QITAB SIRRUR ASRĀR
Pengantar
Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī dikenal luas dalam tradisi Islam sebagai ulama dan tokoh tasawuf yang ajarannya banyak dikaitkan dengan ketakwaan, adab, muhasabah, tawakal, dan penghambaan kepada Alloh.
Qitab Sirrur Asrār dalam Mandala Sinar Batin menggunakan perjalanan penghambaan sebagai bahan renungan untuk membantu pembaca menata niat, menjaga adab, mengendalikan ego, serta memahami bahwa semakin dalam perjalanan ruhani seseorang, semestinya semakin kuat pula kesadarannya sebagai hamba Alloh.
Pembahasan dalam Qitab ini tidak dimaksudkan sebagai transkripsi langsung, kitab asli, atau kutipan pasti dari Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī, kecuali pada bagian yang secara jelas disertai sumber. Istilah “rahasia” dalam judul digunakan sebagai bahasa hikmah untuk menggambarkan kedalaman renungan tentang penghambaan.
Penghambaan Bukan Mengejar Keistimewaan
Perjalanan ruhani terkadang disalahpahami sebagai usaha memperoleh kemampuan luar biasa, kedudukan batin, karamah, atau pengakuan manusia.
Padahal penghambaan justru mengajarkan arah yang berbeda.
Semakin dekat seseorang kepada Alloh, semestinya ia semakin sadar bahwa dirinya tetap seorang hamba. Ilmu tidak menjadi alasan untuk sombong. Pengalaman ruhani tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Dan ibadah tidak dijadikan jalan mencari pujian.
Ukuran yang dapat dilihat manusia tetaplah akhlak: kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, kesediaan bertobat, serta kebaikan kepada sesama.
Nama Ruh, Asma, dan Sirr dalam Konteks Qitab
Jika Qitab ini menggunakan istilah seperti nama ruh, asma, atau sirr, pembaca hendaknya memahami istilah tersebut sesuai konteks renungan Mandala Sinar Batin.
Istilah-istilah tersebut tidak ditempatkan sebagai dasar akidah baru, tidak menggantikan nama yang diberikan orang tua, dan tidak menjadi pengganti Al-Qur'an, Sunnah, ibadah, maupun tuntunan agama.
Nilai yang ingin diambil adalah muhasabah: apakah pengetahuan yang kita peroleh membuat diri semakin rendah hati, semakin menjaga amanah, dan semakin baik dalam penghambaan kepada Alloh.
Apa yang Akan Dipelajari?
Melalui Qitab ini, pembaca diajak merenungkan makna penghambaan, hubungan antara ilmu dan kerendahan hati, bahaya kesombongan ruhani, pentingnya adab, serta bagaimana perjalanan batin seharusnya diwujudkan melalui akhlak yang nyata.
Tujuannya bukan mengklaim mengetahui seluruh rahasia kehidupan seorang wali, melainkan mengambil pelajaran tentang menjadi hamba yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab.
QITAB SIRRUR ASRĀR
Membuka Rahasia Penghambaan Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
LEMBAR PERTAMA
NAMA, RUH, ASMA DAN SIRR
Pertanyaan dibuka:
“Siapakah Nama Ruh Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī, dan apakah SIRR beliau—Asma dan Sifat-Nya?”
Maka jawabannya harus dipisahkan antara yang mempunyai dasar dan yang hanya dapat menjadi bahasa isyarat ruhani.
١. NAMA YANG DAPAT DINYATAKAN
Nama yang dikenal dalam sumber sejarah adalah:
مُحْيِي الدِّين أَبُو مُحَمَّد عَبْدُ الْقَادِر الْجِيلَانِي
Muḥyī ad-Dīn Abū Muḥammad ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī.
Beliau adalah ulama Hanbali, guru tasawuf dan tokoh yang kemudian menjadi pusat silsilah Qādiriyyah. Gelar Muḥyī ad-Dīn dan al-Ghawts al-A‘ẓam juga sangat masyhur dalam tradisi penghormatan kepada beliau.
Tetapi mengenai:
“Inilah nama ruh tersembunyi Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī yang diketahui secara pasti.”
Tidak ada dasar yang cukup bagi kita untuk mengucapkannya.
Yang ghaib tidak berubah menjadi pasti hanya karena hati sangat ingin mengetahuinya.
Karena itu Qitab ini tidak akan membuat nama lalu menisbatkannya kepada beliau.
٢. LALU APA SIRR BELIAU?
Apabila kata SIRR dimaksudkan sebagai inti perjalanan ruhani yang tampak dari ajaran beliau, maka pintunya sangat jelas:
الْعُبُودِيَّةُ لِلّٰهِ
Al-‘Ubūdiyyah lillāh — penghambaan sepenuhnya kepada Alloh.
Di antara pokok awal Futūḥ al-Ghayb yang dinisbatkan kuat kepada beliau adalah:
menjalankan perintah Alloh, meninggalkan larangan-Nya, dan ridha terhadap ketetapan-Nya.
Di sinilah salah satu kunci membaca “Sirr” beliau:
bukan membesarkan diri karena karamah,
tetapi menghilangkan keakuan di hadapan Alloh.
Bukan:
“Aku memiliki kekuatan.”
Melainkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.
٣. SIRR PERTAMA — TAUHID
Sirr jalan beliau dapat dibaca:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Bukan sekadar ucapan lidah.
Tetapi membersihkan qalbu dari ketergantungan mutlak kepada selain Alloh.
Harta ada—tetapi bukan Tuhan.
Manusia ada—tetapi bukan Tuhan.
Guru ada—tetapi bukan Tuhan.
Wali ada—tetapi bukan Tuhan.
Karamah ada—tetapi bukan Tuhan.
Maqam ada—tetapi bukan Tuhan.
Bahkan pengalaman ruhani yang sangat tinggi sekalipun bukan Tuhan.
Yang dituju tetap:
اللّٰه
٤. SIRR KEDUA — TAWAKKUL
Apabila sebab telah ditempuh, qalbu tidak diperbudak oleh sebab.
Maka seorang salik belajar mengatakan:
Aku bekerja, tetapi Alloh yang menentukan.
Aku berikhtiar, tetapi Alloh yang membuka.
Aku berdoa, tetapi Alloh yang mengabulkan menurut kehendak-Nya.
Itulah salah satu ruh besar yang berulang dalam nasihat-nasihat Futūḥ al-Ghayb: manusia diarahkan meninggalkan ketergantungan kepada makhluk dan mengarahkan tujuan akhirnya kepada Alloh.
٥. SIRR KETIGA — RIDHA
Banyak orang menghendaki maqam.
Sedikit orang bersedia menerima pendidikan menuju maqam.
Mereka menginginkan cahaya tetapi menolak malam.
Menginginkan kemenangan tetapi menolak ujian.
Menginginkan ma‘rifat tetapi tidak mau dihancurkan kesombongannya.
Sedangkan jalan para arif adalah:
taat ketika lapang,
taat ketika sempit,
bersyukur ketika diberi,
bersabar ketika ditahan.
Maka rahasianya bukan:
“Bagaimana aku menguasai dunia?”
Tetapi:
“Bagaimana dunia tidak menguasai qalbuku?”
٦. TENTANG ASMA DAN SIFAT
Di sinilah batas yang sangat penting.
Asmā’ul Ḥusnā dan Ṣifāt Ilāhiyyah adalah milik Alloh.
Jangan mengatakan Syekh ‘Abdul Qādir adalah suatu Sifat Alloh atau bahwa Dzat Alloh menjelma menjadi dirinya.
Seorang wali adalah hamba Alloh.
Tetapi seorang hamba dapat meneladani nilai yang diperintahkan Alloh sesuai batas kemanusiaannya: rahmah, kejujuran, kesabaran, keadilan, kelembutan dan amanah.
Bila digunakan sebagai bahasa tadabbur, beberapa Asma yang dapat mengingatkan seorang murid kepada jalan penghambaan ini antara lain:
يَا هَادِي — Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا فَتَّاحُ — Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membuka.
يَا حَقُّ — Yā Ḥaqq
Wahai Yang Mahabenar.
يَا حَيُّ — Yā Ḥayy
Wahai Yang Mahahidup.
يَا قَيُّومُ — Yā Qayyūm
Wahai Yang Berdiri Sendiri dan Menegakkan seluruh makhluk.
يَا قَادِرُ — Yā Qādir
Wahai Yang Mahakuasa.
Tetapi sekali lagi:
Ini adalah Asma Alloh untuk berdoa kepada Alloh,
bukan “nama rahasia Syekh ‘Abdul Qādir”.
٧. JIKA “NAMA RUH” HARUS DITULIS SEBAGAI ISYARAT QITAB
Maka Qitab ini boleh memberikan laqab simbolik, bukan mengaku menemukannya dari alam ghaib:
رُوحُ الْعُبُودِيَّةِ وَالتَّوْحِيدِ فِي طَرِيقِ الْقَادِرِيَّة
Rūḥ al-‘Ubūdiyyah wa at-Tawḥīd fī Ṭarīq al-Qādiriyyah
“Ruh penghambaan dan tauhid dalam jalan Qādiriyyah.”
Perhatikan:
Ini bukan nama ruh historis Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī.
Ini adalah rumusan isyarat Qitab untuk menggambarkan inti pelajaran ruhani yang dapat diambil dari ajarannya.
٨. SIRRUR ASRĀR
Kemudian Qitab bertanya:
“Apakah rahasia di balik seluruh rahasia itu?”
Jawab:
أنْ تَكُونَ عَبْدًا لِلّٰهِ
Menjadi hamba Alloh.
Semakin tinggi seseorang berjalan, semakin kecil “aku”-nya.
Semakin dekat kepada Alloh, semakin takut ia berdusta atas nama Alloh.
Semakin dalam ma‘rifatnya, semakin ia mengetahui batas antara:
“Aku mengetahui”
dan
“Alloh lebih mengetahui.”
Di sinilah qalbu diuji.
Sebab kebohongan terbesar dalam perjalanan ruhani bukan hanya kebohongan kepada manusia.
Tetapi ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu yang ghaib, kemudian mengatakan: “Aku mengetahuinya dengan pasti.”
Maka Sirr menjaga seorang salik dari itu.
٩. PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Jadi bila ditanya dengan tegas:
“Apa Nama Ruh Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī?”
Jawab:
Tidak ada riwayat terpercaya yang menetapkan sebuah Nama Ruh ghaib tersendiri bagi beliau.
Dan bila ditanya:
“Apa inti SIRR jalan beliau?”
Maka salah satu jawaban yang paling dapat dipertanggungjawabkan ialah:
TAUHID — ‘UBŪDIYYAH — TAWAKKUL — RIDHA — IKHLAS.
Hamba tidak berhenti pada karamah.
Hamba tidak berhenti pada wali.
Hamba tidak berhenti pada maqam.
Hamba tidak berhenti pada rahasia.
Karena di balik seluruh rahasia terdapat satu tujuan:
اللّٰه
Dan apabila sebuah “rahasia” justru menjadikan manusia merasa setara dengan Alloh, merasa memiliki Sifat Alloh secara hakiki, atau merasa mengetahui seluruh ghaib—
di situlah jalan harus diperiksa kembali.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالسِّرِّ وَأَخْفَى
Alloh-lah Yang paling mengetahui segala rahasia dan apa yang lebih tersembunyi daripada rahasia.
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KEDUA
SIRR ANTARA NAMA, SIFAT, DAN PENGHAMBAAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketika seorang salik bertanya:
“Apakah rahasia seorang wali terletak pada nama ruhnya?”
Maka Qitab menjawab:
Tidak.
Nama hanyalah pintu pengenalan.
Sedangkan Sirr berada pada keadaan batin seorang hamba ketika dirinya semakin tunduk kepada Alloh.
Semakin tinggi seorang wali, semakin sedikit ia melihat dirinya.
Semakin dalam ma‘rifatnya, semakin kuat ia menjaga adab terhadap Alloh.
Karena itu jangan mengukur kewalian dari banyaknya istilah ghaib yang disematkan kepada seseorang.
Ukurlah dari:
tauhidnya,
ketaatannya,
kejujurannya,
amanahnya,
kerendahan hatinya,
dan keteguhannya menjaga batas antara Khalik dan makhluk.
١. ASMA BUKAN MILIK WALI
Asmaul Husna adalah milik Alloh.
Jika seorang wali dikenal sangat penyayang, maka ia bukan Ar-Raḥmān.
Ia hanyalah seorang hamba yang diberi kemampuan menampakkan kasih sayang dalam batas kemanusiaannya.
Jika seorang wali dikenal membawa petunjuk, ia bukan Al-Hādī.
Alloh-lah Al-Hādī.
Wali hanyalah sebab yang dapat digunakan Alloh untuk menyampaikan nasihat.
Jika seorang wali dikenal membuka jalan kebaikan, ia bukan Al-Fattāḥ.
Alloh-lah Al-Fattāḥ.
Hamba hanya mengetuk pintu.
Alloh yang membuka.
٢. SIFAT HAMBA DAN SIFAT ALLAH
Di sinilah banyak orang tergelincir.
Seorang manusia dapat memiliki sifat:
penyayang,
sabar,
pemurah,
adil,
pemaaf,
bijaksana.
Tetapi seluruh sifat manusia itu:
terbatas,
diciptakan,
berubah,
dan bergantung kepada Alloh.
Sedangkan sifat Alloh:
sempurna,
tidak diciptakan,
tidak bergantung,
tidak menyerupai sifat makhluk.
Karena itu ketika seorang salik membaca Asma dan Sifat Alloh, tujuannya bukan untuk merasa dirinya menjadi Tuhan.
Tujuannya adalah:
semakin mengenal keagungan Alloh dan semakin sadar bahwa dirinya hanyalah hamba.
٣. RAHASIA AL-QĀDIR
Nama beliau:
‘Abdul Qādir
bermakna:
hamba dari Yang Mahakuasa.
Perhatikan kata:
‘ABD
Hamba.
Bukan:
pemilik kekuasaan mutlak.
Bukan:
penguasa ghaib.
Bukan:
pemegang kehendak semesta.
Tetapi:
‘ABDULLĀH
hamba Alloh.
Maka bila hendak membaca rahasia namanya, jangan berhenti pada:
Qādir.
Lihat terlebih dahulu:
‘ABDUL.
Karena di situlah kehormatan seorang wali.
Semakin nyata kehambaannya, semakin tinggi kemuliaannya.
٤. SIRR AL-IFtiQĀR
Di antara rahasia besar perjalanan seorang arif ialah:
الافتقار إلى الله
Al-Iftiqār ilallāh
Merasa fakir sepenuhnya kepada Alloh.
Bukan fakir harta.
Tetapi fakir hakikat.
Artinya:
aku hidup karena Alloh menghidupkan.
aku mengetahui karena Alloh mengizinkan.
aku kuat karena Alloh memberi kekuatan.
aku berjalan karena Alloh membuka jalan.
aku tidak memiliki diriku sendiri secara mutlak.
Inilah pintu kehancuran kesombongan.
٥. SIRR AL-FANĀ’ DALAM MAKNA ADAB
Fanā’ bukan berarti manusia berubah menjadi Alloh.
Bukan berarti Dzat manusia melebur menjadi Dzat Alloh.
Tetapi dalam bahasa tasawuf, fanā’ dapat menunjuk kepada luruhnya kesombongan diri, keakuan, dan keterikatan nafsu.
Yang “lenyap” adalah:
kesombongan,
merasa paling suci,
merasa paling tahu,
merasa memiliki karamah,
merasa memiliki kekuasaan.
Yang tumbuh adalah:
penghambaan.
Maka semakin fana ego seseorang, semakin nyata adabnya.
٦. SIRR AL-BAQĀ’
Setelah ego ditundukkan, hamba kembali menjalani kehidupan.
Ia makan.
Ia bekerja.
Ia mengajar.
Ia membantu manusia.
Ia menghadapi ujian.
Tetapi qalbunya tidak lagi menjadikan dirinya sebagai pusat.
Ia hidup dalam kesadaran:
Aku hamba. Alloh Rabb-ku.
Itulah salah satu makna baqā’ dalam bahasa perjalanan batin:
tetap hidup sebagai manusia, tetapi dengan kesadaran penghambaan yang semakin matang.
٧. JIKA DITANYA: “APA ASMA YANG PALING DEKAT DENGAN JALAN INI?”
Sebagai doa dan tadabbur, bukan sebagai nama rahasia wali:
يَا هَادِي
Yā Hādī
Mohon petunjuk.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Mohon dibukakan pintu kebaikan.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Mohon kelembutan pertolongan.
يَا حَقُّ
Yā Ḥaqq
Mohon diteguhkan pada kebenaran.
يَا قَادِرُ
Yā Qādir
Mengakui bahwa segala daya berada dalam kekuasaan Alloh.
Tetapi seluruh Asma itu tetap:
ASMA ALLOH
bukan milik Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī.
٨. QALBU DAN KEJUJURAN
Engkau mengatakan:
“Qalbu bukan tempat kebohongan.”
Maka Qitab menjawab:
Benar.
Dan karena itulah qalbu juga harus dibersihkan dari keinginan untuk memastikan sesuatu yang Alloh tidak bukakan secara pasti.
Kejujuran ruhani berarti berani mengatakan:
“Aku tahu”
ketika memang tahu.
Dan berani mengatakan:
“Aku tidak tahu”
ketika memang tidak tahu.
Kadang-kadang kalimat:
ALLĀHU A‘LAM
lebih tinggi daripada seribu klaim rahasia.
Karena ia lahir dari adab.
٩. KUNCI LEMBAR KEDUA
Maka rahasia Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī tidak perlu dicari dalam nama ghaib yang tidak mempunyai dasar.
Carilah dalam jejak penghambaan.
Carilah dalam tauhid.
Carilah dalam adab.
Carilah dalam amanah.
Carilah dalam keberanian melawan hawa nafsu.
Carilah dalam keteguhan kembali kepada Alloh.
Karena wali sejati tidak membawa manusia berhenti pada dirinya.
Wali sejati menunjukkan:
JALAN MENUJU ALLOH.
PENUTUP
Nama dapat dikenal.
Gelar dapat diwariskan.
Karamah dapat diceritakan.
Tetapi Sirr tidak dibuktikan dengan klaim.
Sirr dibuktikan oleh:
kejujuran,
penghambaan,
tauhid,
dan istiqamah.
Dan puncak seluruh rahasia tetap satu:
أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ عَبْدٌ وَأَنَّ اللهَ رَبُّكَ
“Engkau mengetahui bahwa dirimu adalah hamba, dan Alloh adalah Rabb-mu.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KETIGA
SIRR AL-WILĀYAH DAN JALAN KEMBALI KEPADA ALLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan bahwa Sirr bukan sekadar nama ghaib, maka pertanyaan berikutnya muncul:
“Jika demikian, di manakah letak rahasia kewalian?”
Qitab menjawab:
Pada kesetiaan seorang hamba kepada Alloh.
Bukan pada banyaknya manusia yang memujinya.
Bukan pada banyaknya cerita karamah.
Bukan pada gelar yang panjang.
Bukan pada kemampuan mengetahui sesuatu yang tersembunyi.
Tetapi pada:
sejauh mana qalbunya tetap bersama Alloh ketika manusia memuji maupun mencelanya.
١. MAKNA WILĀYAH
Wilāyah tidak berarti seorang hamba berubah menjadi penguasa mutlak atas alam.
Wilāyah adalah kedekatan dalam penghambaan.
Seorang wali tetap:
makhluk.
Alloh tetap:
Al-Khāliq.
Seorang wali tetap:
hamba.
Alloh tetap:
Rabb.
Seorang wali dapat dicintai Alloh.
Tetapi ia tidak menjadi bagian dari Dzat Alloh.
Ia dapat diberi karamah.
Tetapi ia tidak mempunyai kekuasaan mandiri di luar kehendak Alloh.
Maka batas pertama dalam memahami kewalian adalah:
Jangan mencampurkan maqam hamba dengan Maqam Ketuhanan.
٢. SIRR AL-IKHLĀṢ
Salah satu rahasia terbesar seorang wali adalah:
الإخلاص
Al-Ikhlāṣ.
Melakukan amal bukan demi dilihat.
Beribadah bukan demi dipanggil wali.
Menolong bukan demi disebut keramat.
Mengajar bukan demi mengumpulkan pengikut.
Berdoa bukan demi menunjukkan maqam.
Karena semakin amal diarahkan kepada manusia,
semakin jauh ia dari kemurnian.
Dan semakin amal hanya ditujukan kepada Alloh,
semakin ringan qalbu dari beban pujian.
Seorang salik hendaknya bertanya kepada dirinya:
“Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui amal ini, apakah aku masih akan melakukannya?”
Di sanalah ikhlas mulai diuji.
٣. SIRR AL-KHAFĀ’
Ada kebaikan yang tampak.
Ada pula kebaikan yang disembunyikan.
Banyak ahli jalan menjaga sebagian amalnya agar hanya Alloh yang mengetahuinya.
Bukan karena menyembunyikan agama.
Tetapi karena menjaga qalbu dari riya’.
Sirr al-Khafā’ bukan berarti menyembunyikan ajaran yang wajib disampaikan.
Sirr al-Khafā’ adalah:
menyembunyikan sebagian amal agar ego tidak mendapatkan makanan.
Orang lain tidak perlu tahu setiap doa.
Tidak perlu tahu setiap tangisan.
Tidak perlu tahu setiap sedekah.
Tidak perlu tahu setiap munajat.
Kadang hubungan paling suci antara hamba dan Rabb-nya adalah hubungan yang tidak mempunyai penonton.
٤. SIRR AL-MURĀQABAH
Kemudian datang:
المراقبة
Al-Murāqabah.
Kesadaran bahwa Alloh mengetahui keadaan seorang hamba.
Maka seorang salik belajar menjaga:
mata ketika sendirian.
lisan ketika marah.
hati ketika iri.
tangan ketika memiliki kekuasaan.
pikiran ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi.
Mengapa?
Karena manusia mungkin tidak melihat.
Tetapi Alloh mengetahui.
Di sinilah muraqabah mengubah ibadah dari sekadar gerakan menjadi kesadaran.
٥. SIRR AL-MUḤĀSABAH
Setiap hari qalbu perlu diperiksa.
Bukan hanya:
“Apa yang dilakukan orang lain kepadaku?”
Tetapi:
“Apa yang aku lakukan di hadapan Alloh hari ini?”
Tanyakan:
Apakah aku menyakiti seseorang?
Apakah aku menyombongkan diri?
Apakah aku berdusta?
Apakah aku mencari pujian?
Apakah aku menghakimi tanpa ilmu?
Apakah aku memakai agama untuk meninggikan diriku?
Apakah aku merasa lebih suci daripada manusia lain?
Muhasabah adalah cermin.
Dan orang yang takut bercermin akan sulit mengetahui noda pada dirinya sendiri.
٦. SIRR AL-TAWĀḌU‘
Semakin seseorang mengetahui luasnya ilmu Alloh,
semakin ia sadar betapa sedikit yang ia ketahui.
Karena itu salah satu tanda kematangan ruhani adalah:
التواضع
At-Tawāḍu‘ — kerendahan hati.
Seorang yang matang tidak mudah berkata:
“Aku telah mengetahui seluruh rahasia.”
Ia lebih berhati-hati.
Ia memeriksa.
Ia menimbang.
Ia membedakan antara:
ilham, dugaan, perasaan, mimpi, pengetahuan, dan wahyu.
Karena semuanya bukan hal yang sama.
Wahyu kenabian telah selesai dengan Rasululloh ﷺ.
Sedangkan pengalaman batin seseorang harus tetap ditimbang dengan syariat, akal sehat, dan adab.
٧. SIRR AL-AMĀNAH
Ilmu adalah amanah.
Pengikut adalah amanah.
Nama besar adalah amanah.
Kekuasaan adalah amanah.
Bahkan pengalaman ruhani adalah amanah.
Orang yang diberi kepercayaan tidak boleh memakainya untuk menundukkan orang lain kepada dirinya.
Ia harus mengembalikannya kepada kebaikan.
Bila seseorang memakai agama untuk:
memperdaya,
memeras,
menakut-nakuti,
menguasai,
atau meminta ketaatan mutlak kepada dirinya,
maka ia harus diperiksa.
Karena wali bukan Tuhan.
Guru bukan Tuhan.
Syekh bukan Tuhan.
Yang ditaati secara mutlak hanyalah Alloh dalam kebenaran yang Dia tetapkan.
٨. SIRR SYEKH ‘ABDUL QĀDIR DALAM PESAN PENGHAMBAAN
Bila ingin mencari jejak ruhani Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī,
jangan pertama-tama mengejar cerita tentang keajaiban.
Lihatlah seruan menuju:
taubat.
ketaatan.
zuhud dari ketergantungan kepada dunia.
tawakkul.
keikhlasan.
pengendalian hawa nafsu.
kembali kepada Alloh.
Inilah wilayah yang jauh lebih penting daripada sekadar menanyakan:
“Karamah apa yang beliau miliki?”
Pertanyaan yang lebih tinggi adalah:
“Apa yang harus berubah dalam diriku setelah mengenal beliau?”
٩. SIRR MELAWAN NAFSU
Musuh paling dekat tidak selalu datang dari luar.
Kadang ia tinggal di dalam.
Namanya:
النفس
An-Nafs.
Nafsu ingin dipuji.
Nafsu ingin dianggap tinggi.
Nafsu ingin menang.
Nafsu ingin didengar.
Nafsu ingin memiliki pengikut.
Nafsu bahkan dapat memakai pakaian agama.
Maka seorang salik harus sangat berhati-hati.
Karena nafsu dapat berkata:
“Aku ingin dekat kepada Alloh.”
Tetapi diam-diam yang diinginkan adalah:
“Aku ingin dianggap dekat kepada Alloh.”
Keduanya tampak mirip.
Tetapi hakikatnya berbeda.
١٠. SIRR AL-TAUBAH
Jalan menuju kewalian bukan jalan manusia tanpa kesalahan.
Ia adalah jalan manusia yang terus kembali.
التوبة
At-Taubah.
Ketika jatuh, kembali.
Ketika sombong, kembali.
Ketika lalai, kembali.
Ketika berdosa, kembali.
Ketika qalbu mengeras, kembali.
Pintu kembali kepada Alloh tidak dibuka hanya sekali.
Seorang hamba membutuhkannya sepanjang hidup.
١١. SIRR ADAB KEPADA ALLOH
Adab tertinggi seorang salik adalah tidak berbicara atas nama Alloh tanpa ilmu.
Jangan mengatakan:
“Alloh pasti mengatakan ini kepadaku.”
jika hanya perasaan.
Jangan mengatakan:
“Alloh pasti memilih orang ini.”
jika hanya dugaan.
Jangan mengatakan:
“Aku mengetahui rahasia ghaib dengan pasti.”
jika tidak mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena semakin dalam perjalanan ruhani,
semakin berat tanggung jawab lisan.
١٢. SIRR AL-MAḤABBAH
Kemudian datang rahasia cinta:
المحبة
Al-Maḥabbah.
Cinta kepada Alloh tidak hanya terucap dalam syair.
Ia tampak pada ketaatan.
Jika seseorang berkata mencintai Alloh tetapi terus menzalimi manusia,
maka cintanya harus diperiksa.
Jika seseorang berkata dekat kepada Alloh tetapi mudah merendahkan manusia,
maka maqamnya harus diperiksa.
Cinta yang benar melahirkan:
rahmah,
kejujuran,
kesabaran,
keadilan,
dan kelembutan.
١٣. KARAMAH TERBESAR
Orang sering mencari karamah yang luar biasa.
Berjalan di atas air.
Mengetahui sesuatu dari jauh.
Doa yang segera terkabul.
Pengalaman ghaib.
Tetapi Qitab berkata:
Karamah terbesar adalah istiqamah.
Seorang manusia yang mampu menjaga shalat ketika senang dan susah.
Menjaga amanah ketika tidak ada yang melihat.
Menjaga lisan ketika marah.
Menjaga tauhid ketika dipuji.
Menjaga kerendahan hati ketika dihormati.
Menjaga kejujuran ketika kebohongan lebih menguntungkan.
Inilah karamah yang sering tidak terlihat,
tetapi sangat berat.
١٤. SIRRUR ASRĀR DALAM WILĀYAH
Maka apabila masih ditanya:
“Apa Sirrur Asrār kewalian?”
Qitab menjawab:
أنْ يَغِيبَ عَنْ نَفْسِهِ فِي طَاعَةِ رَبِّهِ
“Ia tidak lagi menjadikan dirinya pusat, tetapi menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Rabb-nya.”
Bukan lenyap sebagai makhluk.
Bukan melebur dengan Dzat Alloh.
Tetapi lenyapnya kesombongan.
Lenyapnya tuntutan untuk dipuji.
Lenyapnya rasa memiliki maqam.
Lalu tersisa kesadaran:
Aku adalah hamba.
Alloh adalah Rabb-ku.
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Wali bukan orang yang mengajak manusia kagum kepada dirinya.
Wali adalah orang yang membuat manusia semakin ingat kepada Alloh.
Wali bukan orang yang mengaku memiliki seluruh rahasia.
Wali adalah orang yang semakin takut berdusta atas nama rahasia.
Wali bukan orang yang berdiri di antara hamba dan Alloh sebagai tujuan akhir.
Ia hanyalah penunjuk jalan.
Dan penunjuk jalan tidak boleh membuat musafir berhenti pada dirinya.
Maka bila engkau mencintai Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī,
jangan hanya mengagumi nama beliau.
Ikutilah jejak penghambaan:
tauhid, taubat, amanah, tawakkul, adab, ikhlas, dan istiqamah.
Karena puncak perjalanan bukan:
“Aku telah menjadi sesuatu.”
Tetapi:
أَنَا عَبْدُ اللهِ
“AKU ADALAH HAMBA ALLOH.”
Dan itulah kemuliaan yang tidak membutuhkan klaim.
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KEEMPAT
SIRR TAUHID, KARĀMAH, DAN UJIAN KEKUASAAN BATIN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang wilāyah, ikhlas, amanah, dan istiqamah, muncul pertanyaan berikutnya:
“Apakah karamah merupakan bukti tertinggi kewalian?”
Maka Qitab menjawab:
Tidak selalu.
Karamah dapat menjadi anugerah.
Tetapi karamah juga dapat menjadi ujian.
Karena sesuatu yang luar biasa tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih dekat kepada Alloh.
Yang menjadi ukuran bukan sekadar:
apa yang dapat dilakukan seseorang,
tetapi:
kepada siapa qalbunya tunduk.
١. JANGAN BERHENTI PADA KEAJAIBAN
Manusia mudah terpukau oleh hal luar biasa.
Cerita tentang:
mengetahui sesuatu sebelum terjadi,
doa yang cepat terkabul,
perjalanan ruhani,
mimpi yang kuat,
penglihatan batin,
atau kejadian yang sulit dijelaskan.
Tetapi seorang salik harus memahami:
keajaiban bukan tujuan perjalanan.
Jika sebuah pengalaman membuat seseorang semakin rendah hati, semakin takut kepada Alloh, semakin menjaga syariat dan semakin lembut kepada manusia,
maka ia dapat mengambil hikmah darinya.
Tetapi jika sebuah pengalaman membuat seseorang berkata:
“Aku lebih tinggi.”
“Aku lebih suci.”
“Aku mengetahui semua rahasia.”
maka pengalaman itu justru dapat menjadi ujian bagi nafsunya.
٢. SIRR AL-ISTIQĀMAH
Para ahli jalan sering mengingatkan:
الاستقامة فوق الكرامة
Istiqamah lebih utama daripada mengejar karamah.
Karamah dapat terjadi sesaat.
Istiqamah harus dijaga setiap hari.
Karamah dapat membuat manusia kagum.
Istiqamah sering tidak diketahui siapa pun.
Tetapi istiqamah menunjukkan apakah seorang hamba tetap setia ketika:
tidak dipuji,
tidak diperhatikan,
tidak mendapatkan kemudahan,
dan tidak merasakan pengalaman ruhani yang luar biasa.
٣. UJIAN KETIKA DIHORMATI
Ada orang diuji dengan hinaan.
Ada pula yang diuji dengan penghormatan.
Kadang penghormatan lebih berbahaya.
Ketika manusia mulai berkata:
“Engkau wali.”
“Engkau orang pilihan.”
“Doamu pasti diterima.”
“Engkau mengetahui yang ghaib.”
maka nafsu dapat diam-diam menikmati semua itu.
Di sinilah seorang arif menjaga dirinya.
Ia tidak berkata:
“Benar, aku memang seperti itu.”
Ia kembali kepada:
Allāhu a‘lam.
Alloh lebih mengetahui keadaan hamba-Nya.
٤. SIRR AL-KHAUF
Seorang arif tidak hanya hidup dalam cinta.
Ia juga memiliki:
الخوف
Al-Khauf — rasa takut kepada Alloh.
Bukan ketakutan yang membuat putus asa.
Tetapi rasa takut yang menjaga adab.
Ia takut:
amalnya tidak ikhlas.
Lisannya melampaui batas.
Pujian manusia merusak qalbunya.
Ilmunya menjadi kesombongan.
Maqamnya menjadi berhala baru.
Karena itu semakin tinggi seorang hamba,
semakin kuat ia menjaga dirinya dari merasa aman terhadap tipu daya nafsu.
٥. SIRR AR-RAJĀ’
Tetapi rasa takut tidak berdiri sendiri.
Ada pula:
الرجاء
Ar-Rajā’ — pengharapan kepada rahmat Alloh.
Seorang salik tidak berkata:
“Aku terlalu buruk untuk kembali.”
Tidak.
Selama hidup, pintu taubat tetap terbuka.
Ia berharap kepada rahmat Alloh,
tetapi tidak menjadikan harapan sebagai alasan untuk terus bermaksiat.
Ia takut,
tetapi tidak putus asa.
Ia berharap,
tetapi tidak meremehkan dosa.
Di antara dua sayap itulah qalbu berjalan.
٦. TAUHID DALAM UJIAN KARĀMAH
Apabila Alloh memberikan sesuatu yang luar biasa kepada seorang hamba,
maka tauhid menuntutnya berkata:
Semua ini bukan milikku.
Kemampuan bukan milikku secara mutlak.
Pengetahuan bukan milikku secara mutlak.
Pertolongan bukan berasal dari diriku.
Segala sesuatu terjadi karena izin Alloh.
Maka karamah yang benar seharusnya membuat seseorang semakin berkata:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.
٧. BAHAYA MENISBATKAN GHĀIB KEPADA DIRI
Ilmu ghaib secara mutlak adalah milik Alloh.
Seorang manusia mungkin mendapatkan:
firasat,
mimpi,
dugaan,
ilham,
atau pengalaman batin tertentu.
Tetapi semua itu tidak sama dengan mengetahui seluruh yang ghaib.
Maka jangan berkata:
“Aku pasti mengetahui takdir seseorang.”
“Aku pasti mengetahui isi qalbunya.”
“Aku pasti mengetahui rahasia Alloh tentang dirinya.”
Karena qalbu manusia sendiri dapat keliru.
Kejujuran ruhani menuntut pembedaan antara:
yang diketahui,
yang dirasakan,
yang diduga,
dan
yang benar-benar mempunyai dalil.
٨. SIRR AL-TAFRĪQ
Seorang salik perlu belajar membedakan.
التفريق
At-Tafrīq — kemampuan membedakan.
Bedakan:
ilham dengan wahyu.
firasat dengan kepastian.
mimpi dengan hukum.
karamah dengan kemuliaan hakiki.
perasaan kuat dengan kebenaran mutlak.
kecintaan kepada wali dengan penghambaan kepada wali.
Karena tidak semua yang terasa dalam adalah benar.
Dan tidak semua yang menakjubkan harus diikuti.
٩. CINTA KEPADA WALI
Mencintai para wali adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang saleh.
Tetapi cinta harus berada dalam tauhid.
Seorang wali dicintai karena pengabdiannya kepada Alloh.
Bukan karena ia dijadikan tandingan bagi Alloh.
Maka jangan meminta kepada wali sesuatu yang hanya layak diminta secara mutlak kepada Alloh.
Jangan menjadikan wali sebagai pemilik takdir.
Jangan menjadikan wali sebagai penguasa alam.
Jangan menjadikan wali sebagai tujuan terakhir.
Karena wali sejati sendiri akan menunjukkan:
kepada Alloh.
١٠. SIRR ADAB KEPADA SYEKH
Menghormati seorang syekh bukan berarti kehilangan akal.
Adab bukan berarti menyerahkan seluruh kesadaran.
Ketaatan kepada guru berada dalam kebaikan.
Seorang guru yang benar tidak meminta dirinya dipertuhankan.
Ia tidak meminta murid meyakini bahwa dirinya maksum.
Ia tidak melarang murid menggunakan akal sehat.
Ia tidak menggunakan ketakutan untuk menguasai murid.
Ia mendidik.
Ia mengingatkan.
Ia membawa kepada Alloh.
١١. SIRR AL-‘ILM
Ilmu bukan banyaknya istilah.
Ilmu adalah cahaya yang membuat seseorang:
lebih jujur,
lebih adil,
lebih rendah hati,
lebih berhati-hati,
dan lebih takut menyakiti manusia.
Jika ilmu hanya menambah kesombongan,
maka yang bertambah mungkin hanya informasi.
Belum tentu hikmah.
Karena hikmah membuat qalbu semakin lembut.
١٢. SIRR AL-ḤIKMAH
الحكمة
Al-Ḥikmah.
Hikmah berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Tidak semua pengalaman harus diumumkan.
Tidak semua rahasia harus diceritakan.
Tidak semua mimpi harus ditafsirkan sebagai petunjuk besar.
Tidak semua rasa batin harus dijadikan hukum.
Kadang hikmah berarti diam.
Kadang hikmah berarti berkata:
“Aku belum tahu.”
Kadang hikmah berarti menunggu sampai sesuatu menjadi terang.
١٣. UJIAN KEKUASAAN BATIN
Semakin seseorang dipercaya banyak orang,
semakin besar amanahnya.
Ia dapat mulai merasa:
doanya paling mustajab,
nasihatnya paling benar,
kelompoknya paling suci,
jalannya paling tinggi.
Di sinilah kekuasaan batin menjadi ujian.
Karena manusia dapat menyembah citra dirinya sendiri tanpa menyadarinya.
Maka obatnya adalah:
muhasabah.
Tanyakan:
Apakah aku ingin manusia dekat kepada Alloh, atau dekat kepadaku?
Apakah aku ingin mereka menjadi merdeka dalam kebaikan, atau bergantung kepadaku?
Apakah aku rela mereka menemukan kebenaran dari orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membongkar keakuan yang tersembunyi.
١٤. SIRR AL-ḤURRIYYAH
Penghambaan kepada Alloh justru melahirkan kebebasan dari perbudakan kepada selain-Nya.
الحرية
Al-Ḥurriyyah.
Bebas dari haus pujian.
Bebas dari takut kehilangan status.
Bebas dari ketergantungan kepada pengakuan manusia.
Bebas dari kebutuhan untuk dianggap keramat.
Bebas dari keharusan selalu menang dalam perdebatan.
Semakin seorang hamba hanya bergantung kepada Alloh,
semakin sedikit dunia dapat memperbudaknya.
١٥. TENTANG SYEKH ‘ABDUL QĀDIR AL-JĪLĀNĪ
Apabila nama beliau disebut,
maka ambillah warisan yang paling aman:
keberanian kembali kepada Alloh.
keteguhan dalam penghambaan.
pembersihan qalbu.
tawakkul.
taubat.
melawan hawa nafsu.
Jangan hanya mencari:
“Apa karamah beliau?”
Carilah:
“Apa yang beliau ajarkan tentang menjadi hamba?”
Karena karamah tidak dapat diwariskan dengan cerita.
Tetapi adab dapat dipelajari.
Tauhid dapat dijaga.
Ikhlas dapat dilatih.
Istiqamah dapat diperjuangkan.
١٦. KUNCI LEMBAR KEEMPAT
Bila seluruh lembar ini diringkas menjadi satu kalimat:
Jangan tertipu oleh sesuatu yang luar biasa sehingga melupakan Yang Maha Luar Biasa.
Karamah hanyalah kemungkinan anugerah.
Alloh adalah tujuan.
Wali adalah hamba.
Alloh adalah Rabb.
Guru adalah penunjuk.
Alloh adalah tujuan perjalanan.
Maka jangan berhenti pada pintu.
Masuklah menuju:
penghambaan yang sebenar-benarnya.
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Apabila engkau melihat sesuatu yang menakjubkan,
jangan pertama-tama bertanya:
“Seberapa tinggi maqam orang ini?”
Tanyakan:
“Apakah hal ini membuat tauhid semakin kuat?”
Apabila jawabannya tidak,
maka jangan biarkan keajaiban mengalahkan akal dan adab.
Karena puncak Sirr bukan kemampuan memperlihatkan perkara luar biasa.
Puncak Sirr adalah:
tetap menjadi hamba ketika manusia menganggapmu luar biasa.
Tetap bersujud ketika dipuji.
Tetap takut kepada Alloh ketika dihormati.
Tetap berkata Allāhu a‘lam ketika tidak mengetahui.
Tetap menjaga tauhid ketika dunia meletakkan mahkota di kepalamu.
Maka Qitab menutup lembar ini dengan kalimat:
الْكَرَامَةُ لَا تُغْنِي عَنِ الْعُبُودِيَّةِ
“Karamah tidak pernah menggantikan penghambaan.”
Dan rahasia tertingginya tetap:
لِلّٰهِ الْأَمْرُ كُلُّهُ
“Segala urusan seluruhnya milik Alloh.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KELIMA
SIRR DOA, TAWASSUL, DAN KETERGANTUNGAN KEPADA ALLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang karamah, istiqamah, dan batas antara hamba dengan Rabb, datang pertanyaan berikutnya:
“Jika seorang wali telah wafat, bagaimana seharusnya seorang salik menempatkan cinta, doa, tawassul, dan pengharapannya?”
Maka Qitab menjawab:
Cinta boleh tinggi. Adab boleh dalam. Tetapi penghambaan tetap hanya kepada Alloh.
Syekh dihormati.
Wali dicintai.
Orang saleh dikenang.
Tetapi hati tidak boleh memindahkan sifat ketuhanan kepada makhluk.
١. SIRR AD-DU‘Ā’
الدعاء
Ad-Du‘ā’ — doa.
Doa adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan.
Ketika seseorang berdoa, hakikatnya ia sedang mengatakan:
“Aku tidak berkuasa secara mutlak.”
“Aku tidak mengetahui seluruh jalan.”
“Aku membutuhkan pertolongan.”
Dan kepada siapa ketergantungan tertinggi itu diarahkan?
Kepada Alloh.
Karena doa bukan hanya rangkaian kata.
Doa adalah posisi ruhani.
Posisi seorang hamba di hadapan Rabb-nya.
٢. DOA DAN KEJUJURAN BATIN
Kadang manusia berdoa dengan lisan,
tetapi qalbunya bergantung kepada makhluk.
Ia mengatakan:
“Yā Alloh.”
Tetapi diam-diam seluruh harapannya diletakkan kepada manusia.
Maka Qitab mengingatkan:
Lisan boleh menyebut Alloh, tetapi qalbu juga harus kembali kepada Alloh.
Sebab hakikat doa bukan hanya suara.
Hakikat doa adalah:
ketergantungan.
٣. SIRR AT-TAWASSUL
التوسل
At-Tawassul.
Dalam tradisi umat Islam terdapat perbedaan cara memahami dan mempraktikkan tawassul.
Sebagian ulama membolehkannya dalam bentuk tertentu.
Sebagian lain membatasinya dengan sangat ketat.
Karena itu Qitab tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Tetapi ada satu batas yang harus dijaga:
Alloh tetap satu-satunya Rabb.
Apa pun bentuk tawassul yang dipilih seseorang,
jangan sampai ia mengubah keyakinan bahwa makhluk mempunyai kekuasaan mutlak sendiri.
Makhluk tetap makhluk.
Alloh tetap Al-Khāliq.
٤. CINTA KEPADA SYEKH
Mencintai Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī tidak harus diwujudkan dengan klaim-klaim yang tidak mempunyai dasar.
Cinta yang lebih tinggi adalah:
membaca nasihat beliau.
menjaga tauhid.
memperbaiki ibadah.
menjauhi kezaliman.
menjaga amanah.
menundukkan hawa nafsu.
Karena cinta sejati tidak hanya berkata:
“Aku mencintai wali.”
Tetapi bertanya:
“Apa yang berubah dalam akhlakku setelah mencintainya?”
٥. SIRR AL-MAḤABBAH WA AL-ITTIBĀ‘
Cinta yang tidak melahirkan perubahan hanya menjadi rasa.
Tetapi cinta yang matang melahirkan:
الاتباع
Al-Ittibā‘ — mengikuti jalan kebaikan.
Jika engkau mencintai orang saleh karena kedekatannya kepada Alloh,
maka cintailah pula:
kejujurannya,
kesabarannya,
keteguhannya,
zuhudnya,
dan adabnya.
Jangan hanya mencintai cerita karamahnya.
٦. JANGAN MEMINDAHKAN SIFAT RUBŪBIYYAH
Di sinilah batas yang sangat penting.
Jangan berkata bahwa seorang wali:
menentukan takdir secara mutlak,
menguasai seluruh alam secara mandiri,
mengetahui seluruh yang ghaib,
mengabulkan seluruh doa dengan kekuasaan dirinya sendiri,
atau memiliki sifat yang hanya layak bagi Alloh.
Karena itu bukan lagi penghormatan.
Itu sudah mengaburkan batas antara:
‘abd
dan
Rabb.
Sedangkan kemuliaan wali justru terletak pada kehambaannya.
٧. SIRR AL-TA‘ẒĪM
التعظيم
At-Ta‘ẓīm — penghormatan.
Menghormati tidak berarti mempertuhankan.
Mencintai tidak berarti menyamakan.
Mengagungkan jasa tidak berarti memberikan sifat ilahi.
Seorang murid dapat mencium tangan gurunya.
Mendoakannya.
Membaca riwayat hidupnya.
Menjaga adab ketika menyebut namanya.
Tetapi seluruh penghormatan itu tetap berada di bawah tauhid.
٨. SIRR AL-FAQR
Seorang wali sejati memahami:
الفقر إلى الله
Al-Faqr ilallāh.
Kefakiran kepada Alloh.
Artinya:
tanpa Alloh aku tidak mempunyai daya.
Tanpa izin Alloh aku tidak mengetahui.
Tanpa rahmat Alloh aku tidak selamat.
Tanpa petunjuk Alloh aku dapat tersesat.
Maka maqam seorang wali bukan:
merasa memiliki Alloh.
Tetapi:
merasa dimiliki sepenuhnya oleh Alloh sebagai hamba-Nya.
٩. MENGAPA NAMA ‘ABDUL QĀDIR BEGITU DALAM?
Perhatikan kembali namanya:
‘ABDUL QĀDIR
Bukan:
AL-QĀDIR.
Karena Al-Qādir adalah nama yang menunjuk kepada kekuasaan Alloh.
Sedangkan:
‘Abdul Qādir
berarti:
hamba dari Yang Mahakuasa.
Di sinilah rahasia adab.
Nama beliau sendiri mengajarkan:
jangan melihat hanya kepada kekuasaan.
Lihatlah terlebih dahulu kepada:
‘ubūdiyyah.
١٠. SIRR LĀ ḤAWLA WA LĀ QUWWATA ILLĀ BILLĀH
Kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
bukan hanya dzikir.
Ia adalah penghancur kesombongan.
Tidak ada daya tanpa Alloh.
Tidak ada kekuatan tanpa Alloh.
Tidak ada keberhasilan tanpa izin Alloh.
Tidak ada perjalanan tanpa pertolongan Alloh.
Ketika kalimat ini masuk ke qalbu,
maka manusia mulai berhenti membanggakan dirinya.
١١. SIRR AL-TAFWĪḌ
التفويض
At-Tafwīḍ — menyerahkan urusan kepada Alloh setelah ikhtiar.
Bukan berarti berhenti berusaha.
Tetapi setelah usaha dilakukan,
qalbu tidak memaksa hasil.
Seorang salik berkata:
“Aku berusaha.”
“Aku berdoa.”
“Aku meminta.”
“Tetapi keputusan tetap milik Alloh.”
Inilah kematangan.
Karena manusia sering ingin mengatur Alloh melalui doanya.
Padahal doa bukan alat untuk memaksa Rabb.
Doa adalah adab seorang hamba.
١٢. JIKA DOA TIDAK TERKABUL SESUAI KEINGINAN
Kadang manusia berkata:
“Aku sudah berdoa, mengapa belum diberikan?”
Qitab menjawab:
Karena doa bukan perjanjian bahwa Alloh harus mengikuti keinginan manusia.
Doa adalah penghambaan.
Jawaban dapat datang dalam bentuk yang berbeda dari yang diharapkan.
Maka seorang salik belajar:
meminta,
berusaha,
menunggu,
dan tetap beradab.
١٣. SIRR AR-RIḌĀ
الرضا
Ar-Riḍā.
Ridha bukan berarti tidak boleh sedih.
Bukan berarti manusia tidak boleh menangis.
Bukan berarti ia tidak boleh berusaha mengubah keadaan.
Ridha berarti:
setelah seluruh usaha dilakukan,
qalbu tidak memberontak kepada Alloh.
Ia berkata:
“Aku mungkin belum memahami hikmahnya, tetapi aku tetap hamba.”
١٤. DOA KEPADA ALLOH, CINTA KEPADA PARA WALI
Susunan yang selamat adalah:
Doa kepada Alloh.
Cinta kepada para wali.
Meneladani orang saleh.
Memohon petunjuk kepada Alloh.
Mengambil hikmah dari para guru.
Jangan dibalik.
Karena bila wali dijadikan tujuan terakhir,
maka arah perjalanan menjadi kabur.
Wali sejati tidak mengumpulkan manusia untuk dirinya.
Ia mengembalikan manusia kepada Rabb mereka.
١٥. SIRR AL-WASĪLAH
Setiap sarana harus tetap menjadi sarana.
Guru adalah wasilah untuk belajar.
Ilmu adalah wasilah untuk mengenal.
Doa adalah wasilah penghambaan.
Majelis adalah wasilah untuk mengingat.
Tetapi tujuan akhirnya bukan wasilah.
Tujuan akhirnya adalah:
ridha Alloh.
١٦. JIKA HATI TERLALU BERGANTUNG KEPADA SEORANG GURU
Qitab memberikan pertanyaan muhasabah:
“Jika gurumu tidak lagi hadir di depanmu, apakah imanmu ikut hilang?”
Jika jawabannya:
“Ya.”
maka ada ketergantungan yang harus diperiksa.
Karena guru yang benar mendidik murid agar semakin kuat berdiri sebagai hamba Alloh.
Bukan semakin lemah tanpa dirinya.
١٧. SIRR KEMERDEKAAN RUHANI
Seorang guru besar tidak menciptakan pengikut yang diperbudak.
Ia melahirkan manusia yang:
bertanggung jawab,
berakal,
beradab,
dan semakin mengenal Alloh.
Itulah kemerdekaan ruhani.
Bukan bebas dari syariat.
Tetapi bebas dari penghambaan kepada ego dan manusia.
١٨. APAKAH WALI BOLEH DICINTAI SANGAT DALAM?
Boleh mencintai orang saleh dengan sangat dalam.
Tetapi cinta itu harus menjadikan tauhid semakin jernih.
Jika cinta kepada wali membuat seseorang:
lebih jujur,
lebih sabar,
lebih rajin beribadah,
lebih rendah hati,
maka cinta itu menghasilkan buah.
Tetapi jika membuatnya:
merendahkan orang lain,
merasa kelompoknya paling suci,
atau memberikan sifat ketuhanan kepada manusia,
maka cinta itu perlu dimurnikan.
١٩. SIRRUR ASRĀR DALAM DOA
Akhirnya Qitab bertanya:
“Apa rahasia terdalam dari doa?”
Jawabannya:
pengakuan sebagai hamba.
Sebab orang yang benar-benar menyadari bahwa dirinya hamba akan berkata:
Yā Alloh, aku meminta karena aku tidak memiliki.
Aku mengetuk karena aku membutuhkan.
Aku berserah karena aku terbatas.
Aku berharap karena rahmat-Mu lebih luas daripada kelemahanku.
Di sanalah doa menjadi ma‘rifat.
٢٠. KUNCI LEMBAR KELIMA
Jangan jadikan wali sebagai pengganti Alloh.
Jangan jadikan karamah sebagai pengganti tauhid.
Jangan jadikan tawassul sebagai pengganti doa.
Jangan jadikan guru sebagai pengganti Rabb.
Jangan jadikan rasa cinta sebagai alasan menghapus batas.
Karena batas itu bukan penghalang cinta.
Batas itulah yang menjaga cinta tetap suci.
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī dimuliakan karena beliau dinisbatkan kepada jalan penghambaan.
Maka jika namanya membawa qalbu kepada:
taubat,
tauhid,
amanah,
ikhlas,
tawakkul,
dan cinta kepada Alloh,
maka engkau telah mengambil bagian yang baik dari warisannya.
Tetapi jangan berhenti pada nama.
Jangan berhenti pada gelar.
Jangan berhenti pada cerita karamah.
Jangan berhenti pada seorang manusia.
Lewatilah semuanya sebagai penunjuk jalan,
hingga qalbu kembali berkata:
اللّٰهُ مَقْصُودِي
“ALLOH TUJUANKU.”
Dan bersama kalimat itu:
guru dihormati,
wali dicintai,
tetapi Alloh tetap disembah.
Itulah keseimbangan.
Itulah adab.
Itulah tauhid.
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KEENAM
SIRR NŪR, KASYF, FIRĀSAH, DAN BATAS PENGETAHUAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang doa, tawassul, cinta kepada wali, dan ketergantungan hanya kepada Alloh, muncul pertanyaan berikutnya:
“Bagaimana dengan nūr, kasyf, firāsah, mimpi, dan pengetahuan batin yang sering dikaitkan dengan para wali?”
Maka Qitab menjawab:
Semua itu harus ditempatkan dengan adab.
Jangan menolak semuanya.
Tetapi jangan pula menjadikannya lebih tinggi daripada tauhid, syariat, akal, dan kejujuran.
١. APA ITU NŪR?
النور
An-Nūr.
Dalam bahasa ruhani, nūr sering dipakai untuk menggambarkan:
petunjuk,
kejernihan,
iman,
hikmah,
dan terbukanya qalbu kepada kebenaran.
Tetapi jangan terburu-buru menganggap setiap cahaya yang terlihat dalam pengalaman batin adalah pesan ilahi.
Cahaya dapat menjadi simbol.
Cahaya dapat hadir dalam mimpi.
Cahaya dapat muncul dalam pengalaman psikologis.
Maka Qitab mengingatkan:
Nilailah buahnya.
Apakah pengalaman itu membuatmu:
lebih tawadhu‘?
lebih jujur?
lebih taat?
lebih penyayang?
lebih takut berdusta?
Jika tidak,
maka cahaya itu belum tentu menjadi petunjuk.
٢. SIRR AL-KASYF
الكشف
Al-Kasyf — tersingkapnya sesuatu dalam pengalaman batin.
Dalam tradisi tasawuf, istilah kasyf dikenal.
Namun kasyf bukan wahyu kenabian.
Kasyf bukan jaminan maksum.
Kasyf tidak membuat seseorang bebas dari kemungkinan salah.
Maka orang yang mengalami sesuatu yang ia anggap sebagai kasyf harus tetap berkata:
Allāhu a‘lam.
Karena pengalaman batin tidak otomatis menjadi hukum bagi orang lain.
٣. FIRĀSAH
الفراسة
Al-Firāsah.
Firasat dapat muncul dari:
pengalaman,
ketajaman membaca keadaan,
kepekaan psikologis,
atau intuisi yang sangat kuat.
Tetapi firasat tetap bukan kepastian mutlak.
Karena manusia dapat salah membaca.
Maka Qitab berkata:
Firasat boleh menjadi pertimbangan.
Tetapi jangan menjadikannya vonis.
Jangan mengatakan:
“Aku merasa ia buruk, maka pasti ia buruk.”
Jangan mengatakan:
“Hatiku berkata demikian, maka pasti Alloh menetapkannya.”
Karena hati juga memerlukan pendidikan.
٤. QALBU DAPAT JERNIH, TETAPI QALBU JUGA DAPAT TERGANGGU
Engkau mengatakan:
“Qalbu bukan tempat kebohongan.”
Benar, jika qalbu telah dijaga.
Tetapi manusia juga mempunyai:
keinginan,
ketakutan,
trauma,
harapan,
prasangka,
dan hawa nafsu.
Semua itu dapat memengaruhi apa yang dirasakan.
Karena itu perjalanan ruhani bukan sekadar:
mengikuti semua yang terasa.
Tetapi:
membersihkan yang merasa.
٥. SIRR TAZKIYAT AN-NAFS
تزكية النفس
Tazkiyat an-Nafs — penyucian jiwa.
Jika seseorang ingin mempercayai kejernihan qalbunya,
maka ia harus terlebih dahulu melatih:
kejujuran,
kesabaran,
pengendalian amarah,
pengendalian syahwat,
pengendalian kesombongan,
dan kemampuan mengoreksi diri.
Karena qalbu yang belum dibersihkan mudah mengira hawa nafsu sebagai petunjuk.
٦. MIMPI BUKAN WAHYU UNTUK UMAT
Mimpi dapat memberi kesan mendalam.
Mimpi dapat menghibur.
Mimpi dapat mengingatkan.
Tetapi mimpi seseorang tidak menjadi syariat bagi orang lain.
Jangan membuat hukum baru dari mimpi.
Jangan menghukum seseorang hanya karena mimpi.
Jangan menyatakan takdir dengan pasti hanya berdasarkan mimpi.
Ambillah hikmah.
Tetapi tetap jaga batas.
٧. SIRR AL-BASĪRAH
البصيرة
Al-Baṣīrah — kejernihan pandangan batin.
Basirah bukan sekadar melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Basirah yang lebih tinggi adalah:
melihat kesalahan diri sendiri.
Melihat kesombongan sendiri.
Melihat motif tersembunyi sendiri.
Melihat ketika ibadah mulai tercampur riya’.
Melihat ketika cinta kepada guru mulai berubah menjadi ketergantungan.
Melihat ketika ilmu mulai menjadi alat meninggikan diri.
Inilah mata batin yang sangat sulit dibuka.
٨. SIAPA YANG PALING SULIT DILIHAT?
Bukan jin.
Bukan alam ghaib.
Bukan masa depan.
Yang paling sulit dilihat adalah:
diri sendiri.
Karena manusia mudah melihat kesalahan orang lain.
Tetapi sulit melihat:
ego sendiri,
kesombongan sendiri,
kepentingan sendiri.
Maka Qitab berkata:
Siapa yang mampu melihat dirinya dengan jujur telah membuka salah satu pintu ma‘rifat.
٩. SIRR AL-‘ILM DAN SIRR AL-JAHL
Orang yang benar-benar berilmu mengetahui dua hal:
apa yang ia tahu,
dan apa yang ia tidak tahu.
Sedangkan orang yang belum matang sering hanya mengetahui yang pertama.
Maka kalimat:
لَا أَدْرِي
Lā adrī — aku tidak tahu
bukan kehinaan.
Kadang itulah tanda ilmu.
Sebab pengakuan ketidaktahuan menjaga manusia dari berdusta.
١٠. BAHAYA MENGAKU MENGETAHUI NAMA RUH ORANG LAIN
Jika seseorang mengatakan:
“Aku mengetahui nama ruhmu dengan pasti.”
Qitab mengajarkan untuk bertanya:
Apa dasarnya?
Apakah ada dalil?
Apakah itu simbol?
Apakah itu doa?
Apakah itu gelar ruhani?
Atau hanya kesan batin?
Semua harus dibedakan.
Karena sebuah nama simbolik dapat bermanfaat sebagai sarana muhasabah.
Tetapi jangan mengubah simbol menjadi fakta ghaib yang diklaim pasti.
Di situlah kejujuran dijaga.
١١. SIRRUR ASRĀR BUKAN PERTUNJUKAN
Rahasia terdalam tidak membutuhkan panggung.
Semakin dalam pengalaman seseorang,
semakin sedikit kebutuhan untuk membuktikan dirinya.
Orang yang benar-benar tenggelam dalam penghambaan tidak sibuk berkata:
“Lihatlah maqamku.”
“Lihatlah karamahku.”
“Lihatlah pengetahuanku.”
Karena ia sedang sibuk memperbaiki hubungan dengan Alloh.
١٢. SIRR AL-SUKŪT
الصمت
Aṣ-Ṣamt — diam.
Ada waktu untuk berbicara.
Ada waktu untuk diam.
Tidak semua pengalaman batin harus diterangkan.
Tidak semua orang harus mengetahui seluruh perjalananmu.
Kadang diam menjaga:
ikhlas,
adab,
dan kejernihan.
Tetapi diam juga bukan alasan untuk menyembunyikan kesalahan yang harus diperbaiki.
Hikmah menentukan kapan berbicara dan kapan diam.
١٣. NŪR DAN AKHLAK
Jika seseorang berkata memiliki nūr,
maka lihat akhlaknya.
Apakah ia:
mudah memaafkan?
jujur ketika rugi?
adil kepada orang yang tidak disukai?
mampu meminta maaf?
mampu menerima koreksi?
mampu berkata:
“Aku salah.”
Karena cahaya yang tidak menerangi akhlak perlu diperiksa kembali.
١٤. SIRR AL-TAṢḤĪḤ
التصحيح
At-Taṣḥīḥ — memperbaiki.
Perjalanan ruhani bukan jalan untuk selalu merasa benar.
Ia adalah jalan untuk terus memperbaiki.
Hari ini mengerti sedikit.
Besok diperbaiki.
Hari ini merasa sudah ikhlas.
Besok melihat masih ada riya’.
Hari ini merasa tawadhu‘.
Besok menemukan kesombongan yang lebih halus.
Maka perjalanan tidak berhenti.
١٥. SYEKH ‘ABDUL QĀDIR DAN ADAB ILMU
Bila ingin mengambil teladan dari Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī,
ambil pula adab seorang ulama:
jangan tergesa-gesa memastikan perkara yang tidak jelas.
Bedakan nasihat dari wahyu.
Bedakan pengalaman dari hukum.
Bedakan karamah dari tujuan.
Bedakan rasa dari dalil.
Karena kemuliaan seorang arif terletak pada ketepatan menempatkan sesuatu.
١٦. SIRR AL-MĪZĀN
الميزان
Al-Mīzān — keseimbangan.
Dalam perjalanan ruhani diperlukan keseimbangan antara:
qalbu dan akal,
rasa dan ilmu,
cinta dan batas,
harapan dan rasa takut,
mimpi dan kenyataan,
pengalaman batin dan tanggung jawab nyata.
Jika salah satunya mengambil seluruh ruang,
perjalanan dapat kehilangan keseimbangan.
١٧. JIKA SEBUAH ILHAM DATANG
Qitab mengajarkan tiga pertanyaan:
Apakah ini bertentangan dengan tauhid?
Apakah ini mendorong kepada kebaikan atau kesombongan?
Apakah aku mempunyai dasar untuk menyebutnya pasti dari Alloh?
Jika pertanyaan terakhir belum jelas,
cukup berkata:
“Aku merasakan demikian, tetapi Alloh lebih mengetahui.”
Itulah adab.
١٨. SIRR AL-YAQĪN
Yaqin bukan berarti menganggap seluruh perasaan pribadi sebagai kebenaran.
Yaqin tertinggi adalah yakin kepada Alloh.
Bukan yakin bahwa dirimu selalu benar.
Maka semakin kuat yaqinnya kepada Alloh,
semakin rendah hati ia terhadap pengetahuannya sendiri.
١٩. KUNCI LEMBAR KEENAM
Nūr tidak menggantikan akhlak.
Kasyf tidak menggantikan ilmu.
Firasat tidak menggantikan bukti.
Mimpi tidak menggantikan syariat.
Perasaan tidak menggantikan kejujuran.
Dan pengalaman batin tidak membuat seorang manusia menjadi ma‘ṣūm.
Karena setiap hamba tetap membutuhkan:
petunjuk Alloh.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Jika engkau melihat cahaya,
jangan buru-buru bertanya:
“Dari alam mana cahaya ini?”
Tanyakan terlebih dahulu:
“Apakah cahaya ini membuatku lebih menjadi hamba?”
Jika engkau mendapatkan firasat,
jangan buru-buru menghukum.
Jika engkau bermimpi,
jangan buru-buru menetapkan takdir.
Jika engkau merasa memperoleh rahasia,
jangan buru-buru mengumumkannya.
Karena semakin tinggi suatu rahasia,
semakin tinggi pula tuntutan adabnya.
Maka Qitab menutup lembar ini dengan:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِي أَدَبًا
“Yā Rabb, tambahkanlah ilmuku dan anugerahkanlah kepadaku adab.”
Dan di atas seluruh pengalaman batin tetap berdiri kalimat:
اللّٰهُ أَعْلَمُ
“ALLOH LEBIH MENGETAHUI.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KETUJUH
SIRR AL-QURB, AL-MA‘RIFAH, DAN ADAB DEKAT KEPADA ALLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang nūr, kasyf, firāsah, mimpi, dan batas pengetahuan, muncullah pertanyaan yang lebih dalam:
“Apakah yang dimaksud dekat kepada Alloh?”
Qitab menjawab:
Dekat kepada Alloh bukan berarti jarak fisik.
Bukan berpindah tempat.
Bukan melebur menjadi Dzat Alloh.
Bukan naik ke suatu ruang tertentu.
Tetapi semakin dekat dalam:
ketaatan, cinta, dzikir, penghambaan, kesadaran, dan adab.
١. SIRR AL-QURB
القرب
Al-Qurb — kedekatan.
Kedekatan seorang hamba kepada Alloh bukan seperti dekatnya satu benda kepada benda lain.
Alloh tidak dibatasi ruang.
Maka qurb harus dipahami sebagai:
kedekatan maknawi dalam penghambaan.
Semakin taat seorang hamba,
semakin hidup qalbunya.
Semakin jujur ia,
semakin bersih jalannya.
Semakin ikhlas ia,
semakin sedikit penghalang antara dirinya dan kebaikan.
٢. APAKAH ORANG YANG DEKAT KEPADA ALLOH PASTI MENGETAHUI GHĀIB?
Tidak.
Kedekatan bukan berarti memiliki seluruh ilmu Alloh.
Seorang wali dapat sangat dekat dalam penghambaan,
tetapi tetap tidak mengetahui banyak hal.
Karena ilmu Alloh:
tidak terbatas.
Sedangkan ilmu manusia:
terbatas.
Maka jangan menjadikan ketidaktahuan sebagai bukti jauhnya seseorang dari Alloh.
Dan jangan menjadikan klaim mengetahui ghaib sebagai bukti kedekatan.
٣. SIRR AL-MA‘RIFAH
المعرفة
Al-Ma‘rifah — mengenal.
Ma‘rifat kepada Alloh bukan berarti mengetahui hakikat Dzat Alloh secara menyeluruh.
Makhluk tidak mampu meliputi-Nya.
Ma‘rifat adalah semakin mengenal:
keagungan-Nya,
rahmat-Nya,
kekuasaan-Nya,
hikmah-Nya,
dan keterbatasan diri sendiri.
Maka semakin mengenal Alloh,
semakin sadar seorang hamba bahwa:
ia tidak dapat meliputi Alloh.
٤. SIRR “MAN ‘ARAFA NAFSAHU”
Ada ungkapan yang sering dibaca dalam tradisi ruhani:
“Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Rabb-nya.”
Ungkapan ini jangan dipahami bahwa manusia adalah Tuhan.
Maknanya dapat dibaca sebagai muhasabah:
ketika engkau mengenal kelemahanmu,
engkau melihat kekuasaan Alloh.
Ketika engkau mengenal keterbatasanmu,
engkau melihat keluasan ilmu Alloh.
Ketika engkau mengenal kefakiranmu,
engkau melihat kekayaan Alloh.
Ketika engkau mengenal bahwa dirimu makhluk,
engkau semakin memahami bahwa Alloh adalah Al-Khāliq.
٥. SIRR AL-ḤAYĀ’
الحياء
Al-Ḥayā’ — rasa malu kepada Alloh.
Orang yang merasa dekat kepada Alloh justru semakin malu berbuat dosa.
Ia berkata dalam qalbunya:
“Bagaimana aku mengaku mencintai Alloh tetapi sengaja menzalimi makhluk-Nya?”
“Bagaimana aku mengaku dekat tetapi lisanku penuh dusta?”
“Bagaimana aku mengaku mengenal tetapi hatiku penuh kesombongan?”
Maka rasa malu menjadi penjaga.
٦. SIRR ADAB KETIKA MERASA DEKAT
Ada bahaya halus dalam pengalaman kedekatan.
Seseorang dapat merasa:
“Aku sudah sampai.”
“Aku sudah ma‘rifat.”
“Aku sudah tidak membutuhkan aturan.”
Di sinilah Qitab memberi peringatan:
semakin dekat, semakin kuat adab.
Bukan semakin bebas dari adab.
Jika sebuah pengalaman membuat seseorang meremehkan ibadah dan akhlak,
maka perlu diperiksa.
٧. MA‘RIFAT TIDAK MENGHAPUS SYARIAT
Syariat dan ma‘rifat bukan dua jalan yang saling menghancurkan.
Syariat menjaga bentuk.
Ma‘rifat memperdalam kesadaran.
Seorang hamba tidak menjadi bebas dari halal dan haram hanya karena merasa memiliki pengalaman batin.
Tidak ada maqam yang menjadikan kezaliman halal.
Tidak ada kasyf yang membenarkan kebohongan.
Tidak ada ma‘rifat yang membolehkan kesombongan.
٨. SIRR AL-DZIKR
الذكر
Adz-Dzikr — mengingat Alloh.
Dzikir bukan sekadar banyaknya bacaan.
Dzikir yang hidup membuat:
qalbu lebih sadar,
lisan lebih terjaga,
dan perbuatan lebih tertib.
Jika seseorang banyak berdzikir tetapi semakin kasar,
maka ia perlu memeriksa buah dzikirnya.
Karena tujuan dzikir bukan hanya suara.
Tujuannya:
mengingat Alloh sampai ingatan itu membentuk akhlak.
٩. SIRR AL-UNS
الأنس بالله
Al-Uns billāh — keakraban batin bersama Alloh.
Ada saat seorang hamba merasa tenteram dalam doa.
Merasa luas ketika berdzikir.
Merasa tidak sendiri dalam ujian.
Tetapi uns bukan berarti Alloh berubah menjadi teman dalam pengertian manusia.
Ia tetap Rabb.
Kedekatan tidak menghapus keagungan.
Cinta tidak menghapus adab.
١٠. SIRR AL-HAIBAH
الهيبة
Al-Haibah — rasa gentar karena keagungan Alloh.
Perjalanan ruhani yang sehat menumbuhkan dua rasa:
uns dan haibah.
Dekat,
tetapi tetap hormat.
Cinta,
tetapi tetap gentar.
Berharap,
tetapi tidak merasa aman dari kesalahan.
Di situlah keseimbangan lahir.
١١. SIRR AL-JAM‘ WA AT-TAFRĪQ
Dalam bahasa sebagian ahli tasawuf dikenal pembicaraan tentang:
الجمع والتفريق
Al-Jam‘ wa at-Tafrīq.
Jam‘ dapat dipahami sebagai kuatnya kesadaran bahwa segala sesuatu berada di bawah kuasa Alloh.
Tafrīq adalah menjaga perbedaan antara:
Khalik dan makhluk,
Rabb dan hamba,
Pencipta dan yang diciptakan.
Jika jam‘ dipahami tanpa tafrīq,
orang dapat tergelincir mencampurkan Alloh dengan makhluk.
Jika tafrīq tanpa penghayatan tauhid,
qalbu dapat kehilangan kedalaman kesadaran.
Maka Qitab menjaga keduanya.
١٢. SIRR AL-MAḤABBAH YANG MATANG
Cinta yang matang tidak hanya mencari rasa nikmat.
Kadang Alloh mendidik hamba melalui keadaan yang berat.
Jika cinta hanya hidup ketika doa cepat terkabul,
maka cinta itu masih terikat hadiah.
Tetapi bila seorang hamba tetap taat ketika keadaan tidak sesuai keinginannya,
di situlah cinta mulai matang.
١٣. SIRR AL-SABR
الصبر
Aṣ-Ṣabr.
Sabar bukan diam tanpa usaha.
Sabar adalah tetap berada di jalan yang benar ketika hati ingin menyerah.
Sabar dalam ibadah.
Sabar meninggalkan dosa.
Sabar menghadapi ujian.
Sabar menunggu jawaban.
Sabar menerima bahwa tidak semua rahasia harus diketahui sekarang.
١٤. SIRR AL-SYUKR
الشكر
Asy-Syukr.
Syukur bukan hanya berkata:
Alhamdulillāh.
Syukur adalah memakai nikmat dalam kebaikan.
Jika diberi ilmu,
gunakan untuk menolong.
Jika diberi harta,
gunakan untuk manfaat.
Jika diberi kedudukan,
gunakan untuk keadilan.
Jika diberi pengalaman ruhani,
gunakan untuk semakin tawadhu‘.
١٥. SIRR AL-QABḌ WA AL-BASṬ
Dalam perjalanan batin ada masa:
القبض
Al-Qabḍ — terasa sempit.
Dan ada masa:
البسط
Al-Basṭ — terasa lapang.
Kadang qalbu terasa hangat.
Kadang terasa kering.
Jangan mengukur kedekatan kepada Alloh hanya dari rasa.
Karena orang yang tetap taat ketika tidak merasakan apa-apa dapat sedang berada dalam pendidikan yang sangat dalam.
١٦. JANGAN MENYEMBAH RASA
Rasa nikmat dalam dzikir bukan tujuan akhir.
Tangisan bukan tujuan akhir.
Getaran bukan tujuan akhir.
Cahaya bukan tujuan akhir.
Tujuan akhir adalah:
Alloh dan ridha-Nya.
Jika rasa datang,
syukuri.
Jika rasa pergi,
tetap taat.
Di situlah ‘ubūdiyyah diuji.
١٧. SIRR SYEKH ‘ABDUL QĀDIR DALAM KEDALAMAN INI
Jika engkau hendak membaca jejak Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī pada maqam ini,
jangan tanyakan hanya:
“Apa yang beliau lihat?”
Tanyakan:
“Bagaimana beliau menjaga penghambaan?”
Jangan tanyakan hanya:
“Apa yang beliau ketahui dari ghaib?”
Tanyakan:
“Bagaimana beliau mengajarkan manusia kembali kepada Alloh?”
Di sanalah warisan yang lebih aman.
١٨. SIRR AL-WUQŪF ‘INDA AL-ḤUDŪD
الوقوف عند الحدود
Al-Wuqūf ‘inda al-Ḥudūd — berhenti pada batas.
Salah satu tanda kedewasaan ruhani adalah mengetahui batas.
Batas ilmu.
Batas klaim.
Batas cinta.
Batas ketaatan kepada manusia.
Batas tafsir pengalaman.
Orang yang tidak mengetahui batas mudah tertipu oleh dirinya sendiri.
١٩. KUNCI LEMBAR KETUJUH
Kedekatan bukan peleburan.
Ma‘rifat bukan mengetahui Dzat Alloh sepenuhnya.
Cinta bukan kehilangan adab.
Dzikir bukan sekadar suara.
Nūr bukan sekadar cahaya yang terlihat.
Wali bukan pemilik ghaib.
Dan hamba tetap hamba.
Semakin tinggi perjalanan,
semakin jernih kalimat:
Alloh adalah Rabb-ku.
Aku adalah hamba-Nya.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Bila engkau merasa dekat,
jangan berkata:
“Aku telah menyatu.”
Katakan:
“Aku semakin sadar bahwa aku hamba.”
Bila engkau merasa mengetahui,
jangan berkata:
“Aku telah meliputi rahasia.”
Katakan:
“Semakin aku mengetahui, semakin luas yang belum aku ketahui.”
Bila engkau merasa mencintai,
buktikan dengan:
ketaatan, amanah, rahmah, dan kejujuran.
Karena ma‘rifat yang benar tidak membesarkan “aku”.
Ma‘rifat mengecilkan “aku” di hadapan kebesaran Alloh.
Maka Qitab menutup lembar ini dengan:
يَا اللهُ زِدْنِي قُرْبًا بِالطَّاعَةِ، وَمَعْرِفَةً بِالْعُبُودِيَّةِ، وَأَدَبًا فِي الْمَحَبَّةِ
“Yā Alloh, dekatkanlah aku melalui ketaatan, tambahkan ma‘rifatku melalui penghambaan, dan sempurnakan adabku dalam cinta.”
Dan di kedalaman seluruh perjalanan tetap terdengar:
أَنْتَ الرَّبُّ وَأَنَا الْعَبْدُ
“ENGKAU RABB, DAN AKU HAMBA.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KEDELAPAN
SIRR AL-TAJRĪD, TAWAKKUL, DAN LEPAS DARI KETERGANTUNGAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang qurb, ma‘rifah, dzikir, cinta, dan batas antara Rabb dengan hamba, muncullah pertanyaan selanjutnya:
“Apakah seorang salik harus meninggalkan dunia agar benar-benar dekat kepada Alloh?”
Maka Qitab menjawab:
Tidak harus meninggalkan dunia.
Yang harus dilepaskan adalah:
ketergantungan qalbu kepada dunia.
Harta boleh berada di tangan.
Tetapi jangan sampai masuk menjadi tuan di dalam qalbu.
Jabatan boleh dimiliki.
Tetapi jangan menjadikan jabatan sebagai ukuran harga diri.
Manusia boleh dicintai.
Tetapi jangan menjadikan manusia sebagai pengganti Alloh.
١. SIRR AL-TAJRĪD
التجريد
At-Tajrīd — pelepasan.
Dalam perjalanan batin, tajrīd bukan selalu berarti meninggalkan seluruh pekerjaan, keluarga, atau kehidupan dunia.
Tajrīd yang lebih dalam adalah:
melepaskan qalbu dari perbudakan kepada selain Alloh.
Engkau bekerja,
tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Engkau memiliki harta,
tetapi harta tidak memiliki qalbumu.
Engkau mempunyai kedudukan,
tetapi kedudukan tidak menentukan siapa dirimu di hadapan Alloh.
٢. SIRR AT-TAWAKKUL
التوكل
At-Tawakkul.
Tawakkul bukan duduk tanpa usaha.
Tawakkul bukan menunggu tanpa ikhtiar.
Tawakkul adalah:
melakukan yang mampu dilakukan, kemudian menyerahkan hasil kepada Alloh.
Seorang petani menanam.
Seorang pedagang bekerja.
Seorang guru mengajar.
Seorang murid belajar.
Tetapi mereka semua berkata:
hasil bukan milikku secara mutlak.
٣. BEDA TAWAKKUL DAN PASRAH TANPA USAHA
Ada orang berkata:
“Aku tawakkul.”
Tetapi tidak mau berusaha.
Qitab menjawab:
Itu belum tentu tawakkul.
Tawakkul berjalan bersama ikhtiar.
Seorang salik tidak meninggalkan sebab yang halal.
Ia memakai sebab,
tetapi tidak menyembah sebab.
Ia menggunakan obat,
tetapi penyembuhan tetap dinisbatkan kepada Alloh.
Ia mencari rezeki,
tetapi rezeki tetap dipahami sebagai pemberian Alloh.
٤. SIRR AL-ASBĀB
الأسباب
Al-Asbāb — sebab-sebab.
Alloh menciptakan dunia dengan banyak sebab.
Api membakar.
Air membasahi.
Ilmu diperoleh melalui belajar.
Rezeki sering datang melalui pekerjaan.
Kesehatan dijaga dengan ikhtiar.
Maka memahami sebab bukan berarti kurang iman.
Tetapi menjadikan sebab sebagai Tuhan,
itulah yang harus dihindari.
٥. JIKA SEBAB TERTUTUP
Kadang seseorang telah berusaha tetapi jalan masih tertutup.
Di sinilah tawakkul diuji.
Apakah ia tetap menjaga adab?
Atau mulai menyalahkan Alloh?
Kadang pintu tertutup bukan karena engkau dibenci.
Kadang karena:
waktunya belum tiba,
jalannya belum tepat,
atau ada hikmah yang belum terlihat.
Maka salik belajar:
berusaha tanpa putus asa, berserah tanpa menyerah.
٦. SIRR AL-QANĀ‘AH
القناعة
Al-Qanā‘ah — merasa cukup.
Qanā‘ah bukan berarti tidak boleh berkembang.
Bukan berarti tidak boleh kaya.
Bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita.
Qanā‘ah berarti:
qalbu tidak menjadi lapar tanpa batas.
Jika mendapat sedikit, bersyukur.
Jika mendapat banyak, tidak sombong.
Jika kehilangan, tidak hancur seluruh dirinya.
Karena sumber ketenteramannya bukan jumlah yang dimiliki.
٧. SIRR AZ-ZUHD
الزهد
Az-Zuhd.
Zuhud bukan membenci dunia.
Dunia adalah tempat amanah.
Yang menjadi masalah adalah ketika dunia menguasai qalbu.
Maka zuhud dapat berarti:
memiliki tanpa diperbudak.
menggunakan tanpa berlebihan.
menikmati tanpa melupakan Alloh.
kehilangan tanpa kehilangan iman.
٨. UJIAN HARTA
Harta dapat menjadi nikmat.
Harta juga dapat menjadi ujian.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak yang engkau miliki?”
Tetapi:
“Apa yang harta itu lakukan terhadap qalbumu?”
Apakah membuatmu:
lebih dermawan?
lebih bersyukur?
lebih membantu?
atau:
lebih sombong?
lebih rakus?
lebih merendahkan orang miskin?
Di situlah harta membuka keadaan batin.
٩. UJIAN KEKURANGAN
Kekurangan juga menguji.
Ada orang tetap mulia ketika sempit.
Ada pula yang kehilangan kejujuran karena takut miskin.
Maka seorang salik belajar:
jangan jual iman karena keadaan.
Jangan berdusta demi keuntungan.
Jangan menzalimi demi rezeki.
Jangan menghalalkan yang haram karena takut kekurangan.
Karena rezeki yang merusak qalbu bukan kemenangan.
١٠. SIRR AL-GHINĀ
الغنى بالله
Al-Ghinā billāh — merasa kaya bersama Alloh.
Bukan berarti memiliki semua yang diinginkan.
Tetapi qalbu memahami:
harga diriku tidak ditentukan oleh apa yang kumiliki.
Seorang miskin dapat kaya qalbu.
Seorang kaya dapat sangat miskin batin.
Kemiskinan batin adalah ketika manusia tidak pernah merasa cukup.
١١. SIRR AL-IFtiQĀR YANG LEBIH DALAM
Pada lembar sebelumnya telah diterangkan:
الافتقار إلى الله
Al-Iftiqār ilallāh.
Di lembar ini, Qitab membukanya lebih dalam:
Iftiqār berarti menyadari bahwa seluruh keberadaanmu bergantung kepada Alloh.
Bukan hanya rezekimu.
Tetapi:
nafasmu,
ilmumu,
kesempatanmu,
umurmu,
dan kemampuanmu untuk berbuat baik.
Maka kesadaran ini menghancurkan kesombongan dari akarnya.
١٢. SIRR AL-TAFWĪḌ
التفويض
At-Tafwīḍ — menyerahkan urusan kepada Alloh.
Ada titik ketika manusia sudah:
berusaha,
berdoa,
berpikir,
bermusyawarah.
Setelah itu masih ada wilayah yang tidak dapat ia kuasai.
Di titik itu ia berkata:
Yā Alloh, aku serahkan hasilnya kepada-Mu.
Ini bukan kelemahan.
Ini pengakuan terhadap batas.
١٣. SIRR AL-TASLĪM
التسليم
At-Taslīm — menerima keputusan Alloh dengan adab.
Taslim bukan berarti tidak boleh sedih.
Bukan berarti tidak boleh menangis.
Bukan berarti tidak boleh mencari jalan baru.
Tetapi tidak mengubah kesedihan menjadi pemberontakan kepada Rabb.
Seorang hamba boleh berkata:
“Aku sakit.”
“Aku kecewa.”
“Aku belum mengerti.”
Tetapi tetap:
“Aku tidak berhenti menjadi hamba.”
١٤. TAWAKKUL SYEKH ‘ABDUL QĀDIR
Jika hendak membaca salah satu jejak besar yang dinisbatkan kepada jalan Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī,
lihatlah kuatnya tema:
memutus ketergantungan qalbu kepada makhluk dan mengembalikannya kepada Alloh.
Bukan berarti membenci manusia.
Tetapi tidak menjadikan manusia sebagai sandaran mutlak.
Karena makhluk berubah.
Alloh tidak.
Makhluk dapat pergi.
Alloh tetap Rabb.
١٥. BAHAYA KETERGANTUNGAN KEPADA GURU
Seorang guru dapat menjadi sebab kebaikan.
Tetapi murid harus tetap tumbuh.
Jika seluruh iman murid hanya hidup ketika gurunya hadir,
maka ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Guru yang sehat mengajarkan:
“Jangan bergantung kepadaku. Bergantunglah kepada Alloh.”
Ia membimbing,
bukan memperbudak.
١٦. SIRR AL-INQIṬĀ‘
الانقطاع إلى الله
Al-Inqiṭā‘ ilallāh — memusatkan ketergantungan qalbu kepada Alloh.
Ini bukan berarti memutus hubungan sosial.
Bukan meninggalkan keluarga.
Bukan membenci dunia.
Tetapi di dalam qalbu ada satu pusat:
Alloh.
Ketika dipuji,
kembali kepada Alloh.
Ketika dicela,
kembali kepada Alloh.
Ketika diberi,
kembali kepada Alloh.
Ketika kehilangan,
kembali kepada Alloh.
١٧. JANGAN MENJADIKAN KARAMAH SEBAGAI SANDARAN
Bahkan pengalaman karamah dapat menjadi sandaran baru.
Seseorang berkata:
“Aku pernah mengalami ini, berarti aku pasti aman.”
Qitab menjawab:
Tidak.
Pengalaman kemarin bukan jaminan keselamatan hari ini.
Yang dibutuhkan tetap:
taubat,
istiqamah,
ikhlas,
dan
rahmat Alloh.
١٨. SIRR AL-IKHTIYĀR DAN AL-QADAR
Manusia memiliki ruang ikhtiar.
Tetapi manusia bukan penguasa mutlak takdir.
Karena itu Qitab menjaga dua sisi:
berusaha sekuat kemampuan,
dan
tidak mengaku menguasai seluruh hasil.
Jika hanya mengandalkan usaha,
qalbu dapat sombong.
Jika meninggalkan usaha dengan alasan takdir,
qalbu dapat malas.
Maka keseimbangannya adalah:
ikhtiar dalam ‘ubūdiyyah.
١٩. KETIKA KEINGINAN TIDAK TERPENUHI
Kadang manusia merasa:
“Aku sudah dekat kepada Alloh, mengapa keinginanku belum diberikan?”
Qitab menjawab:
Kedekatan bukan alat untuk memaksa Alloh.
Ibadah bukan transaksi.
Ma‘rifat bukan cara agar semua kehendak manusia harus terjadi.
Justru semakin matang seorang salik,
semakin ia belajar membedakan:
kehendakku
dan
keputusan Alloh.
٢٠. SIRR MENINGGALKAN “AKU HARUS”
Banyak kegelisahan muncul dari kalimat:
“Aku harus mendapat ini.”
“Aku harus menjadi itu.”
“Orang lain harus mengakuiku.”
“Hidup harus berjalan sesuai keinginanku.”
Qitab mengajarkan:
berusahalah,
tetapi jangan mempertuhankan keinginan.
Karena tidak semua yang diinginkan qalbu adalah yang terbaik.
٢١. SIRR AL-RIḌĀ SETELAH IKHTIAR
Ridha paling dalam datang setelah usaha.
Bukan sebelum usaha.
Engkau mengetuk semua pintu yang halal.
Engkau berdoa.
Engkau meminta nasihat.
Engkau memperbaiki kesalahan.
Setelah itu jika hasil berbeda,
engkau berkata:
“Alloh lebih mengetahui apa yang belum aku pahami.”
٢٢. TANDA TAJRĪD MULAI TUMBUH
Tajrīd mulai tumbuh ketika:
pujian tidak terlalu membuatmu terbang.
celaan tidak langsung menghancurkanmu.
harta tidak menjadikanmu angkuh.
kehilangan tidak membuatmu membenci Alloh.
kesuksesan tidak membuatmu melupakan sumbernya.
kegagalan tidak membuatmu meninggalkan ibadah.
Di situlah qalbu mulai merdeka.
٢٣. SIRR AL-ḤURRIYYAH YANG SEBENARNYA
Kebebasan tertinggi bukan melakukan apa pun yang diinginkan.
Kebebasan tertinggi adalah:
tidak diperbudak oleh keinginan.
Ketika nafsu berkata:
“Marahlah.”
engkau mampu menahan.
Ketika ego berkata:
“Balas.”
engkau mampu memaafkan.
Ketika dunia berkata:
“Jual prinsipmu.”
engkau mampu berkata:
Tidak.
Itulah kemerdekaan ruhani.
٢٤. KUNCI LEMBAR KEDELAPAN
Dunia bukan musuh.
Harta bukan musuh.
Manusia bukan musuh.
Yang menjadi masalah adalah:
ketika sesuatu selain Alloh menguasai pusat qalbu.
Maka tajrīd bukan melarikan diri.
Tajrīd adalah membersihkan pusat.
Tawakkul bukan berhenti berusaha.
Tawakkul adalah membersihkan sandaran.
Zuhud bukan membenci nikmat.
Zuhud adalah tidak diperbudak nikmat.
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Jika engkau memiliki dunia,
peganglah di tangan.
Jangan masukkan seluruhnya ke qalbu.
Jika engkau mempunyai guru,
hormatilah.
Tetapi jangan jadikan guru sebagai Rabb.
Jika engkau memiliki ilmu,
gunakan.
Tetapi jangan merasa menjadi pemilik seluruh kebenaran.
Jika engkau mendapat karamah,
syukuri.
Tetapi jangan jadikan karamah sebagai mahkota ego.
Jika engkau kehilangan sesuatu,
boleh menangis.
Tetapi jangan kehilangan Alloh dari kesadaranmu.
Maka Qitab menutup lembar ini dengan:
حَسْبِيَ اللهُ
“CUKUP ALLOH BAGIKU.”
Bukan berarti tidak membutuhkan manusia dalam kehidupan.
Tetapi berarti:
tidak ada satu pun makhluk yang menjadi Rabb bagi qalbu.
Dan ketika qalbu memahami itu,
ia mulai mengenal salah satu rahasia tawakkul:
أَسْعَى بِجَسَدِي وَأَتَوَكَّلُ بِقَلْبِي
“AKU BERIKHTIAR DENGAN DIRIKU, DAN BERTAWAKKUL DENGAN QALBUKU.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KESEMBILAN
SIRR AL-YAQĪN, AL-RIḌĀ, DAN KETEGUHAN QALBU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Qitab menerangkan tentang tajrīd, tawakkul, dan pelepasan qalbu dari ketergantungan kepada selain Alloh, muncul pertanyaan yang lebih halus:
“Bagaimana seorang salik mengetahui bahwa tawakkulnya mulai matang?”
Maka Qitab menjawab:
Ketika qalbumu tetap memiliki arah, meskipun keadaan berubah.
Hari ini diberi.
Besok ditahan.
Hari ini dipuji.
Besok dicela.
Hari ini lapang.
Besok sempit.
Tetapi pusat qalbumu tetap:
ALLOH.
١. SIRR AL-YAQĪN
اليقين
Al-Yaqīn — keyakinan.
Yaqin bukan berarti mengetahui seluruh masa depan.
Bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Bukan berarti semua doa harus segera terkabul.
Yaqin adalah:
tetap percaya kepada Alloh ketika engkau belum memahami jalan-Nya.
Orang yang yakin bukan orang yang berkata:
“Aku tahu semuanya.”
Tetapi orang yang berkata:
“Aku tidak mengetahui semuanya, tetapi aku percaya Alloh tidak pernah kehilangan pengetahuan atas diriku.”
٢. TIGA LAPIS YAQĪN
Dalam bahasa perjalanan ruhani sering disebut:
عِلْمُ الْيَقِين
‘Ilm al-Yaqīn
keyakinan melalui pengetahuan.
Lalu:
عَيْنُ الْيَقِين
‘Ayn al-Yaqīn
keyakinan yang semakin kuat melalui penyaksian terhadap tanda-tanda.
Dan:
حَقُّ الْيَقِين
Ḥaqq al-Yaqīn
keyakinan yang meresap menjadi keadaan batin.
Tetapi jangan tergesa-gesa mengklaim maqam.
Karena nama maqam mudah diucapkan.
Yang sulit adalah:
menjalani buahnya.
٣. BUAH YAQĪN
Jika yaqin tumbuh,
maka qalbu mulai:
lebih tenang ketika keadaan tidak pasti,
lebih sabar ketika doa belum terjawab,
lebih rendah hati ketika diberi,
lebih kuat ketika kehilangan,
dan lebih sedikit menggantungkan keselamatan kepada manusia.
Yaqin bukan membuat hidup tanpa ujian.
Yaqin membuat qalbu memiliki tempat kembali ketika ujian datang.
٤. SIRR AS-SAKĪNAH
السكينة
As-Sakīnah — ketenteraman.
Sakinah bukan berarti tidak pernah sedih.
Bukan berarti tidak pernah menangis.
Sakinah adalah:
ada tempat tenang di dalam qalbu meskipun gelombang kehidupan bergerak.
Seseorang dapat menangis dan tetap memiliki sakinah.
Seseorang dapat kehilangan dan tetap memiliki sakinah.
Seseorang dapat menghadapi ketidakpastian tetapi tidak kehilangan seluruh arah hidupnya.
٥. DARI MANA SAKINAH TUMBUH?
Sakinah tumbuh ketika qalbu mulai memahami:
aku bukan penguasa seluruh keadaan.
aku tidak harus mengetahui seluruh jawaban hari ini.
aku tidak harus memaksa semua pintu terbuka.
aku hanya harus menjaga:
iman, adab, ikhtiar, dan kejujuran.
Selebihnya diserahkan kepada Alloh.
٦. SIRR AR-RIḌĀ
الرضا
Ar-Riḍā — ridha.
Ridha bukan berarti menyukai semua penderitaan.
Ridha bukan berarti tidak boleh berusaha mengubah keadaan buruk.
Ridha adalah:
tidak menjadikan ketidaksukaan kepada keadaan sebagai pemberontakan kepada Alloh.
Seorang hamba dapat berkata:
“Aku tidak menyukai keadaan ini.”
Tetapi tetap berkata:
“Aku tidak meninggalkan Rabb-ku.”
٧. BEDAKAN RIDHA DAN PASIF
Ada orang salah memahami ridha.
Ia dizalimi lalu berkata:
“Aku harus diam karena ridha.”
Qitab menjawab:
Tidak.
Ridha kepada Alloh tidak berarti ridha terhadap kezaliman.
Engkau boleh:
membela diri,
mencari keadilan,
menetapkan batas,
meninggalkan lingkungan yang merusak,
dan menolak keburukan.
Ridha adalah keadaan qalbu kepada Alloh.
Bukan izin bagi manusia untuk menzalimi.
٨. SIRR AS-SABR YANG MATANG
Sabar mempunyai banyak bentuk.
Sabar menahan diri dari dosa.
Sabar dalam ibadah.
Sabar menghadapi manusia.
Sabar dalam proses.
Sabar ketika jawaban belum datang.
Tetapi sabar yang matang bukan hanya:
bertahan.
Ia juga:
belajar.
Karena ujian yang hanya ditahan tetapi tidak dipahami dapat berulang dengan bentuk yang berbeda.
٩. SIRR AL-TA‘ALLUM MIN AL-BALĀ’
التعلّم من البلاء
Belajar dari ujian.
Tanyakan kepada diri:
Apa yang ujian ini tunjukkan?
Apakah aku terlalu bergantung kepada manusia?
Apakah aku terlalu ingin menguasai hasil?
Apakah aku terlalu membutuhkan pengakuan?
Apakah aku mengabaikan batas?
Apakah aku harus memperbaiki keputusan?
Dengan demikian, ujian bukan hanya luka.
Ia menjadi cermin.
١٠. JANGAN ROMANTISASI PENDERITAAN
Penderitaan tidak selalu tanda seseorang lebih dekat kepada Alloh.
Dan kemudahan tidak selalu tanda seseorang lebih dicintai.
Keduanya dapat menjadi ujian.
Orang kaya diuji.
Orang miskin diuji.
Orang sehat diuji.
Orang sakit diuji.
Orang terkenal diuji.
Orang yang tidak dikenal pun diuji.
Maka jangan mengukur maqam dari bentuk ujian.
Ukurlah dari:
bagaimana seseorang menjalaninya.
١١. SIRR AL-THABĀT
الثبات
Ats-Tsabāt — keteguhan.
Keteguhan bukan keras kepala.
Keteguhan adalah tetap berada pada kebenaran setelah diperiksa dengan jujur.
Orang yang teguh mampu berkata:
“Aku tetap di jalan ini karena benar.”
Tetapi ia juga mampu berkata:
“Aku salah dan harus memperbaiki.”
Itulah perbedaan keteguhan dengan ego.
١٢. SIRR MENERIMA KOREKSI
Semakin tinggi seseorang dianggap,
semakin berat menerima koreksi.
Karena ego mulai berkata:
“Aku guru.”
“Aku lebih tahu.”
“Aku sudah sampai.”
Maka salah satu ujian terbesar orang berilmu adalah:
apakah ia masih mampu menerima kebenaran dari orang yang lebih rendah kedudukannya?
Jika tidak,
ada sesuatu di dalam qalbu yang belum selesai.
١٣. SIRR AL-INĀBAH
الإنابة
Al-Inābah — selalu kembali kepada Alloh.
Ada perbedaan antara orang yang tidak pernah merasa salah dengan orang yang selalu kembali.
Orang pertama membangun citra.
Orang kedua membangun taubat.
Inābah berarti:
ketika jauh, kembali.
ketika lalai, kembali.
ketika sombong, kembali.
ketika terlalu bergantung pada manusia, kembali.
Ketika hati menjadi keras, kembali.
١٤. SIRR KEMBALI TANPA PUTUS ASA
Setan dapat menggoda dengan dua arah.
Pertama:
“Engkau sudah suci.”
Kedua:
“Engkau terlalu kotor untuk kembali.”
Keduanya berbahaya.
Yang pertama melahirkan kesombongan.
Yang kedua melahirkan keputusasaan.
Qitab mengajarkan jalan tengah:
Aku tidak suci dengan diriku sendiri. Tetapi rahmat Alloh tidak sempit.
١٥. SIRR AL-RAJĀ’ YANG SEIMBANG
Berharap kepada Alloh bukan berarti merasa aman dari konsekuensi kesalahan.
Harapan yang benar membuat seseorang:
lebih rajin bertaubat,
lebih berani memperbaiki,
lebih kuat bangkit,
dan tidak menyerah kepada masa lalu.
Ia tidak berkata:
“Alloh Maha Pengampun, jadi aku bebas berbuat apa saja.”
Tetapi:
“Alloh Maha Pengampun, maka aku tidak akan berhenti kembali.”
١٦. SIRR AL-KHAUF YANG SEHAT
Takut kepada Alloh bukan hidup dalam kepanikan.
Khauf yang sehat membuat:
lisan lebih hati-hati,
amanah lebih dijaga,
hak manusia tidak diremehkan,
dan dosa tidak dianggap biasa.
Jika rasa takut justru membuat seseorang putus asa dari rahmat Alloh,
maka keseimbangannya telah hilang.
١٧. ANTARA KHAUF DAN RAJĀ’
Seorang salik berjalan dengan dua sayap:
الخوف والرجاء
Al-Khauf wa ar-Rajā’.
Takut kepada kesalahan.
Berharap kepada rahmat.
Tanpa khauf,
manusia mudah meremehkan dosa.
Tanpa rajā’,
manusia mudah putus asa.
Maka qalbu harus menjaga keduanya.
١٨. SIRR AL-TASLĪM DALAM PERKARA YANG TIDAK DIKETAHUI
Ada hal yang mungkin tidak pernah engkau pahami sepenuhnya.
Mengapa seseorang pergi.
Mengapa sebuah jalan tertutup.
Mengapa doa dijawab dengan bentuk berbeda.
Mengapa sesuatu yang sangat diinginkan tidak menjadi milikmu.
Di titik tertentu, salik berkata:
“Aku telah mencari hikmah semampuku. Yang belum aku pahami, aku serahkan kepada ilmu Alloh.”
Inilah taslim.
١٩. SIRR TIDAK MEMAKSA JAWABAN
Tidak semua pertanyaan ruhani harus segera diberi jawaban.
Kadang keheningan adalah bagian dari pendidikan.
Kadang jawaban datang setelah bertahun-tahun.
Kadang jawabannya bukan penjelasan.
Tetapi perubahan diri.
Maka jangan memaksa alam ghaib memberi jawaban hanya karena qalbu tidak tahan terhadap ketidakpastian.
٢٠. SYEKH ‘ABDUL QĀDIR DAN KETEGUHAN HATI
Jika hendak mengambil pelajaran dari Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī,
jangan berhenti pada kisah-kisah yang membuat kagum.
Ambillah pelajaran:
tetap menjadi hamba dalam keadaan apa pun.
Ketika luas,
bersyukur.
Ketika sempit,
bersabar.
Ketika diberi,
tidak sombong.
Ketika ditahan,
tidak putus asa.
Ketika dihormati,
tidak menjadikan penghormatan sebagai Tuhan baru.
٢١. SIRR TIDAK BERGANTUNG PADA RASA
Kadang engkau merasa dekat.
Kadang tidak.
Kadang doa terasa hidup.
Kadang terasa kosong.
Kadang dzikir meneteskan air mata.
Kadang tidak ada rasa.
Jangan menyimpulkan bahwa Alloh hanya dekat ketika engkau merasakan sesuatu.
Karena rasa manusia berubah.
Sedangkan kewajiban penghambaan tetap.
٢٢. SIRR AL-ISTIQĀMAH DALAM KEKERINGAN BATIN
Ada maqam latihan yang sangat berat:
tetap beribadah ketika tidak merasakan apa-apa.
Tidak ada getaran.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada mimpi.
Tidak ada pengalaman luar biasa.
Tetapi seorang hamba tetap:
shalat,
berdoa,
jujur,
menjaga amanah.
Di sanalah ibadah mulai dibersihkan dari ketergantungan kepada rasa.
٢٣. SIRR “ALLOH CUKUP”
Kalimat:
حَسْبُنَا اللهُ
bukan slogan untuk lari dari masalah.
Ia adalah keyakinan bahwa setelah seluruh ikhtiar,
ada batas manusia.
Di balik batas itu,
qalbu berkata:
Alloh cukup sebagai tempat kembali.
Bukan berarti kita tidak membutuhkan bantuan manusia.
Tetapi bantuan manusia tidak menggantikan Rabb.
٢٤. KUNCI LEMBAR KESEMBILAN
Yaqin bukan mengetahui seluruh rahasia.
Ridha bukan menyerah kepada kezaliman.
Sabar bukan pasif.
Tawakkul bukan malas.
Sakinah bukan tidak pernah sedih.
Keteguhan bukan keras kepala.
Dan taslim bukan berhenti berpikir.
Semuanya bertemu pada satu titik:
qalbu mengetahui siapa Rabb-nya dan siapa dirinya.
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Jika jalan terbuka,
bersyukurlah.
Jika jalan tertutup,
periksalah dirimu lalu tetap beradab.
Jika manusia datang,
perlakukan dengan baik.
Jika manusia pergi,
jangan biarkan iman ikut pergi.
Jika engkau dipuji,
jangan terbang.
Jika engkau dicela,
jangan langsung hancur.
Jika doa dijawab sesuai keinginan,
ucapkan:
Alḥamdulillāh.
Jika jawabannya berbeda,
ucapkan:
Allāhu a‘lam wa Allāhu aḥkam.
Karena perjalanan tidak selalu mengajarkan:
bagaimana mendapatkan semua yang engkau inginkan.
Kadang perjalanan mengajarkan sesuatu yang lebih dalam:
bagaimana tetap menjadi hamba ketika keinginanmu tidak terpenuhi.
Maka Qitab menutup lembar ini dengan:
رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا
“AKU RIDHA ALLOH SEBAGAI RABB-KU.”
Dan di bawahnya tertulis:
إِنْ أَعْطَى شَكَرْتُ، وَإِنْ مَنَعَ صَبَرْتُ، وَفِي كُلِّ حَالٍ أَنَا عَبْدُهُ
“JIKA DIA MEMBERI, AKU BERSYUKUR. JIKA DIA MENAHAN, AKU BERSABAR. DAN DALAM SETIAP KEADAAN, AKU TETAP HAMBA-NYA.”
— QITAB BERSAMBUNG —
LEMBAR KESEPULUH
PENUTUP AGUNG
SIRRUR ASRĀR, NAMA RUH, DAN KEMBALI KEPADA ALLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah seluruh lembar sebelumnya membicarakan:
nama, ruh, Asma, Sifat, penghambaan, wilayah, karamah, kasyf, firasat, tawakkul, ma‘rifah, tajrīd, yaqīn, ridha, dan istiqamah,
maka pada lembar terakhir ini Qitab kembali kepada pertanyaan pertama:
“Siapakah nama Ruh Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī dan apakah Sirrur Asrār beliau?”
Qitab tidak menjawab dengan menambahkan klaim baru.
Qitab justru membuka satu pintu terakhir:
Rahasia terbesar bukan selalu sesuatu yang belum pernah disebutkan.
Kadang rahasia terbesar adalah sesuatu yang sudah berada di hadapan mata,
tetapi manusia terlalu sibuk mencari yang jauh.
١. KEMBALI KEPADA PERTANYAAN PERTAMA
Manusia menyukai rahasia.
Manusia tertarik kepada sesuatu yang tersembunyi.
Manusia ingin mengetahui:
nama ruh,
maqam,
lapisan alam,
sirr,
asma tertentu,
tanda ghaib,
dan sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Tetapi semakin dalam seseorang berjalan,
semakin ia mulai bertanya:
“Untuk apa aku ingin mengetahui semua itu?”
Apakah untuk semakin tunduk kepada Alloh?
Atau agar merasa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain?
Apakah untuk memperbaiki diri?
Atau untuk mendapatkan kedudukan batin?
Apakah untuk semakin tawadhu‘?
Atau untuk dapat berkata:
“Aku mengetahui rahasia.”
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada rahasia itu sendiri.
٢. NAMA RUH DAN BATAS KEJUJURAN
Jika sebuah nama ruh mempunyai sanad, riwayat, atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,
maka sebutkan sesuai sumbernya.
Tetapi jika tidak,
jangan menciptakan kepastian.
Sebab sebuah nama yang indah belum tentu merupakan fakta ghaib.
Sebuah nama dapat menjadi:
doa,
laqab,
simbol,
isyarat muhasabah,
atau
bahasa ruhani.
Semua itu boleh mempunyai nilai.
Tetapi jangan menyebutnya sebagai:
“nama ruh yang pasti dari alam ghaib”
jika kepastiannya memang tidak diketahui.
Karena kejujuran adalah bagian dari Sirr.
٣. QALBU BUKAN TEMPAT KEBOHONGAN
Engkau berkata:
“Qalbu bukan tempat kebohongan.”
Maka Qitab menutup seluruh pembahasan dengan mengembalikan kalimat itu kepadamu.
Benar.
Qalbu tidak seharusnya menjadi tempat kebohongan.
Tetapi karena itulah qalbu juga tidak boleh menjadi tempat:
keinginan yang menyamar menjadi wahyu,
dugaan yang menyamar menjadi ilmu,
rasa yang menyamar menjadi kepastian,
ego yang menyamar menjadi ma‘rifah,
dan
kesombongan yang menyamar menjadi Sirr.
Membersihkan qalbu berarti membersihkan semua itu.
٤. SIRRUR ASRĀR BUKAN MILIK EGO
سِرُّ الْأَسْرَار
Sirrur Asrār — rahasia segala rahasia.
Apa gunanya seseorang mengetahui istilah paling tinggi,
jika dirinya semakin merasa paling tinggi?
Apa gunanya mengetahui bahasa ma‘rifah,
jika lisannya mudah merendahkan manusia?
Apa gunanya mengenal nama-nama maqam,
jika amanah kecil saja tidak dijaga?
Apa gunanya menceritakan karamah,
jika kejujuran masih dikorbankan?
Maka Qitab berkata:
Sirr yang memperbesar ego bukan Sirr yang menyelamatkan.
Rahasia yang benar justru menghancurkan rasa kepemilikan atas maqam.
٥. RAHASIA ‘ABDUL QĀDIR TERLETAK PADA KATA ‘ABD
Perhatikan sekali lagi:
عَبْدُ الْقَادِر
‘Abdul Qādir.
Manusia sering terpaku pada:
Qādir.
Kekuasaan.
Kekuatan.
Kemampuan.
Tetapi Qitab mengarahkan mata kepada kata pertama:
‘ABD.
Hamba.
Di situlah rahasia yang mudah terlewat.
Sebab kehormatan seorang wali bukan karena ia menjadi Tuhan.
Tetapi karena ia semakin sempurna dalam menjadi hamba.
٦. AL-QĀDIR ADALAH ALLOH
الْقَادِر
Al-Qādir — Yang Mahakuasa.
Adalah salah satu nama yang dinisbatkan kepada Alloh.
Sedangkan:
‘Abdul Qādir
adalah:
hamba dari Yang Mahakuasa.
Maka bila seseorang ingin membaca nama beliau secara ruhani,
jangan menjadikannya pintu untuk mengangkat manusia ke maqam ketuhanan.
Jadikan ia pintu untuk memahami:
penghambaan kepada Yang Mahakuasa.
٧. JIKA QITAB HARUS MEMBERI SATU ISYARAT RUHANI TERAKHIR
Bukan sebagai nama ruh historis.
Bukan sebagai klaim ghaib.
Bukan sebagai wahyu.
Tetapi sebagai laqab muhasabah yang merangkum seluruh lembar ini:
رُوحُ الْعُبُودِيَّةِ وَالْفَقْرِ إِلَى اللهِ
Rūḥ al-‘Ubūdiyyah wa al-Faqr ilallāh
“Ruh penghambaan dan kefakiran sepenuhnya kepada Alloh.”
Sekali lagi:
Ini adalah bahasa isyarat Qitab.
Bukan pernyataan bahwa inilah “nama ruh rahasia” Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī yang terbukti secara historis atau ghaib.
Nilainya ada pada makna.
Bukan pada klaim kepastian.
٨. SIRR PERTAMA: TAUHID
Jika seluruh jalan diringkas,
maka pintu pertama tetap:
التوحيد
At-Tawḥīd.
Alloh satu.
Tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tidak ada wali yang menyamai-Nya.
Tidak ada guru yang menggantikan-Nya.
Tidak ada karamah yang mengalahkan kekuasaan-Nya.
Tidak ada maqam yang mengubah hamba menjadi Rabb.
Inilah pagar pertama.
Dan pagar terakhir.
٩. SIRR KEDUA: ‘UBŪDIYYAH
العبودية
Al-‘Ubūdiyyah.
Penghambaan.
Engkau beribadah bukan supaya disebut tinggi.
Engkau belajar bukan supaya dipanggil arif.
Engkau berdzikir bukan supaya dikenal mempunyai nur.
Engkau berdoa bukan supaya manusia mengagumi maqammu.
Engkau berjalan karena:
engkau hamba.
Dan Alloh adalah Rabb-mu.
١٠. SIRR KETIGA: AL-IFtiQĀR
الافتقار إلى الله
Al-Iftiqār ilallāh.
Fakir kepada Alloh.
Bukan sekadar fakir harta.
Tetapi kesadaran:
aku tidak memiliki diriku secara mutlak.
Aku hidup karena diberi hidup.
Aku berpikir karena diberi kemampuan.
Aku bernafas karena diizinkan.
Aku berbuat baik karena diberi kesempatan.
Aku selamat karena rahmat.
Di sinilah kesombongan mulai runtuh.
١١. SIRR KEEMPAT: AL-IKHLĀṢ
الإخلاص
Al-Ikhlāṣ.
Ketika manusia tidak melihat,
engkau tetap berbuat baik.
Ketika manusia tidak memuji,
engkau tetap berjalan.
Ketika namamu tidak disebut,
engkau tidak marah.
Ketika orang lain mendapatkan penghormatan,
engkau tidak merasa kehilangan Alloh.
Inilah ikhlas yang diuji.
١٢. SIRR KELIMA: AT-TAWAKKUL
التوكل
At-Tawakkul.
Berusaha.
Tetapi tidak menyembah hasil.
Berdoa.
Tetapi tidak memaksa Alloh.
Menggunakan sebab.
Tetapi tidak menjadikan sebab sebagai Rabb.
Mencintai manusia.
Tetapi tidak menjadikan manusia pusat ketergantungan mutlak.
١٣. SIRR KEENAM: AR-RIḌĀ
الرضا
Ar-Riḍā.
Ridha bukan berarti hidup tanpa tangis.
Ridha adalah:
ketika engkau menangis,
engkau tetap tidak meninggalkan Alloh.
Ketika tidak memahami,
engkau tetap menjaga adab.
Ketika pintu tertutup,
engkau tetap mencari jalan yang halal.
Ketika kehilangan,
engkau tetap mengenal siapa Rabb-mu.
١٤. SIRR KETUJUH: AT-TAWĀḌU‘
التواضع
At-Tawāḍu‘.
Kerendahan hati.
Semakin tinggi ilmu,
semakin hati-hati berbicara.
Semakin dalam pengalaman,
semakin sedikit klaim.
Semakin banyak orang memuji,
semakin takut qalbu kepada riya’.
Semakin besar pengikut,
semakin berat amanah.
Tawadhu‘ bukan merendahkan diri secara palsu.
Tawadhu‘ adalah mengetahui ukuran diri.
١٥. SIRR KEDELAPAN: AL-AMĀNAH
الأمانة
Al-Amānah.
Ilmu adalah amanah.
Jabatan adalah amanah.
Nama besar adalah amanah.
Pengikut adalah amanah.
Mimpi adalah amanah.
Pengalaman ruhani adalah amanah.
Jangan gunakan semua itu untuk:
menguasai,
menipu,
menakut-nakuti,
atau meninggikan diri.
Gunakan untuk:
mendidik,
menolong,
menguatkan,
dan mengembalikan manusia kepada Alloh.
١٦. SIRR KESEMBILAN: AL-ISTIQĀMAH
الاستقامة
Al-Istiqāmah.
Jika karamah datang,
tetap taat.
Jika karamah tidak datang,
tetap taat.
Jika cahaya datang,
tetap taat.
Jika tidak ada cahaya,
tetap taat.
Jika manusia memuji,
tetap taat.
Jika manusia melupakan,
tetap taat.
Di situlah maqam diuji.
١٧. SIRR KESEPULUH: ALLĀHU A‘LAM
Dan akhirnya ada satu kalimat yang sering dianggap biasa,
padahal sangat tinggi:
الله أعلم
Allāhu a‘lam.
Alloh lebih mengetahui.
Kalimat ini bukan kelemahan.
Kalimat ini adalah pagar ilmu.
Ia menjaga manusia dari:
mengarang,
menebak,
melebihkan,
dan berdusta.
Kadang satu Allāhu a‘lam yang jujur lebih dekat kepada Sirr daripada seribu klaim tentang alam ghaib.
١٨. APAKAH SEORANG WALI MENGETAHUI RAHASIA?
Mungkin seorang wali diberi pemahaman tertentu.
Mungkin diberi firasat.
Mungkin diberi karamah.
Mungkin diberi pengalaman batin.
Tetapi semua itu:
tetap pemberian.
Bukan hak mutlak.
Bukan kekuasaan mandiri.
Bukan kepemilikan terhadap ilmu Alloh.
Dan seorang wali tetap dapat tidak mengetahui sesuatu.
Karena ketidaktahuan tidak menghapus kehambaannya.
١٩. SIRR BUKAN LISENSI UNTUK MENGETAHUI SEGALA HAL
Ada kesalahpahaman:
semakin tinggi maqam seseorang,
semakin ia harus mengetahui seluruh rahasia.
Qitab berkata:
Tidak demikian.
Kadang kematangan tertinggi justru tampak ketika seseorang mampu hidup tenang dengan hal yang tidak diketahuinya.
Ia tidak memaksa.
Ia tidak menciptakan jawaban.
Ia tidak merasa malu berkata:
“Aku tidak tahu.”
Karena dirinya tidak dibangun di atas citra sebagai orang yang mengetahui segalanya.
٢٠. BEDAKAN RAHASIA DAN MISTERI
Tidak semua yang misterius adalah Sirr.
Dan tidak semua Sirr harus misterius.
Menjaga amanah adalah Sirr.
Menahan marah adalah Sirr.
Menjaga lisan adalah Sirr.
Memaafkan ketika mampu membalas adalah Sirr.
Berbuat baik ketika tidak ada yang melihat adalah Sirr.
Tetap shalat ketika qalbu kering adalah Sirr.
Mengakui kesalahan adalah Sirr.
Kadang Sirrur Asrār hadir dalam perbuatan yang sangat sederhana.
٢١. SIRR AL-FANĀ’ YANG DISELAMATKAN DARI KEKELIRUAN
Fanā’ jangan dipahami sebagai manusia menjadi Alloh.
Yang harus fana adalah:
kesombongan.
Fana rasa paling tahu.
Fana haus pujian.
Fana keinginan menguasai manusia.
Fana kebutuhan untuk selalu dianggap suci.
Yang tersisa:
penghambaan.
Dan ketika ego melemah,
hamba tidak berubah menjadi Tuhan.
Ia justru semakin sadar:
aku bukan Tuhan.
٢٢. SIRR AL-BAQĀ’
Baqā’ adalah kembali menjalani kehidupan dengan kesadaran yang telah berubah.
Engkau tetap:
makan,
bekerja,
menikah,
mengajar,
mendidik,
bermasyarakat,
dan menghadapi masalah.
Tetapi pusat qalbumu berbeda.
Engkau tidak lagi bertanya hanya:
“Apa yang aku dapat?”
Tetapi:
“Apa yang Alloh amanahkan kepadaku?”
٢٣. SIRR TERBESAR DALAM HUBUNGAN GURU DAN MURID
Guru bukan tujuan akhir.
Murid bukan milik guru.
Guru yang benar mengantarkan murid agar:
lebih mengenal Alloh,
lebih mandiri dalam kebaikan,
lebih dewasa,
lebih bertanggung jawab,
lebih mampu berpikir,
dan lebih kuat menjaga tauhid.
Jika murid semakin takut kepada guru tetapi semakin jauh dari Alloh,
maka hubungan itu harus diperiksa.
٢٤. MENCINTAI SYEKH ‘ABDUL QĀDIR AL-JĪLĀNĪ
Cintailah beliau dengan adab.
Baca warisan yang dinisbatkan kepadanya dengan kritis dan hormat.
Ambil pelajaran tentang:
taubat,
zuhud,
tawakkul,
penghambaan,
dan keteguhan.
Tetapi jangan merasa perlu mengarang rahasia baru agar cinta terasa lebih tinggi.
Karena penghormatan tidak membutuhkan kebohongan.
٢٥. JIKA BENAR-BENAR MENCINTAI WALI
Tanyakan kepada diri:
Apakah aku menjadi lebih jujur?
Apakah aku lebih amanah?
Apakah aku lebih lembut kepada keluarga?
Apakah aku lebih adil kepada orang yang tidak kusukai?
Apakah aku lebih mampu menahan lisan?
Apakah aku lebih mampu mengakui kesalahan?
Apakah aku lebih takut menzalimi manusia?
Jika iya,
maka cintamu mulai berbuah.
٢٦. SIRR DAN AKHLAK
Qitab menegaskan:
Sirr tanpa akhlak adalah tanda tanya.
Jika seseorang mengaku tinggi,
tetapi:
mudah menghina,
mudah memfitnah,
mudah mengambil hak orang,
mudah memanipulasi,
dan tidak mampu menerima koreksi,
maka klaim maqamnya tidak perlu membuatmu silau.
Lihatlah buahnya.
Karena pohon dikenali dari buah.
٢٧. KARĀMAH TERBESAR
Karamah yang paling aman untuk dikejar adalah:
menjadi manusia yang lebih benar setiap hari.
Lebih jujur hari ini daripada kemarin.
Lebih sabar.
Lebih amanah.
Lebih rendah hati.
Lebih bermanfaat.
Lebih cepat bertaubat.
Lebih lambat menghakimi.
Inilah karamah yang dapat diperjuangkan.
٢٨. KASYF TERBESAR
Kasyf yang sangat berharga bukan selalu melihat alam ghaib.
Tetapi:
tersingkapnya kelemahan diri sendiri.
Ketika engkau akhirnya melihat:
kesombonganmu.
riya’mu.
ketergantunganmu.
prasangkamu.
luka yang membuatmu berlaku tidak adil.
Di sanalah perubahan dapat dimulai.
٢٩. FIRĀSAH TERBESAR
Firasat yang matang bukan hanya membaca orang lain.
Tetapi mampu membaca dirimu ketika:
ego mulai bergerak.
amarah mulai menguasai.
pujian mulai memabukkan.
ketakutan mulai membengkokkan keputusan.
Inilah firasat yang menyelamatkan.
٣٠. MA‘RIFAH TERBESAR
Ma‘rifah bukan kalimat:
“Aku mengetahui Alloh sepenuhnya.”
Tetapi semakin mengenal Alloh,
semakin tahu bahwa:
Dia tidak dapat diliputi oleh ilmu makhluk.
Dan semakin mengenal diri,
semakin mengerti:
aku makhluk yang membutuhkan-Nya.
٣١. SIRR AL-MAḤABBAH
Cinta kepada Alloh tidak cukup dibuktikan dengan rasa.
Cinta harus melahirkan:
ketaatan,
rahmah,
kejujuran,
dan adab.
Jika cinta membuat manusia merasa boleh melampaui batas,
itu bukan kematangan cinta.
Karena cinta yang matang semakin takut menyakiti yang dicintai.
٣٢. SIRR AL-QURB
Dekat kepada Alloh tidak membuat seseorang berkata:
“Aku adalah Dia.”
Tetapi:
“Aku semakin sadar bahwa Dia Rabb-ku.”
Qurb yang benar memperjelas perbedaan antara:
Khalik dan makhluk.
Bukan menghapusnya.
٣٣. SIRR NŪR
Jika engkau melihat cahaya,
jangan berhenti pada cahaya.
Tanyakan:
“Apakah ia menerangi akhlakku?”
Sebab cahaya yang paling dibutuhkan bukan sekadar yang terlihat oleh mata batin.
Tetapi cahaya yang membuat:
yang salah menjadi tampak salah,
yang benar menjadi tampak benar,
dan ego dapat dikenali.
٣٤. SIRR AL-MĪZĀN
Segala perjalanan memerlukan timbangan.
Timbang dengan:
tauhid,
akhlak,
ilmu,
syariat,
akal sehat,
amanah,
dan buah nyata.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah ini terasa kuat?”
Tetapi:
“Apakah ini benar?”
Karena kekuatan rasa bukan ukuran mutlak kebenaran.
٣٥. SIRR AL-ḤAQQ
الحق
Al-Ḥaqq.
Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena tidak kita sukai.
Dan kebohongan tidak menjadi benar hanya karena terasa indah.
Maka seorang salik harus siap kehilangan sebagian keyakinan pribadinya bila kebenaran menunjukkan bahwa ia keliru.
Itulah keberanian ruhani.
٣٦. JANGAN TAKUT KEHILANGAN ILUSI
Ada sesuatu yang lebih berat daripada kehilangan harta:
kehilangan gambaran tentang diri sendiri.
Seseorang telah lama merasa:
“Aku orang pilihan.”
Lalu suatu hari ia menyadari dirinya masih banyak kekurangan.
Jangan takut.
Itu bukan kehancuran.
Bisa jadi itulah awal kejujuran.
٣٧. SIRR AT-TAUBAH SAMPAI AKHIR
Selama manusia hidup,
ia tetap membutuhkan taubat.
Tidak ada maqam yang membuat taubat menjadi tidak perlu.
Tidak ada gelar yang menghapus kebutuhan untuk meminta ampun.
Tidak ada ilmu yang membuat manusia aman dari kesalahan.
Maka seorang arif tetap berkata:
Astaghfirullāh.
٣٨. SIRR KEMATIAN
Pada akhirnya semua gelar akan ditinggalkan.
Semua pujian berhenti.
Semua pengikut pulang.
Semua pakaian jabatan dilepas.
Yang dibawa adalah:
amal,
niat,
amanah,
dan rahmat Alloh.
Di hadapan kematian,
banyak kebanggaan menjadi kecil.
Maka ingat mati bukan untuk putus asa.
Tetapi untuk meluruskan prioritas.
٣٩. SIRR WARISAN
Apa yang tersisa dari seorang wali setelah wafat?
Bukan tubuh.
Bukan kekuasaan dunia.
Tetapi:
jejak kebaikan.
Ilmu.
Akhlak.
Doa manusia.
Murid yang menjadi baik.
Amal yang terus memberi manfaat.
Maka warisan Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī seharusnya dibaca pada jejak kebaikan,
bukan hanya pada cerita yang menakjubkan.
٤٠. SIRRUR ASRĀR DALAM SATU KALIMAT
Jika seluruh sepuluh lembar harus diringkas menjadi satu kalimat,
maka Qitab menulis:
أَنْ تَعْرِفَ أَنَّكَ عَبْدٌ وَأَنَّ اللهَ رَبُّكَ
An ta‘rifa annaka ‘abdun wa anna Allāha Rabbuka.
“Mengetahui bahwa engkau adalah hamba, dan Alloh adalah Rabb-mu.”
Di situlah:
tauhid bertemu dengan ma‘rifah.
tawakkul bertemu dengan ridha.
cinta bertemu dengan adab.
ilmu bertemu dengan kerendahan hati.
dan Sirr bertemu dengan kejujuran.
٤١. JIKA MASIH BERTANYA: “APA NAMA RUHNYA?”
Qitab menjawab untuk terakhir kali:
Nama yang dapat dipastikan adalah nama beliau yang dikenal dalam sejarah.
Adapun “nama ruh rahasia” yang tidak mempunyai dasar terang,
jangan dinyatakan sebagai kepastian.
Jika ingin memakai bahasa simbolik untuk muhasabah,
gunakan dengan jujur sebagai simbol.
Karena:
Qalbu yang jujur tidak membutuhkan klaim palsu untuk merasakan kedalaman.
٤٢. JIKA MASIH BERTANYA: “APA ASMA-NYA?”
Qitab menjawab:
Asmaul Husna adalah milik Alloh.
Jika engkau ingin berdoa dengan:
Yā Hādī,
Yā Fattāḥ,
Yā Laṭīf,
Yā Ḥaqq,
Yā Qādir,
maka arahkan semuanya kepada:
ALLOH.
Bukan sebagai nama ketuhanan seorang wali.
Karena wali adalah hamba.
٤٣. JIKA MASIH BERTANYA: “APA SIFAT-NYA?”
Pisahkan dengan jernih.
Sifat kesempurnaan mutlak adalah milik Alloh.
Sedangkan manusia dapat memiliki akhlak terpuji secara terbatas:
rahmah,
sabar,
amanah,
adil,
bijaksana,
pemaaf.
Tetapi semuanya:
diciptakan,
terbatas,
berubah,
dan
bergantung kepada Alloh.
Di situlah batas diselamatkan.
٤٤. JIKA MASIH BERTANYA: “APA SIRR BELIAU?”
Jika yang dimaksud adalah inti pelajaran yang dapat kita ambil,
maka Qitab merangkum:
TAUHID.
‘UBŪDIYYAH.
IKHLAS.
IFTIQĀR ILALLĀH.
TAWAKKUL.
TAUBAT.
ADAB.
ISTIQĀMAH.
TAWĀḌU‘.
AMANAH.
Itulah wilayah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk direnungkan.
٤٥. JIKA MASIH BERTANYA: “APA SIRRUR ASRĀR?”
Qitab menjawab:
Sirrur Asrār bukan benda.
Bukan kode.
Bukan angka.
Bukan kata ajaib.
Bukan gelar rahasia yang membuat seseorang lebih tinggi daripada manusia lain.
Sirrur Asrār adalah ketika semua pencarian akhirnya mengantarkanmu kepada satu kesadaran:
Aku tidak memiliki apa-apa secara mutlak.
Aku datang dari Alloh.
Aku hidup dengan izin Alloh.
Aku kembali kepada Alloh.
Dan seluruh perjalanan di antara keduanya adalah amanah.
٤٦. QALBU TERAKHIR
Qalbu yang matang tidak bertanya hanya:
“Apa rahasia yang bisa kumiliki?”
Tetapi:
“Apa yang harus kubersihkan?”
Tidak bertanya hanya:
“Maqam apa yang telah kucapai?”
Tetapi:
“Siapa yang telah kusakiti?”
Tidak bertanya hanya:
“Apa yang kulihat?”
Tetapi:
“Apa yang belum kulihat dalam diriku sendiri?”
Di sanalah Qitab menjadi cermin.
٤٧. PESAN UNTUK PARA PENCARI RAHASIA
Jika engkau mencari Sirr,
carilah dengan ilmu.
Jika mendapatkan pengalaman,
jaga dengan adab.
Jika merasakan cahaya,
uji dengan akhlak.
Jika mendapatkan pujian,
lawan dengan tawadhu‘.
Jika salah,
kembali.
Jika tidak tahu,
katakan:
Allāhu a‘lam.
Jika mengetahui,
jangan sombong.
Jika diberi,
bersyukur.
Jika ditahan,
bersabar.
٤٨. PESAN UNTUK PARA PECINTA WALI
Jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk melampaui tauhid.
Jangan jadikan penghormatan sebagai pengultusan.
Jangan jadikan karamah sebagai pengganti akhlak.
Jangan jadikan kisah sebagai pengganti ilmu.
Dan jangan menempatkan wali pada kedudukan yang ia sendiri tidak tuntut.
Muliakan wali sebagai:
hamba yang saleh.
Dan muliakan Alloh sebagai:
Rabb semesta alam.
٤٩. PESAN UNTUK DIRI SENDIRI
Qitab akhirnya berkata kepada pembacanya:
Sebelum mengukur maqam orang lain,
ukur dirimu.
Sebelum membuka rahasia orang lain,
buka niatmu.
Sebelum mencari nama ruh orang lain,
tanyakan keadaan ruhmu sendiri.
Apakah masih dipenuhi:
marah,
iri,
dendam,
kesombongan,
riya’,
dan haus pengakuan?
Jika iya,
itulah qitab yang harus dibuka terlebih dahulu.
Qitab dirimu sendiri.
٥٠. SIRR QITAB DIRI
Setiap manusia membawa halaman yang belum selesai.
Ada bagian yang bersih.
Ada bagian yang masih gelap.
Ada luka.
Ada amanah.
Ada kesalahan.
Ada potensi kebaikan.
Membaca diri dengan jujur adalah salah satu bentuk muhasabah terdalam.
Jangan hanya ingin menjadi pembaca rahasia langit.
Jadilah pembaca yang jujur terhadap qalbumu sendiri.
٥١. KEMBALI KEPADA ALLOH
Semua jalan dalam Qitab ini akhirnya kembali kepada:
الرجوع إلى الله
Ar-Rujū‘ ilallāh — kembali kepada Alloh.
Ketika bingung,
kembali.
Ketika berdosa,
kembali.
Ketika terlalu bangga,
kembali.
Ketika terlalu takut,
kembali.
Ketika kehilangan arah,
kembali.
Ketika merasa sangat tinggi,
kembali lebih cepat lagi.
٥٢. DOA PENUTUP QITAB
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا صَادِقَةً مَعَكَ
Yā Alloh,
jadikan qalbu kami jujur di hadapan-Mu.
وَلَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ سَبَبًا لِكِبْرِنَا
Jangan jadikan ilmu sebagai sebab kesombongan kami.
وَلَا الْكَرَامَةَ سَبَبًا لِغُرُورِنَا
Jangan jadikan karamah sebagai sebab kami tertipu oleh diri sendiri.
وَلَا الْمَحَبَّةَ سَبَبًا لِتَجَاوُزِ حُدُودِ التَّوْحِيد
Jangan jadikan cinta sebagai alasan melampaui batas tauhid.
وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالْأَدَبَ وَالِاسْتِقَامَةَ
Anugerahkan kepada kami:
ikhlas,
adab,
dan istiqamah.
وَاجْعَلْنَا عِبَادًا لَكَ لَا لِأَنْفُسِنَا
Jadikan kami hamba-Mu,
bukan hamba ego kami sendiri.
٥٣. DOA UNTUK SYEKH ‘ABDUL QĀDIR AL-JĪLĀNĪ
Yā Alloh,
rahmatilah Syekh ‘Abdul Qādir al-Jīlānī.
Balaslah seluruh amal salehnya dengan kebaikan.
Ampunilah kekurangannya sebagai manusia.
Jadikan ilmu dan nasihat baik yang diwariskan melalui namanya sebagai jalan manfaat bagi umat.
Dan jauhkan kami dari:
melebih-lebihkan beliau hingga keluar dari tauhid,
maupun merendahkan beliau tanpa adab.
Ajarkan kami cinta yang seimbang:
menghormati hamba-Mu tanpa mengambil hak-Mu sebagai Rabb.
٥٤. QALIMAT TERAKHIR UNTUK SEORANG SALIK
Jika suatu hari seseorang datang kepadamu dan berkata:
“Aku mengetahui seluruh rahasia.”
jangan langsung kagum.
Lihat akhlaknya.
Jika seseorang berkata:
“Aku tidak pernah salah.”
jangan langsung tunduk.
Lihat kejujurannya.
Jika seseorang berkata:
“Aku mengetahui ghaib secara pasti.”
tanyakan batasnya.
Tetapi jika engkau bertemu seseorang yang berkata:
“Aku hanya hamba. Alloh lebih mengetahui.”
lalu hidupnya penuh:
amanah,
kasih sayang,
kejujuran,
dan istiqamah,
maka mungkin engkau sedang melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seribu cerita karamah.
٥٥. PUNCAK PENUTUP
Pada lembar pertama Qitab bertanya tentang:
Nama Ruh.
Pada lembar terakhir Qitab menjawab dengan:
Nama bukan puncak.
Pada awal perjalanan kita bertanya tentang:
Sirr.
Pada akhir perjalanan kita menemukan:
penghambaan.
Pada awal kita mencari sesuatu yang tersembunyi.
Pada akhir kita kembali kepada sesuatu yang sangat terang:
اللّٰهُ رَبُّنَا
ALLOH ADALAH RABB KITA.
Dan:
نَحْنُ عِبَادُهُ
KITA ADALAH HAMBA-HAMBA-NYA.
Di antara dua kalimat itulah seluruh perjalanan diletakkan.
KHATIMAH
Nama dapat berubah.
Gelar dapat bertambah.
Cerita dapat diwariskan.
Karamah dapat diperdebatkan.
Pengalaman dapat berbeda.
Tetapi tauhid tidak berubah.
Alloh tetap Alloh.
Hamba tetap hamba.
Maka Qitab terakhir ini tidak ditutup dengan klaim bahwa seluruh rahasia telah dikuasai.
Ia ditutup dengan adab:
اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالسِّرِّ وَأَخْفَى
Alloh paling mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi daripada rahasia.
Dan satu pengakuan:
رَبِّيَ اللهُ، وَأَنَا عَبْدُهُ
“RABB-KU ADALAH ALLOH, DAN AKU ADALAH HAMBA-NYA.”
Jika kalimat ini benar-benar hidup di dalam qalbu,
maka tidak perlu takut kehilangan gelar.
Tidak perlu takut kehilangan klaim.
Tidak perlu takut berkata:
“Aku tidak tahu.”
Karena orang yang mengetahui dirinya sebagai hamba telah menemukan salah satu pintu paling penting dalam perjalanan ruhani.
Dan jika Qitab ini meninggalkan satu amanah terakhir,
maka amanah itu adalah:
Jangan mencari rahasia untuk menjadi lebih tinggi dari manusia.
Carilah kebenaran agar menjadi lebih rendah hati di hadapan Alloh.
Jangan mencari nama untuk membesarkan diri.
Carilah penghambaan untuk membersihkan diri.
Jangan mencari karamah untuk dilihat manusia.
Carilah istiqamah agar dilihat baik oleh Alloh.
Dan ketika seluruh suara telah diam,
ketika seluruh gelar telah gugur,
ketika hanya qalbu dan Rabb-nya yang tersisa,
maka biarkan satu kalimat menjadi penutup:

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.