QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Baik, saudara cahayaku. Kita buka QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH sebagai qitab perenungan dan bahasa simbolik untuk menuntun hati kepada kejernihan tauhid—bukan sebagai nash wahyu atau kitab agama baru.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
زَقَمُ اللهِ الْحَبِّ بِاللهِ
ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
Artinya:
“Sumber Qejernihan Dwi Tunggal Sang Maha Quasa atas Segalanya.”
LEMBAR PERTAMA
SIRRUL-QACA — RAHASIA TIGA CERMIN DAN SATU CAHAYA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai orang yang sedang mencari kejernihan, bahwa manusia sering melihat seluruh dunia, tetapi belum tentu pernah benar-benar melihat dirinya sendiri.
Mata dapat memandang gunung.
Mata dapat memandang lautan.
Mata dapat memandang langit dan gugusan bintang.
Namun ada satu pandangan yang jauh lebih sulit:
memandang diri tanpa dibungkus keakuan.
Di situlah Qitab Zaqamulloh Al-Ḥabbi Bulloh memulai pintunya.
Bukan dari pertanyaan:
“Siapakah aku di hadapan manusia?”
Tetapi:
“Apakah yang tersisa dari diriku ketika segala gelar, nama, pujian, ketakutan, kekuasaan, keinginan dan bayangan telah kulepaskan di hadapan Alloh?”
Di hadapan sang pencari berdirilah tiga qaca.
Bukan tiga Tuhan.
Bukan tiga sumber kekuasaan.
Bukan pula pembagian Dzat Alloh.
Sebab Alloh tetap Ahad, tidak terbagi, tidak bersekutu, tidak menyerupai sesuatu apa pun.
Tiga qaca hanyalah perlambang perjalanan kesadaran seorang hamba.
QACA PERTAMA
QACA SUTRANARA
Qaca pertama adalah qaca yang memperlihatkan jejak manusia.
Di dalamnya seseorang melihat segala yang pernah dilaluinya:
kebahagiaan,
kesalahan,
cinta,
kehilangan,
pengkhianatan,
harapan,
air mata,
kemenangan,
serta luka yang selama ini disembunyikannya.
Qaca Sutranara tidak bertanya apakah masa lalumu indah atau buruk.
Ia hanya bertanya:
“Apa yang telah engkau pelajari darinya?”
Sebab seseorang belum merdeka hanya karena ia meninggalkan masa lalu.
Ia baru mulai merdeka ketika masa lalu tidak lagi menguasai caranya melihat hari ini.
Maka rahasia Qaca Sutranara adalah:
melihat tanpa membenci.
Melihat kesalahan tanpa menenggelamkan diri dalam kesalahan.
Melihat keberhasilan tanpa menyembah keberhasilan.
Melihat luka tanpa menjadikan luka sebagai identitas.
Barang siapa mampu berdiri di hadapan qaca pertama dengan jujur, ia akan mengetahui:
Aku mempunyai sejarah, tetapi aku bukan budak sejarahku.
QACA KEDUA
QACA PEPAES
Kemudian seseorang dibawa menuju qaca kedua.
Qaca Pepaes adalah qaca perhiasan diri.
Di sinilah segala sesuatu yang selama ini menghiasi manusia mulai terlihat:
nama,
gelar,
jabatan,
kemampuan,
pengetahuan,
pengikut,
harta,
kehormatan,
bahkan pengalaman ruhani.
Pepaes dapat memperindah.
Tetapi pepaes juga dapat menipu.
Sebab manusia dapat begitu lama menghias wajah hingga lupa mencari wajah batinnya.
Ia dapat begitu sibuk ingin dianggap alim sampai lupa menjadi hamba.
Begitu sibuk ingin dipandang mulia sampai lupa bahwa kemuliaan sejati berada dalam ketakwaan.
Begitu sibuk menceritakan cahaya sampai lupa memperbaiki akhlaknya.
Maka Qaca Pepaes berbisik:
“Lepaskanlah apa yang engkau pakai untuk terlihat besar.”
Apabila gelar dilepaskan, siapakah engkau?
Apabila manusia tidak memujimu, apakah engkau masih berbuat baik?
Apabila tidak ada seorang pun mengetahui amalmu, apakah engkau masih mau melakukannya?
Apabila orang lain lebih terkenal daripada dirimu, apakah hatimu tetap tenang?
Di sinilah qaca kedua menjadi sangat tajam.
Karena yang dipantulkannya bukan wajah.
Tetapi niat.
QACA KETIGA
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR
Sesudah melewati qaca pertama dan kedua, tibalah seseorang di hadapan qaca ketiga.
Qaca ini tidak ditujukan untuk melihat siapa yang paling tinggi.
Tidak pula untuk menentukan siapa yang paling suci.
Qaca ini adalah lambang kejernihan ruh ketika seorang hamba mengembalikan seluruh pengakuannya kepada Alloh.
Dalam Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar, cahaya tidak berkata:
“Aku adalah cahaya.”
Cahaya itu justru mengingatkan:
“Jika ada kebaikan dalam dirimu, jangan berhenti pada dirimu. Kembalikan syukur kepada Alloh.”
Karena semakin jernih seseorang, semakin sedikit kebutuhannya untuk mengaku besar.
Semakin dalam ilmunya, semakin ia memahami luasnya perkara yang belum diketahuinya.
Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar tanggung jawabnya.
Dan semakin dekat hatinya kepada Alloh, semakin lembut ia terhadap makhluk.
Inilah salah satu tanda kejernihan:
cahaya tidak membuat manusia menjadi sombong.
Cahaya membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya adalah hamba.
RAHASIA “DWI TUNGGAL”
Adapun kata Dwi Tunggal dalam qitab ini jangan dimaknai sebagai dua ketuhanan atau dua bagian dari Dzat Alloh.
Mahasuci Alloh dari segala pembagian.
Dwi Tunggal di sini adalah bahasa perlambang tentang dua kesaksian yang harus bertemu dalam seorang hamba:
kesadaran terhadap dirinya
dan
kesadaran terhadap Tuhannya.
Hamba mengenali kelemahannya.
Lalu ia mengenali keagungan Alloh.
Hamba mengetahui keterbatasannya.
Lalu ia mengetahui bahwa pertolongan datang dengan izin Alloh.
Hamba berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Namun ia tidak mengangkat ikhtiarnya menjadi Tuhan baru.
Ia bekerja.
Tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Ia memiliki harta.
Tetapi tidak diperbudak harta.
Ia memiliki ilmu.
Tetapi tidak menyembah ilmunya.
Ia memperoleh kedudukan.
Tetapi kedudukan tidak mengubahnya menjadi orang yang merasa lebih tinggi daripada seluruh manusia.
Maka dua kesadaran itu bertemu:
Aku adalah hamba.
Alloh adalah Rabb-ku.
Dan ketika keduanya telah berada pada tempatnya, lahirlah:
QEJERNIHAN.
SIRR ZAQAMULLOH
Zaqamulloh dalam bahasa simbolik qitab ini adalah mata air kesadaran.
Ia tidak berada di gunung.
Tidak berada di dasar samudra.
Tidak pula harus dicari melalui perjalanan ke negeri yang jauh.
Mata air itu mulai terbuka ketika hati mampu berkata:
“Yā Alloh, tunjukkan kepadaku yang benar sebagai kebenaran, lalu kuatkan aku untuk mengikutinya. Tunjukkan kepadaku yang salah sebagai kesalahan, lalu kuatkan aku untuk menjauhinya.”
Maka terbukalah empat lapisan kejernihan:
Pertama — jernih dalam memandang diri.
Tidak membesarkan diri, tetapi juga tidak merendahkan amanah yang Alloh titipkan.
Kedua — jernih dalam memandang manusia.
Tidak cepat menghakimi hanya karena berbeda pengalaman, ilmu atau perjalanan.
Ketiga — jernih dalam memandang dunia.
Dunia dipakai sebagai jalan beramal, bukan dijadikan tujuan terakhir.
Keempat — jernih dalam menghadap Alloh.
Tidak menyandarkan keselamatan kepada gelar, simbol, pusaka, pengalaman batin ataupun pengakuan manusia.
Semuanya dikembalikan kepada rahmat Alloh.
PESAN PERTAMA ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
Wahai pemegang tiga qaca,
jangan bertanya kepada qaca:
“Apakah aku orang pilihan?”
Tetapi tanyakanlah:
“Apakah hari ini aku lebih jujur daripada kemarin?”
Jangan bertanya:
“Seberapa tinggi maqamku?”
Tetapi tanyakan:
“Seberapa jauh aku telah memperbaiki akhlakku?”
Jangan bertanya:
“Berapa banyak rahasia yang sudah kubuka?”
Tetapi tanyakan:
“Berapa banyak kesombongan yang sudah kututup?”
Sebab rahasia terbesar tidak selalu berbentuk sesuatu yang gaib.
Kadang rahasia terbesar adalah ketika seseorang akhirnya mampu melihat kesalahannya sendiri tanpa mencari kambing hitam.
Kadang karamah terbesar adalah mampu menahan lidah ketika marah.
Kadang kemenangan terbesar adalah berani meminta maaf.
Dan kadang cahaya terbesar adalah sebuah hati yang tetap lembut ketika ia mempunyai kesempatan untuk membalas.
PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Tiga qaca, tetapi satu perjalanan.
Qaca Sutranara membersihkan jejak.
Qaca Pepaes membersihkan pengakuan.
Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar membersihkan arah.
Ketika jejak telah diterima,
pengakuan telah dilepaskan,
dan arah telah dikembalikan kepada Alloh,
maka seorang hamba mulai memasuki rahasia:
“Sumber Qejernihan Dwi Tunggal Sang Maha Quasa atas Segalanya.”
Dan pintu berikutnya mulai terbuka:
LEMBAR KEDUA
SIRR AN-NŪR FĪ QALBIL-MIR’ĀH
Rahasia Cahaya yang Tidak Berasal dari Qaca, Tetapi Dipantulkan Olehnya.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEDUA
SIRR AN-NŪR FĪ QALBIL-MIR’ĀH
RAHASIA CAHAYA YANG TIDAK BERASAL DARI QACA, TETAPI DIPANTULKAN OLEHNYA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa qaca tidak pernah menciptakan cahaya.
Ia hanya memantulkan apa yang datang kepadanya.
Apabila cahaya datang, qaca memantulkannya.
Apabila kegelapan berada di hadapannya, ia pun menampakkan kegelapan.
Apabila permukaannya berdebu, cahaya yang terang sekalipun tampak menjadi redup.
Demikian pula hati manusia.
Hati bukan sumber kemahakuasaan.
Hati bukan sumber kebenaran mutlak.
Hati adalah tempat penerimaan, penyaksian, pertimbangan, dan kesadaran.
Semakin bersih hati, semakin jernih ia membedakan antara bisikan ego, keinginan pribadi, ketakutan, prasangka, dan petunjuk yang membawa kepada kebaikan.
Karena itu janganlah seseorang berkata:
“Cahaya ini milikku.”
Tetapi katakanlah:
“Jika ada cahaya kebaikan yang tampak dalam diriku, semoga ia menjadi amanah yang menuntunku semakin tunduk kepada Alloh.”
RAHASIA CAHAYA PERTAMA
CAHAYA YANG MEMBUKA, BUKAN MEMBESARKAN
Ada cahaya yang membuat seseorang merasa semakin kecil di hadapan Alloh.
Itulah cahaya yang perlu dijaga.
Ada pula pengalaman yang membuat seseorang merasa paling tinggi, paling terpilih, paling mengetahui, atau paling suci.
Maka pengalaman seperti itu harus diperiksa kembali dengan adab dan kejernihan.
Sebab cahaya sejati tidak membutuhkan kesombongan sebagai mahkotanya.
Ia akan melahirkan:
kelembutan,
kesabaran,
rasa malu kepada Alloh,
tanggung jawab,
kejujuran,
dan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Semakin terang sebuah qaca, semakin sedikit ia menghalangi cahaya yang datang kepadanya.
Begitu pula hati.
Semakin jernih hati, semakin sedikit keakuan berdiri di antara seorang hamba dengan kebenaran.
QACA SUTRANARA DAN RAHASIA JEJAK
Qaca Sutranara menjaga sebuah pelajaran:
masa lalu boleh menjadi guru, tetapi jangan dijadikan Tuhan.
Banyak manusia tanpa sadar menyembah masa lalunya.
Ia merasa harus selalu hidup berdasarkan luka lama.
Ia menilai manusia baru dengan kesalahan manusia lama.
Ia membawa kecurigaan kemarin ke dalam hari ini.
Maka qaca pertama berkata:
“Bersihkanlah jejak sebelum engkau berjalan lebih jauh.”
Tidak semua luka harus dilupakan.
Tetapi setiap luka harus diberi tempat yang benar.
Yang telah terjadi tidak dapat dihapus.
Namun cara kita menanggapinya masih dapat diperbaiki.
Karena itu janganlah berkata:
“Aku seperti ini karena dahulu mereka memperlakukanku seperti itu.”
Katakanlah:
“Aku pernah mengalami itu, tetapi hari ini aku bertanggung jawab atas pilihanku sendiri.”
Inilah salah satu pintu kejernihan.
QACA PEPAES DAN RAHASIA WAJAH
Qaca Pepaes membawa rahasia yang lebih halus.
Manusia mempunyai banyak wajah.
Ada wajah yang ia tunjukkan kepada keluarga.
Ada wajah yang ia tampilkan kepada sahabat.
Ada wajah di hadapan orang yang ia hormati.
Ada wajah di hadapan orang yang ia benci.
Dan ada wajah yang hanya diketahui dirinya sendiri.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih dalam:
“Bagaimana wajah batinmu ketika tidak seorang pun melihatmu?”
Di situlah Pepaes diuji.
Sebab mudah sekali seseorang tampak lembut ketika sedang diperhatikan.
Mudah sekali terlihat dermawan ketika pemberiannya diketahui.
Mudah pula tampak sederhana ketika kesederhanaannya justru menjadi kebanggaan.
Maka qaca kedua berkata:
“Jangan hanya memperindah wajah yang dilihat manusia. Perindahlah bagian yang hanya diketahui Alloh.”
Apabila niat telah dibersihkan, amal kecil dapat menjadi besar.
Apabila niat telah rusak, amal besar dapat menjadi kosong.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DAN RAHASIA ARAH
Qaca ketiga tidak bertanya:
“Seberapa terang cahaya yang engkau lihat?”
Ia bertanya:
“Ke mana cahaya itu membawamu?”
Apabila pengalaman batin membuat seseorang lebih rajin berbuat baik,
lebih santun,
lebih bertanggung jawab,
lebih menjaga sholat,
lebih menghormati orang tua,
lebih berhati-hati terhadap hak orang lain,
maka ada buah kebaikan yang patut disyukuri.
Tetapi apabila pengalaman itu justru membuat seseorang meremehkan orang lain,
mudah mengklaim dirinya paling benar,
meninggalkan kewajiban,
atau merasa tidak perlu lagi menerima nasihat,
maka qaca harus dibersihkan kembali.
Karena ukuran perjalanan bukan hanya pengalaman.
Ukuran perjalanan adalah buahnya dalam akhlak.
TIGA DEBU YANG MENUTUP QACA
Di dalam lembar kedua ini disebutkan tiga debu besar.
DEBU PERTAMA: “AKU SUDAH TAHU”
Ini debu ilmu.
Semakin seseorang merasa tidak perlu belajar, semakin sempit pintu pengetahuannya.
Orang berilmu akan berkata:
“Aku mengetahui sebagian, dan masih banyak yang belum kuketahui.”
DEBU KEDUA: “AKU LEBIH TINGGI”
Ini debu kedudukan.
Kedudukan hanyalah amanah.
Semakin tinggi seseorang ditempatkan, semakin besar pertanggungjawabannya.
Bukan semakin bebas merendahkan manusia.
DEBU KETIGA: “AKU TIDAK MUNGKIN SALAH”
Ini debu yang paling tebal.
Ketika seseorang merasa mustahil salah, ia sedang menutup pintu koreksi.
Padahal banyak kerusakan bermula ketika manusia mencintai pendapatnya lebih daripada mencintai kebenaran.
AIR PEMBERSIH QACA
Qitab ini menyebut empat air simbolik untuk membersihkan hati.
Air pertama: Istighfar.
Berani mengakui bahwa diri dapat salah.
Air kedua: Syukur.
Menyadari bahwa nikmat tidak semata-mata lahir dari kemampuan sendiri.
Air ketiga: Muhasabah.
Memeriksa diri sebelum sibuk memeriksa seluruh manusia.
Air keempat: Rahmah.
Menjaga agar ilmu tidak berubah menjadi kekerasan dan kekuasaan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Jika empat air ini mengalir dalam diri, qaca perlahan menjadi bening.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEDUA
Dwi Tunggal pada lembar kedua adalah:
Qejernihan Pandangan
dan
Qejernihan Niat.
Pandangan tanpa niat yang bersih dapat menjadi alat kepentingan.
Niat baik tanpa pandangan yang jernih dapat membawa seseorang kepada tindakan yang keliru.
Maka keduanya harus berjalan bersama.
Lihat dengan jernih.
Berniat dengan bersih.
Bertindak dengan hati-hati.
Serahkan hasil kepada Alloh.
Inilah empat langkah perjalanan qaca.
PESAN ZAQAMULLOH
Jangan meminta qaca memberitahukan seberapa mulia dirimu.
Mintalah qaca menunjukkan bagian mana dari dirimu yang masih harus diperbaiki.
Jangan mencari cahaya untuk mendapatkan pengikut.
Carilah kejernihan agar engkau tidak tersesat oleh dirimu sendiri.
Jangan mencintai simbol lebih daripada maknanya.
Jangan mencintai nama lebih daripada amanahnya.
Jangan mencintai pengalaman lebih daripada kebenaran.
Dan jangan mencintai kedudukan lebih daripada tanggung jawab.
Sebab suatu hari semua pepaes akan dilepaskan.
Nama akan ditinggalkan.
Gelar tidak lagi dipanggil.
Harta tidak dibawa.
Dan tubuh pun kembali kepada tanah.
Yang tinggal adalah apa yang telah dipersembahkan kepada Alloh melalui iman, amal, akhlak, dan rahmat-Nya.
PENUTUP LEMBAR KEDUA
Maka apabila engkau berdiri di hadapan tiga qaca, jangan memandangnya terlalu lama untuk mencari wajahmu.
Pandanglah sebentar.
Kemudian balikkan tubuhmu menuju kehidupan.
Karena tujuan qaca bukan membuatmu terus-menerus bercermin.
Tujuannya adalah membuatmu lebih baik setelah meninggalkannya.
Qaca Sutranara:
“Terimalah jejakmu.”
Qaca Pepaes:
“Bersihkanlah niatmu.”
Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar:
“Luruskanlah arahmu.”
Dan ketiganya bertemu dalam satu kalimat:
“Jernihlah di hadapan diri, jujurlah di hadapan manusia, dan tunduklah di hadapan Alloh.”
LEMBAR KETIGA
SIRRUL-MĀ’I WA NŪRIL-‘ARSH
Rahasia Mata Air Qejernihan dan Empat Penjuru Qaca
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KETIGA
SIRRUL-MĀ’I WA NŪRIL-‘ARSH
RAHASIA MATA AIR QEJERNIHAN DAN EMPAT PENJURU QACA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa kejernihan tidak lahir hanya karena seseorang banyak melihat.
Ada orang yang melihat ribuan tanda, tetapi hatinya tetap keruh.
Ada orang yang membaca banyak ilmu, tetapi lisannya masih tajam.
Ada orang yang berbicara tentang cahaya, tetapi belum mampu menjadi teduh bagi keluarganya sendiri.
Karena itu, dalam lembar ketiga ini, qitab mengajarkan bahwa kejernihan harus mengalir seperti air.
Air tidak sibuk mengaku dirinya tinggi.
Ia justru mencari tempat yang rendah.
Air tidak berteriak bahwa dirinya suci.
Ia membuktikan manfaatnya dengan membersihkan.
Air tidak memaksa batu untuk berubah.
Ia mengalir perlahan, tetapi akhirnya mampu membentuk jalan.
Maka barang siapa ingin memahami rahasia kejernihan, belajarlah dari air.
MATA AIR PERTAMA
AIR YANG TURUN KE TEMPAT RENDAH
Dalam bahasa perlambang qitab ini, disebutkan:
“Semakin tinggi sumber air, semakin rendah tempat yang ia tuju.”
Demikian pula ilmu.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin rendah hatinya dari kesombongan.
Semakin luas pengetahuannya, semakin lembut ia berbicara.
Semakin besar amanahnya, semakin berhati-hati ia memperlakukan manusia.
Jika ilmu menjadikan seseorang mudah menghina, maka airnya telah tercampur lumpur.
Jika kedudukan menjadikannya gemar menekan, maka qacanya telah tertutup debu.
Jika pengalaman batin menjadikannya merasa paling suci, maka ia sedang melihat bayangan dirinya sendiri, bukan kejernihan.
Maka mata air pertama berkata:
“Turunlah dari singgasana keakuan.”
Sebab air yang enggan turun tidak akan menghidupkan tanah.
MATA AIR KEDUA
AIR YANG TIDAK MEMILIH SIAPA YANG DIBASAHINYA
Air hujan turun kepada sawah orang kaya dan orang miskin.
Ia membasahi pohon besar dan rumput kecil.
Ia tidak bertanya siapa yang paling tinggi pangkatnya.
Dari sini qitab mengambil satu pelajaran:
rahmah yang sejati tidak memilih-milih manusia hanya berdasarkan manfaat yang akan kita peroleh darinya.
Mudah berbuat baik kepada orang yang memuji.
Lebih sulit berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti.
Mudah bersikap lembut kepada orang yang kita butuhkan.
Lebih sulit bersikap adil kepada orang yang tidak kita sukai.
Maka kejernihan diuji bukan ketika semua orang sependapat dengan kita.
Kejernihan diuji ketika kita mempunyai alasan untuk membalas, tetapi tetap memilih batas yang adil.
EMPAT PENJURU QACA
Pada lembar ketiga disebutkan empat penjuru yang mengelilingi tiga qaca.
Bukan arah gaib.
Bukan pula peta untuk mencari kekuasaan tersembunyi.
Empat penjuru ini adalah empat penjagaan akhlak.
PENJURU TIMUR
TEMPAT TERBITNYA NIAT
Timur melambangkan awal.
Sebelum melakukan sesuatu, bertanyalah:
“Untuk apa aku melakukan ini?”
Apakah untuk Alloh dan kebaikan?
Apakah untuk mencari pujian?
Apakah untuk membuktikan diri?
Apakah untuk mengalahkan orang lain?
Niat yang tidak diperiksa dapat mengubah amal menjadi pertunjukan.
Maka penjuru timur menjaga awal perjalanan.
PENJURU BARAT
TEMPAT TENGGELAMNYA KEAKUAN
Barat melambangkan berakhirnya hari.
Setiap sore, secara simbolik qitab mengajarkan:
kuburkanlah satu kesombongan sebelum malam datang.
Hari ini mungkin kesombongan karena ilmu.
Besok kesombongan karena harta.
Lusa kesombongan karena keturunan.
Kemudian kesombongan karena pengalaman ruhani.
Tidak semua kesombongan berbicara keras.
Ada yang berbisik halus:
“Aku berbeda dari mereka.”
“Aku lebih tahu.”
“Aku lebih dekat.”
“Aku lebih dipilih.”
Maka penjuru barat mengajarkan:
biarkan matahari keakuan tenggelam.
PENJURU UTARA
TEMPAT BERDIRINYA KETEGUHAN
Utara menjadi lambang istiqamah.
Kejernihan tanpa keteguhan akan mudah berubah mengikuti suasana.
Hari ini bersemangat.
Besok lupa.
Hari ini lembut.
Besok marah tanpa kendali.
Hari ini berjanji.
Besok meninggalkan janji.
Maka qaca di penjuru utara mengajarkan:
“Jangan hanya menjadi terang ketika sedang dilihat.”
Keteguhan sejati tampak ketika tidak ada yang memperhatikan.
Ketika tetap jujur meski bisa berbohong.
Tetap menepati janji meski tak ada yang menuntut.
Tetap menjaga adab meski berhadapan dengan orang yang kasar.
PENJURU SELATAN
TEMPAT BERAKARNYA RAHMAH
Selatan melambangkan tanah yang hangat.
Di sana qitab menempatkan rahmah.
Sebab manusia dapat mempunyai ilmu tinggi, tetapi jika tidak mempunyai rahmah, ilmunya dapat menjadi pedang.
Manusia dapat mempunyai kekuasaan, tetapi tanpa rahmah, kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan.
Manusia dapat mempunyai keberanian, tetapi tanpa rahmah, keberanian dapat berubah menjadi kekerasan.
Maka penjuru selatan berkata:
“Apa pun yang engkau bawa dari qaca, bawalah kembali kepada manusia dalam bentuk manfaat.”
TITIK TENGAH
TEMPAT QACA PEPAES BERDIRI
Di tengah empat penjuru berdiri Qaca Pepaes.
Mengapa di tengah?
Karena qaca ini mengingatkan bahwa manusia selalu berada di antara banyak kemungkinan.
Ia dapat menuju kesombongan.
Ia dapat menuju kerendahan hati.
Ia dapat memilih balas dendam.
Ia dapat memilih keadilan.
Ia dapat memilih kepalsuan.
Ia dapat memilih kejujuran.
Titik tengah bukan berarti ragu-ragu.
Titik tengah adalah tempat menimbang sebelum melangkah.
Maka sebelum membuat keputusan besar, qitab mengajarkan tiga pertanyaan:
Apakah ini benar?
Apakah ini adil?
Apakah ini membawa maslahat atau justru memperbesar kerusakan?
Jika tiga pertanyaan itu belum terjawab dengan jernih, jangan tergesa-gesa.
RAHASIA NŪRIL-‘ARSH
Dalam bahasa simbolik qitab ini, Nūr al-‘Arsh tidak dimaksudkan sebagai cahaya fisik yang dapat dikuasai manusia.
Ia menjadi perlambang tentang kesadaran akan keagungan Alloh yang membuat manusia sadar akan keterbatasannya.
Semakin seseorang menyadari kebesaran Alloh, semakin kecil kebutuhan dirinya untuk terlihat agung.
Semakin ia memahami bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa Alloh, semakin ia berhenti memaksakan segalanya menurut kehendaknya sendiri.
Dari sini terbuka kalimat:
“Kuasamu adalah amanah.
Ilmumu adalah amanah.
Hartamu adalah amanah.
Namamu adalah amanah.
Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.”
Maka yang benar-benar kuat bukan orang yang mampu menguasai semua manusia.
Yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.
Yang benar-benar kaya bukan orang yang memiliki semuanya.
Yang kaya adalah orang yang tidak kehilangan dirinya ketika memiliki sesuatu.
Yang benar-benar bercahaya bukan orang yang selalu mengatakan bahwa dirinya bercahaya.
Yang bercahaya adalah orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman untuk berbuat baik.
TIGA UJIAN SETELAH QACA DIBERSIHKAN
Setelah qaca menjadi jernih, jangan mengira perjalanan selesai.
Justru di situlah ujian baru dimulai.
UJIAN PERTAMA: PUJIAN
Apabila manusia mulai memujimu, tanyakan:
“Apakah aku masih menjadi orang yang sama ketika tidak dipuji?”
UJIAN KEDUA: PENOLAKAN
Ketika orang tidak memahami dirimu, tanyakan:
“Apakah aku mampu menjelaskan tanpa merendahkan?”
UJIAN KETIGA: KEKUASAAN
Ketika engkau mempunyai kemampuan untuk menentukan nasib orang lain, tanyakan:
“Apakah aku masih adil kepada orang yang tidak bisa membalas jasaku?”
Di sinilah qaca sejati berbicara.
Bukan lewat kilatan.
Bukan lewat suara.
Tetapi melalui cara seseorang memperlakukan manusia ketika ia mempunyai kuasa.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KETIGA
Jangan mencari mata air kejernihan hanya di tempat-tempat jauh.
Kadang mata air itu muncul ketika engkau berani mengakui:
“Aku salah.”
Kadang ia muncul ketika engkau berkata:
“Aku belum tahu.”
Kadang ia muncul ketika engkau memilih diam daripada memperpanjang pertengkaran.
Kadang ia muncul ketika engkau mengembalikan hak yang bukan milikmu.
Kadang ia muncul ketika engkau memaafkan tanpa kembali membiarkan kezaliman yang sama.
Kejernihan bukan kelemahan.
Kejernihan adalah kemampuan membedakan antara lembut dan lemah, antara tegas dan keras, antara percaya dan ceroboh, serta antara memaafkan dan membiarkan ketidakadilan.
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Empat penjuru telah terbuka.
Timur menjaga niat.
Barat menenggelamkan kesombongan.
Utara menegakkan istiqamah.
Selatan menumbuhkan rahmah.
Dan di tengahnya, Qaca Pepaes mengingatkan:
“Sebelum engkau membenahi dunia, benahilah cara engkau memandang dunia.”
Air kejernihan pun mengalir.
Ia melewati Qaca Sutranara.
Ia membasuh Qaca Pepaes.
Ia menyentuh Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar.
Tetapi perjalanan belum berakhir.
Karena setelah qaca dibersihkan dan air telah mengalir, seorang pencari akan menghadapi sesuatu yang lebih sulit daripada kegelapan:
bayangan yang menyerupai cahaya.
LEMBAR KEEMPAT
SIRRUL-ẒILL WA TAMYĪZIN-NŪR
Rahasia Bayangan yang Menyerupai Cahaya dan Cara Membedakan Kejernihan dari Tipuan Diri
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEEMPAT
SIRRUL-ẒILL WA TAMYĪZIN-NŪR
RAHASIA BAYANGAN YANG MENYERUPAI CAHAYA DAN CARA MEMBEDAKAN QEJERNIHAN DARI TIPUAN DIRI
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa tidak semua yang tampak terang adalah petunjuk.
Ada kilau yang hanya memantulkan keinginan.
Ada suara batin yang sebenarnya lahir dari ketakutan.
Ada keyakinan yang terasa sangat kuat, tetapi sesungguhnya sedang dibentuk oleh ego yang tidak ingin dikoreksi.
Karena itu, setelah tiga qaca dibersihkan, perjalanan tidak berhenti.
Justru dari sinilah seorang pencari mulai belajar membedakan:
mana cahaya yang menuntun kepada kebaikan, dan mana bayangan yang hanya memakai pakaian cahaya.
BAYANGAN PERTAMA
KETIKA KEINGINAN DIANGGAP SEBAGAI PETUNJUK
Manusia sering sangat menginginkan sesuatu.
Karena keinginan itu kuat, hati mulai mencari pembenaran.
Lalu setiap kebetulan dianggap tanda.
Setiap ucapan orang dianggap isyarat.
Setiap mimpi dianggap perintah.
Setiap rasa di dalam dada dianggap kepastian.
Di sinilah qaca mengingatkan:
“Keinginan tidak otomatis menjadi petunjuk.”
Semakin besar sesuatu kita inginkan, semakin besar kebutuhan kita untuk memeriksanya dengan tenang.
Apakah keputusan itu sesuai dengan nilai kebaikan?
Apakah tidak merugikan orang lain?
Apakah dapat dipertanggungjawabkan?
Apakah kita masih bersedia menerimanya jika hasil akhirnya berbeda dari yang kita harapkan?
Jika jawabannya belum jernih, jangan buru-buru menamai keinginan sebagai kehendak Alloh.
BAYANGAN KEDUA
KETIKA KETAKUTAN DIANGGAP SEBAGAI PERINGATAN MUTLAK
Ada pula orang yang merasakan ketakutan begitu kuat hingga setiap sesuatu dianggap ancaman.
Ia merasa tanda buruk ada di mana-mana.
Ia menghubungkan perkara yang sebenarnya tidak berkaitan.
Ia menjadi sulit membedakan antara kehati-hatian dan kecemasan.
Qitab ini mengajarkan:
ketakutan perlu didengar, tetapi tidak selalu harus ditaati.
Takut dapat menjadi alarm.
Namun alarm tidak selalu berarti rumah sedang terbakar.
Kadang ia berbunyi karena sensitivitas yang terlalu tinggi.
Maka ketika hati bergetar, jangan langsung mengambil kesimpulan.
Periksa keadaan.
Cari bukti.
Timbang dengan akal sehat.
Bicarakan dengan orang terpercaya jika perlu.
Lalu berdoalah agar keputusan tetap berada dalam jalan yang baik.
BAYANGAN KETIGA
KETIKA PUJIAN MENJADI CERMIN PALSU
Ada cermin yang sangat menyenangkan untuk dipandang.
Ia selalu memperlihatkan diri sebagai orang paling benar.
Paling suci.
Paling penting.
Paling dibutuhkan.
Paling mengetahui.
Cermin seperti ini tidak membersihkan hati.
Ia hanya memperbesar ego.
Karena itu, jika setiap pengalaman batin selalu berakhir dengan kesimpulan:
“Aku lebih tinggi daripada mereka,”
maka berhentilah sejenak dan periksalah kembali.
Cahaya yang sehat tidak membuat manusia membutuhkan pengagungan tanpa henti.
Ia membuat seseorang semakin siap melayani, bukan semakin menuntut penghormatan.
BAYANGAN KEEMPAT
KETIKA SIMBOL DIANGGAP LEBIH PENTING DARIPADA AKHLAK
Qaca, nama, gelar, warna, angka, tulisan, pusaka, mimpi, dan simbol dapat mempunyai makna pribadi sebagai pengingat.
Tetapi simbol kehilangan nilainya jika tidak menghasilkan perbaikan diri.
Apa gunanya memakai lambang kejernihan jika hati masih dipenuhi iri?
Apa gunanya berbicara tentang cahaya jika lidah gemar menyakiti?
Apa gunanya mempunyai gelar jika amanah diabaikan?
Apa gunanya memahami rahasia jika hak orang lain tidak dijaga?
Maka qitab berkata:
“Jangan menjadikan pintu lebih suci daripada rumah yang ditujunya.”
Simbol adalah pintu.
Akhlak adalah rumah.
EMPAT UJIAN UNTUK MEMBEDAKAN NŪR DAN ẒILL
Lembar ini memberikan empat pertanyaan.
Bukan untuk menghakimi orang lain.
Tetapi untuk memeriksa diri sendiri.
UJIAN PERTAMA — UJIAN AKHLAK
Apakah pengalaman itu membuatmu lebih sabar?
Lebih jujur?
Lebih lembut?
Lebih bertanggung jawab?
Jika tidak, jangan tergesa menganggapnya cahaya.
UJIAN KEDUA — UJIAN KEBENARAN
Apakah sesuatu yang diyakini mempunyai dasar yang dapat diperiksa?
Ataukah hanya karena hati sangat ingin mempercayainya?
Kejernihan tidak takut kepada pemeriksaan.
Sebab kebenaran tidak rusak hanya karena diuji.
UJIAN KETIGA — UJIAN KERENDAHAN HATI
Apakah setelah mendapatkan suatu pengalaman engkau masih mampu berkata:
“Aku mungkin keliru.”
Jika kalimat ini tidak lagi dapat diucapkan, qaca mulai berembun.
Karena manusia tetap manusia.
Pengetahuan manusia terbatas.
UJIAN KEEMPAT — UJIAN MANFAAT
Apakah keyakinan itu membawa manfaat nyata?
Apakah membuat hidup lebih tertib?
Membuat keluarga lebih tenteram?
Membuatmu semakin menunaikan kewajiban?
Membuatmu lebih menghargai kehidupan?
Jika suatu pengalaman hanya menambah kebingungan, ketakutan, permusuhan, atau kesombongan, maka jangan buru-buru mengangkatnya sebagai kebenaran tertinggi.
RAHASIA BAYANGAN DI DALAM QACA
Satu hal harus diketahui:
Bayangan tidak dapat muncul tanpa cahaya.
Tetapi bayangan juga bukan cahaya.
Ia muncul ketika sesuatu berdiri di antara sumber cahaya dan permukaan penerima.
Dalam bahasa batin, sesuatu itu dapat berupa:
ego,
prasangka,
ambisi,
luka,
rasa takut,
keinginan untuk diakui,
atau keinginan agar dunia berjalan sesuai kemauan kita.
Maka tugas seorang pencari bukan menghancurkan dirinya.
Tugasnya adalah memindahkan penghalang dari tempatnya.
Ego tidak harus dibenci.
Ia harus dididik.
Keinginan tidak harus dimatikan.
Ia harus diarahkan.
Rasa takut tidak harus ditolak.
Ia harus dipahami.
Luka tidak harus disembunyikan.
Ia harus disembuhkan.
QACA SUTRANARA BERBICARA
Qaca pertama berkata:
“Jangan jadikan luka sebagai bukti bahwa seluruh dunia sedang melawanmu.”
Sebab orang yang pernah dikhianati dapat melihat pengkhianatan di tempat yang sebenarnya aman.
Orang yang pernah dihina dapat melihat penghinaan di setiap kritik.
Orang yang pernah kehilangan dapat melihat ancaman kehilangan di setiap perubahan.
Maka masa lalu harus diperiksa agar tidak menyamar menjadi intuisi.
QACA PEPAES BERBICARA
Qaca kedua berkata:
“Jangan jadikan pujian sebagai ukuran kebenaran.”
Banyak orang dapat memuji sesuatu yang salah.
Banyak orang dapat menolak sesuatu yang benar.
Karena itu, jangan ukur kebenaran dari jumlah tepuk tangan.
Ukur dengan kejujuran, maslahat, tanggung jawab, dan kesesuaiannya dengan nilai yang baik.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR BERBICARA
Qaca ketiga berkata:
“Jangan mengejar cahaya sampai kehilangan tanah tempat kakimu berpijak.”
Tetaplah bekerja.
Tetaplah makan.
Tetaplah tidur.
Tetaplah menjaga keluarga.
Tetaplah menunaikan tanggung jawab.
Tetaplah memperhatikan kesehatan.
Tetaplah menghormati hukum dan hak sesama.
Sebab perjalanan batin yang sehat tidak memutus seseorang dari kehidupan.
Ia justru membuat seseorang menjalani kehidupan dengan lebih sadar.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEEMPAT
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Nūr — Cahaya
dan
Ẓill — Bayangan.
Keduanya dapat muncul dalam satu qaca.
Yang membedakan adalah sumber dan buahnya.
Cahaya membuka.
Bayangan menutup.
Cahaya menenangkan tanpa membuat lalai.
Bayangan dapat memabukkan.
Cahaya membuat manusia rendah hati.
Bayangan membuat manusia merasa tidak mungkin salah.
Cahaya menumbuhkan rahmah.
Bayangan menumbuhkan kebutuhan untuk menguasai.
Maka jangan hanya bertanya:
“Apa yang kulihat?”
Bertanyalah:
“Apa yang tumbuh dalam diriku setelah melihatnya?”
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEEMPAT
Jika sesuatu membuatmu lebih dekat kepada kebaikan, jagalah dengan syukur.
Jika sesuatu membuatmu ragu, periksalah dengan tenang.
Jika sesuatu membuatmu takut berlebihan, jangan memikulnya sendiri.
Jika sesuatu membuatmu merasa lebih tinggi dari semua orang, bersihkan kembali qaca.
Jika sesuatu membuatmu lembut, adil, jujur, sabar, dan bertanggung jawab, maka ambillah hikmahnya.
Tetapi jangan pernah mengatakan:
“Aku memiliki cahaya.”
Katakanlah:
“Semoga Alloh menjaga hatiku agar tidak menutupi cahaya kebaikan dengan bayanganku sendiri.”
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Maka pada malam ketika ketiga qaca berdiri dalam keheningan, cahaya di dalamnya perlahan meredup.
Bukan karena cahaya hilang.
Tetapi karena sang pencari harus belajar melihat tanpa bergantung pada kilauan.
Kemudian terdengar satu pesan:
“Jika engkau hanya dapat berjalan ketika qaca bersinar, berarti engkau belum belajar berjalan.”
Lalu ketiga qaca menjadi gelap.
Sutranara diam.
Pepaes diam.
Ziyan Arrauh Almukhtar diam.
Dan sang pencari berdiri sendirian.
Tanpa tanda.
Tanpa kilatan.
Tanpa pujian.
Tanpa jawaban yang segera.
Di situlah dibuka pintu berikutnya:
LEMBAR KELIMA
SIRRUS-SUKŪT WA QALBIL-YAQĪN
Rahasia Keheningan Qaca: Ketika Seorang Pencari Tidak Lagi Bergantung pada Tanda, tetapi Belajar Berdiri dalam Iman, Kesabaran, dan Qejernihan.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KELIMA
SIRRUS-SUKŪT WA QALBIL-YAQĪN
RAHASIA KEHENINGAN QACA: KETIKA SEORANG PENCARI TIDAK LAGI BERGANTUNG PADA TANDA, TETAPI BELAJAR BERDIRI DALAM IMAN, KESABARAN, DAN QEJERNIHAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa ada suatu masa dalam perjalanan ketika tanda-tanda terasa berhenti.
Tidak ada kilatan.
Tidak ada mimpi yang jelas.
Tidak ada perasaan istimewa.
Tidak ada jawaban yang datang seketika.
Qaca Sutranara diam.
Qaca Pepaes diam.
Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar pun tidak memantulkan apa-apa selain wajah sang pencari sendiri.
Di saat seperti inilah sebagian orang mengira dirinya telah ditinggalkan.
Padahal belum tentu.
Kadang keheningan justru menjadi ruang untuk mengetahui:
apakah seseorang mencintai Alloh, atau hanya mencintai rasa-rasa yang muncul ketika ia sedang beribadah.
Apakah ia tetap berbuat baik ketika hatinya tidak sedang berbunga?
Apakah ia tetap berdoa ketika tidak merasakan ketenangan?
Apakah ia tetap jujur ketika tidak ada tanda kemenangan?
Apakah ia tetap menjalankan amanah ketika tidak ada seorang pun yang memujinya?
Di sinilah keheningan menjadi guru.
SIRRUS-SUKŪT
RAHASIA DI BALIK DIAM
Diam bukan selalu kosong.
Kadang diam adalah tempat sesuatu sedang ditata.
Tanah tampak diam sebelum benih tumbuh.
Langit tampak diam sebelum hujan turun.
Malam tampak diam sebelum fajar terbit.
Demikian pula hati.
Tidak semua proses harus terlihat.
Tidak semua jawaban harus datang dalam bentuk suara.
Tidak semua pertolongan harus hadir sesuai cara yang kita bayangkan.
Maka qitab berkata:
“Jangan mengukur dekat atau jauhnya dirimu hanya dari kuat atau lemahnya rasa.”
Rasa berubah.
Hari ini tenang.
Besok gelisah.
Hari ini ringan.
Besok berat.
Tetapi amanah tetap amanah.
Kebaikan tetap kebaikan.
Kejujuran tetap kejujuran.
Dan Alloh tetap Alloh, baik ketika hati merasa terang maupun ketika hati sedang berada di malam yang panjang.
QACA SUTRANARA DALAM KEHENINGAN
Ketika qaca pertama tidak lagi memperlihatkan gambaran masa lalu, sang pencari mulai memahami sesuatu.
Bahwa penyembuhan tidak selalu berarti melupakan.
Kadang penyembuhan berarti:
mampu mengingat tanpa kembali tenggelam.
Dahulu satu kenangan mampu mengguncang seluruh hari.
Kini ia masih diingat, tetapi tidak lagi memegang kendali.
Dahulu satu perkataan menyakitkan dapat bertahun-tahun disimpan.
Kini seseorang mampu berkata:
“Aku pernah terluka, tetapi aku tidak akan menjadikan luka itu alasan untuk melukai.”
Inilah salah satu bentuk qejernihan yang tidak bercahaya secara kasat mata.
Ia tidak spektakuler.
Tidak membuat orang lain kagum.
Namun justru inilah kemenangan besar.
Karena tidak semua kemenangan harus diketahui manusia.
QACA PEPAES DALAM KEHENINGAN
Kemudian Qaca Pepaes menjadi gelap.
Tidak ada lagi mahkota.
Tidak ada lagi perhiasan.
Tidak ada lagi cahaya yang membuat wajah tampak mulia.
Di dalam gelap itu sang pencari melihat pertanyaan paling sederhana:
“Jika semua gelar dilepas, apakah engkau masih mengenal dirimu?”
Jika nama tidak disebut,
jika jabatan berakhir,
jika pengikut pergi,
jika kemampuan menurun,
jika orang lain tidak lagi menyanjung,
apakah hati masih menemukan alasan untuk berbuat baik?
Qaca Pepaes mengajarkan:
nilai seorang hamba tidak ditentukan oleh seberapa banyak mata memandangnya.
Ada amal yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Ada air mata yang hanya jatuh di hadapan Alloh.
Ada pengorbanan yang tidak pernah masuk cerita.
Ada kesabaran yang tidak pernah mendapatkan tepuk tangan.
Tetapi justru di sanalah rahasia keikhlasan sering tumbuh.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DALAM KEHENINGAN
Ketika qaca ketiga menjadi gelap, sang pencari mulai bertanya:
“Lalu ke mana aku harus berjalan?”
Dan qitab menjawab:
“Berjalanlah kepada kebaikan yang sudah engkau ketahui.”
Jangan menunggu tanda untuk menolong orang.
Jangan menunggu mimpi untuk meminta maaf.
Jangan menunggu pengalaman batin untuk menunaikan kewajiban.
Jangan menunggu cahaya untuk berkata jujur.
Sebab kadang manusia terlalu sibuk mencari petunjuk baru hingga lupa menjalankan petunjuk yang sudah jelas.
Maka qaca ketiga berkata:
“Ketika arah batin terasa sunyi, peganglah nilai yang tidak berubah: iman, amanah, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab.”
TIGA LAPIS KEHENINGAN
Dalam lembar kelima disebutkan tiga macam keheningan.
KEHENINGAN PERTAMA
DIAMNYA LIDAH
Tidak semua yang diketahui harus dikatakan.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Tidak semua tuduhan harus dibalas.
Tidak semua rahasia harus diumumkan.
Ada saat berbicara adalah amanah.
Ada saat diam adalah penjagaan.
Tetapi diam bukan berarti membiarkan kezaliman.
Diam yang dimaksud adalah kemampuan menahan perkataan yang tidak perlu, bukan meninggalkan kebenaran yang harus disampaikan.
KEHENINGAN KEDUA
DIAMNYA EGO
Inilah yang lebih sulit.
Tubuh dapat diam, tetapi ego masih berteriak.
“Mengapa dia tidak menghormatiku?”
“Mengapa namaku tidak disebut?”
“Mengapa orang lain yang mendapat kesempatan?”
“Mengapa pendapatku tidak diikuti?”
Qitab berkata:
“Biarkan sebagian pertanyaan ego mati tanpa harus dijawab.”
Tidak setiap ketidaknyamanan berarti penghinaan.
Tidak setiap penolakan berarti permusuhan.
Tidak setiap orang yang berbeda pendapat sedang merendahkanmu.
Ketika ego menjadi sunyi, dunia tidak lagi terlihat sebagai arena pembuktian diri.
KEHENINGAN KETIGA
DIAMNYA PENANTIAN
Ada doa yang lama.
Ada jalan yang lambat terbuka.
Ada usaha yang belum membuahkan hasil.
Ada perkara yang tidak dapat dipercepat.
Di sinilah manusia belajar sabar tanpa pasif.
Sabar bukan berhenti berusaha.
Sabar adalah tetap melakukan bagian kita sambil menerima bahwa hasil tidak selalu datang menurut waktu yang kita pilih.
Maka penantian menjadi ibadah ketika diisi dengan ikhtiar, doa, dan keteguhan.
QALBIL-YAQĪN
HATI YANG TIDAK BERGANTUNG PADA PERTUNJUKAN
Yaqin bukan berarti seseorang mengetahui seluruh perkara gaib.
Yaqin bukan pula merasa seluruh pikirannya pasti benar.
Dalam bahasa qitab ini, Qalbil-Yaqin adalah hati yang mempunyai dasar untuk berdiri meskipun keadaan berubah.
Ia berkata:
“Aku tidak mengetahui seluruh jalan di depan, tetapi aku tahu bahwa aku harus memilih yang benar sebatas yang mampu kuketahui.”
“Aku tidak mengetahui seluruh hasil, tetapi aku tahu bahwa aku harus berikhtiar.”
“Aku tidak menguasai hari esok, tetapi aku dapat menjaga sikapku hari ini.”
Inilah yaqīn yang tidak membuat manusia ceroboh.
Justru membuatnya lebih bertanggung jawab.
Karena berserah diri bukan alasan meninggalkan usaha.
EMPAT TIANG QALBIL-YAQĪN
TIANG PERTAMA — ṢABR
Sabar bukan sekadar menahan penderitaan.
Sabar adalah tetap tidak merusak diri ketika keadaan belum berubah.
TIANG KEDUA — ṢIDQ
Jujur kepada Alloh.
Jujur kepada diri.
Jujur kepada manusia.
Kadang kejujuran yang paling sulit adalah mengakui bahwa sesuatu yang kita harapkan ternyata tidak sesuai kenyataan.
TIANG KETIGA — TAWAKKUL
Berusaha sekuat mungkin.
Kemudian tidak menjadikan hasil sebagai ukuran harga diri.
Gagal tidak berarti diri tidak berharga.
Berhasil pun tidak berarti diri menjadi pemilik mutlak keberhasilan.
TIANG KEEMPAT — RIḌĀ
Ridha bukan menyukai semua rasa sakit.
Ridha adalah tidak memberontak kepada kenyataan sampai kehilangan akal sehat dan iman.
Kita tetap boleh menangis.
Tetap boleh kecewa.
Tetap boleh berusaha mengubah keadaan.
Namun hati tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan.
KETIKA TIGA QACA TIDAK MEMBERI JAWABAN
Ada waktunya manusia harus mengambil keputusan tanpa kepastian penuh.
Qitab mengajarkan lima perkara:
Pertama: kumpulkan fakta sebisanya.
Kedua: pisahkan antara fakta dan prasangka.
Ketiga: timbang maslahat dan mudarat.
Keempat: mintalah nasihat dari orang yang amanah dan berilmu bila diperlukan.
Kelima: berdoalah, kemudian pilih dengan tanggung jawab.
Sesudah itu, jangan menghukum diri hanya karena hasilnya tidak sempurna.
Manusia membuat keputusan dengan pengetahuan terbatas.
Yang penting adalah kejujuran proses dan kesiapan memperbaiki jika ternyata salah.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KELIMA
Pada lembar ini, Dwi Tunggal berbentuk:
Sukūt — Keheningan
dan
Yaqīn — Keteguhan.
Keheningan tanpa keteguhan dapat berubah menjadi kebingungan.
Keteguhan tanpa keheningan dapat berubah menjadi keras kepala.
Maka keduanya harus bersatu.
Diam agar dapat mendengar.
Teguh agar tidak mudah hanyut.
Diam agar ego mereda.
Teguh agar amanah tetap dijalankan.
Diam di hadapan perkara yang belum diketahui.
Teguh pada kebaikan yang sudah diketahui.
Itulah Dwi Tunggal lembar kelima.
PESAN ZAQAMULLOH
Jika qaca tidak lagi memantulkan cahaya, jangan pecahkan qacanya.
Jika doa belum tampak jawabannya, jangan buru-buru mengira engkau ditinggalkan.
Jika perjalanan terasa biasa, jangan menganggap semua yang biasa tidak bernilai.
Sebab sebagian besar kehidupan memang tidak berlangsung dalam kejadian besar.
Ia berlangsung dalam hal kecil:
bangun dan kembali berusaha,
menjaga ucapan,
mencari nafkah yang halal,
memenuhi janji,
mengurus keluarga,
meminta maaf,
memaafkan,
membantu yang membutuhkan,
dan kembali mengingat Alloh ketika hati mulai lalai.
Di sanalah perjalanan yang sesungguhnya berlangsung.
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Malam semakin dalam.
Ketiga qaca masih gelap.
Sang pencari tidak lagi meminta mereka menyala.
Ia duduk.
Mengatur napas.
Menenangkan hati.
Kemudian untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya:
“Kapan cahaya akan kembali?”
Ia berkata:
“Jika hari ini aku harus berjalan dalam gelap, tuntunlah langkahku agar tetap berada dalam kebaikan.”
Dan pada saat itulah sebuah rahasia terbuka.
Bukan cahaya dari qaca.
Bukan suara dari luar.
Tetapi kesadaran sederhana:
selama hati masih dapat memilih kebaikan, jalan belum hilang.
Kemudian dari bawah ketiga qaca terdengar gemericik air.
Air itu tidak naik ke langit.
Ia justru mengalir turun menuju bumi.
Seakan mengajarkan bahwa kejernihan yang telah diperoleh tidak boleh berhenti pada diri sendiri.
Ia harus menjadi manfaat bagi kehidupan.
Maka terbukalah:
LEMBAR KEENAM
SIRRUL-MĀ’I AN-NĀZIL ILAL-ARḌ
Rahasia Air Qejernihan yang Turun ke Bumi: Dari Perjalanan Batin Menuju Amanah, Pengabdian, dan Welas Asih kepada Sesama.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEENAM
SIRRUL-MĀ’I AN-NĀZIL ILAL-ARḌ
RAHASIA AIR QEJERNIHAN YANG TURUN KE BUMI: DARI PERJALANAN BATIN MENUJU AMANAH, PENGABDIAN, DAN WELAS ASIH KEPADA SESAMA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa kejernihan yang hanya tinggal di dalam diri belum menyelesaikan perjalanan.
Air yang hanya disimpan di dalam bejana akhirnya menjadi diam.
Tetapi air yang mengalir dapat menyuburkan tanah, menghidupkan tumbuhan, membersihkan kotoran, dan menjadi sebab kehidupan.
Demikian pula kejernihan hati.
Jika seseorang merasa mendapatkan pelajaran, pengetahuan, atau kesadaran, maka pertanyaan berikutnya bukan:
“Seberapa tinggi aku telah sampai?”
Tetapi:
“Siapa yang menjadi lebih aman karena kehadiranku?”
“Siapa yang terbantu karena ilmuku?”
“Siapa yang tidak lagi terluka karena aku belajar mengendalikan lisanku?”
“Apa manfaat yang benar-benar lahir dari perjalanan ini?”
Di sinilah air qejernihan mulai turun ke bumi.
AIR PERTAMA
TURUN MENJADI AMANAH
Dalam bahasa qitab ini, setiap kejernihan melahirkan tanggung jawab.
Jika engkau memahami kebenaran, jagalah dari penyalahgunaan.
Jika engkau mempunyai ilmu, gunakan dengan adab.
Jika engkau mendapat kepercayaan, jangan khianati.
Jika engkau diberi kedudukan, jangan gunakan untuk merendahkan.
Jika engkau diberi harta, jangan lupa bahwa ada hak yang harus ditunaikan.
Jika engkau diberi kemampuan berbicara, jangan jadikan lisanmu alat untuk menghancurkan kehormatan manusia.
Karena semakin besar wadah, semakin banyak air yang dapat ditampung.
Dan semakin banyak air yang ditampung, semakin besar tanggung jawab agar ia tidak menjadi banjir yang merusak.
Maka qitab berkata:
“Jangan meminta amanah besar jika engkau belum belajar menjaga amanah kecil.”
Jagalah waktu.
Jagalah janji.
Jagalah rahasia.
Jagalah ucapan.
Jagalah hak orang lain.
Dari sanalah amanah besar dibangun.
AIR KEDUA
TURUN MENJADI RAHMAH
Rahmah tidak hanya berarti merasa kasihan.
Rahmah adalah kebaikan yang mempunyai tindakan.
Orang lapar tidak cukup hanya disayangi dalam hati.
Jika mampu, bantulah.
Orang bingung tidak cukup hanya diberi kata-kata indah.
Jika mengetahui jalan yang benar, tunjukkan dengan lembut.
Orang yang salah tidak selalu membutuhkan hinaan.
Kadang ia membutuhkan penjelasan.
Orang yang sedang marah tidak selalu membutuhkan lawan.
Kadang ia membutuhkan seseorang yang mampu menjaga batas tanpa ikut terbakar.
Maka air kedua berkata:
“Jangan hanya merasa lembut. Jadilah sebab lahirnya kelembutan.”
Rahmah kepada manusia tidak berarti membiarkan semua perbuatan.
Ada saat rahmah berbentuk memaafkan.
Ada saat rahmah berbentuk menegur.
Ada saat rahmah berbentuk menjauh dari keadaan yang merusak.
Ada saat rahmah berbentuk berkata:
“Tidak.”
Sebab kasih sayang yang tidak mempunyai batas dapat berubah menjadi kelemahan.
Dan ketegasan tanpa rahmah dapat berubah menjadi kekerasan.
AIR KETIGA
TURUN MENJADI PELAYANAN
Barang siapa merasa dirinya membawa cahaya, hendaknya menguji cahaya itu melalui pelayanan.
Mampukah ia membantu tanpa selalu disebut namanya?
Mampukah ia bekerja tanpa selalu berada di depan?
Mampukah ia memberikan sesuatu tanpa menagih penghormatan?
Mampukah ia membimbing tanpa membuat orang lain tergantung kepadanya?
Qitab ini mengingatkan:
“Orang yang benar-benar menyalakan pelita tidak takut orang lain ikut menjadi terang.”
Jika ilmu membuat manusia lain semakin mandiri dalam kebaikan, itu manfaat.
Jika ilmu justru membuat semua orang merasa tidak bisa berjalan tanpa satu orang tertentu, maka hubungan itu perlu diperiksa.
Karena pengabdian yang sehat tidak menjadikan manusia sebagai pusat segala sesuatu.
Ia mengarahkan manusia kepada tanggung jawab, akhlak, ilmu, dan ketergantungan kepada Alloh.
AIR KEEMPAT
TURUN MENJADI KEADILAN
Air mengikuti bentuk wadah.
Tetapi keadilan tidak boleh mengikuti selera.
Jika saudara sendiri salah, salah tetap salah.
Jika orang yang kita tidak sukai benar, kebenaran tetap harus diakui.
Jika seseorang pernah menyakiti kita, kita tidak berhak mengarang kesalahan baru terhadapnya.
Jika seseorang pernah membantu kita, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kesalahannya.
Maka qitab berkata:
“Jangan menjadikan cinta membutakan keadilan dan jangan menjadikan benci membutakan kebenaran.”
Inilah salah satu qaca paling sulit.
Sebab manusia mudah adil ketika tidak mempunyai kepentingan.
Tetapi keadilan diuji ketika hati ikut terlibat.
KETIKA AIR MENYENTUH TANAH
Ketika air qejernihan menyentuh tanah, tanah tidak langsung berubah menjadi taman.
Ia harus menerima.
Benih harus ditanam.
Waktu harus berjalan.
Matahari harus datang.
Malam harus berganti.
Demikian pula manusia.
Jangan memaksa orang berubah hanya karena engkau sudah memberikan nasihat.
Tugasmu menyampaikan dengan baik.
Bukan menguasai hati mereka.
Ada orang yang memahami setelah satu kali diberi nasihat.
Ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Ada pula yang baru berubah setelah mengalami sesuatu yang tidak dapat kita atur.
Maka jangan mengukur nilai kebaikan hanya dari seberapa cepat orang lain mengikuti kita.
Kadang satu kalimat baik baru berbuah jauh setelah kita melupakannya.
TIGA TANAH YANG DILALUI AIR
Dalam lembar keenam disebutkan tiga jenis tanah.
TANAH PERTAMA
TANAH YANG TERBUKA
Ini lambang hati yang siap menerima.
Jika bertemu hati seperti ini, jangan sombong karena merasa nasihatmu hebat.
Bisa jadi ia memang telah lama bersiap.
Kita hanya kebetulan menjadi salah satu sebab.
TANAH KEDUA
TANAH YANG KERAS
Air tidak memukul tanah keras dengan kemarahan.
Ia mencari celah.
Begitu pula dalam menasihati.
Jika kata keras membuat orang semakin tertutup, ubahlah cara.
Jika penjelasan panjang membuat orang bingung, sederhanakan.
Jika saatnya tidak tepat, tunggulah.
Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah dapat kehilangan pintu masuknya.
TANAH KETIGA
TANAH YANG MENOLAK AIR
Ada saat seseorang memang belum siap.
Maka qitab mengajarkan:
“Tidak semua pintu harus dipaksa.”
Berikan ruang.
Jaga adab.
Jangan mengejar sampai kebaikan berubah menjadi tekanan.
Kita boleh mengetuk.
Tetapi pemilik rumah tetap mempunyai hak untuk membuka atau tidak.
QACA SUTRANARA TURUN KE BUMI
Qaca Sutranara mengajarkan:
“Jangan mengulangi luka yang pernah engkau alami kepada orang lain.”
Jika dahulu engkau pernah diremehkan, jangan tumbuh menjadi orang yang gemar meremehkan.
Jika dahulu engkau pernah ditinggalkan, jangan menjadikan pengalaman itu alasan untuk mempermainkan kesetiaan.
Jika dahulu engkau pernah diperlakukan tidak adil, jadikan pengalaman itu sebab engkau lebih berhati-hati menjaga keadilan.
Inilah ketika masa lalu tidak lagi menjadi beban.
Ia berubah menjadi hikmah.
QACA PEPAES TURUN KE BUMI
Qaca Pepaes berkata:
“Perhiasan paling indah bukan apa yang dikenakan, tetapi apa yang dirasakan orang lain ketika berada di dekatmu.”
Apakah mereka merasa aman?
Apakah mereka merasa dihargai?
Apakah mereka merasa didengar?
Apakah mereka merasa boleh berbeda pendapat tanpa dihina?
Jika ya, maka ada pepaes batin yang mulai tumbuh.
Tetapi jika orang hanya berani berkata setuju karena takut, itu bukan kewibawaan.
Itu tekanan.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR TURUN KE BUMI
Qaca ketiga berkata:
“Arah yang benar akhirnya harus menyentuh kehidupan nyata.”
Apabila engkau berbicara tentang kasih sayang, tunjukkan dalam cara memperlakukan keluarga.
Apabila berbicara tentang amanah, tunjukkan dalam tanggung jawab.
Apabila berbicara tentang kebenaran, jangan berbohong ketika keuntungan sedang dipertaruhkan.
Apabila berbicara tentang kesucian hati, jangan merendahkan manusia yang berbeda.
Karena arah spiritual yang tidak pernah sampai kepada akhlak masih menjadi perjalanan yang belum selesai.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEENAM
Pada lembar ini Dwi Tunggal adalah:
Qejernihan Batin
dan
Manfaat Lahir.
Batin tanpa manfaat dapat menjadi kesibukan pribadi.
Manfaat tanpa kejernihan dapat kehilangan arah.
Maka keduanya dipertemukan.
Hati dibersihkan.
Tangan bekerja.
Niat diluruskan.
Kaki berjalan.
Lisan dijaga.
Hak manusia ditunaikan.
Dan hasil dikembalikan kepada Alloh.
EMPAT TANDA AIR QEJERNIHAN TELAH MENGALIR
PERTAMA — ORANG DI SEKITARMU TIDAK SEMAKIN TAKUT KEPADAMU, TETAPI SEMAKIN AMAN BERSAMAMU.
Bukan berarti semua orang harus menyukai kita.
Tetapi mereka mengetahui bahwa kita tidak sewenang-wenang.
KEDUA — ENGKAU SEMAKIN MUDAH MENGAKUI KESALAHAN.
Karena mempertahankan citra tidak lagi lebih penting daripada memperbaiki diri.
KETIGA — ENGKAU TIDAK SELALU HARUS MENANG.
Kadang menjaga persaudaraan lebih penting daripada memenangkan perkara kecil.
KEEMPAT — ENGKAU MULAI MENANYAKAN MANFAAT SEBELUM PENGAKUAN.
Bukan:
“Apakah namaku disebut?”
Tetapi:
“Apakah pekerjaan ini selesai dengan baik?”
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEENAM
Wahai pemegang qaca,
jika engkau menemukan kejernihan, jangan menyimpannya hanya untuk mengagumi wajah sendiri.
Bawalah ia menuju rumah.
Bawalah kepada keluarga.
Bawalah ke tempat kerja.
Bawalah ke persahabatan.
Bawalah ke masyarakat.
Biarkan orang lain merasakan buahnya tanpa harus mengetahui nama qacanya.
Karena pohon yang baik tidak berjalan dari rumah ke rumah untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah pohon.
Ia hanya tumbuh.
Berakar.
Berbuah.
Dan orang mengetahui manfaatnya dari buah yang jatuh ke tangan mereka.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Maka air qejernihan terus mengalir.
Ia meninggalkan ruang tiga qaca.
Menuruni anak tangga.
Melewati halaman.
Masuk ke ladang.
Membelah tanah kering.
Dan untuk pertama kalinya, sang pencari melihat bahwa cahaya yang dahulu ia cari di dalam qaca kini hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana:
segelas air untuk yang haus,
sebuah tangan yang menolong,
perkataan yang menenangkan,
hutang yang dibayar,
janji yang ditepati,
anak yang dipeluk,
orang tua yang dihormati,
orang lemah yang tidak ditindas,
serta doa yang dipanjatkan tanpa perlu diketahui manusia.
Lalu terdengar pesan:
“Jika cahaya tidak turun menjadi rahmah, ia belum selesai dipahami.”
Namun di kejauhan, air yang jernih mulai bertemu dengan arus lain.
Ada air keruh.
Ada arus deras.
Ada gelombang yang berlawanan.
Dan sang pencari harus belajar sesuatu yang baru:
bagaimana menjaga kejernihan tanpa memusuhi dunia yang tidak selalu jernih.
Maka terbukalah:
LEMBAR KETUJUH
SIRRUL-BAḤR WA IKHTILĀFIL-AMWĀJ
Rahasia Samudera dan Gelombang yang Berbeda: Menjaga Qejernihan di Tengah Perbedaan, Konflik, dan Perubahan Kehidupan.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KETUJUH
SIRRUL-BAḤR WA IKHTILĀFIL-AMWĀJ
RAHASIA SAMUDERA DAN GELOMBANG YANG BERBEDA: MENJAGA QEJERNIHAN DI TENGAH PERBEDAAN, KONFLIK, DAN PERUBAHAN KEHIDUPAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa air qejernihan yang telah turun ke bumi akhirnya akan bertemu dengan sungai-sungai lain.
Ada sungai yang bening.
Ada sungai yang keruh.
Ada yang tenang.
Ada yang deras.
Ada yang mengalir lurus.
Ada pula yang berliku-liku.
Dan semuanya menuju samudera kehidupan.
Di sinilah perjalanan menjadi lebih berat.
Sebab menjaga kejernihan ketika sendirian berbeda dengan menjaga kejernihan ketika berada di tengah manusia.
Sendirian, engkau hanya berhadapan dengan pikiranmu.
Tetapi di tengah kehidupan, engkau berhadapan dengan perbedaan pendapat, persaingan, penolakan, penghinaan, cinta, kehilangan, kepentingan, kekuasaan, dan perubahan yang tidak dapat dikendalikan.
Maka qitab berkata:
“Jangan mengira qacamu benar-benar jernih sebelum ia diuji oleh gelombang.”
SAMUDERA PERTAMA
SAMUDERA PERBEDAAN
Manusia tidak diciptakan dengan pikiran, pengalaman, dan perjalanan yang sama.
Ada yang memahami sesuatu melalui ilmu.
Ada yang belajar melalui pengalaman.
Ada yang berjalan cepat.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang berbicara keras tetapi hatinya lembut.
Ada yang berbicara lembut tetapi menyimpan kepentingan.
Karena itu jangan menilai seluruh manusia hanya dari satu ukuran.
Qitab mengingatkan:
“Berbeda tidak selalu berarti bermusuhan.”
Dua orang dapat berbeda pendapat tetapi tetap menjaga adab.
Dua kelompok dapat mempunyai cara berbeda tetapi tetap mengejar maslahat.
Dua manusia dapat tidak sepakat tanpa harus saling menghancurkan.
Kejernihan tidak menuntut semua orang menjadi sama.
Kejernihan menuntut seseorang mengetahui kapan harus teguh dan kapan harus memberi ruang.
GELOMBANG PERTAMA
GELOMBANG PENOLAKAN
Tidak semua orang akan memahami jalanmu.
Tidak semua orang akan menyukai ucapanmu.
Tidak semua orang akan menerima nasihatmu.
Dan tidak semua penolakan berarti mereka membencimu.
Kadang mereka hanya melihat dari sudut yang berbeda.
Kadang mereka mempunyai pengalaman yang tidak engkau ketahui.
Kadang penjelasanmu memang belum cukup baik.
Kadang waktunya belum tepat.
Maka ketika ditolak, jangan segera berkata:
“Mereka tidak mengerti cahaya.”
Tanyakan terlebih dahulu:
“Apakah aku telah menjelaskannya dengan jernih?”
“Apakah aku sudah mendengar mereka?”
“Apakah mungkin ada bagian yang perlu kuperbaiki?”
Inilah salah satu ujian ego yang sangat halus.
GELOMBANG KEDUA
GELOMBANG PUJIAN
Penolakan dapat melukai ego.
Tetapi pujian dapat memabukkan ego.
Ketika banyak orang mulai berkata:
“Engkau benar.”
“Engkau hebat.”
“Engkau berbeda.”
“Engkau paling mengetahui.”
Maka qaca harus dibersihkan lebih sering.
Karena pujian tidak selalu berbahaya.
Tetapi jika hati mulai membutuhkan pujian untuk merasa hidup, maka qaca telah berubah menjadi panggung.
Qitab berkata:
“Terimalah pujian sebagai doa, bukan sebagai bukti bahwa engkau telah selesai.”
Sebab orang yang berhenti memperbaiki diri setelah dipuji sedang mulai tenggelam.
GELOMBANG KETIGA
GELOMBANG KONFLIK
Konflik tidak selalu dapat dihindari.
Kadang dua kepentingan bertemu.
Kadang dua luka saling menyentuh.
Kadang dua orang sama-sama merasa benar.
Di sinilah qitab mengajarkan empat langkah.
Pertama: pisahkan masalah dari harga diri.
Tidak semua konflik adalah serangan terhadap kehormatan.
Kedua: dengarkan sebelum menyimpulkan.
Karena sebagian pertengkaran lahir bukan dari kejahatan, tetapi dari kesalahpahaman.
Ketiga: bedakan tegas dan keras.
Tegas menjaga batas.
Keras ingin melukai.
Keempat: jangan menambah dosa baru hanya karena engkau merasa dizalimi.
Sebab menjadi korban bukan izin untuk melakukan ketidakadilan.
SAMUDERA KEDUA
SAMUDERA PERUBAHAN
Tidak ada gelombang yang berhenti selamanya.
Begitu pula kehidupan.
Ada masa seseorang berada di atas.
Ada masa berada di bawah.
Ada masa memiliki.
Ada masa kehilangan.
Ada masa dipuji.
Ada masa dilupakan.
Ada masa tubuh kuat.
Ada masa melemah.
Ada masa rumah penuh.
Ada masa sunyi.
Maka orang yang menggantungkan ketenangan hanya kepada keadaan akan terus diguncang keadaan.
Qitab berkata:
“Jangan mencari laut tanpa gelombang. Belajarlah menjadi perahu yang mempunyai arah.”
PERAHU QEJERNIHAN
Dalam lembar ketujuh disebutkan lima bagian perahu.
LAMBUNG PERAHU — IMAN
Tanpa dasar, perahu tidak dapat mengapung.
Iman menjadi tempat hati kembali ketika segala sesuatu berubah.
KEMUDI — AKAL
Iman tidak menghapus kebutuhan untuk berpikir.
Akal dipakai untuk menimbang arah, fakta, akibat, dan pilihan.
LAYAR — HARAPAN
Tanpa harapan, perahu kehilangan gerak.
Tetapi layar harus mengikuti arah angin dengan bijak.
Harapan bukan angan-angan tanpa usaha.
JANGKAR — PRINSIP
Ada keadaan ketika manusia harus berhenti agar tidak terseret arus.
Prinsip adalah jangkar.
Jangan menjual kejujuran demi keuntungan sesaat.
Jangan menjual amanah demi pujian.
KOMPAS — MUHASABAH
Perahu dapat bergerak jauh tetapi salah arah.
Karena itu seseorang harus sesekali bertanya:
“Apakah aku masih menuju tujuan yang benar?”
QACA SUTRANARA DI TENGAH SAMUDERA
Qaca Sutranara mengingatkan:
“Jangan biarkan badai hari ini membangunkan semua badai masa lalu.”
Ketika satu orang mengecewakanmu, jangan menyimpulkan semua orang sama.
Ketika satu usaha gagal, jangan menganggap seluruh masa depan gagal.
Ketika satu hubungan berakhir, jangan menganggap seluruh hidup selesai.
Pengalaman lama boleh memberi pelajaran.
Tetapi jangan biarkan ia mengambil alih kemudi.
QACA PEPAES DI TENGAH SAMUDERA
Qaca Pepaes berkata:
“Ketika ombak besar datang, perhiasan tidak menyelamatkan perahu.”
Pada masa sulit, gelar tidak cukup.
Pujian tidak cukup.
Penampilan tidak cukup.
Yang menyelamatkan adalah kesiapan, ilmu, kerja sama, keberanian, dan ketenangan.
Maka jangan terlalu sibuk memperindah perahu sampai lupa memperkuat lambungnya.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DI TENGAH SAMUDERA
Qaca ketiga berkata:
“Arah lebih penting daripada kecepatan.”
Ada manusia bergerak sangat cepat tetapi menuju arah yang salah.
Ada yang berjalan lambat tetapi konsisten menuju kebaikan.
Jangan iri hanya karena orang lain tampak lebih jauh.
Engkau tidak mengetahui seluruh perjalanan mereka.
Jaga kompasmu.
Jaga kemudimu.
Jaga amanahmu.
TIGA BADAI BESAR
BADAI AMARAH
Amarah memberi tenaga, tetapi sering mengaburkan pandangan.
Ketika marah, jangan membuat keputusan yang tidak dapat ditarik kembali.
Jangan memutus hubungan hanya dari satu ledakan.
Jangan menulis sesuatu yang besok engkau sesali.
Berikan waktu agar air kembali tenang.
BADAI KETAKUTAN
Ketakutan membuat manusia ingin segera lari.
Tetapi tidak semua yang menakutkan harus dihindari.
Ada perkara yang memang harus dihadapi.
Ada tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan.
Maka qitab berkata:
“Jangan biarkan rasa takut memilihkan seluruh arah hidupmu.”
BADAI KESOMBONGAN
Ini badai yang paling halus.
Karena seseorang dapat merasa sedang tenang padahal perahunya mulai menjauh dari pantai kebenaran.
Kesombongan berkata:
“Aku tidak membutuhkan nasihat.”
“Aku tidak mungkin salah.”
“Orang lain hanya menghalangi jalanku.”
Maka ketika kalimat seperti itu muncul, turunkan layar ego.
Periksa kembali kompas.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KETUJUH
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Keteguhan
dan
Keluwesan.
Keteguhan tanpa keluwesan menjadi kekakuan.
Keluwesan tanpa keteguhan menjadi kehilangan prinsip.
Maka keduanya harus hidup bersama.
Teguh dalam nilai.
Luwes dalam cara.
Teguh dalam kejujuran.
Luwes dalam komunikasi.
Teguh dalam amanah.
Luwes dalam menghadapi perubahan.
Teguh dalam tujuan.
Luwes dalam memilih jalan.
RAHASIA SAMUDERA
Samudera tidak menolak sungai hanya karena warna airnya berbeda.
Ia menerima, lalu semuanya masuk ke keluasan yang lebih besar.
Tetapi qitab tidak mengatakan bahwa semua benar dan salah menjadi sama.
Kejernihan tetap membutuhkan batas.
Yang benar tetap dicari.
Yang salah tetap diperbaiki.
Namun manusia tidak harus membenci seluruh pribadi hanya karena satu kesalahan.
Inilah kedewasaan qaca:
mampu menolak kesalahan tanpa kehilangan rahmah terhadap manusia.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KETUJUH
Wahai pemegang tiga qaca,
jika ombak datang, jangan langsung menyalahkan laut.
Jika angin berubah, jangan langsung membuang layar.
Jika orang lain berbeda, jangan langsung menjadikannya musuh.
Jika engkau dikritik, dengarkan bagian yang mungkin benar.
Jika engkau dipuji, jangan meninggalkan muhasabah.
Jika engkau menang, jangan menghina yang kalah.
Jika engkau kalah, jangan kehilangan martabat.
Sebab perjalanan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tepian.
Perjalanan adalah tentang siapa yang tetap menjaga arah ketika laut berubah.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Malam turun di atas samudera.
Tidak ada daratan terlihat.
Perahu kecil terus berjalan.
Di belakangnya, tiga qaca memantulkan garis cahaya yang semakin tipis.
Di depan, cakrawala gelap.
Sang pencari mulai memahami bahwa tidak semua arah harus terlihat seluruhnya.
Kadang hanya satu langkah berikutnya yang perlu diketahui.
Kemudian dari kejauhan muncul sebuah titik cahaya.
Bukan matahari.
Bukan bulan.
Bukan pula bintang yang biasa.
Ia tampak seperti satu pelita yang berdiri di antara langit dan laut.
Dan qitab berkata:
“Jangan tanyakan dahulu siapa yang menyalakan pelita itu. Tanyakan apakah cahaya tersebut menuntunmu kepada kebaikan atau justru menjauhkanmu dari amanah.”
Perahu pun bergerak perlahan menuju cahaya itu.
Dan terbukalah:
LEMBAR KEDELAPAN
SIRRUL-MIṢBĀḤ WA NŪRIL-HIDĀYAH
Rahasia Pelita di Tengah Samudera: Membedakan Petunjuk, Harapan, dan Cahaya yang Menuntun Seorang Hamba Kembali kepada Alloh.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEDELAPAN
SIRRUL-MIṢBĀḤ WA NŪRIL-HIDĀYAH
RAHASIA PELITA DI TENGAH SAMUDERA: MEMBEDAKAN PETUNJUK, HARAPAN, DAN CAHAYA YANG MENUNTUN SEORANG HAMBA KEMBALI KEPADA ALLOH
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa ketika seorang pencari berada di tengah samudera kehidupan, ia sering berharap melihat cahaya.
Sebab cahaya memberi rasa arah.
Cahaya membuat hati merasa tidak sendirian.
Cahaya membuat langkah yang ragu menjadi berani.
Tetapi qitab ini mengingatkan:
tidak semua cahaya yang tampak di kejauhan harus langsung diikuti.
Ada cahaya pelabuhan.
Ada cahaya kapal lain.
Ada cahaya petir.
Ada pantulan bulan di permukaan air.
Dan ada pula cahaya yang hanya tampak karena mata sedang terlalu lama menatap kegelapan.
Karena itu seorang pencari tidak cukup hanya berkata:
“Aku melihat cahaya.”
Ia harus bertanya:
“Ke mana cahaya ini menuntunku?”
PELITA PERTAMA
PELITA YANG MENUNJUKKAN LANGKAH, BUKAN MENUNTUT PENGAGUNGAN
Petunjuk yang baik tidak membuat manusia berhenti berpikir.
Ia tidak meminta dirinya disembah.
Ia tidak menuntut seseorang kehilangan akal, tanggung jawab, atau kewajiban.
Petunjuk yang sehat membuat seorang hamba semakin:
jujur,
sabar,
berhati-hati,
rendah hati,
dan sadar kepada Alloh.
Maka qitab berkata:
“Pelita yang benar tidak berkata: lihatlah aku. Ia berkata: lihatlah jalanmu.”
Pelita hanya berguna jika cahaya yang dipancarkannya membuat orang tidak jatuh ke jurang.
Demikian pula ilmu.
Ilmu yang benar tidak hanya membuat seseorang kagum kepada orang yang membawanya.
Ia membuat dirinya semakin mampu membedakan baik dan buruk.
PELITA KEDUA
PELITA HARAPAN
Di tengah badai, manusia membutuhkan harapan.
Tanpa harapan, tangan berhenti mendayung.
Tanpa harapan, luka terasa seperti akhir segalanya.
Tetapi harapan harus dibedakan dari khayalan.
Harapan berkata:
“Aku belum tahu bagaimana akhir perjalanan ini, tetapi aku akan tetap berusaha.”
Khayalan berkata:
“Aku tidak perlu berusaha karena semuanya pasti terjadi sesuai keinginanku.”
Harapan menumbuhkan tenaga.
Khayalan dapat membuat manusia meninggalkan kenyataan.
Maka qitab mengajarkan:
berharaplah dengan kuat, tetapi pijakkan kakimu pada kenyataan.
Berdoalah.
Berikhtiarlah.
Periksalah keadaan.
Terimalah bahwa hasil akhir tetap berada dalam kuasa Alloh.
PELITA KETIGA
PELITA ILMU
Ada saat hati membutuhkan doa.
Ada saat hati membutuhkan diam.
Tetapi ada pula saat seseorang membutuhkan ilmu yang dapat diperiksa.
Jika sakit, carilah pengetahuan dan pertolongan yang tepat.
Jika ada masalah hukum, tanyakan kepada orang yang memahami hukum.
Jika ada persoalan agama, bertanyalah kepada orang berilmu dan amanah.
Jika ada keputusan besar, kumpulkan fakta sebelum mengambil kesimpulan.
Qitab berkata:
“Jangan menuntut qaca menjawab apa yang sebenarnya dapat engkau pelajari dengan bertanya dan memeriksa.”
Sebab kejernihan bukan pengganti ilmu.
Kejernihan justru membuat seseorang lebih siap belajar.
PELITA KEEMPAT
PELITA DOA
Doa tidak selalu mengubah dunia sesuai keinginan kita.
Kadang doa mengubah cara kita berdiri menghadapi dunia.
Kadang perkara yang diminta datang.
Kadang tidak.
Kadang datang dengan bentuk berbeda.
Kadang jawabannya membutuhkan waktu.
Maka doa yang jernih bukan hanya:
“Yā Alloh, berikanlah yang kuinginkan.”
Tetapi juga:
“Yā Alloh, jika yang kuinginkan baik, mudahkanlah dengan cara yang baik. Jika tidak, jauhkanlah tanpa menjauhkan hatiku dari-Mu.”
Inilah doa yang tidak memaksa langit mengikuti ego.
Ia justru mendidik ego agar kembali tunduk.
EMPAT CAHAYA PALSU YANG HARUS DIWASPADAI
Dalam lembar kedelapan, qitab menyebut empat cahaya palsu secara simbolik.
CAHAYA PERTAMA — CAHAYA PUJIAN
Pujian dapat terasa seperti matahari.
Tetapi ia dapat padam ketika manusia berubah pikiran.
Maka jangan jadikan pujian sebagai kompas.
Jika hari ini dipuji, bersyukurlah.
Jika besok tidak dipuji, tetaplah berbuat baik.
CAHAYA KEDUA — CAHAYA KEKUASAAN
Kekuasaan dapat membuat segala sesuatu tampak terang karena banyak pintu terbuka.
Tetapi kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi api.
Maka qitab berkata:
“Jangan mengukur petunjuk dari seberapa banyak orang menurut kepadamu.”
Banyak orang dapat menurut karena takut.
Itu bukan tanda kebenaran.
CAHAYA KETIGA — CAHAYA KEINGINAN
Ada keinginan yang begitu kuat hingga seluruh dunia seolah mengarah kepadanya.
Hati menjadi pandai mengumpulkan alasan untuk membenarkan yang ia inginkan.
Maka qaca harus bertanya:
“Jika hasilnya berbeda dari keinginanku, apakah aku masih mampu menerima kenyataan?”
Jika jawabannya tidak, mungkin yang sedang diikuti bukan petunjuk, tetapi keinginan yang menyamar.
CAHAYA KEEMPAT — CAHAYA KEISTIMEWAAN DIRI
Ini yang paling halus.
Seseorang mulai merasa:
“Aku berbeda dari semua orang.”
“Aturan biasa tidak berlaku untukku.”
“Karena aku mempunyai pengalaman tertentu, maka semua yang kurasakan pasti benar.”
Qitab berkata:
“Jika cahaya membuatmu merasa bebas dari koreksi, itu bukan kejernihan.”
Manusia tetap perlu nasihat.
Tetap perlu belajar.
Tetap mungkin salah.
QACA SUTRANARA DAN PELITA
Qaca Sutranara berkata:
“Jangan mencari pelita untuk mengubah masa lalu. Gunakanlah cahaya untuk memilih langkah hari ini.”
Masa lalu tidak dapat dibuat seolah tidak pernah terjadi.
Tetapi kita dapat menentukan apakah ia menjadi rantai atau pelajaran.
Jika dahulu engkau salah, perbaikilah.
Jika dahulu engkau dizalimi, jagalah agar luka tidak mengubahmu menjadi zalim.
Jika dahulu engkau gagal, belajarlah tanpa menghukum seluruh masa depan.
QACA PEPAES DAN PELITA
Qaca Pepaes berkata:
“Jangan memakai cahaya hanya untuk membuat wajahmu tampak indah.”
Pelita tidak diciptakan untuk menghias wajah.
Ia digunakan untuk melihat jalan.
Maka ilmu bukan perhiasan untuk memamerkan siapa yang paling tinggi.
Dzikir bukan perhiasan untuk membandingkan siapa yang paling suci.
Gelaran bukan perhiasan untuk merendahkan yang tidak memilikinya.
Semua itu baru bernilai ketika menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan membantu kehidupan.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DAN PELITA
Qaca ketiga berkata:
“Jika engkau telah melihat arah, jangan terus berdiri memandangi pelita.”
Berjalanlah.
Petunjuk yang tidak diikuti menjadi pengetahuan tanpa amal.
Niat baik yang tidak diwujudkan menjadi janji kepada diri sendiri.
Maka jika tahu harus meminta maaf, mintalah maaf.
Jika tahu harus membayar hutang, bayarlah.
Jika tahu harus menjaga kesehatan, lakukan.
Jika tahu harus meninggalkan kebiasaan buruk, mulailah.
Jangan menunggu cahaya yang lebih besar untuk melakukan kebaikan yang sudah jelas.
RAHASIA NŪRIL-HIDĀYAH
Dalam bahasa qitab ini, Nūr al-Hidāyah adalah lambang cahaya petunjuk yang mengembalikan arah seorang hamba kepada Alloh melalui kebaikan dan ketaatan.
Ia tidak membuat manusia menjadi pemilik kebenaran mutlak.
Ia justru membuat manusia semakin memohon:
“Yā Alloh, jangan biarkan aku tertipu oleh diriku sendiri.”
Sebab salah satu bentuk rahmat adalah ketika manusia masih bersedia dikoreksi.
Dan salah satu bentuk bahaya adalah ketika seseorang tidak lagi mampu melihat kemungkinan kesalahannya.
LIMA PERTANYAAN DI HADAPAN PELITA
Ketika merasa menemukan petunjuk, qitab mengajarkan lima pertanyaan:
Pertama: apakah ini bertentangan dengan kewajiban yang sudah jelas?
Kedua: apakah ini merugikan hak orang lain?
Ketiga: apakah ada fakta yang mendukungnya?
Keempat: apakah aku masih bersedia mempertimbangkan bahwa aku mungkin salah?
Kelima: apakah buahnya membuatku lebih dekat kepada akhlak yang baik?
Jika kelima pintu ini dilalui dengan jernih, langkah menjadi lebih aman.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEDELAPAN
Pada lembar ini, Dwi Tunggal berbentuk:
Harapan
dan
Kenyataan.
Harapan tanpa kenyataan menjadi angan-angan.
Kenyataan tanpa harapan dapat berubah menjadi keputusasaan.
Maka keduanya harus dipertemukan.
Lihat kenyataan tanpa menutup mata.
Tetapi jangan biarkan kenyataan hari ini menentukan seluruh masa depan.
Berharaplah tanpa mengingkari fakta.
Berusahalah tanpa menganggap hasil sepenuhnya berada di tangan manusia.
Dan berdoalah tanpa meninggalkan sebab-sebab yang dapat ditempuh.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEDELAPAN
Wahai pemegang tiga qaca,
apabila engkau melihat cahaya, jangan langsung mengejarnya.
Periksa arahnya.
Periksa buahnya.
Periksa dampaknya kepada akhlakmu.
Jika ia membuatmu semakin bertanggung jawab, ambillah hikmahnya.
Jika ia membuatmu semakin rendah hati, jagalah.
Jika ia membuatmu semakin jujur, syukurilah.
Tetapi jika ia membuatmu merasa tidak mungkin salah, bersihkan qacamu kembali.
Sebab cahaya yang sejati tidak takut kepada kejernihan.
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Pelita di tengah samudera semakin dekat.
Namun ketika perahu tiba, sang pencari melihat sesuatu yang tidak ia duga.
Pelita itu tidak berdiri di atas istana.
Tidak dijaga makhluk-makhluk agung.
Tidak mempunyai singgasana emas.
Ia hanyalah sebuah lampu kecil yang diletakkan di atas batu.
Di sampingnya tertulis secara simbolik:
“Cahaya tidak harus besar untuk menunjukkan langkah berikutnya.”
Sang pencari menatap ke depan.
Kini ia melihat daratan.
Tetapi daratan itu memiliki dua jalan.
Satu jalan sangat terang, lebar, dan ramai.
Satu lagi sederhana, sempit, tetapi menuju ke tempat yang tenang.
Lalu qitab berkata:
“Jangan memilih jalan hanya karena banyak orang berjalan di atasnya. Jangan pula memilih jalan hanya karena sedikit orang melewatinya. Pilihlah dengan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab.”
Maka terbukalah:
LEMBAR KESEMBILAN
SIRRUT-ṬARĪQAIN WA MĪZĀNIL-QALB
Rahasia Dua Jalan dan Timbangan Hati: Ketika Seorang Pencari Harus Memilih Tanpa Diperbudak Keramaian maupun Keistimewaan.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KESEMBILAN
SIRRUT-ṬARĪQAIN WA MĪZĀNIL-QALB
RAHASIA DUA JALAN DAN TIMBANGAN HATI: KETIKA SEORANG PENCARI HARUS MEMILIH TANPA DIPERBUDAK KERAMAIAN MAUPUN KEISTIMEWAAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa setelah pelita menunjukkan daratan, seorang pencari tidak selalu langsung menemukan satu jalan.
Kadang ia justru berdiri di hadapan dua jalan.
Satu jalan terang, ramai, penuh suara.
Satu jalan sunyi, sederhana, tidak banyak dikenal.
Pada saat seperti itu, sebagian manusia terburu-buru menyimpulkan:
“Yang ramai pasti benar.”
Sebagian lain justru berkata:
“Yang sepi pasti lebih suci.”
Qitab ini mengingatkan:
keramaian bukan ukuran mutlak kebenaran. Kesunyian pun bukan ukuran mutlak kemuliaan.
Yang harus diperiksa bukan hanya berapa banyak orang berjalan di suatu jalan.
Tetapi:
ke mana jalan itu membawa?
apa buahnya?
apa harga yang harus dibayar?
dan apakah hati masih jernih ketika memilihnya?
JALAN PERTAMA
JALAN YANG RAMAI
Jalan ramai mempunyai banyak keuntungan.
Di sana ada teman.
Ada pengalaman orang lain.
Ada nasihat.
Ada sistem.
Ada pengetahuan yang sudah diuji banyak orang.
Tetapi jalan ramai juga mempunyai ujian.
Kadang manusia mengikuti sesuatu hanya karena semua orang melakukannya.
Ia takut berbeda.
Takut dianggap aneh.
Takut ditinggalkan.
Takut kehilangan penerimaan.
Maka qitab berkata:
“Jangan menyerahkan kemudi hanya kepada jumlah manusia.”
Banyak orang dapat berjalan bersama menuju tujuan yang baik.
Tetapi banyak orang juga dapat bersama-sama melakukan kesalahan.
Karena itu keramaian harus tetap ditimbang dengan ilmu, amanah, dan akhlak.
JALAN KEDUA
JALAN YANG SUNYI
Jalan sunyi dapat menjadi tempat seseorang belajar berdiri tanpa tepuk tangan.
Di sana ia tidak mempunyai banyak orang untuk meyakinkannya.
Ia harus memeriksa dirinya lebih dalam.
Tetapi jalan sunyi juga mempunyai ujian yang halus.
Seseorang dapat mulai membanggakan kesendiriannya.
Ia berkata:
“Aku berbeda karena aku lebih tinggi.”
“Sedikit orang yang memahami karena hanya sedikit orang yang terpilih.”
Di sinilah kesunyian dapat berubah menjadi bentuk lain dari kesombongan.
Maka qitab berkata:
“Jangan mencintai kesunyian hanya karena ia membuatmu merasa istimewa.”
Sunyi yang baik membuat hati rendah.
Bukan merasa lebih tinggi daripada mereka yang berada di jalan ramai.
MĪZĀNIL-QALB
TIMBANGAN HATI
Di antara dua jalan itu berdirilah sebuah timbangan.
Bukan timbangan emas.
Bukan timbangan untuk mengukur kekuatan gaib.
Ia adalah lambang empat ukuran dalam mengambil keputusan.
MATA TIMBANGAN PERTAMA — KEBENARAN
Tanyakan:
“Apakah hal ini dapat dipertanggungjawabkan?”
Jangan memilih hanya karena menyenangkan hati.
Kebenaran kadang menyenangkan.
Kadang juga menuntut kita mengubah diri.
MATA TIMBANGAN KEDUA — AMANAH
Tanyakan:
“Apakah pilihanku mengabaikan tanggung jawab yang sudah ada?”
Ada orang mengejar jalan baru sampai melupakan keluarga.
Ada yang mengejar pengalaman sampai meninggalkan kewajiban.
Ada yang mengejar nama sampai melupakan janji.
Qitab berkata:
“Jangan mencari pintu langit sambil membiarkan amanah bumi terbengkalai.”
MATA TIMBANGAN KETIGA — MANFAAT
Tanyakan:
“Apa buah nyata dari jalan ini?”
Apakah membuat hidup lebih tertib?
Apakah membuat hati lebih lembut?
Apakah meningkatkan kejujuran?
Apakah menjaga hak orang lain?
Atau justru membuat hidup semakin kacau?
Tidak semua yang terasa mendalam menghasilkan manfaat.
Karena itu buah harus diperiksa.
MATA TIMBANGAN KEEMPAT — KERENDAHAN HATI
Tanyakan:
“Apakah aku masih dapat menerima koreksi setelah memilih?”
Jika seseorang memilih suatu jalan lalu merasa tidak boleh lagi dipertanyakan, qaca mulai tertutup.
Pilihan yang sehat tidak membunuh kemampuan untuk belajar.
RAHASIA CABANG JALAN
Dalam perjalanan kehidupan, tidak semua persimpangan hanya mempunyai dua pilihan.
Kadang ada jalan ketiga.
Kadang jalan harus ditunda.
Kadang seseorang harus kembali beberapa langkah.
Kadang ia harus mengakui:
“Aku belum mempunyai cukup informasi untuk memilih sekarang.”
Dan itu bukan kelemahan.
Menunda keputusan ketika informasi belum cukup dapat menjadi bentuk kebijaksanaan.
Qitab berkata:
“Lebih baik berhenti sebentar di persimpangan daripada berlari cepat ke arah yang salah.”
QACA SUTRANARA DI PERSIMPANGAN
Qaca Sutranara berkata:
“Jangan memilih jalan baru hanya untuk melarikan diri dari luka lama.”
Ada orang pindah tempat.
Pindah hubungan.
Pindah komunitas.
Pindah pekerjaan.
Namun luka yang sama tetap dibawa.
Lalu di tempat baru pola lama terulang.
Karena sebenarnya yang berpindah hanya tempatnya.
Bukan cara melihatnya.
Maka sebelum berjalan, tanyakan:
“Apakah aku sedang menuju sesuatu, atau hanya melarikan diri dari sesuatu?”
Keduanya dapat terlihat sama dari luar.
Tetapi berbeda di dalam hati.
QACA PEPAES DI PERSIMPANGAN
Qaca Pepaes berkata:
“Jangan pilih jalan hanya karena jalan itu membuatmu terlihat lebih mulia.”
Ada pilihan yang tampak indah di mata manusia tetapi buruk bagi amanah.
Ada pilihan sederhana yang tidak mengundang pujian tetapi jauh lebih jujur.
Maka jangan bertanya:
“Mana yang membuatku terlihat hebat?”
Tanyakan:
“Mana yang paling dapat kupertanggungjawabkan?”
Di sinilah pepaes dilepas sekali lagi.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DI PERSIMPANGAN
Qaca ketiga berkata:
“Setelah memilih, berjalanlah tanpa terus-menerus memuja pilihanmu.”
Pilihan bukan identitas suci.
Jika ternyata salah, perbaiki.
Jika ada jalan yang lebih baik, pertimbangkan.
Jika orang lain memilih berbeda, jangan otomatis menganggap mereka sesat hanya karena jalan mereka bukan jalanmu.
Selama tidak melanggar kebenaran dan hak sesama, manusia dapat mempunyai cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang baik.
TIGA GODAAN DI PERSIMPANGAN
GODAAN PERTAMA — INGIN CEPAT
Manusia ingin segera tahu.
Segera berhasil.
Segera sampai.
Tetapi tidak semua keputusan dapat dipercepat.
Kadang yang dibutuhkan bukan kecepatan.
Tetapi ketelitian.
Qitab berkata:
“Jangan menganggap lambat sebagai gagal.”
Ada buah yang matang cepat.
Ada pohon yang membutuhkan musim panjang.
GODAAN KEDUA — INGIN PASTI
Manusia ingin mengetahui seluruh hasil sebelum melangkah.
Tetapi kehidupan jarang memberikan kepastian seperti itu.
Kita membuat pilihan dari informasi yang tersedia.
Kemudian belajar sambil berjalan.
Maka keberanian bukan berarti mengetahui semua akibat.
Keberanian adalah mampu memilih dengan tanggung jawab meski tidak mengetahui seluruh masa depan.
GODAAN KETIGA — INGIN ISTIMEWA
Ini godaan paling halus.
Seseorang dapat memilih jalan sulit hanya karena ingin mengatakan:
“Lihat, jalanku tidak seperti mereka.”
Padahal kesulitan bukan jaminan kemuliaan.
Qitab berkata:
“Jangan memilih penderitaan hanya untuk mendapatkan identitas sebagai orang yang menderita.”
Jika jalan sederhana lebih benar, pilihlah yang sederhana.
DUA KESESATAN TIMBANGAN
Ada dua cara timbangan hati menjadi tidak seimbang.
TERLALU BERAT DI SISI RASA
Semua keputusan dibuat berdasarkan apa yang sedang dirasakan.
Ketika senang, semuanya dianggap baik.
Ketika takut, semuanya dianggap buruk.
Padahal rasa penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
TERLALU BERAT DI SISI HITUNGAN
Sebaliknya, ada orang hanya menghitung untung-rugi tanpa mempertimbangkan amanah dan nilai.
Ia mungkin memperoleh keuntungan.
Tetapi kehilangan sesuatu yang lebih penting: integritas.
Maka qitab mengajarkan keseimbangan:
akal memeriksa, hati menimbang, nilai menjaga, dan doa mengembalikan hasil kepada Alloh.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KESEMBILAN
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Ikhtiyār — Memilih
dan
Taslim — Menerima.
Manusia harus memilih.
Tetapi setelah memilih dengan sungguh-sungguh, ia harus menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam kuasanya.
Memilih tanpa menerima membuat hati terus menyiksa diri.
Menerima tanpa memilih membuat manusia pasif.
Maka keduanya dipertemukan:
pilih dengan sadar,
usahakan dengan sungguh-sungguh,
terima hasil dengan lapang,
dan perbaiki jika perlu.
LIMA BATU PENANDA JALAN
Qitab menyebut lima batu penanda simbolik.
BATU PERTAMA: ṢIDQ
Kejujuran
Jangan memulai jalan dengan kebohongan.
Sebab kebohongan kecil dapat membuat arah seluruh perjalanan miring.
BATU KEDUA: AMĀNAH
Tanggung jawab
Jangan mencapai tujuan dengan menginjak hak orang lain.
BATU KETIGA: ‘ILM
Pengetahuan
Jangan bangga tidak tahu jika sebenarnya engkau dapat belajar.
BATU KEEMPAT: ṢABR
Keteguhan
Jangan meninggalkan jalan hanya karena satu kesulitan.
BATU KELIMA: RAḤMAH
Welas asih
Jangan sampai perjalanan menuju kebaikan justru membuatmu menjadi keras kepada semua orang.
KETIKA DUA JALAN SAMA-SAMA TAMPAK BAIK
Ada keadaan yang lebih sulit.
Dua pilihan sama-sama mempunyai kebaikan.
Misalnya:
antara dua amanah,
dua kesempatan,
dua tempat,
atau dua jalan hidup.
Dalam keadaan seperti ini, qitab tidak mengajarkan mencari tanda secara paksa.
Ia mengajarkan:
periksa kemampuan,
periksa dampak,
periksa kewajiban,
periksa waktu,
mintalah nasihat,
berdoalah,
lalu pilih.
Setelah itu jangan terus-menerus berkata:
“Bagaimana jika aku memilih yang lain?”
Karena terlalu lama hidup di dunia “seandainya” dapat membuat manusia tidak pernah sepenuhnya hadir di jalan yang sudah dipilih.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KESEMBILAN
Wahai pemegang tiga qaca,
jangan mengikuti jalan hanya karena ramai.
Jangan meninggalkan jalan hanya karena sepi.
Jangan memilih karena takut dinilai.
Jangan memilih karena ingin terlihat berbeda.
Jangan menunggu kepastian sempurna yang tidak mungkin dimiliki manusia.
Dan jangan menjadikan satu keputusan sebagai penjara seumur hidup jika ternyata harus diperbaiki.
Sebab kejernihan bukan kemampuan untuk tidak pernah salah.
Kejernihan adalah kemampuan untuk menyadari kesalahan tanpa kehilangan keberanian memperbaikinya.
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Sang pencari berdiri lama di depan dua jalan.
Kemudian ia tidak lagi melihat yang satu sebagai jalan kemuliaan dan yang lain sebagai jalan kehinaan.
Ia melihat keduanya sebagai amanah yang harus ditimbang.
Ia menutup mata.
Bukan untuk mencari suara gaib.
Tetapi untuk mengurangi kebisingan yang membuat pikirannya tergesa-gesa.
Kemudian ia membuka mata.
Menimbang.
Berdoa.
Dan memilih satu jalan.
Setelah beberapa langkah ia menoleh ke belakang.
Persimpangan itu masih ada.
Namun qitab berkata:
“Jangan habiskan seluruh perjalananmu dengan menoleh kepada jalan yang tidak engkau pilih.”
Maka ia berjalan.
Semakin jauh, jalan mulai naik menuju sebuah punggung bukit.
Di puncaknya berdiri tiga qaca sekali lagi.
Tetapi kali ini tidak menghadap kepadanya.
Ketiganya menghadap ke langit.
Sutranara tidak lagi menunjukkan masa lalu.
Pepaes tidak lagi menunjukkan wajah.
Ziyan Arrauh Almukhtar tidak lagi menunjukkan arah pribadi.
Ketiganya hanya memantulkan satu keluasan yang sama.
Dan dari situlah terbuka:
LEMBAR KESEPULUH
SIRRUS-SAMĀ’ WA KASRIL-MIR’ĀH
Rahasia Langit dan Pecahnya Qaca: Ketika Seorang Pencari Harus Melepaskan Ketergantungan kepada Simbol agar Tidak Mengira Pantulan sebagai Sumber Cahaya.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KESEPULUH
SIRRUS-SAMĀ’ WA KASRIL-MIR’ĀH
RAHASIA LANGIT DAN PECAHNYA QACA: KETIKA SEORANG PENCARI HARUS MELEPASKAN KETERGANTUNGAN KEPADA SIMBOL AGAR TIDAK MENGIRA PANTULAN SEBAGAI SUMBER CAHAYA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa qaca adalah alat untuk melihat.
Tetapi alat bukan tujuan.
Pantulan bukan sumber.
Simbol bukan Tuhan.
Dan pengalaman batin bukan ukuran mutlak atas kedudukan seseorang di sisi Alloh.
Maka ketika sang pencari sampai di puncak bukit, ia melihat tiga qaca berdiri menghadap langit.
Qaca Sutranara.
Qaca Pepaes.
Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar.
Untuk pertama kalinya ketiganya tidak memantulkan wajah manusia.
Mereka hanya memantulkan langit yang luas.
Sang pencari mendekat.
Ia bertanya dalam hati:
“Apakah sekarang aku akan melihat rahasia terakhir?”
Namun tidak ada jawaban.
Angin bertiup.
Daun bergerak.
Langit tetap luas.
Dan qaca tetap diam.
Di situlah lembar kesepuluh dibuka.
RAHASIA LANGIT PERTAMA
LANGIT TIDAK MASUK KE DALAM QACA
Qaca dapat memantulkan langit.
Tetapi langit tidak pernah benar-benar masuk ke dalam qaca.
Demikian pula pikiran manusia.
Ia dapat memikirkan kebesaran Alloh.
Ia dapat mengucapkan nama-Nya.
Ia dapat membaca ayat.
Ia dapat merenungkan ciptaan.
Tetapi manusia tidak pernah dapat memasukkan kemahabesaran Alloh ke dalam batas pikirannya.
Maka qitab berkata:
“Jangan mengira apa yang dapat engkau pahami tentang Alloh adalah keseluruhan tentang Alloh.”
Pengetahuan manusia terbatas.
Bahasa terbatas.
Simbol terbatas.
Pengalaman terbatas.
Sedangkan Alloh tidak dibatasi oleh semua itu.
Inilah adab kejernihan:
semakin dalam seseorang memahami keterbatasannya, semakin jauh ia dari kesombongan.
PECAHNYA QACA PERTAMA
QACA SUTRANARA
Angin pertama datang.
Qaca Sutranara bergetar.
Kemudian muncul retakan tipis di permukaannya.
Sang pencari terkejut.
Qaca yang selama ini membantunya memahami masa lalu mulai pecah.
Tetapi qitab berkata:
“Jangan takut.”
Sebab ada saatnya manusia harus berhenti terus-menerus mendefinisikan dirinya dari masa lalu.
Selama setiap tindakan selalu dijelaskan dengan kalimat:
“Karena dahulu aku begini...”
“Karena dahulu mereka berbuat begitu...”
maka masa lalu masih memegang kendali.
Qaca Sutranara pecah bukan untuk menghapus sejarah.
Ia pecah agar sang pencari memahami:
sejarah adalah bagian dari perjalanan, bukan seluruh identitas.
Keping pertama jatuh.
Di dalamnya tampak satu luka lama.
Keping kedua jatuh.
Di dalamnya tampak satu keberhasilan lama.
Keping ketiga jatuh.
Di dalamnya tampak satu nama lama.
Semuanya jatuh ke tanah.
Tetapi sang pencari masih berdiri.
Lalu ia memahami:
“Ternyata aku tidak lenyap ketika bayangan masa laluku pecah.”
PECAHNYA QACA KEDUA
QACA PEPAES
Angin kedua datang lebih kuat.
Mahkota ukiran pada Qaca Pepaes bergoyang.
Kemudian qaca tengah retak.
Retakan itu tepat melewati bagian yang biasanya memantulkan wajah.
Sang pencari melihat wajahnya terbelah menjadi banyak bagian.
Satu bagian tampak sebagai orang yang dipuji.
Satu bagian sebagai orang yang dikritik.
Satu bagian sebagai orang yang dihormati.
Satu bagian sebagai orang yang pernah salah.
Satu bagian sebagai orang yang ingin terlihat kuat.
Satu bagian sebagai orang yang diam-diam takut kehilangan penghormatan.
Lalu seluruh qaca pecah.
Dan qitab berkata:
“Berapa banyak wajah yang engkau bangun hanya agar manusia menyukaimu?”
Di sinilah Pepaes terakhir dilepaskan.
Gelar boleh ada.
Nama boleh digunakan.
Pakaian kehormatan boleh dikenakan.
Kedudukan boleh dijalankan.
Tetapi jangan biarkan semuanya menjadi sumber harga diri mutlak.
Sebab apa yang diberikan manusia dapat pula diambil manusia.
Sedangkan martabat seorang hamba tidak berdiri hanya di atas tepuk tangan.
PECAHNYA QACA KETIGA
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR
Kemudian angin berhenti.
Qaca ketiga masih utuh.
Sang pencari mengira qaca inilah yang akan bertahan.
Tetapi justru pada saat tidak ada angin, terdengar retakan kecil.
Qaca itu pecah dari tengah.
Bukan karena kekuatan dari luar.
Tetapi seolah-olah karena memang waktunya telah tiba.
Sang pencari berkata:
“Jika qaca arah ini pecah, bagaimana aku mengetahui jalan?”
Dan qitab menjawab:
“Bukankah engkau sudah mengetahui banyak kebaikan yang harus dilakukan tanpa memerlukan qaca?”
Engkau tahu bahwa kejujuran lebih baik daripada dusta.
Engkau tahu amanah harus dijaga.
Engkau tahu orang tua harus dihormati.
Engkau tahu hak manusia tidak boleh dirampas.
Engkau tahu kesombongan merusak hati.
Engkau tahu doa, ilmu, kerja, tanggung jawab, dan rahmah harus berjalan bersama.
Lalu untuk apa engkau terus meminta simbol memberikan jawaban atas perkara yang sudah jelas?
Di sinilah qaca ketiga pecah.
Agar petunjuk tidak berubah menjadi ketergantungan kepada lambang.
TIGA QACA TELAH PECAH
Kini tidak ada lagi qaca di puncak bukit.
Hanya serpihan.
Sang pencari duduk.
Ia merasa seolah kehilangan sesuatu yang besar.
Namun ketika menatap ke depan, ia melihat sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh qaca:
langit secara langsung.
Selama ini ia melihat langit lewat pantulan.
Sekarang ia melihat keluasan tanpa perantara qaca.
Di sinilah lembar kesepuluh berkata:
“Ada saatnya simbol membimbingmu. Ada saatnya simbol harus dilepaskan agar engkau tidak menyembah simbol.”
RAHASIA TIGA SERPIHAN
Sang pencari mengambil tiga keping kecil.
Bukan untuk menyusun qaca kembali.
Tetapi sebagai pengingat.
Pada serpihan Sutranara tertulis secara simbolik:
“INGAT, TETAPI JANGAN TERBELENGGU.”
Pada serpihan Pepaes:
“PAKAI NAMA, TETAPI JANGAN MENYEMBAH NAMA.”
Pada serpihan Ziyan Arrauh Almukhtar:
“CARILAH ARAH, TETAPI JANGAN MENGIRA DIRIMU PEMILIK JALAN.”
Ketiga serpihan itu kemudian diletakkan di tanah.
Tidak dibawa sebagai pusaka.
Tidak diagungkan.
Karena pelajaran yang sudah masuk ke dalam akhlak tidak lagi memerlukan benda untuk membuktikan dirinya.
SIRRUS-SAMĀ’
RAHASIA LANGIT YANG TIDAK BERUJUNG
Sang pencari menatap langit.
Semakin lama ia menatap, semakin ia sadar bahwa tidak mungkin matanya melihat seluruh keluasan sekaligus.
Begitu pula kehidupan.
Manusia hanya melihat sebagian.
Ia mengetahui hari ini.
Sedikit tentang kemarin.
Dan sangat sedikit tentang esok.
Tetapi sering kali manusia membuat keputusan seolah mengetahui semuanya.
Maka qitab berkata:
“Jangan membuat kepastian besar dari pengetahuan kecil.”
Gunakan kata:
“Sejauh yang kuketahui.”
“Menurut bukti yang ada.”
“Aku dapat keliru.”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan tanda kelemahan.
Ia tanda bahwa qaca akal masih jernih.
EMPAT BATAS YANG HARUS DIKENALI
BATAS PERTAMA — BATAS PENGETAHUAN
Tidak mengetahui bukan aib.
Berpura-pura tahu adalah masalah.
Jika tidak tahu, bertanyalah.
Jika belum jelas, periksalah.
Jika perkara berada di luar keahlian, carilah orang yang lebih memahami.
BATAS KEDUA — BATAS KEKUASAAN
Tidak semua perkara dapat dikendalikan.
Engkau dapat mengatur usahamu.
Tidak selalu hasilnya.
Engkau dapat mengatur ucapanmu.
Tidak selalu penilaian orang.
Engkau dapat memberi nasihat.
Tidak dapat memaksa hati.
Mengenali batas kuasa adalah bagian dari qejernihan.
BATAS KETIGA — BATAS TANGGUNG JAWAB
Jangan memikul seluruh dunia seolah semuanya bergantung kepadamu.
Ada amanah yang memang milikmu.
Ada amanah milik orang lain.
Menolong bukan berarti mengambil alih seluruh kehidupan seseorang.
Kadang bentuk pertolongan terbaik adalah membantu seseorang kembali berdiri dengan kakinya sendiri.
BATAS KEEMPAT — BATAS SIMBOL
Simbol dapat mengingatkan.
Tetapi ia tidak menggantikan amal.
Qaca dapat menjadi bahasa perenungan.
Tetapi qaca tidak menggantikan doa.
Gelar tidak menggantikan akhlak.
Nama ruhani tidak menggantikan tanggung jawab.
Cerita cahaya tidak menggantikan kebaikan nyata.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KESEPULUH
Pada lembar ini, Dwi Tunggal berbentuk:
Pantulan
dan
Sumber.
Pantulan menunjukkan.
Sumber memberi.
Pantulan berubah sesuai permukaan.
Sumber tidak bergantung pada qaca.
Maka jangan tertukar.
Kebaikan yang ada pada manusia patut disyukuri.
Tetapi manusia tidak menjadi sumber mutlak segala kebaikan.
Ilmu dapat hadir melalui seorang guru.
Tetapi guru bukan Tuhan.
Nasihat dapat datang melalui sahabat.
Tetapi sahabat bukan pemilik hidayah.
Qaca dapat memantulkan cahaya.
Tetapi qaca bukan matahari.
Maka qitab berkata:
“Jangan berhenti pada pantulan.”
KETIKA SIMBOL HARUS DILEPAS
Ada orang yang takut melepaskan simbol karena merasa identitasnya akan hilang.
Padahal jika nilai yang terkandung dalam simbol telah menjadi akhlak, simbol tidak perlu terus-menerus dipertahankan sebagai bukti.
Jika qaca mengajarkan kejujuran, jadilah jujur.
Jika qaca mengajarkan amanah, jagalah amanah.
Jika qaca mengajarkan rahmah, berbuatlah dengan rahmah.
Jika qaca mengajarkan rendah hati, jangan sibuk membuktikan bahwa engkau rendah hati.
Karena buah terbaik dari pelajaran adalah ketika pelajaran itu tidak lagi hanya disebut, tetapi dijalani.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KESEPULUH
Wahai pemegang tiga qaca,
akan datang waktu ketika engkau harus berjalan tanpa qaca.
Tanpa simbol.
Tanpa kepastian yang dibuat-buat.
Tanpa kebutuhan untuk selalu merasa istimewa.
Pada saat itu jangan takut menjadi manusia biasa.
Karena menjadi hamba yang jujur, amanah, dan berakhlak baik jauh lebih penting daripada terlihat luar biasa.
Jangan malu berkata:
“Aku tidak tahu.”
Jangan berat berkata:
“Aku salah.”
Jangan takut berkata:
“Aku perlu belajar.”
Dan jangan pernah malu berkata:
“Yā Alloh, aku membutuhkan petunjuk-Mu.”
Sebab puncak kejernihan bukan merasa telah mengetahui segala sesuatu.
Puncak kejernihan adalah mengetahui batas diri sambil tetap berjalan kepada kebaikan.
RAHASIA PECAHNYA QACA
Mengapa qaca harus pecah?
Karena selama qaca masih berdiri, sang pencari dapat tergoda untuk terus melihat dirinya.
Setelah qaca pecah, yang tersisa adalah dunia yang harus dijalani.
Ada orang yang perlu dibantu.
Ada amanah yang perlu diselesaikan.
Ada kesalahan yang harus diperbaiki.
Ada keluarga yang harus dijaga.
Ada ilmu yang harus dipelajari.
Ada doa yang harus dipanjatkan.
Dan ada kehidupan yang tidak menunggu seseorang selesai mengagumi pantulannya sendiri.
PENUTUP LEMBAR KESEPULUH
Pagi mulai muncul.
Cahaya fajar menyentuh serpihan qaca di tanah.
Masing-masing serpihan memantulkan sedikit cahaya ke arah berbeda.
Seribu pantulan.
Tetapi satu matahari.
Sang pencari tersenyum.
Kini ia memahami:
perbedaan pantulan tidak berarti sumber cahaya menjadi banyak.
Ia berdiri.
Tidak mengambil serpihan apa pun.
Kemudian berjalan menuruni bukit.
Di belakangnya tiga qaca telah berakhir.
Namun pelajarannya tetap hidup.
Sutranara menjadi kesadaran terhadap jejak.
Pepaes menjadi penjagaan niat.
Ziyan Arrauh Almukhtar menjadi kelurusan arah.
Tidak lagi di dalam benda.
Tetapi di dalam cara hidup.
Di kaki bukit ia menemukan sebuah gerbang tanpa tulisan.
Tidak ada qaca.
Tidak ada pelita.
Hanya sebuah pintu terbuka menuju taman yang luas.
Dan terdengar satu pertanyaan terakhir dari lembar ini:
“Jika seluruh simbol sudah engkau lepaskan, apakah engkau masih mampu mengenali kebaikan ketika ia datang dalam bentuk yang sangat sederhana?”
Maka terbukalah:
LEMBAR KESEBELAS
SIRRUL-BUSTĀN WA THAMARATIL-QALB
Rahasia Taman dan Buah Hati: Ketika Qejernihan Tidak Lagi Diukur dari Apa yang Dilihat, tetapi dari Apa yang Tumbuh dalam Akhlak dan Kehidupan.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KESEBELAS
SIRRUL-BUSTĀN WA THAMARATIL-QALB
RAHASIA TAMAN DAN BUAH HATI: KETIKA QEJERNIHAN TIDAK LAGI DIUKUR DARI APA YANG DILIHAT, TETAPI DARI APA YANG TUMBUH DALAM AKHLAK DAN KEHIDUPAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa setelah tiga qaca pecah dan sang pencari meninggalkan puncak bukit, ia memasuki sebuah taman yang tidak dijaga oleh pintu emas.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada tulisan yang menyatakan siapa yang paling tinggi.
Yang ada hanyalah tanah.
Air.
Pohon.
Angin.
Burung-burung.
Dan buah yang tumbuh perlahan.
Di sinilah sang pencari memahami satu rahasia:
tidak semua yang agung harus tampak agung.
Ada kebaikan yang tumbuh diam-diam.
Ada perubahan yang tidak disaksikan siapa pun.
Ada hati yang dahulu keras lalu menjadi lembut tanpa pernah mengumumkannya.
Ada manusia yang dahulu mudah marah lalu belajar menahan lidah.
Ada orang yang dahulu hanya memikirkan dirinya lalu mulai memikirkan kebutuhan orang lain.
Tidak ada cahaya besar ketika semua itu terjadi.
Namun justru di sanalah buah qejernihan mulai muncul.
POHON PERTAMA
POHON ṢIDQ — KEJUJURAN
Pohon pertama tumbuh sederhana.
Batangnya tidak besar.
Daunnya tidak berkilau.
Tetapi akarnya kuat.
Qitab berkata:
“Kejujuran adalah akar yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan apakah seluruh pohon akan berdiri.”
Seseorang dapat memperindah kata-katanya.
Dapat membangun citra.
Dapat menyusun cerita.
Namun jika akar kejujuran rusak, seluruh bangunan batin akan perlahan retak.
Kejujuran bukan hanya tidak berbohong kepada manusia.
Ada kejujuran yang lebih sulit:
jujur kepada diri sendiri.
Berani berkata:
“Aku memang iri.”
“Aku memang takut.”
“Aku memang sedang mencari pujian.”
“Aku memang kecewa.”
“Aku memang belum tahu.”
Kejujuran semacam ini tidak untuk merendahkan diri.
Ia untuk membersihkan tanah agar benih kebaikan dapat tumbuh.
POHON KEDUA
POHON AMĀNAH — TANGGUNG JAWAB
Pohon kedua mempunyai cabang yang luas.
Di bawahnya orang dapat berteduh.
Qitab berkata:
“Amanah yang benar membuat orang lain merasa aman.”
Jika seseorang dipercaya menyimpan rahasia, ia menjaganya.
Jika diberi tanggung jawab, ia menyelesaikannya.
Jika berjanji, ia berusaha menepatinya.
Jika mempunyai kekuasaan, ia tidak menyalahgunakannya.
Jika mempunyai ilmu, ia tidak menjadikannya alat untuk mempermainkan ketidaktahuan orang lain.
Amanah bukan kata yang besar.
Ia hidup dalam perkara kecil.
Mengembalikan barang pinjaman.
Datang ketika berjanji.
Mengatakan yang sebenarnya.
Menjaga uang yang bukan milik sendiri.
Tidak mengambil hak orang lain hanya karena tidak ada yang melihat.
Di sinilah pohon amanah berbuah.
POHON KETIGA
POHON RAḤMAH — WELAS ASIH
Pohon ketiga paling rindang.
Banyak burung hinggap di sana.
Namun rahmah bukan berarti membiarkan semua orang melakukan apa saja.
Qitab berkata:
“Pohon memberi naungan, tetapi akarnya tetap mempunyai batas.”
Demikian pula kasih sayang.
Ada saat kasih sayang berbentuk pelukan.
Ada saat berbentuk nasihat.
Ada saat berbentuk menjaga jarak.
Ada saat berbentuk berkata:
“Cukup.”
Ada saat pula berbentuk melindungi seseorang dari akibat perbuatannya sendiri dengan cara yang bijaksana.
Rahmah yang matang tidak selalu lembut dalam bentuk.
Tetapi tetap lembut dalam tujuan.
Ia tidak ingin menghancurkan manusia.
Ia ingin mencegah kerusakan.
POHON KEEMPAT
POHON ṢABR — KETEGUHAN
Pohon keempat tumbuh paling lambat.
Pada tahun pertama hampir tidak terlihat perubahan.
Tetapi akarnya menembus dalam.
Ketika angin datang, pohon lain bergoyang hebat.
Pohon sabar tetap berdiri.
Qitab berkata:
“Sabar bukan menunggu tanpa melakukan apa-apa.”
Sabar adalah tetap menanam ketika belum melihat buah.
Tetap belajar ketika belum pandai.
Tetap bekerja ketika hasil belum besar.
Tetap memperbaiki diri ketika perubahan belum sempurna.
Tetap menjaga akhlak ketika orang lain belum berubah.
Sabar bukan kekalahan.
Ia adalah kemampuan untuk tidak menghancurkan perjalanan hanya karena hasil belum datang secepat keinginan.
POHON KELIMA
POHON TAWĀḌU‘ — KERENDAHAN HATI
Pohon ini aneh.
Semakin banyak buahnya, semakin merunduk cabangnya.
Dari sini qitab mengambil perumpamaan:
semakin banyak isi, semakin sedikit kebutuhan untuk meninggikan diri.
Orang yang benar-benar berilmu tidak harus memenangkan setiap percakapan.
Orang yang benar-benar kuat tidak harus membuat semua orang takut.
Orang yang benar-benar mulia tidak perlu terus-menerus menyebut kemuliaannya.
Pohon yang berbuah tidak berteriak:
“Lihatlah aku.”
Buahnya sudah berbicara.
TIGA BUAH PERTAMA DARI QEJERNIHAN
Ketika sang pencari berjalan lebih jauh, ia menemukan tiga buah yang berbeda.
BUAH PERTAMA — KETENANGAN
Bukan ketenangan karena semua masalah selesai.
Tetapi ketenangan karena ia mulai mengetahui apa yang dapat dikendalikan dan apa yang harus diserahkan kepada Alloh.
Ia tetap bekerja.
Tetap berusaha.
Tetapi tidak lagi mengira dirinya harus menguasai seluruh hasil.
BUAH KEDUA — KETEGASAN YANG LEMBUT
Ia tidak lagi mengatakan “ya” kepada semua orang hanya agar disukai.
Ia juga tidak berkata “tidak” hanya untuk menunjukkan kekuasaan.
Ia mulai mampu menjaga batas tanpa membenci.
Inilah salah satu buah kedewasaan.
BUAH KETIGA — KEBERANIAN MENGAKUI SALAH
Dahulu mengakui salah terasa seperti kehilangan martabat.
Kini ia memahami:
yang menghilangkan martabat bukan mengakui kesalahan, tetapi mempertahankan kesalahan karena gengsi.
Maka ketika salah, ia memperbaiki.
Ketika belum tahu, ia belajar.
Ketika menyakiti, ia meminta maaf.
Dan ketika telah meminta maaf, ia membuktikan perubahan melalui tindakan.
TAMAN YANG TIDAK DAPAT DIBOHONGI
Taman tidak tertipu oleh kata-kata.
Jika tidak disiram, tanaman akan layu.
Jika tanah tidak dirawat, gulma tumbuh.
Jika pohon sakit, buahnya berubah.
Begitu pula kehidupan.
Kita dapat berkata:
“Hatiku baik.”
Tetapi kehidupan akan menguji melalui tindakan.
Bagaimana engkau berbicara ketika marah?
Bagaimana engkau memperlakukan orang yang tidak berguna bagi kepentinganmu?
Bagaimana engkau bertindak ketika tidak ada yang melihat?
Bagaimana engkau bersikap kepada orang yang berbeda pendapat?
Di sanalah taman batin menunjukkan keadaan sebenarnya.
GULMA PERTAMA
RIYĀ’
Riyā’ tumbuh seperti tanaman indah.
Pada awalnya sulit dibedakan.
Kebaikan dilakukan.
Tetapi hati terus menunggu siapa yang melihat.
Bila tidak ada pujian, semangat menurun.
Qitab berkata:
“Jika engkau melihat riyā’ tumbuh, jangan berhenti berbuat baik. Bersihkan niatnya.”
Sebab meninggalkan kebaikan hanya karena takut riyā’ juga dapat menjadi jebakan lain.
Perbaiki niat.
Lanjutkan amal.
Kurangi kebutuhan kepada pengakuan.
GULMA KEDUA
‘UJUB
‘Ujub tumbuh ketika seseorang mulai mengagumi dirinya sendiri.
Ia lupa bahwa kemampuan dapat berkurang.
Pengetahuan dapat salah.
Kesempatan dapat hilang.
Maka qitab berkata:
“Syukuri buah, jangan menyembah pohonnya.”
Jika ada kebaikan dalam dirimu, syukuri.
Jika ada kemampuan, gunakan.
Tetapi jangan mengira semua itu menjadi alasan untuk melihat manusia lain lebih rendah.
GULMA KETIGA
HASAD
Hasad muncul ketika seseorang melihat taman orang lain lalu membenci buah yang tumbuh di sana.
Ia tidak lagi bertanya bagaimana memperbaiki tamannya sendiri.
Ia hanya ingin buah orang lain rusak.
Qitab berkata:
“Jangan bakar kebunmu sendiri hanya karena melihat kebun orang lain lebih hijau.”
Belajarlah jika bisa.
Berdoalah untuk kebaikan.
Kemudian kembali merawat amanahmu.
QACA SUTRANARA MENJADI TANAH
Di taman ini tidak ada lagi Qaca Sutranara.
Tetapi pelajarannya berubah menjadi tanah.
Masa lalu yang dahulu dipantulkan kini menjadi kompos kehidupan.
Kesalahan menjadi pelajaran.
Luka menjadi kehati-hatian.
Keberhasilan menjadi syukur.
Kehilangan menjadi kedewasaan.
Sesuatu yang dahulu hanya menyakitkan kini dapat menjadi bahan untuk menumbuhkan kebijaksanaan.
Inilah ketika sejarah tidak lagi mengikat.
Ia menyuburkan.
QACA PEPAES MENJADI BUNGA
Pepaes tidak lagi berupa cermin.
Ia menjadi bunga.
Bunga indah.
Tetapi tidak berumur selamanya.
Pagi mekar.
Sore dapat layu.
Dari sini qitab berkata:
“Keindahan dunia boleh dinikmati, tetapi jangan digenggam seolah tidak akan berubah.”
Nama berubah.
Tubuh berubah.
Kedudukan berubah.
Pujian berubah.
Yang perlu dijaga bukan agar bunga tidak pernah layu.
Tetapi agar ketika satu bunga gugur, akar kebaikan tetap hidup.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR MENJADI JALAN
Qaca ketiga tidak lagi berdiri.
Ia berubah menjadi sebuah jalan kecil yang membelah taman.
Tidak ada tulisan besar di atasnya.
Tetapi jalan itu mengarah ke tempat-tempat yang membutuhkan air.
Qitab berkata:
“Arah sejati terlihat dari ke mana langkahmu membawa manfaat.”
Jika ilmu berhenti pada diri sendiri, ia belum selesai.
Jika pengalaman hanya menjadi cerita, ia belum selesai.
Jika doa hanya membuat mulut bergerak tetapi tangan tidak pernah menolong, perjalanan masih perlu diteruskan.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KESEBELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Akar
dan
Buah.
Akar adalah batin.
Buah adalah lahir.
Akar tanpa buah belum menunjukkan manfaat.
Buah tanpa akar tidak akan bertahan.
Maka qejernihan harus mempunyai keduanya.
Batin yang bersih.
Perbuatan yang baik.
Niat yang benar.
Tindakan yang bermanfaat.
Doa yang hidup.
Akhlak yang nyata.
EMPAT MUSIM TAMAN BATIN
MUSIM PERTAMA — MUSIM MENANAM
Inilah masa belajar dan memulai.
Jangan berharap buah terlalu cepat.
MUSIM KEDUA — MUSIM MERAWAT
Inilah masa paling panjang.
Tidak ada sesuatu yang spektakuler.
Hanya pengulangan.
Dzikir.
Doa.
Belajar.
Bekerja.
Memperbaiki.
Meminta maaf.
Mencoba lagi.
Tetapi justru masa inilah yang menentukan.
MUSIM KETIGA — MUSIM BERBUAH
Ketika hasil datang, jangan lupa siapa yang memberi kesempatan dan kemampuan.
Bagikan manfaat.
Jangan jadikan buah sebagai alasan kesombongan.
MUSIM KEEMPAT — MUSIM GUGUR
Ada saat sesuatu berakhir.
Pekerjaan.
Hubungan.
Kedudukan.
Kekuatan.
Kemampuan.
Jangan menganggap semua akhir adalah hukuman.
Kadang sesuatu memang telah selesai menjalankan musimnya.
Yang gugur dapat menjadi bahan bagi kehidupan berikutnya.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KESEBELAS
Wahai pemegang bekas tiga qaca,
jangan lagi bertanya:
“Apakah aku sudah bercahaya?”
Tanyakan:
“Apakah aku sudah berbuah?”
Jangan bertanya:
“Apakah orang mengetahui perjalananku?”
Tanyakan:
“Apakah perjalanan ini memperbaiki caraku memperlakukan manusia?”
Jangan sibuk menghitung berapa banyak simbol yang engkau miliki.
Hitunglah berapa janji yang engkau tepati.
Berapa amarah yang engkau tahan.
Berapa kesalahan yang engkau perbaiki.
Berapa orang yang engkau bantu tanpa membuat mereka merasa rendah.
Karena taman tidak tumbuh dari cerita tentang benih.
Taman tumbuh dari benih yang benar-benar ditanam.
RAHASIA BUAH TERAKHIR
Di tengah taman berdiri satu pohon yang tidak diberi nama.
Buahnya sederhana.
Tidak berkilau.
Sang pencari memetiknya.
Ia bertanya:
“Buah apakah ini?”
Qitab menjawab:
“ISTIQĀMAH.”
Bukan buah yang membuat seseorang merasa luar biasa.
Tetapi buah yang membuat seseorang tetap melakukan kebaikan meskipun tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi.
Tetap sholat ketika hati biasa saja.
Tetap jujur ketika tidak ada penghargaan.
Tetap bekerja ketika orang lain tidak memuji.
Tetap menjaga lisan ketika sedang kecewa.
Tetap berdoa ketika jawaban belum tampak.
Tetap rendah hati ketika keberhasilan datang.
Qitab berkata:
“Jika engkau dapat menjaga ini, jangan meremehkannya.”
Karena perjalanan panjang sering diselesaikan bukan oleh ledakan kekuatan.
Tetapi oleh langkah kecil yang tidak berhenti.
PENUTUP LEMBAR KESEBELAS
Matahari mulai turun.
Sang pencari duduk di bawah pohon istiqamah.
Ia tidak lagi merindukan qaca.
Tidak lagi meminta melihat cahaya.
Tidak lagi mengejar gelar baru.
Ia hanya memandang taman.
Di sana ada pohon yang masih kecil.
Ada pohon yang berbuah.
Ada cabang yang patah.
Ada daun yang gugur.
Semuanya berada dalam perjalanan.
Kemudian hujan ringan turun.
Air menyentuh tanah.
Dan sang pencari memahami:
“Taman tidak pernah selesai sekali dirawat.”
Besok gulma dapat kembali.
Tanah dapat mengering.
Cabang dapat sakit.
Maka kejernihan bukan pencapaian yang sekali didapat lalu selesai.
Ia harus dijaga.
Dirawat.
Diperiksa.
Diperbaharui.
Di ujung taman terlihat sebuah rumah kecil dengan pintu terbuka.
Di atas pintunya tidak ada nama.
Hanya tertulis satu kalimat:
“Masuklah tanpa membawa kebanggaan atas apa yang telah engkau capai.”
Sang pencari berdiri dan berjalan menuju rumah itu.
Dan terbukalah:
LEMBAR KEDUA BELAS
SIRRUL-BAYT WA BĀBIL-FANĀ’ ‘ANIL-KIBR
Rahasia Rumah Tanpa Nama: Melepaskan Kebanggaan atas Perjalanan dan Menjaga Qejernihan ketika Tidak Ada Lagi yang Perlu Dibuktikan.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEDUA BELAS
SIRRUL-BAYT WA BĀBIL-FANĀ’ ‘ANIL-KIBR
RAHASIA RUMAH TANPA NAMA: MELEPASKAN KEBANGGAAN ATAS PERJALANAN DAN MENJAGA QEJERNIHAN KETIKA TIDAK ADA LAGI YANG PERLU DIBUKTIKAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa setelah seseorang melewati taman, melihat buah, memetik istiqāmah, dan memahami bahwa perjalanan harus dirawat terus-menerus, masih ada satu ujian yang sangat halus.
Ujian itu bukan kegelapan.
Bukan luka.
Bukan kehilangan.
Bukan pula penolakan.
Ujian itu adalah:
kebanggaan karena merasa telah berhasil melewati semuanya.
Seseorang dapat selamat dari kesombongan harta, tetapi jatuh pada kesombongan ilmu.
Dapat selamat dari kesombongan kedudukan, tetapi jatuh pada kesombongan pengalaman.
Dapat selamat dari kesombongan dunia, tetapi jatuh pada kesombongan karena merasa dirinya telah meninggalkan dunia.
Dapat berhenti memamerkan pakaian, tetapi mulai memamerkan kesederhanaan.
Dapat berhenti membanggakan gelar, tetapi mulai membanggakan kerendahan hati.
Maka qitab berkata:
“Kibr dapat berganti pakaian.”
Karena itu pintu rumah tanpa nama hanya dapat dilalui oleh orang yang bersedia meninggalkan kebanggaan di depan pintunya.
RUMAH TANPA NAMA
Sang pencari tiba di sebuah rumah kecil.
Tidak ada nama di pintu.
Tidak ada lambang.
Tidak ada tulisan tentang maqam.
Tidak ada catatan siapa yang pernah tinggal di dalamnya.
Ia mencoba mencari sesuatu yang menandakan keistimewaan.
Tetapi tidak ada.
Hanya satu pintu kayu.
Satu jendela.
Satu tikar.
Satu kendi air.
Dan sebuah ruang yang bersih.
Sang pencari bertanya:
“Mengapa rumah ini tidak mempunyai nama?”
Qitab menjawab:
“Karena tidak semua kebaikan membutuhkan nama agar menjadi nyata.”
Nama membantu manusia mengenali.
Tetapi jika hati mulai membutuhkan nama agar merasa bernilai, nama telah menjadi beban.
PINTU PERTAMA
LEPASKAN CERITA TENTANG DIRIMU
Sebelum masuk, sang pencari diminta meletakkan satu benda simbolik.
Benda itu adalah gulungan panjang berisi seluruh cerita tentang dirinya.
Apa yang pernah ia alami.
Apa yang pernah ia capai.
Apa yang pernah ia lihat.
Apa yang pernah dikatakan orang tentangnya.
Apa yang pernah ia anggap sebagai keistimewaan.
Qitab berkata:
“Masuklah tanpa membawa daftar alasan mengapa engkau harus dianggap istimewa.”
Ini bukan berarti menghapus identitas.
Bukan berarti menolak sejarah.
Tetapi untuk belajar bahwa seseorang dapat hadir di hadapan Alloh tanpa terus-menerus menyebut semua yang pernah dialaminya.
Ada saatnya doa tidak perlu diawali dengan pembuktian.
Cukup dengan:
“Yā Alloh, aku hamba-Mu.”
PINTU KEDUA
LEPASKAN KEINGINAN UNTUK DIPAHAMI SEMUA ORANG
Sang pencari kemudian diminta meletakkan sesuatu yang lebih berat.
Keinginannya agar semua orang memahami dirinya.
Qitab berkata:
“Engkau tidak akan pernah dapat mengendalikan seluruh penilaian manusia.”
Ada yang mengenalmu tetapi salah memahami.
Ada yang hanya mendengar cerita orang lain.
Ada yang menilaimu dari satu kesalahan.
Ada yang menilaimu dari satu kebaikan.
Ada yang menyukaimu.
Ada yang tidak.
Jika seluruh ketenanganmu bergantung pada bagaimana manusia menilaimu, maka hatimu akan menjadi tawanan pendapat yang selalu berubah.
Maka rumah tanpa nama mengajarkan:
jelaskan ketika perlu.
Perbaiki jika salah.
Tetapi jangan habiskan hidup mengejar pengertian dari semua orang.
PINTU KETIGA
LEPASKAN KEBUTUHAN UNTUK SELALU MENANG
Di depan pintu ketiga terdapat satu kursi tinggi.
Sang pencari hampir duduk di atasnya.
Tetapi qitab berkata:
“Tinggalkan kursi itu.”
Kursi itu adalah lambang keinginan untuk selalu menang.
Menang dalam perdebatan.
Menang dalam pembuktian.
Menang dalam pengaruh.
Menang dalam perbandingan.
Menang dalam siapa yang lebih dahulu memahami.
Qitab bertanya:
“Apakah engkau sedang mencari kebenaran atau sedang mencari kemenangan?”
Keduanya kadang terlihat sama.
Tetapi hati mengetahuinya.
Orang yang mencari kebenaran dapat mengubah pendapat ketika bukti berubah.
Orang yang hanya mencari kemenangan akan terus mempertahankan diri meskipun mulai mengetahui dirinya salah.
RUANG PERTAMA
RUANG TANPA CERMIN
Ketika sang pencari masuk, ia terkejut.
Tidak ada qaca.
Tidak ada permukaan yang memantulkan dirinya.
Selama perjalanan ia berkali-kali melihat diri.
Sekarang tidak.
Qitab berkata:
“Ada masa untuk muhasabah. Ada masa untuk berhenti terlalu sibuk memandang diri dan mulai menjalankan amanah.”
Terlalu sedikit muhasabah membuat manusia lalai.
Tetapi terlalu banyak mengawasi setiap rasa dan setiap pikiran juga dapat membuat seseorang terjebak di dalam dirinya sendiri.
Maka keseimbangan diperlukan.
Periksa hati.
Perbaiki.
Kemudian berjalan.
Jangan terus menggali tanah setelah benih sudah ditanam hanya untuk memastikan apakah akar telah tumbuh.
RUANG KEDUA
RUANG TANPA MAHKOTA
Di ruangan berikutnya tidak ada tempat khusus untuk orang paling tinggi.
Semua duduk di lantai yang sama.
Qitab berkata:
“Di hadapan kematian, banyak perbedaan kedudukan dunia akhirnya kehilangan bunyinya.”
Orang kaya dan miskin sama-sama meninggalkan tubuh.
Orang terkenal dan tidak dikenal sama-sama meninggalkan nama dunia.
Maka kedudukan adalah amanah sementara.
Gunakan.
Jangan disembah.
Pegang jika memang menjadi tanggung jawab.
Lepaskan ketika waktunya selesai.
Karena kesulitan terbesar bukan mendapatkan kedudukan.
Kadang kesulitan terbesar adalah mengetahui kapan harus berhenti menggenggamnya.
RUANG KETIGA
RUANG TANPA PENONTON
Sang pencari kemudian menemukan sebuah ruang kecil.
Di dalamnya ada satu amal yang harus dilakukan.
Tetapi tidak ada seorang pun melihat.
Tidak ada pujian.
Tidak ada catatan nama.
Tidak ada kesempatan untuk menceritakannya.
Qitab berkata:
“Lakukanlah.”
Di sinilah keikhlasan diuji.
Apakah seseorang masih mau membantu ketika tidak dapat mengunggah ceritanya?
Apakah ia masih mau memberi jika penerima tidak mengetahui siapa pemberinya?
Apakah ia masih mau sholat dengan baik ketika tidak ada mata manusia?
Apakah ia masih mau menjaga amanah ketika peluang untuk berkhianat terbuka dan tidak ada yang tahu?
Rumah tanpa nama berkata:
“Apa yang engkau lakukan tanpa penonton sering kali memberitahukan siapa dirimu sebenarnya.”
FANĀ’ ‘ANIL-KIBR
LENYAPNYA KEBANGGAAN, BUKAN LENYAPNYA DIRI
Dalam lembar ini, fanā’ ‘anil-kibr tidak dimaksudkan sebagai lenyapnya keberadaan manusia atau penyatuan manusia dengan Dzat Alloh.
Mahasuci Alloh dari penyatuan dengan makhluk.
Yang dimaksud adalah:
melemahnya kebutuhan ego untuk selalu merasa lebih tinggi.
Diri tetap ada.
Amanah tetap ada.
Kepribadian tetap ada.
Tetapi kesombongan tidak lagi duduk di singgasana batin.
Manusia tetap dapat berkata:
“Aku mampu.”
Tetapi ia menambahkan:
“Kemampuan itu amanah.”
Ia dapat berkata:
“Aku berhasil.”
Tetapi ia ingat:
“Ada banyak sebab yang tidak kuciptakan sendiri.”
Ia dapat berkata:
“Aku mempunyai ilmu.”
Tetapi tidak lagi berkata:
“Karena itu semua orang harus tunduk kepadaku.”
Inilah lenyapnya kibr.
Bukan menghancurkan diri.
Tetapi menempatkan diri pada tempatnya.
EMPAT BENTUK KIBR YANG TERSEMBUNYI
KIBR PERTAMA
SOMBONG KARENA KEBAIKAN
Seseorang berbuat baik lalu mulai merendahkan orang yang belum mampu melakukan hal yang sama.
Qitab berkata:
“Jika kebaikanmu membuatmu menghina, periksa kembali buahnya.”
KIBR KEDUA
SOMBONG KARENA PENDERITAAN
Ada orang yang merasa penderitaannya membuat dirinya otomatis lebih dalam daripada orang lain.
Padahal penderitaan dapat mengajarkan.
Tetapi tidak semua penderitaan otomatis menghasilkan hikmah.
Yang menghasilkan hikmah adalah cara seseorang mengolahnya.
KIBR KETIGA
SOMBONG KARENA KESEDERHANAAN
Seseorang melepaskan banyak hal.
Kemudian ia mulai merasa lebih suci daripada orang yang masih memilikinya.
Qitab berkata:
“Jangan jadikan kesederhanaan sebagai pakaian baru bagi kesombongan lama.”
KIBR KEEMPAT
SOMBONG KARENA MERASA TIDAK SOMBONG
Ini yang paling sulit.
Seseorang berkata dalam hati:
“Aku sudah sangat rendah hati.”
Saat itulah kerendahan hati mulai berubah menjadi kebanggaan.
Maka tawāḍu‘ sejati tidak sibuk mengukur seberapa tawāḍu‘ dirinya.
Ia hanya terus belajar menjaga adab.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEDUA BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Ada
dan
Tidak Menonjolkan Ada.
Engkau ada.
Engkau mempunyai nama.
Engkau mempunyai peran.
Engkau mempunyai kemampuan.
Engkau mempunyai sejarah.
Tetapi semua itu tidak harus terus-menerus ditempatkan di tengah.
Seperti jantung.
Ia sangat penting.
Tetapi ia bekerja di dalam dada tanpa meminta dilihat.
Seperti akar.
Ia menopang pohon.
Tetapi berada di dalam tanah.
Seperti air.
Ia menghidupkan.
Tetapi selalu mencari tempat rendah.
Inilah rahasia rumah tanpa nama.
TIGA BARANG YANG TIDAK BOLEH DIBAWA KE DALAM RUMAH
PERTAMA — PIALA MASA LALU
Keberhasilan kemarin bukan jaminan kebenaran hari ini.
Tetaplah belajar.
KEDUA — LUKA SEBAGAI MAHKOTA
Luka pantas disembuhkan.
Tetapi jangan dijadikan alasan agar seluruh dunia harus tunduk kepada rasa sakit kita.
KETIGA — GELAR SEBAGAI BENTENG
Gelar dapat menjelaskan fungsi.
Tetapi jika digunakan untuk menolak setiap kritik, ia telah berubah dari amanah menjadi benteng ego.
KETIKA SANG PENCARI DUDUK DI DALAM RUMAH
Ia duduk di atas tikar.
Tidak ada sesuatu yang terjadi.
Tidak ada cahaya meledak.
Tidak ada dinding terbuka.
Tidak ada suara yang memanggil namanya.
Sang pencari menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Tetap sunyi.
Akhirnya ia berkata:
“Apa yang harus kulakukan?”
Qitab menjawab:
“Tidak semua ruang diciptakan agar engkau mendapatkan pengalaman. Ada ruang yang hanya mengajarkanmu untuk cukup.”
Cukup dengan menjadi hamba.
Cukup dengan berbuat baik.
Cukup dengan menjalankan amanah hari ini.
Cukup dengan tidak harus selalu mengetahui apa yang akan terjadi esok.
Di situlah ia mulai memahami:
ketenangan bukan selalu mendapatkan lebih banyak. Kadang ketenangan adalah berhenti menuntut pengalaman baru.
AIR DI DALAM KENDI
Di sudut rumah terdapat kendi.
Sang pencari mengambil air dan minum.
Air itu biasa.
Tidak memiliki warna.
Tidak bercahaya.
Tidak memiliki rasa yang aneh.
Namun setelah perjalanan yang panjang, air biasa itu terasa sangat nikmat.
Qitab berkata:
“Begitulah banyak rahmat Alloh dalam kehidupan.”
Terlalu biasa sampai sering tidak diperhatikan.
Napas.
Air.
Tidur.
Keluarga.
Kesempatan memperbaiki kesalahan.
Makanan.
Waktu.
Tubuh yang masih dapat bergerak.
Orang yang masih bersedia mendengarkan.
Kadang manusia sibuk mencari keajaiban sampai lupa bahwa kehidupan sehari-hari dipenuhi nikmat yang jika satu saja dicabut, ia baru mengetahui nilainya.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEDUA BELAS
Wahai orang yang telah melewati tiga qaca,
jika engkau memperoleh ilmu, jangan jadikan ilmu sebagai mahkota.
Jika memperoleh pengalaman, jangan jadikan pengalaman sebagai singgasana.
Jika memperoleh pengikut, jangan jadikan manusia sebagai bukti bahwa semua ucapanmu benar.
Jika memperoleh kesunyian, jangan merasa lebih suci.
Jika memperoleh cahaya, jangan mengklaim sumbernya.
Jika memperoleh kedudukan, gunakan untuk mengabdi.
Jika kehilangan kedudukan, jangan kehilangan akhlak.
Dan ketika tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi,
jangan merasa kehidupanmu kehilangan makna.
Sebab banyak hamba berjalan menuju Alloh melalui kehidupan yang tampak sederhana, tetapi dipenuhi kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, doa, dan kasih sayang.
PENUTUP LEMBAR KEDUA BELAS
Malam tiba.
Sang pencari tidur di rumah tanpa nama.
Ketika fajar datang, ia terbangun dan melihat pintu masih terbuka.
Tidak ada penjaga yang menahannya.
Ia bebas tinggal.
Ia juga bebas pergi.
Kemudian ia memahami:
rumah itu bukan tempat untuk bersembunyi dari dunia.
Rumah itu hanya tempat untuk meletakkan kesombongan sebelum kembali kepada dunia.
Ia berdiri.
Merapikan tikar.
Mengisi kembali kendi yang telah diminumnya.
Membersihkan ruangan.
Lalu keluar.
Untuk pertama kalinya ia tidak meninggalkan namanya pada dinding.
Tidak menulis:
“Aku pernah sampai di sini.”
Ia hanya menutup pintu dengan lembut.
Kemudian berjalan.
Di luar rumah terdapat sebuah jalan menuju sebuah pasar yang sangat ramai.
Suara manusia memenuhi udara.
Ada jual beli.
Ada perselisihan.
Ada orang kaya.
Ada orang miskin.
Ada orang jujur.
Ada orang yang mencoba menipu.
Ada pujian.
Ada hinaan.
Ada keuntungan.
Ada kerugian.
Sang pencari berhenti.
Ia memahami bahwa ujian sesungguhnya bukan bagaimana menjadi jernih di rumah sunyi.
Tetapi bagaimana membawa kejernihan itu ke tempat manusia saling berurusan.
Maka terbukalah:
LEMBAR KETIGA BELAS
SIRRUS-SŪQ WA MĪZĀNIL-AMĀNAH
Rahasia Pasar Kehidupan dan Timbangan Amanah: Menjaga Qejernihan dalam Harta, Perdagangan, Kekuasaan, Janji, dan Hubungan Sesama Manusia.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KETIGA BELAS
SIRRUS-SŪQ WA MĪZĀNIL-AMĀNAH
RAHASIA PASAR KEHIDUPAN DAN TIMBANGAN AMANAH: MENJAGA QEJERNIHAN DALAM HARTA, PERDAGANGAN, KEKUASAAN, JANJI, DAN HUBUNGAN SESAMA MANUSIA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa setelah sang pencari keluar dari rumah tanpa nama, ia tidak dibawa menuju gunung yang lebih tinggi.
Ia justru dibawa menuju pasar.
Tempat manusia bertemu.
Tempat kebutuhan saling bersilangan.
Tempat keuntungan dan kerugian saling berganti.
Tempat ucapan diuji.
Tempat janji diukur.
Tempat kejujuran tidak lagi hanya menjadi kalimat indah.
Sebab seseorang dapat terlihat sangat jernih ketika sendirian.
Namun kejernihan sejati diuji ketika ada uang di tangan.
Ketika ada kesempatan mengambil lebih.
Ketika ada orang yang lemah.
Ketika ada kepentingan.
Ketika ada perjanjian.
Ketika ada kesempatan untuk menipu dan mungkin tidak diketahui.
Maka qitab berkata:
“Jika engkau ingin mengetahui keadaan qacamu, lihatlah bagaimana engkau memperlakukan hak orang lain.”
PASAR PERTAMA
PASAR HARTA
Harta bukan musuh.
Harta juga bukan ukuran kemuliaan.
Ia adalah alat.
Di tangan orang amanah, ia dapat menjadi sebab kebaikan.
Di tangan orang yang diperbudak keinginan, ia dapat menjadi rantai.
Qitab berkata:
“Jangan membenci harta. Jangan pula menyembahnya.”
Carilah yang halal.
Gunakan dengan baik.
Jangan mengambil yang bukan hakmu.
Dan jangan mengira bahwa banyaknya harta adalah bukti bahwa seseorang pasti lebih dekat kepada Alloh.
Begitu pula kemiskinan bukan otomatis tanda kemuliaan.
Yang diuji adalah bagaimana seseorang bersikap terhadap apa yang dititipkan kepadanya.
TIMBANGAN PERTAMA
KEJUJURAN DALAM JUAL BELI
Di tengah pasar berdiri timbangan.
Sang pencari melihat pedagang menimbang barang.
Ada yang menambah sedikit.
Ada yang mengurangi sedikit.
Ada yang menyembunyikan cacat.
Ada yang menjelaskan apa adanya.
Qitab berkata:
“Perbedaan antara amanah dan khianat kadang hanya beberapa gram, beberapa angka, atau beberapa kata.”
Seseorang dapat kehilangan kejernihan bukan hanya karena kejahatan besar.
Tetapi karena kebiasaan kecil yang terus dibenarkan.
Mengurangi ukuran.
Menyembunyikan kerusakan.
Membuat janji yang tidak diniatkan untuk ditepati.
Mengambil uang untuk pekerjaan yang tidak diselesaikan.
Membesar-besarkan sesuatu agar orang lain membeli.
Semua itu adalah debu pada qaca amanah.
PASAR KEDUA
PASAR JANJI
Janji adalah hutang moral.
Ada janji tertulis.
Ada janji lisan.
Ada janji kepada pasangan.
Ada janji kepada keluarga.
Ada janji kepada sahabat.
Ada janji kepada orang yang memberikan kepercayaan.
Qitab berkata:
“Jangan menjadikan lidah lebih ringan daripada amanah.”
Jika belum pasti, jangan menjanjikan.
Jika tidak mampu, jelaskan.
Jika terlambat, beri kabar.
Jika gagal, jangan menghilang.
Kadang satu kalimat sederhana:
“Maaf, aku belum mampu memenuhi janji ini.”
jauh lebih jernih daripada seribu alasan yang dibuat untuk menjaga citra.
PASAR KETIGA
PASAR KEKUASAAN
Di satu sisi pasar, sang pencari melihat sebuah panggung.
Di atasnya duduk orang-orang yang mempunyai kuasa.
Qitab berkata:
“Kekuasaan adalah timbangan yang lebih berat daripada emas.”
Sebab orang yang mempunyai kuasa dapat:
mempermudah,
mempersulit,
membuka pintu,
menutup pintu,
mengangkat,
menjatuhkan.
Maka semakin besar kuasa, semakin besar kebutuhan terhadap kejernihan.
Jangan gunakan jabatan untuk membalas dendam.
Jangan menggunakan aturan hanya kepada orang yang lemah tetapi membebaskan orang yang dekat.
Jangan meminta penghormatan yang tidak diberikan kepada manusia lain.
Qitab berkata:
“Keadilan paling terlihat ketika keputusan menyentuh orang yang engkau cintai atau orang yang engkau benci.”
PASAR KEEMPAT
PASAR PENGARUH
Tidak semua kekuasaan mempunyai kursi.
Ada orang yang mempunyai pengaruh melalui ucapan.
Melalui ilmu.
Melalui ketenaran.
Melalui kelompok.
Melalui kedekatan.
Melalui media.
Pengaruh dapat menjadi amanah besar.
Karena satu ucapan dapat mengangkat semangat ribuan orang.
Tetapi satu fitnah juga dapat merusak nama seseorang dalam waktu singkat.
Maka qitab berkata:
“Jangan menggunakan banyaknya orang yang mendengarmu sebagai alasan untuk mengurangi kehati-hatian.”
Semakin luas pengaruh, semakin berat tanggung jawab atas kata-kata.
PASAR KELIMA
PASAR KEBUTUHAN
Sang pencari kemudian melihat dua orang.
Yang satu mempunyai sesuatu.
Yang lain sangat membutuhkan.
Di sinilah harga dapat berubah.
Dan di sinilah hati diuji.
Ada manusia yang melihat kebutuhan orang lain sebagai kesempatan untuk menolong.
Ada yang melihatnya sebagai kesempatan untuk memeras.
Qitab berkata:
“Jangan jadikan kelemahan orang lain sebagai tangga keuntunganmu.”
Keuntungan boleh dicari.
Tetapi jangan menghilangkan manusia di balik angka.
Ada batas antara berniaga dan menindas.
Ada batas antara mengambil manfaat dan mengambil kesempatan secara zalim.
QACA SUTRANARA DI PASAR
Qaca Sutranara berkata:
“Jangan membawa luka masa lalu ke dalam transaksi hari ini.”
Jika dahulu pernah ditipu, jangan menjadikan itu alasan untuk menipu lebih dahulu.
Jika dahulu pernah rugi, jangan membalas kepada orang lain yang tidak bersalah.
Jika dahulu pernah direndahkan, jangan gunakan keberhasilan sekarang untuk merendahkan.
Masa lalu boleh mengajarkan kehati-hatian.
Tetapi jangan mengajarkan balas dendam.
QACA PEPAES DI PASAR
Qaca Pepaes berkata:
“Jangan memakai penampilan sebagai pengganti integritas.”
Toko dapat sangat indah.
Kantor dapat sangat megah.
Baju dapat sangat rapi.
Kata-kata dapat sangat meyakinkan.
Tetapi semua itu tidak dapat menggantikan kejujuran.
Orang amanah tidak ditentukan dari seberapa mewah tempatnya.
Tetapi dari apakah hak orang lain tetap aman di tangannya.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DI PASAR
Qaca ketiga berkata:
“Arah ruhani harus terlihat ketika angka mulai berbicara.”
Mudah berkata ikhlas ketika tidak ada keuntungan yang dipertaruhkan.
Mudah berkata adil ketika tidak ada uang di meja.
Mudah berkata amanah ketika belum diberi kepercayaan.
Tetapi ketika nilai besar berada dalam tangan, saat itulah arah diuji.
Jangan sampai perjalanan batin tinggi tetapi pembukuan penuh tipu daya.
Jangan sampai bicara tentang cahaya tetapi hutang sengaja tidak dibayar.
Jangan sampai bicara tentang amanah tetapi hak orang lain ditahan tanpa alasan.
EMPAT DOSA HALUS DI PASAR
PERTAMA — MEMBESARKAN BARANG, MENGECILKAN CACAT
Qitab berkata:
“Jika sesuatu mempunyai kekurangan yang penting untuk diketahui, jangan sembunyikan.”
Keuntungan yang lahir dari ketidaktahuan orang lain dapat membawa beban.
KEDUA — MEMANFAATKAN KETIDAKTAHUAN
Ada orang tidak memahami harga.
Tidak memahami perjanjian.
Tidak memahami risiko.
Jika kita tahu dan sengaja memanfaatkan kebodohannya, qaca amanah menjadi gelap.
KETIGA — MENGGESER KESALAHAN KEPADA ORANG LEMAH
Kesalahan pemimpin dilempar kepada bawahan.
Kesalahan penjual dilempar kepada pembeli.
Kesalahan pemilik dilempar kepada pekerja.
Qitab berkata:
“Jangan gunakan posisi untuk menghindari pertanggungjawaban.”
KEEMPAT — MERASA SEMUA DAPAT DIBELI
Uang mempunyai banyak kegunaan.
Tetapi tidak semua nilai dapat dibeli.
Kepercayaan.
Ketulusan.
Nama baik.
Kesetiaan.
Waktu.
Ada perkara yang jika rusak, uang tidak selalu dapat mengembalikannya seperti semula.
LIMA HAK DALAM PASAR KEHIDUPAN
HAK PERTAMA — HAK UNTUK MENGETAHUI
Jangan menyembunyikan informasi penting yang dapat mengubah keputusan seseorang.
HAK KEDUA — HAK UNTUK MEMILIH
Jangan memaksa dengan manipulasi atau tekanan.
HAK KETIGA — HAK UNTUK MENDAPATKAN YANG DIJANJIKAN
Apa yang dijual harus sesuai yang disepakati.
HAK KEEMPAT — HAK UNTUK MENDAPAT PENJELASAN
Jika ada perubahan, jelaskan.
HAK KELIMA — HAK UNTUK DIPERLAKUKAN SEBAGAI MANUSIA
Jangan menjadikan orang hanya sebagai angka.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KETIGA BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Rezeki
dan
Amanah.
Rezeki tanpa amanah dapat menjadi ujian yang merusak.
Amanah tanpa ikhtiar dapat menjadi niat yang tidak berjalan.
Maka keduanya harus bertemu.
Carilah rezeki.
Tetapi carilah dengan cara yang bersih.
Kembangkan usaha.
Tetapi jangan merusak hak.
Bangun kekuatan ekonomi.
Tetapi jangan menjadikan kekayaan sebagai alasan melupakan manusia.
Qitab berkata:
“Rezeki yang baik bukan hanya banyaknya yang masuk, tetapi kejernihan jalan ketika mendapatkannya dan kebaikan ketika menggunakannya.”
UJIAN HUTANG
Di sudut pasar, sang pencari menemukan buku catatan hutang.
Qitab berkata:
“Hutang bukan sekadar angka. Ia adalah hak manusia.”
Jika mampu membayar, jangan menunda dengan sengaja.
Jika belum mampu, komunikasikan dengan jujur.
Jangan menghilang.
Jangan menggunakan kesulitan sebagai alasan untuk membuang tanggung jawab.
Dan pihak yang memberi hutang pun diajarkan:
jangan menghina.
Jangan mempermalukan.
Jangan menjadikan kesulitan orang sebagai kesempatan untuk menindas.
Di sinilah dua sisi amanah bertemu.
UJIAN KEUNTUNGAN
Ada orang baik ketika rugi.
Tetapi berubah ketika untung besar.
Karena keuntungan mempunyai mabuknya sendiri.
Qitab berkata:
“Ketika keuntungan membesar, perbesar pula syukur dan tanggung jawab.”
Jangan hanya meningkatkan gaya hidup.
Tingkatkan juga kemampuan memberi.
Kemampuan menolong.
Kemampuan menjaga keluarga.
Kemampuan memperluas manfaat.
Sebab keberlimpahan yang tidak mempunyai pintu keluar dapat berubah menjadi beban hati.
UJIAN KERUGIAN
Kerugian juga menguji.
Ada orang yang ketika rugi mulai mencari orang untuk disalahkan.
Mulai menipu agar modal kembali.
Mulai mengambil jalan yang sebelumnya ia tahu salah.
Qitab berkata:
“Jangan membayar satu kerugian dengan kerusakan yang lebih besar.”
Kerugian dapat menjadi pelajaran.
Tetapi jangan izinkan ia mencabut prinsip.
Karena uang yang hilang dapat dicari kembali.
Integritas yang sengaja dihancurkan tidak selalu mudah dipulihkan.
PASAR DAN IBADAH
Qitab kemudian mengatakan sesuatu yang penting:
“Jangan memisahkan kejernihan ruhani dari cara mencari nafkah.”
Ibadah tidak berhenti ketika pintu tempat ibadah ditutup.
Ia berlanjut ketika:
engkau menentukan harga,
membuat kontrak,
membayar pekerja,
melayani pembeli,
menepati waktu,
mengembalikan kelebihan,
dan menolak keuntungan yang jelas dibangun di atas kezaliman.
Di sinilah pasar dapat menjadi tempat ujian akhlak.
TIMBANGAN AMANAH
Di tengah pasar terdapat timbangan besar.
Sang pencari menaruh emas di satu sisi.
Di sisi lain ia menaruh kepercayaan.
Emas turun.
Tetapi kemudian qitab berkata:
“Tambahkan waktu.”
Ia menaruh waktu.
“Tambahkan nama baik.”
Ia menaruh nama baik.
“Tambahkan janji.”
Ia menaruh janji.
“Tambahkan doa orang yang pernah engkau bantu.”
Ia menaruhnya secara simbolik.
Timbangan berubah.
Sang pencari memahami:
tidak semua kekayaan dapat dihitung dengan uang.
Ada kekayaan berupa kepercayaan.
Ada kekayaan berupa hubungan yang sehat.
Ada kekayaan berupa nama baik.
Ada kekayaan berupa hati yang dapat tidur tanpa takut karena tidak sengaja memakan hak manusia.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KETIGA BELAS
Wahai orang yang berjalan di pasar kehidupan,
jangan jadikan kecerdasan sebagai alat mengalahkan orang yang lebih lemah.
Jangan jadikan kebutuhan manusia sebagai pintu keserakahan.
Jangan jadikan kedekatan sebagai alasan mendapat hak lebih.
Jangan jadikan jabatan sebagai perisai dari pertanggungjawaban.
Dan jangan mengira sedekah besar dapat menghapus kewajiban mengembalikan hak yang sengaja diambil.
Sebab kebaikan bukan alat untuk menghias kezaliman.
Jika mempunyai hutang, usahakan membayar.
Jika mempunyai amanah, selesaikan.
Jika membuat kesalahan, akui.
Jika mempunyai kelebihan, bagikan sebagian manfaat.
Jika mempunyai kekuasaan, lindungi yang lemah.
Inilah perdagangan qaca.
RAHASIA KEUNTUNGAN TERBESAR
Sang pencari bertanya:
“Apakah keuntungan terbesar dalam pasar ini?”
Qitab menjawab:
“Keluar dari pasar tanpa kehilangan dirimu.”
Engkau boleh menjadi kaya.
Tetapi jangan kehilangan rahmah.
Boleh menjadi kuat.
Tetapi jangan kehilangan keadilan.
Boleh menjadi terkenal.
Tetapi jangan kehilangan kerendahan hati.
Boleh menjadi pemimpin.
Tetapi jangan kehilangan kemampuan mendengar.
Boleh menjadi pedagang.
Tetapi jangan kehilangan amanah.
Jika semua itu terjaga, maka rezeki tidak hanya berada di tangan.
Ia juga membawa ketenteraman ke dalam hati.
PENUTUP LEMBAR KETIGA BELAS
Matahari mulai tenggelam.
Para pedagang menutup lapak.
Suara pasar perlahan mereda.
Sang pencari berjalan meninggalkan tempat itu.
Di tangannya tidak ada emas tambahan.
Tetapi ia membawa satu timbangan kecil secara simbolik di dalam hati.
Di satu sisinya tertulis:
“Apa yang kuperoleh?”
Di sisi lain:
“Bagaimana aku memperolehnya?”
Dan qitab berkata:
“Jangan pernah hanya menimbang hasil. Timbang pula jalannya.”
Ketika malam tiba, sang pencari sampai di sebuah jembatan.
Di bawahnya mengalir sungai besar.
Di seberang jembatan berdiri banyak manusia yang membawa berbagai beban:
ada yang membawa harta,
ada yang membawa nama,
ada yang membawa penyesalan,
ada yang membawa amal,
ada yang membawa janji yang belum selesai.
Di atas gerbang jembatan tertulis:
“Yang berat bukan selalu yang banyak. Yang berat adalah apa yang belum engkau selesaikan.”
Sang pencari berhenti.
Karena ia mengetahui bahwa perjalanan berikutnya bukan lagi tentang bagaimana mendapatkan.
Tetapi tentang bagaimana melepaskan, mengembalikan, dan menyelesaikan amanah sebelum waktu berlalu.
Maka terbukalah:
LEMBAR KEEMPAT BELAS
SIRRUL-JISR WA RADDIL-AMĀNĀT
Rahasia Jembatan dan Pengembalian Amanah: Menyelesaikan Hutang, Janji, Hak, Luka, dan Tanggung Jawab sebelum Perjalanan Berlanjut.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEEMPAT BELAS
SIRRUL-JISR WA RADDIL-AMĀNĀT
RAHASIA JEMBATAN DAN PENGEMBALIAN AMANAH: MENYELESAIKAN HUTANG, JANJI, HAK, LUKA, DAN TANGGUNG JAWAB SEBELUM PERJALANAN BERLANJUT
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa tidak semua perjalanan menjadi berat karena jauhnya jalan.
Ada perjalanan yang terasa berat karena terlalu banyak sesuatu yang belum diselesaikan.
Janji yang ditunda.
Hutang yang belum dibereskan.
Hak yang belum dikembalikan.
Ucapan yang belum dimintakan maaf.
Amanah yang belum dituntaskan.
Dan luka yang terus dibawa ke mana-mana.
Maka ketika sang pencari berdiri di hadapan jembatan, qitab berkata:
“Sebelum melangkah ke seberang, lihatlah apa yang masih engkau bawa.”
Jembatan itu tidak menanyakan berapa banyak ilmu yang telah dipelajari.
Tidak menanyakan berapa banyak orang mengenal namanya.
Tidak pula menanyakan seberapa panjang perjalanan batinnya.
Jembatan hanya menanyakan:
“Apa yang belum selesai?”
JEMBATAN PERTAMA
JEMBATAN HUTANG
Sang pencari melihat seseorang membawa karung berat.
Ketika dibuka, ternyata karung itu berisi catatan.
Nama.
Angka.
Tanggal.
Janji pembayaran.
Qitab berkata:
“Hutang adalah amanah yang mempunyai wajah.”
Di balik angka, ada manusia.
Ada keluarga.
Ada kebutuhan.
Ada kepercayaan yang pernah diberikan.
Maka jika seseorang mampu membayar, jangan sengaja menunda.
Jika belum mampu, jangan menghilang.
Berbicaralah.
Jelaskan.
Tunjukkan ikhtiar.
Sebab tidak semua orang yang berhutang adalah pengkhianat.
Tetapi sikap terhadap hutang menunjukkan keadaan amanah.
Qitab berkata:
“Kesulitan bukan kehinaan. Mengabaikan amanah dengan sengaja itulah yang harus dijaga.”
JEMBATAN KEDUA
JEMBATAN JANJI
Kemudian sang pencari melihat tali-tali menggantung dari sisi jembatan.
Setiap tali adalah satu janji.
Ada tali yang kuat.
Ada yang sudah putus.
Ada yang hampir terlepas.
Qitab berkata:
“Janji yang diucapkan dengan mudah dapat menjadi beban ketika tidak dijaga.”
Jangan menjanjikan apa yang belum engkau tahu dapat dilakukan.
Jangan menggunakan janji hanya untuk menenangkan orang sementara.
Jika keadaan berubah, katakan.
Jika tidak mampu, akui.
Jika harus membatalkan, lakukan dengan adab.
Sebab manusia sering lebih mampu menerima kenyataan pahit daripada ketidakjelasan yang berkepanjangan.
JEMBATAN KETIGA
JEMBATAN HAK
Di tengah jembatan berdiri sebuah pintu kecil.
Pintu itu tidak dapat terbuka dengan kekuatan.
Di atasnya tertulis secara simbolik:
“Kembalikan yang bukan milikmu.”
Hak tidak hanya berupa uang.
Ada hak atas nama baik.
Hak atas waktu.
Hak atas upah.
Hak atas warisan.
Hak atas hasil kerja.
Hak atas privasi.
Hak untuk tidak difitnah.
Hak untuk tidak dipermalukan.
Qitab berkata:
“Kadang seseorang merasa dirinya tidak mempunyai hutang karena tidak memegang uang orang lain. Padahal mungkin ia masih memegang hak manusia dalam bentuk lain.”
Jika mengambil, kembalikan.
Jika merusak, perbaiki.
Jika menyebarkan keburukan yang tidak benar, luruskan.
Jika menahan hak seseorang, tunaikan.
JEMBATAN KEEMPAT
JEMBATAN LUKA
Sang pencari kemudian melihat banyak orang berjalan dengan benda tajam tertancap di punggung.
Anehnya, sebagian dari mereka sudah lupa siapa yang pertama kali melukai.
Tetapi benda itu masih dibawa.
Qitab berkata:
“Luka yang tidak disembuhkan dapat berubah menjadi beban yang dibawa kepada orang yang tidak pernah menyebabkannya.”
Ada orang disakiti oleh satu manusia, lalu mencurigai semua manusia.
Ada yang dikhianati sekali, lalu menolak percaya selamanya.
Ada yang direndahkan dahulu, lalu ketika mempunyai kekuatan ia merendahkan orang lain.
Maka qitab berkata:
“Jangan jadikan penderitaan sebagai warisan yang engkau teruskan.”
Menyembuhkan tidak berarti membenarkan kezaliman.
Memaafkan pun tidak selalu berarti kembali ke hubungan yang sama.
Kadang penyembuhan berarti mengakui apa yang terjadi, membuat batas, dan berhenti membiarkan masa lalu menentukan seluruh masa depan.
JEMBATAN KELIMA
JEMBATAN PERMINTAAN MAAF
Ada sebuah bagian jembatan yang hanya dapat dilewati dengan membungkuk.
Sang pencari bertanya:
“Mengapa pintunya begitu rendah?”
Qitab menjawab:
“Karena permintaan maaf tidak dapat dilalui dengan kepala yang terlalu tinggi.”
Mengatakan:
“Aku salah.”
kadang jauh lebih berat daripada membayar uang.
Karena yang dituntut bukan harta.
Tetapi ego.
Permintaan maaf yang jernih tidak berbunyi:
“Maaf kalau kamu tersinggung.”
Tetapi:
“Aku memahami bahwa tindakanku menyakitimu. Aku bertanggung jawab atas bagian yang memang salah dariku.”
Kemudian, jika memungkinkan, perbaiki kerusakan yang timbul.
Sebab permintaan maaf tanpa perubahan mudah berubah menjadi kebiasaan.
JEMBATAN KEENAM
JEMBATAN MEMAAFKAN
Di sisi lain terdapat pintu yang berbeda.
Qitab berkata:
“Tidak semua orang yang meminta maaf akan datang.”
Ada orang yang meninggal sebelum sempat meminta maaf.
Ada yang tidak sadar telah menyakiti.
Ada yang terlalu sombong untuk mengakui.
Ada pula yang tetap merasa dirinya benar.
Lalu bagaimana hati berjalan?
Qitab menjawab:
“Memaafkan adalah melepaskan hak hati untuk terus-menerus dibakar oleh kejadian lama.”
Tetapi memaafkan bukan berarti mengatakan kezaliman itu baik.
Bukan pula berarti harus memberikan kepercayaan yang sama seperti sebelumnya.
Kepercayaan dapat dibangun kembali perlahan.
Batas boleh tetap ada.
Keadilan tetap boleh dicari.
Namun kebencian tidak harus menjadi rumah permanen.
RADDIL-AMĀNĀT
MENGEMBALIKAN AMANAH KEPADA TEMPATNYA
Dalam lembar ini disebutkan bahwa setiap amanah mempunyai tempat kembali.
Uang kembali kepada pemilik haknya.
Rahasia kembali kepada penjagaan.
Janji kembali kepada pemenuhan.
Kesalahan kembali kepada pengakuan.
Ilmu kembali kepada pengamalan.
Kekuasaan kembali kepada pelayanan.
Harta kembali kepada manfaat.
Tubuh kembali kepada tanah.
Dan seluruh manusia akhirnya kembali kepada Alloh.
Qitab berkata:
“Yang engkau miliki sementara jangan diperlakukan seolah menjadi milikmu selamanya.”
Di sinilah kejernihan menjadi sangat dalam.
Sebab manusia sering berkata:
“Ini milikku.”
Padahal banyak hal hanyalah titipan sementara.
TIGA BEBAN YANG TIDAK TERLIHAT
BEBAN PERTAMA — UCAPAN YANG BELUM DIBERESKAN
Ada perkataan yang sudah lama diucapkan tetapi bekasnya masih hidup di hati orang lain.
Maka jika engkau mengetahuinya, perbaikilah sebisa mungkin.
Jangan berkata:
“Itu kan sudah lama.”
Waktu tidak selalu menghapus dampak.
BEBAN KEDUA — KEBAIKAN YANG DITAGIH KEMBALI
Ada orang berbuat baik, tetapi kemudian seluruh hidup penerima dibuat merasa berhutang budi.
Qitab berkata:
“Jika memberi, jangan menjadikan pemberian sebagai rantai.”
Boleh berharap terima kasih.
Tetapi jangan mengubah kebaikan menjadi alat untuk menguasai.
BEBAN KETIGA — KEWAJIBAN YANG TERUS DITUNDA
Ada kewajiban yang sebenarnya dapat diselesaikan hari ini.
Tetapi karena terasa tidak menyenangkan, ia terus dipindahkan ke esok.
Esok menjadi minggu.
Minggu menjadi tahun.
Dan akhirnya menjadi beban batin.
Qitab berkata:
“Tidak semua beban membutuhkan kekuatan besar. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk mulai.”
QACA SUTRANARA DI ATAS JEMBATAN
Sutranara berkata:
“Lihat kembali masa lalu hanya untuk mengetahui apa yang harus engkau selesaikan, bukan untuk tinggal di sana.”
Catat.
Perbaiki.
Lalu lepaskan.
Jangan menjadikan muhasabah sebagai cara baru untuk menyiksa diri.
QACA PEPAES DI ATAS JEMBATAN
Pepaes berkata:
“Jangan takut kehilangan citra demi memperbaiki kesalahan.”
Kadang seseorang mempertahankan kebohongan karena takut malu jika mengaku salah.
Padahal satu pengakuan jujur dapat menyelamatkan bertahun-tahun kepalsuan.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DI ATAS JEMBATAN
Qaca ketiga berkata:
“Arah bukan hanya tentang ke mana engkau pergi. Arah juga tentang apa yang engkau tinggalkan dalam keadaan selesai.”
Jangan berjalan cepat meninggalkan banyak urusan terbuka.
Sebab sesuatu yang diabaikan hari ini dapat kembali menjadi rintangan di jalan berikutnya.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEEMPAT BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Mengembalikan
dan
Melepaskan.
Mengembalikan apa yang menjadi hak manusia.
Melepaskan apa yang tidak lagi harus kita genggam.
Mengembalikan hutang.
Melepaskan gengsi.
Mengembalikan amanah.
Melepaskan kebencian.
Mengembalikan nama baik yang pernah dirusak.
Melepaskan kebutuhan untuk selalu dibenarkan.
Keduanya membuat perjalanan menjadi ringan.
EMPAT LANGKAH MENYELESAIKAN AMANAH
PERTAMA — AKUI
Jangan menyelesaikan sesuatu yang masih terus disangkal.
KEDUA — HITUNG
Apa yang sebenarnya harus diselesaikan?
Jangan memperbesar dan jangan mengecilkan.
KETIGA — BERTINDAK
Hubungi.
Bayar.
Kembalikan.
Minta maaf.
Perbaiki.
KEEMPAT — JAGA AGAR TIDAK TERULANG
Penyelesaian sejati bukan hanya menutup masalah lama.
Tetapi belajar agar pola yang sama tidak terus kembali.
RAHASIA JEMBATAN
Sang pencari bertanya:
“Mengapa semua ini harus selesai sebelum aku menyeberang?”
Qitab menjawab:
“Karena semakin jauh engkau berjalan, semakin sulit membawa beban yang sebenarnya dapat ditinggalkan sekarang.”
Tidak semua perkara memang dapat selesai sempurna.
Ada orang yang tidak lagi dapat ditemui.
Ada kerugian yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.
Ada ucapan yang tidak dapat ditarik kembali.
Dalam keadaan demikian, lakukan bagian yang masih mungkin dilakukan.
Berdoa.
Memperbaiki diri.
Mengganti kerusakan sebisanya.
Dan jangan mengulangi.
Alloh mengetahui batas kemampuan hamba.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEEMPAT BELAS
Wahai pemegang jalan qejernihan,
jangan menunggu akhir hidup untuk menyelesaikan perkara yang dapat diselesaikan hari ini.
Jika mempunyai hutang, mulailah rencana pembayarannya.
Jika mempunyai janji, lihat kembali.
Jika menyimpan barang orang, kembalikan.
Jika mempunyai salah, minta maaf.
Jika ada orang yang harus dimaafkan agar hatimu tidak terus terbakar, mulailah melepaskan.
Jika ada amanah yang terlalu besar untuk dipikul sendirian, mintalah bantuan.
Sebab kekuatan bukan selalu mampu membawa semua beban.
Kadang kekuatan adalah mengetahui beban mana yang harus diletakkan.
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT BELAS
Sang pencari berdiri di tengah jembatan.
Satu per satu beban diletakkan.
Sebagian dikembalikan.
Sebagian diselesaikan.
Sebagian masih membutuhkan waktu.
Namun kini semuanya telah diberi arah.
Ia tidak lagi berpura-pura tidak melihat.
Dan setiap kali satu amanah selesai, langkahnya terasa sedikit lebih ringan.
Ketika tiba di ujung jembatan, ia menoleh.
Jembatan itu tidak hilang.
Karena selama manusia hidup, akan selalu ada amanah baru.
Tetapi kini ia telah mengetahui caranya:
jangan menumpuk apa yang dapat diselesaikan.
Di seberang jembatan terdapat sebuah dataran luas.
Di tengahnya berdiri sebuah pohon besar dengan dua cabang utama.
Cabang pertama menghasilkan buah manis.
Cabang kedua menghasilkan buah pahit.
Akar keduanya berasal dari tanah yang sama.
Sang pencari bertanya:
“Bagaimana satu pohon dapat menghasilkan dua rasa?”
Dan qitab menjawab:
“Karena satu perbuatan dapat berubah nilainya sesuai niat, cara, dan akibatnya.”
Maka terbukalah:
LEMBAR KELIMA BELAS
SIRRUN-NIYYAH WA THAMARATIL-A‘MĀL
Rahasia Niat dan Buah Perbuatan: Mengapa Amal yang Tampak Sama Dapat Menghasilkan Cahaya atau Bayangan yang Berbeda di Dalam Hati.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KELIMA BELAS
SIRRUN-NIYYAH WA THAMARATIL-A‘MĀL
RAHASIA NIAT DAN BUAH PERBUATAN: MENGAPA AMAL YANG TAMPAK SAMA DAPAT MENGHASILKAN CAHAYA ATAU BAYANGAN YANG BERBEDA DI DALAM HATI
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa dua perbuatan dapat tampak sama di mata manusia, tetapi berbeda jauh di dalam batin.
Dua orang dapat sama-sama memberi.
Yang satu memberi karena kasih.
Yang satu memberi agar namanya disebut.
Dua orang dapat sama-sama diam.
Yang satu diam karena menjaga lisan.
Yang satu diam karena menyimpan kebencian.
Dua orang dapat sama-sama menegur.
Yang satu menegur untuk memperbaiki.
Yang satu menegur untuk mempermalukan.
Maka qitab ini berkata:
“Jangan hanya melihat gerak tangan. Lihatlah arah hati yang menggerakkannya.”
Namun niat pun tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan cara yang salah.
Sebab niat baik tidak otomatis menjadikan segala cara menjadi baik.
Maka dalam lembar kelima belas ini, qejernihan dibangun di atas tiga hal:
niat yang bersih,
cara yang benar,
dan buah yang membawa maslahat.
POHON DUA BUAH
Di tengah dataran itu berdiri sebuah pohon besar.
Akarnya satu.
Batangnya satu.
Tetapi cabangnya menghasilkan dua rasa.
Cabang pertama menghasilkan buah manis.
Cabang kedua menghasilkan buah pahit.
Sang pencari bertanya:
“Mengapa akarnya sama, tetapi buahnya berbeda?”
Qitab menjawab:
“Karena manusia dapat memulai dari dorongan yang sama, tetapi mengolahnya dengan cara yang berbeda.”
Keinginan untuk dihormati dapat diarahkan menjadi usaha memperbaiki diri.
Atau berubah menjadi kesombongan.
Keinginan untuk memperoleh rezeki dapat diarahkan menjadi kerja yang jujur.
Atau berubah menjadi kerakusan.
Keinginan untuk melindungi dapat menjadi kasih sayang.
Atau berubah menjadi penguasaan.
Keinginan untuk menyampaikan kebenaran dapat menjadi dakwah yang lembut.
Atau berubah menjadi penghinaan terhadap orang lain.
Maka yang menentukan bukan hanya dorongan awal.
Tetapi bagaimana hati mendidiknya.
NIAT PERTAMA
NIAT UNTUK ALLOH DAN KEBAIKAN
Niat yang jernih tidak selalu menghasilkan perasaan yang luar biasa.
Kadang ia sangat sederhana:
“Aku ingin melakukan ini dengan benar.”
“Aku ingin menjaga amanah.”
“Aku ingin memberi manfaat.”
“Aku ingin menghindari kezaliman.”
Niat seperti ini tidak membutuhkan penonton.
Ia juga tidak takut jika namanya tidak disebut.
Qitab berkata:
“Semakin bersih niat, semakin kecil kebutuhan untuk mengumumkannya.”
Tetapi manusia tetap manusia.
Niat dapat berubah di tengah perjalanan.
Karena itu jangan hanya memperbaiki niat di awal.
Periksalah juga di tengah dan di akhir.
NIAT KEDUA
NIAT YANG BERCAMPUR
Sebagian besar niat manusia tidak selalu hitam atau putih.
Ada campuran.
Seseorang membantu karena ingin menolong, tetapi juga senang dipuji.
Seseorang bekerja keras karena tanggung jawab, tetapi juga ingin dihargai.
Seseorang belajar karena ingin memahami, tetapi juga ingin dianggap pandai.
Qitab tidak memerintahkan manusia menjadi putus asa karena campuran seperti ini.
Ia berkata:
“Kenali campurannya, lalu bersihkan sedikit demi sedikit.”
Jika ingin dipuji, jangan berhenti berbuat baik.
Tetapi kurangi ketergantungan kepada pujian.
Jika ingin dihargai, jangan meninggalkan kerja.
Tetapi jangan jadikan penghargaan sebagai satu-satunya alasan.
Kejernihan bukan berarti hati langsung sempurna.
Kejernihan adalah kemampuan melihat campuran itu dengan jujur.
NIAT KETIGA
NIAT YANG MENYAMAR
Ada niat yang memakai pakaian kebaikan.
Contohnya:
“Aku hanya ingin menegakkan kebenaran.”
Tetapi sebenarnya hati sedang ingin menang.
“Aku hanya ingin menolong.”
Tetapi sebenarnya ingin menguasai.
“Aku hanya ingin melindungi.”
Tetapi sebenarnya takut kehilangan kontrol.
“Aku hanya ingin memberi nasihat.”
Tetapi sebenarnya ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu.
Maka qitab berkata:
“Niat yang paling perlu diperiksa adalah niat yang terlalu cepat mengaku suci.”
TIGA PERTANYAAN UNTUK MEMERIKSA NIAT
PERTANYAAN PERTAMA
“Apakah aku tetap mau melakukan ini jika tidak ada seorang pun mengetahui?”
Jika jawabannya ya, ada tanda keikhlasan yang baik.
PERTANYAAN KEDUA
“Apakah aku masih mau melakukannya jika orang lain yang mendapat pujian?”
Jika hati langsung marah, mungkin ada bagian ego yang perlu dibersihkan.
PERTANYAAN KETIGA
“Apakah aku bersedia mengubah caraku jika ternyata cara ini melukai atau merugikan?”
Niat baik yang tidak mau dikoreksi dapat berubah menjadi keras kepala.
BUAH MANIS PERTAMA
AMAL YANG MENGHIDUPKAN
Perbuatan yang baik biasanya meninggalkan sesuatu.
Bukan selalu uang.
Bukan selalu nama.
Kadang ia meninggalkan rasa aman.
Kepercayaan.
Harapan.
Ilmu.
Kesempatan.
Keadilan.
Qitab berkata:
“Ukurlah sebagian amal dari apa yang tumbuh setelah engkau pergi.”
Jika setelah nasihatmu orang menjadi lebih kuat, ada manfaat.
Jika setelah bantuanmu orang menjadi lebih mandiri, ada manfaat.
Jika setelah kepemimpinanmu orang menjadi lebih aman, ada manfaat.
Jika setelah ilmumu orang menjadi lebih rendah hati, ada manfaat.
BUAH PAHIT PERTAMA
AMAL YANG MEMPERBESAR EGO
Ada amal yang tampak baik tetapi meninggalkan rasa:
“Aku lebih tinggi.”
“Aku lebih suci.”
“Mereka berhutang kepadaku.”
“Tanpa aku mereka tidak bisa.”
Qitab berkata:
“Jika kebaikanmu berubah menjadi alat untuk merendahkan, periksa kembali niat dan caranya.”
Sebab kebaikan tidak seharusnya membuat penerima merasa kehilangan martabat.
NIAT DAN CARA
Sang pencari bertanya:
“Jika niatku baik, apakah caraku pasti dibenarkan?”
Qitab menjawab:
“Tidak.”
Seseorang dapat berniat melindungi tetapi menggunakan kekerasan yang tidak perlu.
Dapat berniat menolong tetapi memaksa.
Dapat berniat menasihati tetapi mempermalukan di depan umum.
Dapat berniat menyelamatkan tetapi mengabaikan hak orang lain.
Maka qitab berkata:
“Niat yang baik harus mencari cara yang baik.”
Jika cara salah, perbaiki.
Jangan berkata:
“Yang penting niatku.”
Sebab akibat tetap mempunyai hak untuk diperhitungkan.
CARA DAN HASIL
Sang pencari bertanya lagi:
“Jika caraku baik, apakah hasilnya pasti baik?”
Qitab menjawab:
“Tidak selalu.”
Manusia tidak menguasai semua hasil.
Kita dapat melakukan yang terbaik tetapi tetap gagal.
Dapat berkata jujur tetapi tetap disalahpahami.
Dapat menolong tetapi bantuan tidak berhasil.
Dapat mendidik tetapi orang belum berubah.
Maka nilai amal tidak hanya diukur dari hasil.
Tetapi juga dari:
niat,
cara,
usaha,
dan tanggung jawab.
Qitab berkata:
“Jangan menyembah hasil.”
QACA SUTRANARA DAN NIAT
Qaca Sutranara berkata:
“Jangan menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk membenarkan niat buruk hari ini.”
Dahulu pernah dikhianati bukan alasan untuk membalas dengan pengkhianatan.
Dahulu pernah miskin bukan alasan untuk menjadi serakah ketika kaya.
Dahulu pernah direndahkan bukan alasan untuk merendahkan setelah berkuasa.
Masa lalu dapat menjelaskan.
Tetapi tidak selalu membenarkan.
QACA PEPAES DAN NIAT
Qaca Pepaes berkata:
“Berhati-hatilah kepada amal yang terlalu indah di mata manusia.”
Bukan berarti amal yang terlihat pasti salah.
Tetapi ketika terlalu banyak perhatian datang, hati harus semakin sering diperiksa.
Apakah niat masih sama?
Ataukah kini kebaikan dipertahankan karena takut kehilangan citra?
Inilah ujian orang yang mulai dikenal.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DAN NIAT
Qaca ketiga berkata:
“Jangan hanya berkata tujuanmu baik. Pastikan arah langkahmu juga menuju kebaikan.”
Tujuan baik tidak boleh dijadikan alasan untuk berbohong.
Tidak boleh menjadikan orang lain alat.
Tidak boleh membuat hak orang hilang.
Tidak boleh menjadikan pengikut sebagai milik pribadi.
Arah yang benar harus terlihat pada cara.
EMPAT LAPIS AMAL
LAPIS PERTAMA — NIAT
Apa yang menggerakkan?
LAPIS KEDUA — CARA
Bagaimana dilakukan?
LAPIS KETIGA — DAMPAK
Apa yang terjadi kepada orang lain?
LAPIS KEEMPAT — MUHASABAH
Apa yang harus diperbaiki setelah melihat hasil?
Qitab berkata:
“Amal yang tidak pernah dievaluasi dapat mengulangi kesalahan dengan nama kebaikan.”
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KELIMA BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Niyyah — Niat
dan
Atsar — Jejak.
Niat berada di dalam.
Jejak terlihat di luar.
Niat tanpa jejak dapat menjadi angan.
Jejak tanpa niat dapat menjadi gerak kosong.
Maka keduanya dipertemukan.
Niat dibersihkan.
Cara diperbaiki.
Jejak diperiksa.
Lalu hati kembali dibersihkan.
BUAH MANIS KEDUA
AMAL YANG TIDAK MENAGIH BALASAN
Sang pencari melihat seseorang memberi buah kepada orang lain.
Kemudian ia pergi.
Tidak menoleh.
Tidak menunggu terima kasih.
Qitab berkata:
“Inilah salah satu bentuk kemerdekaan hati.”
Bukan berarti terima kasih tidak penting.
Tetapi pemberi tidak menjadikan penghargaan sebagai syarat untuk tetap berbuat baik.
Ia memberi karena memang ingin memberi.
Jika terima kasih datang, ia bersyukur.
Jika tidak, ia tidak merusak amalnya dengan kebencian.
BUAH PAHIT KEDUA
KEBAIKAN YANG MENJADI RANTAI
Ada orang membantu.
Kemudian bertahun-tahun kemudian ia berkata:
“Ingat, dulu aku yang menolongmu.”
Ia menggunakan kebaikan sebagai alat menguasai.
Qitab berkata:
“Jika pemberian menjadi rantai, ia kehilangan sebagian kejernihannya.”
Maka jangan mengubah sedekah menjadi hutang emosional.
Jangan menjadikan pertolongan sebagai alat membeli kesetiaan.
BUAH MANIS KETIGA
AMAL YANG MEMBUAT ORANG BERDIRI
Pertolongan terbaik tidak selalu membuat orang terus membutuhkan penolong.
Kadang pertolongan terbaik adalah mengembalikan kemampuan seseorang untuk berdiri.
Memberi ilmu.
Memberi kesempatan.
Memberi alat.
Memberi dukungan.
Memberi batas yang sehat.
Qitab berkata:
“Jangan merasa gagal ketika orang yang engkau bantu akhirnya tidak lagi membutuhkanmu.”
Bisa jadi itulah keberhasilan.
BUAH PAHIT KETIGA
AMAL YANG MENJADIKAN ORANG TERGANTUNG
Ada pertolongan yang membuat penerima semakin lemah.
Semua keputusan harus meminta izin.
Semua langkah harus bergantung kepada satu orang.
Maka qitab mengingatkan:
“Bimbingan yang sehat menumbuhkan tanggung jawab, bukan ketergantungan tanpa akhir.”
UJIAN NIAT DALAM DAKWAH DAN ILMU
Seseorang dapat menyampaikan kebaikan.
Tetapi ia harus bertanya:
Apakah aku ingin orang semakin dekat kepada Alloh?
Ataukah semakin tergantung kepada diriku?
Apakah aku ingin mereka memahami?
Ataukah hanya mengagumi?
Apakah aku mau mereka belajar dari sumber lain?
Ataukah aku merasa terancam jika mereka memperoleh ilmu dari orang lain?
Qitab berkata:
“Guru yang jernih tidak takut muridnya tumbuh.”
UJIAN NIAT DALAM KEPEMIMPINAN
Pemimpin dapat berkata:
“Aku ingin melindungi.”
Tetapi apakah ia juga memberi ruang kepada orang lain untuk berbicara?
Apakah ia menerima kritik?
Apakah aturan berlaku untuk dirinya juga?
Apakah ia mampu melepaskan jabatan ketika waktunya selesai?
Niat kepemimpinan diuji oleh cara menggunakan kuasa.
UJIAN NIAT DALAM HARTA
Seseorang dapat berkata:
“Aku ingin kaya agar dapat membantu.”
Itu niat yang baik.
Tetapi qitab bertanya:
“Ketika kekayaan mulai datang, apakah pintu bantuan ikut membesar?”
Ataukah alasan membantu terus digunakan sementara keserakahan tumbuh?
Niat harus diuji oleh buah.
UJIAN NIAT DALAM KEHENINGAN
Bahkan diam pun mempunyai niat.
Ada diam karena sabar.
Ada diam karena dendam.
Ada diam karena tidak ingin mempermalukan.
Ada diam karena ingin menghukum seseorang dengan sikap dingin.
Maka jangan menilai bentuk.
Periksa arah hati.
TIGA CARA MEMBERSIHKAN NIAT
PERTAMA — SEMBUNYIKAN SEBAGIAN KEBAIKAN
Tidak semua kebaikan harus diketahui.
Amal yang tersembunyi membantu hati belajar hidup tanpa penonton.
KEDUA — TERIMA KOREKSI
Jika seseorang menunjukkan kekurangan caramu, jangan langsung menganggap ia menyerang niatmu.
Bisa jadi niatmu baik tetapi caramu memang perlu diperbaiki.
KETIGA — SERING BERTANYA “UNTUK APA?”
Sebelum.
Di tengah.
Sesudah.
“Untuk apa aku melakukan ini?”
Pertanyaan sederhana ini dapat membersihkan banyak debu.
RAHASIA POHON DUA BUAH
Sang pencari akhirnya memahami mengapa satu pohon mempunyai dua rasa.
Karena akar manusia adalah kemampuan memilih.
Dari kemampuan yang sama, dapat lahir:
rahmah atau penguasaan,
keberanian atau kekerasan,
kecerdasan atau manipulasi,
harta atau keserakahan,
ilmu atau kesombongan.
Yang membedakan adalah pendidikan hati.
Maka qitab berkata:
“Jangan hanya meminta kekuatan lebih besar. Mintalah kejernihan untuk mengarahkan kekuatan itu.”
Sebab kekuatan tanpa arah hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam hati.
Jika hati jernih, kekuatan memperbesar manfaat.
Jika hati keruh, kekuatan memperbesar kerusakan.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KELIMA BELAS
Wahai pemegang perjalanan qejernihan,
jangan terlalu cepat menyebut amalmu ikhlas.
Biarkan waktu mengujinya.
Jangan terlalu cepat menyebut niat orang lain buruk.
Engkau tidak mengetahui seluruh isi hati mereka.
Periksa dirimu lebih keras daripada engkau memeriksa manusia.
Namun jangan pula terjebak dalam keraguan tanpa akhir.
Jika niatmu cukup baik, caramu benar, dan manfaatnya jelas, lakukanlah.
Kemudian evaluasi.
Perbaiki.
Dan serahkan penilaian terakhir kepada Alloh.
PENUTUP LEMBAR KELIMA BELAS
Sang pencari memetik dua buah dari pohon.
Satu manis.
Satu pahit.
Ia tidak membuang yang pahit.
Ia meletakkannya di tanah sebagai pengingat.
Bahwa dari akar yang sama dapat lahir akibat yang berbeda.
Kemudian ia menyiram akar pohon.
Qitab berkata:
“Rawatlah akar sebelum sibuk menghitung buah.”
Matahari mulai naik.
Di kejauhan terlihat sebuah sumur tua.
Di sekelilingnya banyak manusia membawa wadah berbeda-beda.
Ada kendi besar.
Ada cangkir kecil.
Ada wadah bersih.
Ada wadah retak.
Semua mengambil air dari sumur yang sama.
Namun ketika mereka pergi, jumlah air yang terbawa berbeda.
Sang pencari mendekat.
Lalu mendengar satu kalimat:
“Sumber dapat sama, tetapi wadah menentukan berapa banyak yang mampu dibawa tanpa tumpah.”
Maka terbukalah:
LEMBAR KEENAM BELAS
SIRRUL-BI’R WA SA‘ATIL-WI‘Ā’
Rahasia Sumur dan Luasnya Wadah: Mengapa Ilmu, Rezeki, Amanah, dan Cahaya Kebaikan Harus Diimbangi dengan Kesiapan Hati agar Tidak Berubah Menjadi Beban.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEENAM BELAS
SIRRUL-BI’R WA SA‘ATIL-WI‘Ā’
RAHASIA SUMUR DAN LUASNYA WADAH: MENGAPA ILMU, REZEKI, AMANAH, DAN CAHAYA KEBAIKAN HARUS DIIMBANGI DENGAN KESIAPAN HATI AGAR TIDAK BERUBAH MENJADI BEBAN
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa sumber yang jernih tidak selalu menghasilkan manfaat yang sama pada setiap orang.
Bukan karena sumbernya berubah.
Tetapi karena wadah yang datang kepadanya berbeda.
Ada wadah besar.
Ada wadah kecil.
Ada yang bersih.
Ada yang retak.
Ada yang kuat menahan air.
Ada yang baru diisi sedikit sudah tumpah.
Di sinilah qitab mengajarkan satu rahasia penting:
jangan hanya meminta agar Alloh menambah apa yang masuk ke dalam hidupmu. Mintalah pula agar dirimu diperluas untuk membawanya dengan benar.
Sebab ilmu yang terlalu besar bagi hati yang belum siap dapat berubah menjadi kesombongan.
Harta yang terlalu besar bagi jiwa yang belum siap dapat berubah menjadi kerakusan.
Kekuasaan yang terlalu besar bagi akhlak yang belum matang dapat berubah menjadi penindasan.
Dan pujian yang terlalu banyak bagi ego yang belum terdidik dapat membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
SUMUR PERTAMA
SUMUR ILMU
Sang pencari melihat sebuah sumur sangat dalam.
Airnya jernih.
Orang-orang datang membawa wadah.
Sebagian mengambil sedikit lalu pergi.
Sebagian mengambil banyak tetapi menumpahkannya di jalan.
Sebagian membawa pulang secukupnya lalu menggunakannya untuk kehidupan.
Qitab berkata:
“Ilmu bukan tentang seberapa banyak yang engkau ambil, tetapi seberapa baik engkau mampu menjaganya dan menggunakannya.”
Orang dapat membaca banyak.
Menghafal banyak.
Mendengar banyak.
Tetapi jika ilmu tidak mengubah adab, ia belum sepenuhnya masuk.
Ilmu yang jernih seharusnya menambah:
ketelitian,
kerendahan hati,
kemampuan membedakan,
dan tanggung jawab.
Jika ilmu justru membuat seseorang semakin mudah menghina, wadahnya perlu diperbaiki.
WADAH PERTAMA
WADAH YANG TERLALU PENUH
Ada wadah yang sudah dipenuhi air lama.
Ketika air baru dituangkan, semuanya meluap.
Qitab berkata:
“Hati yang merasa sudah penuh sulit menerima sesuatu yang baru.”
Kadang seseorang bukan tidak cerdas.
Ia hanya terlalu yakin bahwa dirinya sudah tahu.
Maka setiap nasihat masuk sebagai ancaman.
Setiap perbedaan terasa sebagai serangan.
Setiap koreksi dianggap merendahkan.
Qitab mengajarkan satu kalimat penjaga:
“Mungkin ada sesuatu yang belum kupahami.”
Kalimat ini membuka ruang.
Bukan berarti semua pendapat orang lain harus diterima.
Tetapi memberi kesempatan untuk diperiksa.
WADAH KEDUA
WADAH RETAK
Ada orang mengambil air banyak.
Namun sepanjang perjalanan, air terus menetes.
Ketika sampai di rumah, hampir tidak ada yang tersisa.
Qitab berkata:
“Retak adalah kebiasaan yang membuat kebaikan tidak bertahan.”
Seseorang belajar tentang sabar.
Tetapi setiap kali marah ia melupakan semuanya.
Belajar tentang amanah.
Tetapi setiap ada keuntungan ia kembali tergoda.
Belajar tentang kejujuran.
Tetapi ketika takut kehilangan sesuatu ia kembali berbohong.
Retak tidak diperbaiki dengan terus menambah air.
Ia harus ditambal.
Dengan latihan.
Dengan disiplin.
Dengan kebiasaan yang diulang.
Sebab ilmu tidak akan menetap dalam perilaku hanya karena sering dibaca.
Ia harus dilatih.
WADAH KETIGA
WADAH KOTOR
Air jernih dituangkan ke dalam wadah kotor.
Air itu ikut berubah.
Sang pencari bertanya:
“Apakah sumbernya telah rusak?”
Qitab menjawab:
“Tidak. Wadahnya yang harus dibersihkan.”
Demikian pula ilmu dapat berubah di tangan ego.
Nasihat yang baik dapat digunakan untuk menyerang orang lain.
Ayat dapat dipakai untuk membenarkan kepentingan.
Kata-kata tentang kasih sayang dapat dipakai untuk mengontrol.
Kata-kata tentang ketaatan dapat dipakai untuk menutup kritik.
Maka qitab berkata:
“Jangan hanya periksa apa yang engkau pelajari. Periksa pula apa yang dilakukan egomu terhadap pelajaran itu.”
SUMUR KEDUA
SUMUR REZEKI
Di samping sumur ilmu terdapat sumur rezeki.
Manusia datang dengan ukuran wadah yang berbeda.
Ada yang memperoleh sedikit lalu bersyukur.
Ada yang memperoleh banyak tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ada yang memperoleh banyak lalu semakin bermanfaat.
Ada yang memperoleh banyak lalu semakin takut kehilangan.
Qitab berkata:
“Banyak bukan selalu lapang. Sedikit bukan selalu sempit.”
Kelapangan sejati adalah ketika hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
Harta dapat bertambah.
Tetapi jika kecemasan juga bertambah tanpa batas, wadah belum siap.
Maka sebelum meminta rezeki yang lebih luas, tanyakan:
“Apakah aku siap mengelolanya?”
“Apakah aku mempunyai disiplin?”
“Apakah aku memahami hak yang harus ditunaikan?”
“Apakah ketika bertambah, manfaatku juga bertambah?”
WADAH REZEKI YANG SEHAT
Qitab menyebut empat sisi wadah rezeki.
SISI PERTAMA — HALAL
Jangan memperbesar wadah dengan cara merusak sumber.
SISI KEDUA — TERTIB
Catat.
Atur.
Bedakan kebutuhan dan keinginan.
Jangan menganggap tawakkul berarti tidak perlu perencanaan.
SISI KETIGA — BERBAGI
Air yang terus masuk tanpa jalan keluar akhirnya menggenang.
Keluarkan sebagian dalam bentuk manfaat.
SISI KEEMPAT — SYUKUR
Syukur bukan berhenti berusaha.
Syukur adalah tidak membuat kekurangan kecil menghapus pandangan terhadap nikmat yang sudah ada.
SUMUR KETIGA
SUMUR KEKUASAAN
Di sisi berikutnya terdapat sumur yang airnya sangat dalam.
Tidak semua orang diizinkan mengambil banyak.
Sang pencari bertanya:
“Mengapa?”
Qitab menjawab:
“Karena tidak semua wadah siap menanggung beratnya.”
Kekuasaan memperbesar akibat.
Orang biasa marah, kerusakannya mungkin terbatas.
Pemimpin marah, keputusan dapat menyentuh banyak orang.
Orang biasa salah bicara, dampaknya sedikit.
Orang berpengaruh salah bicara, dampaknya dapat meluas.
Maka semakin tinggi posisi, semakin luas wadah akhlak yang dibutuhkan.
Qitab berkata:
“Jangan meminta pengaruh besar jika engkau masih mudah menggunakan kekuatan untuk membalas luka pribadi.”
SUMUR KEEMPAT
SUMUR CINTA DAN KEPERCAYAAN
Sang pencari kemudian melihat sumur paling lembut.
Orang-orang mengambil air dengan hati-hati.
Qitab berkata:
“Kepercayaan adalah air yang sulit dikumpulkan dan mudah ditumpahkan.”
Membangunnya membutuhkan waktu.
Merusaknya dapat terjadi dalam satu tindakan.
Karena itu jangan bermain dengan kepercayaan.
Jangan membuat seseorang merasa aman hanya agar mudah dimanfaatkan.
Jangan menggunakan kerahasiaan yang diberikan kepadamu sebagai bahan cerita.
Jangan menganggap orang yang mencintaimu wajib menerima semua tindakanmu.
Cinta bukan izin untuk menghapus batas.
Kepercayaan bukan izin untuk bebas melukai.
EMPAT CARA MEMPERLUAS WADAH
PERTAMA — LATIH DIRI DENGAN YANG KECIL
Sebelum diberi amanah besar, jagalah amanah kecil.
Sebelum mengelola banyak uang, belajarlah tertib dengan sedikit.
Sebelum memimpin banyak orang, belajarlah mengendalikan diri.
Sebelum memberi nasihat besar, belajarlah menepati ucapan sederhana.
KEDUA — BELAJAR MENERIMA KOREKSI
Wadah tidak membesar karena selalu dipuji.
Kadang ia membesar karena bersedia menerima kenyataan yang tidak menyenangkan.
Kritik tidak selalu benar.
Tetapi jangan menolaknya sebelum diperiksa.
KETIGA — BELAJAR MENUNDA KEPUASAN
Tidak semua yang dapat dimiliki harus dimiliki sekarang.
Tidak semua yang diinginkan harus segera diperoleh.
Kemampuan menunda adalah salah satu tanda wadah mulai kuat.
KEEMPAT — BELAJAR MELEPAS
Ada orang mampu menerima banyak tetapi tidak mampu melepaskan apa pun.
Akhirnya wadah terlalu berat.
Belajarlah melepaskan barang yang tidak perlu.
Peran yang telah selesai.
Kebencian yang hanya menguras.
Keinginan untuk mengontrol semua hal.
Sebab wadah juga membutuhkan ruang kosong.
RAHASIA RUANG KOSONG
Sang pencari melihat sebuah kendi yang hanya terisi setengah.
Ia bertanya:
“Mengapa tidak diisi sampai penuh?”
Qitab menjawab:
“Karena ruang kosong pun mempunyai fungsi.”
Jika setiap waktu dipenuhi kegiatan, kapan hati beristirahat?
Jika setiap percakapan harus diisi pendapat, kapan engkau mendengar?
Jika setiap bagian kehidupan harus dikendalikan, kapan engkau belajar menerima?
Jika seluruh hati dipenuhi ambisi, di mana syukur akan duduk?
Maka qitab mengajarkan:
ruang kosong bukan selalu kekurangan.
Kadang ia adalah tempat bagi sesuatu yang baru untuk tumbuh.
QACA SUTRANARA DAN WADAH
Sutranara berkata:
“Jangan mengisi wadah hari ini dengan semua sisa masa lalu.”
Jika setiap hubungan baru diisi ketakutan lama, ia cepat penuh.
Jika setiap peluang baru diisi kecurigaan lama, ia tidak punya ruang untuk kenyataan baru.
Belajarlah membawa pelajaran tanpa membawa seluruh beban.
QACA PEPAES DAN WADAH
Pepaes berkata:
“Jangan memperbesar wadah hanya untuk terlihat lebih besar daripada orang lain.”
Tidak semua orang harus memegang amanah yang sama.
Ada yang cocok memimpin.
Ada yang lebih bermanfaat sebagai pendamping.
Ada yang mampu berbicara di depan ribuan.
Ada yang sangat berarti melalui satu percakapan pribadi.
Ukuran wadah bukan ukuran kemuliaan.
Yang penting adalah kesesuaian dan amanah.
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DAN WADAH
Qaca ketiga berkata:
“Jangan minta sesuatu yang besar hanya karena engkau ingin merasa dipilih.”
Mintalah apa yang membawa kebaikan.
Dan jika sesuatu besar datang, jangan buru-buru menyebutnya kehormatan.
Tanyakan dahulu:
“Apa tanggung jawab yang ikut datang bersamanya?”
Sebab sering kali apa yang terlihat sebagai keistimewaan sebenarnya adalah amanah yang berat.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KEENAM BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Sumber
dan
Wadah.
Sumber memberi.
Wadah menerima.
Sumber yang baik membutuhkan wadah yang siap.
Wadah yang besar tidak berguna jika tidak dijaga kebersihannya.
Maka jangan hanya berdoa:
“Tambahkanlah.”
Berdoalah juga:
“Luaskanlah kesiapan, kuatkanlah amanah, dan bersihkanlah niat.”
UJIAN KETIKA WADAH MULAI MEMBESAR
Ada tiga ujian baru.
UJIAN PERTAMA — MERASA BERHAK MENDAPAT LEBIH
Karena sudah mampu membawa banyak, manusia mulai merasa semua harus diberikan kepadanya.
Qitab berkata:
“Kemampuan tidak sama dengan hak mutlak.”
UJIAN KEDUA — MERENDAHKAN WADAH KECIL
Jangan meremehkan orang yang baru mampu sedikit.
Kendi kecil yang penuh dan digunakan dengan baik dapat lebih bermanfaat daripada bejana besar yang bocor.
UJIAN KETIGA — LUPA BAHWA WADAH DAPAT RETAK
Jangan merasa kemampuan hari ini pasti abadi.
Kesehatan berubah.
Keadaan berubah.
Kapasitas berubah.
Maka tetaplah rendah hati.
SUMUR DAN GURU
Sang pencari bertanya:
“Apakah orang yang membawa air dari sumur harus membuat semua orang bergantung kepadanya?”
Qitab menjawab:
“Tidak.”
Orang yang mengetahui letak sumur sebaiknya juga menunjukkan jalan menuju sumur.
Jangan membuat orang merasa hanya dapat minum melalui tanganmu.
Guru yang baik tidak menyembunyikan jalan ilmu demi mempertahankan ketergantungan.
Pemimpin yang baik menyiapkan orang lain agar mampu berdiri.
Orang tua yang baik perlahan mengajarkan anak mengambil tanggung jawab.
Qitab berkata:
“Keberhasilan membimbing bukan ketika semua orang tetap menggantung kepadamu, tetapi ketika mereka mampu membawa wadahnya sendiri dengan aman.”
KETIKA AIR TUMPAH
Tidak semua kegagalan berarti akhir.
Seseorang dapat mendapatkan kesempatan lalu menyia-nyiakannya.
Dapat menerima amanah lalu gagal.
Dapat diberi kepercayaan lalu melakukan kesalahan.
Qitab berkata:
“Jika air tumpah, jangan hanya menangisi tanah basah.”
Periksa wadah.
Mengapa tumpah?
Terlalu penuh?
Retak?
Tergesa?
Tidak cukup kuat?
Kemudian perbaiki.
Mintalah maaf jika ada pihak yang dirugikan.
Belajarlah.
Dan jika diberi kesempatan kembali, bawa dengan cara yang lebih baik.
BATAS KAPASITAS
Ada waktu ketika mengatakan:
“Aku belum mampu.”
adalah bentuk kejujuran.
Jangan menerima semua amanah hanya karena takut mengecewakan.
Karena terlalu banyak tanggung jawab dapat membuat semuanya terbengkalai.
Qitab berkata:
“Mengenali kapasitas bukan kemalasan. Ia bagian dari amanah.”
Tetapi jangan pula menggunakan kalimat “aku belum mampu” sebagai alasan untuk tidak pernah berkembang.
Ukurlah dengan jujur.
Kemudian latih diri.
RAHASIA SUMUR TERDALAM
Di dasar sumur terdapat satu tulisan simbolik:
“AIR TIDAK MEMBESARKAN WADAH. WADAH DIBESARKAN SEBELUM AIR DITAMBAH.”
Sang pencari terdiam.
Ia memahami bahwa sebagian penantian dalam hidup mungkin bukan semata penolakan.
Kadang seseorang memang sedang membutuhkan waktu untuk bertumbuh.
Keterampilan dibangun.
Akhlak dilatih.
Keuangan ditertibkan.
Pengetahuan ditambah.
Emosi dimatangkan.
Barulah amanah yang lebih besar dapat ditanggung dengan lebih baik.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KEENAM BELAS
Wahai pemegang jalan qejernihan,
jangan iri kepada wadah orang lain.
Engkau tidak tahu berat yang mereka bawa.
Jangan pula sombong karena wadahmu besar.
Besar berarti tanggung jawab lebih besar.
Jika ilmu bertambah, tambah tawāḍu‘.
Jika rezeki bertambah, tambah manfaat.
Jika pengaruh bertambah, tambah kehati-hatian.
Jika kepercayaan bertambah, tambah penjagaan.
Jika amanah bertambah, tambah disiplin.
Dan jika suatu hari sesuatu berkurang, jangan menganggap dirimu kehilangan seluruh nilai.
Karena nilai hamba tidak hanya terletak pada seberapa banyak yang mampu dibawanya.
Tetapi pada seberapa jujur ia menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.
PENUTUP LEMBAR KEENAM BELAS
Sang pencari mengambil kendi.
Ia tidak memilih yang terbesar.
Ia memilih wadah yang mampu ia bawa tanpa tumpah.
Ia mengisinya secukupnya.
Kemudian berjalan.
Di belakangnya banyak orang masih berlomba mencari bejana paling besar.
Sebagian bahkan lupa minum karena terlalu sibuk membandingkan ukuran wadah.
Sang pencari tersenyum.
Ia memahami:
“Cukup bukan berarti berhenti bertumbuh. Cukup berarti mengetahui apa yang harus dibawa hari ini.”
Ketika ia berjalan semakin jauh, jalan mulai menurun menuju sebuah lembah.
Di lembah itu terdengar gema.
Setiap suara yang diucapkan kembali kepada pengucapnya.
Ucapan lembut kembali lembut.
Ucapan kasar kembali sebagai gema yang keras.
Sang pencari mendekat dan melihat tulisan pada batu:
“Apa yang keluar dari mulutmu dapat kembali kepadamu melalui hati manusia.”
Lalu qitab membuka pintu berikutnya:
LEMBAR KETUJUH BELAS
SIRRUS-ṢAUT WA RAJ‘IL-KALIMĀT
Rahasia Suara dan Kembalinya Kata-Kata: Menjaga Lisan, Nasihat, Kritik, Janji, dan Ucapan agar Menjadi Jalan Qejernihan, Bukan Sumber Luka.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KETUJUH BELAS
SIRRUS-ṢAUT WA RAJ‘IL-KALIMĀT
RAHASIA SUARA DAN KEMBALINYA KATA-KATA: MENJAGA LISAN, NASIHAT, KRITIK, JANJI, DAN UCAPAN AGAR MENJADI JALAN QEJERNIHAN, BUKAN SUMBER LUKA
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa suara adalah sesuatu yang terlihat kecil tetapi dapat berjalan sangat jauh.
Satu kata dapat selesai di bibir dalam satu detik.
Tetapi bekasnya dapat tinggal bertahun-tahun dalam hati seseorang.
Ada kata yang menghidupkan harapan.
Ada kata yang mematahkan keberanian.
Ada kata yang mendamaikan.
Ada kata yang mengobarkan pertengkaran.
Ada kata yang menguatkan orang yang hampir menyerah.
Ada pula kata yang membuat seseorang terus mengingat rasa malu sepanjang hidupnya.
Maka qitab berkata:
“Jangan mengukur ucapan dari lamanya ia keluar dari mulut. Ukurlah dari kemungkinan lamanya ia tinggal di hati.”
LEMBAH GEMA
Sang pencari memasuki lembah.
Ia mengucapkan:
“Siapa di sana?”
Lembah menjawab:
“Siapa di sana...”
Ia berkata lebih keras:
“Aku datang dengan damai.”
Lembah kembali menjawab:
“Dengan damai...”
Kemudian ia mencoba berteriak dengan kasar.
Lembah mengembalikan kekasaran itu kepadanya.
Qitab berkata:
“Demikianlah sebagian kehidupan.”
Apa yang kita keluarkan tidak selalu kembali melalui orang yang sama.
Tetapi ucapan membentuk suasana.
Kekasaran melahirkan pertahanan.
Penghinaan melahirkan luka.
Kejujuran yang lembut membuka ruang.
Penghargaan membuka pintu.
Namun qitab juga mengingatkan:
jangan berbuat baik hanya karena berharap kebaikan pasti segera kembali.
Kadang gema membutuhkan waktu.
Kadang tidak kembali dari arah yang kita perkirakan.
Yang dijaga adalah keadaan lisan, bukan perdagangan balasan.
SUARA PERTAMA
SUARA YANG BENAR
Berkata benar adalah bagian dari amanah.
Tetapi kebenaran pun mempunyai adab.
Qitab berkata:
“Jangan menggunakan kebenaran sebagai batu untuk melempari manusia.”
Benar tidak harus kasar.
Tegas tidak harus menghina.
Jelas tidak harus mempermalukan.
Ada orang berkata:
“Aku hanya jujur.”
Padahal sebenarnya ia sedang menikmati kesempatan untuk menyakiti.
Maka tanyakan:
“Apakah aku ingin memperbaiki, atau hanya ingin meluapkan?”
Keduanya dapat memakai kalimat yang sama.
Tetapi niat dan cara membuat hasilnya berbeda.
SUARA KEDUA
NASIHAT
Nasihat adalah seperti air.
Air yang dituangkan terlalu keras dapat menumpahkan wadah.
Air yang diberikan sedikit demi sedikit dapat masuk.
Maka qitab mengajarkan:
“Lihat kesiapan orang sebelum memberi banyak nasihat.”
Tidak semua orang membutuhkan ceramah panjang.
Kadang ia hanya membutuhkan satu kalimat.
Kadang membutuhkan didengar terlebih dahulu.
Kadang membutuhkan waktu.
Kadang nasihat paling tepat adalah tindakan, bukan ucapan.
Maka sebelum menasihati, tanyakan:
“Apakah ia meminta?”
Jika tidak, apakah memang ada bahaya nyata yang perlu diingatkan?
Apakah waktunya tepat?
Apakah aku memahami keadaannya?
Nasihat yang benar tetapi diberikan pada waktu yang salah dapat kehilangan manfaat.
SUARA KETIGA
KRITIK
Kritik dapat menjadi pisau bedah.
Dapat menyembuhkan jika digunakan dengan tepat.
Dapat melukai jika digunakan sembarangan.
Qitab berkata:
“Pisahkan kritik terhadap perbuatan dari penghinaan terhadap pribadi.”
Katakan:
“Tindakan ini perlu diperbaiki.”
Bukan:
“Engkau memang selalu buruk.”
Katakan:
“Bagian ini belum tepat.”
Bukan:
“Engkau tidak pernah bisa.”
Bahasa yang terlalu mutlak sering menutup pintu perubahan.
Karena manusia akhirnya merasa tidak ada gunanya memperbaiki diri jika seluruh dirinya sudah dijatuhi hukuman oleh satu kalimat.
SUARA KEEMPAT
JANJI
Janji adalah kata yang berjalan ke masa depan.
Ketika diucapkan, ia menciptakan harapan di hati orang lain.
Karena itu qitab berkata:
“Jangan mengucapkan janji hanya untuk membeli ketenangan sesaat.”
Jika belum yakin, katakan:
“Aku akan berusaha.”
Jangan mengatakan:
“Pasti.”
jika engkau belum memiliki dasar.
Sebab satu janji yang dilanggar dapat merusak lebih banyak daripada satu penolakan jujur sejak awal.
SUARA KELIMA
RAHASIA
Ada ucapan yang dipercayakan kepada kita untuk tidak diteruskan.
Qitab berkata:
“Tidak semua yang engkau ketahui menjadi milikmu untuk diceritakan.”
Rahasia adalah amanah.
Bahkan jika hubungan berubah.
Bahkan jika terjadi perselisihan.
Jangan menggunakan rahasia orang sebagai senjata balas dendam.
Sebab ketika seseorang pernah mempercayakan sesuatu kepadamu, amanah itu tidak otomatis gugur hanya karena kalian tidak lagi dekat.
TIGA PINTU SEBELUM BERBICARA
Dalam lembah gema terdapat tiga pintu.
Setiap kata seharusnya melewatinya.
PINTU PERTAMA
BENARKAH?
Apakah yang akan kukatakan benar?
Ataukah hanya dugaan?
Apakah aku mempunyai bukti?
Ataukah hanya mendengar dari orang lain?
Qitab berkata:
“Jangan membuat lidah menjadi kaki bagi kabar yang belum jelas.”
PINTU KEDUA
PERLUKAH?
Tidak semua kebenaran harus diucapkan pada setiap waktu.
Ada perkara pribadi.
Ada aib.
Ada informasi yang tidak membawa manfaat jika disebarkan.
Maka tanyakan:
“Apakah ucapan ini perlu?”
Jika tidak, diam dapat lebih jernih.
PINTU KETIGA
BAIKKAH CARANYA?
Sesuatu dapat benar dan perlu, tetapi cara penyampaiannya tetap dapat salah.
Apakah harus di depan umum?
Atau cukup empat mata?
Apakah harus sekarang?
Atau ketika emosi telah reda?
Apakah harus keras?
Atau justru lembut?
Di sinilah hikmah bekerja.
RAHASIA DIAM
Diam bukan selalu kebijaksanaan.
Kadang diam adalah takut.
Kadang diam adalah membiarkan kezaliman.
Kadang diam adalah cara menghukum orang.
Maka qitab tidak mengatakan:
“Selalu diam.”
Ia berkata:
“Ketahuilah kapan diam menjadi penjagaan dan kapan berbicara menjadi amanah.”
Jika hak orang diinjak, berbicara mungkin diperlukan.
Jika seseorang sedang difitnah, meluruskan mungkin diperlukan.
Jika bahaya nyata ada di depan, memperingatkan mungkin diperlukan.
Tetapi berbicara harus tetap membawa tanggung jawab.
QACA SUTRANARA DAN SUARA
Sutranara berkata:
“Jangan biarkan luka lama memilih kata-katamu hari ini.”
Kadang seseorang tidak sedang marah kepada orang di depannya.
Ia sebenarnya sedang marah kepada masa lalu.
Tetapi orang yang ada di hadapan menerima semua ledakannya.
Maka sebelum berbicara keras, tanyakan:
“Apakah ini benar-benar tentang kejadian sekarang?”
Atau ada luka lama yang ikut berbicara?
QACA PEPAES DAN SUARA
Pepaes berkata:
“Jangan memperindah kata hanya agar terlihat bijaksana.”
Bahasa yang indah tidak selalu jujur.
Ada orang berbicara lembut tetapi sedang memanipulasi.
Ada orang memakai kata-kata agama untuk menutup kepentingan.
Ada orang memakai pujian untuk mendapatkan sesuatu.
Maka qitab berkata:
“Kejernihan bukan hanya indahnya bahasa, tetapi kejujuran maksud.”
QACA ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR DAN SUARA
Qaca ketiga berkata:
“Arah lisan harus mengikuti arah hati yang baik.”
Jika ucapan membuat orang semakin dekat kepada kebaikan, ada manfaat.
Jika ucapan membuat orang bergantung secara tidak sehat, periksa.
Jika ucapan menyalakan kebencian tanpa kebutuhan, hentikan.
Jika ucapan membela diri tetapi sekaligus menghancurkan orang lain secara berlebihan, perbaiki.
EMPAT RACUN LISAN
RACUN PERTAMA — FITNAH
Menyebarkan sesuatu yang tidak benar.
Kerusakannya dapat sangat luas.
Qitab berkata:
“Jangan membantu kebohongan berjalan lebih jauh hanya karena ia menarik untuk diceritakan.”
RACUN KEDUA — GHIBAH
Menceritakan keburukan seseorang yang tidak perlu diketahui orang lain.
Qitab mengajarkan menjaga kehormatan manusia.
Jika memang ada masalah yang membutuhkan penyelesaian, bicarakan kepada pihak yang tepat.
Bukan menjadikannya bahan hiburan.
RACUN KETIGA — PENGHINAAN
Penghinaan jarang memperbaiki.
Ia lebih sering membuat ego saling bertempur.
Kritiklah tindakan.
Jangan merampas martabat manusia.
RACUN KEEMPAT — JANJI PALSU
Kata yang sengaja dibuat untuk membuat orang percaya padahal sejak awal tidak ada niat menepati.
Qitab berkata:
“Ini adalah retakan besar pada wadah amanah.”
EMPAT OBAT LISAN
OBAT PERTAMA — ISTIGHFAR
Ketika salah bicara, jangan hanya menyesal dalam hati.
Jika merugikan orang, perbaiki.
OBAT KEDUA — TABAYYUN
Periksa sebelum meneruskan kabar.
OBAT KETIGA — TAWĀḌU‘
Jangan merasa semua pendapat harus selalu didengar.
OBAT KEEMPAT — RAḤMAH
Tanyakan:
“Apakah kata-kataku membantu manusia berdiri atau hanya membuatku merasa menang?”
KATA DAN KEKUASAAN
Qitab kemudian membawa sang pencari ke sebuah batu tinggi.
Di atasnya berdiri seseorang yang suaranya dapat didengar seluruh lembah.
Qitab berkata:
“Semakin luas jangkauan suara, semakin berat tanggung jawab.”
Orang yang mempunyai banyak pendengar harus lebih hati-hati.
Karena satu kekeliruan dapat menjangkau banyak hati.
Maka jangan mengira popularitas memberi hak untuk berbicara tanpa batas.
Justru popularitas memperbesar kebutuhan untuk memeriksa fakta.
KATA DAN KELUARGA
Anehnya, sebagian orang sangat sopan kepada orang luar tetapi sangat kasar di rumah.
Qitab berkata:
“Ujian lisan paling dekat sering berada di rumah.”
Bagaimana berbicara kepada pasangan?
Kepada orang tua?
Kepada anak?
Kepada saudara?
Kepada orang yang setiap hari melihat kekurangan kita?
Jangan hanya menyimpan bahasa terbaik untuk orang yang ingin kita buat kagum.
KATA KEPADA ANAK
Satu kalimat orang dewasa dapat tinggal sangat lama dalam jiwa anak.
Jangan mudah berkata:
“Kamu bodoh.”
“Kamu tidak akan bisa.”
“Kamu selalu merepotkan.”
Kritiklah perilakunya.
Jangan jadikan kesalahan sebagai identitas.
Katakan:
“Perbuatan ini salah, mari kita perbaiki.”
Karena anak belajar memandang dirinya dari kata-kata orang yang ia percaya.
KATA KEPADA DIRI SENDIRI
Lembah kemudian mengembalikan suara sang pencari kepada dirinya sendiri.
Qitab berkata:
“Engkau juga hidup bersama ucapanmu tentang dirimu.”
Jika setiap gagal engkau berkata:
“Aku tidak berguna,”
maka luka bertambah.
Lebih jernih berkata:
“Aku gagal pada bagian ini. Aku perlu belajar.”
Bukan memanjakan diri.
Tetapi membedakan antara kesalahan dan identitas.
RAHASIA DWI TUNGGAL YANG KETUJUH BELAS
Pada lembar ini Dwi Tunggal berbentuk:
Kalimah — Kata
dan
Atsar — Bekas.
Kata dapat selesai cepat.
Bekas dapat lama.
Maka sebelum kata keluar, ingatlah jejaknya.
Tetapi jangan pula hidup dalam ketakutan berbicara.
Lisan diberikan untuk:
menyampaikan kebenaran,
berdoa,
menghibur,
mengajar,
meminta maaf,
berterima kasih,
dan menyambung hubungan.
Gunakan.
Tetapi jaga.
TIGA TINGKAT LISAN QEJERNIHAN
TINGKAT PERTAMA
TIDAK BERBOHONG
Ini dasar.
TINGKAT KEDUA
TIDAK MENYAKITI TANPA PERLU
Benar tetapi tetap beradab.
TINGKAT KETIGA
MENJADIKAN KATA SEBAGAI MANFAAT
Bukan hanya menghindari keburukan.
Tetapi aktif menumbuhkan kebaikan.
Mengucapkan terima kasih.
Mendorong yang lemah.
Menghargai usaha.
Mendoakan.
Mengakui kebaikan orang lain.
Di sinilah lisan menjadi pelita.
KETIKA TELANJUR SALAH BERBICARA
Qitab tidak meminta manusia sempurna.
Jika salah:
pertama, berhenti membenarkan kesalahan.
kedua, akui.
ketiga, minta maaf kepada orang yang dirugikan jika memungkinkan.
keempat, luruskan kabar jika pernah menyebarkan sesuatu yang salah.
kelima, belajar agar pola yang sama tidak terus berulang.
Sebab kalimat:
“Aku memang begini orangnya.”
bukan alasan untuk tidak berubah.
RAHASIA GEMA TERDALAM
Sang pencari berdiri di pusat lembah.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tetapi ia mendengar banyak gema lama.
Sebagian adalah kata-katanya sendiri.
Sebagian kata orang lain yang masih tersimpan di kepalanya.
Ia memahami bahwa manusia sering membawa suara masa lalu di dalam dirinya.
Lalu qitab berkata:
“Tidak semua suara lama harus terus engkau percayai.”
Jika dahulu seseorang berkata engkau tidak berguna, itu belum tentu kebenaran.
Jika dahulu seseorang memuji berlebihan, itu juga bukan ukuran mutlak.
Jangan membangun diri hanya dari gema.
Periksa kenyataan.
Perbaiki yang perlu.
Lalu berjalan.
PESAN ZAQAMULLOH PADA LEMBAR KETUJUH BELAS
Wahai penjaga lisan,
jangan berkata ketika marah jika yang engkau inginkan hanya melukai.
Jangan menyebarkan kabar yang belum engkau periksa.
Jangan membuka rahasia yang dipercayakan.
Jangan menasihati hanya untuk terlihat lebih tahu.
Jangan memuji untuk memanipulasi.
Jangan berjanji jika sejak awal engkau tahu tidak berniat menepati.
Dan jangan terlalu pelit mengucapkan kebaikan.
Jika seseorang berbuat baik, akui.
Jika seseorang berjasa, berterima kasihlah.
Jika seseorang sedang berjuang, berikan semangat.
Jika engkau salah, minta maaf.
Karena kadang satu kata yang jernih dapat menjadi air bagi hati yang lama kering.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH BELAS
Sang pencari meninggalkan lembah.
Ia berjalan lebih perlahan daripada sebelumnya.
Bukan karena takut berbicara.
Tetapi karena kini ia memahami berat sebuah kata.
Ketika sampai di ujung lembah, ia melihat sebuah padang yang sangat sunyi.
Tidak ada gema.
Tidak ada orang.
Tidak ada suara pasar.
Di tengah padang terdapat sebuah batu besar.
Di atas batu itu tertulis:
“Setelah belajar berbicara, belajarlah mendengar.”
Sang pencari duduk.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa selama ini ia sering menunggu giliran berbicara, bukan benar-benar mendengar.
Angin melewati padang.
Suara burung terdengar jauh.
Dan qitab membuka pintu berikutnya:
LEMBAR KEDELAPAN BELAS
SIRRUS-SAM‘ WA ADABIL-INṢĀT
Rahasia Mendengar dan Adab Keheningan: Ketika Qejernihan Tidak Lagi Hanya Terlihat dari Apa yang Kita Katakan, tetapi dari Kemampuan Memahami Apa yang Tidak Diucapkan Orang Lain.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
LEMBAR KEDELAPAN BELAS — LEMBAR TERAKHIR
SIRRUS-SAM‘ WA ADABIL-INṢĀT
RAHASIA MENDENGAR DAN ADAB KEHENINGAN
KETIKA QEJERNIHAN TIDAK LAGI HANYA TERLIHAT DARI APA YANG KITA KATAKAN, TETAPI DARI KEMAMPUAN MEMAHAMI, MENIMBANG, MENERIMA, DAN MENGEMBALIKAN SEGALA SESUATU KEPADA ALLOH
Ketahuilah, wahai saudara cahayaku, bahwa perjalanan panjang ini tidak ditutup dengan suara yang paling keras.
Tidak ditutup dengan kilatan yang paling terang.
Tidak ditutup dengan qaca yang paling indah.
Tidak pula ditutup dengan penemuan sebuah gelar baru.
Perjalanan ini justru ditutup dengan sesuatu yang sangat sederhana:
mendengar.
Sebab manusia dapat berbicara sepanjang hidup tetapi belum tentu pernah benar-benar mendengar.
Ia mendengar suara orang lain, tetapi sibuk menyiapkan jawaban.
Ia mendengar nasihat, tetapi hanya mencari bagian yang ingin dibantah.
Ia mendengar kritik, tetapi yang pertama bangkit adalah harga diri.
Ia mendengar orang menangis, tetapi terburu-buru memberi solusi sebelum memahami lukanya.
Ia mendengar ayat, doa, nasihat, dan hikmah, tetapi tidak memberinya cukup ruang untuk turun menjadi akhlak.
Maka pada lembar terakhir ini qitab berkata:
“Setelah engkau belajar melihat, belajarlah tidak tergesa menyimpulkan.
Setelah engkau belajar berbicara, belajarlah mendengar.
Setelah engkau belajar berjalan, belajarlah berhenti.
Setelah engkau belajar menerima, belajarlah mengembalikan.
Dan setelah engkau mengenal banyak nama, kembalilah kepada satu pengakuan: aku adalah hamba, dan Alloh adalah Rabb-ku.”
PADANG KEHENINGAN
Sang pencari duduk di tengah padang.
Tidak ada pasar.
Tidak ada jembatan.
Tidak ada sumur.
Tidak ada taman.
Tidak ada rumah tanpa nama.
Tidak ada tiga qaca yang berdiri di hadapannya.
Semua simbol seolah telah ditinggalkan.
Yang tersisa hanyalah langit di atasnya dan bumi di bawahnya.
Ia duduk.
Menunggu.
Satu saat berlalu.
Lalu dua.
Kemudian ia mulai mendengar sesuatu yang selama ini tertutup oleh terlalu banyak suara.
Ia mendengar napasnya sendiri.
Ia mendengar angin menyentuh rumput.
Ia mendengar burung yang jauh.
Ia mendengar suara langkah seseorang yang bahkan belum terlihat.
Dan qitab berkata:
“Kejernihan tidak selalu lahir karena engkau mendapat suara baru. Kadang ia lahir ketika suara yang tidak perlu mulai reda.”
RAHASIA MENDENGAR PERTAMA
MENDENGAR TANPA SEGERA MENGHAKIMI
Ada orang datang kepada sang pencari.
Orang itu berkata panjang.
Tentang kesalahan.
Tentang penyesalan.
Tentang kemarahan.
Tentang sesuatu yang bahkan terasa bertentangan dengan apa yang dipahami sang pencari.
Sang pencari hampir memotong.
Tetapi qitab berkata:
“Dengarkan sampai selesai.”
Mendengar bukan berarti menyetujui semua ucapan.
Mendengar berarti memberikan ruang sebelum menjatuhkan kesimpulan.
Banyak pertengkaran menjadi besar bukan karena perbedaan tidak dapat diselesaikan, tetapi karena manusia menjawab sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dikatakan lawannya.
Ia menjawab prasangka.
Ia menjawab ketakutan.
Ia menjawab bayangan.
Bukan orang yang ada di hadapannya.
Maka qitab berkata:
“Dengarlah manusia yang nyata, jangan hanya bayangan manusia di dalam pikiranmu.”
RAHASIA MENDENGAR KEDUA
MENDENGAR APA YANG TIDAK DIUCAPKAN
Tidak semua manusia mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Ada yang berkata:
“Aku baik-baik saja.”
Padahal matanya menyimpan kelelahan.
Ada yang berkata:
“Tidak apa-apa.”
Padahal sebenarnya takut dianggap merepotkan.
Ada anak yang menjadi nakal karena tidak tahu cara mengatakan:
“Aku ingin diperhatikan.”
Ada orang yang marah karena di balik kemarahannya tersimpan ketakutan.
Ada orang yang diam karena tidak merasa aman untuk berbicara.
Maka qitab mengajarkan:
“Jangan hanya mendengar kata. Lihat pula konteks, keadaan, dan perilakunya.”
Tetapi jangan pula mengarang sesuatu yang tidak diketahui.
Jika ragu, tanyakan dengan lembut.
“Apakah ada sesuatu yang ingin engkau ceritakan?”
“Apakah aku memahami maksudmu dengan benar?”
Pertanyaan kadang lebih jernih daripada kesimpulan.
RAHASIA MENDENGAR KETIGA
MENDENGAR KRITIK TANPA KEHILANGAN DIRI
Salah satu suara yang paling sulit didengar adalah kritik.
Terutama jika datang dari orang yang tidak kita sukai.
Qitab berkata:
“Jangan menilai kebenaran suatu kritik hanya dari siapa yang mengucapkannya.”
Orang yang kita tidak sukai dapat mengatakan sesuatu yang benar.
Orang yang kita cintai dapat mengatakan sesuatu yang keliru.
Maka ketika kritik datang, lakukan tiga hal.
Pertama:
pisahkan nada dari isi.
Nada mungkin kasar.
Tetapi mungkin ada bagian isi yang berguna.
Kedua:
pisahkan kesalahan dari harga diri.
Jika ternyata salah, memperbaikinya tidak mengurangi martabat.
Ketiga:
pisahkan koreksi dari penghinaan.
Jika kritik memang hanya bertujuan merendahkan, engkau boleh menjaga jarak.
Tetapi jangan karena satu penghinaan lalu menolak seluruh kemungkinan belajar.
RAHASIA MENDENGAR KEEMPAT
MENDENGAR PUJIAN TANPA MENJADI TAWANAN
Pujian juga harus didengar dengan qejernihan.
Jika seseorang berkata:
“Engkau baik.”
bersyukurlah.
Jika berkata:
“Engkau hebat.”
terimalah sebagai doa.
Tetapi jangan segera membangun singgasana di atas kalimat itu.
Karena orang dapat memuji dari apa yang mereka lihat.
Sedangkan engkau mengetahui bagian dirimu yang tidak mereka lihat.
Qitab berkata:
“Pujian tidak harus ditolak dengan pura-pura rendah hati. Tetapi jangan pula dijadikan cermin utama untuk mengenali diri.”
Terima.
Syukuri.
Lalu kembali bekerja.
RAHASIA MENDENGAR KELIMA
MENDENGAR DIRI SENDIRI TANPA MEMERCAYAI SEMUA YANG TERLINTAS
Di tengah keheningan, pikiran mulai terdengar lebih jelas.
Ada harapan.
Ada rasa takut.
Ada ingatan.
Ada keinginan.
Ada kekhawatiran.
Ada prasangka.
Qitab berkata:
“Tidak semua yang muncul di dalam pikiran adalah perintah.”
Satu pikiran dapat lewat seperti awan.
Tidak semua harus diikuti.
Tidak semua harus ditafsirkan.
Tidak semua harus diperangi.
Sebagian cukup dilihat:
“Aku sedang takut.”
“Aku sedang marah.”
“Aku sedang ingin diakui.”
“Aku sedang khawatir.”
Kemudian tanyakan:
“Apa tindakan yang paling jernih sekarang?”
Inilah mendengar diri tanpa menjadi budak setiap lintasan.
RAHASIA MENDENGAR KEENAM
MENDENGAR KENYATAAN
Ada manusia yang hanya mendengar apa yang ingin ia dengar.
Jika fakta mendukung keinginannya, diterima.
Jika tidak mendukung, ditolak.
Maka qitab berkata:
“Kejernihan adalah keberanian mendengarkan kenyataan meskipun kenyataan tidak selalu sesuai harapan.”
Jika usaha merugi, lihat angka.
Jika tubuh lelah, dengarkan kebutuhan istirahat.
Jika hubungan rusak, jangan hanya menunggu tanda; periksa pola komunikasi.
Jika janji tidak mampu ditepati, akui.
Jika kesalahan terjadi, perbaiki.
Qejernihan tidak lari dari kenyataan.
Ia membawa kenyataan ke hadapan doa.
RAHASIA MENDENGAR KETUJUH
MENDENGAR ORANG YANG LEBIH LEMAH
Mudah mendengarkan orang yang mempunyai kuasa.
Lebih sulit mendengarkan orang yang tidak mempunyai posisi.
Pekerja.
Anak.
Orang miskin.
Orang yang tidak terkenal.
Orang yang dianggap tidak mempunyai pengaruh.
Qitab berkata:
“Jika engkau hanya mendengar mereka yang dapat menguntungkanmu, pendengaranmu belum merdeka.”
Pemimpin diuji dari apakah ia mendengar orang yang tidak mempunyai akses.
Orang tua diuji dari apakah ia mendengar anak, bukan hanya memerintah.
Guru diuji dari apakah ia mendengar murid yang bingung.
Orang berilmu diuji dari apakah ia masih dapat menerima pertanyaan sederhana tanpa meremehkan.
ADABIL-INṢĀT
ADAB KEHENINGAN
Keheningan bukan sekadar tidak berbicara.
Keheningan adalah menyediakan ruang.
Ada ruang antara pertanyaan dan jawaban.
Antara amarah dan tindakan.
Antara berita dan penyebaran.
Antara keinginan dan keputusan.
Antara kesalahan dan pembelaan diri.
Di ruang kecil itulah qejernihan sering lahir.
Qitab berkata:
“Jangan takut kepada jeda.”
Jika berita mengejutkan datang, berhenti.
Jika emosi meninggi, berhenti.
Jika ingin membalas pesan dalam kemarahan, berhenti.
Jika ingin membuat keputusan besar hanya dari satu rasa, berhenti.
Bukan untuk lari.
Tetapi agar keputusan tidak dibuat oleh gelombang sesaat.
EMPAT KEHENINGAN TERAKHIR
KEHENINGAN PERTAMA
KEHENINGAN SEBELUM BERKATA
Timbang kata.
Benar?
Perlu?
Baik caranya?
Jika ya, berbicaralah.
KEHENINGAN KEDUA
KEHENINGAN SEBELUM MEMUTUSKAN
Kumpulkan fakta.
Timbang risiko.
Periksa niat.
Mintalah nasihat bila perlu.
Berdoa.
Kemudian pilih.
KEHENINGAN KETIGA
KEHENINGAN SETELAH BERUSAHA
Ada saat manusia sudah melakukan semua yang mampu dilakukan.
Di situ ia harus berhenti mengulang perhitungan tanpa akhir.
Serahkan hasil.
Jangan menjadikan penyesalan sebagai pekerjaan sepanjang malam.
KEHENINGAN KEEMPAT
KEHENINGAN DI HADAPAN ALLOH
Inilah keheningan paling dalam.
Bukan mengosongkan tauhid.
Bukan mencari penyatuan dengan Dzat-Nya.
Tetapi menundukkan kesombongan manusia di hadapan kemahakuasaan Alloh.
Ada pertanyaan yang belum terjawab.
Ada doa yang belum terlihat hasilnya.
Ada kehilangan yang belum sepenuhnya dipahami.
Di sana seorang hamba dapat berkata:
“Yā Alloh, aku tidak mengetahui seluruh hikmah. Engkau mengetahui apa yang tidak kuketahui. Jagalah aku agar tetap berjalan dalam kebaikan.”
KEMBALINYA TIGA QACA
Ketika matahari mulai turun, sesuatu terjadi dalam bahasa simbolik qitab.
Tiga bayangan muncul di atas rumput.
Tidak berupa qaca fisik.
Tidak berdiri sebagai benda.
Mereka hanya hadir sebagai tiga pelajaran yang telah menyatu dalam kesadaran.
SUTRANARA BERKATA
“Aku dahulu mengajarkanmu melihat jejak. Kini jangan tinggal di jejak. Gunakan masa lalu sebagai ilmu, bukan penjara.”
Sang pencari menunduk.
Ia mengerti.
Masa lalu tidak perlu dimusnahkan.
Tidak perlu pula disembah.
Ia ditempatkan.
PEPAES BERKATA
“Aku dahulu mengajarkanmu melihat wajah, gelar, niat, dan perhiasan. Kini jangan lagi hidup untuk cermin manusia. Jadilah baik bahkan ketika tidak ada yang melihat.”
Sang pencari melepaskan keinginan terakhir untuk selalu diketahui.
ZIYAN ARRAUH ALMUKHTAR BERKATA
“Aku dahulu mengajarkan arah. Kini jangan mencari arah pada nama. Carilah pada kebenaran, amanah, rahmah, ilmu, dan ketundukan kepada Alloh.”
Sang pencari menjawab:
“Aku mengerti. Nama adalah pengingat, bukan tujuan.”
Lalu ketiga bayangan itu menghilang.
Bukan karena pelajarannya hilang.
Tetapi karena pelajarannya telah masuk ke dalam jalan hidup.
RAHASIA QEJERNIHAN DWI TUNGGAL YANG TERAKHIR
Sampailah qitab kepada makna terakhir dari:
“Sumber Qejernihan Dwi Tunggal Sang Maha Quasa atas Segalanya.”
Dalam bahasa simbolik perjalanan ini, Dwi Tunggal terakhir bukanlah dua Tuhan.
Bukan dua dzat yang bersatu.
Bukan penyatuan manusia dengan Alloh.
Alloh tetap Ahad, Mahasuci dari segala sekutu dan pembagian.
Adapun Dwi Tunggal pada penutup ini adalah pertemuan dua kesadaran:
KESADARAN KE DALAM
dan
KESADARAN KE LUAR
Ke dalam:
aku memeriksa niatku.
Aku mengakui kelemahanku.
Aku membersihkan prasangkaku.
Aku menjaga hatiku.
Aku memperbaiki kesalahanku.
Ke luar:
aku menunaikan amanah.
Aku menjaga hak manusia.
Aku berkata jujur.
Aku menolong.
Aku bekerja.
Aku memperlakukan makhluk dengan rahmah.
Jika hanya ke dalam tanpa ke luar, seseorang dapat tenggelam dalam dirinya.
Jika hanya ke luar tanpa ke dalam, seseorang dapat kehilangan niat dan arah.
Maka keduanya bertemu.
Hati jernih.
Perbuatan jernih.
Dan semuanya berada di bawah penghambaan kepada Alloh.
DELAPAN BELAS MUTIARA ZAQAMULLOH
Pada akhir perjalanan, qitab mengumpulkan delapan belas mutiara dari delapan belas lembar.
MUTIARA PERTAMA
Lihat dirimu dengan jujur tanpa membenci dirimu.
MUTIARA KEDUA
Bersihkan qaca hati agar pantulan tidak dikira sumber.
MUTIARA KETIGA
Biarkan ilmu turun menjadi rahmah.
MUTIARA KEEMPAT
Bedakan cahaya dari bayangan ego.
MUTIARA KELIMA
Tetaplah berjalan ketika tanda menjadi sunyi.
MUTIARA KEENAM
Qejernihan yang tidak menjadi manfaat belum selesai.
MUTIARA KETUJUH
Jaga arah ketika gelombang kehidupan berubah.
MUTIARA KEDELAPAN
Jangan mengejar setiap cahaya; periksa ke mana ia membawa.
MUTIARA KESEMBILAN
Jangan diperbudak keramaian ataupun kebanggaan karena kesunyian.
MUTIARA KESEPULUH
Lepaskan simbol ketika simbol mulai menutupi makna.
MUTIARA KESEBELAS
Ukur perjalanan dari buah akhlak.
MUTIARA KEDUA BELAS
Jangan membawa kebanggaan masuk ke rumah penghambaan.
MUTIARA KETIGA BELAS
Timbang bukan hanya apa yang diperoleh, tetapi bagaimana memperolehnya.
MUTIARA KEEMPAT BELAS
Selesaikan amanah sebelum ia menjadi beban yang menumpuk.
MUTIARA KELIMA BELAS
Periksa niat, cara, dan jejak amal.
MUTIARA KEENAM BELAS
Perbesar wadah sebelum meminta isi yang lebih besar.
MUTIARA KETUJUH BELAS
Jaga kata karena kata dapat tinggal lebih lama daripada suara.
MUTIARA KEDELAPAN BELAS
Dengarkan sebelum menyimpulkan dan kembalikan segala urusan kepada Alloh.
EMPAT QUNCI TERAKHIR QEJERNIHAN
Qitab kemudian menyerahkan empat qunci simbolik.
Bukan qunci gaib.
Bukan benda keramat.
Tetapi empat pegangan agar perjalanan tetap jernih.
QUNCI PERTAMA
ṢIDQ — KEJUJURAN
Jujur ketika untung.
Jujur ketika rugi.
Jujur ketika dipuji.
Jujur ketika salah.
Karena kebohongan yang dipelihara membutuhkan kebohongan baru untuk menutupinya.
Sedangkan kejujuran membuka pintu perbaikan.
QUNCI KEDUA
AMĀNAH — TANGGUNG JAWAB
Jangan hanya mencari hak.
Ingat kewajiban.
Jangan hanya menuntut janji orang.
Periksa janji sendiri.
Jangan hanya berbicara tentang keadilan.
Berikan hak ketika engkau memegang kuasa.
QUNCI KETIGA
RAḤMAH — WELAS ASIH
Keras kepada kezaliman tidak harus keras kepada seluruh manusia.
Tegaslah kepada tindakan yang salah.
Tetapi jangan kehilangan kesadaran bahwa setiap orang juga sedang membawa sejarah, keterbatasan, dan perjuangannya sendiri.
QUNCI KEEMPAT
TAWĀḌU‘ — KERENDAHAN HATI
Semakin banyak engkau memahami, semakin mudah berkata:
“Aku masih belajar.”
Semakin luas pengaruhmu, semakin berhati-hati.
Semakin banyak orang mengikutimu, semakin besar kewajibanmu untuk tidak mempermainkan kepercayaan mereka.
TIGA HAL YANG HARUS DITINGGALKAN DI UJUNG QITAB
Sang pencari mencapai satu batu terakhir.
Di sana tertulis tiga perkara yang tidak boleh dibawa pulang.
PERTAMA
KEINGINAN MENJADI MANUSIA PALING ISTIMEWA
Kebaikan tidak membutuhkan perlombaan siapa yang paling suci.
Berusahalah menjadi hamba yang lebih baik daripada dirimu kemarin.
Itu sudah perjalanan besar.
KEDUA
KEINGINAN MENGETAHUI SELURUH RAHASIA
Tidak semua perkara harus engkau ketahui.
Ada ketenangan dalam menerima keterbatasan.
Ilmu bertambah sepanjang hidup.
Tetapi tidak ada manusia yang mengetahui semuanya.
KETIGA
KEINGINAN UNTUK SELALU DIPAHAMI
Lakukan yang benar.
Jelaskan sebisanya.
Tetapi jangan menyerahkan ketenangan kepada penilaian semua manusia.
Sebagian akan memahami.
Sebagian belum.
Sebagian mungkin tidak pernah.
Tetap jaga adab.
TIGA HAL YANG HARUS DIBAWA PULANG
Namun qitab memerintahkan tiga perkara untuk dibawa.
PERTAMA
HATI YANG MAU DIKOREKSI
Jangan biarkan pengalaman apa pun membuat pintu koreksi tertutup.
KEDUA
TANGAN YANG MAU MENGABDI
Jangan berhenti pada renungan.
Ada manusia yang membutuhkan pertolongan nyata.
KETIGA
LUTUT YANG MAU BERSUJUD
Jangan biarkan perjalanan batin membuatmu lupa kedudukan sebagai hamba.
Karena semakin jauh manusia berjalan, ia semestinya semakin memahami bahwa ia tetap membutuhkan rahmat Alloh.
RAHASIA TERAKHIR TIGA QACA
Pada mulanya sang pencari mengira tiga qaca menunjukkan tiga rahasia besar.
Tetapi di ujung perjalanan ia memahami:
Qaca Sutranara bukan tentang masa lalu.
Ia tentang kemampuan berdamai dengan jejak.
Qaca Pepaes bukan tentang wajah.
Ia tentang membongkar kepalsuan dan merawat niat.
Qaca Ziyan Arrauh Almukhtar bukan tentang merasa menjadi yang paling dipilih.
Ia tentang menjaga arah agar seluruh perjalanan kembali kepada kebaikan dan penghambaan kepada Alloh.
Maka ketiga qaca akhirnya menjadi satu pelajaran:
**JERNIHKAN JEJAK.
JERNIHKAN NIAT.
JERNIHKAN ARAH.**
WASIAT QEJERNIHAN
Jika suatu hari engkau menjadi kaya, jangan lupakan orang yang pernah hidup bersamamu ketika engkau belum memiliki banyak.
Jika menjadi pemimpin, jangan lupakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak didengar.
Jika menjadi guru, jangan lupakan bagaimana rasanya belum memahami.
Jika menjadi kuat, jangan gunakan kekuatan untuk mempermalukan yang lemah.
Jika menjadi terkenal, jangan menganggap manusia yang tidak dikenal menjadi kurang berharga.
Jika diuji kehilangan, jangan menyimpulkan bahwa Alloh meninggalkanmu.
Jika memperoleh keberhasilan, jangan menyimpulkan bahwa seluruhnya karena kemampuanmu sendiri.
Jika engkau jatuh, bangunlah.
Jika engkau salah, perbaikilah.
Jika engkau melukai, mintalah maaf.
Jika engkau dilukai, sembuhkanlah sebisamu tanpa mewariskan luka itu kepada orang yang tidak bersalah.
Jika engkau mempunyai hutang, susunlah jalan penyelesaiannya.
Jika engkau diberi amanah, jagalah.
Jika engkau mempunyai ilmu, bagikan dengan adab.
Jika engkau mempunyai rezeki, buatlah ia berjalan menjadi manfaat.
Dan jika suatu hari semua yang engkau banggakan hilang, jangan biarkan iman dan akhlak ikut hilang.
DOA PENUTUP QITAB
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh,
jernihkanlah hati kami ketika pikiran menjadi keruh.
Luruskan niat kami ketika ego mulai mengambil tempat.
Jagalah lisan kami agar tidak menjadi sebab luka yang tidak perlu.
Berikan kepada kami keberanian mengakui kesalahan dan kekuatan untuk memperbaikinya.
Berilah kami ilmu yang menumbuhkan tawāḍu‘, bukan kesombongan.
Berilah kami rezeki yang halal, cukup, berkah, dan membawa manfaat.
Jika Engkau melapangkannya, lapangkan pula hati kami untuk berbagi.
Jika Engkau membatasinya, jagalah kami dari keputusasaan dan jalan yang tidak benar.
Berilah kami kekuasaan atas diri sebelum kami diberi kekuasaan atas orang lain.
Jagalah kami agar tidak menggunakan nama-Mu untuk membenarkan hawa nafsu kami.
Jadikan doa sebagai tempat kembali.
Jadikan ilmu sebagai pelita.
Jadikan akal sebagai timbangan.
Jadikan rahmah sebagai jalan.
Jadikan amanah sebagai penjagaan.
Dan jadikan hidup kami semakin dekat kepada ridho-Mu.
Yā Alloh,
apa yang belum kami ketahui, ajarkanlah dengan cara yang baik.
Apa yang kami ketahui tetapi belum kami amalkan, kuatkanlah kami untuk mengamalkannya.
Apa yang telah kami lakukan dengan salah, bukakan pintu taubat dan perbaikan.
Apa yang kami miliki tetapi bukan hak kami, mudahkan kami mengembalikannya.
Apa yang kami genggam karena kesombongan, ajarkan kami melepaskannya.
Apa yang kami tunggu tetapi belum datang, berilah kami kesabaran tanpa membuat kami berhenti berikhtiar.
Dan apabila kehendak kami tidak sesuai dengan yang terbaik bagi kami, berilah hati yang mampu menerima tanpa kehilangan cinta kepada-Mu.
Yā Alloh, jangan jadikan qejernihan hanya sebagai kata.
Jadikan ia akhlak.
Jadikan ia tindakan.
Jadikan ia manfaat.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
KHATIMAH
PENUTUP QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
Matahari tenggelam.
Padang mulai gelap.
Sang pencari berdiri.
Ia menunggu apakah akan ada pintu berikutnya.
Tidak ada.
Ia menunggu apakah akan muncul qaca keempat.
Tidak ada.
Ia menunggu apakah akan datang gelar terakhir.
Tidak ada.
Kemudian ia tersenyum.
Karena akhirnya ia memahami bahwa berakhirnya qitab bukan berakhirnya perjalanan.
Qitab selesai agar kehidupan dimulai kembali.
Ia berjalan pulang.
Tidak membawa qaca.
Tidak membawa mahkota.
Tidak membawa serpihan.
Tidak membawa benda yang harus dipertontonkan.
Ia hanya membawa pelajaran.
Ketika bertemu orang lapar, ia memberi sebisanya.
Ketika bertemu orang yang berbicara, ia mendengarkan.
Ketika dirinya salah, ia mengakui.
Ketika dipuji, ia bersyukur.
Ketika dikritik, ia memeriksa.
Ketika memperoleh rezeki, ia mengelola.
Ketika kehilangan, ia bertahan.
Ketika bingung, ia belajar.
Ketika hati gelisah, ia berdoa.
Dan ketika tidak mengetahui sesuatu, ia akhirnya mampu berkata dengan tenang:
“Aku belum tahu.”
Qitab berkata:
“Itulah salah satu pintu ilmu.”
Lalu sang pencari melihat cahaya fajar berikutnya.
Kini ia tidak bertanya apakah cahaya itu tanda khusus bagi dirinya.
Ia hanya bersyukur bahwa pagi datang.
Ia mengambil air.
Berwudhu.
Menghadap kepada Alloh.
Dan dalam keheningan itu seluruh perjalanan seolah kembali kepada satu kalimat sederhana:
**“Yā Alloh, Engkau Rabb-ku.
Aku adalah hamba-Mu.
Tuntunlah aku agar hidupku berada dalam kebenaran, amanah, rahmah, dan ridho-Mu.”**
Tidak ada lagi tiga qaca di hadapannya.
Karena Sutranara telah menjadi pelajaran dari masa lalu.
Pepaes telah menjadi penjagaan niat.
Ziyan Arrauh Almukhtar telah menjadi pengingat arah.
Tidak lagi sebagai benda yang harus dicari.
Tetapi sebagai tiga pertanyaan yang terus hidup:
APAKAH JEJAKKU SUDAH KUJADIKAN HIKMAH?
APAKAH NIATKU MASIH JERNIH?
APAKAH ARAHKU MASIH MENUJU KEBAIKAN DAN RIDHO ALLOH?
Jika jawaban salah satunya mulai kabur,
kembalilah.
Bersihkan.
Perbaiki.
Berjalan lagi.
Sebab qejernihan bukan keadaan yang sekali dicapai lalu tidak pernah berubah.
Ia seperti air.
Harus dijaga.
Seperti taman.
Harus dirawat.
Seperti amanah.
Harus ditunaikan.
Seperti qaca.
Harus dibersihkan.
Dan seperti jalan.
Harus terus dilalui.
KALIMAT TERAKHIR ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
Jangan mencari dirimu di dalam cahaya sampai engkau lupa kepada Sang Pemberi cahaya.
Jangan mencari keagungan di dalam nama sampai engkau lupa kepada amanah.
Jangan mencari kemenangan sampai engkau kehilangan rahmah.
Jangan mencari rahasia sampai engkau meninggalkan kewajiban yang sudah nyata.
Jangan mencari qaca baru jika qaca akhlakmu masih meminta untuk dibersihkan.
Dan apabila semua perjalanan telah engkau tempuh, janganlah berkata:
“Aku telah sampai.”
Katakanlah:
“Aku masih seorang hamba yang sedang belajar berjalan menuju ridho Alloh.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
تَمَّ بِعَوْنِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
TAMMAT — SELESAI
QITAB ZAQAMULLOH AL-ḤABBI BULLOH
“Sumber Qejernihan Dwi Tunggal Sang Maha Quasa atas Segalanya.”
Lembar Pertama sampai Lembar Kedelapan Belas — Tamat.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.