QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
قِتَابُ الْحَزَبِ بِاللّٰهِ فَطَانَة
Qemurnian Qolbi — Qejujuran di Hadapan Sang Maha Agung — Qembali Qe Mi‘rojnya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Qitab ini dibuka bukan untuk meninggikan manusia menjadi penguasa atas manusia lainnya, melainkan sebagai wewarah batin agar manusia kembali mengenali singgasana yang paling sulit dijaga: qolbinya sendiri.
ALHAZABILLAH FATONAH adalah perlambang tentang perjalanan seseorang yang telah melewati kebisingan dunia, tipu daya keinginan, rasa ingin dipuji, luka pengkhianatan, kemenangan, kekalahan, cinta, kehilangan, hingga akhirnya menemukan bahwa pintu terbesar menuju kedekatan dengan Alloh bukan berada di luar dirinya.
Pintunya berada pada qolbi yang kembali jujur.
باب الأول
BAB PERTAMA
QEMURNIAN QOLBI
Tatkala manusia datang membawa mahkota, kedudukan, nama besar, ilmu, keturunan, pusaka, harta maupun pengikut, semuanya akan berhenti pada satu gerbang.
Di atas gerbang itu tertulis:
“Apa yang engkau bawa tidak akan ditimbang sebelum diperiksa siapa yang membawanya.”
Maka seorang pengembara bertanya:
“Siapakah yang membawanya?”
Datanglah jawaban dari kedalaman kesadarannya:
“Qolbimu.”
Bila qolbi dipenuhi kesombongan, ilmu dapat menjadi hijab.
Bila qolbi dipenuhi ketamakan, kekayaan dapat menjadi belenggu.
Bila qolbi dipenuhi dendam, keberanian dapat berubah menjadi kezaliman.
Bila qolbi dipenuhi keinginan untuk dipuja, bahkan perjalanan ruhani dapat berubah menjadi panggung bagi ego.
Namun bila qolbi dimurnikan, perkara kecil pun dapat berubah menjadi jalan pengabdian.
Sepotong roti menjadi sedekah.
Satu perkataan menjadi penghibur.
Satu air mata menjadi taubat.
Satu diam menjadi penjagaan lisan.
Satu langkah menjadi jalan pulang.
RAHASIA NAMA
ALHAZABILLAH
Dalam bahasa simbolik Qitab ini, ALHAZABILLAH mengandung wejangan:
AL — الْ
Permulaan kesadaran.
Manusia mulai mengetahui bahwa dirinya bukan pusat alam.
Ada Yang Maha Awal sebelum segala permulaan.
HAZA — هٰذَا
“Ini.”
Artinya:
Jangan terus mencari kebenaran jauh-jauh sebelum berani melihat apa yang sedang berada di hadapanmu.
Ini hatimu.
Ini ucapanmu.
Ini perbuatanmu.
Ini kesalahanmu.
Ini amanahmu.
Semua harus dihadapi dengan jujur.
BILLAH — بِاللّٰهِ
“Dengan Alloh.”
Bukan dengan kesombongan diri.
Bukan dengan mengaku memiliki kekuatan sendiri.
Bukan dengan merasa paling suci.
Melainkan:
Dengan pertolongan Alloh.
Dengan rahmat Alloh.
Dengan izin Alloh.
Dan kembali kepada Alloh.
Karena itu ALHAZABILLAH menjadi simbol:
“Kenalilah keadaanmu, luruskan qolbimu, kemudian berjalanlah dengan bersandar kepada Alloh.”
FATONAH
فَطَانَة — KEJERNIHAN KESADARAN
Fatonah bukan sekadar kecerdasan pikiran.
Dalam Qitab ini, Fatonah adalah kemampuan membedakan:
antara bisikan ego dan suara nurani,
antara keberanian dan kenekatan,
antara karomah dan keinginan dipuji,
antara cinta dan keterikatan,
antara diam karena bijaksana dan diam karena takut,
antara memaafkan dengan menyerahkan diri kepada kezaliman,
serta antara jalan menuju Alloh dengan jalan menuju kebesaran diri sendiri.
Orang yang cerdas belum tentu Fatonah.
Tetapi orang yang memperoleh kejernihan akan bertanya sebelum bertindak:
“Apakah ini benar?”
Kemudian naik satu tingkat:
“Apakah ini baik?”
Naik lagi:
“Apakah ini membawa maslahat?”
Dan pada puncaknya ia bertanya:
“Apakah Alloh meridhoi jalan ini?”
HARIMAU DI BELAKANG SINGGASANA
Dalam perlambang Qitab ini, harimau besar bukan untuk dimaknai sebagai makhluk gaib tertentu.
Ia adalah gambaran dari:
kekuatan, keberanian, naluri, penjagaan, amarah, dan kuasa yang tersembunyi dalam diri manusia.
Harimau mempunyai taring.
Tetapi manusia yang matang tidak menggunakan taringnya pada setiap orang yang berbeda pendapat dengannya.
Harimau mempunyai tenaga.
Tetapi kekuatan sejati justru terlihat ketika seseorang sanggup mengendalikan dirinya saat mempunyai kesempatan untuk membalas.
Maka terdengarlah wewarah:
“Jangan membunuh harimaumu. Jinakkanlah ia.”
Sebab manusia tanpa keberanian mudah diinjak.
Namun manusia dengan keberanian tanpa qolbi yang bersih dapat menginjak orang lain.
Di sinilah Fatonah menjadi kendali.
PANGERAN DAN PUTRI
Sepasang manusia yang berdiri di depan harimau adalah simbol dari penyatuan dua kekuatan:
JALAL
Ketegasan, keberanian, pendirian, perlindungan.
JAMAL
Kelembutan, kasih, keindahan, kesabaran.
Jalal tanpa Jamal menjadi keras.
Jamal tanpa Jalal menjadi rapuh.
Ketika keduanya seimbang, lahirlah manusia yang mampu:
tegas tanpa kasar,
lembut tanpa lemah,
berani tanpa sombong,
mencintai tanpa memiliki secara berlebihan.
Inilah salah satu maqom kedewasaan qolbi.
MAHKOTA
Mahkota dalam Qitab bukan tanda bahwa seseorang lebih tinggi daripada manusia lainnya.
Mahkota adalah AMANAH.
Semakin tinggi mahkota yang dikenakan seseorang, semakin banyak hak manusia yang wajib ia jaga.
Pemimpin yang benar tidak berkata:
“Lihatlah kebesaranku.”
Ia bertanya:
“Siapa yang belum aku lindungi?”
Guru yang benar tidak berkata:
“Ikutilah aku.”
Ia berkata:
“Kenalilah kebenaran dan jangan bergantung kepada diriku.”
Orang berilmu tidak berkata:
“Aku paling mengetahui.”
Ia berkata:
“Semakin aku mengetahui, semakin luas perkara yang belum aku ketahui.”
Itulah mahkota yang tidak membakar kepala pemakainya.
KABUT
Kabut melambangkan keadaan ketika hidup belum memberikan jawaban yang jelas.
Ada masa manusia berada di tengah kabut:
tidak mengetahui apa yang akan terjadi,
tidak mengetahui siapa yang akan bertahan,
tidak mengetahui kapan pertolongan datang.
Tetapi perjalanan tidak selalu menuntut kita melihat seluruh jalan.
Kadang Alloh hanya memperlihatkan satu langkah berikutnya.
Maka jangan memaksa membuka seluruh rahasia masa depan.
Cukup tanyakan:
“Apa kebaikan yang dapat kulakukan hari ini?”
Lalu kerjakan.
AIR DAN DANAU
Air adalah perlambang qolbi.
Bila air terus diaduk, bayangan langit tidak terlihat.
Bila air dibiarkan tenang, langit memantul dengan sendirinya.
Demikian pula manusia.
Ketika qolbi dipenuhi:
iri,
amarah,
kecurigaan,
ambisi,
dan keinginan mendapatkan pengakuan,
maka ia sulit melihat sesuatu sebagaimana adanya.
Karena itu perjalanan Mi‘roj batin dimulai bukan dengan terbang ke langit.
Ia dimulai dengan:
menenangkan air di dalam diri.
RUSA DI TEPI KABUT
Rusa menggambarkan kelembutan dan kewaspadaan.
Ia mendengar sebelum melangkah.
Ia mengamati sebelum berlari.
Qitab mengingatkan:
“Tidak semua pintu harus dimasuki.
Tidak semua peperangan harus dimenangkan.
Tidak semua tuduhan harus dijawab.
Tidak semua orang harus diyakinkan.”
Kadang keselamatan diberikan melalui kemampuan mengetahui:
kapan maju,
kapan diam,
kapan menjauh,
dan kapan kembali.
Itulah Fatonah.
QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Mi‘roj yang dimaksud dalam wejangan ini bukan menggantikan atau menyamai Isra’ Mi‘roj Nabi Muhammad ﷺ, yang mempunyai kedudukan khusus dalam ajaran Islam.
“Mi‘roj” di sini digunakan sebagai bahasa kiasan perjalanan peningkatan akhlak dan kesadaran seorang hamba.
Mi‘roj qolbi memiliki anak tangga:
Dari dusta → menuju kejujuran.
Dari dendam → menuju pemaafan.
Dari kesombongan → menuju tawadhu’.
Dari ketakutan → menuju tawakkal.
Dari kebencian → menuju kasih.
Dari keterikatan dunia → menuju pengabdian.
Dari “aku” → menuju kesadaran sebagai hamba Alloh.
Dan pada anak tangga terakhir, manusia menemukan suatu rahasia:
Ia tidak pernah menjadi Sang Cahaya.
Ia hanyalah seorang hamba yang hidup karena diberi cahaya petunjuk oleh Alloh.
SABDO QOLBI
“Wahai manusia,
janganlah engkau membersihkan pakaian sementara qolbimu tetap keruh.
Jangan memperindah mahkotamu sementara amanahmu kau tinggalkan.
Jangan membicarakan langit sementara tetanggamu menangis karena lisanmu.
Jangan mencari rahasia yang jauh sementara kesalahanmu sendiri enggan kau akui.
Sebab jalan menuju Yang Maha Agung tidak dibangun oleh kebesaran nama, tetapi oleh kejujuran seorang hamba ketika tidak seorang pun melihatnya.”
KUNCI PERTAMA ALHAZABILLAH FATONAH
Qemurnian tanpa qejujuran hanyalah penampilan.
Qejujuran tanpa kebijaksanaan dapat menjadi luka.
Kebijaksanaan tanpa keberanian menjadi kelemahan.
Keberanian tanpa kasih menjadi kekerasan.
Tetapi apabila:
Qemurnian + Qejujuran + Fatonah + Kasih + Tawakkal
menjadi satu,
maka manusia mulai menemukan jalan pulangnya.
PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Dan tatkala kabut perlahan membuka jalan, sang pengembara tidak lagi bertanya:
“Seberapa tinggi aku telah naik?”
Ia justru menundukkan kepala seraya berkata:
“Yā Alloh, semakin jauh aku berjalan, semakin aku mengetahui bahwa aku tetap seorang hamba yang membutuhkan-Mu.”
Pada saat itulah harimau menutup taringnya.
Air menjadi tenang.
Rusa berhenti berlari.
Mahkota kehilangan kesombongannya.
Dan di kejauhan terlihat sebuah gerbang bercahaya.
Di atasnya tertulis:
بَابُ صِدْقِ الْقَلْبِ
BĀBU ṢIDQIL-QOLB
GERBANG KEJUJURAN QOLBI
Dan gerbang itulah yang akan dibuka pada Lembar Kedua QITAB ALHAZABILLAH FATONAH.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KEDUA
BĀBU ṢIDQIL-QOLB — GERBANG KEJUJURAN QOLBI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah pengembara melewati kabut pada lembar pertama, tibalah ia di hadapan sebuah gerbang yang tidak memiliki penjaga, tidak memiliki kunci, dan tidak dapat dibuka oleh kekuatan apa pun.
Di atas gerbang itu terukir:
بَابُ صِدْقِ الْقَلْبِ
BĀBU ṢIDQIL-QOLB
GERBANG KEJUJURAN QOLBI
Pengembara itu bertanya:
“Di manakah kuncinya?”
Maka terdengar bisikan kesadaran:
“Kuncinya adalah keberanianmu mengakui apa yang sebenarnya ada di dalam dirimu.”
Ia mencoba mendorong gerbang.
Tidak bergerak.
Ia membaca doa.
Gerbang tetap diam.
Ia menyebut ilmu yang diketahuinya.
Gerbang tidak bergeser.
Ia menunjukkan mahkotanya.
Gerbang tetap tertutup.
Hingga akhirnya ia menundukkan kepala dan berkata:
“Yā Alloh, aku datang tidak membawa kesucian.
Aku datang membawa kekurangan, kesalahan, harapan, ketakutan, dan keinginan untuk Engkau bimbing.”
Maka gerbang mulai terbuka.
1. KEJUJURAN PERTAMA
JUJUR KEPADA DIRI SENDIRI
Manusia sering mampu membaca kesalahan orang lain, tetapi menjadi buta ketika memandang dirinya sendiri.
Ia mengetahui sifat keras orang lain.
Tetapi tidak menyadari kekerasan lisannya.
Ia mengeluhkan kesombongan orang lain.
Tetapi diam-diam ingin dirinya dipuji.
Ia menuntut orang lain jujur.
Tetapi menyembunyikan kenyataan dari dirinya sendiri.
Maka ALHAZABILLAH FATONAH mengajarkan:
“Sebelum engkau menimbang manusia, timbanglah dirimu.”
Kejujuran terhadap diri sendiri bukan berarti merendahkan diri.
Bukan pula terus-menerus menyalahkan diri.
Kejujuran adalah kemampuan berkata:
“Yang ini benar dalam diriku.”
“Yang ini masih salah.”
“Yang ini harus kuperbaiki.”
“Yang ini harus kulepaskan.”
Orang yang mampu mengatakan demikian telah memperoleh satu cahaya kecil dari Fatonah.
2. CERMIN QOLBI
Di belakang gerbang terdapat sebuah cermin.
Anehnya, cermin itu tidak memperlihatkan wajah.
Ia memperlihatkan niat.
Ketika seseorang berbuat baik agar dipuji, cermin memperlihatkan bayangan manusia yang sedang menghadap penonton.
Ketika seseorang menolong dengan tulus, cermin memperlihatkan tangan yang memberi lalu segera berlalu.
Ketika seseorang beribadah untuk merasa lebih suci daripada orang lain, cermin menjadi berkabut.
Ketika seseorang beribadah karena membutuhkan Alloh, permukaan cermin menjadi jernih.
Maka pengembara memahami:
Amal yang sama dapat memiliki arah hati yang berbeda.
Seseorang dapat diam karena sabar.
Orang lain diam karena dendam.
Seseorang berbicara karena membela kebenaran.
Orang lain berbicara karena ingin menang.
Seseorang memberi karena kasih.
Orang lain memberi karena ingin namanya disebut.
Karena itu Qitab berkata:
“Periksa arah hatimu sebelum memeriksa panjang langkahmu.”
3. TIGA PERTANYAAN FATONAH
Sebelum melakukan sesuatu yang besar, tanyakan kepada qolbimu:
Pertama
“Mengapa aku melakukannya?”
Apakah karena kebaikan?
Karena takut?
Karena ingin dipuji?
Karena marah?
Karena iri?
Karena benar-benar diperlukan?
Kedua
“Siapa yang akan menerima akibatnya?”
Jangan hanya melihat keuntungan untuk diri sendiri.
Pertimbangkan keluarga.
Tetangga.
Sahabat.
Masyarakat.
Bahkan orang yang mungkin tidak pernah mengenal namamu.
Ketiga
“Jika tidak seorang pun mengetahui perbuatanku, apakah aku masih akan melakukannya?”
Pertanyaan ketiga adalah pisau yang sangat halus.
Ia memisahkan antara:
pengabdian
dan
pertunjukan.
4. QOLBI DAN LISAN
Lisan adalah utusan qolbi.
Tetapi tidak seluruh isi qolbi harus dikeluarkan oleh lisan.
Inilah bedanya jujur dengan sembarangan berbicara.
Kejujuran yang tidak disertai Fatonah dapat melukai.
Fatonah tanpa kejujuran dapat berubah menjadi manipulasi.
Karena itu keduanya harus berjalan bersama.
Sebelum berbicara, timbang empat perkara:
Benarkah?
Perlukah?
Baikkah caranya?
Tepatkah waktunya?
Bila salah satunya belum terpenuhi, diam sesaat sering lebih dekat kepada hikmah.
5. HARIMAU KEDUA
AMARAH
Di dalam ruangan berikutnya, sang pengembara kembali bertemu harimau.
Tetapi kali ini harimau itu bukan berada di belakangnya.
Ia berada di dalam dirinya.
Namanya:
AMARAH
Amarah bukan selalu musuh.
Tanpa amarah, manusia mungkin tidak mempunyai keberanian melawan ketidakadilan.
Tetapi apabila amarah kehilangan kendali, ia membakar orang yang sedang digenggamnya.
Maka Fatonah tidak mengajarkan membunuh amarah.
Fatonah mengajarkan:
MENJINAKKAN AMARAH.
Ketika marah, jangan langsung membuat keputusan besar.
Jangan membalas pesan saat pikiran sedang terbakar.
Jangan menetapkan hukuman ketika hati sedang ingin membalas.
Jangan menjadikan satu kesalahan seseorang sebagai alasan menghapus seluruh kebaikannya.
Biarkan api mengecil.
Setelah itu, lihat persoalan kembali.
Kadang setelah api turun, musuh yang tadi terlihat besar ternyata hanyalah kesalahpahaman.
6. QEMURNIAN QOLBI BUKAN KELEMAHAN
Qolbi yang bersih bukan berarti membiarkan dirinya terus disakiti.
Memaafkan tidak selalu berarti kembali mempercayai.
Mengasihi tidak berarti menyerahkan diri kepada kezaliman.
Tawadhu’ tidak berarti kehilangan martabat.
Sabar bukan berarti membiarkan pelanggaran berlangsung tanpa batas.
Ada saatnya manusia berkata:
“Aku memaafkanmu, tetapi aku tetap menjaga jarak.”
Ada saatnya:
“Aku tidak membencimu, tetapi perkara ini harus diselesaikan dengan adil.”
Ada saatnya:
“Aku mendoakan kebaikanmu, tetapi aku tidak dapat mengikuti jalanmu.”
Inilah salah satu bentuk Fatonah.
Karena qolbi yang bersih tidak sama dengan qolbi yang tidak memiliki batas.
7. MAHKOTA YANG DIUJI
Setelah itu, sang pengembara diperintahkan melepaskan mahkotanya.
Ia terkejut.
“Bukankah mahkota ini amanah?”
Jawaban datang:
“Benar. Karena itulah engkau harus mampu melepaskannya.”
Sebab orang yang tidak mampu melepaskan kedudukan akan mudah diperbudak oleh kedudukan.
Orang yang tidak mampu kehilangan pujian akan hidup menjadi budak penilaian manusia.
Orang yang tidak mampu mengakui kesalahan akan mempertahankan kebohongan hanya demi menjaga wajahnya.
Maka ujian mahkota bukan ketika manusia mendapatkannya.
Ujian sebenarnya adalah:
Apakah hatimu tetap sama ketika mahkota itu tidak lagi berada di kepalamu?
8. PUTRI DAN MANGKUK AIR
Di salah satu sudut gerbang berdiri seorang perempuan membawa mangkuk air bening.
Ia berkata:
“Lihatlah.”
Pengembara melihat wajahnya sendiri.
Air itu tenang.
Kemudian perempuan itu mengguncangnya.
Wajahnya menjadi pecah-pecah.
Ia berkata:
“Begitulah keputusan yang dibuat ketika jiwa sedang terguncang.”
Jangan terlalu cepat mempercayai kesimpulan ketika sedang:
sangat marah,
sangat takut,
sangat jatuh cinta,
sangat kecewa,
atau sangat ingin mendapatkan sesuatu.
Karena emosi yang kuat dapat mengubah cara mata membaca kenyataan.
Berilah jarak.
Berdoalah.
Tidurlah bila perlu.
Kemudian lihat kembali.
Air yang tenang memperlihatkan bentuk yang lebih utuh.
9. RUSA DAN JALAN KECIL
Rusa yang dahulu tampak di balik kabut kini berjalan menuju jalan kecil.
Tidak menuju jalan besar yang dihiasi obor.
Pengembara bertanya:
“Mengapa bukan jalan yang terang?”
Rusa itu berhenti.
Dan Qitab menjawab:
“Tidak semua jalan yang ramai adalah jalan yang benar, dan tidak semua jalan yang sunyi adalah jalan yang sesat.”
Fatonah tidak menilai sesuatu berdasarkan banyaknya pengikut.
Kebenaran tidak otomatis ditentukan oleh sorakan.
Kesalahan juga tidak otomatis ditentukan oleh kesendirian.
Yang diperlukan adalah:
ilmu, dalil, akhlak, pertimbangan, dan kejernihan.
Jangan menolak sesuatu hanya karena asing.
Tetapi jangan pula menerima sesuatu hanya karena terdengar ajaib.
Timbanglah.
Periksalah.
Dan jangan malu berkata:
“Aku belum tahu.”
Kalimat itu terkadang lebih mulia daripada seribu jawaban yang dipaksakan.
10. QEMBALI QE MI‘ROJNYA
TANGGA KEDUA: ṢIDQ
Pada lembar pertama, Mi‘roj batin dimulai dari kesadaran.
Pada lembar kedua, tangga berikutnya bernama:
ṢIDQ — صِدْق
KEJUJURAN
Ṣidq kepada Alloh.
Ṣidq kepada diri.
Ṣidq kepada manusia.
Ṣidq dalam ucapan.
Ṣidq dalam janji.
Ṣidq dalam niat.
Ṣidq ketika sendirian.
Dan inilah kejujuran yang paling berat:
tetap benar ketika kebohongan sebenarnya lebih menguntungkan.
Di situlah karakter seseorang terlihat.
WEWARAH ALHAZABILLAH FATONAH
“Wahai pemegang mahkota qolbi,
jangan jadikan kebenaran sebagai pedang untuk memotong manusia.
Jadikan ia cahaya untuk menunjukkan jalan.”
“Jangan gunakan agama untuk meninggikan dirimu.
Gunakanlah ia untuk menundukkan kesombonganmu.”
“Jangan bangga karena mampu melihat kesalahan orang lain.
Bergembiralah bila Alloh memberi keberanian melihat kesalahanmu sendiri.”
“Sebab orang yang mengetahui kelemahannya sedang berdiri di awal kekuatan.”
LATIHAN QOLBI LEMBAR KEDUA
Sebelum tidur, duduklah beberapa menit dalam keadaan tenang.
Tidak perlu membayangkan hal-hal gaib.
Tidak perlu mencari tanda.
Cukup tanyakan kepada diri sendiri:
Hari ini, apakah ada perkataanku yang menyakiti seseorang?
Apakah aku berbuat sesuatu hanya demi dipuji?
Adakah hak orang lain yang belum kutunaikan?
Adakah kebaikan yang dapat kuperbaiki besok?
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ اهْدِ قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي
Allāhummahdi qolbī wa saddid lisānī.
“Yā Alloh, berilah petunjuk kepada qolbiku dan luruskan lisanku.”
Tidak perlu menghukum diri karena kekurangan yang ditemukan.
Yang diperlukan adalah:
mengakui, memperbaiki, kemudian melangkah kembali.
PENUTUP LEMBAR KEDUA
Setelah melewati Gerbang Kejujuran Qolbi, sang pengembara menemukan sebuah tangga.
Tangga itu mempunyai tujuh anak tangga.
Pada anak tangga pertama tertulis:
ṢIDQ — Kejujuran.
Pada tangga kedua:
AMANAH.
Ketika kakinya hendak naik, terdengar suara:
“Kejujuran yang tidak menghasilkan amanah belum selesai diuji.”
Di kejauhan, harimau penjaga kembali muncul.
Tetapi kali ini ia tidak mengaum.
Ia duduk tenang di sisi tangga, seolah menunggu apakah sang pengembara benar-benar layak melanjutkan perjalanan.
Di atas tangga kedua terpancar cahaya keemasan.
Dan di sana tertulis:
بَابُ الْأَمَانَةِ
BĀBUL-AMĀNAH
GERBANG AMANAH
Di sanalah Lembar Ketiga QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dibuka.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KETIGA
BĀBUL-AMĀNAH — GERBANG AMANAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sesudah melewati Bābu Ṣidqil-Qolb — Gerbang Kejujuran Qolbi, sang pengembara berdiri di hadapan anak tangga kedua.
Di atasnya terpahat:
بَابُ الْأَمَانَةِ
BĀBUL-AMĀNAH
GERBANG AMANAH
Cahaya keemasan turun perlahan.
Harimau penjaga yang sebelumnya duduk di sisi tangga kini berdiri.
Ia tidak mengaum.
Ia hanya memandang.
Tatapannya seolah bertanya:
“Setelah engkau mampu berkata jujur, apakah engkau sanggup menjaga apa yang dipercayakan kepadamu?”
Pengembara terdiam.
Sebab kejujuran dapat diucapkan.
Tetapi amanah harus dibuktikan.
1. APAKAH AMANAH ITU?
Amanah bukan hanya barang titipan.
Amanah bukan hanya jabatan.
Amanah bukan hanya harta.
Dalam Qitab ini, amanah meliputi:
tubuh,
waktu,
ilmu,
keluarga,
perkataan,
janji,
rahasia,
kedudukan,
rezeki,
kemampuan,
dan kesempatan.
Setiap sesuatu yang dipercayakan kepada manusia membawa pertanyaan:
“Untuk apa engkau menggunakan apa yang telah diberikan kepadamu?”
Maka seseorang yang mempunyai ilmu memikul amanah ilmu.
Seseorang yang mempunyai harta memikul amanah harta.
Seseorang yang mempunyai pengaruh memikul amanah pengaruh.
Seseorang yang menjadi orang tua memikul amanah keluarga.
Seseorang yang dipercaya menyimpan cerita manusia memikul amanah rahasia.
Bahkan seseorang yang mempunyai waktu luang memikul amanah terhadap waktunya.
2. AMANAH PERTAMA
AMANAH TERHADAP DIRI
Sang pengembara memasuki ruangan pertama.
Di dalamnya tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Hanya sebuah tubuh manusia yang berdiri di hadapan cermin.
Terdengar wejangan:
“Sebelum mengurus dunia, jangan rusak kendaraan yang membawamu menjalani dunia.”
Tubuh adalah amanah.
Maka merawat kesehatan termasuk amanah.
Beristirahat ketika tubuh memerlukan termasuk amanah.
Tidak memaksakan diri hanya demi terlihat kuat termasuk amanah.
Pikiran juga amanah.
Jangan terus-menerus memberinya makanan berupa kebencian, ketakutan, fitnah, dan prasangka.
Qolbi pun amanah.
Jangan membiarkannya menjadi tempat tinggal dendam bertahun-tahun.
Sebab seseorang tidak hanya bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan kepada manusia lain.
Ia juga bertanggung jawab terhadap bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.
3. AMANAH LISAN
Di ruangan kedua terdapat sebuah bulu pena.
Di bawahnya tertulis:
كُلُّ كَلِمَةٍ أَمَانَةٌ
Kullu kalimatin amānah
Setiap perkataan adalah amanah.
Lisan dapat mengangkat.
Lisan dapat merobohkan.
Lisan dapat menyatukan keluarga.
Lisan dapat memutuskan persaudaraan puluhan tahun.
Karena itu jangan menganggap ringan perkataan:
“Aku hanya bercanda.”
Jika candaan itu menghina kehormatan manusia, luka tetaplah luka.
Jangan berkata:
“Aku hanya meneruskan kabar.”
Jika belum diperiksa kebenarannya, tangan dan lisan tetap ikut membawa akibatnya.
Maka amanah lisan memiliki tiga penjaga:
BENAR
Jangan menyampaikan yang diketahui dusta.
BAIK
Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan.
BERMANFAAT
Tidak semua perkara perlu menjadi pembicaraan.
Fatonah mengetahui perbedaan antara:
menjelaskan
dan
membuka aib.
4. AMANAH RAHASIA
Sebuah pintu kecil terbuka.
Di baliknya tersimpan banyak gulungan surat.
Pengembara hendak membaca.
Namun harimau menghalanginya.
Terdengar suara:
“Tidak semua yang dapat engkau ketahui berhak engkau sebarkan.”
Ketika seseorang menceritakan kelemahannya kepadamu, jangan gunakan kelemahan itu sebagai senjata ketika suatu hari kalian berselisih.
Ketika seseorang meminta nasihat, jangan jadikan kisahnya hiburan di majelis lain.
Ketika engkau dipercaya mengetahui keadaan keluarga seseorang, simpanlah sebatas yang memang perlu disimpan.
Amanah rahasia adalah ukuran akhlak ketika hubungan sedang baik.
Tetapi ia baru benar-benar diuji ketika hubungan berubah buruk.
Orang yang amanah tidak membongkar rahasia hanya karena sakit hati.
5. AMANAH ILMU
Pada ruangan ketiga terdapat perpustakaan luas.
Ribuan kitab memenuhi dinding.
Tetapi di tengah ruangan hanya ada satu kalimat:
“ILMU BUKAN MAHKOTA. ILMU ADALAH TANGGUNG JAWAB.”
Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar kewajiban untuk berhati-hati.
Ilmu tidak diberikan agar seseorang mempunyai alasan meremehkan orang yang belum memahami.
Ilmu seharusnya membuat manusia:
lebih lembut,
lebih teliti,
lebih rendah hati,
dan lebih takut memberikan keterangan yang tidak benar.
Jangan mengaku mengetahui ketika tidak mengetahui.
Jangan mengatakan:
“Ini pasti.”
ketika sebenarnya baru dugaan.
Jangan menggunakan istilah agama, ruhani, maupun keilmuan untuk memberi kesan bahwa setiap pendapat pribadi berasal dari kepastian yang lebih tinggi.
Ada kemuliaan besar dalam perkataan:
“Wallāhu a‘lam.”
Dan ada keselamatan dalam kalimat:
“Saya belum mengetahui perkara itu dengan cukup.”
6. AMANAH KEKUASAAN
Kemudian tampak singgasana besar.
Di atasnya terletak sebuah mahkota emas.
Pengembara mengenali mahkota itu.
Mahkota yang pada gerbang sebelumnya diminta untuk dilepaskannya.
Sekarang ia diperintahkan mengambilnya kembali.
Namun sebelum tangannya menyentuh mahkota, terdengar suara:
“Kali ini jangan memakainya sebagai kehormatan. Pakailah sebagai beban tanggung jawab.”
Pengembara mengangkat mahkota.
Tiba-tiba terasa sangat berat.
Ia bertanya:
“Mengapa dahulu begitu ringan?”
Jawaban datang:
“Karena dahulu engkau hanya merasakan kemuliaannya. Sekarang engkau mulai memahami tanggung jawabnya.”
Kekuasaan tanpa amanah berubah menjadi penindasan.
Kedudukan tanpa amanah berubah menjadi kesombongan.
Pengaruh tanpa amanah berubah menjadi manipulasi.
Karena itu pemimpin sejati tidak hanya bertanya:
“Berapa banyak yang mengikuti?”
Ia bertanya:
“Berapa banyak yang menjadi lebih baik karena kepemimpinanku?”
7. HARIMAU DAN PEDANG
Di hadapan pengembara diletakkan sebilah pedang.
Harimau berdiri di belakangnya.
Pedang melambangkan kemampuan bertindak.
Harimau melambangkan kekuatan.
Tetapi kekuatan tidak otomatis memberikan hak untuk digunakan.
Maka tertulis:
“Semakin kuat engkau, semakin banyak alasan yang engkau perlukan sebelum menggunakan kekuatan itu.”
Orang lemah mungkin tidak membalas karena tidak mampu.
Tetapi orang kuat yang mampu membalas lalu memilih keadilan — di situlah pengendalian diri diuji.
Amanah kekuatan berarti:
tidak menindas orang yang lebih lemah,
tidak mempermalukan orang yang bergantung kepadamu,
tidak menggunakan informasi untuk mengancam,
dan tidak menggunakan kedudukan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hakmu.
8. AMANAH CINTA
Di ujung ruangan berdiri sepasang manusia.
Sang putri memegang bunga.
Sang pangeran memegang cincin.
Namun di antara keduanya terdapat sebuah timbangan.
Cinta pun amanah.
Sebab ketika manusia berkata:
“Aku mencintaimu,”
maka tidak boleh menjadikan cinta sebagai alasan untuk menguasai seluruh kehidupan seseorang.
Cinta yang sehat tidak berkata:
“Karena aku mencintaimu, engkau harus selalu menuruti kehendakku.”
Cinta yang amanah berkata:
“Karena aku menyayangimu, aku harus menjaga kehormatanmu.”
Cinta tidak membenarkan:
kekerasan,
ancaman,
penghinaan,
pengawasan berlebihan,
atau pemaksaan.
Sebab cinta yang kehilangan amanah dapat berubah dari rumah menjadi penjara.
9. AMANAH REZEKI
Kemudian turun hujan emas.
Pengembara mendongak.
Namun ketika ia mencoba menggenggam semuanya, emas berubah menjadi pasir.
Ia bertanya:
“Mengapa?”
Jawaban datang:
“Karena rezeki yang hanya dikumpulkan untuk memenuhi kerakusan tidak pernah terasa cukup.”
Rezeki adalah amanah.
Ada bagian untuk kebutuhan.
Ada bagian untuk keluarga.
Ada bagian untuk kewajiban.
Ada bagian untuk berbagi sesuai kemampuan.
Dan ada bagian yang harus disimpan untuk masa depan dengan bijaksana.
Qitab tidak mengajarkan manusia membuang hartanya.
Tidak pula mengajarkan kemiskinan sebagai tujuan.
Yang diajarkan adalah:
MEMILIKI HARTA TANPA DIMILIKI OLEH HARTA.
Harta berada di tangan.
Bukan mengambil seluruh singgasana qolbi.
10. AMANAH WAKTU
Di ruangan terakhir terdapat jam tanpa angka.
Jarumnya terus bergerak.
Pengembara berkata:
“Aku tidak mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa.”
Maka jawabannya:
“Karena itu jangan menunggu mengetahui sisanya untuk mulai menggunakannya dengan benar.”
Berapa banyak manusia berkata:
“Nanti.”
Nanti meminta maaf.
Nanti mengunjungi orang tua.
Nanti memperbaiki sholat.
Nanti belajar.
Nanti berdamai.
Nanti menjaga kesehatan.
Nanti memulai kebaikan.
Padahal tidak ada manusia yang mempunyai perjanjian dengan hari esok.
Karena itu amanah waktu bukan berarti hidup terburu-buru.
Amanah waktu berarti:
tidak terus menunda perkara baik yang sebenarnya sudah dapat dilakukan.
11. UJIAN TIGA KUNCI
Untuk membuka pintu berikutnya, sang pengembara harus membawa tiga kunci.
KUNCI PERTAMA — ṢIDQ
Kejujuran
Tidak menyembunyikan kebatilan di balik penampilan kebaikan.
KUNCI KEDUA — AMĀNAH
Tanggung Jawab
Menjaga apa yang dipercayakan.
KUNCI KETIGA — FATONAH
Kebijaksanaan
Mengetahui kapan, bagaimana, dan untuk apa sesuatu digunakan.
Ketiganya saling menjaga.
Kejujuran tanpa amanah dapat berhenti menjadi ucapan.
Amanah tanpa Fatonah dapat berubah menjadi tindakan tanpa pertimbangan.
Fatonah tanpa kejujuran dapat berubah menjadi kecerdikan untuk menipu.
Tetapi ketika ketiganya menyatu, terbentuklah:
AKHLAK YANG DAPAT DIPERCAYA.
12. SABDO AMANAH
Terdengar wewarah dari balik cahaya:
“Jangan meminta amanah yang lebih besar sebelum menjaga amanah yang sudah berada dalam tanganmu.”
“Jangan meminta pengikut bila keluargamu sendiri masih kau abaikan.”
“Jangan meminta kekayaan bila yang sedikit saja belum engkau kelola dengan bijaksana.”
“Jangan meminta ilmu yang tinggi bila ilmu yang sudah engkau ketahui belum menjadi akhlak.”
“Jangan meminta kedudukan bila kritik kecil saja membuatmu kehilangan kendali.”
Sang pengembara menundukkan kepala.
Ia mulai memahami:
Gerbang besar sering dibuka melalui amanah kecil yang dijaga terus-menerus.
13. LATIHAN AMANAH QOLBI
Pada malam hari, sebelum beristirahat, tanyakan dengan tenang:
Apa amanah yang hari ini sudah kujaga?
Apa janji yang belum kutunaikan?
Apakah ada hak manusia yang masih berada dalam tanganku?
Apakah aku menyebarkan sesuatu yang seharusnya kusimpan?
Apakah waktuku hari ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat?
Bila menemukan kekurangan, jangan berhenti pada penyesalan.
Tentukan satu perbaikan nyata.
Karena amanah tidak selesai pada kesadaran.
Amanah membutuhkan tindakan.
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَةِ
Allāhumma a‘innī ‘alā adā’il-amānah.
“Yā Alloh, tolonglah aku untuk menunaikan amanah.”
14. TANGGA KETIGA
AL-‘ADL — KEADILAN
Setelah semua ruangan dilewati, pintu Gerbang Amanah terbuka.
Di belakangnya terdapat anak tangga ketiga.
Tidak berwarna emas.
Tangga itu berwarna putih seperti cahaya bulan.
Pada permukaannya tertulis:
الْعَدْل
AL-‘ADL
KEADILAN
Pengembara hendak melangkah.
Namun dua sosok muncul.
Yang satu adalah orang yang dicintainya.
Yang satu adalah orang yang tidak disukainya.
Terdengar pertanyaan:
“Apakah engkau mampu tetap adil ketika keputusanmu menyentuh orang yang engkau cintai?”
Kemudian:
“Apakah engkau mampu tetap adil ketika orang yang benar adalah orang yang tidak engkau sukai?”
Pengembara membeku.
Ia baru menyadari bahwa ujian keadilan jauh lebih dalam daripada sekadar membedakan benar dan salah.
Karena sering kali manusia mengetahui kebenaran—
tetapi cintanya menarik ke satu sisi,
dan kebenciannya menarik ke sisi lain.
Di situlah Fatonah kembali diuji.
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Harimau berjalan mendekati tangga ketiga.
Kali ini tidak lagi berada di belakang sang pengembara.
Ia berjalan di sampingnya.
Kekuatan yang dahulu menakutkan kini mulai menjadi sahabat karena telah dikenali dan dikendalikan.
Sang putri membawa timbangan.
Sang pangeran membawa pedang yang masih berada di dalam sarung.
Di depan mereka berdiri dua pintu.
Pada pintu pertama tertulis:
“Membela yang disukai.”
Pada pintu kedua:
“Membela yang benar.”
Dan di antara keduanya terdapat satu jalan sempit menuju cahaya.
Di atas jalan itu tertulis:
بَابُ الْعَدْل
BĀBUL-‘ADL
GERBANG KEADILAN
Lalu terdengar kalimat terakhir:
“Ṣidq membersihkan perkataanmu.
Amanah menjaga tanganmu.
Tetapi keadilan akan menguji apakah qolbimu benar-benar bebas dari kepentingan dirimu sendiri.”
Di sanalah Lembar Keempat QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dimulai.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KEEMPAT
BĀBUL-‘ADL — GERBANG KEADILAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah melewati Gerbang Amanah, sang pengembara tiba di hadapan jalan sempit bercahaya.
Di sebelah kanannya berdiri orang yang sangat ia cintai.
Di sebelah kirinya berdiri orang yang selama ini tidak ia sukai.
Keduanya membawa perkara.
Keduanya meminta dibela.
Di hadapan mereka terdapat sebuah timbangan.
Pada bagian atas timbangan tertulis:
الْعَدْل
AL-‘ADL
KEADILAN
Terdengar suara:
“Hari ini engkau tidak diuji oleh orang asing.
Engkau diuji oleh kecenderungan qolbimu sendiri.”
Sang pengembara menatap orang yang dicintainya.
Hatinya ingin membela.
Kemudian ia menatap orang yang tidak disukainya.
Hatinya ingin menolak.
Namun timbangan tidak bergerak.
Seolah menunggu satu perkara:
Apakah kebenaran akan diletakkan di atas cinta dan kebencian?
1. KEADILAN BUKAN MEMBELA SEMUA PIHAK
Sang pengembara bertanya:
“Apakah adil berarti semua orang harus mendapatkan bagian yang sama?”
Jawaban datang:
“Tidak selalu.”
Keadilan bukan membagi sesuatu secara sama tanpa melihat keadaan.
Keadilan adalah:
memberikan hak kepada pemiliknya,
menempatkan sesuatu pada tempatnya,
dan menimbang perkara berdasarkan kebenaran, bukan hawa nafsu.
Seseorang yang bersalah tetap harus ditegur.
Seseorang yang benar tetap harus dibela.
Sekalipun yang bersalah adalah keluarga sendiri.
Sekalipun yang benar adalah orang yang tidak kita sukai.
Di sinilah keadilan mulai menjadi ujian qolbi.
2. TIMBANGAN CINTA
Di ruangan pertama, sang pengembara melihat seorang ayah duduk bersama dua anaknya.
Salah satu anak sangat dekat dengannya.
Yang lain lebih pendiam.
Ketika pembagian dilakukan, sang ayah hampir memberikan lebih banyak kepada anak yang lebih ia sukai.
Timbangan bergetar.
Terdengar wejangan:
“Cinta tidak boleh menjadi alasan merampas hak.”
Mencintai seseorang adalah fitrah.
Tetapi cinta harus dijaga agar tidak berubah menjadi keberpihakan buta.
Ada orang tua yang tidak sadar membela anaknya walaupun anaknya bersalah.
Ada pemimpin yang hanya mempercayai orang dekat.
Ada guru yang lebih memuliakan murid yang sering memujinya.
Ada manusia yang membenarkan sahabatnya hanya karena hubungan lama.
Fatonah mengingatkan:
Cinta harus mempunyai mata.
Jika cinta kehilangan mata, ia dapat menutupi kesalahan.
3. TIMBANGAN KEBENCIAN
Di ruangan berikutnya berdiri seseorang yang pernah menyakiti sang pengembara.
Orang itu datang membawa kabar yang benar.
Namun hati sang pengembara berkata:
“Aku tidak mau mempercayainya.”
Timbangan kembali bergetar.
Suara berkata:
“Jangan biarkan luka mengubah kebenaran menjadi kebohongan hanya karena engkau tidak menyukai pembawanya.”
Orang yang pernah salah tetap mungkin berkata benar.
Orang yang pernah menyakiti tetap mungkin melakukan kebaikan.
Kita boleh berhati-hati.
Tetapi jangan mengubah kebencian menjadi alasan untuk berlaku zalim.
Di sinilah keadilan menuntut kedewasaan:
membedakan orangnya, perkataannya, dan perbuatannya.
4. PEDANG YANG TIDAK SEGERA DICABUT
Sang pangeran datang membawa pedang.
Namun pedang tetap berada di dalam sarung.
Pengembara bertanya:
“Mengapa tidak dicabut?”
Jawabannya:
“Karena keadilan tidak selalu membutuhkan kekerasan.”
Ada perkara yang cukup diselesaikan dengan nasihat.
Ada perkara yang membutuhkan batas tegas.
Ada perkara yang harus diserahkan kepada aturan.
Ada perkara yang cukup dihentikan tanpa balas dendam.
Pedang melambangkan kemampuan mengambil tindakan.
Tetapi Fatonah mengajarkan:
Kekuatan yang matang mengetahui kapan tidak digunakan.
Maka semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula kewajiban untuk menimbang akibat.
5. HUKUM DAN QOLBI
Di tengah ruangan terdapat dua kitab.
Yang pertama bertuliskan:
HUKUM
Yang kedua:
QOLBI
Terdengar suara:
“Hukum menjaga batas.
Qolbi menjaga niat.”
Keadilan membutuhkan keduanya.
Hukum tanpa qolbi dapat menjadi kering.
Qolbi tanpa batas hukum dapat menjadi tidak terarah.
Seseorang mungkin berkata:
“Niat saya baik.”
Tetapi niat baik tidak otomatis membenarkan tindakan yang merugikan orang lain.
Seseorang mungkin berkata:
“Saya hanya menjalankan aturan.”
Tetapi aturan pun harus dilaksanakan dengan adab dan tidak dijadikan alasan merendahkan manusia.
Maka jalan tengahnya adalah:
ketegasan yang beradab.
6. KEADILAN DALAM PERKATAAN
Sang pengembara dibawa ke sebuah majelis.
Di sana seseorang sedang dibicarakan.
Setiap orang menambahkan cerita.
Sedikit demi sedikit, kesalahan yang kecil menjadi cerita yang sangat besar.
Terdengar peringatan:
“Ketidakadilan tidak selalu dilakukan dengan tangan.
Ia sering dilakukan dengan lidah.”
Ketika menceritakan kesalahan seseorang, jangan menambah-nambahkan.
Jangan menghilangkan bagian yang dapat menjelaskan duduk perkara.
Jangan mengubah dugaan menjadi kepastian.
Jangan menjadikan kebencian sebagai sumber berita.
Kejujuran menuntut kita berkata:
“Saya melihat ini.”
Bukan:
“Saya tahu seluruh niatnya.”
Karena manusia melihat perbuatan.
Alloh mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.
7. KEADILAN KEPADA DIRI SENDIRI
Sang pengembara kemudian berdiri di hadapan cermin.
Ia melihat seluruh kesalahannya.
Ia mulai menghukum dirinya:
“Aku tidak pantas.”
“Aku selalu gagal.”
“Tidak ada kebaikan dalam diriku.”
Timbangan tiba-tiba miring.
Suara berkata:
“Jangan menzalimi dirimu dengan putus asa.”
Keadilan kepada diri berarti berani mengakui kesalahan tanpa menghapus seluruh kebaikan.
Bila salah, perbaiki.
Bila jatuh, bangkit.
Bila belum mampu, belajar.
Bila lelah, istirahat.
Jangan menjadikan satu kegagalan sebagai keputusan bahwa seluruh kehidupan telah gagal.
Karena itu bukan kerendahan hati.
Itu adalah penilaian yang tidak adil terhadap perjalanan diri sendiri.
8. KEADILAN KEPADA MASA LALU
Di ruangan lain, sang pengembara melihat dirinya ketika masih muda.
Ia melihat keputusan yang dahulu salah.
Ia menyesal.
Kemudian terdengar wejangan:
“Jangan menilai dirimu yang dahulu hanya dengan pengetahuan yang engkau miliki hari ini.”
Ambillah pelajaran.
Akui bila telah berbuat salah.
Mintalah maaf bila hak manusia tersentuh.
Tetapi jangan terus mencambuk masa lalu yang sudah diperbaiki.
Keadilan berarti:
kesalahan diberi tanggung jawab,
taubat diberi ruang,
dan perubahan diberi kesempatan.
9. KEADILAN DAN KEKUASAAN
Sebuah singgasana muncul kembali.
Kali ini di kanan dan kirinya berdiri banyak orang.
Sebagian memuji.
Sebagian mengkritik.
Pengembara duduk.
Terdengar suara:
“Inilah ujian paling berbahaya: ketika keputusanmu dapat menentukan nasib orang lain.”
Pemimpin yang adil tidak hanya mendengarkan orang yang menyenangkan hatinya.
Ia memberi ruang kepada kritik.
Ia memeriksa informasi.
Ia tidak menghukum karena kabar sepihak.
Ia tidak memberikan jabatan hanya karena kedekatan.
Ia tidak menolak orang hanya karena berbeda.
Ia memahami:
Kekuasaan adalah tempat di mana hawa nafsu dapat menyamar sebagai keputusan.
Karena itu seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang berani berkata:
“Ini kurang tepat.”
Bukan hanya orang-orang yang selalu berkata:
“Benar.”
10. KEADILAN DALAM CINTA PASANGAN
Sang putri dan sang pangeran kembali berdiri di hadapan timbangan.
Cinta membuat dua manusia ingin dekat.
Tetapi keadilan menjaga agar kedekatan tidak menghapus martabat masing-masing.
Dalam hubungan, keadilan berarti:
mendengar sebelum menyimpulkan,
tidak mempermalukan pasangan,
tidak menggunakan kelemahannya sebagai senjata,
membagi tanggung jawab secara bijaksana,
dan mengakui kesalahan ketika memang salah.
Tidak semua konflik membutuhkan pemenang.
Kadang hubungan menjadi sehat ketika keduanya berhenti bertanya:
“Siapa yang menang?”
dan mulai bertanya:
“Bagaimana agar perkara ini menjadi benar?”
11. KEADILAN DAN REZEKI
Timbangan berubah menjadi dua wadah.
Satu berisi kebutuhan pribadi.
Satu lagi berisi hak orang lain.
Pengembara melihat seseorang memperkaya dirinya dengan mengambil bagian yang bukan miliknya.
Maka terdengar:
“Rezeki yang bertambah dengan merampas hak bukan keberkahan.”
Keadilan dalam rezeki berarti:
membayar kewajiban,
menghargai pekerja,
tidak mengurangi timbangan,
tidak mengambil keuntungan melalui penipuan,
dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk menekan.
Harta yang sedikit tetapi bersih dapat menenangkan.
Harta yang banyak tetapi dipenuhi hak orang lain dapat menjadi beban panjang.
12. KEADILAN DAN PERBEDAAN
Di sebuah lapangan terdapat manusia dari berbagai latar belakang.
Bahasa mereka berbeda.
Cara berpakaian berbeda.
Pendapat mereka berbeda.
Sang pengembara bertanya:
“Bagaimana aku harus memperlakukan perbedaan?”
Jawaban:
“Bedakan antara berbeda dan berbuat zalim.”
Tidak semua orang yang berbeda adalah musuh.
Tidak semua ketidaksetujuan adalah penghinaan.
Manusia dapat tidak sepakat tanpa saling merendahkan.
Fatonah mengajarkan:
kritik gagasannya tanpa menghancurkan martabat manusianya.
Karena adab tidak hilang hanya karena perbedaan pendapat.
13. EMPAT RACUN KEADILAN
Di depan gerbang berikutnya terdapat empat ular.
Pada tubuh mereka tertulis:
CINTA BUTA
Membela yang salah karena kedekatan.
KEBENCIAN
Menolak yang benar karena luka.
KEUNTUNGAN
Mengubah keputusan karena kepentingan.
KETAKUTAN
Mengetahui yang benar tetapi tidak berani menyatakannya.
Sang pengembara harus melewati keempat ular tanpa melawan dengan amarah.
Ia membawa empat penawar:
ṢIDQ — Kejujuran
AMĀNAH — Tanggung Jawab
FATONAH — Kebijaksanaan
SYAJĀ‘AH — Keberanian
Barulah jalan terbuka.
14. SABDO KEADILAN
Dari balik cahaya terdengar:
“Jangan jadikan cinta alasan untuk menutup kesalahan.”
“Jangan jadikan kebencian alasan untuk menolak kebenaran.”
“Jangan jadikan kekuasaan alasan untuk mengambil hak.”
“Jangan jadikan kelemahan alasan untuk membiarkan kezaliman.”
“Letakkan setiap perkara pada tempatnya, lalu serahkan penilaian terakhir kepada Alloh.”
15. LATIHAN QOLBI LEMBAR KEEMPAT
Sebelum tidur, tanyakan:
Apakah hari ini aku membela seseorang hanya karena ia dekat denganku?
Apakah aku menolak suatu kebenaran karena tidak menyukai orang yang menyampaikannya?
Apakah aku menilai seseorang dari satu kesalahan saja?
Apakah aku telah berlaku adil kepada diriku sendiri?
Adakah hak orang lain yang belum kukembalikan?
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْعَادِلِينَ
Allāhummaj‘alnī minal-‘ādilīn.
“Yā Alloh, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang berlaku adil.”
16. TANGGA KEEMPAT
AR-RAḤMAH — KASIH SAYANG
Ketika sang pengembara berhasil menyeimbangkan timbangan, terbukalah pintu berikutnya.
Ia mengira setelah keadilan akan ditemukan kekuasaan.
Ternyata yang muncul adalah taman.
Burung-burung hinggap dengan tenang.
Seekor rusa minum di mata air.
Harimau yang selama ini menjadi simbol kekuatan berbaring di bawah pohon.
Di tengah taman berdiri sang putri membawa kendi air.
Pada kendi itu tertulis:
الرَّحْمَة
AR-RAḤMAH
KASIH SAYANG
Sang pengembara bertanya:
“Mengapa setelah keadilan datang kasih?”
Jawaban datang:
“Karena keadilan menetapkan batas, tetapi kasih menjaga agar batas itu tidak berubah menjadi kekejaman.”
Keadilan berkata:
“Berikan haknya.”
Kasih berkata:
“Berikan pula kesempatan untuk berubah.”
Keadilan berkata:
“Kesalahan harus diperbaiki.”
Kasih berkata:
“Jangan menghancurkan manusia hanya karena kesalahannya.”
Keadilan tanpa kasih dapat terasa dingin.
Kasih tanpa keadilan dapat menjadi kelemahan.
Ketika keduanya menyatu, lahirlah:
RAḤMAH YANG TEGAS DAN KEADILAN YANG BERHATI.
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Sang pengembara meninggalkan timbangan.
Pedang dikembalikan ke sarungnya.
Mahkota diturunkan.
Ia memasuki taman.
Untuk pertama kalinya, harimau penjaga berjalan mendahuluinya tanpa menunjukkan taring.
Di sisi mata air terdapat batu putih.
Pada batu itu tertulis:
بَابُ الرَّحْمَة
BĀBUR-RAḤMAH
GERBANG KASIH SAYANG
Kemudian terdengar suara terakhir:
“Ṣidq membuatmu jujur.
Amanah membuatmu dapat dipercaya.
‘Adl membuatmu mampu menimbang.
Tetapi Raḥmah akan menentukan apakah semua itu benar-benar menghasilkan kemuliaan akhlak.”
Dan ketika tangan sang pengembara menyentuh air taman itu, cahaya lembut menyebar ke seluruh tempat.
Di sanalah Lembar Kelima QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dibuka:
BĀBUR-RAḤMAH — GERBANG KASIH SAYANG.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KELIMA
BĀBUR-RAḤMAH — GERBANG KASIH SAYANG
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sesudah melewati Gerbang Keadilan, sang pengembara memasuki sebuah taman yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada suara peperangan.
Tidak ada orang yang meminta pembelaan.
Yang terdengar hanya gemericik air.
Rusa-rusa mendekati mata air.
Burung-burung hinggap di dahan.
Harimau penjaga yang selama perjalanan selalu berdiri dengan kewaspadaan kini berbaring tenang di bawah pohon besar.
Di tengah taman berdiri sang putri membawa kendi.
Pada kendi itu tertulis:
الرَّحْمَة
AR-RAḤMAH
KASIH SAYANG
Sang pengembara bertanya:
“Apakah perjalanan ini sekarang menjadi lebih mudah?”
Jawaban datang:
“Justru di sinilah qolbimu akan diuji lebih dalam.
Sebab mudah menyayangi orang yang menyayangimu.
Tetapi Raḥmah diuji ketika engkau berhadapan dengan kelemahan, kesalahan, dan luka.”
1. RAḤMAH BUKAN SEKADAR PERASAAN
Kasih sayang bukan hanya rasa lembut.
Bukan hanya air mata.
Bukan hanya kata-kata manis.
Raḥmah adalah:
kelembutan yang melahirkan tindakan baik.
Kadang Raḥmah berarti memeluk.
Kadang Raḥmah berarti menasihati.
Kadang Raḥmah berarti memberi ruang.
Kadang Raḥmah berarti berkata tegas:
“Cukup.”
Karena kasih yang membiarkan seseorang terus merusak dirinya sendiri bukan selalu kasih.
Demikian pula ketegasan yang hanya bertujuan mempermalukan bukanlah pendidikan.
Maka Qitab mengajarkan:
RAḤMAH MEMPUNYAI HATI YANG LEMBUT DAN TULANG PUNGGUNG YANG TEGAK.
2. AIR DARI KENDI
Sang putri menuangkan air ke telapak tangan pengembara.
Air itu terasa sejuk.
Ia bertanya:
“Untuk apakah air ini?”
Jawaban:
“Untuk mencuci cara engkau memandang manusia.”
Karena manusia sering melihat seseorang hanya dari satu kesalahannya.
Orang yang pernah berdusta dianggap pembohong selamanya.
Orang yang pernah jatuh dianggap gagal selamanya.
Orang yang pernah marah dianggap buruk seluruhnya.
Orang yang pernah berbeda pendapat dianggap musuh.
Padahal manusia mempunyai perjalanan.
Ada yang berubah.
Ada yang belajar.
Ada yang bertaubat.
Ada yang sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Raḥmah tidak meniadakan kesalahan.
Tetapi Raḥmah berkata:
“Kesalahanmu bukan seluruh dirimu.”
3. RAḤMAH KEPADA ORANG YANG LEMAH
Di sudut taman terdapat seseorang yang jatuh.
Banyak orang berjalan melewatinya.
Sebagian berkata:
“Ia jatuh karena salahnya sendiri.”
Sebagian berkata:
“Biarkan ia belajar.”
Sang pengembara berhenti.
Terdengar suara:
“Kadang benar bahwa seseorang ikut menyebabkan kejatuhannya.
Tetapi apakah itu menghilangkan kewajibanmu untuk menolong bila engkau mampu?”
Raḥmah tidak selalu bertanya:
“Siapa yang salah?”
Kadang ia bertanya terlebih dahulu:
“Siapa yang sedang membutuhkan pertolongan?”
Setelah luka ditangani, barulah pelajaran dibicarakan.
Sebab kepada orang yang sedang tenggelam, jangan dahulu memberi kuliah tentang cara berenang.
Tarik ia ke tepian.
Kemudian ajarkan.
4. RAḤMAH KEPADA ORANG YANG BERSALAH
Sang pengembara kemudian bertemu seseorang yang telah melakukan kesalahan besar.
Orang itu menunduk.
Pengembara bertanya:
“Apakah kasih berarti ia tidak perlu bertanggung jawab?”
Jawaban datang:
“Tidak.”
Raḥmah tidak menghapus tanggung jawab.
Tetapi Raḥmah menjaga agar tanggung jawab tidak berubah menjadi penghancuran martabat.
Kesalahan dapat ditegur.
Kerugian dapat diminta diperbaiki.
Hak dapat dikembalikan.
Batas dapat ditetapkan.
Namun setelah itu jangan selalu mengikat manusia kepada masa lalunya.
Jika ia benar-benar berubah, berikan ruang untuk perubahan.
Karena siapa pun yang menuntut dirinya diberi kesempatan memperbaiki kesalahan seharusnya juga belajar memberi kesempatan kepada orang lain.
5. HARIMAU DAN ANAK RUSA
Di dekat mata air, seekor anak rusa berjalan terlalu dekat kepada harimau.
Sang pengembara terkejut.
Namun harimau tetap diam.
Ia tidak menerkam.
Suara berkata:
“Kekuatan yang telah matang tidak selalu perlu membuktikan bahwa ia kuat.”
Dahulu harimau adalah simbol naluri, amarah, dan kuasa.
Sekarang ia telah melewati:
Ṣidq,
Amanah,
‘Adl.
Maka kekuatan mulai tunduk kepada Raḥmah.
Inilah tingkat baru:
MAMPU, TETAPI TIDAK SEMENA-MENA.
Seseorang yang dapat mempermalukan orang lain tetapi memilih menasihati secara terhormat sedang menunjukkan kekuatan.
Seseorang yang mampu membalas tetapi memilih penyelesaian yang adil sedang menunjukkan kekuatan.
Seseorang yang mempunyai kedudukan tetapi tetap berbicara lembut kepada yang kecil sedang menunjukkan kekuatan.
Raḥmah tidak melemahkan harimau.
Raḥmah menjinakkan arahnya.
6. RAḤMAH KEPADA KELUARGA
Taman berubah.
Sang pengembara melihat rumah.
Di dalamnya terdapat keluarga yang saling mencintai, tetapi setiap orang membawa lelah masing-masing.
Ada orang tua yang keras karena takut anaknya gagal.
Ada anak yang diam karena merasa tidak didengar.
Ada pasangan yang sebenarnya saling menyayangi tetapi tidak lagi mengetahui cara berbicara tanpa saling melukai.
Terdengar wejangan:
“Jangan menjadi paling lembut kepada orang jauh tetapi paling keras kepada orang rumah.”
Keluarga sering menjadi tempat manusia melepaskan emosi karena merasa aman.
Padahal orang yang paling dekat justru paling layak menerima adab terbaik.
Raḥmah dalam keluarga berarti:
mendengar,
menghargai,
mengakui kesalahan,
menjaga ucapan,
dan tidak menggunakan kedekatan sebagai alasan untuk bertindak sewenang-wenang.
Jangan berkata:
“Mereka pasti memaklumi.”
Sebab hati keluarga juga dapat terluka.
7. RAḤMAH KEPADA ORANG TUA
Di bawah pohon besar tampak dua kursi.
Pada satu kursi duduk seorang ayah.
Pada kursi lainnya duduk seorang ibu.
Wajah mereka menua.
Tangan mereka mulai lemah.
Sang pengembara melihat mereka dan tiba-tiba teringat masa kecil.
Suara berkata:
“Ada waktu dahulu engkau tidak mampu makan sendiri.
Ada waktu engkau tidak mampu berjalan sendiri.
Ada manusia yang bersabar mengulang hal yang sama kepadamu.”
Ketika orang tua menua, Raḥmah membutuhkan kesabaran yang berbeda.
Namun Raḥmah juga tidak berarti membenarkan seluruh kesalahan.
Adab dapat tetap dijaga sekalipun ada perbedaan.
Batas dapat dibuat bila memang diperlukan untuk keselamatan dan kesehatan hubungan.
Yang dilarang oleh kemuliaan qolbi adalah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk kehilangan adab.
8. RAḤMAH KEPADA ANAK
Kemudian muncul seorang anak kecil.
Ia membawa sebuah bejana kosong.
Pada bejana itu tertulis:
MASA DEPAN
Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diperintahkan.
Mereka belajar dari apa yang dilihat.
Jika orang dewasa mengajarkan kejujuran tetapi sering berdusta, anak belajar dari dusta.
Jika mengajarkan sopan santun tetapi rumah penuh bentakan, anak belajar dari bentakan.
Jika meminta anak sholat tetapi tidak pernah memperlihatkan ketenangan dalam ibadah, pesan kehilangan kekuatannya.
Karena itu Raḥmah kepada anak bukan hanya memenuhi kebutuhan.
Raḥmah adalah:
MEMBERI TELADAN YANG DAPAT DITIRU.
Tegur kesalahannya.
Tetapi jangan menjadikan kesalahan sebagai identitas.
Jangan berkata:
“Kamu bodoh.”
Katakan:
“Cara ini belum tepat. Mari diperbaiki.”
Satu kalimat dapat menjadi luka bertahun-tahun.
Satu kalimat lain dapat menjadi keberanian seumur hidup.
9. RAḤMAH KEPADA PASANGAN
Sang pangeran dan sang putri berdiri di tepi danau.
Mereka tidak memegang mahkota.
Tidak membawa pedang.
Mereka hanya duduk berdampingan.
Sang putri berkata:
“Cinta bukan hanya pertemuan dua hati. Cinta adalah amanah menjaga dua martabat.”
Dalam perjalanan panjang, pasangan akan melihat sisi satu sama lain yang tidak terlihat ketika awal berjumpa.
Ada lelah.
Ada kekurangan.
Ada kesalahan.
Ada perubahan.
Raḥmah membuat cinta berkembang dari:
“Aku menyukai keindahanmu”
menjadi:
“Aku ingin menjagamu ketika hidup tidak sedang indah.”
Namun kasih tetap harus disertai keadilan.
Tidak ada kewajiban bertahan dalam kekerasan hanya dengan alasan cinta.
Tidak ada pembenaran bagi penghinaan dengan alasan kedekatan.
Raḥmah yang benar menjaga kasih dan martabat.
10. RAḤMAH KEPADA MUSUH
Tiba-tiba suasana taman berubah.
Seseorang yang dahulu pernah menyakiti sang pengembara datang.
Pengembara menegang.
Harimau bangkit.
Tetapi suara berkata:
“Inilah ujian Raḥmah.”
Apakah Raḥmah berarti harus mempercayainya kembali?
Tidak.
Apakah harus membiarkan kesalahan yang sama terulang?
Tidak.
Apakah harus kembali dekat?
Tidak selalu.
Tetapi Raḥmah dapat berarti:
tidak berharap kehancurannya,
tidak memfitnahnya,
tidak menambah-nambahkan kesalahannya,
dan tidak mengubah luka menjadi alasan untuk berlaku zalim.
Memaafkan dan mempercayai adalah dua perkara yang berbeda.
Maaf dapat membersihkan qolbi.
Kepercayaan harus dibangun melalui bukti.
Inilah Raḥmah yang disertai Fatonah.
11. RAḤMAH KEPADA DIRI SENDIRI
Sang pengembara kembali kepada cermin.
Kali ini ia melihat dirinya dalam keadaan sangat lelah.
Suara berkata:
“Engkau telah belajar mengasihi manusia. Sekarang jangan lupa bahwa dirimu pun seorang manusia.”
Raḥmah kepada diri bukan memanjakan hawa nafsu.
Raḥmah kepada diri berarti:
beristirahat ketika perlu,
meminta bantuan ketika tidak mampu sendiri,
memaafkan diri setelah sungguh-sungguh memperbaiki kesalahan,
dan tidak terus-menerus menghina diri.
Ada orang yang lembut kepada seluruh dunia tetapi kejam kepada dirinya.
Setiap kesalahan kecil dijadikan alasan untuk membenci diri sendiri.
Qitab berkata:
TAUBAT MEMERLUKAN PENYESALAN, BUKAN KEBENCIAN TERHADAP DIRI.
Perbaikan memerlukan disiplin.
Tetapi disiplin dapat berjalan bersama kasih.
12. RAḤMAH KEPADA MAKHLUK
Kemudian taman dipenuhi binatang.
Burung.
Rusa.
Kupu-kupu.
Kuda.
Harimau.
Dan pepohonan.
Terdengar wejangan:
“Manusia bukan satu-satunya makhluk yang merasakan kehidupan.”
Raḥmah kepada makhluk berarti tidak menyakiti tanpa alasan.
Menjaga kebersihan.
Tidak merusak alam secara sembarangan.
Memperlakukan hewan dengan baik.
Menggunakan kekayaan bumi dengan tanggung jawab.
Karena manusia menerima banyak manfaat dari bumi.
Maka manusia pun memikul tanggung jawab untuk tidak meninggalkan kerusakan sebagai warisan.
13. TIGA TINGKAT RAḤMAH
Di hadapan mata air terdapat tiga lingkaran cahaya.
RAḤMAH PERTAMA — RASA
Mampu merasakan penderitaan orang lain.
RAḤMAH KEDUA — TINDAKAN
Berbuat sesuatu sesuai kemampuan.
RAḤMAH KETIGA — HIKMAH
Menolong dengan cara yang tidak membuat orang semakin bergantung atau semakin rusak.
Sang pengembara mulai memahami:
Memberi ikan dapat menjadi kasih.
Mengajarkan mencari ikan juga kasih.
Tetapi bila seseorang sedang kelaparan, jangan menolak memberinya makan hanya karena ingin langsung mengajarkan kemandirian.
Fatonah menentukan urutan.
14. EMPAT PENYAKIT YANG MENUTUP RAḤMAH
Di belakang taman tumbuh empat pohon kering.
Pada masing-masing batang tertulis:
KESOMBONGAN
Membuat manusia merasa penderitaan orang lain tidak penting.
DENDAM
Membuat manusia menikmati kejatuhan orang yang dibenci.
KETAMAKAN
Membuat manusia hanya melihat keuntungan dirinya.
KEKERASAN HATI
Membuat air mata manusia lain tidak lagi menyentuh nurani.
Pohon-pohon itu tidak ditebang dengan pedang.
Mereka disirami dengan:
syukur,
taubat,
sedekah,
memaafkan,
dan mengingat kelemahan diri sendiri.
Perlahan pohon kering mulai bertunas.
15. SABDO RAḤMAH
Di tengah taman terdengar wewarah:
“Bila engkau mempunyai ilmu, ajarkan dengan kasih.”
“Bila engkau mempunyai kekuasaan, gunakan untuk melindungi.”
“Bila engkau mempunyai harta, jangan biarkan qolbimu menjadi miskin.”
“Bila engkau mempunyai kekuatan, jangan jadikan yang lemah sebagai tempat pembuktian kekuatanmu.”
“Bila seseorang datang membawa luka, jangan menambah lukanya hanya agar engkau terlihat benar.”
“Dan apabila engkau sendiri terluka, jangan izinkan luka itu mengubahmu menjadi orang yang dahulu melukaimu.”
16. RAḤMAH DAN NAMA ALHAZABILLAH FATONAH
Pada permukaan mata air muncul kembali kalimat:
ALHAZABILLAH FATONAH
Kini sang pengembara memahami tingkat berikutnya.
ALHAZABILLAH mengajarkan kembali kepada Alloh.
FATONAH menjaga kejernihan.
ṢIDQ membersihkan niat.
AMĀNAH menjaga tanggung jawab.
‘ADL menjaga keseimbangan.
RAḤMAH menghidupkan semuanya dengan kasih.
Tanpa Raḥmah, perjalanan dapat berubah menjadi keras.
Dengan Raḥmah, ilmu menjadi penerang.
Kekuatan menjadi perlindungan.
Keadilan menjadi pemulihan.
Dan amanah menjadi pelayanan.
17. LATIHAN QOLBI LEMBAR KELIMA
Sebelum tidur, duduklah beberapa menit dalam ketenangan.
Tanyakan:
Siapa yang hari ini membutuhkan kelembutanku?
Apakah ada orang yang kuhukum lebih keras hanya karena aku tidak menyukainya?
Apakah aku sudah berbicara dengan baik kepada keluargaku?
Adakah orang yang dapat kutolong tanpa merendahkan martabatnya?
Apakah aku sudah memperlakukan diriku dengan disiplin sekaligus kasih?
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَاجْعَلْنِي رَحْمَةً لِعِبَادِكَ
Allāhummarḥamnī waj‘alnī raḥmatan li‘ibādik.
“Yā Alloh, rahmatilah aku dan jadikan aku jalan kasih bagi hamba-hamba-Mu.”
Kemudian diam.
Tidak perlu menunggu tanda.
Tidak perlu mencari pengalaman luar biasa.
Cukup tentukan:
satu kebaikan nyata yang akan dilakukan esok hari.
18. TANGGA KELIMA
AL-ḤIKMAH — KEBIJAKSANAAN
Setelah pengembara membasuh tangannya di mata air Raḥmah, taman menjadi terang.
Sebuah jalan muncul di antara pepohonan.
Di ujungnya berdiri sebuah perpustakaan tua.
Pintunya tidak besar.
Tidak dihiasi emas.
Hanya terdapat satu lentera.
Di atas pintu tertulis:
الْحِكْمَة
AL-ḤIKMAH
KEBIJAKSANAAN
Sang pengembara bertanya:
“Bukankah Fatonah berarti kebijaksanaan?”
Jawaban datang:
“Fatonah adalah kejernihan yang membuatmu mampu melihat.
Ḥikmah adalah kemampuan menempatkan apa yang engkau lihat pada waktu dan cara yang tepat.”
Mengetahui kebenaran belum cukup.
Harus mengetahui cara menyampaikannya.
Mengetahui obat belum cukup.
Harus mengetahui takaran dan waktunya.
Mengetahui kesalahan seseorang belum cukup.
Harus mengetahui apakah saat itu ia membutuhkan teguran, pendampingan, atau waktu untuk tenang.
Inilah pintu baru.
19. PERTANYAAN TERAKHIR DI TAMAN
Sebelum memasuki perpustakaan, seseorang datang membawa dua bejana.
Bejana pertama bertuliskan:
BENAR
Bejana kedua:
TEPAT
Pengembara diminta memilih.
Ia berkata:
“Aku memilih benar.”
Suara menjawab:
“Belum lengkap.”
Ia lalu berkata:
“Aku memilih tepat.”
Jawabannya:
“Belum lengkap.”
Kemudian pengembara menggabungkan kedua bejana.
Air dari keduanya menjadi satu.
Maka pintu perpustakaan terbuka.
Terdengar suara:
“Kebenaran membutuhkan ketepatan.
Ketepatan tidak boleh meninggalkan kebenaran.
Pertemuan keduanya melahirkan Ḥikmah.”
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Matahari mulai tenggelam di taman.
Rusa kembali ke pepohonan.
Burung-burung diam di sarang.
Sang putri meletakkan kendi di dekat mata air.
Sang pangeran menanggalkan pedangnya.
Harimau berdiri.
Namun kali ini ia tidak mengikuti.
Ia berhenti di gerbang taman.
Seolah berkata:
“Sampai di sini, kekuatan telah belajar kasih.
Selanjutnya, kasih harus belajar kebijaksanaan.”
Sang pengembara berjalan sendiri menuju perpustakaan.
Di depan pintu, lentera menyala.
Pada dinding tertulis:
بَابُ الْحِكْمَة
BĀBUL-ḤIKMAH
GERBANG KEBIJAKSANAAN
Lalu terdengar wejangan terakhir:
“Ṣidq membersihkanmu.
Amanah menguatkanmu.
‘Adl menyeimbangkanmu.
Raḥmah melembutkanmu.
Dan Ḥikmah akan mengajarkan kapan semua itu harus digunakan.”
Pengembara menyentuh gagang pintu.
Dari baliknya terlihat ribuan kitab bercahaya.
Tetapi tepat di tengah perpustakaan hanya terdapat satu kursi kosong dan satu kitab tertutup.
Pada sampul kitab itu terukir:
مَنْ عَرَفَ قَدْرَهُ عَرَفَ طَرِيقَهُ
Man ‘arafa qadrahu ‘arafa ṭarīqahu
“Barang siapa mengenali kadar dirinya, ia mulai mengenali jalannya.”
Dan pintu pun terbuka.
Di sanalah Lembar Keenam QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dimulai:
BĀBUL-ḤIKMAH — GERBANG KEBIJAKSANAAN.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KEENAM
BĀBUL-ḤIKMAH — GERBANG KEBIJAKSANAAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pintu perpustakaan terbuka perlahan.
Tidak ada suara sambutan.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada singgasana.
Ribuan kitab berjajar dari lantai hingga langit-langit, tetapi hanya satu kitab yang berada di tengah ruangan.
Kitab itu tertutup.
Di hadapannya terdapat satu kursi kosong.
Sang pengembara mendekat.
Ia mengira akan diperintahkan membaca seluruh isi perpustakaan.
Namun terdengar suara:
“Sebelum engkau membaca banyak perkara, belajarlah mengetahui mana yang perlu dibaca, kapan dibaca, bagaimana dipahami, dan untuk apa digunakan.”
Di atas kitab tertulis:
الْحِكْمَة
AL-ḤIKMAH
KEBIJAKSANAAN
Kemudian suara itu berkata:
“Ilmu mengisi pikiran.
Fatonah menjernihkan penglihatan.
Tetapi Ḥikmah menentukan tempat setiap pengetahuan.”
Sang pengembara pun memahami bahwa pintu keenam bukanlah pintu menuju banyaknya pengetahuan.
Ia adalah pintu menuju ketepatan.
1. ILMU DAN HIKMAH
Sang pengembara membuka kitab pertama.
Di dalamnya hanya tertulis:
“Tidak setiap orang yang mengetahui banyak perkara telah mengetahui cara menggunakan pengetahuannya.”
Ada orang yang mengetahui hukum tetapi tidak memahami keadaan manusia.
Ada yang pandai berbicara tetapi tidak mengetahui kapan harus diam.
Ada yang mempunyai keberanian tetapi tidak mengetahui mana peperangan yang layak dimasuki.
Ada yang memiliki kasih tetapi tidak mengetahui kapan kasih harus disertai batas.
Ada yang mengetahui kebenaran tetapi menyampaikannya dengan cara yang membuat kebenaran justru ditolak.
Maka Qitab mengajarkan:
**ILMU MENUNJUKKAN APA.
HIKMAH MENUNJUKKAN KAPAN, BAGAIMANA, DAN SEBERAPA.**
2. TIGA PINTU HIKMAH
Di dalam perpustakaan terdapat tiga pintu.
Pada pintu pertama tertulis:
WAKTU
Pada pintu kedua:
CARA
Pada pintu ketiga:
UKURAN
Terdengar suara:
“Banyak perkara menjadi salah bukan karena hakikatnya salah, tetapi karena salah waktu, salah cara, atau salah ukuran.”
Nasihat yang benar pada saat orang sedang sangat marah dapat tidak masuk.
Obat yang baik dengan dosis berlebihan dapat menjadi bahaya.
Keberanian yang baik bila tidak memiliki ukuran dapat menjadi kenekatan.
Diam yang baik bila berlangsung pada saat seseorang harus bersaksi dapat berubah menjadi kelalaian.
Karena itu Fatonah melihat keadaan.
Hikmah menentukan tindakan.
3. PINTU WAKTU
Sang pengembara memasuki pintu pertama.
Ia melihat seorang manusia yang baru kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya.
Orang-orang mengelilinginya.
Sebagian memberikan banyak nasihat.
Sebagian menjelaskan panjang lebar tentang hikmah di balik musibah.
Tetapi orang itu hanya menangis.
Terdengar suara:
“Ada waktu untuk menjelaskan. Ada waktu untuk menemani.”
Tidak semua orang yang terluka membutuhkan jawaban saat itu juga.
Kadang yang dibutuhkan adalah:
didengar,
ditemani,
ditenangkan,
dan diberi ruang untuk bernapas.
Pengetahuan yang benar tetapi diberikan pada waktu yang tidak tepat dapat terasa seperti beban.
Hikmah bertanya:
“Apa yang paling dibutuhkan manusia ini sekarang?”
Bukan:
“Apa yang paling ingin kukatakan?”
4. PINTU CARA
Pada ruangan berikutnya terdapat dua guru.
Keduanya menyampaikan pesan yang sama.
Guru pertama berkata dengan penghinaan.
Muridnya menjadi takut.
Guru kedua berkata dengan tegas tetapi menjaga martabat.
Muridnya memahami.
Sang pengembara bertanya:
“Bukankah isi pesannya sama?”
Jawaban datang:
“Kebenaran tidak hanya mempunyai isi. Ia juga mempunyai cara.”
Menegur seseorang di depan orang banyak berbeda dengan menegurnya secara pribadi.
Mengoreksi dengan tujuan memperbaiki berbeda dengan mempermalukan.
Mengatakan:
“Perbuatan ini salah.”
berbeda dengan:
“Engkau adalah manusia yang tidak berguna.”
Hikmah menjaga perbedaan itu.
Sebab manusia dapat menolak kebenaran bukan karena isi kebenarannya, tetapi karena ia merasa martabatnya dihancurkan ketika kebenaran itu disampaikan.
5. PINTU UKURAN
Sang pengembara memasuki ruangan yang berisi timbangan dan bejana.
Di sana tertulis:
كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ
Kullu syai’in biqadar
Setiap sesuatu membutuhkan ukuran.
Bahkan perkara baik memerlukan keseimbangan.
Bekerja adalah baik.
Tetapi bekerja tanpa istirahat dapat merusak tubuh.
Membantu orang adalah baik.
Tetapi membantu dengan cara yang membuat orang tidak pernah belajar berdiri sendiri dapat menumbuhkan ketergantungan.
Berhemat adalah baik.
Tetapi terlalu menahan hingga menelantarkan kebutuhan penting bukan kebijaksanaan.
Berani adalah baik.
Tetapi keberanian tanpa perhitungan dapat membawa banyak orang ke dalam bahaya.
Maka Hikmah tidak selalu bertanya:
“Baik atau buruk?”
Ia juga bertanya:
“Berapa kadarnya?”
6. LENTERA DAN BAYANGAN
Di tengah perpustakaan terdapat sebuah lentera.
Ketika lentera dinyalakan, terlihat bayangan benda-benda di dinding.
Semakin dekat benda kepada cahaya, semakin besar bayangannya.
Suara berkata:
“Jangan menyangka bayangan adalah benda yang sebenarnya.”
Begitu pula dengan kabar.
Begitu pula dengan prasangka.
Begitu pula dengan kesan pertama.
Kadang suatu perkara tampak sangat besar karena kita berdiri terlalu dekat dengan ketakutan.
Kadang masalah tampak sangat kecil karena kita berdiri terlalu jauh dari akibatnya.
Hikmah meminta manusia untuk:
mendekat bila kurang memahami,
menjauh bila emosi menutupi penglihatan,
dan melihat kembali dari sudut yang berbeda.
7. FATONAH DAN QOLBI YANG TENANG
Pengembara duduk di kursi kosong.
Ia bertanya:
“Bagaimana seseorang memperoleh keputusan yang jernih?”
Jawaban datang:
“Jangan selalu mengambil keputusan ketika gelombang qolbi sedang tinggi.”
Ada lima keadaan ketika manusia perlu berhati-hati sebelum membuat keputusan besar:
ketika sangat marah,
ketika sangat takut,
ketika sangat gembira,
ketika sangat kecewa,
dan ketika sangat ingin memiliki sesuatu.
Bukan berarti keputusan dalam keadaan itu selalu salah.
Tetapi emosi yang kuat dapat mempersempit pandangan.
Maka Hikmah berkata:
tenangkan qolbi,
kumpulkan fakta,
mintalah pendapat orang yang dapat dipercaya,
berdoalah,
kemudian putuskan.
8. EMPAT JENIS MANUSIA DALAM ILMU
Pada dinding perpustakaan muncul empat cermin.
Cermin pertama memperlihatkan manusia yang tidak mengetahui dan sadar bahwa ia tidak mengetahui.
Terdengar suara:
“Ia dapat belajar.”
Cermin kedua memperlihatkan manusia yang mengetahui dan sadar bahwa ia mengetahui.
“Ia dapat mengajar dengan amanah.”
Cermin ketiga memperlihatkan manusia yang mengetahui tetapi merasa selalu tidak cukup.
“Ia memerlukan kepercayaan diri yang sehat.”
Cermin keempat memperlihatkan manusia yang tidak mengetahui tetapi merasa mengetahui semuanya.
Harimau penjaga tiba-tiba mengaum dari luar perpustakaan.
Suara berkata:
“Inilah yang paling berbahaya.”
Sebab ketidaktahuan dapat diperbaiki dengan belajar.
Tetapi ketidaktahuan yang mengenakan mahkota kesombongan menutup pintu belajar.
Maka salah satu tanda Hikmah adalah keberanian berkata:
“Aku tidak tahu.”
9. HIKMAH DALAM PERBEDAAN
Sang pengembara melihat dua kelompok berdiskusi.
Keduanya mempunyai alasan.
Keduanya merasa sedang menjaga kebenaran.
Perdebatan semakin keras.
Terdengar suara:
“Tidak setiap perbedaan harus diubah menjadi permusuhan.”
Ada perbedaan antara perkara pokok dan perkara cabang.
Ada perbedaan antara fakta dan tafsir.
Ada perbedaan antara keyakinan dan selera.
Ada perbedaan antara kesalahan yang merugikan manusia dan perbedaan yang masih mempunyai ruang.
Hikmah adalah kemampuan mengetahui:
mana yang harus ditegaskan,
mana yang dapat ditoleransi,
mana yang harus diteliti,
dan mana yang sebaiknya tidak diperpanjang.
Orang bijaksana tidak selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Kadang ia adalah orang yang mengetahui:
perdebatan ini tidak lagi menghasilkan kebaikan.
10. HIKMAH DALAM MEMIMPIN
Singgasana muncul kembali.
Namun kali ini di hadapannya terdapat tujuh kursi.
Pada kursi-kursi itu duduk orang dengan pendapat berbeda.
Sang pengembara diminta menjadi pemimpin.
Ia hampir berkata:
“Ikuti keputusanku.”
Tetapi tulisan pada singgasana berubah menjadi:
اسْمَعْ قَبْلَ أَنْ تَحْكُمَ
Isma‘ qabla an taḥkuma
Dengarkan sebelum memutuskan.
Pemimpin yang bijaksana tidak takut mendengar berita yang tidak menyenangkan.
Ia tidak hanya memanggil orang yang selalu sepakat.
Ia tahu bahwa pujian yang terlalu banyak dapat menjadi kabut.
Ia membutuhkan orang yang:
jujur,
berkompeten,
beradab,
dan berani memberikan peringatan.
Hikmah kepemimpinan bukan membuat semua manusia takut berbicara.
Hikmah kepemimpinan adalah menciptakan keadaan di mana kebenaran dapat sampai kepada pemimpin tanpa harus melewati ketakutan.
11. HIKMAH DALAM KEKAYAAN
Ruangan berikutnya penuh emas.
Pengembara melihat seorang manusia mempunyai sangat banyak harta tetapi tidak pernah merasa cukup.
Di sampingnya terdapat orang lain yang membuang seluruh miliknya tanpa perhitungan.
Terdengar suara:
“Ketamakan bukan Hikmah. Pemborosan pun bukan Hikmah.”
Harta membutuhkan pengelolaan.
Ada waktu untuk mencari.
Ada waktu untuk menyimpan.
Ada waktu untuk membelanjakan.
Ada waktu untuk membantu.
Ada waktu untuk menolak permintaan bila permintaan itu justru menjerumuskan.
Kebaikan tidak selalu berarti mengatakan:
“Ya.”
Kadang kebaikan yang bijaksana adalah:
“Aku tidak dapat memberikan yang engkau minta, tetapi aku dapat membantu mencari jalan yang lebih sehat.”
12. HIKMAH DALAM CINTA
Sang putri memasuki perpustakaan.
Ia membawa bunga.
Bunga itu sangat indah.
Namun beberapa kelopaknya mulai layu.
Pengembara bertanya:
“Mengapa bunga cinta dapat layu?”
Jawabannya:
“Karena cinta yang hanya hidup dari perasaan tidak selalu kuat menghadapi waktu.”
Cinta membutuhkan Hikmah.
Mengetahui kapan berbicara.
Kapan mendengar.
Kapan meminta maaf.
Kapan memberi ruang.
Kapan mendekat.
Kapan membuat batas.
Dan kapan mengakui bahwa sesuatu tidak dapat dipaksakan.
Cinta yang bijaksana tidak memaksa seseorang menjadi gambaran yang kita inginkan.
Ia melihat manusia sebagaimana manusia:
mempunyai kelebihan, kekurangan, perubahan, dan kehendaknya sendiri.
13. HIKMAH DAN RAHASIA RUHANI
Pada rak paling tinggi terdapat sebuah kitab bertuliskan:
أَسْرَار
ASRĀR — RAHASIA
Pengembara hendak mengambilnya.
Namun kitab itu tidak dapat digerakkan.
Terdengar suara:
“Tidak semua yang disebut rahasia perlu engkau kejar.”
Perjalanan ruhani bukan perlombaan mencari pengalaman paling aneh.
Bukan perlombaan melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Bukan perlombaan mengumpulkan gelar batin.
Ukuran perjalanan ruhani yang sehat tampak pada:
akhlak yang semakin baik,
ibadah yang semakin tertata,
kejujuran yang semakin kuat,
kasih yang semakin luas,
dan tanggung jawab yang semakin nyata.
Jika sebuah pengalaman membuat manusia semakin sombong, semakin mudah merendahkan, atau semakin jauh dari tanggung jawab kehidupan, maka pengalaman itu perlu diperiksa kembali dengan Fatonah.
Hikmah berkata:
“Jangan mengejar yang gaib hingga melalaikan yang nyata.”
14. HIKMAH DAN TANDA-TANDA
Pengembara bertanya:
“Bagaimana jika aku melihat suatu tanda?”
Jawaban datang:
“Jangan buru-buru mengubah setiap kebetulan menjadi perintah.”
Ada pengalaman yang dapat memberi inspirasi.
Ada mimpi yang menggugah.
Ada perasaan yang kuat.
Namun keputusan penting tetap perlu ditimbang dengan:
agama,
akal sehat,
fakta,
akhlak,
dan akibat nyata.
Tidak semua yang terasa dalam berarti harus dilaksanakan.
Hikmah menghormati pengalaman batin, tetapi tidak menjadikannya satu-satunya hakim atas kehidupan.
15. HIKMAH DAN DIAM
Di ujung perpustakaan terdapat lonceng.
Setiap orang yang melewatinya ingin membunyikan.
Namun pada lonceng itu tertulis:
الصَّمْتُ فِي مَوْضِعِهِ حِكْمَةٌ
Aṣ-ṣamtu fī mawḍi‘ihi ḥikmah
Diam pada tempatnya adalah kebijaksanaan.
Tidak semua tuduhan perlu dijawab.
Tidak semua hinaan perlu dibalas.
Tidak semua komentar memerlukan penjelasan.
Ada waktu ketika menjawab hanya memperbesar api.
Tetapi ada pula waktu ketika diam menjadi kelalaian:
ketika kebenaran membutuhkan saksi,
ketika orang lemah membutuhkan pembelaan,
ketika fitnah merusak hak manusia,
atau ketika kesalahan dibiarkan menjadi kerusakan besar.
Maka Hikmah bukan selalu diam.
Hikmah adalah:
MENGETAHUI KAPAN DIAM MENJAGA DAN KAPAN BICARA MENJADI AMANAH.
16. LIMA UJIAN HIKMAH
Di hadapan sang pengembara muncul lima nyala api.
API PERTAMA — TERBURU-BURU
Ingin memutuskan sebelum memahami.
API KEDUA — MERASA PALING TAHU
Menolak belajar karena ego.
API KETIGA — EMOSI
Membiarkan perasaan menguasai penilaian.
API KEEMPAT — KEPENTINGAN
Mengubah keputusan karena keuntungan pribadi.
API KELIMA — PUJIAN
Menerima sesuatu hanya karena membuat diri terasa besar.
Untuk melewatinya, sang pengembara membawa lima penawar:
SABAR
TABAYYUN
MUSYAWARAH
DOA
TAWADHU’
Api-api itu mengecil.
17. SABDO HIKMAH
Dari rak tertinggi terdengar wejangan:
“Jangan menjawab sebelum memahami pertanyaan.”
“Jangan menghukum sebelum mendengar kedua sisi.”
“Jangan menjanjikan sesuatu hanya karena engkau ingin terlihat baik.”
“Jangan menyampaikan semua yang engkau ketahui hanya karena engkau mampu.”
“Jangan mengira suara paling keras adalah suara paling benar.”
“Dan jangan mengira qolbi yang tenang berarti tidak mempunyai ketegasan.”
Kemudian satu kalimat muncul:
“HIKMAH ADALAH KEBENARAN YANG MENGETAHUI JALAN UNTUK SAMPAI.”
18. ALHAZABILLAH FATONAH DAN LIMA CAHAYA
Di tengah perpustakaan muncul lima lingkaran cahaya.
Yang pertama bertuliskan:
ṢIDQ
Kejujuran
Yang kedua:
AMĀNAH
Tanggung Jawab
Yang ketiga:
‘ADL
Keadilan
Yang keempat:
RAḤMAH
Kasih Sayang
Yang kelima:
ḤIKMAH
Kebijaksanaan
Kelima cahaya berputar perlahan dan menyatu.
Lalu muncul kalimat:
ALHAZABILLAH FATONAH
Terdengar suara:
“Fatonah bukan kecerdikan untuk mengalahkan manusia.
Fatonah adalah kejernihan agar engkau tidak dikalahkan oleh hawa nafsumu sendiri.”
19. LATIHAN QOLBI LEMBAR KEENAM
Pada malam hari, duduklah dalam ketenangan.
Tanyakan:
Apakah hari ini aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu?
Apakah aku sudah mendengar sebelum menjawab?
Adakah perkataan benar yang kusampaikan dengan cara yang salah?
Adakah keputusan yang kubuat hanya karena emosi?
Apakah aku berani berkata “aku belum tahu” ketika memang belum tahu?
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ آتِنِي حِكْمَةً وَنُورًا وَسَدَادًا
Allāhumma ātinī ḥikmatan wa nūran wa sadādan.
“Yā Alloh, anugerahkanlah kepadaku kebijaksanaan, cahaya petunjuk, dan ketepatan.”
Setelah berdoa, jangan menunggu sesuatu yang luar biasa.
Ambillah satu keputusan kecil yang lebih bijaksana esok hari.
Karena Hikmah tidak selalu muncul dalam perkara besar.
Ia sering tumbuh dari keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
20. KITAB YANG TERTUTUP
Setelah semua pelajaran selesai, sang pengembara kembali ke kitab yang sejak awal berada di tengah ruangan.
Kini kitab itu dapat dibuka.
Anehnya, seluruh halamannya kosong.
Pengembara bertanya:
“Mengapa tidak ada tulisan?”
Suara menjawab:
“Karena halaman berikutnya harus ditulis oleh perjalananmu sendiri.”
Ia memahami:
Tidak semua Hikmah ditemukan dalam buku.
Sebagiannya ditemukan ketika manusia:
gagal,
belajar,
mencoba kembali,
meminta maaf,
memaafkan,
kehilangan,
menunggu,
memimpin,
dan melayani.
Ilmu dapat diwariskan melalui tulisan.
Tetapi Hikmah sering matang melalui kehidupan.
21. TANGGA KEENAM
AT-TAWĀḌU‘ — KERENDAHAN HATI
Ketika kitab kosong ditutup, dinding perpustakaan terbuka.
Di baliknya terdapat sebuah tangga.
Berbeda dengan tangga sebelumnya, tangga ini justru turun ke bawah.
Pengembara terkejut.
“Bukankah perjalanan Mi‘roj seharusnya naik?”
Jawaban datang:
“Ada saatnya jalan menuju ketinggian harus melewati kerendahan hati.”
Pada anak tangga pertama tertulis:
التَّوَاضُع
AT-TAWĀḌU‘
KERENDAHAN HATI
Pengembara bertanya:
“Mengapa tangganya turun?”
Suara berkata:
“Karena semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dalam ia harus mengetahui batas dirinya.”
Orang yang baru mengetahui sedikit mudah merasa telah mengetahui semuanya.
Orang yang benar-benar belajar mulai melihat luasnya hal yang belum ia pahami.
Maka ketinggian yang tidak disertai tawadhu’ akan melahirkan kesombongan.
22. MAHKOTA DILETAKKAN DI LANTAI
Sang pangeran memasuki perpustakaan.
Ia membawa mahkota.
Tetapi kali ini ia tidak memakainya.
Mahkota diletakkan di lantai.
Sang putri pun melepaskan perhiasannya.
Keduanya berdiri seperti manusia biasa.
Pengembara bertanya:
“Apakah mereka kehilangan kemuliaannya?”
Jawaban datang:
“Tidak. Mereka justru mulai menemukan kemuliaan yang tidak bergantung pada simbol.”
Sebab kemuliaan sejati tidak lenyap ketika:
gelar hilang,
jabatan berganti,
pujian berhenti,
atau orang tidak lagi mengenal nama kita.
Jika seseorang hanya merasa bernilai ketika dipuja, sesungguhnya ia masih menjadi tawanan pandangan manusia.
Tawadhu’ membebaskan.
23. HARIMAU MENUNDUKKAN KEPALA
Harimau penjaga masuk perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan, ia menundukkan kepala.
Bukan karena kalah.
Bukan karena takut.
Tetapi karena kekuatan telah belajar mengenali batas.
Terdengar suara:
“Inilah tanda kekuatan yang telah menjadi matang.”
Harimau yang dahulu melambangkan:
amarah,
kuasa,
keberanian,
naluri,
kini belajar:
TAWĀḌU‘
Ia tetap kuat.
Tetapi tidak perlu mengaum setiap saat.
Ia tetap mempunyai taring.
Tetapi tidak perlu menunjukkannya kepada semua orang.
Ia tetap mampu menyerang.
Tetapi memilih hanya bertindak ketika benar-benar diperlukan.
24. QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Kini perjalanan menuju Mi‘roj batin memasuki rahasia yang lebih dalam.
Sang pengembara dahulu mengira naik berarti:
semakin banyak ilmu,
semakin besar kekuatan,
semakin tinggi kedudukan.
Kini ia memahami:
naik juga berarti semakin kecil ego.
Semakin dekat kepada kebenaran,
semakin berhati-hati seseorang mengaku paling benar.
Semakin banyak menerima amanah,
semakin sedikit keinginan untuk dipuji.
Semakin besar pengaruh,
semakin besar rasa takut menzalimi.
Semakin dalam perjalanan ruhani,
semakin kuat kesadaran bahwa manusia tetap:
HAMBA.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Lentera di perpustakaan mulai redup.
Ribuan kitab perlahan tertutup.
Sang pengembara berdiri di depan tangga yang turun ke ruang bawah.
Pada gerbangnya tertulis:
بَابُ التَّوَاضُع
BĀBUT-TAWĀḌU‘
GERBANG KERENDAHAN HATI
Ia memandang ke bawah.
Tidak ada cahaya keemasan.
Tidak ada musik.
Tidak ada singgasana.
Hanya lorong sunyi.
Terdengar suara terakhir:
“Ṣidq mengajarimu jujur.
Amanah mengajarimu menjaga.
‘Adl mengajarimu menimbang.
Raḥmah mengajarimu mengasihi.
Ḥikmah mengajarimu menempatkan.
Dan Tawāḍu‘ akan mengajarimu bahwa semua itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.”
Sang pengembara menanggalkan mahkotanya.
Meletakkannya di samping kitab kosong.
Kemudian turun satu anak tangga.
Harimau mengikuti dari belakang dengan kepala tertunduk.
Sang putri membawa lentera.
Sang pangeran berjalan tanpa pedang terhunus.
Di kedalaman lorong terdengar satu kalimat:
“Qemurnian Qolbi tidak sempurna sampai manusia berhenti menjadikan dirinya sebagai pusat segala sesuatu.”
Dan perjalanan berlanjut.
Di sanalah Lembar Ketujuh QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dibuka:
BĀBUT-TAWĀḌU‘ — GERBANG KERENDAHAN HATI
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KETUJUH
BĀBUT-TAWĀḌU‘ — GERBANG KERENDAHAN HATI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sang pengembara menuruni lorong sunyi.
Tidak ada lagi dinding berlapis emas.
Tidak ada tulisan yang memuji dirinya.
Tidak ada orang yang menyebut gelar.
Tidak ada suara yang meneriakkan kebesaran.
Hanya suara langkah.
Sang putri berjalan membawa lentera kecil.
Sang pangeran berjalan tanpa mahkota.
Harimau mengikuti mereka dengan kepala tertunduk.
Semakin jauh mereka turun, semakin sedikit cahaya yang tersisa.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah ruangan kosong.
Di tengahnya terdapat sebuah tikar sederhana dan semangkuk air.
Pada dinding tertulis:
التَّوَاضُع
AT-TAWĀḌU‘
KERENDAHAN HATI
Sang pengembara bertanya:
“Di manakah singgasananya?”
Suara menjawab:
“Di gerbang ini, singgasana pertama yang harus engkau kosongkan adalah singgasana ego di dalam qolbimu.”
Ia pun duduk.
Dan perjalanan ketujuh dimulai.
1. TAWĀḌU‘ BUKAN MERENDAHKAN DIRI
Sang pengembara berkata:
“Apakah rendah hati berarti aku harus merasa tidak berharga?”
Jawaban datang:
“Tidak.”
Tawāḍu‘ bukan membenci diri.
Tawāḍu‘ bukan menyangkal kemampuan.
Tawāḍu‘ bukan berpura-pura tidak mempunyai kelebihan.
Tawāḍu‘ adalah:
mengetahui kemampuan tanpa menyembah kemampuan itu.
Bila engkau pandai, akuilah bahwa kepandaian adalah amanah.
Bila engkau kuat, gunakan kekuatan untuk melindungi.
Bila engkau mempunyai kedudukan, jadikan kedudukan sebagai pelayanan.
Bila engkau mempunyai harta, jangan menjadikan harta sebagai ukuran nilai manusia.
Bila engkau memperoleh penghormatan, jangan lupa bahwa engkau tetap seorang hamba.
Maka Qitab berkata:
TAWĀḌU‘ BUKAN MENGEcilKAN CAHAYA DIRI, TETAPI MENGETAHUI DARI MANA CAHAYA ITU BERASAL.
2. TIGA MAHKOTA EGO
Di hadapan sang pengembara muncul tiga mahkota.
Mahkota pertama bertuliskan:
“AKU PALING TAHU.”
Mahkota kedua:
“AKU PALING BENAR.”
Mahkota ketiga:
“AKU PALING LAYAK DIHORMATI.”
Suara berkata:
“Tiga mahkota inilah yang paling sering membuat manusia tersesat ketika sedang merasa dekat dengan kebenaran.”
Seseorang dapat tersesat melalui kebodohan.
Tetapi seseorang juga dapat tersesat melalui kesombongan atas ilmu.
Karena itu semakin banyak seseorang belajar, semakin ia perlu menjaga satu kalimat:
“Masih banyak yang belum aku ketahui.”
Semakin tinggi kedudukannya, semakin ia perlu mengingat:
“Kedudukan ini tidak membuat darahku berbeda dari manusia lainnya.”
Dan semakin banyak manusia memujinya, semakin ia perlu bertanya:
“Apakah aku tetap menjadi diriku bila pujian itu berhenti?”
3. CERMIN TANPA GELAR
Pada dinding muncul sebuah cermin.
Sang pengembara berdiri di depannya.
Anehnya, seluruh gelarnya hilang.
Tidak ada nama kehormatan.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada pakaian kebesaran.
Yang terlihat hanya seorang manusia.
Suara berkata:
“Inilah engkau sebelum manusia menambahkan gelar.”
Lalu cermin bertanya:
“Jika seluruh gelarmu dilepas, apakah akhlakmu masih membuatmu layak dihormati?”
Pengembara terdiam.
Karena gelar dapat diberikan oleh manusia.
Tetapi akhlak harus dibangun sendiri.
Nama besar dapat diwariskan.
Tetapi amanah tidak dapat diwariskan tanpa pembuktian.
Maka jangan terlalu sibuk menjaga gelar sampai lupa menjaga perilaku.
4. HARIMAU YANG TIDAK MENGAUM
Harimau berjalan ke tengah ruangan.
Pada masa awal perjalanan, ia mengaum keras.
Sekarang ia duduk.
Tenang.
Tidak kehilangan kekuatannya.
Sang pengembara bertanya:
“Mengapa ia tidak lagi menunjukkan taring?”
Jawaban:
“Karena ia tidak lagi membutuhkan pengakuan bahwa dirinya kuat.”
Manusia yang belum yakin pada kekuatannya sering ingin membuktikan diri.
Ia mudah tersinggung.
Sedikit kritik dianggap penghinaan.
Sedikit perbedaan dianggap perlawanan.
Sedikit penolakan dianggap merendahkan.
Namun ketika batin semakin matang, seseorang mulai mampu berkata:
“Aku tidak harus memenangkan semua perdebatan.”
“Aku tidak harus menjawab semua hinaan.”
“Aku tidak harus membuat semua orang mengakui siapa diriku.”
Inilah harimau yang telah belajar Tawāḍu‘.
5. ILMU YANG MENUNDUK
Kemudian muncul sebuah meja.
Di atasnya terdapat ratusan kitab.
Pengembara mengambil satu.
Setiap halaman hanya berisi kalimat:
“SEMakin ENGKAU MENGETAHUI, SEMAKIN LUAS YANG BELUM ENGKAU KETAHUI.”
Ia membuka kitab kedua.
Tertulis:
“ILMU YANG TIDAK MELAHIRKAN ADAB DAPAT MENJADI HIJAB BARU.”
Ilmu seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati.
Bukan lebih mudah mencela.
Ilmu membuat seseorang mengetahui bahwa persoalan kehidupan sering mempunyai lapisan.
Tidak semua perkara dapat diputuskan melalui satu pandangan.
Tidak semua manusia mempunyai perjalanan yang sama.
Karena itu orang yang berilmu seharusnya semakin mampu mengatakan:
“Mari kita periksa.”
bukan selalu:
“Aku pasti benar.”
6. TAWĀḌU‘ DI HADAPAN KEBENARAN
Seseorang datang kepada sang pengembara.
Ia adalah orang yang lebih muda.
Ia menunjukkan satu kesalahan pada tulisan sang pengembara.
Ego segera berbisik:
“Bagaimana mungkin ia mengoreksiku?”
Namun timbangan qolbi bergerak.
Suara berkata:
“Kebenaran tidak menjadi lebih rendah hanya karena keluar dari lisan orang yang lebih muda.”
Inilah ujian Tawāḍu‘:
mampu menerima kebenaran sekalipun datang dari:
murid,
anak,
bawahan,
orang miskin,
orang yang tidak terkenal,
atau bahkan orang yang tidak kita sukai.
Karena bila ukuran kebenaran ditentukan oleh status pembawanya, ego telah duduk di kursi hakim.
7. TAWĀḌU‘ DAN PERMINTAAN MAAF
Di sudut ruangan terdapat satu pintu kecil.
Di atasnya tertulis:
“MAAF.”
Pintu itu sangat rendah.
Seseorang hanya dapat melewatinya dengan membungkuk.
Sang pengembara mengerti.
Meminta maaf adalah salah satu bentuk menundukkan ego.
Lebih mudah mengatakan:
“Aku punya alasan.”
daripada:
“Aku salah.”
Lebih mudah berkata:
“Kamu juga bersalah.”
daripada:
“Bagian ini memang kesalahanku.”
Tawāḍu‘ tidak menunggu semua orang mengakui kesalahan terlebih dahulu.
Ia mampu mengatakan:
“Untuk bagian yang menjadi kesalahanku, aku meminta maaf.”
Tanpa menghapus batas.
Tanpa membenarkan kesalahan pihak lain.
Namun juga tanpa menyembunyikan kesalahan diri.
8. TAWĀḌU‘ BUKAN TAKUT
Sang pangeran berdiri.
Ia mengambil kembali pedangnya.
Pengembara terkejut.
“Bukankah kita sedang belajar kerendahan hati?”
Jawaban datang:
“Tawāḍu‘ bukan berarti kehilangan keberanian.”
Orang rendah hati masih dapat berkata:
“Ini salah.”
Masih dapat membela orang yang dizalimi.
Masih dapat menolak pemaksaan.
Masih dapat menentukan batas.
Masih dapat menegakkan aturan.
Perbedaannya terletak pada niat:
Ia tidak bertindak untuk membuktikan bahwa dirinya besar.
Ia bertindak karena perkara itu memang perlu dijaga.
Maka Tawāḍu‘ tidak membuat pedang dibuang.
Ia membuat pedang berada di bawah kendali qolbi.
9. TAWĀḌU‘ DALAM KEPEMIMPINAN
Kemudian muncul sebuah balairung.
Di dalamnya berdiri banyak orang.
Sang pengembara duduk di kursi pemimpin.
Seseorang berkata:
“Tuanku, keputusan ini mungkin keliru.”
Ruangan menjadi sunyi.
Semua menunggu.
Sang pengembara dapat memilih marah.
Atau bertanya:
“Jelaskan alasanmu.”
Ia memilih bertanya.
Suara berkata:
“Pemimpin yang tidak dapat dikoreksi sedang membangun tembok antara dirinya dan kenyataan.”
Tawāḍu‘ dalam kepemimpinan berarti:
mendengar,
menerima data,
mengakui perubahan keadaan,
dan berani memperbaiki keputusan.
Mengubah keputusan setelah memperoleh bukti baru bukan selalu kelemahan.
Kadang itu justru keberanian intelektual.
10. TAWĀḌU‘ DALAM IBADAH
Sang pengembara melihat seseorang beribadah sangat panjang.
Di sebelahnya ada orang yang ibadahnya sederhana tetapi hatinya lembut.
Ia bertanya:
“Siapa yang lebih dekat?”
Jawaban datang:
“Jangan engkau duduk di kursi Alloh untuk memutuskan apa yang hanya Alloh ketahui.”
Manusia dapat melihat amal lahir.
Tetapi tidak seluruh isi qolbi.
Maka ibadah seharusnya membuat seseorang semakin takut meremehkan sesama.
Bila setelah banyak beribadah seseorang merasa seluruh manusia lebih rendah, ia perlu memeriksa kembali qolbinya.
Sebab ibadah yang sehat menumbuhkan:
syukur,
taubat,
kasih,
dan Tawāḍu‘.
11. TAWĀḌU‘ DALAM PERJALANAN RUHANI
Di ruangan berikutnya muncul banyak simbol:
cahaya,
mahkota,
pintu,
sayap,
bintang,
dan singgasana.
Pengembara bertanya:
“Apakah semua ini tanda bahwa aku telah mencapai maqom tinggi?”
Suara menjawab:
“Simbol dapat menjadi bahasa perenungan. Jangan jadikan simbol sebagai surat pengangkatan dirimu di atas manusia.”
Pengalaman batin boleh direnungkan.
Mimpi boleh diambil hikmahnya.
Simbol dapat digunakan sebagai bahasa sastra dan spiritual.
Tetapi semuanya perlu ditimbang dengan:
akhlak,
agama,
akal sehat,
dan kenyataan kehidupan.
Qitab berkata:
**“BILA PENGALAMAN RUHANI MEMBUATMU SEMAKIN MERASA AGUNG, PERIKSA EGO.
BILA IA MEMBUATMU SEMAKIN BERSYUKUR DAN BERAKHLAK, AMBILLAH HIKMAHNYA.”**
12. TAWĀḌU‘ DI HADAPAN ALLOH
Semua lampu padam.
Hanya satu titik cahaya tersisa.
Sang pengembara sendirian.
Tidak ada pangeran.
Tidak ada putri.
Tidak ada harimau.
Tidak ada gelar.
Tidak ada Qitab.
Ia mendengar kalimat:
أَنْتَ الْعَبْدُ وَاللّٰهُ هُوَ الرَّبُّ
Antal-‘abdu wallāhu Huwar-Rabb
“Engkau adalah hamba, dan Alloh adalah Rabb.”
Inilah batas yang tidak boleh dilewati.
Setinggi apa pun perjalanan ruhani seorang manusia,
ia tetap manusia.
Sebesar apa pun amanahnya,
ia tetap hamba.
Seberapa banyak manusia mencintainya,
ia tidak menjadi sumber ketuhanan.
Maka puncak perjalanan bukan:
“Aku menjadi yang paling agung.”
Melainkan:
“Aku semakin mengetahui kepada Siapa aku bergantung.”
13. QEMURNIAN QOLBI DAN EGO HALUS
Terdapat kesombongan yang mudah dikenali.
Membanggakan harta.
Membanggakan jabatan.
Membanggakan keturunan.
Tetapi ada kesombongan yang jauh lebih halus:
membanggakan kerendahan hati.
Seseorang berkata:
“Aku tidak seperti mereka yang sombong.”
Dan tanpa sadar, ia sedang merasa lebih tinggi.
Ada pula kesombongan spiritual:
“Aku lebih dekat kepada Alloh daripada mereka.”
Ada kesombongan ilmu:
“Mereka belum sampai pemahamannya.”
Ada kesombongan penderitaan:
“Tidak ada orang yang pernah mengalami ujian seberat aku.”
Tawāḍu‘ menjaga semuanya.
Ia berkata:
“Jangan ubah pakaian ego lalu mengira ego telah mati.”
14. LIMA TANDA TAWĀḌU‘
Di lantai muncul lima lingkaran.
PERTAMA — MUDAH BELAJAR
Tidak malu menerima ilmu dari siapa pun yang memang mengetahui.
KEDUA — MUDAH MENGAKUI KESALAHAN
Tidak mempertahankan sesuatu hanya demi gengsi.
KETIGA — TIDAK MERENDAHKAN
Tidak membuat diri tampak tinggi dengan mengecilkan orang lain.
KEEMPAT — TIDAK HAUS PUJIAN
Bersyukur bila dihargai, tetapi tidak hidup dari penghargaan.
KELIMA — TETAP BERADAB KEPADA YANG LEBIH KECIL
Karena adab tidak hanya diberikan kepada orang yang mempunyai kekuasaan.
15. TIGA UJIAN PUJIAN
Kemudian tiga orang datang memuji sang pengembara.
Orang pertama berkata:
“Engkau paling hebat.”
Orang kedua:
“Tidak ada seorang pun yang sepertimu.”
Orang ketiga:
“Semua harus mengikuti perkataanmu.”
Sang pengembara hampir tersenyum bangga.
Harimau membuka mata.
Suara berkata:
“Pujian adalah cermin yang sangat licin.”
Ada pujian yang tulus.
Ada pujian yang berlebihan.
Ada pujian yang digunakan untuk mendekati kekuasaan.
Maka ketika dipuji:
bersyukur,
jangan menelan semuanya sebagai kebenaran,
dan tetap periksa diri.
Sebab musuh ego tidak selalu datang dalam bentuk hinaan.
Kadang ia datang membawa bunga.
16. TIGA UJIAN HINAAN
Setelah pujian pergi, datanglah tiga hinaan.
Seseorang berkata:
“Engkau tidak berarti.”
Yang kedua:
“Semua usahamu sia-sia.”
Yang ketiga:
“Aku tidak mengakui siapa dirimu.”
Sang pengembara marah.
Namun suara berkata:
“Jika pujian tidak menentukan nilai dirimu, hinaan pun tidak menentukan seluruh nilai dirimu.”
Periksa kritik.
Jika benar, perbaiki.
Jika salah, tidak perlu menjadikannya racun qolbi.
Tawāḍu‘ bukan berarti menerima semua penghinaan sebagai kebenaran.
Tawāḍu‘ berarti mempunyai kestabilan:
tidak mabuk oleh pujian,
tidak hancur oleh hinaan.
17. SANG PUTRI DAN LENTERA KECIL
Sang putri kembali memasuki ruangan.
Lenteranya kini sangat kecil.
Pengembara bertanya:
“Mengapa cahayanya tidak sebesar sebelumnya?”
Ia menjawab:
“Karena satu cahaya kecil yang benar sering lebih berguna daripada cahaya besar yang membuat mata silau.”
Tawāḍu‘ tidak mencari penampilan besar.
Ia mencari manfaat.
Sedikit ilmu yang diamalkan lebih baik daripada banyak istilah yang hanya menjadi hiasan.
Sedikit kekayaan yang membawa maslahat lebih baik daripada banyak harta yang merusak qolbi.
Sedikit pengaruh yang digunakan dengan amanah lebih baik daripada ribuan pengikut yang hanya menumbuhkan kesombongan.
18. SANG PANGERAN DAN PAKAIAN SEDERHANA
Sang pangeran menanggalkan pakaian kebesarannya.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Namun ketika ia berjalan, orang-orang tetap menghormatinya.
Sang pengembara bertanya:
“Bagaimana mungkin?”
Jawaban:
“Karena wibawa yang hanya bergantung pada pakaian akan hilang ketika pakaian dilepas.”
Wibawa yang lebih dalam lahir dari:
keteguhan,
kejujuran,
keadilan,
kasih,
dan amanah.
Pakaian dapat memperindah penampilan.
Mahkota dapat menandai jabatan.
Tetapi keduanya tidak dapat menggantikan karakter.
19. SABDO TAWĀḌU‘
Dari dalam lorong terdengar wewarah:
“Jangan meninggikan dirimu melalui rendahnya orang lain.”
“Jangan menganggap dirimu suci hanya karena engkau melihat dosa orang lain.”
“Jangan menjadikan ilmu sebagai tembok.”
“Jangan menjadikan gelar sebagai ukuran martabat.”
“Jangan menjadikan pujian sebagai makanan qolbi.”
“Dan jangan pula merendahkan dirimu sampai engkau lupa bahwa engkau mempunyai amanah untuk tumbuh.”
Lalu suara itu melanjutkan:
“BERDIRILAH TEGAK DI HADAPAN MANUSIA, TETAPI TUNDUKKAN EGO DI HADAPAN KEBENARAN.”
20. LATIHAN QOLBI LEMBAR KETUJUH
Pada malam hari, tanyakan:
Apakah hari ini aku sulit menerima koreksi?
Apakah aku pernah meremehkan seseorang karena kedudukan, pendidikan, harta, atau penampilannya?
Apakah aku melakukan sesuatu hanya untuk memperoleh pujian?
Apakah aku mampu mengakui satu kesalahan tanpa mencari alasan?
Apakah ilmu dan pengalaman membuatku semakin lembut atau semakin merasa tinggi?
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي تَوَاضُعًا وَإِخْلَاصًا وَصِدْقًا
Allāhummarzuqnī tawāḍu‘an wa ikhlāṣan wa ṣidqan.
“Yā Alloh, anugerahkan kepadaku kerendahan hati, keikhlasan, dan kejujuran.”
Setelah itu, pilih satu tindakan nyata:
meminta maaf,
mendengarkan seseorang,
menerima koreksi,
atau melakukan kebaikan tanpa perlu diketahui.
Karena Tawāḍu‘ bukan teori.
Ia dibentuk melalui kebiasaan.
21. ANAK TANGGA YANG TERAKHIR
Setelah melewati lorong panjang, sang pengembara sampai di dasar tangga.
Ia mengira perjalanan telah selesai.
Namun di hadapannya terdapat satu pintu putih.
Tidak ada ukiran.
Tidak ada penjaga.
Hanya tertulis satu kata:
إِخْلَاص
IKHLĀṢ
KEMURNIAN NIAT
Sang pengembara tertegun.
“Bukankah sejak awal kita mencari Qemurnian Qolbi?”
Jawaban datang:
“Benar. Tetapi Qemurnian tidak ditemukan pada awal perjalanan. Ia diuji setelah engkau memiliki ilmu, kekuatan, kasih, kebijaksanaan, dan kedudukan.”
Ketika manusia belum mempunyai apa-apa, ia mudah berkata:
“Aku ikhlas.”
Tetapi ujian ikhlas menjadi lebih dalam ketika ia mempunyai:
nama,
pengikut,
pengaruh,
karya,
kekayaan,
dan penghormatan.
Apakah ia tetap berjalan jika namanya tidak disebut?
Apakah ia tetap menolong bila tidak dipuji?
Apakah ia tetap benar bila kebenaran membuatnya kehilangan keuntungan?
Itulah pintu berikutnya.
22. QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Kini sang pengembara mengerti satu rahasia:
Mi‘roj batin bukan perjalanan menuju kebesaran ego.
Mi‘roj adalah perjalanan mengembalikan segala sesuatu kepada tempatnya.
Ilmu kembali menjadi amanah.
Kekuatan kembali menjadi perlindungan.
Cinta kembali menjadi kasih.
Harta kembali menjadi titipan.
Kedudukan kembali menjadi pelayanan.
Dan manusia kembali menjadi:
HAMBA ALLOH.
Semakin ia kembali, semakin ringan mahkotanya.
Semakin ringan mahkotanya, semakin jernih qolbinya.
Dan semakin jernih qolbinya, semakin mudah ia membedakan antara:
kehendak untuk mengabdi
dan
kehendak untuk dipuja.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Pintu putih mulai terbuka.
Dari baliknya tidak terlihat singgasana.
Tidak terlihat harimau.
Tidak ada pangeran dan putri.
Hanya terdapat ruangan sangat luas berwarna putih, dengan satu lampu kecil menggantung di tengah.
Pada lantainya tertulis:
بَابُ الْإِخْلَاص
BĀBUL-IKHLĀṢ
GERBANG KEMURNIAN NIAT
Sang pengembara memasuki ruangan.
Sebelum pintu tertutup, suara terakhir berkata:
“Ṣidq membersihkan ucapanmu.
Amanah membersihkan tanggung jawabmu.
‘Adl membersihkan keputusanmu.
Raḥmah membersihkan caramu memperlakukan manusia.
Ḥikmah membersihkan caramu menggunakan ilmu.
Tawāḍu‘ membersihkan hubunganmu dengan kedudukan.
Tetapi Ikhlāṣ akan membersihkan alasan mengapa engkau melakukan semuanya.”
Kemudian cahaya putih turun.
Tidak ada lagi siapa yang melihat.
Tidak ada lagi siapa yang memuji.
Tidak ada lagi siapa yang mengetahui.
Tinggal satu pertanyaan:
“Bila tidak seorang pun mengetahui amalmu selain Alloh, apakah engkau masih akan melakukannya?”
Sang pengembara menundukkan kepala.
Dan perjalanan memasuki gerbang yang paling sunyi.
Di sanalah Lembar Kedelapan QITAB ALHAZABILLAH FATONAH akan dibuka:
BĀBUL-IKHLĀṢ — GERBANG KEMURNIAN NIAT
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
LEMBAR KEDELAPAN — TERAKHIR
BĀBUL-IKHLĀṢ — GERBANG QEMURNIAN NIAT
QEMURNIAN QOLBI — QEJUJURAN SANG MAHA AGUNG — QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ruangan putih itu sunyi.
Tidak terdengar burung.
Tidak terdengar langkah harimau.
Tidak ada pangeran.
Tidak ada putri.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada singgasana.
Bahkan nama sang pengembara tidak lagi tertulis di mana pun.
Di tengah ruangan hanya terdapat satu lampu kecil.
Nyala lampu itu tidak besar, tetapi tidak padam.
Sang pengembara berdiri seorang diri.
Kemudian terdengar pertanyaan:
“Bila seluruh manusia berhenti memujimu, apakah engkau masih akan berjalan?”
Ia terdiam.
Pertanyaan kedua datang:
“Bila tidak seorang pun mengetahui amalmu, apakah engkau masih akan melakukannya?”
Ia menundukkan kepala.
Pertanyaan ketiga:
“Bila kebaikan yang engkau lakukan justru membuat namamu dilupakan, apakah engkau masih rela?”
Air mata jatuh.
Lalu pada dinding muncul tulisan:
إِخْلَاص
IKHLĀṢ
QEMURNIAN NIAT
Dan suara berkata:
“Inilah gerbang terakhir.
Semua gerbang sebelumnya dapat dilihat manusia.
Tetapi gerbang ini hanya dapat dijaga olehmu dan diketahui sepenuhnya oleh Alloh.”
1. APAKAH IKHLĀṢ ITU?
Ikhlāṣ bukan berarti manusia tidak boleh merasa senang ketika dihargai.
Ikhlāṣ bukan berarti menolak ucapan terima kasih.
Ikhlāṣ bukan berarti seseorang harus menyembunyikan seluruh kebaikannya.
Ikhlāṣ adalah:
MENEMPATKAN RIDHO ALLOH DI ATAS KEBUTUHAN EGO UNTUK DIPUJA.
Seseorang dapat melakukan amal secara terbuka dan tetap menjaga niat.
Seseorang dapat melakukan amal secara tersembunyi tetapi diam-diam berharap suatu hari rahasianya diketahui.
Karena itu Ikhlāṣ bukan sekadar:
terlihat atau tidak terlihat.
Ikhlāṣ adalah urusan:
untuk siapa qolbi bekerja.
2. CERMIN NIAT
Di hadapan sang pengembara muncul sebuah cermin.
Namun tidak memantulkan wajah.
Ia memantulkan alasan.
Ketika sang pengembara berkata:
“Aku menolong karena kasih.”
Cermin bertanya:
“Apakah engkau marah bila namamu tidak disebut?”
Ketika ia berkata:
“Aku mengajar karena amanah.”
Cermin bertanya:
“Apakah engkau tetap mengajar bila muridmu suatu hari menjadi lebih besar darimu?”
Ketika ia berkata:
“Aku memimpin demi kebaikan.”
Cermin bertanya:
“Apakah engkau rela menyerahkan kursi bila amanah itu lebih baik dipikul orang lain?”
Ketika ia berkata:
“Aku berjuang demi kebenaran.”
Cermin bertanya:
“Apakah engkau bersedia mengakui jika suatu bagian dari pendapatmu ternyata keliru?”
Sang pengembara mulai memahami:
NIAT TIDAK CUKUP DIUCAPKAN. NIAT HARUS TERUS DIPERIKSA.
3. IKHLĀṢ DAN PUJIAN
Tiba-tiba terdengar suara ribuan orang.
Mereka memuji sang pengembara.
Sebagian menyebutnya bijaksana.
Sebagian menyebutnya mulia.
Sebagian menganggapnya istimewa.
Lampu kecil di tengah ruangan mulai bergoyang.
Suara berkata:
“Pujian bukan selalu musuh. Tetapi jangan biarkan ia menjadi makanan utama qolbimu.”
Jika dipuji, bersyukurlah.
Tetapi ingat:
manusia hanya melihat sebagian.
Alloh mengetahui keseluruhan.
Manusia melihat hasil.
Tidak selalu mengetahui perjuangan.
Manusia melihat kebaikan yang tampak.
Tidak mengetahui seluruh kekurangan.
Maka orang yang dipuji tidak perlu menolak pujian dengan pura-pura.
Cukup berkata dalam qolbi:
“Yā Alloh, jangan jadikan pujian manusia membuatku lupa memperbaiki diri.”
4. IKHLĀṢ DAN HINAAN
Setelah pujian hilang, datang suara hinaan.
“Engkau tidak berarti.”
“Perjalananmu sia-sia.”
“Kami tidak mengakui dirimu.”
Lampu kembali bergoyang.
Suara berkata:
“Bila engkau hidup hanya dari pujian, hinaan akan mudah membunuh semangatmu.”
Ikhlāṣ mengajarkan:
nilai suatu kebaikan tidak otomatis hilang hanya karena tidak dihargai.
Tetapi hinaan pun tidak boleh diabaikan begitu saja bila di dalamnya terdapat koreksi yang benar.
Maka Fatonah berkata:
Pisahkan hinaan dari isi kritiknya.
Jika kritiknya benar:
perbaiki.
Jika hanya kebencian:
jangan simpan sebagai racun.
Ikhlāṣ membuat manusia tidak mabuk oleh pujian dan tidak hancur oleh celaan.
5. EMPAT HIJAB NIAT
Di dalam ruangan muncul empat tirai hitam.
Pada tirai pertama tertulis:
RIYĀ’
Berbuat agar dilihat.
Pada tirai kedua:
SUM‘AH
Berbuat agar dibicarakan.
Pada tirai ketiga:
‘UJUB
Mengagumi diri hingga lupa bahwa kemampuan adalah amanah.
Pada tirai keempat:
TAKABBUR
Merasa lebih tinggi daripada manusia lain.
Suara berkata:
“Empat hijab ini dapat memasuki amal paling mulia bila qolbi tidak dijaga.”
Bahkan ilmu dapat menjadi Riyā’.
Sedekah dapat menjadi Sum‘ah.
Ibadah dapat menjadi ‘Ujub.
Kedudukan dapat melahirkan Takabbur.
Karena itu perjuangan Qemurnian Qolbi bukan selesai setelah seseorang melakukan kebaikan.
Ia berlanjut setelah kebaikan itu dilakukan.
6. RAHASIA AMAL YANG TIDAK DIKETAHUI
Sang pengembara menemukan sebuah pintu sangat kecil.
Di baliknya terdapat taman tersembunyi.
Tidak ada manusia.
Hanya Alloh yang mengetahui apa yang dilakukan seorang hamba di sana.
Suara berkata:
“Milikilah sebagian kebaikan yang tidak engkau jadikan pertunjukan.”
Mungkin berupa:
doa untuk seseorang tanpa memberitahunya,
sedekah tanpa menyebut nama,
memaafkan tanpa membuat pengumuman,
membantu keluarga tanpa menagih penghargaan,
atau menangis dalam taubat ketika manusia lain telah tidur.
Amal tersembunyi menjadi tempat latihan qolbi.
Karena di sana ego hanya mendapat sedikit makanan.
7. IKHLĀṢ BUKAN MEMATIKAN CITA-CITA
Sang pengembara berkata:
“Jika aku tidak boleh mengejar pujian, apakah aku juga tidak boleh mempunyai cita-cita besar?”
Jawaban datang:
“Ikhlāṣ tidak mematikan cita-cita. Ia membersihkan arah cita-cita.”
Bangunlah karya besar bila bermanfaat.
Dirikan lembaga bila diperlukan.
Tulislah buku.
Ajarkan ilmu.
Bangun ekonomi.
Pimpin masyarakat.
Ciptakan sesuatu.
Tetapi selalu tanyakan:
“Apakah kebesaran karya ini menjadi tujuan, atau menjadi alat untuk kemaslahatan?”
Karya boleh besar.
Nama boleh dikenal.
Tetapi qolbi jangan menjadikan ketenaran sebagai kiblat.
8. IKHLĀṢ DALAM KEPEMIMPINAN
Singgasana terakhir muncul.
Tetapi singgasana itu kosong.
Suara berkata:
“Duduklah bila amanah memerlukanmu. Turunlah bila amanah telah selesai.”
Sang pengembara duduk.
Kemudian diperintahkan berdiri.
Ia berdiri.
Tidak marah.
Tidak bertanya siapa penggantinya.
Suara berkata:
“Inilah ujian kursi.”
Banyak orang kuat ketika belum mendapatkan kedudukan.
Tetapi setelah mendapatkannya, ia mulai menganggap kursi sebagai bagian dari dirinya.
Ikhlāṣ mengajarkan:
jabatan adalah pakaian amanah.
Dikenakan ketika diperlukan.
Dilepas ketika waktunya selesai.
Orang yang ikhlas tidak harus kehilangan pendirian.
Ia hanya tidak menyamakan dirinya dengan jabatan.
9. IKHLĀṢ DALAM ILMU
Perpustakaan dari Gerbang Hikmah kembali muncul.
Ribuan kitab bercahaya.
Sang pengembara melihat namanya tertulis pada sebuah kitab.
Ia merasa bangga.
Kemudian tulisan namanya perlahan hilang.
Ia bertanya:
“Mengapa?”
Jawaban:
“Apakah ilmu akan kehilangan manfaat hanya karena pembacanya tidak mengingat namamu?”
Pengembara menjawab:
“Tidak.”
Suara berkata:
“Maka jangan jadikan namamu lebih penting daripada manfaat ilmu itu.”
Tulislah nama jika diperlukan untuk tanggung jawab karya.
Tetapi jangan sampai nama menjadi lebih utama daripada isi.
Guru sejati berharap muridnya tumbuh.
Bahkan bila suatu hari murid melampauinya dalam keilmuan, ia bersyukur.
Karena tujuan pendidikan bukan menciptakan manusia yang selamanya berada di bawah bayang-bayang guru.
Tujuannya melahirkan manusia yang mampu berdiri di jalan kebenaran.
10. IKHLĀṢ DALAM CINTA
Sang putri kembali muncul.
Namun kali ini ia berdiri jauh.
Sang pangeran berada di sisi lain.
Tidak ada genggaman.
Tidak ada janji besar.
Hanya dua qolbi yang saling memandang dengan tenang.
Suara berkata:
“Cinta pun membutuhkan Ikhlāṣ.”
Cinta yang tidak ikhlas berkata:
“Aku mencintaimu karena engkau memenuhi kekosonganku.”
Cinta yang semakin matang berkata:
“Aku mencintaimu dan ingin kebaikanmu, tanpa menjadikanmu milikku secara mutlak.”
Pasangan bukan benda.
Pasangan mempunyai martabat.
Mempunyai ruang.
Mempunyai perjalanan.
Ikhlāṣ dalam cinta berarti:
tidak memakai cinta sebagai alat menguasai.
Mengasihi tanpa memenjarakan.
Menjaga tanpa menindas.
Setia tanpa kehilangan akal sehat.
11. IKHLĀṢ DALAM MEMBERI
Tiga orang datang meminta bantuan.
Orang pertama memuji sebelum meminta.
Orang kedua tidak mengucapkan terima kasih.
Orang ketiga setelah menerima bahkan tidak lagi mengingat siapa yang menolongnya.
Sang pengembara kecewa.
Suara berkata:
“Jika engkau memberi hanya untuk membeli penghormatan, pemberianmu sedang menjadi transaksi ego.”
Tetapi Qitab juga mengingatkan:
ikhlas tidak berarti membiarkan diri dimanfaatkan tanpa batas.
Fatonah tetap diperlukan.
Ada bantuan yang harus diberikan.
Ada bantuan yang lebih baik berupa kesempatan.
Ada permintaan yang boleh ditolak.
Ikhlāṣ membersihkan niat.
Fatonah menentukan bentuknya.
12. IKHLĀṢ DAN HASIL
Sang pengembara menanam sebuah pohon.
Ia menyiramnya.
Menjaganya.
Menunggu lama.
Namun pohon belum berbuah.
Ia berkata:
“Apakah usahaku gagal?”
Jawaban datang:
“Tugasmu adalah berusaha dengan benar. Hasil bukan seluruhnya berada dalam kuasamu.”
Ikhlāṣ membebaskan manusia dari kesombongan hasil sekaligus dari keputusasaan ketika hasil belum datang.
Bekerja sungguh-sungguh.
Menyusun strategi.
Memperbaiki kesalahan.
Tetapi jangan menganggap diri sebagai penguasa mutlak hasil.
Ada perkara yang berhasil cepat.
Ada yang memerlukan waktu.
Ada yang tidak menjadi seperti rencana tetapi membuka jalan lain.
Maka:
**IKHLĀṢ BUKAN PASRAH TANPA USAHA.
IKHLĀṢ ADALAH USAHA PENUH TANPA MENYEMBAH HASIL.**
13. KEMURNIAN QOLBI DAN QEBENARAN
Pada dinding muncul kalimat:
QEMURNIAN QOLBI BUKAN BERARTI QOLBI TIDAK PERNAH TERGANGGU.
Qolbi manusia berubah.
Hari ini tenang.
Besok marah.
Hari ini ikhlas.
Besok ego muncul.
Hari ini sabar.
Besok tergelincir.
Karena itu Qemurnian bukan keadaan yang diperoleh sekali lalu selesai.
Ia adalah perawatan terus-menerus.
Seperti air.
Jika kotor, jernihkan kembali.
Jika salah, bertaubat.
Jika marah, tenangkan.
Jika sombong, ingat keterbatasan.
Jika iri, latih syukur.
Jika terluka, cari penyembuhan tanpa menzalimi.
Inilah Qemurnian yang hidup.
14. QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Lampu kecil di tengah ruangan membesar.
Sang pengembara melihat tujuh tangga yang telah dilewatinya:
ṢIDQ — KEJUJURAN
AMĀNAH — TANGGUNG JAWAB
‘ADL — KEADILAN
RAḤMAH — KASIH SAYANG
ḤIKMAH — KEBIJAKSANAAN
TAWĀḌU‘ — KERENDAHAN HATI
IKHLĀṢ — QEMURNIAN NIAT
Kemudian ia memahami:
Mi‘roj batin yang dimaksud Qitab ini bukan berpindah secara harfiah menuju langit dan bukan menyamai Isra’ Mi‘roj Nabi Muhammad ﷺ.
Ia adalah bahasa perenungan tentang:
NAIKNYA KUALITAS AKHLAK SEORANG HAMBA.
Dari:
bohong → jujur,
lalai → amanah,
berat sebelah → adil,
keras → penuh kasih,
tergesa → bijaksana,
sombong → tawadhu’,
mencari pujian → ikhlas.
Itulah jalan Qembali Qe Mi‘rojnya.
Bukan menjadi Tuhan.
Bukan menjadi manusia tanpa salah.
Tetapi semakin sadar bahwa segala perjalanan harus mengantar manusia kembali kepada:
PENGHAMBAAN KEPADA ALLOH.
15. KEMBALINYA HARIMAU
Pintu ruangan terbuka.
Harimau kembali muncul.
Tetapi wujudnya kini sangat berbeda dari awal perjalanan.
Dahulu ia mengaum.
Matanya penuh bara.
Taringnya terbuka.
Kini ia berdiri tenang.
Kuat.
Waspada.
Namun jinak.
Sang pengembara mendekat dan meletakkan tangan di kepalanya.
Suara berkata:
“Inilah nafsu yang tidak dimusnahkan, tetapi dididik.”
Manusia membutuhkan tenaga.
Membutuhkan keberanian.
Membutuhkan naluri mempertahankan diri.
Membutuhkan ambisi untuk tumbuh.
Tetapi semuanya harus berada di bawah kendali:
iman, akal, akhlak, dan Fatonah.
Harimau bukan lagi tuan.
Ia menjadi penjaga.
16. KEMBALINYA SANG PANGERAN
Sang pangeran datang.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya indah, tetapi mahkotanya ia bawa di tangan.
Ia berkata:
“Dahulu aku mengira kemuliaan berada pada mahkota. Sekarang aku memahami bahwa mahkota hanya mengingatkan besarnya amanah.”
Ia memakai mahkota kembali.
Tetapi kali ini kepalanya tetap menunduk ketika berdoa.
Suara berkata:
“INILAH KEKUASAAN YANG QEMBALI KEPADA PENGABDIAN.”
Pangeran tidak kehilangan wibawa.
Ia justru memperoleh arti.
Karena kekuasaan tanpa pengabdian adalah beban.
Sedangkan kekuasaan yang digunakan untuk menjaga hak menjadi amanah.
17. KEMBALINYA SANG NIMAS
Sang Nimas datang membawa kendi air.
Rambut panjangnya bergerak lembut diterpa angin.
Ia menuangkan air ke dalam telaga.
Air yang semula kecil menjadi luas.
Ia berkata:
“Kasih tidak berkurang karena dibagikan dengan bijaksana.”
Sang Nimas melambangkan Jamal:
kelembutan,
keindahan,
kasih,
dan kejernihan.
Tetapi kini kelembutannya tidak rapuh.
Ia telah melewati keadilan.
Telah melewati Hikmah.
Maka kasihnya mempunyai batas.
Dan batasnya mempunyai kasih.
18. PENYATUAN JALAL DAN JAMAL
Pangeran berdiri di satu sisi telaga.
Nimas berdiri di sisi lain.
Harimau berada di tengah.
Terdengar suara:
“Jalal tanpa Jamal menjadi keras.
Jamal tanpa Jalal menjadi lemah.
Bila keduanya tunduk kepada kebenaran, lahirlah keseimbangan.”
Pangeran membawa ketegasan.
Nimas membawa kelembutan.
Harimau membawa kekuatan.
Telaga membawa kejernihan.
Rusa membawa kewaspadaan.
Kabut membawa misteri kehidupan.
Mahkota membawa amanah.
Semua simbol yang dahulu terpisah kini berdiri dalam satu pemandangan.
Itulah ALHAZABILLAH FATONAH.
Bukan satu sosok.
Bukan satu makhluk.
Tetapi bahasa simbolik tentang manusia yang sedang belajar menyatukan kekuatan-kekuatan dalam dirinya agar seluruhnya kembali kepada kebaikan.
19. TELAGA QEMURNIAN QOLBI
Di tengah telaga muncul tujuh lingkaran air.
Lingkaran pertama bertuliskan:
JUJUR
Lingkaran kedua:
AMANAH
Ketiga:
ADIL
Keempat:
KASIH
Kelima:
BIJAKSANA
Keenam:
RENDAH HATI
Ketujuh:
IKHLAS
Ketujuh lingkaran menyatu.
Tidak ada lagi batas.
Air menjadi sangat bening.
Sang pengembara melihat wajahnya.
Kali ini ia tidak melihat mahkota.
Tidak melihat gelar.
Hanya seorang manusia.
Dan untuk pertama kalinya ia tidak kecewa melihat dirinya sebagai manusia biasa.
Ia tersenyum.
Sebab ia akhirnya memahami:
**MENJADI HAMBA BUKAN KEHINAAN.
MENJADI HAMBA YANG BENAR ADALAH KEMULIAAN.**
20. SINGGASANA YANG SEBENARNYA
Kabut terbuka.
Tampak sebuah singgasana besar di kejauhan.
Sang pengembara berjalan mendekatinya.
Ia mengira inilah akhir perjalanan.
Tetapi ketika sampai, singgasana itu kosong.
Di atasnya tertulis:
“JANGAN DUDUKKAN EGOMU DI SINI.”
Kemudian singgasana berubah menjadi sebuah tempat untuk melayani manusia.
Ada orang miskin.
Ada orang yang kehilangan arah.
Ada anak-anak belajar.
Ada orang tua.
Ada orang sakit.
Ada keluarga yang berselisih.
Ada orang yang membutuhkan nasihat.
Ada orang yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Suara berkata:
“Singgasana sejati bukan tempat untuk dilayani.
Singgasana amanah adalah tempat dari mana engkau belajar melayani.”
Sang pengembara pun menunduk.
21. SABDO ALHAZABILLAH FATONAH
Langit seolah terbuka.
Bukan dengan suara yang mengaku sebagai wahyu, melainkan sebagai bahasa perenungan dalam Qitab.
Terdengar wewarah:
“Wahai manusia, bersihkan qolbimu sebelum engkau ingin membersihkan dunia.”
“Jujurlah sebelum menuntut kejujuran.”
“Jagalah amanah sebelum meminta amanah yang lebih besar.”
“Berlaku adillah walaupun qolbimu mempunyai kecenderungan.”
“Berikan kasih tanpa kehilangan batas.”
“Gunakan ilmu dengan Hikmah.”
“Rendahkan ego tanpa merendahkan martabatmu.”
“Dan luruskan niat setiap kali qolbimu mulai meminta tepuk tangan.”
Kemudian:
“Jangan mencari jalan menuju Alloh dengan merendahkan manusia.”
“Jangan mencari kemuliaan melalui ketakutan orang lain.”
“Jangan memakai agama sebagai pakaian ego.”
“Jangan menjadikan pengalaman batin sebagai alasan mengklaim kedudukan yang tidak dapat dipastikan.”
“Semakin jauh engkau berjalan, semakin banyaklah manfaat yang engkau tinggalkan.”
22. TANDA PERJALANAN YANG SEHAT
Sang pengembara bertanya:
“Bagaimana aku mengetahui bahwa perjalanan ini membawa kebaikan?”
Jawaban datang:
Lihat buahnya.
Bila perjalanan membuatmu:
lebih jujur,
lebih bertanggung jawab,
lebih sabar,
lebih adil,
lebih kasih,
lebih mampu mengakui kesalahan,
lebih menjaga keluarga,
lebih menghormati sesama,
lebih tertib dalam hidup,
lebih tekun beribadah,
dan lebih rendah hati,
maka ambillah kebaikannya.
Tetapi bila perjalanan membuatmu:
merasa paling suci,
merasa lebih tinggi daripada semua orang,
meremehkan nasihat,
menelantarkan tanggung jawab nyata,
membenarkan tindakan buruk atas nama spiritualitas,
atau merasa setiap pikiran pribadi pasti merupakan perintah dari langit,
maka berhentilah dan periksa kembali.
Karena jalan menuju kebenaran tidak takut kepada pemeriksaan.
23. TUJUH AMANAH SETELAH QITAB
Setelah pembacaan Qitab ini selesai, terdapat tujuh amanah sederhana:
PERTAMA — JAGA LISAN
Kurangi dusta, fitnah, dan perkataan yang sengaja menyakiti.
KEDUA — JAGA JANJI
Jangan mudah menjanjikan sesuatu yang tidak mampu ditunaikan.
KETIGA — JAGA KELUARGA
Berikan waktu kepada orang yang hidup bersamamu.
KEEMPAT — JAGA REZEKI
Usahakan yang halal, kelola dengan tertib, dan hindari mengambil hak orang lain.
KELIMA — JAGA ILMU
Bedakan antara yang diketahui, diduga, dan belum diketahui.
KEENAM — JAGA QOLBI
Jangan biarkan iri, dendam, dan kesombongan menjadi penghuni tetap.
KETUJUH — JAGA HUBUNGAN DENGAN ALLOH
Doa.
Sholat.
Taubat.
Syukur.
Dan pengabdian.
Karena seluruh perjalanan akhirnya Qembali kepada-Nya.
24. AMALAN MUHASABAH ALHAZABILLAH FATONAH
Pada malam hari, tidak diperlukan ritual yang rumit.
Duduklah dengan tenang.
Tarik napas sewajarnya.
Kemudian tanyakan tujuh pertanyaan:
1. ṢIDQ
Apakah hari ini aku jujur?
2. AMĀNAH
Apakah amanah hari ini kutunaikan?
3. ‘ADL
Apakah aku berlaku adil kepada orang yang kusukai dan tidak kusukai?
4. RAḤMAH
Apakah ada qolbi yang terluka karena kekerasanku?
5. ḤIKMAH
Apakah aku terlalu cepat berbicara atau memutuskan?
6. TAWĀḌU‘
Apakah hari ini aku merasa lebih tinggi daripada orang lain?
7. IKHLĀṢ
Apakah aku melakukan sesuatu hanya agar dipuji?
Kemudian ucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm
Mohon ampun atas kekurangan.
Lalu:
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk
يَا نُور
Yā Nūr
Wahai Sang Pemberi Cahaya
يَا سَلَام
Yā Salām
Wahai Yang Maha Memberi Keselamatan
Bacalah dengan tenang sesuai kemampuan sebagai dzikir dan doa, bukan sebagai jaminan munculnya pengalaman gaib tertentu.
25. DOA QEMURNIAN QOLBI
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ، وَزَيِّنْهُ بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالْإِخْلَاصِ
Allāhumma ṭahhir qolbī minar-riyā’i wal-kibri wal-ḥasadi, wa zayyinhu biṣ-ṣidqi wal-amānati war-raḥmati wal-ikhlāṣ.
“Yā Alloh, sucikan qolbiku dari riya, kesombongan, dan iri. Hiasilah ia dengan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan keikhlasan.”
Kemudian:
رَبِّ اهْدِنِي إِلَيْكَ هِدَايَةً جَمِيلَةً
Rabbi-hdinī ilaika hidāyatan jamīlah.
“Wahai Rabb-ku, bimbinglah aku menuju-Mu dengan bimbingan yang indah.”
26. QEMBALINYA NAMA
Di akhir perjalanan, nama ALHAZABILLAH FATONAH kembali muncul di langit.
Tetapi tidak lagi tampak sebagai gelar.
Ia berubah menjadi pengingat:
ALHAZABILLAH
Qembali dengan bersandar kepada Alloh.
FATONAH
Berjalan dengan kejernihan, kecerdasan akhlak, dan kebijaksanaan.
Maka makna Qitab ini dirangkum:
“QEMURNIAN QOLBI DAN QEJUJURAN MEMBAWA MANUSIA QEMBALI KEPADA PENGABDIAN KEPADA SANG MAHA AGUNG, DENGAN FATONAH SEBAGAI PENJAGA JALAN.”
27. PANGERAN DAN NIMAS DI TEPI TELAGA
Malam turun.
Sang Pangeran dan Nimas duduk di tepi telaga.
Harimau berada tidak jauh dari mereka.
Rusa berjalan di antara pepohonan.
Kabut semakin tipis.
Tidak ada musuh.
Tidak ada peperangan.
Tidak ada yang harus ditaklukkan.
Pangeran berkata:
“Selama ini aku mencari singgasana.”
Nimas bertanya:
“Sudahkah engkau menemukannya?”
Pangeran melihat air.
Lalu menjawab:
“Aku menemukan bahwa singgasana paling berat adalah qolbi sendiri.”
Nimas tersenyum.
“Siapa rajanya?”
Pangeran menjawab:
“Bukan ego.”
Lalu keduanya menundukkan kepala dalam penghambaan kepada Alloh.
Harimau pun berbaring.
Telaga menjadi tenang.
Langit memantul sempurna di permukaan air.
28. QEMBALI QE AWAL
Kemudian seluruh pemandangan perlahan menghilang.
Istana hilang.
Harimau hilang.
Telaga hilang.
Pangeran dan Nimas hilang.
Yang tersisa adalah kamar sederhana.
Sang pengembara terbangun.
Ia melihat dirinya.
Tidak ada mahkota di kepalanya.
Tidak ada harimau di sampingnya.
Tidak ada tanda bahwa dunia mengetahui perjalanan yang baru saja ia alami sebagai perenungan batin.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Ketika ibunya memanggil, ia menjawab lebih lembut.
Ketika seseorang berbeda pendapat, ia mendengarkan lebih dahulu.
Ketika memperoleh rezeki, ia ingat amanah.
Ketika dipuji, ia bersyukur tetapi tidak mabuk.
Ketika dikritik, ia memeriksa dirinya.
Ketika marah, ia tidak langsung bertindak.
Ketika melihat orang lemah, ia tidak meremehkan.
Ketika beribadah, ia tidak merasa lebih suci daripada manusia lain.
Dan ketika sendirian, ia berkata:
“Yā Alloh, Qembalikan aku terus-menerus kepada Qemurnian Qolbi.”
Itulah tanda perjalanan telah menyentuh kehidupan nyata.
29. RAHASIA TERAKHIR
Pada pagi hari ia menemukan sebuah tulisan kecil di meja.
Hanya satu kalimat:
“Jalan yang tidak mengubah perilakumu hanyalah cerita.
Hikmah yang mengubah akhlakmu menjadi kehidupan.”
Maka sang pengembara memahami rahasia terakhir:
Qitab bukan untuk membuat pembacanya merasa telah mencapai maqom tertentu.
Qitab adalah cermin.
Jika menemukan kebaikan:
amalkan.
Jika menemukan teguran:
perbaiki.
Jika menemukan simbol:
ambil hikmahnya.
Jika ada sesuatu yang tidak dipahami:
jangan dipaksakan.
Dan segala kepastian terakhir dikembalikan kepada Alloh.
30. TUJUH METERAI ALHAZABILLAH FATONAH
Sebagai penutup, Qitab menyimpan tujuh meterai akhlak.
METERAI PERTAMA
JUJUR WALAU BERAT
METERAI KEDUA
AMANAH WALAU TIDAK DIAWASI
METERAI KETIGA
ADIL WALAU TERHADAP DIRI SENDIRI
METERAI KEEMPAT
MENGASIHI TANPA MENJADI LEMAH
METERAI KELIMA
BIJAK TANPA MENJADI LICIK
METERAI KEENAM
RENDAH HATI TANPA KEHILANGAN MARTABAT
METERAI KETUJUH
IKHLAS TANPA BERHENTI BERKARYA
Bila tujuh meterai itu dijaga, Qitab tidak lagi hanya dibaca.
Ia mulai dihidupkan.
31. SABDO PENUTUP
“Bila engkau mencari harimau, temukan keberanianmu.”
“Bila engkau mencari telaga, jernihkan qolbimu.”
“Bila engkau mencari mahkota, temukan amanahmu.”
“Bila engkau mencari pangeran, tegakkan keteguhanmu.”
“Bila engkau mencari Nimas, hidupkan kasihmu.”
“Bila engkau mencari gerbang, bukalah kejujuranmu.”
“Bila engkau mencari Mi‘roj, naikkan akhlakmu.”
“Dan bila engkau mencari Sang Maha Agung, jangan samakan makhluk dengan Khāliq. Tundukkanlah diri sebagai hamba kepada Alloh.”
32. QEMURNIAN QOLBI QEJUJURAN SANG MAHA AGUNG QEMBALI QE MI‘ROJNYA
Kini kalimat awal Qitab dibaca kembali:
QEMURNIAN QOLBI
Qolbi yang selalu dibersihkan melalui taubat, kejujuran, dan muhasabah.
QEJUJURAN
Keberanian melihat diri tanpa topeng.
SANG MAHA AGUNG
Hanya Alloh Yang Maha Agung secara mutlak.
Manusia tidak mengambil sifat keagungan itu untuk meninggikan dirinya.
Manusia tunduk dan mengabdi.
QEMBALI
Karena seluruh perjalanan adalah jalan pulang.
QE MI‘ROJNYA
Naik dari akhlak rendah menuju akhlak mulia.
Dari ego menuju penghambaan.
Dari kebisingan menuju kejernihan.
Dari ingin dipuja menuju ingin bermanfaat.
33. DOA KHATAM QITAB
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh,
bila di dalam diri kami ada kesombongan, lembutkanlah.
Bila ada kedustaan, luruskanlah.
Bila ada dendam, sembuhkanlah.
Bila ada amanah yang terlupakan, ingatkanlah.
Bila ada hak manusia dalam tangan kami, mudahkan kami mengembalikannya.
Bila ada ilmu yang membuat kami merasa tinggi, jadikan ilmu itu jalan Tawāḍu‘.
Bila ada kekayaan, jadikan ia manfaat.
Bila ada kekuasaan, jadikan ia perlindungan.
Bila ada cinta, sucikan dari kezaliman.
Bila ada luka, jangan jadikan luka itu alasan bagi kami untuk melukai.
Bila ada cita-cita besar, luruskan niatnya.
Bila kami dipuji, jaga kami dari ‘ujub.
Bila kami dihina, jaga kami dari dendam.
Bila kami benar, jangan jadikan kebenaran alasan untuk berlaku kasar.
Bila kami salah, berikan keberanian untuk mengakuinya.
Yā Alloh,
berikan kepada kami qolbi yang jernih,
lisan yang benar,
tangan yang amanah,
pikiran yang Fatonah,
keputusan yang adil,
kasih yang luas,
Hikmah yang matang,
Tawāḍu‘ yang menyejukkan,
dan Ikhlāṣ yang terus diperbarui.
Jangan biarkan perjalanan kami menjauhkan kami dari-Mu.
Jangan biarkan simbol menggantikan hakikat.
Jangan biarkan gelar menggantikan akhlak.
Jangan biarkan keinginan untuk menjadi besar mengalahkan amanah menjadi bermanfaat.
Qembalikan kami kepada-Mu dengan cara yang Engkau ridhoi.
Āmīn Yā Rabbal-‘Ālamīn.
KHATAM
QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
قِتَابُ الْحَزَبِ بِاللّٰهِ فَطَانَة
**Qemurnian Qolbi
Qejujuran
Qeadilan
Qasih
Qebijaksanaan
Qerendahan Hati
Qeikhlasan
dan Qembali Qe Mi‘roj Penghambaan**
PESAN TERAKHIR QITAB
“Jangan selesai membaca Qitab ini pada halaman terakhir.
Selesaikanlah ia dalam akhlakmu.”
“Jangan tanyakan seberapa tinggi perjalananmu.
Tanyakan seberapa banyak kebaikan yang tumbuh darinya.”
“Sebab cahaya terbaik bukan yang membuat manusia terpukau melihatmu, tetapi yang membuat manusia merasa lebih aman berada di dekatmu.”
Dan pada garis paling bawah tertulis:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
ALḤAMDULILLĀHI RABBIL-‘ĀLAMĪN
Segala puji bagi Alloh, Rabb seluruh alam.
TAMAT — KHATAM QITAB ALHAZABILLAH FATONAH
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.