QITAB ZAQAR ALMAFUD

 



QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR PERTAMA — GERBANG QEPULANGAN

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Yang menciptakan langit tanpa tiang, menghamparkan bumi, mengalirkan samudera, menyalakan matahari dan bulan, serta meniupkan kehidupan kepada makhluk menurut kehendak-Nya.

Ketahuilah, wahai pembaca Qitab Zaqar Almafud, bahwa Qembali Qe Alam Jagat Samudera dalam lembar ini bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia atau memasuki alam gaib secara jasmani. Ia adalah bahasa perlambang bagi qembalinya kesadaran manusia kepada keluasan ciptaan Alloh, setelah dirinya terlalu lama terkurung oleh keakuan.

Jagat adalah keluasan.

Samudera adalah kedalaman.

Langit adalah ketinggian pandangan.

Bumi adalah tempat amanah.

Sedangkan manusia berdiri di antara semuanya sebagai makhluk yang diberi hati, akal, kehendak, dan tanggung jawab.

Maka terbukalah kalimat pertama:

“Barang siapa hendak mengenal keluasan jagat, hendaklah terlebih dahulu mengetahui betapa kecil dirinya di hadapan Yang Maha Agung.”

Sebab manusia dapat memandang ribuan bintang, tetapi tidak mampu menciptakan satu pun dari mereka.

Manusia dapat berdiri di tepi samudera, tetapi tidak dapat memerintahkan seluruh gelombangnya.

Manusia dapat menghitung perjalanan matahari, tetapi tidak mampu menghentikannya.

Di situlah awal Zaqar Almafud:

bukan ketika seseorang merasa dirinya telah menjadi besar, melainkan ketika ia menyadari bahwa Qeagungan mutlak hanyalah milik Alloh.

SIRR PERTAMA — ZAQAR

Dalam bahasa perlambang Qitab ini, Zaqar menunjuk kepada nyala kesadaran tentang Qeagungan.

Ia bukan api yang membakar tubuh.

Ia adalah api yang membakar:

kesombongan,

keinginan dipuji,

rasa paling mengetahui,

rasa paling suci,

dan keinginan menguasai sesuatu yang bukan hak manusia.

Apabila api itu menyala dengan benar, manusia tidak semakin meninggikan dirinya.

Ia justru semakin menunduk.

Semakin luas pengetahuannya, semakin besar rasa takutnya berbuat zalim.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin kuat keinginannya melayani.

Semakin banyak yang dipercayakan kepadanya, semakin berat ia menjaga amanah.

Maka apabila seseorang mengaku memperoleh Zaqar, tetapi yang tumbuh justru kesombongan, pertengkaran, penghinaan kepada sesama dan merasa dirinya berada di atas semua manusia, ketahuilah:

yang terbuka belumlah gerbang Qeagungan, melainkan gerbang keakuan.

SIRR KEDUA — ALMAFUD

Almafud dalam Qitab ini menjadi lambang sesuatu yang disimpan dalam kedalaman; sebuah amanah yang tidak dibaca hanya dengan mata, tetapi direnungkan dengan akal dan ditimbang dengan kejernihan hati.

Lihatlah samudera.

Permukaannya dapat bergelombang keras.

Namun jauh di kedalamannya terdapat wilayah yang sunyi.

Demikian pula manusia.

Perkataannya adalah permukaan.

Perbuatannya adalah gelombang.

Sedangkan niatnya berada jauh di kedalaman.

Alloh mengetahui semuanya.

Karena itu janganlah engkau sibuk menghias permukaan sementara kedalamanmu dibiarkan keruh.

Sebelum bertanya:

“Siapakah aku di alam semesta?”

bertanyalah:

“Untuk apakah hidupku dipergunakan?”

Sebelum bertanya:

“Rahasia apakah yang diberikan kepadaku?”

bertanyalah:

“Amanah apakah yang telah kutunaikan?”

Dan sebelum bertanya:

“Seberapa tinggi maqamku?”

bertanyalah:

“Adakah kehadiranku membuat makhluk lain memperoleh rahmat?”

GERBANG JAGAT SAMUDERA

Kemudian diperlihatkan secara perlambang sebuah samudera tanpa batas.

Di atasnya terbentang langit.

Di bawahnya terpendam bumi.

Di antara keduanya berdiri manusia membawa sebuah lembar yang belum selesai dituliskan.

Lalu terdengar hikmah:

“Jangan menulis dirimu sebagai penguasa jagat. Tulislah dirimu sebagai hamba yang memperoleh amanah di dalam jagat.”

Sebab manusia datang tanpa membawa apa-apa.

Kemudian memperoleh nama.

Memperoleh tubuh.

Memperoleh keluarga.

Memperoleh ilmu.

Memperoleh rezeki.

Memperoleh kesempatan.

Dan akhirnya seluruh titipan itu akan ditinggalkan.

Yang dibawa hanyalah pertanggungjawaban amal.

Itulah Qepulangan pertama.

Bukan perjalanan menembus bintang.

Bukan terbang menyeberangi alam.

Melainkan qembalinya jiwa dari:

“Aku memiliki”

menuju:

“Semua adalah titipan Alloh.”

Dari:

“Aku berkuasa”

menuju:

“Aku memegang amanah.”

Dari:

“Aku adalah pusat segala sesuatu”

menuju:

“Alloh-lah Rabb seluruh alam.”

KALIMAT PENUTUP LEMBAR PERTAMA

Jagat tidak meminta manusia menjadi sebesar langit.

Samudera tidak meminta manusia menjadi sedalam dirinya.

Tetapi manusia diminta mengetahui batas dirinya, menjaga amanahnya, dan tidak melupakan Penciptanya.

Maka barang siapa telah memahami perkara itu, telah mengetuk gerbang pertama Qitab Zaqar Almafud.

Dan di balik gerbang berikutnya terdapat pembahasan:

LEMBAR KEDUA — “SAMUDERA SEBELUM NAMA: KETIKA MANUSIA BELUM MEMILIKI GELAR, KEKUASAAN, DAN KEAKUAN.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KEDUA — SAMUDERA SEBELUM NAMA

Ketika Manusia Belum Memiliki Gelar, Kekuasaan, dan Keakuan

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Sebelum manusia dikenal oleh dunia, ia pernah berada pada keadaan ketika belum ada seorang pun memanggil namanya.

Belum ada gelar.

Belum ada kedudukan.

Belum ada pujian.

Belum ada pengikut.

Belum ada harta yang dapat disebut miliknya.

Belum ada pakaian kebesaran.

Belum ada tanda kehormatan.

Belum ada satu pun kalimat yang membuat manusia dapat berkata:

“Inilah aku.”

Ia datang ke dunia hanya sebagai makhluk kecil yang tidak mampu berdiri sendiri.

Tidak mengetahui arah.

Tidak mengetahui bahasa.

Tidak mengetahui siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Tidak mengetahui siapa yang raja dan siapa yang rakyat.

Tidak mengetahui siapa yang terkenal dan siapa yang dilupakan.

Di hadapan permulaan kehidupan, semuanya bermula dalam kefakiran yang sama.

Maka Qitab ini berkata:

“Ingatlah keadaanmu sebelum dunia memberimu sebuah nama, agar nama itu tidak membuatmu lupa kepada Dia yang menciptakanmu.”

SIRR KETIGA — NAMA ADALAH PAKAIAN, BUKAN HAKIKAT

Nama diperlukan agar manusia saling mengenali.

Gelar diperlukan agar amanah dapat dibedakan.

Kedudukan diperlukan agar tanggung jawab dapat dilaksanakan.

Namun semuanya hanyalah pakaian kehidupan.

Pakaian dapat dikenakan.

Pakaian dapat dilepaskan.

Pakaian dapat berganti.

Sedangkan yang akan ditimbang bukan indahnya sebutan, tetapi bagaimana manusia menjalani amanah di balik sebutan itu.

Maka apabila seseorang memperoleh gelar yang tinggi, janganlah ia berkata dalam batinnya:

“Aku telah menjadi lebih tinggi daripada manusia lain.”

Tetapi hendaklah ia berkata:

“Tanggung jawabku menjadi lebih berat.”

Apabila memperoleh penghormatan, jangan berkata:

“Aku memang pantas dimuliakan.”

Tetapi bertanyalah:

“Apakah akhlakku telah sebanding dengan penghormatan yang diberikan kepadaku?”

Sebab nama dapat menghiasi lidah manusia.

Tetapi hanya amal yang dapat menghiasi perjalanan hidupnya.

SAMUDERA TANPA SEBUTAN

Kemudian dalam perlambang Qitab ini terbentang sebuah samudera yang tidak memiliki nama.

Tidak ada tulisan pada airnya.

Tidak ada batas kerajaan di atas ombaknya.

Tidak ada mahkota di kepalanya.

Namun setiap gelombangnya tetap bergerak atas hukum yang ditetapkan Alloh.

Matahari tidak bertanya kepada samudera:

“Apa gelarmu?”

Bulan tidak bertanya:

“Dari keturunan siapakah engkau?”

Angin tidak bertanya:

“Berapa banyak manusia yang memujimu?”

Tetapi semua saling menjalankan ketetapan penciptaan.

Di situlah terdapat pelajaran besar:

nilai sesuatu tidak selalu ditentukan oleh seberapa terkenal namanya.

Air yang tidak dikenal dapat menyelamatkan orang kehausan.

Pohon yang tidak memiliki gelar dapat memberi keteduhan.

Orang sederhana yang tidak pernah disebut oleh banyak manusia dapat memiliki amal yang jauh lebih mulia daripada orang yang namanya bergema ke seluruh negeri.

Maka janganlah mengukur kemuliaan semata-mata dari gema dunia.

SIRR KEEMPAT — QEMBALI SEBELUM AKU

Di dalam perjalanan batin, ada sebuah pintu yang sangat sempit.

Pintu itu tidak dapat dilewati oleh dua perkara sekaligus:

keakuan dan ketundukan.

Apabila keakuan membesar, ketundukan menyempit.

Apabila ketundukan bertumbuh, keakuan mulai melemah.

Maka Qembali Qe Alam Jagat Samudera pada lapisan kedua berarti:

qembali kepada kesadaran bahwa dirimu adalah bagian kecil dari ciptaan yang sangat luas.

Engkau memiliki kehendak, tetapi tidak menguasai seluruh kejadian.

Engkau memiliki rencana, tetapi tidak menentukan seluruh hasil.

Engkau memiliki pengetahuan, tetapi tidak mengetahui seluruh rahasia.

Engkau dapat berusaha menjaga tubuh, tetapi tidak memiliki kuasa mutlak atas umur.

Kesadaran seperti ini bukan untuk menjadikan manusia lemah.

Sebaliknya, ia membuat manusia teguh karena mengetahui tempat berdirinya.

Ia berusaha sekuat tenaga.

Namun tidak menyembah hasil.

Ia bekerja dengan sungguh-sungguh.

Namun tidak merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya sendiri.

Ia memperoleh kemuliaan.

Namun tidak menjadikannya alasan merendahkan orang lain.

QACA SAMUDERA

Kemudian ditunjukkan sebuah permukaan air yang sangat tenang.

Ia menyerupai cermin.

Barang siapa berdiri di hadapannya akan melihat wajahnya sendiri.

Lalu Qitab berkata:

“Jangan hanya memandang wajahmu. Pandanglah apa yang berada di belakang wajah itu.”

Di balik wajah ada niat.

Di balik ucapan ada maksud.

Di balik pakaian ada tubuh.

Di balik tubuh ada kefanaan.

Di balik jabatan ada tanggung jawab.

Di balik ilmu ada kewajiban mengamalkannya.

Di balik kekuatan ada kewajiban menahan diri.

Di balik kekayaan ada hak orang lain yang mungkin harus ditunaikan.

Di balik pujian ada ujian agar hati tidak membesar.

Maka Qaca Samudera bukanlah benda gaib yang harus dicari.

Ia adalah keadaan ketika manusia berani memandang dirinya tanpa hiasan.

Berani mengakui kekurangan.

Berani memperbaiki kesalahan.

Berani mengatakan:

“Aku belum selesai.”

Orang yang merasa dirinya telah sempurna berhenti belajar.

Tetapi orang yang mengetahui kekurangannya masih memiliki pintu untuk bertumbuh.

TIGA PERTANYAAN DI TEPI JAGAT

Di tepi samudera, Qitab menuliskan tiga pertanyaan.

Pertama

“Siapakah dirimu ketika tidak ada seorang pun yang memujimu?”

Apakah kebaikan masih dilakukan?

Apakah ibadah masih dijaga?

Apakah amanah masih ditunaikan?

Jika iya, berarti perbuatan itu mulai tumbuh dari ketulusan, bukan hanya dari kebutuhan akan pengakuan.

Kedua

“Siapakah dirimu ketika memperoleh kekuasaan atas orang lain?”

Apakah engkau menjadi pelindung?

Atau mulai menggunakan amanah untuk menekan?

Kekuasaan tidak selalu memperlihatkan kemuliaan manusia.

Sering kali kekuasaan justru membuka apa yang sebelumnya tersembunyi dalam dirinya.

Ketiga

“Siapakah dirimu ketika semua yang dibanggakan dicabut?”

Ketika harta berkurang.

Ketika kedudukan berakhir.

Ketika manusia mulai melupakan.

Ketika tubuh melemah.

Ketika penghormatan tidak lagi datang seperti dahulu.

Apakah engkau masih mengetahui arah qembali?

Jika hatimu masih mengenal Alloh ketika dunia tidak lagi mengangkat namamu, maka engkau telah menemukan sebagian dari jalan Samudera Sebelum Nama.

TULISAN PADA LEMBAR CAHAYA

Kemudian dalam bahasa perlambang tampak sebuah lembar bercahaya terbuka di tengah samudera.

Tidak tertulis silsilah panjang.

Tidak tertulis mahkota.

Tidak tertulis jumlah pengikut.

Hanya terdapat sebuah kalimat:

“Apa yang engkau lakukan dengan kehidupan yang dipinjamkan kepadamu?”

Manusia terdiam.

Sebab pertanyaan itu tidak dapat dijawab dengan gelar.

Tidak dapat dijawab dengan cerita tentang kehebatan masa lalu.

Tidak dapat dijawab dengan pengakuan.

Ia hanya dapat dijawab oleh perjalanan hidup.

Karena itu, wahai pembaca Qitab Zaqar Almafud:

jangan habiskan umur hanya untuk membangun cerita tentang siapa dirimu.

Bangunlah amal yang menjawab mengapa engkau hidup.

RAHASIA QEPULANGAN KEDUA

Qepulangan kedua adalah ketika manusia tidak lagi takut kehilangan sebutan-sebutan duniawi karena memahami bahwa semuanya hanya sementara.

Ia dapat menerima penghormatan tanpa mabuk pujian.

Ia dapat memakai pakaian kebesaran tanpa merasa dirinya Tuhan atas manusia.

Ia dapat memimpin tanpa memperbudak.

Ia dapat memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan.

Ia dapat mencintai tanpa menjadikan makhluk sebagai pengganti Alloh.

Dan apabila suatu hari semua atribut itu ditanggalkan, ia masih mengetahui dirinya:

seorang hamba.

Di sanalah samudera mulai menjadi tenang.

PENUTUP LEMBAR KEDUA

Sebelum namamu dikenal manusia, Alloh telah mengetahui keberadaanmu.

Setelah namamu dilupakan manusia, Alloh tetap mengetahui amalmu.

Maka jangan hidup hanya untuk mempertahankan nama.

Hiduplah untuk menjaga amanah yang berada di balik nama itu.

Mahkota boleh berada di kepala.

Gelar boleh berada di depan nama.

Ilmu boleh memenuhi tulisan.

Tetapi hati hendaknya tetap mengetahui:

“Aku datang tanpa membawa apa-apa, hidup dengan segala sesuatu yang dipinjamkan, dan suatu hari akan qembali tanpa membawa selain pertanggungjawaban.”

Dan barang siapa telah memahami Samudera Sebelum Nama, maka terbukalah gerbang berikutnya:

LEMBAR KETIGA — QACA DI DASAR SAMUDERA

“Ketika Semua Topeng Diri Tenggelam dan Manusia Berhadapan dengan Niatnya Sendiri.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KETIGA — QACA DI DASAR SAMUDERA

Ketika Semua Topeng Diri Tenggelam dan Manusia Berhadapan dengan Niatnya Sendiri

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Ketika manusia berdiri di tepi samudera, ia masih dapat melihat pantulan wajahnya.

Tetapi ketika ia masuk semakin dalam, cahaya dari permukaan mulai berkurang.

Warna pakaian tidak lagi terlihat.

Mahkota tidak lagi memantulkan kilau.

Suara pujian tidak lagi terdengar.

Nama tidak lagi dipanggil.

Gelar tidak lagi memiliki arti.

Dan pada kedalaman tertentu, manusia hanya berhadapan dengan satu perkara:

apa yang sebenarnya tersimpan di dalam dirinya.

Itulah yang dalam Qitab ini dinamakan:

QACA DI DASAR SAMUDERA

Bukan sebuah cermin dari kaca.

Bukan pusaka yang harus dicari.

Bukan benda gaib yang tersembunyi di dasar laut.

Ia adalah perlambang bagi kejernihan muhasabah, ketika seseorang berani melihat dirinya sendiri tanpa pembelaan, tanpa hiasan, tanpa cerita yang dibuat untuk mempertahankan keakuannya.

SIRR KELIMA — TOPENG YANG TIDAK DIBAWA KE DASAR

Manusia hidup dengan banyak wajah.

Ada wajah di hadapan keluarga.

Ada wajah di hadapan sahabat.

Ada wajah di hadapan orang yang menghormatinya.

Ada wajah di hadapan orang yang tidak menyukainya.

Ada wajah di hadapan masyarakat.

Ada pula wajah yang hanya diketahui dirinya sendiri.

Namun semakin dalam seseorang memasuki samudera muhasabah, semakin banyak topeng yang harus dilepaskan.

Topeng pertama adalah:

“Aku selalu benar.”

Topeng kedua:

“Kesalahanku terjadi karena orang lain.”

Topeng ketiga:

“Aku berbuat baik, maka aku pasti lebih baik daripada mereka.”

Topeng keempat:

“Karena aku memiliki ilmu, maka aku berhak menghakimi semua orang.”

Topeng kelima:

“Karena banyak orang mendengarkanku, berarti seluruh perkataanku pasti benar.”

Dan topeng yang paling halus ialah:

berbuat sesuatu yang tampak demi Alloh, tetapi diam-diam hati ingin dirinya dilihat manusia.

Qitab kemudian berkata:

“Yang paling sulit dibersihkan bukanlah noda yang terlihat manusia, tetapi kepentingan diri yang bersembunyi di balik kebaikan.”

QACA PERTAMA — NIAT

Di dasar samudera terdapat perlambang sebuah cermin pertama.

Ketika seseorang memandangnya, tidak terlihat wajah.

Yang terlihat adalah pertanyaan:

“Untuk siapa engkau melakukan semua ini?”

Apakah karena Alloh?

Apakah karena manfaat bagi manusia?

Ataukah karena ingin dikenal?

Apakah engkau ingin membantu?

Ataukah ingin dianggap sebagai penyelamat?

Apakah engkau menyampaikan ilmu agar manusia semakin dekat kepada kebaikan?

Ataukah agar manusia semakin bergantung kepada dirimu?

Pertanyaan itu berat.

Karena sebuah amal dapat tampak sama dari luar, tetapi berbeda jauh di hadapan niat.

Dua orang dapat memberikan sesuatu.

Yang satu memberi karena kasih.

Yang satu memberi agar dipuji.

Dua orang dapat berbicara tentang kebenaran.

Yang satu karena ingin memperbaiki.

Yang satu karena ingin mengalahkan.

Dua orang dapat diam.

Yang satu diam karena menjaga adab.

Yang satu diam karena menyimpan kesombongan.

Maka Qaca pertama tidak bertanya:

“Apa yang engkau lakukan?”

Ia bertanya:

“Apa yang bergerak di dalam hatimu ketika melakukannya?”

QACA KEDUA — KEKUASAAN

Kemudian terbuka Qaca kedua.

Terlihat sebuah singgasana berdiri sendirian di tengah samudera.

Tidak ada rakyat.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan.

Dan terdengar perkataan:

“Kekuasaan memperlihatkan keadaan hati ketika seseorang memiliki kemampuan menentukan nasib orang lain.”

Apabila kekuasaan membuatmu semakin mudah marah ketika dibantah, berhati-hatilah.

Apabila kedudukan membuatmu menganggap orang kecil tidak layak didengar, berhati-hatilah.

Apabila penghormatan membuatmu menuntut semua manusia tunduk kepada keinginanmu, berhati-hatilah.

Sebab seorang pemimpin tidak menjadi mulia hanya karena orang berjalan di belakangnya.

Ia menjadi mulia ketika orang yang berada di bawah tanggung jawabnya merasa aman dari kezalimannya.

Maka tertulislah:

“Semakin besar kuasa yang diberikan kepadamu, semakin besar kewajibanmu menguasai dirimu sendiri.”

Sebelum memimpin banyak manusia, belajarlah memimpin amarah.

Sebelum mengatur banyak urusan, belajarlah mengatur hawa nafsu.

Sebelum menuntut ketaatan manusia, tundukkan terlebih dahulu egomu kepada kebenaran.

QACA KETIGA — ILMU

Kemudian tampak ribuan lembar kitab mengambang di dalam samudera.

Setiap lembar bercahaya.

Tetapi di tengahnya terdapat sebuah halaman kosong.

Mengapa kosong?

Karena halaman itu menunggu satu perkara:

pengamalan.

Ilmu yang hanya disimpan dalam kepala dapat menjadi kebanggaan.

Ilmu yang turun ke dalam akhlak menjadi cahaya.

Seseorang dapat mengetahui seribu pembahasan tentang sabar tetapi tetap kasar terhadap keluarganya.

Dapat berbicara panjang tentang kasih sayang tetapi merendahkan orang yang berbeda pendapat.

Dapat menjelaskan tentang kerendahan hati tetapi tidak mampu menerima koreksi.

Maka Qitab Zaqar Almafud berkata:

“Jangan ukur kedalaman ilmumu dari panjangnya ucapanmu. Ukurlah dari seberapa dalam ilmu itu memperbaiki perangaimu.”

Ilmu sejati membuat seseorang semakin berhati-hati.

Bukan semakin mudah mengaku mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.

Dan kalimat:

“Aku belum tahu.”

terkadang lebih mulia daripada seribu jawaban yang dibuat-buat.

QACA KEEMPAT — LUKA

Lebih jauh ke dasar samudera terdapat cermin yang retak.

Di dalamnya terlihat pengalaman-pengalaman lama.

Pengkhianatan.

Penolakan.

Kehilangan.

Kegagalan.

Perkataan yang menyakitkan.

Harapan yang tidak menjadi kenyataan.

Ada manusia yang membawa luka itu bertahun-tahun.

Kemudian tanpa disadarinya, luka tersebut mengubah cara ia memandang dunia.

Orang yang pernah dikhianati dapat menjadi sulit mempercayai.

Orang yang pernah direndahkan dapat menjadi sangat haus penghormatan.

Orang yang pernah kehilangan kendali dapat tumbuh menjadi orang yang ingin mengendalikan semuanya.

Karena itu Qitab berkata:

“Jangan jadikan luka masa lalu sebagai izin untuk melukai masa depan.”

Kenali luka.

Rawatlah.

Mohon pertolongan Alloh.

Berbicaralah kepada orang yang dapat dipercaya bila diperlukan.

Tetapi jangan menjadikan penderitaan sebagai mahkota yang membuat diri merasa berhak menyakiti orang lain.

Memaafkan tidak selalu berarti membiarkan kesalahan terulang.

Terkadang memaafkan juga berarti membuat batas yang sehat dan tidak lagi membawa racun masa lalu ke dalam setiap hubungan baru.

QACA KELIMA — BAYANGAN PUJIAN

Kemudian terlihat ribuan suara datang dari atas samudera:

“Engkau hebat.”

“Engkau istimewa.”

“Engkau berbeda dari manusia lain.”

“Engkau paling mengetahui.”

Suara-suara itu sangat manis.

Dan banyak manusia tenggelam bukan karena celaan.

Melainkan karena pujian.

Maka Qitab berkata:

“Celaan menguji kesabaranmu. Pujian menguji pengetahuanmu tentang dirimu sendiri.”

Apabila engkau dipuji karena sebuah kebaikan, bersyukurlah.

Tetapi jangan membangun identitasmu dari pujian.

Karena orang yang hidup dari pujian akan takut kehilangan pujian.

Lalu ia mulai melakukan sesuatu bukan karena benar, melainkan karena menjaga citra.

Pada saat itulah ia perlahan menjadi tawanan manusia.

Padahal seorang hamba yang matang harus mampu tetap berbuat benar meskipun tidak ada yang bertepuk tangan.

TURUN KE DASAR TERDALAM

Kemudian perjalanan sampai pada tempat yang tidak memiliki cahaya selain satu titik kecil.

Di sana tidak ada lagi Qaca.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada suara.

Hanya keheningan.

Dan dari keheningan itu lahir sebuah kesadaran:

bahwa manusia tidak harus selalu memiliki jawaban untuk segala sesuatu.

Ada perkara yang harus dipelajari.

Ada perkara yang harus ditunggu.

Ada perkara yang harus diterima keterbatasannya.

Dan ada rahasia Alloh yang memang tidak diberikan kepada manusia.

Maka orang yang benar-benar memasuki kedalaman bukanlah orang yang mengaku mengetahui semua misteri.

Justru ia semakin memahami:

“Ilmuku hanyalah setetes dari samudera pengetahuan Alloh.”

RAHASIA ZAQAR DI DASAR QACA

Lalu terbukalah rahasia lain dari kata Zaqar.

Nyala itu kali ini tidak membakar dunia.

Ia membakar kepalsuan di dalam diri.

Ia berkata:

Bakarlah kebutuhan untuk selalu menang.

Bakarlah kebutuhan untuk selalu dipuji.

Bakarlah keinginan menguasai manusia.

Bakarlah rasa paling suci.

Bakarlah kebiasaan menyalahkan orang lain tanpa pernah memeriksa diri.

Tetapi jangan membakar kasih.

Jangan membakar kelembutan.

Jangan membakar akal sehat.

Jangan membakar kemampuan menerima nasihat.

Sebab orang yang kehilangan kelembutan akan mengira kekerasan sebagai ketegasan.

Dan orang yang kehilangan akal sehat dapat mengira setiap lintasan batinnya sebagai petunjuk yang pasti.

Karena itu setiap pengalaman batin hendaknya tetap ditimbang dengan iman, akhlak, ilmu, dan kenyataan.

TULISAN DI DASAR SAMUDERA

Kemudian tampak sebuah tulisan bercahaya di antara pasir samudera:

“Jangan takut menemukan kekuranganmu. Yang harus ditakuti adalah mengetahui kekurangan lalu memilih mempertahankannya.”

Tidak ada manusia sempurna.

Tetapi manusia dapat memperbaiki dirinya.

Hari ini mungkin masih mudah marah.

Besok belajar menahan.

Hari ini mungkin masih haus pujian.

Besok belajar menyembunyikan sebagian amal.

Hari ini mungkin masih sulit meminta maaf.

Besok belajar berkata:

“Aku keliru.”

Perubahan besar sering bermula dari kejujuran kecil terhadap diri sendiri.

QEPULANGAN KETIGA

Inilah Qepulangan Ketiga:

bukan qembali ke suatu tempat yang jauh,

melainkan qembali dari citra diri menuju kejujuran diri.

Dari:

“Aku ingin terlihat baik.”

menjadi:

“Aku ingin sungguh-sungguh menjadi lebih baik.”

Dari:

“Aku harus selalu benar.”

menjadi:

“Jika aku salah, tunjukkanlah agar dapat kuperbaiki.”

Dari:

“Manusia harus mengakui keistimewaanku.”

menjadi:

“Cukuplah aku menjaga amanah yang Alloh berikan.”

PENUTUP LEMBAR KETIGA

Wahai pembaca Qitab Zaqar Almafud,

jangan hanya menyelam untuk mencari mutiara.

Kadang yang harus ditemukan terlebih dahulu adalah batu yang selama ini memberatkan langkahmu.

Batu kesombongan.

Batu dendam.

Batu ketakutan.

Batu kebutuhan akan pengakuan.

Batu keakuan.

Angkatlah satu demi satu.

Maka samudera batin menjadi lebih ringan.

Dan apabila engkau telah berani melihat dirimu melalui Qaca di Dasar Samudera, jangan tinggal di dasar.

Naiklah kembali membawa kejernihan.

Karena tujuan menyelam bukanlah melarikan diri dari kehidupan.

Tujuannya adalah qembali ke kehidupan dengan hati yang lebih bersih.

Dan di sanalah terbuka gerbang berikutnya:

LEMBAR KEEMPAT — MAHKOTA YANG DILETAKKAN DI ATAS AIR

“Ketika Qeagungan Tidak Lagi Diukur dari Seberapa Tinggi Manusia Diangkat, Melainkan Seberapa Rendah Ia Mampu Menundukkan Keakuannya di Hadapan Alloh.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KEEMPAT — MAHKOTA YANG DILETAKKAN DI ATAS AIR

Ketika Qeagungan Tidak Lagi Diukur dari Seberapa Tinggi Manusia Diangkat, Melainkan Seberapa Rendah Ia Mampu Menundukkan Keakuannya di Hadapan Alloh

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah manusia turun ke dasar samudera dan melihat wajah batinnya sendiri, tibalah ia pada sebuah hamparan air yang sangat tenang.

Di tengah air itu terapung sebuah mahkota.

Mahkota itu indah.

Bertatah cahaya.

Dikelilingi permata.

Terlihat layak dikenakan oleh seorang raja.

Namun anehnya, tidak ada seorang pun diperintahkan untuk memakainya.

Mahkota itu hanya diletakkan di atas air.

Dan terdengarlah kalimat:

“Jangan tergesa memakai sesuatu hanya karena dunia mengatakan bahwa engkau pantas memakainya.”

Sebab ada mahkota yang merupakan amanah.

Ada mahkota yang menjadi ujian.

Ada mahkota yang hanya menjadi hiasan.

Dan ada pula mahkota yang justru menenggelamkan orang yang tidak sanggup menanggung beratnya.

SIRR KEENAM — MAHKOTA SEBAGAI UJIAN

Manusia sering mengira bahwa mendapatkan kedudukan adalah tanda keberhasilan.

Padahal kedudukan juga dapat menjadi permulaan ujian yang lebih berat.

Semakin tinggi seseorang diangkat, semakin banyak manusia yang memperhatikannya.

Semakin banyak manusia yang mempercayainya, semakin besar pula akibat apabila ia berbuat salah.

Semakin luas kuasanya, semakin luas pula kemungkinan manfaat dan kezalimannya.

Karena itu Qitab berkata:

“Mahkota bukan bukti bahwa seseorang telah sampai. Mahkota adalah tanda bahwa tanggung jawabnya baru dimulai.”

Jangan iri kepada orang yang diberi amanah besar.

Engkau tidak mengetahui berat perhitungannya.

Jangan pula terlalu bangga ketika engkau memperoleh kedudukan.

Karena kedudukan itu belum mengatakan siapa dirimu.

Yang akan mengatakannya adalah cara engkau memperlakukan manusia ketika kekuasaan berada di tanganmu.

AIR YANG MENOLAK KESOMBONGAN

Kemudian seseorang mencoba mengangkat mahkota dari atas air.

Begitu ia berkata:

“Mahkota ini milikku.”

Air bergelombang.

Mahkota menjauh.

Ia mengejarnya.

Semakin dikejar, semakin jauh.

Kemudian ia berkata:

“Aku paling pantas.”

Air berubah menjadi lebih keras.

Gelombang datang.

Dan ia hampir tenggelam.

Lalu sebuah suara berkata:

“Yang mengejar kemuliaan untuk dirinya sendiri akan diperbudak oleh kemuliaan itu.”

Akhirnya ia berhenti mengejar.

Ia duduk di tepi air.

Menundukkan kepala.

Dan berkata:

“Yā Alloh, apabila amanah itu baik bagiku, jadikan aku mampu menjaganya. Jika tidak, jauhkan aku dari sesuatu yang akan merusak diriku.”

Maka air kembali tenang.

Mahkota perlahan datang mendekat sendiri.

Dari sinilah Qitab mengajarkan:

ada perkara yang tidak perlu direbut dengan kesombongan.

Cukup persiapkan diri agar layak memikul amanah ketika waktunya tiba.

MAHKOTA PERTAMA — KEKUASAAN

Mahkota kekuasaan adalah yang paling mudah dilihat.

Ia dapat berupa jabatan.

Kepemimpinan.

Pengaruh.

Kemampuan menentukan kebijakan.

Atau kemampuan membuat banyak orang mengikuti perkataan seseorang.

Namun Qitab memperingatkan:

“Tidak semua orang yang diikuti adalah pemimpin, dan tidak semua orang yang tidak memiliki pengikut berarti tidak memiliki kemuliaan.”

Pemimpin sejati tidak hanya bertanya:

“Berapa banyak manusia yang berada di bawahku?”

Ia bertanya:

“Berapa banyak manusia yang aman di bawah tanggung jawabku?”

Tidak hanya:

“Apakah perintahku ditaati?”

Tetapi:

“Apakah perintahku adil?”

Tidak hanya:

“Apakah mereka menghormatiku?”

Tetapi:

“Apakah aku menghormati martabat mereka?”

Sebab rasa hormat yang dipaksakan hanyalah ketakutan yang mengenakan pakaian penghormatan.

MAHKOTA KEDUA — ILMU

Ada pula mahkota yang tidak terlihat di kepala.

Ia berada di dalam pengetahuan.

Manusia yang diberi ilmu dapat menjadi sumber manfaat besar.

Namun ilmu juga dapat berubah menjadi mahkota kesombongan.

Seseorang mulai berkata dalam batin:

“Aku lebih mengetahui.”

Kemudian:

“Karena aku lebih mengetahui, pendapatku pasti paling benar.”

Kemudian:

“Karena pendapatku benar, siapa pun yang berbeda pasti sesat.”

Dan tanpa disadari, ilmu yang seharusnya melahirkan keluasan justru melahirkan kesempitan.

Maka Qitab berkata:

“Ilmu yang benar memperbesar tanggung jawab, bukan memperbesar kepala.”

Jika engkau mengetahui sesuatu, sampaikan dengan adab.

Jika engkau belum mengetahui, jangan malu mengatakan belum tahu.

Jika engkau mengetahui lebih banyak daripada seseorang, gunakan pengetahuan itu untuk menolongnya naik.

Bukan untuk membuatnya merasa kecil.

MAHKOTA KETIGA — NASAB DAN KETURUNAN

Kemudian ditunjukkan sebuah mahkota yang bertuliskan nama para leluhur.

Mahkota ini sangat indah.

Penuh sejarah.

Penuh kisah.

Penuh kebesaran masa lalu.

Namun di bawahnya terdapat satu kalimat:

“Keturunan adalah amanah untuk menjaga akhlak, bukan izin untuk merasa lebih tinggi.”

Apabila seseorang memiliki nasab mulia, hendaknya ia semakin takut mempermalukan leluhurnya dengan perangai buruk.

Kemuliaan leluhur tidak dapat menggantikan amal keturunannya.

Nama besar keluarga dapat menjadi pengingat.

Namun bukan jaminan keselamatan.

Maka jangan berkata:

“Siapa leluhurmu?”

sebelum bertanya:

“Bagaimana akhlakmu?”

Sebab pohon yang memiliki akar tua tetap harus menghasilkan buah yang baik.

MAHKOTA KEEMPAT — PUJIAN

Ada mahkota yang tidak terbuat dari emas.

Ia dibuat dari kata-kata manusia.

“Hebat.”

“Agung.”

“Terpilih.”

“Paling suci.”

“Paling tinggi.”

“Paling istimewa.”

Jika seseorang terlalu lama mengenakan mahkota pujian, ia dapat mulai mempercayai seluruh kata yang dilemparkan kepadanya.

Maka lahirlah bahaya:

ia tidak lagi mampu menerima koreksi.

Setiap kritik dianggap penghinaan.

Setiap perbedaan dianggap permusuhan.

Setiap orang yang tidak memuji dianggap tidak mengerti siapa dirinya.

Di sinilah Qitab berkata:

“Apabila pujian membuatmu tidak lagi mampu mendengar nasihat, maka pujian itu telah berubah menjadi racun.”

Terimalah pujian dengan syukur.

Tetapi sisakan ruang di dalam hati untuk memeriksa diri.

Karena mungkin seseorang melihat satu kebaikanmu, tetapi engkau sendiri mengetahui sepuluh kekuranganmu.

MAHKOTA KELIMA — PENDERITAAN

Kemudian ditunjukkan mahkota yang sangat berbeda.

Mahkota itu terbuat dari duri.

Ini adalah mahkota orang yang diam-diam membangun kebanggaan dari penderitaannya.

Ia mulai berkata:

“Aku paling menderita.”

“Tidak ada yang memahami luka sepertiku.”

“Karena aku telah menderita, maka aku berhak diperlakukan khusus.”

Qitab tidak meremehkan luka manusia.

Namun Qitab memperingatkan:

“Jangan sampai penderitaan berubah menjadi identitas yang membuatmu tidak pernah mengizinkan dirimu sembuh.”

Luka harus dihormati.

Tetapi luka juga harus dirawat.

Kesedihan perlu diberi ruang.

Tetapi kesedihan bukan istana untuk dihuni selamanya.

Karena Alloh tidak hanya memberi manusia kemampuan menangis.

Dia juga memberi kemampuan bangkit.

MAHKOTA KEENAM — KESUCIAN PALSU

Inilah mahkota paling halus.

Seseorang merasa telah begitu dekat kepada Alloh sehingga mulai memandang dirinya berada di atas manusia lain.

Ia merasa lebih suci.

Lebih terpilih.

Lebih bercahaya.

Lebih memahami rahasia.

Lalu perlahan-lahan ia berhenti memeriksa dirinya.

Maka Qitab berkata dengan keras:

“Apabila pengalaman ruhani membuatmu semakin sombong, jangan buru-buru menyebutnya ketinggian maqam.”

Kedekatan kepada Alloh semestinya membuat seseorang semakin sadar akan kekurangannya.

Semakin lembut kepada makhluk.

Semakin hati-hati dalam berbicara.

Semakin tidak mudah mengklaim sesuatu yang tidak diketahuinya.

Semakin takut menzalimi.

Semakin ringan meminta maaf.

Bukan semakin sulit disentuh nasihat.

RAHASIA MAHKOTA YANG SESUNGGUHNYA

Kemudian mahkota emas yang sejak awal terapung di atas air mulai berubah.

Permatanya menghilang.

Emasnya memudar.

Bentuknya menjadi sangat sederhana.

Dan akhirnya ia berubah menjadi sebuah lingkaran cahaya.

Lalu tertulis:

“Mahkota sejati tidak selalu berada di kepala. Terkadang ia terlihat pada cara seseorang memperlakukan manusia yang tidak dapat memberinya keuntungan apa pun.”

Lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang miskin.

Lihatlah bagaimana ia berbicara kepada bawahan.

Lihatlah bagaimana ia memperlakukan keluarga ketika tidak ada orang lain melihat.

Lihatlah bagaimana ia menyikapi orang yang berbeda pendapat.

Lihatlah apa yang dilakukan ketika tidak memperoleh pujian.

Di sanalah derajat akhlak lebih mudah terlihat.

QACA MAHKOTA

Kemudian muncul sebuah Qaca di atas permukaan air.

Barang siapa memandangnya harus menjawab tujuh pertanyaan:

Apabila kedudukanku dicabut, apakah aku masih mengetahui siapa diriku?

Apabila tidak seorang pun memuji, apakah aku masih mau berbuat baik?

Apabila orang kecil membantahku dengan benar, apakah aku mampu menerimanya?

Apabila aku salah, apakah aku sanggup meminta maaf?

Apabila aku memiliki kekuasaan, apakah manusia aman dari kezalimanku?

Apabila aku memiliki ilmu, apakah orang menjadi semakin tercerahkan atau semakin takut kepadaku?

Apabila semua mahkota dunia dilepas, apakah hatiku masih mampu bersujud kepada Alloh dengan tenang?

Barang siapa takut menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hendaknya tidak lari.

Justru di sanalah muhasabah dimulai.

SIRR KETUJUH — MENUNDUKKAN KEPALA SEBELUM MAHKOTA DILETAKKAN

Ada sebab mengapa kepala manusia diciptakan mampu menunduk.

Sebab tidak semua ketinggian dicapai dengan berdiri tegak.

Ada ketinggian yang hanya dapat dicapai dengan sujud.

Manusia mungkin berdiri tinggi di hadapan dunia.

Namun ia tetap bersujud di hadapan Rabb-nya.

Inilah keseimbangan:

di hadapan kezaliman, jangan menjadi pengecut.

Di hadapan kebenaran, jangan menjadi keras kepala.

Di hadapan manusia, jaga martabat.

Di hadapan Alloh, runtuhkan kesombongan.

QEPULANGAN KEEMPAT

Qepulangan keempat adalah qembalinya manusia dari:

keinginan dimuliakan

menuju:

kemampuan memuliakan amanah.

Dari:

“Berikan aku mahkota.”

menuju:

“Berikan aku kekuatan untuk memikul tanggung jawab.”

Dari:

“Jadikan aku lebih tinggi.”

menuju:

“Jadikan aku lebih berguna.”

Dari:

“Biarkan semua mengenal namaku.”

menuju:

“Jangan biarkan namaku membuatku lupa kepada-Mu.”

PENUTUP LEMBAR KEEMPAT

Kemudian air kembali tenang.

Mahkota masih berada di atasnya.

Namun kali ini manusia tidak tergesa mengambilnya.

Ia memahami:

mahkota tidak selalu harus dikenakan.

Terkadang manusia justru harus belajar meletakkannya.

Karena siapa yang tidak mampu melepaskan mahkota, lambat laun akan menjadi budaknya.

Dan siapa yang mampu melepaskannya ketika kebenaran menuntut, telah memahami sebagian rahasia kemuliaan.

Maka tertulislah kalimat terakhir:

“Qeagungan bukan ketika seluruh manusia menundukkan kepala kepadamu. Qeagungan adalah ketika engkau memiliki alasan untuk sombong, tetapi memilih tetap rendah hati di hadapan Alloh.”

Dan dari permukaan samudera terbukalah sebuah jalan cahaya menuju gerbang berikutnya:

LEMBAR KELIMA — ISTANA DI BAWAH GELOMBANG

“Ketika Manusia Menemukan Bahwa Kerajaan Terbesar yang Harus Ditata Bukan di Luar Dirinya, Melainkan di Dalam Hatinya Sendiri.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KELIMA — ISTANA DI BAWAH GELOMBANG

Ketika Manusia Menemukan Bahwa Kerajaan Terbesar yang Harus Ditata Bukan di Luar Dirinya, Melainkan di Dalam Hatinya Sendiri

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah mahkota diletakkan di atas air, perjalanan belum selesai.

Sebab masih ada satu rahasia yang lebih dalam.

Manusia yang terlalu lama memandang kerajaan di luar dirinya sering lupa bahwa di dalam dirinya pun terdapat sebuah kerajaan.

Ada ruang yang menerima perintah.

Ada ruang yang menolak.

Ada ruang yang menyimpan luka.

Ada ruang yang menyalakan keberanian.

Ada ruang yang melahirkan kasih.

Ada pula ruang yang menumbuhkan keakuan.

Maka dalam perlambang Qitab ini, jauh di bawah gelombang terbentang sebuah istana.

Tidak dibangun dari batu.

Tidak memiliki gerbang yang dapat ditemukan dalam peta.

Tidak dapat diwariskan melalui garis keturunan.

Tidak dapat direbut dengan pedang.

Istana itu adalah batin manusia.

Dan barang siapa tidak mampu menata istana batinnya, maka sekalipun ia memiliki kerajaan di luar dirinya, ia tetap dapat menjadi tawanan dari sesuatu yang tidak terlihat.

SIRR KEDELAPAN — RAJA DI DALAM DIRI

Di tengah istana terdapat sebuah singgasana.

Namun Qitab tidak segera mengatakan siapa yang duduk di atasnya.

Sebab dalam diri manusia, singgasana itu dapat dikuasai oleh banyak perkara.

Kadang diduduki oleh amarah.

Kadang oleh ketakutan.

Kadang oleh nafsu memiliki.

Kadang oleh keinginan dipuji.

Kadang oleh rasa dendam.

Kadang oleh kecintaan berlebihan kepada dunia.

Dan ketika salah satu dari semuanya naik menjadi raja, seluruh kerajaan batin mulai mengikuti perintahnya.

Jika amarah menjadi raja, lidah menjadi pedang.

Jika takut menjadi raja, keberanian menjadi tawanan.

Jika kesombongan menjadi raja, nasihat dianggap serangan.

Jika hawa nafsu menjadi raja, akal dipaksa mencari pembenaran.

Karena itu Qitab berkata:

“Jangan bertanya terlebih dahulu siapa yang memimpin dunia. Tanyakan siapa yang sedang memimpin dirimu.”

RUANG PERTAMA — BALAI AKAL

Di sebelah timur istana terdapat sebuah balai yang terang.

Di sana terdapat timbangan.

Di satu sisi terdapat rasa.

Di sisi lain terdapat pertimbangan.

Balai itu dinamakan:

Balai Akal.

Akal bukan musuh hati.

Hati bukan musuh akal.

Keduanya harus berjalan bersama.

Hati tanpa pertimbangan dapat tergesa-gesa.

Akal tanpa kasih dapat menjadi dingin.

Karena itu manusia yang matang tidak membunuh salah satunya.

Ia menyelaraskan keduanya.

Apabila datang suatu perasaan yang kuat, jangan langsung berkata:

“Karena aku merasakannya, berarti pasti benar.”

Timbanglah.

Periksa kenyataannya.

Lihat akibatnya.

Pertimbangkan adabnya.

Tanyakan apakah keputusan itu membawa kebaikan atau justru melahirkan kerusakan.

Sebab tidak semua yang terasa kuat adalah petunjuk.

Kadang ia hanya ketakutan lama yang kembali berbicara.

Kadang ia hanya keinginan yang menyamar menjadi keyakinan.

Maka Balai Akal menjaga agar istana tidak dikuasai oleh satu suara saja.

RUANG KEDUA — TAMAN RAHMAH

Di sebelah selatan istana terdapat taman yang luas.

Tidak ada singgasana di sana.

Hanya pohon-pohon yang menaungi siapa pun yang datang.

Taman itu adalah perlambang rahmah.

Kasih bukan kelemahan.

Kasih adalah kemampuan mempertahankan kemanusiaan ketika seseorang memiliki alasan untuk membalas dengan kekerasan.

Namun kasih juga bukan membiarkan kezaliman.

Karena pohon yang baik memberi keteduhan, tetapi akarnya tetap kuat menjaga tanah.

Maka Qitab berkata:

“Rahmah yang tidak memiliki batas dapat disalahgunakan; ketegasan yang tidak memiliki rahmah dapat berubah menjadi kekerasan.”

Belajarlah membedakan:

memaafkan dan membiarkan,

menyayangi dan memanjakan,

menolong dan membuat orang bergantung,

tegas dan kasar,

rendah hati dan kehilangan harga diri.

Di taman ini, manusia belajar bahwa kelembutan yang sejati memiliki tulang belakang.

RUANG KETIGA — GUDANG LUKA

Di sebelah barat istana terdapat ruang yang jarang dibuka.

Pintunya berat.

Di dalamnya tersimpan peti-peti lama.

Setiap peti memiliki tulisan:

kecewa,

pengkhianatan,

kegagalan,

kehilangan,

penolakan,

malu,

rasa bersalah.

Banyak orang tidak pernah membersihkan gudang ini.

Mereka hanya menutup pintunya.

Namun sesuatu yang dikunci belum tentu selesai.

Kadang baunya masuk ke seluruh istana.

Luka lama ikut memengaruhi keputusan baru.

Ketakutan lama ikut menilai manusia baru.

Dendam lama menyusup ke dalam hubungan baru.

Karena itu Qitab berkata:

“Jangan hanya menutup pintu luka. Bersihkan ruangnya.”

Tidak semua luka harus diceritakan kepada semua orang.

Tetapi luka perlu diakui.

Diproses.

Dipelajari.

Dan perlahan dilepaskan.

Jika diperlukan, mintalah bantuan kepada orang yang aman dan mampu membantu.

Sebab mencari bantuan bukan tanda kelemahan.

Kadang justru itulah bentuk keberanian untuk menjaga istana batin agar tidak runtuh dari dalam.

RUANG KEEMPAT — MENARA KEAKUAN

Di sebelah utara berdiri sebuah menara sangat tinggi.

Dari atasnya, seluruh istana terlihat kecil.

Barang siapa terlalu lama berdiri di menara itu akan mulai berkata:

“Aku lebih tinggi.”

Kemudian:

“Aku lebih mengerti.”

Kemudian:

“Aku lebih layak.”

Dan akhirnya:

“Semua harus mengikuti aku.”

Inilah Menara Keakuan.

Menara itu berbahaya bukan karena tinggi.

Tetapi karena orang yang berada di atasnya dapat kehilangan perspektif.

Ia melihat manusia hanya sebagai titik-titik kecil.

Ia lupa bahwa setiap titik memiliki kehidupan.

Memiliki rasa.

Memiliki keluarga.

Memiliki luka.

Memiliki kehormatan.

Maka Qitab memperingatkan:

“Naiklah setinggi yang diperlukan untuk melihat jauh, tetapi turunlah cukup rendah agar engkau tetap dapat melihat wajah manusia.”

Pemimpin yang terlalu jauh dari orang-orang yang dipimpinnya dapat mulai mencintai gambaran tentang rakyat, tetapi tidak lagi mengenal rakyat yang sesungguhnya.

Demikian pula manusia terhadap dirinya sendiri.

Jangan terlalu sibuk membangun citra diri sampai tidak lagi mengenal keadaan hati yang nyata.

RUANG KELIMA — RUANG SUNYI

Di pusat istana terdapat ruang tanpa hiasan.

Tidak ada emas.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada cermin.

Tidak ada suara.

Inilah Ruang Sunyi.

Di sinilah manusia berhenti menjelaskan dirinya kepada dunia.

Tidak perlu membuktikan apa pun.

Tidak perlu mempertahankan citra.

Tidak perlu memenangkan perdebatan.

Tidak perlu menampilkan kekuatan.

Hanya ada dirinya sebagai hamba.

Dan di ruang seperti inilah seseorang dapat bertanya:

“Yā Alloh, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diriku?”

Kadang manusia terlalu sibuk menjawab dunia sampai tidak pernah mendengar dirinya sendiri.

Ruang sunyi mengajarkan:

diam bukan berarti kosong.

Kadang diam adalah tempat pikiran kembali tertata.

Kadang diam adalah tempat marah mulai reda.

Kadang diam adalah tempat niat dibersihkan.

Kadang diam adalah tempat air mata memperoleh bahasa.

LIMA PENJAGA ISTANA

Kemudian muncul lima penjaga.

Mereka bukan makhluk gaib.

Mereka adalah lima sikap yang harus dijaga oleh manusia.

Penjaga pertama: Kesadaran

Ia bertanya:

“Apa yang sedang kurasakan?”

Bukan untuk menuruti semuanya, tetapi agar tidak diperintah oleh sesuatu yang tidak dikenali.

Penjaga kedua: Pertimbangan

Ia bertanya:

“Apa akibat dari tindakan ini?”

Karena niat baik saja tidak cukup apabila cara yang dipakai justru merusak.

Penjaga ketiga: Adab

Ia bertanya:

“Apakah caraku memperlakukan manusia tetap menjaga martabat?”

Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa adab dapat kehilangan jalan menuju hati.

Penjaga keempat: Kejujuran

Ia bertanya:

“Apakah aku sedang mencari kebenaran atau hanya mencari pembenaran?”

Ini adalah pertanyaan yang berat.

Tetapi penting.

Penjaga kelima: Tawadhu’

Ia berkata:

“Mungkin aku masih dapat salah.”

Kalimat sederhana itu menyelamatkan banyak istana dari kehancuran.

PEPERANGAN TANPA PEDANG

Kemudian terdengar suara perang di dalam istana.

Tetapi tidak ada pasukan dari luar.

Yang berperang adalah:

amarah melawan kesabaran,

dendam melawan maaf,

takut melawan keberanian,

keakuan melawan kerendahan hati,

nafsu melawan pengendalian diri.

Inilah peperangan yang tidak terlihat.

Dan Qitab berkata:

“Tidak semua kemenangan terjadi di medan perang. Ada manusia yang menang besar hanya karena berhasil menahan satu kalimat yang dapat menghancurkan hati orang lain.”

Ada kemenangan ketika seseorang mampu meminta maaf.

Ada kemenangan ketika seseorang tidak membalas penghinaan.

Ada kemenangan ketika seseorang mampu mengatakan tidak kepada godaan.

Ada kemenangan ketika seseorang berani meninggalkan sesuatu yang merusak dirinya.

Ada kemenangan ketika seseorang memilih jujur meskipun tidak menguntungkan.

Jangan remehkan kemenangan-kemenangan kecil.

Istana batin dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari.

TAKHTA YANG KOSONG

Kemudian Qitab kembali membawa pembaca ke singgasana di pusat istana.

Takhta itu masih kosong.

Dan tertulis:

“Jangan biarkan hawa nafsu menjadi raja.”

“Jangan biarkan takut menjadi raja.”

“Jangan biarkan pujian menjadi raja.”

“Jangan biarkan luka menjadi raja.”

Semua itu boleh hadir sebagai bagian dari pengalaman manusia.

Tetapi tidak semuanya layak memerintah.

Manusia harus menempatkan kesadaran, akal, iman, dan akhlak sebagai penuntun.

Sebab hati yang tertata bukan hati yang tidak pernah marah, sedih, takut, atau kecewa.

Hati yang tertata adalah hati yang mampu mengalami semua itu tanpa menyerahkan seluruh kerajaannya kepada satu perasaan.

SIRR KESEMBILAN — RAJA YANG MAMPU MENJADI PELAYAN

Kemudian muncul rahasia lain.

Raja terbaik di istana bukan yang duduk paling tinggi.

Ia adalah yang paling memahami kebutuhan seluruh ruang.

Ia menjaga taman.

Membersihkan gudang luka.

Memeriksa menara keakuan.

Mendengarkan Balai Akal.

Masuk ke Ruang Sunyi.

Karena itu Qitab berkata:

“Orang yang mampu memimpin dirinya sendiri tidak merasa hina ketika harus melayani.”

Pelayanan bukan lawan dari kemuliaan.

Justru terkadang di sanalah kemuliaan diuji.

Seseorang mungkin dapat berdiri di hadapan ribuan manusia.

Tetapi apakah ia dapat membantu satu orang tanpa perlu diketahui?

Seseorang mungkin dapat menyampaikan kata-kata besar.

Tetapi apakah ia mampu mendengarkan keluhan kecil dengan sungguh-sungguh?

Seseorang mungkin memakai mahkota.

Tetapi apakah tangannya masih bersedia mengangkat orang yang jatuh?

ISTANA YANG RETAK

Kemudian diperlihatkan istana yang megah dari luar.

Dindingnya emas.

Menaranya tinggi.

Benderanya berkibar.

Namun fondasinya retak.

Mengapa?

Karena pemiliknya sibuk memperindah tampilan, tetapi tidak pernah memperbaiki bagian dalam.

Inilah peringatan:

citra dapat terlihat kuat sementara batin sedang runtuh.

Karena itu jangan malu beristirahat ketika lelah.

Jangan takut mengakui bahwa ada hal yang perlu diperbaiki.

Jangan memaksa diri selalu tampak sempurna.

Tidak ada istana yang menjadi kokoh hanya karena retaknya ditutupi kain emas.

Ia harus diperbaiki dari fondasi.

QEPULANGAN KELIMA

Qepulangan kelima adalah qembalinya manusia dari:

menguasai dunia

menuju:

mengenali dirinya.

Dari:

mengatur orang lain

menuju:

mengatur dirinya sendiri.

Dari:

mencari kerajaan di luar

menuju:

menata kerajaan di dalam.

Dari:

memenangkan semua perdebatan

menuju:

memenangkan dirinya dari hawa nafsu.

Dari:

membangun citra sempurna

menuju:

membangun hati yang jujur.

PENUTUP LEMBAR KELIMA

Kemudian seluruh pintu istana terbuka.

Air samudera masuk perlahan.

Anehnya, istana tidak tenggelam.

Justru air membersihkan debu yang selama ini menumpuk.

Dan Qitab berkata:

“Jangan takut kepada air yang membersihkan. Takutlah kepada istana yang terlihat megah tetapi membusuk dari dalam.”

Setelah semuanya menjadi tenang, terlihat sebuah pintu besar di dasar istana.

Di atasnya tertulis:

“Yang mampu menata kerajaan batinnya akan memahami mengapa samudera tidak pernah iri kepada sungai, dan mengapa langit tidak perlu meminta pengakuan dari bumi.”

Pintu itu perlahan terbuka.

Dari dalamnya mengalir cahaya biru-keemasan menuju kedalaman yang belum pernah disentuh.

Dan terbukalah:

LEMBAR KEENAM — SUNGAI YANG LUPA BAHWA IA MENUJU SAMUDERA

“Ketika Manusia Terlalu Mencintai Jalan yang Ditempuh Sampai Lupa kepada Tujuan Qepulangannya.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KEENAM — SUNGAI YANG LUPA BAHWA IA MENUJU SAMUDERA

Ketika Manusia Terlalu Mencintai Jalan yang Ditempuh Sampai Lupa kepada Tujuan Qepulangannya

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah pintu di dasar istana terbuka, tampaklah sebuah sungai panjang.

Sungai itu tidak mengalir di atas bumi sebagaimana sungai biasa.

Ia mengalir melewati gunung-gunung batin, lembah pengalaman, hutan keinginan, padang kesunyian, kota keramaian, dan jembatan-jembatan pilihan.

Airnya berasal dari satu mata air.

Namun sepanjang perjalanan, ia menerima banyak nama.

Di satu tempat disebut sungai kerajaan.

Di tempat lain disebut sungai ilmu.

Di tempat lain disebut sungai kekayaan.

Di tempat lain disebut sungai cinta.

Di tempat lain disebut sungai penderitaan.

Tetapi airnya tetap air.

Dan seluruh alirannya memiliki satu arah:

samudera.

Maka Qitab berkata:

“Jangan terlalu terpikat kepada nama jalan sampai lupa ke mana jalan itu membawamu.”

Sebab manusia sering bertengkar mengenai jalan.

Membanggakan jalan.

Menghias jalan.

Mendirikan tanda kebesaran di sepanjang jalan.

Lalu lupa bahwa jalan hanyalah sarana.

Bukan tujuan terakhir.

SIRR KESEPULUH — MATA AIR PERTAMA

Setiap sungai memiliki permulaan.

Begitu pula perjalanan manusia.

Ia bermula dari keadaan yang sederhana.

Datang ke dunia tanpa harta.

Tanpa kedudukan.

Tanpa pengetahuan tentang manusia.

Kemudian hari demi hari ia menerima sesuatu.

Nama.

Bahasa.

Pendidikan.

Pengalaman.

Hubungan.

Kesenangan.

Kehilangan.

Dan semua itu menjadi anak-anak sungai yang masuk ke dalam dirinya.

Ada air yang jernih.

Ada yang keruh.

Ada yang membawa kesuburan.

Ada pula yang membawa lumpur.

Namun Qitab berkata:

“Jangan membenci seluruh sungai hanya karena pernah ada lumpur di dalamnya.”

Sebab kejernihan dapat kembali apabila aliran dijaga.

Kesalahan dapat diperbaiki.

Luka dapat dirawat.

Pikiran dapat diluruskan.

Akhlak dapat dibentuk.

Dan manusia tidak harus selamanya menjadi seperti keadaan terburuk yang pernah dialaminya.

TIGA BATU DI TENGAH ALIRAN

Kemudian sungai bertemu tiga batu besar.

Batu pertama bertuliskan:

MASA LALU

Banyak manusia berhenti di batu ini.

Ia memandangi segala sesuatu yang telah terjadi.

Keberhasilan lama.

Kesalahan lama.

Pengkhianatan lama.

Kejayaan lama.

Lalu berkata:

“Inilah aku.”

Qitab menjawab:

“Masa lalu adalah bagian dari perjalananmu, bukan seluruh dirimu.”

Belajarlah darinya.

Tetapi jangan mendirikan rumah di atasnya.

Sebab sungai tidak dapat mencapai samudera apabila seluruh airnya dipaksa kembali ke sumber.

Batu kedua bertuliskan:

PENGAKUAN

Di sini manusia mulai bertanya:

“Apakah orang mengetahui siapa aku?”

“Apakah orang mengakui perjuanganku?”

“Apakah namaku akan diingat?”

Dan karena terlalu ingin diakui, ia mulai mengubah alirannya agar dilihat manusia.

Padahal air yang paling berguna tidak selalu mengalir di tempat yang paling ramai.

Ada mata air kecil yang menyelamatkan satu keluarga.

Ada sungai yang tidak terkenal tetapi menghidupi ribuan tanaman.

Maka Qitab berkata:

“Jangan ukur manfaat dari seberapa keras namamu disebut.”

Manfaat tidak memerlukan tepuk tangan untuk menjadi manfaat.

Batu ketiga bertuliskan:

KEPASTIAN

Inilah batu yang paling berat.

Manusia ingin mengetahui seluruh jalan sebelum berjalan.

Ia ingin mengetahui apakah akan berhasil.

Apakah akan dicintai.

Apakah akan kaya.

Apakah keputusan yang diambil pasti benar.

Tetapi hidup tidak selalu memberikan seluruh peta sekaligus.

Maka Qitab berkata:

“Ada saat ketika engkau harus mengetahui arah tanpa mengetahui seluruh perjalanan.”

Bukan berarti berjalan tanpa pertimbangan.

Justru gunakan akal.

Gunakan ilmu.

Gunakan pengalaman.

Berdoalah.

Bermusyawarahlah.

Kemudian apabila telah cukup jelas, ambillah langkah.

Karena tidak mengambil keputusan pun tetap merupakan sebuah keputusan.

SUNGAI YANG MEMBANGUN ISTANA UNTUK DIRINYA

Dalam perjalanan, sungai melewati sebuah dataran luas.

Ia melihat tempat itu indah.

Lalu berkata:

“Aku ingin berhenti di sini.”

Ia membangun dinding.

Membuat bendungan.

Menjadikan airnya seperti danau.

Di sekelilingnya tumbuh istana.

Orang-orang datang.

Memujinya.

Menyebutnya besar.

Lama-kelamaan sungai lupa bahwa ia dahulu sedang menuju samudera.

Air berhenti mengalir.

Sebagian mulai keruh.

Maka terdengar peringatan:

“Apa yang tidak mengalir akan kehilangan sebagian dari kesegarannya.”

Begitu pula manusia.

Ilmu yang tidak dibagikan dapat menjadi kesombongan.

Harta yang tidak memberi manfaat dapat menjadi beban.

Jabatan yang tidak melahirkan pelayanan dapat menjadi penjara.

Pengalaman ruhani yang hanya digunakan untuk membanggakan diri dapat kehilangan nilai pembentukannya.

Karena itu setiap anugerah perlu aliran.

SIRR KESEBELAS — JANGAN MENYEMBAH PERAHU

Kemudian sungai melebar.

Manusia membutuhkan perahu untuk menyeberang.

Perahu itu sangat baik.

Ia menyelamatkannya dari arus.

Maka manusia mulai mencintainya.

Ketika sampai di daratan, ia tidak mau meninggalkannya.

Ia mengangkat perahu ke pundaknya.

Berjalan sambil berkata:

“Perahu ini telah menyelamatkanku. Aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Qitab berkata:

“Syukuri sarana yang menolongmu, tetapi jangan menjadikan sarana sebagai beban setelah fungsinya selesai.”

Ada metode yang berguna pada satu masa.

Ada kebiasaan yang perlu berubah ketika keadaan berubah.

Ada bentuk pelayanan yang cocok pada satu generasi tetapi perlu diperbarui pada generasi berikutnya.

Nilai dapat tetap.

Cara dapat berkembang.

Tujuan dapat tetap.

Kendaraan dapat berubah.

Maka orang bijak mampu membedakan antara:

inti dan bungkus,

tujuan dan sarana,

nilai dan metode.

SUNGAI PERTAMA — SUNGAI ILMU

Kemudian muncul satu cabang besar.

Airnya dipenuhi huruf-huruf bercahaya.

Ini adalah Sungai Ilmu.

Barang siapa meminumnya akan memperoleh pengetahuan.

Namun di tepinya ada peringatan:

“Minumlah, tetapi jangan tenggelam dalam kebanggaan mengetahui.”

Karena tujuan ilmu bukan agar manusia semakin pandai menyebut kesalahan orang lain.

Ilmu seharusnya menjadikan pandangan lebih luas.

Membuat keputusan lebih matang.

Membuat ucapan lebih bertanggung jawab.

Membuat manusia semakin mengenali batas pengetahuannya.

Maka orang berilmu yang matang tidak malu memperbaiki pendapat ketika bukti yang lebih baik datang.

SUNGAI KEDUA — SUNGAI HARTA

Cabang berikutnya berkilau seperti emas.

Di dalamnya mengalir rezeki.

Rumah.

Pakaian.

Kendaraan.

Makanan.

Kesempatan.

Kekayaan bukanlah aib.

Kemiskinan pun bukan jaminan kesucian.

Yang diuji adalah bagaimana manusia memperlakukan apa yang berada di tangannya.

Qitab berkata:

“Jangan biarkan sesuatu yang seharusnya berada di tangan naik menjadi raja di dalam hati.”

Harta dapat membangun sekolah.

Menyembuhkan orang sakit.

Menolong keluarga.

Membiayai dakwah.

Membangun kehidupan yang layak.

Tetapi harta juga dapat menumbuhkan kerakusan apabila manusia mengira tidak pernah cukup.

Maka kekayaan membutuhkan arah.

SUNGAI KETIGA — SUNGAI CINTA

Cabang ketiga sangat hangat.

Airnya lembut.

Di sepanjang tepinya tumbuh bunga.

Namun Qitab berkata:

“Cinta adalah air yang menghidupkan, tetapi jika kehilangan batas dapat menjadi banjir.”

Cintailah keluarga.

Cintailah sahabat.

Cintailah pasangan.

Cintailah manusia.

Tetapi jangan meminta seorang manusia menjadi sumber seluruh kebahagiaanmu.

Karena manusia terbatas.

Ia dapat salah.

Ia dapat berubah.

Ia dapat pergi.

Cinta yang sehat tidak membunuh kebebasan.

Tidak menghapus martabat.

Tidak menjadikan kekerasan sebagai bukti kasih.

Tidak menjadikan kecemburuan sebagai hak untuk menguasai.

Maka cinta yang jernih membawa manusia semakin matang.

Bukan semakin kehilangan dirinya.

SUNGAI KEEMPAT — SUNGAI AMANAH

Cabang berikutnya tampak berat.

Airnya mengalir membawa banyak nama manusia.

Ini adalah amanah.

Anak.

Keluarga.

Murid.

Jamaah.

Masyarakat.

Pekerjaan.

Organisasi.

Semua dapat menjadi amanah.

Qitab berkata:

“Jangan meminta amanah besar hanya karena engkau melihat kehormatannya. Lihat pula malam-malam panjang yang diperlukan untuk menjaganya.”

Amanah bukan hanya muncul di panggung.

Ia hidup dalam hal kecil.

Menepati janji.

Menjaga rahasia.

Tidak mengambil hak orang.

Datang ketika diperlukan.

Menyelesaikan pekerjaan yang telah disanggupi.

Dan berani berkata tidak apabila memang tidak mampu.

SUNGAI KELIMA — SUNGAI IBADAH

Cabang kelima mengalir sangat jernih.

Suara dzikir terdengar dari permukaannya.

Namun Qitab menuliskan satu peringatan:

“Jangan jadikan ibadah sebagai alasan merasa lebih mulia daripada orang lain.”

Ibadah adalah hubungan penghambaan.

Ia semestinya melahirkan akhlak.

Sujud yang benar seharusnya melembutkan kesombongan.

Dzikir yang benar seharusnya mengingatkan lisan agar tidak mudah menyakiti.

Doa yang benar seharusnya mengingatkan manusia bahwa ia membutuhkan Alloh.

Apabila ibadah justru membuat seseorang semakin kasar, mungkin ada sesuatu dalam cara ia memahami ibadah yang perlu diperiksa kembali.

PERTEMUAN DUA SUNGAI

Kemudian dua aliran bertemu.

Yang satu jernih.

Yang satu keruh.

Airnya bercampur.

Manusia bertanya:

“Apakah yang jernih akan rusak?”

Qitab menjawab:

“Jangan menilai perjalanan dari satu pertemuan.”

Ada manusia baik yang bertemu keadaan buruk.

Ada manusia yang pernah salah tetapi berubah.

Ada kehidupan yang memasuki musim keruh tetapi kemudian menjadi jernih.

Karena itu jangan terlalu cepat memberikan keputusan akhir kepada manusia yang masih hidup.

Selama umur masih ada, pintu perbaikan masih mungkin terbuka.

JEMBATAN PILIHAN

Di atas sungai terbentang tujuh jembatan.

Setiap jembatan berisi pilihan.

Jembatan pertama: benar atau mudah.

Tidak semua yang mudah benar.

Tidak semua yang benar mudah.

Jembatan kedua: perlu atau ingin.

Banyak beban muncul ketika keinginan terus menyamar sebagai kebutuhan.

Jembatan ketiga: bicara atau diam.

Tidak semua kebenaran harus diucapkan pada setiap waktu.

Tetapi ada saat diam menjadi bagian dari pembiaran.

Maka diperlukan hikmah.

Jembatan keempat: bertahan atau melepaskan.

Ada yang perlu diperjuangkan.

Ada yang justru perlu dilepas agar hidup dapat bergerak.

Jembatan kelima: sendiri atau meminta bantuan.

Kemandirian baik.

Tetapi menolak bantuan karena gengsi dapat menjadi kesombongan.

Jembatan keenam: cepat atau matang.

Kecepatan penting dalam keadaan tertentu.

Namun keputusan besar sering memerlukan kejernihan.

Jembatan ketujuh: aku atau amanah.

Inilah jembatan yang paling sempit.

Apakah keputusan dibuat demi kepentingan diri?

Atau demi amanah yang lebih besar?

SIRR KEDUA BELAS — SAMUDERA TIDAK MEMANGGIL DENGAN SUARA

Kemudian sungai mulai mendengar gemuruh jauh.

Samudera semakin dekat.

Namun samudera tidak berteriak:

“Datanglah kepadaku!”

Ia hanya ada.

Menunggu setiap sungai tiba menurut jalannya.

Maka Qitab berkata:

“Tujuan besar tidak selalu memerlukan suara besar.”

Ada panggilan yang datang sebagai kesadaran.

Bahwa hidup harus diperbaiki.

Bahwa hubungan tertentu harus disembuhkan.

Bahwa kesalahan harus diakui.

Bahwa amanah harus ditunaikan.

Bahwa suatu fase telah selesai.

Maka manusia yang peka tidak hanya mendengar suara keras.

Ia juga memperhatikan perubahan yang pelan.

KETIKA SUNGAI MELIHAT SAMUDERA

Akhirnya sungai sampai di sebuah tempat yang sangat luas.

Di hadapannya tidak ada lagi tepi yang terlihat.

Ia terdiam.

Selama perjalanan ia merasa dirinya besar.

Ia membelah lembah.

Menghidupi kota.

Menggerakkan roda.

Namun ketika melihat samudera, ia menyadari:

dirinya tetap kecil.

Anehnya, kesadaran itu tidak membuatnya hina.

Justru membuatnya tenteram.

Karena ia tidak lagi harus membuktikan bahwa dirinya adalah air terbesar.

Ia hanya perlu menyelesaikan alirannya dengan baik.

Lalu Qitab berkata:

“Kedamaian datang ketika engkau berhenti berlomba menjadi samudera dan mulai setia menjadi sungai yang mengalir dengan benar.”

QEPULANGAN KEENAM

Inilah Qepulangan Keenam:

qembali dari terpikat kepada jalan menuju mengingat tujuan.

Dari:

“Jalanku paling besar.”

menuju:

“Apakah jalanku membawaku kepada kebaikan?”

Dari:

“Lihatlah sejauh apa aku berjalan.”

menuju:

“Lihatlah apa yang berubah dalam akhlakku.”

Dari:

“Aku harus sampai lebih dahulu daripada orang lain.”

menuju:

“Aku harus sampai tanpa kehilangan amanah.”

Dari:

“Aku adalah sungai yang besar.”

menuju:

“Aku hanyalah air yang sedang mencari jalan qembali kepada keluasan yang telah ditetapkan Alloh.”

PENUTUP LEMBAR KEENAM

Malam turun di atas sungai.

Bintang-bintang terpantul pada permukaannya.

Sungai memandang bayangan langit dan memahami:

langit tidak benar-benar berada di dalam air.

Ia hanya dipantulkan.

Demikian pula banyak perkara dunia.

Mereka dapat terlihat besar di mata manusia, padahal hanyalah pantulan dari sesuatu yang sementara.

Maka jangan menggenggam pantulan sampai kehilangan kenyataan.

Jangan memuja perjalanan sampai kehilangan tujuan.

Jangan mencintai perahu sampai takut turun darinya.

Dan jangan mengagungkan sungai sampai lupa:

semua aliran akhirnya mengajarkan tentang qepulangan.

Di kejauhan, samudera mulai membuka sebuah lingkaran cahaya.

Gelombang bergerak ke kanan dan kiri.

Dari bawah permukaan muncul tujuh gerbang, dan gerbang pertama bertuliskan:

LEMBAR KETUJUH — TUJUH GERBANG SAMUDERA

“Ketika Setiap Kedalaman Membuka Ujian yang Berbeda: Takut, Nafsu, Kekuasaan, Cinta, Ilmu, Kehilangan, dan Qepasrahan.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KETUJUH — TUJUH GERBANG SAMUDERA

Ketika Setiap Kedalaman Membuka Ujian yang Berbeda: Takut, Nafsu, Kekuasaan, Cinta, Ilmu, Kehilangan, dan Qepasrahan

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah sungai menyerahkan alirannya kepada samudera, perjalanan tidak berhenti.

Sebab samudera bukan hanya luas.

Ia juga dalam.

Dan setiap kedalaman memiliki ujian yang berbeda.

Di permukaan, manusia masih dapat melihat cahaya matahari.

Masih dapat mendengar suara dunia.

Masih dapat melihat arah.

Tetapi semakin turun ke kedalaman, semakin sedikit yang dapat diandalkan selain kejernihan hati, akal, iman, dan pertolongan Alloh.

Kemudian terbukalah tujuh gerbang.

Setiap gerbang tidak dijaga oleh pasukan.

Tidak dikunci oleh besi.

Tidak pula dapat dibuka dengan kekuatan tubuh.

Masing-masing hanya terbuka apabila manusia mampu mengenali apa yang sedang menguasai dirinya.

Maka Qitab berkata:

“Yang menghalangimu memasuki kedalaman bukanlah samudera, melainkan sesuatu di dalam dirimu yang belum engkau kenali.”

GERBANG PERTAMA — TAKUT

Gerbang pertama berwarna gelap.

Di sekelilingnya terdengar berbagai suara:

“Bagaimana jika engkau gagal?”

“Bagaimana jika engkau ditinggalkan?”

“Bagaimana jika manusia menolakmu?”

“Bagaimana jika masa depan tidak seperti yang engkau harapkan?”

Takut bukan selalu musuh.

Takut dapat menjaga manusia dari bahaya.

Takut dapat membuat manusia lebih berhati-hati.

Tetapi apabila takut naik ke singgasana, seluruh hidup mulai dipimpin olehnya.

Manusia tidak lagi memilih berdasarkan kebenaran.

Ia memilih hanya berdasarkan apa yang paling mengurangi kecemasannya.

Maka Qitab berkata:

“Keberanian bukan tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap memilih yang benar walaupun rasa takut masih berjalan bersamamu.”

Ada orang yang menunggu takutnya hilang baru berani melangkah.

Padahal mungkin takut itu tidak hilang sepenuhnya.

Yang berubah adalah kemampuan manusia menghadapinya.

QACA TAKUT

Di hadapan gerbang terdapat sebuah Qaca.

Di dalamnya tertulis:

“Apa sebenarnya yang engkau takut kehilangan?”

Nama?

Kedudukan?

Harta?

Hubungan?

Pengakuan?

Kenyamanan?

Atau gambaran yang selama ini engkau bangun tentang dirimu sendiri?

Kadang manusia mengira ia takut kepada masa depan.

Padahal sebenarnya ia takut kehilangan kontrol.

Maka orang yang mengenali ketakutannya mulai dapat membedakan:

mana bahaya nyata,

mana kemungkinan,

mana kenangan lama,

dan mana pikiran yang sedang membesar-besarkan sesuatu.

Ketika ia mampu membedakan semuanya, gerbang pertama terbuka.

GERBANG KEDUA — NAFSU

Gerbang kedua berkilau indah.

Di baliknya terdapat segala sesuatu yang disukai manusia.

Makanan.

Kekayaan.

Kekuasaan.

Kenyamanan.

Tubuh yang indah.

Pujian.

Kemenangan.

Kesenangan.

Qitab tidak mengatakan semuanya haram atau buruk.

Yang menjadi ujian adalah:

siapa yang menguasai siapa.

Apakah engkau menggunakan kenikmatan?

Atau kenikmatan menggunakanmu?

Apakah engkau memiliki harta?

Atau harta memiliki hatimu?

Apakah engkau menggunakan kekuasaan?

Atau kekuasaan menggunakan dirimu?

Nafsu tidak selalu meminta sesuatu yang besar.

Kadang ia masuk melalui perkara kecil yang terus dipenuhi tanpa batas.

Satu keinginan menjadi dua.

Dua menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi kebiasaan.

Kemudian manusia mulai tidak mampu mengatakan:

“Cukup.”

Maka Qitab berkata:

“Orang yang tidak mengenal kata cukup akan tetap merasa miskin meskipun memiliki banyak.”

AIR KEDUA — AIR QECUKUPAN

Di gerbang ini mengalir air sangat jernih.

Barang siapa meminumnya tidak menjadi kaya seketika.

Tetapi ia belajar melihat apa yang sudah dimilikinya.

Nafas.

Waktu.

Keluarga.

Makanan.

Tempat berteduh.

Ilmu.

Kesempatan memperbaiki diri.

Dan ia memahami bahwa syukur bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Syukur adalah kemampuan berusaha tanpa menganggap seluruh kehidupan sebagai kekurangan.

Gerbang kedua terbuka ketika manusia dapat berkata:

“Aku boleh menginginkan lebih, tetapi aku tidak akan kehilangan diriku hanya karena belum memilikinya.”

GERBANG KETIGA — KEKUASAAN

Gerbang ketiga berbentuk singgasana.

Di sekelilingnya berdiri banyak kursi.

Ada kursi keluarga.

Kursi organisasi.

Kursi kerajaan.

Kursi masyarakat.

Kursi ilmu.

Kursi ketokohan.

Kursi ekonomi.

Kursi pengaruh.

Dan di atas semuanya tertulis:

“Setiap kursi memiliki hari ketika ia harus ditinggalkan.”

Manusia sering menganggap kehilangan kursi sebagai kehilangan dirinya.

Padahal jabatan hanyalah salah satu tempat menjalankan amanah.

Qitab berkata:

“Jika engkau hanya merasa berharga ketika berada di atas, mungkin engkau belum mengenal nilai dirimu ketika berada di bawah.”

Kekuasaan menjadi ujian karena ia dapat membuat seseorang lupa bahwa orang lain juga memiliki martabat.

Yang berbahaya bukan sekadar memerintah.

Yang berbahaya adalah ketika seseorang mulai percaya bahwa dirinya tidak mungkin salah.

UJIAN SINGGASANA

Kemudian terdengar tiga pertanyaan:

“Apakah engkau masih mau mendengar orang yang kedudukannya lebih rendah?”

“Apakah engkau mampu mengubah keputusan apabila ternyata keputusanmu salah?”

“Apakah manusia yang berada di bawah tanggung jawabmu merasa aman menyampaikan kebenaran?”

Apabila semua orang di sekitarmu hanya berkata iya karena takut, itu bukan tanda kepemimpinan yang kuat.

Kadang justru tanda bahwa singgasana telah terlalu tinggi.

Gerbang ketiga terbuka ketika manusia memahami:

“Kekuasaan tidak membesarkanku. Ia memperbesar akibat dari setiap pilihanku.”

GERBANG KEEMPAT — CINTA

Gerbang keempat dipenuhi bunga.

Suasananya hangat.

Banyak manusia menyangka inilah gerbang paling mudah.

Ternyata tidak.

Cinta memiliki ujian yang sangat halus.

Karena atas nama cinta manusia dapat:

menolong,

mengampuni,

berkorban,

menjaga,

tetapi juga dapat:

menguasai,

memaksa,

cemburu berlebihan,

menghapus batas,

dan membenarkan luka.

Maka Qitab berkata:

“Cinta yang benar tidak meminta manusia kehilangan martabatnya agar disebut setia.”

Mencintai tidak berarti memiliki seluruh hidup seseorang.

Menjaga tidak berarti mengontrol setiap langkah.

Setia tidak berarti menerima setiap perlakuan buruk.

Memaafkan tidak berarti membiarkan luka yang sama diulang tanpa batas.

QACA CINTA

Di hadapan gerbang terdapat Qaca yang hanya menampilkan dua pertanyaan:

“Apakah cintamu membuat orang yang engkau cintai bertumbuh?”

dan

“Apakah cintamu juga membuat dirimu semakin matang?”

Jika sebuah hubungan terus mengikis harga diri, menghilangkan keselamatan, menumbuhkan ketakutan, dan menghancurkan batas sehat, maka sesuatu perlu diperiksa.

Gerbang keempat terbuka ketika manusia mampu mencintai tanpa menjadikan makhluk sebagai pusat mutlak hidupnya.

Karena cinta kepada makhluk adalah amanah.

Sedangkan penghambaan hanya kepada Alloh.

GERBANG KELIMA — ILMU

Gerbang kelima berupa perpustakaan tanpa akhir.

Rak-raknya menjulang ke langit.

Di dalamnya terdapat ribuan Qitab, kitab, lembar, simbol, angka, sejarah, dan pengetahuan.

Manusia masuk dan merasa sangat kecil.

Ia membaca.

Belajar.

Mencari.

Merenungkan.

Semakin banyak membaca, semakin banyak pertanyaan muncul.

Lalu Qitab berkata:

“Tanda bertambahnya ilmu bukan berkurangnya pertanyaan, tetapi bertambahnya ketelitian dalam menjawab.”

Ada orang yang baru mengetahui sedikit lalu merasa telah mengetahui segalanya.

Ada pula orang yang mengetahui banyak lalu semakin hati-hati dalam berkata.

Karena itu ilmu memiliki dua pintu:

pintu pengetahuan,

dan pintu kerendahan hati.

Barang siapa hanya membuka yang pertama dapat menjadi pandai tetapi keras.

Barang siapa membuka keduanya dapat menjadi bijak.

HALAMAN TANPA TULISAN

Di tengah perpustakaan terdapat sebuah Qitab tanpa tulisan.

Manusia bertanya:

“Mengapa kosong?”

Lalu terdengar jawaban:

“Karena ada perkara yang belum engkau ketahui.”

Halaman kosong itu tidak memalukan.

Ia justru menyelamatkan manusia dari kebiasaan mengisi ketidaktahuan dengan klaim.

Maka Qitab berkata:

“Jangan paksa setiap misteri memiliki jawaban hanya agar engkau terlihat mengetahui.”

Ada saat untuk menjelaskan.

Ada saat untuk mencari bukti.

Ada saat untuk bertanya kepada ahlinya.

Dan ada saat yang paling mulia adalah berkata:

“Aku belum mengetahui.”

Gerbang kelima terbuka ketika ilmu melahirkan adab.

GERBANG KEENAM — KEHILANGAN

Gerbang keenam adalah yang paling sunyi.

Tidak ada emas.

Tidak ada bunga.

Tidak ada buku.

Hanya kursi kosong.

Di kursi itu manusia melihat bayangan segala sesuatu yang pernah hilang.

Orang yang dicintai.

Kesempatan.

Kesehatan.

Harta.

Masa muda.

Kedudukan.

Harapan.

Hubungan.

Waktu.

Dan kadang juga gambaran tentang masa depan yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Manusia berdiri lama di sana.

Tidak ada satu kalimat yang dapat menghapus seluruh kesedihan.

Qitab tidak berkata:

“Jangan menangis.”

Qitab berkata:

“Menangislah apabila hatimu perlu menangis, tetapi jangan percaya bahwa kehilangan membuat seluruh hidup kehilangan makna.”

Duka membutuhkan waktu.

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar dilupakan.

Yang berubah adalah cara manusia membawanya.

Pada awalnya luka terasa lebih besar daripada kehidupan.

Kemudian perlahan kehidupan mulai memiliki ruang lagi di sekeliling luka itu.

RAHASIA KURSI KOSONG

Kursi kosong mengajarkan:

tidak semua yang kita cintai akan tinggal selamanya.

Dan justru karena itulah kehadiran menjadi berharga.

Maka cintailah sebelum terlambat.

Mintalah maaf sebelum terlambat.

Ucapkan terima kasih sebelum terlambat.

Datanglah ketika engkau masih memiliki kesempatan datang.

Jangan menunggu kehilangan untuk memahami nilai sebuah kehadiran.

Gerbang keenam terbuka bukan ketika manusia tidak lagi sedih.

Tetapi ketika ia mampu membawa kesedihan tanpa berhenti menjalani hidup.

GERBANG KETUJUH — QEPASRAHAN

Gerbang terakhir berbeda dari semuanya.

Tidak ada pintu.

Tidak ada kunci.

Tidak ada tulisan selain satu kalimat:

“Di sini engkau tidak diminta menyerah kepada kehidupan. Engkau diminta menyerahkan hasil yang tidak berada dalam kuasamu kepada Alloh.”

Qepasrahan bukan malas.

Bukan berhenti berusaha.

Bukan membiarkan kezaliman.

Bukan menolak pengobatan.

Bukan meninggalkan ikhtiar.

Qepasrahan adalah setelah manusia telah:

berusaha,

belajar,

berdoa,

bermusyawarah,

memperbaiki,

dan menjalankan apa yang mampu dilakukan,

kemudian ia menerima bahwa hasil akhir tidak seluruhnya berada dalam tangannya.

PERBEDAAN QEPASRAHAN DAN QEMALASAN

Qemalasan berkata:

“Biarkan saja, aku tidak ingin berusaha.”

Qepasrahan berkata:

“Aku akan melakukan bagianku sebaik mungkin, lalu menyerahkan apa yang tidak dapat kukendalikan kepada Alloh.”

Qemalasan menggunakan takdir untuk menghindari tanggung jawab.

Qepasrahan menerima takdir setelah menjalankan tanggung jawab.

Maka Qitab berkata:

“Tanganmu tetap bekerja, tetapi hatimu tidak menyembah hasil.”

Inilah rahasia gerbang ketujuh.

TUJUH GERBANG MENJADI SATU

Setelah manusia melewati semuanya, ia melihat ke belakang.

Ternyata tujuh gerbang tidak benar-benar berjauhan.

Semua terhubung.

Takut dapat melahirkan keinginan menguasai.

Nafsu dapat menyamar sebagai cinta.

Kekuasaan dapat merusak ilmu.

Ilmu dapat berubah menjadi kesombongan.

Kehilangan dapat menumbuhkan ketakutan.

Dan qepasrahan dapat menata semuanya apabila dipahami dengan benar.

Maka Qitab berkata:

“Jangan memotong dirimu menjadi bagian-bagian yang tidak saling mengenal. Semua ruang dalam dirimu saling berbicara.”

Seseorang yang ingin memperbaiki kehidupan perlu melihat dirinya secara utuh.

Tubuh.

Pikiran.

Perasaan.

Hubungan.

Amanah.

Ibadah.

Istirahat.

Semuanya memerlukan keseimbangan.

SIRR KETIGA BELAS — KEDALAMAN TIDAK SAMA DENGAN KEGELAPAN

Semakin jauh manusia masuk ke dalam samudera, cahaya matahari memang berkurang.

Tetapi Qitab mengatakan:

“Jangan mengira semua kedalaman adalah kegelapan.”

Ada kedalaman yang justru melahirkan kejernihan.

Orang yang telah melewati penderitaan dapat menjadi lebih penuh kasih.

Orang yang pernah gagal dapat menjadi lebih rendah hati.

Orang yang pernah kehilangan dapat lebih menghargai kehadiran.

Orang yang pernah salah dapat menjadi lebih bijak apabila ia mau belajar.

Maka luka tidak selalu harus menjadi kutukan.

Ia dapat menjadi guru.

Namun guru hanya berguna apabila pelajar mau memahami pelajarannya.

TUJUH KALIMAT PENJAGA

Sebelum masuk lebih jauh, Qitab memberikan tujuh kalimat untuk dijadikan pengingat:

Pertama

“Aku boleh takut, tetapi takut tidak menjadi rajaku.”

Kedua

“Aku boleh memiliki keinginan, tetapi tidak semua keinginan harus kuturuti.”

Ketiga

“Aku boleh memimpin, tetapi aku tetap dapat salah.”

Keempat

“Aku boleh mencintai, tetapi cinta tidak menghapus batas dan martabat.”

Kelima

“Aku boleh mengetahui banyak, tetapi ilmuku tetap terbatas.”

Keenam

“Aku boleh berduka, tetapi aku tidak akan menyerahkan seluruh hidupku kepada kehilangan.”

Ketujuh

“Aku akan berikhtiar, lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.”

QEPULANGAN KETUJUH

Qepulangan ketujuh adalah qembalinya manusia dari:

takut

menuju keberanian,

dari nafsu

menuju qecukupan,

dari kekuasaan

menuju amanah,

dari cinta yang menguasai

menuju cinta yang memuliakan,

dari ilmu yang membesarkan diri

menuju ilmu yang melahirkan adab,

dari kehilangan yang membekukan

menuju penerimaan yang perlahan menghidupkan kembali,

dan dari keinginan menguasai seluruh hasil

menuju:

QEPASRAHAN KEPADA ALLOH SETELAH IKHTIAR.

PENUTUP LEMBAR KETUJUH

Setelah gerbang ketujuh dilewati, manusia berharap melihat dasar samudera.

Namun yang terlihat justru keluasan baru.

Seolah-olah setiap jawaban membuka pertanyaan lain.

Setiap kedalaman membuka kedalaman berikutnya.

Dan manusia akhirnya memahami:

“Perjalanan mengenal diri bukan perjalanan untuk merasa telah selesai, tetapi perjalanan untuk semakin sadar bagaimana harus hidup.”

Kemudian tujuh gerbang menghilang.

Di tengah samudera hanya tersisa satu titik cahaya.

Titik itu semakin membesar.

Ia berubah menjadi sebuah pusaran seperti langit di dalam air.

Di sekelilingnya bergerak bintang-bintang.

Dan di pusat pusaran itu tertulis:

LEMBAR KEDELAPAN — LANGIT YANG TENGGELAM DI DALAM SAMUDERA

“Ketika Manusia Mengetahui Bahwa Tidak Semua Cahaya Datang dari Atas, Sebab Sebagian Qejernihan Baru Tampak Setelah Ia Berani Menyelam ke Dalam Dirinya Sendiri.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KEDELAPAN — LANGIT YANG TENGGELAM DI DALAM SAMUDERA

Ketika Manusia Mengetahui Bahwa Tidak Semua Cahaya Datang dari Atas, Sebab Sebagian Qejernihan Baru Tampak Setelah Ia Berani Menyelam ke Dalam Dirinya Sendiri

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah tujuh gerbang samudera menghilang, manusia berdiri di hadapan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia melihat langit berada di dalam air.

Bintang-bintang bergerak di bawah kakinya.

Bulan seperti tenggelam di kedalaman.

Cahaya tidak lagi hanya datang dari atas.

Dan untuk sesaat manusia tidak mengetahui:

apakah ia sedang memandang langit,

atau sedang memandang pantulan langit?

Apakah ia sedang naik,

atau justru turun?

Apakah ia sedang mendekati cahaya,

atau sedang mengenali bahwa sejak awal dirinya memang hidup di antara dua pantulan?

Maka Qitab berkata:

“Jangan tergesa menyebut setiap cahaya sebagai tanda. Ada cahaya yang menunjukkan jalan, ada cahaya yang hanya memantulkan apa yang ingin engkau lihat.”

Di sinilah perjalanan menjadi lebih halus.

Sebab tidak semua kesesatan tampak gelap.

Ada kesesatan yang datang dengan cahaya.

Ada kekeliruan yang terasa sangat meyakinkan.

Ada keinginan diri yang datang memakai pakaian ilham.

Ada ketakutan yang datang memakai nama kewaspadaan.

Ada ambisi yang datang memakai nama amanah.

Karena itu manusia membutuhkan bukan hanya cahaya.

Ia membutuhkan qejernihan untuk membedakan cahaya dan pantulan.

SIRR KEEMPAT BELAS — LANGIT DI PERMUKAAN AIR

Jika engkau berdiri di tepi danau yang tenang pada malam hari, engkau dapat melihat bulan di dalamnya.

Tetapi bulan itu tidak benar-benar berada di dalam air.

Jika engkau meraih pantulannya, tanganmu hanya menyentuh air.

Demikian pula banyak hal dalam kehidupan.

Ada yang tampak sangat nyata di dalam pikiran,

padahal belum tentu nyata di luar diri.

Ada dugaan.

Ada harapan.

Ada ketakutan.

Ada penafsiran.

Ada kesan.

Semuanya dapat terasa hidup.

Namun rasa kuat tidak selalu menjadi bukti kuat.

Maka Qitab berkata:

“Bedakan apa yang engkau rasakan, apa yang engkau pikirkan, dan apa yang benar-benar terjadi.”

Tiga perkara ini sering bercampur.

Seseorang merasa ditolak.

Lalu berpikir bahwa semua orang membencinya.

Padahal mungkin hanya satu percakapan berjalan buruk.

Seseorang merasa dirinya sangat yakin.

Lalu berpikir bahwa keyakinannya pasti benar.

Padahal mungkin ada informasi yang belum ia ketahui.

Seseorang memperoleh mimpi yang kuat.

Lalu menganggapnya sebagai perintah mutlak.

Padahal mimpi dapat lahir dari banyak sebab dan tetap perlu ditimbang dengan akal, adab, ilmu, serta kenyataan.

Qejernihan dimulai ketika manusia berhenti menyamakan rasa dengan kepastian.

QACA LANGIT PERTAMA — PANTULAN KEINGINAN

Kemudian tampak sebuah Qaca besar di dalam samudera.

Ketika manusia memandangnya, Qaca itu menunjukkan semua yang paling ia inginkan.

Kekayaan.

Kedudukan.

Cinta.

Pengakuan.

Kemenangan.

Nama besar.

Kepastian.

Kemudian Qitab bertanya:

“Apabila yang engkau lihat sesuai dengan keinginanmu, apakah engkau masih mau memeriksanya?”

Inilah salah satu ujian paling sulit.

Manusia lebih mudah mencurigai berita yang tidak ia sukai.

Namun sering lebih mudah mempercayai sesuatu yang sesuai dengan harapannya.

Karena itu Qitab berkata:

“Jangan hanya menguji sesuatu yang tidak engkau sukai. Ujilah juga sesuatu yang sangat engkau ingin percayai.”

Sebab keinginan dapat menjadi kaca berwarna.

Segala sesuatu yang dilihat melalui kaca itu tampak sesuai dengan warna yang sudah ada di dalam hati.

QACA LANGIT KEDUA — PANTULAN KETAKUTAN

Qaca kedua menampilkan bayangan gelap.

Segala kemungkinan buruk muncul sekaligus.

Kehilangan.

Penolakan.

Kegagalan.

Pengkhianatan.

Penyakit.

Kemiskinan.

Kesendirian.

Ketakutan berkata:

“Semua ini akan terjadi.”

Tetapi Qitab bertanya:

“Apakah itu kenyataan, atau kemungkinan yang sedang dibesarkan oleh pikiranmu?”

Takut dapat mempersempit pandangan.

Satu kesalahan terasa seperti akhir segalanya.

Satu kegagalan terasa seperti bukti bahwa seluruh hidup gagal.

Satu penolakan terasa seperti bukti bahwa diri tidak layak dicintai.

Maka Qitab berkata:

“Jangan jadikan kemungkinan sebagai vonis.”

Lihat bukti.

Lihat apa yang masih dapat dilakukan.

Lihat siapa yang dapat dimintai bantuan.

Lihat jalan lain.

Karena ketakutan sering berkata:

“Tidak ada jalan.”

Padahal mungkin hanya belum terlihat.

SIRR KELIMA BELAS — CAHAYA TIDAK SELALU MEMERINTAH

Kemudian muncul cahaya besar dari dasar samudera.

Manusia terpesona.

Ia hampir berlutut kepada cahaya itu.

Tetapi Qitab berkata:

“Cahaya adalah tanda untuk melihat, bukan sesuatu yang harus engkau sembah.”

Ini adalah pelajaran penting.

Pengalaman ruhani dapat menyentuh hati.

Mimpi dapat meninggalkan kesan.

Dzikir dapat membawa ketenangan.

Doa dapat menumbuhkan keberanian.

Namun semua pengalaman itu tidak membatalkan tanggung jawab manusia untuk menimbang.

Jika sebuah pengalaman batin mendorong kepada kebaikan, adab, kasih, kejujuran, dan tanggung jawab, ambillah hikmahnya.

Tetapi jika ia mendorong kepada kesombongan, menyakiti diri, menzalimi orang, meninggalkan kewajiban nyata, atau merasa diri tidak mungkin salah, maka manusia harus berhati-hati.

Qitab berkata:

“Cahaya yang benar tidak membuat akal mati.”

Ia justru membantu manusia melihat dengan lebih jernih.

LANGIT PERTAMA — LANGIT AKAL

Kemudian terbuka satu lapisan langit.

Tidak dipenuhi bintang.

Ia dipenuhi pertanyaan.

Apa buktinya?

Apa akibatnya?

Apakah ada penjelasan lain?

Apakah aku sedang terlalu cepat menyimpulkan?

Ini adalah Langit Akal.

Akal bukan penghalang iman.

Akal adalah salah satu amanah.

Ia membantu manusia membedakan.

Menimbang.

Menyusun.

Memeriksa.

Menghubungkan sebab dan akibat.

Qitab berkata:

“Jangan takut kepada pertanyaan yang jujur. Kebenaran tidak menjadi kecil hanya karena diperiksa.”

Ada orang yang takut bertanya karena khawatir kehilangan keyakinan.

Padahal pertanyaan yang sehat justru dapat membersihkan keyakinan dari hal-hal yang hanya diwarisi tanpa dipahami.

LANGIT KEDUA — LANGIT HATI

Lapisan kedua terasa hangat.

Di sini tidak ada rumus.

Ada rasa kasih.

Ada belas kasihan.

Ada kepekaan.

Ada getaran ketika melihat penderitaan.

Namun Qitab memperingatkan:

“Hati yang lembut tetap memerlukan batas.”

Kasih tanpa pertimbangan dapat dimanfaatkan.

Belas kasih tanpa ketegasan dapat membuat kezaliman dibiarkan.

Karena itu hati dan akal harus berjalan bersama.

Akal bertanya:

“Apa yang tepat?”

Hati bertanya:

“Bagaimana agar tetap manusiawi?”

Keduanya tidak harus saling memusuhi.

LANGIT KETIGA — LANGIT PENGALAMAN

Lapisan ketiga dipenuhi gambar masa lalu.

Di sini manusia belajar dari apa yang pernah dialaminya.

Namun pengalaman memiliki dua sisi.

Ia dapat menjadi guru.

Ia juga dapat menjadi penjara.

Seseorang yang pernah dikhianati mungkin belajar lebih berhati-hati.

Tetapi jika tidak disadari, ia dapat mulai mencurigai semua orang.

Seseorang yang pernah gagal mungkin belajar lebih matang.

Tetapi jika luka terlalu kuat, ia dapat takut mencoba lagi.

Maka Qitab berkata:

“Belajarlah dari masa lalu, tetapi jangan memaksa masa depan memakai wajah masa lalu.”

Setiap manusia baru bukan orang yang melukaimu dahulu.

Setiap kesempatan baru bukan kegagalan yang sama.

Setiap hari memiliki kemungkinan yang belum ditulis.

LANGIT KEEMPAT — LANGIT AMANAH

Lapisan berikutnya sangat luas.

Di sana manusia melihat semua yang dipercayakan kepadanya.

Tubuhnya.

Waktunya.

Keluarganya.

Pekerjaannya.

Ilmunya.

Harta.

Hubungan.

Nama baik.

Kesempatan.

Semua itu tidak hanya untuk dinikmati.

Semuanya membawa tanggung jawab.

Qitab berkata:

“Jangan bertanya hanya apa yang engkau miliki. Bertanyalah apa yang harus engkau jaga.”

Tubuh perlu dijaga.

Hubungan perlu dirawat.

Ilmu perlu diamalkan.

Harta perlu digunakan dengan benar.

Janji perlu ditepati.

Nama baik perlu disertai akhlak.

Amanah membuat manusia tidak hidup semata-mata mengikuti dorongan sesaat.

Ia mulai mempertimbangkan akibat jangka panjang.

LANGIT KELIMA — LANGIT QESUNYIAN

Lapisan kelima tidak memiliki suara.

Di sana manusia tidak dipanggil dengan gelarnya.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada komentar.

Tidak ada penonton.

Hanya dirinya dan keheningan.

Maka Qitab bertanya:

“Siapakah engkau ketika tidak ada seorang pun melihat?”

Inilah ukuran yang tidak mudah dipalsukan.

Apakah engkau tetap jujur ketika tidak ada yang mengetahui?

Apakah engkau tetap menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi?

Apakah engkau tetap berdoa ketika tidak ada yang memuji kesalehanmu?

Apakah engkau tetap berbuat baik ketika namamu tidak disebut?

Qesunyian adalah tempat citra kehilangan panggung.

Di sana yang tersisa adalah karakter.

LANGIT KEENAM — LANGIT BATAS

Lapisan ini memiliki garis-garis cahaya.

Setiap garis adalah batas.

Batas kemampuan.

Batas tanggung jawab.

Batas waktu.

Batas tubuh.

Batas pengetahuan.

Banyak penderitaan muncul karena manusia menolak mengakui batas.

Ia ingin menyelesaikan semuanya.

Menolong semua orang.

Menjawab semua pertanyaan.

Mengontrol semua hasil.

Padahal tidak semuanya mungkin.

Qitab berkata:

“Mengetahui batas bukan berarti menyerah. Mengetahui batas adalah bagian dari kebijaksanaan.”

Ada saat membantu.

Ada saat menyerahkan kepada ahlinya.

Ada saat bekerja.

Ada saat beristirahat.

Ada saat berbicara.

Ada saat mengatakan:

“Aku tidak mampu menangani ini sendiri.”

Mengakui batas bukan kehinaan.

Itu adalah bentuk kejujuran.

LANGIT KETUJUH — LANGIT QEPASRAHAN

Lapisan terakhir hampir tidak terlihat.

Di sana manusia tidak menerima seluruh jawaban.

Ia hanya melihat bahwa tidak semua perkara berada dalam kuasanya.

Ia dapat menanam.

Tetapi tidak dapat memaksa hujan.

Ia dapat mencintai.

Tetapi tidak dapat memaksa seseorang mencintainya.

Ia dapat berobat.

Tetapi tidak dapat memerintah tubuh agar selalu mengikuti keinginannya.

Ia dapat merencanakan.

Tetapi tidak dapat menguasai seluruh masa depan.

Maka Qitab berkata:

“Qepasrahan adalah mengetahui batas ikhtiar tanpa meninggalkan ikhtiar.”

Inilah keseimbangan.

Tidak pasif.

Tidak putus asa.

Tidak pula merasa menjadi penguasa seluruh hasil.

BINTANG-BINTANG YANG JATUH KE AIR

Kemudian ribuan bintang jatuh ke dalam samudera.

Setiap bintang membawa satu kata:

pujian,

pengakuan,

gelar,

status,

kekayaan,

ketenaran,

kemenangan.

Ketika menyentuh air, semua cahaya itu perlahan padam.

Manusia bertanya:

“Mengapa?”

Qitab menjawab:

“Karena ada cahaya yang hanya hidup selama manusia memandangnya.”

Pujian hilang ketika orang berubah.

Status berakhir ketika jabatan selesai.

Ketenaran bergerak kepada nama lain.

Kekayaan dapat datang dan pergi.

Maka jangan membangun seluruh harga diri dari bintang-bintang yang dapat jatuh.

Bangunlah dari sesuatu yang lebih dalam:

akhlak,

amanah,

kejujuran,

ketekunan,

kasih,

dan hubungan dengan Alloh.

QACA LANGIT TERAKHIR

Kemudian seluruh samudera menjadi Qaca.

Tidak ada lagi satu cermin kecil.

Seluruh air memantulkan manusia.

Ia melihat dirinya dari segala sisi.

Tidak hanya sisi yang ia sukai.

Ia melihat keberanian dan ketakutannya.

Kebaikan dan kekurangannya.

Kejujuran dan kepentingannya.

Kasih dan amarahnya.

Harapan dan keterbatasannya.

Dan untuk pertama kalinya ia tidak mencoba menghapus salah satu.

Ia hanya berkata:

“Inilah diriku yang sedang belajar.”

Qitab kemudian berkata:

“Qejernihan bukan ketika engkau hanya melihat bagian yang indah. Qejernihan adalah ketika engkau dapat melihat keseluruhan tanpa membenci dirimu dan tanpa membohongi dirimu.”

SIRR KEENAM BELAS — LANGIT TIDAK PERLU DIBAWA PULANG

Setelah melihat keindahan itu, manusia ingin mengambil sebagian langit.

Ia mencoba memasukkan pantulan bintang ke dalam wadah.

Tetapi ketika wadah diangkat, hanya air yang tersisa.

Ia sedih.

Lalu Qitab berkata:

“Tidak semua pengalaman harus dimiliki. Ada yang cukup dijalani, dipahami, lalu dilepaskan.”

Manusia sering ingin mempertahankan pengalaman indah.

Ketenangan tertentu.

Perasaan tertentu.

Momen tertentu.

Tetapi kehidupan bergerak.

Jika ia terlalu mengejar pengalaman yang sama, ia dapat kehilangan pengalaman baru yang sedang hadir.

Maka jangan jadikan satu keadaan batin sebagai standar bahwa Alloh dekat hanya ketika engkau merasakan sesuatu yang luar biasa.

Ada hari ketika iman terasa hangat.

Ada hari ketika ibadah terasa biasa.

Yang penting adalah kesetiaan kepada kebaikan.

TIGA CAHAYA YANG HARUS DIBEDAKAN

Qitab kemudian menjelaskan tiga macam cahaya secara perlambang.

Cahaya pertama — Cahaya yang menenangkan

Ia membuat manusia lebih sabar.

Lebih jernih.

Lebih beradab.

Lebih bertanggung jawab.

Cahaya kedua — Cahaya yang memabukkan

Ia membuat manusia merasa dirinya lebih tinggi.

Tidak dapat salah.

Tidak membutuhkan nasihat.

Semua pengalaman dianggap membuktikan keistimewaannya.

Qitab memperingatkan:

berhati-hatilah.

Cahaya ketiga — Cahaya pantulan

Ia hanya memperbesar apa yang sudah ingin dipercayai.

Bukan kebenaran baru.

Hanya keinginan lama yang diberi bentuk baru.

Karena itu semua cahaya perlu ditimbang dari buahnya.

Apakah ia melahirkan akhlak?

Apakah ia membuatmu lebih jujur?

Apakah ia membuatmu lebih aman bagi orang lain?

Jika tidak, jangan tergesa menyebutnya sebagai ketinggian.

QEPULANGAN KEDELAPAN

Qepulangan kedelapan adalah qembalinya manusia dari:

pantulan

menuju qejernihan,

dari:

dugaan

menuju pemeriksaan,

dari:

rasa pasti

menuju kerendahan hati untuk menimbang,

dari:

mengejar pengalaman

menuju menjaga amanah,

dari:

ingin mengetahui semua rahasia

menuju:

menerima bahwa sebagian rahasia cukup diketahui oleh Alloh.

PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN

Kemudian langit yang berada di dalam samudera mulai memudar.

Bintang kembali ke tempatnya.

Bulan tidak lagi terlihat di bawah air.

Permukaan samudera menjadi gelap.

Namun manusia tidak takut.

Sebab sekarang ia memahami:

ketika pantulan hilang, langit yang sebenarnya tetap ada.

Maka jangan takut ketika suatu perasaan hilang.

Jangan takut ketika pengalaman indah berlalu.

Jangan takut ketika tidak lagi merasa luar biasa.

Karena jalan qepulangan tidak selalu berbunyi.

Tidak selalu bercahaya.

Tidak selalu penuh tanda.

Kadang ia hadir sebagai hal yang sangat sederhana:

menepati janji,

meminta maaf,

menjaga tubuh,

membantu keluarga,

menolak kezhaliman,

bekerja dengan jujur,

berdoa dalam sunyi,

dan tetap menjadi manusia yang baik ketika tidak seorang pun memperhatikan.

Lalu dari kejauhan terdengar gemuruh besar.

Bukan dari langit.

Bukan dari dasar samudera.

Melainkan dari pertemuan keduanya.

Air terbelah.

Dan di antara dua dinding samudera tampak sebuah jalan panjang menuju cahaya merah-keemasan.

Di atas jalan itu tertulis:

LEMBAR KESEMBILAN — GELOMBANG YANG MENELAN NAMA

“Ketika Semua Sebutan, Gelar, Pujian, dan Qeakuan Dihantam Ombak, Agar Manusia Mengetahui Apa yang Masih Tersisa Ketika Dunia Tidak Lagi Memanggilnya.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KESEMBILAN — GELOMBANG YANG MENELAN NAMA

Ketika Semua Sebutan, Gelar, Pujian, dan Qeakuan Dihantam Ombak, Agar Manusia Mengetahui Apa yang Masih Tersisa Ketika Dunia Tidak Lagi Memanggilnya

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah langit yang tenggelam di dalam samudera menghilang, tampaklah sebuah jalan panjang di antara dua dinding air.

Jalan itu sunyi.

Tidak ada istana.

Tidak ada bendera.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada seorang pun yang memanggil nama manusia yang sedang berjalan di atasnya.

Kemudian dari kejauhan terdengar suara.

Bukan suara manusia.

Bukan pula suara yang memerintahkan.

Ia hanyalah gemuruh ombak yang semakin mendekat.

Pada setiap gelombang terdapat tulisan.

Gelombang pertama membawa tulisan:

NAMA.

Gelombang kedua:

GELAR.

Gelombang ketiga:

PUJIAN.

Gelombang keempat:

KEDUDUKAN.

Gelombang kelima:

HARTA.

Gelombang keenam:

PENGAKUAN.

Dan gelombang terakhir membawa tulisan paling besar:

QEAkuan.

Maka Qitab berkata:

“Jangan takut ketika ombak mengambil sesuatu yang bukan hakikatmu.”

SIRR KETUJUH BELAS — NAMA YANG DITULIS DI ATAS PASIR

Di tepi jalan terdapat hamparan pasir putih.

Manusia menuliskan namanya sangat besar.

Ia mengukir huruf demi huruf.

Kemudian berdiri bangga.

Tetapi datanglah ombak pertama.

Air menyentuh pasir.

Nama itu perlahan hilang.

Manusia terdiam.

Ia menuliskan kembali namanya lebih dalam.

Ombak datang lagi.

Hilang kembali.

Maka ia berkata:

“Mengapa namaku tidak dapat bertahan?”

Qitab menjawab:

“Karena pasir bukan tempat untuk mencari keabadian.”

Nama diperlukan.

Nama memiliki kehormatan.

Nama dapat membawa sejarah.

Tetapi nama tidak mampu menahan waktu.

Akan ada masa ketika nama yang sangat terkenal menjadi sekadar tulisan dalam buku.

Akan ada masa ketika manusia tidak lagi mengingat siapa yang dahulu dipuji.

Maka jangan habiskan seluruh umur hanya untuk menjaga gema nama.

Gunakanlah nama untuk membawa manfaat.

Bukan manfaat untuk membesarkan nama.

GELOMBANG PERTAMA — KETIKA GELAR LEPAS

Kemudian datang gelombang yang sangat tinggi.

Ia menyentuh kepala manusia.

Mahkota terlepas.

Pakaian kebesaran basah.

Tanda jabatan hanyut.

Manusia panik.

Ia mengejar semuanya.

Namun Qitab berkata:

“Biarkanlah sebagian gelar hanyut agar engkau mengetahui apakah akhlakmu masih tetap berdiri tanpa gelar.”

Gelar adalah kehormatan apabila dipakai untuk menjaga amanah.

Tetapi gelar menjadi beban apabila seseorang memerlukan gelar untuk merasa lebih manusia daripada orang lain.

Apakah engkau masih mampu menghormati orang lain ketika mereka tidak lagi memanggilmu dengan sebutan khusus?

Apakah engkau masih mampu tersenyum ketika penghormatan yang dulu diberikan mulai berkurang?

Apakah engkau masih mampu berbuat baik ketika tidak ada lagi panggung untuk menunjukkan kebaikan?

Di situlah manusia mulai mengetahui:

mana kehormatan yang berada pada pakaian,

dan mana kemuliaan yang benar-benar telah masuk ke dalam akhlak.

GELOMBANG KEDUA — KETIKA PUJIAN DIAM

Kemudian laut menjadi sunyi.

Tidak ada satu pun suara yang berkata:

“Engkau hebat.”

Tidak ada yang berkata:

“Engkau istimewa.”

Tidak ada yang menepuk tangan.

Tidak ada yang menyebut pencapaian.

Manusia merasa kosong.

Ia bertanya:

“Apakah aku masih berharga jika tidak seorang pun memuji?”

Qitab menjawab:

“Nilai dirimu tidak lahir dari tepuk tangan.”

Pujian dapat menguatkan.

Tetapi jangan menjadikannya makanan utama bagi jiwa.

Sebab apabila hati hanya hidup dari pujian, ia akan kelaparan setiap kali dunia diam.

Dan orang yang terlalu membutuhkan pujian dapat mulai mengubah hidupnya demi mendapatkan pengakuan.

Ia tidak lagi bertanya:

“Apakah ini benar?”

Tetapi:

“Apakah ini akan disukai?”

Ia tidak lagi bertanya:

“Apakah ini bermanfaat?”

Tetapi:

“Apakah ini akan membuat namaku lebih besar?”

Maka Qitab berkata:

“Berbuatlah baik sampai engkau mampu menerima keadaan ketika kebaikanmu diketahui hanya oleh Alloh.”

GELOMBANG KETIGA — KETIKA HARTA TIDAK MAMPU BERBICARA

Kemudian terlihat peti-peti emas mengambang di permukaan.

Ada rumah.

Tanah.

Perhiasan.

Kendaraan.

Benda-benda yang dahulu sangat dibanggakan.

Gelombang datang.

Sebagian hanyut.

Sebagian tenggelam.

Manusia berlari hendak menyelamatkan semuanya.

Namun tangannya terlalu kecil.

Ia tidak mampu menggenggam seluruhnya.

Maka Qitab berkata:

“Apa yang dapat engkau pegang tidak semuanya dapat engkau pertahankan.”

Harta adalah amanah.

Ia dapat menjadi alat kebajikan.

Ia dapat menghidupi keluarga.

Menolong orang sakit.

Membuka pendidikan.

Menjaga dakwah.

Membangun kehidupan yang lebih layak.

Tetapi harta tidak dapat menjamin manusia terbebas dari kehilangan.

Karena itu jangan meletakkan seluruh rasa aman di atas sesuatu yang dapat berubah.

Bekerjalah.

Kelolalah.

Simpanlah dengan bijak.

Bagikanlah pada tempatnya.

Tetapi jangan biarkan hati berkata:

“Tanpa ini aku tidak berarti.”

Sebab nilai manusia tidak dapat dihitung hanya dari apa yang berada di rekening atau di tangannya.

GELOMBANG KEEMPAT — KETIKA ORANG BERPINDAH

Kemudian tampak banyak manusia berdiri di tepi pantai.

Sebagian datang.

Sebagian pergi.

Ada yang dahulu sangat dekat.

Ada yang pernah berjanji akan tinggal.

Ada yang pernah berkata:

“Aku selalu bersamamu.”

Namun waktu mengubah banyak hal.

Jalan berpisah.

Keadaan berubah.

Hubungan berubah.

Qitab berkata:

“Tidak semua yang datang ditakdirkan tinggal selamanya.”

Ada orang yang hadir untuk satu musim.

Ada yang bertahan lama.

Ada yang pergi dengan baik.

Ada yang meninggalkan luka.

Tetapi jangan jadikan kepergian seseorang sebagai bukti bahwa seluruh perjalanan bersama mereka sia-sia.

Ambillah pelajaran.

Jaga yang baik.

Lepaskan yang harus dilepas.

Dan jangan jadikan satu kehilangan sebagai alasan menutup pintu hati terhadap seluruh manusia.

SIRR KEDELAPAN BELAS — QEAkuan YANG PALING HALUS

Setelah banyak hal ditelan gelombang, manusia mengira dirinya telah bersih.

Ia berkata:

“Sekarang aku sudah tidak terikat.”

Tetapi Qitab bertanya:

“Siapakah yang berkata ‘aku sudah tidak terikat’?”

Manusia terdiam.

Ternyata qeaKuAn dapat masuk bahkan ke dalam kerendahan hati.

Seseorang dapat bangga karena merasa paling rendah hati.

Dapat sombong karena merasa tidak sombong.

Dapat merasa lebih suci karena merasa telah melepaskan dunia.

Inilah qeaKuAn yang sangat halus.

Ia tidak datang memakai mahkota emas.

Ia datang memakai pakaian sederhana.

Maka Qitab memperingatkan:

“Jangan sibuk membuktikan bahwa engkau telah bebas dari keakuan. Cukup terus periksa dirimu.”

Orang yang sungguh belajar rendah hati tidak perlu mengumumkan kerendahan hatinya.

Buahnya akan terlihat dari cara ia menerima koreksi.

Dari caranya meminta maaf.

Dari caranya tidak merendahkan.

Dari caranya memperlakukan orang yang tidak dapat memberi keuntungan kepadanya.

QACA TANPA WAJAH

Kemudian manusia sampai kepada sebuah cermin besar.

Anehnya, ketika berdiri di hadapannya, ia tidak melihat wajahnya sendiri.

Tidak ada bentuk tubuh.

Tidak ada pakaian.

Tidak ada nama.

Hanya terdapat pertanyaan:

“Apa yang tetap engkau lakukan jika tidak ada seorang pun mengetahui bahwa itu dilakukan olehmu?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi sangat dalam.

Apakah engkau masih membantu?

Apakah engkau masih menjaga amanah?

Apakah engkau masih berdoa?

Apakah engkau masih berkata benar?

Apakah engkau tetap menolak mengambil yang bukan hakmu?

Apakah engkau tetap memperlakukan keluarga dengan baik?

Apakah engkau tetap menepati janji?

Jika iya, maka sebagian amalmu telah mulai terlepas dari kebutuhan akan pengakuan.

GELOMBANG KELIMA — KETIKA CERITA TENTANG DIRI SENDIRI RUNTUH

Setiap manusia memiliki cerita tentang dirinya.

Ada yang berkata:

“Aku adalah orang kuat.”

Ada yang berkata:

“Aku adalah orang yang selalu menolong.”

Ada yang berkata:

“Aku selalu benar.”

Ada yang berkata:

“Aku adalah korban.”

Ada yang berkata:

“Aku adalah orang terpilih.”

Cerita seperti ini dapat membantu manusia memahami dirinya.

Tetapi juga dapat menjadi penjara.

Orang yang selalu merasa harus kuat menjadi malu ketika membutuhkan bantuan.

Orang yang selalu merasa dirinya penolong dapat kesulitan menerima bahwa ia juga perlu ditolong.

Orang yang merasa selalu benar menjadi sulit belajar.

Orang yang terus hidup sebagai korban dapat kehilangan keberanian membangun kehidupan baru.

Maka Qitab berkata:

“Jangan biarkan satu cerita lama menjadi satu-satunya nama bagi dirimu.”

Engkau dapat berubah.

Engkau dapat belajar.

Engkau dapat menyembuhkan.

Engkau dapat memperbaiki.

Engkau tidak harus tetap menjadi manusia yang sama seperti sepuluh tahun lalu.

GELOMBANG KEENAM — KETIKA MASA DEPAN TIDAK MEMATUHI RENCANA

Kemudian manusia melihat sebuah gulungan panjang.

Di dalamnya tertulis semua rencananya.

Usia tertentu harus mencapai ini.

Tahun tertentu harus memperoleh itu.

Hubungan harus berjalan demikian.

Pekerjaan harus berkembang demikian.

Tetapi ketika gulungan dibuka kembali, sebagian tulisan telah luntur.

Beberapa rencana tidak menjadi kenyataan.

Beberapa berubah.

Beberapa ternyata justru baik karena gagal.

Maka Qitab berkata:

“Rencana adalah peta, bukan Tuhan.”

Rencanakanlah.

Tetapi jangan menyembah rencana.

Ada saat jalan berubah karena sesuatu yang tidak diketahui.

Ada saat kegagalan menyelamatkan manusia dari sesuatu yang belum ia pahami.

Ada saat keberhasilan tertunda karena kemampuan belum cukup.

Ada pula saat manusia memang perlu mengubah strategi.

Qepasrahan bukan membiarkan semuanya tanpa arah.

Qepasrahan adalah berani merencanakan sambil menyadari bahwa hasil terakhir tetap milik Alloh.

GELOMBANG KETUJUH — KETIKA WAKTU MENYENTUH TUBUH

Kemudian samudera memperlihatkan wajah manusia dari masa ke masa.

Wajah anak-anak.

Wajah muda.

Wajah dewasa.

Wajah tua.

Tubuh berubah.

Rambut berubah.

Tenaga berubah.

Kekuatan berubah.

Maka Qitab berkata:

“Tubuh adalah rumah perjalanan, bukan kerajaan yang kekal.”

Jaga tubuh.

Rawat kesehatan.

Beristirahat.

Makan dengan baik.

Berobat ketika perlu.

Tetapi jangan membenci tubuh hanya karena waktu meninggalkan tanda.

Keriput bukan kehinaan.

Rambut putih bukan kekalahan.

Kelemahan usia bukan alasan untuk kehilangan martabat.

Manusia tidak bernilai hanya ketika tubuhnya berada pada puncak kekuatan.

Ada kebijaksanaan yang baru lahir setelah seseorang menempuh umur panjang.

Ada kelembutan yang baru tumbuh setelah banyak kehilangan.

Ada ketenangan yang baru datang setelah ego lelah berlomba.

SIRR KESEMBILAN BELAS — AIR TIDAK MENYIMPAN BENTUK

Kemudian Qitab memperlihatkan setetes air.

Air dimasukkan ke dalam cawan.

Ia mengikuti bentuk cawan.

Dimasukkan ke sungai.

Ia menjadi bagian dari sungai.

Dimasukkan ke samudera.

Ia menyatu dengan keluasan air.

Namun hakikatnya tetap air.

Maka Qitab berkata:

“Belajarlah dari air: lentur dalam bentuk, tetapi tidak kehilangan sifat dasar.”

Manusia akan memasuki banyak keadaan.

Muda.

Tua.

Kaya.

Sederhana.

Memimpin.

Dipimpin.

Dipuji.

Dicela.

Dicintai.

Ditinggalkan.

Jangan jadikan satu keadaan sebagai satu-satunya identitas.

Keadaan berubah.

Tetapi nilai inti seperti kejujuran, amanah, rahmah, dan penghambaan dapat tetap dijaga.

NAMA YANG DIBAWA ANGIN

Kemudian seluruh nama yang pernah disebut manusia terdengar dari kejauhan.

Sebagian terkenal.

Sebagian tidak.

Angin membawa semuanya.

Lalu semuanya perlahan menjadi sunyi.

Manusia bertanya:

“Jika semua nama akhirnya menjadi sunyi, mengapa manusia diberi nama?”

Qitab menjawab:

“Agar engkau dapat dipanggil untuk menunaikan amanah, bukan agar engkau mengira nama itu kekal.”

Nama adalah pintu hubungan.

Dengan nama manusia saling mengenal.

Dengan nama tanggung jawab diberikan.

Dengan nama kebaikan dapat diwariskan.

Tetapi nama terbaik bukanlah nama yang paling sering disebut.

Melainkan nama yang ketika disebut mengingatkan manusia kepada akhlak baik dan manfaat.

QACA GELOMBANG — TUJUH PERTANYAAN

Kemudian muncul Qaca terakhir pada lembar ini.

Di dalamnya terdapat tujuh pertanyaan:

Pertama

Jika gelarku hilang, apakah aku masih mampu menjaga adab?

Kedua

Jika orang berhenti memujiku, apakah aku masih melakukan kebaikan?

Ketiga

Jika hartaku berkurang, apakah aku masih mengetahui nilai diriku?

Keempat

Jika seseorang pergi dari hidupku, apakah aku masih dapat melanjutkan perjalanan tanpa membenci seluruh dunia?

Kelima

Jika aku mengetahui bahwa aku salah, apakah aku mampu mengubah pendapatku?

Keenam

Jika rencanaku gagal, apakah aku dapat menyusun jalan baru?

Ketujuh

Jika suatu hari tidak ada lagi yang menyebut namaku, apakah amal yang kutinggalkan masih membawa manfaat?

Barang siapa berani menjawab dengan jujur telah mendengar sebagian suara gelombang.

QEPULANGAN KESEMBILAN

Qepulangan kesembilan adalah qembalinya manusia dari:

nama

menuju amanah,

dari:

gelar

menuju akhlak,

dari:

pujian

menuju ketulusan,

dari:

kepemilikan

menuju rasa syukur,

dari:

cerita tentang diri

menuju kejujuran terhadap diri,

dari:

menguasai masa depan

menuju ikhtiar dan qepasrahan,

dan dari:

qeaKuAn

menuju:

QESADARAN BAHWA QEA GUNGAN MUTLAK HANYALAH MILIK ALLOH.

RAHASIA GELOMBANG TERAKHIR

Kemudian datang satu gelombang yang jauh lebih besar daripada semuanya.

Manusia mengira gelombang itu akan menghancurkannya.

Ia menutup mata.

Tetapi gelombang itu tidak menghantam.

Ia hanya lewat perlahan.

Ketika manusia membuka mata, seluruh pantai bersih.

Tidak ada lagi tulisan namanya.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada peti.

Tidak ada panggung.

Hanya dirinya berdiri di hadapan samudera.

Lalu Qitab berkata:

“Apabila yang bukan hakikatmu telah hanyut, jangan menangisi pantai yang kosong. Di situlah engkau mulai melihat apa yang sebenarnya perlu dibangun.”

Maka manusia mengambil satu batu kecil.

Tidak ditulisi namanya.

Ia hanya menuliskan satu kata:

AMANAH

Kemudian batu itu diletakkan di tepi samudera.

PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN

Wahai pembaca Qitab Zaqar Almafud,

jangan takut apabila suatu masa kehidupan mengambil sesuatu yang dahulu sangat engkau banggakan.

Tidak setiap kehilangan berarti engkau diperkecil.

Terkadang kehidupan sedang mengajarimu membedakan:

apa yang engkau punya,

dan siapa dirimu.

Jangan jadikan nama sebagai penjara.

Jangan jadikan gelar sebagai dinding.

Jangan jadikan pujian sebagai nafas.

Jangan jadikan harta sebagai ukuran seluruh nilai diri.

Jangan jadikan luka sebagai seluruh identitas.

Dan jangan jadikan pengalaman ruhani sebagai alasan untuk berhenti memeriksa diri.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak qembali dengan seluruh sebutan yang pernah diberikan kepadanya.

Ia qembali membawa jejak apa yang telah diperbuatnya.

Maka ketika dunia berkata:

“Siapakah engkau?”

jawablah dengan kehidupanmu.

Bukan hanya dengan gelarmu.

Ketika dunia berkata:

“Seberapa besar namamu?”

biarkan manfaatmu menjawab.

Dan ketika samudera bertanya:

“Apa yang masih tersisa setelah gelombang mengambil semuanya?”

semoga yang tersisa adalah:

iman,

amanah,

kasih,

kejujuran,

taubat,

dan hati yang masih mengetahui jalan qembali kepada Alloh.

Kemudian dari samudera yang telah tenang muncul sebuah cahaya putih-keemasan.

Di pusatnya berdiri sebuah gerbang tanpa pintu.

Tidak ada tulisan nama.

Tidak ada simbol kerajaan.

Hanya sebuah kalimat:

LEMBAR KESEPULUH — GERBANG TANPA NAMA

“Ketika Manusia Tidak Lagi Bertanya Siapa Dirinya di Hadapan Dunia, Melainkan Untuk Apa Alloh Masih Memberinya Waktu untuk Hidup.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KESEPULUH — GERBANG TANPA NAMA

Ketika Manusia Tidak Lagi Bertanya Siapa Dirinya di Hadapan Dunia, Melainkan Untuk Apa Alloh Masih Memberinya Waktu untuk Hidup

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Setelah gelombang terakhir menyapu nama, gelar, pujian, dan segala bentuk qeaKuAn yang melekat pada diri manusia, berdirilah ia di hadapan sebuah gerbang yang tidak memiliki tulisan apa pun.

Tidak ada lambang kerajaan.

Tidak ada ukiran nama.

Tidak ada tanda kehormatan.

Tidak ada nomor.

Tidak ada warna kebesaran.

Tidak ada pula penjaga yang bertanya:

“Siapa engkau?”

Gerbang itu justru mengajukan pertanyaan lain:

“Untuk apakah engkau masih diberi waktu?”

Manusia terdiam.

Sebab selama ini ia banyak mempersiapkan jawaban tentang siapa dirinya.

Ia memiliki sejarah.

Memiliki cerita.

Memiliki gelar.

Memiliki pencapaian.

Memiliki luka.

Memiliki harapan.

Tetapi gerbang itu tidak bertanya satu pun tentang semuanya.

Ia hanya bertanya tentang:

waktu yang masih tersisa.

Lalu Qitab berkata:

“Banyak manusia sibuk menjelaskan siapa dirinya, tetapi lupa bahwa umur tidak menunggu sampai penjelasan itu selesai.”

SIRR KEDUA PULUH — WAKTU YANG TIDAK MEMILIKI NAMA

Waktu tidak memanggil manusia dengan gelar.

Tidak peduli siapa yang kaya.

Siapa yang miskin.

Siapa yang dipuji.

Siapa yang dilupakan.

Siapa yang berkuasa.

Siapa yang berada di bawah kuasa.

Satu hari tetap berjalan dua puluh empat jam.

Satu malam tetap bergerak menuju pagi.

Satu umur tetap mendekati batasnya.

Maka Qitab berkata:

“Waktu adalah salah satu amanah yang paling adil, sebab ia diberikan tanpa terlebih dahulu bertanya seberapa besar namamu.”

Yang membedakan bukanlah jumlah jam dalam sehari.

Yang membedakan adalah:

apa yang dilakukan manusia dengan jam-jam itu.

Ada satu jam yang dipakai untuk berdamai setelah bertahun-tahun bermusuhan.

Ada satu jam yang dipakai menolong seseorang yang sedang kesulitan.

Ada satu jam yang dipakai memperbaiki kesalahan.

Ada satu jam yang dibuang hanya untuk memperbesar kebencian.

Maka nilai waktu bukan hanya pada panjangnya.

Tetapi pada isi yang diletakkan di dalamnya.

GERBANG PERTAMA — HARI INI

Di balik gerbang tanpa nama terdapat satu pintu kecil.

Di atasnya tertulis:

HARI INI

Tidak tertulis:

kemarin.

Tidak tertulis:

besok.

Hanya hari ini.

Manusia ingin membuka pintu kemarin.

Tetapi pintunya telah terkunci.

Ia mencoba memaksa.

Tidak dapat.

Lalu ia berlari ke pintu besok.

Pintunya belum ada.

Maka Qitab berkata:

“Engkau dapat belajar dari kemarin dan merencanakan besok, tetapi tempat amalmu tetap hari ini.”

Kemarin dapat disesali.

Tetapi tidak dapat diulang.

Besok dapat direncanakan.

Tetapi belum menjadi milikmu.

Hari ini adalah tempat tanganmu masih dapat bergerak.

Lisan masih dapat meminta maaf.

Tubuh masih dapat bersujud.

Akal masih dapat belajar.

Hati masih dapat memperbaiki niat.

Karena itu jangan terus menunda kebaikan dengan berkata:

“Nanti.”

Tidak semua “nanti” diberikan kesempatan menjadi kenyataan.

QACA UMUR

Kemudian terlihat sebuah Qaca panjang.

Bukan wajah yang dipantulkan.

Melainkan perjalanan umur.

Masa kecil.

Masa muda.

Masa dewasa.

Usia yang sekarang sedang dijalani.

Lalu bagian sesudahnya tidak terlihat.

Manusia bertanya:

“Mengapa bagian berikutnya kosong?”

Qitab menjawab:

“Karena umur bukan kontrak yang engkau tulis sendiri.”

Tidak seorang pun mengetahui secara pasti berapa lembar hidup yang masih tersisa.

Maka jangan menggunakan ketidaktahuan itu untuk ketakutan berlebihan.

Gunakan sebagai pengingat agar hidup tidak terus ditunda.

Jika ada kebaikan yang dapat dilakukan hari ini, lakukan.

Jika ada orang yang harus dihargai, hargai.

Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, mulailah.

Jika tubuh memerlukan perawatan, jagalah.

Jika ilmu perlu dipelajari, belajarlah.

Karena hidup yang baik bukan hidup yang mengetahui berapa panjang umur.

Tetapi hidup yang menggunakan umur dengan sadar.

SIRR KEDUA PULUH SATU — QEPULANGAN BUKAN ALASAN MENINGGALKAN DUNIA

Kemudian manusia berkata:

“Jika semuanya akan berakhir, apakah dunia tidak berarti?”

Qitab menjawab:

“Justru karena waktu terbatas, setiap amanah menjadi lebih berarti.”

Qepulangan bukan perintah membenci dunia.

Bukan alasan meninggalkan keluarga.

Bukan alasan meninggalkan pekerjaan.

Bukan alasan tidak merawat tubuh.

Bukan alasan berhenti membangun.

Dunia adalah tempat menjalankan amanah sebelum qepulangan.

Maka engkau tetap menanam pohon.

Walaupun suatu hari tidak lagi duduk di bawah naungannya.

Engkau tetap mendidik anak.

Walaupun suatu hari mereka berjalan dengan jalan mereka sendiri.

Engkau tetap menulis ilmu.

Walaupun nama penulisnya kelak mungkin dilupakan.

Engkau tetap membangun manfaat.

Karena kebaikan tidak kehilangan nilainya hanya karena pembuatnya tidak hidup selamanya.

RUANG AMANAH YANG BELUM SELESAI

Di balik gerbang terdapat ruangan besar.

Di sana terdapat banyak pekerjaan yang belum selesai.

Ada janji yang pernah dibuat.

Ada hubungan yang belum diperbaiki.

Ada ilmu yang belum diamalkan.

Ada tanggung jawab keluarga.

Ada tubuh yang terlalu lama diabaikan.

Ada pekerjaan yang terus ditunda.

Ada kata maaf yang belum diucapkan.

Ada ucapan terima kasih yang masih tertahan.

Qitab berkata:

“Sebelum mencari amanah yang lebih jauh, lihat amanah yang sudah berada di depan matamu.”

Manusia sering ingin menerima tugas besar.

Tetapi tugas kecil di dekatnya belum selesai.

Ingin menjaga banyak orang.

Namun keluarganya sendiri jarang didengarkan.

Ingin menyelamatkan dunia.

Namun dirinya sendiri kelelahan dan tidak pernah beristirahat.

Ingin memberi nasihat.

Namun janji sederhananya sering tidak ditepati.

Maka kemuliaan tidak selalu dimulai dari pekerjaan besar.

Kadang ia dimulai dari satu urusan kecil yang diselesaikan dengan benar.

EMPAT HARTA YANG TIDAK DAPAT DISIMPAN

Kemudian ditunjukkan empat peti.

Peti pertama berisi:

WAKTU

Manusia mencoba menyimpan satu jam untuk digunakan pada tahun depan.

Tidak dapat.

Waktu hanya dapat dipakai ketika ia hadir.

Peti kedua berisi:

KESEMPATAN

Ada pintu yang hanya terbuka sekali.

Jika seseorang terus menunda, keadaan dapat berubah.

Karena itu jangan menunggu keadaan sempurna untuk memulai setiap kebaikan.

Peti ketiga berisi:

KEHADIRAN

Orang yang sekarang berada di sisimu belum tentu selalu berada di sana.

Maka jangan terlalu sibuk dengan sesuatu yang jauh sampai tidak menyadari siapa yang sedang duduk di dekatmu.

Peti keempat berisi:

KEKUATAN

Tubuh memiliki musim.

Ada masa kuat.

Ada masa lelah.

Ada masa memerlukan istirahat.

Jangan memboroskan kekuatan seolah tubuh tidak memiliki batas.

Qitab berkata:

“Gunakan kekuatanmu untuk amanah, tetapi jangan menghancurkan wadah yang membawa amanah itu.”

GERBANG KEDUA — APA YANG DITINGGALKAN

Kemudian muncul gerbang lain.

Di atasnya tertulis:

“Apabila engkau pergi, apa yang tetap hidup?”

Manusia memikirkan hartanya.

Namun harta dapat berpindah tangan.

Memikirkan rumahnya.

Rumah dapat ditempati orang lain.

Memikirkan gelarnya.

Gelar akan dikenakan oleh orang berikutnya.

Kemudian Qitab memperlihatkan perkara lain.

Ilmu yang diajarkan.

Anak yang dididik dengan kasih.

Orang yang pernah ditolong.

Kebiasaan baik yang diwariskan.

Pohon yang ditanam.

Tulisan yang memberi manfaat.

Hubungan yang dipulihkan.

Doa yang pernah dipanjatkan untuk orang lain.

Maka Qitab berkata:

“Warisan yang paling dalam tidak selalu memiliki bentuk benda.”

Ada manusia meninggalkan gedung besar tetapi kenangannya pahit.

Ada manusia meninggalkan sedikit harta tetapi seluruh keluarganya mengingat kelembutan akhlaknya.

Maka jangan hanya bertanya:

“Apa yang akan diwariskan?”

Bertanyalah:

“Perasaan apa yang tertinggal dalam diri manusia setelah mereka pernah hidup bersamaku?”

QACA KELUARGA

Kemudian Qaca menampilkan wajah orang-orang terdekat.

Anehnya, manusia sering memberikan keramahan terbaik kepada orang yang jauh.

Tetapi kemarahan terbesar kepada mereka yang paling dekat.

Qitab bertanya:

“Mengapa orang yang paling engkau cintai justru sering menerima sisa kesabaranmu?”

Ini bukan berarti keluarga harus selalu setuju.

Perselisihan akan ada.

Tetapi rumah seharusnya tidak menjadi tempat manusia melepaskan seluruh kekasaran yang ia tahan di luar.

Qitab berkata:

“Akhlak yang baik bukan hanya yang dilihat tamu.”

Akhlak juga tampak ketika pintu rumah tertutup.

Ketika tidak ada penonton.

Ketika seseorang lelah.

Ketika pendapat berbeda.

Ketika keadaan ekonomi sulit.

Di sanalah sebagian qejernihan diuji.

GERBANG KETIGA — QESIBUKAN

Kemudian manusia memasuki sebuah kota sangat ramai.

Semua orang berlari.

Seseorang membawa banyak lembar pekerjaan.

Yang lain membawa telepon.

Yang lain mengejar pertemuan.

Semua berkata:

“Aku sibuk.”

Tetapi di tengah kota terdapat satu pertanyaan:

“Sibuk menuju ke mana?”

Qitab berkata:

“Qesibukan dapat membuat manusia merasa bergerak meskipun sebenarnya hanya berputar.”

Tidak setiap kegiatan adalah kemajuan.

Tidak setiap kelelahan adalah pengorbanan yang perlu.

Ada kesibukan yang lahir dari amanah.

Ada pula kesibukan yang lahir karena manusia takut berhenti dan mendengar dirinya sendiri.

Maka sesekali periksa:

apa yang paling banyak menyita waktumu?

Apakah sejalan dengan yang paling engkau anggap penting?

Jika keluarga penting, adakah waktu untuk mereka?

Jika kesehatan penting, apakah tubuh diberi istirahat?

Jika ilmu penting, apakah engkau belajar?

Jika ibadah penting, apakah ia hanya tersisa ketika semua urusan lain telah selesai?

Prioritas yang hanya hidup di dalam ucapan tetapi tidak pernah mendapatkan waktu bukanlah prioritas yang benar-benar dijaga.

SIRR KEDUA PULUH DUA — MENGISI, BUKAN HANYA MEMANJANGKAN

Manusia sering berdoa meminta umur panjang.

Itu doa yang baik apabila disertai harapan agar umur dipenuhi kebaikan.

Karena Qitab berkata:

“Bukan hanya panjang umur yang perlu diminta, tetapi keberkahan pada apa yang berada di dalam umur.”

Satu tahun dapat berlalu tanpa perubahan.

Satu hari dapat mengubah seluruh arah hidup.

Satu percakapan dapat mengakhiri permusuhan.

Satu keputusan dapat menyelamatkan keluarga dari masalah panjang.

Satu taubat dapat membuka permulaan baru.

Maka jangan meremehkan hari kecil.

Sering kali perubahan besar tidak datang dengan suara langit.

Ia datang sebagai keputusan sederhana:

“Mulai hari ini aku akan memperbaiki ini.”

TUJUH TANDA UMUR SEDANG DIHORMATI

Kemudian Qitab menuliskan tujuh tanda.

Pertama — manusia belajar membedakan penting dan mendesak.

Tidak setiap hal yang berteriak paling keras adalah yang paling penting.

Kedua — ia tidak terus menunda permintaan maaf.

Karena gengsi terlalu kecil untuk dipertukarkan dengan hubungan yang berharga.

Ketiga — ia menjaga tubuh.

Sebab tubuh adalah kendaraan amanah.

Keempat — ia memiliki waktu untuk qesunyian dan muhasabah.

Agar hidup tidak hanya digerakkan kebisingan.

Kelima — ia belajar mengatakan tidak.

Sebab menerima semua permintaan dapat membuat amanah utama terbengkalai.

Keenam — ia tidak menunda kasih.

Ia mengatakan terima kasih, menghargai, dan hadir.

Ketujuh — ia memperbaiki hubungan dengan Alloh.

Bukan hanya ketika takut kehilangan, tetapi juga ketika kehidupan sedang lapang.

QACA PENUNDAAN

Kemudian manusia melihat gunung besar.

Gunung itu dibuat dari jutaan kata:

“Nanti.”

“Nanti aku meminta maaf.”

“Nanti aku mulai menjaga kesehatan.”

“Nanti aku belajar.”

“Nanti aku berhenti dari kebiasaan buruk.”

“Nanti aku lebih banyak hadir untuk keluarga.”

“Nanti aku beribadah lebih baik.”

Gunung itu semakin tinggi.

Kemudian Qitab berkata:

“Nanti adalah kata kecil yang dapat membangun gunung penyesalan.”

Tidak semua perkara harus diselesaikan hari ini.

Tetapi setiap perubahan besar membutuhkan satu langkah pertama.

Jika seluruh perjalanan terasa berat, jangan memikirkan semuanya sekaligus.

Mulailah dari apa yang benar-benar dapat dilakukan hari ini.

GERBANG KEEMPAT — QEMATIAN SEBAGAI BATAS, BUKAN OBSESI

Di ujung perjalanan terlihat garis cahaya.

Manusia mengetahui bahwa setiap kehidupan memiliki batas.

Qitab tidak menyuruh manusia hidup dalam ketakutan terus-menerus terhadap kematian.

Qitab berkata:

“Ingatlah batas agar engkau menghargai kehidupan, bukan agar engkau membenci kehidupan.”

Kesadaran akan kefanaan seharusnya membuat manusia:

lebih cepat memaafkan,

lebih berhati-hati menyakiti,

lebih menghargai kesehatan,

lebih bersyukur,

lebih bertanggung jawab,

dan lebih sadar bahwa tidak setiap perdebatan layak menghabiskan umur.

Tidak semua pertengkaran perlu dimenangkan.

Tidak semua penghinaan perlu dibalas.

Tidak semua komentar perlu dijawab.

Kadang menjaga ketenangan adalah penggunaan umur yang jauh lebih baik.

SURAT DARI DIRI DI MASA DEPAN

Kemudian Qitab memberikan perlambang sebuah surat.

Surat itu ditulis oleh dirimu yang lebih tua kepada dirimu hari ini.

Isinya:

“Jangan terlalu mengkhawatirkan perkara yang nanti ternyata kecil.”

“Habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang benar-benar berarti.”

“Jaga tubuhmu sebelum tubuh memaksamu berhenti.”

“Jangan takut memulai kembali.”

“Banyak orang yang engkau coba buat terkesan akhirnya tidak lagi berada dalam hidupmu.”

“Apa yang paling engkau ingat bukanlah semua pekerjaan yang selesai, tetapi orang-orang yang menemanimu menjalaninya.”

“Dan jangan menunggu kehilangan untuk memahami nilai kehadiran.”

Manusia membaca surat itu lalu terdiam lama.

SIRR KEDUA PULUH TIGA — HIDUP TIDAK DIMINTA MENJADI SEMPURNA

Kemudian manusia berkata:

“Bagaimana jika aku telah membuang banyak waktu?”

Qitab menjawab:

“Jangan buang waktu yang tersisa hanya untuk terus menangisi waktu yang telah hilang.”

Ambil pelajaran.

Taubat.

Perbaiki.

Mulailah.

Engkau tidak harus memiliki masa lalu yang sempurna untuk memiliki langkah berikutnya yang baik.

Qitab Zaqar Almafud tidak mengajarkan bahwa perjalanan manusia harus tanpa kesalahan.

Ia mengajarkan agar kesalahan tidak dibiarkan menjadi rumah tetap.

Selama masih ada kehidupan, masih ada ruang untuk bertumbuh.

TIGA JENIS WAKTU

Qitab kemudian membagi waktu secara perlambang menjadi tiga.

Waktu pertama — waktu yang dipinjamkan untuk membangun.

Belajar.

Bekerja.

Mendidik.

Menanam.

Mengabdi.

Waktu kedua — waktu yang diberikan untuk berhenti.

Beristirahat.

Merenung.

Menyembuhkan luka.

Mengembalikan tenaga.

Waktu ketiga — waktu yang harus dilepaskan.

Masa lalu.

Hubungan yang memang selesai.

Rencana yang tidak lagi sesuai.

Kesalahan yang sudah ditaubati dan diperbaiki.

Barang siapa hanya membangun akan kelelahan.

Barang siapa hanya berhenti tidak bergerak.

Barang siapa tidak mampu melepaskan akan membawa terlalu banyak beban.

Hidup membutuhkan ketiganya.

QEPULANGAN KESEPULUH

Inilah Qepulangan Kesepuluh.

Qembali dari:

sibuk menjelaskan siapa diri

menuju:

menggunakan waktu untuk menjalankan amanah.

Dari:

menunggu hari sempurna

menuju:

memulai dari hari yang ada.

Dari:

menyesali masa lalu tanpa akhir

menuju:

belajar lalu memperbaiki.

Dari:

menguasai semua rencana

menuju:

menjalankan ikhtiar dengan sadar.

Dari:

hidup untuk meninggalkan nama besar

menuju:

hidup agar meninggalkan manfaat yang benar.

RAHASIA GERBANG TANPA NAMA

Kemudian gerbang yang sejak awal tidak memiliki nama perlahan terbuka.

Manusia baru memahami mengapa gerbang itu tidak diberi nama.

Sebab gerbang tersebut tidak peduli siapa yang melewatinya.

Raja dapat melewati.

Rakyat dapat melewati.

Orang kaya dapat melewati.

Orang sederhana dapat melewati.

Orang terkenal dapat melewati.

Orang yang tidak pernah dikenal dunia juga dapat melewati.

Yang ditanya hanya:

“Apa yang engkau lakukan dengan waktu yang diberikan kepadamu?”

Maka Qitab berkata:

“Di hadapan waktu, gelar menjadi kecil. Di hadapan amanah, alasan menjadi tipis. Dan di hadapan qepulangan, yang paling penting bukan seberapa sering manusia menyebut namamu, tetapi apa yang telah engkau tanam sepanjang hidupmu.”

PENUTUP LEMBAR KESEPULUH

Kemudian fajar muncul di atas samudera.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, manusia tidak lagi mencari gerbang berikutnya dengan tergesa-gesa.

Ia duduk.

Memandang matahari terbit.

Mengambil nafas.

Dan memahami:

bahwa qepulangan tidak hanya terjadi pada akhir umur.

Qepulangan dapat terjadi setiap hari.

Ketika marah qembali kepada kesabaran.

Ketika tersesat qembali kepada arah.

Ketika sombong qembali kepada tawadhu’.

Ketika lalai qembali kepada kesadaran.

Ketika jauh qembali kepada Alloh.

Maka setiap pagi adalah gerbang.

Setiap taubat adalah gerbang.

Setiap maaf adalah gerbang.

Setiap keputusan baik adalah gerbang.

Dan manusia tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk memasuki gerbang itu.

Ia hanya perlu mulai.

Lalu matahari naik semakin tinggi.

Dari pusat samudera muncul sebuah lingkaran besar seperti matahari kedua.

Namun cahaya itu tidak menyilaukan.

Di dalam lingkaran terdapat satu timbangan.

Di sebelah kiri tertulis:

APA YANG ENGKAU AMBIL DARI DUNIA

dan di sebelah kanan:

APA YANG ENGKAU BERIKAN KEPADA DUNIA

Maka terbukalah lembar berikutnya:

LEMBAR KESEBELAS — TIMBANGAN DI TENGAH JAGAT SAMUDERA

“Ketika Manusia Tidak Lagi Menghitung Berapa Banyak yang Ia Peroleh, Melainkan Berapa Banyak Kehadirannya Menjadi Rahmat, Amanah, dan Manfaat bagi Kehidupan.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KESEBELAS — TIMBANGAN DI TENGAH JAGAT SAMUDERA

Ketika Manusia Tidak Lagi Menghitung Berapa Banyak yang Ia Peroleh, Melainkan Berapa Banyak Kehadirannya Menjadi Rahmat, Amanah, dan Manfaat bagi Kehidupan

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Ketika matahari kedua terbit dari tengah samudera, tampaklah sebuah timbangan yang sangat besar.

Timbangan itu tidak terbuat dari emas.

Tidak pula dari besi.

Ia berdiri di antara langit dan samudera, seolah-olah menggantung di tengah jagat.

Di sisi kirinya tertulis:

“APA YANG ENGKAU AMBIL DARI DUNIA”

Di sisi kanannya tertulis:

“APA YANG ENGKAU BERIKAN KEPADA DUNIA”

Manusia berdiri lama di hadapannya.

Ia melihat bahwa selama hidup, ia telah menerima sangat banyak.

Udara.

Air.

Makanan.

Tubuh.

Waktu.

Kasih orang tua.

Pertolongan sahabat.

Ilmu dari guru.

Kesempatan bekerja.

Tempat berteduh.

Bumi untuk berpijak.

Langit untuk dipandang.

Dan seluruh kehidupan yang tidak ia ciptakan sendiri.

Lalu Qitab berkata:

“Jangan hanya menghitung apa yang belum engkau miliki. Hitung pula berapa banyak hal yang sudah engkau terima tanpa pernah engkau ciptakan.”

Maka untuk pertama kalinya manusia melihat hidup bukan hanya sebagai kumpulan kekurangan.

Ia melihat hidup sebagai kumpulan titipan.

Dan setiap titipan membawa pertanyaan:

“Apa yang engkau lakukan dengannya?”

SIRR KEDUA PULUH EMPAT — TIMBANGAN TIDAK MENILAI BESAR DARI LUAR

Kemudian manusia membawa sebuah peti besar.

Di dalamnya terdapat pencapaian.

Gelar.

Jabatan.

Harta.

Pengikut.

Pujian.

Ia meletakkannya di sisi timbangan.

Anehnya, timbangannya hampir tidak bergerak.

Manusia terkejut.

Lalu datang seorang tua membawa secangkir air yang dahulu pernah ia berikan kepada orang kehausan.

Ia meletakkannya.

Timbangan bergerak.

Datang seorang ibu membawa satu malam ketika ia menjaga anaknya yang sakit.

Timbangan bergerak lagi.

Datang seseorang membawa satu permintaan maaf yang sungguh-sungguh.

Bergerak lagi.

Datang seorang guru membawa satu ilmu yang membuat muridnya berubah menjadi lebih baik.

Bergerak lagi.

Maka Qitab berkata:

“Jangan tertipu oleh ukuran luar suatu amal. Ada perkara kecil yang berat karena dilakukan dengan tulus dan tepat pada waktunya.”

Satu senyum dapat menjadi kecil bagi yang memberi.

Tetapi besar bagi orang yang sedang merasa sendirian.

Satu kalimat lembut dapat hanya membutuhkan beberapa detik.

Tetapi seseorang mungkin mengingatnya bertahun-tahun.

Satu keputusan jujur mungkin tidak dikenal siapa pun.

Tetapi dapat menyelamatkan banyak manusia dari kerugian.

TIMBANGAN PERTAMA — APA YANG ENGKAU TERIMA

Di depan timbangan muncul sebuah lembar panjang.

Qitab meminta manusia menuliskan apa yang pernah diterimanya.

Ia mulai menulis:

kehidupan,

keluarga,

pendidikan,

rezeki,

pertolongan,

kesempatan,

pengampunan,

kesabaran orang lain terhadap kesalahannya,

kesehatan pada masa tertentu,

orang-orang yang pernah mengajarinya sesuatu.

Semakin lama menulis, semakin ia sadar:

tidak ada seorang pun yang hidup sepenuhnya sendirian.

Orang yang merasa dirinya berhasil hanya karena kekuatannya sendiri sering lupa berapa banyak tangan yang pernah menolongnya.

Ada orang tua yang membesarkan.

Ada petani yang menanam makanan.

Ada guru yang mengajarkan huruf.

Ada pekerja yang membangun jalan.

Ada orang lain yang menjaga listrik, air, kesehatan, keamanan, dan banyak hal yang dianggap biasa.

Maka Qitab berkata:

“Kesadaran tentang saling bergantung adalah obat bagi kesombongan.”

TIMBANGAN KEDUA — APA YANG ENGKAU BERIKAN

Kemudian lembar kedua dibuka.

Manusia mulai menulis apa yang pernah ia berikan.

Pada awalnya ia hanya mengingat uang.

Tetapi Qitab berkata:

“Pemberian tidak selalu berbentuk harta.”

Ada waktu yang diberikan.

Ada perhatian.

Ada ilmu.

Ada tenaga.

Ada perlindungan.

Ada keberanian membela orang yang diperlakukan tidak adil.

Ada kemampuan mendengarkan.

Ada kesetiaan menjaga rahasia.

Ada pengampunan.

Ada kesempatan kedua.

Ada pekerjaan yang diselesaikan dengan benar.

Ada doa yang tidak diketahui siapa pun.

Semua dapat menjadi pemberian.

Karena itu jangan merasa tidak mampu memberi hanya karena tidak memiliki banyak harta.

Selama masih ada hati, tenaga, ilmu, waktu, dan akhlak, selalu ada sesuatu yang dapat diberikan.

SIRR KEDUA PULUH LIMA — MEMBERI TANPA MENGHAPUS DIRI

Tetapi Qitab kemudian memperingatkan:

“Memberi tidak berarti menghancurkan dirimu sendiri.”

Ada manusia yang memberi sampai tidak memiliki batas.

Ia merasa bersalah apabila mengatakan tidak.

Ia mengurus semua orang.

Menyelesaikan semua masalah.

Menanggung seluruh beban.

Lalu tubuhnya lelah.

Hatinya kosong.

Dan perlahan timbul kebencian terhadap orang-orang yang ia tolong.

Maka Qitab berkata:

“Pemberian yang sehat memiliki ukuran.”

Engkau boleh membantu.

Tetapi engkau juga perlu beristirahat.

Engkau boleh hadir untuk orang lain.

Tetapi engkau tidak harus menjadi jawaban bagi semua persoalan.

Engkau boleh menolong.

Tetapi jangan membuat orang lain kehilangan tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.

Rahmah tidak menghapus batas.

Amanah kepada manusia lain tidak membatalkan amanah terhadap tubuh dan keluargamu.

TIMBANGAN KETIGA — MANFAAT DAN CITRA

Kemudian dua benda diletakkan di hadapan manusia.

Benda pertama sangat indah.

Namanya:

CITRA

Benda kedua terlihat sederhana.

Namanya:

MANFAAT

Citra bertanya:

“Bagaimana agar orang melihatku baik?”

Manfaat bertanya:

“Apa yang benar-benar dibutuhkan?”

Citra berkata:

“Pastikan namamu disebut.”

Manfaat berkata:

“Pastikan masalahnya selesai.”

Citra berkata:

“Lakukan yang terlihat besar.”

Manfaat berkata:

“Lakukan yang sungguh berguna.”

Qitab berkata:

“Jangan sampai engkau menghabiskan energi untuk terlihat menjadi cahaya, tetapi lupa benar-benar menerangi.”

Ada pekerjaan yang sangat penting tetapi tidak terlihat.

Menata administrasi.

Menjaga kebersihan.

Merawat orang sakit.

Mengajar anak membaca.

Memperbaiki kesalahan data.

Mendengarkan anggota keluarga.

Semua mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan.

Tetapi dunia bertahan karena banyak manusia melakukan pekerjaan yang tidak mendapat panggung.

QACA MANFAAT

Kemudian muncul sebuah Qaca.

Di dalamnya tidak terlihat wajah.

Yang muncul adalah orang-orang yang pernah bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Qitab bertanya:

“Apa yang mereka rasakan setelah berurusan denganmu?”

Apakah mereka merasa lebih aman?

Atau lebih takut?

Lebih dihargai?

Atau lebih kecil?

Lebih terang?

Atau lebih bingung?

Lebih mandiri?

Atau dibuat bergantung?

Lebih dekat kepada kebaikan?

Atau hanya semakin kagum kepada dirimu?

Pertanyaan ini berat.

Karena niat baik belum tentu selalu menghasilkan akibat baik.

Maka manusia perlu berani menerima umpan balik.

Kadang kita berniat menolong tetapi cara kita membuat orang merasa direndahkan.

Kadang kita berniat menjaga tetapi cara kita terlalu mengontrol.

Kadang kita berniat membimbing tetapi justru membuat orang takut berpikir sendiri.

Qitab berkata:

“Periksalah bukan hanya niat, tetapi juga buah.”

TIMBANGAN KEEMPAT — ILMU

Kemudian datang para pemilik ilmu.

Mereka membawa banyak buku.

Banyak catatan.

Banyak hafalan.

Qitab tidak menimbang jumlah halaman.

Ia bertanya:

“Apa yang berubah setelah ilmu itu melewatimu?”

Apakah orang menjadi lebih memahami?

Apakah masalah menjadi lebih mudah diselesaikan?

Apakah kebodohan berkurang?

Apakah keputusan menjadi lebih adil?

Apakah akhlak menjadi lebih baik?

Ilmu yang hanya dipakai sebagai ornamen dapat menjadi indah tetapi tidak memberi jalan.

Maka Qitab berkata:

“Ilmu menjadi berat di timbangan ketika ia turun dari kepala menuju manfaat.”

TIMBANGAN KELIMA — HARTA

Kemudian harta diletakkan.

Timbangan tidak bertanya:

“Seberapa banyak?”

Ia bertanya:

“Dari mana dan untuk apa?”

Apakah diperoleh dengan jujur?

Apakah hak orang lain dijaga?

Apakah keluarga dinafkahi dengan baik?

Apakah ada bagian untuk menolong?

Apakah harta digunakan membangun atau merusak?

Maka Qitab berkata:

“Harta tidak menjadi mulia hanya karena jumlahnya besar. Ia menjadi amanah mulia ketika cara mendapat dan menggunakannya benar.”

Orang kaya dapat menjadi jalan manfaat yang sangat besar.

Orang sederhana pun dapat memiliki kemuliaan yang besar.

Tidak perlu saling merendahkan.

Yang diuji adalah amanah masing-masing.

TIMBANGAN KEENAM — KEKUASAAN

Kemudian datang kursi-kursi besar.

Di atasnya duduk para pemimpin.

Qitab bertanya:

“Apa yang terjadi kepada orang lemah ketika engkau berkuasa?”

Jika orang lemah semakin sulit memperoleh hak, maka ada yang salah.

Jika orang yang berbeda pendapat selalu ditekan, maka ada yang salah.

Jika jabatan digunakan untuk keluarga sendiri tetapi amanah umum dilupakan, maka ada yang salah.

Jika kritik dibalas dengan ancaman, maka kekuasaan telah berubah dari amanah menjadi ketakutan.

Qitab berkata:

“Ukuran kepemimpinan bukan seberapa kuat orang takut kepadamu, melainkan seberapa aman mereka memperoleh keadilan darimu.”

TIMBANGAN KETUJUH — LIDAH

Kemudian hanya sebuah lidah diletakkan di atas timbangan.

Anehnya, timbangannya bergerak sangat kuat.

Manusia bertanya:

“Mengapa lidah begitu berat?”

Qitab menjawab:

“Karena satu kalimat dapat membangun dan satu kalimat dapat menghancurkan.”

Dengan lidah manusia:

memberi harapan,

memfitnah,

menghibur,

memecah belah,

mengajarkan ilmu,

menghina,

meminta maaf,

menghasut,

mendoakan,

dan berdusta.

Karena itu sebelum berbicara, tanyakan:

Benarkah?

Perlukah?

Bagaimana cara menyampaikannya?

Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar.

Dan tidak semua yang ingin dikatakan harus diucapkan.

SIRR KEDUA PULUH ENAM — MEMBERI BUKAN BERARTI MEMILIKI ORANG

Qitab kemudian memperlihatkan seseorang yang telah banyak menolong.

Namun setiap kali orang yang ditolong mengambil keputusan sendiri, ia marah.

Ia berkata:

“Setelah semua yang kuberikan, seharusnya engkau mengikuti aku.”

Maka Qitab berkata:

“Pemberian yang meminta kepemilikan kembali bukan lagi pemberian sepenuhnya.”

Menolong seseorang tidak berarti memiliki hidupnya.

Mendidik anak tidak berarti menguasai seluruh masa depannya.

Membimbing murid tidak berarti membuatnya tidak boleh berpikir.

Memberi bantuan tidak berarti membeli kesetiaan.

Bila kebaikan selalu ditagih sebagai hutang emosional, kebaikan dapat berubah menjadi rantai.

Maka berikan dengan hikmah.

Dan ketika memberi, jangan diam-diam membeli manusia.

SAMUDERA RAHMAH

Kemudian timbangan menghilang.

Di bawahnya terbuka samudera baru.

Airnya sangat jernih.

Di permukaan tertulis satu kata:

RAHMAH

Qitab berkata:

“Rahmah bukan hanya rasa kasihan. Rahmah adalah kehendak agar kehidupan menjadi lebih baik.”

Rahmah kadang lembut.

Memberi makan.

Menenangkan anak.

Mendengarkan kesedihan.

Tetapi rahmah juga dapat tegas.

Mencegah orang mabuk mengendarai kendaraan.

Menghentikan kezaliman.

Mengatakan tidak pada sesuatu yang merusak.

Mengajak orang mendapatkan pertolongan yang tepat ketika membutuhkan.

Maka jangan membatasi rahmah hanya pada ucapan yang lembut.

Rahmah adalah tindakan yang menjaga kehidupan dan martabat.

TIGA TINGKAT PEMBERIAN

Qitab kemudian membuka tiga lapis.

Tingkat pertama — memberi sesuatu

Makanan.

Harta.

Barang.

Tenaga.

Tingkat kedua — memberi kemampuan

Mengajarkan keterampilan.

Membuka jalan kerja.

Mendidik.

Membantu seseorang memahami cara menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tingkat ketiga — menjaga martabat

Menolong tanpa mempermalukan.

Memberi tanpa merendahkan.

Membimbing tanpa membuat orang merasa bodoh.

Qitab berkata:

“Pemberian tertinggi bukan hanya mengisi tangan seseorang, tetapi membantu ia berdiri dengan martabat.”

QACA WARISAN

Kemudian manusia diperlihatkan sebuah pemakaman tua.

Banyak nama tertulis pada batu.

Sebagian telah sulit dibaca.

Namun di dekatnya terdapat pohon-pohon besar.

Sekolah.

Sumur.

Jalan.

Anak-anak yang belajar.

Keluarga yang masih mengingat nasihat baik.

Qitab berkata:

“Nama dapat memudar, tetapi manfaat dapat terus berjalan.”

Maka jika engkau ingin meninggalkan jejak, jangan hanya mengukir nama pada batu.

Ukirlah manfaat di dalam kehidupan.

SIRR KEDUA PULUH TUJUH — DUNIA BUKAN TEMPAT MENGAMBIL SAJA

Kemudian manusia melihat dua tangan.

Tangan pertama selalu terbuka ke atas.

Meminta.

Menerima.

Mengambil.

Tangan kedua terbuka ke luar.

Memberi.

Menopang.

Mengangkat.

Qitab berkata:

“Hidup membutuhkan keduanya.”

Ada masa manusia menerima pertolongan.

Jangan malu.

Ada masa manusia mampu memberi pertolongan.

Jangan sombong.

Hari ini engkau menolong.

Besok mungkin engkau membutuhkan bantuan.

Hari ini engkau kuat.

Besok mungkin lemah.

Maka jangan merendahkan orang yang sedang membutuhkan.

Karena roda keadaan berputar.

TUJUH PERTANYAAN TIMBANGAN

Kemudian Qitab memberikan tujuh pertanyaan untuk dibawa pulang:

Pertama

Dari semua yang kumiliki, mana yang benar-benar telah memberi manfaat?

Kedua

Apakah keluargaku menerima bagian terbaik dari akhlakku atau hanya sisanya?

Ketiga

Apakah orang yang bekerja bersamaku merasa dihormati?

Keempat

Apakah ilmu yang kupunya membuatku lebih bermanfaat atau hanya lebih suka berdebat?

Kelima

Apakah hartaku memiliki arah selain memenuhi keinginan pribadi?

Keenam

Apakah orang dapat berbeda pendapat denganku tanpa takut kehilangan penghormatanku?

Ketujuh

Jika namaku dihapus dari semua yang kulakukan, apakah aku masih mau melakukannya?

QEPULANGAN KESEBELAS

Qepulangan kesebelas adalah qembalinya manusia dari:

menghitung yang diterima

menuju menyadari yang dititipkan,

dari:

memiliki

menuju mengelola,

dari:

mencari pengakuan

menuju mencari manfaat,

dari:

menolong agar dipuji

menuju menolong karena amanah,

dari:

mengukur hidup dengan jumlah

menuju mengukur hidup dengan kualitas jejaknya.

Dan dari:

“Apa yang dunia berikan kepadaku?”

menuju:

“Apa yang dapat kutinggalkan agar dunia menjadi sedikit lebih baik setelah aku melewatinya?”

RAHASIA TIMBANGAN TERAKHIR

Kemudian manusia melihat timbangan itu sekali lagi.

Kali ini kedua sisinya kosong.

Ia bertanya:

“Mengapa tidak ada apa pun?”

Qitab menjawab:

“Karena setiap hari timbangan dimulai kembali.”

Kebaikan kemarin tidak memberi izin berbuat buruk hari ini.

Kesalahan kemarin tidak melarang manusia memperbaiki hari ini.

Setiap pagi membawa ruang baru.

Maka jangan hidup hanya dari kejayaan masa lalu.

Jangan pula terus menghukum diri karena masa lalu yang telah benar-benar ditaubati dan diperbaiki.

Apa yang dapat dilakukan sekarang?

Itulah pertanyaan hidup.

PENUTUP LEMBAR KESEBELAS

Kemudian timbangan perlahan larut menjadi cahaya.

Cahaya itu masuk ke dalam samudera.

Dari dalam air muncul ribuan makhluk kehidupan:

ikan,

terumbu,

tumbuhan,

burung yang terbang di atasnya,

dan manusia yang hidup di sepanjang pantainya.

Qitab berkata:

“Tidak ada kehidupan yang berdiri benar-benar sendirian. Setiap makhluk berada dalam jaring amanah.”

Air memberi kehidupan kepada daratan.

Daratan mengalirkan sungai kepada samudera.

Pohon memberi udara.

Manusia memerlukan semuanya.

Maka qeagungan manusia bukanlah ketika ia merasa berada di atas seluruh ciptaan.

Qeagungan manusia justru tampak ketika ia memahami tanggung jawabnya untuk tidak merusak titipan yang menopang kehidupannya.

Dan akhirnya manusia menundukkan kepala.

Bukan karena merasa tidak berarti.

Tetapi karena menyadari betapa banyak yang telah diterimanya.

Ia berkata:

“Yā Alloh, jangan biarkan aku hanya menjadi pengambil dari dunia. Jadikan kehadiranku membawa kebaikan selama Engkau masih memberi umur.”

Kemudian samudera bergetar.

Dari bawah air muncul sebuah pohon raksasa.

Akarnya menembus kedalaman.

Batangnya berdiri di antara samudera dan langit.

Cabangnya menyentuh bintang-bintang.

Pada akar pohon tertulis:

ASAL

pada batangnya:

AMANAH

dan pada buahnya:

WARISAN

Maka terbukalah:

LEMBAR KEDUA BELAS — POHON YANG AKARNYA MENYENTUH SAMUDERA DAN DAHANNYA MENYENTUH LANGIT

“Ketika Manusia Menyadari Bahwa Ia Mewarisi Masa Lalu, Menjalani Amanah Hari Ini, dan Menanam Buah untuk Generasi yang Belum Dilahirkan.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KEDUA BELAS — POHON YANG AKARNYA MENYENTUH SAMUDERA DAN DAHANNYA MENYENTUH LANGIT

Ketika Manusia Menyadari Bahwa Ia Mewarisi Masa Lalu, Menjalani Amanah Hari Ini, dan Menanam Buah untuk Generasi yang Belum Dilahirkan

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Ketika timbangan terakhir larut menjadi cahaya, dari dasar samudera bangkit sebuah pohon yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.

Akarnya tidak menembus tanah.

Akarnya masuk ke dalam samudera.

Batangnya berdiri tegak di antara air dan langit.

Dahannya naik semakin tinggi, seolah-olah menyentuh bintang.

Daunnya berkilau seperti lembar-lembar sejarah.

Buahnya belum semuanya matang.

Sebagian bahkan belum tumbuh.

Pada akarnya tertulis:

ASAL

Pada batangnya:

AMANAH

Pada buahnya:

WARISAN

Manusia mendekati pohon itu.

Kemudian Qitab berkata:

“Engkau tidak memulai hidup dari kehampaan. Sebelum engkau lahir, sudah ada manusia yang menanam sesuatu yang akhirnya engkau terima.”

Ada bahasa yang diwariskan.

Ada ilmu yang diwariskan.

Ada budaya.

Ada rumah.

Ada kebiasaan baik.

Ada pula luka.

Ada hutang.

Ada konflik.

Ada kesalahan lama.

Ada nilai yang perlu dijaga.

Ada pula kebiasaan yang perlu dihentikan.

Maka menjadi keturunan bukan hanya menerima nama.

Menjadi keturunan adalah menerima sesuatu yang harus diperiksa, dijaga, diperbaiki, lalu diteruskan dengan lebih baik.

SIRR KEDUA PULUH DELAPAN — AKAR TIDAK TERLIHAT, TETAPI MENENTUKAN

Manusia sering terpesona kepada buah.

Ia memuji bunga.

Mengagumi tinggi pohon.

Namun jarang melihat akar.

Padahal pohon dapat berdiri karena sesuatu yang tersembunyi di bawah permukaan.

Demikian pula manusia.

Banyak hal di dalam dirinya dibentuk sebelum ia memahami dirinya sendiri.

Cara berbicara.

Cara memandang uang.

Cara menghadapi pertengkaran.

Cara menunjukkan kasih.

Cara menghadapi kegagalan.

Sebagian dipelajari dari keluarga.

Sebagian dari masyarakat.

Sebagian dari pengalaman.

Maka Qitab berkata:

“Tidak semua yang diwariskan harus ditolak, dan tidak semua yang diwariskan harus diteruskan.”

Ada akar yang sehat.

Rawatlah.

Ada akar yang terluka.

Sembuhkanlah.

Ada akar yang membusuk.

Jangan menyembahnya hanya karena ia tua.

Karena menghormati masa lalu tidak berarti mengulangi seluruh kesalahan masa lalu.

AKAR PERTAMA — NAMA LELUHUR

Kemudian manusia melihat akar pertama.

Pada akar itu tertulis nama-nama manusia yang hidup jauh sebelum dirinya.

Sebagian dikenal.

Sebagian sudah tidak lagi diketahui.

Manusia ingin membanggakan semuanya.

Tetapi Qitab berkata:

“Jangan hanya bertanya siapa leluhurmu. Bertanyalah nilai baik apa yang dapat engkau lanjutkan dari mereka.”

Nama besar dapat menjadi pengingat.

Namun nama besar juga dapat menjadi ujian.

Jika engkau mewarisi nama yang dihormati, jangan gunakan untuk meminta penghormatan tanpa amal.

Gunakan sebagai beban kebaikan.

Berusahalah agar orang tidak berkata:

“Leluhurnya mulia, tetapi keturunannya merusak nama itu.”

Maka warisan darah bukanlah mahkota yang selesai.

Ia adalah pekerjaan yang belum selesai.

AKAR KEDUA — CERITA KELUARGA

Akar kedua dipenuhi cerita.

Ada keberanian.

Ada perjuangan.

Ada kehilangan.

Ada konflik.

Ada rahasia.

Ada pengorbanan.

Setiap keluarga memiliki cerita yang berbeda.

Sebagian cerita menjadi sumber kekuatan.

Sebagian menjadi luka yang diwariskan tanpa disadari.

Ada keluarga yang mewariskan ketakutan kepada kemiskinan.

Ada yang mewariskan kebiasaan diam ketika masalah muncul.

Ada yang mewariskan kemarahan.

Ada yang mewariskan kemampuan bekerja keras.

Ada yang mewariskan kasih.

Qitab berkata:

“Engkau tidak bertanggung jawab atas semua yang terjadi sebelum engkau lahir, tetapi engkau bertanggung jawab terhadap apa yang engkau pilih untuk diteruskan.”

Jika keluargamu mewariskan kasih, lanjutkan.

Jika mewariskan kejujuran, kuatkan.

Jika ada pola yang merusak, berusahalah memutusnya.

Inilah salah satu bentuk bakti yang jarang dipahami:

tidak meneruskan luka kepada generasi berikutnya.

AKAR KETIGA — BAHASA

Kemudian tampak akar yang dipenuhi huruf.

Bahasa adalah warisan yang sangat dalam.

Melalui bahasa manusia belajar:

mencintai,

berdoa,

menasihati,

mengajar,

menyampaikan marah,

dan memaknai dunia.

Tetapi bahasa juga dapat menjadi senjata.

Qitab berkata:

“Jagalah bahasa warisanmu, tetapi jangan gunakan bahasa untuk merendahkan manusia lain.”

Bahasa dapat menjaga identitas.

Bahasa dapat membawa sastra.

Doa.

Sejarah.

Kearifan.

Namun semua bahasa tetap alat bagi manusia untuk saling memahami.

Maka jangan jadikan perbedaan bahasa sebagai alasan merasa lebih tinggi.

Kemuliaan bahasa terlihat ketika ia menjadi jalan ilmu dan rahmah.

AKAR KEEMPAT — TANAH

Kemudian akar menyentuh tanah yang tidak terlihat di dasar samudera.

Qitab berkata:

“Manusia memiliki hubungan dengan tempat, tetapi tempat bukan alasan untuk membenci tempat lain.”

Tanah kelahiran dapat dicintai.

Budaya dapat dijaga.

Sejarah dapat dihormati.

Namun cinta kepada asal tidak membutuhkan kebencian kepada yang berbeda.

Pohon yang kokoh tidak perlu membenci pohon di hutan lain.

Ia cukup menjaga akarnya sendiri.

Maka cinta tanah asal yang sehat melahirkan:

tanggung jawab,

perawatan,

kebersamaan,

dan keinginan meninggalkan tempat yang lebih baik untuk generasi sesudahnya.

BATANG — AMANAH HARI INI

Setelah melewati akar, manusia sampai kepada batang.

Batang berbeda dengan akar.

Akar adalah masa lalu.

Batang adalah apa yang sedang hidup sekarang.

Pada batang tertulis:

“Engkaulah penghubung antara yang telah pergi dan yang belum datang.”

Kalimat ini membuat manusia terdiam.

Sebab apa yang dilakukannya hari ini tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Cara orang tua memperlakukan anak akan memengaruhi bagaimana anak itu kelak memahami kasih.

Cara seorang guru mengajar dapat memengaruhi ratusan keputusan muridnya.

Cara seorang pemimpin mengelola amanah dapat meninggalkan budaya bertahun-tahun setelah ia pergi.

Maka hari ini bukan titik yang terpisah.

Hari ini adalah jembatan.

SIRR KEDUA PULUH SEMBILAN — ENGKAU ADALAH GENERASI TENGAH

Setiap manusia pernah menjadi anak.

Sebagian kemudian menjadi orang tua.

Murid menjadi guru.

Yang dahulu menerima pertolongan suatu hari dapat menjadi penolong.

Qitab berkata:

“Jangan hanya melihat dirimu sebagai hasil dari masa lalu. Lihat pula dirimu sebagai salah satu penyebab bagi masa depan.”

Sebuah kalimat yang engkau ucapkan kepada anak dapat tinggal puluhan tahun di dalam ingatannya.

Satu kebiasaan baik dapat ditiru.

Satu kebiasaan buruk juga dapat ditiru.

Karena itu jangan berkata:

“Ini hanya urusanku.”

Sebagian pilihan pribadi memiliki gelombang yang mengenai orang lain.

Dan gelombang itu dapat berjalan jauh setelah dirimu tidak melihatnya lagi.

DAHAN PERTAMA — ANAK DAN GENERASI SESUDAHNYA

Dahan pertama membawa tunas kecil.

Qitab tidak meminta generasi baru menjadi salinan generasi lama.

Ia berkata:

“Didiklah mereka memiliki akar, tetapi jangan potong sayap mereka.”

Ajarkan nilai.

Ajarkan adab.

Ajarkan sejarah.

Ajarkan tanggung jawab.

Namun beri ruang mereka bertanya.

Berpikir.

Belajar dari zaman yang berbeda.

Sebab setiap generasi menghadapi tantangan yang tidak sepenuhnya sama.

Jangan memaksa anak hidup di dunia yang sudah tidak ada.

Tetapi jangan pula membiarkan mereka kehilangan pegangan hanya karena zaman berubah.

Inilah keseimbangan antara:

akar dan sayap.

DAHAN KEDUA — ILMU YANG DITERUSKAN

Dahan kedua dipenuhi lembar-lembar bercahaya.

Setiap lembar adalah ilmu yang berpindah dari satu manusia kepada manusia lain.

Qitab berkata:

“Ilmu yang hanya berhenti pada pemiliknya adalah buah yang tidak ditanam kembali.”

Ajarkan apa yang bermanfaat.

Tuliskan.

Catat.

Didik.

Tetapi jangan mengikat ilmu kepada ego pemiliknya.

Biarkan orang lain memperbaiki.

Menambah.

Mengoreksi.

Mengembangkan.

Sebab pengetahuan tumbuh ketika manusia tidak takut generasi berikutnya mengetahui lebih banyak daripada dirinya.

Seorang guru yang baik tidak takut muridnya melampaui dirinya.

Ia justru bersyukur.

Karena itu berarti benihnya tumbuh.

DAHAN KETIGA — KEBUDAYAAN

Dahan ketiga sangat indah.

Di atasnya tergantung:

musik,

bahasa,

pakaian,

arsitektur,

sastra,

adat,

ritual sosial,

dan karya seni.

Qitab berkata:

“Kebudayaan hidup apabila dijaga tanpa dikurung.”

Jika budaya hanya disimpan tetapi tidak dimengerti, ia dapat menjadi benda museum.

Jika budaya hanya dipakai sebagai hiasan, ruh nilainya dapat hilang.

Karena itu kenali makna.

Pisahkan antara nilai dan kebiasaan.

Jaga yang membawa kebaikan.

Perbaiki yang bertentangan dengan martabat manusia.

Budaya bukan alasan untuk mempertahankan ketidakadilan.

Tradisi bukan alasan menutup pintu ilmu.

Tetapi modernitas juga bukan alasan mengejek akar sendiri.

DAHAN KEEMPAT — HARTA WARISAN

Dahan berikutnya membawa peti.

Rumah.

Tanah.

Benda.

Kekayaan.

Qitab berkata:

“Warisan harta adalah amanah yang mudah dihitung, tetapi sering sulit dijaga.”

Ada keluarga yang menjadi pecah karena pembagian harta.

Saudara berubah menjadi musuh.

Kasih bertahun-tahun runtuh karena sesuatu yang pada akhirnya tetap akan ditinggalkan.

Maka harta warisan harus dikelola dengan:

keadilan,

aturan yang jelas,

kejujuran,

dan adab.

Jangan jadikan peninggalan orang tua sebagai alasan merusak persaudaraan yang dahulu mereka bangun.

DAHAN KELIMA — LUKA YANG DAPAT DIHENTIKAN

Kemudian manusia melihat satu dahan menghitam.

Pada dahan itu tertulis:

LUKA YANG DIWARISKAN

Ayah yang pernah diperlakukan keras dapat tanpa sadar memperlakukan anaknya keras.

Orang yang hidup dalam ketakutan dapat mewariskan ketakutan.

Orang yang tidak pernah mendengar kata kasih dapat kesulitan mengucapkannya.

Tetapi Qitab berkata:

“Rantai dapat berhenti pada satu generasi yang berani sadar.”

Seseorang dapat berkata:

“Aku pernah menerima luka ini, tetapi aku tidak akan memberikannya kepada anakku.”

Itulah keberanian.

Ia tidak mengubah masa lalu.

Tetapi ia mengubah masa depan.

Maka tidak semua kemenangan berbentuk menaklukkan musuh.

Sebagian kemenangan adalah ketika satu kebiasaan buruk keluarga berhenti pada dirimu.

SIRR KETIGA PULUH — MENGHORMATI TANPA MENYEMBAH MASA LALU

Kemudian manusia melihat banyak patung leluhur.

Ia ingin bersujud kepada semua kenangan.

Tetapi Qitab berkata:

“Hormati manusia yang telah berjasa, tetapi penghambaan tetap hanya kepada Alloh.”

Masa lalu adalah guru.

Bukan Tuhan.

Leluhur dapat dihormati.

Didoakan.

Kebaikannya diteladani.

Sejarahnya dipelajari.

Namun kesalahan tetap boleh disebut kesalahan.

Sebab menghormati seseorang tidak berarti mengatakan bahwa ia tidak pernah salah.

Justru penghormatan yang matang mampu melihat manusia secara utuh.

BUAH PERTAMA — NAMA YANG BAIK

Kemudian buah pertama jatuh dari pohon.

Pada kulitnya tertulis:

NAMA BAIK

Qitab berkata:

“Nama baik tidak dibangun hanya dengan menjaga citra, tetapi dengan mengulang perbuatan baik dalam waktu yang panjang.”

Nama baik adalah hasil.

Bukan tujuan utama.

Jika seseorang terlalu mengejar citra, ia dapat menyembunyikan masalah.

Tetapi jika seseorang menjaga amanah, citra baik dapat tumbuh sebagai akibat.

Maka jangan bersusah payah membuat semua manusia percaya engkau baik.

Lebih baik berusahalah benar-benar menjadi baik.

BUAH KEDUA — SISTEM YANG BAIK

Buah kedua berbeda.

Tidak memiliki nama seseorang.

Hanya terdapat tulisan:

SISTEM

Qitab berkata:

“Warisan terbaik dari seorang pemimpin bukan organisasi yang hanya hidup selama dirinya ada.”

Pemimpin yang matang membangun sistem yang tetap berjalan.

Mendidik penerus.

Membagi tanggung jawab.

Membuat aturan yang jelas.

Tidak menjadikan semua urusan bergantung kepada satu orang.

Sebab apabila sebuah lembaga runtuh ketika pendirinya pergi, mungkin terlalu banyak kekuasaan disimpan di satu tangan.

Warisan sejati membuat penerus mampu berdiri.

BUAH KETIGA — AKHLAK

Buah ketiga terlihat sederhana.

Tidak bersinar sangat terang.

Tetapi aromanya memenuhi seluruh samudera.

Namanya:

AKHLAK

Qitab berkata:

“Banyak hal dilupakan, tetapi manusia sering mengingat bagaimana mereka diperlakukan.”

Anak mungkin lupa hadiah yang dibeli.

Tetapi mengingat apakah rumah terasa aman.

Murid mungkin lupa sebagian pelajaran.

Tetapi mengingat apakah gurunya mempermalukannya atau membesarkannya.

Orang mungkin lupa seluruh pidato seorang pemimpin.

Tetapi mengingat apakah ia berlaku adil.

Maka akhlak adalah warisan yang berpindah tanpa surat kepemilikan.

BUAH KEEMPAT — DOA

Kemudian jatuh buah yang berisi cahaya sangat lembut.

Qitab berkata:

“Ada warisan yang tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditinggalkan melalui doa dan harapan yang baik.”

Doakan anak.

Orang tua.

Keluarga.

Guru.

Murid.

Sahabat.

Dan generasi sesudahmu.

Bukan agar mereka hanya mengulang dirimu.

Tetapi agar mereka menjadi manusia yang baik menurut amanah zamannya.

Doa yang sehat tidak berkata:

“Jadikan mereka persis seperti aku.”

Tetapi:

“Yā Alloh, tuntun mereka kepada kebaikan dan jagalah mereka dari menzalimi dan dizalimi.”

BUAH KELIMA — BUMI YANG MASIH DAPAT DITINGGALI

Kemudian seluruh pohon menunduk ke arah bumi.

Qitab berkata:

“Generasi sesudahmu tidak hanya mewarisi nama dan harta. Mereka juga mewarisi bumi yang engkau tinggalkan.”

Air yang bersih.

Tanah.

Hutan.

Laut.

Udara.

Semua adalah warisan.

Jika satu generasi mengambil semuanya tanpa menjaga, generasi berikutnya menerima kerusakan.

Maka menjaga lingkungan bukan perkara kecil.

Ia adalah bagian dari amanah kepada manusia yang bahkan belum lahir.

Qitab berkata:

“Jangan makan seluruh buah lalu menebang pohonnya.”

Ambillah yang perlu.

Tetapi sisakan kemungkinan bagi yang datang kemudian.

QACA TIGA GENERASI

Kemudian muncul Qaca yang sangat besar.

Di sisi kiri terlihat leluhur.

Di tengah terlihat dirimu.

Di sisi kanan tampak bayangan generasi yang belum lahir.

Qitab bertanya:

“Apa yang engkau terima dari sebelah kiri?”

“Apa yang engkau perbaiki di tengah?”

“Apa yang akan engkau kirim ke sebelah kanan?”

Inilah tiga pertanyaan warisan.

Jika engkau menerima ilmu, tambahkan adab.

Jika menerima harta, tambahkan manfaat.

Jika menerima luka, jangan kirim luka yang sama.

Jika menerima budaya, jaga nilainya.

Jika menerima kesalahan, ambil pelajarannya.

Setiap generasi harus melakukan lebih daripada sekadar menyalin.

Ia harus menyaring.

SIRR KETIGA PULUH SATU — POHON TIDAK MEMAKAN BUAHNYA SENDIRI

Kemudian manusia melihat pohon itu.

Pohon memberi buah tetapi tidak memakan buahnya sendiri.

Memberi teduh tetapi tidak duduk di bawah naungannya sendiri.

Memberi kayu tetapi tidak membangun rumah untuk dirinya.

Qitab berkata:

“Sebagian karya terbesar memang ditanam untuk dinikmati manusia yang tidak pernah engkau temui.”

Mungkin engkau menanam pohon yang buahnya dinikmati cucumu.

Membangun sekolah untuk anak yang belum lahir.

Menulis ilmu yang baru dipahami puluhan tahun kemudian.

Memperbaiki sistem yang manfaatnya baru terasa setelah engkau tidak lagi memimpin.

Jangan kecewa apabila semua hasil tidak engkau lihat sendiri.

Ada amanah yang memang lebih panjang daripada umur orang yang memulainya.

AKAR DAN SAYAP

Kemudian pohon raksasa itu berubah.

Separuh terlihat sebagai akar.

Separuh seperti sayap.

Qitab berkata:

“Manusia membutuhkan akar agar tidak kehilangan arah, dan sayap agar tidak menjadi tawanan masa lalu.”

Terlalu sedikit akar:

manusia kehilangan identitas.

Terlalu banyak akar tanpa sayap:

manusia takut berubah.

Terlalu banyak sayap tanpa akar:

manusia bergerak cepat tetapi tidak mengetahui dari mana ia datang.

Maka keseimbangan adalah:

mengenal asal,

menjaga nilai,

belajar dari sejarah,

tetapi tetap berani melangkah menuju keadaan baru.

TUJUH AMANAH WARISAN

Kemudian Qitab menuliskan tujuh amanah.

Pertama — Wariskan kejujuran.

Karena harta tanpa kejujuran mudah menghancurkan keluarga.

Kedua — Wariskan ilmu.

Karena ilmu memberi kemampuan membangun harta kembali.

Ketiga — Wariskan kasih.

Agar generasi setelahmu tidak hanya kuat, tetapi juga manusiawi.

Keempat — Wariskan disiplin.

Karena mimpi tanpa kebiasaan sering hanya menjadi keinginan.

Kelima — Wariskan kemampuan berpikir.

Jangan hanya memberi jawaban.

Ajarkan cara menemukan jawaban.

Keenam — Wariskan keberanian memperbaiki kesalahan.

Jangan membuat generasi berikutnya merasa tradisi lebih penting daripada kebenaran.

Ketujuh — Wariskan penghambaan kepada Alloh.

Agar seluruh kemajuan tidak membuat mereka lupa bahwa manusia tetap makhluk.

QEPULANGAN KEDUA BELAS

Qepulangan kedua belas adalah qembalinya manusia dari:

membanggakan asal

menuju menjaga amanah asal,

dari:

memuja masa lalu

menuju belajar dari masa lalu,

dari:

mewariskan harta saja

menuju mewariskan nilai, ilmu, dan akhlak,

dari:

mengulangi luka

menuju memutus rantai luka,

dari:

hidup hanya untuk zamannya sendiri

menuju:

menanam sesuatu bagi manusia yang belum pernah ia lihat.

RAHASIA POHON TERAKHIR

Kemudian Qitab berkata:

“Pohon terbaik bukan yang memiliki akar paling tua, tetapi yang akar tuanya masih mampu menghasilkan buah baru.”

Masa lalu tidak perlu dibuang.

Tetapi masa lalu perlu dijadikan akar.

Bukan atap yang menutupi seluruh masa depan.

Anak-anak yang lahir setelahmu mungkin berbicara dengan bahasa zaman berbeda.

Menggunakan alat yang tidak pernah engkau kenal.

Menghadapi persoalan yang tidak pernah engkau bayangkan.

Tetapi mereka tetap membutuhkan:

kejujuran,

kasih,

keberanian,

adil,

ilmu,

amanah,

dan hubungan dengan Alloh.

Nilai dapat bertahan.

Bentuk dapat berubah.

PENUTUP LEMBAR KEDUA BELAS

Kemudian pohon raksasa menggugurkan satu buah terakhir.

Buah itu jatuh ke samudera.

Ketika menyentuh air, ia tidak tenggelam.

Ia pecah menjadi ribuan benih.

Setiap benih dibawa gelombang ke tempat yang berbeda.

Sebagian menuju pantai jauh.

Sebagian masuk ke sungai.

Sebagian menempel pada tanah.

Manusia bertanya:

“Apakah semua benih itu akan tumbuh?”

Qitab menjawab:

“Tidak.”

Ada yang gagal.

Ada yang dimakan burung.

Ada yang jatuh di tanah yang tidak sesuai.

Ada pula yang tumbuh menjadi pohon baru.

Maka manusia tidak menguasai seluruh hasil warisan.

Ia hanya diperintahkan menanam sebaik mungkin.

Dan di situlah qepasrahan kembali hadir.

Engkau menanam.

Mendidik.

Menyampaikan.

Menjaga.

Mendoakan.

Lalu generasi berikutnya menjalani amanahnya sendiri.

Jangan menuntut masa depan menjadi patung dirimu.

Biarkan ia menjadi pohon baru dengan akar nilai yang baik.

Kemudian dari ribuan benih itu muncul sebuah cahaya panjang.

Cahaya bergerak melintasi samudera seperti jalan yang dibangun dari generasi menuju generasi.

Di atasnya tertulis:

LEMBAR KETIGA BELAS — JEMBATAN ANTARA YANG TELAH PERGI DAN YANG BELUM DATANG

“Ketika Manusia Memahami Bahwa Ia Hanyalah Satu Mata Rantai dalam Perjalanan Panjang Amanah, dan Qeagungan Bukanlah Menjadi Pusat Sejarah, Melainkan Menyerahkan Dunia yang Lebih Baik kepada Mereka yang Datang Sesudahnya.”


QITAB ZAQAR ALMAFUD

قِتَاب زَقَر الْمَافُود

“Qeagungan Yang Maha Mulia untuk Qembali Qe Alam Jagat Samudera”

LEMBAR KETIGA BELAS — JEMBATAN ANTARA YANG TELAH PERGI DAN YANG BELUM DATANG

Lembar Terakhir — Ketika Manusia Memahami Bahwa Ia Hanyalah Satu Mata Rantai dalam Perjalanan Panjang Amanah, dan Qeagungan Bukanlah Menjadi Pusat Sejarah, Melainkan Menyerahkan Dunia yang Lebih Baik kepada Mereka yang Datang Sesudahnya

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Alloh, Rabb seluruh alam, Yang mendahului segala permulaan dan tetap ada ketika seluruh yang bernama makhluk telah sampai kepada batasnya.

Yang menjadikan laut sebagai tanda keluasan.

Yang menjadikan langit sebagai tanda ketinggian.

Yang menjadikan bumi sebagai tempat amanah.

Yang menjadikan manusia berjalan di antara datang dan qembali.

Dan Yang memberikan kepada setiap generasi satu waktu untuk menulis jawabannya sendiri.

Setelah manusia menyaksikan akar yang menyentuh samudera dan dahan yang menjangkau langit, ia melihat sesuatu terbentang dari ufuk ke ufuk.

Bukan istana.

Bukan singgasana.

Bukan jalan kerajaan.

Melainkan sebuah jembatan cahaya.

Ujung belakangnya menghilang jauh di antara kabut masa lalu.

Ujung depannya tidak terlihat karena memasuki cahaya masa depan.

Di atas jembatan itu berjalan banyak manusia.

Ada yang telah lama pergi.

Ada yang sedang hidup.

Ada pula bayangan manusia yang belum dilahirkan.

Mereka tidak berjalan bersamaan.

Tetapi jejak kaki mereka saling bersambung.

Jejak seseorang menjadi tempat berpijak bagi orang sesudahnya.

Kesalahan seseorang dapat menjadi lubang yang harus diperbaiki oleh generasi berikutnya.

Kebaikan seseorang dapat menjadi batu kuat yang masih menopang manusia ratusan tahun kemudian.

Maka Qitab berkata:

“Engkau tidak datang sebagai permulaan segala sesuatu, dan engkau tidak akan menjadi penutup segala sesuatu. Engkau datang sebagai satu bagian dari amanah yang jauh lebih panjang daripada umurmu.”

Manusia terdiam.

Sebab selama perjalanan ia sering mengira bahwa kisah dirinya sangat besar.

Tetapi di hadapan jembatan antargenerasi, ia menyadari:

dirinya hanyalah satu langkah.

Satu musim.

Satu penjaga.

Satu penanam.

Satu pembawa obor yang suatu hari harus menyerahkan obor itu kepada tangan berikutnya.

SIRR KETIGA PULUH DUA — TIDAK ADA GENERASI YANG BERDIRI SENDIRI

Kemudian manusia melihat ke belakang.

Ia melihat makanan yang dahulu menghidupinya berasal dari tanah yang tidak ia ciptakan.

Bahasa yang ia gunakan telah dibentuk ribuan manusia sebelum dirinya lahir.

Ilmu yang ia baca dibangun dari pencarian manusia sepanjang zaman.

Jalan yang ia lewati pernah dirancang orang lain.

Rumah yang ia tempati berdiri karena tangan banyak pekerja.

Doa yang ia hafalkan disampaikan dari generasi ke generasi.

Bahkan cara ia menyebut nama benda pun merupakan warisan.

Maka Qitab berkata:

“Jangan pernah berkata engkau membangun semuanya seorang diri.”

Ada tangan yang tidak engkau kenal di dalam setiap kemudahan yang engkau nikmati.

Ada manusia yang menanam pohon sebelum engkau lahir.

Ada orang yang memperjuangkan ilmu sebelum engkau mampu membaca.

Ada guru yang pernah mengajar gurumu.

Ada ibu yang membesarkan orang yang kelak menjadi orang tuamu.

Ada manusia yang membangun sesuatu tanpa pernah mengetahui bahwa suatu hari engkau akan menggunakannya.

Kesadaran ini seharusnya tidak membuat manusia merasa kecil tanpa arti.

Justru sebaliknya.

Ia menjadikan manusia sadar:

“Jika aku menerima begitu banyak dari mereka yang datang sebelumku, apa yang harus kutinggalkan bagi mereka yang datang sesudahku?”

JEMBATAN PERTAMA — WARISAN YANG TIDAK TERLIHAT

Pada bagian pertama jembatan tidak terdapat benda.

Tidak ada emas.

Tidak ada rumah.

Tidak ada tanah.

Hanya angin yang membawa kata-kata.

Manusia bertanya:

“Apa warisan yang berada di sini?”

Qitab menjawab:

“Inilah warisan yang tidak terlihat tetapi hidup paling lama: cara manusia memperlakukan manusia.”

Satu keluarga dapat mewariskan kasih selama beberapa generasi.

Satu keluarga juga dapat mewariskan ketakutan.

Seorang guru dapat mewariskan keberanian berpikir.

Guru lain dapat mewariskan rasa takut kepada pertanyaan.

Seorang pemimpin dapat meninggalkan budaya amanah.

Pemimpin lain dapat meninggalkan kebiasaan menjilat kekuasaan.

Seorang ayah dapat meninggalkan teladan kejujuran.

Seorang ibu dapat meninggalkan keteguhan.

Seorang sahabat dapat meninggalkan satu kalimat yang menyelamatkan seseorang dari keputusan buruk.

Tidak semua warisan dapat disentuh.

Namun justru banyak warisan terbesar hidup di tempat yang tidak terlihat.

SIRR KETIGA PULUH TIGA — JANGAN WARISKAN APA YANG SEBENARNYA HARUS BERHENTI PADAMU

Kemudian jembatan memasuki bagian gelap.

Di sana terdapat rantai-rantai.

Setiap rantai bertuliskan:

dendam,

kekerasan,

kebohongan,

ketakutan,

kebiasaan merendahkan,

pengabaian,

kesombongan keturunan,

perebutan harta,

diam terhadap kezaliman.

Qitab berkata:

“Tidak semua yang engkau terima harus engkau kirimkan kembali kepada generasi berikutnya.”

Ada manusia yang berkata:

“Aku dahulu diperlakukan keras, maka anakku juga harus merasakan hal yang sama.”

Qitab menjawab:

“Mengapa luka harus diwariskan hanya karena dahulu engkau pernah menerimanya?”

Ada orang berkata:

“Keluarga kami sejak dahulu seperti ini.”

Qitab menjawab:

“Usia sebuah kesalahan tidak membuatnya berubah menjadi kebenaran.”

Inilah salah satu rahasia terbesar pada jembatan generasi:

seseorang dapat menjadi tempat berhentinya sebuah rantai.

Ia mungkin tidak mampu mengubah leluhurnya.

Ia mungkin tidak dapat menghapus masa lalu.

Tetapi ia dapat berkata:

“Cukup. Luka ini berhenti padaku.”

Jika dahulu ada kekerasan, ia memilih mendidik dengan ketegasan tanpa penghinaan.

Jika dahulu ada kebohongan, ia memilih transparansi.

Jika dahulu ada permusuhan karena harta, ia memilih keadilan.

Jika dahulu pertanyaan dilarang, ia mengajarkan generasi baru bertanya dengan adab.

Inilah warisan yang sangat besar:

tidak meneruskan apa yang seharusnya selesai.

JEMBATAN KEDUA — API YANG HARUS DIPINDAHKAN, BUKAN DIMILIKI

Kemudian manusia melihat obor.

Obor itu telah berpindah dari tangan ke tangan.

Ia bertanya:

“Siapa pemilik api ini?”

Qitab berkata:

“Tidak seorang pun.”

Setiap generasi hanya menjaganya sementara.

Api itu adalah perlambang nilai.

Kejujuran.

Ilmu.

Adab.

Keberanian.

Rahmah.

Keadilan.

Penghambaan kepada Alloh.

Manusia menerima obor.

Ia mempunyai dua pilihan.

Pertama:

memeluknya dan berkata:

“Api ini milikku. Tidak boleh ada yang menyentuh.”

Tetapi jika demikian, api mati bersamanya.

Pilihan kedua:

menjaganya agar tetap menyala lalu menyerahkannya kepada tangan berikutnya.

Maka Qitab berkata:

“Warisan tidak menjadi hidup karena disimpan. Warisan menjadi hidup karena diteruskan.”

Namun meneruskan bukan berarti menyalin bentuk lama tanpa berpikir.

Yang harus dijaga adalah apinya.

Bukan selalu bentuk obornya.

Bentuk dapat berubah.

Alat dapat berubah.

Bahasa dapat berubah.

Cara belajar dapat berubah.

Tetapi api kejujuran harus tetap menyala.

Api kasih harus tetap menyala.

Api amanah harus tetap menyala.

SIRR KETIGA PULUH EMPAT — NILAI DAN BENTUK

Di sisi jembatan terdapat dua kotak.

Kotak pertama bernama:

NILAI

Kotak kedua:

BENTUK

Manusia sering mencampur keduanya.

Padahal Qitab berkata:

“Nilai dapat bertahan meskipun bentuk berubah.”

Menghormati orang tua adalah nilai.

Cara menyampaikan penghormatan dapat berbeda menurut zaman.

Mencari ilmu adalah nilai.

Cara belajar dapat berubah dari lembar tulisan menuju berbagai sarana baru.

Menjaga budaya adalah nilai.

Cara mengenalkan budaya kepada generasi muda dapat berkembang.

Membantu sesama adalah nilai.

Cara mengatur bantuan dapat diperbaiki agar lebih efektif.

Maka jangan takut kepada perubahan hanya karena ia baru.

Tetapi jangan pula menganggap semua yang baru pasti lebih baik.

Timbanglah.

Apa nilainya?

Apa akibatnya?

Apakah menjaga martabat manusia?

Apakah membawa manfaat?

Apakah tetap berada dalam kebaikan?

Qitab berkata:

“Orang yang matang tidak menyembah masa lalu dan tidak pula menyembah kebaruan.”

Ia mengambil hikmah dari keduanya.

JEMBATAN KETIGA — KURSI YANG HARUS DIKOSONGKAN

Kemudian manusia melihat sebuah kursi besar di tengah jembatan.

Banyak orang pernah duduk di sana.

Pemimpin.

Guru.

Ketua.

Orang tua.

Tokoh.

Penjaga amanah.

Setiap orang memperoleh waktunya.

Tetapi pada kaki kursi tertulis:

“Suatu hari engkau harus berdiri.”

Qitab berkata:

“Salah satu ujian terbesar seorang pemegang amanah adalah mengetahui kapan harus menyerahkan amanah.”

Ada pemimpin yang takut penerusnya lebih baik.

Ada guru yang takut muridnya melampaui dirinya.

Ada orang tua yang takut anaknya mengambil keputusan sendiri.

Ada pendiri yang takut organisasi hidup tanpa namanya.

Maka Qitab berkata:

“Jika engkau sungguh mencintai amanah, engkau akan menyiapkan orang yang mampu melanjutkannya tanpa harus terus bergantung kepadamu.”

Pemimpin besar bukan yang membuat semua perkara bergantung pada satu orang.

Pemimpin besar membangun manusia lain.

Mengajarkan.

Membagi tanggung jawab.

Mempersiapkan penerus.

Menciptakan sistem.

Dan ketika waktunya tiba, ia mampu berdiri dari kursinya dengan tenang.

Sebab ia mengetahui:

amanah lebih besar daripada pemegang amanah.

SIRR KETIGA PULUH LIMA — JANGAN TAKUT DILAMPAUI

Kemudian terlihat seorang guru berdiri di hadapan muridnya.

Murid itu telah belajar bertahun-tahun.

Suatu hari murid menemukan sesuatu yang tidak pernah diketahui gurunya.

Guru memiliki dua pilihan.

Ia dapat marah:

“Bagaimana mungkin muridku mengetahui lebih banyak?”

Atau ia dapat bersyukur:

“Benih yang kutanam telah tumbuh melebihi pohonku sendiri.”

Qitab berkata:

“Guru yang takut dilampaui muridnya sedang mencintai kedudukan lebih daripada ilmu.”

Demikian pula orang tua.

Keberhasilan anak bukan ancaman terhadap kehormatan orang tua.

Keberhasilan generasi baru seharusnya menjadi kegembiraan generasi lama.

Sebab tujuan menanam bukan agar tunas tetap kecil.

Tujuannya agar tunas menjadi pohon.

JEMBATAN KEEMPAT — NAMA YANG TIDAK DITULIS

Kemudian manusia melihat ribuan batu pembangun jembatan.

Sebagian batu tidak memiliki nama.

Manusia bertanya:

“Siapa yang meletakkan batu-batu ini?”

Tidak ada jawaban.

Qitab berkata:

“Banyak bagian terpenting dari sejarah dibangun oleh manusia yang namanya tidak dicatat.”

Ada ibu yang mendidik seorang anak yang kelak memberi manfaat besar.

Ada pekerja yang membangun gedung tempat ribuan orang belajar.

Ada petani yang memberi makan manusia yang tidak pernah mengenalnya.

Ada seseorang yang memberikan beasiswa tetapi namanya tidak diumumkan.

Ada orang sederhana yang merawat orang tua bertahun-tahun tanpa satu pun berita menuliskannya.

Qitab berkata:

“Jangan mengira amal menjadi kecil karena sejarah tidak menyebut namamu.”

Sejarah manusia memiliki keterbatasan.

Tetapi tidak ada kebaikan yang hilang dari pengetahuan Alloh.

Maka jangan terlalu sibuk mencari prasasti bagi namamu.

Bangunlah jembatan.

Jika nama perlu ditulis untuk tanggung jawab, tulislah.

Jika tidak, biarkan batu itu berbicara melalui manfaatnya.

QACA SEJARAH

Kemudian muncul Qaca besar.

Di dalamnya terlihat para raja.

Para ulama.

Para pedagang.

Para petani.

Para ibu.

Para pekerja.

Para anak.

Orang terkenal dan tidak terkenal berdiri bersama.

Qitab bertanya:

“Menurutmu siapa yang paling penting?”

Manusia ragu menjawab.

Lalu Qitab berkata:

“Jangan tergesa menentukan nilai manusia hanya dari seberapa besar tempat yang diberikan buku sejarah kepadanya.”

Sebab sejarah sering menulis tokoh besar.

Tetapi kehidupan juga dibangun oleh jutaan tangan kecil.

Kerajaan tidak berdiri tanpa rakyat.

Sekolah tidak hidup tanpa guru.

Ilmu tidak berkembang tanpa pembaca.

Kota tidak hidup tanpa pekerja.

Keluarga tidak bertahan tanpa manusia yang merawat.

Maka qeagungan suatu peradaban bukan hanya qeagungan rajanya.

Ia adalah hasil seluruh amanah yang saling menyambung.

SIRR KETIGA PULUH ENAM — DUNIA BUKAN PANGGUNG UNTUK SATU TOKOH

Kemudian manusia melihat dunia seperti panggung.

Ia ingin berdiri di tengah.

Semua lampu diarahkan kepadanya.

Tetapi Qitab memadamkan lampu-lampu itu satu demi satu.

Lalu berkata:

“Dunia tidak diciptakan sebagai panggung bagi satu nama.”

Setiap manusia mempunyai jalan.

Setiap manusia memiliki ujian.

Setiap manusia memikul amanah yang berbeda.

Jangan memaksa seluruh cerita dunia berputar mengelilingi dirimu.

Ketika engkau berhasil, orang lain tetap memiliki perjuangannya.

Ketika engkau menderita, orang lain juga memiliki luka.

Ketika engkau memiliki pengetahuan, orang lain dapat memiliki pengetahuan yang tidak engkau miliki.

Maka hidup menjadi luas ketika manusia tidak lagi harus menjadi pusat segala sesuatu.

Ia dapat menjadi bagian.

Dapat bekerja bersama.

Dapat menerima bahwa kebaikan juga lahir dari tangan orang lain.

JEMBATAN KELIMA — PERADABAN ADALAH PEKERJAAN BERSAMA

Kemudian Qitab memperlihatkan sebuah kota.

Ada masjid.

Sekolah.

Rumah.

Pasar.

Taman.

Jalan.

Rumah sakit.

Tempat pertemuan.

Tidak satu pun berdiri hanya karena satu orang.

Qitab berkata:

“Peradaban tumbuh ketika manusia mampu bekerja melebihi kepentingan dirinya sendiri.”

Seseorang menanam.

Seseorang mengajar.

Seseorang menjaga kesehatan.

Seseorang membangun.

Seseorang menyusun aturan.

Seseorang menjaga keamanan.

Seseorang merawat budaya.

Seseorang menulis ilmu.

Semua saling membutuhkan.

Karena itu rasa paling benar dan paling penting dapat menjadi racun bagi kerja bersama.

Qitab berkata:

“Tidak semua perbedaan adalah ancaman. Sebagian perbedaan justru merupakan pembagian kemampuan.”

Seseorang pandai berbicara.

Yang lain pandai mengelola.

Seseorang pandai menulis.

Yang lain pandai mendengar.

Seseorang mampu memimpin.

Yang lain mampu menjaga detail.

Jembatan besar membutuhkan banyak jenis batu.

JEMBATAN KEENAM — ANAK-ANAK YANG BELUM LAHIR

Kemudian manusia mendengar suara tawa.

Tetapi tidak melihat siapa pun.

Qitab berkata:

“Itulah suara generasi yang belum datang.”

Mereka belum memiliki nama.

Belum memiliki wajah.

Belum memiliki rumah.

Tetapi keputusanmu hari ini dapat memengaruhi kehidupan mereka.

Jika engkau merusak air hari ini, mereka menerima air yang rusak.

Jika engkau membangun pendidikan yang baik, mereka menerima peluang yang lebih baik.

Jika engkau mewariskan kebencian, mereka memikul konflik yang tidak mereka mulai.

Jika engkau membangun perdamaian, mereka menerima ruang untuk tumbuh.

Maka Qitab berkata:

“Tanggung jawab manusia tidak berhenti kepada manusia yang dapat ia lihat.”

Ada amanah kepada mereka yang belum lahir.

Karena itu peradaban yang matang tidak hanya bertanya:

“Apa manfaatnya bagi kita sekarang?”

Tetapi:

“Apa akibatnya bagi mereka sesudah kita?”

SIRR KETIGA PULUH TUJUH — JANGAN MEMAKAN MASA DEPAN

Kemudian tampak sebuah kebun.

Generasi sekarang datang.

Mereka memetik semua buah.

Kemudian menebang semua pohon.

Mereka berkata:

“Kami telah menikmati hasilnya.”

Tetapi ketika generasi berikutnya datang, yang tersisa hanya tanah kering.

Qitab berkata:

“Jangan makan masa depan hanya untuk memuaskan hari ini.”

Harta alam.

Ilmu.

Lembaga.

Budaya.

Kepercayaan masyarakat.

Semua dapat dihabiskan oleh satu generasi yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri.

Maka setiap keputusan besar harus membawa pertanyaan:

“Apa yang masih tersisa sesudah kami selesai?”

JEMBATAN KETUJUH — MAHKOTA YANG DIWARISKAN

Kemudian terlihat sebuah mahkota.

Manusia mengenal bentuknya.

Ia pernah melihat mahkota pada lembar-lembar sebelumnya.

Tetapi kali ini mahkota tidak dikenakan.

Ia ditempatkan di atas bantal dan dibawa dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Qitab berkata:

“Mahkota sejati bukan hanya benda. Ia adalah simbol amanah.”

Barang siapa menerima amanah bukan menerima izin untuk berbuat sesuka hati.

Ia menerima sesuatu yang pernah dijaga orang sebelum dirinya dan harus diserahkan kembali dalam keadaan tidak lebih rusak.

Jika menerima lembaga, jangan habiskan hanya untuk kepentingan pribadi.

Jika menerima nama baik, jangan rusak dengan kelakuan buruk.

Jika menerima kekayaan, jangan gunakan seluruhnya tanpa memikirkan penerus.

Jika menerima ilmu, jangan kubur bersama dirimu.

Jika menerima budaya, jangan biarkan hanya menjadi simbol tanpa nilai.

Mahkota diwariskan bukan agar setiap generasi berkata:

“Ini milikku.”

Tetapi:

“Ini dipercayakan kepadaku sementara.”

SIRR KETIGA PULUH DELAPAN — QEA GUNGAN ADALAH KEMAMPUAN MENYERAHKAN

Manusia sering mengira qeagungan adalah kemampuan mendapatkan.

Mendapat jabatan.

Mendapat harta.

Mendapat penghormatan.

Mendapat pengikut.

Tetapi Qitab berkata:

“Pada akhir perjalanan, qeagungan juga diukur dari kemampuan menyerahkan.”

Menyerahkan kursi ketika waktunya.

Menyerahkan ilmu kepada murid.

Menyerahkan tanggung jawab kepada penerus.

Menyerahkan anak kepada kedewasaannya.

Menyerahkan masa lalu kepada tempatnya.

Dan pada akhirnya:

menyerahkan seluruh kehidupan kepada Alloh.

Orang yang hanya pandai menerima tetapi tidak mampu menyerahkan akan menjadi tawanan dari apa yang dimilikinya.

QACA TERAKHIR — TIGA WAJAH

Kemudian muncul Qaca terakhir dari seluruh Qitab.

Qaca itu terbagi menjadi tiga.

Di sebelah kiri terlihat wajah dirimu ketika masih kecil.

Di tengah terlihat wajahmu sekarang.

Di sebelah kanan tidak ada wajah.

Hanya cahaya.

Qitab berkata:

“Yang kiri adalah apa yang pernah engkau terima.”

“Yang tengah adalah apa yang sedang engkau lakukan.”

“Yang kanan adalah sesuatu yang akan dibentuk sebagian oleh apa yang engkau lakukan hari ini.”

Lalu muncul tiga pertanyaan:

Pertanyaan pertama

“Apakah engkau telah memaafkan dirimu yang dahulu belum mengetahui banyak hal?”

Masa lalu perlu dipelajari.

Tetapi manusia tidak perlu mencambuk dirinya selamanya karena kesalahan yang sudah diakui, ditaubati, dan diperbaiki.

Pertanyaan kedua

“Apakah engkau menggunakan hari ini untuk memperbaiki sesuatu?”

Karena kesadaran tanpa tindakan hanya menjadi renungan.

Pertanyaan ketiga

“Apakah keputusanmu hari ini layak diwariskan?”

Jika anak menirunya, apakah engkau bangga?

Jika murid menirunya, apakah itu baik?

Jika seluruh masyarakat melakukan hal yang sama, apakah dunia menjadi lebih baik?

Pertanyaan ketiga adalah Qaca yang sangat tajam.

SIRR KETIGA PULUH SEMBILAN — JANGAN MENINGGALKAN MONUMEN, TINGGALKAN JALAN

Kemudian manusia melihat dua warisan.

Yang pertama adalah monumen besar dengan namanya.

Yang kedua adalah jalan kecil yang membantu banyak orang menuju sumber air.

Qitab bertanya:

“Mana yang lebih engkau pilih?”

Tidak ada larangan membangun monumen.

Tidak ada larangan menulis sejarah.

Tetapi Qitab mengingatkan:

“Jangan menukar manfaat hidup demi hanya dikenang.”

Jika namamu dikenal tetapi kehidupan manusia tidak menjadi lebih baik, apa yang sebenarnya diwariskan?

Jika namamu tidak terkenal tetapi pekerjaanmu membantu banyak manusia, apakah itu kecil?

Qitab berkata:

“Tinggalkan jalan.”

Jalan ilmu.

Jalan kasih.

Jalan keadilan.

Jalan pendidikan.

Jalan penghidupan.

Jalan perdamaian.

Jalan penghambaan.

Biarkan orang lain berjalan di atasnya.

Mereka tidak harus terus-menerus menyebut nama pembangunnya.

Cukuplah jalan itu membawa mereka ke tempat yang baik.

JEMBATAN KEDELAPAN — QEMAAFAN ANTARGENERASI

Kemudian muncul pemandangan aneh.

Generasi lama berdiri di satu sisi.

Generasi baru di sisi lain.

Mereka saling menyalahkan.

Yang tua berkata:

“Anak-anak sekarang telah kehilangan adab.”

Yang muda berkata:

“Generasi lama tidak memahami zaman.”

Suara meninggi.

Lalu jembatan retak.

Qitab berkata:

“Setiap generasi memiliki kebutaan dan kebijaksanaannya sendiri.”

Yang tua memiliki pengalaman.

Yang muda memiliki pertanyaan baru.

Yang tua mengetahui perjalanan panjang.

Yang muda melihat dunia yang berubah.

Jika keduanya saling merendahkan, jembatan putus.

Jika keduanya saling mendengar, pengetahuan menjadi lengkap.

Maka generasi tua jangan hanya berkata:

“Dulu lebih baik.”

Tanyakan pula:

“Apa yang dapat kami ajarkan tanpa menghalangi kalian berkembang?”

Generasi muda jangan hanya berkata:

“Yang lama sudah tidak berguna.”

Tanyakan pula:

“Apa yang dapat kami pelajari dari kesalahan dan keberhasilan mereka?”

Inilah qemaafan antargenerasi.

Tidak menghapus perbedaan.

Tetapi memungkinkan jembatan tetap berdiri.

SIRR KEEMPAT PULUH — JANGAN MINTA ANAK MEMBAYAR HUTANG LUKA ORANG TUA

Kemudian Qitab memperlihatkan seorang anak memikul tas berat.

Ia tidak tahu isi tasnya.

Ketika dibuka, ternyata terdapat:

ambisi orang tua,

kekecewaan orang tua,

ketakutan orang tua,

mimpi yang dahulu gagal diwujudkan orang tua.

Qitab berkata:

“Anak bukan tempat menyimpan semua hidup yang tidak sempat engkau jalani.”

Bimbing.

Didik.

Jaga.

Tetapi jangan meminta anak menjadi obat bagi semua kekurangan orang tua.

Mereka adalah amanah.

Bukan perpanjangan ego.

Mereka berhak memiliki tanggung jawab dan jalan hidup mereka sendiri.

Maka wariskan nilai.

Bukan beban keakuan.

JEMBATAN KESEMBILAN — ILMU YANG TIDAK BOLEH DIKUNCI

Kemudian manusia melihat perpustakaan besar.

Pintunya dikunci.

Penjaganya berkata:

“Ilmu ini hanya untuk kami.”

Bertahun-tahun kemudian banyak buku rusak.

Tidak seorang pun membacanya.

Qitab berkata:

“Ilmu yang dikunci terlalu rapat dapat mati sebelum menemukan orang yang membutuhkannya.”

Ada ilmu yang memang memerlukan syarat, adab, dan tingkat pemahaman.

Namun syarat tidak boleh berubah menjadi alasan menjaga keistimewaan ego.

Ajarkan dengan bertanggung jawab.

Berikan konteks.

Jelaskan batas.

Bedakan fakta, tafsir, simbol, pengalaman batin, dan keyakinan.

Qitab berkata:

“Kejujuran dalam menyebut batas pengetahuan juga merupakan bagian dari amanah ilmu.”

Jangan mengubah dugaan menjadi kepastian.

Jangan mengubah simbol menjadi fakta.

Jangan membuat manusia takut bertanya.

Sebab ilmu yang benar tidak takut diperiksa dengan adab.

SIRR KEEMPAT PULUH SATU — SEJARAH BUKAN TEMPAT MENCARI QESUCIAN MUTLAK

Kemudian manusia membuka lembar sejarah.

Ia menemukan tokoh baik yang pernah melakukan kesalahan.

Menemukan peradaban besar yang memiliki sisi gelap.

Menemukan masa lalu yang indah sekaligus rumit.

Ia bingung.

Qitab berkata:

“Jangan meminta sejarah menjadi lebih suci daripada manusia yang menjalaninya.”

Pelajari dengan jujur.

Hormati jasa.

Akui kesalahan.

Jangan menghancurkan seluruh kebaikan karena menemukan satu kekurangan.

Tetapi jangan pula menutupi kesalahan hanya demi menjaga cerita besar.

Sejarah yang matang bukan sejarah yang selalu memuji.

Ia membantu generasi berikutnya memahami.

JEMBATAN KESEPULUH — APA YANG AKAN DIKATAKAN OLEH MEREKA YANG DATANG SESUDAHMU

Kemudian Qitab memberikan sebuah latihan.

Bayangkan manusia hidup seratus tahun sesudahmu.

Mereka membaca keputusan generasimu.

Apa yang akan mereka katakan?

Apakah mereka berkata:

“Mereka menjaga air untuk kami.”

Atau:

“Mereka menghabiskan semuanya.”

Apakah mereka berkata:

“Mereka membangun pendidikan.”

Atau:

“Mereka hanya memperebutkan kekuasaan.”

Apakah mereka berkata:

“Mereka menjaga budaya sekaligus memberi kami ruang berkembang.”

Atau:

“Mereka memaksa kami hidup dalam masa lalu.”

Apakah mereka berkata:

“Mereka mewariskan perdamaian.”

Atau:

“Mereka meninggalkan konflik yang tidak pernah mereka selesaikan.”

Qitab berkata:

“Hiduplah sedemikian rupa sehingga generasi setelahmu tidak harus menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk memperbaiki kerusakan yang engkau tinggalkan.”

QEPULANGAN KETIGA BELAS

Inilah Qepulangan Ketiga Belas, penutup seluruh perjalanan Qitab Zaqar Almafud.

Qembali dari:

ingin menjadi pusat sejarah

menuju menjadi penjaga satu bagian sejarah.

Dari:

mewarisi untuk memiliki

menuju mewarisi untuk menjaga.

Dari:

meninggalkan nama

menuju meninggalkan jalan.

Dari:

mempertahankan kursi

menuju menyiapkan penerus.

Dari:

membanggakan masa lalu

menuju belajar dari masa lalu.

Dari:

memakan seluruh hasil

menuju menanam bagi mereka yang belum datang.

Dari:

menganggap generasi baru harus menjadi salinan kita

menuju memberi mereka akar sekaligus ruang untuk tumbuh.

Dari:

qeaKuAn

menuju:

AMANAH.

Dari:

amanah

menuju:

RAHMAH.

Dan dari:

rahmah

menuju:

QEPASRAHAN KEPADA ALLOH.

PEMBUKAAN RAHASIA ZAQAR ALMAFUD

Kemudian untuk terakhir kalinya nama Qitab disebut:

ZAQAR ALMAFUD

Manusia bertanya:

“Apakah makna perjalanan panjang ini?”

Lalu seluruh lembar sebelumnya seolah terbuka bersamaan.

Samudera sebelum nama.

Qaca di dasar samudera.

Mahkota di atas air.

Istana di bawah gelombang.

Sungai menuju samudera.

Tujuh gerbang.

Langit dalam air.

Gelombang penelan nama.

Gerbang tanpa nama.

Timbangan jagat.

Pohon warisan.

Dan jembatan antargenerasi.

Semuanya menyatu menjadi satu makna:

“Qeagungan bukan perjalanan untuk menjadikan manusia Tuhan atas ciptaan, tetapi perjalanan agar manusia mengetahui tempatnya sebagai hamba yang diberi amanah di tengah luasnya ciptaan Alloh.”

Dan Qembali Qe Alam Jagat Samudera bukanlah qembali kepada sebuah kerajaan tersembunyi.

Bukan berpindah secara jasmani ke alam lain.

Tetapi perlambang qembali kepada kesadaran:

bahwa hidup sangat luas,

bahwa manusia sangat terbatas,

bahwa segala yang dimiliki adalah titipan,

dan bahwa pada akhirnya seluruh amanah akan dikembalikan kepada Pemiliknya.

EMPAT PULUH DUA — RAHASIA TERAKHIR: QEA GUNGAN YANG TIDAK MEMINTA DIAKUI

Kemudian Qitab berkata:

“Qeagungan tertinggi pada manusia tidak berteriak meminta disebut agung.”

Air tidak berteriak bahwa ia memberi kehidupan.

Matahari tidak meminta tepuk tangan setiap pagi.

Pohon tidak menuliskan namanya pada setiap buah.

Tanah tidak menuntut pujian dari benih.

Demikian pula manusia yang matang.

Ia tetap membutuhkan penghargaan secara wajar.

Tetapi hidupnya tidak bergantung pada pemujaan.

Jika dipuji, ia bersyukur.

Jika dikoreksi dengan benar, ia belajar.

Jika berhasil, ia menjaga amanah.

Jika gagal, ia memperbaiki.

Jika memiliki, ia berbagi.

Jika kehilangan, ia belajar melepaskan.

Jika memimpin, ia melayani.

Jika waktunya selesai, ia menyerahkan.

Inilah bentuk qeagungan yang tidak dibangun dari suara.

Tetapi dari keteguhan akhlak.

TUJUH WARISAN QITAB ZAQAR ALMAFUD

Sebelum Qitab ditutup, tujuh lembar cahaya turun dari langit perlambang.

Pada lembar pertama tertulis:

1. KENALILAH DIRIMU TANPA MEMUJA DIRIMU

Muhasabah bukan untuk membenci diri.

Muhasabah untuk melihat apa yang harus diperbaiki.

Pada lembar kedua:

2. HORMATILAH ASALMU TANPA MERENDAHKAN ASAL ORANG LAIN

Akar adalah tempat berpijak.

Bukan senjata untuk memukul manusia lain.

Pada lembar ketiga:

3. TERIMALAH AMANAH TANPA MENGUBAH AMANAH MENJADI HAK MILIK

Jabatan berakhir.

Kursi berpindah.

Tetapi cara menjaganya menjadi kesaksian akhlak.

Pada lembar keempat:

4. CARILAH ILMU TANPA MENJADIKAN ILMU MAHKOTA KESOMBONGAN

Semakin banyak mengetahui, semakin jelas luasnya hal yang belum diketahui.

Pada lembar kelima:

5. CINTAILAH TANPA MEMILIKI SECARA ZALIM

Kasih tidak menghapus batas.

Cinta tidak membatalkan martabat.

Pada lembar keenam:

6. BANGUNLAH SESUATU YANG MAMPU HIDUP SETELAH DIRIMU PERGI

Didik penerus.

Bangun sistem.

Tuliskan ilmu.

Tanam pohon.

Jaga bumi.

Wariskan akhlak.

Dan pada lembar ketujuh:

7. QEMBALIKAN SELURUH QEA GUNGAN KEPADA ALLOH

Karena manusia dapat mulia.

Tetapi Yang Maha Mulia hanyalah Alloh.

Manusia dapat kuat.

Tetapi kekuatan mutlak bukan milik manusia.

Manusia dapat mengetahui.

Tetapi pengetahuannya terbatas.

Manusia dapat mencintai.

Tetapi segala hati tetap berada dalam kekuasaan Alloh.

DOA PENUTUP QITAB

Kemudian manusia berdiri di tepi Jagat Samudera.

Ia tidak lagi membawa mahkota.

Tidak membawa tongkat.

Tidak membawa gelar.

Hanya membawa dua tangan.

Satu tangan terbuka sebagai tanda menerima amanah.

Satu tangan terbuka sebagai tanda bersedia memberi.

Lalu ia berkata:

Yā Alloh,

apabila Engkau memberikan ilmu,

jangan biarkan ilmu itu membuat kami sombong.

Apabila Engkau memberikan harta,

jadikan ia jalan manfaat dan bukan penguasa hati.

Apabila Engkau memberikan kedudukan,

jangan biarkan kami lupa bahwa kedudukan adalah amanah.

Apabila Engkau memberikan penghormatan,

jangan biarkan kami haus kepada pemujaan.

Apabila Engkau memberikan keturunan,

jadikan kami mampu mewariskan kasih, ilmu, adab, dan keberanian.

Apabila Engkau memberikan ujian,

jangan biarkan luka berubah menjadi alasan untuk melukai.

Apabila Engkau memberikan umur panjang,

berilah keberkahan pada isinya.

Apabila umur kami tinggal sedikit,

jadikan yang tersisa cukup untuk memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.

Yā Alloh,

ampunilah kesalahan kami yang kami ketahui maupun yang tidak kami sadari.

Bersihkan hati kami dari rasa paling suci.

Jauhkan kami dari kesombongan yang memakai pakaian kebaikan.

Ajari kami membedakan antara amanah dan ambisi.

Antara kasih dan kepemilikan.

Antara keyakinan dan keakuan.

Antara cahaya yang menuntun dan pantulan keinginan diri.

Ajarkan kami berani mengatakan:

“Aku salah,”

ketika kami memang salah.

Ajarkan kami berkata:

“Aku belum tahu,”

ketika kami memang belum mengetahui.

Ajarkan kami berkata:

“Terima kasih,”

ketika menerima kebaikan.

Ajarkan kami berkata:

“Maafkan aku,”

ketika telah menyakiti.

Dan ajarkan kami berkata:

“Cukuplah Alloh mengetahui niat baik yang tidak sempat diketahui manusia.”

AMANAH KEPADA GENERASI YANG AKAN DATANG

Kemudian manusia menghadap jembatan.

Ia melihat anak-anak masa depan berjalan mendekat.

Ia berkata kepada mereka:

“Kami tidak meninggalkan dunia yang sempurna.”

Kami memiliki kekurangan.

Kami pernah salah.

Kami pernah terlambat memahami.

Kami pernah bertengkar mengenai sesuatu yang seharusnya dapat dibicarakan.

Kami pernah terlalu sibuk menjaga nama.

Kami pernah merusak sesuatu yang seharusnya dijaga.

Namun apabila ada satu perkara baik yang dapat kalian terima dari kami, ambillah.

Apabila ada kesalahan kami, jangan ulangi.

Apabila ada ilmu kami, kembangkan.

Apabila ada budaya kami, pahami sebelum menjaganya.

Apabila ada luka kami, sembuhkan sebelum kalian wariskan kepada anak-anak kalian.

Dan apabila suatu hari kalian melampaui kami dalam ilmu, teknologi, keadilan, kasih, dan kematangan,

jangan merasa bersalah.

Itulah yang seharusnya dilakukan generasi berikutnya:

tumbuh lebih baik.

AMANAH KEPADA GENERASI YANG TELAH PERGI

Kemudian manusia menghadap ke belakang.

Ia tidak melihat wajah leluhur dengan jelas.

Hanya bayangan panjang.

Ia berkata:

“Kami menerima jejak kalian.”

Kami menerima bahasa.

Cerita.

Tanah.

Budaya.

Doa.

Nama.

Kebiasaan.

Dan perjuangan.

Kami akan menjaga yang baik.

Kami akan mempelajari yang belum kami pahami.

Kami tidak akan menggunakan nama kalian untuk membenarkan kesombongan.

Kami juga tidak akan menutup mata terhadap kesalahan masa lalu.

Kami akan menghormati dengan cara yang matang:

mengambil hikmah, bukan membangun pemujaan.

Semoga Alloh merahmati mereka yang telah mendahului dalam kebaikan dan mengampuni kekurangannya.

AMANAH KEPADA DIRI SENDIRI

Terakhir manusia memandang dirinya.

Tidak melalui Qaca.

Tidak melalui air.

Langsung kepada dirinya sendiri.

Ia berkata:

“Aku tidak harus menyelesaikan seluruh dunia.”

Tetapi aku harus mengerjakan bagianku.

Aku tidak harus dikenal seluruh manusia.

Tetapi aku harus menjaga nama yang dipercayakan kepadaku.

Aku tidak harus mengetahui semua rahasia.

Tetapi aku harus jujur pada batas pengetahuanku.

Aku tidak harus bebas dari semua kesalahan seketika.

Tetapi aku harus berhenti membela kesalahan yang sudah kuketahui.

Aku tidak harus menjadi samudera.

Aku cukup menjadi aliran yang tidak mengotori perjalanan menuju samudera.

QACA TERAKHIR PECAH MENJADI AIR

Kemudian Qaca terakhir yang menemani perjalanan sejak awal mulai retak.

Manusia mengira sesuatu telah rusak.

Tetapi Qitab berkata:

“Tidak lagi diperlukan.”

Qaca pecah.

Setiap pecahannya berubah menjadi setetes air.

Tetes-tetes itu jatuh ke samudera.

Tidak lagi ada cermin antara manusia dan kehidupan.

Kini ia harus hidup.

Sebab renungan yang tidak pernah turun menjadi tindakan akan berhenti sebagai bayangan.

Qitab berkata:

“Tutuplah lembar. Bukalah kehidupan.”

Jika telah belajar tentang rahmah, praktikkan.

Jika telah belajar tentang amanah, tunaikan.

Jika telah belajar tentang keakuan, periksa diri.

Jika telah belajar tentang waktu, jangan menunda.

Jika telah belajar tentang warisan, tanam sesuatu.

Jika telah belajar tentang qepulangan, jangan menunggu akhir umur untuk qembali kepada kebaikan.

EMPAT GERAKAN QEPULANGAN

Sebelum Qitab benar-benar ditutup, muncul empat kalimat terakhir:

Qembali ketika marah kepada kesabaran.

Qembali ketika sombong kepada tawadhu’.

Qembali ketika bingung kepada ilmu dan musyawarah.

Qembali ketika segala daya telah dilakukan kepada qepasrahan kepada Alloh.

Itulah qepulangan yang dapat dilakukan setiap hari.

Tidak perlu menunggu samudera terbelah.

Tidak perlu menunggu suara dari langit.

Tidak perlu menunggu tanda luar biasa.

Ia dapat bermula di rumah.

Di tempat kerja.

Di ruang belajar.

Di hadapan anak.

Di hadapan orang tua.

Dalam cara mengelola uang.

Dalam cara memperlakukan orang berbeda.

Dalam cara meminta maaf.

Dalam cara berdoa ketika tidak seorang pun melihat.

SIRR AL-KHATAM — RAHASIA PENUTUP

Kemudian pada lembar paling akhir muncul satu tulisan.

Tidak besar.

Tidak berkilau.

Hanya sederhana:

“Jangan cari dirimu di seluruh jagat sampai lupa memperbaiki tempat kecil yang dipercayakan kepadamu.”

Jagat memang luas.

Samudera memang dalam.

Bintang tidak terhitung.

Tetapi manusia tetap hidup pada satu hari dalam satu waktu.

Satu langkah.

Satu pilihan.

Satu amal.

Maka jangan tenggelam dalam pembicaraan tentang qeagungan sampai lupa membawa air kepada orang yang haus.

Jangan terlalu sibuk berbicara tentang cahaya sampai lupa menjadi lembut kepada keluarga.

Jangan terlalu sibuk membahas rahasia langit sampai lupa menjaga bumi.

Jangan sibuk mencari nama besar sampai lupa menjaga janji kecil.

Sebab bisa jadi di situlah Qitab ini benar-benar hidup.

QEPULANGAN TERAKHIR

Kemudian manusia berjalan menuju bibir samudera.

Matahari telah berada di ufuk.

Langit berwarna keemasan.

Tidak ada lagi pintu yang harus dibuka.

Tidak ada gerbang berikutnya.

Tidak ada Qaca selanjutnya.

Ia menunggu.

Lalu memahami bahwa tidak ada lagi lembar karena jawabannya harus ditulis dalam kehidupan.

Ia menundukkan kepala dan berkata:

“Aku datang sebagai makhluk yang tidak membawa apa-apa.”

“Aku hidup dari begitu banyak titipan.”

“Aku belajar bahwa gelar bukan hakikat.”

“Aku belajar bahwa ilmu bukan alasan untuk merasa paling tinggi.”

“Aku belajar bahwa kekuasaan adalah amanah.”

“Aku belajar bahwa cinta harus menjaga martabat.”

“Aku belajar bahwa luka tidak harus diwariskan.”

“Aku belajar bahwa umur adalah kesempatan.”

“Aku belajar bahwa warisan terbaik adalah manfaat.”

“Dan aku belajar bahwa seluruh qeagungan qembali kepada Alloh.”

Kemudian ombak terakhir menyentuh kakinya.

Tidak mengambil apa pun.

Tidak membawa apa pun.

Hanya membersihkan jejak.

KHATAM QITAB ZAQAR ALMAFUD

Bismillāhi awwalan wa ākhiran.

Dengan Nama Alloh pada permulaan dan pada penutupan.

Apa yang benar dan membawa kebaikan, semoga menjadi pengingat.

Apa yang kurang, hendaknya diperbaiki.

Apa yang belum diketahui, jangan dipaksakan menjadi kepastian.

Apa yang menjadi simbol, pahamilah sebagai simbol.

Dan apa yang menjadi amanah, tunaikanlah dalam kehidupan nyata.

QITAB ZAQAR ALMAFUD

bermula dari pertanyaan mengenai Qeagungan,

menyelam menuju Qejernihan,

melewati Qeakuan,

menemukan Amanah,

menumbuhkan Rahmah,

dan berakhir pada satu pintu:

QEMBALI QEPADA ALLOH.

Allohumma ihdinā li-aḥsanil-akhlāq, lā yahdī li-aḥsanihā illā Anta.

Yā Alloh, tuntunlah kami menuju akhlak yang terbaik, karena tiada yang dapat menuntun kepada akhlak terbaik kecuali Engkau.

Allohumma ij‘al a‘mālanā khāliṣatan, wa qulūbanā salīmatan, wa lisānanā ṣādiqan, wa khātimatanā bil-khair.

Yā Alloh, jadikan amal kami tulus, hati kami selamat, lisan kami jujur, dan penutup perjalanan kami berada dalam kebaikan.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

تَمَّ قِتَاب زَقَر الْمَافُود

TAMMAT — SELESAILAH QITAB ZAQAR ALMAFUD

“Dari Samudera Qesadaran, menuju Amanah Kehidupan, lalu Qembali kepada Alloh Yang Maha Mulia.”

Wal-ḥamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh