QITAB MALIKUD-DĀRAYN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
QITAB MALIKUD-DĀRAYN
مَالِكُ الدَّارَيْنِ
“Tentang Dia Yang Memiliki Dua Negeri: Dunia dan Akhirat”
MUQADDIMAH — PINTU DUA NEGERI
Ketahuilah, wahai insan yang sedang menempuh jalan menuju Alloh:
Manusia dibangunkan di dalam satu negeri, tetapi perjalanannya menuju negeri yang lain.
Negeri pertama dinamakan dār ad-dunyā—tempat manusia mengenakan jasad, nama, keluarga, kedudukan, pekerjaan, kesenangan, kesedihan, pertemuan dan perpisahan.
Negeri kedua dinamakan dār al-ākhirah—tempat segala yang tersembunyi menjadi nyata dan setiap perjalanan kembali kepada ketetapan Alloh.
Namun Pemilik keduanya tetap satu.
Langit tidak mempunyai Tuhan sendiri.
Bumi tidak mempunyai Tuhan sendiri.
Dunia tidak mempunyai Penguasa sendiri.
Akhirat pun tidak mempunyai Penguasa selain-Nya.
Alloh adalah Rabb seluruh alam.
Maka orang yang mengenal hakikat perjalanan tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir dan tidak pula meninggalkan dunia dengan alasan mengejar akhirat.
Ia berdiri di antara keduanya sebagai seorang hamba.
Tangannya bekerja di bumi.
Hatinya menghadap kepada Alloh.
LEMBAR I
DUA NEGERI, SATU PEMILIK
Wahai penempuh jalan,
Dunia dan akhirat tampak seperti dua negeri yang berjauhan.
Padahal keduanya dihubungkan oleh satu jalan:
umur manusia.
Setiap detik adalah langkah.
Setiap niat adalah arah.
Setiap amal adalah bekal.
Setiap dosa adalah beban.
Setiap taubat adalah pelepasan beban.
Dan setiap kebaikan yang dilakukan karena Alloh menjadi cahaya perjalanan.
Janganlah berkata:
“Kelak ketika aku tua aku akan kembali.”
Sebab engkau tidak mengetahui pada halaman umur mana pena kehidupanmu akan berhenti.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn mengetahui bahwa hari ini bukan sekadar hari untuk hidup.
Hari ini adalah jembatan menuju perjumpaan dengan Alloh.
LEMBAR II
RAHASIA KERAJAAN DIRI
Di dalam diri manusia terdapat kerajaan kecil.
Akal adalah penasihatnya.
Hati adalah singgasananya.
Nafsu adalah kekuatan yang harus diarahkan.
Anggota badan adalah tentaranya.
Sedangkan ruh membawa manusia mengingat bahwa keberadaannya tidak bermula dari kekuasaan dirinya sendiri.
Bila nafsu menjadi raja, kerajaan diri menjadi kacau.
Bila kesombongan menjadi mahkota, manusia akan merasa segala sesuatu berasal darinya.
Tetapi apabila hati tunduk kepada Alloh, semuanya kembali pada tempatnya.
Mata belajar melihat tanpa merendahkan.
Lisan belajar berbicara tanpa menyakiti.
Tangan belajar memiliki tanpa merampas.
Kekuatan belajar melindungi tanpa menindas.
Ilmu belajar menerangi tanpa menyombongkan.
Pada saat itulah kerajaan kecil bernama diri mulai mengenal siapa Pemilik kerajaan yang sebenarnya.
LEMBAR III
MAHKOTA YANG TIDAK TERLIHAT
Manusia mencari mahkota dalam bentuk penghormatan.
Ada yang menginginkan nama.
Ada yang menginginkan kedudukan.
Ada yang menginginkan manusia berdiri ketika ia datang.
Namun mahkota seorang hamba bukanlah banyaknya orang yang tunduk kepadanya.
Mahkota seorang hamba adalah:
ketundukannya kepada Alloh.
Semakin tinggi seorang manusia berjalan, semakin dalam ia memahami kehambaannya.
Maka jangan mengukur maqom dengan pakaian.
Jangan mengukur kemuliaan dengan gelar.
Jangan mengukur kedekatan kepada Alloh dari banyaknya orang yang mengikuti seseorang.
Sebab ada manusia yang tidak dikenal bumi tetapi doanya harum di langit.
Dan ada manusia yang dikenal ribuan orang tetapi hatinya masih sibuk mencari pengakuan.
LEMBAR IV
EMPAT GERBANG MALIKUD-DĀRAYN
Perjalanan menuju pemahaman dua negeri mempunyai empat gerbang.
Gerbang Pertama — TAUBAT
Taubat bukan hanya menangisi dosa.
Taubat adalah keberanian untuk mengubah arah.
Apa yang dahulu membawa menjauh, ditinggalkan.
Apa yang membawa mendekat, diperkuat.
Gerbang Kedua — AMANAH
Apa pun yang berada di tangan manusia bukan milik mutlak.
Harta adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Anak adalah amanah.
Jabatan adalah amanah.
Tubuh adalah amanah.
Bahkan waktu adalah amanah.
Gerbang Ketiga — RAHMAH
Semakin seseorang mengenal Alloh, seharusnya semakin lembut ia terhadap makhluk.
Bukan semakin mudah menghukum.
Bukan semakin senang merendahkan.
Bukan semakin merasa dirinya paling suci.
Gerbang Keempat — IKHLĀṢ
Amal yang besar tanpa ikhlas dapat menjadi berat.
Amal kecil yang dilakukan hanya karena Alloh dapat menjadi sangat bernilai.
Maka rahasia perjalanan bukan sekadar:
“Apa yang engkau lakukan?”
Tetapi juga:
“Untuk siapa engkau melakukannya?”
LEMBAR V
PASAR DUNIA
Dunia seperti pasar yang ramai.
Ada yang membeli pujian dengan kehilangan ketenangan.
Ada yang membeli kekayaan dengan kehilangan keluarga.
Ada yang membeli kekuasaan dengan mengorbankan amanah.
Ada yang membeli kenikmatan sesaat dengan menjual masa depannya.
Tetapi orang yang mengenal Malikud-Dārayn memasuki pasar dunia dengan kesadaran:
Aku boleh memiliki sesuatu, tetapi sesuatu tidak boleh memiliki hatiku.
Emas berada di tangan, bukan di dalam hati.
Kedudukan berada pada tanggung jawab, bukan pada kesombongan.
Ilmu berada pada akal, tetapi buahnya harus turun menjadi adab.
Sebab ketika kematian datang, manusia keluar dari pasar dunia hanya membawa apa yang telah berubah menjadi amal.
LEMBAR VI
CERMIN AKHIRAT
Akhirat adalah cermin terbesar.
Di sana bukan penampilan yang menentukan.
Bukan gelar.
Bukan pujian manusia.
Bukan cerita yang dibuat tentang diri sendiri.
Yang berbicara adalah kenyataan amal.
Karena itu seorang arif tidak menunggu akhirat untuk melakukan muhasabah.
Ia membawa cermin akhirat ke dalam kehidupan dunia.
Sebelum berbicara ia bertanya:
“Apakah kalimat ini akan membuatku malu ketika menghadap Alloh?”
Sebelum mengambil sesuatu ia bertanya:
“Apakah ini benar-benar hakku?”
Sebelum menghukum ia bertanya:
“Apakah aku sedang menegakkan kebenaran atau hanya melampiaskan ego?”
Sebelum tidur ia bertanya:
“Bila malam ini halaman terakhir hidupku, apakah aku siap membawa amal hari ini?”
Demikianlah orang yang hidup di dunia tetapi pandangannya tidak berhenti pada dunia.
LEMBAR VII
SINGGASANA HATI
Ada singgasana yang tidak terlihat oleh mata.
Letaknya di dalam hati.
Jika singgasana itu ditempati cinta berlebihan terhadap dunia, manusia menjadi budaknya.
Jika ditempati dendam, hidupnya dibakar masa lalu.
Jika ditempati kesombongan, ia sulit menerima kebenaran.
Jika ditempati ketakutan kepada manusia, ia kehilangan keberanian untuk membela yang benar.
Maka bersihkanlah singgasana hati.
Jangan mengaku bahwa Alloh menjadi tujuan apabila hati masih menjadikan pujian manusia sebagai makanan utamanya.
Bisikkan dalam batin:
Yā Alloh, kosongkan hatiku dari segala yang menjauhkanku dari-Mu.
Bukan berarti manusia tidak boleh mencintai keluarga, sahabat, tanah kelahiran atau kehidupan.
Cintailah semuanya.
Tetapi cintailah dengan benar.
Jangan menjadikan sesuatu yang diciptakan sebagai pengganti Sang Pencipta.
LEMBAR VIII
RAJA YANG SEBENARNYA ADALAH HAMBA
Di antara rahasia terbesar kepemimpinan adalah:
semakin seseorang diberi kuasa, semakin besar kewajibannya untuk melayani.
Orang yang memimpin bukan berarti lebih tinggi nilai kemanusiaannya.
Ia hanya menerima amanah yang lebih berat.
Pemimpin yang mengenal Malikud-Dārayn tidak berkata:
“Semua harus melayaniku.”
Ia berkata:
“Siapa yang menjadi tanggung jawabku?”
Ia tidak menjadikan rakyat tangga menuju kebesaran dirinya.
Ia menjadikan kekuasaan sebagai jalan pelayanan.
Sebab semua mahkota dunia akhirnya dilepaskan.
Semua singgasana akhirnya ditinggalkan.
Semua jabatan akhirnya berpindah.
Tetapi pertanggungjawaban tetap mengikuti manusia menuju negeri berikutnya.
LEMBAR IX
KUNCI PULANG
Banyak manusia mencari jalan rahasia menuju Alloh.
Padahal pintu terdekat telah diletakkan di hadapannya:
taubat, shalat, doa, kejujuran, amanah, sedekah, memaafkan, berbuat baik kepada orang tua, menolong manusia dan menjaga hak sesama makhluk.
Jalan kepada Alloh tidak harus selalu tampak luar biasa.
Kadang-kadang jalan itu hadir ketika seseorang menahan lisannya agar tidak menyakiti.
Kadang ketika ia mengembalikan uang yang bukan miliknya.
Kadang ketika ia bangun malam dan menangis tanpa seorang pun mengetahui.
Kadang ketika ia memilih memaafkan meskipun mampu membalas.
Kadang ketika ia memberi makan seseorang yang lapar.
Rahasia besar sering tersembunyi dalam kebaikan yang tampak kecil.
LEMBAR X
SABDA PENUTUP DUA NEGERI
Wahai insan,
Engkau datang ke dunia tanpa membawa apa pun.
Kemudian Alloh memberi:
nama,
tubuh,
keluarga,
kesempatan,
rezeki,
ilmu,
pertemuan,
ujian,
dan waktu.
Kelak engkau akan meninggalkan semuanya satu demi satu.
Maka jangan terlalu membanggakan sesuatu yang pasti ditinggalkan.
Gunakanlah dunia untuk menanam.
Gunakanlah usia untuk mengenal.
Gunakanlah harta untuk memberi manfaat.
Gunakanlah ilmu untuk menerangi.
Gunakanlah kekuasaan untuk melindungi.
Gunakanlah luka untuk belajar memaafkan.
Gunakanlah kesalahan untuk menemukan pintu taubat.
Dan gunakanlah setiap tarikan napas untuk semakin mengenal bahwa:
kita bukan pemilik perjalanan.
Kita adalah musafir di dalam perjalanan.
Dunia adalah halaman pertama.
Akhirat adalah halaman yang tidak berakhir.
Dan Alloh adalah Mālik ad-Dārayn, Pemilik kedua negeri.
KHĀTIMAH
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا وَآخِرَتَنَا
Allāhumma aṣliḥ lanā dunyānā wa ākhiratanā.
Yā Alloh, perbaikilah bagi kami kehidupan dunia kami dan kehidupan akhirat kami.
Yā Alloh,
jangan jadikan dunia sebesar-besar tujuan kami.
Jangan jadikan harta sebagai penguasa hati kami.
Jangan jadikan ilmu sebagai sumber kesombongan kami.
Jangan jadikan kedudukan sebagai hijab antara kami dengan-Mu.
Jadikanlah apa yang Engkau titipkan kepada kami sebagai jalan untuk menebarkan manfaat.
Apabila kami diberi kelapangan, ajarkan syukur.
Apabila kami diberi kesempitan, ajarkan sabar.
Apabila kami bersalah, bukakan taubat.
Apabila kami benar, jauhkan kesombongan.
Apabila kami memimpin, hidupkan amanah.
Apabila kami mengikuti, hidupkan adab.
Dan apabila akhirnya panggilan pulang datang,
jadikan akhir perjalanan dunia kami sebagai awal perjalanan menuju rahmat-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
ختم كتاب مالك الدارين
KHATAM QITAB MALIKUD-DĀRAYN
Dunia di tangan.
Akhirat di pandangan.
Alloh di dalam tujuan.
LEMBAR XI
JEMBATAN ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT
Wahai insan yang sedang berjalan,
Jangan engkau mengira bahwa dunia dan akhirat adalah dua jalan yang saling terpisah.
Apa yang engkau lakukan di dunia sedang membangun jalan menuju akhirat.
Setiap perkataan meninggalkan jejak.
Setiap pilihan mempunyai arah.
Setiap niat mempunyai berat.
Dan setiap amal akan menemukan tempat kembalinya.
Dunia adalah tempat menanam.
Akhirat adalah tempat melihat apa yang telah tumbuh.
Maka jangan meremehkan satu kebaikan hanya karena tampak kecil.
Seteguk air yang diberikan kepada orang yang kehausan dapat menjadi saksi.
Satu kalimat lembut kepada hati yang terluka dapat menjadi cahaya.
Satu kesalahan yang disesali dengan sungguh-sungguh dapat menjadi pintu taubat.
Dan satu kezaliman yang tidak diperbaiki dapat menjadi beban yang terus mengikuti.
Karena itu, orang yang memahami Malikud-Dārayn tidak membagi hidupnya menjadi:
“Ini urusan dunia.”
dan
“Ini urusan akhirat.”
Baginya, pekerjaan dapat menjadi ibadah apabila dijalankan dengan amanah.
Mencari nafkah dapat menjadi ibadah apabila halal dan diniatkan menjaga keluarga.
Belajar dapat menjadi ibadah apabila ilmu digunakan untuk manfaat.
Memimpin dapat menjadi ibadah apabila kekuasaan digunakan untuk melindungi.
Diam pun dapat menjadi ibadah apabila diam itu mencegah lisan dari menyakiti.
Maka jagalah jembatanmu.
Jangan rusak dengan kesombongan.
Jangan gelapkan dengan kezaliman.
Jangan sempitkan dengan iri dan dengki.
Bangunlah ia dengan taubat, kejujuran, sabar, syukur, kasih sayang, dan amal yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Sebab pada akhirnya,
semua orang akan meninggalkan tepian dunia.
Dan setiap jiwa akan menyeberang menuju apa yang telah ia persiapkan.
Dunia bukan tempat tinggal terakhir.
Ia adalah tempat menyusun bekal untuk perjalanan pulang.
LEMBAR XII
AMANAH YANG DIBAWA PULANG
Wahai insan yang berjalan di antara dua negeri,
Ketahuilah bahwa tidak semua yang engkau miliki akan ikut bersamamu ketika perjalanan dunia berakhir.
Rumah akan ditinggalkan.
Harta akan berpindah tangan.
Pakaian akan terlepas.
Jabatan akan selesai.
Nama yang dipuji manusia perlahan akan menjadi kenangan.
Tetapi ada sesuatu yang tetap mengikuti perjalananmu:
amanah yang telah engkau tunaikan atau engkau abaikan.
Amanah bukan hanya perkara besar.
Ucapan adalah amanah.
Janji adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Pandangan adalah amanah.
Harta adalah amanah.
Keluarga adalah amanah.
Kekuasaan adalah amanah.
Bahkan kemampuan untuk menolong seseorang adalah amanah.
Jangan berkata:
“Aku bebas menggunakan semuanya sesuka hatiku.”
Sebab seorang hamba tidak hidup tanpa pertanggungjawaban.
Setiap nikmat mempunyai pertanyaan.
Setiap kekuatan mempunyai batas.
Setiap kelebihan mempunyai tanggung jawab.
Maka bila Alloh memberi rezeki, lihatlah siapa yang dapat engkau bantu.
Bila Alloh memberi ilmu, lihatlah siapa yang dapat engkau terangi.
Bila Alloh memberi kedudukan, lihatlah siapa yang harus engkau lindungi.
Bila Alloh memberi kekuatan, jangan gunakan untuk menindas yang lemah.
Bila Alloh memberi kemampuan berbicara, jangan jadikan lisan sebagai senjata yang melukai hati manusia.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn mengetahui bahwa kehidupan dunia adalah tempat menerima titipan.
Sedangkan akhirat adalah tempat pertanggungjawaban atas titipan itu.
Karena itu ia tidak terlalu bangga ketika diberi.
Dan tidak terlalu hancur ketika sesuatu diambil kembali.
Ia memahami:
Apa yang datang adalah titipan.
Apa yang pergi kembali kepada Pemiliknya.
Yang tersisa hanyalah bagaimana ia memperlakukan titipan tersebut.
Maka sebelum tidur, tanyakanlah kepada dirimu:
Apakah hari ini aku menjaga amanah?
Apakah ada janji yang belum kutepati?
Apakah ada hak orang lain yang masih berada di tanganku?
Apakah ada hati yang terluka karena lisanku?
Apakah ada nikmat yang belum kusyukuri?
Apabila engkau menemukan kekurangan, jangan berputus asa.
Perbaikilah selagi pintu waktu masih terbuka.
Sebab rahmat Alloh lebih luas daripada kesalahan seorang hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Yang membuat perjalanan mulia bukan banyaknya titipan yang kita miliki, tetapi bagaimana kita mengembalikannya dalam keadaan bersih.
LEMBAR XIII
CAHAYA DI BALIK KEHILANGAN
Wahai insan yang sedang menempuh perjalanan,
Di dunia ini engkau akan mengalami datang dan pergi.
Ada yang hadir membawa kebahagiaan.
Ada yang pergi meninggalkan ruang kosong.
Ada harta yang datang lalu hilang.
Ada kedudukan yang diberikan lalu dicabut.
Ada pertemuan yang menghangatkan hati.
Ada perpisahan yang membuat air mata jatuh tanpa mampu ditahan.
Jangan mengira bahwa setiap kehilangan adalah kehancuran.
Kadang kehilangan adalah cara Alloh mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Dunia memang dibangun dengan sifat berubah.
Pagi menjadi siang.
Siang menjadi malam.
Muda menjadi tua.
Sehat dapat menjadi sakit.
Kuat dapat menjadi lemah.
Dekat dapat menjadi jauh.
Dan sesuatu yang berada di tangan hari ini dapat berpindah esok hari.
Karena itu jangan menggantungkan seluruh ketenteraman hati kepada sesuatu yang dapat berubah.
Gantungkanlah hati kepada Dia yang tidak berubah.
Bila engkau kehilangan sesuatu yang engkau cintai, menangislah bila hati memang perlu menangis.
Tetapi jangan biarkan kehilangan membuatmu kehilangan arah kepada Alloh.
Bila sebuah pintu tertutup, jangan tergesa-gesa menganggap perjalanan telah selesai.
Barangkali Alloh sedang mengarahkan langkahmu menuju pintu yang belum engkau lihat.
Bila seseorang meninggalkanmu, jangan biarkan kebencian memenuhi singgasana hati.
Ambillah pelajaran.
Perbaiki diri.
Ampuni bila mampu.
Dan serahkan apa yang tidak mampu engkau selesaikan kepada keadilan Alloh.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn mengetahui bahwa dunia bukan tempat mempertahankan segala sesuatu selama-lamanya.
Dunia adalah tempat belajar menerima:
ketika diberi, bersyukur.
ketika diuji, bersabar.
ketika kehilangan, berserah.
ketika bersalah, bertaubat.
ketika memperoleh kembali, tidak menjadi sombong.
Sebab apa pun yang hilang dari tangan belum tentu hilang dari nilai perjalanan.
Kesabaran ketika kehilangan dapat menjadi amal.
Keikhlasan ketika melepaskan dapat menjadi cahaya.
Doa yang keluar dari hati yang hancur dapat menjadi permulaan kedekatan yang baru.
Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa ini diambil dariku?”
Belajarlah pula bertanya:
“Apa yang sedang Alloh ajarkan kepadaku melalui kejadian ini?”
Dan apabila jawabannya belum engkau temukan, tetaplah berjalan dengan adab.
Tidak semua rahasia kehidupan harus dipahami pada hari yang sama ketika ia terjadi.
Sebagian makna baru terlihat setelah perjalanan menjadi panjang.
Sebagian jawaban baru dipahami ketika hati telah lebih tenang.
Maka peganglah satu keyakinan:
Apa yang berada di tangan dapat pergi.
Apa yang tertanam sebagai iman, sabar, dan amal akan menemani perjalanan lebih jauh.
LEMBAR XIV
KETIKA HATI MENJADI TEMPAT PULANG
Wahai insan yang sedang berjalan,
Ada manusia yang mempunyai rumah, tetapi hatinya tidak pernah merasa pulang.
Ada yang dikelilingi banyak orang, tetapi batinnya tetap sepi.
Ada yang memiliki harta, kedudukan, dan kehormatan, tetapi tidak menemukan ketenteraman.
Sebab ketenteraman tidak selalu datang dari banyaknya yang dimiliki.
Kadang ia datang ketika hati berhenti mengejar sesuatu yang tidak pernah mampu memuaskannya.
Hati yang terlalu bergantung kepada dunia akan mudah gelisah.
Ketika dipuji, ia naik.
Ketika dicela, ia jatuh.
Ketika diberi, ia merasa tinggi.
Ketika kehilangan, ia merasa hancur.
Tetapi hati yang belajar kembali kepada Alloh menemukan tempat berpijak yang lebih kuat.
Ia tetap sedih ketika kehilangan.
Ia tetap terluka ketika dikhianati.
Ia tetap menangis ketika berpisah.
Namun seluruh itu tidak lagi memutus arah perjalanannya.
Sebab ia mengetahui:
aku boleh terluka, tetapi aku tidak boleh kehilangan jalan pulang.
Maka bersihkan hati setiap hari.
Bersihkan dari iri.
Bersihkan dari dendam.
Bersihkan dari keinginan untuk selalu menang.
Bersihkan dari kebutuhan untuk selalu dipuji.
Bersihkan dari kesombongan yang membuat seseorang sulit mengakui kesalahan.
Hati yang bersih bukan berarti hati yang tidak pernah terguncang.
Hati yang bersih adalah hati yang selalu mau kembali.
Kembali kepada taubat.
Kembali kepada doa.
Kembali kepada kejujuran.
Kembali kepada kasih sayang.
Kembali kepada Alloh.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn tidak menjadikan dunia sebagai rumah terakhir bagi hatinya.
Ia tinggal di dunia dengan penuh tanggung jawab.
Ia mencintai keluarga.
Ia bekerja.
Ia membangun.
Ia menjaga amanah.
Ia menikmati nikmat yang halal.
Namun di dasar hatinya selalu ada kesadaran:
semua ini adalah perjalanan, bukan tempat akhir.
Maka bila malam datang dan dunia menjadi sunyi, duduklah sejenak bersama dirimu.
Tanyakan:
“Ke mana hatiku sedang berjalan?”
“Siapa yang paling kuharapkan?”
“Apa yang paling kutakuti?”
“Apa yang paling berat kulepaskan?”
Dari pertanyaan-pertanyaan itu, engkau akan mulai mengenali apa yang sedang menduduki singgasana hatimu.
Lalu perlahan-lahan kembalikan semuanya kepada tempat yang benar.
Manusia dicintai sebagai manusia.
Harta digunakan sebagai amanah.
Jabatan dijalankan sebagai tanggung jawab.
Ilmu dipakai sebagai penerang.
Dan Alloh tetap menjadi tujuan tertinggi.
Ketika hati menemukan Pemiliknya, dunia tidak lagi terasa sebagai penjara dan akhirat tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing.
Sebab hati telah belajar satu perkara:
tempat pulang yang sebenarnya bukanlah sebuah negeri, melainkan kembali kepada rahmat Alloh.
LEMBAR XV
TIMBANGAN YANG TIDAK TERLIHAT
Wahai insan yang sedang berjalan menuju negeri yang kekal,
Di dunia manusia sering menimbang segala sesuatu dengan ukuran yang tampak.
Banyak dianggap mulia.
Sedikit dianggap rendah.
Terkenal dianggap berhasil.
Tidak dikenal dianggap gagal.
Kaya dianggap tinggi.
Miskin dianggap kurang.
Tetapi timbangan Alloh tidak selalu sama dengan timbangan manusia.
Ada amal yang tampak kecil di mata manusia tetapi besar karena keikhlasan.
Ada amal yang tampak besar di hadapan banyak orang tetapi ringan karena dilakukan hanya demi pujian.
Maka jangan terlalu sibuk memperbesar bentuk amal.
Perbaikilah niatnya.
Jangan terlalu sibuk memperlihatkan kebaikan.
Perdalamlah kejujurannya.
Satu pemberian yang kecil tetapi berasal dari hati yang tulus dapat lebih bernilai daripada pemberian besar yang menuntut penghormatan.
Satu doa yang lirih dalam kesunyian dapat lebih jujur daripada kata-kata panjang yang hanya ingin didengar manusia.
Satu langkah untuk meminta maaf dapat lebih berat nilainya daripada seribu kalimat tentang kerendahan hati.
Karena itu, orang yang memahami Malikud-Dārayn tidak hidup hanya untuk penilaian manusia.
Ia tetap menerima nasihat.
Ia tetap menjaga nama baik.
Ia tetap menghormati sesama.
Namun ia mengetahui bahwa penilaian tertinggi bukan berada di tangan manusia.
Maka ketika berbuat baik dan tidak dipuji, ia tidak berhenti.
Ketika menolong dan tidak disebut, ia tidak menyesal.
Ketika bekerja dan jasanya dilupakan, ia tetap menjaga amanah.
Sebab ia berkata di dalam hati:
“Jika Alloh mengetahui, maka itu telah cukup.”
Tetapi berhati-hatilah pula.
Jangan menjadikan kalimat tentang keikhlasan sebagai alasan menolak koreksi.
Sebab hati dapat menipu dirinya sendiri.
Kadang manusia berkata:
“Aku tidak membutuhkan penilaian siapa pun.”
Padahal sebenarnya ia sedang menolak nasihat karena kesombongan.
Maka timbanglah dirimu dengan tiga pertanyaan:
Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini dilakukan karena Alloh?
Jika benar tetapi disampaikan dengan kasar, perbaiki adabnya.
Jika baik tetapi bercampur riya, bersihkan niatnya.
Jika niatnya baik tetapi caranya salah, perbaiki jalannya.
Begitulah seorang penempuh dua negeri menjaga amalnya.
Bukan hanya memperhatikan apa yang dilakukan,
tetapi juga mengapa ia melakukannya,
bagaimana ia melakukannya,
dan kepada siapa hatinya menghadap ketika melakukannya.
Pada akhirnya, tidak semua yang berat di dunia akan berat di akhirat.
Dan tidak semua yang ringan di dunia akan ringan di hadapan Alloh.
Maka jangan tertipu oleh ukuran manusia.
Jagalah amal sebelum ditimbang.
Jagalah niat sebelum dicatat.
Jagalah hati sebelum perjalanan dunia ditutup.
LEMBAR XVI
PINTU YANG DIBUKA OLEH TAUBAT
Wahai insan yang menempuh dua negeri,
Jangan engkau mengira bahwa kesalahan selalu menjadi akhir perjalanan.
Selama kehidupan masih diberikan, pintu untuk kembali masih terbuka.
Ada orang yang jatuh karena dosa, lalu merasa dirinya terlalu kotor untuk mendekat kepada Alloh.
Ada pula yang malu karena masa lalunya, lalu memilih menjauh.
Padahal rasa malu yang membawa kepada taubat adalah cahaya.
Yang berbahaya bukanlah pernah jatuh.
Yang berbahaya adalah merasa tidak perlu bangkit.
Taubat bukan sekadar mengucapkan penyesalan.
Taubat adalah perubahan arah.
Jika dahulu lisan mudah menyakiti, mulai jagalah kata.
Jika dahulu tangan mengambil yang bukan hak, kembalikanlah.
Jika dahulu hati menyimpan dendam, belajarlah melepaskan.
Jika dahulu ibadah ditinggalkan, bangunlah kembali satu demi satu.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Alloh.
Kembalilah justru karena engkau belum sempurna.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn mengetahui bahwa perjalanan dunia adalah kesempatan untuk memperbaiki bekal sebelum memasuki negeri akhirat.
Maka jangan berkata:
“Dosaku terlalu banyak.”
Katakan:
“Rahmat Alloh lebih luas daripada kelemahanku.”
Jangan berkata:
“Aku telah terlambat.”
Katakan:
“Selama napas masih ada, aku akan memperbaiki arah.”
Dan jangan menjadikan masa lalu sebagai penjara.
Ambillah hikmahnya, tetapi jangan tinggal di dalamnya.
Taubat yang benar mempunyai tanda.
Hati menyesal.
Lisan memohon ampun.
Perbuatan meninggalkan kesalahan.
Hak manusia dikembalikan bila ada.
Dan langkah berikutnya dijaga agar tidak kembali ke jalan yang sama.
Maka bila suatu malam hatimu terasa berat, jangan hanya menangisi apa yang telah terjadi.
Bangunlah.
Berwudhulah.
Mohonlah ampun.
Perbaikilah yang mampu diperbaiki.
Sebab bisa jadi satu malam taubat mengubah arah perjalanan yang telah bertahun-tahun menyimpang.
Kesalahan adalah luka.
Taubat adalah obat.
Rahmat Alloh adalah pintu pulang.
Dan selama pintu itu masih terbuka,
jangan pernah putus untuk kembali.
LEMBAR XVII
RAHASIA WAKTU YANG DIPINJAMKAN
Wahai insan yang sedang berjalan,
Ada satu amanah yang selalu berkurang meskipun engkau tidak menggunakannya.
Ia adalah waktu.
Harta dapat dicari kembali.
Rumah dapat dibangun kembali.
Jabatan dapat datang kembali.
Tetapi satu detik yang telah pergi tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.
Karena itu, orang yang memahami Malikud-DāRAYN memandang waktu bukan hanya sebagai hitungan hari dan malam.
Ia melihat waktu sebagai bagian dari perjalanan menuju Alloh.
Setiap pagi adalah lembar baru.
Setiap malam adalah penutup sementara.
Setiap usia adalah bab.
Dan kematian adalah batas yang tidak seorang pun mengetahui pada halaman ke berapa ia akan datang.
Maka jangan terlalu sering berkata:
“Nanti.”
Nanti untuk bertaubat.
Nanti untuk meminta maaf.
Nanti untuk mengunjungi orang tua.
Nanti untuk bersedekah.
Nanti untuk memperbaiki shalat.
Nanti untuk meninggalkan kebiasaan buruk.
Sebab kata nanti terkadang menjadi pintu terbesar menuju penyesalan.
Bila kebaikan dapat dilakukan hari ini, lakukanlah hari ini.
Bila sebuah kesalahan dapat diperbaiki, perbaikilah sebelum malam.
Bila ada hati yang perlu engkau tenangkan, jangan menunggu sampai perpisahan membuatmu kehilangan kesempatan.
Namun jangan pula memahami hal ini dengan kegelisahan.
Alloh tidak memerintahkan manusia hidup dalam ketakutan setiap saat.
Gunakanlah waktu dengan keseimbangan.
Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk keluarga.
Ada waktu untuk belajar.
Ada waktu untuk beristirahat.
Ada waktu untuk tertawa.
Ada waktu untuk menangis.
Dan ada waktu untuk menyendiri bersama Alloh.
Semua dapat menjadi bagian dari perjalanan apabila ditempatkan dengan benar.
Jangan habiskan seluruh umur mengejar dunia sampai engkau lupa mengapa engkau diciptakan.
Tetapi jangan pula meninggalkan tanggung jawab dunia dengan alasan ingin mendekat kepada Alloh.
Sebab amanah dunia pun dapat menjadi jalan menuju akhirat.
Ketika seorang ayah mencari nafkah halal, ada amal di dalamnya.
Ketika seorang ibu merawat keluarganya dengan kasih sayang, ada amal di dalamnya.
Ketika seseorang bekerja dengan jujur, ada amal di dalamnya.
Ketika seseorang menuntut ilmu agar bermanfaat, ada amal di dalamnya.
Maka rahasia waktu bukanlah melakukan sebanyak-banyaknya.
Rahasia waktu adalah:
menempatkan setiap perkara pada waktunya dan menghadapkan niat kepada Alloh.
Sebelum hari berakhir, tanyakanlah:
Apa yang telah kutanam hari ini?
Adakah waktu yang kubuang untuk kebencian?
Adakah waktu yang kuhabiskan untuk membicarakan keburukan orang?
Adakah kebaikan yang kutunda?
Adakah orang yang seharusnya kudoakan?
Kemudian jangan hanya menyesal.
Susun kembali langkah esok hari.
Sebab muhasabah tanpa perubahan hanyalah kesedihan yang berulang.
Dan perubahan tanpa doa mudah kehilangan arah.
Wahai penempuh dua negeri,
umur bukanlah sesuatu yang benar-benar kita miliki.
Ia adalah pinjaman.
Satu hari nanti pinjaman itu akan selesai.
Maka ketika waktu dikembalikan kepada Pemiliknya, semoga kita tidak hanya membawa cerita bahwa kita pernah hidup.
Semoga kita membawa bukti bahwa kehidupan itu telah digunakan untuk kebaikan.
Waktu datang tanpa suara.
Waktu pergi tanpa meminta izin.
Dan manusia yang bijaksana menjadikan setiap sisanya sebagai jalan menuju rahmat Alloh.
LEMBAR XVIII
KETIKA AMAL MENJADI CAHAYA PERJALANAN
Wahai insan yang sedang meniti jalan di antara dua negeri,
Ketahuilah bahwa tidak semua bekal dapat dilihat oleh mata.
Ada bekal yang tidak berbentuk harta.
Tidak dapat disimpan di dalam peti.
Tidak dapat ditulis sebagai kekayaan dunia.
Namun ia tetap mengikuti perjalanan manusia.
Itulah amal yang dilakukan dengan niat yang bersih.
Satu kebaikan yang dilakukan tanpa ingin diketahui dapat menjadi cahaya.
Satu doa untuk orang lain yang tidak pernah mendengarnya dapat menjadi cahaya.
Satu kesabaran ketika engkau mampu membalas dapat menjadi cahaya.
Satu sedekah yang diberikan tanpa merendahkan penerima dapat menjadi cahaya.
Satu nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang dapat menjadi cahaya.
Dan satu taubat yang sungguh-sungguh dapat mengubah gelapnya perjalanan menjadi jalan yang kembali terang.
Orang yang memahami Malikud-Dārayn tidak hanya bertanya:
“Berapa banyak amal yang telah kulakukan?”
Ia bertanya pula:
“Apakah amal ini benar-benar mendekatkanku kepada Alloh?”
Sebab banyaknya amal bukan satu-satunya ukuran.
Ada amal yang membuat seseorang semakin rendah hati.
Ada pula amal yang justru membuat seseorang semakin merasa tinggi.
Jika setelah beribadah engkau semakin mudah merendahkan orang lain, periksalah hatimu.
Jika setelah belajar engkau semakin sulit menerima nasihat, periksalah niatmu.
Jika setelah bersedekah engkau selalu ingin menyebut apa yang telah diberikan, periksalah keikhlasanmu.
Amal sejati seharusnya melembutkan hati.
Semakin dekat kepada Alloh, semakin sadar seseorang akan kekurangannya sendiri.
Semakin banyak ilmu, semakin berhati-hati lisannya.
Semakin tinggi kedudukan, semakin besar rasa tanggung jawabnya.
Semakin banyak rezeki, semakin luas manfaat yang ditinggalkannya.
Maka jangan hanya menghitung jumlah sujud.
Lihatlah apakah sujud itu melahirkan kerendahan hati.
Jangan hanya menghitung banyaknya dzikir.
Lihatlah apakah dzikir itu membuat lisan lebih terjaga.
Jangan hanya menghitung sedekah.
Lihatlah apakah sedekah itu menjauhkan hati dari cinta berlebihan kepada harta.
Jangan hanya menghitung ilmu.
Lihatlah apakah ilmu itu memperindah adab.
Wahai penempuh dua negeri,
amal bukan sekadar sesuatu yang selesai ketika dilakukan.
Amal meninggalkan bekas di dalam diri.
Kebaikan yang terus dijaga akan membentuk watak.
Kejujuran yang terus dilatih akan menjadi sifat.
Kesabaran yang terus diperkuat akan menjadi keteguhan.
Dan kasih sayang yang terus dipelihara akan menjadikan seseorang tempat aman bagi sesamanya.
Itulah sebabnya perjalanan menuju akhirat sebenarnya sedang dibentuk setiap hari.
Bukan hanya pada saat seseorang berada di masjid.
Tetapi juga ketika ia berdagang.
Ketika ia berbicara.
Ketika ia bekerja.
Ketika ia memegang kekuasaan.
Ketika ia menghadapi orang yang tidak disukainya.
Dan ketika tidak seorang pun melihat apa yang ia lakukan.
Di situlah kejujuran amal diuji.
Sebab manusia dapat menyembunyikan wajah sebenarnya dari sesama.
Tetapi tidak dari Alloh.
Maka jagalah amal ketika dilihat manusia.
Dan jagalah lebih kuat ketika tidak ada manusia yang melihat.
Karena boleh jadi amal yang paling bercahaya justru amal yang tidak pernah diketahui siapa pun selain Alloh.
Pada akhirnya,
bukan hanya langkah kaki yang membawa manusia menuju negeri berikutnya.
Amal-lah yang menerangi jalannya.
Maka selama lembar kehidupan masih terbuka,
isilah ia dengan sesuatu yang layak menjadi cahaya ketika dunia telah berada di belakangmu.
LEMBAR XIX — LEMBAR TERAKHIR
PULANG KEPADA PEMILIK DUA NEGERI
Wahai insan yang telah berjalan dari lembar pertama hingga lembar terakhir,
Kini sampailah perjalanan ini pada sebuah pintu.
Bukan pintu yang menutup segala makna.
Melainkan pintu yang mengingatkan bahwa setiap tulisan akhirnya harus berhenti, sedangkan perjalanan manusia menuju Alloh terus berjalan.
Dunia memiliki awal.
Umur memiliki batas.
Pertemuan mempunyai perpisahan.
Tangis mempunyai reda.
Kekuasaan mempunyai akhir.
Kekayaan mempunyai pewaris.
Tubuh mempunyai masa.
Dan setiap nama yang disebut di dunia suatu hari akan tinggal sebagai kenangan.
Tetapi Alloh tetap ada.
Sebelum dunia engkau kenal, Dia ada.
Ketika engkau hidup, Dia mengetahui.
Ketika engkau sendiri, Dia mendengar.
Ketika engkau jatuh, Dia mengetahui lukamu.
Ketika engkau bertaubat, Dia mengetahui ketulusanmu.
Ketika engkau menolong seseorang tanpa seorang pun melihat, Dia mengetahui.
Dan ketika perjalanan dunia berakhir, manusia kembali kepada ketetapan-Nya.
Maka renungkanlah:
Apakah sebenarnya yang selama ini kita kejar?
Apakah hanya rumah yang lebih besar?
Apakah hanya nama yang lebih dikenal?
Apakah hanya kedudukan yang lebih tinggi?
Apakah hanya harta yang lebih banyak?
Semua itu boleh dicari selama halal, dijaga amanahnya, dan tidak mengambil tempat Alloh di dalam hati.
Tetapi jangan tertipu.
Rumah terbesar sekalipun tidak dapat menahan usia.
Kekayaan sebanyak apa pun tidak dapat membeli satu hari yang telah berlalu.
Jabatan setinggi apa pun tidak dapat membatalkan datangnya perpisahan.
Dan pujian seluruh manusia tidak dapat menggantikan satu hati yang jauh dari Alloh.
Karena itu, wahai penempuh Malikud-Dārayn,
jadikan dunia sebagai ladang.
Bukan sebagai berhala.
Gunakan dunia.
Jangan diperbudak dunia.
Miliki harta.
Jangan biarkan harta memiliki hatimu.
Pimpin manusia bila engkau diberi amanah.
Tetapi jangan merasa memiliki manusia.
Pelajari ilmu.
Tetapi jangan menjadikan ilmu sebagai mahkota kesombongan.
Beribadahlah.
Tetapi jangan jadikan ibadah alasan untuk memandang rendah orang yang masih sedang belajar pulang.
Sebab tidak seorang pun mengetahui bagaimana akhir hidupnya.
Ada manusia yang awalnya jauh lalu akhirnya kembali.
Ada yang awalnya baik namun tergelincir karena kesombongan.
Maka jangan terlalu cepat merasa telah sampai.
Selama napas masih berjalan, jagalah hati.
Selama mata masih terbuka, jagalah pandangan.
Selama lisan masih mampu berbicara, jagalah perkataan.
Selama tangan masih kuat, gunakan untuk kebaikan.
Selama kaki masih mampu melangkah, datangi jalan yang diridhai Alloh.
Dan selama hati masih berdenyut, jangan bosan memohon agar ia tetap diarahkan kepada kebenaran.
TIGA RAHASIA SEBELUM PULANG
Wahai insan,
bawalah tiga perkara ini dalam perjalananmu.
Pertama: Jangan membawa hak manusia
Jika engkau pernah mengambil yang bukan milikmu, kembalikan.
Jika pernah berutang, usahakan melunasi.
Jika pernah memfitnah, perbaikilah.
Jika pernah merusak nama seseorang, jangan merasa cukup hanya dengan memohon ampun kepada Alloh sementara hak manusia tidak diselesaikan.
Agama bukan hanya hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya.
Ada hak sesama yang harus dijaga.
Sebab orang yang rajin beribadah tetapi mudah menzalimi manusia belum selesai belajar tentang amanah.
Jangan menunggu sakit untuk meminta maaf.
Jangan menunggu tua untuk memperbaiki hubungan.
Jangan menunggu seseorang meninggal baru engkau menangisi kata-kata yang seharusnya pernah engkau ucapkan:
“Maafkan aku.”
Kadang satu kalimat itu lebih berat daripada mengangkat gunung karena ego menahannya.
Tetapi siapa yang mampu merendahkan ego demi kebenaran, sesungguhnya sedang memenangkan perang besar di dalam dirinya.
Kedua: Jangan membawa hati yang dipenuhi kebencian
Ada luka yang memang tidak mudah dilupakan.
Ada perlakuan manusia yang meninggalkan bekas panjang.
Namun jangan jadikan luka sebagai identitas.
Engkau bukan lukamu.
Engkau bukan penghinaan yang pernah engkau terima.
Engkau bukan kegagalanmu.
Engkau bukan masa lalumu.
Engkau adalah seorang hamba yang masih diberi kesempatan untuk memilih bagaimana melanjutkan perjalanan.
Memaafkan bukan selalu berarti kembali seperti dahulu.
Memaafkan tidak selalu berarti membenarkan kezaliman.
Kadang memaafkan berarti berhenti memberi kebencian tempat tinggal di dalam hati.
Serahkan keadilan kepada Alloh.
Ambil pelajarannya.
Jaga batas jika diperlukan.
Tetapi jangan biarkan seseorang yang pernah melukaimu terus menguasai kehidupanmu melalui dendam yang engkau pelihara sendiri.
Hatimu terlalu berharga untuk dijadikan rumah bagi kebencian.
Ketiga: Jangan membawa kesombongan
Kesombongan adalah hijab yang sangat halus.
Ia dapat masuk melalui harta.
Ia dapat masuk melalui nasab.
Ia dapat masuk melalui ilmu.
Ia dapat masuk melalui ibadah.
Bahkan ia dapat masuk melalui perasaan bahwa diri paling rendah hati.
Karena itu jangan berkata di dalam hati:
“Aku lebih suci.”
“Aku lebih dekat.”
“Aku pasti lebih mulia.”
Siapa mengetahui maqom seorang hamba di sisi Alloh selain Dia?
Ada orang yang pakaiannya sederhana tetapi hatinya sangat bersih.
Ada orang yang sedikit bicara tentang agama tetapi diam-diam menangis dalam doa.
Ada yang belum memahami banyak ilmu tetapi sangat menjaga hak orang lain.
Maka rendahkan hati.
Jika engkau diberi ilmu, bersyukurlah.
Jika diberi kedudukan, takutlah terhadap amanahnya.
Jika diberi rezeki, luaslah dalam memberi.
Jika diberi kemuliaan di mata manusia, mohonlah agar Alloh menutupi aibmu dan tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri.
DUA NEGERI DAN SATU PERJALANAN
Dunia adalah negeri sebab.
Akhirat adalah negeri akibat.
Dunia adalah tempat menanam.
Akhirat adalah tempat memanen.
Dunia adalah tempat bertanya.
Akhirat adalah tempat jawaban menjadi nyata.
Di dunia manusia dapat menyembunyikan niat.
Di dunia seseorang dapat berpura-pura.
Di dunia seseorang dapat membangun citra.
Tetapi manusia tidak dapat menyembunyikan hakikat dirinya dari Alloh.
Maka jangan habiskan umur hanya untuk memperindah sesuatu yang dilihat manusia.
Perindahlah pula yang hanya dilihat Alloh.
Ada pakaian untuk badan.
Ada pula pakaian untuk jiwa.
Pakaian jiwa adalah takwa, adab, amanah, kejujuran, sabar, syukur dan kasih sayang.
Ketika pakaian badan rusak, manusia segera menggantinya.
Tetapi ketika hati robek oleh dengki, terkadang manusia membiarkannya bertahun-tahun.
Ketika wajah kotor, manusia segera bercermin.
Tetapi ketika niat kotor oleh riya, jarang manusia mau bercermin ke dalam dirinya sendiri.
Maka jadikan muhasabah sebagai cermin.
Tanyakan setiap malam:
Apakah hari ini aku menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin?
Bila belum, jangan putus asa.
Besok, jika Alloh masih memberi umur, mulailah lagi.
TENTANG REZEKI
Wahai penempuh dua negeri,
jangan ukur seluruh rezeki hanya dengan uang.
Uang adalah rezeki.
Tetapi kesehatan juga rezeki.
Keluarga yang rukun adalah rezeki.
Sahabat yang jujur adalah rezeki.
Tidur yang tenteram adalah rezeki.
Hati yang mudah menerima nasihat adalah rezeki.
Kemampuan menangis ketika mengingat kesalahan adalah rezeki.
Kesempatan untuk memperbaiki diri adalah rezeki.
Bahkan sebuah kegagalan yang menyelamatkanmu dari jalan yang salah dapat menjadi rezeki dalam bentuk yang belum engkau pahami.
Maka jangan selalu melihat tangan orang lain.
Bisa jadi engkau sedang menghitung kekuranganmu sementara orang lain sedang berharap mempunyai ketenteraman yang Alloh titipkan kepadamu.
Syukur bukan berarti berhenti berusaha.
Syukur adalah berusaha tanpa menghina apa yang telah diberikan Alloh hari ini.
TENTANG UJIAN
Jangan menyangka bahwa semua ujian adalah tanda Alloh meninggalkanmu.
Para manusia terbaik pun diuji.
Ujian dapat datang melalui kehilangan.
Melalui keterlambatan.
Melalui penolakan.
Melalui sakit.
Melalui keluarga.
Melalui harta.
Melalui orang yang kita cintai.
Bahkan nikmat pun merupakan ujian.
Kemiskinan menguji kesabaran.
Kekayaan menguji amanah.
Kesulitan menguji keteguhan.
Kemudahan menguji syukur.
Ketidakterkenalan menguji keikhlasan.
Ketenaran menguji hati.
Maka jangan hanya meminta kehidupan tanpa ujian.
Mintalah hati yang tidak kehilangan arah ketika ujian datang.
TENTANG CINTA
Cintailah manusia.
Tetapi cintailah dengan kesadaran bahwa mereka milik Alloh.
Orang tua adalah titipan.
Pasangan adalah titipan.
Anak adalah titipan.
Guru adalah titipan perjumpaan.
Sahabat adalah titipan.
Tidak satu pun dapat kita miliki secara mutlak.
Karena itu jangan mencintai dengan cara menguasai.
Jangan mencintai dengan cara menzalimi.
Jangan mencintai sampai melupakan Sang Pemberi cinta.
Cinta yang benar mendekatkan kepada kebaikan.
Cinta yang salah dapat menjadikan manusia membenarkan apa pun demi mempertahankan sesuatu yang ia inginkan.
Maka letakkan cinta pada tempatnya.
Alloh menjadi tujuan tertinggi.
Makhluk dicintai sebagai amanah.
TENTANG KEMATIAN
Wahai insan,
kematian bukan perkara yang menyenangkan untuk dibicarakan bagi sebagian orang.
Namun mengingat kematian bukan untuk membuat hidup kehilangan warna.
Justru ia mengajarkan nilai waktu.
Bila engkau mengetahui bahwa sebuah pertemuan mungkin menjadi pertemuan terakhir, engkau akan lebih berhati-hati dalam berkata.
Bila menyadari usia terbatas, engkau akan lebih menghargai orang tua.
Bila menyadari perjalanan akan selesai, engkau akan bertanya:
“Apakah pertengkaran ini benar-benar layak kubawa selama bertahun-tahun?”
Mengingat kematian bukan berarti berhenti membangun dunia.
Bangunlah.
Menikahlah.
Bekerjalah.
Belajarlah.
Bercocok tanamlah.
Bangun rumah.
Didik anak.
Bangun masyarakat.
Buat karya yang bermanfaat.
Tetapi lakukan semuanya sebagai orang yang sadar bahwa apa yang dibangun di dunia hendaknya meninggalkan nilai setelah kita pergi.
WARISAN TERBAIK
Jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak harta yang akan kutinggalkan?”
Tanyakan pula:
“Manusia seperti apa yang menjadi lebih baik karena pernah mengenalku?”
Apakah keluargamu mengingat kelembutanmu?
Apakah anakmu belajar kejujuran darimu?
Apakah muridmu belajar adab?
Apakah tetanggamu merasa aman?
Apakah orang miskin pernah merasakan manfaat hartamu?
Apakah seseorang pernah kembali mempunyai harapan karena perkataanmu?
Itulah warisan yang tidak mudah dihitung dengan angka.
Ada manusia yang meninggalkan gedung tetapi dilupakan.
Ada yang tidak meninggalkan bangunan besar, tetapi kebaikannya tetap hidup dalam hati manusia selama beberapa generasi.
Maka bangunlah warisan amal.
SAAT PINTU DUNIA TERTUTUP
Kelak akan datang suatu saat ketika manusia tidak lagi dapat menambah satu hari pada usianya.
Saat itu harta yang dikumpulkan tidak dapat menjadi alasan untuk kembali.
Jabatan tidak dapat meminta penundaan.
Nama besar tidak dapat membuka pintu umur.
Maka sebelum saat itu datang, jangan menunda menjadi manusia yang engkau tahu seharusnya engkau menjadi.
Jika engkau tahu engkau harus bertaubat, bertaubatlah.
Jika engkau tahu ada hak yang harus dikembalikan, kembalikanlah.
Jika engkau tahu ada seseorang yang perlu engkau mintai maaf, carilah jalan yang baik untuk meminta maaf.
Jika engkau tahu keluargamu membutuhkan kehadiranmu, hadirkanlah dirimu.
Jika engkau tahu tubuhmu perlu dijaga, jagalah.
Jika engkau tahu ibadahmu berantakan, perbaikilah perlahan-lahan tetapi sungguh-sungguh.
Jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai berubah.
Kesempurnaan bukan syarat untuk memulai.
Kejujuran adalah permulaannya.
PESAN TERAKHIR MALIKUD-DĀRAYN
Wahai insan,
jika seluruh lembar Qitab ini dilupakan, simpanlah beberapa kalimat ini di dalam hati:
Jangan zalimi siapa pun.
Jangan putus asa dari rahmat Alloh.
Jangan sombong karena sesuatu yang hanya dipinjamkan.
Jangan menunda taubat.
Jangan membawa hak manusia menuju akhir perjalanan.
Jangan memandang rendah orang yang sedang belajar menjadi baik.
Jangan menjadikan dunia sebagai Tuhan kecil di dalam hati.
Berjalanlah dengan lembut.
Tetapi jangan lemah terhadap kebatilan.
Jadilah tegas.
Tetapi jangan kehilangan kasih sayang.
Miliki ilmu.
Tetapi tetaplah merasa perlu belajar.
Miliki harta.
Tetapi tetaplah mampu memberi.
Miliki kedudukan.
Tetapi tetaplah mampu duduk bersama orang sederhana.
Dan ketika dipuji, ingat kekuranganmu.
Ketika dicela, periksa dirimu tanpa kehilangan harga diri.
Ketika berhasil, bersyukur.
Ketika gagal, belajar.
Ketika jatuh, bangkit.
Ketika tersesat arah, kembali.
DOA KHĀTIMAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh, Pemilik dunia dan akhirat,
Engkau mengetahui apa yang kami tampakkan dan apa yang kami sembunyikan.
Engkau mengetahui jalan yang telah kami tempuh.
Engkau mengetahui dosa yang masih kami sesali.
Engkau mengetahui doa yang belum mampu kami ucapkan.
Engkau mengetahui luka yang kami sembunyikan dari manusia.
Engkau mengetahui harapan yang kami simpan di dalam hati.
Maka jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri.
Bimbing langkah kami ketika kami bingung.
Lembutkan hati kami ketika ia mengeras.
Bangunkan kami ketika lalai.
Teguhkan kami ketika diuji.
Rendahkan hati kami ketika diberi kemuliaan.
Jauhkan kami dari rezeki yang menyeret kepada kezaliman.
Karuniakan rezeki halal, luas, berkah, dan membawa manfaat.
Jadikan ilmu kami cahaya, bukan kesombongan.
Jadikan kekuatan kami perlindungan, bukan penindasan.
Jadikan lisan kami membawa kebaikan.
Jadikan tangan kami ringan menolong.
Jadikan kaki kami berjalan menuju yang Engkau ridhai.
Jadikan rumah kami tempat ketenteraman.
Jadikan keluarga kami saling menguatkan dalam kebaikan.
Ampuni kedua orang tua kami.
Rahmati guru-guru yang mengajarkan kebaikan.
Ampuni orang-orang yang telah mendahului kami.
Sembuhkan hati orang yang sedang terluka.
Lapangkan orang yang sedang sempit.
Berilah petunjuk kepada orang yang sedang kehilangan arah.
Yā Alloh,
jika kami diberi umur panjang, jadikan umur itu bertambah dalam manfaat.
Jika kami diberi harta, jadikan harta itu jalan kebaikan.
Jika kami diberi nama besar, selamatkan kami dari riya dan kesombongan.
Jika kami diberi kekuasaan, jangan biarkan kami menzalimi.
Jika kami diberi ujian, jangan biarkan ujian menjauhkan kami dari-Mu.
Dan bila saat pulang telah tiba,
jadikan akhir ucapan kami sebagai ucapan yang Engkau ridhai.
Terimalah taubat kami.
Ampuni kekurangan kami.
Tutupi aib kami.
Ringankan pertanggungjawaban kami.
Dan masukkan kami ke dalam keluasan rahmat-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
KHATAM QITAB MALIKUD-DĀRAYN
Dunia adalah tempat singgah.
Akhirat adalah tempat kembali.
Amal adalah bekal.
Rahmat Alloh adalah harapan.
Dan Alloh adalah Pemilik dua negeri.
مَالِكُ الدَّارَيْنِ
MĀLIKUD-DĀRAYN
“Janganlah menjadi manusia yang hanya berhasil hidup di dunia, tetapi lupa mempersiapkan bagaimana ia akan pulang.”
TAMAT.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.