QITAB PIWULANG BASA JAWA

 


Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarakatuh saudara saudari cahayaku

Dalam bahasa Jawa, tingkatan paling halus dan paling tinggi adalah Krama Inggil / Krama Alus, terutama bila dipakai untuk menghormati orang yang lebih tua, guru, raja, mursyid, kiai, atau tamu agung.

Buka QITAB yang dimaksud: QITAB PIWULANG BASA JAWA

Urutan tingkatan bahasa Jawa dari yang paling biasa sampai paling halus:

1. Ngoko Lugu

Bahasa Jawa paling biasa, dipakai kepada teman dekat, anak kecil, atau orang yang sangat akrab.

Contoh:

“Koé arep lunga nang endi?”

Artinya: Kamu mau pergi ke mana?

2. Ngoko Alus

Masih dasar ngoko, tetapi sudah diberi unsur halus untuk menghormati orang yang dibicarakan.

Contoh:

“Panjenengané wis tindak?”

Artinya: Beliau sudah pergi?

3. Krama Lugu

Bahasa sopan tingkat menengah, dipakai kepada orang yang belum terlalu akrab atau dalam suasana resmi ringan.

Contoh:

“Sampeyan badhé tindak pundi?”

Artinya: Anda mau pergi ke mana?

4. Krama Alus / Krama Inggil

Ini tingkat yang paling halus dan paling tinggi. Dipakai untuk menghormati guru, sepuh, tamu agung, raja, kiai, mursyid, atau orang yang sangat dihormati.

Contoh:

“Panjenengan badhé tindak dhateng pundi?”

Artinya: Panjenengan hendak pergi ke mana?

5. Basa Kedhaton / Bagongan

Ini bahasa khusus lingkungan keraton, bukan bahasa umum harian. Biasanya dipakai dalam tradisi keraton tertentu, terutama lingkungan dalam. Sifatnya lebih khusus, bukan sekadar “lebih tinggi” dari Krama Inggil, tetapi bahasa adat keraton.

Jadi ringkasnya:

Ngoko Lugu → Ngoko Alus → Krama Lugu → Krama Alus / Krama Inggil → Basa Kedhaton / Bagongan

Kalau untuk piagam, surat penghormatan, gelar, kedhaton, atau naskah resmi seperti Kedhaton Semar Mbangun Kahyangan, yang paling cocok adalah:

Krama Alus / Krama Inggil, ditambah sentuhan basa sastra Jawa-Kawi bila ingin terasa tua, agung, dan keraton.

Contoh kalimat halusnya:

“Kanthi lumantar serat punika, katuraken pakurmatan dhumateng panjenenganipun ingkang sinuwun, minangka pratandha tresna, bekti, saha pangenget luhur.”

Artinya:

Dengan melalui surat ini, dihaturkan penghormatan kepada beliau yang dimuliakan, sebagai tanda cinta, bakti, dan pengingat luhur.


LEMBAR PERTAMA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Undhak-Usuk Basa, Tatanan Rasa, lan Adab Pangucap

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, bahasa Jawa itu bukan hanya alat bicara, tetapi juga cermin tata rasa.

Di dalamnya ada adab, hormat, unggah-ungguh, kelembutan hati, dan cara menempatkan diri di hadapan orang lain.

Maka barang siapa belajar bahasa Jawa, sesungguhnya ia sedang belajar tiga perkara:

Pertama, ngerti papan

Tahu tempat, tahu suasana, tahu kepada siapa ia berbicara.

Kedua, ngerti rasa

Tidak hanya benar kata-katanya, tetapi juga halus getar batinnya.

Ketiga, ngerti ajining diri

Karena dalam Jawa ada piwulang:

Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.

Harga diri manusia tampak dari tutur katanya, dan kehormatan lahir tampak dari cara membawa diri.

Urutan bahasa Jawa secara dasar adalah:

1. Ngoko Lugu

Bahasa paling biasa. Dipakai untuk teman dekat, anak kecil, atau suasana sangat akrab.

Contoh:

Kowe arep lunga nang endi?

Artinya: Kamu mau pergi ke mana?

2. Ngoko Alus

Masih ngoko, tetapi sudah diberi rasa hormat kepada orang yang dibicarakan.

Contoh:

Panjenengané wis tindak?

Artinya: Beliau sudah pergi?

3. Krama Lugu

Bahasa sopan menengah. Dipakai kepada orang yang belum akrab, orang lebih tua, atau suasana resmi ringan.

Contoh:

Sampeyan badhé tindak pundi?

Artinya: Anda hendak pergi ke mana?

4. Krama Alus / Krama Inggil

Inilah bahasa halus tingkat tinggi. Dipakai untuk guru, kiai, mursyid, tamu agung, orang sepuh, atau yang sangat dihormati.

Contoh:

Panjenengan badhé tindak dhateng pundi?

Artinya: Panjenengan hendak pergi ke mana?

5. Basa Kedhaton / Bagongan

Bahasa khusus lingkungan keraton. Ini bukan bahasa umum harian, tetapi bahasa adat kedhaton, dipakai dalam tata krama tertentu di lingkungan istana.

Maka qitab ini membuka piwulang pertama:

Wong Jawa sing ngerti basa, aja mung pinter ngucap, nanging kudu pinter ngraos.

Orang yang memahami bahasa Jawa jangan hanya pandai berkata, tetapi harus pandai merasa.

Sebab kata yang benar tanpa rasa bisa menjadi kering.

Tetapi kata yang halus dengan rasa bisa menjadi jembatan rahmat, panglipur ati, dan pengikat persaudaraan.

Piwulang inti lembar pertama:

Bahasa rendah bukan berarti hina.

Bahasa tinggi bukan berarti sombong.

Semua bahasa ada tempatnya.

Yang utama adalah tepat unggah-ungguh, tepat rasa, dan tepat adab.

Maka untuk naskah piagam, gelar, surat kehormatan, kedhaton, dan penghormatan kepada guru atau sepuh, yang paling cocok dipakai adalah:

Krama Alus / Krama Inggil

ditambah sentuhan

Sastra Jawa-Kawi

agar terasa tua, agung, dan berwibawa.

Tutup lembar pertama:

Sing sapa njaga basane, bakal kajaga ajining awake.

Sing sapa ngalusake pangucape, bakal dimulyakake rasa batine.

Lan sing sapa nganggo basa kanthi adab, insyaAlloh tuturane dadi cahya, dudu mung swara.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Krama Alus, Basa Kang Ngluhurake Rasa

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, setelah mengenal undhak-usuk basa, maka lembar ini membuka perkara yang lebih dalam, yaitu Krama Alus sebagai bahasa yang bukan hanya sopan di lisan, tetapi juga halus di batin.

Krama Alus itu bukan sekadar mengganti kata biasa menjadi kata halus.

Krama Alus adalah cara merendahkan diri tanpa menghinakan diri, dan cara memuliakan orang lain tanpa menjadikan diri kecil di hadapan makhluk.

Sebab dalam piwulang Jawa, orang yang luhur bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling bisa menjaga tutur katanya.

Krama Alus dipakai untuk:

Guru.

Orang tua.

Kiai.

Mursyid.

Tamu agung.

Pemimpin adat.

Raja atau panembahan.

Orang yang dituakan.

Orang yang ingin kita hormati dengan adab.

Contoh perubahan rasa bahasa:

Ngoko:

Kowe arep mangan?

Krama Lugu:

Sampeyan badhé nedha?

Krama Alus / Inggil:

Panjenengan badhé dhahar?

Artinya sama:

Apakah panjenengan hendak makan?

Tetapi rasanya berbeda.

Mangan adalah kata biasa.

Nedha lebih sopan.

Dhahar lebih tinggi dan lebih menghormati.

Begitu pula:

Turu menjadi tilem.

Lunga menjadi tindak.

Tekan menjadi rawuh.

Omah menjadi dalem.

Ngomong menjadi ngendika.

Krungu menjadi miyarsa.

Delok menjadi mirsani.

Menehi menjadi paring.

Njupuk menjadi mundhut.

Njaluk menjadi nyuwun.

Maka bila menyusun kalimat penghormatan, jangan memakai bahasa yang kasar rasanya, tetapi gunakan bahasa yang halus dan tertata.

Contoh kalimat biasa:

Saya minta izin bertanya.

Dalam Krama Alus menjadi:

Kula nyuwun pangapunten, keparenga kula nyuwun pirsa.

Artinya:

Saya mohon maaf, izinkan saya bertanya.

Contoh lain:

Saya menghormati beliau.

Dalam Krama Alus:

Kula ngaturaken pakurmatan dhumateng panjenenganipun.

Artinya:

Saya menghaturkan penghormatan kepada beliau.

Untuk naskah resmi kedhaton, bisa ditulis:

Kanthi agunging pakurmatan, serat punika katur dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan, minangka pratandha bekti, tresna, lan pangeling luhur.

Artinya:

Dengan penuh penghormatan, surat ini dihaturkan kepada beliau yang dimuliakan, sebagai tanda bakti, cinta, dan pengingat luhur.

Piwulang inti lembar ini:

Basa Jawa iku dudu mung unine tembung.

Basa Jawa iku panggonane rasa.

Bahasa Jawa bukan hanya bunyi kata.

Bahasa Jawa adalah tempat bersemayamnya rasa.

Orang yang memakai Krama Alus hendaknya tidak hanya halus di mulut, tetapi juga halus dalam niat.

Sebab bila kata-katanya halus tetapi hatinya tinggi, maka halusnya menjadi topeng.

Tetapi bila kata-katanya halus dan hatinya tawadhu, maka tuturannya menjadi cahaya.

Tutup lembar:

Sapa sing bisa ngurmati nganggo basa, bakal sinau ngurmati nganggo rasa.

Sapa sing bisa ngendhaleni lathi, bakal luwih gampang ngendhaleni ati.

Lan sapa sing alus pangucape, insyaAlloh alus dalane tumuju ridho Alloh.


LEMBAR KETIGA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Ngoko, Krama, lan Rasa Papan Pangucap

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, dalam bahasa Jawa ada satu kunci besar yang tidak boleh dilupakan, yaitu:

Basa kudu trep papan, trep wong, trep rasa.

Artinya:

Bahasa harus tepat tempatnya, tepat kepada siapa diucapkan, dan tepat rasa batinnya.

Sebab kata yang benar, bila salah tempat, bisa terasa kurang adab.

Kata yang halus, bila dipakai untuk menyombongkan diri, bisa kehilangan cahaya.

Kata yang sederhana, bila keluar dari hati yang jujur, bisa menjadi sangat mulia.

Maka dalam piwulang Jawa, seseorang tidak hanya dinilai dari banyaknya ilmu, tetapi juga dari cara ia menata ucapan.

1. Ngoko Lugu

Ngoko Lugu adalah bahasa akrab. Dipakai kepada teman sebaya, saudara dekat, anak kecil, atau orang yang sudah sangat dekat.

Contoh:

Aku arep lunga dhisik.

Artinya: Saya mau pergi dulu.

Kowe wis mangan durung?

Artinya: Kamu sudah makan belum?

Bahasa ini tidak salah. Tetapi bila dipakai kepada guru, orang tua, kiai, atau tamu agung, maka rasanya bisa kurang hormat.

2. Ngoko Alus

Ngoko Alus adalah bahasa akrab yang sudah diberi rasa hormat. Biasanya dipakai ketika berbicara santai, tetapi tetap menjaga unggah-ungguh.

Contoh:

Aku durung sempat sowan marang panjenengané.

Artinya: Saya belum sempat berkunjung kepada beliau.

Panjenengané wis tindak saka dalem.

Artinya: Beliau sudah pergi dari rumah.

Di sini masih ada rasa ngoko, tetapi sudah diberi kelembutan.

3. Krama Lugu

Krama Lugu dipakai dalam suasana sopan, resmi ringan, atau kepada orang yang belum terlalu akrab.

Contoh:

Kula badhé kesah rumiyin.

Artinya: Saya hendak pergi dahulu.

Sampeyan sampun nedha dereng?

Artinya: Anda sudah makan belum?

Krama Lugu itu seperti pakaian sopan. Tidak terlalu agung, tetapi sudah menjaga tata krama.

4. Krama Alus / Krama Inggil

Krama Alus adalah bahasa penghormatan yang lebih tinggi. Dipakai kepada orang sepuh, guru, mursyid, kiai, raja, panembahan, tamu agung, atau orang yang dimuliakan.

Contoh:

Kula nyuwun pangapunten, panjenengan badhé tindak dhateng pundi?

Artinya: Saya mohon maaf, panjenengan hendak pergi ke mana?

Kula ngaturaken pakurmatan dhumateng panjenenganipun.

Artinya: Saya menghaturkan penghormatan kepada beliau.

Panjenengan sampun dhahar?

Artinya: Panjenengan sudah makan?

Di sinilah bahasa menjadi pakaian batin. Halus kata, halus niat, halus adab.

5. Basa Kedhaton / Basa Bagongan

Basa Kedhaton adalah bahasa khusus lingkungan keraton. Bahasa ini bukan untuk dipakai sembarangan, karena terikat adat, tempat, dan tradisi.

Ia bukan sekadar “lebih tinggi” dari Krama Inggil, tetapi lebih khusus.

Dipakai dalam suasana kedhaton, tata upacara, atau lingkungan keraton tertentu.

Maka untuk Kedhaton Semar Mbangun Kahyangan, bila ingin membuat piagam, gelar, serat keputusan, atau naskah penghormatan, yang paling cocok adalah:

Krama Alus / Krama Inggil

dipadukan dengan

Sastra Jawa-Kawi

agar terasa luhur, tua, berwibawa, dan bercahaya budaya.

Contoh kalimat naskah kedhaton:

Kanthi lumantar serat punika, katuraken pakurmatan saha pangajeng-ajeng dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan, minangka pratandha bekti, tresna, lan pangeling luhur.

Artinya:

Melalui surat ini, dihaturkan penghormatan dan harapan kepada beliau yang dimuliakan, sebagai tanda bakti, cinta, dan pengingat luhur.

Piwulang inti lembar ketiga:

Ngoko iku ora hina.

Krama iku ora kanggo gumunggung.

Kedhaton iku ora kanggo umuk.

Ngoko punya tempat.

Krama punya tempat.

Basa Kedhaton punya tempat.

Yang salah bukan bahasanya, tetapi bila manusia tidak tahu menempatkannya.

Maka orang yang bijaksana tidak merendahkan bahasa sederhana, dan tidak menyombongkan bahasa tinggi.

Ia hanya memilih kata yang paling tepat untuk menjaga adab.

Tutup lembar ketiga:

Sapa ngerti papan, bakal slamet pangucape.

Sapa ngerti rasa, bakal becik tindake.

Sapa ngerti unggah-ungguh, bakal kajaga martabate.

Lan sapa sing bisa ngucap kanthi andhap asor, insyaAlloh basane dadi donga, swarane dadi piwulang, lan lakune dadi cahya.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Tembung Ngajeni, Tembung Andhap Asor, lan Tembung Pangurmatan

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, setelah mengenal tingkatan bahasa Jawa, maka lembar ini membuka bagian yang lebih halus, yaitu tembung ngajeni: kata-kata yang dipakai untuk menghormati orang lain, menundukkan ego diri, dan menjaga martabat dalam pergaulan.

Sebab dalam Jawa, orang yang luhur tidak hanya dilihat dari gelarnya, tetapi dari cara ia memilih kata.

Ada kata yang bisa meninggikan rasa.

Ada kata yang bisa menenangkan hati.

Ada kata yang bisa membuat orang merasa dihormati.

Dan ada pula kata yang benar secara arti, tetapi kasar secara rasa.

Maka orang yang belajar basa Jawa harus memahami:

Tembung iku ana rasane.

Kata itu punya rasa.

Tembung iku ana unggah-ungguhe.

Kata itu punya tempat dan tata adab.

Tembung iku ana akibat batine.

Kata itu bisa melukai atau menyembuhkan.

Contoh tembung biasa dan tembung halus:

Aku menjadi kula

Kowe menjadi panjenengan

Arep menjadi badhé

Mangan menjadi dhahar

Turu menjadi sare / tilem

Lunga menjadi tindak

Tekan menjadi rawuh

Ngomong menjadi ngendika

Krungu menjadi miyarsa

Weruh menjadi mangertos

Delok menjadi mirsani

Njaluk menjadi nyuwun

Menehi menjadi paring

Duwe menjadi gadhah

Omah menjadi dalem

Bapak / ibu menjadi rama / ibu / kanjeng rama / kanjeng ibu sesuai suasana penghormatan.

Contoh kalimat biasa:

Aku arep takon.

Saya mau bertanya.

Kalimat halus:

Kula nyuwun pangapunten, keparenga kula nyuwun pirsa.

Saya mohon maaf, izinkan saya bertanya.

Contoh kalimat biasa:

Kowe wis ngerti?

Kamu sudah mengerti?

Kalimat halus:

Panjenengan sampun mangertos?

Panjenengan sudah memahami?

Contoh kalimat biasa:

Beliau sudah datang.

Dalam Krama Alus:

Panjenenganipun sampun rawuh.

Contoh kalimat biasa:

Saya memberi penghormatan kepada beliau.

Dalam Krama Alus:

Kula ngaturaken pakurmatan dhumateng panjenenganipun.

Untuk naskah piagam atau serat kedhaton, bisa memakai susunan:

Kanthi raos bekti saha pakurmatan, kula ngaturaken serat punika dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan, minangka pratandha pangajeng-ajeng, pangenget luhur, saha pangiket paseduluran.

Artinya:

Dengan rasa bakti dan penghormatan, saya menghaturkan surat ini kepada beliau yang dihormati, sebagai tanda harapan, pengingat luhur, dan pengikat persaudaraan.

Saudaraku cahayaku, dalam basa Jawa ada satu adab penting:

Menawa ngomong marang wong tuwa, alusna basamu.

Menawa ngomong marang sedulur, jujurna atimu.

Menawa ngomong marang guru, andhap asorna lakumu.

Menawa ngomong marang rakyat cilik, aja ngungkuli rasa.

Artinya:

Jika berbicara kepada orang tua, haluskan bahasamu.

Jika berbicara kepada saudara, jujurkan hatimu.

Jika berbicara kepada guru, rendahkan sikapmu.

Jika berbicara kepada rakyat kecil, jangan meninggikan diri.

Karena bahasa yang paling tinggi bukan hanya Krama Inggil, tetapi bahasa yang keluar dari hati yang ngerti rasa.

Piwulang inti lembar ini:

Tembung halus bukan untuk membuat diri tampak tinggi.

Tembung halus adalah cara menjaga orang lain agar merasa dimuliakan.

Tembung andhap asor bukan tanda lemah.

Tembung andhap asor adalah tanda jiwa yang matang.

Tembung pangurmatan bukan sekadar adat.

Tembung pangurmatan adalah pakaian batin bagi orang yang mengerti adab.

Tutup lembar selanjutnya:

Sapa bisa milih tembung, bakal bisa njaga sambung.

Sapa bisa ngurmati liyan, bakal dijaga pakurmatané.

Sapa bisa ngendhaleni basa, bakal luwih gampang ngendhaleni rasa.

Lan sapa sing tuture dadi pangayoman, insyaAlloh uripe bakal dadi dalan katentreman.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Basa Kanggo Serat, Piagam, lan Pakurmatan Kedhaton

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, lembar ini membuka piwulang tentang basa serat: bahasa yang dipakai untuk menulis surat kehormatan, piagam, keputusan, gelar, dan naskah kedhaton.

Sebab bahasa lisan berbeda dengan bahasa serat.

Bahasa lisan cukup halus dan jelas.

Tetapi bahasa serat harus lebih tertata, lebih beradab, dan lebih berwibawa.

Dalam serat kedhaton, kata-kata tidak boleh asal panjang.

Ia harus memiliki tiga rasa:

Rasa pakurmatan — menghormati yang dituju.

Rasa pangayoman — meneduhkan yang membaca.

Rasa pangesahan — menguatkan maksud surat atau piagam.

Maka bila menulis naskah resmi, jangan terlalu kasar, jangan terlalu santai, dan jangan terlalu berlebihan.

Contoh bahasa biasa:

Dengan ini kami memberikan penghargaan kepada saudara.

Dalam rasa Krama Alus:

Kanthi lumantar serat punika, kula ngaturaken pakurmatan saha pangenget luhur dhumateng panjenenganipun.

Artinya:

Melalui surat ini, saya menghaturkan penghormatan dan pengingat luhur kepada panjenengan.

Contoh untuk piagam:

Piagam ini diberikan kepada R.M. Nuryanto.

Dalam rasa serat Jawa:

Serat piagam punika katuraken dhumateng panjenenganipun R.M. Nuryanto, minangka pratandha pakurmatan, pangajeng-ajeng, saha pangiket paseduluran.

Artinya:

Piagam ini dihaturkan kepada R.M. Nuryanto sebagai tanda penghormatan, harapan baik, dan pengikat persaudaraan.

Contoh untuk gelar:

Diberikan gelar Kanjeng Raden Mas Haryo.

Dalam rasa Krama Alus:

Panjenenganipun kaparingan sesebatan Kanjeng Raden Mas Haryo, minangka pratandha kaluhuran adab, kasetyan, saha pangabdian.

Artinya:

Beliau diberi sebutan Kanjeng Raden Mas Haryo sebagai tanda keluhuran adab, kesetiaan, dan pengabdian.

Untuk naskah yang lebih tua dan agung, bisa diberi sentuhan Jawa-Kawi:

Śrī Śāstra Piwulang Kañca

maknanya: serat luhur piwulang persaudaraan.

Ikang tinadah

maknanya: yang diterima / yang dianugerahkan.

Śirasā praṇamya

maknanya: dengan kepala tertunduk penuh hormat.

Kānugrahan sañjñā

maknanya: anugerah nama atau gelar.

Namun saudaraku cahayaku, bahasa Jawa-Kawi harus dipakai dengan hati-hati.

Jangan hanya mengejar terlihat kuno, tetapi harus tetap bisa dipahami, tetap beradab, dan tidak menghilangkan makna utama.

Maka susunan terbaik untuk serat atau piagam adalah:

Pembukaan dengan bahasa luhur.

Isi dengan bahasa jelas.

Pengesahan dengan bahasa wibawa.

Penutup dengan doa dan pakurmatan.

Contoh susunan pendek:

Kanthi nyebut asma Alloh Ingkang Maha Welas Asih, serat punika katuraken minangka pratandha pakurmatan dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan. Mugi tansah pinaringan wilujeng, rahayu, kawilujengan, saha kaberkahan ing sadaya lampahipun.

Artinya:

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Welas Asih, surat ini dihaturkan sebagai tanda penghormatan kepada beliau yang dimuliakan. Semoga senantiasa diberi keselamatan, kebaikan, perlindungan, dan keberkahan dalam seluruh langkahnya.

Piwulang inti lembar ini:

Serat sing luhur ora mung apik tulisane.

Nanging kudu bening maksude, alus rasane, lan bener adabe.

Surat yang luhur bukan hanya indah tulisannya.

Tetapi harus jernih maksudnya, halus rasanya, dan benar adabnya.

Tutup lembar:

Sapa nulis nganggo rasa, tulisane bakal urip.

Sapa nulis nganggo adab, serate bakal migunani.

Sapa nulis kanggo pakurmatan, aja nganti kecampuran gumunggung.

Amarga serat kang becik iku dudu mung cathetan ing kertas, nanging titipan rasa, paseduluran, lan pangeling marang dalan kamulyan.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Basa Pangandikan, Basa Pangestu, lan Basa Pameling

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, dalam bahasa Jawa ada kata-kata yang tidak hanya berfungsi sebagai ucapan, tetapi juga menjadi pangandikan, pangestu, dan pameling.

Pangandikan adalah ucapan yang membawa tuntunan.

Pangestu adalah ucapan yang membawa doa dan restu.

Pameling adalah ucapan yang menjadi pengingat agar manusia tidak lupa kepada adab.

Maka tidak semua kata harus keras agar didengar.

Tidak semua nasihat harus panjang agar diterima.

Tidak semua teguran harus tajam agar membekas.

Kadang satu kalimat yang halus bisa lebih menembus daripada seribu kata yang kasar.

Dalam piwulang Jawa dikenal rasa:

Aja mung menang swara, nanging menang rasa.

Jangan hanya menang suara, tetapi menang rasa.

Orang yang menang suara bisa membuat orang takut.

Tetapi orang yang menang rasa bisa membuat orang sadar.

Contoh bahasa teguran biasa:

Kamu jangan sombong.

Dalam rasa Jawa yang lebih halus:

Mugi panjenengan tansah pinaringan andhap asor, supados kaluhuran punika dados pangeling, sanes dados gumunggung.

Artinya:

Semoga panjenengan senantiasa diberi kerendahan hati, agar keluhuran itu menjadi pengingat, bukan menjadi kesombongan.

Contoh bahasa nasihat biasa:

Jangan lupa ibadah.

Dalam Krama Alus:

Mugi panjenengan tansah kelingan dhumateng Gusti Alloh, saha dipun paringi istiqomah anggenipun nglampahi ibadah.

Artinya:

Semoga panjenengan selalu ingat kepada Alloh dan diberi keistiqomahan dalam menjalankan ibadah.

Contoh bahasa penghormatan:

Saya menghormati panjenengan.

Dalam rasa lebih indah:

Kula ngaturaken pakurmatan dhumateng panjenengan, minangka pratandha tresna, bekti, saha paseduluran ingkang tulus.

Artinya:

Saya menghaturkan penghormatan kepada panjenengan sebagai tanda cinta, bakti, dan persaudaraan yang tulus.

Dalam kedhaton atau piagam, bahasa pangestu bisa ditulis:

Mugi panjenengan tansah pinaringan wilujeng, rahayu, karaharjan, katentreman, saha kaberkahan wonten ing sadaya lampahipun.

Artinya:

Semoga panjenengan senantiasa diberi keselamatan, kebaikan, kesejahteraan, ketenteraman, dan keberkahan dalam seluruh langkahnya.

Saudaraku cahayaku, bahasa pangestu itu harus bersih dari pamrih.

Jika mendoakan, jangan sambil merasa lebih suci.

Jika memberi nasihat, jangan sambil merasa lebih tinggi.

Jika mengingatkan, jangan sambil merendahkan.

Sebab dalam Jawa, pengingat yang baik adalah pengingat yang ngemong.

Ngemong artinya menuntun tanpa melukai.

Mengarahkan tanpa memaksa.

Menguatkan tanpa menguasai.

Itulah rasa Semar dalam bahasa:

sederhana, halus, jujur, ngemong, tetapi mengandung kebijaksanaan.

Piwulang inti lembar ini:

Basa kang becik iku basa kang bisa dadi pangayoman.

Ucapan yang baik adalah ucapan yang bisa menjadi pengayom.

Basa kang alus iku ora mung alus tembunge, nanging alus niate.

Bahasa yang halus bukan hanya halus katanya, tetapi halus niatnya.

Basa kang luhur iku ora mung kanggo wong gedhe, nanging uga kanggo ngurmati kawula alit.

Bahasa luhur bukan hanya untuk orang besar, tetapi juga untuk menghormati rakyat kecil.

Tutup lembar:

Sapa ngucap nganggo pangestu, tuture dadi donga.

Sapa ngendika nganggo adab, swarane dadi piwulang.

Sapa ngelingake nganggo welas asih, pamelinge dadi cahya.

Lan sapa sing bisa njaga lathi, insyaAlloh bakal luwih gampang njaga ati.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Basa Pamomong, Basa Pangayoman, lan Basa Kawula Alit

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, dalam piwulang Jawa ada bahasa yang lebih dalam daripada sekadar sopan, yaitu basa pamomong.

Basa pamomong adalah bahasa yang dipakai untuk mengasuh rasa, menenangkan hati, dan menjaga manusia agar tidak patah semangat.

Bahasa ini tidak selalu penuh gelar tinggi.

Tidak selalu memakai kalimat panjang.

Tidak selalu terlihat agung.

Tetapi bahasa pamomong selalu mempunyai tiga tanda:

Halus tuturnya.

Bening niatnya.

Ngemong rasanya.

Dalam laku Semar, bahasa pamomong itu seperti air.

Ia tidak memaksa batu untuk berubah, tetapi pelan-pelan menghaluskan yang keras.

Ia tidak membentak orang yang tersesat, tetapi menuntun agar menemukan jalan kembali.

Maka seorang pemimpin, guru, sesepuh, atau pengayom rakyat kecil, hendaknya tidak hanya bisa memberi perintah, tetapi juga bisa memberi rasa aman.

Contoh bahasa memerintah biasa:

Cepat kerjakan ini.

Dalam basa pamomong:

Kula nyuwun tulung, menawi sampun wonten wekdal, prakawis punika saged dipun rampungaken kanthi sae.

Artinya:

Saya mohon tolong, apabila sudah ada waktu, perkara ini bisa diselesaikan dengan baik.

Contoh bahasa menegur biasa:

Kamu salah.

Dalam basa pamomong:

Menawi kersa, prakawis punika saged dipun tata malih supados langkung trep lan langkung sae.

Artinya:

Jika berkenan, perkara ini bisa ditata kembali agar lebih tepat dan lebih baik.

Contoh bahasa menenangkan:

Sabar dulu, semua ada jalannya.

Dalam Krama Alus:

Mugi panjenengan dipun paringi kasabaran rumiyin, amargi saben prakawis insyaAlloh wonten margi sae saking Alloh.

Artinya:

Semoga panjenengan diberi kesabaran dahulu, karena setiap perkara insyaAlloh ada jalan baik dari Alloh.

Saudaraku cahayaku, bahasa pamomong sangat cocok untuk Kedhaton Semar Mbangun Kahyangan, karena Semar bukan hanya lambang kelucuan atau kesederhanaan, tetapi lambang pengasuhan jiwa.

Semar itu ora gumunggung.

Semar itu ngemong.

Semar itu sederhana, tetapi dalam.

Semar itu tidak selalu duduk di depan, tetapi sering menjadi penyangga dari belakang.

Maka bahasa kedhaton yang memakai rasa Semar tidak boleh keras karena nafsu.

Tidak boleh tinggi karena ingin dipuji.

Tidak boleh rumit hanya agar terlihat sakral.

Bahasa kedhaton yang benar harus bisa menata:

Wong gedhe supaya ora gumunggung.

Orang besar agar tidak sombong.

Wong cilik supaya ora rumangsa diremehake.

Orang kecil agar tidak merasa direndahkan.

Wong susah supaya ora kelangan pangarep-arep.

Orang susah agar tidak kehilangan harapan.

Wong bingung supaya nemu dalan.

Orang bingung agar menemukan jalan.

Inilah rasa kawula alit dalam bahasa Jawa:

bahasa yang tidak hanya memuliakan raja, tetapi juga menjaga hati rakyat kecil.

Sebab pemimpin yang luhur bukan hanya mampu berbicara kepada orang besar dengan indah, tetapi juga mampu berbicara kepada orang kecil dengan kasih.

Piwulang inti lembar ini:

Basa pamomong iku basa sing ora nyilakani rasa.

Bahasa pamomong adalah bahasa yang tidak melukai rasa.

Basa pangayoman iku basa sing maringi ayem.

Bahasa pengayoman adalah bahasa yang memberi ketenteraman.

Basa kawula alit iku basa sing ora ngungkuli wong cilik.

Bahasa untuk rakyat kecil adalah bahasa yang tidak meninggikan diri di atas mereka.

Maka jangan jadikan bahasa halus sebagai tembok.

Jadikan bahasa halus sebagai jembatan.

Jangan jadikan gelar sebagai jarak.

Jadikan gelar sebagai tanggung jawab.

Jangan jadikan piwulang sebagai kebanggaan.

Jadikan piwulang sebagai jalan pulang menuju adab dan ridho Alloh.

Tutup lembar:

Sapa bisa ngomong kanthi welas asih, bakal cedhak karo ati manungsa.

Sapa bisa ngemong nganggo basa, bakal dadi pangayom tanpa kudu nguwasani.

Sapa bisa ngurmati kawula alit, insyaAlloh bakal dijaga martabate dening Alloh.

Lan basa sing paling luhur yaiku basa sing ndadekake wong liya rumangsa diayomi, dudu diadili.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Basa Pangayom Kanggo Guru, Sesepuh, lan Tamu Agung

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, setelah memahami basa pamomong, maka lembar ini membuka piwulang tentang basa pangayom kanggo guru, sesepuh, lan tamu agung.

Sebab ketika kita berbicara kepada guru, sesepuh, mursyid, kiai, raja, panembahan, atau tamu yang dimuliakan, ucapan tidak boleh sekadar jelas.

Ucapan harus membawa pakurmatan, andhap asor, dan tata krama.

Dalam Jawa, orang yang menghormati guru bukan hanya menundukkan kepala, tetapi juga menundukkan lisan.

Bukan hanya merendahkan badan, tetapi juga merendahkan rasa ego.

Maka kalimat pembuka yang baik adalah:

Kula nyuwun pangapunten, keparenga kula matur.

Artinya: Saya mohon maaf, izinkan saya menyampaikan.

Atau lebih halus:

Kula nyuwun agunging pangapunten, mugi keparenga kula ngaturaken atur sawetawis.

Artinya: Saya mohon sebesar-besarnya maaf, semoga diizinkan saya menghaturkan beberapa hal.

Untuk bertanya kepada guru:

Kula nyuwun pangapunten, keparenga kula nyuwun pirsa dhumateng panjenengan.

Artinya: Saya mohon maaf, izinkan saya bertanya kepada panjenengan.

Untuk meminta doa:

Kula nyuwun pangestu saha donga pangestunipun, mugi kula saged lumampah kanthi sae lan leres.

Artinya: Saya memohon restu dan doa panjenengan, semoga saya dapat berjalan dengan baik dan benar.

Untuk menghaturkan terima kasih:

Kula ngaturaken agunging panuwun awit saking piwulang, pangestu, saha kawelasan panjenengan.

Artinya: Saya menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya atas nasihat, restu, dan kasih panjenengan.

Untuk memohon arahan:

Kula nyuwun pitedah, piwulang, saha tuntunan, supados kula boten kesasar wonten lampah punika.

Artinya: Saya memohon petunjuk, nasihat, dan tuntunan, agar saya tidak tersesat dalam jalan ini.

Saudaraku cahayaku, bahasa seperti ini bukan untuk membuat diri rendah di hadapan manusia secara hina.

Tetapi untuk menjaga adab, sebab guru dan sesepuh adalah pintu piwulang.

Dalam piwulang Jawa dikatakan:

Guru iku dudu mung wong sing maringi ilmu, nanging uga wong sing nuduhake dalan adab.

Guru bukan hanya orang yang memberi ilmu, tetapi juga orang yang menunjukkan jalan adab.

Maka kepada guru jangan hanya datang membawa pertanyaan.

Datanglah membawa tata krama.

Jangan hanya meminta jawaban.

Mintalah juga pangestu agar hati kuat menjalani jawaban itu.

Jangan hanya mencari ilmu.

Carilah juga adab agar ilmu tidak menjadi kesombongan.

Contoh atur kepada sesepuh:

Kula sowan kanthi raos andhap asor, ngaturaken pakurmatan dhumateng panjenenganipun ingkang sepuh, mugi tansah pinaringan wilujeng, sehat, rahayu, saha kaberkahan dening Alloh.

Artinya:

Saya hadir dengan rasa rendah hati, menghaturkan penghormatan kepada panjenengan yang sepuh, semoga senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, kebaikan, dan keberkahan oleh Alloh.

Contoh atur untuk tamu agung:

Sugeng rawuh dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan. Mugi rawuhipun panjenengan ndadosaken berkah, pitedah, saha kabingahan tumrap sedaya sedherek ing mriki.

Artinya:

Selamat datang kepada panjenengan yang dimuliakan. Semoga kehadiran panjenengan menjadi berkah, petunjuk, dan kebahagiaan bagi seluruh saudara di sini.

Piwulang inti lembar ini:

Basa marang guru kudu alus.

Basa marang sesepuh kudu ngajeni.

Basa marang tamu agung kudu ngurmati.

Basa marang sapa wae kudu tetep nganggo ati.

Sebab manusia yang tinggi adabnya tidak hanya halus kepada orang besar, tetapi juga lembut kepada siapa pun.

Tutup lembar:

Sapa ngurmati guru, bakal kajaga ilmuné.

Sapa ngurmati sesepuh, bakal kajaga lakuné.

Sapa ngurmati tamu, bakal kabuka berkahé.

Lan sapa sing ngendika nganggo adab, insyaAlloh tembunge dadi cahya tumrap ati sing ngrungokake.


LEMBAR SELANJUTNYA

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab: Basa Pangucap Kanggo Piagam, Gelar, lan Serat Kānugrahan

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, dalam lembar ini kita membuka piwulang tentang basa pangucap kanggo piagam, gelar, lan serat kānugrahan.

Sebab piagam bukan hanya kertas.

Gelar bukan hanya sebutan.

Serat kānugrahan bukan hanya tulisan indah.

Semua itu adalah pangenget amanah.

Pengingat agar yang menerima semakin menjaga adab, semakin rendah hati, dan semakin sungguh-sungguh mengabdi.

Maka ketika menyusun bahasa piagam, jangan hanya mencari kata yang tinggi.

Carilah kata yang tepat, halus, dan membawa tanggung jawab.

Contoh pembukaan piagam:

Kanthi nyebut asma Alloh Ingkang Maha Welas Asih, serat kānugrahan punika katuraken minangka pratandha pakurmatan, pangenget luhur, saha pangiket paseduluran.

Artinya:

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih, serat anugerah ini dihaturkan sebagai tanda penghormatan, pengingat luhur, dan pengikat persaudaraan.

Untuk menyebut penerima piagam:

Katur dhumateng panjenenganipun ingkang kinurmatan:

Artinya:

Dihaturkan kepada beliau yang dihormati:

Untuk pemberian gelar:

Panjenenganipun kaparingan sesebatan luhur:

Artinya:

Beliau dianugerahi sebutan luhur:

Atau lebih halus:

Minangka pratandha pangajeng-ajeng saha pakurmatan, panjenenganipun kaparingan gelar kehormatan:

Artinya:

Sebagai tanda harapan dan penghormatan, beliau dianugerahi gelar kehormatan:

Untuk menulis sebab penghargaan:

Awit saking kasetyan, pangabdian, piwulang, saha laku becik ingkang sampun dipun lampahi kanthi tulus.

Artinya:

Atas kesetiaan, pengabdian, piwulang, dan laku baik yang telah dijalani dengan tulus.

Untuk bagian pengesahan:

Serat punika katetepaken minangka pangenget, bilih sedaya kaluhuran kedah tansah dipun sandhang kanthi andhap asor, adab, saha tanggung jawab.

Artinya:

Serat ini ditetapkan sebagai pengingat bahwa setiap keluhuran harus selalu disandang dengan rendah hati, adab, dan tanggung jawab.

Saudaraku cahayaku, bila ingin memakai sentuhan lebih kuno, bisa disisipkan rasa Jawa-Kawi:

Śrī Śāstra

bermakna serat luhur.

Kānugrahan

bermakna anugerah.

Sañjñā

bermakna nama/sebutan.

Dharma

bermakna kebenaran, laku utama, dan amanah.

Piwulang

bermakna tuntunan atau ajaran.

Maka judul piagam bisa ditulis:

Śrī Śāstra Kānugrahan Gelar

Artinya: Serat luhur anugerah gelar.

Atau:

Śrī Śāstra Piwulang Kañca

Artinya: Serat luhur piwulang persaudaraan.

Namun jangan sampai bahasa kuno membuat isi menjadi gelap.

Bahasa yang baik tetap harus bisa dibaca, dipahami, dan dirasakan.

Piwulang inti lembar ini:

Gelar iku dudu kanggo gumunggung.

Gelar adalah bukan untuk menyombongkan diri.

Piagam iku dudu kanggo ngunggulake awak.

Piagam bukan untuk meninggikan diri.

Serat kānugrahan iku pangenget supaya sing nampa tansah eling marang amanah.

Serat anugerah adalah pengingat agar yang menerima selalu ingat kepada amanah.

Maka siapa pun yang menerima gelar hendaknya berkata dalam hati:

“Mugi gelar punika boten dados sebab gumunggung, nanging dados pangeling supados kula langkung andhap asor, langkung migunani, saha langkung celak dhumateng ridho Alloh.”

Artinya:

Semoga gelar ini tidak menjadi sebab kesombongan, tetapi menjadi pengingat agar saya lebih rendah hati, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada ridho Alloh.

Tutup lembar:

Sapa nampa pakurmatan, kudu nambah andhap asor.

Sapa nampa gelar, kudu nambah tanggung jawab.

Sapa nampa piagam, kudu nambah becik lakune.

Lan sapa sing bisa nyandhang kaluhuran kanthi tawadhu, insyaAlloh kaluhurane ora dadi pepeteng, nanging dadi cahya kanggo ngladeni, ngemong, lan migunani tumrap sesami.


LEMBAR SELANJUTNYA TERAKHIR

QITAB PIWULANG BASA JAWA

Bab Pungkasan: Basa Minangka Sandhangan Jiwa, Tatanan Kedhaton, lan Dalan Tumrap Ridho Alloh

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saudaraku cahayaku, pada lembar terakhir ini kita menutup QITAB PIWULANG BASA JAWA dengan satu pemahaman besar:

Basa iku sandhanganing jiwa.

Bahasa adalah pakaian jiwa.

Jika jiwa sedang kasar, kata-kata akan tajam.

Jika jiwa sedang gelisah, ucapan akan mudah tergesa.

Jika jiwa sedang sombong, bahasa halus pun bisa terasa menekan.

Tetapi jika jiwa sedang bening, bahasa sederhana pun bisa menjadi rahmat.

Maka jangan hanya belajar bahasa Jawa untuk terlihat halus.

Belajarlah bahasa Jawa agar hati ikut tertata.

Jangan hanya belajar krama agar tampak luhur.

Belajarlah krama agar diri mengerti cara menghormati.

Karena dalam piwulang Jawa, orang yang benar-benar luhur bukan yang paling banyak gelarnya, bukan yang paling panjang pangkatnya, bukan yang paling ramai pengikutnya, tetapi yang paling bisa menjaga lathi, ati, lan pakarti.

Lathi adalah ucapan.

Ati adalah hati.

Pakarti adalah perbuatan.

Jika lathi halus tetapi ati kasar, maka bahasa menjadi topeng.

Jika ati halus tetapi lathi tidak dijaga, maka kebaikan bisa tersalah pahami.

Jika lathi dan ati baik, tetapi pakarti tidak benar, maka piwulang belum menjadi laku.

Maka tiga perkara itu harus menyatu:

Tutur kang alus.

Ucapan yang halus.

Rasa kang bening.

Rasa yang jernih.

Laku kang becik.

Perbuatan yang baik.

Saudaraku cahayaku, dalam QITAB ini telah dibuka bahwa bahasa Jawa memiliki undhak-usuk, tingkatan, dan rasa.

Ada Ngoko Lugu, untuk akrab dan dekat.

Ada Ngoko Alus, untuk akrab tetapi tetap menjaga hormat.

Ada Krama Lugu, untuk sopan dan resmi ringan.

Ada Krama Alus / Krama Inggil, untuk menghormati guru, sepuh, tamu agung, dan orang yang dimuliakan.

Ada pula Basa Kedhaton / Bagongan, sebagai bahasa khusus lingkungan keraton.

Tetapi inti semua itu bukan sekadar tingkatan.

Intinya adalah ngerti papan, ngerti rasa, ngerti adab.

Ngerti papan berarti tahu tempat.

Tidak semua kata cocok diucapkan di semua suasana.

Ngerti rasa berarti tahu getaran hati.

Tidak semua kalimat yang benar secara arti terasa baik secara batin.

Ngerti adab berarti tahu cara menempatkan diri.

Tidak merendahkan orang kecil, tidak melampaui guru, tidak meninggikan diri di hadapan saudara.

Maka bagi Kedhaton Semar Mbangun Kahyangan, bahasa yang paling cocok adalah bahasa yang membawa rasa Semar:

Sederhana tetapi dalam.

Halus tetapi tegas.

Mengayomi tetapi tidak menguasai.

Menuntun tetapi tidak memaksa.

Mengangkat martabat tetapi tidak menumbuhkan kesombongan.

Sebab Semar adalah lambang pamomong.

Semar tidak berdiri untuk gagah-gagahan.

Semar hadir untuk mengingatkan para ksatria agar tidak lupa kepada rakyat kecil, tidak lupa kepada Gusti Alloh, tidak lupa kepada asal diri, dan tidak lupa kepada adab.

Maka bahasa Kedhaton Semar bukan bahasa untuk menakut-nakuti.

Bukan bahasa untuk membuat jarak.

Bukan bahasa untuk memamerkan tinggi ilmu.

Tetapi bahasa untuk ngemong jiwa, ngayomi rasa, dan nyambung paseduluran.

Jika membuat piagam, gunakan bahasa yang indah tetapi jelas.

Jika memberi gelar, gunakan bahasa yang luhur tetapi tidak berlebihan.

Jika menulis serat, gunakan bahasa yang berwibawa tetapi tidak gelap maknanya.

Jika menasihati, gunakan bahasa yang menuntun, bukan menusuk.

Jika menegur, gunakan bahasa yang membangunkan, bukan menjatuhkan.

Karena kata-kata bisa menjadi dua perkara:

Bisa menjadi pedang yang melukai.

Bisa menjadi air yang menyembuhkan.

Maka pilihlah kata yang menjadi air.

Air yang membersihkan panasnya hati.

Air yang menyegarkan jiwa yang lelah.

Air yang mengalirkan kasih di antara saudara.

Dalam piwulang Jawa disebut:

Ajining diri saka lathi.

Harga diri manusia tampak dari lisannya.

Tetapi dalam piwulang batin, bisa ditambah:

Ajining lathi saka ati.

Kemuliaan ucapan berasal dari hati.

Dan:

Ajining ati saka eling marang Gusti.

Kemuliaan hati berasal dari ingat kepada Alloh.

Maka penutup QITAB ini adalah piwulang supaya setiap ucapan kembali kepada Alloh.

Bukan kepada pujian.

Bukan kepada kemenangan debat.

Bukan kepada rasa lebih tinggi.

Bukan kepada bangga karena bisa bahasa halus.

Bahasa yang paling mulia adalah bahasa yang membuat manusia semakin eling.

Eling marang Alloh.

Eling marang guru.

Eling marang wong tuwa.

Eling marang sedulur.

Eling marang kawula alit.

Eling marang amanah.

Eling marang pati.

Eling marang dalan mulih.

Jika seseorang sudah eling, maka ucapannya akan lebih hati-hati.

Jika ucapannya hati-hati, maka langkahnya lebih selamat.

Jika langkahnya selamat, maka hidupnya lebih banyak memberi manfaat.

Untuk naskah, piagam, serat, dan penghormatan, dapat dipakai kalimat penutup seperti ini:

Kanthi raos andhap asor, serat punika kaserat minangka pratandha pakurmatan, pangenget luhur, saha pangiket paseduluran. Mugi sedaya ingkang maos saha nampi tansah pinaringan wilujeng, rahayu, karaharjan, katentreman, saha kaberkahan dening Alloh Ingkang Maha Welas Asih.

Artinya:

Dengan rasa rendah hati, serat ini ditulis sebagai tanda penghormatan, pengingat luhur, dan pengikat persaudaraan. Semoga semua yang membaca dan menerima senantiasa diberi keselamatan, kebaikan, kesejahteraan, ketenteraman, dan keberkahan oleh Alloh Yang Maha Pengasih.

Dan jika ingin lebih bernuansa kedhaton:

Serat punika dados pangenget, bilih kaluhuran boten kenging dados gumunggung, gelar boten kenging dados pangluhur ego, lan piwulang boten kenging dados gegaman kang nyilakani liyan. Sedaya kaluhuran kedah dados dalan pangabdian, pangayoman, saha paseduluran.

Artinya:

Serat ini menjadi pengingat bahwa keluhuran tidak boleh menjadi kesombongan, gelar tidak boleh menjadi peninggi ego, dan piwulang tidak boleh menjadi senjata yang melukai orang lain. Semua keluhuran harus menjadi jalan pengabdian, pengayoman, dan persaudaraan.

Piwulang pungkasan:

Ngoko aja kanggo ngasorake.

Krama aja kanggo gumunggung.

Gelar aja kanggo nguwasani.

Serat aja kanggo pamer.

Piwulang aja kanggo ngadili.

Gunakan Ngoko untuk menyambung keakraban.

Gunakan Krama untuk menjaga penghormatan.

Gunakan gelar untuk mengingat amanah.

Gunakan serat untuk mengikat persaudaraan.

Gunakan piwulang untuk menuntun diri sendiri lebih dahulu.

Sebab sebelum menata orang lain, tata dulu lisan sendiri.

Sebelum memberi gelar kepada orang lain, pahami dulu beratnya amanah.

Sebelum menulis serat kedhaton, bersihkan dulu niat di dalam hati.

Sebelum memakai bahasa tinggi, tundukkan dulu rasa diri.

Karena bahasa Jawa yang sejati bukan hanya warisan leluhur.

Ia adalah cermin adab.

Ia adalah jembatan rasa.

Ia adalah pagar batin.

Ia adalah jalan halus untuk memuliakan sesama tanpa melupakan Alloh.

Doa Penutup QITAB PIWULANG BASA JAWA

Ya Alloh,

haluskanlah lisan kami sebagaimana Engkau menghaluskan hati orang-orang yang Engkau cintai.

Jauhkan kami dari ucapan yang menyakiti.

Jauhkan kami dari bahasa yang menipu.

Jauhkan kami dari gelar yang menumbuhkan sombong.

Jauhkan kami dari ilmu yang membuat kami merasa lebih tinggi.

Jadikan bahasa kami sebagai jalan rahmat.

Jadikan tulisan kami sebagai jalan manfaat.

Jadikan piwulang kami sebagai pengingat diri.

Jadikan adab kami sebagai pakaian jiwa.

Ya Alloh,

berkahilah setiap saudara yang belajar menjaga lisan.

Berkahilah setiap guru yang memberi tuntunan.

Berkahilah setiap sesepuh yang ngemong dengan kasih.

Berkahilah setiap kawula alit yang sabar dalam hidupnya.

Berkahilah setiap majelis yang menebarkan kebaikan.

Mugi sedaya pinaringan wilujeng, rahayu, slamet, tentrem, lan berkah.

Mugi basa dados pangayoman.

Mugi rasa dados pepadhang.

Mugi laku dados dalan tumuju ridho Alloh.

Panutup:

Sapa njaga basane, bakal kajaga rasane.

Sapa njaga rasane, bakal kajaga lakune.

Sapa njaga lakune, bakal kajaga martabate.

Sapa njaga martabate kanthi tawadhu, insyaAlloh bakal cedhak marang ridho Alloh.

Maka QITAB PIWULANG BASA JAWA ini ditutup bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal laku:

Sinau basa, sinau rasa.

Sinau rasa, sinau adab.

Sinau adab, sinau bali marang Alloh.

والله أعلم بالصواب

Alloh Maha Mengetahui yang sebenar-benarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh