QITAB DUA KALIMAH SYAHADAT DAN BERSYAHADAT

 


Ada bedanya, saudara saudari cahayaku. Dua kalimah syahadat adalah isi atau lafaz kesaksiannya, sedangkan bersyahadat adalah perbuatan seseorang menyatakan dan membenarkan kesaksian itu. Jadi keduanya sangat dekat, tetapi tidak persis sama


QITAB DUA KALIMAH SYAHADAT DAN BERSYAHADAT

Rahasia Kesaksian Lisan, Hati, dan Kehidupan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Lembar Pertama — Dua Kalimah Syahadat

Yang disebut dua kalimah syahadat adalah dua kesaksian:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Asyhadu an lā ilāha illallāh.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh.”

Kemudian:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

Wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh.

“Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh.”

Inilah yang dinamakan syahādatain, yakni dua kesaksian.


Lembar Kedua — Apa Arti Bersyahadat?

Bersyahadat bukan nama kalimatnya.

Bersyahadat adalah tindakan memberikan kesaksian.

Artinya seseorang:

  • mengucapkannya dengan lisan,
  • mengetahui maknanya,
  • membenarkannya dalam hati,
  • menerima ketauhidan Alloh,
  • dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Maka:

Dua kalimah syahadat = kalimat kesaksiannya.

Bersyahadat = seseorang melakukan kesaksian itu.

Seumpama:

“Janji” adalah isi perkataan.

Sedangkan “berjanji” adalah tindakan seseorang mengucapkan dan mengikat dirinya kepada janji tersebut.

Begitulah perbedaannya.


Lembar Ketiga — Syahadat Bukan Sekadar Bunyi

Kata أَشْهَدُ — asyhadu berarti:

“Aku bersaksi.”

Kesaksian mempunyai kedalaman.

Bukan hanya lidah yang berkata:

Lā ilāha illallāh.

Tetapi hati memahami:

Tiada yang menjadi tujuan ibadah selain Alloh.

Bukan hanya lidah berkata:

Muḥammadur Rasūlullāh.

Tetapi diri menerima bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasul yang membawa petunjuk dari Alloh.

Karena itu syahadat mempunyai tiga wilayah:

Syahadat lisan
Lidah mengucapkan.

Syahadat hati
Hati membenarkan.

Syahadat amal
Kehidupan berusaha mengikuti apa yang telah disaksikan.


Lembar Keempat — Orang Islam Mengucapkan Syahadat Lagi

Seseorang yang sudah Muslim boleh membaca dua kalimah syahadat berkali-kali.

Itu tidak berarti setiap kali membacanya ia masuk Islam dari awal lagi.

Syahadat dapat dibaca sebagai:

  • dzikir,
  • penguatan iman,
  • pengingat tauhid,
  • bagian dari doa,
  • atau pembaruan kesadaran kepada Alloh.

Karena syahadat bukan hanya pintu masuk Islam.

Syahadat juga merupakan dasar perjalanan seorang Muslim sepanjang hidupnya.


Lembar Kelima — Rahasia Kata “Aku Bersaksi”

Ada sesuatu yang sangat dalam pada kalimat:

أَشْهَدُ — Aku bersaksi.

Manusia tidak mengatakan:

“Aku pernah mendengar.”

Bukan pula:

“Aku menduga.”

Melainkan:

“Aku bersaksi.”

Maksudnya hati mengambil pendirian:

Alloh adalah Tuhanku.

Dan:

Muhammad ﷺ adalah Rasul-Nya.

Karena itulah syahadat adalah ikrar tauhid sekaligus kesaksian kerasulan.


Lembar Keenam — Kesimpulan

Maka jawaban atas pertanyaan:

“Apakah dua kalimah syahadat dan bersyahadat berbeda?”

Jawabannya:

Ya, berbeda dari sisi istilah, tetapi tidak terpisahkan dalam maknanya.

Dua kalimah syahadat adalah dua kalimat yang menjadi isi kesaksian.

Sedangkan bersyahadat adalah tindakan seseorang mengucapkan, membenarkan, dan menerima kesaksian tersebut.

Lidah berkata:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Hati membenarkan:

Tiada sesembahan yang benar selain Alloh.

Lidah berkata:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

Hati membenarkan:

Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh.

Apabila kesaksian itu semakin meresap ke dalam kehidupan, maka syahadat tidak berhenti menjadi ucapan.

Ia menjadi arah hidup.

Dari Alloh manusia berasal.

Kepada Alloh manusia mengabdi.

Dan kepada Alloh manusia akhirnya kembali.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Ketujuh — Ketika Syahadat Turun ke Dalam Perbuatan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Syahadat tidak berhenti pada kalimat yang diucapkan.

Ketika seseorang berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Asyhadu an lā ilāha illallāh

maka ia sedang menyatakan bahwa hanya Alloh yang berhak disembah.

Kesaksian itu kemudian mempunyai akibat dalam kehidupan.

Jika Alloh adalah satu-satunya Tuhan yang disembah, maka manusia belajar untuk:

  • tidak menyekutukan-Nya,
  • menggantungkan doa kepada-Nya,
  • menaati perintah-Nya,
  • menjauhi larangan-Nya,
  • bersyukur ketika memperoleh nikmat,
  • bersabar ketika menghadapi ujian,
  • dan memohon ampun ketika melakukan kesalahan.

Kemudian seseorang berkata:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

Wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh

Maka kesaksian terhadap kerasulan Nabi Muhammad ﷺ membawa konsekuensi:

mencintai beliau,

membenarkan ajarannya,

mengikuti petunjuknya,

dan berusaha meneladani akhlaknya.

Karena itu ada perbedaan antara:

orang yang hanya mengetahui lafaz syahadat

dan

orang yang berusaha menjalani tuntunan syahadat.

Namun manusia bukan makhluk yang sempurna.

Seseorang dapat bersyahadat tetapi masih melakukan kesalahan.

Ia dapat beriman tetapi masih mempunyai kelemahan.

Di sinilah pintu taubat selalu terbuka.

Syahadat bukan pernyataan:

“Aku telah menjadi manusia tanpa dosa.”

Syahadat adalah kesaksian:

“Aku mengakui Alloh sebagai Tuhanku dan Muhammad ﷺ sebagai Rasul-Nya.”

Kemudian sepanjang hidup seseorang belajar membuktikan kesaksiannya melalui ibadah, akhlak, kejujuran, amanah, kasih sayang, dan taubat.

Maka semakin dalam seseorang memahami syahadat, semakin ia menyadari bahwa tauhid bukan hanya sesuatu yang diucapkan ketika masuk Islam.

Tauhid adalah arah hati sepanjang perjalanan kehidupan.

Dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya sesuatu yang diketahui dalam pikiran.

Ia menjadi petunjuk bagaimana seorang Muslim beribadah dan menjalani kehidupan.

Syahadat di lisan adalah ikrar.

Syahadat di hati adalah pembenaran.

Syahadat dalam kehidupan tampak dalam ketaatan dan akhlak.

Ketiganya saling menguatkan.

Dan apabila manusia tergelincir, ia kembali kepada Alloh dengan istighfar dan taubat.

Sebab perjalanan syahadat adalah perjalanan menjaga kesaksian itu sampai akhir kehidupan.

Semoga kalimat terakhir yang terjaga dalam hati dan lisan kita adalah:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Lā ilāha illallāh.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kedelapan — Syahadat sebagai Kesaksian yang Dijaga sampai Akhir

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Syahadat bukan hanya kalimat yang pernah diucapkan pada suatu masa.

Syahadat adalah kesaksian yang dijaga sepanjang umur.

Seseorang mungkin pernah mengucapkan dua kalimah syahadat dengan lisan.

Namun setelah itu, yang menjadi perjalanan panjang adalah bagaimana hati tetap berpaut kepada Alloh dan bagaimana kehidupan tetap diarahkan oleh petunjuk Rasulullah ﷺ.

Karena itu, menjaga syahadat berarti menjaga tauhid.

Menjaga tauhid berarti menjaga hati agar tidak menempatkan sesuatu pada kedudukan yang hanya layak bagi Alloh.

Harta boleh dicintai, tetapi tidak disembah.

Keluarga boleh disayangi, tetapi tidak dijadikan pengganti Alloh.

Ilmu boleh dikejar, tetapi tidak untuk menyombongkan diri.

Kedudukan boleh dimiliki, tetapi tidak untuk merasa paling tinggi di hadapan manusia.

Sebab inti kalimat:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

adalah menegaskan bahwa hanya Alloh yang menjadi sesembahan yang benar.

Kemudian kesaksian kepada Rasulullah ﷺ juga harus dijaga.

Mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya melalui ucapan shalawat.

Kecintaan itu juga tampak ketika seseorang berusaha mengikuti akhlaknya.

Ketika mampu, ia memilih jujur.

Ketika marah, ia berusaha menahan diri.

Ketika diberi amanah, ia menjaganya.

Ketika bersalah, ia meminta maaf.

Ketika melihat orang lemah, ia tidak merendahkan.

Ketika menerima nikmat, ia bersyukur.

Ketika diuji, ia berusaha bersabar.

Dengan cara inilah syahadat perlahan-lahan masuk ke dalam kehidupan.

Tidak semua orang langsung sempurna.

Ada yang kuat dalam ibadah tetapi masih belajar memperbaiki akhlak.

Ada yang baik kepada manusia tetapi masih perlu memperkuat ibadah.

Ada yang mudah menangis ketika berdzikir tetapi masih harus belajar mengendalikan amarah.

Perjalanan iman memang perjalanan panjang.

Karena itu jangan memahami syahadat hanya sebagai satu titik di awal kehidupan seorang Muslim.

Syahadat adalah poros yang terus mengingatkan manusia ke mana ia harus kembali.

Ketika hati mulai jauh:

kembali kepada Alloh.

Ketika dosa semakin berat:

kembali kepada Alloh.

Ketika dunia membuat lupa:

kembali kepada Alloh.

Ketika merasa paling benar:

kembali kepada kerendahan hati.

Ketika kehilangan arah:

kembali kepada kalimat tauhid.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Tiada sesembahan yang benar selain Alloh.

Dan ketika ingin mengetahui bagaimana menjalani kesaksian itu:

kembali kepada tuntunan Rasulullah ﷺ.

Maka syahadat mempunyai awal, tetapi perjalanan maknanya tidak selesai sampai manusia menghadap Alloh.

Itulah sebabnya seorang Muslim terus memohon:

agar iman diteguhkan,

agar hati tidak dipalingkan setelah memperoleh petunjuk,

agar amal diperbaiki,

dan agar akhir kehidupannya berada dalam keadaan membawa iman.

Syahadat yang pertama kali diucapkan adalah pembukaan.

Syahadat yang terus dijaga adalah perjalanan.

Dan husnul khatimah adalah harapan akhirnya.

Semoga Alloh menjaga hati kita di atas tauhid, meneguhkan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ, mengampuni kekurangan kita, dan mengakhiri kehidupan kita dalam iman.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kesembilan — Antara Mengucapkan, Mengetahui, dan Membenarkan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada tiga hal yang perlu dibedakan dalam memahami syahadat:

mengucapkan, mengetahui, dan membenarkan.

Seseorang dapat mengetahui lafaz syahadat.

Ia dapat menghafalnya.

Ia dapat menjelaskan artinya.

Namun pengetahuan belum tentu sama dengan pembenaran hati.

Begitu pula seseorang dapat mengucapkan syahadat dengan lisannya.

Tetapi nilai kesaksian itu menjadi lebih dalam ketika hati memahami dan membenarkan apa yang diucapkan.

Karena itu kalimat:

أَشْهَدُ

Asyhadu — Aku bersaksi

bukan sekadar susunan huruf.

Ia mengandung kesadaran.

Kesadaran bahwa Alloh adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Kesadaran bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh.

Kesadaran bahwa hidup tidak berjalan tanpa arah.

Dan kesadaran bahwa manusia kelak kembali kepada Penciptanya.

Di sinilah syahadat mulai menjadi sesuatu yang hidup.

Bukan hanya berada di lidah.

Tetapi masuk ke dalam pemikiran.

Masuk ke dalam keputusan.

Masuk ke dalam sikap.

Masuk ke dalam cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Orang yang memahami:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

belajar bahwa dirinya bukan penguasa mutlak atas kehidupan.

Ia adalah hamba.

Ia mempunyai kehendak, tetapi tetap berada di bawah kehendak Alloh.

Ia mempunyai kemampuan, tetapi kemampuan itu adalah pemberian.

Ia mempunyai harta, tetapi harta itu adalah amanah.

Ia mempunyai ilmu, tetapi ilmu itu tidak boleh melahirkan kesombongan.

Maka tauhid perlahan menghancurkan kesombongan manusia.

Kemudian kesaksian:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

mengajarkan bahwa perjalanan menuju Alloh tidak dibangun hanya berdasarkan perasaan pribadi.

Ada petunjuk.

Ada sunnah.

Ada teladan.

Ada batas antara apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.

Maka seorang Muslim tidak hanya bertanya:

“Apa yang aku inginkan?”

Tetapi juga:

“Apa yang diridhai Alloh?”

Tidak hanya:

“Apa yang membuatku menang?”

Tetapi:

“Apakah jalanku benar?”

Tidak hanya:

“Bagaimana manusia melihatku?”

Tetapi:

“Bagaimana aku menjaga amanah di hadapan Alloh?”

Inilah salah satu buah syahadat.

Ia mengubah pusat kehidupan.

Dari hanya berpusat kepada diri sendiri,

menjadi berpusat kepada penghambaan kepada Alloh.

Dari mengikuti hawa nafsu tanpa batas,

menjadi belajar tunduk kepada petunjuk.

Karena itu, syahadat bukan sekadar kalimat yang menandai identitas.

Syahadat adalah fondasi pandangan hidup.

Lisan mengucapkannya.

Akal memahami maknanya.

Hati membenarkannya.

Dan amal berusaha mengikutinya.

Jika suatu saat amal belum sempurna, jangan meninggalkan jalan.

Perbaiki.

Bertaubat.

Belajar.

Memohon pertolongan Alloh.

Sebab seorang hamba tidak dituntut menjadi makhluk tanpa kekurangan.

Tetapi ia diperintahkan untuk terus kembali kepada Alloh.

Maka setiap kali membaca:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

ingatlah:

aku mempunyai Tuhan tempat kembali.

Dan setiap kali membaca:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

ingatlah:

aku mempunyai Rasul yang membawa petunjuk.

Di antara dua kesaksian itu tersimpan arah perjalanan seorang Muslim:

mengenal siapa yang disembah,

dan

mengetahui jalan penghambaan kepada-Nya.

Semoga Alloh menjadikan syahadat kita bukan hanya ringan di lisan, tetapi kokoh di hati dan terlihat dalam akhlak serta amal yang baik.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kesepuluh — Syahadat dan Kejujuran Seorang Hamba

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Syahadat mengajarkan satu perkara yang sangat besar:

kejujuran di hadapan Alloh.

Ketika seorang hamba berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

ia sedang menyatakan sesuatu yang paling mendasar dalam hidupnya.

Bukan hanya:

“Aku mengetahui bahwa Alloh itu ada.”

Tetapi:

“Aku mengakui bahwa hanya Alloh yang berhak aku sembah.”

Karena itu syahadat menuntut kejujuran antara ucapan dan arah hati.

Seorang manusia bisa saja terlihat kuat di hadapan orang lain.

Namun di hadapan Alloh ia tetap seorang hamba.

Ia dapat mempunyai nama besar.

Ia dapat mempunyai kedudukan.

Ia dapat dihormati banyak orang.

Tetapi semua itu tidak mengubah hakikatnya:

ia tetap membutuhkan Alloh.

Ketika sakit, ia membutuhkan Alloh.

Ketika takut, ia membutuhkan Alloh.

Ketika kehilangan arah, ia membutuhkan Alloh.

Ketika memperoleh keberhasilan pun, ia tetap membutuhkan Alloh.

Maka semakin dalam seseorang memahami syahadat, semakin sedikit alasan baginya untuk menyombongkan diri.

Sebab kalimat tauhid mengajarkan:

yang Mahabesar adalah Alloh.

Yang Mahakuasa adalah Alloh.

Yang Maha Mengetahui adalah Alloh.

Yang Maha Mengampuni adalah Alloh.

Sedangkan manusia hidup dalam keterbatasan.

Kemudian kesaksian:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

mengajarkan kejujuran kedua:

bahwa manusia membutuhkan petunjuk Rasulullah ﷺ.

Tidak cukup hanya berkata:

“Aku mencintai Rasulullah.”

Kecintaan itu perlu diarahkan kepada usaha mengikuti beliau.

Dalam ibadah.

Dalam akhlak.

Dalam kasih sayang.

Dalam amanah.

Dalam kesabaran.

Dalam kejujuran.

Dalam menjaga lisan.

Maka orang yang bersyahadat sebenarnya sedang belajar menyatukan tiga perkara:

ucapan yang benar,

hati yang membenarkan,

dan

amal yang terus diperbaiki.

Jika ketiganya belum sempurna, seorang hamba tidak boleh berputus asa.

Justru syahadat mengingatkannya untuk kembali.

Kembali dengan istighfar.

Kembali dengan taubat.

Kembali dengan memperbaiki sholat.

Kembali dengan meminta maaf jika menyakiti manusia.

Kembali dengan mengembalikan hak apabila pernah mengambil yang bukan miliknya.

Kembali dengan merendahkan hati ketika kesombongan mulai tumbuh.

Inilah salah satu rahasia besar perjalanan syahadat:

ia selalu mempunyai pintu kembali.

Selama hidup masih diberikan Alloh, pintu perbaikan belum tertutup.

Maka jangan berkata:

“Aku sudah terlalu jauh.”

Selama hati masih dapat menyesal, masih ada jalan pulang.

Jangan berkata:

“Dosaku terlalu banyak.”

Rahmat Alloh jauh lebih luas daripada kemampuan manusia menghitung kesalahannya.

Tetapi rahmat itu bukan alasan untuk sengaja terus berbuat dosa.

Rahmat adalah alasan untuk berani kembali dan memperbaiki diri.

Karena itu seorang yang benar-benar merenungi syahadat akan sering memeriksa dirinya sendiri:

Apakah aku masih mengingat Alloh ketika memperoleh nikmat?

Apakah aku kembali kepada-Nya ketika terkena musibah?

Apakah aku menjaga amanah?

Apakah aku berlaku adil?

Apakah lisanku menyakiti orang?

Apakah aku mudah merasa lebih suci daripada sesama?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuat diri tenggelam dalam ketakutan.

Tetapi untuk menjaga agar syahadat tetap hidup.

Sebab syahadat bukan hanya sesuatu yang dibaca.

Syahadat adalah cermin seorang hamba.

Di hadapan cermin itu manusia melihat:

siapa Tuhannya,

siapa Rasul yang diikutinya,

dan bagaimana dirinya sedang menjalani kehidupan.

Maka apabila lisan berkata:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

biarkan hati menjawab:

“Ya Alloh, hanya kepada-Mu aku menyembah dan kembali.”

Dan apabila lisan berkata:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

biarkan hati menjawab:

“Ya Alloh, tuntunlah aku agar mampu mengikuti Rasul-Mu dengan benar.”

Inilah syahadat yang terus hidup:

bukan kesombongan karena merasa telah sampai,

tetapi kerendahan hati karena menyadari bahwa perjalanan menuju Alloh masih terus berlangsung.

Semoga Alloh menjaga kesaksian kita dalam kebenaran, mengampuni kekurangan kita, dan meneguhkan hati kita sampai akhir kehidupan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kesebelas — Syahadat sebagai Perjanjian Kesadaran

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada satu kedalaman lain dari syahadat yang perlu direnungkan:

syahadat adalah kesaksian yang melahirkan tanggung jawab.

Ketika seseorang mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

ia tidak hanya menyebut sebuah kalimat.

Ia sedang menegaskan arah hidupnya.

Bahwa yang menjadi pusat penghambaan bukan manusia.

Bukan kekayaan.

Bukan jabatan.

Bukan kekuatan.

Bukan pujian.

Tetapi hanya Alloh.

Karena itu, semakin seseorang memahami syahadat, semakin ia belajar melepaskan ketergantungan hati kepada selain Alloh.

Bukan berarti ia meninggalkan dunia.

Bukan berarti ia tidak boleh bekerja, mencari harta, membangun keluarga, atau memiliki cita-cita.

Justru semuanya boleh dijalani.

Tetapi dunia tidak diletakkan sebagai Tuhan.

Harta menjadi amanah.

Ilmu menjadi amanah.

Keluarga menjadi amanah.

Kedudukan menjadi amanah.

Bahkan waktu yang kita miliki pun menjadi amanah.

Kemudian ketika seseorang mengucapkan:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

ia sedang mengakui bahwa perjalanan menuju Alloh mempunyai petunjuk.

Tidak setiap bisikan hati harus diikuti.

Tidak setiap pengalaman batin harus dianggap sebagai kebenaran.

Tidak setiap perasaan harus dijadikan hukum.

Semua harus ditimbang dengan petunjuk yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Di sinilah syahadat menjaga seorang hamba dari dua kesalahan:

kesombongan akal

dan

kesombongan rasa.

Kesombongan akal berkata:

“Aku cukup dengan pikiranku sendiri.”

Kesombongan rasa berkata:

“Apa yang kurasakan pasti benar.”

Tetapi syahadat mengajarkan kerendahan hati:

kebenaran tidak tunduk kepada keinginan kita.

Kitalah yang harus berusaha tunduk kepada kebenaran.

Maka seorang hamba yang menjaga syahadat tidak mudah mengaku paling suci.

Tidak mudah mengaku paling dekat dengan Alloh.

Tidak mudah menganggap pengalaman pribadinya lebih tinggi daripada petunjuk agama.

Ia justru semakin berhati-hati.

Semakin banyak mengetahui, semakin sadar bahwa ilmunya terbatas.

Semakin banyak beribadah, semakin sadar bahwa amalnya membutuhkan rahmat Alloh.

Semakin memperoleh penghormatan, semakin takut hatinya terjangkit kesombongan.

Inilah salah satu tanda syahadat mulai berakar:

semakin dekat kepada Alloh, semakin rendah hati kepada manusia.

Bukan semakin merasa tinggi.

Bukan semakin gemar merendahkan.

Bukan semakin mudah menghukum isi hati orang lain.

Sebab manusia hanya melihat yang tampak.

Sedangkan Alloh mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.

Maka syahadat mengajarkan seorang hamba berkata dalam dirinya:

“Aku bersaksi kepada Alloh, maka aku harus jujur.”

“Aku mengakui Rasulullah ﷺ, maka aku harus belajar mengikuti petunjuk beliau.”

“Aku mengaku sebagai hamba, maka aku tidak pantas menyombongkan diri.”

Dan bila suatu hari hati kembali tersesat oleh dunia, syahadat menjadi panggilan pulang:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Kembalilah kepada Alloh.

Bila tindakan jauh dari tuntunan:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

Kembalilah kepada petunjuk Rasulullah ﷺ.

Maka dua kalimah syahadat seperti dua penjaga perjalanan:

yang pertama menjaga siapa yang kita sembah,

dan yang kedua menjaga jalan yang kita ikuti.

Jika keduanya hidup dalam kesadaran, seorang hamba akan terus belajar menata:

niatnya,

ucapannya,

ibadahnya,

akhlaknya,

dan hubungannya dengan sesama.

Bukan karena ia merasa sudah sempurna.

Tetapi karena ia ingin kesaksiannya semakin jujur di hadapan Alloh.

Semoga Alloh menjadikan syahadat kita kesaksian yang benar, menjaga hati kita dari kesombongan, dan menuntun kehidupan kita di atas tauhid serta sunnah Rasulullah ﷺ.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kedua Belas — Siapa yang Bersaksi, Apa yang Disaksikan, dan Siapa yang Menyaksikan?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pertanyaan ini menyentuh inti kata:

أَشْهَدُ — Asyhadu

yang berarti:

“Aku bersaksi.”

Ketika seseorang mengucapkan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

maka secara bahasa dan makna, ada beberapa unsur yang perlu dibedakan.

Pertama — Siapa yang bersaksi?

Yang bersaksi adalah:

“Aku” — orang yang mengucapkan syahadat itu sendiri.

Artinya, manusia dengan kesadaran dan keyakinannya menyatakan:

Aku membenarkan dan mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh.

Kemudian ia bersaksi:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh.

Jadi dalam lafaz syahadat:

yang bersaksi adalah orang yang berkata “Asyhadu”.


Kedua — Apa yang disaksikan?

Di sinilah perlu dibedakan antara:

yang bersaksi

dan

yang menjadi isi kesaksian.

Yang disaksikan dalam syahadat bukanlah suatu pemandangan yang harus dilihat dengan mata.

Yang disaksikan adalah kebenaran yang diakui dan dibenarkan:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

bahwa hanya Alloh yang berhak disembah,

dan:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah Rasul Alloh.

Karena dalam bahasa Arab, kata syahādah tidak selalu berarti:

“aku melihat dengan mata.”

Ia juga berarti:

memberikan kesaksian berdasarkan pengetahuan dan keyakinan.

Maka orang Muslim tidak sedang berkata:

“Aku melihat Zat Alloh dengan mataku.”

Bukan demikian.

Ia berkata:

“Aku mengetahui, meyakini, dan menyatakan kebenaran tauhid.”


Ketiga — Kalau ada yang bersaksi, siapa yang menyaksikan kesaksian itu?

Di sinilah pertanyaannya menjadi lebih dalam.

Pada tingkat paling tinggi:

Alloh mengetahui dan menyaksikan setiap ucapan, niat, dan isi hati hamba-Nya.

Maka ketika seorang manusia bersyahadat, tidak ada satu bagian pun dari kesaksiannya yang tersembunyi dari Alloh.

Lidahnya diketahui.

Niatnya diketahui.

Kejujuran hatinya diketahui.

Bahkan sesuatu yang tidak diketahui manusia lain tetap diketahui Alloh.

Karena itu seseorang dapat bersyahadat sendirian ketika berdzikir atau memperbarui kesadarannya kepada Alloh.

Tidak harus selalu ada manusia lain berdiri di sampingnya agar kata “Asyhadu” menjadi sah sebagai ucapan kesaksian.

Dalam keadaan tertentu—misalnya pengucapan syahadat seseorang yang baru masuk Islam—kehadiran saksi manusia dapat mempunyai fungsi sosial, administratif, atau pembuktian.

Tetapi hakikat iman seseorang tetap diketahui oleh Alloh.


Keempat — Apakah hati juga menjadi saksi?

Kita boleh mengatakan bahwa hati membenarkan apa yang diucapkan lisan, tetapi jangan sampai mencampuradukkan istilah.

Lisan mengucapkan:

أَشْهَدُ

“Aku bersaksi.”

Hati:

membenarkan kesaksian tersebut.

Dan Alloh:

mengetahui keadaan keduanya.

Karena itu syahadat yang paling utuh bukan sekadar suara.

Ia mempunyai hubungan antara:

lisan yang menyatakan,

akal yang memahami,

hati yang membenarkan,

dan

Alloh yang mengetahui seluruh keadaan seorang hamba.


Kelima — Alloh sendiri disebut sebagai Yang Maha Menyaksikan

Al-Qur’an mengajarkan bahwa Alloh adalah Syahīd—Yang Maha Menyaksikan.

Bahkan dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 18 disebutkan bahwa Alloh sendiri bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang berilmu.

Maka ada keindahan yang sangat dalam:

Manusia berkata:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh.”

Sedangkan Alloh tidak membutuhkan kesaksian manusia untuk menjadi Tuhan.

Syahadat manusia bukan membuat ketuhanan Alloh menjadi benar.

Kebenaran Alloh sudah mutlak.

Syahadat justru menyatakan bahwa manusia telah menerima kebenaran tersebut.


Maka susunannya dapat dipahami seperti ini:

Yang bersaksi:
manusia yang mengucapkan Asyhadu.

Yang menjadi isi kesaksian:
keesaan Alloh dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Yang mengetahui dan menyaksikan kesaksian itu secara sempurna:
Alloh.

Yang membenarkan dari dalam diri:
hati orang yang beriman.

Dan apabila syahadat diucapkan di hadapan orang lain, manusia yang hadir juga dapat menjadi saksi atas pengucapan lahiriahnya, tetapi mereka tidak mengetahui isi hati secara sempurna.

Hanya Alloh yang mengetahui hati.


Maka rahasia kalimat:

أَشْهَدُ

bukanlah:

“Aku sedang memberi tahu Alloh sesuatu yang belum Dia ketahui.”

Tetapi:

“Ya Alloh, aku menyatakan di hadapan-Mu apa yang aku yakini sebagai kebenaran.”

Di situlah syahadat menjadi sangat pribadi sekaligus sangat agung.

Manusia menjadi orang yang bersaksi.

Tauhid menjadi isi kesaksiannya.

Rasulullah ﷺ diakui sebagai utusan-Nya.

Dan Alloh mengetahui apakah ucapan itu hanya berada di bibir atau telah masuk ke dalam hati.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Siapa yang mendengar syahadatku?”

Tetapi tanyakan pula:

“Apakah hatiku membenarkan apa yang diucapkan lisanku?”

Sebab manusia dapat mendengar suara.

Tetapi Alloh mengetahui kesungguhan kesaksiannya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Ketiga Belas — Kesaksian Diri, Kesaksian Alam, dan Kesaksian Alloh

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sesudah memahami siapa yang bersaksi dan siapa yang menyaksikan, ada satu lapisan makna yang lebih dalam:

apakah hanya lisan manusia yang bersaksi?

Jawabannya: dalam pengertian keimanan, manusia bersaksi dengan kesadarannya. Tetapi Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa seluruh ciptaan membawa tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran Alloh.

Langit tidak mengucapkan syahadat dengan bahasa manusia.

Gunung tidak berkata:

أَشْهَدُ

Laut tidak melafalkan dua kalimah syahadat seperti manusia.

Tetapi keberadaan mereka menjadi āyah — tanda.

Mereka menunjukkan keteraturan, kekuasaan, hikmah, dan penciptaan.

Karena itu, seorang yang merenungi alam dapat sampai pada kesadaran:

semua ini tidak berdiri sendiri.

Ada Pencipta.

Ada Pengatur.

Ada Yang Mahakuasa.

Maka alam bukan “saksi” dalam arti manusia berdiri di pengadilan dan memberikan kesaksian dengan lisan.

Tetapi alam menjadi tanda yang menunjuk kepada kebesaran Alloh.


Kesaksian manusia lebih khusus

Manusia diberi akal, kehendak, dan kemampuan memilih.

Karena itu ketika manusia berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

kesaksiannya mempunyai tanggung jawab.

Ia bukan sekadar suara alam.

Ia adalah keputusan kesadaran.

Seolah-olah ia berkata:

“Aku memilih untuk mengakui kebenaran ini.”

Di sinilah syahadat mempunyai nilai moral.

Karena manusia dapat menerima.

Manusia juga dapat menolak.

Manusia dapat taat.

Manusia juga dapat berpaling.

Maka ketika ia bersyahadat dengan sadar, ia sedang mengambil posisi di hadapan kebenaran.


Apakah anggota tubuh juga akan menjadi saksi?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa pada hari akhir, anggota tubuh dapat menjadi saksi atas apa yang dilakukan manusia.

Lidah, tangan, kaki, dan kulit disebut dalam ayat-ayat yang menggambarkan kesaksian amal.

Ini menunjukkan satu pelajaran besar:

manusia tidak hanya mempunyai ucapan, tetapi juga jejak perbuatan.

Maka syahadat di dunia seharusnya tidak berhenti di mulut.

Sebab kelak yang berbicara bukan hanya apa yang pernah kita katakan.

Amal juga mempunyai kesaksian.

Kalau lisan berkata:

“Aku beriman kepada Alloh,”

tetapi tangan terus menzalimi,

maka ada ketidaksesuaian.

Kalau lisan berkata:

“Aku mengikuti Rasulullah ﷺ,”

tetapi hidup sengaja dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan,

maka syahadat belum tampak dalam akhlak.

Bukan berarti orang itu harus langsung dihukumi keluar dari iman.

Tetapi ini menjadi peringatan:

kesaksian lisan perlu diperjuangkan agar selaras dengan kesaksian amal.


Jadi ada tiga lapisan yang bisa direnungkan

Pertama: kesaksian lisan.

Aku berkata:

أَشْهَدُ

Kedua: kesaksian hati.

Aku membenarkan apa yang aku ucapkan.

Ketiga: kesaksian amal.

Hidupku berusaha tidak bertentangan dengan kesaksian itu.

Dan di atas semuanya:

Alloh mengetahui seluruhnya.

Alloh mengetahui ucapan.

Alloh mengetahui hati.

Alloh mengetahui amal.

Tidak ada yang tersembunyi.


Karena itu, syahadat bisa dipahami sebagai satu kesatuan:

lisan menyatakan,

hati membenarkan,

amal membuktikan,

dan

Alloh menyaksikan semuanya.

Di sinilah kata Asyhadu menjadi sangat berat sekaligus sangat indah.

Berat karena ia mempunyai tanggung jawab.

Indah karena ia memberi arah hidup.

Manusia tidak lagi berjalan tanpa tujuan.

Ia tahu siapa Tuhannya.

Ia tahu siapa Rasul yang diikutinya.

Ia tahu bahwa semua amalnya berada dalam pengetahuan Alloh.

Dan ia tahu bahwa ketika salah, ia masih mempunyai jalan untuk kembali melalui taubat.

Maka jangan takut kepada dalamnya makna syahadat.

Justru kedalaman itu mengajarkan kelembutan:

aku tidak harus menjadi sempurna seketika.

Tetapi aku harus jujur dalam perjalanan.

Hari ini memperbaiki satu kesalahan.

Besok memperbaiki satu kebiasaan.

Lalu terus kembali kepada Alloh.

Sampai ucapan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

tidak hanya terdengar di mulut,

tetapi tercermin dalam cara hidup.

Dan:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

tidak hanya menjadi lafaz,

tetapi menjadi jalan untuk belajar akhlak, ibadah, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.

Itulah syahadat yang hidup.

Bukan hanya diucapkan.

Tetapi dijaga.

Dibenarkan.

Dan diperjuangkan sampai akhir.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Ketiga Belas — Kesaksian Diri, Kesaksian Alam, dan Kesaksian Alloh

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sesudah memahami siapa yang bersaksi dan siapa yang menyaksikan, ada satu lapisan makna yang lebih dalam:

apakah hanya lisan manusia yang bersaksi?

Jawabannya: dalam pengertian keimanan, manusia bersaksi dengan kesadarannya. Tetapi Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa seluruh ciptaan membawa tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran Alloh.

Langit tidak mengucapkan syahadat dengan bahasa manusia.

Gunung tidak berkata:

أَشْهَدُ

Laut tidak melafalkan dua kalimah syahadat seperti manusia.

Tetapi keberadaan mereka menjadi āyah — tanda.

Mereka menunjukkan keteraturan, kekuasaan, hikmah, dan penciptaan.

Karena itu, seorang yang merenungi alam dapat sampai pada kesadaran:

semua ini tidak berdiri sendiri.

Ada Pencipta.

Ada Pengatur.

Ada Yang Mahakuasa.

Maka alam bukan “saksi” dalam arti manusia berdiri di pengadilan dan memberikan kesaksian dengan lisan.

Tetapi alam menjadi tanda yang menunjuk kepada kebesaran Alloh.


Kesaksian manusia lebih khusus

Manusia diberi akal, kehendak, dan kemampuan memilih.

Karena itu ketika manusia berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

kesaksiannya mempunyai tanggung jawab.

Ia bukan sekadar suara alam.

Ia adalah keputusan kesadaran.

Seolah-olah ia berkata:

“Aku memilih untuk mengakui kebenaran ini.”

Di sinilah syahadat mempunyai nilai moral.

Karena manusia dapat menerima.

Manusia juga dapat menolak.

Manusia dapat taat.

Manusia juga dapat berpaling.

Maka ketika ia bersyahadat dengan sadar, ia sedang mengambil posisi di hadapan kebenaran.


Apakah anggota tubuh juga akan menjadi saksi?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa pada hari akhir, anggota tubuh dapat menjadi saksi atas apa yang dilakukan manusia.

Lidah, tangan, kaki, dan kulit disebut dalam ayat-ayat yang menggambarkan kesaksian amal.

Ini menunjukkan satu pelajaran besar:

manusia tidak hanya mempunyai ucapan, tetapi juga jejak perbuatan.

Maka syahadat di dunia seharusnya tidak berhenti di mulut.

Sebab kelak yang berbicara bukan hanya apa yang pernah kita katakan.

Amal juga mempunyai kesaksian.

Kalau lisan berkata:

“Aku beriman kepada Alloh,”

tetapi tangan terus menzalimi,

maka ada ketidaksesuaian.

Kalau lisan berkata:

“Aku mengikuti Rasulullah ﷺ,”

tetapi hidup sengaja dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan,

maka syahadat belum tampak dalam akhlak.

Bukan berarti orang itu harus langsung dihukumi keluar dari iman.

Tetapi ini menjadi peringatan:

kesaksian lisan perlu diperjuangkan agar selaras dengan kesaksian amal.


Jadi ada tiga lapisan yang bisa direnungkan

Pertama: kesaksian lisan.

Aku berkata:

أَشْهَدُ

Kedua: kesaksian hati.

Aku membenarkan apa yang aku ucapkan.

Ketiga: kesaksian amal.

Hidupku berusaha tidak bertentangan dengan kesaksian itu.

Dan di atas semuanya:

Alloh mengetahui seluruhnya.

Alloh mengetahui ucapan.

Alloh mengetahui hati.

Alloh mengetahui amal.

Tidak ada yang tersembunyi.


Karena itu, syahadat bisa dipahami sebagai satu kesatuan:

lisan menyatakan,

hati membenarkan,

amal membuktikan,

dan

Alloh menyaksikan semuanya.

Di sinilah kata Asyhadu menjadi sangat berat sekaligus sangat indah.

Berat karena ia mempunyai tanggung jawab.

Indah karena ia memberi arah hidup.

Manusia tidak lagi berjalan tanpa tujuan.

Ia tahu siapa Tuhannya.

Ia tahu siapa Rasul yang diikutinya.

Ia tahu bahwa semua amalnya berada dalam pengetahuan Alloh.

Dan ia tahu bahwa ketika salah, ia masih mempunyai jalan untuk kembali melalui taubat.

Maka jangan takut kepada dalamnya makna syahadat.

Justru kedalaman itu mengajarkan kelembutan:

aku tidak harus menjadi sempurna seketika.

Tetapi aku harus jujur dalam perjalanan.

Hari ini memperbaiki satu kesalahan.

Besok memperbaiki satu kebiasaan.

Lalu terus kembali kepada Alloh.

Sampai ucapan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

tidak hanya terdengar di mulut,

tetapi tercermin dalam cara hidup.

Dan:

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

tidak hanya menjadi lafaz,

tetapi menjadi jalan untuk belajar akhlak, ibadah, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.

Itulah syahadat yang hidup.

Bukan hanya diucapkan.

Tetapi dijaga.

Dibenarkan.

Dan diperjuangkan sampai akhir.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Keempat Belas — Ketika Diri Menjadi Saksi atas Dirinya Sendiri

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada satu kedalaman lagi dalam syahadat:

manusia bukan hanya bersaksi tentang kebenaran tauhid, tetapi juga sedang menempatkan dirinya sendiri di dalam kesaksian itu.

Ketika seseorang berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

ia tidak berkata:

“Orang lain bersaksi.”

Ia berkata:

“Aku bersaksi.”

Kata “aku” ini penting.

Sebab syahadat tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.

Ayah tidak dapat bersyahadat menggantikan hati anaknya.

Guru tidak dapat bersyahadat menggantikan muridnya.

Seorang wali tidak dapat mengambil alih tanggung jawab iman orang lain.

Setiap diri berdiri dengan kesadarannya sendiri di hadapan Alloh.

Maka syahadat mengajarkan:

iman mempunyai sisi yang sangat pribadi.

Manusia boleh dibimbing.

Boleh diajari.

Boleh dinasihati.

Tetapi pada akhirnya, setiap hati harus menjawab sendiri:

“Apakah aku benar-benar membenarkan kesaksian ini?”


Diri yang bersaksi, diri pula yang kelak dimintai pertanggungjawaban

Di sinilah syahadat mempunyai hubungan dengan amanah.

Lisan berkata:

“Aku bersaksi.”

Maka kehidupan seakan bertanya kembali:

“Apa yang engkau lakukan setelah bersaksi?”

Apakah kesaksian itu menjadikan hati lebih rendah?

Apakah kesaksian itu membuat seseorang lebih jujur?

Apakah kesaksian itu membuat ia lebih berhati-hati dalam menzalimi manusia?

Apakah kesaksian itu membuat ia lebih cepat kembali ketika berbuat salah?

Karena jika seseorang benar-benar menyadari bahwa Alloh mengetahui segala sesuatu, maka kesadaran itu akan mempengaruhi sikapnya.

Bukan berarti ia tidak pernah jatuh.

Tetapi ketika jatuh, ia sadar harus bangkit.

Bukan berarti ia tidak pernah salah.

Tetapi ketika salah, ia tidak merasa nyaman terus berada dalam kesalahan.


Apakah ruh yang bersaksi?

Dalam bahasa sehari-hari, orang kadang bertanya:

“Apakah ruh yang bersyahadat?”

Untuk menjawabnya perlu hati-hati.

Syahadat diucapkan oleh manusia sebagai satu kesatuan diri.

Manusia mempunyai jasad, akal, hati, dan ruh.

Tetapi kita tidak perlu memisahkan seolah-olah ruh berdiri sendiri dan mengucapkan syahadat tanpa diri manusia.

Yang diperintahkan beriman dan bersaksi adalah manusia itu sendiri.

Ruh adalah bagian dari hakikat kehidupan manusia, tetapi hakikat ruh secara mendalam termasuk perkara yang ilmunya sangat terbatas bagi manusia.

Karena itu lebih aman mengatakan:

manusialah yang bersyahadat dengan kesadaran, lisan, dan pembenaran hati.

Jangan membuat klaim yang tidak memiliki dasar kuat bahwa ada “suara ruh tertentu” atau “saksi gaib tertentu” di dalam diri.

Syahadat cukup agung tanpa harus ditambah sesuatu yang tidak diketahui.


Lalu siapa saksi paling dekat?

Bila direnungkan, ada beberapa tingkat:

manusia sendiri mengetahui apa yang ia ucapkan,

manusia lain dapat mendengar ucapan lahiriahnya,

amalnya meninggalkan jejak,

dan

Alloh mengetahui semuanya secara sempurna.

Maka saksi paling sempurna bukanlah manusia.

Bukan malaikat yang kita bayangkan secara bebas.

Bukan alam yang kita personifikasikan.

Tetapi:

Alloh Maha Menyaksikan.

Dan karena Alloh mengetahui isi hati, tidak ada kepura-puraan yang dapat disembunyikan dari-Nya.


Syahadat mengembalikan manusia kepada kejujuran diri

Ada orang yang sangat sibuk ingin dianggap baik oleh manusia.

Tetapi syahadat mengajarkan pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah aku jujur di hadapan Alloh?”

Ada orang yang ingin dianggap alim.

Tetapi syahadat bertanya:

“Apakah ilmumu membuatmu lebih tunduk?”

Ada orang yang ingin dianggap dekat dengan Alloh.

Tetapi syahadat bertanya:

“Apakah kedekatan itu membuat akhlakmu lebih baik?”

Maka syahadat sebenarnya adalah cermin.

Kita berdiri di hadapannya.

Tidak untuk menghakimi diri tanpa harapan.

Tetapi untuk melihat:

apa yang perlu diperbaiki,

apa yang perlu ditaubati,

dan apa yang perlu dijaga.


Maka dapat diringkas:

Yang bersaksi: manusia.

Yang diakui dalam kesaksian: tauhid kepada Alloh dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Yang mengetahui seluruh kesaksian secara sempurna: Alloh.

Yang kelak bertanggung jawab atas kesaksiannya: diri manusia itu sendiri.

Karena itu kata:

أَشْهَدُ

adalah kata yang sangat pribadi.

Ia seperti berkata:

“Aku tidak bersembunyi di balik orang lain. Aku sendiri yang menyatakan kesaksian ini.”

Dan dari situlah perjalanan dimulai.

Bukan perjalanan menjadi sempurna.

Tetapi perjalanan menjadi jujur.

Jujur dalam iman.

Jujur dalam taubat.

Jujur dalam ibadah.

Jujur dalam akhlak.

Sampai kesaksian di lisan bertemu dengan kesaksian kehidupan.

Semoga Alloh menjaga kita dalam kesaksian yang benar, membersihkan hati dari kepura-puraan, dan meneguhkan tauhid sampai akhir hayat.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kelima Belas — Penutup Besar: Dari “Aku Bersaksi” Menuju Hidup yang Menjadi Kesaksian

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sampailah kita pada lembar terakhir.

Setelah membahas dua kalimah syahadat, makna bersyahadat, siapa yang bersaksi, apa yang disaksikan, siapa yang mengetahui kesaksian itu, serta bagaimana hati dan amal berhubungan dengannya, akhirnya kita kembali kepada satu kata yang sangat sederhana:

أَشْهَدُ

Asyhadu.

“Aku bersaksi.”

Tetapi semakin direnungkan, kata ini semakin dalam.

Sebab ketika manusia berkata:

“Aku bersaksi,”

ia sebenarnya sedang berdiri di hadapan tiga kenyataan sekaligus:

bahwa ada kebenaran yang ia akui,

bahwa dirinya bertanggung jawab atas pengakuan itu,

dan bahwa Alloh mengetahui apakah kesaksian tersebut benar-benar hidup di dalam dirinya.


Syahadat bukan memberi tahu Alloh

Manusia tidak bersyahadat karena Alloh membutuhkan informasi.

Alloh tidak menunggu manusia berkata:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

agar Alloh mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan.

Alloh tetap Alloh sekalipun seluruh manusia mengingkari-Nya.

Tauhid tidak menjadi benar karena manusia mengucapkannya.

Tauhid adalah kebenaran, sedangkan syahadat adalah pengakuan manusia terhadap kebenaran itu.

Maka yang berubah ketika seseorang bersyahadat bukanlah kedudukan Alloh.

Yang berubah adalah kedudukan manusia terhadap kebenaran.

Sebelumnya ia hanya mendengar.

Kemudian ia mengetahui.

Lalu ia membenarkan.

Dan akhirnya ia berkata:

“Aku bersaksi.”


Siapakah “aku” dalam Asyhadu?

“Aku” dalam syahadat bukan hanya mulut.

Bukan hanya tubuh.

Bukan pula sesuatu yang boleh kita pisahkan secara liar menjadi bagian-bagian gaib yang tidak kita ketahui.

“Aku” adalah diri manusia yang bertanggung jawab di hadapan Alloh.

Lidah menjadi alat pengucapan.

Akal memahami.

Hati membenarkan.

Tubuh menjalankan amal.

Dan seluruh diri itulah yang kelak mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Maka ketika berkata:

أَشْهَدُ

seakan-akan manusia berkata:

“Ya Alloh, diriku sendiri berdiri dalam kesaksian ini.”

Bukan atas nama orang lain.

Bukan karena ayahku Muslim.

Bukan karena keluargaku Muslim.

Bukan karena masyarakatku Muslim.

Tetapi:

“Aku sendiri mengakui-Mu sebagai Tuhanku.”


Lalu siapa yang menyaksikan orang yang bersaksi?

Jika syahadat diucapkan di hadapan manusia, manusia dapat menyaksikan ucapannya.

Mereka mendengar suara.

Mereka melihat bibir bergerak.

Mereka mengetahui bahwa seseorang telah menyatakan syahadat.

Tetapi manusia tidak dapat membuka hati sesamanya.

Manusia tidak mengetahui kadar keikhlasan secara sempurna.

Tidak mengetahui seluruh keraguan.

Tidak mengetahui seluruh perjuangan batin.

Tidak mengetahui seluruh rahasia yang tersembunyi.

Di sinilah batas manusia berhenti.

Sedangkan Alloh mengetahui:

yang terdengar maupun yang tersembunyi,

yang diucapkan maupun yang disimpan,

yang jujur maupun yang dibuat-buat.

Karena itu Alloh adalah saksi yang tidak pernah tertipu oleh penampilan.


Jangan terjebak pada pertanyaan: “Apakah Alloh menjadi saksi bagi diri-Nya sendiri?”

Pertanyaan seperti ini dapat muncul ketika kita terlalu jauh membawa perumpamaan kesaksian manusia kepada hakikat Alloh.

Kesaksian manusia mempunyai keterbatasan.

Manusia membutuhkan bukti karena pengetahuannya terbatas.

Manusia membutuhkan saksi karena ia dapat lupa, salah, atau berdusta.

Tetapi Alloh tidak demikian.

Pengetahuan Alloh sempurna.

Maka jangan membayangkan syahadat seperti ruang pengadilan manusia:

ada terdakwa,

ada hakim,

ada dua orang saksi,

kemudian Alloh ditempatkan ke dalam susunan itu.

Tidak.

Bahasa kesaksian di sini membantu manusia memahami pengakuan yang pasti dan sungguh-sungguh, bukan membatasi Alloh dengan sistem kesaksian manusia.


Al-Qur’an mempertemukan kesaksian dengan tauhid

Dalam Al-Qur’an terdapat makna yang sangat agung bahwa Alloh menyatakan keesaan-Nya, demikian pula para malaikat dan orang-orang berilmu.

Ini mengajarkan bahwa tauhid bukan hasil penemuan manusia.

Manusia justru dipanggil untuk mengenali kebenaran yang telah ditegakkan oleh Alloh.

Maka ketika seorang hamba berkata:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

ia memasukkan dirinya ke dalam barisan orang yang mengakui kebenaran tauhid.

Betapa kecil manusianya.

Betapa besar kesaksiannya.


Kesaksian pertama: tiada Tuhan selain Alloh

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

bukan hanya kalimat penolakan terhadap berhala berbentuk patung.

Ia juga mendidik hati agar tidak menjadikan sesuatu selain Alloh sebagai pusat penghambaan.

Manusia dapat menjadikan:

harta sebagai sesuatu yang dikejar sampai melupakan halal dan haram,

kedudukan sebagai sesuatu yang dipertahankan sampai menzalimi,

manusia sebagai sesuatu yang ditakuti melebihi kebenaran,

bahkan dirinya sendiri sebagai pusat segala keputusan.

Tauhid datang untuk menata semuanya.

Harta tetap harta.

Kedudukan tetap kedudukan.

Manusia tetap manusia.

Diri tetap hamba.

Dan hanya Alloh yang menjadi Tuhan.


Kesaksian kedua: Muhammad adalah Rasul Alloh

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ

menjaga kesaksian pertama agar manusia tidak menciptakan jalan agamanya sendiri.

Orang dapat berkata:

“Aku mencintai Alloh.”

Tetapi bagaimana cara menyembah-Nya?

Bagaimana sholat?

Bagaimana berpuasa?

Bagaimana bersikap kepada orang tua?

Bagaimana memperlakukan tetangga?

Bagaimana berdagang?

Bagaimana memaafkan?

Bagaimana menghadapi musuh?

Di sinilah kerasulan mempunyai kedudukan yang besar.

Rasulullah ﷺ membawa petunjuk tentang bagaimana penghambaan kepada Alloh dijalani.

Maka dua syahadat tidak dapat dipisahkan:

yang pertama menunjukkan kepada siapa kita menyembah,

yang kedua menunjukkan jalan mengikuti petunjuk-Nya.


Ketika lisan menjadi saksi dan amal menjadi bukti

Ada orang yang berkata:

“Aku bersaksi.”

Kemudian kehidupannya masih jauh dari yang ia ucapkan.

Apakah berarti syahadatnya sia-sia?

Tidak boleh terburu-buru menghukumi isi hati manusia.

Yang harus dilakukan adalah melihat syahadat sebagai panggilan untuk memperbaiki diri.

Jika lidah berkata:

“Alloh adalah Tuhanku,”

tetapi hati masih dikuasai kesombongan,

maka kesombongan itu yang diperbaiki.

Jika lidah berkata:

“Muhammad adalah Rasul Alloh,”

tetapi akhlak masih kasar,

maka akhlak itu yang diperbaiki.

Jika seseorang masih berdosa,

ia tidak perlu menunggu menjadi suci untuk kembali.

Ia kembali karena ia belum suci.

Taubat adalah jalan orang yang sadar bahwa syahadatnya masih perlu dibuktikan dalam perjalanan.


Anggota tubuh akan berbicara

Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa pada hari akhir, anggota tubuh dapat menjadi saksi terhadap apa yang manusia kerjakan.

Renungkanlah:

di dunia lidah berkata:

“Aku bersaksi.”

Tetapi kelak tangan, kaki, dan kulit mempunyai kesaksian tentang apa yang dilakukan.

Maka jangan biarkan lisan berjalan ke satu arah sementara kehidupan berjalan ke arah yang berlawanan.

Syahadat menginginkan kesatuan:

lidah mengakui,

hati membenarkan,

dan amal berusaha mengikuti.

Tidak harus langsung sempurna.

Tetapi harus ada arah.


Apakah alam juga bersaksi?

Langit, bumi, matahari, bulan, air, gunung, tumbuhan, dan seluruh ciptaan adalah ayat-ayat Alloh.

Kita tidak perlu mengatakan bahwa mereka mengucapkan dua kalimah syahadat persis sebagaimana manusia mengucapkannya.

Tetapi keberadaan mereka menjadi tanda.

Langit menunjukkan keteraturan.

Bumi menunjukkan pemeliharaan.

Kehidupan menunjukkan ketelitian penciptaan.

Maka orang yang merenung dapat berkata:

“Semakin aku melihat ciptaan, semakin aku sadar bahwa aku bukan pencipta diriku sendiri.”

Alam bukan Tuhan.

Alam adalah ciptaan.

Dan ciptaan menunjuk kepada Penciptanya.


Kesaksian terdalam bukan pengalaman melihat Zat Alloh

Ini juga penting.

Ketika seseorang mengatakan:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh,”

ia tidak sedang mengaku telah melihat Zat Alloh dengan mata.

Keimanan kepada Alloh bukan dibangun atas klaim bahwa seseorang telah melihat hakikat Zat-Nya.

Karena itu berhati-hatilah terhadap ucapan seperti:

“Aku sudah melihat Tuhan secara hakiki.”

Atau:

“Karena aku bersaksi, berarti aku pasti pernah melihat Zat Alloh.”

Itu bukan kesimpulan yang benar dari lafaz syahadat.

Asyhadu dapat berarti menyatakan sesuatu berdasarkan ilmu, keyakinan, dan pengakuan yang pasti.

Tidak selalu berarti melihat langsung dengan mata.


Maka apa hakikat bersyahadat?

Hakikat bersyahadat dapat dirangkum:

Aku mengetahui.

Aku membenarkan.

Aku mengakui.

Aku menyatakan.

Aku menerima tanggung jawab dari kesaksianku.

Kemudian perjalanan hidup bertanya:

“Apakah engkau akan menjaga apa yang telah engkau akui?”

Di situlah syahadat berubah dari kalimat menjadi perjalanan.


Dari syahadat menuju ma’rifat yang sehat

Semakin mengenal Alloh, seorang hamba seharusnya semakin sadar bahwa Alloh tidak dapat dikurung oleh khayalannya.

Maka ma’rifat yang sehat tidak membuat manusia berkata:

“Aku sudah mengetahui seluruh rahasia Tuhan.”

Justru sebaliknya.

Ia berkata:

“Semakin aku belajar, semakin aku sadar betapa terbatasnya pengetahuanku.”

Ma’rifat melahirkan ketundukan.

Bukan kesombongan.

Jika pengetahuan ruhani membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan sholat, syariat, atau petunjuk Rasulullah ﷺ, maka ada sesuatu yang harus diperiksa kembali.

Sebab syahadat sendiri menyatukan:

tauhid kepada Alloh

dan

pengakuan kepada Rasulullah ﷺ.

Tidak semestinya seseorang mengaku menuju Alloh dengan cara meninggalkan Rasul-Nya.


Dari syahadat menuju kerendahan hati

Orang yang benar-benar memahami:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

akan sulit merasa dirinya sebagai pusat alam.

Sebab ia sadar:

aku bukan Tuhan.

Ilmuku terbatas.

Umurku terbatas.

Kekuatanku terbatas.

Aku bisa benar.

Aku juga bisa salah.

Aku bisa taat.

Aku juga bisa tergelincir.

Maka ia membutuhkan Alloh setiap saat.

Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat.

Kerendahan hati berarti menempatkan diri pada kedudukannya:

seorang hamba di hadapan Alloh.


Syahadat ketika sendirian

Ada saat ketika seseorang membaca syahadat tanpa siapa pun di sampingnya.

Tidak ada guru.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada jamaah.

Ia hanya seorang diri.

Apakah kesaksiannya kehilangan makna?

Tidak.

Sebab Alloh mengetahui.

Bahkan barangkali saat sendirian itulah manusia dapat bertanya paling jujur kepada dirinya:

“Apakah aku sungguh-sungguh dengan apa yang kuucapkan?”

Ketika tidak ada manusia yang perlu dibuat terkesan, tersisa hubungan antara hamba dan Tuhannya.


Syahadat ketika menghadapi dosa

Seorang hamba berdosa.

Lalu syaitan dapat membisikkan:

“Engkau sudah terlalu kotor.”

Tetapi syahadat menjawab:

Alloh tetap Tuhanku.

Aku masih mempunyai jalan taubat.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan jalan kembali.

Maka jangan jadikan dosa sebagai alasan meninggalkan Alloh.

Jadikan dosa sebagai alasan semakin membutuhkan ampunan-Nya.


Syahadat ketika memperoleh kemuliaan

Ada ujian yang lebih halus daripada penderitaan:

penghormatan.

Ketika seseorang dipuji,

dipanggil dengan gelar,

diikuti banyak orang,

atau dipercaya memimpin,

syahadat kembali mengingatkan:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Yang Mahatinggi tetap Alloh.

Aku hanya hamba.

Maka semakin tinggi kedudukan manusia, seharusnya semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga hati.


Syahadat ketika ajal mendekat

Pada akhirnya seluruh gelar akan dilepaskan.

Harta ditinggalkan.

Rumah ditinggalkan.

Nama besar ditinggalkan.

Tubuh pun tidak selamanya dapat kita pertahankan.

Yang paling diharapkan seorang Muslim adalah keluar dari dunia dengan iman.

Karena itu kalimat:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

menjadi kalimat yang begitu dicintai.

Bukan sebagai mantra.

Bukan sebagai jaminan mekanis tanpa iman dan rahmat Alloh.

Tetapi sebagai puncak pengakuan seorang hamba:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau.”


Maka siapakah yang bersaksi?

Aku.

Manusia yang mengucapkan syahadat.

Apa yang disaksikan?

Kebenaran tauhid kepada Alloh dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.

Siapa yang mendengar kesaksian?

Manusia dapat mendengarnya secara lahir.

Siapa yang mengetahui isi hati?

Alloh.

Siapa yang kelak mempertanggungjawabkan kesaksian itu?

Diri yang bersaksi.

Apa yang menjadi bukti perjalanan kesaksian?

Iman, ibadah, akhlak, amal, taubat, dan seluruh jejak kehidupan.


Penutup Qitab

Maka setelah seluruh lembar ini, kita kembali kepada dua kalimat yang tampaknya pendek tetapi memuat arah seluruh kehidupan:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ

Asyhadu an lā ilāha illallāh.

Wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh.

Hari pertama kita mengucapkannya, ia adalah kesaksian.

Ketika kita mulai memahaminya, ia menjadi ilmu.

Ketika hati menerimanya, ia menjadi iman.

Ketika tubuh menjalankannya, ia menjadi amal.

Ketika kita tergelincir lalu kembali, ia menjadi jalan taubat.

Ketika kita menjaga amanahnya sepanjang umur, ia menjadi perjalanan.

Dan ketika kehidupan berakhir dalam tauhid, itulah harapan terbesar seorang hamba.

Maka jangan hanya bertanya:

“Siapa yang menjadi saksi ketika aku bersyahadat?”

Tanyakan pula:

“Setelah aku bersaksi, hidup seperti apakah yang sedang kubangun?”

Sebab suara syahadat mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Tetapi amanah syahadat berlangsung sepanjang kehidupan.

Semoga Alloh menjadikan lisan kita benar dalam syahadat.

Hati kita kokoh dalam tauhid.

Akal kita jernih dalam memahami petunjuk.

Amal kita semakin sesuai dengan apa yang kita akui.

Kesalahan kita diampuni.

Kesombongan kita direndahkan.

Taubat kita diterima.

Dan pada akhir perjalanan, semoga kita kembali kepada Alloh membawa iman yang Dia ridhai.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ

Allāhumma tsabbit qulūbanā ‘alal-īmāni wat-tauḥīd.

“Ya Alloh, teguhkanlah hati kami di atas iman dan tauhid.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Tamat

Qitab Dua Kalimah Syahadat dan Bersyahadat


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh