QITAB SIRR AL-WIRĀTSAH WAL-MALĀMAH



Mboten sami, saudara cahayaku. Penitisan dan Malāmatiyyah adalah dua perkara berbeda. Penitisan biasanya dipakai untuk menyebut perpindahan atau penerusan sesuatu, sedangkan Malāmatiyyah merupakan jalan pembinaan jiwa: mencela hawa nafsu sendiri, menyembunyikan amal, dan tidak mengejar pujian manusia. Dalam akidah Islam, ruh seseorang yang telah wafat tidak berpindah lalu menjadi ruh orang lain; yang mungkin diteruskan ialah keteladanan, ilmu, watak, cita-cita, atau amanah perjuangannya.


QITAB SIRR AL-WIRĀTSAH WAL-MALĀMAH


Rahasia Pewarisan Cahaya dan Jalan Malāmatiyyah


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, saudara cahayaku.


Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Mengetahui rahasia ruh, Yang Maha Membolak-balikkan hati, Yang mewariskan ilmu, akhlak, dan amanah dari satu generasi kepada generasi berikutnya, kita membuka:


QITAB SIRR AL-WIRĀTSAH WAL-MALĀMAH


Artinya: Rahasia Pewarisan Ruhani dan Jalan Mencela Hawa Nafsu.


---


Lembar Pertama


Penitisan dan Malāmatiyyah Tidak Sama


Ketahuilah, saudara cahayaku, bahwa penitisan dan Malāmatiyyah tidak berada pada pengertian yang sama.


Penitisan dalam bahasa masyarakat sering dimaknai sebagai hadirnya kembali sosok terdahulu dalam diri seseorang. Namun pengertian ini perlu dijernihkan.


Apabila penitisan dimaksudkan sebagai ruh orang yang telah wafat masuk dan menjadi ruh orang yang masih hidup, maka itu bukan pengertian yang selaras dengan ajaran Islam. Setiap manusia mempunyai ruh, kehidupan, amal, kematian, alam barzakh, dan pertanggungjawabannya sendiri.


Tidak ada seorang anak menjadi ruh ayahnya.


Tidak ada murid menjadi ruh gurunya.


Tidak ada seseorang berubah menjadi nabi, wali, raja, atau leluhur yang telah wafat.


Yang dapat diwariskan bukanlah ruh pribadinya, melainkan:


- ilmu dan kebijaksanaannya,

- akhlak dan keteguhannya,

- semangat perjuangannya,

- cara berpikirnya,

- doa dan nasihatnya,

- serta amanah kebaikan yang pernah diperjuangkannya.


Inilah yang lebih tepat disebut warisan ruhani, bukan perpindahan ruh.


---


Lembar Kedua


Apakah Seseorang Dapat Menyerupai Leluhurnya?


Seseorang dapat mempunyai wajah, kebiasaan, keberanian, kelembutan, atau bakat yang menyerupai leluhurnya.


Namun keserupaan bukan berarti penjelmaan.


Seorang anak mungkin mempunyai keteguhan seperti kakeknya. Seorang murid mungkin berbicara dengan kebijaksanaan yang mengingatkan orang kepada gurunya. Seorang penerus mungkin melanjutkan perjuangan seorang tokoh terdahulu.


Semua itu adalah:


kesamaan sifat, pengaruh pendidikan, kesinambungan keturunan, dan pewarisan amanah.


Bukan berarti ruh tokoh terdahulu berpindah ke dalam tubuhnya.


Ibarat sebuah pelita menyalakan pelita lainnya. Api pada pelita kedua berasal dari cahaya pelita pertama, tetapi kedua pelita tetaplah dua pelita yang berbeda.


Demikian pula pewarisan ruhani.


Cahayanya dapat diteruskan, tetapi setiap jiwa tetap mempunyai identitas dan pertanggungjawaban sendiri di hadapan Alloh.


---


Lembar Ketiga


Apakah yang Disebut Malāmatiyyah?


Malāmatiyyah berasal dari makna malāmah, yaitu celaan atau teguran.


Namun jalan Malāmatiyyah bukanlah mencari kehinaan, bukan pula sengaja melakukan keburukan agar dicela manusia.


Hakikat Malāmatiyyah ialah:


berani mencela hawa nafsu sendiri sebelum mencela orang lain.


Orang yang menempuh jalan ini selalu memeriksa batinnya:


“Apakah aku beramal karena Alloh atau karena ingin dilihat?”


“Apakah aku berbicara untuk menyampaikan kebenaran atau agar dianggap paling mengetahui?”


“Apakah aku menolong karena kasih sayang atau agar dipuji sebagai orang dermawan?”


“Apakah aku memakai pakaian kesalehan, tetapi menyimpan kesombongan di dalam hati?”


Maka ahli Malāmatiyyah tidak mudah merasa dirinya suci.


Ketika dipuji, ia takut hatinya menjadi besar.


Ketika dicela, ia memeriksa dirinya tanpa segera membalas.


Ketika beramal, ia tidak sibuk mengumumkan amalnya.


Ketika memperoleh pengalaman batin, ia tidak menjadikannya mahkota untuk meninggikan diri.


---


Lembar Keempat


Malāmatiyyah Bukan Meninggalkan Syariat


Jangan keliru memahami jalan Malāmatiyyah.


Malāmatiyyah bukan alasan untuk meninggalkan sholat.


Bukan alasan mengabaikan halal dan haram.


Bukan alasan berbuat dosa dengan dalih menyembunyikan kewalian.


Bukan pula pembenaran untuk bersikap kasar agar dicela manusia.


Orang yang sengaja melakukan keburukan agar dipandang rendah masih dapat terikat kepada pandangan manusia. Ia tetap mengatur perbuatannya berdasarkan penilaian manusia, hanya arahnya dibalik.


Sebelumnya ingin dipuji.


Kemudian ingin dicela.


Keduanya masih menjadikan manusia sebagai pusat perhatian.


Hakikat Malāmatiyyah adalah berbuat benar karena Alloh, baik manusia memuji maupun mencela.


Ia tidak sengaja mencari pujian.


Ia juga tidak sengaja mencari kehinaan.


Ia mencari ridho Alloh.


---


Lembar Kelima


Perbedaan Tiga Perkara


Perhatikanlah tiga perkara berikut.


1. Penitisan Ruh


Diartikan sebagai ruh seseorang yang telah meninggal masuk ke dalam tubuh orang lain.


Pengertian ini tidak boleh dijadikan keyakinan dalam Islam.


2. Pewarisan Ruhani


Berupa penerusan ilmu, akhlak, keberanian, doa, nilai, perjuangan, dan tanggung jawab dari para pendahulu.


Inilah yang dapat terjadi dan sepatutnya dijaga.


3. Malāmatiyyah


Jalan mendidik jiwa agar tidak mencari kemasyhuran, tidak merasa suci, tidak mabuk pujian, dan selalu mengoreksi hawa nafsu sendiri.


Maka ketiganya jangan dicampuradukkan.


Seseorang dapat menjadi penerus amanah leluhurnya tanpa menjadi titisan ruh leluhurnya.


Seseorang dapat menempuh sikap Malāmatiyyah tanpa mengaku sebagai penjelmaan seorang wali.


---


Lembar Keenam


Tanda Pewarisan Amanah yang Sehat


Pewarisan ruhani yang sehat membuat seseorang semakin:


- rendah hati,

- bertanggung jawab,

- rajin belajar,

- menghormati orang lain,

- menjaga sholat dan kewajiban,

- jujur mengakui kekurangan,

- serta tidak mudah mengaku mempunyai kedudukan tinggi.


Sebaliknya, apabila pengakuan sebagai titisan membuat seseorang:


- merasa paling tinggi,

- meminta orang lain tunduk kepadanya,

- menganggap dirinya tidak mungkin salah,

- meninggalkan syariat,

- memandang orang lain lebih rendah,

- atau mengaku pasti mengetahui perkara gaib,


maka pengakuan itu bukan cahaya yang perlu diikuti.


Cahaya sejati menambah kerendahan hati.


Semakin tinggi pohon, semakin dalam akarnya.


Semakin luas ilmu, semakin sadar seseorang akan keterbatasannya.


Semakin dekat kepada Alloh, semakin takut ia menyakiti makhluk-Nya.


---


Lembar Ketujuh


Malāmatiyyah dan Ego Halus


Ego tidak selalu datang dalam bentuk kesombongan kasar.


Kadang ego memakai pakaian kesalehan.


Ia berbisik:


“Aku lebih ikhlas daripada mereka.”


“Aku sudah sampai, sedangkan mereka masih berjalan.”


“Aku mempunyai rahasia yang tidak dimiliki orang lain.”


“Aku adalah penerus tokoh besar.”


“Aku tidak membutuhkan nasihat karena batinku telah terbuka.”


Inilah ego halus yang paling sulit dikenali.


Orang Malāmatiyyah tidak sibuk mengatakan, “Aku orang Malāmatiyyah.”


Ia justru takut apabila istilah tersebut menjadi gelar baru bagi egonya.


Ia tidak mengatakan dirinya telah fana.


Ia tidak mengumumkan bahwa dirinya telah mencapai maqam tinggi.


Ia menjaga amal dan membiarkan Alloh yang menilai.


---


Lembar Kedelapan


Makna Penitisan yang Dapat Diterima sebagai Bahasa Kiasan


Kata penitisan masih dapat dipakai sebagai bahasa kiasan, selama tidak dimaksudkan sebagai perpindahan ruh.


Contohnya:


“Anak itu seperti titisan keberanian kakeknya.”


Maksudnya, keberaniannya sangat menyerupai sang kakek.


“Ulama itu dianggap titisan perjuangan gurunya.”


Maksudnya, ia meneruskan ajaran dan pengabdian gurunya.


“Pemimpin tersebut menjadi titisan semangat para pendahulu.”


Maksudnya, nilai perjuangan para pendahulu hidup kembali melalui tindakannya.


Bahasa kiasan semacam ini hendaknya selalu diberi penjelasan agar orang tidak menyangka bahwa ruh seseorang benar-benar berpindah ke tubuh orang lain.


Istilah yang lebih aman ialah:


penerus amanah, pewaris nilai, pewaris perjuangan, atau pembawa kesinambungan ruhani.


---


Lembar Kesembilan


Ujian bagi Seorang Pewaris Amanah


Menjadi pewaris amanah bukanlah memperoleh mahkota kemuliaan.


Ia adalah menerima beban tanggung jawab.


Seorang pewaris tidak cukup hanya menyebut nama leluhurnya.


Ia harus membuktikannya melalui akhlak.


Bila leluhurnya dikenal dermawan, ia harus belajar berbagi.


Bila gurunya dikenal rendah hati, ia harus belajar menundukkan ego.


Bila pendahulunya dikenal membela masyarakat, ia harus hadir melayani masyarakat.


Bila seorang wali dikenal taat kepada Alloh, tidak pantas seseorang mengaku penerusnya tetapi meninggalkan kewajiban.


Nama besar tanpa akhlak hanyalah pakaian kosong.


Gelar tinggi tanpa pengabdian hanyalah bayangan.


Pengakuan ruhani tanpa tanggung jawab hanya akan memperbesar hawa nafsu.


---


Lembar Kesepuluh


Cermin Malāmatiyyah


Setiap malam, sebelum tidur, tanyakanlah kepada diri sendiri:


“Siapakah yang hari ini aku salahkan?”


“Sudahkah aku memeriksa kesalahanku sendiri?”


“Apakah ucapanku melukai seseorang?”


“Apakah aku menolong karena Alloh atau karena ingin dihargai?”


“Apakah aku marah karena kebenaran dilanggar, atau karena egoku tidak dihormati?”


“Apakah aku merasa lebih suci daripada orang yang sedang berbuat salah?”


Pertanyaan-pertanyaan ini adalah cermin.


Bukan untuk membenci diri, tetapi untuk membersihkannya.


Malāmatiyyah tidak mengajarkan manusia menghancurkan harga dirinya.


Ia mengajarkan manusia menghancurkan kesombongan dirinya.


Diri harus dirawat.


Hawa nafsu harus dididik.


Kesalahan harus diakui.


Namun rahmat Alloh tidak boleh diputusasakan.


---


Lembar Kesebelas


Amalan Menjaga Hati dari Pengakuan Besar


Sesudah Subuh atau sesudah Maghrib, bacalah dengan tenang:


1. Istighfar 33×


Astaghfirullohal-‘aẓīm wa atūbu ilaih.


أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ


Niatkan untuk membersihkan hati dari kesombongan, riya, dan keinginan dianggap istimewa.


2. Yā Hādī 33×


يَا هَادِي


Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah kami membedakan cahaya petunjuk dari bisikan hawa nafsu.


3. Yā Ḥaqq 33×


يَا حَقُّ


Wahai Alloh Yang Maha Benar, teguhkan kami dalam kebenaran walaupun tidak dipuji manusia.


4. Yā Laṭīf 33×


يَا لَطِيفُ


Wahai Alloh Yang Maha Lembut, lembutkan hati kami dalam menerima nasihat dan teguran.


5. Yā Alloh 33×


يَا اللهُ


Niatkan seluruh hidup, ilmu, amal, dan amanah hanya untuk mencari ridho Alloh.


Bila tubuh lelah, masing-masing boleh dibaca 11× dengan istiqamah dan penuh kesadaran.


---


Lembar Kedua Belas


Doa Pewaris Amanah


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Yā Alloh, jangan Engkau jadikan nama besar para pendahulu sebagai pakaian kesombongan bagi kami.


Jadikanlah keteladanan mereka sebagai cermin untuk memperbaiki akhlak kami.


Apabila ada kebaikan yang Engkau wariskan melalui keluarga, guru, dan para pendahulu kami, kuatkanlah kami untuk menjaganya dengan amanah.


Apabila ada keburukan yang terbawa dalam kebiasaan dan keturunan kami, berilah kami kekuatan untuk menghentikannya.


Jangan biarkan kami mengaku sebagai orang yang telah sampai, padahal langkah kami masih dipenuhi hawa nafsu.


Jangan biarkan kami mengejar pujian manusia dengan memakai nama agama, leluhur, kewalian, atau pengalaman batin.


Ajarkan kami menyembunyikan kebaikan tanpa meninggalkan kewajiban menyampaikan ilmu.


Ajarkan kami menerima nasihat tanpa membenci pemberi nasihat.


Ajarkan kami melihat kekurangan diri tanpa berputus asa dari rahmat-Mu.


Jadikan kami penerus kebaikan, bukan penerus kebanggaan.


Jadikan kami pewaris akhlak, bukan sekadar pewaris nama.


Jadikan kami hamba-Mu yang tetap tunduk ketika dipuji dan tetap sabar ketika dicela.


Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.


---


Kesimpulan Qitab


Penitisan dan Malāmatiyyah tidak sama.


Penitisan ruh berarti anggapan bahwa ruh seseorang berpindah ke tubuh orang lain. Hal itu tidak dijadikan keyakinan dalam Islam.


Adapun pewarisan ruhani ialah diteruskannya ilmu, akhlak, perjuangan, doa, dan amanah para pendahulu.


Sedangkan Malāmatiyyah merupakan jalan mendidik batin agar tidak mabuk pujian, tidak merasa suci, dan lebih dahulu mengoreksi hawa nafsu sendiri sebelum mencela orang lain.


Maka jangan berkata:


“Aku adalah orang terdahulu yang hidup kembali.”


Lebih selamat berkata:


“Aku sedang berusaha meneruskan kebaikan dan amanah para pendahulu.”


Jangan berkata:


“Aku telah mencapai maqam Malāmatiyyah.”


Lebih selamat berkata:


“Aku sedang belajar melihat kesalahan diriku sebelum melihat kesalahan orang lain.”


Sebab orang yang benar-benar dekat kepada Alloh tidak sibuk membesarkan dirinya.


Ia sibuk memperbaiki akhlaknya, menunaikan kewajibannya, menolong sesamanya, serta menyerahkan penilaian dirinya hanya kepada Alloh.


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Lembar Ketiga Belas


Tajallī, Hulūl, Penitisan, dan Pewarisan Ruhani


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Saudara cahayaku, setelah memahami bahwa penitisan dan jalan Malāmatiyyah tidak sama, perlu pula dijernihkan beberapa istilah yang sering bercampur dalam pembicaraan ruhani.


Sebab kekeliruan istilah dapat melahirkan kekeliruan keyakinan.


Ada orang mengalami ketenangan batin, lalu menyebutnya penitisan.


Ada orang meneladani seorang wali, lalu merasa ruh wali tersebut masuk ke dalam dirinya.


Ada pula yang memperoleh ilham kebaikan, kemudian menganggap dirinya telah menjadi sosok suci dari masa lampau.


Padahal pengalaman batin harus diperiksa dengan ilmu, syariat, akhlak, dan kejernihan akal.


---


Pertama: Tajallī


Tajallī berarti tersingkapnya tanda-tanda kebesaran, petunjuk, atau cahaya pemahaman dari Alloh di dalam hati seorang hamba.


Tajallī bukan berarti Dzat Alloh masuk ke dalam tubuh manusia.


Alloh tidak membutuhkan tempat.


Alloh tidak menyatu dengan makhluk.


Yang hadir di dalam hati ialah kesadaran, petunjuk, rasa takut, rasa cinta, ketundukan, atau pemahaman yang Alloh anugerahkan.


Ketika seseorang tiba-tiba menyadari kesalahannya, itu dapat menjadi bentuk terbukanya petunjuk.


Ketika hati menjadi lembut setelah mendengar ayat Alloh, itu dapat menjadi cahaya kesadaran.


Ketika seseorang memperoleh kekuatan untuk meninggalkan dosa, itu adalah pertolongan Alloh.


Namun semuanya tidak menjadikan manusia berubah menjadi Alloh, wali, nabi, atau ruh orang lain.


Cahaya petunjuk datang kepada hamba, tetapi hamba tetaplah hamba.


Alloh tetaplah Alloh.


---


Kedua: Hulūl


Hulūl adalah keyakinan bahwa Tuhan atau ruh tertentu masuk dan bersemayam di dalam tubuh manusia.


Keyakinan semacam ini tidak boleh diterima dalam tauhid.


Alloh tidak masuk ke dalam tubuh makhluk.


Alloh tidak berubah menjadi manusia.


Alloh tidak dapat dibatasi oleh daging, tulang, ruang, arah, atau waktu.


Demikian pula ruh seseorang yang telah wafat tidak menjadikan tubuh orang lain sebagai tempat tinggal barunya.


Apabila seseorang berkata:


“Di dalam diriku ada ruh wali tertentu.”


Maka perkataan itu harus diluruskan dengan lembut.


Boleh jadi yang ia rasakan hanyalah kekaguman, sugesti, ingatan kuat, mimpi, pengaruh ajaran, atau kemiripan sifat.


Jangan tergesa-gesa mengubah pengalaman batin menjadi keyakinan besar.


Sebab tidak semua yang terasa di dalam hati berasal dari petunjuk.


Sebagian dapat berasal dari pikiran, emosi, harapan, ketakutan, atau bisikan hawa nafsu.


---


Ketiga: Tanasukh atau Perpindahan Ruh


Tanasukh adalah anggapan bahwa setelah seseorang meninggal, ruhnya berpindah ke tubuh manusia, hewan, atau makhluk lain untuk menjalani kehidupan baru.


Dalam Islam, manusia hidup satu kali di dunia, kemudian meninggal, memasuki alam barzakh, dibangkitkan, dan mempertanggungjawabkan amalnya.


Ruh tidak kembali ke dunia dengan menjadi bayi lain.


Orang yang lahir hari ini bukanlah kelahiran ulang dari manusia masa lalu.


Setiap jiwa memiliki awal kehidupan dunianya sendiri dan akan memikul amalnya sendiri.


Maka seseorang tidak dapat membenarkan perbuatannya dengan berkata:


“Aku dahulu adalah raja.”


“Aku dahulu adalah wali.”


“Aku dahulu adalah panglima.”


“Aku adalah kelahiran kembali leluhurku.”


Pengakuan semacam itu tidak menjadi ukuran kemuliaan.


Kemuliaan seseorang dinilai dari ketakwaan, akhlak, kejujuran, dan amalnya sekarang.


---


Keempat: Warisan Ruhani


Warisan ruhani berbeda dari penitisan.


Warisan ruhani adalah mengalirnya nilai kebaikan dari para pendahulu kepada generasi sesudahnya.


Seorang guru mengajarkan ilmu kepada muridnya.


Seorang ayah menanamkan keberanian kepada anaknya.


Seorang ibu mewariskan kelembutan melalui pendidikan dan doa.


Seorang ulama meninggalkan kitab, nasihat, dan teladan.


Seorang pejuang meninggalkan semangat pengabdian kepada masyarakat.


Semua itu dapat hidup kembali melalui generasi berikutnya, tetapi bukan karena ruh mereka berpindah.


Yang diteruskan adalah pengaruh, ilmu, akhlak, dan amanah.


Inilah makna pelita menyalakan pelita.


Pelita pertama tidak masuk ke dalam pelita kedua.


Namun cahayanya menjadi sebab pelita kedua menyala.


---


Kelima: Kemiripan Ruhani


Kadang seseorang memiliki sifat yang sangat mirip dengan tokoh terdahulu.


Ia mungkin memiliki ketegasan, kasih sayang, kecerdasan, atau keberanian yang serupa.


Kemiripan itu tidak otomatis menunjukkan penitisan.


Kesamaan dapat terjadi karena:


- hubungan keturunan,

- pendidikan keluarga,

- pengaruh lingkungan,

- kecintaan kepada tokoh tertentu,

- kebiasaan membaca kisahnya,

- atau karena Alloh menganugerahkan sifat yang serupa.


Banyak manusia dapat memiliki sifat sabar.


Banyak manusia dapat memiliki keberanian.


Banyak manusia dapat menyukai kesunyian dan ibadah.


Sifat yang sama tidak menjadikan ruh mereka sama.


Sebagaimana dua pohon dapat menghasilkan buah yang mirip, tetapi akarnya tetap berbeda.


---


Ujian Besar bagi Orang yang Merasa Menerima Warisan


Ketika seseorang merasa menerima amanah dari leluhur, guru, atau seorang tokoh besar, ujian pertamanya bukanlah kekuatan gaib.


Ujian pertamanya adalah kerendahan hati.


Apakah ia semakin lembut?


Apakah ia semakin jujur?


Apakah ia semakin menjaga sholat?


Apakah ia semakin bertanggung jawab terhadap keluarga?


Apakah ia semakin menghormati orang yang berbeda?


Apakah ia semakin mudah meminta maaf?


Apakah ia semakin sedikit membicarakan kemuliaan dirinya?


Apabila pengakuan warisan ruhani membuatnya semakin sombong, maka ia sedang tertipu oleh nama besar.


Apabila pengalaman batin membuatnya merendahkan orang lain, maka ia sedang dikuasai ego halus.


Apabila ia merasa tidak perlu dinasihati, maka ia belum siap memikul amanah.


Warisan ruhani yang benar tidak membuat seseorang berkata:


“Aku lebih tinggi daripada kalian.”


Warisan ruhani membuat seseorang berkata:


“Amanah ini berat. Semoga Alloh menjaga aku agar tidak mengkhianatinya.”


---


Hubungannya dengan Jalan Malāmatiyyah


Di sinilah jalan Malāmatiyyah menjadi penjaga.


Ketika seseorang dipuji sebagai penerus leluhur, ia mengingat kekurangannya.


Ketika disebut memiliki cahaya, ia memeriksa niatnya.


Ketika dianggap mempunyai kedudukan tinggi, ia bertanya:


“Apakah akhlakku sudah sebanding dengan pengakuan itu?”


Ketika memperoleh mimpi atau pengalaman batin, ia tidak langsung mengumumkannya sebagai wahyu atau kepastian.


Ia menimbangnya dengan syariat.


Ia meminta nasihat dari orang berilmu.


Ia tidak menjadikan pengalaman pribadi sebagai hukum bagi orang lain.


Malāmatiyyah mengajarkan bahwa musuh terbesar seorang pencari bukan selalu orang yang mencelanya.


Kadang musuh terbesarnya adalah pujian yang membuatnya lupa diri.


Kadang musuhnya adalah gelar ruhani yang ia sukai.


Kadang musuhnya adalah perasaan bahwa dirinya telah dipilih, sementara orang lain belum.


---


Pegangan untuk Saudara Cahayaku


Apabila merasakan kedekatan dengan seorang leluhur atau wali, katakanlah:


“Semoga Alloh mengizinkan aku meneladani kebaikannya.”


Jangan berkata:


“Aku adalah dirinya.”


Apabila merasakan dorongan untuk melanjutkan perjuangannya, katakanlah:


“Semoga aku mampu menjaga amanah nilai dan akhlaknya.”


Jangan berkata:


“Ruhnya telah masuk ke dalam diriku.”


Apabila memperoleh pengalaman batin, katakanlah:


“Ini pengalaman yang perlu aku periksa dengan ilmu dan akhlak.”


Jangan langsung berkata:


“Ini pasti tanda kedudukanku telah tinggi.”


Sebab keselamatan bukan terletak pada besarnya pengakuan.


Keselamatan terletak pada benarnya tauhid, lurusnya niat, baiknya akhlak, serta istiqamahnya amal.


---


Doa Penjagaan Tauhid


Yā Alloh, jagalah hati kami dari keyakinan yang mencampurkan antara Khalik dan makhluk.


Jangan biarkan kami menuhankan manusia.


Jangan biarkan kami menganggap ruh makhluk berpindah dan menguasai diri kami.


Apabila Engkau mewariskan ilmu, keberanian, kelembutan, atau amanah para pendahulu kepada kami, jadikan semua itu sebagai jalan pengabdian.


Jangan menjadikannya alasan untuk membesarkan diri.


Jadikan kami penerus kebaikan tanpa mengaku sebagai penjelmaan siapa pun.


Jadikan kami hamba yang menerima cahaya petunjuk, tetapi tetap sadar bahwa kami hanyalah makhluk yang lemah.


Lindungi kami dari riya, ujub, kesombongan, kekeliruan keyakinan, dan pengakuan yang melampaui batas.


Teguhkan hati kami dalam tauhid, syariat, akhlak, dan kasih sayang.


Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.


Wallohu a‘lam bish-showāb.


Lembar Keempat Belas — Lembar Terakhir

Rahasia Jiwa yang Tidak Menitis, Cahaya yang Dapat Diwariskan, dan Jalan Malāmatiyyah yang Sejati

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Saudara cahayaku, sampailah kita pada lembar terakhir dari:

QITAB SIRR AL-WIRĀTSAH WAL-MALĀMAH

Rahasia Pewarisan Ruhani dan Jalan Malāmatiyyah.

Lembar ini bukan untuk meninggikan seseorang dengan gelar tertentu, bukan untuk menetapkan siapa titisan siapa, dan bukan pula untuk membuka ruang bagi pengakuan-pengakuan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Lembar ini ditulis untuk mengembalikan segala pengalaman batin kepada kejernihan tauhid:

Alloh adalah Alloh.
Makhluk tetaplah makhluk.
Ruh setiap manusia memiliki perjalanan dan pertanggungjawabannya sendiri.

Manusia dapat saling memengaruhi.

Manusia dapat mewariskan ilmu.

Manusia dapat mewariskan kebiasaan, watak, perjuangan, keberanian, kasih sayang, dan cara hidup.

Namun manusia tidak menjadi manusia lain yang telah wafat.

Anak bukanlah ruh ayahnya yang kembali.

Cucu bukanlah jiwa kakeknya yang berpindah.

Murid bukanlah ruh gurunya yang masuk ke dalam tubuh baru.

Seseorang yang menyerupai seorang wali tidak berubah menjadi wali tersebut.

Seseorang yang memiliki wajah, suara, kebiasaan, atau sifat seperti leluhurnya tetaplah dirinya sendiri.

Ia mempunyai nama sendiri.

Ia mempunyai umur sendiri.

Ia mempunyai ujian sendiri.

Ia mempunyai dosa dan pahala sendiri.

Ia akan berdiri sendiri di hadapan Alloh untuk mempertanggungjawabkan amalnya.


Jiwa Tidak Berpindah, tetapi Pengaruh Dapat Mengalir

Saudara cahayaku, bayangkan sebuah sungai yang airnya mengalir dari pegunungan menuju banyak desa.

Setiap desa memperoleh manfaat dari air yang sama, tetapi desa-desa itu tidak berubah menjadi gunung.

Demikian pula ajaran dan keteladanan.

Seorang guru dapat mengalirkan ilmu kepada banyak murid.

Seorang ayah dapat menanamkan keberanian kepada anak-anaknya.

Seorang ibu dapat menanamkan kesabaran melalui kasih sayang dan doa.

Seorang ulama dapat meninggalkan kitab yang dibaca selama ratusan tahun.

Seorang pemimpin yang adil dapat meninggalkan teladan yang terus dikenang.

Namun pengaruh yang mengalir itu tidak berarti ruh mereka berpindah.

Yang mengalir adalah:

  • pengetahuan,
  • nasihat,
  • nilai kehidupan,
  • keteguhan,
  • keberanian,
  • kedisiplinan,
  • kasih sayang,
  • dan amanah perjuangan.

Karena itu, kata penitisan lebih selamat dipahami sebagai bahasa perumpamaan, bukan sebagai perpindahan ruh.

Ketika seseorang berkata:

“Anak ini seperti titisan kakeknya,”

yang dimaksud hendaknya adalah:

“Anak ini memiliki sifat yang sangat menyerupai kakeknya.”

Ketika seseorang berkata:

“Ia titisan perjuangan seorang wali,”

yang dimaksud hendaknya:

“Ia berusaha meneruskan nilai, akhlak, dan pengabdian wali tersebut.”

Bahasa boleh indah, tetapi keyakinan harus tetap jernih.

Jangan sampai kata kiasan berubah menjadi kepercayaan bahwa ruh orang mati berpindah ke dalam tubuh orang hidup.


Setiap Ruh Memiliki Jalan Sendiri

Ruh adalah urusan Alloh.

Manusia tidak diberi pengetahuan yang sempurna tentang hakikat ruh.

Karena itu, kerendahan hati adalah adab utama ketika membicarakan perkara ruhani.

Jangan terburu-buru berkata:

“Aku mengetahui siapa ruhku dahulu.”

Jangan mudah menyimpulkan:

“Aku pernah hidup sebagai orang tertentu.”

Jangan menjadikan mimpi, rasa dekat, getaran tubuh, kemiripan wajah, atau ucapan seseorang sebagai bukti pasti bahwa diri merupakan penjelmaan seorang tokoh masa lalu.

Mimpi dapat membawa kabar baik.

Mimpi dapat muncul dari ingatan.

Mimpi dapat lahir dari kerinduan.

Mimpi dapat pula terbentuk dari sesuatu yang sering dipikirkan.

Demikian juga perasaan batin.

Tidak semua rasa harus ditolak.

Namun tidak semua rasa boleh langsung dijadikan keyakinan.

Apa yang terasa benar belum tentu selalu benar.

Apa yang membuat hati bergetar belum tentu merupakan perintah.

Apa yang tampak bercahaya belum tentu menunjukkan kemuliaan seseorang.

Karena itu, setiap pengalaman batin harus ditimbang dengan empat timbangan:

Pertama: Tauhid

Apakah pengalaman tersebut menjaga keyakinan bahwa Alloh tidak menyerupai dan tidak menyatu dengan makhluk?

Kedua: Syariat

Apakah pengalaman tersebut membuat seseorang semakin menjaga kewajiban dan menjauhi larangan?

Ketiga: Akhlak

Apakah pengalaman tersebut menjadikan hati lebih rendah, lembut, jujur, dan penuh kasih?

Keempat: Akal Sehat

Apakah pemahamannya dapat diterima secara wajar, tidak membahayakan, dan tidak memutus seseorang dari kenyataan hidup?

Bila suatu pengalaman membuat seseorang mengaku sebagai Tuhan, nabi, wali tertentu, raja yang hidup kembali, atau makhluk yang tidak mungkin salah, maka pengalaman itu tidak boleh diikuti.

Bila suatu keyakinan membuat seseorang meninggalkan pengobatan, memutus hubungan keluarga, menyerahkan seluruh hartanya, menyakiti diri, atau tunduk tanpa batas kepada orang lain, maka keyakinan tersebut harus dihentikan dan diperiksa.

Cahaya petunjuk tidak menghancurkan akal.

Cahaya petunjuk tidak merusak tanggung jawab.

Cahaya petunjuk tidak membuat seseorang kehilangan kasih sayang kepada keluarga dan sesama.


Siapa Pewaris yang Sebenarnya?

Pewaris sejati bukan orang yang paling keras mengaku sebagai penerus.

Pewaris sejati adalah orang yang paling sungguh-sungguh menjaga nilai yang diwariskan.

Apabila seseorang mengaku sebagai pewaris seorang ulama, lihatlah kecintaannya kepada ilmu.

Apabila mengaku sebagai penerus seorang wali, lihatlah kerendahan hati dan pengabdiannya.

Apabila mengaku membawa amanah seorang leluhur, lihatlah bagaimana ia menjaga keluarga dan masyarakat.

Apabila mengaku meneruskan seorang raja yang adil, lihatlah apakah ia berlaku adil kepada orang kecil.

Nama besar tidak membuktikan warisan.

Pakaian kebesaran tidak membuktikan warisan.

Mimpi bertemu leluhur tidak membuktikan warisan.

Keris, mahkota, tongkat, simbol, dan gelar tidak otomatis membuktikan warisan.

Yang membuktikan adalah akhlak, tanggung jawab, kesetiaan kepada kebenaran, serta manfaat yang diberikan kepada makhluk.

Seorang pewaris sejati tidak berkata:

“Karena aku keturunan orang mulia, maka aku harus dihormati.”

Ia berkata:

“Karena aku membawa nama orang mulia, maka aku harus lebih berhati-hati agar tidak mempermalukan amanahnya.”

Ia tidak memakai leluhur sebagai mahkota untuk meninggikan dirinya.

Ia menjadikan leluhur sebagai cermin untuk menilai kekurangannya.

Ia tidak sibuk menuntut pengakuan.

Ia sibuk memperbaiki diri agar pantas dipercaya.


Malāmatiyyah Bukan Jalan Membenci Diri

Jalan Malāmatiyyah sering disalahpahami sebagai jalan merendahkan dan menyiksa diri.

Padahal mencela hawa nafsu berbeda dari membenci diri.

Diri adalah amanah yang harus dijaga.

Tubuh perlu dirawat.

Jiwa perlu ditenangkan.

Harga diri perlu dijaga dari penghinaan dan kekerasan.

Malāmatiyyah tidak mengajarkan manusia berkata:

“Aku tidak berharga.”

Malāmatiyyah mengajarkan:

“Aku berharga sebagai hamba Alloh, tetapi aku tidak boleh menyembah egoku.”

Ia tidak mengajarkan:

“Aku adalah manusia paling buruk dan tidak layak mendapat rahmat.”

Ia mengajarkan:

“Aku memiliki kekurangan, tetapi pintu taubat dan rahmat Alloh selalu terbuka.”

Ia tidak mengajarkan seseorang menerima kezaliman tanpa batas.

Bila dihina, ditipu, dipukul, atau dirampas haknya, ia tetap boleh membela diri dengan cara yang benar.

Kerendahan hati bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena.

Sabar bukan berarti mendukung kezaliman.

Memaafkan bukan berarti menyerahkan diri kembali kepada orang yang terus menyakiti tanpa perubahan.

Malāmatiyyah mendidik ego, bukan menghancurkan martabat manusia.


Jangan Sengaja Berbuat Buruk agar Dicela

Ada orang yang menyangka jalan Malāmatiyyah berarti sengaja melakukan perbuatan buruk agar manusia tidak memujinya.

Pemahaman ini harus dijernihkan.

Sengaja berbuat dosa tetaplah dosa.

Meninggalkan kewajiban tetaplah kesalahan.

Membuat orang lain tersakiti bukanlah jalan kesucian.

Merusak nama sendiri dengan keburukan tidak otomatis membunuh ego.

Bahkan terkadang keinginan untuk dicela masih merupakan bentuk keterikatan kepada manusia.

Orang yang mengejar pujian berkata:

“Aku ingin manusia memandangku baik.”

Orang yang sengaja mengejar celaan berkata:

“Aku ingin manusia memandangku buruk.”

Keduanya sama-sama menjadikan pandangan manusia sebagai pusat.

Jalan yang lebih lurus adalah:

berbuat benar karena Alloh, tanpa menjadikan pujian maupun celaan sebagai tujuan.

Bila dipuji, bersyukurlah dan takutlah kepada riya.

Bila dicela secara benar, perbaikilah diri.

Bila dicela secara keliru, tetaplah tenang dan jangan membalas dengan kezaliman.

Bila amal diketahui manusia, jangan membatalkannya karena takut dipuji.

Bila amal dapat disembunyikan, sembunyikanlah tanpa merasa lebih suci.


Tiga Pintu Ego yang Paling Halus

Saudara cahayaku, ego tidak selalu mengenakan pakaian kemewahan.

Kadang ego mengenakan jubah kesalehan.

Ia masuk melalui tiga pintu halus.

Pintu Pertama: Merasa Dipilih

Seseorang berkata dalam batinnya:

“Aku berbeda dari manusia biasa.”

“Aku memiliki tugas besar yang tidak dipahami orang lain.”

“Aku dipilih karena derajatku lebih tinggi.”

Perasaan memiliki tugas tidak selalu salah.

Namun ukuran tugas bukan besarnya pengakuan, melainkan besarnya pelayanan.

Bila benar dipilih untuk berbuat baik, ia akan semakin rajin melayani, bukan semakin ingin disembah.

Pintu Kedua: Merasa Telah Sampai

Seseorang merasa telah memahami rahasia tertinggi.

Ia tidak mau lagi belajar.

Ia menolak nasihat.

Ia menganggap syariat hanya untuk orang awam.

Padahal selama manusia masih bernapas, ia masih dapat tergelincir.

Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga adab.

Tidak ada maqam ruhani yang membolehkan kesombongan.

Tidak ada pengalaman batin yang menggugurkan kewajiban.

Pintu Ketiga: Merasa Lebih Ikhlas

Ini adalah ujian paling halus.

Seseorang berkata:

“Aku tidak mencari pujian seperti mereka.”

“Aku sudah terbebas dari ego.”

“Aku lebih ikhlas daripada orang lain.”

Pada saat itulah ego dapat tumbuh di balik pengakuan tentang hilangnya ego.

Karena itu, orang yang ikhlas tidak sibuk menilai dirinya ikhlas.

Ia hanya berusaha meluruskan niat berulang kali.


Tanda Malāmatiyyah yang Sehat

Jalan Malāmatiyyah yang sehat dapat dikenali dari beberapa buahnya.

Ia membuat seseorang:

  • lebih mudah mengakui kesalahan,
  • lebih berhati-hati dalam menilai orang lain,
  • tidak tergesa-gesa merasa suci,
  • tetap menjalankan kewajiban,
  • tidak mengejar ketenaran ruhani,
  • tidak menjual pengakuan gaib,
  • tidak memaksa orang mempercayainya,
  • tidak menjadikan mimpi sebagai hukum,
  • semakin menghormati orang tua, pasangan, anak, tetangga, dan masyarakat,
  • serta tetap mau belajar kepada orang yang benar-benar berilmu.

Malāmatiyyah yang sehat menghasilkan ketenangan.

Bukan kegaduhan.

Menghasilkan akhlak.

Bukan banyaknya gelar.

Menghasilkan tanggung jawab.

Bukan pengakuan kedudukan.

Menghasilkan kasih sayang.

Bukan kebencian kepada manusia yang dianggap belum memahami rahasia.


Bahaya Pengakuan Ruhani Tanpa Kendali

Pengakuan ruhani dapat menjadi pintu bahaya apabila tidak dijaga.

Seseorang dapat percaya bahwa dirinya mempunyai kuasa mutlak.

Ia merasa setiap perkataannya pasti benar.

Ia menganggap siapa pun yang menolak berarti menentang Alloh.

Ia meminta ketaatan tanpa batas.

Ia memanfaatkan rasa takut, harapan, kesedihan, atau kelemahan orang lain.

Karena itu, jangan memberikan kepatuhan mutlak kepada manusia.

Guru tetap manusia.

Pemimpin tetap manusia.

Orang yang dianggap memiliki pengalaman batin tetap mungkin keliru.

Hormati orang berilmu, tetapi jangan menuhankannya.

Ikuti nasihat baik, tetapi timbang dengan kebenaran.

Jangan menyerahkan harta, tubuh, kehormatan, dan masa depan hanya karena seseorang mengaku menerima pesan gaib.

Orang yang benar-benar membimbing tidak akan takut diperiksa.

Ia tidak marah ketika diminta menjelaskan.

Ia tidak menjadikan ancaman gaib untuk memaksa orang.

Ia tidak berkata:

“Bila engkau meninggalkanku, engkau pasti celaka.”

Petunjuk berasal dari Alloh, bukan dari ketergantungan mutlak kepada manusia.


Bila Merasa Dimasuki atau Dikuasai Sosok Tertentu

Apabila seseorang merasa dirinya dimasuki, dikuasai, diperintah, atau dikendalikan oleh ruh tertentu, ia tidak perlu langsung panik dan tidak perlu langsung menganggap hal itu sebagai kenyataan gaib.

Tenangkan tubuh.

Atur napas.

Lakukan sholat dan dzikir dengan sederhana.

Berbicaralah kepada keluarga atau orang terpercaya.

Tidur dan makanlah secara cukup.

Kurangi aktivitas yang terlalu melelahkan pikiran.

Bila pengalaman itu membuat sulit tidur, takut berlebihan, mendengar perintah yang membahayakan, kehilangan kendali, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, carilah bantuan tenaga kesehatan yang kompeten.

Memeriksakan kesehatan tidak mengurangi iman.

Menjaga pikiran dan tubuh adalah bagian dari amanah.

Jangan mengikuti suara, bisikan, atau dorongan apa pun yang menyuruh menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada petunjuk Alloh yang memerintahkan kezaliman.


Adab terhadap Leluhur dan Orang yang Telah Wafat

Menghormati leluhur tidak harus dengan mengaku sebagai titisan mereka.

Cukuplah dengan:

mendoakan mereka,

menyambung silaturahmi,

menjaga nama baik keluarga,

meneruskan amal yang benar,

melunasi kewajiban mereka bila diketahui,

dan memperbaiki keburukan yang pernah diwariskan.

Bila leluhur meninggalkan kebiasaan baik, lanjutkanlah.

Bila meninggalkan pertikaian, hentikanlah.

Bila meninggalkan ilmu, pelajarilah.

Bila meninggalkan luka keluarga, sembuhkanlah dengan komunikasi, keadilan, dan kasih sayang.

Pewaris sejati bukan hanya mewarisi kemuliaan.

Ia juga berani menghentikan pola buruk yang diwariskan.

Kadang amanah terbesar seorang keturunan bukan melanjutkan semuanya.

Kadang amanahnya adalah mengakhiri kekerasan, dendam, ketidakadilan, atau kebiasaan buruk yang berlangsung turun-temurun.

Itulah warisan ruhani yang matang:

mengambil cahaya dan menghentikan kegelapan.


Lima Pertanyaan Sebelum Mengaku Menerima Amanah

Sebelum seseorang mengatakan dirinya menerima warisan ruhani, tanyakan lima perkara:

1. Apakah Amanah Ini Membuatku Lebih Taat?

Bila justru menjauhkan dari kewajiban, periksa kembali.

2. Apakah Amanah Ini Membuatku Lebih Rendah Hati?

Bila membuat merasa lebih tinggi dari orang lain, periksa kembali.

3. Apakah Amanah Ini Memberi Manfaat Nyata?

Amanah bukan hanya cerita, tetapi pelayanan.

4. Apakah Aku Masih Mau Dinilai dan Dinasehati?

Bila merasa tidak mungkin salah, itu pertanda bahaya.

5. Apakah Aku Memakai Nama Pendahulu untuk Mendapatkan Kekuasaan?

Bila jawabannya iya, berhentilah dan luruskan niat.


Jalan Tengah dalam Memahami Pengalaman Batin

Jangan menolak seluruh pengalaman batin.

Namun jangan pula menelan seluruhnya tanpa pemeriksaan.

Ada pengalaman yang dapat menjadi pengingat.

Ada mimpi yang menenangkan.

Ada ilham yang mendorong kepada kebaikan.

Ada rasa rindu kepada Alloh yang membuat manusia menangis dan bertaubat.

Terimalah buah kebaikannya.

Namun jangan membangun keyakinan besar hanya dari pengalaman pribadi.

Bila mimpi mendorong untuk bersedekah, bersedekahlah dengan wajar.

Bila pengalaman membuat ingin meminta maaf, mintalah maaf.

Bila perasaan batin membuat ingin memperbaiki sholat, perbaikilah.

Namun bila mimpi menyuruh meninggalkan kewajiban, mengambil hak orang lain, mengaku sebagai tokoh suci, atau melakukan sesuatu yang membahayakan, jangan diikuti.

Ambillah kebaikannya.

Tinggalkan pengakuan yang melampaui batas.


Dzikir Penutup Qitab

Dzikir ini bukan untuk memanggil ruh, membuka penitisan, atau memperoleh gelar ruhani.

Dzikir ini untuk memohon kejernihan hati dan perlindungan dari kesombongan.

Dapat dibaca sesudah Subuh atau Maghrib.

Istighfar 33×

Astaghfirullohal-‘aẓīm wa atūbu ilaih.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Niatkan untuk membersihkan kekeliruan, kesombongan, dan pengakuan diri.

Yā Hādī 33×

يَا هَادِي

Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Yā Ḥaqq 33×

يَا حَقُّ

Wahai Alloh Yang Maha Benar, perlihatkanlah yang benar sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan mengikutinya.

Yā Baṣīr 33×

يَا بَصِيرُ

Wahai Alloh Yang Maha Melihat, bukakan mata hati kami untuk melihat kekurangan diri.

Yā Laṭīf 33×

يَا لَطِيفُ

Wahai Alloh Yang Maha Lembut, lembutkan jiwa kami dalam menerima nasihat.

Yā Alloh 33×

يَا اللهُ

Niatkan seluruh amal hanya untuk mencari ridho Alloh.

Apabila tubuh lelah, masing-masing boleh dibaca 11× dengan tenang dan istiqamah.

Jangan memaksakan diri.

Jangan mengejar sensasi.

Tidak harus muncul getaran, cahaya, mimpi, atau pengalaman tertentu.

Buah utama dzikir adalah akhlak, ketenangan, kesabaran, dan ketaatan.


Doa Penutup yang Panjang

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Yā Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui rahasia setiap jiwa.

Engkau menciptakan kami sebagai pribadi-pribadi yang berbeda.

Engkau memberi kami kehidupan, keluarga, guru, sejarah, dan jalan ujian masing-masing.

Jangan biarkan kami kehilangan jati diri karena terlalu ingin menjadi orang lain.

Jangan biarkan kami mengaku sebagai ruh manusia yang telah Engkau wafatkan.

Jangan biarkan kami memakai nama wali, raja, leluhur, atau orang suci untuk membesarkan diri.

Apabila kami menyerupai orang-orang baik, jadikanlah keserupaan itu dorongan untuk memperbaiki akhlak.

Apabila kami mewarisi ilmu, jadikan ilmu itu manfaat.

Apabila kami mewarisi keberanian, jadikan keberanian itu pembela kebenaran.

Apabila kami mewarisi kelembutan, jadikan kelembutan itu perlindungan bagi orang yang lemah.

Apabila kami mewarisi kedudukan, jadikan kedudukan itu amanah.

Apabila kami mewarisi harta, jadikan harta itu jalan sedekah dan keadilan.

Apabila kami mewarisi luka, berilah kami kekuatan untuk menyembuhkannya.

Apabila kami mewarisi pertikaian, jadikan kami generasi yang mengakhirinya.

Apabila kami mewarisi kesalahan, berilah kami keberanian untuk tidak mengulanginya.

Yā Alloh, lindungilah kami dari ego yang bersembunyi di balik pakaian kesalehan.

Lindungilah kami dari perasaan paling suci.

Lindungilah kami dari kesenangan dipuji sebagai orang pilihan.

Lindungilah kami dari rasa lebih tinggi daripada saudara-saudara kami.

Lindungilah kami dari pengakuan telah sampai, padahal hati kami masih dipenuhi kesombongan.

Jadikan kami manusia yang mau belajar.

Jadikan kami manusia yang mau meminta maaf.

Jadikan kami manusia yang tidak malu mengakui kesalahan.

Jadikan kami manusia yang tetap menghormati orang lain walaupun berbeda.

Jangan jadikan pengalaman batin sebagai tembok yang memisahkan kami dari kenyataan.

Jangan jadikan mimpi sebagai alasan meninggalkan akal.

Jangan jadikan rasa sebagai pengganti ilmu.

Jangan jadikan gelar sebagai pengganti akhlak.

Jangan jadikan simbol sebagai pengganti pengabdian.

Yā Alloh, bila ada pujian yang datang kepada kami, kembalikanlah segala pujian kepada-Mu.

Bila ada celaan yang benar, bukakanlah hati kami untuk memperbaiki diri.

Bila ada celaan yang tidak benar, berilah kami kesabaran dan kemuliaan akhlak.

Jangan biarkan pujian membuat kami mabuk.

Jangan biarkan celaan membuat kami membalas dengan kebencian.

Jadikan kami hamba yang tetap lurus ketika dipuji dan tetap tenang ketika direndahkan.

Yā Alloh, ajarkanlah kami jalan Malāmatiyyah yang benar:

bukan membenci diri,

bukan mencari kehinaan,

bukan sengaja berbuat dosa,

bukan meninggalkan syariat,

melainkan memeriksa hawa nafsu, menyembunyikan kesombongan, menjaga keikhlasan, dan menyerahkan penilaian hanya kepada-Mu.

Jadikan kami kuat tanpa merasa paling kuat.

Jadikan kami berilmu tanpa merasa paling mengetahui.

Jadikan kami bermanfaat tanpa menuntut pengakuan.

Jadikan kami bercahaya tanpa menganggap diri sebagai sumber cahaya.

Sebab segala cahaya petunjuk berasal dari-Mu.

Kami hanyalah pelita yang Engkau nyalakan.

Kami hanyalah wadah yang Engkau isi.

Kami hanyalah hamba yang hidup karena rahmat-Mu.

Yā Alloh, bimbing kami untuk menghormati leluhur dengan doa dan amal, bukan dengan pengakuan yang melampaui batas.

Bimbing kami menghormati guru tanpa menuhankan mereka.

Bimbing kami mencintai orang-orang saleh tanpa kehilangan kejernihan tauhid.

Bimbing kami meneruskan kebaikan tanpa mengklaim identitas mereka.

Jadikan kami pewaris nilai, bukan pewaris kesombongan.

Jadikan kami penerus pengabdian, bukan penerus kebanggaan.

Jadikan kami pembawa kedamaian, bukan pembawa pertikaian.

Jadikan kami penghubung kasih sayang antara generasi terdahulu dan generasi yang akan datang.

Yā Alloh, apabila hati kami bingung, kembalikanlah kepada Al-Qur’an, sunnah, ilmu, akhlak, doa, dan pertimbangan yang sehat.

Apabila pikiran kami terlalu penuh, tenangkanlah.

Apabila tubuh kami lelah, istirahatkanlah.

Apabila pengalaman batin membuat kami takut, datangkanlah orang-orang baik yang dapat menolong.

Apabila kami hampir melampaui batas, kirimkan nasihat yang menyadarkan.

Jangan biarkan kami menyakiti diri sendiri.

Jangan biarkan kami menyakiti makhluk-Mu atas nama agama, ruhani, atau amanah.

Jadikan setiap ilmu yang kami pelajari menambah kasih sayang.

Jadikan setiap dzikir yang kami baca menambah ketenangan.

Jadikan setiap sholat yang kami dirikan memperbaiki perilaku.

Jadikan setiap pengalaman yang kami lalui memperdalam kerendahan hati.

Yā Alloh, wafatkan kami sebagai diri kami sendiri:

sebagai hamba-Mu,

bukan sebagai orang yang sibuk mengaku menjadi manusia lain.

Bangkitkan kami bersama amal kami sendiri.

Ampunilah dosa kami.

Terimalah taubat kami.

Rahmatilah orang tua, keluarga, guru, para leluhur, dan seluruh orang yang telah menanamkan kebaikan kepada kami.

Ampuni mereka yang telah mendahului.

Berilah mereka tempat yang baik menurut rahmat dan keadilan-Mu.

Jadikan kebaikan mereka terus hidup melalui amal yang bermanfaat, tanpa mencampurkan ruh mereka dengan ruh kami.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui siapa diri kami, dari mana kami berasal, ke mana kami kembali, dan apa yang tersembunyi di dalam hati kami.

Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.


Khatimah Qitab

Maka ketahuilah, saudara cahayaku:

Penitisan dan Malāmatiyyah tidak sama.

Penitisan, apabila dimaknai sebagai perpindahan ruh seseorang yang telah wafat ke tubuh orang lain, tidak dijadikan keyakinan dalam Islam.

Sedangkan pewarisan ruhani adalah diteruskannya ilmu, akhlak, nilai, keberanian, kasih sayang, doa, dan amanah para pendahulu.

Malāmatiyyah adalah jalan mendidik hawa nafsu agar tidak mabuk pujian, tidak merasa suci, tidak mengejar ketenaran, dan berani melihat kekurangan diri.

Jangan berkata:

“Aku adalah dirinya yang kembali.”

Katakanlah:

“Aku adalah diriku sendiri yang sedang belajar meneruskan kebaikannya.”

Jangan berkata:

“Ruh orang suci telah masuk ke dalam tubuhku.”

Katakanlah:

“Semoga teladan dan ilmunya menghidupkan akhlak baik dalam diriku.”

Jangan berkata:

“Aku telah mencapai kedudukan tinggi.”

Katakanlah:

“Semoga Alloh menjaga langkahku agar tetap lurus.”

Jangan mengejar pengakuan sebagai titisan.

Jadilah penerus amanah.

Jangan mengejar gelar Malāmatiyyah.

Belajarlah mengoreksi hawa nafsu.

Jangan mengejar pengalaman luar biasa.

Jadilah manusia yang luar biasa dalam kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan pengabdian.

Sebab pada akhirnya, yang akan ditanya bukanlah:

“Siapakah engkau pada kehidupan terdahulu?”

Melainkan:

“Apa yang engkau lakukan dengan kehidupan yang telah diberikan kepadamu?”

Yang akan ditimbang bukanlah besarnya pengakuan.

Yang akan ditimbang adalah amal.

Yang akan menyelamatkan bukanlah kemegahan nama.

Yang menyelamatkan adalah rahmat Alloh, iman, taubat, dan kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

Maka berjalanlah sebagai dirimu sendiri.

Rawatlah cahaya yang Alloh titipkan.

Teruskanlah kebaikan para pendahulu.

Hentikanlah keburukan yang pernah diwariskan.

Jangan mengambil mahkota mereka.

Ambillah keteladanan mereka.

Jangan mengaku memiliki ruh mereka.

Doakanlah ruh mereka.

Jangan mengaku telah sampai.

Teruslah berjalan.

Alloh adalah tujuan.
Akhlak adalah bukti.
Syariat adalah jalan.
Kerendahan hati adalah penjaga.
Kasih sayang adalah buahnya.

Dengan demikian ditutuplah:

QITAB SIRR AL-WIRĀTSAH WAL-MALĀMAH

Rahasia Pewarisan Ruhani dan Jalan Malāmatiyyah.

Semoga menjadi pengingat untuk menjaga tauhid, menjernihkan pengalaman batin, menghormati para pendahulu, mendidik hawa nafsu, dan meneruskan kebaikan tanpa membesarkan diri.

Wallohu a‘lam bish-showāb.

Walḥamdulillāhi Robbil-‘ālamīn.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh