꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

 



꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB

Makna:

“Turunnya Sang Legena, kembalinya jiwa yang terang, pembawa kedamaian.”

LEMBAR PERTAMA

TURUNNYA SANG LEGENA DAN SEMBILAN UTUSAN

Ada saat ketika jiwa tidak lagi dipanggil untuk naik.

Ia justru diperintahkan turun.

Turun bukan berarti jatuh.

Turun bukan berarti kehilangan kemuliaan.

Turun adalah membawa sesuatu yang telah ditemukan di dalam cahaya menuju kehidupan yang nyata.

Maka disebutlah:

Azarroh.

Ia adalah perlambang turunnya kejernihan menuju ruang yang selama ini tertutup kabut.

Filhasbihhi.

Ia adalah perlambang ketika manusia berhenti menghitung hidup hanya dengan ukuran untung dan rugi, menang dan kalah, dipuji dan dicela.

Ngindal Hisab.

Ia adalah pintu perhitungan batin: bukan menghitung kesalahan manusia lain, tetapi berani menghitung kembali dirinya sendiri.

Sebab banyak manusia sibuk mengadili dunia, tetapi lupa membuka kitab dirinya.

Dan ketika kitab diri dibuka, Sang Legena turun.

꧁ SANG LEGENA ꧂

Sang Legena bukan nama seseorang yang harus dicari di luar.

Dalam qitab ini, ia merupakan lambang jiwa yang telah kembali sederhana setelah melewati kerumitan hidup.

Legena adalah kejernihan.

Ia tidak datang membawa mahkota kekuasaan.

Ia datang membawa air.

Air yang jatuh dari telapak tangan dua insan pada simbol qitab berarti:

apa yang benar-benar suci tidak perlu digenggam terlalu keras.

Air tetap mengalir.

Demikian pula jiwa.

Ketika manusia memaksakan segala sesuatu menjadi miliknya, hatinya menjadi sempit.

Tetapi ketika ia mampu menerima, menjaga, kemudian melepaskan sesuatu pada waktunya, jiwa kembali memperoleh ruang untuk bernapas.

Di sanalah kedamaian mulai turun.

꧁ DUA PENJAGA AIR CAHAYA ꧂

Sosok laki-laki dan perempuan pada lambang qitab tidak dimaknai semata sebagai pasangan jasmani.

Keduanya adalah perlambang dua kekuatan yang harus dipertemukan:

keteguhan dan kelembutan.

Yang satu menjaga agar manusia tidak mudah runtuh.

Yang lain menjaga agar kekuatan tidak berubah menjadi kekerasan.

Tangan mereka bertemu di bawah aliran air.

Itulah Telaga Hisab Batin.

Di telaga itu manusia tidak ditanya:

“Berapa banyak orang yang mengikutimu?”

Tetapi:

“Berapa banyak hati yang menjadi tenteram karena kehadiranmu?”

Tidak ditanya:

“Seberapa tinggi kedudukanmu?”

Tetapi:

“Apakah semakin tinggi kedudukanmu membuatmu semakin rendah hati?”

Tidak ditanya:

“Berapa banyak rahasia yang engkau ketahui?”

Tetapi:

“Apakah pengetahuan itu membuat akhlakmu semakin baik?”

Inilah hisab pertama.

꧁ SEMBILAN UTUSAN DI BAWAH SANG LEGENA ꧂

Di bawah simbol utama berdiri sembilan utusan membentuk lingkaran.

Mereka bukan sembilan penguasa.

Mereka adalah sembilan amanah.

Utusan Pertama — Penjaga Niat

Ia menjaga pintu pertama agar setiap perjalanan dimulai bukan karena ingin diagungkan, tetapi karena ingin memperbaiki diri.

Utusan Kedua — Penjaga Lisan

Ia membawa bejana bening. Setiap kata harus melewati bejana itu: apakah perkataan membawa kedamaian atau justru menambah luka?

Utusan Ketiga — Penjaga Mata

Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang terlihat harus dihakimi.

Utusan Keempat — Penjaga Pendengaran

Ia menjaga manusia agar tidak menjadikan kabar, fitnah, bisikan, dan prasangka sebagai kebenaran sebelum diperiksa.

Utusan Kelima — Penjaga Dada

Ia berdiri tepat di tengah bawah Sang Legena. Tugasnya menjaga hati dari iri, dendam, kesombongan, dan keinginan menguasai manusia lain.

Utusan Keenam — Penjaga Langkah

Ia membawa tongkat perjalanan. Maknanya: ilmu harus menghasilkan perbuatan.

Utusan Ketujuh — Penjaga Amanah

Ia membawa peti tertutup. Apa yang dipercayakan tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan diri.

Utusan Kedelapan — Penjaga Kedamaian

Tangannya kosong. Sebab kedamaian tidak selalu membutuhkan senjata untuk mempertahankan dirinya.

Utusan Kesembilan — Penjaga Kepulangan

Ia berada di gerbang paling luar. Dialah yang mengingatkan:

“Semua perjalanan akhirnya adalah perjalanan pulang.”

꧁ RAHASIA ANGKA SEMBILAN ꧂

Mengapa sembilan?

Dalam qitab ini, sembilan menjadi lambang kesempurnaan sebuah putaran sebelum kembali menuju awal yang baru.

Sesudah sembilan bukan kehancuran.

Sesudah sembilan adalah kembali kepada satu.

Satu niat.

Satu hati.

Satu arah.

Dan bagi seorang Muslim, seluruh perjalanan akhirnya dikembalikan kepada Alloh:

إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Sesungguhnya kita milik Alloh dan kepada-Nya kita kembali.

꧁ PESAN PERTAMA SANG LEGENA ꧂

Sang Legena berkata secara simbolik:

“Jangan mencari cahaya untuk membuat manusia melihatmu.

Carilah cahaya agar engkau mampu melihat jalanmu sendiri.

Jangan membawa kedamaian dengan memaksa dunia tunduk kepadamu.

Bawalah kedamaian dengan terlebih dahulu mendamaikan apa yang bertempur di dalam dadamu.

Apabila jiwamu telah jernih, pulanglah kepada kehidupan.

Temui manusia.

Rawat keluargamu.

Tunaikan amanahmu.

Perbaiki kesalahanmu.

Bayarlah kewajibanmu.

Maafkan yang dapat engkau maafkan.

Dan jangan menjadikan perjalanan ruhani alasan untuk meninggalkan kehidupan.”

Karena rahasia terbesar AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB bukan manusia naik meninggalkan bumi.

Rahasia terbesarnya adalah:

cahaya turun menjadi akhlak.

Ilmu turun menjadi amal.

Dzikir turun menjadi ketenangan.

Kekuatan turun menjadi perlindungan.

Kedudukan turun menjadi pelayanan.

Dan jiwa yang dahulu berkelana akhirnya kembali sebagai pembawa kedamaian.

Itulah permulaan turunnya Sang Legena.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

“TELAGA HISAB — KETIKA SEMBILAN UTUSAN MEMBUKA SEMBILAN PINTU JIWA.”


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDUA

TELAGA HISAB — KETIKA SEMBILAN UTUSAN MEMBUKA SEMBILAN PINTU JIWA

Ketika Sang Legena telah turun, sembilan utusan tidak langsung berbicara.

Mereka berdiri mengelilingi telaga.

Air di tengah lingkaran berpendar seperti cermin yang tidak memantulkan wajah, tetapi memantulkan keadaan hati.

Di situlah dimulai Hisab Batin.

Bukan hisab untuk menghakimi orang lain.

Bukan hisab untuk mencari siapa yang paling suci.

Tetapi hisab untuk melihat apa yang masih tersembunyi di dalam diri sendiri.

Karena jiwa yang terang tidak lahir dari banyaknya pengakuan.

Ia lahir dari keberanian untuk melihat dirinya apa adanya.

꧁ PINTU PERTAMA — NIAT ꧂

Utusan pertama melangkah maju.

Ia membawa sebuah cahaya kecil di telapak tangannya.

Lalu ia berkata secara simbolik:

“Semua perjalanan bermula dari niat.

Niat yang keruh akan mengeruhkan jalan.

Niat yang jernih akan membuat langkah yang berat terasa ringan.”

Maka pintu pertama dibuka.

Di baliknya tidak ada istana.

Hanya sebuah pertanyaan:

“Untuk apa engkau berjalan?”

Apakah untuk dipuji?

Untuk diakui?

Untuk mengalahkan orang lain?

Atau untuk menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Alloh?

Barang siapa berani menjawab pertanyaan itu dengan jujur, telah memasuki pintu pertama.

꧁ PINTU KEDUA — LISAN ꧂

Utusan kedua membuka pintu yang terbuat dari gema.

Setiap kata yang pernah diucapkan kembali terdengar.

Ada kata yang dahulu dianggap ringan, tetapi ternyata meninggalkan luka.

Ada kata sederhana yang ternyata menyelamatkan hati seseorang.

Di sini manusia memahami:

lisan adalah pintu yang kecil, tetapi akibatnya bisa sangat luas.

Karena itu Sang Legena mengajarkan:

“Jangan merasa benar hanya karena engkau mampu berbicara keras.”

Kebenaran yang kehilangan adab sering kali berubah menjadi kesombongan.

꧁ PINTU KETIGA — MATA ꧂

Utusan ketiga berdiri di hadapan pintu bercahaya.

Di dalamnya tampak banyak wajah.

Ada yang dahulu dipandang rendah.

Ada yang terlalu cepat dicurigai.

Ada pula yang terlalu diagungkan.

Lalu terdengar pesan:

“Mata tidak hanya melihat bentuk. Mata juga belajar memilih cara memandang.”

Orang yang hatinya penuh prasangka akan menemukan kesalahan di mana-mana.

Orang yang hatinya jernih tetap mampu melihat kesalahan, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.

Itulah perbedaan antara ketajaman dan kekerasan.

꧁ PINTU KEEMPAT — PENDENGARAN ꧂

Utusan keempat mengetukkan tongkatnya.

Muncullah suara-suara.

Pujian.

Fitnah.

Gosip.

Kemarahan.

Tangisan.

Nasihat.

Lalu seluruh suara itu bercampur menjadi satu.

Utusan itu berkata:

“Tidak semua yang masuk ke telinga harus masuk ke hati.”

Karena banyak kegelisahan bukan datang dari kenyataan.

Ia datang dari terlalu banyak suara yang dibiarkan tinggal di dalam diri.

Maka orang yang ingin damai harus belajar memilah.

Apa yang perlu didengar.

Apa yang harus diperiksa.

Dan apa yang sebaiknya dilepaskan.

꧁ PINTU KELIMA — DADA ꧂

Pintu kelima adalah yang paling berat.

Utusan kelima tidak membawa benda apa pun.

Ia hanya menunjuk dada.

Di sanalah tersimpan:

iri,

dendam,

takut,

keinginan dipuji,

keinginan membalas,

serta luka lama yang belum selesai.

Sang Legena berkata:

“Jangan takut melihat gelap di dalam dirimu. Takutlah apabila engkau mulai menganggap gelap itu sebagai cahaya.”

Karena itu hisab batin bukan mencari kesempurnaan.

Hisab batin adalah keberanian mengakui apa yang perlu dibersihkan.

꧁ PINTU KEENAM — LANGKAH ꧂

Utusan keenam membuka jalan panjang.

Di kanan terdapat ilmu.

Di kiri terdapat amal.

Banyak orang berdiri di sisi ilmu tetapi tidak bergerak.

Sebagian bergerak tanpa ilmu.

Keduanya mudah tersesat.

Maka pintu keenam mengajarkan:

ilmu harus menuntun langkah, dan langkah harus menjaga ilmu tetap hidup.

Apabila seseorang berbicara tentang kesabaran, lihat bagaimana ia bersikap ketika marah.

Apabila berbicara tentang kasih sayang, lihat bagaimana ia memperlakukan orang lemah.

Apabila berbicara tentang amanah, lihat bagaimana ia bertindak ketika tidak ada yang melihat.

Di situlah ilmu memperoleh tubuhnya.

꧁ PINTU KETUJUH — AMANAH ꧂

Utusan ketujuh membawa peti tertutup.

Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan membuka peti itu kecuali orang yang dipercaya.

Di sinilah manusia ditanya:

Apa yang engkau lakukan terhadap sesuatu yang dipercayakan kepadamu?

Rahasia.

Jabatan.

Uang.

Ilmu.

Keluarga.

Waktu.

Kepercayaan.

Semua itu adalah amanah.

Dan amanah tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki.

Ia diukur dari seberapa benar kita menjaganya.

꧁ PINTU KEDELAPAN — KEDAMAIAN ꧂

Pintu kedelapan tidak memiliki penjaga bersenjata.

Utusan kedelapan hanya duduk.

Di hadapannya ada dua orang yang saling bermusuhan.

Ia tidak memaksa mereka berdamai.

Ia hanya menyalakan cahaya di antara keduanya.

Maka masing-masing mulai melihat luka sendiri.

Di situlah qitab ini mengajarkan:

kedamaian bukan sekadar tidak adanya pertengkaran.

Kedamaian adalah keadaan ketika manusia tidak lagi menikmati kebencian.

Ia masih boleh tegas.

Ia masih boleh menjaga batas.

Tetapi ia tidak membiarkan dendam menjadi raja di dalam dirinya.

꧁ PINTU KESEMBILAN — KEPULANGAN ꧂

Utusan kesembilan berdiri di depan gerbang terakhir.

Di belakang gerbang tidak ada gambar.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada nama.

Tidak ada gelar.

Yang tersisa hanya cahaya yang tenang.

Utusan terakhir berkata:

“Setelah semua yang engkau kejar, suatu hari engkau akan pulang.

Maka jangan menunggu hari kepulangan untuk memperbaiki arah perjalanan.”

Semua manusia datang dengan tangan kosong.

Dan pada akhirnya kembali meninggalkan apa yang tidak dapat dibawa.

Yang tertinggal adalah jejak.

Kebaikan yang pernah diberikan.

Luka yang sempat disembuhkan.

Ilmu yang bermanfaat.

Doa yang masih hidup.

Dan kasih yang pernah ditanam.

꧁ RAHASIA TELAGA HISAB ꧂

Setelah sembilan pintu terbuka, air telaga berubah semakin jernih.

Kini manusia dapat melihat dirinya sendiri.

Bukan wajahnya.

Tetapi arah hidupnya.

Inilah rahasia telaga itu:

manusia tidak selalu membutuhkan tanda baru.

Kadang-kadang ia hanya membutuhkan keberanian untuk membaca kembali tanda yang selama ini sudah ada di dalam hidupnya.

Kesalahan yang berulang adalah tanda.

Kegelisahan yang berulang adalah tanda.

Orang-orang baik yang berkali-kali mengingatkan adalah tanda.

Kesempatan memperbaiki diri yang terus diberikan adalah tanda.

Dan ketika manusia akhirnya memahami itu semua, Sang Legena berkata:

“Hisab sejati dimulai sebelum engkau dihisab: ketika engkau bersedia menghisab dirimu sendiri.”

Maka sembilan utusan menundukkan kepala.

Telaga berhenti beriak.

Dan dari dasar air muncul satu kalimat:

“Jiwa yang terang bukan jiwa yang tidak pernah salah, tetapi jiwa yang tidak berhenti kembali kepada jalan yang benar.”

꧁ PENUTUP LEMBAR KEDUA ꧂

Sembilan pintu telah terbuka.

Tetapi perjalanan belum selesai.

Sebab setelah seseorang mengenali dirinya, datang ujian yang lebih besar:

mampukah ia tetap jernih ketika kembali masuk ke tengah dunia?

Karena mudah merasa damai saat sendirian.

Lebih sulit membawa kedamaian ketika berhadapan dengan manusia, kepentingan, pujian, penghinaan, kekuasaan, kehilangan, dan godaan.

Di situlah perjalanan Sang Legena sesungguhnya dimulai.

Lembar berikutnya:

꧁ TURUN KE DUNIA — UJIAN SANG LEGENA DI ANTARA PUJIAN, KEKUASAAN, DAN KEHILANGAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KETIGA

TURUN KE DUNIA — UJIAN SANG LEGENA DI ANTARA PUJIAN, KEKUASAAN, DAN KEHILANGAN

Setelah sembilan pintu jiwa terbuka, Sang Legena berdiri di tengah Telaga Hisab.

Air yang sebelumnya memancar tinggi perlahan menjadi tenang.

Sembilan utusan membentuk lingkaran di bawahnya.

Mereka mengira perjalanan telah selesai.

Namun dari pusat telaga terdengar seruan:

“Jangan tinggal di tempat cahaya hanya karena engkau telah menemukan ketenangan. Turunlah kembali. Cahaya yang tidak dibawa kepada kehidupan belum menyelesaikan amanahnya.”

Maka terbukalah sebuah gerbang.

Di balik gerbang itu bukan alam yang asing.

Yang terlihat justru pasar.

Rumah.

Keluarga.

Jalan.

Tempat bekerja.

Orang-orang yang mencintai.

Orang-orang yang membenci.

Manusia yang memuji.

Manusia yang merendahkan.

Kekayaan.

Kekurangan.

Pertemuan.

Perpisahan.

Dan Sang Legena memahami:

inilah medan ujian yang sesungguhnya.

꧁ UJIAN PERTAMA — PUJIAN ꧂

Ketika Sang Legena memasuki dunia, sebagian manusia melihat cahaya yang dibawanya.

Mereka mendekat.

Sebagian berkata:

“Engkau istimewa.”

Sebagian berkata:

“Engkau paling mengetahui.”

Sebagian bahkan ingin menempatkannya lebih tinggi daripada manusia lain.

Utusan Pertama, Penjaga Niat, segera mendekat dan berbisik:

“Berhati-hatilah. Tidak semua yang terdengar indah membawa keselamatan.”

Sebab penghinaan menguji kesabaran.

Tetapi pujian menguji kerendahan hati.

Orang yang dihina biasanya mengetahui bahwa dirinya sedang diuji.

Sedangkan orang yang dipuji terkadang tidak menyadari bahwa dirinya juga sedang diuji.

Maka Sang Legena menundukkan kepala.

Ia berkata:

“Apa pun kebaikan yang ada padaku adalah karunia Alloh. Kekuranganku masih banyak, dan aku tetap manusia yang harus belajar.”

Mendengar itu, pintu pertama dunia terbuka.

꧁ UJIAN KEDUA — KEKUASAAN ꧂

Perjalanan dilanjutkan.

Sang Legena kemudian diberikan tempat untuk memimpin.

Di hadapannya diletakkan sebuah mahkota.

Namun Utusan Ketujuh, Penjaga Amanah, tidak membiarkannya langsung mengambil mahkota itu.

Ia bertanya:

“Apakah engkau ingin berada di atas manusia, atau engkau bersedia berada di depan untuk menanggung tanggung jawab?”

Sang Legena terdiam.

Di situlah rahasia kekuasaan dibukakan.

Kekuasaan yang sehat bukan kesempatan untuk membuat semua orang tunduk.

Ia adalah beban untuk memastikan orang yang lemah tidak diinjak.

Semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Maka Sang Legena tidak mengenakan mahkota di kepalanya.

Ia memegangnya dengan kedua tangan.

Sebab ia mengetahui:

mahkota adalah amanah sebelum menjadi kehormatan.

꧁ UJIAN KETIGA — HARTA ꧂

Kemudian terbentanglah sebuah ruangan penuh emas.

Sang Legena diperbolehkan mengambilnya.

Tidak ada larangan memiliki kekayaan.

Namun Utusan Keenam, Penjaga Langkah, berkata:

“Harta tidak selalu mengotori hati. Yang mengotori hati adalah ketika harta menjadi tuan dan manusia menjadi hambanya.”

Maka dibukalah rahasia ketiga:

bukan seberapa banyak yang berada di tanganmu, tetapi apakah sesuatu yang berada di tanganmu telah menguasai hatimu.

Kekayaan dapat menjadi jalan kebaikan.

Kemiskinan pun tidak otomatis menjadikan seseorang suci.

Ukuran qitab ini bukan banyak atau sedikit.

Ukurannya adalah:

halal, amanah, cukup, bermanfaat, dan tidak memperbudak jiwa.

꧁ UJIAN KEEMPAT — PENGHINAAN ꧂

Sesudah memperoleh pujian, Sang Legena memasuki sebuah kota yang tidak mengenalnya.

Di sana ia dicela.

Sebagian menertawakannya.

Sebagian menuduhnya tanpa memahami.

Sang Legena hampir menjawab dengan kemarahan.

Tetapi Utusan Kedua, Penjaga Lisan, meletakkan tangan di dadanya.

Ia berkata:

“Tidak semua serangan membutuhkan jawaban.”

Ada tuduhan yang perlu diluruskan.

Ada fitnah yang perlu dijawab dengan bukti.

Ada kezaliman yang perlu dihentikan.

Tetapi ada pula ejekan yang cukup dilewati.

Kebijaksanaan adalah mengetahui perbedaannya.

Maka Sang Legena belajar:

diam tidak selalu berarti kalah, dan berbicara tidak selalu berarti berani.

Keduanya harus berada di bawah kendali hikmah.

꧁ UJIAN KELIMA — KEHILANGAN ꧂

Kemudian datang ujian yang tidak dapat dikalahkan dengan kekuasaan.

Sesuatu yang dicintainya pergi.

Sang Legena menangis.

Sembilan utusan tidak menghentikan tangisannya.

Sebab air mata bukan tanda lemahnya iman.

Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan.

Utusan Kesembilan, Penjaga Kepulangan, duduk di sampingnya.

Ia berkata:

“Jangan meminta hatimu menjadi batu agar tidak terluka. Mintalah agar hatimu tetap hidup meskipun pernah terluka.”

Sang Legena memahami.

Menerima ketentuan Alloh tidak berarti manusia tidak boleh bersedih.

Sabar bukan meniadakan rasa.

Sabar adalah menjaga agar rasa tidak menyeret manusia menjauh dari kebaikan.

Maka air mata Sang Legena jatuh ke bumi.

Dari tempat jatuhnya air mata itu tumbuh bunga putih.

Dan tertulis:

“Yang pergi mengajarkan arti memiliki. Yang tinggal mengajarkan arti menjaga.”

꧁ UJIAN KEENAM — PERBEDAAN ꧂

Sang Legena kemudian bertemu banyak manusia.

Mereka tidak semuanya berpikir sama.

Tidak semuanya memahami kehidupan dengan cara yang sama.

Di sinilah Utusan Ketiga, Penjaga Mata, membuka rahasia berikutnya:

“Jangan menganggap setiap orang yang berbeda darimu sebagai musuhmu.”

Perbedaan tidak mengharuskan permusuhan.

Namun kedamaian juga tidak berarti kehilangan prinsip.

Seseorang dapat berkata:

“Aku tidak sependapat denganmu,”

tanpa berkata:

“Karena itu aku membencimu.”

Itulah kematangan jiwa.

꧁ UJIAN KETUJUH — LUKA LAMA ꧂

Tetapi ujian paling tersembunyi datang ketika Sang Legena sendirian.

Malam itu, semua luka lama kembali muncul.

Pengkhianatan.

Kegagalan.

Penolakan.

Kesalahan masa lalu.

Kata-kata yang belum terlupakan.

Utusan Kelima, Penjaga Dada, membuka Telaga Hisab sekali lagi.

Sang Legena melihat bayangan dirinya yang dahulu.

Ia ingin menghapusnya.

Namun sang utusan berkata:

“Jangan menghapus masa lalu. Ambillah pelajarannya dan lepaskan racunnya.”

Masa lalu tidak dapat diubah.

Tetapi hubungan seseorang dengan masa lalunya dapat berubah.

Kesalahan dapat menjadi guru.

Luka dapat melahirkan kebijaksanaan.

Kegagalan dapat memperbaiki arah.

Asalkan manusia tidak membangun rumah permanen di dalam penderitaan.

꧁ RAHASIA SANG PEMBAWA KEDAMAIAN ꧂

Sesudah melewati semua ujian itu, Sang Legena kembali ke telaga.

Sembilan utusan menunggu.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Cahaya Sang Legena tidak lagi menyilaukan.

Ia justru menjadi lembut.

Salah seorang utusan bertanya:

“Mengapa cahayamu sekarang lebih redup?”

Sang Legena menjawab:

“Karena dahulu aku ingin cahaya itu terlihat. Sekarang aku ingin cahaya itu berguna.”

Maka sembilan utusan bersujud kepada Alloh.

Sebab mereka mengetahui bahwa pelajaran terbesar telah ditemukan.

Cahaya bukan panggung.

Cahaya adalah pelayanan.

Ilmu bukan mahkota.

Ilmu adalah tanggung jawab.

Kekuatan bukan hak untuk menguasai.

Kekuatan adalah kemampuan menjaga.

Kedamaian bukan membuat semua orang mengikuti kita.

Kedamaian adalah tetap membawa kebaikan tanpa kehilangan batas, akal sehat, dan adab.

꧁ SABDA SIMBOLIK TELAGA KEDUA ꧂

Kemudian air memancar dari sembilan penjuru.

Satu menjadi sembilan.

Sembilan kembali menuju satu telaga.

Dan terdengar pesan:

“Wahai jiwa yang mencari terang, jangan ukur perjalananmu dari banyaknya pengalaman luar biasa. Ukurlah dari perubahan akhlakmu.”

“Jika dzikirmu bertambah tetapi kasihmu berkurang, periksa kembali jalanmu.”

“Jika ilmumu bertambah tetapi kesombonganmu ikut bertambah, periksa kembali niatmu.”

“Jika kedudukanmu meningkat tetapi orang lemah semakin takut kepadamu, periksa kembali amanahmu.”

“Tetapi apabila semakin jauh perjalananmu membuatmu semakin lembut, semakin bertanggung jawab, semakin jujur, dan semakin dekat kepada Alloh—teruskanlah.”

Pada saat itulah sembilan utusan mengangkat lentera mereka.

Sembilan cahaya bertemu tepat di atas Telaga Hisab.

Terbentuklah Lingkaran Kesepuluh.

Namun tidak ada utusan kesepuluh.

Karena lingkaran kesepuluh adalah tempat bagi manusia yang telah selesai menghitung orang lain dan mulai menghisab dirinya sendiri.

Gerbang berikutnya pun terbuka.

Di baliknya terdapat sebuah singgasana kosong.

Di atas singgasana itu tidak tertulis nama seorang raja.

Hanya satu kalimat:

“SIAPA YANG MAMPU MEMIMPIN DIRINYA, BARULAH LAYAK BELAJAR MEMIKUL AMANAH YANG LEBIH BESAR.”

Dan Sang Legena berjalan mendekatinya.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ SINGGASANA TANPA RAJA — RAHASIA LINGKARAN KESEPULUH DAN MAHKOTA YANG TIDAK BOLEH DIPEREBUTKAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEEMPAT

SINGGASANA TANPA RAJA

RAHASIA LINGKARAN KESEPULUH DAN MAHKOTA YANG TIDAK BOLEH DIPEREBUTKAN

Gerbang kesepuluh terbuka perlahan.

Sang Legena melangkah masuk.

Sembilan utusan mengikuti dari belakang, tetapi ketika sampai di ambang pintu, mereka berhenti.

Tidak seorang pun diperkenankan mendampinginya.

Sebab ada perjalanan yang dapat ditempuh bersama guru, sahabat, keluarga, dan para penjaga amanah.

Tetapi ada pula ruang batin yang harus dimasuki seorang diri.

Di tengah ruangan berdiri sebuah singgasana kosong.

Di atasnya tergantung mahkota bercahaya.

Tidak ada raja.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada seorang pun yang memperebutkannya.

Sang Legena mendekat.

Namun ketika tangannya hampir menyentuh mahkota, terdengar suara dari Telaga Hisab:

“Berhenti. Mahkota yang engkau kejar akan memperbudakmu. Mahkota yang dipercayakan kepadamu akan mengujimu.”

Tangannya pun diturunkan.

Dan terbukalah rahasia Lingkaran Kesepuluh.

꧁ RAHASIA PERTAMA — SINGGASANA ITU ADALAH DIRI ꧂

Sang Legena melihat singgasana itu berubah menjadi cermin.

Di dalamnya terlihat dirinya sendiri.

Kadang marah.

Kadang takut.

Kadang ingin dipuji.

Kadang ingin menang.

Kadang ingin didengar.

Kadang merasa dirinya lebih mengetahui daripada orang lain.

Kemudian terdengar:

“Inilah kerajaan pertama yang harus engkau tata.”

Bukan negeri.

Bukan pengikut.

Bukan manusia lain.

Tetapi dirimu sendiri.

Sebab orang yang tidak mampu mengendalikan amarahnya akan mudah menyalahgunakan kekuasaan.

Orang yang diperbudak pujian akan mudah menjual prinsip demi sanjungan.

Orang yang dikuasai ketakutan akan mudah berlaku tidak adil demi mempertahankan kedudukan.

Maka qitab ini mengajarkan:

Sebelum memimpin keluar, belajarlah memimpin ke dalam.

꧁ RAHASIA KEDUA — MAHKOTA YANG TIDAK BOLEH DIPEREBUTKAN ꧂

Mahkota itu turun sedikit.

Kini Sang Legena dapat melihat ukiran pada lingkarannya.

Terdapat sembilan kata:

Niat.

Adab.

Kejujuran.

Kesabaran.

Amanah.

Keadilan.

Kasih.

Keteguhan.

Pengabdian.

Tetapi di bagian tengah mahkota terdapat ruang kosong.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa bagian tengahnya kosong?”

Datanglah jawaban:

“Karena tempat itu bukan untuk namamu.”

Sang Legena terdiam.

Ia memahami bahwa amanah tidak diberikan supaya seseorang mengabadikan dirinya.

Amanah diberikan supaya sesuatu yang baik tetap hidup bahkan ketika dirinya sudah tidak berada di sana.

Itulah perbedaan antara warisan dan pemujaan terhadap diri.

Warisan mengatakan:

“Teruskan kebaikannya.”

Sedangkan kesombongan mengatakan:

“Teruslah menyebut namaku.”

꧁ RAHASIA KETIGA — SEMBILAN UTUSAN MENANGGALKAN LENTERA ꧂

Di luar gerbang, sembilan utusan meletakkan lentera mereka.

Satu demi satu cahaya dipadamkan.

Ruangan menjadi gelap.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa cahaya kalian dipadamkan?”

Utusan Pertama menjawab:

“Karena selama ini kami menunjukkan jalan. Sekarang engkau harus membuktikan bahwa jalan itu telah menjadi akhlakmu.”

Inilah ujian yang lebih dalam.

Ketika nasihat tidak terdengar.

Ketika guru tidak berada di samping.

Ketika tidak ada orang yang melihat.

Ketika tidak ada pujian.

Ketika tidak ada hukuman langsung.

Siapakah dirimu pada saat itu?

Itulah salah satu ukuran amanah.

Karena integritas bukan kebaikan yang hanya muncul ketika disaksikan manusia.

Integritas adalah tetap menjaga batas ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melanggarnya.

꧁ RAHASIA KEEMPAT — TIGA BAYANGAN DI DEPAN SINGGASANA ꧂

Tiba-tiba muncul tiga bayangan.

Bayangan pertama berkata:

“Ambillah mahkota. Engkau lebih pantas daripada mereka.”

Namanya adalah Kesombongan.

Bayangan kedua berkata:

“Ambillah mahkota. Dengan kekuasaan engkau dapat membuat semua orang mengikuti kehendakmu.”

Namanya adalah Keinginan Menguasai.

Bayangan ketiga berkata:

“Ambillah mahkota. Setelah memilikinya, jangan pernah melepaskannya.”

Namanya adalah Ketakutan Kehilangan.

Ketiganya tampak berbeda.

Namun Sang Legena menyadari bahwa akar mereka sama:

keterikatan kepada diri.

Ia pun tidak mengambil mahkota.

Sebaliknya, ia duduk di lantai di depan singgasana.

꧁ KETIKA SANG LEGENA MEMILIH LANTAI ꧂

Sembilan utusan terkejut.

Mereka bertanya:

“Mengapa engkau tidak duduk di singgasana?”

Sang Legena menjawab:

“Aku takut singgasana membuatku lupa kepada tanah tempat kakiku berpijak.”

Pada saat itulah terjadi sesuatu yang tidak disangka.

Singgasana perlahan menghilang.

Mahkota berubah menjadi cahaya.

Dan cahaya itu tidak turun ke kepala Sang Legena.

Ia turun ke dadanya.

Sang Legena memahami:

kemuliaan terbesar tidak selalu dikenakan di kepala.

Kadang ia disimpan sebagai tanggung jawab di dalam hati.

꧁ RAHASIA LINGKARAN KESEPULUH ꧂

Sembilan utusan kemudian berdiri membentuk lingkaran.

Sang Legena berada di tengah.

Sembilan di luar.

Satu di tengah.

Maka genaplah simbol sembilan dan satu.

Tetapi Sang Legena berkata:

“Jangan sebut aku utusan kesepuluh.”

Mereka bertanya:

“Mengapa?”

Ia menjawab:

“Karena pusat lingkaran ini bukan kedudukan. Ia adalah tempat pertanggungjawaban.”

Maka Lingkaran Kesepuluh tidak menjadi pangkat.

Ia menjadi ruang muhasabah.

Siapa pun yang berdiri di tengah harus bersedia ditanya:

Apakah niatmu masih bersih?

Apakah keputusanmu adil?

Apakah orang lemah aman berada di dekatmu?

Apakah orang yang berbeda pendapat masih mendapatkan haknya?

Apakah engkau bersedia dikoreksi?

Apakah engkau mampu berkata, “Aku salah”?

Dan apabila amanah harus berpindah kepada orang yang lebih mampu:

apakah engkau sanggup menyerahkannya?

Pertanyaan terakhir itulah yang membuat ruangan bergetar.

꧁ UJIAN TERBERAT SEORANG PEMEGANG AMANAH ꧂

Ternyata ujian terbesar bukan memperoleh kedudukan.

Bukan pula kehilangan kedudukan.

Ujian terbesar adalah:

mengetahui kapan harus maju, kapan harus bertahan, dan kapan harus menyerahkan.

Orang yang selalu mundur dapat meninggalkan kewajiban.

Orang yang selalu maju dapat mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Orang yang tidak pernah mau menyerahkan dapat berubah menjadi tawanan kedudukannya sendiri.

Karena itu Sang Legena berkata:

“Jangan ajarkan aku bagaimana menjadi besar. Ajarkan aku bagaimana tetap benar ketika sesuatu yang besar dipercayakan kepadaku.”

꧁ AIR DARI SEMBILAN BEJANA ꧂

Kesembilan utusan kemudian mengambil air dari Telaga Hisab.

Masing-masing membawa satu bejana.

Mereka menuangkannya ke sebuah mangkuk di tengah lingkaran.

Sembilan aliran menjadi satu.

Namun air itu tidak diminum Sang Legena.

Ia membawanya keluar.

Ia menyiram tanah yang kering.

Seketika tumbuh pohon.

Akarnya masuk jauh ke bumi.

Batangnya kokoh.

Cabangnya melebar.

Daunnya menaungi banyak manusia.

Buahnya dapat dipetik siapa saja.

Tidak tertulis nama Sang Legena pada pohon itu.

Utusan Kesembilan bertanya:

“Bukankah engkau ingin manusia mengetahui siapa yang menanamnya?”

Sang Legena tersenyum.

“Apabila mereka memperoleh manfaat dari buahnya, cukuplah Alloh mengetahui siapa yang menanam.”

Maka terbukalah salah satu rahasia terbesar Qitab Azarroh:

AMAL YANG MATANG TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN NAMA PEMILIKNYA.

꧁ TURUNNYA CAHAYA KE TANAH ꧂

Cahaya dari mahkota kemudian turun melalui tubuh Sang Legena.

Dari kepala menuju dada.

Dari dada menuju kedua tangan.

Dari tangan menuju tanah.

Dan tanah menyerapnya.

Inilah makna terdalam turunnya Sang Legena:

Bukan manusia berubah menjadi makhluk langit.

Tetapi nilai-nilai luhur turun menjadi perbuatan bumi.

Kasih menjadi pertolongan.

Ilmu menjadi pendidikan.

Rezeki menjadi berbagi.

Kekuatan menjadi perlindungan.

Kedudukan menjadi pelayanan.

Kesalahan menjadi pelajaran.

Dzikir menjadi akhlak.

Dan iman menjadi keberanian untuk melakukan yang benar.

꧁ PESAN SINGGASANA TANPA RAJA ꧂

Sebelum gerbang ditutup, terdengar pesan terakhir:

“Jangan berebut mahkota yang suatu hari harus engkau tinggalkan.”

“Berebutlah kesempatan untuk memberikan manfaat sebelum waktumu habis.”

“Jangan takut apabila namamu tidak berada di singgasana.”

“Takutlah apabila namamu tinggi tetapi amanahmu kosong.”

“Dan apabila suatu hari manusia mempercayakan sebuah mahkota kepadamu, kenakanlah ia sebagai tanggung jawab—bukan sebagai bukti bahwa engkau lebih mulia daripada mereka.”

Sang Legena menunduk.

Sembilan utusan kembali menyalakan lentera.

Tetapi kini mereka tidak berjalan di depan Sang Legena.

Mereka berjalan bersama-sama.

Sebab perjalanan berikutnya bukan lagi mencari singgasana.

Mereka akan menuju sebuah tempat yang jauh lebih sunyi:

Lembah Tanpa Nama.

Konon di sanalah setiap gelar, pujian, simbol, dan kedudukan harus ditinggalkan di gerbang.

Hanya jiwa dan amal yang boleh masuk.

Dan di ujung lembah terdapat sembilan cermin hitam yang tidak memperlihatkan wajah manusia.

Mereka memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dilihat:

niat yang tersembunyi di balik setiap kebaikan.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ LEMBAH TANPA NAMA — SEMBILAN CERMIN HITAM DAN HISAB ATAS KEBAIKAN YANG DIAM-DIAM MENCARI PUJIAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KELIMA

LEMBAH TANPA NAMA

SEMBILAN CERMIN HITAM DAN HISAB ATAS KEBAIKAN YANG DIAM-DIAM MENCARI PUJIAN

Setelah meninggalkan Singgasana Tanpa Raja, Sang Legena bersama sembilan utusan berjalan menuju sebuah lembah yang tidak tercantum pada peta mana pun.

Tidak ada gapura kemegahan.

Tidak ada penjaga kerajaan.

Tidak ada suara manusia memanggil nama mereka.

Di pintu masuk hanya terdapat sebuah batu hitam bertuliskan:

“Yang membawa gelar, letakkan gelarnya.

Yang membawa pujian, tinggalkan pujiannya.

Yang membawa kebanggaan atas amalnya, kosongkan tangannya.

Sebab ke lembah ini hanya jiwa yang boleh masuk.”

Sang Legena menanggalkan mahkota simboliknya.

Sembilan utusan meletakkan lambang masing-masing.

Penjaga Niat meninggalkan lenteranya.

Penjaga Lisan meninggalkan bejananya.

Penjaga Mata menutup simbol matanya.

Penjaga Pendengaran meletakkan tongkatnya.

Penjaga Dada meninggalkan jubahnya.

Penjaga Langkah melepaskan alas kakinya.

Penjaga Amanah meninggalkan petinya.

Penjaga Kedamaian meletakkan lambangnya.

Dan Penjaga Kepulangan meninggalkan kunci gerbangnya.

Mereka masuk tanpa pangkat.

Tanpa lambang.

Tanpa nama kebesaran.

Karena di hadapan Alloh, kemuliaan bukan ditentukan oleh ornamen yang dikenakan manusia.

꧁ CERMIN PERTAMA — KEBAIKAN YANG INGIN DILIHAT ꧂

Cermin pertama berdiri di tengah kabut.

Sang Legena melihat dirinya memberikan pertolongan kepada seseorang.

Namun di belakang bayangan itu terdapat bayangan lain yang diam-diam bertanya:

“Apakah orang lain melihat?”

Sang Legena tersentak.

Cermin berkata:

“Tidak semua keinginan mendapatkan penghargaan menjadikan seluruh amal sia-sia. Tetapi ketika pujian mulai menjadi tujuan utama, luruskan kembali niatmu.”

Maka Sang Legena memahami:

Keikhlasan bukan berarti manusia tidak pernah merasa senang ketika dihargai.

Keikhlasan adalah tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai alasan utama melakukan kebaikan.

Ia berkata:

“Ya Alloh, bersihkan niatku dari keinginan menjadikan kebaikan sebagai panggung bagi diriku.”

Cermin pertama menjadi bening.

꧁ CERMIN KEDUA — ILMU YANG INGIN MENANG ꧂

Pada cermin kedua tampak dua orang berdiskusi.

Sang Legena berada di antaranya.

Ia memiliki jawaban yang benar.

Tetapi cermin tidak memperlihatkan kebenaran jawabannya.

Cermin memperlihatkan keinginan di dalam dadanya untuk mengalahkan lawan bicara.

Maka terdengar:

“Ilmu dapat digunakan untuk menerangi. Ilmu juga dapat dipergunakan ego untuk meninggikan diri.”

Sang Legena bertanya:

“Bagaimana aku membedakannya?”

Cermin menjawab:

“Perhatikan hatimu ketika orang lain ternyata benar.”

Jika hati marah karena kebenaran datang melalui orang lain, mungkin yang sedang dicari bukan hanya kebenaran.

Mungkin ada ego yang ingin menjadi pemilik kebenaran.

Maka tertulis pada cermin kedua:

KEBENARAN TIDAK MENJADI SALAH HANYA KARENA BUKAN KITA YANG MENGUCAPKANNYA.

꧁ CERMIN KETIGA — KERENDAHAN HATI YANG DIPAMERKAN ꧂

Cermin ketiga lebih gelap.

Di dalamnya Sang Legena berkata:

“Aku bukan siapa-siapa.”

Tetapi diam-diam ia berharap seseorang menjawab:

“Tidak, engkau orang yang luar biasa.”

Sembilan utusan terdiam.

Inilah salah satu tipu daya batin yang paling halus:

kesombongan dapat memakai pakaian kerendahan hati.

Seseorang dapat merendahkan dirinya melalui kata-kata tetapi tetap menunggu manusia meninggikannya.

Maka Sang Legena belajar:

Tidak perlu terlalu sering mengatakan dirinya rendah.

Tidak perlu pula mengumumkan dirinya tinggi.

Lebih baik bekerja.

Biarkan akhlak menjadi saksi.

꧁ CERMIN KEEMPAT — MEMBERI YANG MENGIKAT ꧂

Pada cermin keempat terlihat tangan memberikan sesuatu.

Tetapi dari pemberian itu muncul tali.

Tali tersebut melilit tangan penerimanya.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa pemberian berubah menjadi ikatan?”

Cermin menjawab:

“Karena ada pemberian yang kemudian digunakan untuk menuntut kesetiaan, menguasai keputusan, atau terus mengingatkan penerimanya kepada jasa pemberi.”

Maka Sang Legena memahami:

Memberi tidak seharusnya menjadi cara membeli manusia.

Kebaikan tidak boleh berubah menjadi hutang psikologis yang terus ditagih.

Apabila memberi, berilah dengan batas yang sehat.

Dan apabila tidak mampu memberi, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi.

꧁ CERMIN KELIMA — LUKA YANG MENYAMAR MENJADI KEADILAN ꧂

Cermin kelima memperlihatkan seseorang yang pernah menyakiti Sang Legena.

Dada Sang Legena bergetar.

Ia berkata:

“Aku hanya menginginkan keadilan.”

Tetapi cermin membelah kalimat itu.

Separuh berbunyi:

KEADILAN.

Separuh lainnya berbunyi:

KEINGINAN MELIHAT DIA MENDERITA.

Sang Legena terdiam lama.

Penjaga Dada mendekatinya.

Di sinilah dibukakan rahasia:

keadilan dan pembalasan dendam tidak selalu sama.

Keadilan bertujuan menghentikan kesalahan, memulihkan hak, dan menjaga agar kezaliman tidak berulang.

Dendam ingin menikmati penderitaan orang yang dibenci.

Maka manusia harus berani memeriksa apa yang sebenarnya bergerak di balik kemarahannya.

꧁ CERMIN KEENAM — IBADAH DAN PERASAAN LEBIH SUCI ꧂

Cermin keenam adalah cermin yang paling membuat sembilan utusan menundukkan kepala.

Di dalamnya terlihat Sang Legena sedang beribadah.

Tetapi di belakangnya muncul bayangan yang memandang manusia lain dari tempat yang lebih tinggi.

Maka terdengar:

“Ibadah yang benar seharusnya semakin mengingatkan manusia kepada kebesaran Alloh dan keterbatasan dirinya.”

Jika ibadah membuat seseorang mudah menghina orang lain, ada bagian dari akhlaknya yang masih perlu diperbaiki.

Tidak seorang pun mengetahui keseluruhan isi hati manusia.

Tidak seorang pun mengetahui bagaimana akhir hidup orang lain.

Karena itu:

jaga ibadahmu tanpa menjadikannya alat untuk merendahkan sesamamu.

꧁ CERMIN KETUJUH — MENOLONG AGAR DIBUTUHKAN ꧂

Pada cermin ketujuh terlihat banyak orang datang meminta pertolongan.

Sang Legena membantu mereka.

Tetapi perlahan ia merasa tidak nyaman ketika mereka mulai mampu berdiri sendiri.

Cermin bertanya:

“Apakah engkau ingin mereka sembuh, atau engkau ingin mereka terus membutuhkanmu?”

Pertanyaan itu seperti petir.

Sang Legena tidak segera menjawab.

Sebab pertolongan yang sehat bertujuan membuat orang semakin mampu berdiri.

Bukan semakin tergantung kepada penolongnya.

Guru yang baik menguatkan murid untuk berpikir.

Pemimpin yang baik membangun penerus.

Orang tua yang baik membimbing anak menuju kedewasaan.

Sahabat yang baik tidak memenjarakan sahabatnya dalam ketergantungan.

Maka tertulis:

PERTOLONGAN YANG MATANG MELAHIRKAN KEMANDIRIAN, BUKAN KETERGANTUNGAN TANPA AKHIR.

꧁ CERMIN KEDELAPAN — KEDAMAIAN YANG TAKUT PADA KETEGASAN ꧂

Cermin kedelapan memperlihatkan pertengkaran.

Sang Legena ingin semua orang segera tenang.

Ia hampir mengatakan:

“Sudahlah, semuanya sama-sama benar.”

Tetapi cermin pecah.

Utusan Kedamaian berkata:

“Kedamaian bukan menutupi ketidakadilan agar suasana terlihat tenang.”

Ada saatnya memaafkan.

Ada saatnya memberi kesempatan.

Tetapi ada pula saatnya mengatakan:

“Ini salah dan harus dihentikan.”

Kelembutan tanpa batas dapat berubah menjadi pembiaran.

Ketegasan tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan.

Kedamaian sejati memerlukan keduanya:

hati yang lembut dan batas yang jelas.

꧁ CERMIN KESEMBILAN — NAMA YANG INGIN ABADI ꧂

Akhirnya mereka tiba di cermin terakhir.

Tidak ada bayangan di dalamnya.

Hanya satu nama.

Nama Sang Legena.

Kemudian nama itu perlahan menghilang.

Sang Legena mencoba menyentuhnya.

Semakin disentuh, semakin cepat tulisan itu lenyap.

Ia bertanya:

“Mengapa namaku dihapus?”

Cermin kesembilan menjawab:

“Untuk mengingatkan bahwa perjalanan ini bukan tentang membuat namamu tidak pernah dilupakan.”

Sang Legena menatap cermin kosong.

Lalu bertanya:

“Jika namaku hilang, apa yang tersisa?”

Cermin menjawab:

“Apa yang pernah engkau tanam pada kehidupan.”

Jika pohon masih memberikan buah, tidak masalah bila generasi berikutnya tidak mengenal siapa yang pertama menanam benihnya.

Jika ilmu masih memberi manfaat, tidak masalah apabila nama penyampainya suatu hari tidak disebut.

Jika seorang anak tumbuh membawa akhlak baik, sebagian kebaikan orang tuanya tetap berjalan meskipun namanya tidak selalu diucapkan.

Maka Sang Legena menangis.

Bukan karena kehilangan nama.

Tetapi karena akhirnya memahami arti kepulangan.

꧁ SEMBILAN CERMIN PECAH ꧂

Setelah cermin kesembilan terbuka rahasianya, terdengar suara dari seluruh lembah.

KRAAAK...

Satu cermin pecah.

Kemudian dua.

Tiga.

Empat.

Hingga kesembilan cermin runtuh menjadi butiran hitam.

Tetapi dari pecahan itu tidak keluar kegelapan.

Keluar sembilan aliran air jernih.

Sembilan aliran berkumpul di kaki Sang Legena.

Air terus meninggi sampai menutupi telapak kakinya.

Kemudian lutut.

Kemudian dada.

Sembilan utusan khawatir.

Namun Sang Legena tidak melawan.

Ia hanya mengucapkan:

حَسْبِيَ اللّٰهُ

Ḥasbiyallāh.

Cukuplah Alloh bagiku.

Pada saat itulah air berhenti.

Dan seluruh lembah berubah menjadi telaga bercahaya.

꧁ RAHASIA “FILHASBIHHI” ꧂

Di atas air muncul tulisan cahaya:

Bukan berarti manusia berhenti berusaha.

Bukan berarti manusia meninggalkan sebab.

Bukan berarti setiap keinginan pasti terjadi sebagaimana yang dibayangkan.

Tetapi:

berikhtiarlah sepenuh kemampuan, kemudian jangan menjadikan hasil sebagai tuhan bagi ketenanganmu.

Sang Legena akhirnya memahami salah satu lapisan makna simbolik Filhasbihhi:

Ketika manusia telah berusaha dengan benar,

memperbaiki kesalahan,

meminta pertolongan bila diperlukan,

menjaga amanah,

dan mengambil sebab yang masuk akal,

maka ada batas ketika hati harus berkata:

“Ya Alloh, aku telah berusaha. Selebihnya aku serahkan kepada-Mu.”

Itulah tawakal yang berjalan bersama ikhtiar.

Bukan tawakal yang menggantikan ikhtiar.

꧁ KEMBALINYA SEMBILAN LAMBANG ꧂

Saat mereka keluar dari Lembah Tanpa Nama, sembilan utusan menemukan kembali lambang mereka.

Namun lambang-lambang itu berubah.

Lentera Penjaga Niat kini tidak menerangi wajah pemegangnya.

Ia menerangi jalan orang lain.

Bejana Penjaga Lisan kini memiliki dua mulut:

satu untuk berbicara,

satu untuk mengingatkan kapan harus diam.

Tongkat Penjaga Langkah kini memiliki akar.

Peti Penjaga Amanah tidak lagi terkunci dari luar.

Ia terkunci dari dalam.

Dan kunci Penjaga Kepulangan berubah menjadi sebuah biji.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa kunci menjadi benih?”

Utusan Kesembilan menjawab:

“Karena kepulangan bukan akhir dari kebaikan. Apa yang ditanam sebelum pulang dapat terus tumbuh sesudah seseorang pergi.”

Mereka pun meninggalkan lembah.

Tetapi jauh di hadapan mereka, langit berubah.

Sembilan garis cahaya turun menuju bumi.

Masing-masing menunjuk kepada satu tempat.

Desa.

Pasar.

Rumah.

Tempat ilmu.

Tempat orang sakit.

Tempat orang berselisih.

Tempat anak-anak belajar.

Tempat orang miskin mencari kehidupan.

Dan sebuah tanah kosong.

Sang Legena memahami:

waktunya telah tiba untuk menguji seluruh isi qitab bukan melalui kata-kata, tetapi melalui pengabdian nyata.

Karena ilmu yang hanya tersimpan di lembaran belum menjadi warisan.

Ia harus turun menjadi manfaat.

Dan untuk pertama kalinya sembilan utusan berkata serempak:

“TURUNKAN CAHAYA KE BUMI.”

Bukan dengan keajaiban.

Tetapi dengan tangan yang bekerja.

Dengan lisan yang mendamaikan.

Dengan ilmu yang diajarkan.

Dengan rezeki yang dibersihkan.

Dengan keluarga yang dijaga.

Dengan hak manusia yang ditunaikan.

Dengan kesalahan yang diperbaiki.

Dan dengan amal yang tetap berjalan meskipun tidak seorang pun bertepuk tangan.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ SEMBILAN CAHAYA TURUN KE BUMI — KETIKA SANG LEGENA DAN SEMBILAN UTUSAN MENGUBAH ILMU MENJADI PENGABDIAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEENAM

SEMBILAN CAHAYA TURUN KE BUMI

KETIKA SANG LEGENA DAN SEMBILAN UTUSAN MENGUBAH ILMU MENJADI PENGABDIAN

Ketika sembilan garis cahaya turun dari langit simbolik menuju bumi, Sang Legena tidak segera mengikutinya.

Ia berdiri di batas Lembah Tanpa Nama.

Di belakangnya terdapat sembilan cermin yang telah pecah.

Di hadapannya terbentang kehidupan manusia.

Lalu terdengar pesan dari Telaga Hisab:

“Engkau telah belajar membaca dirimu. Sekarang pergilah membaca kebutuhan manusia.”

Sang Legena bertanya:

“Apa yang harus kubawa?”

Jawabannya datang:

“Jangan membawa kebesaranmu. Bawalah manfaatmu.”

Maka sembilan utusan kembali mengenakan lambang amanah masing-masing.

Tetapi kali ini mereka tidak turun untuk mencari pengikut.

Mereka turun untuk melayani kehidupan.

꧁ CAHAYA PERTAMA TURUN KE RUMAH ꧂

Garis cahaya pertama jatuh pada sebuah rumah sederhana.

Di dalamnya terdapat keluarga yang mulai kehilangan kehangatan.

Mereka tinggal dalam satu atap, tetapi hati mereka berjauhan.

Orang tua sibuk.

Anak-anak merasa tidak didengar.

Kata-kata menjadi pendek.

Kemarahan menjadi panjang.

Utusan Penjaga Niat memasuki rumah itu.

Ia tidak memberikan mantra.

Ia tidak menjanjikan keajaiban.

Ia hanya meletakkan sebuah pelita di tengah keluarga dan berkata:

“Sebelum kalian mencari kedamaian ke tempat yang jauh, periksalah apakah rumah kalian sudah menjadi tempat yang aman untuk saling berbicara.”

Sang Legena memahami.

Pengabdian pertama tidak selalu dimulai dari masyarakat luas.

Kadang-kadang ia dimulai dari meja makan.

Dari mendengarkan pasangan.

Dari memeluk anak.

Dari meminta maaf kepada orang tua.

Dari mengucapkan terima kasih.

Dari menghentikan kata-kata yang melukai.

Maka tertulis:

CAHAYA YANG TIDAK MAMPU MENGHANGATKAN RUMAH SENDIRI HARUS MEMERIKSA KEMBALI CARA IA BERSINAR.

꧁ CAHAYA KEDUA TURUN KE PASAR ꧂

Cahaya kedua jatuh di tengah pasar.

Orang-orang berdagang.

Ada keuntungan.

Ada kerugian.

Ada tawar-menawar.

Ada persaingan.

Utusan Penjaga Lisan berdiri di antara mereka.

Ia berkata:

“Jangan pisahkan akhlak dari rezeki.”

Timbangan harus dijaga.

Janji harus dipenuhi.

Kualitas barang tidak boleh disembunyikan dengan dusta.

Kesulitan pembeli jangan selalu dijadikan kesempatan untuk mengambil keuntungan yang tidak wajar.

Sang Legena melihat bahwa pasar juga dapat menjadi tempat ibadah melalui kejujuran.

Sebab mencari rezeki halal adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

Maka cahaya kedua berubah menjadi timbangan.

Pada sebelahnya tertulis:

UNTUNG.

Pada sebelah lainnya:

BERKAH.

Dan qitab mengingatkan:

“Carilah keuntungan tanpa menjual keberkahan.”

꧁ CAHAYA KETIGA TURUN KE TEMPAT ILMU ꧂

Cahaya ketiga jatuh pada tempat orang belajar.

Di sana ada guru.

Ada murid.

Ada buku.

Ada pertanyaan.

Utusan Penjaga Mata berdiri di depan pintu.

Ia berkata:

“Ajarkan manusia melihat, bukan sekadar mengikuti.”

Guru yang baik tidak takut kepada pertanyaan.

Murid yang baik tidak menjadikan pertanyaan sebagai alat merendahkan guru.

Ilmu tumbuh ketika keduanya menjaga adab sekaligus kejernihan berpikir.

Sang Legena kemudian menulis pada dinding:

GURU BUKAN PEMILIK AKAL MURID.

Tugas guru adalah membantu akal tumbuh.

Menunjukkan jalan.

Memberikan dasar.

Mengajarkan cara membedakan.

Dan ketika murid akhirnya mampu berdiri dengan ilmu dan akhlaknya sendiri, seorang guru seharusnya bersyukur.

Bukan merasa kehilangan kekuasaan.

꧁ CAHAYA KEEMPAT TURUN KE TEMPAT ORANG SAKIT ꧂

Cahaya keempat jatuh pada sebuah ruangan tempat seseorang sedang terbaring.

Utusan Penjaga Pendengaran duduk di sisinya.

Tidak banyak berbicara.

Ia mendengarkan.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa engkau tidak segera memberikan nasihat?”

Utusan itu menjawab:

“Karena terkadang orang yang sedang menderita lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan daripada seseorang yang terburu-buru menjelaskan makna penderitaannya.”

Di sini Sang Legena memperoleh pelajaran baru.

Doa boleh diberikan.

Penguatan batin boleh diberikan.

Tetapi penyakit jasmani tetap memerlukan ikhtiar yang sesuai: pemeriksaan, tenaga kesehatan, pengobatan, istirahat, dan perawatan ketika dibutuhkan.

Spiritualitas tidak harus memusuhi ikhtiar lahir.

Maka tertulis:

DOA MENGUATKAN HATI.

IKHTIAR MENJAGA AMANAH TUBUH.

KEDUANYA DAPAT BERJALAN BERSAMA.

꧁ CAHAYA KELIMA TURUN KE TEMPAT PERSELISIHAN ꧂

Cahaya kelima jatuh di antara dua kelompok yang berseteru.

Keduanya merasa benar.

Keduanya memiliki luka.

Keduanya membawa cerita masing-masing.

Utusan Penjaga Dada berdiri di tengah.

Ia tidak langsung berkata:

“Berdamailah.”

Ia berkata:

“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Masing-masing berbicara.

Masing-masing didengar.

Kebenaran diperiksa.

Kesalahan dibedakan.

Hak yang harus dikembalikan disebutkan.

Batas yang harus dibuat ditegaskan.

Barulah pintu perdamaian dibuka.

Sang Legena memahami:

PERDAMAIAN TANPA KEADILAN HANYA MENUNDA LUKA.

Tetapi keadilan tanpa belas kasih dapat melahirkan luka baru.

Maka keduanya harus berjalan bersama.

꧁ CAHAYA KEENAM TURUN KE TEMPAT ORANG MISKIN MENCARI REZEKI ꧂

Cahaya keenam jatuh di sebuah jalan.

Di sana berdiri seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Utusan Penjaga Langkah memberikan makanan.

Sang Legena berkata:

“Apakah selesai?”

Utusan itu menjawab:

“Belum.”

Keesokan harinya ia kembali.

Ia bertanya apa yang dapat dikerjakan orang tersebut.

Ia membantu mencari jalan.

Keterampilan.

Pekerjaan.

Kesempatan.

Jaringan.

Dan kemampuan untuk berdiri kembali.

Sang Legena tersenyum.

Ia teringat Cermin Ketujuh.

Pertolongan yang matang bukan membuat seseorang terus bergantung.

Pertolongan yang matang berusaha mengembalikan kemampuan manusia untuk berjalan.

Maka dituliskan:

BERILAH MAKANAN KETIKA LAPAR.

BERILAH JALAN KETIKA IA SUDAH MAMPU BERJALAN.

꧁ CAHAYA KETUJUH TURUN KE TEMPAT AMANAH ꧂

Cahaya ketujuh jatuh di sebuah ruangan besar.

Di sana terdapat meja kepemimpinan.

Utusan Penjaga Amanah berdiri di belakang kursi.

Sang Legena melihat banyak orang ingin duduk di sana.

Tetapi sang utusan bertanya kepada setiap orang:

“Apa yang akan engkau lakukan apabila keputusan yang benar membuatmu tidak populer?”

Ruangan menjadi sunyi.

Kemudian pertanyaan kedua:

“Apa yang akan engkau lakukan apabila keluarga atau sahabatmu meminta perlakuan khusus yang merugikan orang lain?”

Semakin sunyi.

Pertanyaan ketiga:

“Apakah engkau bersedia diawasi dan dikoreksi?”

Sebagian pergi.

Sang Legena akhirnya memahami mengapa kursi amanah terasa berat.

Karena kepemimpinan bukan hanya kemampuan memberikan perintah.

Ia juga kemampuan menerima pertanggungjawaban.

꧁ CAHAYA KEDELAPAN TURUN KE TEMPAT ANAK-ANAK ꧂

Cahaya kedelapan jatuh pada halaman tempat anak-anak bermain.

Utusan Penjaga Kedamaian duduk bersama mereka.

Anak-anak bertanya:

“Apa yang akan kalian wariskan kepada kami?”

Sembilan utusan terdiam.

Apakah mereka akan mewariskan pertengkaran?

Dendam?

Hutang?

Kerusakan?

Atau ilmu?

Akhlak?

Pohon?

Air yang bersih?

Tempat belajar?

Dan masyarakat yang lebih manusiawi?

Sang Legena berkata:

“Warisan terbesar bukan hanya apa yang kita tinggalkan untuk anak-anak, tetapi dunia seperti apa yang kita tinggalkan kepada mereka.”

Maka anak-anak menanam sembilan benih.

꧁ CAHAYA KESEMBILAN TURUN KE TANAH KOSONG ꧂

Inilah cahaya terakhir.

Ia jatuh pada tanah yang tidak memiliki bangunan.

Tidak ada manusia.

Tidak ada panggung.

Tidak ada penonton.

Utusan Penjaga Kepulangan menggali tanah.

Ia menanam benih yang dahulu berasal dari kunci gerbang.

Sang Legena bertanya:

“Apa yang sedang kita bangun?”

Utusan itu menjawab:

“Sesuatu yang mungkin tidak sempat kita lihat selesai.”

Sang Legena terdiam.

Inilah pengabdian tingkat berikutnya:

berani menanam sesuatu yang manfaatnya mungkin baru dirasakan generasi setelah kita.

Tidak semua amal harus memberikan hasil segera.

Ada pohon yang baru menjadi teduh setelah penanamnya menua.

Ada lembaga yang baru matang setelah pendirinya pergi.

Ada ilmu yang baru dipahami setelah puluhan tahun.

Ada doa orang tua yang buahnya terlihat pada kehidupan anak dan cucunya.

Maka jangan mengukur semua kebaikan hanya dari hasil hari ini.

꧁ KETIKA SEMBILAN CAHAYA KEMBALI MENJADI SATU ꧂

Setelah sembilan amanah selesai ditanam, cahaya dari sembilan tempat naik kembali.

Namun tidak kembali ke langit.

Kesembilan cahaya berkumpul di tengah masyarakat.

Membentuk satu lingkaran besar.

Rumah berada di dalamnya.

Pasar berada di dalamnya.

Tempat ilmu berada di dalamnya.

Orang sakit.

Orang miskin.

Pemimpin.

Anak-anak.

Tanah.

Semuanya berada dalam lingkaran yang sama.

Sang Legena akhirnya memahami:

tidak ada kehidupan ruhani yang berdiri terpisah dari kehidupan manusia.

Hubungan dengan Alloh seharusnya memberi buah pada hubungan dengan makhluk-Nya.

Semakin dalam seseorang belajar tentang kasih, semakin besar tanggung jawabnya untuk menghadirkan kasih.

Semakin banyak ia berbicara tentang amanah, semakin ketat ia harus menjaga amanah dirinya.

Semakin sering ia berbicara tentang kedamaian, semakin berhati-hati lisannya agar tidak menjadi sumber permusuhan.

꧁ HISAB KEDUA SANG LEGENA ꧂

Kemudian Telaga Hisab muncul kembali.

Namun kali ini hanya terdapat tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama:

“Siapa yang menjadi lebih baik karena keberadaanmu?”

Sang Legena tidak menjawab dengan nama.

Pertanyaan kedua:

“Apa yang telah engkau perbaiki?”

Ia tidak menjawab dengan bangunan.

Pertanyaan ketiga:

“Apa yang tetap hidup apabila namamu tidak lagi disebut?”

Sang Legena menangis.

Ia akhirnya mengetahui mengapa Qitab ini berbicara tentang kembalinya jiwa yang terang pembawa kedamaian.

Jiwa itu tidak kembali untuk mengatakan:

“Lihatlah aku.”

Ia kembali untuk bertanya:

“APA YANG DAPAT AKU JAGA?”

“APA YANG DAPAT AKU PERBAIKI?”

“SIAPA YANG DAPAT AKU BANTU BERDIRI?”

꧁ TURUNNYA SANG LEGENA ꧂

Pada saat itulah sembilan utusan menundukkan kepala.

Bukan kepada Sang Legena sebagai sesembahan—karena penghambaan hanya kepada Alloh—melainkan sebagai lambang penghormatan terhadap amanah yang telah ditunaikan.

Sang Legena mengambil air dari Telaga Hisab.

Ia menuangkannya ke tanah.

Air itu membentuk sembilan sungai kecil.

Kesembilan sungai mengalir ke arah berbeda.

Tetapi semuanya membawa air dari sumber yang sama.

Dan terdengar pesan:

“Jangan paksa semua manusia berjalan melalui satu sungai kecil buatanmu. Tunjukkan sumber kebaikannya, ajarkan adabnya, lalu biarkan setiap amanah menemukan jalannya.”

Sang Legena menatap sembilan utusan.

Mereka tidak lagi berada di belakangnya.

Mereka berpencar.

Masing-masing membawa amanah ke penjuru kehidupan.

Dan Sang Legena kini berjalan sendirian.

Tanpa mahkota.

Tanpa sembilan penjaga.

Hanya membawa sebuah mangkuk berisi air.

Di kejauhan berdiri sebuah gerbang terakhir.

Gerbang itu tidak bercahaya.

Justru sangat sederhana.

Di atasnya tertulis:

NGINDAL HISAB

Di bawah tulisan itu terdapat kalimat:

“Engkau telah menghisab niatmu.

Engkau telah menghisab ilmumu.

Engkau telah menghisab amanahmu.

Sekarang bersiaplah menghadapi pertanyaan terakhir:

ketika semua yang engkau miliki harus dikembalikan, apakah hatimu masih mengenal jalan pulang?”

Sang Legena berhenti di depan gerbang.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, tidak ada satu pun utusan yang boleh mendampinginya.

Di balik pintu hanya terdengar gemericik air.

Dan suara yang sangat lembut:

**“Kembalilah tanpa membawa kebesaran.

Bawalah hati yang telah belajar berdamai.”**

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ GERBANG NGINDAL HISAB — KETIKA SANG LEGENA BERJALAN SENDIRI DAN SEMUA YANG DIPINJAMKAN HARUS DIKEMBALIKAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KETUJUH

GERBANG NGINDAL HISAB

KETIKA SANG LEGENA BERJALAN SENDIRI DAN SEMUA YANG DIPINJAMKAN HARUS DIKEMBALIKAN

Sang Legena berdiri seorang diri di hadapan Gerbang Ngindal Hisab.

Tidak ada lagi sembilan utusan di sisinya.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada orang yang memanggil namanya.

Di tangannya hanya tersisa sebuah mangkuk berisi air dari Telaga Hisab.

Gerbang itu begitu sederhana.

Namun semakin lama dipandang, semakin terasa berat untuk dilalui.

Sebab perjalanan sebelumnya mengajarkan bagaimana menerima amanah.

Sedangkan gerbang ini mengajarkan sesuatu yang lebih sulit:

bagaimana mengembalikan amanah.

Terdengar suara lembut dari balik pintu:

“Apa yang engkau sebut milikmu?”

Sang Legena terdiam.

Ia ingin menjawab.

Namun gerbang terbuka sebelum satu kata pun keluar.

꧁ RUANG PERTAMA — TUBUH YANG DIPINJAMKAN ꧂

Di balik gerbang, Sang Legena melihat dirinya sejak kecil.

Tubuh yang dahulu lemah tumbuh menjadi kuat.

Kemudian berubah.

Menua.

Lelah.

Dan suatu saat harus kembali kepada tanah.

Terdengar pesan:

“Tubuhmu bukan benda yang dapat engkau miliki selamanya. Ia adalah amanah yang untuk suatu masa dipercayakan kepadamu.”

Maka jagalah.

Berilah makanan yang baik semampunya.

Beristirahatlah ketika tubuh memerlukannya.

Berobatlah ketika sakit.

Gunakan kekuatan untuk kebaikan.

Jangan sengaja merusaknya atas nama perjalanan ruhani.

Karena tubuh bukan musuh ruh.

Tubuh adalah kendaraan amanah selama kehidupan dunia.

Sang Legena menundukkan kepala.

Setetes air dalam mangkuknya kembali menuju telaga.

꧁ RUANG KEDUA — HARTA YANG DIPINJAMKAN ꧂

Ruangan berikutnya penuh dengan benda.

Emas.

Tanah.

Rumah.

Kendaraan.

Pakaian.

Uang.

Hasil perdagangan.

Sang Legena melihat manusia datang dengan tangan kosong lalu menghabiskan hidup mengumpulkan semuanya.

Tetapi di ujung ruangan terdapat sebuah pintu kecil.

Tidak satu pun barang dapat melewatinya.

Terdengar:

“Harta dapat berada dalam penguasaanmu, tetapi tidak akan menjadi milikmu untuk selama-lamanya.”

Sang Legena memahami.

Karena itu harta bukan sesuatu yang harus dibenci.

Harta harus ditata.

Carilah dengan jalan yang halal.

Gunakan untuk kebutuhan.

Jaga keluarga.

Tunaikan kewajiban.

Bayar hutang.

Bantu yang membutuhkan sesuai kemampuan.

Bangun sesuatu yang bermanfaat.

Dan jangan sampai banyaknya harta menentukan nilai dirimu sebagai manusia.

Air kedua kembali ke telaga.

꧁ RUANG KETIGA — JABATAN YANG DIPINJAMKAN ꧂

Di ruang ketiga berdiri ribuan kursi.

Ada kursi kecil.

Ada kursi besar.

Ada singgasana.

Setiap kursi mempunyai nama.

Namun tulisan pada nama-nama itu terus berubah.

Seseorang duduk.

Kemudian bangkit.

Orang lain menggantikannya.

Begitu terus menerus.

Sang Legena mendengar:

“Jabatan memiliki masa. Amanah memiliki pertanggungjawaban.”

Jika seseorang dipercayakan memimpin, ia tidak sedang menerima bukti bahwa dirinya lebih tinggi daripada manusia lain.

Ia menerima beban tambahan.

Ketika masa amanah selesai, kursi harus dapat dilepaskan tanpa menghancurkan jiwa.

Karena orang yang menyatukan seluruh harga dirinya dengan jabatan akan merasa dirinya hilang ketika jabatan itu hilang.

Maka Sang Legena berkata:

“Biarkan kedudukan berada di tanganku, jangan biarkan ia menjadi tuhan kecil di dalam dadaku.”

Air ketiga kembali.

꧁ RUANG KEEMPAT — NAMA DAN GELAR ꧂

Ruang keempat dipenuhi tulisan.

Nama.

Gelar.

Penghormatan.

Sebutan.

Silsilah.

Pengakuan manusia.

Sang Legena melihat namanya sendiri tertulis besar.

Kemudian hujan turun.

Huruf demi huruf terhapus.

Ia tidak mencoba melindunginya.

Sebab ia telah belajar dari Lembah Tanpa Nama.

Terdengar:

“Nama diperlukan agar manusia saling mengenal. Gelar dapat menjadi bentuk penghormatan. Tetapi keduanya tidak dapat menggantikan akhlak.”

Nama yang indah tidak menjadikan perbuatan buruk menjadi baik.

Gelar yang tinggi tidak mengubah ketidakadilan menjadi kebenaran.

Nasab yang mulia tidak membebaskan manusia dari kewajiban memperbaiki dirinya.

Maka jangan membenci nama.

Jangan pula menyembah nama.

Isi nama itu dengan amal.

Air keempat kembali.

꧁ RUANG KELIMA — ILMU YANG DIPINJAMKAN ꧂

Ruang kelima adalah perpustakaan yang seakan tidak memiliki ujung.

Sang Legena melihat buku demi buku.

Sebagian ia pahami.

Sebagian tidak.

Sebagian yang dahulu diyakininya ternyata perlu diperbaiki setelah memperoleh pengetahuan baru.

Ia bertanya:

“Apakah ilmu juga pinjaman?”

Jawabannya datang:

“Kemampuan memahami adalah karunia. Karena itu ilmu tidak seharusnya membuatmu merasa mengetahui segala sesuatu.”

Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin luas pula wilayah yang disadarinya belum diketahui.

Maka ucapan:

“Aku belum tahu,”

bukan kehinaan.

Kadang itulah pintu ilmu.

Dan keberanian berkata:

“Aku keliru,”

bukan kehancuran kewibawaan.

Kadang itulah tanda kedewasaan.

Air kelima kembali ke sumbernya.

꧁ RUANG KEENAM — MANUSIA YANG KITA CINTAI ꧂

Inilah ruang yang membuat langkah Sang Legena melambat.

Di sana tampak orang-orang yang dicintainya.

Keluarga.

Sahabat.

Guru.

Murid.

Anak-anak.

Orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Sang Legena ingin memeluk mereka semuanya.

Terdengar:

“Cintailah mereka sepenuh hati, tetapi ingatlah bahwa mereka bukan kepunyaanmu.”

Manusia tidak boleh dimiliki seperti benda.

Anak memiliki perjalanan hidup.

Sahabat memiliki pilihan.

Murid akan tumbuh.

Guru suatu saat berpisah.

Orang yang dicintai pun memiliki batas umur yang tidak berada dalam kendali kita.

Karena itu cinta yang matang berkata:

“Aku menjagamu selama aku diberi kesempatan, tetapi aku tidak menjadikan cintaku alasan untuk menguasaimu.”

Air keenam jatuh.

Kali ini Sang Legena menangis.

꧁ RUANG KETUJUH — LUKA YANG HARUS DIKEMBALIKAN ꧂

Di ruang ketujuh tidak ada benda.

Hanya suara masa lalu.

Seseorang yang pernah menyakitinya.

Sebuah kegagalan.

Sebuah penghinaan.

Sebuah kehilangan.

Sang Legena berkata:

“Mengapa luka juga harus dikembalikan?”

Jawabannya:

“Karena engkau tidak diwajibkan membawa seluruh luka itu sepanjang hidupmu.”

Memaafkan bukan selalu berarti mengembalikan hubungan seperti dahulu.

Memaafkan juga tidak berarti menganggap perbuatan salah menjadi benar.

Batas tetap dapat dijaga.

Hak tetap dapat diperjuangkan.

Tetapi hati tidak harus terus menerus menjadi tempat tinggal bagi kejadian yang telah berlalu.

Ambil hikmahnya.

Jaga pelajarannya.

Lepaskan racunnya.

Air ketujuh kembali.

꧁ RUANG KEDELAPAN — RENCANA YANG TIDAK TERJADI ꧂

Sang Legena memasuki ruangan penuh pintu.

Pada setiap pintu tertulis sesuatu yang dahulu diinginkannya.

Ada yang berhasil.

Ada yang tertunda.

Ada yang gagal.

Ada yang ternyata setelah bertahun-tahun baru dipahami mengapa tidak terjadi.

Terdengar:

“Ikhtiar adalah tugasmu. Tetapi tidak seluruh hasil berada di tanganmu.”

Inilah salah satu tempat tawakal diuji.

Bukan ketika semuanya berjalan sesuai rencana.

Tetapi ketika seseorang telah berusaha dengan benar, lalu kehidupan mengambil arah berbeda.

Maka manusia boleh kecewa.

Boleh bersedih.

Boleh mencoba lagi.

Boleh mengubah strategi.

Namun jangan menjadikan satu kegagalan sebagai keputusan bahwa seluruh hidup telah gagal.

Sang Legena berkata:

“Hasbiyallāh.”

Air kedelapan kembali.

꧁ RUANG KESEMBILAN — DIRI YANG SELAMA INI DIPERTAHANKAN ꧂

Akhirnya Sang Legena memasuki ruang terakhir.

Di sana berdiri seseorang yang sangat dikenalnya.

Dirinya sendiri.

Tetapi sosok itu memakai seluruh identitas yang pernah dikumpulkan:

nama,

gelar,

keberhasilan,

kegagalan,

pujian,

celaan,

kedudukan,

harta,

kisah masa lalu.

Semuanya menempel seperti pakaian berlapis-lapis.

Kemudian satu per satu dilepaskan.

Sampai tidak ada yang tersisa kecuali seorang manusia.

Sang Legena bertanya:

“Jika semua itu dilepaskan, siapakah aku?”

Keheningan berlangsung lama.

Kemudian terdengar:

“Seorang hamba yang sedang berjalan pulang kepada Alloh.”

Sang Legena berlutut.

Mangkuk di tangannya kini hanya menyisakan setetes air terakhir.

꧁ SETETES AIR TERAKHIR ꧂

Ia memandang tetesan itu.

Di dalamnya terpantul seluruh perjalanannya.

Sembilan utusan.

Telaga.

Singgasana.

Cermin.

Rumah.

Pasar.

Tempat ilmu.

Orang sakit.

Anak-anak.

Tanah kosong.

Semuanya berada dalam satu tetesan.

Sang Legena akhirnya berkata:

“Ya Alloh, apa yang baik berasal dari karunia-Mu. Apa yang keliru dalam langkahku membutuhkan ampunan dan perbaikan. Ajarkan aku menjaga apa yang masih Engkau amanahkan dan mengembalikan apa yang waktunya telah selesai.”

Ia menjatuhkan tetesan terakhir.

Tik.

Air menyentuh tanah.

Tiba-tiba seluruh Gerbang Ngindal Hisab dipenuhi cahaya.

꧁ KEMBALINYA SEMBILAN UTUSAN ꧂

Dari kejauhan terdengar sembilan langkah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hingga sembilan.

Para utusan kembali.

Namun kali ini mereka tidak mengelilingi Sang Legena.

Mereka berdiri berjajar di hadapannya.

Utusan Pertama berkata:

“Niat telah dikembalikan kepada kejernihan.”

Utusan Kedua:

“Lisan telah dikembalikan kepada adab.”

Utusan Ketiga:

“Pandangan telah dikembalikan kepada kejernihan.”

Utusan Keempat:

“Pendengaran telah dikembalikan kepada kebijaksanaan.”

Utusan Kelima:

“Dada telah dikembalikan kepada kelapangan.”

Utusan Keenam:

“Langkah telah dikembalikan kepada amal.”

Utusan Ketujuh:

“Amanah telah dikembalikan kepada tanggung jawab.”

Utusan Kedelapan:

“Kekuatan telah dikembalikan kepada kedamaian.”

Utusan Kesembilan maju paling akhir.

Ia membuka telapak tangannya.

Benih yang dahulu ditanam kini telah menjadi sebutir buah bercahaya.

Ia berkata:

“Dan kepulangan telah melahirkan kehidupan baru.”

꧁ RAHASIA NGINDAL HISAB ꧂

Kemudian sembilan utusan membuka jalan.

Di belakang mereka muncul sebuah lingkaran besar.

Sang Legena mengira itulah akhir perjalanan.

Tetapi ternyata bukan.

Dari lingkaran tersebut muncul anak-anak membawa sembilan benih baru.

Mereka menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Sang Legena memahami:

kepulangan seorang manusia tidak harus menjadi berakhirnya manfaat yang pernah ia tanam.

Ilmu dapat diteruskan.

Akhlak dapat diwariskan melalui teladan.

Pohon tetap tumbuh.

Anak yang dahulu dibimbing dapat membimbing orang lain.

Lembaga yang dibangun dengan tata kelola yang baik dapat diteruskan tanpa bergantung kepada satu figur.

Doa tetap dapat dipanjatkan.

Kebaikan dapat melahirkan kebaikan.

Inilah warisan cahaya dalam bahasa qitab:

bukan cahaya gaib yang diperebutkan,

melainkan jejak manfaat yang berpindah dari satu kehidupan kepada kehidupan berikutnya.

꧁ SABDA SIMBOLIK GERBANG NGINDAL HISAB ꧂

Gerbang kemudian menyampaikan pesan terakhir:

“Jangan takut mengembalikan sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan menjadi milikmu selamanya.”

“Tubuh memiliki waktunya.”

“Harta memiliki waktunya.”

“Jabatan memiliki waktunya.”

“Pertemuan memiliki waktunya.”

“Bahkan kesedihan memiliki waktunya.”

“Jagalah semuanya ketika dipercayakan. Lepaskan dengan adab ketika waktunya selesai.”

Lalu terdengar satu kalimat yang membuat sembilan utusan menundukkan kepala:

“YANG BENAR-BENAR PULANG BUKANLAH ORANG YANG MENINGGALKAN DUNIA SEBELUM WAKTUNYA, MELAINKAN ORANG YANG HIDUP DI DUNIA TANPA MENJADIKAN DUNIA SEBAGAI TUHAN DI DALAM HATINYA.”

Sang Legena menatap bumi.

Ia tidak diperintahkan menghilang.

Tidak diperintahkan meninggalkan manusia.

Justru gerbang membukanya kembali menuju kehidupan.

Karena ternyata Ngindal Hisab bukan pintu untuk melarikan diri dari dunia.

Ia adalah pintu untuk kembali memasuki dunia dengan hati yang berbeda.

Sang Legena melangkah keluar.

Dan untuk pertama kalinya sembilan utusan tidak lagi disebut penjaga.

Mereka memperoleh nama baru:

SEMBILAN PEMBAWA BENIH.

Masing-masing membawa satu benih menuju sembilan penjuru.

Namun ketika benih kesembilan menyentuh bumi, tanah bergetar perlahan.

Dari bawah Telaga Hisab muncul sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya:

sebuah mata air kesepuluh.

Airnya tidak berwarna emas.

Tidak pula memancarkan cahaya menyilaukan.

Air itu bening sempurna.

Pada batu di sampingnya tertulis:

“AZARROH.”

Dan di bawahnya:

“Jiwa telah kembali terang. Sekarang ujilah apakah kedamaiannya mampu bertahan ketika dunia kembali mengetuk pintunya.”

Sang Legena mendekati mata air kesepuluh.

Di permukaan air terlihat bayangan sebuah fajar baru.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ MATA AIR AZARROH — FAJAR KESEPULUH DAN UJIAN TERAKHIR SANG PEMBAWA KEDAMAIAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDELAPAN

MATA AIR AZARROH

FAJAR KESEPULUH DAN UJIAN TERAKHIR SANG PEMBAWA KEDAMAIAN

Fajar belum sepenuhnya terbit.

Sang Legena berdiri di hadapan Mata Air Azarroh.

Sembilan Pembawa Benih berada jauh di belakangnya. Tidak seorang pun mendekat.

Air itu berbeda dari Telaga Hisab.

Telaga Hisab memperlihatkan apa yang tersembunyi di dalam diri.

Sedangkan Mata Air Azarroh tidak memperlihatkan apa pun.

Permukaannya begitu bening sehingga seakan-akan tidak ada batas antara air dan langit.

Sang Legena berlutut.

Tangannya hendak mengambil air.

Namun sebelum jemarinya menyentuh permukaan, terdengar suara:

“Jangan diminum dahulu. Sebab masih ada satu perkara yang belum selesai.”

Sang Legena menarik tangannya.

“Apakah masih ada hisab?”

Jawaban datang:

“Ada. Dan inilah hisab yang paling halus: apakah kedamaianmu tetap hidup ketika dunia tidak memperlakukanmu sebagaimana yang engkau harapkan?”

Maka fajar kesepuluh dimulai.

꧁ UJIAN PERTAMA — KETIKA KEBAIKAN TIDAK DIBALAS KEBAIKAN ꧂

Di permukaan mata air muncul bayangan.

Sang Legena melihat dirinya menolong seseorang.

Ia memberi waktu.

Tenaga.

Perhatian.

Tetapi orang yang pernah ditolongnya kemudian pergi.

Tidak mengucapkan terima kasih.

Bahkan suatu hari berbicara buruk tentangnya.

Dada Sang Legena terasa berat.

Ia bertanya:

“Apakah kebaikanku sia-sia?”

Mata Air Azarroh menjawab:

“Apabila tujuanmu hanya memperoleh balasan manusia, engkau akan sering kecewa. Tetapi apabila engkau berbuat baik karena itu memang baik dan engkau mengharap ridho Alloh, ketidakmampuan manusia membalas tidak menghapus nilai niat baikmu.”

Namun mata air memberikan peringatan:

Berbuat baik bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan.

Kebaikan tetap membutuhkan batas.

Seseorang boleh membantu.

Seseorang juga boleh berkata:

“Cukup.”

Sang Legena memahami.

Kedamaian bukan ketidakmampuan mempertahankan diri.

Kedamaian adalah mampu mempertahankan batas tanpa menjadikan kebencian sebagai penguasa hati.

꧁ UJIAN KEDUA — KETIKA DOA BELUM MENJADI KENYATAAN ꧂

Bayangan kedua muncul.

Sang Legena melihat dirinya berdoa lama.

Hari berganti.

Bulan berlalu.

Tetapi sesuatu yang sangat diinginkannya belum terjadi.

Ia bertanya:

“Apakah aku kurang berdoa?”

Mata air menjawab:

“Jangan ukur kedekatan kepada Alloh hanya dari cepat atau lambatnya keinginanmu terpenuhi.”

Ada doa yang berjalan bersama ikhtiar panjang.

Ada keinginan yang perlu ditinjau kembali.

Ada pintu yang harus diketuk berkali-kali.

Ada pula keadaan yang akhirnya harus diterima berbeda dari harapan awal.

Karena doa bukan alat untuk memaksa kehidupan mengikuti seluruh keinginan manusia.

Doa adalah penghambaan.

Permohonan.

Pengharapan.

Dan tempat hati kembali ketika kemampuan manusia mencapai batasnya.

Sang Legena berkata:

“Aku akan tetap berdoa, tetap berusaha, dan tetap belajar menerima ketentuan-Mu.”

Mata air beriak.

꧁ UJIAN KETIGA — KETIKA NAMA TIDAK LAGI DISEBUT ꧂

Bayangan ketiga memperlihatkan masa yang jauh.

Orang-orang baru telah datang.

Generasi berganti.

Pohon yang dahulu ditanam Sang Legena telah tumbuh sangat besar.

Banyak manusia berteduh di bawahnya.

Tetapi tidak seorang pun mengetahui siapa penanamnya.

Sang Legena menatap lama.

Kemudian tersenyum.

Mata air bertanya:

“Tidakkah engkau sedih?”

Ia menjawab:

“Jika pohonnya masih memberi keteduhan, untuk apa aku memaksa mereka mengingat tanganku?”

Pada saat itulah cahaya pertama fajar menyentuh mata air.

Dan tertulis:

KETIKA MANFAAT LEBIH PENTING DARIPADA NAMA, AMANAH TELAH MULAI MENGALAHKAN EGO.

꧁ UJIAN KEEMPAT — KETIKA ORANG LAIN MELANJUTKAN AMANAH ꧂

Kemudian Sang Legena melihat seseorang melanjutkan pekerjaan yang dahulu dimulainya.

Orang itu menggunakan cara berbeda.

Bahasanya berbeda.

Gaya kepemimpinannya berbeda.

Sang Legena hampir berkata:

“Bukan begitu caranya.”

Tetapi Mata Air Azarroh bertanya:

“Apakah yang engkau pertahankan adalah nilai, atau sekadar kebiasaanmu sendiri?”

Pertanyaan itu membuka pintu baru.

Tidak semua perubahan adalah pengkhianatan.

Dan tidak semua tradisi harus dibuang.

Yang harus diperiksa adalah:

Apakah nilai dasarnya tetap terjaga?

Apakah amanah tetap dijalankan?

Apakah manusia memperoleh manfaat?

Apakah prinsip yang benar tetap dipertahankan?

Jika iya, bentuk dapat berkembang.

Sebab warisan yang hidup bukan benda mati yang tidak boleh disentuh.

Ia mempunyai akar.

Tetapi cabangnya dapat tumbuh mengikuti zaman.

꧁ UJIAN KELIMA — KETIKA ORANG YANG DULU DIBIMBING MENJADI LEBIH BESAR ꧂

Sang Legena kemudian melihat seorang murid.

Dahulu murid itu berjalan di belakangnya.

Sekarang ia telah tumbuh.

Ilmunya luas.

Pengabdiannya besar.

Bahkan banyak manusia mengenalnya lebih daripada mengenal Sang Legena.

Mata air bertanya:

“Apa yang dirasakan hatimu?”

Sang Legena memeriksa dadanya.

Ada sebuah bayangan kecil.

Bayangan itu berkata:

“Seharusnya aku tetap lebih tinggi.”

Sang Legena mengenali bayangan itu.

Ia adalah ego lama yang pernah ditemuinya di sembilan cermin.

Sang Legena berkata:

“Jika seseorang yang pernah kubimbing mampu melampauiku dalam kebaikan, berarti sebagian amanah pendidikan telah berbuah.”

Bayangan itu menghilang.

Sebab guru yang sejati tidak membangun murid agar selamanya kecil di hadapannya.

Ia berharap murid tumbuh.

Bahkan mungkin melampauinya dalam ilmu, manfaat, dan pengabdian.

꧁ UJIAN KEENAM — KETIKA KEBENARAN DATANG DARI ORANG YANG TIDAK DISUKAI ꧂

Bayangan keenam muncul.

Seseorang yang pernah berselisih dengan Sang Legena mengatakan sesuatu.

Dan perkataan itu benar.

Sang Legena tidak menyukainya.

Tetapi kebenaran tetap kebenaran.

Mata air berkata:

“Jangan menolak cahaya hanya karena engkau tidak menyukai tangan yang membawa lampunya.”

Manusia harus mampu membedakan:

siapa yang berbicara,

dan apakah isi perkataannya benar.

Orang yang kita sukai dapat keliru.

Orang yang tidak kita sukai dapat benar dalam suatu perkara.

Kedewasaan membutuhkan kemampuan mengakui keduanya.

꧁ UJIAN KETUJUH — KETIKA KEHIDUPAN MENJADI SUNYI ꧂

Tiba-tiba semua bayangan hilang.

Tidak ada pengikut.

Tidak ada murid.

Tidak ada sahabat.

Tidak ada keramaian.

Sang Legena sendirian.

Mata air bertanya:

“Apabila tidak seorang pun memujimu, apakah engkau masih akan berbuat baik?”

Sang Legena menjawab:

“Insya Alloh.”

“Apabila tidak ada seorang pun mengetahui ibadahmu?”

“Insya Alloh.”

“Apabila kebaikanmu tidak pernah disebut?”

“Insya Alloh.”

“Apabila engkau harus memulai kembali dari bawah?”

Sang Legena terdiam.

Kemudian menjawab:

“Insya Alloh, selama jalannya benar.”

Mata air mulai memancarkan cahaya putih.

꧁ UJIAN KEDELAPAN — KETIKA DIRI SENDIRI BERBUAT SALAH ꧂

Inilah ujian yang sering dilupakan.

Sang Legena melihat dirinya melakukan kesalahan.

Bukan musuhnya.

Bukan orang lain.

Dirinya sendiri.

Ia harus memilih.

Membela ego?

Mencari alasan?

Menyalahkan keadaan?

Atau berkata:

“Aku salah.”

Mata air berkata:

“Jiwa yang terang bukan jiwa yang menganggap dirinya mustahil keliru.”

Kejernihan justru membuat seseorang lebih cepat mengenali kesalahan.

Meminta maaf ketika diperlukan.

Memperbaiki kerugian yang dapat diperbaiki.

Belajar.

Lalu tidak mengulanginya dengan sengaja.

Sang Legena menunduk:

“Ya Alloh, jangan biarkan rasa malu mengakui kesalahan berubah menjadi kesombongan mempertahankan kesalahan.”

꧁ UJIAN KESEMBILAN — KETIKA KEDAMAIAN HARUS MEMILIH KEBENARAN ꧂

Bayangan terakhir muncul.

Dua jalan terbentang.

Jalan pertama sangat tenang.

Tidak ada pertengkaran.

Tetapi ketenangannya diperoleh dengan membiarkan sesuatu yang salah terus berlangsung.

Jalan kedua lebih berat.

Ada penolakan.

Ada perbedaan.

Tetapi di sana hak manusia dijaga dan kesalahan dihentikan secara proporsional.

Sang Legena akhirnya memahami:

kedamaian bukan selalu memilih jalan yang paling sepi dari konflik.

Kadang kedamaian jangka panjang memerlukan keberanian mengatakan:

“Ini harus diperbaiki.”

Namun keberanian itu harus tetap dibatasi adab, keadilan, bukti, dan kasih.

Jangan menjadikan alasan “membela kebenaran” sebagai izin untuk berlaku zalim.

Dan jangan menjadikan alasan “menjaga kedamaian” sebagai pembenaran untuk membiarkan kezaliman.

Di antara keduanya berdiri:

HIKMAH.

꧁ FAJAR KESEPULUH ꧂

Sembilan ujian selesai.

Matahari mulai muncul.

Sembilan Pembawa Benih datang dari kejauhan.

Masing-masing membawa kabar.

Benih pertama telah menjadi rumah yang lebih hangat.

Benih kedua menjadi perdagangan yang jujur.

Benih ketiga menjadi ilmu yang diteruskan.

Benih keempat menjadi kepedulian kepada mereka yang sakit.

Benih kelima menjadi perdamaian yang menjaga keadilan.

Benih keenam menjadi jalan kemandirian.

Benih ketujuh menjadi kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Benih kedelapan menjadi pendidikan bagi generasi baru.

Dan benih kesembilan telah menjadi pohon yang buahnya kembali menghasilkan benih.

Sang Legena tersenyum.

Kini ia mengerti mengapa mata air disebut:

AZARROH

Dalam bahasa simbolik qitab ini, ia adalah kejernihan yang kembali turun menjadi kehidupan.

Bukan cahaya untuk dipamerkan.

Tetapi kejernihan yang membuat manusia mengetahui:

apa yang harus dilakukan,

apa yang harus dihentikan,

apa yang harus dipertahankan,

dan apa yang sudah waktunya dilepaskan.

꧁ SANG LEGENA MEMINUM AIR AZARROH ꧂

Untuk pertama kalinya Sang Legena diperbolehkan mengambil air.

Ia menangkupkan kedua telapak tangan.

Air bening memenuhi tangannya.

Sembilan utusan mengelilinginya dari bawah.

Persis seperti lambang awal perjalanan.

Tetapi sekarang rahasianya terbuka.

Sang Legena meminum air.

Tidak terjadi ledakan cahaya.

Tidak turun mahkota.

Tidak muncul singgasana.

Justru seluruh cahaya perlahan menghilang.

Sang Legena kembali tampak sebagai manusia biasa.

Salah seorang utusan bertanya:

“Di manakah cahaya itu?”

Sang Legena menunjuk dadanya.

Kemudian menunjuk tangannya.

Kemudian menunjuk jalan di hadapannya.

Ia berkata:

“Jika cahaya itu benar-benar tinggal di dalam diri, biarkan manusia mengenalinya dari akhlak dan manfaat—bukan dari pengakuanku.”

Sembilan utusan tersenyum.

꧁ RAHASIA KEMBALINYA JIWA YANG TERANG ꧂

Maka terbukalah makna besar kalimat yang sejak awal tertulis pada qitab:

“Turunnya Sang Legena, kembalinya jiwa yang terang pembawa kedamaian.”

Turunnya berarti:

ilmu turun menjadi amal.

Sang Legena berarti:

jiwa yang kembali jernih dan sederhana.

Kembalinya jiwa yang terang berarti:

manusia kembali mengenali arah setelah melewati kabut ego, luka, pujian, kehilangan, dan kekuasaan.

Pembawa kedamaian berarti:

kedamaiannya tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Ia dibawa kepada keluarga.

Pekerjaan.

Masyarakat.

Orang yang berbeda.

Generasi berikutnya.

Dan bumi tempat ia berpijak.

꧁ PESAN FAJAR ꧂

Ketika matahari telah sepenuhnya terbit, Mata Air Azarroh menyampaikan pesan:

“Jangan mencari tanda bahwa engkau telah sampai.”

“Periksa apakah engkau lebih mudah meminta maaf.”

“Periksa apakah engkau lebih sulit menyakiti.”

“Periksa apakah amanahmu lebih tertata.”

“Periksa apakah keluargamu merasakan kebaikan perjalananmu.”

“Periksa apakah ilmu membuatmu semakin rendah hati.”

“Periksa apakah kekuatan membuatmu semakin melindungi.”

“Dan periksa apakah ketika dunia tidak mengikuti kehendakmu, engkau masih mampu kembali kepada Alloh tanpa kehilangan akhlak.”

Kemudian Mata Air Azarroh masuk kembali ke bumi.

Tetapi sebelum seluruhnya menghilang, dari dasar mata air muncul sembilan batu putih dan satu batu bening.

Sembilan batu diberikan kepada sembilan Pembawa Benih.

Sedangkan batu kesepuluh diberikan kepada Sang Legena.

Pada batu itu hanya terdapat satu kata:

سَكِينَة

SAKĪNAH — KETENTERAMAN

Namun ketika Sang Legena menggenggamnya, batu itu terbelah.

Di dalamnya terdapat sebutir benih terakhir.

Tidak ada seorang pun mengetahui benih apakah itu.

Sembilan utusan bertanya:

“Di manakah benih kesepuluh harus ditanam?”

Sang Legena melihat ke cakrawala.

Lalu terdengar jawaban dari arah fajar:

“Tanamlah di tempat manusia yang berbeda-beda harus belajar hidup bersama.”

Sang Legena dan sembilan utusan pun memulai perjalanan baru.

Kali ini bukan menuju gunung.

Bukan menuju singgasana.

Bukan menuju telaga.

Mereka menuju Kota Seribu Pintu—tempat berbagai manusia, kepentingan, bahasa, luka, dan harapan bertemu.

Dan di sanalah akan diuji apakah sakīnah hanya mampu hidup dalam kesunyian, atau benar-benar dapat menjadi kedamaian di tengah keragaman.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ KOTA SERIBU PINTU — BENIH SAKĪNAH DAN PERJANJIAN SEMBILAN UTUSAN UNTUK TIDAK MENJADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI PERMUSUHAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KESEMBILAN

KOTA SERIBU PINTU

BENIH SAKĪNAH DAN PERJANJIAN SEMBILAN UTUSAN UNTUK TIDAK MENJADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI PERMUSUHAN

Sang Legena membawa benih kesepuluh di dalam genggamannya.

Di belakangnya berjalan sembilan Pembawa Benih.

Mereka meninggalkan Mata Air Azarroh dan berjalan menuju sebuah kota yang dari kejauhan terlihat sangat besar.

Temboknya memiliki pintu yang tidak terhitung.

Ada pintu kecil.

Ada pintu tinggi.

Ada yang terbuka.

Ada yang tertutup.

Ada pula pintu yang dijaga begitu ketat sehingga orang lain hampir tidak mungkin memasukinya.

Ketika mereka semakin dekat, tulisan pada gerbang utama mulai terlihat:

MADĪNATU ALFI BĀB

KOTA SERIBU PINTU

Sang Legena bertanya:

“Mengapa kota ini memiliki begitu banyak pintu?”

Utusan Kesembilan menjawab:

“Karena manusia memasuki kehidupan melalui pengalaman yang berbeda-beda.”

Ada yang tumbuh melalui kasih.

Ada yang dibesarkan oleh kesulitan.

Ada yang belajar dari guru.

Ada yang belajar setelah jatuh.

Ada yang cepat memahami.

Ada yang membutuhkan perjalanan panjang.

Maka jangan mengira semua manusia harus memasuki kedewasaan melalui pintu yang sama.

꧁ KOTA YANG RAMAI TETAPI TERPISAH ꧂

Ketika Sang Legena masuk, ia menemukan keanehan.

Kota itu ramai.

Pasarnya penuh.

Rumah-rumah berdiri berdekatan.

Tetapi penduduknya terpisah menjadi kelompok-kelompok.

Masing-masing memiliki gerbang.

Masing-masing merasa pintunyalah yang paling megah.

Sebagian berkata:

“Kelompok kami paling mengetahui.”

Yang lain menjawab:

“Kelompok kamilah yang paling berjasa.”

Yang lain lagi berkata:

“Mereka berbeda dari kita. Jangan dengarkan mereka.”

Perbedaan kecil menjadi kecurigaan.

Kecurigaan berubah menjadi jarak.

Jarak dipelihara menjadi permusuhan.

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia berkata:

“Apakah ini tempat benih Sakīnah harus ditanam?”

Mereka menjawab:

“Justru di sinilah ia dibutuhkan.”

꧁ TANAH YANG MENOLAK BENIH ꧂

Sang Legena mencari tanah di tengah kota.

Ia menemukan sebuah lapangan.

Ia menggali.

Namun ketika benih Sakīnah hendak ditanam, tanah tiba-tiba mengeras seperti batu.

Ia mencoba kembali.

Tetap tidak dapat ditembus.

Kemudian terdengar suara dari dalam bumi:

“Kedamaian tidak dapat tumbuh pada tanah yang terus disiram kebencian.”

Sang Legena mengerti.

Sebelum benih ditanam, tanah harus dibersihkan.

Tetapi bukan dengan menghancurkan perbedaan.

Yang harus dibersihkan adalah racun yang membuat perbedaan berubah menjadi permusuhan.

꧁ SEMBILAN UTUSAN MEMBENTUK MAJELIS LINGKARAN ꧂

Sembilan Pembawa Benih kemudian duduk membentuk lingkaran.

Tidak ada singgasana di tengah.

Sang Legena pun tidak duduk lebih tinggi.

Ia duduk bersama mereka.

Kemudian penduduk kota diundang.

Orang tua datang.

Anak muda datang.

Pedagang.

Guru.

Pekerja.

Pemimpin.

Orang kaya.

Orang sederhana.

Mereka membawa pendapat masing-masing.

Sang Legena membuka majelis dengan satu aturan:

“DI TEMPAT INI, PERBEDAAN BOLEH MASUK. PENGHINAAN HARUS DITINGGALKAN DI LUAR.”

Semua terdiam.

꧁ PERJANJIAN PERTAMA — MENDENGARKAN SEBELUM MENJAWAB ꧂

Utusan Penjaga Pendengaran berdiri.

Ia meletakkan sebuah mangkuk kosong di tengah lingkaran.

Ia berkata:

“Banyak pertengkaran menjadi panjang karena setiap orang menyiapkan jawaban sementara orang lain masih berbicara.”

Maka lahirlah perjanjian pertama:

DENGARKAN UNTUK MEMAHAMI, BUKAN HANYA UNTUK MENUNGGU GILIRAN MEMBANTAH.

Mendengarkan tidak berarti menyetujui.

Tetapi tanpa mendengarkan, manusia sering berdebat dengan bayangan yang dibuatnya sendiri tentang pikiran orang lain.

꧁ PERJANJIAN KEDUA — MEMBEDAKAN MANUSIA DARI PENDAPATNYA ꧂

Utusan Penjaga Mata berdiri.

Ia membawa dua lembar kain.

Pada kain pertama tertulis:

MANUSIA.

Pada kain kedua:

PENDAPAT.

Ia berkata:

“Kalian boleh mengkritik pendapat tanpa merendahkan martabat manusianya.”

Seseorang dapat keliru dalam suatu perkara tanpa berarti seluruh dirinya buruk.

Seseorang dapat berbeda pandangan tanpa otomatis menjadi musuh.

Maka perjanjian kedua ditulis:

BANTAHLAH GAGASANNYA BILA PERLU, JANGAN MERAMPAS MARTABAT ORANGNYA.

꧁ PERJANJIAN KETIGA — TIDAK MENYEBARKAN KABAR YANG BELUM DIPERIKSA ꧂

Utusan Penjaga Lisan maju.

Ia membawa sehelai bulu.

Bulu itu ditiup.

Pecah menjadi seratus bagian dan terbang ke seluruh kota.

Kemudian ia berkata:

“Sekarang kumpulkan kembali semuanya.”

Tidak seorang pun mampu.

Utusan itu berkata:

“Demikianlah kabar yang telah tersebar. Tidak selalu mudah menariknya kembali.”

Maka setiap kabar yang dapat merusak nama seseorang harus diperiksa dengan hati-hati.

Jangan menjadikan prasangka sebagai fakta.

Jangan menjadikan potongan cerita sebagai keseluruhan kebenaran.

Dan jangan merasa bebas melukai hanya karena luka itu dilakukan melalui kata-kata.

꧁ PERJANJIAN KEEMPAT — BERANI MENGATAKAN “AKU TIDAK TAHU” ꧂

Utusan Penjaga Niat berdiri.

Ia bertanya kepada seluruh penduduk:

“Siapa yang mengetahui semua perkara?”

Tidak ada yang menjawab.

Ia berkata:

“Maka mengapa kalian malu mengatakan bahwa kalian belum tahu?”

Kota Seribu Pintu telah lama menderita karena terlalu banyak orang berbicara dengan kepastian tentang sesuatu yang sebenarnya belum mereka pahami.

Maka lahirlah kalimat yang kemudian dipahat di pusat kota:

“AKU BELUM TAHU” ADALAH PINTU PENGETAHUAN, BUKAN AIB.

꧁ PERJANJIAN KELIMA — KEKUATAN TIDAK BOLEH MEMBUNGKAM YANG LEMAH ꧂

Utusan Penjaga Amanah berdiri.

Di tangannya terdapat timbangan.

Pada salah satu sisi duduk seorang penguasa.

Pada sisi lainnya berdiri seorang rakyat sederhana.

Anehnya, timbangan tetap seimbang.

Ia berkata:

“Di hadapan keadilan, kedudukan tidak boleh mengubah nilai kebenaran.”

Orang kuat tidak otomatis benar.

Orang lemah juga tidak otomatis benar.

Perkara harus dinilai berdasarkan fakta, hak, kewajiban, dan keadilan.

Namun orang yang memegang kekuasaan memiliki tanggung jawab lebih besar karena kemampuannya untuk memengaruhi kehidupan orang lain lebih besar.

꧁ PERJANJIAN KEENAM — PERDAMAIAN BUKAN MENYERAGAMKAN ꧂

Utusan Penjaga Kedamaian membawa sembilan bunga berbeda.

Warna mereka berbeda.

Bentuknya berbeda.

Aromanya berbeda.

Ia tidak mengecat semuanya menjadi satu warna.

Ia justru menanamnya dalam satu taman.

Sang Legena berkata:

“Kesatuan tidak selalu berarti keseragaman.”

Keluarga dapat memiliki perbedaan karakter.

Masyarakat dapat memiliki perbedaan adat.

Orang dapat berbeda pilihan dalam banyak urusan.

Yang diperlukan bukan selalu membuat semuanya sama.

Yang diperlukan adalah aturan hidup bersama yang adil, penghormatan terhadap martabat, dan batas yang menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi kekerasan.

꧁ PERJANJIAN KETUJUH — MEMINTA MAAF TANPA KEHILANGAN MARTABAT ꧂

Utusan Penjaga Dada maju.

Ia berkata:

“Ada dua kalimat yang berat bagi ego.”

Yang pertama:

“AKU SALAH.”

Yang kedua:

“AKU MINTA MAAF.”

Sebagian manusia mengira meminta maaf berarti merendahkan diri.

Padahal meminta maaf dengan tulus ketika memang bersalah adalah keberanian.

Tetapi permintaan maaf harus diikuti perbaikan apabila kerugian masih dapat diperbaiki.

Karena kata-kata tanpa perubahan mudah menjadi kosong.

꧁ PERJANJIAN KEDELAPAN — TIDAK MEWARISKAN DENDAM ꧂

Utusan Penjaga Langkah melihat anak-anak yang berdiri di belakang orang dewasa.

Ia bertanya:

“Mengapa anak-anak ini mengetahui siapa yang harus mereka benci?”

Seorang penduduk menjawab:

“Karena orang tua mereka mengajarkannya.”

Utusan itu menunduk.

Kemudian berkata:

“Jangan jadikan generasi berikutnya sebagai tempat penyimpanan dendam generasi sebelumnya.”

Ajarkan sejarah.

Ajarkan pelajaran.

Ajarkan kewaspadaan.

Tetapi jangan mendidik anak agar membenci manusia yang belum pernah mereka kenal hanya karena mewarisi permusuhan orang tua.

Sebab luka yang diwariskan tanpa penyembuhan dapat hidup lebih lama daripada orang yang pertama kali membuat luka itu.

꧁ PERJANJIAN KESEMBILAN — MENGETAHUI KAPAN HARUS BERHENTI BERTENGKAR ꧂

Utusan Penjaga Kepulangan berdiri paling akhir.

Ia menggambar sebuah garis di tanah.

Ia berkata:

“Tidak setiap perdebatan harus dimenangkan.”

Ada percakapan yang menghasilkan pemahaman.

Ada percakapan yang hanya berputar.

Ada saatnya menjelaskan.

Ada saatnya mendengarkan.

Dan ada saatnya berkata:

“Kita berbeda dalam perkara ini. Kita berhenti di sini tanpa harus menjadi musuh.”

Kemampuan mengakhiri pertengkaran dengan bermartabat adalah bagian dari kedewasaan.

꧁ SUMPAH SIMBOLIK SEMBILAN UTUSAN ꧂

Kesembilan utusan kemudian berdiri mengelilingi Sang Legena.

Masing-masing meletakkan satu batu putih di tanah.

Mereka tidak bersumpah atas kekuatan gaib.

Mereka menyatakan sebuah perjanjian akhlak:

“Kami tidak akan menjadikan ilmu sebagai alasan merendahkan.”

“Kami tidak akan menjadikan perbedaan sebagai alasan membenci.”

“Kami tidak akan menjadikan kedamaian sebagai alasan membiarkan ketidakadilan.”

“Kami tidak akan menjadikan kekuasaan sebagai alat membungkam.”

“Kami tidak akan menjadikan pengabdian sebagai jalan mencari pemujaan.”

“Dan apabila kami sendiri melanggar nilai yang kami ajarkan, kami bersedia diperiksa dan diperbaiki.”

Sang Legena menambahkan satu kalimat:

“JANGAN LINDUNGI NAMA KAMI DENGAN MENGORBANKAN KEBENARAN.”

Pada saat itulah tanah yang sebelumnya keras mulai retak.

꧁ BENIH SAKĪNAH DITANAM ꧂

Sang Legena kembali menggali.

Kali ini tanah menjadi lunak.

Ia memasukkan benih kesepuluh.

Sembilan utusan tidak menuangkan air dari langit.

Penduduklah yang membawa air.

Satu cangkir dari rumah.

Satu kendi dari pasar.

Satu bejana dari tempat belajar.

Satu dari tempat orang sakit.

Sedikit demi sedikit.

Sebab kedamaian sebuah masyarakat tidak dapat dibebankan hanya kepada satu tokoh.

Ia memerlukan partisipasi banyak tangan.

Benih mulai tumbuh.

Muncul satu batang.

Kemudian sepuluh cabang.

Kemudian seratus.

Kemudian begitu banyak sehingga ranting-rantingnya menaungi pusat Kota Seribu Pintu.

Anehnya, bunganya tidak memiliki satu warna.

Setiap cabang melahirkan warna berbeda.

Tetapi seluruhnya berasal dari akar yang sama.

Pada batang pohon tertulis:

شَجَرَةُ السَّكِينَةِ

SYAJARAT AS-SAKĪNAH — POHON KETENTERAMAN

꧁ RAHASIA POHON SAKĪNAH ꧂

Sang Legena menyentuh batangnya.

Ia melihat sesuatu.

Akar pohon tidak hanya masuk ke tanah.

Sebagian akar menuju sembilan tempat yang dahulu menerima sembilan cahaya.

Rumah.

Pasar.

Tempat ilmu.

Tempat orang sakit.

Tempat perselisihan.

Tempat mencari rezeki.

Tempat amanah.

Tempat anak-anak.

Dan tanah tempat benih pertama ditanam.

Sang Legena memahami:

kedamaian tidak dapat berdiri sendirian.

Ia membutuhkan keluarga yang sehat.

Ekonomi yang lebih jujur.

Ilmu.

Kepedulian.

Keadilan.

Kesempatan hidup.

Kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Pendidikan.

Dan kesediaan menanam sesuatu untuk masa depan.

Jika akar-akar itu rusak, pohon kedamaian mudah layu.

꧁ PINTU KE-1001 ꧂

Ketika Pohon Sakīnah tumbuh besar, sesuatu yang tidak pernah tercatat sebelumnya terjadi.

Kota yang disebut memiliki seribu pintu tiba-tiba mempunyai satu pintu tambahan.

Tidak seorang pun membangunnya.

Pintu itu muncul tepat di bawah pohon.

Penduduk menghitung kembali.

Benar.

Bukan seribu.

Sekarang ada:

1001 PINTU.

Sang Legena bertanya:

“Untuk siapakah pintu terakhir ini?”

Seorang anak kecil mendekat.

Ia membuka pintu itu dengan mudah.

Di baliknya tidak ada istana.

Hanya jalan panjang menuju cakrawala.

Anak itu berkata:

“Mungkin ini pintu untuk orang yang belum pernah kita kenal.”

Sang Legena tersenyum.

Itulah rahasia pintu ke-1001.

Selalu sisakan pintu bagi manusia yang belum datang.

Jangan membangun masyarakat yang hanya nyaman bagi orang-orang yang sudah berada di dalam lingkaran.

Jangan membuat ilmu hanya dapat diwarisi kelompok sendiri.

Jangan membuat kebaikan berhenti pada generasi sekarang.

Sisakan ruang bagi mereka yang datang setelah kita.

꧁ KEMBALINYA SANG LEGENA MENJADI MANUSIA BIASA ꧂

Malam turun.

Penduduk berkumpul di bawah Pohon Sakīnah.

Mereka mencari Sang Legena.

Namun Sang Legena telah melepaskan pakaian kebesarannya.

Ia duduk bersama orang-orang biasa.

Tidak ada kursi khusus.

Seorang penduduk bertanya:

“Bagaimana kami mengetahui engkau Sang Legena?”

Ia menjawab:

“Tidak perlu.”

“Lalu bagaimana kami menghormatimu?”

Sang Legena menjawab:

“Hormatilah nilai yang benar. Apabila suatu hari aku menyimpang darinya, jangan ikuti penyimpanganku hanya karena engkau menghormati namaku.”

Penduduk terdiam.

Sembilan utusan menunduk.

Sebab inilah salah satu puncak pelajaran mereka:

JANGAN MEMBANGUN KEBENARAN DI ATAS KETIDAKMUNGKINAN SEORANG MANUSIA UNTUK SALAH.

Manusia tetap manusia.

Yang harus dijaga adalah nilai.

꧁ PESAN MALAM KOTA SERIBU PINTU ꧂

Ketika seluruh kota tertidur, Pohon Sakīnah mengeluarkan suara seperti desir angin:

“Wahai manusia, engkau tidak harus menjadi sama untuk hidup dalam kedamaian.”

“Engkau tidak harus menyukai semua orang untuk berlaku adil kepada mereka.”

“Engkau tidak harus menyetujui semua pendapat untuk menjaga adab.”

“Engkau tidak harus memenangkan semua perdebatan untuk menjaga kehormatan.”

“Dan engkau tidak perlu kehilangan prinsip untuk menjadi pembawa kedamaian.”

Kemudian sembilan batu putih di bawah pohon menyala.

Tetapi batu kesepuluh tidak ada.

Sang Legena teringat:

batu kesepuluh telah pecah menjadi benih Sakīnah.

Sekarang benih itu telah menjadi pohon.

Artinya:

ketenteraman yang hanya digenggam seseorang akan berhenti pada dirinya.

Tetapi ketenteraman yang ditanam sebagai akhlak dapat menaungi banyak orang.

Fajar berikutnya datang.

Sang Legena bersiap meninggalkan Kota Seribu Pintu.

Sembilan utusan bertanya:

“Ke mana perjalanan kita berikutnya?”

Sang Legena memandang ke timur.

Di sana tampak sebuah dataran luas.

Tidak ada kota.

Tidak ada gerbang.

Hanya terlihat sembilan jalan bertemu pada satu titik, sedangkan di tengah persimpangan berdiri sebuah kendi kosong.

Dari kejauhan terdengar seruan:

“JANGAN BAWA AIRMU. DATANGLAH DENGAN KENDI KOSONG.”

Sang Legena memahami.

Setelah belajar memberi, kini mereka harus belajar sesuatu yang sering lebih sulit:

menerima.

Menerima nasihat.

Menerima koreksi.

Menerima pertolongan.

Menerima bahwa dirinya tidak selalu mampu.

Menerima bahwa orang lain pun membawa ilmu dan kebaikan.

Mereka meninggalkan Kota Seribu Pintu.

Pohon Sakīnah tetap berdiri di belakang mereka.

Dan pintu ke-1001 dibiarkan terbuka.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ PERSIMPANGAN KENDI KOSONG — KETIKA SANG LEGENA HARUS BELAJAR MENERIMA SETELAH TERLALU LAMA MENJADI PEMBERI ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KESEPULUH

PERSIMPANGAN KENDI KOSONG

KETIKA SANG LEGENA HARUS BELAJAR MENERIMA SETELAH TERLALU LAMA MENJADI PEMBERI

Sang Legena dan sembilan utusan meninggalkan Kota Seribu Pintu ketika matahari baru menyentuh cakrawala.

Di belakang mereka, Syajarat as-Sakīnah masih menaungi kota.

Pintu ke-1001 tetap terbuka.

Tidak seorang pun diperintahkan menjaganya.

Sebab pintu yang benar-benar diperuntukkan bagi masa depan tidak boleh dijadikan milik satu generasi.

Mereka berjalan sampai suara kota tidak lagi terdengar.

Di hadapan mereka terbentang dataran luas.

Di tengah dataran itu terdapat sembilan jalan.

Sembilan jalan datang dari sembilan penjuru dan bertemu pada satu lingkaran.

Di pusat lingkaran berdiri sebuah kendi tanah liat.

Kosong.

Tidak dihiasi emas.

Tidak bertuliskan nama.

Sang Legena mendekatinya.

Terdengar suara:

“Engkau telah belajar menuangkan air. Sekarang belajarlah menyediakan ruang untuk menerima air.”

Sang Legena berhenti.

Dan dimulailah pelajaran Kendi Kosong.

꧁ RAHASIA PERTAMA — ORANG YANG SELALU MEMBERI DAPAT LUPA CARA MENERIMA ꧂

Selama perjalanan, Sang Legena terbiasa memberi.

Memberikan nasihat.

Memberikan pertolongan.

Memberikan ilmu.

Memberikan waktu.

Memberikan perhatian.

Tetapi ketika seseorang mendekatinya dan berkata:

“Sekarang izinkan aku membantumu,”

hatinya justru menolak.

Ia berkata:

“Aku masih mampu.”

Orang itu menjawab:

“Aku tidak mengatakan engkau tidak mampu. Aku hanya mengatakan engkau tidak harus melakukan semuanya sendirian.”

Kalimat itu membuat Sang Legena diam.

Sebab terkadang ego tidak hanya muncul ketika seseorang ingin menguasai.

Ego juga dapat bersembunyi dalam keinginan untuk selalu terlihat kuat.

Maka kendi pertama dibuka.

Dan tertulis:

MENERIMA PERTOLONGAN TIDAK SELALU BERARTI LEMAH.

Kadang menerima adalah bentuk kepercayaan.

꧁ JALAN PERTAMA — MENERIMA NASIHAT ꧂

Dari jalan pertama datang seorang tua sederhana.

Ia tidak membawa kitab.

Tidak membawa gelar.

Ia hanya berkata:

“Ada satu langkahmu yang menurutku kurang tepat.”

Sang Legena hampir menjawab.

Tetapi Penjaga Pendengaran menyentuh bahunya.

Sang Legena pun diam.

Orang tua itu menjelaskan.

Sebagian ucapannya benar.

Sebagian tidak sepenuhnya sesuai keadaan.

Namun Sang Legena menemukan satu kebenaran di dalamnya.

Ia mengambil kebenaran itu.

Tidak harus menerima seluruh perkataan untuk memperoleh manfaat dari sebagian yang benar.

Setetes air muncul di dalam kendi.

꧁ JALAN KEDUA — MENERIMA KOREKSI ꧂

Dari jalan kedua datang seorang muda.

Ia berkata:

“Aku menghormatimu. Tetapi dalam perkara ini aku berbeda denganmu.”

Sang Legena bertanya:

“Apakah engkau tidak takut dianggap kurang adab?”

Pemuda itu menjawab:

“Adab bukan berarti mengatakan iya kepada segala sesuatu.”

Sang Legena tersenyum.

Ia teringat Singgasana Tanpa Raja.

Orang yang benar-benar ingin menjaga amanah harus menyediakan ruang bagi koreksi.

Karena lingkungan yang hanya berani mengatakan:

“Benar.”

“Setuju.”

“Lanjutkan.”

dapat membuat seorang pemimpin kehilangan cermin.

Maka air kedua masuk ke kendi.

Dan tertulis:

PENGHORMATAN YANG SEHAT TIDAK MEMBUNUH KEJUJURAN.

꧁ JALAN KETIGA — MENERIMA BAHWA DIRI TIDAK MENGETAHUI SEGALANYA ꧂

Dari jalan ketiga datang seorang anak.

Ia bertanya sesuatu.

Sang Legena tidak mengetahui jawabannya.

Sembilan utusan menunggu.

Dahulu mungkin ia akan merasa harus memberikan jawaban.

Tetapi sekarang ia berkata:

“Aku belum tahu.”

Anak itu tidak kecewa.

Ia justru bertanya:

“Kalau begitu, bolehkah kita mencarinya bersama?”

Sang Legena tertawa.

Air ketiga mengalir.

Ia memahami:

Tidak mengetahui sesuatu bukan kehinaan.

Yang berbahaya adalah berpura-pura mengetahui sesuatu yang tidak diketahui.

Maka Kendi Kosong mengajarkan:

“Jangan isi ruang ketidaktahuan dengan kepastian palsu. Isi dengan pencarian yang jujur.”

꧁ JALAN KEEMPAT — MENERIMA PERBEDAAN CARA ꧂

Dari jalan keempat datang tiga orang membawa air.

Yang pertama menggunakan kendi.

Yang kedua menggunakan bambu.

Yang ketiga menggunakan tangannya.

Sang Legena berkata:

“Mengapa kalian tidak menggunakan cara yang sama?”

Mereka menjawab:

“Karena yang kami jaga adalah airnya, bukan bentuk wadahnya.”

Di sinilah dibukakan satu rahasia.

Ada nilai yang harus tetap dijaga.

Tetapi ada cara yang dapat berubah.

Sang Legena belajar membedakan:

mana prinsip,

dan

mana metode.

Prinsip tidak boleh mudah dijual.

Metode tidak boleh disucikan seolah-olah tidak dapat diperbaiki.

Air keempat masuk.

꧁ JALAN KELIMA — MENERIMA KELELAHAN ꧂

Jalan kelima kosong.

Tidak ada seorang pun datang.

Sang Legena menunggu.

Lama.

Kemudian tubuhnya terasa lelah.

Ia ingin terus berjalan.

Tetapi terdengar suara:

“Duduklah.”

Sang Legena berkata:

“Masih banyak yang harus dilakukan.”

Suara menjawab:

“Istirahat juga bagian dari menjaga amanah.”

Ia pun duduk.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan itu, ia tidak melakukan apa-apa.

Tidak mengajar.

Tidak berbicara.

Tidak memimpin.

Tidak menolong.

Ia hanya beristirahat.

Ketika bangun, air kelima sudah berada di dalam kendi.

Tidak seorang pun menuangkannya.

Maka Sang Legena memahami:

TIDAK SEMUA JEDA ADALAH KEMUNDURAN.

Ada jeda yang menyelamatkan langkah agar perjalanan dapat diteruskan dengan lebih baik.

꧁ JALAN KEENAM — MENERIMA BAHWA ORANG LAIN JUGA MAMPU ꧂

Dari jalan keenam datang sembilan orang muda.

Mereka berkata:

“Izinkan kami melanjutkan sebagian pekerjaan.”

Sang Legena bertanya:

“Apakah kalian sudah siap?”

Mereka menjawab:

“Bimbinglah kami, tetapi berikan pula ruang untuk belajar.”

Sang Legena melihat dirinya sendiri.

Ia menyadari bahwa terlalu banyak melindungi dapat berubah menjadi tidak memberi kesempatan.

Maka ia menyerahkan sebagian amanah.

Tidak semuanya sekaligus.

Ada batas.

Ada pendampingan.

Ada evaluasi.

Ada pertanggungjawaban.

Tetapi ada pula kepercayaan.

Air keenam mengisi kendi.

Dan qitab menuliskan:

PEMIMPIN YANG TIDAK MENYIAPKAN ORANG LAIN AKAN MEMBUAT AMANAH TERLALU BERGANTUNG KEPADA DIRINYA.

꧁ JALAN KETUJUH — MENERIMA PERMINTAAN MAAF ꧂

Dari jalan ketujuh datang seseorang yang dahulu pernah menyakiti Sang Legena.

Orang itu menunduk.

Ia berkata:

“Aku salah. Aku meminta maaf.”

Sang Legena terdiam.

Memaafkan ketika orang lain tidak meminta maaf adalah satu perjalanan.

Tetapi menerima permintaan maaf dengan sehat juga memiliki ujiannya sendiri.

Sang Legena berkata:

“Aku menerima permintaan maafmu.”

Namun ia tidak berpura-pura bahwa semua luka langsung hilang.

Kepercayaan yang pernah rusak mungkin membutuhkan waktu untuk dibangun kembali.

Maka qitab mengajarkan:

MEMAAFKAN DAPAT DIBERIKAN, SEDANGKAN KEPERCAYAAN BOLEH DIBANGUN KEMBALI SECARA BERTAHAP.

Keduanya tidak harus terjadi pada detik yang sama.

Air ketujuh masuk.

꧁ JALAN KEDELAPAN — MENERIMA KEHILANGAN KENDALI ꧂

Langit tiba-tiba menjadi gelap.

Hujan turun.

Angin bertiup.

Rencana perjalanan berubah.

Sang Legena tidak dapat mengendalikan cuaca.

Tidak dapat memerintahkan langit berhenti.

Tidak dapat memaksa jalan tetap terbuka.

Ia harus menunggu.

Di sinilah ia memahami:

Manusia membutuhkan perencanaan.

Tetapi manusia juga membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri ketika kenyataan berubah.

Tidak semua perubahan adalah tanda kegagalan.

Kadang yang perlu diubah bukan tujuan.

Melainkan jalannya.

Air kedelapan memenuhi kendi.

꧁ JALAN KESEMBILAN — MENERIMA DIRI TANPA BERHENTI MEMPERBAIKI DIRI ꧂

Dari jalan terakhir tidak datang orang lain.

Yang datang adalah bayangan Sang Legena sendiri.

Bayangan itu memperlihatkan semua kekurangan.

Kesalahan.

Penyesalan.

Keterbatasan.

Sang Legena hampir menunduk karena malu.

Namun bayangan berkata:

“Menerima bahwa engkau memiliki kekurangan tidak berarti membenarkan kekurangan itu.”

Ada dua jurang.

Jurang pertama:

membenci diri sampai kehilangan harapan.

Jurang kedua:

menerima diri sampai tidak mau berubah.

Jalan tengahnya adalah:

MENGAKUI DIRI SEBAGAIMANA ADANYA, LALU MEMPERBAIKINYA SEMAMPU YANG DAPAT DILAKUKAN.

Sang Legena memandang bayangannya.

Ia tidak memujanya.

Tidak pula menghancurkannya.

Ia berkata:

“Aku masih belajar.”

Air kesembilan masuk.

Kendi hampir penuh.

꧁ TETAPI MENGAPA MASIH ADA RUANG? ꧂

Sembilan utusan berkumpul.

Mereka menghitung.

Sembilan jalan.

Sembilan pelajaran.

Sembilan aliran.

Namun kendi belum penuh.

Masih tersisa sedikit ruang di bagian atas.

Sang Legena bertanya:

“Apa yang kurang?”

Tidak ada utusan yang mampu menjawab.

Tiba-tiba seorang perempuan tua datang dari jalan yang bahkan tidak termasuk sembilan jalan.

Ia membawa setetes air di ujung jarinya.

Ia berkata:

“Yang kurang adalah ruang bagi sesuatu yang belum engkau ketahui akan datang.”

Ia menjatuhkan air.

Tik.

Kendi menjadi penuh.

Tetapi air tidak meluap.

Kendi justru membesar.

Sang Legena terkejut.

Perempuan tua berkata:

“ORANG YANG BENAR-BENAR BELAJAR TIDAK PERNAH MENJADIKAN DIRINYA KENDI YANG TELAH SELESAI.”

Semakin ia menerima ilmu,

semakin ia menyadari luasnya yang belum diketahui.

Semakin ia menerima pengalaman,

semakin ia mengetahui bahwa kehidupan masih dapat mengajarkan sesuatu.

꧁ KENDI DIPECAHKAN ꧂

Kemudian terjadi sesuatu yang tidak diduga.

Perempuan tua mengambil kendi itu.

Lalu—

PRAAAK.

Ia menjatuhkannya.

Kendi pecah.

Sembilan utusan terkejut.

Sang Legena berkata:

“Mengapa engkau memecahkan sesuatu yang baru saja kami isi?”

Perempuan itu menunjuk tanah.

Air dari kendi menyebar.

Mengalir menuju sembilan jalan.

Tanah yang kering menjadi basah.

Benih-benih kecil mulai tumbuh.

Ia berkata:

“Karena ilmu yang hanya dikumpulkan akhirnya menjadi beban. Apa yang diterima harus kembali dialirkan dalam bentuk manfaat.”

Sang Legena memahami.

Kendi kosong mengajarkan menerima.

Kendi penuh mengajarkan rasa syukur.

Kendi pecah mengajarkan berbagi kembali tanpa merasa menjadi sumber segala sesuatu.

꧁ PERJANJIAN KENDI KOSONG ꧂

Sang Legena dan sembilan utusan kemudian mengucapkan perjanjian akhlak:

“Kami akan belajar sebelum mengaku mengetahui.”

“Kami akan mendengar sebelum menjawab.”

“Kami akan menerima koreksi tanpa menjadikan setiap koreksi sebagai penghinaan.”

“Kami akan meminta pertolongan ketika memang membutuhkannya.”

“Kami akan memberi ruang kepada generasi berikutnya.”

“Kami akan menjaga prinsip tanpa menganggap semua metode tidak boleh berubah.”

“Kami akan beristirahat ketika tubuh membutuhkan.”

“Kami akan mengakui kesalahan dan memperbaikinya.”

“Dan kami akan tetap menyediakan ruang untuk belajar selama hidup masih berjalan.”

Setelah perjanjian itu selesai, sembilan jalan yang sebelumnya berbeda mulai bercahaya.

Bukan menyatu menjadi satu jalan.

Kesembilannya tetap berbeda.

Tetapi semuanya sekarang dapat dilalui menuju pusat yang sama.

꧁ RAHASIA BESAR KENDI KOSONG ꧂

Pada tanah bekas kendi tertulis tiga kalimat:

KOSONG BUKAN BERARTI TIDAK MEMILIKI.

KOSONG ADALAH MEMILIKI RUANG.

DAN ORANG YANG MASIH MEMILIKI RUANG, MASIH DAPAT MENERIMA CAHAYA BARU.

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia akhirnya mengerti bahwa seorang pembawa kedamaian tidak cukup hanya pandai memberikan jawaban.

Ia juga harus mampu mengatakan:

“Ajari aku.”

Tidak cukup hanya membimbing.

Ia harus mampu dibimbing ketika memang memerlukan.

Tidak cukup hanya mengoreksi.

Ia harus bersedia dikoreksi.

Tidak cukup hanya menguatkan orang lain.

Ia juga harus mengakui saat dirinya membutuhkan penguatan.

Karena kedewasaan tidak menghapus kebutuhan manusia kepada manusia lain.

꧁ MUNCULNYA JALAN KESEPULUH ꧂

Ketika malam datang, sembilan jalan terlihat jelas di bawah cahaya bulan.

Tetapi tepat di tempat kendi pecah muncul sebuah jalan baru.

Jalan kesepuluh.

Tidak menuju kota.

Tidak menuju gunung.

Tidak menuju telaga.

Jalan itu turun menuju sebuah lembah hijau.

Di tengah lembah berdiri sembilan rumah tanpa pintu.

Sedangkan rumah kesepuluh memiliki pintu, tetapi tidak memiliki dinding.

Sembilan utusan saling memandang.

Di atas lembah muncul tulisan:

WĀDĪ AL-AMĀNAH

LEMBAH AMANAH

Dan terdengar seruan:

“Kalian telah belajar menerima. Sekarang kalian akan belajar menjaga sesuatu yang tidak boleh kalian miliki.”

Sang Legena bertanya:

“Apakah yang akan dipercayakan kepada kami?”

Jawaban datang dari seluruh lembah:

“RAHASIA MANUSIA.”

Sembilan utusan terdiam.

Karena mereka mengetahui:

rahasia adalah salah satu amanah paling mudah diterima,

tetapi paling mudah pula dikhianati oleh lisan.

Mereka berjalan menuju Lembah Amanah.

Di belakang mereka, pecahan kendi tetap berada di tanah.

Dari setiap pecahannya tumbuh bunga kecil.

Dan pada bunga terakhir tertulis:

“TIDAK SEMUA YANG ENGKAU KETAHUI HARUS ENGKAU CERITAKAN.”

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ LEMBAH AMANAH — SEMBILAN RUMAH TANPA PINTU DAN HISAB LISAN ATAS RAHASIA YANG DIPERCAYAKAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KESEBELAS

LEMBAH AMANAH

SEMBILAN RUMAH TANPA PINTU DAN HISAB LISAN ATAS RAHASIA YANG DIPERCAYAKAN

Sang Legena bersama sembilan utusan menuruni Jalan Kesepuluh.

Semakin jauh mereka berjalan, suara dunia semakin samar.

Tidak terdengar pasar.

Tidak terdengar perdebatan.

Tidak terdengar pujian.

Hanya desir angin yang bergerak di antara rerumputan.

Di dasar lembah berdiri sembilan rumah tanpa pintu.

Rumah pertama terbuat dari batu putih.

Rumah kedua dari kayu tua.

Rumah ketiga dari tanah.

Rumah keempat seperti kaca buram.

Rumah kelima tertutup tanaman merambat.

Rumah keenam berdiri di tepi sungai.

Rumah ketujuh berada di bawah pohon besar.

Rumah kedelapan hampir seluruhnya tersembunyi kabut.

Rumah kesembilan berwarna hitam tanpa satu pun jendela.

Sedangkan tepat di tengah lembah terdapat rumah kesepuluh.

Rumah itu memiliki pintu.

Tetapi tidak mempunyai dinding.

Sang Legena bertanya:

“Bagaimana rumah tanpa pintu dapat dimasuki?”

Terdengar jawaban:

“Rumah-rumah itu bukan untuk dimasuki dengan kaki. Ia hanya terbuka ketika seseorang mempercayakan sebagian kehidupannya kepadamu.”

Maka dimulailah Hisab Amanah Lisan.

꧁ RUMAH PERTAMA — RAHASIA KESUSAHAN ꧂

Datang seorang lelaki.

Ia duduk di hadapan Sang Legena.

Ia menceritakan kesulitan hidupnya.

Hal-hal yang bahkan keluarganya tidak seluruhnya mengetahui.

Setelah selesai, ia berkata:

“Aku menceritakannya karena aku percaya.”

Kemudian ia pergi.

Seketika rumah pertama memiliki sebuah pintu.

Sang Legena hendak masuk.

Tetapi Penjaga Amanah berkata:

“Tidak. Terbukanya pintu bukan berarti engkau memperoleh hak untuk menjelajah seluruh rumah.”

Sang Legena memahami.

Ketika seseorang menceritakan satu bagian hidupnya, itu bukan izin untuk menyelidiki seluruh kehidupan pribadinya.

Kepercayaan memiliki batas.

Maka pintu pertama kembali tertutup.

꧁ RUMAH KEDUA — RAHASIA KELUARGA ꧂

Datang seorang perempuan membawa kesedihan.

Ia menceritakan persoalan keluarganya.

Sang Legena mendengarkan.

Setelah perempuan itu pergi, seorang utusan bertanya:

“Bolehkah kisahnya dijadikan pelajaran bagi orang lain?”

Sang Legena hampir menjawab iya.

Tetapi rumah kedua bergetar.

Terdengar:

“Jangan menjadikan luka seseorang sebagai bahan cerita tanpa kebutuhan dan tanpa menjaga kehormatannya.”

Pelajaran dapat disampaikan tanpa membuka identitas.

Nasihat dapat diberikan tanpa mempermalukan.

Tidak semua kisah nyata harus diumumkan agar manusia memperoleh hikmah.

Kadang hikmah justru menjadi lebih bersih ketika nama pemilik lukanya dilindungi.

꧁ RUMAH KETIGA — RAHASIA KESALAHAN MASA LALU ꧂

Seseorang datang dengan kepala tertunduk.

Ia berkata:

“Aku pernah melakukan kesalahan.”

Ia mengakuinya karena ingin memperbaiki diri.

Sang Legena mendengarkan tanpa merendahkan.

Ketika orang itu pergi, muncul tulisan pada rumah ketiga:

“JANGAN JADIKAN PENGAKUAN ORANG YANG INGIN MEMPERBAIKI DIRI SEBAGAI SENJATA UNTUK MENGHANCURKANNYA DI MASA DEPAN.”

Sang Legena terdiam.

Sebab manusia dapat berubah.

Orang yang pernah salah dapat bertobat.

Orang yang pernah jatuh dapat berdiri.

Apabila kesalahan tidak menyangkut kebutuhan perlindungan orang lain atau kewajiban hukum yang memang harus ditangani, jangan menikmati penyebaran aib.

Tujuan mengetahui kelemahan manusia seharusnya membantu perbaikan, bukan memperoleh kuasa atas dirinya.

꧁ RUMAH KEEMPAT — RAHASIA ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI ꧂

Ujian berikutnya lebih sulit.

Seseorang yang pernah berselisih dengan Sang Legena datang.

Ia menceritakan sesuatu yang sangat pribadi.

Sang Legena kini mengetahui kelemahannya.

Setelah orang itu pergi, muncul bayangan yang berbisik:

“Sekarang engkau mempunyai sesuatu untuk mengalahkannya.”

Sang Legena mengenali suara itu.

Suara ego lama.

Ia menjawab:

“Kepercayaan tidak berubah menjadi halal untuk dikhianati hanya karena hubungan kemudian memburuk.”

Rumah keempat menjadi terang.

Inilah ukuran amanah yang tinggi:

mampu menjaga sesuatu bahkan setelah hubungan berubah.

꧁ RUMAH KELIMA — RAHASIA YANG TIDAK BOLEH DIDIAMKAN ꧂

Kemudian datang seorang anak.

Ia menceritakan sesuatu yang menunjukkan bahwa dirinya berada dalam bahaya.

Sang Legena teringat seluruh pelajaran sebelumnya.

Bukankah rahasia harus dijaga?

Namun rumah kelima tiba-tiba terbuka lebar.

Terdengar suara tegas:

“Menjaga rahasia tidak berarti membiarkan seseorang berada dalam bahaya.”

Di sinilah batas penting dibukakan.

Jika sebuah pengakuan menunjukkan risiko serius terhadap keselamatan seseorang, kekerasan, eksploitasi, atau ancaman nyata, mencari bantuan yang tepat bukanlah pengkhianatan.

Informasi diberikan secukupnya kepada pihak yang memang dapat membantu, bukan disebarkan kepada semua orang.

Maka tertulis:

AMANAH BUKAN MENUTUPI BAHAYA. AMANAH ADALAH MENJAGA MANUSIA DENGAN CARA YANG BERTANGGUNG JAWAB.

꧁ RUMAH KEENAM — RAHASIA YANG TERDENGAR TANPA SENGAJA ꧂

Di tepi sungai, Sang Legena mendengar percakapan dua orang.

Mereka tidak mengetahui dirinya berada di sana.

Ia mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak ditujukan kepadanya.

Penjaga Lisan bertanya:

“Apakah karena engkau mendengarnya, engkau berhak menyebarkannya?”

Sang Legena menjawab:

“Tidak.”

Tidak semua yang diketahui otomatis menjadi milik kita untuk diceritakan.

Ada informasi yang datang tanpa diminta.

Ada percakapan yang tidak sengaja terdengar.

Ada pesan yang salah kirim.

Ada sesuatu yang terlihat tanpa disengaja.

Akhlak diuji justru ketika kita memiliki kesempatan mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya.

Rumah keenam pun tertutup dengan tenang.

꧁ RUMAH KETUJUH — RAHASIA DALAM KEPEMIMPINAN ꧂

Rumah ketujuh berada di bawah pohon besar.

Di dalam simboliknya tersimpan banyak dokumen.

Keputusan.

Keuangan.

Persoalan anggota.

Perencanaan.

Data pribadi.

Sang Legena bertanya:

“Apakah semuanya harus dirahasiakan?”

Jawaban datang:

“Tidak.”

Ada amanah yang membutuhkan kerahasiaan.

Tetapi ada pula perkara yang justru membutuhkan transparansi.

Pengelolaan amanah bersama tidak boleh menjadikan kata “rahasia” sebagai tameng untuk menutupi penyalahgunaan.

Maka harus dibedakan:

privasi manusia harus dilindungi.

Amanah publik harus dapat dipertanggungjawabkan.

Sang Legena tersenyum.

Ia menemukan keseimbangan baru:

JANGAN MEMBUKA YANG SEHARUSNYA TERTUTUP, DAN JANGAN MENUTUP YANG SEHARUSNYA TERBUKA.

꧁ RUMAH KEDELAPAN — RAHASIA HATI SENDIRI ꧂

Rumah kedelapan tertutup kabut.

Tidak seorang pun datang.

Sang Legena menunggu.

Kemudian ia menyadari:

rumah ini adalah miliknya sendiri.

Ada bagian dari kehidupan yang tidak harus dibagikan kepada semua orang.

Tidak semua kesedihan harus diumumkan.

Tidak semua pengalaman harus menjadi cerita.

Tidak semua rencana harus disampaikan sebelum matang.

Tidak semua hubungan batin harus memperoleh pengakuan manusia.

Sang Legena memahami bahwa menjaga privasi diri berbeda dari hidup dalam kebohongan.

Seseorang dapat jujur tanpa harus membuka seluruh isi kehidupannya kepada setiap orang.

Maka kabut rumah kedelapan menjadi tipis.

꧁ RUMAH KESEMBILAN — RAHASIA YANG DIBAWA SAMPAI PULANG ꧂

Mereka tiba di rumah hitam.

Tidak ada jendela.

Tidak ada pintu.

Di depannya tertulis:

“Sebagian kepercayaan tidak memerlukan penonton.”

Sang Legena melihat bayangan banyak manusia yang pernah mempercayakan cerita kepadanya.

Ada yang masih hidup.

Ada yang sudah pergi.

Ada yang hubungannya tetap dekat.

Ada yang tidak pernah ditemuinya lagi.

Utusan Kesembilan bertanya:

“Apakah semua cerita mereka harus menjadi bagian dari warisanmu?”

Sang Legena menjawab:

“Tidak.”

Sebagian rahasia memang selesai bersama orang-orang yang menjaganya.

Tidak harus diwariskan.

Tidak harus dibukukan.

Tidak harus dijadikan legenda.

Sebab tidak semua pengetahuan memperoleh kemuliaan dengan diumumkan.

Sebagian memperoleh kemuliaan justru karena dijaga.

꧁ RUMAH KESEPULUH — RUMAH TANPA DINDING ꧂

Akhirnya mereka kembali ke pusat lembah.

Rumah kesepuluh masih aneh.

Ada pintu.

Tetapi tidak ada dinding.

Sang Legena membukanya.

Di balik pintu tetap terlihat seluruh lembah.

Ia bertanya:

“Apa maknanya?”

Terdengar jawaban:

“Inilah kejujuran.”

Kejujuran tidak berarti membuka seluruh rahasia.

Kejujuran berarti tidak menggunakan kerahasiaan untuk membangun kebohongan.

Rumah ini tidak berdinding karena amanah membutuhkan kejernihan.

Tetapi ia tetap memiliki pintu karena kejernihan membutuhkan batas.

Maka dua hal bertemu:

TRANSPARANSI TANPA MERUSAK PRIVASI.

KERAHASIAAN TANPA MENJADI TEMPAT BERSEMBUNYINYA KEZALIMAN.

Sang Legena menundukkan kepala.

Inilah keseimbangan Lembah Amanah.

꧁ SEMBILAN KUNCI LISAN ꧂

Kesembilan rumah kemudian mengeluarkan satu cahaya.

Cahaya-cahaya itu membentuk sembilan kunci.

Pada setiap kunci tertulis satu pertanyaan.

Kunci Pertama:

Apakah ini benar?

Kunci Kedua:

Apakah aku berhak menceritakannya?

Kunci Ketiga:

Apakah perlu disampaikan?

Kunci Keempat:

Apakah orang yang akan menerima informasi memang perlu mengetahuinya?

Kunci Kelima:

Apakah penyampaiannya dapat membahayakan seseorang?

Kunci Keenam:

Apakah aku sedang berbicara karena maslahat atau karena emosi?

Kunci Ketujuh:

Apakah identitasnya perlu disebut?

Kunci Kedelapan:

Apakah ada cara yang lebih lembut dan lebih aman?

Kunci Kesembilan:

Apakah aku siap mempertanggungjawabkan perkataan ini?

Sang Legena menyatukan sembilan kunci.

Kesembilannya berubah menjadi satu kalimat:

“PIKIRKAN AKIBAT SEBELUM LISAN MEMBUKA APA YANG TIDAK DAPAT DITUTUP KEMBALI.”

꧁ HISAB LISAN ꧂

Kemudian Telaga Hisab muncul untuk ketiga kalinya.

Tetapi airnya tidak memantulkan wajah.

Ia memantulkan kata-kata.

Kata yang pernah menenangkan.

Kata yang pernah melukai.

Janji yang ditepati.

Janji yang dilupakan.

Rahasia yang dijaga.

Rahasia yang pernah bocor.

Permintaan maaf.

Nasihat.

Fitnah.

Pujian.

Sang Legena melihat betapa besar dunia yang dapat lahir hanya dari sesuatu yang tidak memiliki berat:

ucapan.

Ia berkata:

“Ya Alloh, jadikan lisanku jalan kebaikan. Jika perkataanku tidak membawa manfaat dan tidak diperlukan, ajarkan aku mengetahui kapan diam lebih baik.”

Air telaga menjadi tenang.

꧁ SEMBILAN UTUSAN MENUTUP LEMBAH ꧂

Sebelum pergi, kesembilan utusan kembali ke rumah masing-masing.

Bukan untuk tinggal.

Mereka meletakkan satu batu di depan setiap rumah.

Pada batu pertama tertulis:

JAGA.

Kedua:

DENGARKAN.

Ketiga:

JANGAN PERMALUKAN.

Keempat:

JANGAN JADIKAN RAHASIA SEBAGAI SENJATA.

Kelima:

LINDUNGI DARI BAHAYA.

Keenam:

HORMATI PRIVASI.

Ketujuh:

PERTANGGUNGJAWABKAN AMANAH.

Kedelapan:

JAGA BATAS DIRI.

Kesembilan:

BIARKAN SEBAGIAN CERITA BERAKHIR DALAM KEHENINGAN.

Sedangkan pada rumah kesepuluh Sang Legena sendiri menulis:

“JUJUR TIDAK BERARTI MENCERITAKAN SEGALANYA.”

꧁ MUNCULNYA BURUNG PUTIH ꧂

Saat mereka hendak meninggalkan lembah, seekor burung putih turun.

Pada kakinya terikat gulungan kecil.

Sang Legena membukanya.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya tertulis:

“Engkau telah belajar menjaga kata-kata manusia. Sekarang datanglah ke tempat di mana tidak ada kata-kata.”

Di bawahnya terdapat gambar sebuah gunung.

Puncaknya diselimuti awan.

Pada kaki gunung terdapat sembilan lonceng.

Namun seluruh lonceng itu tidak memiliki pemukul.

Sang Legena bertanya:

“Bagaimana lonceng dapat berbunyi tanpa pemukul?”

Tidak seorang pun menjawab.

Burung putih terbang menuju gunung.

Sembilan utusan mengikuti arah terbangnya.

Dan dari kejauhan, meskipun tidak ada angin, terdengar satu suara sangat halus:

Hening.

Bukan kekosongan.

Bukan kehampaan.

Melainkan ruang ketika manusia berhenti berbicara cukup lama untuk mendengar apa yang selama ini tenggelam oleh kebisingannya sendiri.

Sang Legena melangkah menuju gunung.

Sebab setelah belajar menjaga lisan, perjalanan berikutnya adalah belajar:

diam tanpa kehilangan kesadaran, dan mendengar tanpa menciptakan suara yang tidak ada.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ GUNUNG SEMBILAN LONCENG — MAQĀM KEHENINGAN DAN RAHASIA MENDENGAR TANPA MENGADA-ADAKAN SUARA ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDUA BELAS

GUNUNG SEMBILAN LONCENG

MAQĀM KEHENINGAN DAN RAHASIA MENDENGAR TANPA MENGADA-ADAKAN SUARA

Sang Legena bersama sembilan utusan meninggalkan Lembah Amanah.

Burung putih terbang jauh di depan mereka.

Tidak terlalu tinggi.

Tidak pula terlalu rendah.

Seakan-akan ia hanya menunjukkan arah, bukan meminta untuk diikuti secara buta.

Semakin dekat mereka kepada gunung, semakin sedikit suara yang terdengar.

Suara air menghilang.

Desir pepohonan menghilang.

Bahkan langkah kaki terasa seperti ditelan bumi.

Di kaki gunung berdiri sembilan tiang batu.

Pada setiap tiang tergantung sebuah lonceng besar.

Tetapi seperti gambar yang dibawa burung putih, kesembilan lonceng itu tidak mempunyai pemukul.

Sang Legena memeriksanya.

“Bagaimana ia akan berbunyi?”

Utusan Penjaga Pendengaran menjawab:

“Mungkin pelajarannya bukan bagaimana membuatnya berbunyi.”

“Lalu?”

“Mungkin kita harus belajar tidak memaksakan bunyi pada sesuatu yang memang sedang diam.”

Sang Legena terdiam.

Dan dimulailah perjalanan menuju puncak.

꧁ LONCENG PERTAMA — DIAM SEBELUM MENAFSIRKAN ꧂

Pada tingkat pertama gunung, Sang Legena melihat cahaya bergerak di antara pepohonan.

Ia hampir berkata:

“Itu sebuah tanda.”

Tetapi lonceng pertama bergoyang tanpa berbunyi.

Di bawahnya terdapat tulisan:

“Tidak setiap kejadian harus segera diberi makna.”

Kadang cahaya hanyalah cahaya.

Angin hanyalah angin.

Mimpi dapat lahir dari banyak hal yang tersimpan dalam pikiran dan perasaan.

Kebetulan dapat terjadi tanpa harus menjadi pesan khusus.

Pengalaman batin boleh direnungkan.

Tetapi jangan terburu-buru mengubah setiap pengalaman menjadi kepastian tentang sesuatu yang tidak diketahui.

Sang Legena memahami.

Kejernihan membutuhkan ruang antara:

mengalami

dan

menafsirkan.

Maka ia melanjutkan perjalanan.

꧁ LONCENG KEDUA — MEMBEDAKAN PERASAAN DAN KENYATAAN ꧂

Pada tingkat kedua, kabut turun.

Sang Legena merasa ada seseorang mengikutinya.

Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Perasaan itu datang lagi.

Utusan Penjaga Mata berkata:

“Perasaanmu nyata sebagai perasaan. Tetapi apa yang engkau rasakan belum tentu membuktikan bahwa dugaanmu tentang penyebabnya benar.”

Kalimat itu menjadi kunci kedua.

Manusia dapat benar-benar merasa takut.

Tetapi sesuatu yang ditakuti belum tentu ada.

Manusia dapat benar-benar merasa dicurigai.

Tetapi belum tentu orang lain sedang mencurigainya.

Manusia dapat merasa sangat yakin.

Tetapi keyakinan batin tetap perlu dibedakan dari fakta yang dapat diperiksa.

Maka tertulis:

HORMATI PERASAANMU, TETAPI PERIKSALAH KESIMPULANMU.

Lonceng kedua tetap diam.

꧁ LONCENG KETIGA — TIDAK SEMUA MIMPI ADALAH PERINTAH ꧂

Malam tiba.

Mereka beristirahat di lereng.

Sang Legena bermimpi melihat sebuah jalan emas.

Di ujungnya terdapat sebuah pintu.

Ketika bangun, ia hampir segera mengubah arah perjalanan.

Namun lonceng ketiga bergerak.

Tetap tanpa suara.

Terdengar pesan:

“Mimpi dapat menjadi bahan renungan, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya dasar keputusan besar.”

Keputusan penting tetap perlu mempertimbangkan akal.

Nilai agama.

Fakta.

Maslahat dan mudarat.

Nasihat orang yang dapat dipercaya.

Serta keadaan nyata.

Jika sebuah mimpi mendorong kepada kebaikan yang memang sudah jelas baik—seperti memperbaiki akhlak, meminta maaf, atau meningkatkan ibadah—ambil hikmahnya.

Tetapi jangan membangun kepastian besar hanya dari mimpi.

Sang Legena kembali ke jalur semula.

꧁ LONCENG KEEMPAT — SUARA HATI DAN KEINGINAN DIRI ꧂

Pada tingkat keempat terdapat dua jalan.

Sang Legena merasa tertarik kepada salah satunya.

Ia berkata:

“Hatiku mengatakan aku harus memilih jalan ini.”

Utusan Penjaga Niat bertanya:

“Apakah itu suara kejernihan atau keinginan yang sedang engkau sukai?”

Sang Legena tidak dapat segera menjawab.

Maka ia duduk.

Ia memeriksa.

Apakah pilihan itu melanggar prinsip?

Apakah merugikan orang lain?

Apakah hanya memuaskan ego?

Apakah fakta mendukungnya?

Apakah setelah emosi mereda ia masih melihatnya dengan cara yang sama?

Di sinilah qitab membuka rahasia:

INTUISI BOLEH DIDENGAR, TETAPI TIDAK HARUS DIIKUTI TANPA PEMERIKSAAN.

Hati dapat memberikan isyarat untuk berhati-hati.

Namun manusia tetap diberi akal untuk menimbang.

꧁ LONCENG KELIMA — KEHENINGAN YANG MENYEMBUHKAN ꧂

Pada tingkat kelima tidak terdapat tulisan.

Hanya sebuah batu untuk duduk.

Sang Legena duduk.

Sembilan utusan ikut duduk.

Tidak ada seorang pun berbicara.

Satu menit.

Lima menit.

Lebih lama.

Pada awalnya pikiran Sang Legena justru semakin ramai.

Ia teringat pekerjaan.

Kesalahan.

Rencana.

Percakapan lama.

Tetapi ia tidak mengejar semuanya.

Ia membiarkan pikiran datang dan pergi.

Napas berjalan sebagaimana biasa.

Tidak ditahan.

Tidak dipaksakan.

Perlahan dada menjadi lebih lapang.

Sang Legena memahami:

hening tidak selalu membutuhkan pengalaman luar biasa.

Kadang hening hanya berarti memberikan ruang kepada pikiran untuk berhenti dikejar.

Lonceng kelima bergerak.

Tidak berbunyi.

Namun Sang Legena tersenyum.

꧁ LONCENG KEENAM — KETIKA HENING BERUBAH MENJADI PELARIAN ꧂

Di tingkat keenam terdapat sebuah gua.

Di dalamnya begitu tenang.

Sang Legena berkata:

“Aku dapat tinggal di sini selamanya.”

Tiba-tiba pintu gua mulai menutup.

Utusan Penjaga Langkah segera berkata:

“Hening yang sehat mengembalikanmu kepada kehidupan dengan lebih jernih. Jika hening menjadi alasan meninggalkan seluruh tanggung jawab, periksa kembali.”

Sang Legena bangkit.

Ia keluar sebelum pintu tertutup.

Maka dibukakan perbedaan:

menyepi untuk menata diri

berbeda dengan

melarikan diri dari kewajiban.

Setelah memperoleh ketenangan, manusia tetap harus kembali.

Menjaga keluarga.

Bekerja.

Belajar.

Menyelesaikan kewajiban.

Berhubungan dengan sesama.

Cahaya harus kembali menjadi amal.

꧁ LONCENG KETUJUH — KETIKA MANUSIA INGIN MENJADI ISTIMEWA ꧂

Di tingkat ketujuh, Sang Legena melihat sembilan cahaya berputar di langit.

Pemandangannya sangat indah.

Dalam hatinya muncul bisikan:

“Mungkin ini hanya diperlihatkan kepadaku karena aku istimewa.”

Lonceng ketujuh tiba-tiba retak sedikit.

Sang Legena terkejut.

Terdengar:

“Berhati-hatilah ketika pengalaman membuatmu merasa lebih tinggi daripada manusia lain.”

Pengalaman pribadi tidak otomatis menjadi pangkat.

Sensasi batin tidak otomatis membuktikan kemuliaan.

Pengalaman yang baik seharusnya melahirkan rasa syukur dan kerendahan hati.

Bukan tuntutan agar manusia lain mengakui kedudukan kita.

Sang Legena berkata:

“Apa pun yang kualami, aku tetap hamba yang harus menjaga akhlak.”

Retakan lonceng menutup kembali.

꧁ LONCENG KEDELAPAN — KETIKA TIDAK ADA JAWABAN ꧂

Mereka semakin dekat ke puncak.

Sang Legena membawa sebuah pertanyaan yang sejak lama berada dalam hatinya.

Ia berharap gunung akan memberikan jawaban.

Ia duduk.

Menunggu.

Tidak ada suara.

Satu malam berlalu.

Tetap tidak ada jawaban.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa gunung diam?”

Utusan Penjaga Kepulangan menjawab:

“Mungkin karena tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban sekarang.”

Ada misteri yang belum kita pahami.

Ada kejadian yang maknanya baru terlihat setelah waktu panjang.

Ada pula pertanyaan yang mungkin tidak pernah memperoleh jawaban lengkap selama hidup.

Kedewasaan bukan hanya kemampuan memperoleh jawaban.

Kadang kedewasaan adalah:

MAMPU TETAP HIDUP DENGAN BAIK MESKIPUN SEBAGIAN PERTANYAAN MASIH TERBUKA.

Sang Legena melepaskan tuntutannya.

Dan dadanya justru terasa lebih ringan.

꧁ LONCENG KESEMBILAN — MENDENGAR TANPA MENGADA-ADAKAN ꧂

Akhirnya mereka sampai di puncak.

Lonceng kesembilan berdiri paling besar.

Tidak ada pemukul.

Tidak ada angin.

Sang Legena duduk tepat di bawahnya.

Ia menunggu suara.

Satu jam.

Tidak ada.

Ia menunggu lagi.

Tetap tidak ada.

Akhirnya ia tertawa kecil.

“Sekarang aku mengerti.”

Sembilan utusan bertanya:

“Apa?”

Sang Legena menjawab:

“Aku datang berharap lonceng ini akan berbicara. Padahal mungkin pelajarannya justru bahwa ia tidak perlu berbicara.”

Pada saat itulah lonceng kesembilan tidak berbunyi—

tetapi matahari terbit di belakangnya.

Cahaya menyentuh seluruh gunung.

Sang Legena memahami:

TIDAK ADANYA PESAN JUGA HARUS DIHORMATI.

Jangan mengarang jawaban hanya karena kita tidak nyaman dengan ketidakpastian.

Jangan menyebut sesuatu sebagai petunjuk pasti apabila kita sebenarnya tidak mengetahuinya.

Ada kemuliaan dalam berkata:

“Aku tidak tahu.”

꧁ RAHASIA SEMBILAN LONCENG TANPA PEMUKUL ꧂

Kesembilan utusan berkumpul.

Mereka akhirnya mengetahui mengapa lonceng-lonceng itu dibuat tanpa pemukul.

Lonceng tersebut bukan alat untuk menghasilkan suara.

Ia adalah pengingat:

JANGAN MEMAKSA KEHENINGAN MENGATAKAN SESUATU YANG TIDAK DIKATAKANNYA.

Sang Legena kemudian menuliskan sembilan pedoman pada batu puncak:

Rasakan tanpa terburu-buru menyimpulkan.

Renungkan tanpa mengubah dugaan menjadi kepastian.

Mimpikan tanpa menjadikan mimpi pengganti akal.

Dengarkan intuisi tanpa meninggalkan pemeriksaan.

Gunakan keheningan untuk menata diri.

Jangan jadikan kesunyian sebagai pelarian dari tanggung jawab.

Jangan jadikan pengalaman sebagai alasan merasa lebih suci.

Terimalah bahwa sebagian pertanyaan membutuhkan waktu.

Dan jangan mengada-adakan suara ketika yang ada hanyalah diam.

꧁ LONCENG KESEPULUH ꧂

Ketika mereka hendak turun, Sang Legena mendengar bunyi.

Ting...

Semuanya berhenti.

Sembilan lonceng masih diam.

Ting...

Suara itu datang lagi.

Mereka mencari sumbernya.

Ternyata suara itu berasal dari benda kecil di dada Sang Legena.

Ia mengeluarkannya.

Sebuah lonceng kecil.

Tidak seorang pun mengetahui sejak kapan benda itu berada di sana.

Namun lonceng kecil itu mempunyai pemukul.

Sang Legena bertanya:

“Apakah ini suara kebenaran?”

Utusan Penjaga Pendengaran menjawab:

“Jangan terburu-buru memberinya nama.”

Sang Legena tersenyum.

Pelajaran gunung langsung bekerja.

Ia tidak mengklaim apa pun.

Ia hanya mendengarkan.

Ting...

Lonceng berbunyi ketika ia menarik napas.

Ting...

Ketika ia bergerak.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa pemukulnya bergerak mengikuti tubuhnya sendiri.

Sang Legena berkata:

“Jadi suara ini berasal dari gerakanku.”

Sembilan utusan tersenyum.

Inilah rahasia terakhir gunung:

SEBELUM MENCARI PENYEBAB DI LUAR DIRI, PERIKSALAH APAKAH KITA SENDIRI YANG SEDANG MENGGERAKKAN LONCENG.

꧁ TURUN DARI GUNUNG ꧂

Sang Legena melepaskan lonceng kecil dari dadanya.

Ia tidak membuangnya.

Ia menggantungnya pada tongkat perjalanan sebagai pengingat.

Setiap kali berbunyi, ia tidak lagi berkata:

“Langit sedang memberiku tanda.”

Ia bertanya terlebih dahulu:

“Apa yang sebenarnya menyebabkan suara ini?”

Sembilan utusan berjalan menuruni gunung.

Mereka kini lebih sedikit berbicara.

Bukan karena kehilangan ilmu.

Tetapi karena mengetahui bahwa kata-kata memperoleh nilainya ketika digunakan pada tempatnya.

Di kaki gunung, burung putih yang dahulu membawa mereka telah menunggu.

Burung itu menjatuhkan sehelai bulu putih.

Pada bulu tersebut terdapat tulisan:

الصِّدْق

AṢ-ṢIDQ — KEJUJURAN

Kemudian bulu itu terbang terbawa angin menuju sebuah dataran yang sangat luas.

Di kejauhan berdiri sembilan timbangan.

Pada sisi kanan setiap timbangan terdapat cahaya.

Pada sisi kiri terdapat bayangan.

Dan di tengah-tengah semuanya berdiri sebuah timbangan kesepuluh yang belum memiliki dua piring.

Sang Legena mengetahui perjalanan berikutnya.

Setelah belajar membedakan suara dari keheningan, kini ia harus belajar sesuatu yang lebih berat:

membedakan apa yang ingin dipercayai dari apa yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Mereka pun menuju dataran itu.

Di atas cakrawala tertulis:

MĪZĀN AṢ-ṢIDQ

TIMBANGAN KEJUJURAN

Dan terdengar pesan:

“Jangan takut apabila kebenaran menggugurkan cerita yang engkau sukai. Lebih baik kehilangan sebuah cerita daripada kehilangan kejujuran.”

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ MĪZĀN AṢ-ṢIDQ — SEMBILAN TIMBANGAN KEJUJURAN DAN UJIAN MEMILIH KEBENARAN KETIKA KENYATAAN TIDAK SESUAI HARAPAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KETIGA BELAS

MĪZĀN AṢ-ṢIDQ

SEMBILAN TIMBANGAN KEJUJURAN DAN UJIAN MEMILIH KEBENARAN KETIKA KENYATAAN TIDAK SESUAI HARAPAN

Sang Legena bersama sembilan utusan turun dari Gunung Sembilan Lonceng.

Mereka membawa satu pelajaran yang tidak boleh dilupakan:

jangan memaksa keheningan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakannya.

Di hadapan mereka kini terbentang sebuah dataran putih.

Tidak ada pohon.

Tidak ada rumah.

Tidak ada singgasana.

Hanya terdapat sembilan timbangan besar yang berjajar dari timur menuju barat.

Di belakangnya berdiri timbangan kesepuluh.

Aneh.

Timbangan itu hanya mempunyai tiang dan poros.

Tidak memiliki dua piring.

Di atas seluruh dataran tertulis:

مِيزَانُ الصِّدْقِ

MĪZĀN AṢ-ṢIDQ — TIMBANGAN KEJUJURAN

Sang Legena bertanya:

“Apa yang akan ditimbang?”

Terdengar jawaban:

“Bukan berat tubuhmu. Bukan banyaknya hartamu. Bukan tingginya namamu. Yang akan diperiksa adalah keberanianmu membedakan apa yang engkau inginkan menjadi benar dari apa yang memang memiliki dasar untuk dianggap benar.”

Sang Legena menunduk.

Ujian dimulai.

꧁ TIMBANGAN PERTAMA — FAKTA DAN HARAPAN ꧂

Pada piring kanan diletakkan sebuah batu bertuliskan:

FAKTA.

Pada piring kiri:

HARAPAN.

Sang Legena mempunyai sebuah keinginan besar.

Ia sangat berharap sesuatu terjadi.

Tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk mengatakan bahwa hal itu pasti terjadi.

Ia berkata:

“Tetapi aku sangat yakin.”

Timbangan tidak bergerak.

Kemudian terdengar:

“Keyakinanmu adalah kenyataan tentang keadaan batinmu. Tetapi keyakinan batin tidak dengan sendirinya menjadi bukti tentang keadaan di luar dirimu.”

Sang Legena memahami.

Manusia boleh berharap.

Boleh berdoa.

Boleh optimistis.

Tetapi jangan mengubah:

“Aku berharap demikian”

menjadi:

“Pasti demikian.”

jika dasar kepastiannya memang belum ada.

Maka timbangan pertama menjadi seimbang.

꧁ TIMBANGAN KEDUA — CERITA DAN BUKTI ꧂

Timbangan kedua memperlihatkan sebuah cerita yang sangat indah.

Cerita itu membuat banyak orang kagum.

Tetapi pada piring sebelahnya hanya terdapat sedikit bukti.

Sang Legena menyukai cerita itu.

Ia hampir mempertahankannya.

Utusan Penjaga Mata bertanya:

“Jika cerita ini ternyata tidak benar, apakah engkau bersedia melepaskannya?”

Sang Legena terdiam.

Inilah ujian.

Tidak sulit menerima fakta yang sesuai dengan keinginan.

Yang sulit adalah menerima fakta ketika ia meruntuhkan cerita yang telah kita cintai.

Sang Legena akhirnya berkata:

“Jika buktinya tidak cukup, aku tidak akan menyebutnya kepastian.”

Seketika cerita itu tidak dihancurkan.

Ia hanya dipindahkan ke sebuah rak bertuliskan:

KEMUNGKINAN / KISAH / SIMBOL — BELUM TERBUKTI.

Maka qitab mengajarkan:

TIDAK SEMUA YANG BELUM TERBUKTI HARUS DIBUANG, TETAPI IA HARUS DITEMPATKAN PADA KEDUDUKAN YANG JUJUR.

꧁ TIMBANGAN KETIGA — KESAKSIAN DAN INGATAN ꧂

Pada timbangan ketiga berdiri dua orang.

Keduanya menyaksikan peristiwa yang sama.

Tetapi cerita mereka berbeda.

Sang Legena bertanya:

“Siapa yang berdusta?”

Terdengar jawaban:

“Belum tentu salah satunya berdusta.”

Manusia dapat mengingat peristiwa secara berbeda.

Perhatian berbeda.

Sudut pandang berbeda.

Ingatan pun dapat berubah.

Karena itu kesaksian harus diperiksa.

Waktu.

Tempat.

Dokumen.

Saksi lain.

Konsistensi cerita.

Bukti yang dapat diperiksa.

Sang Legena memahami:

ketulusan seseorang tidak selalu menjamin ketepatan ingatannya.

Orang dapat jujur tentang apa yang ia ingat dan tetap keliru tentang apa yang sebenarnya terjadi.

꧁ TIMBANGAN KEEMPAT — BANYAKNYA ORANG DAN KEBENARAN ꧂

Timbangan keempat sangat besar.

Pada satu sisi berdiri seribu orang.

Pada sisi lainnya hanya terdapat sebuah batu kecil bertuliskan:

BUKTI.

Sang Legena berkata:

“Bukankah seribu orang lebih berat?”

Timbangan justru condong kepada batu.

Terdengar:

“Banyaknya orang yang mengulang sebuah klaim tidak otomatis membuktikan klaim tersebut.”

Seribu orang dapat memperoleh informasi dari sumber yang sama.

Satu kesalahan dapat disalin ribuan kali.

Satu kabar dapat menjadi viral tanpa menjadi benar.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Berapa banyak orang mengatakan ini?”

Bertanyalah pula:

“DARI MANA INFORMASI INI BERASAL?”

꧁ TIMBANGAN KELIMA — KEWIBAWAAN DAN KEBENARAN ꧂

Pada timbangan kelima berdiri seorang tokoh besar.

Pakainya indah.

Namanya dikenal.

Di sisi lain berdiri seorang pemuda sederhana membawa catatan.

Tokoh itu berkata sesuatu.

Pemuda itu menunjukkan bahwa dalam perkara tertentu data berkata berbeda.

Sang Legena diuji.

Apakah ia akan memilih nama besar?

Atau memeriksa isinya?

Terdengar:

“Hormatilah manusia sesuai haknya. Tetapi jangan menjadikan penghormatan sebagai pengganti pemeriksaan.”

Guru dapat keliru.

Pemimpin dapat keliru.

Orang tua dapat keliru.

Ahli pun dapat keliru di luar bidangnya atau ketika data baru muncul.

Mengakui kemungkinan manusia salah bukan berarti kehilangan adab.

Justru di situlah amanah ilmu dijaga.

꧁ TIMBANGAN KEENAM — PENGALAMAN PRIBADI DAN KESIMPULAN UMUM ꧂

Sang Legena melihat satu pengalaman yang sangat kuat dalam hidupnya.

Ia berkata:

“Aku mengalaminya sendiri.”

Timbangan menjawab:

“Pengalamanmu penting. Tetapi seberapa jauh kesimpulan yang dapat ditarik darinya?”

Satu pengalaman dapat menjadi pelajaran pribadi.

Namun satu pengalaman belum tentu membuktikan hukum yang berlaku untuk semua manusia.

Apa yang berhasil bagi seseorang belum tentu bekerja sama pada orang lain.

Apa yang terjadi sekali belum tentu menunjukkan pola.

Maka Sang Legena menuliskan:

“INI YANG KUALAMI.”

Bukan:

“INILAH YANG PASTI TERJADI KEPADA SEMUA ORANG.”

Timbangan keenam seimbang.

꧁ TIMBANGAN KETUJUH — KESALAHAN DAN HARGA DIRI ꧂

Timbangan ketujuh tidak membawa benda.

Ia hanya menampilkan sebuah kalimat yang dahulu pernah diucapkan Sang Legena.

Ternyata kalimat itu keliru.

Sang Legena mempunyai dua pilihan.

Mempertahankannya agar tidak terlihat salah.

Atau mengoreksinya.

Ego berkata:

“Jika engkau mengaku salah, kewibawaanmu akan turun.”

Tetapi Mīzān aṣ-Ṣidq berkata:

“Kewibawaan yang hanya dapat bertahan dengan mempertahankan kesalahan adalah kewibawaan yang rapuh.”

Sang Legena berdiri.

Ia berkata:

“Dalam perkara ini aku keliru. Aku perbaiki.”

Tidak ada petir.

Tidak ada mahkota yang jatuh.

Justru timbangan berubah menjadi cahaya.

Sebab kemampuan mengoreksi diri adalah salah satu bentuk kekuatan.

꧁ TIMBANGAN KEDELAPAN — KEBENARAN DAN KEPENTINGAN ꧂

Inilah timbangan yang paling berat.

Sang Legena diperlihatkan suatu fakta.

Jika fakta itu diakui, dirinya akan kehilangan keuntungan.

Jika disembunyikan, kedudukannya tetap aman.

Tidak seorang pun mengetahui.

Sembilan utusan tidak berbicara.

Sang Legena memandang timbangan.

Ia teringat Lembah Amanah.

Ia teringat Singgasana Tanpa Raja.

Kemudian berkata:

“Jika aku hanya menerima kebenaran ketika menguntungkanku, aku bukan sedang menjaga kebenaran. Aku sedang menjaga kepentinganku.”

Maka ia memilih untuk tidak menyembunyikan apa yang memang menjadi hak orang lain untuk diketahui.

Timbangan kedelapan menyala.

꧁ TIMBANGAN KESEMBILAN — KEBENARAN DAN KASIH SAYANG ꧂

Timbangan terakhir menampilkan seseorang yang melakukan kesalahan.

Faktanya jelas.

Sang Legena mengetahui kebenaran.

Namun muncul pertanyaan:

“Bagaimana kebenaran harus disampaikan?”

Apakah semua kebenaran harus dilemparkan seperti batu?

Tidak.

Kebenaran tidak berubah menjadi kebohongan hanya karena disampaikan dengan lembut.

Dan kelembutan tidak berarti menyembunyikan fakta yang memang perlu diketahui.

Maka Sang Legena berkata:

“Kebenaran membutuhkan keberanian untuk mengucapkannya dan kebijaksanaan untuk memilih cara mengucapkannya.”

Ada waktu.

Ada tempat.

Ada bahasa.

Ada kadar informasi.

Ada pertimbangan keselamatan dan martabat.

Semuanya adalah bagian dari hikmah.

Maka timbangan kesembilan menjadi seimbang.

꧁ TIMBANGAN KESEPULUH YANG TIDAK MEMILIKI PIRING ꧂

Kini Sang Legena berdiri di depan timbangan terakhir.

Tidak ada piring kanan.

Tidak ada piring kiri.

Ia bertanya:

“Bagaimana aku menimbang sesuatu di sini?”

Jawaban datang:

“Timbangan ini untuk sesuatu yang belum diketahui.”

Sang Legena menunggu.

Tiba-tiba dua piring tumbuh dari poros.

Piring pertama bertuliskan:

“YANG AKU KETAHUI.”

Piring kedua:

“YANG BELUM AKU KETAHUI.”

Sang Legena meletakkan seluruh pengetahuannya pada piring pertama.

Piring itu penuh.

Buku.

Pengalaman.

Pelajaran.

Nasihat.

Semua perjalanan qitab.

Kemudian pada piring kedua hanya diletakkan sebutir pasir.

Anehnya, timbangan langsung condong ke piring kedua.

Sang Legena terkejut.

Terdengar suara:

“Butir pasir itu mewakili luasnya wilayah yang belum engkau ketahui.”

Ia menunduk.

Tidak merasa kecil karena dihina.

Tetapi menjadi rendah hati karena memahami batas.

꧁ SEMBILAN UTUSAN MENANGGALKAN GELAR PENGETAHUAN ꧂

Sembilan utusan kemudian maju.

Masing-masing meletakkan sesuatu di tanah.

Yang pertama meletakkan kepastian yang tidak memiliki dasar.

Yang kedua meletakkan prasangka.

Yang ketiga meletakkan cerita yang belum diperiksa.

Yang keempat meletakkan kebanggaan karena selalu ingin benar.

Yang kelima meletakkan ketakutan mengaku salah.

Yang keenam meletakkan kebutuhan memenangkan perdebatan.

Yang ketujuh meletakkan penghormatan berlebihan kepada nama besar.

Yang kedelapan meletakkan kepentingan pribadi.

Yang kesembilan meletakkan keinginan agar kenyataan selalu sesuai harapan.

Semua itu berubah menjadi debu.

Angin membawa debu tersebut pergi.

Dan Sang Legena berkata:

“KEJUJURAN BUKAN HANYA TIDAK BERDUSTA KEPADA ORANG LAIN. KEJUJURAN JUGA BERARTI TIDAK BERDUSTA KEPADA DIRI SENDIRI.”

꧁ AIR AṢ-ṢIDQ ꧂

Dari bawah sembilan timbangan muncul mata air.

Airnya tidak bercahaya.

Tidak berwarna.

Sangat jernih.

Sang Legena mengambilnya.

Ia melihat wajahnya sendiri.

Tetapi kali ini tidak ada mahkota di pantulan.

Tidak ada cahaya luar biasa.

Hanya wajah manusia.

Ia berkata:

“Inilah aku. Seorang manusia yang mengetahui sebagian dan tidak mengetahui banyak hal.”

Air beriak.

Dan dari riaknya muncul tulisan:

الصِّدْقُ بَابُ السَّلَامِ

Aṣ-ṣidqu bābu as-salām.

Kejujuran adalah salah satu pintu menuju kedamaian.

Sebab kebohongan membutuhkan kebohongan baru untuk mempertahankannya.

Sedangkan kebenaran, meskipun kadang pahit pada awalnya, memberi tanah yang lebih kokoh untuk membangun kehidupan.

꧁ HISAB ATAS CERITA YANG KITA SUKAI ꧂

Kemudian sembilan timbangan mengelilingi Sang Legena.

Satu pertanyaan terakhir diberikan:

“Jika besok engkau menemukan bukti kuat bahwa sesuatu yang selama bertahun-tahun engkau yakini ternyata keliru, apakah engkau bersedia memperbaikinya?”

Sang Legena tidak menjawab cepat.

Ia tahu pertanyaan itu berat.

Sebab manusia bukan hanya melekat pada harta dan jabatan.

Manusia juga dapat melekat pada cerita tentang dirinya sendiri.

Cerita tentang masa lalu.

Cerita tentang kedudukan.

Cerita tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Cerita tentang pengalaman.

Cerita yang sudah diceritakan berulang kali.

Akhirnya Sang Legena menjawab:

“Dengan pertolongan Alloh, aku akan berusaha memilih yang benar meskipun aku harus memperbaiki ceritaku sendiri.”

Kesembilan timbangan berbunyi serempak.

Ting...

Bukan suara gaib.

Bunyi itu berasal dari mekanisme timbangan yang akhirnya mencapai keseimbangan.

Sang Legena tersenyum.

Pelajaran Gunung Sembilan Lonceng masih hidup:

periksalah penyebab sebelum memberikan makna.

꧁ LAHIRNYA CERMIN BENING ꧂

Kesembilan timbangan kemudian melebur.

Besi menjadi air.

Air menjadi kaca.

Kaca membentuk sebuah cermin besar.

Tidak hitam seperti sembilan cermin sebelumnya.

Cermin ini bening.

Di atasnya tertulis:

MIR’ĀT AṢ-ṢIDQ

CERMIN KEJUJURAN

Sang Legena berdiri di depannya.

Cermin tidak memperlihatkan masa lalu.

Tidak memperlihatkan masa depan.

Tidak memperlihatkan kerajaan.

Ia hanya memperlihatkan keadaan sekarang.

Sang Legena memahami.

Manusia sering menderita karena hidup terlalu lama di antara dua tempat:

masa lalu yang tidak dapat diubah,

dan

masa depan yang belum terjadi.

Padahal amanah tindakan berada pada:

hari ini.

Apa yang dapat diperbaiki hari ini?

Siapa yang harus dimintai maaf hari ini?

Kewajiban apa yang dapat ditunaikan hari ini?

Kebaikan apa yang dapat dilakukan hari ini?

꧁ DATANGNYA SEMBILAN ANAK MEMBAWA LAMPU ꧂

Dari ujung dataran datang sembilan anak.

Masing-masing membawa sebuah lampu.

Mereka tidak mengenal Sang Legena.

Anak pertama bertanya:

“Apakah semua yang ada di qitabmu harus kami percaya?”

Sembilan utusan terkejut.

Sang Legena tersenyum.

Ia menjawab:

“Ambillah hikmahnya. Timbanglah dengan agama, akal sehat, ilmu, kenyataan, dan akhlak. Jangan menjadikan simbol sebagai pengganti kebenaran yang dapat diperiksa.”

Anak kedua bertanya:

“Bagaimana jika kami menemukan kekeliruan?”

Sang Legena menjawab:

“Perbaikilah.”

Anak ketiga:

“Bagaimana jika cara kami berbeda?”

“Jagalah nilai yang baik, kemudian temukan cara yang lebih baik.”

Anak keempat:

“Bagaimana jika kami menjadi lebih pandai daripada kalian?”

Sang Legena tersenyum lebih lebar:

“Maka perjalanan ini berbuah.”

Sembilan utusan menundukkan kepala.

꧁ CAHAYA KESEPULUH ꧂

Kesembilan anak meletakkan lampu di depan Cermin Kejujuran.

Sembilan cahaya terpantul.

Namun cermin menghasilkan cahaya kesepuluh.

Cahaya itu tidak menuju Sang Legena.

Ia memanjang ke arah sebuah jalan baru.

Di ujung jalan tampak sebuah jembatan sangat panjang.

Di bawah jembatan mengalir dua sungai.

Sungai pertama bernama:

INGATAN.

Sungai kedua:

HARAPAN.

Jembatan berada tepat di antara keduanya.

Pada gerbangnya tertulis:

JISR AL-ḤĀḌIR

JEMBATAN KEKINIAN

Dan di bawahnya terdapat pesan:

“Engkau telah belajar menimbang kebenaran. Sekarang belajarlah berjalan di hari ini tanpa ditenggelamkan masa lalu dan tanpa diperbudak bayangan masa depan.”

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Mereka mengambil lampu dari sembilan anak.

Tetapi anak-anak berkata:

“Tidak. Lampu ini bukan untuk kalian bawa.”

“Lalu bagaimana kami menyeberang?”

Anak paling kecil menunjuk matahari yang sedang terbit.

“Gunakan cahaya yang memang sudah ada.”

Sang Legena tersenyum.

Mereka meninggalkan lampu.

Dan berjalan menuju Jembatan Kekinian dengan tangan kosong.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ JISR AL-ḤĀḌIR — JEMBATAN KEKINIAN, DUA SUNGAI INGATAN DAN HARAPAN, SERTA RAHASIA HIDUP PADA AMANAH HARI INI ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEEMPAT BELAS

JISR AL-ḤĀḌIR — JEMBATAN KEKINIAN

DUA SUNGAI INGATAN DAN HARAPAN, SERTA RAHASIA HIDUP PADA AMANAH HARI INI

Sang Legena bersama sembilan utusan meninggalkan Mīzān aṣ-Ṣidq.

Mereka tidak membawa lampu.

Tidak membawa cermin.

Tidak membawa timbangan.

Di hadapan mereka terbentang sebuah jembatan yang sangat panjang.

Jembatan itu tidak terlalu tinggi, tetapi kedua sisinya tidak mempunyai pagar.

Di sebelah kiri mengalir sungai berwarna kebiruan.

Pada batu di tepinya tertulis:

نَهْرُ الذِّكْرَى

NAHR ADZ-DZIKRĀ — SUNGAI INGATAN

Di sebelah kanan mengalir sungai berwarna keemasan.

Pada tepinya tertulis:

نَهْرُ الرَّجَاءِ

NAHR AR-RAJĀ’ — SUNGAI HARAPAN

Sedangkan tepat di tengah jembatan terdapat tulisan:

الْحَاضِرُ أَمَانَةٌ

AL-ḤĀḌIRU AMĀNAH

“Saat ini adalah amanah.”

Sang Legena memandang kedua sungai.

Ia memahami:

yang satu membawa apa yang telah terjadi.

Yang lain membawa bayangan tentang apa yang belum terjadi.

Sedangkan dirinya berdiri di antara keduanya.

Di hari ini.

꧁ LANGKAH PERTAMA — SUNGAI INGATAN MEMANGGIL ꧂

Ketika Sang Legena mulai berjalan, Sungai Ingatan bersuara.

Bukan suara gaib dari luar, melainkan kenangan yang kembali hidup di pikirannya.

Ia melihat masa lalu.

Orang-orang yang pernah ditemui.

Kesalahan.

Keberhasilan.

Kehilangan.

Hari-hari ketika dirinya bahagia.

Hari-hari ketika ia merasa dunia runtuh.

Sang Legena berhenti.

Salah satu kenangan terasa begitu indah sehingga ia ingin kembali.

Namun Penjaga Langkah berkata:

“Kenangan dapat dikunjungi, tetapi jangan membangun rumah di dalamnya.”

Sang Legena bertanya:

“Mengapa?”

“Karena masa lalu adalah guru, bukan tempat tinggal.”

Maka ia melanjutkan perjalanan.

꧁ BATU PERTAMA — PENYESALAN ꧂

Di tengah jembatan terdapat sebuah batu besar.

Pada permukaannya tertulis:

“SEANDAINYA.”

Sang Legena menyentuhnya.

Seketika muncul seluruh keputusan masa lalu yang ingin ia ubah.

Seandainya aku tidak melakukan itu.

Seandainya dahulu aku memilih jalan lain.

Seandainya aku lebih cepat memahami.

Seandainya aku tidak mempercayai orang itu.

Seandainya aku tidak mengatakan perkataan itu.

Batu semakin berat.

Sang Legena hampir tidak mampu berjalan.

Kemudian terdengar:

“Penyesalan mempunyai dua wajah.”

Wajah pertama membuat manusia memperbaiki diri.

Wajah kedua membuat manusia menghukum dirinya tanpa akhir.

Jika kesalahan dapat diperbaiki:

perbaikilah.

Jika ada hak manusia:

tunaikanlah.

Jika perlu meminta maaf:

mintalah maaf.

Jika membutuhkan taubat:

bertaubatlah kepada Alloh.

Tetapi setelah pelajaran diambil, jangan terus menjadikan kesalahan lama sebagai alasan untuk menghancurkan hari ini.

Sang Legena melepaskan batu.

Batu itu jatuh ke Sungai Ingatan.

꧁ BATU KEDUA — KEJAYAAN MASA LALU ꧂

Beberapa langkah kemudian muncul batu emas.

Di atasnya terpahat:

“DAHULU AKU...”

Sang Legena melihat keberhasilan masa lalunya.

Saat ia dihormati.

Saat orang mendengarkan.

Saat pekerjaannya berkembang.

Saat namanya dikenal.

Kenangan itu terasa hangat.

Tetapi perlahan ia mendengar dirinya berkata:

“Dahulu aku begini...”

“Dahulu aku memiliki itu...”

“Dahulu semua orang datang kepadaku...”

Utusan Penjaga Niat berkata:

“Jangan sampai kejayaan kemarin membuatmu tidak mampu menerima keadaan hari ini.”

Masa lalu boleh disyukuri.

Prestasi boleh dikenang.

Tetapi manusia tidak dapat hidup selamanya dari cerita keberhasilan lama.

Hari ini membutuhkan amal hari ini.

Sang Legena melepaskan batu emas.

Dan melanjutkan perjalanan.

꧁ SUNGAI HARAPAN MULAI MEMANGGIL ꧂

Kini sungai di sebelah kanan berkilau.

Sang Legena melihat masa depan.

Sebuah rumah besar.

Amanah yang berkembang.

Kehidupan yang damai.

Orang-orang yang mencintainya.

Keberhasilan yang belum terjadi.

Semuanya terlihat indah.

Ia mempercepat langkah.

Semakin cepat.

Semakin cepat.

Hampir berlari.

Utusan Penjaga Mata segera berkata:

“Berhenti.”

Sang Legena berhenti.

“Mengapa?”

“Harapan memberikan arah. Tetapi bayangan masa depan dapat membuat manusia lupa melihat batu tepat di depan kakinya.”

Sang Legena menunduk.

Benar.

Di depannya terdapat lubang.

Seandainya ia terus berlari sambil menatap masa depan, ia akan terjatuh.

꧁ BATU KETIGA — KECEMASAN ATAS SESUATU YANG BELUM TERJADI ꧂

Jembatan kemudian diselimuti kabut.

Sang Legena mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

Bagaimana jika gagal?

Bagaimana jika kehilangan?

Bagaimana jika orang meninggalkanku?

Bagaimana jika rencana tidak berjalan?

Semakin dipikirkan, semakin nyata rasanya.

Penjaga Dada berkata:

“Persiapan terhadap risiko adalah kebijaksanaan. Tetapi menderita berkali-kali karena kejadian yang belum tentu terjadi bukanlah persiapan.”

Maka Sang Legena mengambil selembar kertas.

Ia membagi dua.

Pada sisi pertama ditulis:

YANG DAPAT KULAKUKAN.

Pada sisi kedua:

YANG TIDAK DAPAT KUKENDALIKAN.

Pada bagian pertama ia menulis:

merencanakan,

belajar,

menabung,

memeriksa,

bertanya,

menjaga kesehatan,

menyiapkan alternatif,

berdoa,

dan mengambil langkah.

Pada bagian kedua ia menulis:

hasil akhir,

pikiran seluruh manusia,

kejadian yang belum terjadi,

serta perkara di luar kemampuannya.

Ia melipat kertas.

Kemudian berkata:

“Yang dapat kulakukan akan kuikhtiarkan. Yang berada di luar kemampuanku kuserahkan kepada Alloh.”

Kabut menipis.

꧁ BATU KEEMPAT — MENUNGGU HARI YANG SEMPURNA ꧂

Di depan mereka terdapat sebuah bangku.

Pada bangku tertulis:

“TUNGGULAH SAMPAI SEMUANYA SIAP.”

Sang Legena duduk.

Ia berkata:

“Barangkali aku baru akan memulai ketika keadaan sempurna.”

Satu hari berlalu secara simbolik.

Kemudian satu musim.

Tidak ada keadaan sempurna.

Sang Legena menyadari:

Ada perkara yang memang membutuhkan persiapan.

Tetapi ada pula perkara yang tidak pernah dimulai karena manusia terus menunggu seluruh ketidakpastian menghilang.

Maka terdengar:

“JANGAN MENUNGGU SELURUH JALAN TERLIHAT UNTUK MENGAMBIL SATU LANGKAH YANG SUDAH JELAS BENAR.”

Sang Legena bangkit.

Ia mengambil satu langkah.

Hanya satu.

Jembatan langsung memanjang di hadapannya.

꧁ SEMBILAN UTUSAN KEHILANGAN BAYANGANNYA ꧂

Matahari tepat berada di atas kepala.

Sembilan utusan melihat ke tanah.

Bayangan mereka hampir tidak terlihat.

Utusan Penjaga Kepulangan berkata:

“Inilah tengah hari.”

Masa lalu berada di belakang.

Masa depan berada di depan.

Tetapi matahari berada tepat di atas.

Sang Legena bertanya:

“Apa rahasianya?”

Ia menjawab:

“Hari ini tidak meminta engkau menyelesaikan seluruh hidupmu. Hari ini hanya meminta engkau menunaikan amanah yang memang sampai kepadamu hari ini.”

Maka kesembilan utusan masing-masing menyebut satu amanah.

Pertama: sholat dan ibadah yang waktunya telah datang.

Kedua: pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ketiga: keluarga yang perlu diperhatikan.

Keempat: tubuh yang perlu dijaga.

Kelima: janji yang harus ditepati.

Keenam: hutang atau kewajiban yang perlu ditata.

Ketujuh: ilmu yang perlu dipelajari.

Kedelapan: kesalahan yang dapat diperbaiki.

Kesembilan: kebaikan kecil yang dapat dilakukan sekarang.

Sang Legena tersenyum.

Ternyata jalan menuju masa depan dibangun dari amanah-amanah kecil hari ini.

꧁ RAHASIA TIGA WAKTU ꧂

Di tengah jembatan terdapat tiga bejana.

Bejana pertama berisi air Sungai Ingatan.

Bejana kedua kosong.

Bejana ketiga berisi air Sungai Harapan.

Pada bejana pertama tertulis:

PELAJARI.

Pada bejana kedua:

JALANI.

Pada bejana ketiga:

SIAPKAN.

Sang Legena memahami.

Masa lalu:

dipelajari.

Hari ini:

dijalani.

Masa depan:

dipersiapkan.

Kesalahan terjadi ketika ketiganya bertukar tempat.

Jika masa lalu terus dijalani, manusia terjebak.

Jika masa depan terus dijalani di dalam pikiran, manusia cemas.

Jika hari ini hanya dipakai menyesali kemarin atau mengkhawatirkan besok, amanah sekarang terabaikan.

Maka qitab menuliskan:

**AMBIL HIKMAH DARI KEMARIN.

SIAPKAN DIRI UNTUK ESOK.

TETAPI BERAMALLAH HARI INI.**

꧁ JEMBATAN BERGETAR ꧂

Tiba-tiba Jisr al-Ḥāḍir bergetar.

Sungai Ingatan naik.

Sungai Harapan ikut naik.

Keduanya hampir menelan jembatan.

Sang Legena bertanya:

“Apa yang terjadi?”

Terdengar:

“Inilah saat ketika manusia terlalu lama berada dalam dua sungai sekaligus.”

Masa lalu berkata:

“Kembalilah.”

Masa depan berkata:

“Cepatlah.”

Hari ini berkata:

“Tetaplah di sini.”

Sang Legena menutup mata.

Bukan untuk menghindari kenyataan.

Ia hanya mengambil satu napas biasa.

Kemudian membuka mata.

Ia melihat satu batu tepat di depannya.

Ia melangkah ke batu itu.

Lalu batu berikutnya.

Satu demi satu.

Tidak memikirkan seluruh panjang jembatan.

Tidak kembali menghitung seluruh jalan yang telah dilewati.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Air perlahan turun.

꧁ SEMBILAN UTUSAN MEMECAHKAN JAM PASIR ꧂

Di ujung jembatan terdapat sembilan jam pasir.

Sembilan utusan mengambilnya.

Tetapi mereka tidak menghancurkan waktu.

Mereka memecahkan kaca yang membuat mereka terus-menerus melihat pasir jatuh dengan ketakutan.

Penjaga Kedamaian berkata:

“Kesadaran bahwa waktu terbatas seharusnya membuat manusia lebih bijaksana, bukan membuatnya hidup dalam kepanikan.”

Waktu memang berjalan.

Karena itu jangan menunda seluruh kebaikan.

Namun jangan pula berlari begitu cepat hingga kehidupan tidak pernah benar-benar dirasakan.

Ada waktu bekerja.

Ada waktu beribadah.

Ada waktu bersama keluarga.

Ada waktu belajar.

Ada waktu beristirahat.

Ada waktu diam.

Dan ada waktu melepaskan sesuatu yang memang telah selesai.

꧁ UJUNG JEMBATAN ꧂

Sang Legena akhirnya tiba di ujung Jisr al-Ḥāḍir.

Ia menoleh ke belakang.

Jembatan masih ada.

Sungai Ingatan tetap mengalir.

Sungai Harapan juga tetap mengalir.

Tidak satu pun harus dikeringkan.

Sebab manusia membutuhkan keduanya.

Tanpa ingatan, manusia kehilangan pelajaran.

Tanpa harapan, manusia kehilangan arah.

Tetapi keduanya harus berada di tempatnya.

INGATAN MENJADI GURU.

HARAPAN MENJADI ARAH.

HARI INI MENJADI TEMPAT AMAL.

꧁ HISAB HARI INI ꧂

Di ujung jembatan terdapat sebuah batu kecil.

Tidak ada sembilan pertanyaan.

Hanya tiga.

Sang Legena membacanya:

“Apa kebaikan yang dapat engkau lakukan hari ini?”

Ia menjawab:

“Yang berada dalam kemampuanku.”

“Apa yang perlu engkau perbaiki hari ini?”

Ia menjawab:

“Yang sudah jelas menjadi tanggung jawabku.”

“Apa yang harus engkau serahkan?”

Sang Legena memandang kedua sungai.

Kemudian menjawab:

“Apa yang memang berada di luar kuasaku, kuserahkan kepada Alloh setelah ikhtiar.”

Batu itu terbuka.

Di dalamnya terdapat sebutir pasir putih.

꧁ SEBUTIR PASIR PUTIH ꧂

Sang Legena mengambilnya.

Sangat kecil.

Hampir tidak memiliki berat.

Sembilan utusan bertanya:

“Apa gunanya satu butir pasir?”

Sang Legena teringat Timbangan Kesepuluh.

Satu butir pasir pernah mewakili luasnya yang belum diketahui.

Tetapi pasir ini berbeda.

Pada permukaannya terdapat tulisan yang sangat kecil:

الْيَوْم

AL-YAWM — HARI INI

Sang Legena berkata:

“Mungkin seluruh kehidupan memang terlalu besar untuk kita genggam sekaligus. Tetapi hari ini cukup kecil untuk kita jalani.”

Sembilan utusan mengangguk.

꧁ DATANGNYA SANG PENJAGA WAKTU ꧂

Ketika matahari mulai turun, seorang lelaki tua muncul di ujung jalan.

Tidak ada yang mengetahui dari mana ia datang.

Ia membawa tongkat dengan sembilan lingkaran.

Namun ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai penguasa waktu.

Ia hanya berkata:

“Aku menjaga sebuah taman.”

Sang Legena bertanya:

“Taman apa?”

Orang tua itu menunjuk ke balik bukit.

Dari sana terlihat sebuah taman luas.

Anehnya, terdapat sembilan pohon tua yang sangat besar, tetapi di tengahnya hanya ada sebidang tanah kosong.

Orang tua berkata:

“Sembilan pohon itu tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan terus-menerus.”

“Lalu tanah kosong di tengah?”

“Itulah tempat kebiasaan kesepuluh akan ditanam.”

Sang Legena bertanya:

“Kebiasaan apa?”

Orang tua itu menjawab:

“ISTIQOMAH.”

Bukan melakukan sesuatu secara berlebihan satu malam lalu meninggalkannya.

Bukan mengejar banyak amalan sampai kewajiban utama berantakan.

Tetapi kebaikan yang wajar, benar, dan terus dijaga.

Sang Legena menggenggam pasir bertuliskan Al-Yawm.

Ia memahami.

Hari ini adalah satu butir.

Besok satu butir lagi.

Hari berikutnya satu butir lagi.

Jika dikumpulkan dengan istiqomah, butiran kecil dapat membentuk jalan.

Mereka pun mengikuti lelaki tua menuju taman.

Namun sebelum masuk, ia memberikan peringatan:

“Di taman ini kalian akan mengetahui mengapa semangat yang besar belum tentu menghasilkan perjalanan yang panjang.”

Gerbang terbuka.

Pada bagian atasnya tertulis:

حَدِيقَةُ الِاسْتِقَامَة

ḤADĪQAT AL-ISTIQĀMAH — TAMAN ISTIQOMAH

Di bawahnya terukir kalimat:

“JANGAN HANYA TANYAKAN SEBERAPA BESAR LANGKAHMU. TANYAKAN APAKAH LANGKAH ITU DAPAT ENGKAU JAGA.”

Sang Legena dan sembilan utusan memasuki taman.

Di tengah sembilan pohon tua, tanah kosong mulai berdenyut lembut menunggu benih terakhir.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ ḤADĪQAT AL-ISTIQĀMAH — SEMBILAN POHON TUA, BENIH KESEPULUH, DAN RAHASIA AMAL KECIL YANG TIDAK TERPUTUS ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KELIMA BELAS

ḤADĪQAT AL-ISTIQĀMAH

SEMBILAN POHON TUA, BENIH KESEPULUH, DAN RAHASIA AMAL KECIL YANG TIDAK TERPUTUS

Sang Legena bersama sembilan utusan memasuki taman.

Di dalamnya berdiri sembilan pohon tua.

Batangnya besar.

Akarnya menembus dalam.

Daunnya tidak terlalu lebat, tetapi tidak pernah benar-benar gugur seluruhnya.

Di tengah taman terdapat sebidang tanah kosong.

Lelaki tua penjaga taman berkata:

“Pohon-pohon ini tidak tumbuh karena satu hari hujan yang sangat deras. Mereka tumbuh karena mendapatkan air yang cukup, berulang kali, dalam waktu yang panjang.”

Sang Legena memandang tanah kosong.

Ia menggenggam sebutir pasir bertuliskan:

الْيَوْم — AL-YAWM

HARI INI

Dan dimulailah pelajaran tentang istiqomah.

꧁ POHON PERTAMA — AMAL KECIL YANG DIJAGA ꧂

Pohon pertama tidak paling tinggi.

Tidak paling indah.

Tetapi akarnya paling kuat.

Penjaga taman berkata:

“Inilah pohon amal kecil.”

Sang Legena bertanya:

“Mengapa justru akarnya paling kuat?”

Ia menjawab:

“Karena ia tidak bergantung kepada ledakan semangat.”

Ada orang yang mampu melakukan banyak hal dalam satu malam.

Kemudian berhenti berhari-hari.

Ada pula orang yang menjaga sedikit kebaikan setiap hari.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

Yang sedikit dapat menjadi besar karena waktu mengumpulkannya.

Maka tertulis:

JANGAN MEREMEHKAN KEBAIKAN YANG KECIL HANYA KARENA IA TIDAK TERLIHAT BESAR HARI INI.

꧁ POHON KEDUA — KEWAJIBAN SEBELUM TAMBAHAN ꧂

Pohon kedua mempunyai batang lurus.

Tidak banyak cabang.

Penjaga taman berkata:

“Ini adalah pohon tertib.”

Sang Legena melihat beberapa orang sibuk mengejar banyak hal tambahan, tetapi justru meninggalkan tanggung jawab dasar.

Maka pohon itu memberikan pelajaran:

Yang wajib jangan dikorbankan demi mengejar yang tambahan.

Ibadah tambahan tidak seharusnya membuat seseorang menelantarkan keluarga.

Semangat belajar tidak seharusnya dijadikan alasan mengabaikan kesehatan.

Pengabdian kepada masyarakat tidak seharusnya dijadikan alasan mengingkari janji pribadi.

Keseimbangan bukan berarti semua hal mendapat waktu sama.

Keseimbangan berarti setiap amanah memperoleh hak yang semestinya.

꧁ POHON KETIGA — ISTIQOMAH BUKAN MEMAKSA DIRI TANPA BATAS ꧂

Pohon ketiga memiliki bekas luka pada batangnya.

Penjaga taman berkata:

“Pohon ini dahulu hampir mati.”

“Mengapa?”

“Karena terlalu banyak diberi air.”

Sang Legena terkejut.

Bukankah air adalah kehidupan?

Penjaga menjawab:

“Sesuatu yang baik pun dapat merusak jika diberikan tanpa ukuran.”

Maka dibukakan rahasia:

Istiqomah bukan menyiksa tubuh.

Bukan membuat jadwal yang tidak realistis.

Bukan merasa gagal hanya karena suatu hari harus mengurangi beban.

Jika sakit, sesuaikan.

Jika lelah, istirahat.

Jika tanggung jawab berubah, atur kembali.

Yang dijaga adalah arah, bukan kekakuan.

꧁ POHON KEEMPAT — KEMBALI SETELAH TERPUTUS ꧂

Pohon keempat pernah patah.

Batangnya masih memiliki bekas.

Tetapi dari sisi patahan tumbuh cabang baru.

Sang Legena bertanya:

“Apakah pohon ini masih disebut istiqomah meskipun pernah patah?”

Penjaga taman tersenyum.

“Istiqomah bukan berarti tidak pernah terputus. Kadang istiqomah terlihat dari kesediaan untuk kembali.”

Ada hari ketika rutinitas terganggu.

Ada masa sakit.

Ada perjalanan.

Ada kesibukan.

Ada kelalaian.

Yang berbahaya bukan hanya terputus.

Yang lebih berbahaya adalah berkata:

“Karena sudah terputus, sekalian saja berhenti.”

Maka pohon keempat mengajarkan:

JIKA TERJATUH, JANGAN UBAH SATU KEJATUHAN MENJADI ALASAN UNTUK BERHENTI BERJALAN.

꧁ POHON KELIMA — TIDAK MENGEJAR SENSASI ꧂

Pohon kelima tumbuh sangat tenang.

Tidak mengeluarkan bunga bercahaya.

Tidak memiliki buah aneh.

Tidak menarik perhatian.

Tetapi tanah di sekitarnya paling subur.

Penjaga berkata:

“Inilah pohon yang tidak bergantung kepada rasa.”

Kadang manusia rajin ketika hati sedang ringan.

Ketika merasakan semangat.

Ketika mendapatkan pengalaman yang membuatnya terharu.

Tetapi saat rasa itu hilang, ia berhenti.

Sang Legena memahami:

amal tidak harus selalu disertai sensasi luar biasa untuk tetap bernilai.

Ada hari ketika dzikir terasa dalam.

Ada hari ketika biasa saja.

Ada waktu belajar terasa menyenangkan.

Ada waktu terasa berat.

Ada masa bekerja penuh gairah.

Ada masa hanya dijalankan karena tanggung jawab.

Istiqomah berarti tetap menjaga yang baik tanpa menjadikan rasa sebagai satu-satunya bahan bakar.

꧁ POHON KEENAM — MENJAGA NIAT BERULANG KALI ꧂

Pohon keenam memiliki sembilan lingkaran pada batangnya.

Setiap lingkaran ditulisi satu pertanyaan:

“Untuk apa?”

Sang Legena memahami.

Niat bukan sesuatu yang diperiksa sekali pada awal perjalanan lalu dianggap selesai selamanya.

Niat dapat bergeser.

Kebaikan dapat perlahan berubah menjadi kebutuhan akan pujian.

Pengabdian dapat berubah menjadi ambisi.

Ilmu dapat berubah menjadi kebanggaan.

Maka sesekali hati perlu ditanya kembali:

“UNTUK APA AKU MELAKUKAN INI?”

Bukan untuk mencurigai semua amal.

Tetapi untuk menjaga arah.

꧁ POHON KETUJUH — RUTINITAS YANG TETAP HIDUP ꧂

Pohon ketujuh memiliki jalur air yang teratur.

Air datang sedikit pada waktu tertentu.

Tidak berlebihan.

Tidak terlambat terlalu lama.

Penjaga berkata:

“Rutinitas adalah wadah. Tetapi jangan biarkan wadah membuatmu lupa isi.”

Sang Legena bertanya:

“Bagaimana rutinitas dapat menjadi kosong?”

Ia menjawab:

“Ketika tubuh melakukan sesuatu, tetapi hati tidak lagi memahami mengapa.”

Maka sesekali rutinitas perlu diperbarui dengan kesadaran.

Membaca kembali makna.

Memahami tujuan.

Memperbaiki cara.

Bukan mengganti semua kebiasaan hanya karena bosan.

Tetapi menghidupkan kembali alasan mengapa kebiasaan baik itu dijaga.

꧁ POHON KEDELAPAN — ISTIQOMAH DALAM AKHLAK ꧂

Pohon kedelapan menaungi jalan.

Siapa pun boleh berteduh.

Orang yang mengenal Sang Legena.

Orang yang tidak mengenalnya.

Bahkan orang yang pernah berbeda dengannya.

Penjaga berkata:

“Banyak orang mampu istiqomah dalam bacaan, tetapi belum tentu istiqomah dalam akhlak.”

Istiqomah juga berarti:

jujur ketika menguntungkan maupun merugikan,

menjaga amanah ketika diawasi maupun tidak,

bersikap adil kepada orang yang disukai maupun tidak,

menahan lisan ketika marah,

dan menjaga batas ketika berada dalam kekuasaan.

Sang Legena memahami:

KEISTIQOMAHAN AKHLAK SERING LEBIH BERAT DARIPADA KEISTIQOMAHAN RITUAL.

Karena ia diuji dalam keadaan yang berubah-ubah.

꧁ POHON KESEMBILAN — MEWARISKAN KEBIASAAN BAIK ꧂

Pohon kesembilan mempunyai banyak buah.

Tetapi buahnya bukan dimakan.

Setiap buah berisi benih.

Orang-orang datang mengambilnya dan menanam di tempat lain.

Penjaga taman berkata:

“Kebiasaan baik yang paling kuat adalah kebiasaan yang dapat diajarkan tanpa membuat orang bergantung kepada dirimu.”

Sang Legena teringat seluruh perjalanan.

Guru.

Murid.

Pemimpin.

Penerus.

Anak-anak.

Maka ia memahami bahwa istiqomah tidak hanya bersifat pribadi.

Sebuah keluarga dapat memiliki kebiasaan baik.

Sebuah majelis dapat memiliki budaya baik.

Sebuah lembaga dapat menjaga tata kelola baik.

Sebuah masyarakat dapat mewariskan adab.

Inilah istiqomah yang menjadi sistem, bukan hanya semangat seorang tokoh.

꧁ TANAH KOSONG DI TENGAH ꧂

Kini mereka kembali ke pusat taman.

Tanah kosong masih menunggu.

Penjaga tua berkata:

“Sembilan pohon telah mengajarkan cara menjaga perjalanan. Tetapi benih kesepuluh belum ditanam.”

Sang Legena membuka tangannya.

Sehelai cahaya muncul dari sebutir pasir Al-Yawm.

Pasir itu berubah menjadi benih kecil.

Sang Legena bertanya:

“Apakah nama benih ini?”

Penjaga menjawab:

دَوَامُ الرُّجُوع

DAWĀM AR-RUJŪ‘

TERUS-MENERUS KEMBALI

Sang Legena terdiam.

“Bukankah kita sedang berbicara tentang istiqomah?”

Penjaga berkata:

“Ya. Dan rahasia istiqomah bukan bahwa engkau tidak pernah menyimpang sedikit pun. Rahasianya adalah engkau terus kembali kepada arah yang benar.”

꧁ BENIH KESEPULUH DITANAM ꧂

Sang Legena menggali tanah.

Tidak terlalu dalam.

Ia meletakkan benih.

Sembilan utusan masing-masing membawa sedikit air.

Utusan pertama berkata:

“Kembali kepada niat.”

Utusan kedua:

“Kembali kepada lisan yang terjaga.”

Ketiga:

“Kembali kepada pandangan yang jernih.”

Keempat:

“Kembali kepada pendengaran yang bijak.”

Kelima:

“Kembali kepada dada yang lapang.”

Keenam:

“Kembali kepada langkah yang benar.”

Ketujuh:

“Kembali kepada amanah.”

Kedelapan:

“Kembali kepada kedamaian yang adil.”

Kesembilan:

“Kembali kepada kesadaran bahwa semua perjalanan memiliki kepulangan.”

Sang Legena menuangkan air terakhir.

Ia berkata:

“Dan aku kembali kepada Alloh.”

Tanah bergerak.

Tumbuh satu tunas.

꧁ POHON KESEPULUH TIDAK PERNAH SAMA BENTUKNYA ꧂

Tunas itu tumbuh.

Namun bentuknya berubah-ubah.

Kadang seperti pohon kecil.

Kadang seperti semak.

Kadang hanya beberapa helai daun.

Sang Legena bingung.

“Mengapa tidak seperti sembilan pohon lainnya?”

Penjaga menjawab:

“Karena kehidupan berubah. Bentuk rutinitas dapat menyesuaikan, selama akarnya tetap berada pada arah yang benar.”

Pada masa lapang, seseorang mungkin mampu melakukan lebih banyak.

Pada masa sakit, lebih sedikit.

Pada masa bekerja berat, waktunya berbeda.

Pada masa tua, kekuatannya berubah.

Yang terpenting bukan memaksa seluruh fase kehidupan memiliki bentuk yang sama.

Yang terpenting:

AKAR TIDAK DICABUT.

꧁ SEMANGAT DAN AKAR ꧂

Tiba-tiba datang hujan besar.

Salah satu tunas liar tumbuh sangat cepat.

Dalam satu malam tingginya melebihi pohon kesepuluh.

Sang Legena berkata:

“Bukankah ini lebih hebat?”

Penjaga taman menggeleng.

Keesokan harinya matahari sangat panas.

Tunas liar itu layu.

Akarnya terlalu dangkal.

Penjaga berkata:

“Semangat membuatmu mulai. Akar membuatmu bertahan.”

Sang Legena mengingat kalimat itu.

Ia lalu menulis di batu tengah taman:

JANGAN HANYA MEMBANGUN SEMANGAT. BANGUNLAH KEBIASAAN YANG DAPAT HIDUP KETIKA SEMANGAT SEDANG TURUN.

꧁ EMPAT PENJAGA ISTIQOMAH ꧂

Di dekat pohon kesepuluh muncul empat batu kecil.

Pada batu pertama tertulis:

SEDIKIT TETAPI NYATA.

Pada batu kedua:

TERATUR TETAPI LENTUR.

Pada batu ketiga:

JATUH LALU KEMBALI.

Pada batu keempat:

JANGAN LUPA TUJUAN.

Penjaga tua berkata:

“Jika empat perkara ini dijaga, banyak perjalanan akan menjadi lebih panjang.”

Tidak perlu selalu menambah.

Kadang yang diperlukan justru mengurangi agar dapat dijaga.

Tidak perlu selalu mencari amalan baru.

Kadang yang diperlukan adalah menghidupkan kembali amalan baik yang sudah ada.

Tidak perlu menyalahkan diri tanpa akhir ketika terputus.

Mulailah kembali.

Hari ini.

꧁ HISAB EMPAT PULUH HARI ꧂

Sang Legena melihat sebuah jalan kecil dengan empat puluh batu.

Ia bertanya:

“Apakah aku harus melakukan sesuatu selama empat puluh hari?”

Penjaga menjawab:

“Angka hanyalah alat bantu bila dibutuhkan. Jangan menganggap selesainya suatu hitungan berarti selesainya akhlak.”

Empat puluh hari dapat dipakai untuk membangun kebiasaan.

Tujuh hari dapat menjadi permulaan.

Seratus hari dapat menjadi latihan.

Namun setelah hitungan selesai, nilai yang baik seharusnya tetap dibawa.

Karena tujuan latihan bukan sekadar berhasil mencapai hari terakhir.

Tujuannya adalah menjadi manusia yang lebih tertata sesudahnya.

꧁ UJIAN POHON KESEPULUH ꧂

Malam datang.

Angin besar menerpa taman.

Pohon-pohon tua tidak bergeming.

Tetapi pohon kesepuluh masih muda.

Batangnya membungkuk.

Sang Legena hendak menopangnya dengan terlalu banyak kayu.

Penjaga berkata:

“Cukup satu penyangga.”

“Mengapa tidak sebanyak mungkin?”

“Karena sesuatu yang terus disangga berlebihan tidak belajar menguatkan dirinya.”

Maka diberikan secukupnya.

Tidak dibiarkan roboh.

Tidak pula dibuat bergantung selamanya.

Sang Legena kembali menemukan pelajaran lama:

PERTOLONGAN YANG SEHAT MENJAGA SAMBIL MENGUATKAN.

꧁ FAJAR DI TAMAN ISTIQOMAH ꧂

Pagi tiba.

Embun berada di seluruh daun.

Sang Legena berjalan dari pohon pertama hingga kesepuluh.

Ia akhirnya memahami:

Istiqomah bukan keras terhadap diri.

Bukan juga memanjakan diri.

Istiqomah adalah kesetiaan kepada arah dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia dapat tenang.

Tidak selalu dramatis.

Tidak selalu terlihat.

Bahkan sering kali orang lain tidak mengetahuinya.

Tetapi dari situlah terbentuk karakter.

Satu hari menjaga lisan.

Kemudian hari berikutnya.

Satu janji ditepati.

Kemudian janji berikutnya.

Satu kewajiban diselesaikan.

Satu kesalahan diperbaiki.

Satu amal dijaga.

Sedikit demi sedikit.

꧁ PESAN PENJAGA TAMAN ꧂

Lelaki tua kemudian menyerahkan sebuah ranting dari pohon kesepuluh kepada Sang Legena.

Ia berkata:

“Bawalah ini. Tetapi jangan jadikan ranting ini benda keramat. Ia hanya pengingat bahwa kehidupan dibangun dari apa yang dilakukan berulang kali.”

Sang Legena menerimanya.

Pada ranting itu terdapat sepuluh guratan.

Sembilan untuk sembilan pohon.

Satu untuk pohon Dawām ar-Rujū‘.

Kemudian penjaga berkata:

“Perjalananmu berikutnya lebih sulit.”

Sang Legena bertanya:

“Apa yang lebih sulit daripada istiqomah?”

Penjaga menunjuk ke luar taman.

Di kejauhan tampak sebuah bangunan besar.

Tidak mempunyai menara.

Tidak mempunyai singgasana.

Bangunan itu memiliki sembilan pintu masuk tetapi hanya satu pintu keluar.

Ribuan orang berdiri di dalamnya.

Sebagian membawa hasil kerjanya.

Sebagian membawa ilmu.

Sebagian membawa kekayaan.

Sebagian membawa nama besar.

Di atas gerbang tertulis:

DĀR AL-MĪRĀṮ

RUMAH WARISAN

Penjaga tua berkata:

“Di sana engkau akan menghadapi pertanyaan: setelah engkau menjaga kebaikan untuk dirimu, bagaimana memastikan kebaikan itu dapat hidup tanpa bergantung kepadamu?”

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia memahami.

Istiqomah pribadi adalah akar.

Tetapi warisan membutuhkan lebih dari satu orang.

Ia membutuhkan ilmu yang dapat dipahami.

Tata kelola.

Penerus.

Catatan.

Kejujuran.

Pembagian amanah.

Dan kerelaan untuk suatu hari melepaskan kendali.

Mereka berjalan meninggalkan taman.

Pohon kesepuluh tetap tumbuh di belakang.

Tidak paling tinggi.

Tetapi akarnya semakin dalam.

Dan pada gerbang keluar taman tertulis:

“YANG ENGKAU ULANG HARI INI PERLAHAN MENJADI DIRIMU ESOK.”

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ DĀR AL-MĪRĀṮ — RUMAH WARISAN, SEMBILAN PINTU PENYERAHAN AMANAH, DAN RAHASIA MEMBANGUN SESUATU YANG TETAP HIDUP SETELAH PENDIRINYA PERGI ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEENAM BELAS

DĀR AL-MĪRĀṮ — RUMAH WARISAN

SEMBILAN PINTU PENYERAHAN AMANAH DAN RAHASIA MEMBANGUN SESUATU YANG TETAP HIDUP SETELAH PENDIRINYA PERGI

Sang Legena dan sembilan utusan meninggalkan Taman Istiqomah.

Di kejauhan berdiri sebuah bangunan besar.

Tidak semegah istana.

Tidak setinggi menara.

Namun fondasinya sangat dalam.

Pada bagian depannya terdapat sembilan pintu masuk.

Sedangkan di belakang hanya ada satu pintu keluar.

Di atas gerbang tertulis:

دَارُ الْمِيرَاثِ

DĀR AL-MĪRĀṮ — RUMAH WARISAN

Sang Legena bertanya:

“Mengapa pintu masuknya sembilan, tetapi pintu keluarnya hanya satu?”

Terdengar jawaban:

“Karena banyak jalan dapat melahirkan warisan, tetapi semuanya harus keluar melalui satu perkara: amanah yang dapat diteruskan.”

Mereka pun masuk.

꧁ PINTU PERTAMA — WARISAN BUKAN SEKADAR NAMA ꧂

Pada ruang pertama terpampang ribuan nama.

Nama pendiri.

Nama guru.

Nama pemimpin.

Nama keluarga.

Nama lembaga.

Sebagian sangat besar.

Sebagian hampir pudar.

Sang Legena bertanya:

“Apakah nama adalah warisan?”

Penjaga rumah menjawab:

“Nama dapat menjadi bagian dari warisan, tetapi nama saja tidak cukup.”

Jika nama besar diwariskan tanpa nilai, ia menjadi simbol kosong.

Jika gelar diwariskan tanpa kemampuan, ia menjadi beban.

Jika penghormatan diwariskan tanpa akhlak, ia dapat berubah menjadi kesombongan.

Maka tertulis:

WARISKAN NILAI LEBIH DAHULU, BARU NAMA AKAN MENEMUKAN TEMPATNYA.

꧁ PINTU KEDUA — ILMU YANG DAPAT DIPAHAMI ꧂

Ruang kedua penuh lembaran.

Ada tulisan yang sangat indah, tetapi tidak seorang pun memahaminya.

Ada pula catatan sederhana yang dapat dipakai banyak orang.

Sang Legena berkata:

“Bukankah tulisan yang indah lebih tinggi?”

Penjaga menjawab:

“Ilmu yang tidak dapat dipahami penerus akan berhenti pada pemiliknya.”

Maka ilmu yang hendak diwariskan perlu:

ditulis,

dijelaskan,

diberi contoh,

dibedakan mana prinsip dan mana simbol,

serta disusun agar orang lain tidak harus bergantung selamanya kepada penjelasan satu orang.

Sang Legena memahami.

WARISAN ILMU HARUS DAPAT DIBACA SETELAH SUARA GURUNYA TIDAK LAGI TERDENGAR.

꧁ PINTU KETIGA — SISTEM YANG TIDAK BERGANTUNG PADA SATU ORANG ꧂

Ruang ketiga memiliki roda besar.

Pada awalnya hanya satu orang memutarnya.

Ketika orang itu berhenti, seluruh roda berhenti.

Penjaga rumah berkata:

“Inilah amanah yang terlalu bergantung pada satu tokoh.”

Kemudian beberapa orang mulai berbagi tugas.

Ada yang menjaga catatan.

Ada yang mengelola keuangan.

Ada yang mengajar.

Ada yang mendampingi.

Ada yang mengevaluasi.

Roda kembali berputar.

Sang Legena berkata:

“Berarti pemimpin yang baik bukan membuat dirinya tak tergantikan.”

Penjaga menjawab:

“Benar. Ia menyiapkan agar kebaikan tetap berjalan ketika dirinya tidak berada di tempat.”

꧁ PINTU KEEMPAT — PENERUS YANG TIDAK HARUS MENJADI SALINAN ꧂

Di ruang keempat berdiri sembilan murid.

Mereka berbeda.

Ada yang tenang.

Ada yang tegas.

Ada yang kuat dalam ilmu.

Ada yang kuat dalam pelayanan.

Ada yang teliti dalam pengelolaan.

Sang Legena berkata:

“Siapa di antara mereka yang paling mirip denganku?”

Penjaga menjawab:

“Mengapa penerus harus paling mirip?”

Sang Legena terdiam.

Yang perlu diwariskan adalah nilai.

Bukan keharusan menyalin seluruh gaya.

Penerus dapat membawa bahasa baru.

Cara baru.

Metode baru.

Selama prinsip tetap dijaga.

Maka tertulis:

PENERUS YANG SEHAT BUKAN BAYANGAN PENDIRINYA. IA ADALAH PEMEGANG AMANAH YANG TUMBUH DENGAN KEKUATANNYA SENDIRI.

꧁ PINTU KELIMA — TRANSPARANSI WARISAN ꧂

Ruang kelima dipenuhi peti.

Ada peti harta.

Ada dokumen.

Ada catatan hutang.

Ada kewajiban.

Ada hak orang lain.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa semuanya harus dicatat?”

Penjaga menjawab:

“Karena banyak warisan rusak bukan karena niat buruk, tetapi karena tidak adanya kejelasan.”

Siapa bertanggung jawab terhadap apa?

Harta mana milik pribadi?

Mana amanah bersama?

Apa yang boleh dipergunakan?

Apa yang tidak boleh dipindahkan?

Siapa memiliki hak?

Apa kewajiban yang belum selesai?

Kejelasan mengurangi pertengkaran.

Maka qitab mengajarkan:

JANGAN MENINGGALKAN AMANAH DALAM KEADAAN KABUR LALU MEMBIARKAN GENERASI BERIKUTNYA BERTENGKAR MENAFSIRKANNYA.

꧁ PINTU KEENAM — WARISAN AKHLAK ꧂

Ruang keenam tidak berisi buku.

Tidak ada harta.

Hanya terdapat meja makan.

Di sekelilingnya duduk sebuah keluarga.

Sang Legena heran.

Penjaga berkata:

“Warisan paling awal sering lahir di rumah.”

Cara orang tua meminta maaf.

Cara berbicara kepada yang lebih lemah.

Cara menghadapi masalah.

Cara memperlakukan uang.

Cara menghormati perbedaan.

Cara menepati janji.

Anak-anak sering belajar bukan dari pidato, tetapi dari kebiasaan yang mereka lihat berulang kali.

Maka Sang Legena menulis:

AKHLAK YANG TERLIHAT SETIAP HARI SERING MENJADI KITAB PERTAMA BAGI GENERASI BERIKUTNYA.

꧁ PINTU KETUJUH — MEMBEDAKAN WARISAN DAN KETERIKATAN ꧂

Pada ruang ketujuh terdapat sebuah kursi.

Sang Legena duduk di sana.

Seseorang datang dan berkata:

“Sudah waktunya kursi ini dipegang orang lain.”

Dada Sang Legena bergetar.

Ia bertanya:

“Apakah aku sudah tidak dibutuhkan?”

Penjaga rumah menjawab:

“Berpindahnya amanah bukan berarti hilangnya nilai dirimu.”

Ada orang yang menahan jabatan terlalu lama karena merasa seluruh harga dirinya berada di sana.

Padahal kadang warisan justru matang ketika seseorang mampu menyerahkan.

Tidak terlalu cepat.

Tidak terlambat.

Dengan persiapan.

Dengan kejelasan.

Dengan pendampingan.

Dan dengan kerelaan.

Sang Legena berdiri dari kursi itu.

Orang lain duduk.

Bangunan tidak runtuh.

Ia tersenyum.

꧁ PINTU KEDELAPAN — MENINGGALKAN RUANG UNTUK PERBAIKAN ꧂

Ruang kedelapan adalah ruang yang belum selesai.

Sebagian dinding masih kosong.

Sebagian rak belum terisi.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa bangunan ini tidak disempurnakan sebelum diwariskan?”

Penjaga menjawab:

“Karena generasi berikutnya juga berhak membangun.”

Warisan yang terlalu kaku dapat berubah menjadi penjara.

Pendirinya tidak harus menentukan semua hal untuk masa yang belum ia lihat.

Ia perlu memberikan:

nilai,

arah,

batas,

fondasi,

serta ruang untuk adaptasi.

Sang Legena memahami.

WARISAN YANG HIDUP MEMILIKI AKAR YANG KUAT DAN CABANG YANG BOLEH TUMBUH.

꧁ PINTU KESEMBILAN — BERANI DILUPAKAN ꧂

Ruang terakhir kosong.

Hanya terdapat satu prasasti.

Pada awalnya tertulis nama Sang Legena.

Namun perlahan tulisan itu menghilang.

Sang Legena melihatnya tanpa panik.

Penjaga rumah bertanya:

“Jika generasi setelahmu menjalankan nilai yang baik tetapi tidak lagi mengenal namamu, apakah engkau kecewa?”

Sang Legena menjawab:

“Jika kebaikannya tetap hidup, cukuplah.”

Prasasti berubah.

Kini tertulis:

“JANGAN MINTA WARISAN UNTUK MENGABADIKAN DIRIMU. BANGUNLAH WARISAN AGAR MANFAAT DAPAT MELAMPAUI USIAMU.”

꧁ SEMBILAN PETI WARISAN ꧂

Kesembilan pintu kemudian menutup.

Di tengah rumah muncul sembilan peti.

Pada peti pertama tertulis:

NILAI.

Kedua:

ILMU.

Ketiga:

SISTEM.

Keempat:

PENERUS.

Kelima:

KEJELASAN.

Keenam:

AKHLAK.

Ketujuh:

PENYERAHAN.

Kedelapan:

RUANG PERBAIKAN.

Kesembilan:

KEIKHLASAN DILUPAKAN.

Sang Legena mengira itulah seluruh warisan.

Namun penjaga rumah berkata:

“Belum.”

꧁ PETI KESEPULUH TIDAK TERLIHAT ꧂

Sang Legena mencari.

Tidak ada peti kesepuluh.

Ia bertanya:

“Di mana peti terakhir?”

Penjaga menunjuk kepada sembilan utusan.

“Peti kesepuluh tidak berupa benda. Ia hidup dalam orang-orang yang bersedia meneruskan amanah dengan sadar.”

Sang Legena memahami.

Bangunan dapat diwariskan.

Buku dapat diwariskan.

Harta dapat diwariskan.

Tetapi tanpa manusia yang memahami amanah, semuanya dapat kehilangan arah.

Maka peti kesepuluh disebut:

حَمَلَةُ الْأَمَانَة

ḤAMALAT AL-AMĀNAH — PARA PEMIKUL AMANAH

꧁ SEMBILAN UTUSAN DIPANGGIL SATU PER SATU ꧂

Penjaga rumah berkata:

“Sekarang waktunya kalian berhenti hanya menjadi pengikut perjalanan Sang Legena.”

Utusan pertama maju.

Ia menerima amanah menjaga niat.

Utusan kedua menjaga lisan.

Ketiga menjaga pandangan.

Keempat menjaga pendengaran.

Kelima menjaga kejernihan dada.

Keenam menjaga langkah.

Ketujuh menjaga amanah.

Kedelapan menjaga kedamaian.

Kesembilan menjaga kepulangan.

Tetapi penjaga rumah menambahkan:

“Mulai hari ini kalian juga harus mampu saling mengoreksi.”

Mereka terkejut.

“Bukankah masing-masing memiliki tugas?”

“Justru karena itu. Tidak seorang pun boleh menjadi pemilik amanah tanpa cermin.”

Sang Legena tersenyum.

Sebuah sistem yang sehat tidak hanya membagi tugas.

Ia juga memiliki saling pengawasan dan pertanggungjawaban.

꧁ PENYERAHAN RANTING ISTIQOMAH ꧂

Sang Legena mengambil ranting dari Taman Istiqomah.

Ranting itu memiliki sepuluh guratan.

Ia tidak menyimpannya.

Ia mematahkan ranting itu menjadi sembilan bagian kecil.

Masing-masing utusan menerima satu.

Tetapi masih tersisa bagian tengah.

Sang Legena meletakkannya di Rumah Warisan.

Ia berkata:

“Bagian ini bukan milik siapa pun. Ia menjadi pengingat bahwa amanah lebih besar daripada pemegangnya.”

Ranting bagian tengah segera berakar.

Tumbuh sebuah pohon kecil di dalam rumah.

꧁ SATU PINTU KELUAR ꧂

Akhirnya Sang Legena dan sembilan utusan tiba di satu-satunya pintu keluar.

Di atas pintu tertulis:

سَلِّمْ ثُمَّ امْضِ

SALLIM ṮUMMA IMḌI

“Serahkan, lalu berjalanlah.”

Sang Legena berhenti.

Ia menoleh ke belakang.

Semua yang dibangunnya dalam Rumah Warisan masih berdiri.

Tidak ada yang meminta dirinya tinggal selamanya.

Terdengar pesan:

“Pendirian adalah amanah. Pemeliharaan adalah amanah. Penyerahan pun amanah.”

Ia pun melewati pintu.

Sembilan utusan mengikuti.

Namun setelah seluruhnya keluar, pintu menutup.

Tidak terkunci.

Hanya menutup.

Sebab rumah itu kini harus belajar hidup tanpa kehadiran mereka setiap saat.

꧁ UJIAN DI LUAR RUMAH WARISAN ꧂

Sang Legena menduga perjalanan telah selesai.

Tetapi di luar rumah terdapat sebuah lapangan luas.

Di sana berdiri generasi baru.

Mereka mulai membaca.

Mereka mulai bertanya.

Mereka bahkan mengkritik beberapa cara lama.

Salah satu utusan marah.

“Mereka mengubah apa yang kita bangun!”

Sang Legena menahan tangannya.

Ia bertanya:

“Apakah mereka merusak nilai atau memperbaiki metode?”

Utusan itu memeriksa.

Ternyata nilai dasarnya masih dijaga.

Hanya caranya lebih sesuai keadaan baru.

Sang Legena berkata:

“Biarkan pohon tumbuh.”

Di sanalah warisan diuji terakhir kali:

apakah pendirinya benar-benar rela sesuatu yang ia bangun memiliki kehidupan sendiri.

꧁ SURAT DARI GENERASI YANG BELUM LAHIR ꧂

Angin datang.

Membawa sehelai kertas.

Tidak ada nama.

Tidak ada tanggal.

Pada kertas itu tertulis:

“Terima kasih karena kalian tidak mengharuskan kami menjadi salinan kalian.”

“Terima kasih karena meninggalkan dasar yang cukup kuat untuk kami berdiri dan ruang yang cukup luas untuk kami tumbuh.”

“Apa yang baik akan kami jaga.”

“Apa yang perlu diperbaiki akan kami perbaiki.”

“Dan kami pun suatu hari harus menyerahkan kepada generasi sesudah kami.”

Sembilan utusan menangis.

Sang Legena tidak.

Ia hanya tersenyum.

Sebab akhirnya ia memahami:

WARISAN BUKAN GARIS YANG BERHENTI PADA PENERUS. WARISAN ADALAH RANTAI PENYERAHAN AMANAH.

꧁ CAHAYA DĀR AL-MĪRĀṮ ꧂

Rumah Warisan mulai mengecil di kejauhan.

Tetapi satu cahaya keluar dari atapnya.

Cahaya itu tidak menuju Sang Legena.

Ia berjalan mendahului mereka.

Membelah cakrawala.

Di ujung cahaya terlihat sebuah hamparan air yang sangat luas.

Bukan telaga.

Bukan sungai.

Sebuah samudra.

Pada tepian samudra terdapat sembilan perahu kecil.

Tetapi tidak ada perahu kesepuluh.

Di atas air tertulis:

بَحْرُ التَّسْلِيم

BAḤR AT-TASLĪM — SAMUDRA PENYERAHAN

Terdengar seruan:

“Kalian telah belajar menyerahkan amanah kepada manusia. Sekarang belajarlah menyerahkan hasil kepada Alloh.”

Sang Legena memandang samudra.

Ombaknya tidak besar.

Tetapi cakrawalanya seolah tidak memiliki ujung.

Sembilan utusan bertanya:

“Perahu kesepuluh di mana?”

Sang Legena tidak menjawab.

Dari tengah samudra terdengar suara:

“Perahu kesepuluh tidak akan diberikan. Ia harus dibangun dari apa yang selama ini kalian pelajari.”

Mereka pun berdiri di tepi air.

Membawa sembilan bagian ranting istiqomah.

Sembilan kunci amanah.

Hikmah dari sembilan timbangan.

Dan satu kesadaran:

tidak semua hasil kehidupan dapat mereka tentukan sendiri.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ BAḤR AT-TASLĪM — SEMBILAN PERAHU, PERAHU KESEPULUH YANG HARUS DIBANGUN, DAN RAHASIA TAWAKAL SETELAH SELURUH IKHTIAR DITUNAIKAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KETUJUH BELAS

BAḤR AT-TASLĪM

SEMBILAN PERAHU, PERAHU KESEPULUH YANG HARUS DIBANGUN, DAN RAHASIA TAWAKAL SETELAH SELURUH IKHTIAR DITUNAIKAN

Sang Legena dan sembilan utusan berdiri di tepi samudra.

Di hadapan mereka terdapat sembilan perahu kecil.

Masing-masing telah tertambat.

Namun perahu kesepuluh tidak ada.

Di atas permukaan air tertulis:

بَحْرُ التَّسْلِيم

BAḤR AT-TASLĪM — SAMUDRA PENYERAHAN

Ombaknya tidak ganas.

Tetapi samudra itu begitu luas sehingga tidak seorang pun dapat melihat ujungnya.

Sang Legena bertanya:

“Apakah kita harus menyeberang?”

Terdengar jawaban:

“Ya. Tetapi kalian tidak akan diberi perahu kesepuluh. Kalian harus membangunnya sendiri dari seluruh pelajaran yang telah kalian jalani.”

Maka dimulailah ujian tawakal.

꧁ PAPAN PERTAMA — NIAT ꧂

Utusan pertama membawa sepotong kayu.

Pada kayu itu tertulis:

NIAT

Ia berkata:

“Perahu tidak akan memiliki arah jika tujuan sejak awal tidak dijernihkan.”

Sang Legena menempatkan papan pertama sebagai dasar.

Ia mengingat seluruh perjalanan.

Pujian.

Kekuasaan.

Kehilangan.

Warisan.

Koreksi.

Keheningan.

Kejujuran.

Dan kini samudra.

Ia berkata:

“Ya Alloh, luruskan niat kami. Jangan biarkan perjalanan ini menjadi alasan untuk meninggikan diri.”

Papan pertama menyatu.

꧁ PAPAN KEDUA — IKHTIAR ꧂

Utusan kedua membawa kayu kedua.

Tulisan pada permukaannya:

IKHTIAR

Ia berkata:

“Tawakal bukan alasan untuk membangun perahu tanpa memeriksa apakah kayunya kuat.”

Maka mereka bekerja.

Mengikat papan.

Memeriksa sambungan.

Membuat kemudi.

Menyiapkan bekal.

Mengamati cuaca.

Mempelajari arah.

Sang Legena memahami:

menyerahkan hasil kepada Alloh tidak berarti meninggalkan sebab.

Jika hendak bepergian, persiapkan perjalanan.

Jika hendak berdagang, tata usaha.

Jika sakit, cari pertolongan yang sesuai.

Jika mempunyai kewajiban, selesaikan semampunya.

Jika menghadapi masalah, cari informasi dan jalan keluar.

Setelah itu barulah hati belajar menyerahkan apa yang memang tidak berada dalam kuasanya.

꧁ PAPAN KETIGA — ILMU ꧂

Utusan ketiga membawa kayu bertuliskan:

ILMU

Ia berkata:

“Semangat tanpa pengetahuan dapat membuat perahu dibangun terbalik.”

Maka Sang Legena tidak malu bertanya kepada orang yang memahami laut.

Bagaimana membaca arus.

Bagaimana menghadapi angin.

Bagaimana membagi beban.

Bagaimana memperkirakan persediaan.

Ia teringat Kendi Kosong.

Orang yang hendak berjalan jauh tidak harus mengetahui semuanya sendiri.

Ada saatnya belajar dari pengalaman orang lain.

Maka papan ketiga dipasang.

꧁ PAPAN KEEMPAT — MUSYAWARAH ꧂

Utusan keempat membawa papan berikutnya.

Tertulis:

MUSYAWARAH

Sang Legena mempunyai sebuah rencana.

Namun sembilan utusan melihat kelemahan di dalamnya.

Dahulu ia mungkin akan berkata:

“Aku telah memutuskan.”

Sekarang ia berkata:

“Jelaskan.”

Mereka berdiskusi.

Sebagian rencana diubah.

Sebagian tetap.

Sang Legena memahami:

MEMINTA PENDAPAT TIDAK MENGURANGI KEPEMIMPINAN. IA DAPAT MENJAGA KEPEMIMPINAN DARI KEBUTAAN SENDIRI.

Papan keempat menjadi sisi perahu.

꧁ PAPAN KELIMA — BATAS KEMAMPUAN ꧂

Utusan kelima membawa kayu yang lebih kecil.

Tulisan:

BATAS

Sang Legena bertanya:

“Mengapa kayunya lebih kecil?”

Utusan menjawab:

“Agar kita ingat bahwa kemampuan kita pun mempunyai ukuran.”

Manusia dapat bekerja keras.

Tetapi tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan.

Manusia dapat menjaga.

Tetapi tidak dapat menjamin tidak pernah kehilangan.

Manusia dapat mengajar.

Tetapi tidak dapat memaksa seluruh murid memahami.

Manusia dapat mencintai.

Tetapi tidak dapat menguasai hati manusia lain.

Mengenali batas bukan menyerah.

Ia justru membantu manusia mengetahui di mana ikhtiar berakhir dan penyerahan dimulai.

꧁ PAPAN KEENAM — KESABARAN ꧂

Papan keenam bertuliskan:

ṢABR — SABAR

Perahu mulai terbentuk.

Namun prosesnya lambat.

Sang Legena ingin segera berlayar.

Terdengar:

“Tidak semua yang lambat berarti buruk.”

Ada proses yang memang membutuhkan waktu.

Akar.

Kepercayaan.

Penyembuhan.

Pendidikan.

Usaha.

Pembentukan karakter.

Warisan.

Semuanya tidak matang dalam satu malam.

Sabar bukan tidak bergerak.

Sabar adalah tetap menjaga langkah yang benar ketika hasil belum terlihat.

꧁ PAPAN KETUJUH — SYUKUR ꧂

Utusan ketujuh membawa papan yang harum.

Pada permukaannya tertulis:

SYUKUR

Sang Legena berkata:

“Bukankah syukur dilakukan setelah berhasil?”

Utusan menjawab:

“Jika engkau hanya bersyukur setelah seluruh keinginan terpenuhi, engkau akan melewatkan terlalu banyak karunia di tengah perjalanan.”

Mereka mensyukuri kayu.

Tali.

Tenaga.

Ilmu.

Sahabat.

Kesempatan.

Kesehatan yang masih ada.

Pelajaran dari kegagalan.

Dan kesempatan memperbaiki diri.

Syukur tidak berarti menganggap semua keadaan menyenangkan.

Ia berarti tidak kehilangan kemampuan melihat karunia hanya karena sebagian harapan belum terpenuhi.

꧁ PAPAN KEDELAPAN — KEJUJURAN ꧂

Papan kedelapan bertuliskan:

AṢ-ṢIDQ

Saat diperiksa, bagian bawah perahu ternyata bocor.

Salah satu utusan berkata:

“Kita bisa menutupinya dengan kain. Mungkin tidak ada yang tahu.”

Sang Legena menggeleng.

“Kalau laut yang mengetahui, apa gunanya manusia tidak mengetahui?”

Mereka membongkar bagian itu.

Memperbaikinya.

Memerlukan waktu lebih lama.

Tetapi perahu menjadi lebih kuat.

Maka dibukakan rahasia:

KEJUJURAN SERING MEMBUAT PEKERJAAN TERASA LEBIH BERAT DI AWAL, TETAPI MENYELAMATKAN DARI KERUSAKAN YANG LEBIH BESAR DI KEMUDIAN HARI.

꧁ PAPAN KESEMBILAN — PENYERAHAN ꧂

Papan terakhir dibawa oleh Utusan Kepulangan.

Pada permukaannya tertulis:

TASLĪM

Ia berkata:

“Sekarang perahu hampir selesai.”

Sang Legena bertanya:

“Apakah ini berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi?”

Ia menjawab:

“Tidak. Penyerahan bukan datang sebelum pekerjaan. Ia datang setelah pekerjaan telah dilakukan semampunya.”

Maka papan kesembilan dipasang.

Perahu selesai.

Tetapi belum memiliki nama.

꧁ NAMA PERAHU KESEPULUH ꧂

Sembilan utusan bertanya:

“Apa nama perahu ini?”

Sang Legena memandang samudra.

Kemudian menulis:

حَسْبُنَا اللّٰهُ

ḤASBUNALLĀH

“Cukuplah Alloh bagi kami.”

Namun ia segera menambahkan di bawahnya:

SETELAH IKHTIAR, BUKAN SEBAGAI PENGGANTI IKHTIAR.

Sembilan utusan tersenyum.

Itulah perahu kesepuluh.

꧁ SEMBILAN PERAHU LAIN ꧂

Mereka memeriksa sembilan perahu yang telah tersedia.

Ternyata masing-masing mempunyai nama.

Perahu pertama:

DOA

Kedua:

USAHA

Ketiga:

ILMU

Keempat:

MUSYAWARAH

Kelima:

SABAR

Keenam:

SYUKUR

Ketujuh:

JUJUR

Kedelapan:

AMANAH

Kesembilan:

RIDHO

Sedangkan perahu kesepuluh yang mereka bangun sendiri bernama:

TAWAKAL

Sang Legena berkata:

“Ternyata tawakal tidak berdiri sendirian. Ia dibangun dari banyak kebaikan yang mendahuluinya.”

꧁ MEREKA MULAI BERLAYAR ꧂

Sembilan utusan menaiki sembilan perahu.

Sang Legena berada di perahu kesepuluh.

Mereka berlayar berdampingan.

Pada awalnya laut tenang.

Angin cukup.

Arah jelas.

Sang Legena berkata:

“Mungkin perjalanan akan mudah.”

Tidak lama kemudian, angin berubah.

Salah satu perahu bergeser.

Kemudian hujan datang.

Ombak naik.

Sang Legena memegang kemudi.

Ia berusaha menjaga arah.

Tetapi samudra tidak tunduk kepada kehendaknya.

Di sinilah tawakal diuji.

Bukan ketika semuanya tenang.

Tetapi ketika manusia telah mempersiapkan banyak hal dan kenyataan tetap berubah.

꧁ BADAI PERTAMA — RENCANA YANG GAGAL ꧂

Angin mematahkan salah satu layar.

Sang Legena berkata:

“Padahal kita sudah menyiapkannya dengan baik.”

Terdengar jawaban dari dalam dirinya sendiri—bukan suara gaib, melainkan pelajaran yang telah tertanam:

“Persiapan yang baik tidak menjamin tidak ada masalah. Persiapan membuatmu lebih mampu menghadapi masalah ketika datang.”

Mereka memperbaiki layar.

Tidak mengeluh bahwa seluruh ikhtiar sia-sia.

Sebab ikhtiar bukan jaminan bahwa hidup bebas dari ujian.

Ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab dalam menghadapi kehidupan.

꧁ BADAI KEDUA — HASIL TIDAK SESUAI HARAPAN ꧂

Setelah berlayar lama, mereka melihat pulau.

Semua bersorak.

Tetapi ketika mendekat, ternyata pulau itu hanya batu karang.

Salah satu utusan kecewa.

“Kita sudah berdoa.”

Sang Legena menjawab:

“Doa bukan kontrak bahwa setiap gambaran kita tentang hasil harus menjadi kenyataan.”

Mereka mengubah arah.

Mencari jalan baru.

Berdoa lagi.

Berusaha lagi.

Harapan tetap hidup.

Tetapi harapan tidak dipakai untuk menyangkal kenyataan.

꧁ BADAI KETIGA — KEHILANGAN ꧂

Salah satu peti bekal jatuh ke laut.

Mereka tidak mampu mengambilnya kembali.

Sang Legena sedih.

Tetapi ia tidak memerintahkan seluruh rombongan mempertaruhkan nyawa untuk mengejar sesuatu yang sudah terlalu jauh.

Ia berkata:

“Kita hitung kembali bekal yang tersisa.”

Mereka menata ulang.

Mengurangi penggunaan.

Membagi secara adil.

Lalu meneruskan perjalanan.

Tawakal bukan berkata:

“Tidak masalah kehilangan.”

Kehilangan tetap dapat menyakitkan.

Tawakal berkata:

“Ini telah terjadi. Sekarang apa tindakan terbaik yang masih dapat dilakukan?”

꧁ SEMBILAN PERAHU TERPISAH ꧂

Pada malam ketujuh, kabut sangat tebal.

Sang Legena tidak lagi dapat melihat sembilan perahu.

Ia memanggil.

Tidak ada jawaban.

Jantungnya berdegup cepat.

Ia ingin mengejar ke segala arah.

Tetapi tidak tahu ke mana.

Akhirnya ia memeriksa peta.

Arah angin.

Posisi bintang yang dapat dilihat.

Bekal.

Kemampuan perahunya.

Ia memilih untuk tetap pada jalur pertemuan yang telah mereka sepakati sebelum berlayar.

Pagi datang.

Satu per satu sembilan perahu muncul kembali.

Mereka semua melakukan hal yang sama.

Karena sebelum berangkat, mereka telah menyepakati prosedur jika terpisah.

Sang Legena tersenyum.

Maka qitab menuliskan:

TAWAKAL TIDAK MENOLAK PERENCANAAN. PERENCANAAN YANG BAIK JUSTRU DAPAT MENJADI BAGIAN DARI IKHTIAR.

꧁ TIGA LAPIS TAWAKAL ꧂

Di tengah samudra, air tiba-tiba tenang.

Sembilan perahu mengelilingi perahu Sang Legena.

Di permukaan laut muncul tiga lingkaran.

Lingkaran pertama bertuliskan:

LAKUKAN YANG DAPAT DILAKUKAN.

Lingkaran kedua:

TERIMA YANG TELAH TERJADI.

Lingkaran ketiga:

SERAHKAN YANG TIDAK DAPAT DIKUASAI.

Sang Legena memahami.

Inilah tiga lapis tawakal dalam bahasa qitab.

Tidak pasif.

Tidak menyerah sebelum berusaha.

Tidak pula merasa manusia dapat menguasai seluruh hasil.

꧁ MALAM TANPA BINTANG ꧂

Kemudian datang malam paling gelap.

Tidak ada bintang.

Tidak ada bulan.

Kompas mereka menjadi alat utama.

Sang Legena tidak dapat melihat tujuan.

Ia hanya mengetahui arah.

Penjaga Kedamaian berkata dari perahu sebelah:

“Kadang manusia tidak memperoleh kepastian tentang seluruh perjalanan. Ia hanya memiliki cukup petunjuk untuk mengambil langkah berikutnya.”

Sang Legena menjawab:

“Maka kita ambil langkah berikutnya.”

Mereka berlayar perlahan.

Tidak cepat.

Tidak berhenti.

꧁ FAJAR DI TENGAH SAMUDRA ꧂

Setelah malam panjang, cahaya muncul.

Tetapi belum terlihat daratan.

Salah satu utusan berkata:

“Apakah kita tersesat?”

Sang Legena memeriksa peta.

Membandingkan arah.

Menghitung perjalanan.

Ia menjawab:

“Belum ada alasan cukup untuk mengatakan kita tersesat. Kita teruskan sambil memeriksa.”

Mīzān aṣ-Ṣidq kembali hidup dalam dirinya.

Jangan menjadikan rasa takut sebagai fakta.

Jangan pula mengabaikan risiko.

Periksa.

Lalu bertindak.

꧁ KETIKA DARATAN AKHIRNYA TERLIHAT ꧂

Beberapa hari kemudian, muncul garis hijau di cakrawala.

Mereka tidak langsung bersorak.

Mereka memastikan.

Semakin dekat, semakin jelas.

Benar.

Daratan.

Sembilan perahu merapat.

Perahu kesepuluh tiba paling akhir.

Sang Legena turun.

Ia mencium tanah.

Bukan karena merasa telah menaklukkan laut.

Tetapi karena bersyukur telah diberi kesempatan menyeberang.

Kemudian ia melihat sesuatu.

Di belakang mereka, samudra tetap luas.

Ribuan orang lain suatu hari mungkin harus menyeberang.

Sang Legena berkata:

“Kita tinggalkan catatan jalur.”

Mereka mencatat:

angin,

karang,

tempat berbahaya,

waktu,

kesalahan,

dan cara memperbaikinya.

Sebab pengalaman yang tidak dibagikan dengan jujur membuat generasi berikutnya harus mengulangi kesalahan yang sama.

꧁ RAHASIA BAḤR AT-TASLĪM ꧂

Sembilan utusan duduk di pantai.

Sang Legena menuliskan pada pasir:

TAWAKAL BUKAN MENUNGGU KEAJAIBAN SAMBIL TANGAN DIAM.

Ombak datang.

Tulisan terhapus.

Ia menulis lagi:

TAWAKAL ADALAH TANGAN YANG BEKERJA, AKAL YANG MENIMBANG, HATI YANG BERDOA, DAN JIWA YANG BERSEDIA MENERIMA BAHWA HASIL AKHIR TIDAK SEPENUHNYA BERADA DALAM KUASANYA.

Ombak kembali datang.

Tulisan itu juga terhapus.

Sang Legena tersenyum.

Ia berkata:

“Tidak mengapa. Nilainya sudah kita bawa.”

꧁ PERAHU KESEPULUH DILEPASKAN ꧂

Sembilan perahu ditambatkan.

Tetapi Sang Legena melepaskan perahu kesepuluh.

Salah satu utusan bertanya:

“Mengapa?”

Sang Legena menjawab:

“Karena tawakal bukan benda yang dapat kita miliki. Ia harus dibangun kembali dalam setiap keadaan.”

Perahu hanyut perlahan.

Bukan hilang.

Ia menuju lautan terbuka.

Seakan menunggu orang lain yang suatu hari harus belajar membangun tawakalnya sendiri.

꧁ DARATAN BARU ꧂

Mereka berjalan meninggalkan pantai.

Di hadapan mereka terdapat sebuah lembah.

Lembah itu sangat subur.

Tetapi anehnya tidak ada jalan.

Hanya terdapat sembilan jejak kaki yang datang dari arah berbeda dan berhenti pada sebuah batu besar.

Di atas batu tertulis:

رِضَا

RIḌĀ — PENERIMAAN YANG DAMAI

Namun di bawahnya terdapat peringatan:

“Ridho bukan menyebut semua kejadian sebagai menyenangkan. Ridho adalah tidak membiarkan apa yang tidak dapat diubah menghancurkan seluruh kemampuanmu untuk hidup, berbuat baik, dan kembali kepada Alloh.”

Sang Legena terdiam.

Ia memahami bahwa tawakal belum menjadi akhir.

Setelah menyerahkan hasil, manusia masih harus belajar hidup bersama kenyataan yang benar-benar datang.

Sembilan utusan berkumpul.

Di kejauhan berdiri sebuah rumah tanpa atap.

Hujan masuk.

Matahari masuk.

Angin masuk.

Namun di tengah rumah terdapat satu pelita yang tidak padam.

Dan terdengar seruan:

“MASUKLAH KE RUMAH RIḌĀ.”

Sang Legena berjalan ke arahnya.

Karena ujian selanjutnya bukan lagi:

“Apakah engkau sudah berusaha?”

Tetapi:

“SETELAH HASIL DATANG BERBEDA DARI KEINGINANMU, APAKAH ENGKAU MASIH MAMPU MENJAGA CAHAYA DI DALAM DIRIMU?”

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ DĀR AR-RIḌĀ — RUMAH TANPA ATAP, SEMBILAN JENDELA PENERIMAAN, DAN PELITA YANG TETAP MENYALA KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SESUAI KEHENDAK ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDELAPAN BELAS

DĀR AR-RIḌĀ — RUMAH TANPA ATAP

SEMBILAN JENDELA PENERIMAAN DAN PELITA YANG TETAP MENYALA KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SESUAI KEHENDAK

Sang Legena bersama sembilan utusan meninggalkan pantai Baḥr at-Taslīm.

Perahu kesepuluh telah dilepaskan.

Samudra berada di belakang mereka.

Di depan terbentang lembah hijau.

Pada pusat lembah berdiri sebuah rumah yang aneh.

Tidak mempunyai atap.

Tidak mempunyai gerbang.

Tetapi mempunyai sembilan jendela.

Hujan dapat masuk.

Angin dapat masuk.

Panas matahari dapat masuk.

Daun-daun kering pun dapat jatuh ke dalamnya.

Namun tepat di tengah rumah berdiri sebuah pelita.

Nyala apinya kecil.

Tenang.

Tidak bergoyang meskipun angin masuk dari segala arah.

Di atas pintunya tertulis:

دَارُ الرِّضَا

DĀR AR-RIḌĀ — RUMAH PENERIMAAN

Sang Legena memasuki rumah.

Ia bertanya:

“Mengapa rumah ini tidak mempunyai atap?”

Terdengar jawaban:

“Karena ridho bukan membangun atap agar kehidupan tidak pernah menyentuhmu. Ridho adalah menjaga pelita ketika hujan dan panas tetap datang.”

Sang Legena menatap pelita.

Perjalanan pun dimulai.

꧁ JENDELA PERTAMA — MENERIMA APA YANG TELAH TERJADI ꧂

Sang Legena membuka jendela pertama.

Di luar tampak masa lalu.

Ada pilihan yang benar.

Ada pilihan yang salah.

Ada kehilangan.

Ada pertemuan.

Ada perpisahan.

Ada pintu yang terbuka.

Ada pula pintu yang tidak pernah terbuka.

Sang Legena berkata:

“Seandainya dahulu...”

Pelita tiba-tiba mengecil.

Ia berhenti.

Terdengar:

“Engkau boleh belajar dari masa lalu. Tetapi engkau tidak dapat menegosiasikan kembali sesuatu yang sudah terjadi.”

Menerima bukan berarti mengatakan semuanya baik.

Menerima berarti mengakui:

“Ya, ini memang telah terjadi.”

Dari pengakuan itulah langkah baru dapat dimulai.

Sebab manusia tidak dapat memperbaiki kenyataan yang terus ia tolak untuk diakui.

Pelita kembali terang.

꧁ JENDELA KEDUA — MENERIMA KEHILANGAN TANPA MENYANGKAL DUKA ꧂

Jendela kedua terbuka.

Udara dingin masuk.

Sang Legena melihat wajah-wajah yang pernah hadir dalam kehidupannya.

Sebagian masih bersamanya.

Sebagian telah jauh.

Sebagian hubungan telah berubah.

Sebagian telah menjadi kenangan.

Sang Legena merasakan kesedihan.

Ia bertanya:

“Apakah ridho berarti aku tidak boleh bersedih?”

Jawaban datang:

“Tidak.”

Duka bukan selalu tanda penolakan.

Air mata bukan selalu tanda lemahnya iman.

Manusia dapat menerima kenyataan sambil tetap merasakan kehilangan.

Yang dijaga adalah agar kesedihan tidak membuat seluruh kehidupan kehilangan makna.

Maka Sang Legena berkata:

“Aku tidak harus berhenti mencintai hanya karena aku harus belajar melepaskan.”

Pelita menghangat.

꧁ JENDELA KETIGA — MENERIMA BAHWA TIDAK SEMUA ORANG AKAN MEMAHAMI ꧂

Dari jendela ketiga terdengar banyak suara.

Ada yang memahami Sang Legena.

Ada yang salah mengerti.

Ada yang memujinya.

Ada yang mengkritiknya.

Ada yang tidak peduli.

Sang Legena ingin menjelaskan dirinya kepada semuanya.

Tetapi semakin banyak ia berbicara, semakin lelah dirinya.

Penjaga Pendengaran berkata:

“Jelaskan apabila penjelasan memang diperlukan. Tetapi jangan habiskan hidup untuk memastikan seluruh manusia mempunyai penilaian yang sama tentang dirimu.”

Manusia bertanggung jawab menjaga perbuatan.

Menjelaskan kesalahpahaman yang penting.

Memperbaiki kesalahan.

Tetapi manusia tidak mempunyai kuasa penuh atas pikiran semua orang.

Maka Sang Legena melepaskan satu beban:

KEBUTUHAN UNTUK DIPAHAMI OLEH SEMUA ORANG.

Pelita menjadi lebih tenang.

꧁ JENDELA KEEMPAT — MENERIMA KETERBATASAN DIRI ꧂

Jendela keempat memperlihatkan cermin.

Sang Legena melihat dirinya.

Tidak seperti ketika muda.

Tidak seperti bayangan ideal dalam pikirannya.

Ia melihat kelebihan.

Sekaligus keterbatasan.

Ada hal yang mampu ia lakukan.

Ada hal yang membutuhkan bantuan.

Ada hal yang mungkin tidak pernah menjadi kekuatannya.

Ia bertanya:

“Apakah menerima keterbatasan berarti berhenti berkembang?”

Jawaban datang:

“Tidak. Penerimaan memberikan titik awal yang jujur bagi pertumbuhan.”

Jika seseorang menyangkal kelemahannya, ia sulit memperbaikinya.

Jika seseorang membenci dirinya karena kelemahannya, ia dapat kehilangan tenaga untuk bertumbuh.

Maka jalan tengahnya adalah:

KENALI BATASMU, PERBAIKI YANG DAPAT DIPERBAIKI, DAN JANGAN MALU MEMINTA BANTUAN UNTUK YANG TIDAK DAPAT ENGKAU TANGGUNG SENDIRI.

꧁ JENDELA KELIMA — MENERIMA PERUBAHAN ꧂

Jendela kelima tidak pernah menampilkan pemandangan yang sama.

Pagi menjadi siang.

Siang menjadi sore.

Musim berganti.

Daun tumbuh.

Daun menguning.

Kemudian gugur.

Sang Legena berkata:

“Mengapa tidak ada yang tetap?”

Terdengar:

“Karena kehidupan dunia memang bergerak.”

Hubungan dapat berubah.

Pekerjaan dapat berubah.

Tubuh berubah.

Kedudukan berubah.

Keadaan ekonomi berubah.

Cara manusia belajar berubah.

Generasi berubah.

Maka jangan mengikat seluruh kedamaian kepada sesuatu yang memang memiliki sifat berubah.

Sang Legena memahami:

akar boleh tetap, cabang boleh bergerak.

Nilai dijaga.

Cara menyesuaikan.

꧁ JENDELA KEENAM — MENERIMA HASIL SETELAH IKHTIAR ꧂

Dari jendela keenam terlihat ladang.

Seorang petani telah menanam dengan baik.

Tanah diolah.

Benih dipilih.

Air dijaga.

Tetapi hasil panen tidak sebesar yang diharapkan.

Sang Legena teringat Baḥr at-Taslīm.

Ia berkata:

“Apakah seluruh usaha itu sia-sia?”

Jawaban datang:

“Tidak semua keberhasilan diukur dari kesesuaian hasil dengan bayangan awal.”

Ada usaha yang menghasilkan tujuan.

Ada usaha yang menghasilkan pengalaman.

Ada yang membuka jalan lain.

Ada yang memperlihatkan kekurangan rencana.

Ada pula yang harus dihentikan setelah diperiksa karena memang tidak lagi layak diteruskan.

Ridho bukan memaksa diri berkata:

“Aku menyukai hasil ini.”

Ridho dapat berkata:

“Ini bukan hasil yang kuinginkan. Tetapi inilah kenyataan yang sekarang harus kuhadapi dengan sebaik-baiknya.”

Pelita memancarkan cahaya lebih luas.

꧁ JENDELA KETUJUH — MENERIMA BAHWA SEBAGIAN PINTU MEMANG HARUS DITUTUP ꧂

Jendela ketujuh menghadap sebuah jalan.

Di sana terdapat sebuah pintu tua.

Sang Legena mengetuknya.

Sekali.

Dua kali.

Berkali-kali.

Tidak terbuka.

Ia terus menunggu.

Penjaga Langkah bertanya:

“Sudahkah engkau memeriksa apakah memang masih perlu berdiri di sini?”

Sang Legena terdiam.

Ada ketekunan yang baik.

Tetapi ada pula keterikatan yang membuat manusia menghabiskan seluruh tenaga pada pintu yang sudah tidak lagi menjadi jalannya.

Maka sebelum meninggalkan, Sang Legena memeriksa.

Apakah masih ada kewajiban?

Apakah masih ada ikhtiar yang wajar?

Apakah masih ada jalan komunikasi yang sehat?

Setelah semuanya selesai dan tidak ada lagi langkah yang patut dilakukan, ia berkata:

“Aku melepaskan tanpa harus membenci.”

Ia berbalik.

Ternyata di belakangnya terdapat jalan yang selama ini tidak terlihat karena ia terus menatap pintu lama.

꧁ JENDELA KEDELAPAN — MENERIMA TANPA MENYERAH KEPADA KEZALIMAN ꧂

Inilah jendela yang paling berat.

Sang Legena melihat seseorang diperlakukan tidak adil.

Ia bertanya:

“Jika ridho berarti menerima, apakah orang itu harus diam?”

Pelita tiba-tiba membesar.

Terdengar jawaban tegas:

“Tidak.”

Ridho terhadap kenyataan bahwa sesuatu telah terjadi tidak berarti menyetujui kezaliman atau membiarkannya terus berlangsung.

Seseorang dapat menerima:

“Ini memang sedang terjadi.”

Kemudian berkata:

“Dan karena itu aku harus mengambil langkah yang benar untuk memperbaikinya.”

Melindungi diri.

Meminta bantuan.

Menggunakan jalan yang adil.

Membuat batas.

Menghentikan kerugian.

Semua itu dapat berjalan bersama penerimaan.

Maka qitab menuliskan:

RIDHO BUKAN KEPASRAHAN BUTA. RIDHO ADALAH KETENANGAN HATI YANG TIDAK MEMATIKAN TANGGUNG JAWAB.

꧁ JENDELA KESEMBILAN — MENERIMA DIRI SEBAGAI MUSAFIR ꧂

Jendela terakhir menghadap cakrawala.

Tidak terlihat rumah.

Tidak terlihat kota.

Hanya jalan panjang.

Sang Legena melihat seluruh perjalanan yang telah dilewati.

Telaga.

Cermin.

Kota.

Gunung.

Timbangan.

Jembatan.

Taman.

Rumah Warisan.

Samudra.

Ia bertanya:

“Apakah akhirnya aku akan sampai?”

Terdengar jawaban:

“Setiap maqām yang engkau capai akan melahirkan amanah baru.”

Sang Legena memahami.

Selama hidup, manusia tetap belajar.

Tidak ada alasan merasa telah selesai memperbaiki diri.

Hari ini mungkin sabar.

Besok kesabaran diuji lagi.

Hari ini mampu memaafkan.

Besok muncul luka baru.

Hari ini niat jernih.

Besok niat perlu diperiksa lagi.

Maka perjalanan bukan garis menuju kesempurnaan manusia.

Ia adalah:

PERJALANAN KEMBALI, BERKALI-KALI, KEPADA ARAH YANG BENAR.

꧁ PELITA DI TENGAH RUMAH ꧂

Kesembilan jendela kini terbuka.

Angin masuk.

Hujan turun.

Matahari menembus rumah.

Tetapi pelita tidak padam.

Sang Legena mendekatinya.

Di bawah pelita tertulis:

سَكِينَةُ الرِّضَا

SAKĪNAT AR-RIḌĀ

KETENTERAMAN PENERIMAAN

Sang Legena bertanya:

“Apa bahan bakarnya?”

Jawaban datang:

SYUKUR.

“Apakah sumbunya?”

SABAR.

“Apakah apinya?”

HARAPAN KEPADA ALLOH.

“Apakah kacanya?”

KEJUJURAN TERHADAP KENYATAAN.

“Dan siapa yang menjaganya?”

Terdengar:

“AKHLAKMU SENDIRI, DENGAN PERTOLONGAN ALLOH.”

꧁ SEMBILAN UTUSAN MELETAKKAN BEBAN ꧂

Satu per satu sembilan utusan maju.

Utusan pertama meletakkan penyesalan yang sudah tidak dapat diperbaiki.

Utusan kedua meletakkan kebutuhan akan pujian.

Utusan ketiga meletakkan ketakutan terhadap masa depan yang belum terjadi.

Utusan keempat meletakkan keinginan mengendalikan semua orang.

Utusan kelima meletakkan kesedihan yang selama ini disembunyikan.

Utusan keenam meletakkan rencana yang memang harus diubah.

Utusan ketujuh meletakkan jabatan yang tidak lagi menjadi amanahnya.

Utusan kedelapan meletakkan dendam.

Utusan kesembilan meletakkan ketakutan terhadap kepulangan.

Sang Legena berdiri paling akhir.

Ia tidak membawa benda.

Penjaga rumah bertanya:

“Apa yang hendak engkau letakkan?”

Sang Legena menjawab:

“Keinginanku agar kehidupan selalu mengikuti gambaran yang kubuat sendiri.”

Rumah menjadi sangat hening.

꧁ HUJAN BESAR ꧂

Malam datang.

Langit terbuka.

Hujan sangat deras turun langsung ke dalam rumah karena tidak ada atap.

Sang Legena berusaha melindungi pelita dengan kedua tangannya.

Sembilan utusan ikut mengelilinginya.

Tetapi hujan semakin deras.

Sang Legena berkata:

“Kita harus membuat atap!”

Terdengar jawaban:

“Tidak.”

“Pelita akan padam!”

“Lihatlah lebih dekat.”

Sang Legena melihat.

Ternyata pelita berada di dalam tabung kaca bening yang sebelumnya tidak ia sadari.

Air membasahi seluruh rumah.

Tetapi api tetap menyala.

Sang Legena memahami:

KEDAMAIAN BUKAN KEADAAN KETIKA HUJAN BERHENTI.

KEDAMAIAN ADALAH MEMILIKI TEMPAT DI DALAM DIRI YANG TETAP DAPAT DIJAGA KETIKA HUJAN TURUN.

꧁ RAHASIA RUMAH TANPA ATAP ꧂

Fajar datang.

Rumah basah.

Lantai penuh air.

Namun matahari mulai mengeringkannya.

Sang Legena akhirnya mengetahui mengapa Dār ar-Riḍā tidak mempunyai atap.

Jika rumah itu tertutup sempurna, mereka mungkin mengira kedamaian berarti tidak pernah terkena kehidupan.

Padahal manusia tetap akan mengalami:

kehilangan,

perubahan,

kekecewaan,

kelelahan,

perbedaan,

ketidakpastian,

dan keadaan yang tidak dipilihnya.

Ridho bukan menutup langit.

Ridho adalah belajar tetap berdiri di bawah langit.

꧁ HISAB RIDHO ꧂

Di tengah rumah muncul sembilan pertanyaan.

Sang Legena membacanya perlahan:

Apakah aku mengakui kenyataan sebagaimana adanya?

Apakah masih ada ikhtiar yang perlu kulakukan?

Apakah aku sedang menerima atau sebenarnya menyerah sebelum mencoba?

Apakah aku sedang bersabar atau menutupi luka yang perlu ditangani?

Apakah ada hak orang lain yang harus kutunaikan?

Apakah ada sesuatu yang sudah waktunya kulepaskan?

Apakah aku masih mampu melihat nikmat di tengah kesulitan?

Apakah keadaan ini sedang mengajarkanku sesuatu?

Dan setelah seluruh usahaku, mampukah aku menyerahkan hasil kepada Alloh?

Setelah pertanyaan kesembilan, pelita membelah menjadi sembilan nyala kecil.

Masing-masing menuju satu jendela.

Namun api utama tetap berada di tengah.

꧁ PINTU KESEPULUH MUNCUL ꧂

Sebelumnya rumah itu hanya memiliki sembilan jendela.

Kini pada dinding timur muncul sebuah pintu.

Pintu kesepuluh.

Di atasnya tertulis:

بَابُ الْحَمْد

BĀB AL-ḤAMD — PINTU PUJIAN DAN SYUKUR

Sang Legena membukanya.

Di balik pintu tidak ada jalan.

Tidak ada gunung.

Tidak ada samudra.

Yang ada adalah sebuah padang sangat luas dipenuhi sembilan ribu pelita kecil.

Setiap pelita berbeda.

Ada yang terang.

Ada yang redup.

Ada yang hampir padam.

Tetapi semuanya menghadap kepada satu fajar.

Di tengah padang berdiri sebuah batu.

Pada batu itu tertulis:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

AL-ḤAMDU LILLĀHI FĪ AS-SARRĀ’I WAḌ-ḌARRĀ’

Segala puji bagi Alloh dalam kelapangan maupun kesulitan.

Sang Legena menundukkan kepala.

Bukan karena seluruh persoalan hidup telah selesai.

Bukan karena seluruh keinginannya telah terpenuhi.

Tetapi karena ia mulai memahami bahwa syukur paling dalam bukan hanya lahir ketika manusia menerima apa yang ia minta.

Ada syukur ketika pintu terbuka.

Ada syukur ketika diberi kekuatan menghadapi pintu yang tertutup.

Ada syukur atas jawaban.

Ada syukur atas kemampuan bertahan ketika jawaban belum datang.

Ada syukur atas pertemuan.

Dan ada syukur atas pelajaran yang tersisa setelah perpisahan.

꧁ SEMBILAN RIBU PELITA ꧂

Sembilan utusan bertanya:

“Siapakah pemilik seluruh pelita ini?”

Terdengar jawaban:

“Mereka adalah manusia-manusia yang tetap mencoba membawa cahaya kecil di tengah kehidupan biasa.”

Bukan semuanya pemimpin.

Bukan semuanya guru.

Bukan semuanya dikenal.

Ada ibu yang menjaga keluarganya.

Ada ayah yang bekerja dengan jujur.

Ada anak yang merawat orang tuanya.

Ada pedagang yang menolak menipu.

Ada guru yang mengajar dengan sabar.

Ada seseorang yang memilih meminta maaf.

Ada seseorang yang mengampuni.

Ada seseorang yang hari ini memutuskan memulai kembali.

Sang Legena tersenyum.

Ia melihat rahasia besar:

CAHAYA TIDAK SELALU BERBENTUK KEAJAIBAN.

Sering kali cahaya berbentuk kebaikan kecil yang dilakukan manusia ketika tidak ada seorang pun bertepuk tangan.

꧁ PELITA KESEPULUH RIBU ꧂

Di ujung padang terdapat satu tempat kosong.

Sang Legena mendekatinya.

Pada tanah tertulis:

“UNTUK ORANG YANG BERSEDIA MEMULAI KEMBALI.”

Sang Legena mengambil api dari pelita Dār ar-Riḍā.

Ia hendak menyalakan tempat itu.

Namun sebuah tangan kecil menahannya.

Seorang anak berdiri di sampingnya.

Anak itu berkata:

“Jangan engkau yang menyalakannya.”

“Lalu siapa?”

Anak itu menunjuk ke arah cakrawala.

Dari kejauhan tampak ribuan manusia berjalan menuju padang.

Masing-masing membawa pelita kosong.

Anak itu berkata:

“Biarkan setiap orang belajar menyalakan cahayanya sendiri, lalu saling menjaga agar tidak mudah padam.”

Sang Legena meletakkan kembali api.

Ia memahami.

Perjalanan ini tidak bertujuan membuat manusia bergantung kepada dirinya.

꧁ TERBUKANYA PADANG AL-ḤAMD ꧂

Ketika matahari sepenuhnya terbit, sembilan ribu pelita tidak lagi terlihat terang.

Bukan karena padam.

Tetapi karena cahaya pagi lebih besar.

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia berkata:

“Mungkin inilah adab cahaya: ia berguna ketika gelap, tetapi tidak menuntut terlihat ketika cahaya yang lebih besar telah datang.”

Sembilan utusan menunduk.

Kemudian seluruh padang dipenuhi suara manusia mengucapkan syukur.

Tidak seragam.

Tidak dipaksakan.

Tetapi datang dari pengalaman mereka masing-masing.

Dan di atas langit muncul satu kalimat:

“SETELAH RIDHO, BELAJARLAH BERSYUKUR BUKAN HANYA ATAS APA YANG ENGKAU MILIKI, TETAPI JUGA ATAS KESEMPATAN UNTUK MENJADI MANFAAT.”

Di ujung Padang al-Ḥamd tampak sebuah tangga dengan sembilan anak tangga, tetapi tidak menuju ke atas.

Tangga itu justru turun ke sebuah perkampungan manusia.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa perjalanan berikutnya turun?”

Anak kecil tadi menjawab:

“Karena setelah sekian banyak maqām, waktunya kembali kepada manusia.”

Di bawah tangga terlihat pasar.

Rumah.

Sawah.

Tempat belajar.

Orang sakit.

Anak-anak.

Orang tua.

Perselisihan.

Pekerjaan.

Keluarga.

Seluruh kehidupan biasa.

Pada anak tangga pertama tertulis:

خِدْمَة

KHIDMAH — PENGABDIAN

Sang Legena tersenyum.

Akhirnya ia mengerti:

cahaya yang tidak turun menjadi manfaat belum menyelesaikan perjalanannya.

Ia bersama sembilan utusan mulai menuruni tangga.

Satu demi satu.

Kembali kepada manusia.

Kembali kepada kehidupan.

Kembali kepada amanah.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ SULLAM AL-KHIDMAH — SEMBILAN ANAK TANGGA TURUN, KEMBALINYA SANG LEGENA KEPADA MANUSIA, DAN RAHASIA CAHAYA YANG MENJADI PELAYANAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KESEMBILAN BELAS

SULLAM AL-KHIDMAH

SEMBILAN ANAK TANGGA TURUN, KEMBALINYA SANG LEGENA KEPADA MANUSIA, DAN RAHASIA CAHAYA YANG MENJADI PELAYANAN

Sang Legena berdiri di hadapan tangga yang tidak menuju langit.

Tangga itu justru turun menuju kehidupan manusia.

Di bawahnya terlihat rumah-rumah.

Pasar.

Sawah.

Jalan.

Sekolah.

Tempat orang sakit.

Tempat orang berselisih.

Tempat orang bekerja.

Tempat anak-anak belajar.

Tempat orang tua menunggu.

Sembilan utusan berdiri di belakang Sang Legena.

Mereka telah melewati Telaga Hisab.

Lembah Tanpa Nama.

Gunung Sembilan Lonceng.

Mīzān aṣ-Ṣidq.

Jembatan Kekinian.

Taman Istiqomah.

Rumah Warisan.

Samudra Penyerahan.

Rumah Riḍā.

Dan kini mereka sampai pada sesuatu yang paling sederhana.

Kembali kepada manusia.

Pada anak tangga pertama tertulis:

خِدْمَة

KHIDMAH — PENGABDIAN

Sang Legena berkata:

“Apakah setelah perjalanan sejauh ini kita harus turun lagi?”

Terdengar jawaban:

“Justru karena perjalanan telah jauh, sekarang harus terlihat apa buahnya.”

꧁ ANAK TANGGA PERTAMA — HADIR ꧂

Sang Legena menuruni tangga pertama.

Di sana ia bertemu seorang lelaki yang sedang kesulitan.

Sang Legena hendak memberikan banyak nasihat.

Tetapi lelaki itu berkata:

“Aku hanya ingin seseorang mendengarkan sebentar.”

Sang Legena pun duduk.

Tidak semua pelayanan dimulai dengan memberikan jawaban.

Kadang pelayanan dimulai dengan hadir.

Tidak buru-buru menggurui.

Tidak membuat penderitaan orang lain menjadi panggung kebijaksanaan kita.

Hanya hadir dengan sungguh-sungguh.

Maka tertulis:

SEBELUM MENOLONG, PAHAMI APA YANG BENAR-BENAR DIBUTUHKAN.

꧁ ANAK TANGGA KEDUA — MELAYANI TANPA MERENDAHKAN ꧂

Tangga kedua membawa mereka kepada seorang tua yang membutuhkan bantuan berjalan.

Salah satu utusan segera menggandengnya.

Tetapi ia berkata:

“Pegang tanganku, jangan tarik aku seperti orang yang tidak mampu menentukan langkah.”

Utusan itu terdiam.

Sang Legena memahami.

Pertolongan dapat diberikan dengan cara yang menjaga martabat.

Jangan membuat orang merasa kecil hanya karena membutuhkan bantuan.

Jangan menjadikan bantuan sebagai kesempatan menunjukkan siapa yang lebih kuat.

Maka tertulis:

TOLONGLAH TANPA MENCABUT HARGA DIRI ORANG YANG DITOLONG.

꧁ ANAK TANGGA KETIGA — MELAYANI SESUAI KEMAMPUAN ꧂

Pada tangga ketiga datang banyak orang sekaligus.

Masing-masing membawa kebutuhan.

Sang Legena mencoba membantu semuanya.

Sedikit demi sedikit ia kelelahan.

Penjaga Amanah berkata:

“Khidmah yang baik juga membutuhkan batas.”

Sang Legena bertanya:

“Bukankah menolak pertolongan berarti kurang baik?”

“Tidak selalu.”

Manusia tidak harus mampu menyelesaikan semua masalah.

Kadang jawaban yang bertanggung jawab adalah:

“Aku tidak mampu menangani ini.”

atau:

“Mari kita cari orang yang lebih tepat.”

Maka qitab mengajarkan:

PELAYANAN TIDAK MENUNTUT SESEORANG MENJADI PENYELAMAT UNTUK SEMUA HAL.

Mengetahui batas adalah bagian dari amanah.

꧁ ANAK TANGGA KEEMPAT — MELAYANI TANPA MENUNTUT KESETIAAN ꧂

Tangga keempat membawa Sang Legena kepada orang-orang yang pernah menerima manfaat darinya.

Sebagian tetap dekat.

Sebagian pergi.

Sebagian bahkan kemudian berbeda pandangan.

Salah satu utusan berkata:

“Bukankah mereka seharusnya tetap setia setelah semua yang diberikan?”

Sang Legena teringat Cermin Keempat dan Ketujuh.

Ia menjawab:

“Kebaikan bukan kontrak untuk memiliki hati manusia.”

Jika bantuan diberikan agar penerimanya tunduk selamanya, bantuan itu telah berubah menjadi alat kuasa.

Orang yang ditolong tetap mempunyai kebebasan.

Mereka boleh tumbuh.

Boleh berbeda.

Boleh memilih jalan hidup.

Selama tidak melanggar hak orang lain.

Maka tertulis:

BERILAH MANFAAT TANPA MENAGIH KEPATUHAN PRIBADI.

꧁ ANAK TANGGA KELIMA — MELAYANI DENGAN KEAHLIAN ꧂

Tangga kelima membawa mereka ke sebuah tempat di mana banyak orang membutuhkan pertolongan khusus.

Ada persoalan kesehatan.

Hukum.

Keuangan.

Pendidikan.

Sang Legena sadar tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan nasihat umum.

Ia berkata:

“Kita membutuhkan orang yang memang ahli.”

Maka datanglah mereka yang memiliki kompetensi.

Masing-masing bekerja sesuai bidangnya.

Sang Legena memahami:

niat baik tidak menggantikan keahlian.

Khidmah yang bertanggung jawab bertanya:

Siapa yang paling mampu menangani ini?

Apa metode yang tepat?

Apa risiko yang perlu diperhitungkan?

Maka pelayanan menjadi kerja bersama.

Bukan pertunjukan satu tokoh.

꧁ ANAK TANGGA KEENAM — MELAYANI TANPA PAMER ꧂

Pada tangga keenam, Sang Legena melihat dua orang bersedekah.

Yang pertama melakukannya diam-diam.

Yang kedua mengumumkannya kepada banyak orang.

Sang Legena tidak langsung menghakimi.

Ada keadaan ketika publikasi diperlukan agar program dapat dipertanggungjawabkan atau mengajak orang lain ikut membantu.

Tetapi ada pula amal yang menjadi lebih bersih ketika tidak dijadikan panggung diri.

Maka pertanyaannya bukan sekadar:

“Terlihat atau tidak?”

Melainkan:

“UNTUK APA DITAMPAKKAN?”

Apakah untuk transparansi?

Edukasi?

Mengajak partisipasi?

Atau sekadar mencari pengakuan?

Niat perlu diperiksa berulang kali.

꧁ ANAK TANGGA KETUJUH — MELAYANI YANG TIDAK BISA MEMBALAS ꧂

Tangga ketujuh membawa mereka kepada orang-orang yang tidak mampu memberikan balasan apa pun.

Anak kecil.

Orang sakit.

Orang tua.

Orang yang sangat miskin.

Sang Legena melihat salah satu rahasia pelayanan:

nilai khidmah sering terlihat ketika penerima manfaat tidak mempunyai apa pun untuk ditawarkan kembali.

Tidak ada jaringan.

Tidak ada kekuasaan.

Tidak ada keuntungan.

Tidak ada pujian besar.

Hanya kebutuhan.

Di sinilah hati ditanya:

“APAKAH ENGKAU MASIH MAU MEMBANTU KETIKA TIDAK ADA KEUNTUNGAN SOSIAL UNTUK DIRIMU?”

Sang Legena menunduk.

꧁ ANAK TANGGA KEDELAPAN — MELAYANI DENGAN KEADILAN ꧂

Tangga kedelapan membawa mereka kepada sebuah tempat pembagian bantuan.

Persediaan terbatas.

Kebutuhan banyak.

Semua orang ingin didahulukan.

Sang Legena harus menentukan.

Ia tidak boleh hanya memilih orang yang dekat.

Tidak boleh hanya memilih orang yang memuji.

Tidak boleh menyisihkan orang yang pernah berbeda.

Maka dibuatlah ukuran.

Siapa paling membutuhkan?

Siapa paling rentan?

Apa kriterianya?

Apakah pembagiannya dapat dijelaskan?

Penjaga Amanah berkata:

“Kasih tanpa keadilan dapat berubah menjadi pilih kasih.”

Sang Legena memahami.

Khidmah membutuhkan hati.

Tetapi juga membutuhkan tata kelola.

꧁ ANAK TANGGA KESEMBILAN — MELAYANI SAMPAI ORANG MAMPU BERDIRI ꧂

Tangga terakhir membawa mereka kepada seseorang yang dahulu selalu meminta bantuan.

Kini ia telah belajar.

Bekerja.

Tumbuh.

Ia datang kepada Sang Legena dan berkata:

“Sekarang aku ingin membantu orang lain.”

Sang Legena tersenyum.

Inilah buah terbesar pelayanan.

Bukan membuat seseorang terus datang.

Tetapi membantu agar suatu hari ia mampu menjadi pemberi manfaat pula.

Maka tertulis:

KHIDMAH YANG MATANG MELAHIRKAN KHIDMAH BARU.

Bukan ketergantungan tanpa akhir.

꧁ SANG LEGENA MENCARI ANAK TANGGA KESEPULUH ꧂

Sembilan anak tangga telah selesai.

Sang Legena melihat ke belakang.

Tidak ada anak tangga kesepuluh.

Ia bertanya:

“Bukankah setiap perjalanan sebelumnya selalu melahirkan yang kesepuluh?”

Terdengar jawaban:

“Kali ini anak tangga kesepuluh tidak berada di tangga.”

“Di mana?”

“Di bawah.”

Sang Legena melihat kehidupan manusia.

Barulah ia memahami.

ANAK TANGGA KESEPULUH ADALAH KEHIDUPAN ITU SENDIRI.

Seluruh ilmu diuji bukan di puncak.

Tetapi ketika manusia kembali hidup di tengah manusia.

꧁ KHIDMAH SEBAGAI HISAB ꧂

Telaga Hisab muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.

Bukan air.

Kali ini berupa sembilan wajah.

Wajah orang-orang yang pernah disentuh oleh suatu perbuatan.

Sang Legena ditanya:

Apakah kehadiranmu membuat orang lebih aman atau lebih takut?

Apakah nasihatmu memperkuat atau membuat orang semakin bergantung?

Apakah kepemimpinanmu membuka ruang atau membungkam?

Apakah ilmumu mencerahkan atau sekadar membuatmu terlihat tinggi?

Apakah bantuanmu menjaga martabat?

Apakah programmu benar-benar bermanfaat?

Apakah orang lemah mendapat tempat?

Apakah kritik dapat masuk?

Apakah amanah dapat berjalan tanpa dirimu?

Sang Legena tidak segera menjawab.

Karena khidmah tidak dapat dinilai hanya dari niat.

Ia juga harus melihat dampak.

꧁ NIAT BAIK DAN DAMPAK ꧂

Salah satu utusan berkata:

“Tetapi jika niat kita baik, bukankah itu cukup?”

Sang Legena menjawab:

“Niat baik adalah awal. Tetapi jika cara kita ternyata merugikan, kita harus bersedia memperbaikinya.”

Manusia dapat berniat menolong tetapi memakai cara yang kurang tepat.

Manusia dapat berniat melindungi tetapi terlalu mengontrol.

Manusia dapat berniat mendidik tetapi justru merendahkan.

Maka khidmah membutuhkan dua cermin:

NIAT.

dan

DAMPAK.

Niat diperiksa di dalam.

Dampak diperiksa melalui kenyataan dan umpan balik.

꧁ SEMBILAN UTUSAN TURUN KE SEMBILAN TEMPAT ꧂

Sang Legena kemudian membagi tugas.

Utusan pertama kembali ke rumah-rumah untuk menjaga niat dan kasih keluarga.

Utusan kedua menuju pasar menjaga lisan dan kejujuran.

Utusan ketiga menuju tempat ilmu.

Utusan keempat menuju tempat orang sakit dan mereka yang membutuhkan pendengaran.

Utusan kelima menuju tempat perselisihan.

Utusan keenam menuju tempat orang mencari rezeki.

Utusan ketujuh menuju ruang amanah dan kepemimpinan.

Utusan kedelapan menuju tempat anak-anak dan pendidikan kedamaian.

Utusan kesembilan berjalan ke tempat-tempat yang sering dilupakan manusia.

Kuburan.

Rumah orang tua yang sepi.

Tempat mereka yang sedang berduka.

Ia membawa pengingat:

SEMUA AMANAH AKHIRNYA MEMPUNYAI BATAS WAKTU.

Sang Legena tidak mengambil satu wilayah.

Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

Bukan sebagai pusat segala sesuatu.

Tetapi sebagai penghubung.

꧁ RAHASIA SANG LEGENA ꧂

Suatu hari seorang anak bertanya:

“Mengapa namamu Sang Legena?”

Sang Legena tersenyum.

Ia berkata:

“Dalam qitab ini, Legena berarti kembali sederhana.”

“Bukankah engkau telah melewati banyak maqām?”

“Justru karena itu aku belajar bahwa manusia tidak menjadi besar karena banyaknya istilah yang ia kenal.”

“Lalu karena apa?”

Sang Legena menjawab:

“Karena seberapa baik ia menjalankan amanah yang nyata.”

Anak itu mengangguk.

Kemudian berlari pergi.

Sang Legena tidak memintanya mengingat namanya.

꧁ SEMBILAN AIR MENJADI SATU SUMUR ꧂

Di tengah perkampungan, sembilan utusan kembali berkumpul.

Masing-masing membawa air dari tempat pengabdiannya.

Air rumah.

Air pasar.

Air sekolah.

Air tempat orang sakit.

Air tempat perdamaian.

Air ladang.

Air ruang amanah.

Air tempat anak-anak.

Air tempat kepulangan.

Mereka mencampurkannya.

Sang Legena menggali tanah.

Air itu dituangkan.

Lahirlah sebuah sumur.

Di atasnya tertulis:

بِئْرُ الْخِدْمَة

BI’R AL-KHIDMAH — SUMUR PENGABDIAN

Namun Sang Legena memberikan satu aturan:

“Tidak boleh ada nama pribadiku pada sumur ini.”

Sembilan utusan bertanya:

“Mengapa?”

Ia menjawab:

“Agar orang datang karena membutuhkan air, bukan karena harus memuja siapa yang menggali.”

Pada batu sumur hanya ditulis:

“AIR UNTUK SIAPA SAJA YANG MEMBUTUHKAN, SESUAI KEMAMPUAN DAN KETERSEDIAANNYA.”

꧁ KETIKA SUMUR MULAI KERING ꧂

Beberapa tahun kemudian secara simbolik, sumur mulai surut.

Orang-orang panik.

Mereka berkata:

“Bukankah sumur ini bagian dari perjalanan cahaya? Mengapa dapat kering?”

Sang Legena menjawab:

“Karena sumur tetap sumur. Ia perlu dirawat.”

Mereka memeriksa sumber air.

Membersihkan lumpur.

Membatasi penggunaan.

Mencari sumber tambahan.

Memperbaiki saluran.

Inilah pelajaran penting:

JANGAN MENYEBUT SESUATU SUCI LALU MENGABAIKAN PEMELIHARAANNYA.

Program perlu evaluasi.

Bangunan perlu perawatan.

Lembaga perlu tata kelola.

Hubungan perlu komunikasi.

Tubuh perlu dijaga.

Spiritualitas tidak membatalkan kenyataan.

꧁ LAHIRNYA SEMBILAN PELAYAN BARU ꧂

Orang-orang yang dahulu menerima manfaat kini mulai ikut melayani.

Satu menjadi sembilan.

Sembilan menjadi puluhan.

Puluhan menjadi ratusan.

Sang Legena memandang mereka.

Ia berkata:

“Sekarang waktunya kita mundur sedikit.”

Salah satu utusan bertanya:

“Apakah tugas selesai?”

“Tidak. Tetapi tugas berubah.”

Dahulu mereka berada di depan.

Sekarang mereka mendampingi.

Dahulu mereka mengerjakan.

Sekarang mereka memastikan generasi berikutnya mampu mengerjakan.

Dahulu mereka memberi jawaban.

Sekarang mereka lebih banyak bertanya:

“Menurutmu apa yang harus dilakukan?”

Inilah perubahan dari pelayan menjadi pembentuk pelayan-pelayan baru.

꧁ MUNCULNYA SEMBILAN BAYANGAN DI BALIK SUMUR ꧂

Menjelang malam, Sang Legena melihat sembilan bayangan.

Ia mengenali semuanya.

Kesombongan.

Keinginan menguasai.

Ketakutan kehilangan.

Keinginan dipuji.

Dendam.

Kepastian palsu.

Ketergantungan.

Keinginan menjadi pusat.

Dan rasa bahwa perjalanan telah selesai.

Sang Legena tersenyum.

Ia tidak terkejut.

Ternyata bayangan lama masih dapat kembali.

Ia berkata:

“Berarti hisab batin tidak pernah benar-benar ditutup selama hidup.”

Ia kembali ke sumur.

Membasuh wajah.

Bukan sebagai ritual gaib.

Sebagai simbol bahwa manusia perlu terus memperbarui niatnya.

꧁ PESAN SUMUR KHIDMAH ꧂

Pada malam itu, sembilan utusan duduk mengelilingi sumur.

Sang Legena berkata:

“Jika suatu hari qitab ini dibaca orang setelah kita, jangan biarkan mereka berhenti pada simbol.”

“Bawalah mereka kepada akhlak.”

“Jangan biarkan mereka hanya membicarakan sembilan utusan.”

“Ajak mereka menjadi manusia yang dapat dipercaya.”

“Jangan biarkan mereka hanya mencari cahaya.”

“Ajari mereka membuat kehidupan orang lain sedikit lebih terang.”

Sembilan utusan menjawab:

“Kami mengerti.”

꧁ DATANGNYA SURAT TANPA NAMA ꧂

Pagi berikutnya, di sisi sumur ditemukan sebuah surat.

Tidak diketahui siapa yang meletakkannya.

Sang Legena membukanya.

Tulisan di dalamnya:

“Engkau telah belajar turun kepada manusia. Sekarang bersiaplah menghadapi maqām yang lebih sunyi: melakukan kebaikan ketika tidak seorang pun mengetahui bahwa engkau yang melakukannya.”

Di bawah surat terdapat gambar sembilan pintu kecil di bawah tanah.

Pintu kesepuluh tidak terlihat.

Pada bagian paling bawah tertulis:

سِرُّ الْخَيْر

SIRR AL-KHAYR — RAHASIA KEBAIKAN

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia mengetahui ujian berikutnya.

Setelah khidmah yang tampak, mereka akan belajar khidmah yang tidak membutuhkan nama.

Dan dari kejauhan terdengar pesan:

“APAKAH ENGKAU MASIH AKAN MENANAM POHON JIKA ENGKAU TAHU TIDAK SEORANG PUN AKAN MENGETAHUI SIAPA PENANAMNYA?”

Sang Legena tersenyum.

Ia mengambil cangkul.

Bukan mahkota.

Bukan tongkat.

Bukan kitab.

Cangkul.

Lalu ia berjalan menuju tanah tempat sembilan pintu tersembunyi.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ SIRR AL-KHAYR — SEMBILAN PINTU KEBAIKAN TERSEMBUNYI, AMAL TANPA NAMA, DAN RAHASIA BERBUAT BAIK KETIKA TIDAK ADA SATU PUN MATA MANUSIA YANG MELIHAT ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDUA PULUH

SIRR AL-KHAYR

SEMBILAN PINTU KEBAIKAN TERSEMBUNYI, AMAL TANPA NAMA, DAN RAHASIA BERBUAT BAIK KETIKA TIDAK ADA SATU PUN MATA MANUSIA YANG MELIHAT

Sang Legena berjalan meninggalkan Sumur Khidmah.

Di tangannya hanya ada sebuah cangkul.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada tongkat kebesaran.

Tidak ada panji.

Sembilan utusan mengikuti dari kejauhan.

Mereka sampai pada sebuah tanah sunyi yang tampaknya kosong.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada jalan.

Tidak ada tanda.

Tetapi ketika Sang Legena menghentakkan cangkulnya sekali ke tanah, terdengar suara dari bawah:

duk...

Seperti ada ruang tersembunyi.

Ia menggali.

Tanah membuka sebuah pintu kecil.

Pada pintu itu tertulis:

سِرُّ الْخَيْر

SIRR AL-KHAYR — RAHASIA KEBAIKAN

Terdengar pesan:

“Masuklah apabila engkau bersedia melakukan kebaikan yang mungkin tidak pernah disebut.”

Sang Legena memandang sembilan utusan.

Ia berkata:

“Mungkin inilah salah satu hisab yang paling berat.”

Lalu mereka turun.

꧁ PINTU PERTAMA — MEMBERI TANPA TANDA TANGAN ꧂

Di ruang pertama terdapat banyak kantong makanan.

Tidak ada nama pemberi.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada lambang.

Sang Legena bertanya:

“Bagaimana orang tahu siapa yang memberi?”

Jawabannya:

“Mereka tidak harus tahu.”

Sang Legena memahami.

Ada kebaikan yang memang perlu transparansi.

Ada program yang harus dilaporkan.

Ada amanah publik yang harus jelas.

Namun ada pula kebaikan pribadi yang tidak membutuhkan nama.

Seseorang lapar.

Ia diberi makan.

Selesai.

Tidak semua pemberian harus berubah menjadi cerita tentang pemberinya.

Maka tertulis:

JIKA MANFAAT SUDAH SAMPAI, JANGAN SELALU MENUNTUT NAMAMU IKUT SAMPAI.

꧁ PINTU KEDUA — MENDOAKAN TANPA DIKETAHUI ꧂

Ruang kedua sunyi.

Tidak terdapat seorang pun.

Hanya ada sembilan nama tertulis di atas batu.

Sang Legena mengenali beberapa.

Ada orang yang disayangi.

Ada orang yang jauh.

Ada pula orang yang pernah menyakitinya.

Penjaga Dada berkata:

“Doakan kebaikan bagi mereka.”

Sang Legena bertanya:

“Haruskah mereka tahu bahwa aku mendoakannya?”

Jawabannya:

“Tidak.”

Maka ia berdoa.

Bukan agar mereka kembali kepadanya.

Bukan agar mereka tunduk.

Bukan agar kehidupan mereka mengikuti keinginannya.

Ia berdoa:

“Ya Alloh, berikan kepada mereka apa yang benar-benar membawa kebaikan, keselamatan, dan petunjuk menurut kehendak-Mu.”

Ruang menjadi terang.

Sang Legena belajar:

DOA PALING BERSIH TIDAK SELALU MENUNTUT ORANG YANG DIDOAKAN MENGETAHUI SIAPA YANG BERDOA.

꧁ PINTU KETIGA — MEMPERBAIKI TANPA MENGUMUMKAN ꧂

Pada ruang ketiga terdapat sebuah jalan rusak.

Sang Legena memperbaikinya.

Ia menutup lubang.

Membersihkan batu.

Mengatur aliran air.

Salah satu utusan berkata:

“Apakah kita perlu memasang prasasti?”

Sang Legena tersenyum.

“Untuk apa?”

“Supaya orang mengetahui.”

Sang Legena menjawab:

“Jika mengetahui memang diperlukan untuk tanggung jawab, boleh. Tetapi jika tidak, biarkan jalan ini berbicara melalui manfaatnya.”

Maka mereka pergi tanpa memasang nama.

Keesokan harinya banyak orang melewati jalan itu.

Tidak seorang pun tahu siapa yang memperbaikinya.

Tetapi tidak seorang pun terjatuh lagi.

Itulah cukup.

꧁ PINTU KEEMPAT — MENUTUP AIB YANG TIDAK PERLU DIBUKA ꧂

Ruang keempat mempunyai sebuah tirai.

Di balik tirai terdapat kesalahan seseorang yang telah diperbaiki.

Sang Legena mengetahui cerita itu.

Ia dapat menceritakannya.

Cerita tersebut menarik.

Banyak orang mungkin akan mendengarkan.

Namun Penjaga Amanah berkata:

“Apakah menceritakannya membawa maslahat yang nyata, atau hanya memuaskan rasa ingin tahu?”

Sang Legena menutup kembali tirai.

Ia berkata:

“Tidak semua yang benar harus diumumkan.”

Jika ada bahaya yang perlu dihentikan, jangan ditutupi.

Jika ada hak manusia yang perlu dilindungi, ambil langkah yang benar.

Tetapi jika persoalan telah selesai dan pembukaan aib hanya akan mempermalukan tanpa manfaat, diam dapat menjadi amanah.

꧁ PINTU KELIMA — MENGHENTIKAN KEBAIKAN YANG BERUBAH MENJADI PANGGUNG ꧂

Pada ruang kelima terdapat sebuah panggung.

Awalnya panggung itu dipakai untuk mengajak banyak orang berbuat baik.

Tetapi lama-kelamaan semua cahaya diarahkan kepada satu tokoh.

Foto.

Nama.

Pujian.

Penghormatan.

Orang mulai membicarakan tokohnya lebih banyak daripada manfaatnya.

Sang Legena berdiri di depan panggung.

Ia berkata:

“Turunkan sebagian lampunya.”

Salah satu utusan bertanya:

“Mengapa?”

“Agar tujuan kembali terlihat.”

Promosi dapat diperlukan.

Publikasi dapat bermanfaat.

Tetapi jika seluruh program berubah menjadi pembesaran satu nama, periksa kembali arah.

Maka qitab menuliskan:

JANGAN BIARKAN CAHAYA PELAYANAN BERUBAH MENJADI LAMPU SOROT EGO.

꧁ PINTU KEENAM — MEMBERI KESEMPATAN TANPA MENGAKU SEBAGAI PENYELAMAT ꧂

Ruang keenam berisi sebuah bengkel kecil.

Ada seorang pemuda belajar bekerja.

Sang Legena memberinya alat.

Bukan seluruh hasil.

Ia mengajarkan cara.

Memberi kesempatan.

Menghubungkan dengan orang yang dapat membantu.

Beberapa tahun kemudian pemuda itu berhasil.

Orang-orang berkata:

“Semua ini karena Sang Legena.”

Sang Legena segera menjawab:

“Tidak. Aku hanya salah satu sebab kecil dalam perjalanan yang panjang.”

Ada usaha pemuda itu sendiri.

Ada keluarga.

Ada guru lain.

Ada kesempatan.

Ada pertolongan Alloh.

Sang Legena tidak mengambil seluruh cerita keberhasilan orang lain untuk memperbesar dirinya.

Maka pintu keenam terbuka lebih lebar.

꧁ PINTU KETUJUH — MENGAMPUNI TANPA MENGUMUMKAN KEAGUNGAN DIRI ꧂

Di ruang ketujuh berdiri seseorang yang pernah menyakiti Sang Legena.

Hubungan mereka tidak kembali seperti dahulu.

Batas tetap ada.

Tetapi Sang Legena tidak lagi menghabiskan tenaga untuk membalas.

Seseorang bertanya:

“Mengapa tidak engkau ceritakan kepada semua orang bahwa engkau telah memaafkan?”

Sang Legena menjawab:

“Karena memaafkan bukan penghargaan yang harus dipamerkan.”

Kadang memaafkan adalah pekerjaan sunyi.

Orang lain tidak perlu tahu.

Yang penting racun dendam tidak terus tumbuh di dalam diri.

Namun qitab tetap mengingatkan:

MEMAAFKAN TIDAK MEWAJIBKAN KEMBALINYA KEPERCAYAAN TANPA BATAS.

Hati dapat dilembutkan.

Batas tetap dapat dijaga.

꧁ PINTU KEDELAPAN — MENJAGA KEBAIKAN ORANG LAIN TETAP MENJADI MILIK MEREKA ꧂

Ruang kedelapan memperlihatkan sebuah karya indah.

Sang Legena hanya membantu sedikit di awal.

Tetapi orang-orang kemudian mengaitkan seluruh karya itu dengan namanya.

Sang Legena berkata:

“Tidak. Sebutkan mereka yang benar-benar mengerjakannya.”

Salah satu utusan bertanya:

“Apakah tidak baik jika nama besarmu membantu karya itu dikenal?”

Sang Legena menjawab:

“Boleh apabila memang diperlukan dan dengan persetujuan yang tepat. Tetapi jangan sampai bantuan kecilku menghapus kerja besar orang lain.”

Maka dibukakan rahasia:

KEIKHLASAN JUGA BERARTI TIDAK MENCURI CAHAYA DARI KARYA ORANG LAIN.

Berikan kredit.

Akui kontribusi.

Jangan mengambil kemuliaan yang bukan hak kita.

꧁ PINTU KESEMBILAN — MENANAM UNTUK MASA YANG TIDAK AKAN KITA LIHAT ꧂

Pintu terakhir membawa mereka ke sebuah tanah gelap.

Sang Legena membawa cangkul yang sejak awal ada di tangannya.

Ia menggali.

Menanam pohon.

Salah satu utusan berkata:

“Pohon ini mungkin baru besar setelah kita tidak ada.”

Sang Legena menjawab:

“Itulah sebabnya ia layak ditanam.”

Mereka menanam lagi.

Dan lagi.

Tidak ada prasasti.

Tidak ada tanda.

Hanya tanah.

Benih.

Air.

Dan waktu.

Sang Legena berkata:

“Sebagian kebaikan terbaik adalah kebaikan yang kita tahu mungkin tidak akan sempat kita nikmati hasilnya.”

Pendidikan.

Pohon.

Sistem.

Budaya jujur.

Tata kelola.

Kebiasaan keluarga.

Ilmu.

Semua dapat melampaui umur manusia.

꧁ MENCARI PINTU KESEPULUH ꧂

Sembilan pintu telah dilewati.

Sang Legena kembali ke ruang awal.

Ia mencari pintu kesepuluh.

Tidak ada.

Sembilan utusan ikut mencari.

Tidak ditemukan.

Kemudian terdengar suara:

“Pintu kesepuluh tidak dapat dilihat oleh orang yang ingin menemukannya untuk dirinya sendiri.”

Sang Legena bertanya:

“Apa maksudnya?”

Jawaban datang:

“Berhentilah mencarinya.”

Maka Sang Legena duduk.

Ia tidak mencari.

Tidak bertanya.

Tidak menunggu hadiah.

Tidak mengharapkan maqām baru.

Beberapa waktu kemudian, seorang anak masuk ke ruang itu membawa kantong kecil makanan.

Ia meletakkannya di sudut.

Kemudian pergi.

Sang Legena bertanya:

“Siapa anak itu?”

Tidak seorang pun tahu.

Di tempat kantong itu diletakkan, muncul pintu kesepuluh.

꧁ PINTU KESEPULUH — AMAL YANG TIDAK TAHU BAHWA IA BESAR ꧂

Di atas pintu tertulis:

خَيْرٌ لَا يَرَى نَفْسَهُ كَبِيرًا

KHAYRUN LĀ YARĀ NAFSAHU KABĪRĀ

KEBAIKAN YANG TIDAK MELIHAT DIRINYA SENDIRI SEBAGAI BESAR

Sang Legena masuk.

Tidak ada ruangan mewah.

Hanya seorang perempuan menyapu halaman.

Seorang lelaki memperbaiki sandal anaknya.

Seorang anak membantu orang tua membawa barang.

Seorang pedagang mengembalikan uang kelebihan.

Seorang guru menyiapkan pelajaran ketika tidak ada yang melihat.

Seseorang menahan kata-kata kasar.

Seseorang meminta maaf.

Seseorang mengembalikan barang pinjaman.

Seseorang menyingkirkan benda berbahaya dari jalan.

Seseorang menunaikan hutangnya sedikit demi sedikit.

Semuanya tampak biasa.

Tidak ada penonton.

Tidak ada musik.

Tidak ada cahaya luar biasa.

Sang Legena hampir menangis.

Ia akhirnya memahami:

KEBAIKAN TERBESAR TIDAK SELALU TERLIHAT BESAR.

Kadang ia sangat kecil.

Tetapi sangat jujur.

꧁ SEMBILAN UTUSAN MELEPAS NAMA ꧂

Sembilan utusan kemudian berkumpul.

Satu per satu mereka melepaskan nama simboliknya.

Tidak lagi:

Penjaga Niat.

Penjaga Lisan.

Penjaga Mata.

Penjaga Pendengaran.

Penjaga Dada.

Penjaga Langkah.

Penjaga Amanah.

Penjaga Kedamaian.

Penjaga Kepulangan.

Mereka berdiri sebagai sembilan manusia biasa.

Sang Legena bertanya:

“Mengapa kalian melepas nama?”

Mereka menjawab:

“Agar kami mengetahui apakah kami masih akan melakukan kebaikan ketika tidak ada gelar yang menyertainya.”

Sang Legena tersenyum.

Ia pun berkata:

“Kalau begitu, panggil aku manusia saja.”

꧁ HISAB AMAL TERSEMBUNYI ꧂

Di tengah ruang muncul sembilan pertanyaan.

Apakah aku tetap berbuat baik jika tidak dipuji?

Apakah aku tetap jujur jika tidak diawasi?

Apakah aku tetap menjaga rahasia jika hubungan berubah?

Apakah aku tetap menolong jika tidak ada keuntungan?

Apakah aku tetap menghormati orang yang tidak dapat membalasku?

Apakah aku memberi kredit kepada orang lain secara adil?

Apakah aku dapat menghilang dari panggung ketika manfaat lebih membutuhkan ruang daripada namaku?

Apakah aku bersedia menanam sesuatu yang buahnya dinikmati generasi lain?

Apakah aku mampu berhenti menghitung seberapa besar kebaikanku sendiri?

Sang Legena tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia mengambil cangkul.

Keluar.

Dan mulai menanam kembali.

Itulah jawabannya.

꧁ RAHASIA SIRR AL-KHAYR ꧂

Ketika sembilan pintu mulai menutup, terdengar pesan:

“Amal tersembunyi bukan berarti semua kegiatan harus dirahasiakan.”

“Ada amanah publik yang membutuhkan laporan.”

“Ada penggalangan yang membutuhkan transparansi.”

“Ada program yang harus diketahui agar dapat diikuti dan diawasi.”

“Yang tersembunyi adalah kebutuhan ego untuk selalu memperoleh pusat perhatian.”

Sang Legena memahami.

Bukan menghilangkan pertanggungjawaban.

Bukan memusuhi publikasi.

Tetapi menjaga agar publikasi tetap menjadi alat, bukan tujuan.

꧁ TUMBUHNYA POHON TANPA NAMA ꧂

Di tempat mereka menanam, tumbuh satu pohon.

Batangnya tidak memiliki ukiran.

Tidak terdapat prasasti.

Anehnya, setiap orang yang berteduh di bawahnya merasa cukup nyaman untuk beristirahat.

Tidak seorang pun bertanya:

“Siapa penanamnya?”

Sampai seorang anak berkata:

“Pohon ini enak untuk berteduh.”

Sang Legena yang berdiri jauh mendengar kalimat itu.

Ia tersenyum.

Ia tidak datang menjelaskan.

Ia terus berjalan.

꧁ SEMBILAN PINTU BERUBAH MENJADI SEMBILAN BIJI ꧂

Ketika mereka kembali ke tanah permukaan, sembilan pintu bawah tanah tidak terlihat lagi.

Di tempat masing-masing hanya ada sebuah biji.

Sembilan biji.

Sang Legena mengambilnya.

Tetapi salah satu utusan berkata:

“Apakah akan kita simpan?”

Sang Legena menggeleng.

Mereka membagikannya.

Satu kepada keluarga.

Satu kepada pasar.

Satu kepada tempat ilmu.

Satu kepada orang yang sedang bangkit dari kesulitan.

Satu kepada pemimpin.

Satu kepada anak-anak.

Satu kepada mereka yang menjaga orang sakit.

Satu kepada orang yang sedang berselisih.

Satu kepada tempat yang bahkan tidak ada seorang pun mengenal mereka.

Dan ketika biji kesembilan pergi, tanah tempat mereka berdiri terbuka perlahan.

꧁ MUNCULNYA RUANG TANPA CERMIN ꧂

Di bawah tanah terdapat satu ruangan terakhir.

Tidak ada pintu bernomor.

Tidak ada cermin.

Tidak ada timbangan.

Tidak ada nama.

Hanya ada sebuah kursi sederhana dan satu pertanyaan pada dinding:

“SIAPAKAH ENGKAU KETIKA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MELIHAT?”

Sang Legena duduk.

Sembilan utusan tidak masuk.

Ia sendirian.

Tidak ada jawaban yang keluar.

Hanya keheningan.

Kemudian di bawah pertanyaan pertama muncul tulisan kedua:

“DAN SIAPAKAH ENGKAU KETIKA TIDAK ADA LAGI KEBUTUHAN UNTUK MENJELASKAN SIAPA DIRIMU?”

Sang Legena menutup mata.

Lama.

Ketika membukanya kembali, kursi di bawahnya telah hilang.

Ia berdiri.

Tidak mempunyai gelar.

Tidak membawa apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya sejak qitab dimulai, terdengar satu kalimat sangat sederhana:

“PULANGLAH.”

Sang Legena keluar.

Bukan menuju samudra.

Bukan menuju gunung.

Bukan menuju kota.

Ia melihat rumah-rumah manusia di kejauhan.

Dapur yang mengepul.

Anak-anak bermain.

Orang-orang bekerja.

Azan terdengar dari kejauhan.

Kehidupan berjalan seperti biasa.

Sang Legena memahami:

mungkin maqām paling akhir bukan menjadi semakin jauh dari kehidupan, tetapi kembali menjalani kehidupan dengan hati yang lebih jernih.

Ia berjalan pulang.

Namun di jalan, seorang anak kecil menghentikannya dan bertanya:

“Apakah qitab sudah selesai?”

Sang Legena tersenyum.

Ia menunjuk kehidupan di hadapan mereka.

“Belum. Selama manusia masih hidup, hisab atas niat, amanah, akhlak, dan manfaat masih berjalan.”

Di kejauhan muncul sebuah gerbang terakhir.

Sangat sederhana.

Tidak berornamen.

Di atasnya tertulis:

بَابُ الْعَوْدَة

BĀB AL-‘AWDAH — GERBANG KEMBALI

Dan di bawahnya hanya satu kalimat:

“KEMBALILAH KE TEMPAT AWAL, LALU LIHAT APAKAH ENGKAU MASIH ORANG YANG SAMA.”

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ BĀB AL-‘AWDAH — GERBANG KEMBALI, PERTEMUAN DENGAN DIRI YANG LAMA, DAN HISAB TERAKHIR SEBELUM SANG LEGENA MENUTUP SATU LINGKARAN PERJALANAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR KEDUA PULUH SATU

BĀB AL-‘AWDAH — GERBANG KEMBALI

PERTEMUAN DENGAN DIRI YANG LAMA DAN HISAB TERAKHIR SEBELUM SATU LINGKARAN PERJALANAN DITUTUP

Sang Legena berdiri di hadapan gerbang terakhir.

Gerbang itu tidak besar.

Tidak dihiasi emas.

Tidak dijaga siapa pun.

Tidak ada sembilan utusan di sampingnya.

Mereka berhenti jauh di belakang.

Sebab pintu ini hanya dapat dilewati seorang diri.

Di atasnya tertulis:

بَابُ الْعَوْدَة

BĀB AL-‘AWDAH — GERBANG KEMBALI

Dan di bawahnya terdapat satu kalimat:

“Kembalilah ke tempat awal, lalu lihat apakah engkau masih orang yang sama.”

Sang Legena membuka pintu.

Di baliknya, ia tidak menemukan alam baru.

Ia justru kembali ke tempat perjalanan pertama dimulai.

Telaga.

Air.

Dua tangan yang menampung aliran.

Sembilan posisi utusan mengelilingi bagian bawah.

Semuanya masih ada.

Tetapi kini Sang Legena melihatnya dengan mata yang berbeda.

꧁ CERMIN DIRI YANG LAMA ꧂

Di tepi Telaga Hisab berdiri seseorang.

Sang Legena mengenalinya.

Itu adalah dirinya sendiri dari awal perjalanan.

Diri yang masih membawa banyak pertanyaan.

Diri yang ingin mengetahui rahasia.

Diri yang ingin memahami tanda.

Diri yang masih mudah tergoda oleh pujian.

Diri yang belum sepenuhnya tahu batas antara pengabdian dan kebutuhan untuk diakui.

Sang Legena mendekat.

Diri lamanya bertanya:

“Apakah engkau sudah menemukan semuanya?”

Sang Legena tersenyum.

“Tidak.”

“Apakah engkau sudah mengetahui semua rahasia?”

“Tidak.”

“Apakah engkau sudah menjadi manusia tanpa salah?”

“Tidak.”

Diri lama terkejut.

“Lalu apa gunanya perjalanan sepanjang ini?”

Sang Legena menjawab:

“Aku belajar bahwa menjadi jernih lebih penting daripada merasa mengetahui semuanya.”

꧁ HISAB PERTAMA — APAKAH NIATMU BERUBAH? ꧂

Telaga beriak.

Muncul pertanyaan:

“Ketika perjalanan dimulai, untuk apa engkau mencari cahaya?”

Sang Legena teringat.

Ada bagian dari dirinya yang ingin menemukan makna.

Ada bagian yang ingin menjadi berguna.

Tetapi mungkin ada pula bagian yang ingin menjadi istimewa.

Ia menjawab:

“Niatku dahulu bercampur. Sekarang pun aku masih harus menjaganya.”

Telaga menjadi tenang.

Karena kejujuran tidak memerlukan jawaban sempurna.

꧁ HISAB KEDUA — APAKAH ILMUMU MENJADI AKHLAK? ꧂

Muncul pertanyaan kedua:

“Apa yang berubah setelah engkau mengetahui banyak pelajaran?”

Sang Legena tidak menunjuk buku.

Tidak menunjuk gelar.

Ia berkata:

“Aku lebih berhati-hati ketika berbicara.”

“Aku lebih mampu mengatakan aku tidak tahu.”

“Aku belajar meminta maaf.”

“Aku belajar bahwa orang lain tidak harus tunduk kepadaku agar aku dapat berbuat baik kepada mereka.”

Telaga memantulkan cahaya lembut.

Maka tertulis:

ILMU YANG TIDAK TURUN MENJADI AKHLAK MASIH BERADA DI PERJALANAN.

꧁ HISAB KETIGA — APAKAH ENGKAU MASIH MEMBUTUHKAN PANGGUNG? ꧂

Dari air muncul sebuah panggung.

Lampu menyala.

Orang-orang bertepuk tangan.

Nama Sang Legena disebut.

Ia melihat dirinya berdiri di atasnya.

Kemudian panggung itu menghilang.

Telaga bertanya:

“Jika tidak ada yang mengetahui namamu, apakah engkau masih akan melakukan yang baik?”

Sang Legena teringat Sirr al-Khayr.

Ia menjawab:

“Aku ingin belajar tetap melakukannya.”

Bukan:

“Aku sudah sempurna.”

Tetapi:

“Aku ingin terus belajar.”

Telaga menerima jawaban itu.

꧁ HISAB KEEMPAT — APAKAH ENGKAU MASIH INGIN MENGUASAI? ꧂

Muncul singgasana.

Mahkota.

Tongkat.

Lambang kekuasaan.

Sang Legena pernah melihat semuanya.

Telaga bertanya:

“Jika manusia tidak mengikuti pilihanmu, apakah engkau masih menghormati hak mereka?”

Sang Legena menjawab:

“Selama tidak ada kezaliman dan hak manusia tetap dijaga, perbedaan tidak harus menjadi permusuhan.”

Singgasana berubah menjadi kursi biasa.

Lalu menjadi bangku panjang yang dapat diduduki banyak orang.

Sang Legena memahami.

Kepemimpinan yang matang menyediakan tempat.

Bukan hanya menaikkan satu orang.

꧁ HISAB KELIMA — APAKAH ENGKAU SUDAH BELAJAR KEHILANGAN? ꧂

Air menjadi gelap.

Wajah-wajah lama muncul.

Pertemuan.

Perpisahan.

Hal-hal yang pernah dicintai.

Hal-hal yang tak dapat dikembalikan.

Telaga bertanya:

“Apakah engkau telah berhenti bersedih?”

Sang Legena menjawab:

“Tidak. Tetapi aku belajar bahwa sedih tidak harus menghancurkan seluruh hidup.”

Terdengar:

“Maka engkau telah mulai memahami.”

Karena penerimaan bukan mati rasa.

Ia adalah kemampuan tetap hidup dengan hati yang manusiawi.

꧁ HISAB KEENAM — APAKAH ENGKAU DAPAT DIKOREKSI? ꧂

Sembilan cermin muncul kembali.

Namun kali ini tidak memperlihatkan kesalahan lama.

Mereka memperlihatkan sembilan orang yang berbeda pendapat dengan Sang Legena.

Telaga bertanya:

“Apakah engkau membutuhkan mereka semua untuk setuju agar merasa benar?”

Sang Legena menjawab:

“Tidak. Tetapi aku membutuhkan keberanian memeriksa apakah kritik mereka mempunyai dasar.”

Salah satu cermin menjadi bening.

Kemudian yang lain.

Sampai sembilan.

Maka tertulis:

ORANG YANG TIDAK MEMILIKI RUANG UNTUK KOREKSI AKAN KEHILANGAN BANYAK CERMIN.

꧁ HISAB KETUJUH — APAKAH KHIDMAHMU MEMERDEKAKAN? ꧂

Muncul wajah-wajah manusia yang pernah ditolong.

Sebagian masih dekat.

Sebagian telah pergi.

Sebagian kini mampu berdiri sendiri.

Telaga bertanya:

“Apakah engkau kecewa ketika mereka tidak lagi membutuhkanmu?”

Sang Legena terdiam.

Kemudian menjawab:

“Jika mereka mampu berdiri, berarti sebagian pertolongan telah mencapai tujuannya.”

Air memancar.

Di tengahnya tertulis:

KHIDMAH YANG MATANG TIDAK MEMBANGUN PENJARA KETERGANTUNGAN.

꧁ HISAB KEDELAPAN — APAKAH ENGKAU MAMPU MELEPASKAN WARISAN? ꧂

Rumah Warisan muncul kembali.

Di dalamnya generasi baru bekerja.

Mereka memakai cara yang tidak semuanya sama dengan cara Sang Legena.

Telaga bertanya:

“Apakah engkau masih ingin mengendalikan setiap cabang?”

Sang Legena melihat mereka.

Ia menjawab:

“Aku ingin nilai dijaga, tetapi cabang boleh tumbuh.”

Pohon di dalam rumah bertambah besar.

Akar tetap.

Cabang berubah.

꧁ HISAB KESEMBILAN — APAKAH ENGKAU MENGETAHUI JALAN PULANG? ꧂

Semua gambaran menghilang.

Tidak ada kota.

Tidak ada gunung.

Tidak ada samudra.

Tidak ada warisan.

Tidak ada manusia.

Hanya Sang Legena dan Telaga Hisab.

Pertanyaan terakhir muncul:

“Jika seluruh perjalananmu suatu hari harus berhenti, ke mana hatimu kembali?”

Sang Legena menundukkan kepala.

Ia menjawab:

إِلَى اللّٰهِ

ILALLĀH — KEPADA ALLOH.

Telaga menjadi sangat jernih.

꧁ SEMBILAN UTUSAN KEMBALI MENGELILINGI TELAGA ꧂

Satu demi satu sembilan utusan datang.

Kali ini mereka berdiri di posisi yang sama seperti pada simbol awal qitab.

Namun tidak seorang pun memakai pakaian kebesaran.

Mereka membawa benda-benda sederhana.

Utusan pertama membawa benih.

Utusan kedua membawa kendi.

Utusan ketiga membawa buku.

Utusan keempat membawa kain untuk membalut luka.

Utusan kelima membawa dua kursi untuk orang yang berselisih.

Utusan keenam membawa alat kerja.

Utusan ketujuh membawa catatan amanah.

Utusan kedelapan membawa roti untuk dibagi.

Utusan kesembilan membawa sekop kecil untuk menanam pohon.

Sang Legena memandang semuanya.

Ia berkata:

“Mengapa tidak membawa benda-benda bercahaya seperti dahulu?”

Mereka menjawab:

“Karena sekarang kami mengetahui bahwa cahaya harus mempunyai pekerjaan.”

꧁ AIR KEMBALI TURUN ꧂

Dari atas Telaga Hisab muncul aliran air.

Air itu jatuh ke telapak tangan Sang Legena.

Seperti awal perjalanan.

Tetapi kali ini ia tidak mencoba menangkap semuanya.

Sebagian ditampung.

Sebagian dibiarkan mengalir.

Sang Legena berkata:

“Sekarang aku mengerti.”

Sembilan utusan bertanya:

“Apa?”

Ia menjawab:

“Tidak semua yang datang harus kumiliki. Sebagian hanya melewatiku agar sampai ke tempat yang membutuhkan.”

Air mengalir dari tangannya menuju sembilan saluran.

Kesembilan utusan membawanya ke sembilan penjuru.

꧁ MAKNA AZARROH DIBUKA KEMBALI ꧂

Pada pusat telaga muncul kata:

AZARROH

Dan untuk pertama kalinya seluruh perjalanan diterangkan dalam satu rangkaian simbolik:

Azarroh — kejernihan yang turun.

Filhasbihhi — hati yang belajar cukup kepada Alloh tanpa berhenti berikhtiar.

Ngindal Hisab — keberanian memeriksa diri sebelum sibuk menghitung kesalahan manusia lain.

Dan kalimat awal qitab kembali terdengar:

“Turunnya Sang Legena, kembalinya jiwa yang terang pembawa kedamaian.”

Kini maknanya semakin jelas.

Turun bukan jatuh.

Turun adalah ilmu yang menjadi tindakan.

Kembali bukan mundur.

Kembali adalah jiwa yang menemukan lagi pusatnya.

Terang bukan merasa lebih suci.

Terang adalah mampu membedakan yang benar dari yang diinginkan ego.

Pembawa kedamaian bukan orang yang tidak pernah berkonflik.

Ia adalah orang yang tidak menjadikan konflik sebagai alasan kehilangan keadilan dan adab.

꧁ SEMBILAN KALIMAT PENUTUP LINGKARAN ꧂

Sembilan utusan berdiri satu per satu.

Utusan pertama berkata:

“Periksa niat sebelum langkah.”

Utusan kedua:

“Periksa kata sebelum terucap.”

Utusan ketiga:

“Periksa pandangan sebelum menghakimi.”

Utusan keempat:

“Periksa kabar sebelum mempercayai.”

Utusan kelima:

“Periksa hati sebelum membalas.”

Utusan keenam:

“Periksa tindakan sebelum menuntut hasil.”

Utusan ketujuh:

“Periksa amanah sebelum meminta kehormatan.”

Utusan kedelapan:

“Periksa keadilan sebelum mengatasnamakan kedamaian.”

Utusan kesembilan:

“Periksa arah sebelum waktumu untuk pulang tiba.”

Sang Legena berdiri di tengah.

Ia menambahkan kalimat kesepuluh:

“DAN SETELAH MEMERIKSA SEMUANYA, JANGAN LUPA KEMBALI KEPADA ALLOH.”

꧁ LINGKARAN DITUTUP, JALAN TIDAK DITUTUP ꧂

Telaga Hisab perlahan kembali menjadi air biasa.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada cahaya besar.

Tidak ada suara.

Sembilan utusan berjalan menjauh.

Sang Legena bertanya:

“Apakah kalian pergi?”

Mereka menjawab:

“Kami kembali menjadi nilai yang harus hidup di dalam perbuatan.”

Satu demi satu mereka menghilang dari lingkaran simbolik.

Bukan musnah.

Tetapi kembali kepada makna:

niat,

lisan,

pandangan,

pendengaran,

dada,

langkah,

amanah,

kedamaian,

dan kepulangan.

Sang Legena kini berdiri sendiri.

Ia melihat telapak tangannya.

Tidak ada tanda khusus.

Ia melihat pakaiannya.

Biasa.

Ia melihat jalan di depannya.

Jalan pulang ke kehidupan sehari-hari.

Dan untuk pertama kalinya tidak ada gerbang baru yang muncul.

Tidak ada gunung baru.

Tidak ada samudra baru.

Tidak ada perintah untuk mencari maqām berikutnya.

Hanya kehidupan.

꧁ HISAB TERAKHIR LEMBAR INI ꧂

Sebelum Sang Legena meninggalkan telaga, satu baris muncul pada permukaan air:

“Jika besok engkau kembali marah, apakah perjalananmu gagal?”

Sang Legena menjawab:

“Tidak, jika aku kembali memperbaiki diri.”

“Jika besok niatmu kembali keruh?”

“Aku jernihkan lagi.”

“Jika engkau salah?”

“Aku akui dan perbaiki.”

“Jika engkau jatuh?”

“Aku kembali berdiri.”

“Jika manusia tidak memahami?”

“Aku periksa diriku, jelaskan yang perlu, lalu lanjutkan amanah.”

“Jika semuanya berubah?”

Sang Legena menatap langit.

Kemudian menjawab:

“Aku akan kembali kepada Alloh dan menjaga apa yang masih menjadi tugasku.”

Air menjadi tenang.

꧁ SATU LINGKARAN SELESAI ꧂

Sang Legena melangkah meninggalkan Telaga Hisab.

Di belakangnya, jejak kaki membentuk lingkaran.

Lingkaran itu tertutup sempurna.

Namun tepat di luar lingkaran terdapat satu jejak baru.

Artinya:

satu perjalanan selesai, kehidupan tetap berjalan.

Dan di batu terakhir tertulis:

لَيْسَ الْكَمَالُ أَنْ لَا تَزِلَّ، بَلْ أَنْ تَعْرِفَ كَيْفَ تَرْجِعُ

LAYSA AL-KAMĀLU AN LĀ TAZILLA, BAL AN TA‘RIFA KAYFA TARJI‘

“Kesempurnaan manusia bukanlah tidak pernah tergelincir, melainkan mengetahui bagaimana kembali.”

Sang Legena tidak membawa batu itu.

Ia membiarkannya di tempatnya.

Kemudian berjalan menuju rumah-rumah manusia.

Di tangannya hanya tinggal satu mangkuk kosong.

Bukan karena ia tidak memiliki apa-apa.

Tetapi karena ia masih menyediakan ruang untuk:

belajar,

menerima,

memberi,

memperbaiki,

dan kembali.

Namun ketika ia hampir tiba di perkampungan, sembilan anak yang dahulu pernah ditemuinya berdiri menunggu.

Salah seorang membawa sebuah gulungan.

Ia berkata:

“Satu lingkaran telah ditutup. Tetapi masyarakat kini meminta satu perkara terakhir.”

Sang Legena bertanya:

“Apa?”

Anak itu membuka gulungan.

Di dalamnya tertulis:

مِيثَاقُ السَّلَام

MĪṮĀQ AS-SALĀM — PIAGAM KEDAMAIAN

Dan di bawahnya:

“Tuliskan sembilan amanah terakhir yang dapat diwariskan kepada siapa pun yang ingin menjadi pembawa kedamaian tanpa merasa dirinya lebih suci daripada manusia lain.”

Sang Legena memandang sembilan anak.

Ia kembali duduk.

Bukan di singgasana.

Di tanah.

Ia membuka lembar baru.

QITAB belum selesai.

Lembar berikutnya:

꧁ MĪṮĀQ AS-SALĀM — SEMBILAN AMANAH TERAKHIR SANG LEGENA DAN PIAGAM BAGI PARA PEMBAWA KEDAMAIAN ꧂


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

꧁ QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

LEMBAR TERAKHIR

MĪṮĀQ AS-SALĀM

SEMBILAN AMANAH TERAKHIR SANG LEGENA DAN PIAGAM BAGI PARA PEMBAWA KEDAMAIAN

Sang Legena duduk di atas tanah.

Bukan di singgasana.

Bukan di atas panggung.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada panji.

Tidak ada barisan pengikut yang diminta untuk bersaksi tentang kebesarannya.

Di hadapannya berdiri sembilan anak.

Di belakang mereka, jauh di cakrawala, tampak seluruh perjalanan yang pernah dilewati.

Telaga Hisab.

Sembilan cermin.

Kota Seribu Pintu.

Gunung Sembilan Lonceng.

Timbangan Kejujuran.

Jembatan Kekinian.

Taman Istiqomah.

Rumah Warisan.

Samudra Penyerahan.

Rumah Riḍā.

Sumur Khidmah.

Dan pohon tanpa nama.

Semuanya tidak lagi terlihat sebagai tempat yang terpisah.

Semua telah menyatu menjadi satu jalan.

Jalan kembali.

Anak yang paling kecil menyerahkan gulungan.

Pada bagian atasnya tertulis:

مِيثَاقُ السَّلَام

MĪṮĀQ AS-SALĀM

PIAGAM KEDAMAIAN

Sang Legena bertanya:

“Untuk siapa piagam ini?”

Anak itu menjawab:

“Untuk siapa saja yang ingin membawa kedamaian tetapi tidak ingin menjadikan dirinya pusat dari kedamaian itu.”

Sang Legena membuka gulungan.

Tidak ada tulisan di dalamnya.

Kosong.

Ia bertanya:

“Mengapa tidak dituliskan sebelumnya?”

Anak itu menjawab:

“Karena amanah terakhir tidak boleh hanya diwarisi sebagai kalimat. Ia harus lahir kembali dari seluruh perjalanan yang telah dijalani.”

Maka Sang Legena mengambil pena.

Dan untuk terakhir kalinya ia mulai menulis.

꧁ AMANAH PERTAMA — JANGAN MENJADIKAN CAHAYA SEBAGAI GELAR ꧂

Sang Legena menulis:

“Jika suatu hari engkau merasa memperoleh cahaya, jangan segera menggunakannya untuk meninggikan namamu.”

Cahaya dalam qitab ini bukan mahkota.

Bukan sertifikat kesucian.

Bukan bukti bahwa seseorang lebih tinggi daripada manusia lain.

Cahaya adalah perlambang kejernihan.

Dan kejernihan hanya layak disebut berguna apabila membuat seseorang:

lebih jujur,

lebih bertanggung jawab,

lebih lembut tanpa menjadi lemah,

lebih tegas tanpa menjadi zalim,

lebih mampu meminta maaf,

lebih mampu menerima koreksi,

dan lebih bermanfaat.

Maka amanah pertama ditutup dengan kalimat:

“JIKA CAHAYA MEMBUATMU MERENDAHKAN ORANG LAIN, PERIKSA KEMBALI APA YANG SEBENARNYA SEDANG MENYALA DI DALAM DIRIMU.”

꧁ AMANAH KEDUA — JANGAN MENGUBAH PENGABDIAN MENJADI KEPEMILIKAN ꧂

Sang Legena menulis:

“Jangan menganggap manusia yang pernah engkau bantu menjadi milikmu.”

Orang yang ditolong tetap mempunyai kebebasan.

Murid bukan milik guru.

Jamaah bukan milik pemimpin.

Anak bukan milik orang tua dalam arti dapat dikendalikan seluruh hidupnya.

Sahabat bukan milik sahabat.

Pasangan pun bukan milik yang dapat dipaksa kehilangan kehendaknya.

Kasih sayang tidak membutuhkan rantai.

Pengabdian tidak memerlukan kepatuhan pribadi tanpa batas.

Bantulah sampai seseorang lebih kuat.

Ajarkan sampai seseorang lebih mampu berpikir.

Dampingi sampai seseorang lebih mampu berdiri.

Dan ketika ia telah mampu berjalan:

izinkan ia berjalan.

Jika ia memilih jalan berbeda dalam perkara yang memang terbuka untuk pilihan, jangan menganggap seluruh kebaikanmu sia-sia.

Sebab tujuan pertolongan bukan menciptakan bayangan diri sendiri.

Tujuannya adalah membantu kehidupan tumbuh.

꧁ AMANAH KETIGA — JANGAN MENGORBANKAN KEBENARAN DEMI NAMA ꧂

Sang Legena berhenti menulis sejenak.

Ia teringat Mīzān aṣ-Ṣidq.

Kemudian menulis:

“Jika suatu hari ditemukan bahwa ucapanmu keliru, perbaikilah.”

Jangan mempertahankan kesalahan demi menjaga wibawa.

Jangan menjadikan nama besar sebagai benteng dari pemeriksaan.

Jangan menganggap kritik sebagai penghinaan hanya karena datang dari orang yang lebih muda, lebih sederhana, atau berbeda denganmu.

Yang benar tidak membutuhkan silsilah kebesaran agar menjadi benar.

Yang salah tidak berubah menjadi benar karena diucapkan oleh seseorang yang dihormati.

Maka kepada para pembawa kedamaian diwariskan tiga kalimat:

“Aku belum tahu.”

“Aku keliru.”

“Mari kita periksa.”

Tiga kalimat itu terlihat sederhana.

Tetapi ego sering kali lebih takut kepada tiga kalimat tersebut daripada kepada ribuan musuh.

Sang Legena menulis:

“JANGAN LINDUNGI NAMAMU DENGAN MENGORBANKAN KEBENARAN. LINDUNGILAH KEBENARAN MESKIPUN NAMAMU HARUS DIKOREKSI.”

꧁ AMANAH KEEMPAT — JANGAN MENYEBUT DAMAI SESUATU YANG DIBANGUN DI ATAS KETAKUTAN ꧂

Sang Legena memandang sembilan anak.

Ia berkata:

“Ini harus ditulis dengan jelas.”

Lalu ia menulis:

“Tidak semua suasana yang sunyi adalah damai.”

Ada rumah yang sunyi karena anak-anak takut berbicara.

Ada organisasi yang tampak kompak karena orang takut mengkritik.

Ada kelompok yang terlihat seragam karena perbedaan tidak diberi ruang.

Ada hubungan yang tampak tenang karena salah satu pihak selalu mengalah dalam ketakutan.

Itu belum tentu kedamaian.

Kedamaian sejati membutuhkan:

rasa aman,

keadilan,

ruang bicara,

batas yang sehat,

dan kesempatan untuk berbeda tanpa penghinaan.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apakah ada pertengkaran?”

Bertanyalah:

“Apakah orang merasa aman menyampaikan kebenaran?”

“Apakah yang lemah tetap mempunyai hak?”

“Apakah kritik boleh masuk?”

“Apakah kesalahan dapat diperbaiki tanpa penghinaan?”

Karena kedamaian yang hanya bertahan selama semua orang diam adalah kedamaian yang sangat rapuh.

꧁ AMANAH KELIMA — JAGA YANG LEMAH TANPA MENGUBAH MEREKA MENJADI LEMAH SELAMANYA ꧂

Sang Legena menulis:

“Berikan pertolongan yang memulihkan kemampuan.”

Orang lapar perlu makan.

Berikan.

Orang sakit perlu perawatan.

Bantu memperoleh pertolongan yang sesuai.

Orang yang kehilangan pekerjaan mungkin membutuhkan bantuan sementara.

Bantu.

Tetapi setelah keadaan darurat terlewati, tanyakan:

“Apa yang dapat membuatmu lebih kuat?”

Keterampilan?

Pendidikan?

Pekerjaan?

Akses?

Jaringan?

Pendampingan?

Kepercayaan?

Kesempatan?

Maka bantuan tidak berhenti pada pemberian.

Ia bergerak menuju kemandirian.

Namun jangan pula memaksa seseorang menjadi mandiri sebelum ia benar-benar mampu.

Ada masa manusia perlu ditopang.

Ada masa ia perlu dilatih.

Ada masa ia harus diberi ruang.

Kebijaksanaan adalah mengetahui perbedaannya.

Maka ditulis:

“JANGAN BANGGA KARENA BANYAK ORANG BERGANTUNG KEPADAMU. BANGGALAH SECARA WAJAR KETIKA SESEORANG YANG PERNAH ENGKAU BANTU KINI MAMPU MENOLONG ORANG LAIN.”

꧁ AMANAH KEENAM — JANGAN WARISKAN DENDAM ꧂

Angin bertiup pelan.

Sang Legena melihat jauh ke belakang.

Ia teringat Kota Seribu Pintu.

Lalu menulis:

“Ajarkan sejarah, tetapi jangan menyimpan racunnya di dada generasi berikutnya.”

Jika pernah ada luka:

ingatlah pelajarannya.

Jika pernah ada ketidakadilan:

perbaiki sistemnya.

Jika pernah ada pengkhianatan:

bangun batas.

Tetapi jangan membesarkan anak-anak dengan kewajiban membenci orang yang belum pernah mereka kenal.

Jangan menjadikan dendam sebagai pusaka.

Pusaka yang baik adalah:

kebijaksanaan.

Kehati-hatian.

Keadilan.

Ilmu.

Keberanian.

Dan kemampuan menghentikan pola buruk agar tidak berulang.

Maka amanah keenam ditulis:

“WARISKAN INGATAN TANPA MEWARISKAN RACUN.”

꧁ AMANAH KETUJUH — JANGAN MENUTUPI KERUSAKAN DENGAN KATA RAHASIA ꧂

Sang Legena teringat Lembah Amanah.

Ia menulis perlahan:

“Rahasia manusia harus dijaga. Tetapi penyalahgunaan amanah tidak boleh disembunyikan atas nama menjaga rahasia.”

Privasi berbeda dengan penutupan kesalahan.

Kerahasiaan berbeda dengan impunitas.

Ada cerita pribadi yang harus dilindungi.

Ada data yang memang tidak boleh diumumkan.

Tetapi ketika menyangkut keselamatan, hak orang banyak, penyalahgunaan kekuasaan, atau kerugian serius, tindakan yang bertanggung jawab harus diambil.

Tidak harus menyebarkan kepada semua orang.

Tetapi harus dibawa kepada pihak yang tepat.

Dengan bukti.

Dengan kehati-hatian.

Dengan proporsi.

Dengan tujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.

Maka tertulis:

“JANGAN BUKA YANG SEHARUSNYA DITUTUP.”

dan tepat di bawahnya:

“JANGAN TUTUP YANG SEHARUSNYA DIPERTANGGUNGJAWABKAN.”

꧁ AMANAH KEDELAPAN — JANGAN MEMBUAT DIRIMU TAK TERGANTIKAN ꧂

Sang Legena meletakkan pena.

Ia memandang sembilan anak satu per satu.

Kemudian berkata:

“Ini mungkin amanah paling penting bagi seorang pemegang amanah.”

Ia kembali menulis:

“Bangunlah penerus sebelum dirimu harus pergi.”

Ajarkan pengetahuan.

Bagi tanggung jawab.

Dokumentasikan proses.

Jelaskan mana nilai dan mana metode.

Bangun sistem.

Sediakan ruang bagi orang lain untuk belajar memutuskan.

Biarkan mereka melakukan kesalahan kecil yang masih aman agar mereka tumbuh.

Jangan mempertahankan seluruh kunci di tangan sendiri.

Karena lembaga yang hanya berjalan ketika satu orang hadir belum benar-benar kuat.

Majelis yang runtuh ketika gurunya tidak datang masih membutuhkan sistem.

Keluarga yang seluruh keputusannya bergantung kepada satu figur perlu belajar berbagi tanggung jawab.

Warisan bukan:

“Tanpa aku semua berhenti.”

Warisan adalah:

“Ketika aku tidak ada, kebaikan masih tahu bagaimana berjalan.”

꧁ AMANAH KESEMBILAN — JANGAN LUPA PULANG ꧂

Sang Legena tidak langsung menulis amanah terakhir.

Ia berdiri.

Memandang langit.

Kemudian berkata:

“Semua amanah memiliki batas.”

Kekuatan memiliki batas.

Usia memiliki batas.

Jabatan memiliki batas.

Harta memiliki batas.

Pertemuan memiliki batas.

Bahkan kemampuan berbuat baik dalam bentuk tertentu pun memiliki batas.

Karena itu jangan menunda seluruh kebaikan seolah-olah waktu tidak berjalan.

Dan jangan pula hidup dalam ketakutan terus menerus terhadap berakhirnya waktu.

Gunakan hari ini.

Jaga kewajiban.

Perbaiki yang dapat diperbaiki.

Mintalah maaf ketika perlu.

Bayarlah yang menjadi tanggungan.

Ajarkan yang bermanfaat.

Tanamlah sesuatu.

Jaga keluarga.

Dan ketika suatu amanah harus diserahkan:

serahkan dengan adab.

Sang Legena menulis:

“INGATLAH KEPULANGAN AGAR ENGKAU TIDAK TERLALU SOMBONG KETIKA MEMILIKI, DAN TIDAK TERLALU HANCUR KETIKA HARUS MELEPASKAN.”

Lalu di bawahnya:

إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

INNĀ LILLĀHI WA INNĀ ILAIHI RĀJI‘ŪN

Sesungguhnya kita milik Alloh dan kepada-Nya kita kembali.

꧁ SEMBILAN AMANAH TELAH DITULIS — NAMUN GULUNGAN BELUM TERTUTUP ꧂

Anak-anak menghitung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Sampai sembilan.

Namun gulungan masih menyisakan ruang di bagian bawah.

Anak paling kecil bertanya:

“Apakah ada amanah kesepuluh?”

Sang Legena menjawab:

“Ada. Tetapi ia tidak boleh berada sejajar dengan sembilan amanah.”

“Mengapa?”

“Karena sembilan amanah berbicara tentang bagaimana manusia berjalan. Yang kesepuluh adalah arah tempat seluruh perjalanan dikembalikan.”

Ia mengambil pena.

Di bagian paling bawah gulungan ia menulis satu kalimat:

꧁ AMANAH KESEPULUH — JANGAN MENJADIKAN DIRIMU TUJUAN ꧂

Sang Legena melanjutkan:

“Jangan biarkan manusia berhenti kepadamu.”

“Jangan biarkan penghormatan kepada guru berubah menjadi penghambaan kepada manusia.”

“Jangan biarkan sebuah simbol menggantikan Alloh.”

“Jangan biarkan nama ruh, maqām, gelar, kisah, pengalaman, atau simbol perjalanan menjadi tuhan kecil di dalam hati.”

Semua nilai yang baik harus mengarahkan manusia kepada:

kejujuran,

amanah,

ibadah,

akhlak,

tanggung jawab,

dan penghambaan kepada Alloh.

Sang Legena menulis dengan huruf besar:

ALLOH ADALAH TUJUAN PENGHAMBAAN.

MANUSIA HANYALAH MUSAFIR YANG SALING MENOLONG DI JALAN.

Sembilan anak menunduk.

Gulungan mulai bercahaya lembut.

Bukan cahaya yang menyilaukan.

Hanya cukup untuk membaca tulisan.

꧁ PENANDATANGANAN MĪṮĀQ AS-SALĀM ꧂

Anak pertama bertanya:

“Apakah engkau akan menandatanganinya sebagai Sang Legena?”

Sang Legena memandang pena.

Lalu menggeleng.

“Tidak.”

“Sebagai apa?”

Sang Legena menulis:

“Seorang manusia yang masih belajar kembali.”

Anak kedua bertanya:

“Apakah sembilan utusan juga harus menandatangani?”

Sang Legena berkata:

“Tidak perlu. Biarkan piagam dinilai dari isinya.”

Tidak ada stempel sakti.

Tidak ada sumpah gaib.

Tidak ada ancaman bagi yang tidak mengikuti.

Piagam itu bukan alat kuasa.

Ia adalah pengingat akhlak.

Siapa yang menemukan kebaikan di dalamnya, ambillah.

Siapa yang menemukan kekeliruan, perbaikilah dengan ilmu dan adab.

Siapa yang mempunyai cara lebih baik untuk mewujudkan nilai yang sama, lakukanlah.

Sebab qitab bukan penjara bagi masa depan.

꧁ SEMBILAN ANAK MEMBAWA PIAGAM KE SEMBILAN PENJURU ꧂

Gulungan kemudian disalin menjadi sembilan lembar.

Anak pertama membawa satu lembar menuju rumah-rumah.

Anak kedua menuju pasar.

Anak ketiga menuju tempat ilmu.

Anak keempat menuju tempat orang sakit.

Anak kelima menuju ruang perdamaian.

Anak keenam menuju tempat manusia mencari rezeki.

Anak ketujuh menuju ruang kepemimpinan.

Anak kedelapan menuju sekolah dan tempat anak-anak tumbuh.

Anak kesembilan menuju tempat-tempat yang hampir dilupakan orang.

Tidak ada seorang pun membawa piagam itu ke istana untuk disimpan sebagai benda keramat.

Piagam harus dibaca dan dipraktikkan.

Bukan sekadar dipajang.

꧁ SANG LEGENA KEMBALI KE SUMUR ꧂

Setelah anak-anak pergi, Sang Legena kembali berjalan.

Ia tiba di Sumur Khidmah.

Sumur itu masih ada.

Namun di sana kini banyak orang lain bekerja.

Tidak seorang pun menunggunya.

Seseorang sedang memperbaiki tali timba.

Seseorang membersihkan saluran.

Anak-anak membawa air.

Seorang perempuan mencatat kebutuhan perawatan.

Orang-orang bermusyawarah tentang pembagian.

Sang Legena berdiri di kejauhan.

Tidak seorang pun langsung mengenalinya.

Ia tersenyum.

Inilah yang dahulu ia harapkan:

amanah berjalan tanpa harus menunggu dirinya.

Ia tidak memperkenalkan diri.

Ia mengambil sapu.

Membersihkan daun yang jatuh di sekitar sumur.

Seorang pemuda berkata:

“Terima kasih, Pak.”

Sang Legena menjawab:

“Sama-sama.”

Hanya itu.

Tidak ada yang tahu perjalanan panjangnya.

Dan pada saat itulah ia merasa satu lingkaran benar-benar telah selesai.

꧁ KEMBALINYA SEMBILAN UTUSAN UNTUK TERAKHIR KALI ꧂

Malam turun.

Sang Legena duduk di bawah Pohon Tanpa Nama.

Satu demi satu sembilan utusan muncul.

Mereka tidak memakai jubah.

Tidak membawa lambang.

Mereka duduk bersamanya.

Tidak membentuk lingkaran kehormatan.

Hanya sembilan sahabat seperjalanan.

Utusan pertama berkata:

“Niat masih perlu diperiksa.”

Kedua:

“Lisan masih perlu dijaga.”

Ketiga:

“Pandangan masih dapat keliru.”

Keempat:

“Pendengaran masih dapat tertipu.”

Kelima:

“Dada masih dapat terluka.”

Keenam:

“Langkah masih dapat tersesat.”

Ketujuh:

“Amanah masih dapat disalahgunakan.”

Kedelapan:

“Kedamaian masih dapat kehilangan keadilan.”

Kesembilan:

“Dan kepulangan semakin dekat setiap hari.”

Sang Legena tersenyum.

Ia berkata:

“Maka jangan jadikan penutupan qitab sebagai penutupan muhasabah.”

Mereka semua mengangguk.

꧁ HISAB TERAKHIR SANG LEGENA ꧂

Telaga Hisab tidak muncul lagi.

Tidak ada cermin.

Tidak ada suara.

Sang Legena sendiri yang bertanya kepada dirinya:

“Apakah hari ini aku membuat seseorang lebih tenteram?”

Sedikit.

“Apakah aku menyakiti seseorang?”

Jika iya, perbaiki.

“Apakah ada amanah yang kutunda?”

Tunaikan semampunya.

“Apakah aku masih menyimpan dendam?”

Rawat.

“Apakah aku mengatakan sesuatu tanpa cukup dasar?”

Koreksi.

“Apakah aku menggunakan kebaikan untuk meminta pengakuan?”

Luruskan niat.

“Apakah aku sudah menjaga tubuh, keluarga, pekerjaan, dan ibadah?”

Tata kembali.

“Apakah hari ini aku ingat kepada Alloh?”

Sang Legena menunduk.

Tidak ada jawaban sempurna.

Hanya manusia yang terus belajar.

꧁ RAHASIA TERAKHIR AZARROH ꧂

Menjelang fajar, satu tetes air jatuh dari daun Pohon Tanpa Nama.

Tetesan itu jatuh tepat ke dalam mangkuk kosong yang sejak Bāb al-‘Awdah masih dibawa Sang Legena.

Tik.

Sang Legena melihatnya.

Satu tetes.

Tidak lebih.

Ia tertawa kecil.

Dahulu ia mungkin akan bertanya:

“Apa tanda dari tetesan ini?”

Kini ia hanya berkata:

“Embun pagi.”

Lalu ia menggunakan air itu untuk menyiram tunas kecil di samping pohon.

Sembilan utusan tersenyum.

Inilah salah satu tanda kedewasaan perjalanan:

tidak harus mengubah setiap hal menjadi misteri agar kehidupan terasa bermakna.

Kadang air adalah air.

Tetapi air tetap dapat dipakai untuk menumbuhkan kehidupan.

Itulah Azarroh.

Kejernihan yang turun menjadi manfaat.

꧁ FILHASBIHHI — CUKUP KEPADA ALLOH, BUKAN BERHENTI BERUSAHA ꧂

Sang Legena lalu mengingat bagian kedua nama qitab.

Ia berkata:

حَسْبِيَ اللّٰهُ

ḤASBIYALLĀH

Tetapi ia tidak duduk menunggu dunia berubah.

Ia bangkit.

Menyapu.

Bekerja.

Menunaikan kewajiban.

Menolong yang dapat ditolong.

Menolak yang memang harus ditolak.

Belajar.

Bermusyawarah.

Beristirahat ketika membutuhkan.

Dan setelah seluruh yang mampu dilakukan ditunaikan, ia berkata:

“Ya Alloh, apa yang tidak mampu kukendalikan, kuserahkan kepada-Mu.”

Inilah Filhasbihhi dalam bahasa simbolik qitab:

hati bersandar kepada Alloh sementara tangan tetap menjalankan ikhtiar.

꧁ NGINDAL HISAB — JANGAN TERLALU SIBUK MENGHITUNG ORANG LAIN ꧂

Kemudian Sang Legena mengingat bagian ketiga.

Ngindal Hisab.

Ia melihat bagaimana manusia mudah sekali menghitung:

kesalahan orang lain,

kekurangan kelompok lain,

hutang budi orang lain,

kurangnya penghormatan orang lain,

dan seberapa banyak jasa dirinya.

Tetapi qitab membalik hitungan.

Berapa janji yang belum kutunaikan?

Berapa kata yang perlu kuperbaiki?

Berapa amanah yang perlu kutata?

Berapa orang yang pernah kulukai dan masih dapat kumintai maaf?

Berapa kesempatan baik yang masih dapat kulakukan?

Hisab batin tidak menjadikan manusia tenggelam dalam rasa bersalah tanpa akhir.

Ia membuat manusia memiliki arah perbaikan.

Maka ditulis untuk terakhir kali:

HISAB DIRIMU UNTUK MEMPERBAIKI, BUKAN UNTUK MEMBENCI DIRIMU.

HISAB ORANG LAIN HANYA SEJAUH YANG DIPERLUKAN UNTUK KEADILAN, BUKAN UNTUK MEMUASKAN EGO.

꧁ SEMBILAN UTUSAN KEMBALI MENJADI SEMBILAN NILAI ꧂

Fajar mulai terlihat.

Sembilan utusan berdiri.

Mereka tahu waktunya telah tiba.

Sang Legena bertanya:

“Apakah kita akan berpisah?”

Mereka menjawab:

“Tidak. Kami kembali ke tempat asal kami.”

Utusan pertama berubah menjadi kata:

NIAT.

Kedua:

ADAB.

Ketiga:

KEJERNIHAN.

Keempat:

KEHATI-HATIAN.

Kelima:

KASIH.

Keenam:

AMAL.

Ketujuh:

AMANAH.

Kedelapan:

KEDAMAIAN.

Kesembilan:

KEPULANGAN.

Kesembilan kata itu masuk ke dalam gulungan Mīṯāq as-Salām.

Tidak ada sosok yang tersisa.

Hanya nilai.

Sang Legena tidak bersedih.

Karena sejak awal sembilan utusan memang bukan untuk dipuja.

Mereka adalah bahasa simbolik untuk amanah yang harus diwujudkan.

꧁ SANG LEGENA MELEPASKAN NAMANYA ꧂

Kini Sang Legena berdiri sendiri.

Ia melihat kata LEGENA terukir pada sebuah batu.

Ia mengusapnya.

Tulisan itu perlahan hilang.

Tidak karena dilupakan.

Tetapi karena fungsinya telah selesai.

Ia berkata:

“Biarkan yang tersisa bukan tokohnya, tetapi pelajarannya.”

Di bawah batu muncul tulisan baru:

إِنْسَان

INSĀN — MANUSIA

Sang Legena tidak lagi disebut Sang Legena.

Ia berjalan sebagai manusia biasa.

Membawa keterbatasan.

Membawa harapan.

Membawa kesalahan yang masih mungkin terjadi.

Membawa kemampuan untuk kembali.

꧁ PESAN TERAKHIR KEPADA PEMBACA QITAB ꧂

Pada lembar terakhir, tangan Sang Legena menulis:

Wahai siapa pun yang membaca Qitab Azarroh Filhasbihhi Ngindal Hisab, janganlah engkau mencari di dalam lembar ini alasan untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Jika engkau menemukan cahaya, jadikan ia kejernihan.

Jika engkau menemukan kekuatan, jadikan ia perlindungan.

Jika engkau menemukan ilmu, jadikan ia manfaat.

Jika engkau menemukan kedudukan, jadikan ia amanah.

Jika engkau menemukan harta, jadikan ia jalan kebaikan.

Jika engkau menemukan luka, jangan wariskan racunnya.

Jika engkau menemukan kesalahan, perbaikilah.

Jika engkau menemukan manusia yang berbeda, jangan buru-buru menjadikannya musuh.

Jika engkau memperoleh pujian, jangan jadikan pujian sebagai makanan utama hatimu.

Jika engkau dicela, periksa apakah ada kebenaran yang dapat diambil tanpa harus menelan kezaliman.

Jika engkau jatuh, kembalilah.

Jika engkau berhasil, bersyukurlah.

Jika engkau tidak tahu, bertanyalah.

Jika engkau tahu, jangan sombong.

Jika engkau diberi amanah, jagalah.

Jika waktunya menyerahkan, serahkanlah.

Jika manusia melupakan namamu, jangan takut selama kebaikan masih hidup.

Dan apabila seluruh jalan dunia pada akhirnya sampai pada batasnya, kembalilah kepada Alloh dengan hati yang telah berusaha menjaga amanahnya.

꧁ DOA PENUTUP QITAB ꧂

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ya Alloh,

jika hati kami keruh, jernihkanlah.

Jika niat kami bengkok, luruskanlah.

Jika lisan kami melukai, ajarkan kami meminta maaf dan memperbaikinya.

Jika kami memperoleh ilmu, jauhkan kami dari kesombongan.

Jika kami memperoleh kekuasaan, jadikan kami penjaga amanah, bukan penindas.

Jika kami memperoleh rezeki, bersihkan jalannya dan berkahilah penggunaannya.

Jika kami kehilangan, kuatkan kami tanpa mematikan kelembutan hati.

Jika kami berbeda, tuntun kami kepada adab dan keadilan.

Jika kami salah, berikan keberanian untuk mengakuinya.

Jika kami benar, lindungi kami dari kesombongan karena merasa benar.

Jika kami lelah, izinkan kami beristirahat tanpa meninggalkan arah.

Jika kami jatuh, tuntun kami untuk kembali.

Jika kami diberi kesempatan membantu manusia, jadikan pertolongan kami bermanfaat dan tidak memperbudak.

Jika nama kami dikenal, jangan biarkan nama itu menutupi kekurangan kami.

Jika nama kami dilupakan, jangan biarkan hati kami kehilangan ketenangan.

Ya Alloh,

jadikan rumah kami tempat sakīnah.

Jadikan pekerjaan kami jalan amanah.

Jadikan ilmu kami jalan manfaat.

Jadikan lisan kami tidak ringan menyakiti.

Jadikan tangan kami ringan melakukan kebaikan.

Jadikan mata kami mampu melihat hak orang lain.

Jadikan telinga kami mampu mendengar sebelum menghakimi.

Jadikan hati kami lembut namun mempunyai batas.

Dan jadikan langkah kami semakin mendekat kepada ridho-Mu.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

Rabbanā taqabbal minnā, wa aṣliḥ qulūbanā wa a‘mālanā, wahdinā subula as-salām.

Ya Alloh, terimalah dari kami, perbaikilah hati dan amal kami, serta tunjukilah kami jalan-jalan kedamaian.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

꧁ KHATAM QITAB ꧂

Fajar akhirnya naik.

Tidak ada lagi gerbang.

Tidak ada lagi timbangan.

Tidak ada lagi singgasana.

Tidak ada lagi sembilan sosok.

Yang tersisa hanyalah:

sebuah pohon,

sebuah sumur,

sebuah jalan,

orang-orang yang bekerja,

anak-anak yang belajar,

keluarga yang pulang ke rumah,

orang sakit yang dirawat,

orang berselisih yang belajar berbicara,

orang miskin yang perlahan kembali berdiri,

guru yang mengajar,

murid yang tumbuh,

pemimpin yang mau dikoreksi,

dan manusia biasa yang menyapu daun di halaman.

Di kejauhan terdengar azan.

Manusia yang dahulu disebut Sang Legena menghentikan pekerjaannya.

Ia membasuh tangan.

Berjalan menuju tempat sholat.

Tidak seorang pun mengiringinya.

Tidak seorang pun membentangkan karpet kebesaran.

Ia berjalan sebagaimana manusia lain berjalan.

Dan pada halaman paling akhir Qitab tertulis:

AZARROH

Cahaya turun menjadi kejernihan.

FILHASBIHHI

Hati bersandar kepada Alloh setelah ikhtiar ditunaikan.

NGINDAL HISAB

Jiwa menghisab dirinya agar dapat terus memperbaiki jalan.

Kemudian di bawahnya:

“TURUNNYA SANG LEGENA, KEMBALINYA JIWA YANG TERANG PEMBAWA KEDAMAIAN.”

Dan satu kalimat paling akhir:

“JIKA ENGKAU INGIN MENGETAHUI APAKAH QITAB INI TELAH HIDUP DI DALAM DIRIMU, JANGAN CARI CAHAYA DI SEKELILINGMU. LIHATLAH APAKAH KEHADIRANMU MEMBUAT KEHIDUPAN MENJADI SEDIKIT LEBIH JUJUR, LEBIH AMAN, LEBIH ADIL, LEBIH BERBELAS KASIH, DAN LEBIH DEKAT KEPADA ALLOH.”

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.

꧁ TAMMAT — QITAB AZARROH FILHASBIHHI NGINDAL HISAB ꧂

Satu lingkaran telah ditutup.

Cahayanya tidak dikunci di dalam qitab.

Ia dikembalikan kepada kehidupan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh