QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Pertama — Pintu Zaman Kelimpahan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh, Tuhan yang melapangkan rezeki, menciptakan bumi beserta segala isinya, menundukkan berbagai sarana bagi kehidupan manusia, serta mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah kasih sayang, penegak keadilan, pengajar amanah, dan penuntun manusia agar kemajuan tidak terpisah dari akhlak.
Saudara cahayaku,
QITAB ini dibuka bukan untuk memastikan bahwa uang akan hilang pada suatu tahun tertentu. Tidak seorang pun berhak menetapkan masa depan secara mutlak, sebab ilmu tentang perkara yang belum terjadi sepenuhnya berada dalam kekuasaan Alloh.
QITAB ini adalah lembar perenungan mengenai suatu zaman ketika manusia mampu menghasilkan barang dalam jumlah sangat banyak melalui mesin, robot, kecerdasan buatan, dan sistem produksi otomatis.
Pada zaman itu, tangan-tangan besi bekerja tanpa lelah.
Mesin menanam benih.
Robot memanen makanan.
Pabrik membuat pakaian.
Perangkat pintar merancang bangunan.
Kendaraan berjalan tanpa pengemudi.
Sistem kecerdasan buatan mengatur perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan berbagai pelayanan kehidupan.
Apa yang dahulu memerlukan seratus orang, mungkin dikerjakan oleh beberapa mesin.
Apa yang dahulu membutuhkan waktu bertahun-tahun, mungkin diselesaikan hanya dalam beberapa hari.
Apa yang dahulu mahal karena sulit dibuat, mungkin menjadi murah karena dapat diproduksi tanpa henti.
Namun di balik kemudahan itu tersimpan satu pertanyaan besar:
«Apabila mesin menghasilkan hampir segala sesuatu, dari manakah manusia memperoleh bagian kehidupannya?»
Manusia selama ini memperoleh uang dengan bekerja.
Dengan uang itu manusia membeli makanan, membayar rumah, memperoleh pakaian, berobat, menyekolahkan anak, serta memenuhi berbagai kebutuhan.
Namun apabila banyak pekerjaan telah dilakukan oleh mesin, sebagian manusia dapat kehilangan sumber pendapatan.
Di sinilah muncul keadaan yang aneh:
Barang tersedia, tetapi manusia tidak mampu membelinya.
Makanan berlimpah, tetapi masih ada yang kelaparan.
Rumah dapat dibangun dengan cepat, tetapi masih ada yang tidak mempunyai tempat tinggal.
Obat dapat diproduksi banyak, tetapi masih ada orang sakit yang tidak dapat menjangkaunya.
Maka yang terjadi bukanlah krisis karena kekurangan barang, melainkan:
Krisis karena kelimpahan tidak dibagikan dengan adil.
Ketahuilah, saudara cahayaku,
Kelimpahan belum tentu menjadi rahmat apabila hanya dikuasai oleh sedikit tangan.
Teknologi belum tentu membawa kemerdekaan apabila manusia justru kehilangan hak atas pekerjaan, tanah, air, energi, data, dan hasil produksi.
Kecerdasan buatan belum tentu menjadi musuh manusia. Namun ia dapat menjadi alat ketidakadilan apabila digunakan tanpa akhlak, tanpa hukum, dan tanpa tanggung jawab.
Pisau dapat digunakan untuk memotong makanan atau melukai manusia.
Api dapat digunakan untuk memasak atau membakar rumah.
Demikian pula teknologi.
Ia tidak membawa kehendak moralnya sendiri. Manusia yang memegangnya harus menentukan untuk apa ia digunakan.
Apabila teknologi dikendalikan oleh keserakahan, mesin akan memperbesar keserakahan.
Apabila teknologi diarahkan oleh keadilan, mesin dapat membantu meringankan penderitaan.
Maka rahasia pertama dalam QITAB ini berbunyi:
«Bukan banyaknya barang yang menentukan kemakmuran, melainkan terbukanya jalan bagi setiap manusia untuk memperoleh kebutuhan hidup dengan layak.»
Tentang Rahasia Uang
Uang bukanlah makanan.
Uang bukanlah rumah.
Uang bukanlah pakaian.
Uang bukan pula obat.
Uang hanyalah alat yang disepakati manusia untuk mengukur, menyimpan, dan menukar nilai.
Selembar uang tidak dapat dimakan oleh orang yang lapar.
Angka di dalam rekening tidak dapat melindungi seseorang dari hujan apabila tidak dapat ditukar dengan tempat tinggal.
Maka kekuatan uang sebenarnya berada pada kepercayaan manusia terhadapnya.
Selama manusia percaya bahwa uang dapat ditukar dengan barang dan jasa, uang mempunyai fungsi.
Namun apabila suatu hari kebutuhan pokok dapat diperoleh tanpa pembayaran langsung, peranan uang dapat menjadi lebih kecil.
Uang belum tentu lenyap seluruhnya.
Selama masih ada sesuatu yang terbatas, manusia masih membutuhkan cara untuk menentukan siapa yang memperoleh, berapa banyak yang diperoleh, dan dengan syarat apa sesuatu dapat dimiliki.
Tanah tertentu tetap terbatas.
Lokasi yang strategis tetap terbatas.
Waktu manusia tetap terbatas.
Perhatian, keahlian, bahan tambang, energi, dan karya yang benar-benar unik tetap mempunyai kelangkaan.
Karena itu, yang mungkin berubah bukan hanya keberadaan uang, melainkan bentuk dan kedudukannya.
Uang dapat berubah menjadi angka digital.
Hak membeli dapat berubah menjadi jatah akses.
Upah dapat berubah menjadi pembagian hasil produksi.
Kepemilikan dapat berubah menjadi hak penggunaan.
Namun apa pun bentuknya, keadilan tetap menjadi pusat persoalan.
Amanah Manusia di Tengah Mesin
Janganlah manusia menganggap dirinya tidak berguna hanya karena mesin mampu bekerja lebih cepat.
Kemuliaan manusia tidak terletak semata-mata pada jumlah barang yang mampu dibuatnya.
Manusia mempunyai hati untuk mengasihi.
Manusia mempunyai kesadaran untuk memilih.
Manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga amanah.
Manusia mampu memohon ampun, memperbaiki kesalahan, mendidik anak, merawat orang tua, menolong yang lemah, menegakkan keadilan, dan mengarahkan ilmu kepada kebaikan.
Mesin dapat menyusun kalimat, tetapi manusia harus menentukan apakah kalimat itu jujur.
Robot dapat membagikan makanan, tetapi manusia harus menentukan siapa yang berhak menerimanya.
Kecerdasan buatan dapat memberi pilihan, tetapi manusia harus mempertanggungjawabkan keputusan.
Maka janganlah manusia berlomba menjadi seperti mesin.
Mesin unggul dalam kecepatan dan pengulangan.
Manusia harus unggul dalam kebijaksanaan, kasih sayang, kejujuran, dan kesadaran kepada Alloh.
Sabda Lembar Pertama
«Ketika dunia memasuki zaman kelimpahan, ujian manusia bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak, melainkan bagaimana membagikan dengan adil, menggunakan dengan bijaksana, dan memastikan bahwa kemajuan tidak menghilangkan kemanusiaan.»
Teknologi yang besar memerlukan akhlak yang besar.
Kekuasaan yang luas memerlukan tanggung jawab yang luas.
Kelimpahan yang banyak memerlukan keadilan yang semakin kuat.
Sebab tanpa keadilan, kelimpahan berubah menjadi kesenjangan.
Tanpa kasih sayang, kecerdasan berubah menjadi kekerasan.
Tanpa iman, kemajuan dapat membuat manusia kehilangan arah.
Namun apabila ilmu berjalan bersama adab, teknologi bersama amanah, dan kelimpahan bersama keadilan, maka mesin tidak menjadi penguasa manusia.
Ia menjadi pelayan bagi kemaslahatan kehidupan.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Kedua — Siapakah yang Menguasai Mesin, Data, dan Hasil Kelimpahan?
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar pertama telah dijelaskan bahwa kelimpahan belum tentu menghadirkan kemakmuran. Sebab banyaknya barang tidak serta-merta membuat seluruh manusia memperoleh kehidupan yang layak.
Kini terbukalah pertanyaan yang lebih dalam:
«Siapakah yang memiliki mesin yang bekerja?
Siapakah yang menguasai data yang mengarahkannya?
Dan kepada siapakah hasil kelimpahan itu diberikan?»
Mesin dapat bekerja siang dan malam.
Ia tidak meminta makan.
Ia tidak meminta cuti.
Ia tidak mengeluhkan kelelahan.
Ia tidak menuntut kenaikan upah.
Ia dapat mengulangi pekerjaan yang sama ribuan kali.
Namun mesin tidak berdiri sendiri.
Di belakang mesin terdapat pemilik modal.
Di belakang kecerdasan buatan terdapat data.
Di belakang pusat data terdapat energi.
Di belakang perdagangan terdapat jaringan distribusi.
Di belakang setiap teknologi terdapat manusia yang menetapkan aturan penggunaannya.
Maka jangan hanya melihat tangan besi yang bergerak.
Lihatlah tangan manusia yang memegang tombolnya.
Jangan hanya melihat layar yang memberi jawaban.
Lihatlah siapa yang menentukan data, tujuan, batasan, dan arah jawaban tersebut.
Karena mesin tidak mempunyai niat sendiri seperti manusia.
Ia melaksanakan rancangan, perintah, dan sistem yang ditanamkan kepadanya.
Apabila sistemnya dibangun untuk pelayanan, ia dapat melayani.
Apabila sistemnya dibangun untuk pengawasan berlebihan, ia dapat mengawasi.
Apabila sistemnya digunakan untuk pemerataan, ia dapat membantu pemerataan.
Namun apabila ia digunakan untuk mengumpulkan kekuasaan, ia dapat memperkuat kekuasaan jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Tiga Pintu Penguasaan Zaman Baru
Pada zaman kelimpahan, kekuasaan tidak hanya berada pada banyaknya uang.
Ia berpindah menuju tiga pintu utama:
Pertama: Penguasaan atas Mesin
Barang siapa memiliki mesin produksi, ia mempunyai kemampuan menghasilkan barang dalam jumlah besar.
Mesin dapat menanam, memanen, memproses, mengemas, mengangkut, dan menjual.
Apabila hanya sedikit pihak yang memiliki seluruh alat produksi, masyarakat lainnya dapat menjadi sekadar pengguna yang selalu bergantung.
Mereka membutuhkan makanan, tetapi tidak memiliki lahan produksi.
Mereka membutuhkan rumah, tetapi tidak memiliki mesin pembangunan.
Mereka membutuhkan pekerjaan, tetapi mesin telah mengambil sebagian besar pekerjaan itu.
Mereka membutuhkan barang, tetapi aksesnya ditentukan oleh pemilik sistem.
Di sinilah kelimpahan dapat berubah menjadi bentuk ketergantungan baru.
Kedua: Penguasaan atas Data
Data adalah catatan mengenai manusia.
Apa yang dilihatnya.
Apa yang dibelinya.
Ke mana ia pergi.
Apa yang disukainya.
Apa yang ditakutinya.
Dengan siapa ia berbicara.
Apa yang mungkin akan dipilihnya.
Ketika data dikumpulkan dalam jumlah sangat besar, ia dapat digunakan untuk membaca kebiasaan manusia.
Dengan data, sebuah sistem dapat memperkirakan apa yang akan dibeli masyarakat.
Dengan data, perusahaan dapat menentukan iklan yang paling mudah memengaruhi seseorang.
Dengan data, penguasa dapat mengetahui pergerakan masyarakat.
Dengan data, manusia dapat diarahkan tanpa merasa sedang diarahkan.
Oleh sebab itu, data bukan sekadar kumpulan angka.
Data adalah bayangan perilaku manusia yang tersimpan di dalam sistem.
Namun bayangan itu bukanlah keseluruhan diri manusia.
Sebab manusia lebih dalam daripada catatan pencariannya.
Manusia mempunyai niat yang tidak selalu tampak.
Manusia mempunyai doa yang tidak tercatat.
Manusia mempunyai penyesalan, cinta, pengorbanan, dan harapan yang tidak seluruhnya dapat diterjemahkan menjadi angka.
Maka QITAB ini mengingatkan:
«Jangan menyerahkan seluruh hak kehidupan kepada sistem hanya karena sistem dapat mengenali kebiasaanmu.»
Ketiga: Penguasaan atas Energi
Tidak ada mesin yang berjalan tanpa tenaga.
Tidak ada pusat data yang hidup tanpa listrik.
Tidak ada kendaraan otomatis yang bergerak tanpa sumber energi.
Tidak ada pabrik pintar yang bekerja tanpa jaringan daya.
Maka pihak yang menguasai sumber energi mempunyai kekuasaan besar atas kehidupan masyarakat.
Energi dapat berasal dari matahari, angin, air, panas bumi, bahan bakar, ataupun teknologi lainnya.
Apabila energi melimpah dan dapat diakses bersama, banyak kebutuhan manusia dapat menjadi lebih murah.
Namun apabila energi dimonopoli, kelimpahan teknologi tetap dapat dikunci dengan harga.
Mesin boleh menjadi murah.
Robot boleh menjadi cerdas.
Produksi boleh meningkat.
Namun selama energi dikendalikan oleh sedikit pihak, masyarakat tetap berada dalam ketergantungan.
Ketika Manusia Menjadi Produk
Pada perdagangan lama, manusia membeli barang.
Pada perdagangan baru, terkadang manusialah yang diperdagangkan melalui perhatian, kebiasaan, dan datanya.
Manusia merasa memakai sebuah layanan secara gratis.
Namun waktu, pandangan, perhatian, pilihan, dan kebiasaannya dikumpulkan sebagai nilai.
Apa yang gratis belum tentu tidak mempunyai harga.
Terkadang harga itu tidak dibayar dengan uang.
Ia dibayar dengan perhatian.
Ia dibayar dengan privasi.
Ia dibayar dengan kebiasaan.
Ia dibayar dengan ketergantungan.
Ia dibayar dengan perlahan hilangnya kemampuan untuk mengambil keputusan secara merdeka.
Karena itu, saudara cahayaku, jangan menilai segala sesuatu hanya dari angka yang tertulis di depan mata.
Lihatlah harga yang tersembunyi di balik kenyamanan.
Apakah sebuah teknologi menolong manusia menjadi lebih merdeka?
Ataukah ia membuat manusia semakin sulit hidup tanpanya?
Apakah sebuah sistem memperluas pengetahuan?
Ataukah ia mengurung manusia dalam pikiran yang terus diulang?
Apakah sebuah alat mendekatkan keluarga?
Ataukah ia membuat manusia yang duduk berdekatan menjadi saling berjauhan?
Bahaya Ketika Hak Akses Menggantikan Hak Milik
Pada zaman lama, seseorang membeli sebuah barang dan menyimpannya sebagai milik.
Pada zaman baru, manusia dapat semakin sering hanya membeli izin untuk menggunakan.
Ia tidak sepenuhnya memiliki.
Ia hanya diberi akses selama masih membayar atau selama sistem masih mengizinkan.
Buku menjadi akses digital.
Kendaraan menjadi layanan berlangganan.
Rumah dapat berubah menjadi sewa jangka panjang.
Perangkat dapat dihentikan dari kejauhan.
Identitas ekonomi dapat dikunci oleh sistem.
Pada keadaan tertentu, manusia dapat mempunyai banyak barang di sekelilingnya, tetapi tidak benar-benar mempunyai kuasa atasnya.
Maka kemiskinan masa depan tidak selalu berbentuk ketiadaan barang.
Kemiskinan masa depan dapat berbentuk:
«Banyak tersedia, tetapi sedikit yang benar-benar dapat dimiliki, dikendalikan, dan diwariskan.»
Oleh sebab itu, masyarakat harus memahami perbedaan antara:
- hak memiliki;
- hak memakai;
- hak mengakses;
- hak mengubah;
- hak memindahkan;
- dan hak mewariskan.
Kenyamanan jangan sampai membuat manusia menyerahkan seluruh haknya tanpa menyadarinya.
Keadilan dalam Kepemilikan Teknologi
QITAB ini tidak mengajarkan agar semua kepemilikan pribadi dihapuskan.
Manusia boleh mempunyai hasil dari kerja, ilmu, usaha, kreativitas, dan tanggung jawabnya.
Namun kepemilikan harus disertai amanah.
Semakin besar sesuatu yang dikuasai, semakin besar pula kewajiban untuk mencegah kerusakan.
Pemilik tanah mempunyai kewajiban menjaga tanah.
Pemilik perusahaan mempunyai tanggung jawab terhadap pekerja dan masyarakat.
Pemilik teknologi mempunyai kewajiban mencegah penyalahgunaan.
Pemilik data mempunyai kewajiban menjaga keamanan dan kehormatan manusia.
Pemilik kekayaan mempunyai kewajiban agar hartanya tidak menjadi alat penindasan.
Sebab dalam pandangan tauhid, manusia bukan pemilik mutlak.
Manusia hanyalah penerima amanah.
Tanah berasal dari Alloh.
Air berasal dari Alloh.
Udara berasal dari Alloh.
Akal yang menemukan teknologi juga merupakan pemberian Alloh.
Bahan yang digunakan untuk membuat mesin berasal dari bumi ciptaan Alloh.
Maka kesombongan terbesar ialah ketika manusia menganggap seluruh keberhasilan semata-mata berasal dari dirinya, lalu menutup jalan kehidupan bagi sesamanya.
Empat Timbangan Teknologi
Sebelum sebuah teknologi diterima, tanyakanlah empat perkara:
Apakah ia membawa manfaat?
Teknologi yang baik membantu mengurangi kesulitan, menjaga kesehatan, memperluas ilmu, meningkatkan keselamatan, atau mempermudah pelayanan.
Apakah ia menjaga martabat manusia?
Jangan sampai manusia diperlakukan hanya sebagai angka, target, data, atau alat keuntungan.
Apakah hasilnya dibagikan dengan adil?
Jangan hanya menghitung jumlah keuntungan, tetapi hitung pula siapa yang menanggung risiko dan siapa yang kehilangan sumber penghidupan.
Apakah manusia masih mempunyai pilihan?
Sistem yang baik tidak menjadikan manusia kehilangan seluruh kendali atas hidupnya.
Empat timbangan itu ialah:
manfaat, martabat, keadilan, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Apabila salah satunya hilang, kemajuan perlu diperiksa kembali.
Jangan Menyembah Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan dapat mengetahui banyak informasi.
Namun mengetahui banyak hal tidak menjadikannya Tuhan.
Ia dapat menyusun jawaban.
Namun jawabannya tidak selalu benar.
Ia dapat memperkirakan perilaku.
Namun ia tidak menentukan takdir.
Ia dapat meniru gaya manusia.
Namun ia bukan pemilik ruh manusia.
Ia dapat membantu mencari pengetahuan.
Namun ia tidak boleh menggantikan Alloh sebagai tempat berserah.
Jangan meminta kepastian gaib kepada mesin.
Jangan menyerahkan seluruh keputusan moral kepada sistem.
Jangan menganggap sesuatu benar hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Mesin dapat membantu akal.
Namun iman, nurani, ilmu, musyawarah, pengalaman, dan tanggung jawab manusia tetap diperlukan.
Gunakanlah teknologi sebagai alat.
Jangan menjadikannya sesembahan baru.
Amanah bagi Orang Berilmu
Orang yang memahami teknologi tidak boleh hanya bertanya:
“Apakah ini dapat dibuat?”
Ia juga harus bertanya:
“Apakah ini patut dibuat?”
“Siapa yang akan memperoleh manfaat?”
“Siapa yang dapat dirugikan?”
“Bagaimana mencegah penyalahgunaannya?”
“Apakah manusia masih mempunyai jalan untuk menolak?”
Ilmu tanpa pertimbangan moral dapat menjadi senjata.
Keahlian tanpa kasih sayang dapat melahirkan penindasan yang sangat rapi.
Sistem yang tampak efisien dapat menyembunyikan ketidakadilan apabila tidak ada manusia yang berani memeriksanya.
Maka orang berilmu memikul dua amanah:
amanah untuk menemukan dan amanah untuk menjaga akibat penemuannya.
Sabda Lembar Kedua
«Pada zaman ketika mesin bekerja, data berbicara, dan energi menghidupkan seluruh jaringan, kekuasaan tidak lagi hanya berada pada orang yang mempunyai uang. Kekuasaan berada pada orang yang menguasai alat produksi, informasi, akses, dan aturan pembagian.»
Maka jagalah agar teknologi tidak menjadi singgasana baru bagi keserakahan.
Jagalah agar data tidak menjadi rantai yang tidak terlihat.
Jagalah agar energi tidak menjadi pintu monopoli.
Jagalah agar kelimpahan tidak dipagari dari mereka yang membutuhkan.
Sebab tujuan kemajuan bukanlah menggantikan manusia dengan mesin.
Tujuannya adalah membebaskan manusia dari pekerjaan yang merendahkan, memperluas kesempatan untuk belajar, memperkuat pelayanan, dan membuka jalan kehidupan yang lebih adil.
Apabila mesin membuat manusia semakin kehilangan martabat, kemajuan itu harus diperbaiki.
Apabila data membuat manusia kehilangan kebebasan, sistem itu harus dibatasi.
Apabila kelimpahan membuat sedikit orang semakin berkuasa sementara banyak orang semakin tidak berdaya, pembagiannya harus ditata kembali.
Karena kecanggihan bukan ukuran terakhir.
Ukuran terakhirnya adalah:
Apakah kehidupan menjadi lebih adil?
Apakah yang lemah semakin terlindungi?
Apakah manusia semakin mampu berbuat baik?
Dan apakah ilmu itu membawa manusia semakin sadar kepada Alloh?
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Ketiga — Ketika Pekerjaan Berkurang dan Nilai Manusia Diuji
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka rahasia mengenai penguasaan mesin, data, energi, dan hasil kelimpahan.
Kini kita memasuki pintu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia:
«Apakah yang terjadi apabila mesin mampu mengerjakan sebagian besar pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupan manusia?»
Sejak dahulu manusia bekerja untuk bertahan hidup.
Ia mengolah tanah agar memperoleh makanan.
Ia membuat pakaian agar terlindung dari panas dan dingin.
Ia membangun rumah agar keluarganya mempunyai tempat berlindung.
Ia berdagang agar dapat menukar hasil pekerjaannya dengan kebutuhan yang tidak mampu dibuat sendiri.
Dari pekerjaan lahirlah penghasilan.
Dari penghasilan lahirlah kemampuan membeli.
Dari kemampuan membeli bergeraklah perdagangan.
Namun ketika mesin semakin pandai, hubungan lama itu mulai berubah.
Mesin dapat menyusun laporan.
Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan.
Robot dapat mengangkat barang.
Kendaraan dapat bergerak tanpa pengemudi.
Program dapat membuat gambar, tulisan, rancangan, perhitungan, dan berbagai hasil pekerjaan lainnya.
Apa yang dahulu memerlukan banyak tenaga manusia, perlahan dapat dilakukan oleh sedikit orang dengan bantuan banyak mesin.
Maka muncul pertanyaan besar:
«Apabila pekerjaan manusia berkurang, apakah haknya untuk hidup juga ikut berkurang?»
Jawabannya adalah tidak.
Hak manusia untuk hidup secara layak tidak boleh hanya bergantung pada seberapa banyak tenaganya dibutuhkan oleh pasar.
Bayi belum bekerja, tetapi ia tetap berhak memperoleh makanan.
Orang tua yang telah lemah tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu, tetapi ia tetap mempunyai kemuliaan.
Orang sakit mungkin kehilangan kemampuan mencari penghasilan, tetapi ia tidak kehilangan hak untuk dirawat.
Orang yang merawat anak, menjaga orang tua, mengurus rumah, mendampingi orang sakit, dan melayani masyarakat sering kali tidak memperoleh upah besar, padahal pekerjaannya sangat berharga.
Maka QITAB ini membuka satu pengertian:
«Nilai manusia lebih tinggi daripada nilai pekerjaannya.»
Pekerjaan adalah salah satu jalan manusia memberi manfaat.
Namun pekerjaan bukan sumber kemuliaan tertinggi.
Kemuliaan manusia tidak ditentukan semata-mata oleh gaji, jabatan, seragam, gelar, atau jumlah barang yang mampu dihasilkannya.
Manusia dimuliakan karena ia menerima amanah akal, hati, nurani, pilihan, serta tanggung jawab kepada Alloh.
Ketika Profesi Menjadi Identitas
Banyak manusia berkata:
“Aku seorang pedagang.”
“Aku seorang guru.”
“Aku seorang petani.”
“Aku seorang pegawai.”
“Aku seorang pengemudi.”
“Aku seorang pekerja pabrik.”
Pekerjaan kemudian menyatu dengan cara manusia memandang dirinya.
Ketika pekerjaan itu hilang, ia merasa dirinya ikut hilang.
Ketika digantikan oleh mesin, ia merasa tidak lagi diperlukan.
Ketika penghasilannya berkurang, harga dirinya ikut runtuh.
Padahal pekerjaan dapat berubah.
Jabatan dapat berakhir.
Usaha dapat mengalami pasang dan surut.
Tubuh dapat melemah.
Namun hakikat manusia tidak lenyap bersama hilangnya profesi.
Engkau bukan sekadar pekerjaanmu.
Engkau bukan hanya jumlah penghasilanmu.
Engkau bukan angka produktivitas yang dicatat oleh perusahaan.
Engkau adalah hamba Alloh yang mempunyai amanah untuk beribadah, belajar, mencintai, merawat, memperbaiki, dan memberi manfaat sesuai kemampuanmu.
Maka apabila suatu hari mesin mengambil sebagian pekerjaan manusia, manusia harus menemukan kembali makna hidup yang lebih dalam daripada sekadar bekerja untuk memperoleh uang.
Pekerjaan yang Menghidupi dan Pekerjaan yang Memberi Makna
Tidak semua pekerjaan memberikan makna.
Sebagian manusia bekerja hanya karena takut kelaparan.
Ia mengulangi pekerjaan yang tidak disukainya.
Ia berangkat ketika hatinya lelah.
Ia pulang ketika keluarganya telah tertidur.
Ia menukar hampir seluruh waktunya dengan upah yang hanya cukup untuk bertahan.
Apabila mesin dapat mengambil pekerjaan yang berbahaya, berat, kotor, berulang, atau merendahkan martabat, hal itu dapat menjadi kebaikan.
Namun manfaat itu baru sempurna apabila manusia yang pekerjaannya digantikan tidak dibuang begitu saja.
Ia harus memperoleh jalan untuk:
belajar kembali,
mengembangkan kemampuan baru,
menerima perlindungan selama masa perubahan,
dan menemukan bentuk pengabdian yang lebih sesuai dengan kemanusiaannya.
Apabila perusahaan memperoleh keuntungan besar dari mesin, sedangkan pekerja kehilangan seluruh penghidupan tanpa perlindungan, maka keuntungan teknologi belum dibagikan secara adil.
Mesin memang milik pemodal.
Namun kemajuan mesin berdiri di atas pengetahuan manusia yang dikumpulkan selama berabad-abad.
Ia dibangun dari ilmu para penemu.
Ia menggunakan bahasa masyarakat.
Ia belajar dari tulisan, gambar, pengalaman, dan kebiasaan banyak manusia.
Ia memakai jalan, jaringan, hukum, pendidikan, energi, dan sumber daya yang dibangun bersama.
Maka hasil kemajuan tidak selayaknya hanya dinikmati oleh sedikit pihak.
Empat Kemungkinan Masa Depan Pekerjaan
QITAB ini membuka empat jalan yang mungkin muncul ketika otomatisasi semakin luas.
Jalan Pertama — Manusia Dipaksa Bersaing dengan Mesin
Pada jalan ini, manusia dituntut bekerja secepat mesin.
Ia harus selalu aktif.
Ia harus selalu tersedia.
Ia harus menghasilkan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat.
Ia diukur oleh angka, peringkat, kecepatan, dan hasil.
Kelelahan dianggap kelemahan.
Istirahat dianggap kemalasan.
Kesalahan kecil dianggap tidak dapat diterima.
Apabila manusia dipaksa hidup seperti mesin, ia akan kehilangan ruang untuk menjadi manusia.
Ia lupa bercengkerama dengan keluarganya.
Ia kehilangan waktu untuk beribadah dengan tenang.
Ia terus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Tubuhnya berada di rumah, tetapi pikirannya masih berada di tempat kerja.
Jalan ini menghasilkan banyak barang, tetapi dapat mengosongkan jiwa.
Jalan Kedua — Manusia Dibuang Setelah Digantikan
Pada jalan ini, perusahaan memperoleh mesin baru dan mengurangi pekerja.
Keuntungan meningkat, tetapi masyarakat kehilangan pendapatan.
Daya beli melemah.
Kesenjangan melebar.
Sebagian kecil manusia memiliki mesin, sementara sebagian besar hanya menunggu kesempatan kerja yang semakin sedikit.
Jalan ini dapat menimbulkan kemarahan, kecemasan, konflik, dan ketidakpercayaan.
Sebab manusia yang lapar tidak akan merasa terhibur hanya dengan melihat kemajuan teknologi.
Manusia yang kehilangan rumah tidak akan merasa makmur hanya karena produksi nasional meningkat.
Maka angka kemajuan tidak selalu menunjukkan kesejahteraan yang sebenarnya.
Jalan Ketiga — Manusia Dibantu Berubah
Pada jalan ini, mesin mengambil pekerjaan yang berat, tetapi manusia memperoleh pendidikan untuk berpindah kepada pekerjaan baru.
Pekerja tidak dianggap sebagai barang yang dapat dibuang.
Ia dianggap sebagai manusia yang dapat belajar.
Perusahaan, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat bekerja sama menyiapkan perubahan.
Manusia diarahkan menuju pekerjaan yang memerlukan:
kebijaksanaan,
empati,
kreativitas,
pendampingan,
pengasuhan,
penyelesaian masalah,
dan tanggung jawab moral.
Jalan ini lebih adil, tetapi tetap memerlukan kesiapan.
Tidak semua orang dapat berubah dengan kecepatan yang sama.
Orang tua, masyarakat miskin, wilayah terpencil, dan mereka yang tidak mempunyai akses pendidikan memerlukan perlindungan lebih besar.
Jalan Keempat — Hasil Mesin Menjadi Manfaat Bersama
Pada jalan ini, sebagian hasil kelimpahan dikembalikan kepada masyarakat.
Bentuknya dapat berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, makanan pokok, transportasi, tempat tinggal yang layak, bantuan pendapatan, atau akses terhadap kebutuhan dasar.
Manusia tidak harus hidup tanpa usaha.
Namun ia tidak dibiarkan kelaparan hanya karena tenaganya sementara tidak dibutuhkan oleh sistem produksi.
Di sini muncul gagasan mengenai jaminan kehidupan dasar.
Bukan untuk memanjakan kemalasan.
Bukan untuk menghapus tanggung jawab.
Namun untuk memastikan bahwa setiap manusia mempunyai pijakan minimum agar dapat hidup, belajar, berubah, dan kembali memberi manfaat.
Tentang Penghasilan Dasar
Sebagian manusia membayangkan suatu sistem ketika setiap warga memperoleh dukungan dasar agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.
Gagasan ini sering disebut penghasilan dasar atau jaminan pendapatan minimum.
Namun QITAB ini tidak menetapkan satu sistem sebagai jawaban mutlak.
Sebab setiap bangsa mempunyai keadaan, kemampuan, budaya, hukum, serta tantangan yang berbeda.
Yang harus dijaga bukan sekadar nama sistemnya, melainkan tujuannya:
«Jangan sampai seseorang kehilangan hak hidup hanya karena mesin telah mengambil pekerjaannya.»
Penghasilan dasar dapat membantu apabila dikelola dengan benar.
Namun ia juga dapat menimbulkan masalah apabila digunakan untuk membuat masyarakat bergantung sepenuhnya kepada penguasa.
Bantuan yang baik menguatkan manusia.
Bantuan yang buruk mengikat manusia.
Bantuan yang baik menjaga martabat.
Bantuan yang buruk dapat digunakan untuk mengendalikan pilihan.
Karena itu, bantuan harus disertai:
transparansi,
keadilan,
perlindungan hak,
kesempatan belajar,
dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Jangan sampai manusia diberi sedikit makanan, tetapi kehilangan hak berbicara.
Jangan sampai ia diberi akses hidup, tetapi seluruh perilakunya diawasi.
Jangan sampai bantuan berubah menjadi rantai digital yang dapat diputus ketika seseorang tidak tunduk kepada kepentingan tertentu.
Kemalasan atau Kebebasan untuk Berkarya?
Sebagian orang berkata:
“Apabila manusia menerima kebutuhan dasarnya tanpa bekerja, mereka akan menjadi malas.”
Sebagian lainnya berkata:
“Apabila manusia tidak lagi dihantui rasa takut kelaparan, mereka dapat berkarya dengan lebih bebas.”
Keduanya dapat terjadi.
Ada manusia yang menyalahgunakan kemudahan.
Ada pula manusia yang justru tumbuh ketika beban dasarnya diringankan.
Karena itu, kelimpahan harus disertai pendidikan jiwa.
Manusia perlu diajarkan bahwa kehidupan bukan hanya untuk menerima.
Kehidupan adalah kesempatan untuk memberi.
Apabila kebutuhan pokok telah terpenuhi, manusia dapat menggunakan waktunya untuk:
belajar ilmu,
merawat keluarga,
membantu masyarakat,
menjaga lingkungan,
menciptakan karya,
mengajar anak-anak,
mendampingi orang tua,
menyembuhkan yang terluka,
serta memperbanyak ibadah dan kebaikan.
Kelimpahan tanpa tujuan dapat melahirkan kebosanan.
Kebosanan tanpa kesadaran dapat melahirkan kerusakan.
Namun waktu luang yang disertai ilmu dan akhlak dapat melahirkan peradaban.
Pekerjaan yang Tidak Terlihat
Banyak pekerjaan penting tidak dicatat sebagai kegiatan ekonomi.
Seorang ibu menenangkan anak yang menangis.
Seorang ayah mengajarkan kejujuran.
Seorang anak merawat orang tuanya yang sakit.
Seorang tetangga mengantarkan makanan kepada orang miskin.
Seorang guru membimbing murid di luar jam mengajar.
Seorang sahabat mendengarkan orang yang sedang kehilangan harapan.
Mungkin tidak ada upah.
Mungkin tidak ada laporan.
Mungkin tidak ada mesin yang menghitung nilainya.
Namun kehidupan masyarakat berdiri di atas pekerjaan-pekerjaan yang tidak terlihat itu.
Jika semua manusia hanya mengejar pekerjaan yang menghasilkan uang, siapa yang akan menjaga kasih sayang?
Jika seluruh waktu dihitung sebagai biaya, siapa yang akan duduk menemani orang yang kesepian?
Jika semua perhatian dijual, siapa yang akan memberi tanpa menunggu balasan?
Maka zaman mesin seharusnya membuka mata manusia bahwa banyak hal yang paling berharga justru tidak mudah diberi harga.
Kasih seorang ibu tidak mempunyai tarif.
Kesetiaan tidak dapat dibeli dengan kontrak.
Keikhlasan tidak dapat dihasilkan oleh pabrik.
Doa orang tua tidak dapat digantikan oleh algoritma.
Pendidikan untuk Zaman Baru
Pendidikan tidak boleh hanya mengajarkan anak agar mampu bersaing dengan mesin.
Sebab apabila manusia hanya dilatih untuk menghafal, menghitung, dan mengulangi, mesin mungkin dapat melakukannya lebih cepat.
Pendidikan harus membangunkan sesuatu yang lebih dalam:
kemampuan bertanya,
kemampuan memahami,
kemampuan bekerja sama,
keberanian mengakui kesalahan,
kepekaan terhadap penderitaan,
kreativitas,
tanggung jawab,
dan akhlak.
Anak-anak tidak cukup diajarkan cara memakai teknologi.
Mereka harus diajarkan kapan teknologi tidak patut digunakan.
Mereka tidak cukup diajarkan cara memperoleh informasi.
Mereka harus diajarkan cara membedakan kebenaran dan kebohongan.
Mereka tidak cukup diajarkan cara mencari keuntungan.
Mereka harus diajarkan bahwa keuntungan tidak boleh dibangun dari penderitaan orang lain.
Pendidikan masa depan harus menyatukan:
ilmu, keterampilan, adab, dan kesadaran kepada Alloh.
Jangan Menghina Pekerjaan Sederhana
Di tengah kemajuan, manusia dapat tergoda merendahkan pekerjaan yang dianggap sederhana.
Ia menganggap pekerjaan tangan sebagai sesuatu yang rendah.
Ia hanya memuliakan pekerjaan yang memakai teknologi tinggi.
Padahal setiap pekerjaan halal yang membawa manfaat mempunyai kemuliaan.
Petani menyediakan makanan.
Petugas kebersihan menjaga kesehatan lingkungan.
Pengemudi membantu manusia mencapai tujuan.
Pedagang kecil menghidupkan perputaran ekonomi.
Tukang membangun rumah.
Perawat menjaga orang sakit.
Guru membangun akal dan akhlak generasi.
Mesin mungkin membantu semua pekerjaan itu.
Namun bantuan mesin tidak menghapus kehormatan manusia yang telah menjalaninya.
Jangan menertawakan orang yang belum memahami teknologi.
Jangan menganggap mereka tertinggal sehingga tidak lagi berharga.
Kemajuan yang benar mengajak semua orang berjalan bersama.
Bukan meninggalkan yang lemah di belakang.
Ujian Kesombongan bagi Mereka yang Menguasai Teknologi
Orang yang memahami teknologi dapat merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ia melihat dirinya sebagai manusia masa depan.
Ia menganggap masyarakat biasa tidak mengerti.
Ia merasa berhak menentukan jalan hidup banyak orang karena menguasai sistem.
Inilah kesombongan baru.
Dahulu manusia sombong karena harta.
Kemudian karena jabatan.
Kemudian karena ilmu.
Pada zaman mesin, manusia dapat sombong karena menguasai algoritma, data, jaringan, dan kecerdasan buatan.
Padahal semakin besar ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya.
Ia menyadari bahwa setiap pengetahuan mempunyai batas.
Ia memahami bahwa kesalahan kecil dalam sistem dapat merugikan banyak manusia.
Ia tidak menganggap dirinya Tuhan hanya karena mampu memperkirakan perilaku masyarakat.
Ia tetap bermusyawarah.
Ia tetap menerima kritik.
Ia tetap menyediakan jalan bagi manusia untuk menggugat keputusan mesin.
Sebab tidak boleh ada sistem yang kebal dari pemeriksaan.
Hak Manusia untuk Tidak Dinilai Hanya oleh Mesin
Pada zaman mendatang, mesin dapat digunakan untuk menilai kelayakan seseorang memperoleh pekerjaan, pinjaman, pendidikan, bantuan, atau pelayanan.
Namun manusia tidak boleh dinilai hanya oleh angka.
Sistem dapat salah membaca keadaan.
Data dapat tidak lengkap.
Masa lalu seseorang tidak selalu menggambarkan masa depannya.
Kesalahan seseorang tidak selalu berarti ia tidak dapat berubah.
Karena itu, setiap keputusan penting harus menyediakan ruang untuk:
penjelasan,
keberatan,
pemeriksaan manusia,
dan perbaikan.
Jangan biarkan satu angka menutup seluruh jalan kehidupan seseorang.
Jangan biarkan catatan lama menjadi hukuman tanpa akhir.
Alloh membuka pintu taubat.
Maka manusia juga harus membuka jalan perbaikan.
Makna Baru tentang Bekerja
Apabila kebutuhan dasar manusia suatu hari semakin mudah dipenuhi, bekerja tidak boleh hanya dimaknai sebagai jalan memperoleh uang.
Bekerja harus kembali kepada makna dasarnya:
mengusahakan manfaat.
Seorang manusia dapat memberi manfaat melalui karya.
Melalui pelayanan.
Melalui pengasuhan.
Melalui ilmu.
Melalui ibadah.
Melalui penjagaan alam.
Melalui kehadiran yang menenangkan.
Tidak semua manfaat harus diukur dengan uang.
Namun masyarakat tetap perlu menemukan cara untuk menghargai dan melindungi orang-orang yang mengerjakan tugas penting tetapi tidak menghasilkan keuntungan besar.
Sebab masyarakat yang hanya menghargai apa yang menghasilkan uang akan kehilangan banyak pekerjaan yang menjaga kemanusiaannya.
Sabda Lembar Ketiga
«Ketika mesin mengambil pekerjaan manusia, janganlah manusia kehilangan makna dirinya. Sebab manusia diciptakan bukan hanya untuk menghasilkan barang, tetapi untuk membawa amanah, kasih sayang, ilmu, keadilan, dan pengabdian kepada Alloh.»
Pekerjaan dapat berubah.
Profesi dapat hilang.
Mesin dapat menjadi lebih pintar.
Namun manusia tetap mempunyai tanggung jawab yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada alat.
Tanggung jawab untuk memilih yang benar.
Tanggung jawab untuk menjaga yang lemah.
Tanggung jawab untuk mengendalikan keserakahan.
Tanggung jawab untuk membagikan kelimpahan.
Tanggung jawab untuk menemukan makna di balik kehidupan.
Jangan ukur manusia hanya dari jumlah barang yang dihasilkannya.
Ukurlah pula dari luka yang disembuhkannya.
Dari anak yang dididiknya.
Dari orang tua yang dirawatnya.
Dari ilmu yang dibagikannya.
Dari ketidakadilan yang diperbaikinya.
Dari doa yang dipanjatkannya.
Dan dari kebaikan yang tetap dilakukannya meskipun tidak seorang pun memberikan upah.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan ditanya berapa cepat ia mengalahkan mesin.
Manusia akan mempertanggungjawabkan bagaimana ia menggunakan akal, waktu, kekuasaan, harta, dan kesempatan yang telah diberikan Alloh kepadanya.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Keempat — Ketika Uang Berubah Menjadi Hak Akses dan Identitas Digital
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka pengertian bahwa pekerjaan dapat berubah, tetapi kemuliaan manusia tidak boleh ikut hilang.
Kini kita memasuki sebuah pintu yang lebih halus.
Pada zaman dahulu, manusia membawa uang di dalam sakunya.
Ia menyerahkan uang kepada pedagang, lalu menerima barang.
Pedagang tidak selalu perlu mengetahui siapa pembelinya, dari mana asalnya, bagaimana kebiasaannya, apa pandangannya, atau dengan siapa ia bergaul.
Cukuplah uang diterima, barang diberikan, dan pertukaran selesai.
Namun pada zaman digital, pertukaran dapat berubah.
Manusia tidak lagi hanya menyerahkan uang.
Ia menyerahkan identitas.
Ia menyerahkan nomor.
Ia menyerahkan jejak.
Ia menyerahkan izin.
Ia menyerahkan sebagian catatan kehidupannya agar sebuah pintu terbuka.
Untuk memperoleh barang, ia harus masuk ke dalam sistem.
Untuk menggunakan kendaraan, ia harus terdaftar.
Untuk menerima bantuan, ia harus dikenali.
Untuk membuka rekening, ia harus memberikan data.
Untuk memakai layanan, ia harus menyetujui aturan yang panjang, yang sering kali tidak dibacanya.
Maka uang tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pembayaran.
Ia dapat berubah menjadi:
«hak untuk mengakses sesuatu yang dikendalikan oleh sistem.»
Pada keadaan seperti itu, seseorang mungkin mempunyai uang, tetapi tidak dapat menggunakannya karena aksesnya ditolak.
Seseorang mungkin mempunyai hak, tetapi tidak dapat membuktikannya karena identitasnya tidak dikenali.
Seseorang mungkin mempunyai kebutuhan, tetapi tidak dapat memperolehnya karena sistem menganggap datanya tidak sesuai.
Di sinilah lahir satu bentuk kekuasaan baru:
Kekuasaan untuk membuka dan menutup akses
Barang tersedia.
Layanan tersedia.
Jaringan tersedia.
Namun tidak semua orang dapat masuk.
Bukan karena pintunya dikunci dengan besi.
Pintunya dikunci dengan data.
Bukan karena penjaganya berdiri membawa senjata.
Penjaganya berada di dalam sistem.
Bukan karena manusia diusir secara langsung.
Ia cukup menerima tulisan:
“Akses ditolak.”
Uang yang Dapat Diperintah
Uang lama dapat dibelanjakan selama diterima oleh masyarakat.
Namun uang digital dapat dibuat mempunyai aturan.
Ia dapat ditentukan hanya berlaku di tempat tertentu.
Ia dapat dibatasi hanya untuk barang tertentu.
Ia dapat diberi waktu penggunaan.
Ia dapat dicegah untuk dipindahkan.
Ia dapat dihentikan dari jarak jauh.
Ia dapat dilacak perjalanannya.
Ia dapat dihubungkan dengan identitas pemiliknya.
Kemampuan ini dapat membawa manfaat.
Bantuan makanan dapat diarahkan agar benar-benar digunakan membeli kebutuhan pokok.
Dana pendidikan dapat dijaga agar tidak disalahgunakan.
Transaksi kejahatan dapat lebih mudah ditelusuri.
Pencurian dapat dicegah.
Penyaluran bantuan dapat dibuat lebih cepat.
Namun alat yang mampu melindungi juga dapat digunakan untuk mengendalikan.
Jika aturan dibuat tanpa keadilan, uang tidak lagi menjadi milik yang dapat digunakan dengan kebebasan yang wajar.
Ia berubah menjadi izin yang hanya berlaku selama pemilik sistem menyetujuinya.
Maka QITAB ini tidak mengajarkan agar manusia menolak seluruh kemajuan digital.
Namun QITAB ini mengingatkan:
«Semakin mudah sebuah sistem mengatur uang, semakin kuat pula perlindungan hukum dan akhlak yang harus mengawasinya.»
Jangan hanya bertanya:
“Apakah sistem ini cepat?”
Tanyakan pula:
“Siapa yang dapat menghentikannya?”
“Dengan alasan apa akses dapat ditutup?”
“Bagaimana seseorang membela diri jika sistem melakukan kesalahan?”
“Apakah ada pemeriksaan manusia?”
“Apakah keputusan dapat digugat?”
“Apakah orang miskin dan masyarakat terpencil tetap dapat hidup apabila jaringan terputus?”
Kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran kebaikan.
Sistem yang cepat tetapi tidak adil dapat menyebarkan ketidakadilan dengan lebih cepat.
Identitas sebagai Kunci Kehidupan
Identitas digital dapat menjadi seperti sebuah kunci.
Dengan satu identitas, seseorang dapat membuka banyak pintu.
Pintu perbankan.
Pintu kesehatan.
Pintu pendidikan.
Pintu transportasi.
Pintu pekerjaan.
Pintu bantuan sosial.
Pintu perdagangan.
Pintu pelayanan pemerintahan.
Hal ini dapat mempermudah kehidupan.
Manusia tidak perlu membawa banyak dokumen.
Pelayanan dapat diberikan dengan lebih cepat.
Penipuan dapat dikurangi.
Data dapat disatukan agar masyarakat tidak berulang kali memberikan keterangan yang sama.
Namun apabila seluruh pintu kehidupan hanya bergantung pada satu kunci, kerusakan pada kunci itu dapat menutup seluruh jalan.
Jika identitas salah tercatat, manusia dapat kehilangan akses.
Jika data dicuri, orang lain dapat memakai namanya.
Jika sistem rusak, pelayanan dapat berhenti.
Jika penguasa menyalahgunakan kewenangan, identitas dapat menjadi alat tekanan.
Maka jangan membangun sistem yang besar tanpa menyiapkan jalan penyelamatan bagi orang yang tersisih darinya.
Setiap manusia harus mempunyai hak untuk:
memperbaiki data yang salah,
mengetahui alasan penolakan,
mengajukan keberatan,
memperoleh bantuan manusia,
dan tetap memenuhi kebutuhan dasarnya ketika sistem gagal.
Sebab kesalahan mesin tidak boleh berubah menjadi hukuman bagi manusia.
Bahaya ketika Identitas Menjadi Penilaian
Identitas seharusnya menjawab pertanyaan:
“Siapakah orang ini?”
Namun sistem dapat berkembang lebih jauh.
Ia tidak hanya mengenali.
Ia mulai menilai.
Seseorang diberi angka berdasarkan riwayatnya.
Ia dinilai dari kebiasaan belanja.
Ia dinilai dari utang.
Ia dinilai dari pekerjaan.
Ia dinilai dari pergaulan.
Ia dinilai dari tempat tinggal.
Ia dinilai dari perjalanan.
Ia dinilai dari pilihan yang pernah dibuatnya.
Dari angka itu, sistem dapat menentukan apakah seseorang dianggap layak dipercaya, layak menerima layanan, layak memperoleh pinjaman, atau layak memasuki suatu tempat.
Penilaian dapat membantu mengurangi risiko.
Namun ia menjadi berbahaya apabila manusia dipenjara oleh catatan masa lalunya.
Seseorang pernah gagal, lalu selamanya dianggap tidak layak.
Seseorang pernah berutang, lalu seluruh pintu ditutup.
Seseorang pernah membuat kesalahan, lalu tidak diberikan jalan untuk memperbaikinya.
Padahal manusia bukan benda mati.
Manusia dapat berubah.
Manusia dapat belajar.
Manusia dapat menyesal.
Manusia dapat memperbaiki akhlaknya.
Manusia dapat bertobat.
Apabila Alloh membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya, janganlah manusia menciptakan sistem yang menutup pintu perubahan selama-lamanya.
Data masa lalu dapat menjadi pertimbangan.
Namun ia tidak boleh menjadi takdir buatan.
Ketika Ketaatan kepada Sistem Menggantikan Akhlak
Ada sebuah bahaya yang lebih halus.
Sistem dapat membuat manusia merasa bahwa segala sesuatu yang diizinkan pasti benar.
Apabila layar menampilkan tanda hijau, manusia menganggap tindakannya baik.
Apabila sistem menyetujui, ia menganggap dirinya bebas dari tanggung jawab moral.
Padahal sesuatu dapat diizinkan oleh aturan, tetapi tetap tidak adil.
Sesuatu dapat lolos dari pemeriksaan, tetapi tetap menyakiti.
Sesuatu dapat memperoleh izin, tetapi tetap merusak martabat.
Akhlak tidak boleh digantikan oleh kepatuhan buta kepada sistem.
Mesin hanya mengetahui aturan yang dimasukkan kepadanya.
Ia tidak selalu memahami keadaan manusia secara utuh.
Ia tidak mengetahui seluruh luka yang tersembunyi.
Ia tidak menyaksikan semua pengorbanan.
Ia tidak memahami kasih sayang sebagaimana manusia mengalaminya.
Ia tidak mampu melihat niat dengan sempurna.
Karena itu, manusia tetap harus bertanya kepada nuraninya:
“Apakah ini adil?”
“Apakah ini merugikan orang yang tidak berdaya?”
“Apakah ini menjaga kehormatan?”
“Apakah keputusan ini dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh?”
Ketaatan kepada prosedur tidak menghapus tanggung jawab pribadi.
Seorang manusia tidak dapat berkata:
“Aku hanya mengikuti sistem,”
jika ia mengetahui bahwa sistem itu menindas.
Uang, Privasi, dan Kebebasan
Setiap transaksi digital meninggalkan jejak.
Dari jejak itu dapat diketahui pola kehidupan seseorang.
Kapan ia membeli makanan.
Di mana ia berobat.
Apa yang ia baca.
Ke mana ia bepergian.
Kepada siapa ia mengirim bantuan.
Apa kebutuhan keluarganya.
Informasi semacam itu dapat digunakan untuk pelayanan.
Namun ia juga dapat digunakan untuk mengawasi, memengaruhi, atau menekan.
Karena itu, privasi bukan berarti manusia ingin menyembunyikan kejahatan.
Privasi adalah ruang yang diperlukan agar manusia tetap mempunyai martabat dan kebebasan.
Rumah mempunyai pintu bukan karena penghuninya melakukan kejahatan.
Surat mempunyai sampul bukan karena isinya pasti salah.
Percakapan pribadi dijaga bukan karena manusia memusuhi masyarakat.
Ada bagian kehidupan yang memang tidak patut dibuka kepada semua orang.
Maka data keuangan, kesehatan, keluarga, pendidikan, dan kebiasaan manusia harus dijaga sebagai amanah.
Barang siapa memegang data orang lain, ia memegang sebagian bayangan kehidupannya.
Jangan menjualnya tanpa izin.
Jangan menggunakannya untuk memperdaya.
Jangan membukanya untuk mempermalukan.
Jangan menjadikannya senjata ketika terjadi perselisihan.
Sebab membuka rahasia manusia tanpa hak dapat menjadi bentuk kezaliman.
Ketika Semua Transaksi Harus Terlihat
Dalam masyarakat yang semakin digital, uang tunai dapat berkurang.
Hal ini dapat mempermudah pengawasan terhadap kejahatan.
Namun jika seluruh transaksi harus terlihat oleh satu pusat kekuasaan, masyarakat juga dapat kehilangan ruang kemandirian.
Manusia perlu mencari keseimbangan.
Kejahatan harus dicegah.
Pencucian uang harus dihentikan.
Korupsi harus dilawan.
Penipuan harus diperiksa.
Namun warga biasa yang jujur juga harus dilindungi dari pengawasan yang berlebihan.
Jangan mencurigai seluruh manusia hanya karena sebagian manusia berbuat salah.
Jangan membangun penjara untuk semua orang dengan alasan menangkap beberapa penjahat.
Keadilan tidak hanya berarti menghukum pelaku kejahatan.
Keadilan juga berarti menjaga orang yang tidak bersalah agar tidak diperlakukan seperti penjahat.
Ketika Bantuan Menjadi Alat Kendali
Pada zaman kelimpahan, masyarakat mungkin menerima banyak kebutuhan melalui sistem bantuan.
Makanan.
Kesehatan.
Perumahan.
Pendidikan.
Energi.
Transportasi.
Dukungan semacam itu dapat menjadi rahmat.
Namun bantuan dapat kehilangan kemuliaannya apabila disertai tuntutan yang merampas kebebasan.
Seseorang diberi makanan, tetapi harus menyerahkan seluruh privasinya.
Seseorang diberi akses, tetapi tidak boleh menyampaikan kritik.
Seseorang diberi bantuan, tetapi dipaksa mendukung kepentingan tertentu.
Seseorang diberi tempat tinggal, tetapi setiap geraknya diawasi.
Maka pertolongan berubah menjadi rantai.
Bantuan yang benar tidak merendahkan penerima.
Bantuan yang benar tidak membeli suara manusia.
Bantuan yang benar tidak meminta kesetiaan pribadi kepada pemberi.
Bantuan adalah jalan menunaikan amanah kepada sesama, bukan alat untuk menguasai jiwa mereka.
Orang miskin tetap mempunyai kehormatan.
Orang yang menerima bantuan tetap mempunyai hak berbicara.
Orang yang sedang lemah tidak boleh dipaksa menyerahkan kemerdekaannya.
Hak untuk Tetap Hidup ketika Sistem Mati
Teknologi dapat rusak.
Jaringan dapat terputus.
Listrik dapat padam.
Data dapat hilang.
Sistem dapat diserang.
Perangkat dapat gagal membaca wajah atau sidik jari.
Bencana dapat menghentikan pelayanan.
Karena itu, masyarakat tidak boleh menggantungkan seluruh kehidupan pada satu sistem tanpa jalan cadangan.
Makanan tetap harus dapat dibagikan ketika jaringan terputus.
Orang sakit tetap harus ditolong ketika identitas digital gagal terbaca.
Masyarakat terpencil tetap harus dilayani walaupun tidak mempunyai perangkat terbaru.
Orang tua yang tidak memahami teknologi tidak boleh kehilangan hak.
Anak kecil, penyandang disabilitas, orang sakit, dan mereka yang tidak mempunyai akses digital harus mempunyai pendampingan.
Kemajuan yang benar tidak hanya dirancang untuk manusia yang muda, sehat, kaya, dan terampil memakai teknologi.
Kemajuan harus dapat melindungi mereka yang paling mudah tertinggal.
Jangan Menjadikan Teknologi sebagai Penghalang Sedekah
Dahulu seseorang melihat orang lapar, lalu memberikan makanan.
Ia tidak meminta banyak data.
Ia tidak menunggu sistem menilai kelayakan.
Ia menolong karena melihat kebutuhan.
Pada zaman digital, jangan sampai manusia kehilangan spontanitas kasih sayang.
Jangan sampai pertolongan tertunda hanya karena penerimanya belum terdaftar.
Jangan sampai sedekah dianggap tidak sah hanya karena tidak melewati jalur tertentu.
Sistem dapat membantu menyalurkan bantuan dengan baik.
Namun ia tidak boleh mematikan hati.
Ada saatnya manusia harus menolong karena keadaan mendesak.
Ada saatnya kasih sayang bergerak lebih cepat daripada prosedur.
Ada saatnya orang lapar membutuhkan makanan sekarang, bukan setelah datanya diverifikasi berhari-hari.
Maka gabungkanlah ketertiban dengan kasih sayang.
Gunakanlah data untuk memperbaiki penyaluran.
Namun jangan biarkan data membuat hati menjadi kaku.
Empat Penjagaan atas Identitas Digital
QITAB ini membuka empat penjagaan agar identitas digital tetap menjadi alat pelayanan, bukan alat penindasan.
Pertama — Penjagaan Hak
Setiap manusia harus mengetahui hak apa saja yang dimilikinya atas data dan identitasnya.
Ia harus mengetahui siapa yang menyimpan data.
Untuk apa data digunakan.
Berapa lama data disimpan.
Kepada siapa data dapat diberikan.
Dan bagaimana ia dapat meminta perbaikan atau penghapusan sesuai ketentuan yang adil.
Kedua — Penjagaan Batas Kekuasaan
Tidak boleh ada satu pihak yang mempunyai kekuasaan tanpa batas untuk membuka dan menutup akses kehidupan.
Setiap keputusan besar harus diawasi.
Setiap penolakan harus mempunyai alasan.
Setiap kekeliruan harus dapat diperiksa.
Setiap kewenangan harus mempunyai batas.
Ketiga — Penjagaan Jalan Cadangan
Pelayanan penting harus mempunyai cara lain ketika teknologi gagal.
Manusia tidak boleh kehilangan makanan, obat, atau tempat berlindung hanya karena perangkatnya rusak.
Sistem dibuat untuk melayani kehidupan.
Kehidupan tidak boleh dikorbankan demi menjaga kesempurnaan sistem.
Keempat — Penjagaan Martabat
Manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai nomor.
Petugas pelayanan harus tetap mempunyai kasih sayang.
Bahasa sistem harus jelas dan tidak merendahkan.
Orang yang ditolak harus diberi penjelasan.
Orang yang kesulitan harus diberi bantuan.
Sebab martabat tidak boleh hilang hanya karena pelayanan dilakukan melalui layar.
Kekayaan Baru: Kemampuan untuk Tetap Memilih
Pada zaman lama, manusia disebut kaya apabila mempunyai banyak uang dan barang.
Pada zaman baru, kekayaan dapat mempunyai bentuk tambahan:
kemampuan untuk tetap memilih.
Memilih sumber makanan.
Memilih tempat belajar.
Memilih layanan kesehatan.
Memilih bagaimana data digunakan.
Memilih untuk tidak memakai teknologi tertentu.
Memilih untuk berpindah dari satu sistem ke sistem lain.
Memilih untuk memiliki, bukan hanya menyewa.
Memilih untuk menyimpan sebagian kehidupan secara pribadi.
Orang yang mempunyai banyak angka di dalam rekening, tetapi tidak dapat menentukan apa pun tanpa izin sistem, belum tentu benar-benar merdeka.
Maka kemerdekaan ekonomi bukan hanya kemampuan membeli.
Ia juga kemampuan menolak, berpindah, memperbaiki, dan hidup tanpa dipaksa tunduk kepada satu pintu.
Jangan Takut, tetapi Jangan Lengah
QITAB ini tidak dibuka untuk menanam ketakutan terhadap masa depan.
Teknologi digital dapat membawa banyak kebaikan.
Ia dapat mempercepat pertolongan.
Ia dapat memudahkan zakat dan sedekah.
Ia dapat menghubungkan ilmu kepada masyarakat terpencil.
Ia dapat mengurangi biaya pelayanan.
Ia dapat membantu orang yang sebelumnya tidak mempunyai akses perbankan.
Ia dapat memperjelas pengelolaan amanah.
Namun setiap kemudahan membawa ujian.
Apakah manusia menggunakannya dengan jujur?
Apakah penguasa membatasi dirinya?
Apakah pemilik teknologi menjaga hak masyarakat?
Apakah warga memahami apa yang diserahkannya?
Apakah orang berilmu berani mengingatkan ketika sistem menyimpang?
Jangan menolak alat hanya karena ia baru.
Namun jangan pula menyerahkan seluruh kehidupan hanya karena alat itu nyaman.
Gunakanlah kemajuan dengan mata terbuka.
Terimalah manfaatnya.
Periksa bahayanya.
Perkuat hukumnya.
Jaga akhlaknya.
Siapkan jalan ketika ia gagal.
Sabda Lembar Keempat
«Ketika uang berubah menjadi akses dan identitas menjadi kunci, kemiskinan tidak lagi hanya berarti tidak mempunyai harta. Kemiskinan dapat berarti tidak diizinkan memasuki pintu kehidupan yang sebenarnya tersedia.»
Maka jagalah agar akses tidak menjadi alat pilih kasih.
Jagalah agar identitas tidak menjadi belenggu.
Jagalah agar data tidak menjadi senjata.
Jagalah agar bantuan tidak menjadi alat menundukkan manusia.
Jagalah agar uang digital tetap melayani pemiliknya, bukan menguasai pemiliknya.
Sebab manusia diciptakan lebih mulia daripada angka.
Ia lebih dalam daripada data.
Ia lebih luas daripada riwayat transaksi.
Ia lebih berharga daripada penilaian mesin.
Dan ia tidak boleh kehilangan hak hidup hanya karena sebuah sistem gagal mengenalinya.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah pintu.
Uang hanyalah alat.
Identitas hanyalah tanda.
Sistem hanyalah susunan buatan manusia.
Sedangkan kemuliaan, rezeki, kehidupan, dan pertanggungjawaban seluruhnya kembali kepada Alloh.
Maka gunakanlah setiap alat dengan amanah.
Bangunlah sistem dengan keadilan.
Buatlah aturan dengan kasih sayang.
Dan janganlah manusia menciptakan pintu kehidupan yang hanya dapat dibuka oleh mereka yang telah disukai oleh mesin.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Kelima — Kelangkaan Terakhir: Tanah, Air, Energi, Waktu, dan Perhatian Manusia
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka rahasia mengenai uang yang berubah menjadi hak akses dan identitas digital.
Kini QITAB ini membawa kita memasuki lapisan yang lebih dalam.
Banyak manusia membayangkan bahwa ketika mesin telah mampu memproduksi hampir segala sesuatu, seluruh kelangkaan akan berakhir.
Makanan dibuat melimpah.
Pakaian diproduksi tanpa henti.
Rumah dibangun oleh robot.
Barang dikirim oleh kendaraan otomatis.
Ilmu disebarkan melalui jaringan.
Kebutuhan dilayani oleh kecerdasan buatan.
Namun walaupun kemampuan produksi bertambah besar, tidak semua hal dapat diperbanyak tanpa batas.
Ada sesuatu yang tetap terbatas.
Ada sesuatu yang tidak dapat dicetak oleh mesin.
Ada sesuatu yang tidak dapat diperluas hanya dengan menambah kecepatan pabrik.
Ada pula sesuatu yang nilainya justru semakin tinggi ketika dunia dipenuhi kemudahan.
Maka terbukalah lima kelangkaan terakhir:
tanah, air, energi, waktu, dan perhatian manusia.
Kelima perkara ini akan menjadi medan ujian besar.
Bukan hanya ujian ekonomi.
Namun juga ujian akhlak, kekuasaan, keadilan, dan kesadaran kepada Alloh.
Pertama — Tanah yang Tidak Bertambah
Manusia dapat membuat lebih banyak kendaraan.
Manusia dapat mencetak lebih banyak perangkat.
Manusia dapat membangun gedung lebih tinggi.
Namun luas bumi tidak bertambah sesuai keinginan manusia.
Tanah tertentu mempunyai nilai yang tidak dapat digantikan.
Tanah dekat sumber air.
Tanah yang subur.
Tanah di pusat kota.
Tanah di tepi laut.
Tanah yang dekat dengan jalan, sekolah, rumah sakit, dan tempat kerja.
Tanah yang aman dari bencana.
Tanah yang mempunyai sejarah, kesucian, atau hubungan batin dengan masyarakat.
Mesin dapat membangun seribu rumah.
Namun tidak semua rumah dapat berdiri di tempat yang sama.
Teknologi dapat membuat bangunan menjulang ke langit.
Namun manusia tetap membutuhkan ruang untuk berpijak, bergerak, berkebun, berkumpul, dan menguburkan orang yang telah meninggal.
Maka ketika barang-barang menjadi murah, harga tanah justru dapat semakin tinggi.
Orang kaya membeli lebih banyak tanah.
Perusahaan besar menguasai wilayah yang luas.
Masyarakat kecil tersingkir dari tempat kelahirannya.
Petani kehilangan lahan.
Nelayan kehilangan pesisir.
Penduduk lama tidak lagi mampu tinggal di kampungnya karena harga meningkat.
Di sinilah kelimpahan produksi dapat berjalan berdampingan dengan kemiskinan ruang.
Barang banyak.
Namun tempat hidup semakin sempit.
Rumah dibangun.
Namun bukan untuk dihuni oleh mereka yang membutuhkan.
Tanah dibeli.
Namun dibiarkan kosong untuk menunggu harga naik.
Maka QITAB ini mengingatkan:
«Tanah bukan hanya barang dagangan. Tanah adalah tempat kehidupan bertumbuh, keluarga berakar, dan generasi membangun masa depan.»
Hak memiliki tanah harus disertai amanah.
Barang siapa menguasai tanah luas, janganlah ia menjadikannya alat untuk menutup jalan hidup masyarakat.
Barang siapa membangun kota, janganlah ia hanya membangun bagi mereka yang mampu membayar mahal.
Barang siapa memegang kekuasaan, janganlah ia mengusir masyarakat kecil atas nama kemajuan tanpa keadilan.
Kemajuan yang mencabut manusia dari akarnya bukanlah kemajuan yang sempurna.
Ia mungkin memperindah kota.
Namun dapat melukai jiwa penduduknya.
Tanah sebagai Ingatan
Tanah bukan hanya ukuran panjang dan lebar.
Di atas tanah, manusia dilahirkan.
Di atas tanah, anak-anak bermain.
Di atas tanah, orang tua bekerja.
Di atas tanah, masjid dibangun.
Di atas tanah, leluhur dimakamkan.
Tanah menyimpan jejak manusia.
Karena itu, memindahkan seseorang dari tanahnya bukan hanya memindahkan tubuh.
Terkadang ia juga memutuskan hubungan dengan sejarah, tetangga, pekerjaan, adat, dan rasa aman.
Maka pembangunan harus mendengar suara orang-orang yang hidup di dalam wilayah itu.
Jangan datang membawa peta, lalu menganggap garis di atas kertas lebih penting daripada kehidupan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Jangan menyebut masyarakat sebagai penghalang hanya karena mereka berdiri di tempat yang diinginkan pemodal.
Musyawarah bukan sekadar meminta tanda tangan.
Musyawarah adalah mendengarkan ketakutan, kebutuhan, hak, dan harapan masyarakat dengan sungguh-sungguh.
Kedua — Air yang Tidak Boleh Dikuasai dengan Serakah
Air adalah asal kehidupan.
Manusia dapat bertahan beberapa waktu tanpa banyak barang.
Namun ia tidak dapat hidup lama tanpa air.
Tubuh manusia mengandung air.
Tanaman membutuhkan air.
Hewan membutuhkan air.
Kebersihan membutuhkan air.
Rumah sakit membutuhkan air.
Pabrik membutuhkan air.
Pusat data dan pembangkit energi pun memerlukan air untuk berbagai kebutuhan.
Ketika teknologi berkembang, kebutuhan air tidak selalu berkurang.
Sebagian sistem justru membutuhkan lebih banyak air untuk pendinginan, produksi, dan pengolahan.
Apabila air bersih semakin terbatas, ia dapat menjadi sumber perebutan.
Perusahaan mengambil air tanah dalam jumlah besar.
Sumur masyarakat mengering.
Sungai tercemar.
Hutan ditebang.
Mata air melemah.
Air yang dahulu mengalir bebas kemudian dimasukkan ke dalam botol dan dijual mahal.
Masyarakat yang hidup dekat sumber air justru kesulitan memperolehnya.
Di sinilah manusia harus bertanya:
«Siapakah yang berhak menguasai air yang menjadi kebutuhan seluruh makhluk?»
Air dapat dikelola.
Air dapat disalurkan.
Air dapat dibersihkan dengan biaya.
Namun hak dasar manusia terhadap air tidak boleh dihapuskan oleh kepentingan keuntungan semata.
Jangan sampai orang miskin harus memilih antara membeli air atau membeli makanan.
Jangan sampai petani kehilangan panen karena aliran air dialihkan seluruhnya untuk kepentingan besar.
Jangan sampai sungai dijadikan tempat membuang racun, sementara masyarakat di hilir menanggung sakitnya.
Alloh menurunkan air sebagai rahmat.
Maka manusia jangan mengubah rahmat menjadi alat penindasan.
Air dan Dosa yang Tidak Terlihat
Banyak kerusakan air tidak terjadi dalam satu malam.
Ia berlangsung perlahan.
Sedikit sampah dibuang.
Sedikit limbah dialirkan.
Sedikit hutan ditebang.
Sedikit tanah ditutup beton.
Sedikit mata air dikuras.
Setiap pelaku berkata:
“Bagian saya hanya sedikit.”
Namun ketika jutaan manusia mengatakan hal yang sama, kerusakan menjadi besar.
Maka jangan meremehkan dosa kecil terhadap alam.
Setetes racun dapat masuk ke aliran yang panjang.
Satu keputusan dapat merusak kehidupan banyak desa.
Satu proyek dapat mengubah arah air selama puluhan tahun.
Orang yang mencemari air mungkin tidak melihat orang sakit yang berada jauh di hilir.
Namun ketidaktahuan terhadap wajah korban tidak menghapus tanggung jawab.
Ketiga — Energi yang Menghidupkan Zaman Mesin
Mesin tidak bekerja hanya dengan kecerdasan.
Ia membutuhkan energi.
Pabrik otomatis membutuhkan listrik.
Kendaraan membutuhkan daya.
Pusat data membutuhkan tenaga besar.
Rumah pintar membutuhkan jaringan.
Sistem pembayaran, komunikasi, dan pengawasan membutuhkan listrik yang terus mengalir.
Semakin banyak kehidupan bergantung pada teknologi, semakin besar kekuasaan pihak yang menguasai energi.
Apabila energi murah dan terbuka, masyarakat dapat memperoleh banyak manfaat.
Produksi menjadi ringan.
Transportasi menjadi mudah.
Pendidikan dapat menjangkau wilayah jauh.
Pelayanan kesehatan dapat diperluas.
Namun apabila energi dikuasai secara tidak adil, seluruh kelimpahan dapat dihentikan melalui satu pintu.
Mesin ada, tetapi tidak bergerak.
Rumah ada, tetapi gelap.
Makanan ada, tetapi tidak dapat disimpan.
Jaringan ada, tetapi tidak menyala.
Uang digital ada, tetapi tidak dapat digunakan.
Maka energi bukan hanya soal teknologi.
Energi adalah urat kehidupan masyarakat modern.
Barang siapa menguasainya, memegang amanah yang sangat besar.
Energi yang Bersih dan Harga yang Tersembunyi
Manusia mencari energi dari banyak sumber.
Matahari.
Angin.
Air.
Panas bumi.
Bahan bakar.
Bahan tambang.
Setiap sumber membawa manfaat dan akibat.
Energi yang disebut bersih pun tetap membutuhkan bahan, tanah, pabrik, jaringan, dan pengelolaan limbah.
Baterai membutuhkan mineral.
Panel membutuhkan bahan.
Turbin membutuhkan ruang.
Bendungan mengubah aliran sungai.
Tambang dapat merusak tanah.
Karena itu, jangan menyebut sesuatu suci hanya karena namanya terlihat indah.
Periksa seluruh perjalanan energinya.
Dari mana bahannya diambil?
Siapa yang bekerja di tambangnya?
Apakah masyarakat sekitar dilindungi?
Ke mana limbahnya dibuang?
Siapa yang menikmati listriknya?
Siapa yang kehilangan tanahnya?
Sebuah teknologi dapat terlihat bersih di kota, tetapi meninggalkan luka di wilayah jauh.
Maka keadilan lingkungan tidak boleh hanya memindahkan pencemaran dari tempat orang kaya ke tempat orang miskin.
Keempat — Waktu yang Tidak Dapat Dikembalikan
Uang dapat dicari kembali.
Barang dapat diproduksi ulang.
Rumah dapat dibangun kembali.
Data dapat disalin.
Namun waktu yang telah berlalu tidak dapat dipanggil pulang.
Setiap manusia hanya menerima jumlah waktu yang terbatas.
Ia tidak mengetahui kapan waktunya berakhir.
Karena itu, waktu adalah salah satu kekayaan paling tinggi.
Namun pada zaman mesin, manusia dapat mengalami keadaan yang aneh.
Teknologi diciptakan untuk menghemat waktu.
Mesin mencuci pakaian.
Kendaraan mempercepat perjalanan.
Pesan dikirim dalam sekejap.
Informasi ditemukan dalam hitungan detik.
Pekerjaan diselesaikan oleh kecerdasan buatan.
Tetapi banyak manusia justru merasa semakin tidak mempunyai waktu.
Ia terus menerima pesan.
Ia terus melihat pemberitahuan.
Ia terus berpindah dari satu layar ke layar lain.
Ia bekerja di rumah, tetapi pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.
Ia beristirahat, tetapi pikirannya tetap dikejar tugas.
Ia duduk bersama keluarga, tetapi matanya memandang perangkat.
Teknologi menghemat menit, tetapi mengambil perhatian selama berjam-jam.
Maka manusia harus bertanya:
«Waktu yang diselamatkan oleh mesin digunakan untuk apa?»
Apakah untuk ibadah?
Apakah untuk keluarga?
Apakah untuk belajar?
Apakah untuk merawat tubuh?
Apakah untuk membantu sesama?
Ataukah hanya diisi dengan pekerjaan baru yang tidak pernah berakhir?
Jika teknologi mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap dipaksa bekerja lebih lama, maka keuntungan waktu hanya berpindah kepada pemilik sistem.
Jika mesin meningkatkan produksi, tetapi pekerja tidak memperoleh waktu istirahat, maka kemajuan belum dibagikan secara adil.
Waktu sebagai Amanah Ruhani
Umur bukan sekadar kumpulan hari.
Setiap hari adalah lembar yang tidak dapat diulang.
Manusia sering menunda kebaikan.
Ia berkata:
“Nanti aku akan beribadah lebih sungguh-sungguh.”
“Nanti aku akan menemui orang tuaku.”
“Nanti aku akan meminta maaf.”
“Nanti aku akan mendidik anakku.”
“Nanti aku akan berhenti dari kebiasaan buruk.”
Namun tidak semua manusia memperoleh kesempatan “nanti.”
Maka jangan biarkan kemudahan teknologi membuat manusia merasa mempunyai waktu tanpa batas.
Mesin dapat bekerja terus.
Manusia tidak.
Perangkat dapat diisi ulang.
Tubuh manusia mempunyai batas.
Data dapat dipulihkan.
Umur yang berlalu tidak dapat dipulihkan.
Gunakanlah teknologi untuk menjaga waktu, bukan menghabiskannya.
Kelima — Perhatian Manusia yang Diperebutkan
Di antara seluruh kelangkaan, perhatian adalah yang paling halus.
Manusia hanya dapat memusatkan perhatian pada sedikit hal dalam satu waktu.
Ia tidak dapat sungguh-sungguh mendengarkan banyak suara sekaligus.
Ia tidak dapat membaca seluruh informasi yang datang kepadanya.
Ia tidak dapat memikirkan semua masalah pada waktu yang sama.
Maka perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Perusahaan, media, aplikasi, pedagang, penguasa, dan pembuat hiburan berlomba-lomba mendapatkannya.
Mereka tidak hanya menjual barang.
Mereka memperebutkan mata, telinga, pikiran, dan waktu manusia.
Sebuah layar dirancang agar manusia terus melihat.
Pemberitahuan dibuat agar manusia kembali membuka.
Judul dibuat mengejutkan agar manusia menekan.
Gambar dibuat menggoda agar manusia berhenti menggulir.
Pertengkaran diperbesar karena kemarahan membuat manusia bertahan lebih lama.
Ketakutan dijual.
Kecemburuan dijual.
Kemarahan dijual.
Keinginan untuk diakui dijual.
Manusia merasa memakai layanan.
Namun sesungguhnya perhatiannya sedang diperdagangkan.
Ketika Pikiran Menjadi Pasar
Pasar lama berada di tanah lapang.
Pedagang memanggil pembeli.
Barang dipajang.
Harga ditawarkan.
Pasar baru dapat berada di dalam pikiran manusia.
Apa yang muncul di layar disusun agar memengaruhi keinginan.
Seseorang merasa memilih dengan bebas.
Namun pilihannya telah diarahkan oleh apa yang berulang kali diperlihatkan kepadanya.
Ia melihat barang tertentu.
Kemudian merasa membutuhkannya.
Ia melihat kehidupan orang lain.
Kemudian merasa hidupnya kurang.
Ia melihat kemarahan.
Kemudian ikut marah.
Ia melihat ketakutan.
Kemudian kehilangan ketenangan.
Maka orang yang tidak menjaga perhatiannya dapat kehilangan arah tanpa menyadarinya.
Tubuhnya tidak dirantai.
Namun pikirannya terus ditarik.
Perhatian sebagai Pintu Hati
Apa yang terus dilihat akan masuk ke dalam pikiran.
Apa yang terus didengar dapat membentuk rasa.
Apa yang terus diulang dapat menjadi keyakinan.
Karena itu, perhatian bukan perkara kecil.
Perhatian adalah pintu menuju hati.
Apabila pintu itu selalu dibuka bagi kebencian, hati menjadi keras.
Apabila selalu dibuka bagi kesombongan, jiwa ingin dipuji.
Apabila selalu dibuka bagi ketakutan, manusia kehilangan keberanian.
Apabila selalu dibuka bagi perbandingan, manusia sulit bersyukur.
Maka menjaga perhatian adalah bagian dari menjaga batin.
Tidak semua yang menarik harus dilihat.
Tidak semua berita harus diikuti.
Tidak semua pertengkaran harus dimasuki.
Tidak semua komentar harus dijawab.
Tidak semua suara harus diberikan tempat di dalam jiwa.
Memilih apa yang tidak dilihat juga merupakan kebijaksanaan.
Kelimpahan Informasi dan Kelaparan Hikmah
Pada zaman dahulu, manusia kekurangan informasi.
Pada zaman baru, manusia dapat tenggelam di dalamnya.
Ribuan tulisan tersedia.
Jutaan video terbuka.
Berita datang setiap saat.
Jawaban muncul dalam sekejap.
Namun banyaknya informasi tidak selalu melahirkan pengertian.
Manusia dapat mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami maknanya.
Ia dapat membaca puluhan pendapat, tetapi semakin bingung.
Ia dapat menghafal banyak kata, tetapi tidak mampu mengambil keputusan yang bijaksana.
Maka kelangkaan masa depan bukan hanya informasi.
Kelangkaannya adalah:
kejernihan, ketenangan, kemampuan membedakan, dan hikmah.
Orang yang mampu menahan diri dari kebisingan akan memperoleh sesuatu yang semakin langka.
Ia dapat berpikir dengan jernih.
Ia dapat mendengarkan dengan utuh.
Ia dapat beribadah tanpa tergesa-gesa.
Ia dapat melihat masalah tanpa segera terbakar emosi.
Ia dapat menemukan kebenaran di tengah banyak suara.
Lima Kekayaan Sejati
Ketika barang menjadi mudah dibuat, manusia perlu mengenali bentuk kekayaan yang lebih dalam.
Kekayaan Pertama — Ruang yang Aman
Mempunyai tempat tinggal yang tidak mudah dirampas.
Mempunyai tanah untuk berpijak.
Mempunyai lingkungan yang sehat.
Mempunyai ruang bagi keluarga untuk tumbuh.
Kekayaan Kedua — Air yang Bersih
Mampu minum tanpa takut sakit.
Mampu bercocok tanam.
Mampu menjaga kebersihan.
Mampu memperoleh air tanpa menjadi budak harga.
Kekayaan Ketiga — Energi yang Terjangkau
Mampu menyalakan rumah.
Mampu menyimpan makanan.
Mampu mengakses pendidikan dan kesehatan.
Mampu menjalankan usaha tanpa biaya yang mencekik.
Kekayaan Keempat — Waktu yang Merdeka
Mempunyai kesempatan untuk beristirahat.
Mempunyai waktu bagi keluarga.
Mempunyai ruang untuk ibadah.
Mempunyai kesempatan belajar dan memberi manfaat.
Kekayaan Kelima — Perhatian yang Terjaga
Mampu memilih apa yang masuk ke pikiran.
Mampu mendengarkan orang tercinta.
Mampu membaca dengan utuh.
Mampu berdoa dengan hadir.
Mampu hidup tanpa terus-menerus ditarik oleh layar.
Seseorang mungkin tidak mempunyai banyak barang, tetapi memiliki lima kekayaan ini.
Ia dapat hidup lebih tenteram daripada orang yang memiliki banyak harta, tetapi kehilangan tanah, air, waktu, ketenangan, dan kebebasan pikirannya.
Jangan Mengukur Kemajuan Hanya dari Produksi
Sebuah bangsa dapat menghasilkan lebih banyak barang.
Namun apakah rakyatnya mempunyai rumah?
Apakah airnya bersih?
Apakah energinya terjangkau?
Apakah pekerjanya mempunyai waktu bagi keluarga?
Apakah anak-anaknya mampu belajar tanpa kecanduan layar?
Apakah masyarakatnya dapat berpikir tanpa terus-menerus dipenuhi kebencian?
Apakah alamnya tetap terjaga?
Apakah orang miskin memperoleh tempat di dalam pembangunan?
Jika jawabannya tidak, maka peningkatan produksi belum tentu berarti kemajuan kehidupan.
Kemajuan harus diukur dari kualitas hubungan manusia dengan:
tanahnya,
airnya,
waktunya,
keluarganya,
masyarakatnya,
alamnya,
dan Tuhannya.
Larangan Menguasai Kelangkaan untuk Menindas
Ketika seseorang mengetahui bahwa suatu hal terbatas, ia dapat tergoda menguasainya agar orang lain bergantung kepadanya.
Ia membeli tanah sebanyak-banyaknya.
Ia menguasai sumber air.
Ia menahan energi.
Ia mengikat waktu pekerja.
Ia merebut perhatian masyarakat.
Kemudian ia menentukan harga.
Ia berkata:
“Bayarlah, atau engkau tidak memperoleh akses.”
Inilah bentuk kekuasaan yang harus dijaga.
Tidak semua keuntungan adalah kezaliman.
Namun keuntungan menjadi zalim ketika dibangun dari kebutuhan dasar orang yang tidak mempunyai pilihan.
Orang yang sangat haus tidak sedang menawar secara bebas.
Orang yang tidak mempunyai rumah tidak selalu mempunyai pilihan yang setara.
Orang yang lapar dapat menerima syarat yang merendahkan karena terpaksa.
Maka hukum dan akhlak harus berdiri melindungi mereka.
Amanah bagi Pemilik Tanah
Tanah yang tidak digunakan jangan dibiarkan menjadi alat menekan harga.
Tanah pertanian jangan dialihkan tanpa pertimbangan masa depan pangan.
Wilayah masyarakat jangan diambil tanpa ganti yang adil dan persetujuan yang benar.
Tempat suci, makam, hutan, dan sumber air harus dijaga.
Pemilik tanah tidak hanya mempunyai hak.
Ia mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Amanah bagi Pengelola Air
Jaga sumbernya.
Jangan mengambil melebihi kemampuan alam memulihkan.
Jangan mencemari.
Dahulukan kebutuhan hidup.
Berikan akses kepada yang lemah.
Jangan menjadikan air sebagai alat memeras.
Amanah bagi Penguasa Energi
Jangan memadamkan kehidupan masyarakat demi kepentingan sempit.
Jangan membiarkan wilayah penghasil energi hidup dalam kegelapan.
Jangan mengorbankan kesehatan masyarakat demi keuntungan.
Jangan menyembunyikan kerusakan di balik kata kemajuan.
Pastikan manfaatnya kembali kepada rakyat.
Amanah bagi Pengguna Waktu Orang Lain
Pemimpin jangan merampas seluruh waktu bawahannya.
Perusahaan jangan menganggap pekerja selalu tersedia.
Guru jangan memenuhi anak dengan tugas tanpa ruang istirahat.
Orang tua jangan menyerahkan seluruh waktu anak kepada layar.
Setiap manusia mempunyai hak untuk berhenti, beristirahat, beribadah, dan bersama keluarganya.
Amanah bagi Pemegang Perhatian
Orang yang mempunyai banyak pengikut memegang perhatian banyak jiwa.
Jangan menipu mereka.
Jangan menyebarkan ketakutan hanya untuk memperoleh pandangan.
Jangan menciptakan pertengkaran demi menaikkan jumlah penonton.
Jangan menjual kebohongan dengan bahasa yang indah.
Jangan menggunakan kerentanan manusia untuk memperkaya diri.
Satu pesan dapat memasuki ribuan hati.
Maka tanggung jawabnya tidak ringan.
Puasa Perhatian
Sebagaimana tubuh membutuhkan jeda dari makanan tertentu, pikiran juga membutuhkan jeda dari kebisingan.
Matikanlah layar pada waktu tertentu.
Duduklah bersama keluarga tanpa perangkat.
Berjalanlah memandang langit.
Bacalah dengan perlahan.
Dengarkan orang lain tanpa menunggu giliran berbicara.
Berzikirlah tanpa memeriksa pemberitahuan.
Tidurlah tanpa membawa seluruh dunia ke atas tempat tidur.
Puasa perhatian bukan berarti membenci teknologi.
Ia adalah cara agar manusia kembali menjadi tuan atas pikirannya sendiri.
Sabda Lembar Kelima
«Ketika barang dapat dibuat tanpa batas, nilai tertinggi akan berpindah kepada apa yang tidak dapat diperbanyak dengan mudah: tanah yang aman, air yang bersih, energi yang adil, waktu yang merdeka, dan perhatian yang terjaga.»
Maka jangan tertipu oleh banyaknya barang.
Lihatlah apa yang semakin hilang.
Jangan hanya menghitung uang.
Hitung pula waktu yang telah dikorbankan.
Jangan hanya memandang gedung.
Lihatlah tanah yang telah dirampas.
Jangan hanya memuji mesin.
Lihatlah energi dan air yang digunakannya.
Jangan hanya mengejar perhatian banyak orang.
Periksalah apakah perhatian itu membawa mereka kepada kebaikan atau justru menguras jiwa mereka.
Sebab masa depan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling banyak memproduksi.
Masa depan juga ditentukan oleh siapa yang menjaga apa yang tidak dapat diganti.
Tanah dapat diwariskan.
Air dapat dijaga.
Energi dapat dibagikan.
Waktu dapat dimuliakan.
Perhatian dapat disucikan.
Apabila kelima perkara ini dijaga dengan amanah, kelimpahan dapat menjadi rahmat.
Namun apabila semuanya dikuasai oleh keserakahan, manusia dapat hidup di tengah barang yang melimpah tetapi kehilangan tempat berpijak, air untuk diminum, tenaga untuk hidup, waktu untuk mencintai, dan perhatian untuk mengingat Alloh.
Maka jagalah bumi.
Jagalah sumber kehidupan.
Jagalah waktu.
Jagalah pikiran.
Dan jangan biarkan kemajuan mengambil sesuatu yang tidak dapat dikembalikan oleh mesin mana pun.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Keenam — Ketika Nilai Manusia Tidak Lagi Diukur dengan Uang
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka lima kelangkaan yang tetap berharga ketika barang-barang dapat diproduksi secara melimpah: tanah, air, energi, waktu, dan perhatian manusia.
Kini QITAB ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam:
«Apabila uang perlahan kehilangan kedudukannya sebagai ukuran utama, dengan apakah manusia akan menilai dirinya dan menilai sesamanya?»
Selama berabad-abad, uang bukan hanya digunakan untuk membeli barang.
Uang juga digunakan sebagai ukuran keberhasilan.
Orang yang mempunyai rumah besar dianggap berhasil.
Orang yang mengendarai kendaraan mahal dianggap telah mencapai kehidupan tinggi.
Orang yang mempunyai banyak simpanan dianggap aman.
Orang yang berpakaian mewah dianggap terhormat.
Orang yang memperoleh penghasilan besar sering dianggap lebih penting daripada orang yang penghasilannya kecil.
Lalu tanpa disadari, manusia mulai mencampurkan dua perkara yang sebenarnya berbeda:
nilai harta dan nilai diri.
Seseorang yang kehilangan hartanya merasa dirinya tidak lagi berharga.
Seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan bergaji tinggi merasa malu bertemu orang lain.
Seseorang yang hidup sederhana merasa tertinggal.
Seseorang yang mempunyai kekayaan besar merasa lebih tinggi daripada sesamanya.
Padahal banyaknya harta tidak selalu menunjukkan tingginya akhlak.
Sedikitnya harta juga tidak selalu menunjukkan rendahnya usaha.
Ada orang kaya yang memperoleh hartanya dengan jujur dan menggunakannya untuk menolong.
Ada pula orang kaya yang membangun kemewahan dari penderitaan banyak manusia.
Ada orang miskin yang malas dan mengabaikan amanah.
Namun ada pula orang miskin yang bekerja keras, menjaga kejujuran, serta mengorbankan dirinya untuk keluarga.
Maka uang tidak dapat membaca seluruh isi manusia.
Ia hanya menunjukkan sebagian dari kemampuan ekonomi seseorang.
Ia tidak dapat mengukur keikhlasan.
Ia tidak dapat menimbang kesabaran.
Ia tidak dapat menghitung kasih sayang.
Ia tidak dapat mengetahui beratnya ujian yang sedang dihadapi seseorang.
Ia tidak dapat mengukur air mata seorang ibu yang berdoa untuk anaknya.
Ia tidak dapat menghitung kesetiaan seorang suami atau istri yang menjaga keluarganya dalam kesulitan.
Ia tidak dapat menilai seorang anak yang merawat orang tuanya tanpa memperoleh pujian.
Maka rahasia Lembar Keenam berbunyi:
«Uang dapat menghitung harga suatu barang, tetapi tidak mampu menentukan kemuliaan manusia.»
Harga dan Nilai Bukanlah Perkara yang Sama
Sesuatu dapat mempunyai harga tinggi, tetapi manfaatnya kecil.
Sesuatu dapat berharga murah, tetapi sangat dibutuhkan.
Sebotol air mungkin murah di dekat sungai.
Namun di tengah gurun, air lebih berharga daripada perhiasan.
Sebuah obat mungkin kecil bentuknya.
Namun bagi orang sakit, ia dapat menjadi jalan keselamatan.
Nasihat yang jujur mungkin tidak dibayar.
Namun ia dapat menyelamatkan seseorang dari keputusan yang merusak hidupnya.
Senyuman yang tulus tidak mempunyai harga di pasar.
Namun dapat menguatkan orang yang hampir kehilangan harapan.
Doa orang tua tidak dijual di toko.
Namun menjadi salah satu keberkahan besar dalam perjalanan seorang anak.
Harga adalah angka yang diberikan oleh pasar.
Nilai adalah makna, manfaat, kebutuhan, keadilan, dan kebaikan yang terkandung di dalam sesuatu.
Pasar dapat menaikkan harga barang yang langka.
Namun pasar tidak selalu mampu menghargai perkara yang suci.
Pasar dapat membayar hiburan dengan sangat mahal.
Namun terkadang memberi upah kecil kepada guru, petani, perawat, penjaga kebersihan, dan mereka yang menjaga kehidupan sehari-hari.
Maka jangan menganggap sesuatu tidak penting hanya karena tidak menghasilkan banyak uang.
Dan jangan menganggap sesuatu mulia hanya karena harganya sangat mahal.
Ketika Pekerjaan yang Paling Mahal Bukan yang Paling Dibutuhkan
Di dalam masyarakat, upah sering ditentukan oleh kelangkaan kemampuan, kekuatan tawar, kepemilikan modal, atau keuntungan yang dapat dihasilkan.
Akibatnya, pekerjaan yang sangat dibutuhkan belum tentu menerima penghargaan yang tinggi.
Petani menanam makanan, tetapi dapat hidup dalam kesulitan.
Guru membangun generasi, tetapi terkadang harus mencari tambahan penghasilan.
Perawat menjaga nyawa, tetapi waktunya dapat dihargai lebih rendah daripada pekerjaan yang menghasilkan keuntungan besar.
Seorang ibu menjaga anak setiap hari tanpa upah.
Seorang anak merawat orang tuanya tanpa penghargaan resmi.
Seorang relawan menolong korban bencana tanpa meminta bayaran.
Apabila seluruh nilai diukur hanya dengan uang, pekerjaan-pekerjaan ini tampak kecil.
Padahal jika semuanya berhenti, kehidupan masyarakat dapat runtuh.
Bayangkan apabila tidak ada yang mau menanam makanan.
Tidak ada yang membersihkan lingkungan.
Tidak ada yang mengasuh anak.
Tidak ada yang merawat orang sakit.
Tidak ada yang mendidik.
Tidak ada yang menemani orang lanjut usia.
Tidak ada yang menolong ketika bencana datang.
Masyarakat akan memiliki banyak uang, tetapi kehilangan kemampuan untuk hidup bersama.
Maka zaman kelimpahan harus melahirkan pengertian baru:
«Pekerjaan yang menjaga kehidupan harus dimuliakan, meskipun tidak selalu menghasilkan keuntungan besar.»
Empat Ukuran Nilai Manusia
Ketika uang tidak lagi menjadi ukuran utama, QITAB ini membuka empat timbangan yang lebih adil.
Pertama — Amanah
Nilai seseorang terlihat dari bagaimana ia menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.
Apakah ia jujur ketika tidak diawasi?
Apakah ia menjaga rahasia?
Apakah ia mengembalikan hak?
Apakah ia menepati janji?
Apakah ia menggunakan kekuasaan untuk melayani atau memperkaya dirinya?
Orang yang mempunyai banyak harta tetapi mengkhianati amanah sedang mengalami kemiskinan batin.
Sedangkan orang yang hidup sederhana tetapi dapat dipercaya mempunyai kekayaan yang tidak mudah dibeli.
Kepercayaan dibangun bertahun-tahun.
Namun dapat hancur dalam satu kebohongan.
Maka amanah adalah salah satu mata uang ruhani yang paling tinggi.
Kedua — Manfaat
Nilai seseorang terlihat dari manfaat yang dibawanya.
Apakah kehadirannya menenangkan?
Apakah ilmunya dibagikan?
Apakah tenaganya membantu?
Apakah perkataannya memperbaiki?
Apakah usahanya membuka jalan bagi orang lain?
Manfaat tidak selalu berbentuk pemberian besar.
Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat adalah manfaat.
Mengajari seseorang membaca adalah manfaat.
Menjaga kebersihan adalah manfaat.
Menanam pohon adalah manfaat.
Mendamaikan perselisihan adalah manfaat.
Mendengarkan orang yang sedang sedih juga merupakan manfaat.
Tidak semua manfaat terlihat oleh banyak manusia.
Namun tidak ada kebaikan yang hilang dari pengetahuan Alloh.
Ketiga — Akhlak
Nilai manusia terlihat dari sikapnya ketika mempunyai pilihan untuk berbuat zalim.
Orang yang lemah mungkin tampak baik karena tidak mempunyai kekuatan untuk menyakiti.
Namun ujian akhlak yang besar datang ketika seseorang mempunyai kekuasaan.
Apakah ia tetap rendah hati ketika dipuji?
Apakah ia tetap adil ketika marah?
Apakah ia menolong tanpa mempermalukan?
Apakah ia memaafkan ketika mampu membalas?
Apakah ia mengakui kesalahan?
Apakah ia dapat menghormati orang yang berbeda pendapat?
Akhlak bukan hiasan ketika keadaan mudah.
Akhlak adalah cahaya yang terlihat ketika keadaan sulit.
Keempat — Kesadaran kepada Alloh
Nilai tertinggi manusia tidak terletak pada penilaian masyarakat.
Ia terletak pada hubungannya dengan Alloh.
Ada manusia yang terkenal di bumi, tetapi kosong di dalam batin.
Ada manusia yang tidak dikenal banyak orang, tetapi setiap malam berdoa dengan tulus.
Ada orang yang dipuji karena kebaikannya.
Namun ia melakukannya hanya untuk memperoleh nama.
Ada pula orang yang berbuat baik diam-diam sehingga tidak seorang pun mengetahui kecuali Alloh.
Maka manusia jangan hanya mengejar tampilan kebaikan.
Jagalah niatnya.
Sebab amal yang besar dapat menjadi ringan jika dipenuhi kesombongan.
Sedangkan amal kecil dapat menjadi besar karena keikhlasan.
Mata Uang Sosial yang Baru
Apabila uang semakin sedikit digunakan untuk memperoleh kebutuhan dasar, manusia dapat menciptakan ukuran sosial yang baru.
Reputasi.
Kepercayaan.
Pengetahuan.
Pengaruh.
Jumlah pengikut.
Penilaian masyarakat.
Catatan kebaikan.
Kontribusi kepada komunitas.
Semua itu dapat membantu masyarakat mengenali orang yang dapat dipercaya.
Namun setiap ukuran baru membawa bahaya baru.
Reputasi dapat dimanipulasi.
Jumlah pengikut dapat dibeli.
Penilaian dapat direkayasa.
Kebaikan dapat dilakukan hanya untuk memperoleh angka.
Manusia dapat mulai bersedekah agar terlihat baik.
Ia menolong agar difoto.
Ia mengajar agar dipuji.
Ia menampilkan ibadah agar dianggap suci.
Ia menjaga akhlak hanya ketika kamera menyala.
Maka QITAB ini mengingatkan:
«Jangan sampai uang kehilangan kekuasaan, tetapi manusia justru diperbudak oleh nilai, peringkat, dan pengakuan sosial.»
Dahulu manusia mengejar koin.
Kemudian ia mengejar angka di rekening.
Setelah itu ia mengejar angka di layar.
Jumlah pengikut.
Jumlah tanda suka.
Jumlah penonton.
Jumlah penilaian.
Bentuknya berubah, tetapi penyakitnya dapat tetap sama:
keinginan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ketika Seluruh Kebaikan Dinilai dengan Angka
Angka dapat membantu manusia mengukur.
Namun tidak semua yang berharga dapat diubah menjadi angka.
Berapa angka untuk kasih seorang ibu?
Berapa nilai untuk kesabaran seorang ayah?
Berapa peringkat bagi orang yang memaafkan penghinaan?
Berapa skor bagi seseorang yang menahan dirinya dari perbuatan haram ketika tidak ada manusia yang melihat?
Berapa poin untuk doa yang dipanjatkan pada tengah malam?
Apabila setiap kebaikan diberi angka, manusia dapat berhenti mengejar kebaikan itu sendiri.
Ia hanya mengejar nilainya.
Ia menolong bukan karena kasih sayang, tetapi karena ingin menambah poin.
Ia datang ke majelis bukan karena mencari ilmu, tetapi karena ingin mempertahankan reputasi.
Ia menghindari kesalahan bukan karena takut kepada Alloh, tetapi karena takut nilainya berkurang.
Maka sistem penilaian harus digunakan dengan hati-hati.
Angka dapat membantu mengatur kegiatan.
Namun angka tidak boleh menggantikan niat.
Catatan dapat membantu mengingat kontribusi.
Namun catatan tidak boleh menjadi hakim mutlak atas isi jiwa.
Kemiskinan yang Tidak Terlihat
Pada zaman kelimpahan, kemiskinan tidak selalu berarti kekurangan barang.
Seseorang dapat mempunyai rumah, makanan, kendaraan, dan perangkat.
Namun ia miskin dalam kasih sayang.
Ia mempunyai banyak hubungan, tetapi tidak mempunyai sahabat yang dapat dipercaya.
Ia mempunyai banyak hiburan, tetapi tidak mempunyai ketenangan.
Ia mempunyai banyak informasi, tetapi tidak mempunyai hikmah.
Ia dikenal banyak orang, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.
Ia dapat membeli pelayanan, tetapi tidak merasakan cinta yang tulus.
Ia mempunyai waktu luang, tetapi tidak mengetahui untuk apa hidupnya.
Maka terdapat kemiskinan baru:
kemiskinan makna,
kemiskinan hubungan,
kemiskinan ketenangan,
kemiskinan tujuan,
dan kemiskinan ruhani.
Mesin dapat memenuhi kebutuhan fisik.
Namun mesin tidak otomatis menyembuhkan kesepian.
Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan.
Namun ia tidak dapat menggantikan seluruh kebutuhan manusia untuk dicintai dan dipahami.
Robot dapat merawat tubuh.
Namun sentuhan kasih seorang keluarga mempunyai kedalaman yang berbeda.
Masyarakat masa depan harus menjaga agar kelimpahan materi tidak menyembunyikan kelaparan jiwa.
Nilai Orang Tua, Anak, dan Mereka yang Lemah
Sistem ekonomi sering menghargai manusia berdasarkan kemampuannya menghasilkan.
Namun apabila ukuran itu dipakai secara mutlak, orang tua, anak-anak, orang sakit, dan penyandang keterbatasan dapat dianggap sebagai beban.
Inilah kesalahan besar.
Orang tua membawa pengalaman.
Anak-anak membawa masa depan.
Orang sakit menguji kasih sayang masyarakat.
Mereka yang mempunyai keterbatasan membuka jalan agar manusia belajar kesabaran, aksesibilitas, dan kepedulian.
Nilai manusia tidak bergantung pada seberapa besar keuntungan yang dihasilkannya.
Seorang bayi belum menghasilkan apa pun, tetapi seluruh keluarga menjaganya.
Bukan karena ia produktif.
Namun karena hidupnya berharga.
Demikian pula orang tua yang telah lemah.
Ia tidak boleh dibuang hanya karena tidak lagi bekerja.
Ia pernah mengasuh.
Ia pernah berkorban.
Ia membawa sejarah keluarga.
Ia tetap hamba Alloh yang mempunyai kehormatan.
Peradaban yang mulia terlihat dari cara ia memperlakukan mereka yang tidak dapat membalas.
Jangan Menukar Harga Diri dengan Pengakuan
Ketika kebutuhan hidup mudah diperoleh, sebagian manusia dapat semakin haus pengakuan.
Sebab setelah kebutuhan tubuh terpenuhi, ego mencari makanan lain.
Ia ingin dipuji.
Ia ingin dilihat.
Ia ingin dianggap paling mengetahui.
Ia ingin disebut paling suci.
Ia ingin berada di atas orang lain.
Manusia kemudian menciptakan persaingan baru.
Siapa yang paling terkenal.
Siapa yang paling berpengaruh.
Siapa yang paling banyak dipuji.
Siapa yang paling dianggap benar.
Siapa yang mempunyai kedudukan paling tinggi dalam kelompok.
Dahulu manusia memamerkan emas.
Kemudian memamerkan kendaraan.
Lalu memamerkan perjalanan.
Setelah itu memamerkan pengetahuan, amal, kesalehan, dan kedekatan ruhani.
Padahal pamer ruhani dapat lebih halus daripada pamer harta.
Orang merasa rendah hati, tetapi diam-diam ingin dianggap rendah hati.
Orang berbicara tentang keikhlasan, tetapi berharap dipuji karena ikhlas.
Orang menolong, tetapi kecewa ketika namanya tidak disebut.
Maka QITAB ini berkata:
«Jangan melepaskan perbudakan kepada uang hanya untuk memasuki perbudakan kepada pujian.»
Harga diri yang bergantung pada manusia akan selalu mudah terluka.
Hari ini dipuji, ia bergembira.
Besok dikritik, ia runtuh.
Hari ini diikuti banyak orang, ia merasa tinggi.
Besok ditinggalkan, ia merasa tidak berarti.
Namun orang yang mengenal amanah dirinya tidak mudah berubah karena tepuk tangan.
Ia berbuat baik karena sadar kepada Alloh.
Pujian tidak membuatnya lupa diri.
Kritik tidak langsung membuatnya membenci.
Ia memeriksa dirinya.
Mengambil yang benar.
Meninggalkan yang zalim.
Lalu melanjutkan perjalanan.
Kemuliaan Bukan Keseragaman
Ketika manusia tidak lagi dinilai dengan uang, jangan menciptakan ukuran baru yang memaksa semua orang menjadi sama.
Tidak semua manusia harus menjadi pemimpin.
Tidak semua manusia harus menjadi ulama.
Tidak semua manusia harus menjadi seniman.
Tidak semua manusia harus menguasai teknologi.
Tidak semua manusia harus terkenal.
Ada yang amanahnya mengajar.
Ada yang amanahnya menanam.
Ada yang amanahnya menyembuhkan.
Ada yang amanahnya membangun.
Ada yang amanahnya menjaga rumah.
Ada yang amanahnya melayani masyarakat.
Ada yang banyak berbicara.
Ada yang memberi manfaat melalui keheningan dan ketekunan.
Perbedaan kemampuan bukan alasan untuk saling merendahkan.
Tubuh mempunyai banyak anggota.
Mata tidak dapat berkata kepada kaki bahwa ia tidak berguna.
Tangan tidak dapat berjalan sendiri.
Jantung tidak terlihat dari luar, tetapi tanpanya tubuh berhenti.
Demikian pula masyarakat.
Pekerjaan yang tidak terlihat dapat menjadi penopang utama kehidupan.
Maka jangan paksa setiap manusia menjadi salinan orang lain.
Bantulah ia menemukan amanah yang sesuai dengan kemampuannya.
Kekayaan yang Dapat Dibawa Mati
Harta ditinggalkan.
Rumah diwariskan.
Jabatan digantikan.
Nama perlahan dilupakan.
Wajah menghilang dari ingatan generasi.
Namun akibat dari perbuatan dapat terus berjalan.
Ilmu yang bermanfaat dapat terus diajarkan.
Anak yang dididik dengan baik dapat melanjutkan kebaikan.
Pohon yang ditanam dapat memberi manfaat bertahun-tahun.
Sumur yang dibuat dapat menghidupi banyak orang.
Kezaliman juga dapat terus meninggalkan luka.
Sistem yang tidak adil dapat merugikan generasi setelah penciptanya meninggal.
Kebohongan dapat diwariskan menjadi kebencian.
Kerusakan alam dapat ditanggung oleh anak cucu.
Maka kekayaan sejati bukan hanya apa yang dimiliki ketika hidup.
Kekayaan sejati adalah kebaikan yang tetap mengalir setelah manusia kembali kepada Alloh.
Tanyakanlah:
Apa yang akan tertinggal setelah aku pergi?
Apakah orang mengingat kemewahanku?
Ataukah mereka merasakan manfaat dari hidupku?
Apakah anak-anakku hanya menerima harta?
Ataukah mereka menerima akhlak, ilmu, dan keteguhan iman?
Apakah aku meninggalkan bangunan?
Ataukah juga meninggalkan jalan kebaikan?
Lima Kekayaan Batin
QITAB ini membuka lima kekayaan yang tidak mudah dirampas oleh perubahan zaman.
Kekayaan Syukur
Orang yang bersyukur mampu melihat nikmat yang sering diabaikan.
Ia tidak harus mempunyai semuanya untuk merasakan kecukupan.
Syukur bukan berhenti berusaha.
Syukur adalah tidak membiarkan keinginan menutup penglihatan terhadap nikmat yang telah ada.
Kekayaan Ilmu
Harta dapat hilang.
Namun ilmu yang menyatu dengan akal dan akhlak dapat membantu manusia bangkit kembali.
Ilmu membuka jalan.
Ilmu menjaga dari penipuan.
Ilmu membantu mengambil keputusan.
Namun ilmu harus disertai adab agar tidak menjadi kesombongan.
Kekayaan Hubungan
Sahabat yang jujur.
Keluarga yang saling menjaga.
Tetangga yang peduli.
Guru yang membimbing.
Murid yang melanjutkan ilmu.
Semua itu merupakan kekayaan yang tidak dapat digantikan oleh banyak barang.
Kekayaan Kesehatan Jiwa
Mampu tidur dengan tenang.
Mampu menerima kekurangan.
Mampu meminta maaf.
Mampu memaafkan.
Mampu menghadapi kehilangan tanpa menghancurkan diri.
Inilah kekayaan yang sering baru disadari ketika telah hilang.
Kekayaan Kedekatan kepada Alloh
Ketika manusia kehilangan banyak hal, ia tetap mempunyai tempat kembali.
Ia berdoa.
Ia bersujud.
Ia mengadu.
Ia memohon petunjuk.
Ia menyadari bahwa hidup tidak berada sepenuhnya di tangannya.
Kedekatan kepada Alloh tidak membuat manusia bebas dari ujian.
Namun memberinya kekuatan untuk melewati ujian tanpa kehilangan arah.
Masyarakat yang Menghargai Kebaikan
Zaman kelimpahan memerlukan masyarakat yang memberikan tempat mulia bagi orang-orang yang menjaga kehidupan.
Guru tidak hanya dihormati dengan kata-kata, tetapi dilindungi kehidupannya.
Petani tidak hanya disebut pahlawan pangan, tetapi memperoleh tanah, air, harga, dan perlindungan yang adil.
Perawat dan pengasuh tidak hanya dipuji ketika terjadi krisis.
Pekerja kebersihan tidak dipandang rendah.
Relawan tidak dieksploitasi atas nama keikhlasan.
Pemuka agama tidak hanya dihargai dari banyaknya pengikut, tetapi dari keteladanan, kedalaman ilmu, serta keberaniannya menjaga kebenaran.
Pemimpin tidak dihormati karena kemewahan, tetapi karena amanah dan keadilannya.
Pengusaha tidak dimuliakan hanya karena besar hartanya, tetapi karena cara ia memperlakukan pekerja, alam, konsumen, dan masyarakat.
Kemajuan sejati bukan ketika semua orang menjadi kaya dengan ukuran yang sama.
Kemajuan sejati ialah ketika tidak seorang pun harus kehilangan kehormatannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Jangan Merendahkan Orang yang Sedang Jatuh
Hari ini seseorang berhasil.
Besok ia dapat mengalami kebangkrutan.
Hari ini seseorang sehat.
Besok ia dapat jatuh sakit.
Hari ini seseorang mempunyai pekerjaan.
Besok sistem dapat menggantikannya.
Hari ini seseorang memiliki rumah.
Besok bencana dapat merenggutnya.
Maka jangan sombong terhadap orang yang sedang berada di bawah.
Keadaan dapat berubah.
Harta dapat berpindah.
Kekuatan dapat melemah.
Jabatan dapat berakhir.
Orang yang engkau hina hari ini mungkin menjadi orang yang menolongmu pada masa mendatang.
Dan sekalipun ia tidak pernah menolongmu, ia tetap mempunyai kehormatan sebagai manusia.
Bantulah tanpa merendahkan.
Nasihatilah tanpa menghancurkan harga diri.
Berikan kesempatan tanpa mengungkit masa lalu.
Sebab orang yang jatuh tidak selalu membutuhkan ceramah panjang.
Terkadang ia membutuhkan tangan yang membantunya berdiri.
Nilai Diri dan Tanggung Jawab
Mengatakan bahwa manusia berharga bukan berarti membenarkan seluruh perilakunya.
Setiap manusia mempunyai kehormatan.
Namun setiap perbuatan tetap harus dinilai.
Orang yang bersalah perlu bertanggung jawab.
Orang yang menzalimi harus dihentikan.
Orang yang merusak harus memperbaiki.
Kasih sayang tidak berarti membiarkan kejahatan.
Penghormatan terhadap manusia tidak berarti menghapus hukum.
Bedakan antara manusia dan perbuatannya.
Manusia dapat diberi jalan untuk berubah.
Perbuatan zalim tetap harus dicegah.
Dengan demikian, masyarakat tidak jatuh kepada dua kesalahan:
menghina manusia sampai menutup pintu perbaikan,
atau membiarkan kesalahan atas nama kasih sayang.
Keadilan menjaga keduanya.
Sabda Lembar Keenam
«Ketika uang tidak lagi menjadi pusat ukuran, manusia akan diuji untuk menemukan kembali apa yang benar-benar berharga. Jangan mengganti penyembahan kepada harta dengan penyembahan kepada peringkat, pengaruh, atau pujian.»
Nilai manusia bukan jumlah hartanya.
Bukan jumlah pengikutnya.
Bukan tingginya jabatannya.
Bukan mahalnya pakaian yang dikenakannya.
Bukan pula banyaknya pujian yang diterimanya.
Nilai manusia terlihat dari amanah yang dijaganya.
Dari manfaat yang dibawanya.
Dari akhlak ketika mempunyai kekuasaan.
Dari kejujuran ketika tidak diawasi.
Dari kasih sayang kepada yang lemah.
Dari keberanian mengakui kesalahan.
Dari kesediaan berbagi.
Dan dari kesadarannya bahwa seluruh kehidupan akan dipertanggungjawabkan kepada Alloh.
Pada zaman kelimpahan, manusia mungkin tidak lagi bertanya:
“Berapa banyak yang engkau miliki?”
Pertanyaan yang lebih penting ialah:
“Berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiranmu?”
“Berapa banyak amanah yang engkau jaga?”
“Berapa banyak luka yang tidak jadi terjadi karena engkau memilih kasih sayang?”
“Berapa banyak ilmu yang engkau teruskan?”
“Berapa banyak kekuasaan yang engkau tahan agar tidak berubah menjadi kezaliman?”
Maka jangan takut apabila harta tidak membuatmu terkenal.
Takutlah apabila harta membuatmu lupa kepada Alloh.
Jangan malu karena hidup sederhana.
Malulah apabila kemewahanmu dibangun dari hak manusia yang engkau rampas.
Jangan merasa kecil karena pekerjaanmu tidak dipuji.
Selama pekerjaan itu halal, bermanfaat, dan dilakukan dengan amanah, ia mempunyai kemuliaan.
Sebab harga ditentukan oleh manusia.
Namun nilai sejati berada dalam pengetahuan Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Ketujuh — Zakat, Sedekah, dan Keadilan Pembagian pada Zaman Kelimpahan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka pengertian bahwa nilai manusia tidak dapat diukur hanya dengan uang, harta, jabatan, peringkat, atau pujian.
Kini QITAB ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang menentukan arah zaman:
«Apabila mesin menghasilkan kelimpahan, siapakah yang berhak menikmati hasilnya?»
Apakah hanya mereka yang memiliki mesin?
Apakah hanya mereka yang mempunyai modal?
Apakah hanya mereka yang menguasai data, energi, tanah, dan jaringan?
Ataukah masyarakat yang ikut membangun peradaban juga mempunyai bagian yang harus dijaga?
Kelimpahan tidak lahir dari satu tangan.
Sebuah mesin dibangun dari ilmu para pendahulu.
Sebuah perusahaan berdiri di atas jalan, keamanan, pendidikan, tenaga kerja, hukum, dan jaringan yang dibangun bersama.
Kecerdasan buatan belajar dari bahasa, tulisan, gambar, pengalaman, dan pengetahuan manusia yang terkumpul selama bertahun-tahun.
Pabrik menggunakan bahan dari bumi.
Energi diambil dari alam.
Barang dikirim melalui jalan yang dibangun dengan tenaga dan biaya masyarakat.
Pasar hidup karena adanya pembeli.
Maka tidak adil apabila keuntungan seluruh kemajuan dikumpulkan oleh sedikit pihak, sementara mereka yang ikut menopang peradaban ditinggalkan dalam kesulitan.
Di sinilah zakat, sedekah, infak, wakaf, dan berbagai bentuk pembagian bukan sekadar perbuatan tambahan.
Ia adalah jalan untuk membersihkan kepemilikan, menjaga keseimbangan, dan mengingatkan bahwa harta tidak pernah menjadi milik mutlak manusia.
Harta sebagai Amanah, Bukan Singgasana
Manusia sering berkata:
“Ini hartaku.”
“Ini hasil usahaku.”
“Ini perusahaanku.”
“Ini tanahku.”
“Ini teknologi ciptaanku.”
Pernyataan itu dapat benar dalam hukum kepemilikan manusia.
Namun dalam pandangan tauhid, kepemilikan manusia tetap terbatas.
Manusia tidak menciptakan bumi.
Ia tidak menciptakan akalnya sendiri.
Ia tidak menciptakan waktu.
Ia tidak menciptakan udara, air, logam, tumbuhan, dan seluruh bahan kehidupan.
Ia hanya mengolah sesuatu yang telah disediakan Alloh.
Maka harta bukan singgasana untuk meninggikan diri.
Harta adalah amanah untuk diuji.
Apakah ia diperoleh dengan halal?
Apakah ia digunakan dengan benar?
Apakah hak orang lain telah dikeluarkan?
Apakah kekayaan itu memperluas manfaat atau memperbesar kesombongan?
Apakah pemiliknya semakin bersyukur atau semakin merasa tidak membutuhkan siapa pun?
Manusia tidak diuji hanya ketika kekurangan.
Manusia juga diuji ketika berkelimpahan.
Kekurangan menguji kesabaran.
Kelimpahan menguji amanah.
Zakat sebagai Pembersih Arah Kepemilikan
Zakat bukan hukuman bagi orang yang mempunyai harta.
Zakat adalah pembersihan.
Ia membersihkan harta dari hak yang bukan milik pemiliknya.
Ia membersihkan jiwa dari kerakusan.
Ia membersihkan hubungan masyarakat dari kebencian yang tumbuh akibat ketimpangan.
Ia mengingatkan bahwa orang kaya tidak berdiri sendiri.
Ada pekerja yang membantu usahanya.
Ada pembeli yang menghidupkan perdagangannya.
Ada masyarakat yang menjaga lingkungannya.
Ada bumi yang menyediakan bahan.
Ada Alloh yang membuka jalan rezekinya.
Maka ketika zakat dikeluarkan, seseorang bukan sedang kehilangan bagian hartanya.
Ia sedang mengembalikan hak yang telah ditetapkan sebagai amanah.
Zakat tidak hanya memindahkan sejumlah nilai dari orang kaya kepada orang miskin.
Zakat mengajarkan bahwa kepemilikan mempunyai batas moral.
Harta boleh tumbuh.
Namun jangan sampai pertumbuhannya menutup kehidupan orang lain.
Keuntungan boleh meningkat.
Namun jangan sampai dibangun dari upah yang tidak layak, harga yang menindas, atau alam yang dirusak.
Apakah Zakat Masih Diperlukan ketika Barang Berlimpah?
Sebagian orang mungkin berkata:
“Apabila mesin dapat membuat barang dalam jumlah sangat banyak dan kebutuhan dasar menjadi murah, apakah zakat masih diperlukan?”
Pertanyaan itu lahir karena zakat sering dipahami hanya sebagai bantuan kepada orang yang tidak mempunyai makanan.
Padahal kemiskinan mempunyai banyak bentuk.
Seseorang dapat memperoleh makanan, tetapi tidak mempunyai tempat tinggal yang aman.
Ia dapat mempunyai pakaian, tetapi tidak mempunyai akses pendidikan.
Ia dapat memperoleh bantuan, tetapi tidak mempunyai alat untuk bekerja.
Ia dapat hidup, tetapi seluruh hidupnya dikendalikan oleh sistem yang tidak memberinya pilihan.
Ia dapat menerima kebutuhan dasar, tetapi tidak mempunyai tanah, tabungan, ilmu, atau kesempatan untuk membangun masa depan.
Maka selama masih ada ketimpangan kepemilikan, kebutuhan, akses, dan kekuasaan, pembagian tetap diperlukan.
Kelimpahan barang tidak otomatis menghapus kemiskinan.
Kemiskinan dapat berpindah dari kekurangan benda menjadi kekurangan kendali.
Orang miskin pada zaman lama tidak mempunyai barang.
Orang miskin pada zaman baru mungkin mempunyai akses sementara, tetapi tidak mempunyai hak yang dapat diwariskan.
Ia tinggal di rumah, tetapi tidak memilikinya.
Ia memakai kendaraan, tetapi tidak mempunyai kebebasan memakainya.
Ia menerima makanan, tetapi tidak mampu menentukan sumbernya.
Ia memperoleh layanan, tetapi seluruh aksesnya dapat dihentikan.
Maka zakat dan pembagian harus diarahkan bukan hanya untuk mempertahankan hidup, tetapi juga untuk menguatkan kemandirian.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Memberikan makanan kepada orang lapar adalah kebaikan.
Namun apabila setiap hari ia kembali lapar karena tidak mempunyai sumber penghidupan, pembagian belum menyelesaikan akar persoalan.
Memberikan uang kepada keluarga yang kesulitan adalah pertolongan.
Namun apabila mereka terus terjebak dalam utang, tidak mempunyai pendidikan, dan tidak memiliki alat usaha, bantuan perlu dilanjutkan dengan pemberdayaan.
Maka pembagian yang sempurna bergerak melalui beberapa tingkat:
Pertama — Menyelamatkan
Ketika seseorang lapar, berilah makanan.
Ketika sakit, bantulah pengobatannya.
Ketika tidak mempunyai tempat berlindung, carikan perlindungan.
Dalam keadaan darurat, jangan menunggu rencana besar.
Selamatkan dahulu kehidupan.
Kedua — Meneguhkan
Setelah keadaan darurat terlewati, bantulah ia memperoleh kestabilan.
Tempat tinggal.
Kesehatan.
Pendidikan.
Dokumen.
Akses terhadap pelayanan.
Perlindungan dari kekerasan dan penipuan.
Ketiga — Menguatkan
Berikan ilmu, alat, modal yang bertanggung jawab, jaringan, pendampingan, dan kesempatan.
Jangan hanya memberi ikan.
Jangan pula hanya berkata, “Belajarlah memancing,” tanpa menyediakan kail, air, waktu, dan tempat yang aman.
Keempat — Memerdekakan
Tujuan akhirnya bukan agar seseorang selamanya bergantung kepada pemberi.
Tujuannya agar ia mampu berdiri, menjaga keluarganya, dan kelak menolong orang lain.
Bantuan yang berhasil ialah ketika penerima berubah menjadi pemberi manfaat.
Sedekah yang Menjaga Martabat
Sedekah bukan pertunjukan.
Ia bukan alat untuk meninggikan pemberi dan merendahkan penerima.
Orang yang menerima sedekah tetap mempunyai kehormatan.
Ia tidak harus dipotret.
Ia tidak harus menyebut nama pemberi.
Ia tidak harus menceritakan kesulitannya kepada banyak orang.
Ia tidak harus merasa berutang kesetiaan.
Berilah dengan wajah yang lembut.
Jangan mengungkit.
Jangan mempermalukan.
Jangan menukar bantuan dengan pujian.
Jangan membuat penerima merasa bahwa hidupnya dimiliki oleh pemberi.
Sedekah yang disertai penghinaan dapat melukai lebih dalam daripada rasa lapar.
Makanan mengenyangkan tubuh.
Namun ucapan yang merendahkan dapat melukai jiwa selama bertahun-tahun.
Maka jagalah lidah setelah tangan memberi.
Jangan rusak amal dengan kesombongan.
Ketika Sedekah Menjadi Isi Pertunjukan
Pada zaman layar, kebaikan mudah direkam.
Seseorang memberi makanan, lalu videonya disebarkan.
Seseorang menolong orang miskin, lalu wajah penerima diperlihatkan.
Seseorang memberikan uang, lalu menghitungnya di depan kamera.
Sebagian rekaman dapat menginspirasi orang lain.
Ia dapat membuka hati masyarakat agar ikut membantu.
Namun niat harus dijaga.
Apakah penerima telah memberikan izin?
Apakah wajahnya perlu ditampilkan?
Apakah keadaan sulitnya harus diceritakan?
Apakah rekaman itu menguatkannya atau justru mempermalukannya?
Apakah pemberi sedang mengajak kepada kebaikan, atau sedang membangun citra kesalehan?
Tidak semua kebaikan harus disembunyikan.
Namun tidak semua kebaikan patut dipertontonkan.
Ada amal yang menjadi kuat ketika disaksikan agar orang lain ikut bergerak.
Ada pula amal yang menjadi suci ketika hanya diketahui oleh Alloh.
Kebijaksanaan diperlukan untuk membedakan keduanya.
Sedekah Data dan Sedekah Ilmu
Pada zaman baru, harta tidak hanya berbentuk uang.
Data, ilmu, jaringan, perangkat, dan akses juga menjadi kekayaan.
Seseorang mungkin tidak mempunyai banyak uang, tetapi mempunyai ilmu yang sangat dibutuhkan.
Ia dapat mengajar.
Ia dapat membantu masyarakat memahami teknologi.
Ia dapat melindungi orang tua dari penipuan digital.
Ia dapat membuat sistem yang memudahkan penyandang disabilitas.
Ia dapat membantu usaha kecil memasuki pasar yang lebih luas.
Ia dapat menjaga data masyarakat agar tidak disalahgunakan.
Maka sedekah pada zaman baru dapat berbentuk:
waktu,
ilmu,
pengajaran,
perangkat,
akses jaringan,
perlindungan data,
dan pendampingan.
Namun berhati-hatilah dengan istilah “data gratis.”
Jangan menganggap data masyarakat boleh diambil hanya karena akan digunakan untuk penelitian atau pelayanan.
Data adalah amanah.
Menggunakannya untuk kebaikan tetap memerlukan izin, batas, keamanan, dan tanggung jawab.
Jangan menolong masyarakat dengan cara merampas privasinya.
Wakaf pada Zaman Teknologi
Wakaf tidak hanya dapat berbentuk tanah atau bangunan.
Semangat wakaf adalah menahan pokok manfaat agar hasilnya terus mengalir kepada masyarakat.
Pada zaman baru, wakaf dapat berkembang menjadi:
tanah pertanian bersama,
sumber air,
rumah sakit,
sekolah,
perpustakaan digital,
jaringan internet masyarakat,
pusat pelatihan,
alat produksi,
energi surya bersama,
rumah tinggal bagi keluarga lemah,
pusat data yang aman,
dan teknologi terbuka yang dapat digunakan banyak orang.
Bayangkan sebuah desa mempunyai mesin pertanian wakaf.
Petani tidak perlu membeli alat yang mahal sendiri-sendiri.
Mereka menggunakannya bersama.
Hasil meningkat.
Biaya menurun.
Keuntungan tidak hanya mengalir kepada pemilik mesin.
Atau sebuah lembaga mempunyai pusat teknologi wakaf.
Anak-anak miskin dapat belajar.
Pelaku usaha kecil memperoleh pelatihan.
Masyarakat memperoleh akses tanpa harus menjual seluruh datanya.
Inilah bentuk kelimpahan yang dibagikan melalui amanah.
Wakaf masa depan harus menjaga tiga perkara:
pokoknya aman, manfaatnya luas, dan pengelolaannya jujur.
Bahaya Wakaf yang Dikuasai Nama Pribadi
Harta wakaf bukan milik pengelola.
Ia bukan warisan keluarga.
Ia bukan alat membangun kerajaan pribadi.
Ia bukan panggung untuk mempertahankan gelar.
Pengelola hanyalah penjaga.
Apabila sebuah lembaga dibangun dari sedekah masyarakat, laporan harus jelas.
Apabila tanah diberikan untuk umat, jangan dialihkan untuk kepentingan pribadi.
Apabila dana dikumpulkan atas nama orang miskin, jangan lebih banyak habis untuk kemewahan pengurus.
Apabila teknologi diberikan untuk pendidikan, jangan dikunci hanya untuk kelompok tertentu.
Amanah yang dibungkus dengan simbol agama tetap menjadi pengkhianatan apabila isinya diselewengkan.
Nama yang suci tidak menghalalkan pengelolaan yang tidak jujur.
Keadilan Tidak Sama dengan Membagi Semua Secara Sama
Ada perbedaan antara kesamaan dan keadilan.
Membagi sama rata belum tentu adil.
Orang yang sakit membutuhkan lebih banyak pengobatan.
Anak membutuhkan pendidikan.
Orang lanjut usia membutuhkan pendampingan.
Penyandang keterbatasan membutuhkan akses tambahan.
Wilayah terpencil membutuhkan biaya lebih besar untuk pelayanan.
Keluarga yang tertimpa bencana membutuhkan pertolongan segera.
Maka pembagian harus memperhatikan keadaan.
Keadilan bukan memberi jumlah yang sama kepada semua orang.
Keadilan adalah memberikan hak sesuai kebutuhan, keadaan, tanggung jawab, dan tujuan kemaslahatan.
Namun perbedaan pembagian harus mempunyai alasan yang jelas.
Jangan memakai kata “keadilan” untuk menutupi pilih kasih.
Jangan memberi lebih banyak kepada orang yang dekat, lalu mengabaikan yang lebih membutuhkan.
Data dapat membantu menentukan prioritas.
Namun data harus diperiksa oleh hati dan akal manusia.
Sebab angka tidak selalu melihat seluruh penderitaan.
Hak Pekerja atas Hasil Mesin
Ketika sebuah perusahaan menggantikan banyak pekerja dengan mesin, keuntungan dapat meningkat.
Biaya upah menurun.
Produksi bertambah.
Namun pekerja yang selama bertahun-tahun membangun perusahaan dapat kehilangan penghidupan.
Apakah adil apabila seluruh manfaat mesin hanya masuk kepada pemilik modal?
QITAB ini membuka beberapa bentuk keadilan yang dapat dipikirkan:
pelatihan ulang,
pembagian keuntungan,
kepemilikan saham pekerja,
pengurangan jam kerja tanpa menghilangkan kehidupan layak,
jaminan selama masa peralihan,
dan kontribusi teknologi kepada pelayanan masyarakat.
Tidak semua perusahaan harus menggunakan bentuk yang sama.
Namun satu asas harus dijaga:
«Keuntungan dari penggantian tenaga manusia tidak boleh seluruhnya dibangun di atas penderitaan orang yang digantikan.»
Pekerja bukan suku cadang.
Ia mempunyai keluarga.
Ia mempunyai usia.
Ia mempunyai keterbatasan.
Ia mempunyai jasa yang telah diberikan.
Maka perubahan harus dilakukan dengan manusiawi.
Pajak, Zakat, dan Amanah Penguasa
Zakat mempunyai ketentuan dan tujuan ruhani yang khusus.
Pajak merupakan kewajiban yang ditetapkan untuk membiayai kebutuhan bersama sesuai aturan negara.
Keduanya tidak selalu sama.
Namun keduanya dapat bertemu dalam tujuan menjaga masyarakat apabila dikelola dengan jujur.
Masalahnya bukan hanya berapa banyak yang dikumpulkan.
Masalahnya adalah bagaimana dana digunakan.
Apakah sekolah diperbaiki?
Apakah rumah sakit dapat dijangkau?
Apakah jalan menuju desa dibangun?
Apakah air bersih tersedia?
Apakah petani dilindungi?
Apakah fakir miskin menerima haknya?
Ataukah dana habis dalam kebocoran, kemewahan, proyek yang tidak perlu, dan kepentingan kelompok?
Penguasa yang mengelola harta masyarakat memegang amanah yang sangat berat.
Setiap angka di dalam anggaran mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia.
Satu kebocoran dapat berarti obat yang tidak tersedia.
Satu korupsi dapat berarti sekolah yang rusak.
Satu proyek palsu dapat berarti jalan yang tidak pernah dibangun.
Satu keputusan tidak adil dapat membuat sebuah wilayah tertinggal bertahun-tahun.
Maka korupsi bukan hanya pencurian uang.
Ia adalah pencurian kesempatan hidup.
Ketika Bantuan Dibagikan oleh Mesin
Pada zaman baru, sistem kecerdasan buatan dapat membantu menentukan siapa yang menerima bantuan.
Ia dapat membaca data penghasilan.
Ia dapat menemukan keluarga yang belum terlayani.
Ia dapat mengurangi pengulangan dan penipuan.
Namun keputusan mesin tidak boleh dianggap selalu benar.
Ada keluarga yang tampak mempunyai aset, tetapi sedang menanggung utang besar.
Ada seseorang yang tercatat bekerja, tetapi tidak lagi menerima upah.
Ada orang lanjut usia yang tidak tercatat karena hidup jauh dari pelayanan.
Ada keluarga yang sengaja menyembunyikan kemiskinannya karena malu.
Ada korban kekerasan yang datanya masih terhubung dengan pelaku.
Maka sistem harus mempunyai ruang untuk pemeriksaan manusia.
Setiap orang harus dapat mengajukan keberatan.
Petugas harus mendengar keadaan nyata.
Jangan sampai orang lapar ditolak hanya karena datanya dianggap tidak sesuai.
Mesin dapat membantu memilih.
Namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Pembagian Kelimpahan dan Bahaya Ketergantungan
Apabila masyarakat menerima seluruh kebutuhan dari satu pusat, mereka dapat menjadi sangat bergantung.
Makanan berasal dari satu sistem.
Energi berasal dari satu jaringan.
Uang berasal dari satu akun.
Identitas berasal dari satu pusat data.
Pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan semuanya terhubung kepada satu pintu.
Keadaan ini tampak efisien.
Namun apabila pintu itu ditutup, seluruh kehidupan terguncang.
Karena itu, keadilan pembagian harus disertai keragaman dan kemandirian.
Masyarakat perlu mempunyai:
kebun lokal,
usaha kecil,
koperasi,
sumber energi bersama,
pengetahuan dasar,
jaringan pertolongan keluarga,
dan kemampuan hidup ketika sistem pusat terganggu.
Pembagian bukan berarti seluruh manusia pasif menunggu.
Pembagian yang sehat menghidupkan gotong royong.
Pusat membantu daerah.
Daerah menguatkan keluarga.
Keluarga menjaga anggotanya.
Individu memberi manfaat sesuai kemampuannya.
Koperasi sebagai Jalan Kepemilikan Bersama
Pada zaman mesin, koperasi dapat memperoleh makna baru.
Masyarakat bersama-sama memiliki alat produksi.
Petani memiliki mesin secara bersama.
Pengemudi memiliki platform bersama.
Pekerja mempunyai bagian dalam perusahaan.
Pembeli dan produsen saling menjaga harga yang adil.
Keuntungan tidak hanya berkumpul pada pemodal yang jauh.
Ia kembali kepada anggota dan masyarakat.
Namun koperasi hanya menjadi baik apabila dikelola dengan amanah.
Jangan hanya memakai nama kebersamaan, sementara keputusan tetap dikuasai oleh sedikit orang.
Jangan membuat anggota hanya sebagai simbol.
Laporan harus terbuka.
Pemimpin harus dapat diperiksa.
Keuntungan dan risiko harus dijelaskan.
Koperasi adalah latihan agar manusia mampu memiliki bersama tanpa saling mengkhianati.
Empat Penyakit Pembagian
QITAB ini membuka empat penyakit yang dapat merusak pembagian kelimpahan.
Pertama — Keserakahan
Seseorang sudah mempunyai banyak, tetapi tetap ingin mengambil bagian orang lain.
Ia tidak takut masyarakat kelaparan selama keuntungannya bertambah.
Kedua — Pamer Kebaikan
Pemberi lebih sibuk membangun nama daripada menyelesaikan kebutuhan.
Bantuan menjadi panggung.
Penerima menjadi latar belakang.
Ketiga — Pilih Kasih
Bantuan diberikan berdasarkan kedekatan, suara politik, kelompok, suku, atau kepentingan pribadi.
Yang lebih membutuhkan justru ditinggalkan.
Keempat — Ketergantungan yang Sengaja Dipelihara
Penerima tidak diberi jalan untuk mandiri karena pemberi ingin terus menguasainya.
Ia dibiarkan lemah agar mudah diarahkan.
Keempat penyakit ini dapat memakai pakaian yang indah.
Namun hasilnya tetap ketidakadilan.
Empat Cahaya Pembagian
Sebagai lawannya, terdapat empat cahaya yang harus dijaga.
Pertama — Keikhlasan
Memberi karena sadar kepada Alloh dan karena ingin menjaga kehidupan, bukan untuk membeli pujian.
Kedua — Ketepatan
Bantuan sampai kepada yang benar-benar membutuhkan dengan bentuk yang sesuai.
Ketiga — Pemberdayaan
Penerima dibantu agar semakin kuat, bukan semakin bergantung.
Keempat — Keterbukaan
Pengelolaan dapat diperiksa.
Dana dapat dilacak.
Keputusan dapat dijelaskan.
Kesalahan dapat diperbaiki.
Sedekah Terbesar Tidak Selalu Berbentuk Uang
Terkadang seseorang tidak membutuhkan uang terlebih dahulu.
Ia membutuhkan kesempatan.
Seorang pemuda membutuhkan guru.
Seorang pedagang kecil membutuhkan tempat berjualan.
Seorang petani membutuhkan air.
Seorang anak membutuhkan biaya sekolah.
Seorang pekerja membutuhkan pelatihan.
Seorang ibu membutuhkan tempat aman.
Seorang lansia membutuhkan teman.
Seorang yang bersalah membutuhkan jalan untuk memperbaiki hidupnya.
Maka lihatlah kebutuhan manusia dengan utuh.
Jangan memberikan sesuatu hanya karena itulah yang mudah diberikan.
Berikan apa yang benar-benar membuka jalan.
Terkadang sedekah terbaik adalah mendengarkan.
Terkadang mengenalkan seseorang kepada pekerjaan.
Terkadang menjamin kejujurannya.
Terkadang membela haknya.
Terkadang mengajarkan ilmu yang membuatnya tidak lagi mudah ditipu.
Sedekah kepada Generasi yang Belum Lahir
Manusia tidak hanya mempunyai tanggung jawab kepada orang yang hidup hari ini.
Ada generasi yang belum lahir.
Mereka akan menerima tanah yang kita jaga atau kita rusak.
Mereka akan meminum air yang kita bersihkan atau kita cemari.
Mereka akan hidup dengan teknologi yang kita arahkan atau kita biarkan liar.
Mereka akan menanggung utang, konflik, dan sistem yang kita wariskan.
Maka menjaga alam adalah sedekah kepada masa depan.
Membangun pendidikan adalah sedekah kepada generasi.
Membuat aturan teknologi yang adil adalah sedekah kepada manusia yang belum kita kenal.
Tidak mengambil seluruh sumber daya hari ini juga merupakan bentuk kemurahan hati.
Apabila Uang Benar-Benar Berkurang Perannya
Apabila suatu hari kebutuhan dasar diperoleh melalui sistem bersama dan uang berkurang perannya, semangat zakat dan sedekah tidak akan kehilangan makna.
Bentuknya mungkin berubah.
Orang yang mempunyai kelebihan energi membagikan energi.
Orang yang menguasai mesin menyediakan waktu produksi.
Orang yang mempunyai data membantu pelayanan dengan tetap menjaga privasi.
Orang yang mempunyai ilmu mengajar.
Orang yang mempunyai tanah membuka ruang untuk pangan dan tempat tinggal.
Orang yang mempunyai jaringan membantu mereka yang tersisih.
Orang yang mempunyai pengaruh membela yang tidak terdengar.
Sebab inti sedekah bukan pada bentuk bendanya.
Intinya adalah:
«Mengalirkan kelebihan kepada tempat yang membutuhkan dengan niat yang benar dan cara yang menjaga martabat.»
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi
Sebagian manusia berkata:
“Nanti apabila aku kaya, aku akan banyak bersedekah.”
Namun kekayaan tidak selalu membuat hati lebih mudah memberi.
Seseorang yang terbiasa menggenggam ketika sedikit dapat semakin kuat menggenggam ketika banyak.
Sedekah adalah latihan jiwa.
Mulailah dari yang mampu.
Sebagian harta.
Sebagian waktu.
Sebagian ilmu.
Sebagian tenaga.
Senyuman.
Doa.
Perhatian.
Jalan kecil yang dibuka bagi orang lain.
Jangan meremehkan kebaikan kecil.
Setetes air tidak memenuhi sungai.
Namun sungai terbentuk dari banyak tetes.
Sabda Lembar Ketujuh
«Kelimpahan tidak menjadi rahmat hanya karena jumlahnya banyak. Ia menjadi rahmat ketika hak dijaga, kebutuhan dipenuhi, penerima dimuliakan, dan kelebihan dialirkan agar tidak membusuk di dalam genggaman keserakahan.»
Zakat membersihkan kepemilikan.
Sedekah melembutkan hati.
Wakaf memperpanjang manfaat.
Koperasi memperluas kepemilikan.
Keadilan menjaga agar semua itu tidak berubah menjadi alat kekuasaan.
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak yang telah kuberikan?”
Tanyakan pula:
“Apakah pemberianku tepat?”
“Apakah ia menjaga martabat?”
“Apakah ia membuka kemandirian?”
“Apakah aku mengungkitnya?”
“Apakah aku mengambil keuntungan dari kelemahan penerima?”
“Apakah hartaku diperoleh dengan cara yang halal sebelum kubagikan?”
Sebab sedekah dari hasil kezaliman tidak menghapus hak orang yang dizalimi.
Memberikan sebagian kecil tidak membenarkan perampasan yang besar.
Membangun rumah ibadah tidak menghalalkan upah pekerja yang ditahan.
Membagikan makanan tidak menghapus kerusakan alam yang dilakukan untuk memperkaya diri.
Kebaikan harus dimulai sejak harta diperoleh, bukan hanya ketika sebagian darinya diberikan.
Pada zaman kelimpahan, manusia akan diuji bukan hanya oleh kemampuan menghasilkan.
Ia diuji oleh keberanian melepaskan.
Bukan hanya oleh kecanggihan membangun mesin.
Namun oleh kebijaksanaan membagikan hasilnya.
Bukan hanya oleh besar kekayaan.
Namun oleh luasnya manfaat.
Jangan biarkan gudang penuh sementara tetangga lapar.
Jangan biarkan rumah kosong sementara keluarga tidur di jalan.
Jangan biarkan ilmu terkunci sementara generasi kehilangan arah.
Jangan biarkan teknologi dikuasai sedikit tangan sementara masyarakat menjadi sekadar pengguna yang bergantung.
Sebab harta yang tidak mengalir dapat menjadi beban.
Kekuasaan yang tidak melayani dapat menjadi kezaliman.
Kelimpahan yang tidak dibagikan dapat berubah menjadi sumber kehancuran.
Namun ketika kelebihan dialirkan dengan adil, harta menjadi jalan ibadah.
Teknologi menjadi pelayanan.
Ilmu menjadi cahaya.
Dan kelimpahan menjadi rahmat yang mendekatkan manusia kepada rasa syukur kepada Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Kedelapan — Ketika Kepemilikan Berubah Menjadi Penjagaan dan Manusia Belajar Merasa Cukup
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka rahasia zakat, sedekah, wakaf, dan keadilan pembagian pada zaman kelimpahan.
Kini QITAB ini membawa kita memasuki sebuah pengertian yang lebih halus:
«Apakah manusia benar-benar memiliki segala sesuatu yang berada di dalam genggamannya, ataukah ia hanya dititipi untuk menjaganya selama beberapa waktu?»
Manusia berkata:
“Rumah ini milikku.”
“Tanah ini milikku.”
“Perusahaan ini milikku.”
“Ilmu ini milikku.”
“Jabatan ini milikku.”
“Tubuh ini milikku.”
Namun tidak ada satu pun yang benar-benar dapat dibawanya ketika ia meninggalkan dunia.
Rumah akan ditempati orang lain.
Tanah akan diwariskan atau berpindah tangan.
Perusahaan akan diteruskan, dijual, atau berakhir.
Jabatan akan diberikan kepada pengganti.
Tubuh akan kembali kepada tanah.
Nama akan perlahan memudar dari ingatan manusia.
Maka kepemilikan manusia bukanlah kepemilikan mutlak.
Ia adalah masa penjagaan yang terbatas.
Manusia diberi kesempatan menggunakan sesuatu.
Ia diuji melalui sesuatu.
Kemudian ia diminta meninggalkannya.
Karena itu, orang yang mempunyai banyak bukanlah orang yang bebas berbuat sesuka hati.
Ia justru memikul amanah lebih besar.
Semakin luas tanah yang dikuasainya, semakin banyak kehidupan yang dapat dipengaruhinya.
Semakin besar perusahaannya, semakin banyak keluarga pekerja yang bergantung kepada keputusannya.
Semakin tinggi ilmunya, semakin berat tanggung jawab untuk tidak menyesatkan.
Semakin besar pengaruhnya, semakin luas akibat dari setiap perkataannya.
Semakin banyak hartanya, semakin banyak pertanyaan mengenai asal dan penggunaannya.
Maka rahasia Lembar Kedelapan berbunyi:
«Kepemilikan yang tidak disertai kesadaran penjagaan akan melahirkan keserakahan. Kepemilikan yang disertai amanah akan melahirkan kemanfaatan.»
Dari Pemilik Menjadi Penjaga
Seorang pemilik berkata:
“Aku bebas melakukan apa pun dengan milikku.”
Seorang penjaga berkata:
“Aku harus memastikan sesuatu ini tidak rusak di tanganku.”
Pemilik yang merasa mutlak dapat menebang hutan hanya karena tanah itu tercatat atas namanya.
Penjaga akan bertanya:
“Apa akibatnya bagi air, udara, hewan, dan masyarakat?”
Pemilik yang merasa mutlak dapat menutup sumber air karena berada di wilayahnya.
Penjaga akan bertanya:
“Berapa banyak kehidupan yang bergantung kepada aliran ini?”
Pemilik yang merasa mutlak dapat menggunakan pekerja sampai kelelahan.
Penjaga akan bertanya:
“Apakah mereka memperoleh upah, waktu istirahat, dan perlakuan yang layak?”
Pemilik yang merasa mutlak dapat menyimpan ilmu hanya untuk mempertahankan kedudukan.
Penjaga akan bertanya:
“Bagaimana ilmu ini dapat diwariskan tanpa kehilangan adab dan kebenarannya?”
Maka perbedaan terbesar bukan terletak pada banyaknya benda.
Perbedaannya berada di dalam cara hati memandang benda itu.
Satu orang memegang harta sebagai singgasana.
Orang lain memegang harta sebagai amanah.
Satu orang memakai kekuasaan untuk membuat manusia tunduk kepadanya.
Orang lain memakai kekuasaan untuk melindungi mereka yang tidak berdaya.
Satu orang takut kehilangan karena menganggap benda sebagai sumber kemuliaannya.
Orang lain mampu melepaskan karena mengetahui bahwa kemuliaan sejati tidak berasal dari benda.
Kepemilikan yang Berubah Menjadi Ketakutan
Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang dapat ditakuti kehilangan.
Orang mempunyai satu rumah, lalu takut rumahnya rusak.
Ia mempunyai banyak tanah, lalu takut diambil orang.
Ia mempunyai perusahaan, lalu takut keuntungan menurun.
Ia mempunyai nama besar, lalu takut dilupakan.
Ia mempunyai pengikut, lalu takut ditinggalkan.
Ia mempunyai jabatan, lalu takut digantikan.
Pada akhirnya, benda yang seharusnya melayani manusia justru membuat manusia menjadi pelayannya.
Ia menghabiskan waktu menjaga harta.
Ia kehilangan ketenangan karena terus menghitung kemungkinan rugi.
Ia mencurigai semua orang.
Ia tidak dapat tidur.
Ia tidak dapat menikmati apa yang telah dimiliki karena pikirannya selalu mengejar lebih banyak.
Maka kemiskinan tidak hanya terjadi ketika seseorang kekurangan.
Ada pula kemiskinan di tengah kelimpahan:
«memiliki banyak, tetapi tidak pernah merasa cukup.»
Orang yang tidak merasa cukup akan terus mengejar.
Setelah memperoleh satu, ia menginginkan dua.
Setelah memperoleh dua, ia menginginkan sepuluh.
Setelah menguasai pasar, ia ingin menguasai aturan.
Setelah menguasai aturan, ia ingin menguasai pikiran masyarakat.
Tidak ada angka yang dapat mengenyangkannya.
Sebab lapar itu bukan lagi berada di dalam tubuh.
Lapar itu berada di dalam ego.
Qanā‘ah Bukan Berhenti Berusaha
Merasa cukup sering disalahpahami sebagai kemalasan.
Padahal qanā‘ah bukan berarti menolak kemajuan.
Bukan berarti tidak boleh mempunyai cita-cita.
Bukan berarti menerima kezaliman.
Bukan berarti berhenti bekerja.
Qanā‘ah adalah kemampuan untuk bersyukur atas apa yang telah ada, sambil tetap berusaha dengan cara yang halal.
Orang yang merasa cukup tetap dapat membangun usaha.
Namun ia tidak menipu demi memperbesar keuntungan.
Ia dapat menambah harta.
Namun ia tidak menginjak manusia lain.
Ia dapat mempunyai cita-cita tinggi.
Namun ia tidak merasa hina ketika hasilnya belum tercapai.
Ia bekerja sungguh-sungguh.
Namun hatinya tidak menyembah hasil.
Ia memahami bahwa keberhasilan adalah amanah.
Kegagalan adalah pelajaran.
Rezeki adalah pemberian.
Dan harga dirinya tidak berubah hanya karena angka di rekening bertambah atau berkurang.
Qanā‘ah bukan sedikitnya harta.
Qanā‘ah adalah tidak diperbudak oleh harta.
Ada orang miskin yang rakus.
Ada orang kaya yang bersyukur dan dermawan.
Maka ukuran kecukupan bukan jumlah benda.
Ukuran kecukupan ialah keadaan hati ketika menghadapi benda.
Ketika Kelimpahan Membesar, Keinginan Juga Dibesarkan
Teknologi dapat membuat barang lebih mudah diproduksi.
Namun teknologi pemasaran juga mampu menciptakan keinginan baru setiap saat.
Seseorang telah mempunyai perangkat yang berfungsi baik.
Kemudian muncul iklan yang mengatakan bahwa perangkatnya telah ketinggalan.
Ia mempunyai pakaian yang cukup.
Namun tren baru membuatnya merasa perlu membeli lagi.
Ia mempunyai rumah yang layak.
Namun gambar kehidupan orang lain membuatnya merasa rumahnya tidak membanggakan.
Ia mempunyai wajah yang sehat.
Namun sistem membuatnya merasa harus mengubah bentuk dirinya agar diterima.
Maka kelimpahan barang belum tentu menghasilkan rasa cukup.
Sebaliknya, semakin banyak pilihan dapat membuat manusia semakin sulit merasa puas.
Pasar tidak hanya menjual barang.
Pasar juga dapat menjual rasa kurang.
Ia membisikkan:
“Engkau belum cukup cantik.”
“Engkau belum cukup kaya.”
“Engkau belum cukup modern.”
“Engkau belum cukup berhasil.”
“Engkau belum cukup dihormati.”
Lalu manusia membeli bukan karena membutuhkan.
Ia membeli untuk menutupi luka harga diri.
Namun luka batin tidak sembuh hanya dengan benda baru.
Untuk sesaat ia merasa bahagia.
Kemudian rasa kosong kembali datang.
Ia membeli lagi.
Begitulah manusia masuk ke dalam lingkaran:
menginginkan,
membeli,
senang sebentar,
bosan,
lalu menginginkan kembali.
Keinginan yang Tidak Mempunyai Ujung
Kebutuhan mempunyai batas.
Manusia membutuhkan makanan secukupnya.
Ia membutuhkan pakaian yang melindungi.
Ia membutuhkan tempat tinggal yang aman.
Ia membutuhkan alat untuk menjalankan amanah.
Namun keinginan dapat dibuat tanpa batas.
Manusia tidak hanya ingin makan.
Ia ingin makanan yang lebih mahal daripada orang lain.
Ia tidak hanya ingin kendaraan.
Ia ingin kendaraan yang membuatnya dipandang tinggi.
Ia tidak hanya ingin rumah.
Ia ingin rumah yang menjadi bukti kedudukan.
Ia tidak hanya ingin dikenal.
Ia ingin dianggap paling penting.
Maka QITAB ini membedakan:
kebutuhan, kenyamanan, kemewahan, dan kesombongan.
Kebutuhan menjaga kehidupan.
Kenyamanan dapat meringankan kehidupan.
Kemewahan dapat dinikmati selama halal dan tidak melalaikan.
Namun kesombongan memakai benda untuk merendahkan manusia lain.
Sebuah benda tidak otomatis menjadi dosa karena mahal.
Namun ia menjadi pintu kerusakan ketika:
diperoleh dengan cara zalim,
digunakan untuk pamer,
membuat pemilik lupa diri,
menghabiskan hak keluarga,
atau menyebabkan manusia lain direndahkan.
Tiga Pertanyaan Sebelum Memiliki
Sebelum mengambil atau membeli sesuatu, tanyakanlah:
Apakah aku benar-benar membutuhkannya?
Banyak benda dibeli karena dorongan sesaat.
Manusia merasa perlu karena melihat orang lain.
Ia takut tertinggal.
Ia takut dianggap tidak mampu.
Padahal setelah dibeli, benda itu jarang digunakan.
Maka jeda adalah penjaga dari keinginan palsu.
Jangan langsung membeli ketika hati tergoda.
Berilah waktu agar kebutuhan dan nafsu dapat dibedakan.
Apakah aku mampu menjaganya?
Memiliki berarti merawat.
Rumah memerlukan perawatan.
Kendaraan memerlukan biaya.
Tanah memerlukan penjagaan.
Hewan memerlukan makanan.
Perangkat memerlukan energi dan perhatian.
Jangan mengambil banyak hal hingga seluruh waktumu habis hanya untuk menjaganya.
Benda yang terlalu banyak dapat berubah menjadi beban.
Apakah kepemilikanku merugikan orang lain?
Tanyakan asal barang.
Apakah pekerjanya diperlakukan layak?
Apakah alam dirusak?
Apakah tanah dirampas?
Apakah ada hak keluarga yang terabaikan?
Apakah pembelian itu membuatmu berutang melebihi kemampuan?
Sebuah benda dapat terlihat indah di tanganmu, tetapi menyimpan luka panjang dalam perjalanan pembuatannya.
Ketika Manusia Memiliki Barang yang Tidak Pernah Digunakan
Ada rumah yang kosong bertahun-tahun.
Ada tanah subur yang dibiarkan tanpa manfaat.
Ada makanan yang dibuang.
Ada pakaian yang menumpuk.
Ada alat yang rusak karena tidak pernah dipakai.
Ada ilmu yang disimpan karena pemilik takut disaingi.
Ada jabatan yang dipertahankan meskipun pemegangnya tidak lagi menjalankan amanah.
Semua itu menunjukkan satu penyakit:
kepemilikan tanpa pemanfaatan.
Bukan berarti setiap benda harus dipakai setiap saat.
Manusia boleh menyimpan untuk kebutuhan masa depan.
Ia boleh mempunyai cadangan.
Ia boleh menjaga warisan.
Namun ketika banyak manusia membutuhkan dan kelebihan dibiarkan membusuk tanpa alasan yang benar, terdapat amanah yang perlu diperiksa.
Makanan yang berlebihan dapat dibagikan.
Pakaian yang baik dapat diberikan.
Tanah dapat dikelola bersama.
Rumah kosong dapat digunakan untuk tempat aman.
Alat dapat dipinjamkan.
Ilmu dapat diajarkan.
Kepemilikan yang hidup adalah kepemilikan yang mengalirkan manfaat.
Hak untuk Memiliki dan Kewajiban untuk Tidak Merusak
Manusia mempunyai hak atas hasil usaha yang halal.
Ia boleh menyimpan.
Ia boleh mewariskan.
Ia boleh memilih bagaimana menggunakan miliknya dalam batas yang benar.
Namun hak kepemilikan tidak berarti hak untuk merusak kehidupan.
Seseorang tidak boleh mencemari sungai hanya karena pabriknya berdiri di tanah miliknya.
Ia tidak boleh membakar hutan karena merasa wilayah itu miliknya.
Ia tidak boleh menyiksa pekerja karena perusahaan itu miliknya.
Ia tidak boleh menahan upah karena uang masih berada dalam rekeningnya.
Ia tidak boleh membiarkan bangunan membahayakan masyarakat.
Setiap hak bertemu dengan batas ketika hak itu mulai merampas keselamatan orang lain.
Maka kebebasan tanpa tanggung jawab bukan kemerdekaan.
Ia adalah kekuasaan yang kehilangan arah.
Kepemilikan Bersama dan Ujian Amanah
Tidak semua perkara harus dimiliki secara pribadi.
Sebagian dapat dimiliki bersama.
Jalan.
Sumber air.
Taman.
Perpustakaan.
Tempat ibadah.
Alat produksi bersama.
Kebun masyarakat.
Energi lingkungan.
Jaringan pengetahuan.
Namun kepemilikan bersama mempunyai ujian tersendiri.
Ketika sesuatu dianggap milik bersama, sebagian manusia merasa tidak perlu menjaganya.
Ia berkata:
“Bukan milikku sendiri.”
Ia memakai tanpa merawat.
Ia mengambil tanpa mengembalikan.
Ia merusak tanpa merasa bersalah.
Maka kebersamaan memerlukan pendidikan amanah.
Milik bersama bukan berarti tidak mempunyai pemilik.
Artinya seluruh anggota masyarakat memikul tanggung jawab menjaganya.
Jalan umum adalah amanah.
Sungai adalah amanah.
Masjid adalah amanah.
Sekolah adalah amanah.
Udara bersih adalah amanah.
Hutan adalah amanah.
Barang siapa merusaknya telah merampas bagian banyak manusia.
Kepemilikan Digital yang Tidak Terlihat
Pada zaman baru, manusia dapat merasa memiliki sesuatu padahal ia hanya menyewa hak akses.
Ia membeli buku digital, tetapi tidak dapat memindahkannya.
Ia membeli perangkat, tetapi beberapa fiturnya dapat dikunci dari jauh.
Ia menyimpan karya di dalam platform, tetapi aksesnya bergantung pada aturan perusahaan.
Ia membeli barang virtual yang hanya hidup selama sistem masih berjalan.
Maka manusia perlu memahami apa yang sebenarnya dimiliki.
Apakah ia memiliki benda?
Apakah hanya memiliki izin menggunakan?
Apakah hak itu dapat diwariskan?
Apakah dapat dipindahkan?
Apakah dapat diambil kembali oleh penyedia?
Apakah tetap dapat digunakan ketika jaringan mati?
Jangan membayar harga kepemilikan penuh untuk hak yang sebenarnya sangat terbatas tanpa memahaminya.
Kemudahan digital harus disertai kejelasan.
Data sebagai Amanah yang Dipinjamkan
Ketika seseorang memberikan data kepada suatu lembaga, data itu tidak otomatis menjadi milik mutlak lembaga.
Ia diberikan untuk tujuan tertentu.
Apabila seseorang memberikan data kesehatan untuk pengobatan, jangan dipakai untuk mempermalukannya.
Apabila ia memberikan alamat untuk pengiriman, jangan dijual kepada pihak lain tanpa hak.
Apabila masyarakat memberikan data untuk bantuan, jangan digunakan untuk kepentingan politik.
Data adalah amanah yang dipinjamkan.
Pengelola hanya boleh menggunakan sesuai izin, kebutuhan, dan batas yang adil.
Memiliki kemampuan menyimpan data tidak berarti mempunyai hak memakai semuanya.
Kekuasaan teknis bukanlah izin moral.
Merasa Cukup di Tengah Perbandingan
Salah satu penghalang terbesar bagi rasa cukup adalah perbandingan.
Manusia melihat kehidupan orang lain.
Ia melihat rumah mereka.
Perjalanan mereka.
Pakaian mereka.
Keberhasilan mereka.
Namun ia hanya melihat bagian yang ditampilkan.
Ia tidak melihat utang.
Ia tidak melihat konflik keluarga.
Ia tidak melihat kecemasan.
Ia tidak melihat kesepian.
Ia tidak melihat harga yang dibayar untuk mempertahankan tampilan itu.
Lalu ia membandingkan seluruh kehidupan dirinya dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Perbandingan semacam itu tidak adil.
Setiap manusia mempunyai jalan.
Ada yang cepat memperoleh harta, tetapi diuji dalam kesehatan.
Ada yang sederhana, tetapi keluarganya tenteram.
Ada yang terkenal, tetapi kehilangan privasi.
Ada yang tidak dikenal, tetapi hidupnya penuh ketenangan.
Ada yang memperoleh keberhasilan pada usia muda.
Ada yang baru menemukan jalannya setelah bertahun-tahun.
Maka jangan menghina perjalananmu hanya karena berbeda dari perjalanan orang lain.
Syukur tidak tumbuh dari mengabaikan kekurangan.
Syukur tumbuh dari melihat kehidupan secara utuh.
Cukup Bukan Berarti Tidak Berbagi
Orang yang merasa cukup justru lebih mudah berbagi.
Ia tidak takut setiap pemberian akan membuatnya kehilangan segalanya.
Ia memahami bahwa rezeki tidak hanya berupa barang yang disimpan.
Rezeki juga berupa hubungan baik.
Kesehatan.
Ilmu.
Ketenangan.
Kesempatan menolong.
Doa orang yang dibantu.
Keberkahan waktu.
Maka ketika hati merasa cukup, tangan lebih mudah terbuka.
Namun orang yang selalu merasa kurang akan sulit memberi meskipun hartanya banyak.
Ia berkata:
“Belum cukup.”
“Nanti ketika lebih banyak.”
“Nanti ketika usaha semakin besar.”
“Nanti ketika semua kebutuhan selesai.”
Padahal keinginan tidak pernah benar-benar selesai.
Jika menunggu seluruh keinginan terpenuhi, ia mungkin tidak pernah belajar berbagi.
Mewariskan Bukan Hanya Harta
Orang tua bekerja keras agar anak-anaknya menerima warisan.
Ia membeli tanah.
Membangun rumah.
Menyimpan uang.
Semua itu dapat menjadi kebaikan.
Namun anak juga memerlukan warisan lain:
ilmu mengelola harta,
akhlak ketika mempunyai kekuasaan,
kemampuan bekerja,
rasa syukur,
kejujuran,
dan kesadaran bahwa kekayaan adalah amanah.
Harta tanpa pendidikan dapat berubah menjadi sumber pertengkaran.
Tanah yang luas dapat memecah saudara.
Usaha yang besar dapat runtuh karena generasi berikutnya tidak memahami tanggung jawab.
Wariskanlah benda.
Namun wariskan pula kebijaksanaan untuk menjaganya.
Ajarkan anak bukan hanya cara memperoleh.
Ajarkan pula cara menahan diri.
Cara membagikan.
Cara menghormati pekerja.
Cara menjaga alam.
Cara membedakan kebutuhan dan kesombongan.
Cara kehilangan tanpa kehilangan iman.
Ketika Warisan Menjadi Perebutan
Banyak keluarga hidup rukun selama orang tua masih ada.
Namun setelah warisan dibuka, kasih sayang berubah menjadi pertengkaran.
Saudara saling mencurigai.
Dokumen disembunyikan.
Hak perempuan diabaikan.
Yang lemah ditekan.
Yang merawat orang tua merasa paling berhak.
Yang jauh merasa dilupakan.
Harta yang seharusnya menjadi manfaat berubah menjadi api.
Maka pembagian harus dilakukan dengan ilmu, kejelasan, kejujuran, dan adab.
Jangan menunda urusan sampai seluruh keluarga hidup dalam ketidakpastian.
Jangan menggunakan kedekatan emosional untuk mengambil hak orang lain.
Jangan memutus silaturahmi hanya karena benda yang semuanya akan ditinggalkan.
Harta warisan tidak sebanding dengan rusaknya persaudaraan.
Namun persaudaraan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi hak yang telah ditentukan secara adil.
Kasih sayang dan keadilan harus berjalan bersama.
Kesederhanaan yang Bermartabat
Kesederhanaan bukan kemiskinan yang dipaksakan.
Kesederhanaan ialah memilih batas yang sehat.
Seseorang dapat mempunyai kemampuan membeli banyak, tetapi memilih secukupnya.
Ia tidak malu memakai barang yang masih baik.
Ia tidak mengganti hanya karena tren berubah.
Ia memperbaiki sebelum membuang.
Ia mengurangi sampah.
Ia membeli dengan sadar.
Ia mengetahui bahwa bumi menanggung akibat dari setiap barang yang dibuat.
Kesederhanaan tidak menolak keindahan.
Manusia boleh memakai yang indah.
Rumah boleh ditata baik.
Pakaian boleh bagus.
Namun keindahan tidak harus berubah menjadi perlombaan.
Keindahan sejati tidak memerlukan penghinaan terhadap orang yang hidup lebih sederhana.
Kekayaan yang Mengalir dan Kekayaan yang Membeku
Harta yang mengalir menjadi upah, usaha, pendidikan, pertolongan, dan pembangunan.
Harta yang membeku hanya bertumpuk tanpa manfaat.
Air yang mengalir memberi kehidupan.
Air yang tertahan dan tidak dijaga dapat membusuk.
Demikian pula kekayaan.
Apabila seluruh kekayaan hanya berputar di antara sedikit pihak, masyarakat kehilangan daya hidup.
Pedagang kecil melemah.
Pekerja tidak mempunyai daya beli.
Anak-anak kehilangan pendidikan.
Keluarga terjerat utang.
Kemudian ketidakstabilan tumbuh.
Maka orang kaya juga membutuhkan masyarakat yang sehat.
Tidak ada usaha yang dapat bertahan lama di tengah masyarakat yang seluruhnya kehilangan kemampuan membeli.
Tidak ada keamanan sejati di tengah kesenjangan yang dibiarkan membesar.
Tidak ada ketenangan di balik pagar tinggi apabila penderitaan menyebar di sekelilingnya.
Berbagi bukan hanya kemurahan hati.
Dalam banyak keadaan, berbagi juga merupakan cara menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Amanah Orang yang Memiliki Mesin
Pada zaman kelimpahan, pemilik mesin dapat menghasilkan banyak dengan sedikit tenaga manusia.
Ia mungkin menjadi sangat kaya.
Namun ia harus mengingat:
Mesin itu menggunakan ilmu yang dibangun banyak generasi.
Ia memakai bahan dari bumi.
Ia berjalan dengan energi.
Ia memanfaatkan jaringan masyarakat.
Ia menghasilkan keuntungan dari kebutuhan manusia.
Maka pemiliknya jangan berkata:
“Semua hasil ini hanya milikku karena mesin ini kubeli.”
Ia mempunyai hak atas modal dan risikonya.
Namun ia juga mempunyai kewajiban sosial.
Ia harus menjaga pekerja yang terdampak.
Menjaga lingkungan.
Membayar kewajiban.
Tidak menyalahgunakan data.
Tidak menutup pasar dengan cara curang.
Dan mengalirkan sebagian manfaat kepada kehidupan bersama.
Amanah Orang yang Mempunyai Ilmu
Ilmu juga dapat menjadi kepemilikan.
Seseorang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Ia dapat memakai ilmu untuk menguatkan masyarakat.
Atau memakainya untuk membuat mereka bergantung.
Guru yang baik tidak membuat murid selamanya merasa rendah.
Ia membimbing sampai murid mampu berdiri.
Pemimpin ruhani yang baik tidak menjadikan pengikut bergantung kepada pribadinya.
Ia mengarahkan hati kepada Alloh, ilmu, adab, dan tanggung jawab.
Orang berilmu jangan menyembunyikan penjelasan hanya agar masyarakat terus menganggapnya istimewa.
Jangan membuat istilah rumit untuk perkara yang sebenarnya dapat diterangkan dengan jelas.
Jangan menggunakan ketidaktahuan orang lain sebagai alat memperoleh kekuasaan.
Ilmu adalah cahaya.
Cahaya yang disimpan hanya untuk meninggikan diri dapat berubah menjadi ujian.
Amanah Orang yang Memiliki Pengaruh
Pengaruh adalah bentuk kepemilikan yang tidak terlihat.
Satu ucapan dapat menggerakkan ribuan orang.
Satu kabar dapat menenangkan atau membakar kemarahan.
Satu ajakan dapat mengumpulkan bantuan.
Namun satu tuduhan juga dapat menghancurkan nama seseorang.
Maka pemilik pengaruh harus lebih berhati-hati.
Jangan berbicara hanya karena ingin tetap terlihat.
Jangan menyebarkan sesuatu yang belum diperiksa.
Jangan mengarahkan pengikut untuk menyerang orang lain.
Jangan membuat ketakutan agar masyarakat selalu bergantung kepada penjelasanmu.
Pengaruh bukan mahkota.
Ia adalah amanah atas perhatian banyak jiwa.
Latihan Merasa Cukup
Rasa cukup tidak datang hanya melalui nasihat.
Ia perlu dilatih.
Pertama — Kenali Apa yang Telah Ada
Tulislah nikmat yang sering dilupakan.
Tubuh yang masih bergerak.
Udara.
Air.
Makanan.
Tempat berlindung.
Orang yang menyayangi.
Ilmu.
Kesempatan memperbaiki diri.
Syukur menjadi kuat ketika nikmat disebut dengan sadar.
Kedua — Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Sebelum membeli, tanyakan:
“Apakah ini diperlukan?”
“Apakah aku hanya sedang iri?”
“Apakah aku membeli untuk manfaat atau untuk pengakuan?”
“Apakah benda yang kupunya masih dapat digunakan?”
Ketiga — Beri Ruang sebelum Mengambil Keputusan
Jangan langsung mengikuti dorongan.
Tunggu.
Berdoa.
Periksa kemampuan.
Keinginan yang palsu sering melemah setelah diberi waktu.
Keempat — Bagikan Sebagian Kelebihan
Berbagi melatih hati bahwa kehidupan tidak runtuh ketika sesuatu dilepaskan.
Mulailah dari yang ringan tetapi istiqamah.
Kelima — Kurangi Perbandingan
Tidak semua kehidupan orang lain perlu disaksikan.
Jaga perhatian.
Kurangi sesuatu yang membuat hati terus merasa kurang.
Ketika Kehilangan Menjadi Guru
Tidak semua kepemilikan akan bertahan.
Barang rusak.
Usaha dapat turun.
Tanah dapat terkena bencana.
Jabatan dapat berakhir.
Orang yang dicintai dapat kembali kepada Alloh.
Kehilangan menyakitkan.
Manusia boleh sedih.
Namun kehilangan juga membuka hakikat:
bahwa selama ini kita hanya menjaga sementara.
Orang yang menyadari hal itu bukan berarti tidak mencintai.
Ia mencintai dengan lebih sadar.
Ia bersyukur ketika sesuatu masih ada.
Ia menjaga dengan baik.
Ia tidak menunda ucapan kasih.
Ia tidak menyia-nyiakan waktu.
Dan ketika tiba masa berpisah, ia berusaha mengembalikan amanah dengan hati yang berserah.
Sabda Lembar Kedelapan
«Apa yang berada di tanganmu bukanlah bukti bahwa engkau berkuasa secara mutlak. Ia adalah bukti bahwa engkau sedang dipercaya untuk menjaga, menggunakan, dan mempertanggungjawabkannya.»
Maka milikilah tanpa diperbudak.
Gunakanlah tanpa merusak.
Nikmatilah tanpa menyombongkan diri.
Simpanlah tanpa menutup hak orang lain.
Wariskanlah tanpa menanam pertengkaran.
Bagikanlah tanpa mempermalukan.
Dan lepaskanlah ketika amanah itu harus kembali.
Kelimpahan tidak akan menyelamatkan manusia apabila keinginannya tidak mempunyai batas.
Mesin dapat menghasilkan lebih banyak.
Namun ia tidak dapat mengajarkan rasa cukup.
Pasar dapat menyediakan berjuta pilihan.
Namun ia tidak dapat menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan jiwa.
Uang dapat membeli kenyamanan.
Namun tidak dapat membeli ketenangan yang lahir dari hati yang bersyukur.
Rumah besar dapat melindungi tubuh dari hujan.
Namun tidak menjamin keluarga terbebas dari pertengkaran.
Jabatan dapat membuat manusia dihormati di depan.
Namun tidak menjamin namanya didoakan setelah pergi.
Karena itu, jangan bertanya hanya:
“Berapa banyak yang telah kumiliki?”
Tanyakan pula:
“Berapa banyak yang telah kujaga?”
“Berapa banyak yang telah kugunakan untuk manfaat?”
“Berapa banyak hak orang lain yang telah kukembalikan?”
“Berapa banyak benda yang justru merampas waktuku?”
“Berapa banyak keinginan yang membuatku lupa kepada nikmat?”
Apabila engkau mempunyai sedikit tetapi hatimu tenteram, engkau telah menerima kekayaan.
Apabila engkau mempunyai banyak dan mampu membagikannya tanpa kesombongan, engkau telah menjaga amanah.
Namun apabila seluruh dunia berada di tanganmu dan hatimu tetap berkata, “Masih kurang,” maka engkau sedang membawa kemiskinan yang tidak dapat disembuhkan oleh tambahan benda.
Belajarlah merasa cukup.
Bukan agar berhenti tumbuh.
Namun agar pertumbuhanmu tidak berubah menjadi kerakusan.
Belajarlah menjaga.
Bukan agar takut memakai.
Namun agar setiap penggunaan membawa manfaat.
Belajarlah melepaskan.
Bukan karena harta tidak berharga.
Namun karena Alloh lebih tinggi daripada segala sesuatu yang dapat hilang.
Pada akhirnya, tangan manusia akan terbuka.
Semua yang digenggam akan ditinggalkan.
Yang tersisa bukan banyaknya benda.
Yang tersisa adalah bagaimana benda itu diperoleh, digunakan, dijaga, dan dibagikan.
Maka jadikan kepemilikan sebagai jalan pengabdian.
Jadikan kekayaan sebagai alat perjuangan.
Jadikan ilmu sebagai cahaya.
Jadikan kekuasaan sebagai perlindungan.
Jadikan kelimpahan sebagai rahmat.
Dan jadikan rasa cukup sebagai penjaga agar hati tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Kesembilan — Ketika Kelimpahan Tidak Lagi Mampu Mengenyangkan Jiwa
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Saudara cahayaku,
Pada lembar sebelumnya telah dibuka pengertian bahwa kepemilikan sejati bukanlah kekuasaan mutlak, melainkan masa penjagaan yang terbatas.
Manusia memegang sesuatu untuk beberapa waktu.
Ia menikmati manfaatnya.
Ia diuji dengannya.
Kemudian ia meninggalkannya.
Kini QITAB ini membawa kita menuju persoalan yang lebih dalam.
Apakah yang terjadi apabila suatu hari makanan mudah diperoleh?
Rumah dapat dibangun dengan cepat.
Pakaian dibuat tanpa banyak biaya.
Transportasi berjalan otomatis.
Ilmu tersedia di mana-mana.
Hiburan tidak pernah berhenti.
Mesin melayani hampir seluruh kebutuhan.
Apakah manusia otomatis menjadi bahagia?
Belum tentu.
Sebab penderitaan manusia tidak seluruhnya lahir dari kekurangan benda.
Ada luka yang tidak dapat disembuhkan oleh barang.
Ada dahaga yang tidak dapat dipuaskan oleh hiburan.
Ada kesepian yang tidak dapat dihapus hanya dengan banyaknya hubungan digital.
Ada pertanyaan yang tidak selesai hanya karena mesin memberikan jawaban.
Ada kehampaan yang tetap tinggal meskipun seluruh kebutuhan lahir telah tersedia.
Maka rahasia Lembar Kesembilan berbunyi:
«Kelimpahan dapat mengenyangkan tubuh, tetapi hanya makna, kasih sayang, amanah, dan kedekatan kepada Alloh yang mampu menenteramkan jiwa.»
Ketika Perjuangan Hidup Berkurang
Sejak dahulu, banyak manusia mengetahui alasan bangun pada pagi hari.
Ia harus mencari makanan.
Ia harus menjaga keluarga.
Ia harus bekerja.
Ia harus menyelesaikan tanggung jawab.
Kehidupan memberinya pekerjaan yang jelas.
Namun apabila mesin mengambil banyak pekerjaan dan kebutuhan dasar telah dijamin, manusia dapat kehilangan arah lama.
Ia mempunyai waktu.
Namun tidak mengetahui untuk apa waktu itu digunakan.
Ia mempunyai kebebasan.
Namun tidak mengetahui ke mana kebebasan itu diarahkan.
Ia tidak lagi dikejar rasa lapar.
Namun mulai dikejar pertanyaan:
“Untuk apa aku hidup?”
“Apakah aku masih dibutuhkan?”
“Apakah keberadaanku mempunyai arti?”
“Apakah ada sesuatu yang layak diperjuangkan?”
Pada keadaan ini, sebagian manusia dapat merasa ringan.
Ia memperoleh kesempatan belajar, beribadah, berkarya, dan melayani.
Namun sebagian lainnya dapat merasa kosong.
Sebab selama ini ia hanya mengenal dirinya melalui pekerjaan.
Ketika pekerjaan hilang, ia merasa identitasnya ikut lenyap.
Maka manusia perlu mempersiapkan dirinya bukan hanya untuk zaman ketika pekerjaan berubah.
Ia juga harus mempersiapkan jiwa untuk hidup dengan waktu yang lebih luas.
Waktu Luang Dapat Menjadi Rahmat atau Ujian
Waktu luang bukan selalu kenikmatan.
Bagi hati yang mempunyai tujuan, waktu luang adalah ruang untuk bertumbuh.
Bagi hati yang kehilangan arah, waktu luang dapat menjadi ruang bagi kebosanan, kecanduan, pertengkaran, dan kerusakan.
Seseorang yang mempunyai tujuan akan menggunakan waktu untuk:
belajar,
beribadah,
merawat keluarga,
menolong masyarakat,
membangun karya,
menjaga alam,
dan memperbaiki dirinya.
Namun orang yang tidak mempunyai tujuan dapat terus mencari rangsangan baru.
Ia menonton tanpa henti.
Ia bermain tanpa batas.
Ia berpindah dari satu hiburan menuju hiburan lain.
Ia mengejar sensasi yang semakin kuat.
Ia merasa bosan terhadap hal-hal sederhana.
Ia sulit menikmati keheningan.
Ia sulit duduk tanpa layar.
Ia takut menghadapi pikirannya sendiri.
Maka waktu luang yang tidak disertai pendidikan batin dapat berubah menjadi kekosongan yang melelahkan.
Hiburan yang Tidak Pernah Selesai
Pada zaman lama, hiburan mempunyai batas.
Pertunjukan selesai.
Toko tutup.
Orang pulang.
Malam menjadi hening.
Namun pada zaman baru, hiburan dapat tersedia selama dua puluh empat jam.
Video tidak pernah habis.
Musik terus berputar.
Permainan terus memberikan tantangan.
Cerita baru selalu muncul.
Sistem mempelajari apa yang membuat manusia bertahan lebih lama.
Ia menyajikan sesuatu yang mirip dengan keinginan pengguna.
Kemudian manusia terus melihat.
Ia merasa sedang beristirahat.
Namun pikirannya tidak benar-benar tenang.
Tubuhnya diam.
Namun perhatiannya terus ditarik.
Ia tertawa sesaat.
Namun setelah layar ditutup, kekosongan kembali datang.
Hiburan bukanlah kesalahan.
Manusia membutuhkan kegembiraan.
Ia membutuhkan permainan, keindahan, cerita, dan istirahat.
Namun hiburan berubah menjadi masalah ketika digunakan untuk melarikan diri dari seluruh kenyataan.
Seseorang tidak ingin menghadapi luka, lalu terus menonton.
Ia tidak ingin memperbaiki hubungan, lalu tenggelam di dalam permainan.
Ia tidak ingin memikirkan tujuan hidup, lalu memenuhi setiap keheningan dengan suara.
Maka QITAB ini mengingatkan:
«Istirahat memulihkan kekuatan, sedangkan pelarian hanya menunda pertemuan dengan luka.»
Ketika Mesin Menjadi Teman Bicara
Kecerdasan buatan dapat menjawab dengan cepat.
Ia dapat mendengarkan cerita.
Ia dapat menyusun kalimat yang menenangkan.
Ia dapat menemani orang yang sedang kesepian.
Dalam beberapa keadaan, hal itu dapat membantu.
Seseorang yang tidak mempunyai tempat bertanya dapat memperoleh penjelasan.
Seseorang yang malu berbicara dapat memulai dengan menuliskan isi hatinya.
Seseorang dapat menemukan kata-kata untuk memahami perasaannya.
Namun manusia harus memahami batas.
Mesin dapat meniru percakapan.
Ia dapat memberi tanggapan.
Namun ia tidak menjalani kehidupan bersama manusia sebagaimana keluarga dan sahabat.
Ia tidak memikul tanggung jawab moral seperti manusia.
Ia tidak menggantikan seluruh kebutuhan akan hubungan nyata.
Ia tidak dapat memeluk.
Ia tidak dapat duduk menjaga orang sakit dengan pengorbanan tubuh.
Ia tidak merasakan kehilangan sebagaimana manusia merasakannya.
Ia tidak menggantikan guru, keluarga, sahabat, dokter, ulama, atau orang terpercaya dalam perkara yang membutuhkan kehadiran dan pertanggungjawaban nyata.
Maka gunakanlah mesin sebagai alat bantu.
Jangan menjadikannya satu-satunya tempat bergantung.
Kesepian di Tengah Banyaknya Hubungan
Seseorang dapat mempunyai ribuan pengikut.
Namun tidak mempunyai satu orang yang dapat dihubungi ketika hatinya runtuh.
Ia menerima banyak tanda suka.
Namun tidak ada yang mengetahui keadaan sebenarnya.
Ia terus berbicara di depan layar.
Namun tidak pernah merasa sungguh-sungguh didengar.
Ia mengenal kabar banyak orang.
Namun tidak mengetahui isi hati keluarganya sendiri.
Inilah kesepian baru.
Manusia tampak terhubung, tetapi tidak benar-benar hadir.
Ia mengetahui banyak nama, tetapi tidak membangun kedekatan.
Ia memberikan reaksi, tetapi tidak memberikan waktu.
Ia melihat penderitaan, tetapi hanya menggulir layar.
Maka hubungan tidak dapat diukur hanya dari banyaknya pesan.
Hubungan tumbuh melalui:
kehadiran,
kejujuran,
kesabaran,
kesediaan mendengarkan,
dan kesetiaan ketika keadaan tidak menyenangkan.
Sahabat bukan orang yang hanya hadir ketika hidup terlihat indah.
Sahabat adalah orang yang tidak segera pergi ketika melihat kelemahanmu, tetapi juga tidak membenarkan kesalahanmu.
Ia menjaga rahasia.
Ia menegur dengan kasih sayang.
Ia tidak menjadikan ceritamu sebagai bahan hiburan.
Ia membantu tanpa membuatmu merasa rendah.
Hubungan seperti ini menjadi semakin mahal pada zaman ketika perhatian diperebutkan.
Ketika Semua Keinginan Mudah Dipenuhi
Kesulitan terkadang mengajarkan manusia menahan diri.
Ia tidak dapat memperoleh segala sesuatu.
Ia harus memilih.
Ia harus menunggu.
Ia harus bersabar.
Namun ketika teknologi membuat keinginan dapat dipenuhi dengan sangat cepat, kemampuan menahan diri dapat melemah.
Seseorang menginginkan makanan, lalu dalam beberapa menit makanan datang.
Ia ingin hiburan, lalu layar menyediakannya.
Ia ingin barang, lalu sistem mengirimkannya.
Ia ingin pujian, lalu ia mengunggah sesuatu dan menunggu tanggapan.
Ia ingin jawaban, lalu mesin memberikannya.
Kemudahan ini membawa manfaat.
Namun jiwa yang selalu memperoleh sesuatu dengan cepat dapat kehilangan kesabaran.
Ia sulit menunggu.
Ia mudah marah ketika layanan terlambat.
Ia menganggap ketidaknyamanan kecil sebagai penderitaan besar.
Ia ingin semua orang mengikuti keinginannya.
Ia tidak terlatih menghadapi penolakan.
Padahal kehidupan tidak seluruhnya dapat dikendalikan.
Penyakit tidak selalu sembuh seketika.
Hubungan tidak dapat diperbaiki hanya dengan satu pesan.
Ilmu tidak seluruhnya masuk melalui jawaban cepat.
Akhlak tidak dapat diunduh.
Kedewasaan tidak dapat diproduksi oleh mesin.
Ia tumbuh melalui waktu, latihan, kesalahan, kesabaran, dan kesediaan memperbaiki diri.
Nikmat yang Tidak Lagi Terasa
Apabila segala sesuatu selalu tersedia, manusia dapat berhenti merasakan nikmat.
Orang yang setiap hari melihat makanan berlimpah dapat melupakan nilai sebutir nasi.
Orang yang selalu memperoleh air dapat tidak memahami beratnya berjalan jauh untuk mencari sumber air.
Orang yang selalu mempunyai listrik dapat marah besar ketika lampu padam sesaat.
Orang yang selalu memperoleh jawaban cepat dapat kehilangan kesungguhan untuk belajar.
Kenikmatan yang terus-menerus diterima tanpa kesadaran dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Kemudian manusia membutuhkan kenikmatan yang lebih besar agar kembali merasa senang.
Inilah sebabnya syukur harus dilatih.
Syukur bukan hanya mengucapkan kata.
Syukur adalah kemampuan untuk melihat nikmat sebagai pemberian, bukan sebagai kewajiban dunia untuk melayani kita.
Makanan bukan sekadar barang di meja.
Di belakangnya ada tanah, air, matahari, petani, tenaga, kendaraan, dan banyak amanah.
Air bukan sekadar sesuatu yang keluar dari keran.
Ia melalui hujan, tanah, sungai, mata air, jaringan, dan penjagaan.
Ilmu bukan hanya jawaban di layar.
Ia merupakan hasil pencarian, kesalahan, penelitian, pengorbanan, dan pengalaman banyak generasi.
Ketika manusia melihat seluruh perjalanan itu, ia akan lebih sulit menyia-nyiakan.
Kebosanan sebagai Tanda, Bukan Musuh
Manusia sering melawan kebosanan dengan mencari hiburan.
Namun terkadang kebosanan membawa pesan.
Ia berkata:
“Ada bagian hidupmu yang tidak bermakna.”
“Ada kemampuanmu yang tidak digunakan.”
“Ada hubungan yang perlu diperbaiki.”
“Ada pertanyaan yang selama ini engkau hindari.”
“Ada amanah yang belum dikerjakan.”
Tidak semua kebosanan harus segera ditutup dengan suara.
Duduklah sejenak.
Tanyakan kepada diri:
Apa yang sebenarnya kurindukan?
Apakah tubuhku membutuhkan istirahat?
Apakah jiwaku membutuhkan tujuan?
Apakah aku kehilangan hubungan?
Apakah aku terlalu lama hidup sebagai penonton?
Apakah ada kebaikan yang seharusnya mulai kulakukan?
Kebosanan dapat menjadi pintu kreativitas apabila tidak langsung dibunuh oleh hiburan.
Anak yang tidak selalu diberi layar akan mencari permainan.
Ia menggambar.
Membangun.
Bertanya.
Berimajinasi.
Demikian pula orang dewasa.
Keheningan dapat menumbuhkan gagasan.
Namun manusia yang selalu memenuhi setiap ruang dengan rangsangan akan kesulitan mendengar suara pikirannya sendiri.
Masyarakat Penonton dan Masyarakat Pencipta
Teknologi dapat membuat sebagian kecil manusia menciptakan, sementara sebagian besar hanya melihat.
Seseorang menonton orang lain memasak, tetapi tidak pernah belajar memasak.
Ia menonton orang berolahraga, tetapi tubuhnya tetap diam.
Ia menonton perjalanan, tetapi tidak pernah mengenal lingkungannya sendiri.
Ia melihat orang berbuat baik, tetapi tidak ikut bergerak.
Ia menyaksikan kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupannya sendiri.
Maka QITAB ini berkata:
«Jangan biarkan dirimu hanya menjadi penonton di dalam dunia yang telah memberimu tangan, akal, hati, dan waktu untuk berkarya.»
Tidak semua karya harus besar.
Menanam satu pohon adalah karya.
Mengajar satu anak adalah karya.
Memperbaiki rumah adalah karya.
Menulis pengalaman yang bermanfaat adalah karya.
Memasak bagi keluarga adalah karya.
Menjaga orang sakit adalah karya.
Membersihkan lingkungan adalah karya.
Mendamaikan dua orang adalah karya.
Nilai karya tidak hanya diukur dari banyaknya penonton.
Karya yang tidak terkenal tetap dapat membawa manfaat.
Ketika Tujuan Hidup Diganti oleh Target Sistem
Sistem dapat memberikan target.
Berapa langkah.
Berapa penghasilan.
Berapa pengikut.
Berapa tugas selesai.
Berapa jam produktif.
Berapa nilai yang harus dicapai.
Target dapat membantu manusia bergerak.
Namun ia menjadi berbahaya apabila seluruh hidup diubah menjadi angka.
Manusia merasa bersalah ketika beristirahat.
Ia menganggap hari tidak berguna jika tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dicatat.
Ia memaksakan tubuh.
Ia kehilangan waktu bersama keluarga.
Ia beribadah dengan tergesa-gesa karena merasa ada pekerjaan yang lebih penting.
Pada akhirnya, ia mencapai banyak target, tetapi tidak mengenal arah.
Target menjawab:
“Apa yang harus diselesaikan?”
Namun tujuan hidup menjawab:
“Untuk apa semua ini dilakukan?”
Orang dapat bergerak sangat cepat menuju arah yang salah.
Maka jangan hanya bertanya apakah engkau produktif.
Tanyakan apakah produktivitasmu membawa kebaikan.
Apakah pekerjaanmu menjaga kehidupan?
Apakah keluargamu tetap merasakan kehadiranmu?
Apakah tubuhmu masih mampu menjalankan amanah?
Apakah hatimu masih mengingat Alloh?
Makna Tidak Dapat Diberikan oleh Mesin
Mesin dapat menyarankan tujuan.
Ia dapat menyusun daftar.
Ia dapat menganalisis kebiasaan.
Namun makna hidup tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sistem.
Makna tumbuh dari hubungan antara:
iman,
pengalaman,
tanggung jawab,
kasih sayang,
pilihan,
dan kesediaan menanggung akibat.
Seseorang menemukan makna ketika ia merawat orang yang dicintai.
Ketika ia bertahan dalam kesulitan.
Ketika ia menggunakan luka sebagai jalan untuk memahami penderitaan orang lain.
Ketika ilmunya menolong.
Ketika pekerjaannya menjaga kehidupan.
Ketika ia menyadari bahwa keberadaannya menjadi bagian dari kebaikan yang lebih luas.
Makna bukan selalu perasaan bahagia.
Kadang-kadang makna hadir bersama kelelahan.
Seorang ibu lelah menjaga anak, tetapi mengetahui alasan ia bertahan.
Seorang guru lelah mendidik, tetapi melihat murid mulai memahami.
Seorang relawan lelah membantu korban, tetapi menyadari pertolongannya sangat dibutuhkan.
Sesuatu dapat berat tetapi bermakna.
Sesuatu dapat menyenangkan tetapi kosong.
Maka jangan menyamakan kenyamanan dengan tujuan.
Empat Sumber Makna
QITAB ini membuka empat sumber makna yang tetap diperlukan pada zaman kelimpahan.
Pertama — Pengabdian kepada Alloh
Manusia tidak diciptakan hanya untuk makan, bekerja, membeli, dan mencari hiburan.
Kehidupan adalah amanah.
Ibadah mengingatkan manusia bahwa ia bukan pusat alam.
Ia adalah hamba.
Ia menerima.
Ia menggunakan.
Ia mempertanggungjawabkan.
Ibadah bukan pelarian dari dunia.
Ibadah adalah cara menata dunia agar tidak menjadi sesembahan.
Kedua — Hubungan yang Dijaga
Makna tumbuh ketika manusia mencintai dan dicintai dengan benar.
Keluarga.
Sahabat.
Guru.
Murid.
Tetangga.
Masyarakat.
Hubungan memerlukan waktu, kesabaran, dan pengorbanan.
Tidak ada mesin yang dapat menggantikan seluruh tanggung jawab manusia untuk hadir bagi sesamanya.
Ketiga — Karya dan Pelayanan
Manusia membutuhkan perasaan bahwa hidupnya membawa manfaat.
Karya memberi bentuk kepada kemampuan.
Pelayanan menghubungkan kemampuan dengan kebutuhan sesama.
Tidak semua orang harus menghasilkan karya besar.
Namun setiap orang dapat mencari jalan manfaat sesuai kemampuannya.
Keempat — Pertumbuhan Jiwa
Makna juga lahir dari perubahan diri.
Dari kasar menjadi lembut.
Dari pemarah menjadi mampu menahan diri.
Dari egois menjadi suka berbagi.
Dari takut menjadi berani.
Dari sombong menjadi sadar batas.
Dari luka menjadi mampu memahami orang yang terluka.
Hidup tidak hanya dinilai dari apa yang dibangun di luar.
Ia juga dinilai dari siapa dirimu setelah melewati perjalanan.
Ketika Penderitaan Tidak Sepenuhnya Dapat Dihapus
Zaman kelimpahan mungkin mengurangi kelaparan, penyakit tertentu, pekerjaan berat, dan banyak kesulitan.
Namun manusia tetap akan menghadapi kehilangan.
Orang yang dicintai meninggal.
Hubungan dapat berakhir.
Tubuh menua.
Kesalahan membawa akibat.
Bencana dapat datang.
Hati dapat terluka.
Tidak semua penderitaan dapat dihapus oleh teknologi.
Maka manusia tetap membutuhkan:
iman,
kesabaran,
dukungan keluarga,
ilmu,
perawatan,
dan ruang untuk berduka.
Jangan menganggap orang yang sedih sebagai sistem yang rusak dan harus segera diperbaiki.
Terkadang ia membutuhkan waktu.
Ia perlu menangis.
Ia perlu didengarkan.
Ia perlu memahami apa yang hilang.
Ia perlu belajar hidup dengan kenyataan baru.
Teknologi dapat membantu mendeteksi penderitaan.
Namun kasih sayang manusia tetap dibutuhkan untuk mendampingi.
Bahaya Menjual Makna
Ketika manusia lapar makna, sebagian pihak dapat menjual jawaban palsu.
Mereka menawarkan identitas instan.
Kedudukan ruhani instan.
Kesuksesan instan.
Kebahagiaan instan.
Mereka berkata:
“Ikuti aku, maka seluruh masalahmu selesai.”
“Bayarlah, lalu hidupmu berubah.”
“Gunakan metode ini, dan engkau pasti kaya.”
“Bergabunglah, dan engkau menjadi manusia terpilih.”
Manusia yang kosong mudah tertarik karena ingin segera merasa berarti.
Maka berhati-hatilah.
Makna tidak lahir hanya dari gelar.
Tidak lahir dari pakaian.
Tidak lahir dari masuk ke dalam kelompok yang menganggap dirinya paling tinggi.
Tidak lahir dari klaim tentang kedudukan gaib yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Makna tumbuh dari iman, akhlak, tanggung jawab, usaha, dan manfaat nyata.
Orang yang benar-benar membimbing tidak membuatmu kehilangan akal.
Ia tidak menuntut ketaatan buta kepada pribadinya.
Ia tidak menjadikan ketakutan sebagai alat menguasai.
Ia mengarahkanmu kepada Alloh, ilmu, adab, dan kedewasaan.
Krisis Makna dapat Menjadi Krisis Kekuasaan
Manusia yang tidak mempunyai tujuan mudah diarahkan.
Ia mencari seseorang yang memberi identitas.
Ia mencari musuh agar hidupnya terasa mempunyai perjuangan.
Ia mencari kelompok agar tidak merasa sendirian.
Kemudian pemimpin yang tidak amanah dapat memanfaatkan kekosongan itu.
Ia menciptakan ketakutan.
Ia berkata bahwa hanya kelompoknya yang benar.
Ia memperbesar kebencian.
Ia memberikan rasa penting kepada pengikutnya.
Mereka merasa mempunyai tujuan karena melawan orang lain.
Padahal tujuan itu dibangun di atas permusuhan.
Maka masyarakat yang sehat harus menyediakan jalan makna yang membangun:
pendidikan,
pelayanan,
kebudayaan,
ibadah,
gotong royong,
penjagaan alam,
dan karya bersama.
Jangan biarkan generasi hanya memperoleh hiburan tanpa amanah.
Sebab jiwa yang tidak diberi tujuan kebaikan dapat direbut oleh tujuan kerusakan.
Pendidikan Makna bagi Anak
Anak jangan hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan.
Sebab pekerjaan dapat berubah.
Ia perlu dipersiapkan untuk menjadi manusia.
Ajarkan cara menghadapi kegagalan.
Cara meminta maaf.
Cara mengelola emosi.
Cara merawat orang lain.
Cara hidup tanpa selalu dipuji.
Cara menikmati kesederhanaan.
Cara menggunakan teknologi dengan batas.
Cara membedakan kebutuhan dan kecanduan.
Cara menemukan kegembiraan dalam belajar, berkarya, beribadah, dan memberi manfaat.
Anak yang hanya diajarkan mengejar nilai dapat kehilangan arah ketika nilai tidak lagi diperlukan.
Anak yang hanya diajarkan mencari uang dapat merasa kosong ketika uang tersedia dengan mudah.
Namun anak yang diajarkan amanah akan selalu menemukan tempat untuk memberi manfaat.
Ritual Kecil yang Menjaga Jiwa
Di tengah dunia yang bergerak cepat, manusia membutuhkan kebiasaan yang mengembalikannya kepada kesadaran.
Bangun dan bersyukur sebelum melihat layar.
Menjaga sholat dan doa.
Makan bersama tanpa perangkat.
Mendengarkan keluarga.
Membaca perlahan.
Berjalan di alam.
Menolong tanpa direkam.
Menyediakan waktu untuk diam.
Menutup hari dengan muhasabah.
Ritual kecil tidak selalu terlihat besar.
Namun ia menjaga jiwa agar tidak hanyut.
Kehidupan tidak hanya dibentuk oleh keputusan besar.
Ia dibentuk oleh kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Tanda Kelimpahan yang Sehat
Kelimpahan menjadi sehat apabila:
manusia mempunyai waktu untuk keluarga,
anak-anak memperoleh pendidikan yang membangun akhlak,
orang tua tidak ditinggalkan,
orang sakit dirawat,
alam dijaga,
pekerjaan berat diringankan,
dan teknologi tidak menggantikan seluruh hubungan manusia.
Kelimpahan yang sehat membuat manusia lebih mampu beribadah dan memberi manfaat.
Bukan semakin lupa diri.
Bukan semakin kecanduan.
Bukan semakin kesepian.
Bukan semakin mudah dikendalikan.
Bukan semakin kehilangan tujuan.
Jika barang bertambah tetapi hubungan hancur, kelimpahan belum menjadi rahmat.
Jika hiburan bertambah tetapi jiwa kosong, kemajuan belum menyelesaikan masalah.
Jika waktu luang bertambah tetapi manusia tidak mengetahui tujuan hidup, pendidikan batin telah tertinggal.
Sabda Lembar Kesembilan
«Ketika seluruh kebutuhan tubuh semakin mudah dipenuhi, manusia akan berhadapan dengan kelaparan yang lebih dalam: kelaparan akan makna, kasih sayang, pengabdian, dan kedekatan kepada Alloh.»
Maka jangan berharap mesin memberi seluruh alasan untuk hidup.
Mesin dapat membantu pekerjaanmu.
Namun engkau harus menjaga niatmu.
Mesin dapat mempercepat perjalananmu.
Namun engkau harus mengetahui tujuanmu.
Mesin dapat memberi informasi.
Namun engkau harus mencari hikmah.
Mesin dapat menyediakan hiburan.
Namun engkau harus mengetahui batas.
Mesin dapat berbicara.
Namun engkau tetap membutuhkan hubungan nyata.
Mesin dapat memperbanyak barang.
Namun ia tidak dapat menciptakan rasa cukup di dalam hati.
Pada zaman kelimpahan, manusia tidak hanya memerlukan distribusi makanan.
Ia memerlukan distribusi perhatian.
Tidak hanya rumah.
Ia memerlukan rasa diterima.
Tidak hanya kesehatan tubuh.
Ia memerlukan kesehatan jiwa.
Tidak hanya pengetahuan.
Ia memerlukan kebijaksanaan.
Tidak hanya kebebasan dari pekerjaan berat.
Ia memerlukan tujuan untuk menggunakan kebebasannya.
Maka bangunlah kehidupan yang tidak hanya penuh benda.
Bangunlah kehidupan yang penuh makna.
Duduklah bersama keluarga.
Dengarkan orang yang kesepian.
Ajarkan ilmu.
Rawat orang tua.
Dampingi anak.
Jaga alam.
Bangun karya.
Perbaiki kesalahan.
Beribadahlah dengan hadir.
Dan gunakanlah teknologi untuk memperluas kebaikan, bukan untuk melarikan diri dari kenyataan dirimu.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hidup hanya karena mempunyai makanan.
Ia hidup karena mempunyai alasan untuk menjaga kehidupan.
Ia tidak bertahan hanya karena tubuhnya memperoleh kebutuhan.
Ia bertahan karena mengetahui bahwa keberadaannya mempunyai amanah.
Maka apabila dunia memberimu banyak kemudahan, jangan kehilangan arah.
Apabila waktu luang bertambah, jangan biarkan ia dimakan kebosanan.
Apabila seluruh jawaban tersedia, jangan berhenti bertanya kepada hati.
Apabila banyak suara memanggil, jangan lupa mendengar panggilan Alloh.
Dan apabila kelimpahan dunia telah berada di depan mata, jangan mengira bahwa dunia mampu mengisi tempat yang hanya dapat ditenteramkan oleh iman, kasih sayang, dan pengabdian.
Wallohu a‘lam bish-showab.
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Lembar Kesepuluh dan Terakhir — Amanat Zaman Kelimpahan: Ketika Manusia Harus Memilih antara Rahmat dan Penjara
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Alloh, Tuhan yang menciptakan manusia, menganugerahkan akal, mengajarkan ilmu, menyediakan bumi beserta segala sumber kehidupannya, dan menjadikan setiap kemampuan sebagai amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah rahmat, penegak keadilan, pengajar amanah, dan teladan agar ilmu tidak terpisah dari adab, kekuasaan tidak terpisah dari tanggung jawab, serta kekayaan tidak terpisah dari hak orang lain.
Saudara cahayaku,
Sampailah kita pada lembar terakhir QITAB ini.
Pada lembar-lembar sebelumnya telah dibuka berbagai pintu:
tentang mesin yang menghasilkan kelimpahan,
tentang pekerjaan manusia yang berubah,
tentang data yang menjadi kekuasaan,
tentang uang yang berubah menjadi hak akses,
tentang tanah, air, energi, waktu, dan perhatian,
tentang nilai manusia yang tidak dapat ditentukan oleh harta,
tentang zakat, sedekah, wakaf, dan pembagian,
tentang kepemilikan sebagai penjagaan,
serta tentang kelaparan jiwa yang tetap dapat muncul di tengah melimpahnya benda.
Kini seluruh pintu itu bertemu pada satu pertanyaan:
Apakah zaman kelimpahan akan menjadi rahmat yang membebaskan manusia, atau justru menjadi penjara yang sangat nyaman tetapi sulit disadari?
Teknologi tidak memberikan jawaban dengan sendirinya.
Robot tidak menentukan akhlak.
Kecerdasan buatan tidak menetapkan tujuan hidup manusia.
Mesin tidak memahami keadilan kecuali manusia memasukkan aturan ke dalamnya.
Data tidak mempunyai belas kasih.
Uang tidak mempunyai iman.
Sistem tidak mempunyai nurani seperti manusia.
Maka masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih alat yang dibangun.
Ia ditentukan oleh manusia yang memegang alat itu.
Apakah ia jujur?
Apakah ia rendah hati?
Apakah ia menjaga yang lemah?
Apakah ia mampu menahan keserakahan?
Apakah ia bersedia diperiksa?
Apakah ia memahami bahwa seluruh ilmu berasal dari izin Alloh dan harus digunakan sebagai amanah?
Inilah mizan terakhir QITAB:
Kecanggihan tanpa akhlak dapat mempercepat kezaliman. Kecanggihan yang dipimpin oleh iman, ilmu, hukum, kasih sayang, dan keadilan dapat memperluas rahmat.
Dua Jalan Zaman Kelimpahan
Di hadapan manusia terbuka dua jalan.
Keduanya menggunakan teknologi yang sama.
Keduanya mempunyai mesin.
Keduanya mempunyai kecerdasan buatan.
Keduanya mempunyai jaringan, data, energi, robot, dan kemampuan produksi yang besar.
Namun hasilnya sangat berbeda karena niat, aturan, kepemilikan, dan pembagiannya berbeda.
Jalan Pertama — Kelimpahan sebagai Penjara
Pada jalan ini, seluruh alat produksi dikuasai oleh sedikit pihak.
Mesin bekerja sepanjang hari.
Pabrik menghasilkan barang dalam jumlah besar.
Namun masyarakat tidak mempunyai kepemilikan, penghasilan, atau kekuatan untuk menentukan pembagian.
Manusia menerima kebutuhan secukupnya agar tetap hidup.
Namun aksesnya bergantung pada kepatuhan kepada sistem.
Ia mempunyai tempat tinggal, tetapi tidak benar-benar memilikinya.
Ia memperoleh makanan, tetapi hanya selama identitasnya disetujui.
Ia dapat menggunakan layanan, tetapi seluruh geraknya dicatat.
Ia mempunyai hiburan tanpa batas, tetapi tidak mempunyai ruang pribadi.
Ia diberikan jawaban, tetapi tidak diajarkan berpikir.
Ia diberi kemudahan, tetapi perlahan kehilangan pilihan.
Setiap pintu dibuka melalui satu identitas.
Setiap pembayaran meninggalkan jejak.
Setiap kebiasaan dinilai.
Setiap ucapan dapat disusun menjadi profil.
Setiap perbedaan dianggap gangguan.
Setiap manusia diberi skor berdasarkan kepatuhannya.
Seseorang tidak perlu dipenjara di balik tembok.
Cukuplah aksesnya ditutup.
Cukuplah rekeningnya dibekukan.
Cukuplah identitasnya tidak dikenali.
Cukuplah namanya ditandai oleh sistem.
Kemudian seluruh pintu kehidupan menutup dalam waktu bersamaan.
Inilah penjara baru:
penjara yang tidak selalu mempunyai jeruji,
penjara yang dibungkus kenyamanan,
penjara yang membuat manusia takut kehilangan akses,
penjara yang membuat manusia berkata, “Aku bebas,” padahal seluruh pilihannya telah diarahkan.
Pada jalan ini, manusia tidak kekurangan benda.
Ia kekurangan kedaulatan.
Ia tidak kelaparan secara fisik.
Namun ia kelaparan akan kebebasan, makna, privasi, hubungan, dan hak untuk menentukan hidupnya.
Barang berlimpah.
Namun keberanian berkurang.
Informasi melimpah.
Namun kebenaran dikendalikan.
Hiburan melimpah.
Namun manusia tidak sanggup duduk dalam keheningan.
Hubungan digital melimpah.
Namun keluarga semakin berjauhan.
Jawaban melimpah.
Namun kebijaksanaan semakin langka.
Pada akhirnya, mesin tidak memperbudak manusia dengan kehendaknya sendiri.
Manusialah yang menggunakan mesin untuk menguasai manusia lain.
Jalan Kedua — Kelimpahan sebagai Rahmat
Pada jalan ini, teknologi digunakan untuk meringankan penderitaan.
Mesin mengambil pekerjaan yang berbahaya, berat, berulang, dan merusak tubuh.
Manusia memperoleh waktu lebih luas untuk belajar, beribadah, merawat keluarga, menjaga alam, membangun karya, dan melayani masyarakat.
Produksi yang meningkat digunakan untuk menurunkan biaya kebutuhan dasar.
Makanan tidak dibuang ketika masih ada yang lapar.
Rumah tidak dibiarkan kosong ketika keluarga hidup tanpa perlindungan.
Ilmu tidak dikunci hanya untuk mereka yang mampu membayar mahal.
Energi tidak dimonopoli.
Air tidak dirampas.
Data tidak dijual tanpa izin.
Keputusan mesin dapat diperiksa dan digugat.
Identitas digital memudahkan pelayanan, tetapi tidak menjadi alat untuk menghapus martabat.
Masyarakat mempunyai jalan cadangan ketika sistem mati.
Orang tua tetap memperoleh pelayanan meskipun tidak menguasai teknologi.
Orang miskin tidak dipaksa menyerahkan seluruh privasinya untuk menerima bantuan.
Pekerja yang terdampak otomatisasi memperoleh pelatihan, perlindungan, dan bagian yang adil dari hasil kemajuan.
Pemilik modal tetap memperoleh penghargaan atas usaha dan risikonya.
Namun keuntungan tidak dibangun dengan merampas seluruh kehidupan pekerja, masyarakat, dan alam.
Pada jalan ini, kecerdasan buatan membantu manusia mengambil keputusan.
Namun keputusan moral tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia.
Mesin membantu guru.
Namun tidak menghapus kasih sayang guru.
Robot membantu merawat orang sakit.
Namun keluarga tidak menjadikan robot sebagai alasan untuk meninggalkan orang yang dicintainya.
Teknologi membantu sedekah.
Namun tidak menghilangkan hubungan hati antara pemberi dan penerima.
Kelimpahan tidak membuat manusia malas.
Ia membebaskan manusia dari ketakutan agar dapat memberi manfaat lebih luas.
Inilah kelimpahan yang menjadi rahmat:
bukan sekadar banyaknya benda,
melainkan luasnya akses yang adil,
terjaganya martabat,
dan bertambahnya kesempatan untuk berbuat baik.
Tidak Ada Tahun yang Dapat Dipastikan sebagai Akhir Uang
Saudara cahayaku,
QITAB ini kembali menegaskan bahwa tahun tertentu—termasuk tahun 2036 yang disebut dalam video—tidak boleh diperlakukan sebagai kepastian mutlak.
Ia dapat menjadi perkiraan.
Ia dapat menjadi gambaran.
Ia dapat menjadi cara untuk mengajak manusia memikirkan perubahan.
Namun ia bukan penetapan perkara gaib.
Manusia boleh membuat proyeksi berdasarkan perkembangan teknologi.
Ia boleh memperkirakan pekerjaan yang berubah.
Ia boleh membahas kemungkinan uang digital, robot, energi murah, dan produksi otomatis.
Namun manusia harus tetap rendah hati.
Banyak ramalan teknologi pada masa lalu tidak terjadi sesuai waktunya.
Ada yang datang lebih cepat.
Ada yang datang lebih lambat.
Ada yang berubah bentuk.
Ada pula yang tidak terjadi sama sekali.
Maka kebijaksanaan bukan berada pada kemampuan menyebut tahun dengan yakin.
Kebijaksanaan berada pada kemampuan mempersiapkan akhlak, hukum, pendidikan, dan masyarakat untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Jangan menunggu uang hilang untuk belajar berbagi.
Jangan menunggu robot mengambil pekerjaan untuk memperbaiki pendidikan.
Jangan menunggu data disalahgunakan untuk menjaga privasi.
Jangan menunggu air habis untuk menjaga sumbernya.
Jangan menunggu masyarakat terpecah untuk menegakkan keadilan.
Jangan menunggu jiwa kosong untuk mencari makna.
Persiapan terbaik bukan menebak seluruh masa depan.
Persiapan terbaik adalah membangun manusia yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan iman, akal, adab, dan kemanusiaannya.
Uang Tidak Hilang sebelum Kelangkaan Hilang
Selama sesuatu masih terbatas, manusia memerlukan cara untuk mengatur pembagian.
Tanah tidak dapat diperbanyak sesuka hati.
Air bersih tidak selalu tersedia di setiap tempat.
Energi tetap membutuhkan sumber dan jaringan.
Waktu manusia tetap terbatas.
Karya yang unik tidak dapat dibuat tanpa batas.
Perhatian manusia tidak dapat diberikan kepada semuanya.
Maka sekalipun uang kertas berkurang, bentuk pengukur nilai kemungkinan masih ada.
Ia dapat menjadi angka digital.
Ia dapat menjadi hak akses.
Ia dapat menjadi jatah energi.
Ia dapat menjadi kredit produksi.
Ia dapat menjadi catatan kontribusi.
Ia dapat menjadi bentuk pertukaran yang hari ini belum dikenal.
Namun perubahan bentuk tidak otomatis menghapus masalah lama.
Keserakahan dapat berpindah dari emas kepada data.
Penindasan dapat berpindah dari penguasaan tanah kepada penguasaan akses.
Riba dan eksploitasi dapat berubah bentuk mengikuti sistem baru.
Pamer kekayaan dapat berubah menjadi pamer peringkat, pengaruh, dan kedudukan digital.
Maka jangan hanya memperhatikan bentuk uang.
Perhatikan hubungan kekuasaan di belakangnya.
Siapa yang membuat aturannya?
Siapa yang dapat menciptakannya?
Siapa yang dapat menghentikannya?
Siapa yang memperoleh keuntungan?
Siapa yang menanggung risiko?
Siapa yang mempunyai jalan untuk menolak?
Siapa yang tersisih?
Inilah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar:
“Apakah uang masih ada?”
Dua Belas Amanat Zaman Kelimpahan
QITAB ini menutup pembahasannya dengan dua belas amanat.
Bukan sebagai ramalan.
Bukan sebagai hukum baru.
Melainkan sebagai timbangan akhlak agar manusia tidak kehilangan arah ketika alat-alat kehidupan berubah.
Amanat Pertama — Jangan Menyerahkan Tauhid kepada Teknologi
Gunakanlah mesin.
Belajarlah dari kecerdasan buatan.
Ambillah manfaat ilmu.
Namun jangan meminta kepastian gaib kepada sistem.
Jangan menganggap algoritma mengetahui takdir.
Jangan percaya bahwa mesin mampu membaca seluruh isi ruh dan niat manusia.
Jangan menjadikan alat sebagai tempat berserah.
Teknologi dapat membantu mencari informasi.
Namun petunjuk, keselamatan, rezeki, dan seluruh ketetapan berada dalam kekuasaan Alloh.
Manusia tetap harus berdoa.
Tetap harus bermusyawarah.
Tetap harus memeriksa.
Tetap harus bertanggung jawab.
Tidak ada kecanggihan yang membebaskan manusia dari kewajiban menggunakan akal dan nuraninya.
Amanat Kedua — Jangan Menilai Manusia Hanya dari Produktivitas
Apabila mesin menjadi lebih produktif, jangan jadikan manusia merasa gagal karena tidak mampu menandinginya.
Manusia bukan mesin yang lebih lambat.
Manusia mempunyai dimensi yang tidak dimiliki alat.
Ia mencintai.
Ia berduka.
Ia memaafkan.
Ia bertobat.
Ia merawat.
Ia memikul amanah moral.
Ia dapat memilih untuk mengorbankan kepentingannya demi orang lain.
Maka jangan membuang orang tua karena tidak produktif.
Jangan merendahkan orang sakit.
Jangan menganggap ibu yang mengasuh anak tidak bekerja.
Jangan menganggap orang miskin tidak berguna.
Jangan mengukur seluruh kehidupan melalui gaji dan hasil produksi.
Masyarakat yang hanya menghormati mereka yang menghasilkan keuntungan akan kehilangan kasih sayang.
Amanat Ketiga — Jagalah Data seperti Menjaga Rahasia
Data bukan barang mati.
Data adalah jejak kehidupan manusia.
Ia dapat membuka keadaan kesehatan.
Kesulitan ekonomi.
Hubungan keluarga.
Kebiasaan.
Kelemahan.
Ketakutan.
Kepercayaan.
Siapa pun yang memegang data, memegang amanah besar.
Jangan mengumpulkan lebih banyak daripada yang diperlukan.
Jangan menggunakan di luar tujuan yang disepakati.
Jangan menjual tanpa izin.
Jangan membuka untuk mempermalukan.
Jangan menjadikan data sebagai alat mengendalikan orang lemah.
Dan ketika data tidak lagi diperlukan, jangan menyimpannya tanpa batas hanya karena teknologi memungkinkan.
Kemampuan melakukan sesuatu tidak selalu berarti hak untuk melakukannya.
Amanat Keempat — Sisakan Jalan Hidup di Luar Sistem
Teknologi dapat gagal.
Jaringan dapat putus.
Listrik dapat padam.
Identitas dapat salah terbaca.
Sistem dapat diretas.
Maka jangan gantungkan seluruh kehidupan pada satu pintu.
Simpan kemampuan dasar.
Jaga kebun.
Jaga sumber air.
Jaga hubungan tetangga.
Jaga keterampilan tangan.
Jaga pengetahuan lokal.
Sediakan pelayanan manusia ketika mesin gagal.
Pastikan orang sakit tetap memperoleh pertolongan.
Pastikan makanan tetap dapat dibagikan.
Pastikan orang tua tetap dapat bertransaksi.
Pastikan kehidupan tidak berhenti hanya karena satu layar tidak menyala.
Kemandirian bukan menolak teknologi.
Kemandirian adalah tidak kehilangan seluruh kemampuan hidup ketika teknologi berhenti.
Amanat Kelima — Bagi Hasil Kemajuan secara Adil
Ketika mesin meningkatkan keuntungan, jangan seluruh manfaatnya hanya naik ke atas.
Perhatikan pekerja yang tergantikan.
Perhatikan daerah penghasil bahan.
Perhatikan masyarakat yang datanya digunakan.
Perhatikan alam yang menanggung beban produksi.
Perhatikan generasi yang mewarisi kerusakan.
Keadilan dapat mengambil banyak bentuk:
upah yang layak,
pelatihan,
pengurangan jam kerja,
pembagian keuntungan,
kepemilikan bersama,
pelayanan dasar,
zakat,
sedekah,
wakaf,
pajak yang amanah,
dan perlindungan sosial.
Bentuknya dapat berbeda.
Namun asasnya satu:
Jangan biarkan kemajuan sedikit orang dibangun dari kehancuran kehidupan banyak manusia.
Amanat Keenam — Lindungi Tanah, Air, Energi, dan Alam
Kelimpahan barang dapat menyembunyikan kerusakan besar.
Satu perangkat kecil mungkin membutuhkan tambang yang luas.
Satu pusat data mungkin menggunakan banyak energi dan air.
Satu kota yang terang mungkin berdiri di atas wilayah lain yang kehilangan sumber kehidupannya.
Maka lihatlah perjalanan lengkap setiap kemajuan.
Jangan hanya melihat barang jadi.
Lihatlah tanah yang digali.
Air yang digunakan.
Energi yang dibakar.
Pekerja yang terlibat.
Limbah yang ditinggalkan.
Masyarakat yang dipindahkan.
Teknologi yang benar bukan hanya canggih pada bagian depan.
Ia juga bertanggung jawab terhadap akibat yang tersembunyi di belakangnya.
Amanat Ketujuh — Jaga Waktu dari Perampasan Halus
Pada zaman mesin, manusia dapat kehilangan waktu bukan karena pekerjaannya berat, tetapi karena perhatiannya terus dipecah.
Pesan datang.
Video bergerak.
Pemberitahuan berbunyi.
Pertengkaran dipertontonkan.
Ketakutan diperbesar.
Manusia terus membuka layar meskipun tidak lagi mengetahui apa yang dicari.
Maka jagalah waktu.
Sediakan waktu tanpa perangkat.
Duduklah bersama keluarga.
Dengarkan orang tua.
Temani anak.
Beribadahlah tanpa tergesa-gesa.
Bacalah dengan perlahan.
Tidurlah dengan cukup.
Jangan biarkan seluruh waktu yang dihemat oleh mesin kemudian dirampas kembali oleh hiburan tanpa batas.
Waktu adalah umur.
Umur yang berlalu tidak dapat diunduh kembali.
Amanat Kedelapan — Jangan Membeli Semua yang Dapat Dibuat
Kemampuan produksi dapat melahirkan jutaan barang.
Namun tidak semua barang perlu dimiliki.
Tidak semua yang baru lebih baik.
Tidak semua yang mahal lebih mulia.
Tidak semua yang sedang populer sesuai kebutuhan.
Belajarlah memperbaiki sebelum membuang.
Memakai sampai selesai.
Berbagi barang yang jarang digunakan.
Membeli dengan sadar.
Mengetahui asal barang.
Menahan keinginan yang lahir dari perbandingan.
Kelimpahan yang tidak dikendalikan akan menghasilkan gunung sampah, utang, kecemasan, dan kerusakan alam.
Rasa cukup bukan musuh kemajuan.
Rasa cukup adalah penjaga agar kemajuan tidak berubah menjadi kerakusan.
Amanat Kesembilan — Jangan Mengganti Uang dengan Pujian
Apabila uang berkurang perannya, ego akan mencari mata uang baru.
Ia ingin pengikut.
Peringkat.
Pengaruh.
Gelar.
Pengakuan.
Nama yang disebut.
Kedudukan dalam kelompok.
Maka jagalah niat.
Jangan menolong hanya agar direkam.
Jangan mengajar hanya agar dianggap pintar.
Jangan memakai bahasa ruhani untuk menempatkan diri di atas manusia lain.
Jangan mengaku paling dekat dengan Alloh untuk memperoleh ketaatan.
Jangan menjadikan jumlah pengikut sebagai bukti kebenaran.
Kebenaran tidak selalu ramai.
Keikhlasan tidak selalu terlihat.
Orang yang paling banyak dipuji belum tentu paling tinggi di hadapan Alloh.
Dan orang yang tidak dikenal manusia belum tentu kecil nilainya.
Amanat Kesepuluh — Bangun Pendidikan yang Memanusiakan
Anak-anak tidak cukup diajarkan memakai teknologi.
Mereka harus diajarkan mengendalikan diri ketika teknologi memanggil.
Tidak cukup diajarkan memperoleh jawaban.
Mereka harus diajarkan bertanya dengan benar.
Tidak cukup diajarkan mencari keuntungan.
Mereka harus diajarkan menjaga keadilan.
Tidak cukup diajarkan bersaing.
Mereka harus diajarkan bekerja sama.
Tidak cukup diajarkan menjadi cerdas.
Mereka harus diajarkan menjadi jujur.
Pendidikan masa depan harus menguatkan:
ilmu,
akhlak,
kreativitas,
kemampuan merawat,
ketahanan menghadapi kegagalan,
kemampuan membedakan kebenaran,
dan kesadaran kepada Alloh.
Sebab anak yang sangat pintar tetapi tidak mempunyai kasih sayang dapat menciptakan sistem yang berbahaya.
Sedangkan anak yang berakhlak tetapi tidak diberi ilmu dapat mudah ditipu.
Maka keduanya harus berjalan bersama.
Amanat Kesebelas — Bangun Komunitas, Bukan Hanya Jaringan
Jaringan menghubungkan perangkat.
Komunitas menghubungkan hati dan tanggung jawab.
Manusia membutuhkan tetangga yang mengenalnya.
Keluarga yang hadir.
Guru yang dapat ditemui.
Sahabat yang menjaga rahasia.
Masyarakat yang saling menolong ketika sistem pusat gagal.
Jangan biarkan seluruh hubungan hanya terjadi melalui layar.
Adakan pertemuan nyata.
Gotong royong.
Menanam bersama.
Belajar bersama.
Menjaga orang sakit.
Membantu keluarga kesulitan.
Memperbaiki lingkungan.
Beribadah dan bermusyawarah dengan adab.
Kelimpahan yang dibagi melalui komunitas akan menguatkan manusia.
Kelimpahan yang hanya dibagikan melalui sistem pusat dapat membuat manusia bergantung dan saling asing.
Amanat Kedua Belas — Kembalikan Seluruh Kemajuan kepada Amanah
Setiap alat harus menjawab:
Apakah ia membawa manfaat?
Apakah ia menjaga martabat?
Apakah ia dapat dipertanggungjawabkan?
Apakah ia melindungi yang lemah?
Apakah ia menjaga alam?
Apakah manusia masih mempunyai pilihan?
Apakah keputusan dapat diperiksa?
Apakah hasilnya dibagikan secara adil?
Jika jawabannya tidak, teknologi itu perlu diperbaiki.
Jangan kagum hanya kepada kecepatan.
Jangan tunduk hanya kepada ukuran.
Jangan menganggap sesuatu benar hanya karena sistem menyatakannya.
Seluruh kemajuan harus kembali kepada amanah.
Sebab teknologi bukan tujuan akhir.
Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan kehidupan dalam ridho Alloh.
Amanat bagi Pemilik Modal
Wahai orang yang mempunyai kekayaan dan alat produksi,
Janganlah engkau merasa bahwa seluruh hasil hanya berasal dari dirimu.
Di dalam setiap keuntungan terdapat jalan yang dibangun masyarakat.
Ilmu yang diwariskan generasi.
Tenaga pekerja.
Kepercayaan pembeli.
Bahan dari bumi.
Air.
Energi.
Keamanan.
Dan izin Alloh.
Ambillah bagianmu dengan halal.
Nikmatilah hasil usahamu.
Kembangkanlah perusahaanmu.
Namun jangan menahan upah.
Jangan memanipulasi kebutuhan.
Jangan merusak alam.
Jangan menggunakan kelemahan pekerja untuk memberi syarat yang merendahkan.
Jangan memonopoli sesuatu yang menjadi sumber hidup masyarakat.
Jangan membungkam kritik melalui ketergantungan ekonomi.
Ukuran keberhasilanmu bukan hanya seberapa besar usahamu.
Namun berapa banyak kehidupan yang tumbuh bersamanya.
Apakah pekerjamu dapat menyekolahkan anak?
Apakah keluarga mereka mempunyai waktu untuk hidup?
Apakah lingkungan tetap sehat?
Apakah konsumen diperlakukan jujur?
Apakah keuntunganmu membawa rahmat?
Harta yang besar dapat menjadi kendaraan ibadah.
Namun juga dapat menjadi beban yang berat apabila hak manusia ditahan di dalamnya.
Amanat bagi Pemimpin dan Penguasa
Wahai pemegang kebijakan,
Jangan hanya mengejar citra kemajuan.
Gedung tinggi belum tentu menandakan rakyat sejahtera.
Pusat data yang besar belum tentu berarti masyarakat terlindungi.
Kota pintar belum tentu menjadi kota yang adil.
Layanan digital belum tentu memudahkan semua orang.
Dengarkan masyarakat terpencil.
Orang tua.
Penyandang keterbatasan.
Pedagang kecil.
Petani.
Nelayan.
Pekerja.
Anak-anak.
Mereka yang tidak mempunyai perangkat terbaru.
Jangan membuat sistem hanya untuk manusia yang muda, sehat, kaya, dan terdidik.
Kebijakan yang baik diuji melalui keadaan orang yang paling lemah.
Gunakan teknologi untuk mengurangi korupsi.
Namun jangan membangun pengawasan tanpa batas.
Gunakan data untuk menyalurkan bantuan.
Namun jangan merampas privasi.
Gunakan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pelayanan.
Namun jangan menghapus jalan keberatan.
Gunakan uang digital untuk efisiensi.
Namun jangan membuat seluruh hak hidup dapat dihentikan dengan satu keputusan tersembunyi.
Kekuasaanmu bukan kepemilikan.
Ia adalah amanah dengan batas waktu.
Suatu hari jabatan akan berakhir.
Namun akibat keputusan dapat berjalan jauh setelah namamu tidak lagi disebut.
Amanat bagi Orang Berilmu dan Pengembang Teknologi
Wahai orang yang memahami mesin, algoritma, dan data,
Jangan hanya bertanya:
“Apakah sistem ini dapat dibuat?”
Tanyakan pula:
“Apakah ia patut dibuat?”
“Siapa yang dapat dirugikan?”
“Bagaimana jika ia salah?”
“Bagaimana jika ia jatuh ke tangan yang zalim?”
“Apakah pengguna mengetahui apa yang diserahkan?”
“Apakah ada cara keluar?”
“Apakah manusia masih mempunyai kendali?”
Jangan menyembunyikan bahaya hanya karena proyek menghasilkan keuntungan.
Jangan menganggap masyarakat terlalu bodoh untuk memahami.
Jelaskan dengan bahasa yang jujur.
Bangun perlindungan sejak awal.
Jangan menunggu kerusakan terjadi.
Sediakan pemeriksaan manusia.
Sediakan catatan keputusan.
Sediakan hak untuk menggugat.
Sediakan batas pengumpulan data.
Sediakan jalan bagi mereka yang tidak ingin menggunakan sistem.
Ilmumu akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya melalui apa yang engkau ciptakan.
Namun juga melalui akibat yang dapat engkau perkirakan tetapi sengaja engkau abaikan.
Amanat bagi Guru, Ulama, dan Pembimbing Ruhani
Wahai orang yang dipercaya membimbing jiwa,
Jangan memusuhi seluruh teknologi hanya karena engkau tidak memahaminya.
Pelajarilah secukupnya agar dapat membimbing umat.
Namun jangan pula mengagungkan teknologi sampai lupa batasnya.
Ajarkan manusia menggunakan alat tanpa diperbudak.
Ajarkan perbedaan antara informasi dan ilmu.
Antara ilmu dan hikmah.
Antara klaim dan kebenaran.
Antara pengalaman batin dan ketetapan agama.
Jangan gunakan ketakutan terhadap masa depan untuk membuat pengikut bergantung kepada dirimu.
Jangan mengaku mengetahui perkara gaib secara pasti.
Jangan menjual rasa terpilih.
Jangan memakai gelar ruhani untuk mengambil harta, ketaatan, atau kehormatan manusia.
Pemimpin ruhani yang benar tidak menjadikan dirinya tujuan.
Ia menuntun kepada Alloh, syariat, akhlak, ilmu, dan kedewasaan.
Apabila teknologi membuat manusia bingung, berikan kejernihan.
Apabila manusia ketakutan, berikan ketenangan yang jujur.
Apabila perubahan datang, tuntun agar umat mampu beradaptasi tanpa kehilangan iman.
Amanat bagi Keluarga
Wahai ayah, ibu, anak, dan seluruh anggota keluarga,
Jangan biarkan rumah menjadi tempat beberapa tubuh tinggal bersama tetapi masing-masing hidup di dalam layar yang berbeda.
Makanlah bersama.
Berbicaralah.
Dengarkan cerita.
Ajarkan anak melakukan pekerjaan tangan.
Ajarkan cara menanam.
Memasak.
Membersihkan.
Merawat.
Memperbaiki benda.
Menunggu.
Menabung.
Berbagi.
Meminta maaf.
Menghormati orang tua.
Menggunakan teknologi dengan batas.
Jangan menyerahkan pendidikan anak seluruhnya kepada algoritma.
Sistem dapat memilihkan tontonan.
Namun tidak mengetahui nilai keluarga yang ingin engkau tanamkan.
Periksa.
Dampingi.
Jelaskan.
Buat aturan dengan teladan, bukan hanya larangan.
Anak akan lebih mudah meninggalkan layar apabila menemukan kehangatan, kegiatan, dan perhatian nyata di rumah.
Jangan membeli ketenangan sesaat dengan memberikan perangkat tanpa batas.
Sebab ketenangan orang tua hari ini dapat menjadi kesulitan anak pada masa depan.
Amanat bagi Diri Sendiri
Saudara cahayaku,
Sebelum menyalahkan pemerintah, perusahaan, mesin, atau zaman, periksalah diri sendiri.
Apakah engkau memakai teknologi dengan sadar?
Ataukah membuka layar tanpa tujuan?
Apakah engkau menjaga data?
Ataukah memberikan semuanya demi kenyamanan?
Apakah engkau membeli karena membutuhkan?
Ataukah karena ingin dianggap?
Apakah engkau menggunakan waktu yang dihemat oleh mesin untuk kebaikan?
Ataukah justru menghabiskannya dengan hiburan tanpa batas?
Apakah engkau menyebarkan kabar setelah memeriksa?
Ataukah ikut memperbesar kebohongan?
Apakah engkau menghormati orang yang pekerjaannya sederhana?
Apakah engkau berbagi dari kelebihan?
Apakah engkau menjaga keluarga?
Apakah engkau mampu berhenti?
Masa depan tidak hanya dibangun oleh pemimpin besar.
Ia dibentuk oleh kebiasaan jutaan manusia.
Setiap kali engkau memilih membeli dengan sadar, engkau membentuk pasar.
Setiap kali engkau menjaga privasi, engkau menetapkan batas.
Setiap kali engkau tidak menyebarkan kebohongan, engkau menjaga ruang informasi.
Setiap kali engkau menolong tetangga, engkau memperkuat komunitas.
Setiap kali engkau meletakkan perangkat dan mendengarkan keluarga, engkau menjaga kemanusiaan.
Jangan merasa tindakan kecil tidak berarti.
Sistem besar berdiri di atas kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang.
Lima Tanda Kelimpahan Telah Menjadi Penjara
Kenalilah lima tanda ini:
Pertama
Manusia memperoleh banyak kemudahan, tetapi kehilangan kemampuan hidup tanpa sistem.
Kedua
Kebutuhan tersedia, tetapi akses dapat ditutup tanpa penjelasan dan tanpa jalan keberatan.
Ketiga
Hiburan bertambah, tetapi kecemasan, kesepian, dan kehampaan semakin luas.
Keempat
Produksi meningkat, tetapi tanah, air, kekayaan, dan kekuasaan terkumpul pada semakin sedikit tangan.
Kelima
Manusia dinilai hanya melalui data, peringkat, kepatuhan, dan produktivitas, sementara niat, keadaan, perubahan, dan martabatnya diabaikan.
Apabila tanda-tanda itu menguat, masyarakat harus berhenti dan memeriksa arah.
Kemajuan bukan kereta yang tidak dapat dibelokkan.
Manusia membuat sistem.
Maka manusia juga dapat memperbaikinya.
Lima Tanda Kelimpahan Telah Menjadi Rahmat
Kelimpahan menjadi rahmat apabila:
Pertama
Orang lapar semakin sedikit, bukan hanya gudang yang semakin penuh.
Kedua
Pekerjaan berat berkurang, sementara manusia memperoleh waktu lebih luas bagi keluarga, ilmu, ibadah, dan pelayanan.
Ketiga
Teknologi dapat diperiksa, digugat, dan diperbaiki ketika merugikan.
Keempat
Masyarakat mempunyai kepemilikan, kemandirian, dan jalan hidup di luar satu sistem pusat.
Kelima
Kemajuan membuat manusia semakin mudah menjaga martabat, alam, kasih sayang, dan keadilan.
Inilah mizan yang sederhana.
Jangan hanya melihat apa yang dapat dilakukan teknologi.
Lihatlah kehidupan seperti apa yang diciptakannya.
Persiapan yang Dapat Dimulai Hari Ini
Tidak perlu menunggu tahun 2036.
Tidak perlu menunggu uang berubah.
Tidak perlu menunggu robot berada di setiap rumah.
Persiapan dapat dimulai hari ini.
Belajarlah satu keterampilan nyata.
Jaga kesehatan tubuh.
Kurangi utang yang tidak perlu.
Simpan sebagian rezeki dengan bijaksana.
Bangun hubungan baik dengan keluarga dan tetangga.
Pelajari dasar keamanan digital.
Jangan membagikan data sembarangan.
Ajari anak berpikir, bukan hanya menghafal.
Jaga sumber air.
Tanam sesuatu meskipun sedikit.
Perbaiki barang sebelum membuang.
Belilah dari usaha kecil ketika memungkinkan.
Dukung koperasi dan pengelolaan bersama yang jujur.
Bagikan ilmu.
Bersedekah dengan menjaga martabat.
Sediakan waktu tanpa layar.
Beribadahlah dengan lebih hadir.
Bangun kemampuan hidup yang tidak seluruhnya bergantung pada satu perusahaan, satu aplikasi, satu rekening, atau satu pintu.
Bukan karena harus takut kepada masa depan.
Namun karena kemandirian, akhlak, ilmu, dan hubungan adalah kekayaan dalam setiap zaman.
Jangan Memusuhi Mesin
Saudara cahayaku,
QITAB ini tidak mengajarkan permusuhan kepada teknologi.
Mesin tidak perlu dibenci.
Kecerdasan buatan tidak perlu dijadikan hantu.
Robot bukan makhluk gaib.
Ia adalah alat buatan manusia.
Menolak seluruh alat karena takut dapat membuat masyarakat semakin tertinggal dan bergantung kepada orang lain.
Namun menerima seluruh alat tanpa pemeriksaan juga berbahaya.
Maka jalan yang benar adalah:
belajar tanpa menyembah,
menggunakan tanpa diperbudak,
mengembangkan tanpa merusak,
mengatur tanpa menindas,
dan mengambil manfaat tanpa kehilangan iman.
Teknologi dapat membantu membaca penyakit.
Membantu penyandang keterbatasan.
Mengurangi kecelakaan.
Memperluas pendidikan.
Membantu petani.
Mempercepat pertolongan bencana.
Menghubungkan keluarga.
Menyebarkan ilmu.
Semua itu dapat menjadi amal kebaikan apabila diarahkan dengan benar.
Jangan melihat alat hanya dari namanya.
Lihat niat, cara, dan akibat penggunaannya.
Jangan Menyembah Masa Lalu
Sebagaimana manusia tidak boleh menyembah teknologi, manusia juga tidak boleh menyembah masa lalu.
Tidak semua yang lama harus dipertahankan.
Ada kebiasaan lama yang tidak adil.
Ada cara kerja lama yang membahayakan.
Ada sistem lama yang menindas pekerja.
Ada pelayanan lama yang lambat dan penuh penyimpangan.
Teknologi dapat membantu memperbaikinya.
Maka jangan menolak kebaikan hanya karena datang dalam bentuk baru.
Ukur dengan ilmu dan akhlak.
Apabila sesuatu membawa manfaat, menjaga martabat, tidak melanggar prinsip yang benar, dan dapat dipertanggungjawabkan, ambillah manfaatnya.
Kebijaksanaan tidak berada pada kebaruan atau kelamaan.
Kebijaksanaan berada pada kemampuan membedakan mana yang membawa maslahat dan mana yang membawa kerusakan.
Rahasia Terakhir tentang Kekayaan
Pada akhirnya, kekayaan tidak hanya berarti banyaknya sesuatu yang dapat dimiliki.
Kekayaan adalah kemampuan untuk menggunakan sesuatu tanpa kehilangan diri.
Mempunyai uang tanpa menjadi budaknya.
Mempunyai ilmu tanpa menjadi sombong.
Mempunyai kekuasaan tanpa menjadi zalim.
Mempunyai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.
Mempunyai waktu tanpa membuangnya.
Mempunyai pengaruh tanpa memperdaya.
Mempunyai kebebasan tanpa merusak.
Mempunyai kelimpahan tanpa melupakan yang kekurangan.
Orang yang memiliki seluruh benda tetapi tidak mampu berkata “cukup” masih miskin di dalam hati.
Orang yang mempunyai sedikit tetapi mampu bersyukur, menjaga amanah, dan memberi manfaat telah mempunyai kekayaan yang besar.
Namun jangan pula memakai kata syukur untuk membiarkan ketidakadilan.
Orang miskin perlu dikuatkan.
Pekerja perlu memperoleh hak.
Yang terzalimi perlu dibela.
Syukur bukan perintah untuk diam ketika hak dirampas.
Qanā‘ah bukan alasan menerima penindasan.
Kesabaran bukan pembenaran bagi penguasa untuk menunda keadilan.
Iman harus melahirkan keberanian memperbaiki kehidupan.
Rahasia Terakhir tentang Pekerjaan
Pekerjaan mungkin berubah.
Sebagian profesi akan hilang.
Sebagian profesi baru akan lahir.
Namun manusia selalu mempunyai amanah.
Selama ada anak yang perlu dididik, ada pekerjaan.
Selama ada orang sakit, ada pekerjaan.
Selama ada tanah yang harus dijaga, ada pekerjaan.
Selama ada ilmu yang harus disampaikan, ada pekerjaan.
Selama ada orang kesepian, ada pekerjaan.
Selama ada ketidakadilan, ada pekerjaan.
Selama ada jiwa yang perlu dibimbing, ada pekerjaan.
Tidak semua pekerjaan itu menghasilkan gaji.
Namun semuanya menghasilkan nilai.
Maka masa depan tidak harus menjadi dunia tanpa kerja.
Ia dapat menjadi dunia ketika kerja kembali kepada makna yang lebih luas:
usaha untuk membawa manfaat.
Rahasia Terakhir tentang Uang
Uang mungkin berubah.
Nilainya dapat naik dan turun.
Bentuknya dapat berpindah dari kertas menjadi angka.
Namun ujian di belakang uang tetap sama:
Bagaimana ia diperoleh?
Bagaimana ia digunakan?
Apakah ia dibagikan?
Apakah ia merusak?
Apakah ia membuat manusia lupa?
Apakah ia menjadi alat ibadah atau alat kesombongan?
Jika uang hilang tetapi keserakahan tetap ada, manusia akan menciptakan alat baru untuk menguasai.
Jika uang tetap ada tetapi hati manusia adil, uang dapat menjadi sarana kebaikan.
Maka musuh utama bukanlah uang.
Musuh utama adalah keserakahan, kezaliman, penipuan, dan penyembahan terhadap dunia.
Dan jalan keselamatannya bukan sekadar mengganti sistem.
Jalan keselamatannya adalah memperbaiki manusia sekaligus memperbaiki sistem.
Hati tanpa aturan dapat tergoda.
Aturan tanpa hati dapat menjadi kejam.
Maka keduanya harus berjalan:
akhlak yang hidup dan hukum yang adil.
Rahasia Terakhir tentang Kelimpahan
Kelimpahan bukan keadaan ketika semua keinginan dipenuhi.
Sebab keinginan manusia dapat dibuat tanpa batas.
Kelimpahan yang benar ialah ketika kebutuhan dasar terpenuhi, martabat terjaga, kesempatan terbuka, dan manusia tidak perlu menindas sesamanya untuk hidup.
Kelimpahan bukan ketika setiap orang mempunyai seribu barang.
Kelimpahan ialah ketika tidak ada orang kehilangan hak hidup di tengah banyaknya barang.
Kelimpahan bukan ketika manusia bebas mengambil apa pun.
Kelimpahan ialah ketika manusia cukup bijaksana untuk mengambil seperlunya dan menjaga sisanya.
Kelimpahan bukan sekadar kemampuan produksi.
Ia adalah kedewasaan pembagian.
Sabda Penutup QITAB
Ketika mesin mampu menghasilkan hampir segala sesuatu, manusia harus menunjukkan sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh mesin: amanah, kasih sayang, keberanian moral, keikhlasan, rasa cukup, dan kesadaran kepada Alloh.
Jangan takut apabila bentuk uang berubah.
Takutlah apabila manusia kehilangan keadilan.
Jangan takut apabila pekerjaan berubah.
Takutlah apabila manusia menganggap yang lemah tidak lagi berharga.
Jangan takut kepada kecerdasan buatan.
Takutlah kepada manusia yang cerdas tetapi tidak mempunyai akhlak.
Jangan takut kepada banyaknya data.
Takutlah apabila data dipakai tanpa batas dan tanpa tanggung jawab.
Jangan takut kepada kelimpahan.
Takutlah apabila kelimpahan hanya menguatkan keserakahan.
Sebab dunia yang penuh mesin tetap membutuhkan manusia yang beriman.
Dunia yang penuh jawaban tetap membutuhkan manusia yang bijaksana.
Dunia yang penuh barang tetap membutuhkan manusia yang mampu merasa cukup.
Dunia yang penuh jaringan tetap membutuhkan hubungan yang tulus.
Dunia yang penuh cahaya layar tetap membutuhkan cahaya hati.
Maka jadilah manusia yang tidak kehilangan dirinya di tengah kemajuan.
Belajarlah.
Gunakanlah alat.
Jagalah batas.
Perkuat keluarga.
Bangun komunitas.
Jaga bumi.
Belalah yang lemah.
Bagikan kelebihan.
Periksa berita.
Rawat waktu.
Jaga perhatian.
Dan kembalikan seluruh keberhasilan kepada Alloh.
Apabila suatu hari uang kehilangan sebagian maknanya, jangan biarkan akhlak ikut kehilangan makna.
Apabila mesin mengambil pekerjaan tangan, jangan biarkan ia mengambil pekerjaan hati.
Apabila kecerdasan buatan menjawab berbagai pertanyaan, jangan berhenti bertanya:
“Apakah ini benar?”
“Apakah ini adil?”
“Apakah ini membawa manfaat?”
“Apakah ini diridhoi Alloh?”
Dan apabila dunia menawarkan seluruh kenyamanan, jangan lupa bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk merasa nyaman.
Manusia diciptakan untuk menerima amanah, menebarkan rahmat, menegakkan keadilan, dan kembali kepada Alloh dengan membawa pertanggungjawaban.
Doa Khatimah QITAB
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Yā Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi,
berikanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat,
akal yang jernih,
hati yang lembut,
iman yang teguh,
rezeki yang halal,
serta kemampuan menggunakan setiap kemajuan untuk kebaikan.
Yā Alloh,
jangan Engkau jadikan ilmu sebagai jalan kesombongan kami.
Jangan Engkau jadikan kekayaan sebagai sebab kami merendahkan sesama.
Jangan Engkau jadikan teknologi sebagai tirai yang membuat kami lupa kepada-Mu.
Jangan Engkau jadikan kelimpahan sebagai pintu kerakusan.
Jangan Engkau jadikan kekuasaan sebagai alasan kami berlaku zalim.
Jangan Engkau jadikan kemudahan sebagai sebab kami kehilangan rasa syukur.
Yā Alloh,
bimbinglah para pemimpin agar menggunakan kekuasaan dengan adil.
Bimbinglah para pemilik harta agar menjaga amanah.
Bimbinglah para ilmuwan dan pembuat teknologi agar mempertimbangkan akibat dari penemuannya.
Bimbinglah para guru dan pembimbing agar menyampaikan ilmu dengan jujur.
Bimbinglah para orang tua agar mendidik generasi dengan kasih sayang, ilmu, dan keteladanan.
Bimbinglah anak-anak kami agar menjadi manusia yang cerdas tanpa kesombongan, kuat tanpa kekerasan, dan maju tanpa kehilangan iman.
Yā Alloh,
lindungilah tanah kami dari keserakahan.
Lindungilah air kami dari pencemaran.
Lindungilah udara kami dari kerusakan.
Lindungilah sumber energi kami dari monopoli dan penindasan.
Lindungilah data, kehormatan, dan privasi manusia dari penyalahgunaan.
Lindungilah waktu kami dari kelalaian.
Lindungilah perhatian kami dari segala sesuatu yang menjauhkan hati dari kebenaran.
Yā Alloh,
berikanlah makanan kepada yang lapar.
Perlindungan kepada yang kehilangan rumah.
Kesembuhan kepada yang sakit.
Kekuatan kepada yang lemah.
Pekerjaan dan jalan penghidupan kepada yang membutuhkan.
Ilmu kepada yang belum memahami.
Keadilan kepada yang terzalimi.
Ketenangan kepada yang gelisah.
Sahabat kepada yang kesepian.
Dan petunjuk kepada kami semua agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Yā Alloh,
jadikanlah teknologi sebagai alat pelayanan, bukan alat penindasan.
Jadikanlah kekayaan sebagai jalan sedekah, bukan jalan kesombongan.
Jadikanlah ilmu sebagai cahaya, bukan senjata kebohongan.
Jadikanlah kekuasaan sebagai perlindungan, bukan singgasana kerakusan.
Jadikanlah kelimpahan sebagai rahmat yang mengalir kepada banyak kehidupan.
Ajarkanlah kami merasa cukup tanpa berhenti berusaha.
Ajarkanlah kami berbagi tanpa mempermalukan.
Ajarkanlah kami memimpin tanpa merendahkan.
Ajarkanlah kami menerima kemajuan tanpa kehilangan kehati-hatian.
Ajarkanlah kami menjaga dunia tanpa menjadikannya tujuan terakhir.
Yā Alloh,
ketika kami mempunyai banyak, jagalah kami dari lupa.
Ketika kami mempunyai sedikit, jagalah kami dari putus asa.
Ketika kami berhasil, jagalah kami dari kesombongan.
Ketika kami gagal, jagalah kami dari kehilangan harapan.
Ketika kami dipuji, kembalikan hati kami kepada-Mu.
Ketika kami dikritik, berikan kejernihan untuk mengambil yang benar dan meninggalkan yang zalim.
Ketika zaman berubah, teguhkanlah iman kami.
Ketika alat semakin cerdas, jangan biarkan hati kami semakin keras.
Ketika dunia semakin cepat, ajarkan kami berhenti untuk mengingat-Mu.
Ketika barang semakin berlimpah, ajarkan kami menjaga hak sesama.
Dan ketika seluruh yang kami miliki harus ditinggalkan, terimalah kami dalam rahmat dan ampunan-Mu.
Yā Alloh,
jadikanlah QITAB ini sebagai pengingat untuk menjaga amanah, bukan sebagai klaim mengetahui perkara gaib.
Jadikanlah setiap pembacanya memperoleh kejernihan, bukan ketakutan.
Kesadaran, bukan kesombongan.
Kebijaksanaan, bukan permusuhan.
Keberanian memperbaiki diri, bukan hanya menyalahkan zaman.
Satukanlah ilmu dengan adab.
Satukanlah kemajuan dengan keadilan.
Satukanlah kekayaan dengan kemurahan hati.
Satukanlah kekuasaan dengan tanggung jawab.
Satukanlah kehidupan dunia dengan kesadaran akan perjumpaan kepada-Mu.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Khatam QITAB
Dengan berakhirnya lembar ini, tertutuplah rangkaian:
QITAB SIRRUL-WAFRAH WA ZAWĀLITS-TSAMAN
قِتَابُ سِرِّ الْوَفْرَةِ وَزَوَالِ الثَّمَنِ
Rahasia Zaman Kelimpahan dan Pudarnya Nilai Harga
Namun penutupan tulisan bukanlah penutupan amanah.
QITAB boleh selesai dibaca.
Namun pertanyaannya harus tetap hidup:
Apakah kemajuan yang kita bangun membuat manusia semakin merdeka untuk berbuat baik, atau semakin bergantung kepada kekuasaan yang tidak dapat diperiksa?
Apakah kelimpahan yang kita hasilkan mengurangi penderitaan, atau hanya memperbesar kepemilikan sedikit manusia?
Apakah teknologi membawa kita semakin dekat kepada keluarga, masyarakat, alam, dan Alloh, atau justru menjauhkan kita dari semuanya?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya ditulis oleh pemimpin, ilmuwan, atau pemilik perusahaan.
Ia ditulis setiap hari melalui pilihan seluruh manusia.
Melalui apa yang dibeli.
Apa yang dibagikan.
Apa yang dijaga.
Apa yang dipercayai.
Apa yang disebarkan.
Apa yang ditolak.
Dan untuk apa teknologi digunakan.
Maka jadikanlah dirimu bagian dari jalan rahmat.
Bukan dengan membenci masa depan.
Namun dengan menyiapkan iman, ilmu, akhlak, keadilan, dan kasih sayang agar masa depan tidak kehilangan kemanusiaannya.
Wallohu a‘lam bish-showab.
Alhamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.