QITAB SIRR AL-BARZAKH

 


Dalam aqidah Islam arus utama, adanya kehidupan alam barzakh, pertanyaan di kubur, serta nikmat dan azab kubur memang diyakini berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Hadis-hadis menyebut seseorang akan ditanya tentang Rabb-nya, agamanya, dan Nabi Muhammad ﷺ; dalam riwayat lain dua malaikat itu dikenal sebagai Munkar dan Nakir. Ada sebagian orang atau kelompok yang menolak atau menafsirkannya berbeda, biasanya karena berbeda dalam menerima hadis atau memahami makna “kubur/barzakh”.

Yang perlu dibedakan: kubur bukan berarti hanya tanah tempat jasad dikuburkan. Pembahasan ini berkaitan dengan alam barzakh, sehingga orang yang wafat di laut, terbakar, atau jasadnya tidak ditemukan tetap berada dalam ketentuan alam barzakh menurut Alloh. 

QITAB SIRR AL-BARZAKH

Rahasia Kehidupan Setelah Kematian, Pertanyaan Kubur, Nikmat dan Azab Barzakh

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

LEMBAR PERTAMA

PINTU YANG TIDAK DAPAT DIHINDARI

Wahai manusia,

kematian bukanlah hilangnya keberadaan.

Kematian adalah berpindahnya seorang hamba dari satu alam menuju alam berikutnya.

Dunia ditinggalkan.

Hari Kiamat belum datang.

Di antara keduanya terbentang suatu batas yang disebut:

الْبَرْزَخُ — Al-Barzakh.

Alloh berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“…dan di hadapan mereka terdapat barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

QS. Al-Mu’minun: 100

Maka jangan membayangkan alam kubur hanya sebagai liang tanah.

Tanah adalah tempat jasad.

Sedangkan barzakh adalah fase keberadaan setelah kematian hingga kebangkitan.

Karena itu orang yang tenggelam di lautan, jasadnya terbakar, hilang, atau tidak pernah ditemukan, tidak keluar dari ketetapan Alloh mengenai alam barzakh.


LEMBAR KEDUA

DATANGNYA PERTANYAAN

Dalam hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ diterangkan bahwa setelah seorang manusia meninggal dan memasuki fase alam kuburnya, ia akan menghadapi pertanyaan.

Di antara pertanyaan yang dikenal dalam pengajaran Islam:

مَنْ رَبُّكَ؟
Man Rabbuka?
Siapakah Tuhanmu?

مَا دِينُكَ؟
Mā dīnuka?
Apakah agamamu?

Dan ia ditanya mengenai Rasul yang diutus kepadanya:

مَا تَقُولُ فِي هٰذَا الرَّجُلِ؟
Apa yang engkau katakan mengenai orang ini?

Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Tradisi Islam mengenal dua malaikat yang melaksanakan pertanyaan tersebut sebagai:

مُنْكَر وَنَكِيْر
Munkar dan Nakir.

Tetapi rahasianya bukan terletak pada kemampuan seseorang menghafalkan jawaban.

Sebab seseorang dapat mengucapkan:

“Rabb-ku Alloh.”

Namun pertanyaan barzakh bukan ujian hafalan sebagaimana ujian manusia.

Ia berkaitan dengan iman yang benar-benar hidup dalam dirinya ketika berada di dunia.


LEMBAR KETIGA

BUKAN SEKADAR MENGHAFAL TIGA JAWABAN

Jangan seseorang merasa aman hanya karena telah menghafal:

Rabb-ku Alloh.
Agamaku Islam.
Nabiku Muhammad ﷺ.

Sebab lidah dapat menghafalkan sesuatu yang hati tidak pernah menjalaninya.

Ketika masih hidup seseorang dapat berkata:

“Alloh Tuhanku,”

tetapi sepanjang hidupnya ia mungkin lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan ridha Alloh.

Ia dapat berkata:

“Islam agamaku,”

tetapi amanah diabaikan, manusia dizalimi, harta haram dimakan dan kesombongan dipelihara.

Ia dapat berkata:

“Muhammad Nabiku,”

tetapi akhlak Rasululloh ﷺ sama sekali tidak diusahakan dalam kehidupannya.

Maka persiapan menghadapi kubur bukanlah sekadar menghafalkan jawaban.

Persiapannya adalah kehidupan itu sendiri.


LEMBAR KEEMPAT

APAKAH ADA AZAB KUBUR?

Dalam ajaran Islam terdapat keterangan mengenai nikmat maupun azab barzakh.

Salah satu ayat yang sering menjadi dasar pembahasannya adalah tentang keluarga Fir‘aun:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

“Mereka diperlihatkan kepada neraka pada pagi dan petang…”

Kemudian ayat meneruskan:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“…dan pada hari terjadinya Kiamat: masukkanlah keluarga Fir‘aun ke dalam azab yang paling keras.”

QS. Ghafir: 46

Perhatikan urutannya.

Ada keadaan sebelum Kiamat.

Kemudian terdapat azab lain ketika Kiamat telah ditegakkan.

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil adanya keadaan barzakh sebelum Hari Kebangkitan.

Rasululloh ﷺ juga mengajarkan umatnya berlindung kepada Alloh dari azab kubur.

Maka perkara ini bukanlah ajaran yang muncul hanya dari cerita masyarakat.


LEMBAR KELIMA

KUBUR BUKAN HANYA TEMPAT SIKSA

Namun jangan pula membicarakan alam kubur seakan-akan isinya hanya ketakutan.

Bagi seorang mukmin yang dirahmati Alloh, terdapat pula:

ketenteraman, kelapangan, kabar gembira dan kenikmatan barzakh.

Karena itu pembahasannya lebih tepat disebut:

nikmat dan azab kubur,
bukan hanya azab kubur.

Ada manusia yang memasuki barzakh dalam kegelisahan.

Ada pula yang mendapat ketenteraman dengan izin Alloh.

Keputusan akhirnya milik Alloh semata.

Tidak seorang pun berhak menentukan dengan pasti:

“Orang ini pasti disiksa.”

atau:

“Orang ini pasti aman.”

Rahasia setiap hamba berada dalam ilmu dan keadilan Alloh.


LEMBAR KEENAM

MENGAPA ADA ORANG YANG MENOLAKNYA?

Sebagian orang berkata:

“Di dalam Al-Qur’an tidak disebut secara terperinci Munkar dan Nakir.”

Pernyataan ini perlu ditempatkan dengan benar.

Memang tidak semua rincian agama diterangkan Al-Qur’an secara terperinci.

Banyak rincian datang melalui Sunnah Nabi ﷺ.

Misalnya jumlah rakaat salat lima waktu tidak dijelaskan satu per satu secara lengkap dalam Al-Qur’an, tetapi diterangkan melalui tuntunan Rasululloh ﷺ.

Demikian pula berbagai rincian kehidupan barzakh.

Karena itu perbedaan biasanya muncul dari pertanyaan:

Apakah hadis yang menerangkan masalah tersebut diterima sebagai hujjah atau tidak?

Dalam aqidah Ahlussunnah, hadis-hadis sahih mengenai fitnah kubur, pertanyaan kubur, serta nikmat dan azab kubur diterima.

Maka keberadaan alam barzakh tidak seharusnya ditolak hanya karena mata manusia yang masih hidup tidak mampu melihatnya.


LEMBAR KETUJUH

RAHASIA TERBESARNYA

Rahasia kubur sebenarnya bukan:

“Seperti apakah wajah Munkar dan Nakir?”

Bukan:

“Berapa meter luas alam kubur?”

Bukan pula:

“Bagaimana persis bentuk siksanya?”

Rahasia yang paling dekat dengan kita ialah:

Jika kematian datang malam ini, kehidupan seperti apakah yang telah kita bawa menghadap Alloh?

Apakah masih ada orang yang kita zalimi?

Apakah masih ada hutang yang sengaja kita abaikan?

Apakah masih ada amanah yang kita khianati?

Apakah salat kita terus ditinggalkan?

Apakah kesombongan masih kita pelihara?

Apakah kita mudah meminta ampun kepada Alloh tetapi sulit meminta maaf kepada manusia?

Inilah pertanyaan yang dapat diperbaiki sebelum pertanyaan barzakh datang.


LEMBAR KEDELAPAN

BEKAL MENUJU ALAM BARZAKH

Jangan jadikan pembicaraan mengenai kubur sebagai sumber ketakutan tanpa jalan keluar.

Jadikan ia sebagai pengingat untuk memperbaiki kehidupan.

Perbanyak:

taubat yang sungguh-sungguh,

salat,

amanah,

menjaga hak orang lain,

melunasi hutang semampunya,

sedekah,

membaca Al-Qur’an,

berbuat baik kepada orang tua,

menjaga lisan,

dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Sebab manusia tidak diperintahkan mengetahui seluruh rahasia alam gaib.

Manusia diperintahkan mempersiapkan diri menghadap Alloh.


PENUTUP

Ya Alloh,

jika hari kami masih panjang, jadikanlah panjangnya umur sebagai tambahan kebaikan.

Jika ajal kami telah dekat, jadikanlah akhir perjalanan kami dalam iman.

Teguhkanlah hati kami ketika dunia telah kami tinggalkan.

Ampunilah dosa-dosa yang kami ketahui dan yang kami lupakan.

Jauhkan kami dari fitnah kubur dan azab kubur.

Lapangkanlah alam barzakh kami.

Jadikan kubur kami taman ketenteraman, bukan tempat kesengsaraan.

Dan bangkitkanlah kami kelak bersama Nabi Muhammad ﷺ dalam rahmat dan ampunan-Mu.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


Catatan: Qitab ini adalah renungan dan penjelasan keagamaan, bukan wahyu, bukan Al-Qur’an, dan bukan pengganti kitab-kitab aqidah maupun hadis. Dasarnya harus tetap dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.


LEMBAR KESEMBILAN

SAAT MANUSIA TIDAK LAGI DITEMANI DUNIA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ketika seorang manusia meninggal,

rumah yang selama ini dijaganya akan ditinggalkan.

Harta yang dikumpulkannya akan berpindah tangan.

Jabatan yang dahulu membuat orang berdiri menghormatinya tidak lagi mengikuti.

Nama yang dikenal banyak manusia perlahan hanya menjadi kenangan.

Bahkan tubuh yang selama puluhan tahun disebut:

“aku”

akhirnya ditinggalkan oleh ruh.

Pada saat itu manusia mulai memahami satu kenyataan:

Tidak semua yang kita miliki di dunia benar-benar menjadi milik kita.


TIGA YANG MENGANTAR, SATU YANG MENETAP

Rasululloh ﷺ menerangkan bahwa ketika manusia meninggal, ia diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya.

Dua kembali.

Satu tetap bersamanya.

Keluarga kembali.

Harta kembali.

Yang menetap adalah:

amalnya.

Maka seorang hamba seakan diperlihatkan:

“Inilah yang dahulu engkau kerjakan ketika tidak ada seorang pun melihatmu.”

Ada amal yang dahulu dianggap kecil,

namun menjadi cahaya.

Ada dosa yang dahulu dianggap ringan,

namun ternyata menjadi beban.

Ada air mata taubat yang tidak diketahui seorang pun,

namun mungkin menjadi sebab datangnya rahmat Alloh.


RAHASIA KESEPIAN KUBUR

Kesunyian kubur bukan sekadar tidak adanya manusia.

Kesunyian itu adalah ketika berbagai penyangga dunia tidak lagi dapat menolong.

Di dunia manusia dapat berkata:

“Aku punya keluarga.”

“Aku punya kekayaan.”

“Aku punya kedudukan.”

“Aku punya pengikut.”

“Aku dikenal banyak orang.”

Namun ketika memasuki barzakh,

semua gelar dunia berada di belakang pintu kematian.

Yang tersisa adalah hubungan seorang hamba dengan Alloh.

Karena itulah orang beriman tidak hanya mempersiapkan:

bagaimana hidup di hadapan manusia,

tetapi juga:

bagaimana kelak berdiri di hadapan Alloh.


AMAL YANG DISEMBUNYIKAN

Ada rahasia yang sangat indah dalam perjalanan manusia menuju akhirat:

tidak semua amal terbaik harus diketahui manusia.

Mungkin ada seseorang yang tidak dikenal sebagai orang saleh,

tetapi diam-diam setiap malam ia memohon ampun.

Mungkin ada seseorang yang hidup sederhana,

tetapi selama bertahun-tahun ia membantu orang tuanya tanpa pernah menceritakannya.

Mungkin ada seorang hamba yang pernah melakukan banyak kesalahan,

tetapi menjelang akhir hidupnya ia benar-benar kembali kepada Alloh.

Manusia hanya melihat permukaan.

Alloh mengetahui isi hati.

Karena itu jangan terlalu cepat menghukumi akhir perjalanan seseorang.


JANGAN MENUNDA TAUBAT

Salah satu tipu daya terbesar kehidupan adalah kalimat:

“Nanti aku akan berubah.”

Nanti ketika sudah tua.

Nanti ketika sudah kaya.

Nanti ketika masalah selesai.

Nanti ketika hati sudah tenang.

Padahal manusia tidak mempunyai perjanjian dengan kematian tentang kapan ia akan datang.

Maka orang yang memahami barzakh belajar mengubah satu kata:

dari:

“nanti”

menjadi:

“sekarang.”

Jika ada dosa,

bertaubatlah sekarang.

Jika ada hutang,

mulailah menyelesaikannya sekarang.

Jika ada orang yang dizalimi,

mintalah maaf sekarang.

Jika salat masih berantakan,

perbaikilah sekarang.

Jika hati terlalu mencintai dunia,

didiklah sekarang.

Sebab ajal tidak menunggu manusia menjadi siap.


KUBUR DAN KEADILAN ALLOH

Jangan membayangkan Alloh mencari-cari alasan untuk menyiksa hamba-Nya.

Alloh adalah Mahaadil.

Alloh mengetahui:

apa yang dilakukan manusia,

mengapa ia melakukannya,

apa yang ia sembunyikan,

apa yang ia sesali,

dan seberapa sungguh ia kembali.

Karena itu rasa takut kepada azab hendaknya selalu berjalan bersama harapan kepada rahmat.

Takut tanpa harapan dapat melahirkan keputusasaan.

Harapan tanpa rasa takut dapat melahirkan kelalaian.

Jalan seorang mukmin berada di antara keduanya:

khauf — takut kepada Alloh,

dan

rajā’ — berharap kepada rahmat Alloh.


KETIKA PERTANYAAN TIDAK LAGI DAPAT DIHINDARI

Di dunia kita dapat menghindari pertanyaan.

Kita dapat diam.

Kita dapat berbohong.

Kita dapat membuat alasan.

Namun perjalanan barzakh mengajarkan bahwa akan datang suatu keadaan di mana manusia tidak lagi menguasai segala sesuatu seperti ketika hidup di dunia.

Karena itu pertanyaan:

“Siapa Rabb-mu?”

sebenarnya telah dimulai sejak sekarang.

Jawabannya terlihat dari:

kepada siapa hati paling bergantung,

siapa yang paling ditaati,

apa yang paling ditakuti,

dan untuk siapa kehidupan diarahkan.

Pertanyaan:

“Apa agamamu?”

juga sedang dijawab melalui kehidupan.

Bukan hanya melalui identitas,

tetapi melalui akhlak, amanah, ibadah, dan ketaatan.

Dan cinta kepada Rasululloh ﷺ

bukan hanya dibuktikan dengan ucapan,

tetapi juga dengan usaha mengikuti ajaran dan akhlaknya.


PESAN LEMBAR KESEMBILAN

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

jangan menunggu masuk kubur untuk mengenal nilai sebuah kehidupan.

Kubur hanya membuka sesuatu yang telah kita tanam.

Maka tanamlah hari ini:

iman ketika hati sedang goyah,

kejujuran ketika dusta lebih menguntungkan,

amanah ketika tidak ada yang mengawasi,

taubat ketika dosa masih dapat diperbaiki,

dan kasih sayang ketika kita mempunyai kekuatan untuk menyakiti.

Karena bisa jadi,

amal yang hari ini kita anggap kecil,

kelak menjadi cahaya yang sangat kita butuhkan.


DOA

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

Ya Alloh,

kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.

Jangan Engkau cabut nyawa kami ketika hati sedang jauh dari-Mu.

Berilah kami kesempatan memperbaiki dosa sebelum ajal datang.

Lunakkan hati kami untuk meminta maaf.

Kuatkan kami menyelesaikan amanah.

Jadikan amal tersembunyi kami lebih baik daripada apa yang diketahui manusia.

Dan ketika dunia telah terputus dari kami,

jangan putuskan rahmat-Mu dari kami.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Kesepuluh:
“Ketika Kubur Menjadi Taman atau Kesempitan — Rahasia Keadaan Seorang Hamba di Alam Barzakh.”


LEMBAR KESEPULUH

KETIKA KUBUR MENJADI TAMAN ATAU KESEMPITAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak semua manusia mengalami alam barzakh dengan keadaan yang sama.

Ada yang diberi ketenteraman.

Ada yang mengalami kesempitan.

Ada yang memperoleh kabar gembira.

Ada pula yang menghadapi akibat dari amalnya sendiri.

Semua berada dalam ilmu, keadilan, dan kehendak Alloh.

Karena itu Rasululloh ﷺ mengajarkan umatnya agar tidak meremehkan kehidupan setelah kematian.


KUBUR BUKAN SEKADAR TANAH

Ketika disebut “kubur”, jangan hanya membayangkan liang sempit di dalam tanah.

Kubur dalam pembahasan ini menunjuk kepada keadaan seorang manusia setelah kematian dalam alam barzakh.

Jasad bisa berada di tanah.

Bisa tenggelam di lautan.

Bisa hilang tanpa ditemukan.

Namun tidak ada seorang pun yang keluar dari kekuasaan Alloh.

Barzakh bukan bergantung kepada keberadaan batu nisan.

Barzakh adalah fase perjalanan manusia setelah dunia berakhir baginya.


TAMAN BAGI ORANG YANG DIRAHMATI

Bagi hamba yang beriman dan dirahmati Alloh, barzakh dapat menjadi tempat ketenteraman.

Bukan karena ia tidak pernah berdosa.

Tetapi karena ia membawa iman, taubat, dan rahmat Alloh.

Di dunia mungkin kehidupannya sederhana.

Namanya mungkin tidak dikenal.

Hartanya mungkin sedikit.

Namun hatinya menjaga hubungan dengan Alloh.

Ada orang yang tidak mempunyai rumah besar di dunia,

tetapi meninggalkan dunia dengan hati yang bersih.

Ada orang yang tidak mempunyai banyak pengikut,

tetapi setiap malam memohon:

“Ya Alloh, ampunilah aku.”

Ada pula yang pernah jatuh dalam dosa,

namun sebelum kematian benar-benar kembali kepada Alloh.

Maka jangan ukur akhir seseorang hanya dari penampilan dunianya.


KESEMPITAN BUKAN HANYA SOAL RUANG

Sebaliknya,

kesempitan barzakh tidak selalu perlu dipahami seperti ukuran fisik ruang dunia.

Alam barzakh termasuk perkara gaib.

Kita menerima apa yang diterangkan wahyu dan tidak memaksakan seluruh hakikatnya harus sama dengan pengalaman fisik manusia di dunia.

Kesempitan dapat menjadi bentuk kegelisahan, azab, penyesalan, dan keadaan berat yang hanya Alloh mengetahui hakikatnya.

Yang harus kita ambil bukan spekulasi bentuknya.

Yang harus kita ambil adalah peringatannya:

dosa mempunyai akibat.


DOSA YANG SERING DIREMEHKAN

Manusia sering takut kepada dosa besar yang terlihat,

tetapi melupakan dosa yang dianggap kecil dan dilakukan terus-menerus.

Lisan yang menyakiti.

Fitnah.

Mengambil hak manusia.

Meremehkan hutang.

Mengkhianati amanah.

Menipu dalam perdagangan.

Menyakiti orang tua.

Membanggakan ibadah.

Menghina orang yang dianggap lebih rendah.

Kadang manusia berkata:

“Ini hanya perkara kecil.”

Tetapi perkara kecil yang diulang tanpa taubat dapat mengeraskan hati.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Apakah ini dosa besar?”

Tanyakan pula:

“Apakah Alloh ridha dengan perbuatanku ini?”


HAK ALLOH DAN HAK MANUSIA

Ada dosa yang berkaitan langsung dengan hubungan seorang hamba kepada Alloh.

Ada pula dosa yang berkaitan dengan hak manusia.

Jika seseorang meninggalkan ibadah,

ia harus kembali kepada Alloh dengan taubat dan memperbaiki dirinya.

Namun jika ia mengambil harta orang,

menipu,

memfitnah,

atau menzalimi,

maka persoalannya menyentuh hak sesama manusia.

Taubat tidak berarti sekadar mengucapkan istighfar.

Ia harus disertai usaha memperbaiki kerusakan jika memungkinkan.

Mengembalikan hak.

Meminta maaf.

Menyelesaikan hutang.

Menghentikan kezaliman.

Karena tidak semua persoalan dunia otomatis selesai hanya karena seseorang meninggal.


HUTANG DAN AMANAH

Salah satu perkara yang hendaknya sangat diperhatikan sebelum kematian adalah hutang.

Jangan malu mencatat hutang.

Jangan menunda pembayaran ketika sebenarnya mampu.

Jangan menganggap remeh uang orang lain hanya karena jumlahnya kecil.

Jika belum mampu membayar,

jujurlah.

Berkomunikasilah.

Berusahalah.

Jangan menghilang sambil berharap persoalan selesai sendiri.

Demikian pula amanah.

Barang titipan.

Warisan.

Uang keluarga.

Tanggung jawab pekerjaan.

Rahasia yang dipercayakan.

Semua itu dapat menjadi saksi atas kehidupan kita.


APA YANG MELAPANGKAN HATI SEBELUM KUBUR?

Manusia tidak perlu menunggu kematian untuk merasakan apakah hidupnya semakin lapang atau semakin sempit.

Perhatikan hati.

Hati yang banyak berdusta mudah gelisah.

Hati yang menyimpan kezaliman sulit tenteram.

Hati yang terus menunda taubat semakin keras.

Sebaliknya,

kejujuran melapangkan.

Taubat melapangkan.

Memaafkan melapangkan.

Mengembalikan hak manusia melapangkan.

Menjaga salat melapangkan.

Mengingat Alloh melapangkan.

Barangkali salah satu persiapan terbaik menuju barzakh adalah:

belajar membersihkan hati sebelum tubuh dimasukkan ke tanah.


JANGAN MEMASTIKAN NASIB ORANG MATI

Ketika seseorang meninggal,

jangan dengan mudah berkata:

“Dia pasti disiksa.”

Atau:

“Dia pasti ahli surga.”

Kita tidak mengetahui keputusan akhir Alloh terhadap individu tertentu kecuali terdapat keterangan wahyu yang jelas.

Yang kita ketahui hanyalah prinsip.

Kebaikan membawa kepada kebaikan.

Kezaliman mempunyai akibat.

Taubat membuka pintu ampunan.

Rahmat Alloh sangat luas.

Karena itu terhadap orang yang wafat,

lebih baik doakan daripada menghakimi.


DOA UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL

Ya Alloh,

ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami.

Yang kami kenal maupun yang tidak kami kenal.

Yang pernah berbuat baik kepada kami,

dan yang pernah bersalah kepada kami.

Lapangkanlah alam barzakh mereka.

Ampunilah kesalahan mereka.

Terimalah kebaikan mereka.

Dan jika mereka memiliki hak terhadap kami,

tunjukkan kepada kami jalan untuk menyelesaikannya.

Jangan jadikan kematian mereka hanya sebagai kesedihan,

tetapi jadikan pula sebagai pengingat bagi kehidupan kami.


RAHASIA LEMBAR KESEPULUH

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

kubur tidak perlu ditakuti dengan ketakutan yang membuat putus asa.

Kubur perlu diingat dengan kesadaran yang membuat manusia berubah.

Sebab yang paling penting bukan:

seberapa dalam liang kubur kita,

tetapi:

seberapa dalam iman telah masuk ke dalam hati kita.

Bukan:

seberapa indah batu nisan kita,

tetapi:

seberapa bersih amanah yang kita bawa menghadap Alloh.

Dan bukan:

berapa banyak manusia menangisi kematian kita,

tetapi:

apakah Alloh meridhai kehidupan yang telah kita jalani.

Bersambung ke Lembar Kesebelas:
“Amal yang Masih Mengalir Setelah Kematian — Rahasia Sedekah Jariyah, Ilmu Bermanfaat, dan Doa Anak Saleh.”


LEMBAR KESEBELAS

AMAL YANG MASIH MENGALIR SETELAH KEMATIAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ketika seorang manusia meninggal,

napasnya berhenti.

Langkahnya berhenti.

Tangannya tidak lagi bekerja.

Lidahnya tidak lagi berbicara.

Namun tidak semua jejak kehidupannya berhenti.

Ada amal yang tetap mengalir setelah seseorang meninggalkan dunia.

Rasululloh ﷺ menjelaskan bahwa ketika anak Adam meninggal, amalnya terputus kecuali tiga:

sedekah jariyah,

ilmu yang bermanfaat,

dan

anak saleh yang mendoakannya.

Inilah salah satu rahasia besar kehidupan:

manusia dapat meninggal, tetapi sebagian kebaikannya tetap berjalan.


SEDEKAH JARIYAH

Sedekah jariyah bukan sekadar memberikan sesuatu lalu selesai.

Ia adalah kebaikan yang manfaatnya terus hidup.

Seseorang membangun sumur,

lalu airnya diminum bertahun-tahun.

Seseorang membantu pembangunan masjid,

lalu manusia salat di dalamnya.

Seseorang menanam pohon,

lalu buahnya dimakan manusia atau hewan.

Seseorang menyediakan Al-Qur’an,

lalu dibaca oleh banyak orang.

Seseorang membantu pendidikan seorang anak,

lalu ilmu itu menjadi manfaat bagi banyak manusia.

Orangnya mungkin telah berada di alam barzakh,

namun manfaat yang dahulu ia tanam masih berjalan di dunia.

Maka jangan meremehkan kebaikan yang kecil tetapi panjang manfaatnya.


ILMU YANG BERMANFAAT

Tidak semua warisan harus berbentuk harta.

Ada warisan yang jauh lebih panjang umurnya:

ilmu.

Seorang guru mengajarkan satu huruf.

Seorang ayah mengajarkan anaknya membaca Al-Qur’an.

Seorang ibu mengajarkan kejujuran.

Seorang ulama menulis ilmu yang kemudian dibaca beberapa generasi.

Seorang manusia mengajarkan keterampilan yang halal sehingga orang lain dapat menghidupi keluarganya.

Jika ilmu itu membawa manusia kepada kebaikan,

maka manfaatnya dapat terus mengalir.

Tetapi di sinilah terdapat peringatan.

Sebagaimana ilmu yang baik dapat meninggalkan pahala,

ajaran yang menyesatkan atau keburukan yang disebarkan juga dapat meninggalkan akibat.

Maka sebelum menyebarkan sesuatu,

bertanyalah:

Apakah aku rela jika jejak ini tetap berjalan setelah aku mati?


DOA ANAK SALEH

Ada manusia yang meninggal tanpa meninggalkan kekayaan besar.

Tetapi ia mendidik seorang anak yang mengenal Alloh.

Anak itu kemudian berkata:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيَّ

“Ya Alloh, ampunilah kedua orang tuaku.”

Doa itu mungkin tidak didengar manusia.

Tetapi Alloh mendengarnya.

Maka mendidik anak bukan hanya urusan kehidupan dunia.

Ia juga dapat menjadi bekal setelah kematian.

Jangan hanya wariskan rumah.

Jangan hanya wariskan tanah.

Jangan hanya wariskan uang.

Wariskan pula:

iman,

adab,

kejujuran,

salat,

dan

cinta kepada kebaikan.


JEJAK YANG KITA TINGGALKAN

Setiap manusia sedang menulis warisan.

Ada warisan dengan tinta.

Ada warisan dengan harta.

Ada warisan melalui perilaku.

Ada pula warisan yang tidak pernah tertulis,

tetapi tertanam dalam hati manusia.

Seorang anak mungkin akan mengingat:

“Ayahku selalu jujur.”

Seorang murid mungkin berkata:

“Guruku pernah menyelamatkan hidupku dengan satu nasihat.”

Seorang tetangga mungkin mengingat:

“Dia selalu membantu ketika kami kesusahan.”

Dan terkadang satu kebaikan kecil menjadi sebab lahirnya kebaikan yang jauh lebih besar setelah orang yang memulainya telah wafat.


WARISAN BURUK JUGA DAPAT BERJALAN

Namun ada sisi yang harus ditakuti.

Seseorang dapat meninggal,

tetapi keburukan yang ia tanam masih hidup.

Fitnah yang ia sebarkan masih dipercaya.

Ajaran salah yang ia tularkan masih diikuti.

Video buruk yang dibuatnya masih ditonton.

Permusuhan yang ia mulai masih diwariskan.

Kebiasaan maksiat yang ia ajarkan masih ditiru.

Maka persoalan hidup bukan hanya:

“Apa yang aku lakukan hari ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang akan tetap berjalan setelah aku pergi?”


HAPUS JEJAK BURUK SELAGI MASIH ADA WAKTU

Jika pernah menyebarkan keburukan,

jangan hanya menyesal.

Berusahalah memperbaikinya.

Jika pernah menulis fitnah,

hapus dan luruskan.

Jika pernah mengajarkan kesalahan,

jelaskan kebenarannya.

Jika pernah mengambil hak manusia,

kembalikan.

Jika pernah memutus hubungan,

usahakan perdamaian.

Taubat bukan hanya menangis.

Taubat juga berarti:

memperbaiki jejak yang masih dapat diperbaiki.


JANGAN MENUNGGU MENJADI KAYA UNTUK MENINGGALKAN JARIYAH

Sebagian manusia berkata:

“Nanti kalau aku kaya, aku akan bersedekah.”

Padahal sedekah jariyah tidak selalu menunggu kekayaan.

Mengajarkan satu doa kepada anak bisa menjadi jariyah.

Menyumbangkan satu mushaf dapat menjadi jariyah.

Membantu menanam satu pohon dapat menjadi jariyah.

Mengajarkan satu keterampilan yang halal dapat menjadi jariyah.

Memberi satu buku ilmu yang bermanfaat dapat menjadi jariyah.

Membantu seseorang kembali kepada jalan yang baik dapat menjadi jariyah.

Yang menentukan bukan hanya besar kecilnya pemberian,

tetapi juga manfaat dan keikhlasan di hadapan Alloh.


RAHASIA LEMBAR KESEBELAS

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

jangan hanya memikirkan:

“Apa yang akan kubawa ketika meninggal?”

Pikirkan pula:

“Apa yang akan kutinggalkan agar tetap menjadi kebaikan setelah aku meninggal?”

Karena kehidupan yang baik tidak hanya menghasilkan bekal untuk dirinya sendiri.

Ia juga menyalakan cahaya bagi orang-orang setelahnya.

Maka sebelum pintu dunia tertutup,

tinggalkanlah sesuatu yang membuat manusia berkata:

“Semoga Alloh merahmatinya. Karena dirinya, kebaikan ini masih hidup.”


DOA

Ya Alloh,

jadikan umur kami sumber manfaat.

Jangan jadikan kehadiran kami meninggalkan luka yang terus diwariskan.

Jika kami memiliki harta,

jadikanlah ia jalan sedekah.

Jika kami memiliki ilmu,

jadikanlah ia ilmu yang bermanfaat.

Jika kami memiliki anak dan keturunan,

jadikanlah mereka orang-orang yang mengenal-Mu dan mendoakan kami.

Jika kami pernah meninggalkan jejak buruk,

berilah kami kesempatan menghapus dan memperbaikinya sebelum ajal datang.

Dan setelah tubuh kami kembali kepada tanah,

biarkanlah kebaikan yang Engkau ridai tetap hidup di dunia.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Kedua Belas:
“Apakah Orang yang Telah Wafat Mengetahui Doa Keluarganya? — Rahasia Doa, Sedekah, dan Hadiah Pahala untuk Penghuni Barzakh.”


LEMBAR KEDUA BELAS

APAKAH ORANG YANG TELAH WAFAT MENGETAHUI DOA KELUARGANYA?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ketika seseorang yang kita cintai meninggal,

sering muncul pertanyaan:

“Apakah dia mengetahui bahwa kita masih mendoakannya?”

“Apakah sedekah yang kita niatkan sampai kepadanya?”

“Apakah orang yang telah berada di alam barzakh masih mendapatkan manfaat dari keluarga yang hidup?”

Jawabannya perlu disampaikan dengan hati-hati.

Tentang sampainya doa dan sebagian bentuk amal kepada orang yang telah wafat, terdapat dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Adapun tentang sejauh mana orang yang telah wafat mengetahui secara rinci siapa yang mendoakannya, kapan didoakan, dan bagaimana keadaan keluarganya, para ulama membahasnya dengan rincian dan tidak semua hal dapat dipastikan.

Maka dalam perkara gaib,

kita berhenti pada batas yang diberikan Alloh dan Rasul-Nya ﷺ.


DOA UNTUK ORANG YANG TELAH WAFAT

Islam mengajarkan orang yang hidup untuk mendoakan mereka yang telah mendahului.

Di antara doa yang sangat dikenal:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ

Allāhumma-ghfir lahu warḥamhu.

“Ya Alloh, ampunilah dia dan rahmatilah dia.”

Kita juga diajarkan memohon ampun untuk kaum mukminin yang telah mendahului.

Ini menunjukkan bahwa hubungan kebaikan tidak berhenti hanya karena kematian memisahkan jasad.

Anak masih dapat mendoakan orang tuanya.

Keluarga masih dapat memohonkan ampun.

Saudara masih dapat memohon rahmat.

Dan seorang mukmin dapat mendoakan mukmin lainnya yang telah wafat.


SEDEKAH UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL

Dalam hadis terdapat keterangan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasululloh ﷺ tentang ibunya yang telah meninggal secara tiba-tiba.

Ia bertanya apakah apabila ia bersedekah atas nama ibunya, ibunya akan mendapatkan manfaat.

Rasululloh ﷺ membolehkannya.

Maka bersedekah untuk orang yang telah wafat termasuk perkara yang mempunyai dasar yang kuat.

Seseorang dapat memberikan makanan kepada yang membutuhkan,

membantu fakir miskin,

membantu pembangunan fasilitas yang bermanfaat,

atau melakukan sedekah halal lainnya,

kemudian memohon:

“Ya Alloh, sampaikanlah pahala kebaikan ini kepada ayahku, ibuku, atau orang yang telah mendahului kami.”

Yang memberi pahala adalah Alloh.

Kita tidak memindahkan pahala dengan kekuatan kita sendiri.

Kita hanya memohon kepada Alloh Yang Mahaluas karunia-Nya.


BAGAIMANA DENGAN BACAAN AL-QUR’AN?

Dalam persoalan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang yang telah meninggal,

terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Sebagian ulama membolehkan dan berpendapat bahwa pahalanya dapat sampai dengan izin Alloh.

Sebagian lainnya lebih membatasi pada amal-amal yang terdapat dalil khusus secara lebih jelas, seperti doa, sedekah, haji tertentu, atau pelunasan kewajiban.

Karena itu jangan menjadikan masalah cabang ini sebagai sebab permusuhan.

Yang jelas dan disepakati luas:

mendoakan orang yang meninggal adalah kebaikan.

bersedekah atas namanya memiliki dasar.

Dan menyelesaikan kewajiban yang masih menjadi tanggungannya, bila memang dapat dilakukan sesuai syariat, juga merupakan bentuk kebaikan.


APAKAH MEREKA MENDENGAR KITA?

Inilah bagian yang sering menimbulkan banyak cerita.

Ada yang berkata:

“Orang mati mendengar semua pembicaraan keluarganya.”

Ada yang berkata:

“Mereka pulang ke rumah setiap malam Jumat.”

Ada yang berkata:

“Ruh selalu berdiri di depan pintu menunggu kiriman doa.”

Pernyataan seperti ini tidak boleh langsung dianggap sebagai kepastian agama hanya karena sering diceritakan.

Ada beberapa riwayat yang menunjukkan keadaan tertentu di mana orang yang telah wafat dapat mendengar sesuatu dengan izin Alloh.

Namun dari sana tidak berarti kita boleh menyimpulkan bahwa setiap orang mati mendengar seluruh percakapan manusia setiap saat.

Alam barzakh mempunyai hukum yang berbeda dari dunia.

Apa yang mereka ketahui adalah sebatas apa yang Alloh izinkan.

Maka jangan membangun aqidah dari cerita yang tidak jelas sumbernya.


JANGAN MENCARI KOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI

Rasa rindu terkadang membuat manusia ingin mendapatkan tanda.

“Ingin sekali mendengar suaranya sekali lagi.”

“Ingin mengetahui apakah dia baik-baik saja.”

“Ingin dia datang melalui mimpi.”

Kerinduan itu manusiawi.

Tetapi jangan sampai kerinduan membawa seseorang kepada dukun,

pemanggilan arwah,

ritual meminta ruh hadir,

atau meyakini seseorang dapat sesuka hati membuka komunikasi dengan alam barzakh.

Islam mengajarkan jalan yang lebih selamat:

doakan mereka.

Bukan memanggil mereka.

Bersedekahlah untuk mereka.

Bukan meminta pertolongan kepada mereka.

Mohon kepada Alloh.

Karena baik yang hidup maupun yang telah wafat sama-sama berada dalam kekuasaan-Nya.


BAGAIMANA DENGAN MIMPI BERTEMU ORANG YANG TELAH WAFAT?

Seseorang dapat bermimpi bertemu ayahnya.

Ibunya.

Suaminya.

Istrinya.

Anaknya.

Atau seorang guru yang telah wafat.

Mimpi seperti itu terkadang terasa sangat nyata.

Namun jangan langsung menyimpulkan:

“Ini pasti ruhnya datang.”

Mimpi dapat berasal dari berbagai sebab.

Ada mimpi yang baik.

Ada mimpi yang terbentuk dari kerinduan dan pikiran.

Ada pula mimpi yang kacau.

Maka jika bermimpi bertemu orang yang telah wafat dalam keadaan baik,

ambil kebaikannya sebagai penghibur,

lalu doakan ia.

Jika mimpinya menakutkan,

jangan langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut sedang disiksa.

Kita tidak mengetahui keadaan barzakh seseorang hanya melalui mimpi.


HADIAH TERBAIK UNTUK ORANG TUA YANG TELAH WAFAT

Jika ayah atau ibu telah meninggal,

jangan merasa seluruh kesempatan berbakti telah selesai.

Masih ada pintu kebaikan.

Doakan mereka.

Mohonkan ampun.

Lanjutkan silaturahmi dengan orang-orang yang mereka cintai.

Jaga nama baik keluarga.

Laksanakan wasiat yang benar dan sesuai syariat.

Bayarkan hutang mereka apabila memang diketahui dan mampu diselesaikan.

Bersedekahlah atas nama mereka.

Dan yang sangat penting:

jadilah anak yang baik.

Karena kesalehan anak sendiri adalah hadiah yang sangat besar bagi orang tua.


JANGAN LUPAKAN HUTANG ORANG YANG TELAH WAFAT

Kadang keluarga sibuk mengadakan berbagai acara setelah kematian,

tetapi lupa memeriksa:

Apakah almarhum mempunyai hutang?

Padahal apabila ada hutang yang sah dan dapat diverifikasi,

penyelesaiannya patut menjadi perhatian serius dari harta peninggalannya sesuai ketentuan syariat sebelum pembagian warisan.

Jangan sampai orang yang telah wafat banyak didoakan,

tetapi hak manusia yang pernah ia pinjam justru dilupakan.

Doa adalah kebaikan.

Tetapi menjaga hak manusia juga bagian dari kebaikan.


RAHASIA LEMBAR KEDUA BELAS

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

kematian memutus pertemuan,

tetapi tidak memutus doa.

Tangan yang dahulu menggenggam kita mungkin telah tiada.

Suara yang dahulu memanggil nama kita mungkin tidak lagi terdengar.

Kursi tempat ayah duduk mungkin telah kosong.

Kamar ibu mungkin telah sunyi.

Namun seorang anak masih dapat mengangkat kedua tangannya dan berkata:

“Ya Alloh, rahmatilah mereka sebagaimana dahulu mereka merawatku ketika kecil.”

Barangkali itulah salah satu bentuk cinta yang paling murni:

mencintai seseorang ketika kita tidak lagi mengharapkan balasan darinya.


DOA

Ya Alloh,

ampunilah ayah dan ibu kami yang telah mendahului.

Ampunilah keluarga kami,

guru-guru kami,

sahabat kami,

dan seluruh kaum mukminin yang telah kembali kepada-Mu.

Jika mereka berada dalam ketenteraman,

tambahkanlah ketenteraman mereka.

Jika mereka membutuhkan ampunan,

limpahkanlah ampunan-Mu.

Jika masih ada hak manusia yang belum terselesaikan,

bukakan jalan bagi kami untuk menyelesaikannya.

Jangan biarkan kerinduan kami menyeret kami kepada perkara yang Engkau larang.

Jadikan kerinduan itu berubah menjadi doa,

sedekah,

dan amal saleh.

Dan ketika giliran kami tiba,

pertemukanlah kami kembali dalam rahmat-Mu,

bukan dalam penyesalan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Ketiga Belas:
“Apakah Ruh Orang yang Telah Wafat Dapat Pulang ke Rumah? — Memisahkan Dalil, Tradisi, Mimpi, dan Cerita Masyarakat.”


LEMBAR KETIGA BELAS

APAKAH RUH ORANG YANG TELAH WAFAT DAPAT PULANG KE RUMAH?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ketika seseorang yang kita cintai meninggal,

rumah terasa berbeda.

Tempat duduknya masih ada.

Pakaiannya mungkin masih tersimpan.

Suara langkahnya seakan masih teringat.

Lalu muncul pertanyaan yang sangat manusiawi:

“Apakah ruhnya masih datang ke rumah?”

“Apakah ia mengunjungi keluarganya?”

“Benarkah setiap malam Jumat ruh orang yang meninggal pulang menunggu doa?”

Dalam perkara seperti ini,

kita harus membedakan antara:

dalil agama,

tradisi masyarakat,

pengalaman mimpi,

dan

cerita yang diwariskan turun-temurun.


ALAM RUH SETELAH KEMATIAN BUKAN DUNIA KITA

Setelah kematian,

manusia memasuki alam barzakh.

Alloh berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“…dan di hadapan mereka terdapat barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

QS. Al-Mu’minun: 100

Barzakh berarti adanya batas antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah kematian.

Karena itu ruh orang yang telah wafat tidak dipahami seperti manusia hidup yang dapat:

keluar rumah,

berjalan ke suatu tempat,

pulang setiap malam,

kemudian kembali lagi,

sesuai kehendaknya sendiri.

Hakikat perjalanan ruh merupakan perkara gaib.

Dan perkara gaib tidak boleh dipastikan hanya berdasarkan dugaan.


BENARKAH RUH PULANG SETIAP MALAM JUMAT?

Di berbagai daerah terdapat cerita:

“Ruh orang yang meninggal pulang pada malam Jumat.”

Ada pula yang mengatakan:

“Ruh berdiri di depan rumah menunggu doa keluarganya.”

Cerita seperti ini telah hidup dalam sebagian tradisi masyarakat.

Namun kita perlu berhati-hati.

Tidak terdapat dalil sahih yang tegas yang menetapkan bahwa seluruh ruh orang meninggal secara rutin pulang ke rumah setiap malam Jumat.

Karena itu jangan mengubah tradisi menjadi aqidah.

Seseorang boleh mengenang keluarganya pada malam Jumat.

Boleh mendoakan mereka.

Boleh bersedekah.

Tetapi jangan mengatakan:

“Ini pasti saat ruh mereka datang,”

jika kita tidak memiliki dasar yang memastikan demikian.


APAKAH RUH SAMA SEKALI TIDAK DAPAT MENGETAHUI DUNIA?

Jangan pula terburu-buru membuat kesimpulan sebaliknya.

Terdapat pembahasan para ulama mengenai keadaan ruh di alam barzakh dan kemungkinan mereka mengetahui beberapa keadaan dengan izin Alloh.

Namun sejauh mana mereka mengetahui kehidupan keluarga,

kapan mereka mengetahuinya,

dan bagaimana hal itu terjadi,

tidak dapat kita pastikan secara rinci.

Prinsip yang aman adalah:

apa pun yang diketahui penghuni barzakh terjadi dengan izin Alloh, bukan karena mereka bebas keluar-masuk dunia sesuka hati.


KETIKA SESEORANG MERASA ALMARHUM MASIH ADA DI RUMAH

Setelah kehilangan orang yang sangat dicintai,

seseorang terkadang merasakan:

seperti mendengar langkahnya,

seperti mencium aroma yang mengingatkan kepadanya,

seperti melihat bayangan sekilas,

atau merasa ia sedang berdiri di dekatnya.

Jangan langsung menyimpulkan:

“Itu pasti ruh almarhum.”

Duka yang dalam dapat membuat ingatan menjadi sangat kuat.

Otak manusia mampu menghubungkan suara, aroma, tempat, dan kenangan dengan seseorang yang telah meninggal.

Pengalaman itu dapat terasa nyata,

namun tidak otomatis menjadi bukti adanya ruh yang hadir.

Jika hal itu terjadi,

jangan takut.

Doakan orang yang telah wafat,

lalu kembalikan hati kepada Alloh.


MIMPI ORANG YANG TELAH WAFAT

Ada mimpi yang sangat menenangkan.

Seorang anak melihat ibunya tersenyum.

Seorang istri melihat suaminya mengenakan pakaian bersih.

Seseorang bermimpi ayahnya berkata:

“Jangan khawatir.”

Mimpi seperti itu boleh menjadi penghibur.

Tetapi mimpi bukan dasar untuk memastikan keadaan alam barzakh.

Jika mimpinya baik,

bersyukurlah dan doakan.

Jika mimpi meminta sesuatu yang sesuai kebaikan, misalnya:

“Doakan aku,”

maka berdoa memang baik.

Tetapi apabila dalam mimpi muncul perintah yang bertentangan dengan ajaran agama,

jangan diikuti.

Mimpi tidak dapat mengalahkan Al-Qur’an dan Sunnah.


JIKA ALMARHUM MEMINTA MAKAN DALAM MIMPI

Di sebagian masyarakat terdapat tafsir:

“Kalau orang mati meminta makan dalam mimpi berarti ruhnya lapar.”

Jangan langsung mempercayai penafsiran seperti itu secara harfiah.

Ruh tidak dipastikan membutuhkan nasi, air, atau makanan dunia seperti manusia hidup.

Jika mimpi itu menggerakkan hati untuk bersedekah,

maka bersedekahlah kepada manusia yang membutuhkan.

Lalu berdoalah:

“Ya Alloh, jika Engkau berkenan, sampaikanlah pahala kebaikan ini kepada orang yang telah mendahului kami.”

Dengan demikian,

kita mengubah mimpi menjadi amal yang jelas manfaatnya,

bukan spekulasi mengenai alam gaib.


JANGAN MENYEDIAKAN MAKANAN UNTUK RUH

Ada pula kebiasaan meletakkan:

makanan,

minuman,

rokok,

kopi,

atau benda kesukaan almarhum

karena diyakini ruh akan datang menikmatinya.

Keyakinan bahwa ruh orang meninggal datang secara fisik untuk memakan hidangan tersebut tidak mempunyai dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Jika ingin mengenang orang yang wafat,

lebih baik makanan itu diberikan kepada:

fakir miskin,

tetangga,

anak yatim,

atau orang yang membutuhkan.

Yang hidup mendapat manfaat.

Yang wafat didoakan.

Itulah jalan yang lebih jelas dan bermanfaat.


JANGAN TAKUT TERHADAP ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Kadang keluarga berkata:

“Jangan lewat kamar itu malam-malam, almarhum sering pulang.”

Atau:

“Jangan menyebut namanya nanti dia datang.”

Ketakutan seperti itu tidak perlu dipelihara.

Orang yang telah wafat tidak berubah menjadi makhluk yang bebas meneror keluarganya.

Jika terjadi gangguan yang tidak dapat dijelaskan,

tetaplah berlindung kepada Alloh.

Bacalah:

أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.

“Aku berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk.”

Jangan menjadikan setiap suara,

bayangan,

mimpi,

atau kejadian aneh

sebagai bukti bahwa orang yang telah meninggal kembali.


CINTA TIDAK MEMERLUKAN RUH PULANG KE RUMAH

Ada rahasia yang lebih indah daripada menunggu ruh orang tercinta pulang.

Kita tidak perlu mengetahui apakah mereka datang melihat kita.

Kita sudah mengetahui sesuatu yang dapat kita lakukan untuk mereka:

mendoakan.

Tidak perlu memanggil:

“Ibu, datanglah.”

Cukup katakan:

“Ya Alloh, rahmatilah ibuku.”

Tidak perlu berkata:

“Ayah, tunjukkan tanda bahwa engkau ada.”

Cukup katakan:

“Ya Alloh, ampuni ayahku dan muliakan tempat kembalinya.”

Doa tidak memerlukan ruh pulang ke rumah.

Alloh mengetahui alamat setiap ruh.


KETIKA RUMAH MENJADI TERLALU SEPI

Setelah seseorang meninggal,

kesedihan terkadang membuat rumah terasa kosong.

Jangan isi kekosongan itu dengan ketakutan kepada alam gaib.

Isilah dengan:

salat,

Al-Qur’an,

doa,

sedekah,

silaturahmi,

dan mengenang kebaikan orang yang telah meninggal.

Jika dahulu ayah suka membantu tetangga,

lanjutkan kebaikannya.

Jika ibu senang memberi makan orang,

teruskan amalnya.

Jika guru pernah mengajarkan ilmu,

sebarkan ilmu yang baik itu.

Dengan demikian,

orang yang telah wafat tidak “pulang” melalui sosok atau bayangan.

Tetapi nilai kebaikannya hidup kembali melalui kita.


RAHASIA LEMBAR KETIGA BELAS

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

jangan terlalu sibuk bertanya:

“Apakah ruh mereka pulang menemui kita?”

Sampai kita lupa pertanyaan yang lebih penting:

“Apakah doa kita terus sampai kepada mereka dengan izin Alloh?”

Jangan menunggu suara dari alam barzakh.

Berbuatlah sesuatu dari dunia yang masih kita tempati.

Doakan mereka.

Sedekahkan kebaikan.

Selesaikan hutangnya jika diketahui.

Jaga silaturahmi yang dahulu mereka jaga.

Dan teruskan kebaikan yang pernah mereka tanam.

Sebab barangkali bentuk cinta paling indah kepada seseorang yang telah meninggal adalah:

tidak memanggilnya kembali ke dunia,

tetapi memohon kepada Alloh agar ia memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya.


DOA

Ya Alloh,

rahmatilah keluarga kami yang telah mendahului.

Jangan biarkan kerinduan kami berubah menjadi keyakinan yang tidak mempunyai dasar.

Jauhkan kami dari ketakutan kepada cerita-cerita yang tidak jelas.

Ajarkan kami mencintai mereka melalui doa dan amal saleh.

Jika kami bermimpi tentang mereka,

jadikanlah yang baik sebagai penghibur,

dan lindungi kami dari kesimpulan yang melampaui ilmu kami.

Lapangkan alam barzakh mereka.

Ampunilah kekurangan mereka.

Dan ketika ajal kami sendiri tiba,

pertemukanlah kami kembali dalam rahmat dan ridha-Mu.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Keempat Belas:
“Apakah Orang Mati Dapat Melihat dan Mendengar Orang Hidup? — Batas Pengetahuan Penghuni Barzakh dan Rahasia Salam di Pemakaman.”


LEMBAR KEEMPAT BELAS

APAKAH ORANG MATI DAPAT MELIHAT DAN MENDENGAR ORANG HIDUP?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Setelah memahami bahwa ruh tidak bebas pulang-pergi ke dunia sesuka hati,

muncul pertanyaan berikutnya:

“Apakah orang yang telah wafat dapat mendengar kita?”

“Apakah mereka melihat orang yang datang ke makamnya?”

“Apakah salam yang kita ucapkan ketika berziarah diketahui oleh mereka?”

Jawabannya tidak cukup hanya dengan:

“ya”

atau

“tidak.”

Sebab dalam perkara alam barzakh terdapat rincian yang hanya diketahui Alloh.


ADA KEADAAN TERTENTU DI MANA ORANG MATI MENDENGAR

Dalam hadis-hadis sahih terdapat peristiwa yang menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat mendengar dalam keadaan tertentu dengan izin Alloh.

Karena itu tidak tepat mengatakan:

“Orang mati sama sekali tidak pernah dapat mendengar apa pun.”

Namun juga tidak tepat mengatakan:

“Orang mati mendengar seluruh perkataan manusia setiap waktu.”

Yang lebih selamat adalah:

Alloh dapat memperdengarkan kepada penghuni barzakh apa yang Dia kehendaki.

Kemampuan itu bukan kekuasaan mandiri milik ruh.

Ia tetap berada di bawah kehendak Alloh.


MENDENGAR BUKAN BERARTI BEBAS MENJAWAB

Misalnya seseorang datang ke makam ayahnya lalu berkata:

“Assalamu’alaikum, Ayah.”

Kita tidak perlu membayangkan bahwa ayah kemudian berdiri di samping makam dan bercakap-cakap sebagaimana ketika hidup.

Alam barzakh bukan kelanjutan kehidupan dunia dengan aturan yang sama.

Jika Alloh memperdengarkan salam,

maka hakikat bagaimana salam itu diketahui oleh penghuni barzakh bukan sesuatu yang harus kita gambarkan secara fisik.

Di sinilah adab ilmu diperlukan:

menerima yang mempunyai dasar,

dan

tidak menciptakan gambaran yang tidak kita ketahui.


SALAM KETIKA MEMASUKI PEMAKAMAN

Rasululloh ﷺ mengajarkan doa ketika mengunjungi pemakaman.

Di antaranya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

As-salāmu ‘alaikum dāra qaumin mu’minīn.

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni tempat kaum beriman.”

Kemudian kita mendoakan mereka dan mengingat bahwa kita pun akan menyusul.

Ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar datang melihat batu nisan.

Ia mempunyai adab.

Ia mempunyai doa.

Ia mempunyai pelajaran bagi hati.


MENGAPA KITA MEMBERI SALAM KEPADA AHLI KUBUR?

Salam kepada ahli kubur bukan berarti kita menyembah mereka.

Bukan pula berarti meminta mereka memenuhi kebutuhan kita.

Salam adalah doa.

Kita memohon keselamatan dan rahmat bagi mereka.

Dan pada saat yang sama kita mengingat:

suatu hari orang lain mungkin akan berdiri di depan makam kita dan mengucapkan salam yang sama.

Maka ziarah kubur sebenarnya mempunyai dua arah.

Kita mendoakan yang telah wafat.

Dan kematian mereka menasihati orang yang masih hidup.


APAKAH ORANG MATI MELIHAT KITA?

Tentang apakah penghuni barzakh dapat melihat orang yang berziarah kepadanya,

tidak ada alasan untuk memastikan secara mutlak:

“Mereka selalu melihat kita.”

Ada berbagai pembahasan dan riwayat di kalangan ulama mengenai pengetahuan penghuni barzakh terhadap keadaan orang hidup.

Namun banyak rinciannya tidak mencapai tingkat yang memungkinkan kita berkata:

“Setiap orang mati pasti melihat seluruh keluarganya setiap hari.”

Karena itu jangan membuat cerita yang melebihi dalil.

Katakan saja:

Alloh mampu memperlihatkan kepada mereka apa yang Dia kehendaki.

Lebih dari itu,

kita serahkan kepada ilmu Alloh.


JANGAN MENGUJI ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Ada orang datang ke makam lalu berkata:

“Kalau engkau mendengarku, berikan tanda.”

Lalu ia menunggu:

angin bertiup,

burung datang,

daun jatuh,

atau lampu berkedip.

Ketika salah satu terjadi, ia berkata:

“Itu jawaban almarhum.”

Cara seperti ini tidak dapat dijadikan dasar agama.

Angin dapat bertiup karena sebab alam.

Burung dapat datang karena kebiasaannya.

Daun dapat jatuh karena sudah kering.

Jangan memaksa setiap kejadian menjadi pesan dari alam barzakh.

Jika rindu,

berdoalah.

Jika sedih,

mohon kekuatan kepada Alloh.

Tidak perlu meminta tanda.


ZIARAH BUKAN UNTUK MEMINTA KEPADA MAYIT

Di pemakaman,

kita boleh mengucapkan salam.

Kita boleh mendoakan.

Kita boleh mengingat kematian.

Tetapi jangan mengubah makam menjadi tempat meminta kepada penghuni kubur sesuatu yang hanya layak dimohonkan kepada Alloh.

Jangan berkata:

“Wahai penghuni makam, berikan aku kekayaan.”

“Wahai ruh, sembuhkan penyakitku.”

“Wahai almarhum, bukakan rezekiku.”

Kebutuhan seorang hamba tetap dimohonkan kepada:

ALLOH.

Jika seseorang berziarah kepada makam orang saleh,

kehormatan kepada orang tersebut tidak berarti menjadikannya tempat bergantung menggantikan Alloh.


JANGAN PULA MENGHINA PEMAKAMAN

Kesalahan dapat terjadi dalam dua arah.

Ada yang terlalu mengagungkan kubur.

Ada pula yang tidak mempunyai adab sama sekali.

Pemakaman adalah tempat jenazah kaum Muslimin.

Jangan menginjak makam dengan sengaja.

Jangan duduk di atasnya tanpa keperluan.

Jangan menjadikannya tempat bercanda berlebihan.

Jangan merusak nisannya.

Jangan mengambil benda dari makam untuk ritual tanpa dasar.

Ziarah seharusnya melunakkan hati,

bukan menjadi tontonan.


APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN KETIKA ZIARAH?

Datanglah dengan tenang.

Ucapkan salam.

Doakan penghuni kubur.

Renungkan bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan kita juga.

Jika berziarah kepada orang tua,

boleh berkata dalam hati:

“Ya Alloh, ampunilah ayah dan ibuku.”

Jika mengingat kesalahan kita kepada mereka,

mohon ampun kepada Alloh dan lanjutkan bakti melalui amal yang baik.

Tidak perlu menunggu suara dari makam.

Doa sudah cukup menjadi bahasa cinta antara dunia dan barzakh.


APAKAH AHLI KUBUR TAHU SIAPA YANG DATANG?

Sebagian orang bertanya:

“Apakah ibu tahu bahwa aku datang ke makamnya?”

Kita dapat menjawab dengan hati yang lembut:

Bisa jadi Alloh memberitahukan atau memperdengarkan sesuatu kepada penghuni barzakh sesuai kehendak-Nya, tetapi kita tidak mempunyai dasar untuk memastikan bahwa semua penghuni kubur selalu mengetahui setiap orang yang datang.

Karena itu jangan menggantungkan ketenangan hati pada persoalan:

“Apakah ia melihatku?”

Gantungkan pada sesuatu yang sudah jelas:

Alloh melihatmu berdoa untuknya.

Dan Alloh mengetahui siapa yang engkau maksud.


JIKA TIDAK BISA ZIARAH, APAKAH DOA TETAP SAMPAI?

Ya.

Doa tidak bergantung kepada jarak.

Seorang anak di Lombok dapat mendoakan ayahnya yang dimakamkan di Jawa.

Seorang ibu di Indonesia dapat mendoakan anaknya yang wafat di negeri lain.

Tidak diperlukan berada beberapa meter dari makam agar Alloh mendengar doa.

Alloh tidak dibatasi jarak.

Maka jika tidak mampu datang ke makam,

jangan merasa kehilangan kesempatan untuk berbakti.

Angkat tangan dan berdoalah.


MENGAPA RASULULLOH ﷺ MENGANJURKAN ZIARAH KUBUR?

Salah satu hikmah terbesarnya adalah:

mengingat akhirat.

Di pasar,

manusia mengingat keuntungan.

Di kantor,

manusia mengingat jabatan.

Di rumah,

manusia memikirkan keluarga.

Di media sosial,

manusia memikirkan bagaimana dirinya dilihat orang.

Tetapi ketika berdiri di pemakaman,

semua ukuran itu tiba-tiba mengecil.

Di sana terdapat:

orang kaya,

orang miskin,

pemimpin,

rakyat,

orang terkenal,

dan orang yang tidak pernah dikenal banyak manusia.

Semua kembali kepada satu kenyataan:

kematian menghapus banyak perbedaan dunia.

Yang tersisa adalah amal dan rahmat Alloh.


BATU NISAN TIDAK MENCERITAKAN SELURUH KEHIDUPAN

Di atas batu nisan mungkin hanya tertulis:

nama,

tanggal lahir,

dan tanggal wafat.

Namun antara dua tanggal itu terdapat seluruh kehidupan.

Cinta.

Tangisan.

Dosa.

Taubat.

Harapan.

Pengkhianatan.

Pengampunan.

Kebaikan yang tidak diketahui manusia.

Kesalahan yang disesali diam-diam.

Maka jangan terlalu cepat menilai orang yang telah wafat.

Doakan.

Sebab kita sendiri suatu hari akan berharap orang lain tidak hanya mengingat kesalahan kita.


RAHASIA LEMBAR KEEMPAT BELAS

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

jika bertanya:

“Apakah orang yang mati mendengarkan kita?”

jawaban terpenting bukanlah untuk memuaskan rasa penasaran tentang alam gaib.

Tetapi agar kita memahami:

yang hidup masih mempunyai kesempatan mengirim doa.

Jangan habiskan waktu mencoba mendapatkan jawaban dari makam.

Gunakan waktu untuk mengirimkan kebaikan.

Jangan mencari tanda apakah mereka mengetahui kita datang.

Cukuplah kita mengetahui:

Alloh mengetahui kita datang.

Alloh mengetahui doa yang terucap.

Alloh mengetahui kerinduan yang tidak sempat diucapkan.

Dan Alloh mengetahui siapa yang kita cintai meskipun namanya hanya disebut dalam hati.


DOA

Ya Alloh,

rahmatilah penghuni kubur dari kaum mukminin.

Ampunilah mereka yang telah mendahului kami.

Terimalah salam dan doa kami untuk mereka.

Jangan biarkan ziarah kami berubah menjadi kesyirikan,

ketakutan,

atau pencarian tanda yang tidak mempunyai dasar.

Jadikan setiap langkah menuju pemakaman

sebagai pengingat bahwa kami pun sedang berjalan menuju-Mu.

Berikan kepada kami umur yang penuh taubat,

amal yang bermanfaat,

dan akhir kehidupan dalam iman.

Dan ketika kelak nama kami tertulis di atas batu nisan,

jadikanlah amal yang Engkau ridai lebih banyak daripada yang diketahui manusia.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Kelima Belas:
“Ke Mana Ruh Pergi Setelah Kematian? — Memahami Barzakh Tanpa Mengarang Peta Alam Gaib.”


LEMBAR KELIMA BELAS

KE MANA RUH PERGI SETELAH KEMATIAN?

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ketika seseorang meninggal,

jasadnya dapat kita lihat.

Ia dimandikan.

Dikafani.

Disalatkan.

Kemudian dikuburkan.

Namun ruh tidak terlihat oleh mata manusia.

Maka sejak dahulu manusia bertanya:

“Ke mana ruh pergi setelah meninggalkan jasad?”

“Apakah ruh berada di dalam kubur?”

“Apakah ruh naik ke langit?”

“Apakah ruh orang-orang beriman berkumpul?”

Pertanyaan-pertanyaan ini menyentuh wilayah yang sangat dalam:

alam gaib.

Dan dalam perkara gaib,

iman harus berjalan bersama adab ilmu.

Kita menerima apa yang diterangkan oleh wahyu,

dan tidak menggambar sesuatu yang tidak pernah diterangkan secara pasti.


RUH ADALAH URUSAN ALLOH

Alloh berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

QS. Al-Isra’: 85

Ayat ini memberikan batas yang sangat penting.

Manusia dapat mempelajari banyak hal.

Tubuh.

Otak.

Darah.

Jantung.

Gen.

Sel.

Tetapi hakikat ruh tidak dibuka seluruhnya kepada manusia.

Maka orang yang paling berilmu tentang ruh justru harus semakin rendah hati.


KEMATIAN ADALAH PERPISAHAN RUH DAN JASAD

Secara sederhana,

kematian merupakan terpisahnya ruh dari jasad dengan ketetapan Alloh.

Namun setelah itu,

hubungan ruh dengan jasad tidak harus kita bayangkan seperti hubungan manusia hidup dengan tubuhnya.

Alam barzakh mempunyai hukum yang berbeda.

Para ulama menjelaskan bahwa ruh memiliki keadaan tertentu setelah kematian,

dan terdapat pula hubungan tertentu antara ruh dan jasad dalam kehidupan barzakh.

Tetapi bagaimana persisnya hubungan itu termasuk perkara yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan kehidupan dunia.

Maka jangan bertanya:

“Berada tepat di bagian mana?”

seakan-akan ruh harus mempunyai koordinat fisik seperti benda.

Ruh bukan benda dunia yang dapat ditimbang dan diukur dengan alat manusia.


RUH ORANG BERIMAN DAN RUH ORANG DURHAKA TIDAK SAMA KEADAANNYA

Dalam hadis terdapat keterangan mengenai perbedaan keadaan ruh seorang mukmin dan ruh orang yang ingkar atau durhaka.

Bagi seorang mukmin yang dirahmati Alloh,

kematian dapat menjadi awal kabar gembira.

Sedangkan bagi orang yang meninggalkan dunia dalam keadaan buruk,

barzakh dapat menjadi awal kesulitan.

Namun jangan menggunakan prinsip umum ini untuk memvonis individu tertentu.

Kita tidak mengetahui seluruh isi hati seseorang.

Kita tidak mengetahui taubat yang mungkin terjadi menjelang akhir hidupnya.

Dan kita tidak mengetahui keluasan rahmat Alloh terhadap dirinya.

Maka tugas kita terhadap orang yang telah wafat adalah:

mendoakan, bukan memastikan nasibnya.


APAKAH RUH NAIK KE LANGIT?

Dalam sejumlah hadis terdapat keterangan mengenai perjalanan ruh setelah kematian.

Terdapat gambaran tentang ruh seorang mukmin yang dibawa naik dengan kemuliaan,

dan terdapat pula keadaan yang berbeda bagi ruh yang buruk.

Namun hal seperti ini tidak boleh kita ubah menjadi peta alam gaib buatan manusia.

Jangan kemudian menggambar:

“Ruh berada di langit tingkat sekian setiap hari.”

“Setelah sekian jam berpindah ke tempat tertentu.”

“Pada malam tertentu turun kembali ke rumah.”

Rincian seperti itu membutuhkan dalil.

Jika tidak ada dalil yang sahih,

maka berhentilah.

Kejujuran dalam perkara gaib lebih baik daripada cerita yang indah tetapi tidak mempunyai dasar.


APA ITU ‘ILLIYYIN DAN SIJJIN?

Al-Qur’an menyebut:

عِلِّيُّونَ — ‘Illiyyūn

dan

سِجِّينٌ — Sijjīn.

Alloh berfirman mengenai catatan orang-orang baik:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam ‘Illiyyin.”

Dan mengenai orang-orang durhaka:

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar berada dalam Sijjin.”

QS. Al-Muthaffifin: 7 dan 18

Para ulama membahas makna dan hubungannya dengan catatan amal serta keadaan ruh.

Tetapi sekali lagi,

jangan tergesa-gesa menyederhanakannya menjadi lokasi fisik yang seolah dapat dipetakan seperti negeri di dunia.

Ada perkara yang cukup kita imani tanpa mengetahui seluruh mekanismenya.


APAKAH RUH ORANG BERIMAN BISA BERTEMU?

Terdapat pembahasan di kalangan ulama mengenai ruh orang-orang beriman yang dapat bertemu satu sama lain di alam barzakh dengan izin Alloh.

Sebagian ulama menerima sejumlah riwayat tentang hal tersebut.

Namun rincian:

siapa bertemu siapa,

seberapa sering,

di mana,

dan dalam bentuk bagaimana,

tidak boleh dipastikan tanpa dasar yang kuat.

Maka seseorang yang berkata:

“Ayah dan ibu saya pasti sedang duduk bersama sekarang,”

sebaiknya mengganti kepastian itu dengan doa:

“Semoga Alloh mempertemukan mereka dalam rahmat dan kebaikan.”

Doa tidak mengarang perkara gaib.

Doa menyerahkannya kepada Alloh.


APAKAH RUH ORANG MATI BISA MENJELMA?

Ada keyakinan di sebagian masyarakat bahwa ruh orang mati dapat berubah menjadi:

burung,

kupu-kupu,

ular,

bayangan,

atau sosok tertentu.

Jika setelah kematian seseorang muncul kupu-kupu di rumah,

sebagian orang berkata:

“Itu ruh almarhum.”

Tidak ada dasar yang kuat untuk memastikan demikian.

Kupu-kupu adalah makhluk yang hidup sebagai kupu-kupu.

Burung adalah burung.

Jangan menjadikan makhluk yang lewat sebagai jelmaan ruh seseorang tanpa dalil.

Kerinduan tidak boleh mengubah dugaan menjadi aqidah.


BAGAIMANA DENGAN PENAMPAKAN SOSOK ALMARHUM?

Kadang seseorang berkata:

“Saya melihat ibu saya yang sudah meninggal berdiri di ujung kamar.”

“Atau saya melihat ayah lewat di depan rumah.”

Pengalaman seperti ini dapat memiliki berbagai kemungkinan:

kenangan yang sangat kuat,

kondisi antara tidur dan terjaga,

kesalahan persepsi,

mimpi yang terasa nyata,

atau sebab lain yang tidak diketahui.

Karena itu tidak benar langsung mengatakan:

“Itulah ruhnya.”

Jika pengalaman tersebut membuat takut,

berlindunglah kepada Alloh.

Jika membuat rindu,

doakan almarhum.

Tetapi jangan membangun keyakinan besar dari pengalaman sesaat.


ALAM BARZAKH TIDAK BISA DIUJI SEPERTI ALAM DUNIA

Manusia biasa menguji sesuatu melalui:

kamera,

sensor,

laboratorium,

pengukuran,

dan eksperimen.

Itu sangat berguna untuk alam fisik.

Namun barzakh termasuk alam gaib.

Tidak adanya hasil kamera bukan berarti barzakh tidak ada.

Dan munculnya gangguan pada kamera juga bukan bukti ruh hadir.

Jangan campurkan keduanya.

Iman kepada alam barzakh berdiri berdasarkan wahyu,

bukan berdasarkan video “penampakan”.


JANGAN PERCAYA SETIAP ORANG YANG MENGAKU DAPAT MELIHAT RUH

Ada orang yang berkata:

“Saya bisa melihat posisi ruh.”

“Saya bisa memanggil ruh keluargamu.”

“Saya tahu almarhum sekarang berada di mana.”

“Saya bisa menyampaikan pesan dari alam kubur.”

Klaim seperti ini harus disikapi sangat hati-hati.

Perkara gaib bukan wilayah yang dapat diklaim sesuka hati.

Bahkan Rasululloh ﷺ sendiri diperintahkan menyatakan bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Alloh wahyukan kepadanya.

Maka jangan menyerahkan uang,

ketakutan,

atau keputusan hidup

kepada orang yang mengaku mempunyai akses mutlak kepada ruh.


MENGAPA ALLOH TIDAK MEMBUKA SELURUH RAHASIA RUH?

Barangkali salah satu hikmahnya adalah agar manusia belajar:

percaya tanpa harus menguasai semuanya.

Jika seluruh alam gaib dapat dilihat,

iman tidak lagi mempunyai kedalaman yang sama.

Manusia sekarang berada di dunia ujian.

Ada yang terlihat.

Ada yang tidak terlihat.

Ada yang dapat dipahami akal secara luas.

Ada pula yang hanya diketahui batasnya melalui wahyu.

Maka kalimat:

“Aku tidak tahu hakikatnya, tetapi aku beriman kepada apa yang diterangkan Alloh dan Rasul-Nya ﷺ,”

bukan kelemahan.

Itulah adab seorang hamba terhadap ilmu.


YANG TERPENTING BUKAN KE MANA RUH PERGI

Manusia sering ingin mengetahui:

“Setelah mati ruhku akan berada di mana?”

Tetapi ada pertanyaan yang lebih dekat:

“Dalam keadaan apa ruhku akan meninggalkan dunia?”

Apakah dalam iman?

Apakah dalam taubat?

Apakah masih membawa kezaliman?

Apakah masih memakan hak manusia?

Apakah meninggalkan salat?

Apakah hati masih penuh dendam?

Sebab mengetahui teori tentang barzakh tidak akan menolong seseorang jika ia tidak memperbaiki kehidupannya.


KETIKA RUH MENINGGALKAN DUNIA

Bayangkan suatu hari,

mata yang selama ini melihat dunia mulai tertutup.

Telinga tidak lagi menangkap suara seperti dahulu.

Orang-orang yang kita cintai mengelilingi tubuh.

Tetapi perjalanan berikutnya tidak dapat mereka ikuti.

Tidak ada anak yang dapat masuk menggantikan kita.

Tidak ada sahabat yang dapat berkata:

“Biarkan aku menjawab untuknya.”

Tidak ada kekayaan yang dapat membeli tambahan satu hari jika ajal telah ditetapkan.

Maka sebelum hari itu datang,

kenalkan ruh ini kepada ketaatan.

Biasakan hati menyebut Alloh.

Biasakan lidah jujur.

Biasakan tangan memberi.

Biasakan kaki berjalan menuju kebaikan.

Karena kematian bukan waktu memulai persiapan.

Kematian adalah saat persiapan dunia berakhir.


RAHASIA LEMBAR KELIMA BELAS

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

jangan terlalu sibuk menggambar alam yang belum kita masuki.

Alloh tidak meminta kita membuat peta barzakh.

Alloh meminta kita membawa bekal.

Kita mungkin tidak tahu bagaimana ruh bergerak setelah kematian.

Tetapi kita tahu:

taubat adalah baik.

Kita mungkin tidak mengetahui seluruh keadaan ruh di alam barzakh.

Tetapi kita tahu:

kezaliman harus ditinggalkan.

Kita mungkin tidak mengetahui di mana tepatnya ruh berada.

Tetapi kita tahu:

semuanya berada dalam kekuasaan Alloh.

Dan mungkin itulah pengetahuan yang paling menenteramkan.

Ruh kita tidak jatuh ke dalam alam tanpa Penguasa.

Ia kembali kepada ketetapan Rabb yang sejak awal menciptakannya.


DOA

Ya Alloh,

Engkaulah yang menciptakan jasad kami.

Engkaulah yang memberikan ruh.

Engkaulah yang mengetahui awal dan akhir perjalanan kami.

Ketika ajal datang,

cabutlah ruh kami dalam keadaan beriman kepada-Mu.

Jangan biarkan hati kami meninggalkan dunia sambil membawa kesombongan,

kezaliman,

dan hak manusia yang belum kami selesaikan.

Rahmatilah ruh orang-orang yang telah mendahului kami.

Tempatkan mereka dalam keadaan yang Engkau ridai.

Dan jangan biarkan rasa ingin tahu kami terhadap perkara gaib

membawa kami kepada kebohongan,

dukun,

pemanggilan ruh,

atau keyakinan tanpa dasar.

Cukupkan kami dengan ilmu yang Engkau berikan,

dan sempurnakan kekurangannya dengan iman, adab, dan ketundukan kepada-Mu.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bersambung ke Lembar Keenam Belas:
“Detik-Detik Sakaratul Maut — Apa yang Dapat Kita Ketahui, Apa yang Tidak Boleh Kita Karang, dan Bagaimana Menemani Orang yang Sedang Menghadapi Ajal.”


LEMBAR KEENAM BELAS

DETIK-DETIK SAKARATUL MAUT

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada satu perjalanan yang pasti dilewati setiap manusia.

Tidak ada raja yang dapat membatalkannya.

Tidak ada dokter yang dapat menolaknya selamanya.

Tidak ada kekayaan yang dapat membeli keabadian.

Itulah saat ketika hidup dunia mulai berakhir:

sakaratul maut.

Alloh berfirman:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.”

QS. Qaf: 19

Sakaratul maut bukan dongeng untuk menakut-nakuti.

Ia adalah bagian dari perpindahan manusia dari kehidupan dunia menuju alam berikutnya.


APA ITU SAKARATUL MAUT?

Kata sakarah menunjuk kepada keadaan berat yang meliputi kesadaran.

Maka sakaratul maut adalah keadaan ketika kematian mulai datang dan seorang manusia mengalami proses terakhir kehidupannya.

Sebagian orang mengalaminya dengan cepat.

Sebagian lebih panjang.

Sebagian tampak tenang.

Sebagian terlihat berat.

Namun kita tidak boleh menilai keadaan akhir seseorang hanya dari apa yang tampak secara fisik.

Orang yang tampak kesakitan belum tentu sedang mendapat hukuman.

Rasa sakit menjelang kematian dapat menjadi bagian dari keadaan tubuh yang sedang kehilangan fungsi.

Dan hanya Alloh mengetahui hakikat batin seseorang.


JANGAN MENGHAKIMI ORANG YANG SEDANG SEKARAT

Jika seseorang mengalami napas berat,

tubuh lemah,

mata berubah,

atau kesadaran menurun,

jangan berkata:

“Ini pasti karena banyak dosanya.”

Ucapan seperti itu melampaui ilmu kita.

Bahkan orang-orang saleh juga mengalami sakit dan kesulitan ketika ajal mendekat.

Rasululloh ﷺ sendiri mengalami beratnya sakit menjelang wafat.

Maka penderitaan fisik tidak otomatis menjadi ukuran buruknya keadaan seseorang di sisi Alloh.

Yang harus kita lakukan adalah:

mendoakan, menenangkan, dan membantu.

Bukan menghakimi.


TANDA-TANDA FISIK MENJELANG KEMATIAN

Dalam kehidupan nyata,

orang yang mendekati ajal dapat mengalami perubahan seperti:

napas yang tidak teratur,

kesadaran yang menurun,

tubuh semakin lemah,

sulit menelan,

tangan dan kaki mulai dingin,

atau respons yang semakin sedikit.

Namun tanda-tanda ini merupakan persoalan medis dan tidak semuanya berarti kematian pasti terjadi saat itu juga.

Karena itu jika seseorang sedang sakit berat,

jangan hanya sibuk mencari “tanda kematian”.

Tetap berikan perawatan yang layak.

Hubungi tenaga kesehatan.

Kurangi penderitaannya semampu mungkin.

Islam tidak mengajarkan meninggalkan ikhtiar medis hanya karena seseorang dianggap sudah dekat ajal.


APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN KELUARGA?

Ketika seseorang berada dalam keadaan kritis,

keluarga sering panik.

Ada yang menangis keras.

Ada yang berteriak memanggil namanya.

Ada yang mengguncang tubuhnya.

Ada pula yang memenuhi kamar dengan percakapan yang membuat suasana semakin berat.

Padahal saat itu,

orang yang sedang menghadapi ajal membutuhkan ketenangan.

Dekatilah dengan lembut.

Jangan membuat ruangan menjadi penuh kepanikan.

Jika ia masih sadar,

ajaklah dengan kasih sayang untuk mengingat Alloh.

Bukan dengan tekanan.


TALQIN KALIMAT TAUHID

Rasululloh ﷺ mengajarkan:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

“Bimbinglah orang-orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian dengan kalimat Lā ilāha illallāh.”

Maka dekatkan kalimat:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Lā ilāha illallāh.

Tetapi jangan memaksa orang yang sedang sangat lemah untuk terus mengulang.

Ucapkan dengan tenang di dekatnya.

Jika ia mampu mengikuti,

Alhamdulillah.

Jika tidak mampu,

jangan menyakitinya dengan desakan.

Tujuannya adalah mengingatkan,

bukan menguji.


JANGAN MEMBUAT SAKARATUL MAUT MENJADI PERTUNJUKAN

Di zaman sekarang,

hampir semua hal dapat direkam.

Termasuk detik-detik seseorang menjelang wafat.

Berhati-hatilah.

Seseorang yang sedang berada pada saat paling rapuh dalam hidupnya tetap mempunyai kehormatan.

Jangan jadikan tubuhnya sebagai konten.

Jangan merekam wajahnya lalu menyebarkannya tanpa kebutuhan yang benar.

Jangan menuliskan spekulasi seperti:

“Lihat, ruhnya keluar.”

atau:

“Cahaya ini adalah malaikat.”

Kamera tidak memberikan manusia kemampuan mengetahui alam gaib.

Jaga kehormatan orang yang sedang menghadapi ajal.


APAKAH ORANG YANG SEKARAT MELIHAT MALAIKAT?

Dalam ajaran Islam terdapat keterangan bahwa malaikat datang ketika kematian seorang manusia.

Al-Qur’an juga menyebut keadaan malaikat terhadap orang-orang yang istiqamah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Alloh,’ kemudian istiqamah, para malaikat turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah bersedih.’”

QS. Fussilat: 30

Namun bagaimana persis seseorang mengalami kehadiran malaikat saat ajal,

bukan sesuatu yang dapat kita gambarkan sesuka hati.

Jika orang yang sedang sakit memandang ke arah tertentu atau berkata melihat sesuatu,

jangan langsung memastikan:

“Ia pasti melihat malaikat.”

Bisa jadi.

Bisa pula karena kondisi kesadaran yang berubah.

Kita serahkan hakikatnya kepada Alloh.


KETIKA ORANG SEKARAT BERBICARA TENTANG ORANG YANG SUDAH WAFAT

Kadang orang yang mendekati ajal berkata:

“Ayah datang.”

“Ibu menungguku.”

“Aku melihat seseorang.”

Pengalaman seperti itu memang dilaporkan pada sebagian orang yang berada di akhir hayat.

Tetapi jangan langsung membangun aqidah dari pengalaman tersebut.

Bisa berkaitan dengan:

perubahan kesadaran,

ingatan,

mimpi ketika setengah sadar,

pengaruh obat,

atau hal yang tidak kita ketahui.

Jika perkataan itu membuatnya tenang,

jangan diperdebatkan keras.

Tetap dampingi dengan doa dan kalimat-kalimat yang menenangkan.


JANGAN MEMBUAT ORANG SEKARAT TAKUT KEPADA DOSANYA

Ada orang yang mendampingi seseorang menjelang wafat dengan berkata:

“Sudah siap belum ditanya Munkar Nakir?”

“Bagaimana kalau nanti disiksa?”

“Dosa kamu banyak.”

Ini bukan cara terbaik menemani orang yang sedang menghadapi ajal.

Saat itu,

ingatkan kepada rahmat Alloh.

Ajak bertaubat.

Ajak berbaik sangka kepada Alloh.

Rasululloh ﷺ mengajarkan agar seseorang tidak meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Alloh.

Maka katakan dengan lembut:

“Rahmat Alloh luas.”

“Mohon ampun kepada Alloh.”

“Ingat Alloh.”

“Semoga Alloh memudahkan.”

Bukan menambah ketakutannya tanpa manfaat.


JIKA MASIH ADA HUTANG ATAU AMANAH

Jika orang yang sedang kritis masih sadar dan mampu berkomunikasi,

boleh dibantu mengingat hal-hal penting:

Apakah ada hutang?

Apakah ada barang titipan?

Apakah ada kewajiban yang belum diketahui keluarga?

Apakah ada pesan yang perlu disampaikan?

Tetapi jangan membuatnya seperti pemeriksaan.

Lakukan dengan lembut dan seperlunya.

Jika ia mempunyai wasiat yang sah,

catat dengan baik.

Sebab setelah seseorang wafat,

keluarganya sering kebingungan karena tidak mengetahui tanggung jawab yang ditinggalkan.


MINTA MAAF SEBELUM TERLAMBAT

Jika hubungan dengan orang yang sedang sakit pernah buruk,

dan ia masih sadar,

jangan gengsi.

Mendekatlah.

Katakan:

“Maafkan saya.”

Tidak perlu menunggu siapa yang paling bersalah.

Mungkin itulah percakapan terakhir.

Jangan sampai seseorang meninggal,

lalu bertahun-tahun kemudian kita berkata:

“Seandainya waktu itu aku sempat meminta maaf.”

Selagi pintu masih terbuka,

perbaikilah.


KETIKA NAPAS TERAKHIR TIBA

Apabila ajal benar-benar tiba,

jangan panik dengan jeritan.

Ucapkan:

إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”

Doakan orang yang wafat dengan kebaikan.

Dalam hadis terdapat pengajaran bahwa ketika seseorang telah meninggal,

matanya dapat mengikuti ruhnya.

Karena itu mata jenazah dapat terbuka.

Jangan takut.

Tutup matanya dengan lembut jika memungkinkan,

dan doakan.


JANGAN MERATAPI SECARA BERLEBIHAN

Menangis bukan dosa.

Rasululloh ﷺ pun menangis ketika kehilangan orang yang beliau cintai.

Kesedihan adalah bagian dari manusia.

Namun jangan berubah menjadi ucapan yang menentang ketetapan Alloh.

Jangan berkata:

“Kenapa Alloh mengambilmu?”

“Aku tidak terima.”

“Hidupku berakhir.”

Tangisan dapat menjadi rahmat.

Tetapi lisan tetap dijaga.

Kita boleh kehilangan seseorang tanpa kehilangan adab kepada Alloh.


APA YANG TERJADI SETELAH RUH KELUAR?

Di sinilah dunia mulai tertutup bagi orang tersebut.

Keluarga masih berada di kamar.

Mereka mungkin menangis.

Mereka mungkin mulai menghubungi saudara.

Namun bagi orang yang wafat,

perjalanan lain telah dimulai.

Perjalanan yang selama hidup hanya ia dengar dari ayat,

hadis,

nasihat,

dan pemakaman orang lain.

Sekarang ia telah masuk ke dalamnya.

Tidak ada lagi kesempatan menambah salat.

Tidak ada lagi kesempatan mengembalikan satu rupiah hak orang lain.

Tidak ada lagi kesempatan berkata:

“Besok aku akan bertaubat.”

Karena “besok” dunia telah selesai.


RAHASIA SAKARATUL MAUT

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

rahasia terbesar sakaratul maut bukan mengetahui:

seperti apa ruh keluar.

Bukan mengetahui:

seberapa sakit rasanya.

Dan bukan pula mencoba melihat malaikat dengan mata dunia.

Rahasia terbesarnya adalah:

kehidupan mempunyai batas.

Dan ketika batas itu tiba,

manusia membawa apa yang telah ia tanam.

Maka sebelum berada di tempat tidur terakhir,

perbaikilah tempat berdiri kita hari ini.

Sebelum lidah tidak mampu berbicara,

gunakan ia untuk meminta maaf.

Sebelum tangan kehilangan kekuatannya,

gunakan ia untuk memberi.

Sebelum mata tertutup,

gunakan ia untuk melihat kebaikan.

Sebelum kaki tidak lagi berjalan,

gunakan ia menuju jalan yang diridhai Alloh.


JANGAN MENUNGGU SAKARATUL MAUT UNTUK BERTAUBAT

Ada orang berpikir:

“Nanti kalau sudah tua aku akan serius beribadah.”

Padahal tidak semua manusia diberi masa tua.

Ada yang wafat muda.

Ada yang wafat mendadak.

Ada yang tidak lagi mampu berbicara ketika ajal mendekat.

Maka taubat terbaik adalah:

taubat yang tidak ditunda.

Jika hari ini masih dapat bersujud,

bersujudlah.

Jika hari ini masih dapat mengembalikan hak manusia,

kembalikanlah.

Jika masih dapat memeluk orang tua,

peluklah.

Jika masih dapat meminta maaf,

lakukanlah.

Karena kita tidak tahu percakapan mana yang menjadi percakapan terakhir.


DOA BAGI ORANG YANG SEDANG MENGHADAPI AJAL

Ya Alloh,

mudahkanlah sakaratul maut bagi kami dan keluarga kami.

Ketika tubuh kami melemah,

kuatkan iman kami.

Ketika lidah kami sulit berbicara,

tetapkan tauhid dalam hati kami.

Ketika dunia mulai menjauh dari pandangan,

dekatkan rahmat-Mu.

Jangan jadikan akhir kehidupan kami penuh penyesalan.

Ampunilah kesalahan kami.

Selesaikan melalui pertolongan-Mu hak-hak manusia yang belum kami tunaikan.

Berilah kami kesempatan untuk bertaubat sebelum kematian,

dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridai.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا

Ya Alloh,

baikkanlah akhir seluruh urusan kami.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


PESAN LEMBAR KEENAM BELAS

Kematian bukan alasan untuk membenci kehidupan.

Justru karena kehidupan terbatas,

setiap hari menjadi berharga.

Dan orang yang paling mengingat mati seharusnya bukan menjadi manusia yang paling putus asa,

tetapi manusia yang paling sadar:

waktu tidak boleh disia-siakan.

Bersambung ke Lembar Ketujuh Belas:
“Sesaat Setelah Kematian — Apa yang Dianjurkan Keluarga, Mengurus Jenazah, Menjaga Kehormatan Mayit, dan Kesalahan yang Sering Terjadi.”


LEMBAR KETUJUH BELAS — LEMBAR TERAKHIR

SESUDAH NAPAS BERHENTI: AMANAH KELUARGA, KEHORMATAN JENAZAH, DAN PESAN TERAKHIR BAGI YANG MASIH HIDUP

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada satu saat ketika seluruh suara di sebuah rumah berubah.

Beberapa menit sebelumnya,

keluarga masih memanggil nama seseorang.

Ada yang menggenggam tangannya.

Ada yang membacakan kalimat tauhid.

Ada yang berharap napasnya kembali teratur.

Ada yang berbisik:

“Ya Alloh, mudahkan.”

Kemudian datang satu detik yang tidak dapat ditarik kembali.

Napas berhenti.

Dada tidak lagi bergerak.

Tubuh yang selama puluhan tahun menjadi tempat kehidupan kini menjadi diam.

Dan keluarga berkata:

إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

“Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”

Pada saat itulah perjalanan dunia seseorang selesai.

Tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan,

amanah baru justru dimulai.


PERTAMA: JANGAN PANIK, JANGAN MERENDAHKAN KEHORMATAN JENAZAH

Orang yang telah wafat tetap mempunyai kehormatan.

Tubuhnya tidak lagi mampu berkata:

“Jangan membuka auratku.”

“Jangan memotretku.”

“Jangan menyebarkan wajahku.”

“Jangan membicarakan aibku.”

Maka keluargalah yang harus menjaga kehormatannya.

Tutup tubuhnya dengan baik.

Jangan menjadikan saat kematian sebagai tontonan.

Jangan memenuhi kamar dengan orang yang hanya datang karena rasa penasaran.

Jangan mengambil foto atau video jenazah lalu menyebarkannya tanpa kebutuhan yang benar.

Sebab kematian seseorang bukan bahan konten.

Ia adalah amanah.


KEDUA: DOAKAN, BUKAN MEMPERDEBATKAN KEADAANNYA

Ketika seseorang wafat,

jangan langsung terdengar percakapan:

“Wajahnya begini berarti…”

“Tubuhnya seperti itu berarti…”

“Matanya terbuka, pasti karena…”

“Tangannya begini, berarti ia melihat…”

Berhati-hatilah.

Banyak perubahan pada tubuh setelah kematian memiliki sebab fisik.

Tidak semuanya merupakan tanda khusus dari alam gaib.

Maka jangan memvonis akhir seseorang hanya dari keadaan jasadnya.

Lebih baik katakan:

“Semoga Alloh mengampuninya.”

“Semoga Alloh menerima amal baiknya.”

“Semoga Alloh melapangkan alam barzakhnya.”

Sebab doa lebih bermanfaat daripada spekulasi.


KETIGA: SEGERAKAN PENGURUSAN JENAZAH DENGAN LAYAK

Islam mengajarkan penghormatan kepada jenazah melalui:

memandikan,

mengkafani,

menyalatkan,

dan menguburkan.

Pengurusan ini jangan sengaja ditunda hanya demi menunggu terlalu banyak orang,

acara seremonial,

atau perkara dunia yang sebenarnya tidak diperlukan,

selama keadaan memungkinkan jenazah diurus sebagaimana mestinya.

Namun keluarga juga perlu memperhatikan:

prosedur medis,

hukum setempat,

kebutuhan pemeriksaan tertentu,

dan kondisi khusus apabila kematian terjadi di rumah sakit atau karena sebab yang membutuhkan penanganan resmi.

Agama mengajarkan penghormatan.

Keteraturan juga bagian dari amanah.


KEEMPAT: MEMANDIKAN JENAZAH ADALAH AMANAH, BUKAN PERTUNJUKAN

Orang yang memandikan jenazah hendaknya:

menjaga aurat,

lembut,

menutup bagian tubuh yang harus ditutup,

dan tidak menceritakan kepada orang lain sesuatu yang dilihat dari tubuh jenazah.

Jika ada cacat,

bekas luka,

keadaan tertentu,

atau sesuatu yang tidak baik untuk diumbar,

maka simpanlah.

Bayangkan jika kita berada di tempatnya.

Bukankah kita pun berharap orang yang memandikan tubuh kita kelak adalah orang yang amanah?

Maka menjaga rahasia jenazah adalah bagian dari menjaga martabat manusia.


KELIMA: KAFAN MENGAJARKAN SATU KEBENARAN BESAR

Ketika hidup,

manusia dapat memakai pakaian mahal.

Seragam jabatan.

Busana kebesaran.

Perhiasan.

Jam mewah.

Sepatu terbaik.

Namun ketika wafat,

semua itu dilepas.

Tubuh dibungkus sederhana.

Kafan seakan berkata:

“Semua atribut dunia telah selesai.”

Tidak ada lagi:

direktur,

pejabat,

orang kaya,

tokoh,

orang terkenal,

atau manusia biasa.

Yang berangkat menuju barzakh adalah seorang hamba.

Inilah pelajaran besar dari kain putih:

kematian menyederhanakan kembali manusia.


KEENAM: SALAT JENAZAH ADALAH DOA, BUKAN SEKADAR UPACARA

Ketika jenazah disalatkan,

orang-orang berdiri.

Tidak ada rukuk.

Tidak ada sujud.

Tetapi penuh doa.

Di situlah komunitas orang beriman seakan berkata:

“Ya Alloh, saudara kami telah selesai hidup di dunia. Ampunilah dia.”

Bayangkan betapa besar maknanya.

Ketika orang yang wafat sudah tidak dapat menambah amal dengan tangannya,

orang yang hidup masih dapat berdiri mendoakannya.

Maka ketika menghadiri salat jenazah,

jangan sekadar ikut gerakan.

Hadirkan hati.

Sebab mungkin suatu hari,

orang lain akan berdiri dalam saf yang sama untuk mendoakan kita.


KETUJUH: ANTARKAN JENAZAH DENGAN ADAB

Pemakaman bukan tempat berpesta.

Bukan pula tempat saling berbicara keras tanpa kebutuhan.

Antarkan jenazah dengan tenang.

Ingat bahwa manusia yang sedang dibawa itu beberapa hari sebelumnya mungkin masih:

berjalan,

berbicara,

tertawa,

berencana,

dan memikirkan masa depan.

Kini ia sedang menuju tempat yang setiap manusia pasti akan datangi.

Iringan jenazah adalah pelajaran hidup yang bergerak.

Orang yang mengantarkan sebenarnya sedang melihat:

masa depannya sendiri.


KEDELAPAN: SAAT TANAH MENUTUP TUBUH

Ada saat ketika liang kubur telah siap.

Tubuh diturunkan.

Keluarga melihat untuk terakhir kalinya.

Kemudian tanah mulai menutup.

Satu genggam.

Dua genggam.

Lalu semakin banyak.

Dan seseorang yang dahulu tidur di atas kasur,

sekarang berada di bawah tanah.

Di sinilah hati sering benar-benar tersadar:

“Dia tidak akan pulang lagi.”

Namun bagi orang beriman,

kalimat itu bukan berarti:

“Dia lenyap.”

Ia telah berpindah dari dunia menuju alam yang lain.

Kita tidak lagi dapat berbicara kepadanya seperti dahulu.

Tetapi kita masih dapat berbicara kepada Alloh tentang dirinya.


KESEMBILAN: JANGAN MENGHUBUNGKAN SETIAP KEJADIAN DI MAKAM DENGAN ALAM GAIB

Ketika pemakaman berlangsung,

terkadang ada angin.

Hujan.

Burung datang.

Langit mendung.

Cahaya matahari menembus awan.

Bunga jatuh.

Atau ada kejadian alam lain.

Jangan buru-buru berkata:

“Ini tanda pasti ia ahli surga.”

“Atau ini tanda ia sedang disambut.”

Kita boleh merasa terharu.

Tetapi jangan menetapkan perkara akhirat hanya dari kejadian alam.

Keadaan akhir seseorang berada dalam ilmu Alloh.

Kita berharap baik,

berdoa baik,

tetapi tidak mengarang kepastian.


KESEPULUH: APA YANG DILAKUKAN SETELAH PEMAKAMAN?

Setelah semua orang pulang,

keluarga sering merasakan kesunyian yang jauh lebih berat.

Beberapa jam sebelumnya rumah penuh manusia.

Setelah itu tinggal:

pakaian almarhum,

tempat tidurnya,

gelas yang biasa digunakannya,

atau barang-barang yang masih berada di tempat semula.

Pada fase ini,

jangan merasa harus terlihat kuat setiap saat.

Menangis tidak berarti kehilangan iman.

Rindu bukan dosa.

Sedih bukan berarti menolak takdir.

Yang harus dijaga adalah:

jangan sampai kesedihan membawa kepada keputusasaan,

menyakiti diri,

meninggalkan kewajiban,

atau mengatakan sesuatu yang merendahkan ketetapan Alloh.


KESEBELAS: JANGAN LUPAKAN HUTANG

Sering kali setelah kematian,

keluarga lebih sibuk mengatur acara daripada memeriksa amanah almarhum.

Padahal pertanyaan penting adalah:

Apakah ia memiliki hutang?

Apakah ada barang orang lain yang belum dikembalikan?

Apakah ada uang titipan?

Apakah ada kewajiban keuangan yang jelas?

Apakah ada transaksi yang belum selesai?

Jika ada,

catat.

Periksa bukti.

Jangan asal mengakui klaim tanpa dasar,

tetapi jangan pula menolak hak orang lain hanya karena orang yang berhutang telah meninggal.

Harta peninggalan mempunyai aturan.

Hak-hak yang melekat padanya harus diselesaikan dengan tertib sebelum warisan dibagikan menurut ketentuan syariat.


KEDUA BELAS: WASIAT JUGA HARUS DIPERIKSA DENGAN ILMU

Tidak semua yang disebut “wasiat terakhir” otomatis harus dilaksanakan.

Ada wasiat yang sah.

Ada yang bertentangan dengan syariat.

Ada yang menyangkut hak ahli waris.

Ada pula yang hanya merupakan permintaan emosional.

Karena itu jika persoalannya rumit,

keluarga sebaiknya meminta bantuan orang yang memahami fikih waris dan hukum yang berlaku.

Jangan sampai setelah seseorang wafat,

keluarganya justru bertengkar karena:

tanah,

rumah,

uang,

atau barang peninggalan.

Sangat menyedihkan apabila orang yang baru dikuburkan belum lama,

tetapi rumahnya sudah dipenuhi pertengkaran tentang warisan.


KETIGA BELAS: WARISAN BUKAN HARTA BEBAS

Warisan bukan:

“Siapa cepat dia dapat.”

Bukan:

“Anak tertua mengambil dulu.”

Bukan:

“Yang merawat orang tua berhak mengambil semuanya.”

Dan bukan pula:

“Yang paling kaya tidak mendapat bagian.”

Pembagian harta peninggalan memiliki aturan.

Karena itu keluarga perlu:

mendata harta,

memeriksa hutang,

memeriksa kewajiban,

memisahkan kepemilikan bersama jika ada,

dan baru kemudian membahas warisan.

Jangan menggunakan kedukaan untuk menekan anggota keluarga lain.

Kematian seharusnya melunakkan hati,

bukan membangkitkan kerakusan.


KEEMPAT BELAS: BAGAIMANA DENGAN TAHLIL, YASIN, DAN DOA BERSAMA?

Di banyak masyarakat Muslim terdapat tradisi berkumpul setelah kematian untuk:

berdoa,

membaca Al-Qur’an,

berdzikir,

atau bersedekah makanan.

Dalam rincian praktik seperti ini terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.

Karena itu jangan menjadikan masalah tersebut sebagai alasan untuk saling menyesatkan secara serampangan.

Jika keluarga mengikuti tradisi doa bersama,

jagalah agar:

tidak memberatkan keluarga yang berduka,

tidak berhutang demi jamuan,

tidak menjadikan jumlah hari tertentu sebagai keyakinan wajib tanpa dasar,

dan tidak mengubahnya menjadi ajang gengsi.

Tujuan utama tetap:

doa, sedekah, penghiburan, dan silaturahmi.

Bukan kompetisi sosial.


KELIMA BELAS: JANGAN MEMAKSA KELUARGA BERDUKA MENYEDIAKAN JAMUAN BESAR

Kadang keluarga yang baru kehilangan seseorang justru merasa tertekan:

“Harus menyediakan makanan untuk banyak orang.”

“Kalau tidak, nanti dikatakan tidak menghormati almarhum.”

Padahal keluarga mungkin sedang:

lelah,

sedih,

dan memiliki beban keuangan.

Maka jangan tambahkan penderitaan mereka.

Jika masyarakat ingin membantu,

lebih baik tetangga yang mengirim makanan kepada keluarga berduka,

bukan keluarga berduka yang dipaksa menjamu semua orang.

Adab kematian seharusnya meringankan.

Bukan memberatkan.


KEENAM BELAS: APAKAH MENANGIS MEMBUAT MAYIT DISIKSA?

Pertanyaan ini sering membuat keluarga takut.

Menangis karena kehilangan adalah manusiawi.

Rasululloh ﷺ pun menangis dalam peristiwa kehilangan orang yang beliau cintai.

Yang dilarang adalah bentuk ratapan yang berlebihan,

seperti meneriakkan penolakan,

menyakiti diri,

merobek pakaian karena protes,

atau ucapan-ucapan yang bertentangan dengan kesabaran kepada Alloh.

Maka jangan membuat seorang anak merasa berdosa hanya karena menangisi ibunya.

Air mata dapat menjadi tanda cinta.

Yang dijaga adalah lidah dan sikap.


KETUJUH BELAS: APAKAH ORANG YANG MENINGGAL MASIH DAPAT DITOLONG?

Kita tidak dapat mengembalikan seseorang ke dunia.

Tetapi terdapat amal yang masih dapat kita lakukan:

mendoakannya,

bersedekah atas namanya,

melunasi hutangnya sesuai kemampuan dan ketentuan,

menjaga silaturahmi,

melanjutkan kebaikannya,

dan menjadi keturunan yang saleh.

Jangan terlalu sibuk mencari ritual yang rumit.

Kadang yang paling berharga justru sederhana:

“Ya Alloh, ampunilah ayahku.”

Kalimat itu dapat diucapkan di mana saja.

Tidak perlu menunggu malam tertentu.

Tidak perlu tempat tertentu.

Tidak perlu pakaian tertentu.

Doa seorang hamba dapat naik kapan saja.


KEDELAPAN BELAS: JANGAN MENCARI ORANG YANG MENGAKU DAPAT MEMERIKSA KEADAAN ALMARHUM

Setelah kehilangan seseorang,

keluarga sangat rentan.

Kemudian datang orang yang berkata:

“Saya tahu ruhnya belum tenang.”

“Saya dapat melihat almarhum.”

“Ada pesan yang harus disampaikan.”

“Bayar ini agar ruhnya dilepaskan.”

“Lakukan ritual tertentu supaya kuburnya terang.”

Berhati-hatilah.

Kesedihan dapat membuat manusia mudah percaya.

Jangan menyerahkan:

uang,

keputusan,

atau aqidah

kepada klaim orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Jika ingin membantu almarhum,

gunakan jalan yang jelas:

doa, sedekah, pelunasan hak, dan amal saleh.


KESEMBILAN BELAS: JIKA BERMIMPI TENTANG ALMARHUM

Setelah pemakaman,

mimpi tentang orang yang telah wafat sangat mungkin terjadi.

Karena pikiran dan hati masih dipenuhi kenangan.

Jika bermimpi ia tersenyum,

bersyukurlah atas mimpi yang menenangkan.

Jika bermimpi ia menangis,

jangan langsung berkata:

“Pasti sedang disiksa.”

Doakan.

Jika dalam mimpi ia meminta hutang tertentu dan informasi itu masuk akal,

boleh diperiksa secara nyata.

Tetapi jangan menyelesaikan persoalan besar hanya berdasarkan mimpi.

Mimpi dapat menjadi pengingat,

tetapi bukan pengganti bukti.


KEDUA PULUH: JANGAN MENGHAPUS SEMUA BARANG ALMARHUM TERBURU-BURU

Sebagian orang setelah kematian langsung membuang semua barang karena merasa terlalu sedih.

Sebagian lain menyimpannya bertahun-tahun sampai tidak mampu melanjutkan hidup.

Tidak ada satu cara yang sama untuk semua orang.

Berikan waktu.

Barang yang bernilai dapat masuk dalam pembahasan harta peninggalan.

Barang pribadi tertentu dapat dibagikan dengan musyawarah.

Sebagian dapat disedekahkan.

Sebagian boleh disimpan sebagai kenangan.

Yang penting:

jangan sampai benda berubah menjadi pengganti hubungan kita dengan Alloh.

Kenangan boleh disimpan.

Tetapi kehidupan tetap harus dilanjutkan.


KEDUA PULUH SATU: BERDUKA TIDAK MEMILIKI JADWAL YANG SAMA UNTUK SETIAP ORANG

Ada orang beberapa hari sudah dapat kembali bekerja.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Ada anak yang terlihat tenang tetapi menangis ketika sendirian.

Ada orang tua yang tidak menangis di pemakaman tetapi baru merasakan kehilangan berbulan-bulan kemudian.

Jangan berkata:

“Sudah, jangan sedih lagi.”

atau:

“Kenapa masih menangis?”

Berikan ruang.

Dampingi.

Namun jika kesedihan membuat seseorang sangat lama tidak mampu menjalankan kehidupan dasar,

tidak mau makan,

tidak bisa tidur,

kehilangan fungsi sehari-hari,

atau memiliki keinginan menyakiti diri,

maka mencari pertolongan profesional bukan tanda lemahnya iman.

Manusia membutuhkan doa,

dan terkadang juga membutuhkan bantuan psikologis atau medis.


KEDUA PULUH DUA: KEMATIAN ADALAH GURU YANG TIDAK BERBICARA

Makam tidak berkhutbah.

Jenazah tidak memberi ceramah.

Tetapi keduanya mengajarkan sesuatu yang sangat kuat.

Di depan makam,

kita memahami:

rumah akan ditinggalkan.

Kendaraan akan berpindah tangan.

Jabatan akan berakhir.

Foto kita suatu saat menjadi foto lama.

Nomor telepon tidak lagi aktif.

Pesan tidak lagi dibalas.

Lalu pertanyaan besar muncul:

“Apa sebenarnya yang sedang aku kejar?”

Apakah seluruh hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya ditinggalkan?

Atau kita menggunakan dunia sebagai jalan menuju sesuatu yang lebih kekal?


KEDUA PULUH TIGA: BUKAN BERARTI KITA HARUS MEMBENCI DUNIA

Mengingat mati tidak berarti:

meninggalkan pekerjaan,

mengabaikan keluarga,

tidak mau membangun rumah,

tidak mau mencari rezeki,

atau hidup tanpa cita-cita.

Islam tidak mengajarkan demikian.

Dunia adalah tempat amanah.

Carilah rezeki halal.

Bangun keluarga.

Belajar.

Bekerja.

Berusaha.

Menanam.

Membangun.

Tetapi jangan menjadikan semuanya sebagai Tuhan baru di dalam hati.

Gunakan dunia.

Jangan diperbudak dunia.

Miliki harta.

Jangan biarkan harta memiliki hati.


KEDUA PULUH EMPAT: TIGA PERTANYAAN UNTUK DIRI SENDIRI

Sebelum Qitab ini ditutup,

tanyakan kepada diri sendiri:

PERTANYAAN PERTAMA

Jika malam ini adalah malam terakhirku, siapa yang harus kumintai maaf?

Jangan hanya memikirkan jawabannya.

Jika memungkinkan,

hubungi orang tersebut.

PERTANYAAN KEDUA

Apakah ada hak manusia yang masih kubawa?

Hutang?

Barang?

Janji?

Amanah?

Mulailah menyelesaikannya.

PERTANYAAN KETIGA

Jika semua hartaku ditinggalkan besok, amal apa yang benar-benar kubawa?

Pertanyaan ini bukan untuk membuat takut.

Pertanyaan ini untuk membuat hidup lebih jernih.


KEDUA PULUH LIMA: TENTANG MUNKAR DAN NAKIR — KEMBALI KE PERTANYAAN AWAL

Qitab ini bermula dari satu pertanyaan:

“Benarkah ada pertanyaan Munkar dan Nakir serta siksa kubur?”

Setelah perjalanan panjang ini,

jawabannya dapat diringkas:

Dalam ajaran Islam yang diterima oleh mayoritas ulama Ahlussunnah,

fitnah atau pertanyaan kubur merupakan bagian dari aqidah yang didasarkan pada hadis-hadis Nabi ﷺ.

Demikian pula,

nikmat dan azab barzakh mempunyai dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Nama Munkar dan Nakir dikenal dalam riwayat sebagai dua malaikat yang berkaitan dengan pertanyaan kubur.

Tetapi jangan berhenti pada rasa ingin tahu:

“Bagaimana rupa mereka?”

“Seperti apa suaranya?”

“Berapa kali bertanya?”

Sebab tujuan ajaran tersebut bukan memberi manusia hiburan tentang alam gaib.

Tujuannya adalah:

membangunkan manusia sebelum terlambat.


KEDUA PULUH ENAM: JAWABAN KUBUR SEDANG DITULIS SEKARANG

Jika pertanyaannya:

“Siapa Rabb-mu?”

maka hidup kita sekarang sedang menuliskan jawabannya.

Jika hati hanya tunduk kepada harta,

apa arti pengakuan lidah?

Jika pertanyaannya:

“Apa agamamu?”

maka perilaku kita sekarang sedang memberikan kesaksian.

Jika mengaku Islam,

tetapi menipu,

berkhianat,

menzalimi,

dan menganggap remeh amanah,

maka nama agama tidak boleh menjadi alasan untuk merasa aman.

Jika ditanya tentang Rasululloh ﷺ,

maka cinta kepada beliau seharusnya meninggalkan jejak dalam:

kejujuran,

rahmat,

adab,

amanah,

dan ibadah.

Maka jawaban kubur bukan sekadar dihafal.

Ia dilatih sepanjang hidup.


KEDUA PULUH TUJUH: SIKSA KUBUR BUKAN ALASAN UNTUK MENEROR MANUSIA

Jangan menggunakan ajaran tentang azab kubur untuk membuat orang putus asa.

Jangan berkata kepada orang berdosa:

“Tidak ada harapan untukmu.”

Selama hidup belum berakhir,

pintu taubat masih terbuka sesuai kehendak Alloh.

Ada manusia yang hidupnya panjang dalam kesalahan,

kemudian benar-benar kembali.

Ada manusia yang dahulu jauh,

kemudian mendekat.

Ada hati keras yang akhirnya menangis.

Maka dakwah tentang kematian harus mempunyai dua sayap:

peringatan

dan

harapan.

Tanpa peringatan,

manusia lalai.

Tanpa harapan,

manusia putus asa.


KEDUA PULUH DELAPAN: RAHMAT ALLOH TIDAK BOLEH DILUPAKAN

Ketika membahas kubur,

azab,

hisab,

dan akhirat,

ingatlah:

Alloh juga adalah

Ar-Raḥmān

dan

Ar-Raḥīm.

Kita tidak boleh hanya mengenalkan agama melalui ketakutan.

Seorang hamba berjalan kepada Alloh dengan:

takut,

harap,

dan cinta.

Takut membuatnya menjauhi dosa.

Harap membuatnya terus bertaubat.

Cinta membuat ketaatan tidak hanya terasa sebagai beban.


KEDUA PULUH SEMBILAN: ORANG YANG PALING SIAP MATI BUKAN YANG PALING INGIN MATI

Ini perlu dipahami.

Mengingat kematian bukan berarti berharap cepat mati karena lelah menghadapi kehidupan.

Justru orang yang memahami akhirat seharusnya menjaga kehidupan sebagai amanah.

Setiap hari tambahan dapat menjadi kesempatan:

menambah salat,

memperbaiki hubungan,

mengembalikan hutang,

membantu orang,

belajar,

menanam kebaikan,

dan bertaubat.

Maka jangan membuang kesempatan hidup.

Kematian akan datang pada waktunya.

Sebelum itu,

hiduplah dengan benar.


KETIGA PULUH: SATU HARI KELAK, KITA YANG AKAN DIANTAR

Hari ini kita mengantar jenazah orang lain.

Suatu hari,

nama kita yang diumumkan.

Orang lain datang ke rumah.

Mereka berkata:

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

Tubuh kita dimandikan.

Dikafani.

Disalatkan.

Diangkat.

Dibawa menuju makam.

Anak,

saudara,

teman,

atau tetangga berjalan di belakang.

Kemudian kita dimasukkan ke liang yang sebelumnya selalu kita lihat sebagai milik orang lain.

Saat itu,

dunia tetap berjalan.

Matahari tetap terbit.

Pasar tetap buka.

Orang tetap bekerja.

Media sosial tetap ramai.

Kendaraan tetap lewat.

Yang berhenti hanyalah:

bagian kita dari dunia.


KETIGA PULUH SATU: LALU APA YANG BENAR-BENAR PENTING?

Jika semua itu benar,

maka mungkin yang terpenting bukan:

siapa yang paling terkenal,

tetapi siapa yang paling amanah.

Bukan:

siapa yang memiliki paling banyak,

tetapi siapa yang paling bersih dalam mendapatkannya.

Bukan:

siapa yang paling sering dipuji,

tetapi siapa yang paling jujur ketika tidak dilihat.

Bukan:

siapa yang tampak paling suci,

tetapi siapa yang paling cepat kembali ketika berbuat salah.

Dan bukan:

berapa banyak orang yang mengikuti kita,

tetapi apakah langkah kita mengarah kepada keridhaan Alloh.


PENUTUP BESAR QITAB SIRR AL-BARZAKH

Wahai saudara dan saudari cahayaku,

Qitab ini tidak ditulis agar kita hidup dalam bayang-bayang ketakutan terhadap kubur.

Ia ditulis agar kubur mengajarkan kepada kita nilai kehidupan.

Jangan takut kepada kubur sampai lupa memperbaiki hidup.

Jangan sibuk membicarakan Munkar dan Nakir tetapi masih suka berbohong.

Jangan sibuk membicarakan azab kubur tetapi masih memakan hak manusia.

Jangan sibuk bertanya apakah ruh pulang ke rumah tetapi lupa mendoakan orang tua.

Jangan sibuk mencari tanda dari orang mati tetapi mengabaikan orang hidup yang membutuhkan kasih sayang.

Jangan sibuk membangun makam yang megah tetapi melupakan amal yang akan menemani penghuninya.

Karena pada akhirnya,

yang kita perlukan bukan kemampuan melihat alam barzakh.

Yang kita perlukan adalah:

hati yang siap memasuki barzakh.


TUJUH AMANAH SEBELUM MATI

Jika seluruh Qitab ini hendak diringkas menjadi tujuh amanah,

maka jagalah:

Pertama — Tauhid.
Jaga hubungan dengan Alloh.

Kedua — Salat.
Jangan biarkan dunia mengambil seluruh waktu kita.

Ketiga — Taubat.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali.

Keempat — Hak manusia.
Jangan membawa kezaliman menuju kubur.

Kelima — Hutang dan amanah.
Catat, lunasi, dan selesaikan semampunya.

Keenam — Amal yang mengalir.
Tinggalkan sesuatu yang tetap bermanfaat setelah kita wafat.

Ketujuh — Husnul khatimah.
Mintalah kepada Alloh agar akhir kehidupan lebih baik daripada awalnya.


DOA PENUTUP QITAB

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ya Alloh,

kami adalah hamba-hamba yang lemah.

Kami sering mengingat dunia lebih banyak daripada akhirat.

Kami sering mengetahui kebenaran tetapi menunda melaksanakannya.

Kami sering meminta ampun tetapi kembali mengulangi kesalahan.

Maka jangan serahkan kami kepada kelemahan diri kami.

Ya Alloh,

ampunilah dosa kami yang terang-terangan dan tersembunyi.

Ampunilah dosa masa lalu.

Ampunilah kelalaian yang kami lupakan tetapi tercatat di sisi-Mu.

Jika ada manusia yang pernah kami zalimi,

berilah kami kekuatan meminta maaf.

Jika ada hutang yang belum kami lunasi,

bukakan rezeki halal untuk menyelesaikannya.

Jika ada amanah yang belum kami tunaikan,

jangan wafatkan kami sebelum kami berusaha menyelesaikannya.

Ya Alloh,

jaga lidah kami sebelum ia diam untuk selamanya.

Jaga tangan kami sebelum ia kehilangan kekuatannya.

Jaga mata kami sebelum ia tertutup.

Jaga kaki kami sebelum ia tidak lagi mampu berjalan.

Dan jaga hati kami agar tetap mengenal-Mu sampai detik terakhir.

Ya Alloh,

ketika sakaratul maut mendatangi kami,

jangan biarkan iman meninggalkan hati.

Mudahkan lidah kami menyebut:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Lā ilāha illallāh.

Jika lidah tidak lagi mampu bergerak,

tetapkan kalimat tauhid di dalam hati.

Ya Alloh,

ketika tubuh kami dimandikan oleh tangan orang lain,

tutuplah aib-aib kami.

Ketika tubuh kami dibungkus kafan,

bungkuslah ruh kami dengan rahmat-Mu.

Ketika kami disalatkan,

terimalah doa orang-orang yang mendoakan kami.

Ketika tubuh kami diturunkan ke dalam tanah,

jangan turunkan rahmat-Mu dari kami.

Ketika keluarga pulang dan langkah manusia menjauh,

jangan tinggalkan kami sendirian tanpa pertolongan-Mu.

Ya Alloh,

teguhkanlah kami ketika datang pertanyaan alam kubur.

Berikan keteguhan kepada hati untuk menjawab dengan iman,

bukan sekadar hafalan.

Lapangkan alam barzakh kami.

Terangkan dengan rahmat-Mu.

Lindungi kami dari fitnah kubur dan azab kubur.

Jadikan tempat peristirahatan kami sebagai tempat ketenteraman sampai hari kebangkitan.

Ya Alloh,

rahmatilah ayah kami.

Ibu kami.

Kakek dan nenek kami.

Guru-guru kami.

Saudara-saudara kami.

Sahabat-sahabat kami.

Dan seluruh kaum mukminin yang telah mendahului.

Yang makamnya masih dikenal,

dan yang tidak lagi diketahui.

Yang meninggal di daratan,

di lautan,

di perjalanan,

atau jasadnya tidak pernah ditemukan.

Tidak ada seorang pun yang hilang dari ilmu-Mu.

Maka rahmatilah mereka semua.

Ya Alloh,

jangan biarkan kami hanya pandai berbicara tentang kematian,

tetapi lalai mempersiapkannya.

Jangan biarkan Qitab ini hanya menjadi bacaan.

Jadikan ia sebab satu hutang dilunasi.

Satu permusuhan didamaikan.

Satu salat diperbaiki.

Satu dosa ditinggalkan.

Satu orang tua dimintai maaf.

Satu sedekah ditunaikan.

Dan satu hati kembali kepada-Mu.

Ya Alloh,

jika umur kami masih panjang,

jadikan ia panjang dalam ketaatan.

Jika rezeki kami diluaskan,

jadikan ia luas dalam keberkahan.

Jika kami diberi ilmu,

jadikan ilmu itu manfaat.

Jika kami diberi kedudukan,

jangan jadikan kedudukan itu membutakan hati.

Jika kami diuji,

jangan biarkan ujian memutus hubungan kami dengan-Mu.

Dan ketika dunia harus kami tinggalkan,

jadikan kalimat terakhir kehidupan kami sebagai kalimat yang Engkau cintai.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

Allāhumma innā nas’aluka ḥusnal-khātimah.

Ya Alloh,

kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.

وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ

Wa na‘ūdzu bika min sū’il-khātimah.

Dan kami berlindung kepada-Mu dari akhir kehidupan yang buruk.

Ya Alloh,

bangkitkan kami kelak dalam keadaan beriman.

Mudahkan hisab kami.

Naungi kami dengan rahmat-Mu.

Ampunilah kekurangan kami.

Dan pertemukan kami dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan Engkau ridai.

Jangan pisahkan keluarga yang saling mencintai karena-Mu di akhirat.

Kumpulkanlah kami kembali,

bukan dalam kesedihan dunia,

tetapi dalam kebahagiaan yang tidak lagi mengenal kematian.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


KHATIMAH

Dari Alloh kita datang dalam arti kita adalah ciptaan-Nya.

Dengan ketetapan Alloh kita hidup.

Dengan ketetapan Alloh kita meninggal.

Dan kepada-Nya seluruh manusia akan kembali untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Maka sebelum nama kita berubah menjadi tulisan di atas batu nisan,

jadikanlah nama itu dikenal di sisi Alloh melalui amal yang baik.

Sebelum orang lain membaca:

“Telah wafat…”

pastikan hari-hari sebelum kalimat itu dipenuhi usaha untuk menjadi hamba yang lebih baik.

Dan apabila suatu hari dunia berkata:

“Ia telah pergi,”

semoga langit menyambut dengan rahmat:

“Seorang hamba telah kembali kepada Rabb-nya.”

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Alloh lebih mengetahui kebenaran yang sempurna.


TAMAT

QITAB SIRR AL-BARZAKH

Rahasia Kehidupan Setelah Kematian, Pertanyaan Kubur, Nikmat dan Azab Barzakh

Catatan penutup:
Qitab ini merupakan rangkaian muhasabah dan penjelasan keagamaan, bukan wahyu baru dan bukan pengganti Al-Qur’an, hadis, atau kitab-kitab ulama. Perkara gaib dikembalikan kepada dalil yang sahih, sedangkan rincian yang tidak diketahui diserahkan kepada ilmu Alloh.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh