QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, saudara saudari cahayaku.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Pertama — Antara Kemuliaan Para Wali dan Penjagaan Tauhid
Pembukaan
Rijālul-Ghayb ditulis:
رِجَالُ الْغَيْبِ
Secara bahasa berarti “orang-orang yang tersembunyi atau tidak diketahui.” Dalam sebagian literatur tasawuf, istilah ini digunakan untuk menyebut para kekasih Alloh yang kedudukan batinnya tidak dikenal masyarakat. Di dalam susunan kosmologi tasawuf dikenal istilah seperti quthb, awtād, abdāl, nuqabā, dan nujabā. Namun jumlah, tingkatan, dan penjelasannya berbeda-beda antara satu kitab tasawuf dengan kitab lainnya; ia bukan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini dengan susunan tertentu.
Karena itu, kalimat dalam gambar, “para wali Alloh di alam gaib,” perlu dipahami dengan hati-hati. Rijālul-Ghayb tidak mesti berarti roh-roh wali yang hidup dalam kerajaan gaib dan dapat dipanggil sesuka hati. Kata ghaib dapat menunjuk kepada keadaan mereka yang tersembunyi, identitasnya tidak dikenal, atau maqam keruhaniannya tidak diketahui manusia biasa.
Isi Bacaan dalam Gambar
Bacaan di dalam gambar bukan hanya salam. Bagian awalnya memang berisi penghormatan:
“Keselamatan atas kalian, wahai Rijālul-Ghayb, wahai ruh-ruh yang disucikan…”
Namun sesudah itu terdapat permintaan langsung:
أَغِيثُونِي بِقُوَّتِكُمْ
“Tolonglah aku dengan kekuatan kalian.”
وَحَصِّلُوا مُرَادِي وَمَقْصُودِي
“Wujudkanlah keinginan dan maksudku.”
وَقُومُوا عَلَى قَضَاءِ حَوَائِجِي
“Bantulah memenuhi segala kebutuhanku.”
Jadi, kurang tepat apabila bacaan tersebut disebut hanya sebagai “sebentuk salam.” Di dalamnya terdapat salam, pemanggilan, permintaan pertolongan, dan permohonan pemenuhan hajat kepada sosok-sosok yang tidak tampak.
Benarkah berasal dari Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī?
Saudara cahayaku, saya belum menemukan sumber primer yang kuat dan jelas yang membuktikan bahwa susunan kalimat persis seperti dalam gambar benar-benar diucapkan atau diajarkan langsung oleh Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī.
Bacaan semacam ini banyak beredar dalam kompilasi amalan, tulisan internet, dan salinan media sosial yang muncul jauh sesudah masa beliau. Ada pula kitab-kitab kumpulan wirid Qadiriyah yang membicarakan Rijālul-Ghayb, tetapi keberadaan suatu bacaan di dalam kompilasi belakangan tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kata-katanya merupakan karya langsung Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī.
Karena itu, tulisan Facebook tidak cukup dijadikan dasar untuk mengatakan:
“Ini pasti amalan Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī.”
Nama seorang wali besar jangan digunakan untuk menguatkan amalan apabila kitab, sanad, dan sumbernya belum jelas.
Apakah Boleh Diamalkan?
Dalam masalah istighātsah atau meminta pertolongan melalui nabi dan wali, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Sebagian ulama membolehkan ungkapan istighātsah apabila orang yang membacanya tetap meyakini bahwa wali hanyalah sebab atau perantara, sedangkan yang benar-benar menciptakan pertolongan, mengabulkan doa, menyembuhkan, dan memenuhi hajat hanyalah Alloh. Pandangan seperti ini dijelaskan dalam tradisi ulama NU dan fatwa Mufti Wilayah Persekutuan; keduanya juga menegaskan bahwa tidak boleh meyakini wali mempunyai kekuasaan yang berdiri sendiri seperti kekuasaan Alloh.
Sebagian ulama lainnya melarang meminta sesuatu yang bersifat gaib secara langsung kepada orang yang telah wafat atau tidak hadir. Menurut pandangan ini, meminta bantuan kepada manusia hanya dibolehkan dalam sesuatu yang memang mampu dilakukannya, sedangkan pertolongan yang tidak mampu dilakukan makhluk harus dimohonkan langsung kepada Alloh.
Keputusan QITAB
Untuk saudara cahayaku yang menemukan bacaan ini secara acak di Facebook dan tidak menerima ijazah serta penjelasan langsung dari guru yang benar-benar memahami akidah dan sanadnya:
Jangan mengamalkan susunan bacaan dalam gambar tersebut sebagai wirid rutin.
Bukan karena kita merendahkan para wali, melainkan karena:
Sumber dan penyandaran kepada Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī belum terbukti kuat.
Lafaznya mengandung permintaan pertolongan secara langsung kepada sosok gaib.
Kalimat “dengan kekuatan kalian” dapat menimbulkan salah pengertian mengenai sumber kekuatan.
Orang awam dapat perlahan-lahan menggantungkan hati kepada makhluk, bukan kepada Alloh.
Masih tersedia doa-doa yang lebih jelas, kuat, dan langsung menjaga kemurnian tauhid.
Kita tidak perlu mudah menuduh orang lain musyrik hanya karena membaca lafaz tersebut. Niat, pemahaman, dan keyakinan setiap orang berbeda. Namun untuk menjaga diri sendiri, lebih baik memilih bacaan yang tidak menimbulkan keraguan.
Amalan Pengganti yang Lebih Aman
Bacalah pada pagi, petang, atau ketika menghadapi kesulitan:
Arab
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Latin
Yā Ḥayyu Yā Qayyūm, biraḥmatika astaghīṡ, aṣliḥ lī sya’nī kullah, wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘ain.
Artinya
“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan Mengurus seluruh makhluk. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”
Doa ini diriwayatkan sebagai wasiat Nabi Muhammad ﷺ untuk dibaca pada pagi dan petang.
Kemudian lanjutkan dengan doa:
Arab
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، أَنْ تَقْضِيَ حَاجَتِي، وَتَكْشِفَ كُرْبَتِي، وَتَهْدِيَ قَلْبِي، وَتَحْفَظَنِي مِنَ التَّعَلُّقِ بِغَيْرِكَ
Latin
Allōhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā, an taqḍiya ḥājatī, wa taksyifa kurbatī, wa tahdiya qalbī, wa taḥfaẓanī minat-ta‘alluq bi-ghairik.
Artinya
“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah. Penuhilah kebutuhanku, lepaskanlah kesulitanku, tuntunlah hatiku, dan jagalah aku dari menggantungkan hati kepada selain-Mu.”
Alloh sendiri menegaskan bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa hamba yang memohon kepada-Nya.
Rahasia Penutup
Para wali boleh dicintai.
Karamah mereka boleh dihormati.
Keteladanan mereka harus diikuti.
Namun hati tidak boleh berhenti pada wali.
Wali menunjukkan jalan—bukan menjadi tujuan.
Wali mengajarkan doa—bukan menggantikan Alloh.
Wali menghidupkan tauhid—bukan mengambil tempat dalam ketergantungan hati.
Maka penghormatan tertinggi kepada Syekh ‘Abdul-Qādir al-Jailānī bukanlah menisbatkan setiap amalan kepadanya, melainkan mengikuti seruannya agar hati bersandar sepenuhnya kepada Alloh.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Kedua — Yang Tersembunyi Bukan Berarti Harus Dipanggil
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku, setelah memahami bahwa istilah Rijālul-Ghayb memiliki berbagai penjelasan dalam dunia tasawuf, sekarang kita perlu membuka satu pintu yang lebih dalam:
Mengapa mereka disebut “orang-orang yang tersembunyi”?
Kata ghaib tidak selalu berarti alam makhluk halus, kerajaan roh, atau tempat yang tidak terlihat mata. Dalam pembahasan para ahli tasawuf, tersembunyi dapat berarti:
mereka hidup di tengah manusia, tetapi kedekatan mereka kepada Alloh tidak diketahui;
mereka mungkin tampak sederhana, tidak memiliki pakaian kebesaran, gelar, pengikut, atau tanda-tanda luar;
dan amal mereka tersembunyi karena mereka lebih takut kepada riya daripada takut tidak dikenal manusia.
Maka seseorang tidak disebut Rijālul-Ghayb hanya karena dapat melihat sesuatu yang gaib, mendengar suara batin, atau mengalami kejadian luar biasa.
Yang lebih utama ialah:
hatinya tidak pernah merasa jauh dari Alloh, tetapi dirinya tidak menuntut untuk dianggap istimewa oleh manusia.
Mereka Bisa Berada di Tengah Kehidupan Biasa
Boleh jadi seseorang yang dekat kepada Alloh tampak sebagai petani, pedagang, guru mengaji, nelayan, penjaga masjid, ibu yang merawat keluarganya, atau orang tua yang hidup dalam kesederhanaan.
Manusia melihat pekerjaannya.
Namun Alloh mengetahui keikhlasannya.
Manusia melihat pakaiannya yang sederhana.
Namun Alloh mengetahui sujud malamnya.
Manusia tidak menyebut namanya.
Namun doanya mungkin menjadi sebab turunnya rahmat bagi lingkungan di sekitarnya.
Karena itu, jangan membayangkan semua wali tersembunyi selalu berada di gunung, lautan, gua, atau tempat yang jauh dari manusia. Sebagian justru menjalankan kehidupan biasa, tetapi batinnya selalu terhubung kepada Alloh.
Tanda Utama Bukan Karamah
Saudara cahayaku, masyarakat sering tertarik kepada kisah-kisah karamah. Ada yang dikatakan dapat berpindah tempat dengan cepat, mengetahui sesuatu sebelum terjadi, berjalan di atas air, atau terlihat di dua tempat.
Kisah seperti itu mungkin ditemukan dalam kitab-kitab manaqib. Namun karamah bukan ukuran utama kewalian.
Ukuran terpenting seorang wali ialah:
iman yang benar, ketakwaan, akhlak, ketaatan, kerendahan hati, dan istiqamah.
Orang yang mempertontonkan kemampuan luar biasa belum tentu wali.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah memperlihatkan kejadian ajaib dapat memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Alloh.
Karamah terbesar bukanlah terbang di udara.
Karamah terbesar adalah tetap taat ketika memiliki kesempatan untuk bermaksiat.
Karamah terbesar bukanlah mengetahui rahasia orang lain.
Karamah terbesar adalah mampu menjaga rahasia dan kehormatan orang lain.
Karamah terbesar bukanlah melihat makhluk gaib.
Karamah terbesar adalah melihat kesalahan diri sendiri, lalu segera bertobat kepada Alloh.
Jangan Mencari-Cari Siapa Mereka
Salah satu kesalahan dalam memahami Rijālul-Ghayb ialah terlalu sibuk mencari identitas mereka.
Ada orang yang bertanya:
“Siapakah quthub pada zaman sekarang?”
“Di manakah para abdāl berada?”
“Apakah orang yang datang dalam mimpi itu termasuk Rijālul-Ghayb?”
“Apakah sosok berjubah putih yang terlihat saat berdzikir adalah wali?”
Pertanyaan seperti itu boleh muncul karena rasa ingin tahu. Namun jangan sampai rasa ingin tahu berubah menjadi ketergantungan kepada sesuatu yang tidak jelas.
Identitas para kekasih Alloh adalah hak Alloh.
Bila Alloh menyembunyikan mereka, mungkin terdapat hikmah agar manusia tidak menyembah ketokohan, tidak berebut pengakuan, dan tidak menjadikan wali sebagai jalan mencari kemasyhuran.
Tugas kita bukan memastikan siapa wali tersembunyi.
Tugas kita adalah memperbaiki diri agar menjadi hamba yang dicintai Alloh.
Apabila Bermimpi Bertemu Sosok Saleh
Mimpi tentang wali, orang berjubah putih, masjid, cahaya, atau seseorang yang memberikan nasihat tidak boleh langsung dianggap sebagai pertemuan nyata dengan Rijālul-Ghayb.
Mimpi dapat berasal dari:
kesan batin yang tersimpan;
harapan dan kerinduan;
kondisi pikiran;
nasihat kebaikan yang dibentuk dalam gambaran mimpi;
atau mimpi baik yang menjadi penghiburan dari Alloh.
Ukurlah mimpi dari pesannya.
Apabila pesan mimpi mengajak kepada sholat, pertobatan, kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, serta penghambaan kepada Alloh, ambillah kebaikannya.
Namun apabila mimpi memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, membuat seseorang merasa paling terpilih, menuntut penyembahan, meminta sesaji, atau menyuruh meninggalkan kewajiban, maka mimpi itu tidak boleh diikuti.
Kebenaran tidak diukur dari seberapa terang cahaya dalam mimpi.
Kebenaran diukur dari kesesuaiannya dengan tauhid, syariat, akhlak, dan akal sehat.
Adab terhadap Para Wali
Mencintai para wali berarti mencintai ketakwaan yang mereka perjuangkan.
Menghormati para wali berarti menjaga lisan dari merendahkan orang saleh.
Membaca kisah para wali berarti mengambil pelajaran dari kesabaran, keberanian, kezuhudan, dan pengabdian mereka.
Namun cinta kepada wali tidak boleh berubah menjadi keyakinan bahwa wali memiliki kekuasaan mutlak atas rezeki, jodoh, keselamatan, kesembuhan, atau takdir manusia.
Semua kekuasaan mutlak hanya milik Alloh.
Wali adalah hamba.
Nabi adalah hamba dan utusan.
Malaikat adalah hamba.
Seluruh alam adalah ciptaan.
Hanya Alloh yang menjadi tempat bergantung tanpa batas.
Rahasia Rijālul-Ghayb dalam Diri
Saudara cahayaku, terdapat pelajaran batin yang dapat diambil dari istilah Rijālul-Ghayb tanpa harus mengejar dunia yang tidak terlihat.
Di dalam diri manusia terdapat amal-amal tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun:
air mata ketika bertobat;
sedekah yang tidak diumumkan;
doa untuk orang yang pernah menyakiti;
menahan amarah ketika mampu membalas;
memaafkan tanpa meminta pujian;
dan bangun malam ketika seluruh rumah tertidur.
Inilah jalan menuju kedekatan kepada Alloh:
menyembunyikan kebaikan, bukan mengumumkan keistimewaan.
Jangan sibuk mengaku mengenal wali tersembunyi.
Berusahalah menjadi hamba yang amal baiknya tersembunyi.
Jangan sibuk mencari kerajaan gaib.
Bangunlah kerajaan akhlak di dalam hati.
Jangan mengejar penghormatan manusia.
Carilah ridho Alloh yang mengetahui seluruh rahasia.
Dzikir Penjagaan Tauhid
Bacalah dengan tenang setelah Maghrib atau sebelum tidur:
يَا اللَّهُ، يَا هَادِي، يَا نُورُ، يَا حَفِيظُ
Yā Alloh – Yā Hādī – Yā Nūr – Yā Ḥafīẓ
Masing-masing 33 kali.
Niatkan:
“Ya Alloh, tuntunlah hatiku agar mencintai para kekasih-Mu tanpa melampaui batas. Terangilah pikiranku agar tidak tertipu oleh pengakuan gaib. Jagalah tauhidku, akhlakku, dan seluruh langkah hidupku.”
Setelah itu bacalah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ عَبْدًا مُخْلِصًا، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي مُتَعَلِّقًا بِغَيْرِكَ
Allōhummaj‘alnī laka ‘abdan mukhliṣā, wa lā taj‘al qalbī muta‘alliqan bighairik.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikanlah aku hamba yang ikhlas kepada-Mu dan jangan Engkau jadikan hatiku bergantung kepada selain-Mu.”
Penutup Lembar Kedua
Rijālul-Ghayb bukan pintu untuk merasa lebih tinggi.
Bukan pula jalan untuk mengejar makhluk yang tidak terlihat.
Ia adalah pengingat bahwa terdapat hamba-hamba Alloh yang kebaikannya tidak dikenal bumi, tetapi diketahui oleh langit.
Mereka tidak sibuk mengatakan:
“Aku wali.”
Mereka sibuk menjaga hati agar tidak berpaling dari Alloh.
Mereka tidak meminta manusia tunduk kepada dirinya.
Mereka mengajak manusia tunduk hanya kepada Alloh.
Dan mungkin rahasia terbesar mereka adalah:
Semakin dekat kepada Alloh, semakin kecil mereka memandang dirinya sendiri.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Ketiga — Batas antara Tawassul, Istighātsah, dan Memanggil yang Gaib
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku, pembahasan tentang Rijālul-Ghayb sering menjadi rumit bukan karena istilahnya semata, melainkan karena beberapa amalan yang berbeda dicampur menjadi satu.
Ada yang menyebut tawassul sebagai pemanggilan ruh.
Ada yang menyebut istighātsah sebagai penyembahan wali.
Ada pula yang menganggap setiap pengalaman batin sebagai perjumpaan dengan Rijālul-Ghayb.
Padahal semuanya perlu dibedakan dengan jernih agar kecintaan kepada orang saleh tidak merusak tauhid, dan kehati-hatian dalam tauhid tidak berubah menjadi kebiasaan mudah menuduh sesama Muslim.
Tawassul
Tawassul secara sederhana adalah memohon kepada Alloh dengan membawa suatu wasilah atau perantara doa yang dibenarkan menurut pemahaman yang diikuti seseorang.
Contohnya:
memohon kepada Alloh dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah;
memohon dengan mengakui iman dan amal saleh;
meminta orang saleh yang masih hidup agar mendoakan;
atau, menurut sebagian ulama, menyebut kedudukan Nabi dan orang-orang saleh sebagai wasilah, sementara permohonan tetap ditujukan kepada Alloh.
Contoh kalimat yang jelas:
“Ya Alloh, dengan rahmat-Mu dan kecintaanku kepada Nabi-Mu, ampunilah aku dan mudahkanlah urusanku.”
Di dalam susunan ini, pihak yang dimohon tetap Alloh.
Wasilah bukan pemberi hasil.
Wasilah hanyalah jalan adab dalam berdoa.
Istighātsah
Istighātsah berarti meminta pertolongan ketika berada dalam kesulitan.
Apabila seseorang berkata kepada orang yang hadir:
“Tolong angkatkan barang ini.”
Maka itu permintaan biasa dalam perkara yang mampu dilakukan manusia.
Namun ketika pertolongan yang diminta menyangkut pengampunan dosa, penentuan takdir, keselamatan mutlak, pengabulan doa, kesembuhan tanpa sebab, atau pengetahuan gaib tanpa batas, maka hati harus menyadari bahwa seluruhnya berada dalam kekuasaan Alloh.
Di sinilah orang harus berhati-hati terhadap lafaz yang dapat menimbulkan pengertian seolah-olah makhluk memiliki kekuasaan sendiri.
Kalimat yang paling aman ialah:
“Ya Alloh, Engkaulah Penolongku. Kirimkanlah pertolongan-Mu melalui jalan yang Engkau kehendaki.”
Dengan demikian, seseorang tidak membatasi pertolongan Alloh hanya melalui satu sosok, satu mimpi, satu wali, atau satu pengalaman gaib.
Memanggil Ruh atau Sosok Gaib
Memanggil ruh berbeda dari tawassul.
Memanggil berarti berusaha menghadirkan, mengundang, memerintah, berkomunikasi, atau meminta sosok yang tidak terlihat agar menampakkan diri dan menjalankan tugas tertentu.
Misalnya:
“Datanglah kepadaku.”
“Tampakkanlah dirimu.”
“Masuklah ke dalam tubuh ini.”
“Berikanlah tanda bahwa engkau hadir.”
“Lindungi rumahku dengan kekuatanmu.”
Amalan seperti ini sebaiknya tidak dilakukan.
Manusia tidak mengetahui siapa yang benar-benar merespons.
Seseorang mungkin mengira yang datang adalah wali, padahal hanya bayangan pikiran, sugesti, mimpi setengah sadar, gangguan psikologis, atau sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.
Nama besar seorang wali tidak menjadi jaminan bahwa setiap suara yang mengaku sebagai wali benar-benar berasal darinya.
Wali Tidak Membutuhkan Pemanggilan
Para kekasih Alloh tidak membutuhkan ritual pemanggilan agar dapat berbuat baik.
Apabila Alloh menghendaki seorang hamba menerima pertolongan melalui doa orang saleh, maka pertolongan itu terjadi dengan izin-Nya, bukan karena manusia berhasil menguasai wali melalui mantra tertentu.
Wali bukan pelayan keinginan manusia.
Wali bukan kekuatan yang dapat diperintah untuk mengurus kekayaan, jodoh, kedudukan, kemenangan, atau pembalasan terhadap musuh.
Orang yang benar-benar mencintai para wali tidak akan memperlakukan mereka seperti alat untuk memenuhi keinginan pribadi.
Ia akan menghormati mereka dengan cara:
meneladani ibadahnya;
menjaga adabnya;
mempelajari ilmunya;
meneruskan sedekah dan dakwahnya;
serta mendoakan agar Alloh merahmati mereka.
Ketika Nama Wali Dijadikan Jalan Mencari Kekuasaan
Saudara cahayaku, ada orang yang menggunakan nama wali untuk menumbuhkan rasa takut dan ketundukan pengikut.
Ia berkata:
“Aku dijaga para Rijālul-Ghayb.”
“Siapa yang melawanku akan berhadapan dengan para wali.”
“Perintahku berasal langsung dari alam gaib.”
“Aku telah ditunjuk sebagai pemimpin seluruh wali.”
Pernyataan seperti itu tidak boleh diterima begitu saja.
Semakin besar sebuah pengakuan, semakin besar pula kebutuhan untuk mengujinya melalui akhlak, ilmu, kejujuran, dan tanggung jawab.
Apabila seseorang mengaku dekat dengan para wali, tetapi ia:
suka merendahkan orang lain;
meminta uang dengan ancaman gaib;
memaksa orang taat kepada dirinya;
menghalalkan sesuatu yang jelas dilarang;
menyuruh pengikut memutus hubungan keluarga;
atau menjadikan ketakutan sebagai alat kekuasaan;
maka kedekatannya dengan dunia gaib tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatannya.
Kebenaran tidak tunduk kepada pengakuan.
Pengakuanlah yang harus tunduk kepada kebenaran.
Lima Timbangan untuk Menguji Sebuah Amalan
Sebelum mengamalkan bacaan yang berhubungan dengan wali, ruh, khadam, Rijālul-Ghayb, atau istilah sejenis, timbanglah dengan lima pertanyaan.
Pertama: Kepada siapa permohonan akhirnya ditujukan?
Apabila hati benar-benar memohon kepada Alloh, lafaznya harus mendukung kejernihan itu.
Jangan memilih kalimat yang membuat hati ragu kepada siapa sebenarnya ia bergantung.
Kedua: Apakah sumber amalan jelas?
Tidak setiap gambar, video, pesan berantai, atau tulisan yang memakai nama ulama besar memiliki sumber yang dapat dipercaya.
Nama seorang wali tidak boleh digunakan sebagai cap untuk membenarkan semua amalan.
Ketiga: Apakah amalan itu membutuhkan ijazah dan bimbingan?
Ada bacaan yang sederhana dan dapat dibaca siapa saja, seperti istighfar, sholawat, ayat Al-Qur’an, serta doa-doa yang baik.
Namun apabila sebuah amalan disertai pemanggilan, tirakat ekstrem, simbol rahasia, sesaji, pembakaran benda tertentu, atau janji munculnya sosok gaib, jangan mencobanya sendiri.
Keempat: Apa pengaruhnya terhadap akhlak?
Amalan yang baik seharusnya membuat seseorang:
lebih rendah hati;
lebih tekun sholat;
lebih sabar;
lebih jujur;
lebih bertanggung jawab;
dan lebih mengasihi sesama.
Apabila sebuah amalan justru menjadikan seseorang sombong, mudah menghakimi, merasa paling dipilih, atau terobsesi dengan kemampuan gaib, maka ia perlu berhenti dan melakukan evaluasi.
Kelima: Apakah hati semakin dekat kepada Alloh atau bergantung kepada pengalaman?
Ada orang yang tidak lagi tenang bila tidak melihat cahaya.
Tidak merasa doanya diterima bila tidak bermimpi.
Tidak yakin dilindungi bila tidak merasakan getaran.
Ini adalah tanda bahwa hati mulai bergantung kepada pengalaman, bukan kepada Alloh.
Iman tidak selalu disertai sensasi.
Doa tidak selalu disertai tanda.
Kedekatan tidak selalu disertai penampakan.
Tanda Jalan Ruhani Mulai Tidak Sehat
Saudara cahayaku, berhentilah sejenak dari amalan yang berkaitan dengan pemanggilan gaib apabila muncul keadaan seperti:
sulit tidur karena menunggu kehadiran sosok;
ketakutan terus-menerus terhadap ancaman tak terlihat;
mendengar perintah yang menyuruh menyakiti diri atau orang lain;
merasa diri tidak lagi wajib mengikuti nasihat siapa pun;
meyakini seluruh orang yang berbeda pendapat adalah musuh gaib;
menghabiskan uang untuk ritual yang tidak jelas;
atau mengabaikan pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan ibadah wajib.
Tidak semua gangguan seperti itu harus langsung disebut gangguan jin.
Tubuh yang kelelahan, kurang tidur, kecemasan, tekanan hidup, serta kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi pikiran dan pengalaman inderawi.
Mencari pertolongan medis atau psikologis tidak bertentangan dengan tawakal.
Berobat adalah bagian dari ikhtiar.
Adab ketika Mengalami Sesuatu yang Tidak Biasa
Apabila ketika berdzikir saudara cahayaku melihat bayangan, cahaya, sosok, warna, atau mendengar suara yang tidak biasa, jangan segera memberi nama.
Jangan langsung berkata:
“Itu wali.”
“Itu Rijālul-Ghayb.”
“Itu pendampingku.”
“Itu khadamku.”
Cukup tenangkan diri dan ucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.
Kemudian baca:
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
Ḥasbiyallōhu lā ilāha illā Huwa, ‘alaihi tawakkaltu.
Artinya:
“Cukuplah Alloh bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.”
Jangan berdialog dengan sosok yang tidak diketahui.
Jangan membuat perjanjian.
Jangan menerima gelar atau tugas besar hanya berdasarkan suara, mimpi, atau penampakan.
Catat pengalaman itu apabila perlu, lalu lanjutkan kehidupan dengan tenang.
Yang paling penting bukan siapa yang terlihat, melainkan apakah setelahnya kita menjadi lebih baik.
Amalan Aman Pengganti Pemanggilan
Apabila tujuan awalnya adalah memohon penjagaan, kelancaran hajat, dan pertolongan, lakukan amalan berikut setelah sholat wajib atau sebelum tidur.
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullōhal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
Sholawat 33 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allōhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Dzikir Penyerahan
يَا اللَّهُ – يَا حَيُّ – يَا قَيُّومُ – يَا حَفِيظُ
Yā Alloh – Yā Ḥayyu – Yā Qayyūm – Yā Ḥafīẓ
Masing-masing 33 kali.
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالْحِفْظَ وَالسَّلَامَةَ، وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَأَهْلِي وَدِينِي وَجَمِيعَ أُمُورِي
Allōhumma innī as’alukal-hudā wal-ḥifẓa was-salāmah, wa astaudi‘uka nafsī wa ahlī wa dīnī wa jamī‘a umūrī.
Artinya:
“Ya Alloh, aku memohon petunjuk, penjagaan, dan keselamatan kepada-Mu. Aku menitipkan diriku, keluargaku, agamaku, serta seluruh urusanku kepada-Mu.”
Amalan ini tidak membutuhkan pemanggilan makhluk.
Tidak membutuhkan penampakan.
Tidak membutuhkan tanda gaib.
Cukup iman, adab, istiqamah, dan tawakal.
Rahasia Penutup Lembar Ketiga
Saudara cahayaku, jalan kepada Alloh tidak menjadi lebih tinggi hanya karena dipenuhi kisah gaib.
Terkadang jalan paling tinggi justru terlihat sangat sederhana:
sholat tepat waktu;
mencari nafkah halal;
menepati janji;
merawat orang tua;
menahan lisan;
memaafkan kesalahan;
dan berdoa ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Jangan merasa kehilangan dunia ruhani hanya karena tidak memanggil Rijālul-Ghayb.
Sebab tujuan ruhani bukanlah agar makhluk gaib mengenal nama kita.
Tujuan ruhani adalah agar Alloh ridho kepada kehidupan kita.
Tawassul harus mengantarkan hati kepada Alloh.
Istighātsah harus meneguhkan bahwa Alloh sumber pertolongan.
Cinta kepada wali harus melahirkan akhlak.
Dan setiap pengalaman gaib harus tunduk kepada tauhid.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Keempat — Tingkatan Para Kekasih Alloh dan Bahaya Mengejar Kedudukan Gaib
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku, ketika istilah Rijālul-Ghayb dibicarakan, biasanya muncul pula beberapa nama tingkatan seperti:
Quthb, Awtād, Abdāl, Nuqabā, Nujabā, dan Akhyār.
Istilah-istilah tersebut banyak dikenal dalam sebagian pembahasan tasawuf. Akan tetapi, penjelasan mengenai jumlah, susunan, wilayah, dan tugas mereka tidak selalu sama antara satu riwayat, kitab, atau guru dengan yang lain.
Karena itu, jangan menjadikan susunan tersebut sebagai rukun akidah yang harus diyakini secara kaku.
Seseorang tidak berdosa hanya karena tidak mengetahui siapa Quthb pada suatu masa.
Seseorang tidak berkurang imannya hanya karena tidak memahami jumlah Abdāl.
Dan seseorang tidak menjadi wali hanya karena hafal nama-nama tingkatan ruhani.
Yang menentukan kemuliaan seorang hamba bukanlah pengakuannya terhadap kedudukan gaib, melainkan iman, ketakwaan, keikhlasan, serta akhlaknya di hadapan Alloh dan sesama manusia.
Memahami Istilah tanpa Mengultuskannya
Dalam sebagian tradisi tasawuf, istilah-istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan hamba-hamba pilihan yang menjalankan amanah kebaikan dengan cara tersembunyi.
Namun bahasa tasawuf sering bersifat simbolik.
Ia tidak selalu harus dipahami seperti susunan pemerintahan dunia dengan jabatan, pakaian kebesaran, wilayah kekuasaan, dan surat pengangkatan.
Sebagian istilah dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa bumi tidak pernah kosong dari orang-orang saleh yang:
menjaga doa;
menegakkan kebenaran;
membela orang lemah;
menahan kerusakan;
menyebarkan kasih sayang;
dan menjadi sebab kebaikan di lingkungannya.
Maka hakikatnya bukanlah agar manusia sibuk mencari siapa pemegang jabatan gaib, tetapi agar manusia menyadari:
Selama dunia masih berdiri, Alloh selalu menumbuhkan hamba-hamba yang menjaga cahaya iman, ilmu, doa, dan akhlak.
Tentang Quthb
Kata Quthb secara bahasa dapat berarti poros atau pusat.
Dalam sebagian penjelasan tasawuf, Quthb digambarkan sebagai seorang wali yang menjadi pusat perhatian ruhani pada zamannya.
Namun saudara cahayaku, istilah “pusat” jangan dibayangkan bahwa ia menjadi penguasa mutlak atas alam.
Tidak ada makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak atas langit, bumi, takdir, rezeki, kehidupan, dan kematian.
Seluruh kekuasaan adalah milik Alloh.
Apabila seorang wali disebut Quthb, maka seharusnya dipahami sebagai penghormatan terhadap kedalaman ibadah, keluasan manfaat, kematangan akhlak, atau tanggung jawab ruhani yang Alloh amanahkan kepadanya.
Ia tetap seorang hamba.
Ia makan, tidur, sakit, berdoa, berharap, dan membutuhkan pertolongan Alloh.
Quthb bukan tandingan bagi kekuasaan Alloh.
Ia tidak boleh disembah.
Ia tidak boleh diyakini mengetahui seluruh perkara gaib.
Ia tidak boleh dianggap mengatur alam secara mandiri.
Semakin tinggi kedudukan seorang hamba, seharusnya semakin besar pengakuannya:
“Aku tidak mempunyai daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.”
Tentang Awtād
Kata Awtād berarti pasak-pasak.
Dalam bahasa ruhani, istilah ini digunakan untuk menggambarkan hamba-hamba yang keteguhan iman dan doanya menjadi sebab kokohnya kebaikan di suatu wilayah.
Namun yang mengokohkan bumi secara hakiki tetap Alloh.
Orang saleh hanyalah sebab yang dikehendaki-Nya.
Awtād bukan berarti manusia yang tubuhnya berubah menjadi tiang gaib penyangga dunia.
Makna yang lebih mudah dipahami ialah:
mereka seperti pasak keteguhan;
tidak mudah berubah oleh pujian;
tidak runtuh karena hinaan;
tidak meninggalkan kebenaran karena tekanan;
dan tidak menjual amanah demi keuntungan pribadi.
Mereka mungkin tidak dikenal masyarakat luas, tetapi kehadirannya membawa ketenteraman.
Ketika terjadi pertengkaran, mereka mendamaikan.
Ketika manusia putus asa, mereka menguatkan.
Ketika orang miskin kesulitan, mereka membantu tanpa mengumumkan.
Ketika banyak orang lalai, mereka tetap berdoa.
Inilah “pasak” yang dapat diteladani oleh siapa pun.
Tentang Abdāl
Kata Abdāl sering dihubungkan dengan makna pergantian atau penggantian.
Dalam sejumlah penjelasan tasawuf, apabila salah seorang di antara mereka wafat, Alloh menggantikannya dengan hamba lain.
Namun jumlah dan rincian mereka disebutkan secara berbeda-beda.
Karena itu, jangan mudah memastikan angka tertentu sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan.
Pelajaran terpenting dari istilah Abdāl ialah bahwa perjuangan kebaikan tidak berhenti pada satu tokoh.
Seorang guru dapat wafat, tetapi ilmu diteruskan oleh murid-muridnya.
Seorang dermawan dapat berpulang, tetapi semangat sedekah diteruskan oleh keluarganya.
Seorang pejuang kebenaran dapat meninggal dunia, tetapi keberaniannya tumbuh pada generasi berikutnya.
Manusia berganti.
Amanah kebaikan terus berjalan.
Tokoh berlalu.
Cahaya petunjuk Alloh tidak terputus.
Maka jangan menggantungkan agama hanya kepada satu manusia.
Cintailah guru, tetapi tetaplah terikat kepada Alloh.
Hormatilah pemimpin, tetapi jangan menutup mata terhadap kesalahan.
Teruskan perjuangan orang saleh, tetapi jangan mengubahnya menjadi pemujaan terhadap pribadi.
Tentang Nuqabā dan Nujabā
Dalam sebagian pembahasan ruhani, Nuqabā dikaitkan dengan para pengawas, penjaga, atau orang yang memahami keadaan manusia.
Sedangkan Nujabā dihubungkan dengan orang-orang mulia yang membawa manfaat dan menanggung beban umat.
Akan tetapi, pemahaman itu tidak boleh dijadikan alasan bagi seseorang untuk mengaku mengetahui seluruh isi hati manusia.
Tidak ada manusia yang mengetahui batin orang lain secara sempurna.
Alloh dapat memberikan ketajaman firasat kepada hamba tertentu, tetapi firasat bukan wahyu.
Firasat dapat benar.
Firasat juga dapat keliru.
Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menghukum orang lain hanya berdasarkan rasa batin.
Ia tidak boleh berkata:
“Aku mengetahui engkau berdusta karena batinku membukanya.”
“Aku tahu engkau memiliki niat jahat meskipun tidak ada bukti.”
“Aku dapat melihat seluruh dosamu.”
“Aku mengetahui takdirmu.”
Pengakuan seperti itu dapat merusak kehormatan manusia dan membuka pintu kesombongan.
Seorang hamba yang matang secara ruhani justru semakin berhati-hati dalam menilai batin orang lain.
Ia lebih suka mendoakan daripada menuduh.
Ia lebih suka menasihati daripada mempermalukan.
Ia lebih suka mencari alasan baik daripada menikmati prasangka.
Jangan Mengejar Gelar Ruhani
Saudara cahayaku, salah satu ujian terbesar dalam jalan ruhani adalah keinginan memiliki gelar.
Pada awalnya seseorang ingin dekat kepada Alloh.
Kemudian ia ingin dianggap sebagai murid pilihan.
Setelah itu ia ingin disebut memiliki pendamping gaib.
Lalu ia ingin disebut wali.
Kemudian ia ingin disebut Quthb, pewaris langit, penguasa alam ruhani, atau pemegang kunci zaman.
Apabila tidak disadari, jalan menuju Alloh berubah menjadi jalan membesarkan diri.
Ia tidak lagi mencari ridho Alloh.
Ia mencari pengakuan.
Ia tidak lagi ingin membersihkan hati.
Ia ingin namanya diagungkan.
Ia tidak lagi berusaha menjadi hamba.
Ia ingin dianggap memiliki kedudukan di atas hamba-hamba lain.
Ketahuilah, saudara cahayaku:
Keinginan menjadi wali dapat menjadi penghalang terbesar menuju kewalian.
Karena wali sejati tidak sibuk menghitung kedudukannya.
Ia sibuk memperbaiki niat.
Ia takut amalnya tidak diterima.
Ia merasa banyak kekurangan.
Ia tidak mudah menganggap dirinya lebih dekat kepada Alloh daripada orang lain.
Semakin dalam ia mengenal kebesaran Alloh, semakin kecil ia memandang dirinya.
Gelar dari Mimpi Tidak Menjadi Dalil
Ada orang bermimpi diberi mahkota.
Ada yang bermimpi didatangi sosok berjubah putih.
Ada yang mendengar dirinya disebut sebagai pemimpin ruhani.
Ada pula yang merasa menerima tongkat, cincin, kitab, senjata, atau singgasana dalam mimpi.
Mimpi seperti itu dapat menjadi simbol dorongan batin, harapan, tanggung jawab, atau peringatan. Namun mimpi tidak otomatis menjadi surat pengangkatan yang wajib diakui orang lain.
Apabila bermimpi menerima mahkota, jangan langsung menganggap diri sebagai raja ruhani.
Mungkin mahkota itu mengingatkan agar seseorang menguasai hawa nafsunya.
Apabila bermimpi menerima pedang, jangan menganggapnya perintah memerangi manusia.
Mungkin pedang itu melambangkan keberanian memutus kebiasaan buruk.
Apabila bermimpi menerima kitab, jangan langsung mengaku mendapat wahyu.
Mungkin kitab itu mengingatkan agar lebih tekun membaca dan belajar.
Apabila bermimpi duduk di singgasana, jangan terburu-buru merasa menjadi penguasa gaib.
Mungkin singgasana itu adalah simbol tanggung jawab yang berat.
Setiap pengalaman harus diuji dengan kerendahan hati.
Apabila pengalaman itu membuat seseorang semakin rajin beribadah, bertanggung jawab, lembut, dan bermanfaat, ambillah pelajarannya.
Namun apabila pengalaman itu membuatnya menuntut penghormatan, uang, ketaatan mutlak, atau kekuasaan, ia harus berhenti dan memeriksa kembali dirinya.
Orang Saleh Tidak Kebal dari Kesalahan
Wali bukan nabi.
Ulama bukan nabi.
Guru bukan nabi.
Mursyid bukan nabi.
Mereka dapat memiliki ilmu dan ketakwaan, tetapi mereka tetap manusia.
Karena itu, mencintai seorang guru tidak berarti membenarkan seluruh perkataannya tanpa pertimbangan.
Menghormati seorang wali tidak berarti meyakini bahwa ia tidak mungkin keliru.
Kesalahan seorang tokoh tidak selalu membatalkan seluruh kebaikannya.
Namun kebaikannya juga tidak mengubah kesalahan menjadi kebenaran.
Adab yang sehat adalah:
mengambil yang baik;
menjaga kehormatan;
menasihati dengan santun;
dan tidak mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan tauhid, syariat, akhlak, atau keselamatan manusia.
Ciri Pembimbing Ruhani yang Sehat
Pembimbing yang baik tidak menjadikan murid bergantung kepada dirinya.
Ia mengarahkan murid agar semakin mengenal Alloh.
Ia tidak menakut-nakuti murid dengan ancaman gaib apabila tidak memberikan uang.
Ia tidak memutus hubungan murid dengan keluarga.
Ia tidak mengklaim semua kritik berasal dari musuh ruhani.
Ia tidak menjadikan mimpi sebagai alat memaksa.
Ia tidak meminta murid menyembunyikan tindakan yang merugikan.
Ia tidak mengambil kehormatan, harta, atau tubuh murid dengan dalih penyucian.
Ia tidak mengatakan:
“Hanya melalui diriku engkau dapat selamat.”
Pembimbing yang sehat akan berkata:
“Jangan berhenti pada diriku. Aku hanya manusia yang berusaha menunjukkan jalan. Mintalah pertolongan kepada Alloh.”
Ia mengajarkan disiplin, bukan ketergantungan.
Ia menumbuhkan kedewasaan, bukan ketakutan.
Ia membuka ruang bertanya, bukan mematikan akal.
Ia menguatkan keluarga, bukan memecahnya.
Ia menjaga kehormatan murid, bukan memanfaatkannya.
Kedudukan yang Paling Aman: Menjadi Hamba
Saudara cahayaku, manusia sering ingin mengetahui:
“Apakah aku termasuk orang pilihan?”
“Apakah namaku tercatat di antara para wali?”
“Apakah aku memiliki tugas gaib?”
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah hari ini aku sudah menunaikan kewajibanku?”
“Apakah lisanku menyakiti orang lain?”
“Apakah rezekiku halal?”
“Apakah aku sudah meminta maaf?”
“Apakah aku menepati janji?”
“Apakah aku membantu keluarga?”
“Apakah ibadahku membuat akhlakku lebih baik?”
Tidak perlu mengejar gelar Quthb.
Jadilah pusat ketenteraman bagi keluarga.
Tidak perlu mengaku sebagai Awtād.
Jadilah pasak yang meneguhkan kebenaran.
Tidak perlu meminta disebut Abdāl.
Jadilah penerus kebaikan orang-orang saleh.
Tidak perlu mengaku sebagai Nuqabā.
Belajarlah menjaga keadaan orang lain tanpa membuka aibnya.
Tidak perlu disebut Nujabā.
Jadilah manusia mulia melalui akhlak dan manfaat.
Alloh tidak bertanya seberapa tinggi gelar ruhani yang kita sandang.
Alloh mengetahui seberapa tulus hati kita ketika menjalankan amanah.
Amalan untuk Mematahkan Keinginan Dipuji
Setelah sholat Isya atau sebelum tidur, duduklah dengan tenang.
Bacalah istighfar sebanyak 33 kali:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullōhal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
Kemudian bacalah:
يَا اللَّهُ – يَا هَادِي – يَا حَقُّ – يَا مُخْلِصُ
Yā Alloh – Yā Hādī – Yā Ḥaqq – Yā Mukhliṣ
Masing-masing 33 kali dengan niat:
“Ya Alloh, tuntunlah aku kepada kebenaran. Bersihkanlah niatku dari keinginan dipuji, ditakuti, diagungkan, dan dianggap lebih tinggi daripada manusia lain.”
Kemudian bacalah doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ سَرِيرَتِي خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِي، وَاجْعَلْ عَلَانِيَتِي صَالِحَةً، وَطَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَحُبِّ الْجَاهِ
Allōhummaj‘al sarīratī khairan min ‘alāniyatī, waj‘al ‘alāniyatī ṣāliḥah, wa ṭahhir qalbī minar-riyā’i wal-kibri wa ḥubbil-jāh.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikanlah keadaan batinku lebih baik daripada penampilan lahirku. Jadikanlah penampilan lahirku tetap baik. Bersihkanlah hatiku dari riya, kesombongan, dan kecintaan kepada kedudukan.”
Setelah berdoa, jangan menunggu penampakan atau tanda.
Ukuran diterimanya amalan bukan cahaya yang terlihat.
Ukuran awalnya adalah perubahan nyata:
lebih mudah meminta maaf;
lebih sedikit membicarakan kehebatan diri;
lebih tenang ketika tidak dipuji;
lebih sabar menerima kritik;
dan lebih ikhlas melakukan kebaikan tanpa diketahui.
Ujian Ketika Diberi Penghormatan
Apabila suatu hari manusia memanggil saudara cahayaku dengan gelar kehormatan, terimalah sebagai doa, bukan sebagai kepastian kedudukan di sisi Alloh.
Jangan biarkan gelar masuk terlalu dalam ke hati.
Sebab gelar yang berada di pakaian tidak berbahaya.
Namun gelar yang menguasai hati dapat menumbuhkan kesombongan.
Ketika dipuji, ucapkan dalam hati:
“Ya Alloh, mereka hanya melihat apa yang tampak. Engkau mengetahui kekuranganku. Ampunilah aku dan jadikan aku lebih baik daripada sangkaan mereka.”
Ketika tidak dihormati, jangan marah.
Boleh jadi Alloh sedang menjaga hati dari racun kemasyhuran.
Ketika orang lain tidak mengakui kedudukan batin kita, tidak perlu memaksa mereka.
Kedudukan di sisi Alloh tidak membutuhkan pengumuman manusia.
Rahasia Penutup Lembar Keempat
Rijālul-Ghayb tidak dikenal karena mereka pandai menyembunyikan tubuh.
Mereka tersembunyi karena menyembunyikan amal.
Mereka tidak berlomba menunjukkan cahaya.
Mereka takut cahaya amalnya padam oleh kesombongan.
Mereka tidak menuntut manusia mengenali maqamnya.
Mereka memohon agar Alloh mengenali keikhlasannya.
Mereka tidak berkata:
“Aku adalah poros alam.”
Mereka berkata:
“Alloh adalah tempat seluruh alam bergantung.”
Mereka tidak berkata:
“Aku pemegang rahasia takdir.”
Mereka berkata:
“Aku adalah hamba yang tidak mengetahui apa pun kecuali yang Alloh ajarkan.”
Maka janganlah perjalanan ruhani menjadikan seseorang merasa berada di atas manusia.
Biarkan perjalanan ruhani menurunkannya ke tempat sujud.
Sebab semakin tinggi pohon, semakin dalam akarnya.
Semakin luas ilmu, semakin besar kerendahan hati.
Dan semakin dekat seorang hamba kepada Alloh, semakin kuat kesadarannya bahwa seluruh kemuliaan hanyalah milik-Nya.
Jangan meminta dikenal sebagai Rijālul-Ghayb.
Mintalah menjadi hamba yang ikhlas dalam pandangan Alloh.
Jangan mengejar jabatan di alam yang tidak terlihat.
Tunaikanlah amanah di dunia yang sedang dijalani.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Kelima — Ilham, Firasat, Kasyaf, dan Suara yang Muncul di Dalam Batin
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku, setelah memahami kedudukan para kekasih Alloh dan bahaya mengejar gelar ruhani, kini kita memasuki pembahasan yang lebih halus:
Bagaimana membedakan ilham yang membawa kebaikan, bisikan hawa nafsu, bayangan pikiran, dan suara batin yang tidak dapat dipastikan asalnya?
Banyak orang memulai perjalanan ruhani dengan niat baik. Mereka berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, atau melakukan perenungan. Setelah beberapa waktu, terkadang muncul gagasan, perasaan kuat, mimpi, gambaran, atau kata-kata di dalam hati.
Sebagian langsung berkata:
“Ini pesan dari Rijālul-Ghayb.”
“Ini petunjuk dari wali.”
“Ini perintah dari alam ruhani.”
“Ini suara guru batinku.”
Padahal, tidak semua yang muncul di dalam batin berasal dari sumber yang suci.
Hati manusia dapat menerima kebaikan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh keinginan, ketakutan, ingatan, harapan, prasangka, kelelahan, dan keadaan tubuh.
Karena itu, pengalaman batin harus diterima dengan kerendahan hati, bukan dengan kepastian yang tergesa-gesa.
Wahyu Kenabian dan Ilham Batin Tidak Sama
Saudara cahayaku, wahyu kenabian adalah petunjuk khusus yang diberikan Alloh kepada para nabi dan rasul. Wahyu menjadi sumber ajaran agama yang mengikat umat.
Kenabian telah ditutup dengan Nabi Muhammad ﷺ.
Karena itu, sesudah beliau tidak ada seorang pun yang boleh mengaku menerima wahyu baru yang:
mengubah Al-Qur’an;
menambah kewajiban agama;
menghapus sholat;
menghalalkan yang haram;
mengharamkan yang halal;
atau menuntut seluruh manusia mengikutinya sebagai ajaran baru.
Adapun ilham adalah pengertian, dorongan, atau kesadaran yang muncul di dalam hati seseorang. Ilham mungkin mengandung kebaikan, tetapi ia tidak memiliki kedudukan seperti wahyu.
Ilham tidak menjadikan seseorang nabi.
Ilham tidak dapat menciptakan syariat baru.
Ilham tidak boleh dipaksakan kepada orang lain.
Ilham pribadi hanya menjadi bahan renungan bagi orang yang mengalaminya dan tetap harus diuji dengan agama, akhlak, ilmu, serta kenyataan.
Apa yang Dimaksud dengan Ilham?
Ilham dapat dipahami sebagai munculnya dorongan batin menuju suatu kebaikan.
Misalnya seseorang tiba-tiba teringat kepada orang tuanya, lalu terdorong untuk menelepon dan meminta maaf.
Seseorang melihat tetangganya kesusahan, lalu hatinya terdorong untuk membantu secara diam-diam.
Seseorang hampir melakukan keburukan, kemudian muncul kesadaran kuat:
“Jangan lakukan. Alloh melihatmu.”
Dorongan seperti itu dapat menjadi kebaikan yang patut diikuti karena sesuai dengan iman dan akhlak.
Namun seseorang tidak perlu langsung berkata:
“Rijālul-Ghayb memerintahkanku.”
Cukup katakan:
“Alhamdulillāh, Alloh menumbuhkan kesadaran baik di dalam hatiku.”
Semakin sedikit seseorang mengaku mengetahui sumber gaibnya, semakin aman ia dari kesombongan dan kekeliruan.
Apa yang Disebut Firasat?
Firasat adalah ketajaman dalam memahami keadaan berdasarkan tanda-tanda, pengalaman, kepekaan, dan kejernihan hati.
Seorang ibu dapat merasakan anaknya sedang menyembunyikan kesedihan karena perubahan sikapnya.
Seorang guru dapat melihat muridnya membutuhkan pertolongan dari cara berbicara dan tatapan matanya.
Seseorang yang berpengalaman dapat mengenali bahwa suatu keadaan tidak aman berdasarkan tanda-tanda yang sangat halus.
Namun firasat bukan pengetahuan mutlak tentang perkara gaib.
Firasat dapat benar.
Firasat juga dapat salah.
Karena itu, firasat tidak boleh digunakan untuk menghukum orang tanpa bukti.
Jangan berkata:
“Aku merasa engkau mencuri, berarti engkau pasti mencuri.”
“Aku melihat warna tertentu pada dirimu, berarti engkau berkhianat.”
“Batinku mengatakan engkau mempunyai niat jahat.”
Perasaan bukan bukti yang cukup untuk menjatuhkan kehormatan seseorang.
Firasat seharusnya membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih mudah menuduh.
Apabila ada kekhawatiran, lakukan pemeriksaan dengan adil, berbicara dengan baik, dan mencari fakta.
Apa yang Disebut Kasyaf?
Dalam bahasa tasawuf, kasyaf sering dipahami sebagai tersingkapnya suatu pemahaman yang sebelumnya tertutup.
Kasyaf tidak selalu berarti melihat jin, ruh, cahaya, kerajaan gaib, atau peristiwa masa depan.
Bentuk kasyaf yang lebih bermanfaat dapat berupa:
tersingkapnya kesalahan diri;
menyadari bahwa kesombongan sedang bersembunyi di balik ibadah;
memahami bahwa kemarahan berasal dari luka yang belum disembuhkan;
melihat bahwa cinta kepada pujian telah mencemari amal;
atau menyadari bahwa selama ini seseorang menuntut orang lain berubah, tetapi tidak pernah memperbaiki dirinya.
Kasyaf seperti itu membawa pertobatan.
Ia tidak membuat seseorang merasa lebih hebat.
Ia membuat seseorang lebih malu kepada Alloh.
Apabila pengalaman yang disebut kasyaf justru membuat seseorang senang membuka aib orang lain, menuduh, mengancam, atau mengumumkan keistimewaannya, maka pengalaman tersebut perlu dicurigai dan diperiksa kembali.
Empat Sumber yang Dapat Mempengaruhi Suara Batin
Apa yang muncul dalam hati dapat berasal dari beberapa kemungkinan.
Pertama: Dorongan menuju kebaikan
Dorongan ini mengajak kepada kejujuran, pertobatan, kasih sayang, kesabaran, ibadah, tanggung jawab, dan perbaikan diri.
Ia tidak menuntut seseorang merasa paling suci.
Ia tidak memaksa dengan ancaman yang tidak masuk akal.
Ia menguatkan hati tanpa membesarkan ego.
Kedua: Hawa nafsu
Hawa nafsu sering menyamarkan keinginan pribadi sebagai petunjuk ruhani.
Seseorang ingin dihormati, lalu batinnya berkata:
“Engkau ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi.”
Seseorang ingin memiliki seseorang, lalu berkata:
“Alam gaib telah menetapkan ia sebagai jodohku.”
Seseorang marah kepada orang lain, lalu merasa mendapat pesan:
“Ia adalah musuh cahaya dan harus dihukum.”
Seseorang membutuhkan uang, lalu mengaku:
“Rijālul-Ghayb memerintahkan para murid menyerahkan harta kepadaku.”
Keinginan pribadi dapat memakai pakaian ruhani agar tampak suci.
Karena itu, tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah pesan ini benar-benar mengajak kepada Alloh, atau hanya membenarkan sesuatu yang sejak awal sudah kuinginkan?”
Ketiga: Pikiran, ingatan, dan keadaan jiwa
Pikiran manusia terus menyimpan kata-kata, gambar, ketakutan, harapan, dan pengalaman.
Ketika seseorang sangat sering membaca kisah tentang wali, kerajaan gaib, perang ruhani, atau sosok berjubah, gambaran itu dapat muncul kembali dalam mimpi dan perenungan.
Hal itu tidak selalu berarti ada makhluk yang datang.
Boleh jadi pikiran sedang mengolah bahan yang telah banyak diterimanya.
Kurang tidur, kecemasan, kesedihan, tekanan hidup, demam, obat-obatan tertentu, dan kelelahan juga dapat memengaruhi pengalaman inderawi dan batin.
Karena itu, menjaga kesehatan merupakan bagian dari penjagaan ruhani.
Keempat: Bisikan yang menyesatkan
Bisikan buruk biasanya mendorong manusia kepada ketakutan, kebencian, kesombongan, keputusasaan, perpecahan, atau tindakan merusak.
Ia dapat berkata:
“Engkau tidak mungkin diampuni.”
“Semua orang ingin mencelakaimu.”
“Jangan percaya siapa pun.”
“Buktikan kekuatanmu dengan menyakiti orang itu.”
“Tinggalkan sholat karena maqammu sudah tinggi.”
“Engkau lebih mulia daripada seluruh ulama.”
Bisikan seperti itu harus ditolak.
Tidak perlu berdialog dengannya.
Tidak perlu mencari nama sosok yang membisikkannya.
Segera berlindung kepada Alloh, hentikan kegiatan yang memperburuk keadaan, dan kembalilah kepada rutinitas yang menenangkan.
Tujuh Timbangan untuk Menguji Pesan Batin
Saudara cahayaku, apabila muncul pesan yang terasa sangat kuat, jangan langsung mengikuti atau menyebarkannya. Timbanglah dengan tujuh pertanyaan.
1. Apakah bertentangan dengan Al-Qur’an dan ajaran Nabi?
Pesan yang menyuruh meninggalkan sholat, berbuat zalim, mengambil hak orang lain, melakukan hubungan terlarang, memutus silaturahmi, atau menghalalkan penipuan tidak boleh diikuti.
Tidak ada pengalaman ruhani yang dapat membatalkan kewajiban agama.
2. Apakah melahirkan akhlak atau kesombongan?
Petunjuk yang baik membuat hati lebih lembut dan bertanggung jawab.
Dorongan yang membuat seseorang merasa paling tinggi, paling benar, dan tidak boleh dikritik harus dicurigai.
3. Apakah merugikan diri sendiri atau orang lain?
Perintah untuk menyakiti tubuh, tidak makan dalam waktu berbahaya, meninggalkan pengobatan, menyerahkan seluruh harta, atau melakukan kekerasan bukanlah sesuatu yang boleh diikuti tanpa pertimbangan yang sehat.
Alloh tidak memerintahkan manusia merusak amanah tubuh dan kehidupan.
4. Apakah dapat dibicarakan dengan orang berilmu?
Kebaikan tidak takut diuji.
Apabila suatu pesan melarang seseorang bertanya kepada ulama, keluarga, dokter, atau orang tepercaya, hal itu patut dicurigai.
Pesan yang berkata:
“Rahasiakan ini dari semua orang karena hanya engkau yang terpilih,”
dapat menjadi pintu manipulasi dan kesesatan.
5. Apakah berkaitan dengan hak orang lain?
Pengalaman batin tidak dapat digunakan untuk mengambil tanah, uang, pasangan, jabatan, atau kehormatan orang lain.
Seseorang tidak boleh berkata:
“Aku mendapat ilham bahwa rumahmu harus diberikan kepadaku.”
“Aku bermimpi bahwa suamimu adalah pasangan ruhani yang ditetapkan untukku.”
“Wali memerintahkan engkau menyerahkan usahamu kepadaku.”
Hak manusia harus dijaga dengan hukum, bukti, kesepakatan, dan keadilan.
6. Apakah perlu segera dilakukan?
Pesan yang benar tidak selalu menuntut tindakan tergesa-gesa.
Berikan waktu untuk berdoa, berpikir, tidur cukup, mencari nasihat, dan menilai akibatnya.
Keputusan besar seperti pernikahan, perceraian, penjualan harta, perjalanan jauh, pengobatan, atau meninggalkan pekerjaan tidak boleh ditentukan hanya oleh satu mimpi atau suara batin.
7. Apa buahnya setelah beberapa waktu?
Lihat hasilnya.
Apakah seseorang menjadi lebih tenang, rajin beribadah, bekerja dengan baik, dan menyayangi keluarga?
Ataukah ia menjadi semakin takut, terisolasi, curiga, boros, mudah marah, dan mengabaikan tanggung jawab?
Buah yang buruk menunjukkan bahwa jalan itu perlu dihentikan dan diperiksa.
Jangan Menjadikan Setiap Kebetulan sebagai Pesan
Ada kalanya seseorang memikirkan suatu angka, lalu melihat angka yang sama di kendaraan, jam, atau media sosial.
Ia memikirkan seseorang, lalu orang itu tiba-tiba menghubunginya.
Ia bermimpi tentang hujan, lalu esok hari benar-benar hujan.
Kejadian seperti itu dapat menjadi kebetulan biasa.
Tidak semuanya harus diberi makna gaib.
Pikiran manusia cenderung lebih mudah memperhatikan sesuatu yang sedang dianggap penting. Setelah memikirkan suatu angka, seseorang menjadi lebih sering menyadari keberadaan angka itu, meskipun sebelumnya angka tersebut juga banyak muncul.
Kedewasaan ruhani bukanlah memberi makna besar kepada setiap kejadian.
Kedewasaan ruhani adalah mampu membedakan mana yang perlu direnungkan dan mana yang cukup dilewati dengan tenang.
Apabila Mendengar Suara yang Terasa Nyata
Saudara cahayaku, bila seseorang mendengar suara yang terasa berasal dari luar dirinya, terutama bila suara itu berulang, mengganggu tidur, menakutkan, atau menyuruh melakukan tindakan berbahaya, jangan hanya menganggapnya sebagai pembukaan batin.
Jangan mengikuti perintahnya.
Segera lakukan beberapa langkah:
berpindah ke tempat yang terang dan aman;
bertemu orang yang dipercaya;
tidur dan makan dengan cukup;
menghentikan tirakat atau amalan berat untuk sementara;
berkonsultasi kepada tenaga kesehatan;
serta tetap berdoa dan berdzikir secara sederhana.
Berobat tidak berarti kurang iman.
Dokter menangani keadaan tubuh dan pikiran.
Ulama atau pembimbing yang sehat membantu menjaga agama dan adab.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Apabila suara memerintahkan menyakiti diri sendiri atau orang lain, carilah pertolongan langsung dan jangan tinggal sendirian.
Keselamatan harus didahulukan.
Rijālul-Ghayb Tidak Menyuruh Melanggar Amanah
Apabila benar terdapat hamba-hamba Alloh yang saleh dan tersembunyi, maka mereka tentu mengajak kepada ketaatan, bukan kerusakan.
Mereka tidak akan menyuruh seseorang meninggalkan sholat.
Mereka tidak akan memerintahkan penipuan.
Mereka tidak akan merusak keluarga.
Mereka tidak akan meminta pemujaan.
Mereka tidak akan menempatkan dirinya sebagai Tuhan.
Mereka tidak akan menyuruh seseorang merendahkan Nabi Muhammad ﷺ.
Mereka tidak akan mengajarkan bahwa hukum agama tidak lagi berlaku bagi orang yang telah mencapai maqam tertentu.
Setiap pesan yang bertentangan dengan tauhid dan akhlak tidak perlu diperdebatkan panjang.
Tolak dan tinggalkan.
Nama “wali” tidak dapat menyucikan perintah yang buruk.
Ilham untuk Diri Sendiri, Nasihat untuk Orang Lain
Apabila seseorang mendapatkan dorongan batin yang baik, pertama-tama gunakanlah untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Bila terlintas:
“Jagalah lisan,”
maka jagalah lisan sendiri sebelum menegur orang lain.
Bila terlintas:
“Perbanyak sedekah,”
maka bersedekahlah sebelum meminta orang lain menyumbang.
Bila terlintas:
“Jangan sombong,”
maka periksa kesombongan diri sebelum menuduh orang lain memiliki ego.
Bila terlintas:
“Bangunlah malam,”
maka lakukan dengan tenang tanpa mengumumkan bahwa Rijālul-Ghayb telah memberi perintah.
Ilham yang benar biasanya menambah tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Hawa nafsu biasanya memakai ilham untuk menguasai orang lain.
Perbedaan Bahasa Ilham dan Bahasa Ego
Bahasa ilham yang membawa kebaikan terasa sederhana:
“Bertobatlah.”
“Mintalah maaf.”
“Tunaikan kewajibanmu.”
“Jangan sakiti dia.”
“Bantu semampumu.”
“Serahkan hasil kepada Alloh.”
Sedangkan bahasa ego sering penuh kebesaran:
“Engkau manusia paling terpilih.”
“Semua orang harus tunduk kepadamu.”
“Tidak ada seorang pun yang dapat menilaimu.”
“Engkau memiliki kekuatan tanpa batas.”
“Siapa yang menolakmu akan binasa.”
“Semua keinginanmu pasti merupakan kehendak langit.”
Ilham yang baik menundukkan diri di hadapan Alloh.
Ego ruhani meminta dunia tunduk kepada dirinya.
Jalan Aman Ketika Batin Belum Jernih
Ketika saudara cahayaku tidak mampu memastikan asal sebuah dorongan, jangan panik.
Tidak semua hal harus segera diberi jawaban.
Ucapkan:
“Ya Alloh, apabila ini baik, mudahkanlah dengan jalan yang bersih. Apabila ini tidak baik, jauhkanlah tanpa merusak diriku dan orang lain.”
Kemudian jangan terburu-buru.
Laksanakan kewajiban yang sudah jelas.
Sholatlah.
Bekerjalah.
Jaga keluarga.
Bayarlah utang.
Tepati janji.
Beristirahatlah.
Lakukan kebaikan yang nyata.
Ketika perkara yang samar membingungkan, kembalilah kepada perkara yang jelas.
Dzikir Penjernihan Batin
Amalan ini bukan untuk membuka penampakan dan bukan untuk memanggil Rijālul-Ghayb.
Amalan ini untuk memohon kejernihan, ketenangan, dan perlindungan dari kesalahan memahami pengalaman batin.
Bacalah setelah Maghrib atau sebelum tidur:
Yā Hādī — 33 kali
يَا هَادِي
Yā Hādī.
“Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk.”
Yā Nūr — 33 kali
يَا نُورُ
Yā Nūr.
“Wahai Alloh Yang Maha Memberi Cahaya.”
Yā Ḥakīm — 33 kali
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm.
“Wahai Alloh Yang Maha Bijaksana.”
Yā Salām — 33 kali
يَا سَلَامُ
Yā Salām.
“Wahai Alloh Yang Maha Memberi Keselamatan dan Kedamaian.”
Setelah itu, bacalah:
اللَّهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنِي اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنِي الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنِي اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْ هَوَايَ دَلِيلِي
Allōhumma arinil-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnittibā‘ah, wa arinil-bāṭila bāṭilan warzuqnijtinābah, wa lā taj‘al hawāya dalīlī.
Artinya:
“Ya Alloh, perlihatkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kemampuan untuk menjauhinya. Jangan Engkau jadikan hawa nafsuku sebagai penuntunku.”
Kemudian berdoalah dengan bahasa sendiri:
“Ya Alloh, apabila batinku keruh, jernihkanlah. Apabila pikiranku lelah, tenangkanlah. Apabila aku salah memahami sesuatu, luruskanlah tanpa mempermalukanku. Jangan biarkan aku memakai nama-Mu dan nama para wali untuk membenarkan keinginan diriku.”
Tanda Amalan Penjernihan Mulai Bermanfaat
Manfaatnya tidak harus berupa cahaya, mimpi, suara, atau penampakan.
Tandanya dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari:
lebih mampu menunda keputusan ketika emosi;
tidak mudah menganggap kebetulan sebagai pesan gaib;
lebih berani mengakui kesalahan;
lebih mudah menerima nasihat;
tidak tergesa-gesa menuduh;
tidur lebih tenang;
dan semakin kuat menjalankan tanggung jawab nyata.
Inilah cahaya yang dapat dipercaya:
cahaya yang memperbaiki akhlak dan keputusan.
Rahasia Penutup Lembar Kelima
Saudara cahayaku, batin adalah ruang yang sangat luas.
Di dalamnya terdapat doa, kenangan, luka, harapan, ketakutan, iman, dan keinginan.
Karena itu, jangan menganggap semua yang muncul dari kedalaman hati sebagai suara langit.
Langit tidak menjadi rendah hanya karena kita berhati-hati.
Para wali tidak menjadi terhina hanya karena kita tidak mudah mengatasnamakan mereka.
Justru kehati-hatian merupakan bagian dari adab.
Orang yang matang secara ruhani tidak berkata:
“Aku pasti mengetahui asal setiap bisikan.”
Ia berkata:
“Aku adalah hamba yang dapat salah. Karena itu aku memohon petunjuk kepada Alloh.”
Ia tidak membangun keyakinan besar dari satu mimpi.
Ia tidak menentukan nasib orang dari satu firasat.
Ia tidak mengubah dorongan pribadi menjadi hukum bagi manusia.
Ia tidak memanggil pengalaman batinnya sebagai wahyu.
Ia menimbang, berdoa, belajar, bermusyawarah, dan melihat buahnya.
Ilham yang baik mengajak manusia menjadi hamba.
Ego ruhani mengajak manusia merasa menjadi penguasa.
Kasyaf yang sehat membuka aib diri sendiri.
Kasyaf yang berbahaya sibuk membuka aib orang lain.
Firasat yang matang melahirkan kehati-hatian.
Firasat yang dikuasai ego melahirkan tuduhan.
Maka jangan meminta kepada Alloh agar melihat semua rahasia manusia.
Mintalah agar diperlihatkan kesalahan diri yang harus diperbaiki.
Jangan meminta suara dari alam yang tidak terlihat.
Mintalah hati yang mampu mendengar kebenaran yang telah jelas.
Jangan mengejar pesan Rijālul-Ghayb.
Kejarlah ridho Alloh melalui ibadah, akhlak, ilmu, dan amanah.
Sebab puncak perjalanan bukanlah mengetahui seluruh perkara yang tersembunyi.
Puncaknya adalah tetap rendah hati meskipun Alloh membuka suatu pengertian di dalam hati.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
QITAB RIJĀL AL-GHAYB
Lembar Keenam dan Terakhir — Puncak Pemahaman: Menghormati yang Tersembunyi tanpa Kehilangan Tauhid
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku, pada lembar terakhir ini kita tidak lagi sekadar membahas siapa yang disebut Rijālul-Ghayb, berapa jumlah mereka, bagaimana tingkatan mereka, atau apakah manusia dapat berjumpa dengan mereka.
Kita akan kembali kepada pertanyaan yang paling penting:
Setelah mengetahui semua pembahasan ini, bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap?
Sebab ilmu yang tidak menumbuhkan adab hanya akan menjadi bahan perdebatan.
Pengetahuan tentang wali yang tidak membuat seseorang semakin mencintai Alloh hanya akan melahirkan kekaguman kepada makhluk.
Pembicaraan tentang alam gaib yang tidak memperbaiki kehidupan nyata hanya akan menjadi perjalanan panjang tanpa tujuan.
Sedangkan hakikat perjalanan ruhani bukanlah berpindah dari dunia menuju bayangan dunia lain.
Hakikatnya adalah berpindah:
dari lalai menuju sadar;
dari sombong menuju rendah hati;
dari bergantung kepada makhluk menuju tawakal kepada Alloh;
dari menuntut penghormatan menuju kesediaan melayani;
dan dari sibuk mencari rahasia orang lain menuju keberanian melihat kekurangan diri sendiri.
Rijālul-Ghayb Bukan Pokok Keselamatan
Saudara cahayaku, manusia tidak akan ditanya apakah ia pernah melihat Rijālul-Ghayb.
Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas iman, amal, amanah, perkataan, harta, keluarga, dan perlakuannya kepada sesama.
Seseorang dapat tidak pernah bermimpi bertemu wali, tetapi hidupnya dipenuhi kejujuran dan kasih sayang.
Seseorang dapat tidak mengetahui istilah Quthb, Awtād, Abdāl, Nuqabā, atau Nujabā, tetapi ia menjaga sholat, merawat orang tua, mencari nafkah halal, serta tidak menyakiti manusia.
Orang seperti itu tidak kehilangan jalan menuju Alloh.
Sebaliknya, seseorang dapat menghafal banyak istilah ruhani, mengaku mengenal para wali gaib, serta menceritakan berbagai pengalaman luar biasa, tetapi masih menipu, merendahkan orang lain, mengabaikan keluarga, dan mengambil hak manusia.
Pengalaman gaib tidak dapat menutupi kerusakan akhlak.
Gelar ruhani tidak dapat menggantikan kewajiban.
Cerita tentang wali tidak dapat menghapus tanggung jawab hidup.
Karena itu, jangan sampai seseorang merasa telah mencapai kedudukan tinggi hanya karena memiliki pengalaman yang tidak dimiliki orang lain.
Boleh jadi orang yang tidak pernah bercerita tentang dunia gaib justru lebih dekat kepada Alloh karena setiap hari ia berjuang menjaga amanah dalam kesunyian.
Menghormati Wali Bukan Berarti Menghilangkan Batas
Mencintai wali adalah bagian dari mencintai orang-orang yang taat kepada Alloh.
Kita dapat membaca manaqib mereka.
Kita dapat mempelajari perjuangan mereka.
Kita dapat berziarah ke makam mereka dengan adab.
Kita dapat menghadiahkan doa.
Kita dapat mengambil pelajaran dari kezuhudan, keberanian, kedermawanan, dan kesabarannya.
Namun cinta harus tetap memiliki batas.
Cinta yang sehat tidak mengubah hamba menjadi Tuhan.
Penghormatan tidak mengubah makhluk menjadi pemilik takdir.
Kekaguman tidak mengubah manusia menjadi sumber kekuasaan mutlak.
Para wali adalah hamba-hamba Alloh.
Kemuliaan mereka berasal dari Alloh.
Ilmu mereka adalah pemberian Alloh.
Karamah mereka, apabila benar terjadi, hanya berlangsung dengan izin Alloh.
Doa mereka dikabulkan oleh Alloh.
Mereka tidak memiliki kekuasaan mandiri di luar kehendak Alloh.
Maka ketika seorang hamba menghormati wali, hatinya harus berkata:
“Aku mencintainya karena ia mencintai Alloh. Aku mengambil teladan darinya, tetapi aku hanya menyembah dan menggantungkan diriku kepada Alloh.”
Inilah cinta yang menjaga tauhid.
Perbedaan antara Menghormati dan Bergantung
Menghormati berarti menjaga nama baik orang saleh dan mengambil pelajaran dari kehidupannya.
Bergantung berarti merasa tidak aman tanpa memanggilnya.
Menghormati berarti berdoa kepada Alloh agar dikumpulkan bersama orang-orang saleh.
Bergantung berarti yakin bahwa seorang wali dapat menentukan nasib tanpa kehendak Alloh.
Menghormati berarti membaca nasihatnya.
Bergantung berarti menganggap seluruh bisikan yang memakai namanya pasti benar.
Menghormati berarti menziarahi makam dengan mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian.
Bergantung berarti meminta kepada penghuni makam sebagai pemilik mutlak rezeki, jodoh, keselamatan, atau kemenangan.
Menghormati menumbuhkan adab.
Ketergantungan yang berlebihan mengaburkan tauhid.
Karena itu, periksalah hati dengan jujur.
Ketika menghadapi kesulitan, siapakah yang pertama kali dipanggil oleh batin?
Ketika takut, kepada siapakah hati merasa harus berlindung?
Ketika berharap rezeki, kepada siapakah hati menggantungkan hasil?
Ketika sakit, siapakah yang diyakini sebagai pemilik kesembuhan?
Apabila jawabannya bukan Alloh, maka hati perlu diluruskan dengan lembut.
Tentang Amalan dalam Gambar yang Beredar
Saudara cahayaku, bacaan yang beredar dalam gambar itu mengandung salam, penghormatan, serta permintaan pertolongan kepada sosok-sosok yang disebut Rijālul-Ghayb.
Masalah utamanya bukan sekadar pada kata salam.
Masalahnya terletak pada kalimat-kalimat yang meminta agar mereka:
menolong dengan kekuatan mereka;
mengurus pemenuhan hajat;
serta mewujudkan maksud orang yang membaca.
Bagi orang yang memiliki penjelasan khusus dari guru yang terpercaya, mungkin lafaz seperti itu dipahami sebagai bentuk tawassul, sementara keyakinannya tetap bahwa Alloh satu-satunya Pemilik pertolongan.
Namun bagi orang yang mendapatkannya secara acak dari media sosial, tanpa mengetahui sumber, sanad, maksud, batas keyakinan, serta penjelasan akidahnya, bacaan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Karena itu, keputusan paling aman tetap:
Tidak perlu menjadikan bacaan tersebut sebagai wirid rutin.
Tidak mengamalkannya bukan berarti membenci wali.
Tidak membacanya bukan berarti menolak seluruh tradisi tasawuf.
Tidak mengikuti suatu wirid yang sumbernya tidak jelas adalah bentuk kehati-hatian.
Ada banyak doa yang lebih terang, lebih aman, serta langsung memohon kepada Alloh tanpa menimbulkan kebingungan tentang kepada siapa hati sedang bersandar.
Jangan Mudah Menuduh Orang Lain
Walaupun kita memilih tidak mengamalkan bacaan tersebut, janganlah tergesa-gesa memvonis setiap orang yang membacanya sebagai musyrik, sesat, atau keluar dari agama.
Manusia memiliki latar belakang pemahaman yang berbeda.
Ada yang menganggap lafaz itu sebagai bahasa majazi.
Ada yang menganggapnya sebagai tawassul.
Ada yang membacanya karena mengikuti tradisi tanpa memahami arti.
Ada pula yang mungkin salah dalam keyakinannya.
Kita tidak mengetahui seluruh isi hati manusia.
Tugas kita bukan menikmati tuduhan.
Tugas kita adalah memberi penjelasan dengan tenang.
Katakan:
“Saudara cahayaku, bacaan ini memiliki lafaz yang dapat menimbulkan salah pengertian. Lebih aman kita meminta langsung kepada Alloh dengan doa yang jelas.”
Nasihat yang benar tidak membutuhkan penghinaan.
Tauhid tidak harus ditegakkan melalui kemarahan.
Kehati-hatian tidak harus berubah menjadi kebencian kepada sesama Muslim.
Bahaya Dua Ujung yang Berlebihan
Dalam memahami Rijālul-Ghayb, manusia dapat jatuh pada dua ujung yang sama-sama tidak sehat.
Ujung pertama: mengingkari setiap pembicaraan tentang wali
Ada orang yang begitu keras sehingga setiap kisah tentang karamah, wali, ilham, atau tasawuf langsung dicemooh.
Ia menganggap seluruh pengalaman ruhani sebagai kebohongan.
Ia merendahkan orang-orang saleh.
Ia menutup pintu pembahasan batin dan akhlak.
Sikap seperti ini dapat membuat agama terasa kering dan kehilangan kelembutan.
Padahal sejarah umat dipenuhi orang-orang yang menjaga ibadah, ilmu, pengabdian, serta kasih sayang dengan luar biasa.
Mereka layak dihormati dan diteladani.
Ujung kedua: menerima semua pengakuan gaib
Ada pula orang yang terlalu mudah percaya.
Setiap mimpi dianggap pesan langit.
Setiap orang berjubah dianggap wali.
Setiap suara batin dianggap perintah.
Setiap bacaan yang memakai nama seorang syekh dianggap pasti benar.
Setiap kejadian luar biasa dianggap karamah.
Sikap ini dapat membuka pintu penipuan, manipulasi, kesombongan, ketakutan, dan ketergantungan kepada makhluk.
Jalan yang sehat berada di tengah:
menghormati tanpa mengultuskan;
mencintai tanpa menyembah;
terbuka terhadap pengalaman ruhani tanpa meninggalkan akal;
dan berhati-hati tanpa merendahkan orang-orang saleh.
Tanda Wali yang Sesungguhnya
Saudara cahayaku, manusia tidak dapat memastikan kedudukan seseorang di sisi Alloh hanya melalui penampilan.
Jubah bukan bukti kewalian.
Sorban bukan bukti kewalian.
Kemampuan membaca pikiran bukan bukti kewalian.
Banyak pengikut bukan bukti kewalian.
Kisah karamah bukan bukti yang berdiri sendiri.
Mimpi murid bukan surat pengangkatan.
Keindahan kata-kata bukan jaminan kesucian batin.
Tanda yang lebih dapat dilihat adalah buah kehidupannya:
apakah ia menjaga sholat;
apakah ia jujur;
apakah ia amanah;
apakah ia tidak mengambil hak orang lain;
apakah ia lembut kepada yang lemah;
apakah ia tidak memperjualbelikan rasa takut;
apakah ia tidak memaksa pengikut;
apakah ia bersedia dikoreksi;
apakah ia menjaga kehormatan perempuan, anak-anak, orang miskin, dan orang yang bergantung kepadanya;
serta apakah kedekatan dengannya membuat manusia semakin mengenal Alloh atau semakin bergantung kepada dirinya.
Wali sejati tidak membutuhkan manusia menyembah kepribadiannya.
Ia tidak merasa rugi bila tidak dikenal.
Ia tidak marah karena tidak dipanggil dengan gelar kebesaran.
Ia tidak menjadikan agama sebagai alat mempertahankan kekuasaan.
Ia tidak menggunakan ancaman gaib untuk menguasai murid.
Ia lebih takut kehilangan ridho Alloh daripada kehilangan pengikut.
Rijālul-Ghayb dan Tanggung Jawab Sosial
Jangan membayangkan bahwa kedekatan kepada Alloh hanya ditandai oleh banyaknya dzikir pribadi.
Orang yang dekat kepada Alloh juga memiliki kepedulian kepada makhluk.
Ia tidak menutup mata ketika tetangganya kelaparan.
Ia tidak diam ketika orang lemah dizalimi.
Ia tidak menikmati ibadah sementara keluarganya terlantar karena kelalaiannya.
Ia tidak menggunakan alasan uzlah untuk lari dari tanggung jawab.
Ia tidak menggunakan istilah tawakal untuk menolak bekerja.
Ia tidak menggunakan istilah zuhud untuk membenarkan kemiskinan yang sebenarnya lahir dari kemalasan.
Ia tidak memakai bahasa ruhani untuk menutupi utang yang tidak dibayar.
Orang saleh menyelaraskan hubungan dengan Alloh dan hubungan dengan manusia.
Sujudnya panjang, tetapi tangannya ringan membantu.
Dzikirnya banyak, tetapi lisannya tidak melukai.
Doanya dalam, tetapi ia juga bekerja.
Tawakalnya kuat, tetapi ia tetap berikhtiar.
Ia menyadari bahwa menolong manusia adalah bagian dari penghambaan kepada Alloh.
Mungkin inilah bentuk paling nyata dari “orang-orang tersembunyi”:
mereka hadir ketika dibutuhkan, tetapi tidak menuntut namanya diumumkan.
Jangan Mencari Jalan Pintas Ruhani
Sebagian orang tertarik kepada amalan Rijālul-Ghayb karena ingin memperoleh:
kekayaan cepat;
kewibawaan;
perlindungan luar biasa;
kemampuan mengetahui rahasia;
pengaruh atas orang lain;
atau keberhasilan tanpa proses.
Keinginan seperti itu harus diperiksa.
Jalan ruhani bukan jalan pintas untuk menghindari hukum kehidupan.
Rezeki tetap membutuhkan kerja, ilmu, disiplin, kejujuran, dan doa.
Kesehatan tetap membutuhkan pola hidup, pemeriksaan, pengobatan, serta penjagaan tubuh.
Rumah tangga tetap membutuhkan komunikasi, kesetiaan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Ilmu tetap membutuhkan belajar.
Kepercayaan manusia tetap membutuhkan amanah.
Tidak ada bacaan yang secara otomatis menggantikan semua proses tersebut.
Dzikir menguatkan hati.
Doa membuka harapan.
Tawakal menenangkan jiwa.
Namun manusia tetap diperintahkan menjalani sebab-sebab yang benar.
Apabila seseorang menawarkan amalan yang menjanjikan kekayaan, kekuasaan, penundukan manusia, atau kemampuan gaib dalam waktu singkat, berhati-hatilah.
Terlebih apabila disertai tuntutan uang besar, kerahasiaan mutlak, ancaman, sesaji, atau penyerahan diri kepada guru.
Jalan menuju Alloh tidak memerlukan penipuan.
Tujuh Tanda Amalan Ruhani yang Patut Dihindari
Saudara cahayaku, sebuah amalan perlu ditinggalkan apabila mengandung beberapa tanda berikut.
Pertama: Meminta penyembahan atau ketundukan kepada selain Alloh
Apabila suatu ritual meminta sujud, persembahan, atau penghambaan kepada makhluk, jangan dilakukan.
Kedua: Menjanjikan kekuasaan mutlak
Tidak ada amalan yang membuat manusia memiliki kekuatan tanpa batas.
Janji semacam itu biasanya menumbuhkan kesombongan atau menjadi alat penipuan.
Ketiga: Memerintahkan tindakan yang merusak
Amalan yang menyuruh menyakiti diri, orang lain, hewan, atau merusak harta tidak boleh diikuti.
Keempat: Mengharuskan rahasia yang menutupi pelanggaran
Ada kerahasiaan yang wajar dalam adab pribadi. Namun apabila kerahasiaan digunakan untuk menutupi pelecehan, pemerasan, penipuan, atau tindakan haram, ia harus dibuka kepada pihak yang dapat memberi perlindungan.
Kelima: Menjadikan guru tidak dapat dikoreksi
Guru adalah manusia.
Ia dapat dihormati tanpa dianggap selalu benar.
Keenam: Memisahkan murid dari keluarga dan masyarakat
Pembimbing yang sehat tidak membuat murid terisolasi agar mudah dikendalikan.
Ketujuh: Membuat kewajiban agama dianggap tidak penting
Tidak ada maqam yang menggugurkan sholat, kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak.
Apabila sebuah pengalaman membuat seseorang merasa tidak lagi terikat kepada kewajiban, maka itu bukan ketinggian ruhani.
Itu adalah penyimpangan.
Tujuh Tanda Amalan yang Menyehatkan Hati
Sebaliknya, amalan yang baik biasanya menumbuhkan beberapa perubahan.
Seseorang menjadi lebih tenang, bukan semakin takut.
Ia menjadi rendah hati, bukan semakin merasa terpilih.
Ia menjadi rajin menjalankan kewajiban.
Ia lebih bertanggung jawab kepada keluarga.
Ia lebih jujur dalam pekerjaan.
Ia lebih sabar menghadapi perbedaan.
Ia semakin bergantung kepada Alloh tanpa merendahkan makhluk.
Inilah buah yang patut dijaga.
Apabila seseorang telah berdzikir bertahun-tahun tetapi semakin mudah marah, suka merendahkan orang lain, dan merasa seluruh kritik adalah serangan gaib, maka yang perlu dibuka bukan mata batinnya.
Yang perlu dibuka adalah pintu muhasabahnya.
Ketika Mimpi Bertemu Rijālul-Ghayb
Apabila seseorang bermimpi bertemu sosok yang dianggap wali, cukup ambil pesan baiknya.
Jangan segera membuat pengumuman.
Jangan menuntut orang lain mempercayainya.
Jangan menjadikannya dasar meminta penghormatan.
Jangan menentukan hukum berdasarkan mimpi.
Jangan mengambil harta atau hak orang lain karena mimpi.
Bila sosok dalam mimpi berkata:
“Perbaikilah sholatmu,”
maka perbaikilah sholat.
Bila ia berkata:
“Mintalah maaf,”
maka mintalah maaf.
Bila ia berkata:
“Bersedekahlah,”
maka bersedekahlah dengan kemampuan yang wajar.
Tidak perlu memastikan siapa sosok itu.
Kebaikan tetap baik walaupun kita tidak mengetahui asal gambarnya.
Namun apabila mimpi memerintahkan tindakan berbahaya, melanggar agama, merusak keluarga, atau mengangkat diri sebagai tokoh besar, jangan diikuti.
Mimpi tidak lebih tinggi daripada tauhid, akhlak, dan tanggung jawab.
Ketika Merasakan Kehadiran Gaib
Ada orang merasa didatangi, diawasi, atau ditemani sosok yang tidak terlihat.
Jangan langsung menganggapnya Rijālul-Ghayb.
Jangan mengajak berbicara.
Jangan meminta nama.
Jangan membuat perjanjian.
Jangan menjanjikan persembahan.
Tenangkan tubuh.
Tarik napas perlahan.
Bacalah isti‘ādzah.
Nyalakan lampu.
Berpindahlah ke tempat yang ada orang lain.
Tidurlah dengan cukup.
Kurangi amalan berat untuk sementara.
Apabila pengalaman terus berulang, mengganggu tidur, menimbulkan ketakutan, atau memerintahkan tindakan tertentu, bicarakan dengan keluarga yang dipercaya dan tenaga kesehatan.
Berdoa serta mencari pertolongan profesional dapat dilakukan bersama.
Agama tidak mengajarkan manusia mengabaikan keselamatan.
Hubungan antara Kesehatan dan Pengalaman Ruhani
Tubuh dan pikiran saling memengaruhi.
Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap suara dan bayangan.
Kelelahan dapat membuat pikiran sulit membedakan antara rasa, ingatan, dan kenyataan.
Tekanan hidup dapat menimbulkan ketakutan yang kemudian diberi nama gaib.
Demam, obat tertentu, serta kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi kesadaran.
Karena itu, jangan menganggap semua pengalaman aneh sebagai karamah atau gangguan makhluk gaib.
Periksa keadaan tubuh.
Perbaiki pola tidur.
Makan dengan cukup.
Kurangi kafein apabila berlebihan.
Hindari tirakat yang membahayakan.
Berkonsultasilah apabila diperlukan.
Menjaga tubuh adalah amanah.
Tidak ada kemuliaan dalam merusak diri demi mengejar pengalaman.
Jalan Ruhani Tidak Memerlukan Penampakan
Saudara cahayaku, sebagian orang kecewa karena bertahun-tahun berdzikir tetapi tidak pernah melihat cahaya atau sosok gaib.
Padahal mungkin Alloh sedang memberikan penjagaan yang besar.
Tidak melihat bukan berarti tidak dekat.
Tidak mendengar suara bukan berarti doa tidak diterima.
Tidak bermimpi bertemu wali bukan berarti hidup tidak diberkahi.
Keheningan dapat menjadi rahmat.
Kesederhanaan dapat menjadi perlindungan.
Iman yang tenang tanpa penampakan mungkin jauh lebih aman daripada pengalaman besar yang menumbuhkan kesombongan.
Jangan mengukur kedekatan kepada Alloh dari sensasi.
Ukurlah dari perubahan akhlak.
Apakah lebih sabar?
Apakah lebih jujur?
Apakah lebih mudah memaafkan?
Apakah lebih bertanggung jawab?
Apakah lebih takut menyakiti manusia?
Apakah lebih tenang ketika tidak dipuji?
Itulah tanda perjalanan yang nyata.
Empat Pilar Penjagaan Jalan Ruhani
Agar tidak tersesat dalam pembahasan alam gaib, jagalah empat pilar.
Pertama: Ilmu
Jangan mengamalkan sesuatu hanya karena terlihat indah.
Pelajari maknanya.
Periksa sumbernya.
Tanyakan kepada orang berilmu yang amanah.
Kedua: Tauhid
Letakkan Alloh sebagai pusat seluruh harapan, ketakutan, cinta, dan ketergantungan.
Makhluk hanyalah sebab.
Alloh adalah Pemilik hasil.
Ketiga: Akhlak
Setiap pengalaman harus melahirkan akhlak.
Apabila tidak, pengalaman itu tidak banyak berguna.
Keempat: Amanah kehidupan
Jangan meninggalkan keluarga, pekerjaan, kesehatan, utang, dan kewajiban karena mengejar dunia batin.
Orang yang matang secara ruhani justru semakin bertanggung jawab di dunia nyata.
Amalan Penutup QITAB
Saudara cahayaku, sebagai pengganti bacaan yang memanggil Rijālul-Ghayb, amalkan susunan sederhana berikut.
Amalan ini tidak dimaksudkan untuk membuka alam gaib, memanggil wali, memperoleh khadam, atau mengejar kemampuan luar biasa.
Tujuannya hanya untuk:
menguatkan tauhid;
memohon petunjuk;
menenangkan hati;
menjaga diri;
serta menyerahkan seluruh urusan kepada Alloh.
Dapat dibaca setelah Maghrib, setelah Isya, atau sebelum tidur.
1. Istighfar — 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullōhal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Alloh Yang Maha Agung dan aku bertobat kepada-Nya.”
Saat membacanya, jangan sibuk mengingat kesalahan orang lain.
Ingatlah kekurangan diri.
Mohon agar hati dibersihkan dari kesombongan, ketakutan yang berlebihan, prasangka, dan keinginan menguasai perkara gaib.
2. Sholawat — 33 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allōhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Niatkan agar hati mengikuti akhlak Nabi Muhammad ﷺ:
lembut tetapi tegas;
berani tetapi tidak zalim;
berilmu tetapi rendah hati;
serta dekat kepada Alloh tanpa mengabaikan manusia.
3. Yā Alloh — 33 kali
يَا اللَّهُ
Yā Alloh.
Niatkan:
“Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku bergantung.”
4. Yā Hādī — 33 kali
يَا هَادِي
Yā Hādī.
Niatkan:
“Tuntunlah aku ketika aku tidak mampu membedakan antara petunjuk, keinginan, dan ketakutanku.”
5. Yā Nūr — 33 kali
يَا نُورُ
Yā Nūr.
Niatkan:
“Terangilah pikiranku dengan ilmu dan hatiku dengan iman, bukan dengan kesombongan.”
6. Yā Salām — 33 kali
يَا سَلَامُ
Yā Salām.
Niatkan:
“Limpahkan ketenangan dan keselamatan kepada diriku, keluargaku, serta lingkungan hidupku.”
7. Yā Ḥafīẓ — 33 kali
يَا حَفِيظُ
Yā Ḥafīẓ.
Niatkan:
“Jagalah iman, akal, tubuh, keluarga, dan seluruh amanah yang Engkau titipkan.”
Bila lelah, masing-masing dapat dibaca 11 kali dengan penuh kesadaran.
Jumlah bukan satu-satunya ukuran.
Keikhlasan, pemahaman, dan istiqamah lebih utama daripada banyaknya bacaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa.
Doa Penutup Perlindungan dan Penyerahan
Setelah dzikir, bacalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَعَلَّقَ قَلْبِي بِغَيْرِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْوَهْمِ وَالْغُرُورِ وَسُوءِ الْفَهْمِ، وَأَسْأَلُكَ هُدًى وَنُورًا وَسَلَامَةً وَثَبَاتًا
Allōhumma innī a‘ūdzu bika an yata‘allaqa qalbī bighairik, wa a‘ūdzu bika minal-wahmi wal-ghurūri wa sū’il-fahm, wa as’aluka hudan wa nūran wa salāmatan wa ṡabātā.
Artinya:
“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu agar hatiku tidak bergantung kepada selain-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari khayalan, ketertipuan, dan kesalahan memahami. Aku memohon petunjuk, cahaya, keselamatan, dan keteguhan.”
Kemudian lanjutkan:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِي قَلْبِي تَعَلُّقٌ بِمَخْلُوقٍ فَرُدَّنِي إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَإِنْ كَانَ فِي عَقْلِي وَهْمٌ فَأَرِنِي الْحَقَّ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْنِي عَبْدًا مُخْلِصًا لَكَ
Allōhumma in kāna fī qalbī ta‘alluqun bimakhlūqin faruddhanī ilaika raddan jamīlā, wa in kāna fī ‘aqlī wahmun fa arinil-ḥaqqa biraḥmatik, waj‘alnī ‘abdan mukhliṣan lak.
Artinya:
“Ya Alloh, apabila di dalam hatiku terdapat ketergantungan kepada makhluk, kembalikanlah aku kepada-Mu dengan pengembalian yang indah. Apabila di dalam pikiranku terdapat kekeliruan, perlihatkanlah kebenaran kepadaku dengan rahmat-Mu. Jadikanlah aku hamba yang ikhlas kepada-Mu.”
Niat Pengamalan
Niatkan dalam hati:
“Aku mengamalkan dzikir ini bukan untuk memanggil makhluk gaib, bukan untuk memperoleh kekuasaan, bukan untuk mencari penampakan, dan bukan untuk dianggap istimewa. Aku mengamalkannya untuk memohon petunjuk, ketenangan, perlindungan, kejernihan akal, serta keteguhan tauhid kepada Alloh.”
Niat ini penting agar perjalanan tidak bergeser.
Pada awalnya seseorang mungkin mencari ketenangan.
Namun tanpa disadari, ia mulai mengejar pengalaman.
Setelah mendapatkan pengalaman, ia mengejar pengakuan.
Setelah mendapatkan pengakuan, ia mengejar kekuasaan.
Niat yang terus diperbarui akan menjaga hati agar tetap berada di jalan penghambaan.
Tanda Manfaat Amalan
Jangan menunggu kemunculan sosok berjubah putih.
Jangan menunggu cahaya turun dari langit.
Jangan menunggu suara memanggil nama.
Jangan menunggu mimpi menerima mahkota.
Tanda manfaat yang lebih sehat adalah:
hati lebih tenang;
tidur lebih baik;
pikiran lebih jernih;
tidak mudah takut terhadap ancaman gaib;
lebih berhati-hati menerima amalan dari media sosial;
lebih rajin menjalankan kewajiban;
lebih mampu membedakan antara harapan, ketakutan, dan kenyataan;
lebih lembut kepada keluarga;
serta lebih kuat menggantungkan harapan kepada Alloh.
Apabila perubahan ini mulai tumbuh, syukurilah.
Jangan merasa telah mencapai maqam.
Anggaplah itu rahmat yang harus dijaga dengan akhlak.
Ketika Hajat Belum Dikabulkan
Saudara cahayaku, salah satu alasan manusia mencari perantara gaib adalah karena merasa doanya kepada Alloh belum dikabulkan.
Ia telah berdoa, tetapi rezeki belum terbuka.
Ia telah meminta, tetapi penyakit belum sembuh.
Ia telah berharap, tetapi jodoh belum datang.
Ia telah berdzikir, tetapi masalah belum selesai.
Kemudian ia berpikir:
“Mungkin aku membutuhkan wali gaib agar doaku sampai.”
Ketahuilah, Alloh mendengar tanpa membutuhkan perantara untuk mengetahui doa kita.
Keterlambatan bukan berarti Alloh tidak mendengar.
Boleh jadi waktu yang diminta belum baik.
Boleh jadi bentuk pengabulannya berbeda.
Boleh jadi Alloh sedang melindungi dari sesuatu yang tidak diketahui.
Boleh jadi manusia masih harus memperbaiki sebab-sebab nyata.
Boleh jadi hajat tersebut memang bukan bagian terbaik dari perjalanan hidupnya.
Berdoalah.
Berikhtiarlah.
Bermusyawarahlah.
Belajarlah.
Perbaiki cara.
Kemudian serahkan hasil kepada Alloh.
Jangan menjadikan rasa tidak sabar sebagai pintu memasuki amalan yang tidak jelas.
Pengabulan Doa Tidak Selalu Berbentuk Keinginan
Ada doa yang dikabulkan dengan diberi apa yang diminta.
Ada doa yang dikabulkan dengan dijauhkan dari bahaya.
Ada doa yang dikabulkan dengan diberikan kekuatan menghadapi kenyataan.
Ada doa yang mengubah hati sebelum mengubah keadaan.
Seseorang meminta agar musuhnya disingkirkan.
Namun Alloh memberinya kemampuan memaafkan.
Seseorang meminta kekayaan.
Namun Alloh memberinya kecukupan dan kebebasan dari kerakusan.
Seseorang meminta jalan yang mudah.
Namun Alloh memberinya keteguhan menempuh jalan yang sulit.
Seseorang meminta melihat keajaiban.
Namun Alloh memberinya kesadaran bahwa kehidupan sehari-hari pun dipenuhi rahmat.
Jangan mengecilkan pengabulan doa hanya karena tidak berbentuk seperti yang dibayangkan.
Puncak Rijālul-Ghayb adalah Kerendahan Hati
Saudara cahayaku, apabila benar terdapat hamba-hamba yang disebut Rijālul-Ghayb, kemungkinan besar mereka tidak sibuk memperkenalkan dirinya.
Mereka tidak mengirimkan pengumuman bahwa dirinya wali.
Mereka tidak memaksa manusia mempercayai maqamnya.
Mereka tidak marah ketika tidak dikenal.
Mereka tidak menuntut orang lain mencium tangan karena ketakutan.
Mereka tidak menggunakan rahasia batin untuk mencari keuntungan.
Mereka menyembunyikan amal karena takut kepada riya.
Mereka menyembunyikan tangisan karena tidak ingin dipuji.
Mereka menyembunyikan sedekah karena cukup Alloh yang mengetahui.
Mereka menutup aib manusia.
Mereka menjadi tempat aman bagi orang yang lemah.
Mereka membawa ketenteraman, bukan kegaduhan.
Mereka mungkin tidak dikenal di bumi.
Namun kebaikannya diketahui Alloh.
Maka orang yang ingin mendekati jalan para wali tidak perlu mengejar penampakan mereka.
Ia perlu meneladani sifatnya:
ikhlas;
amanah;
rendah hati;
pemaaf;
berani membela kebenaran;
serta tidak menggantungkan hati kepada selain Alloh.
Menjadi “Tersembunyi” dalam Kebaikan
Saudara cahayaku, kita mungkin tidak mengetahui siapa Rijālul-Ghayb.
Namun kita dapat mempelajari rahasia amal tersembunyi.
Lakukanlah satu kebaikan yang tidak diketahui siapa pun.
Bantulah seseorang tanpa mencantumkan nama.
Doakan orang yang pernah menyakiti.
Maafkan tanpa mengumumkan bahwa kita telah memaafkan.
Bangunlah malam tanpa membuatnya menjadi pertunjukan.
Berikan makanan tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Jaga aib seseorang walaupun kita mampu mempermalukannya.
Tahanlah marah ketika memiliki kekuatan membalas.
Mungkin kita tidak menjadi wali tersembunyi.
Namun amal yang tersembunyi dapat menyelamatkan hati dari riya.
Dan boleh jadi satu amal kecil yang hanya diketahui Alloh lebih berharga daripada banyak cerita besar yang dipuji manusia.
Wasiat Terakhir bagi Pencari Jalan Ruhani
Jangan mencari kehebatan.
Carilah kebenaran.
Jangan mencari banyak pengikut.
Carilah keridhoan Alloh.
Jangan mencari kemampuan membaca batin manusia.
Belajarlah membaca kekurangan diri sendiri.
Jangan mencari jalan untuk menundukkan orang lain.
Belajarlah menundukkan hawa nafsu.
Jangan mencari perlindungan melalui kekuatan yang tidak jelas.
Carilah perlindungan kepada Alloh sambil menjalankan sebab-sebab yang benar.
Jangan mengejar gelar wali.
Kejarlah akhlak para wali.
Jangan mengejar pujian sebagai orang suci.
Berusahalah agar tidak menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.
Jangan hanya berbicara tentang cahaya.
Jadilah cahaya melalui kejujuran, kasih sayang, dan manfaat.
Ringkasan Seluruh QITAB
Rijālul-Ghayb dapat dipahami sebagai istilah dalam sebagian tradisi tasawuf untuk menyebut hamba-hamba Alloh yang tersembunyi kedudukan atau identitasnya.
Pembahasan tentang jumlah serta tingkatan mereka berbeda-beda dan bukan pokok akidah yang menentukan keselamatan seseorang.
Para wali harus dihormati sebagai hamba-hamba Alloh, bukan diyakini sebagai pemilik kekuasaan mutlak.
Tawassul, istighātsah, dan pemanggilan ruh merupakan perkara yang harus dibedakan dengan jernih.
Bacaan dari media sosial tidak otomatis sahih hanya karena memakai nama seorang syekh besar.
Amalan yang meminta pertolongan langsung kepada sosok gaib dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama bila tidak disertai penjelasan akidah dan sumber yang jelas.
Karena itu, bagi orang yang menemukannya secara acak, lebih aman tidak mengamalkannya.
Gunakan doa yang langsung ditujukan kepada Alloh.
Pengalaman batin, mimpi, firasat, ilham, dan kasyaf bukan wahyu serta dapat keliru.
Semua pengalaman harus diuji melalui tauhid, agama, akhlak, ilmu, keselamatan, dan kenyataan.
Jangan menjadikan pengalaman gaib sebagai dasar mengambil hak orang lain atau memaksa manusia.
Apabila pengalaman batin mengganggu tidur, keselamatan, atau kehidupan sehari-hari, carilah pertolongan dari orang tepercaya dan tenaga kesehatan.
Ukuran perjalanan ruhani bukan penampakan, melainkan akhlak, tanggung jawab, kejernihan, dan ketergantungan hati kepada Alloh.
Rahasia Penutup QITAB
Saudara cahayaku, alam gaib adalah milik Alloh.
Tidak semua yang tersembunyi harus dibuka.
Tidak semua rahasia harus dicari.
Tidak semua sosok harus dikenali.
Tidak semua mimpi harus ditafsirkan.
Tidak semua suara harus diikuti.
Tidak semua amalan harus dicoba.
Ada keselamatan dalam ketidaktahuan yang disertai iman.
Ada perlindungan dalam kesederhanaan.
Ada kedalaman dalam doa yang langsung tertuju kepada Alloh.
Dan ada kemuliaan besar dalam menjadi hamba biasa yang menjalankan kewajiban dengan luar biasa.
Jangan merasa perjalanan ruhani kurang tinggi karena tidak bertemu Rijālul-Ghayb.
Boleh jadi Alloh sedang mengarahkan kita kepada pertemuan yang lebih penting:
pertemuan dengan kejujuran diri;
pertemuan dengan tanggung jawab;
pertemuan dengan air mata pertobatan;
pertemuan dengan hati yang berhenti menuntut pujian;
serta pertemuan dengan kesadaran bahwa hanya Alloh tempat kembali.
Para wali tidak menjadi tujuan perjalanan.
Mereka adalah contoh manusia yang telah berjalan dengan cinta, ilmu, dan penghambaan.
Tujuan akhirnya tetap Alloh.
Maka cintailah orang-orang saleh.
Doakan mereka.
Pelajari perjuangannya.
Ikuti akhlaknya.
Namun jangan berhenti pada sosoknya.
Lewatilah pintu keteladanan mereka menuju penghambaan yang lebih murni.
Wali menunjukkan arah, tetapi Alloh adalah tujuan.
Wali mengajarkan doa, tetapi Alloh yang mengabulkan.
Wali dapat menjadi sebab, tetapi Alloh Pemilik segala sebab.
Wali adalah hamba, sedangkan Alloh adalah Rabb seluruh alam.
Apabila suatu saat saudara cahayaku mendengar sebuah bacaan yang indah, jangan hanya bertanya:
“Apakah bacaan ini kuat?”
Bertanyalah pula:
“Apakah maknanya menjaga tauhid?”
Apabila mendengar kisah karamah, jangan hanya bertanya:
“Sehebat apakah wali itu?”
Bertanyalah:
“Akhlak apa yang dapat kuteladani?”
Apabila bermimpi bertemu sosok bercahaya, jangan hanya bertanya:
“Siapakah dia?”
Bertanyalah:
“Apakah pesan kebaikan yang harus kulaksanakan?”
Apabila mendapat penghormatan, jangan hanya bertanya:
“Apakah aku telah mencapai maqam?”
Bertanyalah:
“Apakah aku semakin rendah hati dan bertanggung jawab?”
Inilah timbangan yang menjaga perjalanan.
Inilah adab yang melindungi pencari.
Inilah cahaya yang tidak menipu.
Dan inilah pintu terakhir QITAB RIJĀL AL-GHAYB:
Yang paling penting bukan berhasil menemukan orang-orang yang tersembunyi, melainkan berhasil menyembunyikan kesombongan, menampakkan akhlak, dan menggantungkan seluruh hati hanya kepada Alloh.
Semoga Alloh menjaga tauhid kita.
Semoga Alloh menjernihkan pikiran kita.
Semoga Alloh melindungi kita dari penipuan, kesombongan ruhani, ketakutan yang berlebihan, serta ketergantungan kepada makhluk.
Semoga Alloh menjadikan kecintaan kita kepada para wali sebagai jalan meneladani ketakwaan mereka, bukan sebagai pintu melampaui batas.
Semoga Alloh mempertemukan kita dengan guru, sahabat, dan lingkungan yang menumbuhkan iman, ilmu, akhlak, kesehatan, keselamatan, serta tanggung jawab.
Semoga Alloh menjadikan kita hamba-hamba yang tidak sibuk mencari kedudukan, tetapi tekun menjalankan amanah.
Semoga yang tersembunyi dari amal kita diketahui dan diterima oleh Alloh.
Semoga yang tampak dari kehidupan kita membawa manfaat kepada manusia.
Semoga akhir perjalanan kita bukan pujian dunia, melainkan ridho Alloh dan husnul khātimah.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Wallōhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.