QITAB HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG

 



QITAB HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG


Risalah tentang Pilihan, Kejujuran, dan Penerimaan terhadap Ketentuan Alloh


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, dengan tetap menjaga tauhid dan adab, kita membuka Qitab Hompimpa Alaium Gambreng sebagai karya perenungan dan bahasa simbolik—bukan kitab suci, bukan wahyu baru, serta bukan sumber hukum agama.


Ungkapan yang sejak kecil diucapkan ketika menentukan giliran ternyata menyimpan pelajaran sederhana: manusia boleh memilih, tetapi tidak selalu dapat menentukan hasil akhirnya.


---


Makna Nama Qitab


1. Hompimpa


Hompimpa menggambarkan saat beberapa tangan masih berada dalam satu lingkaran.


Belum diketahui siapa yang akan terpilih.

Belum tampak siapa yang berada di atas atau di bawah.

Belum jelas siapa yang maju dan siapa yang menunggu.


Ia melambangkan bahwa pada permulaan kehidupan, manusia sama-sama berada dalam rahasia Alloh.


Tidak seorang pun mengetahui:


- di keluarga mana ia dilahirkan,

- berapa panjang umurnya,

- siapa yang kelak ditemuinya,

- ujian apa yang akan mendatanginya,

- dan melalui jalan mana rezekinya dibukakan.


Manusia memulai perjalanan dari ketidaktahuan.


---


2. Alaium


Dalam Qitab ini, Alaium dimaknai secara simbolik sebagai:


«“Atas dirimu terdapat amanah, dan di hadapanmu terbentang pilihan.”»


Setiap pilihan memiliki akibat.

Setiap ucapan meninggalkan jejak.

Setiap langkah membawa manusia mendekati atau menjauhi kebaikan.


Namun manusia tidak boleh merasa menjadi penguasa mutlak atas segala hasil. Ia hanya diwajibkan berikhtiar dengan jujur, berdoa dengan rendah hati, lalu menyerahkan ketentuan kepada Alloh.


---


3. Gambreng


Gambreng adalah saat tangan dibuka dan pilihan diperlihatkan.


Yang sebelumnya tersembunyi menjadi nyata.

Yang sebelumnya hanya niat berubah menjadi tindakan.

Yang sebelumnya berada di dalam hati mulai tampak melalui perbuatan.


Gambreng mengajarkan:


«“Pada waktunya, isi batin akan terlihat melalui sikap.”»


Orang dapat menyembunyikan maksudnya sesaat, tetapi perbuatan yang berulang akan memperlihatkan keadaan hatinya.


---


Lembar Pertama


Ketika Semua Tangan Masih Tertutup


Pada suatu masa, berkumpullah beberapa anak manusia dalam sebuah lingkaran kehidupan.


Mereka mengulurkan tangan bersama-sama.

Ada tangan orang kaya.

Ada tangan orang miskin.

Ada tangan orang berilmu.

Ada tangan orang yang masih belajar.

Ada tangan orang yang kuat.

Ada pula tangan orang yang sedang terluka.


Namun ketika semua tangan masih tertutup, tidak tampak perbedaan di antara mereka.


Lalu terdengarlah seruan:


«“Hompimpa alaium gambreng.”»


Semua tangan pun dibuka.


Sebagian telapak menghadap ke atas.

Sebagian menghadap ke bawah.

Sebagian terpilih untuk berjalan terlebih dahulu.

Sebagian harus menunggu giliran.


Kemudian salah seorang berkata:


“Berarti yang tangannya berbeda adalah manusia yang paling mulia.”


Seorang tua yang menjaga lingkaran itu menjawab:


“Bukan. Perbedaan tangan hanya menentukan giliran dalam permainan, bukan menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Alloh.”


Yang lain berkata:


“Berarti yang menang boleh merendahkan yang kalah.”


Orang tua itu menjawab:


“Tidak. Kemenangan adalah ujian syukur, sedangkan kekalahan adalah ujian kesabaran.”


Anak lainnya bertanya:


“Apakah hasil permainan ini adalah takdir?”


Orang tua itu berkata:


“Jangan mencampuradukkan permainan manusia dengan seluruh rahasia takdir. Permainan memiliki aturan dan kemungkinan, sedangkan ilmu Alloh meliputi sesuatu yang tidak mampu dijangkau manusia.”


Mereka pun terdiam.


Orang tua itu melanjutkan:


“Ketika tanganmu berada di atas, jangan sombong.

Ketika tanganmu berada di bawah, jangan merasa hina.

Ketika engkau terpilih, jalankan amanah.

Ketika engkau belum terpilih, persiapkan dirimu.”


---


Pelajaran Lingkaran


Kehidupan sering menyerupai sebuah lingkaran.


Hari ini seseorang berada di depan.

Besok ia mungkin berada di belakang.


Hari ini seseorang memiliki kekayaan.

Besok ia mungkin membutuhkan pertolongan.


Hari ini seseorang dipuji banyak orang.

Besok ia mungkin diuji melalui celaan.


Karena itu, jangan menganggap kedudukan sementara sebagai ukuran kemuliaan yang abadi.


Kemuliaan bukan ditentukan oleh posisi tangan, pakaian, jabatan, keturunan, ataupun banyaknya orang yang mengikuti.


Kemuliaan tumbuh melalui:


- ketakwaan,

- kejujuran,

- kasih sayang,

- tanggung jawab,

- kesabaran,

- dan manfaat yang diberikan kepada sesama.


---


Rahasia Tangan Terbuka


Tangan yang terbuka mempunyai beberapa makna.


Pertama, keterbukaan menerima petunjuk.

Orang yang merasa telah mengetahui semuanya akan sulit menerima nasihat.


Kedua, kerelaan memberi.

Tangan yang hanya menggenggam akan cepat lelah, sedangkan tangan yang memberi menghadirkan keluasan hati.


Ketiga, keberanian mempertanggungjawabkan pilihan.

Setelah tangan dibuka, seseorang tidak lagi dapat menyembunyikan pilihannya.


Keempat, kepasrahan setelah ikhtiar.

Manusia berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil akhirnya diserahkan kepada Alloh.


---


Jangan Menjadikan Qitab Ini sebagai Mantra


Ucapan “Hompimpa alaium gambreng” dalam Qitab ini tidak dijadikan wirid, mantra pemanggil kekuatan, alat meramal nasib, ataupun sarana menentukan perkara agama.


Ia hanya menjadi pintu bahasa untuk merenungkan:


- kesetaraan manusia,

- keberanian memilih,

- kesiapan menerima hasil,

- dan adab ketika menang maupun kalah.


Untuk memohon petunjuk dalam urusan penting, seorang Muslim tetap diarahkan kepada doa, musyawarah, istikharah, pertimbangan yang sehat, dan ikhtiar yang benar.


---


Pesan Lembar Pertama


«Jangan merasa paling tinggi hanya karena tanganmu sedang berada di atas.

Jangan merasa tidak berharga hanya karena tanganmu sedang berada di bawah.

Lingkaran kehidupan terus berputar, sedangkan nilai dirimu ditentukan oleh cara engkau menjaga amanah.»


Doa Penutup Lembar Pertama


Allāhumma ihdinā li-aḥsanil-akhlāq,

wa waffiqnā li-ṣawābil-ikhtiyār,

warzuqnā riḍan ba‘da qaḍā’ika.


Ya Alloh, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, bimbinglah kami agar memilih dengan benar, dan karuniakanlah keridaan setelah ketentuan-Mu berlaku.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Kedua


Rahasia Tangan yang Berbeda


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, pada lembar sebelumnya telah diterangkan bahwa tangan yang berada di atas ataupun di bawah tidak menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Alloh.


Pada lembar ini, kita memasuki perenungan tentang mengapa manusia diberikan pilihan yang berbeda-beda, padahal semuanya hidup di bawah langit yang sama.


Pada suatu hari, anak-anak kembali berkumpul dalam lingkaran.


Mereka mengulurkan tangan sambil mengucapkan:


«“Hompimpa alaium gambreng.”»


Ketika tangan dibuka, tampaklah perbedaan.


Ada telapak yang menghadap ke atas.

Ada punggung tangan yang menghadap ke atas.

Ada satu tangan yang terlambat dibuka.

Ada pula tangan yang berubah posisi karena pemiliknya takut kalah.


Orang tua penjaga lingkaran memperhatikan semuanya.


Ia lalu berkata:


“Permainan ini bukan hanya memperlihatkan pilihan, tetapi juga memperlihatkan kejujuran.”


Seorang anak bertanya:


“Bagaimana sebuah tangan dapat menunjukkan kejujuran?”


Orang tua itu menjawab:


“Ketika seseorang berani mempertahankan pilihannya tanpa menipu, tangannya sedang mengajarkan keberanian. Ketika seseorang mengubah pilihannya setelah melihat pilihan orang lain, tangannya sedang memperlihatkan ketakutan dan ketidakjujuran.”


Anak yang tadi mengubah tangannya pun menunduk.


Ia berkata:


“Aku takut kalah.”


Orang tua itu menjawab:


“Takut kalah adalah manusiawi. Namun menipu agar selalu menang akan membuat hatimu kehilangan ketenangan.”


---


Menang dengan Curang Bukanlah Kemenangan


Saudara cahayaku, tidak semua kemenangan adalah kemuliaan.


Ada orang yang tampak menang, tetapi di dalam hatinya menyimpan ketakutan karena memperoleh kemenangan melalui kebohongan.


Ada orang yang tampak kalah, tetapi hatinya tenang karena ia tidak mengkhianati kebenaran.


Kemenangan yang diperoleh dengan kecurangan hanya menghasilkan kegembiraan sesaat. Setelah itu, hati akan terus menjaga kebohongannya agar tidak terbongkar.


Sedangkan kekalahan yang diterima dengan jujur dapat menjadi pintu kedewasaan.


Karena itu, janganlah berkata:


«“Yang penting aku menang.”»


Tetapi katakanlah:


«“Yang penting aku tetap benar, jujur, dan tidak merugikan orang lain.”»


Dalam pekerjaan, perdagangan, persahabatan, keluarga, dan kepemimpinan, manusia sering diuji oleh dua jalan:


1. jalan cepat tetapi mengandung kecurangan;

2. jalan lebih berat tetapi menjaga kejujuran.


Orang yang hanya melihat hasil akan memilih jalan tercepat.


Orang yang melihat pertanggungjawaban di hadapan Alloh akan memilih jalan yang benar, meskipun langkahnya lebih lambat.


---


Tangan yang Terlambat Dibuka


Dalam lingkaran itu, terdapat seorang anak yang selalu terlambat membuka tangannya.


Teman-temannya menertawakannya.


Mereka berkata:


“Engkau selalu tertinggal.”


Namun orang tua penjaga lingkaran melarang mereka merendahkannya.


Ia berkata:


“Tidak semua keterlambatan adalah kemalasan. Bisa jadi seseorang sedang belajar memahami aturan. Bisa jadi ia sedang takut berbuat salah. Bisa jadi pikirannya tidak secepat kalian.”


Kemudian ia mendekati anak itu dan bertanya:


“Mengapa engkau selalu terlambat?”


Anak tersebut menjawab:


“Aku takut memilih sesuatu yang salah.”


Orang tua itu berkata:


“Berhati-hati adalah baik, tetapi terlalu takut memilih juga dapat membuatmu berhenti menjalani kehidupan.”


Ia melanjutkan:


“Tidak semua pilihan harus menunggu kepastian yang sempurna. Ada waktunya engkau berpikir, ada waktunya engkau bermusyawarah, dan ada waktunya engkau harus mengambil keputusan.”


Anak itu bertanya:


“Bagaimana jika pilihanku ternyata salah?”


Orang tua itu menjawab:


“Jika engkau telah berusaha jujur, meminta petunjuk, mempertimbangkan akibat, dan tidak berniat merugikan, maka kesalahan dapat menjadi pelajaran. Namun jika engkau mengetahui yang benar lalu sengaja memilih yang salah, itulah yang harus engkau sesali dan perbaiki.”


---


Pilihan dan Niat


Dua orang dapat melakukan perbuatan yang sama, tetapi memiliki niat yang berbeda.


Seseorang memberi agar dipuji.


Seseorang lagi memberi karena ingin meringankan kesulitan saudaranya.


Dari luar, kedua tangan sama-sama menyerahkan bantuan.


Namun Alloh mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.


Karena itu, sebelum membuka tangan, lihatlah keadaan niatmu.


Tanyakan kepada dirimu:


“Apakah aku memilih karena kebenaran?”


“Apakah aku memilih karena takut kepada penilaian manusia?”


“Apakah aku sedang mengikuti hawa nafsu?”


“Apakah pilihanku akan melukai orang lain?”


“Apakah aku sanggup mempertanggungjawabkannya?”


Niat yang baik harus diikuti cara yang baik.


Tidak cukup seseorang berkata:


«“Niatku baik.”»


Apabila cara yang dipakai adalah menipu, memaksa, merendahkan, atau merugikan orang lain.


Kebaikan tidak dibangun dengan kezaliman.


---


Saat Pilihan Tidak Sesuai Harapan


Setelah permainan selesai, seorang anak menangis karena tidak terpilih.


Ia berkata:


“Aku sudah memilih dengan jujur, tetapi mengapa aku tidak menang?”


Orang tua itu menjawab:


“Kejujuran tidak selalu membuatmu segera mendapatkan semua yang engkau inginkan. Namun kejujuran akan menjaga dirimu agar tidak kehilangan kehormatan.”


Anak itu berkata:


“Lalu apa gunanya berbuat benar jika hasilnya sama saja?”


Orang tua tersebut tersenyum dan berkata:


“Tidak sama.”


“Orang yang gagal dalam kejujuran masih memiliki hati yang bersih untuk bangkit.”


“Orang yang berhasil melalui kebohongan harus terus membawa beban kebohongannya.”


“Engkau mungkin kehilangan satu giliran, tetapi jangan sampai kehilangan dirimu sendiri.”


Saudara cahayaku, inilah salah satu rahasia kehidupan:


Kadang-kadang Alloh tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan pada saat yang kita tentukan.


Bukan berarti doa tidak didengar.


Bukan pula berarti usaha tidak bernilai.


Bisa jadi waktunya belum tepat.


Bisa jadi jalannya harus diperbaiki.


Bisa jadi sesuatu yang kita kejar tidak baik bagi kehidupan kita.


Bisa pula Alloh sedang mengajarkan kesabaran, kedewasaan, dan kerendahan hati.


Namun kita tidak boleh mengaku mengetahui dengan pasti seluruh rahasia Alloh.


Tugas manusia adalah berdoa, berusaha, memperbaiki cara, dan menerima bahwa ilmu manusia terbatas.


---


Jangan Membandingkan Setiap Tangan


Dalam sebuah lingkaran, panjang jari setiap orang berbeda.


Kekuatan genggamannya berbeda.


Luka yang pernah dialaminya pun berbeda.


Begitu pula kehidupan manusia.


Ada orang yang cepat memperoleh pekerjaan.


Ada yang harus menunggu bertahun-tahun.


Ada yang mudah mendapatkan keturunan.


Ada yang harus menjalani pengobatan dan kesabaran panjang.


Ada yang sejak kecil hidup berkecukupan.


Ada yang harus bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok.


Karena itu, jangan mengukur seluruh kehidupan orang lain dengan keadaanmu sendiri.


Engkau tidak mengetahui ujian yang mereka sembunyikan.


Engkau juga tidak mengetahui amanah yang harus mereka tanggung.


Melihat orang lain berada di atas bukan alasan untuk iri.


Melihat orang lain berada di bawah bukan alasan untuk merendahkan.


Jika engkau memiliki kelebihan, gunakanlah untuk menolong.


Jika engkau memiliki kekurangan, jangan kehilangan harapan.


---


Tangan yang Menggenggam Terlalu Kuat


Orang tua itu kemudian meminta semua anak mengepalkan tangannya sekuat mungkin.


Beberapa saat kemudian, tangan mereka mulai terasa sakit.


Ia berkata:


“Begitulah manusia ketika menggenggam keinginan terlalu kuat.”


“Semakin takut kehilangan, semakin besar penderitaannya.”


Lalu ia meminta mereka membuka telapak tangan.


Mereka merasakan kelegaan.


Orang tua itu berkata:


“Membuka tangan bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Membuka tangan berarti menyadari bahwa sesuatu yang engkau miliki hanyalah titipan.”


Harta adalah titipan.


Jabatan adalah titipan.


Kepandaian adalah titipan.


Kecantikan adalah titipan.


Kesehatan adalah titipan.


Keluarga adalah titipan.


Bahkan waktu hidup adalah titipan.


Manusia boleh menjaga titipan, tetapi tidak boleh merasa sebagai pemilik mutlak.


Apa yang datang patut disyukuri.


Apa yang pergi patut dihadapi dengan sabar.


Apa yang rusak harus diperbaiki sebisanya.


Apa yang tidak dapat dipertahankan harus diserahkan kepada ketentuan Alloh.


---


Empat Adab dalam Memilih


Sebelum mengambil keputusan, jagalah empat perkara.


Pertama: Jernihkan Niat


Jangan memilih hanya karena ingin dipuji, ditakuti, dianggap lebih tinggi, atau ingin mengalahkan orang lain.


Niatkan pilihan sebagai ikhtiar mencari kebaikan dan menghindari kerusakan.


Kedua: Periksa Akibat


Jangan hanya melihat keuntungan hari ini.


Lihat juga akibat bagi keluarga, orang lain, agama, kesehatan, dan masa depan.


Pilihan yang menyenangkan sesaat dapat membawa penyesalan panjang.


Ketiga: Bermusyawarah


Perkara penting jangan selalu diputuskan seorang diri.


Mintalah pandangan orang yang jujur, berilmu, dan tidak hanya mengatakan apa yang ingin engkau dengar.


Keempat: Bertawakal


Setelah pilihan dibuat dan ikhtiar dilakukan, jangan menyiksa diri dengan penyesalan tanpa akhir.


Ambillah pelajaran, perbaiki kesalahan, lalu lanjutkan perjalanan dengan berserah kepada Alloh.


---


Pesan Lembar Kedua


«Tangan yang berbeda tidak menjadikan manusia saling bermusuhan.

Pilihan yang berbeda tidak selalu berarti salah satu pihak pasti hina.

Namun kejujuran tetap harus dijaga, sebab pilihan tanpa kejujuran akan melukai hati dan merusak kepercayaan.»


Jangan takut kalah dalam satu permainan.


Takutlah apabila demi kemenangan, engkau kehilangan kejujuran.


Jangan takut terlambat mencapai tujuan.


Takutlah apabila karena terburu-buru, engkau mengambil jalan yang zalim.


Jangan takut tanganmu berbeda.


Takutlah apabila tanganmu dipakai untuk merampas hak orang lain.


---


Doa Penutup Lembar Kedua


Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnat-tibā‘ah,

wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah.

Allāhumma ṭahhir niyyātinā,

wa aṣliḥ ikhtiyāranā,

waj‘al a‘mālanā khāliṣatan li-wajhika.


Ya Alloh, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kemampuan untuk menjauhinya. Bersihkanlah niat kami, perbaikilah pilihan kami, dan jadikanlah amal kami ikhlas karena mengharap ridho-Mu.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Ketiga


Giliran yang Tidak Dapat Dipaksa


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, setelah tangan dibuka dan pilihan diperlihatkan, muncullah satu pertanyaan baru:


«“Mengapa sebagian orang mendapatkan giliran lebih dahulu, sedangkan yang lain harus menunggu?”»


Pertanyaan ini tidak hanya hidup di dalam permainan.


Ia juga muncul dalam kehidupan sehari-hari.


Ada orang yang cepat mendapatkan pekerjaan.

Ada yang lama menunggu panggilan.


Ada yang mudah bertemu pasangan hidup.

Ada yang harus melalui penantian panjang.


Ada yang usahanya segera berkembang.

Ada yang berulang kali memulai dari bawah.


Ada yang doanya terasa cepat dijawab.

Ada yang terus berdoa tanpa mengetahui kapan jalannya akan dibukakan.


Karena itu, lembar ini membicarakan tentang giliran, penantian, usaha, dan ketetapan waktu yang tidak selalu tunduk kepada keinginan manusia.


---


Anak yang Selalu Ingin Menjadi Pertama


Ketika lingkaran permainan kembali dibentuk, seorang anak segera berdiri paling depan.


Ia berkata:


“Aku harus menjadi yang pertama.”


Temannya menjawab:


“Kita belum melakukan hompimpa.”


Anak itu berkata:


“Aku tidak mau menunggu. Aku lebih kuat daripada kalian.”


Orang tua penjaga lingkaran lalu mendekatinya.


Ia bertanya:


“Apakah kekuatanmu membuatmu berhak mengambil giliran orang lain?”


Anak itu menjawab:


“Aku hanya ingin segera menang.”


Orang tua itu berkata:


“Keinginan untuk maju bukanlah kesalahan. Namun mengambil hak orang lain agar engkau selalu berada di depan adalah kezaliman.”


Anak itu membantah:


“Bukankah hidup memang tentang siapa yang lebih cepat?”


Orang tua tersebut menjawab:


“Kecepatan berguna ketika diarahkan oleh adab. Tetapi kecepatan tanpa kejujuran akan melahirkan ketergesaan, keserakahan, dan penyesalan.”


Kemudian ia meminta anak itu kembali ke dalam lingkaran.


“Engkau boleh berusaha menjadi yang pertama,” katanya, “tetapi engkau tidak boleh mengubah aturan hanya karena hasilnya tidak sesuai keinginanmu.”


---


Tidak Semua yang Terlebih Dahulu Lebih Mulia


Saudara cahayaku, manusia sering menilai dirinya melalui perbandingan.


Ketika orang lain lebih dahulu memperoleh sesuatu, hati mulai bertanya:


“Mengapa bukan aku?”


Ketika teman lebih dahulu berhasil, muncullah kegelisahan.


Ketika saudara lebih dahulu menikah, memiliki rumah, memperoleh jabatan, atau mendapatkan penghormatan, hati mulai merasa tertinggal.


Padahal yang datang lebih dahulu belum tentu lebih baik bagi setiap orang.


Buah yang dipetik sebelum matang akan terasa masam.


Bangunan yang didirikan terlalu cepat tanpa pondasi dapat mudah roboh.


Ilmu yang diberikan kepada hati yang belum siap dapat menumbuhkan kesombongan.


Kekuasaan yang datang sebelum akhlak matang dapat menjadi jalan kerusakan.


Karena itu, terlambat menurut pandangan manusia belum tentu terlambat dalam hikmah Alloh.


Namun kalimat ini jangan dipakai untuk membenarkan kemalasan.


Menunggu bukan berarti berhenti berusaha.


Berserah bukan berarti meninggalkan ikhtiar.


Sabar bukan berarti membiarkan diri terus berada dalam kesalahan tanpa berusaha memperbaikinya.


---


Menunggu dengan Tangan Kosong


Dalam permainan itu, seorang anak duduk sambil mengeluh.


Ia berkata:


“Aku akan menunggu sampai giliranku datang.”


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Apa yang engkau lakukan selama menunggu?”


Anak itu menjawab:


“Tidak ada. Bukankah aku sedang menunggu?”


Orang tua tersebut mengambil sebutir benih dan meletakkannya di telapak tangannya.


Ia berkata:


“Jika benih ini hanya engkau genggam, apakah ia akan tumbuh?”


Anak itu menjawab:


“Tidak.”


“Jika engkau meletakkannya di tanah, tetapi tidak menyiramnya?”


“Tidak akan tumbuh dengan baik.”


“Jika engkau menyiramnya, tetapi setiap hari membongkar tanah untuk memeriksa akarnya?”


“Benih itu bisa rusak.”


Orang tua itu berkata:


“Begitulah penantian.”


Ada waktu untuk menanam.

Ada waktu untuk menyiram.

Ada waktu untuk menjaga.

Ada waktu untuk menunggu.


Manusia tidak dapat memaksa benih berbuah dalam satu malam.


Namun ia juga tidak boleh berharap panen apabila tidak pernah menanam.


---


Perbedaan antara Sabar dan Pasrah Tanpa Usaha


Sabar adalah tetap berjalan dalam kebaikan meskipun hasil belum terlihat.


Pasrah tanpa usaha adalah menyerahkan tanggung jawab kepada takdir, padahal diri sendiri belum melakukan yang mampu dikerjakan.


Sabar berkata:


«“Aku akan terus berusaha dengan cara yang benar, meskipun hasilnya belum datang.”»


Pasrah tanpa usaha berkata:


«“Jika memang rezekiku, pasti datang sendiri.”»


Sabar menjaga doa, pekerjaan, kedisiplinan, dan adab.


Pasrah tanpa usaha sering memakai nama takdir untuk menyembunyikan kemalasan.


Karena itu, jangan berkata:


“Kalau sudah waktunya, semuanya akan terjadi,”


lalu engkau tidak belajar, tidak bekerja, tidak meminta maaf, tidak memperbaiki hubungan, dan tidak mengubah kebiasaan buruk.


Waktu yang baik harus disambut oleh kesiapan.


Pintu yang terbuka tidak banyak berguna bagi orang yang tidak mau melangkah.


---


Ketika Giliran Orang Lain Tiba


Setelah hompimpa dilakukan, anak yang paling pendiam mendapatkan giliran pertama.


Anak yang tadi ingin selalu berada di depan merasa marah.


Ia berkata:


“Dia tidak pantas. Aku lebih berani.”


Orang tua itu bertanya:


“Apakah keberanian berarti engkau harus mengambil hak orang lain?”


Anak itu terdiam.


Kemudian orang tua tersebut berkata:


“Belajarlah berbahagia ketika giliran orang lain tiba.”


“Apabila engkau tidak mampu bersyukur atas kebahagiaan orang lain, hatimu akan selalu merasa sempit.”


“Rezeki orang lain tidak selalu mengurangi bagianmu.”


“Keberhasilan orang lain tidak otomatis menjadi kehinaanmu.”


“Cahaya matahari yang menyinari rumah tetanggamu tidak membuat rumahmu kehilangan langit.”


Saudara cahayaku, iri sering lahir bukan karena seseorang kekurangan, tetapi karena ia tidak tahan melihat orang lain memperoleh kebaikan.


Padahal setiap orang membawa jalan, ujian, dan tanggung jawabnya masing-masing.


Ada orang yang tampak memperoleh banyak kenikmatan, tetapi memikul amanah yang tidak ringan.


Ada orang yang tampak biasa, tetapi memiliki ketenteraman yang tidak dapat dibeli dengan harta.


Jangan hanya melihat hasil yang tampak.


Engkau tidak mengetahui harga batin yang telah dibayar seseorang untuk mencapainya.


---


Jangan Memaksa Pintu yang Belum Terbuka


Seorang anak menemukan sebuah pintu kayu di ujung halaman.


Ia mendorongnya, tetapi pintu itu belum terbuka.


Ia kemudian menendang dan memukulnya.


Orang tua penjaga lingkaran menghentikannya.


Ia berkata:


“Tidak semua pintu yang tertutup harus dihancurkan.”


Anak itu bertanya:


“Lalu apa yang harus kulakukan?”


“Periksa terlebih dahulu.”


“Apakah pintu itu terkunci?”


“Apakah engkau berdiri di pintu yang benar?”


“Apakah ada jalan lain?”


“Apakah engkau sudah meminta izin?”


“Apakah engkau memiliki kunci?”


“Apakah yang berada di balik pintu itu memang baik bagimu?”


Anak itu berkata:


“Aku hanya ingin masuk.”


Orang tua itu menjawab:


“Keinginan bukan selalu tanda bahwa sesuatu harus engkau miliki.”


Dalam kehidupan, manusia kadang memaksa sebuah hubungan yang telah merusak dirinya.


Memaksa pekerjaan yang membawa keburukan.


Memaksa penghormatan dari orang yang tidak tulus.


Memaksa suatu kedudukan yang belum sanggup ia jaga.


Memaksa jawaban atas perkara yang belum waktunya diketahui.


Kesungguhan memang diperlukan.


Namun kesungguhan berbeda dengan keras kepala.


Kesungguhan bersedia belajar dan memperbaiki jalan.


Keras kepala hanya ingin hasil sesuai keinginan sendiri.


---


Tanda bahwa Cara Harus Diperbaiki


Tidak setiap kesulitan berarti jalan harus ditinggalkan.


Namun tidak setiap kesulitan pula berarti engkau harus terus memaksakannya.


Ada saatnya manusia perlu berhenti sejenak dan menilai:


Apakah niatnya masih benar?


Apakah caranya halal?


Apakah keputusan itu menyakiti banyak orang?


Apakah dirinya terus mengabaikan nasihat yang baik?


Apakah ia berusaha karena tanggung jawab atau karena gengsi?


Apakah kegagalan berulang terjadi karena kurang persiapan?


Apakah ada keahlian yang harus dipelajari?


Apakah ada kesalahan yang belum diakui?


Apakah ada hak manusia yang belum ditunaikan?


Kadang pintu belum terbuka bukan karena engkau dibenci, tetapi karena engkau harus memperbaiki cara mengetuknya.


Kadang jalan terasa sempit karena engkau membawa beban yang seharusnya dilepaskan.


Kadang pertolongan terasa jauh karena engkau hanya memandang satu bentuk pertolongan.


Manusia sering berdoa meminta jalan, tetapi ketika jalan itu berbeda dari bayangannya, ia tidak mengenalinya.


---


Ketika Penantian Menjadi Ujian Hati


Penantian dapat memperlihatkan isi hati.


Saat sesuatu belum datang, manusia mulai menunjukkan keadaan dirinya.


Ada yang menjadi lebih tekun.


Ada yang menjadi lebih lembut.


Ada yang memperbanyak doa dan introspeksi.


Namun ada pula yang menjadi mudah marah.


Ada yang menyalahkan orang lain.


Ada yang mulai menempuh jalan curang.


Ada yang menganggap Alloh tidak adil hanya karena keinginannya belum terpenuhi.


Saudara cahayaku, kecewa adalah perasaan manusiawi.


Menangis tidak selalu berarti lemah.


Mengeluh kepada Alloh dalam doa bukanlah dosa.


Namun jagalah agar kekecewaan tidak berubah menjadi buruk sangka yang memutus harapan.


Engkau boleh berkata:


“Ya Alloh, aku lelah.”


Tetapi lanjutkan dengan:


“Bimbinglah aku agar tidak keluar dari jalan yang benar.”


Engkau boleh berkata:


“Ya Alloh, aku belum memahami keadaan ini.”


Tetapi jangan mengaku mengetahui bahwa Alloh telah meninggalkanmu.


Keterbatasan pemahaman manusia bukan bukti ketiadaan rahmat Alloh.


---


Giliran yang Datang Membawa Amanah


Ketika akhirnya giliran seseorang tiba, ia sering merasa bahwa penantiannya telah selesai.


Padahal sesungguhnya sebuah tanggung jawab baru dimulai.


Orang yang memperoleh pekerjaan harus menjaga amanah.


Orang yang memperoleh pasangan harus belajar menjaga kasih sayang.


Orang yang memperoleh anak harus mendidik dan melindungi.


Orang yang memperoleh harta harus menunaikan hak dan menjauhi kesombongan.


Orang yang memperoleh ilmu harus semakin rendah hati.


Orang yang memperoleh kedudukan harus melayani, bukan hanya ingin dilayani.


Orang yang memperoleh pengikut harus lebih berhati-hati agar tidak menyesatkan.


Karena itu, jangan hanya berdoa:


“Ya Alloh, berikanlah kepadaku.”


Berdoalah pula:


“Ya Alloh, pantaskanlah aku untuk menjaganya.”


Sebab banyak orang ingin menerima, tetapi belum siap memelihara.


Banyak orang ingin memimpin, tetapi belum mampu menahan ego.


Banyak orang ingin dipercaya, tetapi belum membiasakan kejujuran.


Banyak orang meminta kelapangan rezeki, tetapi belum belajar mengatur yang sedikit.


---


Tiga Keadaan dalam Menunggu


Pertama: Menunggu Sambil Bertumbuh


Inilah penantian yang baik.


Seseorang terus belajar, bekerja, berdoa, memperbaiki akhlak, dan menyiapkan diri.


Apabila pintu terbuka, ia lebih siap memasukinya.


Kedua: Menunggu Sambil Membandingkan


Penantian ini melelahkan.


Setiap hari ia menghitung keberhasilan orang lain.


Ia tidak melihat kemajuan dirinya sendiri.


Hatinya dipenuhi iri, gelisah, dan perasaan tertinggal.


Ketiga: Menunggu Sambil Menyerah


Ia berhenti berusaha sebelum benar-benar mencoba.


Ia menganggap kegagalan pertama sebagai akhir dari seluruh perjalanan.


Ia lupa bahwa beberapa jalan membutuhkan pengulangan, latihan, dan kesabaran.


Pilihlah penantian yang membuatmu bertumbuh.


Jangan biarkan masa menunggu menjadi tanah tempat iri dan putus asa tumbuh.


---


Hompimpa Bukan Penentu Nasib


Saudara cahayaku, perlu kembali ditegaskan bahwa ucapan “Hompimpa alaium gambreng” tidak digunakan untuk meramal nasib, menentukan jodoh, mencari angka keberuntungan, menetapkan hari baik, memilih pemimpin, memutuskan pengobatan, ataupun menggantikan istikharah dan musyawarah.


Ia hanyalah bahasa simbolik dalam Qitab ini.


Untuk perkara penting, gunakanlah:


akal yang sehat,

ilmu yang memadai,

nasihat orang tepercaya,

musyawarah,

doa,

istikharah,

serta pertimbangan akibat yang matang.


Jangan menyerahkan keputusan besar kepada permainan acak, bisikan yang tidak jelas, atau klaim gaib yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.


Alloh memberikan akal agar manusia menggunakannya.


Alloh memerintahkan doa agar manusia tidak sombong terhadap kemampuan dirinya.


Keduanya berjalan bersama: ikhtiar dan tawakal.


---


Pesan Lembar Ketiga


«Giliran yang belum tiba bukan alasan untuk berhenti mempersiapkan diri.

Giliran yang telah tiba bukan izin untuk merendahkan orang yang masih menunggu.

Kecepatan bukan selalu tanda kemuliaan, dan keterlambatan bukan selalu tanda kegagalan.»


Jangan merusak pintu hanya karena ia belum terbuka.


Jangan merebut giliran hanya karena engkau takut tertinggal.


Jangan iri ketika orang lain berjalan lebih dahulu.


Jangan lengah ketika akhirnya giliranmu datang.


Gunakan masa menunggu untuk memperkuat akhlak, memperluas ilmu, memperbaiki kemampuan, dan membersihkan niat.


Sebab ketika amanah datang, bukan hanya tanganmu yang akan dibuka.


Isi hatimu pun akan diperlihatkan melalui cara engkau menjaganya.


---


Doa Penutup Lembar Ketiga


Allāhumma arzuqnā ṣabran jamīlā,

wa qalban salīman,

wa sa‘yan mubārakan,

wa tawakkulan ṣādiqan.


Allāhumma lā taj‘al intizhāranā bāban lil-ya’s,

wa lā najāḥanā sababan lil-kibr,

wa hayyi’ lanā min amrinā rushdā.


Ya Alloh, karuniakanlah kepada kami kesabaran yang indah, hati yang selamat, usaha yang diberkahi, dan tawakal yang benar.


Ya Alloh, jangan jadikan penantian kami sebagai pintu keputusasaan. Jangan jadikan keberhasilan kami sebagai sebab kesombongan. Siapkanlah bagi kami jalan yang lurus dalam setiap urusan.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.


Lembar Keempat


Tangan yang Menunjuk, Tangan yang Menolong


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, setelah giliran ditentukan, tidak semua orang mampu menerima hasil dengan lapang.


Ada yang bersyukur ketika terpilih.


Ada yang diam sambil menata hati.


Ada pula yang segera menunjuk orang lain dan berkata:


«“Dia curang.”

“Dia penyebab aku kalah.”

“Seharusnya aku yang terpilih.”»


Pada lembar ini, kita merenungkan dua fungsi tangan yang sangat berbeda:


tangan yang dipakai untuk menuduh dan tangan yang dipakai untuk menolong.


Keduanya berasal dari tubuh yang sama, tetapi dapat meninggalkan akibat yang sangat berlainan.


---


Anak yang Menuduh Temannya


Setelah permainan hompimpa selesai, seorang anak tidak menerima hasilnya.


Ia menunjuk temannya sambil berkata:


“Dia mengubah tangannya.”


Teman yang dituduh membantah:


“Aku tidak mengubahnya.”


Anak pertama semakin keras berkata:


“Aku melihatnya. Dia pasti berbuat curang.”


Orang tua penjaga lingkaran lalu bertanya:


“Apakah engkau benar-benar melihat dengan jelas?”


Anak itu terdiam.


Ia sebenarnya tidak melihat dengan pasti. Ia hanya kecewa karena tidak mendapatkan giliran.


Orang tua tersebut berkata:


“Jangan jadikan kekecewaanmu sebagai bukti kesalahan orang lain.”


“Perasaanmu nyata, tetapi tidak semua kesimpulan yang lahir dari perasaan pasti benar.”


Anak itu menjawab:


“Tetapi aku merasa dia bersalah.”


Orang tua itu berkata:


“Merasa bukan berarti mengetahui.”


“Menduga bukan berarti menyaksikan.”


“Mendengar kabar bukan berarti memahami seluruh kejadian.”


“Dan membenci seseorang bukan alasan untuk membenarkan tuduhan kepadanya.”


---


Satu Jari Menunjuk, Jari Lain Menghadap Diri


Saudara cahayaku, ketika seseorang menunjuk orang lain dengan satu jari, beberapa jari lainnya menghadap kembali kepada dirinya.


Ini bukan rumus agama, melainkan perumpamaan agar manusia mau bercermin sebelum menghakimi.


Sebelum berkata:


“Dia sombong,”


periksalah apakah ada kesombongan dalam dirimu.


Sebelum berkata:


“Dia ingin dipuji,”


periksalah apakah engkau juga sedang mencari pengakuan.


Sebelum berkata:


“Dia tidak pernah memahami aku,”


tanyakan apakah engkau telah berusaha memahami dirinya.


Sebelum berkata:


“Dia selalu salah,”


ingatlah bahwa engkau pun pernah berbuat salah.


Bercermin bukan berarti menganggap semua kesalahan orang lain harus dibenarkan.


Kezaliman tetap harus dihentikan.


Kecurangan tetap perlu dibuktikan dan diselesaikan.


Hak orang yang dirugikan tetap harus diperjuangkan.


Namun semuanya harus dilakukan dengan adil, tidak berdasarkan kebencian, prasangka, atau keinginan mempermalukan.


---


Antara Menasihati dan Merendahkan


Orang tua penjaga lingkaran berkata kepada anak-anak:


“Kalian harus belajar membedakan nasihat dengan penghinaan.”


Nasihat bertujuan memperbaiki.


Penghinaan bertujuan menjatuhkan.


Nasihat menjaga kehormatan orang yang dinasihati.


Penghinaan menikmati rasa malu orang lain.


Nasihat menggunakan kata yang jelas tetapi beradab.


Penghinaan menggunakan kebenaran sebagai senjata untuk melukai.


Nasihat disampaikan karena kasih sayang.


Penghinaan disampaikan karena marah, iri, atau ingin tampak lebih suci.


Seseorang dapat mengatakan kalimat yang benar, tetapi menyampaikannya dengan cara yang salah.


Seseorang dapat melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa dirinya tidak diberi izin untuk berlaku kasar.


Kebenaran tidak membutuhkan kesombongan agar tetap menjadi kebenaran.


---


Tangan yang Cepat Menulis


Pada masa dahulu, tuduhan disampaikan melalui lisan.


Pada masa sekarang, tangan dapat menyebarkannya melalui tulisan hanya dalam beberapa detik.


Satu pesan diteruskan.


Satu foto diberi keterangan tanpa pemeriksaan.


Satu potongan video dianggap mewakili seluruh kejadian.


Satu kabar yang belum jelas disebarkan kepada banyak orang.


Lalu seseorang berkata:


“Aku hanya meneruskan.”


Padahal tangan yang menekan tombol kirim ikut memikul tanggung jawab atas apa yang disebarkan.


Karena itu, sebelum menulis atau meneruskan sesuatu, berhentilah sejenak.


Tanyakan:


Apakah berita ini benar?


Apakah sumbernya dapat dipercaya?


Apakah seluruh konteksnya diketahui?


Apakah penyebarannya membawa manfaat?


Apakah ada kehormatan seseorang yang dapat rusak?


Apakah aku akan berani mempertanggungjawabkan tulisan ini apabila orang yang dibicarakan berdiri di hadapanku?


Jangan jadikan jari lebih cepat daripada akal dan hati nurani.


---


Ketika Tuduhan Ternyata Salah


Anak yang menuduh tadi akhirnya mengetahui bahwa temannya tidak berbuat curang.


Ia merasa malu.


Namun ia enggan meminta maaf.


Ia berkata:


“Bukankah masalahnya sudah selesai?”


Orang tua itu menjawab:


“Masalah belum selesai hanya karena kebenarannya telah diketahui.”


“Engkau telah melukai kehormatannya.”


“Engkau harus memperbaiki apa yang telah engkau rusak.”


Anak itu bertanya:


“Apa yang harus kulakukan?”


Orang tua itu menjawab:


“Akui kesalahanmu.”


“Mintalah maaf tanpa mencari alasan.”


“Tarik kembali tuduhanmu di hadapan orang yang mendengarnya.”


“Dan jangan ulangi kebiasaan menjadikan dugaan sebagai kepastian.”


Saudara cahayaku, meminta maaf bukan sekadar berkata:


«“Maaf kalau kamu tersinggung.”»


Kalimat itu terkadang hanya memindahkan kesalahan kepada perasaan orang yang terluka.


Permintaan maaf yang jujur berkata:


«“Aku telah berkata atau berbuat salah. Aku menyadari akibatnya. Aku meminta maaf dan akan berusaha memperbaikinya.”»


Mengakui kesalahan tidak menjadikan seseorang hina.


Sebaliknya, keberanian bertanggung jawab dapat mengembalikan kehormatan yang sempat hilang.


---


Tangan yang Terulur


Saat anak-anak masih memperdebatkan hasil permainan, seorang anak kecil tersandung dan jatuh.


Beberapa anak hanya melihat.


Ada yang menertawakan.


Ada yang berkata:


“Itu karena dia tidak berhati-hati.”


Namun seorang anak segera mengulurkan tangannya dan membantu anak kecil itu berdiri.


Orang tua penjaga lingkaran tersenyum.


Ia berkata:


“Perhatikanlah. Ketika seseorang jatuh, ada tangan yang sibuk menunjuk sebab kejatuhannya, dan ada tangan yang segera membantunya berdiri.”


Mengetahui sebab suatu kesalahan memang penting.


Namun pada saat seseorang membutuhkan pertolongan, jangan hanya menjadi hakim.


Orang yang lapar tidak cukup hanya dijelaskan penyebab kemiskinannya.


Orang yang sakit tidak cukup hanya disalahkan karena gaya hidupnya.


Orang yang bersedih tidak selalu membutuhkan ceramah panjang.


Orang yang tersesat tidak akan kembali hanya dengan dicaci.


Kadang-kadang langkah pertama adalah mengulurkan tangan.


Setelah keadaan tenang, barulah nasihat dan perbaikan dibicarakan.


---


Menolong Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan


Seorang anak bertanya:


“Jika kita membantu orang yang bersalah, apakah berarti kita membenarkan kesalahannya?”


Orang tua itu menjawab:


“Tidak.”


“Engkau dapat menolong seseorang keluar dari kesalahan tanpa membenarkan perbuatannya.”


“Engkau dapat mengasihi pelaku kesalahan sambil tetap melindungi orang yang dirugikan.”


“Engkau dapat memaafkan, tetapi tetap menetapkan batas agar kezaliman tidak berulang.”


“Engkau dapat berbuat baik tanpa menjadi lemah terhadap keburukan.”


Kasih sayang bukan berarti membiarkan segala sesuatu.


Ketegasan bukan berarti kehilangan kelembutan.


Keadilan tidak harus berubah menjadi dendam.


Memaafkan tidak selalu berarti mengembalikan hubungan ke keadaan semula.


Ada luka yang memerlukan jarak.


Ada hubungan yang memerlukan batas.


Ada kesalahan yang harus diproses melalui aturan.


Ada perbuatan yang harus dihentikan agar tidak menimbulkan korban baru.


Yang terpenting, keputusan tidak dibuat semata-mata untuk membalas sakit hati.


---


Tiga Jenis Tangan dalam Kehidupan


Pertama: Tangan yang Mengambil


Tangan ini hanya memikirkan apa yang dapat diperoleh.


Ia mengambil waktu orang lain.


Mengambil hak orang lain.


Mengambil pujian atas usaha bersama.


Mengambil keuntungan tanpa memikirkan kerugian sesama.


Mengambil kepercayaan, tetapi tidak menjaga amanah.


Manusia memang memiliki kebutuhan, tetapi kebutuhan tidak membenarkan keserakahan.


---


Kedua: Tangan yang Menahan


Tangan ini mempunyai kemampuan untuk menolong, tetapi selalu mencari alasan.


Ia menahan ilmu agar orang lain tetap bergantung.


Menahan hak pekerja.


Menahan permintaan maaf karena gengsi.


Menahan kebaikan karena takut orang lain menjadi lebih maju.


Menahan kesaksian padahal kebenaran membutuhkannya.


Tidak semua yang digenggam akan menjadi milik abadi.


Ada sesuatu yang justru menjadi berkah ketika dilepaskan.


---


Ketiga: Tangan yang Memberi


Tangan ini tidak selalu memiliki banyak.


Namun ia memberi sesuai kemampuan.


Ia memberi makanan.


Memberi waktu.


Memberi ilmu.


Memberi kesempatan.


Memberi perlindungan.


Memberi maaf.


Memberi teguran yang beradab.


Memberi ruang kepada orang lain untuk bertumbuh.


Tangan yang memberi tidak harus menunggu menjadi kaya.


Senyuman yang tulus, doa yang baik, telinga yang mau mendengar, dan ucapan yang menenangkan juga dapat menjadi bentuk pemberian.


---


Jangan Mengungkit Tangan yang Pernah Memberi


Orang tua itu memberikan beberapa buah kepada anak-anak.


Seorang anak kemudian berkata kepada temannya:


“Ingat, engkau dapat buah karena aku memberikannya kepadamu.”


Ia mengulang perkataan itu berkali-kali.


Orang tua tersebut berkata:


“Jangan ubah pemberian menjadi rantai yang mengikat penerimanya.”


“Apabila setiap kebaikan terus engkau ungkit, engkau tidak sedang memberi dengan lapang. Engkau sedang membeli kekuasaan atas hati orang lain.”


Saudara cahayaku, kebaikan yang diungkit dapat berubah menjadi beban.


Bantuan tidak boleh dijadikan alat untuk merendahkan.


Sedekah tidak boleh menjadi jalan mempermalukan penerima.


Ilmu tidak boleh dijadikan alasan untuk merasa lebih suci.


Jasa tidak boleh dijadikan senjata agar orang lain selalu tunduk.


Berilah karena mengharap ridho Alloh.


Apabila engkau membutuhkan penghargaan manusia, akuilah keadaan hatimu lalu perbaiki niat.


Jangan memakai nama keikhlasan sambil diam-diam menuntut balasan.


---


Ketika Tangan Tidak Mampu Menolong


Ada saatnya seseorang ingin menolong, tetapi tidak memiliki kemampuan.


Ia tidak mempunyai uang yang cukup.


Ia tidak memahami persoalan.


Ia tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah keadaan.


Dalam keadaan seperti ini, jangan memaksakan pertolongan yang justru membahayakan.


Jangan memberikan nasihat medis tanpa ilmu.


Jangan memutuskan perkara hukum tanpa pengetahuan.


Jangan menjanjikan hasil yang tidak dapat dipastikan.


Jangan mengaku memiliki kemampuan gaib untuk mengubah nasib seseorang.


Pertolongan yang baik harus jujur terhadap batas kemampuan.


Apabila tidak mampu membantu secara langsung, seseorang dapat:


mendoakan dengan tulus,


menghubungkan kepada orang yang lebih ahli,


memberikan informasi yang benar,


menemani tanpa menghakimi,


atau mengatakan dengan jujur:


«“Aku belum mampu menyelesaikan masalahmu, tetapi aku tidak akan menambah bebanmu dengan janji palsu.”»


Kejujuran tentang keterbatasan lebih baik daripada harapan palsu.


---


Tangan yang Berdamai


Setelah pertengkaran selesai, orang tua penjaga lingkaran meminta dua anak yang berselisih berdiri saling berhadapan.


Ia tidak langsung menyuruh mereka berjabat tangan.


Ia bertanya terlebih dahulu:


“Apakah kesalahannya sudah diakui?”


“Apakah tuduhannya sudah ditarik?”


“Apakah yang terluka sudah diberi kesempatan berbicara?”


“Apakah batas yang diperlukan telah disepakati?”


Setelah semuanya dibicarakan, barulah keduanya saling mengulurkan tangan.


Orang tua itu berkata:


“Perdamaian bukan sekadar menyatukan tangan.”


“Perdamaian membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, pemulihan, dan kesediaan tidak mengulangi kesalahan.”


Memaksa orang yang terluka segera berdamai tanpa menyelesaikan masalah bukanlah keadilan.


Meminta korban diam demi menjaga nama baik kelompok bukanlah kedamaian.


Kedamaian yang sejati tidak menutupi luka.


Ia membersihkan luka agar dapat sembuh.


---


Ketika Permainan Berubah Menjadi Persaudaraan


Anak-anak kembali membentuk lingkaran.


Namun kali ini mereka tidak segera melakukan hompimpa.


Mereka memandang tangan masing-masing.


Tangan yang tadi menunjuk kini menolong.


Tangan yang tadi menggenggam kini berbagi.


Tangan yang tadi memukul tanah karena marah kini digunakan untuk membersihkan halaman.


Tangan yang tadi menulis tuduhan kini menulis permintaan maaf.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Hompimpa mengajarkan kalian bahwa tangan dapat berbeda posisi.”


“Tetapi jangan biarkan perbedaan posisi memutus persaudaraan.”


“Pada satu permainan, engkau menjadi pemenang.”


“Pada permainan lain, engkau memerlukan pertolongan orang yang pernah engkau kalahkan.”


“Hari ini engkau kuat.”


“Besok tanganmu mungkin gemetar dan membutuhkan pegangan.”


“Karena itu, jagalah orang lain sebagaimana engkau ingin dijaga ketika kelemahan datang kepadamu.”


---


Lima Adab Menjaga Tangan


Pertama: Jangan Mengambil yang Bukan Hakmu


Meskipun tidak ada manusia yang melihat, Alloh mengetahui.


Hak yang kecil tetaplah hak.


Kecurangan yang tersembunyi tetaplah kecurangan.


---


Kedua: Jangan Menulis Sesuatu yang Engkau Tidak Berani Ucapkan dengan Bertanggung Jawab


Tulisan dapat tinggal lebih lama daripada kemarahan yang melahirkannya.


Berhati-hatilah sebelum menyebarkan tuduhan, hinaan, atau rahasia orang lain.


---


Ketiga: Gunakan Kekuatan untuk Melindungi


Semakin besar kemampuanmu, semakin besar pula tanggung jawabmu.


Kekuatan bukan izin untuk menindas.


---


Keempat: Berikan Sesuai Kemampuan tanpa Merendahkan


Tidak semua bantuan harus diketahui banyak orang.


Kebaikan yang tersembunyi sering lebih selamat dari kesombongan.


---


Kelima: Berani Menarik Tangan dari Keburukan


Apabila tanganmu hampir melakukan kekerasan, berhentilah.


Apabila jarimu hampir mengirim hinaan, tahanlah.


Apabila engkau hampir mengambil hak orang lain, ingatlah pertanggungjawaban.


Tidak melakukan keburukan juga merupakan bentuk kemenangan.


---


Pesan Lembar Keempat


«Jangan gunakan tangan untuk menunjuk kesalahan orang lain sebelum engkau memeriksa keadaan dirimu.

Jangan gunakan tangan untuk menyebarkan kabar yang belum jelas.

Jangan gunakan tangan untuk mengambil hak, menindas yang lemah, atau mengikat orang melalui jasa.»


Gunakan tanganmu untuk bekerja dengan halal.


Gunakan tanganmu untuk menolong orang yang jatuh.


Gunakan tanganmu untuk menulis kebaikan.


Gunakan tanganmu untuk meminta maaf.


Gunakan tanganmu untuk menjaga amanah.


Gunakan tanganmu untuk mengangkat, bukan merendahkan.


Sebab tangan yang hari ini terasa kuat akan menjadi saksi tentang apa yang pernah dikerjakannya.


Jangan hanya bertanya:


«“Siapa yang menang dalam lingkaran?”»


Tanyakan pula:


«“Siapa yang tetap menjaga akhlak setelah permainan selesai?”»


---


Doa Penutup Lembar Keempat


Allāhummaḥfaẓ aydiyanā ‘anil-ẓulm,

wa alsinatanā ‘anil-buhtān,

wa qulūbanā ‘anis-sū’i wal-ḥasad.


Allāhummaj‘al aydiyanā sababًا lil-khair,

wa a‘innā ‘alā raddil-ḥuqūq,

wa iṣlāḥi mā afsadnā,

wal-‘afwi ma‘al-‘adli wal-iḥsān.


Ya Alloh, jagalah tangan kami dari kezaliman, lisan kami dari tuduhan dusta, serta hati kami dari keburukan dan kedengkian.


Ya Alloh, jadikanlah tangan kami sebagai jalan kebaikan. Bantulah kami mengembalikan setiap hak, memperbaiki kerusakan yang kami sebabkan, serta memaafkan dengan tetap menjaga keadilan dan ihsan.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Kelima


Suara yang Sama, Niat yang Berbeda


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, ketika anak-anak mengucapkan:


«“Hompimpa alaium gambreng,”»


suara mereka terdengar serempak.


Mulut mereka mengucapkan kalimat yang sama.

Tangan mereka bergerak pada waktu yang hampir bersamaan.

Mereka berdiri dalam satu lingkaran dan mengikuti satu aturan.


Namun orang tua penjaga lingkaran mengetahui bahwa kesamaan ucapan belum tentu menunjukkan kesamaan isi hati.


Ada anak yang bermain dengan gembira.


Ada yang hanya ingin menang.


Ada yang ingin mempermalukan temannya.


Ada yang mengikuti permainan agar diterima kelompok.


Ada yang takut dianggap berbeda.


Ada pula yang berusaha tampak baik, padahal diam-diam mengubah tangannya ketika tidak ada yang memperhatikan.


Pada lembar ini, kita merenungkan tentang ucapan yang sama, tindakan yang tampak serupa, tetapi lahir dari niat yang berbeda.


---


Lingkaran yang Tampak Rukun


Pada suatu sore, anak-anak berkumpul kembali.


Mereka berdiri dengan rapi.


Tidak ada yang bertengkar.


Tidak ada yang saling mendorong.


Semua tersenyum dan mengucapkan hompimpa dengan suara yang kompak.


Orang yang melihat dari kejauhan berkata:


“Lingkaran itu sangat rukun.”


Namun orang tua penjaga lingkaran tidak langsung membenarkannya.


Ia berkata:


“Kerukunan tidak hanya dilihat dari rapinya seseorang berdiri.”


“Kerukunan juga dilihat dari apa yang dilakukannya ketika hasil tidak menguntungkan dirinya.”


Ketika permainan selesai, seorang anak tidak terpilih.


Senyumnya segera hilang.


Ia mulai membicarakan keburukan pemenang.


Anak lainnya tersenyum di depan, tetapi diam-diam berharap temannya gagal.


Seorang lagi memuji aturan hanya ketika aturan itu menguntungkannya.


Orang tua tersebut berkata:


“Sekarang terlihat keadaan lingkaran yang sebenarnya.”


Saudara cahayaku, watak manusia sering tidak tampak saat keadaan berjalan sesuai keinginannya.


Kesabaran diuji ketika keinginan tertunda.


Kejujuran diuji ketika kebohongan dapat memberi keuntungan.


Kerendahan hati diuji ketika seseorang memperoleh pujian.


Persaudaraan diuji ketika orang lain mendapatkan keberhasilan yang kita inginkan.


Amanah diuji ketika tidak ada manusia yang mengawasi.


---


Ucapan Baik Belum Tentu Berasal dari Niat yang Bersih


Ada orang mengucapkan nasihat agar dianggap bijaksana.


Ada yang berbicara lembut agar mudah mendapatkan kepercayaan.


Ada yang menolong supaya namanya dipuji.


Ada yang beribadah agar dipandang lebih suci.


Ada yang mengaku mencintai kebenaran, tetapi tidak mampu menerima koreksi.


Ada yang sering menyebut persaudaraan, tetapi meninggalkan saudaranya ketika sudah tidak dibutuhkan.


Ucapan yang baik tetap memiliki nilai kebaikan apabila benar.


Namun orang yang mengucapkannya harus terus memeriksa niatnya.


Sebab hati manusia dapat berubah.


Niat yang semula ikhlas dapat disusupi keinginan dipuji.


Pertolongan yang semula tulus dapat berubah menjadi tuntutan balas jasa.


Kepemimpinan yang semula ingin melayani dapat berubah menjadi keinginan berkuasa.


Ilmu yang semula dicari untuk memperbaiki diri dapat berubah menjadi alat merasa lebih tinggi.


Karena itu, membersihkan niat bukan pekerjaan satu kali.


Ia harus dilakukan berulang-ulang.


---


Anak yang Selalu Mengikuti Suara Terbanyak


Dalam lingkaran itu, ada seorang anak yang tidak pernah berani menentukan sikap sendiri.


Sebelum membuka tangannya, ia selalu melihat gerakan teman-temannya.


Sebelum berbicara, ia menunggu pendapat yang paling banyak.


Sebelum menilai sesuatu, ia melihat siapa yang paling berkuasa.


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Mengapa engkau selalu mengikuti orang lain?”


Anak itu menjawab:


“Agar aku tidak sendirian.”


Orang tua berkata:


“Bersama banyak orang tidak selalu berarti berada di jalan yang benar.”


Anak itu bertanya:


“Bukankah lebih aman mengikuti kelompok?”


Orang tua menjawab:


“Kelompok dapat membantu manusia menjaga kebaikan. Namun kelompok juga dapat membawa manusia mengikuti kesalahan apabila akal dan nuraninya tidak digunakan.”


Kemudian ia berkata:


“Jangan menjadi orang yang hanya berani benar ketika semua orang mendukungmu.”


“Belajarlah menjaga kebenaran dengan adab, meskipun engkau tidak mendapatkan tepuk tangan.”


Saudara cahayaku, manusia memang membutuhkan kebersamaan.


Namun kebersamaan bukan alasan untuk meninggalkan pertimbangan yang sehat.


Jangan ikut menghina hanya karena semua orang tertawa.


Jangan ikut menuduh hanya karena banyak orang menyebarkan kabar.


Jangan ikut mengambil hak hanya karena kecurangan telah dianggap biasa.


Jangan diam terhadap keburukan hanya karena pelakunya orang yang berpengaruh.


Jumlah pengikut tidak mengubah kesalahan menjadi kebenaran.


Kesepakatan sebuah kelompok tidak selalu menghapus hak orang yang dizalimi.


---


Berbeda Tanpa Merasa Paling Benar


Seorang anak kemudian berkata:


“Kalau begitu, aku akan selalu berbeda dari semua orang.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Berbeda bukan otomatis berarti benar.”


“Ada orang mengikuti kelompok tanpa berpikir.”


“Ada pula orang menolak kelompok hanya agar terlihat istimewa.”


“Keduanya dapat sama-sama digerakkan oleh ego.”


Saudara cahayaku, sebagian manusia ingin dianggap hebat karena selalu berada di tengah keramaian.


Sebagian lainnya ingin dianggap istimewa karena selalu berdiri sendirian.


Padahal ukuran kebenaran bukan ramai atau sepi.


Bukan banyak atau sedikit.


Bukan terkenal atau tersembunyi.


Yang diperlukan adalah ilmu, kejujuran, pertimbangan, adab, dan kesediaan menerima koreksi.


Jangan mengikuti sesuatu hanya karena ramai.


Namun jangan pula menolaknya hanya karena ramai.


Periksalah isi, tujuan, cara, dan akibatnya.


---


Ketika Nama Alloh Dipakai untuk Membenarkan Ego


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Berhati-hatilah ketika membawa nama Alloh dalam perselisihan.”


Ada orang berkata:


«“Alloh pasti berpihak kepadaku.”»


Padahal ia hanya ingin keinginannya dimenangkan.


Ada yang berkata:


«“Ini sudah menjadi kehendak Alloh.”»


Padahal ia sedang menolak bertanggung jawab atas keputusan buruknya.


Ada yang berkata:


«“Aku mendapat petunjuk khusus.”»


Lalu ia menuntut orang lain tunduk tanpa alasan yang dapat diperiksa.


Ada yang menakut-nakuti orang dengan hukuman gaib agar dirinya ditaati.


Ada yang menganggap setiap perasaan dalam hati sebagai pesan langsung dari langit.


Saudara cahayaku, iman tidak membenarkan manusia berbicara atas nama Alloh tanpa ilmu.


Mimpi, firasat, rasa batin, atau kebetulan tidak boleh dijadikan dasar memaksa orang lain.


Perasaan dapat menjadi bahan renungan pribadi, tetapi harus diperiksa dengan ajaran agama, akal sehat, kenyataan, dan nasihat orang berilmu.


Semakin besar klaim seseorang, semakin besar pula kehati-hatian yang diperlukan.


Jangan mudah mempercayai orang yang berkata dapat memastikan jodoh, rezeki, kematian, kesucian, atau kedudukan ruhani seseorang.


Urusan yang gaib adalah milik Alloh.


Manusia hanya mengetahui apa yang diizinkan melalui jalan yang benar.


---


Suara yang Keras Bukan Bukti Paling Benar


Ketika terjadi perdebatan, seorang anak berteriak paling keras.


Ia mengira suaranya akan membuat semua orang tunduk.


Orang tua penjaga lingkaran memintanya duduk.


Ia berkata:


“Suara keras dapat membuat orang diam, tetapi tidak selalu membuat mereka memahami.”


Anak itu menjawab:


“Aku berteriak karena aku benar.”


Orang tua berkata:


“Apabila engkau benar, jelaskan dengan bukti dan adab.”


“Kebenaran tidak menjadi lebih benar karena disampaikan dengan penghinaan.”


Saudara cahayaku, ada orang yang tidak memiliki alasan kuat, lalu menggantinya dengan kemarahan.


Ada yang tidak mampu menjawab pertanyaan, lalu menyerang pribadi penanyanya.


Ada yang merasa kedudukannya terancam, lalu melarang orang lain berpikir.


Ada yang ingin tampak berwibawa, lalu membuat orang takut berbicara.


Ketegasan memang diperlukan dalam keadaan tertentu.


Namun ketegasan berbeda dengan kekasaran.


Ketegasan melindungi batas dan keadilan.


Kekasaran melampiaskan ego dan kemarahan.


---


Diam Tidak Selalu Berarti Setuju


Dalam lingkaran itu, seorang anak selalu diam ketika terjadi kecurangan.


Temannya bertanya:


“Mengapa engkau tidak berbicara?”


Ia menjawab:


“Aku ingin menjaga kedamaian.”


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Diam dapat menjaga kedamaian, tetapi diam juga dapat membiarkan kezaliman.”


Ia melanjutkan:


“Tidak setiap perkara harus diperdebatkan.”


“Tidak setiap kesalahan kecil harus diumumkan.”


“Namun apabila hak orang lain dirampas, yang lemah disakiti, atau kebohongan merusak banyak orang, diam perlu dipertimbangkan kembali.”


Saudara cahayaku, berbicara memiliki adab.


Diam pun memiliki adab.


Berbicara pada waktu yang salah dapat memperbesar kerusakan.


Diam pada waktu yang salah dapat membuat kerusakan terus berlangsung.


Karena itu, tanyakanlah:


Apakah perkataanku akan memperjelas atau memperkeruh?


Apakah diamku memberi ruang perbaikan atau justru melindungi pelaku kezaliman?


Apakah aku berbicara karena tanggung jawab atau karena ingin mempermalukan?


Apakah aku diam karena bijaksana atau karena takut kehilangan keuntungan?


---


Menilai Niat Orang Lain


Seorang anak berkata kepada temannya:


“Engkau menolong hanya supaya dipuji.”


Temannya menjawab:


“Engkau tidak mengetahui isi hatiku.”


Orang tua penjaga lingkaran membenarkan:


“Manusia dapat menilai perbuatan yang tampak, tetapi tidak dapat memastikan seluruh isi hati orang lain.”


Saudara cahayaku, kita boleh berhati-hati terhadap pola tindakan seseorang.


Kita boleh menetapkan batas apabila perilakunya berulang kali merugikan.


Kita boleh menolak tipu daya berdasarkan bukti.


Namun jangan terlalu mudah berkata:


“Dia pasti iri.”


“Dia pasti riya.”


“Dia pasti ingin menjatuhkan.”


“Dia pasti tidak ikhlas.”


Bisa jadi dugaan itu benar.


Namun bisa pula salah.


Menuduh niat seseorang tanpa bukti dapat menjadi bentuk kesombongan tersembunyi, seolah-olah kita mampu membaca seluruh isi hati.


Lebih baik berkata:


«“Perbuatannya menimbulkan kerugian.”»


daripada memastikan niat yang tidak kita ketahui.


Lebih baik membahas tindakan dan akibatnya daripada mengaku mengetahui rahasia batinnya.


---


Saat Niat Baik Menghasilkan Cara yang Salah


Seorang anak ingin membantu temannya yang sedang bermain.


Ia mengubah posisi tangan temannya agar menang.


Ketika ditegur, ia berkata:


“Aku hanya ingin menolong.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Niat membantu tidak membenarkan kecurangan.”


Saudara cahayaku, niat baik harus ditempuh melalui cara yang baik.


Seseorang mungkin ingin melindungi keluarga, tetapi tidak boleh mengambil hak orang lain.


Seseorang mungkin ingin membangun tempat ibadah, tetapi tidak boleh menggunakan penipuan.


Seseorang mungkin ingin menyebarkan kebaikan, tetapi tidak boleh memalsukan kisah.


Seseorang mungkin ingin menyembuhkan orang, tetapi tidak boleh memberikan janji palsu.


Seseorang mungkin ingin menjaga nama baik kelompok, tetapi tidak boleh menutupi kezaliman.


Tujuan yang mulia tidak menyucikan semua cara.


Cara yang rusak dapat merusak tujuan yang baik.


---


Saat Cara Baik Dipakai untuk Tujuan Buruk


Kebalikannya pun dapat terjadi.


Ada orang berbicara lembut untuk menipu.


Ada yang memberi hadiah agar mudah menguasai.


Ada yang berpura-pura menolong agar memperoleh rahasia.


Ada yang memakai bahasa agama untuk membangun ketergantungan.


Ada yang tampak rendah hati agar dipuji sebagai orang yang rendah hati.


Karena itu, manusia tidak cukup melihat bentuk luar.


Perhatikan juga pola dan akibatnya.


Apakah seseorang semakin membuat orang lain mandiri atau justru bergantung?


Apakah ilmunya membuat orang lebih dekat kepada Alloh atau semakin takut kepadanya?


Apakah bantuannya membebaskan atau mengikat?


Apakah nasihatnya menenangkan dan memperbaiki, atau membuat orang kehilangan akal sehat?


Apakah kepemimpinannya membuka musyawarah, atau hanya menuntut ketaatan?


---


Ketika Semua Orang Mengucapkan Hal yang Sama


Anak-anak diminta mengucapkan satu kalimat:


«“Aku akan bermain dengan jujur.”»


Semua mengucapkannya.


Lalu orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Ucapan adalah janji.”


“Namun janji baru terlihat nilainya ketika ada kesempatan untuk melanggarnya.”


Ketika permainan dimulai, beberapa anak tetap jujur.


Sebagian mulai ragu.


Ada yang mengubah tangannya diam-diam.


Ada yang menutupi kecurangan temannya karena takut dimusuhi.


Orang tua tersebut berkata:


“Sekarang kalian mengetahui bahwa mengucapkan kebaikan lebih mudah daripada menjaganya.”


Saudara cahayaku, banyak manusia pandai mengucapkan:


“Jujur.”


“Amanah.”


“Persaudaraan.”


“Kasih sayang.”


“Keadilan.”


“Keikhlasan.”


Namun kata-kata itu memerlukan bukti.


Kejujuran dibuktikan ketika kebohongan menawarkan keuntungan.


Amanah dibuktikan ketika seseorang memegang sesuatu yang bukan miliknya.


Persaudaraan dibuktikan ketika saudara sedang susah.


Kasih sayang dibuktikan ketika kita memiliki kekuatan untuk menyakiti tetapi memilih menahan diri.


Keadilan dibuktikan ketika orang yang bersalah adalah orang yang kita cintai.


Keikhlasan diuji ketika kebaikan tidak diketahui dan tidak dipuji.


---


Membersihkan Niat Sebelum, Saat, dan Setelah Berbuat


Orang tua penjaga lingkaran mengajarkan tiga kali pemeriksaan niat.


Pertama: Sebelum Berbuat


Tanyakan:


“Mengapa aku melakukan ini?”


“Apakah aku mencari ridho Alloh atau hanya pengakuan manusia?”


“Apakah ada hak orang lain yang mungkin terluka?”


---


Kedua: Saat Berbuat


Tanyakan:


“Apakah niatku mulai berubah?”


“Apakah aku mulai ingin dipuji?”


“Apakah aku mulai merasa lebih suci?”


“Apakah cara yang kupakai masih benar?”


---


Ketiga: Setelah Berbuat


Tanyakan:


“Apakah aku terus mengungkit kebaikanku?”


“Apakah aku marah karena tidak dihargai?”


“Apakah aku merasa orang lain berutang kepadaku?”


“Apakah aku sanggup mengakui kekurangan dalam amal ini?”


Membersihkan niat bukan berarti seseorang harus menunggu hatinya sempurna sebelum berbuat baik.


Apabila demikian, banyak kebaikan tidak akan pernah dilakukan.


Berbuatlah baik sambil terus memperbaiki hati.


Jangan meninggalkan amal karena takut riya, tetapi jangan pula merasa aman dari riya.


---


Lingkaran yang Sehat


Orang tua penjaga lingkaran kemudian menjelaskan tanda-tanda lingkaran yang sehat.


Di dalam lingkaran yang sehat, seseorang boleh bertanya tanpa dihina.


Pemimpin dapat dikoreksi.


Aturan berlaku kepada semua orang.


Kesalahan diselesaikan dengan adil.


Orang yang lemah tidak dipakai sebagai korban.


Kebaikan tidak dimonopoli satu orang.


Tidak ada yang mengaku mengetahui seluruh rahasia hidup orang lain.


Tidak ada yang memaksa ketaatan melalui ancaman gaib.


Tidak ada yang melarang anggotanya meminta pendapat dari orang berilmu.


Di dalam lingkaran yang sehat, kedekatan tidak menghapus batas.


Kasih sayang tidak menghilangkan akal sehat.


Kepercayaan tidak berarti menyerahkan seluruh kendali hidup.


Persaudaraan tidak berarti menutupi kesalahan.


---


Lingkaran yang Mulai Rusak


Lingkaran mulai rusak ketika satu orang selalu dianggap benar.


Pertanyaan dianggap sebagai pemberontakan.


Kritik dianggap sebagai pengkhianatan.


Kesalahan pemimpin selalu dibenarkan.


Orang yang pergi dari kelompok dicela dan ditakut-takuti.


Rahasia pribadi digunakan sebagai alat menekan.


Ketaatan kepada manusia dibuat seolah-olah sama dengan ketaatan kepada Alloh.


Harta, waktu, dan tenaga diminta tanpa keterbukaan.


Keputusan penting dibuat berdasarkan klaim batin yang tidak dapat diperiksa.


Saudara cahayaku, apabila tanda-tanda seperti ini muncul, berhentilah dan periksalah.


Jangan menyerahkan akal, iman, harta, atau kehormatan hanya karena seseorang memakai pakaian, gelar, atau bahasa yang tampak suci.


Orang yang benar-benar membimbing akan mengarahkan manusia kepada Alloh, bukan membangun pemujaan kepada dirinya.


---


Menjadi Diri Sendiri Tanpa Menyembah Ego


Seorang anak bertanya:


“Apakah aku harus selalu mengikuti isi hatiku?”


Orang tua menjawab:


“Tidak semua isi hati adalah petunjuk.”


“Di dalam hati juga terdapat keinginan, ketakutan, luka lama, iri, dan hawa nafsu.”


Ia melanjutkan:


“Menjadi diri sendiri bukan berarti mengikuti setiap keinginan.”


“Menjadi diri sendiri berarti jujur melihat keadaan diri, lalu mendidiknya agar tunduk kepada kebenaran.”


Saudara cahayaku, manusia tidak boleh kehilangan dirinya demi diterima orang lain.


Namun manusia juga tidak boleh menjadikan dirinya sebagai pusat segala kebenaran.


Kebebasan memerlukan tanggung jawab.


Keunikan memerlukan adab.


Keberanian memerlukan ilmu.


Keyakinan memerlukan kerendahan hati.


---


Pesan Lembar Kelima


«Suara yang sama belum tentu berasal dari niat yang sama.

Gerakan yang serupa belum tentu membawa tujuan yang serupa.

Karena itu, jangan hanya memperindah ucapan—perbaikilah pula isi hati dan tindakan.»


Jangan mengikuti kelompok tanpa berpikir.


Jangan berbeda hanya agar dianggap istimewa.


Jangan mengaku mengetahui hati orang lain.


Jangan memakai nama Alloh untuk memenangkan ego.


Jangan menganggap suara keras sebagai bukti kebenaran.


Jangan menjadikan diam sebagai perlindungan bagi kezaliman.


Periksa niatmu sebelum berbuat.


Jaga niatmu ketika berbuat.


Bersihkan niatmu setelah berbuat.


Sebab ketika suara telah berhenti dan permainan telah selesai, yang tersisa bukan hanya kata-kata yang pernah diucapkan, tetapi jejak perbuatan yang telah ditinggalkan.


---


Doa Penutup Lembar Kelima


Allāhumma aṣliḥ qulūbanā wa niyyātinā,

wa ṣun alsinatanā ‘anil-kadhib wal-buhtān,

wa lā taj‘al fī a‘mālinā ḥaẓẓan lir-riyā’i wal-kibr.


Allāhumma arzuqnā ikhlāṣan fil-qawli wal-‘amal,

wa baṣīratan na‘rifu bihal-ḥaqqa minal-hawā,

wa tawāḍu‘an naqbal bihil-naṣīḥah.


Ya Alloh, perbaikilah hati dan niat kami. Jagalah lisan kami dari kebohongan dan tuduhan. Jangan jadikan dalam amal kami bagian bagi riya dan kesombongan.


Ya Alloh, karuniakanlah keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, kejernihan untuk membedakan kebenaran dari hawa nafsu, serta kerendahan hati agar kami mampu menerima nasihat.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Keenam


Ketika Lingkaran Menjadi Cermin Diri


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, setiap kali anak-anak membentuk lingkaran dan mengucapkan:


«“Hompimpa alaium gambreng,”»


mereka mengira sedang menentukan siapa yang mendapat giliran.


Namun orang tua penjaga lingkaran melihat sesuatu yang lebih dalam.


Ia melihat siapa yang jujur ketika tidak diawasi.


Ia melihat siapa yang mampu menerima kekalahan.


Ia melihat siapa yang berubah setelah memperoleh kemenangan.


Ia melihat siapa yang suka menyalahkan.


Ia melihat siapa yang ringan mengulurkan pertolongan.


Ia melihat pula siapa yang mampu memeriksa dirinya sendiri sebelum menilai orang lain.


Pada lembar ini, lingkaran tidak lagi hanya menjadi tempat permainan.


Lingkaran berubah menjadi cermin diri.


Di dalamnya, seseorang tidak hanya melihat posisi tangan orang lain, tetapi mulai melihat keadaan hati dan akhlaknya sendiri.


---


Anak yang Sibuk Mengamati Tangan Orang Lain


Pada suatu hari, seorang anak berdiri di dalam lingkaran dengan pandangan terus tertuju kepada tangan teman-temannya.


Ia memperhatikan siapa yang bergerak lebih dahulu.


Ia memeriksa siapa yang terlambat.


Ia mencurigai siapa yang mungkin mengubah pilihan.


Namun karena terlalu sibuk melihat orang lain, ia lupa memperhatikan gerakan tangannya sendiri.


Ketika permainan selesai, ternyata dialah yang membuka tangannya terlambat.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Engkau sangat teliti melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak menyadari kesalahanmu sendiri.”


Anak itu menjawab:


“Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan benar.”


Orang tua berkata:


“Menjaga kebenaran adalah baik. Namun jangan sampai perhatian kepada kesalahan orang lain membuatmu lupa memperbaiki dirimu.”


Saudara cahayaku, sebagian manusia mengenali kekurangan orang lain dengan sangat cepat.


Ia mengetahui siapa yang sombong.


Siapa yang tidak ikhlas.


Siapa yang kurang sabar.


Siapa yang mencari perhatian.


Siapa yang tidak amanah.


Namun ketika dirinya melakukan hal yang sama, ia segera menemukan banyak alasan.


Kesalahan orang lain dianggap sebagai tabiat buruk.


Kesalahan diri sendiri dianggap hanya kekhilafan sesaat.


Kesalahan orang lain diingat bertahun-tahun.


Kesalahan diri sendiri diminta untuk segera dilupakan.


Inilah salah satu tipu daya ego: membuat seseorang menjadi hakim yang keras bagi orang lain, tetapi pembela yang sangat lunak bagi dirinya sendiri.


---


Cermin yang Tidak Pernah Berbohong


Orang tua penjaga lingkaran membawa sebuah cermin.


Ia memberikannya kepada anak yang paling sering mengkritik teman-temannya.


Ia berkata:


“Lihatlah wajahmu.”


Anak itu melihat cermin dan berkata:


“Aku melihat diriku.”


Orang tua bertanya:


“Apakah cermin memujimu?”


“Tidak.”


“Apakah cermin menghinamu?”


“Tidak.”


“Apakah ia menyembunyikan noda di wajahmu?”


“Tidak.”


Orang tua berkata:


“Jadilah seperti cermin ketika menasihati.”


“Tunjukkan yang perlu diperbaiki tanpa menghina.”


“Jangan menambah keburukan yang tidak ada.”


“Jangan pula menyembunyikan kesalahan hanya karena orang itu engkau sukai.”


Saudara cahayaku, cermin tidak marah ketika menunjukkan noda.


Ia juga tidak merasa lebih suci daripada wajah yang dipantulkannya.


Demikianlah seharusnya nasihat.


Nasihat bukan kesempatan untuk merasa lebih tinggi.


Nasihat adalah amanah untuk membantu seseorang melihat sesuatu yang mungkin belum disadarinya.


Namun sebelum menjadi cermin bagi orang lain, bersihkanlah cermin dirimu sendiri.


Sebab cermin yang kotor dapat membuat bayangan tampak lebih buruk daripada keadaan sebenarnya.


Hati yang dipenuhi iri akan melihat keberhasilan orang lain sebagai kesombongan.


Hati yang dipenuhi kebencian akan menafsirkan setiap tindakan sebagai ancaman.


Hati yang haus pujian akan merasa tersinggung ketika orang lain mendapatkan penghargaan.


Hati yang belum berdamai dengan luka lama dapat mudah mencurigai orang yang tidak bersalah.


---


Mengenali Kesalahan Tanpa Membenci Diri


Seorang anak memandang cermin terlalu lama.


Ia menemukan debu di wajahnya lalu berkata:


“Berarti aku buruk.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Debu di wajahmu bukan seluruh dirimu.”


“Bersihkan debunya, bukan membenci wajahmu.”


Saudara cahayaku, muhasabah bukan berarti menghina diri sendiri.


Mengakui kesalahan tidak sama dengan kehilangan harga diri.


Ada orang yang setelah melakukan kesalahan berkata:


“Aku memang manusia yang tidak berguna.”


“Aku selalu gagal.”


“Aku tidak mungkin berubah.”


Kalimat seperti itu tidak selalu menunjukkan kerendahan hati.


Kadang ia adalah bentuk keputusasaan yang membuat seseorang berhenti memperbaiki diri.


Yang diperlukan bukanlah kebencian kepada diri, melainkan kejujuran dan tanggung jawab.


Katakanlah:


«“Aku telah melakukan kesalahan, tetapi aku harus memperbaikinya.”»


«“Aku pernah jatuh, tetapi aku tidak harus tinggal di tempat jatuh.”»


«“Aku memiliki kelemahan, tetapi aku dapat belajar mengendalikannya.”»


«“Aku memohon ampun kepada Alloh dan akan mengembalikan hak yang telah kurusak.”»


Taubat bukan sekadar merasa bersalah.


Taubat memerlukan kesadaran, penyesalan, penghentian kesalahan, permohonan ampun, dan upaya memperbaiki akibatnya.


---


Tiga Cermin Kehidupan


Orang tua penjaga lingkaran menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga cermin.


Pertama: Cermin Nurani


Nurani memberi rasa tidak tenang ketika seseorang berbuat salah.


Namun nurani dapat menjadi lemah apabila kesalahan terus dibiasakan.


Kebohongan pertama terasa berat.


Kebohongan berikutnya mulai terasa biasa.


Kezaliman pertama menimbulkan rasa bersalah.


Apabila terus dilakukan, hati dapat mengeras dan mulai mencari pembenaran.


Karena itu, jangan abaikan peringatan kecil di dalam hati yang masih mengajak kepada kejujuran.


Namun rasa hati juga perlu diperiksa.


Tidak semua kecemasan berarti seseorang bersalah.


Tidak semua ketenangan berarti tindakannya benar.


Nurani perlu dibimbing oleh ilmu, iman, dan akal sehat.


---


Kedua: Cermin Nasihat


Ada kekurangan yang sulit dilihat sendiri.


Karena itu, manusia membutuhkan orang yang berani menasihati dengan jujur dan penuh adab.


Sahabat yang baik bukan hanya yang selalu membenarkan.


Sahabat yang baik adalah yang tetap menyayangi, tetapi tidak membiarkan kita terus berada dalam kesalahan.


Namun ketika nasihat datang, ego sering merasa terancam.


Ia berkata:


“Dia iri kepadaku.”


“Dia tidak memahami diriku.”


“Dia ingin menjatuhkanku.”


Bisa jadi sebagian nasihat memang disampaikan dengan cara yang buruk.


Namun jangan menolak isi yang benar hanya karena cara penyampaiannya tidak sempurna.


Ambillah kebenarannya.


Perbaiki cara penyampaiannya bila perlu.


Dan jangan menjadikan kekurangan pemberi nasihat sebagai alasan untuk terus memelihara kesalahanmu.


---


Ketiga: Cermin Akibat Perbuatan


Perbuatan meninggalkan akibat.


Orang yang terus berbohong akan kehilangan kepercayaan.


Orang yang sering melukai akan dijauhi.


Orang yang mengabaikan kesehatan dapat menerima akibat pada tubuhnya.


Orang yang tidak menjaga amanah akan kehilangan kesempatan.


Orang yang suka merendahkan akan sulit membangun persaudaraan yang tulus.


Akibat tidak selalu datang segera.


Karena itu, sebagian orang mengira perbuatannya tidak bermasalah.


Ia berkata:


“Aku sudah melakukannya berkali-kali dan tidak terjadi apa-apa.”


Padahal benih akibat sedang tumbuh.


Tidak semua hutang ditagih pada hari yang sama.


Tidak semua luka langsung menunjukkan bekas.


Tidak semua kebohongan segera terbongkar.


Namun perbuatan yang terus diulang membentuk karakter dan menentukan arah kehidupan.


---


Ketika Cermin Dipecahkan


Anak yang tidak menyukai bayangannya mengambil cermin dan ingin memecahkannya.


Orang tua penjaga lingkaran menahannya.


Ia berkata:


“Memecahkan cermin tidak menghilangkan noda di wajahmu.”


Saudara cahayaku, manusia kadang marah kepada orang yang menunjukkan kesalahannya.


Ia menjauhi sahabat yang jujur.


Ia menyerang orang yang mengingatkan.


Ia mencari lingkungan yang hanya memujinya.


Ia mengganti pembimbing ketika tidak lagi mendapatkan pembenaran.


Ia menganggap setiap kritik sebagai kebencian.


Padahal membungkam cermin tidak mengubah kenyataan.


Apabila banyak orang tepercaya menyampaikan kekhawatiran yang serupa tentang sikapmu, berhentilah sejenak.


Jangan langsung merasa seluruh dunia sedang memusuhimu.


Bisa jadi ada bagian dalam dirimu yang perlu diperiksa.


Namun jangan pula menerima semua tuduhan begitu saja.


Periksalah dengan tenang.


Carilah bukti.


Dengarkan penjelasan dari beberapa pihak.


Bedakan kritik yang jujur dengan penghinaan.


Bedakan nasihat dengan upaya mengendalikan.


Kedewasaan bukan menerima semua perkataan orang, dan bukan pula menolak semuanya.


Kedewasaan adalah mampu menimbang dengan jernih.


---


Menemukan Ego di Balik Kebaikan


Orang tua penjaga lingkaran memberikan tugas kepada setiap anak untuk membersihkan halaman.


Seorang anak bekerja paling rajin.


Namun ia terus melihat apakah orang tua tersebut memperhatikannya.


Ketika tidak dipuji, ia mulai bekerja dengan malas.


Orang tua berkata:


“Engkau tidak hanya membersihkan halaman. Engkau juga sedang mengharapkan pengakuan.”


Anak itu merasa malu.


Orang tua melanjutkan:


“Tidak perlu meninggalkan pekerjaanmu. Teruskan, sambil memperbaiki niat.”


Saudara cahayaku, ego tidak selalu muncul melalui keburukan yang kasar.


Ia dapat bersembunyi di balik kebaikan.


Seseorang menolong, lalu merasa dirinya penyelamat.


Seseorang mengajar, lalu merasa semua ilmu berasal darinya.


Seseorang berdzikir, lalu merasa lebih dekat kepada Alloh daripada orang lain.


Seseorang memberi nasihat, lalu merasa dirinya paling bersih.


Seseorang memimpin, lalu merasa kelompok tidak dapat berjalan tanpanya.


Seseorang bersikap rendah hati, tetapi diam-diam ingin dikenal sebagai orang yang rendah hati.


Ego yang kasar mudah dikenali.


Ego yang memakai pakaian kebaikan jauh lebih halus.


Karena itu, jangan merasa telah terbebas dari ego hanya karena melakukan amal baik.


Mintalah kepada Alloh agar amal tidak berubah menjadi jalan kesombongan.


---


Ujub: Kagum kepada Diri Sendiri


Seorang anak berhasil memenangkan permainan beberapa kali.


Ia mulai berkata:


“Aku memang paling pintar.”


“Aku selalu lebih tepat daripada kalian.”


“Aku pasti akan menang lagi.”


Pada permainan berikutnya, ia kalah.


Ia marah dan menuduh aturan tidak adil.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Ketika menang, engkau menganggapnya bukti kehebatanmu.”


“Ketika kalah, engkau menyalahkan aturan.”


“Inilah tanda bahwa engkau belum mengenali dirimu.”


Saudara cahayaku, ujub adalah kekaguman berlebihan terhadap diri, amal, ilmu, kedudukan, atau kemampuan.


Seseorang lupa bahwa semua kemampuan berdiri di atas banyak pemberian:


kesehatan,


kesempatan,


guru,


keluarga,


lingkungan,


waktu,


rezeki,


dan pertolongan Alloh.


Orang yang berilmu tidak menjadi pandai sendirian.


Ada guru yang mengajarkan.


Ada tubuh yang diberi kesehatan.


Ada akal yang dianugerahkan.


Ada waktu yang dilapangkan.


Ada orang-orang yang mendukung.


Menyadari kemampuan bukanlah ujub.


Mengakui keberhasilan juga bukan otomatis sombong.


Yang berbahaya adalah ketika seseorang merasa seluruh keberhasilan murni berasal dari dirinya, lalu merendahkan orang yang belum mencapainya.


---


Rendah Hati Bukan Merendahkan Kemampuan


Seorang anak yang pandai berkata:


“Aku tidak mampu melakukan apa-apa.”


Orang tua bertanya:


“Bukankah engkau telah berlatih dan memiliki kemampuan?”


Anak itu menjawab:


“Aku takut dianggap sombong.”


Orang tua berkata:


“Rendah hati bukan berbohong tentang kemampuan.”


“Rendah hati adalah mengakui kemampuan sebagai amanah dan tidak menggunakannya untuk merendahkan.”


Saudara cahayaku, seseorang boleh berkata:


“Aku memahami pekerjaan ini.”


“Aku memiliki pengalaman.”


“Aku siap membantu.”


“Aku telah berlatih.”


Selama disampaikan dengan jujur, tidak berlebihan, dan tidak merendahkan orang lain.


Merendahkan kemampuan sendiri secara palsu juga dapat menjadi bentuk keinginan mendapatkan pujian.


Seseorang berkata:


“Aku tidak bisa apa-apa,”


tetapi berharap orang lain menjawab:


“Tidak, engkau sangat hebat.”


Karena itu, jagalah kejujuran bahkan dalam kerendahan hati.


---


Ketika Kesadaran Diri Menjadi Penghakiman Tanpa Akhir


Ada anak yang setelah mengetahui kekurangannya terus menyalahkan dirinya.


Setiap malam ia mengulang kesalahan lama di dalam pikiran.


Ia tidak lagi belajar.


Ia tidak lagi bermain.


Ia hanya berkata:


“Aku telah gagal.”


Orang tua penjaga lingkaran mendekatinya.


Ia berkata:


“Kesadaran yang sehat mengantarkan kepada perbaikan.”


“Kesadaran yang tidak dibimbing dapat berubah menjadi hukuman tanpa akhir.”


Saudara cahayaku, ada perbedaan antara muhasabah dan pikiran yang terus menyiksa diri.


Muhasabah bertanya:


“Apa yang salah?”


“Apa yang dapat diperbaiki?”


“Siapa yang harus kumintai maaf?”


“Langkah apa yang harus dilakukan berikutnya?”


Sedangkan pikiran yang menyiksa diri hanya berkata:


“Aku buruk.”


“Aku tidak pantas.”


“Tidak ada harapan.”


Apabila rasa bersalah telah membuat seseorang tidak mampu menjalani kehidupan, tidak tidur, terus takut, atau kehilangan harapan, ia perlu mencari pertolongan yang aman dari orang tepercaya dan tenaga profesional.


Memohon bantuan bukan tanda lemah.


Alloh dapat menghadirkan pertolongan melalui ilmu, keluarga, sahabat, dokter, psikolog, ulama, dan orang-orang yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya.


---


Jangan Menganggap Semua Pikiran sebagai Dirimu


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Pikiran datang dan pergi seperti awan.”


“Tidak semua pikiran harus dipercaya.”


Saudara cahayaku, kadang muncul pikiran buruk yang tidak diinginkan.


Kadang muncul ketakutan tanpa sebab yang jelas.


Kadang batin mengkritik diri dengan sangat keras.


Kadang ada dorongan untuk menilai orang lain.


Munculnya suatu pikiran tidak selalu berarti engkau menginginkannya.


Yang perlu diperhatikan adalah apakah engkau menerima, memelihara, dan mewujudkannya menjadi tindakan.


Jangan segera menyimpulkan bahwa setiap lintasan pikiran adalah suara gaib, petunjuk khusus, atau kebenaran.


Pikiran dapat lahir dari ingatan, ketakutan, kebiasaan, kelelahan, pengalaman masa lalu, dan keadaan tubuh.


Periksalah dengan tenang.


Apabila pikiran mengajak kepada kebaikan yang jelas, lakukan melalui cara yang benar.


Apabila mengajak menyakiti, menipu, merendahkan, atau melakukan sesuatu yang berbahaya, jangan diikuti.


Apabila pikiran terasa sangat mengganggu, berulang, atau sulit dikendalikan, carilah bantuan yang tepat.


---


Kesadaran Penyaksi


Seorang anak bertanya:


“Siapa yang mengetahui bahwa aku sedang berpikir?”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Engkau dapat menyadari bahwa pikiran sedang bergerak.”


“Kesadaran itu membantumu berhenti sebelum mengikuti setiap dorongan.”


Saudara cahayaku, manusia memiliki kemampuan untuk memperhatikan pikirannya sendiri.


Ia dapat berkata:


“Aku sedang marah.”


“Aku sedang iri.”


“Aku sedang takut.”


“Aku ingin membalas.”


Kesadaran seperti ini bukan berarti ada makhluk lain di dalam tubuh.


Ia dapat dipahami secara aman sebagai kemampuan diri untuk menyaksikan keadaan pikiran dan perasaan.


Ketika marah, jangan langsung berkata:


“Aku adalah kemarahan.”


Katakanlah:


«“Kemarahan sedang muncul dalam diriku, tetapi aku dapat memilih tindakanku.”»


Ketika iri datang, jangan berkata:


“Aku pasti manusia buruk.”


Katakanlah:


«“Aku sedang merasakan iri dan harus membersihkannya.”»


Ketika ingin dipuji, sadarilah:


«“Ada keinginan mendapatkan pengakuan. Aku perlu meluruskan niat.”»


Dengan demikian, kesadaran tidak berubah menjadi penghakiman, tetapi menjadi ruang untuk memilih respons yang lebih baik.


---


Dua Penilaian yang Menjebak


Seorang anak berkata:


“Jika aku menilai orang secara negatif, aku takut berdosa.”


“Jika aku menilai secara positif, aku takut ujub atau tertipu.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Jangan hanya memakai dua pilihan yang sempit.”


“Engkau dapat melihat sesuatu secara jujur tanpa menghina dan tanpa mengagungkan secara berlebihan.”


Saudara cahayaku, ketika melihat kekurangan seseorang, katakan:


«“Perbuatan ini kurang baik dan perlu diperbaiki.”»


Jangan langsung berkata:


«“Orang ini pasti hina di hadapan Alloh.”»


Ketika melihat kelebihan seseorang, katakan:


«“Ia memiliki kemampuan atau akhlak yang baik dalam perkara ini.”»


Jangan langsung menganggapnya sempurna, suci, atau tidak mungkin salah.


Demikian pula terhadap diri sendiri.


Ketika engkau berhasil, katakan:


«“Alhamdulillah, Alloh memberikan kemudahan, dan aku harus menjaga amanah ini.”»


Bukan:


«“Aku paling hebat.”»


Ketika engkau gagal, katakan:


«“Ada bagian yang harus kupelajari dan perbaiki.”»


Bukan:


«“Aku tidak berharga.”»


Penilaian yang sehat bersifat khusus, adil, dan dapat diperbaiki.


Penghakiman ego bersifat mutlak:


“Selalu.”


“Tidak pernah.”


“Paling buruk.”


“Paling suci.”


“Tidak mungkin berubah.”


Hindarilah penilaian mutlak terhadap manusia yang masih menjalani perjalanan hidup.


---


Memisahkan Perbuatan dari Harga Diri Manusia


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Perbuatan dapat salah, tetapi manusia tetap memiliki kesempatan untuk bertobat.”


Saudara cahayaku, kita perlu mampu mengatakan:


“Kebohongan itu salah.”


“Kecurangan itu salah.”


“Kekerasan itu salah.”


“Pengkhianatan amanah itu salah.”


Namun tidak semua pelaku kesalahan harus diperlakukan seolah-olah tidak memiliki nilai sebagai manusia.


Keadilan tetap ditegakkan.


Korban tetap dilindungi.


Batas tetap dibuat.


Namun pintu perbaikan tidak ditutup selama seseorang masih hidup dan bersungguh-sungguh berubah.


Memisahkan perbuatan dari seluruh harga diri seseorang membantu kita bersikap tegas tanpa kehilangan kemanusiaan.


---


Saat Cermin Menunjukkan Kebaikan


Cermin tidak hanya menunjukkan noda.


Ia juga menunjukkan bagian wajah yang bersih.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Jangan hanya mengenali kekuranganmu.”


“Kenali pula kebaikan yang harus engkau syukuri dan jaga.”


Saudara cahayaku, ada orang yang hanya mampu melihat kelemahan dirinya.


Ia lupa bahwa dirinya telah bertahan melalui banyak ujian.


Ia lupa pernah menolong.


Ia lupa telah belajar.


Ia lupa bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk berubah.


Mensyukuri kebaikan diri bukanlah kesombongan apabila semuanya dikembalikan sebagai amanah dari Alloh.


Katakanlah:


“Alhamdulillah, aku telah belajar lebih sabar.”


“Alhamdulillah, aku mulai mampu menahan ucapan.”


“Alhamdulillah, aku dapat meminta maaf.”


“Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan memperbaiki diri.”


Syukur akan menjaga kebaikan tanpa membuatmu merasa sempurna.


---


Empat Pertanyaan di Hadapan Cermin


Sebelum tidur, orang tua penjaga lingkaran mengajarkan empat pertanyaan kepada anak-anak.


Pertama


«“Kebaikan apa yang hari ini telah kulakukan?”»


Bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk bersyukur dan menjaga kebiasaan baik.


Kedua


«“Kesalahan apa yang perlu kuakui?”»


Bukan untuk membenci diri, tetapi agar kesalahan tidak terus berulang.


Ketiga


«“Adakah hak orang lain yang belum kutunaikan?”»


Mungkin janji.


Mungkin hutang.


Mungkin permintaan maaf.


Mungkin ucapan yang harus diluruskan.


Keempat


«“Apa satu perbaikan kecil yang dapat kulakukan besok?”»


Perubahan tidak selalu dimulai dengan langkah besar.


Satu ucapan yang ditahan.


Satu kebohongan yang dihentikan.


Satu janji yang ditepati.


Satu orang yang dimintai maaf.


Satu pekerjaan yang diselesaikan.


Satu ibadah yang dijaga.


Perbaikan kecil yang istiqamah dapat mengubah arah kehidupan.


---


Ketika Semua Tangan Diletakkan di Dada


Pada akhir permainan, orang tua penjaga lingkaran meminta semua anak meletakkan tangan di dada.


Ia berkata:


“Sebelum menunjuk keluar, rasakanlah apa yang bergerak di dalam.”


“Apakah ada marah?”


“Apakah ada iri?”


“Apakah ada takut?”


“Apakah ada keinginan dipuji?”


“Apakah ada penyesalan?”


“Apakah ada niat memperbaiki?”


Anak-anak terdiam.


Tidak ada yang mengetahui isi hati temannya.


Masing-masing mulai memeriksa dirinya.


Orang tua itu berkata:


“Inilah hompimpa yang paling berat.”


“Bukan memilih telapak menghadap ke atas atau ke bawah.”


“Melainkan memilih antara mengikuti ego atau memperbaiki diri.”


---


Pesan Lembar Keenam


«Lingkaran kehidupan akan terus memperlihatkan keadaan dirimu.

Kemenangan menunjukkan bagaimana engkau bersyukur.

Kekalahan menunjukkan bagaimana engkau bersabar.

Kritik menunjukkan bagaimana engkau menerima nasihat.

Kesalahan menunjukkan bagaimana engkau bertanggung jawab.»


Jangan sibuk membersihkan cermin orang lain sementara wajahmu sendiri tidak pernah diperiksa.


Jangan membenci dirimu hanya karena menemukan kekurangan.


Jangan memecahkan cermin hanya karena tidak menyukai apa yang terlihat.


Jangan menganggap setiap pikiran sebagai kebenaran.


Jangan menganggap setiap rasa sebagai petunjuk gaib.


Sadari pikiranmu.


Periksa niatmu.


Akui kesalahanmu.


Syukuri kebaikanmu.


Kembalikan hak orang lain.


Lalu berjalanlah kembali dengan kerendahan hati.


Sebab manusia yang mengenali dirinya bukanlah orang yang merasa sempurna.


Ia adalah orang yang mengetahui kelemahan tanpa putus asa, mengetahui kemampuan tanpa sombong, dan mengetahui bahwa seluruh hidupnya tetap membutuhkan petunjuk serta pertolongan Alloh.


---


Doa Penutup Lembar Keenam


Allāhumma arinā ‘uyūba anfusinā,

warzuqnā ṣidqan fī muḥāsabatihā,

wa lā taj‘al ma‘rifatanā bi-‘uyūbinā sababan lil-ya’s.


Allāhumma ṭahhir qulūbanā minal-kibri wal-‘ujbi war-riyā’,

wa arzuqnā tawāḍu‘an ma‘al-karāmah,

wa tawbatan ma‘al-iṣlāḥ,

wa wa‘yan yahdīnā ilā aḥsanil-akhlāq.


Ya Alloh, perlihatkanlah kepada kami kekurangan diri kami dan karuniakanlah kejujuran dalam memeriksanya. Jangan jadikan pengetahuan terhadap kekurangan kami sebagai sebab keputusasaan.


Ya Alloh, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, ujub, dan riya. Karuniakanlah kerendahan hati tanpa kehilangan kehormatan, taubat yang disertai perbaikan, serta kesadaran yang membimbing kami menuju akhlak terbaik.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Ketujuh


Saat Telapak Terbuka, Rahasia Genggaman Terlihat


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, selama tangan masih menggenggam, manusia lain tidak mengetahui apa yang disembunyikan di dalamnya.


Mungkin terdapat benih.


Mungkin terdapat batu.


Mungkin terdapat pemberian.


Mungkin terdapat sesuatu yang bukan haknya.


Mungkin pula genggaman itu kosong, tetapi pemiliknya berusaha membuat orang lain mengira bahwa ia membawa sesuatu yang sangat berharga.


Ketika terdengar seruan:


«“Hompimpa alaium gambreng,”»


telapak tangan pun dibuka.


Apa yang sebelumnya tertutup mulai terlihat.


Pada lembar ini, kita merenungkan tentang rahasia yang disimpan, amanah yang digenggam, keterbukaan, dan keberanian mempertanggungjawabkan apa yang berada di tangan manusia.


---


Anak yang Tidak Mau Membuka Tangan


Pada suatu sore, orang tua penjaga lingkaran membagikan sebuah biji kepada setiap anak.


Ia meminta mereka menggenggam biji itu sampai tiba waktu untuk membuka tangan.


Ketika semua anak membuka telapak, seorang anak tetap mengepalkan tangannya.


Orang tua itu bertanya:


“Mengapa engkau belum membukanya?”


Anak tersebut menjawab:


“Aku takut bijiku lebih kecil daripada milik mereka.”


Orang tua berkata:


“Ukuran biji bukanlah ukuran harga dirimu.”


Anak itu masih menolak membuka tangan.


Ia berkata:


“Aku juga takut mereka menertawakanku.”


Orang tua menjawab:


“Ketakutan terhadap penilaian manusia dapat membuat seseorang menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu disembunyikan.”


Akhirnya anak itu membuka telapaknya.


Ternyata bijinya tidak berbeda jauh dari biji anak-anak lain.


Ia telah lama merasa malu terhadap sesuatu yang bahkan tidak dianggap buruk oleh orang lain.


Saudara cahayaku, manusia sering memikul ketakutan yang lebih besar daripada kenyataannya.


Ia takut kekurangannya diketahui.


Takut tampak tidak sempurna.


Takut dianggap lemah.


Takut bertanya karena khawatir dianggap bodoh.


Takut meminta bantuan karena khawatir harga dirinya jatuh.


Padahal tidak semua kelemahan harus menjadi aib.


Tidak mengetahui dapat diperbaiki dengan belajar.


Tidak mampu dapat dihadapi dengan meminta pertolongan.


Pernah gagal dapat menjadi pelajaran.


Sedang bersedih bukan tanda kehilangan iman.


Manusia tidak diwajibkan tampil sempurna di hadapan manusia lain.


---


Keterbukaan Bukan Berarti Membuka Semua Rahasia


Seorang anak mendengar pelajaran tentang tangan terbuka, lalu berkata:


“Kalau begitu, semua isi hidup harus kita ceritakan kepada setiap orang.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Tidak.”


“Keterbukaan harus ditemani kebijaksanaan.”


“Tidak semua rahasia harus diumumkan.”


“Tidak semua luka harus diceritakan kepada orang yang tidak mampu menjaganya.”


“Tidak semua rencana harus dibuka sebelum waktunya.”


“Tidak semua perasaan harus ditumpahkan tanpa mempertimbangkan akibat.”


Saudara cahayaku, kejujuran tidak berarti kehilangan batas pribadi.


Ada perkara yang cukup diketahui antara manusia dan Alloh.


Ada perkara yang sebaiknya dibicarakan kepada keluarga.


Ada perkara yang membutuhkan guru atau orang berilmu.


Ada perkara yang harus disampaikan kepada dokter, psikolog, penasihat hukum, atau pihak berwenang.


Ada pula perkara yang tidak boleh disebarkan karena menyangkut kehormatan dan keselamatan orang lain.


Kebijaksanaan adalah mengetahui kepada siapa sesuatu disampaikan, kapan waktunya, seberapa banyak, dan untuk tujuan apa.


Jangan membuka rahasia hanya karena sedang marah.


Jangan menyebarkan cerita pribadi orang lain agar dirimu mendapat perhatian.


Jangan menggunakan pengakuan seseorang sebagai bahan ejekan atau alat mengendalikan.


Orang yang menerima kepercayaan harus menjaga amanah.


---


Tangan yang Menggenggam Amanah


Orang tua penjaga lingkaran memberikan sebuah kunci kepada seorang anak.


Ia berkata:


“Jagalah kunci ini sampai aku memintanya kembali.”


Anak itu menerima dan menyimpannya.


Teman-temannya bertanya:


“Kunci apakah itu?”


Ia menjawab:


“Aku tidak tahu.”


“Bolehkah kami meminjamnya?”


“Aku tidak diberi izin.”


“Bukalah pintu yang sesuai dengan kunci itu.”


“Aku bahkan tidak mengetahui pintunya.”


Mereka mengejek anak tersebut sebagai orang yang terlalu takut.


Namun ia tetap menjaga amanah.


Ketika orang tua kembali, kunci itu diserahkan dalam keadaan utuh.


Orang tua berkata:


“Amanah tidak selalu berarti engkau memahami seluruh rahasianya.”


“Kadang engkau hanya diminta menjaga batas dan menunaikan tanggung jawab.”


Saudara cahayaku, amanah hadir dalam banyak bentuk:


uang yang dititipkan,


rahasia yang dipercayakan,


pekerjaan yang diserahkan,


anak yang harus dijaga,


jabatan yang diberikan,


ilmu yang harus disampaikan dengan benar,


serta kepercayaan yang tidak boleh disalahgunakan.


Amanah bukan milik pribadi yang boleh diperlakukan sesuka hati.


Orang yang memegang jabatan tidak boleh menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya.


Orang yang memegang dana tidak boleh mengambilnya hanya karena merasa telah berjasa.


Orang yang mengetahui rahasia tidak boleh menyebarkannya karena hubungan sedang memburuk.


Orang yang memiliki ilmu tidak boleh memalsukan penjelasan hanya agar tampak luar biasa.


---


Ketika Amanah Terasa Berat


Anak yang menjaga kunci tadi berkata:


“Aku takut kehilangan kunci ini.”


Orang tua menjawab:


“Rasa takut yang membuatmu berhati-hati adalah baik.”


“Namun apabila amanah terlalu berat dan engkau tidak mampu menjaganya, katakanlah dengan jujur.”


Saudara cahayaku, tidak semua amanah harus diterima.


Ada orang menerima tugas karena gengsi, padahal ia tidak memiliki waktu dan kemampuan.


Ada yang menerima titipan harta, padahal dirinya sedang sulit menahan godaan.


Ada yang bersedia memimpin, padahal tidak siap dikoreksi.


Ada yang mengaku mampu mengobati, membimbing, atau menyelesaikan persoalan, padahal tidak memiliki ilmu.


Mengakui ketidakmampuan lebih terhormat daripada menerima amanah lalu merusaknya.


Katakanlah:


«“Aku belum mampu.”»


«“Aku memerlukan bantuan.”»


«“Aku tidak memiliki keahlian dalam perkara ini.”»


«“Tugas ini sebaiknya diberikan kepada orang yang lebih tepat.”»


Kejujuran seperti itu bukan kelemahan.


Ia adalah perlindungan bagi diri dan orang lain.


---


Tangan yang Menyembunyikan Milik Orang Lain


Pada permainan berikutnya, orang tua membagikan batu kecil kepada setiap anak.


Setelah selesai, semua batu harus dikembalikan.


Namun jumlahnya berkurang satu.


Orang tua bertanya:


“Siapa yang masih menggenggam batu itu?”


Tidak ada yang menjawab.


Seorang anak menyimpan batu tersebut karena menganggapnya indah.


Ia berkata dalam hati:


“Hanya satu batu kecil. Tidak akan ada yang dirugikan.”


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Nilai amanah tidak hanya diukur dari besar kecilnya benda.”


“Orang yang membiasakan diri mengambil yang kecil akan lebih mudah mengambil yang besar ketika kesempatan datang.”


Anak itu akhirnya membuka tangannya dan mengembalikan batu tersebut.


Saudara cahayaku, banyak kerusakan besar dimulai dari pembenaran kecil.


“Hanya sedikit.”


“Hanya sekali.”


“Tidak ada yang melihat.”


“Semua orang juga melakukannya.”


“Pemiliknya tidak akan mengetahui.”


Kalimat-kalimat seperti itu dapat membuat hati perlahan terbiasa mengkhianati.


Kejujuran dibentuk melalui perkara kecil.


Mengembalikan uang kembalian yang berlebih.


Menepati waktu.


Tidak memakai barang tanpa izin.


Tidak mengambil hasil kerja orang lain.


Tidak mengaku sebagai pemilik gagasan yang bukan miliknya.


Tidak mengubah catatan demi keuntungan pribadi.


Orang yang menjaga perkara kecil sedang melatih dirinya memikul amanah besar.


---


Genggaman Kesalahan Masa Lalu


Seorang anak menggenggam sepotong arang.


Ia menutup tangannya sangat kuat karena tidak ingin orang lain melihatnya.


Semakin lama ia menggenggam, telapak tangannya semakin hitam.


Ketika akhirnya dibuka, arang itu telah meninggalkan noda.


Orang tua berkata:


“Kesalahan yang disembunyikan tanpa diperbaiki dapat meninggalkan bekas semakin dalam.”


Anak itu bertanya:


“Apakah aku harus menceritakan seluruh kesalahanku?”


Orang tua menjawab:


“Tidak semua dosa pribadi harus engkau ceritakan kepada manusia.”


“Namun engkau harus bertobat kepada Alloh, menghentikan kesalahan, dan memperbaiki hak manusia yang telah dirusak.”


Saudara cahayaku, ada perbedaan antara menutupi aib dengan terus mempertahankan keburukan.


Seseorang tidak perlu mengumumkan kesalahan pribadinya agar dianggap jujur.


Namun ia juga tidak boleh menggunakan kata “menjaga aib” untuk menghindari tanggung jawab kepada korban.


Apabila mengambil hak orang lain, hak itu harus dikembalikan.


Apabila menyebarkan fitnah, tuduhan harus diluruskan.


Apabila merusak sesuatu, kerusakan harus diperbaiki sebisanya.


Apabila keselamatan orang lain terancam, perkara itu tidak boleh ditutupi hanya demi nama baik.


Taubat kepada Alloh tidak boleh dijadikan alasan mengabaikan hak manusia.


---


Meminta Maaf tanpa Membuka Luka Lebih Lebar


Seorang anak pernah berkata kasar kepada temannya.


Ia ingin meminta maaf, tetapi takut percakapan itu kembali melukai.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Permintaan maaf harus memperhatikan keadaan orang yang terluka.”


“Jangan memaksa ia segera memaafkan.”


“Jangan menjadikan permintaan maaf sebagai cara agar hatimu sendiri cepat merasa lega, sementara bebannya kembali dipindahkan kepadanya.”


Saudara cahayaku, permintaan maaf yang baik:


mengakui kesalahan secara jelas,


tidak memutarbalikkan kenyataan,


tidak menuntut jawaban segera,


tidak memaksa hubungan kembali seperti dahulu,


dan disertai perubahan tindakan.


Kadang orang yang terluka memerlukan waktu.


Kadang ia memerlukan jarak.


Kadang kepercayaan tidak dapat kembali dalam satu percakapan.


Memaafkan adalah kemuliaan, tetapi tidak boleh dipaksakan.


Orang yang sungguh-sungguh bertobat harus siap menerima bahwa akibat kesalahannya mungkin membutuhkan waktu panjang untuk diperbaiki.


---


Telapak Tangan yang Kosong


Orang tua meminta semua anak membuka telapak tangan.


Salah seorang anak tidak membawa apa-apa.


Ia merasa malu karena teman-temannya memiliki sesuatu untuk ditunjukkan.


Orang tua berkata:


“Telapak yang kosong tidak selalu berarti kemiskinan.”


“Tangan kosong dapat menerima ilmu.”


“Tangan kosong dapat menolong.”


“Tangan kosong tidak sedang mencengkeram sesuatu yang bukan haknya.”


Saudara cahayaku, manusia sering merasa tidak berharga ketika tidak memiliki banyak harta, gelar, pengikut, atau penghormatan.


Ia membandingkan isi tangannya dengan milik orang lain.


Padahal nilai manusia tidak hanya terletak pada apa yang dimiliki.


Kadang telapak yang kosong menunjukkan bahwa seseorang sedang memulai kembali.


Ia telah melepaskan kebiasaan buruk.


Meninggalkan pekerjaan yang tidak halal.


Keluar dari hubungan yang merusak.


Mengakui bahwa selama ini ia menempuh jalan yang salah.


Memulai kembali memang terlihat seperti kehilangan.


Namun tangan yang telah melepaskan keburukan memiliki ruang untuk menerima kebaikan.


---


Tangan yang Tidak Pernah Merasa Cukup


Seorang anak telah membawa banyak biji, tetapi terus meminta milik temannya.


Orang tua bertanya:


“Berapa banyak yang engkau perlukan?”


Anak itu menjawab:


“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin lebih banyak.”


Orang tua berkata:


“Orang yang tidak mengetahui batas cukup akan terus merasa miskin meskipun tangannya penuh.”


Saudara cahayaku, kekurangan dan ketamakan adalah dua perkara berbeda.


Orang yang benar-benar kekurangan patut dibantu.


Sedangkan ketamakan membuat seseorang tidak pernah puas.


Ia melihat milik orang lain dan merasa bagiannya selalu kurang.


Ia mendapatkan satu kedudukan lalu mengejar kedudukan berikutnya.


Menerima pujian lalu takut orang lain lebih dipuji.


Mendapatkan harta lalu kehilangan ketenangan karena ingin menjaganya terus bertambah.


Rasa cukup bukan berarti berhenti bekerja atau tidak memiliki cita-cita.


Rasa cukup adalah mampu bersyukur sambil tetap berikhtiar.


Ia berkata:


«“Aku akan berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tidak akan menghalalkan segala cara.”»


«“Aku mempunyai keinginan, tetapi tidak akan menjadikan keinginan sebagai tuhan.”»


«“Aku akan mencari tambahan rezeki, tetapi tidak melupakan hak dan ketenangan.”»


---


Tangan yang Memberi secara Tersembunyi


Orang tua penjaga lingkaran meminta anak-anak meletakkan sebagian biji untuk orang yang membutuhkan.


Seorang anak memberi sambil mengumumkan jumlah pemberiannya.


Anak lain meletakkan bijinya diam-diam.


Orang tua berkata:


“Pemberian yang diumumkan tidak selalu salah apabila ada maslahat yang benar.”


“Namun periksa hati agar pemberian tidak berubah menjadi pertunjukan.”


Saudara cahayaku, ada kebaikan yang perlu diketahui agar menjadi teladan, menggerakkan bantuan, atau menjaga keterbukaan.


Ada pula kebaikan yang lebih aman ketika disembunyikan.


Yang terpenting adalah niat dan akibatnya.


Jangan merendahkan orang yang memberi secara terbuka.


Jangan pula menganggap dirimu lebih ikhlas hanya karena memberi diam-diam.


Alloh mengetahui isi hati yang tidak tampak.


Setelah memberi, jangan terus mengawasi apakah orang memuji.


Jangan pula merasa berhak mengatur kehidupan penerima hanya karena pernah membantu.


Pemberian yang tulus meringankan beban, bukan menciptakan penjajahan baru.


---


Hak untuk Berkata Tidak


Seorang anak selalu diminta meminjamkan miliknya.


Ia merasa tidak nyaman, tetapi takut disebut pelit.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Berbagi adalah kebaikan, tetapi engkau juga memiliki hak menjaga milik dan batasmu.”


Saudara cahayaku, tangan terbuka bukan berarti selalu mengiyakan semua permintaan.


Ada permintaan yang wajar.


Ada permintaan yang melampaui batas.


Ada orang yang sungguh membutuhkan.


Ada pula yang terbiasa memanfaatkan kebaikan.


Berkata tidak dengan sopan bukan dosa.


Seseorang boleh berkata:


«“Maaf, aku belum dapat membantu dalam perkara ini.”»


«“Aku tidak bersedia memberikan informasi tersebut.”»


«“Aku memerlukan barang ini dan belum dapat meminjamkannya.”»


«“Aku dapat membantu sebatas ini, tidak lebih.”»


Batas yang sehat menjaga kebaikan agar tidak berubah menjadi kelelahan, kemarahan, dan kebencian tersembunyi.


Menolonglah dengan sadar, bukan karena takut ditolak oleh kelompok.


---


Ketika Genggaman Harus Dilepaskan


Orang tua meminta anak-anak menggenggam biji dengan kuat.


Setelah beberapa waktu, tangan mereka mulai sakit.


Ia berkata:


“Sekarang lepaskan.”


Sebagian anak merasa lega.


Namun ada yang tetap menggenggam karena takut kehilangan.


Orang tua berkata:


“Ada perkara yang harus dijaga, dan ada perkara yang harus dilepaskan.”


Saudara cahayaku, manusia perlu belajar membedakan keduanya.


Jagalah iman, amanah, keluarga, kesehatan, kejujuran, dan tanggung jawab.


Namun lepaskan dendam yang terus membakar.


Lepaskan keinginan menguasai orang lain.


Lepaskan kebutuhan untuk selalu menang.


Lepaskan penyesalan yang telah diperbaiki.


Lepaskan hubungan yang nyata-nyata membawa kekerasan dan kehancuran, dengan mencari pertolongan yang aman.


Lepaskan pandangan bahwa semua hal harus berjalan sesuai rencanamu.


Melepaskan bukan berarti tidak peduli.


Kadang melepaskan adalah pengakuan bahwa manusia tidak menguasai segala sesuatu.


---


Jangan Memaksa Orang Membuka Tangan


Seorang anak mencoba membuka paksa tangan temannya.


Orang tua menghentikannya.


Ia berkata:


“Engkau tidak berhak memaksa semua orang membuka rahasia kepadamu.”


Saudara cahayaku, rasa ingin tahu harus memiliki batas.


Jangan memaksa seseorang menceritakan luka yang belum siap dibicarakan.


Jangan meminta kata sandi, isi pesan, atau rahasia pribadi hanya atas nama kedekatan.


Jangan menganggap cinta berarti berhak mengetahui seluruh isi hidup orang lain.


Kepercayaan tidak dibangun melalui pemeriksaan tanpa batas.


Kepercayaan tumbuh melalui kejujuran, konsistensi, keamanan, dan penghormatan terhadap ruang pribadi.


Namun privasi juga tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan pengkhianatan yang merugikan orang lain.


Karena itu, setiap hubungan memerlukan kesepakatan yang jujur tentang batas, amanah, dan tanggung jawab.


---


Tangan yang Terbuka di Hadapan Alloh


Ketika malam tiba, orang tua penjaga lingkaran meminta anak-anak menengadahkan tangan untuk berdoa.


Ia berkata:


“Di hadapan manusia, engkau dapat menyembunyikan banyak perkara.”


“Namun Alloh mengetahui apa yang berada dalam genggaman, pikiran, dan niatmu.”


Saudara cahayaku, menengadahkan tangan dalam doa bukan tanda bahwa manusia berhak menuntut segala keinginannya.


Ia adalah pengakuan:


«“Ya Alloh, aku membutuhkan-Mu.”»


«“Aku memiliki keinginan, tetapi ilmu-Mu lebih luas.”»


«“Aku berusaha, tetapi kekuatanku terbatas.”»


«“Aku membawa kesalahan dan memohon ampunan.”»


«“Aku membawa amanah dan memohon kemampuan menjaganya.”»


Doa bukan cara mengendalikan Alloh.


Doa adalah ibadah, penghambaan, harapan, dan penyerahan.


Manusia memohon dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap beradab terhadap hasil dan waktu yang ditentukan Alloh.


---


Lima Pemeriksaan terhadap Genggaman


Sebelum tidur, periksalah apa yang sedang engkau genggam.


Pertama: Apakah Ini Hakku?


Jika bukan, kembalikanlah.


Kedua: Apakah Ini Amanah?


Jika iya, jagalah dan jangan gunakan sesuka hati.


Ketiga: Apakah Ini Dendam?


Jika iya, carilah jalan penyelesaian yang adil dan jangan biarkan ia merusak hatimu.


Keempat: Apakah Ini Keinginan yang Berlebihan?


Jika iya, belajarlah mengenali batas cukup.


Kelima: Apakah Ini Kesalahan yang Belum Diperbaiki?


Jika iya, bertobatlah dan lakukan perbaikan nyata.


Tidak semua yang berada dalam tangan harus dipertahankan.


Tidak semua yang hilang harus dikejar kembali.


Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki.


Tidak semua rahasia harus dibuka.


Namun setiap amanah harus dipertanggungjawabkan.


---


Saat Semua Tangan Akhirnya Terbuka


Anak-anak kembali berdiri di dalam lingkaran.


Mereka menggenggam sesuatu yang berbeda-beda.


Ada yang membawa benih.


Ada yang membawa batu.


Ada yang membawa kunci.


Ada yang tidak membawa apa-apa.


Ketika seruan terakhir terdengar, semua tangan dibuka.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Sekarang jangan lihat siapa yang memiliki paling banyak.”


“Lihatlah siapa yang memperoleh sesuatu secara jujur.”


“Lihatlah siapa yang menjaga titipan.”


“Lihatlah siapa yang berani mengembalikan yang bukan haknya.”


“Lihatlah siapa yang mampu melepaskan dendam.”


“Lihatlah siapa yang membuka tangan untuk memberi.”


Sebab kemuliaan bukan terletak pada banyaknya isi genggaman.


Kemuliaan terlihat pada cara seseorang memperoleh, menjaga, menggunakan, dan melepaskannya.


---


Pesan Lembar Ketujuh


«Selama tangan masih tertutup, manusia mungkin dapat menyembunyikan isi genggamannya.

Namun perbuatan yang terus dilakukan akan membuka keadaan dirinya.»


Jangan takut mengakui keterbatasan.


Jangan membuka semua rahasia tanpa kebijaksanaan.


Jangan menyimpan milik orang lain di dalam genggamanmu.


Jangan memakai amanah sebagai milik pribadi.


Jangan mempertahankan dendam sampai tangan dan hatimu terluka.


Jangan merasa hina ketika harus memulai dengan tangan kosong.


Jangan pernah merasa cukup dengan pujian, tetapi belajarlah merasa cukup terhadap bagian dunia yang telah diberikan.


Bukalah tangan untuk bekerja.


Bukalah tangan untuk mengembalikan hak.


Bukalah tangan untuk meminta maaf.


Bukalah tangan untuk memberi.


Bukalah tangan dalam doa.


Dan ketika sesuatu harus dilepaskan, lepaskanlah dengan keyakinan bahwa tidak semua kehilangan adalah kehancuran.


Kadang tangan harus dikosongkan agar mampu menerima amanah yang lebih baik.


---


Doa Penutup Lembar Ketujuh


Allāhumma ṭahhir aydiyanā minal-khiyānah,

wa qulūbanā minash-shaḥḥi wal-ḥiqd,

warzuqnā amānatan wa qanā‘atan wa ṣidqā.


Allāhumma a‘innā ‘alā ḥifẓil-amānāt,

wa raddil-ḥuqūq,

wa tarki mā lā yaḥillu lanā,

waf-taḥ aydiyanā lil-khair wal-iḥsān.


Ya Alloh, bersihkanlah tangan kami dari pengkhianatan, hati kami dari kekikiran dan dendam, serta karuniakanlah amanah, rasa cukup, dan kejujuran.


Ya Alloh, bantulah kami menjaga titipan, mengembalikan hak, meninggalkan sesuatu yang tidak halal bagi kami, serta membuka tangan untuk kebaikan dan ihsan.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Kedelapan


Ketika Lingkaran Pecah dan Dibentuk Kembali


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, selama anak-anak berdiri berdekatan, lingkaran tampak utuh.


Setiap tangan masih dapat menjangkau tangan yang lain.


Setiap wajah masih dapat saling memandang.


Setiap suara masih terdengar dari jarak yang dekat.


Namun sebuah lingkaran tidak selalu pecah karena seseorang meninggalkan tempatnya.


Kadang lingkaran masih tampak lengkap dari luar, tetapi sebenarnya telah retak di dalam.


Ada yang berdiri sambil menyimpan kebencian.


Ada yang tersenyum sambil menyiapkan pengkhianatan.


Ada yang tetap ikut mengucapkan hompimpa, tetapi tidak lagi mempercayai aturan.


Ada yang merasa tidak pernah didengar.


Ada yang selalu ingin menguasai.


Ada pula yang memilih diam karena takut apabila berkata jujur, dirinya akan dikeluarkan.


Pada lembar ini, kita merenungkan tentang perselisihan, kepercayaan yang retak, perpisahan, dan kemungkinan membentuk kembali lingkaran dengan cara yang lebih sehat.


---


Awal Retaknya Lingkaran


Pada suatu hari, anak-anak kembali berkumpul.


Mereka telah sepakat bahwa siapa pun yang terpilih akan menjadi penjaga permainan untuk satu putaran.


Hompimpa pun dilakukan.


Seorang anak yang pendiam terpilih menjadi penjaga.


Namun anak yang paling kuat menolak.


Ia berkata:


“Aku lebih pantas memimpin.”


Temannya menjawab:


“Bukankah kita telah sepakat mengikuti hasil?”


Anak itu berkata:


“Aku hanya akan menerima aturan jika hasilnya masuk akal bagiku.”


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Apakah aturan hanya berlaku ketika menguntungkanmu?”


Anak tersebut tidak menjawab.


Ia kemudian menarik beberapa temannya dan membuat lingkaran baru.


Ia berkata:


“Siapa pun yang mengikuti aku akan mendapatkan tempat paling baik.”


Sebagian anak mengikutinya karena takut.


Sebagian karena ingin memperoleh keuntungan.


Sebagian lagi tetap berada di lingkaran lama.


Mulailah mereka saling mengejek.


Lingkaran yang dahulu menjadi tempat bermain berubah menjadi dua kelompok yang saling mencurigai.


---


Perbedaan Tidak Selalu Harus Menjadi Perpecahan


Saudara cahayaku, perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan manusia.


Dua orang dapat memiliki tujuan baik, tetapi memilih jalan berbeda.


Dua sahabat dapat melihat satu masalah dari sudut yang berlainan.


Anggota keluarga dapat tidak sepakat tentang pekerjaan, pendidikan, pembagian tugas, atau keputusan penting.


Perbedaan tidak otomatis berarti permusuhan.


Yang merusak bukan hanya perbedaannya, tetapi cara manusia mengelolanya.


Perbedaan menjadi perpecahan ketika:


orang tidak lagi mau mendengar,


kritik dianggap penghinaan,


pendapat berbeda dianggap pengkhianatan,


kekuatan dipakai untuk membungkam,


kabar buruk sengaja disebarkan,


dan kemenangan dianggap lebih penting daripada kebenaran.


Manusia tidak harus menyamakan seluruh pikiran agar dapat hidup dengan damai.


Namun mereka harus menyepakati adab, kejujuran, batas, dan penghormatan terhadap hak.


---


Anak yang Menganggap Semua Ketidaksetujuan sebagai Penolakan


Salah seorang anak berkata:


“Jika mereka tidak setuju denganku, berarti mereka tidak menyukaiku.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Tidak setiap ketidaksetujuan adalah kebencian.”


“Orang yang mencintaimu dapat menolak keputusanmu.”


“Orang yang menghormatimu dapat menunjukkan kesalahanmu.”


“Orang yang mendukungmu tidak harus selalu membenarkanmu.”


Anak itu berkata:


“Tetapi aku merasa diserang.”


Orang tua menjawab:


“Perasaan diserang perlu didengar, tetapi juga perlu diperiksa.”


“Apakah mereka benar-benar merendahkanmu?”


“Apakah mereka hanya menolak gagasanmu?”


“Apakah caranya kasar?”


“Apakah ada kebenaran yang sulit engkau terima?”


Saudara cahayaku, manusia sering mencampurkan dirinya dengan pendapatnya.


Ketika pendapat dikritik, ia merasa seluruh harga dirinya dihancurkan.


Padahal gagasan dapat salah tanpa menjadikan pemiliknya manusia yang tidak berharga.


Belajarlah berkata:


«“Pendapatku dapat diperiksa.”»


«“Keputusanku dapat diperbaiki.”»


«“Aku dapat keliru tanpa kehilangan martabat.”»


Kemampuan memisahkan harga diri dari pendapat akan membuat seseorang lebih mudah belajar.


---


Saat Pemimpin Menjadi Pusat Lingkaran


Anak yang membentuk kelompok baru berdiri di tengah lingkaran.


Ia berkata:


“Semua orang harus melihat kepadaku.”


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Pemimpin bukan pusat pemujaan.”


“Pemimpin berada di tengah agar dapat melihat kebutuhan semua pihak, bukan agar semua orang selalu memandang dirinya.”


Saudara cahayaku, kepemimpinan adalah amanah.


Pemimpin yang baik tidak membuat kelompok bergantung sepenuhnya kepada dirinya.


Ia membagi pengetahuan.


Menyiapkan pengganti.


Membuka musyawarah.


Mengakui kesalahan.


Mendengarkan pihak yang lemah.


Menjelaskan penggunaan amanah dan harta secara terbuka.


Ia tidak takut apabila anggota menjadi pandai.


Ia tidak merasa terancam apabila ada orang lain yang memiliki kemampuan.


Sebaliknya, lingkaran mulai tidak sehat ketika pemimpin:


menuntut pujian terus-menerus,


tidak boleh dikoreksi,


menganggap dirinya satu-satunya sumber kebenaran,


membuat anggota takut meninggalkan kelompok,


memakai rahasia pribadi sebagai alat menekan,


atau menjanjikan keselamatan dan kedudukan ruhani sebagai imbalan ketaatan kepadanya.


Manusia boleh menghormati pemimpin, guru, orang tua, dan orang berilmu.


Namun penghormatan tidak berarti meniadakan akal, batas, dan tanggung jawab.


---


Orang yang Keluar dari Lingkaran


Seorang anak merasa tidak aman berada di dalam kelompok baru.


Ia berkata:


“Aku ingin pergi.”


Pemimpin kelompok menjawab:


“Siapa yang keluar akan menjadi musuh kami.”


Anak itu ketakutan.


Orang tua penjaga lingkaran mendekatinya dan berkata:


“Tidak semua perpisahan adalah pengkhianatan.”


“Ada orang pergi karena tugasnya selesai.”


“Ada yang membutuhkan jalan berbeda.”


“Ada yang harus menyelamatkan dirinya dari perlakuan yang merusak.”


“Ada pula yang pergi karena tidak ingin bertanggung jawab.”


“Semuanya harus dilihat dengan jernih, bukan dengan ancaman.”


Saudara cahayaku, sebuah kelompok yang sehat tidak menahan anggotanya melalui rasa takut.


Seseorang boleh memilih keluar dari pertemanan, organisasi, pekerjaan, atau hubungan yang tidak lagi sehat.


Namun perpisahan juga memiliki adab.


Kembalikan amanah.


Selesaikan tanggung jawab yang masih dapat diselesaikan.


Jangan membawa harta atau rahasia yang bukan hakmu.


Jangan menyebarkan fitnah sebagai balasan sakit hati.


Sampaikan alasan seperlunya dengan jujur dan aman.


Dalam keadaan yang mengandung ancaman atau kekerasan, keselamatan harus diutamakan dan pertolongan pihak tepercaya perlu dicari.


---


Tidak Semua Lingkaran Harus Dipertahankan


Salah seorang anak berkata:


“Bukankah persaudaraan berarti kita harus tetap bersama selamanya?”


Orang tua menjawab:


“Persaudaraan harus dijaga, tetapi kebersamaan tidak boleh dipakai untuk membiarkan kezaliman.”


Saudara cahayaku, ada hubungan yang dapat diperbaiki melalui percakapan jujur.


Ada hubungan yang memerlukan waktu dan jarak.


Ada pula hubungan yang harus dihentikan karena terus menimbulkan kekerasan, penipuan, penghinaan, atau bahaya.


Mempertahankan hubungan bukan selalu tanda kesetiaan.


Kadang seseorang bertahan karena takut sendirian.


Takut dicela.


Takut kehilangan kedudukan.


Atau merasa dirinya bertanggung jawab mengubah orang yang tidak mau berubah.


Kasih sayang tidak menuntut seseorang terus-menerus menjadi tempat pelampiasan.


Memaafkan tidak berarti membiarkan kesalahan berulang.


Kesabaran tidak berarti menyerahkan diri kepada kezaliman.


Batas yang sehat bukan kebencian.


Ia dapat menjadi bentuk penjagaan terhadap diri, keluarga, dan orang lain.


---


Ketika Kedua Lingkaran Saling Menuduh


Kelompok pertama berkata:


“Mereka semua pengkhianat.”


Kelompok kedua berkata:


“Mereka semua tidak mempunyai keberanian.”


Tidak ada yang lagi membicarakan persoalan awal.


Mereka mulai menyerang pribadi.


Mengingat kesalahan lama.


Menyebarkan cerita yang belum jelas.


Mencari siapa yang dapat dipermalukan.


Orang tua penjaga lingkaran berdiri di antara keduanya.


Ia berkata:


“Ketika perselisihan berubah menjadi kebencian, manusia sering lupa masalah yang sebenarnya.”


“Yang dahulu diperdebatkan hanya aturan permainan.”


“Sekarang kalian telah melukai kehormatan satu sama lain.”


Saudara cahayaku, perselisihan akan semakin sulit diselesaikan apabila manusia:


mencampurkan banyak masalah sekaligus,


membawa kesalahan masa lalu yang tidak berkaitan,


menebak niat lawan,


menggunakan kata “selalu” dan “tidak pernah,”


mempermalukan di depan umum,


serta mengajak banyak orang untuk membenci.


Selesaikan persoalan secara khusus.


Tentukan apa yang sebenarnya diperdebatkan.


Pisahkan fakta dari dugaan.


Pisahkan tindakan dari penilaian terhadap seluruh diri seseorang.


Tentukan hak apa yang dirusak dan perbaikan apa yang diperlukan.


---


Menang dalam Perdebatan, Kehilangan Persaudaraan


Seorang anak membuktikan bahwa pendapatnya benar.


Ia tersenyum puas dan berkata:


“Aku menang.”


Namun temannya pulang dengan hati terluka karena sepanjang perdebatan ia dihina.


Orang tua berkata:


“Engkau mungkin memenangkan alasan, tetapi kehilangan adab.”


Saudara cahayaku, kebenaran tidak memberikan izin untuk merendahkan.


Ada orang yang memiliki bukti kuat, tetapi menyampaikannya dengan kesombongan.


Ada yang membongkar kesalahan bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk mempermalukan.


Ada yang terus mendesak lawannya mengakui kekalahan di depan banyak orang.


Akhirnya perdebatan tidak lagi mencari kebenaran.


Ia berubah menjadi pertarungan harga diri.


Dalam keadaan seperti itu, berhenti sejenak lebih baik daripada terus berbicara dalam kemarahan.


Kemenangan terbaik bukan ketika lawan tidak dapat menjawab.


Kemenangan terbaik adalah ketika masalah menjadi lebih jelas, hak dikembalikan, keburukan dihentikan, dan semua pihak memperoleh kesempatan memperbaiki diri.


---


Orang Ketiga yang Membawa Api


Ketika dua kelompok berselisih, seorang anak berjalan dari satu kelompok ke kelompok lain.


Kepada kelompok pertama ia berkata:


“Mereka menghina kalian.”


Kepada kelompok kedua ia berkata:


“Mereka sedang merencanakan keburukan.”


Ia menikmati melihat pertengkaran membesar.


Orang tua penjaga lingkaran mengetahuinya.


Ia berkata:


“Engkau tidak menciptakan api pertama, tetapi engkau membawa kayu agar api semakin besar.”


Saudara cahayaku, jangan menjadi pembawa ucapan yang memperkeruh hubungan.


Tidak semua perkataan perlu diteruskan.


Tidak semua keluhan harus dibawa kepada pihak lain.


Apabila seseorang bercerita dalam keadaan marah, jangan segera menyebarkannya.


Tanyakan:


“Apakah engkau ingin aku hanya mendengarkan?”


“Apakah engkau ingin mencari jalan penyelesaian?”


“Apakah engkau mengizinkan aku menyampaikan ini?”


Menjadi pendengar bukan berarti menjadi pengantar fitnah.


Orang yang mendamaikan tidak menambah cerita.


Ia menyampaikan yang perlu, dengan jujur, tanpa memperbesar.


---


Perdamaian Bukan Memaksa Semua Orang Kembali Dekat


Setelah perselisihan panjang, seorang anak berkata:


“Supaya damai, semua harus kembali bermain bersama seperti dahulu.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Perdamaian tidak selalu berarti kedekatan kembali seperti semula.”


Saudara cahayaku, ada hubungan yang setelah diperbaiki dapat menjadi dekat kembali.


Ada yang hanya dapat berjalan dengan batas yang lebih jelas.


Ada pula yang cukup diselesaikan dengan berhenti saling menyakiti, meskipun tidak lagi berada dalam satu lingkaran.


Perdamaian dapat berarti:


tuduhan dihentikan,


hak dikembalikan,


permintaan maaf disampaikan,


batas dihormati,


dan tidak ada lagi usaha membalas.


Tidak semua orang harus kembali menjadi sahabat dekat.


Kepercayaan berbeda dengan maaf.


Maaf dapat diberikan untuk membebaskan hati dari dendam.


Kepercayaan harus dibangun kembali melalui bukti, waktu, dan konsistensi.


Jangan memaksa orang yang terluka memberikan kepercayaan sebelum dirinya siap.


---


Empat Tahap Memperbaiki Lingkaran


Orang tua penjaga lingkaran mengajarkan empat tahap sebelum lingkaran dibentuk kembali.


Pertama: Berhenti Menambah Kerusakan


Hentikan hinaan.


Hentikan ancaman.


Hentikan penyebaran cerita.


Hentikan perbuatan yang merampas hak.


Tidak mungkin membangun kembali kepercayaan apabila luka baru terus dibuat.


Kedua: Akui Fakta dan Akibat


Jangan hanya berkata:


«“Sudahlah, kita lupakan.”»


Tanyakan:


Apa yang terjadi?


Siapa yang dirugikan?


Hak apa yang hilang?


Apa akibat yang masih dirasakan?


Pengakuan bukan untuk memperpanjang permusuhan, tetapi agar perbaikan tidak dibangun di atas kebohongan.


Ketiga: Lakukan Pemulihan


Kembalikan barang.


Luruskan tuduhan.


Ganti kerugian sebisanya.


Perbaiki aturan.


Berikan ruang kepada pihak yang terluka.


Janji tanpa perbaikan nyata akan terasa kosong.


Keempat: Buat Batas Baru


Tentukan aturan yang jelas.


Siapa yang memegang amanah?


Bagaimana keputusan dibuat?


Apa yang dilakukan apabila aturan dilanggar?


Bagaimana anggota dapat menyampaikan keberatan?


Lingkaran yang dibentuk kembali tidak boleh hanya mengulang pola lama.


---


Ketika Tidak Ada Permintaan Maaf


Seorang anak berkata:


“Aku mau berdamai, tetapi dia tidak pernah meminta maaf.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Engkau tidak dapat memaksa kesadaran tumbuh di hati orang lain.”


“Namun engkau tetap dapat memilih agar keburukannya tidak terus menguasai hidupmu.”


Saudara cahayaku, ada luka yang pelakunya tidak mengakui kesalahan.


Dalam keadaan itu, seseorang dapat:


menetapkan batas,


mencari keadilan melalui jalan yang benar,


menghentikan hubungan yang merusak,


menerima dukungan,


dan berusaha melepaskan dendam secara bertahap.


Melepaskan dendam tidak berarti menyebut perbuatannya benar.


Tidak pula berarti melupakan seluruh kejadian.


Ia berarti tidak membiarkan masa lalu terus mengendalikan setiap hari di masa depan.


Proses ini dapat memerlukan waktu.


Tidak perlu berpura-pura telah sembuh apabila hati masih terluka.


Berdoalah, berbicaralah kepada orang yang aman, dan carilah pertolongan yang sesuai apabila luka terasa berat.


---


Meminta Maaf tanpa Menuntut Lingkaran Lama Kembali


Anak yang menyebabkan perpecahan akhirnya menyesal.


Ia mendatangi kelompok lama dan berkata:


“Aku minta maaf. Sekarang kalian harus menerimaku kembali.”


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Permintaan maaf bukan tiket untuk mendapatkan kembali seluruh kedudukanmu.”


Saudara cahayaku, orang yang meminta maaf harus siap menerima akibat.


Ia tidak berhak menentukan kapan orang lain selesai terluka.


Ia tidak boleh berkata:


“Aku sudah meminta maaf, mengapa kamu masih menjaga jarak?”


Permintaan maaf adalah kewajiban pelaku.


Memaafkan adalah proses pihak yang terluka.


Mengembalikan kepercayaan adalah keputusan yang memerlukan pertimbangan.


Orang yang sungguh menyesal akan menunjukkan perubahan meskipun belum segera diterima kembali.


Ia memperbaiki diri bukan hanya agar mendapatkan tempat lama, tetapi karena menyadari keburukan perbuatannya.


---


Lingkaran Baru yang Lebih Luas


Setelah waktu berlalu, anak-anak berkumpul kembali.


Namun kali ini mereka tidak langsung membentuk satu lingkaran rapat.


Mereka duduk dengan jarak yang cukup.


Masing-masing diberi kesempatan berbicara.


Tidak ada yang dipaksa mengaku sebelum siap.


Tidak ada yang boleh menghina.


Aturan dibuat bersama.


Anak yang dahulu selalu ingin memimpin tidak lagi berdiri di tengah.


Ia duduk sejajar dengan yang lain.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Lingkaran yang baik tidak harus membuat semua orang sama.”


“Ada yang banyak berbicara.”


“Ada yang lebih banyak mendengar.”


“Ada yang memimpin pada satu urusan.”


“Ada yang lebih ahli pada urusan lain.”


“Yang penting, tidak ada tangan yang terus-menerus menindih tangan lainnya.”


Saudara cahayaku, kebersamaan yang sehat memberi tempat bagi perbedaan kemampuan.


Ia tidak memaksa semua orang menjadi serupa.


Ia mengenali kelebihan tanpa menciptakan kasta kesombongan.


Ia melindungi yang lemah tanpa merampas kesempatan mereka untuk bertumbuh.


Ia menghormati pemimpin tanpa menjadikannya tidak tersentuh.


---


Lingkaran Bukan Penjara


Orang tua penjaga lingkaran menggambar sebuah lingkaran di tanah.


Ia kemudian membuat satu pintu kecil pada garisnya.


Anak-anak bertanya:


“Mengapa lingkaran diberi pintu?”


Ia menjawab:


“Agar orang dapat masuk dengan sadar dan keluar tanpa ancaman.”


Saudara cahayaku, sebuah komunitas, persahabatan, atau hubungan tidak boleh menjadi penjara.


Kebersamaan seharusnya membantu manusia bertumbuh dalam kebaikan.


Bukan memutusnya dari keluarga.


Bukan mengambil seluruh waktunya.


Bukan membuatnya takut berpikir.


Bukan menuntut seluruh hartanya.


Bukan membuatnya percaya bahwa keselamatannya bergantung kepada satu manusia.


Lingkaran yang sehat memiliki pintu.


Ada keterbukaan untuk bertanya.


Ada ruang untuk beristirahat.


Ada kebebasan untuk berbeda.


Ada jalan keluar yang tidak disertai kutukan dan ancaman.


---


Tidak Semua Orang Harus Masuk ke Dalam Lingkaranmu


Seorang anak mengajak setiap orang yang ditemuinya masuk ke kelompok.


Ia menganggap semakin besar lingkaran, semakin hebat dirinya.


Orang tua berkata:


“Tidak semua orang harus menjadi bagian dari lingkaranmu.”


Saudara cahayaku, manusia dapat berbuat baik kepada banyak orang tanpa menjadikan semuanya sahabat dekat.


Kepercayaan memiliki tingkatan.


Ada orang yang cukup disapa dengan baik.


Ada yang dapat diajak bekerja sama.


Ada yang dapat dipercaya memegang urusan tertentu.


Ada yang dapat mengetahui hal pribadi.


Ada yang menjadi sahabat dekat.


Membuka diri tanpa batas kepada semua orang bukan selalu kasih sayang.


Ia dapat menjadi ketidakmampuan menjaga diri.


Pilihlah kedekatan berdasarkan akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan waktu yang telah membuktikan.


Jangan hanya berdasarkan kata-kata indah atau kedekatan sesaat.


---


Ketika Lingkaran Harus Ditinggalkan


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Ada waktunya engkau membentuk lingkaran.”


“Ada waktunya engkau memperbaikinya.”


“Dan ada waktunya engkau harus meninggalkannya.”


Tinggalkan lingkaran apabila ia terus memaksamu berbuat zalim.


Apabila engkau diperintah menipu.


Apabila kehormatan dan keselamatanmu terancam.


Apabila pertanyaan selalu dibungkam.


Apabila kesalahan terus ditutupi.


Apabila semua jalan perbaikan telah dicoba, tetapi keburukan semakin kuat.


Namun pergilah dengan hati-hati.


Cari perlindungan.


Simpan bukti bila diperlukan.


Hubungi keluarga, orang tepercaya, atau pihak yang berwenang.


Jangan menghadapi ancaman berbahaya seorang diri.


Keberanian bukan berarti menolak pertolongan.


---


Ketika Lingkaran Hanya Tinggal Kenangan


Ada persahabatan yang pernah sangat dekat, tetapi akhirnya berakhir.


Ada kelompok yang pernah memberi banyak pelajaran, tetapi kemudian harus ditinggalkan.


Ada masa kehidupan yang tidak dapat diulang.


Saudara cahayaku, tidak semua yang berakhir berarti seluruhnya sia-sia.


Ambillah pelajaran baiknya.


Akui luka dan kesalahannya.


Syukuri orang-orang yang pernah menolong.


Jangan mengagungkan masa lalu sampai menolak masa depan.


Jangan pula membenci seluruh masa lalu hanya karena akhirnya menyakitkan.


Manusia dapat berkata:


«“Ada kebaikan yang pernah kuterima.”»


«“Ada kesalahan yang tidak akan kuulangi.”»


«“Ada orang yang telah kupaafkan dari kejauhan.”»


«“Ada jalan yang kini harus kutempuh tanpa mereka.”»


---


Hompimpa Setelah Perpecahan


Setelah semua persoalan dibicarakan, anak-anak berdiri kembali.


Mereka mengulurkan tangan.


Namun sebelum mengucapkan hompimpa, orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Jangan mengucapkan kata yang sama apabila kalian belum siap menjaga aturan yang sama.”


Mereka pun mengulang kesepakatan:


Tidak mengubah tangan secara diam-diam.


Tidak menghina yang kalah.


Tidak merampas giliran.


Tidak mengancam orang yang berbeda.


Tidak menyebarkan tuduhan tanpa bukti.


Berani mengakui kesalahan.


Berani menerima koreksi.


Barulah mereka mengucapkan:


«“Hompimpa alaium gambreng.”»


Ketika tangan dibuka, hasilnya berbeda-beda.


Namun kali ini, tidak ada yang merebut.


Tidak ada yang mencaci.


Tidak ada yang menganggap dirinya paling mulia.


Mereka mulai memahami bahwa lingkaran tidak menjadi kuat karena semua tangan menghadap ke arah yang sama.


Lingkaran menjadi kuat karena setiap tangan menghormati aturan, batas, dan hak tangan yang lain.


---


Enam Tanda Lingkaran yang Layak Dipertahankan


Pertama: Kebenaran Lebih Tinggi daripada Kedudukan


Siapa pun dapat dikoreksi, termasuk pemimpin.


Kedua: Orang yang Lemah Dilindungi


Bukan dijadikan korban agar nama kelompok tetap baik.


Ketiga: Amanah Dikelola secara Terbuka


Harta, tugas, dan keputusan dapat dipertanggungjawabkan.


Keempat: Perbedaan Tidak Dibalas dengan Ancaman


Anggota boleh bertanya, menolak, dan keluar dengan adab.


Kelima: Kesalahan Diakui dan Diperbaiki


Bukan ditutupi melalui alasan kesucian atau kehormatan.


Keenam: Kebersamaan Mendekatkan kepada Kebaikan


Bukan membuat manusia kehilangan akal sehat, keluarga, kesehatan, dan tanggung jawab hidup.


---


Pesan Lembar Kedelapan


«Lingkaran yang pecah tidak selalu dapat kembali seperti semula.

Namun manusia tetap dapat belajar, memperbaiki, membangun batas, dan membentuk kebersamaan yang lebih sehat.»


Jangan menganggap setiap perbedaan sebagai permusuhan.


Jangan menuntut semua orang selalu menyetujui dirimu.


Jangan memakai kepemimpinan untuk menguasai.


Jangan menahan orang melalui ancaman.


Jangan memaksa perdamaian tanpa keadilan.


Jangan menuntut kepercayaan hanya karena telah meminta maaf.


Beranilah memperbaiki lingkaran apabila masih mungkin.


Beranilah mengambil jarak apabila diperlukan.


Beranilah meninggalkan apabila keselamatan dan kebenaran terus dirusak.


Dan apabila engkau membentuk lingkaran baru, jangan hanya mengganti orang-orangnya.


Perbaikilah aturan, niat, cara berbicara, pembagian amanah, dan sikap terhadap perbedaan.


Sebab lingkaran lama dapat terulang dalam wajah baru apabila ego yang sama masih memegang pusatnya.


---


Doa Penutup Lembar Kedelapan


Allāhumma allif baina qulūbinā bil-ḥaqq,

wa aṣliḥ dhāta baininā bil-‘adli wal-iḥsān,

wa a‘idhnā min fitnatil-khiṣām wal-baghy.


Allāhumma arzuqnā shajā‘atan liqabulil-ḥaqq,

wa ḥikmatan fī waḍ‘il-ḥudūd,

wa ṣabran fī iṣlāḥil-‘alāqāt,

wa najātan min kulli ṣuḥbatin taqūdunā ilāẓ-ẓulm.


Ya Alloh, satukanlah hati kami di atas kebenaran. Perbaikilah hubungan di antara kami dengan keadilan dan ihsan. Lindungilah kami dari fitnah perselisihan, permusuhan, dan kezaliman.


Ya Alloh, karuniakanlah keberanian untuk menerima kebenaran, kebijaksanaan dalam menetapkan batas, kesabaran dalam memperbaiki hubungan, serta keselamatan dari setiap kebersamaan yang membawa kami kepada kezaliman.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Kesembilan


Ketika Semua Ingin Menang


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, setelah lingkaran yang retak dibentuk kembali, anak-anak mulai bermain dengan aturan yang lebih jelas.


Mereka telah belajar agar tidak mengubah tangan secara diam-diam.


Mereka telah belajar menerima perbedaan.


Mereka telah belajar bahwa pemimpin bukan pusat pemujaan.


Mereka juga telah memahami bahwa kemenangan tidak menentukan kemuliaan seseorang.


Namun masih tersisa satu ujian yang sangat halus:


«Semua orang ingin menang, tetapi tidak semua orang siap memikul akibat kemenangan.»


Ketika ucapan:


«“Hompimpa alaium gambreng,”»


kembali terdengar, setiap anak berharap tangannya menjadi tangan yang terpilih.


Tidak ada yang ingin tersisih.


Tidak ada yang ingin menunggu.


Tidak ada yang ingin dianggap kalah.


Pada lembar ini, kita merenungkan tentang ambisi, persaingan, kemenangan, kekalahan, serta kemampuan mengenali kapan harus maju dan kapan harus memberikan kesempatan kepada orang lain.


---


Anak yang Menganggap Kekalahan sebagai Kehinaan


Pada putaran pertama, seorang anak tidak terpilih.


Wajahnya memerah.


Ia mengepalkan tangan lalu berkata:


“Aku dipermalukan.”


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Siapa yang mempermalukanmu?”


Anak itu menjawab:


“Hasil permainan ini.”


Orang tua berkata:


“Hasil hanya menunjukkan bahwa giliranmu belum tiba. Rasa hina itu muncul karena engkau menganggap dirimu harus selalu menang.”


Anak itu berkata:


“Kalau aku kalah, mereka akan menganggapku lemah.”


Orang tua menjawab:


“Orang yang matang tidak menilai seluruh dirimu dari satu kekalahan.”


“Dan apabila ada yang mengejekmu, ejekan mereka tidak otomatis menjadi kebenaran.”


Saudara cahayaku, banyak manusia tidak takut kehilangan hasil.


Mereka takut kehilangan citra.


Takut disebut gagal.


Takut dianggap tidak mampu.


Takut melihat orang lain lebih maju.


Karena itu, kekalahan kecil terasa seperti kehancuran harga diri.


Padahal seseorang dapat gagal dalam satu pekerjaan tanpa menjadi manusia gagal.


Ia dapat salah dalam satu keputusan tanpa berarti seluruh akalnya tidak berguna.


Ia dapat kalah dalam satu persaingan tanpa kehilangan kehormatan.


Kekalahan hanya menjadi kehinaan apabila setelahnya seseorang memilih menipu, menyalahkan, merusak, atau mengkhianati nilai yang benar.


---


Keinginan Menang yang Menelan Akal


Pada putaran berikutnya, anak yang sama mulai memperhatikan tangan teman-temannya.


Ia mencoba menebak pilihan mereka.


Ia ingin bergerak sepersekian detik lebih lambat agar dapat mengubah tangannya.


Orang tua penjaga lingkaran melihatnya.


Ia berkata:


“Keinginan menang telah membuatmu mencari celah untuk berbuat curang.”


Anak itu membela diri:


“Aku hanya memakai strategi.”


Orang tua menjawab:


“Strategi tetap harus berada dalam batas aturan.”


“Apabila engkau mengubah aturan secara tersembunyi untuk mendapatkan keuntungan, itu bukan kecerdikan. Itu pengkhianatan.”


Saudara cahayaku, manusia sering memberi nama indah kepada perbuatan yang salah.


Kecurangan disebut strategi.


Keserakahan disebut ambisi.


Manipulasi disebut kepandaian membaca keadaan.


Kekerasan disebut ketegasan.


Penguasaan terhadap orang lain disebut perlindungan.


Pamer disebut motivasi.


Keinginan dipuji disebut dakwah.


Karena itu, jangan hanya menilai suatu tindakan dari nama yang diberikan pelakunya.


Lihatlah hakikat dan akibatnya.


Apakah ada hak orang lain yang dirampas?


Apakah ada kebohongan yang disembunyikan?


Apakah ada orang yang dipaksa?


Apakah aturan hanya menguntungkan pihak tertentu?


Apakah yang lemah harus membayar harga dari kemenangan orang kuat?


---


Persaingan yang Menumbuhkan


Orang tua penjaga lingkaran kemudian mengadakan perlombaan sederhana.


Anak-anak diminta membawa air menggunakan wadah kecil.


Mereka harus bergerak cepat, tetapi tidak boleh mendorong atau menumpahkan air milik orang lain.


Salah seorang anak menyelesaikan tugas paling dahulu.


Namun ia melihat temannya kesulitan di belakang.


Ia kembali dan membantu tanpa mengambil alih seluruh pekerjaannya.


Orang tua berkata:


“Inilah persaingan yang sehat.”


“Kalian berusaha memberikan kemampuan terbaik.”


“Namun kalian tidak menghancurkan orang lain agar terlihat lebih tinggi.”


Saudara cahayaku, persaingan tidak selalu buruk.


Ia dapat mendorong seseorang untuk belajar lebih tekun.


Bekerja lebih disiplin.


Meningkatkan keterampilan.


Menemukan cara yang lebih baik.


Tetapi persaingan menjadi rusak ketika tujuan seseorang bukan lagi memperbaiki diri, melainkan memastikan orang lain jatuh.


Persaingan yang sehat berkata:


«“Aku ingin menjadi lebih baik daripada diriku kemarin.”»


Persaingan yang rusak berkata:


«“Aku tidak tahan apabila orang lain lebih baik dariku.”»


Persaingan yang sehat menghormati aturan.


Persaingan yang rusak mencari celah agar dapat menang tanpa kejujuran.


Persaingan yang sehat tetap mengakui kelebihan lawan.


Persaingan yang rusak menyebarkan keburukan agar lawan kehilangan kepercayaan.


---


Ketika Lawan Menjadi Guru


Seorang anak kalah dalam perlombaan.


Ia duduk sambil memperhatikan pemenang.


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Apa yang engkau lihat?”


Anak itu menjawab:


“Ia berjalan lebih tenang. Ia tidak menumpahkan banyak air.”


Orang tua berkata:


“Kalau begitu, kekalahanmu telah memperlihatkan sesuatu yang dapat engkau pelajari.”


Saudara cahayaku, orang yang lebih baik dalam suatu bidang tidak selalu menjadi ancaman.


Ia dapat menjadi cermin.


Dari orang yang berhasil, kita dapat belajar tentang persiapan.


Dari orang yang sabar, kita dapat belajar mengendalikan emosi.


Dari orang yang disiplin, kita dapat belajar menjaga waktu.


Dari orang yang pernah gagal lalu bangkit, kita dapat belajar keteguhan.


Namun ego sering menutup pelajaran.


Ketika melihat kelebihan orang lain, ia segera mencari kekurangannya agar hati merasa aman.


Ia berkata:


“Memang dia berhasil, tetapi pasti ada keburukannya.”


“Dia hanya beruntung.”


“Dia mendapat bantuan.”


“Dia tidak lebih baik dariku.”


Bisa jadi keberhasilan seseorang memang dipengaruhi banyak hal.


Namun itu tidak menghalangi kita mengambil pelajaran yang benar.


Mengakui kelebihan orang lain tidak mengurangi nilai diri.


---


Kemenangan yang Membuka Watak


Setelah seorang anak memenangkan beberapa permainan, sikapnya mulai berubah.


Ia tidak lagi mau duduk sejajar.


Ia memerintah teman-temannya.


Ia menyebut kekalahannya yang lalu sebagai kesalahan aturan, tetapi menyebut kemenangan sekarang sebagai bukti bahwa dirinya paling pantas.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Kemenangan tidak menciptakan seluruh sifatmu. Ia hanya membuka sifat yang sebelumnya belum terlihat.”


Saudara cahayaku, manusia sering mengira ujian hanya berbentuk kesulitan.


Padahal keberhasilan juga ujian.


Kemiskinan menguji kesabaran.


Kekayaan menguji tanggung jawab.


Kelemahan menguji keteguhan.


Kekuatan menguji keadilan.


Tidak dikenal menguji keikhlasan.


Ketenaran menguji kerendahan hati.


Kekalahan menguji kemampuan bangkit.


Kemenangan menguji kemampuan menahan kesombongan.


Ketika seseorang memperoleh kedudukan, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak dapat memberinya keuntungan.


Ketika memperoleh kekayaan, lihatlah apakah ia semakin bersyukur atau semakin merasa berhak.


Ketika dipuji, lihatlah apakah ia masih mampu mendengarkan koreksi.


Ketika mempunyai pengikut, lihatlah apakah ia membuat mereka tumbuh atau justru bergantung.


---


Jangan Mengambil Seluruh Panggung


Pada suatu pertemuan, anak yang sering menang ingin menjawab semua pertanyaan.


Ia berbicara sebelum orang lain selesai.


Ia mengambil semua tugas penting.


Ia menganggap hanya dirinya yang mampu.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Apabila engkau mengambil seluruh panggung, orang lain tidak mendapat ruang untuk belajar.”


Anak itu menjawab:


“Aku hanya ingin hasilnya baik.”


Orang tua berkata:


“Hasil yang baik tidak selalu berarti semuanya harus engkau kerjakan sendiri.”


“Pemimpin yang tidak memberi kesempatan akan menciptakan orang-orang yang terus bergantung.”


Saudara cahayaku, ada manusia yang tampak sangat bertanggung jawab, tetapi sebenarnya sulit mempercayai orang lain.


Ia ingin mengendalikan semua keputusan.


Memeriksa setiap pekerjaan.


Menentukan setiap ucapan.


Menjadi pusat dalam setiap kegiatan.


Ketika orang lain mencoba, ia cepat mengambil alih.


Lalu ia mengeluh:


“Mengapa semuanya bergantung kepadaku?”


Padahal ia tidak pernah sungguh-sungguh memberi ruang.


Memberikan kesempatan memang memiliki risiko.


Orang lain dapat melakukan kesalahan.


Hasilnya mungkin tidak sama dengan caramu.


Namun tanpa kesempatan, kemampuan mereka tidak akan tumbuh.


---


Mundur Bukan Berarti Kalah


Orang tua penjaga lingkaran meminta anak yang paling berpengalaman untuk tidak ikut dalam satu putaran.


Anak itu keberatan.


Ia berkata:


“Apakah aku sedang dihukum?”


Orang tua menjawab:


“Tidak. Aku ingin anak-anak lain belajar mengambil peran.”


Anak itu berkata:


“Kalau aku mundur, mungkin mereka menganggapku tidak penting.”


Orang tua tersenyum:


“Orang yang mengetahui nilainya tidak harus selalu berada di depan untuk membuktikannya.”


Saudara cahayaku, ada saatnya seseorang maju.


Ada saatnya ia mendampingi.


Ada saatnya ia menyerahkan peran.


Ada saatnya ia beristirahat.


Mundur dari satu kedudukan tidak selalu berarti dikalahkan.


Bisa jadi masa amanah telah selesai.


Bisa jadi orang lain perlu memperoleh kesempatan.


Bisa jadi kesehatan dan keluarga memerlukan perhatian.


Bisa jadi mempertahankan posisi justru menimbulkan kerusakan.


Kemampuan menyerahkan peran adalah salah satu tanda bahwa seseorang memahami amanah bukan sebagai milik abadi.


---


Orang yang Tidak Tahu Kapan Berhenti


Dalam sebuah permainan, anak-anak telah sepakat bermain tiga putaran.


Namun pemenang meminta permainan diteruskan.


Ia ingin menang lebih banyak.


Ketika akhirnya kalah, ia meminta putaran tambahan lagi.


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Kapan engkau akan berhenti?”


Anak itu menjawab:


“Ketika aku merasa cukup.”


Orang tua berkata:


“Masalahnya, keinginanmu tidak mengenal cukup.”


Saudara cahayaku, banyak kerugian terjadi karena manusia tidak mengetahui kapan berhenti.


Ia telah memperoleh keuntungan, tetapi terus mengambil risiko karena ingin lebih banyak.


Ia telah memenangkan perdebatan, tetapi terus berbicara sampai melukai.


Ia telah diberi kesempatan, tetapi tidak mau menyerahkan giliran.


Ia telah bekerja keras, tetapi menolak beristirahat sampai tubuhnya rusak.


Ia telah mengetahui rahasia seseorang, tetapi terus bertanya hingga melampaui batas.


Mengetahui kapan cukup bukan kemalasan.


Ia adalah kebijaksanaan menjaga keseimbangan.


---


Kekalahan yang Sengaja Diberikan


Seorang anak membiarkan temannya menang karena merasa kasihan.


Temannya mengetahui hal itu dan merasa tersinggung.


Ia berkata:


“Aku tidak ingin kemenangan palsu.”


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Kasih sayang tidak selalu berarti memberikan kemenangan.”


“Kadang kasih sayang berarti memberi kesempatan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.”


Saudara cahayaku, menolong orang tidak berarti menghilangkan seluruh tantangan dari hidupnya.


Anak tidak belajar bertanggung jawab apabila setiap kesalahannya selalu ditutupi.


Murid tidak berkembang apabila semua jawabannya diberikan.


Orang dewasa tidak menjadi mandiri apabila seluruh akibat keputusannya selalu ditanggung orang lain.


Pertolongan yang baik memperkuat.


Bukan membuat seseorang terus bergantung.


Namun jangan pula memakai alasan “agar dia belajar” untuk membiarkan orang berada dalam bahaya nyata.


Kebijaksanaan diperlukan untuk membedakan antara tantangan yang mendidik dan penderitaan yang merusak.


---


Saat Pemenang Dituduh Pasti Curang


Seorang anak memenangkan beberapa putaran secara jujur.


Namun sebagian teman berkata:


“Tidak mungkin dia menang terus tanpa kecurangan.”


Orang tua penjaga lingkaran bertanya:


“Apakah kalian memiliki bukti?”


Mereka menjawab:


“Tidak, tetapi kami merasa aneh.”


Orang tua berkata:


“Keberhasilan seseorang bukan bukti bahwa ia pasti curang.”


“Periksalah dengan adil.”


Saudara cahayaku, kecurigaan perlu diperiksa, terutama ketika amanah besar, uang, atau hak orang lain terlibat.


Namun kecurigaan tidak boleh langsung berubah menjadi vonis.


Ada keberhasilan yang memang diperoleh melalui kerja keras.


Ada orang yang mempersiapkan diri ketika yang lain belum memulai.


Ada yang berlatih dalam diam.


Ada yang mengalami kegagalan berkali-kali sebelum hasilnya tampak.


Jangan merendahkan usaha panjang seseorang hanya karena engkau baru melihat hari keberhasilannya.


Tetapi keberhasilan juga tidak membuat seseorang kebal dari pemeriksaan.


Keterbukaan dan pertanggungjawaban tetap diperlukan.


Adil berarti tidak menuduh tanpa bukti dan tidak pula menolak pemeriksaan hanya karena seseorang dikenal baik.


---


Ketika Kalah karena Kurang Persiapan


Seorang anak menyalahkan nasib setelah gagal dalam perlombaan.


Ia berkata:


“Mungkin memang bukan takdirku untuk menang.”


Orang tua bertanya:


“Berapa kali engkau berlatih?”


Anak itu menjawab:


“Tidak pernah.”


“Apakah engkau mempersiapkan wadah yang baik?”


“Tidak.”


“Apakah engkau mendengarkan aturan?”


“Tidak seluruhnya.”


Orang tua berkata:


“Jangan terlalu cepat menyebut takdir untuk menutupi kurangnya persiapan.”


Saudara cahayaku, manusia tidak mengetahui seluruh rahasia ketentuan Alloh.


Namun ia diberi tanggung jawab atas bagian yang mampu dikerjakan.


Belajar sebelum ujian.


Berlatih sebelum tampil.


Membuat rencana sebelum menjalankan usaha.


Memeriksa kesehatan sebelum mengambil beban berat.


Mencari informasi sebelum mengambil keputusan besar.


Berdoa tidak menggantikan persiapan.


Tawakal tidak menghapus tanggung jawab.


Ketika hasil belum baik, periksalah terlebih dahulu apa yang dapat diperbaiki.


---


Ketika Sudah Berusaha tetapi Tetap Kalah


Anak lain berkata:


“Aku sudah berlatih, tetapi tetap tidak menang.”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Usaha tidak selalu menjamin engkau memperoleh hasil tertentu.”


“Tetapi usaha yang benar membentuk kemampuan dan akhlakmu.”


Saudara cahayaku, kalimat bahwa kerja keras pasti menghasilkan apa pun yang diinginkan tidak selalu sesuai kenyataan.


Manusia memiliki batas.


Keadaan berbeda.


Kesempatan tidak sama.


Ada faktor yang tidak dapat dikendalikan.


Karena itu, jangan menyalahkan semua orang yang belum berhasil seolah-olah mereka pasti kurang berusaha.


Ada orang telah bekerja keras, tetapi masih menghadapi penyakit, kemiskinan, diskriminasi, bencana, atau tanggung jawab keluarga yang berat.


Dukungan dan keadilan sosial tetap diperlukan.


Namun sulitnya keadaan bukan alasan untuk menyerah sepenuhnya.


Manusia berusaha pada wilayah yang mampu disentuhnya, sambil menerima bahwa hasil akhir tidak berada sepenuhnya dalam genggamannya.


---


Kalah dengan Terhormat


Setelah permainan selesai, seorang anak yang kalah mendekati pemenang.


Ia berkata:


“Selamat. Aku akan belajar lebih baik untuk putaran berikutnya.”


Pemenang menjawab:


“Terima kasih. Ada beberapa hal yang juga dapat kupelajari darimu.”


Orang tua penjaga lingkaran tersenyum.


Ia berkata:


“Kalian telah memahami bahwa persaingan tidak harus melahirkan permusuhan.”


Saudara cahayaku, kalah dengan terhormat bukan berarti tidak merasakan kecewa.


Seseorang boleh sedih.


Boleh beristirahat.


Boleh mengevaluasi.


Boleh mengajukan keberatan apabila terdapat pelanggaran.


Namun jangan:


menghina pemenang,


merusak hasil,


menyebarkan tuduhan tanpa bukti,


atau menganggap dirinya tidak berharga.


Kalah dengan terhormat berarti mampu memisahkan rasa kecewa dari tindakan yang merusak.


---


Menang dengan Terhormat


Pemenang yang baik tidak menari di atas luka orang lain.


Ia tidak mengejek.


Tidak mengungkit kelemahan lawan.


Tidak menganggap hasil sebagai bukti dirinya lebih mulia dalam segala hal.


Ia mengakui bantuan, kesempatan, dan keadaan yang mendukung.


Ia bersyukur.


Ia bersedia diperiksa.


Ia tetap belajar.


Ia memahami bahwa kemenangan hari ini tidak menjamin kemenangan berikutnya.


Saudara cahayaku, menang dengan terhormat sering lebih sulit daripada kalah dengan terhormat.


Sebab kemenangan memberi seseorang kekuasaan, perhatian, dan pujian.


Jika hati tidak dijaga, semua itu dapat membuatnya lupa diri.


---


Ketika Tujuan Berubah di Tengah Jalan


Seorang anak awalnya ikut bermain untuk bergembira bersama.


Namun setelah sering menang, tujuannya berubah.


Ia mulai menghitung berapa banyak orang memujinya.


Ia hanya mau ikut permainan yang memberinya kesempatan menjadi pusat perhatian.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Periksalah kembali mengapa engkau memulai.”


Saudara cahayaku, manusia dapat memulai sesuatu dengan niat yang baik.


Membangun usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Mengajar untuk berbagi ilmu.


Memimpin untuk melayani.


Membentuk komunitas untuk saling menguatkan.


Namun di tengah perjalanan, niat dapat berubah.


Usaha menjadi semata-mata pengejaran status.


Ilmu menjadi alat mencari pengikut.


Kepemimpinan menjadi alat menguasai.


Komunitas menjadi tempat membesarkan nama pribadi.


Karena itu, berhentilah pada waktu-waktu tertentu dan tanyakan:


«“Apakah tujuan awalku masih terjaga?”»


«“Apakah cara yang kupakai masih benar?”»


«“Siapa yang sekarang paling banyak menerima manfaat?”»


«“Apakah aku masih bersedia melakukan kebaikan ini apabila tidak dipuji?”»


---


Kemenangan yang Harus Ditolak


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Tidak semua kemenangan patut diterima.”


Anak-anak bertanya:


“Bagaimana mungkin?”


Ia menjawab:


“Apabila kemenangan diperoleh melalui kecurangan, ia harus ditolak.”


“Apabila kedudukan diperoleh dengan merampas hak, ia harus dikembalikan.”


“Apabila pujian diberikan atas karya orang lain, kebenaran harus diluruskan.”


“Apabila keuntungan berasal dari penipuan, hak harus dipulihkan.”


Saudara cahayaku, manusia terkadang mengetahui bahwa dirinya memperoleh sesuatu yang bukan haknya, tetapi memilih diam.


Ia berkata:


“Bukan aku yang meminta.”


“Orang lain sendiri yang memberikannya.”


“Kesalahan mereka bukan tanggung jawabku.”


Padahal kejujuran menuntut seseorang meluruskan keadaan apabila ia mengetahui hak orang lain sedang diberikan kepadanya.


Menolak kemenangan yang tidak halal adalah kemenangan atas hawa nafsu.


---


Tiga Pertanyaan Sebelum Mengejar Kemenangan


Pertama: Apa yang Sebenarnya Ingin Kumenangkan?


Apakah sebuah tugas?


Penghormatan?


Uang?


Kebenaran?


Atau hanya keinginan membuat orang lain kalah?


Kedua: Harga Apa yang Harus Dibayar?


Apakah kesehatan?


Kejujuran?


Keluarga?


Persahabatan?


Hak orang lain?


Jangan mengejar sesuatu apabila harga moralnya lebih besar daripada nilainya.


Ketiga: Apa yang Akan Kulakukan Setelah Menang?


Apakah engkau siap menjaga amanah?


Apakah engkau memiliki kemampuan?


Apakah kemenangan itu benar-benar membawa kebaikan?


Banyak orang mengejar pintu tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan setelah memasukinya.


---


Saat Semua Tangan Ingin Berada di Atas


Orang tua penjaga lingkaran meminta semua anak meletakkan tangan mereka bertumpuk.


Setiap anak berusaha menempatkan tangannya paling atas.


Mereka saling mendorong.


Tumpukan itu akhirnya jatuh.


Orang tua berkata:


“Apabila semua tangan hanya ingin berada di atas, tidak ada yang bersedia menjadi penyangga.”


Saudara cahayaku, kehidupan tidak hanya membutuhkan orang yang tampak di depan.


Ia juga membutuhkan:


orang yang menyiapkan tempat,


orang yang menjaga kebersihan,


orang yang mencatat,


orang yang mendengarkan,


orang yang merawat,


orang yang menyelesaikan tugas sunyi,


dan orang yang menopang tanpa banyak dikenal.


Tidak semua pekerjaan harus terlihat agar bernilai.


Tidak semua amanah harus disertai gelar.


Tidak semua kebaikan harus menjadi pusat perhatian.


---


Tangan di Bawah yang Menyangga


Anak-anak kembali menumpuk tangan.


Kali ini mereka tidak saling berebut.


Sebagian tangan berada di atas.


Sebagian di tengah.


Sebagian di bawah dan menjadi penyangga.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Posisi tangan dapat berubah, tetapi semuanya memiliki fungsi.”


Yang berada di atas jangan merasa paling mulia.


Yang berada di bawah jangan merasa tidak berguna.


Hari ini engkau memimpin.


Besok engkau mendampingi.


Hari ini engkau memberi.


Besok engkau menerima pertolongan.


Hari ini engkau mengajar.


Besok engkau menjadi murid.


Kematangan terlihat dari kemampuan menjalani berbagai posisi tanpa kehilangan adab.


---


Hompimpa dan Rahasia Hasil


Saudara cahayaku, sekali lagi ditegaskan bahwa “Hompimpa alaium gambreng” dalam Qitab ini adalah bahasa simbolik untuk perenungan.


Ia bukan mantra untuk memenangkan persaingan.


Bukan cara mengetahui nasib.


Bukan alat menentukan siapa yang pasti diridhoi Alloh.


Bukan sarana memilih pasangan, pekerjaan, pengobatan, atau keputusan penting secara sembarangan.


Untuk keputusan besar, manusia tetap perlu menggunakan ilmu, musyawarah, doa, istikharah, pertimbangan risiko, serta nasihat pihak yang sesuai keahliannya.


Jangan menyerahkan tanggung jawab hidup kepada permainan, tebakan, atau klaim gaib.


---


Pesan Lembar Kesembilan


«Semua orang boleh memiliki keinginan untuk maju.

Namun jangan menjadikan kemenangan sebagai alasan merampas, menipu, dan merendahkan.»


Kekalahan tidak menghapus harga dirimu.


Kemenangan tidak menjadikanmu lebih mulia dalam segala hal.


Persaingan tidak harus menjadi permusuhan.


Lawan dapat menjadi guru.


Orang yang berada di belakang tidak selalu gagal.


Orang yang berada di depan belum tentu mampu menjaga amanah.


Belajarlah maju tanpa menginjak.


Belajarlah menang tanpa menghina.


Belajarlah kalah tanpa merusak.


Belajarlah menyerahkan giliran tanpa merasa kehilangan nilai.


Belajarlah berada di bawah untuk menyangga.


Dan apabila kemenangan menuntutmu meninggalkan kejujuran, biarkan kemenangan itu berlalu.


Sebab lebih baik kehilangan satu kedudukan daripada kehilangan kejernihan hati dan kepercayaan manusia.


---


Doa Penutup Lembar Kesembilan


Allāhumma ṭahhir qulūbanā minal-ḥasad wal-kibr,

wa arzuqnā himmatan fil-khair,

wa ‘adlan fit-tanāfus,

wa riḍan ‘inda fuqdānil-maṭlūb.


Allāhumma lā taj‘al naṣranā sababan liẓ-ẓulm,

wa lā hazīmatana bāban lil-ya’s,

wa waffiqnā lin-najāḥil-mubārak,

waṣrif ‘annā kulla fauzin yub‘idunā ‘an riḍāk.


Ya Alloh, bersihkanlah hati kami dari kedengkian dan kesombongan. Karuniakanlah semangat dalam kebaikan, keadilan dalam persaingan, serta keridaan ketika sesuatu yang kami inginkan belum diperoleh.


Ya Alloh, jangan jadikan kemenangan kami sebagai sebab kezaliman dan jangan jadikan kekalahan kami sebagai pintu keputusasaan. Bimbinglah kami menuju keberhasilan yang diberkahi dan jauhkanlah kami dari setiap kemenangan yang menjauhkan kami dari ridho-Mu.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.



Lembar Kesepuluh — Lembar Terakhir


Ketika Permainan Berakhir dan Setiap Tangan Kembali kepada Pemiliknya


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


Saudara cahayaku, setelah berulang kali anak-anak berdiri dalam lingkaran, mengucapkan:


«“Hompimpa alaium gambreng,”»


membuka telapak, menerima giliran, merasakan kemenangan, menghadapi kekalahan, bertengkar, meminta maaf, berpisah, lalu membentuk lingkaran kembali, tibalah hari ketika orang tua penjaga lingkaran berkata:


«“Hari ini permainan kita berakhir.”»


Anak-anak saling memandang.


Sebagian merasa lega.


Sebagian merasa sedih.


Sebagian ingin memainkan satu putaran lagi.


Sebagian masih ingin membuktikan bahwa dirinya dapat menang.


Ada pula yang baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar giliran hingga lupa menikmati kebersamaan.


Salah seorang anak bertanya:


“Apakah tidak ada hompimpa lagi setelah hari ini?”


Orang tua itu menjawab:


“Ucapan permainan mungkin berhenti, tetapi pelajarannya akan mengikuti kalian ke dalam kehidupan.”


“Kelak kalian akan memasuki lingkaran yang lebih luas.”


“Ada lingkaran keluarga.”


“Ada lingkaran persahabatan.”


“Ada lingkaran pekerjaan.”


“Ada lingkaran masyarakat.”


“Ada lingkaran ilmu.”


“Ada lingkaran amanah.”


“Dan pada setiap lingkaran, kalian akan kembali diuji: apakah tangan kalian dipakai untuk menolong atau merampas, apakah kemenangan membuat kalian bersyukur atau sombong, dan apakah kekalahan membuat kalian belajar atau berubah menjadi dengki.”


Anak-anak pun duduk mengelilinginya.


Hari itu tidak ada lagi yang berdiri di atas atau di bawah.


Tidak ada pemenang.


Tidak ada yang tersisih.


Mereka duduk sejajar untuk mendengarkan pesan terakhir.


---


Tidak Ada Permainan yang Berlangsung Selamanya


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


“Setiap permainan mempunyai waktu mulai dan waktu selesai.”


“Demikian pula setiap kedudukan, pertemuan, pekerjaan, kekuatan, dan kesempatan.”


Saudara cahayaku, manusia sering hidup seakan-akan keadaan hari ini akan berlangsung selamanya.


Orang yang kuat merasa kekuatannya tidak akan berkurang.


Orang yang kaya merasa hartanya akan selalu melindungi.


Orang yang memimpin merasa kedudukannya tidak akan berpindah.


Orang yang dipuji mengira namanya tidak akan dilupakan.


Orang yang sedang susah mengira kesusahannya tidak akan pernah berakhir.


Padahal kehidupan selalu bergerak.


Anak-anak menjadi dewasa.


Yang muda menua.


Yang sehat dapat sakit.


Yang memimpin akan digantikan.


Yang memiliki akan meninggalkan.


Yang dikenal dapat dilupakan.


Yang berkumpul pada suatu hari akan berpisah pada hari yang lain.


Kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki akhir tidak dimaksudkan untuk membuat manusia putus asa.


Ia mengajarkan agar manusia tidak terlalu menggenggam dunia dan tidak menunda kebaikan.


Selagi memiliki waktu, gunakanlah untuk memperbaiki diri.


Selagi memiliki orang tua, berbaktilah.


Selagi memiliki keluarga, jagalah.


Selagi sehat, gunakan tenaga dalam kebaikan.


Selagi memegang amanah, tunaikanlah dengan jujur.


Selagi memiliki kesempatan meminta maaf, jangan menunggu terlalu lama.


Sebab tidak semua pintu tetap terbuka sampai manusia merasa siap.


---


Ketika Giliran Terakhir Tidak Diketahui


Seorang anak bertanya:


“Siapa yang mendapatkan giliran terakhir?”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Tidak seorang pun dari kalian mengetahuinya.”


Anak itu bertanya lagi:


“Apakah engkau mengetahuinya?”


Orang tua menjawab:


“Aku pun tidak mengetahui seluruh rahasia waktu.”


Saudara cahayaku, manusia tidak mengetahui kapan kesempatan terakhirnya datang.


Kita tidak mengetahui percakapan mana yang menjadi percakapan terakhir dengan seseorang.


Tidak mengetahui perjalanan mana yang menjadi perjalanan terakhir.


Tidak mengetahui ibadah mana yang menjadi ibadah terakhir.


Tidak mengetahui pekerjaan mana yang menjadi pekerjaan terakhir.


Tidak mengetahui kapan tubuh tidak lagi mampu melakukan sesuatu yang hari ini terasa mudah.


Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik.


Jangan menunggu kaya untuk berbagi.


Jangan menunggu tua untuk bertobat.


Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai.


Jangan menunggu hubungan rusak untuk berbicara jujur.


Namun kesadaran tentang akhir hidup tidak boleh dipakai untuk menakut-nakuti diri secara berlebihan atau meramal kematian.


Waktu kematian adalah rahasia Alloh.


Tugas manusia bukan menebak-nebaknya, tetapi mempersiapkan hidup dengan iman, amal, akhlak, tanggung jawab, serta ikhtiar menjaga kesehatan dan keselamatan.


---


Tangan yang Akan Melepaskan Semuanya


Orang tua penjaga lingkaran meminta setiap anak membawa benda yang paling disukainya.


Ada yang membawa mainan.


Ada yang membawa kelereng.


Ada yang membawa kain pemberian ibunya.


Ada yang membawa buku kecil.


Ada yang membawa batu berkilau yang ditemukan di sungai.


Kemudian orang tua berkata:


“Letakkan semuanya di hadapan kalian.”


Anak-anak melakukannya.


Ia bertanya:


“Apakah benda-benda ini kalian miliki selamanya?”


Mereka menjawab:


“Tidak.”


“Apakah kalian boleh menjaganya?”


“Boleh.”


“Apakah kalian boleh bersyukur dan bergembira dengannya?”


“Boleh.”


“Apakah kalian boleh menyakiti orang lain demi mempertahankannya?”


“Tidak.”


Orang tua itu berkata:


“Begitulah dunia.”


Saudara cahayaku, manusia diperbolehkan bekerja, memiliki harta, membangun rumah, mencari ilmu, mencintai keluarga, menjaga nama baik, dan menikmati rezeki yang halal.


Yang diperingatkan bukan kepemilikan, melainkan ketika sesuatu menguasai hati sampai manusia:


melupakan Alloh,


mengabaikan hak,


menipu,


bermusuhan,


merendahkan,


serta kehilangan ketenteraman karena takut kehilangan.


Apa yang hari ini berada di tangan pada akhirnya akan dilepaskan.


Harta berpindah.


Jabatan berakhir.


Tubuh kembali melemah.


Pujian berhenti terdengar.


Nama manusia hanya tinggal dalam ingatan, lalu ingatan pun dapat memudar.


Namun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat terus memberi manfaat.


Ilmu yang benar dapat diteruskan.


Anak yang dibimbing dengan baik dapat mendoakan.


Sedekah dan pelayanan dapat meninggalkan jejak kebaikan.


Akhlak mulia dapat menghidupkan harapan dalam hati orang lain.


Karena itu, jangan hanya bertanya:


«“Apa yang berhasil kukumpulkan?”»


Tanyakan pula:


«“Kebaikan apa yang telah kutinggalkan?”»


---


Tidak Semua yang Hilang Berarti Engkau Kalah


Salah seorang anak kehilangan kelereng kesayangannya.


Ia menangis dan berkata:


“Aku kalah karena milikku telah hilang.”


Orang tua bertanya:


“Apakah setiap kehilangan adalah kekalahan?”


Anak itu tidak menjawab.


Orang tua berkata:


“Ada kehilangan karena kelalaian, maka engkau harus belajar.”


“Ada kehilangan karena diambil orang, maka hakmu dapat diperjuangkan.”


“Ada kehilangan karena engkau memilih melepaskan sesuatu yang buruk, maka itu justru kemenangan.”


“Ada kehilangan yang tidak mampu engkau cegah, maka engkau memerlukan kesabaran.”


Saudara cahayaku, ada hal-hal yang ketika hilang memang menimbulkan luka.


Kehilangan orang yang dicintai.


Kehilangan kesehatan.


Kehilangan pekerjaan.


Kehilangan tempat tinggal.


Kehilangan rasa aman.


Kehilangan kepercayaan.


Jangan meremehkan kesedihan orang yang kehilangan.


Jangan terburu-buru berkata:


«“Sudahlah, ikhlaskan.”»


Keikhlasan bukan tombol yang dapat ditekan dalam satu saat.


Ia sering berupa perjalanan panjang antara air mata, doa, penerimaan, dukungan, dan usaha membangun kehidupan kembali.


Namun ada pula hal yang harus dilepaskan agar jiwa menjadi lebih sehat:


dendam,


kesombongan,


hubungan penuh kekerasan,


penghasilan tidak halal,


keinginan mengendalikan orang,


kebiasaan berbohong,


serta kebutuhan untuk selalu dipuji.


Kehilangan keburukan bukanlah kekalahan.


Ia adalah pembebasan.


---


Tangan yang Pernah Menyakiti Masih Dapat Memperbaiki


Seorang anak melihat telapak tangannya sendiri.


Ia teringat pernah mendorong temannya.


Pernah mengambil giliran.


Pernah menulis ejekan.


Pernah menolak meminta maaf.


Ia berkata:


“Apakah tanganku telah menjadi tangan yang buruk?”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Tanganmu pernah melakukan keburukan, tetapi engkau masih memiliki kesempatan menggunakannya untuk memperbaiki.”


“Gunakan tangan yang pernah mengambil untuk mengembalikan.”


“Gunakan tangan yang pernah memukul untuk melindungi.”


“Gunakan tangan yang pernah menulis hinaan untuk menulis permintaan maaf.”


“Gunakan tangan yang pernah menutup diri untuk mengulurkan pertolongan.”


Saudara cahayaku, masa lalu tidak dapat dihapus seolah-olah tidak pernah terjadi.


Namun arah masa depan dapat diperbaiki.


Taubat bukan berpura-pura bahwa kesalahan tidak ada.


Taubat adalah berani melihatnya tanpa pembenaran.


Menghentikannya.


Menyesalinya.


Memohon ampun kepada Alloh.


Mengembalikan hak manusia.


Serta membangun kebiasaan baru yang berlawanan dengan kesalahan lama.


Orang yang pernah berbohong belajar membangun kejujuran.


Orang yang pernah mengkhianati amanah belajar menjaga hal-hal kecil.


Orang yang pernah kasar belajar berhenti sebelum berbicara.


Orang yang pernah sombong belajar mengakui bantuan orang lain.


Perubahan sejati terlihat bukan hanya dari banyaknya kata maaf, melainkan dari tindakan yang berbeda ketika ujian serupa datang kembali.


---


Jangan Mengubah Penyesalan Menjadi Identitas


Seorang anak berkata:


“Aku pernah curang. Berarti aku akan selalu menjadi orang curang.”


Orang tua menjawab:


“Kesalahan yang engkau akui dan perbaiki tidak harus menjadi identitas abadi.”


Saudara cahayaku, manusia perlu bertanggung jawab atas masa lalunya, tetapi tidak harus terus menyebut dirinya dengan nama kesalahan.


Katakanlah:


«“Aku pernah berbuat salah.”»


Bukan:


«“Aku adalah kesalahan itu sendiri.”»


Katakanlah:


«“Aku harus memperbaiki kerusakan yang pernah kubuat.”»


Bukan:


«“Aku tidak pantas mendapatkan kesempatan berubah.”»


Keputusasaan dapat menjadi tipu daya yang membuat manusia kembali kepada keburukan.


Ia berkata:


“Aku sudah terlanjur buruk, maka tidak ada gunanya berbuat baik.”


Padahal pintu taubat dan perbaikan tetap terbuka selama hidup masih diberikan.


Namun kesempatan bertobat jangan dijadikan alasan menunda.


Jangan berkata:


“Nanti aku akan berubah,”


sambil terus menikmati kesalahan hari ini.


Tidak seorang pun mengetahui berapa banyak kesempatan yang masih tersisa.


---


Ketika Kebaikan Tidak Dikenang Manusia


Salah seorang anak berkata:


“Aku pernah membantu banyak teman, tetapi mereka melupakannya.”


Orang tua bertanya:


“Apakah engkau menolong agar selalu dikenang?”


Anak itu menjawab:


“Aku ingin mereka setidaknya menghargai.”


Orang tua berkata:


“Keinginan dihargai adalah perasaan manusiawi. Namun apabila seluruh kebaikanmu bergantung pada ingatan manusia, engkau akan mudah kecewa.”


Saudara cahayaku, manusia dapat lupa.


Orang yang pernah ditolong dapat pergi.


Orang yang pernah memuji dapat berubah.


Orang yang pernah dekat dapat tidak lagi mengenal.


Karena itu, jangan menggantungkan nilai kebaikan hanya kepada balasan manusia.


Tetaplah membuat aturan yang sehat.


Jangan membiarkan dirimu terus dimanfaatkan.


Namun ketika berbuat baik, arahkan harapan terbesar kepada ridho Alloh.


Kebaikan tidak menjadi sia-sia hanya karena tidak diumumkan.


Doa yang tidak diketahui orang tetap memiliki makna.


Pertolongan kecil tetap dapat meringankan.


Kesabaran dalam keluarga tetap bernilai.


Pekerjaan halal yang dilakukan tanpa pujian tetap menjaga kehidupan.


Jangan mengira hanya amal yang terlihat besar yang berarti.


Kadang satu ucapan yang mencegah seseorang berputus asa lebih berharga daripada banyak kata yang hanya mencari perhatian.


---


Tangan yang Berbeda, Sumber Kehidupan yang Sama


Orang tua penjaga lingkaran meminta anak-anak memperhatikan tangan mereka.


Warna kulitnya berbeda.


Panjang jarinya berbeda.


Ada yang kuat.


Ada yang kecil.


Ada yang memiliki bekas luka.


Ada yang halus.


Ada yang kasar karena sering bekerja.


Ia berkata:


“Perbedaan tidak menghilangkan kemanusiaan kalian.”


Saudara cahayaku, manusia berasal dari keluarga, bahasa, daerah, pendidikan, pengalaman, dan keadaan yang berbeda.


Perbedaan dapat menjadi sumber pembelajaran.


Namun perbedaan juga dapat dipakai ego untuk menciptakan kesombongan.


Seseorang merasa lebih mulia karena keturunan.


Karena kekayaan.


Karena kelompok.


Karena pendidikan.


Karena kedudukan ruhani yang ia klaim.


Karena dianggap lebih dekat kepada tokoh tertentu.


Padahal kemuliaan di hadapan Alloh tidak ditentukan oleh banyaknya gelar yang disusun manusia.


Ia berkaitan dengan ketakwaan yang diwujudkan melalui kejujuran, amanah, ibadah, kasih sayang, keadilan, dan akhlak.


Tidak ada tangan yang menjadi suci hanya karena memakai cincin tertentu.


Tidak ada seseorang menjadi kebal dari kesalahan hanya karena memiliki gelar.


Tidak ada manusia yang boleh menuntut ketaatan mutlak dari manusia lainnya.


Semua tetap hamba Alloh.


Semua memiliki keterbatasan.


Semua dapat salah.


Semua memerlukan petunjuk dan ampunan.


---


Jangan Menyembah Lingkaran


Salah seorang anak bertanya:


“Apakah lingkaran kita adalah lingkaran terbaik?”


Orang tua penjaga lingkaran menjawab:


“Lingkaran hanya alat untuk belajar.”


“Jangan mencintai lingkaran melebihi kebenaran.”


Saudara cahayaku, kelompok dapat membantu manusia.


Komunitas dapat menjadi tempat saling menguatkan.


Guru dapat membuka pemahaman.


Pemimpin dapat mengatur kerja bersama.


Namun semuanya hanyalah sarana.


Bahaya muncul ketika seseorang menganggap:


kelompoknya tidak mungkin salah,


pemimpinnya selalu benar,


setiap kritik adalah serangan,


orang di luar lingkarannya pasti lebih rendah,


dan keselamatan hanya dapat diperoleh dengan tunduk kepadanya.


Jangan menyembah kelompok.


Jangan menyembah nama.


Jangan menyembah simbol.


Jangan menyembah tokoh.


Jangan menjadikan perasaan batin sebagai pengganti wahyu dan ilmu.


Qitab ini pun bukan kitab suci, bukan wahyu baru, bukan sumber hukum, dan bukan pembawa pengetahuan gaib.


Ia hanya sebuah risalah perenungan simbolik.


Ambillah nilai yang sesuai dengan tauhid, akhlak, akal sehat, dan kebaikan.


Tinggalkan segala pemaknaan yang membawa kepada kesyirikan, kesombongan, kebohongan, serta pengultusan manusia.


---


Hompimpa Bukan Mantra Pengubah Takdir


Orang tua penjaga lingkaran kembali menegaskan:


“Ucapan permainan ini tidak mempunyai kuasa mengubah nasib.”


Saudara cahayaku, Hompimpa alaium gambreng dalam Qitab ini tidak dibaca untuk:


memanggil makhluk gaib,


membuka kekuatan rahasia,


meramal masa depan,


menentukan jodoh,


mengetahui kematian,


mendatangkan kekayaan,


membuat orang tunduk,


memenangkan persaingan,


atau menggantikan doa yang diajarkan dalam agama.


Ia hanyalah simbol bahwa ketika tangan dibuka, pilihan dan watak manusia mulai terlihat.


Untuk perkara agama, kembalilah kepada Al-Qur’an, sunnah, serta penjelasan ulama yang amanah dan berilmu.


Untuk kesehatan, mintalah pertolongan tenaga kesehatan yang kompeten.


Untuk masalah hukum, gunakan bantuan ahli dan jalur yang sah.


Untuk keputusan hidup, gunakan doa, istikharah, musyawarah, informasi yang benar, dan pertimbangan yang matang.


Jangan menyerahkan kehidupan kepada mantra, ramalan, atau orang yang mengaku menguasai seluruh rahasia gaib.


Yang mengetahui perkara gaib secara sempurna hanyalah Alloh.


---


Empat Arah Tangan dalam Kehidupan


Orang tua penjaga lingkaran mengangkat tangannya.


Ia berkata:


“Tangan dapat diarahkan ke empat tempat.”


Pertama: Tangan Menghadap ke Atas


Ia melambangkan harapan dan doa.


Manusia menengadahkan tangan karena menyadari dirinya membutuhkan Alloh.


Namun doa harus disertai kerendahan hati.


Jangan menjadikan doa sebagai tuntutan agar Alloh mengikuti keinginan kita.


Berdoalah dengan sungguh-sungguh, lalu terimalah bahwa jawaban dapat hadir melalui bentuk dan waktu yang berbeda.


Kedua: Tangan Menghadap ke Bawah


Ia melambangkan kerja, pelayanan, dan kemampuan menolong.


Tangan yang berdoa harus bersedia bekerja.


Memohon rezeki harus disertai ikhtiar halal.


Memohon keluarga yang damai harus disertai ucapan dan sikap yang lembut.


Memohon ilmu harus disertai belajar.


Memohon kesehatan harus disertai usaha menjaga tubuh dan menjalani pengobatan yang benar.


Ketiga: Tangan Menghadap ke Dalam


Ia melambangkan muhasabah.


Sebelum menuduh, periksalah diri.


Sebelum meminta penghormatan, tanyakan apakah engkau telah menghormati.


Sebelum menuntut kejujuran, tanyakan apakah engkau telah jujur.


Sebelum merasa lebih suci, ingatlah kesalahan yang masih membutuhkan ampunan.


Keempat: Tangan Menghadap kepada Sesama


Ia melambangkan hubungan, pemberian, perlindungan, dan perdamaian.


Ulurkan tangan kepada yang jatuh.


Tahan tangan dari menyakiti.


Kembalikan hak dengan tanganmu.


Bekerjalah dengan tanganmu.


Tulislah kebaikan.


Jagalah amanah.


Dan ketika tangan orang lain tidak sanggup engkau raih, doakanlah tanpa merasa menjadi penyelamatnya.


---


Lima Kemenangan yang Tidak Terlihat


Anak-anak bertanya:


“Apakah hanya orang yang terpilih yang disebut menang?”


Orang tua menjawab:


“Tidak. Ada kemenangan yang tidak terlihat oleh banyak orang.”


Kemenangan Pertama: Menahan Diri dari Kecurangan


Ketika kesempatan berbuat curang terbuka dan tidak ada manusia yang melihat, lalu engkau tetap memilih jujur, engkau telah menang atas hawa nafsu.


Kemenangan Kedua: Mengakui Kesalahan


Ketika ego ingin membela diri, tetapi engkau berani berkata, “Aku salah,” engkau telah memenangkan kejujuran atas gengsi.


Kemenangan Ketiga: Tidak Membalas Keburukan dengan Keburukan


Ketika engkau memiliki kesempatan membalas, tetapi memilih jalan yang adil dan tidak melampaui batas, engkau telah memenangkan akhlak atas dendam.


Kemenangan Keempat: Memberikan Giliran


Ketika engkau mampu menjadi pusat perhatian, tetapi memberikan ruang agar orang lain bertumbuh, engkau telah memenangkan amanah atas keinginan dipuji.


Kemenangan Kelima: Kembali kepada Alloh setelah Jatuh


Ketika engkau pernah salah, lalu bertobat dan memperbaiki diri, engkau telah memenangkan harapan atas keputusasaan.


Kemenangan seperti ini mungkin tidak diberi piala.


Tidak selalu disaksikan banyak orang.


Tidak selalu mendapatkan pujian.


Namun ia membentuk hati yang lebih matang.


---


Lima Kekalahan yang Sering Disangka Kemenangan


Orang tua melanjutkan:


“Ada pula kekalahan yang tampak seperti kemenangan.”


Kekalahan Pertama: Menang melalui Penipuan


Engkau memperoleh hasil, tetapi kehilangan kejujuran.


Kekalahan Kedua: Dipuji karena Karya Orang Lain


Nama dikenal, tetapi amanah dikhianati.


Kekalahan Ketiga: Membuat Semua Orang Tunduk karena Takut


Engkau tampak berkuasa, tetapi kehilangan cinta dan kepercayaan.


Kekalahan Keempat: Mengalahkan Lawan dengan Penghinaan


Argumenmu mungkin benar, tetapi akhlakmu terluka.


Kekalahan Kelima: Memiliki Banyak Pengikut tetapi Menjauh dari Alloh


Nama semakin besar, tetapi hati semakin bergantung kepada penilaian manusia.


Karena itu, jangan tergesa-gesa menyebut sesuatu sebagai kemenangan.


Periksalah harga yang dibayar.


Periksalah cara mendapatkannya.


Periksalah akibatnya bagi orang lain.


Periksalah keadaan hatimu setelah memperolehnya.


---


Ketika Semua Nama Dipanggil


Orang tua penjaga lingkaran memanggil nama setiap anak satu per satu.


Ketika namanya dipanggil, masing-masing berdiri.


Ia berkata:


“Dalam permainan kalian sering dikenal sebagai pemenang, penjaga, yang kalah, yang lambat, atau yang paling kuat.”


“Namun semua itu hanyalah keadaan sementara.”


Saudara cahayaku, manusia sering terkunci oleh label.


Orang kaya.


Orang miskin.


Pemimpin.


Pengikut.


Orang pintar.


Orang gagal.


Orang suci.


Orang bermasalah.


Padahal manusia lebih luas daripada satu label.


Seseorang yang hari ini gagal dapat belajar.


Orang yang hari ini lemah dapat pulih.


Orang yang hari ini memimpin dapat menjadi murid.


Orang yang pernah melakukan kebaikan besar tetap dapat tergelincir apabila tidak menjaga diri.


Orang yang pernah jatuh dalam kesalahan dapat bertobat dan berubah.


Jangan mengultuskan manusia karena kebaikannya.


Jangan pula menutup seluruh masa depan manusia karena satu kesalahannya, selama ia masih memiliki kesempatan memperbaiki dan tidak dibiarkan terus merugikan.


Nilailah tindakan dengan adil.


Tetapkan batas yang diperlukan.


Namun serahkan penilaian akhir atas kedudukan batin manusia kepada Alloh.


---


Saat Tangan Tidak Lagi Dapat Bergerak


Orang tua penjaga lingkaran memandang tangannya yang mulai menua.


Ia berkata:


“Pada suatu hari, tangan yang hari ini kuat akan melemah.”


Anak-anak terdiam.


Ia melanjutkan:


“Karena itu, lakukanlah kebaikan sebelum kemampuan berkurang.”


Saudara cahayaku, tubuh adalah amanah.


Ia perlu digunakan, dijaga, dan diistirahatkan.


Jangan menyiksa tubuh atas nama ambisi.


Jangan mengabaikan kesehatan hanya karena merasa harus selalu kuat.


Jangan memaksakan amalan sampai membahayakan diri.


Ibadah dan kebaikan harus dilakukan dengan ilmu, keseimbangan, dan kemampuan.


Ketika sakit, berobatlah.


Ketika lelah, beristirahatlah.


Ketika pikiran sangat terbebani, berbicaralah kepada orang tepercaya dan carilah bantuan profesional.


Tubuh yang dirawat bukan tanda cinta dunia yang berlebihan.


Ia adalah usaha menjaga sarana untuk beribadah dan menunaikan tanggung jawab.


Namun kesehatan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.


Orang yang sakit tidak selalu berarti kurang beriman atau kurang berusaha.


Jangan menghakimi penderitaan orang.


Dampingilah dengan kasih sayang dan bantuan yang nyata.


---


Warisan Terakhir Penjaga Lingkaran


Sebelum anak-anak pulang, orang tua itu memberikan kepada masing-masing sebuah cermin kecil.


Ia berkata:


“Aku tidak memberi kalian jimat.”


“Cermin ini tidak memiliki kekuatan gaib.”


“Ia hanya akan mengingatkan kalian untuk memeriksa diri sebelum menilai orang lain.”


Kemudian ia memberikan sebutir benih.


Ia berkata:


“Benih ini mengingatkan bahwa kebaikan memerlukan waktu, usaha, dan penjagaan.”


Terakhir, ia meminta mereka membuka tangan.


Ia tidak meletakkan benda apa pun di atasnya.


Anak-anak bertanya:


“Mengapa tangan kami dibiarkan kosong?”


Ia menjawab:


“Agar kalian mengingat bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi.”


“Tangan kosong dapat bekerja.”


“Tangan kosong dapat menerima ilmu.”


“Tangan kosong dapat menggenggam tangan orang yang membutuhkan.”


“Tangan kosong juga mengingatkan bahwa pada akhirnya kalian akan meninggalkan dunia tanpa membawa harta di genggaman.”


---


Hompimpa Terakhir


Sebelum berpisah, anak-anak meminta satu hompimpa terakhir.


Mereka berdiri.


Tidak ada yang berusaha berada paling depan.


Tidak ada yang mengintip tangan teman.


Tidak ada yang berencana mengubah pilihan.


Tidak ada yang berkata dirinya harus menang.


Mereka mengulurkan tangan bersama-sama.


Lalu terdengarlah:


«“Hompimpa alaium gambreng.”»


Tangan pun dibuka.


Sebagian menghadap ke atas.


Sebagian menghadap ke bawah.


Namun kali ini mereka tidak melihat siapa yang berbeda.


Mereka justru melihat telapak masing-masing.


Pada setiap telapak terdapat garis yang tidak sama.


Pada setiap jari terdapat ukuran yang berbeda.


Namun semuanya dapat digunakan untuk kebaikan.


Orang tua penjaga lingkaran berkata:


«“Inilah pelajaran terakhir.”»


«“Kalian tidak harus memiliki tangan yang sama untuk berjalan dalam kebaikan.”»


«“Kalian tidak harus menerima hasil yang sama agar dapat saling menghormati.”»


«“Kalian tidak harus selalu berada dalam satu lingkaran agar tetap menjaga akhlak.”»


«“Tetapi di mana pun berada, jangan melupakan apa yang telah diajarkan oleh tangan kalian sendiri.”»


---


Ringkasan Sepuluh Lembar Qitab


Saudara cahayaku, sebelum Qitab ini ditutup, marilah kita mengingat perjalanan sepuluh lembar.


Lembar Pertama


Mengajarkan bahwa posisi tangan tidak menentukan kemuliaan. Yang berada di atas tidak boleh sombong dan yang berada di bawah tidak boleh merasa hina.


Lembar Kedua


Mengajarkan kejujuran dalam memilih. Menang dengan curang bukanlah kemenangan.


Lembar Ketiga


Mengajarkan tentang giliran dan penantian. Menunggu bukan berarti berhenti berusaha, dan giliran yang datang membawa amanah.


Lembar Keempat


Mengajarkan agar tangan tidak dipakai menuduh dan merendahkan, melainkan menolong, mengembalikan hak, serta meminta maaf.


Lembar Kelima


Mengajarkan bahwa suara yang sama belum tentu berasal dari niat yang sama. Niat harus diperiksa sebelum, saat, dan setelah berbuat.


Lembar Keenam


Mengajarkan bahwa lingkaran dapat menjadi cermin diri. Muhasabah dilakukan tanpa membenci diri dan tanpa merasa paling suci.


Lembar Ketujuh


Mengajarkan tentang isi genggaman: hak, amanah, rahasia, dendam, dan keinginan. Tidak semua yang digenggam harus dipertahankan.


Lembar Kedelapan


Mengajarkan bahwa lingkaran dapat retak. Perdamaian membutuhkan kejujuran, keadilan, pemulihan, serta batas yang sehat.


Lembar Kesembilan


Mengajarkan tentang ambisi dan persaingan. Menang tidak boleh dengan menginjak, dan kalah tidak boleh membuat manusia kehilangan adab.


Lembar Kesepuluh


Mengajarkan bahwa permainan, kedudukan, pertemuan, dan kehidupan dunia memiliki akhir. Yang paling penting bukan berapa kali tangan berada di atas, melainkan untuk apa tangan itu digunakan selama hidup.


---


Tujuh Amanah Setelah Qitab Ditutup


Pertama: Jagalah Tauhid


Jangan mengangkat permainan, simbol, tokoh, mimpi, firasat, atau pengalaman batin menjadi sesuatu yang memiliki kekuasaan seperti Alloh.


Segala pertolongan hakiki berasal dari Alloh.


Manusia, ilmu, obat, pekerjaan, dan pertemuan hanyalah jalan ikhtiar yang diizinkan-Nya.


Kedua: Jagalah Akal Sehat


Jangan mudah percaya kepada klaim luar biasa.


Periksa informasi.


Mintalah bukti.


Bertanyalah kepada ahlinya.


Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan rasa, kebetulan, atau kata seseorang yang mengaku mengetahui rahasia.


Ketiga: Jagalah Amanah


Kembalikan yang bukan hakmu.


Tepati janji.


Jaga rahasia yang benar-benar harus dijaga.


Jangan memakai kepercayaan orang untuk memperoleh keuntungan pribadi.


Keempat: Jagalah Lisan dan Tulisan


Jangan menyebarkan tuduhan tanpa bukti.


Jangan menghina ketika marah.


Jangan menggunakan media untuk mempermalukan.


Tulislah sesuatu yang berani engkau pertanggungjawabkan.


Kelima: Jagalah Batas


Kasih sayang tidak berarti mengiyakan semua permintaan.


Memaafkan tidak berarti membiarkan kezaliman.


Kepercayaan harus dibangun melalui bukti.


Dalam bahaya dan kekerasan, carilah pertolongan yang aman.


Keenam: Jagalah Kerendahan Hati


Kemampuan adalah amanah.


Ilmu adalah amanah.


Pengikut adalah amanah.


Jabatan adalah amanah.


Jangan menganggap dirimu sumber cahaya bagi orang lain.


Jadilah jalan yang mengingatkan kepada Alloh, bukan pusat ketergantungan manusia.


Ketujuh: Jagalah Harapan


Selama hidup masih diberikan, perbaikan masih mungkin.


Jangan putus asa karena masa lalu.


Jangan pula merasa aman hanya karena pernah berbuat baik.


Teruslah bertobat, belajar, dan memperbaiki akhlak.


---


Pesan Terakhir Qitab


«Ketika tanganmu berada di atas, gunakanlah untuk mengangkat yang berada di bawah.»


«Ketika tanganmu berada di bawah, jangan merasa hina—barangkali engkau sedang menjadi penyangga.»


«Ketika tanganmu kosong, jangan merasa tidak berharga—barangkali Alloh sedang memberimu ruang untuk menerima pelajaran baru.»


«Ketika tanganmu penuh, jangan lupa bahwa semua yang engkau pegang hanyalah titipan.»


«Ketika tanganmu terluka, rawatlah tanpa menjadikan luka sebagai alasan melukai orang lain.»


«Ketika tanganmu pernah bersalah, gunakanlah tangan yang sama untuk mengembalikan hak dan memperbaiki kerusakan.»


«Ketika tidak ada seorang pun menggenggam tanganmu, tengadahkanlah tangan kepada Alloh dan carilah pertolongan melalui jalan yang benar.»


Saudara cahayaku, pada akhirnya kehidupan bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam hompimpa.


Bukan tentang siapa yang paling lama berada di tengah lingkaran.


Bukan tentang siapa yang memiliki suara paling keras.


Bukan pula tentang siapa yang paling banyak diikuti.


Kehidupan adalah amanah untuk mempergunakan waktu, tubuh, ilmu, harta, dan hubungan dengan benar.


Yang bernilai bukan hanya tangan yang terbuka ketika permainan dimulai.


Yang bernilai adalah hati yang tetap terbuka ketika nasihat datang.


Akal yang tetap terbuka ketika menemukan kebenaran.


Mulut yang terbuka untuk meminta maaf.


Pintu yang terbuka bagi perbaikan.


Dan tangan yang terbuka untuk berbagi tanpa merendahkan.


---


Doa Khatam Qitab Hompimpa Alaium Gambreng


Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.


Allāhumma yā Hādī, ihdinā ilā ṣirāṭikal-mustaqīm.

Yā Nūr, nawwir qulūbanā binūril-īmān wal-ḥikmah.

Yā Ḥakīm, allimnā ḥusnal-ikhtiyār wa ḥusnal-‘amal.

Yā ‘Adl, a‘innā ‘alā raddil-ḥuqūq wa tarkiẓ-ẓulm.


Allāhumma ṭahhir aydiyanā minal-khiyānah,

wa alsinatanā minal-kadhib wal-buhtān,

wa qulūbanā minal-kibri wal-‘ujbi war-riyā’ wal-ḥasad.


Allāhummaj‘al aydiyanā lil-khairi miftāḥā,

wa ‘aniẓ-ẓulmi mighlāqā,

waj‘al aqwālanā ṣidqā,

wa a‘mālanā ṣāliḥah,

wa niyyātinā khāliṣatan li-wajhikal-karīm.


Allāhumma in a‘ṭaitanā farzuqnasy-syukr,

wa in mana‘tanā farzuqnaṣ-ṣabr,

wa in akhṭa’nā farzuqnat-taubah,

wa in ikhtalafnā farzuqnal-‘adl wal-adab.


Allāhumma lā taj‘al fauzanā sababan lil-kibr,

wa lā hazīmatana bāban lil-ya’s,

wa lā quwwatanā sababan liẓ-ẓulm,

wa lā ḍa‘fanā sababan liḍayā‘il-amānah.


Allāhumma aṣliḥ ahlanā,

wa aṣdiqā’anā,

wa majālisanā,

wa a‘mālanā,

wa arzuqnā rizqan ḥalālan ṭayyiban mubārakā.


Allāhummaḥfaẓnā min kulli da‘watin tub‘idunā ‘an tauḥīdika,

wa min kulli ‘ilmin bilā amānah,

wa min kulli qiyādatin bilā ‘adl,

wa min kulli ṣuḥbatin taj‘alunā nata‘allaqu bil-khalqi dūnal-Khāliq.


Allāhumma arzuqnā qalban salīmā,

wa ‘aqlan rashīdā,

wa nafsan muṭma’innah,

wa tawbatan naṣūḥā,

wa khātimatan ḥasanah.


Ya Alloh, Wahai Maha Pemberi Petunjuk, bimbinglah kami menuju jalan-Mu yang lurus.


Wahai Maha Pemberi Cahaya, terangilah hati kami dengan cahaya iman, ilmu, dan kebijaksanaan.


Wahai Maha Bijaksana, ajarkanlah kami memilih dan bertindak dengan benar.


Wahai Mahaadil, bantulah kami mengembalikan setiap hak dan menjauhi kezaliman.


Ya Alloh, bersihkanlah tangan kami dari pengkhianatan, lisan kami dari kebohongan dan tuduhan, serta hati kami dari kesombongan, ujub, riya, dan kedengkian.


Jadikanlah tangan kami pembuka jalan kebaikan dan penutup jalan kezaliman.


Apabila Engkau memberi, ajarkan kami bersyukur.


Apabila Engkau menahan sesuatu, ajarkan kami bersabar dan tetap berikhtiar.


Apabila kami bersalah, bimbing kami bertobat dan memperbaiki.


Apabila kami berbeda, karuniakanlah keadilan dan adab.


Jangan jadikan kemenangan sebagai sebab kesombongan.


Jangan jadikan kekalahan sebagai pintu keputusasaan.


Jangan jadikan kekuatan sebagai alat menindas.


Jangan pula jadikan kelemahan sebagai alasan meninggalkan amanah.


Perbaikilah keluarga, persahabatan, majelis, pekerjaan, dan seluruh urusan kami.


Karuniakanlah rezeki yang halal, baik, cukup, luas, dan diberkahi.


Lindungilah kami dari setiap ajaran yang menjauhkan dari tauhid, ilmu tanpa amanah, kepemimpinan tanpa keadilan, dan pergaulan yang membuat kami bergantung kepada makhluk hingga melupakan Sang Pencipta.


Karuniakanlah hati yang selamat, akal yang jernih, jiwa yang tenteram, taubat yang sungguh-sungguh, serta akhir kehidupan yang baik dalam ridho-Mu.


---


Penutupan


Dengan ini, selesailah:


QITAB HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG


Risalah tentang Pilihan, Kejujuran, dan Penerimaan terhadap Ketentuan Alloh


Qitab ini ditutup bukan agar perenungannya berhenti, melainkan agar pelajarannya dibawa ke dalam perbuatan nyata.


Jangan jadikan lembarannya sekadar bacaan.


Jadikan kejujuran sebagai kebiasaan.


Jadikan amanah sebagai penjagaan.


Jadikan perbedaan sebagai jalan belajar.


Jadikan kemenangan sebagai ujian syukur.


Jadikan kekalahan sebagai kesempatan bertumbuh.


Jadikan tangan sebagai alat bekerja, menjaga, menolong, mengembalikan hak, dan berdoa.


Apa pun posisi tanganmu hari ini, jangan kehilangan akhlak.


Sebab permainan akan berakhir, lingkaran akan dibubarkan, dan setiap tangan akan kembali kepada pemiliknya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.


Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.


Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh