QITAB ĀYĀTUL-MĀ’ WAL-‘IBRAH
QITAB ĀYĀTUL-MĀ’ WAL-‘IBRAH
Pelurusan Makna Banjir di Makam Para Wali dan Adab Membaca Pertanda
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الْمَاءُ جُنْدٌ مِنْ جُنُودِ اللّٰهِ، فِيهِ حَيَاةٌ وَفِيهِ ابْتِلَاءٌ، وَلَا يَعْلَمُ سِرَّ الْحَوَادِثِ إِلَّا اللّٰهُ
Air merupakan salah satu makhluk Alloh. Di dalamnya terdapat kehidupan dan dapat pula menjadi ujian. Tidak ada yang mengetahui rahasia sebenarnya dari suatu kejadian selain Alloh.
Lembar Pertama: Ketika Air Memasuki Kawasan Makam Wali
Saudara dan saudari cahayaku yang dirahmati Alloh.
Apabila terlihat air menggenangi kawasan makam Sunan Kalijaga atau makam seorang wali, janganlah hati tergesa-gesa menyebutnya sebagai pertanda kiamat, kemurkaan, penolakan ruh wali, ataupun ramalan akan datangnya suatu malapetaka.
Banjir tetap harus terlebih dahulu dipandang sebagai kejadian alam dan persoalan lahiriah. Penyebabnya dapat berkaitan dengan hujan deras, luapan saluran air, kerusakan drainase, kondisi tanah, perubahan lingkungan, atau sebab lain yang perlu diperiksa oleh pihak yang memahami keadaan di tempat tersebut.
Tanpa keterangan yang dapat dipercaya, kita tidak boleh memastikan penyebabnya hanya melalui potongan video.
Alloh berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu suatu berita, maka periksalah kebenarannya.”
Maka jalan pertama ketika menerima video seperti itu adalah tabayyun, bukan ketakutan dan bukan pula penyebaran kesimpulan gaib.
Apakah Ini Sebuah Pertanda?
Setiap kejadian dapat menjadi bahan renungan, tetapi tidak setiap kejadian boleh dinyatakan sebagai pertanda khusus dari alam gaib.
Banjir tersebut dapat menjadi pengingat agar manusia:
memperbaiki pengelolaan lingkungan dan saluran air;
menjaga kebersihan tempat ziarah;
membantu warga atau penjaga makam yang terdampak;
tidak membuang sampah sembarangan;
mengingat kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Alloh;
memperbanyak doa dan memperbaiki amal.
Inilah pertanda yang paling selamat untuk diambil: pertanda agar manusia sadar dan memperbaiki tanggung jawabnya, bukan pertanda untuk menakut-nakuti masyarakat.
Makam seorang wali juga merupakan tempat di bumi yang tetap mengalami panas, hujan, angin, banjir, kerusakan bangunan, dan perubahan alam. Terjadinya banjir di kawasan makam tidak mengurangi kemuliaan perjuangan orang saleh yang dimakamkan di sana.
Kemuliaan seorang wali tidak diukur dari tanah makamnya selalu kering, tetapi dari iman, ilmu, perjuangan, ketakwaan, dan manfaat yang pernah diberikan kepada umat.
Larangan Menjual Ketakutan atas Nama Wali
Jangan sampai kejadian seperti ini digunakan untuk mengatakan:
“Wali sedang marah.”
“Ini tanda negeri akan hancur.”
“Ruh penjaga makam sedang memberikan peringatan khusus.”
“Siapa yang tidak menyebarkan video ini akan terkena musibah.”
Ucapan demikian tidak memiliki dasar yang jelas dan dapat menimbulkan keresahan. Rahasia alam gaib adalah milik Alloh. Manusia hanya boleh mengatakan sesuatu sesuai ilmu dan bukti yang dimilikinya.
الْغَيْبُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ
Perkara gaib adalah milik Alloh semata.
Pencerahan Qalbu
Air yang menggenangi makam jangan hanya dipandang dengan mata ketakutan. Pandanglah pula sebagai cermin:
Mungkin tanah makam sedang dipenuhi air, tetapi jangan sampai hati kita lebih dahulu dipenuhi kesombongan.
Mungkin jalan menuju makam menjadi sulit dilalui, tetapi jangan sampai jalan menuju taubat lebih lama kita abaikan.
Mungkin bangunan harus dibersihkan setelah air surut, tetapi hati manusia juga perlu dibersihkan dari prasangka, berita bohong, dan kebiasaan menakut-nakuti sesama.
Air tidak selalu datang membawa murka. Air dapat datang membawa kehidupan, ujian, pembersihan, ataupun peringatan agar manusia memperbaiki ikhtiarnya.
Namun makna yang sebenarnya hanya Alloh Yang Maha Mengetahui.
Doa Ketika Melihat Musibah Banjir
اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَ ذٰلِكَ الْمَكَانِ، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ الضُّرَّ وَالْبَلَاءَ، وَاجْعَلِ الْمَاءَ رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهُ عَذَابًا، وَأَلْهِمْنَا الْحِكْمَةَ وَحُسْنَ الْعَمَلِ
Allohummaḥfaẓ ahla dzālikal-makān, waṣrif ‘anhumuḍ-ḍurra wal-balā’, waj‘alil-mā’a raḥmatan wa lā taj‘alhu ‘adzābā, wa alhimnal-ḥikmata wa ḥusnal-‘amal.
Ya Alloh, jagalah seluruh manusia di tempat tersebut. Jauhkan mereka dari bahaya dan bencana. Jadikanlah air itu membawa rahmat, bukan penderitaan. Ilhamkanlah kepada kami kebijaksanaan dan amal yang baik.
Kesimpulan Lembar Pertama
Banjir di kawasan makam Sunan Kalijaga tidak boleh langsung dipastikan sebagai pertanda gaib tertentu. Sikap yang benar ialah memeriksa kebenaran dan waktu videonya, mencari penjelasan penyebab lahiriah, mendoakan keselamatan, membantu penanganan, serta mengambil pelajaran untuk memperbaiki lingkungan dan akhlak.
Jangan membesarkan ketakutan. Besarkanlah doa, kepedulian, tabayyun, dan ikhtiar.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Alloh Yang Maha Mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Lembar Kedua: Adab Menafsirkan Musibah dan Menjaga Lisan dari Kepastian Gaib
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
لَيْسَ كُلُّ حَادِثَةٍ رِسَالَةً خَاصَّةً، وَلَكِنَّ فِي كُلِّ حَادِثَةٍ عِبْرَةً لِمَنْ تَفَكَّرَ
Tidak setiap kejadian merupakan pesan gaib yang khusus, tetapi dalam setiap kejadian terdapat pelajaran bagi orang yang mau berpikir.
Saudara dan saudari cahayaku yang dirahmati Alloh.
Ketika suatu musibah terjadi di tempat yang dianggap mulia, seperti masjid, pesantren, makam ulama, makam wali, atau tempat bersejarah, manusia sering kali lebih cepat mencari makna tersembunyi daripada mencari penyebab nyata.
Sebagian langsung berkata:
“Ini pasti pertanda besar.”
“Ada pesan dari penghuni makam.”
“Akan terjadi sesuatu pada negeri ini.”
“Ini bukti wali sedang murka.”
Padahal ucapan seperti itu telah memasuki wilayah yang tidak diketahui manusia.
Orang yang menjaga adab tidak terburu-buru menghubungkan setiap banjir, gempa, kebakaran, hujan deras, atau kerusakan bangunan dengan pesan khusus dari alam gaib.
Sebab tidak semua yang menggetarkan hati merupakan wahyu.
Tidak semua yang terlihat aneh merupakan karamah.
Tidak semua yang terjadi di tempat keramat merupakan isyarat rahasia.
Kadang-kadang sebuah tempat tergenang karena salurannya tersumbat.
Kadang-kadang air meluap karena hujan turun lebih deras daripada kemampuan tanah menyerapnya.
Kadang-kadang bangunan rusak karena usia, kurangnya perawatan, atau perubahan lingkungan.
Maka ilmu mengajarkan pemeriksaan, sedangkan iman mengajarkan kerendahan hati.
Perbedaan Antara Ibrah dan Ramalan
Mengambil ibrah berarti menjadikan suatu kejadian sebagai bahan untuk memperbaiki diri.
Sedangkan membuat ramalan berarti memastikan sesuatu yang belum diketahui berdasarkan dugaan.
Ketika melihat banjir di kawasan makam wali, seseorang boleh berkata:
“Semoga kejadian ini mengingatkan kita agar lebih menjaga lingkungan, memperbaiki drainase, membantu masyarakat, dan mendekatkan diri kepada Alloh.”
Namun jangan berkata:
“Banjir ini pasti pertanda akan terjadi perang, pergantian kekuasaan, kiamat sudah sangat dekat, atau wali sedang menolak kedatangan manusia.”
Kalimat pertama mengandung hikmah dan tanggung jawab.
Kalimat kedua mengandung kepastian yang tidak memiliki dasar.
Seorang penempuh jalan batin harus mampu membedakan antara rasa yang muncul di dalam hati dan kebenaran yang boleh disampaikan kepada orang banyak.
Rasa pribadi belum tentu petunjuk.
Mimpi belum tentu perintah.
Firasat belum tentu kenyataan.
Kegelisahan belum tentu pertanda.
Semua itu harus ditimbang dengan ilmu, akal sehat, akhlak, syariat, dan kenyataan yang dapat diperiksa.
Bahaya Menyebarkan Video Tanpa Pemeriksaan
Pada zaman ini, satu video lama dapat dibagikan kembali seolah-olah baru terjadi hari ini. Suatu rekaman dari tempat lain dapat diberi judul berbeda. Sebuah peristiwa biasa dapat ditambahkan narasi menakutkan agar banyak orang menonton dan menyebarkannya.
Karena itu, sebelum meneruskan suatu video, tanyakan dalam hati:
Apakah tempatnya benar?
Apakah waktunya benar?
Apakah video ini masih baru?
Apakah ada keterangan dari pengelola tempat tersebut?
Apakah narasinya sesuai dengan kenyataan?
Apakah penyebaran ini memberi manfaat atau hanya menambah kepanikan?
Orang yang mencintai kebenaran tidak merasa malu untuk berkata:
“Saya belum mengetahui keadaan sebenarnya.”
Ucapan itu lebih mulia daripada membuat penjelasan panjang yang tidak memiliki dasar.
الصَّمْتُ عِنْدَ الْجَهْلِ حِكْمَةٌ
Diam ketika belum mengetahui merupakan bagian dari kebijaksanaan.
Makam Wali Bukan Tempat Meminta Kepastian Gaib
Ziarah kepada makam orang saleh seharusnya menumbuhkan ingatan kepada kematian, keteladanan, doa, dan kerendahan hati.
Makam bukan tempat untuk menjual rasa takut.
Makam bukan tempat untuk meramal nasib negeri.
Makam bukan tempat untuk memastikan pesan dari ruh tanpa dasar.
Makam bukan pula tempat untuk mengalihkan penghambaan dari Alloh kepada makhluk.
Orang saleh yang telah wafat dihormati karena perjuangan dan ketakwaannya. Namun doa, pertolongan mutlak, perlindungan mutlak, dan pengetahuan gaib tetap milik Alloh.
Apabila kawasan makam terkena banjir, tugas manusia bukan menuduh ruh yang dimakamkan sedang memberi hukuman. Tugas manusia ialah menjaga keselamatan, membantu membersihkan tempat, memperbaiki penyebab kerusakan, serta mendoakan semua pihak yang terdampak.
Empat Penjagaan Ketika Melihat Kejadian yang Menggetarkan Hati
Pertama: Jaga Mata
Jangan hanya melihat bagian yang mengerikan. Lihat pula keadaan manusia yang membutuhkan pertolongan, petugas yang bekerja, warga yang membersihkan, dan jalan keluar yang dapat dilakukan.
Kedua: Jaga Pikiran
Jangan membiarkan pikiran langsung membangun cerita gaib yang tidak diketahui kebenarannya.
Ketiga: Jaga Lisan
Jangan mengucapkan “pasti” pada perkara yang masih berupa dugaan.
Keempat: Jaga Tangan
Jangan mudah menekan tombol teruskan sebelum memeriksa kebenaran berita.
Satu kali membagikan berita yang salah dapat membuat ratusan orang takut. Karena itu, tanggung jawab dalam dunia pesan dan media juga termasuk bagian dari amanah.
Cahaya Hikmah dari Peristiwa Air
Air mengajarkan manusia bahwa sesuatu yang lembut dapat menjadi sangat kuat ketika jumlahnya besar.
Begitu pula kata-kata.
Satu kata mungkin terlihat ringan, tetapi ketika diteruskan ribuan orang, ia dapat menjadi arus besar yang menenggelamkan kejernihan masyarakat.
Maka jangan menjadi sumber banjir ketakutan.
Jadilah saluran kesejukan.
Jangan menyebarkan dugaan.
Sebarkanlah doa dan keterangan yang benar.
Air yang jernih memberi kehidupan.
Air yang tercemar membawa penyakit.
Begitu pula informasi yang jernih membawa ketenangan, sedangkan informasi yang tercemar oleh dusta dan tambahan manusia dapat merusak hati.
Doa Penjagaan dari Berita yang Menyesatkan
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَقُلُوبَنَا مِنَ الظَّنِّ السُّوْءِ
Allohumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah, waḥfaẓ alsinatanā minal-kadzib, wa qulūbanā minaẓ-ẓannis-sū’.
Ya Alloh, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kemampuan untuk menjauhinya. Jagalah lisan kami dari dusta dan hati kami dari prasangka buruk.
Pesan Penutup Lembar Kedua
Apabila sebuah musibah terjadi di tempat yang dimuliakan, janganlah kemuliaan tempat itu dijadikan alasan untuk membuat kepastian gaib.
Kemuliaan tidak menghapus hukum alam.
Kesalehan penghuni makam tidak menjadikan tanah sekitarnya bebas dari hujan.
Kecintaan kepada wali tidak boleh mengalahkan kewajiban menjaga kebenaran.
Orang yang benar-benar mencintai para wali akan meneladani akhlak mereka: rendah hati, berhati-hati dalam berbicara, tidak menakut-nakuti umat, menyayangi masyarakat, dan mengembalikan seluruh rahasia kepada Alloh.
خُذِ الْعِبْرَةَ وَلَا تَدَّعِ الْغَيْبَ
Ambillah pelajarannya, tetapi jangan mengaku mengetahui perkara gaib.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالسِّرِّ وَالْخَفِيِّ
Alloh Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan perkara yang tersembunyi.
Lembar Ketiga: Ujian Bukan Hanya pada Air, tetapi pada Sikap Manusia
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
رُبَّ حَادِثَةٍ تَكْشِفُ مَا فِي الْأَرْضِ، وَتَكْشِفُ أَيْضًا مَا فِي الْقُلُوبِ
Betapa banyak suatu kejadian menyingkap keadaan bumi, sekaligus menyingkap apa yang tersembunyi di dalam hati manusia.
Saudara dan saudari cahayaku yang dirahmati Alloh.
Ketika air memasuki sebuah permukiman, masjid, pesantren, atau kawasan makam orang saleh, yang sedang diuji bukan hanya bangunan dan tanahnya. Hati manusia juga sedang diuji.
Ada orang yang melihat lalu segera berdoa.
Ada yang tergerak membantu.
Ada yang mencari kebenaran.
Ada pula yang sibuk membuat cerita menakutkan agar menjadi pusat perhatian.
Karena itu, musibah tidak hanya memperlihatkan tinggi rendahnya air, tetapi juga memperlihatkan tinggi rendahnya akhlak manusia.
Air dapat menggenangi halaman dalam beberapa jam. Namun prasangka dan berita palsu dapat menggenangi pikiran masyarakat jauh lebih lama.
Maka jangan hanya bertanya:
“Pertanda apakah banjir ini?”
Tanyakan pula kepada diri sendiri:
“Sikap apakah yang sedang dituntut dari diriku ketika menyaksikan kejadian ini?”
Boleh jadi jawaban paling benar bukanlah sebuah rahasia dari alam gaib, melainkan panggilan yang sangat nyata: berdoa, memeriksa berita, menjaga lisan, membantu orang lain, dan memperbaiki lingkungan.
Tiga Lapisan dalam Membaca Suatu Peristiwa
Setiap kejadian dapat dipandang melalui tiga lapisan yang harus dijaga keseimbangannya.
Pertama: Lapisan Sebab Lahiriah
Pada lapisan ini manusia wajib menggunakan akal, ilmu, dan penelitian.
Air dapat meluap karena hujan deras, saluran tersumbat, sungai tidak mampu menampung debit air, permukaan tanah menurun, kawasan resapan berkurang, atau tata ruang yang kurang baik.
Mencari penyebab seperti ini bukan berarti kurang beriman.
Justru mencari sebab merupakan bagian dari ikhtiar yang diajarkan agama. Orang yang beriman tidak menolak kenyataan alam. Ia memahami bahwa Alloh menciptakan dunia beserta hukum sebab dan akibat.
Apabila saluran air rusak, maka salurannya diperbaiki.
Apabila sampah menyumbat, maka sampahnya dibersihkan.
Apabila bangunan tidak aman, maka keselamatannya diperiksa.
Doa tidak menggantikan ikhtiar.
Ikhtiar juga tidak menghapus kebutuhan kepada doa.
Keduanya berjalan bersama.
Kedua: Lapisan Pelajaran Akhlak
Pada lapisan ini manusia bertanya:
Apakah kejadian tersebut membuat kita lebih peduli?
Apakah hati kita menjadi lebih lembut?
Apakah kita terdorong membantu?
Apakah kita semakin berhati-hati dalam menyampaikan berita?
Apakah kita sadar bahwa bangunan, harta, dan kedudukan dunia tidak kekal?
Inilah wilayah pelajaran batin yang diperbolehkan.
Seseorang boleh berkata:
“Peristiwa ini mengingatkan saya bahwa manusia lemah dan membutuhkan pertolongan Alloh.”
Ia juga boleh berkata:
“Kejadian ini mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan serta saling menolong.”
Ucapan demikian tidak mengaku mengetahui rahasia Alloh. Ia hanya mengambil hikmah untuk memperbaiki dirinya.
Ketiga: Lapisan Rahasia Ilahi
Pada lapisan ini manusia harus berhenti dengan penuh adab.
Mengapa peristiwa tertentu terjadi pada waktu tertentu?
Mengapa suatu tempat terkena musibah sementara tempat lain tidak?
Apakah di baliknya terdapat rahasia khusus?
Jawaban mutlak atas pertanyaan semacam itu berada dalam ilmu Alloh.
Manusia boleh merenung, tetapi tidak boleh memastikan tanpa wahyu dan dasar yang benar.
الْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ، وَعَلَى الْعَبْدِ الْأَدَبُ وَالِاجْتِهَادُ
Pengetahuan yang sempurna berada di sisi Alloh, sedangkan kewajiban seorang hamba adalah menjaga adab dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan.
Jangan Mengukur Kemuliaan Wali dari Keadaan Makamnya
Sebagian orang merasa heran ketika kawasan makam seorang wali mengalami banjir.
Mereka berkata:
“Mengapa tempat wali dapat kebanjiran?”
Pertanyaan ini muncul karena ada anggapan bahwa tempat yang berkaitan dengan orang saleh pasti terbebas dari setiap kerusakan alam.
Padahal para nabi, wali, ulama, dan orang saleh tetap hidup di dunia yang memiliki panas, hujan, angin, penyakit, kekeringan, gempa, serta berbagai perubahan alam.
Orang saleh dapat mengalami kesulitan.
Tempat ibadah dapat rusak.
Makam dapat terkena hujan dan banjir.
Bangunan bersejarah dapat lapuk karena usia.
Semua itu tidak menghilangkan kemuliaan iman dan perjuangan mereka.
Sunan Kalijaga dimuliakan bukan karena tanah makamnya tidak pernah terkena air. Beliau dikenang karena dakwah, kebijaksanaan, keteguhan, dan cara menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
Maka jangan menghubungkan keadaan fisik makam dengan tinggi rendahnya kedudukan orang yang dimakamkan di sana.
Jasad kembali kepada tanah.
Bangunan tunduk kepada hukum alam.
Adapun amal baik dan ilmu yang bermanfaat tetap hidup dalam ingatan serta keteladanan umat.
Adab kepada Orang yang Terdampak
Ketika menyaksikan banjir, perhatian utama seharusnya diarahkan kepada manusia yang mungkin sedang mengalami kesulitan.
Mungkin ada penjaga makam yang harus membersihkan lumpur.
Mungkin ada pedagang kecil yang kehilangan penghasilan.
Mungkin ada rumah warga yang ikut terendam.
Mungkin ada orang tua, anak-anak, dan orang sakit yang membutuhkan bantuan.
Jangan sampai masyarakat terlalu sibuk membicarakan “pertanda” sehingga melupakan orang-orang yang sedang membutuhkan pertolongan nyata.
Orang lapar tidak cukup ditolong dengan ramalan.
Orang yang rumahnya terendam tidak cukup dibantu dengan perdebatan.
Tempat yang kotor setelah banjir tidak akan bersih hanya dengan pesan berantai.
Di sinilah keimanan berubah menjadi amal.
خَيْرُ الْعِبْرَةِ مَا دَفَعَتْ إِلَى الْعَمَلِ الصَّالِحِ
Pelajaran terbaik adalah pelajaran yang mendorong manusia kepada amal saleh.
Ketika Ketakutan Lebih Cepat Menyebar daripada Kebenaran
Berita yang menakutkan sering kali lebih cepat dibagikan daripada berita yang menenangkan.
Judul seperti “pertanda besar”, “wali murka”, atau “akan terjadi bencana” membuat orang penasaran. Namun rasa penasaran bukan ukuran kebenaran.
Seorang mukmin tidak menjadikan ketakutan sebagai alat untuk memperoleh perhatian.
Ia tidak menambahkan cerita yang tidak terdapat dalam rekaman.
Ia tidak memotong informasi agar terlihat lebih mengerikan.
Ia tidak menghubungkan bencana dengan dosa kelompok tertentu tanpa dasar.
Ia juga tidak memanfaatkan nama wali untuk menguatkan dugaan pribadinya.
Sebab menyandarkan ucapan palsu kepada orang yang telah wafat merupakan bentuk ketidakadaban.
Bagaimana mungkin seseorang berkata, “Sunan Kalijaga sedang memberikan tanda ini dan itu,” sedangkan ia tidak memiliki pengetahuan tentangnya?
Cukup katakan:
“Kita tidak mengetahui makna khusus di balik kejadian ini. Mari mendoakan keselamatan, memeriksa kebenarannya, dan membantu sesuai kemampuan.”
Kalimat sederhana yang jujur lebih bercahaya daripada penjelasan gaib yang panjang tetapi tidak berdasar.
Air sebagai Cermin Kehidupan
Air turun dari langit dalam keadaan bersih. Namun ketika melewati tanah, sampah, lumpur, dan saluran yang kotor, keadaannya dapat berubah.
Demikian pula berita.
Pada awalnya mungkin terdapat kejadian nyata: sebuah tempat mengalami banjir. Namun setelah melewati banyak tangan, cerita dapat ditambahi, dipotong, atau diubah.
Akhirnya masyarakat tidak lagi menerima kejadian yang sebenarnya, melainkan menerima campuran antara fakta, ketakutan, dugaan, dan kepentingan manusia.
Maka jadilah seperti penyaring air.
Pisahkan fakta dari tambahan.
Pisahkan kesaksian dari dugaan.
Pisahkan doa dari ramalan.
Pisahkan penghormatan kepada wali dari pengkultusan yang berlebihan.
Air yang disaring dapat memberi kehidupan.
Berita yang disaring dapat memberikan pengetahuan.
Muhasabah bagi Para Penempuh Jalan Ruhani
Orang yang mendalami ilmu batin harus lebih berhati-hati daripada orang kebanyakan.
Semakin seseorang dianggap memiliki kepekaan, semakin besar tanggung jawab lisannya.
Jangan setiap getaran hati disebut ilham.
Jangan setiap bayangan disebut penglihatan gaib.
Jangan setiap mimpi disebut pesan wali.
Jangan setiap kejadian alam disebut tanda akhir zaman.
Kepekaan yang tidak disertai ilmu dapat menyesatkan.
Ilmu yang tidak disertai adab dapat melahirkan kesombongan.
Semangat yang tidak disertai kehati-hatian dapat menyakiti banyak orang.
Tanda kematangan ruhani bukanlah banyaknya cerita gaib yang disampaikan, melainkan semakin jernihnya akhlak, semakin rendah hati, semakin berhati-hati berbicara, serta semakin bermanfaat bagi sesama.
Orang yang dekat kepada Alloh tidak gemar membuat manusia panik.
Ia menghadirkan ketenangan.
Ia mengingatkan tanpa menghakimi.
Ia menasihati tanpa menakut-nakuti.
Ia mengajak berdoa sekaligus berikhtiar.
Doa bagi Kawasan Makam, Warga, dan Seluruh yang Terdampak
اللّٰهُمَّ يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ، احْفَظِ النَّاسَ وَالْبِلَادَ مِنَ الْفَيْضَانِ وَالضَّرَرِ، وَيَسِّرْ لَهُمُ الْعَوْنَ وَالسَّلَامَةَ، وَأَصْلِحْ طُرُقَ الْمَاءِ، وَبَارِكْ فِي جُهُودِ مَنْ يُسَاعِدُهُمْ
Allohumma yā Raḥmānu yā Raḥīm, iḥfaẓin-nāsa wal-bilāda minal-fayḍāni waḍ-ḍarar, wa yassir lahumul-‘auna was-salāmah, wa aṣliḥ ṭuruqal-mā’, wa bārik fī juhūdi man yusā‘iduhum.
Ya Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jagalah manusia dan negeri dari banjir serta bahaya. Mudahkanlah pertolongan dan keselamatan bagi mereka. Perbaikilah jalan-jalan aliran air dan berkahilah usaha orang-orang yang membantu mereka.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِعُلَمَائِنَا وَأَوْلِيَائِكَ الصَّالِحِيْنَ، وَاجْزِهِمْ عَنْ دَعْوَتِهِمْ وَخِدْمَتِهِمْ خَيْرَ الْجَزَاءِ
Allohummaghfir li‘ulamā’inā wa auliyā’ikaṣ-ṣāliḥīn, wajzihim ‘an da‘watihim wa khidmatihim khairal-jazā’.
Ya Alloh, ampunilah para ulama kami dan hamba-hamba-Mu yang saleh. Berilah mereka sebaik-baik balasan atas dakwah dan pengabdiannya.
Pesan Penutup Lembar Ketiga
Banjir di makam wali bukan alasan untuk kehilangan kejernihan.
Lihatlah sebab lahiriahnya dengan ilmu.
Ambillah hikmahnya dengan hati.
Serahkan rahasia akhirnya kepada Alloh.
Jangan mengaku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui.
Jangan menambah ketakutan orang yang sedang terkena kesulitan.
Jangan menjadikan nama orang saleh sebagai pembenaran bagi dugaan pribadi.
Apabila ingin menghormati Sunan Kalijaga dan para wali, teladanilah kebijaksanaan dakwah mereka: menenangkan hati, mencerdaskan umat, menyatukan masyarakat, dan mengajak manusia kembali kepada Alloh dengan akhlak yang lembut.
لَا تَسْأَلْ فَقَطْ: مَا عَلَامَةُ هٰذَا؟ وَلٰكِنْ سَلْ: مَا الْخَيْرُ الَّذِي يَجِبُ أَنْ أَفْعَلَهُ؟
Jangan hanya bertanya: “Pertanda apakah ini?” Namun bertanyalah: “Kebaikan apakah yang harus kulakukan?”
Sebab pertanyaan pertama dapat membawa manusia kepada dugaan, sedangkan pertanyaan kedua membawanya menuju amal.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالْحَقَائِقِ وَالسَّرَائِرِ
Alloh Yang Maha Mengetahui seluruh hakikat dan segala rahasia.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.