QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Pertama
Apakah Kematian Manusia Dapat Ditunda?
Segala puji bagi Alloh, Tuhan Yang menghidupkan, mematikan, menyembuhkan, menjaga, dan menetapkan perjalanan setiap makhluk dengan ilmu serta hikmah-Nya.
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, dan seluruh orang yang mengikuti jalan kebenaran hingga akhir zaman.
Saudara cahayaku bertanya:
«“Apakah kematian manusia dapat ditunda dengan ikhtiar berdoa dan menjaga kesehatan diri?”»
Jawabannya perlu dipahami dengan hati yang tenang dan tidak tergesa-gesa.
1. Ajal yang Telah Ditetapkan Alloh Tidak Akan Terlambat atau Tercepat
Alloh berfirman:
«“Apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula memajukannya.”
QS. Al-A‘rāf: 34»
Dalam ayat lain Alloh berfirman:
«“Alloh tidak akan menangguhkan seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.”
QS. Al-Munāfiqūn: 11»
Artinya, apabila ajal terakhir yang sudah diketahui dan ditetapkan Alloh benar-benar tiba, tidak ada manusia, obat, dokter, kekayaan, kekuatan, ataupun doa yang dapat membuat seseorang melewati batas yang telah ditentukan Alloh.
Ajal bukan kesalahan perhitungan dan bukan kejadian yang terlepas dari pengetahuan Alloh.
2. Doa dan Menjaga Kesehatan Tetap Sangat Penting
Walaupun ajal telah ditetapkan, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar.
Orang sakit diperintahkan berobat.
Orang lapar diperintahkan makan.
Orang haus diperintahkan minum.
Orang yang berada dalam bahaya diperintahkan menyelamatkan diri.
Orang yang sehat dianjurkan menjaga tubuhnya.
Ikhtiar tersebut bukan melawan takdir, tetapi termasuk bagian dari takdir Alloh.
Seorang manusia tidak mengetahui kapan ajalnya tiba. Karena itu, ia tidak boleh berkata:
«“Kalau memang belum ajal, saya tidak perlu menjaga kesehatan.”»
Ucapan seperti itu keliru. Sebab menjaga kesehatan, berobat, berhati-hati di jalan, menghindari makanan yang membahayakan, beristirahat cukup, dan meminta pertolongan dokter merupakan bentuk tanggung jawab terhadap amanah tubuh.
Tubuh ini bukan milik manusia secara mutlak. Tubuh adalah titipan Alloh yang wajib dijaga.
3. Apakah Doa Dapat Memanjangkan Umur?
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa orang yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan pengaruh umurnya hendaknya menyambung silaturahmi.
Para ulama menjelaskan “panjang umur” dengan beberapa pemahaman.
Pertama, seseorang benar-benar diberi umur lebih panjang menurut catatan yang diketahui malaikat, sedangkan perubahan tersebut sejak awal telah diketahui Alloh.
Kedua, umurnya diberkahi. Walaupun jumlah tahunnya tidak terlalu banyak, hidupnya dipenuhi amal, manfaat, ilmu, keturunan baik, dan kebaikan yang terus dikenang.
Kedua penjelasan tersebut tidak berarti ilmu Alloh berubah. Alloh sejak dahulu telah mengetahui doa yang akan dipanjatkan, ikhtiar yang akan dilakukan, penyakit yang akan datang, pengobatan yang akan ditempuh, dan kapan manusia tersebut meninggal.
Dengan demikian, doa bukan memaksa Alloh mengubah keputusan karena Alloh sebelumnya tidak mengetahui. Doa justru merupakan salah satu jalan yang telah Alloh tetapkan bagi turunnya pertolongan.
4. Takdir Tidak Membuat Manusia Boleh Pasrah Tanpa Usaha
Perhatikanlah seorang petani.
Ia mengetahui bahwa hasil panen berada dalam ketetapan Alloh, tetapi ia tetap menanam, menyiram, memberi pupuk, dan menjaga tanaman dari hama.
Demikian pula kehidupan manusia.
Seseorang berdoa memohon umur yang berkah, kemudian ia menjaga makanan, menghindari rokok dan zat berbahaya, berolahraga sesuai kemampuan, tidur cukup, memeriksakan diri ketika sakit, serta menjaga ketenangan pikiran.
Semua itu adalah ikhtiar.
Hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Alloh.
Tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal adalah melakukan usaha yang benar, lalu menerima hasilnya dengan iman.
5. Berdoa Bukan Hanya Meminta Panjang Umur
Umur panjang tidak selalu menjadi kebaikan apabila dipenuhi kemaksiatan, kebencian, kelalaian, dan kezaliman.
Karena itu, doa yang lebih sempurna bukan hanya:
«“Ya Alloh, panjangkan umurku.”»
Namun:
«“Ya Alloh, panjangkanlah umurku apabila panjang umur itu baik bagi iman, keluarga, dan amal ibadahku. Wafatkanlah aku dalam keadaan baik apabila kematian lebih baik bagiku menurut ilmu-Mu.”»
Tujuan hidup bukan sekadar banyaknya tahun, tetapi keberkahan dalam setiap waktu.
Ada orang hidup lama tetapi sedikit manfaatnya.
Ada pula orang hidup lebih singkat, tetapi ilmu, kasih sayang, dan amalnya terus mengalir setelah wafat.
6. Menjaga Kesehatan Adalah Bentuk Syukur
Menjaga kesehatan bukan pertanda takut mati secara berlebihan.
Menjaga kesehatan dapat menjadi ibadah apabila diniatkan agar:
- kuat menjalankan sholat dan ibadah;
- mampu bekerja mencari rezeki halal;
- dapat menjaga keluarga;
- tidak sengaja menyusahkan orang lain;
- memiliki kesempatan memperbaiki kesalahan;
- lebih banyak memberikan manfaat.
Namun manusia juga harus memahami bahwa kesehatan bukan jaminan tidak akan meninggal.
Ada orang sakit yang masih diberi umur panjang.
Ada orang yang terlihat sehat, tetapi wafat secara tiba-tiba.
Karena itu, kesehatan dijaga, tetapi hati jangan menggantungkan keselamatan hanya kepada tubuh, obat, atau manusia.
7. Jangan Menganggap Penyakit Selalu Tanda Ajal Sudah Dekat
Tidak setiap penyakit berarti kematian telah dekat.
Penyakit dapat menjadi ujian, peringatan agar memperbaiki pola hidup, sebab gugurnya dosa, atau jalan agar seseorang lebih dekat kepada Alloh.
Jika tubuh mengalami keluhan yang berat atau tidak biasa, jangan hanya ditafsirkan secara batin. Segeralah mencari pertolongan medis.
Berdoa dan berobat tidak saling bertentangan.
Dokter mengobati sebab yang terlihat.
Doa menguatkan hati dan memohon pertolongan kepada Alloh.
Kesembuhan tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
8. Dua Kesalahan yang Harus Dihindari
Kesalahan pertama adalah merasa bahwa usaha manusia dapat mengalahkan ajal.
Tidak. Ketika ajal terakhir tiba, tidak ada yang mampu menolaknya.
Kesalahan kedua adalah meninggalkan usaha dengan alasan semua telah ditakdirkan.
Ini juga tidak benar. Kita tidak mengetahui isi takdir. Karena itu, kewajiban manusia adalah menempuh jalan keselamatan yang diperintahkan.
Apabila sakit, berobatlah.
Apabila berada dalam bahaya, menjauhlah.
Apabila melakukan perjalanan, berhati-hatilah.
Apabila tubuh lelah, beristirahatlah.
Apabila hati gelisah, berdzikirlah dan berbicaralah kepada orang yang dapat dipercaya.
9. Doa Memohon Umur yang Berkah
Doa ini dapat dibaca setelah sholat:
«Allāhumma aḥyinī mā kānatil-ḥayātu khairan lī, wa tawaffanī idzā kānatil-wafātu khairan lī.»
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
Artinya:
«“Ya Alloh, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”»
Kemudian berdoalah:
«Allāhumma bārik lī fī ‘umrī, wa ‘āfinī fī badanī, wa aṣliḥ lī qalbī wa ‘amalī wa ahli baitī.»
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي عُمْرِي، وَعَافِنِي فِي بَدَنِي، وَأَصْلِحْ لِي قَلْبِي وَعَمَلِي وَأَهْلَ بَيْتِي
Artinya:
«“Ya Alloh, berkahilah umurku, sehatkan tubuhku, perbaikilah hati, amal, dan keluargaku.”»
10. Amalan Penjagaan Diri
Setelah Subuh atau Maghrib, bacalah dengan tenang:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Sholawat 33 kali
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Yā Ḥafīẓ 33 kali
يَا حَفِيْظُ
Yā Salām 33 kali
يَا سَلَامُ
Yā Syāfī 33 kali
يَا شَافِي
Dzikir ini bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan pernah sakit atau meninggal. Dzikir adalah doa, pengingat, dan bentuk penyerahan diri kepada Alloh.
Setelah berdzikir, lakukan ikhtiar nyata: menjaga makanan, minum yang cukup, bergerak atau berolahraga, tidur teratur, menghindari zat berbahaya, dan memeriksakan kesehatan apabila diperlukan.
Kesimpulan Lembar Pertama
Kematian terakhir yang telah ditetapkan Alloh tidak dapat dimajukan ataupun ditunda melewati waktunya.
Namun manusia tetap wajib berdoa, menjaga kesehatan, berobat, menghindari bahaya, bersedekah, menyambung silaturahmi, dan melakukan amal kebaikan.
Doa dan ikhtiar bukan lawan dari takdir. Keduanya adalah bagian dari perjalanan takdir yang telah diketahui Alloh.
Karena itu, jangan hidup dalam ketakutan terhadap kematian. Jangan pula lalai seakan-akan hidup tidak akan berakhir.
Jagalah keseimbangan:
Berikhtiar seolah-olah kehidupan adalah amanah yang panjang.
Bertaubat seolah-olah hari ini adalah kesempatan terakhir.
Bertawakal karena seluruh hasil berada dalam kekuasaan Alloh.
Doa Penutup
Ya Alloh, anugerahkanlah kepada saudara cahayaku yang membaca dan keluarganya kesehatan yang bermanfaat, umur yang penuh keberkahan, iman yang kokoh, hati yang tenteram, rezeki yang halal, serta akhir kehidupan dalam keadaan husnul khotimah.
Jauhkanlah dari penyakit yang membahayakan, kecelakaan, kelalaian, keputusan yang merugikan diri, serta rasa takut yang berlebihan terhadap kematian.
Jadikan setiap sisa umur sebagai jalan memperbaiki diri, membahagiakan keluarga, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada ridho-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Kedua
Ajal yang Tertulis dan Jalan Kehidupan yang Masih Terbuka
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang mengetahui awal dan akhir kehidupan manusia, Yang mengetahui setiap tarikan napas, langkah kaki, penyakit, kesembuhan, doa, air mata, serta seluruh usaha hamba-Nya.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang menjaga iman sampai akhir kehidupannya.
Saudara cahayaku , setelah kita memahami bahwa ajal terakhir tidak dapat dimajukan ataupun ditunda, muncul pertanyaan berikutnya:
«“Jika semuanya telah ditetapkan, apakah usaha manusia masih mempunyai arti?”»
Jawabannya adalah: sangat berarti.
Manusia memang tidak dapat mengetahui dan menguasai batas akhir umurnya. Namun manusia diberi pilihan untuk menentukan bagaimana ia menjalani waktu yang masih diberikan kepadanya.
Seseorang tidak dapat memilih kapan ia dilahirkan.
Ia juga tidak dapat memastikan kapan ia meninggal.
Namun di antara kelahiran dan kematian, Alloh memberikan ruang untuk:
- memilih kebaikan atau keburukan;
- menjaga diri atau merusaknya;
- meminta maaf atau mempertahankan kesombongan;
- bersyukur atau mengeluh;
- beribadah atau melalaikan kewajiban;
- memberikan manfaat atau menyakiti sesama.
Inilah jalan kehidupan yang masih terbuka.
1. Takdir Alloh Tidak Menghapus Tanggung Jawab Manusia
Ada orang berkata:
«“Kalau semuanya sudah ditakdirkan, mengapa manusia harus berusaha?”»
Pertanyaan ini lahir karena manusia mencampurkan dua perkara yang berbeda.
Pertama adalah ilmu dan ketetapan Alloh.
Kedua adalah pilihan dan tanggung jawab manusia.
Alloh mengetahui apa yang akan dilakukan manusia, tetapi pengetahuan Alloh tidak memaksa manusia melakukan kejahatan.
Sebagai gambaran sederhana, seorang guru yang sangat mengenal muridnya mungkin mengetahui bahwa murid tertentu tidak akan belajar dan akhirnya gagal dalam ujian.
Pengetahuan guru tersebut tidak berarti guru memaksa muridnya gagal. Murid itu gagal karena ia sendiri tidak belajar.
Namun ilmu Alloh tentu tidak dapat disamakan dengan ilmu manusia. Ilmu Alloh sempurna, tidak didahului ketidaktahuan, tidak mengalami perubahan, dan meliputi seluruh masa.
Dengan demikian, seseorang tetap bertanggung jawab atas pilihan, ucapan, perbuatan, dan kelalaiannya.
Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk:
- meninggalkan sholat;
- mengabaikan kesehatan;
- berkendara secara berbahaya;
- menggunakan narkoba atau zat merusak;
- menolak pengobatan;
- menyakiti tubuh sendiri;
- merugikan keluarga;
- melakukan dosa lalu berkata, “Ini sudah takdir.”
Manusia tidak mengetahui takdir yang belum terjadi. Yang diketahui manusia adalah perintah dan larangan Alloh.
Karena itu, kewajiban kita adalah menaati perintah-Nya.
2. Ajal adalah Rahasia, Sedangkan Kehati-hatian adalah Kewajiban
Alloh merahasiakan waktu kematian agar manusia tidak menunda kebaikan.
Seandainya manusia mengetahui dengan pasti bahwa ia akan meninggal empat puluh tahun lagi, mungkin ia akan berkata:
«“Saya masih punya banyak waktu untuk bertaubat.”»
Seandainya manusia mengetahui bahwa ia akan meninggal esok hari, mungkin ia tidak mampu bekerja, tidur, makan, atau menjalani kehidupan dengan tenang.
Karena itu, dirahasiakannya ajal mengandung hikmah.
Manusia diarahkan agar menjalani dua sikap sekaligus:
Tidak merasa aman dari kematian.
Tidak pula tenggelam dalam ketakutan terhadap kematian.
Orang beriman tidak boleh terlalu lalai sehingga merasa hidup akan berlangsung selamanya.
Namun ia juga tidak boleh setiap saat berpikir bahwa semua penyakit pasti merupakan tanda ajal, semua mimpi adalah pertanda kematian, atau setiap kejadian buruk berarti hidupnya segera berakhir.
Pikiran seperti itu dapat menimbulkan kecemasan yang merusak kesehatan, ibadah, pekerjaan, dan hubungan keluarga.
Ajal adalah rahasia Alloh. Tugas manusia adalah menjaga kehidupan yang sedang dijalani.
3. Menghindari Bahaya Bukan Berarti Tidak Tawakal
Ada orang yang memahami tawakal secara keliru.
Ia tidak menggunakan helm ketika berkendara, lalu berkata:
«“Saya bertawakal kepada Alloh.”»
Ia tidak memeriksakan penyakit yang berat, lalu berkata:
«“Kalau Alloh menghendaki sembuh, saya akan sembuh.”»
Ia berjalan memasuki tempat berbahaya tanpa alasan, lalu berkata:
«“Kalau belum ajal, saya tidak akan mati.”»
Ini bukan tawakal yang benar.
Tawakal tidak berarti sengaja mencari bahaya.
Tawakal berarti:
1. mengenali bahaya;
2. mengambil langkah pencegahan;
3. menggunakan sarana yang halal dan benar;
4. memohon perlindungan Alloh;
5. menyerahkan hasil akhirnya kepada Alloh.
Ketika seseorang memakai sabuk pengaman, ia tidak sedang menolak takdir.
Ketika seseorang berobat, ia tidak sedang melawan kehendak Alloh.
Ketika seseorang menjaga makanan, ia tidak sedang berusaha hidup selamanya.
Ia hanya menjalankan amanah untuk menjaga jiwa.
4. Umur Panjang Tidak Selalu Berarti Banyak Tahun
Sebagian orang mengukur umur hanya dari angka kelahiran sampai kematian.
Padahal ada makna umur yang lebih dalam, yaitu nilai dan keberkahan waktu.
Satu hari yang digunakan untuk memperbaiki hubungan keluarga dapat lebih bernilai daripada berbulan-bulan dalam pertengkaran.
Satu jam yang digunakan untuk belajar ilmu bermanfaat dapat lebih panjang pengaruhnya daripada bertahun-tahun dalam kelalaian.
Satu nasihat baik dapat terus hidup di hati anak dan cucu meskipun orang yang menyampaikannya telah wafat.
Karena itu, umur seseorang dapat diteruskan melalui:
- ilmu yang bermanfaat;
- anak yang sholeh dan mendoakan;
- sedekah jariyah;
- tulisan yang memberi petunjuk;
- bangunan ibadah;
- pohon yang ditanam;
- bantuan yang mengubah kehidupan orang lain;
- akhlak baik yang diteladani.
Tubuh manusia akan kembali kepada tanah, tetapi manfaat yang ditinggalkannya dapat terus berjalan.
Inilah salah satu rahasia umur yang diberkahi.
5. Mengapa Ada Orang Baik yang Wafat Muda?
Pertanyaan ini sering muncul:
«“Mengapa orang baik terkadang meninggal dalam usia muda, sedangkan orang yang banyak berbuat zalim justru berumur panjang?”»
Manusia hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan kehidupan.
Kebaikan seseorang tidak selalu dibalas dengan panjang umur di dunia.
Panjang umur juga tidak selalu menjadi tanda bahwa Alloh meridhoi seluruh perbuatan seseorang.
Dunia bukan tempat pembalasan yang sempurna.
Ada orang baik yang wafat muda, tetapi meninggalkan nama yang harum, keturunan yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan pahala yang terus mengalir.
Ada pula orang yang berumur panjang, tetapi semakin lama hidupnya semakin bertambah dosa, kesombongan, dan kezalimannya.
Karena itu, jangan menilai kedudukan seseorang hanya dari panjang atau pendek umurnya.
Yang terpenting bukan:
«“Berapa lama ia hidup?”»
Melainkan:
«“Dalam keadaan bagaimana ia menjalani hidup dan menghadap Alloh?”»
6. Penyakit Dapat Menjadi Sebab Berubahnya Jalan Kehidupan
Ketika seseorang sakit, ia mungkin merasa bahwa kehidupannya sedang berakhir.
Namun penyakit tidak selalu menjadi pintu kematian.
Penyakit dapat menjadi sebab seseorang:
- menghentikan kebiasaan buruk;
- memperbaiki pola makan;
- kembali mendekat kepada keluarga;
- menyadari kelemahan dirinya;
- lebih rajin berdoa;
- meminta maaf kepada orang lain;
- meninggalkan kesombongan;
- belajar menghargai kesehatan;
- menemukan jalan pengobatan yang benar.
Banyak orang baru menyadari nilai kehidupan setelah mengalami sakit.
Karena itu, ketika sakit datang, jangan hanya bertanya:
«“Apakah saya akan meninggal?”»
Tanyakan pula:
«“Apa yang harus saya perbaiki melalui kejadian ini?”»
Setelah itu, lakukan pemeriksaan dan pengobatan yang dibutuhkan.
Jangan menganggap setiap penyakit berasal dari gangguan gaib, dosa tertentu, kiriman orang, atau pertanda kematian.
Sebagian besar penyakit mempunyai sebab fisik dan membutuhkan penanganan medis.
Doa boleh dilakukan, tetapi pemeriksaan tidak boleh ditinggalkan.
7. Doa Dapat Mengubah Keadaan Hamba
Doa bukan sekadar rangkaian kata.
Doa dapat mengubah keadaan hati, pikiran, pilihan, dan tindakan seseorang.
Orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh dapat menjadi lebih tenang sehingga mampu mengambil keputusan yang benar.
Ia dapat tergerak untuk memeriksakan kesehatan lebih awal.
Ia dapat dipertemukan dengan dokter yang tepat.
Ia dapat dijauhkan dari perjalanan yang membahayakan.
Ia dapat diberi kekuatan untuk meninggalkan kebiasaan yang merusak tubuh.
Ia dapat menerima pertolongan melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Semua itu adalah bentuk terkabulnya doa.
Jangan membatasi terkabulnya doa hanya pada terjadinya mukjizat yang tampak luar biasa.
Sering kali pertolongan Alloh datang melalui jalan yang terlihat biasa:
- nasihat seorang sahabat;
- peringatan keluarga;
- hasil pemeriksaan;
- obat yang sesuai;
- keputusan membatalkan perjalanan;
- tidur yang cukup;
- kesempatan bertaubat;
- pikiran yang kembali jernih.
Alloh dapat menolong hamba melalui sebab-sebab yang sederhana.
8. Jangan Berdoa Meminta Kematian karena Kesulitan Dunia
Ketika manusia mengalami sakit, utang, kehilangan, penolakan, kesepian, atau tekanan kehidupan, terkadang muncul ucapan:
«“Lebih baik saya mati.”»
Ucapan ini harus dijaga.
Kesulitan yang dirasakan hari ini belum tentu berlangsung selamanya.
Pikiran yang sedang lelah sering membuat jalan keluar tampak tertutup, padahal pertolongan dapat datang melalui langkah kecil yang belum dilakukan.
Ketika beban terasa sangat berat, jangan menghadapi semuanya sendirian.
Berbicaralah kepada:
- keluarga yang dapat dipercaya;
- guru atau ulama yang bijaksana;
- sahabat yang mampu mendengarkan;
- dokter;
- psikolog atau tenaga kesehatan jiwa.
Meminta pertolongan bukan tanda lemahnya iman.
Manusia memang diciptakan saling membutuhkan.
Apabila muncul dorongan untuk menyakiti diri, mencari cara mati, atau merasa tidak sanggup mempertahankan keselamatan diri, segera dekati orang lain dan cari pertolongan langsung. Jangan menyendiri bersama pikiran tersebut.
Selama hidup masih ada, pintu perubahan masih terbuka.
9. Persiapan Menghadapi Kematian yang Benar
Mempersiapkan kematian tidak berarti setiap hari membayangkan kuburan dengan rasa takut berlebihan.
Persiapan kematian dilakukan dengan memperbaiki kehidupan.
Di antaranya:
- menjaga sholat;
- melunasi utang sesuai kemampuan;
- mencatat utang dan amanah;
- meminta maaf;
- menghentikan kezaliman;
- mengembalikan barang milik orang lain;
- memberi nafkah keluarga;
- menjaga kesehatan;
- memperbanyak sedekah;
- meninggalkan ilmu yang bermanfaat;
- menulis wasiat yang tidak melanggar syariat;
- mendidik anak dalam kebaikan;
- menjaga hubungan dengan kerabat.
Orang yang mempersiapkan kematian dengan benar justru akan menjalani hidup dengan lebih bertanggung jawab.
Ia tidak mudah menyia-nyiakan waktu.
Ia memahami bahwa setiap pertemuan mungkin menjadi pertemuan terakhir.
Karena itu, ia berusaha meninggalkan kesan yang baik.
10. Muhasabah Sebelum Tidur
Sebelum tidur, duduklah sejenak dengan tenang.
Jangan langsung memikirkan kematian secara menakutkan.
Lakukan muhasabah dengan tiga pertanyaan:
Pertanyaan Pertama
«“Kebaikan apa yang telah saya lakukan hari ini?”»
Syukuri walaupun kecil.
Mungkin hari ini kita menolong seseorang, tersenyum, menahan kemarahan, sholat tepat waktu, atau tidak membalas ucapan buruk.
Pertanyaan Kedua
«“Kesalahan apa yang perlu saya perbaiki?”»
Jangan hanya menyesal. Tentukan langkah perbaikannya.
Apabila menyakiti seseorang, mintalah maaf.
Apabila meninggalkan kewajiban, segera perbaiki.
Apabila tubuh diabaikan, mulailah menjaga kesehatan.
Pertanyaan Ketiga
«“Apabila besok masih diberi hidup, apa satu kebaikan yang akan saya lakukan?”»
Tidak perlu membuat terlalu banyak janji.
Pilih satu langkah yang nyata.
Dengan cara ini, kesadaran akan kematian melahirkan amal, bukan ketakutan.
11. Dzikir Ketenangan Menghadapi Ketidakpastian Umur
Setelah Isya atau sebelum tidur, bacalah:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Artinya:
«“Aku memohon ampun kepada Alloh Yang Mahaagung dan aku bertaubat kepada-Nya.”»
Yā Ḥayyu 33 kali
يَا حَيُّ
Artinya:
«“Wahai Yang Mahahidup.”»
Yā Qayyūm 33 kali
يَا قَيُّوْمُ
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan menegakkan seluruh makhluk.”»
Yā Salām 33 kali
يَا سَلَامُ
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Memberikan keselamatan dan ketenteraman.”»
Setelah itu, letakkan tangan kanan di dada dan berdoalah:
«“Ya Alloh, selama Engkau masih memberikan kehidupan kepadaku, tuntunlah aku agar menjalaninya dalam iman, kesehatan, tanggung jawab, dan manfaat. Jangan jadikan ketakutanku kepada kematian melalaikanku dari kewajiban hidup. Jangan pula jadikan kesenangan hidup membuatku lupa kepada akhir perjalanan.”»
Dzikir ini tidak dimaksudkan untuk mengetahui kapan kematian datang.
Jangan mencari tanda ajal melalui hitungan, mimpi, getaran, suara, atau perasaan tubuh.
Tujuan dzikir adalah menenangkan hati dan memperbaiki amal.
12. Amanah untuk Saudara cahayaku
Saudara cahayaku , janganlah terlalu sibuk memikirkan apakah kematian dapat ditunda.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
«“Selama ajal belum datang, apakah hidup saya telah digunakan dengan benar?”»
Jagalah kesehatan sebagai amanah.
Berdoalah sebagai seorang hamba.
Berusahalah sebagai manusia yang bertanggung jawab.
Bertaubatlah karena kita mempunyai kekurangan.
Berbuat baiklah karena kita tidak mengetahui kapan kesempatan terakhir akan datang.
Namun jangan menjalani hari dalam ketakutan terus-menerus.
Alloh tidak memerintahkan manusia menebak-nebak ajal.
Alloh memerintahkan manusia beribadah, berbuat baik, menghindari bahaya, serta menyerahkan perkara gaib kepada-Nya.
Kesimpulan Lembar Kedua
Ajal memang telah ditetapkan, tetapi jalan menuju ajal dipenuhi pilihan, doa, usaha, amal, dan tanggung jawab.
Doa dapat menjadi sebab pertolongan.
Pengobatan dapat menjadi sebab kesembuhan.
Kehati-hatian dapat menjadi sebab keselamatan.
Silaturahmi dapat menjadi sebab keberkahan umur.
Sedekah dapat menjadi sebab luasnya manfaat kehidupan.
Taubat dapat menjadi sebab berubahnya akhir perjalanan seseorang.
Semua sebab tersebut tidak keluar dari takdir Alloh.
Karena itu:
Jangan meninggalkan ikhtiar karena percaya kepada takdir.
Jangan mengandalkan ikhtiar sampai melupakan Alloh.
Jangan takut kepada kematian sampai lupa menjalani kehidupan.
Jangan mencintai kehidupan sampai lupa mempersiapkan kematian.
Jalan yang lurus berada di tengah-tengahnya:
«Berdoa, berusaha, berhati-hati, bersyukur, bertaubat, lalu bertawakal kepada Alloh.»
Doa Penutup Lembar Kedua
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا أَعْمَالَنَا، وَعَافِنَا فِي أَبْدَانِنَا، وَثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى الْإِيْمَانِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى.
Allāhumma bārik lanā fī a‘mārinā, wa aṣliḥ lanā a‘mālanā, wa ‘āfinā fī abdāninā, wa tsabbit qulūbanā ‘alal-īmān, wakhtim lanā bil-ḥusnā.
Artinya:
«“Ya Alloh, berkahilah umur kami, perbaikilah amal kami, sehatkan tubuh kami, teguhkan hati kami di atas iman, dan akhirilah kehidupan kami dengan kebaikan.”»
Ya Alloh, jagalah saudara Ach Tohir dan keluarganya.
Anugerahkan kesehatan yang menjadi jalan ibadah, rezeki yang halal, hati yang tenang, pikiran yang jernih, serta umur yang bermanfaat.
Apabila datang penyakit, berikan kesembuhan dan jalan pengobatan yang tepat.
Apabila datang kecemasan, berikan ketenteraman.
Apabila datang ujian, berikan kesabaran dan pertolongan.
Jangan Engkau biarkan kami menyia-nyiakan kehidupan. Jangan pula Engkau biarkan hati kami tenggelam dalam ketakutan terhadap kematian.
Tuntunlah kami agar hidup dalam kebaikan, wafat dalam keimanan, dan menghadap-Mu dengan membawa taubat serta harapan kepada rahmat-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Ketiga
Doa, Sedekah, Silaturahmi, dan Keberkahan Umur
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menggenggam kehidupan dan kematian, Yang meluaskan rezeki, mengangkat kesulitan, mempertemukan hati-hati manusia, serta menjadikan sebagian amal sebagai sebab datangnya rahmat dan keberkahan.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang mengikuti jalan kasih sayang, kejujuran, dan kebaikan sampai akhir kehidupan.
Saudara cahayaku , pada lembar sebelumnya telah dijelaskan bahwa ajal terakhir tidak dapat dimajukan ataupun diundurkan dari ketetapan Alloh.
Namun dalam ajaran Islam juga terdapat keterangan tentang doa, sedekah, dan silaturahmi yang menjadi sebab datangnya pertolongan, keselamatan, kelapangan rezeki, serta keberkahan umur.
Bagaimana cara memahami kedua perkara tersebut agar tidak bertentangan?
Inilah yang perlu dibuka dengan hati tenang.
1. Alloh Menetapkan Hasil Beserta Sebabnya
Alloh tidak hanya menetapkan hasil akhir suatu kehidupan.
Alloh juga menetapkan jalan-jalan yang menjadi sebab terjadinya sesuatu.
Kesembuhan ditetapkan bersama pengobatan.
Kenyang ditetapkan bersama makanan.
Ilmu ditetapkan bersama belajar.
Rezeki ditetapkan bersama usaha.
Keselamatan dapat ditetapkan bersama kehati-hatian.
Pertolongan dapat ditetapkan bersama doa.
Dengan demikian, ketika seseorang berdoa lalu mendapat keselamatan, bukan berarti ia berhasil keluar dari takdir Alloh.
Doanya sendiri merupakan bagian dari takdir.
Ketika seseorang bersedekah lalu kehidupannya menjadi lebih tenteram, sedekahnya juga termasuk dalam ketetapan Alloh.
Ketika seseorang menyambung silaturahmi lalu dibukakan jalan pekerjaan, pertolongan keluarga, atau kesehatan batin, semua itu berjalan di dalam ilmu dan kehendak Alloh.
Karena itu, jangan mempertentangkan antara takdir dan usaha.
Keduanya berjalan dalam kekuasaan Alloh.
2. Apakah Doa Dapat Menolak Musibah?
Doa dapat menjadi sebab dijauhkannya seorang hamba dari musibah.
Namun hal ini tidak berarti doa mempunyai kekuatan sendiri di luar izin Alloh.
Yang menolong tetaplah Alloh.
Doa hanyalah jalan kehambaan.
Kadang-kadang seseorang berdoa agar terhindar dari kecelakaan, kemudian hatinya tergerak untuk menunda perjalanan.
Ia mengira penundaan tersebut hanyalah keputusan biasa.
Padahal melalui keputusan itulah ia dijauhkan dari suatu bahaya.
Kadang-kadang seseorang berdoa memohon kesehatan, lalu dipertemukan dengan orang yang menyarankan pemeriksaan.
Dari pemeriksaan tersebut penyakit ditemukan lebih awal dan dapat segera ditangani.
Kadang-kadang seseorang berdoa agar keluarganya diselamatkan, lalu Alloh menumbuhkan keberanian dalam dirinya untuk menegur kebiasaan yang berbahaya.
Pertolongan Alloh tidak selalu turun dalam bentuk yang luar biasa.
Pertolongan sering datang melalui:
- pikiran yang dijernihkan;
- keputusan yang diperbaiki;
- orang baik yang dipertemukan;
- nasihat yang menyentuh hati;
- bahaya yang diketahui lebih awal;
- perjalanan yang tertunda;
- kebiasaan buruk yang ditinggalkan;
- kesempatan berobat;
- pertengkaran yang berhasil diredakan;
- pintu rezeki yang dibukakan.
Karena itu, setelah berdoa, perhatikan pula jalan ikhtiar yang dibukakan Alloh.
Jangan berdoa memohon keselamatan, tetapi tetap berjalan menuju bahaya dengan sengaja.
3. Doa Bukan Alat untuk Memaksa Kehendak Alloh
Kesalahan sebagian manusia adalah memandang doa seperti alat untuk memaksa langit.
Ia merasa bahwa karena telah membaca doa tertentu dalam jumlah tertentu, maka Alloh harus memberikan hasil yang dimintanya.
Pemahaman ini harus diluruskan.
Doa adalah permohonan seorang hamba, bukan perintah kepada Alloh.
Alloh mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.
Seseorang mungkin memohon sesuatu yang menurutnya baik, tetapi ternyata perkara tersebut akan membawa kerusakan.
Seseorang mungkin meminta agar dipanjangkan umur, padahal ia tidak mengetahui ujian apa yang akan datang.
Seseorang mungkin meminta kesembuhan dengan cara tertentu, sedangkan Alloh membukakan kesembuhan melalui jalan lain.
Karena itu, doa yang baik selalu disertai penyerahan:
«“Ya Alloh, berikanlah yang terbaik menurut ilmu-Mu, bukan hanya menurut keinginanku.”»
Terkabulnya doa tidak selalu berarti semua keinginan manusia diberikan dalam bentuk yang sama persis.
Ada doa yang dikabulkan dengan segera.
Ada doa yang dikabulkan setelah waktu tertentu.
Ada doa yang diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Ada doa yang menjadi sebab dijauhkannya musibah.
Ada pula doa yang pahalanya disimpan untuk kehidupan akhirat.
Maka jangan berhenti berdoa hanya karena hasilnya belum terlihat.
Namun jangan pula menuduh Alloh tidak menyayangi kita hanya karena permintaan belum diberikan.
4. Makna Sedekah dalam Penjagaan Kehidupan
Sedekah bukan perdagangan dengan Alloh.
Seseorang tidak boleh berpikir:
«“Saya memberikan uang sekian, maka Alloh wajib memperpanjang umur saya sekian tahun.”»
Sedekah bukan alat membeli umur.
Sedekah adalah bentuk rasa syukur, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama.
Ketika seseorang bersedekah, ia sedang mengakui bahwa harta yang dimilikinya berasal dari Alloh dan di dalamnya terdapat hak orang lain.
Sedekah dapat menjadi sebab datangnya keberkahan karena sedekah:
- membantu orang yang lapar;
- meringankan beban orang sakit;
- menolong pendidikan anak;
- menyelamatkan keluarga dari kesulitan;
- memperbaiki hubungan antarmanusia;
- melembutkan hati yang keras;
- mengurangi sifat tamak;
- melatih rasa syukur;
- menumbuhkan doa baik dari orang yang ditolong.
Sedekah juga dapat kembali kepada pemberinya dalam bentuk yang tidak selalu berupa uang.
Mungkin ia mendapatkan ketenteraman.
Mungkin keluarganya dipertemukan dengan orang baik.
Mungkin ia terhindar dari keputusan yang merugikan.
Mungkin hatinya menjadi lebih lapang.
Mungkin anak-anaknya belajar tentang kepedulian.
Mungkin amal tersebut menjadi sebab diampuninya kesalahan.
Semua manfaat itu merupakan bagian dari keberkahan hidup.
5. Sedekah yang Benar Tidak Harus Besar
Sebagian orang menunda sedekah karena merasa hartanya sedikit.
Padahal sedekah tidak selalu harus berupa jumlah yang besar.
Sedekah dapat berupa:
- memberi makanan;
- memberikan air minum;
- membantu biaya pengobatan sesuai kemampuan;
- menyumbangkan pakaian yang layak;
- menolong tenaga;
- mengantar orang sakit;
- mengajarkan ilmu;
- menunjukkan jalan;
- mendamaikan dua orang yang berselisih;
- berbicara dengan santun;
- menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan;
- mendoakan kebaikan bagi orang lain.
Nilai sedekah tidak hanya diukur dari besarnya pemberian.
Sedekah juga dinilai dari ketulusan hati, keadaan pemberi, kebutuhan penerima, serta manfaat yang dihasilkan.
Uang sedikit yang diberikan dengan ikhlas dapat lebih berat nilainya daripada pemberian besar yang disertai penghinaan.
Karena itu, jangan menyebut-nyebut sedekah untuk merendahkan orang yang menerima.
Jangan memotret atau menyebarkan wajah penerima tanpa kebutuhan yang benar.
Jangan menjadikan sedekah sebagai jalan mencari pujian.
Sedekah yang baik menjaga kehormatan orang yang ditolong.
6. Silaturahmi dan Panjang Umur
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa orang yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan pengaruh umurnya hendaknya menyambung silaturahmi.
Para ulama menjelaskan bahwa panjang umur dapat dipahami sebagai tambahan yang telah ditetapkan melalui sebab silaturahmi, atau keberkahan besar dalam waktu dan amal seseorang.
Silaturahmi dapat memperpanjang manfaat kehidupan secara nyata.
Seseorang yang menjaga hubungan keluarga lebih mudah mendapatkan pertolongan ketika sakit.
Ia mempunyai orang yang dapat mengingatkan saat melakukan kesalahan.
Ia tidak terlalu tenggelam dalam kesepian.
Ia memiliki tempat berbagi kesulitan.
Ia dapat mengetahui keadaan orang tua dan kerabat.
Ia dapat bekerja sama dalam urusan keluarga.
Ia dapat memperoleh informasi tentang pekerjaan, pengobatan, atau kesempatan yang bermanfaat.
Dengan demikian, silaturahmi bukan hanya perkara pahala akhirat.
Silaturahmi juga dapat memperkuat kehidupan sosial, kesehatan batin, serta ketahanan keluarga.
Namun silaturahmi tidak berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti.
7. Silaturahmi Tidak Sama dengan Membiarkan Kezaliman
Ada orang yang terus dihina, dimanfaatkan, atau disakiti oleh kerabatnya.
Ketika ia mencoba menjaga jarak, orang lain berkata:
«“Kamu memutuskan silaturahmi.”»
Perkara ini harus dipahami dengan bijaksana.
Menjaga silaturahmi tidak berarti seseorang wajib membiarkan kekerasan, penghinaan, penipuan, atau perbuatan zalim terus berlangsung.
Seseorang boleh membuat batas yang sehat.
Ia boleh mengurangi pertemuan apabila setiap pertemuan menimbulkan kerusakan.
Ia boleh berkomunikasi melalui cara yang lebih aman.
Ia boleh meminta bantuan orang yang dituakan untuk menjadi penengah.
Ia boleh menolak permintaan yang tidak benar.
Ia boleh melindungi pasangan dan anak-anaknya dari lingkungan yang membahayakan.
Namun meskipun menjaga jarak, ia tetap dianjurkan tidak menumbuhkan kebencian yang berlebihan.
Ia dapat menjaga silaturahmi sesuai kemampuan melalui:
- menjawab salam;
- mendoakan kebaikan;
- tidak menyebarkan aib;
- membantu ketika ada kebutuhan darurat;
- menyampaikan ucapan melalui perantara;
- tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama.
Batas yang sehat bukan selalu berarti memutuskan hubungan.
Kadang-kadang batas justru diperlukan agar hubungan tidak semakin rusak.
8. Orang yang Paling Utama Disambung Hubungannya
Silaturahmi dimulai dari orang-orang yang paling dekat.
Jangan sampai seseorang terlihat ramah kepada banyak orang, tetapi keras kepada pasangan, orang tua, atau anak-anaknya.
Jangan sampai seseorang rajin memberi nasihat di luar rumah, tetapi tidak pernah mendengarkan keluarganya sendiri.
Jangan sampai seseorang bersedekah kepada orang jauh, tetapi membiarkan kerabat yang benar-benar membutuhkan.
Urutan perhatian harus dijaga dengan adil.
Perhatikan:
- kedua orang tua;
- pasangan;
- anak-anak;
- saudara kandung;
- kerabat dekat;
- tetangga;
- sahabat;
- orang yang sedang berada dalam kesulitan.
Menghubungi orang tua, menanyakan kesehatan, membantu kebutuhan, serta berbicara dengan lembut dapat menjadi amal yang sangat besar.
Bagi orang tua yang telah wafat, silaturahmi dapat diteruskan dengan mendoakan mereka, menghormati sahabat-sahabat mereka, menjaga hubungan dengan keluarga, serta melanjutkan kebaikan yang dahulu mereka cintai.
9. Keberkahan Umur Berbeda dengan Sekadar Umur Panjang
Umur panjang adalah banyaknya tahun yang dijalani.
Keberkahan umur adalah banyaknya kebaikan yang dapat tumbuh di dalam tahun-tahun tersebut.
Seseorang dapat berumur panjang, tetapi waktunya habis dalam pertengkaran, kebencian, dan kelalaian.
Seseorang lain mungkin hidup tidak selama itu, tetapi hari-harinya dipenuhi ilmu, kasih sayang, amal, serta manfaat bagi banyak orang.
Tanda umur yang diberkahi antara lain:
- semakin bertambah usia, semakin lembut akhlaknya;
- semakin banyak pengalaman, semakin sedikit kesombongannya;
- semakin luas rezeki, semakin besar kepeduliannya;
- semakin tinggi kedudukan, semakin rendah hati;
- semakin dekat kepada kematian, semakin ringan meminta maaf;
- semakin memahami kehidupan, semakin berhati-hati menyakiti orang lain;
- semakin banyak amal, semakin takut kepada riya;
- semakin banyak ilmu, semakin sadar akan keterbatasan dirinya.
Keberkahan umur bukan terlihat dari banyaknya pujian manusia.
Keberkahan umur terlihat dari bertambahnya ketaatan, kemanfaatan, kedamaian, dan kesiapan menghadap Alloh.
10. Empat Pencuri Keberkahan Umur
Ada perkara-perkara yang tidak selalu mengurangi jumlah umur secara lahir, tetapi menghabiskan manfaatnya.
Pertama: Menunda Kebaikan
Seseorang berkata:
«“Nanti kalau sudah tua saya akan bertaubat.”»
«“Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah.”»
«“Nanti kalau sudah senggang saya akan mengunjungi orang tua.”»
Padahal manusia tidak mengetahui apakah kesempatan itu akan datang.
Kebaikan yang dapat dilakukan hari ini jangan selalu dipindahkan kepada hari esok.
Kedua: Memelihara Dendam
Dendam membuat seseorang terus membawa masa lalu ke mana pun ia pergi.
Tubuhnya hidup pada hari ini, tetapi pikirannya terikat pada luka bertahun-tahun yang lalu.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kezaliman.
Memaafkan berarti tidak membiarkan kezaliman orang lain terus menguasai hati kita.
Ketiga: Membandingkan Hidup secara Berlebihan
Seseorang merasa hidupnya gagal karena melihat keberhasilan orang lain.
Ia lupa bahwa setiap manusia mempunyai perjalanan, ujian, waktu, dan tanggung jawab yang berbeda.
Perbandingan yang berlebihan menghabiskan rasa syukur.
Keempat: Mengabaikan Kesehatan
Tubuh yang terus dipaksa tanpa istirahat dapat melemah.
Makanan yang tidak dijaga, kebiasaan merokok, kurang tidur, stres berkepanjangan, serta tidak memeriksakan penyakit dapat mengurangi kualitas kehidupan.
Menjaga kesehatan bukan cinta dunia yang berlebihan.
Menjaga kesehatan adalah menjaga alat untuk beribadah dan berbuat baik.
11. Amalan Tujuh Hari Menanam Keberkahan
Amalan ini bukan ritual untuk memastikan tambahan umur.
Amalan ini adalah latihan memperbaiki kehidupan selama tujuh hari dan dapat diulang.
Hari Pertama: Memperbaiki Hubungan dengan Alloh
Laksanakan sholat dengan lebih tertib.
Perbanyak istighfar.
Akui kesalahan tanpa mencari pembenaran.
Hari Kedua: Menghubungi Orang Tua atau Keluarga
Tanyakan keadaan mereka.
Dengarkan tanpa tergesa-gesa.
Apabila ada salah, mulailah meminta maaf.
Hari Ketiga: Bersedekah
Berikan sesuatu sesuai kemampuan.
Tidak perlu menunggu banyak.
Jaga kehormatan penerima.
Hari Keempat: Menjaga Tubuh
Perbaiki makanan.
Minum air yang cukup.
Kurangi sesuatu yang membahayakan.
Tidur lebih teratur.
Lakukan pemeriksaan apabila ada keluhan.
Hari Kelima: Menolong Satu Orang
Carilah satu orang yang dapat dibantu.
Bantuan tidak harus berupa uang.
Dengarkan, antar, ajarkan, atau ringankan pekerjaannya.
Hari Keenam: Menyelesaikan Satu Amanah
Bayar sebagian utang jika belum mampu melunasi.
Kembalikan barang.
Sampaikan pesan.
Tepati janji yang tertunda.
Hari Ketujuh: Muhasabah
Tanyakan kepada diri:
«“Apabila umurku dilanjutkan, kebaikan apa yang harus dipertahankan?”»
«“Apabila hidupku berakhir, perkara apa yang masih harus segera diselesaikan?”»
Tulislah jawabannya agar tidak berhenti menjadi niat.
12. Doa Memohon Keberkahan Umur
Setelah sholat, bacalah:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي عُمْرِي، وَصِحَّتِي، وَوَقْتِي، وَأَهْلِي، وَرِزْقِي، وَاجْعَلْ بَقِيَّةَ حَيَاتِي زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ
Allāhumma bārik lī fī ‘umrī, wa ṣiḥḥatī, wa waqtī, wa ahlī, wa rizqī, waj‘al baqiyyata ḥayātī ziyādatan lī fī kulli khair.
Artinya:
«“Ya Alloh, berkahilah umurku, kesehatanku, waktuku, keluargaku, dan rezekiku. Jadikanlah sisa kehidupanku sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan.”»
Kemudian bacalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْعَمَلِ، وَبَرَكَةَ الْعُمُرِ، وَصِحَّةَ الْبَدَنِ، وَسَعَةَ الرِّزْقِ، وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ
Allāhumma innī as’aluka ḥusnal-‘amal, wa barakatal-‘umr, wa ṣiḥḥatal-badan, wa sa‘atar-rizq, wa ḥusnal-khātimah.
Artinya:
«“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu amal yang baik, umur yang diberkahi, tubuh yang sehat, rezeki yang lapang, dan akhir kehidupan yang baik.”»
Doa ini boleh dibaca tanpa menentukan jumlah yang memberatkan.
Yang terpenting adalah ketulusan, pemahaman, dan kesediaan memperbaiki kehidupan.
13. Pesan untuk Saudara cahayaku
Saudara cahayaku , jangan memahami sedekah, doa, dan silaturahmi sebagai jaminan bahwa manusia tidak akan sakit atau meninggal.
Semua manusia tetap akan kembali kepada Alloh.
Namun melalui amal-amal tersebut, hidup dapat menjadi lebih bersih, lebih bermanfaat, lebih kuat, dan lebih tenteram.
Doa menjaga hubungan dengan Alloh.
Sedekah menjaga kepedulian kepada sesama.
Silaturahmi menjaga hubungan keluarga.
Ikhtiar kesehatan menjaga amanah tubuh.
Taubat menjaga arah perjalanan jiwa.
Apabila semua itu dijalani dengan seimbang, manusia tidak hanya meminta agar hidupnya panjang.
Ia sedang memohon agar hidupnya pantas, bermanfaat, dan penuh ridho Alloh.
Kesimpulan Lembar Ketiga
Doa, sedekah, silaturahmi, dan ikhtiar bukan alat untuk mengalahkan ajal.
Semua itu adalah jalan yang Alloh ajarkan agar manusia menjalani kehidupan dengan benar.
Ajal terakhir tetap menjadi ketetapan Alloh.
Namun selama ajal belum datang, doa dapat menjadi sebab pertolongan.
Sedekah dapat menjadi sebab keberkahan.
Silaturahmi dapat menjadi sebab kelapangan.
Pengobatan dapat menjadi sebab kesembuhan.
Kehati-hatian dapat menjadi sebab keselamatan.
Taubat dapat menjadi sebab diperbaikinya akhir perjalanan.
Karena itu, jangan hanya meminta:
«“Ya Alloh, panjangkan umurku.”»
Mintalah pula:
«“Ya Alloh, jangan biarkan umurku panjang tanpa manfaat.”»
«“Jangan biarkan tubuhku sehat tetapi jauh dari ketaatan.”»
«“Jangan biarkan rezekiku luas tetapi hatiku menjadi keras.”»
«“Jangan biarkan aku banyak beramal tetapi kehilangan keikhlasan.”»
«“Jadikan setiap tambahan waktu sebagai tambahan iman, akhlak, ilmu, dan kasih sayang.”»
Doa Penutup Lembar Ketiga
Ya Alloh, berkahilah usia saudara Ach Tohir dan seluruh keluarganya.
Sehatkan tubuh mereka, tenteramkan hati mereka, lapangkan rezeki mereka, dan kuatkan hubungan kasih sayang di antara mereka.
Jadikan doa mereka sebagai jalan kedekatan kepada-Mu.
Jadikan sedekah mereka sebagai cahaya yang membersihkan hati.
Jadikan silaturahmi mereka sebagai jalan datangnya kerukunan dan pertolongan.
Jauhkan mereka dari kecelakaan, penyakit yang membahayakan, keputusan yang tergesa-gesa, permusuhan keluarga, serta kelalaian dalam menjaga kesehatan.
Apabila terdapat hubungan yang retak, bukakan jalan perdamaian.
Apabila terdapat utang dan amanah, berikan kemampuan untuk menyelesaikannya.
Apabila terdapat penyakit, tunjukkan jalan pengobatan yang tepat.
Apabila terdapat kecemasan, turunkan ketenteraman.
Apabila terdapat kesalahan, bukakan pintu taubat dan perbaikan.
Jadikanlah sisa umur kami bukan sekadar tambahan hari, tetapi tambahan iman, amal, manfaat, dan kasih sayang.
Hidupkan kami dalam ketaatan.
Wafatkan kami dalam keimanan.
Kumpulkan kami dalam rahmat dan ampunan-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Keempat
Penyakit, Pengobatan, Ketakutan, dan Tawakal yang Benar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menciptakan tubuh manusia dengan segala kekuatan dan keterbatasannya, Yang menurunkan penyakit serta menyediakan jalan pengobatan, Yang menguji hati melalui rasa takut, lalu membukakan ketenangan melalui iman, ilmu, dan pertolongan-Nya.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, para tabib yang amanah, serta seluruh manusia yang menggunakan ilmu untuk menjaga kehidupan dan meringankan penderitaan sesama.
Saudara cahayaku, setelah memahami bahwa ajal adalah ketetapan Alloh dan ikhtiar merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, kita perlu membuka satu persoalan yang sering membuat hati gelisah:
«“Apakah penyakit merupakan tanda bahwa ajal sudah dekat?”»
Jawabannya adalah:
Tidak setiap penyakit menjadi tanda dekatnya kematian.
Penyakit dapat sembuh.
Penyakit dapat dikendalikan.
Penyakit dapat menjadi peringatan agar pola hidup diperbaiki.
Penyakit dapat menjadi jalan seseorang mengenal kelemahan dirinya.
Penyakit juga dapat menjadi ujian kesabaran dan sebab bertambahnya kedekatan kepada Alloh.
Karena itu, penyakit harus dihadapi dengan ilmu, doa, pengobatan, kesabaran, dan pikiran yang jernih.
1. Tubuh Manusia Memiliki Bahasa
Tubuh berbicara melalui berbagai tanda.
Rasa sakit, demam, lemah, mual, sesak, pusing, perubahan berat badan, gangguan tidur, atau perubahan fungsi tubuh merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Namun isyarat tubuh bukan selalu pertanda gaib.
Ketika dada terasa panas, mungkin terdapat gangguan lambung, otot, pernapasan, atau sebab medis lainnya.
Ketika kepala terasa berat, mungkin tubuh kurang tidur, kekurangan cairan, terlalu banyak bekerja, mengalami tekanan pikiran, atau memiliki gangguan kesehatan tertentu.
Ketika jantung berdebar, mungkin seseorang sedang cemas, kelelahan, mengonsumsi terlalu banyak kafein, atau mengalami gangguan yang perlu diperiksa.
Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan:
«“Ini pasti tanda ajal.”»
«“Ini pasti kiriman orang.”»
«“Ini pasti gangguan makhluk gaib.”»
«“Ini pasti hukuman karena dosa tertentu.”»
Kesimpulan seperti itu dapat memperbesar rasa takut dan menunda pengobatan yang sebenarnya dibutuhkan.
Tubuh perlu didengarkan dengan tenang, bukan ditafsirkan dengan kepanikan.
2. Penyakit Tidak Selalu Berasal dari Kurangnya Iman
Ada orang sakit yang kemudian disalahkan:
«“Kamu sakit karena imanmu kurang.”»
«“Kamu sakit karena doamu tidak kuat.”»
«“Kamu sakit karena banyak dosa.”»
Ucapan semacam ini dapat menyakiti hati orang yang sedang lemah.
Orang beriman juga dapat sakit.
Para nabi, ulama, orang sholeh, dan manusia yang banyak berbuat baik tetap mengalami penyakit.
Penyakit bukan ukuran tunggal tentang tinggi atau rendahnya iman seseorang.
Memang ada penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan buruk, tetapi tidak semua penyakit dapat dijelaskan dengan kesalahan pribadi.
Ada penyakit yang berkaitan dengan usia.
Ada yang berkaitan dengan keturunan.
Ada yang timbul karena infeksi.
Ada yang berkaitan dengan pekerjaan.
Ada yang muncul karena kecelakaan.
Ada pula yang belum diketahui penyebabnya secara pasti.
Maka jangan menjadikan penyakit sebagai alasan untuk menghakimi penderita.
Yang dibutuhkan orang sakit adalah pertolongan, doa, pengobatan, kasih sayang, dan pendampingan.
3. Berobat adalah Bagian dari Tawakal
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya untuk mencari pengobatan.
Berobat bukan tanda bahwa seseorang kurang percaya kepada Alloh.
Dokter tidak menggantikan Alloh.
Obat tidak mempunyai kekuasaan sendiri.
Rumah sakit bukan tempat manusia menolak takdir.
Semua itu merupakan sarana yang boleh digunakan untuk mencari kesembuhan.
Sebagaimana manusia makan ketika lapar, ia juga mencari pengobatan ketika sakit.
Seseorang dapat berdoa:
«“Ya Alloh, sembuhkanlah aku.”»
Kemudian ia pergi memeriksakan diri.
Kedua tindakan tersebut tidak bertentangan.
Doa menjaga hubungan hati dengan Alloh.
Pemeriksaan membantu mengetahui keadaan tubuh.
Obat menjadi salah satu sebab kesembuhan.
Dokter menggunakan ilmu dan pengalaman.
Hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Alloh.
Inilah tawakal yang seimbang.
4. Jangan Menghentikan Obat Secara Sembarangan
Sebagian orang merasa lebih baik setelah berdoa atau berdzikir, lalu menghentikan obat tanpa berkonsultasi.
Ada pula yang berpikir bahwa melanjutkan obat berarti kurang yakin kepada pertolongan Alloh.
Pemahaman ini tidak tepat.
Rasa tenang setelah berdoa merupakan kebaikan, tetapi belum tentu berarti penyakit telah sembuh sepenuhnya.
Sebagian penyakit dapat terasa ringan untuk sementara, lalu kembali menjadi berat apabila pengobatan dihentikan.
Karena itu:
- jangan menghentikan obat yang diresepkan secara sembarangan;
- jangan mengganti dosis sendiri;
- jangan mencampurkan banyak ramuan tanpa mengetahui keamanannya;
- jangan mempercayai seseorang yang menjanjikan kesembuhan mutlak;
- jangan menunda pemeriksaan ketika gejala memburuk.
Doa boleh dibaca bersama pengobatan.
Dzikir boleh dilakukan sambil mengikuti nasihat tenaga kesehatan.
Tidak ada pertentangan antara spiritualitas yang sehat dan ilmu pengobatan yang benar.
5. Pengobatan Ruhani Harus Ditempatkan dengan Benar
Doa, membaca Al-Qur’an, sholawat, istighfar, dan ruqyah yang sesuai syariat dapat membantu menenangkan hati serta menguatkan jiwa.
Namun pengobatan ruhani tidak boleh digunakan untuk menggantikan seluruh pemeriksaan medis.
Apabila seseorang mengalami luka, ia memerlukan perawatan luka.
Apabila mengalami infeksi, ia mungkin memerlukan pengobatan yang sesuai.
Apabila gula darah atau tekanan darahnya bermasalah, ia perlu pemeriksaan dan pengaturan kesehatan.
Apabila mengalami gangguan mental atau kecemasan yang berat, ia dapat membutuhkan bantuan psikolog atau dokter.
Pengobatan ruhani yang benar tidak menghalangi seseorang mencari pertolongan medis.
Sebaliknya, pengobatan ruhani yang bertanggung jawab akan berkata:
«“Berdoalah kepada Alloh, lalu gunakanlah jalan pertolongan yang telah tersedia.”»
Hindarilah orang yang berkata:
«“Tidak perlu ke dokter.”»
«“Buang semua obatmu.”»
«“Penyakitmu pasti karena gangguan gaib.”»
«“Kamu hanya akan sembuh jika membayar ritual tertentu.”»
Nasihat seperti itu dapat membahayakan jiwa dan harta.
6. Rasa Takut terhadap Penyakit Dapat Memperberat Penderitaan
Ketika seseorang merasakan gejala tubuh, pikirannya dapat segera membayangkan keadaan terburuk.
Sakit kepala kecil dianggap penyakit yang mematikan.
Dada berdebar dianggap ajal sudah dekat.
Sulit tidur dianggap pertanda buruk.
Mimpi tertentu dianggap pemberitahuan tentang kematian.
Ketakutan yang berlebihan dapat membuat tubuh semakin tegang.
Napas menjadi pendek.
Jantung semakin berdebar.
Perut terasa tidak nyaman.
Pikiran sulit beristirahat.
Tidur semakin terganggu.
Kemudian gejala tersebut dianggap sebagai bukti bahwa penyakit semakin berat.
Terjadilah lingkaran antara rasa takut dan keluhan tubuh.
Karena itu, ketika gejala muncul, lakukan langkah yang tertib:
Pertama, tenangkan diri.
Kedua, perhatikan gejalanya secara nyata.
Ketiga, catat kapan gejala muncul dan apa yang memperberatnya.
Keempat, hindari mencari terlalu banyak tafsir menakutkan.
Kelima, periksakan diri apabila gejala berat, menetap, atau berulang.
Keenam, teruskan doa tanpa menjadikan doa sebagai pengganti tindakan.
7. Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
Ada keadaan yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Di antaranya:
- nyeri dada berat atau menekan;
- sesak napas mendadak;
- kehilangan kesadaran;
- kejang;
- kelumpuhan atau kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh;
- bicara tiba-tiba tidak jelas;
- perdarahan yang tidak berhenti;
- muntah darah;
- buang air besar berwarna hitam pekat disertai kelemahan;
- sakit kepala yang sangat berat dan muncul tiba-tiba;
- cedera kepala berat;
- demam tinggi disertai kebingungan;
- reaksi alergi berat;
- keinginan kuat untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup.
Dalam keadaan seperti ini, jangan menunggu hasil dzikir, mimpi, petunjuk batin, atau pendapat orang yang tidak mempunyai keahlian.
Segeralah mencari pertolongan medis.
Meminta bantuan pada saat darurat merupakan bentuk menjaga jiwa, bukan bentuk kelemahan iman.
8. Jangan Menakut-nakuti Orang Sakit dengan Ajal
Ketika menjenguk orang sakit, jagalah ucapan.
Jangan berkata:
«“Penyakit seperti ini biasanya tidak lama.”»
«“Saya pernah melihat orang dengan gejala seperti ini lalu meninggal.”»
«“Wajahmu sudah terlihat berbeda.”»
«“Mungkin ini pertanda akhir.”»
Ucapan tersebut dapat memperberat beban orang sakit.
Lebih baik katakan:
«“Semoga Alloh memberikan kesembuhan dan kekuatan.”»
«“Mari kita cari pengobatan yang tepat.”»
«“Apa yang dapat saya bantu?”»
«“Jangan menghadapi ini sendirian.”»
Orang sakit membutuhkan harapan yang jujur, bukan janji palsu dan bukan pula ketakutan tambahan.
Harapan yang jujur berarti tetap berdoa, mengikuti pengobatan, dan menerima bahwa hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Alloh.
9. Kesembuhan Tidak Selalu Berarti Hilangnya Semua Penyakit
Ada penyakit yang dapat sembuh sepenuhnya.
Ada pula penyakit yang perlu dikendalikan dalam waktu panjang.
Seseorang mungkin tetap harus minum obat, menjalani terapi, menjaga makanan, atau membatasi aktivitas tertentu.
Keadaan ini bukan berarti doanya gagal.
Kesembuhan dapat hadir dalam beberapa bentuk:
- penyakit hilang;
- penyakit terkendali;
- rasa sakit berkurang;
- tubuh menjadi lebih kuat;
- hati menjadi lebih tenang;
- seseorang mampu menjalani hidup dengan lebih baik;
- keluarga menjadi lebih kompak;
- penderita menerima pendampingan yang layak;
- akhir kehidupan dijalani dengan damai dan bermartabat.
Manusia memohon kesembuhan, tetapi tetap membuka hati terhadap bentuk pertolongan yang diberikan Alloh.
10. Menghadapi Hasil Pemeriksaan yang Menakutkan
Ketika seseorang menerima hasil pemeriksaan yang berat, pikirannya sering menjadi kosong.
Ia mungkin merasa marah, tidak percaya, sedih, atau takut.
Semua perasaan itu manusiawi.
Jangan segera mengambil keputusan besar saat pikiran masih sangat terguncang.
Lakukan langkah berikut:
Dengarkan penjelasan dokter dengan tenang.
Tanyakan hal yang belum dipahami.
Mintalah keluarga atau orang tepercaya mendampingi.
Catat pilihan pengobatan.
Apabila diperlukan, carilah pendapat medis kedua.
Jangan langsung mempercayai obat atau terapi yang menjanjikan kesembuhan mutlak.
Jangan menghabiskan seluruh harta untuk pengobatan yang tidak jelas.
Tetaplah berdoa, tetapi gunakan akal dan pertimbangan.
Penyakit yang berat bukan berarti seluruh harapan telah berakhir.
Selama hidup masih berlangsung, masih ada ruang untuk berobat, mencintai keluarga, memperbaiki hubungan, menunaikan amanah, dan mendekat kepada Alloh.
11. Antara Harapan dan Penerimaan
Orang beriman hidup di antara harapan dan penerimaan.
Harapan berkata:
«“Alloh mampu menyembuhkan.”»
Penerimaan berkata:
«“Aku akan menerima keputusan terbaik menurut ilmu Alloh setelah melakukan ikhtiar.”»
Harapan tanpa penerimaan dapat berubah menjadi tuntutan.
Penerimaan tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi kepasrahan yang keliru.
Keseimbangan keduanya melahirkan tawakal.
Berharaplah kepada kesembuhan.
Berobatlah dengan sungguh-sungguh.
Mohonlah doa keluarga.
Perbaiki pola hidup.
Namun jangan merasa bahwa Alloh tidak menyayangi kita apabila perjalanan kesembuhan membutuhkan waktu panjang.
Kadang-kadang manusia sedang disembuhkan tubuhnya.
Kadang-kadang hatinya sedang dikuatkan.
Kadang-kadang keluarganya sedang dipersatukan.
Kadang-kadang kesombongannya sedang dilunakkan.
Kadang-kadang ia sedang diajarkan bahwa kehidupan bukan sesuatu yang dapat dikuasai sepenuhnya.
12. Menjaga Orang Sakit adalah Ibadah
Keluarga yang menjaga orang sakit juga mengalami ujian.
Mereka dapat kelelahan, kurang tidur, cemas, dan merasa kewalahan.
Karena itu, menjaga orang sakit sebaiknya dilakukan bersama-sama apabila memungkinkan.
Bagilah tugas.
Berikan waktu istirahat kepada penjaga utama.
Jangan menyalahkan anggota keluarga yang merasa lelah.
Carilah bantuan tenaga kesehatan apabila dibutuhkan.
Jagalah kebersihan, makanan, obat, dan jadwal pemeriksaan.
Perhatikan pula keadaan batin orang yang merawat.
Seorang penjaga yang terlalu lelah dapat jatuh sakit dan kehilangan kesabaran.
Merawat orang sakit bukan hanya memberikan obat.
Merawat juga berarti:
- mendengarkan;
- membantu makan dan minum;
- menjaga kebersihan;
- menemani pemeriksaan;
- tidak mempermalukan kelemahannya;
- mengingatkan ibadah dengan lembut;
- memberikan ruang untuk beristirahat;
- menjaga martabatnya.
13. Jangan Menyalahkan Diri atas Semua Penyakit
Seseorang yang sakit kadang berkata:
«“Ini semua salah saya.”»
Memang ada kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Namun menyalahkan diri secara berlebihan tidak membantu kesembuhan.
Rasa bersalah yang sehat akan berkata:
«“Saya akan memperbaiki pola hidup.”»
Rasa bersalah yang merusak akan berkata:
«“Saya tidak pantas ditolong.”»
Setiap manusia dapat melakukan kesalahan.
Pintu perbaikan tetap terbuka.
Apabila dahulu mengabaikan kesehatan, mulailah menjaganya hari ini.
Apabila dahulu menolak nasihat, terimalah pertolongan sekarang.
Apabila dahulu banyak melakukan dosa, bertaubatlah.
Jangan mengubah penyakit menjadi alasan untuk membenci diri sendiri.
Tubuh yang sakit tetap memiliki hak untuk dirawat.
14. Dzikir Ketenangan bagi Orang yang Sedang Sakit
Dzikir ini dapat dibaca setelah sholat atau ketika hati terasa takut.
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Sholawat 33 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Yā Syāfī 33 kali
يَا شَافِي
Yā Syāfī.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Menyembuhkan.”»
Yā Laṭīf 33 kali
يَا لَطِيْفُ
Yā Laṭīf.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Lembut.”»
Yā Salām 33 kali
يَا سَلَامُ
Yā Salām.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Memberikan keselamatan dan ketenteraman.”»
Setelah itu, bacalah doa:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Allāhumma Rabban-nās, adzhibil-ba’s, wasyfi Antasy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yugādiru saqaman.
Artinya:
«“Ya Alloh, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”»
Bacalah dengan tenang.
Tidak perlu memaksa tubuh merasakan getaran, cahaya, panas, atau tanda tertentu.
Tidak munculnya sensasi bukan berarti doa tidak diterima.
Tujuan doa adalah memohon, berserah, dan menguatkan hati.
15. Latihan Napas untuk Menenangkan Ketakutan
Ketika rasa takut meningkat, duduklah di tempat yang aman.
Tarik napas perlahan melalui hidung.
Jangan menarik napas terlalu dalam sampai pusing.
Rasakan udara masuk dengan lembut.
Kemudian keluarkan napas secara perlahan.
Saat menarik napas, ucapkan dalam hati:
«“Alloh bersamaku.”»
Saat mengeluarkan napas, ucapkan:
«“Aku menyerahkan ketakutanku kepada Alloh.”»
Lakukan beberapa kali sampai tubuh lebih tenang.
Latihan ini bukan cara mengetahui keadaan gaib.
Ini hanya cara membantu tubuh keluar dari ketegangan agar pikiran kembali jernih.
Apabila rasa takut sering muncul, mengganggu tidur, pekerjaan, atau ibadah, berbicaralah dengan tenaga kesehatan.
16. Tawakal Bukan Berhenti Berpikir
Tawakal tidak membuat manusia kehilangan akal.
Tawakal justru membuat manusia menggunakan akal tanpa merasa dirinya menguasai seluruh hasil.
Orang yang bertawakal tetap:
- membaca aturan penggunaan obat;
- memilih tenaga kesehatan yang kompeten;
- meminta penjelasan;
- mempertimbangkan risiko;
- menjaga kebersihan;
- mengatur pola makan;
- beristirahat;
- melakukan pemeriksaan berkala;
- menghindari pengobatan yang berbahaya;
- meminta pertolongan ketika keadaan darurat.
Setelah semua itu dilakukan, ia berkata:
«“Ya Alloh, aku telah berusaha sesuai kemampuanku. Hasilnya aku serahkan kepada-Mu.”»
Inilah ketenangan seorang hamba.
Bukan tenang karena yakin tidak akan sakit.
Bukan tenang karena merasa pasti hidup lama.
Namun tenang karena mengetahui bahwa ia telah menjalankan tanggung jawab dan berada dalam penjagaan Alloh.
17. Pesan untuk Saudara cahayaku
Saudara cahayaku, apabila tubuh mengalami keluhan, jangan langsung memikirkan kematian.
Perhatikan tubuh dengan kasih sayang.
Carilah pemeriksaan apabila diperlukan.
Berdoalah tanpa panik.
Jangan malu meminta bantuan.
Jangan pula menolak ilmu hanya karena ingin terlihat kuat dalam iman.
Keimanan tidak diukur dari kemampuan menahan sakit tanpa pertolongan.
Keimanan terlihat dari cara seseorang menjaga amanah, bersabar, menggunakan ilmu, dan menyerahkan hasil kepada Alloh.
Jangan menunggu sakit berat untuk memperbaiki pola hidup.
Jagalah kesehatan sejak masih diberi kekuatan.
Kurangi kebiasaan yang merusak.
Atur tidur.
Jaga makanan.
Bergerak sesuai kemampuan.
Kelola tekanan pikiran.
Pelihara hubungan keluarga.
Periksakan kesehatan secara wajar.
Semua itu merupakan bentuk syukur atas kehidupan.
Kesimpulan Lembar Keempat
Penyakit bukan selalu tanda ajal telah dekat.
Keluhan tubuh harus diperhatikan dengan ilmu, bukan dengan ketakutan dan dugaan yang berlebihan.
Doa adalah kekuatan hati.
Pengobatan adalah ikhtiar tubuh.
Dukungan keluarga adalah kekuatan sosial.
Kesabaran adalah penjaga jiwa.
Tawakal adalah penyerahan hasil setelah usaha dilakukan.
Karena itu:
Jangan mengabaikan penyakit karena alasan takdir.
Jangan menganggap obat sebagai penguasa kesembuhan.
Jangan menuduh setiap penyakit berasal dari gangguan gaib.
Jangan menyalahkan orang sakit karena dianggap kurang beriman.
Jangan menakut-nakuti penderita dengan pembicaraan tentang ajal.
Berdoalah, berobatlah, jagalah tubuh, dan serahkan hasilnya kepada Alloh.
Doa Penutup Lembar Keempat
Ya Alloh, Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, limpahkan kesehatan, perlindungan, dan ketenteraman kepada saudara Ach Tohir beserta seluruh keluarganya.
Apabila di antara mereka terdapat penyakit, tunjukkan jalan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.
Pertemukan mereka dengan tenaga kesehatan yang amanah.
Jauhkan mereka dari obat palsu, penipuan, diagnosis yang menyesatkan, dan orang yang memanfaatkan rasa takut mereka.
Kuatkan hati orang yang sedang sakit.
Lapangkan kesabaran keluarga yang merawat.
Berikan kecukupan biaya, waktu, tenaga, dan pertolongan.
Jadikan setiap pengobatan sebagai jalan kebaikan.
Jadikan setiap rasa sakit sebagai sebab bertambahnya kesabaran dan pengampunan.
Jadikan setiap kesembuhan sebagai sebab bertambahnya rasa syukur.
Apabila rasa takut terhadap kematian datang, tenangkan hati kami.
Ingatkan kami bahwa tugas kami bukan menebak ajal, melainkan menjaga kehidupan, memperbaiki amal, dan mempersiapkan perjumpaan dengan-Mu.
Hidupkan kami dalam kesehatan yang bermanfaat.
Ujilah kami dengan kelembutan.
Sembuhkanlah yang sakit.
Kuatkanlah yang lemah.
Tenangkanlah yang cemas.
Ampunilah yang bersalah.
Dan akhirilah perjalanan kami dalam iman, taubat, serta husnul khotimah.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Kelima
Mempersiapkan Ajal Tanpa Kehilangan Semangat Hidup
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menjadikan kehidupan sebagai amanah, kematian sebagai pintu perjalanan, taubat sebagai jalan kembali, dan amal kebaikan sebagai bekal yang tidak sia-sia.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang berusaha memperbaiki kehidupan sebelum datang akhir perjalanan.
Saudara cahayaku, setelah membahas penyakit, pengobatan, ketakutan, dan tawakal, kini kita membuka pertanyaan yang lebih dalam:
«“Bagaimana cara mempersiapkan kematian tanpa menjadi takut, murung, atau kehilangan semangat menjalani kehidupan?”»
Persiapan menghadapi ajal bukanlah duduk menunggu kematian.
Persiapan menghadapi ajal adalah memperbaiki cara hidup.
Orang yang benar-benar mengingat kematian justru akan lebih menghargai waktu, menjaga kesehatan, menyayangi keluarga, menyelesaikan amanah, dan berhati-hati agar tidak menzalimi orang lain.
Mengingat kematian yang benar melahirkan tanggung jawab.
Mengingat kematian yang keliru hanya melahirkan ketakutan.
1. Kematian Bukan Alasan untuk Membenci Kehidupan
Sebagian orang mendengar nasihat tentang ajal, lalu merasa bahwa dunia harus dijauhi sepenuhnya.
Ia mengira bekerja, membangun rumah, mendidik anak, merawat tubuh, atau menikmati kebersamaan keluarga merupakan tanda terlalu mencintai dunia.
Pemahaman ini tidak tepat.
Dunia memang bukan tempat tinggal yang kekal, tetapi dunia adalah tempat beramal.
Di dunia manusia:
- menjalankan sholat;
- mencari rezeki halal;
- menafkahi keluarga;
- menolong orang lain;
- belajar ilmu;
- menanam pohon;
- membangun tempat ibadah;
- merawat orang tua;
- mendidik anak;
- meminta maaf;
- memperbaiki kesalahan.
Karena itu, mencintai kehidupan dalam batas yang benar bukanlah dosa.
Yang berbahaya adalah ketika manusia mencintai dunia sampai melupakan Alloh, menghalalkan segala cara, menumpuk harta tanpa peduli hak orang lain, dan menganggap dirinya akan hidup selamanya.
Kehidupan tidak perlu dibenci.
Kehidupan perlu diarahkan.
2. Persiapan Pertama adalah Taubat yang Jujur
Bekal pertama menghadapi ajal bukanlah ketakutan.
Bekal pertama adalah taubat.
Taubat bukan hanya mengucapkan istighfar dengan lisan.
Taubat mempunyai beberapa langkah:
Mengakui Kesalahan
Jangan selalu mencari alasan.
Jangan menyalahkan keadaan atas semua perbuatan.
Jangan berkata:
«“Saya melakukan itu karena orang lain lebih dahulu menyakiti saya.”»
Setiap manusia bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Menyesali Perbuatan
Penyesalan bukan membenci diri.
Penyesalan adalah kesadaran bahwa kita telah berjalan ke arah yang salah.
Menghentikan Kesalahan
Apabila masih melakukan dosa yang sama sambil berkata akan bertaubat nanti, berarti taubat belum sungguh-sungguh dijalani.
Bertekad Memperbaiki Diri
Manusia dapat jatuh kembali dalam kesalahan.
Namun tekad taubat harus jujur pada saat diucapkan.
Mengembalikan Hak Orang Lain
Apabila kesalahan berkaitan dengan manusia, taubat tidak cukup hanya dengan istighfar.
Harta yang diambil harus dikembalikan.
Utang harus dibayar.
Fitnah harus diperbaiki.
Amanah harus diselesaikan.
Orang yang disakiti perlu dimintai maaf dengan cara yang bijaksana.
Taubat kepada Alloh harus melahirkan perbaikan terhadap sesama.
3. Jangan Menunggu Tua untuk Bertaubat
Banyak orang merasa bahwa taubat adalah urusan masa tua.
Ketika muda, ia ingin menikmati kehidupan tanpa batas.
Setelah tua, barulah ia ingin memperbaiki diri.
Padahal tidak ada manusia yang mendapat jaminan sampai usia tua.
Selain itu, kebiasaan yang dipelihara puluhan tahun sering menjadi lebih sulit dihentikan.
Hati dapat menjadi keras.
Kesalahan dapat terasa biasa.
Dosa dapat dianggap bagian dari kehidupan.
Karena itu, taubat jangan ditunda.
Taubat tidak membuat hidup menjadi sempit.
Taubat justru membebaskan manusia dari beban yang selama ini disembunyikan.
Taubat membuat seseorang berani memulai kembali.
4. Menyelesaikan Utang adalah Bagian dari Persiapan Ajal
Utang merupakan amanah yang harus diperhatikan dengan serius.
Seseorang boleh berutang ketika mempunyai kebutuhan, tetapi ia harus mempunyai niat dan usaha untuk membayar.
Jangan menganggap utang akan selesai begitu saja ketika seseorang meninggal.
Utang dapat menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan.
Karena itu, lakukan beberapa langkah:
- catat seluruh utang;
- tuliskan nama pemberi pinjaman;
- tuliskan jumlahnya;
- simpan bukti pembayaran;
- jelaskan kepada keluarga yang dipercaya;
- bayarlah sedikit demi sedikit jika belum mampu melunasi;
- jangan menambah utang untuk kebutuhan yang tidak perlu;
- jangan menghindari orang yang menagih;
- sampaikan keadaan dengan jujur.
Apabila benar-benar belum mampu, mintalah kelonggaran dengan sopan.
Jangan menjanjikan tanggal pembayaran yang tidak dapat ditepati.
Kejujuran lebih baik daripada memberikan harapan palsu.
5. Menagih Utang Juga Memerlukan Akhlak
Orang yang memberi pinjaman mempunyai hak untuk menagih.
Namun penagihan tetap harus dilakukan dengan akhlak.
Jangan mempermalukan orang yang benar-benar sedang kesulitan.
Jangan menyebarkan aibnya tanpa kebutuhan.
Jangan mengancam keluarganya.
Jangan mengambil barang secara sewenang-wenang.
Berikan kesempatan apabila ia benar-benar berniat membayar dan sedang mengalami kesulitan.
Namun orang yang berutang juga tidak boleh menyalahgunakan kebaikan pemberi pinjaman.
Hubungan antara pemberi utang dan penerima utang harus dijaga dengan kejujuran, bukti tertulis, serta kesepakatan yang jelas.
6. Amanah Tidak Hanya Berupa Uang
Banyak manusia mengira amanah hanya berkaitan dengan utang.
Padahal amanah mempunyai bentuk yang luas.
Amanah dapat berupa:
- barang titipan;
- rahasia orang lain;
- jabatan;
- tanggung jawab pekerjaan;
- pesan yang harus disampaikan;
- hak anak;
- nafkah keluarga;
- dokumen;
- warisan;
- tugas organisasi;
- janji;
- ilmu yang harus disampaikan dengan benar.
Seseorang yang mempersiapkan ajal hendaknya bertanya:
«“Apakah ada titipan yang belum saya kembalikan?”»
«“Apakah ada hak keluarga yang saya abaikan?”»
«“Apakah ada pekerjaan yang saya tinggalkan tanpa penjelasan?”»
«“Apakah ada rahasia orang yang saya sebarkan?”»
«“Apakah ada janji yang belum saya tepati?”»
Pertanyaan tersebut bukan untuk membuat hati tertekan.
Pertanyaan itu bertujuan agar hidup lebih tertib.
7. Wasiat sebagai Bentuk Tanggung Jawab
Wasiat bukan tanda bahwa seseorang akan segera meninggal.
Wasiat merupakan bentuk keteraturan dan tanggung jawab.
Seseorang dapat menuliskan:
- daftar utang;
- daftar piutang;
- lokasi dokumen penting;
- amanah yang belum selesai;
- pesan tentang pengurusan keluarga;
- penjelasan barang milik pribadi dan barang titipan;
- pesan agar warisan dibagikan sesuai ketentuan yang benar;
- permintaan agar tidak dilakukan ritual yang memberatkan keluarga.
Wasiat tidak boleh digunakan untuk mengambil hak ahli waris secara tidak adil.
Wasiat juga tidak boleh berisi perintah yang melanggar agama atau menyakiti orang lain.
Apabila menyangkut harta dan hukum waris, sebaiknya berkonsultasi dengan orang yang memahami ketentuan agama dan hukum yang berlaku.
Catatan yang jelas dapat mencegah perselisihan setelah seseorang wafat.
8. Jangan Menjadikan Kematian sebagai Ancaman kepada Keluarga
Ada orang yang berkata kepada keluarganya:
«“Nanti kalau saya mati, baru kalian menyesal.”»
«“Kalau saya tidak ada, baru kalian tahu.”»
«“Biar saya mati saja supaya kalian puas.”»
Ucapan seperti ini sangat melukai hati dan dapat menjadi bentuk tekanan emosional.
Mengingat kematian seharusnya membuat komunikasi menjadi lebih baik, bukan menjadi senjata dalam pertengkaran.
Apabila merasa tidak dihargai, sampaikan kebutuhan dengan jelas:
«“Saya merasa sedih ketika tidak didengarkan.”»
«“Saya membutuhkan bantuan.”»
«“Saya ingin kita menyelesaikan masalah ini dengan tenang.”»
Jangan menggunakan ancaman kematian untuk mendapatkan perhatian.
Apabila ucapan ingin mati muncul karena tekanan batin yang berat, segera carilah pertolongan dari keluarga, orang tepercaya, atau tenaga kesehatan.
9. Meminta Maaf Sebelum Terlambat
Meminta maaf sering terasa berat karena manusia takut kehilangan harga diri.
Padahal meminta maaf tidak membuat seseorang menjadi hina.
Meminta maaf menunjukkan keberanian mengakui kesalahan.
Permintaan maaf yang baik tidak berkata:
«“Saya minta maaf, tetapi kamu juga salah.”»
Ucapan tersebut bukan permintaan maaf yang utuh.
Lebih baik katakan:
«“Saya menyadari ucapan dan tindakan saya telah menyakiti. Saya meminta maaf. Saya akan berusaha memperbaikinya.”»
Namun meminta maaf juga harus dilakukan dengan bijak.
Apabila membuka suatu kesalahan lama justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar, mintalah nasihat kepada orang yang bijaksana tentang cara memperbaikinya.
Yang terpenting adalah tidak terus-menerus mempertahankan kesombongan.
10. Memaafkan Bukan Berarti Melupakan Pelajaran
Orang yang mempersiapkan ajal dianjurkan membersihkan hati dari dendam.
Namun memaafkan tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti dahulu.
Seseorang dapat memaafkan sambil tetap menjaga batas.
Ia dapat melepaskan kebencian tanpa memberikan kesempatan kepada orang yang sama untuk mengulangi kezaliman.
Memaafkan berarti:
- tidak terus memelihara keinginan membalas;
- tidak menjadikan luka sebagai pusat kehidupan;
- tidak menyebarkan keburukan tanpa kebutuhan;
- menyerahkan pengadilan terakhir kepada Alloh;
- tetap mengambil pelajaran dari kejadian.
Memaafkan adalah pembebasan hati.
Batas yang sehat adalah penjagaan diri.
Keduanya dapat berjalan bersama.
11. Amal Jariyah sebagai Jejak Kehidupan
Manusia tidak membawa rumah, kendaraan, kedudukan, atau pujian ke dalam kubur.
Namun manfaat dari amal tertentu dapat terus mengalir.
Amal jariyah tidak selalu harus berupa bangunan besar.
Amal jariyah dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana:
- memberikan mushaf atau buku ilmu;
- membantu pendidikan anak;
- menanam pohon yang bermanfaat;
- memperbaiki sumber air;
- membantu pembangunan fasilitas umum;
- mengajarkan keterampilan;
- menulis pengetahuan yang benar;
- mendidik anak dengan akhlak;
- mendukung orang yang berjuang dalam kebaikan;
- mewariskan kebiasaan sedekah dalam keluarga.
Yang terpenting bukan besar atau kecilnya nama pemberi.
Yang terpenting adalah manfaat dan keikhlasannya.
Jangan menjadikan amal jariyah sebagai cara mencari kemasyhuran.
Kebaikan yang tersembunyi dapat lebih selamat bagi hati.
12. Anak Sholeh Bukan Hanya Anak yang Banyak Hafalan
Banyak orang berharap anaknya kelak mendoakan setelah ia wafat.
Harapan itu baik.
Namun anak yang baik tidak lahir hanya dari perintah.
Anak belajar dari teladan.
Apabila orang tua ingin anaknya mendoakan, maka selama hidup ia perlu memberikan kasih sayang, pendidikan, perhatian, dan contoh akhlak.
Anak sholeh bukan hanya anak yang mampu membaca banyak doa.
Anak sholeh adalah anak yang:
- mengenal Alloh;
- menghormati manusia;
- jujur;
- bertanggung jawab;
- mampu meminta maaf;
- menjaga amanah;
- tidak menzalimi orang lain;
- mendoakan orang tuanya;
- meneruskan kebaikan keluarga.
Orang tua tidak boleh hanya menuntut doa setelah kematian, tetapi mengabaikan kebutuhan anak selama kehidupan.
13. Warisan Terbesar Bukan Selalu Harta
Harta dapat membantu kehidupan anak.
Namun harta tanpa pendidikan dapat menjadi sebab perselisihan.
Warisan terbesar yang dapat diberikan antara lain:
- iman;
- akhlak;
- ilmu;
- kebiasaan bekerja;
- kejujuran;
- kemampuan mengelola uang;
- kasih sayang antarsaudara;
- keberanian menghadapi kesulitan;
- kebiasaan bermusyawarah;
- contoh meminta maaf;
- nama baik yang dijaga dengan perbuatan.
Orang tua yang meninggalkan banyak harta tetapi juga meninggalkan permusuhan dapat membuat anak-anaknya saling menghancurkan.
Sebaliknya, keluarga sederhana yang diwarisi akhlak dan persatuan dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenteram.
14. Jangan Terlalu Sibuk Menyiapkan Pemakaman sampai Lupa Menyiapkan Akhlak
Sebagian manusia sangat memperhatikan tempat pemakaman, kain kafan, atau tata upacara setelah wafat.
Semua itu boleh dipersiapkan secara wajar.
Namun jangan sampai persiapan lahir lebih besar daripada perbaikan batin.
Kain kafan yang baik tidak dapat menggantikan hak orang yang dirampas.
Pemakaman yang ramai tidak dapat menggantikan taubat yang ditunda.
Banyaknya orang yang hadir tidak selalu menjadi ukuran kemuliaan seseorang.
Yang paling penting adalah keadaan iman, amal, serta hubungan dengan Alloh dan manusia.
Karena itu, siapkanlah kematian terutama dengan:
- taubat;
- kejujuran;
- penyelesaian utang;
- perbaikan sholat;
- penjagaan keluarga;
- sedekah;
- ilmu yang bermanfaat;
- akhlak yang baik.
15. Menghadapi Rasa Takut Mati
Takut mati dalam kadar tertentu merupakan hal manusiawi.
Rasa takut dapat menjadi pengingat agar hidup tidak disia-siakan.
Namun ketakutan menjadi tidak sehat apabila:
- setiap hari merasa ajal segera datang tanpa dasar;
- sulit tidur karena membayangkan kematian;
- menganggap setiap sakit sebagai tanda akhir;
- tidak berani keluar rumah;
- tidak mampu bekerja;
- terus meminta kepastian kapan akan meninggal;
- mencari ramalan atau perhitungan umur;
- menghindari pemeriksaan medis karena takut hasilnya;
- mengalami serangan panik berulang.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang membutuhkan bantuan.
Berbicara kepada tenaga kesehatan tidak berarti lemah iman.
Kecemasan dapat memengaruhi tubuh dan pikiran.
Ia perlu ditangani dengan doa, dukungan keluarga, pola hidup, dan bantuan profesional apabila diperlukan.
16. Jangan Mencari Tanggal Kematian
Tidak ada manusia yang dapat memastikan tanggal kematian dirinya melalui:
- mimpi;
- angka;
- hitungan nama;
- garis tangan;
- perasaan batin;
- suara tertentu;
- ramalan;
- gerak tubuh;
- hari kelahiran;
- tanda-tanda yang dibuat sendiri.
Ajal adalah rahasia Alloh.
Orang yang menawarkan kepastian tanggal kematian sedang berbicara tentang perkara yang tidak dikuasainya.
Mencari tanggal ajal hanya akan membuka pintu kecemasan, penipuan, dan ketergantungan.
Tugas manusia bukan mengetahui tanggal kematian.
Tugas manusia adalah memperbaiki hari ini.
17. Mengingat Mati dengan Cara yang Menyehatkan Jiwa
Mengingat kematian dapat dilakukan dengan beberapa cara:
- mendoakan orang yang telah wafat;
- menghadiri pemakaman dengan adab;
- membaca ayat dan nasihat tentang akhirat;
- melakukan muhasabah;
- menyelesaikan utang;
- memperbaiki hubungan;
- membuat wasiat;
- memperbanyak amal;
- menjaga kesehatan;
- mengurangi kesombongan.
Setelah mengingat mati, seseorang seharusnya menjadi lebih lembut.
Apabila setelah mengingat kematian seseorang justru menjadi putus asa, membenci kehidupan, atau ingin menyakiti diri, berarti ia membutuhkan pendampingan dan cara pemahaman yang lebih sehat.
18. Bekal Harian Sebelum Tidur
Sebelum tidur, lakukan lima hal sederhana.
Pertama: Bersyukur
Sebutkan tiga nikmat yang diterima hari itu.
Tidak harus nikmat besar.
Napas, makanan, keluarga, kesempatan sholat, dan tempat beristirahat merupakan nikmat.
Kedua: Istighfar
Mohon ampun atas kesalahan yang diketahui maupun tidak disadari.
Ketiga: Memaafkan
Berusahalah tidak membawa pertengkaran ke dalam tidur.
Keempat: Menentukan Satu Perbaikan
Pilih satu kesalahan yang akan diperbaiki esok hari.
Kelima: Menyerahkan Diri kepada Alloh
Berdoalah:
«“Ya Alloh, aku menyerahkan jiwa, keluarga, dan seluruh urusanku kepada-Mu. Apabila Engkau membangunkanku, tuntunlah aku menjalani hari dengan baik. Apabila Engkau menetapkan akhir perjalananku, terimalah aku dalam ampunan dan rahmat-Mu.”»
Doa ini bukan untuk mengundang kematian.
Doa ini adalah bentuk penyerahan seorang hamba sebelum beristirahat.
19. Dzikir Taubat dan Penyelesaian Amanah
Setelah Maghrib atau Isya, bacalah dengan tenang:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Yā Ghaffār 33 kali
يَا غَفَّارُ
Yā Ghaffār.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Mengampuni berulang kali.”»
Yā Tawwāb 33 kali
يَا تَوَّابُ
Yā Tawwāb.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Menerima taubat.”»
Yā Hādī 33 kali
يَا هَادِي
Yā Hādī.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Memberikan petunjuk.”»
Yā Ḥasīb 33 kali
يَا حَسِيْبُ
Yā Ḥasīb.
Artinya:
«“Wahai Yang Maha Mencukupi dan Maha Menghitung seluruh amal.”»
Setelah itu, berdoalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى التَّوْبَةِ الصَّادِقَةِ، وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَقَضَاءِ الدَّيْنِ، وَرَدِّ الْمَظَالِمِ، وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Allāhumma a‘innī ‘alat-taubatiṣ-ṣādiqah, wa adā’il-amānah, wa qaḍā’id-dain, wa raddil-maẓālim, wa ḥusnil-khātimah.
Artinya:
«“Ya Alloh, tolonglah aku untuk menjalani taubat yang jujur, menunaikan amanah, menyelesaikan utang, mengembalikan hak orang yang terzalimi, dan memperoleh akhir kehidupan yang baik.”»
Dzikir ini tidak menggantikan tindakan nyata.
Setelah berdoa, buatlah daftar amanah yang harus diselesaikan.
20. Daftar Perbaikan Kehidupan
Tulislah dalam sebuah buku:
Hubunganku dengan Alloh
- Apakah sholatku perlu diperbaiki?
- Apakah ada dosa yang terus kuulangi?
- Apakah aku masih menunda taubat?
Hubunganku dengan Manusia
- Siapa yang pernah kusakiti?
- Apakah ada orang yang perlu kumintai maaf?
- Apakah ada dendam yang perlu kulepaskan?
Amanah dan Harta
- Apakah ada utang?
- Apakah ada barang titipan?
- Apakah dokumen penting sudah tertata?
- Apakah keluargaku mengetahui urusan penting?
Keluarga
- Apakah aku telah memberi nafkah sesuai kemampuan?
- Apakah aku mendengarkan pasangan dan anak?
- Apakah aku masih memiliki waktu untuk orang tua?
Kesehatan
- Apakah aku merusak tubuh dengan kebiasaan buruk?
- Apakah ada keluhan yang terus kutunda pemeriksaannya?
- Apakah tidur dan makananku cukup teratur?
Manfaat
- Ilmu apa yang dapat kuajarkan?
- Siapa yang dapat kubantu?
- Kebaikan apa yang dapat kutinggalkan?
Jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu hari.
Pilih satu langkah, lalu lakukan secara istiqamah.
21. Pesan untuk Saudara cahayaku
Saudara cahayaku, persiapan menghadapi ajal bukan berarti saudara harus hidup dalam bayangan kematian.
Persiapkan ajal dengan menjadi suami, ayah, anak, saudara, tetangga, dan hamba Alloh yang lebih baik.
Jagalah tubuh agar kuat beribadah.
Carilah rezeki halal agar keluarga terpelihara.
Selesaikan utang agar hati lebih lapang.
Mintalah maaf agar hubungan tidak dipenuhi penyesalan.
Bersedekahlah agar hidup memberi manfaat.
Belajarlah agar pikiran tidak mudah ditipu.
Berdoalah agar hati tetap terhubung kepada Alloh.
Jangan menunggu datangnya sakit berat untuk mengatakan kasih sayang.
Jangan menunggu pemakaman untuk menghargai seseorang.
Jangan menunggu kehilangan untuk meminta maaf.
Jangan menunggu usia tua untuk memperbaiki diri.
Kebaikan yang dapat dilakukan sekarang adalah bekal terbaik.
Kesimpulan Lembar Kelima
Mempersiapkan kematian bukan menolak kehidupan.
Mempersiapkan kematian berarti menjalani kehidupan dengan lebih benar.
Taubat membersihkan arah perjalanan.
Penyelesaian utang menjaga amanah.
Permintaan maaf memperbaiki hubungan.
Wasiat mencegah perselisihan.
Pendidikan keluarga meninggalkan warisan akhlak.
Amal jariyah memperpanjang manfaat.
Menjaga kesehatan menghormati amanah tubuh.
Mengingat mati mengurangi kesombongan.
Karena itu:
Jangan menunggu ajal untuk menyelesaikan amanah.
Jangan menunggu kehilangan untuk mengucapkan kasih sayang.
Jangan menunggu tua untuk bertaubat.
Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan menunggu orang lain meminta maaf untuk membersihkan hati.
Hari ini masih terbuka.
Selama napas masih diberikan, jalan perbaikan belum ditutup.
Doa Penutup Lembar Kelima
Ya Alloh, bukakan bagi saudara cahayaku dan keluarganya pintu taubat yang jujur, hati yang lembut, serta kekuatan untuk menyelesaikan seluruh amanah.
Apabila terdapat utang, berikan rezeki dan kemampuan untuk membayarnya.
Apabila terdapat hak orang lain, berikan keberanian untuk mengembalikannya.
Apabila terdapat hubungan yang retak, bukakan jalan perdamaian yang baik.
Apabila terdapat kesalahan, berikan kerendahan hati untuk meminta maaf.
Apabila terdapat dendam, bersihkan hati tanpa menghilangkan kebijaksanaan.
Jagalah keluarga mereka dari perselisihan, perebutan harta, dan kesalahpahaman.
Ajarkan mereka bermusyawarah, saling menolong, dan menjaga amanah.
Jadikan anak-anak serta keturunan mereka sebagai penerus kebaikan, bukan penerus permusuhan.
Anugerahkan umur yang penuh manfaat, tubuh yang sehat, rezeki yang halal, dan hati yang tidak lalai.
Jangan jadikan ingatan tentang kematian sebagai sumber keputusasaan.
Jadikanlah ia cahaya yang membimbing kehidupan.
Bimbing kami agar bertaubat sebelum terlambat, menyelesaikan amanah sebelum dipanggil, serta meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir.
Hidupkan kami dalam iman.
Peliharalah kami dalam ketaatan.
Wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridhoi.
Ampunilah kami, kedua orang tua kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin serta Muslimat.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Keenam
Ketika Ajal Mendekat: Mendampingi, Melepaskan, dan Menjaga yang Ditinggalkan
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menghidupkan setiap makhluk menurut kehendak-Nya, menetapkan perjalanan hidup dengan ilmu-Nya, dan memanggil kembali setiap jiwa pada waktu yang telah ditentukan.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh orang yang menghadapi kehidupan dan kematian dengan iman, kasih sayang, kesabaran, dan adab.
Saudara cahayaku, setelah membahas taubat, amanah, utang, keluarga, serta amal yang terus mengalir, sampailah kita pada pembahasan yang sangat halus:
“Apa yang harus dilakukan ketika seseorang berada dalam keadaan sakit berat atau mendekati akhir kehidupan?”
Pembahasan ini tidak dimaksudkan untuk membuat hati takut.
Pembahasan ini bertujuan agar manusia tidak panik, tidak bertindak berdasarkan dugaan, dan tidak kehilangan adab ketika mendampingi orang yang sedang berada dalam keadaan lemah.
1. Jangan Terburu-buru Menyatakan Ajal Telah Dekat
Tidak setiap orang yang tidak sadarkan diri sedang menghadapi kematian.
Tidak setiap napas berat merupakan tanda ajal.
Tidak setiap orang yang tiba-tiba lemah telah memasuki sakaratul maut.
Beberapa keadaan seperti gangguan jantung, stroke, kadar gula yang sangat rendah, infeksi berat, keracunan, dehidrasi, kejang, atau gangguan pernapasan dapat terlihat sangat mengkhawatirkan, tetapi masih membutuhkan dan mungkin merespons pertolongan medis.
Karena itu, apabila seseorang:
- tiba-tiba tidak sadarkan diri;
- mengalami sesak berat;
- nyeri dada;
- mengalami kelumpuhan mendadak;
- kejang;
- mengalami perdarahan;
- sulit dibangunkan;
- atau menunjukkan perubahan kondisi yang sangat cepat,
jangan hanya membacakan doa sambil menunggu.
Segeralah mencari pertolongan medis.
Doa tetap dibaca, tetapi ikhtiar penyelamatan tidak boleh ditinggalkan.
Jangan menganggap seseorang telah meninggal hanya berdasarkan perasaan, mimpi, atau penglihatan batin.
Kematian perlu dipastikan oleh orang yang memiliki kewenangan dan pengetahuan.
2. Menjaga Ketenangan di Sekitar Orang Sakit
Orang yang sedang sakit berat membutuhkan suasana yang tenang.
Jangan mengelilinginya dengan tangisan keras, teriakan, perdebatan, atau pembicaraan yang menakutkan.
Jangan membicarakan pembagian harta di hadapannya.
Jangan mengatakan:
“Sepertinya waktunya sudah dekat.”
“Tanda-tandanya sudah terlihat.”
“Mungkin sebentar lagi selesai.”
Meskipun orang sakit terlihat tidak merespons, kita tidak mengetahui apa yang masih dapat ia dengar dan rasakan.
Karena itu, jagalah ucapan.
Ucapkan kalimat yang menguatkan:
“Kami berada di sini.”
“Tenanglah, kami menjaga.”
“Semoga Alloh memberikan kemudahan.”
“Maafkan kami, kami juga memaafkan.”
Ketenangan keluarga dapat menjadi hadiah besar bagi orang yang sedang berada dalam kelemahan.
3. Jangan Memaksa Orang Sakit Berbicara
Kadang-kadang keluarga ingin orang sakit terus menjawab pertanyaan:
“Masih mengenali saya?”
“Apa pesan terakhirnya?”
“Siapa yang akan menerima barang ini?”
“Apakah sudah memaafkan kami?”
Apabila tubuhnya sangat lemah, pertanyaan berulang dapat membuatnya semakin lelah.
Berikan ruang untuk bernapas dan beristirahat.
Apabila ada urusan penting, sampaikan secara singkat dan lembut.
Jangan memaksa orang sakit memberikan pesan panjang, mengurus pembagian harta, atau menyelesaikan konflik besar ketika kesadarannya sudah menurun.
Amanah seharusnya diselesaikan ketika manusia masih sehat dan pikirannya jernih.
4. Mengingatkan Kalimat Tauhid dengan Lembut
Apabila keadaan memungkinkan, orang yang sakit dapat diingatkan kepada Alloh dengan suara lembut.
Ucapkan kalimat tauhid tanpa memaksa:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Lā ilāha illalloh.
Tidak perlu berteriak di dekat telinga.
Tidak perlu memaksa orang sakit menirukan berkali-kali.
Jangan mengguncang tubuhnya.
Jangan membuatnya merasa gagal apabila lidahnya tidak mampu bergerak.
Alloh mengetahui keadaan hati dan kelemahan tubuh hamba-Nya.
Kalimat tauhid cukup dibacakan dengan tenang agar suasana di sekitarnya dipenuhi ingatan kepada Alloh.
Bacaan Al-Qur’an dan doa juga hendaknya dilakukan dengan adab, bukan dijadikan pertunjukan atau perlombaan suara.
5. Meminta Maaf dan Memberikan Maaf
Saat keadaan menjadi berat, keluarga sering teringat kesalahan masa lalu.
Apabila memungkinkan, sampaikan dengan sederhana:
“Maafkan semua kesalahan kami.”
“Kami memaafkan segala kekeliruan.”
“Kami ridho dan menyerahkan semuanya kepada Alloh.”
Jangan menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka kembali pertengkaran lama.
Jangan memaksa orang sakit mengakui seluruh kesalahannya satu per satu.
Permintaan maaf bertujuan melegakan hati, bukan mengadili orang yang sedang lemah.
Apabila ada urusan hukum, utang, atau hak manusia, catat dan selesaikan setelahnya dengan cara yang benar.
6. Tidak Semua Orang Meninggal dengan Cara yang Sama
Ada orang yang wafat dengan tenang.
Ada yang mengalami napas berat.
Ada yang tampak gelisah.
Ada yang tidak sadar dalam waktu lama.
Ada yang wafat secara tiba-tiba.
Perbedaan keadaan tersebut tidak boleh langsung dijadikan ukuran tentang baik atau buruknya kedudukan seseorang di hadapan Alloh.
Jangan berkata:
“Karena wajahnya terlihat begini, berarti ia pasti…”
“Karena prosesnya lama, berarti dosanya banyak.”
“Karena wafatnya cepat, berarti pasti mulia.”
Penilaian akhir adalah hak Alloh.
Manusia hanya dapat mendoakan, mengambil pelajaran, dan menjaga adab.
7. Jangan Merekam Saat-saat Terakhir Tanpa Kebutuhan
Saat seseorang berada dalam keadaan paling lemah, kehormatannya harus dijaga.
Jangan merekam napas terakhir, wajah yang sedang kesakitan, atau tubuh yang tidak berdaya hanya untuk dibagikan kepada orang lain.
Jangan menyebarkan foto atau video tanpa mempertimbangkan martabat orang tersebut dan perasaan keluarganya.
Kematian bukan tontonan.
Kesedihan keluarga bukan bahan untuk mencari perhatian.
Apabila dokumentasi diperlukan untuk kepentingan tertentu, lakukan dengan sangat terbatas dan bertanggung jawab.
8. Ketika Kematian Telah Dipastikan
Apabila kematian telah dipastikan, keluarga boleh menangis.
Air mata bukan tanda lemahnya iman.
Kesedihan adalah bagian dari kasih sayang.
Namun jagalah diri dari ucapan yang menentang ketetapan Alloh, menyalahkan orang tanpa dasar, atau melukai diri sendiri.
Ucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artinya:
“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”
Kemudian bacalah:
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Allāhumma’jurnī fī muṣībatī, wakhluf lī khairan minhā.
Artinya:
“Ya Alloh, berilah pahala kepadaku dalam musibah ini dan gantilah bagiku dengan kebaikan.”
Doa tersebut bukan berarti orang yang wafat dapat digantikan kedudukannya secara perasaan.
Maknanya adalah memohon agar Alloh mengganti kehilangan dengan kesabaran, kekuatan, perlindungan, dan kebaikan yang lain.
9. Segera Menjaga Kehormatan Jenazah
Setelah kematian dipastikan, tubuh jenazah harus diperlakukan dengan hormat.
Tutup auratnya.
Jaga kebersihan dan kehormatannya.
Hindarkan dari kerumunan yang tidak diperlukan.
Jangan membuka tubuh hanya karena rasa ingin tahu.
Jangan mengambil foto secara sembarangan.
Jangan menjadikan keadaan tubuh sebagai bahan pembicaraan.
Hubungi keluarga dan orang yang memahami pengurusan jenazah.
Pengurusan jenazah sebaiknya dilakukan sesuai tuntunan agama, dengan sederhana, tertib, dan tidak memberatkan keluarga.
10. Jangan Memberatkan Keluarga dengan Upacara
Keluarga yang baru kehilangan sedang berada dalam keadaan lemah.
Jangan membebani mereka dengan tuntutan jamuan besar, biaya berlebihan, hiasan, atau kebiasaan yang membuat mereka harus berutang.
Kedatangan pelayat seharusnya meringankan, bukan menambah beban.
Orang yang datang dapat membantu dengan:
- membawa makanan;
- membantu menerima tamu;
- mengatur kendaraan;
- membantu dokumen;
- menjaga anak-anak;
- membersihkan rumah;
- menghubungi keluarga;
- membantu urusan pemakaman;
- atau memberikan dukungan secara diam-diam.
Duka tidak perlu dihiasi kemewahan.
Yang dibutuhkan adalah doa, pertolongan, dan kebersamaan.
11. Jangan Berebut Harta Saat Tanah Kubur Belum Kering
Salah satu ujian terbesar setelah kematian adalah harta.
Ada keluarga yang belum selesai mengurus pemakaman, tetapi sudah memperdebatkan warisan.
Ada yang mengambil barang secara diam-diam.
Ada yang menyembunyikan dokumen.
Ada yang menguasai rekening.
Ada yang memaksa pembagian sebelum utang dan amanah diperiksa.
Perbuatan seperti ini dapat menghancurkan keluarga.
Setelah seseorang wafat, periksa terlebih dahulu:
- biaya pengurusan yang wajar;
- utang;
- barang titipan;
- kewajiban yang belum selesai;
- wasiat yang sah;
- baru kemudian urusan warisan diselesaikan sesuai ketentuan yang benar.
Jangan membagi harta hanya berdasarkan siapa yang paling kuat, paling tua, atau paling dekat.
Gunakan ilmu, musyawarah, dan bantuan orang yang memahami agama serta hukum.
12. Anak-anak Juga Mengalami Duka
Ketika ada kematian dalam keluarga, anak-anak sering dianggap tidak mengerti.
Padahal mereka dapat merasakan perubahan suasana, kehilangan, ketakutan, dan kebingungan.
Jelaskan dengan bahasa yang jujur dan lembut.
Jangan berkata bahwa orang yang meninggal hanya sedang tidur, karena anak dapat menjadi takut tidur.
Katakan bahwa ia telah wafat dan kembali kepada Alloh.
Jangan memberikan gambaran yang menakutkan.
Biarkan anak bertanya.
Jangan memaksa mereka menangis.
Jangan pula melarang mereka menangis.
Setiap anak mempunyai cara berbeda dalam memahami kehilangan.
Jagalah rutinitas, makanan, tidur, sekolah, dan rasa aman mereka.
13. Duka Tidak Memiliki Waktu yang Sama bagi Setiap Orang
Ada orang yang menangis terus-menerus pada hari pertama.
Ada yang terlihat kuat, tetapi baru merasakan kehilangan beberapa minggu kemudian.
Ada yang sering memimpikan almarhum.
Ada yang merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf.
Ada yang merasa marah.
Ada yang merasa kosong.
Semua reaksi tersebut dapat muncul dalam proses berduka.
Jangan berkata:
“Sudahlah, jangan menangis.”
“Harusnya sudah ikhlas.”
“Orang beriman tidak boleh terlalu sedih.”
Keikhlasan bukan berarti tidak memiliki rasa kehilangan.
Ikhlas berarti berusaha menerima ketetapan Alloh sambil tetap mengakui bahwa hati sedang terluka.
14. Menangis Boleh, Menyakiti Diri Tidak Boleh
Air mata dapat menjadi jalan tubuh melepaskan tekanan.
Namun jangan menyakiti diri, memukul tubuh, atau melakukan tindakan yang membahayakan.
Jangan mengemudi dalam keadaan sangat terguncang.
Jangan menggunakan obat penenang tanpa pengawasan.
Jangan melarikan diri kepada minuman keras atau zat berbahaya.
Apabila kesedihan terasa tidak tertahankan, mintalah seseorang untuk menemani.
Makanlah meskipun sedikit.
Minumlah.
Cobalah tidur.
Jangan terus menyendiri.
Tubuh yang lemah dapat membuat kesedihan terasa semakin berat.
15. Rasa Bersalah Setelah Kehilangan
Setelah seseorang wafat, sering muncul pikiran:
“Seandainya saya datang lebih cepat.”
“Seandainya saya memaksanya berobat.”
“Seandainya saya tidak mengatakan kalimat itu.”
“Seandainya saya lebih memperhatikannya.”
Sebagian penyesalan dapat menjadi pelajaran.
Namun jangan menjadikan “seandainya” sebagai siksaan tanpa akhir.
Manusia mengambil keputusan dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya saat itu.
Apabila memang ada kesalahan, bertaubatlah.
Doakan orang yang wafat.
Perbaiki perlakuan kepada keluarga yang masih hidup.
Jadikan penyesalan sebagai perubahan, bukan sebagai hukuman kepada diri sendiri.
16. Mendoakan Orang yang Telah Wafat
Doa merupakan hadiah yang dapat terus diberikan.
Bacalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan keselamatan kepadanya, dan maafkanlah dia.”
Untuk perempuan, lafaznya dapat disesuaikan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Allāhummaghfir lahā warḥamhā wa ‘āfihā wa‘fu ‘anhā.
Doa tidak harus selalu panjang.
Doa yang singkat, tulus, dan istiqamah lebih baik daripada bacaan panjang yang hanya dilakukan untuk dilihat manusia.
17. Sedekah Atas Nama Orang yang Wafat
Keluarga dapat meneruskan kebaikan melalui sedekah.
Misalnya:
- membantu orang miskin;
- memberikan makanan;
- mendukung pendidikan;
- memberikan mushaf atau buku;
- membantu sumber air;
- menanam pohon;
- membantu pengobatan;
- atau mendukung fasilitas umum.
Tidak harus membuat bangunan besar.
Jangan sampai sedekah atas nama almarhum justru menimbulkan utang dan pertengkaran.
Sesuaikan dengan kemampuan.
Yang dicari adalah manfaat dan keikhlasan.
18. Mimpi Bertemu Orang yang Telah Wafat
Dalam masa duka, seseorang dapat bermimpi bertemu orang yang telah wafat.
Mimpi tersebut dapat muncul karena rasa rindu, ingatan yang kuat, kesedihan, atau proses pikiran menerima kehilangan.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap mimpi merupakan pesan pasti dari alam gaib.
Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan mimpi.
Apabila mimpi membawa ketenangan, syukurilah dan doakan almarhum.
Apabila mimpi menakutkan, berlindunglah kepada Alloh dan jangan terus-menerus memikirkannya.
Ukuran kebenaran tetaplah agama, akal sehat, dan kenyataan, bukan mimpi semata.
19. Jangan Memanggil Ruh Orang yang Telah Wafat
Rasa rindu terkadang membuat seseorang ingin memanggil, menghadirkan, atau berkomunikasi dengan ruh orang yang telah meninggal.
Jalan seperti ini sebaiknya tidak ditempuh.
Ruh adalah urusan Alloh.
Manusia tidak perlu melakukan ritual pemanggilan, menggunakan perantara, atau membayar orang yang mengaku dapat menghadirkan almarhum.
Hal tersebut dapat membuka penipuan, ketergantungan, ketakutan, dan kesesatan.
Hubungan yang sehat dengan orang yang telah wafat dilakukan melalui:
- doa;
- sedekah;
- meneruskan kebaikannya;
- menjaga silaturahmi;
- dan mengambil pelajaran dari kehidupannya.
20. Merawat Barang Peninggalan dengan Bijaksana
Barang peninggalan dapat menyimpan kenangan.
Tidak salah menyimpan foto, pakaian, tulisan, atau benda tertentu.
Namun jangan sampai seluruh rumah dibiarkan seperti saat orang tersebut masih hidup sehingga keluarga tidak mampu bergerak maju.
Pilih beberapa barang yang bermakna.
Bagikan barang yang masih bermanfaat.
Selesaikan urusan kepemilikan dengan adil.
Jangan membuang semuanya dalam keadaan emosi.
Jangan pula menjadikan benda peninggalan sebagai sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan gaib tanpa dasar.
Barang tetaplah barang.
Nilai utamanya berada pada kenangan dan manfaatnya.
21. Menjaga Pasangan yang Ditinggalkan
Suami atau istri yang kehilangan pasangan dapat mengalami perubahan besar:
- kehilangan teman bicara;
- perubahan penghasilan;
- tanggung jawab baru;
- kesepian;
- kesulitan mengurus anak;
- serta tekanan dari lingkungan.
Jangan memaksanya segera terlihat kuat.
Jangan pula mendesaknya mengambil keputusan pernikahan atau harta ketika masa dukanya masih berat.
Bantulah urusan nyata.
Temani dalam mengurus dokumen.
Pastikan kebutuhan makan, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan anak tetap terjaga.
Dukungan yang nyata lebih berarti daripada nasihat panjang.
22. Menjaga Orang Tua yang Kehilangan Anak
Kehilangan anak dapat menjadi luka yang sangat dalam.
Jangan berkata:
“Masih bisa punya anak lagi.”
“Setidaknya masih punya anak yang lain.”
Setiap anak mempunyai tempatnya sendiri di hati orang tua.
Tidak ada anak yang dapat menggantikan anak yang lain.
Dengarkan kesedihan mereka.
Jangan memaksa mereka segera melupakan.
Bantu mereka menjaga kesehatan.
Perhatikan hubungan suami istri, karena keduanya dapat berduka dengan cara berbeda.
Yang satu mungkin banyak menangis.
Yang lain mungkin menjadi diam.
Perbedaan cara berduka tidak selalu berarti kurang mencintai.
23. Ketika Duka Menjadi Terlalu Berat
Carilah pertolongan apabila setelah kehilangan seseorang:
- tidak mampu makan dalam waktu lama;
- tidak dapat tidur sama sekali;
- terus merasa hidup tidak layak dijalani;
- mendengar perintah untuk menyakiti diri;
- menggunakan zat berbahaya;
- terus menyalahkan diri;
- tidak mampu menjalankan kegiatan dasar;
- atau muncul keinginan mengakhiri hidup.
Keadaan tersebut membutuhkan pendampingan segera.
Berbicara dengan dokter, psikolog, ulama yang bijaksana, atau keluarga bukan tanda lemahnya iman.
Duka dapat memengaruhi tubuh dan pikiran.
Pertolongan adalah bagian dari ikhtiar.
24. Dzikir bagi Keluarga yang Berduka
Bacalah setelah sholat atau ketika hati terasa berat:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Yā Ṣabūr 33 kali
يَا صَبُوْرُ
Yā Ṣabūr.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Memberikan kesabaran.”
Yā Laṭīf 33 kali
يَا لَطِيْفُ
Yā Laṭīf.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Lembut.”
Yā Salām 33 kali
يَا سَلَامُ
Yā Salām.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Memberikan ketenteraman.”
Kemudian berdoalah:
اللَّهُمَّ ارْبِطْ عَلَى قُلُوْبِنَا، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا صَبْرَكَ وَسَكِيْنَتَكَ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا، وَارْحَمْهُمْ بِرَحْمَتِكَ
Allāhummarbiṭ ‘alā qulūbinā, wa anzil ‘alainā ṣabraka wa sakīnataka, waghfir limautānā, warḥamhum biraḥmatik.
Artinya:
“Ya Alloh, teguhkanlah hati kami, turunkanlah kesabaran dan ketenteraman-Mu kepada kami, ampunilah orang-orang kami yang telah wafat, dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.”
25. Pesan untuk Saudara Cahayaku
Saudara cahayaku, ketika kematian datang kepada orang yang kita cintai, kita mungkin merasa seolah-olah sebagian dari kehidupan ikut hilang.
Namun kasih sayang tidak harus berakhir bersama pemakaman.
Kasih sayang berubah bentuk.
Dahulu kita merawat tubuhnya.
Setelah ia wafat, kita merawat namanya.
Dahulu kita berbicara dengannya.
Setelah ia wafat, kita mendoakannya.
Dahulu kita memberi makanan.
Setelah ia wafat, kita bersedekah atas namanya.
Dahulu kita menjaga rumah bersamanya.
Setelah ia wafat, kita menjaga keluarga yang ditinggalkannya.
Inilah cara cinta terus berjalan tanpa melanggar batas yang telah ditetapkan Alloh.
Kesimpulan Lembar Keenam
Ketika seseorang sakit berat, jangan tergesa-gesa menyatakan ajal telah dekat.
Carilah pertolongan medis ketika keadaan darurat.
Dampingi dengan tenang.
Jangan menakut-nakuti.
Ingatkan kepada Alloh dengan lembut.
Jaga kehormatannya.
Setelah kematian dipastikan, izinkan keluarga berduka tanpa kehilangan adab.
Urus jenazah dengan sederhana dan hormat.
Selesaikan utang serta amanah sebelum membagi warisan.
Lindungi pasangan, anak, orang tua, dan keluarga yang ditinggalkan.
Doakan orang yang wafat.
Teruskan kebaikannya.
Jangan memanggil ruhnya.
Jangan menjadikan mimpi sebagai kepastian.
Jangan menjadikan kematian sebagai tontonan.
Dan jangan memaksa hati untuk sembuh dalam satu malam.
Duka memerlukan waktu.
Iman memberikan arah.
Keluarga memberikan pelukan.
Ilmu memberikan tuntunan.
Doa memberikan hubungan.
Rahmat Alloh memberikan harapan.
Doa Penutup Lembar Keenam
Ya Alloh, mudahkanlah keadaan setiap hamba yang sedang sakit berat.
Kurangi rasa sakitnya.
Tenangkan hatinya.
Pertemukan ia dengan pertolongan yang tepat.
Apabila Engkau menetapkan kesembuhan, sempurnakanlah kesembuhannya.
Apabila Engkau menetapkan akhir perjalanannya, mudahkanlah, ampuni, dan rahmatilah ia.
Ya Alloh, kuatkan keluarga yang mendampingi.
Jauhkan mereka dari kepanikan, pertengkaran, penyesalan yang berlebihan, dan keputusan yang merugikan.
Ajarkan mereka menjaga ucapan, kehormatan, dan amanah.
Ya Alloh, rahmatilah seluruh orang yang telah mendahului kami.
Ampunilah kesalahan mereka.
Terimalah amal baik mereka.
Lapangkanlah tempat mereka dalam rahmat-Mu.
Jadikan doa anak, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mencintai mereka sebagai cahaya kebaikan.
Ya Alloh, sembuhkan hati orang-orang yang berduka.
Berikan kekuatan kepada pasangan yang kehilangan.
Peluklah hati orang tua yang ditinggalkan anaknya.
Jaga anak-anak yang kehilangan orang tuanya.
Cukupkan kebutuhan keluarga yang kehilangan pencari nafkahnya.
Jauhkan mereka dari perebutan harta, penipuan, dan permusuhan.
Jadikan kehilangan sebagai jalan tumbuhnya kasih sayang, bukan perpecahan.
Jadikan ingatan kepada kematian sebagai jalan memperbaiki kehidupan.
Hidupkan kami dalam iman.
Wafatkan kami dalam penyerahan kepada-Mu.
Kumpulkan kami bersama orang-orang yang kami cintai di dalam rahmat dan ampunan-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Ketujuh
Husnul Khotimah dan Rahasia Akhir Perjalanan
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang membolak-balikkan hati, membuka pintu taubat, menerima amal hamba, dan mengetahui keadaan setiap jiwa ketika kembali kepada-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang menjaga iman, amal, dan pengharapan kepada rahmat Alloh sampai akhir kehidupannya.
Saudara cahayaku, setiap orang beriman tentu menginginkan akhir kehidupan yang baik.
Keinginan tersebut sering disebut sebagai harapan memperoleh husnul khotimah.
Namun husnul khotimah tidak boleh dipahami hanya sebagai keadaan lahiriah ketika seseorang wafat.
Husnul khotimah bukan sekadar wajah yang tampak tenang.
Bukan sekadar wafat pada hari tertentu.
Bukan sekadar banyaknya orang yang menghadiri pemakaman.
Bukan pula berdasarkan mimpi, aroma, cahaya, atau kejadian luar biasa yang dikisahkan manusia.
Husnul khotimah adalah rahasia antara hamba dan Alloh.
Manusia boleh berharap, mendoakan, dan melihat tanda kebaikan, tetapi tidak boleh memastikan kedudukan akhir seseorang tanpa ilmu dari Alloh.
1. Makna Husnul Khotimah
Husnul khotimah berarti akhir kehidupan yang berada dalam kebaikan, iman, taubat, dan keridhoan Alloh.
Seseorang dapat berharap memperoleh husnul khotimah apabila ia:
- menjaga tauhid;
- berusaha menunaikan kewajiban;
- bertaubat dari kesalahan;
- tidak sengaja mempertahankan kezaliman;
- menyelesaikan amanah;
- menjaga hubungan dengan sesama;
- serta meninggal dalam keadaan mengharap rahmat Alloh.
Namun keputusan terakhir tetap milik Alloh.
Karena itu, orang beriman tidak boleh merasa pasti selamat hanya karena banyak beramal.
Ia juga tidak boleh merasa pasti binasa hanya karena pernah melakukan dosa.
Selama hidup masih ada, pintu taubat masih terbuka.
2. Jangan Meremehkan Dosa Kecil
Dosa kecil yang terus dilakukan tanpa penyesalan dapat menumpuk dan mengeraskan hati.
Seseorang mungkin merasa:
“Ini hanya ucapan kecil.”
“Ini hanya kebohongan ringan.”
“Ini hanya mengambil sedikit hak orang.”
“Ini hanya mempermalukan orang lain.”
Namun kebiasaan meremehkan kesalahan dapat menjadikan hati kehilangan kepekaan.
Sebaliknya, kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sebab datangnya rahmat.
Memberi minum.
Menolong orang menyeberang.
Menghapus kesedihan.
Menahan ucapan kasar.
Memaafkan.
Mengembalikan barang yang bukan miliknya.
Semua itu dapat menjadi amal yang besar di sisi Alloh.
Karena itu, jangan meremehkan dosa kecil dan jangan pula meremehkan kebaikan kecil.
3. Amal Terakhir Tidak Dapat Direncanakan Secara Pasti
Sebagian orang berkata:
“Saya ingin meninggal ketika sedang sholat.”
“Saya ingin wafat ketika sedang membaca Al-Qur’an.”
Keinginan tersebut baik sebagai doa.
Namun manusia tidak dapat mengatur dengan pasti kapan dan dalam keadaan apa kematian datang.
Yang dapat dilakukan adalah memperbanyak waktu dalam kebaikan.
Semakin sering seseorang berada dalam ketaatan, semakin besar harapannya agar akhir hidupnya berada dalam kebaikan.
Orang yang setiap hari menjaga sholat, bekerja dengan jujur, menolong keluarga, dan menjauhi kezaliman sedang menyiapkan jalan husnul khotimah.
Bukan dengan menebak waktu kematian, tetapi dengan memenuhi kehidupan dengan amal.
4. Kebiasaan Harian Membentuk Akhir Kehidupan
Akhir kehidupan sering berkaitan dengan kebiasaan yang dipelihara.
Lidah yang terbiasa berdzikir akan lebih mudah mengingat Alloh.
Hati yang terbiasa bersyukur akan lebih mudah menerima ketetapan.
Tangan yang terbiasa menolong akan meninggalkan manfaat.
Namun lidah yang terbiasa mencaci akan sulit menjadi lembut.
Hati yang terbiasa iri akan sulit merasa lapang.
Tangan yang terbiasa mengambil hak orang lain akan membawa banyak amanah yang belum selesai.
Karena itu, persiapan husnul khotimah dimulai dari kebiasaan yang tampak sederhana:
- menjaga ucapan;
- sholat tepat waktu;
- mengembalikan hak;
- meminta maaf;
- membaca doa;
- menahan amarah;
- menjaga makanan yang halal;
- bekerja dengan jujur;
- serta menyayangi keluarga.
5. Jangan Merasa Aman karena Banyak Amal
Salah satu bahaya besar adalah merasa diri sudah cukup baik.
Seseorang berkata:
“Saya sudah banyak berdzikir.”
“Saya sudah sering bersedekah.”
“Saya sudah membantu banyak orang.”
Kemudian ia mulai merendahkan orang lain.
Amal yang seharusnya mendekatkan kepada Alloh justru menumbuhkan kesombongan.
Orang yang berharap husnul khotimah hendaknya selalu merasa membutuhkan pertolongan Alloh.
Ia tidak membanggakan amalnya.
Ia takut amalnya tercampur riya.
Ia terus memperbaiki niat.
Ia tidak menggunakan agama untuk menguasai atau menakut-nakuti orang lain.
Semakin banyak amal, seharusnya semakin lembut akhlaknya.
6. Jangan Putus Asa karena Banyak Dosa
Sebaliknya, ada orang yang merasa dosanya terlalu banyak sehingga tidak mungkin diampuni.
Ia berkata:
“Saya sudah terlalu jauh.”
“Alloh pasti tidak menerima saya.”
“Tidak ada gunanya saya berubah.”
Putus asa seperti ini harus dilawan.
Rahmat Alloh lebih luas daripada dosa manusia.
Taubat yang jujur dapat mengubah arah kehidupan.
Orang yang dahulu jauh dapat menjadi dekat.
Orang yang dahulu kasar dapat menjadi lembut.
Orang yang dahulu mengambil hak orang dapat mengembalikannya.
Orang yang dahulu lalai dapat memperbaiki sholatnya.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada Alloh.
Kembalilah kepada Alloh agar perlahan-lahan diperbaiki.
7. Tanda Lahir Tidak Menjadi Kepastian
Ketika seseorang wafat, manusia sering mencari tanda-tanda.
Ada yang melihat wajahnya.
Ada yang mencium aroma tertentu.
Ada yang memperhatikan cuaca.
Ada yang menghubungkan hari wafat dengan kedudukan ruhani.
Semua itu tidak boleh dijadikan kepastian.
Wajah jenazah dapat berubah karena keadaan tubuh.
Aroma dapat berasal dari minyak, bunga, obat, atau proses alamiah.
Cuaca tidak menentukan kedudukan seseorang di akhirat.
Hari wafat juga bukan jaminan mutlak tentang keselamatan.
Seseorang boleh berharap baik dan mendoakan.
Namun jangan membuat cerita yang berlebihan.
Kehormatan orang yang wafat dijaga melalui doa dan penyebutan kebaikannya, bukan melalui kisah yang tidak dapat dipastikan.
8. Jangan Menghakimi Akhir Kehidupan Orang Lain
Ada orang wafat dalam keadaan yang tampak sulit.
Ada yang wafat karena kecelakaan.
Ada yang wafat sendirian.
Ada yang wafat setelah sakit panjang.
Jangan langsung berkata bahwa itu tanda buruk.
Kita tidak mengetahui isi hati, taubat, dan rahasia antara dirinya dengan Alloh.
Demikian pula, jangan memastikan seseorang pasti mulia hanya karena pemakamannya ramai atau banyak orang memujinya.
Pujian manusia dapat menjadi kesaksian baik, tetapi keputusan akhir tetap milik Alloh.
Adab seorang mukmin adalah berharap kebaikan, mendoakan ampunan, dan menahan diri dari penghakiman.
9. Waspadai Su’ul Khotimah dalam Kehidupan Sehari-hari
Su’ul khotimah berarti akhir kehidupan yang buruk.
Namun manusia tidak boleh sibuk menebak siapa yang akan mengalaminya.
Yang lebih penting adalah menghindari jalan-jalan yang dapat merusak akhir perjalanan.
Di antaranya:
- mempertahankan kezaliman;
- meremehkan sholat;
- memakan harta haram;
- menipu orang;
- memutus hubungan karena kesombongan;
- menolak taubat;
- mempermainkan agama;
- menyakiti orang tua;
- menzalimi pasangan dan anak;
- serta merasa tidak membutuhkan ampunan Alloh.
Jangan hanya takut kepada bentuk kematian.
Takutlah kepada keadaan hati yang jauh dari Alloh ketika kematian datang.
10. Menjaga Lisan Menjelang Akhir Kehidupan
Lisan adalah salah satu amanah terbesar.
Satu ucapan dapat menyembuhkan hati.
Satu ucapan dapat pula meninggalkan luka bertahun-tahun.
Orang yang mengharapkan akhir kehidupan yang baik hendaknya mengurangi:
- kebohongan;
- fitnah;
- penghinaan;
- gunjingan;
- sumpah palsu;
- ancaman;
- dan perkataan yang mengadu domba.
Gantilah dengan:
- salam;
- doa;
- nasihat lembut;
- permintaan maaf;
- ucapan terima kasih;
- pengakuan kesalahan;
- serta kalimat tauhid.
Jangan menunggu sakit berat untuk mengucapkan kata-kata yang baik.
11. Menjaga Harta agar Tidak Menjadi Beban
Harta dapat menjadi jalan ibadah atau menjadi beban pada akhir kehidupan.
Harta yang halal dan digunakan dengan benar dapat menolong keluarga serta sesama.
Namun harta yang diperoleh melalui penipuan, korupsi, riba, perampasan, atau pengkhianatan dapat menjadi amanah yang berat.
Sebelum ajal datang, periksalah:
- apakah penghasilan diperoleh dengan halal;
- apakah ada hak pekerja yang ditahan;
- apakah zakat dan kewajiban telah ditunaikan;
- apakah ada barang orang lain yang masih dikuasai;
- apakah pembagian nafkah sudah adil;
- apakah harta digunakan untuk merusak orang lain.
Husnul khotimah tidak hanya dibangun melalui dzikir.
Ia juga dibangun melalui kejujuran dalam harta.
12. Menjaga Hubungan dengan Orang Tua
Keridhoan orang tua merupakan amanah besar selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan.
Apabila orang tua masih hidup:
- kunjungilah;
- hubungilah;
- tanyakan keadaannya;
- bantu kebutuhannya;
- dengarkan ceritanya;
- dan jangan mempermalukannya.
Apabila orang tua telah wafat:
- doakan;
- lanjutkan kebaikannya;
- jaga hubungan dengan kerabatnya;
- dan selesaikan amanah yang ditinggalkannya.
Jangan menunda bakti karena mengira masih banyak waktu.
Penyesalan paling berat sering datang setelah kesempatan telah tertutup.
13. Menjaga Pasangan dan Anak
Seseorang tidak dapat disebut baik hanya karena ramah kepada orang luar, tetapi kasar di rumah.
Pasangan dan anak adalah orang yang paling sering merasakan akhlak asli kita.
Persiapan husnul khotimah juga berarti:
- tidak melakukan kekerasan;
- tidak menghina;
- memberi nafkah sesuai kemampuan;
- mendengarkan;
- mendidik dengan sabar;
- mengakui kesalahan;
- serta menciptakan rasa aman di rumah.
Jangan meninggalkan keluarga dengan luka yang seharusnya dapat disembuhkan saat kita masih hidup.
14. Memelihara Sholat sebagai Tiang Perjalanan
Sholat bukan hanya kewajiban harian.
Sholat adalah pertemuan hati dengan Alloh.
Orang yang menjaga sholat sedang mengingat bahwa ia adalah hamba.
Apabila sholat masih sering terlambat, perbaikilah perlahan-lahan.
Apabila bacaan belum sempurna, teruslah belajar.
Apabila hati belum khusyuk, jangan meninggalkan sholat.
Kekhusyukan tumbuh melalui latihan, pemahaman, dan kejujuran.
Jangan menunggu hati menjadi bersih untuk sholat.
Sholatlah agar hati dibersihkan.
15. Taubat Harian
Manusia melakukan kesalahan setiap hari.
Karena itu, taubat tidak cukup dilakukan sekali seumur hidup.
Sebelum tidur, tanyakan:
“Apakah hari ini saya menyakiti seseorang?”
“Apakah saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya?”
“Apakah saya meninggalkan kewajiban?”
“Apakah saya berkata kasar kepada keluarga?”
Kemudian mohon ampun dan tentukan langkah perbaikannya.
Taubat yang jujur selalu mempunyai tindakan.
Jika berbohong, luruskan.
Jika berutang, catat dan bayar.
Jika menyakiti, minta maaf.
Jika lalai, perbaiki.
16. Amal Tersembunyi
Amal tersembunyi dapat menjaga hati dari riya.
Lakukan satu kebaikan yang tidak diketahui orang lain.
Misalnya:
- memberikan bantuan secara diam-diam;
- mendoakan orang yang pernah menyakiti;
- membersihkan tempat umum;
- memberi makan hewan;
- membantu kerabat tanpa menyebut nama;
- atau menangis memohon ampun ketika sendirian.
Amal tersembunyi bukan untuk merasa lebih suci.
Ia adalah latihan agar hati belajar beramal hanya karena Alloh.
17. Berdoa Memohon Keteguhan Hati
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan pentingnya memohon keteguhan hati.
Bacalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Artinya:
“Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini mengingatkan bahwa hati manusia dapat berubah.
Jangan terlalu percaya kepada kekuatan diri sendiri.
Mintalah penjagaan Alloh setiap hari.
18. Doa Memohon Husnul Khotimah
Bacalah setelah sholat:
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ
Allāhummakhtim lanā biḥusnil-khātimah, wa lā takhtim ‘alainā bisū’il-khātimah.
Artinya:
“Ya Alloh, akhirilah kehidupan kami dengan akhir yang baik dan jangan Engkau akhiri kehidupan kami dengan akhir yang buruk.”
Kemudian bacalah:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba‘da idz hadaitanā wa hab lanā min ladunka raḥmah, innaka Antal-Wahhāb.
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
19. Dzikir Penjagaan Akhir Kehidupan
Amalan ini dapat dibaca setelah Subuh atau Maghrib.
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Yā Hādī 33 kali
يَا هَادِي
Yā Hādī.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Memberikan petunjuk.”
Yā Mu’min 33 kali
يَا مُؤْمِنُ
Yā Mu’min.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Memberikan keamanan dan keimanan.”
Yā Ḥafīẓ 33 kali
يَا حَفِيْظُ
Yā Ḥafīẓ.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menjaga.”
Yā Raḥmān 33 kali
يَا رَحْمٰنُ
Yā Raḥmān.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Pengasih.”
Setelah itu, berdoalah:
“Ya Alloh, jagalah imanku ketika sehat dan sakit, ketika lapang dan sempit, ketika muda dan tua. Jangan biarkan aku meninggalkan dunia dengan membawa kezaliman yang belum kuperbaiki. Bimbing aku agar kembali kepada-Mu dalam taubat, iman, dan pengharapan kepada rahmat-Mu.”
Amalan ini bukan jaminan otomatis memperoleh husnul khotimah.
Dzikir harus disertai perbaikan hidup.
20. Lima Penjagaan Menuju Akhir yang Baik
Pertama: Jaga Tauhid
Jangan menggantungkan keselamatan kepada benda, ramalan, atau manusia.
Pertolongan berasal dari Alloh.
Kedua: Jaga Sholat
Sholat menjadi pengingat arah kehidupan.
Ketiga: Jaga Hak Manusia
Jangan membawa utang, penipuan, dan kezaliman tanpa usaha menyelesaikannya.
Keempat: Jaga Hati
Kurangi iri, dendam, dan kesombongan.
Kelima: Jaga Harapan
Jangan putus asa terhadap rahmat Alloh.
Kelima penjagaan ini tidak dilakukan hanya ketika sakit.
Ia dijalankan sepanjang hidup.
21. Jangan Meminta Kematian karena Ujian
Ketika ujian terasa berat, seseorang mungkin berharap agar hidupnya segera berakhir.
Namun manusia tidak mengetahui kebaikan yang masih dapat tumbuh dari hari-hari berikutnya.
Mintalah kekuatan, bukan kematian.
Mintalah jalan keluar, bukan kehancuran diri.
Mintalah pendampingan apabila hati sudah terlalu berat.
Bacalah:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
Allāhumma aḥyinī mā kānatil-ḥayātu khairan lī, wa tawaffanī idzā kānatil-wafātu khairan lī.
Artinya:
“Ya Alloh, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”
Doa ini menyerahkan keputusan kepada Alloh, bukan meminta kematian karena putus asa.
22. Jangan Menilai Diri dari Masa Lalu Saja
Masa lalu adalah bagian dari perjalanan, tetapi bukan seluruh identitas manusia.
Seseorang yang dahulu melakukan dosa dapat menjadi orang yang bertaubat.
Seseorang yang dahulu lalai dapat menjadi penjaga sholat.
Seseorang yang dahulu keras dapat belajar meminta maaf.
Jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berubah.
Alloh melihat kejujuran langkah hari ini.
23. Waktu Terbaik Memulai adalah Sekarang
Jangan berkata:
“Besok saya akan memperbaiki diri.”
Hari esok belum tentu datang.
Namun jangan pula berkata:
“Semua sudah terlambat.”
Selama napas masih ada, belum terlambat untuk:
- sholat;
- meminta maaf;
- mengembalikan hak;
- berhenti merokok atau kebiasaan merusak;
- memeriksakan kesehatan;
- menghubungi orang tua;
- bersedekah;
- dan bertaubat.
Perbaikan tidak harus besar.
Satu langkah jujur hari ini lebih baik daripada seribu rencana yang terus ditunda.
24. Pesan untuk Saudara Cahayaku
Saudara cahayaku, jangan sibuk mencari tanda bahwa akhir kehidupan sudah dekat.
Carilah tanda bahwa hati sedang membaik.
Apakah ucapan menjadi lebih lembut?
Apakah sholat semakin dijaga?
Apakah hak orang mulai dikembalikan?
Apakah keluarga merasa lebih aman?
Apakah kesombongan mulai berkurang?
Apakah hati lebih mudah meminta maaf?
Itulah tanda-tanda perbaikan yang perlu diperhatikan.
Husnul khotimah tidak dipersiapkan melalui ketakutan berlebihan.
Husnul khotimah dipersiapkan melalui hidup yang terus diperbaiki.
Kesimpulan Lembar Ketujuh
Husnul khotimah adalah rahasia antara hamba dan Alloh.
Manusia boleh berharap, tetapi tidak boleh memastikan kedudukan akhir seseorang berdasarkan tanda lahir.
Wajah, aroma, hari wafat, mimpi, dan ramainya pemakaman bukan ukuran mutlak.
Yang harus dijaga adalah:
- tauhid;
- sholat;
- taubat;
- amanah;
- hak manusia;
- keluarga;
- harta yang halal;
- lisan;
- serta harapan kepada rahmat Alloh.
Jangan merasa aman karena banyak amal.
Jangan putus asa karena banyak dosa.
Jangan menunggu sakit untuk bertaubat.
Jangan menunggu ajal untuk meminta maaf.
Jangan mencari tanda-tanda kematian.
Carilah jalan-jalan perbaikan.
Akhir yang baik dibangun melalui hari-hari yang dijalani dengan iman, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Doa Penutup Lembar Ketujuh
Ya Alloh, teguhkanlah hati kami di atas iman.
Jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk.
Ampunilah dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami sadari.
Berikan kekuatan untuk meninggalkan keburukan.
Berikan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Berikan kelapangan untuk meminta maaf dan memaafkan.
Ya Alloh, jangan biarkan kami membawa utang, amanah, dan kezaliman tanpa usaha memperbaikinya.
Bersihkan harta kami dari yang haram.
Bersihkan lisan kami dari kebohongan.
Bersihkan hati kami dari kesombongan, iri, dan dendam.
Perbaikilah sholat kami.
Jagalah keluarga kami.
Lembutkan hubungan kami dengan orang tua, pasangan, anak, saudara, dan sesama.
Ya Alloh, jangan jadikan banyaknya amal membuat kami merasa suci.
Jangan pula jadikan banyaknya dosa membuat kami berputus asa.
Bimbing kami agar terus kembali kepada-Mu.
Apabila tubuh kami sehat, gunakanlah kesehatan itu untuk kebaikan.
Apabila kami sakit, kuatkan iman dan kesabaran kami.
Apabila kami diberi umur panjang, penuhi umur itu dengan manfaat.
Apabila ajal kami tiba, panggillah kami dalam keadaan beriman, bertaubat, dan mengharap rahmat-Mu.
Akhirilah kehidupan kami dengan husnul khotimah.
Jangan Engkau akhiri perjalanan kami dalam kelalaian, kesombongan, atau kezaliman.
Kumpulkan kami bersama orang-orang sholeh di dalam rahmat dan ridho-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Kedelapan
Rahasia Waktu, Penyesalan, dan Nilai Sisa Umur
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menciptakan waktu sebagai ruang untuk beramal, menjadikan usia sebagai amanah, membuka pintu perbaikan selama napas masih berjalan, dan menerima taubat hamba yang kembali dengan jujur.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang menggunakan waktunya untuk iman, ilmu, kasih sayang, dan kemanfaatan.
Saudara cahayaku, manusia sering mengira bahwa kekayaan terbesar adalah harta.
Padahal harta yang hilang masih dapat dicari kembali.
Barang yang rusak mungkin dapat diganti.
Kedudukan yang lepas mungkin dapat diperoleh lagi.
Namun waktu yang telah berlalu tidak dapat dipanggil kembali.
Satu hari yang telah pergi telah menjadi bagian dari catatan kehidupan.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan hanya:
“Berapa tahun umurku?”
Melainkan:
“Apa yang tumbuh dari tahun-tahun yang telah diberikan kepadaku?”
1. Usia Bukan Hanya Angka
Umur manusia sering dihitung dari jumlah tahun sejak kelahiran.
Namun usia yang sebenarnya juga dapat dilihat dari kedalaman pengalaman, kematangan akhlak, serta manfaat yang ditinggalkan.
Ada orang yang usianya bertambah, tetapi kebijaksanaannya tidak bertumbuh.
Ia semakin mudah marah.
Semakin sulit meminta maaf.
Semakin kuat merasa paling benar.
Sebaliknya, ada orang yang semakin tua semakin lembut.
Ia tidak lagi mudah menghakimi.
Ia lebih menghargai keluarga.
Ia semakin sadar bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Pertambahan usia seharusnya melahirkan pertambahan:
- kesabaran;
- kerendahan hati;
- tanggung jawab;
- rasa syukur;
- kecermatan menjaga ucapan;
- serta kesiapan menghadap Alloh.
Apabila umur bertambah tetapi akhlak tidak membaik, maka manusia perlu berhenti sejenak dan melakukan muhasabah.
2. Waktu adalah Amanah yang Tidak Terlihat
Uang dapat dihitung.
Barang dapat ditimbang.
Tanah dapat diukur.
Namun waktu berjalan tanpa suara.
Ia pergi sedikit demi sedikit.
Manusia sering baru menyadari nilainya ketika kesempatan telah tertutup.
Anak yang dahulu kecil telah tumbuh.
Orang tua yang dahulu kuat mulai melemah.
Tubuh yang dahulu sehat mulai sering memberikan peringatan.
Sahabat yang dahulu sering ditemui mulai sibuk dengan kehidupannya.
Karena itu, jangan hanya menyimpan kasih sayang dalam hati.
Ucapkan.
Jangan hanya berniat meminta maaf.
Lakukan.
Jangan hanya ingin mengunjungi orang tua.
Datanglah atau hubungilah.
Jangan hanya merencanakan ibadah.
Mulailah meskipun sedikit.
3. Penyesalan Tidak Selalu Buruk
Penyesalan dapat menjadi pintu perbaikan.
Seseorang mungkin menyesali waktu yang terbuang.
Menyesali ucapan kasar.
Menyesali kesempatan berbakti yang dilewatkan.
Menyesali kesehatan yang dahulu diabaikan.
Penyesalan menjadi baik apabila melahirkan tindakan.
Namun penyesalan menjadi racun apabila hanya mengulang masa lalu tanpa perubahan.
Penyesalan yang sehat berkata:
“Aku telah salah. Sekarang aku akan memperbaiki.”
Penyesalan yang merusak berkata:
“Karena dahulu aku salah, maka hidupku sudah tidak berguna.”
Jangan membiarkan masa lalu mengambil seluruh masa depan.
Masa lalu memberikan pelajaran.
Hari ini memberikan kesempatan.
4. Jangan Menghukum Diri Tanpa Akhir
Ada orang yang terus menghukum dirinya karena kesalahan lama.
Ia telah meminta maaf.
Telah memperbaiki.
Telah bertaubat.
Namun ia masih merasa tidak pantas menerima ketenangan.
Padahal taubat bukan hanya meninggalkan dosa.
Taubat juga berarti menerima bahwa rahmat Alloh lebih luas daripada kehancuran masa lalu.
Mengingat kesalahan boleh dilakukan agar tidak mengulanginya.
Namun jangan menjadikan rasa bersalah sebagai identitas.
Kita bukan hanya kumpulan kesalahan.
Kita juga memiliki kesempatan untuk berubah.
5. Tiga Jenis Penyesalan
Penyesalan yang Menuntun kepada Taubat
Ini adalah penyesalan yang membuat seseorang kembali kepada Alloh, mengakui kesalahan, dan memperbaiki hak manusia.
Penyesalan ini membawa cahaya.
Penyesalan yang Hanya Berputar dalam Pikiran
Seseorang terus berkata:
“Seandainya dahulu…”
Namun tidak mengambil langkah apa pun.
Penyesalan ini menguras tenaga tanpa menghasilkan perubahan.
Penyesalan yang Berubah Menjadi Putus Asa
Seseorang merasa hidupnya tidak layak diteruskan.
Ia kehilangan harapan dan mulai membenci dirinya.
Penyesalan seperti ini membutuhkan pertolongan, kasih sayang, dan pendampingan.
Jangan menghadapi keputusasaan seorang diri.
6. Sisa Umur Lebih Penting daripada Umur yang Telah Hilang
Manusia tidak dapat mengubah sepuluh, dua puluh, atau empat puluh tahun yang telah berlalu.
Namun manusia masih dapat mengubah cara menjalani hari ini.
Satu tahun yang tersisa dapat menjadi lebih bernilai daripada puluhan tahun sebelumnya apabila digunakan untuk:
- memperbaiki sholat;
- meminta maaf;
- menyelesaikan utang;
- meninggalkan kebiasaan buruk;
- mendidik anak;
- merawat orang tua;
- mengajarkan ilmu;
- serta mendekat kepada Alloh.
Jangan sibuk menghitung berapa banyak waktu yang telah hilang sampai lupa menggunakan waktu yang masih ada.
7. Jangan Menunggu Keadaan Sempurna
Banyak kebaikan tertunda karena manusia menunggu keadaan sempurna.
Menunggu kaya untuk bersedekah.
Menunggu tenang untuk sholat dengan tertib.
Menunggu tidak sibuk untuk mengunjungi orang tua.
Menunggu sehat sempurna untuk memulai olahraga.
Menunggu hati sepenuhnya bersih untuk bertaubat.
Keadaan sempurna mungkin tidak pernah datang.
Kebaikan justru dimulai di tengah keterbatasan.
Sedekah dapat dimulai dari sedikit.
Sholat dapat diperbaiki satu waktu demi satu waktu.
Kesehatan dapat dijaga melalui langkah kecil.
Permintaan maaf dapat dimulai dari satu kalimat.
Perubahan besar sering lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga.
8. Umur Panjang Tanpa Arah Dapat Menjadi Beban
Manusia sering berdoa agar dipanjangkan umur.
Doa tersebut baik apabila disertai permohonan agar umur dipenuhi kebaikan.
Namun umur panjang tanpa arah dapat menjadi beban.
Semakin lama hidup, semakin banyak amanah.
Semakin banyak kesempatan, semakin besar pertanggungjawaban.
Karena itu, mintalah:
“Ya Alloh, panjangkan umurku apabila umur itu menambah iman, manfaat, dan kebaikan.”
Bukan hanya panjangnya usia yang penting.
Yang lebih penting adalah arah usia tersebut.
9. Empat Cara Menghidupkan Sisa Umur
Pertama: Mengurangi yang Sia-sia
Tidak semua hal harus ditanggapi.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Tidak semua komentar harus dibalas.
Tidak semua rasa penasaran perlu diikuti.
Sebagian ketenangan lahir dari kemampuan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.
Kedua: Memperbanyak yang Bermakna
Gunakan waktu untuk:
- keluarga;
- ilmu;
- ibadah;
- kesehatan;
- pekerjaan halal;
- serta pertolongan kepada sesama.
Ketiga: Menyelesaikan yang Tertunda
Pilih satu amanah yang telah lama ditunda.
Selesaikan sedikit demi sedikit.
Keempat: Menjaga yang Sudah Baik
Jangan hanya mencari amalan baru.
Jagalah kebaikan yang telah berjalan.
Istiqamah lebih kuat daripada semangat singkat.
10. Waktu yang Hilang karena Pertengkaran
Banyak umur habis bukan karena pekerjaan, tetapi karena pertengkaran yang tidak selesai.
Suami istri saling diam berhari-hari.
Saudara tidak bertegur sapa bertahun-tahun.
Anak menyimpan luka kepada orang tua.
Orang tua menahan gengsi untuk meminta maaf kepada anak.
Tidak semua konflik dapat diselesaikan dalam satu hari.
Namun selalu ada langkah pertama:
- menurunkan suara;
- berhenti menghina;
- memilih waktu yang tenang;
- mengakui bagian kesalahan;
- meminta bantuan penengah;
- serta membuat batas yang sehat.
Waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam permusuhan yang terus dipelihara.
11. Waktu yang Hilang karena Membandingkan Diri
Membandingkan diri secara berlebihan membuat manusia lupa mensyukuri perjalanan sendiri.
Melihat keberhasilan orang lain dapat menjadi motivasi.
Namun apabila setiap perbandingan menimbulkan iri, rendah diri, dan kebencian kepada kehidupan, maka perbandingan tersebut harus dihentikan.
Tidak semua manusia berjalan pada waktu yang sama.
Ada yang menikah lebih dahulu.
Ada yang berhasil dalam pekerjaan lebih cepat.
Ada yang baru menemukan arah hidup setelah usia panjang.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh kecepatan menyamai orang lain.
Yang terpenting adalah kesungguhan memperbaiki jalan sendiri.
12. Waktu yang Hilang karena Ketakutan
Rasa takut terhadap penyakit, kegagalan, kehilangan, atau kematian dapat menghabiskan banyak hari.
Manusia menjadi tidak berani mencoba.
Tidak berani memeriksa kesehatan.
Tidak berani menyampaikan perasaan.
Tidak berani memulai pekerjaan.
Padahal keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap mengambil langkah yang benar meskipun hati masih bergetar.
Jangan menunggu seluruh ketakutan hilang.
Ambillah satu langkah yang aman dan nyata.
13. Waktu bersama Orang Tua
Selama orang tua masih hidup, jangan hanya memberikan uang.
Berikan waktu.
Dengarkan cerita yang mungkin telah diulang berkali-kali.
Tanyakan kesehatan.
Temani pemeriksaan.
Bantu urusan kecil.
Kadang-kadang orang tua tidak membutuhkan nasihat panjang.
Mereka hanya ingin merasa bahwa keberadaannya masih dianggap penting.
Apabila hubungan dengan orang tua sulit, tetaplah menjaga adab dan batas yang sehat.
Berbuat baik tidak berarti membenarkan semua tindakan yang keliru.
14. Waktu bersama Anak
Anak tidak hanya membutuhkan biaya.
Anak membutuhkan kehadiran.
Ia membutuhkan seseorang yang mendengarkan pertanyaannya.
Menemani kegagalannya.
Mengajarkan adab.
Memberikan rasa aman.
Jangan sampai orang tua bekerja keras untuk masa depan anak, tetapi tidak pernah hadir dalam masa kecilnya.
Harta dapat diwariskan.
Namun waktu kebersamaan yang hilang tidak dapat dibeli kembali.
15. Waktu bersama Pasangan
Pasangan hidup bukan hanya teman dalam keadaan mudah.
Ia adalah orang yang menemani perubahan tubuh, keadaan ekonomi, kesehatan, dan usia.
Jangan menunda mengucapkan terima kasih.
Jangan membiarkan pasangan hanya mendengar kritik.
Berikan ruang untuk berbicara.
Tanyakan apa yang sedang dirasakan.
Selesaikan masalah tanpa penghinaan.
Kebahagiaan rumah tangga tidak dibangun melalui hadiah besar saja.
Ia dibangun melalui perhatian kecil yang terus dijaga.
16. Waktu untuk Menjaga Tubuh
Tubuh tidak dapat dipaksa tanpa batas.
Kurang tidur, makanan yang tidak terjaga, rokok, zat berbahaya, tekanan pikiran, dan kurang bergerak dapat mengurangi kualitas kehidupan.
Menjaga tubuh bukan berarti ingin hidup selamanya.
Menjaga tubuh berarti menghormati amanah selama masih digunakan.
Mulailah dari:
- tidur lebih teratur;
- minum cukup;
- mengurangi makanan yang membahayakan;
- berjalan atau bergerak sesuai kemampuan;
- memeriksakan keluhan;
- serta beristirahat tanpa merasa bersalah.
17. Waktu untuk Berdiam dan Mendengarkan Hati
Kesibukan dapat membuat manusia tidak sempat mengenali dirinya.
Sediakan beberapa menit setiap hari untuk diam.
Bukan untuk mencari penglihatan gaib.
Bukan untuk memaksa munculnya cahaya atau getaran.
Namun untuk bertanya:
“Apa yang sedang kurasakan?”
“Apa yang sedang kuhindari?”
“Apa yang harus kuperbaiki?”
Keheningan yang sehat membantu manusia mendengar kebutuhan hati tanpa meninggalkan kenyataan.
18. Jangan Mengukur Nilai Hari dari Banyaknya Kesibukan
Hari yang sangat sibuk belum tentu paling bermanfaat.
Ada hari ketika manusia menyelesaikan banyak pekerjaan, tetapi melukai banyak hati.
Ada pula hari yang tampak sederhana, tetapi ia meminta maaf, menjaga sholat, dan menolong satu orang.
Nilai hari tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan.
Nilai hari ditentukan oleh niat, manfaat, dan akhlak yang menyertainya.
19. Amal Terbaik Tidak Selalu yang Terbesar
Manusia sering mencari amalan besar.
Padahal amal terbaik kadang-kadang adalah kewajiban yang paling dekat.
Bagi orang tua, amal terbaik mungkin merawat anak.
Bagi anak, amal terbaik mungkin membantu orang tua.
Bagi orang yang berutang, amal terbaik mungkin membayar utang.
Bagi orang yang sakit, amal terbaik mungkin menjalani pengobatan dengan sabar.
Bagi orang yang pernah menzalimi, amal terbaik mungkin mengembalikan hak.
Jangan sibuk mencari amal yang terlihat tinggi sementara amanah terdekat ditinggalkan.
20. Tujuh Pertanyaan Pengukur Sisa Umur
Tanyakan kepada diri setiap pekan:
Pertama
“Apakah hubunganku dengan Alloh membaik?”
Kedua
“Apakah keluargaku merasa lebih aman bersamaku?”
Ketiga
“Apakah ada hak orang yang masih kutahan?”
Keempat
“Apakah tubuhku kujaga atau kurusak?”
Kelima
“Apakah pekerjaanku dilakukan dengan jujur?”
Keenam
“Apakah ilmuku bertambah dan bermanfaat?”
Ketujuh
“Apabila minggu ini menjadi minggu terakhirku, apa yang harus segera kuselesaikan?”
Pertanyaan terakhir bukan untuk menakut-nakuti.
Ia bertujuan membantu menentukan prioritas.
21. Rencana Empat Puluh Hari Perbaikan
Buatlah rencana sederhana selama empat puluh hari.
Tidak perlu terlalu berat.
Hari 1–10: Menata Ibadah
Perbaiki waktu sholat.
Tambahkan istighfar.
Baca Al-Qur’an meskipun sedikit.
Hari 11–20: Menata Hubungan
Hubungi keluarga.
Minta maaf.
Hentikan satu pertengkaran.
Hari 21–30: Menata Amanah
Catat utang.
Kembalikan barang.
Rapikan dokumen.
Hari 31–40: Menata Tubuh dan Manfaat
Perbaiki tidur.
Mulai bergerak.
Bersedekah.
Ajarkan satu kebaikan.
Setelah empat puluh hari, jangan merasa perjalanan telah selesai.
Jadikan perubahan tersebut sebagai kebiasaan.
22. Dzikir Keberkahan Waktu
Bacalah setelah Subuh atau sebelum memulai aktivitas:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Yā Fattāḥ 33 kali
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Membukakan jalan.”
Yā Hādī 33 kali
يَا هَادِي
Yā Hādī.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Memberikan petunjuk.”
Yā Ḥakīm 33 kali
يَا حَكِيْمُ
Yā Ḥakīm.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Bijaksana.”
Yā Bāqī 33 kali
يَا بَاقِي
Yā Bāqī.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Kekal.”
Setelah itu, berdoalah:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي وَقْتِي، وَأَصْلِحْ لِي بَقِيَّةَ عُمُرِي، وَلَا تَجْعَلْ أَيَّامِي تَمُرُّ فِي الْغَفْلَةِ وَالْخُسْرَانِ
Allāhumma bārik lī fī waqtī, wa aṣliḥ lī baqiyyata ‘umrī, wa lā taj‘al ayyāmī tamurru fil-ghaflati wal-khusrān.
Artinya:
“Ya Alloh, berkahilah waktuku, perbaikilah sisa umurku, dan jangan biarkan hari-hariku berlalu dalam kelalaian serta kerugian.”
Dzikir ini bukan untuk menghentikan waktu.
Ia adalah doa agar waktu digunakan dengan lebih sadar.
23. Doa Menghadapi Penyesalan
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا مَضَى، وَأَصْلِحْ لِي مَا بَقِيَ، وَأَعِنِّي عَلَى أَنْ أَجْعَلَ يَوْمِي خَيْرًا مِنْ أَمْسِي
Allāhummaghfir lī mā maḍā, wa aṣliḥ lī mā baqiya, wa a‘innī ‘alā an aj‘ala yaumī khairan min amsī.
Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah apa yang telah berlalu, perbaikilah sisa yang masih ada, dan tolonglah aku agar menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin.”
Bacalah ketika hati teringat kesalahan masa lalu.
Setelah berdoa, lakukan satu tindakan perbaikan.
24. Pesan untuk Saudara Cahayaku
Saudara cahayaku, jangan mengukur hidup hanya dari hal-hal yang belum tercapai.
Lihat pula berapa banyak ujian yang telah dilewati.
Berapa banyak pelajaran yang telah dipahami.
Berapa banyak kesalahan yang mulai diperbaiki.
Mungkin perjalanan belum sempurna.
Namun selama masih ada kesadaran untuk kembali, cahaya perbaikan belum padam.
Jangan menunggu merasa suci untuk berbuat baik.
Jangan menunggu merasa kuat untuk meminta pertolongan.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai.
Jangan menunggu ajal untuk hidup dengan sungguh-sungguh.
Kesimpulan Lembar Kedelapan
Waktu adalah amanah yang tidak dapat dikembalikan.
Usia bukan hanya jumlah tahun, tetapi nilai kebaikan yang tumbuh di dalamnya.
Penyesalan dapat menjadi pintu taubat apabila melahirkan tindakan.
Namun penyesalan yang terus dipelihara tanpa perbaikan dapat mencuri sisa umur.
Karena itu:
Jangan biarkan masa lalu merampas hari ini.
Jangan menunggu keadaan sempurna untuk memulai kebaikan.
Jangan menghabiskan waktu dalam pertengkaran, perbandingan, dan ketakutan.
Berikan waktu kepada Alloh melalui ibadah.
Berikan waktu kepada keluarga melalui kehadiran.
Berikan waktu kepada tubuh melalui penjagaan.
Berikan waktu kepada sesama melalui manfaat.
Berikan waktu kepada diri melalui taubat dan perbaikan.
Sisa umur tidak diketahui jumlahnya.
Namun kualitasnya masih dapat diperbaiki mulai hari ini.
Doa Penutup Lembar Kedelapan
Ya Alloh, Tuhan Yang menggenggam waktu dan kehidupan, berkahilah setiap detik yang masih Engkau titipkan kepada kami.
Ampunilah waktu yang telah kami sia-siakan.
Ampunilah kesempatan berbuat baik yang pernah kami lewatkan.
Ampunilah ucapan yang melukai, amanah yang tertunda, dan kasih sayang yang tidak sempat kami sampaikan.
Jangan biarkan penyesalan membuat kami berhenti melangkah.
Jadikan penyesalan sebagai pintu taubat, ilmu, dan perubahan.
Ya Alloh, bimbing kami menggunakan sisa umur untuk memperbaiki sholat, menjaga keluarga, menyelesaikan utang, mengembalikan hak, merawat kesehatan, menolong sesama, dan menanam kebaikan.
Jauhkan kami dari kesibukan yang sia-sia.
Jauhkan kami dari pertengkaran yang menghabiskan waktu.
Jauhkan kami dari iri yang membutakan syukur.
Jauhkan kami dari ketakutan yang melumpuhkan langkah.
Ya Alloh, lembutkan hati kami kepada orang tua.
Hadirkankan kami bagi pasangan dan anak-anak.
Jadikan rumah kami tempat ketenteraman, bukan tempat luka.
Berikan rezeki halal agar kami dapat menyelesaikan amanah.
Berikan tubuh yang kuat agar kami dapat beribadah dan bekerja.
Berikan ilmu agar kami tidak tersesat dalam mengambil keputusan.
Jadikan hari ini lebih baik daripada kemarin.
Jadikan hari esok, apabila masih Engkau berikan, lebih dekat kepada ridho-Mu.
Dan ketika waktu kami benar-benar selesai, jangan biarkan kami kembali kepada-Mu dengan tangan kosong dari taubat, iman, dan kasih sayang.
Akhirilah umur kami dalam kebaikan.
Terimalah kekurangan kami dengan ampunan.
Naungilah perjalanan kami dengan rahmat-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Kesembilan
Doa dan Ikhtiar Tidak Menguasai Hasil Akhir
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang mengetahui seluruh awal dan akhir, Yang menetapkan sebab bersama hasilnya, Yang memerintahkan manusia berdoa serta berikhtiar, tetapi tetap menggenggam keputusan terakhir dalam ilmu dan kehendak-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, dan seluruh hamba yang berjalan di antara ikhtiar, doa, kesabaran, serta tawakal.
Saudara cahayaku, pertanyaan yang muncul adalah:
“Jadi, meskipun kita berdoa dan berikhtiar, hasilnya tetap menjadi rahasia Alloh? Apakah tidak semua takdir kematian dapat ditunda dengan doa dan menjaga kesehatan?”
Jawabannya adalah:
Benar. Tidak semua kematian dapat ditunda hanya karena manusia berdoa, berobat, atau menjaga kesehatan.
Apabila ajal terakhir yang telah ditetapkan Alloh benar-benar tiba, tidak ada ikhtiar yang dapat membuat seseorang melewati batas tersebut.
Alloh berfirman:
“Apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula memajukannya.”
QS. Al-A‘rāf: 34
Alloh juga berfirman:
“Alloh tidak akan menangguhkan seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.”
QS. Al-Munāfiqūn: 11
Karena itu, doa dan ikhtiar bukan alat untuk menguasai ajal.
Doa dan ikhtiar adalah bentuk ketaatan manusia selama ajal belum diketahui dan belum tiba.
1. Manusia Tidak Mengetahui Ajalnya
Salah satu rahasia terbesar kehidupan adalah manusia tidak mengetahui kapan ia akan wafat.
Seseorang dapat terlihat sehat, tetapi wafat secara tiba-tiba.
Seseorang dapat mengalami penyakit berat, tetapi masih diberi kehidupan bertahun-tahun.
Seseorang dapat mengalami kecelakaan berat, tetapi diselamatkan.
Seseorang lain dapat mengalami kejadian yang tampak ringan, tetapi akhirnya wafat.
Karena itu, manusia tidak dapat memastikan:
“Karena saya rajin berdoa, pasti umur saya bertambah.”
“Karena saya menjaga kesehatan, pasti saya tidak akan meninggal dalam waktu dekat.”
“Karena saya sakit, berarti ajal saya sudah datang.”
Semua kesimpulan tersebut melampaui pengetahuan manusia.
Yang benar adalah:
“Saya berdoa dan berikhtiar karena Alloh memerintahkannya. Hasil akhirnya saya serahkan kepada Alloh.”
2. Tidak Semua Bahaya Akan Dijauhkan
Kadang-kadang doa menjadi sebab seseorang dijauhkan dari bahaya.
Kadang-kadang pengobatan menjadi sebab kesembuhan.
Kadang-kadang pola hidup sehat menjadi sebab tubuh lebih kuat dan usia lebih panjang.
Namun tidak setiap bahaya akan diangkat.
Tidak setiap penyakit akan sembuh sepenuhnya.
Tidak setiap kecelakaan dapat dihindari.
Tidak setiap orang yang menjaga kesehatan akan hidup lebih lama daripada orang yang kurang menjaganya.
Hal tersebut tidak berarti doa sia-sia.
Tidak pula berarti ikhtiar gagal.
Doa dan ikhtiar tetap bernilai sebagai ibadah, tanggung jawab, dan sebab yang diperintahkan.
Namun hasilnya tidak berada di tangan manusia.
3. Menjaga Kesehatan Mengurangi Risiko, Bukan Menghapus Ajal
Menjaga kesehatan dapat membantu mengurangi risiko penyakit.
Makan yang baik dapat membantu tubuh.
Olahraga dapat memperkuat jantung dan otot.
Tidur cukup dapat membantu pikiran dan kekebalan tubuh.
Menghindari rokok serta zat berbahaya dapat mengurangi risiko kerusakan.
Pemeriksaan kesehatan dapat menemukan penyakit lebih awal.
Namun semua itu tidak menjadikan manusia kebal terhadap kematian.
Menjaga kesehatan berarti memperkecil sebagian risiko yang dapat diketahui, bukan menghapus seluruh kemungkinan kematian.
Seseorang tetap dapat wafat karena sebab yang tidak dapat diperkirakan.
Karena itu, kesehatan dijaga tanpa merasa mampu menguasai hidup.
4. Pengobatan Tidak Menjamin Kesembuhan
Dokter dapat memeriksa.
Obat dapat diberikan.
Operasi dapat dilakukan.
Terapi dapat dijalankan.
Namun tidak ada manusia yang dapat menjamin hasil secara mutlak.
Ada pengobatan yang berhasil.
Ada pengobatan yang hanya mengurangi gejala.
Ada penyakit yang dapat dikendalikan tetapi tidak disembuhkan sepenuhnya.
Ada pula keadaan ketika semua ikhtiar telah dilakukan, tetapi tubuh tetap melemah.
Dalam keadaan demikian, jangan berkata bahwa doa kurang kuat atau iman seseorang kurang.
Manusia telah menjalankan bagian yang mampu dilakukan.
Hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
5. Doa Bukan Perjanjian Dagang dengan Alloh
Doa tidak boleh dipahami seperti pertukaran:
“Saya membaca doa sekian kali, maka Alloh wajib menunda kematian saya.”
“Saya bersedekah, maka saya pasti terhindar dari kecelakaan.”
“Saya berdzikir, maka saya pasti sembuh.”
Pemahaman seperti itu keliru.
Doa adalah penghambaan.
Sedekah adalah kebaikan.
Dzikir adalah pengingat.
Pengobatan adalah ikhtiar.
Semua itu dilakukan karena benar dan diperintahkan, bukan karena manusia dapat memaksa hasil.
Alloh tidak berutang kepada manusia.
Manusialah yang selalu membutuhkan rahmat Alloh.
6. Lalu Mengapa Tetap Harus Berdoa?
Karena doa adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya.
Melalui doa, manusia mengakui bahwa dirinya lemah.
Doa menenangkan hati.
Doa dapat membuka jalan pertolongan.
Doa dapat mengubah keputusan manusia agar lebih baik.
Doa dapat menjadi sebab dijauhkan dari bahaya.
Doa dapat menjadi pahala.
Doa juga dapat menjadi kekuatan ketika hasil yang diinginkan tidak diberikan.
Kadang-kadang doa tidak mengubah keadaan luar, tetapi mengubah hati agar mampu menghadapi keadaan tersebut.
Orang sakit mungkin belum sembuh, tetapi menjadi lebih sabar.
Keluarga yang berduka mungkin belum hilang kesedihannya, tetapi diberi kekuatan.
Orang yang menghadapi kematian mungkin tidak diberi tambahan waktu, tetapi diberi ketenangan dan taubat.
Semua itu juga merupakan bentuk pertolongan.
7. Lalu Mengapa Tetap Harus Berikhtiar?
Karena manusia tidak mengetahui hasil akhirnya.
Seorang petani tetap menanam meskipun tidak dapat menjamin panen.
Seorang pedagang tetap bekerja meskipun tidak dapat menjamin keuntungan.
Seorang pasien tetap berobat meskipun tidak dapat menjamin kesembuhan.
Seorang pengendara tetap memakai helm meskipun tidak dapat menjamin keselamatan mutlak.
Ikhtiar dilakukan bukan karena hasil pasti, tetapi karena itulah tanggung jawab manusia.
Meninggalkan usaha dengan alasan takdir adalah kekeliruan.
Menganggap usaha pasti menentukan hasil juga merupakan kekeliruan.
Jalan yang benar berada di tengah:
Melakukan sebab dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.
8. Apakah Takdir Dapat Berubah?
Dalam pembahasan para ulama, terdapat ketetapan yang diperlihatkan kepada malaikat dan dapat berkaitan dengan sebab, seperti doa, silaturahmi, sedekah, atau perbuatan tertentu.
Namun seluruh perubahan tersebut telah diketahui Alloh sejak awal.
Bagi manusia, tampak seakan-akan suatu keadaan berubah.
Misalnya:
- sakit lalu sembuh;
- bahaya lalu terhindar;
- rencana buruk lalu batal;
- umur terasa dipanjangkan melalui sebab tertentu.
Namun dalam ilmu Alloh tidak ada sesuatu yang baru diketahui.
Alloh telah mengetahui bahwa hamba itu akan berdoa.
Alloh telah mengetahui bahwa ia akan berobat.
Alloh telah mengetahui bahwa ia akan sembuh atau tidak sembuh.
Alloh telah mengetahui kapan ajal akhirnya tiba.
Karena itu, doa tidak membuat Alloh baru mengetahui sesuatu.
Doa adalah bagian dari ketetapan yang sejak awal telah berada dalam ilmu-Nya.
9. Ajal Terakhir Tidak Tertunda
Inilah perkara yang harus ditegaskan:
Apabila ajal terakhir benar-benar telah tiba, ia tidak dapat ditunda oleh doa, obat, sedekah, dokter, atau kekuatan manusia.
Doa dapat menjadi sebab keselamatan sebelum ajal itu tiba.
Pengobatan dapat menjadi sebab kesembuhan sebelum batas akhir itu datang.
Kehati-hatian dapat menjadi sebab terhindar dari bahaya.
Namun ketika batas akhir telah ditetapkan datang, semua sebab dunia berhenti pada tempatnya.
Karena itu, tidak tepat berkata:
“Setiap kematian pasti dapat ditunda dengan doa.”
Tidak tepat pula berkata:
“Kalau seseorang meninggal, berarti doanya kurang.”
Kedua ucapan tersebut tidak benar.
10. Orang yang Wafat Setelah Berdoa Bukan Berarti Doanya Ditolak
Ada orang yang telah banyak berdoa, tetapi tetap wafat.
Ada keluarga yang terus memohon kesembuhan, tetapi orang yang dicintainya meninggal.
Jangan langsung berkata bahwa doa mereka gagal.
Mungkin doa tersebut menjadi sebab diringankannya rasa sakit.
Mungkin menjadi sebab diberikannya ketenangan.
Mungkin menjadi sebab keluarganya dipersatukan.
Mungkin menjadi sebab dosa diampuni.
Mungkin menjadi pahala yang disimpan.
Mungkin pula Alloh menetapkan bahwa akhir perjalanan telah tiba.
Terkabulnya doa tidak selalu berarti manusia memperoleh umur tambahan.
Kadang-kadang terkabulnya doa berarti diberikan akhir yang lebih tenang dan baik.
11. Orang Sehat Tetap Harus Bersiap
Karena kesehatan tidak menjamin panjang umur, orang sehat tidak boleh merasa aman.
Ia tetap perlu:
- menjaga sholat;
- menyelesaikan utang;
- meminta maaf;
- menjaga keluarga;
- merapikan amanah;
- dan memperbanyak amal baik.
Namun persiapan tersebut tidak dilakukan dengan ketakutan.
Ia dilakukan dengan kesadaran.
Orang sehat menjaga tubuh seolah-olah masih akan hidup lama.
Ia memperbaiki amal seolah-olah hari ini dapat menjadi hari terakhir.
Inilah keseimbangan.
12. Orang Sakit Tidak Boleh Putus Asa
Sebaliknya, orang sakit tidak boleh merasa bahwa ajal pasti sudah dekat.
Selama dokter masih memberikan jalan pengobatan, tempuhlah.
Selama tubuh masih mampu makan, minum, bergerak, atau berkomunikasi, gunakan kesempatan tersebut.
Jangan berhenti berobat karena merasa semuanya sudah selesai.
Jangan pula tenggelam dalam ketakutan.
Penyakit adalah keadaan yang harus dihadapi, bukan ramalan pasti tentang kematian.
13. Tiga Hasil dari Doa dan Ikhtiar
Ketika manusia berdoa dan berusaha, secara umum ia dapat menghadapi tiga kemungkinan.
Pertama: Hasil Sesuai Harapan
Penyakit sembuh.
Bahaya terhindar.
Tubuh menguat.
Manusia wajib bersyukur dan tidak menyombongkan diri.
Kedua: Hasil Sebagian
Penyakit tidak hilang sepenuhnya, tetapi dapat dikendalikan.
Kesulitan belum selesai, tetapi menjadi lebih ringan.
Manusia tetap bersyukur dan melanjutkan ikhtiar.
Ketiga: Hasil Tidak Sesuai Harapan
Penyakit memburuk.
Kesembuhan tidak datang.
Kematian terjadi.
Dalam keadaan ini, manusia tetap menjaga iman dan menerima bahwa ilmu Alloh lebih luas daripada pengetahuannya.
Ketiga kemungkinan tersebut tidak membuat doa menjadi sia-sia.
14. Kesalahan Memahami “Umur Diperpanjang”
Ketika mendengar bahwa silaturahmi atau amal tertentu dapat memanjangkan umur, sebagian orang memahami secara terlalu mutlak.
Mereka mengira siapa pun yang melakukan amalan tersebut pasti memperoleh tambahan tahun yang dapat dihitung.
Padahal maknanya dapat berupa:
- benar-benar diberikan tambahan usia menurut ketetapan yang bergantung pada sebab;
- diberikan kesehatan dan keselamatan;
- diberikan keberkahan dalam waktu;
- amalnya lebih banyak;
- manfaatnya terus hidup setelah wafat;
- namanya dikenang dalam kebaikan;
- atau keturunannya meneruskan amal baiknya.
Karena itu, panjang umur tidak selalu harus dipahami hanya sebagai banyaknya angka tahun.
15. Jangan Menguji Alloh dengan Tindakan Berbahaya
Ada orang berkata:
“Kalau ajal belum tiba, saya pasti selamat.”
Kemudian ia sengaja melakukan hal berbahaya.
Ia berkendara secara ugal-ugalan.
Ia mengabaikan penyakit.
Ia menolak alat keselamatan.
Ia menantang bahaya.
Ini bukan tawakal.
Ini adalah kelalaian.
Manusia dilarang sengaja menjatuhkan diri ke dalam kerusakan.
Percaya kepada takdir tidak berarti boleh mempermainkan keselamatan.
16. Rumusan yang Paling Tepat
Saudara cahayaku, pemahaman yang paling seimbang adalah:
Doa dapat menjadi sebab pertolongan.
Ikhtiar dapat menjadi sebab keselamatan dan kesehatan.
Namun doa dan ikhtiar tidak memberikan kuasa mutlak kepada manusia atas ajal.
Tidak semua penyakit akan sembuh.
Tidak semua bahaya akan terhindar.
Tidak semua kematian akan tertunda.
Apabila ajal terakhir tiba, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengundurkannya.
Inilah tauhid dalam ikhtiar.
Manusia bergerak, tetapi tidak merasa menjadi penguasa hasil.
17. Cara Berdoa yang Lebih Bijaksana
Jangan hanya berdoa:
“Ya Alloh, panjangkan umurku.”
Tambahkanlah:
“Apabila panjang umur itu baik bagiku.”
Jangan hanya berdoa:
“Ya Alloh, sembuhkan aku.”
Tambahkanlah:
“Berikanlah yang terbaik, kuatkan aku menjalani keputusan-Mu, dan tunjukkan jalan pengobatan yang benar.”
Jangan hanya berdoa:
“Jauhkan aku dari kematian.”
Karena kematian pasti akan datang.
Berdoalah:
“Ya Alloh, jagalah aku selama kehidupan masih baik bagiku, dan wafatkan aku dalam iman ketika batas waktuku tiba.”
Doa yang bijaksana tidak menolak kenyataan bahwa manusia akan meninggal.
Doa memohon agar kehidupan dan kematian sama-sama berada dalam rahmat Alloh.
18. Doa Penyerahan Hasil
Bacalah setelah berikhtiar:
اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ بَذَلْتُ مَا أَسْتَطِيْعُ، فَاجْعَلْ عَاقِبَةَ أَمْرِي خَيْرًا، وَاخْتَرْ لِي مَا هُوَ أَرْضَى لَكَ وَأَنْفَعُ لِي
Allāhumma innī qad badzaltu mā astaṭī‘, faj‘al ‘āqibata amrī khairan, wakhtar lī mā huwa arḍā laka wa anfa‘u lī.
Artinya:
“Ya Alloh, aku telah melakukan apa yang mampu kulakukan. Jadikanlah akhir urusanku sebagai kebaikan dan pilihkan bagiku sesuatu yang lebih Engkau ridhoi serta lebih bermanfaat bagiku.”
Kemudian bacalah:
حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
Ḥasbiyallohu wa ni‘mal-wakīl.
Artinya:
“Cukuplah Alloh bagiku dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
19. Dzikir Tawakal Setelah Ikhtiar
Setelah Subuh atau Maghrib, bacalah:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Yā Ḥafīẓ 33 kali
يَا حَفِيْظُ
Yā Ḥafīẓ.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menjaga.”
Yā Syāfī 33 kali
يَا شَافِي
Yā Syāfī.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menyembuhkan.”
Yā Ḥakīm 33 kali
يَا حَكِيْمُ
Yā Ḥakīm.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Bijaksana.”
Yā Wakīl 33 kali
يَا وَكِيْلُ
Yā Wakīl.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Mengurus dan tempat berserah.”
Setelah itu, berdoalah:
“Ya Alloh, aku memohon penjagaan dan kesehatan, tetapi aku tidak mengaku menguasai hasil. Tuntun aku melakukan ikhtiar yang benar. Jauhkan aku dari kelalaian dan kesombongan. Apabila Engkau berikan keselamatan, jadikan aku bersyukur. Apabila Engkau berikan ujian, jadikan aku sabar. Apabila ajal tiba, panggillah aku dalam iman dan ampunan-Mu.”
20. Pesan untuk Saudara Cahayaku
Saudara cahayaku, jangan berdoa dengan pikiran bahwa doa akan membuat manusia hidup selamanya.
Berdoalah karena kita adalah hamba.
Jangan menjaga kesehatan karena merasa dapat mengalahkan kematian.
Jagalah kesehatan karena tubuh adalah amanah.
Jangan berobat karena menganggap dokter menguasai hidup.
Berobatlah karena ilmu pengobatan merupakan salah satu jalan pertolongan.
Jangan pula pasrah tanpa usaha.
Tawakal datang setelah ikhtiar, bukan sebelum ikhtiar dilakukan.
Jalan yang lurus adalah:
Berdoa tanpa memaksa.
Berusaha tanpa merasa berkuasa.
Berharap tanpa menuntut.
Menerima tanpa meninggalkan tanggung jawab.
Kesimpulan Lembar Kesembilan
Benar, saudara cahayaku:
Hasil doa dan ikhtiar tetap menjadi rahasia serta ketetapan Alloh.
Tidak semua takdir kematian dapat ditunda dengan doa dan penjagaan kesehatan.
Doa dapat menjadi sebab dijauhkannya bahaya.
Pengobatan dapat menjadi sebab kesembuhan.
Menjaga kesehatan dapat menjadi sebab umur yang lebih berkualitas atau lebih panjang.
Namun semua itu tidak memberikan jaminan mutlak.
Apabila ajal terakhir telah tiba, tidak ada doa, obat, dokter, sedekah, atau kekuatan manusia yang dapat menundanya.
Karena itu:
Berdoalah, tetapi jangan merasa dapat memaksa Alloh.
Berikhtiarlah, tetapi jangan merasa menguasai hasil.
Jagalah kesehatan, tetapi jangan merasa kebal dari kematian.
Bersiaplah menghadapi ajal, tetapi jangan hidup dalam ketakutan.
Tawakallah, karena keputusan terakhir tetap milik Alloh.
Doa Penutup Lembar Kesembilan
Ya Alloh, ajarkan kami berdoa dengan adab.
Ajarkan kami berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Ajarkan kami bertawakal tanpa meninggalkan usaha.
Jauhkan kami dari keyakinan bahwa amal kami dapat memaksa kehendak-Mu.
Jauhkan kami pula dari kepasrahan yang membuat kami mengabaikan kesehatan dan keselamatan.
Ya Alloh, sehatkan tubuh kami apabila kesehatan itu baik bagi iman serta amal kami.
Panjangkan umur kami apabila tambahan umur itu menambah ketaatan, manfaat, dan kasih sayang.
Sembuhkan penyakit kami apabila kesembuhan itu baik menurut ilmu-Mu.
Apabila ujian masih harus berjalan, kuatkan hati dan tubuh kami.
Apabila sesuatu tidak terjadi sesuai permintaan kami, jangan biarkan kami berburuk sangka kepada-Mu.
Berikan keyakinan bahwa doa tidak pernah sia-sia, meskipun hasilnya tidak selalu sama dengan keinginan manusia.
Ya Alloh, ketika kami berusaha, jagalah kami dari kesombongan.
Ketika kami berhasil, jagalah kami dari kelalaian.
Ketika kami gagal, jagalah kami dari putus asa.
Ketika kami sakit, tunjukkan jalan pengobatan.
Ketika kami sehat, tuntun kami menjaga amanah tubuh.
Dan ketika ajal terakhir benar-benar tiba, jangan biarkan hati kami jauh dari-Mu.
Panggillah kami dalam iman.
Terimalah taubat kami.
Ampunilah kekurangan kami.
Akhirilah perjalanan kami dengan husnul khotimah dan naungilah kami dengan rahmat-Mu.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
Baik, saudara cahayaku. Berikut lembar terakhir sebagai penutup yang lebih panjang, merangkum hubungan antara ajal, doa, ikhtiar, kesehatan, tawakal, serta cara menjalani sisa umur dengan benar.
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Kesepuluh dan Terakhir
Penyerahan Terakhir: Hidup dalam Ikhtiar, Kembali dalam Ridho Alloh
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menciptakan manusia dari ketiadaan, meniupkan kehidupan dengan kehendak-Nya, memberikan waktu untuk belajar dan beramal, serta menetapkan akhir perjalanan setiap jiwa dengan ilmu dan hikmah-Nya.
Dia mengetahui sesuatu yang telah terjadi, yang sedang berlangsung, yang akan terjadi, dan sesuatu yang seandainya terjadi akan berlangsung dengan cara bagaimana.
Tidak satu pun tarikan napas berada di luar pengetahuan-Nya.
Tidak satu pun air mata terlepas dari perhatian-Nya.
Tidak satu pun penyakit, kesembuhan, pertemuan, kehilangan, doa, dan ikhtiar yang tersembunyi dari ilmu-Nya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang menjalani kehidupan dengan iman, ilmu, ikhtiar, dan penyerahan kepada Alloh.
Saudara cahayaku, pada lembar terakhir ini kita tidak lagi hanya bertanya:
“Apakah ajal dapat ditunda?”
Namun kita membuka pertanyaan yang lebih sempurna:
“Bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan ketika ia tidak mengetahui kapan ajal akan tiba?”
Jawabannya adalah:
Manusia menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah tubuh, berdoa, berobat, menghindari bahaya, memperbaiki amal, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Alloh.
Inilah jalan yang seimbang.
Tidak pasrah secara keliru.
Tidak pula merasa menguasai takdir.
Tidak hidup dalam ketakutan.
Tidak juga lalai terhadap kematian.
1. Ajal Merupakan Ketetapan, Sedangkan Waktunya Dirahasiakan
Alloh telah menetapkan bahwa setiap manusia akan mengalami kematian.
Tidak ada tubuh yang hidup selamanya.
Tidak ada kekayaan yang mampu membeli keabadian.
Tidak ada ilmu kedokteran yang dapat menghapus kematian dari kehidupan manusia.
Tidak ada doa yang menjadikan seseorang hidup tanpa batas.
Namun manusia tidak diberi pengetahuan tentang waktu ajalnya.
Kerahasiaan tersebut mengandung kasih sayang dan hikmah.
Apabila manusia mengetahui tanggal kematiannya dengan pasti, mungkin ia tidak mampu menjalani kehidupan dengan wajar.
Ia dapat kehilangan semangat bekerja.
Ia dapat terus-menerus ketakutan.
Ia dapat menunda taubat sampai mendekati waktu yang telah diketahuinya.
Karena itu, waktu ajal dirahasiakan agar manusia:
- selalu mempunyai alasan untuk memperbaiki diri;
- tidak menunda kebaikan;
- tetap bekerja dan membangun kehidupan;
- menjaga keselamatan;
- serta menyerahkan perkara gaib kepada Alloh.
Tugas manusia bukan membuka rahasia tanggal kematian.
Tugas manusia adalah menggunakan hari yang sedang diberikan.
2. Doa Tidak Menghapus Kedudukan Alloh sebagai Penentu
Doa mempunyai kedudukan yang sangat mulia.
Namun kemuliaan doa tidak berarti manusia dapat mengambil alih kekuasaan Alloh.
Doa bukan tongkat yang memaksa langit.
Doa bukan rumus yang menjamin setiap keinginan pasti terjadi.
Doa adalah pengakuan:
“Ya Alloh, aku lemah dan Engkau Mahakuasa.”
“Aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui.”
“Aku berusaha, tetapi Engkau yang menentukan hasil.”
Karena itu, seseorang dapat berdoa memohon kesehatan, tetapi tetap mengalami penyakit.
Ia dapat berdoa memohon keselamatan, tetapi tetap menghadapi ujian.
Ia dapat memohon umur panjang, tetapi wafat lebih cepat daripada yang diperkirakan keluarganya.
Hal tersebut tidak berarti doa tidak mempunyai nilai.
Doa dapat menjadi:
- sebab datangnya pertolongan;
- sebab berubahnya keputusan manusia;
- sebab ditemukannya pengobatan;
- sebab diringankannya penderitaan;
- sebab dikuatkannya keluarga;
- sebab diampuninya dosa;
- sebab hati mampu menerima ketetapan;
- atau pahala yang disimpan di sisi Alloh.
Manusia melihat hasil dari permukaan.
Alloh mengetahui seluruh akibat sampai akhir.
3. Doa dan Ikhtiar Dapat Menjadi Sebab Keselamatan
Walaupun hasil akhirnya bukan milik manusia, doa dan ikhtiar tetap dapat menjadi sebab nyata bagi keselamatan.
Seseorang berdoa memohon perlindungan, lalu menjadi lebih berhati-hati dalam perjalanan.
Seseorang memohon kesehatan, lalu tergerak melakukan pemeriksaan.
Seseorang berdoa agar keluarganya dilindungi, lalu berhenti melakukan kebiasaan yang membahayakan rumah.
Seseorang memohon panjang umur, lalu memperbaiki makanan, tidur, dan cara mengelola tekanan hidup.
Melalui jalan tersebut, sebagian penyakit dapat dicegah.
Sebagian bahaya dapat dihindari.
Sebagian keadaan berat dapat diketahui lebih awal.
Sebagian umur dapat dijalani dengan kualitas yang lebih baik.
Namun semua itu tetap tidak berarti manusia mengetahui batas akhir ajalnya.
Ikhtiar memperbaiki kemungkinan yang dapat dijangkau manusia.
Ia tidak menghapus rahasia yang berada di sisi Alloh.
4. Memahami Takdir yang Berkaitan dengan Sebab
Para ulama menjelaskan persoalan takdir dengan ungkapan yang beragam.
Sebagian menjelaskan adanya ketetapan yang dikaitkan dengan suatu sebab.
Misalnya:
Apabila seseorang berdoa, menyambung silaturahmi, menjaga kesehatan, atau melakukan amal tertentu, maka terjadi keadaan tertentu atas izin Alloh.
Apabila sebab itu tidak ditempuh, dapat terjadi keadaan yang berbeda.
Manusia melihat seakan-akan takdir berubah.
Namun perubahan itu tidak pernah berada di luar ilmu Alloh.
Alloh sejak awal mengetahui:
- siapa yang akan berdoa;
- siapa yang akan berikhtiar;
- siapa yang akan berobat;
- siapa yang akan meninggalkan pengobatan;
- siapa yang akan sembuh;
- siapa yang akan wafat;
- dan kapan batas akhirnya tiba.
Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun yang membuat Alloh terkejut atau baru mengetahui keadaan setelah manusia bertindak.
Doa tidak mengubah ilmu Alloh.
Doa berjalan di dalam ilmu Alloh.
Ikhtiar tidak keluar dari takdir.
Ikhtiar adalah bagian dari takdir.
5. Ajal Terakhir Tidak Dapat Dilewati
Inilah inti yang perlu dijaga agar tidak terjadi kesalahan keyakinan:
Apabila ajal terakhir telah tiba, tidak ada sebab dunia yang mampu membuat manusia melewatinya.
Dokter dapat berusaha.
Keluarga dapat berdoa.
Obat dapat diberikan.
Alat-alat medis dapat digunakan.
Sedekah dapat dilakukan.
Orang-orang sholeh dapat memanjatkan doa.
Namun apabila batas terakhir itu benar-benar telah datang, kehidupan dunia selesai sesuai ketetapan Alloh.
Alloh berfirman bahwa ketika ajal suatu kaum telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya atau memajukannya sesaat pun.
Karena itu, tidak benar mengatakan bahwa semua kematian pasti dapat ditunda.
Tidak benar pula menyalahkan keluarga dengan berkata:
“Seandainya doanya lebih kuat, pasti ia tidak meninggal.”
“Seandainya sedekahnya lebih banyak, ajalnya pasti tertunda.”
“Seandainya imannya lebih tinggi, ia pasti sembuh.”
Ucapan seperti itu tidak memiliki dasar yang benar dan dapat melukai orang yang sedang berduka.
6. Kematian Bukan Bukti Kekalahan Doa
Ketika seseorang meninggal setelah didoakan banyak orang, jangan menyebut doa-doa itu gagal.
Mungkin melalui doa tersebut:
- rasa sakitnya diringankan;
- hatinya ditenangkan;
- ia sempat mengucapkan kalimat baik;
- keluarga diberi kesempatan berkumpul;
- permusuhan diselesaikan;
- utangnya diketahui;
- taubatnya dikuatkan;
- atau akhir perjalanannya dipermudah.
Manusia sering meminta satu bentuk pertolongan.
Namun Alloh dapat memberikan pertolongan dalam bentuk lain.
Keluarga mungkin meminta agar orang sakit kembali sehat.
Namun apabila ajalnya telah tiba, Alloh dapat memberikan ketenangan, kemudahan, dan pengampunan.
Pertolongan tidak selalu berarti kehidupan dunia diperpanjang.
Kadang-kadang pertolongan berarti perjalanan kembali dipenuhi rahmat.
7. Kesehatan adalah Sebab, Bukan Jaminan
Menjaga kesehatan merupakan bagian dari syukur.
Namun kesehatan bukan kontrak bahwa manusia akan hidup lebih lama.
Ada orang yang menjaga tubuh dengan baik tetapi mengalami penyakit yang tidak terduga.
Ada orang yang masih muda dan kuat tetapi mengalami kecelakaan.
Ada orang yang sudah tua dan mempunyai banyak penyakit tetapi masih diberi usia panjang.
Kenyataan tersebut tidak membuat usaha menjaga kesehatan menjadi sia-sia.
Menjaga kesehatan tetap dapat:
- mengurangi risiko penyakit;
- meningkatkan kekuatan tubuh;
- menjaga kemampuan bekerja;
- membantu ibadah;
- memperpanjang masa kemandirian;
- serta meningkatkan kualitas kehidupan.
Namun manusia harus membedakan antara:
Mengurangi risiko
dan
menghapus kemungkinan kematian.
Manusia dapat mengurangi sebagian risiko.
Manusia tidak dapat menghapus kematian.
8. Pengobatan Harus Tetap Ditempuh
Karena ajal tidak diketahui, orang sakit tetap diperintahkan mencari pertolongan.
Jangan berkata:
“Kalau belum ajal, saya pasti sembuh tanpa dokter.”
Ucapan tersebut keliru karena manusia tidak mengetahui jalan takdirnya.
Boleh jadi kesembuhan telah ditetapkan melalui obat.
Boleh jadi keselamatan telah ditetapkan melalui operasi.
Boleh jadi pertolongan Alloh datang melalui nasihat tenaga kesehatan.
Boleh jadi keterlambatan berobat justru memperberat penyakit.
Karena itu:
- periksakan keluhan yang menetap;
- ikuti pengobatan yang aman;
- tanyakan hal yang belum dipahami;
- carilah pendapat kedua apabila dibutuhkan;
- dan jangan menghentikan obat tanpa arahan.
Tawakal tidak berarti membuang sarana.
Tawakal berarti menggunakan sarana tanpa menyembah sarana.
9. Dokter Bukan Penentu Ajal
Dokter mempunyai ilmu dan pengalaman untuk memperkirakan keadaan tubuh.
Namun dokter tidak mengetahui ajal secara mutlak.
Dokter dapat menjelaskan kemungkinan.
Dokter dapat membuat perkiraan berdasarkan kondisi medis.
Namun perkiraan bukan keputusan pasti tentang waktu kematian.
Ada pasien yang diperkirakan hanya bertahan singkat, tetapi hidup lebih lama.
Ada pula pasien yang tampaknya stabil, kemudian mengalami perubahan mendadak.
Karena itu, dengarkan penjelasan medis dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menganggap dokter menguasai perkara gaib.
Dokter menangani tubuh.
Alloh menggenggam kehidupan.
10. Jangan Mencari Jalan Gaib untuk Mengetahui Ajal
Ketidakpastian membuat sebagian orang mencari peramal, perhitungan hari, angka kelahiran, garis tangan, atau orang yang mengaku mampu melihat batas umur.
Jalan seperti ini tidak memberikan ketenangan yang sehat.
Ia justru dapat menimbulkan:
- kecemasan;
- ketergantungan;
- penipuan;
- keputusan yang merugikan;
- serta keyakinan yang menyimpang.
Jangan percaya kepada orang yang berkata:
“Umurmu tinggal sekian bulan.”
“Kematianmu akan datang pada tanggal tertentu.”
“Aku melihat tanda ajal pada wajahmu.”
“Bayarlah ritual ini agar kematianmu tertunda.”
Tidak seorang pun berhak menjual kepastian tentang perkara yang dirahasiakan Alloh.
11. Mimpi Bukan Penentu Ajal
Mimpi tentang kematian dapat muncul karena:
- ketakutan;
- kesedihan;
- pengalaman kehilangan;
- pikiran yang sedang tertekan;
- berita yang baru didengar;
- atau proses alamiah ketika tidur.
Tidak setiap mimpi kematian merupakan pemberitahuan dari alam gaib.
Jangan membatalkan seluruh kehidupan karena mimpi.
Jangan membagikan harta secara tergesa-gesa.
Jangan meninggalkan pekerjaan.
Jangan menganggap diri pasti segera wafat.
Apabila mimpi membuat takut, berlindunglah kepada Alloh, tenangkan pikiran, dan jangan menjadikannya sebagai kepastian.
Ambillah pelajaran umum:
Hidup memang terbatas, maka perbaikilah amal.
Cukup sampai di sana.
12. Jangan Menghubungkan Semua Gejala dengan Ajal
Tubuh dapat mengalami berbagai perubahan karena sebab medis, kelelahan, kecemasan, kekurangan tidur, pola makan, dan faktor usia.
Jangan langsung menganggap:
- jantung berdebar sebagai tanda kematian;
- telinga berdengung sebagai panggilan ajal;
- mimpi tertentu sebagai tanda umur habis;
- rasa dingin sebagai keluarnya ruh;
- atau sakit kepala sebagai pertanda akhir.
Perhatikan keadaan secara nyata.
Apabila terdapat gejala berat atau berulang, periksakan diri.
Ilmu mengurangi ketakutan yang tidak perlu.
13. Ketakutan terhadap Kematian Perlu Diarahkan
Takut mati dalam kadar yang wajar dapat mengingatkan manusia agar tidak lalai.
Namun ketakutan yang berlebihan dapat mencuri kehidupan sebelum kematian benar-benar datang.
Seseorang yang terlalu takut dapat:
- sulit tidur;
- tidak berani bepergian;
- terus memeriksa tubuh;
- tidak mampu bekerja;
- menjauhi keluarga;
- serta terus mencari kepastian yang memang tidak dapat diperoleh.
Apabila ketakutan mengganggu kegiatan sehari-hari, mintalah bantuan.
Berdoa tetap dilakukan.
Namun berbicara dengan dokter, psikolog, atau orang yang mampu mendampingi juga merupakan ikhtiar.
Iman tidak menuntut manusia menanggung semua beban seorang diri.
14. Jangan Berharap Mati karena Beban Kehidupan
Ketika rasa sakit, utang, pertengkaran, penolakan, atau kehilangan terasa sangat berat, manusia dapat berkata:
“Lebih baik hidup ini segera berakhir.”
Jangan mengikuti bisikan keputusasaan tersebut.
Keadaan yang dirasakan hari ini bukan kepastian tentang seluruh masa depan.
Masalah dapat berubah.
Pengobatan dapat ditemukan.
Utang dapat dicicil.
Hubungan dapat diperbaiki atau diberi batas.
Pekerjaan baru dapat terbuka.
Hati yang hari ini sangat gelap dapat kembali merasakan cahaya.
Apabila muncul keinginan menyakiti diri atau mengakhiri kehidupan, segera datangi orang lain dan carilah pertolongan langsung.
Jangan tinggal sendirian bersama dorongan tersebut.
Menjaga nyawa pada saat hati lemah merupakan ikhtiar yang sangat penting.
15. Doa yang Benar Memohon Kebaikan, Bukan Memaksa Umur
Doa yang lebih sempurna bukan sekadar meminta banyaknya tahun.
Berdoalah:
“Ya Alloh, berkahilah umurku selama umur itu menjadi kebaikan bagi iman, keluarga, dan amal.”
“Sehatkan tubuhku agar dapat beribadah dan menunaikan amanah.”
“Jauhkan aku dari penyakit dan bahaya, tetapi apabila ujian datang, berikan kekuatan dan jalan pertolongan.”
“Apabila ajal telah tiba, jangan biarkan aku kembali dalam keadaan lalai dan membawa kezaliman.”
Doa seperti ini mempertemukan harapan dengan penyerahan.
Manusia meminta kebaikan, bukan menuntut Alloh mengikuti seluruh keinginannya.
16. Panjang Umur yang Sebenarnya
Panjang umur dapat dipahami dalam beberapa lapisan.
Panjang dalam Jumlah Tahun
Seseorang diberi kesempatan hidup lebih lama.
Panjang dalam Kesehatan
Seseorang tetap mampu mandiri, beribadah, bekerja, dan membantu keluarga.
Panjang dalam Manfaat
Ilmu dan kebaikannya terus dipakai meskipun ia telah wafat.
Panjang dalam Keturunan Baik
Anak dan cucunya meneruskan amal serta mendoakannya.
Panjang dalam Nama yang Baik
Orang mengingat kejujuran dan pertolongannya.
Karena itu, jangan hanya mengejar banyaknya tahun.
Kejarlah banyaknya manfaat yang dapat ditanam di dalam waktu.
17. Umur Pendek Tidak Selalu Berarti Kerugian
Manusia cenderung menganggap wafat dalam usia muda sebagai kerugian mutlak.
Bagi keluarga, kehilangan tersebut memang sangat menyakitkan.
Namun manusia tidak mengetahui kedudukan seseorang di sisi Alloh.
Ada orang yang hidup singkat tetapi meninggalkan kebaikan besar.
Ada yang hidup lama tetapi hanya menambah kerusakan.
Ukuran kehidupan bukan semata-mata lamanya tubuh berada di dunia.
Yang lebih penting adalah:
- iman;
- amal;
- kasih sayang;
- tanggung jawab;
- dan keadaan akhir di sisi Alloh.
Karena itu, jangan menilai kasih sayang Alloh hanya dari panjang atau pendeknya umur.
18. Jangan Membandingkan Ajal Manusia
Ketika seseorang wafat, keluarga mungkin berkata:
“Mengapa ia yang baik justru lebih dahulu?”
“Mengapa orang yang zalim masih hidup?”
Pertanyaan tersebut lahir dari rasa kehilangan dan rasa keadilan manusia.
Namun dunia bukan tempat seluruh pembalasan diselesaikan.
Panjang umur bukan bukti keridhoan mutlak.
Kematian lebih awal bukan bukti keburukan.
Ada umur panjang yang menjadi kesempatan taubat.
Ada pula umur panjang yang justru menambah kesalahan.
Ada kematian yang datang setelah hidup penuh manfaat.
Ada pula kematian yang memutus langkah kezaliman.
Manusia tidak mengetahui seluruh hikmah.
Karena itu, tetaplah menjaga prasangka baik kepada Alloh tanpa menolak rasa sedih yang manusiawi.
19. Ikhtiar Terbaik adalah Menjaga Lima Amanah
Amanah Iman
Jaga tauhid, sholat, taubat, dan hubungan dengan Alloh.
Amanah Tubuh
Jaga makanan, tidur, kebersihan, gerak, dan pengobatan.
Amanah Keluarga
Berikan nafkah, perhatian, pendidikan, dan rasa aman.
Amanah Harta
Carilah yang halal, bayarlah utang, dan kembalikan hak manusia.
Amanah Waktu
Gunakan hari untuk sesuatu yang memberi manfaat.
Kelima amanah ini adalah persiapan menghadapi kematian sekaligus cara menghormati kehidupan.
20. Lima Kesalahan dalam Memahami Tawakal
Pertama: Tidak Berobat
Mengira bahwa obat bertentangan dengan iman.
Kedua: Melakukan Tindakan Berbahaya
Mengatakan bahwa jika belum ajal pasti selamat.
Ketiga: Menganggap Semua Hasil Harus Sesuai Doa
Merasa bahwa doa ditolak apabila hasilnya berbeda.
Keempat: Menyalahkan Orang yang Meninggal
Menganggap ia kurang berdoa atau kurang beriman.
Kelima: Merasa Ikhtiar Menjamin Keselamatan
Menganggap pola hidup sehat membuat dirinya kebal dari kematian.
Tawakal yang benar menghindari kelima kesalahan tersebut.
21. Lima Tanda Tawakal yang Sehat
Pertama: Mau Berusaha
Ia tidak menunggu keajaiban sambil meninggalkan tanggung jawab.
Kedua: Mau Menerima Nasihat
Ia tidak merasa bahwa dirinya paling mengetahui.
Ketiga: Tidak Menyombongkan Hasil
Ketika sembuh, ia bersyukur dan menghargai orang yang menolong.
Keempat: Tidak Putus Asa ketika Hasil Berbeda
Ia tetap mencari hikmah dan pertolongan.
Kelima: Tetap Menjaga Adab kepada Alloh
Ia berdoa tanpa menuntut dan menerima tanpa berhenti memperbaiki diri.
22. Hidup Seolah Masih Panjang, Beramal Seolah Waktu Terbatas
Keseimbangan kehidupan dapat diringkas dalam dua sikap.
Hidup Seolah Masih Panjang
Bekerjalah.
Didiklah anak.
Tanamlah pohon.
Bangunlah usaha yang halal.
Belajarlah ilmu.
Rawatlah kesehatan.
Rencanakan masa depan.
Jangan berhenti hidup hanya karena kematian pasti datang.
Beramal Seolah Waktu Terbatas
Jangan tunda taubat.
Jangan simpan permintaan maaf terlalu lama.
Jangan biarkan utang tidak tercatat.
Jangan terus mempertahankan pertengkaran.
Jangan menganggap kesempatan akan selalu ada.
Keduanya harus berjalan bersama.
Perencanaan tanpa kesadaran akhir dapat melahirkan kelalaian.
Kesadaran akhir tanpa perencanaan dapat melahirkan keputusasaan.
23. Persiapan Sederhana yang Dapat Dilakukan Sekarang
Saudara cahayaku, lakukan beberapa langkah berikut tanpa menunggu sakit.
Rapikan Ibadah
Perbaiki sholat satu per satu.
Jangan menunggu sempurna.
Catat Utang
Tuliskan jumlah, nama, dan cara pembayarannya.
Beri Tahu Dokumen Penting
Biarkan satu anggota keluarga yang dipercaya mengetahui tempat penyimpanannya.
Periksa Kesehatan
Jangan menunda keluhan yang terus berulang.
Hubungi Orang Tua dan Keluarga
Jangan hanya menunggu mereka menghubungi lebih dahulu.
Mintalah Maaf
Pilih satu hubungan yang dapat diperbaiki.
Bersedekah
Tidak perlu menunggu kaya.
Tinggalkan Ilmu
Ajarkan sesuatu yang benar dan bermanfaat.
Kurangi Kebiasaan Merusak
Lakukan secara bertahap dan cari bantuan apabila sulit.
Buat Wasiat yang Wajar
Pastikan tidak merampas hak ahli waris dan tidak bertentangan dengan ketentuan agama serta hukum.
24. Ketika Pengobatan Tidak Lagi Menyembuhkan
Dalam sebagian keadaan, ilmu medis mungkin tidak lagi mampu menyembuhkan penyakit.
Namun perawatan tetap dapat diberikan untuk:
- mengurangi rasa sakit;
- membantu pernapasan;
- menjaga kebersihan;
- memberikan kenyamanan;
- mendukung keluarga;
- serta menjaga martabat orang sakit.
Berhentinya pengobatan yang tidak lagi bermanfaat bukan berarti berhenti merawat.
Perawatan dapat berubah tujuan.
Dari mengejar kesembuhan menjadi mengurangi penderitaan.
Dari memperpanjang tindakan menjadi menjaga kenyamanan.
Keputusan seperti ini harus dibicarakan dengan dokter dan keluarga secara bijaksana.
Jangan mengambil keputusan hanya karena rasa takut, tekanan biaya, atau pendapat orang yang tidak memahami keadaan medis.
25. Mendampingi Tanpa Memberikan Janji Palsu
Ketika orang sakit bertanya:
“Apakah saya akan sembuh?”
Jangan selalu menjawab dengan kepastian yang tidak diketahui.
Katakan dengan lembut:
“Kita terus berusaha dan berdoa. Dokter sedang memberikan penanganan. Kami akan tetap mendampingi.”
Harapan tidak harus dibangun melalui kebohongan.
Harapan yang jujur lebih menenangkan daripada janji yang akhirnya tidak terpenuhi.
26. Jangan Menganggap Tangisan sebagai Penolakan Takdir
Ketika kehilangan datang, manusia boleh menangis.
Kesedihan bukan lawan dari iman.
Orang yang menerima ketetapan Alloh tetap dapat merasakan kehilangan yang dalam.
Ikhlas bukan berarti tidak menangis.
Ikhlas berarti tidak menuduh Alloh zalim, tidak menyakiti diri, dan perlahan-lahan belajar menjalani kehidupan setelah kehilangan.
Jangan memaksa orang berduka segera terlihat kuat.
Dampingi dengan kehadiran.
Tidak semua kesedihan membutuhkan nasihat panjang.
Kadang-kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang duduk dan mendengarkan.
27. Doa Orang yang Berduka Tetap Bernilai
Keluarga yang kehilangan mungkin bertanya:
“Mengapa dahulu kami berdoa begitu banyak tetapi ia tetap meninggal?”
Jawablah dengan kelembutan:
Doa kalian tidak sia-sia.
Doa telah menjadi ibadah.
Doa telah menjadi kasih sayang.
Doa mungkin telah meringankan penderitaan.
Doa mungkin telah menyatukan keluarga.
Doa mungkin menjadi pahala bagi orang yang wafat dan orang yang mendoakan.
Namun ajal terakhir memang tidak berada dalam kekuasaan manusia.
Menangislah apabila perlu.
Kemudian teruskan cinta melalui doa, sedekah, dan penjagaan terhadap keluarga yang ditinggalkan.
28. Cinta Tidak Berakhir ketika Tubuh Berpisah
Selama hidup, cinta hadir melalui pertemuan, percakapan, makanan, pelukan, dan kebersamaan.
Setelah seseorang wafat, cinta berubah bentuk.
Cinta menjadi doa.
Cinta menjadi sedekah.
Cinta menjadi upaya menjaga nama baiknya.
Cinta menjadi perhatian kepada anak dan pasangan yang ditinggalkannya.
Cinta menjadi kelanjutan kebaikan yang pernah ia mulai.
Jangan mencari hubungan dengan orang wafat melalui pemanggilan ruh atau ritual yang tidak jelas.
Hubungan yang paling aman adalah mendoakan dan melanjutkan kebaikan.
29. Empat Tingkatan Penyerahan
Tingkat Pertama: Mengakui Kelemahan
“Aku tidak menguasai hidup.”
Tingkat Kedua: Melakukan Usaha
“Aku akan menjaga amanah sesuai kemampuanku.”
Tingkat Ketiga: Menerima Hasil
“Aku tidak selalu memperoleh yang kuinginkan.”
Tingkat Keempat: Tetap Berprasangka Baik
“Aku percaya ilmu dan rahmat Alloh lebih luas daripada pemahamanku.”
Penyerahan tidak terjadi dalam satu malam.
Ia dilatih melalui ujian kecil setiap hari.
30. Rahasia Ketenangan Menghadapi Ajal
Ketenangan bukan berasal dari mengetahui kapan kematian akan datang.
Ketenangan berasal dari mengetahui apa yang harus dilakukan selama masih hidup.
Orang yang telah:
- bertaubat;
- menjaga sholat;
- menyelesaikan utang;
- memperbaiki hubungan;
- berusaha menjaga kesehatan;
- dan menyerahkan hasil kepada Alloh,
akan mempunyai hati yang lebih siap menghadapi ketidakpastian.
Ia tetap dapat merasa takut.
Namun ketakutannya tidak menguasai seluruh kehidupan.
Ia tahu bahwa tugasnya bukan memastikan hasil.
Tugasnya adalah setia kepada jalan kebaikan.
31. Wirid Penutup Qitab
Amalan ini dapat dibaca sekali sehari setelah Subuh, Maghrib, atau Isya.
Tidak perlu dilakukan dengan paksaan.
Tidak perlu mengejar sensasi tubuh.
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Alloh Yang Mahaagung dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Sholawat 33 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Yā Ḥayyu 33 kali
يَا حَيُّ
Yā Ḥayyu.
Artinya:
“Wahai Yang Mahahidup.”
Yā Qayyūm 33 kali
يَا قَيُّوْمُ
Yā Qayyūm.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan menegakkan seluruh makhluk.”
Yā Ḥafīẓ 33 kali
يَا حَفِيْظُ
Yā Ḥafīẓ.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menjaga.”
Yā Syāfī 33 kali
يَا شَافِي
Yā Syāfī.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menyembuhkan.”
Yā Ḥakīm 33 kali
يَا حَكِيْمُ
Yā Ḥakīm.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Bijaksana.”
Yā Wakīl 33 kali
يَا وَكِيْلُ
Yā Wakīl.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Mengurus seluruh perkara dan sebaik-baik tempat berserah.”
Kemudian bacalah:
حَسْبِيَ اللهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Ḥasbiyallohu lā ilāha illā Huwa, ‘alaihi tawakkaltu, wa Huwa Rabbul-‘Arsyil-‘Aẓīm.
Artinya:
“Cukuplah Alloh bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arsy yang agung.”
Setelah itu, berdoalah dengan bahasa sendiri.
Tidak ada kewajiban membuat doa panjang.
Kejujuran hati lebih penting daripada keindahan susunan kata.
32. Doa Penyerahan Kehidupan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حَيَاةً طَيِّبَةً، وَعُمْرًا مُبَارَكًا، وَبَدَنًا مُعَافًى، وَقَلْبًا مُطْمَئِنًّا، وَرِزْقًا حَلَالًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَخَاتِمَةً حَسَنَةً
Allāhumma innī as’aluka ḥayātan ṭayyibah, wa ‘umran mubārakan, wa badanan mu‘āfā, wa qalban muṭma’innan, wa rizqan ḥalālan, wa ‘amalan mutaqabbalan, wa khātimatan ḥasanah.
Artinya:
“Ya Alloh, aku memohon kehidupan yang baik, umur yang diberkahi, tubuh yang sehat, hati yang tenteram, rezeki yang halal, amal yang diterima, dan akhir kehidupan yang baik.”
Kemudian bacalah:
اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
Allāhumma aḥyinī mā kānatil-ḥayātu khairan lī, wa tawaffanī idzā kānatil-wafātu khairan lī.
Artinya:
“Ya Alloh, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.”
33. Pernyataan Kesadaran
Bacalah perlahan sebagai pengingat:
Aku tidak mengetahui batas umurku.
Karena itu, aku tidak akan menunda taubat.
Aku tidak menguasai hasil pengobatan.
Karena itu, aku akan berobat dan menyerahkan kesembuhan kepada Alloh.
Aku tidak dapat menghapus kematian.
Karena itu, aku akan menjaga kehidupan sebagai amanah.
Aku tidak dapat memaksa doa dikabulkan sesuai keinginanku.
Karena itu, aku akan berdoa dengan harapan dan adab.
Aku tidak dapat mengubah masa lalu.
Karena itu, aku akan memperbaiki hari ini.
Aku tidak dapat membawa harta dunia.
Karena itu, aku akan menggunakan harta untuk kebaikan.
Aku tidak dapat hidup selamanya bersama keluargaku.
Karena itu, aku akan menyayangi mereka selama kesempatan masih terbuka.
Aku akan berusaha tanpa kesombongan.
Aku akan berserah tanpa kemalasan.
Aku akan mengingat mati tanpa membenci hidup.
Aku akan mencintai hidup tanpa melupakan akhirat.
34. Jawaban Akhir atas Pertanyaan Qitab
Saudara cahayaku, inilah jawaban akhir yang hendaknya disimpan dengan tenang:
Apakah manusia harus berdoa?
Ya.
Doa merupakan ibadah, pengharapan, dan pengakuan akan kekuasaan Alloh.
Apakah manusia harus menjaga kesehatan?
Ya.
Tubuh merupakan amanah yang harus dipelihara.
Apakah manusia harus berobat?
Ya, ketika membutuhkan.
Pengobatan adalah salah satu sebab yang dibolehkan dan dianjurkan.
Apakah doa dapat menjadi sebab tertolaknya bahaya?
Dapat, atas izin Alloh.
Namun manusia tidak mengetahui seluruh bentuk pertolongan yang akan diberikan.
Apakah menjaga kesehatan dapat membantu memperpanjang kehidupan?
Dapat menjadi sebab berkurangnya risiko penyakit dan meningkatnya kualitas hidup.
Namun tidak memberikan jaminan mutlak tentang panjang umur.
Apakah setiap kematian dapat ditunda?
Tidak.
Apabila ajal terakhir telah tiba, tidak ada manusia yang dapat menundanya.
Apakah orang yang meninggal setelah berdoa berarti doanya gagal?
Tidak.
Doa tetap menjadi ibadah dan dapat dikabulkan dalam bentuk yang tidak selalu terlihat sebagai tambahan umur.
Siapa yang menentukan hasil akhir?
Alloh.
Manusia menempuh sebab.
Alloh menetapkan hasil.
35. Kesimpulan Agung Qitab
Hidup berada di antara dua rahasia:
Kita tidak mengetahui berapa lama perjalanan akan berlangsung.
Kita juga tidak mengetahui dalam bentuk apa pertolongan Alloh akan datang.
Namun manusia tidak dibiarkan tanpa tuntunan.
Ia diberi doa.
Ia diberi akal.
Ia diberi tubuh.
Ia diberi ilmu.
Ia diberi keluarga.
Ia diberi kesempatan bertaubat.
Ia diberi kemampuan melakukan ikhtiar.
Karena itu, jalan seorang hamba bukanlah duduk menunggu takdir.
Jalannya adalah:
Berdoa dengan sungguh-sungguh.
Berusaha dengan benar.
Menjaga kesehatan dengan seimbang.
Menghindari bahaya.
Berobat ketika sakit.
Menolong orang lain.
Menyelesaikan amanah.
Mempersiapkan keluarga.
Bertaubat setiap hari.
Lalu menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Alloh.
Doa bukan jaminan bahwa seluruh keinginan akan terpenuhi.
Ikhtiar bukan jaminan bahwa seluruh bahaya akan hilang.
Kesehatan bukan jaminan bahwa ajal masih jauh.
Penyakit bukan kepastian bahwa ajal sudah dekat.
Kematian bukan bukti bahwa doa telah gagal.
Kesembuhan bukan bukti bahwa manusia menguasai takdir.
Semua berjalan dalam ilmu Alloh.
Maka jangan berkata:
“Karena semuanya telah ditakdirkan, aku tidak perlu berusaha.”
Dan jangan pula berkata:
“Karena aku telah berusaha, hasilnya pasti sesuai keinginanku.”
Katakanlah:
“Aku akan berusaha karena itulah amanahku.”
“Aku akan berdoa karena aku adalah hamba.”
“Aku akan menerima hasil karena Alloh lebih mengetahui.”
36. Amanah Terakhir untuk Saudara Cahayaku
Saudara cahayaku, setelah qitab ini ditutup, janganlah saudara menjadi semakin takut kepada kematian.
Jadilah semakin sadar terhadap kehidupan.
Apabila masih memiliki orang tua, bahagiakanlah selagi mereka dapat ditemui.
Apabila mempunyai pasangan, jangan biarkan rumah dipenuhi ucapan yang melukai.
Apabila mempunyai anak, hadirkan rasa aman dan teladan yang baik.
Apabila mempunyai utang, catat dan selesaikan.
Apabila pernah menzalimi, kembalikan haknya.
Apabila tubuh memberikan keluhan, periksakan.
Apabila hati sangat berat, mintalah bantuan.
Apabila memperoleh rezeki, sisihkan untuk kebaikan.
Apabila memperoleh kesehatan, gunakan untuk ibadah dan manfaat.
Apabila menghadapi kegagalan, jangan berputus asa.
Apabila memperoleh keberhasilan, jangan merasa menjadi penguasa takdir.
Jangan menunggu waktu yang dianggap tepat.
Waktu yang paling nyata adalah hari ini.
Jangan menunggu menjadi sempurna.
Lakukan perbaikan sesuai kemampuan.
Jangan menunggu datangnya ajal untuk mengatakan:
“Aku seharusnya hidup lebih baik.”
Hiduplah lebih baik selagi kesempatan masih diberikan.
Doa Penutup Agung Qitab
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ya Alloh, Tuhan Yang menghidupkan dan mematikan, Tuhan Yang menggenggam seluruh waktu dan perjalanan, kami menyerahkan kehidupan, kesehatan, keluarga, rezeki, penyakit, kesembuhan, dan akhir perjalanan kami kepada-Mu.
Kami mengakui bahwa kami tidak mengetahui ajal kami.
Kami tidak mengetahui ujian apa yang akan datang.
Kami tidak mengetahui berapa banyak hari yang masih tersisa.
Namun kami percaya bahwa ilmu-Mu meliputi seluruh keadaan.
Ya Alloh, jangan jadikan ketidaktahuan terhadap ajal membuat kami hidup dalam ketakutan.
Jangan pula jadikan kesehatan dan kelapangan membuat kami merasa aman dari kematian.
Berikan kepada kami keseimbangan antara harapan dan kewaspadaan, antara ikhtiar dan tawakal, antara mencintai kehidupan dan mempersiapkan akhirat.
Ya Alloh, sehatkan tubuh kami agar dapat menjalankan sholat, bekerja, menjaga keluarga, menolong sesama, dan menunaikan amanah.
Lindungi kami dari penyakit yang membahayakan.
Jauhkan kami dari kecelakaan, kelalaian, kekerasan, keputusan yang tergesa-gesa, dan kebiasaan yang merusak tubuh.
Apabila kami sakit, tunjukkan jalan pengobatan yang benar.
Pertemukan kami dengan dokter dan tenaga kesehatan yang amanah.
Jauhkan kami dari penipuan, obat yang membahayakan, ritual yang menyesatkan, dan orang yang memanfaatkan ketakutan kami.
Ya Alloh, apabila Engkau memberikan kesembuhan, jadikanlah kami lebih bersyukur dan lebih taat.
Jangan biarkan kami kembali kepada kebiasaan yang merusak.
Apabila penyakit harus kami jalani lebih lama, kuatkanlah tubuh, hati, dan keluarga kami.
Ringankan rasa sakit.
Lapangkan biaya pengobatan.
Berikan kesabaran tanpa keputusasaan.
Ya Alloh, berkahilah umur kami.
Bukan hanya dengan banyaknya tahun, tetapi dengan banyaknya manfaat.
Jadikan mata kami melihat kebaikan.
Jadikan telinga kami mendengar nasihat.
Jadikan lisan kami mengucapkan kejujuran dan kasih sayang.
Jadikan tangan kami menolong.
Jadikan kaki kami berjalan menuju tempat yang Engkau ridhoi.
Jadikan harta kami halal dan bermanfaat.
Jadikan ilmu kami menerangi, bukan menyesatkan.
Jadikan kedudukan kami sebagai jalan melayani, bukan menyombongkan diri.
Ya Alloh, ampunilah tahun-tahun yang telah kami sia-siakan.
Ampunilah waktu yang kami habiskan dalam pertengkaran, kesombongan, iri, dendam, dan kelalaian.
Ampunilah ucapan yang melukai hati orang lain.
Ampunilah amanah yang tertunda.
Ampunilah hak manusia yang belum kami tunaikan.
Berikan keberanian untuk memperbaikinya sebelum waktu kami selesai.
Ya Alloh, apabila terdapat utang dalam kehidupan kami, bukakan rezeki untuk membayarnya.
Apabila terdapat barang titipan, ingatkan kami untuk mengembalikannya.
Apabila terdapat hubungan yang rusak, bukakan jalan perdamaian yang bijaksana.
Apabila terdapat orang yang pernah kami sakiti, lembutkan hati kami untuk meminta maaf.
Apabila kami pernah dizalimi, berikan kemampuan memaafkan tanpa kehilangan kebijaksanaan dan penjagaan diri.
Ya Alloh, jagalah kedua orang tua kami.
Apabila mereka masih hidup, sehatkan, lindungi, dan berikan kesempatan kepada kami untuk berbakti.
Jangan biarkan kesibukan membuat kami melupakan mereka.
Apabila mereka telah wafat, ampunilah, rahmatilah, dan terimalah amal baik mereka.
Jadikan doa dan kebaikan kami sebagai kelanjutan bakti kepada mereka.
Ya Alloh, jagalah pasangan dan anak-anak kami.
Jadikan rumah kami tempat ketenteraman.
Jauhkan kekerasan, penghinaan, pengkhianatan, dan permusuhan.
Ajarkan kami berbicara dengan lembut.
Ajarkan kami mendengarkan.
Ajarkan kami mengakui kesalahan.
Jangan biarkan kami meninggalkan keluarga hanya dengan harta tetapi tanpa kasih sayang dan teladan.
Ya Alloh, apabila kami menghadapi kesulitan yang berat, jangan biarkan kami meminta kematian karena keputusasaan.
Bukakan jalan pertolongan.
Pertemukan kami dengan orang yang dapat dipercaya.
Berikan keberanian untuk meminta bantuan.
Jaga kami dari menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Hidupkan kembali harapan ketika hati terasa gelap.
Ya Alloh, kami memohon perlindungan, tetapi kami tidak mengaku dapat memaksa kehendak-Mu.
Kami memohon kesembuhan, tetapi kami mengakui bahwa keputusan terakhir berada di tangan-Mu.
Kami memohon umur panjang, tetapi hanya apabila umur itu menjadi tambahan iman, manfaat, dan kebaikan.
Jangan panjangkan umur kami apabila hanya menambah kesombongan, kezaliman, dan kelalaian.
Jadikan setiap tambahan hari sebagai tambahan taubat.
Jadikan setiap tambahan rezeki sebagai tambahan sedekah.
Jadikan setiap tambahan ilmu sebagai tambahan kerendahan hati.
Jadikan setiap tambahan usia sebagai tambahan kedekatan kepada-Mu.
Ya Alloh, ketika ajal orang yang kami cintai tiba, berikan kekuatan kepada kami untuk mendampingi dengan tenang.
Jaga ucapan kami.
Jangan biarkan kami menakut-nakuti orang yang sedang sakit.
Tuntun kami memberikan pengobatan, kenyamanan, doa, dan kasih sayang.
Apabila kematian telah terjadi, kuatkan hati keluarga yang ditinggalkan.
Jauhkan mereka dari perebutan harta, permusuhan, penipuan, dan keputusan yang merugikan.
Ya Alloh, rahmatilah seluruh orang yang telah mendahului kami.
Ampuni dosa mereka.
Terima amal mereka.
Lapang dan terangkan perjalanan mereka dengan rahmat-Mu.
Jadikan kenangan mereka sebagai jalan lahirnya doa dan kebaikan, bukan kesesatan dan pemanggilan ruh.
Ya Alloh, apabila waktu kami sendiri tiba, jangan biarkan kami terkejut dalam kelalaian.
Berikan kesempatan bertaubat sebelum pintu kesempatan tertutup.
Mudahkan lisan dan hati kami mengingat-Mu.
Jangan biarkan kami kembali dengan membawa kezaliman yang sengaja kami pertahankan.
Ampunilah kekurangan yang tidak mampu kami sempurnakan.
Terimalah amal yang sedikit dengan rahmat-Mu yang luas.
Jangan serahkan kami kepada amal kami, sebab amal kami penuh kekurangan.
Serahkanlah kami kepada rahmat dan ampunan-Mu.
Ya Alloh, akhirilah kehidupan kami dengan tauhid.
Akhirilah kehidupan kami dengan iman.
Akhirilah kehidupan kami dengan taubat.
Akhirilah kehidupan kami dengan hati yang tidak membenci-Mu dan tidak berputus asa dari rahmat-Mu.
Wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridhoi.
Naungilah kami dengan ampunan-Mu.
Kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, orang-orang sholeh, kedua orang tua, keluarga, dan seluruh orang yang kami cintai dalam kebaikan.
Jadikan kehidupan kami sebagai amanah yang dijaga.
Jadikan kematian kami sebagai kepulangan yang dirahmati.
Jadikan alam setelah kematian sebagai tempat keselamatan.
Jadikan perjumpaan dengan-Mu sebagai perjumpaan yang penuh ampunan dan ridho.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Penutup Qitab
Saudara cahayaku, dengan ini selesailah:
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Peganglah inti akhirnya:
Doa adalah ibadah.
Ikhtiar adalah amanah.
Kesehatan adalah titipan.
Pengobatan adalah sebab.
Tawakal adalah penyerahan.
Ajal adalah rahasia dan ketetapan Alloh.
Apabila ajal terakhir tiba, ia tidak dapat ditunda.
Selama ajal belum tiba, manusia tetap wajib menjaga kehidupan dan memperbaiki amal.
Berdoalah tanpa memaksa.
Berusahalah tanpa merasa berkuasa.
Berobatlah tanpa menggantungkan hati hanya kepada obat.
Jagalah kesehatan tanpa merasa kebal dari kematian.
Ingatlah ajal tanpa kehilangan semangat hidup.
Dan jalani setiap hari sebagai kesempatan untuk mendekat kepada ridho Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
تَمَّ بِعَوْنِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
Tamma bi‘aunillāhi wa raḥmatih.
“Telah selesai dengan pertolongan dan rahmat Alloh.”
QITAB SIRRUL-AJAL WAL-IKHTIYĀR
Rahasia Ajal, Doa, dan Penjagaan Kehidupan
Lembar Tambahan
Apakah Satu Keluarga Dapat Berkumpul di Alam Barzakh?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh, Yang menciptakan kehidupan dunia, menetapkan kematian, membatasi antara alam dunia dan alam setelahnya, kemudian membangkitkan seluruh manusia pada hari yang telah ditentukan.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, serta seluruh hamba yang beriman kepada perkara gaib tanpa menambah-nambahkan sesuatu yang tidak diterangkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.
Saudara cahayaku bertanya:
“Di alam barzakh, apakah satu keluarga dapat berkumpul bersama seperti semasa di dunia?”
Jawaban yang paling berhati-hati adalah:
Ruh orang-orang beriman mempunyai kemungkinan saling bertemu dan mengenali atas izin Alloh. Namun tidak terdapat keterangan yang tegas bahwa setiap keluarga pasti tinggal bersama, berkumpul dalam satu rumah, dan menjalani kehidupan persis seperti ketika berada di dunia.
Alam barzakh merupakan perkara gaib.
Kita hanya boleh menjelaskan sejauh yang diterangkan oleh Al-Qur’an dan hadis yang dapat dijadikan pegangan.
Di luar itu, kita mengatakan:
Alloh lebih mengetahui keadaan sebenarnya.
1. Apakah yang Disebut Alam Barzakh?
Alam barzakh adalah keadaan atau masa pemisah antara kematian seseorang dan kebangkitannya pada Hari Kiamat.
Alloh menerangkan bahwa setelah kematian terdapat suatu batas sampai manusia dibangkitkan kembali.
Alloh berfirman:
“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
QS. Al-Mu’minūn: 100
Barzakh bukan lagi alam dunia.
Namun ia juga belum merupakan kehidupan akhirat yang sempurna setelah kebangkitan, penghisaban, dan keputusan terakhir.
Karena itu, keadaan di sana tidak dapat diukur sepenuhnya menggunakan aturan ruang, waktu, rumah, perjalanan, dan tubuh sebagaimana kehidupan di dunia.
2. Barzakh Bukan Kehidupan Dunia yang Diulang
Ketika seseorang meninggal, ia tidak melanjutkan kehidupan dunia dengan bentuk yang sama.
Ia tidak kembali bekerja seperti dahulu.
Ia tidak lagi mengelola harta.
Ia tidak membangun rumah dunia.
Ia tidak pulang untuk duduk bersama keluarga yang masih hidup.
Ia tidak dapat menambah amal dengan usaha baru sebagaimana saat masih berada di dunia.
Masa beramal dengan pilihan dunia telah berakhir.
Yang berjalan adalah akibat, rahmat, ampunan, atau pertanggungjawaban dari kehidupan yang telah dijalani.
Karena itu, ketika disebut adanya pertemuan ruh, jangan langsung dibayangkan seperti keluarga berkumpul di ruang tamu, makan bersama, tidur dalam satu rumah, atau menjalani kegiatan harian seperti dahulu.
Bentuk kehidupan barzakh berbeda dan berada di luar jangkauan pengalaman manusia yang masih hidup.
3. Apakah Ruh Orang Beriman Saling Bertemu?
Terdapat hadis yang memberikan harapan bahwa ruh orang-orang beriman saling bertemu.
Dalam riwayat Sunan an-Nasa’i disebutkan bahwa ketika ruh seorang mukmin datang, ruh-ruh orang beriman menyambutnya dengan kegembiraan. Mereka kemudian menanyakan keadaan orang-orang tertentu yang masih mereka kenal dari kehidupan dunia. Riwayat tersebut dinilai hasan dalam keterangan sumber yang dirujuk.
Hadis ini menunjukkan beberapa hal:
- ruh orang-orang beriman dapat saling mengenali;
- ruh yang telah lebih dahulu meninggal dapat menyambut ruh yang baru datang;
- mereka dapat menanyakan keadaan orang yang pernah dikenalnya;
- terdapat hubungan pengenalan di antara sebagian ruh orang beriman.
Dari keterangan ini, terdapat dasar untuk berharap bahwa seorang mukmin dapat bertemu dengan anggota keluarga mukmin yang lebih dahulu wafat.
Namun hadis tersebut tidak mengatakan bahwa seluruh keluarga pasti selalu berada bersama dalam satu tempat dan menjalani kehidupan yang sama seperti di dunia.
4. Kemungkinan Bertemu Bukan Berarti Selalu Bersama
Dua pernyataan berikut harus dibedakan:
Pernyataan Pertama
“Ruh orang-orang beriman dapat saling bertemu.”
Pernyataan ini mempunyai dasar dari riwayat tentang penyambutan ruh mukmin.
Pernyataan Kedua
“Setiap keluarga pasti hidup serumah dan berkumpul terus-menerus di alam barzakh.”
Pernyataan ini tidak mempunyai penjelasan tegas yang cukup untuk dipastikan.
Maka sikap yang benar adalah mengatakan:
Bisa jadi ruh keluarga yang sama-sama beriman dipertemukan oleh Alloh, tetapi cara, waktu, tempat, dan keadaan pertemuan tersebut tidak kita ketahui.
Kita tidak boleh menggambarkan detailnya hanya berdasarkan keinginan, mimpi, cerita orang, atau bayangan pribadi.
5. Setiap Orang Mengalami Keadaan Barzakhnya Sendiri
Meskipun mempunyai hubungan keluarga, setiap manusia tetap membawa iman, amal, taubat, amanah, dan tanggung jawabnya sendiri.
Hadis tentang pertanyaan kubur menjelaskan bahwa setiap manusia menghadapi pertanyaan mengenai keimanannya. Keadaan seorang mukmin dan orang yang tidak beriman tidaklah sama.
Hadis lain menerangkan bahwa seseorang diperlihatkan tempat yang akan menjadi tujuannya sampai hari kebangkitan.
Hal ini mengajarkan bahwa hubungan darah tidak otomatis menyamakan keadaan seluruh anggota keluarga.
Seorang ayah tidak dapat menggantikan iman anaknya.
Seorang anak tidak dapat memindahkan seluruh amalnya kepada orang tua.
Seorang suami tidak dapat menanggung seluruh pilihan istrinya.
Seorang istri tidak dapat menggantikan tanggung jawab suaminya.
Masing-masing akan menghadapi keadilan dan rahmat Alloh sesuai keadaan yang hanya diketahui-Nya.
6. Tidak Semua Anggota Keluarga Otomatis Berada dalam Keadaan yang Sama
Di dunia, satu keluarga dapat tinggal di rumah yang sama meskipun akhlak dan keyakinannya berbeda.
Di alam setelah kematian, hubungan darah saja tidak menjadi jaminan kesamaan kedudukan.
Karena itu, jangan mengatakan:
“Karena ia ayah saya, pasti kami selalu bersama.”
“Karena ia pasangan saya, pasti keadaan kami sama.”
“Karena kami dimakamkan berdekatan, ruh kami pasti selalu berdampingan.”
Kedekatan letak makam tidak menjadi ukuran pasti kedekatan ruh.
Orang yang dimakamkan berjauhan dapat saja dipertemukan oleh Alloh.
Sebaliknya, orang yang makamnya berdampingan belum tentu mempunyai keadaan barzakh yang sama.
Perkara tersebut sepenuhnya berada dalam ketetapan Alloh.
7. Apakah Orang yang Telah Wafat Mengenali Keluarganya?
Hadis tentang ruh-ruh mukmin yang menyambut pendatang baru dan menanyakan keadaan orang-orang tertentu menunjukkan adanya pengenalan terhadap orang yang pernah mereka kenal.
Oleh karena itu, kita boleh berharap bahwa ruh seorang mukmin mengenali keluarga atau sahabat mukmin yang dipertemukan dengannya.
Namun kita tidak boleh memperluasnya menjadi berbagai kepastian yang tidak diterangkan, seperti:
- memastikan orang yang wafat mengetahui seluruh kegiatan keluarga setiap hari;
- memastikan ia selalu hadir dalam setiap acara keluarga;
- memastikan ia pulang ke rumah pada malam tertentu;
- memastikan ia mengirim tanda melalui hewan, suara, angka, atau benda;
- memastikan setiap mimpi merupakan kunjungan ruh;
- atau memastikan ia memberikan perintah kepada keluarga melalui perantara tertentu.
Semua klaim semacam itu membutuhkan dalil yang jelas.
Rasa rindu tidak boleh membuat manusia mengubah perkiraan menjadi kepastian agama.
8. Apakah Mereka Dapat Menanyakan Keluarga yang Masih Hidup?
Riwayat Sunan an-Nasa’i menggambarkan ruh-ruh mukmin menanyakan keadaan orang tertentu kepada ruh yang baru datang.
Hal tersebut memberikan gambaran bahwa mereka dapat mengetahui sebagian kabar melalui cara yang dikehendaki Alloh.
Namun tidak berarti mereka selalu melihat seluruh kejadian di dunia.
Tidak pula berarti kita dapat mengirimkan pesan langsung kepada mereka melalui ritual tertentu.
Batas antara dunia dan barzakh tetap ada.
Karena itu, jangan mencari orang yang mengaku dapat menjadi penghubung tetap dengan ruh keluarga.
Jangan membayar seseorang yang mengaku dapat:
- memanggil ruh;
- menghadirkan almarhum;
- menyampaikan pertanyaan;
- meminta nomor, petunjuk, pusaka, atau ramalan;
- atau membawa pesan rahasia dari alam barzakh.
Cara terbaik menjaga hubungan dengan orang yang telah wafat adalah melalui doa, sedekah, pelunasan utang, serta penerusan amal baiknya.
9. Apakah Keluarga yang Telah Wafat Menunggu Anggota Keluarganya?
Kita boleh berharap bahwa ruh mukmin menyambut ruh mukmin yang baru datang, sebagaimana gambaran hadis.
Namun jangan mengatakan bahwa seseorang “menjemput” anggota keluarganya sebagai tanda bahwa orang yang masih hidup akan segera meninggal.
Misalnya, jangan menyimpulkan:
“Saya bermimpi ayah datang, berarti ia hendak menjemput saya.”
“Almarhum ibu tersenyum, berarti ajal saya sudah dekat.”
“Ada keluarga yang wafat memanggil, berarti tidak lama lagi saya menyusul.”
Mimpi seperti itu tidak dapat menjadi penentu ajal.
Mimpi dapat lahir dari kerinduan, kesedihan, ingatan, kecemasan, atau proses pikiran ketika tidur.
Apabila mimpi membawa ketenangan, doakanlah orang yang telah wafat.
Apabila mimpi menakutkan, mohonlah perlindungan kepada Alloh.
Namun jangan menjadikannya ramalan kematian.
10. Pertemuan Keluarga yang Paling Jelas Dijanjikan di Surga
Al-Qur’an memberikan keterangan yang lebih tegas tentang berkumpulnya keluarga di surga.
Alloh menerangkan bahwa orang-orang sholeh akan memasuki surga bersama orang-orang sholeh dari kalangan orang tua, pasangan, dan keturunannya.
Alloh juga menerangkan bahwa keturunan yang mengikuti orang tuanya dalam keimanan akan dipertemukan dengan mereka, tanpa mengurangi pahala amal masing-masing.
Dengan demikian, harapan terbesar seorang keluarga bukan hanya bertemu sementara di alam barzakh.
Harapan yang lebih sempurna adalah:
Dikumpulkan oleh Alloh dalam surga setelah seluruh perjalanan, kebangkitan, dan pengadilan selesai.
Di sanalah pertemuan keluarga dijanjikan dengan kebahagiaan yang tidak lagi diikuti kematian dan perpisahan.
11. Syaratnya Bukan Hanya Hubungan Darah
Ayat tentang pertemuan keluarga menyebut keluarga yang berada dalam kebaikan dan mengikuti keimanan.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga harus dijaga bersama iman dan amal.
Karena itu, jangan hanya berdoa:
“Ya Alloh, kumpulkan kami kembali.”
Namun berdoalah pula:
“Ya Alloh, perbaikilah iman, amal, dan akhlak seluruh keluarga kami sehingga kami layak dikumpulkan dalam rahmat-Mu.”
Hubungan darah adalah nikmat.
Namun iman dan kesholehan adalah jalan menuju pertemuan yang abadi.
12. Apakah Hubungan Suami Istri Masih Ada?
Pasangan yang sama-sama beriman boleh berharap dikumpulkan dalam surga.
Al-Qur’an menyebut pasangan bersama orang tua dan keturunan dalam gambaran keluarga yang memasuki surga.
Namun mengenai bentuk hubungan suami istri secara terperinci selama berada di alam barzakh, kita tidak mempunyai keterangan yang cukup untuk menggambarkannya seperti hubungan rumah tangga di dunia.
Karena itu, jangan memastikan bahwa di barzakh mereka:
- tinggal dalam rumah yang sama;
- melakukan pekerjaan rumah tangga;
- makan dan tidur bersama seperti dahulu;
- atau menjalani semua hubungan jasmani seperti kehidupan dunia.
Cukuplah mengatakan:
Apabila keduanya beriman dan mendapat rahmat Alloh, kita berharap mereka dipertemukan dalam kebaikan, sedangkan kesempurnaan kebersamaan dijanjikan di surga.
13. Bagaimana dengan Anak yang Lebih Dahulu Wafat?
Orang tua yang kehilangan anak boleh memohon dan berharap agar Alloh menjaga anak tersebut dalam rahmat-Nya serta mempertemukan mereka kembali.
Namun jangan membuat gambaran pasti tentang apa yang sedang dilakukan anak tersebut di alam barzakh tanpa dasar yang jelas.
Rasa kehilangan seorang anak sangat dalam.
Karena itu, penghiburan yang paling aman bukanlah cerita yang tidak dapat dipastikan, melainkan janji rahmat Alloh dan harapan pertemuan kembali bagi orang-orang yang beriman.
Katakan:
“Anak itu berada dalam penjagaan Alloh yang kasih sayang-Nya lebih sempurna daripada kasih sayang manusia.”
“Mari menjaga iman agar kelak dipertemukan dalam rahmat-Nya.”
14. Bagaimana dengan Keluarga yang Berbeda Keadaan Iman dan Amal?
Kita tidak berhak menentukan keadaan akhir seseorang hanya berdasarkan penilaian luar.
Mungkin seseorang mempunyai dosa yang diketahui manusia, tetapi ia mempunyai taubat yang tidak diketahui.
Mungkin seseorang tampak baik, tetapi mempunyai urusan yang hanya diketahui Alloh.
Karena itu, jangan memastikan:
“Ia pasti tidak akan bertemu keluarganya.”
Dan jangan pula memastikan:
“Ia pasti telah memperoleh tempat tertinggi.”
Doakan ampunan bagi orang yang telah wafat.
Serahkan pengadilan kepada Alloh.
Tugas keluarga yang masih hidup adalah memperbaiki dirinya sendiri.
15. Apakah Orang yang Telah Wafat Merasa Rindu?
Kita tidak mempunyai ukuran untuk menyamakan rasa, waktu, dan pengalaman ruh di barzakh dengan perasaan manusia di dunia.
Riwayat tentang kegembiraan ruh-ruh mukmin saat menyambut ruh yang baru datang menunjukkan adanya pengenalan dan kegembiraan.
Namun bagaimana bentuk rindu, menunggu, pertemuan, dan perasaan mereka, kita tidak dapat menjelaskannya secara terperinci.
Jangan memaksakan ukuran dunia kepada alam gaib.
Sesuatu yang terasa lama bagi manusia belum tentu dialami dengan cara yang sama di alam barzakh.
16. Apakah Mereka Sedih Melihat Keluarganya Menderita?
Tidak terdapat dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa setiap orang yang telah wafat terus-menerus menyaksikan seluruh penderitaan keluarganya.
Pernyataan semacam itu sering membuat keluarga semakin takut dan merasa diawasi.
Kita tidak perlu mengatakan kepada orang yang sedang berduka:
“Almarhum selalu melihatmu menangis.”
“Almarhum kecewa melihatmu.”
“Almarhum marah karena barangnya dipindahkan.”
“Almarhum belum tenang karena keluarga belum melakukan ritual tertentu.”
Ucapan seperti itu dapat menjadi tekanan dan membuka jalan pemanfaatan rasa duka.
Yang lebih benar adalah:
“Doakanlah dia, selesaikan utangnya, teruskan kebaikannya, dan jalani kehidupan dengan benar.”
17. Apakah Ruh Pulang ke Rumah pada Waktu Tertentu?
Tidak boleh dipastikan bahwa setiap ruh pulang ke rumah pada malam Jumat, hari ketujuh, hari keempat puluh, bulan tertentu, atau hari kematian.
Keluarga boleh mendoakan almarhum kapan saja.
Membaca Al-Qur’an, bersedekah, atau berkumpul untuk mendoakan hendaknya dilakukan sebagai ibadah kepada Alloh, bukan karena meyakini ruh pasti sedang hadir di ruangan.
Jangan menyediakan makanan karena menganggap ruh akan memakannya.
Jangan membiarkan tempat tidur karena merasa almarhum akan menggunakannya.
Jangan berbicara kepada kursi kosong dengan keyakinan bahwa ruh sedang duduk di sana.
Kerinduan perlu diarahkan menjadi doa, bukan menjadi keyakinan tanpa dasar.
18. Apakah Ruh Tinggal di Dalam Makam?
Alam kubur tidak semata-mata dapat dibatasi oleh ukuran liang tanah sebagaimana dipahami oleh mata manusia.
Jenazah berada di dalam makam, tetapi hakikat keadaan ruh termasuk perkara gaib.
Karena itu, jangan membayangkan seluruh ruh terkurung secara fisik di dalam ukuran makamnya.
Jangan pula menganggap semakin indah bangunan makam, semakin nyaman keadaan ruh.
Keadaan seseorang ditentukan oleh rahmat Alloh, iman, dan amalnya, bukan oleh kemewahan batu makam.
Makam perlu dijaga kehormatannya, tetapi tidak perlu dihiasi secara berlebihan.
Yang paling berguna bagi orang yang wafat adalah doa dan penyelesaian hak-haknya.
19. Pertemuan di Barzakh Tidak Menghapus Kerinduan kepada Surga
Apabila ruh orang beriman dipertemukan di alam barzakh, pertemuan tersebut belum merupakan kesempurnaan akhir.
Barzakh tetap merupakan masa menunggu sampai kebangkitan.
Surga adalah tempat pertemuan sempurna bagi keluarga beriman yang dirahmati Alloh.
Di sana tidak ada lagi kematian.
Tidak ada kehilangan.
Tidak ada ketakutan bahwa orang yang dicintai akan pergi kembali.
Tidak ada tubuh sakit.
Tidak ada usia tua yang melemahkan.
Tidak ada pertengkaran yang merusak kebersamaan.
Karena itu, tujuan keluarga Muslim bukan sekadar selalu dekat di dunia.
Tujuan yang lebih besar adalah berjalan bersama menuju ridho Alloh.
20. Cara Menyiapkan Pertemuan Keluarga yang Abadi
Pertama: Menjaga Tauhid
Ajarkan keluarga bergantung kepada Alloh, bukan kepada benda, ramalan, atau pemanggilan ruh.
Kedua: Menjaga Sholat
Sholat menjadi pengikat hati keluarga kepada Alloh.
Ketiga: Saling Mengingatkan dengan Lembut
Jangan menggunakan agama hanya untuk memarahi.
Nasihat yang lembut lebih mudah masuk ke dalam hati.
Keempat: Menjaga Rezeki Halal
Makanan keluarga yang berasal dari jalan baik membantu membangun kehidupan yang bersih.
Kelima: Menyelesaikan Utang dan Amanah
Jangan membiarkan keluarga menanggung persoalan yang sebenarnya dapat dirapikan sekarang.
Keenam: Meminta Maaf
Jangan membawa pertengkaran sampai salah satu pihak lebih dahulu meninggal.
Ketujuh: Mendoakan Orang yang Telah Wafat
Doakan ampunan dan rahmat, bukan memanggil ruhnya.
Kedelapan: Mendidik Keturunan
Keluarga yang menginginkan pertemuan di surga harus menjaga iman generasi berikutnya.
21. Jangan Menunggu Kematian untuk Menjadi Keluarga
Sebagian keluarga tinggal dalam satu rumah, tetapi hatinya berjauhan.
Mereka baru menyadari nilai kebersamaan setelah salah satu anggota keluarga wafat.
Jangan menunggu alam barzakh untuk berharap dapat berkumpul.
Berkumpullah dalam kebaikan selama masih hidup.
Makanlah bersama apabila memungkinkan.
Dengarkan cerita orang tua.
Peluk anak-anak.
Minta maaf kepada pasangan.
Hubungi saudara.
Hentikan pertengkaran yang tidak perlu.
Kebersamaan dunia memang tidak kekal, tetapi ia dapat menjadi jalan menuju kebersamaan akhirat.
22. Ketika Merindukan Keluarga yang Telah Wafat
Ketika rindu datang, jangan ditekan dengan keras.
Akui:
“Aku merindukannya.”
Kemudian arahkan rasa rindu tersebut.
Bacalah doa.
Bersedekahlah.
Lanjutkan kebaikannya.
Kunjungi kerabat yang dahulu ia sayangi.
Jaga anak atau pasangan yang ditinggalkannya.
Rasa rindu yang berubah menjadi amal akan lebih menenteramkan daripada rasa rindu yang diubah menjadi usaha memanggil ruh.
23. Doa bagi Keluarga yang Telah Wafat
Untuk laki-laki, bacalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan keselamatan kepadanya, dan maafkanlah dia.”
Untuk perempuan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Allāhummaghfir lahā warḥamhā wa ‘āfihā wa‘fu ‘anhā.
Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah dia, rahmatilah dia, berikan keselamatan kepadanya, dan maafkanlah dia.”
Untuk seluruh keluarga yang telah wafat:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْحَمْهُمْ، وَنَوِّرْ لَهُمْ قُبُوْرَهُمْ، وَاجْمَعْنَا بِهِمْ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ
Allāhummaghfir limautānā wa mautal-muslimīn, warḥamhum, wa nawwir lahum qubūrahum, wajma‘nā bihim fī jannātin-na‘īm.
Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah orang-orang kami yang telah wafat dan seluruh kaum Muslimin yang telah wafat. Rahmatilah mereka, terangilah alam kubur mereka, dan kumpulkanlah kami bersama mereka di dalam surga kenikmatan.”
24. Doa agar Keluarga Dikumpulkan dalam Surga
رَبَّنَا أَدْخِلْنَا جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَنَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Rabbanā adkhilnā jannāti ‘adninillatī wa‘adtanā wa man ṣalaḥa min ābā’inā wa azwājinā wa dzurriyyātinā, innaka Antal-‘Azīzul-Ḥakīm.
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, masukkanlah kami ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan, bersama orang-orang sholeh dari kalangan orang tua, pasangan, dan keturunan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Makna doa ini sejalan dengan gambaran Al-Qur’an tentang keluarga sholeh yang dimasukkan bersama ke dalam surga.
25. Dzikir untuk Menenangkan Kerinduan
Setelah Maghrib atau sebelum tidur, bacalah:
Istighfar 33 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullohal-‘aẓīma wa atūbu ilaih.
Sholawat 33 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Yā Raḥmān 33 kali
يَا رَحْمٰنُ
Yā Raḥmān.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Pengasih.”
Yā Laṭīf 33 kali
يَا لَطِيْفُ
Yā Laṭīf.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Lembut.”
Yā Jāmi‘ 33 kali
يَا جَامِعُ
Yā Jāmi‘.
Artinya:
“Wahai Yang Maha Mengumpulkan.”
Kemudian berdoalah:
“Ya Alloh, aku menyerahkan orang-orang yang kucintai kepada rahmat-Mu. Aku tidak mengetahui keadaan alam barzakh mereka, tetapi Engkau mengetahui semuanya. Ampunilah mereka, tenangkanlah mereka, dan kumpulkanlah kami kembali dalam surga-Mu apabila Engkau ridho kepada kami.”
Dzikir ini bukan ritual memanggil ruh.
Tidak perlu menunggu tanda, suara, aroma, bayangan, atau mimpi.
Bacalah sebagai doa dan penyerahan kepada Alloh.
26. Jawaban Ringkas atas Pertanyaan
Apakah ruh orang beriman dapat bertemu?
Ada dasar untuk berharap demikian. Hadis menggambarkan ruh-ruh orang beriman menyambut ruh mukmin yang baru datang dan menanyakan orang-orang yang dikenal.
Apakah ruh dapat bertemu anggota keluarganya?
Mungkin, atas izin Alloh, apabila mereka termasuk ruh orang-orang beriman yang dipertemukan.
Namun kita tidak mengetahui bentuk dan waktunya.
Apakah satu keluarga selalu tinggal bersama di barzakh seperti di dunia?
Tidak dapat dipastikan.
Tidak ada keterangan tegas bahwa setiap keluarga hidup bersama dalam bentuk rumah tangga seperti dunia.
Apakah semua anggota keluarga otomatis mempunyai keadaan yang sama?
Tidak.
Setiap manusia menghadapi keadaan menurut iman, amal, taubat, keadilan, dan rahmat Alloh. Hadis tentang pertanyaan kubur menunjukkan adanya pertanggungjawaban pribadi.
Di manakah janji pertemuan keluarga yang paling jelas?
Di dalam surga, bagi orang tua, pasangan, dan keturunan yang berada dalam keimanan dan kesholehan.
Kesimpulan Lembar Tambahan
Saudara cahayaku, alam barzakh adalah alam gaib antara kematian dan kebangkitan.
Ada hadis yang memberikan harapan bahwa ruh-ruh orang beriman saling bertemu, menyambut, dan mengenali. Karena itu, kita boleh berharap seorang mukmin dipertemukan dengan keluarga mukmin yang telah mendahuluinya.
Namun jangan memastikan bahwa seluruh keluarga:
- selalu tinggal bersama;
- mempunyai rumah yang sama;
- berkumpul setiap waktu;
- atau menjalani kehidupan persis seperti di dunia.
Setiap ruh mempunyai keadaan yang ditetapkan Alloh.
Hubungan darah tidak otomatis menyamakan kedudukan seluruh anggota keluarga.
Pertemuan keluarga yang paling jelas dijanjikan adalah pertemuan di surga bagi keluarga yang berada dalam iman dan kesholehan.
Karena itu:
Jangan sibuk membayangkan bagaimana keluarga berkumpul di alam barzakh.
Sibuklah memperbaiki iman agar keluarga dapat dikumpulkan dalam surga.
Jangan memanggil ruh orang yang telah wafat.
Doakanlah mereka.
Jangan mencari pesan melalui perantara gaib.
Teruskanlah kebaikan mereka.
Jangan menjadikan mimpi sebagai kepastian.
Jadikan rasa rindu sebagai sedekah, doa, dan perbaikan hidup.
Kita tidak mengetahui keadaan terperinci alam barzakh.
Namun kita mengetahui jalan menuju pertemuan yang abadi:
iman, taubat, amal sholeh, kasih sayang, penyelesaian amanah, dan rahmat Alloh.
Doa Penutup Lembar Tambahan
Ya Alloh, Tuhan Yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak diragukan kedatangannya, ampunilah seluruh anggota keluarga kami yang telah mendahului kami.
Rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu yang luas.
Maafkanlah kesalahan mereka.
Terimalah amal baik mereka.
Lapang dan terangilah keadaan mereka di alam barzakh.
Jauhkan mereka dari kesempitan, ketakutan, dan azab.
Ya Alloh, apabila ruh-ruh orang beriman Engkau pertemukan, pertemukanlah keluarga kami dalam kedamaian, pengampunan, dan kegembiraan yang Engkau ridhoi.
Namun jangan biarkan kami berbicara tentang alam gaib tanpa ilmu.
Jaga kami dari cerita palsu, pemanggilan ruh, penipuan, ramalan, dan keyakinan yang melampaui tuntunan-Mu.
Ya Alloh, perbaikilah anggota keluarga kami yang masih hidup.
Teguhkan iman kami.
Jagalah sholat kami.
Halalkan rezeki kami.
Lembutkan ucapan kami.
Jauhkan rumah kami dari kekerasan, pengkhianatan, dendam, dan perpecahan.
Jangan biarkan kami baru menyadari nilai keluarga setelah kehilangan datang.
Berikan kesempatan kepada kami untuk saling meminta maaf, saling memaafkan, saling menolong, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Ya Alloh, kumpulkanlah orang tua, pasangan, anak, keturunan, saudara, guru, dan orang-orang yang kami cintai di dalam surga-Mu.
Jangan hanya kumpulkan jasad kami di dalam tanah.
Kumpulkan iman kami di dalam ridho-Mu.
Jangan hanya dekatkan rumah kami di dunia.
Dekatkan hati kami kepada-Mu.
Jangan biarkan hubungan darah kami terputus oleh kelalaian dan kemaksiatan.
Bimbing seluruh keluarga kami berjalan menuju ampunan-Mu.
Apabila kami merindukan orang yang telah wafat, jadikan kerinduan itu sebagai doa.
Apabila kami bersedih, jadikan kesedihan itu sebagai kelembutan.
Apabila kami menyesal, jadikan penyesalan itu sebagai taubat.
Apabila kami mengingat kematian, jadikan ingatan itu sebagai jalan memperbaiki kehidupan.
Ya Alloh, pada hari seluruh manusia dibangkitkan, jangan pisahkan kami dari orang-orang yang kami cintai karena dosa dan kezaliman yang sengaja kami pertahankan.
Ampunilah kami sebelum hari itu datang.
Perbaikilah kami selama kesempatan masih terbuka.
Masukkanlah kami bersama orang-orang sholeh dari kalangan orang tua, pasangan, anak, keturunan, guru, dan keluarga kami ke dalam surga ‘Adn.
Kumpulkan kami dalam pertemuan yang tidak lagi disusul kematian.
Dalam kebersamaan yang tidak lagi disusul kehilangan.
Dalam kebahagiaan yang tidak lagi disusul kesedihan.
Dalam kasih sayang yang tidak lagi dirusak pertengkaran.
Dan dalam ridho-Mu yang tidak pernah berakhir.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.