QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
“Segala karena Alloh, dengan pertolongan Alloh, dan berjalan dalam jalan yang diridhai Alloh”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Qitab ini dibuka bukan untuk meninggikan manusia, bukan untuk menjadikan diri merasa telah sampai, dan bukan pula untuk menghapus batas antara hamba dengan Sang Pencipta.
Qitab ini adalah wewarah tentang tiga perjalanan pengabdian:
LILLĀH — لِلّٰهِ
BILLĀH — بِاللّٰهِ
FILLĀH — فِي اللّٰهِ
Dan ketika ketiganya bertemu dalam adab tauhid, terdengarlah sabdo batin:
“Jangan engkau tanyakan siapa dirimu ketika mengabdi.
Tanyakanlah kepada siapa pengabdianmu engkau persembahkan.”
LEMBAR PERTAMA
TIGA PINTU SATU PENGABDIAN
Pada awal perjalanan, seorang hamba berdiri membawa banyak keinginan.
Ia berkata:
“Aku ingin dekat.”
Maka dijawab:
“Untuk siapa engkau ingin dekat?”
Ia berkata:
“Untuk Alloh.”
Maka terbukalah pintu pertama:
لِلّٰهِ
LILLĀH
Lillāh adalah mengembalikan tujuan kepada Alloh.
Bekerja karena Alloh.
Menolong karena Alloh.
Belajar karena Alloh.
Memegang amanah karena Alloh.
Memaafkan karena Alloh.
Berjuang menegakkan kebaikan karena Alloh.
Bukan karena ingin disebut wali.
Bukan karena ingin dipuji manusia.
Bukan karena ingin dihormati.
Bukan karena ingin kekuatan.
Pada pintu Lillāh, niat dibersihkan.
Sebab amal yang terlihat besar di hadapan manusia dapat menjadi ringan apabila niatnya rusak.
Sedangkan amal sederhana dapat menjadi sangat bernilai apabila dilakukan dengan ikhlas.
Kemudian tertulis:
“Lillāh adalah arah.”
Setelah berjalan lama, sang hamba mengalami kesulitan.
Ia merasa:
“Aku sudah berniat baik, tetapi mengapa aku masih lemah?”
Datanglah jawaban:
“Karena engkau masih menyangka bahwa kekuatan itu berasal dari dirimu.”
Maka terbukalah pintu kedua:
بِاللّٰهِ
BILLĀH
Billāh berarti menyadari bahwa perjalanan seorang hamba berlangsung dengan izin, pertolongan, rahmat, dan kekuatan yang Alloh karuniakan.
Ketika berhasil, ia tidak berkata:
“Aku hebat.”
Tetapi:
“Alhamdulillāh, Alloh memudahkan.”
Ketika mampu berdiri setelah jatuh, ia tidak berkata:
“Akulah sumber kekuatan.”
Tetapi:
“Alloh memberiku kemampuan untuk bangkit.”
Maka kesombongan perlahan runtuh.
Sang hamba mulai memahami:
Aku menanam, tetapi Alloh yang menumbuhkan.
Aku mengetuk pintu, tetapi Alloh yang membukakan jalan.
Aku berusaha mencari rezeki, tetapi Alloh yang menentukan datangnya rezeki.
Aku belajar, tetapi Alloh yang memberikan pemahaman.
Aku berdoa, tetapi Alloh pula tempat seluruh doa kembali.
Kemudian tertulis:
“Billāh adalah pertolongan.”
Setelah memahami Lillāh dan Billāh, hamba itu kembali bertanya:
“Lalu apakah Fillāh?”
Langit hikmah menjawab:
“Jangan memahaminya sebagai manusia masuk ke dalam Zat Alloh. Maha Suci Alloh dari gambaran semacam itu.”
Fillāh dalam wewarah Qitab ini berarti:
hidup dalam jalan Alloh,
bergerak dalam kecintaan kepada-Nya,
menjaga diri dalam ketaatan kepada-Nya,
dan menempatkan seluruh kehidupan di dalam batas-batas yang diridhai-Nya.
Maka terbukalah pintu ketiga:
فِي اللّٰهِ
FILLĀH
Pada maqam pengajaran ini, kehidupan tidak lagi dibelah menjadi:
“Ini urusan dunia.”
“Ini urusan ruhani.”
Sebab bekerja dengan jujur dapat menjadi ibadah.
Menghidupi keluarga dapat menjadi ibadah.
Memberi makan orang lapar dapat menjadi ibadah.
Menahan lidah dari menyakiti dapat menjadi ibadah.
Membela yang lemah dengan cara yang benar dapat menjadi ibadah.
Beristirahat agar tubuh mampu kembali menjalankan amanah pun dapat bernilai ibadah.
Selama arah dan caranya tidak keluar dari ridha Alloh.
Kemudian tertulis:
“Fillāh adalah ruang perjalanan.”
MAKA TIGA RAHASIA ITU MENJADI SATU
Lillāh:
Tujuanku untuk Alloh.
Billāh:
Kekuatanku dengan pertolongan Alloh.
Fillāh:
Perjalananku berada dalam jalan yang diridhai Alloh.
Kemudian turun kalimat:
لِلّٰهِ بَدْءُ الْقَصْدِ
وَبِاللّٰهِ قُوَّةُ السَّيْرِ
وَفِي سَبِيلِ اللّٰهِ تَمَامُ الْعَهْدِ
Lillāhi bad’ul-qaṣd,
wa billāhi quwwatus-sayr,
wa fī sabīlillāhi tamāmul-‘ahd.
Makna hikmahnya:
“Untuk Alloh permulaan niat,
dengan pertolongan Alloh kekuatan perjalanan,
dan di jalan Alloh disempurnakanlah amanah.”
SABDO QITAB
Wahai manusia,
jika engkau berbuat baik lalu ingin semua orang mengetahuinya,
kembalilah kepada Lillāh.
Jika engkau merasa paling kuat karena keberhasilanmu,
kembalilah kepada Billāh.
Jika perjalanan hidupmu mulai jauh dari kebenaran,
kembalilah kepada Fillāh.
Apabila engkau kehilangan arah:
Lillāh.
Apabila engkau merasa tidak sanggup:
Billāh.
Apabila engkau bingung jalan mana yang harus ditempuh:
Fillāh.
Tiga kata.
Namun apabila benar-benar dihidupkan, ia menjadi pendidikan bagi seluruh umur.
PUNCAK LEMBAR PERTAMA
Kemudian sang hamba melihat sebuah pintu bercahaya.
Di atasnya tidak tertulis nama manusia.
Tidak tertulis gelar.
Tidak tertulis kerajaan.
Tidak tertulis kehebatan.
Hanya tiga kalimat:
لِلّٰهِ
Aku persembahkan untuk Alloh.
بِاللّٰهِ
Aku berjalan dengan pertolongan Alloh.
فِي اللّٰهِ
Aku menjaga perjalanan dalam jalan yang diridhai Alloh.
Lalu terdengar wewarah terakhir:
“Barang siapa telah memahami Lillāh, jangan merasa suci.
Barang siapa telah memahami Billāh, jangan merasa memiliki kekuatan.
Barang siapa telah memahami Fillāh, jangan mengaku telah menyatu dengan Tuhan.
Tetaplah sebagai hamba.
Sebab kemuliaan seorang hamba bukan ketika ia berhenti menjadi hamba,
tetapi ketika ia semakin sempurna dalam pengabdiannya kepada Alloh.”
Dan tertutuplah lembar pertama dengan kalimat:
اَللّٰهُ غَايَتُنَا وَرِضَاهُ مَقْصَدُنَا
Allohu ghāyatunā wa riḍāhu maqṣadunā.
“Alloh adalah tujuan tertinggi kami, dan keridhaan-Nya adalah maksud perjalanan kami.”
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Pertama: Tiga Pintu Satu Pengabdian
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KEDUA
TIGA GERBANG YANG MENJAGA HATI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah melewati lembar pertama, sang hamba berdiri di hadapan tiga gerbang.
Gerbang pertama bertuliskan:
لِلّٰهِ
LILLĀH
Gerbang kedua bertuliskan:
بِاللّٰهِ
BILLĀH
Gerbang ketiga bertuliskan:
فِي اللّٰهِ
FILLĀH
Namun ketiganya tidak terbuka dengan kekuatan tangan.
Tidak pula dengan banyaknya gelar.
Tidak dengan pengakuan.
Tidak dengan keinginan untuk terlihat mulia.
Ketiga gerbang itu hanya terbuka ketika hati belajar menjadi jujur.
GERBANG PERTAMA — LILLĀH
Di depan gerbang pertama terdengar pertanyaan:
“Apa yang engkau cari?”
Sang hamba menjawab:
“Aku mencari ketenangan.”
Maka terdengar jawaban:
“Itu masih untuk dirimu.”
Ia berkata:
“Aku mencari kemuliaan.”
Dijawab:
“Itu masih untuk dirimu.”
Ia berkata:
“Aku mencari kemampuan.”
Dijawab:
“Itu masih untuk dirimu.”
Lalu ia terdiam.
Setelah lama, ia berkata:
“Aku ingin belajar melakukan yang benar karena Alloh, sekalipun tidak seorang pun melihatku.”
Maka gerbang pertama mulai bercahaya.
Sebab Lillāh mengajarkan satu rahasia:
Amal tidak hanya ditimbang dari apa yang dilakukan, tetapi juga dari untuk siapa ia dilakukan.
Ketika seseorang memberi, tetapi ingin dipuji, hatinya sedang belajar kembali.
Ketika seseorang menolong, tetapi ingin menguasai orang yang ditolong, niatnya perlu dibersihkan.
Ketika seseorang berdakwah, tetapi ingin menjadi pusat penghormatan, ia perlu kembali memeriksa dirinya.
Lillāh bukan kalimat untuk menghakimi orang lain.
Lillāh adalah cermin untuk memeriksa hati sendiri.
Maka tertulis:
“Jangan sibuk mencari siapa yang ikhlas.
Sibuklah menjaga dirimu agar tetap ikhlas.”
GERBANG KEDUA — BILLĀH
Setelah gerbang pertama terbuka, sang hamba berjalan menuju gerbang kedua.
Di sana terdengar pertanyaan:
“Dengan apa engkau berjalan?”
Ia menjawab:
“Dengan ilmuku.”
Gerbang tetap tertutup.
“Dengan usahaku.”
Gerbang tetap tertutup.
“Dengan kekuatanku.”
Gerbang tetap tertutup.
Kemudian sang hamba menyadari:
Ilmunya dapat hilang.
Tenaganya dapat melemah.
Hartanya dapat habis.
Orang yang mendukungnya dapat pergi.
Rencana yang matang pun dapat berubah.
Maka ia berkata:
“Aku wajib berusaha, tetapi aku tidak akan menyembah usahaku. Aku memohon pertolongan kepada Alloh.”
Gerbang kedua pun bercahaya.
Inilah pelajaran Billāh.
Billāh tidak berarti meninggalkan usaha.
Justru seorang hamba tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap mencari jalan.
Tetap memperbaiki kesalahan.
Tetapi ia tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan kecil atas hasil.
Ia mengetahui batasnya.
Ia berusaha.
Kemudian menyerahkan hasil kepada Alloh.
Maka tertulis:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.”
Kalimat ini bukan ajakan untuk pasif.
Ia adalah pendidikan agar usaha tidak berubah menjadi kesombongan.
GERBANG KETIGA — FILLĀH
Setelah memahami arah dan pertolongan, sang hamba sampai pada gerbang ketiga.
Pertanyaannya lebih dalam:
“Di jalan apakah engkau ingin menjalani hidup?”
Sang hamba menjawab:
“Di jalan yang membuatku terkenal.”
Gerbang diam.
“Di jalan yang membuatku selalu menang.”
Gerbang diam.
“Di jalan yang membuat semua keinginanku terpenuhi.”
Gerbang tetap diam.
Akhirnya sang hamba berkata:
“Aku ingin berjalan dalam jalan yang diridhai Alloh, meskipun terkadang jalan itu meminta kesabaran, kejujuran, pengorbanan, dan keberanian untuk meninggalkan kesalahan.”
Maka gerbang ketiga terbuka.
Dan di baliknya bukan singgasana.
Bukan mahkota.
Bukan lautan emas.
Yang tampak hanyalah sebuah jalan panjang.
Di kanan jalan ada ujian.
Di kiri jalan ada pilihan.
Di depan ada ketidakpastian.
Namun cahaya kecil selalu menunjukkan arah.
Maka sang hamba memahami:
Fillāh bukan akhir perjalanan.
Fillāh adalah cara menjalani perjalanan.
TIGA UJIAN YANG MENGIKUTI TIGA GERBANG
Kemudian Qitab menggambarkan tiga ujian.
Ujian Lillāh: PUJIAN
Ketika manusia memujimu, jangan membenci pujian.
Tetapi jangan pula menjadikannya makanan bagi kesombongan.
Ucapkan dalam hati:
“Ya Alloh, jangan jadikan pujian manusia menutupi kekuranganku sendiri.”
Sebab seseorang dapat tersesat bukan hanya oleh hinaan.
Ia juga dapat tersesat oleh pujian.
Ujian Billāh: KEBERHASILAN
Ketika sesuatu berhasil, jangan lupa siapa yang memberikan kesempatan, kesehatan, waktu, akal, dan jalan.
Keberhasilan boleh disyukuri.
Prestasi boleh dirayakan.
Tetapi hati tetap berkata:
Alhamdulillāh.
Karena Billāh mendidik seorang hamba supaya kuat tanpa menjadi sombong.
Ujian Fillāh: PERSIMPANGAN
Ada jalan yang cepat tetapi merusak.
Ada jalan yang mudah tetapi tidak benar.
Ada jalan yang menguntungkan tetapi menyakiti orang lain.
Ada pula jalan yang lebih lambat, namun bersih.
Di sinilah Fillāh diuji.
Bukan ketika semua mudah.
Tetapi ketika seseorang harus memilih antara:
keuntungan atau kejujuran,
gengsi atau kebenaran,
amarah atau kesabaran,
balas dendam atau keadilan.
TIGA CAHAYA DALAM SATU HATI
Lalu tampak tiga cahaya.
Cahaya pertama berwarna keemasan.
Ia berkata:
“Bersihkan tujuanmu.”
Itulah Lillāh.
Cahaya kedua berwarna putih.
Ia berkata:
“Jangan bersandar kepada kemampuanmu semata.”
Itulah Billāh.
Cahaya ketiga berwarna hijau lembut.
Ia berkata:
“Jagalah langkahmu tetap dalam kebaikan.”
Itulah Fillāh.
Ketiganya kemudian menyatu menjadi satu cahaya.
Bukan cahaya gaib yang harus dicari dengan mata.
Tetapi lambang sebuah hati yang mulai terdidik:
niatnya bersih,
usahanya sungguh-sungguh,
tawakalnya hidup,
dan jalannya dijaga.
WEWARAH LEMBAR KEDUA
Kemudian tertulis:
Jika Lillāh tanpa Billāh, seseorang dapat merasa semua bergantung pada dirinya.
Jika Billāh tanpa Lillāh, seseorang dapat berbicara tentang pertolongan Alloh tetapi niatnya masih mencari dirinya sendiri.
Jika Fillāh tanpa keduanya, perjalanan dapat berubah menjadi istilah tanpa isi.
Maka tiga gerbang itu harus dijaga bersama:
LILLĀH — MEMBERSIHKAN NIAT
BILLĀH — MENYADARI PERTOLONGAN
FILLĀH — MENJAGA JALAN
SABDO PENUTUP LEMBAR KEDUA
Wahai orang yang berjalan,
jangan ukur kedekatan kepada Alloh dari banyaknya cerita luar biasa.
Ukurlah dari perubahan akhlakmu.
Apakah engkau semakin jujur?
Apakah engkau semakin lembut kepada yang lemah?
Apakah engkau lebih mampu menahan amarah?
Apakah engkau lebih bertanggung jawab?
Apakah engkau lebih mudah mengakui kesalahan?
Apakah engkau lebih sedikit merendahkan orang lain?
Sebab apabila perjalanan ruhani tidak membuat akhlak menjadi lebih baik, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Kemudian di ujung lembar tertulis:
مَنْ صَحَّ قَصْدُهُ صَحَّ سَيْرُهُ
Man ṣaḥḥa qaṣduhu ṣaḥḥa sayruhu.
“Barang siapa membenarkan niatnya, akan lebih terjaga perjalanannya.”
Dan di bawahnya:
“Jangan mencari gerbang berikutnya sebelum engkau menjaga gerbang yang telah terbuka.”
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Kedua: Tiga Gerbang yang Menjaga Hati
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KETIGA
SAAT NIAT, USAHA, DAN TAWAKAL MENJADI SATU JALAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah tiga gerbang terbuka, sang hamba tidak menemukan ujung perjalanan.
Justru ia menemukan sebuah jalan yang lebih panjang.
Di hadapannya terbentang tanah luas.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada suara yang memujinya.
Tidak ada tanda bahwa ia telah mencapai sesuatu.
Hanya ada satu jalan dengan tiga batu penanda.
Pada batu pertama tertulis:
نِيَّةٌ
NIAT
Pada batu kedua:
سَعْيٌ
USAHA
Pada batu ketiga:
تَوَكُّلٌ
TAWAKAL
Sang hamba pun memahami:
Lillāh, Billāh, Fillāh tidak cukup hanya disebut oleh lisan.
Ia harus turun menjadi cara hidup.
BATU PERTAMA
NIAT — TEMPAT LILLĀH DIJAGA
Sang hamba bertanya:
“Apakah niat yang baik cukup?”
Maka datanglah pelajaran:
Niat adalah awal.
Tetapi niat harus terus dijaga.
Sebab hati manusia dapat berubah di tengah perjalanan.
Pada awalnya seseorang menolong karena Alloh.
Lalu ketika dipuji, ia mulai menikmati pujian.
Pada awalnya seseorang belajar karena ingin menjadi bermanfaat.
Lalu ketika ilmunya bertambah, ia mulai merendahkan orang lain.
Pada awalnya seseorang memegang amanah karena pengabdian.
Lalu setelah dihormati, ia mulai merasa dirinya paling berhak.
Maka Lillāh bukan hanya niat pada permulaan.
Lillāh adalah mengembalikan niat berkali-kali kepada Alloh sepanjang perjalanan.
Ketika hati bergeser:
kembalikan.
Ketika ingin dipuji:
kembalikan.
Ketika merasa lebih tinggi:
kembalikan.
Ketika kecewa karena tidak dihargai:
kembalikan.
Lalu tertulis:
“Niat yang bersih bukan hati yang tidak pernah tergoda, tetapi hati yang selalu mau kembali.”
BATU KEDUA
USAHA — TEMPAT BILLĀH DIUJI
Kemudian sang hamba sampai pada tanah berbatu.
Ia harus mendaki.
Ia pun berkata:
“Jika semuanya dengan pertolongan Alloh, mengapa aku masih harus berusaha?”
Maka datanglah jawaban:
“Karena tawakal bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.”
Petani tetap menanam.
Pedagang tetap berdagang dengan jujur.
Penuntut ilmu tetap belajar.
Orang sakit tetap berikhtiar mencari pertolongan yang tepat.
Orang yang berhutang tetap berusaha menunaikan kewajibannya.
Orang yang mempunyai keluarga tetap bekerja menjaga amanahnya.
Orang yang melakukan kesalahan tetap memperbaikinya.
Billāh tidak menghapus usaha.
Billāh membersihkan usaha dari kesombongan.
Sang hamba tetap berkata:
“Aku akan mengerjakan yang mampu kukerjakan.”
Tetapi setelah itu ia tidak berkata:
“Hasil pasti mengikuti kemauanku.”
Sebab hasil bukan milik manusia.
Manusia memiliki kewajiban berusaha.
Alloh memiliki ketetapan atas hasil.
Maka tertulis:
اِعْمَلْ وَلَا تَغْتَرَّ بِعَمَلِكَ
I‘mal wa lā taghtarra bi ‘amalik.
“Berusahalah, tetapi jangan tertipu oleh usahamu sendiri.”
BATU KETIGA
TAWAKAL — TEMPAT FILLĀH MENJAGA LANGKAH
Setelah mendaki, sang hamba menemukan persimpangan.
Ia telah berdoa.
Ia telah berusaha.
Namun hasil yang datang tidak sama dengan yang ia harapkan.
Ia pun bertanya:
“Apakah berarti doaku tidak diterima?”
Maka datanglah wewarah:
Tidak setiap jawaban datang dalam bentuk yang manusia inginkan.
Ada keinginan yang ditunda.
Ada jalan yang dialihkan.
Ada pintu yang ditutup agar seseorang tidak memasuki sesuatu yang merusaknya.
Ada pula hal yang baru dipahami hikmahnya setelah waktu yang panjang.
Tawakal bukan memastikan bahwa semua keinginan akan terjadi.
Tawakal adalah:
tetap berusaha baik, tetap berdoa, lalu menerima bahwa Alloh lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Maka Fillāh menjaga hati agar tidak keluar dari jalan hanya karena kecewa.
Jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan,
jangan mencuri.
Jangan menipu.
Jangan mengkhianati.
Jangan merusak.
Jangan menghalalkan segala cara.
Sebab apabila seseorang meninggalkan kebenaran demi mendapatkan keinginannya,
berarti tujuan telah mengalahkan jalan.
Sedangkan Fillāh mengajarkan:
“Jalan yang ditempuh sama pentingnya dengan tujuan yang dicari.”
KETIKA TIGA BATU MENJADI SATU
Sang hamba kemudian menoleh.
Tiga batu itu bercahaya.
Dari batu NIAT, ia mendengar:
LILLĀH
“Untuk Alloh aku memulai.”
Dari batu USAHA, ia mendengar:
BILLĀH
“Dengan pertolongan Alloh aku bergerak.”
Dari batu TAWAKAL, ia mendengar:
FILLĀH
“Dalam jalan yang diridhai Alloh aku bertahan.”
Kemudian ketiganya menyatu menjadi satu kalimat:
نِيَّتِي لِلّٰهِ، وَقُوَّتِي بِاللّٰهِ، وَسَيْرِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Niyyatī lillāh,
wa quwwatī billāh,
wa sayrī fī sabīlillāh.
Makna hikmahnya:
“Niatku untuk Alloh, kekuatanku dengan pertolongan Alloh, dan perjalananku di jalan Alloh.”
UJIAN TERBESAR BUKAN SELALU KEGAGALAN
Kemudian Qitab memperlihatkan sebuah pemandangan.
Seorang manusia sedang susah.
Ia berdoa.
Ia menangis.
Ia memohon.
Pada saat itu ia merasa sangat membutuhkan Alloh.
Kemudian keadaannya berubah.
Rezekinya bertambah.
Orang mulai menghormatinya.
Ia mempunyai pengaruh.
Doanya yang dahulu dipanjatkan dalam tangis mulai terlupakan.
Lalu terdengar wewarah:
“Tidak semua ujian datang dalam bentuk kesulitan.
Sebagian ujian datang dalam bentuk keberhasilan.”
Kemiskinan dapat menguji kesabaran.
Kekayaan dapat menguji amanah.
Kelemahan dapat menguji keteguhan.
Kekuatan dapat menguji kerendahan hati.
Tidak dikenal menguji keikhlasan.
Terkenal pun menguji keikhlasan.
Maka jangan hanya meminta:
“Ya Alloh, keluarkan aku dari kesulitan.”
Tetapi tambahkan:
“Ya Alloh, apabila kelapangan datang, jangan biarkan aku kehilangan diriku.”
TIGA PENJAGA PERJALANAN
Kemudian tampak tiga penjaga simbolik.
Bukan makhluk yang harus dicari.
Melainkan tiga sifat yang harus ditanam di dalam diri.
1. IKHLAS
Ia menjaga Lillāh.
Ikhlas berkata:
“Lakukan kebaikan sekalipun tidak semua orang mengetahui.”
2. RENDAH HATI
Ia menjaga Billāh.
Rendah hati berkata:
“Boleh mengetahui kelebihan diri, tetapi jangan lupa bahwa semuanya adalah amanah.”
3. ISTIQAMAH
Ia menjaga Fillāh.
Istiqamah berkata:
“Jangan hanya berjalan ketika hati sedang bersemangat.”
Sebab jalan panjang lebih membutuhkan ketekunan daripada ledakan semangat sesaat.
SAAT DOA BELUM MENJADI KENYATAAN
Sang hamba kembali bertanya:
“Bagaimana aku menjaga hati ketika doa terasa lama?”
Maka Qitab menjawab:
Tetaplah meminta.
Tetaplah memperbaiki usaha.
Tetaplah memeriksa apakah yang engkau minta baik.
Tetaplah membuka kemungkinan bahwa jawaban Alloh tidak selalu berbentuk seperti bayanganmu.
Dan jangan menjadikan doa sebagai transaksi:
“Aku telah berdoa, maka Alloh harus mengikuti keinginanku.”
Doa adalah penghambaan.
Bukan perintah manusia kepada Tuhan.
Maka semakin dalam doa,
semakin dalam pula pengakuan:
أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ
Anta Rabbī wa anā ‘abduk.
“Engkau Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu.”
SABDO QITAB
Wahai pejalan,
ketika sesuatu berhasil,
jangan berkata:
“Aku telah sampai.”
Katakan:
“Aku sedang menerima amanah baru.”
Ketika sesuatu gagal,
jangan segera berkata:
“Semuanya berakhir.”
Katakan:
“Aku harus membaca ulang jalanku.”
Ketika engkau dipuji,
jangan mabuk.
Ketika engkau dicela,
jangan hancur.
Ketika diberi,
bersyukurlah.
Ketika belum diberi,
tetaplah menjaga adab.
Karena orang yang hidup dengan Lillāh, Billāh, Fillāh tidak menjadikan keadaan sebagai Tuhannya.
Ia tetap seorang hamba dalam sempit.
Ia tetap seorang hamba dalam lapang.
Ia tetap seorang hamba ketika sendiri.
Ia tetap seorang hamba ketika disanjung banyak orang.
RAHASIA LEMBAR KETIGA
Kemudian tertulis dengan cahaya:
LILLĀH menjaga alasan engkau berjalan.
BILLĀH menjaga kesadaran dengan siapa engkau mampu berjalan.
FILLĀH menjaga agar jalanmu tidak keluar dari kebenaran.
Ketiganya melahirkan:
NIAT YANG BERSIH.
USAHA YANG SUNGGUH-SUNGGUH.
TAWAKAL YANG TENANG.
Dan ketika ketiganya hidup bersama,
manusia tidak menjadi pasif.
Ia justru bekerja lebih baik.
Tetapi dadanya tidak diperbudak hasil.
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Di ujung jalan terlihat cahaya fajar.
Sang hamba berhenti.
Ia menundukkan kepala.
Kemudian berkata:
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّتِي، وَبَارِكْ سَعْيِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
Allohumma aṣliḥ niyyatī,
wa bārik sa‘yī,
warzuqnī ḥusnat-tawakkuli ‘alaik.
“Ya Alloh, perbaikilah niatku, berkahilah usahaku, dan karuniakan kepadaku tawakal yang baik kepada-Mu.”
Lalu terdengar pesan terakhir:
“Tidak perlu terburu-buru menjadi orang yang merasa telah sampai.
Jadilah orang yang setiap hari bersedia memperbaiki arah.”
Dan pada batas lembar tertulis:
لِلّٰهِ الْقَصْدُ
وَبِاللّٰهِ الْعَوْنُ
وَفِي سَبِيلِهِ الثَّبَاتُ
Lillāhil-qaṣd,
wa billāhil-‘awn,
wa fī sabīlih ats-tsabāt.
“Untuk Alloh tujuan, dengan pertolongan Alloh kekuatan, dan di jalan-Nya keteguhan.”
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Ketiga: Saat Niat, Usaha, dan Tawakal Menjadi Satu Jalan
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KEEMPAT
KETIKA KEHILANGAN MENJADI PINTU KEMBALI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah memahami niat, usaha, dan tawakal, sang hamba melanjutkan perjalanan.
Namun kali ini jalan tidak dipenuhi cahaya.
Langit menjadi kelabu.
Angin datang membawa debu.
Beberapa pintu yang dahulu terbuka mulai tertutup.
Orang-orang yang dahulu berjalan bersamanya satu demi satu mengambil jalan berbeda.
Apa yang ia pegang perlahan terlepas.
Apa yang ia banggakan mulai berkurang.
Apa yang ia kira akan menetap ternyata berubah.
Kemudian sang hamba bertanya:
“Mengapa setelah aku belajar Lillāh, Billāh, Fillāh, aku masih mengalami kehilangan?”
Maka datanglah wewarah:
“Karena perjalanan kepada Alloh bukan janji bahwa manusia tidak akan kehilangan.
Tetapi perjalanan itu mengajarkan kepada siapa hati kembali ketika kehilangan datang.”
PINTU PERTAMA
KETIKA SESUATU YANG DICINTAI TERLEPAS
Sang hamba berdiri di depan sebuah rumah kosong.
Dahulu rumah itu ramai.
Sekarang sunyi.
Ia melihat tempat-tempat yang menyimpan kenangan.
Kemudian ia menangis.
Qitab tidak berkata:
“Jangan menangis.”
Sebab menangis bukan tanda iman yang lemah.
Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan.
Namun Qitab berkata:
“Jangan jadikan kehilangan sebagai alasan untuk kehilangan Alloh.”
Sang hamba boleh bersedih.
Boleh merindukan.
Boleh merasakan sepi.
Tetapi di tengah kesedihan itu ia belajar mengatakan:
إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”
Lalu ia memahami satu lapisan baru dari Lillāh:
Bukan hanya amal yang untuk Alloh.
Dirinya pun milik Alloh.
Waktunya milik Alloh.
Kesempatannya adalah amanah dari Alloh.
Apa yang berada di tangannya juga bukan kepemilikan mutlak.
Maka ketika sesuatu datang:
ia bersyukur.
Ketika sesuatu pergi:
ia belajar melepaskan tanpa menghancurkan dirinya.
PINTU KEDUA
KETIKA KEKUATAN DIRI TIDAK LAGI CUKUP
Kemudian perjalanan membawanya ke sebuah lembah.
Ia mencoba mendaki.
Kali pertama ia jatuh.
Ia bangkit.
Kali kedua ia jatuh lagi.
Ia bangkit.
Kali ketiga ia mulai lelah.
Lalu ia berkata:
“Aku tidak sanggup.”
Maka terdengar jawaban lembut:
“Tidak sanggup melakukan semuanya bukan berarti engkau tidak berguna.”
Manusia memang mempunyai batas.
Ada persoalan yang tidak selesai dalam sehari.
Ada luka yang tidak pulih dalam satu malam.
Ada urusan yang membutuhkan bantuan orang lain.
Ada keadaan yang memerlukan waktu.
Billāh tidak mengajarkan manusia untuk berpura-pura kuat.
Billāh justru mengajarkan:
akui batasmu, lalu mintalah pertolongan dengan benar.
Kepada Alloh melalui doa.
Kepada manusia melalui musyawarah.
Kepada orang berilmu melalui ilmu.
Kepada orang yang ahli melalui keahliannya.
Sebab meminta pertolongan yang baik tidak mengurangi kehormatan seorang hamba.
Lalu tertulis:
حَسْبِيَ اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Ḥasbiyallohu wa ni‘mal-wakīl.
“Cukuplah Alloh bagiku, dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
Tetapi Qitab memberikan peringatan:
Berserah kepada Alloh bukan berarti menolak sebab-sebab yang baik.
Jika lapar, carilah makanan.
Jika sakit, berikhtiarlah.
Jika tidak tahu, bertanyalah.
Jika bersalah, mintalah maaf.
Jika hutang menjadi beban, susunlah jalan penyelesaian.
Jika hubungan rusak, jangan hanya meminta keajaiban tanpa memperbaiki sikap.
Karena Billāh berjalan bersama ikhtiar.
PINTU KETIGA
KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SESUAI RENCANA
Di perjalanan selanjutnya sang hamba membawa sebuah peta.
Pada peta itu ia telah menulis:
“Pada usia ini aku harus berhasil.”
“Pada waktu ini aku harus mendapatkan ini.”
“Orang itu harus tetap bersamaku.”
“Usaha ini harus berhasil.”
“Doa ini harus dijawab dengan bentuk yang kuinginkan.”
Kemudian datang angin.
Peta itu terlepas.
Sang hamba mengejarnya.
Tetapi ia tidak mampu menangkapnya.
Ia marah.
Ia berkata:
“Semua rencanaku hilang.”
Lalu datang wewarah:
“Rencana boleh engkau susun.
Tetapi jangan menjadikan rencanamu sebagai ukuran mutlak kasih sayang Alloh.”
Ada jalan yang lurus menurut manusia, tetapi belum tentu terbaik baginya.
Ada jalan memutar yang ternyata menyelamatkan.
Ada penundaan yang ternyata melindungi.
Ada kehilangan yang kemudian membuka ruang bagi sesuatu yang lebih sehat.
Ada kegagalan yang memaksa manusia belajar apa yang selama ini ia abaikan.
Di sinilah Fillāh mendapat makna yang lebih dalam.
Fillāh berkata:
“Tetaplah berada dalam jalan yang benar meskipun arah hidupmu sedang berubah.”
JANGAN MENINGGALKAN KEBENARAN KARENA TERLUKA
Kemudian Qitab memperlihatkan seorang hamba yang pernah dikhianati.
Ia marah.
Ia berkata:
“Karena orang lain berlaku buruk kepadaku, aku juga berhak berlaku buruk.”
Maka datang jawaban:
“Kesalahan orang lain tidak memberikan izin kepadamu untuk kehilangan akhlak.”
Luka memang dapat menjelaskan mengapa seseorang marah.
Tetapi luka tidak selalu membenarkan apa yang dilakukan karena kemarahan.
Maka Fillāh menjaga langkah:
Jangan menipu karena pernah ditipu.
Jangan mengkhianati karena pernah dikhianati.
Jangan merendahkan karena pernah direndahkan.
Jangan memfitnah karena pernah difitnah.
Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah karena hatimu sedang terluka.
Di sinilah pengabdian diuji.
Bukan ketika hati sedang damai.
Tetapi ketika seseorang memiliki alasan untuk membalas namun memilih tetap berada dalam batas kebenaran.
TIGA KALIMAT DI TENGAH KEHILANGAN
Kemudian sang hamba menemukan sebuah batu putih.
Di atasnya tertulis tiga kalimat.
لِلّٰهِ مَا أَخَذَ وَلِلّٰهِ مَا أَعْطَى
Lillāhi mā akhadza wa lillāhi mā a‘ṭā.
Makna hikmahnya:
“Milik Alloh apa yang diambil, dan milik Alloh apa yang diberikan.”
Kalimat pertama mengajarkan:
JANGAN MEMILIKI SECARA BERLEBIHAN DI DALAM HATI.
بِاللّٰهِ أَقُومُ بَعْدَ سُقُوطِي
Billāhi aqūmu ba‘da suqūṭī.
“Dengan pertolongan Alloh aku bangkit setelah jatuh.”
Kalimat kedua mengajarkan:
JANGAN MENYEMBAH KEKUATAN DIRI SENDIRI.
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ أَثْبُتُ عِنْدَ تَغَيُّرِ الطَّرِيقِ
Fī sabīlillāhi atsbutu ‘inda taghayyurit-ṭarīq.
“Di jalan Alloh aku berusaha tetap teguh ketika jalan berubah.”
Kalimat ketiga mengajarkan:
JANGAN MENINGGALKAN KEBENARAN HANYA KARENA KEHIDUPAN BERUBAH.
EMPAT KEHILANGAN YANG SERING MENYENTUH MANUSIA
Qitab kemudian membuka empat lembar kecil.
1. KEHILANGAN HARTA
Harta dapat datang.
Harta dapat berkurang.
Yang harus dijaga adalah agar hati tidak kehilangan kejujuran.
Jangan karena takut miskin lalu mengambil yang bukan hak.
Jangan karena ingin cepat kaya lalu menghalalkan tipu daya.
Jangan karena kehilangan usaha lalu menganggap seluruh harga diri telah hilang.
Harta adalah alat.
Bukan ukuran mutlak kemuliaan manusia.
2. KEHILANGAN ORANG
Ada orang yang pergi karena jarak.
Ada karena pilihan.
Ada karena kematian.
Ada karena hubungan yang memang harus berakhir.
Tidak semua perpisahan sama.
Namun setiap kehilangan mengajarkan:
cintailah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menempatkan manusia di tempat Tuhan.
Sebab manusia dapat pergi.
Alloh tetap menjadi tempat kembali.
3. KEHILANGAN KEDUDUKAN
Seseorang pernah dipanggil dengan gelar.
Kemudian suatu hari gelar itu tidak lagi melekat.
Dahulu ia mempunyai banyak orang di sekelilingnya.
Kemudian suasana berubah.
Maka Qitab berkata:
“Jika kehormatanmu hanya hidup ketika orang memanggil gelarmu, maka engkau belum mengenal nilai dirimu.”
Kedudukan adalah amanah.
Bukan identitas abadi.
Hari ini dipercaya.
Besok mungkin digantikan.
Namun kebaikan tetap dapat dilakukan tanpa kursi.
4. KEHILANGAN HARAPAN
Inilah kehilangan yang paling sunyi.
Tubuh masih berjalan.
Tetapi hati berkata:
“Untuk apa?”
Maka Qitab mendekatkan satu kalimat:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ
Lā taqnaṭū min raḥmatillāh.
“Janganlah berputus asa dari rahmat Alloh.”
Selama hidup masih ada,
perbaikan masih mungkin.
Tidak semua pintu tertutup sekaligus.
Kadang manusia hanya terlalu lama berdiri di depan satu pintu yang sudah tidak terbuka.
Maka ia perlu menoleh.
Mungkin ada jalan lain yang belum dilihat.
KETIKA DOA BERUBAH
Pada awal perjalanan, sang hamba selalu berdoa:
“Ya Alloh, berikan aku apa yang kuinginkan.”
Setelah mengalami banyak perjalanan, doanya mulai berubah:
“Ya Alloh, berikan yang baik bagiku.”
Kemudian semakin dalam:
“Ya Alloh, apabila yang kuinginkan baik, mudahkanlah. Apabila tidak baik, jauhkanlah aku darinya dan jaga hatiku.”
Lalu pada suatu malam ia berkata:
“Ya Alloh, jangan hanya ubah keadaanku. Ubah pula aku agar mampu menjalani keadaan dengan benar.”
Pada saat itulah Qitab berkata:
“Doa telah naik dari sekadar meminta keadaan berubah menuju permohonan agar diri ikut diperbaiki.”
SABDO TENTANG KEHILANGAN
Wahai pejalan,
jika sesuatu pergi,
jangan segera menyimpulkan bahwa Alloh membencimu.
Jika sesuatu datang,
jangan segera menyimpulkan bahwa engkau lebih mulia dari orang lain.
Nikmat adalah ujian.
Kehilangan juga ujian.
Pertanyaan keduanya sama:
“Apa yang akan engkau lakukan setelah ini?”
Jika diberi:
bersyukurlah.
Jika kehilangan:
bersabarlah.
Jika salah:
bertaubatlah.
Jika jatuh:
bangkitlah.
Jika bingung:
bermusyawarahlah.
Jika lelah:
beristirahatlah tanpa meninggalkan arah.
RAHASIA LEMBAR KEEMPAT
Kemudian tiga gerbang dari lembar pertama muncul kembali.
Tetapi sekarang sang hamba melihat makna yang berbeda.
Pada gerbang Lillāh, tertulis:
“Yang engkau miliki bukan milikmu selamanya.”
Pada gerbang Billāh, tertulis:
“Yang engkau tanggung tidak harus engkau pikul sendirian.”
Pada gerbang Fillāh, tertulis:
“Ketika jalan berubah, jangan biarkan prinsipmu ikut hilang.”
Kemudian cahaya dari ketiganya menyatu.
Dan sang hamba memahami:
Kehilangan bukan selalu akhir.
Kadang ia adalah pembongkaran.
Kadang pembersihan.
Kadang penyesuaian arah.
Kadang juga kenyataan yang memang harus diterima dengan air mata dan kesabaran.
Tidak semua kehilangan harus diberi makna besar.
Tetapi setiap kehilangan dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenal siapa yang benar-benar menjadi tempat bergantung.
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Sang hamba berjalan lagi.
Kali ini ia tidak membawa terlalu banyak barang.
Di pundaknya hanya ada satu tas kecil.
Di dalamnya terdapat tiga kalimat:
لِلّٰهِ قَلْبِي
Lillāhi qalbī.
“Hatiku kuarahkan untuk Alloh.”
بِاللّٰهِ قُوَّتِي
Billāhi quwwatī.
“Dengan pertolongan Alloh kekuatanku.”
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ خُطْوَتِي
Fī sabīlillāhi khuṭwatī.
“Di jalan Alloh langkahku.”
Ia kemudian menatap jalan yang masih panjang.
Tidak tahu apa yang akan datang.
Namun kali ini ia tidak meminta agar hidup selalu mudah.
Ia berdoa:
اَللّٰهُمَّ إِذَا أَعْطَيْتَنِي فَعَلِّمْنِي الشُّكْرَ، وَإِذَا ابْتَلَيْتَنِي فَعَلِّمْنِي الصَّبْرَ، وَإِذَا تَغَيَّرَتْ طُرُقِي فَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي يَضِلُّ عَنْكَ
Allohumma idzā a‘ṭaitanī fa‘allimnī asy-syukr,
wa idzā ibtalaitanī fa‘allimnī aṣ-ṣabr,
wa idzā taghayyarat ṭuruqī falā taj‘al qalbī yaḍillu ‘anka.
“Ya Alloh, apabila Engkau memberiku, ajarkan aku bersyukur. Apabila Engkau mengujiku, ajarkan aku bersabar. Dan apabila jalan hidupku berubah, jangan biarkan hatiku tersesat jauh dari-Mu.”
Kemudian terdengar wewarah terakhir:
“Orang yang kuat bukan orang yang tidak pernah kehilangan.
Orang yang kuat adalah orang yang setelah kehilangan masih mampu memilih jalan yang benar.”
Dan tertutuplah lembar keempat.
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Keempat: Ketika Kehilangan Menjadi Pintu Kembali
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KELIMA
KETIKA AMAL TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN SAKSI MANUSIA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah melewati kehilangan, sang hamba memasuki sebuah lembah yang sangat sunyi.
Tidak ada orang di sana.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pujian.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ia lakukan.
Di tengah lembah itu terdapat sebuah pelita kecil.
Di bawahnya tertulis:
مَا كَانَ لِلّٰهِ لَا يَضِيعُ
Mā kāna lillāhi lā yaḍī‘.
“Apa yang dilakukan karena Alloh tidak akan menjadi sia-sia.”
Sang hamba duduk.
Lalu ia bertanya:
“Jika tidak seorang pun mengetahui kebaikanku, apakah ia tetap berarti?”
Maka Qitab menjawab:
“Justru di tempat yang tidak memiliki penonton, kejujuran niat sering terlihat paling jelas.”
RAHASIA AMAL YANG SUNYI
Ada amal yang dilihat ribuan manusia.
Ada amal yang hanya diketahui satu keluarga.
Ada amal yang bahkan tidak diketahui siapa pun selain pelakunya dan Alloh.
Membantu seseorang tanpa menyebut nama.
Memaafkan tanpa mengumumkan.
Menahan diri untuk tidak membalas.
Menyisihkan sebagian rezeki diam-diam.
Mendoakan orang lain tanpa mereka mengetahuinya.
Mengembalikan barang yang bukan haknya ketika tidak ada yang melihat.
Menolak peluang berbuat curang sekalipun tidak akan ketahuan.
Di sinilah Lillāh memperoleh salah satu bentuknya yang paling halus.
Berbuat baik tanpa membutuhkan manusia untuk mengakui bahwa kita baik.
Sang hamba lalu bertanya:
“Apakah berarti setiap amal harus disembunyikan?”
Qitab menjawab:
Tidak.
Ada kebaikan yang memang perlu dilakukan secara terbuka agar menjadi teladan.
Ada ilmu yang harus disampaikan.
Ada amanah yang membutuhkan laporan.
Ada sedekah terbuka yang dapat menggerakkan orang lain.
Yang diperiksa bukan hanya:
“Terlihat atau tidak?”
Tetapi:
“Apa yang sedang dicari oleh hati?”
CERMIN PERTAMA
KETIKA HATI MULAI MENCARI PUJIAN
Di lembah itu terdapat sebuah cermin.
Sang hamba melihat dirinya sedang melakukan banyak kebaikan.
Namun di belakangnya terdapat bayangan kecil yang berbisik:
“Semoga orang-orang mengetahui.”
Ia terkejut.
Bayangan itu berkata lagi:
“Semoga mereka mengatakan aku orang baik.”
Kemudian:
“Semoga namaku disebut.”
Lalu:
“Semoga orang yang lain terlihat lebih rendah.”
Sang hamba menunduk.
Ia bertanya:
“Apakah seluruh amalku rusak?”
Qitab menjawab:
“Jangan cepat menghukum seluruh perjalananmu.
Kenali penyakitnya, lalu perbaiki niatnya.”
Hati manusia dapat berubah.
Maka penjagaan niat juga harus berulang.
Jika muncul keinginan dipuji:
sadari.
Jika muncul rasa ingin mengalahkan orang lain:
sadari.
Jika muncul kecewa karena kebaikan tidak dihargai:
sadari.
Lalu kembalikan:
لِلّٰهِ
Lillāh.
“Ini untuk Alloh.”
CERMIN KEDUA
KETIKA AMAL MENJADI IDENTITAS
Sang hamba kemudian melihat dirinya mengenakan pakaian bertuliskan:
“Aku orang baik.”
Semakin banyak ia beramal, semakin besar tulisan itu.
Akhirnya pakaian tersebut berubah menjadi beban.
Ia sulit berjalan.
Maka terdengar wewarah:
“Jangan menjadikan amal sebagai alasan untuk merasa lebih suci daripada manusia lain.”
Engkau mungkin lebih rajin dalam satu hal.
Tetapi orang lain mempunyai perjuangan yang tidak engkau ketahui.
Engkau mungkin mempunyai ilmu tertentu.
Tetapi orang lain memiliki ketulusan yang tidak pernah diumumkan.
Engkau mungkin mempunyai banyak pengikut.
Tetapi seseorang yang tidak dikenal manusia bisa jadi lebih jujur dalam menjaga keluarganya.
Karena itu Qitab berkata:
“Amal seharusnya membuatmu lebih rendah hati, bukan semakin sibuk mengukur kemuliaan dirimu.”
BILLĀH DALAM AMAL
Kemudian Qitab membuka rahasia kedua.
Mengapa orang berbuat baik harus mengingat Billāh?
Karena bahkan kemampuan berbuat baik adalah karunia.
Ada orang ingin bersedekah tetapi belum mampu.
Ada orang ingin belajar tetapi kesehatannya terbatas.
Ada orang ingin beribadah lebih panjang tetapi harus menjaga keluarga.
Ada orang yang mendapatkan kesempatan yang tidak dimiliki orang lain.
Maka apabila engkau diberi kesempatan melakukan kebaikan, jangan hanya berkata:
“Aku berhasil beramal.”
Tetapi katakan pula:
“Alhamdulillāh, aku diberi kesempatan untuk beramal.”
Inilah Billāh.
Bukan meniadakan usahamu.
Tetapi menyadari bahwa:
waktu adalah karunia,
kesehatan adalah karunia,
kesempatan adalah karunia,
ilmu adalah karunia,
bahkan keinginan melakukan kebaikan pun merupakan nikmat yang perlu disyukuri.
Maka tertulis:
بِاللّٰهِ نَبْدَأُ وَبِفَضْلِهِ نَسْتَمِرُّ
Billāhi nabda’u wa bifaḍlihi nastamirr.
“Dengan pertolongan Alloh kami memulai, dan dengan karunia-Nya kami terus berjalan.”
FILLĀH DALAM AMAL
Lalu sang hamba bertanya:
“Bagaimana Fillāh hadir dalam amal?”
Qitab menjawab:
Fillāh menjaga cara.
Sebab tujuan baik tidak membenarkan cara yang buruk.
Engkau ingin menolong agama?
Jangan memfitnah.
Engkau ingin membela kebenaran?
Jangan berdusta.
Engkau ingin mengajak orang kepada kebaikan?
Jangan merendahkan martabatnya.
Engkau ingin mencari dana untuk amal?
Jangan menipu.
Engkau ingin menjaga tradisi?
Jangan menggunakan tradisi untuk menindas.
Engkau ingin mempertahankan amanah?
Jangan menghalalkan permusuhan.
Maka Fillāh berkata:
“Kebaikan harus ditempuh dengan cara yang juga baik.”
TIGA TANDA AMAL MULAI MEMBEBANI HATI
Kemudian Qitab menyebut tiga tanda.
PERTAMA — MARAH KETIKA TIDAK DIPUJI
Jika seseorang berbuat baik lalu sangat marah karena tidak disebut namanya,
mungkin amal itu telah bercampur dengan kebutuhan akan pengakuan.
Bukan berarti seluruh amalnya sia-sia.
Tetapi itu tanda untuk kembali memeriksa hati.
KEDUA — MERENDAHKAN ORANG YANG BERAMAL BERBEDA
Ada orang beramal dengan waktu.
Ada dengan tenaga.
Ada dengan ilmu.
Ada dengan uang.
Ada dengan doa.
Ada dengan menjaga keluarga.
Jangan menganggap satu bentuk kebaikan sebagai satu-satunya ukuran kesalehan.
KETIGA — MERASA BERHAK ATAS BALASAN MANUSIA
Sang hamba berkata:
“Aku sudah banyak membantu mereka, mengapa mereka tidak membalas?”
Qitab menjawab:
Jika bantuan itu adalah hutang, maka hak boleh dituntut.
Jika ada akad, maka akad harus dijaga.
Tetapi jika sesuatu benar-benar diberikan sebagai kebaikan, jangan diam-diam mengubahnya menjadi tali untuk mengikat orang lain.
Sebab hadiah yang berubah menjadi tuntutan dapat menjadi beban.
AMAL YANG TIDAK TERLIHAT
Kemudian terbuka sebuah lembar putih.
Tidak ada gambar di sana.
Hanya tertulis:
“Sebagian amal paling berat tidak memiliki penonton.”
Menahan lisan.
Menjaga rahasia.
Mencegah diri mengirim pesan ketika sedang sangat marah.
Membatalkan niat membalas dendam.
Memilih tidak mempermalukan orang lain.
Memaafkan kesalahan kecil.
Mengakui:
“Aku salah.”
Mengembalikan kelebihan uang yang tidak disadari penjual.
Menyelesaikan pekerjaan dengan baik meski atasan tidak melihat.
Mengasuh anak dengan sabar ketika tidak ada yang memuji.
Merawat orang tua ketika dunia tidak memberikan penghargaan.
Bekerja halal ketika jalan curang jauh lebih cepat.
Qitab lalu berkata:
“Jangan meremehkan amal yang tidak memiliki panggung.”
EMPAT PERTANYAAN SEBELUM BERAMAL
Sang hamba diberi empat pertanyaan untuk menjaga hati.
1. UNTUK SIAPA?
Jika jawabannya mulai bercampur dengan gengsi,
kembalikan kepada Lillāh.
2. DENGAN KEKUATAN SIAPA AKU MAMPU?
Jika mulai merasa diri sumber segala keberhasilan,
kembalikan kepada Billāh.
3. APAKAH CARANYA BENAR?
Jika mulai menghalalkan cara karena tujuan dianggap mulia,
kembalikan kepada Fillāh.
4. APAKAH AMAL INI MEMBUAT AKHLAKKU LEBIH BAIK?
Jika semakin banyak amal tetapi semakin mudah merendahkan,
maka ada bagian hati yang perlu dibenahi.
SAAT AMAL DILIHAT MANUSIA
Kemudian sang hamba berdiri di hadapan banyak orang.
Kali ini amalnya memang harus terlihat.
Ia bertanya:
“Bagaimana menjaga niat ketika semua orang melihat?”
Qitab menjawab:
Jangan berhenti berbuat baik hanya karena takut disebut riya.
Tetapi jangan pula menggunakan alasan dakwah untuk memelihara kesombongan.
Lakukan apa yang perlu dilakukan.
Lalu periksa hati sebelum, selama, dan sesudahnya.
Sebelum amal:
“Ya Alloh, luruskan niatku.”
Saat amal:
“Ya Alloh, jangan serahkan aku kepada egoku.”
Sesudah amal:
“Ya Alloh, terimalah yang baik dan ampuni kekurangannya.”
SAAT AMAL TIDAK DIHARGAI
Sang hamba kemudian mengalami sesuatu yang lebih sulit.
Ia telah bekerja keras.
Namun namanya tidak disebut.
Ia membantu.
Namun orang lain menerima pujian.
Ia memberi ide.
Namun orang lain dianggap pencetusnya.
Dadanya terasa sesak.
Kemudian Qitab berkata:
“Jika memang ada hak yang harus diluruskan, luruskan dengan adab.
Tetapi jangan biarkan kebutuhan akan pengakuan memakan seluruh kedamaianmu.”
Tidak semua ketidakadilan harus didiamkan.
Tetapi tidak semua ketiadaan pujian adalah ketidakadilan.
Belajarlah membedakan.
Jika hak profesional dilanggar:
bicarakan.
Jika akad dilanggar:
selesaikan.
Jika nama diperlukan untuk pertanggungjawaban:
cantumkan.
Tetapi jika hanya hati yang ingin dipuji:
kembalikan kepada Lillāh.
QITAB MEMBUKA SATU RAHASIA
Lalu terdengar kalimat:
“Amal tidak hanya mengubah dunia di luar diri. Amal juga sedang membentuk siapa dirimu.”
Setiap kali engkau jujur ketika bisa curang,
engkau sedang membentuk jiwa yang jujur.
Setiap kali engkau sabar ketika bisa menghina,
engkau sedang membentuk jiwa yang beradab.
Setiap kali engkau memberi tanpa mengikat,
engkau sedang membentuk jiwa yang lapang.
Setiap kali engkau mengakui kesalahan,
engkau sedang mematahkan kesombongan.
Maka amal bukan sekadar daftar pahala yang dibayangkan.
Amal juga adalah pendidikan batin.
TIGA CAHAYA AMAL
Kemudian pelita di lembah itu pecah menjadi tiga cahaya.
Cahaya pertama berkata:
لِلّٰهِ
“Jangan kehilangan tujuan.”
Cahaya kedua berkata:
بِاللّٰهِ
“Jangan mengaku sebagai sumber kekuatan.”
Cahaya ketiga berkata:
فِي اللّٰهِ
“Jangan keluar dari jalan yang benar.”
Lalu ketiganya menyatu menjadi satu kalimat:
عَمَلِي لِلّٰهِ، وَعَوْنِي بِاللّٰهِ، وَطَرِيقِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
‘Amalī lillāh,
wa ‘awnī billāh,
wa ṭarīqī fī sabīlillāh.
Makna hikmahnya:
“Amalku untuk Alloh, pertolonganku dari Alloh, dan jalanku berada di jalan Alloh.”
SABDO LEMBAR KELIMA
Wahai pejalan,
jangan berhenti berbuat baik hanya karena tidak dipuji.
Jangan pula menjadi pecandu pujian atas nama kebaikan.
Jika manusia mengetahuinya,
bersyukurlah dan jaga hati.
Jika manusia tidak mengetahuinya,
tetaplah tenang.
Jika manusia salah memahami,
jelaskan bila diperlukan.
Jika tidak perlu menjelaskan,
biarkan waktu dan akhlak berbicara.
Karena kebaikan tidak selalu memerlukan panggung.
Dan keikhlasan tidak selalu harus diumumkan.
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Malam turun di lembah.
Pelita kecil masih menyala.
Sang hamba berdiri.
Ia tidak membawa pelita itu.
Ia membiarkannya tetap berada di sana untuk pejalan berikutnya.
Lalu ia berdoa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ لِلنَّفْسِ فِيهِ نَصِيبًا مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ
Allohummaj‘al ‘amalī ṣāliḥan,
waj‘alhu liwajhika khāliṣan,
wa lā taj‘al lin-nafsi fīhi naṣīban minal-kibri war-riyā’.
Makna doanya:
“Ya Alloh, jadikan amalanku baik, jadikan ia ikhlas karena-Mu, dan jangan biarkan kesombongan serta keinginan untuk dipuji menguasai hatiku.”
Kemudian terdengar wewarah terakhir:
“Ketika amal tidak lagi membutuhkan saksi manusia, hati mulai belajar mengenal arti pengabdian.”
Dan di ujung lembar tertulis:
إِنْ رَآكَ النَّاسُ فَلَا تَفْتَخِرْ
وَإِنْ لَمْ يَرَوْكَ فَلَا تَفْتُرْ
In ra’ākan-nāsu falā taftakhir,
wa in lam yarauka falā taftur.
“Jika manusia melihat amalmu, janganlah membanggakan diri.
Dan jika mereka tidak melihatnya, janganlah berhenti berbuat baik.”
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Kelima: Ketika Amal Tidak Lagi Membutuhkan Saksi Manusia
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KEENAM
KETIKA DOA TIDAK LAGI HANYA MEMINTA, TETAPI MENYERAHKAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah belajar beramal tanpa selalu membutuhkan saksi manusia, sang hamba melanjutkan perjalanan.
Ia sampai di sebuah tempat yang sangat luas.
Tidak ada rumah.
Tidak ada gerbang.
Tidak ada manusia.
Hanya langit terbuka.
Di tengah hamparan itu terdapat satu batu tempat ia duduk.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjangnya, sang hamba tidak membawa apa pun.
Tidak membawa daftar keinginan.
Tidak membawa rencana.
Tidak membawa pertanyaan.
Ia hanya menengadahkan tangan.
Lalu berkata:
“Ya Alloh…”
Setelah itu ia terdiam.
Tidak tahu lagi apa yang harus diminta.
Maka terdengar wewarah:
“Ada waktu ketika doa dipenuhi kata-kata.
Ada pula waktu ketika doa menjadi diamnya hati di hadapan Alloh.”
DOA PADA AWAL PERJALANAN
Pada awalnya, sang hamba berdoa:
“Ya Alloh, berikan aku rezeki.”
“Ya Alloh, berikan aku jalan.”
“Ya Alloh, sembuhkan kesulitanku.”
“Ya Alloh, dekatkan apa yang kuinginkan.”
“Ya Alloh, jauhkan apa yang kutakuti.”
Tidak ada yang salah dengan itu.
Manusia memang diperintahkan memohon.
Seorang hamba boleh menyampaikan kebutuhannya.
Boleh menangis.
Boleh meminta dengan rinci.
Boleh berharap.
Tetapi perjalanan doa tidak berhenti pada:
“Berikan apa yang aku mau.”
Doa juga harus mendidik hati menuju:
“Berikan apa yang baik menurut ilmu-Mu.”
Dan lebih dalam lagi:
“Apabila ketetapan-Mu berbeda dari keinginanku, kuatkan aku agar tetap berada dalam ridha-Mu.”
Di sinilah Lillāh, Billāh, Fillāh memasuki ruang doa.
LILLĀH DALAM DOA
UNTUK SIAPA ENGKAU MEMINTA?
Sang hamba bertanya:
“Bukankah aku berdoa kepada Alloh?”
Qitab menjawab:
Ya.
Tetapi periksa kembali apa yang terjadi setelah doa.
Apakah engkau mendekati Alloh hanya karena sedang membutuhkan sesuatu?
Apakah ketika kebutuhan terpenuhi, engkau menjauh?
Apakah Alloh hanya engkau cari ketika pintu dunia tertutup?
Maka Lillāh mengajarkan:
Jangan hanya mencari pemberian-Nya. Carilah pula keridhaan-Nya.
Seorang anak dapat datang kepada orang tuanya karena membutuhkan sesuatu.
Tetapi kasih yang matang membuatnya datang bukan hanya ketika membutuhkan.
Demikian pula dalam pengajaran batin:
jangan jadikan doa semata-mata transaksi.
Datanglah karena engkau hamba.
Berdoalah karena engkau membutuhkan Alloh, bukan hanya membutuhkan sesuatu dari Alloh.
Kemudian tertulis:
دُعَائِي لِلّٰهِ، لَا لِهَوَايَ وَحْدَهُ
Du‘ā’ī lillāh, lā lihawāya waḥdah.
“Doaku kuhadapkan kepada Alloh, bukan semata-mata untuk mengikuti keinginanku sendiri.”
BILLĀH DALAM DOA
KETIKA ENGKAU TIDAK MAMPU MENGUBAH SEMUANYA
Kemudian sang hamba melihat banyak perkara yang tidak dapat ia kendalikan.
Ia tidak dapat memaksa hati manusia.
Ia tidak dapat mempercepat waktu.
Ia tidak dapat memastikan masa depan.
Ia tidak dapat menjamin semua usahanya berhasil.
Ia tidak dapat menghentikan setiap kehilangan.
Ia tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan hidup.
Lalu ia merasa lemah.
Qitab berkata:
“Kelemahan yang disadari dapat menjadi pintu Billāh.”
Sebab Billāh bukan membuat manusia merasa tidak memiliki daya sama sekali.
Billāh membuat manusia memahami:
daya yang dimiliki adalah amanah, dan daya itu tetap mempunyai batas.
Maka ketika engkau telah melakukan bagianmu,
jangan menyiksa hati dengan keinginan menguasai apa yang memang bukan dalam kuasamu.
Berdoalah:
يَا اللّٰهُ، أَعِنِّي فِيمَا أَسْتَطِيعُ، وَاكْفِنِي مَا لَا أَسْتَطِيعُ
Yā Alloh, a‘innī fīmā astaṭī‘, wakfinī mā lā astaṭī‘.
“Ya Alloh, tolonglah aku dalam apa yang mampu kulakukan, dan cukupilah aku dalam apa yang tidak mampu kukendalikan.”
Inilah ketenangan Billāh.
FILLĀH DALAM DOA
KETIKA JAWABAN TIDAK SEPERTI YANG DIHARAPKAN
Sang hamba pernah berdoa lama.
Ia berharap satu pintu terbuka.
Tetapi pintu itu tetap tertutup.
Ia kecewa.
Ia berkata:
“Mengapa?”
Tidak ada jawaban yang langsung turun.
Hari berganti.
Bulan berganti.
Kemudian ia melihat sesuatu yang dahulu tidak ia pahami.
Jika pintu itu terbuka saat itu, mungkin ia belum siap.
Jika keinginan itu diberikan saat itu, mungkin justru akan menjadi beban.
Jika orang itu tetap berada di sisinya, mungkin luka akan bertambah.
Jika usaha itu langsung besar, mungkin kesombongan lebih dulu tumbuh daripada kebijaksanaan.
Sang hamba pun memahami:
Tidak semua penundaan adalah penolakan.
Tidak semua penutupan adalah hukuman.
Tidak semua kehilangan berarti keburukan.
Tetapi Qitab juga mengingatkan:
Jangan memaksakan makna pada setiap kejadian.
Ada hal yang memang hanya kita pahami sebagian.
Ada pula yang tetap menjadi misteri.
Maka Fillāh mengajarkan:
tetap berjalan benar meskipun semua alasan belum diketahui.
DOA YANG BERUBAH MENJADI PENYERAHAN
Kemudian sang hamba mengangkat tangan.
Ia tidak lagi berkata:
“Ya Alloh, harus begini.”
Ia berkata:
“Ya Alloh, aku mempunyai keinginan ini. Jika baik, mudahkan. Jika tidak, lindungi aku darinya.”
Lalu doanya berubah lagi:
“Ya Alloh, jika aku harus menunggu, ajari aku bersabar.”
Berubah lagi:
“Jika aku harus melepaskan, ajari aku ikhlas.”
Dan akhirnya:
“Jika Engkau mengubah jalanku, jangan biarkan aku kehilangan arah menuju-Mu.”
Maka turun satu kalimat:
أُرِيدُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا هُوَ خَيْرٌ
Urīdu, wallohu ya‘lamu mā huwa khair.
“Aku mempunyai keinginan, tetapi Alloh mengetahui apa yang lebih baik.”
TIGA LAPIS DOA
Qitab lalu membuka tiga lapisan.
LAPIS PERTAMA — MEMINTA
Ini doa kebutuhan.
“Ya Alloh, berikan.”
Tidak salah.
Manusia membutuhkan.
LAPIS KEDUA — MEMOHON PETUNJUK
Ini doa kebijaksanaan.
“Ya Alloh, tunjukkan mana yang baik.”
Di sini manusia mulai menyadari bahwa keinginannya belum tentu sama dengan kebaikannya.
LAPIS KETIGA — MENYERAHKAN HASIL
Ini doa tawakal.
“Ya Alloh, aku berusaha dan memohon. Tetapi aku menyerahkan hasil kepada-Mu.”
Pada lapisan ini, hati mulai belajar:
berharap tanpa memaksa,
meminta tanpa menuntut,
menunggu tanpa putus asa,
menerima tanpa berhenti berusaha.
JANGAN MENJADIKAN DOA SEBAGAI TUNTUTAN KEPADA TUHAN
Kemudian Qitab berkata:
Wahai hamba,
jangan berdoa dengan hati yang berkata:
“Aku sudah melakukan ini, maka Alloh wajib memberiku itu.”
Jangan menjadikan ibadah sebagai harga untuk membeli kehendak Tuhan.
Engkau sholat bukan agar Tuhan berhutang kepadamu.
Engkau bersedekah bukan agar langit terikat kepadamu.
Engkau berdzikir bukan agar seluruh kejadian tunduk kepada kehendakmu.
Engkau beribadah karena engkau adalah hamba.
Dan Alloh adalah Rabb.
Ini batas yang menjaga tauhid.
SAAT DOA TERASA SUNYI
Sang hamba bertanya:
“Bagaimana jika aku berdoa tetapi tidak merasakan apa-apa?”
Qitab menjawab:
Tidak semua doa harus disertai getaran.
Tidak semua ibadah harus menghadirkan rasa luar biasa.
Ada hari ketika hati sangat lembut.
Ada hari ketika hati biasa saja.
Ada waktu ketika air mata mengalir.
Ada waktu ketika lidah hanya mampu mengucapkan beberapa kata.
Tetaplah berdoa.
Sebab nilai pengabdian tidak diukur semata-mata dari kuatnya sensasi.
Terkadang istiqamah dalam keadaan biasa justru merupakan bentuk ketulusan yang besar.
SAAT ENGKAU TIDAK TAHU APA YANG HARUS DIMINTA
Pada malam tertentu, sang hamba benar-benar tidak tahu apa yang terbaik.
Ia berkata:
“Ya Alloh, aku bahkan tidak tahu harus meminta apa.”
Maka Qitab memberikan doa:
اَللّٰهُمَّ اخْتَرْ لِي وَلَا تَكِلْنِي إِلَى اخْتِيَارِي وَحْدِي
Allohummakhtar lī wa lā takilnī ilā ikhtiyārī waḥdī.
“Ya Alloh, pilihkanlah yang baik bagiku dan jangan serahkan aku hanya kepada pilihanku sendiri.”
Kemudian:
اَللّٰهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنِي اتِّبَاعَهُ
Allohumma arinil-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnittibā‘ah.
“Ya Alloh, perlihatkan kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan aku kemampuan untuk mengikutinya.”
TIGA HAL YANG SERING MENGGANGGU DOA
1. TERBURU-BURU
Sang hamba berkata:
“Aku sudah berdoa kemarin. Mengapa hari ini belum terjadi?”
Qitab menjawab:
Waktu manusia bukan ukuran mutlak bagi seluruh ketetapan.
Ada proses yang memang membutuhkan waktu.
2. MEMAKSA BENTUK JAWABAN
Sang hamba berkata:
“Aku hanya mau jawaban dalam bentuk ini.”
Padahal jawaban bisa berupa:
jalan baru,
orang baru,
keberanian baru,
pemahaman baru,
atau bahkan kekuatan untuk menerima.
3. MENGIRA TAWAKAL BERARTI TIDAK BERUSAHA
Qitab menegaskan:
Doa bukan pengganti ikhtiar.
Doa memberi arah kepada ikhtiar.
Ikhtiar memberi bentuk kepada kesungguhan.
Tawakal menyerahkan hasil setelah usaha dilakukan.
KETIKA DOA MENJADI AKHLAK
Kemudian Qitab bertanya:
Apa gunanya engkau berdoa meminta kelembutan jika setelah doa engkau tetap kasar?
Apa gunanya meminta rezeki halal jika dalam perdagangan engkau masih menipu?
Apa gunanya meminta keluarga damai jika engkau sendiri tidak menjaga ucapan?
Apa gunanya meminta kemuliaan jika engkau merendahkan orang lain?
Maka doa harus turun menjadi tindakan.
Jika berdoa meminta kesabaran,
latihlah kesabaran.
Jika meminta rezeki,
perbaiki ikhtiar.
Jika meminta ilmu,
belajarlah.
Jika meminta hubungan membaik,
perbaiki cara berkomunikasi.
Jika meminta hati bersih,
berhentilah memelihara iri.
Karena doa bukan alasan untuk menghindari perubahan diri.
TIGA DOA LILLAH BILLAH FILLAH
Kemudian sang hamba diajarkan tiga doa pendek.
DOA LILLĀH
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قَصْدِي لَكَ
Allohummaj‘al qaṣdī lak.
“Ya Alloh, jadikan tujuanku tertuju kepada-Mu.”
DOA BILLĀH
اَللّٰهُمَّ أَعِنِّي بِقُوَّتِكَ وَفَضْلِكَ
Allohumma a‘innī biquwwatika wa faḍlik.
“Ya Alloh, tolonglah aku dengan kekuatan dan karunia-Mu.”
DOA FILLĀH
اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ خُطْوَتِي فِي سَبِيلِ رِضَاكَ
Allohumma tsabbit khuṭwatī fī sabīli riḍāk.
“Ya Alloh, teguhkan langkahku pada jalan yang menuju keridhaan-Mu.”
Ketiga doa itu kemudian menyatu:
قَصْدِي لِلّٰهِ
وَعَوْنِي بِاللّٰهِ
وَسَيْرِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Qaṣdī lillāh,
wa ‘awnī billāh,
wa sayrī fī sabīlillāh.
“Tujuanku untuk Alloh, pertolonganku dengan Alloh, dan perjalananku di jalan Alloh.”
SABDO LEMBAR KEENAM
Wahai orang yang berdoa,
mintalah.
Jangan malu meminta.
Menangislah jika hatimu ingin menangis.
Ulangi doamu.
Tetapi jangan menjadikan doa sebagai alat untuk memaksa langit.
Doa adalah pertemuan antara kebutuhan seorang hamba dan pengakuannya bahwa ia tidak memiliki seluruh kuasa.
Jika yang engkau minta datang,
bersyukurlah.
Jika tertunda,
bersabarlah sambil terus memperbaiki usaha.
Jika diarahkan kepada jalan lain,
perhatikan pelajarannya.
Jika engkau belum memahami,
tetaplah menjaga adab.
RAHASIA LEMBAR KEENAM
Maka sang hamba akhirnya memahami:
LILLĀH membuat doa tidak hanya berpusat pada keinginan diri.
BILLĀH membuat doa menjadi pengakuan bahwa pertolongan sejati datang dari Alloh.
FILLĀH membuat manusia tetap berjalan benar meskipun jawaban doa belum terlihat.
Dan ketika ketiganya menyatu, lahirlah tawakal:
bukan menyerah sebelum berusaha,
tetapi menyerahkan hasil setelah berusaha.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Malam hampir berakhir.
Sang hamba masih duduk di batu itu.
Tangannya telah turun.
Kali ini ia tidak meminta sesuatu yang panjang.
Ia hanya berkata:
يَا اللّٰهُ، إِنِّي أَسْأَلُكَ مَا يُقَرِّبُنِي إِلَى رِضَاكَ، وَأَسْتَعِينُ بِكَ، وَأُسَلِّمُ أَمْرِي إِلَيْكَ
Yā Alloh, innī as’aluka mā yuqarribunī ilā riḍāk,
wa asta‘īnu bik,
wa usallimu amrī ilaik.
“Ya Alloh, aku memohon apa yang mendekatkanku kepada keridhaan-Mu, aku memohon pertolongan-Mu, dan aku menyerahkan urusanku kepada-Mu.”
Lalu cahaya fajar muncul.
Di ufuk tertulis:
لِلّٰهِ الدُّعَاءُ
وَبِاللّٰهِ الرَّجَاءُ
وَفِي سَبِيلِهِ التَّسْلِيمُ
Lillāhid-du‘ā’,
wa billāhir-rajā’,
wa fī sabīlih at-taslīm.
“Untuk Alloh doa dipanjatkan, dengan pertolongan Alloh harapan dijaga, dan di jalan-Nya hati belajar berserah.”
Kemudian terdengar wewarah terakhir:
“Doa yang matang bukan hanya mengubah apa yang engkau minta.
Ia juga mengubah siapa dirimu ketika meminta.”
Dan tertutuplah lembar keenam.
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Keenam: Ketika Doa Tidak Lagi Hanya Meminta, tetapi Menyerahkan
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KETUJUH
KETIKA HATI BELAJAR RIDHA TANPA BERHENTI BERIKHTIAR
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah doa berubah dari sekadar meminta menjadi penyerahan, sang hamba memasuki sebuah taman yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Taman itu indah.
Tetapi tidak seluruh bunganya mekar.
Ada bunga yang masih kuncup.
Ada yang telah layu.
Ada yang baru tumbuh.
Ada pula tanah kosong yang belum ditumbuhi apa pun.
Sang hamba bertanya:
“Mengapa taman ini tidak seluruhnya sempurna?”
Maka terdengar wewarah:
“Karena kehidupan bukan tempat semua keinginan selesai sekaligus.
Di sinilah engkau belajar ridha.”
Sang hamba lalu bertanya:
“Apakah ridha berarti aku harus menerima semuanya tanpa berusaha mengubah keadaan?”
Qitab menjawab:
“Tidak.”
Ridha bukan pasrah kepada kesalahan.
Ridha bukan membiarkan kezhaliman.
Ridha bukan berhenti mencari pengobatan.
Ridha bukan menyerah kepada kemiskinan tanpa usaha.
Ridha bukan diam ketika amanah harus diperbaiki.
Ridha adalah:
menerima bahwa sesuatu telah terjadi, lalu memilih respon yang benar di hadapan Alloh.
RAHASIA RIDHA
Sang hamba duduk di bawah sebuah pohon.
Di batangnya tertulis:
الرِّضَا لَيْسَ تَرْكَ السَّعْيِ
Ar-riḍā laisa tarkas-sa‘y.
“Ridha bukanlah meninggalkan usaha.”
Qitab kemudian berkata:
Jika hari ini engkau sakit,
ridha bukan berarti menolak pengobatan.
Ridha adalah tidak membenci Alloh karena sakitmu, sambil tetap berikhtiar mencari kesembuhan.
Jika hari ini usahamu menurun,
ridha bukan berarti berhenti bekerja.
Ridha adalah menerima kenyataan angka yang ada, lalu memperbaiki strategi dengan jujur.
Jika hubunganmu rusak,
ridha bukan berarti membiarkan kesalahan.
Ridha adalah menerima bahwa luka itu nyata, lalu menentukan langkah sehat berikutnya.
Jika engkau kehilangan seseorang,
ridha bukan berarti tidak boleh menangis.
Ridha adalah membiarkan air mata turun tanpa memutus hubunganmu dengan Alloh.
LILLĀH DAN RIDHA
MENGAPA ENGKAU MENERIMA?
Sang hamba bertanya:
“Bagaimana Lillāh hadir dalam ridha?”
Qitab menjawab:
Lillāh mengajarkan:
Aku menerima ketetapan yang tidak dapat kuubah karena aku adalah hamba Alloh.
Namun penerimaan itu bukan kelemahan.
Ia adalah adab.
Ada hal yang menjadi wilayah ikhtiar manusia.
Ada hal yang setelah terjadi hanya bisa diterima lalu disikapi.
Engkau dapat menjaga kesehatan.
Tetapi engkau tidak dapat menjamin tubuh tidak pernah sakit.
Engkau dapat mendidik anak.
Tetapi engkau tidak dapat memegang seluruh pilihan hidupnya.
Engkau dapat berusaha membangun hubungan.
Tetapi engkau tidak dapat memaksa hati orang lain.
Engkau dapat bekerja keras.
Tetapi engkau tidak memegang seluruh keadaan pasar, waktu, dan hasil.
Maka Lillāh berkata:
“Jangan menuntut dirimu menguasai wilayah yang bukan milikmu.”
BILLĀH DAN RIDHA
DENGAN APA ENGKAU BANGKIT?
Kemudian sang hamba melihat sebuah dahan patah.
Ia mengira pohon itu akan mati.
Namun beberapa waktu kemudian, tunas baru tumbuh dari sisi lain.
Maka terdengar wewarah:
“Billāh bukan hanya ketika engkau memperoleh sesuatu. Billāh juga ketika engkau diberi kekuatan untuk melanjutkan hidup setelah sesuatu hilang.”
Kadang pertolongan Alloh tidak datang sebagai perubahan keadaan.
Kadang ia datang sebagai:
ketenangan yang perlahan tumbuh,
orang baik yang hadir pada waktu tepat,
pikiran yang lebih jernih,
kesabaran yang sebelumnya tidak dimiliki,
jalan baru yang tidak pernah direncanakan,
atau keberanian untuk mengatakan:
“Aku akan mencoba lagi.”
Sang hamba pun berkata:
بِاللّٰهِ أَرْضَى وَبِاللّٰهِ أَقُومُ
Billāhi arḍā wa billāhi aqūm.
“Dengan pertolongan Alloh aku belajar ridha, dan dengan pertolongan Alloh aku bangkit.”
FILLĀH DAN RIDHA
JANGAN KELUAR DARI JALAN KARENA KECEWA
Qitab kemudian menunjukkan sebuah persimpangan.
Di satu jalan tertulis:
“Jalan Cepat.”
Di jalan lain:
“Jalan Benar.”
Sang hamba sedang kecewa.
Ia tergoda mengambil jalan cepat.
Maka terdengar suara:
“Kekecewaan sering membuat manusia ingin mempercepat hasil, walaupun harus meninggalkan nilai.”
Di sinilah Fillāh menjaga.
Engkau boleh ingin segera keluar dari kesulitan.
Tetapi jangan menipu.
Engkau boleh ingin segera mendapatkan rezeki.
Tetapi jangan mengambil hak orang lain.
Engkau boleh ingin segera membalas penghinaan.
Tetapi jangan memfitnah.
Engkau boleh ingin segera dicintai.
Tetapi jangan memaksa atau menguasai.
Fillāh berkata:
“Ridha bukan hanya menerima hasil. Ridha juga menjaga cara.”
TIGA TINGKAT PENERIMAAN
Kemudian Qitab membuka tiga daun besar.
DAUN PERTAMA — TERPAKSA MENERIMA
Sang hamba berkata:
“Aku tidak punya pilihan.”
Ini adalah awal.
Kadang manusia memang belum mampu memahami.
Ia hanya sedang bertahan.
Qitab tidak mencelanya.
Sebab bertahan pun merupakan tahap.
DAUN KEDUA — MULAI MENERIMA
Sang hamba berkata:
“Aku belum menyukai keadaannya, tetapi aku mulai menerima bahwa ini memang telah terjadi.”
Di sini hati mulai berdamai dengan kenyataan.
Ia berhenti berperang dengan masa lalu.
DAUN KETIGA — MENGAMBIL HIKMAH TANPA MEMAKSA MAKNA
Sang hamba berkata:
“Aku tidak memahami semuanya. Tetapi aku akan mengambil pelajaran yang bisa kuambil.”
Inilah bentuk penerimaan yang lebih matang.
Tidak semua kejadian harus diberi tafsir besar.
Kadang pelajarannya sederhana:
aku perlu lebih berhati-hati.
aku perlu memperbaiki batas.
aku perlu belajar mengelola uang.
aku perlu meminta maaf.
aku perlu berhenti kembali ke tempat yang terus melukaiku.
aku perlu menerima bahwa sesuatu memang telah selesai.
RIDHA BUKAN MEMAAFKAN SEMUA KESALAHAN TANPA BATAS
Sang hamba kemudian bertanya:
“Jika aku ridha, apakah aku harus membiarkan orang lain terus menyakitiku?”
Qitab menjawab:
“Tidak.”
Ridha kepada ketetapan Alloh berbeda dari membenarkan kesalahan manusia.
Engkau boleh memaafkan tetapi tetap menjaga jarak.
Engkau boleh berdamai tetapi tetap membuat batas.
Engkau boleh tidak membenci tetapi tetap berkata:
“Perlakuan ini tidak boleh dilanjutkan.”
Engkau boleh menyerahkan urusan kepada Alloh sambil mencari keadilan melalui jalan yang benar.
Maka tertulis:
“Hati yang damai tidak harus menjadi hati yang tanpa batas.”
SAAT MASA LALU TERUS DATANG KEMBALI
Sang hamba melihat sebuah kolam.
Setiap kali ia melihat permukaan air, muncul bayangan masa lalu.
Kesalahan.
Kehilangan.
Ucapan yang menyakitkan.
Keputusan yang disesali.
Ia mencoba mengusir semuanya.
Semakin diusir, semakin kuat bayangannya.
Qitab berkata:
“Tidak semua ingatan harus dilawan. Sebagian harus diakui, dipelajari, lalu dilepaskan.”
Jika engkau bersalah:
bertaubatlah.
Jika ada yang harus diperbaiki:
perbaikilah.
Jika harus meminta maaf:
mintalah maaf.
Jika sesuatu tidak lagi dapat diubah:
berhentilah menghukum dirimu tanpa akhir.
Sebab penyesalan yang sehat mengantar kepada perbaikan.
Penyesalan yang terus-menerus tanpa perubahan hanya menguras kehidupan.
DOA RIDHA
Kemudian sang hamba berdoa:
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْبًا يَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَعَقْلًا يَحْسُنُ بِهِ اخْتِيَارِي، وَقُوَّةً أُصْلِحُ بِهَا مَا أَسْتَطِيعُ
Allohummarzuqnī qalban yarḍā biqaḍā’ik,
wa ‘aqlan yaḥsunu bihi ikhtiyārī,
wa quwwatan uṣliḥu bihā mā astaṭī‘.
Makna doanya:
“Ya Alloh, karuniakan kepadaku hati yang mampu menerima ketetapan-Mu, akal yang baik dalam memilih, dan kekuatan untuk memperbaiki apa yang masih mampu kuperbaiki.”
EMPAT KALIMAT PENJAGA RIDHA
Qitab kemudian menurunkan empat kalimat untuk direnungkan.
PERTAMA
“Yang telah terjadi tidak dapat dihapus, tetapi responku hari ini masih dapat kupilih.”
KEDUA
“Yang hilang tidak selalu dapat kembali, tetapi hidupku belum selesai.”
KETIGA
“Yang tidak dapat kuubah, akan kuserahkan. Yang masih dapat kuperbaiki, akan kuusahakan.”
KEEMPAT
“Aku tidak harus memahami seluruh rahasia Alloh untuk tetap beriman kepada-Nya.”
RIDHA DAN REZEKI
Sang hamba kemudian memasuki bagian taman yang dipenuhi ladang.
Sebagian subur.
Sebagian kering.
Qitab berkata:
“Ridha dalam rezeki bukan berarti tidak ingin bertambah.”
Engkau boleh ingin berkembang.
Boleh ingin kaya.
Boleh membangun usaha.
Boleh mengejar kesejahteraan.
Boleh mempunyai cita-cita besar.
Tetapi ridha menjaga agar:
engkau tidak membenci diri karena belum sampai,
engkau tidak iri hingga merusak persaudaraan,
engkau tidak mengambil jalan haram karena merasa tertinggal,
engkau tidak mengukur harga diri hanya dari jumlah harta.
Maka rezeki dikejar dengan usaha.
Tetapi harga diri tidak dijual kepada hasil.
RIDHA DAN CINTA
Di sudut taman terdapat dua bangku.
Satu terisi.
Satu kosong.
Sang hamba bertanya:
“Bagaimana ridha dalam cinta?”
Qitab menjawab:
Cinta yang sehat tidak menjadikan manusia kehilangan tauhid.
Engkau boleh berharap seseorang tinggal.
Tetapi engkau tidak dapat memaksa.
Engkau boleh memperjuangkan hubungan.
Tetapi tidak dengan kehilangan kehormatan dan batas.
Engkau boleh berduka ketika seseorang pergi.
Tetapi jangan menjadikan kepergiannya sebagai bukti bahwa hidup tidak memiliki makna.
Jika memang harus selesai,
maka ridha berkata:
“Aku tidak akan memaksa pintu yang sudah tertutup, tetapi aku akan menjaga hati agar tidak berubah menjadi kebencian.”
RIDHA DAN AMANAH
Kemudian Qitab berkata:
Ada pula orang yang berkata:
“Aku ridha,”
padahal sebenarnya ia sedang menghindari tanggung jawab.
Hutang belum dibayar, tetapi ia berkata:
“Aku pasrah.”
Pekerjaan tidak dikerjakan, tetapi ia berkata:
“Kalau rezeki tidak ke mana.”
Kesalahan tidak diperbaiki, tetapi ia berkata:
“Semua sudah takdir.”
Qitab menegaskan:
“Jangan gunakan takdir untuk menutupi kelalaian.”
Ridha tidak menghapus tanggung jawab.
Justru hati yang ridha lebih tenang dalam menunaikan amanah.
TIGA GERBANG MUNCUL KEMBALI
Pada malam hari, tiga gerbang dari awal perjalanan muncul di tengah taman.
Gerbang pertama berkata:
لِلّٰهِ
“Terimalah bahwa engkau adalah hamba, bukan penguasa seluruh hasil.”
Gerbang kedua berkata:
بِاللّٰهِ
“Mintalah kekuatan untuk menghadapi apa yang harus dihadapi.”
Gerbang ketiga berkata:
فِي اللّٰهِ
“Tetaplah berjalan benar setelah kenyataan tidak sesuai keinginan.”
Kemudian ketiganya menyatu menjadi satu cahaya.
Dan tertulis:
الرِّضَا لِلّٰهِ
وَالْقُوَّةُ بِاللّٰهِ
وَالثَّبَاتُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Ar-riḍā lillāh,
wal-quwwatu billāh,
wats-tsabātu fī sabīlillāh.
“Ridha karena Alloh, kekuatan dengan pertolongan Alloh, dan keteguhan di jalan Alloh.”
SABDO LEMBAR KETUJUH
Wahai pejalan,
jangan menyangka ridha berarti tidak boleh mempunyai cita-cita.
Bercita-citalah.
Berusahalah.
Perbaiki hidupmu.
Bangunlah apa yang perlu dibangun.
Namun ketika hasil tidak seluruhnya berada di tanganmu,
jangan biarkan hatimu hancur karena ingin menjadi penguasa takdir.
Ridha bukan berhenti mengetuk pintu.
Ridha adalah mengetuk dengan sungguh-sungguh sambil menerima bahwa Alloh mengetahui pintu mana yang seharusnya terbuka.
RAHASIA LEMBAR KETUJUH
Kemudian Qitab menuliskan:
Ridha kepada masa lalu: menerima bahwa ia telah terjadi.
Ikhtiar untuk hari ini: mengerjakan apa yang masih bisa diperbaiki.
Tawakal untuk hari esok: menyerahkan hasil yang belum diketahui.
Dan ketiganya menjadi satu jalan.
Masa lalu tidak lagi menjadi penjara.
Hari ini tidak menjadi alasan untuk pasif.
Masa depan tidak menjadi sumber ketakutan yang berlebihan.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Fajar mulai menyentuh taman.
Sang hamba melihat bunga yang sebelumnya masih kuncup.
Sebagian telah mulai mekar.
Sebagian tetap kuncup.
Dan untuk pertama kalinya ia tidak memaksa semuanya mekar pada waktu yang sama.
Ia tersenyum.
Lalu berdoa:
يَا اللّٰهُ، عَلِّمْنِي أَنْ أَرْضَى بِمَا لَا أَسْتَطِيعُ تَغْيِيرَهُ، وَأَنْ أُصْلِحَ مَا أَسْتَطِيعُ، وَأَنْ أَعْرِفَ الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا
Yā Alloh, ‘allimnī an arḍā bimā lā astaṭī‘u taghyīrah,
wa an uṣliḥa mā astaṭī‘,
wa an a‘rifal-farqa bainahumā.
“Ya Alloh, ajarkan aku menerima apa yang tidak mampu kuubah, memperbaiki apa yang masih mampu kuperbaiki, dan mengenali perbedaan antara keduanya.”
Kemudian pada gerbang keluar taman tertulis:
لَا تُقَاتِلِ الْمَاضِي
وَلَا تَتْرُكِ الْحَاضِرَ
وَلَا تَخَفِ الْمُسْتَقْبَلَ مَا دُمْتَ مَعَ اللّٰهِ
Lā tuqātilil-māḍī,
wa lā tatrukil-ḥāḍir,
wa lā takhafil-mustaqbala mā dumta ma‘allāh.
Makna hikmahnya:
“Jangan terus berperang dengan masa lalu, jangan tinggalkan tanggung jawab hari ini, dan jangan biarkan masa depan menguasai ketakutanmu selama engkau tetap bergantung kepada Alloh.”
Lalu terdengar wewarah terakhir:
“Ridha bukan ketika engkau berhenti berharap.
Ridha adalah ketika harapanmu tidak lagi memerintah Tuhan.”
Dan tertutuplah lembar ketujuh.
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Ketujuh: Ketika Hati Belajar Ridha Tanpa Berhenti Berikhtiar
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KEDELAPAN
KETIKA PENGABDIAN TIDAK LAGI MENCARI TEMPAT TINGGI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah belajar ridha tanpa meninggalkan ikhtiar, sang hamba melanjutkan perjalanan.
Ia tiba di sebuah dataran tinggi.
Di sana berdiri banyak kursi.
Ada kursi besar.
Ada kursi kecil.
Ada kursi berukir emas.
Ada kursi sederhana dari kayu.
Pada setiap kursi tertulis satu kata:
KEDUDUKAN.
Sang hamba melihat manusia berlomba-lomba mendekati kursi yang paling tinggi.
Sebagian saling mendahului.
Sebagian saling menjatuhkan.
Sebagian berkata:
“Jika aku duduk di sana, aku akan lebih bermanfaat.”
Sebagian lagi berkata:
“Jika aku duduk di sana, orang akan mendengarkanku.”
Sang hamba pun bertanya:
“Apakah kedudukan itu salah?”
Maka Qitab menjawab:
“Bukan kursinya yang selalu menjadi masalah.
Yang harus diperiksa adalah untuk apa engkau ingin duduk di atasnya.”
KEDUDUKAN ADALAH AMANAH
Kursi dapat menjadi sarana pelayanan.
Kursi dapat menjadi sarana keadilan.
Kursi dapat menjadi tempat seseorang menunaikan tanggung jawab.
Namun kursi juga dapat berubah menjadi cermin ego.
Sang hamba lalu melihat dua orang.
Orang pertama duduk di kursi tinggi tetapi menundukkan dirinya untuk melayani.
Orang kedua duduk di kursi rendah tetapi hatinya merasa lebih tinggi daripada semua orang.
Maka terdengar wewarah:
“Tinggi rendahnya kedudukan lahir tidak selalu menunjukkan tinggi rendahnya hati.”
Ada orang yang mempunyai jabatan tetapi tetap tawadhu.
Ada orang tanpa jabatan tetapi sangat haus pengakuan.
Maka yang diuji bukan hanya kursi.
Yang diuji adalah hati.
LILLĀH DALAM KEDUDUKAN
UNTUK SIAPA ENGKAU MEMEGANG AMANAH?
Sang hamba berdiri di depan kursi pertama.
Di atasnya tertulis:
لِلّٰهِ
Lillāh.
Lalu terdengar pertanyaan:
“Jika engkau diberi amanah, untuk siapa engkau menjalankannya?”
Sang hamba menjawab:
“Untuk Alloh.”
Maka Qitab berkata:
Jika benar untuk Alloh,
engkau tidak hanya bekerja ketika dilihat.
Engkau tidak hanya ramah kepada orang yang dapat memberimu keuntungan.
Engkau tidak hanya adil kepada kelompokmu.
Engkau tidak menjadikan amanah sebagai milik pribadi.
Engkau tidak mengubah pelayanan menjadi kerajaan ego.
Lillāh dalam kedudukan berarti:
“Amanah berada di tanganmu, tetapi ia bukan milikmu.”
Hari ini engkau dipercaya.
Besok mungkin orang lain yang dipercaya.
Hari ini namamu disebut.
Besok namamu mungkin tidak lagi disebut.
Jika pengabdianmu benar-benar Lillāh, pergantian itu tidak harus menghancurkanmu.
BILLĀH DALAM AMANAH
JANGAN MERASA MAMPU SENDIRIAN
Kemudian sang hamba mendekati kursi kedua.
Di atasnya tertulis:
بِاللّٰهِ
Billāh.
Qitab berkata:
Kedudukan sering menipu manusia dengan satu bisikan:
“Semua ini terjadi karena aku.”
Lalu seseorang mulai percaya:
tanpa dirinya semua akan runtuh.
tanpa dirinya tidak ada yang mampu.
tanpa dirinya organisasi tidak berjalan.
tanpa dirinya kebenaran tidak akan hidup.
Maka Billāh datang mematahkan ilusi itu.
Engkau boleh berperan penting.
Tetapi engkau bukan pusat alam.
Engkau boleh mempunyai kemampuan.
Tetapi kemampuan itu tetap karunia.
Engkau boleh memimpin.
Tetapi orang lain juga mempunyai bagian.
Maka pemimpin yang memahami Billāh akan mudah bermusyawarah.
Ia tidak takut mendengar kritik.
Ia berani berkata:
“Aku tidak tahu.”
Ia mampu berkata:
“Pendapatmu lebih baik.”
Ia mampu berkata:
“Mari kita kerjakan bersama.”
Dan terutama:
“Alhamdulillāh, Alloh memudahkan.”
FILLĀH DALAM KEKUASAAN
JANGAN MENGHALALKAN CARA DEMI MEMPERTAHANKAN POSISI
Kemudian sang hamba mendekati kursi ketiga.
Di atasnya tertulis:
فِي اللّٰهِ
Fillāh.
Qitab berkata:
Inilah ujian paling berat ketika seseorang telah memiliki pengaruh.
Apakah ia tetap berada dalam jalan yang benar ketika posisi terancam?
Apakah ia tetap adil kepada orang yang berbeda pendapat?
Apakah ia tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan?
Apakah ia mampu menerima bahwa amanah suatu hari selesai?
Fillāh berkata:
“Jangan mempertahankan kursi dengan kehilangan jalan.”
Jangan menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan orang lain.
Jangan membeli kesetiaan dengan ketidakadilan.
Jangan memecah persaudaraan hanya untuk mempertahankan pengaruh.
Jangan menganggap semua kritik sebagai permusuhan.
Jangan menjadikan agama, adat, ilmu, atau simbol kemuliaan sebagai alat menutupi kepentingan pribadi.
Karena apabila tujuan dianggap suci tetapi caranya rusak, jalan telah kehilangan Fillāh.
KETIKA AMANAH DATANG
Sang hamba bertanya:
“Bagaimana jika amanah datang tanpa aku minta?”
Qitab menjawab:
Periksa kemampuanmu.
Periksa niatmu.
Periksa tanggung jawabnya.
Bermusyawarahlah.
Jika memang engkau mampu dan dibutuhkan, terimalah dengan rendah hati.
Tetapi jangan menganggap amanah sebagai bukti bahwa engkau lebih suci.
Amanah bukan mahkota.
Amanah adalah beban pertanggungjawaban.
Maka tertulis:
الأَمَانَةُ لَيْسَتْ زِينَةً بَلْ مَسْؤُولِيَّةٌ
Al-amānatu laisat zīnatan bal mas’ūliyyah.
“Amanah bukanlah perhiasan, melainkan tanggung jawab.”
KETIKA AMANAH TIDAK DATANG
Sang hamba kemudian bertanya:
“Bagaimana jika aku merasa mampu tetapi tidak dipilih?”
Qitab menjawab:
Di sinilah Lillāh diuji lebih dalam.
Apakah engkau masih mau berbuat baik jika bukan engkau yang memimpin?
Apakah engkau masih mau membantu jika namamu tidak tercantum?
Apakah engkau masih menjaga persaudaraan jika orang lain yang mendapat kepercayaan?
Jika pengabdianmu berhenti hanya karena engkau tidak mendapatkan kursi,
mungkin yang engkau cintai bukan pengabdian.
Mungkin yang engkau cintai adalah kedudukan.
Maka Qitab berkata:
“Orang yang benar-benar ingin melayani akan tetap mencari cara berbuat baik, bahkan ketika tidak berada di depan.”
KETIKA AMANAH SELESAI
Kemudian datanglah bagian yang lebih sulit.
Sang hamba melihat seorang pemimpin turun dari kursinya.
Dahulu orang-orang mengelilinginya.
Sekarang sebagian pergi.
Dahulu teleponnya ramai.
Sekarang lebih sunyi.
Dahulu ia selalu berada di barisan depan.
Sekarang orang lain mengambil tempat itu.
Ia merasa kehilangan dirinya.
Qitab berkata:
“Jangan menyatukan identitasmu dengan kursimu.”
Engkau adalah hamba sebelum memiliki jabatan.
Engkau tetap hamba setelah jabatan selesai.
Jika satu-satunya alasan engkau merasa berharga adalah karena posisi,
maka ketika posisi hilang, engkau akan merasa hidupmu hilang.
Tetapi apabila nilai dirimu dibangun dari iman, akhlak, ilmu, dan pengabdian,
maka setelah kursi selesai pun kebaikan masih dapat berjalan.
TIGA UJIAN ORANG YANG DIPERCAYA
Qitab membuka tiga lembar.
UJIAN PERTAMA — PUJIAN
Ketika banyak orang berkata:
“Engkau luar biasa.”
Jawablah dalam hati:
“Semoga Alloh menjaga aku dari merasa lebih tinggi daripada amanah ini.”
UJIAN KEDUA — KRITIK
Ketika seseorang mengkritikmu,
jangan langsung bertanya:
“Siapa dia berani mengkritikku?”
Tanyakan terlebih dahulu:
“Apakah ada kebenaran yang perlu kudengar?”
Kritik tidak selalu benar.
Tetapi menolak semua kritik juga berbahaya.
UJIAN KETIGA — PENGGANTI
Ketika orang lain mulai mampu menggantikanmu,
jangan merasa terancam.
Jika amanahmu telah melahirkan penerus yang baik,
itu bukan kegagalan.
Itu salah satu tanda bahwa pengabdianmu tidak berpusat hanya pada dirimu.
PEMIMPIN DAN PELAYANAN
Di tengah dataran terdapat sebuah tulisan besar:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Sayyidul-qaumi khādimuhum.
Makna hikmahnya:
“Yang dimuliakan di tengah suatu kaum hendaknya menjadi pelayan bagi mereka.”
Qitab lalu berkata:
Pemimpin tidak hanya berdiri di depan.
Kadang ia harus berada paling belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.
Pemimpin tidak hanya menerima penghormatan.
Ia harus menerima keluhan.
Pemimpin tidak hanya memberikan perintah.
Ia harus mendengar.
Pemimpin tidak hanya mempunyai hak.
Ia juga mempunyai tanggung jawab lebih besar.
EMPAT CERMIN BAGI PEMEGANG AMANAH
Qitab kemudian memberikan empat pertanyaan.
1. APAKAH AKU MASIH MAMPU MENDENGAR?
Jika semua nasihat mulai dianggap serangan,
hati perlu diperiksa.
2. APAKAH AKU MASIH MAMPU MEMINTA MAAF?
Jika jabatan membuat lidah terlalu berat berkata:
“Aku salah,”
kedudukan mulai menguasai diri.
3. APAKAH AKU MEMBEDAKAN AMANAH DAN MILIK PRIBADI?
Uang lembaga bukan uang pribadi.
Nama organisasi bukan alat kebesaran pribadi.
Orang yang dipimpin bukan milik pemimpin.
4. APAKAH AKU MEMPERSIAPKAN PENERUS?
Jika segala sesuatu sengaja dibuat bergantung hanya kepada satu orang,
itu bukan selalu tanda kepemimpinan kuat.
Bisa jadi justru tanda sistem yang rapuh.
KHIDMAH TANPA PANGGUNG
Kemudian sang hamba meninggalkan seluruh kursi.
Ia menemukan seorang tua sedang menyapu jalan.
Tidak ada seorang pun memujinya.
Sang hamba bertanya:
“Siapakah dia?”
Qitab menjawab:
“Seorang pengabdi.”
Kemudian ia melihat seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya.
“Siapakah dia?”
“Seorang pengabdi.”
Ia melihat seorang guru mengajar anak yang sulit memahami pelajaran.
“Siapakah dia?”
“Seorang pengabdi.”
Ia melihat seseorang mengangkat sampah setelah sebuah majelis selesai.
“Siapakah dia?”
“Seorang pengabdi.”
Lalu Qitab berkata:
“Jangan kira khidmah hanya hidup di podium.
Banyak pengabdian terbesar justru berlangsung ketika tidak seorang pun berdiri memberikan tepuk tangan.”
TIGA JALAN KHIDMAH
Kemudian tampak tiga jalan.
KHIDMAH DENGAN HARTA
Memberi tanpa merendahkan.
Membantu tanpa mengikat.
Membiayai kebaikan tanpa merasa memiliki semua orang yang menerima manfaat.
KHIDMAH DENGAN ILMU
Mengajar tanpa memperbudak murid.
Membimbing tanpa membuat orang bergantung selamanya.
Memberi ilmu agar orang semakin mampu berdiri.
KHIDMAH DENGAN TENAGA
Bekerja.
Membersihkan.
Mengantar.
Menyiapkan.
Menjaga.
Melakukan hal-hal yang sering dianggap kecil tetapi tanpanya sebuah amanah tidak akan berjalan.
Maka Qitab berkata:
“Jangan membandingkan bentuk pengabdian. Lihatlah ketulusan dan manfaatnya.”
SAAT PENGABDIAN MENJADI BEBAN
Sang hamba kemudian bertanya:
“Apakah aku harus terus melayani sampai tubuhku habis?”
Qitab menjawab:
Tidak.
Tubuh juga amanah.
Keluarga mempunyai hak.
Istirahat mempunyai tempat.
Pengabdian yang sehat tidak selalu berarti berkata “ya” kepada semua permintaan.
Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk berhenti.
Ada waktu untuk menyerahkan tugas kepada orang lain.
Ada waktu untuk berkata:
“Aku belum mampu.”
Ada waktu untuk mempersiapkan kader.
Karena pengabdian yang baik tidak harus menghancurkan pengabdinya.
JANGAN MEMBUAT ORANG BERGANTUNG KEPADAMU
Qitab kemudian membuka satu rahasia besar.
Jika engkau membantu seseorang,
bantulah agar ia semakin mampu berdiri.
Jika engkau membimbing,
bimbinglah agar ia semakin mampu mengambil keputusan dengan matang.
Jika engkau mengajar,
ajarkan cara belajar.
Jika engkau memimpin,
siapkan orang lain untuk memimpin.
Sebab pelayanan yang hanya membuat semua orang bergantung kepada satu manusia dapat berubah menjadi bentuk penguasaan.
Maka pengabdian berkata:
“Aku membantumu agar engkau semakin dekat kepada Alloh dan semakin mampu menunaikan amanahmu sendiri, bukan agar engkau menjadi milikku.”
LILLAH BILLAH FILLAH DALAM KHIDMAH
Kemudian tiga cahaya muncul kembali.
Cahaya pertama berkata:
لِلّٰهِ خِدْمَتِي
Lillāhi khidmatī.
“Pengabdianku kupersembahkan untuk Alloh.”
Cahaya kedua berkata:
بِاللّٰهِ قُوَّتِي فِي الْخِدْمَةِ
Billāhi quwwatī fil-khidmah.
“Dengan pertolongan Alloh aku memperoleh kekuatan dalam pengabdian.”
Cahaya ketiga berkata:
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ أَحْفَظُ أَمَانَتِي
Fī sabīlillāhi aḥfaẓu amānatī.
“Di jalan Alloh aku menjaga amanahku.”
Kemudian ketiganya menyatu:
خِدْمَتِي لِلّٰهِ، وَعَوْنِي بِاللّٰهِ، وَأَمَانَتِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Khidmatī lillāh,
wa ‘awnī billāh,
wa amānatī fī sabīlillāh.
Makna hikmahnya:
“Pengabdianku untuk Alloh, pertolonganku dengan Alloh, dan amanahku kujaga di jalan Alloh.”
SABDO LEMBAR KEDELAPAN
Wahai pemegang amanah,
jangan cintai kursimu lebih daripada kebenaran.
Jangan cintai gelarmu lebih daripada pelayanan.
Jangan cintai namamu lebih daripada manfaat.
Jika engkau harus berada di depan,
berdirilah dengan amanah.
Jika engkau harus berada di belakang,
tetaplah berguna.
Jika amanah datang,
jangan mabuk.
Jika amanah selesai,
jangan hancur.
Karena seorang pengabdi tidak hanya hidup ketika namanya disebut.
Ia hidup melalui manfaat yang ditinggalkannya.
RAHASIA LEMBAR KEDELAPAN
Maka Qitab menuliskan:
LILLĀH membersihkan pengabdian dari haus kedudukan.
BILLĀH membersihkan pemimpin dari merasa dirinya sumber seluruh kekuatan.
FILLĀH menjaga kekuasaan agar tidak keluar dari jalan kebenaran.
Dan ketiganya melahirkan:
خِدْمَةٌ بِلَا اسْتِعْلَاءٍ
Khidmatun bilā isti‘lā’.
“Pengabdian tanpa meninggikan diri.”
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Matahari mulai tenggelam.
Semua kursi di dataran itu perlahan menghilang.
Yang tersisa hanya satu sajadah dan sebuah sapu sederhana.
Sang hamba memahami:
Seseorang dapat mengabdi ketika berada di singgasana.
Seseorang dapat mengabdi ketika berdiri di mimbar.
Seseorang dapat mengabdi ketika duduk di kantor.
Seseorang juga dapat mengabdi ketika menyapu lantai.
Yang menentukan bukan tempatnya.
Tetapi niat, cara, dan amanahnya.
Sang hamba kemudian berdoa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي خَادِمًا لِلْخَيْرِ، وَلَا تَجْعَلْنِي عَبْدًا لِلْمَقَامِ وَالْمَدْحِ وَالسُّلْطَانِ
Allohummaj‘alnī khādiman lil-khair,
wa lā taj‘alnī ‘abdan lil-maqāmi wal-madḥi was-sulṭān.
Makna doanya:
“Ya Alloh, jadikan aku pelayan bagi kebaikan, dan jangan jadikan aku hamba bagi kedudukan, pujian, dan kekuasaan.”
Kemudian pada akhir dataran tertulis:
اِخْدِمْ وَلَا تَسْتَعْلِ
وَقُدْ وَلَا تَسْتَبِدَّ
وَإِذَا انْتَهَتِ الْأَمَانَةُ فَسَلِّمْهَا بِسَلَامٍ
Ikhdim wa lā tasta‘li,
wa qud wa lā tastabidd,
wa idzā intahatil-amānatu fasallimhā bisalām.
Makna hikmahnya:
“Melayani tanpa meninggikan diri, memimpin tanpa berlaku sewenang-wenang, dan ketika amanah selesai, serahkanlah dengan damai.”
Lalu terdengar wewarah terakhir:
“Puncak pengabdian bukan ketika semua orang berada di bawahmu.
Puncak pengabdian adalah ketika semakin banyak kehidupan menjadi lebih baik karena engkau pernah melewati jalan mereka.”
Dan tertutuplah lembar kedelapan.
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Kedelapan: Ketika Pengabdian Tidak Lagi Mencari Tempat Tinggi
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KESEMBILAN
KETIKA CINTA KEPADA ALLOH MEMBERSIHKAN CINTA KEPADA DUNIA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah meninggalkan dataran kedudukan, sang hamba sampai di sebuah pasar yang sangat luas.
Pasar itu berbeda dari pasar biasa.
Di sana tidak hanya dijual makanan dan pakaian.
Di sana diperdagangkan:
nama,
pujian,
harta,
pengaruh,
kemewahan,
perhatian,
cinta manusia,
kedudukan,
dan rasa ingin memiliki.
Setiap orang membawa timbangan.
Sebagian sibuk menimbang hartanya.
Sebagian menimbang jumlah orang yang mengenalnya.
Sebagian menimbang siapa yang lebih tinggi.
Sebagian menimbang siapa yang lebih dicintai.
Sang hamba pun bertanya:
“Apakah dunia ini buruk?”
Maka Qitab menjawab:
“Dunia bukan musuhmu.
Yang berbahaya adalah ketika dunia berpindah dari tangan menuju singgasana hati.”
DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI
Qitab memperlihatkan dua orang kaya.
Orang pertama memiliki banyak harta.
Tetapi ia tidak sombong.
Ia menafkahi keluarga.
Ia membantu orang lain.
Ia membangun kebaikan.
Jika sebagian hartanya berkurang, ia sedih tetapi tidak kehilangan arah.
Orang kedua memiliki sedikit harta.
Namun seluruh hatinya dikuasai keinginan untuk memiliki.
Ia iri.
Ia marah.
Ia membandingkan dirinya dengan semua orang.
Maka Qitab berkata:
“Zuhud tidak selalu berarti tidak memiliki.”
Zuhud adalah:
tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
Boleh mempunyai rumah.
Boleh mempunyai kendaraan.
Boleh membangun usaha.
Boleh mempunyai tabungan.
Boleh mempunyai pakaian yang baik.
Boleh menikmati karunia.
Tetapi jangan biarkan semuanya menentukan nilai dirimu.
LILLĀH DALAM CINTA DUNIA
UNTUK APA ENGKAU MENCARI?
Sang hamba melihat satu pintu bertuliskan:
لِلّٰهِ
Di baliknya terdapat banyak jalan mencari rezeki.
Qitab bertanya:
“Untuk apa engkau ingin kaya?”
Sang hamba menjawab:
“Supaya aku tidak kekurangan.”
Qitab berkata:
Itu manusiawi.
Lalu sang hamba berkata:
“Supaya keluargaku terjaga.”
Qitab berkata:
Itu amanah.
Kemudian sang hamba berkata:
“Supaya aku bisa membantu lebih banyak.”
Qitab berkata:
Itu dapat menjadi pengabdian.
Namun tiba-tiba bayangan hati berbisik:
“Supaya semua orang tahu aku berhasil.”
Maka Qitab berkata:
“Di sinilah Lillāh harus kembali membersihkan niat.”
Mencari dunia bukan dosa hanya karena ia dunia.
Yang diperiksa adalah:
untuk apa,
dengan cara apa,
dan bagaimana hati setelah mendapatkannya.
BILLĀH DALAM KELAPANGAN
JANGAN MENGANGGAP REZEKI SEBAGAI BUKTI KEHEBATAN DIRI
Kemudian sang hamba memasuki sebuah gudang penuh emas.
Di atas pintunya tertulis:
بِاللّٰهِ
Qitab berkata:
Jika rezeki datang,
jangan hanya melihat kecerdikanmu.
Ada kesehatan yang memungkinkanmu bekerja.
Ada orang yang membuka jalan.
Ada kesempatan yang datang tepat waktu.
Ada keadaan yang mendukung.
Ada ilmu yang pernah engkau terima.
Ada pertolongan Alloh yang tidak engkau lihat seluruhnya.
Maka orang yang memahami Billāh ketika kaya akan berkata:
“Ini amanah.”
Bukan:
“Ini bukti bahwa aku lebih mulia.”
Karena kekayaan bukan ukuran mutlak cinta Alloh.
Kemiskinan juga bukan ukuran mutlak murka-Nya.
Keduanya adalah keadaan yang mengandung ujian masing-masing.
FILLĀH DALAM MENCARI DUNIA
JANGAN KELUAR DARI JALAN DEMI HASIL
Lalu sang hamba melihat dua pedagang.
Pedagang pertama menjual dengan jujur.
Keuntungannya tidak selalu besar.
Tetapi ia tenang.
Pedagang kedua mendapatkan banyak keuntungan.
Namun sebagian diperoleh melalui tipu daya.
Qitab bertanya:
“Siapakah yang lebih berhasil?”
Sang hamba diam.
Maka terdengar wewarah:
“Keuntungan yang besar tidak otomatis berarti jalan yang benar.”
Fillāh menjaga:
cara memperoleh,
cara menggunakan,
cara membagikan,
dan cara mempertanggungjawabkan.
Jangan berkata:
“Yang penting hasilnya baik.”
Jika jalannya merusak.
Karena dalam pengabdian, hasil dan jalan tidak boleh dipisahkan.
PASAR PUJIAN
Sang hamba kemudian berjalan ke bagian pasar yang lebih ramai.
Di sana orang-orang menjual kata-kata:
“Hebat.”
“Mulya.”
“Paling benar.”
“Paling berilmu.”
“Paling berjasa.”
Anehnya, semakin banyak pujian dibeli, semakin lapar hati orang yang membelinya.
Sang hamba bertanya:
“Mengapa mereka tidak pernah kenyang?”
Qitab menjawab:
“Karena pujian manusia tidak diciptakan untuk menjadi makanan utama hati.”
Hari ini dipuji.
Besok dilupakan.
Hari ini dielu-elukan.
Besok dikritik.
Jika harga diri sepenuhnya bergantung pada suara manusia, hati akan terus berguncang.
Maka cintailah penghargaan sewajarnya.
Tetapi jangan menggantungkan hidup kepadanya.
PASAR CINTA MANUSIA
Di bagian lain terdapat pasar yang menjual perhatian.
Ada yang berkata:
“Cintai aku.”
Ada yang berkata:
“Jangan tinggalkan aku.”
Ada yang berkata:
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Sang hamba melihat beberapa hati terikat sangat kuat.
Ketika orang yang dicintainya pergi, seluruh hidupnya runtuh.
Maka Qitab berkata:
“Cintailah manusia, tetapi jangan menjadikan manusia sebagai Tuhan bagi hatimu.”
Cinta kepada pasangan adalah indah.
Cinta kepada orang tua adalah mulia.
Cinta kepada anak adalah amanah.
Cinta kepada guru adalah penghormatan.
Cinta kepada sahabat adalah nikmat.
Tetapi semua cinta itu harus tetap berada di bawah cinta kepada Alloh.
Karena manusia berubah.
Manusia memiliki batas.
Manusia dapat datang dan pergi.
Maka cinta kepada Alloh menjaga cinta kepada manusia agar tidak berubah menjadi pemilikan yang berlebihan.
CINTA TIDAK BERARTI MENGUASAI
Sang hamba bertanya:
“Jika aku mencintai seseorang, bukankah aku ingin ia selalu bersamaku?”
Qitab menjawab:
Keinginan itu manusiawi.
Tetapi cinta yang matang mengetahui:
orang yang dicintai tetap mempunyai kehendak,
ruang,
tanggung jawab,
dan perjalanan hidupnya sendiri.
Jangan gunakan cinta untuk mengontrol.
Jangan gunakan kebaikan untuk membuat orang merasa berhutang sepanjang hidup.
Jangan gunakan pengorbanan untuk memaksa balasan.
Maka tertulis:
الْحُبُّ لَا يَعْنِي التَّمَلُّكَ
Al-ḥubbu lā ya‘nit-tamalluk.
“Cinta tidak berarti memiliki secara mutlak.”
KETIKA DUNIA DATANG
Kemudian Qitab berkata:
Jika dunia datang kepadamu,
jangan buru-buru menolaknya.
Tanyakan:
“Bisakah aku menjadikannya alat kebaikan?”
Jika mendapatkan harta,
gunakan dengan baik.
Jika mendapatkan pengaruh,
gunakan untuk melindungi yang lemah.
Jika mendapatkan ilmu,
sebarkan manfaat.
Jika mendapatkan kedudukan,
jadikan amanah.
Jika mendapatkan cinta manusia,
jaga adab dan jangan memanfaatkannya.
Karena masalahnya bukan selalu pada apa yang datang.
Masalahnya adalah:
apa yang dilakukan hati setelah ia datang.
KETIKA DUNIA TIDAK DATANG
Sang hamba kemudian melihat seseorang yang sudah berusaha lama.
Tetapi hidupnya tetap sederhana.
Ia berkata:
“Apakah berarti aku gagal?”
Qitab menjawab:
Tidak semua keberhasilan harus berbentuk besar di mata manusia.
Ada orang yang berhasil menjaga keluarga.
Ada yang berhasil keluar dari hutang sedikit demi sedikit.
Ada yang berhasil menahan diri dari jalan haram.
Ada yang berhasil membesarkan anak dengan kasih.
Ada yang berhasil mempertahankan kejujuran ketika keadaan sulit.
Ada yang berhasil tetap waras di tengah ujian berat.
Semua itu juga kemenangan.
Jangan membiarkan ukuran dunia mengecilkan pencapaian yang sebenarnya sangat besar.
TIGA JENIS KEKAYAAN
Kemudian Qitab membuka tiga peti.
PETI PERTAMA — KEKAYAAN HARTA
Harta memberi kemudahan.
Ia penting.
Ia harus dikelola.
Tetapi ia mempunyai batas.
PETI KEDUA — KEKAYAAN RELASI
Memiliki orang-orang yang mencintai, mendukung, dan mendoakan adalah nikmat.
Tetapi jangan memperalat hubungan demi kepentingan.
PETI KETIGA — KEKAYAAN BATIN
Inilah kekayaan yang tidak selalu terlihat.
Hati yang cukup.
Pikiran yang jernih.
Kemampuan bersyukur.
Keberanian meminta maaf.
Tidur dengan tenang.
Makan tanpa rasa takut dari hasil yang halal.
Mampu melihat keberhasilan orang lain tanpa terbakar iri.
Mampu kehilangan tanpa kehilangan Alloh.
Maka Qitab berkata:
“Jangan kaya pada satu sisi tetapi bangkrut pada sisi lain.”
CUKUP BUKAN BERARTI BERHENTI BERTUMBUH
Sang hamba bertanya:
“Jika aku merasa cukup, apakah aku tidak boleh mengejar lebih?”
Qitab menjawab:
Boleh.
Qana‘ah bukan kemalasan.
Qana‘ah adalah hati yang tidak menghina apa yang ada sambil terus memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.
Engkau dapat berkata:
“Alhamdulillāh atas yang ada.”
Dan pada saat yang sama:
“Aku akan bekerja agar keadaan menjadi lebih baik.”
Dua kalimat itu tidak bertentangan.
Yang satu menjaga hati.
Yang satu menggerakkan ikhtiar.
TANDA DUNIA MULAI MENGUASAI HATI
Qitab kemudian memberikan lima tanda.
PERTAMA
Engkau merasa harga diri hilang ketika harta berkurang.
KEDUA
Engkau tidak tahan melihat orang lain lebih berhasil.
KETIGA
Engkau mulai menghalalkan cara demi hasil.
KEEMPAT
Engkau hanya menghormati orang yang bermanfaat bagi kepentinganmu.
KELIMA
Engkau mulai menjauh dari Alloh ketika hidup sedang lapang.
Jika salah satu muncul, jangan putus asa.
Periksa.
Perbaiki.
Kembalikan.
TIGA OBAT HATI
Kemudian Qitab menuliskan tiga obat.
SYUKUR
Syukur berkata:
“Aku melihat apa yang telah diberikan, bukan hanya apa yang belum kumiliki.”
SEDEKAH
Sedekah berkata:
“Apa yang berada di tanganku tidak seluruhnya harus berhenti di tanganku.”
INGAT KEMATIAN
Mengingat kematian berkata:
“Semua yang kukumpulkan akan kutinggalkan, kecuali apa yang menjadi amal dan warisan manfaat.”
LILLAH BILLAH FILLAH DALAM KELAPANGAN
Kemudian tiga cahaya muncul kembali.
Cahaya pertama berkata:
لِلّٰهِ طَلَبِي
Lillāhi ṭalabī.
“Pencarianku kuarahkan karena Alloh.”
Cahaya kedua berkata:
بِاللّٰهِ رِزْقِي
Billāhi rizqī.
“Dengan pertolongan Alloh rezekiku datang.”
Cahaya ketiga berkata:
فِي سَبِيلِ اللّٰهِ إِنْفَاقِي
Fī sabīlillāhi infāqī.
“Di jalan Alloh aku menggunakan apa yang dititipkan kepadaku.”
Kemudian ketiganya menyatu:
أَطْلُبُ لِلّٰهِ، وَأَسْتَعِينُ بِاللّٰهِ، وَأَسْتَعْمِلُ نِعْمَتِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ
Aṭlubu lillāh,
wa asta‘īnu billāh,
wa asta‘milu ni‘matī fī sabīlillāh.
Makna hikmahnya:
“Aku mencari dengan tujuan yang diridhai Alloh, memohon pertolongan kepada Alloh, dan menggunakan nikmat dalam jalan Alloh.”
SABDO LEMBAR KESEMBILAN
Wahai pejalan,
jangan takut memiliki dunia.
Takutlah apabila dunia mulai memiliki dirimu.
Jangan takut menjadi kaya.
Takutlah apabila kekayaan membuatmu menutup mata terhadap orang yang membutuhkan.
Jangan takut dicintai manusia.
Takutlah apabila cinta manusia membuatmu menjauh dari Alloh.
Jangan takut memiliki kedudukan.
Takutlah apabila kedudukan membuatmu merasa tidak lagi membutuhkan nasihat.
Dan jangan takut kehilangan.
Takutlah apabila kehilangan membuatmu kehilangan iman, akhlak, dan arah.
RAHASIA LEMBAR KESEMBILAN
Kemudian Qitab menuliskan:
LILLĀH mengubah tujuan dunia menjadi pengabdian.
BILLĀH mengubah keberhasilan menjadi syukur.
FILLĀH mengubah kepemilikan menjadi amanah.
Maka lahirlah satu keadaan:
الدُّنْيَا فِي الْيَدِ لَا فِي الْقَلْبِ
Ad-dunyā fil-yadi lā fil-qalb.
“Dunia berada di tangan, bukan menguasai hati.”
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Pasar itu mulai sepi.
Sang hamba berjalan keluar.
Ia membawa sedikit bekal.
Tidak berlebihan.
Tidak pula menolak apa yang dibutuhkan.
Di pintu keluar ia melihat satu tulisan:
خُذْ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُعِينُكَ عَلَى الْخَيْرِ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا سَيِّدَةَ قَلْبِكَ
Khudz minad-dunyā mā yu‘īnuka ‘alal-khair,
wa lā taj‘alid-dunyā sayyidata qalbik.
Makna hikmahnya:
“Ambillah dari dunia apa yang membantumu menjalankan kebaikan, tetapi jangan jadikan dunia sebagai penguasa hatimu.”
Sang hamba lalu berdoa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي يَدِي وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قَلْبِي، وَاجْعَلْ نِعْمَتِي عَوْنًا عَلَى طَاعَتِكَ وَخِدْمَةِ خَلْقِكَ
Allohummaj‘alid-dunyā fī yadī wa lā taj‘alhā fī qalbī,
waj‘al ni‘matī ‘awnan ‘alā ṭā‘atika wa khidmati khalqik.
“Ya Alloh, jadikan dunia berada di tanganku dan jangan biarkan ia menguasai hatiku. Jadikan nikmat yang Engkau titipkan kepadaku sebagai pertolongan untuk taat kepada-Mu dan memberi manfaat kepada makhluk-Mu.”
Kemudian terdengar wewarah terakhir:
“Orang yang merdeka bukan orang yang tidak memiliki apa-apa.
Orang yang merdeka adalah orang yang memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikannya.”
Dan tertutuplah lembar kesembilan.
Wallohu a‘lam.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
Lembar Kesembilan: Ketika Cinta kepada Alloh Membersihkan Cinta kepada Dunia
QITAB LILLAH BILLAH FILLAH
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
LEMBAR KESEPULUH — TERAKHIR
PULANGNYA SELURUH JALAN KEPADA ALLOH
Ketika Lillāh, Billāh, dan Fillāh Tidak Lagi Hanya Menjadi Kalimat, tetapi Menjadi Adab Kehidupan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sang hamba telah berjalan jauh.
Ia telah melewati gerbang niat.
Ia telah belajar bahwa usaha bukan Tuhan.
Ia telah menangis ketika kehilangan.
Ia telah beramal ketika tidak ada seorang pun melihat.
Ia telah berdoa sampai doanya berubah dari tuntutan menjadi penyerahan.
Ia telah belajar ridha tanpa meninggalkan ikhtiar.
Ia telah melihat kursi-kursi kedudukan dan memahami bahwa amanah bukan mahkota.
Ia telah memasuki pasar dunia dan mengetahui bahwa harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menjadi penguasa hati.
Kini tidak ada lagi taman.
Tidak ada lagi pasar.
Tidak ada lagi kursi.
Tidak ada lagi tiga gerbang yang berdiri terpisah.
Yang terlihat hanya sebuah jalan lurus menuju ufuk.
Di kanan jalan mengalir sungai.
Di kiri terbentang tanah luas.
Langit sangat tenang.
Sang hamba berdiri seorang diri.
Kemudian terdengar pertanyaan:
“Setelah semua lembar yang engkau lalui, apakah engkau telah memahami Lillāh, Billāh, Fillāh?”
Ia hendak menjawab.
Namun kali ini ia tidak berani berkata:
“Aku sudah memahami.”
Ia menundukkan kepala.
Kemudian berkata:
“Aku baru belajar.”
Maka terdengar jawaban:
“Itulah salah satu pintu terakhir:
semakin seseorang mengetahui, semakin ia mengetahui bahwa masih banyak yang harus diperbaiki.”
TIGA GERBANG KEMBALI MENJADI SATU
Dari kejauhan tiga cahaya muncul.
Cahaya pertama bertuliskan:
لِلّٰهِ
LILLĀH
Cahaya kedua:
بِاللّٰهِ
BILLĀH
Cahaya ketiga:
فِي اللّٰهِ
FILLĀH
Ketiganya bergerak mendekat.
Lalu menyatu.
Sang hamba melihat bahwa selama ini ketiganya tidak pernah benar-benar terpisah.
Lillāh menjaga tujuan.
Billāh menjaga ketergantungan.
Fillāh menjaga perjalanan.
Tujuan tanpa pertolongan membuat manusia mudah merasa dirinya kuat.
Pertolongan tanpa tujuan yang benar dapat berubah menjadi ucapan kosong.
Tujuan dan pertolongan tanpa jalan yang benar dapat tergelincir menjadi pembenaran terhadap kesalahan.
Maka ketiganya adalah pendidikan satu hati.
RAHASIA PERTAMA
LILLĀH BUKAN HANYA PADA AWAL AMAL
Pada lembar pertama sang hamba menyangka:
Lillāh adalah niat sebelum memulai.
Kini ia memahami:
Lillāh diperlukan sebelum amal.
Lillāh diperlukan saat amal.
Lillāh diperlukan setelah amal.
Sebelum berbuat baik:
“Ya Alloh, luruskan niatku.”
Saat melakukannya:
“Ya Alloh, jangan biarkan egoku mengambil alih.”
Setelah selesai:
“Ya Alloh, jangan biarkan aku merasa memiliki kebaikan ini.”
Karena niat dapat berubah bahkan setelah amal selesai.
Seseorang melakukan sesuatu dengan tulus.
Lalu bertahun-tahun kemudian ia menceritakannya untuk merendahkan orang lain.
Maka Qitab berkata:
“Jagalah amal bukan hanya ketika ia dilakukan, tetapi juga ketika ia telah menjadi kenangan.”
Jangan mengubah kebaikan masa lalu menjadi senjata untuk menagih manusia.
Jangan berkata:
“Dulu aku yang membantumu, maka sekarang engkau harus menjadi milikku.”
Jangan berkata:
“Aku telah berjasa, maka semua orang harus tunduk.”
Amal yang telah diberikan kepada Alloh jangan ditarik kembali untuk memberi makan kesombongan.
RAHASIA KEDUA
BILLĀH BUKAN BERARTI MENGHAPUS DIRI
Sang hamba pernah salah memahami Billāh.
Ia mengira:
“Jika semuanya dari Alloh, berarti aku tidak mempunyai peran.”
Qitab menegur:
Tidak.
Engkau tetap mempunyai tanggung jawab.
Engkau memilih.
Engkau berusaha.
Engkau belajar.
Engkau menanggung konsekuensi keputusanmu.
Tetapi Billāh menjaga agar semua itu tidak berubah menjadi pengakuan:
“Aku berdiri sendirian tanpa membutuhkan Alloh.”
Manusia diberi akal.
Gunakan.
Manusia diberi tenaga.
Gunakan.
Manusia diberi waktu.
Jaga.
Manusia diberi kesempatan.
Manfaatkan.
Kemudian setelah berusaha, jangan lupa:
seluruh kemampuan itu sendiri adalah titipan.
Maka Billāh melahirkan dua sifat sekaligus:
KESUNGGUHAN
dan
KERENDAHAN HATI.
Kesungguhan tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan.
Kerendahan hati tanpa kesungguhan dapat berubah menjadi alasan untuk tidak bergerak.
Billāh mempertemukan keduanya.
RAHASIA KETIGA
FILLĀH BUKAN PELEBURAN HAMBA DENGAN TUHAN
Kemudian Qitab memberikan penegasan besar.
Fillāh jangan dipahami sebagai hilangnya batas antara hamba dan Alloh.
Alloh tetap Rabb.
Manusia tetap hamba.
Yang dimaksud dalam wewarah Qitab ini adalah:
hidup dalam jalan ketaatan, pengabdian, cinta, adab, dan keridhaan Alloh.
Semakin dekat seseorang kepada Alloh,
semakin ia mengetahui bahwa ia adalah hamba.
Bukan semakin merasa dirinya Tuhan.
Bukan semakin merasa setiap keinginannya pasti kehendak Tuhan.
Bukan semakin merasa seluruh bisikan batinnya adalah perintah langit.
Bukan semakin menganggap dirinya bebas dari koreksi.
Justru kedekatan harus melahirkan:
kehati-hatian,
kerendahan hati,
tanggung jawab,
kasih sayang,
dan kesiapan untuk memeriksa diri.
Maka tertulis:
الْعَبْدُ عَبْدٌ وَالرَّبُّ رَبٌّ
Al-‘abdu ‘abdun war-Rabbu Rabbun.
“Hamba tetaplah hamba, dan Rabb tetaplah Rabb.”
Inilah pagar tauhid yang menjaga seluruh perjalanan.
KETIKA TIDAK ADA LAGI YANG PERLU DIBUKTIKAN
Sang hamba kemudian melihat sebuah panggung besar.
Dahulu ia ingin berdiri di sana.
Ia ingin manusia mengetahui perjalanannya.
Ia ingin orang berkata:
“Ia telah sampai.”
Namun sekarang ia melewati panggung itu.
Tidak tertarik menaikinya.
Qitab bertanya:
“Mengapa engkau tidak naik?”
Ia menjawab:
“Karena aku tidak lagi membutuhkan gelar telah sampai.”
Maka terdengar wewarah:
“Sebagian kedewasaan ruhani hadir ketika seseorang berhenti sibuk membuktikan bahwa dirinya ruhani.”
Jika engkau baik,
tidak harus selalu berkata bahwa engkau baik.
Jika engkau mempunyai ilmu,
tidak harus selalu menunjukkan bahwa orang lain tidak tahu.
Jika engkau mempunyai pengalaman,
tidak harus menjadikannya ukuran semua manusia.
Jika engkau memperoleh kedalaman tertentu,
jaga agar kedalaman itu membuatmu semakin lembut.
JANGAN MEMBANGUN SINGGASANA DARI PENGALAMAN BATIN
Qitab lalu membuka sebuah lembar peringatan.
Ada orang mengalami ketenangan dalam doa.
Ia merasa istimewa.
Ada orang bermimpi sesuatu.
Ia langsung merasa dipilih.
Ada orang merasakan sensasi dalam tubuh ketika berdzikir.
Ia menganggap dirinya mencapai maqam tinggi.
Ada orang memperoleh kemudahan.
Ia menganggap semua keinginannya direstui Alloh.
Qitab berkata:
“Pengalaman batin dapat menjadi pengalaman pribadi, tetapi jangan menjadikannya otomatis sebagai ukuran kebenaran.”
Ukurlah buahnya.
Apakah engkau semakin jujur?
Apakah engkau semakin bertanggung jawab?
Apakah engkau semakin menjaga sholat?
Apakah engkau semakin menghormati hak orang lain?
Apakah engkau semakin mampu mengendalikan amarah?
Apakah engkau semakin rendah hati?
Jika pengalaman yang disebut ruhani justru membuat seseorang merasa tidak dapat salah,
maka ia harus semakin berhati-hati.
PUNCAKNYA BUKAN MELIHAT CAHAYA
PUNCAKNYA ADALAH MENJADI CAHAYA MANFAAT
Sang hamba bertanya:
“Lalu apakah puncak perjalanan ini?”
Qitab tidak menjawab dengan gambaran singgasana langit.
Tidak menunjukkan mahkota.
Tidak menunjukkan kemampuan luar biasa.
Qitab justru menunjukkan:
seorang ayah yang pulang membawa nafkah halal,
seorang ibu yang mengasuh dengan sabar,
seorang anak yang merawat orang tuanya,
seorang guru yang mengajar tanpa mempermalukan murid,
seorang pedagang yang menolak menipu,
seorang pemimpin yang berani mengakui kesalahan,
seorang kaya yang memberi tanpa merendahkan,
seorang miskin yang tetap menjaga kehormatan,
seorang yang disakiti tetapi tidak membalas kepada orang yang tidak bersalah,
seorang yang gagal tetapi tetap mencoba,
seorang yang berhasil tetapi tetap rendah hati.
Maka Qitab berkata:
“Jangan hanya meminta melihat cahaya.
Jadilah sebab hadirnya cahaya kebaikan di kehidupan orang lain.”
TIGA PERTANYAAN TERAKHIR
Di ujung jalan terdapat tiga batu.
Pada batu pertama tertulis:
UNTUK SIAPA?
Ini adalah pertanyaan Lillāh.
Sebelum mengambil keputusan penting, tanyakan:
“Untuk siapa dan untuk apa aku melakukan ini?”
Pada batu kedua tertulis:
DENGAN SIAPA AKU BERGANTUNG?
Ini adalah pertanyaan Billāh.
Ketika merasa paling kuat, tanyakan:
“Apakah aku lupa bahwa semua kemampuan memiliki sumber dan batas?”
Pada batu ketiga tertulis:
DI JALAN APA?
Ini adalah pertanyaan Fillāh.
Ketika tujuan sangat menggoda, tanyakan:
“Apakah cara yang kutempuh tetap benar?”
Ketiganya menjadi kompas.
Bukan untuk menilai orang lain terlebih dahulu.
Tetapi untuk menjaga diri.
QITAB MERANGKUM SEMBILAN LEMBAR SEBELUMNYA
Kemudian sembilan lembar lama terbuka bersamaan.
LEMBAR PERTAMA
Mengajarkan:
Lillāh adalah arah.
Billāh adalah pertolongan.
Fillāh adalah jalan.
LEMBAR KEDUA
Mengajarkan:
niat harus dijaga, keberhasilan jangan melahirkan kesombongan, dan kebenaran harus tetap dipilih di persimpangan.
LEMBAR KETIGA
Mengajarkan:
niat, usaha, dan tawakal tidak boleh dipisahkan.
LEMBAR KEEMPAT
Mengajarkan:
kehilangan tidak boleh membuat manusia kehilangan Alloh.
LEMBAR KELIMA
Mengajarkan:
amal tidak harus selalu memiliki penonton.
LEMBAR KEENAM
Mengajarkan:
doa bukan alat memaksa Tuhan, tetapi tempat hamba meminta sekaligus menyerahkan.
LEMBAR KETUJUH
Mengajarkan:
ridha tidak sama dengan berhenti berikhtiar.
LEMBAR KEDELAPAN
Mengajarkan:
amanah bukan singgasana, melainkan pelayanan.
LEMBAR KESEMBILAN
Mengajarkan:
dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai memiliki hati.
Dan sekarang Lembar Kesepuluh berkata:
“JADIKAN SEMUANYA SATU CARA HIDUP.”
LILLAH DALAM KELUARGA
Jika engkau menjadi suami,
jangan hanya menuntut penghormatan.
Jadilah pelindung, pendengar, dan penanggung jawab.
Jika engkau menjadi istri,
jangan hanya melihat rumah sebagai beban.
Jadikan kasih sayang, kecerdasan, dan keteguhan sebagai amanah.
Jika engkau menjadi orang tua,
jangan menjadikan anak sebagai alat mewujudkan ego yang gagal engkau capai.
Anak adalah amanah.
Bimbing.
Jangan kuasai seluruh hidupnya.
Jika engkau menjadi anak,
jaga adab kepada orang tua tanpa kehilangan kemampuan membedakan antara ketaatan dan kesalahan.
Lillāh dalam keluarga berkata:
“Cintailah karena Alloh, bukan hanya karena kepemilikan.”
BILLĀH DALAM REZEKI
Pergilah bekerja.
Bangun usaha.
Belajar keterampilan.
Perluas jaringan.
Susun keuangan.
Bayar hutang sedikit demi sedikit.
Perbaiki kebiasaan.
Tetapi jangan jadikan angka sebagai tuhan baru.
Jika banyak:
bersyukur.
Jika sedikit:
tetap bergerak.
Jika jatuh:
evaluasi.
Jika gagal:
pelajari.
Jika berhasil:
jangan mabuk.
Billāh berkata:
الرِّزْقُ مِنَ اللّٰهِ وَالسَّعْيُ أَمَانَةٌ
Ar-rizqu minallāhi was-sa‘yu amānah.
“Rezeki berasal dari Alloh, dan ikhtiar adalah amanah.”
FILLĀH DALAM PERJUANGAN
Perjuangan yang benar tidak hanya diukur oleh besarnya tujuan.
Ia juga diukur oleh kebersihan caranya.
Jika engkau memperjuangkan agama,
jangan merusak agama dengan kebencian yang tidak terkendali.
Jika engkau memperjuangkan budaya,
jangan gunakan budaya untuk merendahkan kelompok lain.
Jika engkau memperjuangkan lembaga,
jangan jadikan lembaga alasan untuk memutus persaudaraan.
Jika engkau memperjuangkan kebenaran,
jangan menyebarkan sesuatu yang belum pasti.
Jika engkau membela hak,
bela dengan adil.
Karena Fillāh berarti:
perjuangan tetap berada di dalam pagar kebenaran.
KETIKA ENGKAU DIPUJI
Jika kelak manusia berkata:
“Engkau hebat.”
Jawablah:
“Alhamdulillāh.”
Bukan untuk menolak pujian secara pura-pura.
Tetapi untuk mengembalikannya kepada syukur.
Jangan berkata:
“Aku bukan siapa-siapa,”
sementara hati diam-diam ingin dibujuk:
“Tidak, engkau luar biasa.”
Kerendahan hati bukan pertunjukan.
Kerendahan hati adalah mengetahui kemampuan diri sekaligus mengetahui bahwa kemampuan itu adalah amanah.
KETIKA ENGKAU DIHINA
Jika manusia berkata:
“Engkau tidak berguna.”
Jangan segera percaya.
Periksa apakah ada kritik yang benar.
Ambil yang benar.
Tinggalkan penghinaan yang tidak perlu.
Harga diri tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mulut manusia.
Maka Lillāh berkata:
“Aku hidup untuk keridhaan Alloh, bukan untuk menjadi budak seluruh penilaian manusia.”
KETIKA ENGKAU SALAH
Inilah salah satu ujian paling menentukan.
Apakah engkau mampu berkata:
“Aku salah.”
Tanpa menyalahkan semua orang.
Tanpa mencari alasan.
Tanpa menggunakan gelar.
Tanpa bersembunyi di balik kedudukan.
Qitab berkata:
“Orang yang mampu mengaku salah tidak menjadi kecil.
Ia sedang menyelamatkan dirinya dari kesombongan.”
Jika salah kepada Alloh:
bertaubat.
Jika salah kepada manusia:
minta maaf dan perbaiki haknya.
Jika salah dalam keputusan:
evaluasi.
Jika salah memahami sesuatu:
belajar kembali.
Jangan pertahankan kesalahan hanya karena malu berubah.
KETIKA ENGKAU BENAR
Namun Qitab juga memberi peringatan:
Bahkan ketika engkau benar,
cara menyampaikan kebenaran tetap harus dijaga.
Jangan gunakan kebenaran untuk menikmati penghinaan terhadap orang lain.
Jangan mengubah nasihat menjadi pertunjukan superioritas.
Ada saat harus tegas.
Tetapi tegas berbeda dari kejam.
Ada saat harus membantah.
Tetapi membantah berbeda dari merendahkan martabat.
Fillāh menjaga bukan hanya apa yang benar.
Tetapi bagaimana kebenaran dibawa.
EMPAT PENJAGA SETELAH QITAB DITUTUP
Sang hamba kemudian diberi empat penjaga untuk dibawa pulang.
1. MUHASABAH
Setiap malam bertanyalah:
“Apa yang perlu kuperbaiki hari ini?”
Bukan:
“Siapa yang paling salah kepadaku hari ini?”
2. SYUKUR
Carilah sekurang-kurangnya satu nikmat yang sering engkau anggap biasa.
Napas.
Makanan.
Air.
Orang yang masih menyayangimu.
Kesempatan memperbaiki kesalahan.
3. TAUBAT
Jangan tunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Alloh.
Kembalilah justru karena engkau belum sempurna.
4. KHIDMAH
Setiap hari lakukan satu kebaikan yang nyata.
Tidak harus besar.
Bantu.
Dengarkan.
Bersihkan.
Berikan.
Ajarkan.
Maafkan.
Perbaiki.
Karena ilmu yang tidak turun menjadi amal mudah berubah menjadi hiasan pikiran.
TIGA DZIKIR PENGINGAT QITAB
Bukan sebagai jaminan memperoleh kemampuan tertentu.
Bukan sebagai pengganti sholat, kerja, pengobatan, musyawarah, atau tanggung jawab.
Tetapi sebagai pengingat arah hati.
يَا اللّٰهُ
YĀ ALLOH
Untuk mengingat tujuan.
يَا هَادِي
YĀ HĀDĪ
Untuk memohon petunjuk dalam jalan.
يَا نُورُ
YĀ NŪR
Untuk memohon agar hati diterangi dalam membedakan yang benar dan yang keliru.
Bacalah dengan tenang sesuai kemampuan.
Bukan banyaknya bilangan yang menjadi inti.
Yang utama adalah hadirnya kesadaran, adab, dan perubahan baik setelahnya.
IKRAR LILLAH BILLAH FILLAH
Kemudian sang hamba berdiri menghadap fajar.
Ia berkata:
اَللّٰهُمَّ إِنَّ قَصْدِي لَكَ
وَاسْتِعَانَتِي بِكَ
وَسَيْرِي فِي سَبِيلِ رِضَاكَ
Allohumma inna qaṣdī lak,
wasti‘ānatī bik,
wa sayrī fī sabīli riḍāk.
Maknanya:
“Ya Alloh, tujuanku kuarahkan kepada-Mu, pertolonganku kumohon kepada-Mu, dan perjalananku kutempuh dalam jalan menuju keridhaan-Mu.”
Kemudian ia melanjutkan:
لَا أَدَّعِي الْكَمَالَ
وَلَكِنِّي أَسْأَلُكَ دَوَامَ الْإِصْلَاحِ
Lā adda‘il-kamāl,
walākinnī as’aluka dawāmal-iṣlāḥ.
“Aku tidak mengaku telah sempurna, tetapi aku memohon agar Engkau terus membimbingku dalam perbaikan.”
WASIAT QITAB KEPADA PEMBACA
Wahai siapa pun yang kelak membuka Qitab ini,
jika engkau membaca Lillāh,
jangan gunakan untuk menghakimi keikhlasan orang lain.
Gunakan untuk memeriksa niatmu.
Jika membaca Billāh,
jangan gunakan untuk meninggalkan usaha.
Gunakan untuk merendahkan kesombongan setelah usaha.
Jika membaca Fillāh,
jangan gunakan untuk mengaku menyatu dengan Tuhan.
Gunakan untuk menjaga hidupmu tetap dalam jalan yang diridhai-Nya.
Jika engkau mendapatkan kelapangan,
jadilah berguna.
Jika mendapatkan kekuasaan,
jadilah adil.
Jika mendapatkan ilmu,
jadilah rendah hati.
Jika mendapatkan harta,
jadilah dermawan.
Jika mendapatkan ujian,
jangan kehilangan arah.
Jika mendapatkan cinta,
jangan menguasai.
Jika mendapatkan kehilangan,
jangan berputus asa.
Jika mendapatkan pujian,
jangan mabuk.
Jika mendapatkan kritik,
jangan menutup telinga.
Jika mendapatkan kesempatan bertaubat,
jangan menunda.
SABDO AGUNG PENUTUP QITAB
Kemudian seluruh halaman Qitab bergetar oleh satu wewarah:
“Wahai hamba,
engkau tidak harus menjadi manusia yang dikenal seluruh bumi.
Cukuplah menjadi manusia yang ketika hadir membawa manfaat,
ketika berbicara menjaga kebenaran,
ketika memegang amanah tidak berkhianat,
ketika diberi tidak sombong,
ketika kehilangan tidak putus asa,
dan ketika salah bersedia kembali.”
Lalu terdengar lagi:
“Jangan cari Alloh hanya di tempat-tempat yang membuatmu merasa luar biasa.
Carilah keridhaan-Nya di tempat engkau harus jujur, bekerja, membayar kewajiban, menjaga keluarga, menahan amarah, meminta maaf, dan membantu sesama.”
Kemudian:
“Sebab Lillāh bukan sekadar ucapan di bibir.
Billāh bukan sekadar keyakinan di pikiran.
Fillāh bukan sekadar istilah ruhani.
Ketiganya harus turun menjadi akhlak.”
MAQAM TERAKHIR DALAM QITAB INI
KEMBALI MENJADI HAMBA
Sang hamba kini sampai di ujung jalan.
Ia mengira akan menemukan sesuatu yang sangat besar.
Ternyata di sana hanya terdapat sebuah sajadah.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada gelar baru.
Di atas sajadah tertulis:
عَبْدُ اللّٰهِ
‘Abdulloh.
“Hamba Alloh.”
Sang hamba menangis.
Bukan karena kecewa.
Tetapi karena baru memahami:
seluruh perjalanan panjang ini tidak dimaksudkan agar ia berhenti menjadi hamba.
Justru agar ia menjadi hamba dengan lebih sadar.
Hamba ketika kaya.
Hamba ketika miskin.
Hamba ketika kuat.
Hamba ketika lemah.
Hamba ketika dipuji.
Hamba ketika dilupakan.
Hamba ketika mendapat amanah.
Hamba ketika amanah selesai.
Hamba ketika doa terkabul sesuai keinginan.
Hamba ketika jalan berubah.
Hamba ketika hidup terang.
Hamba ketika malam terasa panjang.
Maka Qitab berkata:
“Tidak ada gelar yang lebih aman daripada mengetahui bahwa engkau adalah hamba Alloh.”
DOA PENUTUP AGUNG
Sang hamba bersujud.
Kemudian berdoa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حَيَاتِي لَكَ
وَعَمَلِي لَكَ
وَنِيَّتِي لَكَ
وَاسْتِعَانَتِي بِكَ
وَثَبَاتِي بِكَ
وَاجْعَلْ سَيْرِي فِي سَبِيلِ رِضَاكَ
Allohummaj‘al ḥayātī lak,
wa ‘amalī lak,
wa niyyatī lak,
wasti‘ānatī bik,
wa tsabātī bik,
waj‘al sayrī fī sabīli riḍāk.
“Ya Alloh, jadikan hidupku untuk-Mu, amalanku untuk-Mu, niatku untuk-Mu, pertolonganku kumohon kepada-Mu, keteguhanku dengan pertolongan-Mu, dan jadikan perjalananku berada dalam jalan menuju keridhaan-Mu.”
Kemudian ia berkata:
اَللّٰهُمَّ إِنْ أَعْطَيْتَنِي فَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَكَبِّرِينَ
وَإِنْ مَنَعْتَنِي فَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْقَانِطِينَ
وَإِنْ رَفَعْتَنِي فَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَوَاضِعِينَ
وَإِنْ ابْتَلَيْتَنِي فَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّابِرِينَ
Allohumma in a‘ṭaitanī falā taj‘alnī minal-mutakabbirīn,
wa in mana‘tanī falā taj‘alnī minal-qāniṭīn,
wa in rafa‘tanī faj‘alnī minal-mutawāḍi‘īn,
wa in ibtalaitanī faj‘alnī minaṣ-ṣābirīn.
Maknanya:
“Ya Alloh, apabila Engkau memberiku, jangan jadikan aku termasuk orang yang sombong. Apabila sesuatu belum Engkau berikan, jangan jadikan aku termasuk orang yang berputus asa. Apabila Engkau mengangkatku, jadikan aku tetap rendah hati. Dan apabila Engkau mengujiku, jadikan aku termasuk orang yang sabar.”
Kemudian doa terakhir:
اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي أَعْرِفُ الْكَلِمَاتِ وَأَجْهَلُ الْمَعْنَى
وَلَا أَحْمِلُ الْعِلْمَ وَأَتْرُكُ الْعَمَلَ
وَاجْعَلْ مَا قَرَأْتُهُ حُجَّةً لِي لَا عَلَيَّ
Allohumma lā taj‘alnī a‘rifُl-kalimāti wa ajhalul-ma‘nā,
wa lā aḥmilul-‘ilma wa atrukul-‘amal,
waj‘al mā qara’tuhu ḥujjatan lī lā ‘alayya.
Makna doanya:
“Ya Alloh, jangan jadikan aku hanya mengetahui kata-kata tetapi kehilangan maknanya. Jangan jadikan aku membawa ilmu tetapi meninggalkan amal. Jadikan apa yang kubaca menjadi jalan kebaikan bagiku, bukan sesuatu yang memberatkanku.”
KALIMAT TERAKHIR QITAB
Fajar telah terbit sempurna.
Sang hamba berdiri.
Ia menoleh ke belakang.
Seluruh gerbang, taman, lembah, pasar, kursi, sungai, dan jalan yang pernah dilaluinya perlahan berubah menjadi satu cahaya.
Lalu cahaya itu membentuk tiga kata:
لِلّٰهِ
UNTUK ALLOH
بِاللّٰهِ
DENGAN PERTOLONGAN ALLOH
فِي اللّٰهِ
DALAM JALAN YANG DIRIDHAI ALLOH
Kemudian ketiganya melebur menjadi satu kalimat:
مِنَ اللّٰهِ، وَلِلّٰهِ، وَبِاللّٰهِ، وَفِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَإِلَى اللّٰهِ الْمَرْجِعُ
Minallāh, wa lillāh, wa billāh, wa fī sabīlillāh, wa ilallāhil-marji‘.
Makna hikmahnya:
“Dari Alloh segala karunia berasal, untuk Alloh pengabdian diarahkan, dengan pertolongan Alloh perjalanan dijalani, di jalan Alloh langkah dijaga, dan kepada Alloh seluruh perjalanan kembali.”
Lalu seluruh Qitab ditutup dengan kalimat:
كُنْ عَبْدًا صَادِقًا
وَلَا تَطْلُبْ أَنْ تَكُونَ شَيْئًا فَوْقَ الْعُبُودِيَّةِ
Kun ‘abdan ṣādiqan,
wa lā taṭlub an takūna syai’an fauqal-‘ubūdiyyah.
“Jadilah hamba yang jujur, dan jangan mencari kemuliaan yang membuatmu lupa kepada kehambaan.”
Dan terdengar wewarah terakhir yang paling lembut:
“Jika suatu hari engkau lupa seluruh isi Qitab ini, ingatlah tiga perkara saja:
luruskan niatmu karena Alloh,
jangan merasa mampu tanpa pertolongan Alloh,
dan jangan keluar dari jalan yang diridhai Alloh.”
“Jika engkau jatuh, kembali.”
“Jika engkau salah, kembali.”
“Jika engkau berhasil, kembali.”
“Jika engkau kehilangan, kembali.”
“Jika engkau tidak tahu harus ke mana, kembali.”
“Sebab seluruh rahasia Lillāh Billāh Fillāh akhirnya bertemu pada satu kata:”
KEMBALI.
إِلَى اللّٰهِ
Ilallāh.
“Kepada Alloh.”
خَاتِمَةُ الْقِتَاب
KHĀTIMATUL-QITĀB
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
Segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam.
Apa yang benar dalam Qitab ini semoga menjadi pengingat menuju kebaikan.
Apa yang kurang hendaknya diperbaiki dengan ilmu, adab, dan kerendahan hati.
Qitab ini bukan pengganti Al-Qur’an.
Bukan pengganti Sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Bukan pula alasan bagi seseorang untuk menganggap dirinya memiliki kedudukan ruhani di atas manusia lain.
Ia hanyalah wewarah pengingat:
agar niat kembali kepada Alloh,
usaha tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh,
hasil tidak melahirkan kesombongan,
kehilangan tidak melahirkan keputusasaan,
dan seluruh kehidupan menjadi ruang pengabdian.
لِلّٰهِ الْبِدَايَةُ
وَبِاللّٰهِ الْهِدَايَةُ
وَفِي سَبِيلِهِ السَّيْرُ
وَإِلَيْهِ النِّهَايَةُ
Lillāhil-bidāyah,
wa billāhil-hidāyah,
wa fī sabīlihis-sayr,
wa ilaihin-nihāyah.
“Untuk Alloh permulaan, dengan pertolongan Alloh petunjuk, di jalan-Nya perjalanan, dan kepada-Nya seluruh akhir kembali.”
تَمَّ بِعَوْنِ اللّٰهِ
Tamma bi‘awnillāh.
“Selesai dengan pertolongan Alloh.”
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
— QITAB LILLAH BILLAH FILLAH —
لِلّٰهِ بِاللّٰهِ فِي اللّٰهِ
Lembar Kesepuluh dan Terakhir
Pulangnya Seluruh Jalan kepada Alloh
LILLĀH — niatnya.
BILLĀH — kekuatannya.
FILLĀH — jalannya.
ILALLĀH — tempat seluruhnya kembali.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.