QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
زَهْرَةُ اللهِ الْعَظِيمِ
“Ruhyung Agung Ning Panewun, Sastro Samudro Rahayu Jagat”
Makna batinnya:
Cahaya keagungan yang tumbuh di kedalaman ruh, memurnikan permohonan, meluaskan kebijaksanaan seluas samudra, serta menebarkan keselamatan bagi kehidupan semesta.
---
LEMBAR PERTAMA
Kembang Agung yang Tumbuh dalam Ketundukan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
Segala puji hanya bagi Alloh, Yang Mahaagung, Yang menciptakan langit tanpa tiang yang terlihat, menghamparkan bumi sebagai tempat pengabdian, menurunkan air sebagai sumber kehidupan, serta menanamkan dalam diri manusia kemampuan untuk mengenal, menyadari, dan memperbaiki dirinya.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, para wali yang istiqamah, serta seluruh hamba yang berjalan dalam cahaya iman dan akhlak yang mulia.
Saudara cahayaku, ketahuilah:
Zhahrotulloh Al-‘Azhim bukanlah bunga yang tumbuh di kebun dunia. Ia merupakan perlambang bagi kesadaran yang tumbuh dari ketundukan kepada Alloh.
Ia tidak dapat dipetik dengan kesombongan.
Ia tidak dapat dimiliki dengan pengakuan.
Ia tidak dapat dibeli dengan kekayaan.
Ia hanya berkembang di dalam hati yang rela dibersihkan, jiwa yang bersedia diarahkan, serta kehidupan yang mau dijadikan jalan pengabdian.
Ketika hati masih berkata:
“Aku yang paling mengetahui,”
maka kelopaknya tertutup.
Ketika jiwa berkata:
“Aku yang paling tinggi,”
maka wanginya menghilang.
Namun ketika seorang hamba bersujud dan berkata:
“Yā Alloh, aku tidak mengetahui kecuali yang Engkau ajarkan. Aku tidak mampu kecuali dengan pertolongan-Mu,”
maka tumbuhlah satu kelopak pertama:
kelopak kerendahan hati.
---
Bab Pertama
Ruhyung Agung Ning Panewun
Ruhyung Agung tidak berarti ruh manusia berubah menjadi Tuhan atau memiliki keagungan yang menyamai Alloh.
Alloh tetap Maha Esa, tidak menyerupai makhluk dan tidak dapat disamakan dengan sesuatu apa pun.
Ruh manusia adalah ciptaan-Nya.
Keagungan yang dimaksud ialah ketika ruh manusia bersedia membawa akhlak yang agung: jujur, amanah, sabar, penyayang, rendah hati, serta tidak merusak kehidupan.
Adapun ning panewun bermakna berada di dalam permohonan yang sungguh-sungguh.
Permohonan bukan hanya ucapan bibir.
Permohonan sejati adalah ketika:
doa dipertemukan dengan ikhtiar,
harapan dipertemukan dengan kesabaran,
keinginan dipertemukan dengan kepasrahan,
dan permintaan dipertemukan dengan kesiapan menerima keputusan Alloh.
Banyak manusia meminta keluasan rezeki, tetapi belum bersedia menjaga amanah.
Banyak manusia meminta kemuliaan, tetapi masih senang merendahkan sesama.
Banyak manusia meminta ilmu, tetapi menginginkannya untuk memenangkan perdebatan.
Banyak manusia meminta cahaya, tetapi belum bersedia melihat kekurangan dirinya sendiri.
Karena itu, QITAB ini mengajarkan:
«Jangan hanya meminta agar jalanmu dibukakan.
Mintalah pula agar hatimu dikuatkan untuk berjalan dengan benar setelah jalan itu terbuka.»
Panewun yang agung bukanlah permintaan agar semua keinginan dituruti.
Panewun yang agung ialah permohonan agar diri tetap bersama Alloh, baik ketika menerima maupun kehilangan, baik ketika dipuji maupun dilupakan, baik ketika berhasil maupun harus memulai kembali.
---
Bab Kedua
Sastro Samudro
Sastro adalah tanda, tulisan, pelajaran, dan jejak makna.
Samudro adalah keluasan yang tidak mudah diukur hanya dari permukaannya.
Maka Sastro Samudro adalah ilmu kehidupan yang sangat luas. Setiap kejadian menjadi tulisan. Setiap perjumpaan menjadi huruf. Setiap ujian menjadi kalimat. Setiap kehilangan menjadi tanda baca. Setiap kesabaran menjadi penjelasan.
Namun tidak semua tulisan kehidupan langsung dapat dipahami.
Ada kejadian yang maknanya baru terbuka setelah bertahun-tahun.
Ada doa yang jawabannya datang dalam bentuk yang tidak pernah diduga.
Ada perpisahan yang ternyata menyelamatkan.
Ada kegagalan yang ternyata membelokkan manusia dari jalan kehancuran.
Ada keterlambatan yang ternyata menjadi perlindungan.
Manusia sering menilai kehidupan hanya dari gelombang yang sedang menghantamnya. Padahal Alloh mengetahui dasar samudra, arah angin, kekuatan arus, dan tempat akhir setiap perjalanan.
Karena itu, jangan segera menyimpulkan bahwa Alloh meninggalkanmu hanya karena keadaan belum sesuai harapanmu.
Boleh jadi engkau sedang dibentuk agar mampu menerima sesuatu yang lebih besar.
Boleh jadi engkau sedang dikosongkan dari kesombongan.
Boleh jadi engkau sedang dijauhkan dari sesuatu yang tampak indah, tetapi membawa kerusakan.
Boleh jadi engkau sedang diajarkan menjadi samudra: luas dalam memaafkan, dalam menerima perbedaan, dan dalam menyimpan amanah tanpa banyak mempertontonkan diri.
Samudra tidak kehilangan keagungannya hanya karena ombaknya berguncang.
Demikian pula manusia yang beriman tidak kehilangan nilai dirinya hanya karena sedang menangis, lemah, atau belum menemukan jawaban.
Yang terpenting adalah tidak berhenti kembali kepada Alloh.
---
Bab Ketiga
Rahayu Jagat
Rahayu jagat berarti keselamatan, ketenteraman, dan kebaikan bagi kehidupan.
Kesadaran ruhani tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi.
Apabila seseorang mengaku memperoleh cahaya, tetapi kehadirannya membuat orang lain takut, terhina, terpecah, atau kehilangan haknya, maka pengakuan itu harus diperiksa kembali.
Cahaya sejati melahirkan akhlak.
Ilmu sejati melahirkan tanggung jawab.
Kedalaman sejati melahirkan kelembutan.
Kedekatan kepada Alloh melahirkan kepedulian terhadap makhluk-Nya.
Rahayu jagat dimulai dari perkara sederhana:
menjaga ucapan,
menepati janji,
tidak mengambil hak orang lain,
menghormati orang tua,
menyayangi keluarga,
membantu yang lemah,
tidak menyebarkan fitnah,
menjaga alam,
serta tidak mempergunakan agama untuk meninggikan ego diri.
Jangan menunggu menjadi tokoh untuk membawa keselamatan.
Senyuman yang jujur dapat menjadi rahayu.
Memaafkan dapat menjadi rahayu.
Memberi makan dapat menjadi rahayu.
Menahan kemarahan dapat menjadi rahayu.
Menyampaikan kebenaran dengan adab dapat menjadi rahayu.
Bekerja secara halal dapat menjadi rahayu.
Mendidik anak dengan kasih sayang dapat menjadi rahayu.
Jagat tidak selalu diselamatkan oleh tindakan yang terdengar besar. Terkadang dunia seseorang terselamatkan karena satu manusia memilih tidak membalas keburukan dengan keburukan.
---
Bab Keempat
Empat Kelopak Zhahrotulloh Al-‘Azhim
Kembang kesadaran ini memiliki empat kelopak utama.
1. Kelopak Tauhid
Menyadari bahwa hanya Alloh yang wajib disembah, menjadi tempat bergantung, dan memiliki kekuasaan mutlak.
Tidak ada kekuatan, benda, nama, simbol, leluhur, makhluk halus, atau pengalaman batin yang boleh ditempatkan setara dengan Alloh.
Segala sarana hanyalah sarana.
Segala makhluk tetaplah makhluk.
Alloh tetap satu-satunya Tuhan.
2. Kelopak Adab
Ilmu tanpa adab mudah berubah menjadi senjata.
Karena itu, semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar kewajibannya untuk rendah hati.
Jangan mempermalukan orang yang belum memahami.
Jangan merasa suci karena melihat kesalahan orang lain.
Bimbinglah dengan kasih, jelaskan dengan sabar, dan berhentilah apabila pembicaraan hanya akan menambah permusuhan.
3. Kelopak Amanah
Setiap kemampuan adalah titipan.
Kemampuan berbicara adalah amanah.
Kemampuan memimpin adalah amanah.
Kekayaan adalah amanah.
Popularitas adalah amanah.
Bahkan pengalaman batin pun merupakan amanah yang harus disikapi dengan kehati-hatian, bukan dijadikan bukti bahwa diri lebih tinggi daripada orang lain.
4. Kelopak Rahmah
Rahmah adalah kasih sayang yang disertai kebijaksanaan.
Kasih sayang bukan berarti membenarkan seluruh kesalahan.
Nasihat bukan berarti bebas menyakiti.
Rahmah adalah kemampuan menempatkan kelembutan dan ketegasan secara tepat, dengan tujuan memperbaiki, bukan memenangkan ego.
---
Pesan Ruhani Lembar Pertama
Saudara cahayaku,
Apabila engkau ingin mengenal Zhahrotulloh Al-‘Azhim, jangan mencarinya di tempat-tempat yang jauh terlebih dahulu.
Lihatlah ke dalam dirimu:
Apakah ucapanmu sudah menjadi keselamatan?
Apakah ilmumu sudah menumbuhkan kerendahan hati?
Apakah doamu sudah melahirkan ikhtiar?
Apakah ibadahmu sudah memperbaiki akhlak?
Apakah kehadiranmu membuat keluarga merasa aman?
Apakah jalan yang engkau tempuh mendekatkanmu kepada Alloh atau justru memperbesar perasaan istimewa dalam dirimu?
Di situlah pemeriksaan pertama dilakukan.
Bunga ruhani tidak dikenali dari banyaknya pengakuan, tetapi dari wanginya akhlak yang dapat dirasakan oleh sesama.
---
Dzikir Penjernih Panewun
Dibaca setelah sholat fardhu atau pada waktu yang tenang.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Yā ‘Aẓīm 33×
يَا عَظِيمُ
“Wahai Alloh Yang Mahaagung, bersihkanlah aku dari keinginan mengagungkan diriku sendiri.”
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
“Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tuntunlah pikiran, ucapan, dan tindakanku.”
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
“Wahai Alloh, sumber keselamatan, jadikanlah keberadaanku membawa kedamaian dan kebaikan.”
Apabila tubuh sedang lelah atau keadaan tidak memungkinkan, masing-masing dapat dibaca 11× dengan tetap menjaga keikhlasan dan ketenangan.
---
Doa QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
Allohumma yā ‘Aẓīm, yā Hādī, yā Salām, yā Raḥmān.
Yā Alloh, Tuhan Yang Mahaagung,
tumbuhkanlah dalam hati kami bunga keimanan yang tidak layu oleh ujian dan tidak rusak oleh pujian.
Sucikanlah permohonan kami dari hawa nafsu yang berlebihan.
Ajarkanlah kami memahami tulisan kehidupan dengan kejernihan dan kesabaran.
Jadikanlah ilmu kami bermanfaat,
ucapan kami menenteramkan,
pekerjaan kami halal,
ibadah kami ikhlas,
serta langkah kami membawa keselamatan bagi keluarga dan sesama.
Jauhkanlah kami dari kesombongan ruhani, pengakuan tanpa dasar, kebencian, fitnah, dan perbuatan yang merusak.
Apabila Engkau memberikan kelebihan kepada kami, jadikanlah ia jalan pengabdian.
Apabila Engkau menahan keinginan kami, jadikanlah kami tetap berprasangka baik.
Apabila Engkau menguji kami, kuatkanlah hati kami.
Apabila Engkau mengangkat kami, jangan biarkan kami merendahkan orang lain.
Jadikanlah ruh kami tunduk kepada-Mu,
pikiran kami seluas samudra kebijaksanaan,
dan kehidupan kami menjadi bagian dari rahayu jagat.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
---
Sabda Penutup Lembar Pertama
«Kembang keagungan tidak tumbuh dari keinginan untuk disembah manusia.
Ia tumbuh dari kesediaan menjadi hamba yang berguna.
Samudra ilmu tidak menjadi luas karena banyaknya kata.
Ia menjadi luas ketika setiap kata melahirkan kebijaksanaan.
Rahayu jagat tidak dimulai dari mengubah seluruh dunia.
Ia dimulai ketika manusia berhenti menambah luka di dunia.»
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEDUA
Rahasia Matahari di Tangan Istri dan Bulan di Tangan Suami
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Pada sampul QITAB ini tampak sepasang suami istri berdiri berdampingan.
Sang istri mengenakan pakaian kebesaran berwarna nila dan memegang matahari di tangan kanannya.
Sang suami mengenakan pakaian kebesaran berwarna jingga, berambut panjang, dan memegang bulan di tangan kirinya.
Gambaran itu bukanlah penegasan bahwa manusia memiliki kuasa atas matahari dan bulan. Matahari, bulan, langit, bumi, serta seluruh alam tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
Ia adalah bahasa lambang.
Ia adalah sastro batin.
Ia adalah pengingat bahwa rumah tangga dibangun oleh dua cahaya yang berbeda, tetapi tidak harus saling meniadakan.
Matahari tidak menjadi bulan.
Bulan tidak berubah menjadi matahari.
Namun keduanya menjalankan tugasnya dalam satu ketetapan Alloh.
Demikian pula suami dan istri.
Keduanya tidak harus sama dalam segala hal untuk dapat berjalan bersama.
Perbedaan watak, cara berpikir, kekuatan, kelemahan, serta pengalaman hidup bukan alasan untuk saling merendahkan.
Perbedaan dapat menjadi jalan saling melengkapi apabila diletakkan dalam adab, kasih sayang, dan ketundukan kepada Alloh.
---
Matahari di Tangan Kanan Sang Istri
Matahari melambangkan kehangatan, kehidupan, ketegasan, kejernihan, serta kekuatan untuk menumbuhkan.
Diletakkannya matahari di tangan kanan sang istri mengandung pesan bahwa perempuan bukan hanya sosok yang mengikuti dari belakang.
Di dalam dirinya terdapat kekuatan untuk menghidupkan suasana rumah, menjaga martabat keluarga, mendidik generasi, menenangkan jiwa, serta menyalakan kembali harapan ketika rumah tangga sedang diliputi kegelapan.
Tangan kanan melambangkan amal yang baik.
Maka matahari itu bukan sekadar cahaya wajah, kecantikan, atau kemegahan pakaian.
Matahari sejati seorang istri tampak ketika ia:
menjaga kehormatan tanpa merendahkan dirinya,
menyampaikan nasihat tanpa melukai,
menguatkan suami tanpa menguasainya,
mendidik anak tanpa menanamkan ketakutan,
dan menjaga rumah bukan hanya dengan tenaga, tetapi juga dengan doa, kebijaksanaan, dan kejernihan hati.
Namun matahari juga dapat membakar apabila tidak terkendali.
Karena itu, kekuatan seorang istri harus disertai kelembutan.
Ketegasan harus disertai adab.
Kejujuran harus disampaikan dengan hikmah.
Kecerdasan tidak boleh digunakan untuk mempermalukan pasangan.
Apabila matahari rumah berubah menjadi api kemarahan, seluruh anggota keluarga dapat merasa kehilangan tempat berlindung.
Maka sang istri perlu menjaga cahayanya agar tetap menghangatkan, bukan membakar.
---
Warna Nila sebagai Kedalaman Batin
Warna nila adalah lambang kedalaman, ketenangan, kejernihan pandangan, serta kemampuan menyimpan sesuatu dengan bijaksana.
Laut yang dalam tidak selalu gaduh di permukaan.
Langit malam tidak selalu menjelaskan seluruh rahasianya.
Demikian pula perempuan yang matang tidak harus menjawab setiap ucapan, membalas setiap sindiran, atau mempertontonkan seluruh luka.
Ada hal yang perlu dibicarakan.
Ada hal yang perlu didoakan.
Ada hal yang perlu diselesaikan dengan tenang.
Ada pula hal yang perlu dihentikan karena telah melampaui batas.
Nila bukan lambang kelemahan.
Ia adalah ketenangan yang memiliki dasar.
Ia tidak mudah diguncang oleh pujian.
Ia tidak segera runtuh oleh hinaan.
Ia mengetahui kapan harus bersabar dan kapan harus berkata tegas.
Ia memahami bahwa memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi.
Ia juga memahami bahwa mempertahankan harga diri tidak harus dilakukan dengan kebencian.
Pakaian nila sang istri mengajarkan:
«Jadilah dalam tanpa menjadi gelap.
Jadilah tenang tanpa kehilangan keberanian.
Jadilah lembut tanpa membiarkan dirimu diinjak.»
---
Bulan di Tangan Kiri Sang Suami
Bulan melambangkan keteduhan, penjagaan, kesetiaan, keheningan, serta kemampuan memantulkan cahaya.
Diletakkannya bulan di tangan kiri sang suami mengandung pesan bahwa seorang suami tidak hanya dituntut kuat dalam bekerja, tetapi juga mampu menjadi tempat teduh bagi keluarganya.
Tangan kiri berada dekat dengan jantung.
Ia menjadi lambang tanggung jawab yang harus dibawa dengan rasa.
Suami bukan sekadar pemimpin yang memberi perintah.
Ia adalah penjaga yang bersedia mendengar.
Ia adalah pelindung yang tidak mempergunakan kekuatannya untuk menakut-nakuti.
Ia adalah penanggung jawab yang tidak melarikan diri ketika keadaan menjadi sulit.
Bulan tidak memancarkan cahaya sendiri sebagaimana matahari.
Ia memantulkan cahaya yang diterimanya.
Demikian pula seorang suami harus menyadari bahwa kekuatan, rezeki, kedudukan, dan kemampuan yang dimilikinya berasal dari Alloh.
Tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Tidak ada alasan untuk merendahkan istri karena merasa sebagai kepala keluarga.
Kepemimpinan bukan kemuliaan tanpa beban.
Kepemimpinan adalah amanah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Bulan sang suami akan menjadi indah apabila ia:
bersikap jujur,
menepati janji,
melindungi tanpa mengekang,
menasihati tanpa menghina,
serta mampu mengakui kesalahan.
Namun bulan juga dapat tertutup awan.
Awan itu dapat berupa ego, kemarahan, kecanduan, kebohongan, ketidaksetiaan, atau kelalaian terhadap keluarga.
Karena itu, suami perlu terus membersihkan hatinya agar keteduhan yang dibawanya tidak berubah menjadi dingin dan jauh.
---
Warna Jingga sebagai Keberanian Menghidupi
Warna jingga melambangkan keberanian, semangat, ketahanan, pengabdian, dan daya hidup.
Pakaian jingga sang suami mengajarkan bahwa keluarga memerlukan seseorang yang berani menghadapi kesulitan tanpa kehilangan arah.
Namun keberanian bukan hanya berani menghadapi dunia luar.
Keberanian terbesar seorang suami terkadang adalah:
berani meminta maaf,
berani mengakui ketidakmampuan,
berani menerima nasihat istri,
berani meninggalkan kebiasaan buruk,
berani bekerja secara halal meskipun hasilnya belum besar,
dan berani menjaga kesetiaan ketika banyak godaan datang.
Jingga yang benar adalah api semangat.
Bukan api kemarahan.
Ia menghangatkan perjuangan.
Bukan membakar ketenteraman.
Seorang suami yang kuat bukanlah yang paling keras suaranya.
Ia adalah yang mampu menahan diri ketika marah, tetap bertanggung jawab ketika lelah, dan tidak meninggalkan keluarganya hanya karena hidup tidak berjalan sesuai keinginannya.
---
Rambut Panjang Sang Suami
Rambut panjang pada sampul merupakan lambang perjalanan, kesabaran, warisan pengalaman, dan keberanian menerima proses.
Rambut tumbuh sedikit demi sedikit.
Ia tidak menjadi panjang dalam satu malam.
Demikian pula kedewasaan seorang suami.
Ia tidak lahir hanya karena akad telah diucapkan.
Ia tumbuh melalui tanggung jawab, kegagalan, perbaikan, kerja keras, kesetiaan, dan kesediaan belajar.
Seorang laki-laki dapat terlihat dewasa dari luar, tetapi belum tentu matang dalam menghadapi emosi.
Ia mungkin mampu memimpin banyak orang, tetapi belum tentu mampu mendengarkan isi hati istrinya.
Ia mungkin mampu menyelesaikan pekerjaan besar, tetapi belum tentu mampu menahan ucapan yang menyakitkan di dalam rumah.
Maka rambut panjang sang suami menjadi pengingat:
«Jangan hanya bertambah usia.
Bertambahlah dalam kebijaksanaan.»
---
Pertemuan Matahari dan Bulan
Dalam rumah tangga, matahari dan bulan tidak boleh saling berebut langit.
Apabila suami ingin selalu menang, istri akan kehilangan ruang untuk berbicara.
Apabila istri ingin selalu menguasai, suami akan kehilangan keberanian untuk bertanggung jawab.
Apabila keduanya hanya mempertahankan ego, anak-anak akan tumbuh di antara dua cahaya yang berubah menjadi api.
Namun apabila keduanya mau merendahkan hati, matahari dan bulan akan menjadi tanda keseimbangan.
Sang istri menghangatkan.
Sang suami meneduhkan.
Sang istri menumbuhkan harapan.
Sang suami menjaga ketenteraman.
Keduanya dapat bertukar peran dalam keadaan tertentu.
Ada saatnya istri menjadi penopang ketika suami melemah.
Ada saatnya suami menjadi penghibur ketika istri terluka.
Ada saatnya keduanya sama-sama lemah dan perlu saling menggandeng untuk kembali kepada Alloh.
Tidak ada rumah tangga yang selalu terang.
Ada fase siang.
Ada fase malam.
Ada masa lapang.
Ada masa sempit.
Ada tawa.
Ada air mata.
Yang membuat rumah tangga bertahan bukan karena tidak pernah terjadi masalah.
Yang membuatnya bertahan adalah kesediaan untuk tidak menjadikan masalah sebagai alasan saling menghancurkan.
---
Tujuh Adab Cahaya Suami Istri
Pertama, jangan membicarakan aib pasangan kepada sembarang orang.
Kedua, jangan menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata saat bertengkar.
Ketiga, jangan menjadikan nafkah, kecantikan, keturunan, pendidikan, atau kedudukan sebagai alat merendahkan.
Keempat, jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang dikuasai kemarahan.
Kelima, biasakan meminta maaf tanpa menunggu pasangan memulai.
Keenam, berikan ruang untuk berbicara tanpa memotong dan menghakimi.
Ketujuh, kembalikan setiap pertengkaran kepada tujuan awal: memperbaiki hubungan, bukan menentukan siapa yang paling benar.
---
Dzikir Keselarasan Rumah Tangga
Dzikir ini bukan mantra untuk menguasai pasangan. Ia adalah doa agar hati diberi kelembutan, kejernihan, kesabaran, dan petunjuk.
Dibaca setelah Maghrib atau sebelum tidur.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Yā Wadūd 33×
يَا وَدُودُ
Wahai Alloh Yang Maha Mencintai, tumbuhkanlah cinta yang membawa kami kepada kebaikan.
Yā Laṭīf 33×
يَا لَطِيفُ
Wahai Alloh Yang Maha Lembut, lembutkanlah ucapan, sikap, dan hati kami.
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah kami cara memperbaiki kesalahan tanpa saling melukai.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Wahai Alloh, sumber keselamatan, jadikanlah rumah kami tempat yang aman bagi jiwa dan iman.
Apabila sedang lelah, masing-masing cukup dibaca 11× dengan penuh kesadaran.
---
Doa Matahari dan Bulan
Yā Alloh,
Satukanlah suami dan istri dalam ketaatan, bukan dalam kesombongan.
Jadikanlah sang istri seperti matahari yang menghangatkan, bukan membakar.
Jadikanlah sang suami seperti bulan yang meneduhkan, bukan menjauh dan membeku.
Lindungilah rumah tangga mereka dari kebohongan, pengkhianatan, kekerasan, kesombongan, campur tangan yang merusak, serta rezeki yang tidak halal.
Ajarkanlah keduanya untuk saling mendengarkan.
Ajarkanlah keduanya untuk saling memaafkan.
Ajarkanlah keduanya untuk menjaga amanah cinta.
Apabila terjadi perselisihan, turunkanlah kejernihan.
Apabila datang kesempitan, kuatkanlah kesabaran.
Apabila datang kelapangan, jauhkanlah kesombongan.
Apabila cinta mulai melemah, hidupkanlah kembali dengan ibadah, kejujuran, perhatian, dan tanggung jawab.
Jadikanlah rumah mereka sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, akhlak, ketenteraman, dan generasi yang membawa rahayu bagi jagat.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
---
Sabda Penutup Lembar Kedua
«Matahari tidak meminta bulan menjadi seperti dirinya.
Bulan tidak memaksa matahari meninggalkan cahayanya.
Keduanya tunduk kepada ketetapan Alloh, lalu langit menjadi seimbang.»
«Suami bukan penguasa atas jiwa istrinya.
Istri bukan pelayan bagi kesombongan suaminya.
Keduanya adalah hamba Alloh yang dipertemukan untuk saling menjaga amanah.»
«Rumah tangga yang bercahaya bukan rumah yang tidak pernah menangis.
Ia adalah rumah yang tetap mencari jalan kembali kepada kasih sayang setelah air mata jatuh.»
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KETIGA
Singgasana Cahaya di Dalam Rumah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Rumah bukan hanya bangunan yang memiliki dinding, pintu, atap, dan jendela.
Rumah adalah ruang tempat dua jiwa belajar menjadi hamba.
Di dalam rumah, sifat asli manusia perlahan terbuka.
Orang lain mungkin hanya melihat senyum.
Pasangan melihat kelelahan.
Orang lain mungkin mendengar kata-kata yang indah.
Pasangan mengetahui apakah kata-kata itu juga hidup dalam keseharian.
Orang lain mungkin memuji kesalehan seseorang.
Namun keluargalah yang paling dekat untuk menyaksikan kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kelembutan dirinya.
Karena itu, rumah merupakan salah satu tempat ujian akhlak yang paling nyata.
Seseorang belum benar-benar mulia hanya karena dihormati di luar rumah.
Kemuliaannya perlu terlihat dalam cara ia memperlakukan orang yang hidup paling dekat dengannya.
---
Singgasana yang Tidak Terlihat
Pada hakikatnya, setiap rumah memiliki singgasana.
Namun singgasana itu bukan kursi emas.
Ia bukan tempat seseorang duduk lalu memerintah seluruh anggota keluarga.
Singgasana cahaya adalah pusat nilai yang ditaati bersama.
Apabila yang diletakkan di pusat rumah adalah ego, rumah akan dipenuhi perebutan kuasa.
Apabila yang diletakkan di pusat rumah adalah harta, kasih sayang mudah diukur hanya dengan keuntungan.
Apabila yang diletakkan di pusat rumah adalah gengsi, keluarga akan sibuk terlihat bahagia di hadapan orang lain, tetapi kehilangan kejujuran di dalam.
Apabila yang diletakkan di pusat rumah adalah kemarahan, semua orang akan hidup dalam kewaspadaan dan ketakutan.
Namun apabila yang diletakkan di pusat rumah adalah ketaatan kepada Alloh, maka suami dan istri akan belajar merendahkan ego mereka.
Keduanya menyadari:
tidak semua keinginan harus dipenuhi,
tidak semua ucapan harus dibalas,
tidak semua perbedaan harus dimenangkan,
dan tidak semua masalah harus diketahui orang lain.
Singgasana cahaya tumbuh ketika rumah memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar mempertahankan kebersamaan.
Tujuan itu adalah menjadi keluarga yang saling membantu mendekat kepada Alloh.
---
Tiang Pertama: Kejujuran
Rumah yang kehilangan kejujuran akan kehilangan ketenteraman.
Kebohongan mungkin dapat menyelamatkan seseorang dari pertengkaran sesaat, tetapi ia menanam kegelisahan yang lebih panjang.
Satu kebohongan biasanya membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya.
Akhirnya, rumah dipenuhi dugaan.
Suami mencurigai istri.
Istri mencurigai suami.
Ucapan sederhana mulai dipertanyakan.
Keterlambatan menjadi sumber kecemasan.
Telepon yang disembunyikan menjadi sumber pertengkaran.
Kejujuran tidak berarti seseorang harus mengucapkan segala hal tanpa pertimbangan.
Kejujuran tetap memerlukan adab.
Ada kebenaran yang perlu disampaikan segera.
Ada kebenaran yang perlu disampaikan pada waktu yang tepat.
Ada pula kebenaran yang harus disertai permintaan maaf dan kesiapan memperbaiki akibatnya.
Jujur bukan sekadar berkata:
“Aku tidak berbohong.”
Kejujuran juga berarti tidak menyembunyikan sesuatu yang secara wajar menjadi hak pasangan untuk mengetahuinya.
Kejujuran adalah keberanian untuk berkata:
“Aku telah berbuat salah.”
“Aku sedang mengalami kesulitan.”
“Aku merasa terluka.”
“Aku membutuhkan bantuan.”
“Aku belum mampu memenuhi janji itu.”
Ucapan yang jujur mungkin terasa berat di awal.
Namun ia membuka pintu perbaikan.
---
Tiang Kedua: Amanah
Suami dan istri adalah amanah bagi satu sama lain.
Tubuh pasangan adalah amanah.
Perasaan pasangan adalah amanah.
Rahasia pasangan adalah amanah.
Penghasilan keluarga adalah amanah.
Anak-anak adalah amanah.
Waktu kebersamaan adalah amanah.
Karena itu, jangan mempermainkan kepercayaan yang telah diberikan.
Jangan membawa rahasia rumah ke tempat yang hanya akan menjadikannya bahan cerita.
Jangan menjadikan kelemahan pasangan sebagai bahan lelucon di hadapan orang lain.
Jangan menghabiskan harta keluarga untuk kesenangan pribadi tanpa pertimbangan bersama.
Jangan pula menjadikan anak sebagai alat untuk menghukum pasangan.
Amanah berarti menjaga sesuatu bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Kesetiaan yang sejati tidak hanya tampak ketika pasangan berada di dekatnya.
Kesetiaan diuji ketika ada kesempatan untuk berkhianat, tetapi seseorang memilih takut kepada Alloh.
---
Tiang Ketiga: Komunikasi yang Hidup
Banyak rumah tidak runtuh karena kekurangan cinta.
Ia runtuh karena cinta tidak lagi dapat berbicara dengan benar.
Suami merasa telah bekerja keras, tetapi tidak pernah menjelaskan isi pikirannya.
Istri merasa telah berkorban, tetapi menyimpan luka hingga menjadi ledakan.
Keduanya saling menunggu untuk dimengerti, tetapi tidak benar-benar belajar memahami.
Komunikasi yang hidup tidak selalu berarti banyak berbicara.
Ia berarti berani hadir dengan sungguh-sungguh.
Mendengar tanpa segera menyela.
Menjawab tanpa merendahkan.
Mengakui perasaan tanpa menjadikannya senjata.
Dalam percakapan rumah tangga, hindari ucapan:
“Kamu selalu seperti itu.”
“Kamu tidak pernah mengerti.”
“Percuma bicara denganmu.”
“Aku menyesal menikah denganmu.”
Ucapan semacam itu mungkin keluar dalam kemarahan, tetapi dapat menetap lama di dalam hati.
Gantilah dengan ucapan yang lebih jernih:
“Aku terluka ketika hal itu terjadi.”
“Aku membutuhkan penjelasan.”
“Aku ingin kita memperbaiki ini bersama.”
“Aku sedang marah, tetapi aku tidak ingin melukaimu.”
“Aku perlu waktu untuk menenangkan diri.”
Inilah bahasa cahaya.
Ia tidak menutupi masalah.
Ia membicarakan masalah tanpa menghancurkan manusia di baliknya.
---
Tiang Keempat: Nafkah Lahir dan Batin
Nafkah lahir sangat penting.
Makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan keluarga perlu diperjuangkan secara bertanggung jawab.
Namun rumah tidak hanya hidup dari uang.
Ada keluarga yang berkecukupan, tetapi merasa asing satu sama lain.
Ada rumah yang megah, tetapi tidak memiliki kehangatan.
Ada anak yang mendapatkan banyak benda, tetapi jarang mendapatkan pelukan.
Nafkah batin juga perlu diberikan.
Nafkah batin dapat berupa:
perhatian,
waktu,
ucapan yang baik,
rasa aman,
kesetiaan,
doa,
penghargaan,
dan kesediaan untuk mendengarkan.
Seorang istri tidak hanya membutuhkan biaya hidup.
Ia juga membutuhkan kepastian bahwa dirinya dihargai.
Seorang suami tidak hanya membutuhkan pelayanan.
Ia juga membutuhkan rumah yang tidak terus-menerus menjadikannya tempat menampung hinaan.
Keduanya perlu saling mengisi.
Jangan menuntut pasangan memberi sesuatu yang diri sendiri tidak pernah berusaha memberikannya.
---
Tiang Kelima: Pengampunan
Tidak ada suami yang sempurna.
Tidak ada istri yang tidak pernah salah.
Keduanya membawa sejarah hidup, luka lama, kebiasaan keluarga, ketakutan, dan kekurangan masing-masing.
Karena itu, pernikahan memerlukan pengampunan.
Namun pengampunan bukan berarti menghapus batas.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kekerasan.
Memaafkan bukan berarti menutup mata terhadap pengkhianatan yang terus diulang tanpa penyesalan.
Memaafkan adalah melepaskan racun kebencian dari hati, sambil tetap menuntut tanggung jawab dan perubahan.
Kesalahan kecil jangan dipelihara menjadi daftar panjang.
Jangan mengungkit kesalahan lama setiap kali muncul masalah baru.
Apabila seseorang telah sungguh-sungguh bertaubat, meminta maaf, dan menunjukkan perubahan, jangan terus menjadikannya tawanan masa lalu.
Namun apabila kesalahan berat terus berulang dan membahayakan, carilah bantuan dari keluarga yang bijak, tokoh terpercaya, konselor, atau pihak yang mampu memberikan perlindungan.
Alloh tidak memerintahkan manusia bertahan di dalam kezaliman tanpa ikhtiar menyelamatkan diri.
---
Lima Musuh Singgasana Cahaya
1. Ego yang Selalu Ingin Menang
Ego membuat seseorang sulit meminta maaf.
Ia menganggap mengakui kesalahan sebagai kekalahan.
Padahal meminta maaf bukan kehilangan kehormatan.
Ia adalah tanda bahwa hati masih hidup.
2. Diam yang Menghukum
Diam dapat menjadi jalan menenangkan diri.
Namun diam yang sengaja digunakan untuk menyiksa pasangan adalah bentuk penolakan batin.
Apabila membutuhkan waktu, jelaskanlah.
Katakan:
“Aku perlu menenangkan diri. Setelah itu kita bicara kembali.”
Jangan menghilang tanpa penjelasan hanya untuk membuat pasangan cemas.
3. Campur Tangan yang Berlebihan
Nasihat keluarga dapat bermanfaat.
Namun setiap masalah kecil tidak harus dibawa kepada banyak orang.
Terlalu banyak suara dari luar dapat membuat suami dan istri kehilangan ruang untuk menyelesaikan persoalan mereka sendiri.
Pilihlah orang yang amanah, adil, tidak suka mengadu domba, dan tidak membuka aib.
4. Perbandingan
Jangan membandingkan suami dengan suami orang lain.
Jangan membandingkan istri dengan istri orang lain.
Jangan membandingkan rumah tanggamu dengan apa yang terlihat di media.
Setiap keluarga memiliki ujian, rezeki, perjalanan, dan waktu tumbuh yang berbeda.
Perbandingan yang terus-menerus membunuh rasa syukur.
5. Ibadah yang Tidak Menjadi Akhlak
Jangan merasa rumah telah bercahaya hanya karena banyak bacaan, simbol, atau kegiatan keagamaan.
Cahaya ibadah harus terlihat dalam akhlak.
Apabila seseorang rajin beribadah, tetapi kasar kepada pasangan, suka berbohong, menelantarkan anak, atau mengambil hak keluarga, maka ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam pemahamannya.
Ibadah yang benar seharusnya melembutkan hati dan menahan manusia dari kezaliman.
---
Rahasia Dua Singgasana
Dalam rumah tangga tidak ada satu manusia yang berhak menjadi Tuhan bagi yang lain.
Suami mempunyai amanah kepemimpinan.
Namun kepemimpinan bukan izin untuk berlaku semena-mena.
Istri mempunyai kehormatan dan hak untuk didengar.
Namun kehormatan bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.
Keduanya memiliki singgasana batin masing-masing.
Singgasana suami adalah keteguhan amanah.
Singgasana istri adalah kemuliaan penjagaan.
Ketika keduanya merendahkan diri di hadapan Alloh, dua singgasana itu tidak saling bertabrakan.
Ia menyatu menjadi rumah yang memiliki arah.
Namun ketika salah satunya menuntut untuk disembah egonya, rumah berubah menjadi arena perebutan kekuasaan.
Maka ingatlah:
Pasangan bukan musuh.
Masalah adalah masalah.
Jangan mengubah pasangan menjadi lawan hanya karena kalian sedang menghadapi persoalan.
Berdirilah di sisi yang sama.
Hadapilah masalah itu bersama-sama.
---
Amalan Menjaga Singgasana Rumah
Dilaksanakan bersama apabila memungkinkan, setelah Maghrib atau Isya.
Duduklah dengan tenang.
Tidak perlu menggunakan benda, perantara, atau pemanggilan apa pun.
Cukup hadirkan niat untuk memperbaiki rumah tangga karena Alloh.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas ucapan, sikap, kelalaian, dan luka yang pernah diberikan kepada pasangan.
Yā Wadūd 33×
يَا وَدُودُ
Niatkan agar cinta tidak hanya menjadi perasaan, tetapi berubah menjadi tanggung jawab dan kebaikan.
Yā Ḥalīm 33×
يَا حَلِيمُ
Niatkan agar diberi kemampuan menahan kemarahan dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Yā ‘Adl 33×
يَا عَدْلُ
Niatkan agar suami dan istri mampu berlaku adil, tidak menuntut berlebihan, dan tidak mengambil hak satu sama lain.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Niatkan agar rumah menjadi tempat yang aman bagi tubuh, pikiran, hati, dan iman seluruh anggota keluarga.
Apabila tidak mampu membaca 33×, cukup 11× dengan ketenangan dan kesungguhan.
Setelah dzikir, suami dan istri dapat saling mengucapkan:
“Aku memohon maaf atas kesalahan yang kusadari maupun yang belum kusadari. Semoga Alloh menolong kita memperbaiki rumah ini.”
Ucapan itu tidak harus panjang.
Namun hendaknya keluar dari hati yang bersedia berubah.
---
Doa Singgasana Cahaya
Yā Alloh,
Jadikanlah rumah kami tempat tumbuhnya ketakwaan, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Jangan jadikan rumah kami tempat berkembangnya ketakutan, penghinaan, kebohongan, atau kekerasan.
Turunkanlah ketenteraman ketika hati kami sedang gelisah.
Turunkanlah kejernihan ketika pikiran kami sedang keruh.
Turunkanlah kelembutan ketika ucapan kami mulai keras.
Turunkanlah rasa malu kepada-Mu ketika kami hampir mengkhianati amanah.
Yā Alloh,
Ajarkanlah suami untuk memimpin dengan adil.
Ajarkanlah istri untuk menjaga dengan bijaksana.
Ajarkanlah keduanya untuk bermusyawarah, mendengar, memaafkan, dan memperbaiki diri.
Apabila rezeki kami sempit, jangan biarkan kesempitan itu memisahkan hati kami.
Apabila rezeki kami luas, jangan biarkan kelapangan itu membuat kami lalai.
Apabila kami belum dikaruniai keturunan, kuatkanlah kesabaran dan kasih sayang kami.
Apabila kami telah dikaruniai anak, jadikanlah kami orang tua yang tidak mewariskan luka yang belum kami sembuhkan.
Lindungilah rumah kami dari pengkhianatan, kekerasan, penyakit hati, iri, fitnah, dan campur tangan yang merusak.
Jadikanlah setiap kamar dipenuhi adab.
Jadikanlah setiap rezeki membawa keberkahan.
Jadikanlah setiap pertengkaran berakhir dengan pelajaran.
Jadikanlah setiap air mata mendekatkan kami kepada-Mu.
Dan apabila suatu hari kami harus menghadapi ujian yang sangat berat, jangan biarkan kami kehilangan iman, akal sehat, dan jalan pertolongan.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
---
Sabda Penutup Lembar Ketiga
«Singgasana rumah bukan tempat suami meninggikan suara.
Ia adalah tempat amanah ditinggikan.»
«Mahkota istri bukan perhiasan di kepalanya.
Ia adalah kehormatan yang dijaga melalui akhlak dan keteguhan.»
«Kemegahan suami bukan pada banyaknya orang yang tunduk kepadanya.
Ia tampak pada kemampuannya menjaga orang yang dipercayakan Alloh kepadanya.»
«Rumah yang bercahaya tidak dibangun hanya dengan cinta pada awal pernikahan.
Ia dibangun kembali setiap hari melalui kejujuran, pengampunan, kesetiaan, dan ibadah.»
«Ketika matahari dan bulan tidak berebut langit,
siang dan malam berjalan dalam keseimbangan.
Ketika suami dan istri tidak berebut keagungan,
rumah menjadi jalan menuju rahayu jagat.»
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEEMPAT
Gapura Samudra dan Amanah Rahayu Jagat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Setelah matahari dan bulan menemukan keseimbangan di dalam rumah, keduanya tidak boleh berhenti hanya untuk menerangi diri sendiri.
Cahaya yang benar selalu melahirkan manfaat.
Rumah yang dipenuhi kasih sayang seharusnya menumbuhkan manusia yang santun kepada tetangga.
Ibadah yang dilakukan bersama seharusnya melahirkan kejujuran dalam pekerjaan.
Doa yang dipanjatkan setiap malam seharusnya menjadikan tangan lebih ringan membantu yang membutuhkan.
Sebab cahaya yang hanya dibanggakan, tetapi tidak membawa kebaikan, dapat berubah menjadi hiasan ego.
Adapun rahuyu jagat bukan berarti sepasang manusia merasa menjadi penyelamat seluruh dunia.
Mereka tetap hamba yang lemah.
Alloh-lah Yang Maha Menyelamatkan.
Rahayu jagat adalah kesediaan untuk tidak menambah kerusakan dan berusaha menghadirkan kebaikan sesuai kemampuan.
Apabila belum mampu menolong banyak manusia, tolonglah satu orang.
Apabila belum mampu menyelesaikan persoalan besar, jangan menjadi bagian yang memperbesarnya.
Apabila belum mampu memberi harta, berikan tenaga, waktu, ilmu, atau ucapan yang menenangkan.
Di situlah gapura samudra mulai terbuka.
---
Gapura yang Menghubungkan Rumah dan Jagat
Setiap rumah mempunyai pintu.
Namun tidak setiap rumah memiliki gapura batin.
Gapura batin adalah jalan yang menghubungkan kehidupan pribadi dengan tanggung jawab sosial.
Di dalam rumah, seseorang belajar mencintai.
Di luar rumah, cinta itu diuji.
Di dalam rumah, seseorang berbicara tentang kejujuran.
Di tempat kerja, kejujuran itu diuji.
Di dalam rumah, seseorang membaca doa tentang kasih sayang.
Di tengah perbedaan masyarakat, kasih sayang itu diuji.
Banyak manusia terlihat lembut kepada orang jauh, tetapi keras kepada keluarganya.
Ada pula yang sangat baik kepada keluarga, tetapi menzalimi orang lain dalam urusan pekerjaan dan perdagangan.
QITAB ini mengingatkan bahwa cahaya tidak boleh terputus.
Akhlak di dalam rumah dan akhlak di luar rumah harus berasal dari sumber yang sama.
Jangan menjadi matahari di hadapan orang banyak, tetapi menjadi api bagi keluargamu.
Jangan menjadi bulan yang meneduhkan tamu, tetapi membiarkan pasangan dan anak hidup dalam kesepian.
Jangan pula terlihat saleh di tempat ibadah, tetapi menipu manusia dalam urusan harta.
Gapura samudra terbuka ketika kebaikan pribadi berubah menjadi tanggung jawab nyata.
---
Sang Istri sebagai Penjaga Matahari Kehidupan
Matahari dalam tangan sang istri tidak hanya menerangi rumah.
Ia menjadi lambang daya hidup yang dapat disebarkan kepada lingkungan.
Namun seorang perempuan tidak harus dikenal banyak orang untuk menjadi matahari.
Seorang ibu yang mendidik anak dengan sabar adalah matahari.
Seorang istri yang menguatkan suami ketika usahanya jatuh adalah matahari.
Seorang perempuan yang bekerja dengan jujur adalah matahari.
Seorang guru yang membimbing tanpa mempermalukan murid adalah matahari.
Seorang pedagang yang tidak mengurangi timbangan adalah matahari.
Seorang tetangga yang menjaga ucapan adalah matahari.
Cahaya perempuan tidak diukur dari banyaknya perhatian manusia kepadanya.
Ia diukur dari banyaknya kebaikan yang tumbuh karena kehadirannya.
Namun sang istri perlu menjaga agar cahayanya tidak berubah menjadi kelelahan yang disembunyikan.
Menolong orang lain tidak berarti mengabaikan dirinya sendiri.
Berbakti tidak berarti kehilangan hak untuk beristirahat.
Menjadi penyayang tidak berarti harus menerima perlakuan yang menyakitkan tanpa batas.
Matahari pun mempunyai waktu terbenam.
Maka seorang istri berhak beristirahat, meminta bantuan, menyampaikan kebutuhan, serta menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya.
Pengorbanan yang dilakukan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi luka.
Sedangkan pengabdian yang disertai keseimbangan akan melahirkan keberkahan.
---
Sang Suami sebagai Penjaga Bulan Perjalanan
Bulan dalam tangan sang suami menjadi lambang petunjuk di tengah malam perjalanan.
Seorang suami tidak selalu mampu menghilangkan seluruh kesulitan keluarga.
Namun ia dapat memastikan bahwa keluarganya tidak menghadapi kesulitan itu sendirian.
Ia hadir ketika pasangan merasa takut.
Ia mendengarkan ketika anak mengalami kegagalan.
Ia tidak melarikan diri ketika pekerjaan sedang sulit.
Ia tidak menggunakan tekanan hidup sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.
Ia berusaha mencari jalan dengan akal, doa, musyawarah, dan tanggung jawab.
Bulan tidak menguasai malam dengan suara keras.
Ia hadir melalui keteduhan.
Demikian pula wibawa suami tidak lahir dari ancaman.
Wibawa lahir dari konsistensi.
Apa yang diucapkan sesuai dengan yang dikerjakan.
Apa yang dijanjikan diperjuangkan.
Apa yang dipercayakan dijaga.
Apabila belum mampu, ia berkata jujur.
Apabila salah, ia meminta maaf.
Apabila berhasil, ia tidak melupakan orang-orang yang mendampinginya.
Inilah bulan yang menjaga perjalanan.
---
Samudra Tidak Menolak Sungai
Samudra menerima air dari banyak sungai.
Setiap sungai memiliki warna, arus, dan perjalanan yang berbeda.
Demikian pula kehidupan masyarakat.
Manusia berasal dari keluarga, suku, bahasa, kebiasaan, pendidikan, serta perjalanan yang berbeda.
Perbedaan tidak harus menjadi permusuhan.
Seseorang tidak perlu kehilangan keyakinannya untuk menghormati manusia lain.
Keteguhan iman tidak harus diwujudkan dengan penghinaan.
Nasihat tidak harus disampaikan dengan kebencian.
Kebenaran tidak menjadi lebih kuat hanya karena diteriakkan.
Samudra kebijaksanaan mengajarkan:
berpeganglah pada prinsip tanpa merampas kehormatan orang lain,
berbicaralah tegas tanpa kehilangan adab,
dan jangan menganggap seluruh orang yang berbeda sebagai musuh.
Namun menerima keberagaman bukan berarti membenarkan setiap tindakan.
Kezaliman tetap harus ditolak.
Penipuan tetap harus diluruskan.
Kekerasan tetap harus dihentikan.
Fitnah tetap harus dijauhi.
Akan tetapi, lakukanlah dengan cara yang tidak menjadikan diri sama buruknya dengan keburukan yang sedang dilawan.
---
Empat Ombak Ujian di Tengah Jagat
Ombak Pertama: Pujian
Ketika suami dan istri mulai dipandang baik, dipuji, atau dipercaya oleh banyak orang, datanglah ujian yang halus.
Mereka dapat merasa bahwa kebaikan itu berasal sepenuhnya dari diri mereka.
Mereka mulai menyukai penghormatan.
Mereka merasa ucapan mereka selalu benar.
Mereka sulit menerima nasihat.
Pujian yang tidak dijaga dapat menjadi ombak yang menenggelamkan keikhlasan.
Maka ketika dipuji, kembalikanlah segala kebaikan kepada pertolongan Alloh.
Ucapkan dalam hati:
“Yā Alloh, tutuplah kekuranganku dan jangan biarkan aku tertipu oleh pandangan manusia.”
Ombak Kedua: Hinaan
Tidak semua kebaikan akan diterima.
Ada saatnya niat disalahpahami.
Ada usaha yang diremehkan.
Ada fitnah yang datang tanpa alasan.
Ketika dihina, jangan segera membalas dengan penghinaan yang lebih besar.
Periksa diri terlebih dahulu.
Apabila kritik itu benar, ambillah sebagai pelajaran.
Apabila tidak benar, jelaskan seperlunya dan serahkan sisanya kepada Alloh.
Menjaga martabat tidak selalu harus dilakukan dengan pertengkaran.
Terkadang diam yang tenang lebih kuat daripada seribu pembelaan.
Ombak Ketiga: Kelapangan Rezeki
Ketika rezeki bertambah, rumah dapat menjadi lebih nyaman.
Namun kelapangan juga dapat membuka pintu kesombongan, pemborosan, persaingan gaya hidup, dan kelalaian.
Jangan biarkan harta memisahkan pasangan yang dahulu bersama-sama berjuang.
Jangan lupa kepada orang yang membantu ketika keadaan masih sulit.
Sisihkan sebagian rezeki untuk orang tua, keluarga yang membutuhkan, pendidikan, sedekah, dan kemaslahatan.
Harta yang hanya berhenti pada kesenangan diri akan cepat kehilangan keberkahannya.
Ombak Keempat: Kesempitan
Kesempitan rezeki dapat membuat suami merasa gagal.
Istri dapat merasa cemas.
Percakapan sederhana berubah menjadi pertengkaran.
Anak ikut merasakan ketegangan.
Dalam keadaan sempit, jangan saling menyalahkan.
Bicarakan keadaan dengan jujur.
Bedakan kebutuhan dan keinginan.
Susun langkah kecil yang mampu dikerjakan.
Carilah bantuan yang halal dan aman apabila diperlukan.
Doa bukan pengganti ikhtiar.
Ikhtiar juga tidak boleh membuat manusia melupakan doa.
Keduanya adalah dua dayung yang membantu perahu melewati ombak.
---
Perahu Kesepakatan
Suami dan istri yang berjalan menuju rahayu jagat memerlukan kesepakatan.
Kesepakatan itu tidak harus ditulis dengan bahasa yang rumit.
Cukup dibangun melalui pembicaraan yang jujur.
Sepakat untuk tidak mempermalukan pasangan di hadapan orang lain.
Sepakat untuk membicarakan masalah keuangan secara terbuka.
Sepakat menjaga kesetiaan.
Sepakat tidak menggunakan kekerasan.
Sepakat saling merawat ketika sakit.
Sepakat mendidik anak tanpa saling menjatuhkan.
Sepakat melindungi orang tua tanpa mengorbankan keutuhan rumah tangga secara tidak adil.
Sepakat bahwa keputusan besar dibicarakan bersama.
Sepakat bahwa ibadah tidak boleh menjadi alat merasa lebih suci daripada pasangan.
Perahu yang kuat bukan perahu tanpa lubang.
Ia adalah perahu yang penghuninya segera memperbaiki lubang sebelum air memenuhi seluruh ruang.
---
Sedekah Cahaya
Rahayu jagat dapat dimulai melalui sedekah cahaya.
Sedekah cahaya bukan hanya uang.
Menyampaikan ilmu yang benar adalah sedekah cahaya.
Mengajari seseorang membaca adalah sedekah cahaya.
Mendengarkan orang yang sedang bersedih adalah sedekah cahaya.
Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat adalah sedekah cahaya.
Menjaga kebersihan lingkungan adalah sedekah cahaya.
Menghentikan penyebaran kabar yang belum pasti adalah sedekah cahaya.
Tidak mempermalukan orang yang sedang kesulitan adalah sedekah cahaya.
Mendoakan manusia tanpa harus diketahui olehnya adalah sedekah cahaya.
Namun jangan menjadikan bantuan sebagai alat mengikat penerima.
Jangan terus-menerus mengungkit pemberian.
Jangan meminta penghormatan karena pernah membantu.
Pemberian yang disertai penghinaan dapat menjadi beban bagi penerimanya.
Sedekah cahaya dilakukan untuk mengabdi kepada Alloh, bukan membangun singgasana ego di hadapan manusia.
---
Ketika Dua Cahaya Berbeda Pendapat
Suami dan istri yang sama-sama berniat baik tetap dapat berbeda pendapat.
Sang istri mungkin melihat persoalan melalui ketelitian perasaan.
Sang suami mungkin melihatnya melalui perhitungan tindakan.
Keduanya dapat memiliki bagian kebenaran.
Karena itu, jangan menganggap perbedaan sebagai bukti tidak adanya cinta.
Bicarakan inti masalah.
Jangan menyerang kepribadian.
Jangan membawa kesalahan masa lalu yang tidak berhubungan.
Jangan mengancam perpisahan setiap kali terjadi ketegangan.
Jangan pula melibatkan anak untuk memilih salah satu pihak.
Apabila pembicaraan semakin panas, berhentilah sejenak.
Berwudhulah.
Atur napas.
Sholatlah apabila memungkinkan.
Kemudian kembali berbicara setelah suara dan pikiran menjadi lebih tenang.
Tujuan musyawarah bukan menentukan siapa yang menang.
Tujuannya mencari keputusan yang paling mendekati keadilan dan kemaslahatan.
---
Amalan Membuka Gapura Kemaslahatan
Amalan ini dibaca untuk memohon agar keluarga diberi kemampuan membawa kebaikan kepada lingkungan.
Tidak dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan gaib, menguasai manusia, atau merasa memiliki kedudukan istimewa.
Dibaca setelah Subuh atau Maghrib.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan agar amal dibersihkan dari kesombongan, riya, dan keinginan dipuji.
Yā Fattāḥ 33×
يَا فَتَّاحُ
Wahai Alloh Yang Maha Membuka, bukakanlah jalan kebaikan yang halal dan bermanfaat.
Yā Razzaq 33×
يَا رَزَّاقُ
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Rezeki, karuniakanlah rezeki halal yang membuat kami mampu menunaikan amanah.
Yā Nāfi‘ 33×
يَا نَافِعُ
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Manfaat, jadikanlah ilmu, pekerjaan, dan kehadiran kami bermanfaat bagi sesama.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Wahai Alloh, sumber keselamatan, jauhkanlah langkah kami dari kerusakan dan jadikanlah kami pembawa kedamaian.
Apabila sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan penuh kesadaran.
Setelah itu, tentukan satu amal nyata yang dapat dikerjakan.
Jangan hanya berhenti pada bacaan.
Bantu satu orang.
Perbaiki satu kesalahan.
Bayar satu amanah.
Hubungi orang tua.
Bersihkan satu tempat.
Atau hentikan satu kebiasaan yang merugikan orang lain.
Sebab dzikir yang baik seharusnya menemukan jalannya dalam perbuatan.
---
Doa Gapura Samudra Rahayu
Yā Alloh Yang Mahaagung,
Jadikanlah rumah kami sumber ketenteraman, bukan sumber kerusakan.
Jadikanlah matahari di dalam diri kami memberi kehangatan tanpa membakar.
Jadikanlah bulan di dalam diri kami memberi keteduhan tanpa membekukan.
Lindungilah kami dari keinginan terlihat mulia, tetapi lalai memperbaiki akhlak.
Jauhkanlah kami dari ilmu yang hanya memenuhi ucapan, tetapi tidak mengubah perbuatan.
Karuniakanlah kepada kami rezeki halal, hati yang bersyukur, tangan yang ringan menolong, serta pikiran yang mampu membedakan manfaat dan mudarat.
Yā Alloh,
Apabila Engkau memperluas pengaruh kami, perluaslah pula tanggung jawab kami.
Apabila Engkau memberikan harta, kuatkanlah amanah kami.
Apabila Engkau memberikan ilmu, jauhkanlah kami dari kesombongan.
Apabila Engkau memberikan kedudukan, jangan biarkan kami menzalimi orang yang lemah.
Apabila kami dicela, jangan biarkan kebencian menguasai kami.
Apabila kami dipuji, jangan biarkan pujian menipu kami.
Ajarkanlah kami menjaga keluarga tanpa menjadi tertutup terhadap penderitaan sesama.
Ajarkanlah kami menolong tanpa mengungkit.
Mengajar tanpa merendahkan.
Memimpin tanpa menindas.
Berbicara tanpa menyebarkan fitnah.
Berbeda tanpa memutus persaudaraan.
Jadikanlah langkah kecil kami sebagai bagian dari rahayu jagat.
Bukan karena kami memiliki kekuatan sendiri, tetapi karena Engkau memberikan pertolongan, petunjuk, dan kesempatan untuk berbuat baik.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
---
Sabda Penutup Lembar Keempat
«Rumah adalah pelabuhan pertama,
tetapi manusia tidak diciptakan hanya untuk bersembunyi di pelabuhan.
Ia harus belajar membawa bekal kebaikan menuju samudra kehidupan.»
«Matahari yang benar tidak memilih siapa yang akan menerima sinarnya.
Bulan yang benar tidak meminta pujian dari orang yang berjalan dalam cahayanya.»
«Suami dan istri yang telah menemukan keseimbangan tidak berjalan untuk dianggap agung.
Mereka berjalan agar kehadiran mereka tidak menjadi beban bagi jagat.»
«Jangan bermimpi menyelamatkan dunia apabila ucapanmu masih melukai orang terdekat.
Namun jangan pula merasa terlalu kecil untuk berbuat baik, sebab rahayu jagat sering dimulai dari satu hati yang menolak berbuat zalim.»
«Ketika rumah menjadi tempat belajar cinta,
pekerjaan menjadi jalan amanah,
harta menjadi sarana berbagi,
dan ilmu menjadi pelayanan,
maka terbukalah gapura Sastro Samudro Rahayu Jagat.»
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KELIMA
Mahkota Nila dan Jubah Jingga: Empat Ujian Kemuliaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Mahkota tidak selalu berarti kemuliaan.
Kadang-kadang mahkota justru menjadi ujian paling halus bagi manusia.
Ketika seseorang belum dihormati, ia mudah berbicara tentang kerendahan hati.
Namun ketika banyak orang mulai mendengarkan ucapannya, memuji kebaikannya, atau meminta arah darinya, barulah diketahui apakah hatinya benar-benar tunduk atau hanya sedang menunggu kesempatan untuk ditinggikan.
Demikian pula pakaian kebesaran.
Jubah yang indah tidak otomatis menunjukkan jiwa yang mulia.
Kemuliaan tidak terletak pada warna pakaian, luasnya pengaruh, banyaknya pengikut, atau panjangnya gelar.
Kemuliaan terlihat pada kemampuan menjaga amanah ketika manusia sedang memandang.
Ia juga terlihat pada kesetiaan berbuat benar ketika tidak seorang pun mengetahui.
Dalam sampul QITAB ini, sang istri mengenakan kebesaran nila dan sang suami mengenakan kebesaran jingga.
Nila mengandung kedalaman.
Jingga mengandung keberanian.
Namun kedalaman tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi sikap merasa paling memahami.
Keberanian tanpa kejernihan dapat berubah menjadi kekerasan.
Karena itu, keduanya harus melewati empat ujian kemuliaan.
---
Ujian Pertama
Ketika Nama Mulai Dikenal
Nama adalah amanah.
Nama baik dapat dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat rusak oleh satu tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan.
Ketika suami atau istri mulai dikenal banyak orang, datanglah godaan untuk menjaga penampilan lebih sungguh-sungguh daripada menjaga isi hati.
Di hadapan masyarakat mereka terlihat santun.
Namun di dalam rumah, ucapan mereka keras.
Di hadapan orang banyak mereka berbicara tentang kasih sayang.
Namun kepada pasangan sendiri mereka jarang memberikan perhatian.
Di hadapan pengikut mereka tampak sabar.
Namun kepada anak-anak mereka mudah meledak.
Inilah perpecahan antara nama dan hakikat.
QITAB ini mengingatkan:
Jangan sampai nama menjadi lebih besar daripada akhlak.
Jangan sampai pujian manusia menutupi kewajiban memperbaiki diri.
Jangan sampai banyaknya orang yang menghormati membuat seseorang merasa tidak perlu meminta maaf kepada keluarganya.
Nama yang dikenal akan menjadi keberkahan apabila digunakan untuk membuka jalan kebaikan.
Namun ia menjadi beban apabila digunakan untuk mencari kekaguman.
Maka ketika nama mulai dikenal, perbanyaklah pemeriksaan diri.
Tanyakan:
Apakah aku masih bersedia mendengar kritik?
Apakah aku masih menghormati orang kecil?
Apakah aku mulai memilih-milih manusia berdasarkan keuntungan?
Apakah aku tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat?
Apakah keluargaku merasakan kebaikan yang sama seperti yang kulakukan di hadapan orang banyak?
Apabila jawabannya belum baik, mahkota perlu diturunkan dari kepala dan diletakkan kembali di hadapan Alloh.
Sebab manusia hanyalah hamba.
---
Ujian Kedua
Ketika Harta Mulai Bertambah
Harta dapat menjadi kendaraan amal.
Namun harta juga dapat menjadi cermin yang memperbesar sifat tersembunyi dalam diri.
Orang yang dermawan dapat menjadi semakin bermanfaat ketika hartanya bertambah.
Orang yang sombong dapat menjadi semakin merendahkan ketika merasa lebih kaya.
Dalam rumah tangga, bertambahnya harta terkadang tidak selalu menambah kedamaian.
Keinginan ikut bertambah.
Gaya hidup meningkat.
Rasa cukup berkurang.
Suami mulai sibuk mengejar pengakuan.
Istri mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.
Anak-anak belajar menilai manusia dari kepemilikan.
Rumah yang dahulu hangat berubah menjadi tempat perlombaan.
Maka sang istri dengan mahkota nila harus menjaga kedalaman rasa syukur.
Ia tidak mengukur cinta hanya dari banyaknya benda yang diterima.
Ia tidak menggunakan kemewahan untuk merendahkan perempuan lain.
Ia memahami bahwa kebesaran sejati bukan pada banyaknya perhiasan, tetapi pada luasnya manfaat.
Sang suami dengan jubah jingga harus menjaga keberanian untuk mencari nafkah secara halal.
Ia tidak membenarkan penipuan dengan alasan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia tidak menyembunyikan utang.
Ia tidak mengambil hak orang lain.
Ia tidak menjadikan uang sebagai alat untuk membungkam suara istrinya.
Harta keluarga perlu dibicarakan dengan terbuka.
Berapa yang masuk.
Berapa yang digunakan.
Berapa yang disimpan.
Berapa yang menjadi tanggungan.
Berapa yang dapat dibagikan kepada yang membutuhkan.
Keterbukaan keuangan bukan berarti menghilangkan seluruh ruang pribadi.
Ia berarti tidak membangun kenyamanan keluarga di atas kebohongan.
---
Ujian Ketiga
Ketika Banyak Orang Meminta Pertolongan
Menjadi tempat orang meminta pertolongan adalah kehormatan sekaligus ujian.
Seseorang dapat merasa dibutuhkan.
Dari sana muncul rasa berharga.
Namun perlahan-lahan ia dapat mulai menikmati ketergantungan orang lain kepadanya.
Ia menjadi kecewa apabila nasihatnya tidak diikuti.
Ia merasa tersinggung apabila orang yang pernah ditolong tidak menghormatinya.
Ia menganggap setiap persoalan harus melewati dirinya.
Inilah ego penolong.
Pertolongan yang benar membebaskan manusia untuk berdiri.
Pertolongan yang salah menciptakan ketergantungan agar pemberi bantuan terus dianggap penting.
Sang istri yang membawa matahari harus menolong tanpa membakar harga diri penerima.
Jangan bertanya terlalu banyak tentang luka yang tidak diperlukan.
Jangan menyebarkan cerita orang yang pernah datang meminta bantuan.
Jangan memotret pemberian hanya untuk membangun citra, kecuali benar-benar diperlukan untuk pertanggungjawaban yang jelas dan tetap menjaga martabat penerima.
Sang suami yang membawa bulan harus menolong tanpa mengambil alih seluruh kehidupan orang lain.
Berikan jalan.
Berikan perlindungan.
Berikan nasihat.
Namun jangan merasa berhak menguasai keputusan orang yang telah dibantu.
Pertolongan harus memiliki batas.
Tidak semua masalah mampu ditanggung sendiri.
Ada persoalan kesehatan yang harus dibawa kepada tenaga medis.
Ada masalah hukum yang memerlukan ahli.
Ada kekerasan yang harus ditangani oleh pihak yang dapat memberi perlindungan.
Ada kesulitan jiwa yang memerlukan pendampingan profesional.
Mengakui batas bukan kelemahan.
Ia adalah bagian dari amanah.
---
Ujian Keempat
Ketika Suami dan Istri Tidak Lagi Berjalan Seirama
Ada masa ketika satu pasangan tumbuh lebih cepat daripada yang lain.
Sang istri mungkin sedang rajin belajar, sementara suami belum tertarik.
Sang suami mungkin sedang berjuang memperbaiki hidup, sementara istri masih diliputi keraguan.
Satu pihak ingin bergerak.
Pihak lain membutuhkan waktu.
Di sinilah muncul bahaya merasa lebih tinggi.
Orang yang lebih dahulu memahami sesuatu dapat mulai merendahkan pasangan yang belum sampai pada pemahaman yang sama.
Ia menggunakan ilmu untuk menghakimi.
Ia menjadikan ibadah sebagai alat membandingkan.
Ia merasa dirinya cahaya dan pasangannya kegelapan.
Padahal siapa pun dapat tergelincir.
Orang yang hari ini tertinggal mungkin esok menjadi lebih istiqamah.
Orang yang hari ini terlihat maju mungkin jatuh karena kesombongan.
Maka jangan menjadikan perjalanan ruhani sebagai perlombaan di dalam rumah.
Bimbing dengan kasih.
Berikan contoh.
Ajak dengan bahasa yang dapat dipahami.
Jangan memaksa pengalaman batin, kebiasaan, atau cara ibadah tambahan yang belum mampu dilakukan pasangan.
Yang wajib didahulukan.
Akhlak dijaga.
Musyawarah dihidupkan.
Kesabaran diperluas.
Namun kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman.
Apabila terdapat kekerasan, penelantaran, kecanduan yang merusak, atau pengkhianatan yang berulang, permasalahan itu perlu dihadapi secara nyata.
Doa harus berjalan bersama tindakan.
Keselamatan tubuh dan jiwa harus dijaga.
---
Mahkota Nila
Mahkota nila melambangkan perempuan yang memiliki kedalaman tanpa kehilangan kerendahan hati.
Ia bukan perempuan yang harus selalu diam.
Ia mengetahui kapan berbicara.
Ia bukan perempuan yang harus menanggung semua beban.
Ia mengetahui kapan meminta pertolongan.
Ia bukan perempuan yang mencari pujian melalui pengorbanan tanpa batas.
Ia melayani dengan sadar, bukan karena takut kehilangan penghargaan.
Mahkota nila memiliki lima permata.
Permata Pertama: Kejernihan
Ia tidak segera percaya kepada kabar yang belum pasti.
Ia memeriksa sebelum menuduh.
Ia bertanya sebelum menyimpulkan.
Ia tidak membiarkan prasangka menguasai rumah.
Permata Kedua: Kehormatan
Ia tidak merendahkan dirinya untuk memperoleh cinta.
Ia menjaga batas.
Ia tidak menjadikan kecemburuan sebagai alasan untuk menguasai seluruh kehidupan pasangan.
Ia juga tidak menerima penghinaan sebagai sesuatu yang wajar.
Permata Ketiga: Kebijaksanaan
Ia memahami bahwa tidak semua hal harus diselesaikan pada saat itu juga.
Ada waktu berbicara.
Ada waktu diam.
Ada waktu meminta bantuan pihak ketiga.
Ada waktu menjauh sejenak agar pertengkaran tidak berubah menjadi kerusakan.
Permata Keempat: Keteguhan
Ia tidak mudah mengubah prinsip hanya karena tekanan.
Ia tetap memilih yang halal meskipun hasilnya lambat.
Ia menjaga anak-anak dari kebiasaan yang merusak.
Ia berani mengatakan tidak ketika sesuatu melampaui batas.
Permata Kelima: Kasih Sayang
Ketegasannya tidak kehilangan rahmah.
Ia menasihati untuk memperbaiki.
Ia bukan menyakiti untuk membalas.
Ia memahami bahwa manusia dapat salah dan masih memiliki kesempatan untuk berubah.
---
Jubah Jingga
Jubah jingga melambangkan laki-laki yang memiliki semangat tanpa kehilangan kelembutan.
Ia tidak mengukur kelaki-lakian dari kerasnya suara.
Ia mengukurnya dari kuatnya tanggung jawab.
Ia tidak merasa jatuh wibawa ketika membantu pekerjaan rumah.
Ia tidak merasa rendah ketika mendengarkan nasihat istri.
Ia tidak menyembunyikan rasa takut di balik kemarahan.
Ia berani menghadapi kelemahannya sendiri.
Jubah jingga memiliki lima lapisan.
Lapisan Pertama: Kejujuran
Ia tidak membangun kehidupan ganda.
Tidak menyembunyikan hubungan.
Tidak menyembunyikan utang.
Tidak berjanji hanya untuk menenangkan sesaat.
Lapisan Kedua: Perlindungan
Ia melindungi tanpa mengekang.
Ia tidak menggunakan rasa takut sebagai alat kepemimpinan.
Ia menjaga keluarganya dari bahaya, sekaligus menghormati akal dan martabat mereka.
Lapisan Ketiga: Kerja Halal
Ia tidak malu memulai dari kecil.
Ia tidak meremehkan pekerjaan halal.
Ia tidak mencari jalan cepat melalui penipuan, riba yang menjerat, perjudian, atau tindakan yang merugikan manusia.
Lapisan Keempat: Pengendalian Diri
Ia mengetahui bahwa kekuatan terbesar adalah mampu menahan diri ketika marah.
Ia tidak memukul.
Ia tidak mengancam.
Ia tidak menghancurkan barang untuk menakuti keluarga.
Ketika emosi meningkat, ia menjauh sementara dengan penjelasan, menenangkan diri, lalu kembali menyelesaikan persoalan.
Lapisan Kelima: Kesetiaan
Ia tidak hanya setia ketika rumah tangga sedang menyenangkan.
Ia setia saat pasangan sakit.
Saat keadaan ekonomi sulit.
Saat usia mengubah penampilan.
Saat dunia menawarkan godaan.
Kesetiaan adalah jubah yang tidak dipakai hanya di hadapan manusia.
---
Ketika Mahkota dan Jubah Bertemu
Mahkota nila tidak lebih tinggi daripada jubah jingga.
Jubah jingga tidak lebih mulia daripada mahkota nila.
Keduanya membawa amanah yang berbeda.
Kemuliaan mereka tumbuh ketika keduanya saling menjaga, bukan saling menguasai.
Istri tidak harus mengecil agar suami terlihat besar.
Suami tidak harus merendahkan istri agar dianggap berwibawa.
Keduanya dapat bersinar tanpa memadamkan yang lain.
Matahari berada di tangan istri.
Bulan berada di tangan suami.
Namun sumber seluruh cahaya tetap Alloh.
Ketika keduanya mengingat sumber itu, mereka tidak berebut penyembahan.
Mereka justru saling mengingatkan untuk tetap menjadi hamba.
---
Empat Pertanyaan Pemeriksaan Kemuliaan
Sebelum tidur, suami dan istri dapat memeriksa diri melalui empat pertanyaan:
Pertama:
Apakah hari ini aku lebih banyak menenangkan atau melukai pasangan?
Kedua:
Apakah amanah harta, ucapan, waktu, dan kesetiaan telah kujaga?
Ketiga:
Apakah aku menggunakan kebaikan untuk mengabdi atau untuk dianggap lebih mulia?
Keempat:
Apakah ada kesalahan hari ini yang perlu kuakui dan kuperbaiki sebelum menjadi luka yang lebih dalam?
Tidak harus dijawab di hadapan orang banyak.
Jawablah dengan jujur di hadapan Alloh dan diri sendiri.
Apabila perlu meminta maaf, jangan menunggu hati menjadi sempurna.
Mulailah dengan satu kalimat sederhana:
“Aku sadar sikapku tadi melukaimu. Aku meminta maaf dan ingin memperbaikinya.”
---
Dzikir Penjaga Mahkota dan Jubah
Dibaca setelah Isya atau sebelum tidur.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk membersihkan hati dari riya, kesombongan, dan keinginan menguasai.
Yā ‘Aẓīm 33×
يَا عَظِيمُ
Wahai Alloh Yang Mahaagung, jangan biarkan kami mencari keagungan bagi diri kami sendiri.
Yā Ḥalīm 33×
يَا حَلِيمُ
Wahai Alloh Yang Maha Penyantun, karuniakanlah kesabaran ketika kami diuji oleh pasangan dan keadaan.
Yā Amīn 33×
يَا أَمِينُ
Wahai Alloh Yang Menjaga amanah, kuatkanlah kami menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, arahkanlah kemuliaan kami menuju pelayanan dan ketaatan.
Apabila lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan penuh kesungguhan.
---
Doa Mahkota Nila dan Jubah Jingga
Yā Alloh Yang Mahaagung,
Apabila Engkau memberikan kehormatan kepada kami, jangan biarkan kehormatan itu merusak hati.
Apabila nama kami dikenal, jadikanlah akhlak kami lebih baik daripada nama yang beredar.
Apabila harta kami bertambah, tambahkanlah rasa syukur dan amanah.
Apabila banyak manusia meminta pertolongan, jauhkanlah kami dari keinginan membuat mereka bergantung kepada kami.
Apabila pasangan kami belum berjalan sebagaimana harapan kami, berikanlah kesabaran, hikmah, dan keberanian untuk membimbing tanpa merendahkan.
Yā Alloh,
Jaga mahkota sang istri dari kesombongan, kecemburuan yang merusak, dan pengorbanan tanpa kebijaksanaan.
Jaga jubah sang suami dari kekerasan, pengkhianatan, kebohongan, dan kelalaian terhadap tanggung jawab.
Jadikan kedalaman sang istri sebagai sumber kejernihan.
Jadikan keberanian sang suami sebagai sumber perlindungan.
Jangan biarkan keduanya menggunakan agama, harta, kedudukan, atau anak-anak sebagai alat untuk saling menekan.
Ajarkanlah mereka mengakui kesalahan.
Ajarkanlah mereka menjaga rahasia.
Ajarkanlah mereka memuliakan tanpa menyembah.
Mencintai tanpa menguasai.
Menolong tanpa mengikat.
Memimpin tanpa menindas.
Dan apabila mahkota serta jubah mereka mulai menjadi sumber kesombongan, ingatkanlah bahwa keduanya akan kembali kepada tanah dan menghadap kepada-Mu tanpa membawa gelar apa pun selain amal.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
---
Sabda Penutup Lembar Kelima
«Mahkota yang tidak disertai kerendahan hati akan terasa berat di akhir perjalanan.»
«Jubah kebesaran yang tidak melindungi manusia hanyalah kain yang menutupi kesombongan.»
«Kemuliaan istri bukan karena matahari berada di tangannya, tetapi karena ia mampu menghangatkan tanpa membakar.»
«Kemuliaan suami bukan karena bulan berada di tangannya, tetapi karena ia mampu menuntun tanpa menguasai.»
«Ketika pujian datang, turunkan kepala.»
«Ketika ujian datang, tegakkan amanah.»
«Ketika harta bertambah, perluas manfaat.»
«Ketika ilmu bertambah, lembutkan ucapan.»
«Sebab Zhahrotulloh Al-‘Azhim tidak mekar di atas singgasana manusia.»
«Ia mekar di dalam hati yang tetap tunduk meskipun dunia sedang memuliakannya.»
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEENAM
Taman Zhahrah: Merawat Cinta Setelah Melewati Ujian
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Cinta yang baru tumbuh sering terlihat indah.
Ia dipenuhi perhatian, janji, harapan, dan kerinduan.
Namun cinta yang telah melewati perjalanan panjang tidak selalu memiliki rupa yang sama.
Ia pernah diterpa kesempitan.
Ia pernah terluka oleh ucapan.
Ia pernah menunggu permintaan maaf.
Ia pernah merasa diabaikan.
Ia pernah diliputi kebosanan.
Ia pernah menyaksikan perubahan tubuh, keadaan ekonomi, pekerjaan, keluarga, dan usia.
Karena itu, cinta yang telah lama berjalan tidak cukup hanya dikenang.
Ia harus dirawat.
Taman yang tidak disiram akan mengering, meskipun dahulu ditanami bunga yang indah.
Rumah tangga yang tidak dirawat dapat menjadi sunyi, meskipun dahulu dimulai dengan cinta yang besar.
Taman Zhahrah adalah lambang ruang batin tempat suami dan istri menanam kembali kasih sayang, kepercayaan, kesabaran, penghargaan, dan ibadah.
Ia bukan taman yang berdiri di luar rumah.
Ia tumbuh di dalam cara keduanya berbicara, mendengar, memaafkan, menunaikan amanah, dan memperbaiki kesalahan.
Ketika Bunga Cinta Mulai Layu
Bunga cinta tidak selalu layu karena tidak ada lagi kasih sayang.
Kadang-kadang ia layu karena terlalu lama tidak diperhatikan.
Suami mengira bahwa bekerja keras sudah cukup untuk menunjukkan cinta.
Istri mengira bahwa melayani kebutuhan rumah sudah cukup untuk menunjukkan kasih.
Keduanya mungkin sama-sama berkorban.
Namun keduanya juga sama-sama merasa tidak dipahami.
Suami ingin jerih payahnya dihargai.
Istri ingin perasaannya didengarkan.
Suami ingin rumah menjadi tempat istirahat.
Istri ingin rumah menjadi tempat berbagi beban.
Ketika kebutuhan itu tidak dibicarakan, hati mulai menebak-nebak.
Dugaan tumbuh menjadi kekecewaan.
Kekecewaan yang dipendam berubah menjadi jarak.
Jarak yang tidak diperbaiki dapat membuka pintu bagi kebohongan, ketidaksetiaan, atau keinginan mencari penghiburan di tempat lain.
Karena itu, jangan menunggu cinta hampir mati untuk mulai merawatnya.
Perhatikan tanda-tandanya:
percakapan hanya berisi urusan kebutuhan,
tidak ada lagi rasa ingin mengetahui keadaan batin pasangan,
sentuhan berubah menjadi kewajiban tanpa kehangatan,
lebih mudah menceritakan masalah kepada orang lain daripada kepada pasangan,
sering membayangkan hidup tanpa pasangan sebagai satu-satunya jalan ketenangan,
atau merasa kesepian meskipun tinggal dalam satu rumah.
Tanda-tanda itu tidak selalu berarti hubungan harus berakhir.
Ia adalah panggilan untuk berhenti, memeriksa, dan memperbaiki.
Tanah Pertama: Rasa Aman
Bunga cinta tidak tumbuh dengan baik di atas tanah yang dipenuhi ketakutan.
Rasa aman adalah dasar Taman Zhahrah.
Istri perlu merasa aman untuk berbicara tanpa takut dihina, diteriaki, diancam, atau ditinggalkan sebagai hukuman.
Suami juga perlu merasa aman untuk mengungkapkan kelemahan tanpa ditertawakan, dibandingkan, atau dianggap tidak berguna.
Rasa aman bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat.
Rasa aman berarti perbedaan tidak berubah menjadi ancaman.
Dalam rumah yang aman, seseorang dapat berkata:
“Aku tidak setuju,”
tanpa takut dipukul.
Ia dapat berkata:
“Aku merasa lelah,”
tanpa dianggap malas.
Ia dapat berkata:
“Aku terluka,”
tanpa dibalas dengan penghinaan.
Ia dapat berkata:
“Aku telah berbuat salah,”
dan diberi ruang untuk bertanggung jawab serta berubah.
Namun apabila terdapat kekerasan fisik, ancaman, pemaksaan, atau bahaya nyata, keselamatan harus didahulukan.
Jangan menutupi kekerasan dengan alasan menjaga kehormatan keluarga.
Jangan memaksa seseorang diam demi menjaga pandangan manusia.
Carilah perlindungan dari orang terpercaya, keluarga yang bijaksana, tenaga profesional, atau pihak yang berwenang sesuai keadaan.
Cinta tidak meminta manusia bertahan tanpa perlindungan di dalam kezaliman.
Air Pertama: Perhatian Kecil
Banyak orang menunggu tindakan besar untuk menunjukkan cinta.
Padahal taman lebih sering hidup karena air yang diberikan sedikit demi sedikit.
Perhatian kecil dapat berupa:
menanyakan keadaan dengan sungguh-sungguh,
mengingatkan pasangan makan dan beristirahat,
membantu pekerjaan tanpa harus diminta,
mengucapkan terima kasih,
menyambut pasangan dengan wajah yang baik,
mendoakan sebelum ia bepergian,
atau mengirim pesan sederhana ketika berada jauh.
Perhatian kecil tidak membutuhkan biaya besar.
Namun ia memerlukan kehadiran hati.
Jangan meremehkan satu gelas air yang diberikan dengan kasih.
Jangan menganggap ucapan terima kasih sebagai sesuatu yang tidak penting.
Jangan merasa pasangan pasti mengetahui cinta yang tidak pernah lagi diungkapkan.
Manusia membutuhkan tanda.
Bukan untuk memanjakan ego, melainkan untuk memastikan bahwa kasih sayang masih hidup.
Air Kedua: Waktu yang Utuh
Berada di tempat yang sama belum tentu berarti bersama.
Suami dan istri dapat duduk berdekatan, tetapi pikiran mereka berada di tempat lain.
Tangan memegang telepon.
Mata melihat layar.
Telinga hanya mendengar setengah.
Hati tidak benar-benar hadir.
Maka sediakanlah waktu yang utuh.
Tidak harus lama.
Beberapa menit yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat lebih bermakna daripada berjam-jam tanpa perhatian.
Letakkan telepon.
Tatap pasangan.
Dengarkan apa yang ingin disampaikan.
Jangan segera menjawab dengan nasihat.
Kadang-kadang pasangan tidak membutuhkan penyelesaian.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berkata:
“Aku mendengarmu.”
“Aku memahami bahwa itu berat.”
“Aku ada di sini.”
Waktu yang utuh adalah sedekah batin.
Ia menunjukkan bahwa pasangan bukan sisa dari kesibukan.
Ia adalah amanah yang pantas diberi ruang.
Air Ketiga: Ucapan yang Menghidupkan
Ucapan memiliki kemampuan menumbuhkan atau mematikan bunga batin.
Satu kalimat penghargaan dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah.
Satu kalimat penghinaan dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan.
Jangan menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk berbicara tanpa adab.
Justru orang terdekatlah yang paling berhak menerima kelembutan.
Hindarilah ucapan:
“Kamu tidak pernah berguna.”
“Aku salah memilihmu.”
“Orang lain jauh lebih baik daripada kamu.”
“Kamu hanya menjadi beban.”
“Aku tidak peduli apa yang kamu rasakan.”
Gantilah dengan bahasa yang tetap jujur, tetapi tidak menghancurkan:
“Aku kecewa terhadap tindakan itu, tetapi aku ingin kita memperbaikinya.”
“Aku merasa bebanku terlalu berat. Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Aku masih marah, tetapi aku tidak ingin menghinamu.”
“Kita perlu membicarakan ini dengan tenang.”
“Aku menghargai usahamu, tetapi ada bagian yang perlu kita perbaiki bersama.”
Bahasa cahaya tidak menutup kebenaran.
Ia menjaga agar kebenaran tidak berubah menjadi senjata.
Benih Pertama: Penghargaan
Cinta akan kehilangan kekuatannya apabila pasangan terus-menerus merasa dianggap biasa.
Suami mungkin telah bekerja keras bertahun-tahun.
Istri mungkin telah mengurus rumah dan keluarga tanpa banyak istirahat.
Karena dilakukan setiap hari, pengorbanan itu menjadi tidak terlihat.
Kemudian hanya kesalahan yang diperhatikan.
Kebaikan dianggap kewajiban.
Kekurangan dibesar-besarkan.
Di sinilah bunga penghargaan perlu ditanam kembali.
Ucapkan:
“Terima kasih telah berusaha.”
“Aku melihat perjuanganmu.”
“Aku menghargai kesabaranmu.”
“Aku bersyukur engkau masih bertahan memperbaiki ini bersamaku.”
Penghargaan bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan.
Ia berarti melihat pasangan secara utuh.
Manusia bukan hanya kumpulan kekurangan.
Di dalam dirinya juga ada usaha, luka, harapan, dan kebaikan yang perlu dihormati.
Benih Kedua: Kepercayaan yang Diperbaiki
Kepercayaan dapat rusak karena kebohongan, pengkhianatan, atau janji yang terus dilanggar.
Ia tidak dapat pulih hanya melalui ucapan:
“Percayalah kepadaku.”
Kepercayaan membutuhkan bukti yang konsisten.
Orang yang pernah berbohong perlu bersedia lebih terbuka.
Orang yang pernah mengkhianati perlu menghentikan hubungan yang merusak, menunjukkan penyesalan, dan menerima bahwa pasangan membutuhkan waktu untuk pulih.
Orang yang pernah melanggar janji perlu berhenti memberi janji yang tidak mampu dipenuhi.
Membangun kembali kepercayaan bukan pekerjaan satu malam.
Ia seperti menanam pohon setelah kebun terbakar.
Tanah perlu dibersihkan.
Benih baru ditanam.
Air diberikan berkali-kali.
Kemudian keduanya menunggu.
Pihak yang terluka tidak boleh dipaksa segera melupakan.
Pihak yang bersalah juga tidak boleh selamanya dihukum apabila telah benar-benar bertaubat, memperbaiki diri, dan menunjukkan perubahan nyata.
Keadilan harus berjalan bersama kasih sayang.
Benih Ketiga: Persahabatan
Suami dan istri bukan hanya pasangan dalam kewajiban.
Mereka perlu menjadi sahabat dalam perjalanan.
Persahabatan membuat rumah tangga tidak hanya diisi tuntutan.
Ia menghadirkan tawa.
Percakapan ringan.
Kenangan.
Kerja sama.
Kemampuan menikmati hal sederhana.
Berjalan bersama.
Makan bersama.
Mengingat masa perjuangan.
Membicarakan impian tanpa saling mengejek.
Kadang-kadang cinta melemah bukan karena hilang, tetapi karena hubungan telah terlalu lama dipenuhi urusan berat.
Tagihan.
Pekerjaan.
Anak.
Keluarga besar.
Masalah kesehatan.
Semua itu penting.
Namun sisakan ruang bagi dua manusia yang dahulu memilih berjalan bersama.
Tanyakan kembali:
“Apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini?”
“Apa yang sedang engkau takutkan?”
“Apa yang ingin kita bangun bersama?”
“Apa kenangan yang paling engkau syukuri dari perjalanan kita?”
Pertanyaan sederhana dapat membuka pintu yang lama tertutup.
Empat Hama Taman Zhahrah
Hama Pertama: Menganggap Pasangan Selalu Tersedia
Manusia sering lebih sopan kepada orang asing daripada kepada pasangan sendiri.
Ia menjaga ucapan di luar rumah, tetapi melepaskan segala kemarahan ketika pulang.
Ia mengira pasangan akan selalu bertahan.
Padahal hati memiliki batas.
Jangan menunggu seseorang hampir pergi untuk mulai menghargainya.
Hama Kedua: Membandingkan
Perbandingan membuat bunga syukur layu.
Jangan membandingkan penghasilan suami dengan orang lain.
Jangan membandingkan rupa istri dengan perempuan lain.
Jangan membandingkan rumah tangga nyata dengan gambaran indah di media.
Apa yang terlihat dari luar tidak selalu menunjukkan keseluruhan.
Rawatlah kebun sendiri.
Jangan terlalu sibuk memandang kebun orang lain hingga lupa menyiram bunga yang berada di hadapanmu.
Hama Ketiga: Menumpuk Luka
Masalah kecil yang tidak diselesaikan dapat berubah menjadi tumpukan.
Satu ucapan.
Satu kebohongan.
Satu janji yang dilupakan.
Satu perasaan yang tidak didengar.
Apabila terus ditumpuk, perselisihan baru akan membuka seluruh luka lama.
Maka selesaikanlah masalah sebelum ia berubah menjadi gunung.
Hama Keempat: Mencari Penghiburan yang Salah
Ketika merasa tidak dipahami di rumah, seseorang dapat tergoda mencari kedekatan rahasia dengan orang lain.
Awalnya hanya bercerita.
Kemudian menunggu pesan.
Lalu mulai menyembunyikan percakapan.
Akhirnya hati berpindah sedikit demi sedikit.
Jangan meremehkan pintu kecil pengkhianatan.
Apabila rumah sedang bermasalah, perbaikilah dengan cara yang benar.
Carilah nasihat dari orang amanah atau pendamping profesional.
Jangan mengobati kesepian dengan hubungan yang akan menambah kehancuran.
Ketika Cinta Tidak Lagi Terasa
Ada waktu ketika seseorang berkata:
“Aku tidak lagi merasakan cinta seperti dahulu.”
Perasaan dapat berubah.
Ia dipengaruhi oleh kelelahan, sakit, tekanan ekonomi, luka, usia, dan banyak keadaan.
Namun hilangnya rasa sesaat tidak selalu berarti seluruh ikatan telah mati.
Tanyakan lebih dalam:
Apakah cinta benar-benar hilang?
Ataukah ia tertutup oleh kekecewaan?
Apakah hati benar-benar tidak peduli?
Ataukah ia terlalu lelah untuk merasakan?
Apakah pasangan benar-benar telah berubah sepenuhnya?
Ataukah keduanya tidak lagi memberi ruang untuk saling mengenal?
Cinta tidak selalu hadir sebagai getaran.
Kadang-kadang ia berubah menjadi kesetiaan.
Menemani ketika sakit.
Menyediakan makanan.
Menjaga rahasia.
Bekerja untuk keluarga.
Memaafkan.
Bertahan memperbaiki.
Namun cinta juga tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menutup mata terhadap kezaliman.
Periksalah dengan jujur.
Bedakan antara hubungan yang sedang lelah dan hubungan yang membahayakan.
Tujuh Cara Menyiram Taman Cinta
Pertama: Satu Ucapan Baik Setiap Hari
Ucapkan satu penghargaan yang jujur.
Tidak harus panjang.
Namun hendaknya benar-benar dirasakan.
Kedua: Satu Waktu Tanpa Gangguan
Luangkan waktu berbicara tanpa telepon, pekerjaan, atau gangguan lain.
Ketiga: Satu Bantuan Tanpa Diminta
Lihatlah beban pasangan dan bantulah sebelum ia memohon.
Keempat: Satu Doa Rahasia
Doakan pasangan tanpa harus memberitahukannya.
Kelima: Satu Kesalahan yang Dihentikan
Jangan hanya berjanji berubah.
Pilih satu kebiasaan buruk dan hentikan secara nyata.
Keenam: Satu Kenangan yang Dihidupkan
Ingat kembali masa perjuangan dan kebaikan yang pernah dilalui bersama.
Ketujuh: Satu Tujuan yang Dikerjakan Bersama
Buatlah tujuan sederhana:
memperbaiki ibadah,
melunasi tanggungan,
menjaga kesehatan,
mendidik anak,
membantu orang tua,
atau membangun usaha halal.
Tujuan bersama membuat cinta memiliki arah.
Matahari yang Belajar Meredup
Sang istri memegang matahari.
Namun tidak setiap saat ia harus bersinar kuat.
Ada waktu ia lelah.
Ada waktu ia membutuhkan perlindungan.
Ada waktu ia tidak mampu menghangatkan siapa pun karena dirinya sendiri sedang dingin.
Jangan memaksa perempuan selalu kuat.
Jangan menuntut ia selalu tersenyum.
Jangan menganggap air matanya sebagai kelemahan.
Matahari pun memiliki waktu terbenam agar bumi dapat beristirahat.
Sang istri perlu diberi ruang untuk pulih.
Suami hendaknya tidak hanya menerima kehangatan, tetapi juga menjaga sumber kehangatan itu.
Bulan yang Belajar Membuka Hati
Sang suami memegang bulan.
Namun bulan kadang tertutup awan.
Banyak laki-laki dibesarkan dengan keyakinan bahwa mengungkapkan perasaan adalah kelemahan.
Ia menahan takut.
Menahan sedih.
Menahan bingung.
Kemudian semua perasaan keluar dalam bentuk kemarahan.
QITAB ini mengajarkan:
Laki-laki boleh berkata bahwa dirinya lelah.
Ia boleh meminta bantuan.
Ia boleh menangis.
Ia boleh mengakui bahwa ia belum mengetahui jalan.
Keterbukaan tidak menghilangkan wibawa.
Ia justru mencegah hati membeku.
Sang suami tidak harus menjadi batu agar dianggap kuat.
Ia dapat menjadi bulan: teduh, jujur, dan tetap hadir di tengah gelap.
Dzikir Menyiram Taman Zhahrah
Dibaca setelah Maghrib atau Isya.
Apabila memungkinkan, suami dan istri membacanya bersama dengan suara lembut.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas luka, kelalaian, dan ucapan yang pernah merusak taman cinta.
Yā Wadūd 33×
يَا وَدُودُ
Wahai Alloh Yang Maha Mencintai, hidupkanlah kasih sayang yang membawa kami kepada kebaikan.
Yā Laṭīf 33×
يَا لَطِيفُ
Wahai Alloh Yang Maha Lembut, lembutkanlah hati dan ucapan kami.
Yā Jabbār 33×
يَا جَبَّارُ
Wahai Alloh Yang Maha Memulihkan, pulihkanlah hati yang retak dan kuatkanlah kami memperbaiki kerusakan.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Wahai Alloh, sumber keselamatan, jadikanlah rumah kami tempat yang aman bagi tubuh, hati, dan iman.
Apabila sedang lelah, masing-masing cukup dibaca 11×.
Setelah selesai, jangan langsung menuntut perubahan besar.
Mulailah dengan satu tindakan nyata.
Meminta maaf.
Mengucapkan terima kasih.
Mendengarkan.
Atau memeluk dengan izin dan kelembutan.
Doa Taman Zhahrah
Yā Alloh Yang Maha Pengasih,
Engkau yang mempertemukan dua hati yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Engkau pula yang mengetahui seluruh luka, ketakutan, harapan, dan kelemahan di antara keduanya.
Apabila taman cinta mereka mulai kering, turunkanlah hujan rahmat-Mu.
Apabila bunga kepercayaan mereka layu, tuntunlah mereka menanamnya kembali melalui kejujuran dan tanggung jawab.
Apabila ucapan mereka telah saling melukai, ajarkanlah mereka meminta maaf tanpa kesombongan.
Apabila mereka mulai merasa asing, bukakanlah kembali jalan untuk saling mengenal.
Yā Alloh,
Jangan biarkan kesibukan mencuri seluruh waktu mereka.
Jangan biarkan harta menjadi ukuran cinta.
Jangan biarkan luka lama menjadi senjata dalam setiap pertengkaran.
Jangan biarkan orang ketiga memasuki ruang yang seharusnya mereka jaga bersama.
Berikanlah kepada sang istri kekuatan tanpa kehilangan kelembutan.
Berikanlah kepada sang suami keteguhan tanpa kehilangan kasih sayang.
Ajarkanlah keduanya menghormati batas.
Menjaga kehormatan.
Memenuhi hak.
Mengurangi tuntutan.
Memperbanyak syukur.
Dan berani mencari pertolongan ketika persoalan tidak mampu diselesaikan sendiri.
Apabila mereka dikaruniai usia panjang bersama, jadikanlah rambut yang memutih sebagai saksi kesetiaan.
Jadikanlah keriput sebagai tulisan perjalanan.
Jadikanlah setiap kesulitan sebagai akar yang memperkuat.
Jadikanlah setiap kebahagiaan sebagai bunga yang membuat mereka semakin bersyukur.
Namun apabila jalan mereka harus menghadapi keputusan yang berat, tuntunlah mereka kepada pilihan yang paling adil, paling aman, dan paling dekat kepada ridho-Mu.
Jangan biarkan kebencian menguasai.
Jangan biarkan kezaliman diteruskan.
Jangan biarkan anak-anak menjadi korban pertengkaran.
Karuniakanlah kebijaksanaan, perlindungan, dan jalan keluar yang baik.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Keenam
Taman cinta tidak mati hanya karena satu musim kemarau.
Ia mati ketika tidak ada seorang pun yang bersedia kembali membawa air.
Jangan menuntut bunga mekar apabila engkau terus menginjak akarnya.
Jangan menginginkan kasih sayang apabila ucapanmu menjadi tempat tumbuhnya ketakutan.
Matahari sang istri membutuhkan waktu terbenam.
Bulan sang suami membutuhkan ruang untuk keluar dari balik awan.
Keduanya bukan cahaya yang sempurna.
Keduanya adalah hamba yang sedang belajar memantulkan rahmat Alloh.
Cinta yang matang bukan hanya berkata,
“Aku memilihmu ketika engkau indah.”
Ia juga berkata,
“Aku bersedia belajar memperbaiki diriku agar kita tidak saling menghancurkan ketika kehidupan berubah.”
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim kembali mekar:
bukan karena hidup tanpa luka,
tetapi karena dua jiwa tidak berhenti mencari jalan penyembuhan, kebenaran, dan rahayu.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KETUJUH
Purnama, Fajar, dan Kesetiaan yang Menjadi Cahaya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Setiap pertemuan akan melewati perubahan.
Wajah yang dahulu muda akan menua.
Tubuh yang dahulu kuat dapat melemah.
Anak-anak yang dahulu berada dalam pelukan akan tumbuh dan menempuh jalannya sendiri.
Pekerjaan dapat berganti.
Harta dapat bertambah atau berkurang.
Rumah dapat berpindah.
Kesehatan dapat berubah.
Bahkan perasaan yang dahulu sangat kuat dapat mengalami pasang dan surut.
Karena itu, kesetiaan tidak cukup dibangun hanya di atas rupa, kekuatan, kenyamanan, atau keadaan yang sedang menyenangkan.
Kesetiaan memerlukan akar yang lebih dalam.
Ia perlu tumbuh dari amanah.
Dari kejujuran.
Dari persahabatan.
Dari rasa takut kepada Alloh.
Dari kesediaan menjaga manusia yang pernah dipercayakan kepada diri, bukan hanya ketika ia bersinar, tetapi juga ketika cahayanya sedang redup.
Dalam QITAB ini, matahari berada di tangan sang istri dan bulan berada di tangan sang suami.
Namun matahari tidak selalu berada di puncak langit.
Bulan tidak selalu dalam keadaan purnama.
Ada waktu matahari terbenam.
Ada waktu bulan mengecil.
Ada waktu langit tertutup awan.
Akan tetapi, keduanya tetap berjalan dalam ketetapan Alloh.
Demikian pula suami dan istri.
Kesetiaan mereka tidak diuji hanya ketika cinta terasa terang.
Ia diuji ketika keduanya harus berjalan di bawah langit yang tidak selalu cerah.
Ketika Purnama Tidak Lagi Sempurna
Bulan tampak penuh hanya pada waktu tertentu.
Pada malam-malam berikutnya, bentuknya perlahan mengecil.
Namun bulan tidak kehilangan hakikatnya.
Ia tetap berada di langit.
Ia tetap menjalankan peredarannya.
Demikian pula manusia.
Ada masa seseorang terlihat kuat, berhasil, menarik, dan penuh semangat.
Ada pula masa ia merasa kehilangan arah.
Wajahnya lelah.
Pikirannya berat.
Tubuhnya sakit.
Usahanya gagal.
Kepercayaan dirinya menurun.
Ketika pasangan tidak lagi terlihat seperti dahulu, jangan tergesa-gesa menganggap dirinya telah kehilangan nilai.
Seseorang tidak menjadi kurang berharga hanya karena sedang lemah.
Suami yang kehilangan pekerjaan belum tentu kehilangan kehormatan.
Istri yang sakit belum tentu kehilangan kemuliaan.
Tubuh yang berubah karena usia, kehamilan, pekerjaan, atau penyakit bukan alasan untuk mengurangi penghormatan.
Cinta yang hanya bertahan selama rupa dan keadaan menyenangkan belum benar-benar mengenal amanah.
Kesetiaan mulai menjadi cahaya ketika seseorang mampu berkata:
“Aku melihat perubahanmu, tetapi aku tidak berhenti menghormatimu.”
“Aku melihat kelemahanmu, tetapi aku tidak menjadikannya alasan untuk merendahkanmu.”
“Aku mengetahui perjalanan kita tidak mudah, tetapi aku ingin menghadapi kebenaran dengan adab.”
Fajar Tidak Datang Seketika
Fajar datang perlahan.
Gelap malam tidak langsung hilang dalam satu tarikan napas.
Mula-mula muncul garis tipis cahaya.
Kemudian langit berubah.
Setelah itu matahari naik sedikit demi sedikit.
Demikian pula pemulihan dalam rumah tangga.
Jangan menuntut luka besar sembuh dalam satu percakapan.
Jangan menuntut kepercayaan kembali hanya karena seseorang telah sekali meminta maaf.
Jangan pula menuntut kebiasaan buruk hilang tanpa perjuangan, pengawasan, dan kesungguhan.
Perubahan sejati memerlukan bukti yang berulang.
Orang yang mudah marah perlu belajar mengendalikan diri berkali-kali.
Orang yang pernah berbohong perlu menunjukkan kejujuran secara konsisten.
Orang yang lalai terhadap keluarga perlu membuktikan tanggung jawab melalui tindakan nyata.
Orang yang terluka juga membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman.
Fajar pemulihan tidak boleh dipaksa.
Namun ia juga tidak boleh hanya ditunggu tanpa ikhtiar.
Kedua pihak perlu berjalan.
Yang bersalah memperbaiki.
Yang terluka menyampaikan batas.
Keduanya mencari pertolongan apabila masalah terlalu berat untuk ditangani sendiri.
Kesetiaan Bukan Penjara
Kesetiaan adalah kemuliaan.
Namun kesetiaan tidak boleh disalahgunakan untuk memenjarakan seseorang di dalam kezaliman.
Ada orang yang berkata:
“Engkau harus setia,”
tetapi dirinya terus berkhianat.
Ada yang berkata:
“Engkau harus bertahan,”
tetapi ia terus melakukan kekerasan.
Ada yang menuntut pasangan diam demi menjaga nama baik, sementara keselamatan tubuh dan jiwa terus terancam.
QITAB ini meluruskan:
Kesetiaan tidak berarti membenarkan pengkhianatan.
Kesabaran tidak berarti menolak pertolongan.
Memaafkan tidak berarti menghapus tanggung jawab pelaku.
Menjaga rumah tangga tidak berarti membiarkan rumah menjadi tempat ketakutan.
Apabila terdapat ancaman, kekerasan, pemaksaan, penelantaran berat, atau bahaya yang terus berulang, keselamatan harus didahulukan.
Carilah bantuan dari keluarga yang amanah, tokoh yang adil, tenaga profesional, atau pihak yang mampu memberi perlindungan.
Kesetiaan kepada pasangan tidak boleh menghapus kewajiban menjaga jiwa yang telah dianugerahkan Alloh.
Tiga Wajah Kesetiaan
Pertama: Kesetiaan Tubuh
Kesetiaan tubuh berarti menjaga diri dari hubungan yang melanggar batas.
Tidak mencari pelarian rahasia.
Tidak menjadikan kesepian sebagai alasan untuk membuka pintu pengkhianatan.
Tidak menyimpan kedekatan yang harus disembunyikan dari pasangan.
Kesetiaan tubuh memerlukan penjagaan pandangan, pergaulan, pesan pribadi, dan ruang-ruang yang mudah menjadi pintu fitnah.
Pengkhianatan jarang dimulai dari tindakan yang besar.
Ia sering dimulai dari hal yang dianggap kecil.
Satu percakapan yang terlalu pribadi.
Satu keluhan tentang pasangan kepada orang yang tidak tepat.
Satu perhatian yang mulai dinanti.
Satu pesan yang kemudian dihapus.
Karena itu, jagalah pintu sebelum rumah dimasuki kerusakan.
Kedua: Kesetiaan Hati
Kesetiaan hati bukan berarti manusia tidak pernah tertarik kepada siapa pun.
Ketertarikan dapat muncul sebagai ujian.
Yang harus dijaga adalah tindakan setelahnya.
Apakah ketertarikan itu dipelihara?
Apakah bayangan seseorang terus diberi tempat?
Apakah pasangan mulai dibandingkan?
Apakah diri mulai mencari alasan untuk mendekat?
Kesetiaan hati berarti tidak menyiram benih yang dapat menghancurkan amanah.
Alihkan perhatian.
Perbaiki hubungan di rumah.
Batasi pertemuan yang tidak perlu.
Jangan menjadikan perasaan sebagai pembenaran.
Tidak semua yang dirasakan harus diikuti.
Ketiga: Kesetiaan Amanah
Kesetiaan amanah lebih luas daripada hubungan tubuh dan hati.
Ia mencakup kejujuran dalam harta.
Menjaga rahasia.
Merawat ketika sakit.
Menemani ketika gagal.
Mendidik anak bersama.
Tidak meninggalkan seluruh beban kepada pasangan.
Tidak menghilang ketika keluarga sedang sangat membutuhkan.
Kesetiaan amanah tampak dalam perkara yang sering tidak dilihat orang lain.
Menyediakan obat.
Menunggu di rumah sakit.
Menjaga anak ketika pasangan kelelahan.
Mendampingi mencari pekerjaan.
Mengurangi tuntutan ketika keadaan sempit.
Di sanalah cinta berubah dari kata menjadi ibadah.
Ketika Usia Mengubah Wajah
Usia membawa perubahan yang tidak dapat dihindari.
Kulit mengendur.
Rambut memutih.
Gerak melambat.
Pendengaran berkurang.
Ingatan dapat melemah.
Seseorang yang dahulu mandiri mungkin membutuhkan bantuan.
Pada saat itulah kesetiaan menemukan wajahnya yang paling jujur.
Jangan mengejek perubahan tubuh pasangan.
Jangan membandingkannya dengan tubuh yang lebih muda.
Jangan membuatnya merasa dirinya tidak lagi layak dicintai.
Rupa adalah titipan yang berubah.
Namun penghormatan dapat terus tumbuh.
Sang istri yang dahulu memegang matahari mungkin suatu hari membutuhkan tangan untuk membantunya berdiri.
Sang suami yang dahulu membawa bulan mungkin suatu hari tidak lagi kuat berjalan jauh.
Saat itu, pakaian kebesaran mereka bukan lagi nila atau jingga.
Pakaian kebesaran mereka adalah kesabaran.
Mahkota mereka adalah ketulusan.
Singgasana mereka adalah kursi sederhana tempat keduanya masih saling menunggu.
Ketika Penyakit Datang
Penyakit dapat mengubah seluruh irama rumah tangga.
Pekerjaan terganggu.
Biaya bertambah.
Tidur berkurang.
Emosi menjadi mudah berubah.
Orang yang sakit dapat merasa menjadi beban.
Orang yang merawat dapat merasa sangat lelah.
Keduanya perlu saling memahami.
Orang yang sakit tidak selalu mampu menjaga suasana hati.
Namun ia tetap perlu berusaha tidak menjadikan sakit sebagai alasan menyakiti orang yang merawat.
Orang yang merawat juga bukan malaikat.
Ia dapat lelah, sedih, marah, atau membutuhkan istirahat.
Jangan menuntutnya selalu kuat.
Bagilah tugas apabila memungkinkan.
Mintalah bantuan keluarga atau tenaga kesehatan.
Jangan mengganti pengobatan yang diperlukan hanya dengan doa atau bacaan.
Doa adalah penguat ikhtiar.
Ia bukan alasan menolak pertolongan medis yang dibutuhkan.
Dalam sakit, cinta tidak selalu tampak melalui kata-kata indah.
Kadang-kadang ia tampak melalui tangan yang menyuapkan makanan.
Membantu berpakaian.
Mengantar pemeriksaan.
Membersihkan tubuh.
Menahan kantuk.
Mencari biaya.
Atau hanya duduk diam di samping ranjang.
Itulah cahaya yang tidak banyak berbicara, tetapi sangat terang di hadapan Alloh.
Ketika Rezeki Berubah
Ada rumah tangga yang dahulu sempit lalu menjadi lapang.
Ada yang dahulu lapang kemudian menghadapi kesulitan.
Perubahan rezeki sering menguji kesetiaan.
Ketika suami kehilangan penghasilan, jangan segera meruntuhkan harga dirinya.
Bicarakan keadaan secara jujur.
Susun ulang kebutuhan.
Carilah jalan bersama.
Namun suami juga tidak boleh menyerah dan menyerahkan seluruh beban tanpa ikhtiar.
Ia perlu terus berusaha sesuai kemampuan.
Ketika istri memiliki penghasilan lebih besar, jangan gunakan hal itu untuk merendahkan suami.
Namun suami juga jangan merasa terhina hanya karena istri ikut menopang keluarga.
Rezeki adalah titipan Alloh.
Ia dapat datang melalui banyak jalan.
Yang perlu dijaga ialah kehalalan, kejujuran, musyawarah, dan penghormatan.
Jangan biarkan uang menjadi penguasa baru di dalam rumah.
Jangan pula membiarkan gengsi membuat keluarga tenggelam dalam utang.
Kehormatan tidak terletak pada terlihat kaya.
Ia terletak pada keberanian hidup sesuai kemampuan tanpa mencuri hak orang lain.
Ketika Anak-Anak Tumbuh dan Pergi
Anak-anak tidak selamanya kecil.
Mereka akan tumbuh.
Belajar mengambil keputusan.
Menikah.
Bekerja.
Atau tinggal jauh.
Pada saat itu, suami dan istri dapat merasa rumah menjadi sepi.
Selama bertahun-tahun, hubungan mereka mungkin hanya berpusat pada anak.
Ketika anak pergi, mereka merasa tidak lagi mengetahui cara berbicara satu sama lain.
Karena itu, rawatlah hubungan suami istri sepanjang perjalanan.
Jangan menunggu anak-anak dewasa untuk kembali menjadi sahabat.
Anak adalah amanah.
Namun pasangan juga amanah.
Jangan menjadikan anak sebagai satu-satunya alasan bertahan.
Bangunlah kembali tujuan berdua.
Beribadah bersama.
Menjaga kesehatan.
Membantu masyarakat.
Merawat orang tua.
Mempelajari sesuatu.
Atau sekadar menikmati ketenangan yang dahulu sulit diperoleh.
Rumah yang kembali sepi bukan berarti kehilangan makna.
Ia dapat menjadi musim baru.
Kesetiaan kepada Orang Tua dan Pasangan
Setelah menikah, seseorang tetap memiliki kewajiban menghormati dan berbuat baik kepada orang tua.
Namun ia juga mempunyai amanah terhadap pasangan.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan secara zalim.
Jangan menjadikan pasangan sebagai penghalang berbakti kepada orang tua.
Namun jangan pula menggunakan bakti kepada orang tua sebagai alasan mengabaikan hak pasangan.
Suami perlu melindungi istrinya dari perlakuan yang merendahkan.
Istri perlu menghormati hubungan suami dengan keluarganya.
Keduanya harus bermusyawarah mengenai waktu, harta, tempat tinggal, dan tanggung jawab kepada orang tua.
Bakti tidak selalu berarti menuruti seluruh permintaan.
Ada permintaan yang perlu dijelaskan dengan lembut apabila merusak rumah tangga atau melampaui kemampuan.
Adab tetap dijaga.
Namun batas juga diperlukan.
Kesetiaan yang matang tidak membuat manusia buta.
Ia menempatkan setiap hak secara adil.
Janji yang Perlu Diperbarui
Janji pernikahan tidak cukup hanya diingat pada hari akad.
Ia perlu diperbarui melalui tindakan setiap hari.
Bukan dengan upacara yang rumit.
Cukup melalui keputusan batin:
Hari ini aku akan menjaga ucapan.
Hari ini aku akan jujur.
Hari ini aku tidak akan mempermalukan pasangan.
Hari ini aku akan menyelesaikan satu amanah.
Hari ini aku akan mendengarkan sebelum menuduh.
Hari ini aku akan mengendalikan kemarahan.
Hari ini aku akan menjaga pandangan dan pergaulan.
Kesetiaan besar dibangun dari keputusan kecil yang terus diulang.
Seseorang tidak menjadi setia hanya karena pernah berjanji.
Ia menjadi setia karena menjaga janjinya ketika tidak ada yang mengawasi selain Alloh.
Purnama Sang Suami
Bulan di tangan sang suami mengajarkan bahwa kepemimpinan memiliki fase.
Ada masa ia kuat dan mampu memberi banyak.
Ada masa ia perlu ditolong.
Ia tidak harus menyembunyikan kelemahannya.
Namun ia harus tetap jujur dan bertanggung jawab.
Purnama sang suami bukan saat semua orang memujinya.
Purnama sejatinya datang ketika ia mampu menjaga keluarga tanpa merasa menjadi pemilik mereka.
Ketika ia setia di tengah godaan.
Ketika ia memilih pulang, bukan melarikan diri.
Ketika ia merawat istri yang sakit.
Ketika ia meminta maaf kepada anak.
Ketika ia bekerja halal meskipun hasilnya sederhana.
Ketika ia berani menghentikan kebiasaan yang merusak.
Di sanalah bulan menjadi sempurna dalam makna, meskipun kehidupan belum sempurna dalam keadaan.
Fajar Sang Istri
Matahari di tangan sang istri mengajarkan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk membuka pagi baru.
Namun ia tidak harus memikul seluruh beban seorang diri.
Fajar sang istri bukan hanya ketika ia mampu melayani semua orang.
Fajar sejatinya datang ketika ia mampu menjaga dirinya tanpa kehilangan kasih sayang.
Ketika ia menyampaikan luka dengan jujur.
Ketika ia memaafkan tanpa membiarkan kezaliman.
Ketika ia mendukung suami tanpa menghilangkan akal dan martabatnya.
Ketika ia membimbing anak dengan ketegasan yang lembut.
Ketika ia tetap memiliki harapan setelah melewati malam yang berat.
Ia bukan matahari yang dipaksa terus menyala.
Ia adalah fajar yang mengingatkan bahwa kegelapan bukan akhir seluruh perjalanan.
Tujuh Penjaga Kesetiaan
Pertama: Takut kepada Alloh
Kesetiaan paling kuat bukan karena takut ketahuan manusia.
Ia tumbuh karena sadar bahwa Alloh mengetahui yang tampak dan tersembunyi.
Kedua: Kejujuran
Jangan menyimpan kehidupan kedua.
Jangan membangun ruang rahasia yang merusak kepercayaan.
Ketiga: Batas Pergaulan
Jagalah kedekatan dengan orang lain agar tidak memasuki ruang yang menjadi hak pasangan.
Keempat: Musyawarah
Keputusan besar dibicarakan.
Bukan diumumkan setelah semuanya terjadi.
Kelima: Perawatan Cinta
Cinta yang tidak dirawat mudah melemah.
Perhatian kecil perlu terus dihidupkan.
Keenam: Pengampunan yang Bijak
Maafkan kesalahan yang disertai penyesalan dan perbaikan.
Namun tetaplah memiliki batas terhadap kezaliman.
Ketujuh: Tujuan Bersama
Pasangan yang memiliki tujuan kebaikan bersama lebih kuat menghadapi perubahan.
Amalan Purnama dan Fajar
Amalan ini dibaca untuk memohon keteguhan menjaga amanah, bukan untuk mengikat atau menguasai pasangan.
Dibaca setelah Isya atau menjelang tidur.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas pengkhianatan hati, ucapan yang melukai, dan amanah yang pernah dilalaikan.
Yā Wafiyy 33×
يَا وَفِيُّ
Wahai Alloh Yang Maha Menyempurnakan janji, kuatkanlah kami menjaga amanah dan kesetiaan.
Yā Ḥafīẓ 33×
يَا حَفِيظُ
Wahai Alloh Yang Maha Menjaga, jagalah hati, pandangan, keluarga, dan langkah kami dari jalan yang merusak.
Yā Jabbār 33×
يَا جَبَّارُ
Wahai Alloh Yang Maha Memulihkan, pulihkanlah kepercayaan, harapan, dan hati yang pernah retak.
Yā Nūr 33×
يَا نُورُ
Wahai Alloh Pemilik segala cahaya, terangilah jalan kami ketika kehidupan memasuki malam yang panjang.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan penuh kesadaran.
Setelah dzikir, ucapkan dalam hati:
“Yā Alloh, jagalah aku agar tidak mengkhianati amanah yang Engkau titipkan. Tuntunlah aku memperbaiki yang rusak dan berlaku adil dalam setiap keputusan.”
Doa Purnama, Fajar, dan Kesetiaan
Yā Alloh Yang Maha Mengetahui seluruh perubahan,
Engkau mengetahui saat cinta kami terasa kuat.
Engkau juga mengetahui saat hati kami lelah, terluka, dan kehilangan arah.
Jangan biarkan perubahan usia menghilangkan penghormatan kami.
Jangan biarkan perubahan rupa memadamkan kasih sayang.
Jangan biarkan kesempitan rezeki menjadikan kami saling merendahkan.
Jangan biarkan kelapangan membuat kami lupa kepada masa perjuangan.
Apabila salah seorang dari kami sakit, kuatkanlah yang merawat dan lembutkanlah yang dirawat.
Apabila salah seorang kehilangan semangat, jadikanlah pasangannya penolong, bukan hakim yang mempermalukan.
Apabila kepercayaan kami terluka, tunjukkanlah jalan perbaikan yang jujur.
Apabila terdapat kezaliman, bukakanlah jalan perlindungan dan keputusan yang adil.
Yā Alloh,
Jagalah mata sang suami dari pandangan yang merusak.
Jagalah hati sang istri dari perbandingan yang menghilangkan syukur.
Jagalah keduanya dari kebohongan, hubungan rahasia, dan godaan yang menghancurkan amanah.
Ajarkanlah mereka setia bukan hanya ketika kehidupan sedang mudah.
Setia ketika sakit.
Setia ketika miskin.
Setia ketika usia bertambah.
Setia ketika pujian dunia berkurang.
Setia ketika tidak seorang pun melihat selain Engkau.
Namun jangan jadikan kesetiaan sebagai alasan untuk membenarkan kekerasan atau pengkhianatan yang tidak dihentikan.
Berikanlah keberanian untuk meminta pertolongan.
Berikanlah kejernihan untuk membedakan kesalahan yang dapat diperbaiki dan bahaya yang harus dihentikan.
Yā Alloh,
Jadikanlah purnama sang suami sebagai keteduhan yang tidak meninggalkan keluarganya.
Jadikanlah fajar sang istri sebagai harapan yang tidak kehilangan kehormatannya.
Apabila keduanya menua bersama, jadikanlah tangan mereka masih saling menggenggam dalam ketaatan.
Jadikanlah rumah mereka saksi bahwa cinta dapat berubah bentuk tanpa kehilangan amanah.
Dan ketika salah seorang lebih dahulu kembali kepada-Mu, jadikanlah yang ditinggalkan mampu mengenang kebaikan tanpa tenggelam dalam keputusasaan.
Ampunilah keduanya.
Rahmatilah perjalanan mereka.
Dan pertemukanlah kembali dalam rahmat-Mu apabila Engkau meridhoi.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Ketujuh
Purnama tidak berada di langit setiap malam,
tetapi bulan tidak pernah meninggalkan jalurnya.
Fajar tidak datang ketika manusia memerintahkannya,
tetapi ia tetap tiba setelah malam menyelesaikan waktunya.
Demikian pula kesetiaan.
Ia bukan perasaan yang selalu penuh.
Ia adalah keputusan untuk tetap menjaga amanah ketika perasaan sedang berubah.
Jangan mencintai hanya tubuh yang kuat,
sebab tubuh akan melemah.
Jangan mencintai hanya wajah yang indah,
sebab wajah akan menua.
Jangan mencintai hanya kelapangan,
sebab rezeki memiliki pasang dan surut.
Cintailah dengan penghormatan, tanggung jawab, kejujuran, dan ketundukan kepada Alloh.
Matahari dapat terbenam.
Bulan dapat tertutup awan.
Namun selama dua hati masih bersedia kembali kepada kebenaran,
cahaya belum sepenuhnya hilang.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim mekar menjadi kesetiaan:
bukan kesetiaan yang membutakan,
melainkan kesetiaan yang menjaga, memperbaiki, melindungi, dan menuntun manusia menuju rahayu.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEDELAPAN
Warisan Matahari dan Bulan: Menanam Rahayu bagi Keturunan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Matahari tidak menyimpan seluruh sinarnya untuk dirinya sendiri.
Bulan tidak menahan seluruh keteduhannya hanya untuk langitnya sendiri.
Keduanya menjalankan ketetapan Alloh, lalu kehidupan di bumi menerima manfaatnya.
Demikian pula suami dan istri.
Ketika keduanya telah belajar menjaga cinta, kesetiaan, amanah, dan keseimbangan, perjalanan mereka tidak berhenti pada kebahagiaan pribadi.
Ada cahaya yang harus diteruskan.
Ada nilai yang perlu diwariskan.
Ada luka yang harus dihentikan agar tidak berpindah kepada generasi berikutnya.
Warisan tidak selalu berupa rumah, tanah, harta, gelar, atau nama besar.
Warisan paling dalam adalah cara seorang anak memandang dirinya, memandang Alloh, memandang keluarga, serta memperlakukan manusia lain.
Anak dapat melupakan banyak nasihat.
Namun ia sering mengingat suasana rumah tempat dirinya tumbuh.
Ia mengingat apakah rumah itu dipenuhi rasa aman atau ketakutan.
Ia mengingat apakah ayah dan ibunya saling menghormati atau saling mempermalukan.
Ia mengingat apakah kesalahan dibimbing atau dihukum dengan penghinaan.
Ia mengingat apakah ibadah menghadirkan ketenteraman atau justru digunakan untuk menakut-nakuti.
Karena itu, warisan matahari dan bulan bukanlah kekuasaan.
Ia adalah teladan.
Anak Membaca Kehidupan Sebelum Membaca Tulisan
Sebelum seorang anak mampu membaca huruf, ia telah membaca wajah orang tuanya.
Ia membaca nada suara.
Ia membaca cara ayah memperlakukan ibu.
Ia membaca cara ibu berbicara tentang ayah.
Ia membaca bagaimana orang tua menghadapi kesulitan.
Ia membaca apakah permintaan maaf benar-benar hidup di dalam rumah.
Apabila orang tua memerintahkan anak berkata jujur, tetapi anak melihat kebohongan dianggap biasa, ia akan mempelajari kebohongan.
Apabila orang tua menyuruh anak menghormati orang lain, tetapi ia melihat pembantu, tetangga, atau keluarga miskin dihina, ia akan mempelajari kesombongan.
Apabila orang tua mengajarkan ibadah, tetapi setiap hari rumah dipenuhi kekerasan, anak dapat mengira agama hanya berada di bibir.
Anak bukan hanya mendengar apa yang diajarkan.
Ia menyerap apa yang diperlihatkan.
Maka pendidikan pertama bukanlah banyaknya perintah.
Pendidikan pertama adalah keteladanan.
Warisan Matahari Sang Ibu
Matahari di tangan sang istri melambangkan kekuatan menumbuhkan.
Seorang ibu dapat menjadi sumber kehangatan, keberanian, dan pengenalan pertama seorang anak terhadap kasih sayang.
Namun ibu bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Suami tidak boleh menyerahkan seluruh urusan pengasuhan kepada istri, lalu hanya hadir sebagai pemberi biaya atau pemberi hukuman.
Anak membutuhkan kehadiran keduanya.
Warisan matahari seorang ibu tampak ketika ia:
menyambut pertanyaan anak dengan kesabaran,
mengajarkan kebaikan tanpa mempermalukan,
memberikan batas tanpa kehilangan kelembutan,
membela anak dari bahaya tanpa memanjakan kesalahan,
serta mengajarkan bahwa harga diri tidak ditentukan hanya oleh nilai, rupa, atau pujian manusia.
Namun matahari dapat membakar apabila kasih sayang berubah menjadi kendali berlebihan.
Ada ibu yang terlalu takut anaknya gagal sehingga mengambil seluruh keputusan.
Ada ibu yang menjadikan anak tempat menumpahkan kesedihan rumah tangga.
Ada pula yang menuntut anak menjadi sempurna agar dirinya terlihat berhasil.
QITAB ini mengingatkan:
Anak bukan perpanjangan ego orang tua.
Ia bukan alat membalas luka masa lalu.
Ia bukan tempat menyimpan seluruh cita-cita yang dahulu gagal diraih.
Ia adalah amanah dengan jalan, kemampuan, ujian, dan tanggung jawabnya sendiri.
Tugas orang tua adalah membimbing, bukan memiliki jiwanya.
Warisan Bulan Sang Ayah
Bulan di tangan sang suami melambangkan keteduhan, arah, dan penjagaan.
Seorang ayah bukan hanya orang yang pulang membawa nafkah.
Ia adalah wajah perlindungan yang pertama dikenal anak.
Cara ayah berbicara akan memengaruhi cara anak memahami wibawa.
Apabila ayah hanya hadir dalam kemarahan, anak dapat menganggap kepemimpinan berarti ketakutan.
Apabila ayah tidak pernah mendengarkan, anak dapat belajar menyembunyikan masalah.
Apabila ayah mau meminta maaf, anak belajar bahwa kekuatan tidak meniadakan kerendahan hati.
Warisan bulan seorang ayah tampak ketika ia:
hadir dalam kehidupan anak,
mengetahui apa yang sedang dipelajari dan dirasakan,
melindungi tanpa mengekang,
mendisiplinkan tanpa merendahkan,
membimbing dengan contoh,
serta menunjukkan bahwa laki-laki boleh lembut tanpa kehilangan keteguhan.
Ayah tidak harus mempunyai jawaban untuk segala hal.
Namun ia perlu bersedia berkata:
“Ayah belum tahu, tetapi kita akan mencari jawabannya bersama.”
Ucapan itu lebih baik daripada berpura-pura mengetahui lalu memberikan arah yang salah.
Jangan Mewariskan Luka sebagai Tradisi
Sebagian manusia membenarkan kekerasan dengan berkata:
“Dahulu aku juga diperlakukan seperti itu.”
Ia merasa karena dirinya mampu bertahan, anak harus mengalami hal yang sama.
Padahal bertahan hidup dari luka tidak menjadikan luka itu benar.
Ada warisan yang harus diteruskan.
Ada pula warisan yang harus dihentikan.
Hentikan kebiasaan menghina anak karena kesalahannya.
Hentikan membandingkan anak dengan saudara atau teman.
Hentikan ancaman meninggalkan anak hanya untuk membuatnya patuh.
Hentikan pukulan yang membahayakan tubuh dan jiwanya.
Hentikan penggunaan rasa malu sebagai alat pendidikan.
Hentikan pertengkaran yang menjadikan anak perantara, hakim, atau pembawa pesan antara ayah dan ibu.
Anak tidak seharusnya dipaksa memilih salah satu orang tua.
Ia membutuhkan hak untuk mencintai keduanya tanpa dibebani permusuhan orang dewasa.
Apabila orang tua memiliki luka masa kecil yang belum selesai, carilah jalan penyembuhan.
Jangan menuntut anak membayar harga dari penderitaan yang tidak pernah ia ciptakan.
Empat Benih yang Harus Ditanam
Benih Pertama: Tauhid
Ajarkan bahwa hanya Alloh yang disembah dan menjadi tempat bergantung.
Namun pengajaran tauhid tidak cukup melalui hafalan.
Anak perlu melihat orang tuanya kembali kepada Alloh dalam keadaan lapang maupun sempit.
Ia perlu melihat doa berjalan bersama usaha.
Ia perlu melihat bahwa nama Alloh tidak digunakan untuk mengancam, memanipulasi, atau membenarkan kezaliman.
Ajarkanlah bahwa Alloh Maha Pengasih, Mahaadil, Maha Mengetahui, dan Maha Menerima taubat.
Anak perlu mengenal rasa takut yang menuntun kepada kebaikan, bukan ketakutan yang membuatnya putus asa dari rahmat Alloh.
Benih Kedua: Kejujuran
Apabila anak berkata jujur tentang kesalahannya, jangan langsung membuatnya menyesal telah berkata benar.
Berikan konsekuensi yang adil.
Namun hargai keberaniannya mengaku.
Apabila setiap pengakuan selalu dibalas dengan penghinaan, anak akan belajar menyembunyikan.
Kejujuran tumbuh di tempat yang memiliki batas sekaligus rasa aman.
Benih Ketiga: Tanggung Jawab
Ajarkan anak bahwa setiap tindakan mempunyai akibat.
Ia perlu belajar merapikan barang, memenuhi tugas, menjaga ucapan, serta memperbaiki kesalahan.
Namun sesuaikan tanggung jawab dengan usia dan kemampuannya.
Jangan memberi beban orang dewasa kepada anak.
Jangan membuat anak merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan atau pernikahan orang tuanya.
Benih Keempat: Rahmah
Ajarkan kasih sayang kepada manusia, hewan, dan lingkungan.
Biasakan berbagi.
Mengunjungi orang sakit.
Menghormati yang lebih tua.
Melindungi yang lemah.
Tidak menertawakan kekurangan.
Tidak membuang sampah sembarangan.
Rahmah tidak hanya diajarkan melalui ceramah.
Ia diajarkan melalui kebiasaan sehari-hari.
Disiplin Bukan Penghinaan
Anak memerlukan batas.
Kasih sayang tanpa batas dapat berubah menjadi pembiaran.
Namun disiplin tidak sama dengan penghinaan.
Disiplin mengajarkan hubungan antara tindakan dan akibat.
Penghinaan menyerang harga diri anak.
Disiplin berkata:
“Tindakan itu salah dan perlu diperbaiki.”
Penghinaan berkata:
“Kamu memang anak yang buruk.”
Disiplin memberi kesempatan untuk belajar.
Penghinaan membuat anak percaya bahwa dirinya tidak berharga.
Ketika anak berbuat salah:
tenangkan emosi terlebih dahulu,
dengarkan penjelasannya,
jelaskan kesalahannya,
berikan konsekuensi yang sesuai,
dan tunjukkan cara memperbaikinya.
Jangan menghukum ketika orang tua sedang kehilangan kendali.
Kemurkaan orang dewasa bukan metode pendidikan.
Jangan Membandingkan Cahaya
Tidak semua anak bersinar melalui jalan yang sama.
Ada yang cepat memahami pelajaran.
Ada yang kuat dalam keterampilan.
Ada yang lembut hatinya.
Ada yang mampu memimpin.
Ada yang pandai merawat.
Ada yang berkembang lebih lambat, tetapi memiliki ketekunan.
Membandingkan anak terus-menerus dapat membuatnya membenci dirinya atau saudaranya.
Katakan:
“Belajarlah dari kebaikan saudaramu,”
bukan:
“Mengapa kamu tidak pernah bisa seperti dia?”
Setiap anak membutuhkan arah.
Namun ia juga membutuhkan pengakuan bahwa dirinya memiliki nilai dan kesempatan untuk bertumbuh.
Tugas orang tua bukan membuat seluruh anak menjadi sama.
Tugasnya membantu setiap anak mengenali amanah serta batas dirinya.
Anak Bukan Tempat Rahasia Pernikahan
Ketika suami dan istri bertengkar, jangan menjadikan anak tempat mengadu seluruh persoalan.
Anak tidak perlu mengetahui rincian pengkhianatan, utang, konflik keluarga, atau luka orang dewasa yang belum mampu ia pahami.
Memberi penjelasan sesuai usia berbeda dengan membebani anak.
Jangan berkata:
“Ayahmu memang tidak berguna.”
atau:
“Ibumu penyebab seluruh masalah kita.”
Ucapan itu dapat merusak rasa aman anak.
Apabila perpisahan atau konflik berat harus terjadi, jelaskan bahwa persoalan orang tua bukan kesalahan anak.
Pastikan ia mengetahui bahwa dirinya tetap dicintai dan dirawat.
Jangan menggunakan kasih sayang sebagai alat untuk memenangkan kesetiaan anak.
Ketika Belum Dikaruniai Keturunan
Tidak semua pasangan segera dikaruniai anak.
Ada yang menunggu bertahun-tahun.
Ada yang menjalani pengobatan.
Ada yang mengalami kehilangan.
Ada pula yang tidak memiliki keturunan biologis.
Jangan menjadikan keadaan itu sebagai ukuran rendahnya kemuliaan sebuah rumah tangga.
Anak adalah karunia, bukan bukti bahwa satu pasangan lebih dicintai Alloh daripada pasangan lain.
Jangan saling menyalahkan.
Jangan merendahkan istri.
Jangan menuduh suami.
Carilah pemeriksaan medis secara bersama apabila diperlukan, sebab persoalan kesuburan dapat berasal dari berbagai keadaan dan tidak patut dibebankan hanya kepada satu pihak.
Doa, ikhtiar kesehatan, kesabaran, dan musyawarah perlu berjalan bersama.
Apabila belum dikaruniai keturunan, rumah tetap dapat menjadi sumber rahayu.
Keduanya dapat mendidik keponakan.
Membantu anak yatim.
Mengajar.
Membina masyarakat.
Mewariskan ilmu dan amal.
Keturunan biologis bukan satu-satunya jalan meninggalkan kebaikan.
Ketika Anak Memilih Jalan yang Berbeda
Ada masa anak tumbuh dan mempunyai pilihan yang tidak sepenuhnya sama dengan harapan orang tua.
Ia memilih bidang pendidikan berbeda.
Pekerjaan berbeda.
Tempat tinggal berbeda.
Atau cara hidup yang perlu dibicarakan dengan panjang.
Orang tua tetap mempunyai kewajiban menasihati.
Namun nasihat bukan kepemilikan mutlak atas hidup anak dewasa.
Sampaikan nilai.
Jelaskan alasan.
Berikan batas apabila tindakannya membahayakan.
Namun jangan memutus kasih sayang hanya karena seluruh harapan tidak dipenuhi.
Anak yang dewasa perlu belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Orang tua perlu belajar melepaskan tanpa berhenti mendoakan.
Melepaskan bukan berarti tidak peduli.
Ia berarti mengakui bahwa anak juga akan menghadap Alloh dengan amal dan keputusannya sendiri.
Tujuh Pusaka Keluarga
Pusaka keluarga tidak selalu benda lama.
Pusaka dapat berupa kebiasaan baik yang dijaga dari generasi ke generasi.
Pusaka Pertama: Sholat dan Doa
Bukan hanya menyuruh, tetapi menghidupkan suasana ibadah yang menenangkan dan membentuk akhlak.
Pusaka Kedua: Makan dari Rezeki Halal
Anak belajar bahwa sedikit tetapi halal lebih mulia daripada banyak yang diperoleh melalui penipuan.
Pusaka Ketiga: Musyawarah
Anak diberi ruang menyampaikan pendapat sesuai usianya.
Ia belajar bahwa keluarga tidak dibangun hanya melalui perintah satu arah.
Pusaka Keempat: Meminta Maaf
Ayah dan ibu tidak kehilangan kehormatan ketika meminta maaf kepada anak.
Justru dari sana anak belajar bertanggung jawab.
Pusaka Kelima: Menjaga Aib
Masalah keluarga diselesaikan dengan pihak yang tepat, bukan dijadikan bahan hiburan.
Pusaka Keenam: Menolong Sesama
Sebagian rezeki, waktu, atau tenaga dibagikan sesuai kemampuan.
Pusaka Ketujuh: Belajar Sepanjang Usia
Anak melihat bahwa orang tuanya tidak berhenti memperbaiki diri hanya karena telah dewasa.
Ketika Orang Tua Telah Tiada
Suatu hari, matahari dan bulan dalam keluarga akan meninggalkan langit dunia.
Ayah dan ibu akan kembali kepada Alloh.
Anak-anak mungkin berdiri di hadapan rumah yang terasa berbeda.
Suara yang dahulu memanggil tidak terdengar lagi.
Kursi menjadi kosong.
Pakaian tersimpan.
Kenangan hidup di dalam sudut-sudut sederhana.
Pada saat itu, harta dapat dibagi.
Rumah dapat berganti pemilik.
Namun akhlak yang diwariskan akan terus berjalan dalam diri keturunan.
Apabila orang tua mengajarkan kejujuran, kejujuran itu menjadi cahaya setelah mereka tiada.
Apabila mereka menanam kasih sayang, kasih itu hidup melalui cucu dan generasi berikutnya.
Apabila mereka meninggalkan luka tanpa pernah memperbaikinya, luka itu juga dapat berlanjut.
Karena itu, jangan menunda meminta maaf.
Jangan menunggu usia tua untuk mengatakan cinta.
Jangan menunggu sakit untuk memperbaiki hubungan dengan anak.
Kita tidak mengetahui kapan waktu berpisah datang.
Majelis Kecil di Dalam Rumah
Tidak harus menunggu acara besar untuk menanam warisan cahaya.
Buatlah majelis kecil di dalam rumah.
Duduk bersama meskipun singkat.
Membaca doa.
Membicarakan satu kebaikan.
Mendengarkan keadaan setiap anggota keluarga.
Bersyukur atas satu nikmat.
Mengevaluasi satu kesalahan tanpa saling mempermalukan.
Majelis kecil itu dapat dilakukan seminggu sekali atau sesuai kemampuan.
Tujuannya bukan membangun kesan keluarga sempurna.
Tujuannya menjaga agar anggota keluarga tidak hidup terlalu jauh satu sama lain.
Dalam majelis itu, ayah bukan satu-satunya yang berbicara.
Ibu bukan hanya menyediakan hidangan.
Anak juga diberi ruang menyampaikan perasaan dan pertanyaan.
Di situlah keluarga belajar menjadi samudra kecil yang menerima banyak suara tanpa kehilangan arah.
Amalan Warisan Matahari dan Bulan
Amalan ini dibaca sebagai doa kebaikan bagi keluarga dan keturunan.
Bukan untuk menguasai masa depan anak dan bukan jaminan bahwa seluruh ujian akan hilang.
Dibaca setelah Maghrib atau Subuh.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas kesalahan dalam mendidik, ucapan yang melukai, dan teladan buruk yang pernah diberikan.
Yā Rabb 33×
يَا رَبُّ
Wahai Alloh, Tuhan yang memelihara, peliharalah keluarga dan keturunan kami dalam iman serta kebaikan.
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tuntunlah kami mendidik dengan ilmu, kesabaran, dan keteladanan.
Yā Ḥafīẓ 33×
يَا حَفِيظُ
Wahai Alloh Yang Maha Menjaga, jagalah anak-anak dan keluarga kami dari jalan yang membahayakan tubuh, akal, kehormatan, dan iman.
Yā Nūr 33×
يَا نُورُ
Wahai Alloh Pemilik cahaya, terangilah hati keluarga kami agar mampu membedakan kebenaran dan kesalahan.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan tenang.
Setelah dzikir, lakukan satu amal nyata:
peluk anak dengan kasih,
minta maaf atas ucapan yang salah,
dengarkan ceritanya,
ajar satu kebaikan,
atau hentikan satu kebiasaan keluarga yang menimbulkan luka.
Doa Warisan Rahayu
Yā Alloh Yang Maha Pengasih,
Anak-anak dan keluarga kami adalah amanah, bukan milik mutlak kami.
Berikanlah kemampuan kepada kami untuk menjaga tanpa menguasai, membimbing tanpa merendahkan, serta mencintai tanpa menjadikan mereka tempat memenuhi ego kami.
Ampunilah kekasaran yang pernah keluar dari mulut kami.
Ampunilah saat kami menghukum dalam kemarahan.
Ampunilah kelalaian kami mendengar isi hati keluarga.
Ampunilah apabila kami lebih sibuk menjaga pandangan manusia daripada menjaga rasa aman di dalam rumah.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang ibu sebagai kehangatan yang menumbuhkan keberanian dan iman.
Jadikanlah bulan sang ayah sebagai keteduhan yang memberi perlindungan dan arah.
Jangan biarkan keduanya saling menjatuhkan di hadapan anak.
Satukanlah mereka dalam musyawarah, kejujuran, dan tanggung jawab.
Lindungilah anak-anak kami dari kekerasan, pergaulan yang merusak, penipuan, kecanduan, kebencian, serta keputusasaan.
Karuniakanlah kepada mereka sahabat yang baik, guru yang amanah, kesehatan, akal yang jernih, dan hati yang mau kembali kepada-Mu ketika melakukan kesalahan.
Apabila mereka memiliki jalan yang berbeda dari harapan kami, berikanlah kebijaksanaan untuk menasihati tanpa memutus kasih.
Apabila mereka berhasil, lindungilah dari kesombongan.
Apabila mereka gagal, jauhkanlah dari putus asa.
Apabila mereka tersesat, bukakanlah jalan untuk kembali.
Apabila kami belum dikaruniai keturunan, jangan biarkan rumah kami kehilangan makna.
Jadikanlah ilmu, pelayanan, sedekah, dan kasih kami sebagai warisan yang terus mengalir.
Yā Alloh,
Putuskanlah rantai luka yang telah diwariskan dari generasi terdahulu.
Jangan biarkan kemarahan kami menjadi kemarahan anak-anak kami.
Jangan biarkan ketakutan kami menjadi penjara bagi mereka.
Jangan biarkan kebohongan yang dahulu kami lihat tumbuh kembali di dalam rumah kami.
Wariskanlah kejujuran.
Wariskanlah rahmah.
Wariskanlah keberanian meminta maaf.
Wariskanlah kemampuan menghormati perbedaan.
Wariskanlah cinta kepada ibadah yang melahirkan akhlak.
Dan ketika kami telah tiada, jadikanlah keturunan serta orang-orang yang pernah kami didik sebagai pembawa doa dan kebaikan, bukan sebagai pembawa luka yang belum selesai.
Jadikanlah rumah kami salah satu mata air kecil dari Sastro Samudro Rahayu Jagat.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Kedelapan
Anak tidak hanya mewarisi nama dan rupa.
Ia sering mewarisi cara orang tuanya mencintai, marah, memaafkan, dan menghadapi kehidupan.
Jangan bangga meninggalkan rumah yang besar apabila di dalam hati keturunan tertinggal luka yang lebih besar.
Jangan merasa gagal hanya karena harta yang diwariskan sedikit, apabila engkau meninggalkan kejujuran, iman, adab, dan keberanian hidup secara halal.
Matahari sang ibu tidak harus membakar jalan agar anak menjadi kuat.
Bulan sang ayah tidak harus membuat malam menakutkan agar anak menjadi patuh.
Keduanya cukup menghadirkan cahaya yang memberi arah, batas yang melindungi, dan kasih yang tidak menghilangkan tanggung jawab.
Warisan terbaik bukan anak yang selalu menuruti seluruh keinginan orang tua.
Warisan terbaik adalah manusia yang mampu berdiri dalam kebenaran, menjaga rahmah, menghormati sesama, serta kembali kepada Alloh ketika tersesat.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim mekar melampaui satu usia:
dari suami dan istri,
menuju anak dan keturunan,
dari rumah kecil,
menuju rahayu jagat.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KESEMBILAN
Sastro Samudro: Menjaga Nama, Ajaran, dan Jejak Kehidupan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Setiap manusia sedang menulis kitab kehidupannya sendiri.
Bukan kitab suci.
Bukan wahyu baru.
Melainkan catatan perjalanan yang tersusun dari niat, ucapan, perbuatan, kesalahan, perbaikan, dan manfaat yang ditinggalkan.
Ada tulisan yang dibuat dengan tinta.
Ada pula tulisan yang tertanam dalam ingatan manusia.
Ucapan orang tua tertulis dalam hati anak.
Keputusan seorang pemimpin tertulis dalam nasib orang yang dipimpinnya.
Nasihat seorang guru tertulis dalam cara murid memandang kehidupan.
Kebaikan seorang tetangga tertulis dalam rasa aman lingkungannya.
Kezaliman juga menulis jejaknya.
Ia dapat bertahan lama setelah pelakunya melupakannya.
Maka Sastro Samudro adalah kesadaran bahwa kehidupan manusia menjadi tulisan yang mengalir menuju samudra yang lebih luas.
Setiap tindakan tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Ia melahirkan gelombang.
Satu ucapan dapat menghidupkan harapan.
Satu kebohongan dapat merusak kepercayaan bertahun-tahun.
Satu teladan dapat menuntun generasi.
Satu kesalahan yang tidak diperbaiki dapat diwariskan sebagai kebiasaan.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang akan aku peroleh dari kehidupan ini?”
Tanyakan pula:
“Jejak apa yang akan kutinggalkan setelah aku pergi?”
Nama yang Dibawa ke Tengah Jagat
Nama adalah tanda pengenal.
Namun lama-kelamaan, nama dapat menjadi wadah bagi kepercayaan, harapan, dan penilaian manusia.
Ada nama yang dikenal karena kejujuran.
Ada nama yang dikenal karena keberanian.
Ada nama yang dikenal karena ilmu.
Ada pula nama yang dikenang karena luka yang ditinggalkannya.
Nama besar bukan selalu berkah.
Ia dapat menjadi ujian.
Semakin besar nama, semakin banyak manusia melihat.
Semakin luas pengaruh, semakin besar akibat kesalahan.
Apabila seseorang membawa nama guru, lembaga, keluarga, keturunan, komunitas, atau jalan perjuangan, ia tidak hanya membawa dirinya.
Perbuatannya dapat memengaruhi pandangan manusia terhadap seluruh nama yang dibawanya.
Maka jagalah nama bukan dengan pencitraan, melainkan dengan akhlak.
Jangan menutupi kesalahan hanya demi menjaga kehormatan luar.
Nama tidak menjadi suci karena kesalahan disembunyikan.
Nama menjadi terhormat ketika kesalahan diakui, diperbaiki, dan tidak diulang.
Ketika Nama Ruhani Menjadi Mahkota Ego
Nama ruhani, gelar kehormatan, panggilan kebesaran, atau sebutan baik dapat menjadi doa dan pengingat.
Namun semuanya tetap berada di bawah nama seorang hamba.
Nama tidak mengubah manusia menjadi makhluk tanpa salah.
Gelar tidak menjamin kebersihan hati.
Pujian tidak membuktikan kedekatan dengan Alloh.
Apabila nama ruhani membuat seseorang semakin rendah hati, semakin menjaga ucapan, semakin amanah, dan semakin takut berbuat zalim, maka nama itu telah berfungsi sebagai pengingat.
Namun apabila nama membuat seseorang menuntut penghormatan, merasa paling suci, tidak mau dikritik, atau menganggap manusia lain lebih rendah, maka nama telah berubah menjadi mahkota ego.
QITAB ini mengajarkan:
Nama yang agung tidak diberikan agar manusia merasa agung.
Ia diberikan agar manusia merasa semakin berat menjaga amanah.
Jangan berkata:
“Aku mempunyai nama tinggi, maka perkataanku pasti benar.”
Jangan merasa bahwa gelar membuat diri bebas dari pemeriksaan.
Semakin mulia nama yang dibawa, semakin besar kebutuhan untuk berkata:
“Wallohu a‘lam.”
“Aku dapat salah.”
“Aku perlu belajar.”
“Aku harus memperbaiki diri.”
Ajaran yang Tidak Boleh Dipenjara dalam Nama
Kebaikan tidak boleh menjadi milik satu manusia.
Ilmu bukan benda yang dapat dipenjara agar orang lain terus bergantung.
Guru yang benar tidak membuat murid merasa tidak mampu hidup tanpa dirinya.
Ia membimbing murid agar mengenal Alloh, memahami tanggung jawab, memperkuat akal sehat, dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri.
Ajaran yang baik seharusnya melahirkan:
ketundukan kepada Alloh,
penghormatan terhadap syariat,
kejernihan berpikir,
tanggung jawab,
akhlak,
serta keberanian memeriksa kesalahan diri.
Apabila suatu ajaran justru membuat pengikut:
takut bertanya,
dilarang memeriksa kebenaran,
harus menyerahkan seluruh keputusan hidup,
dipaksa memberi harta,
atau diwajibkan memuja manusia,
maka terdapat penyimpangan yang perlu diluruskan.
Guru bukan Tuhan.
Pembimbing bukan pemilik jiwa murid.
Pemimpin bukan penguasa mutlak atas kehidupan pengikutnya.
Setiap manusia tetap bertanggung jawab kepada Alloh atas amalnya sendiri.
Matahari Sang Istri sebagai Sastro Kehidupan
Matahari di tangan sang istri bukan hanya lambang kehangatan.
Ia juga lambang ilmu yang dapat membuat sesuatu terlihat jelas.
Seorang perempuan dapat menjadi penjaga sastro kehidupan melalui cara ia berbicara, mendidik, mengingat, dan meneruskan nilai.
Namun ia harus menjaga agar ilmu tidak berubah menjadi senjata.
Ada orang yang mengetahui banyak kelemahan keluarga, lalu menggunakan pengetahuan itu ketika marah.
Ada yang mengetahui rahasia orang lain, lalu menyebarkannya demi memperoleh perhatian.
Ada yang pandai berbicara, tetapi ucapannya membuat manusia kehilangan harga diri.
Matahari yang benar menerangi.
Ia tidak membuka seluruh sesuatu hanya untuk mempermalukan.
Sang istri yang membawa cahaya ilmu perlu mengetahui:
apa yang boleh disampaikan,
kepada siapa disampaikan,
kapan waktunya,
dan untuk tujuan apa.
Tidak seluruh rahasia harus dibuka.
Tidak seluruh pengalaman harus dibagikan.
Tidak seluruh kesalahan orang lain perlu dijadikan pelajaran umum dengan menyebut pelakunya.
Ilmu tanpa amanah dapat menjadi api.
Bulan Sang Suami sebagai Penjaga Jejak
Bulan di tangan sang suami melambangkan kesediaan menjaga perjalanan dalam keheningan.
Tidak semua pengabdian harus diketahui manusia.
Ada perjuangan yang cukup disaksikan Alloh.
Sang suami mungkin bekerja ketika keluarga tidur.
Menahan lelah tanpa banyak bicara.
Menyelesaikan tanggungan.
Melindungi nama keluarga.
Memperbaiki kesalahan lama.
Menahan diri dari godaan.
Semua itu adalah tulisan yang tidak selalu terlihat.
Namun jangan pula menjadikan diam sebagai alasan tidak berkomunikasi.
Bulan tetap memancarkan cahaya meskipun lembut.
Seorang suami perlu menjelaskan arah.
Membuka keadaan keuangan yang penting.
Menyampaikan kesulitan.
Membicarakan keputusan.
Jangan menyembunyikan segala hal dengan alasan ingin melindungi keluarga, apabila penyembunyian itu justru menimbulkan kerusakan.
Perlindungan yang benar berjalan bersama kejujuran.
Tiga Jenis Tulisan Kehidupan
Pertama: Tulisan yang Disengaja
Ini adalah amal yang memang direncanakan.
Membangun keluarga.
Mengajar.
Menulis.
Menolong.
Mendirikan usaha.
Membina masyarakat.
Seseorang mengetahui bahwa dirinya sedang meninggalkan jejak.
Karena itu, niat harus diperiksa.
Apakah dilakukan untuk kemaslahatan?
Ataukah untuk membangun nama?
Kedua: Tulisan yang Tidak Disadari
Ini adalah pengaruh yang muncul tanpa direncanakan.
Cara seseorang memperlakukan pelayan.
Cara ia menjawab orang miskin.
Cara ia bereaksi ketika marah.
Cara ia menyikapi kesalahan.
Anak, murid, dan lingkungan sering belajar dari bagian yang tidak disengaja ini.
Karena itu, akhlak tidak boleh hanya dipakai ketika sedang mengajar.
Akhlak harus hidup ketika manusia tidak merasa sedang diperhatikan.
Ketiga: Tulisan yang Diperbaiki
Manusia dapat salah.
Ada halaman kehidupan yang buruk.
Namun halaman buruk bukan alasan menutup seluruh kitab.
Taubat, permintaan maaf, pengembalian hak, dan perubahan nyata dapat menjadi tulisan perbaikan.
Kita tidak dapat menghapus kejadian.
Namun kita dapat memperbaiki akibatnya sejauh kemampuan.
Orang yang pernah menyakiti dapat meminta maaf.
Orang yang mengambil hak dapat mengembalikannya.
Orang yang menyebarkan kabar salah dapat meluruskannya.
Orang yang memberi ajaran keliru dapat mengoreksi secara terbuka.
Mengakui koreksi tidak mengecilkan manusia.
Ia menunjukkan bahwa kebenaran lebih dicintai daripada nama diri.
Jangan Menulis dengan Tinta Kebencian
Ketika disakiti, manusia mudah ingin menulis sejarah yang hanya berisi keburukan orang lain.
Ia menyebarkan aib.
Membentuk kelompok.
Mengajak manusia membenci.
Mengulang kesalahan seseorang tanpa memberi ruang perbaikan.
Kezaliman memang perlu diluruskan.
Korban perlu dilindungi.
Kebenaran perlu disampaikan.
Namun jangan membiarkan proses meluruskan berubah menjadi kenikmatan menghancurkan.
Bedakan antara peringatan dan penghinaan.
Bedakan antara kesaksian dan fitnah.
Bedakan antara meminta keadilan dan membalas tanpa batas.
Tulislah kebenaran dengan tinta keadilan.
Jangan dengan tinta kebencian.
Keadilan bertujuan menghentikan kerusakan.
Kebencian ingin melihat manusia lain hancur meskipun kerusakan telah berhenti.
Ketika Tulisan Menjadi Dakwah
Dakwah bukan hanya ceramah.
Tulisan, gambar, ucapan, usaha, pelayanan, dan sikap dapat menjadi dakwah.
Namun dakwah tidak boleh digunakan untuk mencari kemuliaan pribadi.
Seseorang dapat berbicara tentang Alloh, tetapi sebenarnya sedang mengajak manusia mengagumi dirinya.
Ia menggunakan agama untuk memperbesar nama.
Ia menampilkan amal secara berlebihan.
Ia menganggap banyaknya pengikut sebagai bukti kebenaran.
Padahal jumlah tidak selalu menunjukkan ridho Alloh.
Dakwah yang sehat mengarahkan manusia kepada kebaikan.
Bukan kepada ketergantungan pada satu tokoh.
Ia tidak menjual ketakutan.
Ia tidak menjanjikan keselamatan hanya karena dekat dengan kelompok tertentu.
Ia tidak menganggap seluruh orang di luar lingkarannya pasti sesat.
Ia mengajarkan ketundukan, ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Apabila ada biaya dalam perjuangan, jelaskan dengan jujur.
Apabila ada harga cetak, pengelolaan, perjalanan, atau kebutuhan lembaga, sebutkan secara terbuka.
Jangan membungkus kepentingan pribadi dengan bahasa suci.
Kejujuran dalam pengelolaan adalah bagian dari dakwah.
Harta Perjuangan dan Amanah Transparansi
Harta yang dikumpulkan atas nama dakwah, sosial, pendidikan, atau kemanusiaan memiliki tanggung jawab lebih berat.
Ia bukan harta pribadi.
Ia adalah titipan.
Setiap pemasukan perlu dicatat.
Setiap penggunaan perlu memiliki alasan.
Setiap pengelola perlu mengetahui batas kewenangannya.
Jangan menggunakan uang perjuangan untuk kepentingan pribadi tanpa persetujuan dan aturan yang jelas.
Jangan menganggap karena seseorang adalah pendiri, guru, atau pemimpin, maka seluruh harta lembaga otomatis menjadi miliknya.
Kepemimpinan tidak menghapus amanah.
Transparansi bukan tanda tidak percaya.
Ia adalah perlindungan bagi pengelola dan pemberi amanah.
Sastro Samudro mengajarkan:
Catatan keuangan yang jujur juga merupakan ibadah.
Laporan yang jelas juga merupakan akhlak.
Mengembalikan kelebihan juga merupakan cahaya.
Empat Ujian Pemilik Pengaruh
Ujian Pertama: Merasa Tidak Tergantikan
Ketika banyak orang bergantung, seseorang dapat merasa bahwa tanpa dirinya semua akan runtuh.
Ia tidak menyiapkan penerus.
Tidak berbagi ilmu.
Tidak mendelegasikan amanah.
Ia ingin seluruh pusat tetap berada pada dirinya.
Padahal perjuangan yang sehat harus mampu berjalan melampaui satu manusia.
Ujian Kedua: Menolak Koreksi
Pemilik pengaruh dapat dikelilingi orang yang hanya memuji.
Kritik dianggap pengkhianatan.
Pertanyaan dianggap kurang adab.
Akibatnya, kesalahan tumbuh tanpa pengingat.
Pilihlah orang dekat yang berani berkata benar dengan adab.
Jangan hanya memilih orang yang menyenangkan hati.
Ujian Ketiga: Menganggap Semua Lawan Berniat Buruk
Tidak setiap orang yang berbeda pendapat adalah musuh.
Ada yang mengingatkan.
Ada yang melihat bahaya yang belum terlihat.
Ada pula yang benar-benar berniat buruk.
Kebijaksanaan diperlukan untuk membedakan.
Jangan segera mengutuk semua kritik.
Periksa isinya.
Ambil yang benar.
Tolak yang salah tanpa kehilangan akhlak.
Ujian Keempat: Menggunakan Pengikut untuk Konflik Pribadi
Jangan menyeret jamaah, murid, anak, atau masyarakat ke dalam persoalan pribadi.
Jangan menggunakan pengaruh untuk menyerang orang yang tidak disukai.
Jangan memerintahkan pengikut memusuhi seseorang tanpa bukti yang adil.
Pengikut bukan pasukan ego.
Mereka adalah manusia yang harus dibimbing menuju kebaikan.
Penerus Bukan Peniru
Penerus yang baik tidak harus menjadi salinan pendahulunya.
Ia membawa nilai yang sama, tetapi mungkin memakai cara yang berbeda.
Zaman berubah.
Bahasa berubah.
Kebutuhan masyarakat berubah.
Sarana berubah.
Yang tidak boleh berubah adalah inti:
tauhid,
kejujuran,
amanah,
keadilan,
rahmah,
dan kemaslahatan.
Seorang guru yang bijak tidak takut muridnya berkembang.
Orang tua yang bijak tidak takut anaknya memiliki kemampuan lebih besar.
Pemimpin yang bijak tidak memadamkan cahaya orang lain agar dirinya tetap terlihat paling terang.
Matahari tidak menjadi kecil hanya karena banyak lampu dinyalakan.
Bulan tidak kehilangan keindahan hanya karena bintang juga bersinar.
Biarkan penerus tumbuh.
Beri ruang.
Berikan ilmu.
Berikan tanggung jawab secara bertahap.
Dan ajarkan mereka berani mengoreksi warisan yang keliru tanpa menghina pendahulu.
Naskah yang Harus Dijaga
Apabila suatu ajaran, doa, buku, atau QITAB diwariskan, berikan penjelasan yang jujur mengenai kedudukannya.
Jangan menyebut karya manusia sebagai wahyu.
Jangan meletakkannya setara dengan Al-Qur’an.
Jangan menjadikan simbol, mimpi, atau pengalaman batin sebagai hukum yang mengikat seluruh manusia.
Karya ruhani dapat menjadi sastra hikmah, doa, renungan, atau bahan pengajaran.
Namun ia harus tetap diperiksa berdasarkan tauhid, syariat, akhlak, akal sehat, serta kemaslahatan.
Apabila ditemukan kesalahan, perbaikilah.
Jangan mempertahankan satu kalimat yang salah hanya karena telah terlanjur dianggap mulia.
Kebenaran tidak takut diperiksa.
Arsip Kebaikan
Setiap perjuangan perlu memiliki arsip yang tertib.
Catatan sejarah.
Nama pendiri.
Tujuan lembaga.
Keputusan penting.
Penggunaan dana.
Program yang telah dikerjakan.
Kesalahan yang pernah terjadi.
Perbaikan yang telah dilakukan.
Arsip bukan sekadar dokumen.
Ia mencegah generasi berikutnya kehilangan arah.
Namun arsip juga tidak boleh menjadi alat memalsukan sejarah.
Jangan menghapus peran orang lain.
Jangan mengaku sebagai satu-satunya pembangun.
Jangan mengubah cerita agar diri terlihat paling agung.
Tulislah sejarah dengan adil.
Sebutkan perjuangan bersama.
Akui jasa orang yang telah tiada maupun yang masih hidup.
Kejujuran sejarah adalah bagian dari rahayu jagat.
Ketika Nama Harus Dilepaskan
Suatu hari, manusia perlu belajar melepaskan namanya.
Ia mungkin tidak lagi memimpin.
Tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Tidak lagi banyak diminta pendapat.
Generasi baru mengambil peran.
Pada saat itu, ego dapat merasa kehilangan kehidupan.
Padahal pengabdian tidak harus selalu berada di depan.
Ada kemuliaan dalam mendampingi.
Ada kemuliaan dalam berdoa.
Ada kemuliaan dalam menyerahkan amanah dengan baik.
Ada kemuliaan dalam berkata:
“Sekarang giliran kalian. Aku akan menjaga dari belakang.”
Melepas jabatan bukan kehilangan nilai.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh kursinya.
Ia ditentukan oleh ketakwaan dan amalnya.
Seorang pemimpin yang mampu turun dengan damai sering kali lebih mulia daripada orang yang memegang kekuasaan hingga seluruh bangunan rusak.
Sepuluh Tanda Sastro yang Bercahaya
Sebuah jejak dapat disebut bercahaya apabila:
-
Membuat manusia semakin tunduk kepada Alloh, bukan kepada ego tokoh.
-
Melahirkan kejujuran, bukan kebohongan yang dibungkus kesucian.
-
Memberi ruang bertanya dan memeriksa.
-
Menjaga kehormatan orang yang lemah.
-
Tidak memaksa manusia menyerahkan harta atau kebebasan secara zalim.
-
Mampu mengakui kesalahan.
-
Memiliki pengelolaan amanah yang jelas.
-
Menyiapkan penerus, bukan menciptakan ketergantungan.
-
Mengutamakan manfaat di atas nama besar.
-
Tetap menjaga tauhid, syariat, akhlak, dan rahmah.
Apabila salah satu bagian rusak, perbaikilah.
Apabila seluruhnya menyimpang, jangan takut menghentikan dan memulai kembali dengan dasar yang benar.
Dzikir Penjaga Nama dan Amanah
Dibaca setelah Subuh atau Isya bagi siapa pun yang membawa amanah keluarga, ilmu, lembaga, komunitas, atau pelayanan.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas kesombongan, pencitraan, penyalahgunaan nama, dan kelalaian menjaga amanah.
Yā ‘Alīm 33×
يَا عَلِيمُ
Wahai Alloh Yang Maha Mengetahui, berikanlah ilmu yang benar dan kesadaran atas keterbatasan kami.
Yā Amīn 33×
يَا أَمِينُ
Wahai Alloh Yang Menjaga amanah, kuatkanlah kami menjaga kepercayaan manusia tanpa mengkhianatinya.
Yā ‘Adl 33×
يَا عَدْلُ
Wahai Alloh Yang Mahaadil, tuntunlah kami berlaku adil dalam ucapan, kepemimpinan, pembagian, dan keputusan.
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, luruskanlah jejak kami apabila mulai menyimpang.
Apabila sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11×.
Setelah dzikir, lakukan satu pemeriksaan nyata:
periksa satu amanah,
lunasi satu tanggungan,
perbaiki satu informasi yang salah,
akui satu kontribusi orang lain,
atau hentikan satu kebiasaan yang membuat manusia terlalu bergantung kepada diri.
Doa Sastro Samudro
Yā Alloh Yang Maha Mengetahui setiap tulisan yang tampak dan tersembunyi,
Jadikanlah nama kami pengingat untuk berbuat baik, bukan alat meninggikan diri.
Apabila Engkau membuat nama kami dikenal, lindungilah kami dari rasa memiliki manusia.
Apabila Engkau memberikan pengaruh, jadikanlah pengaruh itu jalan pelayanan.
Apabila Engkau memberikan ilmu, jadikanlah kami berani berkata tidak tahu ketika memang tidak mengetahui.
Apabila Engkau mempercayakan harta perjuangan, kuatkanlah kami mencatat, menjaga, dan menggunakannya secara jujur.
Yā Alloh,
Jangan biarkan ajaran kami membuat manusia menjauh dari-Mu.
Jangan biarkan ucapan kami mengikat manusia kepada ego kami.
Jangan biarkan murid, anak, atau pengikut kami kehilangan akal sehat dan kehormatan karena ketakutan kepada kami.
Ajarkanlah kami membimbing tanpa menguasai.
Mengajar tanpa mencari penyembahan.
Memimpin tanpa memperbudak.
Menulis tanpa memalsukan kebenaran.
Berdakwah tanpa menjadikan agama sebagai alat kepentingan pribadi.
Yā Alloh,
Apabila kami salah, pertemukanlah kami dengan orang yang berani mengingatkan.
Lembutkanlah hati kami untuk menerima koreksi.
Jauhkanlah kami dari orang-orang yang hanya memuji hingga kami tidak lagi melihat kekurangan.
Berikanlah keberanian untuk memperbaiki ajaran, tulisan, keputusan, atau pengelolaan yang keliru.
Jangan biarkan gengsi mengalahkan kebenaran.
Jangan biarkan nama besar menutup penderitaan manusia kecil.
Jangan biarkan sejarah kami ditulis dengan menghapus jasa orang lain.
Ajarkanlah kami menghormati pendahulu tanpa menuhankan mereka.
Mengembangkan warisan tanpa membekukan zaman.
Menyiapkan penerus tanpa takut kehilangan kedudukan.
Dan melepaskan amanah ketika telah tiba waktunya dengan hati yang damai.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari di tangan sang istri sebagai ilmu yang menerangi tanpa mempermalukan.
Jadikanlah bulan di tangan sang suami sebagai penjagaan yang teduh tanpa menyembunyikan kebenaran.
Satukanlah keduanya dalam tulisan kehidupan yang jujur.
Jadikan rumah mereka tempat lahirnya generasi yang amanah.
Jadikan perjuangan mereka membawa manfaat meskipun nama mereka kelak tidak lagi disebut.
Dan apabila seluruh jejak kami telah sampai ke samudra waktu, sisakanlah kebaikan yang terus mengalir, doa yang terus dipanjatkan, ilmu yang terus bermanfaat, dan kesalahan yang telah kami perbaiki sebelum kembali kepada-Mu.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Kesembilan
Setiap manusia menulis, meskipun tangannya tidak memegang pena.
Ia menulis melalui caranya mencintai, memimpin, menolong, dan memperlakukan orang yang lemah.
Nama besar dapat hilang.
Gelar dapat dilupakan.
Bangunan dapat berpindah tangan.
Namun satu kebaikan yang menumbuhkan kebaikan lain dapat mengalir lebih jauh daripada usia manusia.
Jangan menulis hidupmu hanya agar namamu dibaca.
Tulislah agar manusia menemukan jalan menuju kebenaran, amanah, dan rahayu.
Matahari tidak menuliskan namanya pada setiap bunga yang tumbuh.
Bulan tidak meminta tanda tangan pada setiap musafir yang memperoleh petunjuk.
Keduanya cukup menjalankan amanah dalam ketetapan Alloh.
Demikian pula hamba yang benar.
Ia tidak mengejar agar seluruh dunia menyebut namanya.
Ia hanya memohon agar ketika namanya telah dilupakan, manfaatnya belum berhenti.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim menjadi Sastro Samudro:
tulisan yang tidak menuhankan penulisnya,
ilmu yang tidak memenjarakan pencarinya,
kepemimpinan yang tidak memiliki manusia,
dan jejak yang membawa rahayu jauh melampaui satu kehidupan.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KESEPULUH
Timbangan Matahari dan Bulan: Keadilan di Tengah Kuasa dan Perbedaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Cahaya tidak hanya diuji ketika manusia berada dalam kesulitan.
Cahaya juga diuji ketika manusia mempunyai kuasa untuk menentukan nasib orang lain.
Ketika seseorang belum memiliki kewenangan, ia mudah berkata bahwa keadilan adalah perkara utama.
Namun setelah dirinya menjadi pemimpin, pemilik harta, orang tua, guru, tokoh, atau pemegang keputusan, barulah terlihat apakah keadilan itu benar-benar hidup di dalam dirinya.
Matahari menerangi tanpa bertanya siapa yang akan menerima sinarnya.
Bulan meneduhkan malam tanpa memilih siapa yang pantas melihat cahayanya.
Namun manusia sering membagi kebaikan berdasarkan kedekatan.
Orang yang disukai dibela.
Orang yang berbeda dipersulit.
Kesalahan kawan ditutupi.
Kesalahan lawan dibesar-besarkan.
Di sinilah Timbangan Matahari dan Bulan diletakkan.
Ia bukan timbangan gaib.
Ia adalah lambang kesadaran bahwa setiap keputusan harus diperiksa:
Apakah keputusan ini adil?
Apakah ia membawa kemaslahatan?
Apakah hak manusia terlindungi?
Apakah aku memutuskan dengan ilmu atau hanya dengan perasaan?
Apakah aku sedang membela kebenaran atau membela egoku sendiri?
Sebab tidak semua yang menguntungkan diri adalah benar.
Tidak semua yang menyenangkan kelompok adalah adil.
Dan tidak semua yang terasa berat merupakan keburukan.
Matahari Melihat yang Tampak
Matahari membuat sesuatu terlihat jelas.
Dalam lambang QITAB ini, matahari di tangan sang istri mengajarkan pentingnya melihat fakta yang tampak.
Sebelum menuduh, periksa bukti.
Sebelum menghukum, dengarkan penjelasan.
Sebelum menyebarkan kabar, pastikan kebenarannya.
Sebelum mengambil keputusan mengenai seseorang, jangan hanya mendengar dari pihak yang paling dekat denganmu.
Keadilan memerlukan keterbukaan terhadap kenyataan.
Sang istri yang membawa matahari tidak boleh membiarkan rasa sayang membuatnya menutup mata terhadap kesalahan anak.
Ia juga tidak boleh membiarkan luka pribadi membuatnya menuduh tanpa bukti.
Kasih sayang tidak berarti membenarkan semuanya.
Ketegasan tidak berarti menghukum tanpa pemeriksaan.
Matahari keadilan berkata:
“Perlihatkanlah perkara sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kuinginkan.”
Bulan Menyelami yang Tersembunyi
Bulan hadir ketika banyak hal tidak terlihat jelas.
Ia mengajarkan bahwa di balik tindakan manusia terdapat keadaan yang tidak selalu tampak dari luar.
Seseorang mungkin terlambat karena sedang menghadapi kesulitan.
Seorang anak mungkin menjadi pendiam karena merasa takut.
Seorang pekerja mungkin melakukan kesalahan karena tidak pernah mendapat penjelasan yang cukup.
Seorang pasangan mungkin terlihat jauh karena membawa luka yang belum mampu diucapkan.
Bulan di tangan sang suami mengingatkan bahwa keputusan tidak cukup hanya berdasarkan permukaan.
Kita perlu memahami latar belakang.
Namun memahami bukan berarti menghapus tanggung jawab.
Kesulitan dapat menjelaskan tindakan, tetapi tidak selalu membenarkannya.
Luka masa lalu perlu dipahami.
Namun luka tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melukai.
Keadilan yang utuh melihat dua hal:
apa yang terjadi,
dan mengapa hal itu terjadi.
Matahari menampakkan perbuatan.
Bulan membantu memahami keadaan batin.
Keduanya diperlukan agar keputusan tidak menjadi buta maupun lemah.
Keadilan Dimulai dari Rumah
Banyak manusia berbicara tentang keadilan bagi masyarakat, tetapi belum adil kepada keluarganya.
Ada ayah yang menuntut anak menghormatinya, tetapi tidak pernah menghormati perasaan anak.
Ada ibu yang memberikan seluruh perhatian kepada satu anak dan mengabaikan yang lain.
Ada suami yang mudah memberi kepada teman, tetapi menahan kebutuhan rumah tanpa alasan.
Ada istri yang membela keluarganya sendiri dalam setiap keadaan, meskipun pasangannya sedang diperlakukan tidak benar.
Keadilan di dalam rumah tidak berarti semua orang selalu memperoleh jumlah yang sama.
Keadilan berarti setiap orang memperoleh hak sesuai kebutuhan, amanah, dan keadaan.
Anak yang sakit mungkin membutuhkan perhatian lebih.
Anak yang telah dewasa mungkin memperoleh tanggung jawab lebih besar.
Orang tua yang lemah membutuhkan bantuan.
Pasangan yang sedang kelelahan membutuhkan waktu beristirahat.
Persamaan tidak selalu merupakan keadilan.
Namun perbedaan perlakuan harus memiliki alasan yang benar, bukan karena pilih kasih.
Jangan membandingkan anak.
Jangan menjadikan nafkah sebagai alat hukuman.
Jangan mengorbankan satu anggota keluarga hanya untuk menjaga kenyamanan yang lain.
Rumah yang adil bukan rumah tanpa aturan.
Ia adalah rumah yang aturannya dijelaskan, diterapkan dengan pertimbangan, dan tidak berubah hanya karena kemarahan.
Ketika Cinta Mengganggu Timbangan
Mencintai seseorang dapat membuat manusia sulit melihat kesalahannya.
Orang tua menutupi kesalahan anak.
Pemimpin menutup penyimpangan orang dekat.
Guru membela murid kesayangan.
Suami membenarkan keluarganya sendiri.
Istri menyembunyikan pelanggaran karena takut kehilangan hubungan.
Cinta yang tidak dibimbing oleh kebenaran dapat berubah menjadi keberpihakan yang zalim.
Apabila orang yang kita cintai salah, bantulah ia bertanggung jawab.
Jangan biarkan dirinya semakin tenggelam hanya karena kita ingin melindunginya dari akibat.
Melindungi seseorang dari fitnah adalah kebaikan.
Namun melindunginya dari tanggung jawab atas kesalahan nyata dapat menjadi bagian dari kezaliman.
Cinta yang matang berkata:
“Aku tetap menyayangimu, tetapi tindakanmu perlu diperbaiki.”
“Aku tidak akan mempermalukanmu, tetapi aku juga tidak akan membenarkan kesalahanmu.”
“Aku akan mendampingimu bertanggung jawab.”
Inilah cinta yang menjaga jiwa, bukan hanya kenyamanan sesaat.
Ketika Kebencian Memberatkan Timbangan
Sebaliknya, kebencian membuat kesalahan kecil orang lain terlihat sangat besar.
Ucapan netral dianggap serangan.
Kebaikan dianggap kepura-puraan.
Permintaan maaf dianggap siasat.
Manusia yang dibenci seolah tidak lagi memiliki satu pun sisi baik.
Kebencian dapat membuat seseorang menikmati penderitaan lawannya.
Ia tidak lagi menginginkan keadilan.
Ia menginginkan kehancuran.
QITAB ini mengingatkan:
Jangan sampai keburukan seseorang membuatmu kehilangan keadilan.
Tolak kesalahannya.
Lindungi korban.
Berikan batas.
Namun jangan menciptakan kebohongan tambahan untuk menghancurkannya.
Jangan menuduh hal yang tidak dilakukan.
Jangan menyebarkan aib yang tidak berkaitan dengan perlindungan atau keadilan.
Jangan menjadikan seluruh keluarganya sebagai sasaran.
Keadilan tidak meminta manusia menyukai pelaku kesalahan.
Ia hanya meminta agar kita tidak menambahkan kezaliman baru ketika sedang menghentikan kezaliman lama.
Empat Batu yang Merusak Timbangan
Batu Pertama: Kepentingan Pribadi
Keputusan menjadi berat sebelah ketika keuntungan diri diletakkan lebih tinggi daripada kebenaran.
Seseorang membela aturan selama dirinya diuntungkan.
Namun ketika aturan menyentuh kepentingannya, ia meminta pengecualian.
Ia mengajarkan disiplin kepada orang lain, tetapi merasa dirinya terlalu penting untuk diperiksa.
Saudara cahayaku,
Jangan meminta orang lain membawa beban yang dirimu sendiri tidak bersedia memikul.
Apabila aturan berlaku, ia harus dimulai dari orang yang membuatnya.
Batu Kedua: Kedekatan
Kedekatan dapat membuat manusia kehilangan jarak untuk menilai.
Kerabat diberi kemudahan yang tidak diberikan kepada orang lain.
Kawan diberi jabatan tanpa kemampuan.
Kesalahan orang dekat ditutup.
Sementara orang yang tidak dikenal harus melewati banyak kesulitan.
Berbuat baik kepada keluarga adalah kewajiban.
Namun amanah umum tidak boleh dibagi hanya berdasarkan hubungan darah atau kesetiaan pribadi.
Pilihlah manusia berdasarkan kemampuan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Batu Ketiga: Kemarahan
Keputusan yang dibuat dalam kemarahan sering melampaui batas.
Ucapan pemecatan.
Ancaman perpisahan.
Pemutusan hubungan.
Penyebaran aib.
Hukuman terhadap anak.
Semuanya dapat dilakukan dalam beberapa menit, tetapi akibatnya bertahan bertahun-tahun.
Apabila kemarahan sedang tinggi, tunda keputusan besar.
Berwudhulah.
Diamlah.
Menjauhlah sejenak dengan penjelasan.
Kembalilah ketika pikiran mampu melihat lebih dari satu sisi.
Batu Keempat: Pujian Kelompok
Ada keputusan yang dibuat bukan karena benar, tetapi karena pemimpin takut kehilangan dukungan.
Ia mengikuti suara kelompok meskipun mengetahui terdapat ketidakadilan.
Ia membiarkan fitnah karena takut dianggap membela lawan.
Ia mengorbankan orang kecil demi menjaga citra.
Pemimpin yang adil harus bersedia tidak populer ketika kebenaran memang menuntutnya.
Namun ketegasan itu tetap harus disertai ilmu, musyawarah, dan tanggung jawab.
Musyawarah sebagai Ruang Cahaya
Musyawarah bukan sekadar mengumpulkan banyak orang.
Musyawarah adalah kesediaan mendengar sebelum menentukan.
Dalam musyawarah yang sehat:
tujuan dibicarakan dengan jelas,
fakta disampaikan dengan jujur,
setiap pihak diberi ruang,
orang yang terdampak tidak diabaikan,
dan keputusan tidak ditentukan diam-diam sebelum pertemuan dimulai.
Jangan mengadakan musyawarah hanya untuk mengesahkan keinginan pemimpin.
Jangan meminta pendapat apabila seluruh tanggapan yang berbeda akan dihukum.
Jangan pula mengira semua perkara harus diputuskan berdasarkan suara terbanyak.
Ada persoalan yang memerlukan ilmu ahli.
Ada hak yang tidak boleh dihapus hanya karena kelompok lebih besar menginginkannya.
Ada batas syariat, keselamatan, dan kehormatan yang tidak dapat ditawar melalui popularitas.
Musyawarah yang benar mempertemukan:
ilmu,
pengalaman,
kejujuran,
dan kemaslahatan.
Sang Istri di Dalam Musyawarah
Suara istri bukan hiasan.
Ia memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pandangan yang dapat menyelamatkan keluarga dari keputusan yang tergesa-gesa.
Suami yang tidak pernah mendengar istrinya dapat kehilangan separuh pandangan rumah.
Mendengar bukan berarti harus selalu menyetujui.
Namun pendapat perlu dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.
Demikian pula istri hendaknya menyampaikan pandangan dengan jelas dan beradab.
Jangan menggunakan sindiran terus-menerus.
Jangan mengumpulkan dukungan keluarga untuk menekan suami sebelum pembicaraan berdua dilakukan.
Sampaikan kekhawatiran.
Berikan alasan.
Ajukan jalan keluar.
Kemudian carilah keputusan yang paling baik.
Matahari di tangan sang istri adalah lambang kejernihan yang perlu dihadirkan dalam musyawarah.
Sang Suami di Dalam Keputusan
Suami memiliki amanah tanggung jawab dalam keluarga.
Namun tanggung jawab tidak berarti dirinya selalu paling mengetahui.
Pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah meminta pendapat.
Ia adalah orang yang mampu mendengar, menimbang, lalu bertanggung jawab atas keputusan.
Jangan menggunakan kalimat kepemimpinan untuk menutup percakapan.
Jangan berkata:
“Aku pemimpin, maka engkau harus diam.”
Kepemimpinan yang mematikan suara pasangan akan menghasilkan kepatuhan semu, bukan ketenteraman.
Bulan di tangan sang suami mengajarkan keteduhan dalam mengambil keputusan.
Ia tidak tergesa-gesa.
Ia menjaga agar keputusan tidak hanya benar dalam tujuan, tetapi juga baik dalam cara.
Keadilan kepada Diri Sendiri
Sebagian manusia begitu sibuk menolong orang lain hingga menzalimi tubuh dan keluarganya sendiri.
Ia merasa harus selalu tersedia.
Ia takut berkata tidak.
Ia mengorbankan kesehatan agar dianggap berguna.
Kemudian kelelahan membuatnya mudah marah kepada orang terdekat.
Berbuat baik kepada diri bukan egoisme.
Tubuh memiliki hak.
Tidur memiliki hak.
Keluarga memiliki hak.
Kesehatan jiwa memiliki hak.
Keadilan kepada diri berarti mengetahui batas.
Menolong sesuai kemampuan.
Beristirahat tanpa rasa bersalah.
Mencari pertolongan ketika beban terlalu berat.
Namun menjaga diri juga tidak boleh menjadi alasan mengabaikan seluruh tanggung jawab.
Keadilan berada di antara pengorbanan tanpa batas dan kehidupan yang hanya memikirkan diri sendiri.
Keadilan kepada Orang yang Bersalah
Orang yang bersalah perlu bertanggung jawab.
Namun tujuan pertanggungjawaban bukan hanya memberi rasa sakit.
Ia juga harus mencegah pengulangan, memulihkan korban sejauh mungkin, dan membuka jalan perbaikan apabila keadaan memungkinkan.
Ada kesalahan yang cukup diluruskan dengan nasihat.
Ada kesalahan yang memerlukan penggantian kerugian.
Ada yang memerlukan pemberhentian dari amanah.
Ada yang harus diserahkan kepada hukum.
Jangan menggunakan penyelesaian batin untuk menutupi kejahatan nyata.
Doa tidak menghapus kewajiban mengembalikan hak.
Permintaan maaf tidak selalu cukup tanpa perubahan.
Taubat kepada Alloh harus disertai perbaikan terhadap manusia yang dizalimi sejauh kemampuan.
Namun setelah seseorang benar-benar bertanggung jawab dan berubah, jangan terus-menerus menghalangi seluruh jalan hidupnya hanya karena masa lalu.
Manusia perlu dilindungi dari kesalahan.
Namun manusia yang bertaubat juga memerlukan ruang untuk membuktikan perbaikan.
Keadilan kepada Korban
Korban tidak boleh dipaksa segera memaafkan demi kenyamanan lingkungan.
Ia perlu diberi ruang untuk aman, didengar, dan pulih.
Jangan bertanya:
“Mengapa tidak melawan dari awal?”
“Mengapa baru berbicara sekarang?”
“Apakah engkau tidak takut membuka aib?”
Pertanyaan seperti itu dapat menambah beban.
Dengarkan terlebih dahulu.
Pastikan keselamatan.
Carilah bukti dan bantuan yang tepat.
Jangan menyebarkan kisah korban tanpa izinnya.
Jangan menjadikan penderitaannya sebagai bahan untuk meningkatkan nama kelompok atau tokoh.
Keadilan harus memulihkan martabat korban, bukan memanfaatkannya.
Memaafkan adalah hak batin.
Ia tidak boleh dipaksakan sebagai syarat agar korban dianggap baik.
Yang harus dihentikan terlebih dahulu adalah bahaya dan kezaliman.
Keadilan dalam Harta
Harta sering menjadi tempat timbangan paling mudah miring.
Warisan dibagi tidak adil.
Upah ditahan.
Utang dilupakan.
Dana bersama digunakan tanpa izin.
Pemberian dijadikan alat menguasai.
Keadilan harta memerlukan catatan.
Jangan hanya mengandalkan ingatan dalam urusan yang melibatkan banyak hak.
Tuliskan utang.
Jelaskan kepemilikan.
Pisahkan dana pribadi dan dana amanah.
Buat laporan.
Bayarlah pekerja sesuai kesepakatan.
Jangan menunda hak orang lain hanya karena mereka sungkan menagih.
Harta yang diperoleh melalui kezaliman mungkin terlihat menambah kekayaan.
Namun ia membawa kegelisahan dan pertanggungjawaban.
Sedikit yang halal dan adil lebih menenteramkan daripada banyak yang dibangun di atas hak manusia.
Keadilan dalam Menyampaikan Ilmu
Jangan menyampaikan sesuatu yang belum dipahami seolah-olah merupakan kepastian.
Bedakan antara:
ayat dan penafsiran,
dalil dan pendapat,
pengalaman pribadi dan ketentuan umum,
simbol dan kenyataan,
doa dan jaminan hasil.
Seseorang yang memegang amanah ilmu harus berani berkata:
“Ini adalah renungan.”
“Ini adalah kemungkinan.”
“Ini memerlukan pemeriksaan ahli.”
“Ini bukan pengganti pengobatan.”
“Ini bukan hukum yang mengikat semua orang.”
Kejelasan menjaga manusia dari kesalahpahaman.
Ilmu yang jujur tidak takut mengakui batas.
Justru batas membuat ilmu aman untuk digunakan.
Timbangan dalam Dunia Ruhani
Pengalaman batin dapat terasa sangat kuat.
Mimpi, getaran, firasat, simbol, atau perasaan tertentu dapat memberi kesan mendalam.
Namun semuanya tidak boleh langsung digunakan untuk menuduh, menghukum, atau menentukan nasib orang lain.
Jangan berkata seseorang bersalah hanya karena mimpi.
Jangan memutus hubungan hanya berdasarkan firasat tanpa bukti.
Jangan mengambil harta atau keputusan penting karena merasa mendapat tanda.
Pengalaman batin perlu ditimbang dengan:
tauhid,
syariat,
akal sehat,
fakta,
nasihat orang berilmu,
dan kemaslahatan.
Apa yang terasa dalam diri belum tentu menjadi ketentuan bagi orang lain.
Kerendahan hati adalah penjaga dunia batin.
Ucapkan:
“Aku merasakan sesuatu, tetapi aku masih perlu memeriksanya.”
Kalimat itu lebih aman daripada menganggap setiap rasa sebagai perintah langit.
Tujuh Pertanyaan Timbangan
Sebelum mengambil keputusan besar, tanyakanlah:
Pertama
Apakah fakta telah diperiksa dari lebih dari satu sisi?
Kedua
Apakah orang yang terdampak telah diberi kesempatan berbicara?
Ketiga
Apakah keputusan ini melindungi hak orang lemah?
Keempat
Apakah kepentingan pribadi atau kelompok sedang memengaruhi penilaianku?
Kelima
Apakah terdapat jalan yang lebih ringan tanpa mengabaikan kebenaran?
Keenam
Apakah aku siap bertanggung jawab apabila keputusan ini keliru?
Ketujuh
Apakah aku masih berani memilih keputusan ini apabila tidak ada seorang pun yang memujiku?
Apabila jawaban masih keruh, jangan tergesa-gesa.
Carilah ilmu.
Bermusyawarahlah.
Berdoalah.
Kemudian putuskan dengan keberanian dan kesiapan menerima tanggung jawab.
Ketika Keputusan Ternyata Salah
Tidak semua keputusan manusia akan benar.
Ada fakta yang belum diketahui.
Ada pertimbangan yang terlewat.
Ada akibat yang tidak diperkirakan.
Ketika ternyata salah, jangan sibuk mempertahankan citra.
Akuilah.
Hentikan akibat yang masih dapat dihentikan.
Minta maaf.
Pulihkan hak.
Perbaiki aturan.
Jelaskan kepada orang yang terdampak.
Pemimpin yang mengakui kesalahan tidak kehilangan seluruh wibawa.
Ia justru menunjukkan bahwa amanah lebih besar daripada gengsi.
Kesalahan yang diakui dapat menjadi ilmu.
Kesalahan yang disembunyikan dapat menjadi warisan kerusakan.
Matahari dan Bulan Tidak Berebut Putusan
Dalam keseimbangan rumah tangga, suami dan istri tidak menjadikan keputusan sebagai tempat membuktikan siapa yang lebih berkuasa.
Ada perkara yang lebih dipahami istri.
Ada perkara yang lebih dikuasai suami.
Ada pula perkara yang harus diputuskan bersama.
Kebijaksanaan bukan berarti setiap keputusan dibagi sama rata tanpa melihat kemampuan.
Kebijaksanaan berarti mengakui siapa yang lebih mengetahui, sambil tetap menjaga keterbukaan dan tanggung jawab.
Sang istri tidak kehilangan kemuliaan ketika menerima pandangan suami yang benar.
Sang suami tidak kehilangan kepemimpinan ketika mengikuti saran istri yang lebih tepat.
Menang bukan tujuan.
Kemaslahatanlah tujuan.
Ketika keduanya memilih kebenaran di atas ego, matahari dan bulan berada dalam satu langit yang sama.
Amalan Menjernihkan Timbangan
Amalan ini dibaca sebelum mengambil keputusan penting atau ketika hati dipenuhi keberpihakan dan kemarahan.
Ia bukan sarana meramal hasil.
Ia adalah doa agar akal, hati, dan tindakan dijaga dari kezaliman.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk membersihkan diri dari kesombongan, kepentingan pribadi, dan kemarahan.
Yā ‘Adl 33×
يَا عَدْلُ
Wahai Alloh Yang Mahaadil, tuntunlah kami menempatkan setiap hak pada tempatnya.
Yā Ḥakīm 33×
يَا حَكِيمُ
Wahai Alloh Yang Mahabijaksana, berikanlah kemampuan melihat akibat dan memilih jalan yang membawa kemaslahatan.
Yā Baṣīr 33×
يَا بَصِيرُ
Wahai Alloh Yang Maha Melihat, perlihatkanlah kekurangan yang tidak mampu kami lihat dalam diri kami sendiri.
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, arahkanlah keputusan kami kepada kebenaran dan keselamatan.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing cukup dibaca 11× dengan penuh kesadaran.
Setelah itu, jangan langsung mengambil keputusan apabila emosi masih sangat tinggi.
Tuliskan persoalan.
Pisahkan fakta dari dugaan.
Dengarkan pihak yang terkait.
Mintalah nasihat orang yang adil dan tidak berkepentingan.
Lalu bertawakallah kepada Alloh setelah ikhtiar dilakukan.
Doa Timbangan Matahari dan Bulan
Yā Alloh Yang Mahaadil dan Mahabijaksana,
Engkau mengetahui perkara yang tampak dan tersembunyi.
Engkau mengetahui niat yang kami sembunyikan di balik kata-kata yang indah.
Jernihkanlah hati kami ketika harus mengambil keputusan.
Jangan biarkan rasa cinta membuat kami membenarkan kesalahan.
Jangan biarkan kebencian membuat kami melakukan kezaliman.
Jangan biarkan kedekatan menghapus hak orang lain.
Jangan biarkan pujian kelompok menutup suara kebenaran.
Yā Alloh,
Apabila kami menjadi orang tua, jadikanlah kami adil kepada anak-anak tanpa membandingkan dan melukai.
Apabila kami menjadi suami atau istri, jadikanlah kami saling mendengar dan tidak menggunakan kuasa untuk menekan.
Apabila kami memimpin, jadikanlah kami mendahulukan amanah daripada kepentingan diri.
Apabila kami mengelola harta, kuatkanlah kami menjaga setiap hak.
Apabila kami mengajar, jauhkanlah kami dari ucapan tanpa ilmu.
Apabila kami menjadi saksi suatu persoalan, lindungilah kami dari kebohongan dan penyembunyian kebenaran.
Yā Alloh,
Lindungilah korban kezaliman.
Berikanlah keberanian kepada mereka untuk mencari pertolongan.
Pertemukanlah mereka dengan manusia yang amanah dan tidak memanfaatkan penderitaan mereka.
Bukakanlah jalan taubat bagi orang yang bersalah.
Namun jangan biarkan nama taubat digunakan untuk menghindari tanggung jawab.
Ajarkanlah kami memulihkan tanpa menutupi.
Memaafkan tanpa memaksa.
Menghukum tanpa melampaui batas.
Dan memberi kesempatan berubah tanpa mengabaikan keselamatan.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang istri sebagai kejernihan yang memperlihatkan fakta tanpa membakar manusia.
Jadikanlah bulan sang suami sebagai kebijaksanaan yang memahami keadaan tanpa menutupi kesalahan.
Satukanlah keduanya dalam keputusan yang adil.
Apabila kami salah, jangan biarkan gengsi menghalangi kami mengaku.
Apabila kami benar, jangan biarkan kemenangan membuat kami menghina.
Apabila kami memiliki kuasa, ingatkanlah bahwa kuasa itu akan berakhir.
Apabila kami menjadi lemah, lindungilah hak kami dari tangan orang yang zalim.
Tegakkanlah timbangan di dalam hati kami sebelum kelak kami berdiri di hadapan timbangan-Mu.
Jadikanlah setiap keputusan kami bagian dari Rahayu Jagat:
melindungi yang lemah,
mengembalikan hak,
menghentikan kerusakan,
dan membuka jalan perbaikan.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Kesepuluh
Matahari menunjukkan apa yang dilakukan manusia.
Bulan membantu memahami apa yang tersembunyi di baliknya.
Keadilan membutuhkan keduanya:
fakta yang terang
dan kebijaksanaan yang dalam.
Jangan membela orang yang salah hanya karena ia bagian dari kelompokmu.
Jangan menzalimi orang yang benar hanya karena ia berbeda denganmu.
Jangan menggunakan cinta untuk menutup keburukan.
Jangan menggunakan kebencian untuk menciptakan kebohongan.
Kuasa bukan bukti kemuliaan.
Kuasa adalah kesempatan untuk menunjukkan apakah hati mampu tetap tunduk ketika keputusan banyak manusia berada di tangannya.
Matahari dan bulan tidak pernah meminta manusia menyembah cahayanya.
Keduanya tunduk pada garis perjalanan yang telah ditetapkan Alloh.
Demikian pula seorang hamba yang adil.
Ia tidak menjadikan kehendaknya sebagai hukum tertinggi.
Ia menimbang, mendengar, memeriksa, lalu berserah diri setelah berikhtiar.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim menjadi timbangan rahayu:
cahaya yang tidak memihak ego,
kebijaksanaan yang tidak menutup kebenaran,
ketegasan yang tidak kehilangan rahmah,
dan keputusan yang berani dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KESEBELAS
Jembatan Rahayu: Memutus Dendam dan Menyatukan Perbedaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Jagat tidak hanya dipenuhi manusia yang berbeda wajah.
Ia juga dipenuhi perbedaan pikiran, watak, kebiasaan, kepentingan, pengalaman, dan cara memahami kehidupan.
Dua manusia yang lahir dari rumah yang sama pun dapat melihat satu perkara dengan cara yang berlainan.
Apalagi suami dan istri yang berasal dari dua keluarga, dua pola pengasuhan, dua perjalanan luka, serta dua cara menyampaikan perasaan.
Karena itu, perbedaan bukan selalu tanda bahwa kasih telah hilang.
Perbedaan adalah kenyataan yang memerlukan jembatan.
Namun tidak setiap jembatan membawa manusia kepada keselamatan.
Ada jembatan yang dibangun dari kepura-puraan.
Manusia tersenyum, tetapi menyimpan kebencian.
Ada jembatan yang dibangun dari ketakutan.
Satu pihak selalu mengalah karena takut disakiti.
Ada pula jembatan yang dibangun dari kepentingan.
Perdamaian hanya dipertahankan selama masih memberikan keuntungan.
Jembatan Rahayu dibangun dari kejujuran, keadilan, batas, pengampunan, dan kesediaan memperbaiki keadaan.
Ia tidak menyuruh manusia berpura-pura tidak terluka.
Ia juga tidak membiarkan luka berubah menjadi warisan dendam.
Perbedaan Tidak Selalu Harus Dihapus
Banyak manusia mengira kedamaian hanya dapat terjadi apabila semua orang berpikir sama.
Padahal kesamaan total tidak mungkin dicapai.
Suami dapat lebih cepat mengambil keputusan.
Istri dapat lebih teliti melihat akibat.
Satu pihak lebih mudah berbicara.
Pihak lain memerlukan waktu untuk memahami perasaan.
Satu keluarga terbiasa terbuka.
Keluarga lain terbiasa menyimpan persoalan.
Perbedaan seperti itu tidak selalu harus dimusnahkan.
Ia perlu dikenali, dipahami, dan diarahkan.
Matahari tidak diminta menjadi bulan.
Bulan tidak dituntut menjadi matahari.
Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi bergerak dalam satu ketetapan Alloh.
Demikian pula manusia.
Persatuan bukan berarti menghilangkan seluruh perbedaan.
Persatuan berarti perbedaan tidak digunakan untuk saling merusak.
Ketika Perbedaan Berubah Menjadi Pertikaian
Perbedaan berubah menjadi pertikaian ketika ego tidak lagi ingin memahami.
Seseorang tidak mendengar untuk mengerti.
Ia mendengar hanya untuk mencari bagian yang dapat dibantah.
Ia tidak bertanya untuk memperoleh penjelasan.
Ia bertanya untuk menjebak.
Ia tidak menyampaikan rasa sakit agar keadaan diperbaiki.
Ia menyampaikan rasa sakit untuk membuat pihak lain merasa bersalah selamanya.
Pertikaian semakin dalam ketika ucapan berubah dari membicarakan masalah menjadi menyerang harga diri.
Masalah awalnya mungkin kecil.
Namun kemudian muncul kalimat:
“Keluargamu memang seperti itu.”
“Sejak dahulu engkau tidak pernah berguna.”
“Aku sudah mengetahui engkau pasti gagal.”
“Kamu tidak layak dipercaya.”
Pada saat itulah satu persoalan berubah menjadi serangan terhadap seluruh diri manusia.
QITAB ini mengajarkan:
Seranglah masalahnya, bukan martabat manusianya.
Seseorang dapat melakukan kesalahan tanpa kehilangan seluruh nilai dirinya.
Kecuali ketika bahaya masih berlangsung, sisakanlah ruang bagi taubat, tanggung jawab, dan perubahan.
Akar Dendam
Dendam tidak selalu lahir dari kebencian yang besar.
Ia dapat tumbuh dari luka kecil yang tidak pernah diakui.
Seseorang merasa dipermalukan.
Permintaan maaf tidak datang.
Ia menyimpan peristiwa itu.
Setiap kejadian baru kemudian dibaca melalui luka lama.
Ucapan biasa terasa seperti penghinaan.
Kesalahan kecil terasa seperti pengulangan pengkhianatan.
Lama-kelamaan, orang tidak lagi melihat kejadian sebagaimana adanya.
Ia melihatnya melalui mata dendam.
Dendam berkata:
“Aku ingin engkau merasakan sakit yang pernah kurasakan.”
Keadilan berkata:
“Aku ingin kerusakan dihentikan dan hak dipulihkan.”
Keduanya tidak sama.
Dendam ingin membalas manusia.
Keadilan ingin memperbaiki keadaan.
Dendam tidak pernah merasa cukup.
Keadilan mengetahui batas.
Luka yang Tidak Diakui
Sebagian orang sulit meminta maaf karena merasa pengakuan akan menurunkan harga dirinya.
Ia berkata:
“Aku hanya bercanda.”
“Engkau terlalu sensitif.”
“Aku berbuat begitu karena kesalahanmu sendiri.”
Ucapan itu tidak menyelesaikan luka.
Ia justru membuat orang yang terluka merasa pengalaman batinnya tidak dihargai.
Permintaan maaf yang benar tidak harus panjang.
Namun ia perlu mengandung pengakuan.
Katakanlah:
“Aku memahami bahwa ucapanku telah melukaimu.”
“Aku tidak seharusnya melakukan itu.”
“Aku bertanggung jawab atas tindakanku.”
“Aku akan berusaha memperbaikinya.”
Jangan menambahkan:
“Tetapi engkau juga salah.”
Apabila kesalahan pihak lain perlu dibicarakan, lakukan setelah permintaan maaf diterima sebagai tanggung jawab yang utuh.
Jangan menjadikan permintaan maaf sebagai pertukaran dagang.
Memaafkan Tidak Sama dengan Melupakan
Memaafkan adalah proses melepaskan keinginan membalas secara zalim.
Namun memaafkan tidak selalu berarti melupakan kejadian.
Ingatan dapat tetap ada.
Bekas luka dapat tetap terasa.
Kepercayaan mungkin belum segera kembali.
Seseorang dapat memaafkan, tetapi masih memerlukan batas.
Ia dapat mendoakan kebaikan, tetapi belum aman untuk kembali dekat.
Ia dapat berhenti membenci, tetapi tetap meminta pertanggungjawaban.
Maka jangan memaksa orang yang terluka berkata:
“Aku sudah melupakan semuanya.”
Manusia tidak selalu mampu menghapus ingatan.
Yang dapat dilakukan adalah belajar agar ingatan tidak lagi mengendalikan seluruh kehidupan.
Perdamaian Bukan Kembali seperti Dahulu
Ada hubungan yang setelah diperbaiki dapat kembali dekat.
Ada pula yang hanya dapat menjadi baik dengan jarak.
Tidak seluruh perdamaian berarti hubungan harus kembali pada bentuk lama.
Kadang-kadang kedamaian berarti:
tidak lagi saling menghina,
tidak lagi menyebarkan aib,
menyelesaikan hak,
menjaga batas,
dan berjalan pada jalan masing-masing tanpa dendam.
Jangan memaksa kedekatan apabila keselamatan belum terjamin.
Jangan menggunakan nama silaturahmi untuk memaksa korban kembali ke lingkungan yang menyakitinya.
Silaturahmi tidak harus selalu berarti kedekatan tanpa batas.
Ia dapat dijaga dengan salam, doa, adab, dan tidak menambah permusuhan, sambil tetap mempertahankan perlindungan yang diperlukan.
Matahari Menghangatkan Jalan Damai
Matahari di tangan sang istri melambangkan keberanian menghadirkan kejelasan.
Perdamaian tidak dapat dibangun hanya dengan kata:
“Sudahlah, jangan dibicarakan lagi.”
Ada perkara yang memang perlu dibicarakan.
Ada luka yang perlu diakui.
Ada kesalahpahaman yang perlu dijelaskan.
Ada hak yang perlu dikembalikan.
Kejelasan membantu manusia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Namun sang istri perlu menjaga agar keterbukaan tidak berubah menjadi pembakaran.
Jangan membuka seluruh aib di hadapan banyak orang apabila masalah dapat diselesaikan dengan pihak yang tepat.
Jangan mengumpulkan dukungan hanya untuk mempermalukan lawan.
Gunakan cahaya matahari untuk menerangkan jalan keluar, bukan membakar seluruh jembatan.
Bulan Meneduhkan Proses Pemulihan
Bulan di tangan sang suami melambangkan kesabaran dalam menjalani proses yang tidak cepat.
Sebagian masalah tidak selesai dalam satu pertemuan.
Pihak yang terluka membutuhkan waktu.
Pihak yang bersalah perlu membuktikan perubahan.
Keluarga perlu menata ulang kepercayaan.
Bulan tidak memaksa malam menjadi siang.
Ia memberikan cahaya secukupnya agar manusia dapat melewati kegelapan tanpa kehilangan arah.
Demikian pula sang suami perlu belajar tidak memaksa hasil.
Jangan berkata:
“Aku sudah meminta maaf. Mengapa engkau belum kembali seperti dahulu?”
Permintaan maaf adalah awal.
Pemulihan memerlukan tindakan.
Kesabaran.
Konsistensi.
Dan penghormatan kepada batas orang yang terluka.
Lima Langkah Membangun Jembatan Rahayu
Pertama: Hentikan Kerusakan
Sebelum berbicara tentang pengampunan, hentikan terlebih dahulu tindakan yang melukai.
Hentikan kekerasan.
Hentikan kebohongan.
Hentikan penghinaan.
Hentikan penyebaran aib.
Hentikan hubungan rahasia.
Tidak ada jembatan yang dapat dibangun selama api masih dinyalakan.
Kedua: Akui Kenyataan
Jangan mengecilkan kejadian.
Jangan memutar cerita.
Jangan menyalahkan korban atas seluruh akibat.
Akuilah apa yang benar-benar terjadi sesuai bukti.
Ketiga: Pulihkan Hak
Apabila ada harta, kembalikan.
Apabila ada fitnah, luruskan.
Apabila ada kerusakan, perbaiki.
Apabila ada amanah yang dilanggar, serahkan kembali kepada pihak yang berhak.
Permintaan maaf tanpa pemulihan hak belum sempurna.
Keempat: Bangun Aturan Baru
Kesalahan yang sama mudah terulang apabila pola lama tidak diubah.
Buat batas.
Ubah kebiasaan.
Pisahkan kewenangan apabila diperlukan.
Buka catatan keuangan.
Hentikan hubungan yang merusak.
Atur cara berkomunikasi.
Perdamaian membutuhkan struktur, bukan hanya perasaan.
Kelima: Beri Waktu
Jangan memaksa hati pulih menurut jadwalmu.
Tugas orang yang bersalah adalah memperbaiki secara konsisten.
Tugas orang yang terluka adalah menjaga dirinya dan, apabila mampu, membuka ruang bagi penyembuhan tanpa membiarkan dirinya kembali dizalimi.
Ketika Dua Keluarga Berselisih
Pernikahan mempertemukan lebih dari dua manusia.
Ia mempertemukan dua keluarga.
Perbedaan kebiasaan dapat menimbulkan benturan.
Cara merayakan sesuatu berbeda.
Cara mengelola uang berbeda.
Cara menunjukkan kasih berbeda.
Cara berkomunikasi berbeda.
Suami dan istri perlu menjadi jembatan, bukan pembawa api.
Jangan membawa setiap ucapan keluarga kepada pasangan tanpa pertimbangan.
Jangan pula menyembunyikan perlakuan yang merendahkan hingga pasangan tidak mengetahui bahaya.
Sampaikan dengan tenang.
Pisahkan fakta dari tafsiran.
Bicarakan batas bersama.
Suami tidak boleh membiarkan istrinya terus dihina demi disebut anak yang berbakti.
Istri juga tidak boleh memaksa suami memutus keluarganya hanya karena satu perbedaan yang masih dapat diselesaikan.
Bakti, perlindungan, dan keadilan harus berjalan bersama.
Jangan Menjadikan Anak Utusan Pertikaian
Ketika orang dewasa berselisih, anak sering dijadikan pembawa pesan.
“Katakan kepada ayahmu…”
“Sampaikan kepada ibumu…”
Anak dipaksa berdiri di tengah.
Ia takut mengecewakan salah satu pihak.
Ia merasa harus memperbaiki hubungan yang bukan tanggung jawabnya.
Hentikan kebiasaan itu.
Berbicaralah langsung atau gunakan perantara dewasa yang amanah apabila komunikasi belum memungkinkan.
Anak bukan utusan perang.
Ia juga bukan saksi yang harus dipaksa memilih pihak.
Jaga hatinya dari beban yang tidak sesuai usianya.
Ketika Perselisihan Masuk ke Dalam Komunitas
Perselisihan pribadi dapat merusak banyak manusia apabila dibawa ke dalam jamaah, lembaga, keluarga besar, atau komunitas.
Satu pihak mengumpulkan pendukung.
Pihak lain membuat kelompok tandingan.
Setiap ucapan ditafsirkan sebagai serangan.
Program kebaikan berhenti.
Orang yang tidak mengetahui perkara ikut bermusuhan.
QITAB ini mengingatkan:
Jangan mempergunakan pengikut untuk menyelesaikan luka pribadi.
Apabila persoalan berkaitan dengan hak umum, tangani melalui aturan yang jelas.
Apabila persoalan bersifat pribadi, batasi penyebarannya.
Pilih mediator yang adil.
Jangan memilih orang yang sejak awal hanya akan membenarkanmu.
Seorang penengah bukan utusan satu pihak.
Ia harus melindungi kebenaran, hak, dan keselamatan semua yang terlibat.
Adab Menjadi Penengah
Penengah harus mendengar kedua pihak.
Ia tidak boleh menjanjikan kerahasiaan mutlak apabila terdapat bahaya yang perlu dilaporkan atau dihentikan.
Ia tidak boleh menerima hadiah yang memengaruhi penilaian.
Ia tidak boleh menyebarkan cerita sebagai bahan pembicaraan.
Ia harus mampu berkata kepada kedua pihak:
“Bagian ini benar.”
“Bagian ini perlu diperbaiki.”
“Permintaan ini melampaui batas.”
“Keselamatan harus didahulukan.”
Penengah bukan orang yang memaksa keduanya kembali bersama dalam setiap keadaan.
Ia membantu menemukan jalan yang paling adil.
Kadang hasilnya adalah rekonsiliasi.
Kadang hasilnya adalah pemisahan tanggung jawab.
Kadang hasilnya adalah jarak yang sehat.
Kedamaian tidak selalu berarti kembali berdekatan.
Ia berarti kerusakan berhenti dan hak dijaga.
Ketika Kebenaran Harus Disampaikan
Menjaga kedamaian bukan alasan untuk menyembunyikan kebenaran yang membahayakan manusia.
Ada perkara yang tidak boleh didiamkan.
Kekerasan.
Penipuan.
Pelecehan.
Penggelapan amanah.
Ancaman.
Eksploitasi.
Namun penyampaiannya harus melalui jalan yang bertanggung jawab.
Kumpulkan fakta.
Jaga keselamatan pihak yang rentan.
Sampaikan kepada orang atau lembaga yang mampu bertindak.
Jangan mencampur fakta dengan cerita tambahan yang belum terbukti.
Kebenaran yang disampaikan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan.
Namun kedamaian yang dibangun di atas penutupan kezaliman hanyalah ketenangan palsu.
Damai dengan Diri Sendiri
Sebagian pertikaian terus hidup karena manusia belum berdamai dengan dirinya.
Ia marah kepada pasangan, tetapi sebenarnya marah kepada kegagalannya sendiri.
Ia iri kepada saudara, tetapi sebenarnya kecewa terhadap jalan hidupnya.
Ia ingin menguasai anak karena takut kehilangan makna.
Ia mencari pujian karena tidak mampu menghargai dirinya.
Berdamai dengan diri bukan berarti menganggap seluruh tindakan benar.
Ia berarti berani melihat kekurangan tanpa membenci diri.
Berani mengakui luka.
Berani mencari bantuan.
Berani bertanggung jawab.
Berani memulai kembali.
Manusia yang tidak mampu menerima kekurangannya sering menghukum orang lain agar dirinya merasa lebih tinggi.
Karena itu, Jembatan Rahayu juga harus dibangun di antara diri yang terluka dan diri yang ingin tumbuh.
Jangan Membenci Diri karena Masa Lalu
Penyesalan dapat menjadi pintu taubat.
Namun kebencian kepada diri yang terus-menerus dapat menjadi penjara.
Seseorang berkata:
“Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku tidak layak menjadi baik.”
Pikiran itu membuatnya berhenti memperbaiki diri.
QITAB ini mengajarkan:
Kesalahanmu perlu dipertanggungjawabkan.
Namun dirimu tidak harus selamanya menjadi kesalahan itu.
Kembalikan hak.
Minta maaf.
Terima akibat yang adil.
Hentikan pola lama.
Bangun amal baru.
Jangan menggunakan rahmat Alloh sebagai alasan meremehkan kesalahan.
Namun jangan pula menggunakan kesalahan sebagai alasan berputus asa dari rahmat-Nya.
Tujuh Kalimat Penjaga Perdamaian
Ketika pembicaraan mulai memanas, gunakanlah kalimat yang menjaga jalan kembali:
“Aku ingin memahami maksudmu.”
“Aku tidak menyetujui tindakan itu, tetapi aku tidak ingin menghinamu.”
“Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, lalu kita lanjutkan.”
“Aku mengakui bagian kesalahanku.”
“Apa yang dapat kita lakukan agar kejadian ini tidak terulang?”
“Aku belum mampu memaafkan sepenuhnya, tetapi aku tidak ingin hidup dalam dendam.”
“Kita memerlukan bantuan orang yang adil.”
Kalimat-kalimat ini bukan jaminan seluruh masalah langsung selesai.
Namun ia menjaga agar pintu dialog tidak segera tertutup.
Tujuh Perkara yang Tidak Boleh Disebut Perdamaian
Jangan menyebutnya perdamaian apabila:
-
Korban dipaksa diam.
-
Kesalahan ditutupi demi nama baik.
-
Hak belum dikembalikan.
-
Ancaman masih berlangsung.
-
Orang yang bersalah tidak menunjukkan perubahan.
-
Satu pihak harus kehilangan kehormatan agar pihak lain merasa nyaman.
-
Seluruh tanggung jawab dibebankan kepada orang yang terluka.
Itu bukan rahayu.
Itu adalah penundaan kerusakan.
Dzikir Memutus Dendam
Dzikir ini dibaca untuk memohon kebersihan hati, kejernihan, dan kekuatan menempuh penyelesaian yang adil.
Ia bukan untuk memaksa orang lain berdamai atau menghilangkan tanggung jawab.
Dibaca setelah Maghrib atau Isya.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas ucapan, kemarahan, dan tindakan yang menambah pertikaian.
Yā ‘Afūw 33×
يَا عَفُوُّ
Wahai Alloh Yang Maha Pemaaf, bersihkanlah hati kami dari keinginan membalas secara zalim.
Yā Laṭīf 33×
يَا لَطِيفُ
Wahai Alloh Yang Maha Lembut, tuntunlah kami menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan adab.
Yā ‘Adl 33×
يَا عَدْلُ
Wahai Alloh Yang Mahaadil, kembalikanlah setiap hak dan jauhkanlah kami dari perdamaian yang menutupi kezaliman.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Wahai Alloh, sumber keselamatan, hentikanlah kerusakan dan bukakanlah jalan kedamaian yang benar.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan penuh kesadaran.
Setelah dzikir, lakukan satu langkah nyata:
hentikan satu ucapan yang memperkeruh,
akui satu kesalahan,
kembalikan satu hak,
buat satu batas yang sehat,
atau hubungi seorang penengah yang amanah.
Doa Jembatan Rahayu
Yā Alloh Yang Maha Mengetahui seluruh luka,
Engkau mengetahui ucapan yang masih teringat setelah bertahun-tahun.
Engkau mengetahui air mata yang tidak pernah dilihat manusia.
Engkau mengetahui penyesalan yang belum berani diucapkan.
Dan Engkau mengetahui kebencian yang disembunyikan di balik senyum.
Bersihkanlah hati kami dari dendam yang membuat kami melampaui batas.
Namun jangan jadikan kami lemah di hadapan kezaliman.
Berikanlah keberanian menyampaikan kebenaran.
Berikanlah kebijaksanaan memilih waktu dan cara.
Berikanlah perlindungan kepada orang yang terancam.
Berikanlah jalan taubat kepada orang yang bersalah.
Yā Alloh,
Apabila kami pernah melukai, berikanlah keberanian untuk mengakui dan memperbaiki.
Apabila kami pernah dilukai, berikanlah kekuatan menjaga diri tanpa menjadi zalim.
Apabila hubungan masih dapat dipulihkan, tumbuhkanlah kejujuran, kesabaran, dan perubahan nyata.
Apabila kedekatan justru membawa bahaya, bukakanlah jalan mengambil jarak dengan adab dan perlindungan.
Jangan biarkan anak-anak menjadi korban pertikaian orang dewasa.
Jangan biarkan keluarga besar menambah api.
Jangan biarkan pengikut digunakan sebagai pasukan dendam.
Jangan biarkan nama perdamaian dipakai untuk menutup penderitaan.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang istri sebagai keberanian membuka kebenaran tanpa membakar seluruh kehidupan.
Jadikanlah bulan sang suami sebagai keteduhan yang memberi waktu bagi pemulihan tanpa menyembunyikan kesalahan.
Pertemukanlah keduanya di atas jembatan keadilan.
Ajarkanlah mereka berbeda tanpa menghina.
Tegas tanpa membenci.
Memaafkan tanpa kehilangan batas.
Menyelesaikan tanpa membuka aib yang tidak diperlukan.
Yā Alloh,
Putuskanlah rantai dendam yang diwariskan antargenerasi.
Jangan biarkan anak-anak kami memikul permusuhan yang tidak mereka mulai.
Jadikanlah rumah kami tempat manusia belajar meminta maaf, memperbaiki, dan menghormati.
Jadikanlah komunitas kami tempat kebenaran dapat disampaikan tanpa ketakutan.
Jadikanlah hati kami samudra yang luas, tetapi tidak menelan keadilan.
Jadikanlah langkah kami bagian dari Rahayu Jagat:
menghentikan luka,
memulihkan hak,
menjaga kehormatan,
serta membuka jalan kehidupan yang lebih bersih.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Kesebelas
Perdamaian bukan menutup luka dengan kain yang indah.
Perdamaian adalah membersihkan luka, menghentikan penyebabnya, lalu merawatnya hingga mampu pulih.
Memaafkan bukan menyerahkan diri kembali kepada kezaliman.
Menjaga batas bukan berarti memelihara kebencian.
Matahari menerangkan perkara yang harus diakui.
Bulan memberi keteduhan bagi hati yang membutuhkan waktu.
Keduanya bertemu di atas jembatan rahayu:
kejujuran tanpa penghinaan,
ketegasan tanpa dendam,
pengampunan tanpa penutupan kesalahan,
dan persatuan tanpa pemaksaan.
Jangan wariskan pertikaianmu kepada anak-anak.
Jangan jadikan pengikut sebagai pembawa amarahmu.
Jangan memaksa kedamaian sebelum keselamatan ditegakkan.
Sebab damai yang benar bukan ketika semua orang diam.
Damai yang benar adalah ketika kerusakan telah dihentikan, hak telah dijaga, dan hati tidak lagi ingin menambah luka.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim mekar sebagai Jembatan Rahayu:
menghubungkan hati yang dahulu terpisah,
mengembalikan manusia kepada adab,
dan membawa perbedaan menuju samudra kemaslahatan.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEDUA BELAS
Samudra Hening: Ketika Matahari dan Bulan Berhenti Menuntut Pengakuan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Setelah manusia belajar mencintai, menjaga amanah, menegakkan keadilan, memutus dendam, dan membangun jembatan perdamaian, masih tersisa satu ujian yang sangat halus:
keinginan agar seluruh perjuangannya diketahui.
Manusia ingin dipahami.
Ia ingin pengorbanannya dihargai.
Ia ingin kebaikannya disebut.
Ia ingin kesabarannya diakui.
Ia ingin orang yang pernah meremehkannya melihat bahwa dirinya telah berhasil.
Keinginan untuk dihargai adalah sesuatu yang manusiawi.
Namun apabila tidak dijaga, ia dapat mengubah pengabdian menjadi perdagangan batin.
Seseorang berbuat baik, lalu menunggu pujian.
Ia menolong, lalu menuntut kesetiaan.
Ia berkorban, lalu mengungkit.
Ia memaafkan, lalu merasa lebih suci.
Ia diam, tetapi diamnya dipenuhi harapan agar orang lain merasa bersalah.
Di sinilah Samudra Hening dibuka.
Hening bukan berarti tidak berbicara.
Hening adalah keadaan ketika hati tidak lagi menjadikan pengakuan manusia sebagai tujuan utama.
Matahari tetap bersinar meskipun bunga tidak menyebut namanya.
Bulan tetap menerangi meskipun musafir tidak mengetahui dari mana keteduhan datang.
Demikian pula seorang hamba.
Ia tetap berbuat baik karena Alloh mengetahui, meskipun manusia tidak memahami seluruh perjuangannya.
Hening Bukan Menyimpan Semua Luka
Sebagian manusia salah memahami keheningan.
Ia mengira diam selalu lebih mulia daripada berbicara.
Padahal ada diam yang bijaksana.
Ada pula diam yang membiarkan kerusakan.
Diam menjadi baik ketika ia mencegah ucapan kasar, memberi waktu untuk berpikir, atau menjaga rahasia.
Namun diam menjadi keliru ketika ia menutupi kezaliman, membiarkan kekerasan, menyembunyikan amanah yang diselewengkan, atau membuat orang yang lemah tidak memperoleh pertolongan.
Maka Samudra Hening bukan perintah untuk memendam seluruh persoalan.
Ia mengajarkan kemampuan membedakan:
kapan harus diam,
kapan harus berbicara,
kepada siapa berbicara,
dan untuk tujuan apa ucapan disampaikan.
Bicaralah apabila kebenaran perlu dijelaskan.
Diamlah apabila ucapan hanya akan memperbesar ego.
Bicaralah apabila keselamatan seseorang terancam.
Diamlah apabila engkau hanya ingin memenangkan perdebatan.
Bicaralah kepada pihak yang mampu memperbaiki.
Diamlah dari menyebarkan aib kepada orang yang tidak berkepentingan.
Keheningan sejati bukan kehilangan suara.
Ia adalah suara yang telah disucikan dari keinginan menyakiti.
Matahari yang Tidak Meminta Dilihat
Matahari di tangan sang istri melambangkan pengabdian yang jelas dan menghidupkan.
Namun tidak semua kebaikan sang istri memperoleh penghargaan.
Banyak pekerjaan rumah berlangsung dalam keheningan.
Makanan disiapkan.
Pakaian dibersihkan.
Anak ditenangkan.
Orang sakit dirawat.
Kebutuhan keluarga diingat.
Doa dipanjatkan.
Semua dilakukan berulang-ulang, hingga dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Ketika kebaikan terus dianggap biasa, hati dapat merasa lelah.
Sang istri mungkin bertanya:
“Apakah semua yang kulakukan tidak berarti?”
QITAB ini tidak menyuruhnya memendam kelelahan.
Ia boleh menyampaikan kebutuhan.
Ia boleh meminta pembagian tugas.
Ia boleh berkata bahwa dirinya perlu dihargai dan beristirahat.
Namun setelah kebutuhan disampaikan dengan benar, ia juga perlu menjaga agar pengabdiannya tidak sepenuhnya bergantung pada pujian manusia.
Ada kebaikan yang hanya diketahui Alloh.
Ada air mata yang tidak terlihat pasangan.
Ada doa yang tidak pernah didengar anak.
Ada pengorbanan yang baru dipahami bertahun-tahun kemudian.
Matahari yang matang tidak berhenti menghangatkan hanya karena tidak selalu ditatap.
Namun ia juga tidak membakar dirinya hingga habis.
Ia mengetahui batas.
Ia mengabdi dengan ikhlas sekaligus menjaga kesehatan dan kehormatannya.
Bulan yang Bekerja dalam Sunyi
Bulan di tangan sang suami melambangkan tanggung jawab yang sering dilakukan tanpa banyak ucapan.
Ada suami yang bekerja jauh.
Menahan letih.
Menghadapi kegagalan.
Menyimpan kekhawatiran agar keluarga tidak semakin cemas.
Namun terkadang diamnya membuat keluarga tidak memahami apa yang sedang ia hadapi.
Ia merasa tidak dihargai.
Keluarga merasa tidak dilibatkan.
Maka sang suami perlu memahami:
keheningan tidak sama dengan menutup seluruh keadaan.
Ia tetap perlu berbicara.
Menjelaskan kesulitan.
Menyampaikan kemampuan.
Meminta bantuan.
Bermusyawarah.
Bulan tetap menerangi malam.
Ia tidak menghilang sepenuhnya di balik awan.
Sang suami dapat menjaga ketenangan tanpa menjadi jauh.
Ia dapat menanggung tanggung jawab tanpa berpura-pura tidak pernah lelah.
Ia dapat berbuat dalam sunyi, tetapi tetap membuka ruang kejujuran kepada keluarganya.
Tiga Tingkat Keheningan
Tingkat Pertama: Heningnya Lisan
Hening lisan adalah kemampuan menahan kata-kata yang tidak bermanfaat.
Tidak semua yang terlintas harus diucapkan.
Tidak semua kabar harus diteruskan.
Tidak semua kesalahan orang lain perlu dibicarakan.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Hening lisan menjaga manusia dari fitnah, penghinaan, dan penyesalan.
Namun hening lisan bukan berarti membiarkan kebohongan dianggap benar.
Ia adalah kemampuan memilih kata yang tepat, bukan kehilangan keberanian.
Tingkat Kedua: Heningnya Pikiran
Ada tubuh yang diam, tetapi pikirannya berisik.
Ia terus mengulang penghinaan masa lalu.
Membayangkan balasan.
Menyusun pembelaan.
Membandingkan diri.
Menilai seluruh manusia.
Heningnya pikiran bukan berarti pikiran menjadi kosong.
Ia adalah kemampuan menghentikan putaran yang tidak lagi membawa manfaat.
Ketika pikiran terus mengulang luka, tanyakan:
“Apakah ada tindakan yang masih perlu kulakukan?”
Apabila ada, lakukan dengan bijaksana.
Apabila tidak ada, serahkan sisanya kepada Alloh.
Jangan mengubah masa lalu menjadi penjara yang dibangun kembali setiap hari di dalam pikiran.
Tingkat Ketiga: Heningnya Ego
Inilah keheningan yang paling dalam.
Manusia tidak lagi menuntut menjadi pusat seluruh cerita.
Ia tidak harus selalu disebut sebagai penyelamat.
Ia tidak merasa seluruh keberhasilan terjadi karena dirinya.
Ia tidak marah ketika orang lain memperoleh pujian.
Ia tidak takut penerus tumbuh lebih besar.
Heningnya ego membuat manusia mampu berkata:
“Yang penting kebaikan berjalan, meskipun bukan namaku yang berada di depan.”
Di sinilah pengabdian menjadi ringan.
Bukan karena tugas berkurang, tetapi karena hati tidak lagi membawa beban keinginan untuk diakui.
Ketika Kebaikan Tidak Dibalas
Manusia sering terluka karena kebaikannya tidak dibalas.
Ia pernah menolong, tetapi kemudian dilupakan.
Ia pernah mendampingi, tetapi ketika dirinya sulit tidak ada yang hadir.
Ia pernah memaafkan, tetapi kembali disakiti.
QITAB ini tidak menyuruh manusia terus memberi tanpa batas kepada orang yang memanfaatkannya.
Batas tetap diperlukan.
Kebijaksanaan tetap dijaga.
Namun jangan biarkan kekecewaan mengubah seluruh kebaikan menjadi kebencian.
Belajarlah membedakan:
berbuat baik karena Alloh,
dan berharap balasan dari manusia.
Apabila bantuan telah berubah menjadi jalan eksploitasi, hentikan dengan adab.
Apabila seseorang terus mengkhianati kepercayaan, buatlah batas.
Namun jangan menyesali seluruh kebaikan yang pernah dilakukan.
Kebaikan yang tulus tidak menjadi sia-sia hanya karena penerimanya tidak tahu berterima kasih.
Nilainya tidak ditentukan oleh ingatan manusia.
Jangan Mengungkit Bunga yang Pernah Diberikan
Mengungkit kebaikan adalah salah satu cara paling cepat merusak keindahannya.
Seseorang berkata:
“Dahulu aku yang menolongmu.”
“Tanpa aku, engkau tidak akan menjadi apa-apa.”
“Aku telah berkorban begitu banyak untukmu.”
Ucapan itu membuat pemberian berubah menjadi rantai.
Orang yang ditolong merasa tidak pernah bebas.
Setiap perbedaan dianggap pengkhianatan.
Setiap pilihan hidupnya harus membayar utang batin.
Saudara cahayaku,
Apabila engkau memberi, berikan dengan batas yang jelas.
Apabila bantuan adalah pinjaman, katakan bahwa itu pinjaman.
Apabila bantuan adalah amanah, jelaskan tanggung jawabnya.
Namun apabila engkau memberikannya sebagai sedekah atau hadiah, jangan terus menggunakannya untuk menguasai.
Bunga yang telah diberikan tidak perlu ditarik kembali hanya karena penerimanya tidak memuji keindahannya.
Hening di Tengah Fitnah
Ketika fitnah datang, manusia sering terdorong menjelaskan dirinya kepada semua orang.
Ia ingin menjawab setiap komentar.
Membalas setiap tuduhan.
Meyakinkan setiap manusia.
Namun tidak semua orang mencari kebenaran.
Ada yang hanya ingin memperpanjang pertikaian.
Ada yang telah memilih kesimpulan sebelum mendengar penjelasan.
Ada yang menikmati keributan.
Dalam keadaan seperti itu, keheningan dapat menjadi perlindungan.
Namun sebelum diam, periksa:
Apakah terdapat hak publik yang perlu dijelaskan?
Apakah ada korban yang memerlukan perlindungan?
Apakah tuduhan dapat merusak amanah atau keselamatan?
Apabila iya, berikan penjelasan yang cukup, jelas, dan berdasarkan fakta.
Setelah itu, jangan terus-menerus masuk ke dalam lingkaran tanpa akhir.
Sampaikan kepada pihak yang tepat.
Simpan bukti.
Tempuh jalur yang bertanggung jawab.
Kemudian berhentilah memberi makan kepada kebisingan yang tidak lagi mencari penyelesaian.
Hening bukan kekalahan.
Kadang-kadang ia adalah keputusan untuk tidak menyerahkan seluruh umur kepada fitnah.
Hening dalam Musibah
Ada musibah yang membuat manusia kehilangan kata-kata.
Kematian.
Penyakit berat.
Kehilangan usaha.
Perpisahan.
Kegagalan besar.
Pada saat itu, jangan memaksa diri segera menemukan makna.
Tidak semua luka harus langsung dijelaskan.
Tidak semua air mata membutuhkan nasihat.
Kadang-kadang manusia hanya perlu ditemani.
Duduk.
Menangis.
Bernapas.
Berdoa singkat.
Menerima bantuan.
Samudra tidak menjelaskan setiap gelombangnya.
Ia hanya menampung dan bergerak.
Demikian pula hati.
Berikan waktu.
Jangan menganggap tangisan sebagai kurang iman.
Jangan memaksa orang berduka segera terlihat kuat.
Kesabaran bukan ketiadaan sedih.
Kesabaran adalah tidak meninggalkan Alloh dan tidak melakukan kezaliman ketika kesedihan datang.
Hening Bukan Putus Asa
Ada orang yang berhenti berbicara karena telah kehilangan harapan.
Ia tidak lagi meminta bantuan.
Tidak lagi menjelaskan.
Tidak lagi merawat dirinya.
Ia berkata:
“Biarlah semuanya terjadi.”
Ini bukan Samudra Hening.
Ini dapat menjadi tanda kelelahan yang sangat dalam.
Apabila seseorang menarik diri, kehilangan semangat, tidak mampu menjalankan kehidupan sehari-hari, atau mulai merasa hidupnya tidak berarti, jangan hanya menyuruhnya memperbanyak diam dan dzikir.
Dengarkan.
Temani.
Ajak mencari bantuan yang tepat.
Doa penting.
Namun bantuan manusia juga dapat menjadi jalan pertolongan Alloh.
Hening yang sehat membuat hati lebih jernih.
Hening yang penuh keputusasaan membuat manusia tenggelam.
Keduanya harus dibedakan.
Tujuh Kebisingan Ego
Pertama: Ingin Selalu Benar
Seseorang sulit mendengar karena seluruh percakapan dianggap ancaman terhadap harga dirinya.
Kedua: Ingin Selalu Dipuji
Kebaikan terasa tidak berarti apabila tidak disaksikan manusia.
Ketiga: Ingin Menjadi Pusat
Setiap keberhasilan kelompok harus dikaitkan dengan dirinya.
Keempat: Tidak Mampu Melihat Orang Lain Bersinar
Keberhasilan orang lain dianggap mengurangi kemuliaannya.
Kelima: Menganggap Diam sebagai Hukuman
Ia menjauh bukan untuk menenangkan diri, tetapi agar orang lain merasa takut kehilangan.
Keenam: Menyimpan Kebaikan sebagai Utang
Setiap bantuan dicatat untuk digunakan dalam pertengkaran.
Ketujuh: Menguasai Cerita
Ia hanya menerima versi yang membuat dirinya terlihat sebagai korban atau penyelamat.
Samudra Hening membersihkan tujuh kebisingan ini sedikit demi sedikit.
Bukan dengan membenci diri.
Melainkan dengan menyadari bahwa manusia tidak harus menjadi pusat agar hidupnya memiliki nilai.
Ketika Pasangan Membutuhkan Ruang
Dalam rumah tangga, ada waktu seseorang membutuhkan ruang untuk menenangkan diri.
Ruang bukan penolakan apabila disampaikan dengan jelas.
Katakan:
“Aku sedang penuh emosi. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Setelah itu kita berbicara kembali.”
Jangan pergi tanpa kabar.
Jangan memutus komunikasi berhari-hari untuk menghukum.
Jangan membuat pasangan menebak apakah hubungan telah berakhir.
Ruang yang sehat memiliki tujuan dan batas waktu yang wajar.
Ia digunakan untuk kembali dengan pikiran lebih jernih.
Bukan untuk membangun jarak yang semakin dalam.
Sang istri boleh menenangkan mataharinya agar tidak membakar.
Sang suami boleh berdiam dalam cahaya bulan agar tidak mengambil keputusan dalam kemarahan.
Namun keduanya harus kembali kepada pembicaraan.
Keheningan yang tidak pernah kembali menjadi dialog akan berubah menjadi tembok.
Hening dalam Ibadah
Banyak manusia mengukur kedalaman ibadah dari banyaknya sensasi.
Getaran.
Air mata.
Mimpi.
Rasa hangat.
Pengalaman batin.
Semua itu dapat terjadi, tetapi bukan tujuan utama.
Ada ibadah yang terasa sangat hening.
Tidak ada pengalaman luar biasa.
Tidak ada rasa khusus.
Namun seseorang tetap sholat.
Tetap berdoa.
Tetap jujur.
Tetap menjaga amanah.
Inilah keteguhan yang tidak bergantung pada rasa.
Samudra Hening mengajarkan:
Jangan berhenti beribadah hanya karena tidak merasakan sesuatu.
Jangan pula merasa lebih tinggi karena memperoleh pengalaman batin.
Nilai ibadah terlihat pada ketundukan dan akhlak.
Bukan pada banyaknya cerita tentang apa yang dirasakan.
Menyimpan Amal dari Pandangan
Tidak semua amal perlu diperlihatkan.
Ada amal yang memang harus dilakukan terbuka karena tanggung jawab, pendidikan, atau laporan.
Namun milikilah pula amal yang hanya diketahui Alloh.
Sedekah yang tidak diumumkan.
Doa bagi seseorang yang tidak mengetahuinya.
Membantu tanpa menyebut nama.
Menahan amarah tanpa menceritakannya.
Memaafkan tanpa membuat pertunjukan.
Amal rahasia menjadi tempat hati berlatih ikhlas.
Ia tidak memiliki penonton.
Tidak ada komentar.
Tidak ada penghargaan.
Hanya Alloh yang mengetahui.
Di sanalah manusia belajar bahwa pengabdian tetap bermakna meskipun tidak menjadi cerita.
Ketika Nama Tidak Lagi Disebut
Suatu hari, nama seseorang dapat perlahan dilupakan.
Generasi berganti.
Tokoh baru muncul.
Tulisan lama jarang dibaca.
Bangunan berubah.
Foto memudar.
Hal itu bukan kehinaan.
Manusia memang datang dan pergi.
Yang terpenting bukan berapa lama nama disebut.
Yang terpenting ialah apakah kebaikan masih mengalir.
Seorang guru mungkin dilupakan namanya, tetapi ilmunya hidup dalam murid.
Seorang ibu mungkin tidak dikenal dunia, tetapi kasihnya tumbuh dalam keturunan.
Seorang ayah mungkin tidak mempunyai gelar, tetapi kejujurannya menjadi dasar keluarga.
Samudra menerima seluruh sungai tanpa memajang nama masing-masing pada setiap gelombang.
Demikian pula kebaikan.
Ia dapat menyatu dalam kehidupan yang luas tanpa terus membawa nama pelakunya.
Empat Latihan Samudra Hening
Latihan Pertama: Menahan Satu Jawaban
Ketika terdorong membalas ucapan yang menyakitkan, berhentilah sejenak.
Tanyakan apakah jawaban itu akan memperbaiki atau hanya melukai.
Latihan Kedua: Melakukan Satu Kebaikan Rahasia
Lakukan satu amal tanpa memberitahukan kepada siapa pun, kecuali bila diperlukan untuk amanah.
Latihan Ketiga: Menghentikan Satu Keluhan yang Berulang
Apabila keluhan tidak lagi menghasilkan tindakan, ubahlah menjadi doa atau langkah nyata.
Latihan Keempat: Memberi Ruang kepada Orang Lain
Biarkan orang lain berbicara, memimpin, atau memperoleh penghargaan tanpa merasa dirimu berkurang.
Latihan-latihan ini terlihat sederhana.
Namun ia perlahan melonggarkan genggaman ego.
Dzikir Samudra Hening
Dibaca setelah Isya, menjelang tidur, atau ketika hati sangat dipenuhi kebisingan pikiran.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk membersihkan hati dari riya, keinginan membalas, dan tuntutan agar selalu dipahami.
Yā Samī‘ 33×
يَا سَمِيعُ
Wahai Alloh Yang Maha Mendengar, Engkau mengetahui ucapan dan keluhan yang tidak mampu kami sampaikan.
Yā ‘Alīm 33×
يَا عَلِيمُ
Wahai Alloh Yang Maha Mengetahui, Engkau memahami seluruh perjuangan yang tidak diketahui manusia.
Yā Ṣabūr 33×
يَا صَبُورُ
Wahai Alloh Yang Maha Penyabar, kuatkanlah kami menunggu waktu yang baik tanpa kehilangan ikhtiar.
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
Wahai Alloh, sumber keselamatan, tenangkanlah kebisingan hati dan tuntunlah kami kepada tindakan yang benar.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing dapat dibaca 11× dengan tenang.
Setelah dzikir, duduklah sejenak.
Tidak perlu mengejar sensasi.
Perhatikan napas secara alami.
Kemudian tanyakan dalam hati:
“Apakah ada sesuatu yang harus kusampaikan, kuperbaiki, atau kuserahkan kepada Alloh?”
Apabila ada tindakan yang diperlukan, lakukan pada waktu yang tepat.
Apabila tidak ada lagi yang mampu dilakukan, serahkan hasilnya kepada Alloh.
Doa Samudra Hening
Yā Alloh Yang Maha Mendengar setiap suara dan setiap diam,
Engkau mengetahui kebaikan yang kami lakukan tanpa saksi.
Engkau mengetahui luka yang belum mampu kami ceritakan.
Engkau mengetahui harapan yang kami sembunyikan.
Dan Engkau mengetahui betapa sering kami berbuat baik, tetapi masih mengharapkan pengakuan manusia.
Sucikanlah niat kami.
Jangan biarkan pengabdian berubah menjadi alat menuntut penghormatan.
Jangan biarkan bantuan berubah menjadi rantai.
Jangan biarkan diam berubah menjadi hukuman.
Jangan biarkan ucapan berubah menjadi api.
Yā Alloh,
Ajarkanlah kami kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri.
Berikanlah keberanian untuk membuka kebenaran yang harus dibuka.
Berikanlah kebijaksanaan untuk menjaga rahasia yang harus dijaga.
Lindungilah kami dari fitnah.
Namun jangan biarkan kami menyembunyikan kezaliman atas nama ketenangan.
Apabila kebaikan kami tidak dihargai, jadikanlah kami tetap mampu bersyukur karena Engkau mengetahuinya.
Apabila nama kami dilupakan, jangan biarkan kami kehilangan tujuan.
Apabila orang lain menerima pujian, jauhkanlah hati kami dari iri.
Apabila penerus tumbuh lebih besar, jadikanlah kami ikut bergembira.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang istri bersinar tanpa membakar dirinya demi pengakuan.
Jadikanlah bulan sang suami bekerja dalam sunyi tanpa menutup kejujuran kepada keluarganya.
Ajarkanlah keduanya saling menghargai sebelum dunia memberikan penghargaan.
Ajarkanlah mereka memberi ruang tanpa menjauh.
Diam tanpa menghukum.
Berbicara tanpa menyakiti.
Menolong tanpa mengikat.
Mencintai tanpa menuntut penyembahan.
Yā Alloh,
Tenangkanlah hati yang sedang berduka.
Dampingi jiwa yang merasa sendirian.
Pertemukan orang yang sangat lelah dengan bantuan yang amanah.
Jangan biarkan siapa pun tenggelam dalam keheningan putus asa.
Jadikanlah keluarga, sahabat, guru, tenaga kesehatan, dan orang-orang baik sebagai jalan pertolongan-Mu.
Apabila ikhtiar kami telah selesai, ajarkanlah kami menerima hasil tanpa kehilangan iman.
Apabila hasil belum datang, kuatkanlah kami untuk tetap berjalan.
Apabila jalan harus berubah, berikanlah keberanian untuk melepaskan.
Dan apabila seluruh dunia tidak memahami perjalanan kami, cukupkanlah hati kami dengan pengetahuan bahwa Engkau tidak pernah kehilangan satu pun amal, air mata, maupun doa.
Jadikanlah jiwa kami seperti samudra:
luas tanpa merasa paling besar,
dalam tanpa menjadi gelap,
tenang tanpa kehilangan kekuatan,
serta menerima setiap sungai kebaikan tanpa menuntut namanya diabadikan.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Kedua Belas
Matahari tidak mengetuk setiap pintu untuk meminta ucapan terima kasih.
Bulan tidak bertanya kepada musafir apakah cahayanya telah dihargai.
Keduanya menjalankan amanah, lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.
Hening bukan ketika mulut tidak berkata apa-apa.
Hening adalah ketika ego berhenti meminta menjadi pusat dari setiap kebaikan.
Diamlah dari fitnah, tetapi jangan diam terhadap kezaliman.
Berbicaralah untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan.
Tolonglah tanpa mengikat.
Cintailah tanpa menuntut penyembahan.
Berjuanglah tanpa menjadikan pujian sebagai makanan utama.
Sebab suatu hari nama akan menghilang dari bibir manusia.
Namun amal yang ikhlas tidak pernah hilang dari pengetahuan Alloh.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim menjadi Samudra Hening:
kedalaman yang tidak membanggakan dirinya,
cahaya yang tidak menagih pengakuan,
pengabdian yang tetap berjalan tanpa penonton,
dan jiwa yang menyerahkan hasil setelah menunaikan seluruh amanah.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KETIGA BELAS
Gerbang Kepulangan: Ketika Seluruh Cahaya Dikembalikan kepada Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Setiap perjalanan mempunyai permulaan.
Setiap pertemuan mempunyai masa.
Setiap amanah memiliki waktu untuk diserahkan kembali.
Matahari terbit, berjalan di langit, kemudian terbenam.
Bulan muncul, membesar, mengecil, lalu kembali tersembunyi.
Manusia lahir, bertumbuh, mencintai, bekerja, membangun, terluka, memperbaiki, menua, kemudian kembali kepada Alloh.
Tidak ada pakaian kebesaran yang dibawa ke dalam tanah.
Tidak ada singgasana yang ikut memasuki kubur.
Tidak ada gelar yang mampu menahan datangnya ajal.
Tidak ada pujian manusia yang dapat menggantikan amal.
Karena itu, puncak dari Zhahrotulloh Al-‘Azhim bukanlah ketika manusia merasa telah memiliki cahaya.
Puncaknya adalah ketika manusia sadar bahwa seluruh cahaya hanyalah milik Alloh dan setiap kemuliaan hanyalah titipan.
Gerbang kepulangan terbuka ketika hati mampu berkata:
“Aku datang tanpa membawa apa-apa.”
“Aku hidup melalui pertolongan-Mu.”
“Aku menjalankan amanah dengan banyak kekurangan.”
“Dan aku akan kembali hanya membawa amal serta rahmat-Mu yang kuharapkan.”
Matahari Akan Terbenam
Sang istri memegang matahari di tangan kanannya.
Namun matahari itu bukan miliknya.
Ia hanya lambang kehangatan, keberanian, ilmu, kasih, dan daya hidup yang dititipkan kepadanya.
Suatu hari tangannya akan melemah.
Pakaian nila yang megah akan ditinggalkan.
Suara yang dahulu memanggil anak dan keluarga akan berhenti terdengar.
Rumah mungkin masih berdiri.
Peralatan masih berada pada tempatnya.
Namun manusia yang dahulu menghidupkan suasana telah berpindah menuju alam yang tidak dapat dijangkau oleh langkah dunia.
Ketika saat itu datang, yang tersisa bukan warna pakaiannya.
Yang tersisa adalah:
apakah ia pernah menenangkan hati,
apakah ia pernah mendidik dengan kasih,
apakah ia pernah meminta maaf,
apakah ia menjaga kehormatan,
apakah ilmunya bermanfaat,
dan apakah doanya menumbuhkan kebaikan.
Matahari tubuh akan terbenam.
Namun matahari amal dapat terus menerangi apabila kebaikannya diteruskan oleh manusia yang pernah disentuhnya.
Bulan Akan Kembali ke Balik Awan
Sang suami memegang bulan di tangan kirinya.
Namun bulan itu juga bukan miliknya.
Ia adalah lambang penjagaan, keteduhan, kesetiaan, pengabdian, dan perjalanan dalam sunyi.
Suatu hari rambut panjangnya akan memutih.
Langkahnya melambat.
Tangan yang dahulu bekerja dan melindungi mungkin memerlukan bantuan.
Kemudian datanglah waktu ketika seluruh tanggung jawab dunia harus dilepaskan.
Saat itu, orang tidak lagi bertanya berapa luas kekuasaannya.
Yang menjadi saksi ialah:
apakah ia mencari nafkah halal,
apakah ia menjaga keluarga tanpa menindas,
apakah ia menepati janji,
apakah ia menahan tangan ketika marah,
apakah ia mengembalikan hak,
dan apakah dirinya pulang membawa taubat.
Bulan tubuh akan menghilang dari pandangan.
Namun keteduhan akhlaknya dapat tetap hidup dalam ingatan anak, pasangan, murid, dan orang yang pernah dilindunginya.
Jangan Menunggu Tua untuk Bersiap Pulang
Banyak manusia mengira kematian hanya dekat dengan orang yang telah tua.
Padahal usia bukan janji.
Orang muda dapat pergi terlebih dahulu.
Orang sehat dapat tiba-tiba sakit.
Orang yang sedang merencanakan masa depan dapat dipanggil sebelum rencananya selesai.
Mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan.
Ia adalah cara menata prioritas.
Apabila hari ini adalah hari terakhir, apakah ucapan terakhir kepada pasangan pantas dikenang?
Apakah ada hak yang belum dikembalikan?
Apakah ada utang yang belum dicatat?
Apakah ada orang tua yang belum disapa?
Apakah ada anak yang membutuhkan pelukan?
Apakah ada kesalahan yang belum dimintakan maaf?
Apakah ada amanah yang hanya diketahui diri sendiri dan harus dijelaskan?
Mengingat kepulangan membuat manusia tidak menunda terlalu banyak kebaikan.
Empat Bekal Gerbang Kepulangan
Bekal Pertama: Tauhid
Pulanglah dengan hati yang hanya menggantungkan penghambaan kepada Alloh.
Jangan menjadikan benda, nama, guru, leluhur, pengalaman batin, atau makhluk apa pun sebagai tandingan bagi-Nya.
Semua makhluk akan berpisah.
Semua sarana akan ditinggalkan.
Hanya Alloh tempat kembali.
Tauhid bukan sekadar ucapan.
Ia hidup ketika manusia tidak menjual kebenaran demi kedudukan.
Ia hidup ketika manusia tetap memilih halal meskipun hasilnya kecil.
Ia hidup ketika manusia berdoa, berusaha, lalu menerima bahwa keputusan akhir berada pada Alloh.
Bekal Kedua: Taubat
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk bertaubat.
Taubat dimulai ketika manusia berhenti membela kesalahannya.
Ia mengakui.
Menyesali.
Menghentikan.
Mengembalikan hak.
Dan berusaha tidak mengulang.
Jangan hanya meminta ampun kepada Alloh sambil membiarkan manusia yang dizalimi menanggung akibat.
Apabila hak dapat dikembalikan, kembalikan.
Apabila fitnah pernah disebarkan, luruskan.
Apabila amanah pernah disalahgunakan, perbaiki.
Taubat yang jujur bukan sekadar air mata.
Ia melahirkan perubahan.
Bekal Ketiga: Amal yang Bermanfaat
Amal yang paling banyak terlihat belum tentu paling berat timbangannya.
Ada amal kecil yang ikhlas.
Ada amal besar yang dipenuhi pencitraan.
Jangan meremehkan:
satu anak yang dididik dengan benar,
satu orang lapar yang diberi makan,
satu ilmu yang diajarkan dengan jujur,
satu pertengkaran yang dihentikan,
satu utang yang dilunasi,
satu pohon yang ditanam,
atau satu manusia yang diselamatkan dari keputusasaan.
Amal yang bermanfaat adalah cahaya yang dapat bertahan lebih lama daripada nama pelakunya.
Bekal Keempat: Hati yang Tidak Membawa Kezaliman
Manusia mungkin tidak mampu pulang tanpa kesalahan.
Namun jangan sengaja mempertahankan kezaliman.
Jangan membawa harta orang lain.
Jangan membawa luka yang sebenarnya mampu diperbaiki.
Jangan mempertahankan kesombongan hanya karena takut kehilangan wibawa.
Jangan membiarkan permusuhan terus menyala apabila pintu perdamaian yang adil masih terbuka.
Ringankan perjalanan dengan membersihkan tanggungan.
Wasiat Bukan Hanya Pembagian Harta
Sebagian orang baru memikirkan wasiat ketika sakit berat.
Padahal wasiat adalah bagian dari tanggung jawab.
Catat utang.
Jelaskan amanah.
Pisahkan harta pribadi dan harta lembaga.
Terangkan barang yang hanya dititipkan.
Tuliskan kewajiban yang belum selesai.
Jangan meninggalkan keluarga dalam kebingungan karena seluruh perkara disimpan sendiri.
Namun wasiat tidak hanya mengenai harta.
Wariskan pula nilai.
Tuliskan pesan agar anak-anak tidak bertengkar.
Jelaskan bahwa nama keluarga tidak boleh menjadi alasan menzalimi orang lain.
Pesankan agar karya, qitab, tulisan, dan ajaran manusia tetap ditempatkan sebagai renungan, bukan wahyu atau pengganti Al-Qur’an.
Pesankan agar kesalahan diperbaiki dan tidak dibela hanya demi menjaga nama pendahulu.
Wasiat yang baik membantu generasi berikutnya berjalan tanpa harus menebak terlalu banyak.
Jangan Menjadikan Warisan sebagai Api
Setelah orang tua meninggal, keluarga sering diuji oleh harta.
Saudara yang dahulu dekat mulai menghitung bagian.
Benda kecil menjadi sumber pertengkaran.
Jasa masa lalu diungkit.
Anak yang merawat merasa berhak mengambil lebih banyak tanpa musyawarah.
Anak yang tinggal jauh merasa seluruh harta harus segera dibagi tanpa mempertimbangkan amanah lain.
QITAB ini mengingatkan:
Jangan biarkan peninggalan orang yang telah wafat menjadi api yang membakar persaudaraan.
Catat.
Periksa.
Musyawarahkan.
Ikuti ketentuan agama dan hukum yang berlaku.
Bedakan antara warisan, hibah, utang, amanah, dan harta bersama.
Jangan mengambil sebelum pembagian jelas.
Jangan menyembunyikan dokumen.
Jangan menggunakan kesedihan orang tua untuk menekan saudara.
Harta yang diperoleh melalui kezaliman tidak membawa rahayu.
Ketika Pasangan Lebih Dahulu Pulang
Suami dan istri berjalan bersama, tetapi tidak selalu kembali pada waktu yang sama.
Salah seorang dapat pergi terlebih dahulu.
Yang ditinggalkan menghadapi rumah yang tiba-tiba sunyi.
Tempat tidur terasa luas.
Suara langkah tidak lagi terdengar.
Kebiasaan kecil berubah menjadi kenangan.
Dalam keadaan itu, jangan paksa orang yang berduka segera terlihat kuat.
Berikan waktu.
Biarkan ia menangis.
Bantu menyelesaikan keperluan nyata.
Temani tanpa banyak nasihat.
Katakan:
“Aku berada di sini.”
Bukan:
“Jangan menangis.”
Tangisan adalah bagian dari cinta yang kehilangan tempat lahiriahnya.
Namun kesedihan perlu dirawat agar tidak berubah menjadi keputusasaan.
Makanlah.
Beristirahatlah.
Terimalah bantuan.
Berdoalah.
Carilah teman bicara yang aman.
Apabila kesedihan sangat berat dan mengganggu kehidupan dalam waktu lama, carilah bantuan tenaga profesional.
Keimanan tidak meniadakan kebutuhan manusia untuk ditolong.
Cinta Setelah Kematian
Cinta tidak berakhir hanya karena tubuh telah dikuburkan.
Namun bentuknya berubah.
Tidak lagi melalui percakapan langsung.
Tidak lagi melalui sentuhan.
Cinta berubah menjadi doa.
Sedekah.
Melanjutkan kebaikan.
Menjaga amanah.
Memaafkan kesalahan almarhum sejauh kemampuan hati.
Dan tidak menggunakan namanya untuk membangun kebohongan.
Jangan mengaku menerima pesan pasti dari orang yang telah wafat lalu menjadikannya dasar mengambil hak atau keputusan besar.
Mimpi dapat menjadi pengalaman pribadi, tetapi bukan bukti hukum atau kepastian.
Hormati yang telah pulang dengan doa dan amal nyata.
Bukan dengan menciptakan cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan Memuja Orang yang Telah Tiada
Setelah seseorang wafat, manusia cenderung hanya mengingat kebaikannya.
Menghormati orang yang telah meninggal adalah adab.
Namun jangan mengubah manusia menjadi sosok tanpa salah.
Jangan menutupi seluruh kesalahan sejarah hanya karena ia telah tiada.
Jangan pula membongkar aib tanpa tujuan yang benar.
Ambillah kebaikan.
Perbaiki kekeliruan.
Doakan ampunan.
Tempatkan manusia tetap sebagai manusia.
Para pendahulu tidak membutuhkan pemujaan.
Mereka membutuhkan doa, amal yang diteruskan, dan generasi yang berani menjaga kebenaran.
Kubur Tidak Membawa Gelar
Di hadapan gerbang kepulangan:
raja dan rakyat sama-sama meninggalkan istana,
guru dan murid sama-sama meninggalkan majelis,
orang kaya dan miskin sama-sama dibaringkan,
orang terkenal dan terlupakan sama-sama menunggu rahmat Alloh.
Gelar hanya berguna apabila mendorong tanggung jawab.
Apabila gelar membuat manusia sombong, ia menjadi beban.
Apabila nama ruhani membuat manusia lebih takut berbuat zalim, ia menjadi pengingat.
Namun apabila nama ruhani digunakan untuk meminta penyembahan, ketaatan buta, atau keuntungan pribadi, ia telah kehilangan maknanya.
Di tanah, semua pakaian kebesaran menjadi sama sederhananya.
Yang tersisa adalah kejujuran amal.
Tiga Pertanyaan Sebelum Tidur
Setiap malam adalah latihan kecil untuk menghadapi kepulangan.
Sebelum tidur, tanyakan:
Pertama
Apakah hari ini ada hak manusia yang kuambil atau kutahan?
Kedua
Apakah ada ucapan yang perlu kumintakan maaf?
Ketiga
Apabila aku tidak bangun kembali, apakah amanah penting telah diketahui oleh orang yang tepat?
Pertanyaan ini bukan untuk menimbulkan ketakutan.
Ia adalah cara merapikan kehidupan sedikit demi sedikit.
Orang yang terbiasa merapikan amal setiap malam tidak terlalu banyak meninggalkan kekacauan ketika panggilan datang.
Tanda-Tanda Hati yang Mulai Siap Pulang
Bukan berarti mengetahui kapan ajal datang.
Tidak seorang pun boleh mengaku memastikan waktunya tanpa dasar.
Kesiapan pulang tampak ketika:
manusia lebih mudah meminta maaf,
tidak terlalu melekat kepada pujian,
mulai merapikan utang dan amanah,
tidak menikmati permusuhan,
semakin menghargai waktu bersama keluarga,
lebih berhati-hati dengan harta,
tidak mudah menganggap dirinya paling suci,
serta semakin berharap kepada rahmat Alloh tanpa meremehkan amal.
Kesiapan bukan rasa ingin segera mati.
Kesiapan justru membuat manusia lebih bertanggung jawab menjalani hidup.
Jangan Meminta Mati karena Lelah
Ada saatnya hidup terasa sangat berat.
Manusia ingin seluruh beban berhenti.
Namun jangan menjadikan kematian sebagai pelarian dari persoalan yang masih memiliki jalan pertolongan.
Kelelahan membutuhkan istirahat.
Kesedihan membutuhkan pendampingan.
Sakit membutuhkan pemeriksaan.
Utang membutuhkan rencana.
Kekerasan membutuhkan perlindungan.
Keputusasaan membutuhkan manusia lain yang bersedia mendengar.
Memohon husnul khatimah berbeda dengan menyerah kepada keputusasaan.
Selama hidup masih dititipkan, carilah pertolongan dan jalankan amanah sesuai kemampuan.
Alloh dapat mengirimkan pertolongan melalui keluarga, sahabat, dokter, konselor, guru, tetangga, atau orang yang sebelumnya tidak pernah dikenal.
Orang Sakit Tidak Boleh Ditinggalkan Sendirian dalam Ketakutan
Ketika seseorang menghadapi penyakit berat, jangan hanya berbicara tentang kematian.
Bicarakan pula perawatan.
Pengobatan.
Kenyamanan.
Pengampunan.
Amanah keluarga.
Dan harapan.
Jangan menjanjikan kesembuhan pasti atas nama doa.
Doa adalah permohonan.
Hasil tetap berada dalam kehendak Alloh.
Dampingi orang sakit tanpa memberinya rasa bersalah karena belum sembuh.
Jangan berkata bahwa penyakit pasti disebabkan kurang iman.
Penyakit adalah bagian dari kehidupan manusia dan memerlukan ikhtiar yang sesuai.
Berikan doa, tetapi juga bantu memperoleh perawatan yang dibutuhkan.
Ketika Amal Belum Terasa Cukup
Tidak ada manusia yang dapat memastikan amalnya cukup untuk membeli keselamatan.
Keselamatan adalah rahmat Alloh.
Namun harapan kepada rahmat tidak berarti berhenti beramal.
Seorang hamba berjalan di antara takut dan berharap.
Takut karena mengetahui banyak kekurangan.
Berharap karena mengetahui luasnya ampunan Alloh.
Jangan sombong karena amal.
Jangan putus asa karena dosa.
Teruslah memperbaiki hingga waktu berhenti.
Satu taubat yang jujur dapat mengubah arah.
Satu hak yang dikembalikan dapat meringankan tanggungan.
Satu permintaan maaf dapat memutus warisan luka.
Satu amal ikhlas dapat menjadi cahaya yang tidak diketahui manusia.
Matahari dan Bulan di Gerbang Kepulangan
Ketika matahari sang istri sampai di gerbang kepulangan, ia tidak lagi ditanya seberapa indah sinarnya di mata manusia.
Ia ditanya apakah cahaya itu membawa rahmah.
Ketika bulan sang suami sampai di gerbang kepulangan, ia tidak lagi ditanya seberapa tinggi kedudukannya.
Ia ditanya apakah keteduhannya melindungi amanah.
Keduanya datang tanpa pakaian nila dan jingga.
Tanpa mahkota.
Tanpa singgasana.
Tanpa pengikut.
Hanya sebagai dua hamba.
Maka selama masih bersama, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk saling menaklukkan.
Suatu hari keduanya akan berdiri sendiri di hadapan Alloh.
Lebih baik saling membantu membawa bekal daripada saling menambah beban pertanggungjawaban.
Tujuh Amanah Sebelum Gerbang Terbuka
Pertama: Rapikan Hubungan dengan Alloh
Jaga sholat, taubat, doa, dan ketundukan.
Kedua: Rapikan Hak Manusia
Bayar utang, kembalikan barang, dan selesaikan amanah.
Ketiga: Rapikan Keluarga
Minta maaf, dengarkan, dan jangan tinggalkan permusuhan tanpa usaha penyelesaian.
Keempat: Rapikan Harta
Jelaskan kepemilikan, catat tanggungan, dan jangan campurkan dana pribadi dengan amanah umum.
Kelima: Rapikan Ilmu dan Tulisan
Koreksi bagian yang salah dan jelaskan kedudukannya dengan jujur.
Keenam: Siapkan Penerus
Berikan pengetahuan, dokumen, dan tanggung jawab secara bertahap.
Ketujuh: Lepaskan Keinginan Menguasai Hasil
Setelah berikhtiar, serahkan kelanjutan perjuangan kepada Alloh.
Dzikir Gerbang Kepulangan
Dibaca setelah Isya atau sebelum tidur sebagai pengingat, bukan untuk meramalkan ajal.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan memohon ampun atas dosa, kelalaian, kesombongan, dan hak manusia yang pernah dilanggar.
Yā Tawwāb 33×
يَا تَوَّابُ
Wahai Alloh Yang Maha Menerima taubat, bukakanlah hati kami untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan.
Yā Raḥmān 33×
يَا رَحْمَنُ
Wahai Alloh Yang Maha Pengasih, limpahkanlah rahmat-Mu dalam hidup dan kepulangan kami.
Yā Ḥafīẓ 33×
يَا حَفِيظُ
Wahai Alloh Yang Maha Menjaga, jagalah iman, keluarga, dan amanah kami hingga akhir perjalanan.
Yā Ḥayy Yā Qayyūm 33×
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
Wahai Alloh Yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri, teguhkanlah kami menjalani hidup dengan benar hingga Engkau memanggil kami.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing cukup dibaca 11× dengan ketenangan.
Setelah dzikir, tuliskan atau lakukan satu perbaikan nyata:
membayar satu tanggungan,
mencatat satu utang,
meminta maaf,
menghubungi keluarga,
atau menjelaskan satu amanah yang selama ini hanya disimpan sendiri.
Doa Gerbang Kepulangan
Yā Alloh Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan,
Hidup kami berasal dari-Mu.
Napas kami berlangsung dengan izin-Mu.
Dan kepada-Mu kami akan kembali.
Jangan biarkan kami tertipu oleh usia, kesehatan, kedudukan, dan banyaknya manusia yang mengenal nama kami.
Jadikanlah setiap hari sebagai kesempatan memperbaiki bekal.
Ampunilah dosa yang kami ingat dan yang telah kami lupakan.
Ampunilah kesombongan yang bersembunyi di balik ibadah.
Ampunilah kebaikan yang kami rusak dengan riya.
Ampunilah hak manusia yang kami lalaikan.
Berikanlah keberanian untuk mengembalikan apa yang bukan milik kami.
Yā Alloh,
Apabila pasangan kami lebih dahulu kembali kepada-Mu, kuatkanlah hati yang ditinggalkan.
Jadikan kenangan sebagai sumber doa, bukan pintu keputusasaan.
Apabila kami lebih dahulu pergi, lindungilah keluarga yang kami tinggalkan.
Pertemukan mereka dengan manusia yang amanah.
Jauhkan mereka dari perselisihan mengenai harta, nama, dan warisan.
Jadikan anak-anak kami saling menjaga.
Jadikan karya dan ilmu kami tetap berada dalam batas kebenaran.
Apabila terdapat kesalahan di dalamnya, hadirkan generasi yang berani memperbaiki tanpa kehilangan adab.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang istri sebagai amal kasih yang terus menghangatkan setelah tubuhnya tiada.
Jadikanlah bulan sang suami sebagai teladan amanah yang terus meneduhkan keturunannya.
Jangan biarkan nama mereka dipuja.
Jangan biarkan kesalahan mereka ditutupi secara zalim.
Terimalah kebaikannya.
Ampunilah kekurangannya.
Dan jadikan orang yang meneruskan perjuangan lebih mencintai kebenaran daripada nama pendahulu.
Yā Alloh,
Ketika tubuh kami sakit, berikanlah pertolongan, pengobatan, dan kesabaran.
Ketika hati kami takut, kuatkanlah dengan rahmat-Mu.
Ketika ajal benar-benar datang, jagalah lisan dan iman kami.
Jangan biarkan kami pulang dengan membawa kesombongan.
Jangan biarkan kami meninggalkan hak manusia yang sengaja ditahan.
Karuniakanlah akhir kehidupan yang baik.
Terimalah taubat kami.
Lapangilah kepulangan kami.
Dan pertemukanlah kami dengan rahmat-Mu, bukan semata-mata dengan perhitungan amal kami yang penuh kekurangan.
Jadikanlah seluruh perjalanan Zhahrotulloh Al-‘Azhim kembali kepada sumbernya:
dari cahaya menuju pengabdian,
dari pengabdian menuju keikhlasan,
dari keikhlasan menuju penyerahan,
dan dari penyerahan menuju rahmat-Mu.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Ketiga Belas
Matahari terbenam bukan karena cahayanya gagal.
Bulan menghilang bukan karena malam telah mengalahkannya.
Keduanya menyelesaikan waktu yang ditetapkan Alloh.
Demikian pula manusia.
Kepulangan bukan kehancuran seluruh makna.
Ia adalah berakhirnya masa amanah di dunia dan dimulainya pertanggungjawaban di hadapan Alloh.
Jangan tunggu pakaian kebesaran dilepaskan untuk belajar rendah hati.
Jangan tunggu suara melemah untuk meminta maaf.
Jangan tunggu tangan tidak mampu bergerak untuk mengembalikan hak.
Jangan tunggu rumah menjadi sunyi untuk mengucapkan cinta.
Sebab pada gerbang terakhir, manusia tidak membawa matahari dan bulan di tangannya.
Ia hanya membawa apa yang pernah dilakukan dengan cahaya tersebut.
Apakah ia menghangatkan atau membakar?
Apakah ia meneduhkan atau membekukan?
Apakah ia membimbing atau menguasai?
Apakah ia mengabdi atau mencari penyembahan?
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim menemukan makna kepulangannya:
bunga yang mekar bukan untuk dimiliki,
cahaya yang menyala bukan untuk disembah,
kehidupan yang dijalani bukan untuk dibanggakan,
dan seluruh amanah yang akhirnya dikembalikan kepada Alloh Yang Mahaagung.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KEEMPAT BELAS
Sisa Cahaya: Menjadikan Umur sebagai Pengabdian
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saudara cahayaku,
Mengingat kepulangan bukan berarti manusia berhenti membangun kehidupan.
Justru setelah menyadari bahwa waktu terbatas, manusia perlu hidup dengan lebih jernih.
Ia tidak lagi menunda terlalu banyak kebaikan.
Ia tidak menghabiskan seluruh tenaga untuk pertikaian yang tidak membawa manfaat.
Ia tidak terus mengejar pengakuan hingga melupakan keluarga.
Ia mulai membedakan antara perkara yang penting dan perkara yang hanya memenuhi ego.
Setiap manusia memiliki sisa cahaya.
Tidak seorang pun mengetahui seberapa panjang waktu yang masih diberikan.
Namun selama napas masih berjalan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki satu bagian kehidupan.
Orang yang telah lama salah masih dapat bertaubat.
Keluarga yang renggang masih dapat memulai percakapan.
Utang yang belum selesai masih dapat direncanakan pembayarannya.
Ilmu yang keliru masih dapat diluruskan.
Luka yang diwariskan masih dapat dihentikan.
Satu-satunya yang tidak dapat dilakukan adalah mengubah masa lalu.
Namun manusia masih dapat mengubah cara dirinya menjalani hari ini dan menyiapkan hari berikutnya.
Umur Bukan Sekadar Panjangnya Tahun
Umur tidak hanya dihitung dari berapa lama tubuh hidup.
Ia juga diukur dari berapa banyak kesadaran yang tumbuh selama perjalanan.
Ada manusia yang panjang usianya, tetapi mengulang kesalahan yang sama tanpa pernah memeriksa diri.
Ada pula yang waktunya singkat, tetapi kehadirannya memberi manfaat kepada banyak kehidupan.
Maka jangan hanya berdoa agar umur dipanjangkan.
Berdoalah agar umur yang diberikan dipenuhi keberkahan.
Umur yang berkah adalah waktu yang membawa manusia:
semakin dekat kepada Alloh,
semakin jujur,
semakin bertanggung jawab,
semakin bermanfaat,
dan semakin sedikit menambah luka.
Panjang usia tanpa arah dapat menjadi beban.
Sedangkan usia sederhana yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi sastro yang terus dibaca setelah tubuh tiada.
Matahari Sisa Usia Sang Istri
Matahari di tangan sang istri mengingatkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menumbuhkan sesuatu.
Namun tidak semua perempuan menjalani kehidupan sesuai rencana awalnya.
Ada yang kehilangan pasangan.
Ada yang belum memiliki keturunan.
Ada yang harus bekerja sendiri.
Ada yang merawat orang tua.
Ada yang membesarkan anak dalam kesulitan.
Ada yang menghadapi usia ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu.
Dalam keadaan itu, matahari tidak harus selalu tampil dalam kebesaran.
Kadang-kadang sinarnya berbentuk sangat sederhana:
bangun dan menjalani hari,
menyiapkan makanan,
mencari penghasilan halal,
merawat tubuh yang sakit,
mendengarkan anak,
memaafkan diri,
atau berani meminta pertolongan.
Jangan meremehkan cahaya kecil.
Fajar pun bermula dari garis tipis di ufuk.
Sang istri tidak harus menyelesaikan seluruh masalah dunia untuk menjadi bermanfaat.
Ia cukup menunaikan amanah hari ini dengan jujur dan sesuai kemampuan.
Bulan Sisa Usia Sang Suami
Bulan di tangan sang suami mengajarkan bahwa perjalanan tidak selalu dilakukan dengan langkah besar.
Ada masa seorang laki-laki merasa dirinya tertinggal.
Usahanya belum berhasil.
Kekuatan tubuh berkurang.
Anak-anak tidak lagi terlalu bergantung kepadanya.
Orang lain mulai mengambil peran yang dahulu ia jalankan.
Dalam keadaan itu, ia dapat merasa kehilangan harga diri.
QITAB ini mengingatkan:
Nilai seorang laki-laki tidak berhenti ketika penghasilannya menurun atau kedudukannya berubah.
Ia masih dapat menjadi bulan melalui:
nasihat yang jujur,
doa yang tulus,
pengalaman yang dibagikan,
kesediaan membantu,
ketenangan dalam menghadapi masalah,
serta keberanian mengakui dan memperbaiki kesalahan lama.
Jangan menilai diri hanya berdasarkan kemampuan menghasilkan.
Kehadiran, akhlak, dan keteladanan juga merupakan nafkah bagi keluarga.
Empat Musim Sisa Cahaya
Musim Pertama: Memperbaiki
Ada waktu ketika manusia perlu berhenti membangun hal baru dan lebih dahulu memperbaiki yang telah rusak.
Hubungan.
Keuangan.
Kesehatan.
Ibadah.
Amanah.
Tulisan.
Nama baik.
Memperbaiki bukan tanda kegagalan.
Rumah yang tidak pernah diperiksa dapat runtuh meskipun tampak indah.
Demikian pula kehidupan.
Pilihlah satu bagian yang paling mendesak.
Jangan mencoba memperbaiki semuanya sekaligus hingga akhirnya tidak ada yang benar-benar diselesaikan.
Musim Kedua: Menanam
Setelah kerusakan mulai diperbaiki, tanamlah kebaikan baru.
Ajarkan satu ilmu.
Mulai satu kebiasaan sehat.
Bangun satu usaha halal.
Sisihkan satu bagian rezeki.
Bina satu anak atau murid.
Hubungi satu keluarga yang lama terputus.
Benih kecil yang dijaga lebih berharga daripada rencana besar yang terus dibicarakan tanpa pernah dimulai.
Musim Ketiga: Merawat
Banyak manusia pandai memulai, tetapi sulit merawat.
Ia bersemangat pada awal.
Kemudian bosan.
Padahal keberkahan sering tumbuh melalui istiqamah.
Merawat berarti hadir berulang kali.
Mengerjakan yang sama dengan kesadaran baru.
Tidak selalu mencari sesuatu yang lebih besar.
Ada kemuliaan dalam menjalankan tugas sederhana dengan setia.
Musim Keempat: Melepaskan
Tidak semua hal harus dipertahankan selamanya.
Ada jabatan yang perlu diserahkan.
Ada kebiasaan yang perlu dihentikan.
Ada hubungan yang perlu diberi jarak.
Ada benda yang perlu dibagikan.
Ada mimpi lama yang perlu diubah karena keadaan telah berubah.
Melepaskan bukan selalu kehilangan.
Kadang ia adalah cara memberi ruang bagi amanah baru.
Jangan Menunggu Keadaan Sempurna
Sebagian orang terus berkata:
“Aku akan memulai setelah memiliki banyak waktu.”
“Aku akan meminta maaf setelah suasana lebih baik.”
“Aku akan memperbaiki kesehatan setelah pekerjaan selesai.”
“Aku akan menolong setelah hartaku banyak.”
Namun keadaan sempurna jarang datang.
Kebaikan perlu dimulai dari apa yang tersedia.
Apabila tidak mampu memberi banyak, berikan sedikit.
Apabila belum mampu bertemu, kirimkan salam.
Apabila belum mampu menyelesaikan seluruh utang, buatlah rencana dan mulailah membayar.
Apabila belum mampu membaca banyak, bacalah sedikit dengan istiqamah.
Alloh tidak membebani manusia melampaui kemampuannya.
Namun manusia juga tidak boleh menjadikan keterbatasan sebagai alasan tidak melakukan apa pun.
Penyesalan yang Menjadi Cahaya
Penyesalan dapat menjadi dua hal.
Ia dapat menjadi lumpur yang menahan langkah.
Atau menjadi air yang membersihkan hati.
Penyesalan menjadi lumpur ketika manusia terus berkata:
“Andai dahulu aku tidak melakukan itu,”
namun tidak mengambil pelajaran dan tidak memperbaiki akibatnya.
Penyesalan menjadi cahaya ketika ia melahirkan:
taubat,
permintaan maaf,
pengembalian hak,
perubahan kebiasaan,
dan kepedulian agar orang lain tidak mengulang kesalahan yang sama.
Masa lalu tidak dapat diulang.
Namun kebijaksanaan darinya dapat digunakan untuk menjaga masa depan.
Jangan hanya menangisi halaman yang rusak.
Tulislah halaman berikutnya dengan lebih jujur.
Ketika Kesempatan Kedua Datang
Tidak semua orang memperoleh kesempatan kedua dalam bentuk yang sama.
Ada yang kembali dipertemukan dengan keluarga.
Ada yang memperoleh pekerjaan baru.
Ada yang sembuh setelah sakit.
Ada yang diberi kepercayaan kembali.
Ada yang dipertemukan dengan guru atau sahabat yang baik.
Kesempatan kedua bukan izin mengulang pola lama.
Ia adalah amanah yang lebih berat karena manusia telah mengetahui akibat kesalahannya.
Apabila kepercayaan diberikan kembali, jagalah dengan lebih terbuka.
Apabila rumah tangga dipulihkan, jangan kembali kepada kebiasaan yang dahulu merusaknya.
Apabila kesehatan membaik, jangan segera mengabaikan tubuh.
Apabila rezeki kembali lapang, jangan melupakan masa sempit.
Kesempatan kedua menjadi rahayu apabila manusia membawa kesadaran baru.
Kesempatan Kedua Tidak Selalu Berarti Kembali
Ada pula keadaan ketika kesempatan kedua tidak berbentuk kembali kepada masa lalu.
Sebuah hubungan mungkin telah selesai.
Sebuah jabatan mungkin tidak kembali.
Sebuah rumah mungkin telah hilang.
Seseorang mungkin telah wafat sebelum permintaan maaf disampaikan.
Dalam keadaan itu, kesempatan kedua adalah kesempatan menjadi manusia yang berbeda pada jalan berikutnya.
Apabila tidak sempat meminta maaf langsung kepada orang yang telah tiada, doakanlah.
Perbaiki pola yang dahulu melukainya.
Kembalikan hak kepada ahli waris apabila memang ada.
Berbuat baik kepada orang lain sebagai bentuk pembelajaran, bukan sebagai cara membeli pengampunan.
Manusia tidak selalu dapat mengubah akhir cerita lama.
Namun ia masih dapat mencegah cerita buruk yang sama terulang.
Lima Perkara yang Menghabiskan Sisa Cahaya
Pertama: Pertengkaran Tanpa Tujuan
Perdebatan yang tidak lagi mencari kebenaran hanya menghabiskan waktu dan tenaga.
Kedua: Membandingkan Jalan Hidup
Terlalu sibuk melihat keberhasilan orang lain membuat manusia lupa merawat amanahnya sendiri.
Ketiga: Menunda karena Takut Tidak Sempurna
Kebaikan yang sederhana tetapi dilakukan lebih berharga daripada rencana sempurna yang tidak pernah dimulai.
Keempat: Menyimpan Barang dan Amanah Tanpa Kejelasan
Hidup menjadi berat ketika terlalu banyak hal tidak diselesaikan.
Kelima: Mengulang Cerita Luka Tanpa Jalan Pemulihan
Menceritakan luka dapat membantu.
Namun apabila terus diulang tanpa batas, ia dapat membuat identitas manusia sepenuhnya dibangun dari penderitaannya.
Carilah ruang yang aman untuk memproses.
Kemudian perlahan bangun kehidupan di luar luka itu.
Tujuh Cara Menghidupkan Sisa Usia
Pertama: Perbaiki Satu Ibadah Pokok
Mulailah dari yang wajib dan paling sering dilalaikan.
Kedua: Selesaikan Satu Tanggungan
Pilih utang, janji, atau amanah yang dapat mulai diselesaikan.
Ketiga: Rawat Tubuh
Makan, tidur, bergerak, dan mencari pemeriksaan ketika sakit adalah bagian dari amanah.
Keempat: Dekatkan Diri kepada Keluarga
Tidak harus melalui acara besar.
Satu percakapan yang jujur dapat membuka kembali kehangatan.
Kelima: Kurangi Satu Kebiasaan yang Merusak
Pilih sesuatu yang nyata dan dapat diukur.
Keenam: Ajarkan Satu Kebaikan
Bagikan ilmu yang benar, pengalaman yang bermanfaat, atau keterampilan halal.
Ketujuh: Miliki Satu Amal Rahasia
Simpan satu kebaikan yang tidak membutuhkan pengakuan manusia.
Sisa Usia dan Kesehatan
Tubuh yang menua atau sakit bukan musuh.
Ia adalah amanah yang perlu dirawat dengan lebih bijaksana.
Jangan memaksakan ibadah tambahan hingga memperburuk keadaan, sementara kewajiban pokok dan kesehatan diabaikan.
Gunakan keringanan yang dibenarkan ketika tubuh tidak mampu.
Berobatlah.
Beristirahatlah.
Ikuti nasihat tenaga kesehatan yang tepercaya.
Jangan merasa kurang iman hanya karena membutuhkan obat, pemeriksaan, atau bantuan orang lain.
Alloh menciptakan sebab-sebab pertolongan di dalam kehidupan.
Memanfaatkannya adalah bagian dari ikhtiar.
Sisa Usia dan Harta
Ketika usia bertambah, harta perlu semakin dirapikan.
Kurangi utang yang tidak perlu.
Jelaskan kepemilikan.
Catat amanah.
Hindari gaya hidup yang hanya mengejar penampilan.
Sisihkan dana untuk kebutuhan kesehatan, keluarga, dan kewajiban.
Bagikan sebagian harta dengan bijaksana tanpa menelantarkan diri dan tanggungan.
Jangan pula membagikan seluruh harta hanya karena takut dianggap tidak dermawan, lalu hidup bergantung kepada orang lain.
Sedekah membutuhkan keikhlasan.
Namun ia juga membutuhkan kebijaksanaan.
Harta adalah alat.
Jangan biarkan ia menjadi tuan yang mengendalikan seluruh pikiran.
Sisa Usia dan Pengaruh
Orang yang telah lama memimpin perlu belajar bahwa pengaruh juga memiliki masa.
Ada waktu berada di depan.
Ada waktu mendampingi.
Ada waktu diam agar generasi baru belajar.
Jangan terus menguasai seluruh keputusan hanya karena merasa paling berpengalaman.
Pengalaman berharga.
Namun zaman dapat membutuhkan cara baru.
Berikan batas dan nilai.
Kemudian izinkan penerus bertumbuh.
Apabila mereka melakukan kesalahan, bimbing.
Jangan segera mengambil kembali seluruh amanah.
Orang tidak akan menjadi dewasa apabila tidak pernah diberi ruang mencoba.
Sisa Usia dan Pasangan
Ketika usia bertambah, hubungan suami istri sering berubah bentuk.
Tidak lagi dipenuhi banyak rencana besar.
Keduanya mulai menghargai hal-hal sederhana.
Duduk bersama.
Minum.
Menunggu waktu sholat.
Mengingat anak-anak.
Mendampingi pemeriksaan.
Mengingatkan obat.
Menutupi tubuh ketika tertidur.
Cinta pada usia lanjut sering menjadi sangat tenang.
Namun ketenangan itu bukan berarti tidak berharga.
Ia adalah hasil dari banyak musim yang telah dilewati.
Jangan merasa hubungan telah kehilangan cahaya hanya karena tidak lagi seperti masa muda.
Matahari sore memiliki keindahan yang berbeda dari fajar.
Purnama tua tetap mampu menerangi malam.
Ketika Menjalani Sisa Usia Sendiri
Tidak semua manusia menjalani masa tua bersama pasangan.
Ada yang ditinggal wafat.
Ada yang berpisah.
Ada yang tidak pernah menikah.
Ada yang tinggal jauh dari keluarga.
Kesendirian tidak harus menjadi kehampaan.
Namun ia juga tidak boleh disangkal.
Manusia tetap membutuhkan hubungan.
Jaga silaturahmi.
Bangun persahabatan yang sehat.
Ikut dalam kegiatan yang bermanfaat.
Mintalah bantuan apabila membutuhkan.
Jangan menutup diri karena takut merepotkan.
Memberi kesempatan kepada orang lain menolong juga merupakan bagian dari hubungan manusia.
Kesendirian yang dirawat dapat menjadi ruang ibadah dan karya.
Kesendirian yang dibiarkan tanpa dukungan dapat berubah menjadi kesepian yang berat.
Sisa Cahaya Tidak Diukur dari Banyaknya Karya
Ada orang yang dapat menghasilkan banyak karya.
Ada pula yang karena kondisi tubuh hanya mampu melakukan sedikit.
Jangan mengukur kemuliaan dari jumlah yang tampak.
Seseorang yang merawat dirinya dengan sabar juga sedang menunaikan amanah.
Seseorang yang menahan diri agar tidak menyakiti keluarganya juga sedang beramal.
Seseorang yang menerima bantuan dengan rendah hati juga sedang belajar.
Tidak semua pengabdian berbentuk kegiatan besar.
Ada pengabdian yang berbentuk bertahan secara sehat.
Ada yang berbentuk pulih.
Ada yang berbentuk menghentikan satu rantai luka.
Di hadapan Alloh, niat, kemampuan, dan kejujuran memiliki tempat yang tidak selalu terlihat oleh manusia.
Hari yang Baik Tidak Harus Hebat
Hari yang baik bukan selalu hari ketika seluruh rencana berhasil.
Hari yang baik dapat berupa:
sholat yang dijaga,
makanan halal yang diperoleh,
satu ucapan kasar yang berhasil ditahan,
satu tanggungan yang dicicil,
satu orang yang didengarkan,
satu jam tidur yang cukup,
atau satu keputusan untuk tidak kembali kepada kebiasaan buruk.
Jangan menunggu peristiwa besar untuk bersyukur.
Hidup tersusun dari hari-hari sederhana.
Kebiasaan kecil yang baik akan membentuk jalan panjang.
Dzikir Sisa Cahaya
Dibaca setelah Subuh atau menjelang Maghrib sebagai doa agar sisa usia digunakan dengan benar.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan memohon ampun atas waktu yang disia-siakan, amanah yang ditunda, dan kebaikan yang rusak oleh kesombongan.
Yā Ḥayy 33×
يَا حَيُّ
Wahai Alloh Yang Mahahidup, hidupkanlah hati kami dalam iman, kesadaran, dan kebaikan.
Yā Qayyūm 33×
يَا قَيُّومُ
Wahai Alloh Yang Maha Menegakkan, teguhkanlah kami menunaikan amanah sesuai kemampuan.
Yā Fattāḥ 33×
يَا فَتَّاحُ
Wahai Alloh Yang Maha Membuka, bukakanlah jalan perbaikan selama kesempatan masih diberikan.
Yā Nūr 33×
يَا نُورُ
Wahai Alloh Pemilik seluruh cahaya, terangilah sisa perjalanan kami agar tidak tersesat oleh ego dan penyesalan.
Apabila tubuh sedang lelah, masing-masing cukup dibaca 11× dengan tenang.
Setelah dzikir, pilih satu tindakan nyata untuk hari itu.
Jangan terlalu banyak.
Satu tindakan yang selesai lebih baik daripada banyak niat yang terus ditunda.
Doa Sisa Cahaya
Yā Alloh Yang Maha Menghidupkan,
Engkau telah memberikan kepada kami waktu yang tidak mampu kami hitung seluruh nilainya.
Sebagian telah kami gunakan dalam kebaikan.
Sebagian kami sia-siakan.
Sebagian kami isi dengan kesalahan.
Dan sebagian masih Engkau rahasiakan panjangnya.
Ampunilah waktu yang telah berlalu tanpa manfaat.
Ampunilah hari-hari ketika kami lebih sibuk mencari pengakuan daripada menunaikan amanah.
Ampunilah saat kami menunda meminta maaf, menunda mengembalikan hak, dan menunda memperbaiki diri.
Yā Alloh,
Jadikanlah sisa umur kami lebih baik daripada yang telah berlalu.
Bukan hanya lebih panjang, tetapi lebih jujur.
Lebih bermanfaat.
Lebih tenang.
Lebih bertanggung jawab.
Dan lebih dekat kepada ridho-Mu.
Apabila tubuh kami masih kuat, gunakanlah kekuatan itu untuk pengabdian.
Apabila tubuh kami melemah, jadikanlah kelemahan itu jalan kesabaran dan kejernihan.
Apabila kami masih memiliki harta, tuntunlah kami mengelolanya dengan amanah.
Apabila harta kami sedikit, cukupkanlah hati dan bukakanlah rezeki halal.
Apabila kami masih dipercaya memimpin, jauhkanlah kami dari kesombongan.
Apabila kami telah kehilangan kedudukan, jangan biarkan kami kehilangan makna kehidupan.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari sang istri sebagai cahaya yang tetap menumbuhkan meskipun sinarnya tidak lagi sekuat dahulu.
Jadikanlah bulan sang suami sebagai keteduhan yang tetap memberi arah meskipun langkahnya mulai melambat.
Apabila keduanya masih bersama, jadikanlah hari-hari mereka penuh penghormatan dan kasih yang tenang.
Apabila salah seorang telah pulang, kuatkanlah yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup tanpa melupakan doa.
Apabila mereka tidak memiliki keturunan, jadikanlah ilmu, karya, sedekah, dan kasih mereka sebagai warisan.
Yā Alloh,
Pertemukanlah kami dengan kesempatan kedua yang membawa perbaikan.
Namun apabila jalan lama tidak dapat kembali, berikanlah keberanian membangun jalan baru tanpa dendam.
Jangan biarkan penyesalan memenjarakan.
Jadikanlah ia guru yang menuntun kepada taubat.
Jangan biarkan kegagalan membuat kami berhenti.
Jadikanlah ia tanah tempat kebijaksanaan tumbuh.
Ajarkanlah kami melakukan sedikit dengan istiqamah.
Menjaga yang wajib.
Merawat tubuh.
Menghormati keluarga.
Melunasi tanggungan.
Membagikan ilmu dengan jujur.
Dan menyimpan amal rahasia hanya untuk-Mu.
Yā Alloh,
Ketika waktu kami semakin pendek, jangan biarkan hati kami semakin keras.
Ketika usia bertambah, tambahkanlah kerendahan hati.
Ketika nama kami mulai dilupakan, hidupkanlah manfaat yang pernah kami tanam.
Dan ketika hari terakhir benar-benar datang, jadikanlah kami telah berusaha merapikan amanah, meminta maaf, mengembalikan hak, serta menyerahkan seluruh hasil kepada-Mu.
Jadikanlah sisa cahaya kami bagian dari Rahayu Jagat:
tidak harus besar,
tidak harus dikenal,
tetapi jujur, bermanfaat, dan tidak menambah luka.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Sabda Penutup Lembar Keempat Belas
Sisa usia bukan sisa yang tidak berharga.
Satu hari dapat menjadi pintu taubat.
Satu ucapan dapat memulihkan hubungan.
Satu pembayaran dapat meringankan amanah.
Satu teladan dapat mengubah arah keturunan.
Jangan menunggu matahari berada di tengah langit untuk mulai menanam.
Cahaya senja pun masih mampu menunjukkan jalan pulang.
Jangan menunggu bulan menjadi purnama untuk mulai berjalan.
Cahaya sabit pun cukup bagi langkah yang berhati-hati.
Manusia tidak diminta memperbaiki seluruh dunia seorang diri.
Ia diminta menjaga amanah yang berada dalam jangkauannya.
Maka gunakanlah apa yang masih tersisa:
waktu,
tenaga,
ilmu,
harta,
ucapan,
pengalaman,
dan kasih sayang.
Jangan habiskan semuanya untuk membuktikan siapa dirimu.
Gunakanlah untuk menunjukkan kepada siapa engkau mengabdi.
Di sanalah Zhahrotulloh Al-‘Azhim menjadi sisa cahaya yang penuh makna:
umur yang tidak hanya dilewati,
penyesalan yang berubah menjadi perbaikan,
kelemahan yang tidak kehilangan manfaat,
dan setiap hari yang dijadikan langkah kecil menuju ridho Alloh.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
LEMBAR KELIMA BELAS — LEMBAR PENUTUP
Zhahrah Samudra Rahayu: Penyatuan Matahari dan Bulan dalam Pengabdian
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan seluruh alam, Pemilik matahari dan bulan, Pemilik terang dan gelap, Pemilik kehidupan dan kepulangan, Pemilik seluruh ilmu yang diketahui maupun yang masih tersembunyi dari manusia.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama yang amanah, serta seluruh hamba yang menempuh jalan iman, ilmu, akhlak, dan kasih sayang.
Saudara cahayaku,
Sampailah kita pada lembar terakhir QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM.
QITAB ini merupakan karya sastra hikmah dan perenungan ruhani. Ia bukan kitab suci baru, bukan wahyu, bukan pengganti Al-Qur’an, serta bukan sumber hukum yang berdiri sendiri.
Setiap isinya harus tetap diletakkan di bawah tauhid, tuntunan Rasululloh ﷺ, ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, akal sehat, keadilan, dan kemaslahatan.
Apabila terdapat kebaikan di dalamnya, ambillah sebagai pengingat.
Apabila terdapat kekurangan, perbaikilah dengan ilmu dan adab.
Jangan membela kekeliruan hanya karena mencintai nama penulisnya.
Jangan pula menolak seluruh kebaikan hanya karena menemukan satu kekurangan.
Timbanglah dengan jernih.
Sebab kebenaran lebih besar daripada nama manusia.
Makna Zhahrotulloh Al-‘Azhim
Zhahrah adalah bunga.
Bunga melambangkan sesuatu yang tumbuh, mekar, mengeluarkan keharuman, lalu memberikan manfaat tanpa memaksa manusia memujinya.
Namun nama Zhahrotulloh Al-‘Azhim tidak berarti manusia memiliki bagian dari ketuhanan.
Alloh tidak menyatu dengan makhluk dan makhluk tidak berubah menjadi Alloh.
Nama itu digunakan sebagai bahasa sastra untuk menggambarkan kesadaran yang tumbuh karena manusia mengenal keagungan Alloh.
Semakin seseorang menyadari keagungan Alloh, seharusnya semakin kecil kesombongannya.
Semakin dalam ilmunya, semakin berhati-hati ucapannya.
Semakin besar amanahnya, semakin kuat tanggung jawabnya.
Semakin banyak manusia menghormatinya, semakin sering ia memeriksa niatnya.
Apabila kesadaran ruhani justru membuat seseorang merasa lebih suci, lebih tinggi, tidak dapat dikritik, atau berhak menguasai manusia lain, maka yang tumbuh bukan bunga kerendahan hati.
Yang tumbuh adalah duri ego yang dihiasi bahasa cahaya.
Karena itu, arti terdalam Zhahrotulloh Al-‘Azhim adalah:
Kesadaran yang mekar ketika seorang hamba melihat keagungan Alloh, lalu memilih hidup dengan rendah hati, adil, amanah, dan bermanfaat.
RUHYUNG AGUNG NING PANEWUN
Saudara cahayaku,
Ruhyung agung ning panewun bukan berarti ruh manusia menjadi agung seperti Alloh.
Ruh tetaplah ciptaan.
Keagungan ruh tampak ketika ia tunduk kepada Penciptanya.
Panewun adalah permohonan.
Namun permohonan paling dalam bukan hanya meminta agar keinginan dipenuhi.
Panewun yang agung adalah memohon agar hati mampu menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Banyak manusia meminta kekayaan.
Sedikit yang meminta kemampuan menjaga kekayaan dengan amanah.
Banyak yang meminta kedudukan.
Sedikit yang meminta perlindungan dari kesombongan setelah kedudukan datang.
Banyak yang meminta cinta.
Sedikit yang meminta kemampuan mencintai tanpa menguasai.
Banyak yang meminta ilmu.
Sedikit yang meminta keberanian mengakui ketika ilmunya masih terbatas.
Banyak yang meminta jalan terbuka.
Sedikit yang meminta kekuatan untuk menempuh jalan itu secara halal, sabar, dan bertanggung jawab.
Karena itu, panewun terakhir dari QITAB ini bukanlah permohonan memperoleh kekuasaan atas matahari atau bulan.
Ia adalah permohonan agar manusia mampu menguasai hawa nafsunya sendiri.
Bukan permohonan agar seluruh dunia tunduk kepadanya.
Melainkan permohonan agar dirinya tunduk kepada Alloh.
SASTRO SAMUDRO
Sastro adalah tulisan.
Samudro adalah keluasan.
Sastro Samudro mengajarkan bahwa kehidupan manusia merupakan tulisan yang mengalir menuju samudra waktu.
Setiap ucapan menulis sesuatu.
Setiap pilihan meninggalkan jejak.
Setiap cara memperlakukan pasangan, anak, keluarga, murid, pekerja, tetangga, dan orang yang lemah akan menjadi bagian dari sejarah.
Ada manusia yang tidak pernah menulis buku, tetapi kehidupannya menjadi buku bagi anak-anaknya.
Ada manusia yang banyak menulis tentang kasih sayang, tetapi keluarganya hanya mengingat kekerasan ucapannya.
Ada orang yang tidak dikenal masyarakat luas, tetapi kejujurannya menjadi pondasi bagi beberapa generasi.
Ada pula orang yang namanya besar, tetapi jejaknya meninggalkan ketakutan.
Maka jangan hanya memperindah tulisan di atas kertas.
Perindahlah tulisan yang dibuat melalui perbuatan.
Jangan hanya menyusun kalimat yang menenangkan.
Jadilah manusia yang kehadirannya juga menenangkan.
Jangan hanya berbicara tentang amanah.
Catatlah harta, utang, janji, dan dana perjuangan dengan jujur.
Jangan hanya berbicara tentang cinta.
Hentikan ucapan yang membuat pasangan dan anak hidup dalam ketakutan.
Jangan hanya mengajarkan kerendahan hati.
Beranilah menerima koreksi ketika kesalahan ditunjukkan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dibaca melalui apa yang dituliskannya.
Ia juga dibaca melalui cara dirinya hidup.
RAHAYU JAGAT
Rahayu jagat tidak berarti manusia menjadi penyelamat seluruh alam.
Hanya Alloh yang memiliki kekuasaan mutlak.
Rahayu jagat berarti manusia berusaha tidak menambah kerusakan serta menghadirkan keselamatan sesuai kemampuan.
Rahayu dimulai dari rumah.
Dari ucapan yang tidak merendahkan.
Dari tangan yang tidak melakukan kekerasan.
Dari nafkah yang halal.
Dari anak yang memperoleh rasa aman.
Dari pasangan yang tidak diperlakukan sebagai milik.
Dari orang tua yang dihormati tanpa membiarkan kezaliman.
Dari tetangga yang tidak diganggu.
Dari pekerja yang menerima haknya.
Dari uang amanah yang tidak diselewengkan.
Dari ajaran yang tidak memenjarakan akal.
Dari doa yang tidak dijual sebagai kepastian hasil.
Dari pengalaman batin yang tidak digunakan untuk menuduh orang lain.
Jagat yang besar dibangun dari banyak tindakan kecil.
Mungkin seseorang tidak mampu menghentikan seluruh peperangan.
Namun ia mampu menghentikan peperangan di dalam rumahnya.
Mungkin ia belum mampu menghapus kemiskinan.
Namun ia mampu memberi makan satu keluarga.
Mungkin ia tidak mampu menyembuhkan seluruh luka dunia.
Namun ia mampu meminta maaf atas luka yang dibuatnya sendiri.
Di situlah rahayu dimulai.
MATAHARI DI TANGAN SANG ISTRI
Pada sampul QITAB, sang istri memegang matahari di tangan kanannya dan mengenakan pakaian kebesaran berwarna nila.
Matahari itu adalah lambang:
kehangatan,
kehidupan,
kejernihan,
keberanian,
ilmu,
dan kemampuan menumbuhkan.
Namun matahari bukan milik sang istri.
Ia hanya amanah.
Jika digunakan dengan kasih, ia menghangatkan.
Jika digunakan tanpa kendali, ia membakar.
Karena itu, kekuatan seorang istri tidak diukur dari seberapa banyak manusia yang takut kepadanya.
Kekuatan sejatinya tampak ketika ia mampu:
menyampaikan kebenaran tanpa menghina,
menjaga kehormatan tanpa merendahkan orang lain,
menyayangi tanpa kehilangan batas,
mendidik tanpa menanamkan ketakutan,
serta meminta pertolongan ketika bebannya telah melampaui kemampuan.
Warna nila adalah lambang kedalaman.
Namun kedalaman tidak harus menjadi kegelapan.
Seorang perempuan tidak perlu menyimpan seluruh luka agar disebut kuat.
Ia boleh berbicara.
Ia boleh beristirahat.
Ia boleh meminta bantuan.
Ia boleh berkata bahwa suatu perlakuan tidak dapat diterima.
Ia boleh menjaga keselamatan tubuh dan jiwanya.
Kesabaran tidak berarti kehilangan kehormatan.
Pengabdian tidak berarti menghapus diri.
Kasih sayang tidak berarti mengizinkan kezaliman.
Mahkota sejati sang istri bukan perhiasan yang berada di kepalanya.
Mahkotanya adalah:
kejernihan,
kehormatan,
keteguhan,
kasih sayang,
dan keberanian berjalan dalam kebenaran.
BULAN DI TANGAN SANG SUAMI
Sang suami memegang bulan di tangan kirinya, mengenakan pakaian kebesaran jingga, dan memiliki rambut panjang.
Bulan adalah lambang:
keteduhan,
penjagaan,
kesetiaan,
keheningan,
dan petunjuk dalam malam.
Namun bulan juga bukan milik sang suami.
Ia adalah amanah.
Seorang suami tidak menjadi mulia hanya karena dirinya disebut pemimpin.
Kepemimpinan bukan izin untuk menguasai jiwa pasangan.
Ia adalah kewajiban menjaga, mendengar, bermusyawarah, bekerja secara halal, dan bertanggung jawab.
Wibawa bukan kerasnya suara.
Wibawa adalah kesesuaian antara ucapan dan tindakan.
Kekuatan bukan kemampuan membuat keluarga takut.
Kekuatan adalah kemampuan menahan tangan, lidah, dan amarah ketika keadaan tidak sesuai keinginan.
Warna jingga melambangkan semangat.
Namun semangat harus dijaga agar tidak menjadi api kemarahan.
Rambut panjang melambangkan perjalanan dan proses.
Kedewasaan laki-laki tidak datang hanya karena usia bertambah atau akad telah dilakukan.
Ia tumbuh melalui:
kejujuran,
pengendalian diri,
kesetiaan,
kerja halal,
kerendahan hati,
dan keberanian mengakui kesalahan.
Jubah kebesaran sang suami bukan pakaian yang dilihat manusia.
Jubah sejatinya adalah tanggung jawab yang tetap dikenakan meskipun tidak ada yang memberi pujian.
KETIKA MATAHARI DAN BULAN BERDIRI BERSAMA
Matahari dan bulan berbeda.
Namun perbedaan mereka tidak berarti permusuhan.
Demikian pula suami dan istri.
Keduanya tidak harus sama dalam seluruh perkara.
Kesatuan bukan penghapusan kepribadian.
Persatuan adalah kesediaan menyelaraskan perbedaan dalam tujuan kebaikan.
Istri tidak harus mengecil agar suami terlihat besar.
Suami tidak harus merendahkan istri agar kepemimpinannya diakui.
Sang istri dapat memiliki ilmu tanpa menjadikan suami merasa tidak berguna.
Sang suami dapat memimpin tanpa mematikan suara istrinya.
Ada masa istri menjadi matahari yang menguatkan suami.
Ada masa suami menjadi bulan yang meneduhkan istri.
Ada masa keduanya sama-sama lelah dan membutuhkan pertolongan dari luar.
Meminta bantuan bukan kegagalan rumah tangga.
Ia dapat menjadi tanda bahwa keduanya masih ingin memperbaiki keadaan.
Namun bantuan harus dicari dari orang yang amanah, adil, dan memiliki kemampuan yang sesuai.
Masalah kesehatan dibawa kepada tenaga kesehatan.
Persoalan hukum dibawa kepada pihak yang memahami hukum.
Masalah kejiwaan dibawa kepada tenaga profesional.
Persoalan agama ditanyakan kepada orang berilmu.
Doa tidak menghapus kebutuhan terhadap ikhtiar.
Ikhtiar juga tidak menghapus kebutuhan terhadap doa.
RINGKASAN PERJALANAN EMPAT BELAS LEMBAR
Saudara cahayaku,
Pada lembar pertama, kita mengenal bunga kesadaran yang tumbuh dalam ketundukan.
Pada lembar kedua, kita memahami matahari di tangan istri dan bulan di tangan suami sebagai lambang dua cahaya yang saling melengkapi.
Pada lembar ketiga, kita membangun singgasana cahaya di dalam rumah melalui kejujuran, amanah, komunikasi, dan pengampunan.
Pada lembar keempat, kita membuka gapura samudra agar kebaikan rumah mengalir kepada lingkungan dan kehidupan.
Pada lembar kelima, kita mengenal ujian mahkota nila dan jubah jingga ketika nama, harta, pertolongan, dan pengaruh mulai bertambah.
Pada lembar keenam, kita memasuki Taman Zhahrah dan belajar bahwa cinta harus dirawat setelah melewati ujian.
Pada lembar ketujuh, kita memahami kesetiaan yang tetap hidup ketika usia, tubuh, kesehatan, dan keadaan berubah.
Pada lembar kedelapan, kita mempelajari warisan matahari dan bulan kepada anak, murid, keluarga, dan generasi berikutnya.
Pada lembar kesembilan, kita menjaga nama, ajaran, harta perjuangan, serta jejak kehidupan agar tidak berubah menjadi alat kesombongan.
Pada lembar kesepuluh, kita meletakkan matahari dan bulan di atas timbangan keadilan.
Pada lembar kesebelas, kita membangun Jembatan Rahayu untuk menghentikan dendam tanpa menyembunyikan kezaliman.
Pada lembar kedua belas, kita memasuki Samudra Hening dan belajar mengabdi tanpa menjadikan pengakuan manusia sebagai tujuan utama.
Pada lembar ketiga belas, kita berdiri di Gerbang Kepulangan dan menyadari bahwa seluruh cahaya akan dikembalikan kepada Alloh.
Pada lembar keempat belas, kita menggunakan sisa usia sebagai kesempatan memperbaiki, menanam, merawat, dan melepaskan.
Kini pada lembar terakhir, seluruh pelajaran itu dikumpulkan dalam satu pertanyaan:
Setelah mengetahui semua ini, bagaimana kita akan hidup?
Ilmu yang tidak menjadi tindakan hanya menambah berat pertanggungjawaban.
Nasihat yang tidak diterapkan pada diri sendiri dapat berubah menjadi penghias ucapan.
Karena itu, penutup QITAB ini bukan hanya rangkaian kata.
Ia adalah ajakan untuk memilih satu perubahan nyata.
LIMA BELAS WASIAT ZHAHRAH SAMUDRA RAHAYU
Wasiat Pertama
Jangan Mencari Keagungan bagi Diri
Apabila manusia memanggilmu dengan gelar yang baik, gunakanlah gelar itu sebagai pengingat tanggung jawab.
Jangan menuntut orang lain menyebutnya.
Jangan menjadikan gelar sebagai bukti bahwa seluruh ucapanmu benar.
Nama hanya tanda.
Akhlaklah yang memberikan isi.
Wasiat Kedua
Jangan Menjadikan Pengalaman Batin sebagai Hukum Umum
Mimpi, firasat, getaran, rasa hangat, atau simbol dapat menjadi pengalaman pribadi.
Namun semuanya tidak boleh langsung digunakan untuk menuduh, menghukum, atau mengambil hak orang lain.
Periksalah dengan tauhid, syariat, fakta, ilmu, dan akal sehat.
Pengalaman yang sangat kuat tetap dapat disalahpahami oleh manusia.
Wasiat Ketiga
Jagalah yang Wajib Sebelum Mengejar yang Aneh
Jangan sibuk mencari rahasia langit, tetapi melalaikan sholat, tanggung jawab, utang, kesehatan, dan keluarga.
Kedalaman ruhani tidak diukur dari banyaknya cerita luar biasa.
Ia terlihat dari kesetiaan menunaikan kewajiban yang sering dianggap sederhana.
Wasiat Keempat
Jangan Menguasai Manusia dengan Bahasa Cahaya
Jangan berkata bahwa seseorang harus tunduk kepadamu karena engkau dianggap memiliki kedudukan ruhani.
Jangan menakut-nakuti manusia dengan ancaman gaib agar mereka memberikan harta, mengikuti pilihanmu, atau meninggalkan keluarganya.
Bimbinglah manusia agar semakin dekat kepada Alloh dan semakin mampu bertanggung jawab.
Bukan semakin bergantung kepada dirimu.
Wasiat Kelima
Terangkan Kedudukan Setiap Tulisan
Bedakan antara Al-Qur’an, hadis, penafsiran, doa, sastra hikmah, pengalaman pribadi, dan pendapat manusia.
Jangan menyamakan karya manusia dengan wahyu.
Jangan pula menjadikan satu tulisan sebagai jaminan keselamatan.
Tulisan hanyalah sarana.
Petunjuk berasal dari Alloh.
Wasiat Keenam
Harta Amanah Harus Dicatat
Setiap dana dakwah, bantuan sosial, pendidikan, cetak, distribusi, atau pengelolaan harus memiliki catatan yang jujur.
Apabila terdapat harga untuk mengganti biaya, jelaskanlah.
Apabila ada bagian untuk pengelolaan dan kesejahteraan pengabdi, sampaikan secara terbuka.
Keberlanjutan perjuangan bukan dosa.
Namun penyembunyian dan penyalahgunaan adalah pelanggaran amanah.
Wasiat Ketujuh
Jangan Menutupi Kekerasan demi Nama Baik
Nama keluarga, tokoh, kelompok, atau lembaga tidak lebih berharga daripada keselamatan manusia.
Apabila terdapat kekerasan, pelecehan, penipuan, atau ancaman, hentikan bahaya terlebih dahulu.
Kebenaran harus ditangani dengan bukti, prosedur, perlindungan, dan keadilan.
Bukan dengan fitnah.
Bukan pula dengan penutupan.
Wasiat Kedelapan
Jangan Wariskan Luka sebagai Tradisi
Kalimat “dahulu aku juga diperlakukan demikian” bukan pembenaran untuk mengulang luka kepada anak atau murid.
Ambillah kebaikan dari pendahulu.
Hentikan pola yang merusak.
Menghormati leluhur bukan berarti mengulang seluruh kesalahan mereka.
Wasiat Kesembilan
Belajarlah Meminta Maaf Tanpa Syarat
Jangan berkata:
“Aku meminta maaf, tetapi engkau juga salah.”
Akui lebih dahulu bagian kesalahanmu.
Setelah itu, persoalan lain dapat dibicarakan secara terpisah.
Permintaan maaf bukan kehilangan harga diri.
Ia adalah tanda bahwa diri lebih mencintai kebenaran daripada gengsi.
Wasiat Kesepuluh
Memaafkan Tidak Menghapus Batas
Memaafkan adalah melepaskan keinginan membalas secara zalim.
Namun orang yang terluka tetap boleh menjaga jarak.
Ia boleh meminta perlindungan.
Ia boleh menuntut pengembalian hak.
Jangan memaksa kedekatan atas nama perdamaian.
Wasiat Kesebelas
Jangan Berutang untuk Mempertahankan Gengsi
Hidup sesuai kemampuan adalah kehormatan.
Jangan membangun citra kaya melalui utang yang tidak terukur.
Jangan menggunakan dana amanah untuk menutup kebutuhan pribadi.
Catat setiap tanggungan.
Bicarakan keadaan keuangan dengan jujur kepada pihak yang berhak mengetahui.
Wasiat Kedua Belas
Siapkan Penerus, Bukan Pengikut yang Tergantung
Ajarkan ilmu.
Bagikan kewenangan.
Beri kesempatan mencoba.
Jangan takut murid, anak, atau penerus berkembang lebih besar.
Perjuangan yang sehat tidak berhenti hanya karena satu manusia telah tiada.
Wasiat Ketiga Belas
Rawat Tubuh sebagai Amanah
Jangan menganggap seluruh sakit sebagai tanda gaib.
Periksa kemungkinan medis.
Gunakan pengobatan yang tepat.
Jangan menghentikan obat atau menolak pertolongan hanya karena menunggu kesembuhan melalui doa.
Doa dan pengobatan dapat berjalan bersama.
Wasiat Keempat Belas
Jangan Membiarkan Orang Tenggelam dalam Keputusasaan
Apabila seseorang berkata hidupnya tidak berarti, ingin menghilang, atau tidak sanggup menanggung beban, jangan meremehkannya.
Dengarkan.
Temani.
Jauhkan dari bahaya.
Carikan bantuan keluarga, tenaga kesehatan, atau pihak yang mampu menolong.
Jangan hanya menyuruhnya diam dan memperbanyak bacaan.
Pertolongan manusia dapat menjadi jalan rahmat Alloh.
Wasiat Kelima Belas
Kembalikan Seluruh Hasil kepada Alloh
Setelah merencanakan, bekerja, berdoa, bermusyawarah, dan memperbaiki, manusia tetap tidak menguasai seluruh hasil.
Ada doa yang dijawab melalui pemberian.
Ada yang dijawab melalui penundaan.
Ada yang dijawab melalui perlindungan dari sesuatu yang belum diketahui.
Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh.
Kemudian jangan menganggap dirimu gagal hanya karena hasil berbeda dari rencana.
JANJI SANG ISTRI PEMBAWA MATAHARI
Sang istri dapat menghadapkan tangan kanannya ke dada, bukan sebagai ritual wajib, melainkan sebagai lambang kesungguhan niat, lalu mengucapkan:
Dengan pertolongan Alloh, aku akan menjaga matahari yang dititipkan kepadaku.
Aku akan menghangatkan tanpa membakar.
Aku akan berbicara tanpa merendahkan.
Aku akan mencintai tanpa kehilangan kehormatan.
Aku akan merawat keluarga tanpa meniadakan kebutuhan diriku.
Aku akan meminta bantuan ketika beban telah melampaui kemampuan.
Aku tidak akan menggunakan air mata untuk memanipulasi.
Aku tidak akan menggunakan ilmu untuk mempermalukan.
Aku tidak akan menjadikan anak sebagai alat pertikaian.
Aku akan menjaga tubuh, hati, dan amanahku sebagai titipan Alloh.
Apabila aku salah, aku akan belajar mengakui.
Apabila aku terluka, aku akan mencari jalan perlindungan dan penyembuhan yang benar.
Aku bukan pemilik matahari.
Aku hanya hamba yang diminta menggunakannya untuk kebaikan.
JANJI SANG SUAMI PEMBAWA BULAN
Sang suami dapat menghadapkan tangan kirinya ke dada sebagai lambang tanggung jawab, lalu mengucapkan:
Dengan pertolongan Alloh, aku akan menjaga bulan yang dititipkan kepadaku.
Aku akan meneduhkan tanpa membekukan.
Aku akan memimpin tanpa menindas.
Aku akan melindungi tanpa menguasai.
Aku akan mencari nafkah dengan cara yang halal.
Aku akan membicarakan keputusan besar dengan jujur.
Aku tidak akan menggunakan kekuatan untuk menakut-nakuti keluarga.
Aku tidak akan menggunakan nafkah sebagai alat hukuman.
Aku tidak akan menyembunyikan hubungan, utang, atau amanah yang menjadi hak pasangan untuk mengetahuinya.
Aku akan belajar menahan amarah dan meminta pertolongan ketika tidak mampu mengendalikan diri.
Apabila aku salah, aku akan meminta maaf dan memperbaiki akibatnya.
Aku bukan pemilik bulan.
Aku hanya hamba yang diminta membawa keteduhan dalam perjalanan.
JANJI DUA CAHAYA
Kemudian keduanya dapat mengucapkan:
Kami tidak akan saling menyembah.
Kami tidak akan saling menguasai.
Kami akan saling membantu menjadi hamba Alloh yang lebih baik.
Kami akan berbicara sebelum prasangka tumbuh terlalu besar.
Kami akan bermusyawarah sebelum keputusan besar diambil.
Kami akan mencari bantuan ketika persoalan tidak mampu kami selesaikan sendiri.
Kami akan menjaga anak-anak dari pertikaian kami.
Kami akan menjaga harta, tubuh, kehormatan, dan rahasia sebagai amanah.
Kami tidak berjanji bahwa kehidupan selalu mudah.
Kami berjanji berusaha tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan saling menghancurkan.
Apabila kami salah, tuntunlah kami memperbaiki.
Apabila jalan kami harus berubah, tuntunlah kami tetap berlaku adil.
Dan apabila salah seorang lebih dahulu pulang, jadikanlah cinta yang tersisa berubah menjadi doa dan amal.
Janji ini bukan akad baru.
Ia hanya pengingat terhadap tanggung jawab yang telah ada.
Tidak wajib dibaca.
Nilainya terletak pada tindakan setelahnya.
TUJUH LANGKAH HARIAN ZHAHRAH RAHAYU
Langkah Pertama: Bangun dengan Syukur
Ketika bangun, sadari bahwa satu hari lagi telah diberikan.
Jangan langsung membawa seluruh beban masa depan ke dalam pikiran.
Mulailah dengan syukur sederhana.
“Alḥamdulillāh, Alloh masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki.”
Langkah Kedua: Jaga Ibadah Pokok
Dahulukan yang wajib.
Jangan mengejar banyak amalan tambahan sementara kewajiban, pekerjaan, kesehatan, dan tanggung jawab keluarga ditinggalkan.
Langkah Ketiga: Tentukan Satu Amanah Utama
Pilih satu perkara penting untuk diselesaikan hari itu.
Satu pembayaran.
Satu pekerjaan.
Satu percakapan.
Satu perbaikan.
Terlalu banyak niat tanpa penyelesaian hanya menambah kegelisahan.
Langkah Keempat: Jaga Ucapan
Sebelum berbicara, tanyakan:
Apakah benar?
Apakah perlu?
Apakah waktunya tepat?
Apakah caranya menjaga kehormatan?
Langkah Kelima: Berikan Satu Kebaikan
Tidak harus berupa uang.
Berikan waktu, ilmu, perhatian, tenaga, atau doa.
Namun jangan memaksakan diri hingga mengabaikan tanggungan.
Langkah Keenam: Periksa Diri sebelum Tidur
Tanyakan:
Siapa yang kulukai hari ini?
Amanah apa yang belum kuselesaikan?
Kebaikan apa yang dapat kusyukuri?
Apa satu perbaikan yang perlu kulakukan besok?
Langkah Ketujuh: Serahkan Hasil
Setelah ikhtiar, jangan terus-menerus menyiksa diri dengan hasil yang belum dapat dikendalikan.
Tidurlah dengan doa.
Percayakan yang tidak mampu dijangkau kepada Alloh.
TUJUH TANDA CAHAYA MULAI SEIMBANG
Cahaya matahari dan bulan mulai seimbang bukan ketika manusia melihat penampakan atau mengalami sensasi tertentu.
Keseimbangannya tampak ketika:
-
Ucapan menjadi lebih terkendali.
-
Kesalahan lebih mudah diakui.
-
Hak manusia lebih diperhatikan.
-
Ibadah semakin melahirkan akhlak.
-
Keputusan tidak hanya mengikuti emosi.
-
Tubuh dan kesehatan mulai dirawat.
-
Kehadiran diri lebih banyak menenangkan daripada menakutkan.
Apabila setelah banyak amalan seseorang justru semakin kasar, curiga, mudah menuduh, merasa paling suci, atau mengabaikan kehidupan nyata, maka ia perlu berhenti dan memeriksa kembali jalannya.
Cahaya sejati tidak memutus manusia dari kenyataan.
Ia membantu manusia melihat kenyataan dengan lebih jernih.
TUJUH TANDA EGO MEMAKAI BAJU CAHAYA
Waspadalah apabila muncul tanda berikut:
-
Merasa seluruh firasat pasti benar.
-
Menganggap kritik sebagai serangan terhadap kesucian diri.
-
Menuntut penghormatan khusus.
-
Menganggap orang yang berbeda sebagai lebih rendah.
-
Menggunakan mimpi atau simbol untuk menguasai keputusan orang lain.
-
Menutupi kesalahan dengan alasan menjaga nama perjuangan.
-
Merasa tidak lagi membutuhkan nasihat, dokter, ahli, atau pemeriksaan fakta.
Apabila tanda itu muncul, kembalilah kepada istighfar, ilmu, musyawarah, dan tindakan nyata.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat.
Ia adalah kesediaan menerima bahwa manusia dapat salah.
KETIKA RUMAH TANGGA TIDAK DAPAT DIPERTAHANKAN DALAM BENTUK LAMA
Saudara cahayaku,
Tidak semua hubungan dapat kembali seperti semula.
Ada pernikahan yang pulih melalui taubat, konseling, perubahan, dan kesabaran.
Ada pula keadaan ketika keselamatan, kehormatan, dan keadilan menuntut jarak atau keputusan yang berat.
QITAB ini tidak memerintahkan seseorang mempertahankan kekerasan tanpa perlindungan.
Ia juga tidak mendorong perpisahan hanya karena perselisihan yang masih dapat diselesaikan.
Periksa dengan jernih:
Apakah bahaya telah dihentikan?
Apakah pihak yang bersalah mengakui dan bertanggung jawab?
Apakah terdapat perubahan nyata?
Apakah korban merasa aman?
Apakah bantuan ahli telah dicari?
Apakah keputusan dibuat dalam kemarahan atau melalui pertimbangan yang matang?
Apabila perpisahan akhirnya terjadi, jagalah adab sejauh mungkin.
Jangan gunakan anak sebagai senjata.
Jangan menyebarkan aib yang tidak diperlukan.
Selesaikan hak.
Jangan menghalangi hubungan anak dengan orang tua yang aman bagi dirinya.
Dan jangan menjadikan kegagalan satu hubungan sebagai bukti bahwa seluruh hidup telah kehilangan nilai.
Manusia masih dapat bertumbuh, bertaubat, belajar, dan menjadi lebih baik.
KETIKA SALAH SEORANG TELAH PULANG
Apabila matahari lebih dahulu terbenam, bulan tidak harus ikut padam.
Apabila bulan lebih dahulu menghilang, matahari tidak harus berhenti terbit.
Yang ditinggalkan boleh berduka.
Ia boleh menangis.
Ia boleh merasa kehilangan.
Namun ia tetap memiliki kehidupan yang perlu dirawat.
Cinta kepada orang yang telah wafat dapat diteruskan melalui:
doa,
sedekah,
menjaga amanah,
merawat anak,
menyelesaikan utang,
dan meneruskan kebaikannya.
Jangan membangun kepastian hukum atau keputusan besar hanya dari mimpi tentang orang yang telah wafat.
Hormati pengalaman batin itu sebagai pengalaman pribadi.
Namun gunakan fakta dan ketentuan yang jelas untuk urusan harta, warisan, dan hak manusia.
KETIKA QITAB INI DITERUSKAN
Apabila QITAB ini dicetak, dibagikan, dibaca, atau diajarkan, jagalah lima amanah:
Pertama
Sebutkan bahwa ia adalah sastra hikmah dan renungan, bukan kitab suci atau wahyu.
Kedua
Jangan menjanjikan hasil gaib yang pasti kepada pembaca.
Ketiga
Jangan menggunakan QITAB untuk menggantikan pengobatan, hukum, atau nasihat ahli.
Keempat
Apabila terdapat biaya cetak, pengelolaan, dan distribusi, jelaskan dengan jujur.
Kelima
Izinkan koreksi apabila ditemukan kekeliruan.
QITAB yang benar-benar hidup bukan QITAB yang tidak pernah disentuh perbaikan.
Ia adalah karya yang membantu manusia semakin jujur, amanah, dan dekat kepada Alloh.
DZIKIR PENUTUP ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
Dzikir ini merupakan doa dan pengingat.
Ia bukan mantra, bukan jaminan hasil tertentu, dan tidak menggantikan kewajiban maupun ikhtiar nyata.
Dibaca setelah sholat atau pada waktu yang tenang.
Istighfar 33×
Astaghfirullohal-‘Aẓīm wa atūbu ilaih.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Niatkan untuk memohon ampun atas kesalahan dalam ucapan, keluarga, amanah, harta, ilmu, dan pengabdian.
Yā Alloh 33×
يَا اللهُ
“Yā Alloh, hanya kepada-Mu kami menyembah dan kembali.”
Yā Nūr 33×
يَا نُورُ
“Yā Alloh Pemilik seluruh cahaya, terangilah hati kami agar mampu melihat kebenaran.”
Yā Hādī 33×
يَا هَادِي
“Yā Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk, tuntunlah langkah kami agar tidak tersesat oleh hawa nafsu.”
Yā Salām 33×
يَا سَلَامُ
“Yā Alloh, sumber keselamatan, jadikanlah kehidupan kami membawa kedamaian dan perlindungan.”
Apabila tubuh sedang lelah, sakit, atau keadaan tidak memungkinkan, masing-masing dapat dibaca 11×.
Tidak perlu memaksakan jumlah hingga membahayakan kesehatan atau mengabaikan kewajiban.
Setelah dzikir, lakukan satu amal nyata.
Sebab cahaya yang hanya berhenti pada bacaan belum menyelesaikan amanahnya.
NIAT PENUTUP
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh, aku menutup pembacaan QITAB ini bukan untuk merasa telah sampai.
Aku menutupnya sebagai permulaan untuk memeriksa hidupku.
Tunjukkan bagian yang perlu kuperbaiki.
Tunjukkan hak yang perlu kukembalikan.
Tunjukkan ucapan yang perlu kumintakan maaf.
Tunjukkan amanah yang perlu kuselesaikan.
Jauhkan aku dari keinginan merasa lebih tinggi karena ilmu, nama, simbol, atau pengalaman batin.
Jadikan setiap pemahaman berubah menjadi akhlak.
Jadikan setiap doa berubah menjadi ikhtiar.
Jadikan setiap ikhtiar tetap tunduk kepada keputusan-Mu.
DOA KHATAM QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
Yā Alloh Yang Mahaagung,
Engkau menciptakan matahari, tetapi matahari tidak pernah menjadi Tuhan.
Engkau menciptakan bulan, tetapi bulan tidak memiliki kuasa selain yang Engkau tetapkan.
Engkau menciptakan ruh manusia, tetapi ruh tetap menjadi ciptaan yang membutuhkan petunjuk dan rahmat-Mu.
Kami mengakui kelemahan kami.
Kami sering menginginkan cahaya, tetapi belum siap memikul tanggung jawabnya.
Kami ingin dihormati, tetapi belum sepenuhnya mampu menghormati.
Kami ingin dicintai, tetapi masih belajar mencintai tanpa menguasai.
Kami ingin didengar, tetapi sering lupa mendengarkan.
Kami meminta keluasan rezeki, tetapi kadang lalai mencatat dan menjaga amanah.
Kami meminta ilmu, tetapi masih mudah merasa paling benar.
Ampunilah kami, yā Alloh.
Ampunilah ucapan yang telah melukai pasangan, anak, orang tua, keluarga, murid, sahabat, dan sesama.
Ampunilah saat kami menggunakan agama untuk memenangkan ego.
Ampunilah saat kami mengatasnamakan kebaikan, tetapi diam-diam mencari pujian.
Ampunilah harta yang belum kami kelola dengan benar.
Ampunilah janji yang belum kami tunaikan.
Ampunilah waktu yang kami habiskan dalam pertengkaran tanpa manfaat.
Yā Alloh,
Jadikanlah matahari di tangan sang istri sebagai lambang kasih yang menghangatkan tanpa membakar.
Berikanlah kepadanya kehormatan, kesehatan, kejernihan, keberanian, dan perlindungan.
Jangan biarkan pengabdiannya membuat dirinya kehilangan hak untuk beristirahat.
Jangan biarkan kelembutannya dimanfaatkan untuk menzaliminya.
Jangan biarkan ketegasannya berubah menjadi api yang melukai keluarga.
Jadikan pakaian nila sebagai lambang kedalaman yang tenang, bukan kegelapan yang menyimpan luka sendirian.
Ajarkanlah ia berbicara dengan hikmah.
Meminta bantuan tanpa rasa malu.
Menjaga batas tanpa kebencian.
Dan tetap membawa harapan setelah melewati malam yang berat.
Yā Alloh,
Jadikanlah bulan di tangan sang suami sebagai lambang penjagaan yang meneduhkan tanpa membekukan.
Berikanlah kepadanya kekuatan yang tidak berubah menjadi kekerasan.
Berikanlah nafkah yang halal dan kemampuan mengelolanya dengan jujur.
Ajarkanlah dirinya mendengar sebelum memutuskan.
Mengakui kesalahan sebelum menuntut penghormatan.
Melindungi tanpa mengekang.
Memimpin tanpa menindas.
Jadikan pakaian jingga sebagai semangat pengabdian, bukan api kemarahan.
Jadikan rambut panjangnya sebagai lambang perjalanan menuju kebijaksanaan, bukan kebanggaan lahiriah.
Yā Alloh,
Satukanlah suami dan istri dalam ketaatan kepada-Mu.
Jangan satukan mereka dalam kebohongan.
Jangan pertahankan kebersamaan hanya sebagai penampilan apabila di dalamnya terus berlangsung bahaya yang tidak dihentikan.
Bukakanlah jalan perbaikan apabila perbaikan masih mungkin.
Bukakanlah perlindungan dan keputusan yang adil apabila keadaan telah membahayakan.
Ajarkanlah mereka bermusyawarah.
Berikan keberanian mencari bantuan yang benar.
Jauhkan anak-anak dari beban pertikaian.
Jangan biarkan satu pun anak merasa dirinya penyebab rusaknya hubungan orang tua.
Yā Alloh,
Lindungilah keluarga kami dari kekerasan, pengkhianatan, fitnah, kecanduan, penipuan, harta yang haram, utang yang tidak bertanggung jawab, serta campur tangan yang merusak.
Karuniakanlah kesehatan tubuh dan jiwa.
Apabila sakit datang, pertemukanlah kami dengan pengobatan dan tenaga kesehatan yang amanah.
Jangan biarkan kami menolak ikhtiar karena salah memahami pengalaman batin.
Jangan biarkan kami mempermalukan orang yang sedang mengalami gangguan jiwa, kecemasan, depresi, atau keputusasaan.
Ajarkanlah kami mendengar dan membawa mereka kepada pertolongan yang tepat.
Yā Alloh,
Jaga anak-anak dan keturunan kami.
Jangan wariskan kemarahan kami kepada mereka.
Jangan wariskan kebohongan.
Jangan wariskan pertikaian.
Jangan wariskan kesombongan karena nama keluarga.
Wariskanlah tauhid.
Wariskanlah kejujuran.
Wariskanlah keberanian meminta maaf.
Wariskanlah cinta kepada ilmu.
Wariskanlah kemampuan menghormati manusia.
Dan wariskanlah kebiasaan mencari rezeki dengan cara yang halal.
Yā Alloh,
Jagalah guru, pemimpin, penulis, pengelola, dan siapa pun yang membawa QITAB ini.
Jangan biarkan mereka menjadikan tulisan ini sebagai alat memperoleh ketaatan buta.
Jangan biarkan mereka menutup koreksi.
Jangan biarkan nama besar mengalahkan kebenaran.
Apabila terdapat biaya dalam pencetakan, pengelolaan, dan penyebarannya, jadikan seluruhnya jelas, wajar, dan amanah.
Jadikan perjuangan mampu mendanai keberlanjutannya secara halal tanpa kehilangan tujuan dakwah, pengabdian, dan kemaslahatan.
Yā Alloh,
Apabila nama kami dikenal, lindungilah hati kami dari kesombongan.
Apabila nama kami dilupakan, jangan biarkan kami kehilangan semangat berbuat baik.
Apabila penerus kami menjadi lebih besar, berikanlah kemampuan untuk bersyukur.
Apabila kesalahan kami ditemukan setelah kami tiada, hadirkan manusia yang memperbaikinya dengan adab.
Jangan jadikan keturunan dan pengikut kami sebagai pembela kebatilan hanya demi mempertahankan nama kami.
Yā Alloh,
Rapikanlah harta kami sebelum ajal datang.
Ingatkanlah utang yang terlupakan.
Berikanlah kemampuan mengembalikan hak.
Jangan biarkan warisan menjadi api bagi anak-anak.
Jadikanlah saudara-saudara mampu bermusyawarah dengan adil.
Jadikan dokumen, catatan, dan amanah kami jelas.
Jangan biarkan keluarga menerka-nerka sesuatu yang sebenarnya dapat kami jelaskan selama hidup.
Yā Alloh,
Apabila pasangan kami lebih dahulu pulang, kuatkanlah hati yang ditinggalkan.
Apabila kami lebih dahulu pulang, lindungilah pasangan, anak, dan amanah kami.
Terimalah doa yang dipanjatkan.
Ampunilah kekurangan yang tidak sempat diperbaiki.
Namun selama kesempatan masih ada, jangan biarkan kami terus menunda.
Gerakkanlah kami meminta maaf hari ini.
Mengembalikan hak hari ini.
Menghubungi keluarga hari ini.
Merawat kesehatan hari ini.
Dan memulai satu kebaikan hari ini.
Yā Alloh,
Jadikanlah ruhyung kami agung melalui ketundukan, bukan melalui pengakuan.
Jadikanlah panewun kami jernih, bukan dipenuhi hawa nafsu.
Jadikanlah sastro kami bermanfaat, bukan sekadar indah.
Jadikanlah samudra hati kami luas, tetapi tetap memiliki batas terhadap kezaliman.
Jadikanlah rahayu kami nyata dalam rumah, pekerjaan, masyarakat, dan lingkungan.
Kami tidak meminta menjadi pemilik matahari.
Kami tidak meminta menjadi penguasa bulan.
Kami hanya meminta kemampuan menggunakan seluruh titipan-Mu untuk kebaikan.
Ketika hidup kami berakhir, jangan tanyakan dunia tentang nama kami.
Cukup jadikan amal kecil kami tetap memberi manfaat.
Cukup jadikan anak-anak mengingat kasih, bukan ketakutan.
Cukup jadikan pasangan mengingat kejujuran, bukan pengkhianatan.
Cukup jadikan orang yang pernah kami bantu mampu berdiri tanpa harus menyembah jasa kami.
Cukup jadikan perjuangan berlanjut meskipun nama kami telah hilang.
Yā Alloh,
Terimalah taubat kami.
Benarkanlah niat kami.
Luruskanlah langkah kami.
Lindungilah kami dari kesesatan yang berpakaian cahaya.
Lindungilah kami dari kesombongan yang berbicara atas nama kerendahan hati.
Lindungilah kami dari kebohongan yang memakai nama dakwah.
Lindungilah kami dari cinta yang berubah menjadi kepemilikan.
Lindungilah kami dari kepemimpinan yang berubah menjadi penindasan.
Dan lindungilah kami dari keheningan yang menutupi kezaliman.
Jadikanlah akhir perjalanan kami baik.
Jadikanlah hati kami tetap berharap kepada rahmat-Mu.
Jadikanlah kami pulang setelah berusaha menunaikan amanah.
Dan kumpulkanlah kami dalam ampunan serta ridho-Mu.
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
SABDA PAMUNGKAS
Pada awal perjalanan, manusia mengira matahari berada di tangannya.
Setelah memahami amanah, ia sadar bahwa tangannyalah yang berada di bawah kekuasaan Alloh.
Pada awal perjalanan, manusia mengira bulan datang untuk memuliakannya.
Setelah melewati malam, ia sadar bahwa bulan hanya menunjukkan jalan agar dirinya tidak tersesat.
Sang istri tidak menjadi mulia karena manusia melihat matahari di tangannya.
Ia menjadi mulia ketika tangannya digunakan untuk menolong, mendidik, merawat, dan menjaga kehormatan.
Sang suami tidak menjadi agung karena manusia melihat bulan di tangannya.
Ia menjadi agung dalam penghambaan ketika tangannya menahan kekerasan, mencari nafkah halal, mengembalikan hak, dan melindungi amanah.
Matahari dan bulan tidak menikah untuk menguasai langit.
Keduanya berdiri berdampingan sebagai lambang keseimbangan.
Demikian pula suami dan istri.
Mereka tidak dipertemukan agar salah satunya menghilangkan yang lain.
Mereka dipertemukan agar perbedaan menjadi jalan belajar, kasih menjadi jalan tanggung jawab, dan rumah menjadi tempat lahirnya rahayu.
Jangan membanggakan pakaian nila apabila hati masih gelap oleh dendam.
Jangan membanggakan jubah jingga apabila tangan masih mudah melukai.
Jangan membanggakan mahkota apabila sulit meminta maaf.
Jangan membanggakan kitab apabila kehidupan tidak berubah.
Jangan membanggakan dzikir apabila hak manusia masih ditahan.
Jangan membanggakan cahaya apabila kehadiranmu membuat keluarga hidup dalam ketakutan.
Bunga yang benar dikenali dari keharumannya.
Ilmu yang benar dikenali dari manfaatnya.
Ibadah yang benar dikenali dari akhlaknya.
Kepemimpinan yang benar dikenali dari perlindungannya.
Cinta yang benar dikenali dari tanggung jawabnya.
Dan pengabdian yang benar dikenali dari kesediaannya tetap berjalan meskipun tidak ada yang memuji.
Apabila matahari sedang terang, bersyukurlah.
Apabila bulan tertutup awan, bersabarlah.
Apabila keduanya tidak tampak, jangan mengira Alloh meninggalkanmu.
Boleh jadi engkau sedang diajarkan berjalan dengan iman ketika tanda-tanda tidak lagi terasa.
Jangan mengejar pengalaman luar biasa hingga kehilangan kebaikan yang berada di depan mata.
Berikan air kepada yang haus.
Bayarlah utang.
Peluklah anak.
Dengarkan pasangan.
Kunjungi orang tua.
Rawat tubuh.
Jaga sholat.
Berhenti menyebarkan kabar yang belum pasti.
Dan mintalah maaf sebelum waktu tertutup.
Itulah bunga yang sesungguhnya.
Itulah samudra yang sesungguhnya.
Itulah rahayu yang sesungguhnya.
KHATAM QITAB
Dengan ini, selesailah:
QITAB ZHAHROTULLOH AL-‘AZHIM
“Ruhyung Agung Ning Panewun, Sastro Samudro Rahayu Jagat.”
QITAB ini ditutup pada lembar kelima belas.
Namun pengamalannya tidak ditutup oleh tulisan terakhir.
Ia baru dimulai ketika:
ucapan mulai dijaga,
hak mulai dikembalikan,
kesalahan mulai diakui,
keluarga mulai didengarkan,
kesehatan mulai dirawat,
amanah mulai dicatat,
dan kebaikan mulai dilakukan tanpa menunggu pujian.
Matahari dikembalikan kepada Pemiliknya.
Bulan dikembalikan kepada Penciptanya.
Mahkota diturunkan.
Jubah dilepaskan.
Nama diserahkan kepada waktu.
Dan dua manusia berdiri sebagai hamba:
tidak membawa keagungan,
tidak membawa kekuasaan,
hanya membawa amal, taubat, dan harapan kepada rahmat Alloh.
Dudu padhanging srengéngé kang ndadèkaké manungsa mulya.
Bukan terangnya matahari yang menjadikan manusia mulia.
Dudu endahing rembulan kang ndadèkaké jiwa sempurna.
Bukan indahnya bulan yang menjadikan jiwa sempurna.
Nanging sumungkeme ati marang Alloh, becike laku, lan rahayune tumindak marang sesami.
Melainkan ketundukan hati kepada Alloh, baiknya perilaku, serta keselamatan yang dibawa kepada sesama.
Semoga QITAB ini menjadi pengingat untuk berbuat baik, bukan alasan merasa lebih tinggi.
Semoga menjadi jalan perenungan, bukan pintu pemujaan kepada manusia.
Semoga menjadi bunga yang mengharumkan akhlak.
Menjadi samudra yang meluaskan kebijaksanaan.
Dan menjadi rahayu yang dapat dirasakan oleh keluarga, masyarakat, serta kehidupan.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
Alḥamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn.
Wassalāmu‘alaikum warohmatullohi wabarokātuh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.