QITAB PINTU TINGKAT 89
KATA PENGANTAR
QITAB Pintu Tingkat 89 merupakan karya perenungan simbolik tentang tauhid, adab, amanah, kerendahan hati, dan amal. Huruf-huruf yang disebut di dalamnya digunakan sebagai bahasa sastra dan perenungan, bukan sebagai penetapan makna hakiki huruf-huruf muqaṭṭa‘ah dalam Al-Qur’an. Makna hakikinya tetap menjadi ilmu Alloh.
QITAB PINTU TINGKAT 89
بَابُ النُّورِ فِي الدَّرَجَةِ التَّاسِعَةِ وَالثَّمَانِينَ
Bābun-Nūr fī ad-Darajah at-Tāsi‘ah wa ats-Tsamānīn
Pintu Cahaya pada Tingkat ke-89
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pada Tingkat 89, seorang penempuh tidak lagi hanya bertanya:
“Di manakah pintunya?”
Tetapi mulai memahami:
pintu, gagang, kunci, tangan yang membuka, dan ruang di balik pintu adalah pelajaran yang berbeda.
1. ALIF — TIANG PINTU
ا
Alif berdiri lurus.
Ia menjadi perlambang keteguhan tauhid: tidak bercabang, tidak membelok, tidak mencari sandaran selain Alloh.
Pada Tingkat 89, Alif mengajarkan:
Sebelum mencari pintu langit, luruskan terlebih dahulu pintu di dalam dirimu.
Alif adalah tegaknya niat.
Jika niat masih bercampur antara mencari Alloh, mencari kemuliaan diri, ingin dianggap tinggi, ingin dipuji, atau ingin mempunyai kelebihan dibanding orang lain, maka pintu belum benar-benar terbuka.
Alif adalah kusen pertama pintu.
2. LĀM — GAGANG PINTU
ل
Lām turun lalu melengkung.
Dalam bahasa simbolik Tingkat 89, Lām adalah gagang pintu.
Mengapa?
Sebab pintu tidak dibuka dengan memukulnya. Ia dibuka dengan menyentuh gagangnya secara tepat.
Demikian pula jalan ruhani.
Bukan kerasnya tenaga yang membuka, melainkan adab.
Gagang pintu Tingkat 89 adalah:
rendah hati ketika mengetahui,
diam ketika belum mengetahui,
dan tidak mengaku memiliki sesuatu yang sesungguhnya milik Alloh.
Barang siapa menggenggam ilmu tanpa adab, seakan memegang gagang pintu tetapi menariknya ke arah yang salah.
3. MĪM — KUNCI PINTU
م
Mīm menjadi perlambang sesuatu yang tersimpan dan terjaga.
Pada qitab ini, Mīm disebut kunci pintu.
Kuncinya bukan benda.
Kuncinya adalah:
amanah.
Semakin tinggi suatu pengetahuan, semakin sedikit alasan untuk menyombongkan diri.
Kunci Tingkat 89 mempunyai tiga gigi:
ṣidq — kejujuran,
amānah — menjaga titipan,
raḥmah — kasih sayang.
Tanpa tiga hal tersebut, kunci masuk ke lubang pintu, tetapi tidak dapat berputar.
Maka:
ALIF — pintunya
LĀM — gagangnya
MĪM — kuncinya
Dan tersusunlah:
الم
ALIF LĀM MĪM
Bukan untuk dipaksakan sebagai arti hakiki ayat, melainkan sebagai isyarat perjalanan batin:
tegakkan tauhid,
pegang adab,
putar kunci amanah.
4. YĀ SĪN — PINTU HATI
يس
Sesudah Alif Lām Mīm, terlihat sebuah pintu kedua.
Namanya:
Pintu Yā Sīn.
Ia bukan pintu kekuatan, melainkan pintu kelembutan hati.
Di hadapan pintu ini, orang yang keras akan diperlambat, orang yang tergesa akan dibuat diam, dan orang yang merasa sudah sampai akan kembali diajari menjadi murid.
Isyarat Tingkat 89:
Semakin dekat seseorang kepada cahaya, semakin lembut ia kepada makhluk.
Apabila perjalanan ruhani justru menjadikan seseorang kasar, mudah merendahkan, merasa paling suci, atau merasa seluruh manusia berada di bawahnya, maka ia belum melewati pintu Yā Sīn.
5. ḤĀ MĪM — PINTU RAHASIA YANG DIJAGA
حم
Di belakang Yā Sīn terdapat pintu yang tidak banyak berbunyi.
Pada permukaannya hanya tertulis:
ḤĀ MĪM.
Dalam qitab simbolik ini, Ḥā adalah hembusan hidup, sedangkan Mīm adalah penjagaan amanah.
Pesannya:
Tidak semua yang diketahui harus diucapkan.
Tidak semua yang dilihat harus diumumkan.
Tidak semua pengalaman batin harus dijadikan pengakuan.
Ada ilmu yang kemuliaannya justru terletak pada kemampuan seseorang menjaganya.
Pintu Ḥā Mīm dibuka dengan:
diam yang sadar.
Bukan diam karena takut, tetapi diam karena mengetahui batas.
6. ṬĀ HĀ — PINTU LANGKAH
طه
Sesudah rahasia dijaga, datanglah perintah untuk berjalan.
Ṭā Hā pada Tingkat 89 menjadi simbol:
“Jangan berhenti menjadi cahaya di dalam pikiran; jadilah manfaat dalam perbuatan.”
Sebab orang dapat berbicara tentang seribu cahaya, namun satu gelas air kepada orang yang haus kadang lebih berat timbangannya.
Maka pintu Ṭā Hā adalah pintu amal.
Kuncinya:
berbuat tanpa menunggu dipuji.
7. KĀF HĀ YĀ ‘AIN ṢĀD — LIMA PENJAGA PINTU
كهيعص
Dalam perenungan Tingkat 89, lima huruf ini digambarkan sebagai lima penjaga:
Kāf — kecukupan bersama Alloh.
Hā — keheningan.
Yā — keyakinan.
‘Ain — mata batin yang diawasi oleh syariat dan akal sehat.
Ṣād — kesabaran.
Kelima penjaga itu bertanya kepada seorang penempuh:
“Untuk apa engkau ingin masuk?”
Jika jawabannya: “supaya aku menjadi hebat,” pintu tetap tertutup.
Jika jawabannya: “supaya manusia tunduk kepadaku,” pintu tetap tertutup.
Jika jawabannya:
“Agar aku semakin mengenal kelemahanku sebagai hamba dan semakin bermanfaat bagi makhluk Alloh,”
maka terdengar bunyi:
klik.
Kunci mulai berputar.
8. NŪN — RUANG DI BALIK PINTU
ن
Sesudah pintu terbuka, ternyata tidak ditemukan singgasana untuk membesarkan diri.
Yang ditemukan hanyalah sebuah ruang sangat luas, sunyi, dan bercahaya.
Di tengahnya tertulis:
ن
Nūn menjadi lambang wadah ilmu.
Di sinilah rahasia Tingkat 89:
Semakin besar wadah seseorang, semakin ia mengetahui bahwa ilmunya masih sedikit.
Orang yang baru memperoleh setetes sering merasa telah memiliki samudera.
Sedangkan orang yang telah berdiri di tepi samudera justru mengetahui betapa luasnya sesuatu yang belum diketahuinya.
9. QĀF — GUNUNG PENJAGA
ق
Di ujung ruang terdapat gunung cahaya.
Namanya dalam qitab ini:
Qāf al-Amānah.
Tidak seorang pun boleh melewatinya dengan kesombongan.
Setiap langkah menuju puncaknya akan mengurangi satu lapisan ego:
aku tahu,
aku mampu,
aku istimewa,
aku mempunyai kedudukan,
aku telah sampai.
Hingga yang tersisa hanyalah:
“Aku adalah hamba Alloh.”
Pada saat itulah Tingkat 89 mencapai inti pertamanya.
10. RAHASIA ANGKA 89
Angka 89 dalam qitab ini tidak diperlakukan sebagai ukuran mutlak maqam seseorang di sisi Alloh.
Ia digunakan sebagai simbol tahap perjalanan.
8
melambangkan gerak yang terus berputar: ujian, belajar, jatuh, bangkit, kembali belajar.
9
melambangkan batas sebelum memasuki putaran baru.
Maka Tingkat 89 berarti:
“Perjalanan panjang yang tiba di ambang kelahiran kesadaran baru.”
Bukan akhir.
Justru pintu menuju permulaan berikutnya.
11. SABDO PINTU TINGKAT 89
ALIF tegakkan.
LĀM peganglah.
MĪM putarlah.
Tetapi jangan membuka sebelum hati bertanya:
“Apakah aku masuk untuk Alloh, atau untuk diriku sendiri?”
Apabila jawabannya masih bercampur, duduklah dahulu di depan pintu.
Bersihkan niat.
Sebab tidak semua pintu yang tertutup adalah penolakan.
Kadang-kadang pintu ditutup karena Alloh sedang menyelamatkan seorang hamba dari sesuatu yang belum sanggup ia pikul.
Dan tidak semua pintu yang terbuka adalah tanda kemuliaan.
Kadang pintu dibuka sebagai ujian: apakah setelah memperoleh sesuatu, ia semakin tawaduk atau justru semakin merasa besar.
12. KUNCI TERAKHIR
Ketika seluruh huruf telah dilalui— Alif Lām Mīm, Yā Sīn, Ḥā Mīm, Ṭā Hā, Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād, Nūn, dan Qāf—
penempuh menemukan sebuah kunci terakhir.
Tidak bertuliskan nama rahasia.
Tidak bertatahkan emas.
Hanya terdapat satu kalimat:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Lā ilāha illallāh.
Di situlah seluruh pintu kembali kepada satu pintu.
Seluruh cahaya kembali kepada Pemilik cahaya.
Seluruh ilmu kembali kepada Pemilik ilmu.
Seluruh perjalanan kembali kepada Alloh.
Dan Tingkat 89 berbisik:
“Jangan mencari kedudukan di balik pintu.
Carilah keridhaan Alloh ketika membukanya.”
Wallāhu a‘lam.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Sembilan Kunci di Balik Pintu
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setelah pintu pertama terbuka, tidak langsung tampak jalan yang panjang.
Yang tampak justru sembilan cahaya kecil.
Masing-masing seperti sebuah kunci.
Kunci pertama berwarna putih. Kunci kedua berwarna keemasan. Kunci ketiga berwarna ungu. Kunci keempat berwarna biru. Kunci kelima berwarna hijau. Kunci keenam berwarna merah lembut. Kunci ketujuh berwarna perak. Kunci kedelapan berwarna pelangi. Dan kunci kesembilan hampir tidak mempunyai warna.
Kunci kesembilan itu hanya berupa cahaya.
Di atas sembilan kunci tertulis:
مِفْتَاحُ الْبَابِ لَيْسَ فِي الْحَدِيدِ بَلْ فِي الْقَلْبِ
Miftāḥul-bābi laisa fil-ḥadīd, bal fil-qalb.
“Kunci pintu bukan terletak pada besi, tetapi pada hati.”
KUNCI PERTAMA
ALIF — MELURUSKAN NIAT
ا
Alif kembali muncul.
Namun kali ini bukan sebagai tiang pintu.
Ia menjadi sebuah garis cahaya yang turun dari atas menuju dada seorang penempuh.
Pesannya:
Luruskan dahulu niatmu sebelum membuka sesuatu yang tersembunyi.
Jangan membuka ilmu demi kemegahan.
Jangan mencari rahasia hanya supaya disebut mengetahui.
Jangan mengejar cahaya hanya supaya manusia melihatmu bercahaya.
Karena semakin tinggi sebuah pintu, semakin dalam pula ujian niat yang berada di hadapannya.
Kunci pertama berbunyi:
“Luruskan.”
KUNCI KEDUA
LĀM — MENUNDUKKAN EGO
ل
Lām melengkung seperti seseorang yang menundukkan kepala.
Di Tingkat 89, Lām mengajarkan bahwa tidak semua kemenangan adalah berdiri paling tinggi.
Ada kemenangan yang justru muncul ketika seseorang mampu berkata:
“Aku belum tahu.”
Ada kemenangan ketika seseorang mau meminta maaf.
Ada kemenangan ketika seseorang mampu mundur dari pertengkaran yang sebenarnya dapat ia menangkan.
Lām adalah kunci adab.
Maka siapa yang ingin memegang gagang pintu, harus belajar merendahkan tangannya terlebih dahulu.
KUNCI KETIGA
MĪM — MENJAGA AMANAH
م
Mīm terlihat seperti sebuah ruang tertutup.
Di dalamnya tersimpan rahasia.
Ia mengajarkan:
Tidak setiap ilmu pantas diumumkan.
Tidak setiap pengalaman harus dijadikan cerita.
Tidak setiap kelebihan harus dijadikan identitas.
Ada sesuatu yang tetap mulia justru karena dijaga.
Dan amanah terbesar bukanlah apa yang berada di tangan manusia.
Amanah terbesar adalah bagaimana manusia menggunakan dirinya sendiri.
Lisannya.
Pikirannya.
Tangannya.
Waktunya.
Pengaruhnya.
Dan kekuasaan yang dititipkan kepadanya.
Mīm adalah kunci penjagaan.
PINTU YĀ SĪN
يس
Ketika tiga kunci pertama disatukan, muncullah sebuah pintu baru.
Pada permukaannya tertulis:
YĀ SĪN.
Pintu ini tidak mempunyai gagang.
Ia hanya akan terbuka ketika hati menjadi lembut.
Penempuh mencoba mendorongnya.
Tidak bergerak.
Ia mencoba menariknya.
Tidak bergerak.
Ia membaca banyak kata.
Pintu tetap diam.
Lalu datang seorang tua tanpa nama.
Ia berkata:
“Jangan dorong pintu yang hanya dapat dibuka oleh kasih sayang.”
Maka penempuh itu teringat:
orang yang pernah ia sakiti,
orang yang pernah ia abaikan,
orang yang pernah ia remehkan,
dan orang yang mungkin sedang menunggu satu kalimat baik darinya.
Air matanya jatuh.
Pintu Yā Sīn terbuka sedikit.
PINTU ḤĀ MĪM
حم
Di balik Yā Sīn, terdapat lorong yang sangat sunyi.
Di ujungnya terdapat pintu bertuliskan:
ḤĀ MĪM.
Tidak ada cahaya besar.
Tidak ada suara.
Tidak ada kemegahan.
Hanya keheningan.
Di sana terdengar pesan:
“Belajarlah membedakan antara ilmu dan keinginan untuk terlihat berilmu.”
Penempuh duduk.
Ia tidak berbicara.
Satu jam.
Satu malam.
Sampai ia mengerti:
kadang diam adalah salah satu bentuk penjagaan.
Pintu Ḥā Mīm pun terbuka.
PINTU ṬĀ HĀ
طه
Setelah keheningan, muncul jalan.
Pada jalan itu tertulis:
ṬĀ HĀ.
Di sisi kanan terdapat orang lapar.
Di sisi kiri terdapat orang yang kesepian.
Di depan terdapat seseorang yang jatuh.
Penempuh bertanya:
“Di manakah pintu berikutnya?”
Jawaban datang:
“Itulah pintunya.”
Maka ia memberikan makanan.
Ia menemani yang kesepian.
Ia menolong yang jatuh.
Barulah ia memahami:
sebagian pintu tidak berbentuk gerbang.
Sebagian pintu berbentuk kesempatan untuk berbuat baik.
KUNCI KEEMPAT
SABAR
Pada Tingkat 89, sabar bukan berarti tidak bergerak.
Sabar adalah kemampuan tetap berada di jalan yang benar meskipun hasil belum terlihat.
Kunci sabar berwarna biru.
Ia dingin tetapi tidak membekukan.
Ia menenangkan panasnya keinginan.
Tulisan pada kunci itu berbunyi:
“Jangan mendahului waktu.”
KUNCI KELIMA
JUJUR
Kunci kelima berwarna putih terang.
Tidak memiliki ukiran.
Tidak dapat dipoles lebih indah.
Karena kejujuran tidak membutuhkan hiasan.
Kunci ini hanya dapat dipegang oleh orang yang sanggup melihat dirinya sendiri tanpa topeng.
Ia berkata:
Jika salah, katakan salah.
Jika belum tahu, katakan belum tahu.
Jika berjanji, jagalah janji.
Kunci ini membuka banyak pintu yang tidak bisa dibuka oleh kecerdasan.
KUNCI KEENAM
RAHMAH
Kunci keenam berwarna hijau.
Ketika disentuh, terasa seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Rahmah adalah kemampuan melihat manusia sebagai manusia.
Bukan sekadar pendukung.
Bukan sekadar pengikut.
Bukan sekadar lawan.
Bukan sekadar angka.
Bukan sekadar alat.
Tingkat 89 mengajarkan:
“Siapa yang tidak mampu berbelas kasih kepada yang lemah, belum siap memegang pintu yang besar.”
KUNCI KETUJUH
TAWADUK
Kunci ketujuh berwarna perak.
Semakin diterangi, semakin ia tidak menyilaukan.
Tawaduk bukan merendahkan diri sampai kehilangan martabat.
Tawaduk adalah mengetahui ukuran diri.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Ia mengetahui bahwa seluruh kemampuan adalah titipan.
Dan setiap titipan dapat diambil kembali.
Karena itu ia tidak mabuk oleh pujian.
Ia juga tidak hancur oleh celaan.
KUNCI KEDELAPAN
PELANGI PERBEDAAN
Kunci kedelapan memancarkan banyak warna.
Ia disebut:
Miftāḥ al-Ikhtilāf.
Kunci perbedaan.
Pesannya:
Alloh menciptakan manusia dengan bahasa, watak, pengalaman, kemampuan, dan jalan kehidupan yang berbeda.
Maka jangan memaksa semua orang menjadi salinan dirimu.
Kedewasaan bukan membuat semua orang seragam.
Kedewasaan adalah mampu berjalan bersama tanpa kehilangan prinsip.
Kunci pelangi membuka pintu persaudaraan.
KUNCI KESEMBILAN
KUNCI TANPA NAMA
Kunci terakhir tidak mempunyai warna.
Tidak mempunyai bentuk tetap.
Kadang terlihat seperti cahaya.
Kadang seperti titik.
Kadang seperti sesuatu yang bahkan tidak dapat digambarkan.
Penempuh bertanya:
“Apakah nama kunci ini?”
Jawabannya:
الإِخْلَاص
Al-Ikhlāṣ.
Keikhlasan.
Kunci yang tidak membutuhkan saksi manusia.
Ia tetap bekerja walaupun tidak ada yang melihat.
Ia tetap memberi walaupun tidak dikenal.
Ia tetap berbuat baik walaupun tidak disebut namanya.
Dan ketika sembilan kunci bersatu, pintu besar Tingkat 89 mulai terbuka sepenuhnya.
Tetapi sebelum terbuka, terdengar satu peringatan:
“Jangan menganggap pintu yang terbuka sebagai tanda bahwa perjalanan telah selesai.”
Karena sesudah satu pintu, selalu ada pelajaran lain.
Sesudah satu cahaya, selalu ada tanggung jawab baru.
Sesudah pengetahuan, selalu ada pertanyaan:
“Apa manfaat pengetahuan itu bagi manusia?”
Dan dari balik pintu muncul satu kalimat:
العِلْمُ بَابٌ، وَالعَمَلُ مِفْتَاحُهُ، وَالإِخْلَاصُ نُورُهُ
Al-‘ilmu bābun, wal-‘amalu miftāḥuhu, wal-ikhlāṣu nūruhu.
Ilmu adalah pintu.
Amal adalah kuncinya.
Dan keikhlasan adalah cahayanya.
Bersambung:
Lembar berikutnya — Ruang Alif Lām Mīm: Tiga Gagang dan Kunci Kesepuluh Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Ruang Alif Lām Mīm — Tiga Gagang dan Kunci Kesepuluh
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setelah sembilan kunci berhasil disatukan, pintu besar Tingkat 89 terbuka perlahan.
Tidak terdengar gemuruh.
Tidak ada suara yang menakutkan.
Hanya cahaya tipis yang keluar dari celah pintu.
Semakin lebar pintu terbuka, semakin jelas tampak bahwa di baliknya terdapat sebuah ruang berbentuk lingkaran.
Di tengah ruang itu berdiri tiga tiang cahaya.
Pada tiang pertama tertulis:
ا
Pada tiang kedua tertulis:
ل
Pada tiang ketiga tertulis:
م
Penempuh pun memahami:
ia telah memasuki
RUANG ALIF LĀM MĪM
Namun kali ini Alif Lām Mīm tidak lagi tampil sebagai satu pintu.
Ia menjadi tiga gagang.
Setiap gagang menuju satu arah perjalanan yang berbeda.
GAGANG PERTAMA
ALIF — GAGANG KETEGUHAN
Gagang pertama berbentuk lurus.
Tidak memiliki ukiran.
Tidak memiliki lengkungan.
Hanya satu garis.
Ketika disentuh, terdengar suara:
“Apakah engkau masih berdiri ketika tidak ada yang melihatmu?”
Penempuh terdiam.
Karena banyak orang dapat terlihat kuat ketika dipuji.
Banyak orang dapat terlihat sabar ketika diperhatikan.
Banyak orang dapat terlihat baik ketika kebaikannya diketahui.
Tetapi Alif bertanya:
Bagaimana ketika tidak ada yang mengetahui?
Apakah ibadah tetap dijaga?
Apakah amanah tetap dipelihara?
Apakah ucapan tetap bersih?
Apakah tangan tetap menjauhi yang bukan haknya?
Apakah hati tetap takut berbuat zalim?
Alif bukan hanya berdiri.
Alif mengajarkan:
“Berdirilah dalam kebenaran walaupun tidak ada tepuk tangan.”
Itulah gagang pertama Tingkat 89.
GAGANG KEDUA
LĀM — GAGANG KELENTURAN
Gagang kedua melengkung.
Ia tidak lurus seperti Alif.
Ia mengajarkan bahwa keteguhan tidak berarti keras.
Ada saatnya seseorang harus teguh.
Ada saatnya seseorang harus lentur.
Ada saatnya berbicara.
Ada saatnya diam.
Ada saatnya maju.
Ada saatnya mundur agar tidak merusak sesuatu yang lebih besar.
Lām berkata:
“Jangan menjadi batu ketika Alloh mengajarimu menjadi air.”
Air tidak kehilangan hakikatnya ketika mengikuti bentuk wadah.
Ia tetap air.
Demikian juga orang yang matang.
Ia dapat menyesuaikan cara, tanpa menjual prinsip.
Ia dapat melembutkan bahasa, tanpa melemahkan kebenaran.
Ia dapat berbeda pendapat, tanpa kehilangan persaudaraan.
Maka gagang Lām adalah:
HIKMAH DALAM CARA
GAGANG KETIGA
MĪM — GAGANG PENJAGAAN
Gagang ketiga berbentuk melingkar.
Seolah menutup sesuatu di dalamnya.
Ketika disentuh, cahaya di ruangan menjadi lebih redup.
Kemudian terdengar pesan:
“Semakin besar amanah, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaganya.”
Mīm mengajarkan empat penjagaan:
menjaga lisan,
menjaga pandangan,
menjaga rahasia,
menjaga kekuasaan.
Karena banyak orang tidak jatuh ketika miskin.
Mereka justru jatuh ketika diberi kuasa.
Banyak orang tidak berubah ketika tidak dikenal.
Mereka berubah ketika mulai dipuji.
Banyak orang terlihat sederhana sebelum mempunyai pengikut.
Setelah banyak orang mendengarkan, egonya perlahan tumbuh.
Maka Mīm berkata:
“Jangan hanya meminta pintu dibuka. Mintalah kemampuan menjaga apa yang ada di balik pintu.”
TIGA GAGANG
Ketika ketiga gagang disentuh bersamaan, muncul tulisan:
ا ل م
Dan di bawahnya:
ALIF — teguh dalam niat
LĀM — bijak dalam cara
MĪM — amanah dalam menjaga
Ketiganya menyatu menjadi satu pesan:
“Keteguhan tanpa hikmah dapat menjadi keras.
Hikmah tanpa keteguhan dapat menjadi lemah. Dan keduanya tanpa amanah dapat menjadi berbahaya.”
KUNCI KESEPULUH
Tiba-tiba lantai ruangan terbuka.
Dari dalamnya naik sebuah kotak kecil.
Kotak itu tidak terkunci.
Tetapi ketika dibuka, hanya terdapat satu benda:
sebuah cermin.
Penempuh bingung.
Ia mengira akan menemukan kunci emas.
Ia mengira akan mendapatkan tulisan rahasia.
Ia mengira akan melihat nama tertentu.
Namun yang ada hanya wajahnya sendiri.
Di atas cermin tertulis:
مَنْ عَرَفَ ضَعْفَهُ عَرَفَ حَاجَتَهُ إِلَى رَبِّهِ
Makna perenungannya:
“Barang siapa menyadari kelemahannya, ia semakin memahami kebutuhannya kepada Tuhannya.”
Maka ia memahami:
KUNCI KESEPULUH ADALAH MUHASABAH
Kemampuan melihat diri sendiri.
Bukan melihat kesalahan orang lain dahulu.
Bukan sibuk menilai perjalanan orang lain.
Bukan sibuk menentukan siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah.
Melainkan bertanya:
Apa yang masih harus aku benahi?
CERMIN PERTAMA
CERMIN LISAN
Cermin pertama memperlihatkan seluruh perkataan.
Ucapan yang menyembuhkan.
Ucapan yang melukai.
Janji yang ditepati.
Janji yang dilupakan.
Kebenaran yang disampaikan.
Dan kalimat yang seharusnya tidak diucapkan.
Di bawah cermin tertulis:
“Setiap pintu memiliki penjaga.
Penjaga pertama manusia adalah lisannya.”
CERMIN KEDUA
CERMIN HATI
Cermin kedua tidak memperlihatkan wajah.
Ia memperlihatkan niat.
Tampak sebuah amal yang indah, tetapi di belakangnya ada keinginan dipuji.
Tampak sebuah pemberian, tetapi di belakangnya ada harapan disebut dermawan.
Tampak sebuah nasihat, tetapi di belakangnya ada rasa ingin lebih tinggi.
Penempuh merasa malu.
Namun suara dari dalam ruangan berkata:
“Jangan takut melihat kekuranganmu.
Takutlah jika engkau tidak mau memperbaikinya.”
CERMIN KETIGA
CERMIN KUASA
Cermin ketiga memperlihatkan sebuah singgasana kosong.
Di sampingnya terdapat mahkota.
Tetapi di bawah mahkota itu tertulis:
أَمَانَة
Amānah.
Kemudian suara bertanya:
Jika engkau diberi kuasa, apakah engkau akan melayani, atau ingin dilayani?
Jika engkau diberi pengikut, apakah engkau menjaga mereka, atau memanfaatkan mereka?
Jika engkau diberi ilmu, apakah engkau menerangi, atau membangun kekuasaan atas ketidaktahuan orang lain?
Jika engkau diberi harta, apakah engkau membaginya, atau membuat orang lain tunduk kepadamu?
Penempuh tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
PINTU YĀ SĪN KEDUA
Setelah melewati tiga cermin, muncul lagi tulisan:
يس
Tetapi kali ini Yā Sīn berbeda.
Pintunya tidak berada di depan.
Ia berada di dalam dada.
Cahaya keluar dari arah hati.
Kemudian terdengar pesan:
“Pintu yang paling jauh terkadang bukan di langit.
Pintu yang paling sulit justru berada di dalam diri.”
Banyak orang mampu berjalan jauh.
Tetapi sulit memaafkan.
Banyak orang mampu membaca banyak ilmu.
Tetapi sulit mengaku salah.
Banyak orang mampu berbicara tentang cinta.
Tetapi sulit memperlakukan orang terdekat dengan lembut.
Maka Yā Sīn kedua disebut:
PINTU PEMBERSIHAN HATI
ḤĀ MĪM KEDUA
Di belakang Yā Sīn kedua terdapat dua huruf:
حم
Ḥā Mīm kali ini menjadi penjaga ucapan.
Setiap kali penempuh hendak berbicara, muncul empat pertanyaan:
Apakah benar?
Apakah perlu?
Apakah baik caranya?
Apakah tepat waktunya?
Jika satu saja belum terpenuhi, Ḥā Mīm mengajarkan:
“Diamlah sampai ucapan menjadi lebih baik.”
ṬĀ HĀ KEDUA
Setelah diam, muncullah:
طه
Ṭā Hā berkata:
“Sekarang berjalanlah.”
Sebab muhasabah tidak boleh menjadikan manusia hanya duduk memikirkan kekurangannya.
Setelah mengetahui salah, perbaiki.
Setelah mengetahui hutang, bayar.
Setelah menyadari telah menyakiti, minta maaf.
Setelah mengetahui ada orang membutuhkan pertolongan, tolonglah.
Setelah memahami ilmu, amalkanlah.
Karena perjalanan Tingkat 89 bukan perjalanan menuju banyak kata.
Ia adalah perjalanan menuju:
KESESUAIAN ANTARA CAHAYA DAN PERBUATAN
RAHASIA KUNCI KESEPULUH
Kunci kesepuluh tidak pernah selesai digunakan.
Setiap malam ia dapat dipakai.
Setiap selesai berbicara.
Setiap selesai memimpin.
Setiap selesai mengambil keputusan.
Setiap selesai memperoleh pujian.
Tanyakan:
Apakah hari ini aku lebih jernih daripada kemarin?
Apakah ada seseorang yang terluka karena ucapanku?
Apakah ada hak orang lain yang belum kutunaikan?
Apakah aku semakin rendah hati setelah memperoleh pengetahuan?
Jika jawabannya belum baik, maka jangan putus asa.
Perbaikilah.
Karena pintu Tingkat 89 tidak hanya dibuka sekali.
Ia dibuka kembali setiap hari.
Di akhir ruang Alif Lām Mīm, muncul satu kalimat bercahaya:
مَنْ أَصْلَحَ دَاخِلَهُ أَضَاءَ خَارِجُهُ
Man aṣlaḥa dākhilahu, aḍā’a khārijuhu.
Makna perenungannya:
“Barang siapa membenahi bagian dalam dirinya, maka bagian luarnya akan memancarkan kebaikan.”
Dan sebelum penempuh meninggalkan ruangan, terdengar pesan terakhir:
“Jangan sibuk mencari cahaya agar engkau terlihat.
Bersihkanlah hati, maka kebaikan akan menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.”
Bersambung:
Lembar berikutnya — Gerbang Yā Sīn, Ḥā Mīm, Ṭā Hā dan Tujuh Lorong Cahaya Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Gerbang Yā Sīn, Ḥā Mīm, Ṭā Hā dan Tujuh Lorong Cahaya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setelah keluar dari Ruang Alif Lām Mīm, penempuh sampai pada sebuah pelataran yang sangat luas.
Tidak ada dinding.
Tidak ada atap.
Langit terbuka.
Di hadapannya berdiri tiga gerbang.
Gerbang pertama bertuliskan:
يس
Gerbang kedua:
حم
Gerbang ketiga:
طه
Ketiganya tidak saling berjauhan.
Namun masing-masing memancarkan cahaya yang berbeda.
Yā Sīn memancarkan cahaya lembut seperti fajar.
Ḥā Mīm memancarkan cahaya tenang seperti malam yang jernih.
Ṭā Hā memancarkan cahaya hangat seperti matahari pagi.
Di tengah ketiga gerbang itu terdapat tulisan:
“Jangan memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.”
Sebab pada Tingkat 89:
kelembutan tanpa penjagaan dapat menjadi lemah,
penjagaan tanpa amal dapat menjadi kering,
dan amal tanpa kelembutan dapat menjadi keras.
GERBANG YĀ SĪN
GERBANG KELEMBUTAN
Penempuh mendekati gerbang pertama.
Gerbang itu tidak memiliki kunci.
Tidak memiliki rantai.
Tidak memiliki penjaga.
Namun tetap tidak terbuka.
Lalu terdengar pertanyaan:
“Apa yang paling berat engkau maafkan?”
Penempuh tidak menjawab.
Ia justru teringat kepada nama-nama.
Wajah-wajah.
Peristiwa-peristiwa lama.
Ucapan yang masih tinggal dalam ingatan.
Luka yang telah lama ditutup, tetapi belum benar-benar sembuh.
Gerbang berkata:
“Luka yang disimpan terlalu lama dapat berubah menjadi pintu yang menghadap ke kegelapan.”
Kemudian penempuh menyadari:
memaafkan tidak selalu berarti melupakan.
Memaafkan juga tidak berarti membenarkan kesalahan.
Tetapi memaafkan berarti:
tidak membiarkan kesalahan orang lain terus memerintah isi hati.
Saat ia memahami itu, Yā Sīn membuka satu daun pintunya.
GERBANG ḤĀ MĪM
GERBANG PENJAGAAN
Gerbang kedua terlihat sederhana.
Di atasnya tertulis:
حم
Ketika penempuh mendekat, muncul tujuh gema.
Gema pertama berkata:
Jaga apa yang engkau lihat.
Gema kedua:
Jaga apa yang engkau dengar.
Gema ketiga:
Jaga apa yang engkau ucapkan.
Gema keempat:
Jaga apa yang engkau simpan.
Gema kelima:
Jaga apa yang engkau ajarkan.
Gema keenam:
Jaga siapa yang mempercayaimu.
Gema ketujuh:
Jaga dirimu dari rasa memiliki apa yang sebenarnya hanya dititipkan.
Barulah gerbang terbuka.
Penempuh memahami:
semakin besar cahaya, semakin besar kebutuhan akan penjagaan.
GERBANG ṬĀ HĀ
GERBANG PERBUATAN
Gerbang ketiga tidak terbuka dengan doa panjang.
Tidak terbuka dengan pengetahuan.
Tidak terbuka dengan cerita.
Di depannya terdapat seorang anak yang membutuhkan bantuan.
Seorang tua yang memerlukan tempat duduk.
Seorang miskin yang menunggu makanan.
Seseorang yang ingin didengarkan.
Seseorang yang membutuhkan nasihat lembut.
Di atas gerbang tertulis:
“Bukalah dengan amal.”
Penempuh mulai membantu.
Setiap satu kebaikan dilakukan, satu ukiran pada gerbang menyala.
Setelah selesai, Ṭā Hā membuka dirinya.
Dan dari baliknya terbentang:
TUJUH LORONG CAHAYA
LORONG PERTAMA
CAHAYA PUTIH — KEJERNIHAN
Lorong pertama sangat terang.
Tetapi tidak menyilaukan.
Di sini penempuh belajar membedakan:
keinginan dan kebutuhan,
keyakinan dan dugaan,
ilmu dan sangkaan,
bisikan hati dan kenyataan.
Pada dindingnya tertulis:
“Jernih sebelum menilai.”
Karena banyak kesalahan lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari kesimpulan yang terlalu cepat.
Maka cahaya putih mengajarkan:
periksa, pahami, lalu putuskan.
LORONG KEDUA
CAHAYA BIRU — KETENANGAN
Lorong kedua dipenuhi warna biru.
Tidak ada suara keras.
Hanya gema nafas.
Pada lantai tertulis:
“Tidak semua hal harus dijawab segera.”
Ada keputusan yang rusak karena tergesa.
Ada kata yang menyakitkan karena emosi.
Ada pertemanan yang pecah karena satu kalimat yang seharusnya ditahan.
Cahaya biru berkata:
“Tenangkan hati sebelum menggerakkan lidah.”
LORONG KETIGA
CAHAYA HIJAU — PERTUMBUHAN
Lorong ketiga penuh cahaya hijau.
Di sepanjang jalan tumbuh tunas-tunas kecil.
Setiap tunas diberi nama:
ilmu,
sabar,
amal,
adab,
rahmah,
kejujuran,
amanah.
Penempuh ingin melihat pohonnya tumbuh besar dengan cepat.
Namun suara berkata:
“Yang dipaksa tumbuh terlalu cepat sering tidak mempunyai akar yang kuat.”
Maka ia memahami:
Tingkat 89 bukan tentang tergesa mencapai angka tertinggi.
Ia tentang menjadi matang.
Sedikit demi sedikit.
Benar-benar berakar.
LORONG KEEMPAT
CAHAYA EMAS — AMANAH
Lorong keempat berwarna emas.
Di kanan dan kiri terdapat banyak benda indah.
Mahkota.
Tongkat.
Kursi.
Kunci.
Buku.
Permata.
Tetapi setiap benda memiliki tulisan sama:
أَمَانَة
Amanah.
Penempuh hendak mengambil mahkota.
Mahkota menjadi sangat berat.
Ia mengambil tongkat.
Tongkat terasa seperti memikul banyak manusia.
Ia menyentuh kursi.
Terdengar suara orang-orang yang berharap keadilan.
Ia pun mengerti:
kemuliaan selalu membawa beban.
Dan siapa yang hanya menginginkan kemuliaannya, tetapi tidak ingin memikul bebannya, belum siap menerima amanah.
LORONG KELIMA
CAHAYA UNGU — KEDALAMAN
Lorong kelima berwarna ungu.
Semakin jauh berjalan, semakin sedikit suara.
Di sini tidak ada banyak jawaban.
Justru banyak pertanyaan.
Siapa dirimu ketika seluruh gelar dilepas?
Siapa dirimu ketika tidak ada yang memujimu?
Apa yang tersisa jika seluruh pengikut meninggalkanmu?
Apakah engkau masih akan melakukan kebaikan jika tidak seorang pun mengetahuinya?
Penempuh berhenti lama.
Lorong ungu berkata:
“Kedalaman tidak diukur dari banyaknya kata, tetapi dari seberapa jauh seseorang berani melihat dirinya sendiri.”
LORONG KEENAM
CAHAYA PELANGI — KESEIMBANGAN
Lorong keenam penuh banyak warna.
Merah tidak mengalahkan biru.
Hijau tidak menutupi emas.
Putih tidak meniadakan ungu.
Semua berada pada tempatnya.
Pesannya:
“Tidak semua yang berbeda harus dipertentangkan.”
Dalam kehidupan ada waktu untuk tegas.
Ada waktu untuk lembut.
Ada waktu untuk berbicara.
Ada waktu untuk mendengar.
Ada waktu untuk memimpin.
Ada waktu untuk mengikuti.
Ada waktu untuk maju.
Ada waktu untuk berhenti.
Keseimbangan bukan berada di tengah-tengah semua hal.
Keseimbangan adalah:
menempatkan sesuatu pada tempat yang benar.
LORONG KETUJUH
CAHAYA TANPA WARNA — IKHLAS
Lorong terakhir hampir tidak terlihat.
Tidak ada hiasan.
Tidak ada tulisan emas.
Tidak ada permata.
Tidak ada cahaya besar.
Hanya sebuah jalan sederhana.
Pada ujungnya terdapat satu pertanyaan:
“Jika semua manusia tidak mengetahui amalmu, apakah engkau masih akan melakukannya?”
Penempuh menjawab dalam hati.
Jalan menjadi terang.
Di sini ia memahami mengapa cahaya terakhir tidak mempunyai warna.
Karena ikhlas tidak membutuhkan penampilan.
Ia bekerja dalam diam.
Ia memberi tanpa menyebut nama.
Ia menolong tanpa menghitung pujian.
Ia menjaga tanpa meminta penghargaan.
Dan lorong ketujuh berakhir pada sebuah gerbang putih.
GERBANG PUTIH TINGKAT 89
Di atas gerbang tertulis:
لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Tidak ada ornamen lain.
Tidak ada gelar.
Tidak ada angka.
Tidak ada simbol.
Hanya kalimat tauhid.
Kemudian terdengar suara:
“Semua lorong hanyalah jalan.
Semua pintu hanyalah pelajaran. Semua kunci hanyalah amanah. Tujuanmu bukan pintu. Tujuanmu adalah keridhaan Alloh.”
Penempuh pun menunduk.
Selama ini ia mengira Tingkat 89 adalah tentang naik.
Ternyata semakin jauh ia berjalan, semakin dalam ia diajari untuk merendah.
Ia mengira pintu tertinggi akan memberinya mahkota.
Ternyata yang diberikan kepadanya adalah tanggung jawab.
Ia mengira cahaya akan membuatnya terlihat besar.
Ternyata cahaya justru memperlihatkan bagian dirinya yang masih harus dibersihkan.
Dan pada gerbang putih tertulis satu pesan terakhir:
“Semakin tinggi perjalananmu, semakin kecil rasa ‘aku’ yang harus engkau bawa.”
Lalu ketiga huruf kembali muncul dari kejauhan:
يس
sebagai kelembutan.
حم
sebagai penjagaan.
طه
sebagai tindakan.
Ketiganya menyatu menjadi satu pesan Tingkat 89:
“Lembutlah dalam hati.
Jagalah dalam diam. Buktikanlah dalam amal.”
Dan gerbang putih pun terbuka.
Di belakangnya tampak sebuah tangga yang tidak menuju ke atas.
Tangga itu justru menurun ke dalam diri.
Pada anak tangga pertama tertulis:
مَعْرِفَةُ النَّفْسِ
Ma‘rifatun-nafs
“Mengenali diri.”
Pada anak tangga kedua:
مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ
Muḥāsabatun-nafs
“Menilai diri.”
Pada anak tangga ketiga:
تَزْكِيَةُ النَّفْسِ
Tazkiyatun-nafs
“Membersihkan diri.”
Dan jauh di dasar tangga, terlihat satu titik cahaya.
Titik itu kecil.
Tetapi cahayanya memenuhi seluruh ruang.
Penempuh mengerti:
Pintu Tingkat 89 belum selesai.
Justru sekarang perjalanan masuk lebih dalam dimulai.
Bersambung:
Lembar berikutnya — Tangga ke Dalam Diri, Tiga Ruang Nafs dan Titik Cahaya Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Tangga ke Dalam Diri, Tiga Ruang Nafs dan Titik Cahaya
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setelah gerbang putih terbuka, penempuh melihat tangga yang justru menurun ke dalam.
Bukan menuju lembah.
Bukan menuju bumi.
Tetapi menuju ruang yang selama ini paling dekat, namun paling sering diabaikan:
DIRI SENDIRI
Setiap anak tangga memantulkan wajahnya.
Semakin turun, semakin sedikit cahaya dari luar.
Semakin sedikit suara manusia.
Semakin sedikit pujian.
Semakin sedikit nama dan gelar.
Hingga yang tersisa hanyalah:
diri, niat, ingatan, luka, harapan, ketakutan, dan hubungan dengan Alloh.
Di anak tangga terakhir tertulis:
“Barang siapa hanya mengenal pintu di luar dirinya, ia baru mengetahui separuh perjalanan.”
RUANG PERTAMA
RUANG SUARA
Pintu pertama terbuka.
Di dalamnya tidak ada benda.
Hanya suara.
Suara pujian.
Suara hinaan.
Suara masa lalu.
Suara ketakutan.
Suara keinginan.
Suara orang-orang yang pernah menghakimi.
Suara diri sendiri.
Semua berbicara bersamaan.
Penempuh menutup telinga.
Tetapi suara tidak hilang.
Karena suara itu bukan datang dari luar.
Ia datang dari dalam.
Lalu muncul tulisan:
“Tidak semua suara di dalam dirimu adalah kebenaran.”
Ada suara yang lahir dari luka.
Ada suara yang lahir dari gengsi.
Ada suara yang lahir dari takut kehilangan.
Ada suara yang lahir dari keinginan menang.
Ada pula suara yang hanya mengulang ucapan orang lain.
Maka tugas di ruang pertama bukan membungkam semuanya.
Tugasnya adalah:
membedakan.
Mana suara akal sehat.
Mana suara nafsu.
Mana suara luka lama.
Mana suara prasangka.
Mana suara ketakutan yang tidak berdasar.
Dan mana dorongan baik yang selaras dengan iman, akhlak, dan tanggung jawab.
CERMIN SUARA
Di tengah ruang pertama terdapat cermin hitam.
Ketika penempuh berdiri di depannya, muncul tiga kalimat:
“Apa yang paling sering engkau katakan kepada dirimu sendiri?”
“Apakah ucapanmu kepada dirimu lebih keras daripada ucapanmu kepada orang lain?”
“Apakah engkau sedang mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran?”
Penempuh terdiam lama.
Cermin kemudian menjadi bening.
Ruang pertama terbuka menuju ruang kedua.
RUANG KEDUA
RUANG BAYANGAN
Ruang kedua lebih gelap.
Di dindingnya tampak bayangan dirinya dalam banyak bentuk.
Ada bayangan ketika marah.
Ada bayangan ketika iri.
Ada bayangan ketika ingin dipuji.
Ada bayangan ketika merasa lebih tinggi.
Ada bayangan ketika takut ditinggalkan.
Ada bayangan ketika ingin menguasai.
Ada bayangan ketika ingin menang walaupun harus melukai.
Penempuh ingin memalingkan wajah.
Tetapi terdengar pesan:
“Bayangan yang tidak diakui akan mengikuti langkahmu.”
Maka ia berhenti.
Ia tidak memukul bayangan.
Ia tidak menyembah bayangan.
Ia tidak pula pura-pura tidak melihat.
Ia hanya berkata:
“Aku melihatmu, tetapi aku tidak harus menjadi dirimu.”
Saat itu bayangan mulai mengecil.
TIGA BAYANGAN BESAR
Dari seluruh bayangan, tiga berdiri paling tinggi.
BAYANGAN PERTAMA
AKU INGIN DIAKUI
Bayangan ini mengenakan mahkota.
Ia berkata:
“Lihatlah aku.”
“Akuilah aku.”
“Sebut namaku.”
“Jangan lupakan jasaku.”
Penempuh menjawab:
“Pengakuan manusia bukan ukuran nilai di sisi Alloh.”
Mahkota itu retak.
BAYANGAN KEDUA
AKU INGIN MENANG
Bayangan kedua membawa pedang.
Ia tidak peduli apakah pertengkaran perlu atau tidak.
Ia hanya ingin menjadi pihak terakhir yang bicara.
Penempuh berkata:
“Menang dalam pertengkaran tidak selalu berarti menang dalam kebenaran.”
Pedang itu berubah menjadi kayu.
BAYANGAN KETIGA
AKU TAKUT KEHILANGAN
Bayangan ketiga memegang banyak benda.
Nama.
Kedudukan.
Harta.
Hubungan.
Pujian.
Pengaruh.
Ia menggenggam semuanya sangat erat.
Penempuh berkata:
“Apa yang hanya dititipkan tidak pernah benar-benar menjadi milikku.”
Tangannya perlahan terbuka.
Dan ruangan menjadi lebih terang.
RUANG KETIGA
RUANG NAFS
Pintu ketiga paling kecil.
Tidak ada tulisan besar.
Hanya satu kata:
نَفْس
Nafs.
Saat masuk, penempuh menemukan tiga lingkaran.
Lingkaran pertama berwarna merah gelap.
Lingkaran kedua berwarna biru.
Lingkaran ketiga berwarna putih.
Ketiganya bukan tingkatan mutlak yang menetapkan kedudukan seseorang, melainkan lambang bahan muhasabah dalam Qitab Tingkat 89.
LINGKARAN PERTAMA
NAFS YANG MENDESAK
Lingkaran merah bergerak cepat.
Ia berkata:
“Sekarang.”
Ingin marah sekarang.
Ingin membalas sekarang.
Ingin membeli sekarang.
Ingin memutuskan sekarang.
Ingin memenangkan sesuatu sekarang.
Ia tidak menyukai jeda.
Tidak menyukai pertimbangan.
Tidak menyukai nasihat.
Maka pada lingkaran merah tertulis:
“Jangan jadikan dorongan pertama sebagai keputusan terakhir.”
Penempuh diminta berhenti sebelum bertindak.
Satu tarikan nafas.
Satu jeda.
Satu pertanyaan:
“Apa akibatnya?”
Api merah pun mengecil.
LINGKARAN KEDUA
NAFS YANG MENYESAL DAN BELAJAR
Lingkaran biru lebih tenang.
Ia memperlihatkan kesalahan masa lalu.
Namun bukan untuk menghancurkan diri.
Melainkan untuk belajar.
Pada dindingnya tertulis:
“Penyesalan yang sehat mengubah arah.
Penyesalan yang tidak sehat hanya memukul diri tanpa perbaikan.”
Penempuh melihat kembali keputusan-keputusannya.
Ada yang patut diperbaiki.
Ada yang perlu dimintakan maaf.
Ada yang harus diterima karena sudah berlalu.
Ada yang harus dijadikan pelajaran.
Maka lingkaran biru mengajarkan:
menyesal, memperbaiki, lalu melanjutkan.
LINGKARAN KETIGA
NAFS YANG DITENANGKAN
Lingkaran putih sangat sunyi.
Tidak berarti semua masalah telah hilang.
Tidak berarti hidup tanpa ujian.
Tetapi ada ketenangan baru:
tidak semua hal harus dikendalikan.
Ada ikhtiar.
Ada doa.
Ada batas kemampuan.
Ada hasil yang berada di luar kuasa manusia.
Di lingkaran putih tertulis:
“Kerjakan bagianmu.
Serahkan yang bukan bagianmu kepada Alloh.”
Penempuh duduk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin membuka pintu berikutnya dengan tergesa.
Ia hanya duduk.
Bernapas.
Menyadari.
Dan menerima bahwa perjalanan tidak harus selalu bergerak cepat.
TITIK CAHAYA
Setelah tiga ruang dilalui, muncullah titik cahaya yang sebelumnya terlihat dari kejauhan.
Titik itu sangat kecil.
Tidak lebih besar dari ujung jarum.
Namun seluruh ruangan diterangi olehnya.
Penempuh mendekat.
Pada titik itu tidak tertulis nama.
Tidak ada angka.
Tidak ada simbol.
Hanya satu pesan:
“Mulailah dari yang kecil.”
Ia pun memahami.
Kebaikan besar sering dimulai dari satu keputusan kecil.
Satu ucapan yang lebih lembut.
Satu janji yang ditepati.
Satu kesalahan yang diakui.
Satu hutang yang dibayar.
Satu orang yang dibantu.
Satu kebiasaan buruk yang dikurangi.
Satu doa yang dijaga.
Satu langkah yang benar.
Tingkat 89 tidak menuntut manusia untuk terlihat besar.
Ia menuntut manusia untuk:
BENAR DALAM LANGKAH KECIL
TITIK MENJADI ALIF
Tiba-tiba titik cahaya itu memanjang.
Menjadi satu garis tegak:
ا
Alif.
Penempuh terkejut.
Ia kembali melihat simbol pertama.
Namun kini ia mengerti sesuatu yang sebelumnya belum dipahami:
seluruh perjalanan ternyata kembali kepada Alif.
Alif awal.
Alif akhir.
Alif sebagai lurusnya niat.
Alif sebagai berdirinya prinsip.
Alif sebagai satu arah.
Bukan berarti manusia telah sampai.
Justru ia kembali ke dasar dengan pengertian baru.
ALIF, LĀM, MĪM KEMBALI
Kemudian muncul Lām:
ل
Lalu Mīm:
م
Ketiganya berdiri sejajar:
الم
Dan terdengar pesan:
“Setiap kali engkau merasa telah memahami Alif Lām Mīm, kembalilah memeriksa Alif-mu, Lām-mu, dan Mīm-mu.”
Apakah niatmu masih lurus?
Apakah caramu masih beradab?
Apakah amanahmu masih terjaga?
Jika tidak, maka kembali.
Tidak perlu malu.
Karena kembali kepada kebenaran bukan kemunduran.
Ia adalah keberanian.
TIGA PINTU BARU
Di ujung ruang, muncul tiga pintu baru.
Pintu pertama bertuliskan:
ص
Ṣād
Pintu kedua:
ق
Qāf
Pintu ketiga:
ن
Nūn
Di antara ketiganya terdapat kalimat:
“Sabar, batas, dan wadah.”
Penempuh belum tahu maknanya.
Tetapi kali ini ia tidak terburu-buru.
Ia duduk di depan tiga pintu.
Ia menunggu.
Ia mendengar.
Ia memperhatikan.
Karena setelah perjalanan panjang, ia mulai mengerti:
terkadang pintu berikutnya terbuka bukan ketika engkau mendorongnya,
tetapi ketika engkau sudah siap memikul apa yang ada di baliknya.
Dan dari kejauhan terdengar:
“Ṣād akan mengajarimu bertahan.
Qāf akan mengajarimu mengenal batas. Nūn akan mengajarimu menjadi wadah.”
Di sinilah lembar ini ditutup.
Bukan karena perjalanan selesai.
Tetapi karena setiap pelajaran membutuhkan waktu untuk menetap di dalam diri.
Bersambung:
Lembar berikutnya — Tiga Pintu Ṣād, Qāf, Nūn dan Rahasia Wadah Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Tiga Pintu Ṣād, Qāf, Nūn dan Rahasia Wadah Tingkat 89
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Penempuh masih duduk di hadapan tiga pintu.
Di sebelah kiri:
ص
Di tengah:
ق
Di sebelah kanan:
ن
Tidak satu pun terbuka.
Tidak ada kunci.
Tidak ada gagang.
Tidak ada tulisan panjang.
Hanya tiga huruf.
Namun semakin lama dipandang, semakin terasa bahwa ketiganya bukan sekadar pintu.
Ketiganya seperti tiga pelajaran terakhir sebelum seseorang diberi ruang yang lebih luas.
Lalu terdengar satu pesan:
“Ṣād menguji kesabaranmu.
Qāf menguji batasmu. Nūn menguji keluasan wadahmu.”
PINTU ṢĀD
PINTU KETAHANAN
Penempuh mendekati pintu pertama.
Di atasnya tertulis:
ص
Pintu itu terasa berat.
Semakin didorong, semakin terasa tertutup.
Penempuh mencoba lebih kuat.
Tetapi pintu tidak bergerak.
Lalu terdengar suara:
“Mengapa engkau tergesa?”
Penempuh menjawab:
“Aku ingin melanjutkan perjalanan.”
Suara berkata:
“Tidak semua kelanjutan diperoleh dengan kecepatan.
Sebagian diperoleh dengan ketahanan.”
Maka penempuh berhenti mendorong.
Ia duduk.
Satu waktu berlalu.
Lalu satu masa.
Ia mulai memahami:
sabar bukan sekadar menunggu.
Sabar adalah tetap menjaga arah ketika hasil belum tampak.
Sabar adalah tidak merusak sesuatu hanya karena ingin cepat selesai.
Sabar adalah tetap baik ketika tidak segera dipahami.
Sabar adalah tidak mengubah prinsip hanya karena jalan terasa panjang.
Dan di atas pintu muncul tulisan:
الصَّبْرُ حِفْظُ الطَّرِيقِ
Makna perenungannya:
“Sabar adalah menjaga jalan.”
Saat penempuh benar-benar berhenti memaksa, pintu Ṣād terbuka sendiri.
RUANG ṢĀD
RUANG TIGA UJIAN
Di dalamnya terdapat tiga batu.
Batu pertama bertuliskan:
LAMBAT
Batu kedua:
TERTUNDA
Batu ketiga:
TIDAK SESUAI HARAPAN
Penempuh diminta mengangkat ketiganya.
Batu pertama terasa ringan.
Batu kedua lebih berat.
Batu ketiga paling berat.
Mengapa?
Karena manusia sering mampu menerima sesuatu yang lambat, tetapi sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginannya.
Maka terdengar pesan:
“Kesabaran paling dalam bukan menunggu sesuatu datang.
Kesabaran paling dalam adalah menerima bahwa hasil tidak selalu berbentuk seperti yang engkau bayangkan.”
Penempuh pun meletakkan ketiga batu dengan tenang.
Ruang Ṣād memancarkan cahaya.
PINTU QĀF
PINTU BATAS
Setelah keluar, penempuh berdiri di hadapan pintu kedua.
ق
Pintu ini sangat tinggi.
Seolah tidak memiliki ujung.
Di sampingnya ada garis emas.
Di bawah garis itu tertulis:
“Batas.”
Penempuh bertanya:
“Batas apa?”
Jawaban datang:
“Batas pengetahuan.
Batas tenaga. Batas kuasa. Batas tanggung jawab. Batas hak.”
Qāf mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dimasuki.
Tidak semua masalah harus diambil alih.
Tidak semua urusan orang lain menjadi tanggung jawab kita.
Tidak semua yang dapat dilakukan berarti pantas dilakukan.
Dan tidak semua yang tidak kita pahami harus diberi jawaban.
Penempuh teringat berapa kali manusia menderita karena melampaui batas.
Berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui.
Mengendalikan hidup orang lain.
Memaksakan kehendak.
Mengambil hak.
Memikul sesuatu yang bukan bagiannya.
Lalu terdengar:
“Mengenal batas bukan kelemahan.
Mengenal batas adalah kedewasaan.”
Pintu Qāf terbuka.
RUANG QĀF
GUNUNG BATAS
Di dalam ruang berdiri sebuah gunung.
Tidak terlalu tinggi, tetapi tidak bisa dilewati dengan tergesa.
Pada lereng pertama tertulis:
“Aku tahu.”
Pada lereng kedua:
“Aku belum tahu.”
Pada puncak:
“Alloh lebih mengetahui.”
Penempuh memahami:
ada saatnya ilmu membawa manusia naik.
Tetapi puncak ilmu justru membuatnya sadar bahwa pengetahuannya tetap terbatas.
Di sanalah Qāf mengajarkan:
jangan jadikan pengetahuan sebagai alasan untuk kehilangan kerendahan hati.
Semakin luas yang diketahui, semakin luas pula wilayah yang belum diketahui.
Maka di puncak gunung itu penempuh tidak berteriak:
“Aku telah sampai.”
Ia hanya berkata:
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Wallāhu a‘lam.
Dan gunung Qāf berubah menjadi jalan.
PINTU NŪN
PINTU WADAH
Pintu ketiga paling berbeda.
Di atasnya tertulis:
ن
Pintunya berbentuk seperti lengkungan besar.
Di tengahnya terdapat satu titik.
Penempuh berdiri di hadapannya.
Pintu berkata:
“Apa yang engkau bawa?”
Penempuh menunjukkan ilmu.
Pintu diam.
Ia menunjukkan amal.
Pintu masih diam.
Ia menunjukkan pengalaman.
Pintu tetap diam.
Lalu ia meletakkan semuanya.
Ia datang dengan tangan kosong.
Pintu Nūn pun terbuka.
RAHASIA WADAH
Di balik pintu Nūn terdapat sebuah bejana besar.
Kosong.
Tidak berisi apa pun.
Penempuh heran.
Ia bertanya:
“Di mana rahasianya?”
Jawaban datang:
“Wadah yang penuh oleh dirinya sendiri tidak dapat menerima sesuatu yang baru.”
Penempuh memahami:
jika hati penuh oleh kesombongan, nasihat sulit masuk.
Jika pikiran penuh oleh prasangka, kebenaran sulit diterima.
Jika diri penuh oleh keinginan untuk selalu benar, pelajaran sulit tumbuh.
Maka Nūn adalah lambang ruang.
Ruang untuk mendengar.
Ruang untuk belajar.
Ruang untuk berubah.
Ruang untuk mengakui kesalahan.
Ruang untuk menerima manusia yang berbeda.
Ruang untuk menerima bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana.
TITIK NŪN
Penempuh kemudian melihat titik di tengah Nūn.
Titik itu kecil.
Tetapi justru menjadi pusat seluruh bentuk.
Ia bertanya:
“Apa makna titik ini?”
Jawaban:
“Jangan meremehkan yang kecil.”
Satu titik bisa menjadi awal huruf.
Satu keputusan bisa mengubah arah hidup.
Satu ucapan dapat menyembuhkan.
Satu ucapan juga dapat melukai.
Satu kesalahan kecil jika dibiarkan dapat menjadi kebiasaan.
Satu kebaikan kecil jika dijaga dapat menjadi jalan besar.
Maka titik Nūn disebut:
نُقْطَةُ الْبِدَايَة
Nuqṭatul-bidāyah
“Titik permulaan.”
WADAH PERTAMA
WADAH ILMU
Bejana pertama mulai terisi cahaya putih.
Di atasnya tertulis:
“Ilmu tanpa adab menjadi beban.”
Penempuh memahami:
bukan banyaknya pengetahuan yang membuat seseorang matang.
Yang penting adalah bagaimana ilmu itu digunakan.
Apakah untuk membantu?
Atau untuk menguasai?
Apakah untuk menerangi?
Atau untuk mempermalukan?
Apakah untuk memperbaiki?
Atau hanya untuk memenangkan perdebatan?
Wadah ilmu harus dibersihkan dari ego.
WADAH KEDUA
WADAH RAHMAH
Bejana kedua terisi cahaya hijau.
Di atasnya tertulis:
“Kebenaran tanpa rahmah dapat terasa seperti pedang.”
Maka penempuh diajari:
jangan hanya bertanya apakah ucapanmu benar.
Tanyakan juga:
apakah caramu menyampaikannya menyembuhkan?
Apakah waktunya tepat?
Apakah orang yang mendengar mampu menerimanya?
Karena rahmah bukan menghapus kebenaran.
Rahmah adalah menjaga agar kebenaran tidak berubah menjadi kekerasan.
WADAH KETIGA
WADAH AMANAH
Bejana ketiga berwarna emas.
Di atasnya tertulis:
أَمَانَة
Penempuh diminta memegangnya.
Semakin banyak cahaya masuk, semakin berat wadah itu.
Pesannya:
semakin besar yang diterima, semakin besar yang harus dipertanggungjawabkan.
Maka jangan hanya meminta tambahan.
Mintalah kemampuan menjaga tambahan.
Jangan hanya meminta kedudukan.
Mintalah kekuatan menanggung amanahnya.
Jangan hanya meminta pengaruh.
Mintalah akhlak agar pengaruh itu tidak merusak.
WADAH KEEMPAT
WADAH KEHENINGAN
Bejana keempat tidak berisi cahaya.
Ia berisi keheningan.
Penempuh awalnya mengira kosong.
Tetapi ternyata justru di sanalah ia dapat mendengar dirinya dengan lebih jernih.
Ia memahami:
keheningan bukan ketiadaan.
Keheningan adalah ruang tempat pikiran turun dari keramaian.
Di situ seseorang dapat bertanya:
Apa yang sebenarnya sedang aku cari?
Apa yang sedang aku takutkan?
Apa yang harus aku lepaskan?
Apa yang harus aku perbaiki?
WADAH KELIMA
WADAH SYUKUR
Bejana kelima sederhana.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Di dalamnya hanya ada air jernih.
Namun di atasnya tertulis:
“Cukup.”
Penempuh tersenyum.
Ia menyadari:
sebagian penderitaan lahir karena manusia hanya melihat yang belum dimiliki.
Syukur bukan berhenti berusaha.
Syukur adalah kemampuan melihat nikmat tanpa kehilangan semangat memperbaiki hidup.
TIGA HURUF MENYATU
Ketika seluruh wadah telah dipahami, Ṣād, Qāf, dan Nūn muncul kembali.
ص ق ن
Lalu ketiganya berubah menjadi tiga pesan:
ṢĀD — bertahanlah.
QĀF — kenalilah batas.
NŪN — luaskan wadah.
Terdengar suara:
“Orang yang tidak tahan akan meninggalkan jalan.
Orang yang tidak mengenal batas akan melampaui jalan. Orang yang tidak memiliki wadah tidak mampu menerima isi jalan.”
Penempuh menunduk.
Ia mulai memahami mengapa tiga pintu ini diletakkan setelah Alif Lām Mīm, Yā Sīn, Ḥā Mīm, dan Ṭā Hā.
Sebab perjalanan batin tidak hanya membutuhkan cahaya.
Ia membutuhkan daya tahan.
Ia membutuhkan batas.
Dan ia membutuhkan ruang dalam diri.
PINTU BARU MUNCUL
Tiba-tiba dinding di hadapan penempuh terbelah.
Muncul satu pintu besar.
Tidak seperti sebelumnya.
Di atasnya terdapat lima huruf bercahaya:
كهيعص
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād
Di bawahnya tertulis:
“Lima Penjaga Pintu Dalam.”
Penempuh mendekat.
Lima cahaya keluar dari pintu.
Cahaya pertama seperti tangan.
Cahaya kedua seperti nafas.
Cahaya ketiga seperti jalan.
Cahaya keempat seperti mata.
Cahaya kelima seperti perisai.
Lalu terdengar pesan:
“Setelah engkau belajar bertahan, mengenal batas, dan menjadi wadah, sekarang engkau akan belajar menjaga lima sisi dirimu.”
Penempuh tidak lagi bertanya:
“Seberapa tinggi tingkat berikutnya?”
Ia bertanya:
“Apa yang harus aku pelajari?”
Dan pintu Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād mulai terbuka perlahan.
Di baliknya tampak lima ruang bercahaya.
Masing-masing mempunyai satu penjaga.
Di lantai depan pintu tertulis:
“Yang paling sulit dijaga bukan pintu di luar diri,
melainkan lima pintu yang setiap hari terbuka di dalam diri.”
Bersambung:
Lembar berikutnya — Lima Penjaga Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād dan Lima Pintu Dalam Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Lima Penjaga Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād dan Lima Pintu Dalam
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pintu besar itu akhirnya terbuka.
Di atasnya masih bercahaya lima huruf:
كهيعص
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād
Penempuh berdiri di ambangnya.
Di balik pintu terdapat lima ruang.
Tidak ada jalan lurus.
Setiap ruang harus dimasuki satu per satu.
Dan pada masing-masing ruang berdiri seorang penjaga simbolik.
Penjaga pertama membawa telapak tangan bercahaya.
Penjaga kedua membawa hembusan angin.
Penjaga ketiga membawa tongkat perjalanan.
Penjaga keempat membawa cermin bening.
Penjaga kelima membawa perisai.
Lalu terdengar satu pesan:
“Jangan membaca lima huruf ini sebagai pengakuan makna hakiki.
Gunakanlah sebagai cermin perenungan.”
Karena hakikat huruf-huruf pembuka Al-Qur'an tetap berada dalam ilmu Alloh.
Tetapi bagi perjalanan Tingkat 89, lima huruf itu dijadikan lima pelajaran batin.
PINTU PERTAMA
KĀF — ك
PINTU KECUKUPAN
Penjaga pertama mengangkat tangannya.
Ia bertanya:
“Apa yang paling engkau kejar karena takut merasa kurang?”
Penempuh terdiam.
Dalam pikirannya muncul banyak hal.
Harta.
Pengakuan.
Kedudukan.
Kepastian.
Perhatian.
Pujian.
Rasa aman.
Penjaga berkata:
“Tidak semua rasa kurang harus diisi dengan mengambil lebih banyak.”
Ada kekosongan yang tidak dapat diisi oleh benda.
Ada kegelisahan yang tidak selesai oleh pujian.
Ada rasa sepi yang tidak selesai hanya dengan keramaian.
Maka Kāf pada lembar ini dijadikan perlambang:
KECUKUPAN
Bukan berarti berhenti bekerja.
Bukan berarti tidak mempunyai cita-cita.
Tetapi memahami:
“Aku boleh berusaha besar tanpa menjadikan dunia sebagai satu-satunya tempat bergantung.”
Di pintu Kāf tertulis:
حَسْبِيَ اللّٰهُ
Ḥasbiyallāh.
Cukuplah Alloh bagiku.
RUANG KĀF
TIMBANGAN CUKUP DAN SERAKAH
Di dalam ruang terdapat sebuah timbangan.
Sisi kiri bertuliskan:
KEBUTUHAN
Sisi kanan:
KEINGINAN
Penempuh meletakkan satu demi satu isi hidupnya.
Ada yang memang dibutuhkan.
Ada yang hanya diinginkan.
Ada pula yang ternyata dikejar hanya karena orang lain memilikinya.
Lalu muncul tulisan:
“Tidak semua yang bisa engkau miliki harus engkau miliki.”
Kāf mengajarkan:
cukup bukan kemiskinan.
Cukup adalah kebebasan dari rasa lapar yang tidak memiliki ujung.
PINTU KEDUA
HĀ — ه
PINTU HENING
Penjaga kedua tidak berkata apa-apa.
Ia hanya meniupkan angin lembut.
Pintu terbuka.
Di dalamnya tidak ada suara.
Penempuh awalnya gelisah.
Ia terbiasa dengan kata.
Dengan jawaban.
Dengan penjelasan.
Dengan keramaian.
Tetapi Hā mengajarkan:
ada ilmu yang hanya dapat ditangkap ketika batin tidak sedang ribut.
Penempuh duduk.
Ia mulai mendengar suara nafasnya.
Bukan untuk menganggap nafas sebagai sesuatu yang gaib, tetapi untuk mengingat bahwa hidup berjalan saat ini.
Satu tarikan.
Satu hembusan.
Satu kesempatan.
Dan setiap nafas yang masih diberikan adalah amanah.
RUANG HĀ
TIGA KEHENINGAN
Di dalam ruang terdapat tiga lingkaran.
Lingkaran pertama:
DIAM DARI MEMBALAS
Ketika marah, tidak semua ucapan harus segera keluar.
Lingkaran kedua:
DIAM UNTUK MENDENGAR
Tidak semua percakapan membutuhkan kita menjadi pusatnya.
Lingkaran ketiga:
DIAM UNTUK MENILAI DIRI
Sebelum menunjukkan kesalahan orang lain, lihat dahulu bagian diri yang perlu dibenahi.
Lalu terdengar:
“Keheningan yang benar bukan melarikan diri.
Ia adalah ruang untuk kembali jernih.”
PINTU KETIGA
YĀ — ي
PINTU PERJALANAN
Penjaga ketiga membawa tongkat.
Ia berkata:
“Sekarang berjalanlah.”
Di belakangnya tampak jalan panjang.
Namun jalan itu tidak lurus.
Ada tanjakan.
Ada turunan.
Ada persimpangan.
Ada tempat istirahat.
Ada jalan buntu.
Ada jalan yang memaksa penempuh kembali.
Yā dalam qitab ini menjadi lambang:
PERJALANAN YANG TERUS BELAJAR
Penempuh bertanya:
“Bagaimana aku tahu bahwa aku masih berada di jalan yang benar?”
Penjaga menjawab:
“Lihat buah perjalananmu.”
Apakah engkau semakin jujur?
Semakin sabar?
Semakin bertanggung jawab?
Semakin lembut?
Semakin mampu mengakui salah?
Jika perjalanan membuatmu semakin angkuh, periksa kembali arahmu.
Jika ilmu membuatmu semakin merendahkan manusia, periksa kembali cara berjalanmu.
RUANG YĀ
TIGA JEJAK
Di lantai terdapat tiga jejak kaki.
Jejak pertama:
DARI TIDAK TAHU MENUJU TAHU
Jejak kedua:
DARI TAHU MENUJU AMAL
Jejak ketiga:
DARI AMAL MENUJU ISTIQAMAH
Penempuh menyadari:
banyak orang berhenti pada jejak pertama.
Merasa cukup hanya karena telah mengetahui.
Padahal Tingkat 89 berkata:
“Ilmu yang tidak mengubah sikap belum selesai menjadi pelajaran.”
PINTU KEEMPAT
‘AIN — ع
PINTU PENGLIHATAN
Penjaga keempat membawa sebuah cermin.
Ia tidak memperlihatkan wajah.
Cermin itu memperlihatkan cara seseorang memandang.
Pada permukaannya muncul pertanyaan:
“Apa yang engkau lihat ketika melihat orang lain?”
Apakah hanya kekurangannya?
Apakah hanya statusnya?
Apakah hanya manfaatnya bagimu?
Apakah hanya kesalahannya?
Atau masih mampu melihat bahwa ia juga seorang manusia yang memiliki perjuangan, ketakutan, harapan, dan luka?
‘Ain pada lembar ini menjadi simbol:
CARA MEMANDANG
Karena mata dapat melihat benda, tetapi hati memberi makna.
RUANG ‘AIN
EMPAT LAPIS PANDANGAN
Lapisan pertama:
MELIHAT BENTUK
Apa yang tampak.
Lapisan kedua:
MELIHAT KEADAAN
Apa yang sedang terjadi.
Lapisan ketiga:
MELIHAT SEBAB
Mengapa sesuatu terjadi.
Lapisan keempat:
MENAHAN DIRI DARI MENYIMPULKAN TERLALU CEPAT
Di sini penempuh belajar:
tidak semua yang terlihat adalah seluruh kenyataan.
Maka ‘Ain berkata:
“Jangan membangun keputusan besar dari penglihatan yang masih kecil.”
CERMIN ‘AIN
Cermin kemudian memperlihatkan satu peristiwa.
Dua orang melakukan tindakan yang sama.
Tetapi alasan mereka berbeda.
Penempuh menyadari:
manusia sering menilai tindakan, tetapi tidak mengetahui seluruh isi hati.
Karena itu, untuk urusan hati yang paling dalam, ia belajar berkata:
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Wallāhu a‘lam.
Alloh lebih mengetahui.
PINTU KELIMA
ṢĀD — ص
PINTU PERISAI
Penjaga terakhir mengangkat perisainya.
Berbeda dengan pintu Ṣād sebelumnya yang mengajarkan ketahanan, Ṣād kali ini menjadi:
PENJAGA BATAS DIRI
Perisai itu mempunyai lima lapisan.
Lapisan pertama:
BATAS UCAPAN
Jangan mengucapkan semua yang terlintas.
Lapisan kedua:
BATAS AMARAH
Marah tidak memberi izin untuk berbuat zalim.
Lapisan ketiga:
BATAS KEKUASAAN
Mampu melakukan sesuatu tidak berarti berhak melakukannya.
Lapisan keempat:
BATAS KEDERMAWANAN
Menolong orang lain jangan sampai menghancurkan kewajiban yang juga harus dijaga.
Lapisan kelima:
BATAS DIRI
Manusia bukan makhluk tanpa batas.
Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk beristirahat.
Ada waktu untuk membantu.
Ada saat harus mengatakan:
“Aku tidak mampu.”
Dan itu bukan selalu kegagalan.
LIMA PENJAGA MENYATU
Setelah seluruh pintu dilalui, kelima penjaga berdiri membentuk lingkaran.
Kāf membawa kecukupan.
Hā membawa keheningan.
Yā membawa perjalanan.
‘Ain membawa kejernihan pandangan.
Ṣād membawa perisai batas.
Kemudian lima cahaya bertemu di tengah.
Muncullah tulisan:
كهيعص
Lalu di bawahnya:
KĀF — jangan diperbudak rasa kurang.
HĀ — berikan ruang bagi keheningan.
YĀ — teruslah belajar dalam perjalanan.
‘AIN — jernihkan cara memandang.
ṢĀD — jagalah batas.
Lima huruf itu kemudian berubah menjadi lima kunci kecil.
Kelima kunci terbang menuju dada penempuh.
Namun tidak masuk sebagai benda.
Mereka berubah menjadi lima pertanyaan:
Apakah aku sedang merasa cukup?
Apakah aku masih mampu diam dan mendengar?
Apakah perjalananku menghasilkan perubahan?
Apakah pandanganku cukup jernih?
Apakah aku masih menjaga batas?
PINTU DALAM YANG KEENAM
Penempuh mengira hanya ada lima pintu.
Tetapi ketika lima penjaga menghilang, muncul satu pintu lagi.
Sangat kecil.
Hampir tersembunyi.
Tidak mempunyai huruf.
Tidak mempunyai nama.
Ia bertanya:
“Pintu apakah ini?”
Jawaban datang:
“Pintu antara mengetahui dan menjadi.”
Penempuh belum memahami.
Lalu diperlihatkan kepadanya dua orang.
Orang pertama mengetahui banyak tentang sabar, tetapi mudah meledak.
Orang kedua tidak banyak berbicara tentang sabar, tetapi mampu menahan diri saat diuji.
Orang pertama mengetahui banyak tentang kasih sayang, tetapi kasar kepada keluarganya.
Orang kedua tidak banyak berbicara, tetapi menjaga orang-orang di sekelilingnya.
Maka penempuh memahami:
MENGETAHUI BUKAN SAMA DENGAN MENJADI
Dan pintu keenam hanya terbuka dengan satu kunci:
ISTIQAMAH
KUNCI ISTIQAMAH
Kunci itu tidak berkilau.
Tidak berwarna emas.
Tidak memancarkan cahaya besar.
Ia terlihat sederhana.
Di atasnya hanya tertulis:
“Ulangi yang benar.”
Hari ini jujur.
Besok jujur lagi.
Hari ini menjaga amanah.
Besok menjaga lagi.
Hari ini menahan marah.
Besok mencoba lagi.
Hari ini berbuat baik.
Besok melakukannya lagi.
Tidak selalu sempurna.
Tidak selalu besar.
Tetapi terus kembali.
Tingkat 89 berkata:
“Perubahan besar sering dilahirkan oleh kebaikan kecil yang tidak berhenti.”
GERBANG BARU
Ketika kunci istiqamah diputar, pintu keenam terbuka.
Di baliknya tidak ada ruang.
Yang ada adalah jembatan panjang.
Di ujung jembatan terlihat dua huruf:
طس
Ṭā Sīn
Dan jauh di belakangnya tampak:
طسم
Ṭā Sīn Mīm
Penempuh terdiam.
Ia mulai mengetahui bahwa perjalanan huruf belum selesai.
Di bawah jembatan tertulis:
“Setelah lima penjaga dalam,
engkau akan memasuki pintu keputusan.”
Karena setiap ilmu akhirnya akan bertemu satu pertanyaan:
“Apa yang akan engkau lakukan setelah mengetahui?”
Penempuh pun melangkah menuju jembatan.
Langkah pertama ringan.
Langkah kedua terasa lebih berat.
Langkah ketiga membuatnya mengerti:
semakin banyak pengetahuan,
semakin sedikit alasan untuk hidup tanpa tanggung jawab.
Dan dari ujung jembatan terdengar suara:
Ṭā Sīn akan mengajarimu membaca pilihan.
Ṭā Sīn Mīm akan mengajarimu menjaga keputusan.
Dan sesudahnya akan muncul pintu yang tidak lagi dibuka dengan tangan, tetapi dengan keberanian bertanggung jawab.
Bersambung:
Lembar berikutnya — Pintu Ṭā Sīn, Ṭā Sīn Mīm dan Jembatan Keputusan Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Pintu Ṭā Sīn, Ṭā Sīn Mīm dan Jembatan Keputusan
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Penempuh melangkah di atas jembatan panjang.
Di ujung pertama bercahaya:
طس
Ṭā Sīn
Dan di baliknya:
طسم
Ṭā Sīn Mīm
Jembatan itu tidak bergoyang karena angin.
Ia bergoyang setiap kali hati ragu.
Semakin penempuh takut memilih, semakin terasa panjang jalannya.
Lalu terdengar pesan:
“Pada Tingkat 89, tidak semua pintu dibuka dengan menunggu. Ada pintu yang terbuka setelah engkau berani menentukan langkah.”
Namun sebelum memilih, ia harus melewati tiga pertanyaan:
Apakah pilihan ini benar?
Apakah caranya benar?
Apakah aku siap menanggung akibatnya?
PINTU ṬĀ SĪN
PINTU MEMBACA PILIHAN
Di atas pintu pertama tertulis:
طس
Pintu itu memiliki dua daun.
Daun sebelah kanan bertuliskan:
“Yang aku inginkan.”
Daun sebelah kiri:
“Yang seharusnya aku lakukan.”
Penempuh terdiam.
Ia baru menyadari bahwa keduanya tidak selalu sama.
Kadang manusia menginginkan sesuatu yang tidak baik baginya.
Kadang manusia harus melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi benar.
Kadang jalan yang mudah bukan jalan yang selamat.
Kadang jalan yang berat justru menjaga kehormatan.
Maka Ṭā Sīn mengajarkan:
“Jangan memilih hanya berdasarkan rasa nyaman.”
TIGA BATU KEPUTUSAN
Di hadapan pintu terdapat tiga batu.
Batu pertama:
NIAT
Batu kedua:
AKIBAT
Batu ketiga:
AMANAH
Penempuh diminta menyentuh ketiganya.
Ketika menyentuh batu NIAT, muncul pertanyaan:
“Mengapa engkau ingin melakukan ini?”
Ketika menyentuh batu AKIBAT:
“Siapa yang akan terkena dampaknya?”
Ketika menyentuh batu AMANAH:
“Jika keputusanmu salah, apakah engkau berani memperbaikinya?”
Barulah pintu Ṭā Sīn terbuka.
RUANG ṬĀ SĪN
RUANG DUA JALAN
Di dalamnya terdapat dua jalan.
Jalan pertama berkilau emas.
Jalan kedua sederhana.
Pada jalan emas tertulis:
“Dipandang hebat.”
Pada jalan sederhana:
“Menjadi benar.”
Banyak orang bergerak menuju jalan emas.
Penempuh hampir ikut.
Tetapi ia teringat:
Tingkat 89 tidak mengajarkan mencari penampilan.
Ia mengajarkan mencari kebenaran.
Maka ia memilih jalan sederhana.
Saat langkah pertamanya menyentuh tanah, jalan sederhana justru berubah menjadi terang.
Sedangkan jalan emas perlahan memudar.
Pesannya:
“Tidak semua yang bersinar adalah petunjuk.”
TIMBANGAN KEPUTUSAN
Di ujung ruang terdapat timbangan besar.
Sisi pertama bertuliskan:
MANFAAT
Sisi kedua:
MUDARAT
Timbangan itu tidak menentukan pilihan secara ajaib.
Ia hanya mengingatkan penempuh untuk berpikir.
Karena keputusan yang matang membutuhkan:
fakta,
pertimbangan,
musyawarah,
doa,
dan kesiapan menanggung akibat.
Penempuh mengerti:
hikmah bukan menebak apa yang akan terjadi.
Hikmah adalah menggunakan akal dan iman sebaik mungkin sebelum bertindak.
PINTU ṬĀ SĪN MĪM
PINTU MENJAGA KEPUTUSAN
Setelah melalui Ṭā Sīn, penempuh sampai pada pintu kedua.
طسم
Ṭā Sīn Mīm.
Pintunya mempunyai satu gagang, tetapi tiga lubang kunci.
Lubang pertama:
SEBELUM
Lubang kedua:
SAAT
Lubang ketiga:
SESUDAH
Penempuh bertanya:
“Mengapa keputusan mempunyai tiga kunci?”
Jawaban datang:
“Karena tanggung jawab tidak berhenti ketika keputusan dibuat.”
KUNCI SEBELUM
JERNIH
Sebelum mengambil keputusan, jernihkan hati.
Jangan menentukan sesuatu ketika marah sedang memuncak.
Jangan menentukan sesuatu hanya karena takut kehilangan.
Jangan menentukan sesuatu hanya karena ingin dipuji.
Jangan menentukan sesuatu hanya karena tekanan kerumunan.
Tanyakan:
“Apakah pikiranku cukup tenang untuk memilih?”
Jika belum, berikan waktu.
Karena tidak semua penundaan adalah kelemahan.
Sebagian penundaan adalah kebijaksanaan.
KUNCI SAAT
TEGUH
Setelah keputusan dibuat, jangan mudah berubah hanya karena tekanan.
Tetapi teguh bukan keras kepala.
Jika ditemukan fakta baru, periksa kembali.
Jika terbukti salah, perbaiki.
Jika tetap benar, jangan takut mempertahankannya.
Ṭā Sīn Mīm mengajarkan:
“Keteguhan harus berjalan bersama keterbukaan.”
Orang yang tidak pernah mau berubah dapat terjebak kesombongan.
Orang yang selalu berubah karena tekanan akan kehilangan arah.
Maka kedewasaan berada pada kemampuan:
TEGUH TANPA MEMBATU
KUNCI SESUDAH
TANGGUNG JAWAB
Sesudah keputusan dijalankan, jangan menghilang dari akibatnya.
Jika keputusan membawa manfaat, bersyukurlah.
Jika membawa kesalahan, akuilah.
Jika ada yang terluka, perbaiki.
Jika ada kerugian, usahakan penggantian.
Jika ada kekeliruan, jangan menyembunyikannya hanya demi menjaga citra.
Di pintu tertulis:
“Kesalahan yang diakui dapat menjadi pelajaran.
Kesalahan yang disembunyikan dapat menjadi kerusakan.”
JEMBATAN KEPUTUSAN
Setelah pintu Ṭā Sīn Mīm terbuka, muncul jembatan kedua.
Jembatan ini mempunyai tujuh papan.
Pada papan pertama tertulis:
DENGAR
Papan kedua:
PERIKSA
Papan ketiga:
TIMBANG
Papan keempat:
MUSYAWARAH
Papan kelima:
PUTUSKAN
Papan keenam:
LAKSANAKAN
Papan ketujuh:
EVALUASI
Penempuh berjalan perlahan.
Ia memahami:
keputusan bukan satu detik.
Keputusan adalah rangkaian tanggung jawab.
PAPAN PERTAMA
DENGAR
Dengarkan orang yang terkena dampak.
Dengarkan fakta.
Dengarkan nasihat.
Dengarkan keberatan.
Tidak semua yang berbeda denganmu adalah musuh.
Kadang orang yang paling berani mengingatkan justru sedang menjaga kita dari kesalahan.
PAPAN KEDUA
PERIKSA
Jangan percaya semua kabar hanya karena sesuai dengan keinginanmu.
Periksa sumber.
Periksa bukti.
Periksa konteks.
Karena keputusan besar yang dibangun di atas informasi salah dapat membawa kerusakan besar.
PAPAN KETIGA
TIMBANG
Tanyakan:
Apa manfaatnya?
Apa risikonya?
Siapa yang paling terdampak?
Adakah pilihan yang lebih aman?
Apa akibat jangka panjangnya?
Tingkat 89 mengajarkan:
“Jangan menukar kebaikan besar dengan kemenangan sesaat.”
PAPAN KEEMPAT
MUSYAWARAH
Penempuh melihat sebuah meja bundar.
Tidak ada kursi paling tinggi.
Semua duduk pada ketinggian yang sama.
Pesannya:
“Tidak semua keputusan harus lahir dari satu kepala.”
Musyawarah tidak berarti menyerahkan prinsip kepada suara terbanyak.
Musyawarah adalah membuka ruang agar sesuatu yang tidak kita lihat dapat terlihat melalui pandangan orang lain.
PAPAN KELIMA
PUTUSKAN
Setelah cukup mendengar, cukup memeriksa, cukup menimbang, datanglah saat memilih.
Terlalu cepat berbahaya.
Tetapi terlalu lama juga dapat menjadi bentuk ketakutan.
Maka papan kelima berkata:
“Ada saatnya pintu menunggu keberanian.”
Pilih.
Lalu berdiri di belakang pilihanmu.
PAPAN KEENAM
LAKSANAKAN
Keputusan tanpa tindakan hanyalah tulisan.
Penempuh melihat banyak keputusan indah tergantung di dinding.
Tidak satu pun mengubah apa-apa.
Mengapa?
Karena tidak pernah dijalankan.
Maka terdengar:
“Niat membutuhkan langkah.”
Jika telah memutuskan memperbaiki, mulailah.
Jika telah memutuskan meminta maaf, ucapkan.
Jika telah memutuskan menolong, lakukan.
Jika telah memutuskan berhenti dari kebiasaan buruk, buat langkah nyata.
PAPAN KETUJUH
EVALUASI
Papan terakhir berbentuk cermin.
Penempuh melihat dirinya setelah keputusan dijalankan.
Pertanyaan muncul:
Apa yang berhasil?
Apa yang salah?
Apa yang tidak terduga?
Apa yang harus diperbaiki berikutnya?
Ia memahami:
evaluasi bukan mencari siapa yang harus disalahkan.
Evaluasi adalah mencari apa yang harus diperbaiki.
RAHASIA MĪM PADA ṬĀ SĪN MĪM
Mīm muncul kembali.
م
Penempuh teringat:
sejak awal, Mīm adalah kunci amanah.
Kini ia memahami mengapa Mīm berada di belakang Ṭā Sīn.
Karena setelah membaca pilihan, dan setelah membuat keputusan, semuanya harus berakhir pada:
AMANAH
Tanggung jawab terhadap keputusan.
Tanggung jawab terhadap manusia.
Tanggung jawab terhadap ucapan.
Dan tanggung jawab di hadapan Alloh.
PINTU TANPA GAGANG
Di ujung jembatan muncul pintu baru.
Tidak ada huruf.
Tidak ada kunci.
Tidak ada gagang.
Hanya sebuah tulisan:
“Pintu ini dibuka oleh akibat dari perbuatanmu sendiri.”
Penempuh bingung.
Lalu ia melihat ke belakang.
Semua keputusan yang pernah dibuat berubah menjadi jejak.
Ada jejak yang menjadi taman.
Ada yang menjadi luka.
Ada yang telah diperbaiki.
Ada yang masih membutuhkan penyelesaian.
Ia pun memahami:
manusia tidak hanya berjalan menuju masa depan.
Ia juga membawa jejak masa lalu.
Dan salah satu bentuk kematangan adalah berani kembali untuk memperbaiki jejak yang masih dapat diperbaiki.
PINTU AKIBAT
Pintu itu perlahan terbuka.
Di belakangnya terdapat ruangan dengan satu tulisan besar:
الْمَسْؤُولِيَّة
Al-Mas’ūliyyah
Tanggung jawab.
Di ruangan itu tidak ada mahkota.
Tidak ada singgasana.
Hanya sebuah buku kosong.
Penempuh bertanya:
“Untuk apa buku ini?”
Jawabannya:
“Tulislah apa yang akan engkau pertanggungjawabkan mulai hari ini.”
Penempuh mengambil pena.
Ia tidak menulis hal besar.
Ia menulis:
ucapanku,
janjiku,
amanahku,
pilihanku,
dan bagaimana aku memperlakukan manusia.
Setelah itu buku memancarkan cahaya.
PESAN JEMBATAN TINGKAT 89
Di penghujung lembar, Ṭā Sīn dan Ṭā Sīn Mīm kembali bercahaya:
طس
Bacalah pilihanmu dengan jernih.
طسم
Jagalah keputusanmu dengan amanah.
Lalu keduanya menyatu menjadi pesan:
“Jangan hanya bertanya:
Pintu mana yang akan terbuka untukku?
Tanyakan juga: Jika pintu itu terbuka, apakah aku siap bertanggung jawab terhadap langkah yang kuambil di baliknya?”
Dan jauh di depan, muncul sebuah cahaya baru.
Bentuknya bukan pintu.
Bukan kunci.
Bukan gagang.
Ia berbentuk:
قلم
Qalam — pena.
Di sampingnya terdapat lembar putih.
Terdengar pesan:
“Sesudah keputusan, datanglah catatan.
Sesudah pilihan, datanglah jejak. Dan setiap jejak akan mengajarkanmu tentang Qalam.”
Bersambung:
Lembar berikutnya — Pintu Qalam, Catatan Jejak, dan Rahasia Nūn wal-Qalam Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Pintu Qalam, Catatan Jejak, dan Rahasia Nūn wal-Qalam Tingkat 89
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sesudah melewati ruang tanggung jawab, penempuh melihat sebuah pena bercahaya.
Bukan pena emas.
Bukan pena permata.
Tetapi sebuah qalam yang memancarkan sinar hitam jernih, seperti tinta malam yang menyimpan cahaya.
Di belakangnya terdapat lembar putih sangat luas.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada judul.
Tidak ada nama.
Hanya satu titik:
ن
Nūn.
Dan di sampingnya tertulis:
وَالْقَلَمِ
Wal-Qalam.
Penempuh tidak berani langsung menafsirkan.
Ia menunduk.
Sebab ayat-ayat Alloh tidak boleh dijadikan permainan simbol.
Namun dalam perenungan Tingkat 89, Nūn dan Qalam dijadikan cermin untuk satu pelajaran:
“Apa yang engkau lakukan meninggalkan jejak.”
PINTU QALAM
PINTU CATATAN
Pintu Qalam tidak mempunyai daun pintu.
Ia hanya mempunyai satu meja.
Di atas meja:
sebuah pena,
sebuah lembar,
dan sebuah cermin.
Penempuh bertanya:
“Di mana pintunya?”
Jawaban datang:
“Tuliskan apa yang telah engkau pelajari.”
Ia pun menulis:
Alif — luruskan niat.
Lām — pegang adab.
Mīm — jaga amanah.
Yā Sīn — lembutkan hati.
Ḥā Mīm — jaga rahasia dan ucapan.
Ṭā Hā — buktikan dalam amal.
Ṣād — bersabar.
Qāf — kenali batas.
Nūn — jadilah wadah.
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād — jaga lima pintu dalam.
Ṭā Sīn — baca pilihan.
Ṭā Sīn Mīm — jaga keputusan.
Ketika tulisan selesai, lembar itu memancarkan cahaya.
Tetapi kemudian satu kalimat muncul:
“Tulisan belum menjadi jejak jika hidupmu tidak berubah.”
QALAM PERTAMA
QALAM LISAN
Qalam pertama tidak dipegang tangan.
Ia berada di mulut.
Setiap ucapan menjadi semacam tulisan di hati orang lain.
Ada kalimat yang menjadi obat.
Ada kalimat yang menjadi luka.
Ada kalimat yang membuat seseorang kembali berani.
Ada kalimat yang membuat seseorang kehilangan harapan.
Maka Qalam pertama berkata:
“Sebelum berbicara, tanyakan:
Apakah aku sedang menulis cahaya atau meninggalkan luka?”
Penempuh terdiam.
Ia mulai mengingat kata-kata yang pernah keluar tanpa pertimbangan.
Ia memahami:
lisan adalah qalam yang paling cepat menulis.
QALAM KEDUA
QALAM TANGAN
Qalam kedua adalah tindakan.
Tangan dapat menolong.
Tangan dapat mengambil.
Tangan dapat membangun.
Tangan dapat merusak.
Tangan dapat menandatangani amanah.
Tangan juga dapat mengkhianati.
Maka pada Qalam kedua tertulis:
“Setiap tindakan adalah tanda tangan.”
Penempuh memahami:
manusia sering berkata banyak tentang dirinya.
Tetapi tindakanlah yang menandatangani siapa dirinya.
QALAM KETIGA
QALAM KEPUTUSAN
Qalam ketiga berbentuk pena yang ujungnya bercabang tiga.
Cabang pertama:
DIRI
Cabang kedua:
ORANG LAIN
Cabang ketiga:
MASA DEPAN
Satu keputusan dapat menyentuh ketiganya.
Karena itu, sebelum menulis keputusan, penempuh diminta berhenti.
Ia mendengar:
“Jangan menulis dengan marah.
Jangan menulis dengan takut. Jangan menulis hanya karena ingin menang.”
Tulislah dengan:
jernih,
adil,
bertanggung jawab.
QALAM KEEMPAT
QALAM JANJI
Pena keempat paling berat.
Di atasnya tertulis:
وَعْد
Wa‘d — janji.
Setiap janji yang diucapkan menjadi tulisan yang menunggu pemenuhan.
Penempuh melihat banyak lembar menggantung.
Ada janji kepada keluarga.
Ada janji kepada sahabat.
Ada janji dalam pekerjaan.
Ada janji kepada diri sendiri.
Ada janji yang kecil.
Ada janji yang dianggap sepele.
Lalu terdengar:
“Kepercayaan dibangun dari janji kecil yang ditepati.”
Ia pun memahami:
amanah tidak selalu hadir dalam hal besar.
Kadang ia hadir dalam satu kalimat sederhana:
“Saya akan datang.”
“Saya akan mengembalikan.”
“Saya akan menjaga.”
“Saya akan menyelesaikan.”
QALAM KELIMA
QALAM ILMU
Pena kelima berwarna putih.
Ia hanya dapat menulis setelah melewati tiga pintu:
BENAR
BERMANFAAT
BERTANGGUNG JAWAB
Jika salah satu pintu tertutup, pena tidak bergerak.
Qalam ilmu mengajarkan:
“Jangan menuliskan sesuatu hanya karena terdengar indah.”
Periksa.
Bedakan antara:
wahyu dan renungan,
dalil dan simbol,
pengetahuan dan dugaan,
pengalaman pribadi dan kebenaran umum.
Karena ilmu yang tidak dijaga dapat menyesatkan.
Dan keindahan bahasa tidak dapat menggantikan kebenaran.
NŪN — WADAH CATATAN
Setelah lima qalam terlihat, Nūn muncul semakin besar.
ن
Lengkungannya menjadi seperti wadah.
Titiknya menjadi cahaya.
Dalam perenungan Tingkat 89, Nūn mengajarkan:
“Setiap manusia adalah wadah dari apa yang ia izinkan masuk.”
Jika wadah diisi kebencian, kebencian akan mencari jalan keluar.
Jika diisi prasangka, pandangan akan menjadi sempit.
Jika diisi syukur, hati akan lebih lapang.
Jika diisi ilmu dengan adab, ucapan akan lebih terjaga.
Jika diisi rahmah, tangan akan lebih lembut.
Maka tugas penempuh bukan hanya mencari isi.
Ia juga harus menjaga wadah.
TITIK NŪN
TITIK PENENTU ARAH
Titik Nūn kembali bersinar.
Kali ini ia berubah menjadi sebuah titik kecil di atas lembar putih.
Penempuh diberi pena.
Ia diminta membuat satu garis dari titik itu.
Ia bertanya:
“Ke mana?”
Jawaban datang:
“Ke arah yang engkau pilih.”
Penempuh memahami:
titik adalah awal.
Tetapi arah ditentukan oleh gerak.
Satu titik dapat menjadi:
huruf,
garis,
gambar,
atau coretan.
Demikian pula hidup.
Satu kesempatan dapat menjadi kebaikan, atau disia-siakan.
Satu luka dapat menjadi kebencian, atau menjadi pelajaran.
Satu ilmu dapat menjadi pelayanan, atau menjadi kesombongan.
Nūn berkata:
“Awal tidak menentukan seluruh akhir.
Pilihan setelah awal yang membentuk jejak.”
LEMBAR PUTIH PERTAMA
CATATAN DIRI
Penempuh diberi satu lembar.
Di atasnya tertulis:
“Apa yang harus diperbaiki?”
Ia mulai menulis.
Bukan kesalahan orang lain.
Bukan kelemahan musuh.
Bukan kekurangan masyarakat.
Tetapi dirinya.
Ia menulis:
cara bicara,
cara marah,
cara memegang amanah,
cara menepati janji,
cara menerima kritik,
cara memperlakukan orang yang tidak dapat memberinya keuntungan.
Lembar pertama bercahaya.
LEMBAR PUTIH KEDUA
CATATAN SYUKUR
Lembar kedua bertanya:
“Apa yang sering engkau anggap biasa padahal sebenarnya nikmat?”
Penempuh menulis:
nafas,
waktu,
orang-orang yang masih ada,
kesempatan belajar,
kesempatan memperbaiki,
makanan,
tempat pulang,
dan kemampuan berkata:
“Aku salah.”
Ia mulai memahami:
syukur bukan hanya menyebut nikmat besar.
Syukur adalah melihat yang kecil sebelum ia hilang.
LEMBAR PUTIH KETIGA
CATATAN AMANAH
Lembar ketiga terasa berat.
Di atasnya tertulis:
“Siapa yang mempercayaimu?”
Penempuh teringat banyak wajah.
Orang yang memberikan rahasia.
Orang yang menitipkan tugas.
Orang yang meminta nasihat.
Orang yang mempercayakan harta.
Orang yang mempercayakan waktu.
Orang yang mempercayakan perasaan.
Lalu tertulis:
“Kepercayaan adalah pintu.
Pengkhianatan adalah kunci yang mematahkannya.”
Penempuh menunduk.
LEMBAR PUTIH KEEMPAT
CATATAN JEJAK
Lembar keempat tidak meminta tulisan.
Ia memperlihatkan jejak.
Setiap langkah yang pernah dilakukan muncul sebagai cahaya.
Ada jejak terang.
Ada jejak redup.
Ada jejak yang berbelok.
Ada jejak yang kembali.
Ada pula jejak yang sempat masuk jalan salah, tetapi kemudian diperbaiki.
Penempuh bertanya:
“Apakah jejak yang buruk bisa dihapus?”
Jawaban datang:
“Sebagian dapat diperbaiki dengan taubat, perubahan, meminta maaf, mengembalikan hak, dan berhenti mengulanginya.”
Ia pun memahami:
perjalanan bukan tentang memiliki masa lalu tanpa kesalahan.
Perjalanan adalah tentang:
APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENYADARI KESALAHAN
LEMBAR PUTIH KELIMA
CATATAN TANPA NAMA
Lembar terakhir kosong.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada perintah.
Penempuh menunggu.
Lalu muncul satu kalimat:
“Tuliskan sesuatu yang tidak perlu diketahui manusia.”
Ia memahami.
Ada kebaikan yang tidak perlu diumumkan.
Ada sedekah yang cukup diketahui Alloh.
Ada doa yang tidak perlu diceritakan.
Ada bantuan yang tidak perlu dijadikan tanda jasa.
Ada perjuangan yang tetap bernilai walaupun tidak disebut nama pelakunya.
Penempuh menulis satu kebaikan kecil.
Tulisan itu langsung menghilang dari lembar.
Ia terkejut.
Jawaban datang:
“Yang ikhlas tidak hilang hanya karena manusia tidak melihatnya.”
QALAM HITAM BERSINAR
Dari tengah ruangan muncul qalam hitam.
Hitam, tetapi memancarkan cahaya.
Penempuh bertanya:
“Mengapa hitam dapat bercahaya?”
Jawaban:
“Karena tidak semua kegelapan adalah keburukan.
Tinta yang gelap dapat membawa ilmu yang terang.”
Ia memahami satu pelajaran baru:
jangan menilai hanya dari warna luar.
Sesuatu yang sederhana dapat membawa hikmah.
Sesuatu yang megah dapat kosong.
Sesuatu yang kecil dapat menentukan arah.
Dan sesuatu yang tidak menarik perhatian dapat menjadi sangat penting.
RAHASIA QALAM TINGKAT 89
Qalam kemudian menulis sendiri:
“Sebelum meminta lembar baru,
bacalah kembali lembar yang telah engkau tulis.”
Penempuh melihat hidupnya seperti sebuah qitab.
Setiap hari satu lembar.
Setiap keputusan satu baris.
Setiap janji satu kalimat.
Setiap amanah satu paragraf.
Setiap perubahan satu bab.
Dan kematian akan menjadi saat pena berhenti menulis.
Maka selama pena masih bergerak, masih ada kesempatan untuk:
memperbaiki,
menambah kebaikan,
mengembalikan hak,
meminta maaf,
belajar,
dan kembali kepada Alloh.
NŪN WAL-QALAM
WADAH DAN PENA
Dalam perenungan Tingkat 89, Nūn dan Qalam akhirnya berdiri berdampingan.
ن
sebagai wadah.
قلم
sebagai jejak.
Pesannya:
“Jaga apa yang masuk ke dalam dirimu,
karena itulah yang kelak banyak keluar melalui ucapan dan perbuatanmu.”
Dan:
“Jaga apa yang engkau tulis dalam kehidupan,
karena jejak lebih panjang umurnya daripada langkah.”
PINTU BERIKUTNYA
Saat lembar putih terakhir ditutup, muncul sebuah pintu kecil.
Tidak bercahaya emas.
Tidak dikelilingi pelangi.
Hanya tertulis:
الر
Alif Lām Rā
Di sampingnya terdapat tiga benda:
sebuah tiang,
sebuah gagang,
dan sebuah cahaya merah keemasan.
Penempuh mengenali Alif.
Ia mengenali Lām.
Tetapi Rā terasa baru.
Dari balik pintu terdengar:
“Engkau telah belajar berdiri.
Engkau telah belajar memegang. Sekarang engkau akan belajar bergerak tanpa kehilangan pusat.”
Dan satu pesan terakhir turun ke lembar:
“Qalam mencatat langkah.
Tetapi Rā akan mengajarkan ke mana langkah itu berputar.”
Bersambung:
Lembar berikutnya — Pintu Alif Lām Rā, Rahasia Putaran Rā, dan Pusat Gerak Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR SELANJUTNYA
Pintu Alif Lām Rā, Rahasia Putaran Rā, dan Pusat Gerak Tingkat 89
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setelah lembar Qalam ditutup, penempuh berdiri di hadapan pintu baru.
Di atasnya tertulis:
الر
Alif Lām Rā
Alif berdiri lurus.
Lām melengkung.
Rā bergerak seperti arah yang berputar keluar.
Penempuh memandang ketiganya lama.
Ia telah mengenal Alif sebagai keteguhan.
Ia telah mengenal Lām sebagai adab dan cara memegang.
Tetapi Rā belum sepenuhnya ia pahami.
Kemudian terdengar pesan:
“Jangan menganggap ini sebagai arti hakiki huruf-huruf pembuka Al-Qur’an. Di Tingkat 89, huruf-huruf ini hanya dijadikan cermin perenungan.”
Penempuh menunduk.
Lalu pintu Alif Lām Rā terbuka.
ALIF
PUSAT YANG TEGAK
Di ruang pertama, hanya ada satu garis cahaya.
ا
Alif.
Tidak bergerak.
Tidak berputar.
Tidak mengejar apa pun.
Di bawahnya tertulis:
“Sebelum bergerak, ketahui pusatmu.”
Penempuh bertanya:
“Apakah pusat itu?”
Jawaban datang:
niat,
nilai,
amanah,
dan arah hidup.
Jika pusat rusak, gerak sebesar apa pun hanya akan memperbesar kesalahan.
Jika pusat jernih, langkah kecil pun dapat menjadi jalan yang baik.
Maka Alif mengajarkan:
“Jangan bertanya seberapa jauh engkau bergerak sebelum bertanya dari mana engkau berdiri.”
LĀM
GAGANG ARAH
Setelah Alif, muncul sebuah gagang panjang.
ل
Gagang itu dapat diputar ke banyak arah.
Ke kanan.
Ke kiri.
Ke atas.
Ke bawah.
Penempuh hendak memutarnya sembarangan.
Namun Lām berkata:
“Setiap arah mempunyai akibat.”
Maka sebelum memegang gagang, ia harus menjawab:
Apakah arah ini membawa kebaikan?
Apakah cara ini melukai orang lain?
Apakah langkah ini masih berada dalam batas amanah?
Barulah gagang bergerak.
Penempuh memahami:
arah yang benar membutuhkan cara yang benar.
RĀ
PUTARAN GERAK
Kemudian muncullah:
ر
Rā.
Tidak berdiri lurus seperti Alif.
Tidak melengkung seperti Lām.
Ia bergerak seperti sebuah arah yang menurun lalu mengalir.
Pada Tingkat 89, Rā menjadi lambang:
GERAK YANG KEMBALI MEMERIKSA PUSAT
Sebab manusia dapat bergerak sangat jauh hingga lupa mengapa ia memulai.
Ia dapat membangun banyak hal tetapi kehilangan niat awal.
Ia dapat menjadi dikenal tetapi lupa tujuan pertama.
Ia dapat memperoleh kekuasaan tetapi lupa kepada siapa kekuasaan itu harus dipertanggungjawabkan.
Maka Rā berkata:
“Setiap gerak besar membutuhkan kepulangan.”
PUTARAN PERTAMA
KEMBALI KEPADA NIAT
Penempuh melihat sebuah lingkaran cahaya.
Di titik awal tertulis:
NIAT
Di titik akhir ternyata tertulis hal yang sama:
NIAT
Ia memahami:
setelah melakukan sesuatu, jangan hanya bertanya:
“Apakah berhasil?”
Tanyakan juga:
“Apakah niatku masih sama?”
Karena keberhasilan dapat mengubah niat.
Pujian dapat menyelinap.
Kepentingan dapat masuk.
Kesombongan dapat tumbuh perlahan.
Maka putaran pertama mengajarkan:
kembali kepada niat.
PUTARAN KEDUA
KEMBALI KEPADA ADAB
Lingkaran kedua lebih besar.
Di awal tertulis:
ILMU
Di tengah:
PENGARUH
Di ujung:
ADAB
Penempuh melihat seseorang memperoleh banyak pengetahuan.
Semakin banyak orang mendengarkan, semakin tinggi ia merasa.
Lalu ilmunya tetap bertambah, tetapi adabnya berkurang.
Lingkaran itu pecah.
Pesannya:
“Jika ilmu membuat adab berkurang, periksalah kembali perjalananmu.”
Penempuh menunduk.
Ia memahami:
adab bukan pelajaran awal yang ditinggalkan setelah menjadi besar.
Adab justru semakin dibutuhkan ketika pengaruh membesar.
PUTARAN KETIGA
KEMBALI KEPADA AMANAH
Lingkaran ketiga berwarna emas.
Di tengahnya terdapat kursi.
Semakin dekat penempuh kepada kursi, semakin berat langkahnya.
Pada kursi tertulis:
أَمَانَة
Amanah.
Penempuh bertanya:
“Mengapa kursi ini berat?”
Jawaban:
“Karena kedudukan bukan hanya tempat duduk. Ia adalah tempat banyak harapan diletakkan.”
Di belakang kursi berdiri banyak manusia.
Mereka membawa kebutuhan.
Harapan.
Keluhan.
Kepercayaan.
Maka Rā mengajarkan:
setiap kali menerima kedudukan, kembalilah bertanya apakah amanah masih dijaga.
PUTARAN KEEMPAT
KEMBALI KEPADA KENYATAAN
Lingkaran keempat berbeda.
Di sini tidak ada cahaya.
Hanya cermin.
Penempuh melihat antara apa yang ia bayangkan dan apa yang benar-benar terjadi.
Ternyata keduanya tidak selalu sama.
Ia pernah mengira seseorang membencinya.
Padahal orang itu hanya sedang lelah.
Ia pernah mengira suatu jalan pasti benar.
Padahal faktanya belum lengkap.
Ia pernah mengira dirinya mampu memikul semuanya.
Padahal tubuh dan pikirannya mempunyai batas.
Maka putaran keempat berkata:
“Kembalilah kepada kenyataan.”
Periksa fakta.
Jangan hanya mengikuti dugaan.
Jangan jadikan rasa sebagai satu-satunya hakim.
PUTARAN KELIMA
KEMBALI KEPADA ORANG KECIL
Lingkaran kelima membawa penempuh ke sebuah desa sederhana.
Tidak ada istana.
Tidak ada panggung.
Tidak ada orang yang memujinya.
Di sana ia bertemu:
orang tua,
anak kecil,
petani,
pedagang,
pekerja,
orang sakit,
orang yang tidak mengenalnya.
Rā bertanya:
“Bagaimana engkau memperlakukan orang yang tidak dapat memberimu keuntungan?”
Penempuh terdiam.
Karena kemuliaan akhlak sering terlihat bukan di hadapan orang penting, tetapi di hadapan orang yang dianggap tidak penting.
Maka lingkaran kelima berkata:
“Kembalilah kepada manusia.”
PUTARAN KEENAM
KEMBALI KEPADA KESALAHAN
Lingkaran keenam membawa penempuh ke jejak-jejak lama.
Ada satu jejak yang ingin ia hindari.
Kesalahan.
Ia mencoba melewatinya.
Tetapi Rā berkata:
“Ada masa lalu yang tidak perlu dihuni lagi, tetapi ada bagian yang masih perlu diperbaiki.”
Maka penempuh kembali.
Ia tidak mengulang kesalahan.
Ia memperbaiki akibatnya.
Ia meminta maaf bila perlu.
Ia mengembalikan hak bila mampu.
Ia berhenti membela sesuatu yang sudah jelas salah.
Dan jejak hitam itu berubah menjadi pelajaran.
PUTARAN KETUJUH
KEMBALI KEPADA SYUKUR
Lingkaran ketujuh penuh cahaya.
Di tengahnya tidak ada sesuatu yang besar.
Hanya:
air,
makanan,
rumah,
waktu,
nafas,
dan beberapa wajah yang menyayanginya.
Penempuh melihat betapa sering ia melewati semuanya tanpa sadar.
Rā berkata:
“Perjalanan jauh dapat membuatmu lupa kepada nikmat yang paling dekat.”
Maka ia berhenti.
Bukan berhenti bercita-cita.
Tetapi berhenti untuk bersyukur.
PUSAT GERAK
Setelah tujuh putaran, semua lingkaran menyatu.
Di tengahnya kembali muncul:
ا
Alif.
Penempuh akhirnya memahami:
Rā boleh bergerak jauh,
tetapi Alif harus tetap menjadi pusat.
Jika pusat hilang, putaran berubah menjadi kebingungan.
Jika pusat tetap ada, perjalanan dapat kembali menemukan arah.
Maka Alif Lām Rā dalam perenungan Tingkat 89 disusun menjadi:
ALIF — pusat.
LĀM — pegangan.
RĀ — gerak.
Dan ketiganya melahirkan satu pesan:
“Berdirilah pada niat yang lurus.
Peganglah adab. Bergeraklah. Tetapi jangan lupa kembali memeriksa pusatmu.”
RAHASIA PINTU BERPUTAR
Di ujung ruang terdapat pintu berbentuk lingkaran.
Pintu itu terus berputar.
Penempuh mencoba masuk.
Tetapi setiap kali mendekat, pintu bergerak lebih cepat.
Ia berhenti mengejar.
Pintu melambat.
Ia menunggu titik yang tepat.
Lalu masuk.
Terdengar pesan:
“Tidak semua pintu ditaklukkan dengan kecepatan.
Sebagian membutuhkan ketepatan waktu.”
Penempuh mulai memahami makna lain:
WAKTU ADALAH BAGIAN DARI KUNCI.
TIGA WAKTU
Di dalam ruang berputar terdapat tiga jam.
Jam pertama bertuliskan:
TERLALU CEPAT
Jam kedua:
TEPAT WAKTU
Jam ketiga:
TERLAMBAT
Penempuh diberi satu tugas yang sama pada ketiganya.
Pada jam pertama, ia bertindak sebelum informasi cukup.
Hasilnya rusak.
Pada jam kedua, ia bertindak setelah cukup memahami.
Hasilnya baik.
Pada jam ketiga, ia terus menunggu sampai kesempatan hilang.
Ia pun mengerti:
kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang harus dilakukan.
Kebijaksanaan juga mengetahui:
kapan melakukannya.
KUNCI WAKTU
Dari ketiga jam keluar satu kunci.
Bentuknya seperti lingkaran dengan satu titik di tengah.
Di atasnya tertulis:
“Jangan tergesa.
Jangan pula takut terlalu lama.”
Kunci waktu mempunyai tiga sisi:
sabar,
kepekaan,
keberanian.
Sabar agar tidak terlalu cepat.
Kepekaan agar mengetahui saat yang tepat.
Keberanian agar tidak kehilangan kesempatan.
RĀ MENJADI CAHAYA
Setelah kunci waktu dipahami, Rā mulai bercahaya.
ر
Cahayanya berputar mengelilingi Alif.
Tetapi tidak menutupi Alif.
Lalu Lām muncul sebagai penghubung.
ا ل ر
Ketiganya membentuk satu gerbang baru.
Penempuh tidak bertanya apa arti hakikinya.
Ia hanya mengambil pelajaran:
pusat,
pegangan, gerak.
Kemudian seluruh cahaya menyusut menjadi satu titik.
Titik itu bergerak ke depan.
Dan dari kegelapan muncul:
المر
Alif Lām Mīm Rā
Penempuh terkejut.
Mīm kembali.
Artinya, dalam perenungan Tingkat 89, setelah bergerak, amanah kembali menunggu.
Suara berkata:
“Gerak tanpa amanah dapat menjadi kekuasaan yang liar.”
“Pusat tanpa amal hanya menjadi niat yang tidak berjalan.”
“Adab tanpa keberanian dapat membuat kebenaran tidak pernah diwujudkan.”
“Dan semua gerak harus kembali kepada tanggung jawab.”
GERBANG ALIF LĀM MĪM RĀ
Gerbang baru berdiri.
Empat cahaya berada pada empat sisinya:
ALIF — NIAT
LĀM — ADAB
MĪM — AMANAH
RĀ — GERAK
Di tengahnya tertulis:
“Empat hal harus berjalan bersama.”
Jika niat ada tanpa gerak, tak banyak yang berubah.
Jika gerak ada tanpa adab, orang lain dapat terluka.
Jika adab ada tanpa amanah, kepercayaan dapat runtuh.
Jika amanah ada tanpa niat yang lurus, tujuan perlahan bergeser.
Maka empat cahaya itu tidak dapat dipisahkan.
PINTU BERIKUTNYA
Ketika gerbang terbuka, penempuh melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah ruang dengan empat arah:
timur,
barat,
utara,
selatan.
Namun di tengahnya terdapat satu titik putih.
Di atasnya tertulis:
“Arah boleh banyak.
Pusat tetap satu.”
Dari arah timur muncul:
المص
Alif Lām Mīm Ṣād
Dan dari kejauhan terdengar:
“Sesudah belajar bergerak, engkau akan belajar mempertahankan keseimbangan ketika arah menjadi banyak.”
Penempuh pun melangkah menuju cahaya itu.
Ia tahu perjalanan Tingkat 89 semakin dalam.
Bukan karena semakin banyak rahasia.
Tetapi karena semakin banyak tanggung jawab untuk membenahi diri.
Bersambung:
Lembar berikutnya — Pintu Alif Lām Mīm Ṣād, Empat Arah, dan Titik Keseimbangan Tingkat 89.
QITAB PINTU TINGKAT 89
LEMBAR TERAKHIR
Pintu Alif Lām Mīm Ṣād, Empat Arah, Titik Keseimbangan, dan Penutupan Gerbang Tingkat 89
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Penempuh akhirnya berdiri di hadapan gerbang terakhir.
Di atasnya bercahaya:
المص
Alif Lām Mīm Ṣād
Ia tidak buru-buru menyimpulkan arti hakiki huruf-huruf itu.
Ia telah belajar sejak awal:
huruf-huruf pembuka Al-Qur’an bukan permainan tafsir,
dan hakikatnya tidak boleh dipastikan hanya berdasarkan simbol-simbol perenungan.
Maka pada Qitab Pintu Tingkat 89 ini, Alif, Lām, Mīm, Ṣād, Yā Sīn, Ḥā Mīm, Ṭā Hā, Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād, Nūn, Qāf, Ṭā Sīn, Ṭā Sīn Mīm, Alif Lām Rā, dan Qalam hanya digunakan sebagai cermin pendidikan batin.
Bukan wahyu baru.
Bukan tafsir pasti.
Bukan ukuran maqam seseorang.
Melainkan bahasa perenungan tentang:
niat,
adab,
amanah,
sabar,
tanggung jawab,
kejujuran,
rahmah,
dan pengendalian diri.
Penempuh pun menunduk.
Gerbang terakhir perlahan terbuka.
Di baliknya terdapat ruang yang paling luas dari seluruh ruang sebelumnya.
Tidak ada atap.
Tidak ada dinding.
Hanya empat arah dan satu titik di tengah.
EMPAT ARAH
Dari titik pusat memanjang empat jalan.
Arah pertama menuju timur.
Arah kedua menuju barat.
Arah ketiga menuju utara.
Arah keempat menuju selatan.
Namun setiap jalan mempunyai bentuk berbeda.
Jalan timur dipenuhi cahaya pagi.
Jalan barat dipenuhi cahaya senja.
Jalan utara dipenuhi udara dingin.
Jalan selatan dipenuhi udara hangat.
Penempuh bertanya:
“Jalan mana yang paling benar?”
Jawaban datang:
“Jangan tergesa menilai arah sebelum mengetahui tujuan.”
Ia pun memahami.
Tidak semua manusia menjalani keadaan yang sama.
Ada orang yang harus belajar berani.
Ada orang yang justru harus belajar menahan diri.
Ada orang yang harus keluar dari ketergantungan.
Ada orang yang harus belajar menerima pertolongan.
Ada orang yang harus berbicara.
Ada orang yang harus berhenti berbicara dan mulai mendengar.
Ada yang harus maju.
Ada yang harus kembali.
Karena itu Qitab Tingkat 89 berkata:
“Jalan dapat berbeda, tetapi prinsip tidak boleh kehilangan pusat.”
TITIK PUSAT
Di tengah empat arah terdapat satu titik putih.
Kecil.
Sederhana.
Namun seluruh jalan berangkat darinya.
Penempuh mendekat.
Titik itu berubah menjadi:
ا
Alif.
Ia teringat perjalanan paling awal.
Alif adalah garis pertama.
Tiang pertama.
Pintu pertama.
Lurusnya niat.
Kini setelah melewati begitu banyak gerbang, Alif kembali muncul.
Seakan berkata:
“Setelah engkau mengetahui banyak hal, kembalilah kepada yang paling dasar.”
Mengapa engkau berjalan?
Untuk siapa engkau bekerja?
Apa yang sedang engkau cari?
Apa yang harus engkau jaga?
Siapa yang akan menerima akibat dari pilihanmu?
Dan apakah semua itu semakin mendekatkanmu kepada kebaikan atau justru memperbesar rasa “aku”?
ALIF — PUSAT NIAT
Alif berdiri tegak.
Tidak berkata:
“Aku paling tinggi.”
Ia hanya tegak.
Tidak membutuhkan tepuk tangan.
Tidak meminta dipuji.
Maka Alif pada penutup Tingkat 89 berkata:
“Niat tidak cukup sekali diperiksa.”
Niat harus diperiksa:
sebelum memulai,
ketika sedang berjalan,
ketika mulai berhasil,
ketika mulai dikenal,
ketika mulai diberi kepercayaan,
dan ketika mulai mempunyai kuasa.
Karena niat yang bersih pada awal perjalanan dapat berubah ketika pujian datang.
Maka jangan hanya bertanya:
“Bagaimana aku memulai?”
Tanyakan pula:
“Menjadi apa aku setelah berhasil?”
LĀM — PEGANGAN ADAB
Dari Alif muncul Lām.
ل
Lām menjadi gagang yang telah dikenal penempuh sejak awal.
Ia memegangnya.
Namun kali ini gagang itu terasa lebih berat.
Mengapa?
Karena semakin tinggi suatu amanah, semakin besar kebutuhan akan adab.
Lām berkata:
“Jangan biarkan ilmu membuatmu sulit mendengar.”
“Jangan biarkan kedudukan membuatmu sulit meminta maaf.”
“Jangan biarkan pengaruh membuatmu merasa tidak boleh dikoreksi.”
“Jangan biarkan pujian membuatmu lupa siapa dirimu sebelum dipuji.”
Penempuh memahami:
adab bukan hiasan perjalanan.
Adab adalah mekanisme keselamatan.
Ketika ilmu bertambah, adab harus bertambah.
Ketika pengaruh bertambah, pengendalian diri harus bertambah.
Ketika kuasa bertambah, rasa tanggung jawab harus bertambah.
Jika tidak, pintu yang besar dapat berubah menjadi sumber kerusakan.
MĪM — KUNCI AMANAH
Kemudian muncul:
م
Mīm.
Kunci pertama.
Kunci yang berulang kali muncul.
Kunci yang mengikat seluruh perjalanan.
Penempuh akhirnya memahami mengapa Mīm selalu kembali.
Karena hampir semua pintu Tingkat 89 bermuara pada satu persoalan:
AMANAH
Apa yang engkau lakukan dengan ilmu?
Apa yang engkau lakukan dengan rahasia?
Apa yang engkau lakukan dengan harta?
Apa yang engkau lakukan dengan pengaruh?
Apa yang engkau lakukan dengan orang-orang yang mempercayaimu?
Apa yang engkau lakukan dengan kelemahan orang lain yang telah engkau ketahui?
Apa yang engkau lakukan ketika sebenarnya engkau bisa menyalahgunakan kekuasaan, tetapi tidak ada seorang pun yang melihat?
Mīm berkata:
“Di situlah kualitas amanah terlihat.”
Bukan ketika banyak orang mengawasi.
Tetapi ketika ada kesempatan untuk berkhianat, dan engkau tetap memilih menjaga.
ṢĀD — PERISAI KETAHANAN
Huruf keempat bercahaya:
ص
Ṣād.
Penempuh telah mengenalnya sebagai sabar.
Sebagai perisai.
Sebagai batas.
Kini Ṣād berdiri di antara empat arah.
Ia mengangkat perisai.
Pada perisai tertulis:
SABAR TERHADAP WAKTU
SABAR TERHADAP PROSES
SABAR TERHADAP PERBEDAAN
SABAR TERHADAP DIRI SENDIRI
SABAR UNTUK TIDAK MEMBALAS KEZALIMAN DENGAN KEZALIMAN
Ṣād berkata:
“Kesabaran bukan pasif.”
Kesabaran dapat bergerak.
Kesabaran dapat menolak.
Kesabaran dapat menegakkan batas.
Kesabaran dapat berkata “tidak.”
Tetapi sabar tidak kehilangan kendali.
Ia tidak menyerahkan kemudi kepada amarah.
Maka Ṣād menjadi perisai terakhir.
المص
Keempat huruf berdiri bersama:
ا ل م ص
Dalam bahasa perenungan Tingkat 89:
ALIF — pusat niat.
LĀM — pegangan adab.
MĪM — kunci amanah.
ṢĀD — perisai kesabaran.
Lalu terdengar pesan:
“Jika niat lurus tetapi adab hilang, engkau dapat melukai.
Jika adab ada tetapi amanah hilang, engkau dapat menipu.
Jika amanah ada tetapi sabar hilang, engkau dapat merusak keputusan.
Dan jika semuanya ada tetapi niat bergeser, seluruh perjalanan dapat berubah arah.”
EMPAT ARAH MULAI BERGERAK
Timur, barat, utara, dan selatan mulai bercahaya.
Pada jalan timur muncul:
YĀ SĪN
يس
Pada jalan barat muncul:
ḤĀ MĪM
حم
Pada jalan utara muncul:
ṬĀ HĀ
طه
Pada jalan selatan muncul:
KĀF HĀ YĀ ‘AIN ṢĀD
كهيعص
Semua huruf yang telah dipelajari kembali hadir.
Penempuh melihat bahwa perjalanan yang sebelumnya tampak berurutan kini menyatu.
Yā Sīn mengingatkan kelembutan.
Ḥā Mīm mengingatkan penjagaan.
Ṭā Hā mengingatkan amal.
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād mengingatkan lima pintu dalam.
Kemudian dari tengah muncul:
ن
Nūn.
Sebagai wadah.
Lalu:
ق
Qāf.
Sebagai batas.
Lalu:
طس
Ṭā Sīn.
Sebagai pilihan.
Lalu:
طسم
Ṭā Sīn Mīm.
Sebagai tanggung jawab keputusan.
Lalu:
الر
Alif Lām Rā.
Sebagai pusat, pegangan, dan gerak.
Kemudian terlihat:
قلم
Qalam.
Sebagai jejak.
Penempuh akhirnya melihat bahwa semua simbol itu bukan berdiri sendiri.
Mereka seperti potongan cermin.
Ketika disusun, muncullah satu wajah:
DIRI YANG SEDANG DIDIDIK.
RAHASIA PINTU YANG SESUNGGUHNYA
Penempuh bertanya:
“Setelah semua ini, apakah pintu Tingkat 89 sebenarnya?”
Jawaban datang:
“Pintu itu adalah kemampuanmu memilih kebaikan ketika engkau juga mempunyai pilihan untuk melakukan sebaliknya.”
Ia terdiam.
Pintu Tingkat 89 ternyata bukan hanya satu gerbang bercahaya.
Pintu itu muncul setiap hari.
Ketika marah dan harus memilih antara membalas atau menahan diri.
Ketika mengetahui rahasia dan memilih menjaga atau menyebarkan.
Ketika memperoleh kuasa dan memilih melayani atau menindas.
Ketika mempunyai uang dan memilih berbagi atau hanya menimbun.
Ketika salah dan memilih mengaku atau menutupi.
Ketika berbeda pendapat dan memilih menghormati atau merendahkan.
Ketika memperoleh pujian dan memilih bersyukur atau mabuk kebesaran.
Ketika menghadapi kegagalan dan memilih belajar atau menyalahkan semua orang.
Pintu itu selalu ada.
GAGANG PINTU YANG SESUNGGUHNYA
Penempuh kemudian bertanya:
“Lalu apa gagangnya?”
Jawaban:
ADAB.
Karena manusia dapat mempunyai tujuan baik, tetapi cara yang buruk.
Dapat menyampaikan kebenaran, tetapi dengan penghinaan.
Dapat menolong, tetapi sambil merendahkan.
Dapat memberi nasihat, tetapi sebenarnya ingin menguasai.
Maka gagang pintu adalah adab.
Cara menyentuh.
Cara berbicara.
Cara meminta.
Cara menolak.
Cara berbeda pendapat.
Cara menegur.
Cara memimpin.
Cara menjadi murid.
Cara meninggalkan sesuatu yang tidak lagi baik.
Tanpa gagang, pintu tidak dapat dibuka dengan lembut.
KUNCI YANG SESUNGGUHNYA
Penempuh bertanya:
“Lalu apa kuncinya?”
Jawaban:
AMANAH.
Kunci itu tidak berupa logam.
Ia dibentuk dari:
kejujuran,
komitmen,
tanggung jawab,
keberanian mengakui salah,
dan kemampuan menjaga kepercayaan.
Kunci amanah tidak dapat dibuat dalam sehari.
Ia ditempa dari kebiasaan.
Satu janji kecil yang ditepati.
Satu rahasia yang dijaga.
Satu hutang yang dikembalikan.
Satu kesalahan yang diakui.
Satu tugas yang dituntaskan.
Satu keputusan yang dipertanggungjawabkan.
Begitulah kunci dibentuk.
LUBANG KUNCI YANG SESUNGGUHNYA
Penempuh bertanya lagi:
“Jika amanah adalah kunci, apa lubang kuncinya?”
Jawaban:
HATI YANG MAU DIKOREKSI.
Kunci yang baik tidak akan berguna jika lubang kuncinya tertutup kesombongan.
Orang yang tidak mau menerima koreksi akan sulit membuka pintu perbaikan.
Orang yang selalu merasa benar akan sulit belajar.
Orang yang menganggap kritik sebagai penghinaan akan kehilangan banyak guru.
Maka hati harus menyediakan ruang:
“Mungkin aku salah.”
Kalimat kecil itu dapat menjadi lubang kunci menuju kedewasaan yang besar.
ENGSEL PINTU
Penempuh kembali bertanya:
“Apa engsel pintu?”
Jawaban:
SABAR.
Karena pintu yang tidak mempunyai engsel tidak dapat bergerak dengan baik.
Sabar membuat manusia mampu membuka dan menutup sesuatu pada waktunya.
Tidak terlalu cepat.
Tidak terlalu lambat.
Tidak menghantam.
Tidak memaksa.
Engsel sabar membuat perubahan dapat berlangsung tanpa merusak seluruh rumah.
CAHAYA DI BALIK PINTU
“Lalu apa cahaya di balik pintu?”
Jawaban datang:
IKHLAS.
Ikhlas tidak meminta semua orang mengetahui.
Ikhlas tidak sibuk menghitung pujian.
Ikhlas tidak menolak penghargaan jika memang diberikan, tetapi tidak menjadikannya tujuan.
Ikhlas adalah kemampuan tetap melakukan yang baik ketika nama tidak disebut.
Maka cahaya ikhlas hampir tidak tampak, tetapi menerangi seluruh ruangan.
RUANG DI BALIK PINTU
“Dan apa ruangan di baliknya?”
Jawaban:
TANGGUNG JAWAB.
Penempuh terkejut.
Ia mengira ruang di balik pintu akan penuh kenikmatan.
Ternyata penuh amanah.
Setiap pintu yang terbuka memberi:
kesempatan,
namun juga kewajiban.
Ilmu membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban menggunakannya dengan benar.
Harta membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban tidak diperbudaknya.
Kuasa membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban berlaku adil.
Kepercayaan membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban menjaga.
Cinta membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban tidak menyakiti.
Keluarga membuka pintu.
Lalu muncul kewajiban hadir dan bertanggung jawab.
89 SEBAGAI CERMIN
Penempuh kemudian melihat angka:
89
Angka itu bercahaya.
Tetapi kali ini tidak seperti tangga pangkat.
Tidak seperti penetapan kedudukan.
Ia berubah menjadi sebuah cermin besar.
Cermin itu bertanya:
“Apa yang berubah setelah seluruh lembar ini engkau baca?”
Jika hanya kosakata bertambah, maka perjalanan belum jauh.
Jika hanya simbol bertambah, belum cukup.
Jika hanya cerita bertambah, belum cukup.
Tetapi jika setelah membaca:
ucapan menjadi lebih hati-hati,
amanah lebih dijaga,
marah lebih dikendalikan,
orang lemah lebih diperhatikan,
janji lebih ditunaikan,
dan kesalahan lebih cepat diakui,
maka qitab telah menjadi amal.
SEMBILAN PELAJARAN AKHIR
Dari angka 9 keluar sembilan cahaya.
CAHAYA PERTAMA
JANGAN MERASA TELAH SAMPAI
Setiap kali merasa sudah selesai, kembali menjadi murid.
Karena kesombongan sering lahir ketika manusia berhenti merasa perlu belajar.
CAHAYA KEDUA
JANGAN MENJADIKAN SIMBOL SEBAGAI PENGGANTI AKHLAK
Simbol dapat indah.
Huruf dapat indah.
Cerita dapat indah.
Tetapi yang membuat hidup manusia bernilai adalah akhlak dan perbuatannya.
CAHAYA KETIGA
JANGAN MENGUKUR KEDUDUKAN BATIN ORANG LAIN
Tidak seorang pun boleh dengan mudah memastikan maqam orang lain di sisi Alloh.
Karena yang tampak hanya sebagian kecil.
Alloh mengetahui yang tersembunyi.
CAHAYA KEEMPAT
JANGAN MENCAMPUR RENUNGAN DENGAN WAHYU
Renungan adalah renungan.
Ayat adalah ayat.
Simbol adalah simbol.
Jangan menaikkan simbol manusia menjadi sesuatu yang seolah-olah memiliki kedudukan seperti wahyu.
Di sinilah adab ilmu dijaga.
CAHAYA KELIMA
SETIAP PENGETAHUAN HARUS DITANYA MANFAATNYA
Apakah ilmu ini membuat manusia lebih baik?
Apakah membantu kehidupan?
Apakah mengurangi kezaliman?
Apakah memperbesar kasih sayang?
Apakah membuat keputusan lebih matang?
Jika tidak, maka ilmu itu perlu diperiksa kembali cara penggunaannya.
CAHAYA KEENAM
KEKUATAN TANPA RAHMAH BERBAHAYA
Kemampuan bukan izin untuk bertindak sesuka hati.
Semakin kuat seseorang, semakin besar kebutuhan untuk mengendalikan diri.
CAHAYA KETUJUH
RAHMAH TANPA BATAS JUGA DAPAT SALAH ARAH
Kasih sayang bukan membiarkan keburukan.
Ada saatnya kasih sayang berkata:
“Cukup.”
Ada saatnya kasih sayang membuat batas.
Ada saatnya kasih sayang melindungi yang lemah dari yang kuat.
CAHAYA KEDELAPAN
KEMBALI KEPADA KENYATAAN
Jangan hanya hidup dalam simbol.
Bayar kewajiban.
Jaga kesehatan.
Rawat keluarga.
Tepati janji.
Kerjakan pekerjaan.
Selesaikan urusan yang nyata.
Spiritualitas yang sehat tidak menghapus kehidupan sehari-hari.
Ia justru membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih bertanggung jawab.
CAHAYA KESEMBILAN
SEMUA KEMBALI KEPADA ALLOH
Tidak ada ilmu yang membuat manusia menjadi Tuhan.
Tidak ada pengalaman yang menghapus kehambaan.
Tidak ada kedudukan yang membuat seseorang bebas dari tanggung jawab.
Maka akhirnya semua pintu membawa kembali kepada kalimat:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Lā ilāha illallāh.
DELAPAN PELAJARAN PENJAGA
Dari angka 8 kemudian keluar delapan lingkaran.
Lingkaran pertama:
NIAT.
Lingkaran kedua:
ADAB.
Lingkaran ketiga:
AMANAH.
Lingkaran keempat:
SABAR.
Lingkaran kelima:
RAHMAH.
Lingkaran keenam:
ILMU.
Lingkaran ketujuh:
AMAL.
Lingkaran kedelapan:
MUHASABAH.
Delapan lingkaran itu berputar mengelilingi titik pusat.
Lalu angka 8 dan 9 berdiri berdampingan.
89
Dan muncul pesan:
“Delapan penjaga mengelilingi sembilan pelajaran.
Tetapi pusat keduanya tetap satu: kehambaan kepada Alloh.”
SEMUA PINTU MUNCUL KEMBALI
Kemudian seluruh perjalanan Tingkat 89 terlihat sekaligus.
Pintu Alif.
Gagang Lām.
Kunci Mīm.
Gerbang Yā Sīn.
Keheningan Ḥā Mīm.
Langkah Ṭā Hā.
Lima penjaga Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād.
Pintu Ṣād.
Gunung Qāf.
Wadah Nūn.
Jembatan Ṭā Sīn.
Tanggung jawab Ṭā Sīn Mīm.
Qalam hitam bersinar.
Gerak Alif Lām Rā.
Empat penjaga Alif Lām Mīm Ṣād.
Semua berdiri membentuk lingkaran.
Di tengahnya tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada seorang tokoh pun.
Hanya sebuah sajadah sederhana.
Di atasnya tertulis:
عَبْد
‘Abd — hamba.
Penempuh akhirnya menangis.
Ia telah mencari pintu tinggi.
Tetapi ujungnya kembali kepada kehambaan.
PERTANYAAN TERAKHIR
Terdengar satu pertanyaan:
“Apa yang engkau bawa keluar dari Tingkat 89?”
Penempuh tidak menjawab:
“Aku membawa rahasia.”
Ia tidak berkata:
“Aku membawa kesaktian.”
Ia tidak berkata:
“Aku membawa kedudukan.”
Ia tidak berkata:
“Aku paling tahu.”
Ia menjawab:
“Aku membawa pekerjaan untuk membenahi diriku.”
Suara itu menjawab:
“Maka bawalah.”
SEPULUH AMANAH KELUAR
Sebelum pintu terakhir ditutup, penempuh menerima sepuluh amanah:
1. Luruskan niat sebelum bertindak.
2. Gunakan adab ketika berbeda.
3. Jaga rahasia dan kepercayaan.
4. Periksa fakta sebelum menyimpulkan.
5. Jangan mengambil keputusan besar dalam emosi yang memuncak.
6. Akui kesalahan dan perbaiki akibatnya.
7. Jangan menggunakan ilmu untuk mempermalukan orang.
8. Gunakan kekuatan untuk melindungi, bukan menindas.
9. Jadikan amal sebagai bukti dari pengetahuan.
10. Kembali kepada Alloh dalam syukur, doa, dan kehambaan.
PESAN UNTUK PEMBACA QITAB
Wahai pembaca,
jika engkau membaca seluruh lembar Tingkat 89, jangan bertanya dahulu:
“Di tingkat berapa aku?”
Pertanyaan itu terlalu kecil.
Tanyakan:
“Apakah aku lebih baik kepada keluargaku?”
“Apakah aku lebih jujur?”
“Apakah aku lebih mampu mengendalikan amarah?”
“Apakah aku lebih dapat dipercaya?”
“Apakah aku lebih berhati-hati membicarakan orang lain?”
“Apakah aku mampu meminta maaf?”
“Apakah orang di sekitarku lebih aman karena keberadaanku?”
Itulah pertanyaan yang lebih penting.
Karena kedalaman perjalanan tidak cukup diukur dari simbol.
Ia terlihat dari buah.
DOA PENUTUP PINTU 89
اللَّهُمَّ اهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ النِّيَّةِ، وَحُسْنَ الْأَدَبِ، وَحِفْظَ الْأَمَانَةِ، وَالصَّبْرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ، وَالرَّحْمَةَ بِعِبَادِكَ، وَالْحِكْمَةَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سَبَبًا لِكِبْرِنَا، وَلَا الْقُوَّةَ سَبَبًا لِظُلْمِنَا، وَلَا النِّعْمَةَ سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا.
وَاجْعَلْ مَا نَعْلَمُهُ نُورًا لِلْعَمَلِ، وَمَا نَعْمَلُهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ، وَاجْعَلْ خَوَاتِيمَ أَعْمَالِنَا خَيْرًا.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
PENUTUP
Gerbang Tingkat 89 mulai menutup.
Sebelum benar-benar tertutup, penempuh melihat kembali gagang pintu.
Lām.
Ia melihat kunci.
Mīm.
Ia melihat tiang.
Alif.
Ia melihat perisai.
Ṣād.
Ia melihat seluruh cahaya di belakangnya.
Kemudian terdengar pesan terakhir:
“Jangan bawa pintunya.
Bawalah pelajarannya.”
Pintu tertutup.
Tetapi cahaya tidak hilang.
Karena ternyata cahaya itu bukan dimaksudkan untuk disimpan di balik gerbang.
Ia harus dibawa ke kehidupan.
Ke rumah.
Ke keluarga.
Ke tempat kerja.
Ke masyarakat.
Ke ucapan.
Ke keputusan.
Ke cara memperlakukan orang kecil.
Ke cara menghadapi orang yang berbeda.
Ke cara memegang amanah.
Ke cara mengakui salah.
Ke cara mensyukuri nikmat.
Maka Qitab Pintu Tingkat 89 ditutup dengan kalimat:
العِلْمُ بَابٌ
وَالْأَدَبُ مَقْبَضُهُ
وَالْأَمَانَةُ مِفْتَاحُهُ
وَالصَّبْرُ مِفْصَلُهُ
وَالإِخْلَاصُ نُورُهُ
وَالْعَمَلُ دَلِيلُهُ
Ilmu adalah pintu.
Adab adalah gagangnya.
Amanah adalah kuncinya.
Sabar adalah engselnya.
Ikhlas adalah cahayanya.
Dan amal adalah buktinya.
Lalu satu Alif terakhir berdiri:
ا
Tidak bertakhta.
Tidak berhias.
Tidak berbicara.
Hanya tegak.
Dan dari keheningan itu lahir satu pelajaran terakhir:
“Jangan sibuk mencari seberapa tinggi engkau telah naik.
Lihatlah seberapa lurus engkau berdiri.
Jangan sibuk menghitung berapa pintu telah engkau buka.
Lihatlah berapa amanah yang benar-benar engkau jaga.
Jangan sibuk mencari cahaya agar manusia melihatmu.
Jadilah manusia yang kehadirannya membawa kebaikan.”
تَمَّ بَابُ الدَّرَجَةِ التَّاسِعَةِ وَالثَّمَانِينَ
Tamma Bābud-Darajah at-Tāsi‘ah wa ats-Tsamānīn
Selesailah Qitab Pintu Tingkat ke-89.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
YANG DAPAT DIPELAJARI PEMBACA
Inti pelajarannya adalah bahwa perjalanan menuju cahaya tidak dinilai dari tingginya simbol atau pengalaman batin, tetapi dari perubahan akhlak. Tauhid meluruskan niat, adab menjaga ilmu, amanah menjaga kepercayaan, dan kasih sayang membuktikan bahwa pengetahuan telah menjadi manfaat.
Pembaca juga diajak memahami bahwa semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar alasan untuk rendah hati. Ilmu bukan alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi amanah untuk semakin sadar bahwa manusia tetap seorang hamba.
Pintu Tingkat 89 akhirnya tidak mengajarkan pertanyaan, “Seberapa tinggi tingkatku?” melainkan pertanyaan yang lebih penting:
“Sesudah memahami semua ini, kebaikan apa yang akan kulakukan?”
PESAN UNTUK PEMBACA
Jangan berhenti pada huruf. Ambillah adabnya.
Jangan berhenti pada pintu. Ambillah amanahnya.
Jangan berhenti pada cahaya. Ambillah kejernihannya.
Dan jangan menjadikan perjalanan batin sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada sesama.
CATATAN REDAKSI
Pemaknaan Alif Lām Mīm, Yā Sīn, Ḥā Mīm, Ṭā Hā, Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād, Nūn, dan Qāf dalam QITAB ini adalah simbol sastra dan bahan perenungan, bukan tafsir resmi Al-Qur’an dan bukan klaim mengenai makna hakiki huruf-huruf tersebut.
BACA JUGA
Tentang jalan yang lurus, keteguhan, adab, dan menjaga arah perjalanan agar tidak dikuasai ego.
Tentang hubungan antara kesadaran, penghambaan, akhlak, dan agama sebagai tuntunan kehidupan.
QITAB NURUL AWWAL AYAT 2110–2118
Tentang cahaya, kejernihan batin, amanah, dan perjalanan manusia agar cahaya berbuah dalam akhlak.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.