QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
Antara Ketetapan Alam, Sebab-Akibat, dan Kesadaran
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai manusia, janganlah tergesa-gesa menyalahkan langit ketika bumi bergerak, dan jangan pula merasa bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap keseimbangan tempat ia hidup.
Gempa telah terjadi jauh sebelum kota-kota dibangun.
Gunung telah meletus jauh sebelum pabrik berdiri.
Gelombang besar telah menghantam pantai jauh sebelum manusia mengenal mesin.
Badai telah berputar sejak atmosfer bumi membentuk peredarannya.
Batu-batu langit telah jatuh sejak tata surya masih sangat muda.
Maka benar bahwa banyak peristiwa itu merupakan bagian dari proses alam bumi dan tata surya.
Gempa berkaitan dengan gerakan kerak bumi dan lempeng-lempengnya.
Letusan gunung berkaitan dengan tekanan serta pergerakan magma.
Tsunami dapat muncul akibat gempa bawah laut, longsoran, aktivitas vulkanik, atau sebab alam lainnya.
Badai tumbuh dari pertemuan panas, kelembapan, tekanan, dan gerakan atmosfer.
Meteor berasal dari benda langit yang memasuki atmosfer bumi.
Tetapi Qitab ini mengingatkan:
Alami bukan berarti tanpa sebab.
Alami bukan berarti manusia boleh berbuat sesukanya.
LEMBAR PERTAMA — BUMI MEMILIKI SUNNAHNYA
Bumi bukan benda mati yang tidak bergerak.
Di bawah tanah terdapat panas.
Lempeng bergerak.
Gunung tumbuh dan runtuh.
Laut mengalami pasang dan perubahan.
Atmosfer terus berpindah.
Manusia lahir di tengah sistem yang telah bekerja jauh sebelum kelahirannya.
Karena itulah tidak benar apabila setiap gempa, gunung meletus, tsunami atau meteor secara otomatis disebut akibat perbuatan manusia.
Ada hukum alam yang berjalan dengan jalannya sendiri.
Dalam bahasa keimanan:
Alloh menciptakan alam bersama hukum-hukum sebabnya.
Mempelajari sebab tersebut bukan meniadakan Alloh.
Justru mempelajari ciptaan dapat membuat manusia semakin memahami betapa luasnya keteraturan yang diciptakan-Nya.
LEMBAR KEDUA — TETAPI MANUSIA BUKAN PENONTON TANPA TANGGUNG JAWAB
Kesalahan berikutnya adalah berkata:
“Karena semuanya alam, maka manusia tidak mempunyai pengaruh apa pun.”
Tidak sesederhana itu.
Manusia mungkin tidak menciptakan pergerakan lempeng bumi, tetapi manusia dapat menentukan apakah sebuah kota dibangun dengan bangunan tahan gempa atau bangunan rapuh.
Manusia mungkin tidak menciptakan hujan, tetapi manusia dapat menggunduli hutan, menutup tanah dengan beton, memenuhi sungai dengan sampah, lalu membuat hujan yang semestinya biasa berubah menjadi banjir besar.
Manusia tidak menciptakan badai dari ketiadaan, tetapi perubahan iklim dapat memengaruhi panas laut, kelembapan, curah hujan, gelombang panas dan berbagai kondisi yang menentukan tingkat bahaya cuaca ekstrem.
Maka terdapat perbedaan antara:
menciptakan fenomena alam
dan
memperbesar akibat fenomena alam.
Keduanya jangan dicampuradukkan.
LEMBAR KETIGA — MUSIBAH BUKAN ALASAN UNTUK MENUDUH
Ketika terjadi bencana, jangan mudah berkata:
“Ini pasti hukuman bagi mereka.”
Sebab manusia tidak mengetahui seluruh keputusan Alloh.
Di wilayah bencana terdapat bayi.
Ada orang saleh.
Ada orang miskin.
Ada orang yang sedang beribadah.
Ada pula manusia dengan berbagai keadaan lainnya.
Karena itu lidah harus mempunyai adab.
Bencana lebih baik menjadi kesempatan untuk:
menolong,
menyelamatkan,
memperbaiki,
mempelajari sebab,
membangun kesiapsiagaan,
serta bermuhasabah.
Bukan menjadi kesempatan untuk merasa diri paling suci.
LEMBAR KEEMPAT — AKAL DAN IMAN TIDAK HARUS BERTENGKAR
Ada orang berkata:
“Kalau sudah dijelaskan ilmu pengetahuan, berarti tidak ada urusan dengan Tuhan.”
Ada pula yang berkata:
“Kalau semuanya kehendak Tuhan, tidak perlu membahas ilmu pengetahuan.”
Keduanya dapat terjebak pada pertentangan yang sebenarnya tidak perlu.
Jika hujan jatuh karena proses penguapan, pembentukan awan, pendinginan dan kondensasi, proses itu menjelaskan bagaimana hujan berlangsung.
Iman berbicara pada lapisan yang lebih luas mengenai keberadaan, makna, tanggung jawab dan Sang Pencipta.
Sebab ilmiah tidak harus menjadi lawan keyakinan.
Sebagaimana seseorang sembuh melalui obat.
Kita dapat mengetahui zat aktif obatnya, dosisnya dan mekanisme biologisnya, sementara seorang beriman tetap mensyukuri kesembuhan kepada Alloh.
LEMBAR KELIMA — BENCANA ALAM DAN BENCANA KARENA KELALAIAN
Ketika gempa terjadi di laut dan menghasilkan gelombang besar, gempa itu dapat merupakan proses geologi alami.
Tetapi apabila hutan mangrove telah dihancurkan, permukiman dibangun tanpa jalur evakuasi, peringatan dini tidak berfungsi, dan masyarakat tidak pernah mendapat pendidikan mitigasi, maka jumlah korban juga berkaitan dengan keputusan manusia.
Di sinilah terdapat pelajaran besar:
Manusia mungkin tidak mampu menghentikan bumi bergerak, tetapi manusia mampu mengurangi penderitaan akibat gerak bumi.
Itulah amanah ilmu.
Itulah amanah pemerintahan.
Itulah amanah masyarakat.
Itulah amanah manusia sebagai penghuni bumi.
LEMBAR KEENAM — JANGAN MENGANGGAP SETIAP KEJADIAN SEBAGAI KONSPIRASI
Tidak setiap badai mempunyai tombol rahasia.
Tidak setiap gempa membutuhkan pelaku manusia.
Tidak setiap letusan gunung merupakan senjata.
Tidak setiap cahaya di langit adalah operasi tersembunyi.
Jika suatu tuduhan dibuat, ia membutuhkan bukti.
Qitab kesadaran tidak mengajarkan manusia menelan semua cerita.
Tetapi juga tidak mengajarkan manusia menolak semuanya tanpa berpikir.
Periksa.
Bandingkan.
Pelajari.
Bedakan fakta, dugaan, simbol, dan keyakinan.
Karena pikiran yang sehat bukan pikiran yang selalu percaya.
Dan bukan pula pikiran yang selalu menyangkal.
Pikiran yang sehat adalah pikiran yang mengetahui kapan ia mempunyai bukti dan kapan ia belum mempunyai bukti.
LEMBAR KETUJUH — BUMI TIDAK MEMERLUKAN KESOMBONGAN MANUSIA
Manusia sering merasa terlalu besar.
Ketika gempa terjadi, ia merasa pasti manusia penyebabnya.
Ketika badai muncul, ia merasa pasti ada kelompok manusia yang mengendalikannya.
Padahal bumi telah melewati zaman ketika manusia bahkan belum ada.
Gunung telah meletus.
Benua telah bergeser.
Laut telah berubah.
Spesies telah datang dan pergi.
Langit telah dihujani benda-benda angkasa.
Maka terkadang pelajaran terbesar dari bencana justru sangat sederhana:
Manusia bukan penguasa mutlak bumi.
Namun manusia juga bukan makhluk yang bebas merusaknya.
LEMBAR KEDELAPAN — AMANAH
Jika gempa adalah hukum alam, bangunlah rumah yang lebih aman.
Jika tsunami dapat datang, siapkanlah jalur menuju tempat tinggi.
Jika gunung menunjukkan peningkatan aktivitas, dengarkanlah ilmu para ahli.
Jika banjir diperparah sampah, jangan kotori sungai.
Jika hutan menjaga air, jangan habiskan hutan karena keserakahan.
Jika iklim sedang berubah, jangan menjadikan keuntungan sesaat sebagai alasan mengabaikan generasi sesudah kita.
Inilah pertemuan akal, ilmu, adab, dan iman.
LEMBAR KESEMBILAN — PENUTUP QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jangan terlalu cepat membawa semua kejadian ke wilayah gaib,
tetapi jangan pula menjadi manusia yang melihat alam hanya sebagai angka tanpa makna.
Pelajarilah bumi dengan ilmu.
Jagalah bumi dengan amanah.
Hadapilah musibah dengan kesiapan.
Tolonglah korban dengan kasih.
Dan hadapilah Alloh dengan kerendahan hati.
Sebab bumi tidak meminta manusia menjadi penguasa segala rahasianya.
Bumi hanya meminta manusia belajar hidup di atasnya tanpa kesombongan dan tanpa kerusakan.
Gempa mengingatkan bahwa tanah yang kita injak dapat bergerak.
Gunung mengingatkan bahwa yang tampak diam dapat menyimpan kekuatan.
Laut mengingatkan bahwa ketenangan tidak berarti kehilangan daya.
Badai mengingatkan bahwa udara yang tak terlihat pun mempunyai kekuatan.
Dan semua itu mengajarkan manusia satu perkara:
Jangan merasa paling berkuasa hanya karena dapat menjelaskan sebagian rahasia alam.
Ilmu membuat manusia mengetahui.
Iman membuat manusia merendah.
Adab membuat keduanya menjadi cahaya.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KESEPULUH — KETIKA MANUSIA MEMBACA TANDA ALAM
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alam tidak berbicara dengan lidah manusia.
Ia berbicara melalui perubahan.
Gunung yang mengembung memberi tanda.
Tanah yang bergetar memberi tanda.
Air laut yang tiba-tiba surut memberi tanda.
Awan, angin, suhu, tekanan udara, dan gerak bumi pun mempunyai bahasa masing-masing.
Tetapi bahasa alam tidak boleh dibaca hanya dengan perasaan.
Ia membutuhkan ilmu, pengamatan, alat, pengalaman, dan kehati-hatian.
Di sinilah manusia diuji:
apakah ia mau belajar,
atau justru merasa sudah mengetahui semuanya.
TANDA BUKAN BERARTI RAMALAN
Ketika ilmuwan mengamati peningkatan aktivitas gunung api, mereka tidak sedang meramal perkara gaib.
Mereka membaca data.
Ketika lembaga kebencanaan mengeluarkan peringatan tsunami, mereka tidak sedang menantang takdir.
Mereka sedang berikhtiar menyelamatkan kehidupan.
Ketika manusia membangun sensor gempa, radar cuaca, satelit, dan sistem peringatan dini, semua itu bukan bentuk kesombongan terhadap alam.
Selama digunakan dengan amanah, ilmu tersebut justru merupakan bentuk tanggung jawab.
Sebab mengetahui bahaya tetapi tidak berusaha mengurangi korban adalah kelalaian.
ALLoh MEMBERI AKAL AGAR DIGUNAKAN
Akal bukan musuh iman.
Akal adalah amanah.
Dengan akal, manusia belajar mengenali pola.
Dengan ilmu, manusia memahami sebab.
Dengan pengalaman, manusia memperbaiki kesalahan.
Dengan iman, manusia menyadari bahwa pengetahuannya tetap terbatas.
Maka manusia yang berilmu seharusnya semakin rendah hati.
Karena semakin jauh ia mempelajari bumi, semakin ia mengetahui betapa banyak hal yang belum dipahaminya.
JANGAN MENUNGGU MUSIBAH UNTUK MENJADI BIJAK
Sering kali manusia baru memperbaiki sungai setelah banjir besar.
Baru membangun jalur evakuasi setelah tsunami.
Baru memperkuat bangunan setelah gempa.
Baru menjaga lereng setelah longsor.
Baru menanam pohon setelah sumber air mengering.
Padahal hikmah sejati adalah:
belajar sebelum kehilangan.
Kesiapsiagaan bukan ketakutan.
Kesiapsiagaan adalah bentuk kasih kepada kehidupan.
EMPAT AMANAH KETIKA MEMBACA ALAM
Pertama: Amanah Ilmu
Jangan menyebarkan informasi yang belum teruji.
Jika tidak mengetahui, katakan belum mengetahui.
Kedua: Amanah Keselamatan
Ketika ada peringatan resmi, jangan mempertaruhkan nyawa hanya karena merasa “pasti tidak akan terjadi.”
Ketiga: Amanah Lingkungan
Jangan memperbesar bencana dengan merusak hutan, sungai, laut, dan tanah.
Keempat: Amanah Kemanusiaan
Dalam musibah, jangan bertanya terlebih dahulu:
“Siapa yang salah?”
Tanyakan:
“Siapa yang harus diselamatkan?”
PESAN CAHAYA
Bumi tidak membutuhkan manusia yang merasa mengetahui seluruh rahasianya.
Bumi membutuhkan manusia yang cukup rendah hati untuk belajar.
Sebab terdapat perbedaan besar antara:
membaca tanda
dan
mengarang kepastian.
Antara:
berikhtiar
dan
merasa menguasai takdir.
Antara:
memakai akal
dan
menyembah akal.
Maka berjalanlah di tengah-tengah.
Gunakan ilmu tanpa kesombongan.
Pegang iman tanpa meninggalkan akal.
Jaga alam tanpa merasa menjadi pemiliknya.
Dan ketika bumi memberikan tanda,
jangan panik,
jangan mengarang,
jangan pula meremehkan.
Amati.
Pelajari.
Bersiap.
Berdoa.
Dan bertindak dengan kasih.
Karena keselamatan manusia sering kali bermula dari satu perkara sederhana:
mau mendengar tanda sebelum terlambat.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KESEBELAS — ALAM TIDAK PANIK, MANUSIALAH YANG SERING PANIK
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketika bumi berguncang, manusia panik.
Ketika gunung mengeluarkan asap, manusia panik.
Ketika ombak meninggi, manusia panik.
Ketika langit berubah gelap dan angin menguat, manusia panik.
Padahal alam tidak sedang panik.
Alam sedang berjalan menurut hukum yang telah ditetapkan baginya.
Yang sering kehilangan keseimbangan justru manusia.
Karena itu, salah satu ilmu terbesar dalam menghadapi bencana bukan hanya ilmu tentang bumi.
Tetapi juga ilmu tentang mengendalikan diri.
PANIK DAPAT MENJADI BENCANA KEDUA
Dalam keadaan darurat, ketakutan adalah reaksi manusiawi.
Tetapi ketakutan yang tidak diarahkan dapat berubah menjadi bahaya.
Orang berlari tanpa arah.
Jalan menjadi macet.
Informasi palsu menyebar.
Keluarga tercerai-berai.
Orang kembali ke tempat berbahaya hanya untuk mengambil barang.
Ada pula yang sibuk merekam kejadian sementara keselamatannya sendiri terancam.
Maka ketenangan bukan berarti tidak takut.
Ketenangan berarti:
takut, tetapi tetap mampu berpikir.
JANGAN MENJADIKAN RUMOR SEBAGAI PETUNJUK
Ketika bencana terjadi, manusia sangat mudah mempercayai kabar apa pun.
“Katanya akan ada gempa yang lebih besar malam ini.”
“Katanya tsunami akan datang pukul sekian.”
“Katanya gunung akan meledak pada tanggal tertentu.”
“Katanya ada orang yang sudah meramalkan semuanya.”
Jika kabar semacam itu tidak mempunyai dasar yang dapat diperiksa, jangan sebarkan.
Sebab satu pesan palsu dapat menimbulkan kepanikan kepada ribuan orang.
Di zaman dahulu, kabar bergerak dari mulut ke mulut.
Hari ini satu tombol dapat mengirim ketakutan ke seluruh negeri.
Karena itu jari manusia pun mempunyai amanah.
Sebelum menekan kirim, tanyakan:
Apakah ini benar?
Apakah sumbernya jelas?
Apakah informasi ini menolong atau justru menyesatkan?
ILMU TANPA KETENANGAN DAPAT KEHILANGAN MANFAAT
Seseorang mungkin mengetahui jalur evakuasi.
Tetapi apabila ia panik, ia dapat melupakannya.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa gempa tidak selalu berarti tsunami.
Tetapi ketika ketakutan menguasai dirinya, seluruh pengetahuan itu dapat hilang.
Karena itu kesiapsiagaan harus dilatih sebelum bencana datang.
Kenali jalan keluar.
Ketahui tempat berkumpul keluarga.
Siapkan kebutuhan dasar.
Pahami siapa yang harus dibantu terlebih dahulu.
Anak-anak.
Orang lanjut usia.
Orang sakit.
Penyandang disabilitas.
Dan siapa pun yang kesulitan menyelamatkan dirinya sendiri.
Inilah wajah lain dari kesiapsiagaan:
bukan hanya menyelamatkan diri, tetapi menjaga agar tidak meninggalkan yang lemah.
HARTA DAPAT DIGANTI, NYAWA TIDAK
Ketika keadaan benar-benar berbahaya, jangan mempertaruhkan keselamatan demi benda.
Rumah dapat dibangun kembali.
Kendaraan dapat dicari kembali.
Perabot dapat dibeli kembali.
Dokumen dapat diurus.
Tetapi nyawa yang telah pergi tidak dapat dipanggil kembali hanya karena seseorang menyesal.
Maka ketika keselamatan memanggil:
utamakan kehidupan.
Barang hanyalah titipan.
Nyawa adalah amanah.
KETENANGAN ADALAH BAGIAN DARI IBADAH BATIN
Orang yang tenang bukan orang yang merasa kebal.
Ia justru mengetahui bahwa dirinya lemah.
Namun ia tidak menyerahkan dirinya kepada kepanikan.
Ia berikhtiar.
Ia mendengar arahan yang dapat dipercaya.
Ia menolong orang di dekatnya.
Ia berdoa.
Dan ia menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Di sinilah iman menemukan salah satu bentuknya yang paling sederhana:
melakukan yang mampu dilakukan, lalu menyerahkan yang tidak mampu dikendalikan kepada Alloh.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jika bumi berguncang,
jangan biarkan pikiran ikut runtuh.
Jika laut berubah,
jangan biarkan akal tenggelam dalam rumor.
Jika langit bergemuruh,
jangan biarkan ketakutan mengambil seluruh kendali.
Bergeraklah dengan ilmu.
Selamatkanlah dengan kasih.
Dengarkan peringatan.
Jangan kembali ke bahaya karena harta.
Jangan sebarkan kabar yang belum terbukti.
Dan jangan menjadikan musibah sebagai tontonan ketika manusia lain sedang membutuhkan pertolongan.
Karena dalam setiap bencana terdapat dua ujian:
ujian alam terhadap keselamatan manusia,
dan
ujian kemanusiaan terhadap hati manusia.
Mungkin kita tidak mampu menghentikan gempa.
Mungkin kita tidak mampu menahan gelombang besar.
Mungkin kita tidak mampu memerintahkan angin berhenti.
Tetapi kita masih dapat memilih:
apakah akan menjadi manusia yang memperbesar kekacauan,
atau manusia yang menghadirkan ketenangan.
Sebab terkadang, di tengah bencana, satu manusia yang tetap tenang dapat menjadi jalan keselamatan bagi banyak manusia lainnya.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KEDUA BELAS — KETIKA BENCANA MENJADI CERMIN PERADABAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Bencana tidak hanya menguji kekuatan bangunan.
Bencana juga menguji kekuatan akhlak.
Ketika keadaan normal, banyak manusia tampak baik karena tidak sedang diuji.
Tetapi ketika makanan terbatas, jalan terputus, listrik padam, rumah rusak, dan pertolongan belum datang, barulah terlihat:
siapa yang mau berbagi,
siapa yang mengambil lebih dari kebutuhannya,
siapa yang menolong tanpa bertanya asal-usul,
dan siapa yang menjadikan penderitaan orang lain sebagai kesempatan mencari keuntungan.
Karena itu musibah sering menjadi cermin peradaban.
PERADABAN BUKAN HANYA GEDUNG TINGGI
Sebuah negeri belum tentu maju hanya karena memiliki gedung besar, jalan lebar, teknologi canggih, dan kota yang bercahaya.
Kemajuan yang sesungguhnya terlihat ketika bencana datang.
Apakah rumah sakit siap?
Apakah jalur evakuasi jelas?
Apakah informasi resmi mudah diterima?
Apakah warga saling menolong?
Apakah bantuan sampai kepada yang paling membutuhkan?
Apakah bangunan dibangun dengan aturan keselamatan?
Apakah pejabat hadir membawa solusi, bukan sekadar pidato?
Di sinilah kualitas sebuah masyarakat diuji.
Sebab bencana memperlihatkan apa yang selama ini disembunyikan oleh keadaan nyaman.
KEADILAN JUGA BAGIAN DARI MITIGASI
Orang kaya mungkin mempunyai kendaraan untuk mengungsi.
Orang miskin mungkin hanya mempunyai kakinya.
Sebagian memiliki rumah kokoh.
Sebagian tinggal di bangunan rapuh.
Sebagian dapat membeli persediaan makanan.
Sebagian bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan harian.
Maka keselamatan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang mampu membayar.
Sebuah peradaban yang beradab harus memikirkan mereka yang paling rentan.
Karena keadilan bukan hanya pembicaraan di ruang sidang.
Keadilan juga berarti memastikan bahwa orang miskin tidak menjadi korban paling besar hanya karena kemiskinannya.
JANGAN MENJUAL KETAKUTAN
Ada manusia yang ketika bencana datang justru menjual rasa takut.
Harga makanan dinaikkan.
Air bersih ditimbun.
Obat disimpan untuk mencari keuntungan lebih besar.
Kabar bohong disebarkan agar orang panik.
Ada pula yang membuat cerita sensasional hanya demi perhatian.
Inilah salah satu bentuk kerusakan manusia yang lebih berbahaya daripada gempa.
Gempa merusak bangunan.
Tetapi keserakahan merusak hati.
Tsunami menghantam pantai.
Tetapi kepanikan yang sengaja diperdagangkan dapat menghantam kepercayaan satu masyarakat.
BANTUAN ADALAH AMANAH
Ketika bantuan datang, jangan jadikan ia alat untuk membangun nama.
Jangan menolong hanya agar difoto.
Jangan membagikan makanan sambil merendahkan penerimanya.
Jangan menjadikan penderitaan manusia sebagai panggung kehormatan diri.
Bantuan yang suci adalah bantuan yang menjaga martabat.
Berikan air kepada yang haus.
Makanan kepada yang lapar.
Tempat kepada yang kehilangan rumah.
Pelukan kepada yang kehilangan keluarga.
Dan ruang untuk menangis kepada mereka yang sedang berduka.
Kadang manusia tidak membutuhkan ceramah panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sampingnya dan berkata:
“Saya di sini. Kita akan melewati ini bersama.”
JANGAN MEMBEDAKAN KORBAN
Ketika bencana datang, ia tidak bertanya agama.
Tidak bertanya suku.
Tidak bertanya pilihan politik.
Tidak bertanya kaya atau miskin.
Maka pertolongan pun seharusnya tidak bertanya demikian.
Siapa pun yang membutuhkan pertolongan adalah manusia.
Dan kemanusiaan mendahului banyak perbedaan yang sering dipertengkarkan ketika keadaan normal.
INILAH MAKNA AMANAH
Amanah bukan sekadar menjaga barang yang dititipkan.
Amanah juga berarti menjaga kehidupan.
Menjaga informasi.
Menjaga ketertiban.
Menjaga lingkungan.
Menjaga yang lemah.
Dan menjaga hati agar tidak berubah menjadi keras ketika orang lain sedang menderita.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
ketika alam mengguncang bumi,
perhatikan pula apakah guncangan itu membuka hati manusia.
Jika setelah bencana manusia menjadi lebih peduli, lebih siap, lebih adil, dan lebih rendah hati, maka penderitaan telah melahirkan pelajaran.
Tetapi jika setelah semuanya berlalu manusia kembali merusak hutan, membuang sampah ke sungai, membangun tanpa memperhatikan keselamatan, menipu bantuan, dan melupakan korban,
maka bencana telah berlalu,
tetapi pelajarannya belum masuk ke dalam jiwa.
Karena peradaban yang besar bukan peradaban yang tidak pernah terkena bencana.
Peradaban yang besar adalah peradaban yang mampu:
belajar, memperbaiki, melindungi, dan tidak mengulangi kelalaian yang sama.
Dan pada akhirnya,
alam tidak hanya menguji seberapa kuat beton kita.
Alam juga menguji:
seberapa kuat kemanusiaan kita ketika segala yang biasa kita andalkan tiba-tiba runtuh.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KETIGA BELAS — BUMI MENGAJARKAN BATAS
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Manusia sering merasa kuat ketika segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya.
Ia membangun kota.
Membelah gunung.
Menembus tanah.
Mendirikan gedung tinggi.
Mengarungi samudra.
Mengirim alat ke angkasa.
Lalu perlahan muncul perasaan seakan-akan semuanya dapat dikuasai.
Tetapi satu guncangan kecil dari bumi dapat menghentikan kendaraan.
Satu gelombang besar dapat menutup pelabuhan.
Satu letusan gunung dapat mengosongkan sebuah wilayah.
Satu badai dapat memadamkan kota.
Satu batu langit dapat mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah semesta yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Maka alam mengajarkan satu pelajaran yang sering dilupakan:
manusia mempunyai batas.
BATAS BUKAN KELEMAHAN
Mengetahui batas tidak berarti menyerah.
Justru manusia yang mengenal batas akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Ia tahu kapan harus maju.
Ia tahu kapan harus mundur.
Ia tahu kapan harus membangun.
Ia tahu kapan suatu wilayah harus dibiarkan menjadi ruang bagi alam.
Ia tahu bahwa tidak semua tanah harus dipadatkan.
Tidak semua hutan harus dibuka.
Tidak semua sungai harus dipersempit.
Tidak semua pantai harus dipenuhi bangunan.
Kadang menjaga jarak dari bahaya adalah bentuk kecerdasan.
ALAM MEMILIKI RUANGNYA
Sungai membutuhkan ruang untuk mengalir.
Gunung mempunyai kawasan rawan.
Pantai mempunyai garis yang dapat berubah.
Hutan mempunyai fungsi menjaga tanah dan air.
Lereng mempunyai batas kemampuan menahan beban.
Jika manusia mengambil seluruh ruang alam hanya demi pembangunan, pada suatu saat alam akan mencari jalannya sendiri.
Air akan mencari tempat terendah.
Tanah akan mengikuti gravitasi.
Gelombang akan menjangkau wilayah yang terbuka.
Maka banyak masalah bukan karena alam “marah,” tetapi karena manusia lupa bahwa alam juga mempunyai ruang kerja.
KESERAKAHAN SERING MENYAMAR SEBAGAI KEMAJUAN
Tidak semua yang disebut pembangunan berarti kemajuan.
Jika pembangunan menghilangkan sumber air,
menghancurkan hutan,
mempersempit sungai,
menutup daerah resapan,
dan menempatkan manusia di wilayah yang sangat berbahaya tanpa perlindungan,
maka yang tumbuh mungkin gedung,
tetapi yang mengecil adalah kebijaksanaan.
Kemajuan seharusnya membuat manusia lebih aman.
Bukan hanya lebih kaya.
Lebih siap.
Bukan hanya lebih cepat.
Lebih bijak.
Bukan hanya lebih besar.
ILMU MENGAJARKAN RENDAH HATI
Semakin banyak manusia mempelajari bumi, semakin terlihat bahwa sistemnya saling berkaitan.
Air.
Tanah.
Udara.
Laut.
Hutan.
Es.
Suhu.
Makhluk hidup.
Satu perubahan dapat memengaruhi bagian lain.
Karena itu keputusan manusia tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.
Menebang hutan mungkin tampak seperti urusan sepetak tanah.
Tetapi dampaknya dapat menyentuh air, tanah, cuaca lokal, pertanian, bahkan kehidupan manusia yang berada jauh dari tempat penebangan.
Di sinilah ilmu seharusnya melahirkan adab.
TIDAK SEMUA YANG BISA DILAKUKAN HARUS DILAKUKAN
Manusia modern mempunyai banyak kemampuan.
Tetapi kemampuan tidak otomatis berarti kebijaksanaan.
Kita mungkin bisa membangun di suatu tempat.
Pertanyaannya:
apakah seharusnya dibangun di sana?
Kita mungkin bisa mengambil sumber daya.
Pertanyaannya:
berapa banyak yang pantas diambil?
Kita mungkin bisa mengubah bentang alam.
Pertanyaannya:
apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?
Peradaban dewasa bukan hanya bertanya:
“Apakah kita mampu?”
Tetapi juga:
“Apakah ini benar, aman, dan bertanggung jawab?”
BATAS ADALAH RAHMAT
Ada batas laut.
Ada batas daratan.
Ada batas kekuatan tubuh.
Ada batas kemampuan akal.
Ada batas usia.
Ada batas kepemilikan.
Dan semua batas itu mengingatkan manusia bahwa dirinya bukan pusat segala sesuatu.
Batas membuat manusia belajar menghormati.
Menghormati alam.
Menghormati sesama.
Menghormati generasi yang belum lahir.
Dan pada akhirnya menghormati Sang Pencipta.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jangan menunggu alam memaksa kita mengenal batas.
Belajarlah sebelum dipaksa.
Jangan bangga hanya karena mampu menaklukkan medan.
Bangga lah ketika mampu menjaga keseimbangan.
Jangan mengukur kemajuan hanya dari banyaknya bangunan.
Ukurlah pula dari sedikitnya kerusakan yang kita wariskan.
Karena manusia yang besar bukan manusia yang memaksa seluruh alam tunduk kepadanya.
Manusia yang besar adalah manusia yang mengetahui:
di mana ia boleh melangkah,
di mana ia harus berhenti,
dan
di mana ia harus membiarkan alam tetap menjadi alam.
Sebab ketika manusia menghormati batas,
ia sedang belajar satu ilmu yang lebih tinggi daripada sekadar menguasai:
ilmu untuk hidup tanpa merusak.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KEEMPAT BELAS — KETIKA MANUSIA TERLALU CEPAT MENYALAHKAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setiap kali bencana terjadi, manusia sering ingin segera menemukan pihak yang harus disalahkan.
Kadang alam yang disalahkan.
Kadang pemerintah.
Kadang masyarakat.
Kadang kelompok tertentu.
Kadang teknologi.
Kadang pula perkara gaib yang tidak dapat dibuktikan.
Padahal sebelum menyalahkan, manusia seharusnya belajar satu adab penting:
memisahkan sebab, kesalahan, kelalaian, dan kebetulan.
TIDAK SEMUA YANG TERJADI MEMPUNYAI SATU PENYEBAB
Satu bencana dapat lahir dari banyak lapisan sebab.
Hujan deras mungkin merupakan fenomena alam.
Banjirnya dapat diperparah oleh sungai yang menyempit.
Kerusakannya dapat diperbesar oleh tata kota yang buruk.
Korban dapat bertambah karena peringatan terlambat.
Kepanikan dapat menyebar karena informasi palsu.
Maka suatu kejadian tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan satu kalimat.
Kenyataan sering lebih rumit daripada kemarahan manusia.
MENYALAHKAN TANPA BUKTI ADALAH BENTUK KETIDAKADILAN
Jika seseorang berkata:
“Ini pasti karena ulah mereka,”
maka tanyakan:
Apa buktinya?
Jika jawabannya hanya:
“Katanya.”
“Ada yang bilang.”
“Saya merasa begitu.”
“Sudah cocok dengan ramalan.”
maka itu belum cukup untuk menjadi kebenaran.
Dugaan boleh menjadi pertanyaan.
Tetapi dugaan tidak boleh diperlakukan sebagai fakta.
Sebab ketika dugaan berubah menjadi tuduhan, nama baik manusia dapat hancur.
Kepanikan dapat menyebar.
Kebencian dapat tumbuh.
Dan masyarakat dapat kehilangan kemampuan berpikir jernih.
KEBENARAN TIDAK TAKUT DIPERIKSA
Jika suatu klaim benar, ia tidak akan rusak hanya karena diuji.
Justru pemeriksaan membuat kebenaran semakin kuat.
Karena itu jangan takut kepada pertanyaan.
Jangan marah ketika seseorang meminta bukti.
Jangan menganggap setiap koreksi sebagai serangan.
Sebab ilmu tumbuh melalui pemeriksaan.
Dan keyakinan yang sehat tidak membutuhkan kebohongan untuk mempertahankan dirinya.
BENCANA BUKAN TEMPAT UNTUK BERLOMBA MENJADI YANG PALING BENAR
Ketika korban sedang mencari keluarganya,
bukan saatnya berdebat panjang tentang siapa yang paling benar.
Ketika rumah-rumah hancur,
yang dibutuhkan adalah bantuan.
Ketika seseorang kehilangan anak, pasangan, atau orang tua,
yang dibutuhkan bukan teori yang membuat lukanya semakin dalam.
Ada waktu untuk penelitian.
Ada waktu untuk evaluasi.
Ada waktu untuk menentukan kesalahan.
Tetapi ada pula waktu untuk diam dan menolong.
Inilah adab yang sering hilang ketika manusia terlalu sibuk membuktikan pendapatnya sendiri.
KRITIK BOLEH, FITNAH JANGAN
Mengkritik tata kelola bencana adalah perlu.
Mengkritik bangunan yang tidak aman adalah perlu.
Mengkritik perusakan hutan adalah perlu.
Mengkritik sistem peringatan yang gagal adalah perlu.
Tetapi kritik harus mempunyai dasar.
Kritik bertujuan memperbaiki.
Fitnah hanya mencari sasaran.
Kritik membawa data.
Fitnah membawa kemarahan.
Kritik membuka ruang solusi.
Fitnah menutup pintu dialog.
ALAM TIDAK MEMBUTUHKAN PEMBELAAN, MANUSIA MEMBUTUHKAN KEJUJURAN
Gempa tidak menjadi lebih kecil hanya karena kita menyangkalnya.
Perubahan iklim tidak hilang hanya karena kita tidak menyukainya.
Kerusakan lingkungan tidak sembuh hanya karena kita mencari kambing hitam.
Dan kesalahan manusia tidak berubah menjadi benar hanya karena dilakukan oleh banyak orang.
Maka keberanian terbesar bukan selalu berani berbicara keras.
Kadang keberanian terbesar adalah berani berkata:
“Saya belum tahu.”
“Mari kita periksa.”
“Ternyata saya keliru.”
Kalimat semacam itu bukan kelemahan.
Itulah tanda kedewasaan.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jika suatu hari bumi berguncang,
jangan biarkan lidah lebih cepat daripada akal.
Jika badai datang,
jangan biarkan kemarahan lebih cepat daripada fakta.
Jika muncul kabar yang menakutkan,
jangan biarkan jari menekan tombol kirim sebelum hati dan pikiran memeriksanya.
Karena manusia yang sadar bukan manusia yang selalu mempunyai jawaban.
Manusia yang sadar adalah manusia yang tahu kapan harus berbicara,
kapan harus memeriksa,
kapan harus mengoreksi diri,
dan kapan harus berkata:
“Kita belum mempunyai cukup bukti.”
Sebab kebenaran tidak lahir dari suara paling keras.
Kebenaran tumbuh dari:
kejujuran, ketelitian, ilmu, dan keberanian untuk tidak mengarang kepastian.
Dan ketika manusia berhenti terlalu cepat menyalahkan,
ia mulai mempunyai ruang untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih berguna:
memahami, memperbaiki, dan mencegah penderitaan yang sama terulang kembali.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KELIMA BELAS — MANUSIA TIDAK BISA MENGHENTIKAN SEMUA BENCANA, TETAPI BISA MENGURANGI RISIKONYA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada perbedaan besar antara:
menghentikan bencana
dan
mengurangi risiko bencana.
Manusia tidak mampu memerintahkan lempeng bumi agar berhenti bergerak.
Manusia tidak mampu menutup kawah gunung agar tidak pernah meletus.
Manusia tidak mampu memerintahkan samudra supaya tidak menghasilkan gelombang besar.
Manusia juga tidak dapat menjamin bahwa benda langit tidak pernah memasuki atmosfer bumi.
Tetapi manusia dapat belajar.
Manusia dapat bersiap.
Manusia dapat membangun dengan lebih aman.
Manusia dapat mengurangi kerusakan.
Dan manusia dapat menyelamatkan lebih banyak kehidupan.
INILAH ARTI MITIGASI
Mitigasi bukan ilmu untuk menantang alam.
Mitigasi adalah ilmu untuk hidup dengan memahami risiko alam.
Jika suatu wilayah rawan gempa,
bangunan harus dirancang agar tidak mudah runtuh.
Jika suatu pantai mempunyai risiko tsunami,
jalur evakuasi harus jelas.
Jika suatu gunung masih aktif,
zona bahayanya harus dihormati.
Jika sebuah lereng mudah longsor,
pembangunan tidak boleh dilakukan sembarangan.
Jika sungai mempunyai dataran banjir,
manusia harus memahami bahwa air suatu saat dapat kembali mengambil ruangnya.
Mitigasi adalah bentuk kerendahan hati.
Ia mengakui:
“Kita tidak menguasai alam sepenuhnya, maka kita harus belajar hidup dengan bijaksana di dalamnya.”
SATU MENIT PENGETAHUAN DAPAT MENYELAMATKAN SATU KEHIDUPAN
Pengetahuan sederhana kadang menentukan hidup dan mati.
Mengetahui tempat berlindung ketika gempa.
Mengetahui kapan harus menjauh dari pantai.
Mengetahui jalur keluar ketika terjadi kebakaran.
Mengetahui siapa yang harus dibantu terlebih dahulu.
Mengetahui nomor darurat.
Mengetahui tempat berkumpul keluarga.
Hal-hal semacam ini tampak kecil ketika keadaan tenang.
Tetapi ketika keadaan berubah menjadi darurat, pengetahuan kecil dapat menjadi cahaya yang sangat besar.
JANGAN MENUNGGU PERINGATAN TERAKHIR
Kadang alam memberi tanda.
Kadang alat memberikan peringatan.
Kadang petugas meminta masyarakat mengungsi.
Tetapi manusia sering berkata:
“Sebentar lagi.”
“Belum tentu terjadi.”
“Rumah saya aman.”
“Saya sudah tinggal di sini puluhan tahun.”
Lalu beberapa menit kemudian kesempatan untuk pergi telah hilang.
Karena itu, ketika peringatan yang dapat dipercaya telah diberikan, jangan menjadikan keberanian sebagai alasan untuk ceroboh.
Keberanian bukan berarti tetap berdiri di tempat berbahaya.
Keberanian juga berarti mampu meninggalkan harta demi menyelamatkan kehidupan.
BANGUNAN YANG KUAT ADALAH DOA YANG DIWUJUDKAN DALAM TINDAKAN
Manusia sering berdoa:
“Ya Alloh, lindungilah rumah kami.”
Doa itu mulia.
Tetapi jika rumah dibangun dengan bahan buruk, struktur rapuh, dan aturan keselamatan diabaikan, maka manusia belum menyempurnakan ikhtiarnya.
Doa tidak meniadakan perencanaan.
Iman tidak meniadakan teknik.
Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.
Maka membangun rumah yang aman,
memperkuat sekolah,
menyiapkan rumah sakit,
memperbaiki jembatan,
dan membuat jalur evakuasi
juga merupakan bentuk menjaga amanah kehidupan.
BENCANA YANG SAMA TIDAK HARUS MENIMBULKAN KORBAN YANG SAMA
Dua wilayah dapat mengalami gempa dengan kekuatan yang mirip.
Tetapi akibatnya dapat sangat berbeda.
Mengapa?
Karena kualitas bangunan berbeda.
Kesiapsiagaan berbeda.
Kepadatan penduduk berbeda.
Sistem peringatan berbeda.
Pendidikan masyarakat berbeda.
Kemampuan penyelamatan berbeda.
Di sinilah manusia harus memahami:
besar kecilnya penderitaan tidak selalu hanya ditentukan oleh kekuatan fenomena alam.
Sering kali ditentukan pula oleh seberapa siap manusia menghadapinya.
PENGETAHUAN HARUS DIWARISKAN
Jangan biarkan ilmu kebencanaan hanya tersimpan di kantor.
Ajarkan kepada anak-anak.
Ajarkan kepada keluarga.
Ajarkan kepada sekolah.
Ajarkan kepada desa.
Ajarkan kepada tempat ibadah.
Ajarkan tanpa menakut-nakuti.
Sebab tujuan pendidikan bencana bukan membuat manusia hidup dalam kecemasan.
Tujuannya adalah membuat manusia:
tenang karena tahu apa yang harus dilakukan.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jangan berkata:
“Kalau sudah takdir, untuk apa bersiap?”
Karena bersiap pun bagian dari perjalanan takdir manusia.
Ketika lapar, kita makan.
Ketika sakit, kita berobat.
Ketika hujan, kita berteduh.
Maka ketika hidup di wilayah rawan bencana, kita pun belajar melindungi diri.
Jangan menantang alam dengan kesombongan.
Jangan pula menyerah kepada ketakutan.
Berjalanlah di antara keduanya:
dengan ilmu, kewaspadaan, ikhtiar, dan tawakal.
Sebab manusia mungkin tidak dapat menghentikan bumi berguncang.
Tetapi manusia dapat membuat rumah tidak mudah runtuh.
Manusia mungkin tidak dapat menghentikan gelombang datang.
Tetapi manusia dapat mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri.
Manusia mungkin tidak dapat menghentikan gunung meletus.
Tetapi manusia dapat menghormati zona bahayanya.
Dan di situlah amanah manusia menemukan bentuknya:
bukan menguasai seluruh kekuatan alam, melainkan menggunakan ilmu agar semakin sedikit kehidupan yang hilang karenanya.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KEENAM BELAS — SESUDAH BENCANA, MANUSIA HARUS MENJADI LEBIH BIJAK
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Bencana tidak selesai ketika guncangan berhenti.
Tidak selesai ketika air surut.
Tidak selesai ketika gunung kembali tenang.
Tidak selesai ketika angin reda.
Karena setelah alam berhenti menguji tubuh manusia,
datanglah ujian berikutnya:
apakah manusia mau belajar dari apa yang telah terjadi?
JANGAN HANYA MEMBANGUN KEMBALI, BANGUNLAH LEBIH BAIK
Setelah rumah runtuh, manusia ingin segera membangunnya kembali.
Itu wajar.
Tetapi jangan membangun ulang dengan kesalahan yang sama.
Jika bangunan roboh karena struktur yang lemah, perbaiki standar bangunan.
Jika jalur evakuasi tidak jelas, perbaiki jalurnya.
Jika informasi terlambat, perbaiki sistem peringatan.
Jika bantuan kacau, perbaiki koordinasi.
Jika banyak korban terjadi di lokasi yang sangat berisiko, pertimbangkan kembali penataan ruang.
Sebab membangun kembali tanpa belajar hanya berarti menunggu tragedi yang sama datang sekali lagi.
KENANGAN KORBAN HARUS MENJADI ILMU
Mereka yang telah pergi tidak boleh hanya menjadi angka.
Setiap nama adalah kehidupan.
Setiap korban mempunyai keluarga.
Setiap kehilangan meninggalkan pelajaran.
Karena itu data bencana bukan sekadar statistik.
Di balik satu angka terdapat seorang anak.
Seorang ibu.
Seorang ayah.
Seorang sahabat.
Seorang manusia yang dahulu mempunyai rencana untuk hari esok.
Maka menghormati korban juga berarti memastikan bahwa kesalahan yang menyebabkan penderitaan mereka tidak diulang.
PEMULIHAN BUKAN HANYA SOAL BANGUNAN
Rumah dapat dibangun kembali.
Jalan dapat diperbaiki.
Jembatan dapat disambung.
Tetapi luka batin membutuhkan waktu.
Ada manusia yang setiap mendengar suara keras kembali teringat gempa.
Ada yang takut melihat laut.
Ada yang sulit tidur setelah kehilangan keluarganya.
Ada yang merasa bersalah karena selamat sementara orang yang dicintainya tidak.
Karena itu pemulihan harus memandang manusia secara utuh.
Tubuhnya.
Rumahnya.
Pekerjaannya.
Keluarganya.
Dan jiwanya.
Orang yang selamat tetap membutuhkan pertolongan meskipun lukanya tidak terlihat.
JANGAN BIARKAN SOLIDARITAS HANYA HIDUP SAAT VIRAL
Pada hari-hari pertama bencana, bantuan sering datang dari berbagai arah.
Tetapi beberapa minggu kemudian perhatian mulai berkurang.
Kamera pergi.
Berita berganti.
Dunia kembali sibuk.
Sementara korban masih membangun hidupnya dari awal.
Di sinilah ketulusan diuji.
Apakah kita membantu karena sedang ramai,
atau karena benar-benar peduli?
Kasih yang matang tidak hanya hadir ketika banyak orang melihat.
Ia tetap datang ketika keramaian telah pergi.
SETIAP BENCANA HARUS MELAHIRKAN PENGETAHUAN BARU
Setelah keadaan stabil, tanyakan:
Apa yang berhasil?
Apa yang gagal?
Apa yang terlambat?
Apa yang kurang?
Siapa yang paling rentan?
Bagaimana komunikasi dapat diperbaiki?
Bagaimana sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, dan masyarakat dapat lebih siap?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan mencari kesalahan untuk mempermalukan.
Ia mencari kelemahan agar dapat diperbaiki.
Sebab pengalaman yang tidak diolah menjadi pengetahuan akan mudah terulang menjadi penderitaan.
JANGAN CEPAT MELUPAKAN ALAM
Sering kali setelah bencana berlalu, manusia kembali melakukan hal yang sama.
Hutan kembali ditebang.
Sungai kembali dipenuhi sampah.
Daerah rawan kembali dipadati bangunan.
Aturan keselamatan kembali diabaikan.
Lalu ketika musibah datang lagi, manusia berkata:
“Kenapa ini terjadi lagi?”
Padahal sebagian jawabannya telah lama berada di hadapan mereka.
Maka ingatan adalah bagian dari keselamatan.
Bangsa yang cepat melupakan akan mudah mengulangi kesalahan.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jika suatu hari Alloh memberi kesempatan kepada kita selamat dari musibah,
jangan hanya berkata:
“Alhamdulillah, saya selamat.”
Tambahkan pula:
“Apa yang harus saya pelajari?”
“Apa yang harus saya perbaiki?”
“Siapa yang masih membutuhkan pertolongan?”
Karena keselamatan bukan akhir dari tanggung jawab.
Keselamatan dapat menjadi awal sebuah amanah baru.
Amanah untuk mengingat.
Amanah untuk memperbaiki.
Amanah untuk mengajarkan.
Amanah untuk menjaga.
Dan amanah untuk memastikan bahwa penderitaan kemarin tidak menjadi sia-sia.
Jangan biarkan bencana hanya meninggalkan puing.
Biarkan ia meninggalkan:
ilmu, kewaspadaan, kasih, dan kebijaksanaan.
Sebab manusia tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi.
Tetapi manusia masih dapat menentukan apa yang akan dilakukan sesudahnya.
Dan mungkin, salah satu penghormatan terbesar kepada mereka yang telah menjadi korban adalah memastikan bahwa generasi berikutnya hidup dengan lebih aman karena kita mau belajar hari ini.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KETUJUH BELAS — ANTARA TAKDIR, IKHTIAR, DAN TANGGUNG JAWAB
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada manusia yang berkata:
“Kalau semuanya sudah ditakdirkan, mengapa harus berusaha?”
Ada pula yang berkata:
“Semua bergantung pada manusia, tidak ada yang perlu diserahkan kepada Tuhan.”
Dua sikap ini berdiri di dua ujung yang sama-sama dapat menyesatkan.
Sebab kehidupan manusia berjalan di antara:
takdir, ikhtiar, sebab-akibat, dan tanggung jawab.
TAKDIR BUKAN ALASAN UNTUK PASRAH TANPA USAHA
Ketika hujan turun, manusia tetap mencari tempat berteduh.
Ketika sakit, manusia mencari pengobatan.
Ketika lapar, manusia mencari makanan.
Ketika gempa terjadi, manusia keluar dari bangunan yang berbahaya.
Tidak ada pertentangan antara menerima ketetapan Alloh dan melakukan ikhtiar.
Justru ikhtiar adalah bagian dari perjalanan hidup yang diberikan kepada manusia.
Maka ucapan:
“Kalau memang waktunya mati, ya mati,”
tidak boleh digunakan untuk membenarkan kecerobohan.
Karena menjaga kehidupan adalah amanah.
IKHTIAR JUGA MEMPUNYAI BATAS
Manusia dapat memperkuat bangunan.
Tetapi tidak dapat menjamin tidak pernah terjadi kerusakan.
Manusia dapat membuat sistem peringatan dini.
Tetapi tidak setiap bencana dapat diprediksi dengan sempurna.
Manusia dapat mengungsi.
Tetapi tidak semua hasil berada di dalam kendalinya.
Di sinilah manusia belajar tawakal.
Tawakal bukan meninggalkan usaha.
Tawakal adalah:
melakukan usaha terbaik, lalu menerima bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada dalam tangan manusia.
TANGGUNG JAWAB TIDAK BOLEH DIHILANGKAN DENGAN KATA “TAKDIR”
Jika sebuah bangunan roboh karena material dikurangi demi keuntungan,
jangan hanya berkata:
“Sudah takdir.”
Jika jalur evakuasi tidak tersedia karena kelalaian,
jangan berkata:
“Semua sudah kehendak Tuhan.”
Jika hutan dirusak dan banjir menjadi semakin parah,
jangan menjadikan takdir sebagai selimut untuk menutupi kesalahan manusia.
Takdir tidak menghapus tanggung jawab.
Sebab manusia tetap diminta mempertanggungjawabkan keputusan yang berada dalam kemampuannya.
ADA YANG TIDAK DAPAT KITA PILIH, ADA YANG DAPAT KITA PILIH
Kita tidak memilih di mana lempeng bumi bergerak.
Tetapi kita dapat memilih bagaimana membangun.
Kita tidak memilih kapan hujan sangat deras.
Tetapi kita dapat memilih apakah sungai dijaga atau dipenuhi sampah.
Kita tidak memilih lahir di wilayah rawan bencana.
Tetapi kita dapat memilih untuk belajar kesiapsiagaan.
Kita tidak memilih datangnya semua ujian.
Tetapi kita dapat memilih bagaimana menjawab ujian itu.
Di situlah kemuliaan manusia berada:
bukan pada kemampuan menguasai segala sesuatu, tetapi pada kemampuan memilih sikap yang benar di tengah sesuatu yang tidak dapat dikuasainya.
JANGAN MENYALAHKAN TAKDIR ATAS KELALAIAN
Sering kali manusia baru menyebut takdir setelah mengalami akibat dari keputusan buruknya sendiri.
Tidak memakai sabuk keselamatan, lalu ketika kecelakaan berkata:
“Takdir.”
Membangun tanpa memperhatikan aturan, lalu berkata:
“Takdir.”
Mengabaikan peringatan, lalu berkata:
“Takdir.”
Padahal iman yang matang tidak menggunakan nama Alloh untuk membenarkan kelalaian.
Iman justru membuat manusia lebih bertanggung jawab.
Karena setiap kemampuan adalah amanah.
Setiap ilmu adalah amanah.
Setiap kekuasaan adalah amanah.
Dan setiap keputusan mempunyai akibat.
TAWAKAL ADALAH KETENANGAN SETELAH IKHTIAR
Setelah semua persiapan dilakukan,
setelah keluarga diarahkan,
setelah jalur aman dipilih,
setelah peringatan diikuti,
setelah pertolongan diberikan,
barulah hati berkata:
“Ya Alloh, kami telah berusaha semampu kami. Selebihnya kami serahkan kepada-Mu.”
Di sanalah tawakal menjadi indah.
Bukan tawakal yang malas.
Bukan tawakal yang ceroboh.
Tetapi tawakal yang lahir setelah tanggung jawab ditunaikan.
PESAN QITAB
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
jangan menggunakan takdir untuk mematikan akal.
Jangan menggunakan akal untuk meniadakan ketundukan.
Jangan menggunakan iman untuk menghindari tanggung jawab.
Dan jangan menggunakan ilmu untuk merasa menjadi penguasa kehidupan.
Berjalanlah di antara semuanya dengan seimbang.
Berusaha seolah amanah ada di tanganmu.
Berdoa karena engkau mengetahui keterbatasanmu.
Bertanggung jawab atas keputusanmu.
Dan menerima hasil yang benar-benar berada di luar kemampuanmu.
Sebab kedewasaan ruhani bukan berkata:
“Semua sudah ditentukan, maka aku tidak perlu melakukan apa-apa.”
Kedewasaan ruhani adalah berkata:
“Aku akan melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabku, dan menyerahkan kepada Alloh apa yang memang bukan kuasaku.”
Di sanalah ikhtiar tidak berubah menjadi kesombongan.
Dan tawakal tidak berubah menjadi alasan untuk lalai.
Wallohu a‘lam.
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
LEMBAR KEDELAPAN BELAS — PENUTUP BESAR: BUMI ADALAH RUMAH, MANUSIA ADALAH PENJAGA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada akhirnya, setelah kita berbicara tentang gempa, gunung meletus, tsunami, badai, meteor, banjir, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, ilmu, takdir, ikhtiar, tanggung jawab, dan kesadaran, maka tibalah kita pada satu pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling besar:
Siapakah manusia di hadapan bumi?
Apakah manusia adalah penguasa?
Apakah manusia adalah pemilik?
Apakah manusia adalah penakluk?
Ataukah manusia hanyalah satu makhluk yang diberi waktu sebentar untuk tinggal, belajar, menjaga, lalu pergi?
Bumi telah ada jauh sebelum manusia membangun kota.
Gunung telah berdiri sebelum manusia mengenal kerajaan.
Laut telah bergerak sebelum manusia mengenal kapal.
Angin telah berembus sebelum manusia mengenal mesin.
Meteor telah melintasi langit sebelum manusia mengenal teleskop.
Lempeng bumi telah bergerak sejak zaman yang tidak pernah disaksikan oleh satu pun manusia.
Maka janganlah manusia terlalu cepat merasa bahwa seluruh alam berputar mengelilingi dirinya.
Bumi tidak lahir untuk melayani keserakahan manusia.
Laut bukan diciptakan hanya untuk diambil isinya.
Gunung bukan ada hanya untuk dibelah.
Hutan bukan ada hanya untuk ditebang.
Sungai bukan ada hanya untuk dijadikan saluran limbah.
Dan udara bukan diciptakan agar dapat dikotori tanpa batas.
Manusia memang diberi kemampuan besar.
Tetapi kemampuan bukan berarti kepemilikan mutlak.
BUMI MENGAJARKAN KERENDAHAN HATI
Satu guncangan dapat membuat manusia meninggalkan gedung tertinggi yang dibanggakannya.
Satu gelombang dapat membuat manusia berlari meninggalkan kendaraan mahalnya.
Satu letusan dapat membuat manusia mengosongkan tanah yang selama puluhan tahun dianggap miliknya.
Satu badai dapat memadamkan cahaya kota.
Satu perubahan cuaca dapat mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap harus hidup bersama hukum alam.
Maka bumi sebenarnya terus mengajarkan manusia:
“Jangan merasa terlalu besar.”
Engkau boleh berilmu.
Tetapi jangan sombong.
Engkau boleh membangun.
Tetapi jangan merusak.
Engkau boleh menggunakan kekayaan bumi.
Tetapi jangan menghabiskannya seolah generasi berikutnya tidak mempunyai hak.
Engkau boleh meneliti rahasia alam.
Tetapi jangan menganggap bahwa karena memahami sebagian mekanismenya, engkau telah memahami seluruh hakikatnya.
ILMU ADALAH CAHAYA, TETAPI CAHAYA MEMBUTUHKAN ADAB
Ilmu dapat menyelamatkan banyak kehidupan.
Dengan ilmu, manusia mengetahui daerah rawan.
Dengan ilmu, manusia membaca pergerakan cuaca.
Dengan ilmu, manusia membangun gedung yang lebih aman.
Dengan ilmu, manusia membuat sistem peringatan dini.
Dengan ilmu, manusia mengembangkan teknologi untuk memantau gunung, laut, atmosfer, dan benda langit.
Tetapi ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan.
Ilmu tanpa tanggung jawab dapat digunakan untuk mengeksploitasi.
Ilmu tanpa belas kasih dapat melahirkan teknologi yang hanya menguntungkan sebagian kecil manusia.
Karena itu, ilmu harus mempunyai arah.
Arah ilmu bukan sekadar:
“Apa yang bisa kita lakukan?”
Tetapi juga:
“Apa yang seharusnya kita lakukan?”
Bukan hanya:
“Berapa banyak yang dapat kita ambil?”
Tetapi:
“Berapa banyak yang harus kita sisakan?”
Bukan hanya:
“Bagaimana kita menguasai alam?”
Tetapi:
“Bagaimana kita hidup selaras dengan keterbatasannya?”
IMAN BUKAN ALASAN UNTUK MENINGGALKAN ILMU
Ada manusia yang ketika mendengar penjelasan ilmiah merasa bahwa iman sedang dipinggirkan.
Padahal tidak harus demikian.
Mengetahui bahwa gempa berkaitan dengan pergerakan lempeng tidak membuat Alloh menjadi hilang.
Mengetahui bahwa badai terbentuk melalui proses atmosfer tidak membuat doa menjadi tidak bermakna.
Mengetahui bahwa penyakit mempunyai proses biologis tidak membuat manusia berhenti memohon kesembuhan.
Ilmu menjelaskan mekanisme.
Iman memberi arah batin.
Keduanya dapat berjalan bersama ketika ditempatkan secara tepat.
Maka seorang beriman tidak perlu takut kepada penelitian.
Dan seorang berilmu tidak perlu merendahkan keyakinan.
Yang dibutuhkan adalah kejujuran.
Ketika ilmu belum mengetahui, katakan belum mengetahui.
Ketika keyakinan masuk ke wilayah makna, jangan memaksanya menjadi data ilmiah.
Ketika data berbicara, jangan mengubahnya hanya karena tidak sesuai dengan keinginan.
Di situlah akal dan iman dapat menjadi dua cahaya yang saling menjaga.
JANGAN MENGUBAH SETIAP BENCANA MENJADI CERITA MISTIK
Manusia menyukai cerita besar.
Ketika gempa terjadi, muncul cerita bahwa ada kekuatan tersembunyi.
Ketika badai datang, muncul cerita bahwa ada pihak tertentu yang mengendalikan.
Ketika meteor melintas, muncul ramalan.
Ketika gunung meletus, muncul berbagai tafsir yang kadang disampaikan seolah-olah pasti.
Qitab ini tidak melarang manusia merenung.
Tetapi Qitab ini mengingatkan:
renungan berbeda dengan fakta.
simbol berbeda dengan bukti.
keyakinan berbeda dengan kesimpulan ilmiah.
Jika seseorang memperoleh pelajaran batin dari suatu kejadian, itu dapat menjadi bahan muhasabah pribadi.
Tetapi jangan menjadikannya tuduhan terhadap orang lain.
Jangan menakut-nakuti masyarakat.
Jangan menyebarkan tanggal-tanggal bencana tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab ketakutan yang disebarkan tanpa bukti bukanlah cahaya.
Ia dapat menjadi kabut.
JANGAN PULA MENGANGGAP MANUSIA TIDAK PUNYA PENGARUH
Sebaliknya, jangan pula berkata:
“Semua murni alam, manusia sama sekali tidak berpengaruh.”
Untuk gempa tektonik, manusia memang bukan pencipta gerak lempeng.
Untuk letusan gunung, manusia bukan pengatur tekanan magma.
Untuk meteor, manusia bukan penyebab benda langit memasuki atmosfer.
Tetapi dalam banyak hal, manusia dapat memperbesar risiko.
Pembangunan yang buruk dapat memperbesar korban.
Perusakan hutan dapat memperburuk banjir dan longsor.
Pemanasan global akibat aktivitas manusia dapat memengaruhi pola panas, hujan, kekeringan, gelombang panas, dan berbagai risiko iklim.
Pencemaran dapat merusak sungai.
Penambangan yang ceroboh dapat melemahkan bentang alam.
Tata kota yang salah dapat menjadikan hujan biasa berubah menjadi bencana besar.
Maka manusia tidak menguasai alam.
Tetapi manusia cukup kuat untuk merusak keseimbangannya.
Itulah mengapa tanggung jawab menjadi penting.
BENCANA ALAM DAN BENCANA MORAL
Ada gempa yang meruntuhkan rumah.
Tetapi ada keserakahan yang meruntuhkan keadilan.
Ada tsunami yang menghantam pantai.
Tetapi ada kebohongan yang menghantam kepercayaan.
Ada badai yang merobohkan pohon.
Tetapi ada kebencian yang merobohkan persaudaraan.
Ada meteor yang jatuh dari langit.
Tetapi ada kesombongan yang jatuh ke dalam hati.
Maka jangan hanya takut kepada bencana yang terlihat.
Takutlah pula kepada bencana batin.
Karena bumi yang rusak masih dapat dipulihkan perlahan.
Tetapi manusia yang kehilangan nurani dapat merusak bumi berulang kali.
KEMANUSIAAN ADALAH PERTAHANAN TERAKHIR
Ketika bencana besar datang, banyak hal yang biasanya memisahkan manusia menjadi tidak penting.
Korban tidak ditanya sukunya sebelum diselamatkan.
Orang yang tenggelam tidak ditanya agamanya sebelum ditarik ke daratan.
Orang yang tertimbun tidak ditanya pandangan politiknya sebelum digali.
Anak yang kelaparan tidak ditanya siapa orang tuanya sebelum diberi makan.
Di situlah manusia menemukan kembali dirinya.
Bahwa sebelum semua label, kita adalah manusia.
Maka apabila bencana tidak membuat kita lebih manusiawi, kita kehilangan salah satu pelajarannya yang paling besar.
JIKA BUMI ADALAH RUMAH, MAKA JANGAN BAKAR RUMAH SENDIRI
Bayangkan seseorang tinggal di sebuah rumah.
Ia mengambil kayu dari atap untuk dijual.
Ia merusak pintu.
Ia membuang racun ke sumur.
Ia menutup saluran air.
Ia membakar halaman.
Lalu ketika rumah itu rusak, ia bertanya:
“Siapa yang melakukan ini?”
Bukankah itu aneh?
Begitu pula manusia.
Kita hidup di bumi yang sama.
Udara tidak mengenal batas negara.
Laut tidak mengenal bendera.
Sungai mengalir melewati banyak wilayah.
Asap dapat berpindah.
Panas dapat menyebar.
Kerusakan di satu tempat dapat memberikan akibat di tempat lain.
Karena itu menjaga bumi bukan sekadar urusan pribadi.
Ia adalah amanah bersama.
AMANAH KEPADA GENERASI YANG BELUM LAHIR
Ada manusia yang belum lahir hari ini.
Tetapi suatu hari mereka akan bertanya:
Apa yang kalian tinggalkan untuk kami?
Apakah kalian meninggalkan hutan?
Atau hanya cerita bahwa dahulu pernah ada hutan?
Apakah kalian meninggalkan sungai yang dapat diminum?
Atau sungai yang penuh racun?
Apakah kalian meninggalkan udara yang layak?
Atau langit yang terus dipenuhi asap?
Apakah kalian meninggalkan ilmu mitigasi?
Atau hanya cerita tentang korban yang terus berulang?
Mereka tidak dapat memilih bumi seperti apa yang mereka terima.
Tetapi kita hari ini mempunyai pengaruh terhadap warisan itu.
Karena itu tanggung jawab tidak berhenti pada generasi kita.
JANGAN MENJADI MANUSIA YANG HANYA SADAR SETELAH KEHILANGAN
Sering manusia baru mencintai hutan setelah hutan hilang.
Baru menghargai air ketika kekeringan datang.
Baru menjaga sungai setelah banjir besar.
Baru memperkuat bangunan setelah gempa.
Baru membuat jalur evakuasi setelah banyak korban.
Baru menjaga pantai setelah gelombang menghancurkan pemukiman.
Kebijaksanaan sejati adalah mampu belajar sebelum kehilangan.
Itulah peradaban matang.
Bukan peradaban yang selalu bereaksi.
Tetapi peradaban yang mampu mengantisipasi.
KETIKA BUMI BERGUNCANG, JANGAN BIARKAN HATI KEHILANGAN ARAH
Jika suatu hari bumi kembali bergerak,
ingatlah:
jangan panik.
Cari tempat aman.
Ikuti informasi yang dapat dipercaya.
Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas.
Bantu orang di sekitar.
Utamakan nyawa daripada harta.
Setelah keadaan aman, evaluasi.
Belajar.
Perbaiki.
Dan berdoalah.
Karena doa dan tindakan tidak perlu dipertentangkan.
Doa menguatkan hati.
Ilmu mengarahkan tindakan.
Keduanya dapat berjalan bersama.
DOA PENUTUP QITAB
Ya Alloh,
jadikanlah kami manusia yang tidak sombong di hadapan ciptaan-Mu.
Ajarkan kami membaca alam tanpa mengarang kepastian.
Ajarkan kami menggunakan ilmu tanpa kehilangan adab.
Ajarkan kami beriman tanpa meninggalkan akal.
Ajarkan kami berikhtiar tanpa merasa menjadi penguasa takdir.
Jagalah bumi tempat kami hidup.
Lindungilah mereka yang berada di wilayah rawan.
Kuatkan para penolong ketika bencana datang.
Berikan ketabahan kepada mereka yang kehilangan.
Berikan kebijaksanaan kepada para pemimpin.
Berikan kejujuran kepada para ilmuwan.
Berikan kepedulian kepada masyarakat.
Dan jangan biarkan keserakahan kami meninggalkan luka yang harus ditanggung anak cucu kami.
Jika bumi berguncang, teguhkan hati kami.
Jika laut meninggi, tunjukkan jalan keselamatan.
Jika gunung bergemuruh, jauhkan kami dari kesombongan.
Jika angin menguat, jadikan kami saling melindungi.
Jika hujan turun, jadikan ia rahmat, dan berilah kami kecerdasan agar tidak mengubah rahmat menjadi bencana karena kelalaian kami sendiri.
Jika kami memperoleh ilmu, jadikan ilmu itu cahaya.
Jika kami memperoleh kekuasaan, jadikan kekuasaan itu amanah.
Jika kami memperoleh kekayaan, jadikan kekayaan itu jalan menjaga kehidupan.
Dan jika suatu hari perjalanan kami di bumi selesai,
jadikanlah kami meninggalkannya dalam keadaan lebih baik daripada ketika kami menerimanya.
PESAN TERAKHIR
Wahai saudara dan saudari cahayaku,
gempa akan tetap menjadi bagian dari dinamika bumi.
Gunung akan tetap mempunyai siklus aktivitasnya.
Laut akan tetap bergerak.
Badai akan tetap lahir dari atmosfer.
Benda langit akan tetap melintas.
Sebagian peristiwa tidak berada dalam kuasa manusia.
Tetapi sikap manusia berada dalam ruang tanggung jawabnya.
Kita dapat memilih antara ilmu atau rumor.
Antara kesiapsiagaan atau kelalaian.
Antara menjaga atau merusak.
Antara menolong atau mengambil keuntungan.
Antara rendah hati atau merasa paling mengetahui.
Antara menggunakan akal sehat atau menyerahkannya kepada ketakutan.
Dan pada akhirnya, mungkin inilah inti seluruh Qitab ini:
BUMI TIDAK MEMINTA MANUSIA MENJADI PENGUASA ATAS SEGALA RAHASIANYA.
BUMI HANYA MEMINTA MANUSIA MENJADI PENGHUNI YANG SADAR, PENJAGA YANG AMANAH, DAN PEWARIS YANG TIDAK RAKUS.
Bumi akan terus berputar.
Generasi akan datang dan pergi.
Kerajaan akan bangkit dan runtuh.
Nama-nama besar akan menjadi sejarah.
Tetapi amal manusia terhadap bumi akan meninggalkan jejak.
Ada jejak yang menjadi luka.
Ada jejak yang menjadi rahmat.
Maka pilihlah jejakmu.
Jika engkau menanam satu pohon, mungkin engkau tidak menikmati seluruh keteduhannya.
Jika engkau menjaga satu mata air, mungkin generasi lain yang meminumnya.
Jika engkau mengajarkan satu anak tentang keselamatan, mungkin ilmu itu menyelamatkan keluarga yang belum pernah engkau kenal.
Jika engkau menyebarkan satu kebenaran dan menghentikan satu kabar bohong, mungkin engkau mencegah kepanikan yang tidak pernah engkau lihat.
Tidak semua amal harus besar agar berarti.
Bumi dirawat melalui jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran.
Maka setelah Qitab ini ditutup,
jangan hanya berkata:
“Saya telah membaca.”
Katakan:
“Saya telah memahami sebagian amanah.”
Lalu wujudkan pemahaman itu dalam tindakan.
Jaga tanah.
Jaga air.
Jaga udara.
Jaga ilmu.
Jaga kebenaran.
Jaga sesama manusia.
Dan terutama,
jaga kesadaran agar tidak tertidur di tengah dunia yang terus berubah.
Karena mungkin bencana terbesar bukan ketika bumi berguncang.
Bencana terbesar adalah ketika manusia telah diberi akal, ilmu, pengalaman, peringatan, dan kesempatan—
tetapi tetap memilih untuk tidak belajar.
Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
TAMMAT
QITAB SIKLUS BUMI DAN AMANAH MANUSIA
Antara Ketetapan Alam, Sebab-Akibat, dan Kesadaran

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.