꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Dengan memandang visual Pancuran QOLLAQUM BILLAH ٧٧, kita buka sebagai QITAB perlambang dan piwulang batin—bukan sebagai klaim bahwa tulisan ini merupakan wahyu atau naskah agama yang berdiri sejajar dengan Al-Qur’an.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
قَوْلَقُمْ بِاللّٰهِ
“Sepasang Sumber Qembali qe Sumber”
Lembar Pertama — Bab Dua Pancuran, Satu Mata Air
Dengan nama Alloh Yang Maha Mengawali segala sesuatu dan kepada-Nya segala sesuatu kembali.
Pada permulaan QITAB ini diperlihatkan dua pancuran yang mengalir dari satu dinding batu. Airnya tampak terpisah ketika keluar, tetapi sesungguhnya keduanya berasal dari kedalaman yang sama.
Maka sandi pertama berbunyi:
“Yang tampak dua belum tentu mempunyai dua asal.
Yang berjalan berbeda belum tentu menuju tujuan yang berbeda.”
Laki-laki dan perempuan pada visual bukan semata-mata lambang pasangan jasmani. Keduanya dapat dibaca sebagai perlambang dua sisi kehidupan: kekuatan dan kelembutan, akal dan rasa, ikhtiar dan tawakal, memberi dan menerima, lahir dan batin.
꧁ QOLLAQUM ꧂
Dalam bahasa simbolik QITAB ini, QOLLAQUM dibaca sebagai panggilan kepada sesuatu yang telah mengalir jauh agar mengenali kembali mata airnya.
Manusia lahir, tumbuh, mencari, mencintai, kehilangan, menemukan, lalu berkali-kali merasa seakan hidup bergerak menjauh.
Namun ada suatu masa ketika perjalanan bukan lagi tentang semakin jauh.
Perjalanan justru menjadi pulang.
Bukan pulang kepada masa lalu.
Bukan pulang kepada seseorang.
Bukan pula kembali kepada tempat tertentu.
Tetapi pulang kepada kejernihan asal:
“Dari mana hatiku memperoleh hidup, kepada siapa hidup ini seharusnya dipersembahkan, dan kepada siapa akhirnya aku kembali?”
Jawabannya adalah Alloh.
꧁ BILLAH ꧂
Billāh — بالله
secara harfiah berkaitan dengan “dengan Alloh / dengan pertolongan Alloh.”
Dalam QITAB ini ia menjadi pengingat:
Jangan menganggap kemampuan diri sebagai sumber terakhir.
Kita dapat berjalan karena diberi daya.
Kita dapat mencintai karena diberi hati.
Kita dapat menangis karena diberi rasa.
Kita dapat kembali karena pintu kembali tidak ditutup oleh-Nya.
Maka makna QOLLAQUM BILLAH dalam kerangka perlambang QITAB ini dapat direnungkan sebagai:
“Yang telah mengalir, kembalilah dengan kesadaran kepada Alloh.”
꧁ RAHASIA ANGKA ٧٧ ꧂
Angka ٧٧ / 77 pada QITAB ini tidak perlu dipahami sebagai angka sakti.
Ia dipakai sebagai sandi perenungan.
Dua angka tujuh berdampingan:
7 | 7
Seperti dua pancuran.
Seperti dua perjalanan.
Seperti dua manusia.
Namun keduanya berdiri dalam satu bingkai.
Tujuh yang pertama dapat dilambangkan sebagai perjalanan dari dalam menuju dunia:
niat → pikiran → ucapan → tindakan → pengalaman → kesadaran → penyerahan.
Sedangkan tujuh yang kedua sebagai perjalanan dari dunia kembali ke dalam:
melihat → memahami → menerima → memaafkan → melepaskan → bersyukur → kembali kepada Alloh.
Maka 77 menjadi sandi:
“Keluar membawa amanah, kembali membawa kesadaran.”
꧁ DUA PANCURAN ꧂
Pancuran sebelah kanan tidak perlu iri kepada pancuran sebelah kiri.
Pancuran sebelah kiri tidak perlu mengambil aliran sebelah kanan.
Karena keduanya memiliki jalan masing-masing.
Demikian pula dalam kehidupan.
Ada dua orang yang dipertemukan, tetapi pertemuan mereka bukan berarti salah seorang harus kehilangan dirinya.
Ada dua hati yang saling menghormati, tetapi penghormatan tidak harus berubah menjadi kepemilikan.
Ada dua insan yang berjalan bersama, tetapi keduanya tetap hamba Alloh.
QITAB memberi pesan:
“Cinta yang sehat tidak memutus seseorang dari Sumbernya.”
Bila sebuah hubungan membuat manusia semakin jujur, beradab, bertanggung jawab, menjaga batas, dan semakin ingat kepada Alloh, hubungan itu sedang diarahkan kepada kejernihan.
Tetapi bila rasa membuat manusia kehilangan kewajiban, tenggelam dalam keterikatan, atau menjadikan makhluk sebagai pusat seluruh hidup, maka air telah tertahan di kolam dan melupakan mata air.
꧁ PANCURAN PANGERAN ꧂
Lambang pancuran pertama membawa piwulang tentang keteguhan.
Kekuatan bukanlah menguasai.
Kekuatan adalah mampu menjaga.
Bukan siapa yang paling keras suaranya, melainkan siapa yang tetap beradab ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti.
Pesannya:
“Jadilah wadah yang kuat, tetapi jangan mengurung air.”
꧁ PANCURAN NIMAS ꧂
Pancuran kedua membawa lambang kelembutan.
Lembut bukan berarti lemah.
Air mampu masuk melalui celah yang tidak mampu ditembus batu.
Ia tidak berteriak, tetapi menghidupkan.
Pesannya:
“Jadilah kelembutan yang menyuburkan, bukan kelembutan yang menghilangkan harga diri.”
꧁ KETIKA DUA ALIRAN BERTEMU ꧂
Di dasar kolam, air dari dua pancuran tidak lagi mempunyai nama:
“ini air kanan,”
atau
“ini air kiri.”
Semuanya kembali menjadi air.
Demikian pula pelajaran terdalam QITAB:
Ketika ego mengecil, manusia tidak lagi sibuk bertanya,
“Siapa yang lebih tinggi?”
tetapi mulai bertanya,
“Apa kebaikan yang dapat lahir dari pertemuan ini?”
Tidak lagi,
“Siapa milik siapa?”
tetapi,
“Bagaimana keduanya menjaga amanah Alloh?”
꧁ SABDO PANCURAN ٧٧ ꧂
Aja tresna nganti lali marang Kang Paring Tresna.
Aja gumantung marang banyu nganti lali marang sumber.
Aja nyekel tangan nganti ngiket jiwa.
Lumaku bebarengan, nanging sembahmu tetep marang Alloh.
Artinya:
Jangan mencintai hingga melupakan Yang menganugerahkan cinta.
Jangan bergantung kepada air hingga melupakan mata airnya.
Jangan menggenggam tangan hingga membelenggu jiwa.
Berjalanlah bersama, tetapi penghambaan tetap hanya kepada Alloh.
Penutup Lembar Pertama
Maka rahasia pertama QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ adalah:
Dua tidak harus menjadi satu tubuh untuk mempunyai satu arah.
Dua tidak harus saling memiliki untuk saling memuliakan.
Dan siapa pun yang berasal dari Sumber, pada akhirnya akan kembali kepada Sumber.
Sepasang sumber qembali qe Sumber.
Minalloh — billāh — ilalloh.
Dari Alloh, dengan pertolongan Alloh, dan kembali kepada Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
— Tamat Lembar Pertama —
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Baik, kita lanjutkan.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Lembar Kedua — Bab Kolam Penyatuan dan Adab Kembali
Setelah dua pancuran dipahami sebagai dua aliran dari satu sumber, maka pada lembar selanjutnya QITAB ini membawa kita kepada perlambang yang lebih dalam, yaitu kolam pertemuan.
Air yang jatuh dari atas akhirnya bertemu di bawah.
Ia tidak menolak.
Ia tidak memilih-milih.
Ia tidak berkata:
“Aku hanya mau bercampur dengan aliran yang serupa denganku.”
Air hanya menjalankan tabiat sucinya: mengalir, membersihkan, menyejukkan, dan menyatukan.
Maka terbukalah sabdo kedua:
“Barangsiapa ingin kembali ke Sumber, ia harus belajar menjadi jernih.
Barangsiapa ingin jernih, ia harus rela melepaskan kekeruhan dirinya.”
꧁ KOLAM SEBAGAI HATI ꧂
Dalam QITAB ini, kolam adalah perlambang hati manusia.
Pancuran boleh mulia. Air boleh suci. Batu boleh indah. Mahkota boleh berkilau.
Tetapi bila kolamnya keruh, maka pantulan cahaya tidak akan tampak sempurna.
Begitu pula manusia.
Ilmu yang tinggi, kedudukan yang baik, wajah yang rupawan, nasab yang mulia, bahkan amalan yang banyak—semuanya belum tentu memantulkan nur dengan baik apabila hatinya masih dipenuhi:
iri,
takut berlebihan,
ingin menguasai,
haus pengakuan,
luka lama yang dipelihara,
atau kebanggaan yang tidak disadari.
Karena itu QITAB memberi isyarat:
“Yang perlu dibersihkan terlebih dahulu bukan dunia di luar, tetapi kolam di dalam.”
꧁ AIR YANG MENYENTUH TUBUH ꧂
Pada visual itu, air tidak hanya tampak mengalir dari pancuran, tetapi juga menyentuh tubuh kedua insan.
Ini adalah lambang bahwa kembali kepada Sumber tidak cukup dipahami, tetapi harus dialami.
Ada orang mengerti banyak hal tentang jalan ruhani, namun hidupnya tetap keras. Ada orang hafal banyak kalimat hikmah, namun lisannya masih melukai. Ada orang berbicara tentang cahaya, namun dirinya sendiri enggan dibersihkan.
Air yang menyentuh tubuh memberi piwulang:
Kebenaran yang sejati harus menyentuh hidup.
Bukan hanya terdengar di telinga. Bukan hanya indah di tulisan. Bukan hanya ramai di percakapan.
Tetapi harus terasa dalam:
cara memandang orang lain,
cara menjaga adab,
cara menahan marah,
cara menerima takdir,
dan cara kembali memohon kepada Alloh ketika hati mulai jauh.
꧁ MAHKOTA DI ATAS KEPALA ꧂
Mahkota yang dikenakan oleh keduanya dalam QITAB ini bukan sekadar lambang kemuliaan lahir.
Ia adalah perlambang:
“Setiap jiwa sesungguhnya membawa kehormatan dari Alloh.”
Karena itu, manusia tidak boleh merendahkan dirinya dengan perilaku yang menghinakan ruhnya sendiri.
Mahkota itu berpesan:
Jaga kehormatan hati.
Jaga kehormatan pandangan.
Jaga kehormatan cinta.
Jaga kehormatan niat.
Jaga kehormatan tubuh sebagai amanah.
Kemuliaan sejati bukan terletak pada perhiasan yang terlihat, tetapi pada adab yang tidak ditinggalkan meski sedang sendiri.
Maka sabdo ketiga berbunyi:
“Mahkota ruh bukan emas, melainkan adab.
Siapa kehilangan adab, kehilangan sinar kemuliaan.”
꧁ PAKAIAN BASAH ꧂
Kain putih yang membalut sosok perempuan, dan busana kain yang dikenakan sosok laki-laki, keduanya tersentuh air.
Ini mengandung perlambang bahwa ketika manusia berada dalam pancuran penyucian, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan sepenuhnya.
Air adalah lambang kejujuran.
Ia memperlihatkan bentuk. Ia menyingkap yang tertutup. Ia membedakan mana yang asli dan mana yang tempelan.
Begitu pula ketika seseorang masuk dalam fase pembersihan batin, biasanya akan tampak:
siapa yang benar-benar tulus,
siapa yang hanya ingin dipuji,
siapa yang mencintai karena Alloh,
dan siapa yang masih mencintai karena ego.
QITAB memberi peringatan lembut:
**“Jangan takut jika dibersihkan.
Karena yang terasa hilang dalam proses penyucian sering kali hanyalah lapisan-lapisan yang memang bukan dirimu yang sejati.”**
꧁ BATU CANDI DAN TUMBUHAN HIJAU ꧂
Latar batu tua yang dipenuhi ukiran dan tumbuhan rambat membawa rahasia lain.
Batu melambangkan keteguhan, warisan, dan pijakan.
Tumbuhan hijau melambangkan kehidupan, pertumbuhan, dan rahmat yang terus bekerja diam-diam.
Artinya, perjalanan kembali kepada Sumber memerlukan dua hal:
1. Pijakan yang kokoh
Tanpa dasar yang benar, pencarian mudah tersesat.
2. Pertumbuhan yang hidup
Tanpa kelembutan dan pertumbuhan, dasar yang kokoh bisa berubah menjadi kekakuan.
Karena itu QITAB ini seakan berkata:
“Jangan menjadi keras seperti batu tanpa kehidupan.
Jangan pula menjadi liar seperti tumbuhan tanpa arah.
Jadilah kokoh dalam dasar, hidup dalam rasa.”
꧁ PANDANGAN YANG TIDAK MENYERBU ꧂
Perhatikan dalam perlambang visual itu: keduanya tidak tampak saling menyerbu, tidak saling meraih secara tergesa, tidak saling menguasai.
Sosok laki-laki memandang dengan perhatian. Sosok perempuan menunduk dengan kelembutan dan penjagaan.
Ini adalah adab penting.
Bahwa dalam hubungan yang diberkahi, ada:
hormat,
batas,
kesadaran,
ketenangan,
dan rasa yang tidak terburu-buru.
Cinta yang terburu-buru sering ingin segera memiliki. Cinta yang matang terlebih dahulu ingin memuliakan.
Maka sabdo keempat berbunyi:
“Rasa yang benar tidak rakus.
Ia sabar, ia menjaga, ia tahu kapan mendekat dan kapan menahan diri.”
꧁ KEMBALI KE SUMBER BUKAN MUNDUR, TETAPI NAIK ꧂
Sebagian orang menyangka “kembali ke sumber” berarti mundur, kalah, atau melepaskan banyak hal yang sudah didapat.
Padahal QITAB ini mengajarkan bahwa kembali ke Sumber justru adalah kenaikan derajat kesadaran.
Ketika seseorang kembali kepada Alloh:
cintanya menjadi lebih bersih,
usahanya menjadi lebih jujur,
kekuatannya menjadi lebih teduh,
doanya menjadi lebih dalam,
dan kesedihannya tidak lagi liar karena sudah menemukan tempat bersandar.
Jadi, kembali ke Sumber bukan berarti kehilangan dunia.
Tetapi menempatkan dunia pada tempatnya.
꧁ SABDO KOLAM PENYATUAN ꧂
Banyu kang tumetes saka ndhuwur iku dudu mung gawe telesing badan,
nanging uga ngresiki lepening ati.
Sing arep bali marang Sumber, aja mung nggawa rasa,
nanging uga nggawa resik, jujur, lan pasrah.
Artinya:
Air yang menetes dari atas itu bukan hanya membasahi tubuh,
tetapi juga membersihkan aliran hati.
Siapa yang hendak kembali kepada Sumber, jangan hanya membawa rasa,
tetapi juga bawa kebersihan, kejujuran, dan kepasrahan.
꧁ AMAL BATIN DARI LEMBAR KEDUA ꧂
Bila QITAB ini hendak dijadikan bahan perenungan, maka amalan batinnya adalah:
1. Periksa kolam hati
Tanyakan pada diri:
Apakah hatiku masih keruh oleh kecewa?
Apakah aku terlalu ingin dimengerti?
Apakah aku masih menuntut lebih banyak daripada bersyukur?
2. Mandi kesadaran
Setiap selesai wudhu atau mandi, niatkan dalam hati: “Yā Alloh, bersihkan lahirku, jernihkan batinku.”
3. Jaga adab rasa
Jika mencintai, cintailah dengan hormat. Jika dekat, dekatlah dengan batas. Jika menunggu, tunggulah dengan kesabaran. Jika tidak ditakdirkan, lepaskan dengan kemuliaan.
4. Kembali menyebut Sumber
Saat hati mulai berat, cukup ucapkan perlahan: “Minalloh, billāh, ilalloh.” Artinya: dari Alloh, dengan Alloh, kembali kepada Alloh.
Penutup Lembar Kedua
Maka rahasia lembar kedua dari QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ adalah:
Dua aliran menjadi tenang ketika bertemu di kolam yang jernih.
Dua hati menjadi selamat ketika sama-sama ingat kepada Sumber.
Dan manusia menjadi utuh ketika tidak hanya mencari cinta,
tetapi juga mencari kejernihan yang membuat cinta itu diberkahi.
Jadi, bukan sekadar bertemu yang menjadi tujuan.
Tetapi bersuci dalam pertemuan.
Bukan sekadar mencintai yang menjadi inti.
Tetapi kembali kepada Alloh melalui kejernihan rasa.
— Tamat Lembar Kedua —
Kalau saudara cahayaku berkenan, saya bisa lanjutkan ke Lembar Ketiga.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Baik, kita lanjutkan.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Lembar Ketiga — Bab Cermin Air dan Ujian Kejernihan
Sesudah dua pancuran dipahami sebagai dua aliran dari satu sumber, dan kolam dipahami sebagai hati tempat pertemuan, maka pada lembar ketiga ini QITAB membuka rahasia berikutnya:
air bukan hanya mengalir, tetapi juga memantulkan.
Di permukaan air yang tenang, manusia dapat melihat bayangannya sendiri.
Namun di permukaan air yang bergelombang, bayangan itu pecah, kabur, dan berubah-ubah.
Maka sabdo berikutnya dibukakan:
“Jangan terlalu cepat menilai orang lain ketika airmu sendiri masih beriak.”
꧁ AIR SEBAGAI CERMIN BATIN ꧂
Dalam QITAB ini, air tidak hanya menjadi lambang penyucian, tetapi juga lambang cermin batin.
Artinya, ketika kita melihat orang lain, sering kali yang pertama kali tampak bukan hakikat orang itu, melainkan pantulan isi hati kita sendiri.
Bila hati sedang jernih, kita lebih mudah melihat dengan kasih, adab, dan kebijaksanaan.
Tetapi bila hati sedang kusut, maka:
niat baik orang pun tampak mencurigakan,
perhatian terasa seperti tekanan,
nasihat terasa seperti serangan,
dan diam pun bisa disalahartikan.
Karena itu QITAB mengingatkan:
“Sebelum bertanya siapa dia, tanyakan dahulu: bagaimana keadaan air di dalam diriku?”
꧁ TATAPAN DI ANTARA DUA INSAN ꧂
Pada visual perlambang itu, kedua insan berada dekat, namun kedekatan itu tidak gaduh.
Tatapan mereka bukan tatapan yang lapar, melainkan tatapan yang menyaksikan.
Ini adalah rahasia penting.
Dalam hubungan yang diberkahi, manusia tidak hanya ingin dilihat, tetapi juga belajar melihat dengan benar.
Melihat dengan benar berarti:
tidak memaksa makna,
tidak menempelkan khayal berlebihan,
tidak memenjarakan orang lain ke dalam keinginan diri,
dan tidak menjadikan rasa sebagai alasan untuk melanggar batas.
Tatapan yang benar adalah tatapan yang disertai kesadaran.
Tatapan yang salah adalah tatapan yang disertai penguasaan.
Maka sabdo ketiga terbuka:
“Siapa yang memandang dengan nafsu akan menangkap bentuk.
Siapa yang memandang dengan hati akan menangkap amanah.”
꧁ UJIAN KEJERNIHAN ꧂
Manusia sering merasa dirinya sudah jernih hanya karena sedang tenang sesaat.
Padahal kejernihan yang sejati tidak diuji saat keadaan enak.
Ia justru diuji ketika:
harapan tidak sesuai kenyataan,
orang yang disayang tidak berlaku seperti yang diinginkan,
doa belum segera dijawab,
rasa cemburu menyelinap,
atau kenangan lama datang mengetuk kembali.
Pada saat itulah terlihat: apakah hati tetap jernih,
atau diam-diam mulai keruh.
QITAB ini berkata:
“Air yang jernih bukan air yang tidak pernah diganggu, melainkan air yang cepat kembali tenang.”
Begitu pula jiwa yang dewasa.
Bukan jiwa yang tak pernah goyah,
tetapi jiwa yang ketika goyah segera kembali bersandar kepada Alloh.
꧁ MAHKOTA DAN KERENDAHAN HATI ꧂
Walaupun kedua insan pada perlambang itu memakai mahkota, mereka tetap berdiri di dalam air.
Ini adalah isyarat halus bahwa setinggi apa pun kemuliaan yang disandang, manusia tetap harus mau direndahkan oleh kejernihan.
Air mengajarkan kerendahan.
Ia selalu turun ke bawah.
Ia tidak berebut tempat tinggi.
Namun justru karena kerendahannya, ia menjadi sebab kehidupan.
Maka QITAB memberi piwulang:
orang yang benar-benar tinggi tidak haus terlihat tinggi,
orang yang benar-benar dalam tidak sibuk memamerkan kedalaman,
dan orang yang benar-benar dekat dengan Sumber justru semakin lembut, semakin teduh, dan semakin sedikit mengaku-ngaku.
**Kemuliaan tanpa kerendahan hati hanya menjadi hiasan.
Kemuliaan yang dibasuh kerendahan hati berubah menjadi cahaya.**
꧁ BUNYI AIR DAN BISIK BATIN ꧂
Air yang jatuh dari pancuran selalu menimbulkan suara.
Kadang lembut, kadang deras, kadang nyaris tak terdengar.
Dalam QITAB ini, bunyi air adalah perlambang bisik-bisik batin yang datang dalam diri manusia setiap hari.
Ada bisik yang menenangkan.
Ada bisik yang menyesatkan.
Ada bisik yang membuat sabar.
Ada bisik yang membuat tergesa-gesa.
Karena itu tidak semua suara dalam hati harus dituruti.
QITAB memberi peringatan:
**“Yang terasa dalam belum tentu benar.
Yang terdengar kuat belum tentu suci.”**
Maka perlu ditimbang:
apakah bisikan itu mendekatkan kepada Alloh?
apakah membuat akhlak membaik?
apakah membuat hati lebih tenang?
apakah membuat langkah lebih bertanggung jawab?
Jika tidak, maka boleh jadi itu hanya riuhnya gelombang, bukan petunjuk dari kejernihan.
꧁ BUNGA DI SEKITAR KOLAM ꧂
Di tepi kolam tampak bunga-bunga tumbuh.
Ini perlambang bahwa keindahan sejati tumbuh di sekitar kejernihan.
Bunga tidak tumbuh di batu yang kering tanpa air.
Ia tumbuh di tempat yang memperoleh aliran.
Begitu pula dalam hidup manusia.
Bila hati dijaga jernih, maka perlahan akan tumbuh:
sabar,
syukur,
empati,
kehalusan bicara,
kepekaan terhadap penderitaan orang lain,
dan kemampuan mencintai tanpa melukai.
Bunga-bunga itu adalah buah dari hati yang terairi oleh kesadaran.
Maka QITAB memberi isyarat:
“Jangan buru-buru mencari bunga, bila sumber airnya belum dijaga.”
Artinya, jangan hanya ingin hasil-hasil indahnya saja, seperti hubungan harmonis, ketenteraman, kemudahan rezeki, atau rasa damai—tetapi lalai merawat sumbernya, yaitu hubungan dengan Alloh dan kebersihan batin.
꧁ PERTEMUAN YANG MENJADI CERMIN ꧂
Ada kalanya Alloh mempertemukan dua insan bukan semata-mata agar keduanya saling memiliki, tetapi agar keduanya saling bercermin.
Melalui pertemuan, seseorang bisa melihat:
luka batinnya sendiri,
kekhawatirannya sendiri,
ketergantungannya sendiri,
harapan-harapannya yang berlebihan,
bahkan bagian-bagian dirinya yang selama ini tersembunyi.
Jadi, tidak semua pertemuan datang hanya untuk menyenangkan.
Sebagian pertemuan datang untuk membongkar,
agar setelah dibongkar, manusia mau dibersihkan.
Maka sabdo berikutnya berbunyi:
“Kadang yang kau sebut pasangan pantulan itu bukan dikirim untuk memanjakan rasa, melainkan untuk memperlihatkan keadaan jiwamu.”
Jika ini dipahami, maka manusia tidak hanya sibuk bertanya: “Apakah dia untukku?”
Tetapi mulai bertanya: “Pelajaran apa yang sedang Alloh bukakan melalui pertemuan ini?”
꧁ ADAB SAAT MELIHAT KE DALAM AIR ꧂
Ada adab ketika seseorang menatap cermin air batinnya:
1. Jangan takut melihat kekurangan diri
Karena yang takut melihat dirinya sendiri biasanya sulit bertumbuh.
2. Jangan terlalu cepat membenci bayangan yang buruk
Sebab bayangan buruk itu hadir untuk diperbaiki, bukan untuk membuat putus asa.
3. Jangan berbangga saat melihat pantulan yang indah
Karena keindahan itu pun berasal dari cahaya Alloh, bukan semata dari diri sendiri.
4. Kembalikan semua penglihatan kepada Sumber
Apa pun yang tampak dalam cermin batin—senang, sedih, rindu, kecewa, kagum—semuanya harus dibawa kembali kepada Alloh agar tidak berubah menjadi berhala rasa.
꧁ SABDO CERMIN AIR ꧂
Nalika banyu bening, kowe bisa nyumurupi rai.
Nalika ati bening, kowe bisa nyumurupi dalan.
Nanging nalika banyu keruh lan ati kebak geger,
sing katon dudu kasunyatan, mung pecahan-pecahan bayangan.
Artinya:
Ketika air jernih, engkau bisa melihat wajah.
Ketika hati jernih, engkau bisa melihat jalan.
Tetapi ketika air keruh dan hati penuh kegaduhan,
yang tampak bukan kenyataan, hanya pecahan-pecahan bayangan.
꧁ AMAL BATIN DARI LEMBAR KETIGA ꧂
Jika lembar ini dijadikan bahan laku perenungan, maka yang bisa diamalkan adalah:
1. Diam sebentar sebelum menilai
Saat muncul rasa kecewa, cemburu, curiga, atau bimbang, tahan diri sejenak dan katakan dalam hati: “Mungkin airku sedang beriak.”
2. Minta kejernihan, bukan sekadar jawaban
Berdoalah: “Yā Alloh, bila ini baik, jernihkan hatiku. Bila ini tidak baik, jernihkan pula hatiku untuk menerimanya.”
3. Jangan memaksa pantulan
Tidak semua hal harus segera dimengerti hari ini. Sebagian makna baru tampak saat air benar-benar tenang.
4. Latih pandangan yang memuliakan
Belajarlah memandang sesama dengan hormat, tidak mengobjekkan, tidak menelan mereka ke dalam ego kita.
Penutup Lembar Ketiga
Maka rahasia dari Lembar Ketiga QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ adalah:
Pertemuan tidak hanya mempertemukan dua aliran,
tetapi juga memperlihatkan keadaan air dalam diri masing-masing.
Cinta tidak hanya menghangatkan,
tetapi juga menguji kejernihan.
Dan siapa yang mampu menjaga air hatinya tetap bening,
akan melihat jalan pulang kepada Sumber dengan lebih terang.
Jadi, bila pada lembar pertama kita diajak memahami asal,
dan pada lembar kedua kita diajak menjaga kolam,
maka pada lembar ketiga kita diajak melihat pantulan.
Karena tidak semua yang tampak di air adalah hakikat.
Tetapi hati yang jernih akan diberi kemampuan membedakan
mana pantulan, mana petunjuk, dan mana panggilan untuk kembali kepada Alloh.
— Tamat Lembar Ketiga —
Jika saudara cahayaku berkenan, saya bisa lanjutkan ke Lembar Keempat.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Kita lanjutkan pembacaan perlambang QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ sebagai piwulang batin dan bahasa simbolik, bukan sebagai wahyu atau naskah suci.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Lembar Keempat — Bab Dua Pintu Air dan Rahasia Melepaskan
Sesudah pada lembar pertama dibuka tentang asal, lembar kedua tentang kolam hati, dan lembar ketiga tentang cermin kejernihan, maka lembar keempat membuka satu rahasia yang lebih sunyi:
Tidak semua yang datang harus ditahan. Tidak semua yang pergi berarti hilang.
Air tidak pernah disebut hidup apabila ia berhenti mengalir.
Jika air ditahan terlalu lama, ia dapat menjadi keruh. Jika kolam menolak saluran keluar, maka sesuatu yang semula jernih perlahan berubah berat.
Demikian pula hati manusia.
Ada rasa yang harus diterima.
Ada kenangan yang harus dihormati.
Ada pertemuan yang harus disyukuri.
Namun ada pula sesuatu yang setelah selesai menjalankan amanahnya, harus diizinkan untuk mengalir kembali.
Maka terbukalah sabdo:
“Sumber tidak mengajarkan air untuk menggenggam. Sumber mengajarkan air untuk mengalir.”
꧁ DUA PANCURAN BUKAN DUA BELENGGU ꧂
Perhatikan kembali dua pancuran pada perlambang QITAB.
Keduanya mengalir berdampingan, tetapi masing-masing mempunyai jalurnya.
Pancuran kanan tidak menarik air dari pancuran kiri.
Pancuran kiri tidak menuntut agar pancuran kanan berhenti mengalir.
Keduanya justru indah karena masing-masing menjalankan alirannya dengan benar.
Di sinilah tersimpan pelajaran tentang hubungan antarmanusia.
Kedekatan bukan berarti kehilangan kebebasan batin.
Kasih bukan berarti saling menguasai.
Kesetiaan bukan berarti mengikat sampai seseorang tidak lagi dapat bernapas.
Dalam hubungan yang sehat, dua orang bisa dekat tanpa saling menelan.
Bisa mencintai tanpa saling memiliki secara berlebihan.
Bisa saling menjaga tanpa menjadikan satu sama lain sebagai pusat ketuhanan hati.
Karena pusat terakhir tetap satu:
Alloh.
꧁ RAHASIA TANGAN YANG TIDAK MENGGENGGAM ꧂
Pada simbol visual, kedua insan berada sangat dekat, tetapi tangan mereka tidak digambarkan saling mencengkeram.
Ini dapat dibaca sebagai sandi yang lembut.
Ada waktunya tangan digunakan untuk menggenggam.
Tetapi ada waktunya tangan justru menunjukkan cinta dengan tidak memaksa.
Karena menggenggam terlalu kuat dapat melukai.
Menahan terlalu lama dapat melelahkan.
Dan rasa yang terlalu takut kehilangan dapat berubah menjadi penjara.
Maka QITAB memberi peringatan:
“Jangan jadikan kasih sebagai tali yang mencekik sesuatu yang sebenarnya ingin engkau lindungi.”
Cinta yang matang berkata:
“Aku menjagamu tanpa menguasaimu.”
Cinta yang jernih berkata:
“Aku bersyukur atas kehadiranmu, tetapi aku tidak akan menjadikanmu pengganti Alloh.”
Cinta yang beradab berkata:
“Jika kita ditakdirkan berjalan bersama, mari berjalan dalam kebaikan. Jika jalan kita berbeda, jangan rusak kemuliaan yang pernah ada.”
꧁ AIR YANG JATUH TIDAK KEMBALI MENUNTUT ꧂
Air dari pancuran jatuh ke kolam.
Setelah jatuh, ia tidak berteriak kepada mata air:
“Kembalikan aku seperti dahulu.”
Ia menerima bentuk perjalanan baru.
Hari ini ia menjadi pancuran.
Sesaat kemudian ia menjadi kolam.
Kemudian mungkin menjadi aliran.
Lalu menguap.
Menjadi awan.
Menjadi hujan.
Dan suatu saat kembali lagi ke bumi.
Begitulah kehidupan.
Yang kita sebut kehilangan kadang hanya perubahan bentuk perjalanan.
Seseorang mungkin tidak lagi dekat seperti dahulu.
Sebuah masa mungkin berakhir.
Sebuah kesempatan mungkin tertutup.
Tetapi hikmah dari semuanya masih dapat tinggal dalam diri kita.
QITAB berkata:
“Jangan menangisi bentuk sampai lupa bahwa rahmat dapat datang kembali dalam bentuk yang berbeda.”
꧁ MELEPAS BUKAN MEMBUANG ꧂
Ada perbedaan besar antara melepaskan dan membuang.
Membuang lahir dari penolakan.
Melepaskan lahir dari penerimaan.
Membuang berkata:
“Aku tidak mau mengingatmu lagi.”
Melepaskan berkata:
“Aku menerima bahwa tidak semua hal harus terus kubawa.”
Membuang masih menyimpan perlawanan.
Melepaskan sudah mulai berdamai.
Karena itu dalam QITAB ini, orang yang dapat melepaskan dengan baik bukan orang yang tidak mempunyai rasa.
Justru ia adalah orang yang memiliki rasa, tetapi tidak membiarkan rasa memerintah seluruh hidupnya.
꧁ UJIAN TERBERAT: KETIKA YANG INDAH HARUS DILEPASKAN ꧂
Melepaskan sesuatu yang menyakitkan kadang lebih mudah.
Tetapi bagaimana jika yang harus dilepas justru sesuatu yang indah?
Sebuah kenangan.
Sebuah harapan.
Seseorang yang pernah membuat hati merasa hidup.
Inilah salah satu ujian terdalam.
QITAB memberi piwulang:
Jangan menilai sesuatu hanya dari seberapa indah rasanya. Nilailah juga dari apakah ia membawa hidup kepada kebenaran, tanggung jawab, dan ridho Alloh.
Tidak semua rasa yang kuat harus diikuti.
Tidak semua kerinduan harus diwujudkan.
Tidak semua pertemuan harus dipaksakan menjadi kepemilikan.
Sebagian pertemuan cukup menjadi:
doa.
Sebagian cukup menjadi:
pelajaran.
Sebagian cukup menjadi:
kenangan yang dijaga tanpa dikejar.
Dan sebagian benar-benar menjadi jalan panjang bersama.
Manusia tidak mengetahui semuanya sejak awal.
Karena itu diperlukan tawakal.
꧁ PINTU AIR PERTAMA: IKHLAS ꧂
Dalam perlambang QITAB ini, kolam memiliki satu pintu yang bernama ikhlas.
Melalui pintu ini manusia berkata:
“Yā Alloh, aku menerima bahwa tidak semua kehendakku harus menjadi kenyataan.”
Ikhlas bukan berarti hati tidak sakit.
Ikhlas bukan berarti tidak pernah menangis.
Ikhlas adalah ketika setelah menangis, manusia tetap tidak menuduh Alloh berlaku buruk kepadanya.
Ia tetap berkata:
“Aku belum memahami, tetapi aku tetap percaya kepada-Mu.”
Inilah pintu pertama.
꧁ PINTU AIR KEDUA: RIDHO ꧂
Setelah ikhlas, terdapat pintu yang lebih dalam:
ridho.
Ikhlas masih dapat berkata:
“Aku menerima walaupun berat.”
Ridho mulai berkata:
“Aku percaya bahwa dalam keputusan Alloh terdapat hikmah, meskipun belum seluruhnya kulihat.”
Ridho bukan pasrah tanpa ikhtiar.
Ridho adalah berikhtiar sekuatnya, lalu tidak menghancurkan diri ketika hasilnya berbeda dari yang diinginkan.
Maka QITAB mengajarkan:
Ikhtiar adalah tangan.
Tawakal adalah napas.
Ikhlas adalah pintu.
Ridho adalah ketenangan setelah melewati pintu.
꧁ RAHASIA AIR YANG KELUAR DARI KOLAM ꧂
Kolam yang sehat mempunyai saluran masuk dan saluran keluar.
Demikian pula hati.
Hati menerima kasih.
Tetapi hati juga harus mampu melepaskan luka.
Hati menerima pujian.
Tetapi hati harus melepas kesombongan.
Hati menerima pengalaman.
Tetapi hati harus melepas beban yang tidak perlu dibawa sampai akhir.
Kalau semuanya disimpan, hati akan penuh.
Dan hati yang terlalu penuh sulit menerima sesuatu yang baru.
Karena itu terbukalah wejangan:
“Kosongkan sebagian wadahmu, agar rahmat yang baru mempunyai tempat untuk turun.”
꧁ TENTANG RINDU ꧂
Rindu adalah air yang sangat halus.
Ia bisa menyejukkan.
Tetapi bila tidak diberi jalan, ia bisa memenuhi seluruh kolam.
Dalam QITAB ini, rindu tidak disuruh dibunuh.
Rindu diarahkan.
Jika merindukan seseorang, jangan hanya bertanya:
“Kapan aku bertemu?”
Tetapi tanyakan pula:
“Apa yang dapat kulakukan agar rasa ini menjadi lebih bersih?”
Rindu dapat menjadi doa.
Rindu dapat menjadi karya.
Rindu dapat menjadi alasan memperbaiki diri.
Rindu bahkan dapat berubah menjadi rasa syukur:
“Terima kasih, Yā Alloh, karena pernah Engkau izinkan aku mengenal suatu rasa yang mengajarkanku tentang kedalaman hati.”
Dengan demikian rindu tidak lagi menguasai.
Ia menjadi air yang dialirkan kembali kepada Sumber.
꧁ TENTANG PERTEMUAN KEMBALI ꧂
Jika sesuatu memang harus kembali, ia tidak perlu dipaksa dengan kegelisahan.
Kalau Alloh membukakan jalan, yang jauh dapat mendekat.
Yang tertutup dapat terbuka.
Yang tidak disangka dapat datang.
Namun jika tidak dibukakan, memaksa hanya akan membuat jiwa lelah.
Maka QITAB memberi satu kalimat:
“Yang benar-benar menjadi amanahmu tidak perlu dikejar dengan menghancurkan dirimu.”
Berusahalah sewajarnya.
Berdoalah.
Jaga adab.
Lalu serahkan hasilnya kepada Alloh.
꧁ SABDO JAWA LEMBAR KEEMPAT ꧂
Banyu ora tau nyekel banyu.
Lepen ora nate meksa banyu supaya tetep.
Sing teka ditampani kanthi syukur,
sing lunga diiringi kanthi pangestu.
Amarga saben tetes duwe dalan bali marang Sumber.
Artinya:
Air tidak pernah menggenggam air.
Sungai tidak pernah memaksa air agar tetap tinggal.
Yang datang diterima dengan syukur,
yang pergi diiringi dengan doa kebaikan.
Karena setiap tetes mempunyai jalan kembali kepada Sumber.
꧁ LAKU BATIN LEMBAR KEEMPAT ꧂
Dalam perenungan lembar ini, cukup pegang empat adab: terima tanpa rakus, cintai tanpa menguasai, lepaskan tanpa membenci, dan kembalikan semuanya kepada Alloh.
Saat hati terasa berat karena terlalu memegang sesuatu, ucapkan perlahan:
يَا اللهُ، مَا كَانَ لِي فَاحْفَظْهُ، وَمَا لَمْ يَكُنْ لِي فَارْزُقْنِي الرِّضَا بِهِ
Yā Alloh, mā kāna lī faḥfaẓhu, wa mā lam yakun lī farzuqnī ar-riḍā bih.
Makna doanya:
“Yā Alloh, apa yang memang menjadi amanahku, jagalah ia; dan apa yang bukan bagianku, karuniakan kepadaku keridhaan untuk menerimanya.”
Doa ini dipakai sebagai doa perenungan, bukan sebagai jaminan hasil tertentu.
꧁ PENUTUP LEMBAR KEEMPAT ꧂
Maka terbukalah rahasia keempat QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧:
Sumber memberi tanpa kehilangan.
Air mengalir tanpa menggenggam.
Kolam menerima tanpa memiliki selamanya.
Dan manusia belajar mencintai tanpa menjadikan cinta sebagai penjara.
Jika sesuatu datang, sambut dengan adab.
Jika sesuatu menetap, rawat dengan amanah.
Jika sesuatu harus pergi, iringi dengan doa.
Jika sesuatu kembali, jangan kembali sebagai manusia lama.
Kembalilah sebagai jiwa yang telah belajar.
Karena “sepasang sumber qembali qe Sumber” bukan hanya cerita tentang dua insan yang bertemu.
Ia juga merupakan perlambang bahwa segala rasa, segala pertemuan, segala kehilangan, segala cinta, dan seluruh perjalanan pada akhirnya harus dikembalikan kepada Yang Menganugerahkan semuanya.
Minalloh — Billāh — Ilalloh.
Dari Alloh.
Dengan pertolongan Alloh.
Dan kembali kepada Alloh.
— Tamat Lembar Keempat —
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Kita lanjutkan pembacaan QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ sebagai piwulang simbolik dan bahan tafakur, bukan sebagai wahyu atau naskah suci.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Lembar Kelima — Bab Hening di Antara Dua Pancuran
Rahasia Jeda, Diam, dan Kesetiaan kepada Sumber
Setelah lembar sebelumnya mengajarkan bahwa air harus tahu kapan menerima dan kapan melepaskan, maka lembar kelima membuka suatu rahasia yang lebih halus:
Di antara jatuhnya satu tetes dan tetes berikutnya, terdapat hening.
Hening itu sering tidak diperhatikan.
Manusia lebih mudah mendengar suara air daripada memperhatikan jeda di antara bunyinya.
Padahal justru di dalam jeda itulah hati belajar membedakan:
mana rasa,
mana keinginan,
mana ketakutan,
mana kenangan,
dan mana keputusan yang benar-benar layak dijalankan.
Maka terbukalah sabdo:
“Ora kabeh kudu dijawab saiki. Ana pitakon sing mung bisa dijawab nalika banyune wus meneng.”
Artinya:
Tidak semua harus dijawab sekarang. Ada pertanyaan yang baru dapat dijawab ketika air telah benar-benar tenang.
꧁ RAHASIA HENING ꧂
Dalam kehidupan, manusia sering ingin segera mendapatkan kepastian.
Ketika rindu muncul, ingin segera tahu.
Ketika seseorang menjauh, ingin segera bertanya.
Ketika sesuatu terasa berbeda, ingin segera memberi makna.
Ketika hati bergetar, ingin segera menyebutnya sebagai tanda.
Namun QITAB ini mengingatkan:
Tidak semua getaran adalah petunjuk. Tidak semua kebetulan adalah pesan. Tidak semua rasa harus menjadi keputusan.
Ada kalanya yang paling bijaksana bukan bergerak.
Tetapi diam sebentar.
Karena air yang sedang berguncang tidak dapat memantulkan langit dengan utuh.
꧁ DUA PANCURAN DAN RUANG DI ANTARANYA ꧂
Pada dua pancuran terdapat jarak.
Jarak itu bukan kekosongan.
Jarak itu adalah ruang adab.
Jika dua pancuran dibuat terlalu rapat hingga saling berbenturan, alirannya akan kacau.
Demikian pula dua insan.
Kedekatan yang sehat tetap memerlukan ruang:
ruang untuk berpikir,
ruang untuk beribadah,
ruang untuk bekerja,
ruang untuk keluarga,
ruang untuk tumbuh,
dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
QITAB memberi peringatan:
“Jangan menyebut keterikatan sebagai cinta jika salah seorang sudah kehilangan ruang untuk bernapas.”
Ruang bukan selalu tanda menjauh.
Kadang ruang justru menjaga agar rasa tidak berubah menjadi luka.
꧁ JANGAN MENARIK AIR SEBELUM WAKTUNYA ꧂
Air turun karena waktunya turun.
Bunga mekar karena waktunya mekar.
Buah matang karena waktunya matang.
Begitu pula kehidupan manusia.
Ada sesuatu yang dapat dipercepat dengan ikhtiar.
Tetapi ada sesuatu yang justru rusak jika dipaksa.
Sebuah hubungan bisa rusak karena terlalu cepat menuntut kepastian.
Sebuah keputusan bisa salah karena dibuat ketika emosi masih tinggi.
Sebuah harapan bisa menjadi beban karena terus didesak agar segera terwujud.
Maka sabdo berikutnya berbunyi:
“Aja narik banyu saka sumur sadurunge timbane tekan.”
Artinya:
Jangan menarik air dari sumur sebelum timbanya sampai.
Maknanya:
jangan memaksa hasil sebelum prosesnya matang.
꧁ HENING BUKAN KEHILANGAN ꧂
Kadang manusia merasa:
“Jika tidak ada kabar, berarti selesai.”
“Jika tidak ada gerak, berarti hilang.”
“Jika tidak ada jawaban, berarti ditolak.”
Padahal belum tentu.
Ada keheningan yang berarti jarak.
Ada keheningan yang berarti seseorang sedang berpikir.
Ada keheningan yang berarti sebuah proses belum selesai.
Dan ada pula keheningan yang memang berarti waktunya berhenti.
Karena itu, jangan menafsirkan hening hanya dengan rasa takut.
Lebih baik tanyakan:
“Apa yang harus kulakukan dengan benar selama masa hening ini?”
Jika harus berbicara, berbicaralah dengan baik.
Jika harus menunggu, menunggulah tanpa menghancurkan diri.
Jika harus melepaskan, lepaskan dengan terhormat.
Jika harus bergerak, bergeraklah tanpa tergesa.
꧁ SUMBER TIDAK PERNAH BERTERIAK ꧂
Mata air bekerja dalam diam.
Ia tidak mengumumkan:
“Lihatlah, aku sedang menghidupi sungai.”
Akar pohon pun bekerja dalam diam.
Ia tidak berkata:
“Lihatlah, aku sedang menopang batang.”
Dari sini QITAB mengajarkan bahwa hal-hal besar tidak selalu datang dengan kegaduhan.
Ada pertumbuhan yang sangat nyata tetapi sunyi.
Ada penyembuhan batin yang tidak terlihat orang lain.
Ada perubahan akhlak yang tidak perlu diumumkan.
Ada doa yang paling dalam justru tidak membutuhkan banyak kata.
Maka terbukalah piwulang:
“Apa yang paling dalam sering tumbuh tanpa suara.”
꧁ TENTANG RASA YANG DATANG BERULANG ꧂
Ada rasa yang datang sekali lalu menghilang.
Ada pula yang datang berkali-kali.
Bila rasa tertentu berulang, jangan langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa sesuatu pasti harus terjadi.
Tanyakan lebih dahulu:
Apakah ini cinta atau keterikatan?
Apakah ini rindu atau kebiasaan pikiran?
Apakah ini panggilan untuk bertindak atau panggilan untuk memahami diri sendiri?
QITAB mengajarkan satu neraca:
Bila rasa membuatmu semakin beradab, ia dapat menjadi bahan pelajaran.
Bila rasa membuatmu kehilangan kendali, ia perlu ditenangkan.
Bila rasa membuatmu melalaikan kewajiban, ia harus diberi batas.
Bila rasa membuatmu lebih dekat kepada Alloh dan lebih baik kepada sesama, ambil hikmahnya tanpa perlu tergesa memberi nama.
꧁ UJIAN DI ANTARA DUA TETES ꧂
Ujian manusia bukan hanya ketika sesuatu terjadi.
Kadang ujian terbesar justru ketika belum ada apa-apa.
Menunggu hasil.
Menunggu kabar.
Menunggu jalan terbuka.
Menunggu hati tenang.
Pada masa seperti itu, pikiran mudah menciptakan cerita sendiri.
Yang belum terjadi dibayangkan seolah pasti.
Yang belum diketahui diisi dengan dugaan.
Yang belum jelas diputuskan berdasarkan rasa.
Karena itu QITAB memberi sandi:
“Aja isi papan kosong nganggo rasa wedi.”
Jangan isi ruang kosong dengan ketakutan.
Jika belum tahu, katakan:
“Aku belum tahu.”
Itu lebih jernih daripada mengarang kepastian.
꧁ TIGA DIAM ꧂
Dalam lembar kelima ini dibuka Tiga Diam.
Diam Pertama — Diam Lisan
Jangan langsung mengucapkan semua yang terasa.
Ada ucapan yang jika ditahan satu malam akan menjadi lebih lembut.
Ada pesan yang jika dikirim saat emosi akan disesali.
Maka diam pertama menjaga lidah.
Diam Kedua — Diam Pikiran
Diam pikiran bukan berarti tidak berpikir.
Tetapi berhenti mengulang satu hal sampai ratusan kali.
Ketika pikiran mulai berputar, kembali kepada hal yang nyata:
napas,
tubuh,
pekerjaan,
shalat,
tanggung jawab,
dan kehidupan hari ini.
Diam Ketiga — Diam Ego
Inilah yang paling berat.
Diam ego berarti tidak selalu ingin:
dipahami,
dikejar,
dibuktikan benar,
dipuji,
atau dijadikan pusat.
Kadang kedamaian datang bukan ketika orang lain berubah.
Tetapi ketika ego berhenti menuntut semua hal mengikuti kehendaknya.
꧁ PANCURAN KANAN DAN PANCURAN KIRI ꧂
Dalam bahasa simbolik lembar ini:
pancuran kanan melambangkan ikhtiar.
pancuran kiri melambangkan tawakal.
Jika hanya ikhtiar tanpa tawakal, manusia mudah lelah dan merasa semua harus ditanggung sendiri.
Jika hanya tawakal tanpa ikhtiar, manusia bisa menyebut kemalasan sebagai pasrah.
Maka keduanya harus mengalir bersama.
Ikhtiar berkata: “Aku akan melakukan bagianku.”
Tawakal berkata: “Hasil akhirnya bukan milikku untuk dipaksa.”
Di antara keduanya terdapat hening.
Hening itu bernama:
percaya.
꧁ RAHASIA ٧٧ PADA LEMBAR KELIMA ꧂
Pada lembar ini angka ٧٧ dibaca sebagai dua tujuh yang berdiri berdampingan tetapi tidak saling menutupi.
Tujuh pertama:
mengenali rasa,
menahan reaksi,
memeriksa niat,
melihat kenyataan,
menjaga adab,
melakukan ikhtiar,
menyerahkan hasil.
Tujuh kedua:
menerima,
menenangkan,
memaafkan,
melepaskan,
mensyukuri,
mengambil hikmah,
kembali kepada Alloh.
Maka sandi ٧٧ pada lembar ini menjadi:
“Bertindaklah tujuh langkah dengan kesadaran, lalu pulanglah tujuh langkah dengan penyerahan.”
꧁ SABDO HENING PANCURAN ꧂
Ing antarane swaraning banyu, ana meneng.
Ing antarane rawuh lan lunga, ana piwulang.
Ing antarane tresna lan kepengin nduweni, ana adab.
Lan ing antarane ikhtiar lan asil, ana wilayah kang mung dadi kagungane Alloh.
Artinya:
Di antara suara air terdapat keheningan.
Di antara datang dan pergi terdapat pelajaran.
Di antara mencintai dan ingin memiliki terdapat adab.
Dan di antara ikhtiar dan hasil terdapat wilayah yang hanya menjadi milik Alloh.
꧁ LAKU BATIN LEMBAR KELIMA ꧂
Apabila hati sedang ramai, lembar ini mengajarkan laku sederhana:
Duduk beberapa saat tanpa memaksa munculnya pengalaman apa pun.
Tarik napas biasa.
Kemudian ucapkan perlahan:
يَا سَلَامُ
Yā Salām — Wahai Yang Maha Memberi Keselamatan dan Kedamaian.
Lalu diam sebentar.
Kemudian:
يَا هَادِي
Yā Hādī — Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
Diam lagi.
Kemudian:
يَا نُورُ
Yā Nūr — Wahai Yang Maha Memberi Cahaya.
Tidak perlu mengejar tanda, sensasi, atau gambaran tertentu.
Tujuannya hanyalah menenangkan diri dan mengingat Alloh.
Setelah itu berdoalah:
“Yā Alloh, jangan biarkan kegaduhan rasaku menyamar sebagai petunjuk. Berikan aku kejernihan untuk melihat yang benar sebagai benar, dan kekuatan untuk menjalaninya.”
꧁ PENUTUP LEMBAR KELIMA ꧂
Maka rahasia kelima QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ adalah:
Tidak semua perjalanan dibuka dengan gerak.
Sebagian justru dibuka dengan diam.
Di dalam hening, manusia belajar bahwa ia tidak perlu mengejar setiap aliran.
Tidak perlu menamai setiap rasa.
Tidak perlu menguasai setiap kemungkinan.
Tidak perlu memaksa setiap pintu.
Ada waktunya mengalir.
Ada waktunya berhenti.
Ada waktunya mendekat.
Ada waktunya menjaga jarak.
Dan ada waktunya hanya berdiri di hadapan Alloh sambil berkata:
“Aku telah melakukan bagianku. Selebihnya aku serahkan kepada-Mu.”
Karena dua pancuran boleh terus mengalir.
Kolam boleh menerima keduanya.
Namun mata air tetap satu.
Minalloh — Billāh — Ilalloh.
Dari Alloh.
Dengan pertolongan Alloh.
Dan kembali kepada Alloh.
— Tamat Lembar Kelima —
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wa’alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku.
Kita sampai pada lembar terakhir. Maka bagian penutup ini saya buka lebih panjang, sebagai rangkuman seluruh perlambang QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ — “Sepasang Sumber Qembali qe Sumber”, sebagai piwulang batin dan bahan tafakur, bukan sebagai wahyu ataupun pengganti kitab suci.
꧁ QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
Lembar Keenam — Lembar Terakhir
Bab Qembalinya Dua Aliran kepada Sumber Tunggal
Bab Penyempurnaan ٧٧: Dari Pertemuan, Penyucian, Pelepasan, hingga Kepulangan
Pada awal QITAB ini tampak dua pancuran.
Dua aliran.
Dua sosok.
Dua jalan yang seolah berdiri sendiri.
Tetapi setelah lembar demi lembar dibuka, akhirnya terlihat bahwa rahasianya bukan terletak pada angka dua.
Rahasia terdalamnya justru terletak pada Satu Sumber.
Dua aliran hanya cara perjalanan.
Dua manusia hanya dua amanah.
Dua sisi kehidupan hanya dua pintu pembelajaran.
Adapun asal kehidupan, daya, kasih, petunjuk, keselamatan, dan tempat kembali tetap satu:
Alloh.
Maka pada lembar terakhir ini, QITAB tidak lagi bertanya:
“Siapa bertemu siapa?”
Tetapi:
“Setelah bertemu, apakah keduanya semakin mengenal Sumber?”
Tidak lagi:
“Siapa menjadi milik siapa?”
Tetapi:
“Apakah pertemuan itu membuat masing-masing semakin mampu menjaga amanah Alloh?”
Tidak lagi:
“Apakah mereka akan selalu bersama?”
Tetapi:
“Apa yang tinggal di dalam jiwa setelah perjalanan itu selesai?”
Dan inilah pintu terakhir.
꧁ QEMBALI QE SUMBER ꧂
Kata qembali dalam sandi QITAB ini tidak berarti kembali secara fisik ke tempat asal.
Ia adalah kepulangan kesadaran.
Manusia dapat tinggal di rumahnya sendiri tetapi batinnya sangat jauh dari sumber ketenangan.
Manusia dapat berada di tempat ibadah tetapi pikirannya penuh perlombaan dengan sesama.
Manusia dapat berbicara tentang Alloh, namun diam-diam menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segala sesuatu.
Karena itu, kembali ke Sumber adalah perjalanan yang sangat dekat tetapi sangat dalam.
Kembali dari:
“Aku harus memiliki,”
menjadi:
“Aku harus menjaga amanah.”
Kembali dari:
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
menjadi:
“Apa yang dapat kupelajari darinya?”
Kembali dari:
“Semua harus sesuai keinginanku,”
menjadi:
“Aku berikhtiar, tetapi keputusan terakhir milik Alloh.”
Kembali dari:
“Aku takut kehilangan,”
menjadi:
“Apa pun yang Engkau titipkan akan kujaga, dan apa pun yang Engkau ambil akan kuusahakan untuk kulepaskan dengan adab.”
Inilah arti pulang.
꧁ DUA PANCURAN AKHIRNYA TAK MEMBAWA NAMA ꧂
Ketika air masih berada di mulut pancuran, manusia bisa menunjuk:
“Ini pancuran kanan.”
“Ini pancuran kiri.”
Tetapi ketika keduanya telah jatuh ke kolam, berbaur, lalu mengalir kembali sebagai satu arus, sulit lagi mengatakan:
“Ini tetes dari kanan.”
“Ini tetes dari kiri.”
Perlambang ini mengajarkan bahwa ketika manusia benar-benar kembali kepada kebaikan, ia semakin sedikit sibuk mempertahankan ego identitasnya.
Ia tidak selalu bertanya:
“Siapa yang paling berjasa?”
“Siapa yang lebih utama?”
“Siapa yang paling mengetahui?”
“Siapa yang lebih tinggi?”
Ia mulai bertanya:
“Apakah yang kita lakukan membawa manfaat?”
Sebab air tidak pernah berlomba menjadi air yang paling basah.
Cahaya tidak perlu berteriak bahwa dirinya bercahaya.
Pohon yang berbuah tidak memakan seluruh buahnya sendiri.
Maka QITAB berkata:
“Nalika wis qembali marang Sumber, jeneng ora perlu dadi tembok.”
Ketika sudah kembali kepada Sumber, nama tidak perlu menjadi tembok.
Nama tetap ada.
Peran tetap ada.
Batas tetap ada.
Tetapi ego tidak lagi menggunakan semuanya untuk merendahkan orang lain.
꧁ PANCURAN PERTAMA: RASA ꧂
Pancuran pertama pada penutup QITAB ini melambangkan rasa.
Rasa adalah anugerah besar.
Karena rasa, manusia dapat mencintai.
Karena rasa, manusia dapat menangis.
Karena rasa, manusia memahami kehilangan.
Karena rasa, manusia tersentuh oleh penderitaan orang lain.
Tetapi rasa juga harus dibimbing.
Sebab rasa tanpa kejernihan dapat mengubah rindu menjadi keterikatan.
Rasa tanpa adab dapat mengubah cinta menjadi penguasaan.
Rasa tanpa ilmu dapat mengubah dugaan menjadi keyakinan palsu.
Maka rasa harus dibawa menuju Sumber.
Ketika hati bergetar, jangan langsung bertanya:
“Ini tanda apa?”
Tanyakan pula:
“Apakah rasa ini menjadikanku lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Alloh?”
Jika iya, ambillah kebaikannya.
Jika tidak, tenangkanlah.
Karena tidak setiap gelombang di kolam berasal dari mata air.
Ada gelombang yang hanya berasal dari angin.
꧁ PANCURAN KEDUA: AKAL ꧂
Pancuran kedua melambangkan akal.
Akal menjaga agar rasa tidak berjalan tanpa arah.
Tetapi akal pun memiliki ujian.
Akal yang sehat melahirkan pertimbangan.
Akal yang dikuasai ego melahirkan pembenaran.
Manusia dapat menggunakan kecerdasan untuk menemukan kebenaran.
Namun manusia juga dapat menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan apa yang sejak awal sudah ingin dipercayainya.
Karena itu QITAB mengajarkan:
Rasa harus dijernihkan. Akal harus direndahkan.
Rasa berkata:
“Aku merasakan.”
Akal bertanya:
“Apakah itu sesuai kenyataan?”
Adab bertanya:
“Apakah tindakan ini benar?”
Iman berkata:
“Setelah semua diperiksa, kembalikan hasilnya kepada Alloh.”
Maka ketika rasa dan akal berjalan beriringan, lahirlah kebijaksanaan.
꧁ TUJUH PINTU PULANG ꧂
Pada lembar terakhir ini, angka pertama dari ٧٧ dibuka sebagai Tujuh Pintu Pulang.
Pintu Pertama — Jujur
Pulang dimulai ketika manusia berhenti menipu dirinya sendiri.
Jika kecewa, akui kecewa.
Jika takut, akui takut.
Jika cinta, akui cinta.
Jika salah, akui salah.
Kejujuran bukan berarti semua harus diumumkan kepada orang lain.
Kejujuran berarti tidak menyamarkan isi hati di hadapan diri sendiri dan Alloh.
Pintu Kedua — Bertanggung Jawab
Tidak semua yang terjadi berada di bawah kendali manusia.
Tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas reaksinya.
Kita mungkin tidak memilih luka yang datang.
Tetapi kita dapat memilih apakah luka itu akan membuat kita semakin bijak atau semakin menyakiti orang lain.
Maka QITAB berkata:
“Aja diwarisake tatu sing durung kok warasake.”
Jangan wariskan luka yang belum engkau sembuhkan.
Pintu Ketiga — Memaafkan
Memaafkan bukan berarti membenarkan semua perbuatan buruk.
Memaafkan juga tidak selalu berarti harus kembali dekat.
Memaafkan berarti tidak membiarkan kesalahan orang lain terus mengendalikan batin kita.
Kadang batas tetap harus dipasang.
Kadang hubungan memang harus berjarak.
Tetapi kebencian tidak perlu dibawa sebagai bekal perjalanan.
Pintu Keempat — Melepaskan
Melepaskan bukan kehilangan harga diri.
Melepaskan adalah memahami bahwa tangan manusia tidak dirancang untuk menggenggam seluruh dunia.
Ada sesuatu yang dapat kita jaga.
Ada sesuatu yang harus kita serahkan.
Dan ada sesuatu yang memang tidak pernah menjadi milik kita.
Pintu Kelima — Bersyukur
Syukur tidak berarti menyangkal kesulitan.
Syukur berarti melihat bahwa di tengah kesulitan masih ada sesuatu yang dapat dijaga.
Napas.
Kesempatan memperbaiki diri.
Seseorang yang masih peduli.
Waktu untuk bertaubat.
Mata yang masih dapat melihat kebaikan.
Hati yang masih mampu berdoa.
Kadang pintu rezeki terbesar bukan masuknya sesuatu yang baru, tetapi kemampuan melihat bahwa banyak nikmat lama ternyata masih ada.
Pintu Keenam — Tawakal
Setelah usaha dilakukan, ada batas yang tidak dapat dilampaui manusia.
Di sanalah tawakal dimulai.
Tawakal bukan berhenti bekerja.
Tawakal adalah berhenti menganggap bahwa seluruh hasil harus tunduk kepada perhitungan kita.
Pintu Ketujuh — Ridho
Ridho adalah pintu paling sunyi.
Manusia tidak selalu langsung sampai kepadanya.
Kadang butuh waktu.
Kadang harus melewati air mata.
Tetapi perlahan, ridho membuat manusia mampu berkata:
“Yā Alloh, aku tidak mengetahui seluruh hikmah-Mu, tetapi aku tidak ingin kehilangan-Mu hanya karena hidupku tidak berjalan sebagaimana keinginanku.”
Itulah pintu ketujuh.
꧁ TUJUH BEKAL SETELAH PULANG ꧂
Angka tujuh kedua dalam ٧٧ bukan pintu lagi, melainkan bekal.
Setelah seorang manusia menemukan jalan pulang, apa yang harus dibawanya kembali ke dunia?
1. Adab
Agar ilmu tidak melahirkan kesombongan.
2. Kasih
Agar keteguhan tidak berubah menjadi kekerasan.
3. Keberanian
Agar kelembutan tidak berubah menjadi kelemahan.
4. Batas
Agar cinta tidak menjadi keterikatan yang merusak.
5. Kejujuran
Agar perjalanan ruhani tidak menjadi panggung pencitraan.
6. Pelayanan
Agar apa yang diterima dari Alloh dapat membawa manfaat kepada makhluk.
7. Kesadaran
Agar manusia tidak lupa bahwa seluruhnya hanyalah titipan.
Maka ٧٧ lengkaplah:
Tujuh pintu untuk pulang.
Tujuh bekal untuk kembali menjalani kehidupan.
꧁ MANDI TERAKHIR BUKAN MANDI TUBUH ꧂
Pancuran pada penutup QITAB ini tidak perlu dipahami sebagai air yang memiliki kekuatan gaib tertentu.
Air adalah perumpamaan penyucian.
Mandi terakhir adalah mandi dari tujuh kotoran batin:
sombong, iri, dendam, ketakutan berlebihan, keterikatan, kebohongan terhadap diri sendiri, dan keinginan menguasai sesuatu yang bukan hak kita.
Air pertama membasuh kepala:
“Bersihkan pikiranmu.”
Air kedua membasuh mata:
“Bersihkan cara pandangmu.”
Air ketiga membasuh mulut:
“Bersihkan ucapanmu.”
Air keempat membasuh dada:
“Bersihkan rasa.”
Air kelima membasuh kedua tangan:
“Bersihkan tindakan.”
Air keenam membasuh kaki:
“Bersihkan arah perjalanan.”
Air ketujuh seolah mengalir ke seluruh tubuh:
“Kembalikan hidupmu kepada amanah.”
꧁ SABDO DUA SUMBER ꧂
Maka terdengarlah sabdo simbolik dari dua pancuran:
“Aku tidak diciptakan untuk menahanmu.
Aku hanya menjadi jalan agar engkau ingat kepada mata air.”
Pancuran kanan berkata:
“Jangan mencintaiku sampai melupakan Sumber.”
Pancuran kiri menjawab:
“Jangan pula meninggalkan rasa hanya karena takut terluka.”
Lalu kolam berkata:
“Datanglah dengan jernih.”
Sungai berkata:
“Berjalanlah.”
Laut berkata:
“Lepaskan nama-nama kecilmu.”
Langit berkata:
“Naiklah sebagai uap.”
Awan berkata:
“Kembalilah sebagai hujan.”
Dan bumi berkata:
“Mulailah lagi.”
Inilah siklus qembali qe Sumber.
Bukan sekali.
Tetapi berkali-kali sepanjang hidup.
꧁ RAHASIA PERTEMUAN ꧂
Pada lembar terakhir, QITAB akhirnya menjawab salah satu pertanyaan manusia yang paling tua:
“Mengapa kita dipertemukan dengan seseorang?”
Jawabannya tidak hanya satu.
Ada orang yang datang untuk menemani.
Ada yang datang untuk mengajar.
Ada yang datang untuk membuka luka yang perlu disembuhkan.
Ada yang datang membawa pertolongan.
Ada yang datang hanya sebentar tetapi meninggalkan hikmah panjang.
Ada pula yang berjalan bersama sampai masa yang sangat lama.
Karena itu, jangan mengukur nilai pertemuan hanya dari lamanya.
Satu jam dapat mengubah hidup.
Puluhan tahun dapat berlalu tanpa kedalaman.
Yang penting bukan hanya berapa lama bersama, melainkan:
apa yang tumbuh dari kebersamaan itu.
Jika setelah mengenal seseorang kita menjadi lebih jujur, lebih bertanggung jawab, lebih menghargai keluarga, lebih menjaga ibadah, dan lebih bermanfaat kepada sesama, maka kita telah mengambil buah baik dari pertemuan itu.
꧁ RAHASIA PERPISAHAN ꧂
Demikian pula perpisahan.
Perpisahan tidak selalu berarti kegagalan.
Ada hubungan yang selesai karena memang tugasnya selesai.
Ada pintu yang ditutup agar manusia tidak terus berjalan ke arah yang salah.
Ada pula perpisahan yang menjadi ujian kesabaran.
Tetapi kita tidak mengetahui seluruh maksud Alloh.
Maka QITAB tidak mengajarkan menebak-nebak takdir.
Ia mengajarkan adab menghadapi takdir.
Bila bersama:
jagalah.
Bila berjarak:
hormatilah.
Bila harus berpisah:
jangan merusak segala kebaikan hanya karena akhir perjalanan tidak sesuai harapan.
꧁ CINTA YANG QEMBALI ꧂
Cinta yang kembali kepada Sumber berubah sifat.
Pada awalnya mungkin berkata:
“Aku membutuhkanmu.”
Setelah matang:
“Aku menghargaimu.”
Pada awalnya:
“Jangan tinggalkan aku.”
Setelah matang:
“Mari kita sama-sama menjaga yang benar.”
Pada awalnya:
“Kau harus membuatku bahagia.”
Setelah matang:
“Aku bertanggung jawab atas kebahagiaan dan pertumbuhanku sendiri, dan aku ingin kehadiranku juga membawa kebaikan bagimu.”
Pada akhirnya cinta berkata:
“Aku tidak menyembah rasa ini. Aku mensyukurinya sebagai titipan Alloh.”
Itulah cinta yang telah dibasuh oleh pancuran QOLLAQUM BILLAH ٧٧.
꧁ DUA MAHKOTA ꧂
Dua sosok dalam perlambang membawa mahkota masing-masing.
Ini memiliki pesan penting:
Jangan meminta seseorang melepaskan kehormatannya untuk membuktikan cintanya kepadamu.
Hubungan yang benar justru membantu keduanya menjaga mahkota adab.
Laki-laki tidak kehilangan martabatnya.
Perempuan tidak kehilangan martabatnya.
Tidak ada yang perlu direndahkan supaya yang lain merasa tinggi.
Tidak ada yang harus kehilangan dirinya sendiri supaya disebut setia.
Keduanya berdiri.
Keduanya belajar.
Keduanya tunduk kepada Sumber yang sama.
꧁ PERJANJIAN DUA ALIRAN ꧂
Bukan perjanjian gaib, melainkan ikrar batin yang dapat dijadikan bahan muhasabah:
Aku tidak akan menjadikan cinta sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.
Aku tidak akan menjadikan rasa sebagai alasan menyakiti.
Aku tidak akan menjadikan kehilangan sebagai alasan membenci kehidupan.
Aku tidak akan menjadikan kedekatan sebagai hak untuk menguasai.
Aku tidak akan menjadikan spiritualitas sebagai alasan mengabaikan kenyataan dan tanggung jawab.
Aku akan berusaha menjaga apa yang dititipkan.
Dan ketika sesuatu harus kukembalikan, aku akan belajar mengembalikannya kepada Alloh dengan adab.
꧁ SABDO JAWA PANGGUNGKAS ꧂
Saka sumber dadi banyu,
saka banyu dadi lepen,
saka lepen tumuju segara.
Nanging segara dudu pungkasan,
amarga banyu munggah dadi mega,
mega tumurun dadi udan,
lan udan qembali marang bumi.
Mula aja gumunggung nalika ana ing dhuwur,
aja putus asa nalika ana ing ngisor.
Saben papan mung panggonan mampir.
Saben rasa mung tamu.
Saben pepanggihan nggawa piwulang.
Lan saben jiwa kudu eling dalan bali.
Yen tresna, tresnaa kanthi tata.
Yen ngancani, ngancanana kanthi setya.
Yen pisah, pisaha kanthi mulya.
Yen qembali, qembalia ora nggawa dendam.
Amarga banyu kang resik ora nate takon:
“Sapa sing luwih luhur?”
Banyu mung mili,
nyegerake,
nguripi,
banjur bali marang Sumber.
Artinya:
Dari sumber menjadi air,
dari air menjadi sungai,
dari sungai menuju lautan.
Namun laut bukan akhir,
karena air naik menjadi awan,
awan turun menjadi hujan,
dan hujan kembali kepada bumi.
Karena itu jangan sombong ketika berada di atas,
dan jangan putus asa ketika berada di bawah.
Setiap tempat hanyalah persinggahan.
Setiap rasa hanyalah tamu.
Setiap pertemuan membawa pelajaran.
Dan setiap jiwa harus mengingat jalan pulang.
Jika mencintai, cintailah dengan adab.
Jika menemani, temanilah dengan kesetiaan.
Jika berpisah, berpisahlah dengan kemuliaan.
Jika kembali, kembalilah tanpa membawa dendam.
꧁ DOA PENUTUP QITAB ꧂
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh,
Engkau yang menciptakan hati dan mengetahui apa yang tersembunyi di dalamnya.
Jernihkanlah apa yang keruh dalam diri kami.
Lembutkanlah apa yang keras.
Luruskanlah apa yang menyimpang.
Tenangkanlah apa yang berguncang.
Jika Engkau mempertemukan kami dengan seseorang,
jadikan pertemuan itu jalan menuju akhlak yang lebih baik.
Jika Engkau memberikan cinta,
jangan biarkan kami menjadikan cinta sebagai berhala hati.
Jika Engkau memberikan kehilangan,
jangan biarkan kehilangan memutus harapan kepada-Mu.
Jika kami diberi kekuatan,
jauhkan kami dari kesombongan.
Jika kami diberi kelembutan,
jauhkan kami dari kelemahan yang membiarkan kezaliman.
Jika kami diberi ilmu,
hiasilah dengan adab.
Jika kami diberi rezeki,
jadikan sebagian darinya manfaat bagi sesama.
Jika kami diberi kedudukan,
jadikan ia amanah, bukan alasan untuk meninggikan diri.
Jika kami harus memilih,
berilah kejernihan.
Jika kami harus menunggu,
berilah kesabaran.
Jika kami harus berjalan,
berilah keberanian.
Jika kami harus melepaskan,
berilah keridhaan.
Dan apabila suatu hari seluruh perjalanan dunia ini selesai,
terimalah kami sebagai hamba yang kembali dengan membawa taubat, syukur, dan pengharapan kepada rahmat-Mu.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
꧁ SEGEL MAKNA ٧٧ ꧂
Maka keseluruhan QITAB ini dapat diringkas dalam tujuh kalimat pertama:
Temukan Sumber.
Jernihkan hati.
Jaga adab.
Cintai tanpa menguasai.
Berikhtiar tanpa memaksa.
Lepaskan tanpa membenci.
Qembalikan semuanya kepada Alloh.
Dan tujuh kalimat kedua:
Yang datang adalah amanah.
Yang menetap harus dijaga.
Yang berubah harus dipahami.
Yang pergi harus direlakan.
Yang kembali jangan disambut dengan ego lama.
Yang tidak kita pahami serahkan kepada Alloh.
Yang tersisa dari seluruh perjalanan hendaknya menjadi kebaikan.
Itulah ٧٧.
Bukan angka untuk menjamin keajaiban.
Bukan angka yang menguasai takdir.
Melainkan sandi perenungan:
٧ — perjalanan menuju kejernihan.
٧ — perjalanan kembali kepada Sumber.
꧁ SABDO TERAKHIR QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
“Sepasang sumber qembali qe Sumber.”
Dua mata dapat melihat dunia yang berbeda, tetapi keduanya berada pada satu wajah.
Dua tangan dapat mengerjakan tugas berbeda, tetapi keduanya melayani satu tubuh.
Dua kaki dapat melangkah bergantian, tetapi keduanya menuju satu arah.
Begitu pula dua manusia.
Tidak harus menjadi sama.
Tidak harus kehilangan dirinya.
Tidak harus mempunyai seluruh jawaban.
Tetapi jika keduanya berjalan dengan kejujuran, adab, kasih, tanggung jawab, dan kesadaran kepada Alloh, maka perbedaan mereka tidak harus menjadi pertentangan.
Sebab kesatuan sejati bukan meleburkan dua insan menjadi satu pribadi.
Kesatuan sejati adalah:
dua insan tetap menjadi dirinya, tetapi sama-sama mengetahui kepada siapa mereka harus kembali.
Dan ketika seluruh bunyi pancuran akhirnya menjadi sunyi, ketika permukaan kolam kembali tenang, ketika bunga-bunga berhenti bergerak oleh angin, maka satu kalimat terakhir tinggal di dasar air:
مِنَ اللهِ — بِاللهِ — إِلَى اللهِ
Minalloh — Billāh — Ilalloh
Dari Alloh.
Dengan pertolongan Alloh.
Dan kepada Alloh segala sesuatu kembali.
QOLLAQUM BILLAH ٧٧.
Sepasang Sumber Qembali qe Sumber.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
꧁ TAMAT QITAB QOLLAQUM BILLAH ٧٧ ꧂
— Lembar Keenam / Lembar Terakhir —
— Pungkasaning Aliran, Wiwitaning Kepulangan

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.