QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Tentu, saudara cahayaku. Kita buka sebagai Qitab doa dan adab rumah tangga, bukan sebagai jaminan kesaktian atau pemaksaan terhadap pasangan. Kekuatan hubungan suami-istri mencakup kesehatan badan, ketenangan hati, kasih sayang, dan kemampuan saling menjaga.
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Doa Kekuatan, Kasih Sayang, dan Keharmonisan Suami-Istri
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Alloh, kuatkanlah tubuh kami dalam kesehatan, kuatkanlah hati kami dalam kasih sayang, dan jauhkanlah hubungan kami dari kezaliman, paksaan, pertengkaran, serta segala sesuatu yang Engkau tidak ridhoi.
Doa Utama
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yunin waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Baca 3× atau 7× setelah sholat.
Dzikir untuk Ketenangan dan Kekuatan Batin
يَا قَوِيُّ — Yā Qawiyy
Wahai Yang Maha Kuat — 33×
يَا وَدُودُ — Yā Wadūd
Wahai Yang Maha Mencintai — 33×
يَا لَطِيفُ — Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut — 33×
Kemudian berdoa:
“Ya Alloh, anugerahkan kepadaku kesehatan, kekuatan yang baik, ketenangan, serta kemampuan membahagiakan pasangan dengan cara yang halal, penuh kasih sayang, dan saling meridhai. Jadikan hubungan kami sebagai jalan bertambahnya mawaddah, rahmah, dan syukur kepada-Mu.”
Sebelum Hubungan Suami-Istri
بِسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Bismillāh, Allāhumma jannibnasy-syaithāna wa jannibisy-syaithāna mā razaqtanā.
“Dengan nama Alloh. Ya Alloh, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami.”
Rahasia Qitab Ini
Kekuatan sejati dalam hubungan suami-istri bukan hanya lamanya hubungan, tetapi:
kuat menjaga kesehatan,
kuat mengendalikan diri,
kuat memberikan kasih sayang,
kuat menghormati pasangan,
dan kuat menjaga amanah pernikahan.
Jangan memaksakan tubuh ketika sedang sakit atau kelelahan. Hubungan hendaknya berlangsung dengan kerelaan dan kenyamanan kedua pasangan.
Wa Allohu a‘lam.
Semoga Alloh memberikan kesehatan, keharmonisan, ketenteraman, dan keberkahan dalam rumah tangga. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Kedua — Kekuatan Itu Berawal dari Tenangnya Qolbi
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Ketahuilah, kekuatan dalam hubungan suami-istri tidak hanya bersumber dari jasad. Sering kali tubuh menjadi cepat lelah karena pikiran terlalu penuh, napas pendek, hati tegang, kurang tidur, atau terlalu memaksakan diri.
Maka orang yang ingin menjaga keharmonisan hendaknya terlebih dahulu menjaga tiga pintu:
Pintu pertama: qolbi yang tenang.
Jangan membawa kemarahan, dendam, kecurigaan, atau beban pertengkaran ke dalam hubungan.
Pintu kedua: badan yang sehat.
Tubuh memerlukan istirahat, makanan yang cukup, air yang cukup, dan tidak dipaksa melampaui kemampuan.
Pintu ketiga: kasih sayang.
Hubungan yang dipenuhi kelembutan akan lebih menenteramkan daripada hubungan yang hanya mengejar kekuatan jasmani.
Dzikir Penguat Qolbi
Sesudah Isya atau sebelum tidur, duduklah dengan tenang.
Baca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm — 11×
Kemudian:
يَا قَوِيُّ Yā Qawiyy — 33×
“Wahai Alloh Yang Maha Kuat, kuatkanlah aku dalam kebaikan.”
Lanjutkan:
يَا وَدُودُ Yā Wadūd — 33×
“Wahai Alloh Yang Maha Mencintai, tumbuhkan kasih sayang di antara kami.”
Kemudian:
يَا سَلَامُ Yā Salām — 33×
“Wahai Alloh Sumber Keselamatan, tenangkanlah hati dan badan kami.”
Rahasia Napas Tenang
Tarik napas perlahan sambil menghadirkan dalam hati:
Yā Qawiyy
Kemudian keluarkan napas dengan lembut sambil menghadirkan:
Yā Salām
Lakukan 7 putaran saja.
Tidak perlu menahan napas lama. Jangan dipaksakan. Tujuan latihan ini bukan mencari kemampuan luar biasa, melainkan membantu badan menjadi lebih rileks dan pikiran lebih tenang.
Doa Penguatan
اللَّهُمَّ قَوِّ بَدَنِي، وَطَمْئِنْ قَلْبِي، وَبَارِكْ لِي فِي صِحَّتِي، وَاجْعَلْ بَيْنِي وَبَيْنَ زَوْجِي مَوَدَّةً وَرَحْمَةً وَسَكِينَةً
Allāhumma qawwi badanī, wa ṭma’in qalbī, wa bārik lī fī ṣiḥḥatī, waj‘al bainī wa baina zaujī mawaddatan wa raḥmatan wa sakīnah.
Artinya:
“Ya Alloh, kuatkan badanku, tenteramkan hatiku, berkahilah kesehatanku, dan jadikanlah antara aku dan pasanganku kasih sayang, rahmat, serta ketenteraman.”
Baca 3×.
Wewarah Qitab
Jangan mengukur keharmonisan dari lamanya hubungan semata.
Ada orang yang kuat badannya tetapi melukai hati pasangannya.
Ada pula orang yang sederhana kekuatannya, tetapi menghadirkan rasa aman, perhatian, kelembutan, dan kasih yang dalam.
Maka ukuran keberhasilan bukanlah perlombaan kemampuan jasmani.
Ukuran yang lebih luhur adalah:
apakah pasangan merasa dihormati,
apakah keduanya saling rela,
apakah tubuh tidak disakiti,
apakah hati menjadi lebih dekat,
dan apakah setelahnya keduanya semakin bersyukur kepada Alloh.
Jika Badan Terasa Lemah
Jangan segera menganggapnya sebagai gangguan gaib.
Perhatikan terlebih dahulu:
kurang tidur,
kelelahan bekerja,
stres,
rokok berlebihan,
kadar gula darah,
tekanan darah,
obat-obatan tertentu,
atau gangguan kesehatan lainnya.
Jika kelemahan atau gangguan ereksi sering terjadi selama beberapa minggu, pemeriksaan ke dokter merupakan ikhtiar yang baik dan tidak bertentangan dengan doa.
Penutup Lembar Kedua
يَا قَوِيُّ قَوِّنَا بِطَاعَتِكَ،
يَا وَدُودُ أَدِمْ بَيْنَنَا الْمَوَدَّةَ،
يَا سَلَامُ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِنَا
Yā Qawiyy, qawwinā biṭā‘atik.
Yā Wadūd, adim bainanā al-mawaddah.
Yā Salām, anzilis-sakīnata fī qulūbinā.
“Wahai Yang Maha Kuat, kuatkan kami dalam ketaatan kepada-Mu. Wahai Yang Maha Mencintai, kekalkan kasih sayang di antara kami. Wahai Sumber Keselamatan, turunkan ketenteraman ke dalam hati kami.”
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Kedua Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Ketiga — Adab Kedekatan dan Rahasia Saling Menenteramkan
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Dalam hubungan suami-istri, kekuatan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan kelembutan, waktu yang tepat, kesiapan hati, dan kerelaan dari kedua belah pihak.
Karena itu, jangan memasuki kedekatan hanya dengan dorongan jasmani. Masuklah dengan kasih sayang, penghormatan, dan niat menjaga amanah pernikahan.
Tiga Persiapan Sebelum Kedekatan
Pertama — Tenangkan hati.
Jangan memulai ketika hati sedang penuh kemarahan.
Bila baru bertengkar, redakan terlebih dahulu.
Bacalah:
يَا حَلِيمُ — Yā Ḥalīm — 11×
“Wahai Alloh Yang Maha Penyantun, lembutkanlah hati kami.”
---
Kedua — Jangan memaksa tubuh.
Tubuh yang terlalu lelah, kurang tidur, sedang sakit, atau mengalami tekanan pikiran membutuhkan istirahat.
Tidak ada kemuliaan dalam memaksa diri hingga tubuh tersiksa.
---
Ketiga — Hadirkan kasih sayang.
Berbicaralah dengan lembut.
Sentuhan yang penuh penghormatan, perhatian kepada kenyamanan pasangan, dan komunikasi yang baik merupakan bagian penting dari keharmonisan.
Dzikir Mawaddah
Sebelum tidur atau pada waktu yang tenang, baca:
يَا وَدُودُ
Yā Wadūd — 33×
Kemudian:
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf — 33×
Kemudian:
يَا سَلَامُ
Yā Salām — 33×
Setelah itu letakkan tangan di dada sendiri dan berdoalah:
“Ya Alloh, jadikanlah hatiku lembut kepada pasanganku. Jauhkanlah ego, kemarahan, paksaan, serta segala yang merusak kasih sayang. Ajarkanlah kami saling memahami, saling menjaga, dan saling membahagiakan dalam jalan yang Engkau ridhoi.”
Doa Menjaga Kekuatan Badan
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، وَقَوِّنِي عَلَى مَا يُرْضِيكَ، وَبَارِكْ لِي فِي صِحَّتِي وَعَافِيَتِي
Allāhumma ‘āfinī fī badanī, wa qawwinī ‘alā mā yurḍīk, wa bārik lī fī ṣiḥḥatī wa ‘āfiyatī.
Artinya:
“Ya Alloh, sehatkanlah tubuhku, kuatkanlah aku untuk perkara yang Engkau ridhoi, dan berkahilah kesehatan serta keselamatanku.”
Baca 3× atau 7×.
Rahasia Qitab: Jangan Mengejar Angka
Jangan membebani diri dengan pertanyaan:
“Harus berapa menit?”
“Harus berapa kali?”
“Apakah saya cukup kuat?”
Karena kegelisahan seperti itu justru dapat membuat badan semakin tegang.
Setiap pasangan berbeda.
Yang lebih penting ialah:
saling nyaman,
saling rela,
tidak saling menyakiti,
tidak tergesa-gesa,
dan tidak menjadikan hubungan sebagai ujian harga diri.
Sesudah Kedekatan
Jangan langsung menjauh dengan dingin.
Berikan waktu untuk menenangkan diri bersama.
Ucapan yang lembut, pelukan, perhatian sederhana, dan rasa syukur dapat memperkuat ikatan batin suami-istri.
Dalam hati bacalah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الْمَوَدَّةِ وَالسَّكِينَةِ
Alḥamdulillāhi ‘alā ni‘matil-mawaddati was-sakīnah.
“Segala puji bagi Alloh atas nikmat kasih sayang dan ketenteraman.”
Jika Terlalu Cepat Selesai
Jangan langsung merasa gagal.
Jangan pula menyalahkan pasangan.
Tenangkan pikiran, kurangi tekanan untuk “harus sempurna”, dan bangun komunikasi yang baik.
Bila keadaan tersebut terus berulang dan menimbulkan masalah dalam rumah tangga, berkonsultasi kepada dokter merupakan ikhtiar yang baik.
Demikian pula bila terdapat:
- kesulitan mempertahankan ereksi,
- nyeri,
- penurunan gairah yang berlangsung lama,
- atau kelelahan yang tidak biasa.
Doa dan ikhtiar kesehatan dapat berjalan bersama.
Wewarah Penutup
Kekuatan lelaki bukan sekadar pada jasadnya.
Kekuatan seorang suami terlihat ketika ia mampu menahan kemarahan, memahami kebutuhan istrinya, menjaga kehormatannya, dan menjadikan kedekatan sebagai tempat aman.
Demikian pula kekuatan seorang istri bukan sekadar pada pelayanan jasmani, melainkan pada kasih sayang, keterbukaan, dan kemampuan bersama-sama membangun ketenteraman.
Maka hubungan yang diberkahi bukan hubungan yang paling keras atau paling lama.
Melainkan hubungan yang membuat dua hati berkata:
“Aku aman bersamamu.”
Dan ketika dua hati saling menjaga karena Alloh, maka mawaddah tumbuh bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada qolbi.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Ketiga Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Keempat — Menjaga Stamina, Napas, dan Kerelaan Dua Hati
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Kekuatan dalam hubungan suami-istri bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan.
Ada waktu tubuh kuat.
Ada waktu tubuh lelah.
Ada waktu hati penuh kerinduan.
Ada pula waktu salah satu pasangan membutuhkan istirahat.
Maka kebijaksanaan adalah mengetahui kapan mendekat, kapan menenangkan diri, dan kapan memberi ruang.
Empat Penjagaan Stamina
Pertama — Tidur yang cukup.
Tubuh yang terus-menerus kekurangan istirahat akan kehilangan tenaga dan ketenangan.
Jangan berharap badan memberikan kekuatan penuh jika hak istirahatnya tidak dipenuhi.
Kedua — Jangan terlalu kenyang.
Tubuh yang terlalu penuh dapat terasa berat dan tidak nyaman.
Makanlah dengan wajar, minumlah air secukupnya, dan berikan waktu kepada tubuh untuk tenang.
Ketiga — Jangan menjadikan hubungan sebagai perlombaan.
Tidak ada kewajiban untuk membuktikan kejantanan dengan durasi tertentu.
Semakin seseorang sibuk memikirkan “harus kuat”, kadang semakin besar ketegangan pikirannya.
Keempat — Jaga ketenangan pikiran.
Kelelahan batin, persoalan pekerjaan, kecemasan ekonomi, atau pertengkaran dapat memengaruhi kedekatan suami-istri.
Karena itu, selesaikan dahulu apa yang bisa diselesaikan dengan percakapan yang baik.
Dzikir Ketenangan Sebelum Kedekatan
Duduk atau berbaring dengan nyaman.
Bacalah:
يَا سَلَامُ
Yā Salām — 33×
Kemudian:
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf — 33×
Kemudian:
يَا قَوِيُّ
Yā Qawiyy — 33×
Niatkan bukan untuk mengejar kemampuan yang berlebihan, tetapi memohon kepada Alloh agar diberikan kesehatan, ketenangan, dan kemampuan menjaga pasangan dengan baik.
Napas Tujuh Ketukan
Tarik napas perlahan melalui hidung.
Dalam hati sebut:
“Yā Salām.”
Kemudian keluarkan napas perlahan.
Dalam hati sebut:
“Yā Laṭīf.”
Lakukan 7 kali.
Tidak perlu menahan napas.
Tidak perlu dibuat keras.
Tidak perlu mengejar sensasi tertentu.
Tujuannya hanya membantu badan dan pikiran menjadi lebih santai.
Doa Kekuatan yang Seimbang
اللَّهُمَّ ارزُقْنِي قُوَّةً مَعَ العَافِيَةِ، وَسَكِينَةً مَعَ المَوَدَّةِ، وَاجْعَلْنِي رَفِيقًا رَحِيمًا بِزَوْجِي
Allāhumma-rzuqnī quwwatan ma‘al-‘āfiyah, wa sakīnatan ma‘al-mawaddah, waj‘alnī rafīqan raḥīman bi-zaujī.
Artinya:
“Ya Alloh, karuniakanlah kepadaku kekuatan bersama kesehatan, ketenteraman bersama kasih sayang, dan jadikanlah aku pasangan yang lembut serta penuh kasih.”
Baca 3×.
Ketika Pasangan Belum Siap
Inilah salah satu adab paling penting dalam Qitab ini.
Jika pasangan sedang:
lelah,
sakit,
sedih,
cemas,
atau tidak nyaman,
maka jangan memaksa.
Kasih sayang tidak tumbuh dari tekanan.
Kedekatan yang baik membutuhkan kerelaan kedua belah pihak.
Bila salah satu berkata:
“Aku sedang belum siap.”
Maka jawaban yang paling mulia adalah:
“Baik, istirahatlah. Aku tetap menyayangimu.”
Kalimat seperti ini terkadang lebih menguatkan rumah tangga daripada banyak nasihat.
Jangan Membawa Harga Diri ke Atas Ranjang
Ada lelaki yang merasa harga dirinya jatuh hanya karena suatu malam tubuhnya tidak bekerja seperti yang diinginkan.
Ada pula perempuan yang merasa dirinya tidak dicintai ketika pasangannya sedang lelah.
Padahal keduanya belum tentu benar.
Tubuh manusia memiliki naik dan turun.
Maka jangan menjadikan satu kejadian sebagai kesimpulan tentang seluruh hubungan.
Bicaralah dengan lembut.
Jangan mengejek.
Jangan membandingkan pasangan dengan siapa pun.
Jangan menceritakan rahasia hubungan kepada orang lain sembarangan.
Karena kehormatan pasangan adalah amanah.
Wewarah Qitab
Orang yang benar-benar kuat bukan orang yang selalu memaksakan tubuhnya.
Orang yang kuat adalah orang yang mengetahui batas tubuhnya.
Ia mampu mengatakan:
“Hari ini aku lelah.”
Ia juga mampu mendengar ketika pasangannya berkata:
“Aku belum siap.”
Dan keduanya tidak kehilangan kasih sayang karena itu.
Inilah salah satu bentuk mawaddah:
tetap saling mencintai bahkan ketika keinginan tidak langsung dipenuhi.
Doa Penutup
يَا وَدُودُ أَدِمْ بَيْنَنَا المَوَدَّةَ
Yā Wadūd, adim bainanā al-mawaddah.
“Wahai Yang Maha Mencintai, kekalkanlah kasih sayang di antara kami.”
يَا سَلَامُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا السَّكِينَةَ
Yā Salām, anzil ‘alainas-sakīnah.
“Wahai Sumber Keselamatan, turunkanlah ketenteraman kepada kami.”
يَا قَوِيُّ قَوِّنَا فِي الخَيْرِ
Yā Qawiyy, qawwinā fil-khair.
“Wahai Yang Maha Kuat, kuatkanlah kami dalam kebaikan.”
Semoga Alloh menjaga kesehatan jasad, kejernihan pikiran, kesetiaan hati, kelembutan ucapan, dan kasih sayang dalam rumah tangga.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Keempat Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Kelima — Menjaga Kehangatan Setelah Bertahun-tahun Bersama
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Pada awal pernikahan, banyak pasangan mudah merasakan rindu.
Namun setelah waktu berjalan, datang pekerjaan, tanggung jawab, anak-anak, kelelahan, persoalan ekonomi, dan berbagai beban kehidupan.
Di sinilah mawaddah membutuhkan penjagaan.
Sebab cinta yang matang bukan hanya cinta yang bergetar ketika baru bertemu.
Cinta yang matang adalah cinta yang tetap memilih untuk merawat pasangan setelah melewati banyak musim kehidupan.
Tiga Penyebab Kehangatan Mulai Redup
Pertama — Terlalu terbiasa
Ketika seseorang sudah terlalu lama bersama, ia kadang berhenti mengucapkan:
“Terima kasih.”
“Maaf.”
“Aku senang kamu ada di sini.”
Padahal kalimat sederhana dapat menjadi makanan bagi qolbi.
Jangan menganggap pasangan pasti mengetahui isi hati kita.
Ungkapkan kebaikan.
Kedua — Hubungan hanya berisi kewajiban
Jika setiap percakapan hanya tentang:
uang,
pekerjaan,
anak,
tagihan,
masalah rumah,
maka ruang untuk menjadi sepasang kekasih perlahan mengecil.
Sisakan waktu untuk sekadar berbicara sebagai dua manusia yang saling menyayangi.
Tidak harus mahal.
Tidak harus bepergian jauh.
Kadang secangkir minuman hangat dan percakapan tanpa gangguan sudah cukup untuk mengembalikan kedekatan.
Ketiga — Luka kecil dibiarkan menumpuk
Perkataan yang menyakitkan mungkin tampak kecil bagi yang mengucapkannya.
Tetapi bagi yang menerima, ia dapat tersimpan bertahun-tahun.
Maka jangan menunggu hati menjadi keras.
Jika salah:
minta maaf.
Jika tersakiti:
bicarakan dengan baik.
Jika ada kesalahpahaman:
selesaikan sebelum berubah menjadi jarak.
Dzikir Mawaddah Malam
Pada malam yang tenang, bacalah:
يَا وَدُودُ Yā Wadūd — 33×
Kemudian:
يَا رَحْمٰنُ Yā Raḥmān — 33×
Kemudian:
يَا لَطِيفُ Yā Laṭīf — 33×
Lalu berdoa:
“Ya Alloh, jangan biarkan kebersamaan menjadikan kami saling melupakan. Hidupkan kembali rasa syukur karena Engkau telah mempertemukan kami. Lembutkan perkataan kami, lapangkan dada kami, dan ajarkan kami mencintai dengan lebih dewasa.”
Doa Menjaga Mawaddah
اللَّهُمَّ أَدِمْ بَيْنَنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَوْطِنًا لِلسَّكِينَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ
Allāhumma adim bainanā al-mawaddata war-raḥmah, wa aṣliḥ qulūbanā, waj‘al buyūtanā mawṭinan lis-sakīnati waṭ-ṭuma’nīnah.
Artinya:
“Ya Alloh, kekalkanlah kasih sayang dan rahmat di antara kami, perbaikilah hati kami, dan jadikan rumah kami tempat ketenteraman dan kedamaian.”
Baca 3×.
Lima Amal Kecil Penjaga Kehangatan
1. Tatap pasangan ketika ia berbicara.
Jangan selalu membiarkan layar lebih menarik daripada manusia yang hidup bersama kita.
2. Berikan sentuhan penuh kasih tanpa selalu menuntut hubungan intim.
Genggaman tangan, usapan lembut, atau pelukan dapat menumbuhkan rasa aman.
3. Puji sesuatu yang nyata.
Misalnya:
“Terima kasih sudah bekerja keras.”
“Aku menghargai perhatianmu.”
“Masakanmu enak.”
“Terima kasih sudah sabar.”
4. Jangan mempermalukan pasangan di depan orang lain.
Koreksi secara pribadi.
Jaga kehormatannya.
5. Sesekali mengingat awal pertemuan.
Bukan untuk hidup di masa lalu, melainkan untuk mengingat bahwa dahulu ada alasan mengapa dua hati memilih berjalan bersama.
Rahasia Qitab: Kedekatan Tidak Dimulai di Tempat Tidur
Kedekatan suami-istri sebenarnya telah dimulai sejak pagi.
Ia tumbuh dari:
cara menyapa,
cara memandang,
cara menolong,
cara mendengarkan,
cara meminta maaf,
dan cara menghargai.
Jika sepanjang hari seseorang diperlakukan dengan kasar, sulit mengharapkan qolbinya tiba-tiba terbuka hanya karena malam telah datang.
Karena itu, hubungan jasmani yang hangat sering kali merupakan buah dari hubungan emosional yang telah dirawat sebelumnya.
Ketika Keinginan Suami-Istri Berbeda
Tidak selalu keduanya memiliki keinginan pada waktu yang sama.
Jangan langsung menyimpulkan:
“Dia tidak mencintaiku.”
Bicarakan dengan terbuka.
Tanyakan dengan lembut:
“Apakah kamu sedang lelah?”
“Adakah sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?”
“Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa lebih tenang?”
Dengan demikian, pasangan tidak merasa sedang diuji, melainkan ditemani.
Wewarah Qitab
Jangan mencari kehangatan hanya ketika hendak mendekat secara jasmani.
Berikan kasih sayang juga ketika tidak menginginkan apa-apa.
Di sanalah pasangan mengetahui bahwa ia dicintai bukan hanya karena tubuhnya.
Mawaddah yang mendalam berkata:
“Aku menghargaimu ketika engkau kuat.”
“Aku tetap menjagamu ketika engkau lelah.”
“Aku mensyukurimu ketika keadaan mudah.”
“Dan aku tidak meninggalkan kelembutan ketika kehidupan sedang berat.”
Munajat Dua Hati
يَا وَدُودُ، اجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى الْخَيْرِ
Yā Wadūd, ijma‘ qulūbanā ‘alal-khair.
“Wahai Yang Maha Mencintai, satukanlah hati kami dalam kebaikan.”
يَا لَطِيفُ، أَلِّنْ كَلَامَنَا وَقُلُوبَنَا
Yā Laṭīf, alin kalāmanā wa qulūbanā.
“Wahai Yang Maha Lembut, lembutkanlah perkataan dan hati kami.”
يَا سَلَامُ، احْفَظْ بَيْتَنَا بِالسَّكِينَةِ
Yā Salām, iḥfaẓ baitanā bis-sakīnah.
“Wahai Sumber Keselamatan, jagalah rumah kami dengan ketenteraman.”
Penutup Lembar Kelima
Hubungan yang panjang tidak harus kehilangan cahaya.
Bahkan setelah rambut mulai memutih, tubuh tidak sekuat dahulu, dan perjalanan hidup telah panjang, dua insan masih dapat saling memandang dengan rasa:
“Aku masih memilihmu.”
Itulah salah satu kemenangan terbesar dalam kehidupan rumah tangga.
Bukan karena tidak pernah ada pertengkaran.
Bukan karena keduanya sempurna.
Melainkan karena setelah segala ujian, keduanya terus belajar kembali kepada kasih sayang.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Kelima Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Keenam — Ketika Kehidupan Berat, Jangan Biarkan Hati Ikut Menjauh
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Tidak semua jarak dalam rumah tangga lahir karena hilangnya cinta.
Kadang cinta masih ada, tetapi tertutup oleh:
kelelahan,
beban pekerjaan,
kesulitan ekonomi,
urusan anak,
masalah keluarga,
sakit,
atau kegelisahan yang dipendam terlalu lama.
Maka ketika kedekatan mulai berkurang, jangan buru-buru menuduh.
Jangan langsung berkata:
“Engkau sudah berubah.”
“Engkau sudah tidak sayang.”
“Pasti ada orang lain.”
Karena tuduhan yang lahir sebelum ada kejelasan dapat membuat luka baru.
Rahasia Pertama — Tanyakan Keadaan, Bukan Menuntut Jawaban
Daripada berkata:
“Kenapa kamu sekarang dingin?”
lebih lembut bila berkata:
“Akhir-akhir ini kamu kelihatan banyak pikiran. Ada yang bisa aku bantu?”
Perbedaan kalimat terlihat kecil.
Namun bagi hati yang sedang lelah, perbedaannya sangat besar.
Yang pertama terasa seperti pemeriksaan.
Yang kedua terasa seperti perlindungan.
Dzikir Ketika Rumah Tangga Sedang Tegang
Baca dengan tenang:
يَا حَلِيمُ Yā Ḥalīm — 33×
Wahai Yang Maha Penyantun.
Kemudian:
يَا لَطِيفُ Yā Laṭīf — 33×
Wahai Yang Maha Lembut.
Kemudian:
يَا فَتَّاحُ Yā Fattāḥ — 33×
Wahai Yang Maha Membukakan jalan.
Lalu berdoalah:
“Ya Alloh, bukakan apa yang tertutup di antara hati kami. Jauhkan kami dari prasangka yang merusak. Ajarkan kami berbicara tanpa menyakiti dan mendengar tanpa menghakimi.”
Jangan Membicarakan Masalah Besar Ketika Emosi Memuncak
Ada waktu ketika kata-kata tidak lagi keluar dari kebijaksanaan.
Ia keluar dari kemarahan.
Jika suara mulai meninggi, dada sesak, atau pikiran ingin membalas perkataan pasangan, berhentilah sejenak dari perdebatan.
Bukan meninggalkan pasangan.
Bukan mendiamkan berhari-hari.
Tetapi memberi kesempatan kepada tubuh dan pikiran untuk kembali tenang.
Setelah itu baru berbicara.
Sebab satu kalimat yang keluar ketika marah dapat meninggalkan bekas yang jauh lebih lama daripada kemarahannya sendiri.
Lima Kalimat Penyelamat Kedekatan
Biasakan mengucapkan:
“Aku ingin memahami, bukan memenangkan pertengkaran.”
“Kalau perkataanku menyakitimu, maafkan aku.”
“Kita hadapi masalahnya bersama.”
“Aku belum mengerti, tolong jelaskan kepadaku.”
“Aku tetap menghargaimu meskipun kita sedang berbeda pendapat.”
Kalimat-kalimat ini bukan tanda kelemahan.
Justru diperlukan keberanian untuk mengucapkannya.
Rahasia Kedua — Jangan Menggunakan Kedekatan Jasmani Sebagai Hukuman
Ketika ada masalah, jangan menjadikan hubungan suami-istri sebagai alat untuk:
mengancam,
menghukum,
memaksa,
atau mendapatkan kemenangan.
Kedekatan seharusnya menjadi ruang aman.
Bukan medan tawar-menawar.
Jika salah satu sedang terluka secara emosional, sembuhkan percakapannya terlebih dahulu.
Kadang pelukan yang tulus lebih dibutuhkan daripada keinginan untuk melanjutkan hubungan lebih jauh.
Doa Menyatukan Hati
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
Allāhumma allif baina qulūbinā, wa aṣliḥ dzāta baininā, wahdinā subulas-salām.
Artinya:
“Ya Alloh, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan kedamaian.”
Baca 3× atau 7×.
Ketika Salah Satu Merasa Tidak Percaya Diri
Perubahan tubuh adalah bagian dari kehidupan.
Berat badan dapat berubah.
Rambut memutih.
Kulit tidak sama seperti dahulu.
Kesehatan naik turun.
Kemampuan jasmani juga dapat berubah.
Jangan menjadikan perubahan tersebut bahan ejekan.
Jangan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Katakanlah sesuatu yang menguatkan:
“Aku menghargaimu bukan hanya karena penampilanmu.”
“Terima kasih sudah menjalani hidup ini bersamaku.”
Rasa aman yang dibangun melalui perkataan dapat memengaruhi kedekatan jauh lebih dalam daripada yang disadari.
Rahasia Ketiga — Dengarkan Sampai Selesai
Banyak pertengkaran bukan karena pasangan tidak mempunyai jawaban.
Tetapi karena keduanya ingin menjawab sebelum benar-benar mendengar.
Maka ketika pasangan berbicara:
jangan memotong,
jangan mengejek,
jangan langsung mencari kesalahan.
Dengarkan sampai selesai.
Lalu tanyakan:
“Apakah yang kamu maksud seperti ini?”
Dengan begitu, hati merasa didengar.
Jika Hubungan Intim Menjadi Sulit
Bila salah satu mengalami kesulitan yang berulang, jangan mempermalukannya.
Kesulitan gairah, ereksi, rasa nyeri, atau terlalu cepat selesai dapat dipengaruhi oleh banyak hal.
Kelelahan dan tekanan pikiran pun dapat berpengaruh.
Maka perlakukan masalah itu sebagai masalah bersama, bukan kegagalan salah satu pihak.
Doakan.
Bicarakan.
Dan bila berlangsung terus-menerus, lakukan pemeriksaan kepada tenaga kesehatan.
Ikhtiar medis tidak mengurangi tawakal kepada Alloh.
Munajat Malam
Setelah semua urusan mulai tenang, bacalah:
يَا وَدُودُ — Yā Wadūd — 33×
يَا حَلِيمُ — Yā Ḥalīm — 33×
يَا سَلَامُ — Yā Salām — 33×
Kemudian berdoa:
“Ya Alloh, bila ada luka di antara kami, sembuhkanlah. Bila ada salah paham, terangilah. Bila ada kelelahan, kuatkanlah. Bila ada jarak, dekatkanlah kami kembali dalam jalan yang baik dan Engkau ridhoi.”
Wewarah Qitab
Ada masa ketika cinta tidak membutuhkan hadiah besar.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
“Aku tahu engkau sedang lelah. Aku tetap di sini.”
Ada masa ketika seorang suami tidak membutuhkan penilaian, tetapi penghargaan.
Ada masa ketika seorang istri tidak membutuhkan nasihat panjang, tetapi didengarkan.
Karena itu jangan hanya bertanya:
“Apakah hubungan kami masih bergairah?”
Tanyakan pula:
“Apakah pasanganku merasa aman bersamaku?”
Sebab dari rasa aman, tumbuh kepercayaan.
Dari kepercayaan, tumbuh keterbukaan.
Dari keterbukaan, tumbuh kedekatan.
Dan dari kedekatan yang dijaga dengan adab, mawaddah dapat hidup kembali meskipun kehidupan telah melewati banyak ujian.
Penutup Lembar Keenam
يَا وَدُودُ، لَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا قَسْوَةً
Yā Wadūd, lā taj‘al bainanā qaswah.
“Wahai Yang Maha Mencintai, jangan jadikan kekerasan hati di antara kami.”
يَا لَطِيفُ، أَلِّنْ قُلُوبَنَا
Yā Laṭīf, alin qulūbanā.
“Wahai Yang Maha Lembut, lembutkanlah hati kami.”
يَا سَلَامُ، احْفَظْ بَيْتَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْخُصُومَةِ
Yā Salām, iḥfaẓ baitanā minal-fitani wal-khuṣūmah.
“Wahai Sumber Keselamatan, jagalah rumah kami dari fitnah dan pertengkaran.”
Semoga Alloh menjaga setiap rumah yang dibangun dengan niat baik, menguatkan yang sedang lelah, mendamaikan yang sedang berselisih, dan mengembalikan kelembutan pada dua hati yang pernah saling memilih.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Keenam Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Ketujuh — Menjaga Rindu, Kedekatan Batin, dan Kesetiaan
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Ada pasangan yang tinggal satu rumah, tetapi hatinya jauh.
Ada pula pasangan yang terpisah jarak, tetapi hatinya tetap saling menjaga.
Maka kedekatan sejati bukan hanya persoalan dekatnya tubuh.
Ia adalah keadaan ketika seseorang masih memikirkan kebaikan pasangannya, menjaga kehormatannya, mendoakannya ketika tidak terlihat, dan tidak membuka pintu yang dapat merusak amanah pernikahan.
Rahasia Pertama — Rindu Harus Dipelihara
Rindu tidak selalu datang dengan sendirinya.
Ia dapat tumbuh dari perhatian kecil.
Sebelum berangkat bekerja, ucapkan sesuatu yang baik.
Ketika pasangan pulang, sambutlah sebagai orang yang dirindukan, bukan sekadar penghuni rumah yang kembali.
Sesekali kirimkan pesan sederhana:
“Semoga harimu dimudahkan Alloh.”
“Jaga kesehatan.”
“Aku menunggumu pulang dengan selamat.”
Kalimat sederhana yang tulus dapat menjaga hubungan di tengah kesibukan.
Dzikir Penjaga Mawaddah dan Kesetiaan
Pada malam hari, setelah hati tenang, bacalah:
يَا وَدُودُ Yā Wadūd — 33×
Kemudian:
يَا حَفِيظُ Yā Ḥafīẓ — 33×
Kemudian:
يَا هَادِي Yā Hādī — 33×
Kemudian:
يَا نُورُ Yā Nūr — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, jagalah hati kami dari jalan yang merusak amanah. Tuntun kami untuk tetap setia, jujur, saling menjaga, dan saling menghormati.”
Doa Penjaga Kesetiaan
اللَّهُمَّ احْفَظْ قُلُوبَنَا وَأَبْصَارَنَا وَأَخْلَاقَنَا، وَأَدِمْ بَيْنَنَا الْمَوَدَّةَ وَالْوَفَاءَ، وَاصْرِفْ عَنَّا مَا يُفْسِدُ بَيْتَنَا
Allāhummaḥfaẓ qulūbanā wa abṣāranā wa akhlāqanā, wa adim bainanā al-mawaddata wal-wafā’, waṣrif ‘annā mā yufsidu baitanā.
Artinya:
“Ya Alloh, jagalah hati kami, pandangan kami, dan akhlak kami. Kekalkanlah kasih sayang dan kesetiaan di antara kami, serta jauhkanlah dari kami segala sesuatu yang merusak rumah tangga kami.”
Baca 3×.
Rahasia Kedua — Kesetiaan Dimulai Sebelum Terjadi Pengkhianatan
Kesetiaan bukan hanya berkata:
“Aku tidak berselingkuh.”
Kesetiaan juga berarti menjaga pintu-pintu yang dapat membawa hati menjauh.
Jangan sengaja memelihara percakapan rahasia yang harus disembunyikan dari pasangan.
Jangan membandingkan pasangan dengan orang lain.
Jangan membangun kedekatan emosional yang menggeser tempat pasangan secara diam-diam.
Jangan mencari di luar rumah penghargaan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki melalui percakapan di dalam rumah.
Jika ada kekurangan, bicarakan.
Jika ada luka, carilah penyelesaian.
Jika ada godaan, jangan bermain-main di tepinya.
Sebab sebagian kerusakan besar bermula dari perkara kecil yang dibiarkan.
Rahasia Ketiga — Jangan Menguji Cinta dengan Kecemburuan
Ada orang yang sengaja membuat pasangan cemburu untuk memastikan bahwa dirinya masih dicintai.
Cara ini sering justru merusak kepercayaan.
Jangan berkata:
“Kalau kamu sayang, kamu pasti cemburu.”
Cinta yang matang tidak membutuhkan permainan seperti itu.
Bila membutuhkan perhatian, katakan dengan jujur:
“Aku sedang ingin lebih dekat denganmu.”
Bila merasa diabaikan:
“Akhir-akhir ini aku merasa kita kurang punya waktu bersama.”
Kejujuran lebih sehat daripada permainan emosi.
Amalan Tujuh Malam Menjaga Kehangatan
Amalan ini adalah doa dan muhasabah, bukan jaminan gaib untuk mengendalikan hati pasangan.
Selama 7 malam, setelah Isya atau sebelum tidur:
Istighfar — 11×
Yā Wadūd — 33×
Yā Ḥafīẓ — 33×
Yā Salām — 33×
Kemudian bacalah:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yunin waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.
Lalu berdoa dengan bahasa sendiri tentang keadaan rumah tangga yang sedang dijalani.
Tiga Pertanyaan untuk Qolbi
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah pasanganku masih merasa dihargai?”
“Apakah aku lebih sering mengoreksi daripada mengapresiasi?”
“Jika aku diperlakukan seperti caraku memperlakukan pasangan, apakah aku akan merasa dicintai?”
Jawaban yang jujur dapat membuka pintu perubahan.
Ketika Jarak Memisahkan
Bagi pasangan yang harus berjauhan karena pekerjaan atau keadaan tertentu, jagalah hubungan melalui:
komunikasi yang teratur,
kejelasan kabar,
keterbukaan,
doa,
dan waktu yang benar-benar dikhususkan untuk berbicara.
Jangan hanya menghubungi ketika membutuhkan sesuatu.
Tanyakan:
“Bagaimana harimu?”
“Adakah yang membuatmu berat hari ini?”
“Apa yang bisa aku doakan untukmu malam ini?”
Rasa ditemani dapat melintasi jarak.
Ketika Rasa Mulai Berkurang
Jangan panik.
Perasaan manusia memang berubah-ubah.
Cinta dalam pernikahan tidak selalu hadir sebagai rasa berdebar.
Kadang cinta berubah menjadi:
kesetiaan menunggu pasangan pulang,
menyiapkan kebutuhan ketika ia sakit,
mencari nafkah dengan amanah,
menjaga anak bersama-sama,
mendampingi saat usia bertambah,
dan tetap memilih tidak meninggalkan ketika hidup sedang sulit.
Itulah cinta yang telah berubah bentuk menjadi amanah.
Wewarah Qitab
Jangan mencari seseorang yang membuat hati terus berdebar.
Belajarlah menjadi seseorang yang membuat pasangan merasa aman.
Karena debar dapat datang dan pergi.
Tetapi rasa aman membuat seseorang ingin pulang.
Dan rumah yang sesungguhnya bukan hanya tempat yang memiliki dinding dan atap.
Rumah adalah tempat ketika seseorang dapat berkata:
“Di sini aku tidak perlu berpura-pura.”
“Di sini aku dihargai.”
“Di sini rahasiaku dijaga.”
“Di sini kelemahanku tidak dijadikan senjata.”
“Di sini aku dicintai dengan amanah.”
Munajat Dua Hati
يَا وَدُودُ، أَحْيِ الْمَوَدَّةَ فِي قُلُوبِنَا
Yā Wadūd, aḥyil-mawaddata fī qulūbinā.
“Wahai Yang Maha Mencintai, hidupkanlah kasih sayang dalam hati kami.”
يَا حَفِيظُ، احْفَظْنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفِتَنِ
Yā Ḥafīẓ, iḥfaẓnā minal-khiyānati wal-fitan.
“Wahai Yang Maha Menjaga, lindungilah kami dari pengkhianatan dan berbagai fitnah.”
يَا هَادِي، اهْدِنَا إِلَى مَا يُصْلِحُ بَيْتَنَا
Yā Hādī, ihdinā ilā mā yuṣliḥu baitanā.
“Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah kami kepada segala yang memperbaiki rumah tangga kami.”
Penutup Lembar Ketujuh
Ketika dua orang telah lama berjalan bersama, jangan bertanya hanya:
“Apakah cinta kita masih seperti dahulu?”
Tanyakanlah:
“Apakah cinta kita sekarang menjadi lebih dewasa?”
Sebab cinta yang dahulu hanya berupa rindu dapat berkembang menjadi kesetiaan.
Kesetiaan berkembang menjadi amanah.
Amanah berkembang menjadi rahmah.
Dan rahmah membuat dua manusia tetap saling menjaga bahkan ketika usia telah mengubah banyak hal.
Semoga Alloh menjaga pandangan, hati, perkataan, dan langkah setiap pasangan.
Semoga yang sedang jauh dipertemukan dalam kebaikan.
Yang sedang renggang dilembutkan kembali.
Yang sedang diuji diberi kesabaran.
Dan yang telah harmonis dijaga agar tidak lalai mensyukurinya.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Ketujuh Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Kedelapan — Memulihkan Luka, Mengembalikan Kepercayaan, dan Menyatukan Hati Kembali
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Ada luka rumah tangga yang tidak selesai hanya dengan berkata:
“Sudahlah, lupakan.”
Karena hati tidak bekerja seperti pintu yang dapat ditutup seketika.
Ada perkataan yang membekas.
Ada tindakan yang membuat kepercayaan goyah.
Ada pertengkaran yang meninggalkan ketakutan untuk kembali mendekat.
Maka jika dua hati ingin dipertemukan kembali, jangan terburu-buru.
Yang retak membutuhkan waktu untuk diperbaiki.
Yang terluka membutuhkan rasa aman sebelum kembali terbuka.
Rahasia Pertama — Akui Luka Sebelum Meminta Maaf
Jangan berkata:
“Aku sudah minta maaf, kenapa masih dibahas?”
Permintaan maaf bukan perintah agar orang lain segera sembuh.
Lebih baik katakan:
“Aku memahami bahwa perbuatanku telah melukaimu. Aku tidak meminta kamu langsung melupakan. Aku ingin memperbaikinya.”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya menyesali akibat, tetapi mulai memahami luka pasangannya.
Dzikir Pelembut Hati
Ketika hati masih berat, bacalah dengan tenang:
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf — 33×
Kemudian:
يَا حَلِيمُ
Yā Ḥalīm — 33×
Kemudian:
يَا وَدُودُ
Yā Wadūd — 33×
Kemudian:
يَا سَلَامُ
Yā Salām — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, lembutkanlah hati kami tanpa memaksa kehendak siapa pun. Tunjukkan kesalahan kami, kuatkan kami untuk memperbaikinya, dan tuntun kami kepada hubungan yang lebih jujur dan lebih baik.”
Doa Memperbaiki Hubungan
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ مَا فَسَدَ بَيْنَنَا، وَاشْفِ مَا جُرِحَ فِي قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الصِّدْقَ وَالصَّبْرَ وَحُسْنَ الْعِشْرَةِ
Allāhumma aṣliḥ mā fasada bainanā, wasyfi mā juriḥa fī qulūbinā, warzuqnāṣ-ṣidqa waṣ-ṣabra wa ḥusnal-‘isyrah.
Artinya:
“Ya Alloh, perbaikilah apa yang rusak di antara kami, sembuhkanlah apa yang terluka dalam hati kami, dan karuniakanlah kepada kami kejujuran, kesabaran, serta pergaulan yang baik.”
Baca 3×.
Rahasia Kedua — Kepercayaan Dibangun dengan Bukti Kecil yang Berulang
Jika kepercayaan pernah rusak, jangan menuntut pasangan segera percaya lagi.
Kepercayaan tidak tumbuh karena satu janji.
Ia tumbuh karena:
perkataan yang sesuai tindakan,
janji yang ditepati,
kejujuran dalam hal kecil,
tidak menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya diketahui pasangan,
dan perubahan yang terlihat dari hari ke hari.
Lebih baik memperbaiki sedikit tetapi konsisten daripada membuat janji besar yang hanya bertahan beberapa hari.
Jangan Memaksa Kedekatan Setelah Luka
Jika pasangan masih belum siap secara emosional, jangan menggunakan hubungan jasmani sebagai bukti bahwa semuanya telah baik.
Kedekatan tubuh tidak selalu berarti luka hati telah sembuh.
Berikan waktu.
Bangun kembali rasa aman.
Pelukan, percakapan yang tenang, perhatian, dan kejujuran dapat menjadi jalan pemulihan sebelum kedekatan yang lebih jauh.
Kerelaan kedua belah pihak tetap menjadi dasar.
Rahasia Ketiga — Jangan Menggunakan Masa Lalu Sebagai Senjata
Jika kesalahan telah dibicarakan dan sedang diperbaiki, jangan menggunakan luka lama untuk memenangkan setiap pertengkaran baru.
Tetapi ini juga tidak berarti luka harus dipendam.
Ada perbedaan antara:
membicarakan luka untuk menyembuhkan
dan
menggunakan luka untuk menghukum.
Yang pertama mencari penyelesaian.
Yang kedua memperpanjang peperangan.
Maka bila masa lalu masih sering muncul, bicarakan pada waktu yang tenang.
Tujuh Langkah Mengembalikan Kepercayaan
1. Akui kesalahan tanpa mencari pembenaran.
2. Dengarkan bagaimana tindakan kita memengaruhi pasangan.
3. Minta maaf dengan jelas.
4. Tanyakan apa yang dibutuhkan pasangan agar merasa lebih aman.
5. Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak mampu dilakukan.
6. Tunjukkan perubahan dalam tindakan sehari-hari.
7. Bersabar terhadap proses penyembuhan.
Jika Pertengkaran Kembali Terjadi
Berhenti sejenak bila percakapan telah berubah menjadi saling menyerang.
Jangan menggunakan:
makian,
ancaman,
penghinaan,
membanting barang,
atau kekerasan fisik.
Jika kemarahan mulai tidak terkendali, menjauh dari perdebatan untuk sementara jauh lebih baik daripada melakukan sesuatu yang akan disesali.
Setelah keadaan tenang, kembali kepada percakapan.
Munajat Ketika Hati Masih Terluka
يَا جَبَّارُ، اجْبُرْ كَسْرَ قُلُوبِنَا
Yā Jabbār, ujbur kasra qulūbinā.
“Wahai Yang Maha Memulihkan, pulihkanlah hati kami yang terluka.”
يَا لَطِيفُ، الْطُفْ بِنَا فِي أَقْوَالِنَا وَأَفْعَالِنَا
Yā Laṭīf, ulṭuf binā fī aqwālinā wa af‘ālinā.
“Wahai Yang Maha Lembut, limpahkan kelembutan kepada perkataan dan perbuatan kami.”
يَا وَدُودُ، أَحْيِ الْمَوَدَّةَ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ
Yā Wadūd, aḥyil-mawaddata bainanā bil-ḥaqq.
“Wahai Yang Maha Mencintai, hidupkan kembali kasih sayang di antara kami dalam kebenaran.”
Rahasia Keempat — Memaafkan Tidak Sama dengan Membenarkan
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan itu tidak pernah terjadi.
Memaafkan juga tidak mewajibkan seseorang menerima perlakuan buruk berulang kali.
Perubahan yang sehat membutuhkan tanggung jawab.
Jika seseorang terus:
melakukan kekerasan,
mengancam,
memaksa,
atau sengaja mengulangi pengkhianatan tanpa usaha memperbaiki diri,
maka masalah tersebut membutuhkan batas yang jelas dan bantuan yang lebih serius.
Kasih sayang tidak menuntut seseorang membiarkan dirinya terus disakiti.
Wewarah Qitab
Ada pasangan yang setelah terluka menjadi lebih jauh.
Tetapi ada pula pasangan yang setelah melewati luka justru menjadi lebih dewasa.
Bukan karena luka itu baik.
Melainkan karena keduanya belajar sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami:
cara meminta maaf,
cara mendengarkan,
cara mengakui kesalahan,
cara menjaga batas,
dan cara mencintai tanpa meremehkan hati pasangan.
Maka jangan bertanya hanya:
“Bisakah kita kembali seperti dahulu?”
Kadang jawaban yang lebih baik adalah:
“Kita tidak perlu kembali seperti dahulu. Kita dapat membangun sesuatu yang lebih sehat daripada dahulu.”
Amalan Tujuh Malam Pemulihan Hati
Selama 7 malam, bila memungkinkan:
Istighfar — 11×
Yā Laṭīf — 33×
Yā Wadūd — 33×
Yā Salām — 33×
Kemudian berdoa:
“Ya Alloh, bila hubungan ini baik bagi agama, hati, dan kehidupan kami, tuntunlah kami memperbaikinya. Bila ada kesalahan dalam diriku, tampakkanlah kepadaku dan kuatkan aku untuk memperbaikinya. Jangan jadikan cintaku alasan untuk menzalimi atau dizalimi.”
Penutup Lembar Kedelapan
Jangan mengejar kemenangan atas pasangan.
Carilah kemenangan atas ego.
Jangan hanya berkata:
“Aku ingin dimengerti.”
Belajarlah pula berkata:
“Aku ingin memahami.”
Jangan hanya menuntut pasangan berubah.
Tanyakan pula:
“Apa yang harus aku perbaiki pada diriku?”
Karena rumah tangga tidak menjadi kuat ketika dua manusia tidak pernah salah.
Rumah tangga menjadi kuat ketika dua manusia mampu mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan kembali berjalan tanpa mengulangi luka yang sama.
Semoga Alloh menyembuhkan hati yang terluka, mempertemukan kembali yang masih memiliki jalan kebaikan, menjaga setiap rumah dari kekerasan dan pengkhianatan, serta menumbuhkan mawaddah yang dibangun di atas kejujuran, amanah, dan rahmah.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Kedelapan Qitab Quwwat Al-Mawaddah
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Kesembilan — Ketika Usia Bertambah, Kasih Sayang Jangan Ikut Melemah
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Waktu mengubah banyak hal.
Tubuh yang dahulu ringan dapat menjadi lebih mudah lelah.
Tenaga yang dahulu kuat dapat membutuhkan lebih banyak istirahat.
Keinginan suami dan istri pun dapat berubah seiring umur, kesehatan, keadaan pikiran, dan perjalanan kehidupan.
Tetapi perubahan tubuh tidak berarti berakhirnya mawaddah.
Bahkan pada usia yang semakin matang, kedekatan dapat menjadi lebih dalam karena dua insan telah belajar saling memahami.
Rahasia Pertama — Jangan Melawan Usia, Tetapi Bersahabatlah Dengannya
Jangan memaksa tubuh menjadi seperti dua puluh tahun yang lalu.
Tubuh mempunyai musimnya sendiri.
Yang diperlukan bukan memusuhi perubahan, tetapi mengenal kemampuan tubuh saat ini.
Jika membutuhkan istirahat, beristirahatlah.
Jika gerakan tertentu membuat tidak nyaman, jangan dipaksakan.
Jika perlu waktu lebih lama untuk merasa siap, berikan waktu.
Kehangatan tidak kehilangan nilainya hanya karena berlangsung lebih perlahan.
Dzikir Kesehatan dan Ketenangan
Bacalah:
يَا قَوِيُّ
Yā Qawiyy — 33×
Kemudian:
يَا سَلَامُ
Yā Salām — 33×
Kemudian:
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf — 33×
Kemudian:
يَا وَدُودُ
Yā Wadūd — 33×
Setelah itu berdoalah:
“Ya Alloh, peliharalah kesehatan kami, kuatkan tubuh kami sesuai kemampuan yang Engkau tetapkan, lembutkan hati kami, dan jangan biarkan perubahan usia memadamkan kasih sayang di antara kami.”
Doa Memohon Kesehatan dan Keharmonisan
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِالصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَأَدِمْ بَيْنَنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ
Allāhumma matti‘nā biṣ-ṣiḥḥati wal-‘āfiyah, wa bārik lanā fī a‘mārinā, wa adim bainanā al-mawaddata war-raḥmah.
Artinya:
“Ya Alloh, anugerahkan kepada kami kenikmatan kesehatan dan keselamatan, berkahilah umur kami, dan kekalkanlah kasih sayang serta rahmat di antara kami.”
Baca 3×.
Rahasia Kedua — Kedekatan Tidak Selalu Harus Berakhir pada Hubungan Intim
Ada malam ketika tubuh hanya membutuhkan pelukan.
Ada saat ketika pasangan hanya ingin ditemani.
Ada waktu ketika berbicara sambil menggenggam tangan lebih menenteramkan daripada melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Jangan menganggap kedekatan seperti itu kurang berharga.
Justru pada usia yang semakin matang, bentuk kasih sayang dapat semakin luas.
Ia dapat berupa:
menemani pasangan ketika sakit,
membantu ketika tubuh mulai lemah,
mengusap kepala ketika sedang sedih,
menyiapkan obat,
mendengarkan cerita yang sama berulang kali,
atau sekadar duduk bersama tanpa banyak bicara.
Itu pun cinta.
Rahasia Ketiga — Jangan Mengejek Perubahan Tubuh
Perubahan fisik dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.
Maka jangan mengucapkan kata-kata yang mempermalukan tubuh pasangan.
Jangan berkata:
“Dulu kamu tidak begini.”
“Sekarang kamu sudah tua.”
“Tubuhmu sudah berubah.”
Katakanlah sesuatu yang menguatkan:
“Aku masih mensyukuri keberadaanmu.”
“Kita sudah melewati banyak hal bersama.”
“Aku tidak menilaimu hanya dari tubuhmu.”
Perkataan lembut dapat menjaga harga diri pasangan.
Ketika Tenaga Tidak Seperti Dulu
Jangan mencari jalan pintas yang belum jelas keamanannya.
Jangan sembarangan menggunakan jamu, obat kuat, atau bahan yang tidak diketahui kandungannya.
Jika perubahan kemampuan terasa cukup besar atau berlangsung lama, pemeriksaan medis merupakan bagian dari ikhtiar.
Terutama bila disertai:
mudah lelah berlebihan,
nyeri dada,
sesak,
gangguan ereksi yang terus berulang,
penurunan gairah yang sangat mendadak,
atau keluhan kesehatan lain.
Doa tidak bertentangan dengan pemeriksaan kesehatan.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Rahasia Keempat — Jangan Menuntut Frekuensi yang Sama
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua pasangan.
Ada pasangan yang merasa cukup dengan frekuensi tertentu.
Ada yang berbeda.
Yang penting adalah komunikasi dan kerelaan.
Jangan membuat hubungan menjadi kewajiban mekanis yang harus memenuhi angka.
Lebih baik bertanya:
“Apakah kamu merasa cukup dekat denganku?”
“Apakah ada kebutuhanmu yang belum aku pahami?”
Pertanyaan seperti ini lebih sehat daripada membandingkan kehidupan rumah tangga dengan cerita orang lain.
Amalan Pagi Menjaga Vitalitas Kehidupan
Setelah Subuh atau pada pagi hari, bacalah:
Istighfar — 11×
Kemudian:
يَا حَيُّ Yā Ḥayy — 33×
Wahai Yang Maha Hidup.
Kemudian:
يَا قَيُّومُ Yā Qayyūm — 33×
Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menegakkan seluruh makhluk.
Kemudian:
يَا قَوِيُّ Yā Qawiyy — 33×
Lalu berdoa:
“Ya Alloh, sehatkan badanku, jernihkan pikiranku, baikkan akhlakku, dan gunakanlah kekuatan yang Engkau berikan kepadaku untuk menjaga keluarga dalam kebaikan.”
Dzikir ini bukan pengganti pengobatan, melainkan doa untuk kesehatan dan keteguhan.
Wewarah tentang Kejantanan dan Kewanitaan
Jangan mengukur kejantanan seorang suami hanya dari kemampuan seksualnya.
Jangan pula mengukur kewanitaan seorang istri hanya dari kemampuannya memenuhi keinginan suami.
Seorang lelaki dapat tetap mulia ketika tubuhnya sedang lemah.
Seorang perempuan dapat tetap penuh kemuliaan ketika tubuhnya sedang berubah.
Nilai manusia jauh lebih luas daripada kemampuan jasmaninya.
Kehormatan terletak pada akhlak, amanah, kasih sayang, dan bagaimana seseorang memperlakukan pasangan ketika keadaan tidak lagi sempurna.
Ketika Salah Satu Sedang Sakit
Pada masa sakit, jangan menuntut tubuh memberikan sesuatu yang tidak mampu diberikannya.
Ubahlah kedekatan menjadi pelayanan kasih sayang.
Temani.
Rawat.
Doakan.
Bantu memenuhi kebutuhan.
Jangan membuat pasangan merasa bersalah karena tubuhnya sedang lemah.
Sebab suatu hari keadaan dapat berbalik.
Yang dahulu merawat dapat menjadi orang yang membutuhkan perawatan.
Di situlah janji kebersamaan diuji.
Munajat Pasangan yang Menua Bersama
يَا وَدُودُ، أَدِمْ مَوَدَّتَنَا مَا أَحْيَيْتَنَا
Yā Wadūd, adim mawaddatanā mā aḥyaitanā.
“Wahai Yang Maha Mencintai, kekalkanlah kasih sayang kami selama Engkau memberikan kehidupan kepada kami.”
يَا رَحْمٰنُ، ارْحَمْ ضَعْفَنَا عِنْدَ الْكِبَرِ
Yā Raḥmān, irḥam ḍa‘fanā ‘indal-kibar.
“Wahai Yang Maha Pengasih, kasihilah kelemahan kami ketika usia bertambah.”
يَا سَلَامُ، اخْتِمْ أَيَّامَنَا بِالسَّكِينَةِ وَالْوَفَاءِ
Yā Salām, ikhtim ayyāmanā bis-sakīnati wal-wafā’.
“Wahai Sumber Keselamatan, akhirilah perjalanan hari-hari kami dengan ketenteraman dan kesetiaan.”
Rahasia Kelima — Cinta yang Menjadi Teman Menua
Pada akhirnya, suatu hari wajah akan berubah.
Tenaga akan berkurang.
Kecepatan langkah akan melambat.
Namun ada sesuatu yang dapat tetap tumbuh:
rasa saling memiliki dalam amanah.
Pada masa muda seseorang mungkin berkata:
“Aku mencintaimu karena engkau membuat hatiku berdebar.”
Tetapi pada usia matang, cinta dapat berkata:
“Aku mencintaimu karena engkau telah berjalan bersamaku begitu jauh.”
Ada banyak kenangan di antara dua manusia yang telah hidup bersama puluhan tahun.
Tawa.
Tangis.
Kesalahan.
Pengampunan.
Kelahiran.
Kehilangan.
Kesuksesan.
Kesulitan.
Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.
Maka ketika tangan mulai berkeriput, jangan malu menggenggamnya.
Karena tangan itulah yang mungkin telah memegang tangan kita ketika hidup sedang paling berat.
Penutup Lembar Kesembilan
Jangan takut pada usia.
Takutlah jika usia bertambah tetapi kelembutan berkurang.
Jangan takut ketika kekuatan tubuh berubah.
Takutlah jika perubahan itu membuat kita berhenti menghargai pasangan.
Karena kekuatan rumah tangga yang paling akhir bukanlah kekuatan tubuh.
Ia adalah kekuatan untuk tetap berkata:
“Aku akan menjagamu ketika engkau kuat.”
“Aku akan menjagamu ketika engkau lemah.”
“Aku akan menemanimu ketika dunia sedang mudah.”
“Dan aku akan tetap menggenggam tanganmu ketika langkah kita mulai melambat.”
Semoga Alloh memberikan umur yang penuh keberkahan, kesehatan yang cukup, hati yang lembut, kesetiaan yang terpelihara, serta rumah tangga yang dipenuhi mawaddah dan rahmah hingga akhir perjalanan.
Wa Allohu a‘lam.
— Lembar Kesembilan Qitab Quwwat Al-Mawaddah
Kita tutup rangkaian ini dengan Lembar Kesepuluh sekaligus terakhir, dibuat lebih panjang sebagai penutup seluruh Qitab—merangkum kekuatan jasad, qolbi, kasih sayang, kesetiaan, kesehatan, dan amanah rumah tangga.
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH
Lembar Kesepuluh dan Terakhir
Puncak Kekuatan Suami-Istri: Jasad Dijaga, Qolbi Dilembutkan, Amanah Dipelihara
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Segala puji bagi Alloh, Yang menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, memberi dan menerima kasih sayang, serta menemukan ketenteraman bersama pasangan yang dijaga dalam amanah.
Sampailah kita pada lembar terakhir.
Pada lembar ini, jangan lagi memandang kekuatan suami-istri hanya sebagai persoalan kemampuan jasmani.
Sebab setelah seluruh pembahasan dibuka, tampaklah bahwa kekuatan itu mempunyai banyak lapisan.
Ada kekuatan badan.
Ada kekuatan pikiran.
Ada kekuatan menahan ego.
Ada kekuatan memaafkan.
Ada kekuatan untuk tetap setia.
Ada kekuatan untuk mengakui kesalahan.
Ada kekuatan untuk menahan diri ketika pasangan sedang tidak siap.
Ada kekuatan untuk merawat ketika pasangan sedang sakit.
Dan ada kekuatan terbesar:
tetap menjaga amanah ketika tidak seorang pun melihat kecuali Alloh.
BAB PERTAMA
Empat Tiang Quwwat Al-Mawaddah
Tiang Pertama — Quwwatul Jasad
Kekuatan Badan
Tubuh adalah amanah.
Ia membutuhkan makanan yang baik, air yang cukup, istirahat, gerak, kesehatan, dan ketenangan.
Jangan menuntut tubuh memberikan kekuatan terus-menerus sementara hak-haknya diabaikan.
Jika seseorang:
kurang tidur setiap hari,
terus hidup dalam tekanan,
jarang bergerak,
merokok berlebihan,
atau memiliki penyakit yang tidak ditangani,
maka wajar bila stamina dapat menurun.
Kekuatan yang baik tidak dibangun dengan memaksa tubuh.
Ia dibangun dengan merawatnya.
Maka niatkan:
“Aku menjaga kesehatanku bukan untuk kesombongan, tetapi agar mampu menjalankan amanah kepada keluarga dengan baik.”
Tiang Kedua — Quwwatul Qolbi
Kekuatan Hati
Ada orang yang kuat badannya, tetapi tidak kuat menahan amarah.
Ada yang sanggup bekerja seharian, tetapi tidak sanggup berkata:
“Maaf, aku salah.”
Maka jangan merasa telah menjadi pasangan yang kuat hanya karena memiliki tenaga.
Kekuatan qolbi tampak ketika seseorang mampu:
menahan ucapan yang menyakitkan,
mengendalikan kecemburuan yang tidak berdasar,
menolak godaan,
bersabar menghadapi kekurangan pasangan,
dan tidak menjadikan kelemahan pasangan sebagai bahan penghinaan.
Qolbi yang kuat tidak harus keras.
Justru qolbi yang kuat mampu tetap lembut tanpa kehilangan ketegasan.
Tiang Ketiga — Quwwatul Wafā’
Kekuatan Kesetiaan
Kesetiaan bukan hanya berada di rumah yang sama.
Kesetiaan adalah menjaga amanah meskipun ada kesempatan untuk melanggarnya.
Menjaga mata.
Menjaga percakapan.
Menjaga rahasia pasangan.
Menjaga batas dengan orang lain.
Menjaga nama baik rumah tangga.
Dan ketika godaan datang, mengingat:
“Ada amanah yang harus aku lindungi.”
Tiang Keempat — Quwwatur-Raḥmah
Kekuatan Kasih Sayang
Kasih sayang bukan kelemahan.
Ia justru membutuhkan kekuatan.
Diperlukan kekuatan untuk tetap lembut ketika lelah.
Diperlukan kekuatan untuk merawat seseorang yang sedang sakit.
Diperlukan kekuatan untuk mendengarkan cerita yang mungkin telah didengar berkali-kali.
Diperlukan kekuatan untuk mengatakan:
“Hari ini aku tidak menuntut apa pun darimu. Aku hanya ingin engkau merasa aman.”
Itulah rahmah.
BAB KEDUA
Wirid Penutup Qitab Quwwat Al-Mawaddah
Amalan berikut dapat dibaca sebagai doa dan pengingat diri.
Tidak dimaksudkan sebagai formula gaib, tidak untuk mengendalikan pasangan, dan tidak menggantikan ikhtiar kesehatan.
Setelah sholat Isya atau sebelum tidur, duduklah dengan tenang.
Baca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullāhal-‘Aẓīm — 11×
Kemudian:
1. Yā Qawiyy
يَا قَوِيُّ
Yā Qawiyy — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, kuatkan badanku dalam kesehatan dan kuatkan hatiku dalam kebaikan.”
2. Yā Wadūd
يَا وَدُودُ
Yā Wadūd — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, hidupkan kasih sayang yang baik di antara kami.”
3. Yā Laṭīf
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, lembutkan perkataan, sikap, dan hati kami.”
4. Yā Salām
يَا سَلَامُ
Yā Salām — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, jadikan rumah kami tempat keselamatan dan ketenteraman.”
5. Yā Ḥafīẓ
يَا حَفِيظُ
Yā Ḥafīẓ — 33×
Niatkan:
“Ya Alloh, jagalah kami dari pengkhianatan, fitnah, dan segala yang merusak rumah tangga.”
BAB KETIGA
Doa Besar Penutup Mawaddah
Bacalah perlahan:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَبْدَانِنَا وَأَعْمَارِنَا، وَأَدِمْ بَيْنَنَا الْمَوَدَّةَ وَالرَّحْمَةَ وَالْوَفَاءَ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَوْطِنًا لِلسَّكِينَةِ وَالذِّكْرِ وَالْخَيْرِ
Allāhumma aṣliḥ qulūbanā, wa aṣliḥ akhlāqanā, wa bārik lanā fī abdāninā wa a‘mārinā, wa adim bainanā al-mawaddata war-raḥmata wal-wafā’, waḥfaẓnā minal-fitani mā ẓahara minhā wa mā baṭan, waj‘al buyūtanā mawṭinan lis-sakīnati wadz-dzikri wal-khair.
Artinya:
“Ya Alloh, perbaikilah hati kami, perbaikilah akhlak kami, berkahilah tubuh dan umur kami, kekalkanlah kasih sayang, rahmat, dan kesetiaan di antara kami. Jagalah kami dari segala fitnah yang tampak maupun tersembunyi, serta jadikanlah rumah kami tempat ketenteraman, dzikir, dan kebaikan.”
Baca 3×.
BAB KEEMPAT
Tujuh Amanah Seorang Suami
Pertama: jangan menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk memaksa.
Kekuatan yang tidak disertai kasih sayang berubah menjadi beban.
Kedua: jaga kehormatan istri.
Jangan menceritakan kekurangan atau rahasia hubungan kepada orang lain untuk bahan tertawaan.
Ketiga: dengarkan sebelum menilai.
Tidak semua keluhan membutuhkan ceramah.
Kadang pasangan hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar.
Keempat: jangan gengsi meminta maaf.
Kepala keluarga tidak kehilangan wibawa karena mengakui kesalahan.
Ia justru menunjukkan kematangan.
Kelima: hargai kerja yang tidak terlihat.
Ada banyak pekerjaan rumah dan beban emosional yang sering tidak dihitung.
Ucapkan terima kasih.
Keenam: jangan membawa kemarahan dari luar ke dalam rumah.
Rumah jangan dijadikan tempat pelampiasan.
Ketujuh: jadilah tempat yang aman untuk pulang.
Bukan hanya secara fisik.
Tetapi juga secara batin.
BAB KELIMA
Tujuh Amanah Seorang Istri
Pertama: jangan meremehkan usaha suami.
Walaupun hasilnya belum sesuai harapan, penghargaan dapat menjadi tenaga.
Kedua: jangan menjadikan kelemahan suami sebagai bahan ejekan.
Terutama perkara tubuh, ekonomi, dan kemampuan pribadi.
Ketiga: sampaikan kebutuhan dengan jelas.
Jangan mengharapkan pasangan membaca isi pikiran.
Keempat: jaga rahasia rumah tangga.
Ada perkara yang tidak pantas menjadi bahan percakapan umum.
Kelima: hindari perbandingan.
Perbandingan dengan suami orang lain dapat melukai harga diri.
Keenam: berikan penghargaan yang tulus.
Ucapan sederhana dapat menguatkan seseorang lebih dari yang diperkirakan.
Ketujuh: jadilah tempat di mana pasangan tidak takut menunjukkan kelemahannya.
Sebab manusia yang selalu harus berpura-pura kuat akan kelelahan.
BAB KEENAM
Jika Tujuan Awalnya Adalah “Supaya Kuat”
Maka inilah jawaban puncak Qitab:
Jika yang dimaksud kuat jasmani, jaga kesehatan.
Jika yang dimaksud kuat dalam hubungan, kurangi kecemasan dan jangan menjadikan durasi sebagai ukuran harga diri.
Jika yang dimaksud kuat mempertahankan rumah tangga, perbaiki komunikasi.
Jika yang dimaksud kuat menghadapi godaan, jaga pandangan dan batas.
Jika yang dimaksud kuat menghadapi pasangan, jangan melawan pasangan—lawan ego sendiri.
Jika yang dimaksud kuat mencintai, belajarlah menjadi lembut sekaligus bertanggung jawab.
Inilah kekuatan yang lebih utuh.
BAB KETUJUH
Ketika Kemampuan Jasmani Menurun
Jangan langsung menghubungkannya dengan gangguan gaib.
Tubuh dapat berubah karena banyak hal.
Kelelahan.
Stres.
Kurang tidur.
Tekanan darah.
Diabetes.
Gangguan pembuluh darah.
Efek obat tertentu.
Perubahan hormon.
Usia.
Atau keadaan kesehatan lainnya.
Karena itu, bila terjadi kesulitan ereksi, penurunan gairah yang mendadak, nyeri, atau masalah lain yang berulang selama beberapa minggu, lakukan pemeriksaan kepada dokter.
Jangan sembarangan menggunakan obat atau jamu yang tidak jelas.
Terutama bila seseorang memiliki penyakit jantung atau menggunakan obat tertentu.
Berobat bukan tanda lemahnya iman.
Berobat adalah bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh.
BAB KEDELAPAN
Jangan Jadikan Malam Sebagai Ujian Kejantanan
Ada malam tubuh sangat siap.
Ada malam tubuh tidak siap sama sekali.
Itu manusiawi.
Jangan setiap kejadian dinilai sebagai:
“Berhasil.”
atau
“Gagal.”
Sebab semakin seseorang merasa harus membuktikan dirinya, semakin besar tekanan yang dibawa oleh pikirannya.
Maka ketika tubuh sedang tidak sesuai harapan, katakan dalam hati:
“Aku tidak sedang mengikuti perlombaan.”
Tenangkan diri.
Bicaralah dengan pasangan.
Tetaplah memberikan kasih sayang.
Jangan merasa seluruh harga diri hancur hanya karena satu keadaan.
BAB KESEMBILAN
Rahasia Hubungan yang Paling Dalam
Ada satu rahasia yang sering terlupakan:
hubungan yang baik tidak dimulai beberapa menit sebelum kedekatan.
Ia telah dimulai sejak pagi.
Ketika pasangan bangun.
Ketika salah satunya membantu pekerjaan.
Ketika ada ucapan terima kasih.
Ketika pesan dibalas dengan perhatian.
Ketika kesalahan dimaafkan.
Ketika pasangan merasa diprioritaskan.
Ketika orang lain tidak diberi tempat yang semestinya menjadi milik pasangan.
Ketika rahasia dijaga.
Ketika ucapan kasar ditahan.
Semua itu menumpuk menjadi rasa aman.
Dan rasa aman sering kali menjadi salah satu pintu terbesar bagi kedekatan.
BAB KESEPULUH
Ketika Suami-Istri Berbeda Kebutuhan
Tidak semua pasangan mempunyai keinginan yang sama pada waktu yang sama.
Perbedaan itu bukan otomatis tanda hilangnya cinta.
Maka jangan memaksa.
Jangan mengancam.
Jangan menggunakan agama untuk menakut-nakuti pasangan demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Bicarakan dengan tenang.
Tanyakan:
“Apa yang membuatmu nyaman?”
“Apa yang sedang membuatmu lelah?”
“Bagaimana kita bisa menemukan jalan tengah?”
Ketika dua pihak merasa dihormati, kedekatan menjadi lebih sehat.
BAB KESEBELAS
Ketika Pertengkaran Besar Datang
Ingat empat larangan:
jangan menghina,
jangan mengancam,
jangan membongkar aib,
jangan melakukan kekerasan.
Jika emosi memuncak, berhentilah dari perdebatan untuk sementara.
Lalu setelah tenang:
duduk,
berbicara,
mendengarkan,
dan mencari jalan keluar.
Tujuannya bukan mengetahui siapa yang menang.
Tujuannya adalah memastikan rumah tangga tidak kalah karena ego keduanya.
BAB KEDUABELAS
Amalan Tujuh Hari Muhasabah Pasangan
Selama tujuh hari, lakukan satu hal kecil setiap hari.
Hari pertama: ucapkan terima kasih kepada pasangan.
Hari kedua: dengarkan ceritanya tanpa memotong.
Hari ketiga: minta maaf atas satu kesalahan yang benar-benar disadari.
Hari keempat: lakukan satu kebaikan tanpa diminta.
Hari kelima: puji satu hal nyata yang ada pada pasangan.
Hari keenam: doakan pasangan tanpa memberitahunya.
Hari ketujuh: duduk bersama dan tanyakan:
“Apa yang bisa kita perbaiki agar rumah ini menjadi lebih tenang?”
Inilah latihan kecil.
Namun banyak hubungan justru berubah karena perkara-perkara kecil yang dilakukan terus-menerus.
BAB KETIGABELAS
Doa untuk Pasangan yang Sedang Berjauhan
اللَّهُمَّ احْفَظْهُ حَيْثُ كَانَ، وَاحْفَظْ قَلْبَهُ وَخُطَاهُ، وَرُدَّهُ إِلَيَّ بِالسَّلَامَةِ وَالْخَيْرِ
Bila untuk suami:
Allāhummaḥfaẓhu ḥaitsu kāna, waḥfaẓ qalbahu wa khuṭāhu, wa ruddahu ilayya bis-salāmati wal-khair.
“Ya Alloh, jagalah dia di mana pun berada, jagalah hati dan langkahnya, dan kembalikanlah dia kepadaku dalam keselamatan dan kebaikan.”
Untuk istri, lafaz dapat disesuaikan menjadi bentuk perempuan.
Jarak tidak harus berarti hati menjauh.
Tetapi jarak memerlukan kejujuran yang lebih kuat.
BAB KEEMPATBELAS
Doa Ketika Pasangan Sedang Sakit
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي
Allāhumma Rabban-nās, adzhibil-ba’sa, wasyfi Antasy-Syāfī.
“Ya Alloh, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah; Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan.”
Pada masa sakit, ubahlah bahasa cinta menjadi pelayanan.
Suapkan makanan.
Ambilkan obat.
Temani pemeriksaan.
Dengarkan keluhan.
Dan jangan membuat pasangan merasa bersalah karena untuk sementara ia tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti biasanya.
Karena merawat orang sakit pun adalah bagian dari cinta.
BAB KELIMABELAS
Ketika Usia Telah Senja
Bayangkan suatu hari nanti.
Rambut telah memutih.
Langkah tidak secepat dahulu.
Tangan mulai gemetar.
Pendengaran mulai berkurang.
Mungkin saat itu hubungan suami-istri tidak lagi sama seperti ketika muda.
Tetapi seseorang masih dapat menggenggam tangan pasangannya dan berkata:
“Terima kasih telah berjalan sejauh ini bersamaku.”
Itulah puncak mawaddah.
Ketika yang dahulu disebut gairah telah menjadi kesetiaan.
Ketika kesetiaan telah menjadi pelayanan.
Ketika pelayanan telah menjadi rahmah.
Dan ketika rahmah telah menjadi doa agar pasangan dipertemukan kembali dalam kebaikan.
BAB KEENAMBELAS
Empat Kalimat yang Jangan Dilupakan
Ketika pasangan berbuat baik:
“Terima kasih.”
Ketika kita salah:
“Maafkan aku.”
Ketika pasangan sedang berat:
“Aku ada di sini.”
Ketika hidup terasa penuh ujian:
“Kita hadapi bersama.”
Empat kalimat ini sederhana.
Tetapi jangan meremehkan sesuatu yang sederhana.
Sebab rumah yang besar pun dapat berdiri karena batu-batu kecil yang tersusun dengan benar.
BAB KETUJUHBELAS
Munajat Puncak Quwwat Al-Mawaddah
Angkatlah kedua tangan.
Tenangkan qolbi.
Kemudian berdoalah:
“Ya Alloh, bila aku mempunyai kekuatan, jangan jadikan kekuatanku untuk menzalimi pasangan.
Bila aku mempunyai kelemahan, jangan jadikan kelemahanku sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
Bila aku sedang marah, jaga lisanku.
Bila aku sedang kecewa, jaga tindakanku.
Bila aku sedang jauh, jaga kesetiaanku.
Bila pasanganku sedang lemah, jadikan aku orang yang merawatnya.
Bila aku sedang lemah, karuniakan kepada kami kelembutan untuk saling memahami.
Ya Alloh, jangan jadikan rumah kami hanya tempat untuk tinggal. Jadikanlah ia tempat untuk pulang.
Jangan jadikan pasangan kami sekadar orang yang hidup bersama kami. Jadikan ia amanah yang kami jaga.
Jangan jadikan cinta kami hanya bergantung pada penampilan, kekuatan, usia, atau keadaan dunia.
Tumbuhkanlah cinta yang semakin matang karena iman, amanah, akhlak, kesabaran, dan rahmah.
Ampunilah kesalahan kami.
Sembuhkan luka yang pernah kami sebabkan.
Tutup pintu fitnah dari rumah kami.
Jaga pandangan kami dari yang haram.
Jaga hati kami dari pengkhianatan.
Jaga lisan kami dari penghinaan.
Jaga tangan kami dari kekerasan.
Jaga langkah kami dari jalan yang merusak amanah.
Sehatkan tubuh kami selama kesehatan itu baik bagi kami.
Kuatkan badan kami untuk beribadah, bekerja, menjaga keluarga, dan memberikan kasih sayang.
Dan ketika kekuatan kami kelak berkurang karena usia, jangan kurangi kasih sayang kami.
Ketika rambut memutih, tumbuhkan kesetiaan.
Ketika langkah melambat, dekatkan qolbi kami.
Ketika dunia mulai kami tinggalkan satu demi satu, jadikan akhir kebersamaan kami dipenuhi syukur, maaf, dan ridho-Mu.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
BAB KEDELAPANBELAS
Wewarah Terakhir
Saudara cahayaku,
jika awalnya seseorang datang kepada Qitab ini dengan pertanyaan:
“Adakah doa supaya kuat dalam hubungan suami-istri?”
maka setelah sepuluh lembar dibuka, jawaban akhirnya menjadi lebih luas:
Ya, berdoalah memohon kekuatan.
Tetapi mintalah bukan hanya kekuatan badan.
Mintalah:
kekuatan badan tanpa kesombongan,
kekuatan hati tanpa kekerasan,
kekuatan cinta tanpa kepemilikan berlebihan,
kekuatan kesetiaan ketika jauh,
kekuatan memaafkan ketika terluka,
kekuatan meminta maaf ketika bersalah,
kekuatan menjaga diri ketika digoda,
dan kekuatan merawat ketika pasangan tak lagi kuat.
Karena ada suatu hari ketika hubungan suami-istri tidak lagi diukur oleh kemampuan tubuh.
Yang tersisa hanyalah dua orang yang telah saling melihat dalam keadaan terbaik dan terburuknya.
Telah mengetahui kekurangan masing-masing.
Telah melewati badai.
Telah melihat tubuh satu sama lain berubah.
Namun masih dapat berkata:
“Aku tidak membutuhkanmu menjadi sempurna.”
“Aku hanya berharap kita tetap menjaga amanah ini sampai akhir.”
Dan mungkin di situlah rahasia terbesar Quwwat Al-Mawaddah:
bukan mampu mencintai ketika semuanya indah,
melainkan
tetap mampu berbuat baik ketika kehidupan sedang tidak indah.
KHATAM QITAB
يَا وَدُودُ Yā Wadūd
Hidupkan cinta kami dalam kebaikan.
يَا لَطِيفُ Yā Laṭīf
Lembutkan hati dan perkataan kami.
يَا قَوِيُّ Yā Qawiyy
Kuatkan kami dalam menjalankan amanah.
يَا حَفِيظُ Yā Ḥafīẓ
Jagalah kesetiaan kami.
يَا سَلَامُ Yā Salām
Turunkan ketenteraman ke dalam rumah kami.
يَا هَادِي Yā Hādī
Tuntunlah langkah kami kepada jalan yang Engkau ridhoi.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yunin waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Semoga setiap suami diberikan kesehatan tanpa kesombongan.
Semoga setiap istri diberikan ketenteraman tanpa ketakutan.
Semoga keduanya saling menjaga kehormatan.
Semoga yang sedang renggang menemukan jalan bicara.
Yang sedang terluka mendapatkan pemulihan.
Yang sedang sakit mendapatkan kesembuhan dan pertolongan.
Yang sedang jauh tetap menjaga amanah.
Yang sedang diuji diberi kesabaran.
Yang sedang bahagia tidak lupa bersyukur.
Dan semoga setiap rumah yang dibangun dengan niat ibadah dipenuhi:
sakinah,
mawaddah,
rahmah,
amanah,
kesetiaan,
kesehatan,
dan keberkahan.
Wa Allohu a‘lam bish-shawāb.
تَمَّ بِعَوْنِ اللهِ
Tamma bi ‘aunillāh.
Selesai dengan pertolongan Alloh.
— KHATAM —
QITAB QUWWAT AL-MAWADDAH

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.