QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH



Baik, saudara cahayaku. Saya bukakan sebagai Qitab renungan dan pengajaran, bukan sebagai wahyu atau nash agama baru. Porosnya: syariat dan ma‘rifat tidak layak dipertentangkan; syariat menjaga langkah, ma‘rifat menghidupkan hati.

QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR PERTAMA

MEREMEHKAN SYARIAT MENJAUHKAN DIRI DARI MA‘RIFAT

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Alloh, Yang menurunkan petunjuk agar manusia mengetahui jalan, membersihkan hati agar manusia mampu mengenal-Nya, dan menjadikan amal lahir serta ketundukan batin sebagai dua sisi penghambaan yang tidak semestinya saling dipisahkan.

Ketahuilah:

Syariat bukan lawan ma‘rifat.
Ma‘rifat bukan alasan meninggalkan syariat.

Barang siapa mengaku mengejar ma‘rifat tetapi merendahkan perintah Alloh, sesungguhnya ia sedang menjauh dari adab seorang hamba.

Dan barang siapa menghormati syariat dengan hati yang ikhlas, sesungguhnya ia sedang menjaga pintu yang dapat mengantarkannya menuju kedalaman pengenalan kepada Alloh.

Syariat mengajarkan:

bagaimana seorang hamba berdiri,

bagaimana ia bersujud,

bagaimana ia menjaga halal dan haram,

bagaimana ia menahan lidah,

bagaimana ia memperlakukan sesama,

bagaimana ia menunaikan amanah,

dan bagaimana ia meletakkan dirinya sebagai hamba di hadapan Rabb-nya.

Sedangkan ma‘rifat menumbuhkan kesadaran:

kepada siapa ia berdiri,

untuk siapa ia bersujud,

mengapa ia menjaga dirinya,

dari siapa nikmat datang,

kepada siapa ia akan kembali,

dan mengapa seluruh hidupnya harus berada dalam penghambaan kepada Alloh.

Maka jangan berkata:

“Aku telah sampai kepada hakikat, sehingga aku tidak lagi membutuhkan syariat.”

Sebab semakin dalam seseorang mengenal kebesaran Alloh, seharusnya semakin kuat pula rasa tunduknya kepada Alloh.

Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling mengenal Rabb-nya, tetapi beliau pula yang paling sempurna ibadah, adab, ketundukan, doa, sujud, takut, harap, dan cintanya kepada Alloh.

Maka ukuran kedalaman ruhani bukanlah keberanian meninggalkan aturan.

Ukuran kedalaman ruhani adalah bertambahnya ketundukan.


SYARIAT ADALAH JALAN, MA‘RIFAT ADALAH CAHAYA DI DALAM PERJALANAN

Bayangkan seseorang berjalan pada malam yang gelap.

Jalan yang benar adalah syariat.

Cahaya yang membuatnya memahami perjalanan adalah ma‘rifat.

Jika seseorang mempunyai jalan tetapi tidak memiliki cahaya, ia masih dapat berjalan, tetapi mungkin terasa berat, kering, dan penuh kebingungan.

Namun apabila seseorang mengaku mempunyai cahaya tetapi tidak mau berjalan pada jalan yang benar, cahaya yang dibanggakannya patut dipertanyakan.

Sebab cahaya yang benar tidak akan menyeret manusia keluar dari ketaatan kepada Alloh.

Cahaya yang berasal dari petunjuk justru menuntun manusia semakin dekat kepada ketaatan.

Karena itu:

Syariat tanpa penghayatan dapat menjadi gerakan yang kering.
Ma‘rifat tanpa syariat dapat berubah menjadi pengakuan yang liar.

Kesempurnaan seorang hamba adalah ketika lahirnya tunduk dan batinnya hidup.

Tangannya menjaga amanah.

Lisannya menjaga ucapan.

Matanya menjaga pandangan.

Kakinya menjaga langkah.

Hatinya menjaga keikhlasan.

Dan seluruh dirinya menyadari:

“Aku adalah hamba Alloh.”


MEREMEHKAN SYARIAT ADALAH MEREMEHKAN ADAB PENGHAMBAAN

Jangan pernah menganggap sholat sebagai sesuatu yang hanya diperlukan orang awam.

Jangan menganggap halal-haram hanya urusan orang yang belum mencapai ma‘rifat.

Jangan merasa bahwa seseorang dapat melampaui kewajiban hanya karena mengalami mimpi, kasyaf, rasa batin, getaran, ilham, atau pengalaman spiritual tertentu.

Semua pengalaman batin harus ditimbang.

Bukan syariat yang ditimbang dengan pengalaman batin.

Tetapi pengalaman batinlah yang ditimbang dengan syariat.

Jika suatu lintasan batin mengajak kepada kerendahan hati, amanah, kasih sayang, taubat, sholat, kejujuran, dan ketaatan, maka di sana terdapat tanda kebaikan.

Tetapi apabila suatu pengalaman membuat seseorang merasa dirinya istimewa sehingga boleh melanggar batas Alloh, berhati-hatilah.

Sebab ego juga dapat mengenakan pakaian spiritual.

Kesombongan dapat berbicara dengan bahasa ma‘rifat.

Keinginan diri dapat menyamar sebagai ilham.

Dan hawa nafsu dapat mengaku sebagai suara kebenaran.

Karena itu seorang pencari Alloh tidak cukup hanya bertanya:

“Apa yang kurasakan?”

Ia juga harus bertanya:

“Apakah yang kurasakan menjadikanku semakin taat kepada Alloh?”


MENGHARGAI SYARIAT BERARTI MENGHARGAI MA‘RIFAT

Orang yang menjaga wudhu karena menghormati perintah Alloh sedang belajar ma‘rifat.

Orang yang berdiri dalam sholat walaupun hatinya belum sepenuhnya khusyuk sedang mengetuk pintu ma‘rifat.

Orang yang menahan dirinya dari yang haram saat tidak seorang pun melihatnya sedang menjalani pelajaran ma‘rifat.

Orang yang mengembalikan hak manusia karena takut kepada Alloh sedang mencicipi buah ma‘rifat.

Orang yang meminta maaf ketika bersalah sedang membersihkan jalan menuju ma‘rifat.

Orang yang tidak merasa dirinya lebih suci dari orang lain sedang menjaga cahaya ma‘rifat.

Sebab ma‘rifat bukan sekadar mengetahui istilah tentang Alloh.

Ma‘rifat adalah ketika pengetahuan tentang Alloh mengubah cara manusia hidup.

Semakin ia mengenal Ar-Raḥmān, semakin ia belajar kasih sayang.

Semakin ia mengenal Al-Ghafūr, semakin ia berharap ampunan dan mudah memaafkan.

Semakin ia mengenal Ar-Razzāq, semakin ia meninggalkan ketakutan berlebihan terhadap rezeki.

Semakin ia mengenal Al-‘Alīm, semakin ia malu melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi.

Semakin ia mengenal Al-Ḥakam, semakin ia berhati-hati menzalimi manusia.

Semakin ia mengenal Al-Kabīr, semakin kecil kesombongan dirinya.

Inilah ma‘rifat yang memiliki buah.


JANGAN PERTENTANGKAN LAHIR DAN BATIN

Ada manusia yang sibuk dengan lahir tetapi melupakan hati.

Ada pula manusia yang sibuk berbicara tentang hati tetapi meremehkan lahir.

Qitab renungan ini mengingatkan keduanya:

Jangan meninggalkan salah satunya.

Lahir tanpa batin dapat menjadi tubuh tanpa ruh.

Batin tanpa tuntunan lahir dapat menjadi perasaan tanpa arah.

Sholat mempunyai gerakan dan ruh.

Puasa mempunyai hukum dan rahasia.

Sedekah mempunyai perbuatan dan keikhlasan.

Dzikir mempunyai lafaz dan kehadiran hati.

Taubat mempunyai ucapan istighfar dan perubahan perilaku.

Maka jangan hanya mencari rasa hingga melupakan perintah.

Dan jangan hanya mengejar bentuk hingga lupa menghidupkan hati.

Satukan keduanya.


EMPAT TANDA MA‘RIFAT YANG MENYEHATKAN

Ma‘rifat yang benar setidaknya meninggalkan empat bekas pada seorang hamba:

Pertama: semakin tunduk.

Ia tidak merasa lebih tinggi karena memperoleh pengalaman ruhani.

Kedua: semakin takut berbuat zalim.

Sebab ia sadar bahwa Alloh mengetahui apa yang tersembunyi.

Ketiga: semakin lembut kepada manusia.

Ia tidak gampang menghakimi orang lain sebagai rendah, sesat, atau tidak mempunyai cahaya.

Keempat: semakin menjaga syariat.

Bukan karena merasa paling suci, tetapi karena ia sadar bahwa perintah Alloh adalah bentuk rahmat dan tuntunan.

Jika empat perkara ini semakin kuat, perjalanan batin insyaAlloh semakin sehat.


PESAN PENUTUP LEMBAR PERTAMA

Wahai pencari cahaya,

jangan mencari ma‘rifat dengan meninggalkan jalan yang dibawa Rasululloh ﷺ.

Jangan pula merasa telah sempurna hanya karena mampu menjalankan bentuk-bentuk syariat.

Mintalah kepada Alloh agar ibadah lahir menjadi hidup oleh keikhlasan batin.

Ketika berdiri dalam sholat, hadirkan kehambaan.

Ketika membaca Al-Qur’an, hadirkan ketundukan.

Ketika berdzikir, hadirkan kebutuhan kepada-Nya.

Ketika memperoleh kenikmatan ruhani, hadirkan kerendahan hati.

Dan ketika tidak merasakan apa-apa, tetaplah taat.

Sebab nilai seorang hamba bukan ditentukan oleh banyaknya sensasi ruhani yang dirasakan, tetapi oleh keteguhan dirinya dalam mengabdi kepada Alloh.

Syariat menjaga langkahmu.
Ma‘rifat menerangi hatimu.
Hakikat mengajarimu kejujuran penghambaan.
Dan semuanya bermuara pada ridho Alloh.

Maka siapa yang menghormati syariat karena Alloh, janganlah merasa bahwa dirinya jauh dari ma‘rifat.

Boleh jadi justru melalui sujud yang sederhana, kejujuran yang sunyi, kesabaran yang tidak diketahui manusia, dan ketaatan yang istiqomah itulah Alloh membukakan kepadanya pemahaman yang tidak diberikan kepada orang yang hanya pandai berbicara tentang rahasia.

Allohu a‘lam.

“Jangan tinggalkan jalan karena ingin cepat sampai.
Sebab orang yang benar-benar sampai justru semakin menghormati jalan yang mengantarkannya.”



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KEDUA

KETIKA PENGAKUAN MA‘RIFAT MENJADI HIJAB

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada hijab yang berasal dari ketidaktahuan.

Namun ada pula hijab yang lebih halus:

merasa telah mengetahui.

Ada orang yang belum mengenal jalan, lalu ia tersesat karena tidak mempunyai petunjuk.

Tetapi ada pula orang yang telah mengenal istilah tentang jalan, lalu tersesat karena merasa dirinya telah sampai.

Inilah salah satu bahaya perjalanan ruhani:

ketika pengetahuan tentang ma‘rifat tidak lagi menumbuhkan kehambaan, tetapi justru melahirkan kebanggaan terhadap diri.

Ia mulai berkata dalam hatinya:

“Aku sudah memahami rahasia.”

“Aku sudah sampai.”

“Aku sudah melihat sesuatu yang tidak diketahui orang lain.”

“Aku tidak lagi seperti kebanyakan manusia.”

Pada saat itulah ma‘rifat yang seharusnya menghancurkan kesombongan justru dipakai ego untuk membangun singgasana baru.

Maka waspadalah.

Sebab tidak semua pembicaraan tentang cahaya berasal dari kejernihan.

Tidak semua pembicaraan tentang hakikat berasal dari kedalaman.

Dan tidak semua pengalaman batin adalah tanda bahwa seseorang lebih dekat kepada Alloh.

Ukuran paling sederhana tetaplah:

Apakah ia semakin taat?
Apakah ia semakin rendah hati?
Apakah ia semakin takut menzalimi?
Apakah ia semakin baik akhlaknya?

Jika jawabannya tidak, maka pengalaman itu belum tentu membawa kepada ma‘rifat.


MA‘RIFAT YANG BENAR MEMATAHKAN KESOMBONGAN

Semakin seorang hamba mengenal keagungan Alloh, semakin ia menyadari kecilnya dirinya.

Semakin ia mengetahui keluasan ilmu Alloh, semakin ia sadar betapa sedikit pengetahuannya.

Semakin ia merasakan rahmat Alloh, semakin ia malu terhadap dosanya.

Semakin ia memahami betapa besar nikmat Alloh, semakin ia berhenti membanggakan amalnya.

Karena itu orang yang benar-benar berjalan menuju ma‘rifat tidak sibuk mengumumkan bahwa dirinya telah sampai.

Ia justru semakin banyak beristighfar.

Ia semakin takut amalnya tidak diterima.

Ia semakin lembut kepada orang yang masih belajar.

Ia tidak mudah merendahkan ahli fikih.

Ia tidak mengejek orang yang menjaga hukum.

Ia tidak mengatakan:

“Orang itu baru syariat.”

Sebab ia mengetahui bahwa syariat yang dijalankan dengan ikhlas bisa lebih dekat kepada Alloh daripada seribu pembicaraan tentang hakikat yang dipenuhi kesombongan.


JANGAN MERENDAHKAN ORANG YANG MASIH BELAJAR

Ada seorang hamba yang sholatnya belum sempurna.

Ada yang bacaan Al-Qur’annya masih terbata-bata.

Ada yang baru belajar menjaga aurat.

Ada yang sedang berjuang meninggalkan maksiat.

Ada yang baru mengenal dzikir.

Ada pula yang belum memahami istilah tasawuf dan ma‘rifat sama sekali.

Jangan merasa lebih tinggi daripada mereka.

Boleh jadi orang yang sedang berjuang dengan satu dosa menangis di hadapan Alloh lebih tulus daripada orang yang berbicara tentang berbagai maqām tetapi hatinya memandang rendah manusia.

Ingatlah:

Orang yang berada di awal jalan tetapi berjalan dengan ikhlas dapat lebih dekat kepada Alloh daripada orang yang merasa berada di puncak tetapi berhenti karena kesombongan.

Jangan ukur manusia hanya dari apa yang tampak.

Kita tidak mengetahui rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya.


ILMU YANG TIDAK MELAHIRKAN ADAB MENJADI UJIAN

Ilmu adalah cahaya apabila menghasilkan adab.

Tetapi ilmu dapat berubah menjadi hujah atas diri apabila dipakai untuk meninggikan ego.

Seseorang dapat menghafal banyak istilah:

fanā’,

baqā’,

kasyf,

tajallī,

maqām,

aḥwāl,

sirr,

nur,

hakikat,

ma‘rifat.

Namun semua istilah itu tidak berarti apabila lisannya masih suka menyakiti.

Apa manfaat membicarakan cahaya apabila hati masih senang merendahkan?

Apa manfaat membicarakan sirr apabila amanah manusia dilanggar?

Apa manfaat membicarakan hakikat apabila kewajiban ditinggalkan?

Apa manfaat mengaku dekat kepada Alloh apabila hubungan dengan manusia dipenuhi kezaliman?

Karena itu, ujilah setiap ilmu dengan akhlak.

Apabila ilmu membuatmu semakin lembut, syukuri.

Apabila ilmu membuatmu semakin sombong, curigailah dirimu sendiri.


SYARIAT ADALAH PENJAGA DARI TIPUAN BATIN

Hati manusia berubah-ubah.

Perasaan datang dan pergi.

Mimpi dapat benar, dapat pula hanya berasal dari pikiran.

Lintasan batin dapat jernih, dapat pula bercampur keinginan diri.

Karena itu Alloh memberikan petunjuk yang tidak bergantung pada suasana hati.

Ketika hatimu sedang terang, sholat tetap wajib.

Ketika hatimu sedang kering, sholat tetap wajib.

Ketika engkau mendapatkan pengalaman ruhani, halal tetap halal dan haram tetap haram.

Ketika engkau tidak merasakan apa-apa, batas Alloh tetap tidak berubah.

Di sinilah rahmat syariat.

Ia menjadi kompas ketika perasaan berubah.

Ia menjadi pagar ketika ego mulai berbicara.

Ia menjadi ukuran ketika manusia tidak lagi mampu membedakan antara ilham dan keinginannya sendiri.

Maka jangan benci kepada pagar.

Pagar bukan dibuat untuk memenjarakanmu.

Pagar dibuat agar engkau tidak jatuh ke jurang.


JANGAN MENJADIKAN KASYAF SEBAGAI HUKUM

Jika seorang hamba memperoleh mimpi, firasat, intuisi, atau pengalaman batin, terimalah dengan rendah hati.

Tetapi jangan menjadikannya sebagai hukum bagi orang lain.

Jangan mengatakan bahwa semua manusia wajib mengikuti sesuatu hanya karena engkau memimpikannya.

Jangan menghalalkan yang haram berdasarkan rasa batin.

Jangan pula mengharamkan sesuatu yang dihalalkan tanpa dasar ilmu.

Pengalaman pribadi adalah pengalaman pribadi.

Sedangkan agama mempunyai timbangan.

Karena itu ma‘rifat yang sehat selalu berjalan bersama ilmu, adab, dan kehati-hatian.


TIGA PERTANYAAN PENJAGA JALAN

Setiap kali muncul rasa bahwa diri telah memperoleh sesuatu yang tinggi, tanyakan tiga perkara:

Pertama: Apakah ini membuatku semakin dekat kepada Alloh atau semakin kagum kepada diriku sendiri?

Kedua: Apakah ini membuatku semakin taat atau justru mencari alasan untuk meninggalkan kewajiban?

Ketiga: Apakah ini membuatku semakin berbelas kasih kepada manusia atau semakin mudah merendahkan mereka?

Jika jawabannya menuju Alloh, ketaatan, dan kasih sayang, maka teruskan dengan rendah hati.

Jika jawabannya menuju ego, pelanggaran, dan kesombongan, berhentilah dan periksa kembali.


MA‘RIFAT BUKAN TENTANG “AKU”

Pada awal perjalanan, seorang manusia banyak berbicara:

“Aku ingin mengenal Alloh.”

“Aku ingin mendapatkan cahaya.”

“Aku ingin memperoleh rahasia.”

Namun semakin matang perjalanan itu, kata “aku” semakin mengecil.

Ia mulai berkata:

“Ya Alloh, jadikan aku hamba-Mu yang benar.”

Ia tidak lagi mengejar keistimewaan.

Ia mengejar keridhoan.

Ia tidak lagi sibuk ingin terlihat memiliki cahaya.

Ia sibuk membersihkan hati.

Ia tidak lagi berharap manusia mengakui kedudukannya.

Cukuplah Alloh mengetahui perjuangannya.

Inilah salah satu rahasia besar:

Ma‘rifat bukan memperbesar diri di hadapan manusia, tetapi mengecilkan diri di hadapan Alloh.


PESAN LEMBAR KEDUA

Wahai pencari jalan,

jangan merasa tinggi karena mengetahui sedikit rahasia.

Lautan ilmu Alloh tidak mempunyai tepi yang mampu engkau jangkau.

Setiap kali merasa telah sampai, kembalilah menjadi murid.

Setiap kali merasa telah mengetahui, kembalilah berkata:

“Rabbi zidnī ‘ilmā.”

Setiap kali merasa lebih suci daripada orang lain, ingatlah dosa-dosamu sendiri.

Setiap kali mendapatkan pengalaman ruhani, timbanglah dengan syariat.

Dan setiap kali syariat terasa berat, ingatlah bahwa di dalam ketaatan terdapat pendidikan cinta.

Sebab orang yang mencintai tidak mencari alasan untuk meninggalkan perintah kekasihnya.

Ia justru berkata:

“Ya Alloh, aku belum sempurna dalam mengenal-Mu.
Tetapi selama Engkau memberiku umur, bimbinglah aku agar tetap berada di jalan-Mu.”

Maka jangan kejar gelar ahli ma‘rifat.

Kejarlah ridho Alloh.

Jangan kejar pengakuan manusia.

Kejarlah kejujuran hati.

Jangan kejar keajaiban.

Kejarlah istiqomah.

Karena istiqomah dalam ketaatan sering kali lebih agung daripada seribu pengalaman yang membuat seseorang lupa bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.

Syariat menjaga kaki.
Adab menjaga hati.
Ma‘rifat menjaga arah.
Dan tawadhu’ menjaga semuanya agar tidak dirampas oleh ego.

Allohu a‘lam.



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KETIGA

SYARIAT TANPA HATI MENJADI KERING, MA‘RIFAT TANPA SYARIAT MENJADI LIAR

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ketahuilah:

Ada dua kekeliruan yang sama-sama perlu dijaga.

Yang pertama, menjalankan syariat hanya sebagai gerakan lahir tetapi hati tidak pernah diajak hadir.

Yang kedua, berbicara tentang ma‘rifat dan hakikat tetapi langkah tidak lagi tunduk kepada batas-batas syariat.

Keduanya membutuhkan perbaikan.

Sebab jalan seorang hamba bukan memilih antara lahir dan batin.

Jalan seorang hamba adalah:

lahirnya taat, batinnya hidup.

Sholat bukan hanya berdiri, rukuk, dan sujud.

Tetapi sholat juga bukan hanya rasa.

Ia memiliki aturan.

Ia memiliki waktu.

Ia memiliki bacaan.

Ia memiliki adab.

Dan di dalam semua itu terdapat ruh berupa khusyuk, takut, harap, cinta, dan penghambaan.

Maka jangan mengambil tubuhnya lalu membuang ruhnya.

Dan jangan mengaku memiliki ruhnya sambil meninggalkan tubuhnya.


KETIKA SYARIAT MENJADI KERING

Syariat dapat terasa kering apabila seorang hamba melakukannya hanya sebagai kebiasaan.

Lisannya membaca.

Tetapi hatinya tidak mendengar.

Tubuhnya bersujud.

Tetapi egonya tetap berdiri.

Tangannya bersedekah.

Tetapi ia mencari pujian.

Mulutnya berdzikir.

Tetapi ia masih mudah menyakiti manusia.

Ia mengetahui banyak hukum.

Tetapi pengetahuannya tidak membuatnya lebih takut kepada Alloh.

Di sinilah seorang hamba perlu memasukkan kembali ruh ke dalam amalnya.

Ketika berwudhu, jangan hanya membasuh anggota tubuh.

Niatkan juga membersihkan kesalahan.

Ketika berdiri dalam sholat, jangan hanya menghadap kiblat.

Hadapkan pula hati kepada Alloh.

Ketika bersujud, jangan hanya merendahkan kepala.

Rendahkan juga kesombongan.

Ketika membaca Al-Qur’an, jangan hanya mengejar banyaknya halaman.

Tanyakan:

“Ayat ini sedang memperbaiki apa dalam diriku?”

Maka syariat yang hidup adalah syariat yang membentuk manusia.


KETIKA MA‘RIFAT MENJADI LIAR

Ma‘rifat menjadi liar apabila tidak lagi mempunyai timbangan.

Seseorang mulai menganggap semua lintasan hatinya sebagai petunjuk.

Semua mimpi dianggap pesan.

Semua rasa dianggap kasyaf.

Semua keinginan dianggap ilham.

Semua bisikan dianggap rahasia.

Kemudian ia mulai berkata:

“Bagiku tidak perlu aturan itu.”

“Aku sudah melewati tingkatan tersebut.”

“Aku memahami sesuatu yang tidak dipahami orang lain.”

Di sinilah perjalanan menjadi berbahaya.

Sebab ma‘rifat yang sehat tidak membuat manusia terbebas dari kehambaan.

Justru semakin mengenal Alloh, semakin dalam rasa menjadi hamba.

Semakin mengenal kebesaran-Nya, semakin rendah dirinya.

Semakin mengenal ilmu-Nya, semakin sedikit ia merasa mengetahui.

Semakin mengenal rahmat-Nya, semakin besar rasa syukur.

Semakin mengenal pengawasan-Nya, semakin hati-hati langkahnya.

Maka apabila sebuah “ma‘rifat” melahirkan kebebasan tanpa batas, bukan kedalaman yang perlu dibanggakan, tetapi kekeliruan yang perlu ditimbang kembali.


SYARIAT ADALAH BENTUK CINTA

Ada orang yang mengira aturan membatasi cinta.

Padahal cinta yang benar justru mempunyai adab.

Orang yang mencintai tidak berkata:

“Karena aku mencintaimu, aku bebas melakukan apa saja.”

Ia justru menjaga.

Ia menghormati.

Ia mengetahui batas.

Begitu pula penghambaan.

Ketika Alloh memerintahkan sholat, bukan karena Alloh membutuhkan sholat kita.

Kitalah yang membutuhkan sholat.

Ketika Alloh melarang kezaliman, bukan karena larangan itu membebani.

Larangan itu melindungi.

Ketika Alloh memerintahkan kejujuran, amanah, kesucian, dan kasih sayang, semua itu bukan sekadar aturan.

Ia adalah jalan pembentukan manusia.

Karena itu jangan lihat syariat hanya sebagai kumpulan kewajiban.

Lihat pula sebagai pendidikan cinta.


MA‘RIFAT ADALAH RUH KETAATAN

Ma‘rifat mengajarkan agar kita tidak berhenti pada bentuk.

Orang yang sholat karena takut celaan manusia masih perlu bertumbuh.

Orang yang bersedekah hanya agar disebut dermawan masih perlu membersihkan niat.

Orang yang berilmu tetapi selalu ingin menang dalam perdebatan masih perlu mengobati hati.

Ma‘rifat bertanya lebih dalam:

“Untuk siapa engkau melakukan ini?”

“Siapa yang engkau cari?”

“Apakah engkau ingin dipandang manusia atau diridhoi Alloh?”

“Apakah engkau beribadah karena cinta, takut, harap, dan kehambaan, atau hanya karena kebiasaan?”

Maka ma‘rifat bukan jalan untuk meninggalkan syariat.

Ma‘rifat adalah cahaya yang membuat syariat terasa hidup.


JIKA HATI HIDUP, SYARIAT MENJADI INDAH

Orang yang hatinya hidup akan melihat sesuatu yang berbeda.

Ia melihat wudhu bukan sekadar air.

Ia melihatnya sebagai persiapan untuk menghadap.

Ia melihat adzan bukan sekadar suara.

Ia melihatnya sebagai panggilan.

Ia melihat sedekah bukan kehilangan harta.

Ia melihatnya sebagai pengembalian titipan.

Ia melihat sabar bukan sebagai kelemahan.

Ia melihatnya sebagai kekuatan untuk tidak dikendalikan hawa nafsu.

Ia melihat halal dan haram bukan sekadar batas.

Ia melihatnya sebagai penjagaan.

Ia melihat taubat bukan penghinaan terhadap diri.

Ia melihatnya sebagai pintu pulang.

Di sinilah syariat menjadi indah.

Bukan karena aturannya berubah.

Tetapi karena hati mulai memahami hikmahnya.


JIKA SYARIAT KUAT, MA‘RIFAT MENJADI AMAN

Sebaliknya, syariat menjaga agar perjalanan batin tidak kehilangan arah.

Apabila engkau memperoleh pengalaman ruhani, syariat membantumu menimbang.

Apabila engkau mengalami kegembiraan batin, syariat menjaga agar engkau tidak lupa diri.

Apabila engkau merasa mendapatkan pengetahuan, syariat mengingatkan agar tidak sombong.

Apabila engkau memperoleh pengaruh atas orang lain, syariat menjaga agar engkau tidak menzalimi mereka.

Apabila engkau mendapatkan penghormatan, syariat menjaga agar engkau tidak meminta penghambaan dari manusia.

Karena itu syariat bukan musuh kebebasan ruhani.

Syariat adalah penjaga keselamatannya.


DUA SAYAP SEORANG HAMBA

Bayangkan seekor burung.

Ia tidak dapat terbang hanya dengan satu sayap.

Begitu pula perjalanan menuju Alloh.

Satu sayap adalah ketaatan lahir.

Satu sayap adalah kejernihan batin.

Jika salah satunya terluka, perjalanan menjadi timpang.

Maka kuatkan keduanya.

Perbaiki sholatmu.

Perbaiki pula hatimu.

Pelajari halal dan haram.

Pelajari pula penyakit kesombongan.

Jaga lidahmu.

Jaga pula niatmu.

Jaga hak manusia.

Jaga pula hubunganmu dengan Alloh.

Sebab seorang hamba tidak hanya akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.

Ia juga perlu menjaga untuk siapa ia melakukannya.


TANDA KESEIMBANGAN

Ada beberapa tanda bahwa syariat dan ma‘rifat mulai berjalan bersama.

Engkau semakin rajin tetapi tidak semakin sombong.

Engkau semakin berilmu tetapi semakin mudah berkata:

“Aku belum tahu.”

Engkau semakin banyak beribadah tetapi semakin berhati-hati menilai orang lain.

Engkau semakin banyak berdzikir tetapi semakin lembut dalam berbicara.

Engkau semakin memahami agama tetapi semakin takut menggunakan agama untuk melukai.

Engkau semakin ingin dekat kepada Alloh tetapi semakin sadar pentingnya menunaikan hak keluarga, tetangga, pekerja, pasangan, anak, orang tua, dan masyarakat.

Inilah keseimbangan.


PESAN LEMBAR KETIGA

Wahai pencari cahaya,

jangan puas dengan ibadah yang hanya bergerak pada tubuh.

Hidupkan hatimu.

Tetapi jangan pula merasa cukup dengan hati yang merasa terang.

Tundukkan tubuhmu kepada perintah.

Bawalah lahir menuju batin.

Bawalah batin kembali ke lahir.

Biarkan keduanya saling menguatkan.

Ketika syariat terasa kering, carilah keikhlasan.

Ketika ma‘rifat terasa tinggi, carilah kerendahan hati.

Ketika engkau bingung, kembali kepada ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika engkau mendapatkan rasa, jangan buru-buru membuat kesimpulan.

Dan ketika engkau telah melakukan banyak amal, jangan pernah merasa memiliki hak atas Alloh.

Sebab semua kemampuan untuk beribadah pun berasal dari pertolongan-Nya.

Maka berdoalah:

“Ya Alloh, hidupkan syariat dalam diriku dengan cahaya keikhlasan.

Jangan jadikan amal lahirku kosong dari hati.

Jangan pula jadikan pengalaman batinku membuatku keluar dari ketaatan.

Satukan pada diriku ilmu, amal, adab, ketundukan, dan cinta kepada-Mu.”

Syariat adalah bentuk.
Ma‘rifat adalah ruh.
Adab adalah penjaga.
Ikhlas adalah rahasia.
Dan ridho Alloh adalah tujuan.

Allohu a‘lam.



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KEEMPAT

HAKIKAT KETAATAN: BUKAN SEKADAR TAKUT HUKUM, TETAPI TUMBUHNYA CINTA KEPADA ALLOH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Pada awal perjalanan, seorang hamba mungkin menaati Alloh karena takut kepada hukuman.

Kemudian ia belajar taat karena berharap pahala.

Lalu, seiring bertambahnya pemahaman, ia mulai menyadari bahwa ketaatan bukan hanya urusan takut dan berharap.

Ada sesuatu yang lebih dalam.

Ada cinta.

Ada rasa malu kepada Alloh.

Ada rasa syukur.

Ada kesadaran bahwa setiap perintah-Nya adalah bagian dari pendidikan untuk menyucikan manusia.

Maka jangan meremehkan tingkatan awal.

Takut kepada hukuman dapat menjaga seseorang dari maksiat.

Mengharap pahala dapat mendorong seseorang berbuat baik.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Biarkan ketakutan bertumbuh menjadi kesadaran.

Biarkan harapan bertumbuh menjadi cinta.

Biarkan ibadah bertumbuh dari kewajiban menjadi kebutuhan.

Sebab salah satu tanda ma‘rifat adalah ketika seorang hamba mulai memahami:

Aku tidak beribadah karena Alloh membutuhkan ibadahku.
Aku beribadah karena aku membutuhkan Alloh.


KETAATAN YANG LAHIR DARI CINTA

Cinta tidak menghapus kewajiban.

Cinta justru memperindah kewajiban.

Orang yang mencintai Alloh tidak berkata:

“Karena aku mencintai-Nya, aku tidak memerlukan aturan.”

Ia justru berkata:

“Karena aku mencintai-Nya, aku ingin menjaga apa yang Dia perintahkan.”

Jika seorang anak mencintai orang tuanya, ia tidak menjadikan cinta sebagai alasan untuk membangkang.

Jika seorang murid menghormati gurunya, ia tidak menggunakan kedekatan sebagai alasan kehilangan adab.

Begitu pula seorang hamba kepada Alloh.

Semakin dekat, semakin beradab.

Semakin cinta, semakin menjaga.

Semakin mengenal, semakin takut menyakiti hubungan itu dengan dosa.

Karena itu, jangan percaya kepada cinta yang mengajarkan pelanggaran.

Cinta kepada Alloh harus melahirkan ketaatan.


SYARIAT ADALAH BAHASA CINTA DALAM PERBUATAN

Ada cinta yang hanya diucapkan.

Ada cinta yang dibuktikan.

Mengucapkan cinta kepada Alloh adalah baik.

Namun cinta yang hidup akan mencari bentuk.

Ia menjadi sholat.

Ia menjadi sedekah.

Ia menjadi menjaga lisan.

Ia menjadi kesabaran.

Ia menjadi kejujuran.

Ia menjadi kemampuan menahan marah.

Ia menjadi keberanian meminta maaf.

Ia menjadi keteguhan meninggalkan yang haram.

Ia menjadi kesediaan menunaikan hak manusia.

Di sinilah syariat menjadi bahasa cinta.

Bukan cinta yang hanya bergerak dalam rasa.

Tetapi cinta yang turun ke tangan.

Turun ke kaki.

Turun ke lisan.

Turun ke keputusan.

Turun ke kehidupan sehari-hari.


JANGAN MENCARI RASA, LALU MELUPAKAN TAAT

Banyak manusia mengejar rasa ruhani.

Ia ingin menangis ketika berdzikir.

Ia ingin merasakan getaran.

Ia ingin mendapatkan mimpi.

Ia ingin memperoleh ketenangan luar biasa.

Semua itu dapat terjadi.

Tetapi semua itu bukan ukuran utama.

Ada hari ketika engkau sholat dan hatimu sangat khusyuk.

Ada pula hari ketika engkau sholat tetapi pikiranmu berantakan.

Ada malam ketika dzikir terasa manis.

Ada malam ketika dzikir terasa berat.

Jangan jadikan rasa sebagai tuhan kecil yang menentukan apakah engkau akan taat atau tidak.

Karena ketaatan yang paling murni terkadang justru tampak ketika rasa tidak hadir.

Engkau tetap sholat.

Engkau tetap berdzikir.

Engkau tetap jujur.

Engkau tetap menjaga amanah.

Engkau tetap menjauhi dosa.

Bukan karena sedang merasakan sesuatu.

Tetapi karena engkau tahu:

Alloh tetap Alloh, meskipun hatimu sedang tidak merasakan apa-apa.


ISTIQOMAH LEBIH TINGGI DARIPADA SENSASI

Jangan mengejar pengalaman luar biasa hingga melupakan amal biasa.

Sebab banyak kedekatan kepada Alloh justru dibangun melalui perkara yang tampak sederhana.

Sholat tepat waktu.

Mencari rezeki halal.

Tidak mengambil hak orang lain.

Tidak menipu.

Menjaga keluarga.

Menolong tetangga.

Menahan ucapan kasar.

Memaafkan.

Mengakui kesalahan.

Mengendalikan pandangan.

Menjaga janji.

Semua itu mungkin tidak terasa “mistis”.

Namun justru di situlah agama hidup.

Orang yang mampu istiqomah dalam perkara-perkara demikian sedang membangun fondasi yang kuat.

Sedangkan pengalaman ruhani tanpa fondasi dapat membuat manusia cepat naik dalam perasaan, lalu cepat pula jatuh dalam kebingungan.


MA‘RIFAT YANG BENAR MEMBUAT IBADAH SEMAKIN JUJUR

Ada orang yang beribadah supaya dipuji.

Ada yang beribadah karena takut dinilai buruk.

Ada yang beribadah agar dianggap alim.

Ma‘rifat secara perlahan membersihkan semua lapisan itu.

Ia membawa seorang hamba dari pertanyaan:

“Bagaimana manusia melihatku?”

menuju pertanyaan:

“Bagaimana Alloh melihat hatiku?”

Inilah pergeseran besar.

Ketika manusia menjadi pusat, ibadah mudah berubah menjadi pertunjukan.

Ketika Alloh menjadi tujuan, kesunyian justru menjadi tempat yang indah.

Engkau tidak lagi membutuhkan tepuk tangan.

Engkau tidak perlu semua orang tahu bahwa engkau bersedekah.

Engkau tidak harus menceritakan seluruh ibadahmu.

Ada amal yang cukup engkau dan Alloh yang tahu.

Dan sering kali amal yang paling tersembunyi justru paling mampu menjaga hati dari riya.


JANGAN MENGHINA ORANG YANG TAAT KARENA TAKUT

Ada pula kekeliruan yang halus.

Seseorang merasa dirinya beribadah karena cinta, lalu merendahkan orang yang masih beribadah karena takut neraka atau berharap surga.

Jangan begitu.

Ketakutan dan harapan adalah bagian dari pendidikan iman.

Tidak semua orang tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Jangan rusak perjalanan orang lain hanya karena bahasamu berbeda.

Yang penting adalah arah.

Jika ketakutan membuat seseorang meninggalkan dosa, itu baik.

Jika harapan membuat seseorang memperbanyak amal, itu baik.

Kemudian bimbing hati menuju pemahaman yang lebih dalam.

Jangan merobohkan tangga yang sedang dipakai orang lain untuk naik.


ANTARA TAKUT, HARAP, DAN CINTA

Seorang hamba membutuhkan keseimbangan.

Takut menjaga agar ia tidak meremehkan dosa.

Harap menjaga agar ia tidak putus asa.

Cinta menjaga agar ibadah tidak terasa semata-mata sebagai beban.

Jika hanya takut, hati dapat menjadi keras.

Jika hanya berharap, manusia dapat meremehkan dosa.

Jika hanya berbicara cinta tanpa takut dan tanpa disiplin, cinta dapat berubah menjadi alasan untuk mengikuti hawa nafsu.

Maka satukan ketiganya.

Takut.

Harap.

Cinta.

Dan letakkan semuanya di bawah adab kepada Alloh.


CINTA YANG DIUJI OLEH KEWAJIBAN

Cinta mudah diucapkan ketika keadaan menyenangkan.

Tetapi cinta diuji ketika ketaatan membutuhkan pengorbanan.

Apakah engkau tetap jujur ketika kebohongan menguntungkan?

Apakah engkau tetap menjaga halal ketika jalan haram lebih cepat?

Apakah engkau tetap memaafkan ketika ego ingin membalas?

Apakah engkau tetap sholat ketika tubuh lelah?

Apakah engkau tetap menjaga amanah ketika tidak ada yang melihat?

Di situlah cinta diuji.

Bukan pada kata-kata yang indah.

Tetapi pada pilihan.

Bukan pada perasaan yang tinggi.

Tetapi pada kesetiaan.


HAKIKAT KETAATAN ADALAH PENYERAHAN

Pada akhirnya, seorang hamba belajar satu perkara besar:

Tidak semua perintah harus terlebih dahulu ia pahami seluruh hikmahnya agar mau menjalankan.

Ia belajar percaya.

Ia belajar tunduk.

Ia belajar berkata:

“Ya Alloh, aku memahami sebagian, dan banyak yang belum kupahami. Tetapi aku percaya bahwa petunjuk-Mu lebih luas daripada pengetahuanku.”

Inilah penyerahan.

Bukan penyerahan buta tanpa ilmu.

Tetapi penyerahan setelah mengenali bahwa ilmu manusia terbatas.

Ma‘rifat membuat manusia mengetahui keterbatasannya sendiri.

Dan dari kesadaran itulah lahir tawadhu’.


JANGAN JADIKAN MA‘RIFAT SEBAGAI ALASAN MENOLAK NASIHAT

Salah satu tanda ego telah menyusup ke jalan ruhani adalah ketika seseorang tidak lagi dapat menerima nasihat.

Setiap teguran dianggap serangan.

Setiap koreksi dianggap ketidaktahuan.

Setiap perbedaan dianggap sebagai tanda bahwa orang lain belum sampai.

Berhati-hatilah.

Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang dalam ilmu, seharusnya semakin luas dadanya terhadap nasihat.

Ia mampu berkata:

“Mungkin aku salah.”

Ia mampu berkata:

“Aku akan memeriksa kembali.”

Ia tidak menganggap dirinya kebal dari kekeliruan.

Karena ma‘rifat tidak membuat manusia maksum.

Ma‘rifat membuat manusia lebih sadar bahwa ia membutuhkan pertolongan Alloh setiap saat.


KETIKA CINTA MENJADI AKHLAK

Jangan ukur cinta kepada Alloh hanya dari lamanya dzikir.

Lihat pula bagaimana engkau memperlakukan manusia.

Apakah setelah berdzikir engkau lebih lembut kepada keluarga?

Apakah setelah membaca Al-Qur’an engkau lebih jujur?

Apakah setelah sholat engkau lebih berhati-hati menjaga lisan?

Apakah setelah belajar ma‘rifat engkau semakin sulit merendahkan orang lain?

Jika iya, maka cahaya ibadah mulai turun menjadi akhlak.

Inilah tujuan besar.

Cahaya yang hanya berada di kepala belum cukup.

Ia harus turun ke hati.

Dari hati turun ke tangan.

Dari tangan turun ke perbuatan.

Barulah ia menjadi rahmat.


PESAN LEMBAR KEEMPAT

Wahai pencari ma‘rifat,

jangan mencari cinta yang membebaskanmu dari ketaatan.

Carilah cinta yang membuatmu semakin tulus dalam ketaatan.

Jangan mencari rasa yang membuatmu merasa istimewa.

Carilah kejernihan yang membuatmu semakin rendah hati.

Jangan mencari pengalaman yang membuat orang lain kagum.

Carilah istiqomah yang membuat Alloh ridho.

Jika engkau belum merasakan manisnya ibadah, tetaplah beribadah.

Jika suatu saat engkau merasakan manisnya ibadah, bersyukurlah dan jangan merasa tinggi.

Jika engkau jatuh, bertaubatlah.

Jika engkau berhasil taat, jangan membanggakan diri.

Sebab tanpa pertolongan Alloh, seorang hamba bahkan tidak mampu berdiri untuk menyebut nama-Nya.

Maka ucapkanlah dalam hati:

“Ya Alloh, ajari aku mencintai-Mu dengan ketaatan.

Ajari aku menaati-Mu dengan cinta.

Jangan jadikan takutku berubah menjadi putus asa.

Jangan jadikan harapku berubah menjadi kelalaian.

Dan jangan jadikan cintaku hanya menjadi ucapan tanpa bukti.”

Takut menjaga batas.
Harap membuka pintu.
Cinta menghidupkan perjalanan.
Syariat memberi bentuk.
Ma‘rifat memberi kedalaman.
Dan ikhlas mengembalikan semuanya kepada Alloh.

Allohu a‘lam.



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KELIMA

KETIKA ILMU SYARIAT DAN ILMU MA‘RIFAT SALING MENYEMPURNAKAN

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Jangan pertentangkan dua perkara yang sebenarnya dapat saling menguatkan.

Ilmu syariat mengajarkan:

apa yang wajib,

apa yang sunnah,

apa yang halal,

apa yang haram,

apa yang sah,

apa yang batal,

apa yang menjadi hak Alloh,

dan apa yang menjadi hak sesama manusia.

Sedangkan ilmu ma‘rifat mengajarkan seorang hamba untuk bertanya:

mengapa aku menjalankan ini,

untuk siapa aku melakukannya,

apa yang terjadi pada hatiku ketika aku taat,

dan bagaimana seluruh amal itu membawaku semakin sadar kepada Alloh.

Maka ilmu syariat memberi batas.

Ilmu ma‘rifat memberi kedalaman.

Syariat membimbing tangan.

Ma‘rifat membimbing hati.

Syariat menertibkan perbuatan.

Ma‘rifat membersihkan niat.

Ketika keduanya berjalan bersama, lahirlah penghambaan yang lebih utuh.


ILMU TANPA AMAL MENJADI BEBAN

Ada orang yang banyak mengetahui hukum.

Ia memahami berbagai perbedaan pendapat.

Ia hafal istilah.

Ia mampu berbicara panjang.

Tetapi ilmunya tidak mengubah hidupnya.

Ia masih kasar.

Ia masih suka merendahkan.

Ia masih mengingkari amanah.

Ia masih menzalimi.

Di sinilah ilmu kehilangan buah.

Ilmu seharusnya membuat manusia semakin takut melakukan kesalahan.

Semakin banyak ia mengetahui, semakin berhati-hati ia berbicara.

Semakin luas ilmunya, semakin besar kesadarannya bahwa ia bertanggung jawab atas apa yang diketahuinya.

Karena itu jangan bangga hanya karena mengetahui.

Tanyakan:

“Apa yang sudah berubah dalam diriku setelah mengetahui?”

Jika tidak ada perubahan, mungkin ilmu baru berhenti di kepala.


AMAL TANPA ILMU DAPAT KEHILANGAN ARAH

Sebaliknya, semangat tanpa ilmu juga dapat menyesatkan.

Seseorang ingin beribadah sebanyak-banyaknya.

Tetapi ia tidak mau belajar.

Ia menciptakan aturan untuk dirinya sendiri.

Kemudian menganggap aturan itu sebagai bagian dari agama.

Ia mudah mengatakan wajib.

Mudah mengatakan haram.

Mudah menilai orang lain.

Padahal ia belum memahami dasar ilmunya.

Maka semangat harus ditemani ilmu.

Sebab niat baik tidak selalu menghasilkan cara yang benar.

Ilmu menjaga agar semangat tidak berubah menjadi berlebihan.

Ilmu mengajarkan kapan harus keras terhadap diri sendiri.

Dan kapan harus mengambil keringanan yang memang dibenarkan.


MA‘RIFAT TANPA ILMU DAPAT MENJADI PERASAAN TANPA TIMBANGAN

Ada pula orang yang mengatakan:

“Aku mengikuti hati.”

Ucapan itu tidak selalu salah.

Tetapi hati membutuhkan pendidikan.

Hati yang belum dibersihkan dapat mencampurkan petunjuk dengan keinginan.

Karena itu tidak semua yang terasa nyaman berarti benar.

Dan tidak semua yang terasa berat berarti salah.

Kadang yang benar justru berat karena hawa nafsu menolaknya.

Kadang yang salah terasa nyaman karena keinginan diri menyukainya.

Di sinilah ilmu menjadi timbangan.

Ma‘rifat tidak membuang ilmu.

Ma‘rifat justru membuat manusia semakin menghargai ilmu.

Sebab semakin ia memahami kelemahan dirinya, semakin ia membutuhkan petunjuk.


SYARIAT ADALAH PAGAR, MA‘RIFAT ADALAH TAMAN

Bayangkan sebuah taman yang indah.

Di dalamnya ada bunga.

Ada mata air.

Ada keteduhan.

Ada keharuman.

Itulah ma‘rifat.

Tetapi taman yang tidak memiliki pagar mudah dirusak.

Bisa dimasuki siapa saja.

Bisa diinjak.

Bisa kehilangan bentuk.

Maka syariat adalah pagar.

Ia menjaga.

Ia membatasi.

Ia melindungi.

Pagar bukan musuh taman.

Pagar menjaga keindahan taman.

Begitu pula ma‘rifat membutuhkan syariat agar tidak berubah menjadi khayalan tanpa batas.

Dan syariat membutuhkan ruh agar tidak hanya terasa seperti pagar kosong.


SYARIAT MENGAJAR APA YANG HARUS DILAKUKAN, MA‘RIFAT MENGAJAR BAGAIMANA HATI HADIR

Ketika engkau bersedekah, syariat mengajarkan cara dan hukumnya.

Ma‘rifat mengajarkan agar tangan memberi tanpa merasa menjadi pemilik.

Ketika engkau sholat, syariat mengajarkan rukun dan waktunya.

Ma‘rifat mengajarkan agar hati berdiri sebagai hamba.

Ketika engkau berpuasa, syariat mengajarkan batas.

Ma‘rifat mengajarkan agar nafsu ikut dilatih.

Ketika engkau berhaji, syariat mengatur manasik.

Ma‘rifat mengajak melihat perjalanan itu sebagai latihan melepaskan kebanggaan diri.

Ketika engkau mencari rezeki, syariat menjaga halal-haram.

Ma‘rifat mengajarkan bahwa rezeki adalah titipan.

Di sinilah keduanya saling melengkapi.


JANGAN BERHENTI PADA BENTUK

Ada orang yang menjalankan ibadah dengan benar secara lahir.

Tetapi belum bertanya tentang penyakit hatinya.

Ia rajin.

Namun mudah iri.

Ia disiplin.

Namun suka memandang rendah.

Ia banyak beribadah.

Namun sulit meminta maaf.

Maka perjalanan belum selesai.

Sebab syariat tidak hanya bertujuan menghasilkan gerakan.

Ia juga mendidik jiwa.

Sholat seharusnya melatih ketundukan.

Puasa melatih pengendalian diri.

Zakat melatih pelepasan.

Haji melatih kesetaraan.

Dzikir melatih kehadiran.

Jika semua itu tidak menyentuh akhlak, seseorang perlu kembali memeriksa kedalaman ibadahnya.


JANGAN PULA BERHENTI PADA RASA

Sebaliknya, ada yang mudah menangis ketika berdzikir.

Mudah terharu.

Mudah merasakan ketenangan.

Namun kewajiban masih diabaikan.

Hutang tidak dibayar.

Janji dilanggar.

Hak keluarga ditelantarkan.

Lisan masih menyakiti.

Maka rasa belum cukup.

Air mata bukan bukti sempurna.

Ketenangan bukan ukuran tunggal.

Pengalaman batin baru memiliki makna ketika ia melahirkan tanggung jawab.

Karena itu:

Jangan ukur kedekatan kepada Alloh hanya dari apa yang engkau rasakan ketika beribadah.

Lihat pula siapa dirimu setelah selesai beribadah.


ORANG BERILMU HARUS SEMAKIN RENDAH HATI

Salah satu buah ilmu adalah tawadhu’.

Mengapa?

Karena semakin luas seseorang belajar, semakin ia melihat betapa luasnya perkara yang belum ia ketahui.

Orang yang baru mengetahui sedikit sering mudah merasa sudah memahami semuanya.

Tetapi orang yang telah lama belajar biasanya lebih hati-hati.

Ia berkata:

“Aku memahami ini sejauh yang kupelajari.”

Ia tidak mudah mengklaim.

Ia tidak mudah menuduh.

Ia tidak merasa semua persoalan sederhana.

Maka apabila ilmu membuat seseorang semakin keras dan semakin merasa paling benar, ia perlu memeriksa kembali hatinya.


ORANG YANG MENEMPUH MA‘RIFAT HARUS SEMAKIN MENJAGA LISAN

Lisan adalah salah satu ujian terbesar bagi pencari jalan.

Seseorang dapat berbicara tentang Alloh, tetapi menggunakan lisannya untuk melukai hamba-hamba Alloh.

Ia dapat berbicara tentang cinta, tetapi mudah menghina.

Ia dapat berbicara tentang rahasia batin, tetapi gemar membuka aib.

Ini pertentangan.

Maka jagalah lisan.

Tidak semua yang engkau ketahui harus disampaikan.

Tidak semua pengalaman harus diceritakan.

Tidak semua kesalahan orang harus diumumkan.

Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan.

Kadang diam adalah bentuk ilmu.

Kadang menahan komentar adalah bentuk adab.

Kadang tidak membalas adalah bentuk kemenangan atas ego.


ILMU SYARIAT MENJAGA HAK MANUSIA

Ada orang yang sibuk mencari pengalaman ruhani tetapi melupakan tanggung jawab sosial.

Padahal syariat sangat kuat menjaga hak manusia.

Hutang harus dibayar.

Amanah harus dikembalikan.

Timbangan tidak boleh dikurangi.

Upah tidak boleh dizalimi.

Janji tidak boleh dipermainkan.

Keluarga tidak boleh ditelantarkan.

Tetangga tidak boleh disakiti.

Inilah bagian dari agama.

Jangan merasa perjalanan menuju Alloh hanya terjadi di sajadah.

Perjalanan itu juga terjadi ketika engkau membayar hutang tepat waktu.

Ketika engkau tidak menipu pembeli.

Ketika engkau berlaku adil kepada bawahan.

Ketika engkau menjaga keluarga.

Ketika engkau menepati janji.

Ma‘rifat yang tidak menumbuhkan tanggung jawab kepada manusia masih perlu diuji.


MA‘RIFAT MENGAJAR BAHWA SETIAP AMANAH ADALAH PENGHAMBAAN

Ketika seorang ayah menafkahi keluarganya dengan halal, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang ibu merawat anaknya dengan sabar, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang pedagang jujur dalam transaksi, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang pemimpin berlaku adil, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang guru mengajar dengan tulus, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang pekerja menjaga amanah, itu dapat menjadi ibadah.

Mengapa?

Karena ma‘rifat mengubah pandangan:

kehidupan tidak lagi terbagi antara “urusan dunia” dan “urusan Alloh” secara kasar.

Seluruh kehidupan dapat menjadi jalan penghambaan apabila dijalankan dengan halal, amanah, dan niat yang benar.


JANGAN MENJADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI ALASAN MEMUTUS PERSAUDARAAN

Dalam ilmu terdapat perbedaan.

Dalam cara memahami terdapat keluasan.

Dalam sebagian masalah terdapat banyak pendapat.

Maka jangan jadikan semua perbedaan sebagai peperangan.

Belajarlah membedakan:

mana prinsip yang harus dijaga,

mana perkara cabang yang masih memiliki ruang,

mana yang membutuhkan nasihat,

dan mana yang cukup disikapi dengan toleransi.

Ma‘rifat mengajarkan kelembutan.

Syariat mengajarkan batas.

Keduanya bila berjalan bersama akan melahirkan hikmah.

Hikmah adalah mengetahui kapan harus berbicara.

Kapan harus diam.

Kapan harus tegas.

Dan kapan harus memberi ruang.


JANGAN MENGGUNAKAN SYARIAT UNTUK MENYOMBONGKAN DIRI

Ada pula bahaya lain.

Seseorang sangat menjaga syariat.

Itu baik.

Tetapi kemudian ia menggunakan ketaatannya untuk merendahkan orang lain.

Ia merasa paling bersih.

Paling benar.

Paling dekat.

Di sinilah syariat yang seharusnya menundukkan ego justru dipakai ego untuk meninggikan diri.

Maka hati-hati.

Ketaatan adalah karunia.

Jika engkau mampu sholat, bersyukurlah.

Jika engkau mampu menjaga yang halal, bersyukurlah.

Jika engkau mampu meninggalkan maksiat, bersyukurlah.

Jangan jadikan kemampuan itu sebagai alasan untuk menghina orang yang masih berjuang.

Bimbinglah bila mampu.

Doakan bila tidak mampu.

Tetapi jangan merasa lebih tinggi.


JANGAN MENGGUNAKAN MA‘RIFAT UNTUK MERENDAHKAN AHLI SYARIAT

Sebaliknya, jangan mengatakan:

“Dia baru memahami kulit.”

“Dia belum mengetahui hakikat.”

“Dia hanya ahli hukum.”

Ucapan seperti itu mudah melahirkan kesombongan.

Bisa jadi orang yang engkau anggap hanya memahami “kulit” justru memiliki ketulusan yang lebih dalam.

Kita tidak mengetahui isi hati manusia.

Maka hormatilah ilmu.

Hormatilah orang yang menjaga hukum.

Hormatilah pula orang yang menempuh penyucian hati.

Selama semuanya berjalan di bawah adab kepada Alloh dan Rasul-Nya.


PERTEMUAN ANTARA ILMU, AMAL, DAN HATI

Ketika ilmu berkata:

“Ini adalah perintah Alloh.”

Amal menjawab:

“Aku akan melaksanakannya.”

Dan hati berkata:

“Aku melakukannya karena Alloh.”

Di situlah perjalanan menjadi utuh.

Ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan.

Amal tanpa hati dapat menjadi kebiasaan.

Hati tanpa ilmu dapat kehilangan arah.

Satukan ketiganya.

Ilmu.

Amal.

Hati.

Maka lahirlah adab.


PESAN LEMBAR KELIMA

Wahai pencari jalan,

belajarlah syariat agar langkahmu tidak tersesat.

Belajarlah membersihkan hati agar ilmumu tidak menjadi keras.

Amalkan apa yang engkau ketahui.

Dan jangan merasa selesai belajar.

Jika engkau memahami hukum, carilah hikmahnya.

Jika engkau memahami hikmah, jangan meninggalkan hukumnya.

Jika engkau mendapatkan rasa, timbang dengan ilmu.

Jika engkau mendapatkan ilmu, hidupkan dengan amal.

Dan jika engkau mampu beramal, bersihkan dengan ikhlas.

Jangan merasa syariat menghalangimu menuju ma‘rifat.

Justru syariat menjaga perjalanan itu.

Jangan merasa ma‘rifat membuatmu keluar dari syariat.

Justru ma‘rifat yang benar membuatmu semakin memahami mengapa syariat patut dihormati.

Maka ingatlah:

Ilmu menunjukkan jalan.
Syariat menjaga langkah.
Ma‘rifat menyalakan hati.
Amal membuktikan kesungguhan.
Adab menjaga semuanya.
Dan ikhlas mengembalikannya kepada Alloh.

Allohu a‘lam.



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KEENAM

KETIKA SYARIAT MENJADI CERMIN KEJUJURAN MA‘RIFAT

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada satu pertanyaan yang perlu selalu dibawa oleh setiap pencari jalan:

Jika ma‘rifat itu benar-benar hidup di dalam hati, apa yang berubah dalam kehidupan?

Sebab ma‘rifat bukan hanya perkara istilah.

Bukan sekadar pembicaraan tentang cahaya.

Bukan semata-mata pengalaman batin.

Bukan pula perasaan bahwa diri telah memahami rahasia tertentu.

Ma‘rifat harus mempunyai bekas.

Bekas itu terlihat dalam kejujuran.

Dalam amanah.

Dalam kesabaran.

Dalam cara seseorang memperlakukan keluarganya.

Dalam cara ia mencari rezeki.

Dalam cara ia menjaga lisan.

Dalam cara ia menunaikan kewajiban.

Dan dalam cara ia tetap tunduk kepada Alloh ketika tidak seorang pun melihatnya.

Karena itu syariat menjadi salah satu cermin yang sangat jelas.

Ia bertanya kepada seorang hamba:

Apakah pengetahuan batinmu membuatmu lebih taat?

Apakah dzikirmu membuatmu lebih jujur?

Apakah pengalaman ruhanimu membuatmu lebih amanah?

Apakah pembicaraan tentang cinta membuatmu lebih mampu menahan kemarahan?

Apakah pengakuan ma‘rifat membuatmu semakin menjaga hak manusia?

Jika tidak, maka jangan buru-buru merasa telah sampai.


KEJUJURAN ADALAH UJIAN BESAR MA‘RIFAT

Seseorang dapat berbicara panjang mengenai Alloh.

Tetapi ketika keuntungan datang melalui kebohongan, apakah ia masih jujur?

Seseorang dapat menangis ketika berdzikir.

Tetapi ketika hutang jatuh tempo, apakah ia berusaha menunaikannya?

Seseorang dapat membicarakan hakikat.

Tetapi ketika diberi amanah, apakah ia menjaganya?

Di sinilah perjalanan batin diuji.

Bukan hanya ketika seseorang berada di sajadah.

Tetapi ketika ia berada di pasar.

Di tempat kerja.

Di rumah.

Di perjalanan.

Di hadapan uang.

Di hadapan kekuasaan.

Di hadapan kesempatan berbuat salah tanpa diketahui manusia.

Syariat mengingatkan:

Alloh tetap melihat.

Ma‘rifat menghidupkan kesadaran itu di dalam hati.


JIKA MENGENAL ALLOH, MENGAPA MASIH MEREMEHKAN HAK MANUSIA?

Ini pertanyaan yang berat.

Seseorang mengaku mengenal Alloh.

Tetapi ia mudah mengambil hak orang.

Ia mengaku memahami rahasia.

Tetapi ia meremehkan janji.

Ia mengaku dekat kepada Alloh.

Tetapi keluarganya hidup dalam luka karena perangainya.

Maka apa arti kedekatan yang tidak melahirkan amanah?

Apa arti ma‘rifat yang tidak membuat seseorang takut menzalimi?

Sebab salah satu tanda mengenal Alloh adalah semakin sadar bahwa setiap hak manusia akan dimintai pertanggungjawaban.

Jangan merasa dosa hanya terjadi ketika seseorang meninggalkan ibadah ritual.

Menipu juga dosa.

Mencaci juga dosa.

Memfitnah juga dosa.

Mengkhianati amanah juga dosa.

Makan hak orang lain juga dosa.

Maka ma‘rifat yang benar membawa seorang hamba kepada kehati-hatian.


IBADAH TIDAK BERHENTI DI SAJADAH

Ada orang yang memisahkan kehidupan menjadi dua:

ibadah dan dunia.

Padahal bagi seorang hamba yang sadar, seluruh hidup dapat menjadi ruang penghambaan.

Ketika seorang pedagang jujur, ia sedang menjaga syariat.

Ketika seorang pemimpin berlaku adil, ia sedang menjaga syariat.

Ketika seorang suami menjaga keluarganya, ia sedang menjalankan amanah.

Ketika seorang istri menjaga rumah tangganya dengan ikhlas, itu dapat menjadi ibadah.

Ketika seorang anak berbakti kepada orang tua, itu jalan menuju ridho Alloh.

Ketika seorang pekerja tidak mencuri waktu dan tanggung jawab, itu amanah.

Ma‘rifat membuat manusia melihat:

Alloh tidak hanya ditemui dalam ruang ibadah, tetapi kesadaran kepada-Nya harus dibawa ke seluruh kehidupan.


MA‘RIFAT YANG TIDAK MEMPERBAIKI AKHLAK MASIH PERLU DIPERIKSA

Jika seseorang bertahun-tahun berdzikir tetapi semakin mudah marah, apa yang sedang terjadi?

Jika seseorang banyak membaca kitab tetapi semakin suka menghina, apa yang kurang?

Jika seseorang sering berbicara tentang cahaya tetapi semakin sulit meminta maaf, di mana letak cahayanya?

Ini bukan untuk menghakimi.

Ini untuk bermuhasabah.

Mungkin bacaan sudah banyak.

Tetapi hati belum dilembutkan.

Mungkin dzikir sudah banyak.

Tetapi ego belum disentuh.

Mungkin pengetahuan sudah tinggi.

Tetapi kerendahan hati belum tumbuh.

Maka jangan hanya menambah jumlah amalan.

Kadang yang diperlukan adalah memperbaiki buahnya.


SYARIAT MENGAJARKAN BATAS, MA‘RIFAT MENGAJARKAN MALU

Syariat berkata:

“Jangan mengambil yang bukan hakmu.”

Ma‘rifat menambahkan:

“Bagaimana engkau tega mengambilnya sementara Alloh melihat?”

Syariat berkata:

“Jangan berdusta.”

Ma‘rifat menambahkan:

“Bagaimana hatimu merasa tenang sementara Alloh mengetahui apa yang sebenarnya?”

Syariat berkata:

“Jangan zalim.”

Ma‘rifat menambahkan:

“Tidakkah engkau takut berdiri di hadapan Alloh membawa luka manusia?”

Syariat memberi hukum.

Ma‘rifat menumbuhkan rasa malu.

Ketika keduanya bersatu, seorang hamba tidak hanya menjauhi dosa karena takut diketahui manusia.

Ia menjauhinya karena kesadaran kepada Alloh.


KETAATAN DALAM KESUNYIAN ADALAH UJIAN KEJUJURAN

Di hadapan manusia, banyak orang mampu terlihat baik.

Tetapi bagaimana ketika sendirian?

Di situlah kejujuran diuji.

Apakah kita tetap menjaga pandangan?

Apakah kita tetap menjauhi yang haram?

Apakah kita tetap menunaikan kewajiban?

Apakah kita tetap jujur?

Orang yang hanya taat ketika dilihat manusia sedang membutuhkan penyembuhan niat.

Sedangkan orang yang tetap taat dalam kesunyian sedang belajar ihsan:

beribadah dengan kesadaran bahwa Alloh melihat.

Ini salah satu pintu ma‘rifat yang paling nyata.

Bukan pengalaman yang spektakuler.

Tetapi kesetiaan yang tidak disaksikan siapa pun.


JANGAN UKUR MA‘RIFAT DARI BANYAKNYA CERITA

Ada manusia yang banyak menceritakan pengalaman batin.

Ada yang sedikit.

Jangan jadikan banyaknya cerita sebagai ukuran kedalaman.

Bisa jadi orang yang paling dalam justru sangat sedikit berbicara.

Ia menjaga rahasianya.

Ia tidak membutuhkan pengakuan.

Ia lebih sibuk memperbaiki diri daripada menjelaskan kedudukannya.

Maka jangan iri kepada cerita orang.

Jangan pula merasa rendah karena engkau tidak memiliki pengalaman yang sama.

Jalan menuju Alloh tidak dibangun di atas perlombaan pengalaman.

Ia dibangun di atas iman, amal, adab, dan istiqomah.


ORANG YANG DEKAT KEPADA ALLOH SEMAKIN TAKUT MENYAKITI

Jika ma‘rifat menumbuhkan sesuatu, salah satunya adalah kehalusan rasa terhadap kezaliman.

Ia takut lisannya menyakiti.

Ia takut kekuasaannya menekan.

Ia takut hartanya berasal dari yang tidak halal.

Ia takut keputusan dirinya merugikan orang tanpa alasan yang benar.

Ia belajar berkata:

“Jangan sampai ibadahku banyak, tetapi ada manusia yang menangis karena kezalimanku.”

Sebab perkara manusia tidak ringan.

Ma‘rifat yang benar tidak membuat seseorang hanya memikirkan hubungan vertikal dengan Alloh.

Ia juga memperbaiki hubungannya dengan makhluk.


MENGHARGAI SYARIAT BERARTI MENGHARGAI TATANAN ALLOH

Ada orang yang menganggap syariat hanya sebagai aturan luar.

Padahal syariat mengandung penjagaan.

Penjagaan terhadap jiwa.

Penjagaan terhadap harta.

Penjagaan terhadap keluarga.

Penjagaan terhadap kehormatan.

Penjagaan terhadap keadilan.

Maka meremehkan syariat bukan sekadar meremehkan aturan.

Ia berpotensi meremehkan hikmah yang menjaga kehidupan manusia.

Dan menghargai syariat berarti menghargai keteraturan yang ditetapkan Alloh bagi kebaikan hamba.

Dari sinilah ma‘rifat bertumbuh:

bukan dengan melawan aturan,

tetapi dengan melihat rahmat di balik aturan.


JANGAN JADIKAN KEDALAMAN BATIN SEBAGAI ALASAN MEMILIKI HAK ISTIMEWA

Salah satu bahaya besar adalah merasa karena memiliki kedalaman ruhani maka dirinya boleh mendapat perlakuan khusus.

Merasa tidak perlu dikoreksi.

Merasa hukum berbeda untuk dirinya.

Merasa kesalahan dapat dibenarkan karena “ada rahasia di baliknya”.

Berhati-hatilah.

Tidak ada kedalaman yang membolehkan kezaliman.

Tidak ada pengalaman batin yang menghalalkan kebohongan.

Tidak ada maqām yang membolehkan mengambil hak manusia.

Tidak ada pengakuan ma‘rifat yang menghapus kewajiban.

Semakin tinggi pengakuan, semakin besar tanggung jawab untuk menjaga adab.


SYARIAT ADALAH UJIAN CINTA YANG TERUKUR

Cinta adalah perkara batin.

Manusia tidak dapat melihatnya langsung.

Tetapi cinta mempunyai tanda.

Jika seseorang mengatakan mencintai Alloh, lihatlah bagaimana ia memperlakukan perintah-Nya.

Tidak harus sempurna.

Setiap manusia dapat jatuh.

Namun ada perbedaan antara orang yang jatuh lalu bertaubat dan orang yang meremehkan perintah karena merasa dirinya telah melampaui.

Yang pertama adalah kelemahan manusia.

Yang kedua adalah kesombongan yang harus diwaspadai.

Seorang pencinta dapat tersandung.

Tetapi ia tidak menghina jalan.

Ia jatuh lalu bangkit.

Ia berdosa lalu meminta ampun.

Ia lemah lalu memohon kekuatan.

Inilah kehambaan.


MA‘RIFAT MELAHIRKAN TANGGUNG JAWAB

Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar tanggung jawabnya.

Semakin banyak ia dipercaya manusia, semakin berat amanahnya.

Semakin banyak ia mempunyai pengaruh, semakin hati-hati seharusnya lisannya.

Semakin banyak orang mengikuti dirinya, semakin takut ia menyesatkan.

Maka ma‘rifat bukan mahkota untuk dibanggakan.

Ia adalah tanggung jawab.

Ilmu bukan panggung.

Ia adalah amanah.

Pengaruh bukan kehormatan semata.

Ia adalah ujian.


JIKA INGIN MENGETAHUI KEADAAN BATINMU, LIHATLAH AKHLAKMU

Jangan hanya bertanya:

“Sudah sejauh apa ma‘rifatku?”

Tanyakan:

“Sudah sejauh apa kesabaranku?”

“Sudah sejauh apa kejujuranku?”

“Sudah sejauh apa kemampuanku menahan lisan?”

“Sudah sejauh apa aku mampu meminta maaf?”

“Sudah sejauh apa aku meninggalkan hak yang bukan milikku?”

“Sudah sejauh apa aku dapat bersyukur?”

“Sudah sejauh apa aku mampu menerima nasihat?”

Pertanyaan-pertanyaan ini sering lebih jujur daripada perasaan batin.

Sebab buah pohon terlihat dari buahnya.

Dan buah perjalanan ruhani terlihat dari akhlak.


PESAN LEMBAR KEENAM

Wahai pencari ma‘rifat,

jangan hanya mencari cahaya yang terlihat oleh mata batin.

Carilah cahaya yang terlihat dalam akhlakmu.

Cahaya kejujuran.

Cahaya amanah.

Cahaya kasih sayang.

Cahaya kesabaran.

Cahaya tawadhu’.

Cahaya keberanian untuk mengakui kesalahan.

Cahaya untuk menunaikan hak manusia.

Jika cahaya itu tumbuh, syukurilah.

Jika belum, jangan putus asa.

Terus perbaiki diri.

Jangan sibuk mempertahankan citra sebagai orang yang telah sampai.

Lebih baik menjadi hamba yang terus belajar daripada menjadi orang yang merasa sempurna.

Maka berdoalah:

“Ya Alloh, jangan biarkan ilmuku menjadi hujah atas diriku.

Jangan biarkan dzikirku berhenti di lisan.

Jangan biarkan pembicaraan tentang ma‘rifat menutup mataku dari kekurangan diri.

Jadikan syariat sebagai penjaga langkahku, dan ma‘rifat sebagai cahaya yang menghidupkan kejujuran dalam hatiku.”

Jika syariatmu benar, perbuatanmu semakin tertata.
Jika ma‘rifatmu hidup, hatimu semakin rendah.
Jika keduanya bertemu, akhlakmu akan menjadi saksi.

Allohu a‘lam.



QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KETUJUH

KETIKA SYARIAT MENJADI JALAN, MA‘RIFAT MENJADI PENYAKSIAN, DAN AKHLAK MENJADI BUKTINYA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada orang yang berjalan tetapi tidak mengetahui arah.

Ada orang yang mengetahui arah tetapi enggan berjalan.

Ada pula orang yang banyak berbicara tentang tujuan, tetapi tidak pernah memperbaiki langkahnya.

Maka ketahuilah:

Syariat menunjukkan jalan.
Ma‘rifat menerangi kesadaran.
Akhlak membuktikan apakah perjalanan itu benar-benar berbuah.

Jangan merasa cukup hanya karena telah mengetahui hukum.

Jangan pula merasa cukup hanya karena telah merasakan kedalaman batin.

Sebab seorang hamba tidak hanya ditimbang dari apa yang ia ketahui dan rasakan.

Ia juga ditimbang dari apa yang tumbuh dalam dirinya.

Apakah ia semakin sabar?

Apakah ia semakin jujur?

Apakah ia semakin amanah?

Apakah ia semakin sedikit menyakiti?

Apakah ia semakin mudah mengakui kesalahan?

Apakah ia semakin takut kepada kezaliman?

Jika iya, maka jalan sedang menghasilkan buah.

Jika tidak, masih ada pekerjaan batin yang harus diteruskan.


JANGAN MENCARI MA‘RIFAT YANG TIDAK MEMILIKI JEJAK

Ma‘rifat bukan perhiasan lisan.

Bukan gelar.

Bukan kedudukan yang harus diumumkan.

Ma‘rifat adalah kesadaran yang meninggalkan jejak.

Ia terlihat ketika seseorang mampu menahan ucapan yang sebenarnya bisa menyakiti.

Ia terlihat ketika seseorang mengembalikan barang yang bukan miliknya.

Ia terlihat ketika seseorang memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi memilih keadilan.

Ia terlihat ketika seseorang memiliki kuasa, tetapi tidak menggunakan kuasa itu untuk menindas.

Ia terlihat ketika seseorang mempunyai ilmu, tetapi tidak menggunakannya untuk merendahkan.

Maka tanyakanlah:

“Apa jejak ma‘rifat dalam hidupku?”

Bukan:

“Berapa banyak pengalaman yang pernah kurasakan?”

Bukan:

“Berapa banyak rahasia yang kuketahui?”

Tetapi:

“Berapa banyak sifat buruk yang mulai kulepaskan?”


SYARIAT ADALAH LANGKAH NYATA

Ketika Alloh memerintahkan kejujuran, syariat meminta kejujuran yang nyata.

Bukan kejujuran dalam wacana.

Ketika Alloh memerintahkan amanah, syariat meminta amanah yang dapat dirasakan manusia.

Bukan hanya pembicaraan tentang amanah.

Ketika Alloh memerintahkan sholat, syariat meminta seorang hamba benar-benar berdiri menghadap-Nya.

Ketika Alloh melarang kezaliman, syariat meminta seorang hamba benar-benar berhenti menzalimi.

Karena itu syariat sangat membumi.

Ia membawa agama turun ke kehidupan.

Dari hati menuju tindakan.

Dari niat menuju keputusan.

Dari keyakinan menuju akhlak.


MA‘RIFAT ADALAH KESADARAN DI BALIK LANGKAH

Jika syariat mengajarimu berlaku jujur, ma‘rifat membuatmu sadar:

Alloh mengetahui bahkan sebelum kebohongan keluar dari lisan.

Jika syariat mengajarimu menahan tangan dari yang haram, ma‘rifat membuatmu sadar:

Tidak ada sesuatu pun yang benar-benar tersembunyi dari-Nya.

Jika syariat mengajarimu bersedekah, ma‘rifat mengajarimu:

Harta yang engkau keluarkan sejak awal bukan milik mutlakmu.

Jika syariat mengajarimu bersabar, ma‘rifat mengingatkan:

Engkau tidak pernah menjalani ujian sendirian.

Inilah kedalaman.

Bukan meninggalkan hukum.

Tetapi melihat kehadiran makna di balik hukum.


AKHLAK ADALAH TEMPAT PERTEMUAN

Di mana syariat dan ma‘rifat paling mudah terlihat bertemu?

Pada akhlak.

Seseorang yang sholat tetapi suka menipu masih mempunyai pekerjaan besar.

Seseorang yang banyak berdzikir tetapi mudah menghina masih perlu membersihkan diri.

Seseorang yang berbicara tentang hakikat tetapi menelantarkan amanah belum selesai memahami jalan.

Karena itu akhlak bukan perkara tambahan.

Akhlak adalah salah satu tanda bahwa ilmu telah turun ke dalam kehidupan.

Ketika pengetahuan menjadi kesabaran, itulah buah.

Ketika dzikir menjadi kelembutan, itulah buah.

Ketika sholat membuat seseorang takut berbuat zalim, itulah buah.

Ketika ma‘rifat membuat seseorang semakin rendah hati, itulah buah.


JANGAN MEREMEHKAN KEBAIKAN KECIL

Ada orang yang mencari amalan besar, tetapi mengabaikan perkara kecil.

Padahal jalan menuju Alloh sering dibangun dari hal-hal sederhana.

Mengucapkan terima kasih.

Menepati janji.

Mengembalikan pinjaman.

Memberi jalan kepada orang lain.

Mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Tidak memotong pembicaraan.

Menahan ejekan.

Memaafkan kekeliruan kecil.

Menyapa dengan baik.

Memberi nafkah dengan halal.

Menjaga kebersihan.

Semua itu mungkin tampak biasa.

Tetapi apabila dilakukan karena Alloh, yang biasa dapat menjadi ibadah.

Ma‘rifat bukan selalu tentang perkara yang luar biasa.

Kadang ma‘rifat justru membuat seseorang mampu melihat Alloh dalam ketaatan yang paling sederhana.


ORANG YANG MERASA TINGGI SERING LUPA MELIHAT KE BAWAH

Ada bahaya ketika seseorang terlalu banyak memikirkan maqām.

Ia bertanya:

“Aku berada pada tingkat apa?”

“Aku sudah sampai ke mana?”

“Apa kedudukanku?”

Pertanyaan seperti itu dapat memancing ego.

Lebih aman bertanya:

“Apakah hari ini aku lebih jujur daripada kemarin?”

“Apakah hari ini aku lebih mampu menahan marah?”

“Apakah hari ini aku lebih sedikit menyakiti manusia?”

“Apakah hari ini aku lebih sadar kepada Alloh?”

Karena perjalanan bukan perlombaan gelar.

Perjalanan adalah perubahan.


SYARIAT MENCEGAH MA‘RIFAT BERUBAH MENJADI KEBEBASAN EGO

Ego sangat pandai mencari alasan.

Ketika dilarang, ia berkata:

“Aku sudah melampaui larangan.”

Ketika ditegur, ia berkata:

“Mereka belum memahami kedalamanku.”

Ketika dikoreksi, ia berkata:

“Aku mengikuti suara batin.”

Di sinilah syariat menjaga manusia.

Syariat berkata:

Yang haram tetap haram.

Hak manusia tetap harus dijaga.

Kezaliman tetap kezaliman.

Amanah tetap amanah.

Tidak ada kedalaman batin yang mengubah ketidakjujuran menjadi kebenaran.

Tidak ada rasa ruhani yang membuat pengkhianatan menjadi halal.

Karena itu syariat menyelamatkan pencari jalan dari tipu daya dirinya sendiri.


MA‘RIFAT MENCEGAH SYARIAT BERUBAH MENJADI KESOMBONGAN

Namun syariat juga membutuhkan ruh.

Sebab seseorang dapat menjadi sangat disiplin secara lahir tetapi diam-diam merasa lebih suci.

Ia mulai menilai semua orang.

Ia mudah mencela.

Ia merasa amalnya memberinya hak untuk melihat orang lain dari atas.

Ma‘rifat menghancurkan sikap itu.

Ma‘rifat berkata:

“Siapa yang memberimu kemampuan untuk taat?”

Alloh.

“Siapa yang menutup aibmu?”

Alloh.

“Siapa yang memberimu kesempatan bertaubat?”

Alloh.

Maka untuk apa sombong?

Setiap ketaatan adalah karunia yang patut disyukuri, bukan singgasana untuk meninggikan diri.


JANGAN JADIKAN DOSA ORANG LAIN SEBAGAI MAKANAN EGO

Ada orang yang merasa baik karena selalu membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap lebih buruk.

Ia melihat kesalahan manusia lalu berkata:

“Aku tidak seperti dia.”

Hati-hati.

Sebab mungkin ia selamat dari satu dosa tetapi jatuh ke dalam kesombongan.

Lebih baik melihat kesalahan orang lain sebagai pengingat untuk menjaga diri.

Jika mampu menasihati, nasihatilah dengan adab.

Jika tidak, doakan.

Tetapi jangan jadikan kehancuran orang lain sebagai alasan untuk meninggikan diri.

Ma‘rifat membuat seseorang lebih sibuk dengan aib dirinya sendiri daripada menikmati aib manusia.


KETIKA SESEORANG JATUH, JANGAN PUTUSKAN JALANNYA

Manusia dapat tergelincir.

Orang yang rajin dapat lalai.

Orang yang berilmu dapat salah.

Orang yang menempuh jalan ruhani dapat jatuh dalam dosa.

Yang penting adalah bagaimana ia kembali.

Jangan mengatakan:

“Karena aku pernah jatuh, aku tidak layak lagi berjalan.”

Itu juga jebakan.

Pintu taubat tidak dibangun hanya untuk orang yang tidak pernah salah.

Justru taubat ada karena manusia dapat salah.

Bangkit.

Perbaiki.

Kembalikan hak.

Minta maaf.

Tinggalkan kesalahan.

Lalu lanjutkan perjalanan.

Syariat menunjukkan bagaimana kembali.

Ma‘rifat mengajarimu mengapa engkau sangat membutuhkan ampunan Alloh.


JANGAN MENGUBAH KEGAGALAN MENJADI ALASAN MENINGGALKAN SYARIAT

Kadang seseorang berkata:

“Aku sudah berusaha sholat, tetapi hatiku tetap kacau.”

“Aku sudah berdzikir, tetapi masalahku belum selesai.”

Lalu ia kecewa.

Ketahuilah:

Ibadah bukan transaksi dengan Alloh.

Bukan berarti setelah melakukan suatu amal, semua persoalan harus langsung hilang.

Ibadah adalah penghambaan.

Kadang masalah selesai.

Kadang belum.

Kadang doa dikabulkan dengan cara yang kita harapkan.

Kadang dengan cara lain.

Ma‘rifat mendidik hati untuk tetap taat tanpa menjadikan Alloh seolah-olah berutang kepada amal kita.

Ini penting.

Karena hamba tetap hamba.

Dan Alloh tetap Rabb.


KEBENARAN TIDAK MEMBUTUHKAN KESOMBONGAN

Jika engkau memegang sesuatu yang benar, jangan merasa harus menyampaikannya dengan penghinaan.

Kebenaran tidak menjadi lebih kuat karena suara kita lebih keras.

Nasihat tidak menjadi lebih mulia karena kita mempermalukan orang.

Ada waktu untuk ketegasan.

Tetapi ketegasan berbeda dari kesombongan.

Tegas menjaga prinsip.

Sombong merendahkan manusia.

Ma‘rifat mengajarkan perbedaan keduanya.


JIKA SYARIAT DAN MA‘RIFAT BERSATU

Maka lahirlah manusia yang kokoh tetapi lembut.

Tegas terhadap kezaliman tetapi tidak gemar merendahkan.

Disiplin dalam ibadah tetapi tidak merasa dirinya suci.

Berani memegang prinsip tetapi tetap mampu mendengar.

Mencintai Alloh tetapi tidak meninggalkan kewajiban kepada manusia.

Menghormati ulama tetapi tidak mengkultuskan manusia.

Menerima nasihat tetapi tetap menimbang dengan ilmu.

Inilah keseimbangan.


PESAN LEMBAR KETUJUH

Wahai pencari jalan,

jangan ukur ma‘rifat hanya dari kedalaman kata-kata.

Lihatlah kedalaman kesabaranmu.

Jangan ukur cahaya hanya dari apa yang terasa di dalam dada.

Lihatlah apakah cahaya itu membuatmu berhenti menyakiti.

Jangan ukur kedekatan hanya dari panjangnya dzikir.

Lihat pula amanahmu setelah berdzikir.

Dan jangan ukur syariat hanya dari banyaknya aturan yang engkau ketahui.

Lihatlah apakah aturan itu telah membentukmu menjadi manusia yang lebih baik.

Maka berdoalah:

“Ya Alloh, jangan jadikan syariat hanya berada pada anggota tubuhku.

Masukkan ia ke dalam akhlakku.

Jangan jadikan ma‘rifat hanya menjadi pembicaraan dalam lisanku.

Masukkan ia ke dalam kesadaranku.

Jadikan ilmuku amal.

Jadikan amalku ikhlas.

Jadikan dzikirku akhlak.

Dan jadikan seluruh perjalananku kembali kepada-Mu.”

Syariat adalah jalan.
Ma‘rifat adalah kesadaran.
Akhlak adalah buah.
Tawadhu’ adalah penjaga.
Taubat adalah pintu pulang.
Dan ridho Alloh adalah tujuan akhir.

Allohu a‘lam.


QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KEDELAPAN

KETIKA KEDEKATAN KEPADA ALLOH DIUKUR DENGAN KETAATAN, BUKAN DENGAN PENGAKUAN

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada orang yang merasa dekat kepada Alloh karena banyaknya pengalaman batin.

Ada yang merasa dekat karena sering menangis ketika berdzikir.

Ada yang merasa dekat karena banyak mempelajari istilah ruhani.

Ada yang merasa dekat karena dihormati manusia.

Namun kedekatan kepada Alloh tidak cukup diukur dari pengakuan.

Ia perlu dibuktikan oleh ketaatan.

Sebab seseorang dapat berbicara tentang cahaya, tetapi masih berjalan dalam kegelapan akhlak.

Seseorang dapat berbicara tentang cinta, tetapi masih mudah menzalimi.

Seseorang dapat berbicara tentang ma‘rifat, tetapi masih meremehkan syariat.

Maka jangan bertanya terlebih dahulu:

“Seberapa tinggi kedudukanku?”

Tanyakan:

“Seberapa taat aku ketika tidak ada yang melihat?”


PENGAKUAN TIDAK MENAMBAH KEDUDUKAN

Manusia mudah terpikat oleh gelar.

Ahli hakikat.

Ahli ma‘rifat.

Orang khusus.

Orang yang telah sampai.

Tetapi Alloh tidak membutuhkan pengakuan itu.

Jika seorang hamba benar-benar dekat kepada-Nya, kedekatan itu tidak menjadi lebih besar hanya karena diumumkan.

Dan jika ia jauh, menyebut dirinya dekat tidak mengubah kenyataan.

Maka jangan terlalu sibuk memberi nama pada keadaan batin.

Lebih baik memperbaikinya.

Jangan terlalu sibuk menentukan maqām.

Lebih baik memperbanyak taubat.

Jangan terlalu sibuk mengatakan:

“Aku telah sampai.”

Lebih baik berkata:

“Ya Alloh, jangan biarkan aku tersesat setelah Engkau menunjukkan jalan.”


KETAATAN ADALAH BUKTI YANG TIDAK BANYAK BICARA

Ketaatan tidak perlu berteriak.

Ia terlihat.

Ketika seseorang mampu menahan diri dari yang haram padahal kesempatan terbuka, itu tanda.

Ketika seseorang tetap jujur walaupun kejujuran merugikan keuntungan sesaat, itu tanda.

Ketika seseorang menjaga sholat walaupun hati sedang berat, itu tanda.

Ketika seseorang memaafkan tanpa kehilangan keadilan, itu tanda.

Ketika seseorang mengembalikan hak yang bukan miliknya, itu tanda.

Ma‘rifat yang benar akan mencari bentuk dalam tindakan.

Bukan hanya dalam bahasa.


JANGAN MENGANGGAP KETAATAN ORANG LAIN RENDAH

Ada orang yang sholat tepat waktu tetapi tidak pernah berbicara tentang ma‘rifat.

Jangan anggap ia rendah.

Ada seorang ibu yang setiap hari menjaga keluarga dengan sabar, tetapi tidak mengetahui istilah tasawuf yang rumit.

Jangan anggap ia jauh.

Ada pedagang yang jujur, menjaga halal, dan tidak mengambil hak orang lain.

Jangan anggap ia hanya “orang biasa”.

Bisa jadi di sisi Alloh, kesetiaan mereka lebih berat daripada banyak kata yang tidak diwujudkan.

Kita tidak mengetahui kedudukan manusia di hadapan-Nya.

Karena itu jangan menjadikan bahasa ruhani sebagai alat untuk membuat kasta.


MA‘RIFAT TIDAK MENCIPTAKAN KASTA KEHAMBaan

Di hadapan Alloh semua adalah hamba.

Ada yang lebih berilmu.

Ada yang lebih banyak amal.

Ada yang lebih kuat kesabarannya.

Namun semuanya tetap hamba.

Jangan sampai istilah ma‘rifat menciptakan perasaan:

“aku golongan khusus dan mereka golongan rendah.”

Kesadaran semacam itu harus diwaspadai.

Sebab semakin seseorang mengetahui kebesaran Alloh, seharusnya semakin kecil ia melihat dirinya sendiri.

Jika ma‘rifat justru membuat seseorang merasa menjadi pusat dunia, berarti ego sedang mengambil alih bahasa ruhani.


SYARIAT MENUNDUKKAN PERILAKU, MA‘RIFAT MENUNDUKKAN EGO

Syariat mengajarkan:

jangan mencuri.

Ma‘rifat menambahkan:

jangan merasa diri lebih mulia hanya karena tidak mencuri.

Syariat mengajarkan:

jaga sholat.

Ma‘rifat menambahkan:

jangan membanggakan sholatmu seolah-olah engkau mampu melakukannya tanpa pertolongan Alloh.

Syariat mengajarkan:

bersedekahlah.

Ma‘rifat menambahkan:

jangan merasa engkau pemberi rezeki.

Syariat menertibkan tindakan.

Ma‘rifat membongkar kesombongan yang dapat tumbuh di balik tindakan itu.

Inilah mengapa keduanya saling membutuhkan.


JANGAN BANGGA KARENA MERASA “BERBEDA”

Ada orang yang mulai merasa:

“Aku tidak seperti kebanyakan orang.”

Perasaan ini sangat halus.

Kadang muncul setelah banyak belajar.

Kadang setelah mengalami sesuatu yang tidak biasa.

Kadang setelah mendapatkan penghormatan.

Hati-hati.

Karena perasaan “aku berbeda” mudah berkembang menjadi:

“aku lebih tinggi.”

Kemudian berubah menjadi:

“orang lain tidak akan memahami.”

Lalu akhirnya:

“aku tidak perlu mendengar nasihat.”

Di sinilah pintu kesesatan dapat terbuka.

Maka setiap kali merasa istimewa, kembalilah kepada satu kalimat:

“Aku tetap hamba.”


SEORANG HAMBA TIDAK MENJADI BESAR KARENA PUJIAN

Ada orang dipuji sebagai alim.

Ada yang dipuji sebagai wali.

Ada yang dianggap memiliki kedalaman.

Jangan jadikan pujian sebagai ukuran.

Manusia hanya melihat bagian luar.

Mereka tidak melihat seluruh isi hati.

Mereka tidak mengetahui dosa yang tersembunyi.

Mereka tidak mengetahui perjuangan seseorang.

Maka apabila dipuji, jangan cepat percaya kepada pujian itu.

Lebih aman berkata dalam hati:

“Ya Alloh, Engkau lebih mengetahui diriku daripada mereka.”

Pujian dapat menjadi ujian yang lebih berat daripada celaan.


KETAATAN KECIL YANG ISTIQOMAH LEBIH AMAN DARIPADA PENGALAMAN BESAR YANG MEMBUAT SOMBONG

Seorang hamba mungkin tidak pernah mengalami sesuatu yang luar biasa.

Tetapi ia menjaga sholatnya.

Menjaga kejujuran.

Menjaga amanah.

Menjaga keluarganya.

Menjaga hartanya dari yang haram.

Menjaga lisannya.

Jangan anggap perjalanan seperti itu kecil.

Justru itulah fondasi yang kuat.

Sementara pengalaman besar yang membuat seseorang merasa telah melampaui hukum dapat berubah menjadi ujian yang berbahaya.

Maka mintalah istiqomah.

Bukan hanya pengalaman.


MA‘RIFAT YANG SEHAT MEMBUAT SEORANG HAMBA MUDAH BERKATA “AKU SALAH”

Salah satu buah paling indah dari kematangan ruhani adalah kemampuan mengakui kesalahan.

Bukan semua kesalahan harus diumumkan.

Tetapi hati tidak sibuk membela ego.

Ketika memang salah, ia berkata:

“Aku salah.”

Ketika tidak tahu, ia berkata:

“Aku belum tahu.”

Ketika perlu belajar, ia belajar.

Ketika ditegur dengan benar, ia menerima.

Ini bukan kelemahan.

Ini kekuatan.

Orang yang tidak mampu mengakui kesalahan sering bukan sedang menjaga kebenaran.

Ia sedang menjaga citra dirinya.


SYARIAT MENJAGA AGAR CINTA TIDAK MENJADI ALASAN PELANGGARAN

Cinta kepada Alloh itu mulia.

Tetapi jangan mengatakan:

“Karena aku mencintai-Nya, aku tidak membutuhkan aturan.”

Cinta sejati justru menjaga adab.

Orang yang mencintai tidak suka melanggar kehendak yang dicintainya.

Maka semakin dalam cinta, semakin halus rasa malu untuk membangkang.

Syariat bukan penghalang cinta.

Ia adalah salah satu bentuk cinta yang diwujudkan.


MA‘RIFAT MENJAGA AGAR KETAATAN TIDAK MENJADI ALASAN MENYOMBONGKAN DIRI

Sebaliknya, orang yang taat perlu menjaga dirinya dari satu penyakit:

merasa lebih baik daripada manusia lain.

Ia sholat, lalu memandang rendah orang yang belum sholat dengan baik.

Ia belajar agama, lalu menghina yang belum belajar.

Ia menjaga aurat, lalu mencela yang masih berjuang.

Padahal orang yang taat seharusnya semakin banyak bersyukur.

Sebab kemampuan untuk taat bukan hasil kekuatan dirinya sendiri.

Maka apabila Alloh memudahkanmu melakukan kebaikan, katakan:

“Alhamdulillāh, ini pertolongan-Mu. Jagalah aku agar tidak berubah menjadi sombong.”


HAKIKAT DEKAT ADALAH SEMAKIN SADAR AKAN JARAK DIRI

Ini salah satu rahasia yang halus.

Semakin seorang hamba merasa dekat kepada Alloh, sering kali ia justru semakin sadar betapa banyak kekurangannya.

Ia tidak berkata:

“Aku sudah sempurna.”

Ia berkata:

“Betapa banyak yang harus kuperbaiki.”

Ia tidak berkata:

“Aku telah selesai.”

Ia berkata:

“Semoga Alloh menetapkanku sampai akhir.”

Karena ia tahu:

Yang penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai perjalanan.

Tetapi bagaimana ia mengakhirinya.


JANGAN MENGUKUR KEDEKATAN DARI SENSASI

Ada orang yang merasa panas saat berdzikir.

Ada yang merasa dingin.

Ada yang menangis.

Ada yang tidak merasakan apa-apa.

Semua pengalaman itu tidak boleh dijadikan ukuran mutlak kedudukan ruhani.

Bisa jadi orang yang tidak merasakan sensasi apa pun mempunyai keikhlasan yang besar.

Bisa jadi seseorang yang mengalami berbagai rasa masih perlu memperbaiki akhlaknya.

Maka jangan mengejar sensasi.

Kejar ketaatan.

Jangan mengejar keistimewaan.

Kejar keikhlasan.


KETAATAN PALING JUJUR SERING TERJADI DALAM KESUNYIAN

Ketika manusia tidak melihatmu.

Ketika tidak ada yang akan memuji.

Ketika tidak ada penghargaan.

Ketika tidak ada tepuk tangan.

Tetapi engkau tetap memilih yang halal.

Tetap menjaga sholat.

Tetap menjaga pandangan.

Tetap mengembalikan hak.

Tetap beristighfar.

Itulah salah satu tempat kejujuran diuji.

Sebab di sana ego tidak memperoleh makanan dari manusia.

Yang tersisa adalah hubungan antara hamba dengan Rabb-nya.


JANGAN PULA MENJADI HAKIM BAGI BATIN ORANG LAIN

Sebagaimana engkau tidak ingin orang lain menghakimi keadaan batinmu, jangan mudah menghakimi batin mereka.

Jangan berkata:

“Dia jauh dari Alloh.”

“Dia tidak punya ma‘rifat.”

“Dia tertutup.”

Kita boleh menilai perbuatan yang jelas dengan ilmu yang benar.

Tetapi keadaan batin seseorang bukan wilayah yang mudah diputuskan.

Bisa jadi orang yang tampak biasa mempunyai tangisan yang hanya diketahui Alloh.

Bisa jadi orang yang masih banyak kekurangan sedang berjalan pulang dengan sungguh-sungguh.

Maka jagalah lisan.


PESAN LEMBAR KEDELAPAN

Wahai pencari jalan,

jangan mengejar pengakuan sebagai orang yang dekat kepada Alloh.

Jadilah hamba yang benar-benar berusaha mendekat.

Jangan mengejar gelar.

Kejar ridho.

Jangan mengejar penghormatan manusia.

Kejar kejujuran ketika sendirian.

Jangan terlalu sibuk mengukur maqām.

Ukur saja:

apakah hari ini lebih sedikit dosa yang sengaja dilakukan?

Apakah lebih banyak hak manusia yang ditunaikan?

Apakah hati semakin lembut?

Apakah ego semakin kecil?

Apakah syariat semakin dihormati?

Jika iya, teruslah berjalan.

Jika belum, jangan putus asa.

Perjalanan belum berakhir.

Maka berdoalah:

“Ya Alloh, jangan jadikan aku sibuk dengan kedudukanku hingga lupa kepada kehambaanku.

Jangan jadikan aku mengejar pujian ketika yang kubutuhkan adalah ampunan.

Jangan jadikan aku mengaku mengenal-Mu tetapi meremehkan perintah-Mu.

Jadikan ketaatan sebagai bukti cintaku, tawadhu’ sebagai penjaga ilmuku, dan akhlak sebagai buah ma‘rifatku.”

Kedekatan bukan pengakuan.
Kedekatan adalah ketaatan.
Ma‘rifat bukan mahkota.
Ma‘rifat adalah kehambaan.
Dan semakin seseorang mengenal Alloh, semakin ia sadar bahwa dirinya tidak mempunyai apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

Allohu a‘lam.


QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KESEMBILAN

SAAT SYARIAT MENJAGA TUBUH, MA‘RIFAT MENJAGA HATI, DAN IKHLAS MENJAGA KEDUANYA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada amal yang tampak baik di mata manusia, tetapi kehilangan nilainya karena hati mencari pujian.

Ada pula niat yang terasa indah di dalam hati, tetapi tidak pernah diwujudkan menjadi ketaatan.

Maka perjalanan seorang hamba tidak berhenti pada bentuk.

Tidak pula berhenti pada rasa.

Ia membutuhkan sesuatu yang lebih halus:

ikhlas.

Syariat menjaga agar perbuatan tetap berada pada jalan yang benar.

Ma‘rifat menjaga agar hati mengetahui kepada siapa semua amal diarahkan.

Sedangkan ikhlas menjaga agar keduanya tidak direbut oleh ego.

Karena itu seorang hamba harus terus memeriksa tiga perkara:

Apakah amalnya benar?

Apakah hatinya hadir?

Dan untuk siapa semuanya dilakukan?


AMAL YANG BENAR MASIH MEMBUTUHKAN HATI YANG BENAR

Seseorang dapat sholat dengan gerakan yang benar.

Namun setelah selesai, ia ingin semua orang mengetahui betapa khusyuk dirinya.

Seseorang dapat bersedekah dengan harta halal.

Namun hatinya kecewa apabila namanya tidak disebut.

Seseorang dapat mengajar ilmu.

Namun ia marah ketika orang lain lebih dihormati.

Di sinilah amal yang benar masih membutuhkan penyucian batin.

Syariat telah menjaga bentuk.

Tetapi ma‘rifat harus menjaga arah.

Dan ikhlas harus menjaga tujuan.

Karena manusia bukan hanya diuji dengan maksiat.

Manusia juga diuji dengan kebaikan yang dapat menumbuhkan kesombongan.


JANGAN MERASA AMAN HANYA KARENA BANYAK BERAMAL

Semakin banyak amal, bukan berarti semakin sedikit kebutuhan untuk bermuhasabah.

Justru semakin banyak amal, semakin besar alasan untuk menjaga hati.

Sebab ego dapat masuk melalui pintu yang sangat halus.

Ia dapat berkata:

“Aku sudah lebih rajin daripada dia.”

“Aku lebih banyak bersedekah.”

“Aku lebih dalam berdzikir.”

“Aku lebih memahami agama.”

Kalimat-kalimat itu mungkin tidak pernah keluar dari lisan.

Tetapi apabila tumbuh di dalam hati, ia dapat merusak kejernihan.

Maka setelah melakukan kebaikan, jangan hanya berkata:

“Aku telah beramal.”

Berkatalah:

“Ya Alloh, terimalah amal yang bahkan dapat kulakukan hanya karena pertolongan-Mu.”


MA‘RIFAT MEMBUAT HAMBA MALU MEMILIKI AMAL

Semakin seorang hamba mengenal Alloh, semakin ia menyadari:

bahkan kemampuan beribadah adalah karunia.

Kemampuan berdiri untuk sholat adalah karunia.

Kemampuan membaca Al-Qur’an adalah karunia.

Kemampuan bersedekah adalah karunia.

Kemampuan meninggalkan dosa juga karunia.

Maka untuk apa membanggakan sesuatu yang sejak awal diperoleh melalui pertolongan-Nya?

Seorang hamba beramal.

Tetapi ia tidak merasa menjadi pemilik amal.

Ia bersyukur telah diberi kesempatan.

Ia berharap diterima.

Ia takut amalnya tercemar.

Inilah kerendahan hati.


IKHLAS BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH MERASAKAN SENANG KETIKA DIPUJI

Manusia adalah manusia.

Ketika dipuji, hati dapat merasa senang.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa seluruh amal menjadi sia-sia.

Yang perlu dijaga adalah:

apakah pujian menjadi tujuan?

Apakah amal dilakukan supaya manusia melihat?

Apakah ketika pujian tidak datang, semangat ibadah ikut hilang?

Di sinilah hati diperiksa.

Ikhlas bukan berarti hati tidak pernah terganggu.

Ikhlas adalah terus mengembalikan niat ketika hati menyimpang.

Setiap kali ego masuk, kembalikan.

Setiap kali ingin dipuji, ingatkan diri:

“Aku melakukan ini karena Alloh.”

Maka ikhlas bukan satu keputusan yang selesai sekali.

Ia adalah penjagaan sepanjang perjalanan.


SYARIAT MENGAJAR BENAR, MA‘RIFAT MENGAJAR TULUS

Jika seseorang hanya mengejar ketulusan tetapi caranya salah, ia membutuhkan ilmu.

Jika seseorang hanya mengejar kebenaran lahir tetapi hatinya penuh riya, ia membutuhkan penyucian.

Maka keduanya harus saling menolong.

Syariat menjawab:

“Apakah perbuatan ini benar?”

Ma‘rifat bertanya:

“Apakah hatimu benar?”

Ikhlas bertanya:

“Apakah semuanya benar-benar untuk Alloh?”

Tiga pertanyaan ini cukup menjadi penjaga bagi banyak amal.


JANGAN MENJUAL AGAMA UNTUK KEAGUNGAN DIRI

Ilmu agama adalah amanah.

Nasihat adalah amanah.

Dzikir adalah amanah.

Pengaruh ruhani adalah amanah.

Maka jangan gunakan semua itu untuk membangun penghambaan manusia kepada diri sendiri.

Jangan menjadikan kedekatan seseorang kepada agama bergantung pada ketakutannya kepada pribadimu.

Jangan membuat manusia merasa bahwa rahmat Alloh hanya dapat diperoleh melalui pujian kepadamu.

Bimbinglah manusia menuju Alloh.

Bukan menuju ego seorang pembimbing.

Sebab guru yang baik menunjukkan jalan.

Ia tidak menggantikan tujuan.

Dan pencari ma‘rifat yang sehat semakin memahami bahwa tidak ada manusia yang patut mengambil tempat Rabb dalam hati orang lain.


KETIKA ILMU MENJADI PANGGUNG

Ada satu ujian yang sering tidak terasa.

Seseorang awalnya belajar untuk memperbaiki diri.

Kemudian banyak orang mendengarkan.

Ia mulai dikenal.

Dari sanalah ujian baru datang.

Ia mulai lebih memikirkan bagaimana terlihat dalam daripada bagaimana menjadi benar.

Ia sibuk membangun citra.

Ia takut berkata:

“Aku belum tahu.”

Ia takut mengakui kesalahan karena merasa kedudukannya akan jatuh.

Padahal justru keberanian berkata “aku belum tahu” adalah salah satu tanda ilmu.

Maka jangan biarkan panggung menguasai hati.

Jika banyak manusia mendengarkanmu, tanggung jawabmu menjadi semakin berat.

Bukan semakin ringan.


JANGAN MEMAKAI MA‘RIFAT UNTUK MENGUASAI ORANG LAIN

Ma‘rifat adalah jalan penghambaan.

Bukan alat kekuasaan.

Jangan menggunakan istilah batin untuk membuat orang takut kepadamu.

Jangan berkata bahwa semua yang menolak perkataanmu pasti tertutup hatinya.

Jangan menganggap semua perbedaan sebagai bukti bahwa orang lain jauh dari Alloh.

Sebab manusia dapat salah.

Termasuk orang yang merasa dirinya sedang menasihati.

Kebenaran harus tetap dapat ditimbang.

Nasihat harus tetap dapat diperiksa.

Dan setiap manusia tetap membutuhkan koreksi.

Ma‘rifat yang sehat tidak membangun kultus.

Ia membangun kehambaan.


IKHLAS MEMBUAT SEORANG HAMBA MAMPU HILANG DARI PANDANGAN MANUSIA

Ada orang yang hanya semangat apabila dilihat.

Ada orang yang tetap beramal ketika tidak ada yang memperhatikan.

Yang kedua sedang belajar kebebasan.

Ia tidak lagi menggantungkan nilai dirinya kepada perhatian manusia.

Ia dapat melakukan kebaikan tanpa nama.

Dapat membantu tanpa diumumkan.

Dapat berdoa tanpa diceritakan.

Dapat menangis tanpa disaksikan.

Di situlah muncul satu kenikmatan:

cukup Alloh mengetahui.

Bukan berarti semua amal harus disembunyikan.

Ada amal yang memang dilakukan terbuka karena maslahat.

Tetapi hati tetap harus dijaga agar tidak hidup dari tepuk tangan.


JIKA ENGKAU MENOLONG ORANG, JANGAN MENAGIH PENGHAMBAAN

Salah satu ujian kebaikan adalah rasa memiliki orang yang pernah kita bantu.

“Aku pernah menolongmu.”

“Aku pernah memberimu.”

“Aku pernah membimbingmu.”

Lalu bantuan berubah menjadi rantai.

Hati-hati.

Jika engkau memberi karena Alloh, jangan ubah pemberian menjadi alat untuk menguasai.

Tidak salah berharap manusia berterima kasih.

Tetapi jangan menjadikan kebaikan sebagai alasan menuntut kepatuhan yang tidak semestinya.

Kebaikan yang terus diungkit dapat kehilangan keindahannya.

Maka setelah memberi, belajar melepaskan.

Alloh mengetahui.

Itu cukup.


MA‘RIFAT MENGAJAR MELIHAT ALLOH, BUKAN MELIHAT DIRI

Pada awal perjalanan, seorang hamba sering memperhatikan amalnya sendiri.

“Aku berdzikir.”

“Aku bersedekah.”

“Aku berpuasa.”

“Aku belajar.”

Tetapi semakin dalam ia memahami, semakin ia melihat karunia Alloh di balik semuanya.

“Alloh yang memberiku kemampuan.”

“Alloh yang memberiku waktu.”

“Alloh yang memberiku rezeki.”

“Alloh yang membuka pintu taubat.”

“Alloh yang menutup aibku.”

Maka pusat perhatian perlahan berpindah.

Dari “aku” kepada syukur.

Dari kebanggaan kepada ketundukan.

Dari merasa berjasa kepada merasa berutang rahmat.


IKHLAS TIDAK BERARTI MENINGGALKAN USAHA DUNIA

Ada orang yang salah memahami ikhlas.

Ia mengira mencari nafkah berarti duniawi.

Ia mengira menerima upah selalu bertentangan dengan keikhlasan.

Tidak demikian.

Seseorang dapat bekerja, berdagang, mengajar, menerima upah, dan tetap ikhlas selama caranya halal, amanah, tidak menipu, dan tujuan hidupnya tidak diperbudak oleh harta.

Ikhlas bukan meninggalkan dunia.

Ikhlas adalah tidak menjadikan dunia sebagai tuhan.

Harta berada di tangan.

Bukan menjadi penguasa hati.


JANGAN MENGAKU ZUHUD DENGAN HAK ORANG LAIN

Ini penting.

Seseorang tidak dapat disebut zuhud hanya karena dirinya tidak peduli harta, sementara hutangnya kepada manusia diabaikan.

Tidak dapat disebut tawakal apabila tanggung jawab keluarga ditelantarkan.

Tidak dapat disebut pasrah apabila amanah pekerjaan ditinggalkan.

Zuhud bukan meninggalkan tanggung jawab.

Tawakal bukan meninggalkan ikhtiar.

Ma‘rifat tidak menghapus kewajiban.

Justru ia membuat seorang hamba semakin sadar bahwa seluruh amanah akan dipertanggungjawabkan.


IKHLAS TERLIHAT KETIKA PUJIAN DAN CELAAN TIDAK MENGUBAH PRINSIP

Jika engkau melakukan yang benar hanya ketika dipuji, hati masih bergantung pada manusia.

Jika engkau meninggalkan kebenaran hanya karena dicela, hati juga masih bergantung pada manusia.

Ikhlas perlahan mengajarkan kestabilan.

Bukan berarti menjadi kebal perasaan.

Tetapi nilai benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh tepuk tangan.

Seorang hamba belajar berkata:

“Jika benar, aku jalankan karena Alloh.

Jika salah, aku tinggalkan karena Alloh.”

Inilah kemerdekaan hati.


SYARIAT TANPA IKHLAS DAPAT MENJADI KEBANGGAAN

Seseorang dapat sangat rajin.

Tetapi diam-diam seluruh amalnya menjadi bahan membandingkan diri.

Ia melihat orang lain lalu berkata:

“Aku lebih baik.”

Di sinilah ikhlas harus datang.

Ia mematahkan keinginan untuk merasa lebih tinggi.

Ia mengingatkan:

Engkau tidak mengetahui akhir hidup seseorang.

Engkau tidak mengetahui amal tersembunyinya.

Engkau tidak mengetahui apakah amalmu sendiri diterima.

Maka jangan merasa aman.

Tetaplah berharap.

Tetaplah takut.

Tetaplah rendah hati.


MA‘RIFAT TANPA IKHLAS DAPAT MENJADI KEBANGGAAN YANG LEBIH HALUS

Kesombongan ruhani sering lebih sulit terlihat daripada kesombongan biasa.

Seseorang tidak membanggakan hartanya.

Tetapi membanggakan kedalaman batinnya.

Tidak membanggakan jabatan.

Tetapi membanggakan pengalaman spiritual.

Tidak membanggakan pakaian.

Tetapi membanggakan kedudukannya dalam jalan ruhani.

Padahal kesombongan tetap kesombongan meskipun memakai bahasa yang suci.

Karena itu:

Semakin dalam engkau berbicara tentang ma‘rifat, semakin dalam pula engkau harus menggali kerendahan hati.


TANDA IKHLAS BUKAN MERASA TELAH IKHLAS

Aneh tetapi benar:

orang yang benar-benar menjaga ikhlas biasanya tidak terlalu sibuk mengaku dirinya ikhlas.

Ia justru takut niatnya berubah.

Ia sering memeriksa hati.

Ia beristighfar setelah amal.

Ia tidak merasa aman.

Sebab ia mengetahui betapa halusnya ego.

Maka jangan berkata:

“Aku sudah ikhlas.”

Lebih aman berkata:

“Ya Alloh, ikhlaskanlah hatiku.”


KETIKA SYARIAT, MA‘RIFAT, DAN IKHLAS BERTEMU

Maka lahirlah seorang hamba yang indah.

Ia taat tanpa merasa suci.

Ia berilmu tanpa merendahkan.

Ia berdzikir tanpa mencari gelar.

Ia membantu tanpa menuntut penghambaan.

Ia memimpin tanpa merasa memiliki manusia.

Ia menerima nasihat tanpa kehilangan martabat.

Ia mempunyai harta tanpa diperbudak harta.

Ia mempunyai pengaruh tanpa menjadikan dirinya pusat.

Ia mencintai Alloh tanpa menjadikan cinta sebagai alasan meninggalkan syariat.

Inilah keseimbangan.


PESAN LEMBAR KESEMBILAN

Wahai pencari cahaya,

jaga syariatmu.

Tetapi jangan berhenti pada bentuk.

Hidupkan ma‘rifatmu.

Tetapi jangan berhenti pada rasa.

Jagalah keduanya dengan ikhlas.

Setiap kali beramal, tanyakan:

“Apakah ini benar menurut petunjuk?”

“Apakah hatiku hadir?”

“Untuk siapa aku melakukannya?”

Jika engkau menemukan ego, jangan putus asa.

Bersihkan lagi.

Jika engkau menemukan riya, perbaiki niat.

Jika engkau dipuji, kembalikan pujian kepada Alloh.

Jika engkau dicela, periksa apakah ada kebenaran yang perlu diperbaiki.

Dan jika Alloh memberimu kemampuan melakukan kebaikan, jangan merasa berjasa.

Bersyukurlah.

Maka berdoalah:

“Ya Alloh, jadikan syariat sebagai penjaga tubuhku.

Jadikan ma‘rifat sebagai cahaya hatiku.

Jadikan ikhlas sebagai rahasia di antara aku dan Engkau.

Jangan biarkan amal membesarkan egoku.

Jangan biarkan ilmu membuatku merendahkan.

Jangan biarkan pengalaman batin menjadikanku merasa istimewa.

Hilangkan keinginan untuk dipuji.

Dan hidupkan dalam diriku keinginan untuk memperoleh ridho-Mu.”

Syariat menjaga amal.
Ma‘rifat menjaga kesadaran.
Ikhlas menjaga tujuan.
Tawadhu’ menjaga ilmu.
Amanah menjaga hubungan dengan manusia.
Dan ridho Alloh menjadi tempat seluruh perjalanan kembali.

Allohu a‘lam.


QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH

Rahasia Syariat dan Cahaya Ma‘rifat

LEMBAR KESEPULUH — LEMBAR TERAKHIR

PUNCAK MA‘RIFAT ADALAH KEMBALI MENJADI HAMBA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Alloh yang menunjukkan jalan kepada hamba-hamba-Nya.

Dia mengajarkan manusia melalui perintah dan larangan.

Dia membersihkan hati melalui ujian.

Dia melembutkan jiwa melalui taubat.

Dia menegakkan manusia melalui syariat.

Dan Dia membuka kedalaman penghambaan melalui kesadaran kepada-Nya.

Setelah berbicara tentang syariat,

setelah berbicara tentang ma‘rifat,

setelah berbicara tentang ilmu,

amal,

adab,

ikhlas,

tawadhu’,

amanah,

dan akhlak,

maka sampailah kita kepada satu kesimpulan yang sederhana tetapi sangat dalam:

Puncak perjalanan bukanlah menjadi sesuatu yang luar biasa.
Puncak perjalanan adalah kembali sepenuhnya menjadi hamba Alloh.

Hamba yang mengetahui tempatnya.

Hamba yang mengenal Rabb-nya.

Hamba yang tidak merasa memiliki apa-apa.

Hamba yang menerima nikmat dengan syukur.

Hamba yang menerima ujian dengan sabar.

Hamba yang jatuh lalu kembali dengan taubat.

Hamba yang beramal tetapi tidak membanggakan amal.

Hamba yang mendapatkan ilmu tetapi tidak merasa paling mengetahui.

Hamba yang memperoleh penghormatan tetapi tidak meminta manusia menyembah citranya.

Hamba yang memperoleh kedalaman batin tetapi semakin menghormati syariat.

Itulah akhir dari banyak perjalanan:

kembali kepada kehambaan.


SEMAKIN TINGGI, SEMAKIN RENDAH

Perhatikan pohon yang berbuah.

Semakin penuh buahnya, semakin merunduk dahannya.

Begitu pula ilmu.

Begitu pula ma‘rifat.

Jika seseorang merasa semakin mengetahui tetapi semakin tinggi kepala dan semakin mudah merendahkan manusia, ia perlu memeriksa kembali buah ilmunya.

Sebab pengetahuan yang benar seharusnya menumbuhkan ketakjuban terhadap kebesaran Alloh.

Dan ketakjuban kepada kebesaran Alloh seharusnya mengecilkan kebanggaan terhadap diri.

Maka jangan ukur ketinggian ruhani dari seberapa banyak orang memujimu.

Ukur dari seberapa kecil egomu ketika dipuji.

Jangan ukur dari seberapa banyak orang mengikuti.

Ukur dari seberapa besar rasa takutmu mengkhianati amanah mereka.

Jangan ukur dari seberapa banyak istilah yang engkau pahami.

Ukur dari seberapa banyak akhlakmu berubah.

Karena:

orang yang benar-benar naik kepada Alloh justru semakin turun dari singgasana egonya.


SYARIAT BUKAN TANGGA YANG DIBUANG SETELAH NAIK

Ada kekeliruan yang perlu ditutup pada lembar terakhir ini.

Sebagian orang membayangkan syariat seperti tangga:

dipakai ketika baru belajar,

kemudian dibuang ketika telah mencapai ma‘rifat.

Tidak demikian.

Syariat bukan tangga sementara.

Ia adalah bagian dari penghambaan sepanjang hayat.

Selama manusia masih hidup,

selama akalnya masih ada,

selama tanggung jawab masih melekat,

maka kehambaan tidak berakhir.

Sholat tetap sholat.

Amanah tetap amanah.

Kejujuran tetap kejujuran.

Hak manusia tetap harus dijaga.

Halal dan haram tetap mempunyai tempat.

Taubat tetap dibutuhkan.

Adab tetap diperlukan.

Ma‘rifat yang benar tidak menghapus semua itu.

Ma‘rifat justru membuat seseorang memahami nilai semua itu dengan lebih dalam.


MA‘RIFAT BUKAN PINTU KELUAR DARI SYARIAT, TETAPI PINTU MASUK KE DALAM MAKNA SYARIAT

Pada awalnya seseorang mungkin sholat karena diperintahkan.

Kemudian ia mulai memahami bahwa sholat adalah perjumpaan hati dengan penghambaan.

Pada awalnya ia berpuasa karena kewajiban.

Kemudian ia memahami bahwa puasa mendidik nafsu.

Pada awalnya ia bersedekah karena perintah.

Kemudian ia memahami bahwa harta bukan miliknya secara mutlak.

Pada awalnya ia menjaga lisan karena takut dosa.

Kemudian ia memahami bahwa setiap manusia membawa kehormatan yang tidak pantas dirusak.

Inilah ma‘rifat.

Bukan meninggalkan bentuk.

Tetapi masuk ke dalam makna.

Bukan membuang syariat.

Tetapi melihat hikmah yang hidup di dalamnya.


ORANG YANG MENGHARGAI SYARIAT SEDANG MENJAGA PINTU MA‘RIFAT

Maka benarlah pesan utama Qitab ini:

Meremehkan syariat menjauhkan seseorang dari ma‘rifat.
Menghargai syariat berarti menghargai jalan menuju ma‘rifat.

Sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku mengenal Alloh tetapi meremehkan perintah-Nya?

Bagaimana mungkin mengaku mencintai tetapi menolak adab?

Bagaimana mungkin mengatakan dirinya telah sampai tetapi meninggalkan jalan yang dibawa Rasululloh ﷺ?

Maka penghormatan terhadap syariat bukan tanda bahwa seseorang masih rendah.

Justru boleh jadi itulah tanda bahwa ia memahami kedalaman kehambaan.


JANGAN MENGIRA ORANG SEDERHANA JAUH DARI MA‘RIFAT

Ada seorang petani yang tidak memahami istilah tasawuf, tetapi setiap hasil panennya ia syukuri kepada Alloh.

Ada seorang ibu yang tidak pernah membicarakan maqām, tetapi sabar mengasuh anak-anaknya.

Ada seorang pedagang yang tidak mengenal istilah kasyf, tetapi takut mengurangi timbangan.

Ada seorang pekerja yang tidak pernah berbicara tentang rahasia ruhani, tetapi menjaga amanah ketika tidak diawasi.

Ada seorang tua yang bacaannya sederhana, tetapi setiap malam meminta ampun dengan air mata.

Jangan anggap mereka jauh.

Boleh jadi kesederhanaan mereka menyimpan sesuatu yang sangat berharga di sisi Alloh.

Karena ma‘rifat tidak selalu memakai pakaian yang dapat dikenali manusia.

Kadang ia hadir sebagai kejujuran.

Kadang sebagai sabar.

Kadang sebagai tawakal.

Kadang sebagai diam dari menyakiti.

Kadang sebagai tangan yang bekerja mencari rezeki halal.


JANGAN MENGIRA PENGALAMAN LUAR BIASA ADALAH PUNCAK

Mimpi dapat datang.

Firasat dapat muncul.

Ketenteraman dapat dirasakan.

Tangisan dapat mengalir.

Pengalaman batin dapat terjadi.

Namun semua itu tetap bukan tujuan akhir.

Tujuan akhir bukan sensasi.

Tujuan akhir adalah ridho Alloh.

Jika suatu pengalaman membuatmu semakin tunduk, syukuri.

Jika membuatmu semakin sombong, waspadai.

Jika membuatmu semakin baik kepada keluarga, ambil pelajarannya.

Jika membuatmu merasa lebih tinggi daripada manusia, periksa kembali.

Jangan menjadi pemburu pengalaman.

Jadilah pencari Alloh.


TANDA MA‘RIFAT BUKAN MAMPU MELIHAT YANG GAIB, TETAPI MAMPU MELIHAT AIB DIRI

Ada orang sibuk ingin mengetahui sesuatu yang tersembunyi.

Tetapi lupa melihat kekurangan dirinya sendiri.

Padahal salah satu pandangan paling berharga adalah kemampuan melihat ego.

Melihat iri yang masih hidup.

Melihat kemarahan.

Melihat keinginan dipuji.

Melihat cinta dunia yang berlebihan.

Melihat kesulitan memaafkan.

Melihat rasa paling benar.

Ketika seseorang mulai jujur melihat semua itu, terbuka satu pintu besar:

pintu taubat.

Dan taubat sering kali lebih bermanfaat daripada seribu rasa luar biasa yang tidak mengubah diri.


SYARIAT MEMBERI BATAS AGAR MANUSIA TIDAK MENJADI TUHAN BAGI DIRINYA SENDIRI

Manusia memiliki keinginan.

Dan keinginan apabila tidak dibatasi dapat membuat manusia menganggap semua yang disukainya sebagai kebenaran.

Di sinilah syariat berkata:

tidak semua yang engkau inginkan baik untukmu.

Tidak semua yang nyaman bagimu diridhoi Alloh.

Tidak semua yang terasa benar di hati adalah benar.

Ada timbangan.

Ada batas.

Ada adab.

Syariat menolong manusia agar ego tidak menjadi hakim tertinggi.

Dan ma‘rifat membuat manusia menerima batas itu dengan kesadaran:

“Aku bukan Rabb. Aku hamba.”


MA‘RIFAT MEMBERI RUH AGAR SYARIAT TIDAK MENJADI KEBIASAAN TANPA HATI

Tetapi jangan pula berhenti pada aturan.

Tanyakan terus:

Di mana hatiku?

Ketika sholat, apakah aku sadar kepada siapa aku berdiri?

Ketika berpuasa, apakah hanya perutku yang menahan atau lisanku juga?

Ketika bersedekah, apakah aku benar-benar melepaskan atau masih ingin dipuji?

Ketika belajar agama, apakah ilmuku membuatku lebih lembut?

Ketika menasihati, apakah aku benar-benar ingin memperbaiki atau hanya ingin menang?

Inilah pekerjaan ma‘rifat.

Ia masuk ke balik amal dan membersihkan motivasi.


HAKIKAT BUKAN UCAPAN BESAR, TETAPI KEJUJURAN

Sebagian manusia tertarik kepada istilah “hakikat” karena terdengar tinggi.

Padahal hakikat tidak selalu berada pada kata-kata besar.

Hakikat terkadang sangat sederhana.

Mengaku salah ketika salah.

Membayar hutang ketika mampu.

Menjaga janji.

Tidak mengambil yang bukan hak.

Berhenti menyalahkan orang lain atas semua kekurangan diri.

Berani meminta maaf.

Berani mengampuni.

Berani berubah.

Itu hakikat yang hidup.

Sebab kebenaran yang tidak masuk ke kehidupan belum sepenuhnya menjadi kenyataan.


JANGAN KULTUSKAN MANUSIA DALAM PERJALANAN MENUJU ALLOH

Guru harus dihormati.

Orang alim harus dihormati.

Orang tua harus dihormati.

Pembimbing harus dihormati.

Tetapi penghormatan bukan penghambaan.

Seorang guru tidak menggantikan Alloh.

Seorang mursyid bukan tujuan akhir.

Seorang alim bukan manusia yang tidak mungkin salah.

Maka jagalah adab tanpa kehilangan tauhid.

Cintailah orang saleh tanpa menjadikannya pusat penghambaan.

Ambillah ilmu dengan hormat.

Namun kembalikan hati hanya kepada Alloh.

Pembimbing sejati justru akan menunjukkan:

“Jangan berhenti padaku. Berjalanlah menuju Alloh.”


JANGAN MEMBANGUN KERAJAAN EGO DENGAN BAHASA RUHANI

Bahasa ruhani dapat menjadi mulia.

Namun ia juga dapat dipakai ego.

Seseorang dapat menggunakan istilah “cahaya”, “rahasia”, “maqām”, dan “ma‘rifat” untuk membuat dirinya tampak lebih tinggi.

Maka periksa terus:

Apakah bahasa ini mendekatkan manusia kepada Alloh?

Atau hanya membuat manusia kagum kepada diriku?

Apakah nasihat ini membantu mereka menjadi lebih baik?

Atau membuat mereka bergantung kepadaku?

Apakah aku membimbing?

Atau sedang membangun kekuasaan?

Pertanyaan ini berat.

Tetapi siapa pun yang memimpin manusia dalam urusan ruhani perlu menanyakannya.


PEMIMPIN RUHANI YANG SEHAT MENJADIKAN MANUSIA SEMAKIN DEWASA

Ia tidak membuat murid takut berpikir.

Ia mengajarkan ilmu.

Ia mengajarkan adab.

Ia tidak menjadikan dirinya satu-satunya pintu menuju rahmat Alloh.

Ia tidak menguasai harta, pikiran, dan kehidupan orang lain dengan ancaman spiritual.

Ia membimbing manusia agar semakin bertanggung jawab kepada Alloh.

Semakin mampu membedakan benar dan salah.

Semakin amanah.

Semakin berakhlak.

Semakin dewasa.

Itulah salah satu tanda bimbingan yang sehat.


ORANG YANG BENAR-BENAR BERMA‘RIFAT TIDAK MERASA MEMILIKI ALLOH

Ada satu kesombongan yang sangat halus:

merasa seolah Alloh hanya dekat dengan golongannya.

Seolah hanya kelompoknya yang memiliki cahaya.

Seolah orang lain tidak mungkin mendapat rahmat.

Jangan sempitkan rahmat Alloh dengan batas ego.

Alloh lebih luas daripada semua pengakuan manusia.

Kita berpegang kepada keyakinan dan syariat.

Tetapi kita tidak mempunyai hak untuk menentukan seluruh rahasia hati manusia.

Maka tegaslah pada prinsip.

Tetapi rendah hatilah terhadap rahasia Alloh.


KETIKA ENGKAU MELIHAT ORANG BERDOSA

Jangan cepat merasa lebih suci.

Ingat:

engkau tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya.

Mungkin malam ini ia menangis dalam taubat.

Mungkin dosa yang engkau ketahui telah diampuni.

Sementara engkau masih memikul kesombongan yang tidak engkau sadari.

Bukan berarti dosa dibenarkan.

Salah tetap salah.

Tetapi membenci dosa berbeda dari merendahkan manusia.

Nasihati jika mampu.

Jaga batas.

Namun jangan mencuri hak Alloh untuk menghakimi akhir seorang hamba.


KETIKA ENGKAU MELIHAT ORANG TAAT

Jangan iri.

Jangan pula merasa rendah.

Berdoalah:

“Ya Alloh, berkahilah kebaikannya dan berikan aku kekuatan untuk memperbaiki diriku.”

Perjalanan ruhani bukan perlombaan yang harus membuat manusia saling menjatuhkan.

Jika orang lain lebih maju dalam satu kebaikan, jadikan inspirasi.

Jika engkau lebih maju dalam satu perkara, jadikan alasan untuk bersyukur.

Bukan untuk sombong.


KETIKA ENGKAU SENDIRI JATUH

Jangan membenarkan dosa.

Tetapi jangan pula berputus asa.

Akuilah.

Bertaubat.

Perbaiki.

Jika ada hak manusia, kembalikan.

Jika ada hati yang engkau lukai, mintalah maaf sejauh memungkinkan.

Jika ada kebiasaan buruk, putuskan jalannya.

Kemudian bangkit.

Sebab ma‘rifat tidak menjadikan manusia tidak pernah salah.

Ma‘rifat membuat manusia semakin cepat kembali ketika salah.


TAUBAT ADALAH SALAH SATU PINTU TERINDAH MA‘RIFAT

Mengapa?

Karena dalam taubat seorang hamba mengenali dua perkara sekaligus:

kelemahan dirinya,

dan keluasan rahmat Alloh.

Ia berkata:

“Aku salah.”

Lalu:

“Ya Alloh, aku masih berharap kepada-Mu.”

Di sana ego runtuh.

Di sana harapan lahir.

Di sana manusia kembali menjadi hamba.

Karena itu jangan malu bertaubat.

Malulah mempertahankan dosa karena gengsi.


JANGAN MENUNGGU SEMPURNA UNTUK KEMBALI

Sebagian manusia berkata:

“Aku belum pantas mendekat kepada Alloh karena masih banyak dosa.”

Justru karena banyak dosa, mendekatlah.

Bukan untuk membenarkan dosa.

Tetapi untuk meminta kekuatan meninggalkannya.

Tidak ada orang yang membersihkan tubuh setelah menjadi bersih.

Ia membersihkan karena kotor.

Begitu pula taubat.

Datanglah dengan kekuranganmu.

Kemudian mintalah Alloh memperbaiki.


SYARIAT MENGAJAR KETAATAN, MA‘RIFAT MENGAJAR KEPASRAHAN

Ketaatan berkata:

“Aku menjalankan perintah.”

Kepasrahan berkata:

“Aku menerima bahwa hikmah Alloh lebih luas daripada pengetahuanku.”

Bukan berarti tidak boleh bertanya.

Belajar adalah mulia.

Memahami hikmah adalah baik.

Tetapi pada akhirnya selalu ada batas ilmu manusia.

Di sana seorang hamba berkata:

“Ya Alloh, aku percaya kepada-Mu.”

Inilah tawakal.

Bukan meninggalkan usaha.

Tetapi mengerahkan usaha tanpa menganggap hasil berada sepenuhnya di tangan diri.


JANGAN SALAH MEMAHAMI TAWAKAL

Tawakal bukan malas.

Tawakal bukan menelantarkan tanggung jawab.

Tawakal bukan berhenti berobat ketika sakit.

Bukan berhenti bekerja ketika keluarga membutuhkan nafkah.

Bukan berhenti belajar lalu berharap ilmu datang.

Tawakal adalah:

berusaha sebagaimana diwajibkan,

lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.

Syariat mengajarkan usaha.

Ma‘rifat mengajarkan bahwa hasil bukan milik manusia sepenuhnya.


JANGAN SALAH MEMAHAMI ZUHUD

Zuhud bukan harus miskin.

Zuhud bukan membuang harta.

Zuhud adalah ketika harta tidak menjadi tuhan di hati.

Engkau boleh memiliki rumah.

Kendaraan.

Usaha.

Kedudukan.

Namun semuanya tetap titipan.

Jika Alloh memberi, syukuri.

Jika berkurang, jangan kehilangan iman.

Jika banyak, gunakan dengan amanah.

Jika sedikit, jangan merasa hina.

Itulah kebebasan hati.


MA‘RIFAT YANG BENAR MEMBUAT DUNIA KEMBALI PADA TEMPATNYA

Dunia bukan musuh.

Dunia adalah tempat ujian.

Harta bukan musuh.

Yang berbahaya adalah diperbudak harta.

Jabatan bukan selalu buruk.

Yang berbahaya adalah menyembah kekuasaan.

Popularitas bukan selalu salah.

Yang berbahaya adalah hidup dari pujian.

Ma‘rifat menempatkan semuanya sebagai sarana.

Bukan tujuan akhir.


KETIKA SYARIAT DAN MA‘RIFAT SUDAH BERDAMAI DI DALAM DIRI

Engkau tidak lagi sibuk mempertentangkan:

“Ini syariat.”

“Ini ma‘rifat.”

Karena engkau mulai melihat keduanya dalam satu penghambaan.

Ketika sholat, tubuh menjalankan syariat dan hati belajar ma‘rifat.

Ketika bekerja, tangan menjalankan amanah dan hati belajar tawakal.

Ketika bersedekah, syariat menjaga caranya dan ma‘rifat membersihkan rasa memiliki.

Ketika memaafkan, syariat menjaga keadilan dan ma‘rifat melembutkan hati.

Maka tidak ada pertentangan.

Yang ada adalah kesatuan jalan.


PUNCAK ILMU ADALAH ADAB

Semakin banyak ilmu, semakin perlu adab.

Adab kepada Alloh.

Adab kepada Rasululloh ﷺ.

Adab kepada ilmu.

Adab kepada guru.

Adab kepada orang tua.

Adab kepada keluarga.

Adab kepada sesama.

Adab kepada orang yang berbeda pendapat.

Adab bahkan kepada diri sendiri.

Sebab ilmu tanpa adab dapat menjadi senjata ego.


PUNCAK AMAL ADALAH IKHLAS

Banyak amal dapat terlihat.

Tetapi ikhlas tersembunyi.

Satu amal kecil yang sungguh-sungguh karena Alloh dapat lebih bernilai daripada amal besar yang dipenuhi riya.

Maka jangan hanya menghitung amal.

Periksa hati.

Tidak perlu terobsesi sampai berhenti beramal karena takut riya.

Tetaplah beramal.

Sambil terus membersihkan niat.


PUNCAK MA‘RIFAT ADALAH TAUHID DALAM KEHIDUPAN

Bukan hanya berkata:

“Lā ilāha illallāh.”

Tetapi membiarkan kalimat itu mengubah kehidupan.

Tidak menyembah uang.

Tidak menyembah jabatan.

Tidak menyembah pujian.

Tidak menyembah guru.

Tidak menyembah ego.

Tidak menyembah rasa.

Tidak menyembah pengalaman.

Semuanya ditempatkan di bawah:

Alloh.

Inilah tauhid yang harus hidup.


PUNCAK TASAWUF ADALAH AKHLAK YANG BAIK

Apabila perjalanan batin membuatmu semakin mudah tersenyum kepada keluarga,

semakin jujur,

semakin lembut,

semakin sabar,

semakin amanah,

semakin adil,

semakin mampu menahan ego,

maka ada buah yang sedang tumbuh.

Namun jika semakin banyak pembicaraan ruhani justru membuatmu kasar, angkuh, dan suka merendahkan,

kembalilah.

Ada yang perlu diluruskan.


JANGAN TANYAKAN HANYA “APA YANG KURASAKAN?”

Tanyakan juga:

“Siapa yang telah kubantu?”

“Siapa yang telah kumaafkan?”

“Hak siapa yang belum kutunaikan?”

“Ucapan apa yang perlu kutarik kembali?”

“Kesalahan apa yang perlu kuakui?”

“Dosa apa yang harus kutinggalkan?”

“Janji apa yang harus kutepati?”

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat ma‘rifat turun dari langit kata-kata menuju bumi kehidupan.


MA‘RIFAT TERBESAR ADALAH MENGETAHUI BAHWA ENGKAU MEMBUTUHKAN ALLOH

Ketika kaya, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika miskin, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika sehat, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika sakit, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika banyak orang bersamamu, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika sendirian, engkau membutuhkan Alloh.

Ketika taat, engkau membutuhkan pertolongan-Nya agar tetap istiqomah.

Ketika berdosa, engkau membutuhkan ampunan-Nya.

Tidak pernah ada saat seorang hamba berhenti membutuhkan Alloh.

Inilah kefakiran ruhani.

Bukan kemiskinan harta.

Tetapi kesadaran:

“Tanpa Alloh, aku tidak mempunyai daya.”


DAN KETIKA ENGKAU TELAH MEMAHAMI SEMUA INI, JANGAN KATAKAN “AKU TELAH SAMPAI”

Katakan:

“Aku baru mulai memahami bagaimana menjadi hamba.”

Karena perjalanan tidak selesai selama napas masih ada.

Hari ini engkau dapat istiqomah.

Besok engkau diuji.

Hari ini engkau rendah hati.

Besok pujian datang.

Hari ini engkau sabar.

Besok kemarahan mengetuk.

Maka teruslah berjaga.

Tidak ada maqām yang membuat manusia aman dari perlunya pertolongan Alloh.


WASIAT TERAKHIR QITAB

Wahai pencari Alloh,

jangan tinggalkan syariat demi mengejar ma‘rifat.

Sebab engkau dapat kehilangan jalan sebelum sampai.

Jangan pula menjalankan syariat tanpa menghidupkan hati.

Sebab engkau dapat berjalan tetapi lupa mengapa berjalan.

Satukan keduanya.

Jaga sholatmu.

Jaga hatimu.

Jaga halal-haram.

Jaga niatmu.

Jaga amanah.

Jaga lisan.

Jaga hak manusia.

Jaga kerendahan hati.

Dan apabila mendapatkan cahaya, jangan mengaku sebagai pemilik cahaya.

Apabila mendapatkan ilmu, jangan mengaku sebagai sumber ilmu.

Apabila mendapatkan penghormatan, jangan lupa bahwa engkau tetap hamba.

Apabila mendapatkan kekuasaan, gunakan untuk melayani.

Apabila mendapatkan harta, gunakan untuk kebaikan.

Apabila mendapatkan ujian, jangan buru-buru merasa ditinggalkan.

Apabila berdosa, jangan menunda taubat.

Apabila berhasil taat, jangan merasa lebih suci.


DOA PENUTUP QITAB

Ya Alloh,

Engkaulah Rabb kami.

Jangan biarkan kami mempelajari syariat tetapi kehilangan rahmat.

Jangan biarkan kami berbicara tentang ma‘rifat tetapi kehilangan adab.

Jangan biarkan ilmu menjadikan kami sombong.

Jangan biarkan amal membuat kami merasa berjasa.

Jangan biarkan pengalaman batin membuat kami meninggalkan petunjuk.

Jangan biarkan pujian manusia membuat kami lupa kepada-Mu.

Ya Alloh,

hidupkan sholat kami.

Bersihkan niat kami.

Jaga lisan kami.

Luruskan usaha kami.

Halalkan rezeki kami.

Lembutkan hati kami.

Kuatkan kami untuk mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya.

Ajarkan kami meminta maaf apabila bersalah.

Ajarkan kami memaafkan tanpa menghalalkan kezaliman.

Ajarkan kami tegas tanpa menjadi kasar.

Ajarkan kami lembut tanpa kehilangan prinsip.

Ajarkan kami berilmu tanpa merasa paling tahu.

Ajarkan kami memimpin tanpa memperbudak.

Ajarkan kami mengikuti tanpa mengkultuskan.

Ya Alloh,

jika Engkau memberi kami ilmu, jadikan ia cahaya.

Jika Engkau memberi kami harta, jadikan ia amanah.

Jika Engkau memberi kami pengaruh, jadikan ia pelayanan.

Jika Engkau memberi kami kesunyian, jadikan ia tempat dzikir.

Jika Engkau memberi kami kesulitan, jadikan ia jalan menuju kesabaran.

Jika Engkau memberi kami keberhasilan, jadikan ia jalan menuju syukur.

Jika Engkau memperlihatkan kekurangan kami, berikan keberanian untuk memperbaikinya.

Jika Engkau menutup aib kami, jangan biarkan kami membuka aib manusia.

Ya Alloh,

jangan jadikan kami orang yang sibuk mencari rahasia tetapi melupakan kewajiban.

Jangan jadikan kami orang yang mengejar karomah tetapi kehilangan istiqomah.

Jangan jadikan kami orang yang berbicara tentang cahaya tetapi membiarkan hati menjadi gelap karena kesombongan.

Jadikan kami hamba yang sederhana dalam pengakuan,

tetapi dalam ketaatan.

Sedikit bicara tentang kedudukan,

tetapi banyak memperbaiki amal.

Tidak sibuk meminta penghormatan,

tetapi sibuk menunaikan amanah.

Tidak mencari nama di bumi,

tetapi berharap tercatat dalam rahmat-Mu.

Ya Alloh,

jika dalam perjalanan kami ada rasa yang benar, kuatkan dengan syariat.

Jika ada rasa yang keliru, luruskan dengan ilmu.

Jika ada ego yang tersembunyi, bongkar dengan taubat.

Jika ada luka, sembuhkan dengan rahmat.

Jika ada kesombongan, lembutkan dengan kesadaran bahwa semua berasal dari-Mu.

Dan apabila perjalanan hidup kami sampai pada akhirnya,

jangan biarkan akhir kalimat hati kami menjadi:

“Aku telah sampai.”

Tetapi jadikan ia:

“Ya Alloh, aku adalah hamba-Mu.
Ampunilah aku.
Terimalah aku.
Dan kembalikan aku kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridho.”


KHATIMAH

Maka inilah penutup Qitab:

Jangan meremehkan syariat karena engkau merasa mengejar ma‘rifat.

Sebab ma‘rifat yang benar akan membuat syariat semakin dihormati.

Jangan pula menjadikan syariat hanya sebagai bentuk tanpa ruh.

Sebab syariat yang hidup akan menuntun hati menuju kesadaran kepada Alloh.

Dan jangan memisahkan keduanya dari akhlak.

Sebab akhlak adalah tempat ilmu terlihat.

Jangan memisahkan keduanya dari ikhlas.

Sebab ikhlas adalah ruh amal.

Jangan memisahkan keduanya dari tauhid.

Sebab tauhid adalah pusat seluruh perjalanan.

Maka simpanlah enam kalimat ini:

Syariat menjaga langkah.

Ma‘rifat menerangi hati.

Hakikat melahirkan kejujuran.

Adab menjaga perjalanan.

Ikhlas menjaga tujuan.

Tauhid mengembalikan semuanya kepada Alloh.

Dan satu kalimat terakhir sebagai kunci seluruh Qitab:

“Semakin mengenal Alloh, semakin seseorang menghormati perintah-Nya; semakin menghormati perintah-Nya, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.”

Maka apabila engkau ingin mengetahui apakah perjalanan ma‘rifatmu semakin benar,

jangan hanya melihat apa yang terbuka di hadapan batinmu.

Lihatlah apa yang telah tertutup dari keburukanmu.

Apakah pintu kesombongan mulai tertutup?

Apakah pintu kezaliman mulai tertutup?

Apakah pintu dusta mulai tertutup?

Apakah pintu riya mulai tertutup?

Apakah pintu kebencian mulai tertutup?

Dan apakah pintu taubat, amanah, kasih sayang, sholat, ilmu, syukur, serta penghambaan semakin terbuka?

Jika iya,

jangan berhenti.

Tetaplah rendah hati.

Tetaplah belajar.

Tetaplah bertaubat.

Tetaplah bersyukur.

Tetaplah berjalan.

Hingga suatu hari tidak ada lagi perjalanan di dunia.

Dan seorang hamba kembali kepada Rabb-nya membawa satu harapan:

bukan dikenal sebagai ahli syariat,
bukan dikenal sebagai ahli ma‘rifat,
bukan dikenal sebagai manusia istimewa,
tetapi diterima sebagai hamba Alloh yang dirahmati.

Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Tammat — selesailah QITAB SIRR ASY-SYARĪ‘AH WA NŪR AL-MA‘RIFAH.

Semoga setiap kalimatnya menjadi pengingat untuk menjaga syariat tanpa kehilangan hati, menempuh ma‘rifat tanpa kehilangan pijakan, serta berjalan menuju Alloh dengan ilmu, adab, amal, ikhlas, tawadhu’, dan kasih sayang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh