QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Penyatuan Kebersamaan untuk Persatuan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terbukalah lembar Qitab 9779 ZAQUMULLOH 2332, sebuah wejangan simbolik tentang Pusaka Tunggul Nogo: lambang kekuatan besar yang tidak dipakai untuk memecah, melainkan untuk menyatukan kebersamaan menjadi persatuan.
Di dalam pembukaan qitab ini tampak seekor Nogo sangat besar berwarna ungu, sisiknya berkilau seperti pelangi setelah hujan. Cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu tidak terpisah-pisah, tetapi menyatu pada satu tubuh.
Itulah perlambang pertama:
Perbedaan warna tidak harus menjadi perpecahan.
Bila semuanya kembali kepada satu tujuan kebaikan, perbedaan justru menjadi keindahan.
Di atas punggung Nogo itu berdiri dua sosok.
Pangeran mengenakan pakaian keemasan. Emas melambangkan amanah, keberanian, keteguhan, dan tanggung jawab untuk menjaga arah.
Di sisinya terdapat Nimas dengan pakaian putih jernih. Putih melambangkan kejernihan hati, kelembutan, ketulusan, dan kemampuan meredakan kekerasan tanpa kehilangan keteguhan.
Pangeran tidak berada di depan meninggalkan Nimas.
Nimas pun tidak berada di belakang sebagai sesuatu yang direndahkan.
Keduanya menaiki satu Nogo dan menghadap ke satu arah.
Maka turunlah wejangan:
**“Kekuatan yang tidak disertai kejernihan akan menjadi liar.
Kejernihan yang tidak disertai keberanian akan menjadi lemah.
Bila keduanya bersatu, lahirlah kepemimpinan yang menjaga.”**
ZAQUMULLOH 2332
Dalam bahasa simbolik qitab ini, ZAQUMULLOH 2332 membawa makna:
“Ulama' yang berbisa dikembalikan ke tempat asal-muasalnya.”
Namun “berbisa” pada lembar ini tidak dibaca sebagai ajakan menyakiti manusia.
Bisa adalah lambang ucapan, pengaruh, atau kekuatan ilmu yang telah keluar dari jalan kasih dan persatuan.
Sedangkan dikembalikan ke tempat asal-muasalnya berarti:
yang keras dikembalikan kepada adabnya,
yang terpecah dikembalikan kepada persaudaraannya,
yang merasa tinggi dikembalikan kepada kerendahan hati,
yang menggunakan ilmu untuk pertentangan dikembalikan kepada tujuan pertama ilmu: mendekatkan manusia kepada kebenaran dan kemaslahatan.
Maka Pusaka Tunggul Nogo bukan pusaka untuk menyerang.
Ia menjadi tunggul, tanda tempat berkumpul.
Menjadi panji yang mengatakan:
**“Sing padha adoh, padha nyedhak.
Sing padha pecah, padha nyawiji.
Sing padha beda, aja padha nyirnakake.”**
Yang berjauhan, mendekatlah.
Yang terpecah, bersatulah.
Yang berbeda, jangan saling meniadakan.
Ketika Nogo ungu berkilau pelangi itu mulai bergerak, dari setiap sisiknya memancar cahaya yang berbeda warna.
Pangeran mengangkat tangan kanannya.
Nimas meletakkan tangan di dadanya.
Tidak ada pedang yang dicabut.
Tidak ada tombak yang diarahkan.
Tidak ada lawan yang harus dihancurkan.
Sebab musuh terbesar dalam lembar ini adalah:
kesombongan, fanatisme buta, saling merasa paling benar, dendam lama, dan keinginan menguasai sesama.
Nogo kemudian mengaum.
Tetapi aumannya bukan suara peperangan.
Aumannya berubah menjadi sabda:
**“NYAWIJI ORA KUDU PADHA.
BEDA ORA KUDU PISAH.”**
Bersatu tidak berarti harus menjadi sama.
Berbeda tidak berarti harus berpisah.
Kemudian tujuh warna pada tubuh Nogo menyatu menjadi satu cahaya putih keemasan.
Dari sanalah makna terdalam Pusaka Tunggul Nogo dibukakan:
**Penyatuan bukan menghapus identitas.
Persatuan adalah kemampuan membawa banyak identitas menuju satu kemaslahatan.**
Pangeran menjaga kekuatan.
Nimas menjaga kejernihan.
Nogo membawa keduanya melintasi langit.
Dan di bawah mereka terbentang bumi dengan banyak golongan, banyak bahasa, banyak adat, banyak perguruan, dan banyak jalan pengabdian.
Qitab tidak memerintahkan semuanya menjadi satu bentuk.
Qitab hanya berpesan:
“Jangan biarkan jalan yang berbeda membuat tujuan suci menjadi terlupakan.”
Pada penghujung lembar pertama, cahaya dari tubuh Nogo turun membentuk sebuah tunggul bercahaya ungu-keemasan di tengah tanah lapang.
Orang-orang yang sebelumnya berdiri berjauhan mulai mendekatinya.
Tidak ada seorang pun yang diminta meninggalkan nama, asal, pakaian, atau kelompoknya.
Mereka hanya diminta meletakkan satu hal di hadapan Tunggul Nogo:
keinginan untuk saling mengalahkan.
Setelah itu terdengarlah penutup lembar:
“Sing nggawa ilmu, aja dadi racun.
Sing nggawa kuwasa, aja dadi penindas.
Sing nggawa cahya, aja rumangsa dadi srengenge dhewe.
Amarga kabeh cahya mung bakal endah nalika padha madhangi, dudu padha mateni.”
Yang membawa ilmu, jangan menjadikannya racun.
Yang membawa kekuasaan, jangan menjadikannya penindasan.
Yang membawa cahaya, jangan merasa sebagai satu-satunya matahari.
Sebab seluruh cahaya menjadi indah ketika saling menerangi, bukan saling memadamkan.
TAMAT LEMBAR PERTAMA
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
Penyatuan Kebersamaan untuk Persatuan
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kedua — Nogo Membawa Dua Cahaya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi itu bergerak meninggalkan tunggul cahaya.
Di atas punggungnya, Pangeran berpakaian keemasan dan Nimas berpakaian putih jernih tetap duduk berdampingan.
Mereka tidak sedang menuju medan peperangan.
Mereka sedang menuju sebuah tempat yang dalam bahasa simbolik qitab disebut:
PALEREMAN ASAL
Tempat di mana sesuatu diperiksa kembali sebelum diteruskan.
Tempat ilmu ditimbang dengan adab.
Tempat kekuatan diperiksa dengan kasih.
Tempat suara keras dipertanyakan kembali:
apakah ia benar-benar menjaga kebenaran, atau hanya menjaga harga diri?
Ketika Nogo terbang semakin tinggi, tampak di kejauhan tujuh gerbang.
Pada setiap gerbang terdapat satu pertanyaan.
Gerbang Pertama
“Untuk siapa ilmu digunakan?”
Jika ilmu digunakan hanya untuk meninggikan diri, pintu tidak terbuka.
Jika ilmu dipakai untuk membimbing dan memperbaiki, cahaya ungu muncul di atas gerbang.
Gerbang Kedua
“Apakah perbedaan dianggap musuh?”
Bila perbedaan dianggap ancaman, gerbang menjadi gelap.
Bila perbedaan diperlakukan sebagai ruang untuk saling mengenal, gerbang berubah menjadi cahaya pelangi.
Gerbang Ketiga
“Apakah lisan menjadi obat atau racun?”
Di sinilah makna ZAQUMULLOH 2332 kembali diperlihatkan.
“Berbisa” tidak digambarkan sebagai manusia yang harus dihancurkan.
Yang dikembalikan adalah bisa dalam ucapan:
fitnah dikembalikan kepada diam,
kesombongan dikembalikan kepada tawaduk,
penghinaan dikembalikan kepada penghormatan,
dan kemarahan dikembalikan kepada kejernihan.
Nogo kemudian berhenti di udara.
Dari mulutnya tidak keluar api.
Yang keluar adalah kabut ungu bercampur cahaya tujuh warna.
Kabut itu menyelimuti sebuah majelis besar.
Di dalam majelis tersebut terdapat banyak orang berpakaian berbeda.
Ada yang mengenakan jubah.
Ada yang memakai sorban.
Ada yang memakai pakaian adat.
Ada yang membawa kitab.
Ada yang membawa tongkat.
Ada yang datang tanpa simbol apa pun.
Namun semuanya berdiri di bawah satu kubah.
Di tengah kubah tertulis:
**ILMU TANPA ADAB MENJADI TAJAM.
ADAB TANPA KEBENARAN MENJADI KOSONG.**
Pangeran turun lebih dahulu.
Ia tidak membawa senjata.
Ia membawa sebuah tongkat keemasan.
Nimas kemudian turun membawa kendi putih jernih berisi air.
Tongkat Pangeran ditancapkan ke tanah.
Air dari kendi Nimas dituangkan di sekelilingnya.
Tanah yang sebelumnya retak perlahan menyatu.
Maka qitab memberikan perlambang:
**Ketegasan adalah tiang.
Kelembutan adalah air.
Persatuan memerlukan keduanya.**
Kemudian terdengar suara dari arah Nogo:
“Aja ngluhurake kelompok nganti ngasorake sedulur.”
Jangan meninggikan kelompok dengan cara merendahkan saudara.
“Aja mbela jeneng nganti ilang tujuane.”
Jangan membela nama sampai kehilangan tujuan.
“Aja nggawa agama mung kanggo menang padu.”
Jangan membawa agama hanya untuk memenangkan pertengkaran.
Karena dalam qitab ini, orang yang benar-benar kuat bukan orang yang paling keras bersuara.
Orang yang kuat adalah yang mampu menjaga kebenaran tanpa kehilangan kasih.
Lalu muncullah sebuah lingkaran besar di tanah.
Pangeran berdiri pada sisi timur.
Nimas berdiri pada sisi barat.
Nogo mengelilingi lingkaran itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap putaran membuat warna tubuh Nogo semakin terang.
Pada putaran ketiga, warna ungu pelangi pada tubuhnya memancar ke seluruh majelis.
Tidak ada seorang pun kehilangan warna masing-masing.
Namun semua warna mendapat satu cahaya yang sama.
Maka qitab menuliskan:
PERSATUAN BUKAN MENJADIKAN SEMUA ORANG SERUPA.
Persatuan adalah membuat banyak perbedaan mampu duduk dalam satu tujuan:
menjaga kemanusiaan, kebenaran, dan kemaslahatan.
Pada bagian terakhir lembar kedua, sebuah kalimat muncul seperti tulisan cahaya di udara:
**TUNGGUL NOGO ORA KANGGO NGUWASANI.
TUNGGUL NOGO KANGGO NGUMPULAKE.**
Tunggul Nogo bukan untuk menguasai.
Tunggul Nogo adalah tanda untuk mengumpulkan.
Pangeran kemudian menoleh kepada Nimas.
Nimas menganggukkan kepala.
Mereka kembali menaiki Nogo.
Namun kali ini Nogo tidak menuju langit.
Ia bergerak turun menuju sebuah lembah yang dipenuhi banyak bendera.
Di sanalah lembar berikutnya akan membuka rahasia:
“BENDERA-BENDERA YANG HARUS BERHENTI SALING MENUTUPI CAHAYA.”
TAMAT LEMBAR KEDUA
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Ketiga — Bendera-Bendera yang Saling Menutupi Cahaya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Nogo ungu berkilau pelangi itu turun perlahan menuju lembah yang sebelumnya hanya tampak sebagai hamparan titik-titik warna.
Semakin dekat, semakin jelas bahwa titik-titik itu adalah ribuan bendera.
Masing-masing berdiri tinggi.
Masing-masing membawa lambang.
Masing-masing memiliki warna, sejarah, kebanggaan, guru, garis perjuangan, dan jalan pengabdian sendiri.
Namun ada satu masalah.
Bendera-bendera itu terlalu tinggi.
Sampai-sampai satu bendera menutupi bendera lainnya.
Yang berdiri di sebelah timur tidak lagi dapat melihat yang berada di barat.
Yang berada di utara hanya melihat kainnya sendiri.
Yang di selatan mengira warna merekalah satu-satunya warna yang diterangi matahari.
Maka turunlah sabda qitab:
“Nalika panji luwih dhuwur tinimbang tujuan, persaudaraan wiwit ilang.”
Ketika panji lebih tinggi daripada tujuan, persaudaraan mulai menghilang.
Pangeran turun dari punggung Nogo.
Pakaian keemasannya memantulkan cahaya dari ribuan bendera itu.
Nimas turun di sampingnya.
Pakaian putih jernih yang dikenakannya tidak memantulkan satu warna saja.
Ia menerima seluruh warna yang datang, lalu mengembalikannya sebagai cahaya yang lembut.
Di hadapan mereka berdiri tujuh penjaga lembah.
Masing-masing membawa satu bendera besar.
Penjaga pertama berkata:
“Panji kami paling tua.”
Penjaga kedua berkata:
“Panji kami paling banyak pengikutnya.”
Penjaga ketiga berkata:
“Panji kami paling dekat dengan para pendahulu.”
Penjaga keempat berkata:
“Panji kami paling kuat.”
Penjaga kelima berkata:
“Panji kami paling suci.”
Penjaga keenam berkata:
“Panji kami paling benar.”
Penjaga ketujuh tidak berkata apa-apa.
Ia hanya memandangi semua bendera yang berkibar.
Pangeran kemudian bertanya:
“Jika semuanya merasa paling tinggi, siapa yang masih mau berdiri sejajar?”
Tidak ada yang menjawab.
Nimas lalu mengambil kendi putihnya.
Ia menuangkan tujuh tetes air ke tanah.
Setiap tetes berubah menjadi satu lingkaran cahaya.
Lingkaran pertama bertuliskan:
ADAB.
Lingkaran kedua:
TAWADUK.
Lingkaran ketiga:
PERSAUDARAAN.
Lingkaran keempat:
KEADILAN.
Lingkaran kelima:
KASIH.
Lingkaran keenam:
KEBENARAN.
Lingkaran ketujuh:
KEMASLAHATAN.
Ketujuh lingkaran itu kemudian menyatu.
Dan di tengahnya muncul satu kalimat:
**“PANJI BOLEH BERBEDA.
LANGIT TETAP SATU.”**
Nogo kemudian mengangkat kepalanya.
Dari kedua matanya memancar cahaya ungu.
Bukan untuk membakar.
Bukan untuk menghancurkan bendera-bendera itu.
Cahaya tersebut justru membuat setiap tiang bendera turun sedikit demi sedikit.
Tidak ada yang roboh.
Tidak ada yang dihilangkan.
Hanya diturunkan hingga semua orang dapat saling melihat wajah satu sama lain.
Inilah rahasia Tunggul Nogo pada lembar ketiga:
**Persatuan tidak menuntut semua panji dibuang.
Persatuan hanya meminta agar panji tidak menutup wajah saudara.**
Orang yang selama ini hanya melihat simbol mulai melihat manusia.
Yang hanya melihat kelompok mulai melihat keluarga besar.
Yang hanya melihat nama mulai melihat niat.
Yang hanya melihat perbedaan mulai menemukan kesamaan.
Kemudian dari arah tengah lembah terdengar suara.
Suara itu tidak keras.
Namun seluruh bendera berhenti berkibar seakan mendengarkannya.
“Sapa sing tresna marang panjine, aja nganti sengit marang panjine liyan.”
Siapa yang mencintai panjinya, jangan sampai membenci panji orang lain.
“Sapa sing ngajeni gurune, aja nganti nyenyamah guru liyane.”
Siapa yang menghormati gurunya, jangan sampai merendahkan guru orang lain.
“Sapa sing rumangsa nggawa cahya, kudu luwih dhisik sinau supaya ora ngobong.”
Siapa yang merasa membawa cahaya, terlebih dahulu harus belajar agar cahayanya tidak berubah menjadi api yang membakar.
Di tengah lembah kemudian muncul sebuah tiang tanpa bendera.
Tiang itu berwarna ungu keemasan.
Tidak ada lambang kelompok.
Tidak ada nama perguruan.
Tidak ada tanda kekuasaan.
Di bagian dasarnya hanya terdapat satu ukiran:
TUNGGUL NOGO
Lalu qitab menjelaskan:
Tunggul itu bukan panji baru untuk menyaingi panji yang telah ada.
Ia adalah titik pertemuan.
Tempat setiap bendera boleh datang tanpa harus kehilangan identitasnya.
Tempat setiap golongan dapat berdiri tanpa menginjak golongan lain.
Tempat setiap pemimpin diingatkan:
semakin tinggi kedudukan, semakin besar kewajiban untuk merendahkan ego.
Pangeran kemudian memegang tongkat keemasannya.
Ia tidak menancapkannya di atas tiang Tunggul Nogo.
Ia menancapkannya di tanah, di samping semua orang.
Nimas berdiri di sebelahnya dan berkata:
“Yang berada di tengah bukan berarti paling tinggi.”
Pangeran melanjutkan:
“Yang berada di tengah justru harus paling siap menjadi jembatan.”
Maka orang-orang mulai memahami.
Mereka yang selama ini berlomba menjadi puncak perlahan berpikir tentang menjadi penghubung.
Mereka yang berlomba dikenal mulai berpikir tentang menjadi manfaat.
Mereka yang berlomba menang mulai berpikir tentang bagaimana semua dapat pulang tanpa kehilangan kehormatan.
Tiba-tiba salah satu bendera hitam besar di ujung lembah robek.
Bukan karena diserang.
Ia robek karena terlalu lama ditarik dari dua arah.
Dari sisi kanan ada yang berteriak:
“Ini milik kami!”
Dari sisi kiri ada yang berteriak:
“Tidak, ini milik kami!”
Nogo mendekat.
Ia menurunkan kepalanya.
Kemudian sisik ungu pelanginya memancarkan cahaya ke kain yang robek.
Tetapi kain itu tidak kembali menjadi satu seperti semula.
Sebaliknya, bagian yang robek berubah menjadi dua pita.
Pangeran mengambil pita pertama.
Nimas mengambil pita kedua.
Lalu keduanya mengikatkan pita itu pada Tunggul Nogo.
Qitab pun menerangkan:
Kadang sesuatu yang telah terpecah tidak harus dipaksa kembali menjadi bentuk lama.
Yang lebih penting adalah:
kedua bagian itu masih dapat dipertemukan pada tujuan yang sama.
Matahari mulai turun.
Cahaya keemasan menyentuh seluruh lembah.
Ribuan bendera kini berkibar pada ketinggian yang hampir sejajar.
Untuk pertama kalinya, orang-orang dari berbagai penjuru dapat melihat wajah satu sama lain.
Tidak semua sepakat.
Tidak semua memiliki jalan yang sama.
Tidak semua menggunakan bahasa yang sama.
Namun mereka sudah tidak lagi berdiri sebagai bayangan di balik kain.
Mereka berdiri sebagai manusia.
Dan dari langit turun satu kalimat terakhir:
**“PERSATUAN DUDU MENANGKE SIJI LAN NGALAHKE LIYANE.
PERSATUAN IKU NEMU PAPAN KANG CUKUP JEMBAR KANGGO KABEH.”**
Persatuan bukan memenangkan satu lalu mengalahkan yang lain.
Persatuan adalah menemukan ruang yang cukup luas untuk semuanya.
Nogo kembali merendahkan tubuhnya.
Pangeran dan Nimas naik kembali.
Namun sebelum terbang, mereka melihat satu pintu batu besar terbuka di ujung lembah.
Pada pintu itu terdapat ukiran:
“PADHEPOKAN PITU LISAN”
Tempat tujuh lisan diuji:
lisan ilmu, lisan kuasa, lisan agama, lisan adat, lisan rakyat, lisan pemimpin, dan lisan hati.
Di situlah lembar berikutnya akan membuka rahasia:
“KETIKA UCAPAN LEBIH TAJAM DARIPADA SENJATA.”
TAMAT LEMBAR KETIGA
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Keempat — Padhepokan Pitu Lisan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pintu batu besar di ujung lembah terbuka perlahan.
Di atasnya terpahat tulisan:
PADHEPOKAN PITU LISAN
Di balik pintu itu tidak terdapat pasukan.
Tidak terdapat singgasana.
Tidak pula terdapat senjata.
Yang ada hanya sebuah ruangan panjang dengan tujuh cermin besar.
Pangeran berpakaian keemasan melangkah masuk lebih dahulu.
Nimas dengan pakaian putih jernih berjalan di sampingnya.
Sedangkan Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi berhenti di muka pintu.
Tubuhnya terlalu besar untuk memasuki padhepokan.
Namun kedua matanya tetap memancarkan cahaya ke dalam ruangan.
Seolah-olah ia menjaga agar apa pun yang terbuka di tempat itu tidak berubah menjadi permusuhan.
Di depan cermin pertama tertulis:
LISAN ILMU
Ketika Pangeran berdiri di hadapannya, cermin itu tidak memperlihatkan wajah.
Ia memperlihatkan sebuah kitab terbuka.
Dari kitab itu keluar dua cahaya.
Cahaya pertama lembut dan menyejukkan.
Cahaya kedua tajam seperti duri.
Kemudian terdengar suara:
“Ilmu bisa menjadi obat.
Ilmu juga bisa menjadi racun apabila dipakai untuk meninggikan diri.”
Di sinilah makna simbolik ZAQUMULLOH 2332 dibuka semakin dalam.
Yang disebut “berbisa” bukan berarti seseorang harus disakiti atau disingkirkan.
Yang berbisa adalah ketika ilmu berubah menjadi:
penghinaan,
kesombongan,
penghakiman,
adu domba,
atau senjata untuk mempermalukan orang lain.
Maka “dikembalikan ke tempat asal-muasalnya” berarti:
ilmu dikembalikan kepada hikmah, adab, dan pengabdian.
Cermin kedua bertuliskan:
LISAN KUASA
Di dalamnya tampak sebuah mahkota.
Semakin tinggi mahkota itu diangkat, semakin berat bayangannya.
Pangeran kemudian mendengar sabda:
**“KUASA TANPA ADAB MELAHIRKAN TAKUT.
KUASA DENGAN ADAB MELAHIRKAN PENGAYOMAN.”**
Mahkota itu lalu turun.
Bukan diletakkan di kepala.
Tetapi diletakkan di atas sebuah meja panjang.
Di sekeliling meja itu terdapat banyak kursi.
Maka qitab menerangkan:
pemimpin tidak selalu harus menjadi suara paling keras.
Kadang pemimpin justru harus menjadi orang yang memastikan semua suara mendapat tempat.
Cermin ketiga bertuliskan:
LISAN AGAMA
Saat Nimas berdiri di depannya, tampak cahaya putih memenuhi ruangan.
Namun di tengah cahaya itu muncul dua jalan.
Jalan pertama dipenuhi orang-orang yang saling menunjuk kesalahan.
Jalan kedua dipenuhi orang-orang yang saling menuntun.
Kemudian terdengar:
“Agama tidak turun agar manusia berlomba menjadi hakim atas sesamanya.”
“Agama turun untuk menuntun manusia agar lebih tunduk kepada Alloh dan lebih baik kepada makhluk-Nya.”
Nimas kemudian menyentuhkan telapak tangannya pada cermin.
Dua jalan itu perlahan menyatu.
Pada ujungnya muncul tulisan:
**HAQ TANPA RAHMAH MENJADI KERAS.
RAHMAH TANPA HAQ MENJADI KEHILANGAN ARAH.**
Kebenaran dan kasih harus berjalan bersama.
Cermin keempat:
LISAN ADAT
Tampak beragam pakaian, bahasa, keris, kain, ukiran, rumah, dan simbol dari banyak wilayah.
Semuanya berbeda.
Namun akar di bawahnya saling bertemu.
Pangeran berkata:
“Adat bukan tembok untuk memisahkan manusia.”
Nimas menjawab:
“Adat adalah cara sebuah masyarakat mengingat asal dan martabatnya.”
Lalu terdengarlah wejangan:
“Nguri-uri budaya ora kudu ngremehake budaya liyane.”
Menjaga budaya sendiri tidak harus merendahkan budaya lain.
Dan dari cermin itu keluar satu cahaya keemasan menuju tubuh Nogo.
Beberapa sisik Nogo berubah menjadi motif-motif Nusantara.
Namun warna dasarnya tetap ungu pelangi.
Artinya:
keberagaman tidak mengurangi kesatuan tubuh.
Cermin kelima:
LISAN RAKYAT
Pada cermin ini terdengar ribuan suara sekaligus.
Ada suara keluhan.
Ada harapan.
Ada kemarahan.
Ada doa.
Ada orang yang meminta didengar.
Ada pula yang hanya menginginkan kehidupan yang tenang.
Suara-suara itu begitu banyak hingga sulit dibedakan.
Pangeran hampir mengangkat tongkatnya.
Namun Nimas menahan tangannya.
Ia berkata:
“Jangan buru-buru menjawab suara yang belum selesai didengarkan.”
Maka keduanya duduk.
Mereka tidak berbicara.
Mereka mendengarkan.
Perlahan suara yang tumpang tindih mulai terurai.
Dan qitab menuliskan:
**“SING ORA TAU KRUNGU, GAMPANG NYALAHKE.
SING GELEM KRUNGU, LEBIH GAMPANG NGERTI.”**
Yang tidak pernah mendengar mudah menyalahkan.
Yang bersedia mendengar lebih mudah memahami.
Cermin keenam:
LISAN PEMIMPIN
Di dalamnya tampak seorang pemimpin berdiri di atas panggung tinggi.
Setiap katanya berubah menjadi burung.
Ucapan yang lembut berubah menjadi burung putih.
Ucapan yang adil berubah menjadi burung keemasan.
Ucapan yang memecah berubah menjadi burung hitam.
Burung-burung itu terbang menuju rakyat.
Pangeran menatapnya lama.
Lalu sebuah tulisan muncul:
“Ucapan pemimpin tidak berhenti di mulutnya.”
Ia akan turun menjadi:
arah,
keberanian,
ketakutan,
ketenangan,
atau perpecahan.
Maka siapa yang berada di tempat tinggi harus lebih berhati-hati menggunakan lidahnya.
Akhirnya mereka sampai di cermin ketujuh.
Tidak ada tulisan apa pun.
Hanya permukaan bening.
Pangeran bertanya:
“Cermin apa ini?”
Nimas tidak menjawab.
Ketika keduanya berdiri di depannya, barulah tulisan muncul:
LISAN HATI
Cermin itu memperlihatkan bukan wajah mereka.
Melainkan niat.
Pangeran melihat bahwa keberanian bisa berubah menjadi ambisi jika tidak dijaga.
Nimas melihat bahwa kelembutan bisa berubah menjadi ketakutan jika tidak disertai keteguhan.
Keduanya kemudian menunduk.
Inilah ujian yang paling berat.
Karena enam lisan sebelumnya dapat didengar manusia.
Tetapi lisan hati hanya diketahui oleh diri sendiri dan Alloh.
Tiba-tiba seluruh tujuh cermin bergetar.
Satu per satu cahaya keluar darinya.
Tujuh cahaya itu terbang menuju Nogo.
Nogo mengaum.
Kali ini aumannya berubah menjadi kalimat:
“SADURUNGE NGENDIKA, DELENG ATI.”
Sebelum berkata, lihatlah hati.
Lalu disusul:
“SADURUNGE MBENERAKE WONG LIYA, BENERNA NIATMU.”
Sebelum membenarkan orang lain, luruskan niatmu sendiri.
Pangeran dan Nimas keluar dari Padhepokan Pitu Lisan.
Di luar, ribuan bendera masih berkibar.
Namun suasananya berbeda.
Orang-orang mulai berbicara dengan suara yang lebih rendah.
Bukan karena takut.
Tetapi karena mereka mulai memahami bahwa kata-kata memiliki akibat.
Pangeran naik kembali ke punggung Nogo.
Nimas duduk di sisinya.
Nogo kemudian mengepakkan sayap besarnya.
Dari bawah setiap sisik ungu muncul cahaya pelangi.
Namun sebelum mereka meninggalkan lembah, tanah mendadak bergetar.
Jauh di depan tampak sebuah gunung hitam.
Di puncaknya berdiri satu menara.
Di menara itu tergantung sebuah lonceng besar.
Setiap kali lonceng berbunyi, orang-orang di bawah mulai saling curiga.
Sekali berdentang:
muncul prasangka.
Dua kali:
muncul tuduhan.
Tiga kali:
muncul permusuhan.
Nogo langsung menatap ke arah gunung.
Dan qitab menutup lembar keempat dengan kalimat:
“ORA KABEH SUARA KUDU DIPERCAYA.”
Tidak setiap suara harus dipercaya.
Sebab pada lembar berikutnya akan terbuka rahasia:
GUNUNG PRASANGKA DAN LONCENG ADU DOMBA
TAMAT LEMBAR KEEMPAT
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kelima — Gunung Prasangka dan Lonceng Adu Domba
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi itu terbang meninggalkan Padhepokan Pitu Lisan.
Di atas punggungnya, Pangeran dalam pakaian keemasan dan Nimas dalam pakaian putih jernih memandang jauh ke depan.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gunung hitam.
Gunung itu tidak mengeluarkan api.
Tidak ada lahar.
Tidak ada petir.
Namun dari puncaknya terdengar bunyi lonceng.
Dhong...
Sekali berdentang, orang-orang mulai menoleh curiga.
Dhong... dhong...
Dua kali berdentang, bisikan mulai berpindah dari mulut ke mulut.
Dhong... dhong... dhong...
Tiga kali berdentang, saudara mulai menganggap saudaranya sebagai ancaman.
Pangeran berkata:
“Ini bukan gunung yang merusak tanah.”
Nimas menjawab:
“Ini gunung yang merusak sangka.”
Maka qitab membuka nama tempat itu:
GUNUNG PRASANGKA
Dan di atasnya berdiri:
LONCENG ADU DOMBA
Semakin dekat Nogo terbang, semakin terlihat bahwa di lereng gunung terdapat ribuan jalan kecil.
Pada setiap jalan berdiri orang-orang yang membawa potongan berita.
Ada yang membawa setengah kalimat.
Ada yang membawa cerita tanpa sumber.
Ada yang membawa kabar yang sudah berubah karena berpindah terlalu banyak mulut.
Ada yang membawa dugaan tetapi menyebutnya kepastian.
Ada yang berkata:
“Aku mendengar.”
Yang lain berkata:
“Katanya begitu.”
Yang lain lagi berkata:
“Sudah pasti.”
Padahal tidak seorang pun benar-benar memeriksa.
Kemudian qitab menuliskan dengan cahaya:
“KABAR YANG TIDAK DIPERIKSA DAPAT MENJADI RACUN YANG DIANGGAP OBAT.”
Nogo lalu turun pada lereng pertama.
Di sana Pangeran menemukan dua orang sahabat yang saling membelakangi.
Ia bertanya:
“Mengapa kalian berpisah?”
Orang pertama menjawab:
“Katanya dia menjelek-jelekkan aku.”
Pangeran bertanya lagi:
“Kau mendengar langsung?”
Ia diam.
Orang kedua berkata:
“Aku juga diberi tahu bahwa dia ingin menjatuhkanku.”
Nimas bertanya:
“Kau melihat sendiri?”
Ia pun diam.
Keduanya ternyata tidak pernah berbicara satu sama lain sejak kabar itu datang.
Nimas lalu berkata:
“Banyak persaudaraan hancur bukan karena kebenaran, tetapi karena sesuatu yang tidak pernah diperiksa.”
Pangeran kemudian mempertemukan keduanya.
Tidak dengan memaksa mereka berdamai.
Tetapi dengan meminta mereka berkata langsung:
apa yang benar-benar mereka ketahui,
dan
apa yang hanya mereka dengar dari orang lain.
Ternyata sebagian besar pertengkaran mereka lahir dari dugaan.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Pada lereng kedua berdiri sebuah pasar.
Namun yang diperjualbelikan bukan makanan.
Yang dijual adalah cerita tentang orang lain.
Semakin mengejutkan cerita, semakin banyak orang berkumpul.
Semakin buruk nama seseorang dibuat, semakin ramai pasar itu.
Pangeran melihat sebuah papan bertuliskan:
“KABAR TERCEPAT.”
Di sampingnya ada papan lain:
“KABAR TERPANAS.”
Tetapi tidak ada satu pun yang bertuliskan:
“KABAR TERBENAR.”
Nimas kemudian mengambil kain putih dari pakaiannya.
Ia menutupi papan-papan itu.
Lalu menulis:
“CEPAT ORA MESTHI BENER.”
Cepat belum tentu benar.
Dan di bawahnya:
“RAMAI ORA MESTHI HAQ.”
Ramai belum tentu haq.
Ketika mereka naik lebih tinggi, Nogo mulai gelisah.
Sisik-sisik ungunya bergetar.
Sebab dari puncak gunung, lonceng berdentang semakin keras.
Setiap dentangnya mengeluarkan asap hitam.
Asap itu masuk ke telinga manusia.
Ketika masuk ke orang yang sedang marah, ia berubah menjadi kebencian.
Ketika masuk ke orang yang iri, ia berubah menjadi tuduhan.
Ketika masuk ke orang yang takut, ia berubah menjadi kecurigaan.
Ketika masuk ke orang yang merasa paling benar, ia berubah menjadi penghakiman.
Qitab lalu menjelaskan:
Prasangka tidak selalu datang dari luar.
Kadang kabar hanya mengetuk.
Tetapi luka, ego, iri, dan ketakutan di dalam diri yang membukakan pintu.
Pangeran kemudian berkata:
“Kalau begitu, apakah lonceng ini harus dihancurkan?”
Nogo berhenti.
Nimas menatap puncak gunung.
Lalu menjawab:
“Tidak semua yang berbunyi harus dihancurkan. Kadang cukup diketahui siapa yang membunyikannya dan untuk apa.”
Maka mereka mendaki menuju puncak.
Di sana ternyata tidak ada raksasa.
Tidak ada makhluk mengerikan.
Yang ada hanyalah sebuah ruang kosong dengan banyak tali.
Setiap tali terhubung ke lonceng yang sama.
Ada tali bernama:
kepentingan.
Ada tali bernama:
iri.
Ada tali bernama:
dendam.
Ada tali bernama:
perebutan pengaruh.
Ada tali bernama:
ketakutan kehilangan kedudukan.
Dan ada tali terakhir:
senang melihat orang lain bertengkar.
Pangeran tidak memotong lonceng.
Ia memotong tali-tali itu satu per satu.
Setiap tali putus, suara lonceng semakin kecil.
Saat tali terakhir putus, gunung menjadi sunyi.
Dalam kesunyian itu, Nogo mengeluarkan cahaya ungu pelangi dari dadanya.
Cahaya tersebut masuk ke dalam lonceng.
Warna hitam pada lonceng perlahan berubah menjadi warna tembaga keemasan.
Di permukaannya muncul kalimat:
TABAYYUN SADURUNGE TUDUHAN
Periksa terlebih dahulu sebelum menuduh.
Di sisi lain tertulis:
RUNGOKNA LORO SISIH SADURUNGE NGADILI
Dengarkan kedua sisi sebelum mengadili.
Dan pada bagian paling bawah:
ORA KABEH SING KOKRASA IKU KASUNYATAN
Tidak semua yang kau rasakan adalah kenyataan.
Pangeran lalu berdiri di samping lonceng.
Ia memukulnya sekali.
Bunyinya berbeda.
Tidak lagi:
Dhong...
melainkan sebuah gema lembut yang menyebar ke seluruh lembah.
Setiap orang yang mendengarnya berhenti sejenak sebelum berbicara.
Mereka mulai bertanya:
“Apa aku tahu ini benar?”
“Apa aku mendengar langsung?”
“Apa aku sudah memeriksa?”
“Apakah perkataanku akan memperbaiki atau justru memperkeruh?”
Qitab menuliskan:
Inilah salah satu fungsi Pusaka Tunggul Nogo:
bukan membungkam suara,
tetapi mengajarkan manusia membedakan antara:
kabar dan fitnah,
dugaan dan kenyataan,
kritik dan penghinaan,
peringatan dan adu domba.
Nimas kemudian menuangkan air dari kendi putihnya ke tanah puncak gunung.
Tanah hitam perlahan berubah menjadi ungu tua.
Lalu tumbuh tujuh bunga putih.
Pada setiap bunga tertulis satu kata:
periksa,
dengar,
timbang,
tenang,
adil,
jelas,
damai.
Pangeran menancapkan tongkat keemasannya di tengah tujuh bunga itu.
Lalu turunlah sabda:
“SING KUDU CEPAT DUDU TUDUHAN, NANGING KLARIFIKASI.”
Yang harus dipercepat bukan tuduhan, melainkan klarifikasi.
Ketika gunung telah sunyi, Nogo kembali mengepakkan sayap.
Namun sebelum mereka pergi, dari balik awan tampak sebuah jembatan sangat panjang.
Jembatan itu hanya cukup dilewati dua orang yang berjalan berdampingan.
Pada awal jembatan tertulis:
JEMBATAN SAKSI
Dan di ujungnya terlihat dua gerbang.
Gerbang pertama bertuliskan:
APA YANG KULIHAT
Gerbang kedua:
APA YANG KUSANGKA
Nimas berkata pelan:
“Lembar berikutnya akan mengajarkan perbedaan yang sering membuat manusia tersesat.”
Pangeran bertanya:
“Perbedaan antara apa?”
Nimas menjawab:
“ANTARA KENYATAAN DAN PENAFSIRAN.”
Nogo lalu terbang menuju Jembatan Saksi.
TAMAT LEMBAR KELIMA
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Keenam — Jembatan Saksi: Kenyataan dan Penafsiran
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi itu terbang menuju sebuah jembatan yang sangat panjang.
Jembatan itu menggantung di antara dua tebing.
Di bawahnya bukan sungai.
Melainkan kabut tebal yang terus berubah bentuk.
Kadang seperti wajah.
Kadang seperti bayangan.
Kadang seperti tangan yang menunjuk.
Kadang seperti sesuatu yang sangat meyakinkan.
Padahal sesaat kemudian bentuknya hilang.
Di atas pintu masuk jembatan tertulis:
JEMBATAN SAKSI
Pangeran dalam pakaian keemasan turun terlebih dahulu.
Nimas dalam pakaian putih jernih turun di sisinya.
Nogo merendahkan tubuhnya.
Namun kali ini ia tidak ikut menyeberang.
Ia hanya berkata melalui gema batin:
**“SING NYEBRANG KENE KUDU ISO MBEDAKE
APA SING KEDADEN LAN APA SING DIANGGEP KEDADEN.”**
Siapa yang melewati tempat ini harus mampu membedakan antara apa yang terjadi dan apa yang dianggap terjadi.
Pada langkah pertama, mereka menemukan sebuah batu bertuliskan:
AKU MELIHAT
Di sampingnya ada batu kedua:
AKU MENAFSIRKAN
Pangeran bertanya:
“Bukankah keduanya sama?”
Nimas menjawab:
“Tidak.”
Kemudian terbukalah gambaran pertama.
Tampak seorang lelaki berjalan melewati seorang sahabat tanpa menyapa.
Pada sisi kiri tertulis:
KENYATAAN:
“Dia lewat tanpa menyapa.”
Pada sisi kanan muncul berbagai penafsiran:
“Dia sombong.”
“Dia marah kepadaku.”
“Dia sudah berubah.”
“Dia sengaja menghinaku.”
Namun sesaat kemudian gambaran berlanjut.
Ternyata lelaki itu sedang memikirkan ibunya yang sakit.
Ia bahkan tidak menyadari siapa yang dilewatinya.
Qitab menuliskan:
**“KASUNYATAN KADANG CENDAK.
PENAFSIRAN KADANG DAWA.”**
Kenyataan sering singkat.
Penafsiran sering panjang.
Mereka berjalan lagi.
Muncul gambaran kedua.
Seseorang tidak membalas pesan.
Yang terlihat hanyalah:
Pesan belum dibalas.
Tetapi dari kabut di bawah jembatan muncul puluhan suara:
“Dia tidak menghargaimu.”
“Dia menjauh.”
“Dia sedang membicarakanmu.”
“Dia pasti punya niat buruk.”
Nimas mengangkat telapak tangannya.
Semua suara berhenti.
Kemudian muncul kenyataan yang tidak diketahui sebelumnya:
orang itu sedang bekerja,
teleponnya kehabisan daya,
dan ia belum sempat membaca pesan.
Pangeran berkata:
“Berarti pikiran dapat mengisi ruang kosong dengan cerita sendiri.”
Nimas mengangguk.
“Dan semakin besar luka di dalam hati, semakin gelap cerita yang sering dipilihnya.”
Di tengah jembatan terdapat sebuah cermin.
Cermin itu dinamai:
CERMIN SANGKA
Siapa pun yang memandangnya akan melihat kejadian yang sama sesuai keadaan batinnya.
Orang yang sedang marah melihat ancaman.
Orang yang sedang iri melihat persaingan.
Orang yang sedang takut melihat bahaya.
Orang yang sedang damai melihat sesuatu yang perlu diperiksa.
Pangeran memandang ke dalamnya.
Ia melihat seseorang berdiri membawa tombak.
Dalam sepersekian detik ia mengira orang itu hendak menyerang.
Namun ketika ia menunggu, ternyata tombak itu digunakan sebagai tongkat penyangga oleh seorang tua.
Pangeran kemudian menundukkan kepala.
Qitab berkata:
“ORA KABEH SING CEPET MLEBU ING PIKIRAN IKU KEBENARAN.”
Tidak semua yang cepat masuk ke pikiran adalah kebenaran.
Nimas kemudian berkata:
“Saksi yang baik tidak menambahkan apa yang tidak ia lihat.”
Pangeran menjawab:
“Dan hakim yang adil tidak memutuskan hanya dari satu dugaan.”
Maka muncullah tiga jalan kecil di tengah jembatan.
Jalan pertama bertuliskan:
FAKTA
Jalan kedua:
PERASAAN
Jalan ketiga:
KESIMPULAN
Qitab menjelaskan:
Fakta adalah apa yang benar-benar terjadi atau dapat diperiksa.
Perasaan adalah apa yang timbul di dalam diri terhadap kejadian itu.
Kesimpulan adalah arti yang kita berikan atas fakta dan perasaan tersebut.
Ketiganya penting.
Namun ketiganya tidak boleh dicampur menjadi satu.
Karena seseorang dapat benar mengenai perasaannya, tetapi belum tentu benar mengenai kesimpulannya.
Kemudian tampak dua kelompok dari ujung jembatan.
Masing-masing membawa kisah tentang kejadian yang sama.
Kelompok pertama berkata:
“Kami melihat mereka menyerang.”
Kelompok kedua berkata:
“Kami melihat mereka bertahan.”
Ketika keduanya dipertemukan, ternyata mereka berdiri dari sisi yang berbeda.
Yang satu hanya melihat awal.
Yang lain hanya melihat akhir.
Tidak satu pun melihat kejadian secara utuh.
Nogo dari kejauhan mengaum.
Kilau pelangi dari sisiknya menerangi seluruh jembatan.
Dan sebuah kalimat muncul di langit:
**“SATU MATA BISA JUJUR,
NAMUN BELUM TENTU MELIHAT SELURUHNYA.”**
Maka qitab mengajarkan:
**Kesaksian perlu kejujuran.
Keadilan memerlukan kelengkapan.**
Pangeran dan Nimas akhirnya sampai pada dua gerbang di ujung jembatan.
Gerbang kiri:
APA YANG KULIHAT
Gerbang kanan:
APA YANG KUSANGKA
Di antara keduanya muncul gerbang ketiga yang sebelumnya tidak terlihat.
Tulisan di atasnya berbunyi:
APA YANG SUDAH KUPERIKSA
Pangeran tersenyum.
“Jadi bukan hanya melihat dan menyangka.”
Nimas menjawab:
“Benar. Ada kewajiban memeriksa sebelum menjadikan sangkaan sebagai keputusan.”
Mereka memilih gerbang ketiga.
Begitu gerbang terbuka, tampak sebuah ruangan luas dengan timbangan raksasa.
Pada satu sisi timbangan tertulis:
BUKTI
Pada sisi lain:
CERITA
Pangeran meletakkan sebuah fakta kecil di sisi BUKTI.
Timbangan bergerak.
Kemudian seratus cerita diletakkan di sisi lain.
Namun timbangan tidak berubah.
Qitab menuliskan:
“SEWU CRITA ORA BISA NGGANTI SATU BUKTI.”
Seribu cerita tidak dapat menggantikan satu bukti.
Tiba-tiba cahaya dari tubuh Nogo masuk ke ruangan.
Ungu.
Emas.
Putih.
Pelangi.
Cahaya itu menyatu di atas timbangan.
Kemudian turun empat pertanyaan:
Apa yang benar-benar terjadi?
Apa yang hanya kudengar?
Apa yang kurasakan?
Apa yang sudah kuperiksa?
Qitab berkata:
“Sadurunge nesu, pisahna kasunyatan saka sangkaan.”
Sebelum marah, pisahkan kenyataan dari sangkaan.
“Sadurunge nuduh, pisahna bukti saka crita.”
Sebelum menuduh, pisahkan bukti dari cerita.
“Sadurunge mutus paseduluran, takonana langsung yen isih bisa.”
Sebelum memutus persaudaraan, tanyakan langsung bila masih memungkinkan.
Ketika mereka keluar dari ruangan timbangan, seluruh Jembatan Saksi berubah.
Kabut di bawahnya mulai menipis.
Apa yang sebelumnya tampak seperti monster ternyata hanya batu.
Apa yang tampak seperti pasukan ternyata hanya pepohonan.
Apa yang terdengar seperti teriakan ternyata hanya suara angin yang memantul pada tebing.
Nimas berkata:
“Ketika sangkaan terlalu kuat, bayangan dapat terasa lebih nyata daripada kenyataan.”
Pangeran menjawab:
“Maka kejernihan bukan berarti tidak mempunyai perasaan. Kejernihan adalah tidak membiarkan perasaan mengambil alih seluruh keputusan.”
Nogo kemudian membungkukkan tubuhnya.
Pangeran dan Nimas kembali menaikinya.
Namun sebelum berangkat, pada ujung Jembatan Saksi muncul sebuah ukiran baru:
**PUSAKA TUNGGUL NOGO TIDAK MENGAJARKAN MATA UNTUK CURIGA.
IA MENGAJARKAN MATA UNTUK JELAS.**
Nogo mengepakkan sayap.
Mereka terbang meninggalkan jembatan.
Di kejauhan tampak sebuah istana yang terbagi menjadi dua bagian.
Sisi kanan berwarna emas.
Sisi kiri berwarna putih.
Namun di tengah-tengah keduanya terdapat retakan hitam yang semakin melebar.
Pada gerbangnya tertulis:
KEDHATON RONG KAREP
Istana Dua Kehendak.
Dari dalamnya terdengar dua suara terus-menerus berkata:
“Aku ingin menang.”
dan
“Aku tidak mau kalah.”
Pangeran memandang Nimas.
Nimas memandang Pangeran.
Nogo kemudian mengaum sekali.
Qitab menutup lembar keenam dengan sabda:
**“NALIKA KABEH PENGIN MENANG,
SAPA SING ISIH GELEM NYAWIJI?”**
Ketika semua ingin menang, siapa yang masih bersedia menyatukan?
TAMAT LEMBAR KEENAM
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Ketujuh — Kedhaton Rong Karep
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi itu terbang semakin dekat menuju Kedhaton Rong Karep.
Istana itu berdiri megah di antara dua bukit.
Separuh bangunannya bersinar keemasan.
Separuh lainnya putih jernih.
Namun tepat di tengahnya terdapat retakan hitam yang membelah lantai, dinding, bahkan singgasana.
Dari sisi kanan terdengar suara:
“AKU KUDU MENANG.”
Dari sisi kiri terdengar jawaban:
“AKU ORA GELEM KALAH.”
Semakin keras kedua suara itu, semakin lebar retakan di tengah kedhaton.
Pangeran menatap Nimas.
Nimas menatap retakan tersebut.
Kemudian qitab berkata:
“Perpecahan sering tidak dimulai karena tujuan berbeda.
Kadang ia dimulai karena dua pihak sama-sama ingin menjadi pihak terakhir yang berdiri.”
Pangeran turun dengan pakaian keemasannya.
Nimas turun dalam pakaian putih jernih.
Nogo tidak ikut masuk.
Ia melingkari kedhaton dari udara, tubuh ungunya memantulkan warna pelangi ke seluruh atap.
Begitu Pangeran dan Nimas memasuki aula utama, tampak dua kelompok berdiri saling berhadapan.
Kelompok pertama memegang panji emas.
Kelompok kedua memegang panji putih.
Keduanya sebenarnya memiliki tulisan yang sama:
PERSATUAN
Namun masing-masing berkata:
“Persatuan harus mengikuti kami.”
Pangeran kemudian bertanya:
“Kalau persatuan harus selalu mengikuti satu pihak, apakah itu masih persatuan?”
Aula menjadi sunyi.
Di tengah ruangan terdapat satu meja panjang.
Namun meja itu terbelah dua.
Di atas separuh pertama tertulis:
MENANG
Di atas separuh kedua:
KALAH
Tidak ada tempat ketiga.
Nimas mengambil kendi putihnya.
Ia menuangkan air tepat di antara kedua belahan meja.
Air itu tidak jatuh ke lantai.
Ia berubah menjadi sebidang kayu baru yang menyambungkan keduanya.
Di tengah sambungan itu muncul satu kata:
MUFAKAT
Qitab kemudian menerangkan:
Tidak semua perkara harus berakhir dengan satu pihak menang dan pihak lain kalah.
Ada perkara yang lebih luhur bila diselesaikan dengan menemukan ruang yang cukup agar kebaikan dari kedua sisi tetap hidup.
Dari singgasana kemudian muncul dua sosok bayangan.
Yang pertama bernama:
KAREP NGUWASANI
Keinginan untuk menguasai.
Yang kedua bernama:
KAREP ORA GELEM DIOWAHI
Keinginan untuk tidak pernah mau berubah.
Keduanya saling menarik mahkota yang sama.
Semakin kuat mereka menarik, semakin retak mahkota itu.
Pangeran berkata:
“Siapa sebenarnya pemilik mahkota ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Nimas melihat bagian bawah mahkota.
Di sana terdapat tulisan kecil:
AMANAH
Maka Nimas berkata:
“Mahkota ini bukan milik orang yang memakainya. Ia milik amanah yang harus dijaganya.”
Seketika dua bayangan itu terdiam.
Nogo mengaum dari luar.
Cahaya ungu pelanginya menembus jendela.
Pada dinding kedhaton muncul tujuh kalimat:
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Tidak semua kritik adalah permusuhan.
Tidak semua mengalah berarti kalah.
Tidak semua keteguhan berarti keras kepala.
Tidak semua kompromi berarti mengkhianati prinsip.
Tidak semua kursi harus diperebutkan.
Tidak semua pemimpin harus menjadi pusat segala sesuatu.
Pangeran membaca semuanya perlahan.
Lalu ia berkata:
“Sing penting dudu sapa sing paling dhuwur, nanging apa sing paling migunani.”
Yang terpenting bukan siapa yang paling tinggi, tetapi apa yang paling bermanfaat.
Kemudian terbukalah sebuah pintu rahasia di bawah singgasana.
Pangeran dan Nimas turun melewati tangga batu.
Di bawah kedhaton mereka menemukan dua mata air.
Mata air pertama diberi nama:
KEPINGIN DIAJENI
Keinginan untuk dihormati.
Mata air kedua:
WEDI KELANGAN
Takut kehilangan.
Kedua mata air itu mengalir menuju retakan hitam di atas.
Qitab berkata:
“Banyak pertengkaran besar memperoleh tenaga dari dua hal yang tersembunyi: keinginan dihormati dan ketakutan kehilangan.”
Kehilangan kedudukan.
Kehilangan pengaruh.
Kehilangan nama.
Kehilangan pengikut.
Kehilangan hak untuk merasa paling benar.
Nimas berlutut di antara kedua mata air itu.
Ia tidak menutupnya.
Ia membuat saluran baru.
Kedua aliran diarahkan menuju sebuah kolam tengah.
Di atas kolam tertulis:
IKHLAS
Ketika air dari dua mata air masuk ke sana, warnanya menjadi bening.
Pangeran bertanya:
“Apakah keinginan dihormati itu salah?”
Nimas menjawab:
“Tidak selalu. Tetapi bila kehormatan menjadi tujuan utama, seseorang mudah melupakan amanah.”
Pangeran bertanya lagi:
“Apakah takut kehilangan itu salah?”
Nimas menjawab:
“Takut adalah manusiawi. Tetapi ketakutan yang memimpin keputusan dapat membuat kita mempertahankan sesuatu yang seharusnya dilepas.”
Qitab kemudian menuliskan:
“SING ISO NGECEKEL, KUDU UGA ISO NGECULKE.”
Yang mampu memegang harus pula mampu melepaskan.
Ketika mereka kembali ke aula utama, dua kelompok masih berdiri berhadapan.
Pangeran mengambil mahkota yang retak.
Semua mengira ia akan memilih siapa yang berhak memakainya.
Namun Pangeran justru meletakkan mahkota itu di tengah meja.
Nimas meletakkan kendi putih di sampingnya.
Kemudian mereka berkata bersama:
**“SAIKI ORA TAKON SAPA SING MENANG.
TAKONEN APA SING KUDU DIJAGA.”**
Sekarang jangan bertanya siapa yang menang.
Tanyakan apa yang harus dijaga.
Satu orang menjawab:
“Persaudaraan.”
Yang lain:
“Kebenaran.”
Yang lain:
“Martabat.”
Yang lain lagi:
“Keadilan.”
Kemudian seorang tua di barisan belakang berkata:
“Masa depan anak-anak kami.”
Aula menjadi sangat sunyi.
Karena untuk pertama kalinya mereka berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada kelompok masing-masing.
Retakan hitam di tengah lantai mulai menutup.
Tidak langsung hilang.
Tetapi dari sela-selanya tumbuh garis cahaya ungu.
Nogo turun dan meletakkan satu kukunya tepat di depan pintu kedhaton.
Dari kuku itu keluar kilau pelangi.
Retakan berubah menjadi motif seperti akar pohon.
Qitab menjelaskan:
Bekas perpecahan tidak selalu harus dihapus.
Kadang bekasnya perlu diingat agar generasi berikutnya mengetahui:
di sinilah dahulu ego hampir menghancurkan rumah bersama.
Namun rumah itu diselamatkan ketika semua orang berhenti bertanya:
“Siapa yang menang?”
dan mulai bertanya:
“Apa yang harus tetap hidup setelah kita semua tiada?”
Dua panji yang sebelumnya berhadapan kemudian dipasang berdampingan.
Emas tidak menjadi putih.
Putih tidak menjadi emas.
Namun di antara keduanya dipasang satu lambang baru:
Nogo ungu berkilau pelangi yang melingkari sebuah tunggul keemasan.
Di bawahnya tertulis:
BEDA KAREP, SIJI PANGREKSAN
Berbeda kehendak, satu penjagaan.
Pangeran dan Nimas kembali menaiki Nogo.
Kedhaton Rong Karep kini tidak lagi terbelah menjadi dua kubu.
Namun sebelum mereka berangkat, terdengar sebuah suara dari bawah tanah.
Suara itu sangat tua.
Lebih tua daripada kedhaton.
Lebih tua daripada panji.
Lebih tua daripada perselisihan yang baru saja mereka selesaikan.
Tanah terbuka.
Dari dalamnya muncul sebuah akar raksasa berwarna gelap yang menjalar ke banyak arah.
Pada akar itu tertulis:
WARISAN SAKIT LAWAS
Warisan luka lama.
Pangeran berkata:
“Jadi retakan kedhaton bukan hanya berasal dari hari ini?”
Nimas menjawab:
“Ada perpecahan yang diwariskan karena luka tidak pernah diselesaikan, hanya dipindahkan kepada generasi berikutnya.”
Nogo menundukkan kepalanya.
Cahaya ungu pelanginya menyinari akar tersebut.
Qitab menutup lembar ketujuh dengan pesan:
“SING ORA DIRAMPUNGKE WINGI, BISA DADI BEBAN SESUK.”
Apa yang tidak diselesaikan kemarin dapat menjadi beban bagi hari esok.
Dan terbukalah jalan menuju lembar berikutnya:
AKAR WARISAN LUKA — KETIKA GENERASI BARU MEMIKUL PERTENGKARAN LAMA
TAMAT LEMBAR KETUJUH
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kedelapan — Akar Warisan Luka
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Tanah di bawah Kedhaton Rong Karep terbuka semakin lebar.
Dari kedalaman bumi muncul akar raksasa berwarna hitam keunguan.
Akar itu menjalar ke banyak arah.
Sebagiannya menuju rumah-rumah tua.
Sebagiannya menuju padepokan.
Sebagiannya menuju tempat-tempat berkumpul.
Sebagiannya bahkan menembus tanah yang sudah tidak lagi dihuni oleh generasi yang memulai pertengkaran.
Pada permukaan akar itu terdapat ukiran:
WARISAN SAKIT LAWAS
Warisan luka lama.
Pangeran dalam pakaian keemasan turun dari punggung Nogo.
Nimas dalam pakaian putih jernih berjalan di sampingnya.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi menundukkan kepalanya.
Cahaya dari sisiknya menerangi akar-akar yang tersembunyi.
Barulah terlihat bahwa sebagian akar itu membawa nama-nama lama.
Perselisihan lama.
Perebutan lama.
Pengkhianatan lama.
Kesalahpahaman lama.
Janji yang tidak ditepati.
Ucapan yang tidak pernah ditarik kembali.
Dan luka yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Pangeran memegang salah satu akar.
Tiba-tiba muncul gambaran.
Dua orang dari generasi terdahulu pernah bertengkar.
Pertengkaran itu tidak selesai.
Masing-masing pulang membawa versinya sendiri.
Kepada anak-anaknya mereka berkata:
“Hati-hati kepada keluarga itu.”
Anak-anaknya tumbuh dengan jarak.
Mereka bahkan tidak mengetahui awal persoalan.
Namun ketika bertemu, dada mereka sudah terasa tidak nyaman.
Qitab kemudian menuliskan:
“ANA MEMUSUHAN SING UMURE LUWIH TUWA TINIMBANG WONG SING NGLAKONI.”
Ada permusuhan yang usianya lebih tua daripada orang yang menjalaninya.
Nimas menyentuh akar yang lain.
Muncul gambaran dua perguruan.
Dahulu para gurunya pernah berbeda pendapat.
Perbedaan itu sebenarnya kecil.
Namun para pengikut memperbesarnya.
Satu generasi berlalu.
Kemudian dua generasi.
Lalu tiga.
Yang tersisa bukan lagi persoalan pertama.
Yang tersisa hanyalah kalimat:
“Kami memang tidak cocok dengan mereka.”
Pangeran bertanya:
“Mengapa?”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Mereka hanya berkata:
“Dari dulu memang begitu.”
Nogo mengaum pelan.
Lalu cahaya ungu keluar dari dadanya dan membentuk kalimat:
“SING WIS ORA NGERTI SEBABÉ, AJA TERUS NGLANGGENGAKE SENGITÉ.”
Jika sebabnya saja sudah tidak diketahui, jangan terus melanggengkan kebenciannya.
Mereka berjalan semakin dalam mengikuti akar.
Di satu tempat ditemukan sebuah simpul besar.
Pada simpul itu tertulis:
DENDAM YANG DIWARISKAN
Di sampingnya terdapat simpul kedua:
MALU YANG DISEMBUNYIKAN
Simpul ketiga:
HAK YANG TIDAK SELESAI
Simpul keempat:
UCAPAN YANG TIDAK DICABUT
Simpul kelima:
KEBENARAN YANG TIDAK PERNAH DIPERIKSA
Nimas berkata:
“Tidak semua luka lama harus dibuka ulang.”
Pangeran bertanya:
“Lalu apa yang harus dilakukan?”
Nimas menjawab:
“Yang perlu dibuka adalah bagian yang masih mengikat orang hari ini.”
Qitab lalu menerangkan:
Masa lalu tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melukai.
Tetapi masa lalu juga tidak selalu harus dilupakan.
Ada perkara yang perlu dikenang agar tidak terulang.
Ada perkara yang perlu diperbaiki.
Ada perkara yang perlu dimaafkan.
Ada perkara yang perlu diberi batas.
Dan ada perkara yang cukup dikembalikan kepada Alloh tanpa diwariskan lagi kepada anak-anak.
Di bagian paling dalam terdapat sebuah pohon besar.
Pohonnya tampak kokoh.
Namun buahnya pahit.
Pada batangnya tertulis:
“AKU MELANJUTKAN APA YANG DILAKUKAN PENDAHULUKU.”
Pangeran menatapnya lama.
Lalu bertanya:
“Kalau pendahulu keliru, apakah keturunannya wajib melanjutkan?”
Nimas menjawab:
“MENGHORMATI PENDAHULU TIDAK BERARTI MEWARISI SEMUA PERTENGKARANNYA.”
Kemudian qitab membuka satu wejangan:
Warisan terbaik dari orang terdahulu adalah hikmah mereka.
Bukan dendam mereka.
Ambillah keteguhan mereka.
Jangan otomatis mengambil permusuhannya.
Ambillah pengabdian mereka.
Jangan mewarisi luka yang seharusnya berhenti pada zamannya.
Pangeran kemudian mengangkat tongkat keemasannya.
Ia tidak menebang pohon itu.
Ia mengetukkan tongkatnya tiga kali ke tanah.
Dari tanah muncul cahaya emas yang mengelilingi akar.
Nimas menuangkan air putih jernih dari kendinya.
Air itu masuk ke setiap celah akar.
Akar hitam tidak langsung hilang.
Warnanya perlahan berubah menjadi ungu tua.
Kemudian dari setiap simpul muncul tunas baru.
Pada tunas pertama tertulis:
KLARIFIKASI.
Tunas kedua:
PENGAKUAN.
Tunas ketiga:
PEMULIHAN.
Tunas keempat:
BATAS YANG SEHAT.
Tunas kelima:
MAAF TANPA MELUPAKAN PELAJARAN.
Tunas keenam:
PERDAMAIAN.
Tunas ketujuh:
GENERASI BARU.
Nogo kemudian turun lebih dekat.
Tubuh ungu berkilau pelanginya melingkari seluruh pohon.
Pangeran dan Nimas berdiri di bawahnya.
Terdengar sabda:
“ANAK ORA KUDU MBAYAR SENGITÉ WONG TUWA.”
Anak tidak harus membayar kebencian orang tuanya.
Lalu:
“MURID ORA KUDU NGLANJUTAKE PASULAYANE GURU.”
Murid tidak harus melanjutkan perselisihan gurunya.
Dan:
“GENERASI ANYAR OLEH NGGAWE DALAN ANYAR TANPA NGILANGAKE AJINÉ SING WIS LUNGA.”
Generasi baru boleh membuat jalan baru tanpa menghilangkan hormat kepada mereka yang telah mendahului.
Kemudian terbuka sebuah ruang tersembunyi di bawah akar.
Di sana terdapat banyak kendi tanah liat.
Masing-masing diberi nama:
amarah,
kecewa,
malu,
takut,
iri,
kehilangan,
rasa tidak dianggap.
Pangeran membuka satu kendi.
Di dalamnya hanya terdapat satu kalimat:
“Aku tidak pernah didengar.”
Ia membuka kendi kedua.
Isinya:
“Aku merasa disingkirkan.”
Kendi ketiga:
“Aku kehilangan sesuatu dan tidak pernah diberi kesempatan menjelaskannya.”
Nimas berkata:
“Kadang di balik permusuhan yang panjang terdapat luka sederhana yang tidak pernah diberi nama.”
Pangeran menjawab:
“Dan bila luka tidak diberi nama, generasi berikutnya hanya menerima kemarahannya.”
Mereka membawa kendi-kendi itu keluar.
Bukan untuk dipamerkan.
Bukan untuk mempermalukan siapa pun.
Mereka meletakkannya di sebuah lingkaran besar.
Setiap pihak diminta hanya melakukan satu hal:
mengakui apa yang sungguh-sungguh mereka rasakan tanpa menambah tuduhan.
Ada yang berkata:
“Aku terluka.”
Ada yang berkata:
“Aku merasa tidak dipercaya.”
Ada yang berkata:
“Aku takut kehilangan.”
Ada yang berkata:
“Aku marah karena merasa tidak dihargai.”
Setelah itu, suasana menjadi berbeda.
Karena orang-orang mulai membicarakan luka, bukan hanya lawan.
Mereka mulai melihat manusia di balik pertengkaran.
Qitab lalu menuliskan:
“NALIKA LUKA WIS ISO DIJENENGI, DENDAM ORA PERLU DADI BASA UTAMA.”
Ketika luka sudah dapat diberi nama, dendam tidak perlu menjadi bahasa utama.
Pangeran kemudian mengambil satu akar tua dan memotong bagian yang telah mati.
Ia tidak mencabut seluruh pohon.
Nimas membalut bagian yang dipotong dengan kain putih.
Dari sana tumbuh tunas baru.
Maka terbukalah rahasia:
Penyembuhan tidak selalu berarti mengembalikan semuanya seperti dahulu.
Kadang penyembuhan berarti:
menerima bahwa sesuatu telah berubah,
mengakhiri siklus yang merusak,
membangun hubungan dalam bentuk baru,
dan memastikan luka lama tidak kembali menjadi warisan.
Menjelang akhir lembar kedelapan, seluruh akar yang sebelumnya hitam mulai memancarkan garis-garis ungu.
Nogo mengangkat tubuhnya tinggi.
Pelangi dari sisiknya membentuk lingkaran di langit.
Pangeran berdiri dengan tongkat keemasan.
Nimas berdiri dengan kendi putih jernih.
Mereka memandang generasi muda yang mulai berjalan melintasi akar-akar lama tanpa lagi membawa bendera permusuhan.
Kemudian terdengar sabda:
“WARISNA ILMU, AJA WARISNA SENGIT.”
Wariskan ilmu, jangan wariskan kebencian.
“WARISNA ADAB, AJA WARISNA TUDUHAN.”
Wariskan adab, jangan wariskan tuduhan.
“WARISNA PERSAUDARAAN, AJA WARISNA RETAK.”
Wariskan persaudaraan, jangan wariskan keretakan.
Namun tepat ketika semua mulai tenang, dari ujung akar muncul sebuah cahaya merah tua.
Cahaya itu bergerak seperti bara.
Di dalamnya tampak sebuah pintu besi.
Di atas pintu tertulis:
PASEBAN BALIK NAMA
Di bawahnya ada kalimat kecil:
“Tempat nama baik yang pernah dirusak diminta kembali kepada keadilan.”
Pangeran menatap pintu itu.
Nimas berkata:
“Tidak cukup menghentikan kebencian. Ada kehormatan yang juga harus dipulihkan.”
Nogo kemudian berjalan mendekat.
Qitab menutup lembar kedelapan dengan sabda:
**“YEN JENENG WIS KOKRUSAK TANPA BUKTI,
ORA CUKUP MUNG MENENG.
ANA SING KUDU DIBENERAKE.”**
Jika nama seseorang telah dirusak tanpa bukti, tidak cukup hanya diam. Ada yang harus dipulihkan.
TAMAT LEMBAR KEDELAPAN
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kesembilan — Paseban Balik Nama
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pintu besi di ujung akar terbuka perlahan.
Cahaya merah tua yang semula menyerupai bara berubah menjadi warna ungu keemasan.
Di atas pintu itu tertulis:
PASEBAN BALIK NAMA
Tempat di mana kehormatan yang pernah dirusak diminta kembali kepada keadilan.
Pangeran dalam pakaian keemasan berdiri di depan gerbang.
Nimas dalam pakaian putih jernih berada di sisinya.
Di belakang mereka, Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi menurunkan kepalanya hingga hampir menyentuh tanah.
Tidak ada raungan.
Tidak ada kemarahan.
Sebab qitab membuka pesan pertama:
“PEMULIHAN NAMA BUKAN PEMBALASAN.”
Nama baik tidak dipulihkan dengan merusak nama orang lain.
Fitnah tidak dibersihkan dengan fitnah baru.
Penghinaan tidak disembuhkan dengan penghinaan balasan.
Keadilan harus menghentikan lingkaran, bukan memutarnya kembali.
Di dalam paseban terdapat sebuah pendapa besar.
Pada tengah pendapa berdiri tiga kursi.
Kursi pertama bernama:
KANG DIOMONGKE
Yang dibicarakan.
Kursi kedua bernama:
KANG NGOMONG
Yang berbicara.
Kursi ketiga bernama:
KANG NYAKSI
Yang mengetahui atau menyaksikan.
Tidak ada kursi untuk kerumunan.
Tidak ada kursi untuk kabar “katanya”.
Tidak ada tempat khusus bagi suara yang hanya mengulang cerita tanpa mengetahui asalnya.
Qitab berkata:
“SADURUNGE JENENG WONG DIADILI, SUMBERE CRITA KUDU DITELUSURI.”
Sebelum nama seseorang diadili, sumber cerita harus ditelusuri.
Pangeran memasuki pendapa.
Pada dinding pertama terdapat ukiran sebuah bulu hitam yang jatuh ke dalam air.
Begitu bulu itu menyentuh permukaan, gelombangnya menyebar ke mana-mana.
Nimas memandangnya.
Kemudian muncul tulisan:
**Satu ucapan bisa selesai dalam beberapa detik.
Dampaknya dapat berjalan bertahun-tahun.**
Ada orang kehilangan sahabat karena kabar palsu.
Ada keluarga saling menjauh karena cerita yang tidak diperiksa.
Ada guru kehilangan kepercayaan murid.
Ada murid kehilangan tempat berteduh.
Ada pemimpin kehilangan kehormatan.
Ada pula orang biasa yang memikul rasa malu karena sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.
Pangeran berkata:
“Berarti orang yang menyebarkan tuduhan mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada sekadar berkata, ‘Saya hanya mendengar.’”
Nimas menjawab:
“Benar. Lidah boleh selesai berbicara, tetapi akibatnya belum tentu selesai.”
Di sisi lain pendapa terdapat sebuah timbangan.
Sisi kanan bertuliskan:
BUKTI
Sisi kiri bertuliskan:
NAMA ORANG
Qitab memberi peringatan:
Semakin besar tuduhan, semakin besar tanggung jawab untuk membuktikannya.
Tidak layak kehormatan seseorang dirusak hanya dengan dugaan.
Tidak adil sebuah nama digantung pada cerita yang sumbernya tidak jelas.
Tidak benar banyaknya orang yang mengulang sebuah kabar dianggap otomatis sebagai bukti.
Nogo menggerakkan ekornya.
Dari sisiknya keluar satu cahaya pelangi dan membentuk kalimat:
“RAMAI ORA NGGAWE DUSTA DADI BENER.”
Keramaian tidak membuat dusta menjadi benar.
Kemudian datang seseorang membawa sebuah kendi hitam.
Ia berkata:
“Aku hanya mengulang yang kudengar.”
Pangeran bertanya:
“Apakah kau memeriksanya?”
Ia menjawab:
“Tidak.”
Nimas bertanya:
“Apakah ucapanmu membuat orang lain menjauh dari seseorang?”
Orang itu menunduk.
“Ya.”
Kemudian kendi hitam terbuka.
Dari dalamnya keluar puluhan serpihan kata.
Setiap serpihan terbang menuju dinding dan membentuk kalimat-kalimat berbeda.
Ternyata satu cerita yang sama sudah berubah berkali-kali.
Apa yang awalnya hanya:
“Mereka berselisih.”
berubah menjadi:
“Dia melakukan pengkhianatan.”
Lalu berubah lagi:
“Dia adalah orang jahat.”
Akhirnya orang tidak lagi membicarakan suatu tindakan.
Mereka mulai menghukum seluruh diri seseorang.
Qitab menuliskan:
“BEDAKNA SALAHING TINDAKAN LAN AJINING MANUNGSA.”
Bedakan kesalahan tindakan dengan martabat manusia.
Pangeran kemudian mengangkat tongkat keemasannya.
Di lantai muncul tiga lingkaran.
Lingkaran pertama:
JIKA TUDUHAN BENAR
Maka yang dicari bukan penghinaan, tetapi pertanggungjawaban dan perbaikan.
Lingkaran kedua:
JIKA TUDUHAN SALAH
Maka yang wajib dipulihkan bukan hanya kabarnya, tetapi juga nama orang yang dirugikan.
Lingkaran ketiga:
JIKA BELUM JELAS
Maka jangan mengubah ketidakjelasan menjadi kepastian.
Nimas menambahkan:
“Menunda penghakiman lebih mulia daripada menghukum orang dengan sesuatu yang belum diketahui.”
Lalu terdengar suara dari ruangan belakang:
“Bagaimana sebuah nama dipulihkan?”
Pintu putih terbuka.
Di dalamnya terdapat lima mangkuk cahaya.
Mangkuk pertama bertuliskan:
LURUSKAN
Apa yang salah dikatakan, luruskan dengan jelas.
Mangkuk kedua:
AKUI
Jika pernah menyebarkan sesuatu yang tidak benar, akui kesalahan tanpa mencari alasan baru.
Mangkuk ketiga:
SAMBUNG
Sampaikan koreksi kepada orang-orang yang sebelumnya menerima kabar salah.
Mangkuk keempat:
PULIHKAN
Beri kembali ruang kehormatan yang sempat terambil.
Mangkuk kelima:
JAGA
Jangan biarkan tuduhan yang sama hidup kembali tanpa dasar.
Qitab kemudian berkata:
**“NYUWUN NGAPURA IKU WIWITAN.
MULIHAKE KERUSAKAN IKU BAGIAN SABANJURE.”**
Meminta maaf adalah awal.
Memulihkan kerusakan adalah bagian berikutnya.
Nogo kemudian memasuki halaman paseban.
Untuk pertama kalinya tubuhnya yang sangat besar dapat melewati gerbang yang semula tampak terlalu sempit.
Begitu ia masuk, seluruh pendapa menjadi ungu berkilau pelangi.
Pangeran bertanya:
“Mengapa sekarang Nogo dapat masuk?”
Nimas menjawab:
“Karena ruang keadilan selalu menjadi luas ketika ego diperkecil.”
Nogo lalu berhenti di depan sebuah cermin besar.
Pada permukaannya tertulis:
JENENG
Nama.
Di bawahnya:
AJINING DIRI
Martabat.
Lalu muncul sabda:
“Nama adalah sebutan.
Martabat lebih dalam daripada sebutan.”
Maka siapa pun yang pernah difitnah tidak harus menggantungkan seluruh harga dirinya pada penilaian manusia.
Tetapi orang lain juga tidak diberi hak untuk merusak kehormatannya sembarangan.
Qitab menyeimbangkan keduanya:
**Jangan hidup hanya demi penilaian manusia.
Namun jangan pula menganggap ringan kerusakan yang ditimbulkan oleh fitnah.**
Tiba-tiba dari luar paseban datang banyak orang membawa gulungan-gulungan kertas.
Pada gulungan itu tertulis macam-macam cap:
pembangkang,
pengkhianat,
tidak setia,
tidak layak,
bukan golongan kami.
Pangeran mengambil semua gulungan itu.
Ia tidak membakarnya.
Ia membuka satu per satu.
Kemudian bertanya:
“Apa buktinya?”
Sebagian memiliki catatan yang dapat diperiksa.
Sebagian hanya memiliki cerita.
Sebagian bahkan tidak diketahui siapa penulis pertamanya.
Gulungan yang tidak mempunyai dasar dimasukkan ke sebuah peti.
Pada peti itu tertulis:
ORA CUKUP BUKTI
Tidak cukup bukti.
Qitab berkata:
**Tidak semua perkara harus menghasilkan hukuman.
Ada saatnya keputusan paling adil adalah mengakui bahwa bukti memang tidak cukup.**
Kemudian Nimas berdiri di tengah pendapa.
Pakaiannya yang putih jernih memantulkan cahaya dari tubuh Nogo.
Ia berkata:
“PEMULIHAN NAMA BUKAN SUPAYA ORANG DIANGGAP SEMPURNA.”
Sebab setiap manusia dapat salah.
Pemulihan nama berarti:
jangan menambahkan kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Pangeran melanjutkan:
**“KEADILAN ORA Mbutuhake WONG DADI TANPA CACAT.
KEADILAN MUNG NJALUK SING BENER DISEBUT BENER LAN SING ORA BENER ORA DITAMBAHI.”**
Keadilan tidak mensyaratkan seseorang tanpa cela.
Keadilan hanya meminta yang benar disebut benar dan yang tidak benar jangan ditambahkan.
Pada penghujung paseban terdapat sebuah gong besar.
Di bagian tengahnya terdapat lambang Tunggul Nogo.
Pangeran memukul gong itu satu kali.
Suara gong bergerak keluar dari paseban menuju gunung, lembah, kedhaton, hingga ribuan bendera yang dahulu saling menutupi.
Bersamaan dengan suara itu terdengar pesan:
“YEN KOWE ORA WANI MBENERAKE CRITA SING SALAH, AJA GAMPANG NYEBARAKE CRITA SING DURUNG CETHA.”
Jika kau tidak siap meluruskan cerita yang salah, jangan mudah menyebarkan cerita yang belum jelas.
Gong dipukul untuk kedua kalinya.
“YEN WIS NYAKITI JENENG, BALIKNA KAMULYANÉ SAK KUWASAMU.”
Jika telah menyakiti nama seseorang, pulihkan kehormatannya sebatas kemampuanmu.
Gong ketiga berbunyi.
“LAN YEN WIS DIBENERAKE, AJA TERUS NGURIPAKE KESALAHAN LAWAS KANGGO SENJATA.”
Dan bila sebuah perkara telah diperbaiki, jangan terus menghidupkan kesalahan lama sebagai senjata.
Pangeran dan Nimas keluar dari Paseban Balik Nama.
Nogo berlutut agar keduanya dapat naik.
Mereka bersiap melanjutkan perjalanan.
Namun di hadapan mereka kini muncul sebuah sungai sangat lebar.
Airnya jernih.
Tetapi tidak memiliki jembatan.
Di seberangnya berdiri ribuan orang dari berbagai kelompok.
Masing-masing ingin bertemu.
Namun tidak seorang pun tahu bagaimana menyeberang.
Di atas air perlahan muncul tulisan:
KALI PANGAPURA
Sungai Pengampunan.
Nimas menatap Pangeran.
Pangeran memandang air yang luas.
Kemudian Nogo mengeluarkan satu sisik ungu bercahaya dan menjatuhkannya ke sungai.
Sisik itu berubah menjadi batu pijakan pertama.
Qitab menutup lembar kesembilan:
**“KEADILAN MBENERAKE SING RUSAK.
PANGAPURA NGENDHEKKE SIKLUS SUPAYA ORA DIWARISKE.”**
Keadilan memperbaiki yang rusak.
Pengampunan menghentikan siklus agar tidak diwariskan.
Dan terbukalah perjalanan berikutnya:
KALI PANGAPURA — MEMAAFKAN TANPA MENIADAKAN KEADILAN
TAMAT LEMBAR KESEMBILAN
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kesepuluh — Kali Pangapura: Memaafkan Tanpa Meniadakan Keadilan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Di hadapan Pangeran, Nimas, dan Nogo ungu berkilau pelangi terbentang sebuah sungai sangat luas.
Airnya bening.
Dasarnya terlihat.
Namun arusnya kuat.
Di seberang sungai berdiri banyak orang dari berbagai kelompok.
Sebagian saling memandang.
Sebagian ingin mendekat.
Sebagian masih menyimpan luka.
Sebagian sudah ingin berdamai, tetapi belum tahu bagaimana memulainya.
Di atas permukaan air tertulis:
KALI PANGAPURA
Sungai Pengampunan.
Pangeran dalam pakaian keemasan berdiri di tepian.
Nimas dalam pakaian putih jernih duduk sejenak di sampingnya.
Nogo besar menurunkan kepala.
Dari salah satu sisiknya jatuh cahaya ungu.
Cahaya itu berubah menjadi batu pijakan pertama.
Pada batu tersebut tertulis:
NGAKONI
Mengakui.
Qitab berkata:
“Tidak ada pengampunan yang sehat bila luka bahkan tidak boleh disebut.”
Pangeran melangkah ke batu pertama.
Di atas air muncul bayangan seseorang yang berkata:
“Sudahlah, lupakan saja.”
Namun di belakangnya masih tampak luka yang belum pernah dibicarakan.
Bayangan lain berkata:
“Kalau benar memaafkan, jangan pernah membahasnya lagi.”
Qitab segera menjawab:
“PANGAPURA DUDU MEKSA ATI LALI.”
Pengampunan bukan memaksa hati untuk lupa.
Pengampunan juga bukan berpura-pura bahwa sesuatu tidak pernah terjadi.
Ia tidak menghapus sejarah.
Ia mengubah hubungan seseorang dengan luka itu.
Dari:
“Aku harus membalas.”
menjadi:
“Aku tidak akan meneruskan lingkaran ini.”
Nogo menjatuhkan sisik kedua.
Muncul batu bertuliskan:
Mbedakake
Membedakan.
Nimas berdiri di atasnya.
Lalu terbukalah tiga kalimat:
MEMAAFKAN BUKAN MEMBENARKAN
MEMAAFKAN BUKAN MENYERAHKAN DIRI UNTUK DISAKITI LAGI
MEMAAFKAN BUKAN MENGHILANGKAN BATAS
Nimas berkata:
“Ada orang yang dapat dimaafkan tetapi tetap perlu diberi jarak.”
“Ada hubungan yang dapat dipulihkan, ada pula yang hanya dapat didamaikan dari kejauhan.”
“Ada kesalahan yang membutuhkan maaf, tetapi juga tetap membutuhkan pertanggungjawaban.”
Pangeran mengangguk.
Qitab lalu menuliskan:
“RAHMAH TANPA WATES BISA DADI CELAH KANGGO PENGULANGAN LUKA.”
Kasih tanpa batas yang sehat dapat menjadi celah bagi luka yang berulang.
Sisik ketiga jatuh.
Batu ketiga bertuliskan:
ADIL
Pangeran berdiri di atasnya.
Di hadapan mereka muncul sebuah timbangan.
Pada satu sisi:
PENGAMPUNAN.
Pada sisi lain:
TANGGUNG JAWAB.
Bila pengampunan ditaruh sendirian, timbangan miring.
Bila hukuman ditaruh sendirian tanpa ruang pemulihan, timbangan juga miring.
Ketika keduanya ditempatkan dengan proporsinya, timbangan menjadi seimbang.
Maka qitab menyampaikan:
Keadilan bertanya: “Apa yang harus diperbaiki?”
Pengampunan bertanya: “Apa yang tidak perlu terus diwariskan?”
Keduanya tidak harus menjadi lawan.
Di tengah sungai terdengar suara tangisan.
Tampak seseorang memikul karung besar.
Di dalam karung terdapat batu-batu bertuliskan:
dendam,
“suatu hari akan kubalas”,
“biar dia merasakan”,
“aku tidak akan pernah tenang sebelum dia jatuh”.
Orang itu berjalan semakin berat.
Nimas bertanya:
“Siapa yang kau hukum dengan membawa semuanya?”
Ia menjawab:
“Orang yang menyakitiku.”
Pangeran melihat sekeliling.
Orang yang dimaksud bahkan tidak berada di sana.
Qitab pun berkata:
“KADANG DENDAM DIANGGAP RANTAI UNTUK MENGIKAT LAWAN, PADAHAL UJUNG LAINNYA TERIKAT PADA DIRI SENDIRI.”
Sisik keempat jatuh.
Batu berikutnya bernama:
NGECULKE
Melepaskan.
Orang itu perlahan membuka karungnya.
Ia tidak harus mengatakan:
“Yang terjadi tidak masalah.”
Ia hanya mengatakan:
“Aku tidak ingin membawa ini sepanjang hidupku.”
Satu batu dilempar ke sungai.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Air tidak menjadi keruh.
Justru setiap batu yang tenggelam berubah menjadi cahaya kecil di dasar sungai.
Pangeran berkata:
“Melepaskan bukan berarti kejadian menjadi benar.”
Nimas menjawab:
“Melepaskan berarti luka tidak lagi diberi kuasa menentukan seluruh arah hidup.”
Mereka melanjutkan langkah.
Sisik kelima jatuh.
Batu kelima bertuliskan:
WATES
Batas.
Di sana berdiri sebuah gerbang kecil.
Nimas menyentuh gerbang itu.
Muncul sabda:
“Aku memaafkanmu, tetapi aku tetap menjaga jarak.”
“Aku tidak membencimu, tetapi kepercayaan perlu dibangun kembali.”
“Aku tidak akan membalas, tetapi aku juga tidak akan membiarkan hal yang sama terulang.”
Qitab menjelaskan:
Pangapura ora ateges lawang kudu tansah dibukak.
Pengampunan tidak berarti pintu harus selalu terbuka.
Ada rumah yang perlu pagar.
Ada hubungan yang perlu aturan baru.
Ada amanah yang perlu pengawasan.
Ada kepercayaan yang harus dipulihkan melalui waktu dan tindakan, bukan hanya ucapan.
Kemudian mereka melihat dua orang berdiri pada batu yang berbeda.
Keduanya pernah saling menyakiti.
Orang pertama berkata:
“Aku sudah memaafkan, tetapi aku belum siap dekat kembali.”
Orang kedua menjawab:
“Aku mengerti.”
Tidak ada pelukan.
Tidak ada drama.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan kembali seperti dahulu.
Namun keduanya dapat saling menatap tanpa kebencian.
Qitab berkata:
“ORA KABEH DAMAI KUDU BALIK DADI CEDHAK.”
Tidak semua perdamaian harus kembali menjadi kedekatan.
Kadang damai berarti:
tidak lagi saling menyakiti.
Dan itu pun sudah merupakan pintu besar.
Sisik keenam turun.
Batu itu bernama:
MULIHAKE
Memulihkan.
Di sini Pangeran melihat seseorang yang pernah menyebarkan tuduhan.
Ia telah meminta maaf kepada orang yang dirugikan.
Namun nama orang tersebut sudah terlanjur rusak di banyak tempat.
Nogo memandangnya.
Dari matanya keluar cahaya ungu.
Di udara tertulis:
“NYUWUN PANGAPURA MARANG SIJI ORA CUKUP YEN KERUSAKANMU WIS NYEBAR MARANG AKEH.”
Meminta maaf kepada satu orang belum cukup bila kerusakanmu telah tersebar kepada banyak orang.
Maka orang itu kembali kepada orang-orang yang pernah mendengar kabarnya.
Ia berkata:
“Apa yang pernah kusampaikan dahulu tidak benar.”
“Aku telah berbicara tanpa pemeriksaan.”
“Aku mohon jangan teruskan cerita itu.”
Setiap kali ia meluruskan, satu bagian langit menjadi lebih terang.
Qitab berkata:
Pengampunan pribadi dan tanggung jawab sosial harus dibedakan.
Seseorang bisa saja dimaafkan secara pribadi.
Namun kerusakan yang nyata tetap perlu dipulihkan sebisa mungkin.
Sisik ketujuh jatuh.
Batu terakhir sebelum seberang bernama:
PASRAH MARANG ALLOH
Pangeran dan Nimas berdiri berdampingan di atasnya.
Di sinilah air sungai menjadi paling tenang.
Tidak ada cermin.
Tidak ada suara.
Hanya langit.
Pangeran berkata:
“Bagaimana bila seseorang tidak pernah mengakui kesalahannya?”
Nimas menjawab:
“Tidak semua pemulihan menunggu orang lain berubah.”
Ada saat ketika seseorang perlu berkata dalam hati:
“Aku sudah melakukan bagian yang dapat kulakukan.”
“Aku menjaga batas.”
“Aku tidak membalas.”
“Aku menyerahkan bagian yang tidak dapat kukendalikan kepada Alloh.”
Qitab kemudian menuliskan:
“PANGAPURA KADANG ORA DIWIWITI SAKA WONG SING SALAH, NANGING SAKA WONG SING ORA GELEM TERUS DICEKEL LUKA.”
Pengampunan terkadang tidak dimulai dari orang yang bersalah, tetapi dari orang yang tidak ingin terus ditawan oleh lukanya.
Tiba-tiba Kali Pangapura mulai bercahaya.
Setiap batu pijakan yang sebelumnya terpisah saling terhubung oleh garis ungu keemasan.
Nogo turun ke air.
Anehnya, tubuhnya tidak tenggelam.
Air membentuk jalan di sekelilingnya.
Pangeran dan Nimas menaiki Nogo kembali.
Mereka bergerak menuju seberang.
Di sepanjang perjalanan terdengar tujuh suara:
AKUI YANG TERJADI.
BEDAKAN MAAF DARI PEMBENARAN.
JAGA KEADILAN.
LEPASKAN DENDAM.
BANGUN BATAS.
PULIHKAN YANG BISA DIPULIHKAN.
SERAHKAN YANG TIDAK DAPAT DIKUASAI KEPADA ALLOH.
Sesampainya di seberang, orang-orang dari berbagai kelompok mulai menyeberangi sungai.
Tidak semuanya berjalan bersama.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang masih berhenti di batu pertama.
Ada yang sudah sampai di batu kelima tetapi kembali menangis.
Tidak ada yang dipaksa.
Qitab mengingatkan:
“Penyembuhan memiliki iramanya sendiri.”
Orang yang baru terluka tidak boleh dipaksa cepat berkata:
“Aku sudah ikhlas.”
Dan orang yang telah memaafkan tidak boleh dipaksa kembali ke hubungan yang menurutnya tidak lagi aman.
Pengampunan yang lahir dari kesadaran lebih bernilai daripada kata-kata yang keluar karena tekanan.
Kemudian di tengah sungai tumbuh sebuah pohon besar.
Akarnya berada di dua tepi sekaligus.
Batangnya berwarna ungu tua.
Daunnya memancarkan kilau pelangi.
Buahnya keemasan.
Di batangnya tertulis:
WIT PANGRUKUN
Pohon Kerukunan.
Pangeran bertanya:
“Bagaimana mungkin satu pohon memiliki akar di dua sisi?”
Nimas menjawab:
“Karena kerukunan tidak meminta satu sisi kehilangan tanahnya.”
“Ia hanya meminta kedua sisi mau memberi akar kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.”
Nogo kemudian melingkari pohon itu.
Dari tubuhnya muncul cahaya yang menyatukan kedua tepian tanpa menghapus batas sungai.
Qitab pun membuka rahasia Pusaka Tunggul Nogo:
PERSATUAN YANG SEHAT BUKAN MENCAMPUR SEMUA SAMPAI HILANG BENTUK.
Persatuan yang sehat adalah kemampuan untuk:
berbeda tanpa saling memusnahkan,
dekat tanpa saling menguasai,
memaafkan tanpa meniadakan keadilan,
dan
menjaga batas tanpa memelihara kebencian.
Ketika malam turun, tiba-tiba langit di atas Wit Pangrukun terbuka.
Dari balik awan turun sembilan cahaya.
Masing-masing menjadi sebuah pusaka simbolik yang melayang mengelilingi Nogo.
Ada cahaya berbentuk tongkat.
Ada yang menyerupai kendi.
Ada yang berbentuk kitab.
Ada yang menjadi lingkaran.
Ada yang menjadi bunga.
Ada yang berubah menjadi cakra.
Ada yang menjadi kunci.
Ada yang menyerupai selendang.
Dan yang terakhir berubah menjadi Tunggul Nogo kecil berwarna ungu-keemasan.
Namun belum satu pun boleh disentuh.
Di atas sembilan cahaya itu muncul tulisan:
SANGA PANGREKSA PERSATUAN
Sembilan Penjaga Persatuan.
Pangeran mengangkat wajahnya.
Nimas memandang sembilan cahaya tersebut.
Nogo ungu mengaum sekali, panjang dan dalam.
Lalu terdengar pesan terakhir lembar kesepuluh:
**“PERSATUAN ORA CUKUP DIUCAPKE.
PERSATUAN KUDU DUWE SIFAT SING NJAGA.”**
Persatuan tidak cukup diucapkan.
Persatuan membutuhkan sifat-sifat yang menjaganya.
Dan pada lembar berikutnya akan dibuka:
SANGA PANGREKSA PERSATUAN — SEMBILAN AMANAH PUSAKA TUNGGUL NOGO
TAMAT LEMBAR KESEPULUH
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kesebelas — Sanga Pangreksa Persatuan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sembilan cahaya melayang mengelilingi Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi.
Pangeran dengan pakaian keemasan berdiri di sisi kanan.
Nimas dengan pakaian putih jernih berdiri di sisi kiri.
Di tengah mereka tumbuh Wit Pangrukun, pohon kerukunan yang akarnya menembus dua tepian Kali Pangapura.
Langit menjadi sangat tenang.
Kemudian sembilan cahaya itu turun satu per satu.
Qitab menamainya:
SANGA PANGREKSA PERSATUAN
Sembilan Penjaga Persatuan.
Bukan penjaga dalam arti pasukan.
Bukan pula senjata untuk menundukkan orang lain.
Sembilan penjaga ini adalah sembilan sifat yang harus hidup agar persatuan tidak hanya menjadi semboyan.
PANGREKSA KAPISAN
TONGKAT ADIL
Cahaya pertama berubah menjadi tongkat keemasan.
Pangeran meraihnya.
Namun saat tangannya menyentuh tongkat itu, terdengar pesan:
“Adil bukan selalu membagi sama rata.”
Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai hak dan tanggung jawabnya.
Ada yang membutuhkan perlindungan lebih.
Ada yang memikul tanggung jawab lebih.
Ada yang harus didengar lebih dahulu karena selama ini suaranya tidak pernah terdengar.
Tongkat itu kemudian memancarkan tulisan:
“AJA NYAWIJI KANTHI NGILANGAKE HAK.”
Jangan menyatukan dengan cara menghilangkan hak.
Persatuan yang mengorbankan keadilan hanya akan menjadi keretakan yang ditunda.
PANGREKSA KAPINDHO
KENDI RAHMAH
Cahaya kedua berubah menjadi kendi putih jernih.
Nimas mengambilnya.
Air di dalamnya tidak pernah habis.
Namun qitab memberi peringatan:
Rahmah bukan kelemahan.
Rahmah adalah kemampuan tetap melihat manusia sekalipun sedang berbeda.
Air kendi dituang kepada seseorang yang sedang marah.
Ia tidak langsung menjadi setuju.
Namun kemarahannya tidak lagi berubah menjadi kebencian.
Ditumpahkan kepada orang yang terluka.
Lukanya belum hilang.
Tetapi ia mulai dapat berbicara tanpa ingin membalas.
Maka qitab menuliskan:
“SING KUWAT ORA MESTHI KERAS.”
Yang kuat tidak harus keras.
PANGREKSA KATELU
QITAB TABAYYUN
Cahaya ketiga berubah menjadi sebuah qitab kecil berwarna ungu tua dengan tepian emas.
Pada sampulnya tertulis:
PERIKSA SADURUNGE PERCAYA
Setiap kali qitab itu dibuka, muncul tiga pertanyaan:
Sumbernya siapa?
Apa buktinya?
Apakah sudah diperiksa kepada pihak yang bersangkutan?
Pangeran berkata:
“Banyak perpecahan dapat dicegah hanya dengan tiga pertanyaan ini.”
Nimas menjawab:
“Karena kabar yang belum jelas tidak boleh diberi kedudukan seperti kenyataan.”
PANGREKSA KAPAT
LINGKARAN MUSYAWARAH
Cahaya keempat berubah menjadi lingkaran besar.
Tidak ada kursi kepala di ujungnya.
Semua tempat menghadap ke tengah.
Qitab berkata:
“SING LUNGGUH ING TENGAH DUDU WONG, NANGING PERKARA.”
Yang ditempatkan di tengah bukan orang, melainkan persoalan.
Artinya:
jangan jadikan musyawarah sebagai arena menyerang pribadi.
Bicarakan masalahnya.
Jangan hancurkan martabat manusianya.
Orang-orang kemudian duduk melingkar.
Untuk pertama kalinya, yang paling keras tidak otomatis menjadi yang paling didengar.
Dan yang paling pendiam diberi ruang untuk menyampaikan isi hati.
PANGREKSA KALIMA
KEMBANG TAWADUK
Cahaya kelima menjadi bunga ungu dengan sembilan kelopak.
Aromanya lembut.
Namun setiap orang yang menciumnya melihat satu kekurangannya sendiri.
Bukan untuk merendahkan diri.
Tetapi agar tidak merasa paling sempurna.
Pangeran mencium bunga itu.
Ia melihat bahwa ketegasan dapat berubah menjadi keras kepala.
Nimas menciumnya.
Ia melihat bahwa kelembutan dapat berubah menjadi terlalu takut mengambil keputusan.
Qitab menuliskan:
“WONG SING ISO NDELENG KEKURANGANE DHEWE, ORA GAMPANG NYALAHKE KEKURANGANE WONG LIYA.”
Orang yang mampu melihat kekurangannya sendiri tidak mudah menghakimi kekurangan orang lain.
PANGREKSA KANEM
CAKRA WATES
Cahaya keenam berputar menjadi cakra ungu-keemasan.
Namun cakra itu tidak memiliki sisi tajam.
Ia membentuk batas cahaya.
Qitab berkata:
“Persatuan membutuhkan batas.”
Batas antara kritik dan penghinaan.
Batas antara kepemimpinan dan penguasaan.
Batas antara kasih dan pembiaran.
Batas antara menghormati guru dan menganggap guru tidak mungkin salah.
Batas antara menjaga kelompok dan membenci kelompok lain.
Cakra itu kemudian membentuk lingkaran di tanah.
Siapa pun boleh masuk.
Namun setiap orang harus meninggalkan senjata egonya di luar.
PANGREKSA KAPITU
KUNCI AMANAH
Cahaya ketujuh menjadi kunci besar berwarna emas.
Di bagian pegangannya terdapat lambang Nogo.
Pangeran mencoba membuka sebuah peti.
Tidak terbuka.
Nimas mencoba.
Tetap tidak terbuka.
Baru ketika keduanya memegang kunci bersama, peti itu terbuka.
Di dalamnya terdapat tulisan:
“AMANAH GEDHE ORA KUDU DITANGGUNG SIJI WONG.”
Amanah besar tidak harus dipikul oleh satu orang.
Qitab menerangkan:
Persatuan akan lebih kuat bila tanggung jawab dibagi.
Tidak semua keputusan harus berpusat pada satu tokoh.
Tidak semua pekerjaan harus menunggu satu orang.
Tidak semua keberhasilan harus diklaim satu nama.
PANGREKSA KAWOLU
SELENDANG PANGAYOMAN
Cahaya kedelapan berubah menjadi selendang panjang putih keemasan.
Nimas membentangkannya.
Selendang itu cukup lebar untuk menaungi banyak orang.
Namun qitab mengatakan:
“PANGAYOMAN DUDU NGUASANI.”
Mengayomi bukan menguasai.
Orang yang mengayomi memberi ruang orang lain tumbuh.
Ia tidak menuntut semua orang menyerupai dirinya.
Ia tidak menjadikan bantuan sebagai alat untuk menagih kesetiaan.
Ia melindungi tanpa menjadikan orang lain kecil.
Selendang itu kemudian membentang di atas kelompok-kelompok yang berbeda.
Tidak satu pun warna mereka hilang.
PANGREKSA KASANGA
TUNGGUL NOGO
Cahaya kesembilan menjadi sebuah tunggul kecil berwarna ungu-keemasan.
Semua orang terdiam.
Inilah simbol yang paling sederhana.
Namun justru paling berat amanahnya.
Pangeran bertanya:
“Apa yang dijaga oleh Tunggul Nogo?”
Nimas menjawab:
“Bukan wilayah.”
Pangeran bertanya lagi:
“Bukan kekuasaan?”
Nimas menggeleng.
Nogo besar menundukkan kepala.
Kemudian turun sabda:
“TUNGGUL NOGO NJAGA PAPAN KANGGO KABEH BISA BALIK DADI SEDULUR.”
Tunggul Nogo menjaga ruang agar semua dapat kembali menjadi saudara.
Sembilan pusaka itu kemudian membentuk lingkaran.
Tongkat Adil.
Kendi Rahmah.
Qitab Tabayyun.
Lingkaran Musyawarah.
Kembang Tawaduk.
Cakra Wates.
Kunci Amanah.
Selendang Pangayoman.
Tunggul Nogo.
Semua berputar mengelilingi Pangeran dan Nimas.
Nogo besar mengaum panjang.
Dari tubuhnya memancar sembilan berkas cahaya.
Kesembilan cahaya itu kemudian menyatu menjadi satu kalimat:
ADIL — RAHMAH — TABAYYUN — MUSYAWARAH — TAWADUK — WATES — AMANAH — PANGAYOMAN — PERSAUDARAAN
Qitab berkata:
Inilah sembilan tiang yang membuat persatuan mampu berdiri.
Jika salah satunya hilang, persatuan menjadi timpang.
Tanpa adil, persatuan menjadi penindasan.
Tanpa rahmah, persatuan menjadi dingin.
Tanpa tabayyun, persatuan mudah dirusak fitnah.
Tanpa musyawarah, persatuan berubah menjadi perintah sepihak.
Tanpa tawaduk, persatuan menjadi perebutan siapa paling tinggi.
Tanpa batas, persatuan membiarkan pelanggaran berulang.
Tanpa amanah, persatuan kehilangan tanggung jawab.
Tanpa pengayoman, persatuan menjadi tempat yang kuat menekan yang lemah.
Tanpa persaudaraan, semua unsur lainnya kehilangan ruh.
Kemudian sembilan pusaka itu tidak diberikan kepada satu orang.
Tongkat tidak hanya diberikan kepada Pangeran.
Kendi tidak hanya diberikan kepada Nimas.
Qitab justru membagi cahayanya kepada semua yang hadir.
Setiap orang menerima satu serpihan cahaya.
Ada yang menerima sifat adil.
Ada yang menerima keberanian untuk tabayyun.
Ada yang belajar mendengarkan.
Ada yang belajar meminta maaf.
Ada yang belajar menjaga batas.
Ada yang belajar melepaskan kursi.
Ada yang belajar berbagi amanah.
Maka qitab membuka rahasia:
“PUSAKA PALING KUWAT DUDU SING DISEKELE WONG SIJI, NANGING SIFAT BECIK SING URIP ING AKEH ATI.”
Pusaka paling kuat bukan yang dipegang satu orang, melainkan sifat baik yang hidup di banyak hati.
Tiba-tiba Wit Pangrukun berguncang.
Dari puncaknya tumbuh satu cabang baru.
Pada cabang itu bergantung sebuah buah besar berwarna ungu keemasan.
Buah tersebut pecah.
Dari dalamnya keluar selembar kain panjang.
Kain itu terbentang di langit.
Pada bagian tengah terdapat gambar Nogo ungu berkilau pelangi.
Di sisi kanan tampak Pangeran berpakaian keemasan.
Di sisi kiri tampak Nimas berpakaian putih jernih.
Namun di bawah gambar itu terdapat tulisan yang belum pernah muncul sebelumnya:
“PANJI TANPA KEPEMILIKAN”
Pangeran mengernyit.
“Bagaimana sebuah panji tidak mempunyai pemilik?”
Nimas menjawab:
“Karena panji ini tidak dibuat agar satu golongan berkata: milik kami.”
Nogo mengangkat kepalanya.
Kemudian qitab memberi pesan:
**“SING DADI PUSAT DUDU PANGERAN, DUDU NIMAS, DUDU NOGO.
SING DADI PUSAT YAITU TUJUAN BEBARengan.”**
Yang menjadi pusat bukan Pangeran, bukan Nimas, bukan Nogo.
Yang menjadi pusat adalah tujuan bersama.
Kain itu kemudian terbang jauh.
Melewati Kali Pangapura.
Melewati Paseban Balik Nama.
Melewati Akar Warisan Luka.
Melewati Kedhaton Rong Karep.
Melewati Jembatan Saksi.
Melewati Gunung Prasangka.
Melewati Padhepokan Pitu Lisan.
Hingga kembali ke lembah ribuan bendera.
Namun Panji Tanpa Kepemilikan tidak dipasang lebih tinggi daripada yang lain.
Ia ditempatkan di tengah, pada ketinggian sejajar.
Semua bendera bergerak tertiup angin yang sama.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun yang menutupi cahaya yang lain.
Qitab menutup lembar kesebelas dengan sabda:
“PANJI KANG AGUNG DUDU PANJI SING PALING DHUWUR, NANGING PANJI SING BISA NGAJAK PANJI LIYAN URIP BEBARENGAN.”
Panji yang agung bukan panji yang paling tinggi, melainkan panji yang mampu membuat panji lain hidup berdampingan.
Di ufuk timur kemudian muncul sebuah gerbang cahaya.
Di atasnya tertulis:
“PASAMUWAN AGUNG TUNGGUL NOGO”
Dan dari balik gerbang terdengar ribuan langkah mendekat.
Qitab memberi tanda bahwa lembar berikutnya akan membuka:
PASAMUWAN AGUNG — SAAT SEMUA GOLONGAN DUDUK DALAM SATU LINGKARAN TANPA KEHILANGAN JATI DIRI
TAMAT LEMBAR KESEBELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kedua Belas — Pasamuwan Agung Tunggul Nogo
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Gerbang cahaya di ufuk timur terbuka perlahan.
Dari baliknya terdengar ribuan langkah.
Bukan langkah pasukan.
Bukan pula barisan yang hendak menaklukkan.
Mereka datang membawa panji, kitab, tongkat, pakaian adat, sorban, selendang, lambang perguruan, dan tanda-tanda asal masing-masing.
Di atas gerbang tertulis:
PASAMUWAN AGUNG TUNGGUL NOGO
Pangeran dengan pakaian keemasan berdiri di sisi kanan gerbang.
Nimas dengan pakaian putih jernih berdiri di sisi kiri.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi melingkar di atas mereka.
Tubuhnya membentuk kubah hidup yang sangat luas.
Di bawah kubah itu tidak ada singgasana.
Tidak ada kursi tertinggi.
Tidak ada panggung yang meninggikan satu golongan di atas golongan lain.
Yang ada hanyalah satu lingkaran besar.
Dan di tengah lingkaran berdiri Tunggul Nogo.
Orang-orang mulai memasuki pasamuwan.
Mereka datang dari arah yang berbeda-beda.
Namun setiap orang yang masuk harus melewati sebuah batu bertuliskan:
**“LEBOKNA JATI DIRIMU,
NINGGALNA KAREP NGUWASANI.”**
Bawalah jati dirimu,
tinggalkan keinginan untuk menguasai.
Maka mereka tidak diminta menanggalkan identitas.
Tidak diminta melupakan guru.
Tidak diminta meninggalkan adat.
Tidak diminta menyamakan pandangan.
Mereka hanya diminta meninggalkan satu hal:
keinginan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan.
Di dalam lingkaran besar terdapat sembilan tempat kosong.
Pada setiap tempat terdapat lambang dari Sanga Pangreksa Persatuan.
Tongkat Adil.
Kendi Rahmah.
Qitab Tabayyun.
Lingkaran Musyawarah.
Kembang Tawaduk.
Cakra Wates.
Kunci Amanah.
Selendang Pangayoman.
Dan Tunggul Nogo.
Namun tidak seorang pun boleh mengaku sebagai pemilik salah satunya.
Qitab berkata:
“SIFAT BECIK DUDU GELAR.”
Sifat baik bukan gelar.
Adil tidak cukup dituliskan.
Rahmah tidak cukup diucapkan.
Tawaduk tidak cukup dipuji.
Musyawarah tidak cukup dijadikan semboyan.
Semuanya harus tampak dalam perbuatan.
Kemudian datang sembilan kelompok besar.
Kelompok pertama berkata:
“Kami menjaga ilmu.”
Kelompok kedua:
“Kami menjaga tradisi.”
Kelompok ketiga:
“Kami menjaga umat.”
Kelompok keempat:
“Kami menjaga rakyat.”
Kelompok kelima:
“Kami menjaga tanah leluhur.”
Kelompok keenam:
“Kami menjaga masa depan.”
Kelompok ketujuh:
“Kami menjaga ajaran guru.”
Kelompok kedelapan:
“Kami menjaga ketertiban.”
Kelompok kesembilan berkata:
“Kami menjaga persaudaraan.”
Pangeran mendengarkan semuanya.
Kemudian ia bertanya:
“APA SING KEDADEN YEN KABEH NJAGA NANGING ORA GELEM DIJAGA?”
Apa yang terjadi bila semua merasa menjaga tetapi tidak bersedia dikoreksi?
Tidak ada yang menjawab.
Nimas lalu berkata:
“Penjaga juga harus mau diperiksa.”
Maka turunlah prinsip pertama Pasamuwan Agung:
AMANAH TANPA KOREKSI BISA DADI KUASA TANPA WATES.
Amanah tanpa koreksi dapat berubah menjadi kekuasaan tanpa batas.
Kemudian terdengar suara dari tengah lingkaran:
“Siapa yang memimpin pasamuwan ini?”
Semua mata memandang Pangeran.
Namun Pangeran mundur satu langkah.
Mereka memandang Nimas.
Nimas pun mundur satu langkah.
Mereka memandang Nogo.
Nogo hanya menundukkan kepala.
Lalu dari Tunggul Nogo keluar cahaya.
Di atasnya terbentuk tulisan:
“PERKARANE SING DADI PUSAT.”
Persoalannya yang menjadi pusat.
Qitab menjelaskan:
Dalam musyawarah yang sehat, pusat pembicaraan adalah persoalan yang hendak diselesaikan, bukan kebesaran orang yang berbicara.
Yang paling terkenal tidak otomatis paling benar.
Yang paling tua tetap perlu didengar dengan hormat, tetapi bukan berarti tidak boleh dikritik.
Yang muda tidak otomatis kurang bijaksana.
Yang kecil jumlahnya tidak boleh dihapus suaranya.
Dan yang banyak jumlahnya tidak boleh merasa seluruh kebenaran telah menjadi miliknya.
Tiba-tiba satu kelompok mengangkat panjinya.
Mereka berkata:
“Kami paling banyak. Maka keputusan harus mengikuti kami.”
Kelompok lain berdiri:
“Kami paling tua. Kami lebih berhak menentukan.”
Kelompok ketiga berkata:
“Kami memiliki pengaruh paling kuat.”
Kelompok keempat:
“Kami yang paling banyak berkorban.”
Suasana mulai memanas.
Nogo mengaum sekali.
Seluruh panji berhenti bergerak.
Pangeran kemudian membawa Tongkat Adil ke tengah lingkaran.
Ia menancapkannya di tanah.
Muncul sabda:
“AKEH ORA ATEGES OLEH NGILANGAKE SING SITHIK.”
Banyak tidak berarti boleh menghilangkan yang sedikit.
Nimas membawa Kendi Rahmah.
Ia menuangkan air di sekeliling tongkat.
Muncul sabda kedua:
“BEDA ORA ATEGES MESTHI DADI MUNGSUH.”
Berbeda tidak berarti harus menjadi musuh.
Kemudian Qitab Tabayyun terbuka sendiri.
Halaman pertamanya memancarkan tiga pertanyaan:
Apa masalah sebenarnya?
Siapa yang terdampak?
Apa yang belum kita ketahui?
Semua orang terdiam.
Karena sebelumnya mereka sibuk membela posisi.
Belum sungguh-sungguh mendefinisikan persoalan.
Maka qitab mengingatkan:
“AJA NGADU JAWABAN SADURUNGE PERTANYAANE CETHA.”
Jangan mempertentangkan jawaban sebelum pertanyaannya jelas.
Lingkaran Musyawarah kemudian bercahaya.
Semua orang diminta duduk.
Tidak ada yang boleh berdiri lebih tinggi.
Satu demi satu diberi kesempatan berbicara.
Namun ada tiga aturan.
Pertama:
Ngomonga saka sing kok ngerti.
Bicaralah dari apa yang benar-benar engkau ketahui.
Kedua:
Aja nambahi niat wong liya sing ora kok ngerti.
Jangan menambahkan niat kepada orang lain yang tidak engkau ketahui.
Ketiga:
Yen pengin dideleng, gelemna uga ndeleng.
Jika ingin dipahami, bersedialah juga memahami.
Salah satu orang berkata:
“Aku merasa tidak dihargai.”
Orang lain hampir menjawab:
“Itu karena kamu terlalu sensitif.”
Namun Kembang Tawaduk mendadak memancarkan aroma.
Orang itu berhenti.
Ia lalu berkata:
“Coba jelaskan bagian mana yang membuatmu merasa begitu.”
Qitab berkata:
**“MUSYAWARAH ORA MUNG GILIRAN NGOMONG.
MUSYAWARAH UGA GILIRAN NGERTI.”**
Musyawarah bukan hanya bergiliran berbicara.
Musyawarah juga bergiliran memahami.
Kemudian muncul persoalan yang sulit.
Dua kelompok memiliki kepentingan yang benar-benar berbeda.
Tidak ada jalan yang dapat memenuhi semuanya sekaligus.
Maka Cakra Wates bercahaya.
Qitab berkata:
Persatuan tidak selalu menghasilkan kesepakatan sempurna.
Kadang hasil terbaik adalah:
batas yang jelas,
hak yang dihormati,
tanggung jawab yang dibagi,
dan janji untuk tidak mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
Pangeran berkata:
“YEN ORA ISO SIJI PANEMU, ISA SIJI ADAB.”
Jika belum dapat satu pendapat, setidaknya dapat satu adab.
Kunci Amanah kemudian melayang ke tengah.
Sebuah peti besar terbuka.
Di dalamnya terdapat banyak gulungan tugas.
Tidak satu pun bertuliskan:
“Untuk Pangeran saja.”
Tidak satu pun bertuliskan:
“Untuk Nimas saja.”
Tidak satu pun bertuliskan:
“Untuk golongan paling besar.”
Semua tugas dibagikan menurut kemampuan.
Qitab membuka prinsip:
“PERSATUAN ORA KUWAT YEN KABEH MUNG NGENTENI SATU TOKOH.”
Persatuan tidak kuat jika semuanya hanya menunggu satu tokoh.
Orang yang mampu mengajar, mengajar.
Yang mampu mendengar, menjadi pendengar.
Yang mampu menengahi, menjadi penghubung.
Yang mampu bekerja diam-diam, menjaga hal-hal yang sering tidak terlihat.
Setiap amanah memiliki kemuliaannya sendiri.
Selendang Pangayoman kemudian membentang di atas lingkaran.
Di bawahnya terdapat orang kuat dan orang lemah.
Orang terkenal dan orang yang tidak dikenal.
Kelompok besar dan kelompok kecil.
Qitab berkata:
Ukuran pengayoman bukan bagaimana yang kuat semakin nyaman.
Ukuran pengayoman adalah apakah yang kecil masih memperoleh ruang untuk hidup dengan martabat.
Maka turunlah kalimat:
“SING KUWAT ORA KUDU TAMBAH GEDHE KANTHI NGECILAKE SING LEMAH.”
Yang kuat tidak perlu menjadi semakin besar dengan mengecilkan yang lemah.
Pasamuwan berlangsung hingga senja.
Tidak semua masalah selesai.
Namun sesuatu yang lebih penting terjadi.
Orang-orang mulai mengetahui cara untuk tetap duduk bersama ketika masalah belum selesai.
Mereka mulai memahami bahwa persatuan bukan keadaan tanpa perbedaan.
Persatuan adalah kemampuan merawat hubungan ketika perbedaan masih ada.
Pangeran berdiri.
Nimas ikut berdiri.
Nogo turun dari kubah langit.
Tubuh ungu pelanginya mengelilingi seluruh pasamuwan.
Kemudian Pangeran berkata:
“AJA NYUWUN PERSATUAN TANPA GELEM MBAYAR REGANE.”
Jangan meminta persatuan tanpa bersedia membayar harganya.
Harga itu bukan uang.
Harga persatuan adalah:
menahan ego,
mendengar lebih lama,
mengakui kesalahan,
menerima koreksi,
membagi amanah,
menjaga yang lemah,
dan terkadang:
mengalah pada kehendak pribadi demi sesuatu yang lebih besar.
Nimas kemudian mengangkat kendi putih jernihnya.
Air terakhir dituang tepat di bawah Tunggul Nogo.
Dari tanah tumbuh sembilan bunga.
Kesembilan bunga menyatu menjadi satu lingkaran.
Pada tengah lingkaran muncul tulisan:
**RUKUN DUDU AMARGA PADHA.
RUKUN AMARGA PADHA GELEM NJAGA.**
Rukun bukan karena semuanya sama.
Rukun karena semuanya bersedia menjaga.
Seluruh pasamuwan menundukkan kepala.
Tidak kepada Pangeran.
Tidak kepada Nimas.
Tidak kepada Nogo.
Tetapi kepada amanah persatuan yang harus dijaga bersama.
Ketika malam tiba, tiba-tiba dari tengah Tunggul Nogo keluar sebuah cahaya sangat terang.
Cahaya itu naik ke langit.
Lalu berubah menjadi sebuah mahkota besar berwarna ungu-keemasan.
Namun mahkota itu tidak turun ke kepala siapa pun.
Ia menggantung di atas seluruh lingkaran.
Di bagian dalam mahkota tertulis:
MAHKOTA TANPA RAJA
Pangeran menatapnya.
Nimas bertanya:
“Mengapa mahkota itu tidak memilih seseorang?”
Nogo menjawab melalui gema:
“AMARGA ANA KAMULYAN SING ORA KUDU DIDUWENI, NANGING KUDU DIJAGA BEBARENGAN.”
Karena ada kemuliaan yang tidak perlu dimiliki seseorang, tetapi harus dijaga bersama.
Maka qitab memberi tanda bahwa lembar berikutnya akan membuka rahasia:
MAHKOTA TANPA RAJA — KETIKA KEHORMATAN BERSAMA LEBIH TINGGI DARIPADA KEHORMATAN PRIBADI
TAMAT LEMBAR KEDUA BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Ketiga Belas — Mahkota Tanpa Raja
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Mahkota besar berwarna ungu-keemasan itu masih menggantung di atas Pasamuwan Agung Tunggul Nogo.
Tidak turun kepada Pangeran.
Tidak turun kepada Nimas.
Tidak pula hinggap di kepala salah satu pemimpin kelompok.
Semua orang menengadah.
Mereka menunggu.
Namun mahkota itu hanya berputar perlahan sambil memancarkan cahaya pelangi.
Kemudian terdengar sabda:
MAHKOTA TANPA RAJA
Bukan karena tidak ada pemimpin.
Bukan karena kepemimpinan tidak diperlukan.
Tetapi karena ada kehormatan yang terlalu besar untuk dimiliki satu orang.
Kehormatan bersama.
Pangeran berpakaian keemasan maju satu langkah.
Ia bertanya:
“Jika mahkota tidak dipakai siapa pun, apa gunanya mahkota?”
Nimas yang berpakaian putih jernih menjawab:
“Ada mahkota yang dipakai di kepala. Ada mahkota yang dijaga di atas seluruh kepala.”
Qitab lalu menerangkan:
Mahkota biasa menandai kedudukan.
Mahkota Tanpa Raja menandai batas.
Tidak seorang pun boleh merasa dirinya lebih besar daripada amanah bersama.
Tidak satu nama boleh menguasai seluruh sejarah.
Tidak satu kelompok boleh mengklaim seluruh kemuliaan.
Tidak satu tokoh boleh menjadikan perjuangan banyak orang sebagai milik pribadinya.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi turun perlahan.
Tubuhnya mengelilingi seluruh lingkaran.
Di bawah cahaya mahkota, sisiknya memantulkan wajah-wajah banyak orang.
Ada yang tua.
Ada yang muda.
Ada yang dikenal.
Ada yang tidak dikenal.
Ada yang bekerja di depan.
Ada yang selama ini berjuang tanpa pernah disebut.
Pangeran melihat satu hal:
Mahkota itu memantulkan semua wajah.
Bukan hanya wajah pemimpin.
Qitab berkata:
“KAMULYAN GEDHE ASRING DIBANGUN DENING TANGAN SING ORA KATON.”
Kemuliaan besar sering dibangun oleh tangan-tangan yang tidak terlihat.
Kemudian mahkota menurunkan sembilan rantai cahaya.
Satu rantai menuju Tongkat Adil.
Satu menuju Kendi Rahmah.
Satu menuju Qitab Tabayyun.
Satu menuju Lingkaran Musyawarah.
Satu menuju Kembang Tawaduk.
Satu menuju Cakra Wates.
Satu menuju Kunci Amanah.
Satu menuju Selendang Pangayoman.
Dan rantai kesembilan menuju Tunggul Nogo.
Mahkota menjadi stabil.
Qitab pun menuliskan:
Kehormatan bersama hanya dapat berdiri bila ditopang sifat-sifat yang menjaganya.
Tanpa adil, kehormatan berubah menjadi kasta.
Tanpa rahmah, kehormatan berubah menjadi kesombongan.
Tanpa tabayyun, kehormatan mudah dirusak kabar.
Tanpa musyawarah, kehormatan menjadi milik suara terkuat.
Tanpa tawaduk, kehormatan berubah menjadi perebutan gelar.
Tanpa batas, kehormatan dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran.
Tanpa amanah, kehormatan menjadi hiasan kosong.
Tanpa pengayoman, kehormatan hanya dirasakan oleh yang kuat.
Tanpa persaudaraan, mahkota akan jatuh dan pecah.
Tiba-tiba dari antara orang banyak muncul seseorang.
Ia berkata:
“Kalau begitu, siapa yang paling berhak mewakili kita?”
Pangeran tidak menjawab.
Nimas juga tidak.
Mahkota memancarkan cahaya ke tanah.
Di sana muncul tiga lingkaran.
Lingkaran pertama bertuliskan:
WAKIL
Lingkaran kedua:
PEMILIK
Lingkaran ketiga:
PENGABDI
Qitab menjelaskan:
Seorang pemimpin boleh mewakili.
Tetapi bukan berarti ia memiliki.
Dan kemuliaan tertinggi bukan pada menjadi pemilik, melainkan menjadi pengabdi amanah.
Pangeran berkata:
“Sing dadi wakil kudu eling yen dheweke dudu sing duwe.”
Yang menjadi wakil harus ingat bahwa dirinya bukan pemilik.
Kemudian seseorang dari kelompok lain berkata:
“Tetapi pemimpin tetap membutuhkan kewibawaan.”
Qitab menjawab:
“WIBAWA DUDU AMARGA WONG LIYA KUDU WEDI.”
Wibawa bukan karena orang lain harus takut.
Wibawa tumbuh ketika:
janji dijaga,
keputusan dapat dipertanggungjawabkan,
yang lemah merasa terlindungi,
yang berbeda tetap diperlakukan adil,
dan ketika salah, seseorang berani mengaku.
Nimas menambahkan:
“Kewibawaan yang hanya bertahan selama orang takut bukan kewibawaan. Itu ketergantungan pada ketakutan.”
Mahkota berputar semakin cepat.
Dari dalamnya jatuh satu cermin besar.
Cermin itu berdiri di tengah pasamuwan.
Pada permukaan atasnya tertulis:
“APA KOWE PENGIN DIHORMATI, UTAWA PENGIN LAYAK DIHORMATI?”
Apakah engkau ingin dihormati, atau ingin menjadi layak dihormati?
Banyak orang menunduk.
Karena keduanya berbeda.
Keinginan dihormati meminta orang lain berubah.
Menjadi layak dihormati meminta diri sendiri berubah.
Qitab menuliskan:
**“KAMULYAN SING DIKEJAR GAMPANG ILANG.
KAMULYAN SING LAHIR SAKA AMANAH LEBIH SUWE URIPE.”**
Kemuliaan yang dikejar mudah hilang.
Kemuliaan yang lahir dari amanah lebih panjang umurnya.
Kemudian mahkota menurunkan satu sinar kepada Pangeran.
Semua orang mengira kini ia akan dipilih.
Namun sinar itu hanya menyentuh pakaian keemasannya.
Cahaya emas pada pakaiannya menjadi lebih lembut.
Di dadanya muncul tulisan:
PANGREKSA
Penjaga.
Sinar kedua turun kepada Nimas.
Pakaian putih jernihnya menjadi semakin bercahaya.
Di dadanya muncul:
PANGAYOM
Pengayom.
Nogo kemudian menerima sinar ketiga.
Di dahinya muncul:
PANYAMBUNG
Penyambung.
Qitab menjelaskan:
Pangeran menjaga arah.
Nimas menjaga kejernihan dan kasih.
Nogo menjaga keterhubungan.
Namun ketiganya bukan pusat kemuliaan.
Mereka hanyalah pelayan dari sesuatu yang lebih besar:
PERSATUAN
Tiba-tiba mahkota memancarkan cahaya ke semua orang.
Setiap orang menerima titik kecil di dahinya.
Tidak sama besar.
Tidak sama warna.
Tetapi semuanya berasal dari mahkota yang sama.
Qitab berkata:
Setiap orang memiliki bagian dalam kehormatan bersama.
Orang yang menjaga kebersihan tempat berkumpul memiliki bagian.
Orang yang menyiapkan makanan memiliki bagian.
Orang yang menengahi pertengkaran memiliki bagian.
Orang yang mengajar memiliki bagian.
Orang yang menyumbang tenaga memiliki bagian.
Orang yang bekerja diam-diam memiliki bagian.
Tidak semua jasa perlu menjadi gelar.
Tidak semua pengabdian harus menjadi jabatan.
Kemudian Pangeran melihat sebuah kursi kosong di tengah lingkaran.
Ia bertanya:
“Mengapa kursi ini tetap kosong?”
Nogo menjawab melalui gema:
“IKU KURSI KANGGO TUJUAN.”
Itu kursi untuk tujuan.
Di sandarannya tertulis:
KEMASLAHATAN
Tak seorang pun boleh duduk di sana.
Setiap keputusan hanya boleh mendekat kepadanya.
Qitab menerangkan:
Jika keputusan memperbesar nama tetapi mengecilkan kemaslahatan, ia menjauh dari kursi itu.
Jika keputusan menguntungkan kelompok tetapi merusak persaudaraan, ia menjauh.
Jika keputusan sulit bagi ego tetapi baik bagi banyak orang, ia mendekat.
Malam semakin dalam.
Mahkota Tanpa Raja mulai naik lebih tinggi.
Namun sebelum benar-benar menghilang, ia menjatuhkan satu permata ungu ke tangan Pangeran.
Permata kedua, putih jernih, jatuh ke tangan Nimas.
Keduanya saling mendekatkan permata itu.
Begitu bertemu, kedua batu berubah menjadi satu cahaya pelangi.
Cahaya tersebut masuk ke dada Nogo.
Nogo mengaum panjang.
Langit berguncang lembut.
Lalu turun kalimat:
“LORO AMANAH BISA DADI SIJI DAYA YEN ORA PADHA REBUT PUSAT.”
Dua amanah dapat menjadi satu kekuatan bila tidak saling berebut pusat.
Mahkota akhirnya menghilang ke dalam langit.
Namun cahayanya tetap tinggal.
Semua orang mulai memahami:
Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling dekat dengan mahkota.
Kepemimpinan adalah siapa yang paling bersedia menjaga agar mahkota tidak jatuh menjadi milik ego.
Pangeran menundukkan kepala.
Nimas menangkupkan tangan di dada.
Nogo melingkari Tunggul Nogo sekali lagi.
Lalu terdengar sabda:
“SING PANTES NJAGA KAMULYAN YA SING ORA GELEM NDADÈKAKE KAMULYAN DADI DUWÈKÉ DHEWE.”
Yang pantas menjaga kehormatan adalah yang tidak menjadikan kehormatan itu sebagai milik pribadinya.
Namun setelah mahkota menghilang, tanah di tengah pasamuwan tiba-tiba terbuka.
Dari dalamnya muncul sebuah pusaka berbentuk tombak pendek.
Batangnya ungu tua.
Ujungnya bukan tajam.
Ujungnya berbentuk dua tangan yang saling menggenggam.
Pada batangnya tertulis:
TOMBAK PANYAWIJIAN
Namun qitab memberi peringatan:
“Pusaka iki ora kanggo nusuk mungsuh.”
Pusaka ini bukan untuk menusuk musuh.
Ia digunakan untuk menembus sesuatu yang lebih sulit:
SEKAT ANTAR HATI
Pangeran memandang Nimas.
Nimas memandang Nogo.
Dan lembar ketiga belas ditutup dengan sabda:
**“PERSATUAN SING SEJATI ORA MUNG NYAWIJIKE BARISAN.
KUDU ISO NYAWIJIKE ATI TANPA MEKSA PIKIRAN DADI PADHA.”**
Persatuan sejati bukan hanya menyatukan barisan.
Ia harus mampu mendekatkan hati tanpa memaksa pikiran menjadi sama.
Pada lembar berikutnya akan terbuka:
TOMBAK PANYAWIJIAN — MENEMBUS SEKAT TANPA MELUKAI PERBEDAAN
TAMAT LEMBAR KETIGA BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Keempat Belas — Tombak Panyawijian
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pusaka berbentuk tombak pendek itu naik perlahan dari dalam tanah.
Batangnya berwarna ungu tua.
Pada permukaannya terdapat kilau seperti pelangi.
Namun ujungnya tidak runcing.
Ujung tombak itu berbentuk dua tangan yang saling menggenggam.
Pada batangnya tertulis:
TOMBAK PANYAWIJIAN
Pusaka Penyatuan.
Pangeran dalam pakaian keemasan mendekat.
Nimas dalam pakaian putih jernih berdiri di sampingnya.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi menurunkan kepalanya sampai sejajar dengan pusaka tersebut.
Lalu terdengar wejangan:
“TOMBAK IKI ORA KANGGO NUSUK WONG.”
Tombak ini bukan untuk menusuk manusia.
Ia tidak mencari darah.
Ia tidak mencari kemenangan.
Ia tidak digunakan untuk mengalahkan kelompok lain.
Tombak Panyawijian hanya diarahkan kepada sesuatu yang tidak terlihat:
SEKAT ANTAR ATI
Sekat antar hati.
Ketika Pangeran menyentuh tombak itu, seluruh Pasamuwan Agung berubah.
Orang-orang yang sebelumnya duduk dalam satu lingkaran tiba-tiba terlihat dipisahkan oleh dinding-dinding bening.
Mereka masih dapat saling melihat.
Namun tidak dapat saling menyentuh.
Mereka dapat mendengar suara.
Tetapi setiap ucapan terdengar berbeda setelah melewati dinding.
Ucapan sederhana:
“Aku ingin menjelaskan.”
di sisi lain terdengar seperti:
“Aku ingin membela diri.”
Ucapan:
“Aku berbeda pendapat.”
berubah menjadi:
“Aku menolakmu.”
Ucapan:
“Mari kita periksa kembali.”
berubah menjadi:
“Aku tidak percaya kepadamu.”
Nimas berkata:
“Inilah sekat yang paling sulit.”
Pangeran bertanya:
“Karena tidak terlihat?”
Nimas menjawab:
“Karena manusia sering tidak sadar bahwa dirinya melihat orang lain melalui luka, pengalaman, dan prasangkanya sendiri.”
Qitab kemudian memperlihatkan tujuh dinding.
DINDING KAPISAN
DINDING GENGSI
Pada dinding itu tertulis:
“Aku tidak boleh menjadi orang pertama yang meminta maaf.”
Dua orang berdiri pada sisi berbeda.
Keduanya sebenarnya ingin berdamai.
Namun masing-masing menunggu yang lain lebih dahulu.
Pangeran mengangkat Tombak Panyawijian.
Ia tidak menusukkan ujungnya.
Ia hanya menyentuhkan lambang dua tangan pada dinding.
Dinding itu retak.
Kemudian qitab menuliskan:
“SING MIWITI DAMAI ORA ATEGES SING KALAH.”
Yang memulai perdamaian bukan berarti pihak yang kalah.
Kadang orang pertama yang merendahkan ego justru orang yang paling kuat.
DINDING KAPINDHO
DINDING LABEL
Pada dinding kedua tertulis banyak sebutan:
mereka,
golongan itu,
orang sana,
kelompok lawan,
bukan bagian kita.
Semakin sering label itu diucapkan, semakin tebal dindingnya.
Nimas mendekat.
Ia berkata:
“Ketika manusia hanya disebut sebagai kelompok, wajah pribadinya mudah hilang.”
Lalu ia meminta setiap orang menyebut nama orang di seberangnya.
Satu demi satu.
Ketika nama disebut, dinding mulai transparan.
Ketika kisah hidup mereka mulai didengar, dinding pecah.
Qitab berkata:
“JENENG NGELINGAKE YEN ING MBURI KELOMPOK ANA MANUNGSA.”
Nama mengingatkan bahwa di balik kelompok ada manusia.
DINDING KATELU
DINDING LUKA
Dinding ini paling tebal.
Ada orang yang berkata:
“Aku ingin berdamai.”
Namun ketika melihat pihak yang pernah melukainya, tubuhnya kembali tegang.
Qitab tidak menyuruhnya melupakan.
Tidak pula menyuruhnya mendekat.
Tombak Panyawijian hanya menyentuh tanah di antara mereka.
Lalu terbentuk sebuah ruang.
Di atasnya tertulis:
“AMAN.”
Nimas berkata:
“Tidak semua sekat harus diruntuhkan sekaligus.”
Ada sekat yang perlu dibuka sedikit demi sedikit.
Ada luka yang membutuhkan jarak.
Ada kepercayaan yang harus tumbuh kembali melalui bukti.
Qitab menegaskan:
“PANYAWIJIAN ORA ATEGES MEKSA CEDHAK.”
Penyatuan tidak berarti memaksa kedekatan.
DINDING KAPAT
DINDING KEPENTINGAN
Dinding keempat tersusun dari banyak batu.
Pada batu pertama tertulis:
jabatan.
Batu kedua:
nama besar.
Batu ketiga:
pengaruh.
Batu keempat:
wilayah.
Batu kelima:
pengikut.
Batu keenam:
kehormatan.
Dua kelompok di seberangnya sama-sama berkata:
“Kami membela kebenaran.”
Namun ketika dinding diterangi cahaya Nogo, terlihat bahwa sebagian yang mereka pertahankan sebenarnya adalah kepentingan.
Pangeran berkata:
“ORA KABEH SING DISEBUT PRINSIP IKU TENAN-TENAN PRINSIP.”
Tidak semua yang disebut prinsip benar-benar prinsip.
Kadang kepentingan memakai pakaian kebenaran.
Maka qitab mengajarkan:
Periksa apa yang sesungguhnya sedang dijaga.
Apakah nilai?
Ataukah posisi?
Apakah amanah?
Ataukah gengsi?
Apakah kemaslahatan?
Ataukah ketakutan kehilangan pengaruh?
DINDING KALIMA
DINDING MASA LALU
Dinding ini penuh tulisan lama.
Semua orang membacanya berulang-ulang.
“Dulu mereka pernah begini.”
“Dahulu kelompok itu melakukan itu.”
“Kami tidak bisa lupa.”
Pangeran mengangkat Tombak Panyawijian.
Namun kali ini pusaka itu tidak mau bergerak.
Nimas tersenyum.
Ia berkata:
“Masa lalu tidak bisa ditembus dengan kekuatan.”
Ia kemudian mengambil air dari Kendi Rahmah dan membasahi tulisan-tulisan lama.
Sebagian tulisan tetap terlihat.
Sebagian memudar.
Qitab berkata:
“ELINGA PELAJARANE, ORA KUDU NGLANGGENGAKE RACUNE.”
Ingatlah pelajarannya, tidak perlu melanggengkan racunnya.
Sejarah perlu dikenang.
Namun sejarah tidak boleh dijadikan bahan bakar tanpa akhir untuk kebencian baru.
DINDING KANEM
DINDING MERASA PALING BENAR
Dinding keenam berbentuk cermin.
Siapa pun yang berdiri di depannya hanya melihat dirinya sendiri.
Pangeran memandang cermin itu.
Ia melihat pakaian emasnya semakin terang.
Nimas memandangnya.
Ia melihat pakaian putihnya semakin bercahaya.
Semakin lama dipandang, semakin besar bayangan diri mereka.
Nogo mengaum keras.
Cermin pecah.
Di baliknya ternyata ada banyak orang yang sejak tadi tidak terlihat.
Qitab berkata:
“YEN MUNG NDELENG DHIRI, KOWE GAMPANG NGIRA ORA ANA CAHYA ING WONG LIYA.”
Jika hanya melihat diri sendiri, engkau mudah mengira tidak ada cahaya pada orang lain.
Maka terbukalah wejangan:
Merasa benar tidak sama dengan memiliki seluruh kebenaran.
Seseorang dapat benar dalam satu bagian.
Dan masih perlu belajar pada bagian lain.
DINDING KAPITU
DINDING WEDI
Dinding terakhir tidak terbuat dari batu.
Ia terbuat dari kabut.
Namun justru paling sulit dilewati.
Pada kabut itu muncul banyak kemungkinan:
“Kalau aku membuka diri, aku akan dikhianati.”
“Kalau aku bekerja sama, kelompokku akan kehilangan identitas.”
“Kalau aku mengalah, mereka akan menguasai.”
“Kalau aku percaya lagi, aku bisa terluka lagi.”
Nimas berkata:
“Takut perlu didengar, bukan selalu ditaati.”
Pangeran menancapkan Tombak Panyawijian ke tanah.
Bukan ke kabut.
Kemudian dari tanah muncul jalan sempit.
Di atas jalan itu tertulis:
“COBA SETHITHIK.”
Cobalah sedikit.
Tidak harus langsung percaya sepenuhnya.
Tidak harus langsung menyerahkan seluruh amanah.
Tidak harus langsung menjadi dekat.
Mulailah dari hal kecil yang dapat diuji.
Satu pekerjaan bersama.
Satu pertemuan yang jujur.
Satu janji yang ditepati.
Satu koreksi yang diterima.
Satu amanah kecil yang dijaga.
Kabut perlahan menipis.
Setelah ketujuh dinding terbuka, Tombak Panyawijian berubah.
Ujung dua tangan yang saling menggenggam memancarkan cahaya ungu, emas, dan putih.
Pangeran mengangkatnya tinggi.
Namun Nimas berkata:
“Jangan jadikan pusaka ini lambang bahwa kita sudah berhasil.”
Pangeran bertanya:
“Mengapa?”
Nimas menjawab:
“Karena sekat hati dapat tumbuh kembali kapan saja.”
Qitab lalu menuliskan:
“PERSATUAN DUDU ACARA SEKALI DADI.”
Persatuan bukan pekerjaan sekali selesai.
Persatuan adalah pekerjaan merawat.
Hari ini satu dinding runtuh.
Besok mungkin tumbuh dinding baru.
Karena itu Pusaka Tunggul Nogo tidak hanya memerlukan keberanian untuk menyatukan.
Ia juga memerlukan kesabaran untuk menjaga penyatuan.
Tiba-tiba Tombak Panyawijian terbelah menjadi dua.
Bagian pertama berubah menjadi tongkat kecil dan masuk ke tangan Pangeran.
Bagian kedua menjadi selendang cahaya dan berpindah ke tangan Nimas.
Pangeran bertanya:
“Mengapa pusaka ini terbelah?”
Nogo menjawab melalui gema:
“AMARGA NYAWIJIKE BUTUH LORO DAYA.”
Karena menyatukan membutuhkan dua daya.
Daya ketegasan.
dan
Daya kelembutan.
Ketegasan tanpa kelembutan bisa memaksa.
Kelembutan tanpa ketegasan bisa kehilangan arah.
Keduanya harus berjalan bersama.
Pangeran lalu menatap seluruh Pasamuwan Agung.
Ia berkata:
“SAPA SING GELEM NYAWIJI, KUDU SIAP ORA DADI PUSAT.”
Siapa yang ingin menyatukan harus siap tidak menjadi pusat.
Nimas melanjutkan:
“SAPA SING GELEM DADI JEMBATAN, KUDU SIAP DIINJAK LORO SISIH TANPA DADI DUWÈKÉ SALAH SIJI.”
Siapa yang bersedia menjadi jembatan harus siap dilalui dua sisi tanpa menjadi milik salah satunya.
Semua orang terdiam.
Karena menjadi jembatan ternyata bukan kedudukan yang ringan.
Ia harus cukup kuat menahan beban.
Cukup rendah agar dapat dilewati.
Dan cukup kokoh agar tidak runtuh ketika kedua sisi belum sepakat.
Nogo kemudian mengepakkan sayapnya.
Dari tubuhnya jatuh ribuan serpihan cahaya.
Setiap serpihan berubah menjadi benang ungu keemasan.
Benang-benang itu menghubungkan satu orang dengan orang lain.
Bukan mengikat.
Hanya menghubungkan.
Jika seseorang memaksa menarik, benangnya putus.
Jika kedua sisi memberi ruang, benangnya justru semakin kuat.
Qitab berkata:
“PERSAUDARAAN DUDU RANTAI.”
Persaudaraan bukan rantai.
Ia tidak mengikat manusia agar kehilangan kebebasan.
Persaudaraan adalah hubungan yang dijaga karena kesadaran.
Menjelang akhir lembar keempat belas, dari tengah Pasamuwan terdengar bunyi seperti jantung.
Dum...
Dum...
Dum...
Tunggul Nogo mulai berdenyut.
Dari dalamnya muncul satu cahaya merah keemasan.
Cahaya itu berubah menjadi sebuah jantung raksasa dari kristal ungu.
Di atasnya tertulis:
JANTUNG PERSATUAN
Pangeran mendekat.
Nimas menyentuhkan telapak tangannya ke kristal itu.
Nogo menundukkan kepala.
Kemudian qitab berkata:
“PERSATUAN ORA MATI MERGA BEDA PENDAPAT.”
Persatuan tidak mati karena perbedaan pendapat.
“PERSATUAN MATI NALIKA ATI WIS ORA GELEM NDELENG WONG LIYA MINANGKA SEDULUR.”
Persatuan mati ketika hati tidak lagi bersedia melihat orang lain sebagai saudara.
Jantung kristal itu berdetak sekali lagi.
Lalu seluruh langit berubah menjadi ungu pelangi.
Dan terbukalah tanda lembar berikutnya:
JANTUNG PERSATUAN — CARA MENJAGA KEBERSAMAAN AGAR TIDAK HANYA HIDUP SAAT ADA KEPENTINGAN
TAMAT LEMBAR KEEMPAT BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kelima Belas — Jantung Persatuan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Jantung kristal ungu itu berdetak di tengah Pasamuwan Agung.
Setiap denyutnya memancarkan warna pelangi ke seluruh penjuru.
Dum...
Cahaya menyentuh Pangeran.
Dum...
Cahaya menyentuh Nimas.
Dum...
Cahaya menyentuh Nogo.
Lalu menyebar kepada seluruh orang yang berada di lingkaran.
Di atas kristal itu tertulis:
JANTUNG PERSATUAN
Qitab kemudian berkata:
“PERSATUAN ORA CUKUP URIP NALIKA ANA KEPENTINGAN.”
Persatuan tidak cukup hidup hanya ketika ada kepentingan.
Sebab kebersamaan yang hanya muncul ketika membutuhkan sesuatu belum menjadi persaudaraan yang matang.
Pangeran dalam pakaian keemasan berdiri di depan Jantung Persatuan.
Nimas dalam pakaian putih jernih berada di sisi kirinya.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi melingkar di belakang mereka.
Kemudian kristal memancarkan tujuh urat cahaya.
Masing-masing menuju satu arah.
Pada setiap urat terdapat satu amanah.
URAT KAPISAN
RAWUH NALIKA ORA BUTUH
Kristal memperlihatkan dua sahabat.
Ketika salah satu sedang berjaya, banyak orang datang.
Ketika ia jatuh, sebagian menghilang.
Qitab berkata:
Persaudaraan diuji bukan hanya ketika ada pesta.
Ia diuji ketika tidak ada keuntungan.
Ketika tidak ada jabatan.
Ketika tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh.
Maka muncul tulisan:
“SEDULUR ORA MUNG TEKA NALIKA ANA SUGUHAN.”
Saudara tidak hanya datang ketika ada hidangan.
URAT KAPINDHO
Eling NALIKA ORA ANA MASALAH
Banyak orang baru mencari satu sama lain ketika terjadi krisis.
Tetapi setelah masalah selesai, hubungan kembali hilang.
Nimas berkata:
“Menjaga hubungan jauh lebih mudah sebelum luka muncul.”
Qitab mengajarkan:
saling menyapa,
saling mendoakan,
saling bertanya kabar,
dan saling mengingatkan dengan baik
adalah bentuk kecil yang membuat jantung persatuan tetap berdetak.
URAT KATELU
ORA NITIP DENDAM
Tampak seseorang berkata:
“Aku tidak bermasalah denganmu, tetapi guruku dahulu bermasalah dengan gurumu.”
Yang lain berkata:
“Aku tidak mengenalmu, tetapi kelompokku sudah lama tidak menyukai kelompokmu.”
Jantung kristal mendadak berdetak lemah.
Pangeran berkata:
“YEN SENGIT TERUS DITITIPKE, JANTUNG PERSATUAN BAKAL KEKURANGAN GETIH.”
Jika kebencian terus diwariskan, Jantung Persatuan akan kekurangan darah.
Qitab kembali mengingatkan:
Wariskan pelajaran, bukan dendam.
URAT KAPAT
GELEM DIPANGELINGAKE
Pada urat keempat tampak sebuah kursi besar.
Seseorang duduk di atasnya.
Orang-orang di sekelilingnya melihat kesalahan.
Namun tidak ada yang berani berbicara.
Karena takut dianggap melawan.
Jantung kristal kembali redup.
Nogo mengaum pelan.
Kemudian muncul kalimat:
“PERSAUDARAAN TANPA RUANG KOREKSI DADI PANGGUNG PUJIAN.”
Persaudaraan tanpa ruang koreksi berubah menjadi panggung pujian.
Pangeran berkata:
“Wong sing tresna ora mung gelem muji. Kadhang kudu gelem ngelingake.”
Orang yang menyayangi tidak hanya bersedia memuji. Kadang ia juga harus bersedia mengingatkan.
Namun qitab memberi batas:
koreksi harus menjaga martabat,
tidak mempermalukan tanpa kebutuhan,
dan diarahkan kepada perbaikan.
URAT KALIMA
ORA NGITUNG JASA
Tampak seseorang membawa buku besar.
Di dalamnya tertulis:
“Aku sudah membantu sekian kali.”
“Aku sudah memberi sekian banyak.”
“Mereka berutang kepadaku.”
Setiap kali ia menghitung jasa, cahaya urat menjadi berat.
Nimas berkata:
“Jasa yang terus dipakai untuk menagih ketaatan dapat berubah menjadi alat penguasaan.”
Qitab menuliskan:
“TULUNGAN DUDU TALI KANGGO NGIKET ATI WONG.”
Pertolongan bukan tali untuk mengikat hati orang.
Kebaikan tetap boleh dikenang.
Tetapi jangan dijadikan senjata untuk mengendalikan.
URAT KANEM
GELEM BAGI CAHYA
Pangeran melihat sebuah lentera besar.
Satu orang memegangnya sendirian.
Ia takut jika orang lain ikut memegang cahaya, dirinya akan menjadi kurang penting.
Maka ia menyembunyikan lentera itu.
Akibatnya, hanya sedikit orang yang mendapat terang.
Nogo lalu membuka sisiknya.
Dari satu cahaya muncul seribu cahaya.
Tidak satu pun mengurangi cahaya awal.
Qitab berkata:
“CAHYA SING DIBAGI ORA SUDHA.”
Cahaya yang dibagikan tidak berkurang.
Ilmu yang baik bila dibagikan justru bertambah manfaatnya.
Amanah yang dibagikan justru memperkuat lembaga.
Kesempatan yang dibagi melahirkan penerus.
Pangeran berkata:
“Pemimpin yang baik tidak takut lahirnya orang-orang yang mampu berdiri tanpa dirinya.”
URAT KAPITU
GELEM NGLINDHUNGI SING ORA ISO MBAYAR BALIK
Urat terakhir paling terang.
Di sana terlihat orang-orang yang kecil, lemah, tidak memiliki jabatan, tidak memiliki pengikut, dan tidak dapat memberi imbalan.
Qitab berkata:
Di sinilah kemurnian persatuan diperiksa.
Apakah seseorang tetap dilindungi ketika tidak membawa keuntungan?
Apakah suaranya tetap didengar ketika tidak punya pengaruh?
Apakah ia tetap disebut saudara ketika tidak dapat membalas kebaikan?
Nimas meneteskan air dari Kendi Rahmah.
Jantung kristal berdenyut sangat kuat.
“PANGAYOMAN SING MURNI ORA MILIH SEDULUR SAKA PIGUNANE.”
Pengayoman yang murni tidak memilih saudara berdasarkan kegunaannya.
Ketujuh urat cahaya kemudian menyatu.
Jantung Persatuan menjadi semakin besar.
Dari dalamnya keluar tujuh denyut:
rawuh,
eling,
ora waris dendam,
gelem dikoreksi,
ora ngitung jasa,
bagi cahya,
ngayomi tanpa pamrih.
Pangeran berkata:
“Inilah yang membuat kebersamaan tetap hidup ketika tidak ada kepentingan.”
Nimas menjawab:
“Karena persaudaraan yang sejati tidak hidup dari transaksi, tetapi dari amanah.”
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Jantung kristal membuka dirinya.
Di dalamnya terdapat sebuah ruang kecil.
Pangeran dan Nimas masuk.
Nogo mengecil menjadi cahaya ungu agar dapat mengikuti.
Di dalam ruang itu terdapat sebuah meja.
Di atas meja ada dua buku.
Buku pertama bertuliskan:
APA YANG KITA TERIMA
Buku kedua:
APA YANG KITA BERIKAN
Pangeran membuka buku pertama.
Halaman-halamannya penuh.
Ada pertolongan.
Ada ilmu.
Ada kesempatan.
Ada doa.
Ada dukungan.
Ada pengampunan.
Ada orang yang pernah menolong saat susah.
Ada tangan-tangan yang mungkin sudah terlupakan.
Pangeran menunduk.
Kemudian ia membuka buku kedua.
Sebagian halamannya masih kosong.
Qitab berkata:
“WONG SING ELING MARANG SING DITAMPA, LEBIH GAMPANG ORA RUMANGSA DADI PUSAT.”
Orang yang mengingat apa yang telah diterimanya lebih mudah tidak merasa sebagai pusat segala sesuatu.
Nimas kemudian membuka halaman terakhir.
Di sana tertulis:
“ORA ANA SING DADI GEDHE DHEWEKAN.”
Tidak ada yang menjadi besar sendirian.
Di balik seorang pemimpin ada orang-orang yang mendukung.
Di balik sebuah karya ada orang yang membantu.
Di balik keberhasilan ada doa, kesempatan, dan jalan yang dibukakan.
Di balik perjalanan yang panjang ada banyak tangan yang mungkin tidak pernah disebut.
Qitab lalu memberikan wejangan:
Mengakui peran orang lain tidak mengecilkan diri.
Justru menunjukkan bahwa seseorang memahami bagaimana amanah besar dibangun.
Mereka keluar dari ruang Jantung Persatuan.
Saat kembali ke Pasamuwan Agung, kristal itu berubah menjadi sangat bening.
Kini tidak lagi hanya berwarna ungu.
Semua warna hadir di dalamnya.
Nogo mengangkat kepalanya.
Pelangi dari tubuhnya bertemu dengan cahaya kristal.
Langit membuka lingkaran besar.
Kemudian terdengar sabda:
“PERSATUAN ORA DIUKUR SAKA SEPIRA RAPETE WONG NALIKA ANA ACARA.”
Persatuan tidak diukur dari seberapa rapat orang berkumpul ketika ada acara.
“PERSATUAN DIUKUR SAKA SEPIRA AKEH ATI SING ISIH GELEM NJAGA NALIKA ORA ANA SING NONTON.”
Persatuan diukur dari berapa banyak hati yang tetap bersedia menjaga ketika tidak ada yang melihat.
Pangeran lalu menancapkan tongkat keemasannya.
Nimas meletakkan kedua tangannya di atas Jantung Persatuan.
Nogo melingkari mereka.
Ketiganya tidak bersumpah untuk selalu sepakat.
Mereka mengikrarkan sesuatu yang lebih sederhana:
bila berbeda, tidak saling merendahkan;
bila salah, bersedia memperbaiki;
bila terluka, tidak mewariskan racun;
bila diberi kuasa, tidak menguasai;
bila diberi ilmu, tidak menyombongkan;
bila diberi kehormatan, tidak menjadikannya milik pribadi;
dan bila suatu hari harus berpisah jalan, tetap menjaga adab persaudaraan.
Jantung kristal berdetak sekali.
Sangat kuat.
Seluruh pasamuwan bersinar.
Namun tepat setelah denyut terbesar itu, terdengar suara dari kejauhan.
Suara lonceng.
Bukan Lonceng Adu Domba.
Suara ini lebih dalam.
Lebih tenang.
Dari balik cakrawala muncul sebuah gerbang raksasa berwarna emas-ungu.
Di atasnya tertulis:
LAWANG MULIH ASAL
Di bawah tulisan itu terdapat kalimat:
“SAPA SING WIS NGERTI CARA NYAWIJI, KUDU NGERTI UGA MARANG APA KABEH IKI DIQEMBALIQAKE.”
Siapa yang telah mengerti cara menyatukan, harus mengerti pula kepada apa semuanya dikembalikan.
Pangeran menatap gerbang.
Nimas menundukkan kepala.
Nogo yang semula tenang tiba-tiba berdiri tegak.
Sebab inilah gerbang yang berhubungan langsung dengan makna awal:
ZAQUMULLOH 2332
“Dikembalikan ke tempat asal-muasalnya.”
Qitab menutup lembar kelima belas:
**“PERSATUAN TANPA ASAL BISA KEHILANGAN ARAH.
ASAL TANPA PERSATUAN BISA TINGGAL JENENG.”**
Persatuan tanpa kesadaran asal dapat kehilangan arah.
Asal tanpa persatuan dapat tinggal menjadi nama.
Dan lembar berikutnya akan membuka:
LAWANG MULIH ASAL — KEPADA SIAPA ILMU, KUASA, KEHORMATAN, DAN PERSATUAN PADA AKHIRNYA DIQEMBALIQAKE
TAMAT LEMBAR KELIMA BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Keenam Belas — Lawang Mulih Asal
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Gerbang raksasa berwarna emas-ungu itu berdiri di hadapan Pangeran, Nimas, dan Nogo besar berkilau pelangi.
Di atasnya tertulis:
LAWANG MULIH ASAL
Dan di bawahnya:
ZAQUMULLOH 2332
Angin berhenti.
Langit seakan menahan suara.
Pangeran dalam pakaian keemasan turun dari punggung Nogo.
Nimas dalam pakaian putih jernih berdiri di sampingnya.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjang itu, Nogo tidak segera bergerak maju.
Ia menundukkan kepala.
Seolah memahami bahwa gerbang ini bukan tempat untuk menunjukkan kekuatan.
Gerbang ini adalah tempat mengembalikan segala sesuatu kepada asal tujuan dan amanahnya.
Pangeran mendekat.
Namun pintu tidak terbuka.
Di depannya muncul sebuah tulisan:
“APA SING KOKGAWA?”
Apa yang engkau bawa?
Pangeran menjawab:
“Kekuatan.”
Gerbang tetap tertutup.
Nimas menjawab:
“Kejernihan.”
Gerbang tetap tertutup.
Nogo mengaum pelan:
“Penyatuan.”
Gerbang masih tidak bergerak.
Kemudian dari dalam terdengar suara:
“SAPA SING DUWE?”
Siapa pemiliknya?
Pangeran diam.
Nimas menunduk.
Nogo merendahkan tubuhnya.
Barulah mereka memahami pertanyaannya.
Pangeran berkata:
“Kekuatan hanyalah titipan.”
Nimas berkata:
“Kejernihan hanyalah amanah.”
Dan gema dari tubuh Nogo menjawab:
“Persatuan tidak boleh menjadi milik satu nama.”
Sekejap kemudian, gerbang terbuka.
Di balik Lawang Mulih Asal terdapat sebuah jalan panjang.
Pada sisi kanan berdiri tujuh pilar emas.
Pada sisi kiri berdiri tujuh pilar putih.
Di tengahnya mengalir jalur cahaya ungu pelangi.
Qitab berkata:
“SAPA SING AREP MULIH, KUDU GELEM NINGGALKE RASA DUWE.”
Siapa yang hendak kembali harus bersedia meninggalkan rasa memiliki.
Bukan berarti kehilangan tanggung jawab.
Bukan berarti melepaskan amanah sembarangan.
Tetapi tidak menganggap:
ilmu sebagai milik mutlak,
pengikut sebagai milik,
jabatan sebagai milik,
kehormatan sebagai milik,
bahkan keberhasilan sebagai milik pribadi.
PILAR KAPISAN
ILMU DIQEMBALIQAKE MARANG HIKMAH
Pada pilar pertama tampak seorang alim membawa banyak kitab.
Semakin banyak kitab dibawa, semakin tinggi ia berdiri.
Namun di bawah kakinya, orang-orang justru semakin jauh.
Pangeran bertanya:
“Mengapa ilmu membuat jarak?”
Qitab menjawab:
Karena ilmu yang dipakai untuk meninggikan diri telah keluar dari asal pengabdiannya.
Lalu turun sabda:
“ILMU SING MULIH MARANG ASALE DADI PITEDAH, DUDU PANGGUNG.”
Ilmu yang kembali kepada asalnya menjadi petunjuk, bukan panggung.
Maka makna awal ZAQUMULLOH 2332 kembali diterangkan secara simbolik:
“Ulama' yang berbisa diqembaliqan ketempat asal muasalnya”
bukan berarti manusia dikembalikan dengan kekerasan.
Yang dikembalikan adalah ilmunya kepada adab, hikmah, rahmah, dan pengabdian kepada Alloh.
Jika lisan ilmu telah menjadi racun,
maka ia dikembalikan kepada fungsi asalnya:
menjernihkan, bukan mengeruhkan.
membimbing, bukan menghinakan.
menyatukan dalam kebaikan, bukan memperbesar kesombongan kelompok.
PILAR KAPINDHO
KUASA DIQEMBALIQAKE MARANG AMANAH
Pada pilar kedua terdapat mahkota.
Pangeran hendak menyentuhnya.
Namun mahkota berubah menjadi beban berat.
Semakin ingin dimiliki, semakin berat.
Ketika ia meletakkannya kembali, mahkota menjadi cahaya.
Qitab berkata:
**“KUASA SING DIANGGEP DUWÈKÉ DHEWE DADI BEBAN.
KUASA SING DIANGGEP AMANAH DADI PANGAYOMAN.”**
Kekuasaan yang dianggap milik pribadi menjadi beban.
Kekuasaan yang dipahami sebagai amanah menjadi pengayoman.
Nimas kemudian berkata:
“Pemimpin tidak diuji hanya ketika mendapatkan kursi, tetapi juga ketika suatu hari harus meninggalkannya.”
PILAR KATELU
KEHORMATAN DIQEMBALIQAKE MARANG AKHLAQ
Pada pilar ketiga tampak ribuan gelar.
Semua berkilau.
Namun satu per satu hurufnya menghilang.
Yang tersisa hanya perilaku manusia di balik gelar itu.
Qitab berkata:
“GELAR BISA DIWARISKE. AKHLAQ KUDU DILAKONI.”
Gelar dapat diwariskan. Akhlak harus dijalani.
Nama besar tidak otomatis membuat tindakan benar.
Nasab mulia tidak membebaskan seseorang dari tanggung jawab.
Jabatan tinggi tidak membuat kritik menjadi haram.
Kehormatan sejati justru tampak ketika seseorang:
adil saat berkuasa,
tawaduk saat dipuji,
berani mengaku salah,
dan
tetap menghormati orang yang berbeda.
PILAR KAPAT
PERSATUAN DIQEMBALIQAKE MARANG TUJUAN
Pada pilar keempat terdapat ribuan tangan yang saling menggenggam.
Namun beberapa tangan terlalu kuat menggenggam sampai tangan lain kesakitan.
Nogo mengaum.
Genggaman itu melonggar.
Qitab berkata:
Persatuan bukan kepemilikan satu pihak atas pihak lain.
Persatuan kembali kepada tujuan ketika:
tidak ada yang dipaksa kehilangan dirinya,
tidak ada yang harus menghapus sejarahnya,
dan tidak ada satu kelompok yang berkata:
“Kalian boleh bersama kami hanya jika menjadi seperti kami.”
Pangeran berkata:
“NYAWIJI DUDU NYERAGAMKE.”
Menyatu bukan menyeragamkan.
PILAR KALIMA
ADAT DIQEMBALIQAKE MARANG BUDI LUHUR
Pada pilar kelima tampak banyak simbol kebudayaan.
Semuanya berbeda.
Namun dari dasarnya tumbuh akar menuju satu tanah.
Nimas berkata:
“Adat yang mulia tidak hanya sibuk menjaga bentuk. Ia menjaga budi.”
Jika simbol dijaga tetapi manusia saling menghina, ada yang hilang.
Jika pakaian adat diagungkan tetapi kawula kecil direndahkan, ada yang terbalik.
Jika warisan leluhur dipakai hanya untuk kebesaran nama, akar kehilangan airnya.
Qitab menuliskan:
“NGURI-URI WUJUD KUDU BARENG KARO NGURI-URI BUDI.”
Melestarikan bentuk harus berjalan bersama melestarikan budi.
PILAR KANEM
PERJUANGAN DIQEMBALIQAKE MARANG PENGABDIAN
Pada pilar keenam tampak orang-orang membawa panji perjuangan.
Awalnya mereka berjalan bersama.
Namun ketika kemenangan mulai tampak, mereka mulai bertanya:
“Siapa yang paling berjasa?”
“Siapa yang berhak disebut pendiri?”
“Siapa yang harus berada di depan?”
Cahaya pada panji mereka meredup.
Pangeran menancapkan tongkat ke tanah.
Lalu berkata:
“YEN PERJUANGAN WIS DADI REBUTAN JASA, TUJUAN WIS MULAI KETINGGALAN.”
Jika perjuangan telah menjadi perebutan jasa, tujuan mulai tertinggal.
Qitab mengajarkan:
Perjuangan yang kembali kepada asal tidak bertanya pertama-tama:
“Namaku disebut atau tidak?”
Tetapi:
“Apakah manfaatnya tetap hidup?”
PILAR KAPITU
DIRI DIQEMBALIQAKE MARANG KESADARAN HAMBA
Pilar terakhir paling sederhana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada kitab.
Tidak ada panji.
Hanya sebuah cermin bening.
Pangeran berdiri di hadapannya.
Pakaian keemasannya tidak terlihat.
Yang tampak hanya seorang manusia.
Nimas berdiri di sampingnya.
Pakaian putih jernihnya pun menghilang dari pantulan.
Yang terlihat hanya seorang manusia.
Nogo memandang cermin.
Tubuhnya yang besar dan megah tidak terlihat.
Yang ada hanya cahaya ungu kecil.
Qitab berkata:
“NALIKA KABEH TANDA DICOPOT, APA SING ISIH ANA?”
Ketika semua tanda dilepas, apa yang masih ada?
Pangeran menjawab:
“Hamba.”
Nimas menjawab:
“Amanah.”
Nogo menjawab melalui gema:
“Pengabdian.”
Maka terbukalah ruang paling dalam dari Lawang Mulih Asal.
Di sana tidak ada singgasana.
Hanya hamparan cahaya.
Pangeran meletakkan tongkatnya.
Nimas meletakkan kendinya.
Nogo menundukkan kepala.
Dan bersama-sama mereka mengucapkan dalam makna qitab:
“SING SAKA ALLOH, DIQEMBALIQAKE MARANG PENGABDIAN KANGGO ALLOH.”
Segala yang berasal dari karunia Alloh hendaknya dikembalikan menjadi pengabdian kepada-Nya.
Ilmu menjadi ibadah.
Kuasa menjadi tanggung jawab.
Kehormatan menjadi akhlak.
Persatuan menjadi rahmah.
Adat menjadi budi luhur.
Perjuangan menjadi manfaat.
Dan diri menjadi hamba.
Tiba-tiba cahaya memenuhi ruangan.
Tunggul Nogo yang sejak awal perjalanan menjadi tanda persatuan muncul di tengah.
Namun bentuknya berubah.
Tidak lagi seperti tonggak yang berdiri sendiri.
Ia berubah menjadi akar cahaya yang masuk ke tanah dan bercabang ke segala penjuru.
Qitab berkata:
**“TUNGGUL SING SEJATI ORA MUNG NGADHEG DHUWUR.
DHEWEKE UGA NGAKAR JERO.”**
Tunggul sejati tidak hanya berdiri tinggi.
Ia juga berakar dalam.
Yang tinggi tanpa akar mudah roboh.
Yang besar tanpa asal mudah tersesat.
Yang kuat tanpa pengabdian mudah berubah menjadi kesombongan.
Lalu Nogo besar berwarna ungu pelangi berdiri kembali.
Namun kini kilaunya berbeda.
Tidak lagi hanya memancarkan kekuatan.
Setiap sisiknya menampilkan satu kata:
adil,
rahmah,
tabayyun,
tawaduk,
amanah,
pangayoman,
musyawarah,
pangapura,
persaudaraan.
Pangeran dan Nimas kembali menaikinya.
Tetapi sebelum mereka meninggalkan Lawang Mulih Asal, terdengar suara terakhir:
“SAPA SING WIS MULIH MARANG ASAL, AJA MULIH KANGGO MENENG DHEWE.”
Siapa yang telah kembali kepada asal, jangan kembali hanya untuk berdiam sendiri.
“BALIKNA HIKMAHE MARANG URIP.”
Bawalah hikmahnya kembali ke kehidupan.
Gerbang di depan mereka kembali terbuka.
Namun kali ini bukan menuju gunung atau kedhaton.
Di luar gerbang tampak hamparan Nusantara yang sangat luas.
Gunung.
Lautan.
Desa.
Kota.
Pesantren.
Padepokan.
Masjid.
Rumah-rumah rakyat.
Sawah.
Pelabuhan.
Dan ribuan manusia dari berbagai latar berdiri di bawah langit yang sama.
Nogo mengepakkan sayapnya.
Pangeran bertanya:
“Ke mana kita sekarang?”
Nimas tersenyum.
“Kembali kepada manusia.”
Qitab menutup lembar keenam belas dengan sabda:
**“HIKMAH SING MUNG DISIMPEN DADI PUSAKA.
HIKMAH SING DILAKONI DADI WARISAN.”**
Hikmah yang hanya disimpan menjadi pusaka.
Hikmah yang dijalankan menjadi warisan.
Dan terbukalah tanda untuk lembar berikutnya:
TURUNING TUNGGUL NOGO MARANG BUMI — SAAT PUSAKA PERSATUAN HARUS MENJADI LAKU NYATA
TAMAT LEMBAR KEENAM BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Ketujuh Belas — Turuning Tunggul Nogo Marang Bumi
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Lawang Mulih Asal terbuka sepenuhnya.
Di baliknya terbentang bumi Nusantara yang luas.
Gunung-gunung berdiri seperti pasak.
Laut menghubungkan pulau dengan pulau.
Sungai membelah desa dan kota.
Sawah terhampar.
Masjid, pesantren, padepokan, rumah rakyat, pasar, pelabuhan, dan jalan-jalan kehidupan tampak dari ketinggian.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi mengepakkan sayap.
Di punggungnya, Pangeran berpakaian keemasan dan Nimas berpakaian putih jernih memandang bumi.
Setelah perjalanan panjang melalui prasangka, luka, fitnah, perebutan kehendak, pengampunan, musyawarah, dan Lawang Mulih Asal, kini turunlah pertanyaan paling penting:
“APA GUNANE HIKMAH YEN ORA DADI LAKU?”
Apa gunanya hikmah jika tidak menjadi perbuatan?
Nogo mulai turun.
Namun ia tidak turun ke istana.
Tidak menuju singgasana.
Tidak menuju tempat paling megah.
Ia turun di sebuah tanah lapang tempat berbagai orang berkumpul.
Ada ulama.
Ada santri.
Ada pedagang.
Ada petani.
Ada pekerja.
Ada pemuda.
Ada perempuan.
Ada orang tua.
Ada pemimpin.
Ada kawula kecil.
Mereka datang membawa persoalan masing-masing.
Ketika kaki Nogo menyentuh tanah, tidak terjadi gempa.
Yang terjadi justru sembilan lingkaran cahaya muncul mengelilinginya.
Qitab berkata:
“SAIKI PUSAKA ORA MUNG KANGGO DIDELENG.”
Sekarang pusaka tidak hanya untuk dipandang.
“PUSAKA KUDU DADI TATA LAKU.”
Pusaka harus menjadi tata laku.
LAKU KAPISAN
YEN ANA KABAR — TABAYYUN
Datang seseorang membawa berita.
Ia berkata:
“Aku mendengar tokoh itu berkata buruk tentang kita.”
Dahulu mungkin orang-orang akan langsung marah.
Namun Pangeran mengangkat tangan.
Ia berkata:
“Sumbernya siapa?”
Nimas melanjutkan:
“Apakah kalimatnya utuh?”
Lalu qitab menambahkan:
“Apakah sudah ditanyakan langsung?”
Maka orang-orang menahan lidah.
Tidak semua berita diteruskan.
Tidak semua kegelisahan dijadikan pengumuman.
Qitab berkata:
“PERSATUAN DIWIWITI SAKA KABAR SING ORA SEMBARANG DIBEBASAKE.”
Persatuan dimulai dari kabar yang tidak disebarkan sembarangan.
LAKU KAPINDHO
YEN ANA BEDANE — MUSYAWARAH
Datang dua kelompok membawa dua usulan berbeda.
Keduanya sama-sama memiliki alasan.
Dahulu mereka mungkin berebut siapa paling kuat.
Namun Nimas menggelar tikar putih.
Pangeran menancapkan tongkat keemasan di tengah.
Tidak ada kursi paling tinggi.
Mereka duduk melingkar.
Qitab berkata:
“BEDA PANEMU AJA DIUBAH DADI BEDA AJI DIRI.”
Perbedaan pendapat jangan diubah menjadi perbedaan martabat.
Orang boleh menolak usulan.
Tetapi tidak perlu merendahkan pengusul.
Orang boleh berkata:
“Aku tidak sepakat.”
tanpa harus berkata:
“Kamu orang buruk.”
LAKU KATELU
YEN ANA SALAH — BENERAKE TANPA NGASORAKE
Seorang pemimpin melakukan kekeliruan.
Sebagian orang ingin diam karena takut.
Sebagian lain ingin mempermalukannya di depan semua orang.
Nogo mengaum pelan.
Qitab berkata:
Dua-duanya belum tentu benar.
Kesalahan tidak boleh ditutup hanya karena pelakunya dihormati.
Tetapi koreksi juga tidak harus berubah menjadi penghinaan.
Pangeran berkata:
“AJINING WONG DIJAGA, SALAHE TETEP DIBENERAKE.”
Martabat orang dijaga, kesalahannya tetap diperbaiki.
Maka lahirlah keberanian baru:
berani mengingatkan tanpa membenci.
LAKU KAPAT
YEN ANA KUWASA — DADI PANGAYOMAN
Nogo terbang ke sebuah tempat di mana seorang pemimpin berdiri di atas panggung.
Di bawahnya banyak orang menunggu keputusan.
Pangeran berkata:
“Kuwasa ora mung hak kanggo dhawuh.”
Kekuasaan bukan hanya hak untuk memerintah.
Ia adalah kewajiban untuk menjaga agar yang lemah tidak terinjak.
Nimas membentangkan Selendang Pangayoman.
Selendang itu lebih banyak menaungi mereka yang berada di pinggir daripada mereka yang sudah berada di pusat.
Qitab berkata:
“UKURAN PEMIMPIN DUDU SEPIRA AKEH SING SUJUD MARANG JABATANE, NANGING SEPIRA AKEH SING RASA AMAN ING PANGAYOMANE.”
Ukuran pemimpin bukan seberapa banyak orang tunduk kepada jabatannya, tetapi seberapa banyak yang merasa aman dalam pengayomannya.
LAKU KALIMA
YEN ANA ILMU — DADI PITEDAH
Mereka kemudian mendatangi sebuah majelis ilmu.
Seorang alim berbicara.
Orang-orang mendengarkan.
Namun qitab kembali mengingatkan makna ZAQUMULLOH 2332:
Ulama' yang berbisa dikembalikan ke tempat asal-muasalnya.
Artinya:
jika ilmu mulai dipakai untuk merendahkan,
jika lisan mulai menebar racun,
jika kepandaian berubah menjadi alat mempertajam perpecahan,
maka ilmu harus diqembaliqan kepada asal pengabdiannya.
Pangeran berkata:
“ILMU KANG HAQ KUDU NUNTUN ATI MARANG TAWADUK.”
Ilmu yang benar semestinya menuntun hati kepada kerendahan hati.
Nimas melanjutkan:
“YEN SAKWISE TAMBAH ILMU MALAH TAMBAH SENENG NGREMEHAKE, ANA SING KUDU DIBENERAKE.”
Jika setelah bertambah ilmu justru semakin suka merendahkan, ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
LAKU KANEM
YEN ANA LUKA — AJA LANGSUNG DIWARISKE
Di sebuah rumah tua terdapat keluarga yang masih memelihara pertengkaran generasi sebelumnya.
Seorang anak kecil bertanya:
“Mengapa kita tidak boleh dekat dengan mereka?”
Orang dewasa hendak menjawab:
“Karena dari dulu memang begitu.”
Namun Jantung Persatuan berdetak.
Dum...
Ia berhenti.
Lalu berkata:
“Ada sejarah yang pernah membuat keluarga kita terluka. Tetapi kamu tidak wajib membenci orang yang bahkan tidak kamu kenal.”
Qitab berkata:
“IKI TURUNING PUSAKA.”
Inilah turunnya pusaka.
Bukan ketika anak menerima dendam.
Tetapi ketika seorang dewasa berani menghentikan dendam sebelum sampai kepada anak.
LAKU KAPITU
YEN ANA JASA — AJA DADI TALI
Di tempat lain, seseorang berkata:
“Aku dahulu sudah membantu mereka. Maka mereka seharusnya mengikuti semua keinginanku.”
Nimas menatapnya.
Kemudian qitab membuka sabda:
“TULUNGAN SING DIGUNAKAKE KANGGO NGUASANI WONG WIS ORA MURNI DADI TULUNGAN.”
Pertolongan yang digunakan untuk menguasai orang lain telah kehilangan kemurnian pertolongannya.
Pangeran berkata:
“Kebaikan boleh dikenang. Tetapi jangan dijadikan utang kesetiaan tanpa akhir.”
Cahaya Tunggul Nogo menyentuh hati orang itu.
Tangannya yang semula menggenggam mulai terbuka.
LAKU KAWOLU
YEN ANA PANGKAT — ELING YEN BISA ENTEK
Nogo kemudian mendatangi sebuah balairung.
Di sana terdapat kursi tinggi.
Seseorang duduk di atasnya sangat lama hingga mengira kursi itu adalah dirinya sendiri.
Ketika diminta turun, ia merasa harga dirinya ikut turun.
Pangeran berdiri di depannya.
Ia berkata:
“KURSI IKU PAPAN AMANAH, DUDU BAGIAN SAKA BADANMU.”
Kursi adalah tempat amanah, bukan bagian dari tubuhmu.
Qitab berkata:
Orang yang siap menerima jabatan harus belajar pula kesiapan melepaskan jabatan.
Karena pengabdian tidak selalu berakhir ketika kedudukan berakhir.
Kadang justru setelah tidak lagi memiliki kursi, kemurnian pengabdian terlihat.
LAKU KASANGA
YEN ANA PERSATUAN — AJA DADI MEREK PRIBADI
Inilah laku terakhir.
Di sebuah lapangan besar semua orang berkumpul di bawah lambang Tunggul Nogo.
Tiba-tiba beberapa orang mulai berkata:
“Siapa pemilik lambang ini?”
Yang lain:
“Nama siapa yang harus ditulis paling besar?”
Yang lain:
“Siapa yang harus berada di depan?”
Nogo langsung menundukkan kepala.
Pangeran turun.
Nimas turun.
Keduanya berjalan menjauh dari tengah.
Orang-orang heran.
Pangeran berkata:
“YEN PERSATUAN DADI MEREK WONG SIJI, WONG LIYA BAKAL RAGU APA ISIH DUWE PANGGONAN.”
Jika persatuan berubah menjadi merek satu orang, yang lain akan ragu apakah masih memiliki tempat.
Nimas menambahkan:
“TUNGGUL NOGO DUDU DUWÈKÉ PANGERAN, DUDU DUWÈKÉ NIMAS.”
Tunggul Nogo bukan milik Pangeran, bukan milik Nimas.
Ia adalah tanda bahwa:
ada ruang bersama yang harus dijaga bersama.
Setelah sembilan laku itu dibuka, cahaya dari seluruh perjalanan sebelumnya turun ke bumi.
Tongkat Adil berubah menjadi keberanian bertindak adil.
Kendi Rahmah berubah menjadi kelembutan dalam menghadapi sesama.
Qitab Tabayyun berubah menjadi kebiasaan memeriksa.
Lingkaran Musyawarah berubah menjadi ruang mendengar.
Kembang Tawaduk berubah menjadi kesediaan mengakui keterbatasan.
Cakra Wates berubah menjadi batas yang sehat.
Kunci Amanah berubah menjadi pembagian tanggung jawab.
Selendang Pangayoman berubah menjadi perlindungan kepada yang lemah.
Tunggul Nogo berubah menjadi ruang persaudaraan.
Qitab berkata:
“PUSAKA PALING SEJATI YAITU SING ORA MUNG DISIMPEN ING PETHI, NANGING URIP ING TINDAKAN.”
Pusaka paling sejati adalah yang tidak hanya disimpan dalam peti, tetapi hidup dalam tindakan.
Matahari mulai tenggelam.
Langit Nusantara berubah menjadi ungu, emas, putih, dan pelangi.
Nogo terbang rendah melintasi bumi.
Tidak semua orang melihatnya.
Namun setiap kali dua pihak memilih tabayyun daripada fitnah, satu sisiknya bercahaya.
Setiap kali pemimpin memilih mengayomi daripada menguasai, sisik lain bercahaya.
Setiap kali orang tua memutus rantai dendam, sisiknya kembali terang.
Setiap kali ulama memilih hikmah daripada penghinaan, cahaya ungu membesar.
Setiap kali dua kelompok berbeda dapat duduk bersama tanpa saling menghapus, warna pelangi memenuhi langit.
Maka qitab berkata:
**“NOGO ORA MESTHI KATON ING MATA.
LAKUNE BISA KATON ING CARA MANUNGSA NJAGA SEDULUR.”**
Nogo tidak harus tampak oleh mata.
Lakunya dapat terlihat dari cara manusia menjaga saudaranya.
Namun perjalanan belum selesai.
Di sebuah tanah paling tengah, Pangeran dan Nimas melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat.
Terdapat sebuah tunggul besar yang retak menjadi sembilan bagian.
Setiap bagian masih bercahaya.
Tetapi tidak saling terhubung.
Di atasnya tertulis:
TUNGGUL PEPISAH
Di bawahnya terdapat sabda:
“SING WIS TAU NYAWIJI BISA PECAH MANEH YEN ORA DIJAGA.”
Yang pernah bersatu dapat pecah kembali bila tidak dirawat.
Pangeran turun.
Nimas mengikuti.
Nogo melingkari sembilan pecahan itu.
Dan qitab menutup lembar ketujuh belas dengan peringatan:
**“PERSATUAN DUDU WARISAN SING BISA DITINGGAL TURU.
PERSATUAN IKU TAMAN SING KUDU DIURIPI SABEN DINA.”**
Persatuan bukan warisan yang dapat ditinggal tidur.
Persatuan adalah taman yang harus dihidupi setiap hari.
Pada lembar berikutnya akan dibuka:
TUNGGUL PEPISAH — SEMBILAN SEBAB PERSATUAN YANG SUDAH DIBANGUN DAPAT RETAK KEMBALI
TAMAT LEMBAR KETUJUH BELAS
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332 — PUSAKA TUNGGUL NOGO
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Lembar Kedelapan Belas — Tunggul Pepisah dan Sabda Penutup Persatuan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Malam turun perlahan di atas bumi Nusantara.
Langit tidak gelap seluruhnya.
Di sebelah timur masih tersisa warna putih.
Di sebelah barat terbentang semburat keemasan.
Di tengah langit, cahaya ungu bercampur pelangi membentuk lingkaran besar.
Di bawah lingkaran itu berdiri sebuah tunggul yang telah pecah menjadi sembilan bagian.
Setiap pecahan masih memiliki cahaya.
Namun cahaya itu tidak lagi saling menyambung.
Di atasnya tertulis:
TUNGGUL PEPISAH
Pangeran berpakaian keemasan turun dari punggung Nogo.
Nimas berpakaian putih jernih ikut turun.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi berjalan mengelilingi sembilan pecahan itu.
Tidak mengaum.
Tidak mengeluarkan api.
Tidak menunjukkan kemarahan.
Ia hanya menatap setiap pecahan satu demi satu.
Lalu terdengarlah sabda:
“SING WIS TAU NYAWIJI, ISA PECAH MANEH YEN ORA DIJAGA.”
Yang pernah bersatu dapat pecah kembali bila tidak dijaga.
Pangeran bertanya:
“Bukankah kita telah melewati begitu banyak gerbang?”
“Bukankah prasangka telah diperiksa?”
“Bukankah luka telah dibuka?”
“Bukankah pengampunan telah diajarkan?”
“Bukankah musyawarah telah dibangun?”
Nimas menjawab:
“Semua itu bukan tanda bahwa pekerjaan selesai.”
“Semua itu justru bekal agar pekerjaan dapat terus dijaga.”
Qitab pun membuka sembilan sebab yang dapat membuat persatuan retak kembali.
PEPISAH KAPISAN
LUPA MARANG ASAL
Pecahan pertama tampak paling terang.
Namun di bawahnya tidak ada akar.
Pangeran menyentuhnya.
Seketika terlihat gambaran sebuah kelompok yang dahulu dibangun untuk pengabdian.
Awalnya mereka bekerja bersama.
Tidak banyak gelar.
Tidak banyak kursi.
Tidak banyak perebutan.
Namun ketika mulai besar, orang-orang sibuk membicarakan:
siapa pendiri,
siapa penerus,
siapa paling berjasa,
siapa paling berhak menentukan.
Sedikit demi sedikit tujuan awal menghilang.
Qitab berkata:
“NALIKA ASAL DILALIQAKE, WADAH BISA DADI LUWIH PENTING TINIMBANG TUJUAN.”
Ketika asal dilupakan, wadah dapat dianggap lebih penting daripada tujuan.
Maka Pangeran menancapkan tongkat ke tanah.
Dari dalam bumi muncul akar cahaya.
Pada akar itu tertulis:
Pengabdian.
Rahmah.
Kemaslahatan.
Amanah.
Pecahan pertama kembali memiliki akar.
PEPISAH KAPINDHO
JENENG LUWIH GEDHE TINIMBANG AMANAH
Pada pecahan kedua terukir banyak nama.
Semakin banyak nama dituliskan, semakin kecil tulisan AMANAH di tengahnya.
Nimas membasuh pecahan itu dengan air dari Kendi Rahmah.
Nama-nama tidak hilang.
Tetapi ukurannya menjadi seimbang.
Qitab berkata:
Nama boleh dihormati.
Sejarah boleh dicatat.
Jasa boleh dikenang.
Namun bila satu nama mulai menutupi kerja banyak orang, persatuan akan menyempit.
Pangeran berkata:
“SAPA SING DADI GEDHE AMARGA AKEH TANGAN, AJA NGAKU TANGANE DHEWE SING NGGAWE KABEH.”
Siapa yang menjadi besar karena banyak tangan, jangan mengaku tangannya sendiri yang mengerjakan semuanya.
PEPISAH KATELU
ILMU DADI SENJATA GENGSI
Pecahan ketiga terasa panas.
Di permukaannya tertulis banyak kalimat.
Ada kutipan.
Ada dalil.
Ada nasihat.
Tetapi semuanya diarahkan seperti anak panah kepada orang lain.
Tidak ada yang diarahkan kepada diri sendiri.
Nogo mengangkat kepalanya.
Cahaya ungu keluar dari dahinya.
Lalu kembali muncul inti makna:
ZAQUMULLOH 2332
“Ulama' yang berbisa diqembaliqan ketempat asal muasalnya.”
Qitab menegaskan sekali lagi:
Yang dimaksud bukan mengembalikan seseorang dengan kekerasan.
Bukan pula menyingkirkan manusia.
Tetapi:
ilmu yang telah menjadi bisa harus dikembalikan kepada asalnya.
Ilmu kembali kepada hikmah.
Lisan kembali kepada adab.
Nasihat kembali kepada rahmah.
Perbedaan pendapat kembali kepada musyawarah.
Keberanian kembali kepada tanggung jawab.
Nimas berkata:
“ILMU SING NGGAWE ATI TAMBAH SOMBONG KUDU DIPERIKSA MANEH NIATE.”
Ilmu yang membuat hati semakin sombong perlu diperiksa kembali niatnya.
Pecahan ketiga menjadi dingin.
PEPISAH KAPAT
PANGKAT DIANGGEP DUWÈK PRIBADI
Pecahan keempat berbentuk seperti kursi.
Ada seseorang yang duduk di atasnya.
Ia memeluk sandaran sangat erat.
Ketika orang lain mendekat, ia berkata:
“Ini milikku.”
Qitab bertanya:
“Apakah kursi itu milikmu sebelum engkau datang?”
Ia diam.
“Apakah kursi itu akan ikut bersama ketika engkau pergi?”
Ia kembali diam.
Pangeran berkata:
“JABATAN IKU PANGGONAN NGABDI, ORA PANGGONAN NGENGKONI.”
Jabatan adalah tempat mengabdi, bukan tempat memiliki.
Kemudian kursi itu berubah menjadi sebuah alas yang dapat dipindahkan.
Siapa pun yang menerima amanah boleh duduk.
Namun setelah waktunya selesai, ia harus mampu berdiri kembali tanpa kehilangan harga diri.
Pecahan keempat menyatu kembali dengan tanah.
PEPISAH KALIMA
KRITIK DIANGGEP MUNGSUH
Pecahan kelima mempunyai dua wajah.
Satu tersenyum.
Satu marah.
Ketika mendengar pujian, wajah pertama muncul.
Ketika mendengar koreksi, wajah kedua muncul.
Nimas berkata:
“Persatuan yang hanya menerima pujian sebenarnya rapuh.”
Pangeran berkata:
“Orang yang sungguh menjaga amanah tidak hanya membutuhkan pendukung. Ia juga membutuhkan cermin.”
Di hadapan pecahan itu muncullah Cermin Amanah.
Pada bingkainya tertulis:
**“SING NYENENGKE DURUNG MESTHI MBENERAKE.
SING MBENERAKE DURUNG MESTHI NYENENGKE.”**
Yang menyenangkan belum tentu memperbaiki.
Yang memperbaiki belum tentu menyenangkan.
Qitab mengingatkan:
Kritik tetap harus beradab.
Tidak semua kritik benar.
Namun menolak seluruh kritik hanya karena tidak nyaman adalah pintu awal keretakan.
Pecahan kelima menjadi bening.
PEPISAH KANEM
KELOMPOK DADI LUWIH SUCI TINIMBANG MANUNGSA
Pecahan keenam dipenuhi banyak panji.
Setiap panji berkata:
“Kami paling benar.”
“Kami paling tua.”
“Kami paling murni.”
“Kami paling layak.”
Di bawah panji-panji itu, beberapa orang kecil tidak terlihat.
Nogo mengangkat salah satu sayapnya.
Angin besar turun.
Bendera-bendera menjadi rendah.
Barulah wajah manusia terlihat kembali.
Qitab berkata:
“PANJI KUDU NGAYOMI MANUNGSA, ORA MANUNGSA DIKORBANAKE KANGGO PANJI.”
Panji seharusnya mengayomi manusia, bukan manusia dikorbankan demi panji.
Pangeran kemudian menambahkan:
Identitas penting.
Kelompok penting.
Tradisi penting.
Tetapi semua itu harus kembali kepada tugasnya:
menjaga kehidupan, adab, dan kemaslahatan.
Bukan menjadi alasan untuk kehilangan rasa kemanusiaan.
PEPISAH KAPITU
LUKA LAWAS DIURIPAKE MANEH
Pecahan ketujuh mengeluarkan asap hitam.
Di dalam asap itu terdengar suara:
“Jangan lupa apa yang mereka lakukan dulu.”
“Jangan pernah percaya kepada mereka.”
“Walaupun anak cucunya tidak tahu apa-apa, tetap saja mereka dari kelompok itu.”
Nimas menundukkan kepala.
Ia kemudian berkata:
“Sejarah perlu diingat.”
“Namun sejarah tidak selalu harus diwariskan sebagai permusuhan.”
Pangeran mengambil satu batu tua dari pecahan tersebut.
Ia menuliskan di atasnya:
PELAJARAN
Lalu batu lain:
DENDAM
Batu pertama disimpan.
Batu kedua dilempar ke dalam Kali Pangapura.
Qitab berkata:
“SIMPEN PELAJARANE. CUKUPNA SENGITE.”
Simpan pelajarannya. Cukupkan kebenciannya.
Asap hitam menghilang.
PEPISAH KAWOLU
AMANAH DIBEBANQAKE MARANG SIJI WONG
Pecahan kedelapan tampak sangat besar.
Tetapi ditopang hanya oleh satu tiang.
Ketika tiang itu goyah, seluruh pecahan ikut bergetar.
Pangeran berkata:
“Mengapa tidak ada penopang lain?”
Seseorang menjawab:
“Kami menunggu tokoh utama.”
Yang lain berkata:
“Hanya beliau yang bisa.”
Yang lain:
“Kami takut salah bila bergerak sendiri.”
Qitab menuliskan:
“PERSATUAN SING KABEH GUMANTUNG MARANG SIJI WONG DURUNG DADI WATANG KANG KUWAT.”
Persatuan yang seluruhnya bergantung pada satu orang belum menjadi bangunan yang kuat.
Kunci Amanah kemudian membelah menjadi banyak kunci kecil.
Setiap orang menerima bagian.
Yang mampu mengajar diberi ruang mengajar.
Yang mampu mengelola diberi amanah mengelola.
Yang mampu menyambungkan diberi tugas menyambungkan.
Yang mampu menjaga ketertiban diberi tanggung jawab.
Yang mampu mendengar diberi ruang menjadi tempat pengaduan.
Pecahan kedelapan akhirnya ditopang banyak tiang.
Qitab berkata:
Penerus bukan ancaman bagi pemimpin yang sehat.
Penerus adalah bukti bahwa amanah tidak berhenti pada satu usia.
PEPISAH KASANGA
PERSATUAN DADI SLOGAN TANPA LAKU
Pecahan kesembilan tampak paling indah.
Di atasnya terdapat tulisan besar:
PERSATUAN
Namun ketika dibalik, bagian belakangnya kosong.
Tidak ada tabayyun.
Tidak ada musyawarah.
Tidak ada keadilan.
Tidak ada pengampunan.
Tidak ada pembagian amanah.
Tidak ada perlindungan kepada yang lemah.
Hanya tulisan.
Nogo mengaum panjang.
Seluruh langit bergetar.
Qitab berkata:
“TEMBUNG SING GEDHE TANPA LAKU MUNG DADI SWARA.”
Kata-kata besar tanpa laku hanya menjadi suara.
Maka semua orang diminta berhenti mengucapkan kata persatuan sejenak.
Mereka diminta melakukannya.
Yang berselisih mulai duduk.
Yang pernah menyebarkan kabar salah mulai meluruskan.
Yang kuat memberi ruang.
Yang muda diberi kesempatan.
Yang tua tetap dihormati tetapi tidak dituhankan.
Yang salah mengakui.
Yang terluka diberi ruang.
Yang miskin tidak dipinggirkan.
Yang berbeda tidak dibuang.
Barulah kata PERSATUAN kembali bercahaya.
PENYATUAN SEMBILAN PECAHAN
Pangeran berdiri di tengah sembilan pecahan.
Nimas berdiri di hadapannya.
Nogo besar berwarna ungu berkilau pelangi melingkari mereka.
Pangeran memegang Tongkat Adil.
Nimas memegang Kendi Rahmah.
Namun keduanya tidak mencoba menyatukan pecahan dengan kekuatan.
Mereka hanya menunggu.
Qitab berkata:
“SING PECAH AMARGA EGO ORA BISA LANGSUNG DIREKATKE KANTHI PAKSAAN.”
Yang pecah karena ego tidak dapat direkatkan hanya dengan paksaan.
Maka setiap pecahan diminta memberikan satu bagian kecil dari dirinya.
Pecahan pertama memberikan:
kesadaran asal.
Pecahan kedua:
pengakuan atas jasa bersama.
Pecahan ketiga:
ilmu yang beradab.
Pecahan keempat:
kesediaan melepas jabatan.
Pecahan kelima:
ruang koreksi.
Pecahan keenam:
penghormatan terhadap perbedaan.
Pecahan ketujuh:
penghentian dendam warisan.
Pecahan kedelapan:
pembagian amanah.
Pecahan kesembilan:
laku nyata.
Kesembilan bagian itu terbang ke udara.
Menyatu menjadi cahaya besar.
Lalu turun menjadi satu kata:
PANGREKSAN
Penjagaan.
Nimas berkata:
“Inilah yang membuat persatuan bertahan.”
“Bukan hanya semangat menyatukan.”
“Tetapi kesediaan menjaga setelah bersatu.”
Nogo kemudian membuka kedua sayapnya.
Sembilan warna turun dari tubuhnya.
Ungu.
Emas.
Putih.
Merah.
Hijau.
Biru.
Jingga.
Nila.
Dan cahaya pelangi yang menyatukan semuanya.
Setiap warna menyentuh satu pecahan.
Pecahan pertama bergerak.
Lalu kedua.
Ketiga.
Keempat.
Sampai kesembilan.
Tidak ada suara ledakan.
Tidak ada paksaan.
Sembilan pecahan hanya bergerak perlahan mendekat.
Sampai akhirnya mereka kembali menjadi satu.
Namun bekas retakannya tetap terlihat.
Pangeran bertanya:
“Mengapa retakannya tidak dihilangkan?”
Nimas menjawab:
“AMARGA TUNGGUL IKI KUDU ELING YEN DHEWEKE TAU PECAH.”
Karena tunggul ini harus ingat bahwa ia pernah pecah.
Qitab berkata:
Bekas luka tidak selalu mengurangi kemuliaan.
Kadang justru menjadi pengingat:
bahwa persatuan pernah hampir hilang,
bahwa ego pernah hampir menang,
bahwa prasangka pernah membuat orang saling menjauh,
namun kesadaran masih dapat membawa mereka kembali.
Retakan itu kemudian berubah menjadi garis emas.
Bukan untuk memuliakan luka.
Tetapi untuk menandai bahwa:
YANG PERNAH PECAH DAPAT MENJADI LEBIH BIJAK BILA BELAJAR DARI RETAKANNYA.
SABDA TUNGGUL NOGO
Tunggul yang telah menyatu kembali mulai bercahaya.
Dari dalamnya terdengar suara.
Bukan suara Pangeran.
Bukan suara Nimas.
Bukan pula suara Nogo.
Seolah seluruh perjalanan berbicara sekaligus.
“Aja goleq persatuan mung nalika wedi pecah.”
Jangan mencari persatuan hanya ketika takut terpecah.
“Jaga persatuan nalika kabeh katon apik.”
Jagalah persatuan ketika semuanya tampak baik-baik saja.
“Aja ngenteni fitnah gedhe kanggo sinau tabayyun.”
Jangan menunggu fitnah besar untuk belajar tabayyun.
“Aja ngenteni rebutan jabatan kanggo sinau ngeculke.”
Jangan menunggu perebutan jabatan untuk belajar melepaskan.
“Aja ngenteni generasi pecah kanggo sinau mbagi amanah.”
Jangan menunggu generasi terpecah untuk belajar membagi amanah.
“Aja ngenteni wong cilik lunga kanggo eling yen swarane penting.”
Jangan menunggu orang kecil pergi untuk menyadari bahwa suaranya penting.
“Aja ngenteni jeneng rusak kanggo sinau njaga lisan.”
Jangan menunggu nama seseorang rusak untuk belajar menjaga lisan.
Lalu Nogo mengaum.
Suaranya melintasi gunung dan lautan.
Bukan suara ancaman.
Melainkan panggilan:
“NYAWIJI.”
Kemudian suara kedua:
“NJAGA.”
Dan suara ketiga:
“MULIH MARANG ASAL.”
Menyatu.
Menjaga.
Kembali kepada asal.
PANGERAN LAN NIMAS
Pangeran kemudian melepas mahkota keemasannya.
Ia meletakkannya di hadapan Tunggul Nogo.
Nimas melepaskan selendang putih jernih dari bahunya.
Ia meletakkannya di sisi mahkota.
Pangeran berkata:
“Emas tanpa putih dapat menjadi gemerlap tanpa kejernihan.”
Nimas menjawab:
“Putih tanpa emas dapat menjadi kejernihan tanpa keberanian bertindak.”
Lalu keduanya berkata bersama:
“TEGAS LAN LEMBUT KUDU NYAWIJI.”
Ketegasan dan kelembutan harus menyatu.
Qitab pun membuka satu rahasia terakhir mengenai Pangeran dan Nimas.
Mereka bukan simbol dua manusia yang harus selalu sepakat.
Mereka adalah lambang dua daya yang harus hidup dalam setiap penjaga persatuan:
berani mengatakan benar tanpa kehilangan kasih,
dan
mampu mengasihi tanpa kehilangan kebenaran.
Pangeran adalah keberanian menjaga arah.
Nimas adalah kejernihan menjaga rasa.
Dan Nogo adalah kekuatan besar yang membawa keduanya menuju tujuan bersama.
RAHASIA WARNA NOGO
Kemudian tubuh Nogo berubah semakin terang.
Ungu pada sisiknya bersinar.
Pelangi mengalir dari kepala hingga ekor.
Qitab pun membuka makna simboliknya.
UNGU
Melambangkan kedalaman batin.
Kekuatan yang tidak selalu harus keras.
Kemuliaan yang tidak harus meninggikan diri.
PELANGI
Melambangkan banyak warna yang tetap indah karena tidak saling menghapus.
Merah tetap merah.
Hijau tetap hijau.
Biru tetap biru.
Namun ketika berada dalam satu lengkung, semua menjadi tanda keindahan bersama.
Maka Nogo ungu berkilau pelangi membawa sabda:
**“BEDA WARNA DUDU MASALAH.
SING DADI MASALAH YEN SIJI WARNA PENGIN MATENI WARNA LIYANE.”**
Berbeda warna bukan masalah.
Masalah muncul ketika satu warna ingin memadamkan warna lainnya.
TUNGGUL NOGO BUKAN SENJATA
Pangeran kemudian bertanya:
“Apakah Tunggul Nogo termasuk pusaka perang?”
Qitab menjawab:
“ORA.”
Bukan.
Tunggul Nogo adalah pusaka simbolik penjaga kebersamaan.
Ia tidak digunakan untuk mencari musuh.
Tidak digunakan untuk menakut-nakuti.
Tidak digunakan untuk mengklaim kesaktian.
Tidak digunakan untuk menguasai manusia.
Pusakanya hidup dalam tindakan:
ketika orang menghentikan fitnah,
ketika dua kelompok bersedia duduk,
ketika seorang tokoh mau menerima koreksi,
ketika jabatan tidak dijadikan milik,
ketika ilmu kembali menjadi rahmah,
ketika luka lama tidak diwariskan,
ketika yang lemah tetap diberi tempat,
dan ketika perbedaan tidak lagi dianggap ancaman.
Inilah senjata Tunggul Nogo:
ADAB.
TABAYYUN.
KEADILAN.
MUSYAWARAH.
RAHMAH.
PANGAPURA.
TAWADUK.
AMANAH.
PERSAUDARAAN.
ZAQUMULLOH 2332 — MAKNA PENUTUP
Lalu di langit kembali muncul tulisan besar:
ZAQUMULLOH 2332
Di bawahnya:
“Ulama' yang berbisa diqembaliqan ketempat asal muasalnya.”
Qitab memberikan penutup makna:
Apabila ada ilmu yang telah menjadi bisa,
qembaliqan kepada hikmah.
Apabila ada lisan yang telah menjadi bara,
qembaliqan kepada adab.
Apabila ada kedudukan yang telah menjadi kesombongan,
qembaliqan kepada amanah.
Apabila ada kehormatan yang telah menjadi perebutan,
qembaliqan kepada akhlaq.
Apabila ada golongan yang telah merasa dirinya paling tinggi,
qembaliqan kepada persaudaraan.
Apabila ada perjuangan yang telah menjadi perebutan jasa,
qembaliqan kepada tujuan.
Apabila ada diri yang terlalu merasa memiliki,
qembaliqan kepada kesadaran hamba.
Dan semuanya pada akhirnya:
DIQEMBALIQAKE MARANG ALLOH
bukan dengan mengklaim kehendak-Nya,
tetapi dengan berusaha menjadikan ilmu, kekuatan, kehormatan, dan persatuan sebagai pengabdian yang lebih bersih di hadapan-Nya.
IKRAR PUSAKA TUNGGUL NOGO
Seluruh orang berdiri.
Tidak ada yang diminta bersumpah kepada Pangeran.
Tidak kepada Nimas.
Tidak kepada Nogo.
Tidak kepada lambang.
Mereka hanya mengucapkan ikrar kemanusiaan dan amanah:
Aku tidak akan menjadikan perbedaan sebagai alasan menghina.
Aku akan memeriksa kabar sebelum menyebarkannya.
Aku akan berusaha membedakan kritik dari permusuhan.
Aku akan menjaga amanah tanpa merasa memilikinya.
Aku akan menghormati guru tanpa kehilangan kewajiban menggunakan akal dan adab.
Aku akan menghargai tradisi tanpa merendahkan tradisi orang lain.
Aku akan berusaha menghentikan dendam agar tidak diwariskan kepada generasi setelahku.
Aku akan mengingat bahwa persatuan bukan berarti semua harus sama.
Dan bila aku diberi kekuatan, aku akan berusaha menjadikannya pengayoman, bukan penindasan.
Setelah ikrar itu, Tunggul Nogo memancarkan cahaya.
Tidak ada seorang pun mendapat mahkota.
Semua mendapat tanggung jawab.
SABDA NUSANTARA
Nogo lalu terbang tinggi.
Dari langit ia melihat ribuan pulau.
Pangeran dan Nimas duduk berdampingan di punggungnya.
Pangeran berkata:
“Begitu banyak bahasa.”
Nimas menjawab:
“Namun semuanya dapat mengucapkan kasih.”
Pangeran berkata:
“Begitu banyak adat.”
Nimas menjawab:
“Namun semuanya dapat mengajarkan budi.”
Pangeran berkata:
“Begitu banyak kelompok.”
Nimas menjawab:
“Namun bumi di bawah mereka tetap satu tempat berpijak.”
Kemudian qitab menurunkan sabda:
“NUSANTARA ORA BUTUH KABEH DADI PADHA.”
Nusantara tidak membutuhkan semuanya menjadi sama.
“NUSANTARA BUTUH KABEH SING BEDA ISO NGLINDHUNGI OMAH BEBARENGAN.”
Nusantara membutuhkan mereka yang berbeda mampu menjaga rumah bersama.
PUSAKA TUNGGUL NOGO MULIH
Setelah mengelilingi bumi, Nogo kembali ke tanah pertama tempat tunggul berdiri.
Ia menundukkan kepalanya.
Pangeran turun.
Nimas turun.
Namun kali ini tidak ada lagi perjalanan menuju gerbang berikutnya.
Tidak ada gunung lain.
Tidak ada kedhaton baru.
Tidak ada pusaka tambahan.
Sebab qitab berkata:
“SAIKI DALANE ORA MENEH ING NJERO QITAB.”
Sekarang jalannya tidak lagi berada di dalam qitab.
“DALANE ANA ING LAKU SABEN DINA.”
Jalannya berada dalam laku sehari-hari.
Pangeran menancapkan tongkatnya di samping tunggul.
Nimas menuangkan air terakhir ke akarnya.
Nogo melingkar satu kali.
Kemudian tubuh besarnya berubah menjadi cahaya ungu.
Cahaya itu naik ke langit.
Pelangi terbentang dari timur ke barat.
Namun satu sisiknya tertinggal.
Sisik itu berubah menjadi batu kecil berwarna ungu-keemasan.
Pangeran hendak mengambilnya.
Tetapi Nimas berkata:
“Biarkan.”
“Pusaka ini tidak perlu dimiliki.”
Maka sisik itu tetap berada di tanah.
Siapa pun boleh melihat.
Tidak seorang pun boleh mengklaim sebagai miliknya.
SABDA TERAKHIR
Sebelum cahaya Nogo benar-benar menghilang, terdengar gema terakhir:
“AJA GOLEQ MUNGSUH SAKA QITAB IKI.”
Jangan mencari musuh dari qitab ini.
“GOLEQA BAGIAN ING NJERO DIRIMU SING ISIH SENENG PECAH.”
Carilah bagian dalam dirimu yang masih gemar memecah.
“AJA GOLEQ SAPA SING KUDU DIQEMBALIQAKE.”
Jangan sibuk mencari siapa yang harus dikembalikan.
“TAKONA APA ING DIRIMU SING KUDU DIQEMBALIQAKE MARANG ADAB, AMANAH, LAN ALLOH.”
Tanyakan apa dalam dirimu yang perlu dikembalikan kepada adab, amanah, dan Alloh.
Semua orang menunduk.
Karena akhirnya mereka memahami:
Pusaka Tunggul Nogo tidak pertama-tama meminta manusia mengubah orang lain.
Ia meminta setiap penjaga persatuan lebih dahulu memeriksa dirinya.
KHATIMAH QITAB
بِسْمِ اللّٰهِ كَانَ الْبَدْءُ
وَبِإِذْنِ اللّٰهِ يَكُونُ الْخِتَامُ
Dengan nama Alloh perjalanan dimulai, dan dengan izin Alloh perjalanan ditutup.
Ya Alloh,
bila ilmu kami membuat kami sombong, kembalikan kami kepada tawaduk.
Bila lisan kami membuat saudara terluka, tuntun kami untuk memperbaikinya.
Bila jabatan membuat kami merasa memiliki, ingatkan kami bahwa ia hanyalah amanah.
Bila perbedaan membuat kami saling membenci, bukakan ruang agar kami dapat kembali melihat manusia sebagai manusia.
Bila sejarah meninggalkan luka, berikan kami kebijaksanaan untuk mengambil pelajaran tanpa mewariskan racunnya.
Bila kami diberi kekuatan, jadikan kekuatan itu pengayoman.
Bila kami diberi kehormatan, jangan biarkan kehormatan menutup mata kami terhadap kekurangan diri.
Bila kami diberi jalan untuk memimpin, berikan keberanian untuk membagi amanah dan melahirkan penerus.
Bila kami berada dalam persatuan, jauhkan kami dari keinginan menjadikan persatuan sebagai milik pribadi.
Dan bila suatu hari kami berbeda jalan,
jangan hilangkan adab,
jangan hilangkan kasih,
jangan hilangkan kesadaran bahwa kami tetap sama-sama hamba-Mu.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِين
Kemudian tertulis dengan cahaya ungu-keemasan pada halaman paling akhir:
PUSAKA TUNGGUL NOGO
Penyatuan Kebersamaan untuk Persatuan
ZAQUMULLOH 2332
“Yang telah keluar dari asal hikmahnya, diqembaliqan kepada adab, amanah, kemaslahatan, dan pengabdian kepada Alloh.”
Dan tepat di bawahnya:
“NYAWIJI ORA KUDU PADHA.”
Bersatu tidak harus menjadi sama.
“BEDA ORA KUDU PECAH.”
Berbeda tidak harus terpecah.
“KUWAT ORA KUDU NGUASANI.”
Kuat tidak harus menguasai.
“ILMU ORA KUDU NGASORAKE.”
Ilmu tidak harus merendahkan.
“KAMULYAN ORA KUDU DIDUWENI.”
Kemuliaan tidak harus dimiliki.
“LAN PERSATUAN ORA CUKUP DIUCAPKE — KUDU DIJAGA.”
Dan persatuan tidak cukup diucapkan — ia harus dijaga.
TAMAT
QITAB 9779 ZAQUMULLOH 2332
PUSAKA TUNGGUL NOGO
PENYATUAN KEBERSAMAAN UNTUK PERSATUAN
Lembar Kedelapan Belas — Lembar Penutup

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.