertama kalinya,

wajah tuanya tampak lega.

“Kalau begitu,” katanya,

“selesaikan enam gua.”

“Mengapa sekarang?”

“Air pertama tidak dapat dijernihkan

hanya dengan membuang racun.”

“Ia harus diingatkan

kepada sumber-sumber yang pernah

membuatnya mengalir.”

Permaisuri Kasih Pinjaman

mengangkat kedua tangan.

Gunung berguncang.

Jalan menuju enam gua

mulai runtuh.

“Kau tidak akan sempat!”

“Sebelum matahari terbenam,

sumur itu akan menjadi milikku.”

Di ufuk jauh,

matahari mulai turun.

Cahayanya memerah

di balik samudra.

Pengembara memandang anak kecil.

“Apakah kau siap?”

Anak itu menatap enam gua.

“Tidak.”

“Aku juga.”

“Apakah kita tetap pergi?”

“Kita pergi bersama.”

Naga kecil melingkar

di bahu anak.

Burung biru terbang

di atas kepala mereka.

Mereka berlari

menuju gua kedua.

Gua kedua bercahaya biru tua.

Di pintunya menunggu

Penjaga Luka Kekurangan

dengan mangkuk pecah.

Ketika pengembara masuk,

ia menemukan sebuah kota

yang dipenuhi lumbung.

Beras bertumpuk setinggi gunung.

Air tersimpan dalam menara.

Emas memenuhi gudang.

Pakaian, obat, dan makanan

tersedia lebih banyak

daripada yang dapat digunakan

oleh seribu generasi.

Namun penduduk kota

tetap berlari dari pagi hingga malam.

Mereka mengumpulkan.

Menghitung.

Menyembunyikan.

Merebut.

Tidak seorang pun makan

sampai benar-benar kenyang.

Tidak seorang pun tidur

tanpa memeriksa pintu gudangnya.

Seorang lelaki tua

duduk di atas tumpukan beras.

Tubuhnya kurus.

Tangannya menggenggam mangkuk kosong.

“Mengapa kau tidak makan?”

tanya pengembara.

“Beras ini harus disimpan.”

“Untuk apa?”

“Untuk hari ketika tidak ada makanan.”

“Hari ini engkau tidak makan.”

“Agar besok aku tidak kelaparan.”

“Tetapi bila hari ini tubuhmu mati,

untuk siapa semua simpanan itu?”

Lelaki tua tidak menjawab.

Di sudut lain,

seorang perempuan mengumpulkan

baju-baju indah.

Ia tidak pernah memakainya.

“Aku menyimpannya

untuk hari ketika aku cukup pantas.”

Seorang anak mengumpulkan mainan,

namun tidak pernah bermain.

“Aku takut mainan ini rusak.”

Seorang cendekia mengumpulkan kitab,

tetapi tidak pernah membaca.

“Aku takut menemukan

bahwa masih banyak yang tidak kuketahui.”

Pengembara melihat dirinya sendiri

di tengah kota.

Versi dirinya itu

mengumpulkan pengakuan.

Setiap ucapan terima kasih

disimpan dalam botol.

Setiap pujian

dimasukkan ke dalam peti.

Setiap orang yang membutuhkan

diikat dengan benang.

Namun semakin banyak ia mengumpulkan,

semakin kosong wajahnya.

Penjaga Luka Kekurangan berkata:

“Inilah keyakinan

bahwa sesuatu akan habis

sebelum kau sempat menerimanya.”

“Karena itu kau mengumpulkan

sebelum belajar menikmati.”

“Kau mencari banyak kasih,

banyak pengikut,

banyak jawaban,

banyak bukti bahwa dirimu berguna.”

“Namun mangkuk di tanganmu

tetap retak.”

Pengembara melihat tangannya.

Ternyata ia juga membawa

mangkuk pecah.

Setiap kasih yang dituangkan

langsung jatuh ke tanah.

Setiap pujian hilang.

Setiap kemenangan terasa kecil.

Setiap pertolongan yang berhasil

segera digantikan

oleh kebutuhan untuk menolong lagi.

Anak kecil berkata:

“Bagaimana memperbaiki mangkuk ini?”

Penjaga menjawab:

“Bukan dengan mengisi lebih cepat.”

Pengembara mengangkat mangkuk.

Ia memperhatikan retakannya.

Pada setiap retak tertulis:

Tidak cukup.

Belum aman.

Harus lebih banyak.

Jangan berhenti.

Orang lain mempunyai lebih banyak.

Bila kau kehilangan ini,

kau tidak mempunyai apa-apa.

Pengembara mengambil benang merah Hasrat.

Ia tidak menutup semua retak.

Ia hanya mengikat

bagian yang hampir terbelah.

Kemudian ia mengambil

sedikit air dari kendi kota.

Ia menuangkannya perlahan.

Sebagian air masih menetes.

Namun sebagian tetap tinggal.

Pengembara meminumnya.

“Mangkuk ini belum sempurna,”

kata anak.

“Benar.”

“Airnya banyak terbuang.”

“Benar.”

“Mengapa tetap diminum?”

“Karena sesuatu tidak harus sempurna

agar dapat memberi kehidupan.”

Penjaga Luka Kekurangan

memandang mangkuknya sendiri.

Ia pun mengisinya.

Sebagian air jatuh.

Ia menyesap sisanya.

Untuk pertama kalinya,

wajahnya tampak tenang.

“Cukup bukan berarti

tidak membutuhkan apa-apa,”

katanya.

“Cukup berarti mengetahui

bahwa apa yang ada saat ini

dapat diterima, digunakan,

dan disyukuri

tanpa menutup mata

terhadap kebutuhan masa depan.”

Lumbung kota terbuka.

Penduduk mulai membagikan beras.

Mereka tetap menyimpan sebagian.

Tetapi tidak lagi membiarkan

orang kelaparan

demi ketakutan terhadap hari esok.

Perempuan memakai

salah satu bajunya.

Anak memainkan

satu mainan.

Cendekia membuka

halaman pertama kitab.

Lelaki tua memakan

semangkuk nasi hangat.

Dari dasar gua

muncul setetes air biru.

Penjaga menyerahkannya

kepada pengembara.

“Bawa ini ke sumur.”

“Air apakah ini?”

“Air Kecukupan.”

“Ia tidak menghapus kebutuhan.”

“Ia mengingatkan

bahwa hidup tidak boleh ditunda

hanya karena manusia takut kekurangan.”

Mangkuk pecah milik penjaga

berubah menjadi cawan kecil.

Retaknya tetap terlihat,

tetapi disambung garis keemasan.

Mereka keluar dari gua.

Matahari turun semakin rendah.

Gua ketiga bercahaya putih.

Penjaga Luka Perbandingan

menunggu membawa cermin.

Begitu masuk,

pengembara berdiri

di sebuah aula besar.

Dindingnya terdiri

dari ribuan cermin.

Pada satu cermin,

ia melihat seseorang lebih kaya.

Pada cermin lain,

seseorang lebih tampan.

Cermin berikutnya memperlihatkan

orang yang lebih dicintai.

Ada yang lebih terkenal.

Lebih tenang.

Lebih kuat.

Lebih suci.

Lebih berhasil.

Lebih cepat sembuh.

Lebih banyak pengikut.

Lebih panjang umur.

Lebih berani.

Lebih dihormati.

Setiap kali pengembara memandang

satu kehidupan,

tubuhnya sendiri terlihat mengecil.

Anak kecil berdiri

di depan cermin seorang anak

yang dipeluk keluarganya.

“Mengapa dia mendapatkannya

dan aku tidak?”

Pengembara tidak menjawab

dengan petuah.

Ia berdiri di samping anak.

“Aku tidak tahu.”

“Apakah karena dia lebih baik?”

“Tidak.”

“Apakah karena aku tidak pantas?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa?”

Pengembara menarik napas.

“Kehidupan tidak selalu

membagikan pengalaman

berdasarkan siapa yang lebih pantas.”

Anak itu menangis.

“Itu tidak adil.”

“Benar.”

Penjaga Luka Perbandingan berkata:

“Cermin tidak hanya menunjukkan

apa yang dimiliki orang lain.”

“Ia menunjukkan cerita

yang kalian buat

tentang nilai diri sendiri.”

Salah satu cermin memperlihatkan

seorang pengembara lain

yang mencapai puncak gunung

tanpa terluka.

Yang lain memperlihatkan

seseorang menyelamatkan kerajaan

lebih cepat.

Ada pula sosok yang menolak

semua pujian dengan tenang,

tanpa pernah tergoda.

Pengembara merasa malu.

“Mengapa perjalananku begitu panjang?”

Cermin menjawab:

“Karena engkau lemah.”

“Mengapa berkali-kali tersesat?”

“Karena engkau tidak cukup bijaksana.”

“Mengapa masih membutuhkan anak ini?”

“Karena engkau gagal menjadi dewasa.”

Anak kecil memegang tangan pengembara.

“Cermin itu berbohong.”

“Ia menunjukkan gambar nyata.”

“Tetapi tidak menunjukkan seluruh cerita.”

Pengembara menatap anak.

Ia kemudian mendekati

cermin orang yang tampak sempurna.

Ia menyentuh permukaannya.

Cermin itu terbuka.

Di baliknya terlihat

orang tersebut menangis sendirian.

Cermin kekayaan dibuka.

Di belakangnya ada ketakutan kehilangan.

Cermin ketenangan dibuka.

Di belakangnya ada emosi

yang tidak pernah diberi ruang.

Cermin kepopuleran dibuka.

Di belakangnya ada kesepian.

Cermin keluarga bahagia dibuka.

Di belakangnya ada perjuangan

yang tidak pernah terlihat

oleh orang luar.

Cermin keberhasilan dibuka.

Di belakangnya ada kegagalan,

bantuan, kesempatan,

dan banyak hal

yang tidak dapat dibandingkan secara sederhana.

Penjaga berkata:

“Perbandingan memotong kehidupan manusia

menjadi satu gambar.”

“Kemudian gambar itu dipakai

untuk menghakimi seluruh dirimu.”

Pengembara mengangkat cermin kecil

dari Lautan Kesembilan.

Cermin itu hanya memperlihatkan

wajahnya saat ini.

Lelah.

Berantakan.

Namun nyata.

Ia berkata:

“Aku tidak harus menjadi mereka.”

Salah satu dinding retak.

“Aku dapat belajar dari orang lain

tanpa menjadikan hidupnya

sebagai pengadilan bagi hidupku.”

Dinding kedua pecah.

“Keberhasilan mereka

tidak mengambil hakku

untuk bertumbuh.”

Cermin-cermin mulai redup.

“Dan luka mereka

tidak perlu kucari

hanya agar aku merasa lebih baik.”

Seluruh aula berubah

menjadi danau tenang.

Pada permukaannya,

setiap orang mempunyai pantulan sendiri.

Tidak ada pantulan

menutupi yang lain.

Dari tengah danau

muncul setetes air putih.

Penjaga menyerahkannya.

“Air Keunikan.”

“Ia tidak mengatakan

semua jalan sama.”

“Ia mengatakan

bahwa satu kehidupan

tidak dapat diukur sepenuhnya

dengan penggaris kehidupan lain.”

Cermin penjaga

berubah menjadi jendela.

Ia tidak lagi memantulkan dirinya.

Ia memperlihatkan dunia

tanpa harus mengubahnya

menjadi perlombaan.

Mereka keluar.

Matahari hampir menyentuh laut.

Gua keempat bercahaya hitam.

Penjaga Luka Kehilangan

berdiri membawa lilin padam.

Di dalam gua terdapat

sebuah kota tanpa suara.

Setiap rumah memiliki kursi kosong.

Setiap meja mempunyai

satu mangkuk yang tidak digunakan.

Setiap ranjang menyimpan

bekas tubuh seseorang

yang tidak lagi kembali.

Di alun-alun berdiri

pohon tanpa daun.

Pada setiap dahan

tergantung nama:

Nama orang yang meninggal.

Nama hubungan yang berakhir.

Nama rumah yang ditinggalkan.

Nama masa muda.

Nama kesehatan.

Nama kesempatan.

Nama harapan

yang tidak pernah terwujud.

Anak kecil mendekati

satu nama.

Ia menyentuhnya.

Seketika seseorang

yang sangat dirindukannya muncul.

Sosok itu tersenyum.

“Aku kembali.”

Anak hendak memeluknya.

Namun pengembara melihat

kakinya tidak menyentuh tanah.

Ia menahan diri

untuk tidak melarang.

Anak memeluk sosok itu.

Tubuh bayangan terasa hangat.

“Jangan pergi lagi,”

kata anak.

“Aku tidak akan pergi

bila kau tinggal di sini.”

Dinding gua membuka

sebuah kamar penuh kenangan.

Di dalamnya semua hal

tetap seperti dahulu.

Benda-benda tidak berdebu.

Jam tidak bergerak.

Bunga tidak layu.

Orang-orang yang telah pergi

masih tersenyum.

Penjaga Luka Kehilangan berkata:

“Banyak manusia tidak hidup

bersama kenangan.”

“Mereka tinggal di dalamnya.”

Pengembara memandang

wajah yang dirindukan.

Ia ingin masuk.

Ia ingin duduk

dan tidak pernah meninggalkan ruangan itu.

Namun lilin padam

di tangan penjaga

mengeluarkan asap.

Asap tersebut memperlihatkan

kehidupan di luar kamar.

Musim terus berganti.

Orang-orang datang dan pergi.

Anak-anak tumbuh.

Pohon berbunga.

Kesempatan berlalu.

Sementara mereka

tetap tinggal

dalam satu hari yang membeku.

Pengembara berkata kepada anak:

“Kau boleh memeluknya.”

“Apakah ia benar-benar kembali?”

“Tidak seperti dahulu.”

“Lalu mengapa terasa nyata?”

“Karena kasih meninggalkan jejak.”

Anak menangis.

“Aku tidak ingin kehilangan lagi.”

“Aku pun tidak.”

“Bisakah kita menjaga semua orang

agar tidak pergi?”

“Tidak.”

“Mengapa hidup memberikan kasih

bila akhirnya mengambilnya?”

Pengembara duduk

di bawah pohon nama.

“Mungkin hidup tidak memberikan kasih

untuk menjanjikan bahwa semuanya

akan tinggal selamanya.”

“Mungkin kasih diberikan

agar selama pertemuan itu ada,

kehidupan menjadi lebih nyata.”

Anak menatap bayangan

yang dipeluknya.

“Apakah aku harus melepaskan?”

“Bukan melupakan.”

“Bukan berhenti mencintai.”

“Tetapi membiarkan kasih

berubah bentuk

ketika kehidupan berubah.”

Bayangan yang dirindukan

menyentuh kepala anak.

“Aku tidak tinggal

di ruangan ini,” katanya.

“Lalu di mana?”

“Di dalam hal-hal baik

yang masih kauhidupkan.”

Bayangan itu menghilang perlahan.

Anak menangis lebih keras.

Pengembara ikut menangis.

Mereka tidak menahan.

Tidak mencari penjelasan cepat.

Tidak menyebut kehilangan

sebagai sesuatu yang mudah.

Air mata jatuh

pada lilin padam.

Api kecil menyala.

Bukan api besar.

Hanya nyala yang cukup

untuk melihat jalan keluar.

Penjaga berkata:

“Kesedihan adalah harga

dari sesuatu yang pernah berarti.”

“Namun jangan membuat kesedihan

menjadi makam

tempat seluruh masa depan dikubur.”

Pohon tanpa daun

menumbuhkan tunas.

Nama-nama tetap tergantung.

Tidak dihapus.

Tetapi di antara nama-nama itu

muncul daun baru

yang belum mempunyai tulisan.

Dari akar pohon

keluar setetes air hitam bening.

“Air Pelepasan,”

kata penjaga.

“Hitam bukan karena beracun.”

“Hitam karena ia membawa

kedalaman malam

tempat manusia belajar

menangis tanpa kehilangan arah.”

Lilin penjaga menyala.

Mereka keluar dari gua.

Matahari setengah terbenam.

Gua kelima bercahaya kuning.

Penjaga Luka Ketidakadilan

berdiri dengan timbangan.

Di dalamnya terdapat

ruang pengadilan raksasa.

Di satu sisi,

orang-orang membawa daftar kebaikan.

Di sisi lain,

mereka membawa daftar luka.

Seorang perempuan berkata:

“Aku memberi banyak,

tetapi tidak pernah dibalas.”

Seorang anak berkata:

“Aku tidak melakukan kesalahan,

tetapi tetap dihukum.”

Seorang pekerja berkata:

“Aku bekerja paling keras,

tetapi orang lain menerima pujian.”

Seorang korban berkata:

“Aku diminta memaafkan,

sementara orang yang menyakitiku

tidak pernah bertanggung jawab.”

Pengembara berdiri

di depan timbangan.

Pada sisi kiri terdapat

seluruh kebaikan yang pernah dilakukannya.

Pada sisi kanan terdapat

seluruh penghinaan, pengkhianatan,

dan kehilangan yang diterimanya.

Timbangan tidak seimbang.

Ia merasa marah.

“Mengapa aku harus terus berbuat baik

bila dunia tidak membalas dengan adil?”

Penjaga menjawab:

“Kebaikan tidak selalu memperoleh

balasan dari tangan

yang menerima kebaikan itu.”

“Apakah berarti kita harus menerima

segala ketidakadilan?”

“Tidak.”

Penjaga mengangkat timbangan.

“Ada perbedaan

antara melepaskan tuntutan

agar dunia selalu membalas sesuai harapan,

dan membiarkan kezaliman

terus berlangsung tanpa batas.”

Di ruang pengadilan

muncul orang-orang

yang pernah menyakiti pengembara.

Sebagian meminta maaf.

Sebagian menyangkal.

Sebagian tertawa.

Sebagian bahkan tidak mengingat

apa yang telah dilakukannya.

Anak kecil bertanya:

“Apakah mereka akan dihukum?”

Pengembara menjawab:

“Sebagian harus bertanggung jawab.”

“Sebagian mungkin tidak pernah

mengakui kesalahannya.”

“Lalu bagaimana hati kita tenang?”

“Ketenangan tidak selalu datang

setelah orang lain menyadari

apa yang mereka lakukan.”

“Kadang ia datang

ketika kita berhenti menyerahkan

seluruh masa depan

kepada permintaan

agar masa lalu diperbaiki

oleh orang yang sama.”

Salah seorang pelaku berkata:

“Maafkan aku.”

Namun di tangannya

masih terdapat pisau.

Pengembara menjawab:

“Aku dapat melepaskan kebencian,

tetapi aku tidak akan mendekat

selama engkau masih membawa senjata.”

Orang itu marah.

“Berarti kau belum memaafkan!”

“Pengampunan bukan izin

untuk mengulang luka.”

Timbangan bergerak sedikit.

Seorang korban berdiri.

Ia membawa batu besar

bertuliskan Pembalasan.

“Aku ingin mereka merasakan

apa yang kurasakan.”

Pengembara menatap batu itu.

“Keinginan itu dapat dimengerti.”

“Tetapi bila kau meminum racun

agar orang lain ikut sakit,

tubuhmu yang pertama kali hancur.”

“Lalu aku harus diam?”

“Tidak.”

“Bicaralah.”

“Cari pertolongan.”

“Bangun batas.”

“Gunakan hukum yang adil.”

“Lindungi orang lain

agar luka yang sama tidak berulang.”

“Namun jangan biarkan pelaku

menentukan siapa dirimu

selama sisa hidup.”

Penjaga Luka Ketidakadilan

meletakkan timbangannya di tanah.

Kedua sisinya tidak pernah

menjadi benar-benar sama.

Sebagian luka tidak dapat dibayar

dengan apa pun.

Sebagian kehilangan

tidak dapat dikembalikan.

Namun di tengah timbangan

muncul satu jarum baru

bertuliskan:

Tanggung jawab.

Jarum itu tidak menghapus masa lalu.

Ia menunjuk tindakan

yang dapat dilakukan sekarang.

Pengembara berkata:

“Aku tidak dapat membuat

seluruh dunia adil.”

“Tetapi aku dapat memilih

agar luka yang kuterima

tidak kujadikan alasan

untuk menambah ketidakadilan.”

Dari timbangan keluar

setetes air kuning keemasan.

“Air Keadilan yang Sadar,”

kata penjaga.

“Ia tidak menjanjikan

semua utang kehidupan akan dibayar.”

“Ia mengingatkan

bahwa manusia tetap dapat memilih

menghentikan rantai luka

pada dirinya.”

Timbangan penjaga

berubah menjadi dua telapak tangan.

Satu tangan menjaga batas.

Satu tangan menawarkan pemulihan.

Mereka keluar.

Matahari tinggal seperempat

di atas garis laut.

Gua keenam bercahaya hijau.

Penjaga Luka Kegagalan

membawa benih.

Di dalam gua

terdapat ladang sangat luas.

Ribuan manusia menanam.

Namun sebagian besar tanah

tampak kosong.

Ada benih yang busuk.

Ada tunas yang mati.

Ada pohon yang tumbang

sebelum berbuah.

Ada tanaman subur

yang hancur oleh badai.

Seorang pemuda berdiri

di depan lubang tanah.

Ia memegang satu benih

selama puluhan tahun

tanpa berani menanam.

“Mengapa tidak kauletakkan?”

tanya pengembara.

“Bagaimana bila tidak tumbuh?”

“Bagaimana bila tumbuh?”

“Bagaimana bila tumbuh

lalu mati?”

“Mungkin akan menyakitkan.”

“Maka lebih baik

tidak pernah mencoba.”

Tidak jauh dari sana,

seorang perempuan menanam

benih yang sama berulang kali

di tanah yang tidak sesuai.

Setiap kali gagal,

ia menyalahkan dirinya.

“Aku harus mencoba lebih keras.”

Penjaga berkata:

“Tidak semua kegagalan

berarti kurang usaha.”

“Kadang tanahnya tidak sesuai.”

“Kadang musimnya belum tepat.”

“Kadang benihnya memang tidak sehat.”

“Kadang seseorang perlu berhenti

dan memilih kebun lain.”

Pengembara melihat

seluruh kegagalannya sendiri.

Pintu yang tidak terbuka.

Orang yang tidak dapat ditolong.

Keputusan yang keliru.

Hubungan yang tidak terselamatkan.

Janji yang tidak mampu ditepati.

Perjalanan yang memakan waktu

lebih lama daripada rencana.

Ia melihat dirinya

berdiri di antara semua itu

sambil mengucapkan:

“Aku gagal.”

Lalu kalimat itu berubah:

“Aku adalah kegagalan.”

Anak kecil mengambil

satu benih dari tanah.

“Apa perbedaannya?”

Pengembara menjawab:

“Gagal adalah sesuatu

yang terjadi.”

“Menjadi gagal adalah identitas

yang dibangun dari satu kejadian.”

Penjaga Luka Kegagalan

menyerahkan benihnya.

“Tanamlah.”

Pengembara melihat tanah.

Tanahnya kering.

“Ini mungkin tidak tumbuh.”

“Benar.”

“Lalu untuk apa?”

“Agar kau belajar

bahwa nilai tindakan

tidak hanya ditentukan

oleh hasil yang dapat kaukuasai.”

Pengembara menggali lubang.

Ia menanam benih.

Anak kecil menyiramnya

dengan sedikit air

dari mangkuk retak.

Mereka menunggu.

Tidak ada tunas.

Matahari hampir habis.

Permaisuri Kasih Pinjaman

tertawa dari puncak:

“Sia-sia!”

“Kalian kehabisan waktu!”

Anak kecil menatap tanah.

“Benihnya gagal.”

Penjaga menjawab:

“Mungkin.”

“Apakah kita salah?”

“Belum tentu.”

“Apakah kita harus menanam lagi?”

“Periksa dulu.”

Mereka menggali tanah.

Benih itu pecah.

Bukan karena mati.

Akar kecil tumbuh ke bawah,

belum terlihat di permukaan.

Pengembara tersenyum.

Penjaga berkata:

“Manusia sering menyebut sesuatu gagal

hanya karena perubahan

belum terlihat dari tempatnya berdiri.”

Di bagian ladang lain,

sebuah pohon tumbuh sangat cepat.

Buahnya besar.

Semua orang memujinya.

Namun akarnya pendek.

Ketika angin kecil datang,

pohon itu roboh.

“Dan manusia sering menyebut sesuatu berhasil

hanya karena hasilnya cepat terlihat.”

Pengembara memandang

benih yang ditanamnya.

“Bagaimana mengetahui

kapan harus bertahan

dan kapan harus berhenti?”

Penjaga menjawab:

“Tidak ada jawaban

yang selalu tepat.”

“Periksa kenyataan.”

“Dengarkan tubuh dan hatimu.”

“Minta pandangan orang lain.”

“Lihat apakah usahamu

masih menumbuhkan kehidupan

atau hanya mengulang luka.”

“Berhenti tidak selalu kalah.”

“Melanjutkan tidak selalu berani.”

Dari tanah muncul

setetes air hijau.

“Air Pertumbuhan,”

kata penjaga.

“Ia tidak menjanjikan

semua benih akan tumbuh.”

“Ia memberi keberanian

untuk menanam, belajar,

memperbaiki, berpindah,

dan memulai kembali.”

Benih di tangan penjaga

berubah menjadi pohon kecil

yang dapat dibawa.

Akarnya terbungkus tanah.

Mereka keluar dari gua.

Matahari tinggal garis merah tipis.

Hanya tersisa gua ketujuh.

Tidak ada cahaya.

Hanya detak jantung.

Penjaga Luka Tidak Dicintai

berdiri di mulutnya.

Permaisuri Kasih Pinjaman

menunggu di puncak,

membawa mangkuk air hitam.

Pohon cahaya hampir mati.

Tujuh jalan menuju kapal

tinggal menyisakan bara kecil.

Penjaga tua berkata:

“Di dalam gua ini

tidak ada kota, cermin,

ladang, atau pengadilan.”

“Apa yang ada?”

“Ruang tempat kalian pertama kali

membuat kesimpulan

bahwa kasih harus diperoleh.”

Pengembara menggenggam

tangan anak kecil.

Mereka masuk.

Tidak ada dinding.

Tidak ada lantai.

Tidak ada langit.

Hanya kegelapan

dan satu detak jantung.

Dum.

Muncul satu kenangan.

Seorang anak melakukan sesuatu dengan baik.

Orang-orang memujinya.

Ia merasa dicintai.

Dum.

Anak itu melakukan kesalahan.

Wajah-wajah berubah kecewa.

Ia merasa kasih menghilang.

Dum.

Anak itu membantu orang lain.

Ia dipeluk.

Dum.

Anak itu berkata tidak.

Ia ditinggalkan sendirian.

Dum.

Anak itu menyembunyikan kesedihan.

Orang-orang menyebutnya kuat.

Dum.

Anak itu menangis.

Seseorang berkata:

“Jangan merepotkan.”

Dari semua kejadian itu

lahir sebuah kalimat:

“Aku dicintai

ketika menjadi apa yang dibutuhkan.”

Kalimat itu tumbuh

menjadi dinding.

Kalimat kedua muncul:

“Bila aku tidak berguna,

aku akan ditinggalkan.”

Dinding kedua berdiri.

Kalimat ketiga:

“Bila aku menunjukkan kelemahan,

aku tidak lagi layak dihormati.”

Dinding ketiga menutup langit.

Kalimat keempat:

“Bila seseorang pergi,

berarti ada sesuatu yang salah denganku.”

Dinding keempat mengunci pintu.

Anak kecil berdiri

di tengah ruangan itu.

Ia memegang pedang kayu.

Penjaga Luka Tidak Dicintai

berdiri di sampingnya,

kali ini dalam wujud

anak yang lebih tua.

“Aku membangun dinding ini,”

katanya.

“Agar apa?”

“Agar ia mengetahui

aturan untuk bertahan.”

“Aturan apa?”

“Jadilah berguna.”

“Jangan terlalu banyak meminta.”

“Jangan membuat orang kecewa.”

“Jangan mempunyai kebutuhan

yang tidak mampu mereka penuhi.”

“Dan bila seseorang pergi,

salahkan dirimu lebih dahulu.”

Pengembara merasa marah.

Namun ia melihat

tangan penjaga itu gemetar.

“Apakah engkau percaya

semua aturan ini benar?”

Penjaga menjawab:

“Tidak.”

“Lalu mengapa menjaganya?”

“Karena dahulu aturan itu

memberi penjelasan.”

“Penjelasan apa?”

“Bila semuanya salahmu,

berarti kau dapat memperbaikinya

dengan menjadi lebih baik.”

Pengembara terdiam.

Ia memahami kengerian

di balik kalimat itu.

Menyalahkan diri

terkadang terasa lebih aman

daripada menerima

bahwa manusia yang dicintai

mungkin terbatas, tidak mampu,

tidak siap, tidak adil,

atau memilih pergi

meski dirinya telah berusaha sebaik mungkin.

Bila semua kesalahan

berada pada diri sendiri,

masih ada ilusi kendali:

“Aku hanya perlu lebih baik.”

“Aku hanya perlu lebih sabar.”

“Aku hanya perlu lebih berguna.”

“Aku hanya perlu tidak menjadi diriku.”

Pengembara mendekati dinding pertama.

Di atasnya tertulis:

“Aku dicintai

ketika menjadi apa yang dibutuhkan.”

Ia menyentuh tulisan itu.

“Menjadi berguna dapat membuat

seseorang dihargai.”

“Namun penghargaan atas kegunaan

tidak sama dengan kasih

kepada keberadaan.”

Dinding retak.

Ia menyentuh dinding kedua.

“Bila aku tidak berguna,

aku akan ditinggalkan.”

“Sebagian orang mungkin pergi

ketika aku tidak lagi

memenuhi kebutuhannya.”

“Tetapi kepergian mereka

tidak membuktikan

bahwa aku tidak layak dicintai.”

Dinding kedua pecah.

Ia menyentuh dinding ketiga.

“Bila aku menunjukkan kelemahan,

aku tidak layak dihormati.”

“Kelemahan dapat membuatku

membutuhkan perlindungan.”

“Namun kebutuhan itu

tidak menghapus martabatku.”

Dinding ketiga runtuh.

Ia menyentuh dinding keempat.

“Bila seseorang pergi,

berarti ada sesuatu yang salah denganku.”

Tangannya gemetar.

Anak kecil berdiri

di sebelahnya.

Mereka mengucapkan bersama:

“Sebagian kepergian

memang berhubungan dengan kesalahan kami.”

“Sebagian perlu menjadi pelajaran.”

“Namun tidak setiap kepergian

adalah putusan atas nilai diri.”

Dinding terakhir runtuh.

Kegelapan menghilang.

Di baliknya terdapat

ruang yang sangat sederhana.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada cahaya agung.

Hanya satu tikar,

satu mangkuk air,

dan jendela terbuka.

Di atas tikar

duduk seorang bayi.

Bayi itu tidak membawa nama,

prestasi, kegunaan,

agama, gelar, kekayaan,

atau kisah pengorbanan.

Ia hanya bernapas.

Anak kecil mendekat.

“Apa yang telah ia lakukan

agar layak dicintai?”

Pengembara menjawab:

“Tidak ada.”

“Apa yang dapat ia berikan?”

“Belum banyak.”

“Apakah ia tetap berharga?”

Pengembara mengangkat bayi itu.

Tubuhnya hangat.

Detak jantungnya

menyatu dengan gunung.

“Ya.”

Penjaga Luka Tidak Dicintai

jatuh berlutut.

Wajah tuanya kembali.

Ia menangis.

“Selama ini aku menjaga pintu

agar kalian tidak berharap terlalu banyak.”

“Aku tahu.”

“Aku membuat kalian curiga

kepada kasih.”

“Aku tahu.”

“Aku membuat kalian menguji manusia,

menjauh lebih dahulu,

dan menganggap setiap kesalahan

sebagai bukti bahwa kasih tidak nyata.”

“Aku tahu.”

“Apakah kau membenciku?”

Pengembara memandangnya.

“Tidak.”

“Apakah kau masih memerlukanku?”

“Aku masih memerlukan kewaspadaan.”

“Tetapi tidak lagi memerlukanmu

untuk mengatakan

bahwa aku tidak layak dicintai.”

Penjaga menutup mata.

Tubuhnya berubah menjadi

sebuah pintu kecil.

Di atas pintu tertulis:

“Kasih boleh masuk,

tetapi tidak boleh merampas rumah.”

Pintu itu dipasang

pada dada anak kecil.

Bukan untuk menutup hati.

Melainkan agar ia dapat memilih

siapa yang boleh mendekat,

seberapa jauh,

dan dengan syarat apa

kehadiran itu tetap aman.

Dari mangkuk air di ruangan

muncul setetes air jernih

tanpa warna.

“Air Keberhargaan,”

kata suara penjaga dari pintu.

“Ia tidak datang

dari pujian manusia.”

“Ia tidak bergantung

kepada keberhasilan.”

“Ia adalah pengingat

bahwa kehidupan memiliki martabat

sebelum sempat membuktikan apa pun.”

Pengembara membawa

enam tetes air:

Air Kecukupan.

Air Keunikan.

Air Pelepasan.

Air Keadilan yang Sadar.

Air Pertumbuhan.

Air Keberhargaan.

Bayi di tangannya

berubah menjadi cahaya

dan masuk ke dada anak kecil.

Anak itu tidak menjadi lebih besar.

Namun cara ia berdiri berubah.

Ia tidak lagi memegang pedang

sebagai satu-satunya perlindungan.

Ia membawa pintu dalam dadanya,

naga kecil di bahunya,

burung biru di dekat kepalanya,

dan keyakinan sederhana:

“Aku boleh menerima kasih

tanpa menyerahkan diriku.”

Ketika mereka keluar dari gua,

matahari hampir tenggelam seluruhnya.

Hanya ujungnya

masih terlihat di atas samudra.

Permaisuri Kasih Pinjaman

berdiri di puncak gunung.

Jubahnya telah membesar

menutupi separuh langit.

Benang-benang putihnya

mengikat tujuh kapal,

tujuh rumah,

para penolong,

dan pohon cahaya.

Sumur air pertama

telah menjadi hitam pekat.

“Kalian terlambat!”

teriaknya.

Ia menuangkan mangkuk air hitam

ke dalam sumur.

Pohon cahaya meranggas.

Daun terakhir jatuh.

Tujuh jalan menuju kapal

padam seluruhnya.

Anak-anak di rumah tua

menundukkan kepala.

Permaisuri berkata:

“Sekarang kasih dunia

hanya dapat mengalir melalui tanganku.”

“Siapa pun yang ingin diterima

harus mematuhiku.”

“Siapa pun yang ingin dicintai

harus menyerahkan namanya.”

“Siapa pun yang ingin mempunyai rumah

harus melupakan jalan pulang

menuju dirinya sendiri.”

Pengembara dan anak kecil

mendaki tangga terakhir.

Setiap langkah

membuat benang putih

mencoba mengikat tubuh mereka.

Benang berkata:

“Jangan mengecewakan.”

“Jangan menolak.”

“Jangan berubah.”

“Jangan pergi.”

“Buktikan kasihmu.”

“Korbankan dirimu.”

Pengembara tidak memotong semuanya.

Ia menyentuh satu benang.

“Aku dapat berusaha

tidak menyakiti.”

Benang melonggar.

“Namun aku tidak dapat menjanjikan

tidak akan pernah mengecewakan.”

Benang putus.

Ia menyentuh benang kedua.

“Aku dapat mendengarkan kebutuhanmu.”

“Namun aku tetap mempunyai hak

untuk berkata tidak.”

Benang kedua terlepas.

Anak kecil menyentuh benang ketiga.

“Aku dapat mencintai seseorang

tanpa harus menjadi

apa pun yang ia inginkan.”

Benang itu menjadi bunga.

Mereka terus mendaki.

Permaisuri berubah

menjadi wajah orang yang dirindukan.

“Apakah kau tidak mencintaiku?”

Pengembara menjawab:

“Kerinduan tidak selalu berarti

aku harus kembali.”

Permaisuri berubah

menjadi wajah seorang guru.

“Apakah kau berani membantah

orang yang membimbingmu?”

“Rasa hormat tidak menghapus

tanggung jawab untuk membedakan

kebenaran dan kesalahan.”

Permaisuri berubah

menjadi wajah seorang ibu.

“Bukankah anak harus berbakti?”

“Berbakti bukan berarti

membiarkan hidupnya

sepenuhnya dimiliki orang lain.”

Ia berubah menjadi wajah anak.

“Bukankah orang tua harus berkorban

untuk anaknya?”

“Berkorban tidak berarti

kehilangan batas, kesehatan,

dan kemanusiaan.”

Ia berubah menjadi wajah pengikut.

“Bukankah pemimpin harus selalu hadir?”

“Pemimpin yang sehat

membangun banyak tangan,

bukan membuat semua orang

lumpuh tanpa dirinya.”

Permaisuri berubah

menjadi wajah pengembara sendiri.

“Bukankah engkau ingin dicintai?”

Pengembara berhenti.

“Ya.”

Permaisuri tersenyum.

“Maka serahkan dirimu.”

“Tidak.”

“Kau akan kesepian.”

“Mungkin.”

“Kau akan ditinggalkan.”

“Mungkin.”

“Kau akan menyesal.”

“Mungkin.”

“Lalu mengapa menolak?”

Pengembara menatap anak kecil.

“Karena kesepian tidak lebih buruk

daripada kehilangan diriku sendiri

di dalam kasih yang palsu.”

Gunung berguncang.

Jubah permaisuri robek.

Mereka tiba di puncak.

Pohon cahaya berdiri

seperti rangka hitam.

Sumur mengeluarkan asap.

Permaisuri mengangkat

mangkuk terakhir.

“Bila enam tetes itu

kau masukkan ke sumur,

semuanya akan ditelan racunku.”

Pengembara memandang

tetes-tetes air di telapak tangannya.

“Mungkin.”

“Kau tidak yakin?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa datang?”

“Karena tindakan yang benar

tidak selalu datang

bersama kepastian hasil.”

Ia menuangkan

Air Kecukupan.

Sumur bergetar.

Air hitam berbisik:

“Tidak pernah cukup.”

Pengembara menjawab:

“Hari ini,

satu tetes cukup

untuk memulai.”

Ia menuangkan

Air Keunikan.

Sumur berkata:

“Kau kalah dibandingkan mereka.”

“Aku tidak perlu menjadi

kehidupan orang lain

untuk menjalani hidupku.”

Ia menuangkan

Air Pelepasan.

Sumur menampilkan wajah-wajah

yang telah pergi.

“Pegang mereka.”

“Aku mencintai tanpa harus

membekukan waktu.”

Ia menuangkan

Air Keadilan yang Sadar.

Sumur memperlihatkan

seluruh luka yang belum dibalas.

“Balaslah.”

“Aku akan menjaga batas

dan menuntut tanggung jawab

tanpa menjadikan kebencian

sebagai raja.”

Ia menuangkan

Air Pertumbuhan.

Sumur memperlihatkan

seluruh kegagalan.

“Sia-sia.”

“Tidak semua benih tumbuh,

tetapi aku tetap dapat belajar

menanam dengan lebih sadar.”

Terakhir,

ia memegang Air Keberhargaan.

Permaisuri menjerit:

“Jangan!”

Semua benang putih

menarik tubuh pengembara.

Wajah-wajah yang dicintainya

muncul di sekeliling.

Mereka menangis:

“Bila kau menuangkannya,

kami akan pergi.”

“Bila kau percaya dirimu berharga

tanpa kami,

kau tidak akan membutuhkan kami.”

“Bila kau tidak membutuhkan kami,

berarti kau tidak mencintai.”

Pengembara terdiam.

Anak kecil menggenggam tangannya.

“Apakah mencintai

berarti harus membutuhkan?”

Pengembara menjawab:

“Manusia saling membutuhkan.”

“Tetapi kebutuhan tidak boleh

menjadi rantai

yang melarang seseorang bertumbuh.”

Ia menuangkan

Air Keberhargaan.

Setetes bening jatuh

ke dalam sumur hitam.

Tidak terjadi apa-apa.

Permaisuri tertawa.

“Lihatlah!”

“Seluruh perjalananmu sia-sia!”

Sumur tetap hitam.

Pohon tetap kering.

Jalan tetap padam.

Pengembara berdiri

dengan tangan kosong.

Anak kecil bertanya:

“Mengapa tidak berubah?”

Pengembara menjawab pelan:

“Aku tidak tahu.”

Permaisuri mengangkat jubahnya.

“Akhirnya!”

“Sekarang akui

bahwa hanya kasihku

yang dapat menyelamatkan kalian!”

Namun dari dasar sumur

terdengar satu detak.

Dum.

Kemudian detak kedua.

Dum.

Gunung Asal Luka

menjawab dengan detaknya sendiri.

Dum.

Anak-anak di tujuh kapal

mengangkat kepala.

Satu anak berkata:

“Aku tidak harus menjadi sempurna

agar layak dicintai.”

Sebuah cahaya muncul

di rumah pertama.

Anak kedua berkata:

“Aku boleh berkata tidak.”

Rumah kedua menyala.

Anak ketiga berkata:

“Aku dapat meminta pertolongan

tanpa menyerahkan hidupku.”

Rumah ketiga bercahaya.

Anak keempat berkata:

“Kepergian seseorang

tidak selalu berarti

aku tidak berharga.”

Rumah keempat terbuka.

Anak kelima berkata:

“Aku boleh memiliki kebutuhan.”

Rumah kelima bersinar.

Anak keenam berkata:

“Aku boleh gagal

tanpa menjadi kegagalan.”

Rumah keenam berubah hangat.

Anak ketujuh berkata:

“Aku dapat menerima kasih

tanpa kehilangan diriku.”

Rumah ketujuh memancarkan cahaya

yang menembus langit.

Enam tetes air

di dalam sumur

menjadi tujuh.

Air ketujuh tidak berasal

dari tangan pengembara.

Ia berasal dari keberanian

anak-anak mengambil kembali

suara dan kehidupannya.

Sumur berguncang.

Retakan cahaya

muncul di permukaan air hitam.

Permaisuri Kasih Pinjaman

mundur.

“Tidak!”

“Mereka membutuhkan seseorang

untuk menentukan nilainya!”

Dari kapal pertama,

seorang ibu memutus benang putih.

“Anakku bukan milikku sepenuhnya.”

Dari kapal kedua,

seorang ayah berkata:

“Aku boleh membimbing

tanpa menguasai.”

Dari kapal ketiga,

seorang guru berkata:

“Muridku boleh bertanya.”

Dari kapal keempat,

seorang pemimpin berkata:

“Kekuasaan harus dapat dikoreksi.”

Dari kapal kelima,

seorang sahabat berkata:

“Aku dapat hadir

tanpa menjadi satu-satunya tempat bergantung.”

Dari kapal keenam,

seorang pasangan berkata:

“Cinta tidak memberiku hak

mengendalikan hidupmu.”

Dari kapal ketujuh,

seorang pengembara lain berkata:

“Aku dapat menolong

tanpa menjadikan diriku penyelamat.”

Ribuan benang putih putus.

Setiap benang yang putus

berubah menjadi benang emas lembut.

Benang itu tidak mengikat.

Ia menghubungkan.

Dapat dilonggarkan.

Dapat dilepas.

Dapat disambung kembali

dengan persetujuan kedua pihak.

Permaisuri Kasih Pinjaman

kehilangan jubahnya.

Tubuhnya mengecil.

Dari raksasa sebesar langit

menjadi perempuan tua.

Dari perempuan tua

menjadi gadis.

Dari gadis

menjadi seorang anak

yang berdiri di tepi sumur.

Anak itu memegang

mangkuk kosong.

“Siapakah engkau sekarang?”

tanya pengembara.

Anak itu menangis.

“Aku adalah ketakutan

bahwa tidak seorang pun

akan memilihku

bila mereka bebas.”

Pengembara menatapnya.

“Jadi kau mengikat mereka?”

“Aku membuat mereka bergantung.”

“Mengapa?”

“Agar mereka tidak pergi.”

Anak kecil di samping pengembara

mendekati anak permaisuri.

“Apakah itu berhasil?”

Permaisuri kecil melihat

benang-benang yang telah putus.

“Tidak.”

“Mereka tinggal,

tetapi tidak benar-benar bersamaku.”

“Mereka mematuhi,

tetapi tidak mencintaiku.”

“Mereka tersenyum,

tetapi takut.”

“Aku dikelilingi banyak orang,

namun tidak pernah dipilih

oleh satu pun hati yang bebas.”

Pengembara duduk

di tepi sumur.

“Kasih yang bebas

membawa kemungkinan perpisahan.”

Anak permaisuri mengangguk.

“Itulah yang kutakuti.”

“Namun tanpa kebebasan,

kehadiran tidak pernah

menjadi pilihan yang nyata.”

“Bagaimana bila mereka pergi?”

“Kau akan bersedih.”

“Bagaimana bila tak ada yang tinggal?”

“Kau perlu belajar

tinggal bersama dirimu sendiri

tanpa menganggap kesendirian

sebagai bukti bahwa kau tidak berharga.”

Anak permaisuri memandang

anak kecil pengembara.

“Apakah aku boleh duduk bersamamu?”

Anak itu menjawab:

“Boleh.”

“Apakah kau berjanji

tidak akan pernah pergi?”

Anak kecil menggeleng.

Permaisuri menunduk.

Namun anak itu melanjutkan:

“Aku tidak dapat berjanji

tentang seluruh masa depan.”

“Tetapi saat ini,

aku memilih duduk di sini.”

Permaisuri kecil menangis.

Mangkuk kosongnya

terisi satu tetes air.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena diambil.

Tetes itu diberikan

oleh kehadiran yang bebas.

Sumur air pertama

meledak dalam cahaya.

Air hitam naik

setinggi langit.

Namun ketika jatuh kembali,

warnanya berubah jernih.

Pohon cahaya hidup.

Akar-akarnya memancarkan emas.

Batangnya dipenuhi aksara biru.

Daun-daun baru tumbuh,

tetapi tidak lagi membawa

nama manusia tertentu.

Pada setiap daun tertulis:

Kehadiran.

Kejujuran.

Batas.

Tanggung jawab.

Kebebasan.

Kasih sayang.

Pengampunan.

Keadilan.

Kesetiaan tanpa kepemilikan.

Pertolongan tanpa penguasaan.

Cinta tanpa kehilangan diri.

Air sumur mengalir

ke tujuh jalan.

Rantai berubah menjadi sungai.

Kapal-kapal tanpa layar

mendapat angin.

Rumah-rumah tua membuka pintu.

Anak-anak keluar

bukan untuk mengikuti

satu penyelamat.

Mereka bertemu

dengan banyak manusia

yang bersedia mendengar,

merawat, melindungi,

mengajar, dan berjalan bersama.

Gunung Asal Luka

tidak runtuh.

Luka-lukanya tidak dihapus.

Namun dari setiap retakan

tumbuh bunga.

Dari setiap gua

keluar sungai.

Dari setiap batu

muncul tulisan:

“Apa yang pernah melukaimu

tidak harus menjadi takhta

yang memerintah seluruh hidupmu.”

Matahari terbenam sepenuhnya.

Namun ketika cahaya terakhir

masuk ke dalam samudra,

lautan tidak menjadi gelap.

Dari dasar laut

muncul sinar biru.

Sinar itu mengalir

dari Gunung Asal Luka

menuju kerajaan Tiongkok Dasar Laut.

Kapal merah di kejauhan

membunyikan lonceng.

Phoenix kembali terbang

dari balik awan.

Ikan emas raksasa

muncul dari kedalaman

dan berenang mengelilingi gunung.

Anak kecil menatap pengembara.

“Apakah perjalanan telah selesai?”

Pengembara memandang

puncak gunung,

sumur yang telah jernih,

dan jalan-jalan cahaya.

“Bagian ini selesai.”

“Apakah semua luka kita sembuh?”

“Tidak seluruhnya.”

“Apakah Raja Kelaparan Kasih

akan kembali?”

“Mungkin.”

“Apakah Permaisuri Kasih Pinjaman

dapat bangkit lagi?”

Pengembara melihat anak kecil

yang dahulu menjadi permaisuri.

Ia sedang belajar

menerima air setetes demi setetes

tanpa merebut mangkuk orang lain.

“Bila ketakutan lama

kembali memegang mahkota,

ia mungkin bangkit.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Mengenalinya lebih awal.”

“Kembali ke gunung.”

“Mendengarkan tubuh dan hati.”

“Menerima bantuan.”

“Menjaga batas.”

“Dan tidak menunggu

sampai luka menjadi kerajaan

sebelum berani mengaku

bahwa kita sedang kesakitan.”

Anak kecil mengangguk.

“Apakah aku harus tetap kecil?”

Pengembara tersenyum.

“Tidak.”

“Kau boleh tumbuh.”

“Apakah kau akan membawaku?”

“Kau tidak perlu lagi

hanya dibawa.”

“Kita akan berjalan bersama.”

Tubuh anak itu

mulai memancarkan cahaya.

Ia tidak menghilang.

Ia tumbuh menjadi pemuda,

kemudian dewasa,

lalu kembali menjadi anak

dalam satu lingkaran cahaya.

Semua usia itu

masuk ke dalam dada pengembara.

Bukan untuk dikurung.

Melainkan untuk menjadi satu kehidupan

yang mengakui seluruh bagiannya:

Anak yang membutuhkan kasih.

Pemuda yang mencari arah.

Prajurit yang ingin melindungi.

Guru yang belajar mendengarkan.

Pemimpin yang harus dapat dikoreksi.

Pengembara yang tidak mengetahui

seluruh jalan.

Dan manusia biasa

yang boleh pulang, beristirahat,

menangis, tertawa,

meminta pertolongan,

serta memulai kembali.

Tongkat kayu di tangannya

menancap ke tanah.

Dari ujungnya tumbuh

sebuah pohon muda.

Pada batangnya tidak tertulis

nama pengembara.

Tidak ada gelar.

Tidak ada lambang kerajaan.

Hanya satu kalimat:

“Jadilah rumah

tanpa menjadikan orang lain tawanan.”

Air dari sumur pertama

turun menuju dasar gunung.

Ia memasuki sungai bawah tanah.

Melewati lorong-lorong purba.

Menyentuh kota yang dahulu membatu.

Mengalir ke istana

yang pernah menjadi singgasana

bagi raja tanpa hati.

Melewati balairung

tempat pendeta-pendeta

mengubah nasihat menjadi rantai.

Membasahi ladang

yang dahulu takut menanam.

Mengisi mangkuk-mangkuk retak.

Membersihkan cermin.

Menyalakan lilin.

Menyeimbangkan timbangan.

Menumbuhkan benih.

Membuka pintu hati.

Ketika air itu tiba

di Tiongkok Dasar Laut,

seluruh lonceng kota berbunyi.

Bukan sebagai tanda

datangnya raja.

Bukan untuk menyambut penyelamat.

Lonceng berbunyi

agar setiap manusia

mengingat suara dirinya sendiri.

Penduduk keluar dari rumah.

Mereka melihat gunung

yang menjulang dari dasar samudra.

Di atasnya,

pohon cahaya berdiri

menembus langit.

Phoenix hinggap di dahannya.

Ikan emas berenang

di antara akar-akarnya.

Seorang anak bertanya:

“Siapakah yang menyelamatkan

sumber air?”

Orang tua menjawab:

“Banyak tangan.”

“Siapakah pahlawannya?”

“Mereka yang berani

mengambil kembali hidupnya.”

“Apakah pengembara itu

tidak melakukan apa-apa?”

“Ia berjalan.”

“Ia mendengarkan.”

“Ia melakukan kesalahan.”

“Ia meminta maaf.”

“Ia membantu semampunya.”

“Dan ketika dunia ingin

menjadikannya pusat cahaya,

ia mengingatkan

bahwa cahaya tidak dimiliki

satu manusia.”

Penduduk tidak membangun patung.

Mereka membangun jembatan.

Tidak mengukir wajah pengembara

pada gerbang.

Mereka menuliskan petunjuk

agar siapa pun dapat menemukan jalan.

Tidak menyimpan air pertama

di istana.

Mereka mengalirkannya

ke rumah, sawah, sekolah,

tempat penyembuhan,

dan pelabuhan.

Tidak menutup kitab.

Mereka membacanya bersama,

bertanya, menguji,

dan memperbaiki kesalahan.

Tidak menyerahkan seluruh kunci

kepada seorang pemimpin.

Mereka membaginya

kepada banyak tangan

yang dapat saling mengingatkan.

Di alun-alun,

singgasana batu masih kosong.

Pedang bening yang dahulu diletakkan

telah berubah menjadi tongkat.

Tongkat itu tidak disimpan

sebagai pusaka yang disembah.

Ia diletakkan di dekat pintu kota

untuk dipakai siapa pun

yang kesulitan berjalan.

Pengembara turun

dari Gunung Asal Luka.

Kini ia tidak berjalan sendirian.

Bukan karena selalu ada manusia

di sampingnya.

Melainkan karena ia tidak lagi

meninggalkan dirinya sendiri

setiap kali harus menghadapi dunia.

Pada kaki gunung,

kapal merah menunggu.

Layarnya putih.

Lambungnya memantulkan

cahaya sumur.

Nakhoda tidak lagi berdiri

di dekat kemudi.

Kemudi itu kosong.

Pengembara naik.

Ia tidak segera mengambilnya.

Ia menunggu para awak berkumpul.

Seorang ibu datang.

Seorang ayah.

Seorang guru.

Seorang tabib.

Seorang petani.

Seorang anak.

Seorang mantan pendeta.

Seorang bekas tawanan.

Seorang pemimpin yang pernah salah.

Seorang penjaga yang belajar melepaskan tugas lama.

Dan Permaisuri Kasih Pinjaman

yang kini hanya seorang anak

membawa mangkuk kecil.

Mereka berdiri mengelilingi kemudi.

Pengembara berkata:

“Kapal ini tidak akan dikendalikan

oleh satu tangan.”

Kemudi terbagi menjadi beberapa pegangan.

Masing-masing awak

memegang satu bagian.

Ada yang membaca bintang.

Ada yang memeriksa arus.

Ada yang menjaga persediaan.

Ada yang merawat orang sakit.

Ada yang mendengarkan suara kapal.

Ada yang mengingatkan

bila perjalanan mulai menyimpang.

Anak permaisuri bertanya:

“Apa tugasku?”

Pengembara menyerahkan

mangkuk kosong.

“Belajarlah menerima

tanpa merampas.”

“Dan bila mangkukku kosong?”

“Katakan bahwa kau membutuhkan air.”

“Bagaimana bila tidak ada yang memberi?”

“Kita akan mencari bersama.”

“Bagaimana bila tetap tidak mendapat?”

Pengembara menatapnya jujur.

“Kita akan merasakan kecewa.”

“Namun kita tidak akan mengubah

kekecewaan menjadi hak

untuk menguasai orang lain.”

Anak itu mengangguk.

Kapal mulai bergerak.

Tidak menuju kerajaan baru.

Tidak menuju perang.

Tidak pula menuju gunung

yang menjanjikan keabadian.

Kapal berlayar

mengelilingi samudra,

membawa air pertama

ke tempat-tempat yang membutuhkannya.

Namun air itu tidak diberikan

sebagai benda ajaib.

Di setiap pelabuhan,

mereka hanya meneteskan sedikit

ke dalam sumur setempat.

Kemudian penduduk harus

membersihkan salurannya sendiri.

Membangun batasnya sendiri.

Merawat sumbernya sendiri.

Belajar bermusyawarah.

Belajar meminta pertolongan.

Belajar berkata tidak.

Belajar menerima kehilangan.

Belajar bertanggung jawab.

Belajar mencintai

tanpa menelan kehidupan orang lain.

Pengembara tidak tinggal

sampai semua pekerjaan selesai.

Ia pergi ketika penduduk

sudah mampu melanjutkan.

Sebagian memujinya.

Ia menerima ucapan terima kasih

tanpa menganggapnya sebagai mahkota.

Sebagian mencelanya.

Ia memeriksa kritik

tanpa menjadikannya seluruh identitas.

Sebagian salah memahami.

Ia menjelaskan semampunya.

Sebagian tetap membenci.

Ia menjaga batas

tanpa membalas kebencian

dengan kezaliman.

Sebagian meminta

agar ia menjadi raja.

Ia menolak singgasana.

Sebagian meminta

agar ia tidak pernah pergi.

Ia tidak memberikan

janji yang tidak mampu ditepati.

Ia berkata:

“Aku akan hadir

selama aku mampu hadir.”

“Setelah itu,

kalian harus tetap memiliki

jalan menuju cahaya

tanpa menggantungkan seluruhnya

kepada diriku.”

Bertahun-tahun berlalu.

Atau mungkin hanya

satu malam di dasar laut.

Sebab waktu di Tiongkok Dasar Laut

tidak berjalan seperti waktu

di atas daratan.

Pengembara menjadi tua.

Rambutnya memutih.

Langkahnya melambat.

Tongkat kayu yang dahulu tumbuh

dari sembilan nama terlarang

kini benar-benar dipakainya

untuk menopang tubuh.

Suatu senja,

kapal merah kembali

ke gerbang pertama.

Gerbang tempat

semua perjalanan dimulai.

Di sana masih terdapat

lukisan ikan emas dan phoenix.

Lentera biru menyala.

Air menggenangi lantai kuil.

Singgasana tetap kosong.

Pengembara turun dari kapal.

Ia berjalan menuju mural purba.

Ikan emas pada dinding

membuka mata.

Phoenix mengembangkan sayap.

Suara dari singgasana terdalam

kembali terdengar:

“Barang siapa memasuki lautan dirinya,

akan menemukan gunung

yang selama ini dicarinya.”

Pengembara tersenyum.

“Dan setelah menemukan gunung?”

Suara itu menjawab:

“Ia akan mengetahui

bahwa puncak bukan tempat

untuk tinggal selamanya.”

“Lalu untuk apa mendaki?”

“Agar ia dapat melihat jalan pulang.”

Pengembara memandang

permukaan air.

Di dalam pantulannya

terlihat seluruh dirinya:

Anak yang menunggu.

Prajurit yang berperang.

Raja yang menolak singgasana.

Guru yang belajar berkata tidak tahu.

Penyelamat yang hampir menjadi berhala.

Manusia yang lapar kasih.

Seseorang yang pernah salah.

Seseorang yang memperbaiki.

Seseorang yang tetap belum sempurna.

Semua bayangan itu

berdiri bersama.

Tidak saling mengusir.

Tidak saling menguasai.

Pengembara berkata:

“Aku pulang.”

Anak kecil dalam pantulan

menjawab:

“Kali ini kau tidak terlambat.”

Air bergetar.

Pantulan mereka menyatu.

Di luar kuil,

matahari mulai terbenam.

Cahayanya menyentuh

permukaan samudra.

Matahari itu tidak jatuh

sebagai lambang akhir.

Ia turun membawa api

menuju dasar lautan.

Api menyentuh air.

Air tidak memadamkannya.

Air membawa cahaya

ke tempat-tempat yang paling gelap.

Lautan meluap.

Bukan karena murka.

Bukan karena kehancuran.

Ia meluap oleh air jernih

dari Gunung Asal Luka,

oleh air mata yang telah diizinkan jatuh,

oleh kasih yang tidak lagi

menuntut tawanan,

dan oleh suara manusia

yang mengambil kembali kehidupannya.

Permadani terbentang.

Bukan bagi raja.

Bukan bagi manusia yang ingin dipuja.

Permadani itu terbentang

bagi siapa pun

yang berani berjalan

tanpa menginjak martabat orang lain.

Benangnya ditenun

dari keberanian berkata jujur.

Dari kesediaan meminta maaf.

Dari kemampuan menerima koreksi.

Dari ketegasan menjaga batas.

Dari kesabaran yang tidak dipakai

untuk membenarkan kekerasan.

Dari pengampunan

yang tidak menghapus tanggung jawab.

Dari kasih

yang tidak merampas kebebasan.

Gunung menjulang tinggi.

Namun tidak lagi

sebagai takhta kekuasaan.

Ia menjadi penunjuk arah

bagi kapal-kapal yang tersesat.

Pada puncaknya,

pohon cahaya berdiri.

Akar-akarnya masuk

ke dalam luka manusia.

Dahan-dahannya terbuka

kepada langit.

Buahnya tidak memberikan

keabadian.

Siapa pun yang memakannya

hanya memperoleh satu kesadaran:

“Aku tidak dapat menguasai

seluruh kehidupan.”

“Namun aku dapat menjaga

cara diriku hadir

di dalam kehidupan.”

Phoenix terbang

membawa api matahari.

Ikan emas berenang

membawa kedalaman laut.

Keduanya bertemu

di atas Tiongkok Dasar Laut.

Api tidak menyombongkan cahaya.

Air tidak menyembunyikan kedalaman.

Mereka bergerak bersama

mengelilingi dunia

yang kembali bernapas.

Pada malam terakhir,

pengembara duduk

di anak tangga kuil.

Seorang anak dari kota

datang membawa kitab kosong.

“Apakah aku boleh menulis

kisah perjalananmu?”

Pengembara menjawab:

“Boleh.”

“Apakah aku harus menulis

bahwa engkau seorang pahlawan?”

“Tulislah bahwa aku pernah takut.”

“Apakah aku harus menulis

bahwa engkau selalu benar?”

“Tulislah bahwa aku pernah salah

dan harus memperbaiki.”

“Apakah aku harus menulis

bahwa engkau menyelamatkan kerajaan?”

“Tulislah bahwa banyak manusia

menyelamatkan kehidupan bersama.”

“Apakah aku harus menulis namamu?”

Pengembara memandang laut.

“Nama dapat ditulis.”

“Tetapi jangan membuat nama

lebih besar daripada makna.”

Anak itu membuka halaman pertama.

“Apa judulnya?”

Pengembara menunjuk

matahari yang telah tenggelam,

lautan yang masih memancarkan cahaya,

permadani air yang membentang,

dan gunung tinggi

yang berdiri di kejauhan.

Ia menjawab:

“Puisi Tiongkok Dasar Laut.”

“Apa artinya?”

Pengembara tersenyum.

“Tiongkok adalah istana ingatan

yang dibangun manusia

dari sejarah, kebijaksanaan,

kesalahan, dan harapan.”

“Dasar laut adalah tempat

semua hal yang tidak ingin kita lihat

tetap hidup dalam diam.”

“Puisi adalah jalan

agar keduanya dapat berbicara

tanpa saling menghancurkan.”

Anak itu menulis.

“Bagaimana bait terakhir ditutup?”

Pengembara memandang

cermin kecil dari Lautan Kesembilan.

Di samping cermin

tersimpan daun dari Gunung Asal Luka.

Cermin berkata:

“Jangan menjadi berhala.”

Daun berkata:

“Jangan jadikan luka sebagai takhta.”

Tongkat kayu berkata:

“Berjalanlah semampumu.”

Mangkuk kosong berkata:

“Sisakan ruang untuk belajar.”

Pintu di dalam dada berkata:

“Kasih boleh masuk,

tetapi tidak boleh merampas rumah.”

Pengembara mengambil pena.

Dengan tangannya sendiri

ia menulis baris terakhir:

“Terbenam matahari

bukan berarti cahaya berakhir.”

“Meluap lautan

bukan berarti dunia tenggelam.”

“Terbentang permadani

bukan berarti jalan telah mudah.”

“Menjulang gunung yang tinggi

bukan berarti manusia harus menjadi raja.”

“Semua itu hanyalah tanda

bahwa sedalam apa pun seseorang tenggelam,

masih ada jalan untuk menyelami dirinya,

memeluk luka tanpa menyembahnya,

menerima kasih tanpa menjadi tawanan,

dan kembali ke permukaan

sebagai manusia biasa

yang sadar bahwa cahaya sejati

tidak meminta dirinya dipuja.”

Ia meletakkan pena.

Lonceng kuil berbunyi satu kali.

Seluruh laut menjadi hening.

Kemudian dari dasar samudra

muncul jutaan lentera.

Lentera-lentera itu naik

menuju permukaan.

Masing-masing membawa

satu doa manusia:

Doa agar cukup.

Doa agar berani.

Doa agar mampu melepaskan.

Doa agar keadilan dijaga.

Doa agar kegagalan

tidak mematikan harapan.

Doa agar kasih

tidak lagi menjadi rantai.

Doa agar orang yang terluka

tidak menjadikan lukanya

alasan melukai.

Doa agar orang yang diberi kuasa

tidak menjadikan dirinya

sumber seluruh kebenaran.

Doa agar manusia

tetap menjadi manusia

ketika dunia memintanya

menjadi lambang.

Lentera-lentera menembus laut.

Cahayanya terlihat

dari daratan yang jauh.

Orang-orang memandang

dan mengira bintang-bintang

sedang lahir dari samudra.

Mereka tidak mengetahui

bahwa jauh di bawah sana,

seorang pengembara tua

telah menyelesaikan bait terakhirnya.

Ia menutup kitab.

Tidak ada petir.

Tidak ada mahkota turun dari langit.

Tidak ada suara

yang menyebutnya terpilih.

Hanya suara ombak,

napas yang tenang,

dan langkah seorang anak

yang pulang ke rumah

tanpa membawa pedang.

Pengembara berdiri.

Ia memasuki kuil.

Pintu menutup perlahan.

Namun tidak dikunci.

Sebab rumah yang telah berdamai

dengan dirinya sendiri

tidak lagi takut

kepada setiap ketukan.

Di atas pintu tertulis:

“Masuklah dengan jujur.”

“Duduklah tanpa mahkota.”

“Bicaralah tanpa menindas.”

“Mencintailah tanpa memiliki.”

“Pergilah tanpa mengutuk.”

“Dan pulanglah

tanpa meninggalkan dirimu sendiri.”

Malam menyelimuti

Tiongkok Dasar Laut.

Gunung berdiri.

Permadani berkilau.

Samudra bernapas.

Phoenix menutup sayap.

Ikan emas kembali

ke kedalaman.

Matahari tidur

di dasar air,

menunggu fajar berikutnya.

Dan sebelum seluruh cahaya

benar-benar tenang,

suara paling tua dari lautan

mengucapkan penutup:

“Tidak ada dasar

bagi hati yang berani menyelam.”

“Tidak ada gunung

yang terlalu tinggi

bagi manusia yang bersedia

melangkah tanpa kesombongan.”

“Tidak ada luka

yang harus dijadikan kerajaan.”

“Tidak ada kasih

yang berhak menjadikan jiwa tawanan.”

“Dan tidak ada akhir

bagi cahaya

yang telah menemukan jalan pulang.”

Tamat




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh