QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
PEMBUKAAN — LEMBAR PERTAMA
“Yang Turun dari Langit Tidak Pernah Terlepas dari Ketetapan Alloh”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah:
Malaikat Mīkā’īl عليه السلام bukanlah pemilik rezeki.
Bukan pula pencipta hujan, tumbuhan, kehidupan, ataupun kemakmuran.
Pemilik segala rezeki hanyalah Alloh.
Mīkā’īl adalah hamba yang suci, malaikat mulia yang melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya.
Namanya disebut bersama Jibrīl di dalam Al-Qur'an:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلّٰهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكَالَ فَإِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِيْنَ
“Barang siapa menjadi musuh bagi Alloh, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Alloh adalah musuh bagi orang-orang kafir.”
QS. Al-Baqarah: 98
Maka ketika nama Mīkā’īl disebut, jangan berhenti pada malaikatnya.
Lihatlah kepada Alloh yang mengutusnya.
Ketika hujan turun, jangan menyembah hujan.
Ketika bumi menghijau, jangan menganggap bumi mempunyai kekuasaan sendiri.
Ketika rezeki datang melalui tangan seseorang, jangan menjadikan orang itu sebagai sumber mutlak.
Semuanya hanyalah jalan.
Sedangkan sumber segala sesuatu adalah:
اللّٰهُ
Alloh.
BAB I
MĪKĀ’ĪL DAN RAHASIA “TURUNNYA REZEKI”
Wahai pencari cahaya,
Rezeki tidak hanya berbentuk uang.
Setetes air adalah rezeki.
Udara yang masuk ke paru-paru adalah rezeki.
Tanah yang menumbuhkan sebutir padi adalah rezeki.
Tubuh yang masih mampu bersujud adalah rezeki.
Orang yang datang menolong pada saat sempit adalah rezeki.
Ilmu yang membuatmu meninggalkan kesesatan adalah rezeki.
Bahkan terkadang sesuatu yang tidak diberikan kepadamu adalah rezeki, karena Alloh sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang belum engkau ketahui.
Maka rahasia pertama dalam Qitab Mīkā’īl adalah:
الرِّزْقُ أَوْسَعُ مِنَ الْمَالِ
Ar-rizqu awsa‘u minal-māl.
Rezeki lebih luas daripada harta.
BAB II
LANGIT, AIR, BUMI, DAN KEHIDUPAN
Perhatikanlah perjalanan air.
Ia menguap.
Ia berkumpul menjadi awan.
Ia berpindah.
Ia jatuh sebagai hujan.
Ia masuk ke tanah.
Ia menghidupkan tumbuhan.
Tumbuhan dimakan manusia dan hewan.
Kemudian kehidupan bergerak kembali.
Di sana terdapat pelajaran besar:
Alloh memberi melalui rangkaian sebab.
Karena itu jangan mempertentangkan tawakal dengan ikhtiar.
Petani tetap menanam.
Pedagang tetap berdagang.
Orang sakit tetap mencari pengobatan.
Orang yang memiliki hutang tetap bekerja dan menyusun jalan pelunasannya.
Namun hatinya berkata:
“Sebab bukan Tuhanku.
Hasil bukan kekuasaanku.
Allohlah yang menentukan segala sesuatu.”
Inilah adab memandang rezeki.
BAB III
EMPAT PINTU REZEKI MĪKĀ’ĪLIYYAH
Bukan berarti empat kekuatan gaib yang berdiri sendiri, melainkan empat pelajaran ruhani ketika merenungkan tugas para malaikat dan rahmat Alloh.
1. Pintu Air — الْمَاءُ
Air mengajarkan:
mengalir.
Jangan biarkan hidup menjadi genangan.
Ilmu yang tidak dibagikan akan membeku.
Harta yang tidak memiliki jalan kebaikan dapat menjadi beban.
Kasih sayang yang tidak diberikan akan mengeringkan hati.
2. Pintu Tumbuhan — النَّبَاتُ
Benih dikuburkan sebelum tumbuh.
Maka jangan mengira setiap masa gelap berarti kehancuran.
Barangkali engkau sedang berada seperti benih:
tertutup tanah,
tidak terlihat,
sunyi,
namun sedang dipersiapkan untuk menembus permukaan.
3. Pintu Kecukupan — الْكِفَايَةُ
Tidak semua yang banyak adalah berkah.
Tidak semua yang sedikit adalah kekurangan.
Ada orang yang memiliki banyak tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ada orang yang sederhana tetapi hatinya lapang.
Maka mintalah bukan hanya:
“Ya Alloh, banyakkanlah.”
Tetapi juga:
“Ya Alloh, cukupkan, berkahi, dan sucikanlah.”
4. Pintu Syukur — الشُّكْرُ
Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah.
Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai jalan yang diridhai Alloh.
Jika diberi ilmu, jadikan ilmu membawa manfaat.
Jika diberi harta, jangan jadikan ia alat menindas.
Jika diberi kedudukan, jangan jadikan ia jalan kesombongan.
Jika diberi kekuatan, lindungilah yang lemah.
Di sinilah rezeki berubah menjadi amanah.
BAB IV
RAHASIA KOSONGNYA TANGAN
Ada masa tanganmu penuh.
Ada masa tanganmu kosong.
Ketika penuh, Alloh mengujimu:
apakah engkau bersyukur?
Ketika kosong, Alloh mengujimu:
apakah engkau tetap percaya?
Maka jangan mengukur kedekatan kepada Alloh dari banyak-sedikitnya dunia.
Karena para kekasih Alloh pun pernah mengalami lapar, kesempitan, kehilangan dan kesedihan.
Yang membedakan adalah:
mereka tidak kehilangan Alloh ketika kehilangan dunia.
BAB V
DZIKIR TAUHID REZEKI
Bacalah dengan hati tenang:
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
يَا وَهَّابُ
Yā Wahhāb
Wahai Yang Maha Pemberi Karunia.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Bukan untuk memaksa Alloh memberikan apa yang kita inginkan.
Melainkan untuk mendidik hati agar mengetahui:
siapa sesungguhnya Pemilik seluruh rezeki.
DOA QITAB MĪKĀ’ĪL
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِكَ لَا بِمَا فِي أَيْدِي الْخَلْقِ
Allāhumma-rzuqnā rizqan ḥalālan ṭayyiban mubārakan, waj‘al qulūbanā muta‘alliqatan bika lā bimā fī aydil-khalq.
“Ya Alloh, karuniakan kepada kami rezeki yang halal, baik dan diberkahi. Jadikan hati kami bergantung kepada-Mu, bukan kepada apa yang berada di tangan makhluk.”
PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Maka dituliskan:
Jangan mencari Mīkā’īl untuk meminta rezeki.
Carilah Alloh, Tuhan yang menciptakan Mīkā’īl.
Hormatilah malaikat sebagai hamba-hamba Alloh yang mulia.
Tetapi jangan pindahkan ketergantungan hati dari Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.
Sebab pada akhirnya:
awan hanyalah jalan,
hujan hanyalah jalan,
bumi hanyalah jalan,
manusia hanyalah jalan,
dan malaikat pun melaksanakan perintah.
Sedangkan segala sesuatu kembali kepada:
اللّٰهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ
Alloh, Rabb seluruh alam.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KEDUA
“HUJAN YANG TURUN MEMBAWA PESAN KEHIDUPAN”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar pertama telah dibukakan satu pengertian:
Mīkā’īl bukan sumber rezeki.
Allohlah Ar-Razzāq, Sang Maha Pemberi Rezeki.
Maka pada lembar kedua ini, pandanglah satu tanda yang setiap hari berada di hadapan manusia:
AIR
Air tidak memiliki suara ketika berada di langit.
Namun ketika ia turun ke bumi, seluruh kehidupan bergerak karenanya.
Tanah yang keras menjadi lunak.
Benih yang tersembunyi mulai pecah.
Akar yang lama menunggu mulai menyerap kehidupan.
Daun yang layu kembali berdiri.
Sungai kembali mengalir.
Dan manusia yang dahaga kembali memperoleh kekuatan.
Maka renungkanlah:
Satu tetes air dapat menjadi jalan bagi ribuan kehidupan.
BAB VI
RAHASIA AWAN
Awan terlihat ringan dari kejauhan.
Namun ia membawa air yang sangat banyak.
Begitu pula seorang hamba.
Ada orang yang kelihatannya sederhana, tetapi di dalam dirinya Alloh menitipkan manfaat besar.
Jangan menilai seseorang hanya dari:
hartanya,
pakaiannya,
kedudukannya,
atau banyaknya orang yang mengenalnya.
Sebab awan pun tidak memakai mahkota.
Tetapi ketika waktunya tiba, ia menurunkan hujan.
Maka Qitab ini mengajarkan:
Jadilah seperti awan yang membawa manfaat tanpa sibuk meminta pujian.
Jika Alloh memberimu ilmu, turunkanlah sebagai manfaat.
Jika Alloh memberimu harta, turunkanlah sebagai pertolongan.
Jika Alloh memberimu kedudukan, turunkanlah sebagai keadilan.
Jika Alloh memberimu kasih sayang, turunkanlah kepada mereka yang sedang kering hatinya.
BAB VII
TIDAK SETIAP AWAN LANGSUNG MENURUNKAN HUJAN
Ada awan yang datang.
Kemudian berlalu.
Ada doa yang dipanjatkan.
Tetapi jawabannya belum tampak.
Di sinilah manusia sering tergesa-gesa.
Ia berkata:
“Aku sudah berdoa, mengapa belum diberikan?”
Padahal manusia hanya melihat satu halaman.
Sedangkan Alloh mengetahui seluruh perjalanan.
Boleh jadi yang diminta belum diberikan karena:
waktunya belum tepat,
hatimu belum siap,
jalannya sedang dipersiapkan,
atau Alloh menggantinya dengan sesuatu yang lebih menjaga hidupmu.
Maka jangan jadikan terlambatnya jawaban sebagai alasan untuk berputus asa.
Sebab:
Tidak turunnya hujan hari ini bukan berarti langit telah kehilangan air.
BAB VIII
BENIH YANG MENUNGGU
Di bawah tanah terdapat benih.
Ia berada dalam gelap.
Tidak ada manusia yang melihat prosesnya.
Tetapi di dalam kegelapan itu terjadi perubahan.
Kulit benih mulai pecah.
Akar kecil turun ke bawah.
Tunas perlahan mencari cahaya.
Maka ketika engkau sedang berada dalam masa yang seolah-olah tidak bergerak, jangan tergesa menyebutnya kegagalan.
Barangkali engkau sedang mengalami:
masa akar.
Manusia ingin segera menjadi pohon.
Tetapi Alloh sering memulai dari akar yang tidak terlihat.
Sebab pohon yang tinggi membutuhkan dasar yang dalam.
BAB IX
HUKUM ALIRAN REZEKI
Air yang mengalir cenderung tetap jernih.
Air yang tidak bergerak mudah berubah.
Begitu pula rezeki.
Rezeki mempunyai hak.
Ada hak tubuhmu.
Ada hak keluargamu.
Ada hak orang yang menjadi tanggunganmu.
Ada hak orang miskin.
Ada hak kebaikan.
Ada pula hak untuk disimpan secara bijaksana bagi kebutuhan mendatang.
Maka keseimbangan bukan berarti menghabiskan semuanya.
Dan keseimbangan bukan pula menahan semuanya.
Keseimbangan adalah:
menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Karena itulah harta harus berada di tangan.
Bukan menguasai hati.
BAB X
KETIKA PINTU REZEKI TERASA SEMPIT
Apabila seseorang berada dalam kesulitan rezeki, jangan pertama-tama bertanya:
“Siapa yang menutup rezekiku?”
Tanyakan terlebih dahulu:
“Apa yang masih dapat aku perbaiki?”
Periksa:
pekerjaanmu,
cara berdagangmu,
kejujuranmu,
pengeluaranmu,
hutangmu,
hubunganmu dengan manusia,
kedisiplinanmu,
keterampilanmu,
serta hubungan hatimu dengan Alloh.
Jangan seluruh kesulitan langsung dianggap karena gangguan gaib.
Terkadang masalahnya adalah keputusan yang perlu diperbaiki.
Terkadang pengeluaran terlalu besar.
Terkadang keterampilan perlu ditingkatkan.
Terkadang hubungan harus diperbaiki.
Dan terkadang memang manusia sedang diuji dengan keadaan yang tidak mudah.
Semua itu tetap berada dalam ilmu Alloh.
BAB XI
EMPAT ADAB MEMOHON REZEKI
Pertama — Memohon yang halal
Jangan meminta kelapangan dengan jalan yang merusak keberkahan.
Karena banyak tidak selalu berarti baik.
Kedua — Berusaha
Doa tidak mematikan ikhtiar.
Justru doa menguatkan langkah.
Orang yang meminta pekerjaan tetap perlu mencari pekerjaan.
Orang yang ingin dagangannya maju tetap perlu memperbaiki dagangannya.
Orang yang ingin keluar dari hutang tetap perlu menghitung dan mengatur kewajibannya.
Ketiga — Bersabar
Tidak semua pintu terbuka pada hari yang sama.
Ada pintu yang membutuhkan ketukan berulang.
Ada pula pintu yang tidak dibuka karena Alloh mengarahkanmu menuju pintu lain.
Keempat — Bersyukur
Syukur bukan menunggu kaya.
Syukur dimulai dari apa yang masih ada.
Sebab orang yang hanya mampu melihat kekurangan akan tetap merasa miskin meskipun memiliki banyak.
BAB XII
EMPAT ASMA UNTUK TADABBUR REZEKI
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Renungkan:
Rezekiku berasal dari Alloh.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
Renungkan:
Tidak ada pintu yang sulit bagi Alloh untuk dibukakan.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Renungkan:
Pertolongan Alloh dapat datang melalui jalan yang tidak kusadari.
يَا وَهَّابُ
Yā Wahhāb
Wahai Yang Maha Pemberi Karunia.
Renungkan:
Tidak semua pemberian Alloh dapat dihitung dengan uang.
RAHASIA LEMBAR KEDUA
Maka tertulislah:
Langit tidak pernah menjanjikan bahwa setiap hari akan hujan.
Tetapi Alloh telah menetapkan kehidupan berjalan melalui ukuran dan keseimbangan.
Ada musim hujan.
Ada musim kemarau.
Ada waktu menanam.
Ada waktu menunggu.
Ada waktu memanen.
Dan ada waktu tanah harus beristirahat.
Begitu pula hidupmu.
Jangan memaksa seluruh musim menjadi musim panen.
Sebab orang yang memahami musim tidak akan membenci kemarau.
Ia akan menggunakannya untuk memperbaiki saluran air, menyiapkan benih, dan menunggu waktu yang tepat.
DOA LEMBAR KEDUA
اللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رِزْقِكَ الْحَلَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ
Allāhumma anzil ‘alaynā min barakātika, waftaḥ lanā abwāba rizqikal-ḥalāl, waj‘alnā minasy-syākirīn.
“Ya Alloh, turunkanlah kepada kami keberkahan-Mu, bukakanlah bagi kami pintu-pintu rezeki-Mu yang halal, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”
PENUTUP LEMBAR KEDUA
Wahai pencari cahaya,
Jika hari ini hidupmu seperti tanah yang kering,
jangan mengutuk tanah itu.
Rawatlah.
Tanamlah benih.
Perbaiki ikhtiar.
Jaga doa.
Dan percayakan hasil kepada Alloh.
Karena boleh jadi:
awan yang membawa hujanmu sedang dalam perjalanan.
Namun ketika hujan itu akhirnya turun,
jangan berkata:
“Aku mendapatkan semuanya karena kekuatanku.”
Katakan:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
Segala puji bagi Alloh, Rabb seluruh alam.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KETIGA
“ANGIN YANG MENGGERAKKAN AWAN”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar kedua telah dibukakan rahasia hujan.
Sekarang pandanglah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, tetapi nyata pengaruhnya:
ANGIN
Engkau tidak melihat wujud angin.
Namun engkau melihat daun bergerak.
Engkau melihat awan berpindah.
Engkau melihat gelombang meninggi.
Engkau merasakan udara menyentuh kulit.
Maka Qitab ini mengajarkan:
Tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak memiliki pengaruh.
Tetapi jangan pula setiap sesuatu yang tidak terlihat langsung dianggap gaib.
Ada hukum alam.
Ada sebab.
Ada proses.
Dan seluruhnya berada di bawah ketetapan Alloh.
BAB XIII
ANGIN DAN PERPINDAHAN AWAN
Awan tidak selalu tetap berada di satu tempat.
Ia bergerak.
Ia berpindah.
Ia menempuh jarak.
Kemudian pada tempat yang telah ditentukan oleh hukum-hukum ciptaan Alloh, turunlah hujan.
Begitu pula rezeki.
Kadang rezekimu tidak datang dari tempat yang engkau duga.
Engkau mencari dari satu arah.
Tetapi Alloh membukanya dari arah lain.
Engkau berharap melalui seseorang.
Tetapi pertolongan datang melalui orang yang tidak pernah engkau kenal.
Engkau menunggu satu pekerjaan.
Namun jalanmu justru terbuka melalui pekerjaan lain.
Maka jangan membatasi keluasan Alloh dengan perkiraanmu sendiri.
BAB XIV
RAHASIA PERPINDAHAN
Ada manusia yang terlalu lama berdiri di satu pintu.
Pintu itu tidak terbuka.
Tetapi ia tetap memukulnya setiap hari.
Padahal di sebelahnya ada pintu lain yang terbuka.
Karena itu, tawakal tidak berarti keras kepala.
Tawakal adalah:
berserah kepada Alloh sambil tetap membaca tanda-tanda kehidupan dengan akal sehat.
Jika satu usaha terus merugi, evaluasilah.
Jika satu cara tidak efektif, ubahlah.
Jika satu kebiasaan menghalangi kemajuan, tinggalkanlah.
Jika ilmu kurang, belajarlah.
Jika keterampilan tertinggal, tingkatkanlah.
Karena perubahan pun dapat menjadi bagian dari ikhtiar.
BAB XV
MĪKĀ’ĪL DAN ADAB MEMAHAMI SEBAB
Dalam tradisi Islam, Malaikat Mīkā’īl dikenal berkaitan dengan urusan rezeki dan hujan atas perintah Alloh.
Namun seorang mukmin harus menjaga tauhidnya.
Jangan berkata:
“Mīkā’īl memberi rezeki.”
Katakan:
“Alloh memberi rezeki, dan malaikat melaksanakan perintah-Nya.”
Inilah batas yang menjaga hati.
Sebab kemuliaan malaikat tidak menjadikannya Tuhan.
Ketaatan mereka justru menunjukkan kebesaran Alloh yang memerintah seluruh alam.
BAB XVI
KETIKA ANGIN MENJADI KENCANG
Tidak semua angin datang lembut.
Ada angin yang menyejukkan.
Ada angin yang menggerakkan awan.
Ada angin yang sangat kuat.
Maka kehidupan pun demikian.
Ada masa rezeki datang dengan tenang.
Ada masa hidup bergerak begitu cepat.
Ada masa manusia diuji dengan kehilangan.
Ada masa rencana berubah tanpa pemberitahuan.
Ketika itu terjadi, jangan kehilangan pusat.
Pusat itu adalah:
اللّٰهُ
Alloh.
Sebab dunia bergerak.
Keadaan berubah.
Manusia datang dan pergi.
Tetapi ketergantungan hati kepada Alloh tidak boleh ikut berubah.
BAB XVII
TIGA JENIS ANGIN KEHIDUPAN
1. Angin yang Menggerakkan
Ia memaksamu keluar dari keadaan lama.
Awalnya terasa tidak nyaman.
Namun setelah beberapa waktu, engkau sadar:
perubahan itu menyelamatkanmu dari stagnasi.
2. Angin yang Membersihkan
Ada masa Alloh memperlihatkan siapa yang benar-benar tulus.
Ada hubungan yang gugur.
Ada kebiasaan yang terbongkar.
Ada kebanggaan yang runtuh.
Semua itu terasa sakit.
Tetapi terkadang jiwa memang membutuhkan pembersihan.
3. Angin yang Membawa Hujan
Ada kesulitan yang ternyata mendahului datangnya kemudahan.
Ada kehilangan yang membuka jalan baru.
Ada penutupan yang mendahului pembukaan.
Namun jangan memastikan setiap musibah akan diganti persis seperti yang kita inginkan.
Serahkan bentuk penggantiannya kepada Alloh.
BAB XVIII
JANGAN MEMBURU TANDA SECARA BERLEBIHAN
Ada manusia yang setiap melihat awan bertanya:
“Apakah ini pertanda?”
Setiap bermimpi bertanya:
“Apakah ini pesan khusus?”
Setiap mendengar suara bertanya:
“Apakah ini isyarat gaib?”
Qitab ini mengingatkan:
Tidak semua kejadian harus diberi makna tersembunyi.
Sebagian adalah kejadian biasa.
Sebagian adalah hasil pikiran.
Sebagian adalah proses alam.
Sebagian mungkin menjadi bahan renungan.
Tetapi semuanya harus ditempatkan dengan akal, ilmu, dan tauhid.
Jangan sampai mencari tanda membuat seseorang kehilangan pijakan pada kenyataan.
BAB XIX
REZEKI DAN USAHA YANG BERGERAK
Perhatikan pedagang.
Ia tidak hanya duduk menunggu pembeli.
Ia menata barang.
Ia menjaga kualitas.
Ia melayani dengan baik.
Ia menghitung modal.
Ia mengenali kebutuhan orang.
Ia belajar dari kesalahan.
Begitu pula pekerja.
Ia meningkatkan keterampilan.
Ia menjaga amanah.
Ia membangun hubungan baik.
Ia disiplin.
Ia mencari kesempatan.
Maka rezeki bukan alasan untuk pasif.
Justru keyakinan kepada Alloh membuat seseorang berusaha tanpa menjadikan hasil sebagai berhala.
BAB XX
DZIKIR KETIKA JALAN BELUM TERLIHAT
Bacalah perlahan:
حَسْبِيَ اللّٰهُ
Ḥasbiyallāh
Cukuplah Alloh bagiku.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Kemudian berdoalah:
“Ya Alloh, jika jalan yang kupegang baik bagiku, kuatkanlah. Jika tidak, alihkan aku kepada jalan yang lebih Engkau berkahi.”
RAHASIA LEMBAR KETIGA
Maka tertulislah:
Awan yang membawa hujan pun harus bergerak.
Begitu pula manusia.
Ada saatnya diam adalah hikmah.
Namun ada saatnya bergerak adalah kewajiban.
Jangan menyebut rasa takut sebagai tawakal.
Jangan menyebut kemalasan sebagai pasrah.
Jangan menyebut keras kepala sebagai istiqamah.
Istiqamah adalah teguh pada nilai.
Bukan membeku pada satu cara.
DOA LEMBAR KETIGA
اللّٰهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ السُّبُلِ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ، وَاصْرِفْ عَنَّا مَا لَا خَيْرَ فِيهِ
Allāhumma-hdinā li-aḥsanis-subul, waftaḥ lanā abwābal-khayr, waṣrif ‘annā mā lā khayra fīh.
“Ya Alloh, tunjukilah kami kepada jalan-jalan terbaik, bukakanlah bagi kami pintu-pintu kebaikan, dan jauhkanlah dari kami apa yang tidak mengandung kebaikan.”
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Wahai pencari cahaya,
Jika hidupmu sedang berubah,
jangan buru-buru takut.
Lihatlah:
apakah perubahan itu mengajakmu menjadi lebih jujur?
lebih bertanggung jawab?
lebih dekat kepada Alloh?
lebih matang?
lebih bermanfaat?
Jika iya, teruslah melangkah dengan hati-hati.
Sebab mungkin engkau sedang seperti awan:
dipindahkan sebelum diturunkan sebagai hujan.
Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa aku dipindahkan?”
Tetapi bertanyalah:
“Di mana Alloh menghendaki aku menjadi manfaat?”
Dan tutuplah perjalanan dengan:
تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ
Tawakkaltu ‘alallāh.
Aku bertawakal kepada Alloh.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KEEMPAT
“TANAH YANG MENYIMPAN RAHASIA TUMBUH”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar ketiga telah dibukakan tentang angin yang menggerakkan awan.
Sekarang pandanglah ke bawah.
Jangan selalu memandang langit.
Sebab setelah hujan turun, rahasia berikutnya justru berlangsung di dalam:
TANAH
Tanah tidak berbicara.
Tanah tidak memperlihatkan seluruh prosesnya.
Namun di dalam diamnya, ia menyimpan benih.
Ia menerima air.
Ia memelihara akar.
Ia mengurai apa yang mati menjadi bagian dari kehidupan baru.
Maka tertulislah:
Tidak semua pertumbuhan harus terlihat sejak awal.
Ada masa ketika Alloh menumbuhkan sesuatu di dalam dirimu sebelum hasilnya tampak di luar.
BAB XXI
BENIH TIDAK TUMBUH DI ATAS BATU
Benih membutuhkan tempat.
Ia membutuhkan tanah.
Ia membutuhkan air.
Ia membutuhkan waktu.
Begitu pula cita-cita.
Doa tanpa kesiapan dapat menjadi keinginan yang belum memiliki tempat tumbuh.
Karena itu, jika engkau meminta rezeki besar, tanyakan pula:
Apakah diriku sudah siap memikul amanah yang besar?
Jika meminta usaha berkembang:
apakah pencatatan sudah tertib?
apakah hutang sudah dikendalikan?
apakah kejujuran dijaga?
apakah kualitas diperbaiki?
apakah pelayanan baik?
Jika meminta ilmu:
apakah engkau mau belajar?
Jika meminta kedudukan:
apakah engkau sanggup menanggung tanggung jawabnya?
Maka doa dan kesiapan harus berjalan bersama.
BAB XXII
RAHASIA AKAR
Ketika sebuah pohon mulai tumbuh, akar lebih dahulu masuk ke dalam.
Ia tidak mencari pujian.
Ia tidak terlihat.
Ia bekerja dalam sunyi.
Semakin besar pohon yang hendak berdiri, semakin kuat akar yang dibutuhkan.
Begitu pula manusia.
Sebelum Alloh mengangkatmu dalam suatu amanah, terkadang engkau lebih dahulu diperdalam.
Diperdalam kesabaranmu.
Diperdalam ilmumu.
Diperdalam pengalamanmu.
Diperdalam keikhlasanmu.
Diperdalam ketahananmu menghadapi kegagalan.
Maka jangan hanya menginginkan:
tinggi.
Mintalah pula:
dalam.
Karena tinggi tanpa akar mudah tumbang.
BAB XXIII
TANAH YANG SUBUR DAN TANAH YANG KERAS
Tidak semua tanah menerima air dengan cara yang sama.
Ada tanah yang mudah menyerap.
Ada yang keras.
Ada yang harus dicangkul.
Ada yang harus dibersihkan terlebih dahulu.
Hati manusia pun demikian.
Ada hati yang mudah menerima nasihat.
Ada hati yang menolak karena kesombongan.
Ada hati yang terluka sehingga sulit percaya.
Ada hati yang terlalu penuh dengan dunia sehingga tidak ada ruang untuk ketenangan.
Maka sebelum meminta banyak hal kepada Alloh, sesekali tanyakan:
“Bagaimana keadaan tanah hatiku?”
BAB XXIV
BATU-BATU DALAM TANAH HATI
Ada beberapa batu yang sering menghambat pertumbuhan.
Batu pertama — Kesombongan
Merasa semua keberhasilan berasal dari diri sendiri.
Batu kedua — Iri
Tidak mampu melihat nikmat orang lain tanpa merasa tersakiti.
Batu ketiga — Ketamakan
Tidak pernah merasa cukup walaupun sudah memiliki banyak.
Batu keempat — Putus asa
Menganggap satu kegagalan sebagai akhir seluruh perjalanan.
Batu kelima — Kemalasan
Berharap hasil tanpa menempuh proses.
Maka tanah hati harus dibersihkan.
Bukan sekali.
Tetapi terus-menerus.
BAB XXV
REZEKI YANG TIDAK TERLIHAT
Manusia sering menghitung rezeki hanya dengan angka.
Padahal ada rezeki yang tidak muncul dalam rekening.
Rezeki berupa:
kesehatan,
waktu,
keluarga yang baik,
guru yang membimbing,
teman yang jujur,
pikiran yang tenang,
kemampuan bekerja,
kesempatan memperbaiki kesalahan,
dan hati yang masih mampu mengingat Alloh.
Maka jangan sampai engkau merasa tidak diberi apa-apa hanya karena satu keinginanmu belum terpenuhi.
Kadang Alloh sudah memberimu seratus nikmat,
tetapi matamu hanya menatap satu yang belum ada.
BAB XXVI
MĪKĀ’ĪL DAN PELAJARAN KESEIMBANGAN
Jika hujan turun terlalu sedikit, tanah dapat kering.
Jika terlalu banyak, sebagian tempat dapat mengalami kerusakan.
Di sana terdapat pelajaran tentang ukuran.
Alloh berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.”
QS. Al-Ḥijr: 21
Maka tidak semua yang lebih banyak otomatis lebih baik.
Ada ukuran.
Ada kemampuan.
Ada waktu.
Ada hikmah.
Karena itu mintalah:
rezeki yang cukup sekaligus berkah.
BAB XXVII
KETIKA HASIL BELUM MUNCUL
Seorang petani tidak menggali benih setiap pagi untuk memastikan apakah ia tumbuh.
Jika setiap hari benih dibongkar, justru pertumbuhannya rusak.
Begitu pula sebagian ikhtiar.
Setelah melakukan yang terbaik, berilah waktu kepada proses.
Jangan setiap beberapa jam berubah keputusan.
Jangan hari ini memulai, besok menyerah.
Jangan terus membongkar apa yang baru ditanam.
Ada keadaan yang membutuhkan:
sabar yang aktif.
Sabar yang aktif bukan diam tanpa usaha.
Ia berarti:
terus merawat,
terus memperbaiki,
terus belajar,
tetapi tidak memaksa hasil datang sebelum waktunya.
BAB XXVIII
PANEN TIDAK SAMA DENGAN BENIH
Satu benih dapat menghasilkan banyak.
Namun tidak semuanya berhasil.
Ada yang dimakan burung.
Ada yang gagal tumbuh.
Ada yang tumbuh tetapi tidak kuat.
Ada pula yang menjadi tanaman subur.
Maka dalam kehidupan, jangan menggantungkan seluruh masa depan kepada satu kemungkinan.
Berusahalah dengan kebijaksanaan.
Bangun beberapa jalan yang halal.
Tingkatkan keterampilan.
Jaga hubungan baik.
Simpan sebagian penghasilan.
Kurangi hutang yang tidak perlu.
Dan tetap berdoa.
Karena tawakal bukan menolak perencanaan.
BAB XXIX
JANGAN MENANAM DURI LALU MENUNGGU BUAH MANIS
Ada hukum akhlak yang sederhana.
Jika seseorang menipu dalam berdagang, ia sedang menanam ketidakpercayaan.
Jika seseorang selalu ingkar janji, ia sedang menanam keraguan.
Jika seseorang suka menyakiti, ia sedang menanam jarak.
Sebaliknya:
kejujuran menanam kepercayaan.
Amanah menanam penghormatan.
Kesabaran menanam kematangan.
Sedekah menanam kepedulian.
Ilmu menanam kemampuan.
Maka tanyakan:
“Apa yang sedang kutanam hari ini?”
BAB XXX
EMPAT DZIKIR UNTUK MENJAGA TANAH HATI
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Agar hati tidak menggantungkan sumber rezeki kepada makhluk.
يَا كَرِيمُ
Yā Karīm
Wahai Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah.
Agar manusia belajar memberi tanpa menjadi sombong.
يَا حَفِيظُ
Yā Ḥafīẓ
Wahai Yang Maha Menjaga.
Agar nikmat dijaga dari penyalahgunaan.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
Agar manusia menerima bahwa tidak semua keputusan Alloh dapat langsung dipahami.
RAHASIA LEMBAR KEEMPAT
Maka Qitab ini menuliskan:
Hujan dari langit tidak cukup jika tanah menolak menerimanya.
Begitu pula nasihat.
Begitu pula kesempatan.
Begitu pula rezeki.
Kadang seseorang terus meminta pintu dibuka,
tetapi belum menyiapkan ruang untuk apa yang akan masuk melalui pintu itu.
Karena itu jangan hanya berdoa:
“Ya Alloh, berilah aku.”
Berdoalah pula:
“Ya Alloh, jadikan aku layak menjaga apa yang Engkau berikan.”
DOA LEMBAR KEEMPAT
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ مَا رَزَقْتَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Allāhumma aṣliḥ qulūbanā, wa bārik lanā fī arzāqinā, waj‘al mā razaqtanā ‘awnan lanā ‘alā ṭā‘atik.
“Ya Alloh, perbaikilah hati kami, berkahilah rezeki kami, dan jadikan apa yang Engkau rezekikan kepada kami sebagai pertolongan untuk menaati-Mu.”
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Wahai pencari cahaya,
jika hari ini engkau belum melihat panen,
jangan langsung menyimpulkan bahwa Alloh meninggalkanmu.
Periksa kembali benihmu.
Rawat tanahmu.
Cabut durinya.
Perkuat akarnya.
Sirami dengan ikhtiar.
Terangi dengan ilmu.
Jaga dengan sabar.
Kemudian serahkan hasilnya kepada Alloh.
Sebab manusia hanya menanam dan merawat.
Sedangkan kehidupan tetap berada di bawah kehendak-Nya.
Maka ucapkanlah:
رَبِّيَ اللّٰهُ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
Rabbiyallāhu wa ‘alayhi tawakkaltu.
“Tuhanku adalah Alloh, dan kepada-Nya aku bertawakal.”
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KELIMA
“SUNGAI YANG TIDAK MENAHAN AIR UNTUK DIRINYA SENDIRI”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar sebelumnya kita telah memandang tanah yang menerima hujan dan menyimpan benih.
Sekarang pandanglah sesuatu yang lahir setelah air berkumpul:
SUNGAI
Sungai menerima air dari banyak arah.
Dari hujan.
Dari mata air.
Dari pegunungan.
Dari anak-anak sungai.
Namun sungai tidak berkata:
“Semua air ini milikku.”
Ia terus mengalir.
Ia melewati desa.
Ia melewati kebun.
Ia memberi minum makhluk.
Ia menyuburkan tanah.
Ia membawa kehidupan menuju tempat-tempat yang jauh.
Maka tertulislah satu rahasia:
Rezeki yang berhenti pada diri sendiri belum menyelesaikan seluruh amanahnya.
BAB XXXI
AIR YANG MENGALIR DAN AIR YANG TERTAHAN
Air yang mengalir membawa kehidupan.
Namun air yang tertahan tanpa penjagaan dapat berubah.
Begitu pula nikmat.
Harta yang hanya ditumpuk dapat menumbuhkan ketakutan kehilangan.
Ilmu yang tidak pernah diamalkan dapat menjadi kebanggaan kosong.
Kedudukan yang hanya dinikmati dapat berubah menjadi kesombongan.
Kekuatan yang tidak digunakan untuk kebaikan dapat menjadi alat penindasan.
Karena itu, rezeki membutuhkan:
arah.
Bukan sekadar jumlah.
BAB XXXII
REZEKI DATANG, REZEKI PERGI
Ada hari ketika uang masuk.
Ada hari ketika uang harus keluar.
Untuk makanan.
Untuk keluarga.
Untuk kesehatan.
Untuk pendidikan.
Untuk membayar hutang.
Untuk membantu orang lain.
Untuk memperbaiki sesuatu yang rusak.
Maka jangan menganggap setiap pengeluaran sebagai kehilangan.
Sebagian pengeluaran justru adalah:
penunaian amanah.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangannya.
Jangan boros.
Jangan kikir.
Jangan memaksakan gaya hidup.
Jangan pula menahan hak yang seharusnya diberikan.
BAB XXXIII
SUNGAI TAHU ARAH
Sungai tidak mengalir tanpa jalur.
Ia mempunyai lembah.
Ia mengikuti kontur.
Ia mencari tempat yang lebih rendah.
Begitu pula manusia membutuhkan arah dalam urusan rezeki.
Jika tidak mempunyai arah, penghasilan sebesar apa pun dapat habis tanpa bekas.
Maka buatlah tujuan.
Apa yang dibutuhkan?
Apa yang harus dilunasi?
Apa yang harus disimpan?
Apa yang dapat dibagikan?
Apa yang harus dihentikan?
Apa yang benar-benar penting?
Karena rezeki yang tidak diarahkan mudah tercecer.
BAB XXXIV
HUTANG DAN ALIRAN YANG TERSUMBAT
Hutang dapat menjadi beban ketika tidak dikelola dengan jujur dan tertib.
Maka orang yang memiliki hutang hendaknya tidak hanya berdoa agar dilunasi.
Ia juga perlu:
menghitung seluruh kewajiban,
menyusun urutan pembayaran,
mengurangi pengeluaran yang tidak perlu,
mencari tambahan penghasilan yang halal,
berkomunikasi dengan pihak yang memberi hutang,
dan tidak menambah hutang baru tanpa kebutuhan yang jelas.
Doa menguatkan jiwa.
Tetapi angka tetap harus dihitung.
Maka Qitab ini menuliskan:
Tauhid tidak menghapus tanggung jawab.
Justru tauhid menumbuhkan keberanian untuk menghadapi kenyataan.
BAB XXXV
REZEKI YANG MENJADI BERKAH
Banyak belum tentu berkah.
Sedikit belum tentu sempit.
Berkah adalah ketika sesuatu yang diberikan Alloh:
mencukupi kebutuhan,
membawa ketenangan,
menjauhkan dari kezaliman,
mendekatkan kepada kebaikan,
dan memberi manfaat lebih luas daripada ukurannya.
Ada penghasilan sederhana yang membuat satu keluarga hidup damai.
Ada kekayaan besar yang justru menjadi sumber pertengkaran.
Maka jangan hanya memohon:
“Tambahkan.”
Tetapi mohonlah:
“Berkahilah.”
BAB XXXVI
TIGA ALIRAN REZEKI
Pertama — Rezeki untuk Dijaga
Ada nikmat yang harus dipelihara.
Kesehatan.
Ilmu.
Waktu.
Kepercayaan.
Amanah.
Jangan sampai setelah diberi, manusia justru merusaknya sendiri.
Kedua — Rezeki untuk Digunakan
Ada rezeki yang memang diberikan agar dipakai.
Makanan untuk dimakan.
Pakaian untuk dikenakan.
Ilmu untuk diamalkan.
Kemampuan untuk bekerja.
Jangan menjadi orang yang terlalu takut menggunakan nikmat sampai lupa bersyukur.
Ketiga — Rezeki untuk Dialirkan
Ada bagian yang harus menjadi manfaat bagi orang lain.
Sedekah.
Pertolongan.
Ilmu.
Waktu.
Tenaga.
Senyuman.
Nasihat yang baik.
Karena tidak semua pemberian harus berupa uang.
BAB XXXVII
JANGAN MENJADIKAN DIRI SEBAGAI BENDUNGAN KESOMBONGAN
Ketika seseorang merasa:
“Semua ini karena kepintaranku.”
maka ia mulai melupakan sumber.
Ketika seseorang berkata:
“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”
ia lupa bahwa hidupnya sejak lahir bergantung pada begitu banyak pertolongan.
Makanan ditanam orang lain.
Pakaian dibuat orang lain.
Rumah dibangun orang lain.
Ilmu diajarkan orang lain.
Jalan dibuat banyak tangan.
Maka manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian.
Dan di atas seluruh sebab itu berdiri kehendak Alloh.
Karena itu:
semakin banyak yang diterima, semakin dalam seharusnya rasa syukur.
BAB XXXVIII
MĪKĀ’ĪL DAN PELAJARAN TENTANG RAHMAT
Ketika membicarakan Malaikat Mīkā’īl, jangan hanya membayangkan rezeki sebagai kekayaan dunia.
Renungkan pula rahmat Alloh yang menghidupkan bumi.
Air turun.
Tanah menerima.
Tumbuhan tumbuh.
Makhluk memakan.
Kehidupan berlanjut.
Semua itu mengajarkan satu kesatuan besar:
rezeki bukan hanya apa yang masuk ke tangan manusia, tetapi seluruh jaringan kehidupan yang dipelihara Alloh.
Maka merusak alam tanpa pertimbangan berarti merusak sebagian jalan rezeki bagi makhluk lain.
Air harus dijaga.
Tanah harus dijaga.
Pohon harus dijaga.
Kebersihan harus dijaga.
Sebab manusia menerima manfaat dari bumi sekaligus memikul tanggung jawab terhadapnya.
BAB XXXIX
KETIKA SUNGAI MELUAP
Sesuatu yang bermanfaat pun dapat menjadi bahaya jika kehilangan keseimbangan.
Air memberi kehidupan.
Tetapi air yang meluap dapat merusak.
Harta pun demikian.
Jika harta menguasai hati, ia dapat berubah menjadi kesombongan.
Ilmu jika tidak disertai adab dapat menjadi alat merendahkan orang.
Kekuasaan tanpa keadilan dapat menjadi kezaliman.
Cinta tanpa batas dapat berubah menjadi ketergantungan yang merusak.
Maka bukan hanya kekurangan yang harus diwaspadai.
Kelebihan pun membutuhkan kendali.
BAB XL
EMPAT DZIKIR MENJAGA ALIRAN REZEKI
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Agar hati mengetahui sumber segala pemberian.
يَا وَاسِعُ
Yā Wāsi‘
Wahai Yang Maha Luas.
Agar hati tidak mempersempit rahmat Alloh dengan ketakutan sendiri.
يَا كَرِيمُ
Yā Karīm
Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.
Agar nikmat melahirkan kemurahan hati.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
Agar setiap pemberian ditempatkan pada jalan yang benar.
RAHASIA LEMBAR KELIMA
Maka tertulis:
Sungai menjadi besar karena menerima banyak aliran.
Tetapi kemuliaannya bukan karena ia menyimpan semuanya.
Kemuliaannya adalah karena ia:
meneruskan kehidupan.
Begitu pula manusia.
Jika Alloh memberimu rezeki, jangan bertanya hanya:
“Berapa yang kudapat?”
Tanyakan pula:
“Apa yang harus kulakukan dengan apa yang kudapat?”
Sebab rezeki adalah pemberian.
Tetapi setelah berada di tanganmu, ia berubah menjadi:
AMANAH
DOA LEMBAR KELIMA
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالسَّخَاءَ وَحُسْنَ التَّدْبِيرِ
Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā, waj‘alnā mafātīḥa lil-khayr, warzuqnāl-qanā‘ata was-sakhā’a wa ḥusnat-tadbīr.
“Ya Alloh, berkahilah apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami, jadikan kami pembuka jalan kebaikan, dan karuniakan kepada kami rasa cukup, kemurahan hati, serta kemampuan mengelola nikmat dengan baik.”
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Wahai pencari cahaya,
jadilah seperti sungai.
Terimalah dengan syukur.
Jagalah dengan amanah.
Gunakan dengan bijaksana.
Dan alirkan bagian yang memang harus menjadi manfaat.
Tetapi jangan pernah lupa:
sungai bukan pencipta air.
Awan bukan pencipta hujan.
Tanah bukan pencipta kehidupan.
Malaikat bukan sumber rezeki.
Semua berjalan karena kehendak:
اللّٰهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ
Alloh, Rabb seluruh alam.
Maka apabila tanganmu sedang penuh, bersyukurlah.
Apabila tanganmu sedang sempit, tetaplah berikhtiar.
Dan dalam dua keadaan itu, jangan biarkan hatimu berpindah dari-Nya.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KEENAM
“EMBUN YANG DATANG TANPA GEMURUH”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar kelima kita telah memandang sungai yang terus mengalir.
Sekarang pandanglah sesuatu yang jauh lebih halus.
Ia tidak datang dengan petir.
Tidak turun dengan suara keras.
Tidak membelah langit.
Namun pada waktu fajar, ia telah hadir di atas daun.
Namanya:
EMBUN
Embun mengajarkan bahwa tidak semua rahmat datang dalam bentuk besar.
Ada pertolongan yang datang perlahan.
Ada rezeki yang masuk sedikit demi sedikit.
Ada jawaban doa yang datang tanpa diketahui kapan tepatnya pintu itu mulai terbuka.
Maka tertulislah:
Rahmat Alloh tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia hadir dengan sangat lembut.
BAB XLI
RAHMAT YANG TIDAK MENARIK PERHATIAN
Manusia sering menunggu keajaiban besar.
Padahal setiap hari begitu banyak nikmat kecil datang tanpa disadari.
Tidur yang cukup.
Tubuh yang masih mampu berdiri.
Makanan yang sederhana.
Seseorang yang mengingatmu.
Pintu yang tidak jadi tertutup.
Masalah yang ternyata tidak sebesar dugaan.
Hati yang tiba-tiba merasa lebih tenang.
Semua itu sering dianggap biasa.
Padahal sesuatu menjadi biasa hanya karena terlalu sering diterima.
Maka Qitab ini mengingatkan:
Jangan menunggu kehilangan untuk mengetahui nilai sebuah nikmat.
BAB XLII
EMBUN TIDAK MEMILIH DAUN YANG TERKENAL
Embun jatuh pada daun yang besar.
Juga pada daun yang kecil.
Pada bunga yang indah.
Juga pada rumput yang tidak pernah diperhatikan manusia.
Di sana terdapat pelajaran:
Rahmat Alloh tidak ditentukan oleh seberapa terkenal seseorang di hadapan manusia.
Ada orang yang tidak dikenal dunia,
tetapi doanya tulus.
Ada orang yang tidak mempunyai jabatan,
tetapi akhlaknya menjaga banyak hati.
Ada orang yang tidak kaya,
tetapi keberadaannya menenangkan keluarganya.
Maka jangan mengukur kemuliaan hanya dengan apa yang terlihat.
BAB XLIII
REZEKI KECIL YANG DIJAGA
Sering kali manusia kehilangan nikmat besar karena meremehkan yang kecil.
Ia meremehkan seribu rupiah.
Meremehkan lima menit.
Meremehkan satu kesempatan.
Meremehkan satu hubungan baik.
Meremehkan satu keterampilan kecil.
Padahal hal besar sering dibangun dari hal-hal kecil yang terus dijaga.
Satu tetes menjadi kumpulan air.
Satu langkah menjadi perjalanan.
Satu hari menjadi tahun.
Satu kebiasaan menjadi karakter.
Maka jangan menghina permulaan yang kecil.
Besar sering lahir dari sesuatu yang mula-mula hampir tidak terlihat.
BAB XLIV
KETIKA REZEKI DATANG SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Ada orang yang menginginkan rezeki besar secara tiba-tiba.
Tetapi terkadang Alloh memberikan secara bertahap.
Bukan karena Dia tidak mampu memberi banyak.
Melainkan karena manusia juga perlu belajar:
mengelola,
menghargai,
menjaga,
dan mengembangkan.
Jika seseorang tidak mampu menjaga yang kecil, bagaimana ia akan menjaga yang besar?
Karena itu jangan hanya bertanya:
“Kapan aku akan mendapatkan banyak?”
Tanyakan pula:
“Sudahkah aku menjaga yang sedikit ini dengan benar?”
BAB XLV
EMBUN DAN WAKTU FAJAR
Embun sering tampak ketika malam menuju pagi.
Di sana ada pelajaran lain.
Ada perkara yang justru menjadi jelas setelah melewati kegelapan.
Malam bukan akhir.
Gelap bukan berarti cahaya telah hilang.
Kadang fajar sedang mendekat ketika seseorang merasa malam terlalu panjang.
Maka jangan ukur seluruh masa depan dari satu malam yang sulit.
Tetaplah berjalan.
Tetaplah menjaga kewajiban.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah menggunakan akal.
Sebab kehidupan bergerak.
BAB XLVI
REZEKI YANG DATANG MELALUI MANUSIA
Alloh dapat menjadikan manusia sebagai sebab datangnya kebaikan.
Seseorang memberikan pekerjaan.
Seseorang membeli daganganmu.
Seseorang mengajarimu keterampilan.
Seseorang memperkenalkanmu kepada kesempatan.
Seseorang menolong ketika engkau sempit.
Hormatilah mereka.
Berterima kasihlah.
Tetapi jangan memindahkan ketergantungan hatimu kepada mereka.
Sebab manusia hanyalah jalan.
Hari ini satu jalan terbuka.
Besok mungkin jalan lain.
Sumbernya tetap satu:
اللّٰهُ
BAB XLVII
JANGAN MEMAKSA SATU PINTU
Ada kalanya seseorang mengira:
“Jika orang ini tidak menolongku, selesai sudah.”
Padahal Alloh tidak bergantung kepada satu manusia untuk menyampaikan rezeki.
Jika satu pintu tertutup, jangan menghina orang yang menutupnya.
Jangan pula putus asa.
Periksa kembali keadaan.
Cari jalan lain yang halal.
Karena rahmat Alloh jauh lebih luas daripada satu pintu yang sedang engkau tatap.
Maka tertulislah:
Jangan menjadikan sebab seolah-olah menjadi Tuhan.
BAB XLVIII
MĪKĀ’ĪL DAN ADAB KEPADA MALAIKAT
Malaikat adalah makhluk Alloh yang mulia.
Mereka taat.
Mereka tidak layak dihina.
Namun mereka juga tidak disembah.
Maka ketika mengingat Mīkā’īl عليه السلام, ingatlah ketaatannya.
Bukan menjadikannya tempat menggantungkan permintaan.
Pelajaran terbesar dari malaikat adalah:
taat kepada Alloh tanpa kesombongan.
Jika makhluk yang begitu mulia tetap hamba,
maka bagaimana mungkin manusia merasa terlalu besar untuk tunduk kepada Tuhannya?
BAB XLIX
REZEKI DAN KETENANGAN
Ada orang yang mempunyai sedikit tetapi tidur nyenyak.
Ada orang yang mempunyai banyak tetapi setiap malam dihantui ketakutan.
Maka salah satu bentuk rezeki terbesar adalah:
سَكِينَة
Sakīnah — ketenangan.
Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah.
Ketenangan adalah ketika hati tidak tercerabut dari pusatnya meskipun masalah sedang ada.
Ia tetap mampu berpikir.
Tetap mampu berdoa.
Tetap mampu mengambil keputusan.
Tetap mampu membedakan rasa takut dari kenyataan.
Inilah kekayaan batin yang tidak dapat dibeli.
BAB L
EMPAT DZIKIR EMBUN RAHMAT
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Renungkan:
Pertolongan Alloh dapat datang melalui jalan yang sangat halus.
يَا رَحْمٰنُ
Yā Raḥmān
Wahai Yang Maha Pengasih.
Renungkan:
Rahmat-Nya meliputi kehidupan.
يَا كَرِيمُ
Yā Karīm
Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.
Renungkan:
Setiap pemberian adalah karunia, bukan hak yang dapat kutuntut dengan kesombongan.
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Renungkan:
Yang kecil dan yang besar sama-sama berasal dari ketetapan-Nya.
RAHASIA LEMBAR KEENAM
Maka tertulis:
Jangan menganggap pertolongan harus selalu datang seperti hujan deras.
Kadang ia datang seperti embun.
Sedikit.
Halus.
Hampir tidak terdengar.
Namun cukup untuk membuat daun bertahan hingga matahari terbit.
Begitu pula hidup.
Ada hari ketika engkau tidak menerima apa yang besar.
Tetapi Alloh memberimu cukup kekuatan untuk melewati satu hari lagi.
Jangan remehkan itu.
Sebab terkadang:
bertahan hari ini adalah jalan menuju pembukaan esok hari.
DOA LEMBAR KEENAM
اللّٰهُمَّ أَفِضْ عَلَيْنَا مِنْ رَحْمَتِكَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَعَيْنًا تَرَى نِعَمَكَ فِي الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ
Allāhumma afiḍ ‘alaynā min raḥmatika, warzuqnā qalban syākiran, wa ‘aynan tarā ni‘amaka fiṣ-ṣaghīri wal-kabīr.
“Ya Alloh, limpahkanlah kepada kami rahmat-Mu, karuniakan hati yang bersyukur, dan mata yang mampu melihat nikmat-Mu dalam perkara kecil maupun besar.”
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Wahai pencari cahaya,
jika hari ini belum turun hujan besar dalam kehidupanmu,
carilah embunnya.
Mungkin ada kesehatan yang masih tersisa.
Mungkin ada keluarga yang masih bersamamu.
Mungkin masih ada makanan.
Mungkin masih ada kesempatan.
Mungkin masih ada satu pintu yang belum engkau coba.
Mungkin masih ada satu doa yang membuatmu tetap berdiri.
Syukurilah.
Rawatlah.
Kemudian teruslah berusaha.
Sebab orang yang mampu mengenali embun tidak akan selalu merasa bahwa langit telah meninggalkannya.
Dan ketika akhirnya hujan besar turun,
ia telah belajar satu perkara:
rahmat Alloh sudah hadir bahkan sebelum ia menyadarinya.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ
Alḥamdulillāhi ‘alā kulli ni‘mah.
Segala puji bagi Alloh atas setiap nikmat.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KETUJUH
“MATA AIR YANG KELUAR DARI TEMPAT TERSEMBUNYI”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar keenam kita telah memandang embun yang datang tanpa gemuruh.
Sekarang pandanglah air yang muncul dari dalam bumi.
Ia tidak jatuh dari langit.
Ia tidak datang melalui sungai besar.
Ia keluar perlahan dari tempat yang sebelumnya tampak kering.
Namanya:
MATA AIR
Mata air mengajarkan satu rahasia:
Tidak semua rezeki datang dari arah yang terlihat.
Ada sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam dirimu.
Kemampuan.
Pengalaman.
Keterampilan.
Keberanian.
Jaringan persaudaraan.
Ilmu.
Kesabaran.
Atau kesempatan yang belum pernah engkau sadari.
Kadang manusia terlalu lama menatap langit menunggu hujan,
padahal di bawah kakinya terdapat mata air yang belum digali.
BAB LI
REZEKI YANG TERSIMPAN DALAM DIRI
Alloh menciptakan manusia dengan berbagai kemampuan.
Tidak semua orang mempunyai jalan rezeki yang sama.
Ada yang kuat dalam berdagang.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang terampil memperbaiki sesuatu.
Ada yang mampu menulis.
Ada yang pandai bertani.
Ada yang telaten merawat.
Ada yang mampu mengorganisasi.
Ada yang memiliki keterampilan tangan.
Maka jangan terus membandingkan jalanmu dengan jalan orang lain.
Sebab:
mata air setiap tanah tidak muncul pada titik yang sama.
BAB LII
MENGGALI BUKAN BERARTI MEMAKSA
Untuk menemukan mata air, seseorang perlu menggali.
Namun menggali harus dengan pengetahuan.
Jika salah tempat, tenaga habis.
Begitu pula mencari rezeki.
Kerja keras penting.
Tetapi kerja keras tanpa arah dapat menghabiskan tenaga tanpa membawa kemajuan.
Karena itu, berhentilah sesekali dan evaluasi:
Apa yang paling mampu kulakukan?
Apa yang dibutuhkan orang di sekitarku?
Keterampilan apa yang dapat kutingkatkan?
Kesalahan apa yang terus kuulangi?
Mana pekerjaan yang benar-benar menghasilkan dan mana yang hanya menghabiskan waktu?
Di sinilah ikhtiar bertemu hikmah.
BAB LIII
JANGAN MALU MEMULAI DARI KECIL
Mata air besar sering bermula dari aliran kecil.
Begitu pula usaha.
Jangan merasa hina karena memulai dari sedikit.
Satu pelanggan.
Satu pesanan.
Satu keterampilan.
Satu murid.
Satu kebun kecil.
Satu lapak.
Satu pekerjaan sederhana.
Yang kecil tetapi jujur dan terus berkembang lebih baik daripada sesuatu yang terlihat besar tetapi berdiri di atas kebohongan.
Maka Qitab ini menuliskan:
Keberkahan tidak malu tinggal pada permulaan yang kecil.
BAB LIV
SUMBER YANG TERTUTUP BATU
Kadang mata air ada,
tetapi tertutup batu.
Begitu pula rezeki manusia.
Ada kemampuan,
tetapi tertutup rasa takut.
Ada peluang,
tetapi tertutup kemalasan.
Ada keterampilan,
tetapi tertutup gengsi.
Ada hubungan baik,
tetapi tertutup kesombongan.
Ada jalan keluar,
tetapi tertutup ketidakmauan belajar.
Maka sebelum mengatakan:
“Tidak ada jalan.”
Periksa dahulu:
“Apakah ada batu yang harus kusingkirkan?”
BAB LV
BATU GENGSI
Salah satu batu terbesar adalah gengsi.
Ada orang enggan mengambil pekerjaan halal karena dianggap terlalu kecil.
Ada yang malu berdagang sederhana.
Ada yang menolak belajar dari orang yang lebih muda.
Ada yang memaksakan gaya hidup agar terlihat berhasil.
Padahal rezeki tidak mengenal gengsi manusia.
Yang halal tetap mulia.
Yang jujur tetap terhormat.
Maka lebih baik tangan bekerja sederhana daripada hati hidup dalam kebohongan.
Kemuliaan bukan pada besarnya pekerjaan, tetapi pada kehalalan dan amanahnya.
BAB LVI
MATA AIR DAN KONSISTENSI
Mata air tidak mengatakan:
“Hari ini aku mengalir, besok aku bosan.”
Ia terus mengalir.
Sedikit demi sedikit.
Begitu pula banyak keberhasilan manusia dibangun bukan oleh ledakan semangat,
tetapi oleh kebiasaan kecil yang terus dilakukan.
Belajar setiap hari.
Menabung sedikit demi sedikit.
Membayar hutang secara tertib.
Melayani pelanggan dengan baik.
Menjaga kualitas.
Menjaga waktu.
Menjaga kepercayaan.
Konsistensi membuat tetesan menjadi aliran.
BAB LVII
KETIKA SUMBER MULAI JERNIH
Pada awalnya, air yang baru digali dapat bercampur tanah.
Ia belum jernih.
Tetapi setelah aliran terus berjalan, air menjadi lebih bersih.
Begitu pula perjalanan manusia.
Ketika memulai sesuatu, kesalahan dapat terjadi.
Jangan langsung menyerah.
Belajarlah.
Perbaiki.
Ulangi dengan cara yang lebih baik.
Namun jangan gunakan proses belajar sebagai alasan untuk terus mengulangi kesalahan yang sama.
Pertumbuhan terlihat ketika:
kesalahan lama mulai berkurang.
BAB LVIII
MĪKĀ’ĪL DAN RAHASIA SEBAB-SEBAB REZEKI
Dalam merenungkan Malaikat Mīkā’īl عليه السلام, kita belajar bahwa alam bergerak melalui sebab-sebab yang Alloh tetapkan.
Air.
Awan.
Tanah.
Tumbuhan.
Musim.
Seluruhnya membentuk rangkaian kehidupan.
Begitu pula rezeki manusia.
Jarang sekali ia datang tanpa sebab.
Ada orang yang menanam.
Ada yang membuat.
Ada yang mengangkut.
Ada yang menjual.
Ada yang membeli.
Ada yang mengajar.
Ada yang belajar.
Maka jangan meremehkan sebab.
Tetapi jangan pula menyembah sebab.
Peganglah dua hal sekaligus:
ikhtiar pada sebab, tawakal kepada Alloh.
BAB LIX
JIKA SATU MATA AIR KERING
Tidak semua sumber bertahan selamanya.
Ada pekerjaan yang berakhir.
Ada usaha yang tidak lagi sesuai zaman.
Ada pelanggan yang pindah.
Ada kemampuan yang harus diperbarui.
Maka ketika satu sumber rezeki melemah, jangan hanya menangisi sumber lama.
Belajarlah mencari sumber baru.
Tingkatkan kemampuan.
Perhatikan perubahan kebutuhan.
Bangun jaringan.
Gunakan pengalaman lama sebagai modal untuk jalan berikutnya.
Sebab istiqamah bukan berarti menolak perubahan.
Istiqamah adalah tetap halal, jujur, dan bertauhid meskipun caranya harus berubah.
BAB LX
EMPAT DZIKIR MATA AIR REZEKI
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
Renungkan:
Ya Alloh, bukakan apa yang baik dan tutuplah apa yang merusak.
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Renungkan:
Sumber rezeki dapat berubah, tetapi Engkau tetap Ar-Razzāq.
يَا عَلِيمُ
Yā ‘Alīm
Wahai Yang Maha Mengetahui.
Renungkan:
Engkau mengetahui kemampuan dan jalan yang belum kuketahui.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
Renungkan:
Tunjukkan aku kepada ikhtiar yang benar.
RAHASIA LEMBAR KETUJUH
Maka tertulislah:
Jangan hanya menunggu hujan jika Alloh telah memberimu alat untuk menggali.
Ada doa yang dijawab dengan datangnya sesuatu.
Ada pula doa yang dijawab dengan diberinya kemampuan untuk mencari sesuatu.
Ada orang meminta rezeki,
lalu Alloh memberinya ide.
Ia mengabaikannya.
Ada yang meminta pembukaan,
lalu bertemu seseorang yang mengajarinya keterampilan.
Ia meremehkannya.
Ada yang meminta jalan keluar,
lalu datang kesempatan sederhana.
Ia menolaknya karena gengsi.
Maka hati-hatilah.
Jawaban tidak selalu datang dalam bentuk yang engkau bayangkan.
DOA LEMBAR KETUJUH
اللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رِزْقِكَ الْحَلَالِ، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَوَفِّقْنَا لِحُسْنِ السَّعْيِ وَالتَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
Allāhumma-ftaḥ lanā abwāba rizqikal-ḥalāl, wa ‘allimnā mā yanfa‘unā, wa waffiqnā liḥusnis-sa‘yi wat-tawakkuli ‘alayk.
“Ya Alloh, bukakanlah bagi kami pintu-pintu rezeki-Mu yang halal, ajarkan kepada kami apa yang bermanfaat, dan bimbinglah kami agar baik dalam berusaha serta bertawakal kepada-Mu.”
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Wahai pencari cahaya,
jika suatu hari engkau merasa semua pintu tertutup,
jangan hanya melihat ke depan.
Lihatlah ke dalam dirimu.
Mungkin ada kemampuan yang belum digunakan.
Mungkin ada ilmu yang perlu diasah.
Mungkin ada kebiasaan yang harus diubah.
Mungkin ada pekerjaan halal yang selama ini engkau anggap terlalu kecil.
Mungkin ada mata air yang masih tertutup batu.
Singkirkan batunya dengan:
ilmu, disiplin, keberanian, kejujuran, dan doa.
Kemudian biarkan airnya mengalir.
Tetapi ketika mata air itu ditemukan,
jangan berkata:
“Aku sendiri yang menciptakan sumber ini.”
Katakan:
هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
Hādzā min faḍli Rabbī.
“Ini termasuk karunia Tuhanku.”
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KEDELAPAN
“POHON YANG BERBUAH SETELAH PANJANG MENUNGGU”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar ketujuh telah dibukakan tentang mata air yang tersembunyi.
Sekarang pandanglah pohon.
Ia tidak lahir sebagai pohon besar.
Ia bermula dari benih.
Menembus tanah.
Membentuk akar.
Menumbuhkan batang.
Mengeluarkan daun.
Melewati hujan.
Menahan panas.
Digoyang angin.
Lalu setelah perjalanan panjang,
barulah sebagian pohon mengeluarkan:
BUAH
Maka tertulislah satu rahasia:
Tidak semua yang ditanam hari ini dapat dipanen hari ini.
BAB LXI
ANTARA MENANAM DAN MEMANEN
Manusia sering mencintai panen.
Tetapi tidak semua orang mencintai proses menanam.
Ia ingin hasil.
Namun enggan belajar.
Ia ingin rezeki luas.
Namun enggan disiplin.
Ia ingin dipercaya.
Namun sulit memegang janji.
Ia ingin berhasil.
Namun berhenti ketika hasil belum tampak.
Padahal antara benih dan buah terdapat:
waktu.
Waktu tidak selalu dapat dipercepat.
BAB LXII
POHON TIDAK BERBUAH SEPANJANG TAHUN
Ada musim berbunga.
Ada musim berbuah.
Ada masa setelah panen ketika pohon terlihat biasa kembali.
Maka manusia pun memiliki musim.
Ada masa berkembang.
Ada masa sibuk.
Ada masa menerima hasil.
Ada pula masa ketika hidup terasa sepi.
Jangan menganggap seluruh hidup gagal hanya karena engkau sedang berada di luar musim panen.
Mungkin ini masa:
memperbaiki akar.
Mungkin masa:
menyiapkan bunga baru.
Mungkin masa:
beristirahat sebelum perjalanan berikutnya.
BAB LXIII
JANGAN MEMETIK BUAH YANG BELUM MATANG
Ketergesaan dapat merusak sesuatu yang sebenarnya sedang tumbuh baik.
Orang ingin cepat kaya lalu memilih jalan yang tidak halal.
Orang ingin cepat berhasil lalu menipu.
Orang ingin cepat dikenal lalu membangun citra tanpa isi.
Orang ingin cepat memiliki sesuatu lalu mengambil hutang di luar kemampuan.
Maka Qitab ini mengingatkan:
Buah yang dipetik sebelum matang tidak menghasilkan rasa yang sempurna.
Begitu pula rezeki yang dikejar tanpa adab.
BAB LXIV
BUAH ADALAH HASIL, BUKAN IDENTITAS POHON
Pohon tetap pohon ketika belum berbuah.
Nilainya tidak lenyap hanya karena belum memasuki musim panen.
Begitu pula manusia.
Jangan mengukur seluruh harga dirimu dari:
penghasilan,
jabatan,
rumah,
kendaraan,
atau pujian.
Semua itu dapat berubah.
Jika hari ini hasilmu sedikit, bukan berarti dirimu tidak berharga.
Yang harus ditanya adalah:
apakah engkau terus memperbaiki diri?
apakah jalanmu halal?
apakah engkau tetap amanah?
apakah engkau masih belajar?
Karena buah adalah hasil.
Sedangkan manusia lebih luas daripada hasil sesaat.
BAB LXV
BUAH YANG BAIK MEMILIKI AKAR YANG SEHAT
Jika akar rusak, buah akan terkena akibatnya.
Maka ketika hasil kehidupan terasa tidak baik, jangan hanya memperbaiki bagian luar.
Periksa akarnya.
Akar usaha adalah:
niat,
kejujuran,
kemampuan,
perencanaan,
disiplin,
dan pelayanan.
Akar keluarga adalah:
komunikasi,
kasih sayang,
tanggung jawab,
dan kepercayaan.
Akar ibadah adalah:
tauhid,
ikhlas,
ilmu,
dan adab.
Maka jangan hanya menghias buah.
Sehatkan akarnya.
BAB LXVI
BUAH UNTUK SIAPA?
Pohon tidak memakan seluruh buahnya sendiri.
Buahnya dimakan manusia.
Dimakan burung.
Jatuh ke tanah.
Sebagian menjadi benih baru.
Di sana ada pelajaran besar:
Hasil terbaik bukan hanya yang membuatmu kenyang, tetapi yang melahirkan manfaat baru.
Jika engkau memperoleh ilmu,
ajarkan dengan benar.
Jika memperoleh pengalaman,
jadikan pelajaran.
Jika memperoleh harta,
gunakan dengan amanah.
Jika memperoleh kedudukan,
gunakan untuk melindungi, bukan menindas.
Jika memperoleh keberhasilan,
jangan tutup pintu bagi orang yang sedang belajar.
BAB LXVII
JANGAN MERUSAK POHON KARENA SATU BUAH BUSUK
Dalam satu pohon dapat terdapat buah yang bagus dan buah yang rusak.
Manusia sering melakukan kesalahan besar:
satu kegagalan membuatnya menganggap seluruh hidup gagal.
Satu orang mengecewakan membuatnya menganggap semua manusia sama.
Satu usaha rugi membuatnya takut memulai kembali.
Satu kesalahan membuatnya merasa tidak layak berubah.
Padahal satu buah busuk tidak berarti seluruh pohon harus ditebang.
Periksa.
Buang yang rusak.
Rawat kembali.
Perbaikan lebih bijaksana daripada penghukuman terhadap seluruh diri.
BAB LXVIII
MĪKĀ’ĪL DAN RANTAI KEHIDUPAN
Renungkan bagaimana kehidupan berjalan.
Hujan turun.
Tanah menerima.
Akar menyerap.
Pohon tumbuh.
Bunga muncul.
Buah terbentuk.
Makhluk memperoleh makanan.
Benih jatuh.
Kehidupan dimulai kembali.
Dalam rangkaian ini, manusia belajar bahwa rezeki tidak berdiri sendiri.
Satu nikmat terhubung kepada nikmat yang lain.
Karena itu, ketika merenungkan Mīkā’īl عليه السلام dan urusan rezeki yang dilaksanakan atas perintah Alloh, jangan berhenti pada kekayaan pribadi.
Renungkan pula:
kelangsungan kehidupan.
BAB LXIX
HASIL YANG TIDAK SESUAI HARAPAN
Tidak semua pohon menghasilkan buah sebanyak yang diharapkan petani.
Kadang cuaca berubah.
Kadang hama datang.
Kadang tanah kurang baik.
Kadang ada sebab yang tidak mampu dikendalikan manusia.
Begitu pula hidup.
Engkau dapat merencanakan dengan baik,
tetapi hasil tetap tidak seluruhnya berada di tanganmu.
Maka manusia harus belajar membedakan:
tanggung jawab dan kendali.
Engkau bertanggung jawab atas usaha.
Tetapi engkau tidak mengendalikan seluruh hasil.
Di titik inilah tawakal menjadi nyata.
BAB LXX
EMPAT DZIKIR MENUNGGU BUAH
يَا صَبُورُ
Yā Ṣabūr
Wahai Yang Maha Sabar.
Renungkan:
Ajari aku tidak tergesa dalam menjalani proses.
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Renungkan:
Hasil tidak keluar dari kekuasaan-Mu.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
Renungkan:
Ada hikmah dalam waktu yang belum kupahami.
يَا كَرِيمُ
Yā Karīm
Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.
Renungkan:
Karunia-Mu lebih luas daripada satu bentuk hasil yang kuinginkan.
RAHASIA LEMBAR KEDELAPAN
Maka tertulislah:
Pohon yang baik tidak berteriak setiap hari meminta dilihat.
Ia sibuk:
berakar,
bertumbuh,
bertahan,
dan pada waktunya:
buah berbicara sendiri.
Maka jangan terlalu sibuk terlihat berhasil.
Lebih baik sibuk menjadi benar-benar kuat.
Jangan terlalu sibuk membuat manusia yakin bahwa engkau hebat.
Lebih baik perbaiki kualitas.
Sebab pencitraan dapat dibuat dalam satu malam.
Tetapi kualitas membutuhkan waktu.
DOA LEMBAR KEDELAPAN
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي سَعْيِنَا، وَارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيلًا، وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ أَعْمَالِنَا ثَمَرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا
Allāhumma bārik lanā fī sa‘yinā, warzuqnā ṣabran jamīlan, wa akhrij lanā min a‘mālinā tsamaran ṭayyiban mubārakan.
“Ya Alloh, berkahilah usaha kami, karuniakan kepada kami kesabaran yang indah, dan keluarkanlah dari amal serta usaha kami buah yang baik dan diberkahi.”
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Wahai pencari cahaya,
jika engkau sudah lama menanam tetapi buah belum tampak,
jangan hanya menatap ranting dengan kecewa.
Periksa akarnya.
Periksa tanahnya.
Periksa cara merawatnya.
Belajarlah dari musim.
Kemudian sabarlah.
Tetapi jika waktunya memang menuntut perubahan,
jangan takut memperbaiki cara.
Karena kesabaran bukan berarti mempertahankan kesalahan.
Kesabaran adalah:
tetap teguh pada kebaikan sambil terus memperbaiki ikhtiar.
Dan apabila suatu hari buah itu akhirnya muncul,
jangan lupakan hari ketika engkau hanya memiliki sebutir benih.
Tundukkan hati.
Bersyukurlah.
Lalu ucapkan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ
Wa mā bikum min ni‘matin faminallāh.
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Alloh.”
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KESEMBILAN
“GUDANG LANGIT DAN UKURAN REZEKI”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
Pada lembar kedelapan kita telah memandang pohon yang berbuah setelah panjang menunggu.
Sekarang bukalah pandangan lebih luas.
Jangan hanya melihat buah.
Jangan hanya melihat pohon.
Jangan hanya melihat hujan.
Pandanglah satu hukum besar:
UKURAN
Alloh tidak menciptakan kehidupan dalam kekacauan.
Air mempunyai ukuran.
Musim mempunyai ukuran.
Siang dan malam mempunyai ukuran.
Pertumbuhan mempunyai ukuran.
Tubuh mempunyai ukuran kemampuan.
Bahkan rezeki pun datang melalui ukuran yang hanya Alloh ketahui secara sempurna.
Maka tertulislah:
Tidak semua yang sedikit adalah penolakan, dan tidak semua yang banyak adalah kemuliaan.
BAB LXXI
KHAZANAH TIDAK PERNAH KOSONG
Alloh berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.”
QS. Al-Ḥijr: 21
Maka seorang hamba tidak semestinya memandang sempit kepada keluasan Alloh.
Yang terbatas adalah kemampuan manusia.
Yang terbatas adalah waktu manusia.
Yang terbatas adalah pandangan manusia.
Tetapi karunia Alloh tidak berada di bawah batas-batas itu.
Karena itu jangan berkata:
“Sudah tidak ada jalan.”
Katakan:
“Aku belum mengetahui jalan yang Alloh bukakan.”
BAB LXXII
BANYAK BELUM TENTU SIAP
Bayangkan sebuah wadah kecil.
Jika dituangi air terlalu banyak sekaligus, air akan tumpah.
Begitu pula manusia.
Ada sesuatu yang jika diberikan terlalu cepat justru dapat merusaknya.
Harta besar tanpa kemampuan mengelola dapat habis.
Kedudukan tinggi tanpa kedewasaan dapat melahirkan kesombongan.
Popularitas tanpa kesiapan jiwa dapat menghancurkan ketenangan.
Ilmu tanpa adab dapat melahirkan perdebatan dan merendahkan orang lain.
Maka terkadang ukuran kecil adalah bentuk penjagaan.
Alloh mengetahui kapasitas wadah sebelum menuangkan isinya.
BAB LXXIII
PERBESARLAH WADAH, BUKAN HANYA PERMINTAAN
Banyak manusia sibuk meminta:
“Ya Alloh, tambahkan rezekiku.”
Tetapi jarang berdoa:
“Ya Alloh, besarkan kemampuanku untuk menjaga rezeki.”
Padahal keduanya harus berjalan bersama.
Perbesar wadah dengan:
ilmu,
keterampilan,
disiplin,
amanah,
pengendalian diri,
dan kemampuan mengambil keputusan.
Jika penghasilan bertambah tetapi pengeluaran semakin liar, wadah belum membesar.
Jika kedudukan meningkat tetapi kesombongan ikut meningkat, wadah belum kuat.
Jika ilmu bertambah tetapi adab berkurang, wadah sedang retak.
BAB LXXIV
REZEKI DAN WAKTU
Ada pemberian yang baik,
tetapi menjadi buruk jika datang pada waktu yang salah.
Ada keputusan yang tepat,
tetapi harus menunggu keadaan matang.
Maka waktu adalah bagian dari rezeki.
Orang sering melihat:
apa yang diberikan.
Tetapi lupa melihat:
kapan ia diberikan.
Padahal ketepatan waktu dapat menentukan keselamatan sebuah nikmat.
Karena itu, saat sesuatu belum datang, jangan hanya bertanya:
“Mengapa belum?”
Tanyakan pula:
“Apa yang sedang dipersiapkan dalam diriku selama masa menunggu ini?”
BAB LXXV
JANGAN IRI PADA UKURAN ORANG LAIN
Ada pohon yang tinggi.
Ada pohon yang rendah.
Ada buah yang besar.
Ada buah yang kecil.
Namun setiap ciptaan memiliki tempatnya.
Begitu pula manusia.
Jangan melihat rezeki orang lain lalu menyimpulkan bahwa Alloh tidak adil kepadamu.
Engkau tidak mengetahui:
beban mereka,
hutang mereka,
tanggung jawab mereka,
ujian mereka,
atau apa yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Maka iri sering lahir dari:
melihat hasil tanpa melihat seluruh perjalanan.
BAB LXXVI
KETIKA YANG BANYAK MENJADI UJIAN
Manusia sering menganggap kemiskinan sebagai ujian.
Padahal kekayaan juga ujian.
Kesempitan menguji kesabaran.
Kelapangan menguji syukur.
Kekurangan menguji tawakal.
Kelebihan menguji amanah.
Maka jangan mengira:
“Jika aku kaya, semua persoalan ruhani selesai.”
Belum tentu.
Boleh jadi persoalannya justru bertambah.
Karena setiap nikmat membawa pertanyaan:
“Untuk apa engkau menggunakannya?”
BAB LXXVII
MĪKĀ’ĪL DAN TATANAN REZEKI
Ketika nama Mīkā’īl عليه السلام direnungkan dalam hubungannya dengan rezeki dan hujan atas perintah Alloh, kita menemukan pelajaran tentang keteraturan.
Hujan tidak jatuh karena malaikat memiliki kehendak independen.
Malaikat menjalankan perintah.
Alam bergerak dengan hukum-hukum yang Alloh tetapkan.
Maka seorang hamba belajar:
taat juga memiliki keteraturan.
Ibadah mempunyai waktu.
Hutang mempunyai kewajiban.
Pekerjaan mempunyai disiplin.
Amanah mempunyai batas.
Keluarga mempunyai hak.
Tidak semua dapat dilakukan sesuka hati.
Keteraturan adalah bagian dari kedewasaan.
BAB LXXVIII
JANGAN MENGUKUR RAHMAT DENGAN SATU KEINGINAN
Ada orang berdoa untuk satu perkara.
Ketika tidak mendapatkannya, ia berkata:
“Alloh tidak memberiku.”
Padahal mungkin pada saat yang sama ia masih menerima:
napas,
kesehatan,
perlindungan,
keluarga,
makanan,
kesempatan,
dan begitu banyak nikmat lain.
Maka jangan menyempitkan seluruh rahmat Alloh hanya pada satu permintaan.
Satu pintu yang tertutup tidak berarti seluruh langit tertutup.
BAB LXXIX
UKURAN CUKUP
Manusia memiliki keinginan tanpa batas.
Jika hanya mengikuti keinginan, kata “cukup” tidak pernah datang.
Setelah memiliki satu, ingin dua.
Setelah dua, ingin sepuluh.
Setelah sepuluh, takut kehilangan.
Maka kekayaan sejati membutuhkan:
قَنَاعَة
Qanā‘ah — rasa cukup yang disertai usaha.
Qanā‘ah bukan kemalasan.
Ia bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Qanā‘ah adalah bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan kekurangan sebagai alasan membenci kehidupan.
Ia mampu berkata:
“Aku akan terus berusaha, tetapi aku tetap bersyukur atas yang ada hari ini.”
BAB LXXX
EMPAT DZIKIR MENJAGA UKURAN
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Renungkan:
Engkau mengetahui apa yang kubutuhkan.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
Renungkan:
Ukuran-Mu tidak lahir dari kesia-siaan.
يَا وَاسِعُ
Yā Wāsi‘
Wahai Yang Maha Luas.
Renungkan:
Rahmat-Mu lebih luas daripada perhitunganku.
يَا كَافِي
Yā Kāfī
Wahai Yang Maha Mencukupi.
Renungkan:
Cukupkanlah aku dengan yang halal dan berkah.
RAHASIA LEMBAR KESEMBILAN
Maka tertulislah:
Manusia sering meminta gudang dibuka, tetapi lupa mempersiapkan tempat untuk menyimpan isinya.
Jangan hanya meminta kelimpahan.
Mintalah:
kemampuan menjaga,
kebijaksanaan menggunakan,
kekuatan menahan hawa nafsu,
dan hati yang tetap rendah.
Sebab rezeki terbesar bukan hanya ketika Alloh memberi banyak.
Tetapi ketika:
yang diberikan tidak menjauhkanmu dari-Nya.
DOA LEMBAR KESEMBILAN
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا مِنْ فَضْلِكَ رِزْقًا وَاسِعًا حَلَالًا مُبَارَكًا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ حِفْظِهِ وَحُسْنَ إِنْفَاقِهِ وَالْقَنَاعَةَ بِمَا قَسَمْتَ لَنَا
Allāhumma-rzuqnā min faḍlika rizqan wāsi‘an ḥalālan mubārakan, warzuqnā ḥusna ḥifẓihi wa ḥusna infāqihi wal-qanā‘ata bimā qasamta lanā.
“Ya Alloh, karuniakanlah kepada kami dari karunia-Mu rezeki yang luas, halal dan diberkahi. Karuniakan pula kemampuan menjaganya, menggunakannya dengan baik, serta rasa cukup terhadap apa yang Engkau tetapkan bagi kami.”
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Wahai pencari cahaya,
jika hari ini engkau menerima sedikit,
jangan langsung kecewa.
Gunakan yang sedikit dengan benar.
Jika menerima banyak,
jangan langsung membanggakan diri.
Jagalah yang banyak dengan amanah.
Jika belum menerima apa yang diminta,
teruslah memperbaiki wadahmu.
Sebab manusia tidak mengetahui ukuran yang paling baik bagi dirinya.
Tetapi Alloh mengetahui.
Maka berdoalah:
حَسْبِيَ اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Ḥasbiyallāhu wa ni‘mal-wakīl.
“Cukuplah Alloh bagiku, dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
Dan pahamilah satu rahasia terakhir dari lembar ini:
Khazanah Alloh tidak pernah kekurangan. Yang perlu dijaga adalah agar hati manusia tidak kehilangan syukur ketika menerima, dan tidak kehilangan iman ketika menunggu.
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
سِرُّ الرِّزْقِ وَالرَّحْمَةِ
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Rahasia Rezeki dan Rahmat
LEMBAR KESEPULUH — TERAKHIR
“KETIKA SELURUH ALIRAN KEMBALI KEPADA SANG PEMILIK REZEKI”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
kita telah berjalan melewati:
hujan,
awan,
angin,
tanah,
sungai,
embun,
mata air,
pohon,
buah,
dan ukuran rezeki.
Sekarang sampailah kita pada lembar terakhir.
Lembar yang tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang turun dari langit,
tetapi tentang:
KE MANA HATI HARUS KEMBALI
Sebab semua perjalanan rezeki akhirnya membawa manusia kepada satu pertanyaan:
Apakah setelah menerima nikmat, kita semakin mengenal Sang Pemberi?
Ataukah justru berhenti pada pemberian?
Inilah batas yang memisahkan:
orang yang mengejar rezeki,
dengan orang yang melalui rezeki semakin mengenal Alloh.
BAB LXXXI
REZEKI BUKAN TUJUAN TERAKHIR
Manusia mencari makan.
Mencari pekerjaan.
Mencari rumah.
Mencari keamanan.
Mencari kecukupan.
Semua itu wajar.
Tetapi kehidupan tidak diciptakan hanya agar manusia mengumpulkan benda.
Jika seseorang memperoleh seluruh yang diinginkan,
namun hatinya kosong,
ia tetap akan bertanya:
“Lalu setelah ini apa?”
Maka rezeki adalah bekal.
Bukan Tuhan.
Harta adalah alat.
Bukan arah akhir.
Kedudukan adalah amanah.
Bukan ukuran mutlak kemuliaan.
Dan dunia adalah tempat berjalan,
bukan tempat tinggal selamanya.
Maka tertulislah:
Jangan menukar tujuan perjalanan dengan bekal perjalanan.
BAB LXXXII
MENGAPA MANUSIA TAKUT KEHILANGAN?
Karena manusia sering merasa:
“Apa yang ada padaku adalah milikku sepenuhnya.”
Padahal tubuh pun dipinjamkan.
Waktu dipinjamkan.
Kesehatan dipinjamkan.
Harta dipinjamkan.
Kedudukan dipinjamkan.
Bahkan orang-orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar berada dalam kekuasaan kita.
Semua memiliki waktu.
Semua dapat berubah.
Maka rasa memiliki yang terlalu keras melahirkan ketakutan.
Sedangkan kesadaran amanah melahirkan:
syukur tanpa keterikatan yang membutakan.
BAB LXXXIII
ANTARA MEMILIKI DAN DIMILIKI
Ada orang memiliki harta.
Ada pula orang yang justru dimiliki hartanya.
Tandanya?
Ia tidak bisa tidur karena takut kehilangan.
Ia mengorbankan keluarga demi menambah angka.
Ia berani menipu.
Ia merendahkan orang yang lebih miskin.
Ia tidak pernah merasa cukup.
Pada titik itu, harta bukan lagi berada di tangannya.
Harta telah masuk terlalu jauh ke dalam hatinya.
Maka letakkan dunia:
di tangan, bukan di singgasana hati.
Singgasana hati hanya layak diarahkan kepada Alloh.
BAB LXXXIV
MĪKĀ’ĪL DAN KETAATAN YANG TIDAK MENUNTUT PUJIAN
Malaikat tidak menjalankan perintah untuk menjadi terkenal.
Mereka tidak membutuhkan tepuk tangan manusia.
Mereka tidak berlomba membangun nama.
Mereka taat karena Alloh memerintah.
Maka ketika nama Mīkā’īl عليه السلام disebut dalam renungan tentang rezeki,
lihatlah satu pelajaran agung:
kemuliaan terletak pada ketaatan, bukan pada sorotan.
Jika suatu hari manusia diberi amanah besar,
jangan sibuk memperbesar nama diri.
Perbesar manfaat.
Perbesar kejujuran.
Perbesar tanggung jawab.
Sebab yang dikenal manusia belum tentu dikenal karena kebaikan.
Dan yang tidak dikenal manusia belum tentu rendah di sisi Alloh.
BAB LXXXV
KETIKA REZEKI MENJADI UJIAN TAUHID
Ada satu ujian yang sangat halus.
Ketika miskin seseorang berkata:
“Ya Alloh, hanya Engkau tempatku bergantung.”
Tetapi ketika kaya,
perlahan ia berkata dalam hati:
“Aku aman karena hartaku.”
Di sinilah rezeki dapat menguji tauhid.
Ketika pekerjaan bagus menjadi sandaran mutlak.
Ketika rekening menjadi sumber rasa aman mutlak.
Ketika manusia tertentu dianggap satu-satunya pembuka jalan.
Ketika jabatan dianggap tidak mungkin hilang.
Maka hati sedang diperingatkan.
Sebab sebab boleh digunakan.
Tetapi sebab tidak boleh menggantikan:
الْمُسَبِّب
Al-Musabbib — Dia yang menetapkan sebab dan hasil.
BAB LXXXVI
REZEKI YANG DATANG MELALUI KEHILANGAN
Tidak semua rezeki datang dalam bentuk penambahan.
Ada rezeki yang datang sebagai:
pengurangan.
Dikurangi hubungan yang merusak.
Dikurangi kebiasaan yang menghancurkan.
Dikurangi kesombongan.
Dikurangi ambisi yang berlebihan.
Dikurangi beban yang tidak perlu.
Ada sesuatu yang hilang,
lalu manusia baru menyadari:
“Ternyata setelah itu aku bisa bernapas lebih lapang.”
Maka jangan buru-buru menyebut setiap kehilangan sebagai kutukan.
Sebagian kehilangan adalah ruang kosong
agar sesuatu yang lebih sehat dapat tumbuh.
BAB LXXXVII
KEHILANGAN BUKAN BERARTI ALLAH MENINGGALKAN
Jika kekayaan berkurang,
Alloh tidak berkurang.
Jika jabatan hilang,
Alloh tidak hilang.
Jika usaha gagal,
rahmat Alloh tidak habis.
Jika manusia pergi,
Alloh tetap mengetahui keadaanmu.
Karena itu jangan kaitkan seluruh nilai dirimu dengan sesuatu yang dapat hilang.
Yang datang akan pergi.
Yang tumbuh dapat layu.
Yang penuh dapat kosong.
Tetapi seorang hamba belajar:
ketika yang berubah berubah, ia tetap memiliki tempat kembali.
BAB LXXXVIII
RAHASIA CUKUP
Ada doa yang lebih dalam daripada meminta banyak:
اَللّٰهُمَّ اكْفِنِي
Allāhummakfinī.
“Ya Alloh, cukupkan aku.”
Cukup bukan berarti sedikit.
Cukup berarti:
apa yang dibutuhkan tersedia,
hati tidak diperbudak keinginan,
dan nikmat tidak berubah menjadi sumber kehancuran.
Orang yang mengenal cukup dapat menikmati satu gelas air.
Orang yang tidak mengenal cukup dapat memiliki banyak tetapi tetap haus.
Maka rasa cukup adalah:
kekayaan yang tumbuh dari dalam.
BAB LXXXIX
KEKAYAAN PALING SUNYI
Ada kekayaan yang tidak dipamerkan.
Ia bernama:
hati yang tidak iri,
tidur yang tidak dihantui tipu daya,
makanan yang halal,
hutang yang perlahan berkurang,
keluarga yang masih bisa saling memaafkan,
tubuh yang masih mampu sujud,
dan pikiran yang tidak terus-menerus dikejar ketakutan.
Tidak semua kekayaan harus terlihat.
Bahkan kekayaan terbesar sering tidak dapat difoto.
BAB XC
JIKA DOAMU BELUM TERJAWAB SEPERTI YANG DIINGINKAN
Ada doa yang segera terlihat jawabannya.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang mengubah keadaan.
Ada yang justru mengubah orang yang berdoa.
Ada yang membuatmu mendapatkan apa yang diminta.
Ada yang membuatmu sadar bahwa ternyata engkau tidak membutuhkannya.
Maka jangan menjadikan doa seperti transaksi:
“Aku sudah membaca ini sekian kali, mengapa aku belum mendapat itu?”
Doa adalah ibadah.
Doa adalah pengakuan kebutuhan.
Doa adalah hubungan.
Bukan alat untuk memaksa Alloh mengikuti keinginan manusia.
BAB XCI
DARI HUJAN MENUJU SYUKUR
Sekarang ingat kembali lembar pertama.
Hujan turun.
Tanah hidup.
Lalu perjalanan berjalan panjang.
Tetapi seluruh perjalanan itu seharusnya berakhir pada:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Alḥamdulillāh.
Bukan sekadar ucapan.
Tetapi keadaan hati.
Ketika menerima:
Alhamdulillah.
Ketika belum menerima:
Alhamdulillah atas yang masih ada.
Ketika berhasil:
Alhamdulillah, ini amanah.
Ketika gagal:
Alhamdulillah, aku masih dapat belajar.
Syukur bukan menolak kesedihan.
Syukur adalah tidak membiarkan kesedihan menghapus seluruh nikmat dari pandangan.
BAB XCII
DARI TANAH MENUJU RENDAH HATI
Tanah berada di bawah kaki.
Tetapi darinya tumbuh makanan.
Ia tidak berteriak:
“Lihat aku!”
Namun hampir seluruh makhluk bergantung kepadanya.
Maka manusia yang semakin bermanfaat seharusnya semakin rendah hati.
Bukan merendahkan diri secara palsu.
Bukan merasa tidak berguna.
Tetapi sadar:
semua kemampuan tetap berasal dari izin Alloh.
Jika hari ini engkau lebih mampu daripada orang lain,
gunakan kemampuan itu untuk mengangkat,
bukan merendahkan.
BAB XCIII
DARI SUNGAI MENUJU SEDEKAH
Sungai mengajarkan:
alirkan.
Jika mendapat rezeki,
jangan habiskan semuanya pada keinginan.
Sisihkan untuk:
keluarga,
tanggung jawab,
kebaikan,
dan masa depan.
Sedekah bukan hanya tindakan memberikan uang.
Ada sedekah tenaga.
Ada sedekah ilmu.
Ada sedekah waktu.
Ada sedekah memaafkan.
Ada sedekah memberi jalan.
Ada sedekah menyembunyikan aib orang lain.
Maka siapa pun dapat menjadi sungai.
BAB XCIV
DARI EMBUN MENUJU KEPEKAAN
Embun mengajarkan:
lihat yang kecil.
Jangan hanya bersyukur ketika mendapat sesuatu yang besar.
Latih mata batin untuk mengenali nikmat sederhana.
Pagi yang tenang.
Makanan yang tersedia.
Satu teman yang setia.
Satu kesempatan memperbaiki diri.
Satu hari tambahan.
Karena orang yang tidak mampu melihat embun akan terus menunggu hujan besar sambil merasa hidupnya kosong.
BAB XCV
DARI MATA AIR MENUJU POTENSI DIRI
Mata air mengajarkan:
gali.
Jangan hanya menunggu.
Cari apa yang Alloh titipkan dalam kemampuanmu.
Ada rezeki dalam keterampilan.
Ada rezeki dalam kerja keras.
Ada rezeki dalam belajar.
Ada rezeki dalam membangun kepercayaan.
Ada rezeki dalam keberanian memulai kembali.
Maka jika jalan lama tertutup,
jangan langsung menyebut hidup selesai.
Mungkin engkau hanya perlu menggali di tempat baru.
BAB XCVI
DARI POHON MENUJU KESABARAN
Pohon mengajarkan:
jangan memaksa buah.
Yang hari ini masih kecil mungkin sedang bertumbuh.
Tetapi sabar bukan berarti tidak melakukan apa-apa.
Pohon tetap menyerap.
Tetap berakar.
Tetap membentuk daun.
Maka selama menunggu,
teruslah:
belajar,
bekerja,
memperbaiki,
berdoa,
dan menjaga jalan halal.
BAB XCVII
DARI UKURAN MENUJU KEBIJAKSANAAN
Ukuran mengajarkan:
tidak semua permintaan perlu dipenuhi sebanyak yang kita inginkan.
Ada bagian yang cukup.
Ada bagian yang belum waktunya.
Ada bagian yang tidak baik bagi kita.
Maka orang yang matang tidak hanya berkata:
“Berikan apa yang kuinginkan.”
Ia berani berdoa:
“Ya Alloh, berikan yang baik, dan jauhkan aku dari sesuatu yang jika diberikan justru merusakku.”
BAB XCVIII
EMPAT PILAR QITAB MĪKĀ’ĪL
Dari seluruh lembar Qitab ini, berdirilah empat pilar:
PERTAMA — TAUHID
Sumber segala rezeki adalah Alloh.
Malaikat adalah hamba.
Manusia adalah sebab.
Alam adalah jalan.
Dan hati jangan berhenti pada jalan.
KEDUA — IKHTIAR
Bertawakal bukan meninggalkan usaha.
Bekerja.
Belajar.
Menghitung.
Merencanakan.
Menjaga kesehatan.
Membangun hubungan baik.
Mencari solusi.
Semua itu bagian dari tanggung jawab manusia.
KETIGA — SYUKUR
Syukur ketika banyak.
Syukur ketika sedikit.
Syukur ketika menunggu.
Syukur ketika diberi kesempatan memulai lagi.
Syukur bukan puas dengan kemalasan.
Syukur adalah menggunakan nikmat dengan benar.
KEEMPAT — AMANAH
Setiap rezeki memiliki pertanyaan:
“Untuk apa ini digunakan?”
Harta.
Ilmu.
Waktu.
Kekuatan.
Jabatan.
Pengaruh.
Semuanya akan memperlihatkan siapa diri kita ketika diberi kemampuan.
BAB XCIX
EMPAT ASMA PENUTUP
Bacalah bukan sebagai jimat,
bukan sebagai formula untuk memaksa hasil,
tetapi sebagai dzikir tauhid dan pengingat hati.
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki.
Ajari aku mengenali bahwa Engkaulah sumber segala kecukupan.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
Bukakan yang baik, dan tutuplah yang akan merusakku.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Temani kelemahanku dengan kelembutan pertolongan-Mu.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
Ajari aku menerima hikmah ketika hasil tidak sama dengan keinginanku.
BAB C
PENUTUP SERATUS PELAJARAN
Maka setelah perjalanan panjang ini,
tertulislah pelajaran keseratus:
Rezeki yang paling tinggi bukan apa yang memenuhi tanganmu, tetapi apa yang menjaga hatimu tetap bersama Alloh ketika tangan penuh maupun kosong.
Sebab tangan dapat berubah.
Hari ini penuh.
Besok kosong.
Hari ini kuat.
Besok membutuhkan pertolongan.
Tetapi jika hati mengenal Tuhannya,
ia mempunyai pusat.
Ia tidak mudah hancur oleh kehilangan.
Ia tidak mudah sombong karena keberhasilan.
Ia tidak mudah iri melihat orang lain.
Ia tidak mudah menjadikan makhluk sebagai sumber mutlak.
KHĀTIMAH
PENUTUP QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
Wahai pencari cahaya,
ketika engkau melihat hujan setelah membaca Qitab ini,
ingatlah:
Alloh yang menurunkan.
Ketika melihat tanaman tumbuh,
ingatlah:
Alloh yang menghidupkan.
Ketika memperoleh pekerjaan,
ingatlah:
Alloh yang membuka jalan melalui sebab.
Ketika seseorang menolongmu,
ucapkan terima kasih kepadanya,
tetapi hatimu tetap berkata:
“Pertolongan ini sampai dengan izin Alloh.”
Ketika usaha berhasil,
jangan meninggikan kepala.
Ketika usaha gagal,
jangan mematahkan hati.
Ketika rezeki luas,
jadilah sungai.
Ketika rezeki sempit,
jadilah akar.
Ketika menunggu,
jadilah benih.
Ketika mendapat kesempatan,
jadilah mata air.
Ketika telah memperoleh hasil,
jadilah pohon yang buahnya bermanfaat.
Dan ketika semua yang dimiliki suatu hari harus ditinggalkan,
kembalilah dengan satu kalimat:
إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji‘ūn.
“Sesungguhnya kami milik Alloh, dan kepada-Nya kami kembali.”
DOA KHĀTIMAH QITAB MĪKĀ’ĪL
اللّٰهُمَّ يَا رَزَّاقُ يَا فَتَّاحُ يَا لَطِيفُ يَا حَكِيمُ، ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلْ أَرْزَاقَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِكَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَفِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ.
Allāhumma yā Razzāq, yā Fattāḥ, yā Laṭīf, yā Ḥakīm, urzuqnā rizqan ḥalālan ṭayyiban wāsi‘an mubārakan, wa aghninā bifaḍlika ‘amman siwāk, waj‘al arzāqanā ‘awnan lanā ‘alā ṭā‘atik, wa lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā, waj‘al qulūbanā muta‘alliqatan bika fil-ghinā wal-faqri, wa fis-sarrā’i waḍ-ḍarrā’.
“Ya Alloh, Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang Maha Membukakan, Yang Maha Lembut, Yang Maha Bijaksana. Karuniakan kepada kami rezeki yang halal, baik, luas dan diberkahi. Cukupkan kami dengan karunia-Mu dari ketergantungan yang merendahkan kepada selain-Mu. Jadikan rezeki kami sebagai pertolongan untuk menaati-Mu. Jangan jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami. Jadikan hati kami tetap bergantung kepada-Mu dalam kelapangan maupun kesempitan, dalam kesenangan maupun kesulitan.”
DOA UNTUK KELUARGA
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا وَبُيُوتِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ
Allāhumma bārik lanā fī ahlinā wa awlādinā wa buyūtinā wa arzāqinā, waj‘al buyūtanā buyūta sakīnatin wa mawaddatin wa raḥmah.
“Ya Alloh, berkahilah keluarga kami, anak-anak kami, rumah-rumah kami, dan rezeki kami. Jadikan rumah kami rumah ketenangan, kasih sayang, dan rahmat.”
DOA BAGI YANG SEDANG SEMPIT REZEKI
اللّٰهُمَّ افْتَحْ لِكُلِّ مَكْرُوبٍ بَابًا مِنَ الْفَرَجِ، وَلِكُلِّ مَدْيُونٍ سَبَبًا لِلْوَفَاءِ، وَلِكُلِّ بَاحِثٍ عَنْ رِزْقٍ بَابًا حَلَالًا كَرِيمًا
Allāhumma-ftaḥ likulli makrūbin bāban minal-faraj, wa likulli madyūnin sababan lil-wafā’, wa likulli bāḥitsin ‘an rizqin bāban ḥalālan karīman.
“Ya Alloh, bukakan bagi setiap orang yang sedang dalam kesempitan pintu kelapangan, bagi setiap orang yang memiliki hutang sebab untuk menunaikannya, dan bagi setiap pencari rezeki pintu yang halal dan mulia.”
DOA BAGI YANG SEDANG DIBERI KELAPANGAN
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ غِنَانَا سَبَبًا لِكِبْرِنَا، بَلِ اجْعَلْهُ سَبَبًا لِشُكْرِنَا وَنَفْعِ عِبَادِكَ
Allāhumma lā taj‘al ghinānā sababan likibrinā, balij‘alhu sababan lisyukrinā wa naf‘i ‘ibādik.
“Ya Alloh, jangan jadikan kelapangan kami sebab kesombongan, tetapi jadikanlah ia sebab bagi syukur kami dan manfaat bagi hamba-hamba-Mu.”
WASIAT TERAKHIR QITAB
Jika engkau memiliki banyak,
jangan merasa menjadi pemilik langit.
Jika engkau memiliki sedikit,
jangan merasa langit telah menolakmu.
Jika manusia memujimu,
jangan mabuk pujian.
Jika manusia meninggalkanmu,
jangan merasa seluruh pintu telah tertutup.
Jika doamu belum terwujud,
jangan berhenti berdoa.
Jika usahamu gagal,
jangan berhenti belajar.
Jika engkau jatuh,
bangun dengan ilmu yang lebih dalam.
Jika berhasil,
tundukkan hati lebih rendah.
Sebab orang yang benar-benar mengenal rahasia rezeki akan mengetahui:
Yang terpenting bukan sekadar apa yang datang kepadaku, tetapi menjadi siapa aku ketika menerimanya.
SEGEL MAKNA QITAB MĪKĀ’ĪL
HUJAN mengajarkan rahmat.
AWAN mengajarkan manfaat.
ANGIN mengajarkan perubahan.
TANAH mengajarkan kesiapan.
SUNGAI mengajarkan berbagi.
EMBUN mengajarkan kepekaan.
MATA AIR mengajarkan potensi.
POHON mengajarkan kesabaran.
BUAH mengajarkan hasil dan amanah.
UKURAN mengajarkan hikmah.
Dan seluruhnya kembali kepada:
TAUHID
KALIMAT PENUTUP
Tidak ada satu tetes hujan pun yang menjadikan Mīkā’īl sebagai Tuhan.
Tidak ada satu butir rezeki pun yang menjadikan manusia pemilik mutlak.
Tidak ada satu sebab pun yang berdiri di luar kehendak Alloh.
Maka hormatilah malaikat.
Gunakan sebab.
Jaga alam.
Bekerjalah.
Berbagilah.
Bersyukurlah.
Bertawakallah.
Dan jangan berpindah dari:
اللّٰهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Alloh, Rabb seluruh alam.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn
Segala puji bagi Alloh, Rabb seluruh alam.
تَمَّ بِإِذْنِ اللّٰهِ
Tamma bi-idznillāh.
Selesai dengan izin Alloh.
— TAMAT —
QITAB MALAIKAT MĪKĀ’ĪL
Sirr ar-Rizq wa ar-Raḥmah
Lembar 1–10 Selesai
Qitab ini merupakan karya tadabbur dan sastra ruhani berdasarkan nilai Islam. Ia bukan wahyu baru, bukan percakapan langsung dengan Malaikat Mīkā’īl, bukan teks yang diklaim turun dari alam gaib, dan tidak menempatkan malaikat sebagai sumber rezeki. Segala rezeki, rahmat, kehidupan, dan ketetapan sepenuhnya berada dalam kekuasaan Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.