QITAB LONTAR SADE
QITAB LONTAR SADE
Jejak Aksara Jejawan yang Diselamatkan dari Api
Lembar 1 — Daun yang Menyimpan Ingatan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Api dapat menghanguskan daun, tetapi pengetahuan yang telah diwariskan dari lisan ke lisan, dari guru kepada murid, dan dari orang tua kepada anak, masih dapat dituliskan kembali.
Lontar bukan sekadar lembaran tua. Pada guratan-guratan kecilnya tersimpan cerita, petuah, sejarah, silsilah, pengetahuan, doa, sastra, serta cara orang-orang terdahulu memahami kehidupan.
Maka ketika selembar lontar terselamatkan dari kebakaran, yang diselamatkan bukan hanya sebuah benda.
Yang diselamatkan adalah jejak ingatan suatu masyarakat.
Contoh Tulisan Daun Lontar Jejawan Sasak
Salah satu contoh ungkapan Sasak yang dituliskan dalam aksara Jejawan:
ᬳᬳᬶᬅ᭄ᬫᭂᬦᬾᬂᬢᬸᬜ᭄ᬚᬸᬂᬢᬶᬮᬄᬳᭂᬫ᭄ᬧᬅ᭄ᬩᬳᬸ᭟
Alih aksara Latin:
Aiq menéng tunjung tilah empaq bau.
Arti:
“Air jernih, teratai utuh, ikan tertangkap.”
Maknanya adalah mencapai suatu tujuan dengan baik tanpa merusak keadaan dan tanpa menimbulkan keributan.
Gambaran Bila Ditulis pada Sebilah Lontar
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
ᬳᬳᬶᬅ᭄ᬫᭂᬦᬾᬂᬢᬸᬜ᭄ᬚᬸᬂᬢᬶᬮᬄ
ᬳᭂᬫ᭄ᬧᬅ᭄ᬩᬳᬸ᭟
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Huruf-hurufnya tidak sekadar dituliskan memakai tinta. Pada lontar tradisional, bentuk aksara digoreskan pada permukaan daun, kemudian alur goresannya dihitamkan agar dapat dibaca.
Rahasia Lembar Pertama
Daun dapat terbakar.
Tulisan dapat hilang.
Tetapi ilmu yang masih diingat manusia dapat ditulis kembali.
Karena itulah pekerjaan menyalin kembali naskah setelah bencana bukan sekadar menyalin huruf.
Ia adalah usaha menyelamatkan ingatan.
QITAB LONTAR SADE
Lembar 2 — Baluq Olas: Delapan Belas Aksara Dasar Jejawan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sebelum membaca isi sebuah lontar, seseorang terlebih dahulu harus mengenali tubuh hurufnya.
Dalam pengajaran aksara Jejawan Sasak dikenal rangkaian Baluq Olas, yakni delapan belas aksara dasar.
18 Aksara Dasar
ᬳ — Ha
ᬦ — Na
ᬘ — Ca
ᬭ — Ra
ᬓ — Ka
ᬤ — Da
ᬢ — Ta
ᬲ — Sa
ᬯ — Wa
ᬮ — La
ᬫ — Ma
ᬕ — Ga
ᬩ — Ba
ᬗ — Nga
ᬧ — Pa
ᬚ — Ja
ᬬ — Ya
ᬜ — Nya
Jika dirangkaikan:
ᬳ ᬦ ᬘ ᬭ ᬓ
ᬤ ᬢ ᬲ ᬯ ᬮ
ᬫ ᬕ ᬩ ᬗ
ᬧ ᬚ ᬬ ᬜ
Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Ma Ga Ba Nga
Pa Ja Ya Nya
Mengapa Huruf Lontar Terlihat Berbeda?
Pada daun lontar, bentuk huruf tidak selalu tampak sebersih huruf digital.
Goresan dapat:
- memanjang mengikuti serat daun,
- menebal setelah diberi penghitam,
- memudar karena usia,
- berubah sedikit mengikuti tangan penulis,
- atau terpotong karena pinggir daun rusak.
Karena itulah pembacaan lontar tidak cukup hanya mengenal bentuk satu huruf.
Pembaca harus mengenali pola kata dan hubungan antaraksara.
Contoh Latihan Membaca
ᬲᬲᬓ᭄
Sasak
ᬮᭀᬫ᭄ᬩᭀᬓ᭄
Lombok
Dalam naskah nyata, tanda vokal dan tanda pemati bunyi ikut menentukan bagaimana sebuah rangkaian dibaca.
Maka satu aksara tidak selalu berbunyi sama ketika telah bergabung dengan tanda lain.
Petuah Lembar Kedua
Orang yang hanya melihat goresannya akan melihat daun tua.
Orang yang mengenali hurufnya mulai mendengar suara masa lalu.
Aksara adalah pintu pertama.
Bahasa adalah pintu kedua.
Makna adalah pintu ketiga.
Sedangkan memahami mengapa leluhur menuliskannya adalah perjalanan yang jauh lebih dalam.
Penutup Lembar 2
Jangan tergesa menafsirkan sebelum mampu membaca.
Jangan mengubah bacaan hanya karena bentuknya tampak asing.
Sebab satu goresan yang keliru dapat mengubah satu kata,
dan satu kata yang berubah dapat mengubah seluruh pesan.
Catatan: bentuk aksara di atas merupakan bentuk pembelajaran digital Jejawan/aksara Bali yang berkerabat dekat dengan tradisi tulisan lontar Sasak. Bentuk tulisan tangan pada lontar asli dapat bervariasi.
QITAB LONTAR SADE
Lembar 3 — Tanda Suara: Ketika Aksara Mulai Bernapas
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya kita mengenal tubuh dasar aksara.
Namun sebuah aksara belum menjadi kata hanya dengan bentuk dasarnya.
Ia membutuhkan suara.
Dalam tradisi tulisan Jejawan Sasak, sebagaimana keluarga aksara Bali–Jawa yang berkerabat dengannya, tanda-tanda tertentu ditempatkan di sekitar huruf untuk mengubah bunyi vokalnya.
Bunyi Dasar
Sebuah aksara dasar pada umumnya membawa bunyi a.
Contohnya:
ᬓ
ka
Tetapi setelah diberi tanda suara, bunyinya dapat berubah.
ᬓᬶ
ki
ᬓᬸ
ku
ᬓᬾ
ke
ᬓᭀ
ko
ᬓᭂ
kĕ / kə
Maka sebuah bentuk dasar yang sama dapat melahirkan beberapa bunyi hanya dengan tambahan goresan kecil.
Tanda Pemati Bunyi
Ada pula keadaan ketika bunyi a pada akhir aksara harus dihentikan.
Contoh sederhana:
ᬓ᭄
k
Tanda kecil sesudah aksara itu menunjukkan bahwa huruf tidak lagi dibaca ka, melainkan berhenti pada konsonan k.
Hal seperti inilah yang membuat pembacaan lontar membutuhkan ketelitian.
Satu tanda kecil dapat mengubah:
ka → k
dan perubahan satu bunyi dapat mengubah sebuah kata.
Contoh Kata
ᬲᬲᬓ᭄
Sasak
Perhatikan huruf terakhir.
Jika tanda penutupnya diabaikan, pembaca dapat keliru membunyikannya.
Karena itu pembaca lontar lama tidak hanya melihat huruf besar.
Ia juga memperhatikan:
titik, lengkungan, guratan di atas, di bawah, di depan, dan di belakang aksara.
Mengapa Tulisan Lontar Sulit Dibaca?
Daun lontar yang telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun dapat mengalami:
- permukaan menghitam,
- goresan aus,
- ujung daun pecah,
- lubang pengikat membesar,
- sebagian aksara hilang,
- bekas air,
- jamur,
- panas,
- atau kebakaran.
Pada keadaan seperti naskah yang terselamatkan di Sade, satu bagian yang gosong dapat menghilangkan hanya sepotong tanda suara.
Namun kehilangan sepotong kecil itu terkadang cukup untuk membuat dua kemungkinan bacaan berbeda.
Kaidah Penyalinan
Jika kelak naskah lontar yang rusak hendak ditulis kembali, sebaiknya dibedakan antara:
1. Huruf yang masih terbaca jelas
dituliskan sebagaimana adanya.
2. Huruf yang hanya terbaca sebagian
dicatat sebagai bacaan sementara.
3. Huruf yang benar-benar hilang
jangan langsung diisi berdasarkan dugaan.
4. Kata yang dapat dipulihkan dari konteks
tetap diberi keterangan bahwa bagian tersebut merupakan hasil rekonstruksi.
Dengan demikian penyalin tidak mencampurkan antara:
apa yang benar-benar tertulis
dan
apa yang diperkirakan pernah tertulis.
Rahasia Lembar Ketiga
Satu huruf mempunyai tubuh.
Tanda suara memberinya napas.
Susunan huruf memberinya nama.
Kalimat memberinya maksud.
Namun amanah pembaca adalah jangan memberikan suara kepada sebuah huruf yang sebenarnya telah hilang.
Sebab menjaga naskah bukan berarti mengisi semua kekosongan.
Kadang menjaga naskah justru berarti berani menuliskan:
“Bagian ini belum terbaca.”
Penutup
Daun lontar boleh terluka oleh usia dan api.
Tetapi selama manusia masih mampu membedakan antara bacaan, dugaan, dan tafsir, warisan itu masih dapat dijaga dengan jujur.
Bersambung — Lembar 4
Pasangan dan Tumpukan Aksara: Mengapa Dua Huruf Bisa Menjadi Satu Bentuk
QITAB LONTAR SADE
Lembar 4 — Pasangan Aksara: Ketika Huruf Bertemu Huruf
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya kita melihat bahwa sebuah tanda kecil dapat mengubah bunyi sebuah aksara.
Sekarang kita memasuki bagian yang lebih halus:
bagaimana dua konsonan dapat bertemu tanpa disela bunyi a.
Dalam keluarga aksara yang digunakan pada tradisi Jejawan Sasak, sebuah aksara dapat mempunyai bentuk pasangan atau bentuk sambungan ketika mengikuti konsonan sebelumnya.
Karena itu, tulisan pada lontar kadang tidak terlihat seperti deretan huruf yang berdiri sendiri.
Sebagian aksara dapat berada:
- di bawah aksara sebelumnya,
- menempel pada bentuk utama,
- berubah bentuk,
- atau menjadi rangkaian yang tampak seperti satu kesatuan.
Mengapa Pasangan Diperlukan?
Bayangkan sebuah bunyi:
kra
Jika setiap aksara dibaca terpisah dengan vokal bawaan, pembaca dapat keliru membacanya menjadi:
ka-ra
Padahal yang dimaksud dapat berupa gugus bunyi:
kra
Maka aksara kedua tidak selalu ditulis sebagai huruf bebas sebagaimana ketika ia berdiri sendiri.
Ia dapat hadir sebagai bentuk sambungan.
Inilah salah satu alasan naskah lontar tampak rapat dan rumit bagi orang yang baru mempelajarinya.
Cara Melihat Sebuah Rangkaian
Ketika menemukan satu kelompok aksara, jangan langsung membaca dari bentuk terbesar saja.
Perhatikan:
aksara utama
↓
tanda suara
↓
tanda pemati
↓
pasangan atau sambungan di bawahnya
↓
aksara berikutnya
Kadang bagian yang paling kecil justru menentukan bunyi sebenarnya.
Contoh Pemahaman Bunyi
Misalnya sebuah kata mempunyai susunan konsonan:
K + R + A
Bukan selalu berarti:
ka-ra
Ia dapat menjadi:
kra
Demikian pula:
S + T + A
dapat membentuk:
sta
bukan selalu:
sa-ta.
Cara penulisan yang tepat harus mengikuti bentuk aksara dan kebiasaan naskah yang sedang dibaca.
Jangan Menyamakan Semua Lontar
Satu hal penting bagi penyalin:
tidak semua naskah memiliki bentuk tulisan tangan yang sama.
Penulis yang berbeda dapat mempunyai:
- lengkungan berbeda,
- ukuran pasangan berbeda,
- jarak antarhuruf berbeda,
- cara membuat tanda suara berbeda,
- serta kebiasaan singkatan yang berbeda.
Karena itu sebuah bentuk yang tampak seperti satu aksara pada satu lontar mungkin merupakan gabungan dua atau lebih unsur tulisan.
Cara Menyalin Lontar yang Rusak
Jika bagian lontar terbakar tepat pada sambungan huruf, jangan segera menentukan bahwa bagian yang tersisa adalah satu aksara tertentu.
Lakukan pembacaan berlapis:
Pertama
lihat bentuk yang masih tersisa.
Kedua
bandingkan dengan bentuk huruf yang sama pada bagian lain dari naskah.
Ketiga
lihat kata sebelum dan sesudahnya.
Keempat
periksa apakah kemungkinan bacaan sesuai dengan bahasa naskah.
Kelima
jika tetap belum pasti, tandai sebagai bagian yang belum terbaca.
Contoh Catatan Penyalinan
Misalnya sebuah baris rusak:
... ra — [bagian terbakar] — na ...
Penyalin tidak seharusnya langsung mengisi kekosongan hanya karena ada satu kata yang terasa cocok.
Lebih aman menuliskan:
ra [aksara tidak terbaca] na
Kemudian pada catatan diberikan beberapa kemungkinan bacaan apabila memang diperlukan.
Dengan cara itu generasi berikutnya masih dapat memeriksa kembali naskah tersebut.
Rahasia Lembar Keempat
Huruf yang berdiri sendiri mudah dikenali.
Huruf yang bersatu membutuhkan kesabaran.
Begitu pula warisan leluhur.
Jika dilihat sepintas, ia hanya tampak seperti kumpulan daun tua.
Tetapi apabila dibaca satu lapis demi satu lapis, dapat terlihat:
bahasanya, zamannya, tangan penulisnya, cara berpikirnya, dan pesan yang hendak diwariskan.
Pesan untuk Penyalin Sade
Jika naskah yang terbakar hendak ditulis kembali, jangan mengejar kesempurnaan sampai harus mengarang bagian yang telah hilang.
Selamatkan yang masih dapat dibaca.
Catat yang belum pasti.
Pisahkan antara tulisan asli dan hasil rekonstruksi.
Sebab sebuah naskah yang menyisakan kekosongan tetapi jujur lebih berharga daripada naskah yang tampak lengkap namun sebagian isinya lahir dari dugaan.
Penutup Lembar 4
Aksara dapat bertumpuk.
Daun dapat terbelah.
Sebagian kalimat dapat lenyap.
Namun selama cara membacanya dijaga dengan teliti, satu serpihan lontar pun masih dapat menjadi jalan menuju pengetahuan yang lebih besar.
Bersambung — Lembar 5
Mengenali Bahasa dalam Lontar: Sasak, Jawa/Kawi, dan Jejak Kata Lama
QITAB LONTAR SADE
Lembar 5 — Mengenali Bahasa dalam Lontar: Sasak, Jawa/Kawi, dan Jejak Kata Lama
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Mengenali aksara belum berarti langsung mengetahui bahasanya.
Sebuah lontar dapat memakai aksara Jejawan, tetapi bahasa yang dituangkan di dalamnya bisa berbeda-beda sesuai zaman, penulis, lingkungan, dan tujuan naskah.
Pada khazanah manuskrip Lombok dapat dijumpai unsur:
bahasa Sasak,
bahasa Jawa atau Jawa lama/Kawi,
serta kata-kata serapan dari bahasa lain yang telah hidup lama di tengah masyarakat.
Karena itu:
Aksara adalah wadah.
Bahasa adalah isi.
Keduanya harus dibedakan.
1. Ketika Bahasanya Sasak
Jika suatu bagian menggunakan bahasa Sasak, pembaca biasanya menemukan kosakata dan susunan kalimat yang dekat dengan tuturan masyarakat Lombok.
Namun bahasa Sasak sendiri memiliki variasi.
Kosakata suatu wilayah belum tentu sama persis dengan wilayah lain.
Bahasa dalam naskah lama juga dapat berbeda dengan bahasa Sasak sehari-hari sekarang.
Karena itu sebuah kata yang terdengar asing belum tentu salah.
Bisa jadi ia adalah:
- bentuk lama,
- dialek tertentu,
- istilah adat,
- ungkapan sastra,
- atau kata yang sudah jarang digunakan.
2. Ketika Muncul Bahasa Jawa atau Kawi
Sebagian naskah tradisional Nusantara menggunakan kosakata Jawa lama atau bentuk sastra yang sering disebut Kawi.
Pada bagian seperti ini, pembaca modern dapat menemukan kata yang terasa lebih tua dan puitis.
Misalnya kosakata yang berhubungan dengan:
raja, kerajaan, perjalanan, perang, pertapaan, gunung, laut, dharma, rasa, jiwa, kesetiaan, dan kehidupan manusia.
Tetapi jangan menetapkan suatu teks sebagai Kawi hanya karena terdapat satu atau dua kata lama.
Identifikasi bahasa harus melihat keseluruhan kalimat dan tata bahasanya.
3. Satu Naskah Dapat Mengandung Lebih dari Satu Lapisan Bahasa
Inilah bagian yang menarik.
Dalam sebuah lontar, dapat saja terdapat:
narasi utama dalam satu bahasa,
petuah dalam bahasa lain,
istilah keagamaan dari bahasa Arab,
serta nama tokoh atau tempat yang mempertahankan bentuk lama.
Maka penyalin jangan memaksa seluruh naskah masuk ke satu bahasa.
Kadang satu halaman memang menjadi tempat bertemunya beberapa tradisi.
Contoh Cara Membaca dengan Hati-Hati
Apabila ditemukan satu kata yang belum dikenal:
Jangan langsung menggantinya.
Pertama, salin dahulu bunyinya sejauh yang dapat dibaca.
Kedua, cari kemunculan kata yang sama pada lembar lain.
Ketiga, perhatikan kata sebelum dan sesudahnya.
Keempat, tanyakan kepada orang yang memahami bahasa Sasak lama atau tradisi pembacaan lontar.
Kelima, baru usulkan kemungkinan artinya.
Tiga Lapisan yang Harus Dipisahkan
Dalam pekerjaan penyelamatan naskah, hendaknya dibuat tiga bagian:
Teks Asli
Apa yang benar-benar terlihat pada lontar.
Alih Aksara
Tulisan Jejawan dipindahkan ke huruf Latin tanpa mengubah isi.
Terjemahan atau Tafsir
Makna teks diterangkan dalam bahasa sekarang.
Jangan mencampurkan ketiganya.
Sebab jika terjemahan dimasukkan seolah-olah teks asli, generasi kemudian akan sulit mengetahui mana suara penulis dahulu dan mana penjelasan penyalin masa kini.
Bila Lontar Terbakar
Misalnya ditemukan baris:
[terbaca] — [gosong] — [terbaca]
maka penyalinan yang jujur lebih baik berbentuk:
“… [bagian tidak terbaca] …”
daripada mengisi bagian kosong dengan kalimat yang terasa indah tetapi tidak memiliki bukti.
Karena tujuan penyelamatan bukan membuat naskah tampak sempurna.
Tujuannya adalah:
menjaga apa yang masih benar-benar dapat diketahui.
Rahasia Lembar Kelima
Satu tulisan dapat membawa beberapa zaman sekaligus.
Hurufnya mungkin tua.
Bahasanya mungkin lebih tua lagi.
Tetapi pesan manusianya terkadang tetap dapat dimengerti:
tentang keluarga,
tentang kehidupan,
tentang menjaga amanah,
tentang hubungan manusia dengan alam,
tentang keyakinan,
dan tentang bagaimana manusia ingin dikenang sesudah dirinya tiada.
Petuah untuk Penyalin
Jangan menerjemahkan sebelum membaca.
Jangan menafsirkan sebelum mengenali bahasa.
Jangan menyimpulkan sebelum melihat keseluruhan naskah.
Sebab satu kata lama kadang hanya dapat dipahami setelah bertemu dengan kalimat yang berada beberapa lembar sesudahnya.
Penutup Lembar 5
Api mungkin telah menghilangkan sebagian daun.
Tetapi selama aksara yang tersisa dibaca dengan sabar, bahasa lama masih dapat berbicara.
Dan ketika bahasa itu berhasil dikenali, kita bukan sedang menghidupkan sesuatu yang gaib.
Kita sedang mendengarkan kembali suara manusia masa lalu melalui tulisan yang mereka tinggalkan.
Bersambung — Lembar 6
Cara Membaca Lontar yang Gosong: Menyelamatkan Huruf Tanpa Mengarang Bagian yang Hilang
QITAB LONTAR SADE
Lembar 6 — Cara Membaca Lontar yang Gosong: Menyelamatkan Huruf Tanpa Mengarang
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketika sebuah lontar terkena api, kerusakannya tidak selalu sama.
Ada daun yang hanya menghitam di bagian tepi.
Ada yang retak.
Ada yang sebagian permukaannya terangkat.
Ada pula yang hurufnya masih tampak, tetapi serat daun sudah rapuh.
Pada keadaan seperti ini, kesabaran jauh lebih penting daripada keinginan untuk segera mengetahui isi seluruh naskah.
1. Jangan Membersihkan dengan Paksa
Lontar yang terbakar dapat menjadi sangat rapuh.
Debu hitam yang tampak menempel pada permukaan belum tentu boleh langsung digosok.
Sebab di bawah bagian yang menghitam itu mungkin masih terdapat:
- bekas goresan aksara,
- pigmen penghitam huruf,
- serat daun yang hampir terlepas,
- atau sisa bentuk aksara yang masih dapat dikenali.
Jika digosok terlalu kuat, bagian terakhir yang masih menyimpan tulisan justru dapat hilang.
2. Bacalah dari Bagian yang Paling Jelas
Jangan mulai dari bagian yang paling rusak.
Mulailah dari aksara yang paling mudah dikenali.
Misalnya satu baris memperlihatkan:
aksara jelas — aksara jelas — bagian gosong — aksara jelas
Salin dahulu bagian yang benar-benar terbaca.
Contoh pencatatan:
[ka] [ra] […] [na]
Tanda:
[…]
berarti terdapat bagian yang tidak dapat dibaca dengan pasti.
Cara seperti ini menjaga agar orang berikutnya mengetahui bahwa bagian kosong tersebut memang berasal dari kerusakan naskah.
3. Jangan Mengisi Berdasarkan Perasaan
Kadang setelah membaca beberapa kata, seseorang merasa sudah mengetahui kalimat berikutnya.
Di sinilah bahaya terbesar muncul.
Sebab sebuah kalimat yang terasa cocok belum tentu sama dengan yang pernah ditulis oleh penyalin dahulu.
Maka bedakan:
Terbaca
Huruf masih terlihat dan dapat dikenali.
Diperkirakan
Ada sisa bentuk, tetapi belum cukup jelas.
Direkonstruksi
Huruf sudah hilang, tetapi diperkirakan berdasarkan konteks.
Ketiga keadaan itu tidak boleh dicampur.
4. Bandingkan Tulisan Penulis yang Sama
Setiap penulis mempunyai kebiasaan tangan.
Misalnya satu bentuk na pada naskah tertentu mungkin lebih panjang daripada bentuk yang biasa kita lihat.
Satu ra mungkin memiliki lengkungan khas.
Satu tanda vokal mungkin dibuat sangat kecil.
Karena itu untuk membaca bagian yang gosong, cari bentuk serupa pada lembar lain.
Jika huruf yang masih utuh ditemukan berkali-kali, gaya tangan penulis mulai dapat dikenali.
Dari sanalah bagian yang rusak dapat dibandingkan dengan lebih hati-hati.
5. Lubang Lontar Juga Harus Diperhatikan
Daun lontar biasanya mempunyai lubang untuk tali pengikat.
Kadang tulisan berhenti atau menyesuaikan diri di sekitar lubang tersebut.
Maka jangan menganggap setiap ruang kosong sebagai kerusakan.
Sebagian kekosongan memang merupakan bagian dari susunan fisik lontar.
6. Nomor dan Urutan Lembar Sangat Penting
Setelah tali pengikat rusak atau terbakar, lembar-lembar lontar dapat terlepas dan bercampur.
Sebelum menafsirkan ceritanya, periksa:
- bentuk ujung daun,
- bekas lubang,
- kesesuaian tulisan,
- kelanjutan kalimat,
- serta tanda urutan jika masih ada.
Satu lembar yang diletakkan pada urutan yang salah dapat membuat kisah terlihat seolah-olah terputus.
Padahal masalahnya mungkin bukan pada teks, melainkan pada susunan daun.
Contoh Pencatatan Lembar Rusak
Misalnya aksara menghasilkan kemungkinan bunyi:
… sasak … [rusak] … bumi …
Maka catatan awal sebaiknya:
Transkripsi Sementara
… Sasak … [bagian hilang] … bumi …
Bukan langsung:
“Sasak menjaga bumi…”
kecuali seluruh aksaranya benar-benar dapat dibuktikan.
Kalimat kedua sudah merupakan tafsir atau rekonstruksi.
Empat Tingkat Kepastian
Untuk memudahkan pekerjaan, setiap bacaan dapat diberi tanda:
A — Sangat Jelas
Seluruh bentuk aksara dapat dikenali.
B — Kemungkinan Besar
Sebagian kecil bentuk rusak, tetapi pola aksara masih kuat.
C — Dugaan
Hanya beberapa bagian yang tersisa.
D — Tidak Terbaca
Tidak cukup bukti untuk menentukan huruf.
Dengan cara ini, pembaca berikutnya mengetahui seberapa kuat setiap hasil pembacaan.
Jangan Membuka Lontar Terlalu Lebar
Daun yang telah terkena panas dapat kehilangan kelenturannya.
Jika dipaksa lurus atau ditekan, retakan baru dapat muncul.
Maka keselamatan benda harus didahulukan daripada keinginan membaca.
Bila naskah memiliki nilai sejarah penting, penanganan fisiknya sebaiknya dilakukan bersama orang yang memahami konservasi manuskrip.
Rahasia Lembar Keenam
Ada kalanya ilmu bukan terletak pada kemampuan menemukan jawaban.
Ilmu juga terletak pada kemampuan mengatakan:
“Aku belum mengetahui huruf ini.”
Pengakuan seperti itu bukan kelemahan.
Ia adalah bentuk penjagaan.
Sebab satu kesalahan yang ditulis ulang berkali-kali dapat berubah menjadi sesuatu yang kemudian dianggap sebagai kebenaran.
Pesan dari Daun yang Terbakar
Bayangkan selembar lontar yang hanya menyisakan separuh kalimat.
Ia tidak meminta kita menyempurnakan dirinya dengan khayalan.
Ia hanya meminta:
bacalah apa yang masih ada,
jagalah apa yang masih tersisa,
dan jangan menambahkan suara yang tidak pernah dituliskan.
Penutup Lembar 6
Api menghancurkan sebagian tanda.
Waktu menghapus sebagian suara.
Tetapi kejujuran seorang pembaca dapat menjaga batas antara peninggalan dan dugaan.
Dan dari batas itulah warisan dapat diteruskan dengan lebih bersih.
Bersambung — Lembar 7
Rahasia Susunan Lontar: Mengurutkan Daun, Membaca Awal–Akhir, dan Menemukan Sambungan Kisah
QITAB LONTAR SADE
Lembar 7 — Rahasia Susunan Lontar: Mengurutkan Daun dan Menemukan Sambungan Kisah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sebuah lontar bukan hanya kumpulan daun bertulisan.
Ia adalah rangkaian.
Satu lembar dapat menjadi pembuka.
Lembar berikutnya melanjutkan kalimat.
Lembar lain membawa kisah menuju bagian yang lebih dalam.
Karena itu ketika ikatan lontar rusak, terbakar, atau terlepas, persoalan pertama bukan hanya:
“Apa bunyi tulisannya?”
Tetapi juga:
“Daun ini seharusnya berada di mana?”
1. Jangan Mengurutkan Hanya dari Warna Daun
Daun lontar yang lebih gelap belum tentu lebih tua.
Daun yang lebih terang belum tentu berada di bagian awal.
Warna dapat berubah karena:
- panas,
- asap,
- minyak tangan,
- kelembapan,
- umur,
- penyimpanan,
- atau bagian tertentu lebih sering disentuh.
Maka warna hanyalah petunjuk kecil.
Bukan penentu utama.
2. Lihat Kelanjutan Kalimat
Cara terkuat untuk menemukan urutan adalah membaca ujung satu lembar dan awal lembar lain.
Misalnya lembar pertama berakhir:
“… kemudian sang anak berjalan menuju …”
Lembar lain dimulai:
“… gunung tempat gurunya menunggu.”
Jika bahasa, tulisan, dan konteksnya cocok, kedua bagian mungkin berdekatan.
Namun tetap harus diperiksa unsur lain sebelum dipastikan.
3. Perhatikan Arah Tulisan
Setiap naskah mempunyai kebiasaan penataan.
Ada batas tempat tulisan dimulai.
Ada batas tempat tulisan berakhir.
Ada ruang di sekitar lubang pengikat.
Ada pola jarak antarbaris.
Apabila sebuah daun terbalik, susunan aksara biasanya segera terasa tidak wajar.
Karena itu sebelum membaca, pastikan:
mana sisi depan,
mana sisi belakang,
mana ujung awal,
dan mana ujung akhir.
4. Lubang Pengikat Menjadi Petunjuk
Lubang pada lontar bukan sekadar tempat memasukkan tali.
Posisinya dapat membantu mengetahui:
- orientasi daun,
- sisi yang seharusnya menghadap atas,
- kesesuaian dengan lembar lain,
- dan apakah satu lembar berasal dari bundel yang sama.
Tetapi lubang saja tidak cukup.
Satu bundel lama dapat pernah dibongkar dan disusun kembali.
Maka tetap harus dikombinasikan dengan pembacaan teks.
5. Cari Kata Penghubung
Kata-kata tertentu sering memberi tanda bahwa cerita masih berlanjut.
Misalnya ungkapan yang bermakna:
kemudian, sesudah itu, maka, lalu, adapun, ketika, sebab, karena, demikianlah.
Jika sebuah lembar dimulai dengan kata penghubung tetapi tidak mempunyai konteks sebelumnya, besar kemungkinan ia bukan lembar pertama.
Sebaliknya, pembukaan naskah biasanya mempunyai tanda pengantar yang berbeda.
6. Perhatikan Tokoh yang Tiba-Tiba Muncul
Misalnya satu lembar langsung menyebut:
“Kemudian ia menjawab gurunya…”
Tetapi kita belum mengetahui siapa “ia” dan siapa “gurunya”.
Itu pertanda bahwa ada bagian sebelumnya.
Maka jangan segera menganggap teks itu tidak lengkap.
Bisa jadi urutan lembar belum benar.
7. Akhir Kisah Juga Memiliki Tanda
Bagian akhir suatu kisah sering mempunyai pola:
- tokoh kembali,
- perjalanan selesai,
- amanat disampaikan,
- doa penutup,
- nama penyalin,
- waktu penyalinan,
- atau kalimat penutup.
Jika setelah kalimat penutup masih terdapat lembar lain dengan cerita berbeda, mungkin naskah tersebut mempunyai beberapa bagian atau beberapa teks dalam satu bundel.
Contoh Susunan Sederhana
Bayangkan ditemukan empat lembar tanpa nomor.
Lembar A
“… ia meninggalkan rumahnya menuju arah timur.”
Lembar B
“Pada pagi berikutnya ia melihat gunung dari kejauhan.”
Lembar C
“Demikianlah pesan sang guru sebelum mereka berpisah.”
Lembar D
“Adapun pada awal perjalanan itu, sang guru telah berpesan…”
Urutan yang masuk akal belum tentu:
A – B – C – D.
Berdasarkan alur kalimat, mungkin:
D → A → B → C
Namun hasil itu masih harus dibandingkan dengan tulisan fisik dan isi keseluruhan naskah.
Buat Nomor Sementara
Jika lembar asli tidak lagi mempunyai nomor yang terbaca, jangan langsung menuliskan nomor permanen pada daun.
Gunakan pencatatan terpisah:
L-01
L-02
L-03
atau kode lain pada foto dan lembar dokumentasi.
Dengan demikian, susunan dapat diubah kembali jika kemudian ditemukan bukti baru.
Dokumentasikan Dua Sisi
Setiap daun hendaknya didokumentasikan:
Sisi A
dan
Sisi B.
Jangan hanya memotret sisi yang terlihat paling jelas.
Kadang satu sisi menyimpan akhir kalimat, sedangkan sisi lainnya adalah kelanjutannya.
Foto yang baik juga membantu membaca tanpa terlalu sering menyentuh benda asli.
Rahasia Lembar Ketujuh
Satu kalimat dapat benar.
Satu terjemahan dapat benar.
Tetapi jika lembar ditempatkan pada urutan yang salah, keseluruhan kisah dapat berubah.
Karena itulah penjaga naskah tidak hanya menjaga huruf.
Ia juga menjaga:
tempat setiap huruf berada di dalam perjalanan ceritanya.
Pesan bagi Penyalin
Jangan memaksa sebuah daun masuk ke tempat yang belum pasti.
Biarkan ia sementara tanpa urutan jika bukti belum cukup.
Lebih baik memiliki sepuluh lembar yang belum sempurna susunannya daripada menciptakan urutan palsu yang kemudian diwariskan sebagai kebenaran.
Penutup Lembar 7
Daun pertama membuka pintu.
Daun berikutnya menunjukkan jalan.
Daun terakhir menutup perjalanan.
Namun bila semuanya tercampur, tugas kita bukan mengarang perjalanan baru.
Tugas kita adalah:
mendengarkan hubungan antarlembar,
membandingkan bentuk,
mengikuti jejak bahasa,
dan perlahan menemukan kembali susunan yang paling dapat dipertanggungjawabkan.
Bersambung — Lembar 8
Membuat Alih Aksara: Dari Jejawan ke Huruf Latin Tanpa Mengubah Bunyi Aslinya
QITAB LONTAR SADE
Lembar 8 — Membuat Alih Aksara: Dari Jejawan ke Huruf Latin Tanpa Mengubah Bunyi Aslinya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sesudah mengenali aksara, tanda suara, pasangan, bahasa, serta urutan daun, tibalah pada pekerjaan penting:
alih aksara.
Alih aksara bukan terjemahan.
Alih aksara adalah memindahkan tulisan dari satu sistem huruf ke sistem huruf lain dengan tetap menjaga bunyi teks sejauh yang dapat dibaca.
Maka:
Jejawan → Latin
bukan berarti:
bahasa lama → bahasa Indonesia.
Itu dua pekerjaan yang berbeda.
1. Bedakan Alih Aksara dan Terjemahan
Misalnya pada lontar ditemukan sebuah kata yang setelah dibaca berbunyi:
Sasak
Maka alih aksaranya tetap:
Sasak
Belum perlu diterangkan maknanya.
Jika setelah itu diterjemahkan atau diberi penjelasan, barulah masuk bagian:
terjemahan / keterangan.
Dengan demikian satu naskah dapat dibuat dalam tiga lapisan:
Teks Jejawan
Tulisan sebagaimana terdapat pada lontar.
Alih Aksara Latin
Bunyi tulisan dipindahkan ke huruf Latin.
Terjemahan
Maknanya diterangkan dalam bahasa yang dipahami pembaca sekarang.
2. Jangan Memperindah Alih Aksara
Alih aksara harus sedekat mungkin dengan apa yang terbaca.
Jika naskah memakai bentuk kata lama, jangan langsung menggantinya dengan bahasa modern hanya agar terasa lebih enak.
Misalnya suatu kata terbaca dalam bentuk lama.
Tuliskan dahulu sebagaimana bunyinya.
Setelah itu boleh diberi catatan:
“Dalam bahasa sekarang dipahami sebagai …”
Dengan cara tersebut bentuk asli tetap tersimpan.
3. Pertahankan Bagian yang Tidak Terbaca
Jika satu kata rusak, jangan menyembunyikan kerusakannya.
Contohnya:
Teks yang masih terbaca:
sa — [rusak] — ka
Maka alih aksara dapat ditulis:
sa[…]ka
atau dengan sistem tanda lain yang dijelaskan sejak awal.
Yang penting pembaca mengetahui:
bagian itu tidak utuh pada manuskrip.
4. Gunakan Tanda Secara Konsisten
Sebelum menyalin banyak lembar, buat aturan.
Contoh:
[…] = bagian hilang atau tidak terbaca.
(?) = bacaan diragukan.
[kata] = rekonstruksi penyalin.
Misalnya:
… lunga [marang?] desa …
Artinya kata tersebut masih memerlukan pemeriksaan.
Tetapi setiap proyek penyalinan dapat memiliki sistem berbeda.
Yang terpenting:
sistem tandanya dijelaskan dan digunakan secara konsisten.
5. Huruf Jangan Langsung Dianggap Kata
Kadang batas antarkata pada naskah lama tidak sejelas tulisan modern.
Karena itu susunan seperti:
ka-ra-na
belum tentu langsung dapat dipisahkan berdasarkan kebiasaan ejaan masa sekarang.
Pembaca harus melihat:
- bahasa teks,
- konteks kalimat,
- tanda baca,
- pola penulisan pada lembar lain,
- dan kebiasaan penyalin.
6. Tanda Vokal Sangat Penting
Perubahan satu tanda dapat menghasilkan bunyi berbeda.
Contoh sederhana:
ka
ki
ku
ke
ko
Jika tanda vokalnya rusak, jangan memilih bunyi hanya berdasarkan perkiraan.
Catat dahulu keraguannya.
Sebab perbedaan satu vokal terkadang menghasilkan kata yang benar-benar berbeda.
7. Pertahankan Nama Orang dan Tempat
Nama tokoh dan tempat harus mendapat perhatian khusus.
Jangan segera memodernkan nama.
Misalnya sebuah nama pada teks lama mempunyai ejaan yang tidak sama dengan nama tempat sekarang.
Tuliskan dahulu bentuk sebagaimana terbaca.
Kemudian pada catatan dapat diberikan kemungkinan:
“Diperkirakan merujuk kepada …”
Dengan begitu pembaca tetap dapat membedakan antara:
nama pada manuskrip
dan
identifikasi oleh peneliti masa kini.
8. Nomori Setiap Baris
Untuk naskah yang akan diteliti lebih lanjut, setiap baris sebaiknya diberi nomor.
Contoh:
01. ………………………
02. ………………………
03. ………………………
04. ………………………
Jika kelak terjadi perbedaan pembacaan, orang dapat mengatakan:
“Periksa kembali Lembar 12, sisi B, baris 4.”
Itu jauh lebih mudah daripada hanya berkata:
“Ada kata yang salah pada bagian tengah.”
9. Cantumkan Sisi Daun
Sistem sederhana dapat dibuat:
Lontar 01-A
sisi pertama.
Lontar 01-B
sisi balik.
Lontar 02-A
lembar berikutnya.
Lontar 02-B
sisi baliknya.
Dengan demikian setiap teks mempunyai alamat yang jelas.
Contoh Format Penyalinan
Lontar 07-A — Baris 1
Teks Jejawan:
[aksara sebagaimana naskah]
Alih aksara:
“… tiang lunga …”
Catatan:
Aksara ketiga pada kata kedua kurang jelas karena permukaan daun menghitam.
Terjemahan:
Diberikan setelah struktur kalimat benar-benar dipastikan.
Mengapa Tahapan Ini Penting?
Bayangkan suatu lontar dibaca lima puluh tahun dari sekarang.
Benda aslinya mungkin menjadi semakin rapuh.
Jika penyalinan hari ini dilakukan dengan teliti, generasi berikutnya masih mempunyai:
- foto,
- posisi daun,
- teks aksara,
- alih aksara,
- catatan kerusakan,
- dan terjemahan.
Mereka bahkan dapat memperbaiki pembacaan kita jika suatu hari ditemukan naskah pembanding.
Itulah sebabnya penyalinan yang baik tidak berusaha menjadi keputusan terakhir.
Ia menyediakan jalan agar penelitian dapat diteruskan.
Rahasia Lembar Kedelapan
Alih aksara bukan mengambil alih suara leluhur.
Alih aksara adalah menyediakan jembatan agar suara itu dapat dibaca oleh orang yang tidak lagi mengenal bentuk huruf lama.
Jembatan yang baik tidak mengubah tempat asal.
Ia hanya membantu manusia menyeberang.
Pesan Penyalin
Ketika tangan mulai menuliskan huruf Latin dari sebuah lontar tua, ingatlah:
jangan menambah,
jangan mengurangi,
jangan memperindah bagian yang belum pasti.
Tuliskan:
yang terlihat sebagai terlihat,
yang rusak sebagai rusak,
yang diperkirakan sebagai perkiraan,
dan yang belum diketahui sebagai belum diketahui.
Itulah salah satu bentuk penghormatan tertinggi kepada manuskrip.
Penutup Lembar 8
Aksara dapat berubah bentuk.
Bahasa dapat berubah zaman.
Tetapi apabila bunyi asli dicatat dengan hati-hati, sebuah naskah dapat berjalan dari generasi lama menuju generasi baru tanpa kehilangan seluruh jejak asalnya.
Bersambung — Lembar 9
Menerjemahkan Isi Lontar: Memahami Makna Tanpa Memaksakan Tafsir Masa Kini
QITAB LONTAR SADE
Lembar 9 — Menerjemahkan Isi Lontar: Memahami Makna Tanpa Memaksakan Tafsir Masa Kini
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sesudah sebuah teks berhasil dialihaksarakan, pekerjaan belum selesai.
Masih ada satu jalan yang lebih dalam:
memahami maknanya.
Tetapi menerjemahkan naskah lama tidak sama dengan menerjemahkan percakapan sehari-hari.
Satu kata dapat memiliki:
- arti langsung,
- arti kiasan,
- arti adat,
- arti keagamaan,
- atau makna khusus yang hanya dapat dipahami dari keseluruhan cerita.
Karena itu seorang penerjemah harus berjalan perlahan.
1. Jangan Langsung Memilih Arti yang Paling Modern
Sebuah kata yang sekarang mempunyai satu arti tertentu mungkin dahulu dipakai dengan arti yang berbeda.
Maka apabila menemukan kata lama:
jangan segera menggantinya dengan istilah masa kini.
Periksa terlebih dahulu:
- kalimat sebelumnya,
- kalimat sesudahnya,
- siapa yang sedang berbicara,
- kepada siapa perkataan itu ditujukan,
- dan dalam keadaan apa kalimat tersebut muncul.
2. Bedakan Terjemahan dan Tafsir
Misalnya sebuah teks secara harfiah berbunyi:
“Ia berjalan menuju gunung.”
Terjemahannya cukup:
“Ia berjalan menuju gunung.”
Jangan langsung diubah menjadi:
“Ia sedang menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi.”
Kalimat kedua sudah merupakan tafsir simbolik.
Tafsir boleh diberikan.
Tetapi hendaknya diberi tempat tersendiri.
Dengan demikian pembaca mengetahui:
mana bunyi teks
dan
mana pemahaman penafsir.
3. Nama Alam Tidak Selalu Simbol
Dalam naskah lama sering ditemukan kata:
gunung, laut, hutan, mata air, pohon, matahari, bulan, angin, atau api.
Kadang semuanya benar-benar menunjuk pada alam.
Kadang digunakan sebagai perumpamaan.
Karena itu jangan setiap kali melihat kata gunung langsung memaknainya sebagai maqam ruhani.
Jangan setiap kali melihat laut langsung dianggap sebagai lambang rahasia batin.
Pertama-tama bacalah ia sebagaimana kalimatnya.
Setelah itu barulah kemungkinan makna simbolik diperiksa.
4. Perhatikan Siapa yang Berbicara
Sebuah kalimat dapat berubah makna tergantung siapa yang mengucapkannya.
Misalnya:
seorang raja berbicara kepada rakyat
berbeda dengan:
seorang guru berbicara kepada murid.
Demikian pula:
seorang ibu kepada anak
berbeda dengan:
seorang tokoh kepada musuh.
Karena itu identitas pembicara harus dijaga dalam terjemahan.
5. Jangan Menghilangkan Keanehan Teks
Kadang naskah lama memiliki kalimat yang terasa ganjil bagi pembaca sekarang.
Jangan buru-buru memperbaikinya.
Keanehan itu mungkin berasal dari:
- gaya bahasa lama,
- peribahasa,
- susunan sastra,
- istilah adat,
- atau bentuk bahasa yang sudah tidak biasa.
Jika semuanya dibuat terlalu modern, warna asli teks dapat hilang.
6. Kata yang Belum Dipahami Boleh Dibiarkan
Tidak semua kata harus langsung diterjemahkan.
Misalnya ditemukan istilah yang belum pasti.
Lebih baik ditulis:
[istilah asli] — makna belum dipastikan
daripada memberikan arti yang sebenarnya belum memiliki dasar cukup kuat.
Satu kata yang dibiarkan terbuka hari ini dapat dijelaskan dengan lebih tepat setelah ditemukan naskah pembanding pada masa mendatang.
7. Terjemahan Harfiah dan Terjemahan Makna
Dua jenis terjemahan dapat dibuat.
Terjemahan Harfiah
Mengikuti susunan asli sedekat mungkin.
Terjemahan Makna
Membuat kalimat lebih mudah dipahami dalam bahasa sekarang tanpa mengubah maksud utamanya.
Contoh ilustratif:
Teks:
“Jangan patah tali di tengah jalan.”
Terjemahan harfiah:
“Jangan memutus tali di tengah perjalanan.”
Kemungkinan makna:
“Jangan menghentikan amanah sebelum pekerjaan selesai.”
Tetapi penjelasan kedua baru sah sebagai tafsir apabila konteks naskah memang mendukungnya.
8. Ungkapan Leluhur Harus Dijaga
Peribahasa dan ungkapan sering tidak dapat diterjemahkan kata demi kata.
Ada kalimat yang sederhana di permukaan tetapi menyimpan petuah panjang.
Maka format yang aman adalah:
Ungkapan asli
dituliskan dahulu.
Arti harfiah
diterangkan.
Makna budaya
dijelaskan setelahnya.
Dengan demikian kekayaan ungkapan tidak hilang.
9. Jangan Mengganti Keyakinan Penulis
Apabila sebuah manuskrip mencatat keyakinan, adat, cerita, atau pandangan dunia masyarakat pada zamannya, penerjemah tidak perlu mengubahnya agar sesuai dengan keyakinan dirinya.
Tugas pertama adalah:
menerangkan apa yang terdapat dalam teks.
Sesudah itu barulah boleh ditambahkan catatan sejarah, budaya, atau keagamaan.
10. Jika Ada Bagian Aneh atau Gaib
Naskah tradisional kadang mengandung kisah tentang:
- mimpi,
- pertanda,
- makhluk gaib,
- kerajaan tak terlihat,
- pusaka,
- perjalanan luar biasa,
- atau kejadian yang tidak dapat diuji secara sejarah.
Bagian seperti itu sebaiknya diterjemahkan sebagai:
isi narasi naskah
bukan langsung dinyatakan sebagai kejadian sejarah yang pasti.
Dengan demikian kita tetap menghormati cerita sekaligus membedakan:
tradisi naratif
dan
fakta sejarah yang telah dibuktikan.
Contoh Susunan Penerjemahan
Teks Jejawan
[dituliskan sebagaimana naskah]
Alih Aksara
“Sang wong lunga ring alas…”
Terjemahan Harfiah
“Orang itu pergi menuju hutan…”
Terjemahan Makna
“Tokoh tersebut memasuki wilayah hutan.”
Catatan
Jika dalam bagian berikutnya hutan ternyata menjadi tempat pertapaan atau ujian, makna simboliknya dapat dibahas secara terpisah.
Jangan Membaca Satu Kalimat Sendirian
Kalimat yang tampak keras dapat menjadi lembut setelah membaca kalimat berikutnya.
Kalimat yang tampak seperti perintah dapat ternyata merupakan kutipan seseorang yang sedang ditegur.
Karena itu membaca naskah harus dilakukan:
dari bagian menuju keseluruhan.
Bukan:
dari satu kata langsung menjadi kesimpulan besar.
Rahasia Lembar Kesembilan
Aksara memberi bentuk.
Bahasa memberi suara.
Terjemahan membuka pintu makna.
Tetapi tafsir menentukan bagaimana seseorang memandang isi di balik pintu itu.
Karena itu orang yang menerjemahkan mempunyai amanah yang besar.
Ia tidak boleh menjadikan dirinya sebagai penulis baru.
Ia harus berusaha menjadi:
jembatan antara penulis lama dan pembaca zaman sekarang.
Pesan untuk Penyalin Lontar Sade
Apabila suatu hari satu kalimat belum dapat dipahami, jangan takut meninggalkannya sebagai pertanyaan.
Tulislah:
“Makna belum pasti.”
Sebab terkadang satu kata yang belum terpecahkan lebih jujur daripada sepuluh halaman tafsir yang dibangun di atas dugaan.
Penutup Lembar 9
Lontar tidak meminta setiap rahasianya diselesaikan dalam satu malam.
Sebagian teks dapat dibaca hari ini.
Sebagian baru dipahami setelah dibandingkan dengan lembar lain.
Sebagian mungkin tetap menjadi teka-teki.
Tetapi selama setiap tahap dibedakan dengan jelas:
teks,
alih aksara,
terjemahan,
dan tafsir,
maka suara lama itu masih dapat diteruskan tanpa kehilangan jejak asalnya.
Bersambung — Lembar 10
Menutup Qitab Lontar Sade: Menjaga Warisan, Membuat Salinan Digital, dan Mewariskannya kepada Generasi Berikutnya
QITAB LONTAR SADE
Lembar 10 — Lembar Terakhir: Menjaga Warisan, Membuat Salinan, dan Mewariskannya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sampailah kita pada lembar terakhir.
Dari aksara, bunyi, bahasa, susunan daun, kerusakan akibat api, alih aksara, hingga penerjemahan, satu hal menjadi semakin jelas:
**lontar tidak hanya perlu dibaca.
Lontar juga perlu dijaga.**
Sebab sebuah naskah lama dapat bertahan melewati puluhan bahkan ratusan tahun, tetapi satu kejadian dapat menghilangkan apa yang sebelumnya selamat selama beberapa generasi.
Api.
Air.
Jamur.
Serangga.
Kelembapan.
Kesalahan penyimpanan.
Atau sekadar terlalu sering disentuh.
Karena itu penyelamatan manuskrip tidak berhenti ketika tulisannya berhasil dibaca.
Justru dari sanalah amanah berikutnya dimulai.
I. Jangan Menunggu Naskah Rusak untuk Mendokumentasikannya
Kesalahan yang sering terjadi adalah baru membuat salinan ketika naskah sudah rapuh.
Padahal dokumentasi sebaiknya dilakukan selama kondisinya masih dapat ditangani dengan aman.
Setiap daun dapat dicatat:
Lontar 01-A
sisi pertama.
Lontar 01-B
sisi balik.
Lontar 02-A
lembar berikutnya.
Lontar 02-B
sisi baliknya.
Dan seterusnya.
Setiap foto sebaiknya memiliki nomor yang sama dengan catatan transkripsinya.
Dengan demikian foto, aksara, alih aksara, dan terjemahan tidak tercerai-berai.
II. Buat Empat Salinan Warisan
Satu naskah dapat dijaga melalui empat bentuk.
1. Benda Asli
Lontar fisik tetap menjadi sumber utama.
Jangan menganggap salinan digital dapat menggantikan nilai benda aslinya.
Pada daun asli masih terdapat:
- bahan daun,
- teknik gores,
- bentuk tulisan tangan,
- bekas penggunaan,
- lubang pengikat,
- warna,
- kerusakan,
- dan jejak fisik lainnya.
Semua itu dapat memberikan informasi yang tidak selalu terlihat pada salinan.
2. Foto Digital
Setiap sisi daun difoto dengan jelas.
Tidak perlu diberi efek berlebihan.
Foto dokumentasi sebaiknya menjaga:
bentuk, warna, ukuran, posisi, dan kerusakan sebagaimana keadaan sebenarnya.
Boleh dibuat foto tambahan dengan pencahayaan berbeda untuk membantu membaca goresan.
Tetapi foto dokumentasi asli tetap disimpan.
3. Alih Aksara
Tulisan Jejawan kemudian dipindahkan ke huruf Latin.
Bagian yang rusak tetap diberi tanda.
Bagian yang belum pasti tetap disebut belum pasti.
Jangan menghilangkan keraguan hanya supaya teks terlihat rapi.
4. Terjemahan dan Keterangan
Sesudah pembacaan cukup kuat, barulah dibuat terjemahan.
Apabila terdapat istilah adat, sejarah, atau bahasa lama, berikan keterangan terpisah.
Dengan begitu generasi yang tidak dapat membaca Jejawan masih dapat memahami isi, sementara orang yang mampu memeriksa naskah tetap dapat kembali kepada teks aslinya.
III. Simpan Lebih dari Satu Salinan Digital
Jangan menyimpan seluruh dokumentasi pada satu telepon saja.
Telepon dapat hilang.
Penyimpanan dapat rusak.
File dapat terhapus.
Maka salinan sebaiknya ditempatkan pada beberapa media yang berbeda.
Misalnya:
salinan utama,
salinan cadangan,
dan salinan yang disimpan di tempat berbeda.
Prinsipnya sederhana:
semakin penting warisannya, semakin tidak boleh bergantung pada satu tempat penyimpanan.
IV. Jangan Memisahkan Foto dari Keterangannya
Sebuah foto lontar tanpa identitas dapat menjadi teka-teki bagi generasi berikutnya.
Maka setiap dokumentasi sebaiknya menyertakan informasi seperti:
nama atau kode naskah,
nomor lembar,
sisi daun,
lokasi penyimpanan,
tanggal dokumentasi,
serta keadaan fisik secara singkat.
Jika asal-usulnya memang diketahui dengan baik, catat pula riwayat pemilik atau penjaganya.
Tetapi jangan menambahkan riwayat yang hanya berdasarkan dugaan.
V. Catat Kerusakan, Jangan Menyembunyikannya
Misalnya satu daun:
- gosong pada ujung kanan,
- retak dekat lubang,
- tiga aksara hilang,
- dan satu baris sulit dibaca.
Semua itu harus dicatat.
Kerusakan bukan sesuatu yang harus disembunyikan dari dokumentasi.
Ia sendiri merupakan bagian dari perjalanan benda.
Apalagi jika naskah pernah selamat dari kebakaran.
Bekas api menjadi bagian dari sejarah fisiknya.
VI. Jangan Memperbaiki Naskah dengan Cara Sembarangan
Niat menyelamatkan dapat berubah menjadi kerusakan apabila dilakukan tanpa pengetahuan.
Hindari tindakan seperti:
- mengoleskan bahan yang tidak diketahui reaksinya,
- merekatkan bagian rapuh dengan lem rumah tangga,
- menggosok permukaan terlalu keras,
- menjemur di bawah panas berlebihan,
- membengkokkan daun yang sudah kering,
- atau melubangi kembali tanpa alasan konservasi yang jelas.
Jika naskah bernilai penting dan kondisinya rapuh, mintalah bantuan konservator manuskrip atau lembaga yang memahami penanganan bahan lontar.
VII. Buat Salinan Pembelajaran
Benda asli tidak harus selalu dikeluarkan setiap kali generasi muda ingin belajar.
Dapat dibuat:
foto cetak,
facsimile,
salinan digital,
atau tiruan lembar untuk latihan membaca.
Dengan demikian anak-anak dapat belajar tanpa membuat naskah asli semakin aus.
Inilah salah satu cara teknologi dapat berjalan bersama tradisi.
VIII. Ajarkan Cara Membaca, Bukan Hanya Menyimpan Bendanya
Warisan yang hanya disimpan tetapi tidak lagi dapat dibaca suatu hari dapat berubah menjadi benda yang dipandang tetapi tidak dipahami.
Karena itu selain menjaga lontar, diperlukan pula penjagaan terhadap:
aksaranya,
bahasanya,
cara membaca,
cara menyalin,
serta pengetahuan tentang konteks budaya.
Satu orang yang dapat membaca dapat mengajarkan kepada beberapa orang.
Beberapa orang dapat mengajarkan kepada satu generasi.
Dari situlah aksara tetap hidup.
IX. Libatkan Sesepuh dan Pembaca Tradisional
Kadang sebuah kata tidak terdapat dalam kamus.
Tetapi seorang sesepuh masih mengenalnya.
Kadang satu ungkapan terdengar aneh bagi orang muda.
Namun bagi pembaca lontar lama, kalimat tersebut merupakan ungkapan yang dikenal.
Karena itu pekerjaan penyelamatan manuskrip akan lebih kuat jika mempertemukan:
pemilik atau penjaga lontar,
pembaca aksara Jejawan,
penutur Sasak,
ahli bahasa atau filologi,
dan orang yang memahami konservasi.
Tidak semua pengetahuan berada pada satu orang.
X. Hormati Pemilik dan Komunitas Asalnya
Naskah bukan sekadar objek untuk difoto dan dibawa ke mana-mana.
Ada naskah yang dijaga oleh keluarga.
Ada yang menjadi bagian dari tradisi suatu desa.
Ada yang mempunyai aturan tertentu mengenai kapan dapat dibuka atau siapa yang menjaganya.
Maka dokumentasi harus dilakukan dengan izin dan penghormatan kepada pihak yang memang memiliki atau menjaga naskah tersebut.
Penyelamatan warisan tidak seharusnya memutuskan warisan itu dari masyarakat yang menjaganya.
XI. Jangan Mengubah Cerita Menjadi Fakta Tanpa Bukti
Jika suatu lontar menceritakan raja, tokoh sakti, perjalanan gaib, pusaka, atau kejadian luar biasa, tuliskanlah bahwa:
“naskah ini menceritakan…”
Jangan langsung:
“peristiwa ini pasti terjadi…”
Keduanya berbeda.
Sebuah cerita tetap sangat berharga sebagai warisan sastra, budaya, kepercayaan, dan ingatan masyarakat meskipun tidak seluruh bagiannya dapat dibuktikan sebagai sejarah.
Menghormati naskah tidak membutuhkan kita untuk mencampurkan tradisi cerita dengan fakta sejarah.
XII. Jika Ada Beberapa Versi, Simpan Semuanya
Naskah lama terkadang memiliki lebih dari satu salinan.
Versi di desa satu dapat berbeda dari versi di desa lainnya.
Perbedaan itu tidak selalu berarti salah.
Mungkin penyalin dahulu:
- memakai dialek berbeda,
- menyingkat bagian tertentu,
- menambahkan penjelasan,
- atau mewarisi sumber yang berbeda.
Karena itu jangan terburu-buru membuang satu versi hanya karena tidak sama.
Justru perbedaan tersebut dapat memberi petunjuk tentang perjalanan suatu cerita.
XIII. Berikan Ruang bagi Generasi Berikutnya untuk Mengoreksi
Penyalinan hari ini tidak harus dianggap sebagai keputusan terakhir.
Tuliskan dengan jelas mana bagian:
pasti,
kemungkinan besar,
masih diragukan,
dan belum terbaca.
Dengan demikian suatu hari jika ditemukan foto yang lebih baik atau naskah pembanding, pembacaan lama dapat diperbaiki.
Ilmu berkembang bukan karena setiap generasi mengaku paling benar.
Ilmu berkembang karena satu generasi meninggalkan catatan yang cukup baik untuk diperiksa generasi berikutnya.
XIV. Sebuah Contoh Arsip Sederhana
Misalnya:
NASKAH
Qitab Lontar Sade
KODE
QLS-001
LEMBAR
07-B
KONDISI
Tepi kanan menghitam akibat panas. Retak kecil di sekitar lubang pengikat.
STATUS BACAAN
Baris 1–2 jelas.
Baris 3 sebagian rusak.
Baris 4 belum dapat dipastikan.
ALIH AKSARA
Dituliskan apa adanya.
TERJEMAHAN
Dibuat setelah pemeriksaan.
CATATAN
Dibandingkan kembali apabila ditemukan naskah lain yang sejenis.
Catatan sederhana seperti ini dapat sangat berharga beberapa puluh tahun kemudian.
XV. Jangan Hilangkan Tulisan Asli Setelah Terjemahan Selesai
Ini penting.
Ketika terjemahan telah dibuat, jangan hanya menyimpan terjemahannya.
Pertahankan selalu:
FOTO ASLI
↓
TEKS JEJAWAN
↓
ALIH AKSARA
↓
TERJEMAHAN
↓
CATATAN / TAFSIR
Dengan susunan ini, orang dapat bergerak kembali dari terjemahan menuju sumber.
Jika hanya terjemahannya yang tersisa, sulit memeriksa apakah suatu kata pernah dibaca dengan benar.
XVI. Lontar sebagai Pertemuan Masa Lalu dan Masa Depan
Orang terdahulu menuliskan sesuatu pada daun karena itulah teknologi penyimpanan yang mereka miliki.
Generasi sekarang mempunyai:
kamera,
komputer,
penyimpanan digital,
dan kemampuan membuat ribuan salinan.
Maka teknologi modern tidak harus menjadi lawan tradisi.
Ia dapat menjadi alat untuk memperpanjang umur tradisi.
Namun teknologi tidak boleh membuat benda aslinya dianggap tidak penting.
Digital menjaga salinan.
Lontar menjaga jejak asal.
Keduanya dapat berjalan bersama.
XVII. Petuah Lembar Terakhir
Jika suatu hari engkau memegang lontar tua, jangan pertama-tama bertanya:
“Rahasia apa yang tersembunyi di dalamnya?”
Bertanyalah dahulu:
“Apakah aku mampu menjaganya agar tidak rusak di tanganku?”
Sebab rasa ingin tahu tanpa kehati-hatian dapat menghancurkan benda yang ingin diketahui.
XVIII. Tentang Daun yang Selamat dari Api
Api mengajarkan sesuatu yang sederhana.
Apa yang dianggap akan selalu ada ternyata dapat hilang dalam waktu yang sangat singkat.
Satu rumah dapat terbakar.
Satu peti dapat musnah.
Satu bundel lontar dapat berubah menjadi abu.
Tetapi apabila sebelumnya telah dibuat:
foto,
transkripsi,
alih aksara,
terjemahan,
dan salinan,
maka sebagian ingatannya masih dapat diselamatkan.
Karena itu dokumentasi bukan pekerjaan tambahan.
Ia adalah bagian dari penjagaan.
XIX. Amanah kepada Generasi Berikutnya
Kepada anak yang kelak melihat lontar ini:
Jangan melihatnya hanya sebagai benda tua.
Tanyakan siapa yang menuliskannya.
Pelajari hurufnya.
Kenali bahasanya.
Dengarkan cerita para sesepuh.
Bandingkan dengan sumber lain.
Dan apabila engkau menemukan kesalahan dalam pembacaan kami, perbaikilah dengan bukti yang lebih baik.
Tidak perlu mempertahankan kesalahan hanya karena ia diwariskan oleh orang yang lebih tua.
Warisan yang hidup adalah warisan yang terus dipelajari dengan hormat dan jujur.
XX. Rahasia Terakhir Qitab Lontar Sade
Setelah seluruh perjalanan ini, rahasianya ternyata bukan satu mantra tersembunyi.
Bukan satu kalimat ajaib.
Bukan pula satu kisah yang harus dipaksakan menjadi kebenaran.
Rahasia terbesar sebuah manuskrip jauh lebih sederhana:
manusia dahulu ingin meninggalkan sesuatu agar manusia sesudahnya dapat membaca.
Dan ketika kita membaca dengan hati-hati, kita sedang menjawab keinginan itu.
Mereka menggores daun.
Kita mendokumentasikan goresannya.
Mereka meninggalkan bahasa.
Kita mempelajarinya.
Mereka meninggalkan cerita.
Kita menjaganya tanpa menambah-nambahkan.
Mereka menyerahkan kepada waktu.
Dan waktu menyerahkannya kepada kita.
Penutup Qitab
Bismillāh ketika membuka.
Amanah ketika membaca.
Kejujuran ketika menyalin.
Kesabaran ketika menemukan bagian yang hilang.
Dan rasa hormat ketika menyerahkan kembali kepada generasi berikutnya.
Jika sebuah daun masih utuh, jagalah.
Jika sebuah daun telah retak, dokumentasikan.
Jika sebuah kata masih terbaca, salinlah dengan tepat.
Jika sebuah kata sudah hilang, jangan mengarangnya.
Jika sebuah makna belum diketahui, tinggalkan ruang agar orang lain kelak dapat menemukannya.
Sebab ilmu tidak menjadi hina karena kita mengatakan:
“Bagian ini belum diketahui.”
Justru dari kejujuran itulah ilmu dapat terus tumbuh.
Wasiat dari Lontar
Jangan biarkan aku hanya menjadi benda pajangan.
Bacalah aksaraku.
Jangan biarkan aku hanya menjadi cerita masa lalu.
Ajarkan bahasaku.
Jangan memaksakan kata ketika sebagian tubuhku telah hilang.
Hormatilah kekosonganku.
Jangan sembunyikan aku dari generasi sesudahmu.
Buatlah salinan agar mereka juga dapat belajar.
Dan bila suatu hari tubuh daun ini akhirnya kembali kepada tanah, biarlah paling tidak:
tulisannya telah diselamatkan,
bahasanya telah dipelajari,
ceritanya telah dicatat,
dan cara membacanya telah diwariskan.
Kalimat Pamungkas
**Daun boleh rapuh.
Aksara jangan diputus.**
**Api boleh menghanguskan benda.
Ingatan jangan dibiarkan ikut menjadi abu.**
**Warisan tidak menjadi hidup hanya karena disimpan.
Warisan menjadi hidup ketika dibaca, dipahami, dijaga, dan diwariskan dengan jujur.**
Tamat.
QITAB LONTAR SADE
Jejak Aksara Jejawan yang Diselamatkan dari Api
Ditulis kembali demi menyelamatkan ingatan dan menyambung warisan.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.