QITAB ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

 



Pengantar

Kepemimpinan bukan hanya tentang kedudukan, gelar, atau kemampuan memberikan perintah. Seorang pemimpin dinilai dari cara ia menjaga amanah, mengambil keputusan, memperlakukan manusia, menghadapi kesulitan, dan meninggalkan karya yang memberi manfaat.
Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh mengajak pembaca merenungkan perjalanan seorang pemimpin yang berusaha menjadikan karya dan tindakannya sebagai teladan. Keteladanan tidak lahir dari ucapan semata, tetapi dari kesesuaian antara nilai yang disampaikan dengan perilaku yang dijalankan.
Dalam kehidupan, kepemimpinan juga tidak selalu berarti memimpin organisasi atau pemerintahan. Setiap manusia mempunyai wilayah amanahnya sendiri: memimpin diri, menjaga keluarga, bekerja dengan jujur, memenuhi tanggung jawab, serta memberikan manfaat kepada lingkungan.
Apa yang Dimaksud Pemimpin yang BerQarya?
Pemimpin yang berQarya adalah pemimpin yang tidak berhenti pada wacana. Ia berusaha mewujudkan gagasan menjadi tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya.
Karya seorang pemimpin dapat berupa pelayanan, pendidikan, pembangunan, penyelesaian masalah, perlindungan terhadap orang yang lemah, penguatan persaudaraan, atau keputusan yang membawa kemaslahatan.
Namun karya yang besar tetap perlu disertai akhlak. Keberhasilan tanpa amanah dapat berubah menjadi kesombongan, sedangkan kekuasaan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan kezaliman.
Karena itu, dalam Qitab ini, perjalanan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia berjalan, tetapi juga dari apa yang ia tinggalkan bagi orang lain setelah perjalanan itu berlalu.
Pelajaran yang Dapat Diperhatikan
Melalui rangkaian Qitab ini, pembaca diajak memperhatikan beberapa nilai utama: amanah sebelum kekuasaan, pelayanan sebelum kebanggaan, keteladanan sebelum tuntutan kepada orang lain, keberanian menerima kritik, serta kesediaan memperbaiki kesalahan.
Pemimpin yang baik bukan manusia yang tidak pernah salah. Ia adalah manusia yang bersedia belajar, mengakui kekurangan, memperbaiki keputusan, dan terus menjaga agar kewenangan yang dimilikinya tidak digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri.

QITAB ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

زِرْيَتَّهْ الْعَظِيمْ أَرْفَقُهْ

Makna Qitab:
“Perjalanan seorang pemimpin yang berQarya, menyjadiqan dirinya tauladan bagi semua umat.”

Nama “Ziryattah al Azim Arfaqoh” dalam Qitab ini ditempatkan sebagai judul hikmah dan simbol perjalanan, bukan sebagai klaim bahwa rangkaian tersebut merupakan istilah baku dalam bahasa Arab.


بسم الله الرحمن الرحيم

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Pemilik segala kekuasaan, Yang meninggikan seseorang bukan semata-mata dengan singgasana, gelar, harta, keturunan, ataupun banyaknya manusia yang mengikutinya, melainkan dengan amanah, keadilan, kasih sayang, keteguhan, ilmu, pengabdian, dan manfaat yang ditinggalkannya.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin yang tidak hanya memerintah dengan perkataan, tetapi terlebih dahulu menjadi contoh dengan kehidupan.


MUQADDIMAH

Pemimpin Tidak Dilahirkan oleh Kursi

Ketahuilah:

Tidak setiap orang yang duduk di depan adalah pemimpin.

Tidak setiap orang yang memiliki jabatan mempunyai jiwa kepemimpinan.

Tidak setiap orang yang mempunyai banyak pengikut mampu menjadi tauladan.

Sebab pemimpin sejati lahir ketika dirinya berani memikul sesuatu yang orang lain enggan memikulnya.

Ketika manusia berlomba mencari tempat yang tinggi, ia justru mencari tempat di mana dirinya paling banyak dapat memberi manfaat.

Ketika manusia mempertanyakan:

“Apa yang akan aku dapat?”

seorang pemimpin mempertanyakan:

“Apa yang dapat aku berikan?”

Dan ketika manusia sibuk meninggalkan nama, pemimpin sejati sibuk meninggalkan Qarya.

Nama suatu hari dapat dilupakan.

Wajah akan menua.

Jabatan akan berpindah.

Kekuasaan akan berakhir.

Tetapi Qarya yang memberi kehidupan kepada manusia dapat berjalan jauh melampaui umur penciptanya.

Maka inilah awal perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh.


BAB I

PERJALANAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Wahai orang yang ingin memimpin manusia,

sebelum engkau memimpin banyak orang, belajarlah memimpin satu manusia terlebih dahulu.

Dan manusia itu adalah:

dirimu sendiri.

Pimpinlah matamu agar tidak melihat dengan kesombongan.

Pimpinlah lidahmu agar tidak melukai.

Pimpinlah tanganmu agar tidak mengambil sesuatu yang bukan hakmu.

Pimpinlah kakimu agar tidak berjalan menuju kezaliman.

Pimpinlah pikiranmu agar tidak mudah menuduh.

Pimpinlah hatimu agar tidak diperbudak pujian.

Pimpinlah keinginanmu agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan.

Sebab bagaimana seseorang hendak menata sebuah negeri apabila dirinya sendiri masih dikuasai oleh amarah, iri, ketakutan, kerakusan, dan keinginan untuk dipuja?

Inilah hukum pertama kepemimpinan:

Barang siapa belum mampu memimpin dirinya, kekuasaan atas orang lain dapat menjadi ujian yang sangat berat baginya.


BAB II

QARYA ADALAH BAHASA SEORANG PEMIMPIN

Pemimpin besar tidak hanya meninggalkan pidato.

Ia meninggalkan jalan.

Ia meninggalkan sekolah.

Ia meninggalkan ilmu.

Ia meninggalkan sistem.

Ia meninggalkan kebiasaan baik.

Ia meninggalkan manusia-manusia yang menjadi lebih kuat setelah mengenalnya.

Ia menanam pohon walaupun mungkin tidak sempat menikmati seluruh buahnya.

Inilah yang dinamakan berQarya.

Qarya bukan hanya bangunan megah.

Mengajarkan seorang anak membaca adalah Qarya.

Mendamaikan dua keluarga adalah Qarya.

Menjaga sungai agar tidak menjadi tempat sampah adalah Qarya.

Menghidupkan pendidikan adalah Qarya.

Membela orang yang lemah adalah Qarya.

Membuka lapangan penghidupan adalah Qarya.

Membentuk generasi yang jujur adalah Qarya.

Menulis ilmu agar dapat diwariskan adalah Qarya.

Menanam pohon yang kelak menaungi manusia yang bahkan belum kita kenal adalah Qarya.

Maka ukuran Qarya bukan:

“Seberapa terkenal namaku?”

Tetapi:

“Berapa banyak kehidupan menjadi lebih baik karena aku pernah hadir?”


BAB III

TAULADAN TIDAK BANYAK BERTERIAK

Ada orang yang setiap hari berbicara tentang kejujuran, tetapi manusia tidak melihat kejujuran dalam kehidupannya.

Ada yang berbicara tentang kesederhanaan, tetapi hidupnya justru mempertontonkan kemewahan.

Ada yang menyerukan persatuan, tetapi perkataannya terus membelah manusia.

Ada yang berbicara tentang rakyat, tetapi tidak pernah benar-benar mendengar rakyat.

Karena itulah Qitab ini berkata:

Tauladan adalah nasihat yang berjalan.

Ketika seorang pemimpin meminta masyarakat disiplin, dirinya harus lebih dahulu disiplin.

Ketika ia meminta masyarakat bersabar, ia harus menunjukkan kesabaran.

Ketika meminta masyarakat tidak korupsi, kehidupan dan kekuasaannya harus transparan.

Ketika meminta manusia menjaga alam, ia tidak boleh membiarkan keserakahan merusak bumi.

Ketika menyerukan persaudaraan, ia tidak boleh membangun kekuasaan dengan kebencian.

Sebab rakyat dapat melupakan pidato pemimpinnya.

Tetapi rakyat sulit melupakan perbuatannya.


BAB IV

PEMIMPIN ADALAH PENJAGA AMANAH

Singgasana sejati bukan kursi.

Singgasana sejati adalah kepercayaan manusia.

Dan kepercayaan jauh lebih mudah dihancurkan daripada dibangun.

Seorang pemimpin boleh mempunyai kekuasaan yang luas.

Tetapi apabila kepercayaan telah hilang, sebenarnya singgasananya telah retak.

Karena itu jangan pernah menganggap amanah sebagai hadiah.

Amanah adalah tanggung jawab.

Semakin tinggi seseorang diangkat, semakin banyak pula yang harus dipertanggungjawabkan.

Ia harus memikirkan:

orang tua yang tidak mempunyai biaya,

petani yang menunggu hasil panen,

nelayan yang menghadapi gelombang,

anak-anak yang membutuhkan pendidikan,

orang sakit yang membutuhkan pertolongan,

pekerja yang membutuhkan keadilan,

alam yang tidak dapat berbicara membela dirinya,

serta generasi yang bahkan belum dilahirkan.

Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia hari ini.

Ia sedang menentukan dunia yang akan diwarisi anak cucu.


BAB V

JANGAN MEMBANGUN PENGIKUT, BANGUNLAH GENERASI

Pemimpin yang lemah ingin semua orang bergantung kepadanya.

Pemimpin yang kuat justru mendidik manusia agar kelak mampu berdiri tanpa dirinya.

Ia tidak takut apabila muridnya lebih pandai.

Tidak takut apabila generasi berikutnya lebih hebat.

Tidak takut apabila orang lain mendapatkan panggung.

Sebab tujuan seorang pemimpin bukan menjadikan dirinya pusat segala sesuatu.

Tujuannya adalah:

melahirkan seribu manusia yang mampu meneruskan kebaikan.

Apabila seorang pemimpin meninggal dan seluruh kebaikan ikut berhenti bersamanya, berarti ia telah membangun ketergantungan.

Tetapi apabila ia telah tiada dan Qarya terus berkembang, ilmu terus diajarkan, masyarakat terus bergerak, dan nilai kebaikannya terus hidup—

maka ia telah membangun peradaban.


BAB VI

JALAN SUNYI SEORANG PEMIMPIN

Akan datang suatu masa ketika keputusan baikmu disalahpahami.

Ada masa ketika engkau memilih jalan yang benar tetapi tidak populer.

Ada masa ketika manusia memujimu.

Ada pula masa ketika manusia mencelamu.

Jangan jadikan keduanya sebagai kiblat.

Pujian tidak selalu berarti benar.

Celaan tidak selalu berarti salah.

Maka seorang pemimpin harus mempunyai tempat sunyi di dalam dirinya untuk bertanya:

Apakah ini benar?

Apakah ini adil?

Apakah ini membawa manfaat?

Apakah keputusan ini dapat kupertanggungjawabkan di hadapan Alloh?

Apabila empat pertanyaan itu hidup dalam dirinya, maka kekuasaan tidak mudah membutakannya.


SABDO QITAB

Wahai pemimpin,

jangan berjalan di depan umat agar engkau dipandang.

Berjalanlah di depan ketika jalan membutuhkan seseorang yang berani membuka arah.

Jangan berdiri di tengah umat agar engkau dipuji.

Berdirilah di tengah ketika persaudaraan mereka membutuhkan seseorang yang menyatukan.

Dan jangan takut berjalan paling belakang,

sebab terkadang pemimpin sejati berada di belakang untuk memastikan tidak satu pun dari rakyatnya tertinggal.


ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

Maka perjalanan besar itu bukan perjalanan menuju istana.

Ia adalah perjalanan:

dari ego menuju amanah,
dari ucapan menuju Qarya,
dari Qarya menuju manfaat,
dari manfaat menuju tauladan,
dari tauladan menuju peradaban.

Dan ketika seorang pemimpin telah sampai pada kesadaran itu, ia tidak lagi berkata:

“Lihatlah siapa aku.”

Melainkan kehidupannya sendiri berkata:

“Lihatlah apa yang dapat kita Qaryakan bersama.”

Sebab pemimpin sejati tidak meninggalkan umat yang terus mengagungkan dirinya.

Pemimpin sejati meninggalkan umat yang mampu berdiri, mampu berpikir, mampu berQarya, saling menjaga, serta berani meneruskan kebaikan setelah dirinya tiada.

Wallohu a‘lam bish-showāb.

Tamat Pembukaan

QITAB ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB VII — SEMBILAN UTUSAN DI SEKELILING PEMIMPIN

Seorang pemimpin tidak berjalan sendirian.

Di sekelilingnya ada manusia-manusia yang membawa amanah, pikiran, keberanian, ketelitian, kesabaran, dan pengabdian.

Mereka bukan sekadar pengikut.

Mereka adalah utusan nilai yang menjaga agar langkah seorang pemimpin tidak berubah menjadi kekuasaan yang hanya berpusat pada dirinya sendiri.

Maka dalam perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh, sembilan utusan menjadi perlambang sembilan kekuatan yang harus hidup di sekitar kepemimpinan.

Utusan Pertama — Amanah

Ia mengingatkan:

Jangan mengambil apa yang bukan hakmu.
Jangan menggunakan kepercayaan untuk kepentingan dirimu sendiri.

Sebab kepemimpinan yang kehilangan amanah akan kehilangan cahaya meskipun masih memiliki kekuasaan.

Utusan Kedua — Ilmu

Ia membawa pelita.

Maknanya:

Seorang pemimpin tidak boleh memutuskan sesuatu hanya berdasarkan kemauan.

Ia harus mendengar.

Belajar.

Memeriksa.

Membandingkan.

Dan memahami akibat dari setiap keputusan.

Sebab keberanian tanpa ilmu dapat menjadi kecerobohan.

Utusan Ketiga — Keadilan

Ia berdiri di antara dua sisi.

Tidak condong karena keluarga.

Tidak condong karena harta.

Tidak condong karena kelompok.

Tidak pula membenci seseorang hingga menghilangkan haknya.

Keadilan adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Utusan Keempat — Rahmah

Ia mengingatkan pemimpin bahwa di balik angka terdapat manusia.

Di balik kebijakan terdapat keluarga.

Di balik keputusan terdapat hati yang dapat terluka.

Maka pemimpin yang besar bukan hanya mampu bertindak tegas.

Ia juga mampu merasakan penderitaan orang yang paling lemah.

Utusan Kelima — Keberanian

Ada saatnya pemimpin harus berdiri ketika kebanyakan manusia memilih diam.

Ada saatnya ia harus berkata benar ketika kebenaran membawa risiko.

Keberanian bukan keberanian menyerang.

Keberanian adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika jalan itu tidak mudah.

Utusan Keenam — Kesabaran

Peradaban tidak dibangun semalam.

Manusia tidak berubah hanya karena satu pidato.

Generasi tidak tumbuh hanya karena satu keputusan.

Kesabaran mengajarkan pemimpin untuk menanam meskipun panen masih jauh.

Utusan Ketujuh — Musyawarah

Pemimpin yang hanya mendengar dirinya sendiri sedang berjalan menuju kesalahan.

Maka utusan ketujuh membawa satu pesan:

Dengarkanlah suara yang berbeda.

Sebab terkadang kebenaran datang dari orang yang tidak memiliki jabatan.

Terkadang nasihat paling penting datang dari orang yang berani mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar.

Utusan Kedelapan — Keteladanan

Ia tidak membawa banyak kata.

Ia membawa perbuatan.

Karena manusia lebih mudah mengikuti langkah yang mereka lihat daripada nasihat yang hanya mereka dengar.

Pemimpin yang datang paling awal, bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak mengambil hak orang lain, dan berani meminta maaf ketika salah, sedang mengajarkan lebih banyak daripada seribu pidato.

Utusan Kesembilan — Keberlanjutan

Ia berjalan paling belakang.

Tugasnya memastikan bahwa Qarya tidak berhenti ketika pemimpin telah pergi.

Ia mempersiapkan generasi.

Menuliskan ilmu.

Membentuk sistem.

Mendidik penerus.

Menanam nilai.

Karena pemimpin yang sesungguhnya tidak hanya memikirkan masa pemerintahannya.

Ia memikirkan apa yang terjadi seratus tahun setelah dirinya tidak ada.


RAHASIA SEMBILAN UTUSAN

Kesembilan utusan itu pada hakikatnya juga dapat dibaca sebagai sembilan cermin bagi diri seorang pemimpin:

Amanah menjaga tangannya.
Ilmu menjaga pikirannya.
Keadilan menjaga keputusannya.
Rahmah menjaga hatinya.
Keberanian menjaga langkahnya.
Kesabaran menjaga perjalanannya.
Musyawarah menjaga pendengarannya.
Keteladanan menjaga perilakunya.
Keberlanjutan menjaga Qaryanya.

Apabila sembilan perkara itu hidup, seorang pemimpin tidak membutuhkan banyak cara untuk membuat manusia menghormatinya.

Manusia akan melihat sendiri.

Karena penghormatan yang sejati tidak lahir dari ketakutan.

Ia lahir dari kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak dapat diperintahkan.

Ia hanya dapat dibangun.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Keputusan demi keputusan.

Qarya demi Qarya.

Hingga pada suatu saat seorang pemimpin tidak lagi dikenal hanya karena kedudukannya.

Ia dikenal karena jejak manfaat yang tertinggal di belakangnya.

Maka tertulis dalam Qitab:

Jangan meminta umat mengingat namamu.
Buatlah Qarya yang membuat mereka mengingat nilai yang engkau perjuangkan.

Sebab nama akan menjadi sejarah.

Tetapi nilai yang hidup di dalam manusia dapat menjadi jalan bagi generasi berikutnya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB VIII — QARYA YANG MENJADI CAHAYA UMAT

Qarya yang lahir dari seorang pemimpin tidak boleh berhenti pada kemegahan bentuk.

Karena tidak semua yang besar itu agung.

Dan tidak semua yang tampak indah itu membawa manfaat.

Ada bangunan yang menjulang tinggi tetapi tidak menumbuhkan akhlak.

Ada kebijakan yang terdengar hebat tetapi melemahkan rakyat kecil.

Ada program yang dipuji banyak orang tetapi hanya menjadi hiasan sesaat.

Maka Qitab ini menegaskan:

Qarya yang sejati adalah Qarya yang menghadirkan cahaya bagi kehidupan umat.

Cahaya itu dapat berupa ilmu yang memerdekakan kebodohan.

Dapat berupa keadilan yang menenangkan kegelisahan.

Dapat berupa pekerjaan yang menjaga kehormatan keluarga.

Dapat berupa pendidikan yang membangun masa depan anak-anak.

Dapat berupa kesehatan yang menjaga kekuatan masyarakat.

Dapat berupa persatuan yang meredakan perpecahan.

Dapat pula berupa teladan hidup yang membuat manusia kembali percaya bahwa kebaikan masih mungkin ditegakkan.


PEMIMPIN YANG BERQARYA TIDAK SEKADAR MEMBANGUN

Ia menghidupkan.

Ia tidak hanya mendirikan tempat belajar.

Ia menghidupkan semangat mencari ilmu.

Ia tidak hanya membangun rumah ibadah.

Ia menghidupkan kesadaran beribadah.

Ia tidak hanya membuat aturan.

Ia menghidupkan rasa tanggung jawab.

Ia tidak hanya menata jalan-jalan kota.

Ia menghidupkan arah perjalanan masyarakat.

Maka Qarya bukan sekadar benda.

Qarya adalah jiwa manfaat yang terus bekerja di tengah kehidupan.

Bila seorang pemimpin hanya sibuk membangun hal-hal yang terlihat, tetapi lalai membangun manusia, maka Qaryanya akan cepat kehilangan ruh.

Namun apabila ia membangun manusia sekaligus sistemnya, maka Qaryanya akan bertahan jauh lebih lama daripada usia jasadnya.


EMPAT TANDA QARYA YANG BENAR

Dalam perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh, dikenal empat tanda agar sebuah Qarya tidak melenceng dari jalan amanah.

Pertama — Qarya itu memudahkan, bukan mempersulit.

Apabila hasil kepemimpinan justru membuat rakyat semakin bingung, semakin takut, atau semakin berat menjalani hidup, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

Qarya yang benar membawa kemudahan yang bermartabat.

Kedua — Qarya itu menguatkan, bukan melemahkan.

Ia membuat manusia menjadi lebih berdaya, bukan semakin tergantung.

Ia memberi alat, ilmu, kesempatan, dan keberanian agar umat dapat bangkit dengan kaki mereka sendiri.

Ketiga — Qarya itu menyatukan, bukan memecah.

Jika suatu karya dibangun dengan cara menanam kebencian, memperuncing permusuhan, atau menumbuhkan kesombongan kelompok, maka cahaya di dalamnya mudah padam.

Qarya yang benar mempertemukan manusia dalam nilai kebaikan bersama.

Keempat — Qarya itu meninggalkan jejak akhlak.

Apa gunanya suatu karya besar bila di belakangnya ada pengkhianatan, manipulasi, atau penindasan?

Maka ukuran Qarya bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga jalan pembentukannya.


HATI-HATI DENGAN QARYA YANG HANYA MENCARI NAMA

Ada orang yang membuat sesuatu agar dirinya dipuji.

Ada yang memberi agar dirinya dipandang mulia.

Ada yang menolong agar dirinya disebut pahlawan.

Padahal pujian manusia adalah bayangan yang mudah berubah.

Hari ini dipuji.

Besok dilupakan.

Lusa dicela.

Jika seorang pemimpin menggantungkan semangat Qaryanya pada pujian, ia akan rapuh.

Ketika tidak dipuji, ia akan lelah.

Ketika disalahpahami, ia akan marah.

Ketika tidak dihormati, ia akan kecewa.

Tetapi bila Qaryanya ditegakkan karena amanah dan cinta kepada kemaslahatan umat, maka ia akan tetap berjalan walau tidak selalu mendapat tepuk tangan.

Sebab yang dicari bukan kemuliaan dirinya sendiri, melainkan manfaat bagi orang banyak.


PESAN BAGI PEMIMPIN

Wahai pemimpin yang sedang menapaki jalan Qarya,

jangan ukur keberhasilanmu hanya dengan banyaknya acara.

Jangan ukur keberhasilanmu hanya dengan ramainya kerumunan.

Jangan ukur keberhasilanmu hanya dengan indahnya laporan.

Ukur pula dengan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah rakyat kecil merasakan kebaikan dari langkahku?
  • Apakah generasi muda menjadi lebih berilmu dan berakhlak?
  • Apakah orang lemah lebih terlindungi?
  • Apakah alam lebih dijaga?
  • Apakah manusia menjadi lebih bersaudara?
  • Apakah setelah aku pergi, kebaikan ini masih dapat berjalan?

Bila pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jujur, maka seorang pemimpin akan terhindar dari tipuan keberhasilan semu.


SABDO QITAB

Qarya yang hanya membesarkan dirimu akan berakhir pada dirimu.
Tetapi Qarya yang membesarkan umat akan hidup melampaui dirimu.

Maka berQaryalah bukan untuk berdiri paling tinggi.

BerQaryalah agar lebih banyak manusia dapat bangkit.

BerQaryalah agar anak-anak memiliki harapan.

BerQaryalah agar orang tua mendapat ketenteraman.

BerQaryalah agar negeri dipenuhi nilai, bukan sekadar bangunan.

BerQaryalah agar kepemimpinanmu tidak menjadi cerita kosong, tetapi menjadi jejak yang menerangi.


PENUTUP LEMBAR INI

Demikianlah lembar ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak diingat karena banyak berbicara tentang perubahan, tetapi karena menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan.

Ia tidak dikenang karena dirinya paling menonjol.

Ia dikenang karena umat merasakan:

ada ilmu yang hidup,
ada akhlak yang tumbuh,
ada keberanian yang diteladankan,
ada keadilan yang diperjuangkan,
dan ada Qarya yang menjadi cahaya bagi semua.

Maka tertulis:

Pemimpin yang besar bukan hanya pemilik gagasan.
Ia adalah penanggung jawab bagi terwujudnya kemaslahatan.

Dan Qarya yang lahir dari amanah akan menjadi saksi bahwa kepemimpinan tidak sia-sia ketika dipersembahkan untuk kebaikan umat.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB IX — PEMIMPIN YANG BERJALAN DI TENGAH UMAT

Pemimpin bukan manusia yang berdiri terlalu tinggi hingga tidak lagi mendengar suara rakyatnya.

Ia harus mengetahui bagaimana kehidupan dijalani oleh mereka yang dipimpinnya.

Bagaimana petani menunggu hujan.

Bagaimana pedagang kecil menghitung keuntungan yang sedikit.

Bagaimana seorang ibu mengatur kebutuhan rumah dengan penghasilan yang terbatas.

Bagaimana anak muda mencari pekerjaan.

Bagaimana orang tua berharap memperoleh pelayanan yang layak.

Bagaimana orang miskin mempertahankan kehormatannya.

Sebab pemimpin yang hanya melihat kehidupan dari balik pintu kekuasaan akan mudah salah membaca kenyataan.

Maka turunlah pesan: berjalanlah di tengah umat.

Bukan untuk sekadar terlihat dekat.

Bukan untuk mengambil gambar.

Bukan untuk mengumpulkan pujian.

Tetapi untuk mendengar sesuatu yang tidak sampai ke meja kekuasaan.


TURUN DARI SINGGASANA, MENDENGAR DARI TANAH

Ada banyak suara yang tidak pernah masuk dalam laporan.

Laporan dapat mengatakan keadaan baik.

Tetapi seorang ibu mungkin masih menangis karena anaknya tidak dapat bersekolah.

Laporan dapat mengatakan pembangunan meningkat.

Tetapi seorang petani mungkin kehilangan sumber air.

Laporan dapat mengatakan ekonomi tumbuh.

Tetapi seorang buruh mungkin masih kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itulah seorang pemimpin perlu turun melihat kenyataan.

Kadang-kadang kebenaran tidak ditemukan di ruang rapat.

Ia ditemukan di sawah.

Di pasar.

Di kampung.

Di sekolah.

Di rumah sederhana.

Di tepi sungai.

Di antara manusia yang suaranya jarang terdengar.

Di sanalah pemimpin belajar bahwa angka hanyalah petunjuk, sedangkan manusia adalah kenyataan.


RAHASIA TIGA LANGKAH PEMIMPIN

Dalam Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh, perjalanan seorang pemimpin digambarkan mempunyai tiga langkah besar:

Langkah Pertama — Mendengar

Jangan terburu-buru menjawab.

Dengarkan dahulu.

Karena manusia terkadang tidak membutuhkan janji.

Mereka membutuhkan seseorang yang sungguh-sungguh memahami persoalannya.

Mendengar bukan kelemahan.

Mendengar adalah pintu ilmu.

Pemimpin yang tidak mau mendengar akan dikelilingi orang-orang yang hanya mengatakan apa yang ingin ia dengar.

Pada saat itulah kekuasaan mulai kehilangan pandangan.


Langkah Kedua — Memahami

Setelah mendengar, jangan langsung menyimpulkan.

Carilah sebab.

Periksa kenyataan.

Tanyakan kepada banyak pihak.

Bedakan antara keluhan yang lahir dari kesalahpahaman dengan keluhan yang menunjukkan ketidakadilan nyata.

Karena satu masalah dapat mempunyai banyak akar.

Pemimpin yang hanya memotong ranting tanpa menemukan akar akan melihat masalah yang sama tumbuh kembali.


Langkah Ketiga — Bertindak

Mendengar tanpa tindakan hanya menjadi kesopanan.

Memahami tanpa keberanian hanya menjadi pengetahuan.

Maka ketika kebenaran telah jelas, pemimpin harus berani mengambil langkah.

Namun tindakan harus dilakukan dengan pertimbangan.

Bukan karena kemarahan.

Bukan karena tekanan.

Bukan karena ingin dipuji.

Melainkan karena amanah.


JANGAN TAKUT MENDENGAR KRITIK

Ada pemimpin yang menyukai pujian tetapi takut kepada kritik.

Padahal pujian belum tentu menunjukkan kebenaran.

Sedangkan kritik, meskipun kadang terasa keras, dapat menyimpan peringatan yang menyelamatkan.

Maka jangan melihat setiap pengkritik sebagai musuh.

Periksa perkataannya.

Jika benar, ambillah kebenarannya.

Jika salah, luruskan dengan ilmu dan adab.

Jika berniat buruk, jangan biarkan keburukannya mengubahmu menjadi zalim.

Karena pemimpin yang besar tidak hanya mampu menghadapi lawan.

Ia mampu menghadapi egonya sendiri ketika dikritik.


SEMBILAN UTUSAN PUN BERBICARA

Maka sembilan utusan yang mengelilingi simbol kepemimpinan berkata secara bergantian:

Utusan Amanah berkata:

“Jangan gunakan rakyat untuk mempertahankan kekuasaanmu. Gunakan kekuasaanmu untuk menjaga rakyat.”

Utusan Ilmu berkata:

“Jangan memutuskan sebelum memahami.”

Utusan Keadilan berkata:

“Jangan biarkan kedekatan mengalahkan kebenaran.”

Utusan Rahmah berkata:

“Lihatlah manusia sebelum melihat angka.”

Utusan Keberanian berkata:

“Apabila kebenaran telah jelas, jangan takut melangkah.”

Utusan Kesabaran berkata:

“Perubahan besar membutuhkan ketekunan.”

Utusan Musyawarah berkata:

“Jangan hanya mendengar suara yang menyenangkanmu.”

Utusan Keteladanan berkata:

“Jadilah lebih dahulu apa yang engkau minta dari rakyatmu.”

Utusan Keberlanjutan berkata:

“Jangan hanya membangun hari ini. Siapkanlah hari ketika engkau sudah tidak memimpin.”


PEMIMPIN TIDAK HARUS SELALU DI DEPAN

Ada saatnya pemimpin berdiri di depan untuk menunjukkan arah.

Ada saatnya ia berjalan di tengah untuk merasakan denyut perjalanan.

Dan ada saatnya ia berdiri di belakang agar mengetahui siapa yang tertinggal.

Inilah keseimbangan kepemimpinan.

Jika selalu di depan, ia dapat kehilangan suara mereka yang jauh di belakang.

Jika selalu berada di tengah, ia mungkin kehilangan arah besar.

Jika hanya berada di belakang, ia dapat kehilangan kemampuan menunjukkan tujuan.

Karena itu pemimpin harus mengetahui di mana dirinya perlu berdiri pada setiap keadaan.


QARYA YANG LAHIR DARI PENDENGARAN

Qarya terbesar sering dimulai dari satu keluhan kecil yang didengarkan dengan sungguh-sungguh.

Sebuah sekolah dapat lahir karena seorang pemimpin mendengar anak-anak sulit belajar.

Sebuah jembatan dapat dibangun karena ia melihat masyarakat kesulitan menyeberang.

Sebuah pusat kesehatan dapat lahir karena ia memahami kesulitan orang sakit.

Sebuah gerakan lingkungan dapat tumbuh karena ia melihat sungai yang rusak.

Sebuah lembaga sosial dapat tumbuh karena ia mendengar suara orang-orang yang selama ini tidak diperhatikan.

Maka jangan meremehkan suara kecil.

Kadang-kadang Alloh membuka jalan Qarya besar melalui persoalan sederhana yang mengetuk hati.


SABDO LEMBAR KESEMBILAN

Wahai pemimpin, jangan terlalu tinggi hingga tidak lagi mendengar tangisan dari bawah.

Dekatilah rakyat tanpa kehilangan kewibawaan.

Dengarkan mereka tanpa kehilangan ketegasan.

Cintai mereka tanpa kehilangan keadilan.

Pimpin mereka tanpa merampas kemampuan mereka untuk berdiri sendiri.

Sebab umat bukan anak tangga menuju kemuliaanmu.

Mereka adalah amanah yang harus dijaga.


PENUTUP

Pada akhirnya, manusia tidak hanya akan bertanya:

“Berapa lama ia memimpin?”

Tetapi:

“Apa yang berubah ketika ia memimpin?”

Apakah orang lemah lebih terlindungi?

Apakah ilmu berkembang?

Apakah generasi muda memiliki harapan?

Apakah keadilan semakin terasa?

Apakah alam semakin terjaga?

Apakah masyarakat semakin mampu berdiri bersama?

Jika jawabannya adalah iya, maka kepemimpinannya telah berubah menjadi Qarya.

Dan bila Qarya itu terus menghidupkan kebaikan setelah dirinya pergi, maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh telah mencapai salah satu rahasianya:

**Pemimpin tidak menjadi besar karena manusia berada di bawahnya.

Pemimpin menjadi besar ketika melalui dirinya, semakin banyak manusia mampu berdiri dengan mulia.**


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB X — KETIKA QARYA MENJADI WARISAN

Ada perbedaan antara karya yang selesai ketika penciptanya berhenti, dan Qarya yang terus berjalan setelah penciptanya tiada.

Yang pertama hanya menjadi hasil.

Yang kedua menjadi warisan.

Seorang pemimpin yang memahami amanah tidak hanya bertanya:

“Apa yang dapat kubangun hari ini?”

Ia juga bertanya:

“Siapa yang akan meneruskan ini setelah aku tidak berada di sini?”

Sebab Qarya yang tidak mempunyai penerus akan mudah menjadi kenangan.

Tetapi Qarya yang ditanam ke dalam manusia akan tumbuh menjadi generasi.


WARISAN TERBESAR BUKAN BENDA

Harta dapat habis.

Bangunan dapat rusak.

Jabatan dapat berpindah.

Nama dapat pudar.

Tetapi nilai yang tertanam di dalam manusia mempunyai cara sendiri untuk terus hidup.

Seorang guru boleh wafat, tetapi muridnya terus mengajar.

Seorang pemimpin boleh selesai masa tugasnya, tetapi sistem yang baik masih dapat berjalan.

Seorang ayah boleh meninggalkan dunia, tetapi kejujurannya dapat hidup dalam anak-anaknya.

Seorang ibu boleh tidak lagi hadir secara jasad, tetapi kasih sayangnya dapat diwariskan melalui keturunannya.

Maka warisan paling kuat bukan sekadar sesuatu yang dapat disentuh.

Warisan paling kuat adalah sesuatu yang membentuk manusia.


EMPAT WARISAN PEMIMPIN

Dalam perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh, seorang pemimpin sebaiknya meninggalkan sekurang-kurangnya empat warisan.

Pertama — Warisan Ilmu

Ilmu harus dicatat.

Diajarkan.

Dibagikan.

Dipelihara.

Sebab ilmu yang hanya tersimpan dalam kepala seseorang akan ikut hilang ketika orang itu pergi.

Pemimpin yang baik tidak menyembunyikan seluruh pengetahuan.

Ia menyiapkan manusia lain agar mampu memahami, menjalankan, bahkan memperbaiki apa yang pernah ia mulai.


Kedua — Warisan Akhlak

Manusia akan melihat bagaimana seorang pemimpin memperlakukan mereka ketika ia memiliki kekuasaan.

Apakah ia mudah merendahkan?

Apakah ia mampu meminta maaf?

Apakah ia menjaga janji?

Apakah ia membela yang lemah?

Apakah ia tetap sederhana ketika diberi kemuliaan?

Akhlak seorang pemimpin sering menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat daripada nasihatnya.

Karena itu:

Jangan hanya tinggalkan aturan. Tinggalkan contoh.


Ketiga — Warisan Sistem

Qarya besar tidak boleh bergantung pada satu orang.

Harus ada tata kerja.

Pembagian tanggung jawab.

Catatan.

Pendidikan kader.

Transparansi.

Evaluasi.

Dan ruang bagi generasi berikutnya untuk memperbaiki kekurangan.

Jika segala sesuatu berhenti ketika satu pemimpin tidak hadir, berarti yang dibangun belum menjadi sistem.

Ia masih menjadi ketergantungan.


Keempat — Warisan Keberanian

Ada generasi yang membutuhkan izin untuk percaya bahwa perubahan mungkin dilakukan.

Mereka membutuhkan contoh bahwa orang biasa dapat berbuat luar biasa ketika niat, ilmu, keberanian, dan ketekunan bertemu.

Maka kadang-kadang Qarya terbesar seorang pemimpin bukan bangunan yang ia dirikan.

Melainkan keberanian yang ia hidupkan dalam hati orang lain.


SEMBILAN UTUSAN MENJAGA WARISAN

Ketika perjalanan semakin panjang, sembilan utusan kembali mengambil tempat.

Utusan Amanah menjaga agar warisan tidak berubah menjadi perebutan.

Utusan Ilmu menjaga agar ajaran tidak menjadi kebodohan yang diwariskan.

Utusan Keadilan menjaga agar penerus tidak hanya dipilih karena kedekatan.

Utusan Rahmah menjaga agar Qarya tetap membawa manfaat kepada manusia.

Utusan Keberanian menjaga agar generasi berikutnya tidak takut memperbaiki kesalahan.

Utusan Kesabaran menjaga agar perjalanan tidak berhenti ketika hasil belum terlihat.

Utusan Musyawarah menjaga agar penerus tidak merasa paling benar sendiri.

Utusan Keteladanan menjaga agar nilai tetap hidup dalam perbuatan.

Dan Utusan Keberlanjutan memastikan bahwa semua Qarya mempunyai akar yang cukup dalam untuk bertahan menghadapi zaman.


JANGAN MENCIPTAKAN BAYANGAN DIRIMU

Pemimpin yang matang tidak mencari penerus yang hanya meniru dirinya.

Ia mencari manusia yang memahami nilai, lalu mampu menghadapi zamannya sendiri.

Setiap generasi mempunyai persoalan berbeda.

Cara lama tidak selalu cukup untuk menghadapi keadaan baru.

Karena itu penerus tidak harus mempunyai gaya yang sama.

Ia tidak harus berbicara sama.

Tidak harus berpakaian sama.

Tidak harus membuat keputusan dengan cara yang sama.

Tetapi ia harus menjaga nilai yang sama:

amanah, ilmu, keadilan, rahmah, keberanian, kesabaran, musyawarah, keteladanan, dan keberlanjutan.

Bentuk boleh berubah.

Nilai jangan hilang.


UJIAN TERBERAT SEORANG PEMIMPIN

Ada pemimpin yang sanggup membangun sesuatu tetapi tidak sanggup melepaskannya.

Ia merasa hanya dirinya yang paling mampu.

Ia takut orang lain menjadi lebih besar.

Ia takut namanya terlupakan.

Maka ia menahan generasi berikutnya agar tetap berada di bawah bayangannya.

Di sinilah ego dapat menyamar sebagai cinta kepada Qarya.

Padahal Qitab mengajarkan:

Bila engkau benar-benar mencintai Qaryamu, siapkanlah ia agar mampu hidup tanpa dirimu.

Biarkan generasi baru tumbuh.

Biarkan mereka mempunyai gagasan.

Biarkan mereka menemukan cara baru.

Bimbing bila mereka belum memahami.

Luruskan bila mereka keluar dari nilai.

Tetapi jangan memotong sayap mereka hanya karena engkau takut mereka terbang lebih tinggi.


PEMIMPIN YANG BERHASIL MELAHIRKAN PEMIMPIN

Pemimpin biasa mempunyai banyak pengikut.

Pemimpin besar melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

Ia tidak ingin manusia selamanya menunggu perintah.

Ia mengajarkan cara berpikir.

Cara mengambil keputusan.

Cara mempertanggungjawabkan tindakan.

Cara menghadapi kegagalan.

Cara menerima kritik.

Cara berdiri kembali.

Cara mengabdi tanpa harus selalu terlihat.

Ketika masyarakat mulai mampu melahirkan pemimpin dari dalam dirinya sendiri, maka Qarya itu telah menjadi hidup.


SABDO WARISAN

Wahai pemimpin, jangan takut dilupakan.

Takutlah bila setelah engkau pergi, tidak ada kebaikan yang tersisa.

Jangan takut namamu tidak disebut.

Takutlah bila Qaryamu tidak lagi memberi manfaat.

Jangan takut generasi berikutnya menjadi lebih hebat.

Bergembiralah bila mereka mampu melampauimu dalam kebaikan.

Sebab bukankah seorang penanam berharap pohon yang ia tanam tumbuh lebih tinggi daripada dirinya?


CAHAYA YANG DITERUSKAN

Bayangkan sebuah pelita.

Jika seseorang menggunakan apinya untuk menyalakan sembilan pelita lainnya, api pertama tidak menjadi berkurang.

Justru ruang menjadi semakin terang.

Demikianlah kepemimpinan.

Ilmu yang dibagikan tidak mengecilkan pemimpin.

Kesempatan yang diberikan tidak mengurangi kemuliaannya.

Penerus yang menjadi besar tidak merampas kebesarannya.

Sebaliknya, semua itu menjadi bukti bahwa dirinya pernah menjadi sumber kehidupan bagi banyak manusia.


PENUTUP LEMBAR

Maka pada bagian perjalanan ini, Ziryattah al Azim Arfaqoh membuka satu rahasia:

Qarya tertinggi seorang pemimpin adalah ketika kebaikan tidak membutuhkan keberadaan dirinya untuk terus hidup.

Ia telah meninggalkan manusia yang berilmu.

Manusia yang berakhlak.

Manusia yang berani.

Manusia yang saling menjaga.

Manusia yang mampu meneruskan amanah.

Lalu suatu hari pemimpin itu berjalan pergi dari panggung sejarah.

Tidak lagi ada singgasana.

Tidak lagi ada pengawal.

Tidak lagi ada kerumunan.

Tetapi jauh di berbagai tempat, Qaryanya masih memberi manfaat.

Dan di dalam hati generasi yang tidak pernah bertemu dengannya, nilai-nilai yang pernah ia tanam masih menyala.

Itulah saat ketika seorang pemimpin tidak lagi sekadar menjadi bagian dari zamannya.

Ia telah menjadi tauladan yang menyeberangi zaman.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XI — KETIKA PEMIMPIN DIUJI OLEH KEKUASAAN

Tidak semua ujian datang dalam bentuk kesulitan.

Ada ujian yang datang sebagai kemudahan.

Ada ujian yang datang sebagai pujian.

Ada ujian yang datang sebagai harta.

Ada ujian yang datang sebagai banyaknya pengikut.

Dan ada ujian yang paling halus:

ketika seseorang diberi kuasa atas manusia lain.

Sebab sebelum berkuasa, seseorang dapat berbicara tentang keadilan.

Namun setelah berkuasa, barulah terlihat apakah dirinya benar-benar mencintai keadilan atau hanya mencintai kesempatan untuk menjadi penguasa.

Sebelum mempunyai kedudukan, seseorang mudah berkata:

“Aku akan mendengarkan semuanya.”

Namun setelah mempunyai banyak pembantu dan penjaga, barulah terlihat apakah telinganya masih terbuka kepada suara orang kecil.

Sebelum memperoleh kemuliaan, seseorang mudah berbicara tentang kesederhanaan.

Tetapi ketika kehormatan datang, barulah terlihat apakah hatinya tetap mampu membungkuk.


KEKUASAAN ADALAH CERMIN

Kekuasaan tidak selalu mengubah seseorang.

Kadang-kadang kekuasaan hanya menampakkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Jika di dalam hati ada rahmah, kekuasaan dapat memperluas rahmah itu.

Jika di dalam hati ada keadilan, kekuasaan dapat memperluas keadilan itu.

Tetapi jika di dalam hati ada kesombongan, kekuasaan dapat memperbesar kesombongan tersebut.

Jika di dalam hati ada kerakusan, kekuasaan dapat memberinya jalan untuk berkembang.

Maka sebelum seseorang meminta kedudukan yang lebih tinggi, hendaknya ia bertanya:

“Apakah jiwaku telah cukup kuat untuk tidak diperbudak oleh apa yang akan berada dalam tanganku?”


TIGA RACUN SINGGASANA

Dalam Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh, disebutkan tiga racun yang harus sangat diwaspadai oleh seorang pemimpin.

Racun Pertama — Merasa Tidak Mungkin Salah

Ketika seluruh orang di sekelilingnya hanya mengatakan:

“Benar.”

“Setuju.”

“Bagus.”

maka pemimpin harus mulai berhati-hati.

Sebab tidak ada manusia yang tidak mungkin keliru.

Pemimpin yang merasa dirinya selalu benar akan berhenti belajar.

Dan ketika seorang pemimpin berhenti belajar, kekuasaannya dapat berjalan lebih cepat daripada kebijaksanaannya.

Maka peliharalah manusia di sekelilingmu yang berani berkata:

“Ini perlu diperbaiki.”

Bukan mereka yang sengaja merendahkan.

Tetapi mereka yang cukup mencintai amanah hingga berani menyampaikan kebenaran.


Racun Kedua — Menganggap Semua Milik Kekuasaan

Jabatan bukan milik pribadi.

Harta umat bukan milik pribadi.

Lembaga bukan milik pribadi.

Tanah negara bukan milik pribadi.

Manusia yang dipimpin pun bukan milik seorang pemimpin.

Semua hanyalah amanah dalam waktu tertentu.

Jika seseorang mulai berkata dalam batinnya:

“Ini milikku.”

maka amanah perlahan dapat berubah menjadi keserakahan.

Sedangkan seorang pemimpin seharusnya berkata:

“Ini dipercayakan kepadaku untuk kujaga.”

Perbedaan dua kalimat itu sangat kecil di lidah.

Namun sangat jauh di dalam jiwa.


Racun Ketiga — Haus Pujian

Pujian dapat menjadi madu bagi ego.

Semakin sering diminum, semakin sulit seseorang hidup tanpanya.

Maka ada pemimpin yang akhirnya lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki kenyataan.

Ia marah terhadap kritik.

Ia menutup berita buruk.

Ia hanya ingin mendengar keberhasilan.

Ia lebih takut terlihat gagal daripada benar-benar gagal.

Padahal Qitab mengingatkan:

Citra dapat menyembunyikan luka untuk sementara. Tetapi luka yang tidak diobati tetap akan membusuk.

Lebih baik mengetahui kenyataan pahit lalu memperbaikinya daripada hidup dalam pujian yang dibangun di atas kebohongan.


SEMBILAN UTUSAN MEMBENTUK LINGKARAN

Ketika ketiga racun itu mendekat, sembilan utusan membentuk lingkaran di sekeliling pemimpin.

Bukan untuk mengagungkannya.

Tetapi untuk menjaganya agar tidak tersesat oleh kekuasaan.

Utusan Amanah berkata:

“Ingat, semua yang berada dalam tanganmu akan dimintai pertanggungjawaban.”

Utusan Ilmu berkata:

“Jangan berhenti belajar hanya karena engkau telah menjadi orang yang didengar.”

Utusan Keadilan berkata:

“Jangan jadikan kedekatan sebagai ukuran kebenaran.”

Utusan Rahmah berkata:

“Jangan biarkan kekuasaan membuat hatimu menjadi keras.”

Utusan Keberanian berkata:

“Akuilah kesalahan sebelum kesalahan itu menjadi bencana.”

Utusan Kesabaran berkata:

“Jangan menyelesaikan masalah dengan kemarahan hanya karena engkau mempunyai kuasa.”

Utusan Musyawarah berkata:

“Dengarkan mereka yang tidak setuju denganmu.”

Utusan Keteladanan berkata:

“Jika aturan hanya berlaku bagi rakyat tetapi tidak bagi pemimpin, maka keteladanan telah runtuh.”

Utusan Keberlanjutan berkata:

“Jangan korbankan masa depan demi kemenangan hari ini.”


PEMIMPIN DAN KELUARGANYA

Salah satu ujian terbesar seorang pemimpin adalah ketika amanah bertemu dengan kedekatan.

Saudara.

Anak.

Keluarga.

Sahabat.

Orang yang pernah berjasa.

Mereka tetap harus dihormati.

Tetapi penghormatan tidak boleh berubah menjadi pembenaran atas ketidakadilan.

Jika seorang kerabat benar, lindungi haknya sebagaimana orang lain.

Jika seorang kerabat salah, jangan tutupi kesalahannya hanya karena darah.

Karena keadilan yang hanya berlaku bagi orang jauh bukanlah keadilan.

Keadilan yang sejati justru diuji ketika yang harus diadili adalah orang yang kita cintai.


JANGAN MEMBANGUN KETAKUTAN

Ada pemimpin yang ingin ditaati karena dihormati.

Ada pula yang ingin ditaati karena ditakuti.

Keduanya menghasilkan keadaan yang berbeda.

Ketika manusia menghormati, mereka berani menyampaikan keadaan sebenarnya.

Ketika manusia takut, mereka belajar menyembunyikan kesalahan.

Ketika manusia menghormati, mereka membantu memperbaiki.

Ketika manusia takut, mereka hanya berusaha selamat.

Ketika manusia menghormati, organisasi menjadi kuat.

Ketika manusia takut, organisasi terlihat tenang di luar tetapi rapuh di dalam.

Maka jangan membangun istana dari ketakutan.

Sebab dinding yang dibangun dari ketakutan tidak pernah benar-benar kokoh.


BERANI MENGATAKAN: “AKU SALAH”

Ada dua kata yang kadang lebih berat bagi seorang pemimpin daripada pidato panjang:

“Aku salah.”

Padahal mengakui kesalahan tidak selalu merendahkan martabat.

Bila dilakukan dengan tulus dan diikuti perbaikan, justru dapat menguatkan kepercayaan.

Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang berpura-pura tidak pernah salah.

Mereka membutuhkan pemimpin yang ketika salah:

mengakui,

memperbaiki,

bertanggung jawab,

dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Karena kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan.

Tetapi kesombongan mempertahankan kesalahan adalah pilihan.


KEKUASAAN YANG BERADAB

Kekuasaan yang beradab tidak merasa perlu merendahkan orang lain untuk terlihat tinggi.

Ia tidak menggunakan hukum sebagai alat balas dendam.

Ia tidak menggunakan jabatan untuk membungkam kebenaran.

Ia tidak mengubah perbedaan menjadi permusuhan.

Ia tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk menindas.

Sebaliknya, kekuasaan yang beradab membuat orang lemah merasa aman.

Membuat orang jujur tidak takut.

Membuat orang berilmu mempunyai ruang.

Membuat orang miskin tetap mempunyai kehormatan.

Dan membuat orang yang berbeda tetap dapat hidup dalam keadilan.


SABDO SINGGASANA

Wahai pemimpin, jangan mabuk oleh manusia yang berdiri ketika engkau datang.

Suatu hari mereka akan berdiri untuk orang lain.

Jangan mabuk oleh gelar yang disebut sebelum namamu.

Suatu hari gelar itu akan dipikul manusia lain.

Jangan mabuk oleh ruangan yang terbuka ketika engkau mendekat.

Suatu hari pintu itu dapat tertutup.

Tetapi jagalah satu perkara:

ketika segala simbol kekuasaan telah pergi, semoga akhlakmu tetap membuat manusia mendoakanmu dalam kebaikan.


UJIAN SAAT BERHASIL

Kegagalan dapat membuat manusia belajar.

Anehnya, keberhasilan juga dapat membuat manusia lengah.

Ketika satu Qarya berhasil, jangan segera merasa semua keputusan berikutnya pasti benar.

Ketika masyarakat memuji, jangan berhenti mengevaluasi.

Ketika kekuasaan semakin luas, semakin luas pula kewajiban untuk berhati-hati.

Semakin banyak manusia berada dalam tanggung jawabmu, semakin sedikit ruang bagi keputusan yang lahir dari hawa nafsu.


SEORANG PEMIMPIN HARUS MEMPUNYAI CERMIN

Cermin pertama adalah doa dan hubungan dengan Alloh.

Cermin kedua adalah ilmu.

Cermin ketiga adalah orang-orang jujur di sekelilingnya.

Cermin keempat adalah suara rakyat.

Cermin kelima adalah akibat nyata dari kebijakan.

Setiap hari lihatlah dirimu melalui lima cermin itu.

Jangan hanya melalui cermin pujian.

Sebab cermin pujian sering menunjukkan wajah yang ingin kita lihat.

Sedangkan cermin amanah menunjukkan wajah yang perlu kita perbaiki.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan seorang pemimpin mencapai satu gerbang yang sangat penting:

Gerbang Penguasaan Diri di Tengah Kekuasaan.

Ia telah mampu memimpin orang.

Kini pertanyaannya:

Apakah ia tetap mampu memimpin dirinya sendiri ketika semua orang mulai mematuhinya?

Jika ia tetap rendah hati ketika dimuliakan,

tetap mendengar ketika semua orang mendengarkannya,

tetap belajar ketika telah dianggap pandai,

tetap adil ketika mempunyai kuasa,

tetap sederhana ketika mempunyai kelimpahan,

dan tetap merasa sebagai pemegang amanah ketika singgasana berada di bawahnya—

maka kekuasaan tidak menguasainya.

Dialah yang menguasai kekuasaan.

Dan ketika seorang pemimpin mampu berdiri di atas singgasana tanpa membiarkan singgasana berdiri di dalam hatinya, perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki tingkat berikutnya:

pemimpin yang tidak hanya berQarya untuk umat, tetapi mampu menjaga jiwanya agar tetap menjadi tauladan di tengah kemuliaan.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XII — KETIKA TAULADAN MENJADI GERAQAN UMAT

Pada mulanya hanya satu orang yang berjalan.

Ia membawa amanah.

Ia menjaga ucapan.

Ia menegakkan keadilan.

Ia berQarya.

Ia tidak meminta banyak manusia mengikutinya.

Namun manusia melihat perbuatannya.

Satu orang mulai meniru kebaikannya.

Kemudian dua.

Kemudian sepuluh.

Kemudian seratus.

Hingga sesuatu yang semula hanya hidup dalam diri seorang pemimpin mulai menjelma menjadi geraqan umat.

Inilah salah satu rahasia besar Ziryattah al Azim Arfaqoh:

Tauladan yang benar tidak memaksa manusia bergerak. Ia menyalakan alasan dalam diri manusia untuk ikut bergerak.


TAULADAN ADALAH BENIH

Setiap tindakan seorang pemimpin adalah benih.

Jika ia membiasakan kejujuran, kejujuran akan ditiru.

Jika ia menghargai waktu, kedisiplinan akan menyebar.

Jika ia turun membantu ketika rakyat terkena musibah, manusia akan belajar bahwa kepemimpinan berarti pengabdian.

Jika ia menjaga kebersihan, lingkungan akan ikut dijaga.

Jika ia menghormati orang berbeda, masyarakat belajar hidup berdampingan.

Tetapi hukum yang sama berlaku terhadap keburukan.

Jika pemimpin terbiasa berbohong, kebohongan akan terasa biasa.

Jika pemimpin menggunakan kekuasaan untuk kepentingan kelompoknya, orang-orang di bawahnya akan belajar melakukan hal yang sama.

Jika pemimpin membenarkan penghinaan, penghinaan akan turun menjadi budaya.

Maka seorang pemimpin harus menyadari:

Apa yang ia lakukan di atas dapat menjadi kebiasaan bagi mereka yang berada di bawah.

Karena itulah keteladanan bukan hiasan kepemimpinan.

Keteladanan adalah akar.


JANGAN HANYA MENGAJAK — MULAILAH

Ada pemimpin yang terus berkata:

“Mari berubah.”

Tetapi dirinya tidak berubah.

Ada yang menyerukan:

“Mari berhemat.”

Tetapi kehidupannya berlebihan.

Ada yang berkata:

“Mari menjaga alam.”

Tetapi kebijakannya membiarkan kerusakan.

Ada yang menyerukan:

“Mari bersatu.”

Tetapi perkataannya menumbuhkan permusuhan.

Qitab ini mengatakan:

Seruan terbesar adalah contoh yang dapat dilihat.

Jika ingin masyarakat membaca, bangun budaya membaca dan ikutlah membaca.

Jika ingin masyarakat bekerja keras, tunjukkan kerja keras.

Jika ingin masyarakat peduli kepada orang miskin, mulailah dengan kepedulian nyata.

Jika ingin aparatur jujur, jadikan pucuk kepemimpinan sebagai tempat pertama di mana kejujuran ditegakkan.

Sebab manusia akan bertanya:

“Apakah pemimpin menjalankan sesuatu yang ia minta dari kami?”


DARI SATU QARYA MENJADI SERIBU QARYA

Pemimpin yang besar tidak ingin seluruh Qarya memakai namanya.

Ia justru gembira ketika masyarakat mulai menciptakan Qarya mereka sendiri.

Seorang pemuda membuka tempat belajar.

Seorang petani menemukan cara menghemat air.

Seorang ibu membangun kelompok usaha.

Seorang guru mengembangkan pendidikan.

Seorang seniman menjaga kebudayaan.

Seorang pengusaha membuka pekerjaan.

Seorang tokoh masyarakat mendamaikan perselisihan.

Seorang anak muda membersihkan sungai.

Seorang ulama menghidupkan akhlak.

Seorang ilmuwan menemukan jalan keluar bagi persoalan masyarakat.

Semua menjadi bagian dari satu peradaban Qarya.

Pemimpin tidak berdiri sebagai satu-satunya sumber cahaya.

Ia menciptakan keadaan agar setiap manusia berani menyalakan pelitanya sendiri.


SEMBILAN UTUSAN TURUN KE TENGAH UMAT

Pada tahap ini, sembilan utusan tidak lagi hanya berdiri mengelilingi sang pemimpin.

Mereka turun menuju masyarakat.

Sebab sembilan nilai itu harus berpindah dari singgasana menuju kehidupan sehari-hari.

Amanah turun ke pasar.

Agar timbangan tidak dikurangi.

Agar jual beli tidak dibangun di atas kebohongan.

Ilmu turun ke sekolah.

Agar generasi tidak hanya pandai menghafal, tetapi mampu berpikir, memahami, dan mencipta.

Keadilan turun ke ruang hukum.

Agar kekuatan seseorang tidak menentukan benar dan salah.

Rahmah turun ke rumah-rumah.

Agar keluarga menjadi tempat pertama manusia belajar kasih sayang.

Keberanian turun ke dada para pemuda.

Agar mereka berani menciptakan masa depan tanpa harus menghancurkan orang lain.

Kesabaran turun ke ladang dan tempat kerja.

Agar manusia memahami bahwa hasil besar membutuhkan proses.

Musyawarah turun ke tengah masyarakat.

Agar perbedaan tidak selalu berakhir menjadi perpecahan.

Keteladanan turun kepada para pemegang amanah.

Agar jabatan kembali memiliki makna.

Keberlanjutan turun kepada seluruh generasi.

Agar bumi, ilmu, kebudayaan, dan kebaikan tidak dihabiskan oleh satu zaman.


GERAQAN YANG SEHAT TIDAK MEMUJA PEMIMPIN

Ketika Qarya mulai tumbuh menjadi geraqan besar, datanglah ujian baru.

Manusia dapat mulai mengagungkan sosok melebihi nilai yang dibawanya.

Foto lebih penting daripada gagasan.

Nama lebih penting daripada Qarya.

Kesetiaan kepada pribadi menjadi lebih penting daripada kesetiaan kepada kebenaran.

Di sinilah pemimpin harus berhati-hati.

Ia harus berkata kepada umatnya:

“Jangan ikuti aku ketika aku menjauh dari kebenaran. Ikutilah nilai baik yang kita perjuangkan bersama.”

Pemimpin tidak boleh mengubah cinta masyarakat menjadi pemujaan terhadap dirinya.

Ia harus mengarahkan cinta itu kepada kebaikan.

Kepada ilmu.

Kepada persaudaraan.

Kepada keadilan.

Kepada pengabdian.

Dan kepada Alloh sebagai sumber segala kebaikan.


PEMIMPIN YANG BAIK MEMBUKA RUANG

Geraqan yang terlalu sempit akan mati karena kekurangan udara.

Maka pemimpin harus membuka ruang bagi gagasan.

Bagi kritik.

Bagi generasi muda.

Bagi perempuan dan laki-laki untuk berQarya sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

Bagi orang dari berbagai latar belakang untuk menyumbangkan kebaikan.

Bagi mereka yang tidak selalu sepakat.

Karena sebuah umat tidak dibangun dari manusia yang memiliki satu pikiran.

Umat dibangun dari manusia yang berbeda tetapi mengetahui nilai apa yang harus mereka jaga bersama.


PERBEDAAN BUKAN SELALU ANCAMAN

Dua manusia dapat mencintai negeri yang sama dengan cara berbeda.

Dua orang dapat mempunyai gagasan berbeda tetapi tujuan yang sama.

Dua kelompok dapat berbeda jalan tetapi sama-sama menginginkan kemaslahatan.

Maka pemimpin tidak boleh terlalu mudah mengubah perbedaan menjadi permusuhan.

Tugasnya adalah mencari titik pertemuan.

Bukan menghapus seluruh perbedaan.

Tetapi membuat perbedaan tetap berada dalam batas adab, keadilan, dan persaudaraan.

Sebab sebuah pohon tidak menjadi indah karena semua daunnya berada pada posisi yang sama.

Keindahannya lahir ketika seluruh bagian yang berbeda bekerja untuk kehidupan yang sama.


GERAQAN YANG BESAR DIMULAI DARI HAL KECIL

Jangan menunggu mempunyai kekuasaan besar untuk berbuat.

Jangan menunggu mempunyai kekayaan besar untuk memberi.

Jangan menunggu seluruh manusia setuju untuk memulai kebaikan.

Satu pohon adalah permulaan hutan.

Satu buku adalah permulaan perpustakaan.

Satu anak yang dididik adalah permulaan generasi.

Satu keluarga yang didamaikan adalah permulaan kerukunan.

Satu sungai yang dibersihkan adalah permulaan kesadaran lingkungan.

Satu pemimpin yang jujur dapat menjadi permulaan budaya baru.

Qitab berkata:

Qarya besar adalah kumpulan langkah kecil yang tidak berhenti.


JANGAN MEREMEHKAN ORANG BIASA

Peradaban tidak hanya dibangun oleh raja.

Ia dibangun oleh petani.

Guru.

Pedagang.

Pekerja.

Nelayan.

Ulama.

Cendekiawan.

Seniman.

Ibu rumah tangga.

Pemuda.

Anak-anak yang sedang belajar.

Dan jutaan manusia yang namanya mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah.

Karena itu pemimpin jangan merasa dirinya satu-satunya pemeran utama.

Pemimpin hanyalah salah satu penjaga arah.

Sedangkan umatlah yang menggerakkan kehidupan.

Jika pemimpin kuat tetapi masyarakat dilemahkan, negara tidak akan kuat.

Jika pemimpin cerdas tetapi rakyat dibiarkan bodoh, peradaban tidak akan tumbuh.

Jika pemimpin kaya tetapi masyarakat hidup tanpa kesempatan, kemakmuran belum benar-benar hadir.

Maka kuatkan manusia.

Bukan hanya singgasana.


SABDO GERAQAN

Wahai pemimpin, apabila cahaya hanya berada di tanganmu, maka ketika tanganmu pergi kegelapan dapat kembali.

Karena itu bagikanlah cahaya.

Nyalakan satu pelita.

Biarkan pelita itu menyalakan pelita berikutnya.

Jangan takut jika akhirnya jutaan cahaya membuat manusia tidak lagi melihatmu sebagai satu-satunya sumber terang.

Sebab tujuanmu sejak awal bukan agar dunia melihatmu.

Tujuanmu adalah agar dunia menjadi terang.


TANDA TAULADAN TELAH HIDUP

Bagaimana mengetahui bahwa keteladanan seorang pemimpin telah benar-benar menjadi geraqan?

Bukan ketika namanya diteriakkan paling keras.

Bukan ketika gambarnya terpampang di banyak tempat.

Bukan ketika semua manusia memakai simbol dirinya.

Melainkan ketika:

orang menjadi jujur meskipun pemimpin tidak melihat,

orang menjaga lingkungan meskipun tidak diperintah,

orang membantu sesama meskipun tidak direkam,

orang bekerja dengan amanah meskipun tidak diawasi,

orang berani mengatakan kebenaran meskipun tidak mendapat keuntungan,

dan generasi baru terus menciptakan Qarya tanpa menunggu instruksi.

Pada saat itulah nilai telah berpindah dari sosok menuju jiwa umat.


QARYA MENJADI KEBUDAYAAN

Inilah tingkat berikutnya.

Pada awalnya kebaikan adalah perintah.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Setelah lama dijaga, kebiasaan berubah menjadi budaya.

Manusia tidak lagi membuang sampah sembarangan bukan hanya karena takut hukuman.

Mereka merasa malu merusak lingkungan.

Manusia tidak lagi mencuri bukan hanya karena ada penjaga.

Kejujuran telah menjadi harga diri.

Masyarakat tidak membantu sesama karena diperintah.

Kepedulian telah menjadi watak.

Pemimpin tidak lagi perlu berdiri di setiap sudut untuk memastikan kebaikan berjalan.

Sebab nilai telah hidup di dalam masyarakat.

Inilah kemenangan kepemimpinan yang sesungguhnya.


PENUTUP LEMBAR

Pada tahap ini, perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh tidak lagi hanya bercerita tentang satu pemimpin.

Ia telah menjadi perjalanan bersama.

Pemimpin membuka jalan.

Sembilan utusan menjaga nilai.

Umat menghidupkan Qarya.

Generasi meneruskan amanah.

Dan setiap manusia mulai menyadari bahwa dirinya mempunyai bagian dalam membangun kehidupan.

Maka tidak ada lagi pertanyaan:

“Siapa yang akan menyelamatkan kita?”

Pertanyaannya berubah menjadi:

“Kebaikan apa yang dapat kita Qaryakan bersama mulai hari ini?”

Dan ketika jutaan manusia mulai menjawab pertanyaan itu melalui perbuatannya masing-masing, satu pemimpin telah mencapai tingkat tauladan tertinggi:

ia tidak menciptakan umat yang hanya mengikutinya, tetapi membangkitkan umat yang mampu berQarya, memimpin dirinya, dan meneruskan kebaikan bagi semua.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XIII — SAAT PEMIMPIN MENYATU DENGAN QARYA UMAT

Pada satu tahap perjalanan, seorang pemimpin tidak lagi berdiri sebagai pusat.

Ia mulai melebur ke dalam gerak bersama.

Namanya tetap ada.

Wajahnya tetap dikenal.

Namun kekuatan sebenarnya tidak lagi berasal dari dirinya seorang.

Kekuatan itu telah berpindah ke dalam:

kesadaran umat,
Qarya masyarakat,
keberanian generasi,
dan nilai yang hidup di mana-mana.

Inilah tahap ketika kepemimpinan berubah dari sosok menjadi ruh perjuangan.

Bukan ruh dalam arti makhluk gaib.

Melainkan ruh sebagai semangat, nilai, arah, dan daya hidup yang menjiwai Qarya bersama.


PEMIMPIN YANG TIDAK LAGI HARUS MENJADI PUSAT

Ada masa ketika seorang pemimpin harus tampil.

Ada masa ketika ia harus memberi arah.

Ada masa ketika ia harus mengambil keputusan.

Namun akan datang masa ketika ia harus belajar mundur beberapa langkah.

Bukan karena lemah.

Bukan karena kehilangan pengaruh.

Tetapi karena ia ingin melihat:

apakah umat mampu berjalan dengan nilai yang telah ditanam?

Jika setiap persoalan harus menunggu dirinya, maka umat belum dewasa.

Jika setiap keputusan harus datang dari dirinya, maka kaderisasi belum berhasil.

Jika setiap Qarya hanya hidup karena namanya, maka Qarya itu masih rapuh.

Karena itu, pemimpin yang benar harus berani memberi ruang.


SEMBILAN UTUSAN MEMBUKA SEMBILAN GERBANG

Pada tahap ini, sembilan utusan tidak lagi berdiri mengelilingi pemimpin.

Mereka membuka sembilan gerbang bagi umat.

Gerbang Pertama — Amanah Bersama

Umat diajarkan bahwa amanah bukan hanya milik pemimpin.

Setiap orang mempunyai amanah.

Orang tua mempunyai amanah terhadap anak.

Guru mempunyai amanah terhadap murid.

Pedagang mempunyai amanah terhadap pembeli.

Pejabat mempunyai amanah terhadap rakyat.

Anak muda mempunyai amanah terhadap masa depannya.

Maka peradaban tumbuh ketika setiap orang menjaga bagiannya.


Gerbang Kedua — Ilmu Bersama

Ilmu tidak boleh berhenti di ruang elit.

Ia harus mengalir.

Ke sekolah.

Ke desa.

Ke pasar.

Ke rumah.

Ke tempat ibadah.

Ke ruang kerja.

Ke ruang digital.

Sebab umat yang berilmu tidak mudah dipermainkan oleh ketakutan, kebohongan, dan hasutan.

Pemimpin yang mencintai umatnya tidak takut melihat rakyat menjadi cerdas.

Justru ia bergembira.

Karena rakyat yang cerdas menjadi penjaga terbaik bagi masa depan.


Gerbang Ketiga — Keadilan Bersama

Keadilan bukan hanya tugas hakim.

Ia harus menjadi kebiasaan.

Adil ketika membagi.

Adil ketika menilai.

Adil ketika berbicara.

Adil ketika memilih.

Adil bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

Jika keadilan hanya hidup di gedung hukum, tetapi mati di rumah, pasar, lembaga, dan kehidupan sehari-hari, maka masyarakat belum benar-benar adil.


Gerbang Keempat — Rahmah Bersama

Rahmah bukan kelembutan tanpa batas.

Rahmah adalah kemampuan menjaga kemanusiaan.

Tegas tanpa menghina.

Mengoreksi tanpa merendahkan.

Menghukum tanpa kehilangan keadilan.

Membantu tanpa memperbudak.

Mendidik tanpa mematahkan harga diri.

Maka rahmah menjadikan kepemimpinan tidak keras seperti batu dan tidak pula lemah tanpa arah.


Gerbang Kelima — Keberanian Bersama

Umat yang kuat bukan umat yang hanya menunggu seorang pahlawan.

Umat yang kuat melahirkan keberanian di banyak tempat.

Keberanian untuk berkata jujur.

Keberanian untuk memulai usaha.

Keberanian untuk belajar.

Keberanian untuk memperbaiki kesalahan.

Keberanian untuk melawan kebiasaan buruk.

Keberanian untuk berdamai.

Keberanian untuk berkata:

“Aku akan mulai dari diriku.”


Gerbang Keenam — Kesabaran Bersama

Tidak semua Qarya langsung berhasil.

Tidak semua kebaikan langsung dipahami.

Tidak semua perubahan langsung diterima.

Karena itu umat harus belajar bahwa kegagalan bukan selalu akhir.

Kadang-kadang kegagalan adalah guru.

Kadang-kadang penolakan adalah ujian.

Kadang-kadang keterlambatan adalah kesempatan untuk memperbaiki cara.

Kesabaran bukan diam.

Kesabaran adalah tetap bergerak tanpa kehilangan arah.


Gerbang Ketujuh — Musyawarah Bersama

Ketika musyawarah hidup, manusia tidak mudah merasa paling benar.

Mereka belajar mendengar.

Belajar menyampaikan.

Belajar menerima perbedaan.

Belajar mencari titik temu.

Musyawarah bukan berarti semua keputusan harus memuaskan semua orang.

Tetapi setiap keputusan harus lahir dari pertimbangan yang jujur dan penghormatan kepada manusia.


Gerbang Kedelapan — Keteladanan Bersama

Pada tahap ini, keteladanan tidak lagi hanya berasal dari pemimpin.

Seorang anak dapat menjadi tauladan bagi temannya.

Seorang pedagang dapat menjadi tauladan dalam kejujuran.

Seorang guru dapat menjadi tauladan dalam kesabaran.

Seorang petani dapat menjadi tauladan dalam menjaga bumi.

Seorang pejabat dapat menjadi tauladan dalam amanah.

Seorang ibu dapat menjadi tauladan dalam kasih sayang.

Seorang pemuda dapat menjadi tauladan dalam keberanian berQarya.

Maka teladan tumbuh di segala arah.


Gerbang Kesembilan — Keberlanjutan Bersama

Tidak cukup hanya berQarya.

Umat harus belajar memelihara Qarya.

Karena banyak hal besar hancur bukan ketika dibangun, tetapi ketika tidak dirawat.

Sekolah harus dijaga.

Alam harus dijaga.

Persaudaraan harus dijaga.

Ilmu harus diperbarui.

Sistem harus diperbaiki.

Generasi baru harus diberi ruang.

Inilah makna keberlanjutan:

kebaikan tidak hanya dimulai, tetapi dijaga agar tetap hidup.


PEMIMPIN MULAI BERJALAN TANPA PENGAWALAN EGO

Pada perjalanan berikutnya, sang pemimpin melihat banyak Qarya tumbuh tanpa dirinya.

Ada yang lebih indah daripada gagasannya.

Ada yang lebih besar daripada rencana awalnya.

Ada generasi yang menciptakan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Di sinilah ia kembali diuji.

Apakah ia merasa tersaingi?

Ataukah ia merasa bersyukur?

Pemimpin yang masih dikuasai ego akan berkata:

“Mengapa mereka tidak menyebut namaku?”

Tetapi pemimpin yang telah matang akan berkata:

“Alhamdulillah, kebaikan telah mampu berjalan tanpa harus membawa namaku.”


TANDA QARYA TELAH MENJADI MILIK UMAT

Qarya telah menjadi milik umat ketika orang-orang menjaganya tanpa disuruh.

Ketika masyarakat merasa:

“Ini milik kita bersama.”

Bukan milik pemimpin.

Bukan milik satu kelompok.

Bukan milik satu keluarga.

Tetapi milik kemaslahatan.

Pada saat itulah Qarya mempunyai akar yang kuat.

Karena yang menjaganya bukan satu tangan.

Melainkan ribuan tangan.


JANGAN TAKUT KEHILANGAN PANGGUNG

Panggung adalah sementara.

Hari ini seseorang berada di tengah.

Besok orang lain.

Lusa generasi berikutnya.

Jika seorang pemimpin memahami ini, ia tidak akan berusaha mempertahankan pusat perhatian selamanya.

Ia akan mempersiapkan panggung untuk orang lain.

Ia akan memberikan kesempatan.

Membimbing.

Menguatkan.

Dan suatu hari ia akan duduk di antara umat, melihat Qarya-Qarya baru tumbuh, lalu tersenyum.

Karena pada saat itu ia mengetahui:

perjuangan telah melampaui dirinya.


SABDO SEMBILAN GERBANG

Maka sembilan utusan berkata bersama:

“Jangan jadikan kami penjaga satu singgasana.
Jadikan kami penjaga sembilan nilai dalam kehidupan umat.”

Amanah tidak boleh hanya berada di istana.

Ilmu tidak boleh hanya berada di sekolah tinggi.

Keadilan tidak boleh hanya berada di pengadilan.

Rahmah tidak boleh hanya berada di ucapan.

Keberanian tidak boleh hanya berada di medan besar.

Kesabaran tidak boleh hanya diajarkan ketika susah.

Musyawarah tidak boleh hanya menjadi seremoni.

Keteladanan tidak boleh hanya dituntut dari pemimpin.

Keberlanjutan tidak boleh hanya menjadi slogan.

Sembilan nilai itu harus hidup di dalam manusia.


SAAT UMAT MULAI MEMIMPIN DIRINYA

Inilah tujuan besar dari kepemimpinan.

Bukan agar manusia terus menunggu.

Tetapi agar manusia mampu memilih yang baik walaupun tidak diawasi.

Mampu menjaga amanah walaupun tidak dipuji.

Mampu berQarya walaupun tidak diperintah.

Mampu bersatu tanpa harus selalu ditengahi.

Mampu mengoreksi kesalahan tanpa harus menghancurkan persaudaraan.

Mampu menjaga bumi bukan karena takut hukuman, tetapi karena kesadaran.

Pada saat itulah umat mulai memimpin dirinya sendiri.

Dan seorang pemimpin telah berhasil menanam sesuatu yang jauh lebih besar daripada kekuasaan:

kesadaran.


QARYA TIDAK LAGI PUNYA SATU NAMA

Ketika perjalanan semakin matang, Qarya-Qarya baru muncul dari segala penjuru.

Tidak semuanya memakai nama sang pemimpin.

Dan itu baik.

Karena kebaikan tidak membutuhkan satu merek.

Ia membutuhkan banyak tangan.

Banyak pikiran.

Banyak hati.

Banyak keberanian.

Biarkan setiap daerah mempunyai Qaryanya.

Biarkan setiap generasi menemukan jalannya.

Biarkan setiap manusia memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.

Asalkan arah besarnya tidak hilang:

kemaslahatan, keadilan, rahmah, ilmu, amanah, dan pengabdian.


PEMIMPIN MENJADI JEMBATAN

Pada awal perjalanan, pemimpin adalah penunjuk jalan.

Di tengah perjalanan, ia menjadi penggerak.

Pada tahap yang lebih matang, ia menjadi jembatan.

Jembatan antara generasi tua dan muda.

Antara ilmu dan tindakan.

Antara rakyat dan kekuasaan.

Antara tradisi dan perubahan.

Antara keberanian dan kebijaksanaan.

Antara masa lalu dan masa depan.

Jembatan tidak meminta manusia berhenti di atasnya.

Jembatan justru membantu manusia menyeberang.

Demikianlah pemimpin.

Jangan membuat umat berhenti pada dirimu.

Bantulah mereka menyeberang menuju keadaan yang lebih baik.


PENUTUP LEMBAR

Maka pada lembar ini, perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh sampai pada satu pemahaman:

**Pemimpin sejati tidak menciptakan kerajaan bagi dirinya.

Ia menciptakan ruang agar kebaikan dapat tumbuh di banyak hati.**

Ia tidak ingin menjadi satu-satunya cahaya.

Ia ingin melihat seluruh umat bercahaya dengan Qarya mereka masing-masing.

Ia tidak ingin seluruh manusia berada di belakangnya.

Ia ingin suatu hari mereka dapat berjalan sejajar, memikul amanah bersama.

Dan ketika hari itu tiba, sembilan utusan tidak lagi hanya mengelilingi satu pemimpin.

Mereka seakan berada di sembilan penjuru kehidupan umat:

menjaga amanah,
menyalakan ilmu,
menegakkan keadilan,
menumbuhkan rahmah,
membangkitkan keberanian,
memelihara kesabaran,
menghidupkan musyawarah,
menyebarkan keteladanan,
dan menjaga keberlanjutan Qarya.

Di situlah seorang pemimpin mencapai kemuliaan yang lebih tinggi:

ketika dirinya tidak lagi menjadi pusat Qarya, tetapi menjadi salah satu sebab lahirnya jutaan manusia yang mampu berQarya dan menjadi tauladan bagi sesamanya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XIV — PEMIMPIN YANG MENJAGA ARAH DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Zaman tidak pernah berhenti.

Anak-anak tumbuh.

Generasi berganti.

Ilmu berkembang.

Teknologi berubah.

Cara manusia bekerja berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Bahkan persoalan yang dihadapi umat pun terus berubah.

Maka seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu menjaga apa yang telah ada.

Ia juga harus mampu membaca:

ke mana zaman sedang bergerak.

Namun membaca zaman bukan berarti mengikuti setiap perubahan tanpa pertimbangan.

Ada perubahan yang membawa kemajuan.

Ada perubahan yang membawa kerusakan.

Ada hal baru yang perlu diterima.

Ada hal lama yang justru harus dijaga.

Karena itu pemimpin membutuhkan satu kemampuan besar:

membedakan antara perubahan bentuk dan perubahan nilai.

Bentuk dapat berubah.

Cara dapat berkembang.

Teknologi dapat diperbarui.

Tetapi amanah tidak boleh berubah menjadi pengkhianatan.

Keadilan tidak boleh berubah menjadi kepentingan.

Rahmah tidak boleh berubah menjadi kekerasan.

Ilmu tidak boleh berubah menjadi alat kesombongan.

Dan Qarya tidak boleh berubah menjadi sekadar pencitraan.


JANGAN MEMUSUHI ZAMAN

Ada pemimpin yang terlalu takut terhadap perubahan.

Setiap sesuatu yang baru dianggap ancaman.

Setiap generasi muda dianggap tidak mengerti.

Setiap cara baru dianggap merusak tradisi.

Padahal tidak semua yang baru buruk.

Sebagaimana tidak semua yang lama selalu benar.

Pemimpin yang bijaksana tidak bertanya:

“Apakah ini lama atau baru?”

Ia bertanya:

“Apakah ini baik, benar, bermanfaat, dan selaras dengan nilai yang harus dijaga?”

Jika baik, ambillah.

Jika buruk, tinggalkan.

Jika masih belum jelas, pelajarilah.

Karena kebijaksanaan bukan menolak perubahan.

Kebijaksanaan adalah menyaring perubahan.


JANGAN PULA MENYEMBAH KEMAJUAN

Ada pula pemimpin yang menganggap semua hal baru pasti lebih baik.

Ia mengejar perkembangan hanya agar tidak disebut tertinggal.

Ia membangun teknologi tanpa memikirkan manusia.

Ia mengejar pertumbuhan tanpa memikirkan alam.

Ia mengejar kecepatan tanpa memikirkan kedalaman.

Ia mengejar angka tanpa memikirkan kebahagiaan.

Padahal tidak semua yang cepat membawa kita ke arah yang benar.

Kendaraan yang sangat cepat tetap berbahaya bila arahnya salah.

Maka Qitab berkata:

Kemajuan tanpa arah dapat menjadi percepatan menuju kerusakan.

Karena itu pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bergerak cepat.

Ia membutuhkan kemampuan menentukan ke mana harus bergerak.


EMPAT HAL YANG HARUS DIBACA PEMIMPIN

Dalam perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh, seorang pemimpin harus belajar membaca empat perkara.

Pertama — Membaca Umat

Apa yang mereka butuhkan?

Apa yang mereka takutkan?

Apa yang mereka harapkan?

Apa yang sedang merusak persaudaraan mereka?

Apa yang membuat generasi muda kehilangan arah?

Apa yang membuat keluarga menjadi rapuh?

Pemimpin tidak boleh hanya membaca laporan.

Ia harus membaca jiwa masyarakat.


Kedua — Membaca Zaman

Perubahan apa yang sedang datang?

Teknologi apa yang akan mengubah pekerjaan?

Ilmu apa yang perlu dipersiapkan?

Ancaman apa yang mungkin muncul?

Kesempatan apa yang dapat dimanfaatkan?

Generasi yang tidak disiapkan menghadapi zaman akan menjadi tamu di negerinya sendiri.

Maka pemimpin harus mempersiapkan umat agar tidak hanya menjadi pengguna perubahan.

Tetapi menjadi pencipta dan pengarah perubahan.


Ketiga — Membaca Alam

Pembangunan yang mengabaikan alam sedang meminjam kemakmuran dari anak cucu.

Hutan yang rusak.

Air yang tercemar.

Tanah yang kehilangan kesuburan.

Udara yang kotor.

Laut yang dipenuhi sampah.

Semua dapat menjadi tanda bahwa suatu generasi terlalu banyak mengambil dan terlalu sedikit menjaga.

Karena itu pemimpin harus memahami:

alam bukan benda mati yang dapat dihabiskan tanpa akibat.

Menjaga alam adalah bagian dari menjaga kehidupan umat.


Keempat — Membaca Diri

Ini yang paling sulit.

Apakah aku masih berjalan karena amanah?

Ataukah aku mulai berjalan karena ingin dikenang?

Apakah aku masih mendengar?

Ataukah aku hanya menunggu orang lain selesai berbicara agar aku dapat menjawab?

Apakah aku masih menerima nasihat?

Ataukah setiap nasihat mulai terasa sebagai serangan?

Apakah aku masih berQarya untuk umat?

Ataukah umat mulai kugunakan untuk membesarkan Qaryaku sendiri?

Pemimpin yang mampu membaca seluruh dunia tetapi gagal membaca dirinya tetap dapat tersesat.


SEMBILAN UTUSAN DAN SEMBILAN PERTANYAAN ZAMAN

Maka sembilan utusan datang membawa sembilan pertanyaan.

Utusan Amanah bertanya:

“Apakah kemajuan ini benar-benar untuk umat, atau hanya menguntungkan sedikit orang?”

Utusan Ilmu bertanya:

“Apakah keputusan ini lahir dari pengetahuan atau dari dugaan?”

Utusan Keadilan bertanya:

“Siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung akibatnya?”

Utusan Rahmah bertanya:

“Apakah manusia yang paling lemah tetap diperhatikan?”

Utusan Keberanian bertanya:

“Apakah kita berani meninggalkan cara lama bila sudah tidak membawa kebaikan?”

Utusan Kesabaran bertanya:

“Apakah kita memberi waktu yang cukup agar perubahan tumbuh dengan sehat?”

Utusan Musyawarah bertanya:

“Sudahkah mereka yang terkena dampak didengarkan?”

Utusan Keteladanan bertanya:

“Apakah pemimpin bersedia menjalani aturan yang dibuatnya?”

Utusan Keberlanjutan bertanya:

“Apakah keputusan hari ini masih akan membawa kebaikan bagi generasi yang belum lahir?”


GENERASI MUDA BUKAN ANCAMAN

Setiap generasi mempunyai bahasa sendiri.

Cara belajar sendiri.

Cara berQarya sendiri.

Cara melihat dunia yang kadang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pemimpin jangan buru-buru menyalahkan mereka.

Dekati.

Dengarkan.

Bimbing.

Beri tanggung jawab.

Sebab generasi muda tidak hanya membutuhkan nasihat.

Mereka membutuhkan kepercayaan.

Jangan hanya berkata:

“Kalian adalah masa depan.”

Tetapi tidak pernah memberikan mereka tempat pada masa kini.

Jika mereka adalah masa depan, maka libatkan mereka hari ini.

Ajak berpikir.

Ajak berQarya.

Ajak mengambil tanggung jawab.

Biarkan mereka melakukan kesalahan kecil agar belajar sebelum memegang amanah yang lebih besar.


TRADISI DAN PERUBAHAN

Tradisi adalah akar.

Perubahan adalah cabang.

Pohon tanpa akar mudah tumbang.

Tetapi pohon yang tidak pernah menumbuhkan cabang baru akan kehilangan kehidupan.

Maka jangan mempertentangkan tradisi dan perubahan secara membabi buta.

Jaga nilai baik dari masa lalu.

Perbaiki bentuk yang sudah tidak sesuai.

Buang kebiasaan yang ternyata membawa mudarat.

Ambil pengetahuan baru yang membawa manfaat.

Dengan begitu peradaban tidak kehilangan jati diri sekaligus tidak membeku.

Akar tetap dalam. Cabang terus tumbuh.


PEMIMPIN HARUS MEMPUNYAI VISI PANJANG

Ada keputusan yang hasilnya terlihat dalam satu minggu.

Ada yang baru terlihat dalam lima tahun.

Ada yang baru terasa setelah satu generasi.

Pendidikan adalah salah satunya.

Menanam budaya jujur juga demikian.

Menjaga lingkungan juga demikian.

Membangun karakter juga demikian.

Karena itu pemimpin tidak boleh hanya mengejar hasil yang dapat segera dipamerkan.

Ada Qarya-Qarya yang mungkin tidak membuat namanya segera terkenal.

Tetapi justru Qarya itulah yang paling penting.

Menanam pohon yang baru besar setelah dirinya tiada.

Mendidik anak yang kelak menjadi pemimpin.

Membangun sistem yang manfaatnya baru dirasakan puluhan tahun kemudian.

Inilah tanda pemimpin yang tidak hanya berpikir tentang masa jabatan.

Ia berpikir tentang masa zaman.


BAHAYA KEPUTUSAN JANGKA PENDEK

Kadang-kadang sesuatu tampak menguntungkan hari ini tetapi merugikan esok.

Hutan ditebang, uang datang cepat.

Tetapi air hilang.

Tanah rusak.

Bencana meningkat.

Sumber kehidupan lenyap.

Kadang-kadang hutang membawa kemudahan hari ini tetapi menjadi beban generasi berikutnya.

Kadang-kadang popularitas dapat diperoleh dengan membuat musuh bersama.

Namun kebencian yang ditanam dapat membutuhkan puluhan tahun untuk disembuhkan.

Karena itu seorang pemimpin harus mempunyai keberanian untuk mengatakan:

“Tidak semua keuntungan hari ini layak dibayar dengan penderitaan masa depan.”


PEMIMPIN SEBAGAI PENJAGA KOMPAS

Bayangkan umat sebagai sebuah kapal besar.

Banyak orang bekerja di dalamnya.

Ada yang mengatur layar.

Ada yang membaca cuaca.

Ada yang menjaga mesin.

Ada yang membawa perbekalan.

Ada yang merawat penumpang.

Pemimpin bukan seluruh kapal.

Tetapi salah satu tugas utamanya adalah menjaga kompas.

Ketika badai datang, semua orang dapat panik.

Ketika ombak tinggi, arah dapat terasa tidak jelas.

Pada saat itulah pemimpin harus mengingatkan:

ke mana kita hendak menuju.

Jika arah benar, cara dapat disesuaikan.

Layar dapat diubah.

Kecepatan dapat dikurangi.

Jalur dapat dipindahkan.

Tetapi tujuan tidak boleh hilang.


QARYA YANG MENJAWAB ZAMAN

Qarya tidak boleh hanya mengulang bentuk lama.

Ia harus menjawab kebutuhan nyata.

Jika umat membutuhkan pendidikan, berQaryalah melalui pendidikan.

Jika mereka membutuhkan pekerjaan, bangun jalan kemandirian.

Jika generasi muda membutuhkan arah, hadirkan ruang kreatif dan pembinaan.

Jika masyarakat membutuhkan persatuan, bangun jembatan dialog.

Jika alam rusak, jadikan pemulihan alam sebagai Qarya.

Jika teknologi berkembang, gunakan untuk memperluas ilmu dan manfaat.

Setiap zaman mempunyai pertanyaannya sendiri.

Dan setiap pemimpin dipanggil untuk memberikan jawaban melalui Qarya.


SABDO PERUBAHAN ZAMAN

Wahai pemimpin, jangan berdiri membelakangi masa depan hanya karena engkau mencintai masa lalu.

Namun jangan pula berlari menuju masa depan hingga melupakan akar yang membuatmu berdiri.

Bawalah yang baik dari belakang.

Pelajari apa yang datang dari depan.

Lalu berjalanlah dengan kesadaran.

Sebab peradaban bukan memilih antara masa lalu dan masa depan.

Peradaban adalah kemampuan menyambungkan keduanya dengan kebijaksanaan.


TIGA JENIS PEMIMPIN DI HADAPAN ZAMAN

Ada pemimpin yang tertinggal oleh zaman.

Ia baru memahami perubahan setelah semuanya terjadi.

Ada pemimpin yang hanya mengikuti zaman.

Ia bergerak ke mana pun arus membawa.

Dan ada pemimpin yang membaca zaman, lalu ikut membentuk arahnya.

Pemimpin ketiga inilah yang berQarya.

Ia tidak menunggu masa depan datang begitu saja.

Ia menyiapkan manusia untuk menyambutnya.


KEKUATAN TERBESAR ADALAH MANUSIA

Teknologi dapat dibeli.

Bangunan dapat didirikan.

Mesin dapat didatangkan.

Tetapi peradaban tetap bergantung kepada manusia.

Manusia yang jujur.

Manusia yang terdidik.

Manusia yang sehat.

Manusia yang kreatif.

Manusia yang mempunyai kasih sayang.

Manusia yang berani bertanggung jawab.

Jika manusia rusak, teknologi yang hebat pun dapat menjadi alat kerusakan.

Jika manusia berakhlak, teknologi dapat menjadi alat kemaslahatan.

Maka investasi terbesar seorang pemimpin adalah:

membangun manusia.


PENUTUP LEMBAR

Pada akhirnya, waktu akan menguji setiap kepemimpinan.

Zaman akan terus berganti.

Apa yang hari ini dianggap modern kelak menjadi tua.

Apa yang hari ini disebut baru kelak menjadi sejarah.

Namun sembilan nilai tetap diperlukan:

amanah, ilmu, keadilan, rahmah, keberanian, kesabaran, musyawarah, keteladanan, dan keberlanjutan.

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki gerbang berikutnya:

pemimpin yang tidak hanya mampu berjalan bersama zamannya, tetapi mampu menjaga agar umat tidak kehilangan arah ketika zaman berubah.

Sebab pemimpin besar bukan orang yang membuat waktu berhenti.

Ia adalah orang yang mampu membawa nilai kebaikan menyeberangi waktu.

Dan ketika nilai itu tetap hidup meski dunia berubah, Qarya seorang pemimpin telah menjadi lebih dari sebuah hasil.

Ia telah menjadi jembatan antara generasi yang datang, generasi yang hidup hari ini, dan generasi yang kelak melanjutkan perjalanan umat.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XV — PEMIMPIN DI TENGAH PERPECAHAN UMAT

Tidak semua zaman menghadirkan ketenangan.

Ada masa ketika manusia mudah tersulut.

Perbedaan kecil dibesarkan.

Kabar yang belum jelas dipercaya.

Kecurigaan berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Kelompok melihat kelompok lain sebagai ancaman.

Saudara mulai menjauh dari saudara.

Dan sebuah umat yang sebenarnya mempunyai banyak kekuatan justru melemah karena saling mencurigai.

Pada masa seperti itu, pemimpin diuji bukan hanya oleh kemampuannya memberi perintah.

Ia diuji oleh kemampuan menyatukan tanpa memaksa semua orang menjadi sama.

Sebab persatuan bukan keseragaman.

Persatuan adalah kemampuan menjaga tujuan bersama di tengah banyak perbedaan.


JANGAN MENYALAKAN API UNTUK MENDAPATKAN DUKUNGAN

Ada jalan cepat untuk mendapatkan pengikut:

menciptakan musuh.

Menunjuk satu kelompok.

Menanam ketakutan.

Membangkitkan kemarahan.

Lalu berkata:

“Berdirilah bersamaku untuk melawan mereka.”

Cara seperti itu memang dapat menciptakan barisan dengan cepat.

Tetapi barisan yang lahir dari kebencian akan membutuhkan kebencian baru agar tetap hidup.

Hari ini musuhnya satu kelompok.

Besok kelompok lain.

Lusa saudara sendiri.

Maka Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh memberi peringatan:

Jangan membangun kekuatan umat dengan bahan bakar permusuhan.

Sebab api yang engkau nyalakan untuk membakar lawan dapat suatu hari membakar rumahmu sendiri.


PEMIMPIN ADALAH PENJAGA JEMBATAN

Ketika dua kelompok berhadapan, orang mudah mencari alasan untuk menghancurkan jembatan.

Pemimpin justru harus menjaga agar masih ada jalan untuk bertemu.

Masih ada ruang berbicara.

Masih ada tempat untuk mendengar.

Masih ada kemungkinan memperbaiki.

Jembatan tidak berarti membenarkan kesalahan.

Jembatan tidak berarti menghapus keadilan.

Jembatan berarti:

kebenaran ditegakkan tanpa menutup pintu perdamaian.

Karena tujuan akhir dari penyelesaian bukan sekadar menentukan siapa menang dan siapa kalah.

Tujuan yang lebih tinggi adalah:

bagaimana kehidupan dapat kembali berjalan dengan adil.


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI DI ANTARA DUA BARISAN

Ketika umat mulai terpecah, sembilan utusan berdiri di antara mereka.

Bukan membawa senjata.

Mereka membawa sembilan pesan.

Utusan Amanah berkata:

“Jangan gunakan perpecahan untuk memperpanjang kekuasaan.”

Utusan Ilmu berkata:

“Periksa kabar sebelum menjadikannya alasan untuk membenci.”

Utusan Keadilan berkata:

“Jangan hukum seluruh kelompok karena kesalahan beberapa orang.”

Utusan Rahmah berkata:

“Di seberang sana pun ada manusia, keluarga, anak-anak, dan hati yang dapat terluka.”

Utusan Keberanian berkata:

“Berani berdamai kadang lebih berat daripada berani melawan.”

Utusan Kesabaran berkata:

“Luka yang dibangun bertahun-tahun tidak selalu sembuh dalam satu pertemuan.”

Utusan Musyawarah berkata:

“Biarkan setiap pihak berbicara tanpa saling merendahkan.”

Utusan Keteladanan berkata:

“Jangan meminta umat menahan amarah bila pemimpinnya sendiri terus menyulutnya.”

Utusan Keberlanjutan berkata:

“Jangan wariskan kebencian hari ini kepada anak-anak yang belum memahami sebab permusuhan.”


PERBEDAAN TIDAK HARUS MENJADI PERMUSUHAN

Manusia dapat berbeda pendapat.

Berbeda pilihan.

Berbeda adat.

Berbeda bahasa.

Berbeda cara berpikir.

Berbeda kepentingan.

Namun perbedaan baru berubah menjadi permusuhan ketika manusia kehilangan adab.

Maka seorang pemimpin harus mengajarkan satu hal penting:

Kita tidak harus sepakat dalam segala hal untuk tetap saling menghormati.

Ada perkara yang dapat diperdebatkan.

Ada perkara yang dapat dimusyawarahkan.

Ada perkara yang dapat berbeda.

Tetapi kemanusiaan tidak boleh hilang.


JANGAN MUDAH MENGGUNAKAN KATA “PENGKHIANAT”

Ketika suasana memanas, kata-kata menjadi senjata.

Orang yang berbeda pendapat disebut pengkhianat.

Orang yang bertanya disebut musuh.

Orang yang mengkritik dianggap tidak setia.

Padahal kesetiaan yang sehat bukan kesetiaan buta.

Ada orang yang justru mengkritik karena ingin memperbaiki.

Ada orang yang berbeda jalan tetapi tetap mencintai umat.

Ada orang yang tidak setuju dengan pemimpin tetapi tetap menjaga negara, keluarga, masyarakat, dan kebaikan.

Maka pemimpin harus sangat hati-hati memberi cap.

Karena satu kata dari mulut pemimpin dapat membuat jutaan orang ikut menuduh.


KETIKA KABAR MENJADI SENJATA

Pada zaman ketika berita bergerak sangat cepat, satu kabar dapat mengelilingi dunia sebelum kebenaran sempat diperiksa.

Gambar dapat dipotong.

Ucapan dapat dilepaskan dari konteks.

Cerita dapat ditambah.

Kebohongan dapat diulang sampai terasa seperti kenyataan.

Karena itu pemimpin harus menjadi contoh dalam kehati-hatian.

Jangan langsung bereaksi.

Jangan menyebarkan sebelum memastikan.

Jangan menghukum sebelum memeriksa.

Jangan menjadikan kemarahan masyarakat sebagai alasan meninggalkan keadilan.

Sebab semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar akibat dari kata-katanya.


TIGA JENIS API PERPECAHAN

Qitab ini menggambarkan tiga api yang sering membakar persaudaraan.

Api Pertama — Kesombongan

Ketika satu kelompok merasa dirinya selalu paling mulia.

Mereka mulai meremehkan yang lain.

Dari sinilah jarak tumbuh.

Api Kedua — Ketidakadilan

Ketika hak tidak dibagi dengan adil, kemarahan akan mencari jalan keluar.

Ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama dapat menjadi sumber perpecahan.

Api Ketiga — Kebohongan

Kebohongan membuat manusia membenci sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Jika tiga api ini bertemu, satu percikan kecil dapat menjadi kobaran besar.

Karena itu pemimpin tidak cukup hanya menyerukan persatuan.

Ia harus memadamkan sebab-sebab yang merusak persatuan.


PERSATUAN TANPA KEADILAN ADALAH RAPUH

Tidak cukup berkata:

“Mari bersatu.”

Jika sebagian orang terus diperlakukan tidak adil.

Tidak cukup berkata:

“Jangan ribut.”

Jika masalah yang membuat mereka terluka tidak pernah diselesaikan.

Keheningan bukan selalu tanda damai.

Kadang-kadang manusia diam karena takut.

Maka perdamaian yang sehat harus dibangun di atas:

keadilan, pengakuan atas luka, tanggung jawab, dan kesempatan memperbaiki.

Dengan begitu persatuan bukan sekadar menutupi retakan.

Ia benar-benar memperbaikinya.


PEMIMPIN HARUS MAMPU MENAHAN DIRI

Ada kalanya masyarakat sedang marah dan menuntut jawaban cepat.

Pada saat itu pemimpin harus mampu membedakan antara:

tindakan cepat

dan

tindakan tergesa-gesa.

Cepat bukan berarti tanpa pertimbangan.

Tegas bukan berarti kasar.

Berani bukan berarti ceroboh.

Maka sebelum mengambil keputusan besar, pemimpin perlu bertanya:

Apakah keputusan ini menyelesaikan akar masalah?

Ataukah hanya memuaskan kemarahan sesaat?


MUSYAWARAH DI TENGAH LUKA

Musyawarah yang paling sulit adalah musyawarah antara mereka yang sudah tidak saling percaya.

Maka tahap pertama bukan langsung mencari kesepakatan.

Tahap pertama adalah membuat mereka merasa aman untuk berbicara.

Biarkan luka diceritakan.

Biarkan kesalahan diakui.

Biarkan rasa takut disampaikan.

Setelah itu barulah jalan dapat dicari.

Karena manusia sulit menerima solusi sebelum merasa bahwa persoalannya benar-benar didengar.


KEMENANGAN YANG TIDAK MENINGGALKAN MUSUH

Ada kemenangan yang membuat lawan semakin membenci.

Ada pula kemenangan yang membuat lawan akhirnya menjadi saudara.

Kemenangan kedua lebih sulit.

Tetapi jauh lebih mulia.

Bila seorang pemimpin berhasil menyelesaikan konflik tanpa mempermalukan manusia, ia sedang menutup pintu bagi dendam.

Karena manusia yang dipermalukan dapat menyimpan luka.

Sedangkan manusia yang diperlakukan adil, bahkan ketika bersalah, mempunyai kesempatan untuk kembali.


SABDO PERSATUAN

Wahai pemimpin, jangan menjadi orang yang paling keras suaranya ketika umat sedang marah.

Jadilah orang yang paling jernih pikirannya.

Jangan menambah panas pada api.

Carilah air.

Jangan membuat satu kelompok merasa seluruh dunia adalah musuhnya.

Bukalah jalan pulang.

Sebab kepemimpinan bukan tentang memenangkan pertengkaran.

Kepemimpinan adalah tentang menjaga agar umat tidak kehilangan masa depannya karena kemarahan hari ini.


JANGAN WARISKAN DENDAM

Ada permusuhan yang bertahan puluhan tahun karena orang tua mewariskan cerita kebencian kepada anak-anaknya.

Anak itu kemudian membenci seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.

Begitulah luka dapat menjadi warisan.

Maka pemimpin mempunyai kewajiban memutus rantai itu.

Ajarkan sejarah.

Tetapi jangan jadikan sejarah sebagai alasan untuk terus membenci.

Ingat kesalahan masa lalu.

Tetapi gunakan ingatan itu untuk mencegah kesalahan berulang.

Bukan untuk menciptakan permusuhan tanpa akhir.


SEMBILAN UTUSAN MENGANGKAT SEMBILAN CAHAYA

Ketika dua barisan yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya mulai mendengar satu sama lain, sembilan utusan mengangkat sembilan cahaya.

Cahaya Amanah.

Cahaya Ilmu.

Cahaya Keadilan.

Cahaya Rahmah.

Cahaya Keberanian.

Cahaya Kesabaran.

Cahaya Musyawarah.

Cahaya Keteladanan.

Cahaya Keberlanjutan.

Sembilan cahaya itu tidak menyinari satu kelompok saja.

Mereka menyinari semuanya.

Karena nilai yang benar tidak mempunyai kepentingan untuk memenangkan satu pihak secara zalim.

Nilai menjaga agar setiap pihak kembali kepada kebenaran.


TANDA PEMIMPIN BERHASIL MENDAMAIKAN

Bukan ketika manusia berhenti berbicara.

Tetapi ketika mereka dapat berbicara tanpa saling menghina.

Bukan ketika semua orang mempunyai pendapat yang sama.

Tetapi ketika perbedaan tidak lagi mengancam persaudaraan.

Bukan ketika tidak ada kritik.

Tetapi ketika kritik dapat disampaikan tanpa takut.

Bukan ketika konflik tidak pernah terjadi.

Tetapi ketika konflik dapat diselesaikan tanpa diwariskan menjadi dendam.

Itulah masyarakat yang matang.


PENUTUP LEMBAR

Pada lembar ini, Ziryattah al Azim Arfaqoh membuka satu rahasia besar dalam perjalanan seorang pemimpin:

Pemimpin sejati tidak hanya mampu mengumpulkan orang-orang yang sudah sepakat dengannya.

Ia mampu menjaga manusia yang berbeda agar tetap berada dalam satu rumah besar tanpa saling menghancurkan.

Ia tidak memperbesar luka untuk mendapat kekuasaan.

Ia menyembuhkan luka agar umat mendapatkan masa depan.

Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan membangun tembok.

Ia membangun jembatan.

Ia tidak memimpin dengan ketakutan.

Ia memimpin dengan amanah, keadilan, ilmu, dan rahmah.

Dan ketika manusia yang dahulu saling curiga akhirnya dapat duduk bersama, berQarya bersama, menjaga generasi bersama, dan melihat satu sama lain sebagai sesama manusia—

maka satu kemenangan besar telah lahir.

Bukan kemenangan seorang pemimpin atas umatnya, tetapi kemenangan umat atas perpecahan yang hampir menghancurkannya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XVI — PEMIMPIN YANG MENJAGA KEADILAN DI ATAS SEGALA KEPENTINGAN

Keadilan adalah salah satu ujian terberat bagi seorang pemimpin.

Sebab berbicara tentang adil sangat mudah ketika tidak ada kepentingan yang menyentuh diri.

Tetapi ketika keadilan harus ditegakkan terhadap orang dekat, keluarga, kelompok, pendukung, sahabat, atau orang yang pernah berjasa, barulah terlihat seberapa kuat amanah di dalam hati.

Pemimpin yang benar tidak menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk menutup kesalahan.

Ia tidak menggunakan kekuasaan untuk melindungi orang yang bersalah.

Ia tidak membiarkan hukum menjadi keras kepada orang lemah tetapi lunak kepada mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Sebab bila itu terjadi, keadilan kehilangan wibawa.

Dan ketika keadilan kehilangan wibawa, kepercayaan umat ikut runtuh.


KEADILAN TIDAK BOLEH MEMILIH WAJAH

Di hadapan keadilan, manusia harus dinilai berdasarkan perbuatan, bukti, dan tanggung jawab.

Bukan berdasarkan nama.

Bukan berdasarkan kedudukan.

Bukan berdasarkan kekayaan.

Bukan berdasarkan kelompok.

Bukan berdasarkan seberapa dekat ia dengan pemimpin.

Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh menegaskan:

Keadilan yang hanya berlaku kepada lawan bukanlah keadilan.

Keadilan harus berani berdiri juga ketika yang harus diperiksa adalah kawan.


PEMIMPIN BUKAN PEMILIK HUKUM

Pemimpin bukan pemilik hukum.

Ia adalah salah satu orang yang harus tunduk kepada hukum dan nilai.

Sebab jika hukum hanya berlaku kepada rakyat tetapi tidak kepada pemimpin, maka hukum telah berubah menjadi alat kekuasaan.

Dan alat kekuasaan yang digunakan tanpa keadilan dapat berubah menjadi penindasan.

Maka pemimpin harus menjadi orang pertama yang memberi contoh:

jika ada kesalahan, periksa.
jika ada bukti, tindak.
jika tidak ada bukti, jangan menuduh.
jika ada hak orang lain, kembalikan.


SEMBILAN UTUSAN DATANG KE BALAI KEADILAN

Pada satu malam dalam perjalanan simbolik Qitab ini, sembilan utusan berdiri di sebuah balai.

Di tengah balai tidak ada singgasana.

Hanya ada satu meja kosong.

Maknanya:

di ruang keadilan, kepentingan pribadi harus dikosongkan.

Utusan Amanah berdiri di sebelah kanan.

Utusan Ilmu membawa catatan.

Utusan Keadilan membawa timbangan.

Utusan Rahmah membawa air.

Utusan Keberanian berdiri tegak.

Utusan Kesabaran duduk menunggu.

Utusan Musyawarah membuka pintu.

Utusan Keteladanan menatap pemimpin.

Utusan Keberlanjutan membawa gulungan sejarah.

Masing-masing membawa pesan.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Jangan gunakan kepercayaan umat untuk menyembunyikan kesalahan.”

Amanah bukan tameng.

Amanah adalah beban tanggung jawab.

Semakin tinggi jabatan, semakin besar kewajiban untuk bersih.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Jangan menghukum karena prasangka.”

Periksa bukti.

Dengar saksi.

Lihat konteks.

Pisahkan kabar dari kenyataan.

Sebab keputusan yang lahir dari emosi dapat melukai orang yang tidak bersalah.


UTUSAN KEADILAN

Ia mengangkat timbangan dan berkata:

“Letakkan semua orang pada ukuran yang sama.”

Jika kesalahan sama, jangan bedakan perlakuan hanya karena status berbeda.

Jika hak sama, jangan kurangi karena orang itu lemah.


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Keadilan bukan kebencian.”

Menghukum orang yang bersalah tidak berarti harus merendahkan kemanusiaannya.

Tegas tetap dapat dilakukan dengan adab.

Bahkan terhadap orang yang salah, martabat dasar manusia tetap harus dijaga.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Beranikah engkau menegakkan keadilan ketika hal itu merugikan kepentinganmu sendiri?”

Di sinilah pemimpin diuji.

Sebab keberanian bukan hanya menghadapi musuh.

Keberanian adalah menghadapi kepentingan pribadi ketika kepentingan itu bertentangan dengan kebenaran.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Jangan terburu-buru karena tekanan.”

Kadang masyarakat menuntut jawaban cepat.

Namun keputusan yang terburu-buru dapat menjadi penyesalan panjang.

Lebih baik lambat sedikit tetapi benar, daripada cepat tetapi zalim.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Jangan dengar hanya satu pihak.”

Setiap perkara mempunyai lebih dari satu sisi.

Dengar semuanya.

Karena keadilan membutuhkan ruang bagi semua pihak untuk menjelaskan.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Jika keluargamu salah, apakah engkau masih akan mengatakan hukum harus berlaku?”

Pemimpin menunduk.

Karena pertanyaan itu tidak mudah.

Namun justru di situlah keteladanan diuji.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia membuka gulungan sejarah dan berkata:

“Keputusan hari ini akan dibaca generasi berikutnya.”

Mereka akan melihat apakah engkau berdiri di pihak kebenaran atau kepentingan.

Maka jangan hanya berpikir tentang keselamatan hari ini.

Pikirkan pula warisan moral yang akan tertinggal.


KEADILAN DAN KASIH SAYANG BUKAN MUSUH

Ada yang mengira keadilan harus selalu keras.

Ada pula yang mengira kasih sayang berarti membiarkan kesalahan.

Keduanya keliru.

Keadilan tanpa kasih sayang dapat berubah menjadi kekejaman.

Kasih sayang tanpa keadilan dapat berubah menjadi pembiaran.

Maka pemimpin harus menggabungkan keduanya.

Tegas dalam prinsip.

Lembut dalam cara.

Jelas dalam keputusan.

Tetap menjaga manusia.


JANGAN MENGHUKUM SELURUH KELOMPOK

Satu orang bersalah bukan berarti seluruh keluarga bersalah.

Satu pejabat korup bukan berarti semua pejabat korup.

Satu anggota kelompok melakukan kesalahan bukan berarti seluruh kelompok harus dibenci.

Keadilan memisahkan individu dari identitas kelompok.

Sebab menghukum banyak orang atas kesalahan sedikit orang dapat melahirkan ketidakadilan baru.


PEMIMPIN HARUS MENJAGA PROSES

Keadilan tidak hanya dinilai dari hasil.

Proses juga penting.

Bagaimana seseorang diperiksa?

Apakah ia diberi kesempatan menjelaskan?

Apakah bukti diuji?

Apakah keputusan dapat dipertanggungjawabkan?

Apakah semua orang memperoleh perlakuan yang sama?

Jika proses rusak, kepercayaan terhadap hasil pun akan goyah.

Maka pemimpin harus menjaga bukan hanya apa keputusan akhirnya, tetapi juga bagaimana keputusan itu dilahirkan.


KETIKA KEADILAN BERTEMU KEPENTINGAN

Inilah titik paling berat.

Kadang keputusan yang adil membuat pendukung kecewa.

Kadang keputusan yang benar membuat teman menjauh.

Kadang kejujuran membuat kekuasaan kehilangan keuntungan.

Namun pemimpin yang matang memahami:

lebih baik kehilangan keuntungan daripada kehilangan amanah.

Kekuasaan dapat kembali.

Harta dapat dicari.

Dukungan dapat berubah.

Tetapi kepercayaan yang telah hancur sangat sulit dibangun kembali.


PEMIMPIN DAN KEKAYAAN UMAT

Salah satu wilayah keadilan yang sangat penting adalah harta bersama.

Anggaran.

Tanah.

Sumber daya alam.

Dana sosial.

Bantuan.

Semua itu bukan milik pemimpin.

Ia hanya diberi hak mengelola.

Karena itu setiap penggunaan harus dapat dijelaskan.

Setiap keputusan harus mempunyai alasan.

Setiap manfaat harus kembali kepada kepentingan yang sah.

Sebab mengambil sedikit dari hak bersama secara tidak benar tetap merupakan pengkhianatan.


QARYA YANG ADIL

Qarya seorang pemimpin juga harus diuji dengan keadilan.

Untuk siapa Qarya itu dibangun?

Siapa yang menikmati?

Siapa yang menanggung biaya?

Apakah hanya pusat kota yang berkembang sementara wilayah pinggir dilupakan?

Apakah hanya kelompok tertentu yang memperoleh kesempatan?

Apakah orang lemah mempunyai akses?

Qarya yang megah tetapi hanya dinikmati sedikit orang belum tentu menjadi Qarya yang adil.

Qarya yang besar adalah Qarya yang membuka manfaat seluas mungkin tanpa merampas hak orang lain.


TIGA UJIAN KEADILAN

Ujian Pertama — Ketika yang salah adalah orang dekat.

Apakah pemimpin tetap berani menegakkan aturan?

Ujian Kedua — Ketika yang benar adalah orang yang tidak disukai.

Apakah pemimpin tetap berani membela haknya?

Ujian Ketiga — Ketika keputusan yang adil tidak populer.

Apakah pemimpin tetap berdiri pada kebenaran?

Bila ketiganya mampu dilewati, maka keadilan telah menjadi karakter, bukan slogan.


SABDO KEADILAN

Wahai pemimpin, jangan timbang manusia dengan timbangan yang berbeda.

Jangan satu timbangan untuk sahabat.

Satu timbangan untuk lawan.

Satu timbangan untuk orang kaya.

Satu timbangan untuk orang miskin.

Gunakan satu ukuran:

kebenaran, bukti, hak, dan tanggung jawab.

Karena keadilan tidak menjadi mulia ketika menguntungkanmu.

Keadilan menjadi mulia ketika engkau tetap menegakkannya meskipun engkau harus kehilangan sesuatu.


KEADILAN MENJADI TAULADAN

Ketika seorang pemimpin adil terhadap lawannya, manusia akan belajar.

Ketika ia tidak melindungi keluarga yang salah, manusia akan belajar.

Ketika ia membela hak orang kecil, manusia akan belajar.

Ketika ia tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya, manusia akan belajar.

Pada saat itu hukum tidak hanya menjadi aturan.

Ia menjadi pendidikan.

Dan keadilan pemimpin berubah menjadi Qarya akhlak yang hidup di tengah masyarakat.


PENUTUP LEMBAR

Perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh sampai pada satu gerbang yang tidak dapat dilewati dengan pujian, kekuasaan, atau harta.

Gerbang itu bernama:

KEADILAN.

Di hadapan gerbang ini, pemimpin harus meninggalkan kepentingan pribadi.

Meninggalkan rasa takut.

Meninggalkan cinta berlebihan kepada kelompok.

Meninggalkan keinginan untuk selalu menang.

Lalu ia berjalan hanya membawa:

amanah, ilmu, keberanian, dan hati yang takut berbuat zalim.

Maka tertulis:

Pemimpin yang adil tidak selalu membuat semua orang senang, tetapi ia berusaha agar tidak ada seorang pun kehilangan hak hanya karena lemah.

Dan ketika keadilan telah menjadi kebiasaan dalam kepemimpinan, umat tidak lagi memandang hukum sebagai ancaman.

Mereka melihatnya sebagai perlindungan.

Pada saat itulah seorang pemimpin telah berQarya bukan hanya melalui bangunan atau kebijakan.

Ia telah berQarya melalui rasa aman yang tumbuh di dalam hati umat karena mereka percaya bahwa hak mereka tidak akan ditimbang berdasarkan siapa mereka, tetapi berdasarkan kebenaran.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XVII — PEMIMPIN YANG MENJAGA QARYA DARI RASA MEMILIKI

Semakin besar sebuah Qarya, semakin besar pula godaan untuk mengatakan:

“Ini milikku.”

Padahal Qarya yang tumbuh dari amanah tidak boleh dipenjara oleh rasa memiliki.

Ia lahir dari banyak tangan.

Dari banyak doa.

Dari banyak tenaga.

Dari banyak pengorbanan.

Dari orang-orang yang bekerja di depan maupun yang tidak pernah terlihat.

Karena itu seorang pemimpin perlu mengingat:

Ia mungkin menjadi pemula sebuah Qarya, tetapi belum tentu menjadi satu-satunya pemilik makna di dalamnya.

Qarya yang telah memberi manfaat kepada umat telah memasuki wilayah yang lebih luas daripada kepentingan pribadi.


RASA MEMILIKI DAPAT MENJADI PENJAGA ATAU PENJARA

Ada rasa memiliki yang baik.

Ia membuat seseorang menjaga.

Merawat.

Memperbaiki.

Membela dari kerusakan.

Namun ada rasa memiliki yang berubah menjadi penjara.

Ia membuat seseorang berkata:

“Tidak boleh ada yang mengubah.”

“Tidak boleh ada yang lebih menonjol.”

“Tidak boleh ada penerus yang berbeda.”

“Tidak boleh ada Qarya baru tanpa namaku.”

Di sinilah cinta kepada Qarya dapat berubah menjadi keterikatan kepada ego.

Maka pemimpin harus belajar membedakan:

menjaga nilai

dan

menguasai segala bentuk.

Nilai perlu dijaga.

Bentuk dapat berkembang.


QARYA BUKAN PATUNG

Qarya yang hidup harus dapat tumbuh.

Ia harus dapat diperbaiki.

Disesuaikan.

Dilanjutkan.

Diperdalam.

Diperluas.

Jika semua perubahan dilarang hanya karena berbeda dari bentuk awal, maka Qarya perlahan menjadi patung.

Indah dilihat.

Tetapi tidak lagi bergerak.

Karena itu pemimpin harus memberikan ruang bagi generasi penerus untuk bertanya:

Apa yang masih baik untuk dipertahankan?

Apa yang harus diperbaiki?

Apa yang perlu ditambah?

Apa yang sudah tidak sesuai?

Pertanyaan seperti itu bukan penghinaan terhadap pendiri.

Justru dapat menjadi bentuk penghormatan tertinggi.

Sebab Qarya diteruskan dengan kesadaran, bukan hanya ditiru tanpa memahami.


SEMBILAN UTUSAN MEMEGANG QARYA

Pada perjalanan ini, sembilan utusan berdiri mengelilingi satu Qarya besar.

Mereka tidak berdiri mengelilingi sang pemimpin.

Sebab kali ini yang dijaga adalah Qaryanya.

Utusan Amanah berkata:

“Jangan jadikan Qarya milik pribadi bila ia dibangun dengan amanah bersama.”

Utusan Ilmu berkata:

“Pelajari sebelum mengubah, tetapi jangan takut memperbaiki setelah memahami.”

Utusan Keadilan berkata:

“Berikan penghargaan kepada semua yang ikut membangun.”

Utusan Rahmah berkata:

“Jangan korbankan manusia hanya untuk mempertahankan bentuk Qarya.”

Utusan Keberanian berkata:

“Beranilah mengakui bila ada bagian yang harus diperbaiki.”

Utusan Kesabaran berkata:

“Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus.”

Utusan Musyawarah berkata:

“Dengarkan mereka yang hidup bersama Qarya itu.”

Utusan Keteladanan berkata:

“Pemimpin harus menjadi orang pertama yang tidak berebut pengakuan.”

Utusan Keberlanjutan berkata:

“Yang harus hidup lama bukan egomu, tetapi manfaat Qaryamu.”


JANGAN MENGHAPUS NAMA ORANG LAIN

Ada pemimpin yang ingin semua keberhasilan terlihat berasal darinya.

Ia lupa menyebut orang lain.

Lupa para pekerja.

Lupa para guru.

Lupa para pembantu.

Lupa mereka yang datang lebih awal.

Lupa orang-orang yang bekerja dalam diam.

Padahal Qarya besar hampir tidak pernah lahir dari satu manusia saja.

Maka pemimpin yang mulia justru mudah menyebut jasa orang lain.

Ia berkata:

“Ini bukan hasilku sendiri.”

Kalimat itu tidak mengecilkannya.

Justru memperbesar wibawanya.

Karena orang yang benar-benar besar tidak takut berbagi penghargaan.


PENDIRI DAN PENERUS

Pendiri membuka jalan.

Penerus memperpanjang jalan.

Keduanya memiliki tugas berbeda.

Pendiri tidak boleh menuntut penerus hanya menjadi salinannya.

Penerus tidak boleh meremehkan pengorbanan pendiri.

Pendiri menjaga akar.

Penerus menumbuhkan cabang.

Jika keduanya saling menghormati, Qarya akan terus tumbuh.

Namun jika pendiri ingin terus menguasai semua hal dan penerus ingin menghapus seluruh jejak sebelumnya, maka Qarya akan terjebak dalam perebutan.

Karena itu Qitab berkata:

Jangan wariskan perebutan. Wariskan amanah.


KETIKA NAMA LEBIH BESAR DARIPADA NILAI

Ada bahaya lain.

Ketika nama seorang pemimpin menjadi terlalu besar, manusia mulai mempertahankan namanya meskipun nilai yang pernah diperjuangkan justru ditinggalkan.

Mereka berkata mencintai pemimpin.

Tetapi berbuat berlawanan dengan teladannya.

Mereka membela nama.

Tetapi meninggalkan keadilan.

Mereka menjaga simbol.

Tetapi meninggalkan amanah.

Di sinilah pemimpin perlu meninggalkan pesan yang jelas:

“Jangan bela namaku jika untuk membelanya kalian harus mengkhianati nilai yang pernah kita perjuangkan.”

Sebab nama hanyalah penanda.

Nilailah yang harus hidup.


QARYA YANG TIDAK BOLEH DIPERDAGANGKAN DENGAN KEPENTINGAN

Qarya umat dapat menjadi besar.

Memiliki aset.

Memiliki pengaruh.

Memiliki jaringan.

Memiliki nama.

Pada saat itu, banyak kepentingan dapat mendekat.

Ada yang ingin mengambil manfaat pribadi.

Ada yang ingin menggunakan nama Qarya untuk kekuasaan.

Ada yang ingin menjadikannya alat perebutan.

Pemimpin harus menjaga agar Qarya tidak kehilangan tujuan awalnya.

Apabila Qarya dibangun untuk pendidikan, jangan biarkan ia berubah menjadi alat pembodohan.

Apabila dibangun untuk pelayanan, jangan biarkan ia berubah menjadi alat penindasan.

Apabila dibangun untuk dakwah, jangan biarkan ia berubah menjadi tempat memupuk kesombongan.

Apabila dibangun untuk umat, jangan biarkan ia hanya menguntungkan segelintir orang.


RAHASIA MELEPAS TANPA MENINGGALKAN

Melepas bukan berarti tidak peduli.

Pemimpin dapat tetap menjaga nilai meskipun tidak lagi menguasai seluruh urusan.

Ia dapat menjadi penasehat.

Penjaga arah.

Tempat bertanya.

Namun ia tidak perlu berada di setiap keputusan.

Karena suatu saat penerus harus belajar bertanggung jawab.

Jika setiap kali penerus hendak memutuskan selalu diambil alih kembali, mereka tidak akan pernah matang.

Maka ada saatnya seorang pemimpin berkata:

“Sekarang kalian yang menjalankan. Aku akan menjaga agar nilai tidak hilang.”


TIGA TANDA PEMIMPIN TELAH SIAP MELEPAS

Pertama — Ia gembira melihat penerus berhasil.

Bukan merasa tersaingi.

Kedua — Ia mampu membiarkan Qarya berkembang dengan bentuk baru selama nilai tetap dijaga.

Bukan memaksa seluruh hal sama seperti zamannya.

Ketiga — Ia tidak marah ketika namanya tidak selalu disebut.

Sebab yang ia cari bukan pujian.

Ia mencari kelangsungan manfaat.


SEMBILAN UTUSAN MEMBUKA TANGAN

Pada akhir perjalanan simbolik lembar ini, sembilan utusan membuka kedua tangannya.

Tidak ada satu pun yang menggenggam.

Maknanya:

Apa yang terlalu kuat digenggam dapat rusak.

Ada amanah yang harus dijaga dengan tangan terbuka.

Dijaga agar tidak jatuh.

Tetapi juga diberi ruang agar dapat diteruskan.

Pemimpin melihat Qaryanya.

Ia melihat generasi baru berada di hadapan.

Lalu ia menyadari:

Qarya yang benar-benar hidup bukan Qarya yang selamanya berada dalam kendalinya.

Qarya yang hidup adalah Qarya yang telah mampu menemukan banyak penjaga.


JANGAN TAKUT DILAMPAUI

Murid yang melampaui gurunya bukan kegagalan guru.

Anak yang lebih baik daripada orang tuanya bukan kekalahan orang tua.

Penerus yang membuat Qarya jauh lebih besar bukan berarti pendiri menjadi kecil.

Justru itulah tanda benih yang ditanam tumbuh dengan sempurna.

Pemimpin yang mulia berharap:

generasi setelahku lebih berilmu,
lebih adil,
lebih mampu,
lebih bersih,
lebih kreatif,
dan lebih bermanfaat daripada generasiku.

Sebab ia tidak berQarya untuk mempertahankan posisi.

Ia berQarya untuk meninggikan kualitas kehidupan.


QARYA YANG KEMBALI KEPADA UMAT

Pada akhirnya, Qarya yang besar harus kembali kepada kemaslahatan umat.

Jika ia hanya berputar untuk mempertahankan dirinya sendiri, ia mulai kehilangan makna.

Lembaga harus tetap melayani.

Ilmu harus tetap diajarkan.

Tanah harus tetap memberi manfaat.

Dana harus tetap digunakan dengan amanah.

Jabatan harus tetap menjadi tanggung jawab.

Semua harus kembali kepada pertanyaan sederhana:

“Apakah ini masih membawa manfaat bagi manusia?”

Jika iya, lanjutkan.

Jika mulai menyimpang, luruskan.

Jika bentuknya sudah tidak mampu membawa manfaat, carilah bentuk yang lebih baik.


SABDO PELEPASAN

Wahai pemimpin, engkau bukan tujuan akhir dari perjalanan.

Engkau adalah salah satu jembatan.

Jangan membuat manusia tinggal selamanya di atas jembatanmu.

Biarkan mereka menyeberang.

Jangan menuntut setiap Qarya berikutnya memakai namamu.

Biarkan kebaikan mempunyai banyak nama.

Jangan memaksa masa depan berbentuk seperti masa lalumu.

Ajarkan nilai, lalu percayalah kepada generasi.

Karena pemimpin yang besar bukan yang menggenggam Qarya sampai akhir hayatnya, tetapi yang mampu menyerahkan Qarya tanpa menyerahkan nilai kepada kerusakan.


PENUTUP LEMBAR

Maka pada lembar ini, perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki gerbang yang sangat halus:

Gerbang Melepaskan Ego dari Qarya.

Sang pemimpin tidak lagi berkata:

“Qarya ini adalah aku.”

Ia mulai berkata:

“Aku hanyalah salah satu orang yang diberi kesempatan Alloh untuk ikut menanamnya.”

Dan ketika kesadaran itu tumbuh, hatinya menjadi ringan.

Ia tidak lagi takut orang lain mengambil panggung.

Tidak lagi takut penerus menjadi lebih besar.

Tidak lagi takut namanya perlahan menjadi bagian dari sejarah.

Sebab ia memahami satu rahasia:

**Manusia boleh selesai.

Jabatan boleh berpindah.
Nama boleh redup.
Tetapi manfaat harus terus hidup.**

Di situlah sang pemimpin mencapai salah satu puncak kedewasaan:

ia mampu mencintai Qarya tanpa memperbudaknya, menjaga amanah tanpa memilikinya, dan menyerahkan masa depan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan arah nilai yang menjadi cahaya perjalanan.



LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XVIII — PEMIMPIN YANG MENYIAPKAN GENERASI SETELAHNYA

Seorang pemimpin tidak hanya hidup untuk zamannya.

Ia juga hidup untuk zaman yang belum ia lihat.

Ada anak-anak yang hari ini masih belajar mengeja.

Ada pemuda yang hari ini masih mencari arah.

Ada keluarga yang hari ini sedang membangun harapan.

Ada generasi yang bahkan belum dilahirkan.

Namun keputusan seorang pemimpin hari ini dapat menentukan kehidupan mereka kelak.

Maka seorang pemimpin yang benar tidak hanya bertanya:

“Apa yang dibutuhkan umat hari ini?”

Ia juga bertanya:

“Dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita?”


JANGAN HABISKAN MASA DEPAN UNTUK KENYAMANAN HARI INI

Ada keputusan yang terasa nyaman hari ini tetapi menjadi beban esok.

Ada sumber daya yang dapat dihabiskan dengan cepat.

Ada kekayaan alam yang dapat dikeruk.

Ada tanah yang dapat dieksploitasi.

Ada hutang yang dapat dibuat.

Ada kebijakan yang dapat memberi keuntungan sesaat.

Namun pemimpin harus melihat lebih jauh.

Jika hari ini kenyang tetapi generasi berikutnya kelaparan, itu bukan keberhasilan.

Jika hari ini kaya tetapi bumi rusak, itu bukan kemajuan.

Jika hari ini tenang karena semua kritik dibungkam, tetapi generasi berikutnya mewarisi ketakutan, itu bukan kedamaian.

Maka Qitab berkata:

Jangan membayar kemegahan satu generasi dengan penderitaan generasi berikutnya.


GENERASI BUKAN HANYA PENERUS NAMA

Banyak orang berbicara tentang penerus.

Tetapi penerus bukan hanya orang yang mengambil jabatan setelah pemimpin pergi.

Penerus adalah manusia yang mampu menjaga nilai, memperbaiki kekurangan, dan menciptakan Qarya baru.

Karena itu yang harus disiapkan bukan hanya satu orang.

Siapkan banyak manusia.

Banyak pemuda.

Banyak perempuan dan laki-laki yang mempunyai ilmu.

Banyak anak yang mempunyai akhlak.

Banyak pekerja yang mempunyai integritas.

Banyak guru yang mempunyai kesabaran.

Banyak pengusaha yang mempunyai kepedulian.

Banyak pemimpin kecil di berbagai tempat.

Karena masa depan tidak dibangun oleh satu penerus.

Masa depan dibangun oleh generasi.


SEMBILAN UTUSAN MENDATANGI PARA PEMUDA

Pada lembar ini, sembilan utusan meninggalkan balai kepemimpinan.

Mereka berjalan menuju lapangan yang dipenuhi anak-anak muda.

Di sana mereka tidak membawa singgasana.

Tidak membawa mahkota.

Tidak membawa lambang kekuasaan.

Mereka membawa sembilan bekal.


UTUSAN AMANAH MEMBERIKAN KUNCI

Ia berkata:

“Suatu hari kalian akan memegang sesuatu yang bukan milik kalian sendiri.”

Mungkin uang.

Mungkin jabatan.

Mungkin ilmu.

Mungkin rahasia.

Mungkin kepercayaan.

Mungkin kehidupan banyak orang.

Belajarlah menjaga hal kecil hari ini agar kelak mampu menjaga hal besar.


UTUSAN ILMU MEMBERIKAN QITAB

Ia berkata:

“Jangan puas hanya menjadi pengguna dunia.”

Pelajari.

Teliti.

Bertanya.

Membaca.

Mencipta.

Sebab generasi yang hanya menggunakan hasil pemikiran orang lain akan selalu berjalan di belakang.

Tetapi generasi yang berilmu dapat menjadi pencipta Qarya.


UTUSAN KEADILAN MEMBERIKAN TIMBANGAN

Ia berkata:

“Jangan jadikan keberhasilanmu alasan untuk merendahkan orang lain.”

Kelak ketika kalian mempunyai kuasa, ingatlah bagaimana rasanya menjadi orang yang belum mempunyai kuasa.

Ketika kalian kaya, ingatlah mereka yang kesulitan.

Ketika kalian berilmu, jangan hina yang belum mengetahui.

Karena ilmu tanpa keadilan mudah melahirkan kesombongan.


UTUSAN RAHMAH MEMBERIKAN AIR

Ia berkata:

“Jangan biarkan dunia yang keras membuat hatimu ikut keras.”

Belajarlah tegas tanpa kehilangan kasih sayang.

Berkompetisi tanpa menghancurkan.

Menang tanpa mempermalukan.

Berbeda tanpa membenci.


UTUSAN KEBERANIAN MEMBERIKAN PELITA

Ia berkata:

“Jangan takut menjadi orang pertama yang memulai kebaikan.”

Akan ada saat ketika semua orang menertawakan gagasanmu.

Akan ada saat ketika Qaryamu dianggap terlalu kecil.

Tetapi satu cahaya kecil tetap mampu menembus gelap.


UTUSAN KESABARAN MEMBERIKAN BENIH

Ia berkata:

“Tanamlah sesuatu yang hasilnya mungkin tidak segera kalian lihat.”

Belajar adalah benih.

Akhlak adalah benih.

Hubungan baik adalah benih.

Disiplin adalah benih.

Kejujuran adalah benih.

Tidak semua benih tumbuh dalam satu hari.


UTUSAN MUSYAWARAH MEMBERIKAN LINGKARAN

Ia berkata:

“Belajarlah duduk bersama orang yang berbeda dengan kalian.”

Karena masa depan tidak akan dibangun hanya oleh manusia yang berpikir sama.

Perbedaan dapat menjadi kekuatan bila dijaga dengan adab.


UTUSAN KETELADANAN MEMBERIKAN CERMIN

Ia berkata:

“Sebelum meminta dunia berubah, lihatlah dirimu.”

Apakah engkau sudah melakukan apa yang engkau tuntut dari orang lain?

Cermin itu sederhana.

Tetapi sangat berat bagi ego.


UTUSAN KEBERLANJUTAN MEMBERIKAN POHON MUDA

Ia berkata:

“Rawatlah sesuatu yang kelak akan menaungi manusia yang belum kalian kenal.”

Inilah lambang peradaban.

BerQarya bukan hanya untuk diri.

BerQarya untuk orang yang mungkin tidak pernah tahu siapa yang menanamnya.


PEMIMPIN YANG BAIK TIDAK TAKUT KEPADA GENERASI MUDA

Ada pemimpin yang takut kepada pemuda karena mereka banyak bertanya.

Ada yang merasa terganggu karena mereka membawa cara baru.

Ada yang melihat keberanian mereka sebagai ancaman.

Padahal pertanyaan generasi muda dapat menjadi tanda kehidupan.

Jika mereka tidak pernah bertanya, mungkin mereka sudah kehilangan harapan.

Tugas pemimpin bukan membungkam pertanyaan.

Tugas pemimpin adalah membantu pertanyaan menemukan ilmu, adab, dan arah.


BERIKAN RUANG UNTUK GAGAL

Generasi tidak akan matang jika semua kesalahan langsung dihukum tanpa ruang belajar.

Mereka perlu mencoba.

Kadang gagal.

Bangkit.

Mencoba lagi.

Pemimpin yang terlalu mengendalikan akan melahirkan generasi takut mengambil keputusan.

Tetapi pemimpin yang memberi kebebasan tanpa arah juga dapat membuat generasi tersesat.

Maka diperlukan keseimbangan:

ruang untuk mencoba, batas untuk menjaga, dan bimbingan untuk belajar.


AJARKAN CARA BERPIKIR, BUKAN HANYA APA YANG HARUS DIPIKIR

Pemimpin yang bijaksana tidak hanya memberi jawaban.

Ia mengajarkan cara mencari jawaban.

Ia mengajarkan:

bagaimana memeriksa informasi,

bagaimana membedakan fakta dan prasangka,

bagaimana bertanya,

bagaimana berdiskusi,

bagaimana membuat keputusan,

bagaimana mengakui kesalahan,

dan bagaimana memperbaiki sesuatu.

Karena persoalan masa depan mungkin belum ada hari ini.

Tidak mungkin semua jawabannya diwariskan.

Tetapi cara berpikir yang sehat dapat diwariskan.


JANGAN WARISKAN KETAKUTAN

Ada generasi yang tumbuh dengan pesan:

“Jangan mencoba.”

“Jangan berbeda.”

“Jangan bertanya.”

“Jangan terlalu tinggi bermimpi.”

Lalu mereka tumbuh menjadi manusia yang hanya menunggu.

Pemimpin yang besar justru berkata:

“Belajarlah.
BerQaryalah.
Beranilah.
Tetapi tetaplah beradab.”

Sebab keberanian yang dibimbing oleh nilai lebih baik daripada kepatuhan yang lahir dari ketakutan.


PENDIDIKAN ADALAH QARYA JANGKA PANJANG

Bangunan dapat selesai dalam satu tahun.

Tetapi membentuk manusia memerlukan waktu.

Seorang anak yang dididik hari ini mungkin baru menjadi pemimpin dua puluh tahun kemudian.

Karena itu pendidikan sering tidak memberi hasil yang cepat untuk dipamerkan.

Namun justru di sanalah kebesaran Qarya seorang pemimpin.

Ia berani menanam sesuatu yang mungkin baru dipanen generasi setelahnya.


PEMIMPIN HARUS MEMPERSIAPKAN PENGGANTI DIRINYA

Ada satu pertanyaan yang harus dijawab setiap pemimpin:

“Jika besok aku tidak ada, siapa yang mampu meneruskan amanah?”

Jika jawabannya:

“Tidak ada.”

maka itu bukan tanda kebesaran.

Itu tanda bahwa kaderisasi belum selesai.

Pemimpin yang benar harus terus mencari, mendidik, dan memberi kesempatan kepada orang lain.

Bukan hanya kepada orang yang paling dekat.

Tetapi kepada mereka yang benar-benar mempunyai:

amanah,

ilmu,

akhlak,

kemampuan,

dan kesediaan mengabdi.


PENERUS BUKAN PEWARIS SINGGASANA

Penerus bukan sekadar orang yang duduk di kursi yang sama.

Penerus sejati adalah orang yang mampu membawa nilai ke zaman baru.

Ia boleh mempunyai gaya berbeda.

Ia boleh mempunyai gagasan baru.

Ia boleh menciptakan Qarya yang berbeda.

Tetapi ia harus membawa inti yang sama:

amanah kepada Alloh,
keadilan kepada manusia,
rahmah kepada kehidupan,
dan keberanian berQarya.


JANGAN MEMILIH PENERUS KARENA CINTA SEMATA

Cinta kepada keluarga adalah manusiawi.

Cinta kepada sahabat juga manusiawi.

Tetapi amanah tidak boleh diserahkan hanya karena kedekatan.

Jika seseorang tidak mampu, jangan paksa ia memikul beban hanya karena ia dekat.

Karena jabatan yang diberikan tanpa kemampuan dapat merusak orang yang menerima dan masyarakat yang dipimpin.

Maka Qitab mengingatkan:

Cinta seseorang dengan kasih sayang. Pilih pemegang amanah dengan keadilan.


UJIAN GENERASI BARU

Generasi baru pun mempunyai ujian.

Mereka jangan merasa bahwa semua yang lama harus dibuang.

Jangan meremehkan pengalaman pendahulu.

Jangan menganggap teknologi membuat mereka otomatis lebih bijaksana.

Belajarlah dari sejarah.

Hormati pengorbanan.

Perbaiki kesalahan.

Ambil yang baik.

Tinggalkan yang buruk.

Dan ciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Begitulah peradaban bergerak.


DIALOG SANG PEMIMPIN DENGAN GENERASI

Sang pemimpin berkata:

“Apa yang kalian inginkan dari masa depan?”

Para pemuda menjawab:

“Kami ingin ruang untuk berQarya.”

Pemimpin bertanya:

“Apa yang kalian butuhkan?”

Mereka menjawab:

“Ilmu, kepercayaan, teladan, dan kesempatan.”

Pemimpin kembali bertanya:

“Apa yang kalian janjikan?”

Mereka menjawab:

“Kami akan menjaga amanah dan tidak berhenti belajar.”

Lalu sembilan utusan berdiri menjadi saksi simbolik bahwa sebuah generasi baru sedang menerima tanggung jawab.


SABDO GENERASI

Wahai pemimpin, jangan hanya meninggalkan bangunan kepada anak cucumu.

Tinggalkan ilmu untuk mengisinya.

Jangan hanya meninggalkan tanah.

Tinggalkan kesadaran untuk menjaganya.

Jangan hanya meninggalkan nama.

Tinggalkan akhlak yang membuat nama itu layak dikenang.

Jangan hanya meninggalkan kekuasaan.

Tinggalkan cara menggunakan kekuasaan dengan benar.

Dan jangan hanya meninggalkan cerita tentang kebesaranmu.

Tinggalkan jalan agar mereka dapat menjadi lebih baik darimu.


SEMBILAN UTUSAN MENYERAHKAN AMANAH

Pada penghujung lembar ini, sembilan utusan menyerahkan sembilan lambang kepada generasi baru:

kunci Amanah,
Qitab Ilmu,
timbangan Keadilan,
air Rahmah,
pelita Keberanian,
benih Kesabaran,
lingkaran Musyawarah,
cermin Keteladanan,
dan pohon Keberlanjutan.

Sang pemimpin tidak berdiri paling depan.

Ia berdiri beberapa langkah di belakang.

Ia melihat mereka menerima lambang-lambang itu.

Dan pada saat itu, hatinya memahami:

inilah salah satu Qarya terbesar seorang pemimpin—membuat generasi berikutnya siap berjalan ketika dirinya tidak lagi dapat berjalan bersama mereka.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki satu gerbang baru:

Gerbang Penyerahan Cahaya kepada Generasi.

Cahaya itu tidak dipadamkan.

Tidak pula dimiliki selamanya oleh satu tangan.

Ia dipindahkan.

Dijaga.

Diperbanyak.

Diteruskan.

Dan setiap kali satu generasi menyerahkannya kepada generasi berikutnya, perjalanan pemimpin berQarya menjadi semakin panjang.

Sehingga suatu hari mungkin tidak ada lagi manusia yang mengenal wajah pemimpin pertama.

Tetapi mereka masih mengenal:

amanahnya,

keadilannya,

Qaryanya,

cara berpikirnya,

dan nilai yang pernah ia tanam.

Itulah tauladan yang benar-benar hidup.

Bukan karena nama terus diteriakkan, tetapi karena kebaikan terus dilakukan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XIX — PEMIMPIN YANG MENJAGA KEHORMATAN UMAT

Ada satu amanah yang sering tidak tampak, tetapi sangat besar nilainya:

menjaga kehormatan umat.

Bukan hanya menjaga wilayah.

Bukan hanya menjaga kekayaan.

Bukan hanya menjaga lembaga.

Tetapi menjaga agar manusia yang dipimpin tidak kehilangan harga dirinya.

Sebab umat yang kehilangan kehormatan akan mudah kehilangan keberanian.

Umat yang selalu direndahkan akan perlahan percaya bahwa dirinya memang rendah.

Umat yang terus dibuat bergantung akan lupa bahwa dirinya sebenarnya mampu berdiri.

Maka seorang pemimpin tidak boleh membangun kekuasaan dengan cara mengecilkan rakyatnya.

Ia harus mengangkat mereka.

Mendidik mereka.

Menguatkan mereka.

Membuka jalan agar mereka mampu berdiri dengan kepala tegak.


KEHORMATAN BUKAN KESOMBONGAN

Kehormatan berbeda dengan kesombongan.

Kesombongan berkata:

“Aku lebih tinggi daripada kalian.”

Kehormatan berkata:

“Aku mengetahui nilai diriku dan tidak akan menjualnya kepada kehinaan.”

Kesombongan merendahkan orang lain.

Kehormatan menjaga diri agar tidak mudah direndahkan.

Kesombongan ingin dipuji.

Kehormatan tidak membutuhkan pujian untuk tetap berjalan.

Maka seorang pemimpin harus mengajarkan umatnya:

**jadilah kuat tanpa menjadi angkuh.

jadilah percaya diri tanpa meremehkan manusia lain.**


JANGAN MEMBUAT RAKYAT MENJADI PENGEMIS DI NEGERINYA SENDIRI

Pemimpin harus berhati-hati terhadap kebijakan yang membuat manusia terus bergantung tanpa diberi jalan menuju kemandirian.

Bantuan diperlukan ketika manusia sedang kesulitan.

Tetapi bantuan yang tidak disertai pemberdayaan dapat berubah menjadi ketergantungan.

Maka ketika memberi, pikirkan pula bagaimana mereka kelak dapat berdiri.

Ketika menolong, ajarkan pula cara keluar dari kesulitan.

Ketika membuka jalan, siapkan pula kemampuan agar mereka dapat berjalan sendiri.

Sebab Qitab ini berkata:

pertolongan tertinggi bukan membuat seseorang terus membutuhkan tanganmu, tetapi membuatnya suatu hari mampu berdiri tanpa kehilangan rasa syukur.


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI DI GERBANG KEHORMATAN

Pada perjalanan ini, sembilan utusan berdiri di sebuah gerbang besar.

Di atas gerbang tertulis satu kata:

KARAMAH — KEMULIAAN MARTABAT

Mereka lalu berbicara kepada sang pemimpin.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Jangan jual kehormatan umat demi keuntungan sesaat.”

Jangan gadaikan tanah masa depan hanya untuk menyelesaikan kepentingan hari ini.

Jangan serahkan hak masyarakat kepada mereka yang hanya melihat keuntungan.

Jangan gunakan kemiskinan rakyat sebagai bahan pertunjukan.

Amanah harus menjaga martabat.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Umat yang berilmu tidak mudah diperbudak.”

Karena kebodohan membuat manusia mudah ditipu.

Mudah diadu.

Mudah diarahkan tanpa mengetahui tujuan.

Maka ilmu adalah salah satu benteng kehormatan.

Ajarkan membaca.

Ajarkan berpikir.

Ajarkan memahami.

Ajarkan membedakan kebenaran dari tipu daya.


UTUSAN KEADILAN

Ia berkata:

“Jangan biarkan orang kecil merasa hukum hanya milik orang kuat.”

Sebab ketika orang lemah tidak mempunyai tempat memperoleh keadilan, martabatnya ikut terluka.

Keadilan membuat setiap manusia merasa:

“Aku tetap manusia yang mempunyai hak.”


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Bantulah tanpa mempermalukan.”

Ada manusia yang membutuhkan bantuan tetapi masih ingin menjaga harga dirinya.

Jangan jadikan penderitaan mereka sebagai tontonan.

Jangan memperlihatkan kelemahan mereka hanya untuk menunjukkan kemurahan pemberi.

Berikan dengan adab.

Sebab tangan yang menolong seharusnya sekaligus menjaga hati.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Ajarkan umat berani berkata tidak kepada kehinaan.”

Tidak kepada penindasan.

Tidak kepada korupsi.

Tidak kepada kebohongan.

Tidak kepada perdagangan harga diri.

Tidak kepada segala sesuatu yang membuat manusia kehilangan kemuliaan akhlaknya.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Kemandirian tidak dibangun dalam satu malam.”

Masyarakat yang lama bergantung membutuhkan waktu untuk berdiri.

Mereka perlu pendidikan.

Modal.

Kesempatan.

Pendampingan.

Dan kesabaran.

Jangan mengejek mereka karena belum kuat.

Bantu mereka menjadi kuat.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Jangan bicara tentang rakyat tanpa mendengar rakyat.”

Jangan hanya menentukan apa yang menurut pemimpin mereka butuhkan.

Tanyakan.

Dengarkan.

Libatkan.

Sebab manusia merasa dihormati ketika suaranya dianggap penting.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Pemimpin yang menjaga kehormatan umat harus terlebih dahulu menjaga kehormatan dirinya.”

Jangan menjual keputusan kepada kepentingan.

Jangan mudah dibeli.

Jangan menukar prinsip dengan pujian.

Jangan menjadikan jabatan sebagai jalan merendahkan diri di hadapan harta.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia berkata:

“Jangan wariskan generasi yang kaya benda tetapi miskin martabat.”

Bangun manusia yang mampu bekerja.

Mencipta.

Berpikir.

Menjaga nilai.

Dan hidup tanpa harus menjual kehormatannya.


PEKERJAAN ADALAH SALAH SATU JALAN KEHORMATAN

Salah satu Qarya terbesar seorang pemimpin adalah membuka jalan agar manusia dapat bekerja dengan layak.

Bukan hanya memberi pekerjaan.

Tetapi menciptakan keadaan di mana kerja dihargai.

Petani dihormati.

Nelayan dihormati.

Guru dihormati.

Pekerja dihormati.

Pengrajin dihormati.

Pedagang kecil dihormati.

Orang yang bekerja dengan tangan sendiri tidak boleh dipandang lebih rendah daripada mereka yang bekerja di ruang besar.

Sebab kemuliaan pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh pakaian.

Tetapi oleh kejujuran, manfaat, dan amanah di dalamnya.


JANGAN RENDAHKAN PEKERJAAN KECIL

Ada orang yang menyapu jalan.

Ada yang mengangkut sampah.

Ada yang menjaga malam.

Ada yang membersihkan tempat umum.

Ada yang menanam pangan.

Ada yang memasak.

Ada yang memperbaiki saluran air.

Mereka mungkin tidak berdiri di panggung.

Tetapi kehidupan masyarakat dapat berhenti tanpa mereka.

Maka pemimpin harus mengajarkan:

jangan ukur kemuliaan manusia dari seberapa dekat ia dengan singgasana.

Ukur dari seberapa jujur ia menjalankan amanah.


KEMISKINAN BUKAN ALASAN MERENDAHKAN MANUSIA

Orang miskin bukan manusia tanpa harga diri.

Orang yang sedang kesulitan bukan manusia gagal.

Keadaan ekonomi dapat berubah.

Tetapi martabat manusia tidak boleh hilang.

Maka ketika pemimpin membuat program untuk mereka yang membutuhkan, jangan gunakan bahasa yang merendahkan.

Jangan mempermalukan.

Jangan membuat mereka merasa kecil.

Bantu dengan cara yang membuat mereka kembali percaya kepada kemampuannya.


PENDIDIKAN DAN KEHORMATAN

Pendidikan bukan hanya jalan mendapatkan pekerjaan.

Pendidikan juga mengajarkan seseorang mengenali martabatnya.

Manusia yang berilmu tahu bahwa dirinya tidak perlu menjadi budak kebohongan.

Ia tahu bagaimana mempertanyakan ketidakadilan.

Ia tahu bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat.

Ia tahu bagaimana menciptakan.

Maka ketika pendidikan diperluas, kehormatan umat ikut diperluas.


JANGAN MEMBANGUN RASA RENDAH DIRI KOLEKTIF

Ada masyarakat yang terus diberi pesan:

“Kita tidak mampu.”

“Kita selalu tertinggal.”

“Kita tidak bisa membuat apa-apa.”

Jika kalimat itu diulang terus, akhirnya masyarakat mempercayainya.

Pemimpin harus mengganti bahasa itu.

Bukan dengan kesombongan palsu.

Tetapi dengan keyakinan yang dibangun melalui Qarya.

Berkatalah:

“Kita masih mempunyai kekurangan, tetapi kita dapat belajar.”

“Kita belum sampai, tetapi kita dapat berjalan.”

“Kita belum mampu membuat semuanya, tetapi kita dapat mulai membuat sesuatu.”

Inilah bahasa kebangkitan.


KEHORMATAN BANGSA LAHIR DARI QARYA

Bangsa tidak menjadi terhormat hanya karena sering mengatakan dirinya besar.

Kehormatan harus dibuktikan.

Dengan ilmu.

Dengan kejujuran.

Dengan karya.

Dengan disiplin.

Dengan perlakuan adil terhadap rakyat.

Dengan kemampuan menjaga alam.

Dengan kemampuan menolong tanpa merendahkan.

Dengan kemampuan berdiri tanpa menginjak orang lain.

Maka Qitab berkata:

Qarya adalah salah satu bahasa paling kuat dari kehormatan.


PEMIMPIN TIDAK BOLEH MENJUAL RAKYATNYA SEBAGAI ANGKA

Ketika berbicara tentang pembangunan, jangan hanya lihat statistik.

Ada manusia di balik angka.

Ketika mengatakan satu juta orang miskin, itu bukan hanya angka satu juta.

Ada satu juta cerita.

Satu juta keluarga.

Satu juta harapan.

Satu juta perjuangan.

Begitu pula pengangguran.

Anak putus sekolah.

Rumah tidak layak.

Semua harus dilihat sebagai manusia.

Karena bila manusia berubah menjadi sekadar angka, kebijakan mudah kehilangan hati.


KEHORMATAN DAN KEBEBASAN BERPIKIR

Umat yang terhormat tidak takut berpikir.

Mereka boleh bertanya.

Boleh berbeda pandangan.

Boleh memberi masukan.

Boleh mengkritik dengan adab.

Pemimpin tidak boleh merasa bahwa pertanyaan rakyat adalah penghinaan.

Justru masyarakat yang masih bertanya berarti masih peduli.

Yang berbahaya adalah ketika semua orang diam karena merasa suara mereka tidak lagi berarti.


JANGAN PAKSA MANUSIA MEMUJI

Pujian yang dipaksa tidak mempunyai nilai.

Hormati manusia yang berbicara jujur.

Biarkan penghormatan tumbuh dari Qarya.

Bila pemimpin benar-benar bermanfaat, rakyat akan mengetahui.

Bila tidak bermanfaat, propaganda hanya dapat menutupi untuk sementara.

Maka jangan mengejar tepuk tangan.

Bangunlah alasan mengapa manusia pantas memberi kepercayaan.


SABDO KEHORMATAN

Wahai pemimpin, jangan membuat rakyat merasa kecil agar engkau tampak besar.

Besarkan mereka.

Didik mereka.

Beri mereka kesempatan.

Lindungi hak mereka.

Hargai pekerjaannya.

Dengarkan suaranya.

Dan suatu hari ketika mereka mampu berdiri sendiri, jangan takut kehilangan pengaruh.

Sebab pemimpin yang berhasil bukan yang mempunyai umat paling bergantung, tetapi yang membantu umat menjadi kuat tanpa kehilangan akhlak.


SANG PEMIMPIN MENANGGALKAN MAHKOTA

Dalam kisah simbolik lembar ini, sang pemimpin berdiri di tengah umat.

Ia kemudian melepaskan mahkota dari kepalanya.

Bukan berarti ia meninggalkan amanah.

Ia ingin mengingatkan dirinya:

mahkota tidak membuat manusia lebih manusia.

Ia berjalan ke tengah petani.

Duduk bersama pekerja.

Mendengar para ibu.

Bercakap dengan pemuda.

Menyapa anak-anak.

Dan di sanalah ia menyadari:

kepemimpinan bukan jarak antara yang tinggi dan rendah.

Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan kedudukan untuk mengangkat mereka yang selama ini tidak terlihat.


SEMBILAN UTUSAN MENUNDUKKAN KEPALA

Sembilan utusan pun menundukkan kepala.

Bukan kepada kekuasaan.

Tetapi kepada satu nilai besar:

kehormatan manusia.

Mereka memahami bahwa seluruh Qarya, aturan, lembaga, pembangunan, dan kekuasaan akan kehilangan makna jika manusia justru direndahkan di dalamnya.

Sebab tujuan Qarya bukan membuat bangunan menjadi mulia.

Tujuan Qarya adalah membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh mencapai satu gerbang lain:

Gerbang Kemuliaan Umat.

Di gerbang ini, seorang pemimpin belajar bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sebagai alat.

Mereka bukan angka.

Bukan massa.

Bukan tangga.

Bukan sekadar pengikut.

Mereka adalah manusia yang memiliki martabat.

Dan pemimpin diberi amanah bukan untuk berdiri di atas martabat itu.

Tetapi untuk menjaganya.

Maka tertulis:

Jangan jadikan umat sebagai bayangan dari kebesaranmu.
Jadikan kepemimpinanmu sebagai jalan agar kebesaran potensi umat dapat terbangun.

Ketika orang miskin memperoleh kesempatan untuk bangkit,

ketika anak mendapatkan ilmu,

ketika pekerja dihargai,

ketika perempuan dan laki-laki memperoleh ruang berQarya sesuai amanahnya,

ketika orang lemah tidak takut kehilangan hak,

ketika generasi muda berani menciptakan,

dan ketika rakyat dapat berdiri dengan martabat tanpa harus merendahkan bangsa atau manusia lain—

maka Qarya pemimpin telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada bangunan.

Ia telah menjadi Qarya yang mengembalikan kehormatan manusia kepada tempatnya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XX — PEMIMPIN YANG MENGUBAH QARYA MENJADI PERADABAN

Ada Qarya yang selesai ketika bangunannya berdiri.

Ada Qarya yang selesai ketika programnya berakhir.

Ada Qarya yang selesai ketika masa kepemimpinannya selesai.

Namun ada Qarya yang tidak berhenti pada satu masa.

Ia masuk ke dalam kebiasaan manusia.

Masuk ke dalam pendidikan.

Masuk ke dalam tata kehidupan.

Masuk ke dalam cara umat berpikir.

Masuk ke dalam akhlak.

Dan akhirnya berubah menjadi peradaban.

Inilah tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar menghasilkan sesuatu.

Pemimpin tidak hanya membuat Qarya. Ia membangun keadaan agar kebaikan terus melahirkan Qarya-Qarya baru.


PERADABAN TIDAK DIBANGUN OLEH SATU BANGUNAN

Gedung dapat menjadi bagian dari peradaban.

Jalan dapat menjadi bagian dari peradaban.

Teknologi dapat menjadi bagian dari peradaban.

Tetapi semuanya belum cukup.

Sebuah negeri dapat mempunyai gedung tinggi tetapi manusia di dalamnya saling menipu.

Dapat mempunyai jalan luas tetapi orang lemah kehilangan hak.

Dapat mempunyai teknologi canggih tetapi ilmu tidak disertai akhlak.

Maka peradaban bukan hanya kemajuan benda.

Peradaban adalah keseimbangan antara:

ilmu,
akhlak,
keadilan,
kesejahteraan,
kebudayaan,
dan tanggung jawab.


QARYA HARUS MASUK KE DALAM JIWA UMAT

Jika sebuah Qarya hanya berdiri sebagai benda, suatu hari ia dapat rusak.

Namun jika maknanya masuk ke dalam manusia, Qarya itu dapat dilahirkan kembali dalam banyak bentuk.

Sekolah dapat rusak.

Tetapi bila budaya belajar telah hidup, manusia akan mendirikan tempat belajar baru.

Jembatan dapat runtuh.

Tetapi bila budaya gotong royong hidup, masyarakat akan mencari jalan untuk membangunnya kembali.

Lembaga dapat berubah.

Tetapi bila amanah tetap hidup, manusia akan menemukan bentuk baru untuk melayani.

Karena itu seorang pemimpin jangan hanya membangun wadah.

Bangun pula jiwa yang mampu menghidupkan wadah itu.


SEMBILAN UTUSAN MEMASUKI KOTA

Dalam perjalanan simbolik Qitab ini, sembilan utusan memasuki sebuah kota besar.

Mereka tidak lagi berdiri di istana.

Mereka menyebar.

Utusan Amanah menuju pusat pemerintahan.

Utusan Ilmu menuju tempat belajar.

Utusan Keadilan menuju balai hukum.

Utusan Rahmah menuju rumah-rumah dan tempat pelayanan.

Utusan Keberanian menuju para pemuda.

Utusan Kesabaran menuju para pekerja dan petani.

Utusan Musyawarah menuju ruang-ruang pertemuan.

Utusan Keteladanan menuju para pemegang amanah.

Utusan Keberlanjutan menuju hutan, sungai, laut, dan generasi anak-anak.

Sebab sembilan nilai tidak boleh tinggal sebagai simbol.

Mereka harus turun ke kehidupan.


AMANAH MENJADI BUDAYA

Pada awalnya, manusia jujur karena diawasi.

Kemudian karena terbiasa.

Lalu suatu hari ia tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat.

Di situlah amanah telah menjadi budaya.

Pemimpin harus membangun keadaan di mana kejujuran tidak dianggap sebagai kelemahan.

Orang yang amanah harus dihargai.

Orang yang menyalahgunakan amanah harus diperbaiki dan dipertanggungjawabkan.

Sebab budaya tumbuh dari apa yang terus-menerus dibiarkan dan dihargai.


ILMU MENJADI NAPAS PERADABAN

Umat yang berhenti belajar akan perlahan ditinggalkan zaman.

Maka ilmu tidak boleh hanya milik sedikit orang.

Anak-anak harus mencintai belajar.

Orang dewasa tidak malu menambah pengetahuan.

Guru dihormati.

Peneliti diberi ruang.

Pengalaman orang tua didengar.

Kreativitas anak muda diarahkan.

Ilmu agama menjaga hati.

Ilmu kehidupan membantu manusia mengelola bumi.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan ketika sama-sama diarahkan menuju kemaslahatan.


KEADILAN MENJADI RASA AMAN

Ketika keadilan hidup, orang kecil tidak takut kepada orang besar hanya karena kedudukannya.

Orang kaya tidak merasa dapat membeli segala sesuatu.

Orang dekat tidak merasa kebal.

Orang yang berbeda pendapat tidak langsung diperlakukan sebagai musuh.

Maka keadilan melahirkan sesuatu yang sangat mahal:

rasa aman.

Dan masyarakat yang merasa aman akan lebih berani belajar, bekerja, berusaha, dan berQarya.


RAHMAH MENJADI WAJAH KEHIDUPAN

Peradaban yang hanya kuat tetapi tidak mempunyai rahmah akan menjadi dingin.

Maka lihatlah bagaimana suatu masyarakat memperlakukan:

orang tua,

anak-anak,

orang sakit,

orang miskin,

orang berkebutuhan bantuan,

orang yang sedang jatuh,

bahkan manusia yang sedang mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Dari sana dapat terlihat seberapa jauh rahmah hidup.

Kekuatan yang paling matang adalah kekuatan yang tidak membutuhkan penghinaan untuk menunjukkan wibawa.


KEBERANIAN MENJADI DAYA PENCIPTA

Keberanian bukan hanya maju ke medan berbahaya.

Keberanian juga berarti:

mendirikan usaha,

menemukan teknologi,

mengajukan gagasan baru,

memperbaiki sistem yang rusak,

memulai dari nol,

mengatakan kebenaran,

dan berani gagal lalu belajar kembali.

Pemimpin harus melahirkan suasana di mana manusia berani mencipta tanpa kehilangan adab.


KESABARAN MENJADI KETEKUNAN

Peradaban tidak lahir dari semangat tiga hari.

Ia membutuhkan ketekunan bertahun-tahun.

Mendidik generasi.

Merawat lingkungan.

Membangun integritas.

Mengembangkan ilmu.

Menyembuhkan perpecahan.

Semua membutuhkan waktu.

Karena itu kesabaran harus berubah dari sekadar menunggu menjadi:

kemampuan tetap bekerja walaupun hasil belum terlihat.


MUSYAWARAH MENJADI KEBIASAAN BERPIKIR

Musyawarah bukan hanya duduk di satu ruangan.

Musyawarah adalah kebiasaan mengakui bahwa satu kepala tidak mengetahui semuanya.

Ia melahirkan:

ruang bertanya,

ruang berbeda,

ruang memberi masukan,

dan ruang mengoreksi.

Ketika musyawarah sehat, keputusan menjadi lebih kuat karena lahir dari pertimbangan yang lebih luas.


KETELADANAN MENJADI PENDIDIKAN TANPA SUARA

Anak melihat orang tua.

Murid melihat guru.

Masyarakat melihat pemimpin.

Pekerja melihat atasannya.

Apa yang dilakukan oleh orang yang dianggap mempunyai tanggung jawab akan menjadi pelajaran.

Maka bila seorang pemimpin jujur, disiplin, sederhana, dan bertanggung jawab, ia sedang mengajar bahkan ketika tidak berbicara.

Itulah pendidikan yang paling sulit dipalsukan.


KEBERLANJUTAN MENJADI JANJI ANTAR GENERASI

Generasi hari ini bukan pemilik terakhir bumi.

Kita hanya menerima titipan dari mereka yang datang sebelum kita dan akan menyerahkannya kepada mereka yang datang setelah kita.

Maka jangan habiskan air.

Jangan rusak tanah.

Jangan hancurkan hutan.

Jangan wariskan hutang moral.

Jangan wariskan kebencian.

Jangan wariskan kebodohan.

Wariskan bumi yang masih layak dihuni.

Wariskan ilmu.

Wariskan persaudaraan.

Wariskan sistem yang lebih baik.


DARI PEMIMPIN MENJADI PENJAGA NILAI

Pada tingkatan ini, pemimpin tidak lagi sibuk memastikan semua orang menyebut namanya.

Ia sibuk memastikan nilai tidak hilang.

Ia tidak bertanya:

“Apakah mereka masih mengingatku?”

Ia bertanya:

“Apakah amanah masih hidup?”

“Apakah keadilan masih dijaga?”

“Apakah generasi masih berQarya?”

“Apakah manusia masih saling menolong?”

Bila semua itu hidup, tugasnya telah jauh melampaui ketenaran pribadi.


PERADABAN ADALAH QARYA BERSAMA

Tidak ada satu manusia yang mampu membangun peradaban sendirian.

Pemimpin membuka arah.

Guru menanam ilmu.

Orang tua menanam akhlak.

Petani menjaga pangan.

Pekerja menggerakkan kehidupan.

Pedagang mengalirkan kebutuhan.

Ulama menjaga nilai.

Cendekiawan menajamkan pemikiran.

Seniman menjaga rasa dan kebudayaan.

Pemuda menciptakan pembaruan.

Anak-anak menjadi masa depan.

Maka jangan rendahkan satu bagian.

Semua mempunyai tempat.


SABDO PERADABAN

Wahai pemimpin, jangan hanya meninggalkan monumen.

Tinggalkan manusia yang mampu membangun kembali ketika monumen itu runtuh.

Jangan hanya meninggalkan aturan.

Tinggalkan kesadaran mengapa aturan itu harus dijaga.

Jangan hanya meninggalkan sekolah.

Tinggalkan kecintaan kepada ilmu.

Jangan hanya meninggalkan kekuasaan.

Tinggalkan tata nilai agar kekuasaan tidak berubah menjadi kezaliman.

Dan jangan hanya meninggalkan nama.

Tinggalkan peradaban yang membuat manusia semakin layak disebut manusia.


SANG PEMIMPIN MELIHAT KOTA DARI KEJAUHAN

Dalam penutup simbolik lembar ini, sang pemimpin berdiri di sebuah tempat tinggi.

Di hadapannya terlihat kota.

Ia melihat anak-anak belajar.

Petani bekerja.

Guru mengajar.

Pedagang berdagang dengan jujur.

Para pemuda menciptakan Qarya.

Masyarakat bermusyawarah.

Para penjaga amanah menjalankan tugas.

Sungai mulai bersih.

Pohon kembali tumbuh.

Dan manusia yang berbeda dapat hidup berdampingan.

Tidak semua persoalan selesai.

Tidak semua manusia sempurna.

Tetapi arah telah berubah.

Dari ketergantungan menuju kemandirian.

Dari ketakutan menuju keberanian.

Dari perselisihan menuju musyawarah.

Dari sekadar pembangunan menuju peradaban.


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI DI SEMBILAN PENJURU

Mereka tidak lagi mengelilingi pemimpin.

Mereka mengelilingi kehidupan.

Dan sang pemimpin memahami:

inilah sebab sembilan utusan hadir sejak awal perjalanan.

Bukan untuk membesarkan dirinya.

Tetapi untuk menjaga sembilan nilai agar Qarya tidak kehilangan arah.


PENUTUP LEMBAR

Maka Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki gerbang yang lebih tinggi:

Gerbang Qarya Menjadi Peradaban.

Pada gerbang ini, seorang pemimpin tidak lagi diukur hanya dari apa yang ia bangun selama hidupnya.

Ia diukur pula dari:

apa yang mampu hidup tanpa dirinya,

apa yang diteruskan generasi,

apa yang menjadi kebiasaan baik,

apa yang menguatkan umat,

dan apa yang membawa manfaat melampaui masa kepemimpinannya.

Maka tertulis:

Qarya terbaik bukan Qarya yang membuat satu pemimpin tampak besar.
Qarya terbaik adalah Qarya yang membuat satu umat mampu tumbuh besar bersama.

Dan ketika amanah telah menjadi budaya,

ilmu menjadi kebutuhan,

keadilan menjadi perlindungan,

rahmah menjadi watak,

keberanian menjadi daya pencipta,

kesabaran menjadi ketekunan,

musyawarah menjadi kebiasaan,

keteladanan menjadi pendidikan,

dan keberlanjutan menjadi janji antar generasi—

maka seorang pemimpin telah melangkah dari sekadar meninggalkan jejak menuju sesuatu yang jauh lebih agung:

menjadi salah satu sebab lahirnya peradaban Qarya yang dapat ditauladani oleh umat dari zaman ke zaman.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXI — PEMIMPIN YANG MENJAGA HATI SETELAH QARYA MENJADI BESAR

Semakin besar Qarya, semakin besar pula ujian yang tidak terlihat.

Ketika dahulu Qarya masih kecil, sang pemimpin mudah mengingat niat.

Ia bekerja dalam kesunyian.

Tidak banyak yang mengenal.

Tidak banyak yang memuji.

Tidak banyak yang mengangkat namanya.

Namun ketika Qarya tumbuh,

ketika manusia mulai datang,

ketika pengaruh meluas,

ketika pujian mengalir,

ketika nama mulai disebut,

maka muncul satu ujian yang jauh lebih halus:

apakah hati masih tetap berada di tempat semula?

Sebab banyak manusia mampu menjaga niat ketika tidak memiliki apa-apa.

Tetapi hanya sedikit yang tetap jernih ketika sudah memiliki pengaruh.


QARYA BESAR DAPAT MENJADI CERMIN EGO

Pada mulanya seseorang berkata:

“Aku ingin memberi manfaat.”

Kemudian Qaryanya berhasil.

Manusia mulai memuji.

Lalu tanpa disadari, suara di dalam hati berubah:

“Mengapa mereka tidak menyebut namaku?”

“Mengapa orang lain mendapat penghargaan lebih besar?”

“Mengapa Qarya ini tidak selalu dikaitkan denganku?”

Di sinilah Qitab mengingatkan:

Qarya yang dibangun untuk umat dapat berubah menjadi penjara ego apabila hati tidak terus dijaga.

Maka setiap kali Qarya bertumbuh, kerendahan hati juga harus bertumbuh.

Setiap kali pengaruh bertambah, kesadaran amanah harus bertambah.

Setiap kali manusia memuji, muhasabah harus diperdalam.


PEMIMPIN HARUS MEMPUNYAI RUANG SUNYI

Orang yang selalu berada di tengah keramaian mudah kehilangan suara batinnya sendiri.

Karena itu seorang pemimpin membutuhkan ruang sunyi.

Bukan untuk lari dari umat.

Tetapi untuk memeriksa dirinya.

Di sana ia bertanya:

Apakah aku masih jujur?

Apakah aku masih mampu mendengar?

Apakah aku mulai menyukai pujian terlalu banyak?

Apakah aku masih bersedia dikoreksi?

Apakah aku sedang membela nilai atau membela harga diriku?

Apakah Qarya ini masih menjadi jalan manfaat, atau sudah berubah menjadi alat kemegahan?

Pertanyaan seperti itu adalah penjaga batin.


SEMBILAN UTUSAN MEMASUKI RUANG SUNYI

Pada lembar ini, sembilan utusan tidak berada di tengah kota.

Tidak berada di balai.

Tidak berada di gerbang.

Mereka memasuki ruang sunyi bersama sang pemimpin.

Di ruangan itu hanya ada satu cahaya kecil.

Dan sembilan utusan mulai bertanya.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Apakah engkau masih menganggap semua ini sebagai titipan?”

Jika jawabannya ya, maka hati masih ringan.

Jika mulai berkata:

“Semua ini karena aku,”

maka amanah mulai berubah menjadi kepemilikan.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Apakah engkau masih belajar?”

Sebab pemimpin yang berhenti belajar karena merasa telah sampai sedang mempersiapkan kejatuhannya sendiri.

Ilmu tidak selesai hanya karena Qarya telah besar.

Justru ketika tanggung jawab semakin luas, kebutuhan kepada ilmu semakin besar.


UTUSAN KEADILAN

Ia berkata:

“Apakah engkau masih adil kepada orang yang mengkritikmu?”

Mudah adil kepada orang yang memuji.

Sulit adil kepada orang yang membuat hati tidak nyaman.

Namun justru di situlah ukuran batin terlihat.


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Apakah kesibukan membuatmu lupa bahwa yang engkau pimpin adalah manusia?”

Jangan sampai Qarya menjadi begitu besar hingga orang-orang kecil di dalamnya tidak lagi terlihat.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Beranikah engkau membongkar kesalahan yang terjadi di dalam Qaryamu sendiri?”

Lebih mudah mengkritik kesalahan orang lain.

Lebih sulit membongkar kelemahan yang tumbuh di rumah sendiri.

Namun pemimpin yang benar harus berani.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Apakah engkau mulai ingin semua hasil datang terlalu cepat?”

Qarya besar sering membuat pemimpin terburu-buru.

Ingin lebih besar lagi.

Lebih luas lagi.

Lebih terkenal lagi.

Padahal pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa akar yang kuat dapat membawa keruntuhan.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Apakah orang di sekelilingmu masih berani tidak setuju?”

Jika tidak ada seorang pun yang berani berbeda, mungkin masalahnya bukan karena semua orang setuju.

Mungkin karena mereka takut.

Maka pemimpin harus membuka kembali ruang kejujuran.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Apakah kehidupanmu masih selaras dengan nilai yang engkau ajarkan?”

Semakin besar Qarya, semakin banyak mata melihat.

Maka keteladanan harus semakin dijaga.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia berkata:

“Apakah Qarya ini sedang dipersiapkan untuk hidup lama, atau hanya sedang dibesarkan untuk terlihat megah hari ini?”

Pertanyaan itu membuat sang pemimpin diam.

Karena tidak semua pertumbuhan adalah keberlanjutan.


BAHAYA KETIKA QARYA MENJADI TERLALU BESAR

Qarya yang besar mempunyai banyak pintu.

Banyak manusia.

Banyak kepentingan.

Banyak peluang.

Banyak godaan.

Jika tidak dijaga, tujuan awal dapat perlahan hilang.

Pada awalnya untuk melayani.

Kemudian sibuk menjaga nama.

Pada awalnya untuk mendidik.

Kemudian sibuk menjaga kekuasaan.

Pada awalnya untuk menguatkan umat.

Kemudian sibuk memperbesar lembaga.

Maka secara berkala seorang pemimpin harus kembali bertanya:

“Mengapa Qarya ini dahulu dimulai?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi dapat menyelamatkan perjalanan.


JANGAN TAKUT MENGECILKAN SESUATU YANG SALAH

Ada bagian Qarya yang mungkin perlu dihentikan.

Ada program yang tidak lagi bermanfaat.

Ada struktur yang terlalu berat.

Ada kebiasaan yang mulai menyimpang.

Ada orang yang tidak lagi menjaga amanah.

Pemimpin tidak boleh mempertahankan semua hanya karena takut terlihat gagal.

Kadang keberanian terbesar adalah berkata:

“Bagian ini harus diperbaiki.”

Atau bahkan:

“Bagian ini harus dihentikan.”

Sebab mempertahankan kesalahan demi menjaga citra hanya memperbesar kerusakan.


QARYA BESAR MEMBUTUHKAN HATI YANG KECIL DI HADAPAN ALLOH

Semakin tinggi pohon, semakin dalam akar yang dibutuhkan.

Demikian pula kepemimpinan.

Semakin besar pengaruh, semakin dalam kerendahan hati harus ditanam.

Di hadapan manusia mungkin ia dihormati.

Tetapi di hadapan Alloh, ia tetap hamba.

Ia tetap mempunyai kekurangan.

Tetap dapat salah.

Tetap membutuhkan petunjuk.

Tetap membutuhkan ampunan.

Kesadaran inilah yang menjaga pemimpin agar tidak mabuk oleh dirinya sendiri.


JANGAN MENJADI TAWANAN PUJIAN

Pujian itu menyenangkan.

Tetapi bila hati bergantung kepadanya, pemimpin akan mulai mengambil keputusan untuk menjaga tepuk tangan.

Ia takut melakukan sesuatu yang benar tetapi tidak populer.

Ia takut kehilangan dukungan.

Ia takut namanya turun.

Padahal pemimpin yang benar tidak boleh menjadikan popularitas sebagai kompas.

Kompasnya harus tetap:

kebenaran,
keadilan,
kemaslahatan,
amanah,
dan pertanggungjawaban kepada Alloh.


SANG PEMIMPIN MELETAKKAN MAHKOTA DI LANTAI

Dalam gambaran simbolik lembar ini, sang pemimpin masuk ke ruang sunyi.

Ia meletakkan mahkotanya di lantai.

Ia melepaskan tanda kebesaran.

Ia duduk bersama sembilan utusan.

Tidak ada yang memanggilnya dengan gelar.

Tidak ada yang berdiri ketika ia datang.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya ada keheningan.

Di situlah ia kembali mengingat siapa dirinya sebelum segala jabatan.

Seorang manusia.

Seorang hamba.

Seorang pemegang amanah.

Dan dari kesadaran itu, hatinya kembali ringan.


SABDO RUANG SUNYI

Wahai pemimpin, jika engkau ingin mengetahui keadaan hatimu, lihatlah dirimu ketika tidak ada yang memuji.

Apakah engkau masih mau berQarya?

Apakah engkau masih mau melayani?

Apakah engkau masih mau menjaga amanah?

Jika iya, maka Qarya belum sepenuhnya dikuasai oleh ego.

Tetapi jika semangatmu hanya hidup ketika manusia melihat, maka kembalilah memperbaiki niat.

Sebab Qarya yang paling kuat adalah Qarya yang tetap hidup meskipun penciptanya tidak selalu berdiri di depan cahaya.


JANGAN MENILAI DIRI DARI BANYAKNYA PENGIKUT

Banyak pengikut tidak selalu berarti arah benar.

Sedikit pengikut tidak selalu berarti gagal.

Ada masa ketika kebenaran harus berdiri dengan sedikit manusia.

Ada pula masa ketika Qarya besar membawa banyak manusia.

Yang penting bukan jumlah semata.

Yang penting adalah:

nilai apa yang sedang dibawa.

Apakah manusia menjadi lebih baik?

Lebih berilmu?

Lebih adil?

Lebih mandiri?

Lebih berakhlak?

Lebih mampu menjaga satu sama lain?

Itulah ukuran.


PEMIMPIN HARUS MAMPU MENDENGAR NAMA ORANG LAIN DISEBUT

Salah satu latihan besar bagi ego adalah bergembira ketika orang lain dipuji.

Ketika penerus berhasil, ucapkan syukur.

Ketika murid lebih besar, bersyukurlah.

Ketika orang yang dahulu dibimbing menjadi tokoh, jangan merasa kehilangan tempat.

Sebab keberhasilan orang-orang yang tumbuh dari lingkungan Qarya adalah bagian dari keberhasilan itu sendiri.

Pohon tidak marah ketika buahnya lebih indah daripada benihnya.


JANGAN MENJADIKAN LOYALITAS SEBAGAI PENGGANTI KEBENARAN

Ada bahaya ketika Qarya besar:

orang mulai dianggap baik hanya karena setia kepada pemimpin.

Padahal loyalitas tanpa kebenaran dapat menjadi racun.

Orang yang setia tetapi menutupi kesalahan bukan penjaga amanah.

Orang yang memuji tetapi membiarkan pemimpin tersesat bukan sahabat sejati.

Pemimpin membutuhkan manusia yang setia kepada nilai.

Bukan hanya kepada sosok.


SEMBILAN UTUSAN MENYALAKAN SEMBILAN CERMIN

Di akhir malam, sembilan utusan menyalakan sembilan cermin cahaya.

Di setiap cermin tertulis satu pertanyaan:

Amanah — Apa yang sedang kujaga?

Ilmu — Apa yang masih perlu kupelajari?

Keadilan — Siapa yang mungkin tidak kuperlakukan dengan adil?

Rahmah — Siapa yang mungkin terluka oleh keputusanku?

Keberanian — Kesalahan apa yang harus segera kuperbaiki?

Kesabaran — Apa yang terlalu kupaksakan?

Musyawarah — Siapa yang belum kudengar?

Keteladanan — Apakah aku menjalankan apa yang kuajarkan?

Keberlanjutan — Apakah Qarya ini mampu hidup tanpa diriku?

Sembilan pertanyaan itu menjadi penjaga hati.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki gerbang yang lebih dalam:

Gerbang Penjagaan Hati Setelah Kebesaran Datang.

Sebab menjadi kecil ketika belum memiliki apa-apa adalah mudah.

Tetapi tetap rendah hati ketika manusia memuliakanmu adalah perjuangan.

Tetap mau belajar ketika disebut guru adalah perjuangan.

Tetap mau mendengar ketika disebut pemimpin adalah perjuangan.

Tetap mengakui salah ketika mempunyai pengaruh adalah perjuangan.

Tetap melihat diri sebagai hamba ketika mengenakan mahkota adalah perjuangan.

Dan ketika seorang pemimpin mampu menjaga semua itu, Qaryanya tidak hanya besar di mata manusia.

Qaryanya menjadi lebih bersih dalam makna.

Maka tertulis:

Jangan biarkan Qaryamu menjadi besar sementara hatimu ikut membesar.
Biarkan Qarya membesar, tetapi hati semakin merendah di hadapan Alloh.

Karena pemimpin yang benar-benar menjadi tauladan bukan hanya mampu menunjukkan kepada umat bagaimana cara mencapai keberhasilan.

Ia juga menunjukkan bagaimana tetap menjadi manusia yang amanah ketika keberhasilan telah datang kepadanya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXII — PEMIMPIN YANG MENJAGA KESEIMBANGAN ANTARA TEGAS DAN RAHMAH

Tidak setiap persoalan dapat diselesaikan dengan kelembutan.

Dan tidak setiap persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan.

Ada waktu untuk menenangkan.

Ada waktu untuk memperingatkan.

Ada waktu untuk memaafkan.

Ada waktu untuk menegakkan batas.

Ada waktu untuk mendengar.

Ada pula waktu untuk berkata:

“Cukup. Sampai di sini.”

Di sinilah seorang pemimpin diuji.

Bukan hanya apakah ia mempunyai keberanian.

Tetapi apakah ia mempunyai kebijaksanaan untuk mengetahui kapan keberanian itu digunakan.


KELEMBUTAN TANPA BATAS DAPAT MENJADI KELEMAHAN

Pemimpin yang selalu membiarkan semua kesalahan atas nama kasih sayang dapat menciptakan kekacauan.

Karena manusia membutuhkan batas.

Anak membutuhkan batas.

Organisasi membutuhkan batas.

Negeri membutuhkan batas.

Aturan dibutuhkan bukan untuk menindas.

Aturan dibutuhkan agar kehidupan dapat berjalan dengan tertib.

Maka rahmah bukan berarti membiarkan semua hal.

Rahmah kadang berbentuk pelukan.

Kadang berbentuk nasihat.

Kadang berbentuk teguran.

Dan kadang berbentuk batas yang tegas agar kerusakan tidak meluas.


KETEGASAN TANPA RAHMAH DAPAT MENJADI KEZALIMAN

Sebaliknya, pemimpin yang hanya mengenal ketegasan dapat kehilangan hati.

Ia mudah menghukum.

Mudah memerintah.

Mudah memaksa.

Tetapi tidak lagi memahami manusia.

Padahal manusia bukan mesin.

Mereka mempunyai luka.

Latar belakang.

Keterbatasan.

Kesalahan.

Dan kesempatan untuk berubah.

Maka Qitab berkata:

Tegaslah terhadap perbuatan yang salah, tetapi jangan kehilangan rahmah kepada manusianya.

Pisahkan perbuatan dari martabat.

Kesalahan perlu diperbaiki.

Tetapi manusia tetap harus diperlakukan sebagai manusia.


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI DI ANTARA DUA PEDANG

Dalam perjalanan simbolik lembar ini, sang pemimpin memasuki sebuah balai.

Di hadapannya terdapat dua pedang.

Pedang pertama bertuliskan:

KETEGASAN

Pedang kedua bertuliskan:

RAHMAH

Sembilan utusan berdiri di antara keduanya.

Mereka tidak memilih salah satu.

Mereka mengajarkan keseimbangan.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Gunakan ketegasan untuk menjaga amanah, bukan untuk memuaskan amarah.”

Jika keputusan lahir dari kemarahan pribadi, maka ketegasan telah kehilangan kesuciannya.

Ketegasan harus lahir dari tanggung jawab.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Pahami sebelum bertindak.”

Tidak semua kesalahan dilakukan dengan niat jahat.

Ada kesalahan karena tidak tahu.

Ada kesalahan karena lemah.

Ada kesalahan karena terpaksa.

Ada pula kesalahan yang memang dilakukan dengan sadar.

Maka perlakuannya tidak selalu sama.

Ilmu membantu pemimpin membedakan.


UTUSAN KEADILAN

Ia berkata:

“Jangan terlalu keras kepada yang lemah dan terlalu lunak kepada yang kuat.”

Ini adalah penyakit kekuasaan.

Keadilan harus berdiri lurus.


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Setiap hukuman harus tetap mempunyai pintu untuk perbaikan.”

Jika seseorang dapat berubah, bukalah jalan.

Jika seseorang menyesal, lihat kesungguhannya.

Jika kesalahan dapat diperbaiki tanpa menghancurkan masa depan seseorang, pilih jalan yang lebih membawa maslahat.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Jangan takut menegakkan batas ketika batas itu memang perlu.”

Kadang pemimpin terlalu takut dianggap keras.

Akhirnya ia membiarkan kerusakan tumbuh.

Keberanian mengajarkan bahwa menjaga kebaikan terkadang membutuhkan ketegasan.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Jangan mengambil keputusan ketika amarah sedang memuncak.”

Tunggu sampai pikiran jernih.

Karena keputusan yang lahir dari kemarahan sering menghasilkan penyesalan.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Sebelum keputusan besar dijalankan, dengarkan mereka yang memahami persoalan.”

Satu pandangan dapat keliru.

Banyak pandangan dapat memperjelas.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Jika engkau menuntut disiplin, apakah engkau juga disiplin?”

“Jika engkau menuntut rakyat patuh pada aturan, apakah engkau juga tunduk pada aturan?”

Ketegasan tanpa keteladanan akan terasa sebagai kemunafikan.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia berkata:

“Jangan hanya pikirkan apakah keputusan ini menyelesaikan masalah hari ini. Pikirkan budaya apa yang akan lahir darinya.”

Jika semua masalah diselesaikan dengan kekerasan, generasi akan belajar kekerasan.

Jika semua masalah dibiarkan, generasi akan belajar ketidakpedulian.

Maka carilah jalan yang mendidik.


TEGAS TIDAK BERARTI KASAR

Ada perbedaan besar antara tegas dan kasar.

Tegas berarti jelas.

Kasar berarti merendahkan.

Tegas berarti konsisten.

Kasar berarti melukai.

Tegas berarti ada batas.

Kasar berarti kehilangan adab.

Maka pemimpin harus mampu berkata:

“Ini tidak boleh dilakukan.”

tanpa harus mempermalukan.

Ia dapat menolak tanpa menghina.

Ia dapat menghukum tanpa dendam.

Ia dapat mengoreksi tanpa merendahkan.


RAHMAH TIDAK BERARTI LEMAH

Rahmah adalah kekuatan yang mampu menahan diri.

Orang yang lemah kadang marah karena tidak mampu mengendalikan dirinya.

Orang yang kuat justru mampu memilih kapan harus bertindak.

Maka rahmah bukan ketidakberdayaan.

Rahmah adalah kemampuan menggunakan kekuatan secara bertanggung jawab.


PEMIMPIN DAN KESALAHAN PERTAMA

Tidak semua kesalahan harus diperlakukan sama.

Ada orang yang baru pertama kali salah.

Ada yang sudah berulang.

Ada yang menyesal.

Ada yang sengaja mengulangi.

Ada yang merugikan sedikit.

Ada yang merugikan banyak.

Pemimpin yang bijak melihat perbedaan itu.

Kesalahan pertama dapat menjadi tempat pendidikan.

Kesalahan berulang mungkin membutuhkan batas yang lebih tegas.

Namun setiap keputusan harus tetap mempunyai dasar yang jelas.


JANGAN PERMALUKAN UNTUK MENDIDIK

Ada cara memperbaiki yang justru merusak.

Mempermalukan manusia di depan banyak orang dapat membuatnya berubah bukan karena sadar, tetapi karena luka.

Kadang teguran pribadi lebih kuat daripada penghinaan terbuka.

Kadang percakapan empat mata lebih efektif daripada teriakan.

Maka seorang pemimpin perlu memahami:

Tujuan koreksi adalah memperbaiki, bukan melampiaskan.


HUKUMAN YANG MENDIDIK

Hukuman yang baik harus mempunyai tujuan.

Menghentikan kesalahan.

Melindungi orang lain.

Mengembalikan keseimbangan.

Memberi kesempatan belajar.

Bukan sekadar membuat seseorang menderita.

Jika hukuman tidak lagi mempunyai tujuan selain balas dendam, maka ia kehilangan nilai pendidikan.


PEMIMPIN DAN ORANG YANG MENENTANGNYA

Salah satu ujian paling berat adalah ketika yang melanggar adalah orang yang tidak disukai.

Pada saat itu sangat mudah memperkeras hukuman karena emosi pribadi.

Maka pemimpin harus bertanya:

“Jika orang ini adalah sahabatku, apakah aku akan membuat keputusan yang sama?”

Jika jawabannya berbeda, mungkin ada ketidakadilan yang perlu diperiksa.


JANGAN JADIKAN RAHMAH SEBAGAI ALASAN MELINDUNGI KESALAHAN

Kadang orang berkata:

“Kasihan.”

Lalu kesalahan dibiarkan.

Tetapi jika kesalahan itu merugikan banyak orang, membiarkannya justru tidak berrahmah kepada korban.

Maka rahmah harus melihat semua pihak.

Rahmah kepada pelaku tidak boleh menghilangkan rahmah kepada orang yang dirugikan.

Di sinilah keadilan menjadi penyeimbang.


KETEGASAN YANG MELINDUNGI

Ada ketegasan yang justru merupakan bentuk kasih sayang.

Menutup jalan korupsi.

Menghentikan kekerasan.

Melindungi anak.

Melindungi orang lemah.

Menjaga sumber daya alam.

Menolak penyalahgunaan kekuasaan.

Semua membutuhkan ketegasan.

Dan ketika dilakukan demi melindungi, ketegasan itu adalah bagian dari rahmah.


RAHMAH YANG MEMULIHKAN

Setelah kesalahan dihentikan, harus ada jalan pemulihan.

Orang yang pernah salah tidak selalu harus selamanya disebut dengan kesalahannya.

Bila ia benar-benar berubah, masyarakat perlu memberi ruang untuk kembali.

Sebab manusia dapat belajar.

Dapat bertobat.

Dapat memperbaiki.

Dapat menjadi lebih baik.

Pemimpin yang baik tidak hanya tahu cara menghentikan kesalahan.

Ia juga tahu cara membuka pintu perbaikan.


SABDO KESEIMBANGAN

Wahai pemimpin, jangan jadikan hatimu terlalu lembut hingga kebenaran kehilangan pagar.

Namun jangan pula membuat pagar itu begitu keras hingga manusia kehilangan jalan pulang.

Tegakkan batas.

Tetapi sisakan pintu.

Jaga aturan.

Tetapi jangan kehilangan hati.

Lindungi umat.

Tetapi jangan menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk merendahkan.

Sebab kekuasaan yang paling matang adalah kekuasaan yang mampu tegas tanpa kehilangan rahmah.


SANG PEMIMPIN MEMEGANG DUA PEDANG

Dalam gambaran simbolik, sang pemimpin mengambil kedua pedang.

Namun ia tidak mengayunkannya.

Pedang Ketegasan ia pegang di tangan kanan.

Pedang Rahmah di tangan kiri.

Sembilan utusan lalu berkata:

“Jangan gunakan salah satunya tanpa yang lain.”

Ketegasan menjaga agar rahmah tidak menjadi kelemahan.

Rahmah menjaga agar ketegasan tidak menjadi kezaliman.

Keduanya harus berjalan bersama.


TIGA PERTANYAAN SEBELUM BERTINDAK

Qitab mengajarkan kepada pemimpin untuk bertanya sebelum mengambil keputusan keras:

Pertama:

Apakah tindakan ini benar-benar diperlukan?

Kedua:

Apakah ada cara yang lebih baik dengan kerusakan lebih sedikit?

Ketiga:

Apakah keputusan ini dapat kupertanggungjawabkan dengan adil?

Jika ketiganya telah diperiksa, tindakan akan lebih jernih.


KETEGASAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Sebelum tegas kepada umat, pemimpin harus tegas kepada dirinya.

Tegas terhadap kemalasan.

Tegas terhadap kesombongan.

Tegas terhadap keinginan mengambil yang bukan hak.

Tegas terhadap nafsu untuk membalas.

Tegas terhadap kebiasaan mencari pujian.

Karena pemimpin yang keras kepada rakyat tetapi lunak kepada ego akan kehilangan teladan.


RAHMAH KEPADA DIRI SENDIRI

Namun pemimpin juga tidak boleh menghancurkan dirinya dengan rasa bersalah tanpa akhir.

Jika salah, akui.

Perbaiki.

Belajar.

Jangan terus-menerus menghukum diri hingga tidak mampu melanjutkan amanah.

Rahmah juga berarti memberi diri kesempatan untuk tumbuh.


SEMBILAN UTUSAN MENYATUKAN DUA CAHAYA

Pada akhir lembar ini, dua pedang berubah menjadi dua cahaya.

Cahaya Ketegasan.

Cahaya Rahmah.

Keduanya tidak saling memadamkan.

Mereka menyatu menjadi satu lingkaran.

Sembilan utusan berdiri di sekelilingnya.

Dan sang pemimpin memahami:

Kepemimpinan bukan memilih antara kuat atau lembut.

Kepemimpinan adalah mengetahui kapan harus kuat dan bagaimana tetap manusia ketika menggunakan kekuatan.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki satu gerbang baru:

Gerbang Keseimbangan.

Pada gerbang ini, pemimpin belajar:

bahwa rahmah membutuhkan batas,

bahwa ketegasan membutuhkan hati,

bahwa hukuman membutuhkan keadilan,

bahwa maaf membutuhkan kebijaksanaan,

bahwa aturan membutuhkan keteladanan,

dan bahwa kekuasaan membutuhkan pengendalian diri.

Maka tertulis:

Jangan menjadi pemimpin yang ditakuti karena keras.
Jangan pula menjadi pemimpin yang diremehkan karena tidak mempunyai batas.

Jadilah pemimpin yang ketika berkata “tidak”, umat memahami bahwa ada amanah yang sedang dijaga.

Dan ketika berkata “aku memaafkan”, umat memahami bahwa ada rahmah yang sedang dihidupkan.

Di situlah ketegasan dan kasih sayang berhenti menjadi dua jalan yang berlawanan, lalu menjadi satu Qarya kepemimpinan yang menjaga manusia, melindungi kebenaran, dan tetap membuka jalan menuju perbaikan.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXIII — PEMIMPIN YANG MENJAGA RAHASIA AMANAH DAN KEJERNIHAN NIAT

Tidak semua amanah harus diumumkan.

Tidak semua rencana harus dibicarakan.

Tidak semua perkara yang diketahui pemimpin layak disebarkan.

Ada informasi yang bila dibuka pada waktu yang salah dapat menimbulkan kekacauan.

Ada persoalan yang masih membutuhkan pemeriksaan.

Ada rahasia keluarga.

Ada rahasia umat.

Ada rahasia lembaga.

Ada pembicaraan yang dipercayakan secara pribadi.

Maka salah satu tanda kedewasaan seorang pemimpin adalah:

mampu mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menjaga diam.

Diam bukan selalu takut.

Diam dapat menjadi amanah.

Namun diam juga tidak boleh digunakan untuk menutupi kezaliman.

Di sinilah kebijaksanaan diuji.


RAHASIA BUKAN ALAT UNTUK MENGUASAI

Ada orang yang mengumpulkan rahasia agar mempunyai kekuatan atas orang lain.

Ia mengetahui kelemahan seseorang.

Lalu menjadikannya alat tekanan.

Mengetahui kesalahan masa lalu.

Lalu menyimpannya untuk digunakan ketika kepentingannya terancam.

Cara seperti itu bukan amanah.

Itu adalah penyalahgunaan kepercayaan.

Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh mengingatkan:

Rahasia yang dipercayakan kepadamu bukan senjata untuk menundukkan manusia.

Ia adalah beban yang harus dijaga dengan adab.


PEMIMPIN HARUS MEMBEDAKAN TIGA JENIS RAHASIA

Pertama — Rahasia yang Wajib Dijaga

Seperti informasi pribadi.

Kelemahan manusia yang disampaikan dalam kepercayaan.

Strategi yang bila diumumkan terlalu awal dapat merusak kemaslahatan.

Persoalan yang masih dalam proses pemeriksaan.

Semua ini perlu dijaga.


Kedua — Rahasia yang Boleh Dibuka demi Keadilan

Ada keadaan ketika diam justru menjadi pembiaran.

Jika sebuah rahasia menyangkut kejahatan serius, kerugian banyak orang, atau penyalahgunaan amanah, maka pemimpin tidak boleh menjadikan kata “rahasia” sebagai alasan untuk melindungi kesalahan.

Namun pembukaan harus dilakukan melalui jalan yang tepat.

Dengan bukti.

Dengan prosedur.

Dengan kehati-hatian.

Bukan dengan fitnah.


Ketiga — Rahasia yang Sebenarnya Hanya Menutupi Ego

Kadang seseorang berkata:

“Ini rahasia.”

Padahal sebenarnya ia takut kekurangannya diketahui.

Takut kesalahannya diperiksa.

Takut kehilangan citra.

Di sinilah pemimpin harus jujur terhadap diri sendiri.

Apakah sesuatu benar-benar perlu dirahasiakan?

Atau hanya sedang digunakan untuk melindungi harga diri?


SEMBILAN UTUSAN MASUK KE RUANG AMANAH

Dalam perjalanan simbolik lembar ini, sembilan utusan memasuki sebuah ruang tanpa jendela.

Di tengah ruang terdapat sebuah peti.

Peti itu tidak dipenuhi emas.

Di dalamnya terdapat:

catatan,

surat,

janji,

rahasia,

dan amanah manusia.

Sang pemimpin berdiri di hadapannya.

Lalu sembilan utusan memberi pesan.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Apa yang dipercayakan kepadamu tidak semuanya menjadi milikmu untuk diceritakan.”

Jagalah lidah sebagaimana engkau menjaga tangan.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Bedakan antara fakta, dugaan, dan kabar.”

Jangan menyimpan kebohongan sebagai rahasia.

Tetapi jangan pula menyebarkan dugaan sebagai kebenaran.


UTUSAN KEADILAN

Ia berkata:

“Jangan hanya membuka rahasia lawan dan menutup rahasia kawan.”

Jika transparansi diperlukan, ukurannya harus sama.


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Jangan sebarkan aib hanya karena engkau mampu.”

Ada perkara yang cukup diselesaikan secara pribadi.

Ada manusia yang dapat diperbaiki tanpa dihancurkan martabatnya.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Namun jangan diam ketika rahasia dipakai untuk menutupi kezaliman.”

Keberanian bukan membuka semua hal.

Keberanian adalah membuka hal yang benar-benar perlu demi melindungi kemaslahatan.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Jangan bicara ketika emosi sedang tinggi.”

Banyak rahasia terbuka bukan karena kebutuhan, tetapi karena kemarahan.

Satu kalimat yang keluar tidak dapat dimasukkan kembali.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Dalam perkara besar, jangan memutuskan seorang diri apa yang harus dibuka dan apa yang harus ditutup.”

Libatkan orang-orang amanah.

Sebab keputusan mengenai rahasia dapat berdampak kepada banyak manusia.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Jangan tuntut orang lain menjaga rahasiamu jika engkau sendiri mudah membocorkan rahasia mereka.”

Amanah dimulai dari diri.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia berkata:

“Catatlah dengan baik apa yang harus diwariskan dan apa yang harus tetap terlindungi.”

Karena generasi berikutnya membutuhkan sejarah yang jujur, tetapi tidak membutuhkan budaya membongkar aib tanpa tujuan.


KEJERNIHAN NIAT DALAM BERBICARA

Sebelum seorang pemimpin membuka sebuah perkara, ia harus bertanya:

Mengapa aku ingin mengatakan ini?

Apakah untuk memperbaiki?

Untuk melindungi?

Untuk menjelaskan?

Atau untuk mempermalukan?

Untuk membalas?

Untuk mencari dukungan?

Pertanyaan itu penting.

Sebab kalimat yang benar sekalipun dapat digunakan dengan niat yang salah.

Maka kebenaran harus dibawa dengan cara yang juga benar.


JANGAN BERBICARA SEMUA YANG DIKETAHUI

Orang berilmu tidak merasa wajib menunjukkan seluruh pengetahuannya.

Orang amanah tidak merasa wajib menceritakan seluruh hal yang ia dengar.

Ada ucapan yang benar tetapi waktunya salah.

Ada ucapan yang benar tetapi tempatnya salah.

Ada ucapan yang benar tetapi orang yang menerimanya belum siap.

Maka hikmah bukan hanya mengetahui apa yang benar.

Hikmah juga mengetahui:

kapan, kepada siapa, dan bagaimana kebenaran disampaikan.


KEPEMIMPINAN DAN TRANSPARANSI

Menjaga rahasia bukan berarti pemimpin boleh membangun sistem yang tertutup.

Anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan.

Keputusan publik harus dapat dijelaskan.

Kebijakan harus mempunyai dasar.

Masyarakat berhak mengetahui sesuatu yang menyangkut hak bersama.

Karena itu ada perbedaan antara:

rahasia yang menjaga amanah

dan

kerahasiaan yang menyembunyikan penyalahgunaan amanah.

Pemimpin wajib mampu membedakannya.


TRANSPARANSI TANPA KEARIFAN JUGA DAPAT MERUSAK

Namun keterbukaan bukan berarti seluruh data pribadi harus diumumkan.

Seluruh percakapan internal tidak harus disebarkan.

Seluruh kelemahan seseorang tidak harus dipertontonkan.

Keterbukaan harus tetap menjaga:

martabat,

keamanan,

privasi,

dan kemaslahatan.

Maka pemimpin tidak boleh menggunakan kata “transparansi” sebagai alasan untuk membongkar kehidupan pribadi manusia.


RAHASIA DAN KEPERCAYAAN

Kepercayaan dibangun bertahun-tahun.

Tetapi dapat runtuh dalam satu kali pengkhianatan.

Ketika seseorang datang kepada pemimpin dan berkata:

“Saya mempercayakan hal ini kepada Anda,”

maka kalimat itu harus dianggap berat.

Jangan dijadikan bahan cerita.

Jangan dijadikan bahan candaan.

Jangan dijadikan alat mencari pengaruh.

Karena pemimpin yang tidak mampu menjaga kepercayaan akan kehilangan pintu menuju hati manusia.


PEMIMPIN DAN AIB MANUSIA

Setiap manusia mempunyai kekurangan.

Jika pemimpin mengetahui kekurangan seseorang, ia mempunyai dua pilihan:

menggunakannya untuk menghancurkan,

atau menggunakannya untuk membantu memperbaiki.

Qitab mengajarkan jalan kedua.

Selama kesalahan itu tidak membahayakan masyarakat dan masih dapat diperbaiki secara pribadi, utamakan jalan yang menjaga martabat.

Sebab orang yang diselamatkan dari kehinaan dapat berubah menjadi manusia yang sangat bersyukur.


TETAPI JANGAN TUTUPI KEZALIMAN

Rahmah tidak berarti melindungi pelaku dari tanggung jawab.

Jika suatu kesalahan merugikan orang banyak,

mengancam keselamatan,

merampas hak,

atau merusak amanah publik,

maka persoalan harus ditangani secara benar.

Jangan menutupinya demi menjaga nama.

Karena melindungi nama dengan mengorbankan korban adalah kezaliman baru.


KEHATI-HATIAN DALAM ERA KABAR CEPAT

Satu potongan pesan dapat tersebar dalam hitungan detik.

Satu tangkapan layar dapat menjadi bahan penghakiman.

Satu rekaman dapat dipotong.

Satu rumor dapat berkembang.

Karena itu pemimpin harus lebih berhati-hati daripada sebelumnya.

Jangan langsung membagikan.

Jangan langsung menuduh.

Jangan langsung bereaksi.

Periksa.

Tanyakan konteks.

Dengar pihak terkait.

Karena kerusakan reputasi seseorang kadang tidak dapat dipulihkan meskipun berita kemudian terbukti salah.


TIGA PINTU SEBELUM BERBICARA

Qitab memberikan tiga pintu.

Sebelum sebuah ucapan keluar, lewati tiga pertanyaan:

Pintu Pertama — Benarkah?

Jika belum yakin, tahan.

Pintu Kedua — Perlukah?

Tidak semua kebenaran harus diumumkan.

Pintu Ketiga — Baikkah caranya?

Bila harus disampaikan, sampaikan dengan adab.

Jika sebuah kalimat melewati tiga pintu itu, kemungkinan mudaratnya menjadi lebih kecil.


SANG PEMIMPIN MEMEGANG KUNCI PETI

Dalam gambaran simbolik, sang pemimpin menerima satu kunci.

Namun sembilan utusan berkata:

“Kunci bukan berarti engkau bebas membuka peti kapan saja.”

Kunci adalah tanda tanggung jawab.

Ia hanya boleh digunakan ketika alasan benar-benar ada.

Sang pemimpin lalu menyimpan kunci di dekat dadanya.

Maknanya:

rahasia dijaga bukan hanya oleh aturan, tetapi oleh hati yang amanah.


SABDO AMANAH LIDAH

Wahai pemimpin, banyak Qarya hancur bukan karena kurangnya kekuatan, tetapi karena lidah yang tidak dijaga.

Satu rahasia yang bocor dapat memecah persaudaraan.

Satu tuduhan tanpa bukti dapat menghancurkan kehormatan.

Satu kalimat penuh amarah dapat merusak kepercayaan bertahun-tahun.

Maka jadikan lidahmu penjaga, bukan pemecah.

**Berbicaralah ketika ucapan membawa manfaat.

Diamlah ketika diam lebih menjaga amanah.
Dan bukalah perkara ketika keadilan benar-benar menuntutnya.**


KEJERNIHAN NIAT ADALAH PENJAGA TERAKHIR

Aturan dapat dibuat.

Prosedur dapat ditulis.

Namun selalu ada ruang yang hanya dapat dijaga oleh niat.

Dua orang dapat melakukan tindakan yang sama dengan tujuan berbeda.

Satu membuka informasi untuk melindungi umat.

Satu lagi membuka informasi untuk menjatuhkan lawan.

Maka pemimpin harus terus membersihkan tujuan.

Jangan hanya bertanya:

“Boleh atau tidak?”

Tanyakan juga:

“Untuk apa?”


SEMBILAN UTUSAN MENUTUP PETI

Pada akhir lembar ini, sembilan utusan menutup peti amanah.

Bukan semua isi harus selamanya terkunci.

Tetapi setiap isi akan dibuka pada waktu, tempat, dan alasan yang tepat.

Sang pemimpin menatap peti itu.

Lalu ia memahami bahwa salah satu ukuran besar seorang pemimpin bukan hanya kemampuan berbicara di hadapan ribuan manusia.

Tetapi juga kemampuan menjaga satu kalimat yang dipercayakan oleh satu manusia.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki satu gerbang yang sangat halus:

Gerbang Amanah Lidah dan Kejernihan Niat.

Di gerbang ini seorang pemimpin belajar:

bahwa tidak semua yang diketahui harus disampaikan,

bahwa tidak semua yang dirahasiakan harus selamanya ditutup,

bahwa keterbukaan membutuhkan kebijaksanaan,

bahwa rahasia membutuhkan amanah,

dan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan niat yang bersih.

Maka tertulis:

Pemimpin yang mampu menjaga harta tetapi tidak mampu menjaga rahasia belum sempurna amanahnya.
Pemimpin yang mampu menjaga rahasia tetapi menutupi kezaliman juga telah menyimpang dari amanah.

Jalan yang benar berada di antara keduanya:

menjaga yang memang harus dijaga,

membuka yang memang harus dipertanggungjawabkan,

dan selalu mengembalikan keputusan kepada keadilan serta kemaslahatan.

Di situlah lidah seorang pemimpin berubah dari alat kekuasaan menjadi penjaga kepercayaan umat.



LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXIV — PEMIMPIN YANG MAMPU BERDIRI KETIKA SEMUA ORANG MENINGGALKAN

Ada saat ketika seorang pemimpin dikelilingi banyak manusia.

Ada tangan yang bersalaman.

Ada suara yang memuji.

Ada barisan yang menyatakan setia.

Ada orang yang berkata:

“Kami bersamamu.”

Namun perjalanan panjang akan memperlihatkan satu kenyataan:

tidak semua orang yang datang akan tetap tinggal.

Ada yang pergi ketika kepentingannya selesai.

Ada yang berubah ketika keadaan berubah.

Ada yang menjauh ketika Qarya tidak lagi memberi keuntungan pribadi.

Ada yang dahulu memuji lalu menjadi pengkritik.

Ada pula yang tetap mencintai, tetapi memilih jalan berbeda.

Maka seorang pemimpin harus memiliki satu kekuatan yang tidak bergantung kepada keramaian:

kemampuan tetap berdiri ketika dirinya harus berjalan dalam kesunyian.


KERAMAIAN BUKAN JAMINAN KEBENARAN

Banyaknya manusia di sekitar seseorang tidak selalu menunjukkan bahwa jalannya benar.

Dan sedikitnya manusia yang mendampingi seseorang tidak selalu menunjukkan bahwa dirinya salah.

Ada masa ketika gagasan baik belum dipahami.

Ada masa ketika keputusan adil tidak populer.

Ada masa ketika kebenaran terasa pahit.

Karena itu pemimpin tidak boleh menjadikan jumlah tepuk tangan sebagai satu-satunya ukuran.

Ia harus mempunyai ukuran yang lebih dalam:

Apakah ini benar?

Apakah ini adil?

Apakah ini membawa kemaslahatan?

Apakah ini dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh?

Jika jawabannya telah diperiksa dengan ilmu, musyawarah, dan hati yang jernih, maka ia harus berani berdiri.


JANGAN MARAH KEPADA MEREKA YANG PERGI

Tidak semua yang pergi adalah pengkhianat.

Ada manusia yang mempunyai perjalanan sendiri.

Ada yang berubah pandangan.

Ada yang mempunyai tanggung jawab lain.

Ada yang memang tidak lagi sejalan.

Pemimpin yang matang tidak mudah mengutuk setiap orang yang meninggalkannya.

Ia bertanya lebih dahulu:

Apakah ada kesalahanku yang membuat mereka pergi?

Apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki?

Ataukah memang perjalanan kami telah berbeda?

Jika kesalahan berada pada dirinya, perbaiki.

Jika perbedaan itu wajar, hormati.

Jika ada pengkhianatan nyata, tangani dengan adil tanpa membiarkan kebencian menguasai hati.


SEMBILAN UTUSAN MENEMANI DI JALAN SUNYI

Dalam perjalanan simbolik Qitab ini, sang pemimpin memasuki sebuah jalan panjang.

Tidak ada kerumunan.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada bunyi pujian.

Hanya sembilan utusan yang berjalan dalam jarak tertentu.

Mereka tidak menghibur dengan kata-kata manis.

Mereka membawa sembilan pelajaran.


UTUSAN AMANAH

Ia berkata:

“Jangan tinggalkan kebenaran hanya karena orang meninggalkanmu.”

Amanah tidak berubah karena jumlah manusia berkurang.

Jika sesuatu benar-benar menjadi tanggung jawabmu, jagalah meskipun tidak banyak yang melihat.


UTUSAN ILMU

Ia berkata:

“Tetapi jangan pula keras kepala hanya karena engkau merasa sendirian.”

Kesendirian bukan bukti bahwa engkau benar.

Periksa kembali.

Belajar kembali.

Dengarkan kembali.

Sebab keteguhan berbeda dengan kesombongan.


UTUSAN KEADILAN

Ia berkata:

“Jangan menghukum orang yang pergi hanya karena mereka tidak lagi memujimu.”

Hak mereka tetap harus dijaga.

Keadilan tidak boleh berubah hanya karena hubungan berubah.


UTUSAN RAHMAH

Ia berkata:

“Doakan orang yang pernah berjalan bersamamu, meskipun akhirnya jalan kalian berpisah.”

Tidak setiap perpisahan harus menjadi permusuhan.

Ada perjalanan yang selesai dengan baik.

Ada pertemuan yang memang hanya ditakdirkan untuk satu masa.


UTUSAN KEBERANIAN

Ia berkata:

“Jika seluruh manusia takut melangkah tetapi engkau mengetahui bahwa jalan itu benar, beranilah mengambil langkah pertama.”

Namun keberanian harus tetap disertai ilmu.

Bukan keberanian buta.


UTUSAN KESABARAN

Ia berkata:

“Jalan sunyi sering terasa panjang karena tidak ada tepuk tangan yang mengiringinya.”

Tetaplah berjalan.

Qarya tidak kehilangan nilai hanya karena tidak segera dipuji.


UTUSAN MUSYAWARAH

Ia berkata:

“Walaupun engkau sendirian dalam keputusan akhir, jangan pernah merasa tidak membutuhkan pandangan orang lain.”

Kesendirian dalam tanggung jawab bukan berarti kesendirian dalam berpikir.


UTUSAN KETELADANAN

Ia berkata:

“Cara engkau bersikap ketika ditinggalkan akan dilihat oleh generasi.”

Apakah engkau menjadi pahit?

Atau tetap menjaga adab?

Di situlah keteladanan diuji.


UTUSAN KEBERLANJUTAN

Ia berkata:

“Jangan biarkan satu perpisahan menghentikan Qarya yang membawa manfaat.”

Orang dapat pergi.

Sistem harus tetap berjalan.

Nilai harus tetap dijaga.


KETIKA ORANG YANG PERNAH DEKAT MENJADI BERBEDA

Ini adalah salah satu ujian yang paling berat.

Orang yang dahulu mengetahui perjuanganmu.

Pernah duduk bersamamu.

Pernah mengetahui kelemahanmu.

Pernah ikut membangun.

Kemudian suatu hari berdiri di tempat yang berbeda.

Pemimpin yang dikuasai ego akan berkata:

“Dia tidak tahu berterima kasih.”

Tetapi pemimpin yang matang akan berkata:

“Aku akan menilai perbuatannya dengan adil, bukan hanya dari luka perasaanku.”

Jika ia salah, luruskan kesalahannya.

Jika ia benar, terima kebenarannya meskipun datang dari orang yang tidak lagi dekat.


JANGAN MENCIPTAKAN MUSUH DARI SETIAP PERBEDAAN

Pemimpin yang rapuh membutuhkan musuh untuk mempertahankan loyalitas.

Pemimpin yang matang tidak.

Ia mampu berkata:

“Kita berbeda, tetapi kita tidak harus saling menghancurkan.”

Sebab umat akan lelah jika setiap perbedaan selalu berubah menjadi perang.

Qarya tidak tumbuh di tanah yang terus dibakar oleh permusuhan.


KESETIAAN YANG SEHAT

Kesetiaan bukan berarti selalu mengatakan iya.

Kesetiaan yang sehat mempunyai tiga unsur:

jujur,
beradab,
dan berpihak kepada nilai.

Orang yang mengingatkan kesalahan dapat lebih setia daripada orang yang terus memuji.

Orang yang berani berkata:

“Ini keliru.”

kadang justru sedang menjaga pemimpin dari kehancuran.

Maka jangan hanya cari orang yang setia kepada dirimu.

Carilah orang yang setia kepada amanah.


KETIKA PUJIAN BERUBAH MENJADI CELAAN

Ada masa seseorang dipuji karena satu keputusan.

Kemudian keputusan lain membuatnya dicela.

Jika hati bergantung kepada penilaian manusia, pemimpin akan mudah goyah.

Hari ini terbang karena pujian.

Besok jatuh karena hinaan.

Maka ia harus mempunyai akar.

Akar itu adalah:

niat,
ilmu,
muhasabah,
dan hubungan dengan Alloh.

Ketika akar kuat, angin penilaian manusia tidak mudah mencabutnya.


JANGAN MEMBALAS SEMUA CELAAN

Tidak semua ucapan membutuhkan jawaban.

Ada kritik yang perlu dijawab.

Ada fitnah yang perlu diluruskan.

Ada kesalahpahaman yang perlu diterangkan.

Namun ada pula hinaan yang justru akan membesar jika terus dilayani.

Pemimpin harus mengetahui perbedaannya.

Jangan habiskan seluruh tenaga Qarya hanya untuk membalas setiap suara yang tidak menyenangkan.

Sebab tujuan perjalanan bukan memenangkan semua perdebatan.

Tujuannya adalah menjaga amanah tetap berjalan.


KESUNYIAN DAPAT MENJADI SEKOLAH

Di dalam kesunyian seorang pemimpin belajar:

siapa dirinya tanpa pujian.

Apa niatnya tanpa kerumunan.

Apakah ia masih mau berQarya ketika tidak ada kamera.

Apakah ia tetap menjaga amanah ketika tidak ada yang memuji.

Apakah ia masih dapat tersenyum ketika namanya tidak disebut.

Kesunyian dapat menjadi tempat membersihkan hati.


SANG PEMIMPIN MENEMUKAN SATU POHON

Dalam kisah simbolik lembar ini, di tengah jalan sunyi sang pemimpin menemukan sebuah pohon tua.

Tidak ada manusia di sekelilingnya.

Namun pohon itu tetap memberi naungan.

Tetap menghasilkan buah.

Tetap menjadi tempat burung beristirahat.

Pohon tidak bertanya:

“Siapa yang memujiku?”

Ia hanya menjalankan sifat manfaatnya.

Sang pemimpin duduk di bawah pohon.

Lalu ia memahami:

Qarya yang tulus seperti pohon. Ia tetap memberi manfaat meskipun tidak mengetahui siapa yang akan menikmati buahnya.


SEMBILAN UTUSAN DUDUK DI BAWAH POHON

Utusan Amanah menyentuh akarnya.

Utusan Ilmu melihat cabangnya.

Utusan Keadilan membagi buahnya.

Utusan Rahmah memberi air kepada musafir.

Utusan Keberanian berdiri menghadapi badai.

Utusan Kesabaran menunggu musim berikutnya.

Utusan Musyawarah mengumpulkan manusia di bawah naungannya.

Utusan Keteladanan menunjukkan cara menanam.

Utusan Keberlanjutan menyiapkan benih baru.

Pohon itu kemudian menjadi lambang Qarya yang tidak bergantung kepada keramaian.


JANGAN TERLALU TAKUT KEHILANGAN PENGIKUT

Jika manusia hanya bertahan karena keuntungan, maka kepergiannya mungkin justru membuka kebenaran.

Jika manusia bertahan karena nilai, jagalah hubungan dengan baik.

Pemimpin jangan memaksa setiap orang tinggal.

Sebab pengikut yang dipaksa bukanlah kekuatan.

Lebih baik sedikit manusia yang memahami amanah daripada banyak manusia yang hanya mengejar keuntungan pribadi.


PEMIMPIN YANG DITINGGALKAN HARUS MAMPU BERCERMIN

Namun jangan selalu menyalahkan orang yang pergi.

Kadang banyak orang menjauh karena ada sesuatu yang salah di dalam kepemimpinan.

Mungkin pemimpin terlalu keras.

Mungkin tidak lagi mendengar.

Mungkin terjadi ketidakadilan.

Mungkin Qarya telah menjauh dari tujuan awal.

Karena itu ketika banyak orang mulai pergi, jangan langsung berkata:

“Mereka semua salah.”

Tanyakan juga:

“Apa yang harus kubenahi?”

Ini bukan kelemahan.

Ini keberanian muhasabah.


TIGA SIKAP KETIKA DITINGGALKAN

Pertama — Jangan panik.

Tidak semua kepergian berarti keruntuhan.

Kedua — Jangan dendam.

Dendam membuat pikiran kehilangan kejernihan.

Ketiga — Jangan berhenti belajar.

Setiap perpisahan dapat menyimpan pelajaran.

Dengan tiga sikap itu, seorang pemimpin dapat melewati kehilangan tanpa kehilangan arah.


SABDO JALAN SUNYI

Wahai pemimpin, apabila suatu hari tidak ada lagi manusia yang berjalan di sampingmu, jangan segera mengira bahwa perjalanan telah selesai.

Periksa arahmu.

Periksa niatmu.

Periksa Qaryamu.

Jika engkau salah, kembalilah.

Jika engkau benar, teruskan dengan rendah hati.

Jangan sombong karena mampu sendirian.

Dan jangan takut hanya karena sendirian.

Sebab yang membuat langkah bernilai bukan berapa banyak manusia yang mengiringi, tetapi apa yang engkau bawa dalam langkah itu.


DARI KESUNYIAN LAHIR KEJERNIHAN

Setelah berjalan cukup lama, sang pemimpin menyadari sesuatu.

Keramaian dahulu membuat banyak suara bercampur.

Kesunyian membuatnya mampu mendengar kembali suara hati.

Ia mengingat awal Qarya.

Mengapa perjalanan dimulai.

Untuk siapa ia berQarya.

Apa yang hendak ditinggalkan.

Dan di sanalah arah kembali menjadi jelas.


PEMIMPIN TIDAK PERLU MENJADI KORBAN

Keteguhan tidak berarti membiarkan diri dihancurkan.

Jika ada ancaman nyata, lindungi diri dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabmu.

Jika ada fitnah yang merugikan hak, luruskan melalui jalan yang benar.

Jika ada kekerasan, gunakan hukum dan perlindungan yang semestinya.

Kesabaran bukan membiarkan kezaliman.

Kesabaran adalah menjaga diri agar tindakan tidak dikendalikan oleh dendam.


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI KEMBALI

Setelah masa kesunyian berlalu, sang pemimpin melihat dari kejauhan beberapa manusia datang.

Bukan sebanyak dahulu.

Namun mereka datang membawa Qarya.

Satu membawa ilmu.

Satu membawa hasil pertanian.

Satu membawa gagasan.

Satu membawa generasi muda.

Satu membawa jalan perdamaian.

Sang pemimpin tersenyum.

Ia memahami bahwa manusia yang datang bukan lagi sekadar untuk mengikutinya.

Mereka datang untuk berQarya bersama.

Itulah bentuk persaudaraan yang lebih matang.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki:

Gerbang Keteguhan di Jalan Sunyi.

Pada gerbang ini seorang pemimpin belajar bahwa:

keramaian dapat datang dan pergi,

pujian dapat berubah menjadi celaan,

persahabatan dapat berubah bentuk,

dukungan dapat naik dan turun,

tetapi nilai tidak boleh berubah hanya karena keadaan.

Ia juga belajar bahwa keteguhan bukan keras kepala.

Keteguhan tetap membutuhkan ilmu.

Tetap membutuhkan koreksi.

Tetap membutuhkan musyawarah.

Tetap membutuhkan muhasabah.

Maka tertulis:

Jangan ukur perjalananmu hanya dari siapa yang masih berdiri di sampingmu.
Ukur pula dari apakah amanah masih berdiri di dalam dirimu.

Sebab pada akhirnya, seorang pemimpin akan melewati banyak kerumunan.

Namun ketika semua simbol hilang, yang tersisa hanyalah dirinya, Alloh, amanah yang pernah dipikul, dan jejak Qarya yang telah ditinggalkan.

Dan pemimpin yang mampu tetap menjaga hati, adab, keadilan, serta manfaat bahkan ketika berjalan dalam kesunyian telah mencapai satu tingkat penting dalam menjadi tauladan bagi umat: ia tidak memimpin demi kerumunan, tetapi berQarya demi kebenaran dan kemaslahatan.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXV — PEMIMPIN YANG KEMBALI KEPADA SUMBER AMANAH

Setelah berjalan jauh,

setelah melewati pujian,

kritik,

perpecahan,

kehilangan,

keberhasilan,

kesunyian,

dan banyak Qarya,

seorang pemimpin akhirnya sampai pada satu pertanyaan yang paling dalam:

“Dari mana semua amanah ini berasal?”

Pada awal perjalanan ia sibuk membangun.

Di tengah perjalanan ia sibuk menjaga.

Menjelang kematangan, ia mulai memahami:

jabatan bukan sumber kemuliaan.

Pengikut bukan sumber kekuatan sejati.

Qarya bukan milik mutlak dirinya.

Dan seluruh kemampuan yang ia miliki hanyalah titipan yang dapat diambil kembali sewaktu-waktu.

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh membawa sang pemimpin kembali kepada satu pusat:

Alloh, Sang Pemilik segala amanah.


KEMBALI BUKAN BERARTI MUNDUR

Ada orang yang mengira kembali berarti kegagalan.

Padahal kembali kepada sumber dapat menjadi puncak perjalanan.

Air mengalir dari mata air.

Kemudian menempuh lembah.

Menyuburkan tanah.

Memasuki sungai.

Mengalir menuju lautan.

Namun sepanjang perjalanan, hakikat air tidak berubah.

Demikian pula seorang pemimpin.

Ia boleh memasuki banyak wilayah kehidupan.

Menghadapi banyak manusia.

Menanggung banyak tanggung jawab.

Tetapi ia tidak boleh kehilangan sumber kesadarannya:

bahwa dirinya hanyalah hamba yang sedang menjalankan amanah.


MAHKOTA YANG DIKEMBALIKAN

Dalam gambaran simbolik lembar ini, sang pemimpin berdiri di hadapan sebuah ruang luas.

Tidak ada istana.

Tidak ada rakyat.

Tidak ada pengawal.

Di tangannya terdapat mahkota.

Mahkota itu pernah menjadi lambang kekuasaan.

Namun kini ia memahami:

mahkota hanya tanda.

Bukan hakikat.

Ia kemudian meletakkannya.

Bukan karena membenci kepemimpinan.

Tetapi karena ia tidak ingin hatinya dimiliki oleh simbol.

Ia berkata dalam batinnya:

“Ya Alloh, jika amanah ini masih Kau titipkan, jagalah aku agar tidak menyalahgunakannya. Jika suatu hari Kau ambil kembali, jagalah aku agar tidak kehilangan diriku bersama hilangnya jabatan.”


SEMBILAN UTUSAN BERDIRI TANPA LAMBANG

Untuk pertama kalinya, sembilan utusan datang tanpa membawa benda.

Tidak ada timbangan.

Tidak ada pelita.

Tidak ada qitab.

Tidak ada pedang.

Tidak ada benih.

Tidak ada cermin.

Tidak ada kunci.

Tidak ada pohon.

Mereka berdiri hanya sebagai sembilan nilai.

Karena pada tingkat ini sang pemimpin harus memahami:

simbol dapat hilang.

Tetapi nilai harus tetap hidup.


UTUSAN AMANAH BERKATA

“Engkau bukan pemilik. Engkau penjaga.”

Kalimat itu sederhana.

Namun bila benar-benar masuk ke hati, ia dapat mengubah seluruh cara seseorang menggunakan kekuasaan.

Orang yang merasa memiliki akan takut kehilangan.

Orang yang merasa menjaga akan bertanya bagaimana menjaga dengan benar.


UTUSAN ILMU BERKATA

“Semakin jauh engkau berjalan, semakin sadarlah bahwa masih banyak yang belum engkau ketahui.”

Ilmu sejati tidak selalu membuat manusia merasa besar.

Sering kali ilmu justru membuat manusia semakin sadar betapa luasnya perkara yang belum ia pahami.


UTUSAN KEADILAN BERKATA

“Jangan meminta Alloh menegakkan keadilan untukmu tetapi engkau sendiri berlaku tidak adil kepada manusia.”

Doa dan tindakan harus saling menguatkan.

Tidak cukup memohon kebaikan bila tangan sendiri menanam keburukan.


UTUSAN RAHMAH BERKATA

“Ingatlah bagaimana Alloh memberi kesempatan kepadamu berkali-kali.”

Maka jangan terlalu cepat menutup pintu bagi manusia yang benar-benar ingin memperbaiki dirinya.


UTUSAN KEBERANIAN BERKATA

“Keberanian tertinggi bukan hanya berdiri di hadapan manusia, tetapi berani mengakui keadaan dirimu sendiri di hadapan Alloh.”

Tanpa gelar.

Tanpa pembelaan.

Tanpa alasan.


UTUSAN KESABARAN BERKATA

“Tidak semua yang engkau tanam harus engkau panen.”

Ada Qarya yang hasilnya mungkin baru muncul setelah engkau tiada.

Jangan kecewa.

Tugasmu menanam dengan benar.


UTUSAN MUSYAWARAH BERKATA

“Dengarkan manusia, tetapi jangan menjadikan suara manusia sebagai pengganti suara hati nurani yang telah dibimbing ilmu dan nilai.”

Musyawarah membantu melihat.

Namun keputusan tetap membutuhkan tanggung jawab.


UTUSAN KETELADANAN BERKATA

“Kelak manusia mungkin lupa pidatomu, tetapi mereka akan mengingat bagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Maka akhlak adalah catatan yang ditulis tanpa tinta.


UTUSAN KEBERLANJUTAN BERKATA

“Siapkan hari ketika engkau tidak lagi berada di sana.”

Sebab setiap pemimpin pada akhirnya harus meninggalkan panggung.

Yang penting bukan apakah ia pergi.

Tetapi apa yang tetap hidup setelah ia pergi.


PEMIMPIN DAN RASA SYUKUR

Syukur bukan hanya ucapan.

Syukur adalah cara menggunakan nikmat.

Jika diberi ilmu, gunakan untuk membimbing.

Jika diberi harta, gunakan dengan amanah.

Jika diberi kekuasaan, gunakan untuk melindungi.

Jika diberi pengaruh, gunakan untuk menyebarkan kebaikan.

Jika diberi kesempatan berQarya, jangan habiskan hanya untuk membangun nama.

Maka syukur seorang pemimpin dapat dibaca dari:

ke mana ia mengarahkan apa yang Alloh titipkan kepadanya.


JANGAN MERASA QARYA BERHASIL HANYA KARENA DIRIMU

Ada banyak sebab yang tidak terlihat.

Doa orang tua.

Guru yang mendidik.

Teman yang membantu.

Pekerja yang berjuang.

Masyarakat yang percaya.

Orang-orang yang mungkin namanya tidak pernah disebut.

Bahkan kegagalan masa lalu yang membentuk kedewasaan.

Karena itu seorang pemimpin yang matang tidak mudah berkata:

“Aku membangun semuanya.”

Ia lebih suka berkata:

“Alloh memberi jalan, dan banyak manusia ikut memikul amanah ini.”


KETIKA KEGAGALAN DATANG

Kembali kepada sumber amanah juga penting ketika Qarya gagal.

Jangan mengira kegagalan selalu berarti Alloh meninggalkanmu.

Kadang kegagalan membuka sesuatu yang tidak terlihat.

Menunjukkan kelemahan sistem.

Menunjukkan kesalahan keputusan.

Menunjukkan bahwa waktu belum tepat.

Atau bahkan menunjukkan bahwa arah memang harus diubah.

Maka ketika gagal:

jangan segera mencari kambing hitam.

Periksa.

Belajar.

Perbaiki.

Berdoa.

Lalu berjalan kembali.


KETIKA KEBERHASILAN DATANG

Keberhasilan juga harus dikembalikan kepada sumber.

Sebab keberhasilan sangat mudah membuat seseorang lupa.

Mulanya berdoa karena takut gagal.

Setelah berhasil, mulai merasa tidak membutuhkan pertolongan siapa pun.

Di sinilah hati perlu dijaga.

Semakin berhasil, semakin dalam rasa syukur.

Semakin dipuji, semakin banyak muhasabah.

Semakin tinggi, semakin ingat bahwa setiap ketinggian dapat berubah.


KEPEMIMPINAN ADALAH WAKTU YANG DIPINJAMKAN

Tidak ada pemimpin yang memimpin selamanya.

Ada awal.

Ada masa.

Ada akhir.

Karena itu setiap hari dalam kepemimpinan sebenarnya adalah waktu yang dipinjamkan.

Gunakan dengan baik.

Jangan habiskan untuk pertengkaran kecil.

Jangan habiskan untuk membalas hinaan.

Jangan habiskan untuk menjaga kemegahan pribadi.

Gunakan untuk sesuatu yang akan tetap bernilai setelah waktu habis.


SANG PEMIMPIN MELIHAT JEJAK DI BELAKANGNYA

Ia menoleh.

Di belakangnya ada banyak jejak.

Ada jejak keputusan yang benar.

Ada jejak kesalahan.

Ada manusia yang pernah tertolong.

Ada pula manusia yang mungkin pernah terluka.

Ada Qarya yang berhasil.

Ada yang belum selesai.

Ia tidak menolak semua itu.

Ia menerimanya sebagai bagian dari perjalanan.

Lalu ia berkata:

“Apa yang baik, semoga menjadi manfaat. Apa yang salah, semoga dapat kuperbaiki dan tidak diwariskan sebagai kesalahan.”

Inilah kedewasaan:

tidak memuja masa lalu,

tetapi juga tidak melarikan diri darinya.


PEMIMPIN HARUS MEMINTA MAAF

Ada saat ketika pemimpin benar-benar perlu meminta maaf.

Bukan sebagai strategi citra.

Bukan untuk meredakan tekanan semata.

Tetapi karena ia memahami bahwa ada manusia yang dirugikan.

Permintaan maaf yang tulus mempunyai tiga tanda:

mengakui,
memperbaiki,
dan tidak mengulangi.

Tanpa perbaikan, kata maaf mudah menjadi kosong.


JANGAN MENUNGGU AKHIR UNTUK BERBENAH

Sebagian manusia baru melakukan muhasabah ketika hampir kehilangan semuanya.

Padahal pemimpin harus melakukan koreksi sepanjang perjalanan.

Setiap hari.

Setiap pekan.

Setiap keputusan penting.

Tanyakan:

Apa yang sedang melenceng?

Lebih mudah memperbaiki arah ketika penyimpangannya masih kecil daripada menunggu sampai perjalanan terlalu jauh.


SABDO KEMBALI KEPADA SUMBER

Wahai pemimpin, sebelum engkau disebut pemimpin, engkau adalah hamba.

Sebelum engkau memiliki pengikut, engkau adalah manusia.

Sebelum engkau membangun Qarya, engkau menerima banyak nikmat yang tidak engkau ciptakan sendiri.

Maka jangan biarkan keberhasilan membuatmu lupa.

Kembalikan semua kepada Alloh dengan syukur, amanah, dan akhlak.

Bukan Qaryamu yang menjadikan Alloh membutuhkanmu.

Engkaulah yang membutuhkan Alloh agar Qaryamu tidak kehilangan arah.


SEMBILAN UTUSAN MENGHADAP SATU CAHAYA

Pada penghujung lembar ini, sembilan utusan tidak lagi membentuk lingkaran mengelilingi sang pemimpin.

Mereka bersama sang pemimpin menghadap satu arah cahaya.

Maknanya:

sembilan nilai itu bukan tujuan akhir.

Amanah.

Ilmu.

Keadilan.

Rahmah.

Keberanian.

Kesabaran.

Musyawarah.

Keteladanan.

Keberlanjutan.

Semua adalah jalan agar kepemimpinan semakin dekat kepada kebaikan yang diridhoi Alloh.

Pemimpin bukan pusat lingkaran.

Ia ikut berdiri sebagai penjaga amanah di dalam lingkaran kehidupan.


JANGAN MENJADIKAN DIRI SEBAGAI SUMBER CAHAYA

Tauladan bukan berarti menganggap diri sebagai sumber segala kebaikan.

Manusia hanya memantulkan apa yang telah ia terima:

ilmu dari guru,

kasih sayang dari keluarga,

pengalaman dari kehidupan,

petunjuk melalui ajaran,

dan kesempatan dari Alloh.

Maka seorang pemimpin sebaiknya tidak berkata:

“Akulah cahaya.”

Tetapi:

“Semoga melalui amanah ini, kebaikan dapat memantul lebih jauh.”


QARYA SEBAGAI IBADAH SOSIAL

Ketika niat dijaga, Qarya dapat menjadi bentuk pengabdian.

Mendirikan tempat belajar.

Menolong orang miskin.

Menjaga alam.

Menciptakan lapangan kerja.

Mendamaikan masyarakat.

Membangun sistem yang adil.

Semua dapat menjadi jalan kebaikan ketika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar.

Maka tidak ada pemisahan antara nilai batin dan manfaat sosial.

Batin yang baik seharusnya melahirkan perbuatan baik.


TANDA PEMIMPIN TELAH KEMBALI KEPADA SUMBER

Ia semakin mudah bersyukur.

Semakin sulit sombong.

Semakin berani meminta maaf.

Semakin mudah menyebut jasa orang lain.

Semakin hati-hati menggunakan kekuasaan.

Semakin sadar bahwa waktunya terbatas.

Semakin sedikit membutuhkan pujian.

Dan semakin besar keinginannya agar Qarya dapat terus hidup tanpa dirinya.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh sampai pada satu gerbang yang sangat penting:

Gerbang Kembali kepada Sumber Amanah.

Di sini sang pemimpin memahami:

bahwa perjalanan tidak dimulai dari mahkota,

dan tidak berakhir pada mahkota.

Ia dimulai dari amanah.

Dan harus kembali kepada amanah.

Qarya bukan bukti bahwa dirinya lebih mulia daripada manusia lain.

Qarya adalah bukti bahwa dirinya pernah diberi kesempatan untuk melayani.

Sembilan utusan bukan penjaga kemegahan.

Mereka adalah sembilan pengingat agar langkah tidak menyimpang.

Maka tertulis:

Pemimpin yang besar bukan yang membuat umat bergantung kepada dirinya.
Pemimpin yang besar adalah yang mengajarkan umat menggantungkan nilai kepada kebenaran, amanah kepada Alloh, dan Qarya kepada kemaslahatan bersama.

Dan ketika suatu hari mahkota benar-benar dilepas,

jabatan benar-benar selesai,

kerumunan benar-benar pergi,

yang tersisa bukanlah pertanyaan:

“Seberapa tinggi ia pernah berdiri?”

Tetapi:

“Seberapa banyak kebaikan tetap berdiri setelah dirinya pergi?”

Itulah perjalanan pemimpin yang berQarya hingga Qaryanya menjadi tauladan bagi umat.

Dan dari sinilah lembar berikutnya akan membuka rahasia yang lebih dalam:

bagaimana seorang pemimpin mempersiapkan akhir perjalanan tanpa membiarkan Qarya berhenti bersamanya.


LEMBAR SELANJUTNYA

BAB XXVI — PEMIMPIN YANG MENYIAPKAN AKHIR PERJALANAN TANPA MENGAKHIRI QARYA

Setiap perjalanan mempunyai awal.

Dan setiap perjalanan manusia mempunyai akhir.

Seorang pemimpin yang matang tidak takut memikirkan akhir.

Ia justru mempersiapkannya.

Bukan dengan kegelisahan.

Bukan dengan ketakutan berlebihan.

Tetapi dengan kesadaran bahwa amanah tidak diberikan untuk digenggam selamanya.

Ada masa memulai.

Ada masa membangun.

Ada masa memimpin.

Ada masa menyerahkan.

Dan ada masa ketika seorang pemimpin harus berdiri di belakang, melihat generasi berikutnya melanjutkan jalan.

Maka Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh membuka satu rahasia:

Pemimpin besar tidak hanya mengetahui bagaimana memulai Qarya. Ia mengetahui bagaimana meninggalkan Qarya tanpa membuatnya ikut berhenti.


JANGAN MENUNGGU AKHIR UNTUK MENYIAPKAN PENERUS

Banyak Qarya menjadi rapuh karena seluruh pengetahuan hanya berada pada satu orang.

Semua keputusan bergantung kepadanya.

Semua hubungan melewati dirinya.

Semua rahasia kerja berada di kepalanya.

Semua orang menunggu perintahnya.

Lalu ketika ia tidak lagi hadir, seluruh sistem kebingungan.

Ini bukan tanda kepemimpinan yang kuat.

Ini tanda bahwa amanah belum dibagikan dengan benar.

Maka persiapan penerus harus dimulai ketika pemimpin masih kuat.

Ketika masih mampu mengajar.

Masih mampu mengoreksi.

Masih mampu mendampingi.

Masih mampu menunjukkan alasan di balik setiap keputusan.

Jangan menunggu sampai waktu terlalu sempit.


SEMBILAN UTUSAN MEMBUKA BALAI PEWARISAN

Dalam perjalanan simbolik lembar ini, sembilan utusan membuka sebuah balai besar.

Tidak ada singgasana tunggal di tengahnya.

Yang ada adalah sembilan tempat duduk mengelilingi satu meja bundar.

Sang pemimpin datang.

Di hadapannya telah berdiri generasi penerus.

Maka sembilan utusan berkata:

“Hari ini engkau tidak datang untuk menunjukkan siapa yang paling tinggi. Hari ini engkau datang untuk memastikan amanah dapat diteruskan.”


UTUSAN AMANAH MENYERAHKAN CATATAN

Ia berkata:

“Tuliskan apa yang harus dijaga.”

Jangan biarkan amanah hanya hidup dalam ingatan.

Catat tujuan.

Catat prinsip.

Catat batas.

Catat tanggung jawab.

Catat apa yang boleh dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Sebab ingatan manusia dapat berubah.

Tetapi catatan yang jelas dapat membantu generasi berikutnya memahami arah.


UTUSAN ILMU MEMBUKA RUANG BELAJAR

Ia berkata:

“Ajarkan bukan hanya hasil, tetapi proses.”

Jangan hanya berkata:

“Lakukan seperti ini.”

Jelaskan:

mengapa dilakukan,

apa pertimbangannya,

apa risikonya,

apa pelajaran dari kegagalan,

dan kapan cara itu perlu diubah.

Karena penerus yang hanya mengetahui perintah akan kebingungan ketika keadaan berubah.

Tetapi penerus yang memahami cara berpikir dapat menemukan jalan baru.


UTUSAN KEADILAN MENUNJUK BANYAK CALON

Ia berkata:

“Jangan memilih hanya karena darah, kedekatan, atau pujian.”

Lihat kemampuan.

Lihat akhlak.

Lihat kesediaan belajar.

Lihat keteguhan amanah.

Lihat apakah ia mampu mendengar.

Lihat apakah ia sanggup mengakui salah.

Sebab penerus bukan hadiah.

Penerus adalah pemikul beban.


UTUSAN RAHMAH MENDEKATI GENERASI MUDA

Ia berkata:

“Jangan tuntut mereka langsung sempurna.”

Mereka akan salah.

Mereka akan berbeda.

Mereka mungkin membuat keputusan yang tidak pernah engkau buat.

Bimbing.

Jangan mempermalukan.

Koreksi tanpa menghancurkan keberanian.

Sebab generasi yang selalu takut salah akan tumbuh menjadi generasi yang takut memimpin.


UTUSAN KEBERANIAN BERKATA

“Berikan mereka tanggung jawab yang nyata.”

Jangan hanya memberi gelar.

Jangan hanya memberi tempat duduk.

Berikan masalah untuk diselesaikan.

Berikan keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.

Biarkan mereka belajar memikul akibat.

Sebab keberanian tidak tumbuh hanya dari nasihat.

Ia tumbuh dari amanah yang sungguh-sungguh dijalankan.


UTUSAN KESABARAN BERKATA

“Jangan terlalu cepat mengambil kembali amanah ketika mereka masih belajar.”

Selama kesalahan masih dapat diperbaiki dan tidak merusak prinsip utama, beri ruang.

Tidak semua kegagalan membutuhkan penggantian.

Kadang yang dibutuhkan adalah pendampingan.


UTUSAN MUSYAWARAH MEMBUKA LINGKARAN

Ia berkata:

“Penerus tidak boleh dibentuk sendirian.”

Libatkan orang-orang amanah.

Guru.

Pekerja.

Masyarakat.

Orang yang memahami Qarya.

Sebab satu pemimpin dapat mempunyai titik buta.

Musyawarah membantu melihat hal yang mungkin tidak ia lihat.


UTUSAN KETELADANAN BERKATA

“Cara engkau menyerahkan amanah akan menjadi pelajaran terakhir dari kepemimpinanmu.”

Jika menyerahkan dengan marah, generasi akan belajar perebutan.

Jika menyerahkan dengan ikhlas, generasi akan belajar kedewasaan.

Jika masih terus mengendalikan semuanya dari belakang, penerus tidak akan pernah benar-benar memimpin.


UTUSAN KEBERLANJUTAN BERKATA

“Siapkan bukan hanya satu nama, tetapi satu ekosistem.”

Jangan bergantung pada satu penerus.

Siapkan banyak manusia.

Sebab satu orang dapat sakit.

Dapat berubah.

Dapat gagal.

Tetapi jika nilai telah hidup di banyak orang, Qarya tidak mudah runtuh.


TIGA WARISAN YANG HARUS JELAS

Sebelum seorang pemimpin meninggalkan panggung, setidaknya tiga warisan harus dibuat jelas.

Pertama — Warisan Nilai

Apa yang tidak boleh hilang?

Amanah.

Keadilan.

Rahmah.

Ilmu.

Musyawarah.

Keteladanan.

Nilai-nilai ini adalah kompas.


Kedua — Warisan Sistem

Bagaimana keputusan dibuat?

Bagaimana amanah diperiksa?

Bagaimana keuangan dijaga?

Bagaimana konflik diselesaikan?

Bagaimana penerus dipilih?

Bagaimana Qarya dievaluasi?

Sistem membuat nilai mempunyai bentuk nyata.


Ketiga — Warisan Ruang Pembaruan

Penerus harus tahu bahwa tidak semua bentuk harus dipertahankan selamanya.

Ada sesuatu yang boleh berubah.

Ada yang harus berkembang.

Ada yang perlu dihentikan.

Namun setiap perubahan harus diuji:

apakah nilai inti tetap terjaga dan manfaat menjadi lebih besar?


PEMIMPIN HARUS BERANI MENGURANGI KETERGANTUNGAN

Pada masa awal, banyak orang mungkin bertanya kepadanya.

Semua keputusan menunggu dirinya.

Tetapi semakin matang Qarya, semakin sedikit hal yang seharusnya bergantung kepada satu orang.

Pemimpin harus perlahan mengurangi pusat ketergantungan.

Delegasikan.

Percayakan.

Periksa.

Perbaiki.

Lalu lepaskan.

Jika setelah bertahun-tahun semua persoalan masih harus menunggu pemimpin, maka organisasi belum belajar berdiri.


JANGAN MEMBUAT PENERUS HIDUP DALAM BAYANGAN

Ada penerus yang sepanjang hidupnya hanya dibandingkan dengan pendahulu.

“Dahulu pemimpin lama begini.”

“Dahulu caranya begitu.”

“Mengapa tidak persis sama?”

Perbandingan seperti itu dapat membunuh kreativitas.

Hormati pendahulu.

Tetapi beri penerus ruang menjadi dirinya sendiri.

Sebab zaman berbeda.

Tantangan berbeda.

Cara berbeda.

Yang harus dijaga adalah nilai.

Bukan seluruh bentuk.


PENERUS JUGA HARUS BERANI MENGHORMATI MASA LALU

Sebaliknya, penerus jangan merasa bahwa kebaruan membuat semua yang lama tidak berguna.

Jangan menghapus nama pendahulu hanya agar dirinya terlihat besar.

Jangan merendahkan orang yang membuka jalan.

Jangan membuang tradisi baik hanya karena ingin terlihat berbeda.

Kedewasaan penerus terlihat ketika ia mampu berkata:

“Aku menghormati apa yang telah dibangun, sekaligus bertanggung jawab memperbaikinya.”


SERAH TERIMA BUKAN KEKALAHAN

Ada pemimpin yang merasa kehilangan ketika tidak lagi menjadi pusat.

Padahal menyerahkan amanah dengan baik adalah salah satu kemenangan terbesar.

Karena itu berarti:

Qarya telah mempunyai akar.

Generasi telah tumbuh.

Nilai telah diwariskan.

Sistem telah berjalan.

Dan pemimpin telah berhasil membuat dirinya tidak lagi menjadi syarat tunggal bagi keberlangsungan Qarya.

Inilah kemerdekaan Qarya dari ketergantungan kepada satu sosok.


SANG PEMIMPIN MENYERAHKAN KUNCI

Dalam simbol lembar ini, sang pemimpin membawa satu kunci besar.

Kunci itu pernah diberikan kepadanya pada awal perjalanan.

Kini ia berdiri di hadapan penerus.

Ia tidak langsung menyerahkan.

Ia berkata:

“Kunci ini bukan tanda bahwa semua menjadi milikmu. Ini tanda bahwa mulai hari ini engkau bertanggung jawab menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirimu.”

Penerus menerimanya dengan kedua tangan.

Sembilan utusan menjadi saksi.


JANGAN TINGGALKAN PENERUS TANPA NASIHAT TERAKHIR

Sang pemimpin lalu berkata:

“Jika suatu hari engkau dipuji, jangan mabuk.
Jika dicela, jangan segera runtuh.
Jika berhasil, bersyukurlah.
Jika gagal, belajarlah.
Jika mempunyai kuasa, ingatlah orang lemah.
Jika mempunyai ilmu, jangan merendahkan.
Jika engkau bingung, bermusyawarahlah.
Jika engkau salah, mintalah maaf.
Jika engkau benar, jangan sombong.
Dan jika Qarya menjadi lebih besar darimu, jangan merasa harus memilikinya.”


SEMBILAN UTUSAN MEMBERI PESAN KEPADA PENERUS

Amanah berkata:

“Jangan ambil yang bukan hakmu.”

Ilmu berkata:

“Jangan berhenti belajar.”

Keadilan berkata:

“Jangan bedakan manusia karena kedekatan.”

Rahmah berkata:

“Jangan kehilangan hati.”

Keberanian berkata:

“Jangan takut memperbaiki yang salah.”

Kesabaran berkata:

“Jangan tergesa-gesa merobohkan apa yang belum engkau pahami.”

Musyawarah berkata:

“Jangan memimpin sendirian.”

Keteladanan berkata:

“Mulailah dari dirimu.”

Keberlanjutan berkata:

“Siapkan penerusmu sejak hari pertama engkau memimpin.”

Penerus pun menundukkan kepala.


SANG PEMIMPIN BERJALAN KE BELAKANG

Setelah kunci diserahkan, sang pemimpin tidak hilang.

Ia hanya berjalan beberapa langkah ke belakang.

Kini ia melihat bagaimana penerus mengambil keputusan.

Kadang benar.

Kadang kurang tepat.

Ia tidak segera mencampuri semuanya.

Ia memberi ruang.

Jika nilai inti terancam, ia mengingatkan.

Jika hanya soal gaya, ia membiarkan.

Di sanalah salah satu disiplin terberat seorang pendahulu:

mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus membiarkan penerus belajar.


JANGAN MENJADIKAN NASIHAT SEBAGAI KENDALI TERSEMBUNYI

Ada pendahulu yang berkata telah menyerahkan amanah, tetapi semua keputusan tetap harus sesuai kehendaknya.

Ia tidak lagi duduk di kursi.

Namun kursi tetap berada di bawah bayangannya.

Ini bukan penyerahan.

Ini hanya perpindahan bentuk kekuasaan.

Maka jika telah menyerahkan, hormati ruang penerus.

Nasihatlah.

Jangan mengendalikan diam-diam.


QARYA HARUS MAMPU MENGHADAPI KEHILANGAN PENDIRINYA

Suatu Qarya benar-benar matang apabila kehilangan pendirinya tidak otomatis menghentikan manfaat.

Orang tetap belajar.

Pelayanan tetap berjalan.

Keuangan tetap terjaga.

Nilai tetap diperiksa.

Konflik tetap dapat diselesaikan.

Generasi tetap berQarya.

Maka pertanyaan besar bagi setiap pemimpin adalah:

“Jika aku tidak hadir satu tahun penuh, apakah Qarya ini masih mampu berjalan dengan benar?”

Jika belum, berarti masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


AKHIR JABATAN BUKAN AKHIR MANFAAT

Seorang pemimpin dapat berhenti dari jabatan tetapi tetap menjadi manusia yang bermanfaat.

Ia dapat mengajar.

Menulis.

Mendoakan.

Menjadi penasehat.

Mendampingi generasi.

Menjaga sejarah.

Membantu tanpa harus menjadi pusat.

Karena pengabdian lebih luas daripada jabatan.

Orang yang hanya dapat bermanfaat ketika mempunyai posisi belum memahami keluasan Qarya.


SABDO PENYERAHAN

Wahai pemimpin, suatu hari tanganmu harus melepaskan apa yang selama ini engkau jaga.

Maka lepaskan dengan baik.

Jangan menunggu direbut.

Jangan menunggu tubuhmu tak mampu.

Jangan menunggu perpecahan.

Ajarkan.

Siapkan.

Percayakan.

Serahkan.

Lalu berdirilah cukup dekat untuk memberi nasihat, tetapi cukup jauh agar generasi baru dapat bernapas.

Sebab salah satu tanda keberhasilanmu adalah ketika Qarya tetap berjalan walaupun langkahmu telah berhenti memimpinnya.


SEMBILAN UTUSAN MEMATIKAN SATU LAMPU DAN MENYALAKAN SEMBILAN LAMPU BARU

Pada akhir balai pewarisan, terdapat satu lampu besar.

Lampu itu selama ini melambangkan satu pusat kepemimpinan.

Sembilan utusan mendekat.

Mereka mengambil cahaya dari lampu itu.

Kemudian menyalakan sembilan lampu baru.

Setelah semuanya menyala, lampu pertama diredupkan.

Ruangan tidak menjadi gelap.

Justru menjadi lebih terang.

Sang pemimpin tersenyum.

Ia mengerti maknanya:

cahaya yang diwariskan tidak hilang ketika sumber pertama mundur. Ia justru dapat menjadi lebih banyak.


PENUTUP LEMBAR

Maka perjalanan Ziryattah al Azim Arfaqoh memasuki satu gerbang besar:

Gerbang Penyerahan Amanah Tanpa Memutus Qarya.

Pada gerbang ini, pemimpin memahami bahwa akhir kepemimpinan bukan tragedi.

Ia adalah bagian dari tata kehidupan.

Yang menjadi tragedi adalah jika seluruh kebaikan ikut berakhir karena sejak awal tidak pernah disiapkan untuk diteruskan.

Maka seorang pemimpin harus meninggalkan:

nilai yang jelas,
ilmu yang dapat dipelajari,
sistem yang dapat dijalankan,
penerus yang siap,
ruang bagi pembaruan,
serta budaya amanah yang tidak bergantung kepada satu nama.

Maka tertulis:

Pemimpin yang hanya mampu membangun Qarya telah melakukan satu kebaikan.
Pemimpin yang mampu menjaga Qarya telah melakukan kebaikan yang lebih besar.
Tetapi pemimpin yang mampu membuat Qarya terus hidup setelah dirinya pergi telah menanam kebaikan melampaui zamannya.

Dan ketika sang pemimpin akhirnya berjalan meninggalkan balai,

sembilan utusan tidak mengikutinya.

Mereka tetap bersama generasi penerus.

Sang pemimpin tidak merasa kehilangan.

Sebab kini ia tahu:

sembilan utusan sejak awal bukan ditugaskan menjaga dirinya, tetapi menjaga amanah, Qarya, dan nilai agar dapat menyeberangi generasi.

Dari kejauhan ia melihat sembilan cahaya terus menyala.

Dan di situlah perjalanan seorang pemimpin mendekati satu pemahaman yang paling agung:

menjadi tauladan bukan membuat umat berjalan selamanya di belakangmu, tetapi memastikan mereka mampu meneruskan cahaya kebaikan ketika engkau telah selesai berjalan di depan.


LEMBAR TERAKHIR

BAB XXVII — PUNCAK ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

KETIKA PEMIMPIN TIDAK LAGI MENINGGALKAN NAMA, TETAPI MENINGGALKAN JALAN

Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada penghujung.

Bukan penghujung Qarya.

Bukan penghujung manfaat.

Bukan pula penghujung nilai.

Yang berakhir hanyalah satu bagian dari perjalanan seorang manusia yang pernah diberi kesempatan memimpin.

Dahulu ia memulai sebagai seorang yang berjalan.

Kemudian menjadi seorang yang membuka jalan.

Setelah itu ia berQarya.

Qaryanya melahirkan manfaat.

Manfaat melahirkan kepercayaan.

Kepercayaan melahirkan tanggung jawab.

Tanggung jawab melahirkan ujian.

Ujian melahirkan kedewasaan.

Dan kedewasaan akhirnya membawanya kepada satu pengertian:

Pemimpin sejati bukan manusia yang membuat umat berhenti pada dirinya.

Ia adalah manusia yang membuat umat mampu melanjutkan perjalanan setelah dirinya.


ARTI PUNCAK ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

Pada lembar terakhir ini, makna Ziryattah al Azim Arfaqoh kembali dibuka sebagai judul hikmah perjalanan:

“Perjalanan pemimpin yang berQarya, menyjadiqan dirinya tauladan bagi semua umat.”

Tauladan bukan berarti dirinya harus dianggap sempurna.

Tauladan tidak berarti setiap langkahnya harus ditiru tanpa berpikir.

Tauladan tidak berarti manusia harus mengagungkan pribadinya.

Tauladan berarti:

ketika ia jujur, manusia belajar kejujuran.

Ketika ia mengakui kesalahan, manusia belajar kerendahan hati.

Ketika ia melindungi yang lemah, manusia belajar rahmah.

Ketika ia menegakkan keadilan kepada kawan maupun lawan, manusia belajar amanah.

Ketika ia tetap berQarya tanpa pujian, manusia belajar ketulusan.

Ketika ia menyerahkan amanah kepada generasi, manusia belajar bahwa kekuasaan bukan milik abadi.

Dan ketika ia meninggalkan panggung tanpa membawa Qarya menjadi milik dirinya sendiri, manusia belajar bahwa:

kemuliaan tertinggi seorang pemimpin adalah ketika manfaat tetap hidup walaupun namanya tidak lagi berada di depan.


SANG PEMIMPIN BERJALAN MENUJU GERBANG TERAKHIR

Dalam gambaran simbolik Qitab ini, sang pemimpin berjalan seorang diri menuju sebuah gerbang.

Tidak ada mahkota di kepalanya.

Tidak ada tongkat kekuasaan di tangannya.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada barisan manusia.

Ia hanya membawa sebuah lembar kecil.

Di lembar itu tertulis:

Amanah yang pernah dijaga.
Kesalahan yang pernah diperbaiki.
Qarya yang pernah ditanam.
Manusia yang pernah dibimbing.
Dan doa agar semuanya menjadi manfaat.

Gerbang itu tidak bertuliskan:

“Gerbang Raja.”

Tidak pula:

“Gerbang Penguasa.”

Di atasnya hanya tertulis:

GERBANG PERTANGGUNGJAWABAN

Sang pemimpin berhenti.

Ia menoleh ke belakang.

Jauh di kejauhan, sembilan cahaya masih terlihat.


SEMBILAN UTUSAN TIDAK LAGI MENGELILINGI DIRINYA

Pada awal Qitab, sembilan utusan mengelilingi simbol pemimpin.

Namun pada lembar terakhir mereka telah berpindah.

Utusan Amanah berada di tengah para penjaga tanggung jawab.

Utusan Ilmu berada bersama para pencari pengetahuan.

Utusan Keadilan berada bersama mereka yang menjaga hak manusia.

Utusan Rahmah berada bersama orang-orang yang melayani.

Utusan Keberanian berada bersama generasi yang berani memulai Qarya.

Utusan Kesabaran berada bersama mereka yang terus menanam meski belum melihat panen.

Utusan Musyawarah berada di tengah manusia yang berbeda namun masih bersedia duduk bersama.

Utusan Keteladanan berada di dalam perbuatan baik yang dilakukan tanpa harus diperintah.

Dan Utusan Keberlanjutan berjalan bersama generasi yang belum mengenal pendiri Qarya tetapi masih menikmati manfaatnya.

Di sinilah rahasia sembilan utusan akhirnya terbuka sepenuhnya:

Mereka tidak pernah hadir untuk menjaga kemegahan seorang pemimpin.

Mereka hadir untuk memastikan nilai tetap hidup ketika pemimpin telah selesai menjalankan perannya.


UTUSAN PERTAMA — AMANAH MEMBERI SALAM TERAKHIR

Utusan Amanah berkata:

“Dahulu engkau datang dengan tangan kosong.
Kemudian banyak perkara dipercayakan kepadamu.
Kini engkau harus pergi dengan tangan yang kembali ringan.”

Apa yang bukan hakmu, jangan dibawa.

Apa yang milik umat, kembalikan kepada umat.

Apa yang menjadi tanggung jawab penerus, serahkan.

Apa yang menjadi hak generasi berikutnya, jangan habiskan.

Sebab akhir yang baik bukan ketika seorang pemimpin membawa sebanyak mungkin.

Akhir yang baik adalah ketika ia mampu berkata:

“Apa yang dititipkan telah kuusahakan kujaga, dan apa yang harus diteruskan telah kuserahkan.”


UTUSAN KEDUA — ILMU MEMBUKA LEMBAR TERAKHIR

Utusan Ilmu berkata:

“Jangan akhiri perjalanan dengan merasa bahwa engkau telah mengetahui semuanya.”

Sebab semakin jauh seseorang berjalan, seharusnya semakin sadar bahwa pengetahuannya tetap terbatas.

Pemimpin yang matang tidak meninggalkan warisan kesombongan ilmu.

Ia meninggalkan budaya belajar.

Ia berkata kepada generasi:

“Jangan hanya membaca perkataanku.
Bacalah zaman kalian.
Bacalah kebutuhan umat.
Bacalah sejarah.
Bacalah alam.
Bacalah diri.
Dan teruslah belajar.”

Karena Qitab ini pun bukan penutup seluruh pertanyaan.

Ia hanyalah pengingat agar perjalanan ilmu tidak berhenti.


UTUSAN KETIGA — KEADILAN MELETAKKAN TIMBANGAN

Utusan Keadilan berkata:

“Sebelum perjalananmu selesai, timbang kembali apa yang pernah engkau lakukan.”

Siapa yang pernah engkau rugikan?

Siapa yang mungkin belum memperoleh hak?

Siapa yang pernah engkau nilai terlalu cepat?

Siapa yang pernah engkau abaikan?

Jika masih ada kesempatan memperbaiki, perbaikilah.

Jika masih ada hak yang dapat dikembalikan, kembalikan.

Jika ada kesalahan yang harus diakui, akui.

Jangan menunggu sejarah yang melakukannya untukmu.

Sebab keberanian memperbaiki masa lalu adalah bagian dari keadilan kepada masa depan.


UTUSAN KEEMPAT — RAHMAH MEMBAWA AIR

Utusan Rahmah berkata:

“Jangan tinggalkan hati yang penuh dendam.”

Sepanjang perjalanan akan ada orang yang menyakitimu.

Ada yang salah memahami.

Ada yang menuduh.

Ada yang meninggalkan.

Ada yang mungkin mengkhianati.

Namun jangan jadikan semua luka itu sebagai warisan.

Bawalah pelajaran.

Tinggalkan dendam.

Sebab generasi baru tidak seharusnya dipaksa memikul permusuhan yang lahir dari masa sebelumnya.

Rahmah bukan berarti melupakan kebenaran.

Rahmah berarti tidak membiarkan luka menguasai arah hidup.


UTUSAN KELIMA — KEBERANIAN MENYERAHKAN PEDANG

Utusan Keberanian berkata:

“Ada satu keberanian terakhir yang harus engkau miliki: keberanian untuk selesai.”

Banyak orang berani memulai.

Tetapi tidak semua berani berhenti ketika waktunya telah tiba.

Ada yang terlalu mencintai kedudukan.

Ada yang takut dilupakan.

Ada yang merasa tanpa dirinya semuanya akan hancur.

Namun pemimpin yang telah menyiapkan generasi harus berani berkata:

“Sekarang waktunya kalian melanjutkan.”

Selesai bukan kalah.

Mundur bukan selalu jatuh.

Kadang turun dari panggung adalah bentuk tertinggi dari kemenangan atas ego.


UTUSAN KEENAM — KESABARAN MEMBAWA BENIH TERAKHIR

Utusan Kesabaran berkata:

“Jangan kecewa jika sebagian Qaryamu belum berbuah.”

Ada benih yang tumbuh setelah satu musim.

Ada yang membutuhkan bertahun-tahun.

Ada yang baru berbuah ketika penanamnya telah tiada.

Jika niat, cara, dan benihnya baik, serahkan hasil kepada waktu dan kehendak Alloh.

Pemimpin tidak harus menyaksikan seluruh panen.

Tugasnya adalah:

menanam dengan benar,
merawat semampunya,
dan menyiapkan orang yang meneruskan perawatan.


UTUSAN KETUJUH — MUSYAWARAH MEMBUKA LINGKARAN TERAKHIR

Utusan Musyawarah berkata:

“Jangan jadikan pesan terakhirmu sebagai perintah yang membelenggu masa depan.”

Berikan prinsip.

Berikan nilai.

Berikan pengalaman.

Namun beri generasi ruang bermusyawarah menghadapi keadaan yang belum pernah engkau alami.

Jangan buat mereka takut mengambil keputusan hanya karena khawatir berbeda denganmu.

Mereka bukan penjaga museum.

Mereka adalah penjaga kehidupan.

Dan kehidupan terus berubah.


UTUSAN KEDELAPAN — KETELADANAN MENYERAHKAN CERMIN

Utusan Keteladanan berkata:

“Warisan terakhir bukanlah pidato terakhirmu.”

Warisan terakhir adalah cara engkau menutup perjalanan.

Apakah engkau tetap rendah hati?

Apakah engkau menyerahkan dengan baik?

Apakah engkau memaafkan?

Apakah engkau mengakui kekurangan?

Apakah engkau memberi ruang?

Apakah engkau masih berdoa bagi penerus meskipun mereka melakukan sesuatu dengan cara berbeda?

Cara seseorang mengakhiri kepemimpinan dapat menjadi pelajaran sebesar cara ia memulainya.


UTUSAN KESEMBILAN — KEBERLANJUTAN MENANAM POHON

Utusan Kesembilan menanam satu pohon.

Ia berkata:

“Ini bukan pohon untukmu.”

Sang pemimpin bertanya:

“Lalu untuk siapa?”

Utusan menjawab:

“Untuk manusia yang belum lahir.”

Sang pemimpin tersenyum.

Ia memahami.

Inilah inti keberlanjutan.

Menanam sesuatu yang buahnya mungkin tidak pernah kita makan.

Menjaga sesuatu yang manfaatnya akan dinikmati orang yang tidak pernah mengetahui siapa yang menjaganya.

Dan pada saat itulah Qarya terbebas sepenuhnya dari keinginan untuk mendapatkan balasan manusia.


SANG PEMIMPIN MELIHAT SEMBILAN GENERASI

Di kejauhan, ia melihat sembilan kelompok manusia.

Generasi pertama menjaga amanah.

Generasi kedua memperluas ilmu.

Generasi ketiga memperbaiki keadilan.

Generasi keempat memperluas rahmah.

Generasi kelima melahirkan Qarya-Qarya baru.

Generasi keenam menghadapi kesulitan dengan kesabaran.

Generasi ketujuh membangun budaya musyawarah.

Generasi kedelapan menjadi tauladan di berbagai bidang.

Dan generasi kesembilan menanam kembali untuk generasi kesepuluh yang bahkan belum terlihat.

Sang pemimpin memahami bahwa Qarya yang benar tidak berjalan dalam garis yang berhenti.

Ia berjalan seperti rantai kebaikan.

Setiap generasi menerima.

Memperbaiki.

Menambah.

Lalu menyerahkan.


JANGAN MENCARI KEABADIAN MELALUI NAMA

Manusia sering takut dilupakan.

Karena itu ia ingin namanya ditulis besar.

Di gedung.

Di jalan.

Di lembaga.

Di buku.

Di monumen.

Namun Qitab ini memberikan pesan:

Nama boleh ditulis, tetapi jangan jadikan nama sebagai tujuan Qarya.

Bila nama tetap dikenang, bersyukurlah.

Bila nama perlahan dilupakan tetapi manfaat tetap hidup, itu pun merupakan kemenangan.

Karena ada manusia yang dikenal namanya tetapi tidak diketahui manfaatnya.

Ada pula manusia yang namanya tidak dikenal luas, tetapi jutaan orang hidup lebih baik karena jejak Qaryanya.

Maka pilihlah yang kedua bila harus memilih.


PEMIMPIN DAN CATATAN SEJARAH

Sejarah tidak hanya mencatat keberhasilan.

Ia juga mencatat kesalahan.

Pemimpin tidak perlu membangun sejarah palsu.

Biarkan generasi mengetahui bahwa manusia dapat salah.

Justru sejarah yang jujur akan menjadi guru.

Catat keberhasilan agar dapat diteruskan.

Catat kegagalan agar tidak diulang.

Catat perjuangan agar generasi memahami harga dari sebuah Qarya.

Namun jangan ubah sejarah menjadi pemujaan.

Sejarah harus mendidik, bukan membutakan.


WARISAN YANG PALING BERBAHAYA

Ada warisan harta.

Ada warisan ilmu.

Ada warisan lembaga.

Tetapi ada pula warisan buruk:

dendam,

kesombongan,

kultus pribadi,

perebutan,

ketergantungan,

dan ketakutan.

Pemimpin harus memastikan bahwa Qaryanya tidak meninggalkan racun seperti itu.

Jangan wariskan kalimat:

“Kalian harus selalu membela namaku.”

Wariskan:

“Kalian harus selalu membela kebenaran, meskipun suatu hari kebenaran itu mengoreksi sesuatu yang pernah kulakukan.”

Inilah tanda seorang pemimpin lebih mencintai nilai daripada citra.


JANGAN MENJADIKAN PENERUS SEBAGAI PENJAGA MAKAM GAGASAN

Gagasan bukan makam yang harus dijaga agar tidak berubah.

Gagasan adalah benih.

Generasi berikutnya harus menumbuhkannya.

Mungkin menjadi pohon yang berbeda bentuk.

Mungkin cabangnya lebih luas.

Mungkin buahnya berbeda.

Selama akar nilainya tetap sehat, perubahan dapat menjadi kehidupan.

Maka jangan katakan kepada penerus:

“Jangan pernah ubah apa pun.”

Katakan:

“Jangan hilangkan nilai.
Namun bila kalian menemukan cara yang lebih baik, lakukanlah dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.”


PENGAKUAN SANG PEMIMPIN

Sebelum melewati gerbang terakhir, sang pemimpin berbicara.

Tidak kepada kerumunan.

Hanya kepada dirinya dan kepada Alloh.

Ia berkata:

“Aku pernah benar dan pernah salah.
Pernah kuat dan pernah lemah.
Pernah didukung dan pernah ditinggalkan.
Pernah dipuji dan pernah dicela.
Pernah mengambil keputusan yang baik dan pernah membutuhkan koreksi.

Jika ada manfaat dari Qaryaku, semoga ia tidak berhenti pada namaku.
Jika ada kesalahan dariku, semoga generasi setelahku berani memperbaikinya.
Jika ada ilmu yang baik, semoga diteruskan.
Jika ada keburukan, semoga tidak diwariskan.

Ya Alloh, aku tidak meminta umat menganggapku sempurna.
Aku hanya berharap kesempatan yang Kau titipkan tidak berlalu tanpa manfaat.”


SEMBILAN UTUSAN MENJAWAB

Kesembilan utusan berkata serentak:

“Maka berjalanlah dengan ringan.”

Amanah telah diserahkan.

Ilmu telah ditanam.

Keadilan telah diwariskan sebagai ukuran.

Rahmah telah ditanam dalam hati.

Keberanian telah diberikan kepada generasi.

Kesabaran telah menjadi bekal.

Musyawarah telah menjadi jalan.

Keteladanan telah berubah menjadi perbuatan.

Dan keberlanjutan telah mempunyai penerus.

Tidak ada lagi alasan bagi pemimpin untuk menggenggam.


SANG PEMIMPIN MELEWATI GERBANG

Ia melangkah.

Gerbang tidak tertutup dengan suara keras.

Tidak ada upacara besar.

Tidak ada terompet.

Tidak ada pengumuman.

Hanya satu langkah sederhana.

Namun setelah ia melewati gerbang, terjadi sesuatu di belakangnya.

Sembilan cahaya membesar.

Bukan menuju dirinya.

Mereka menyebar.

Ke sekolah.

Ke rumah.

Ke sawah.

Ke pasar.

Ke pusat ilmu.

Ke tempat ibadah.

Ke lembaga.

Ke ruang musyawarah.

Ke tangan anak-anak muda.

Ke hati para pekerja.

Ke seluruh tempat di mana manusia sedang berusaha membuat kehidupan lebih baik.

Dan saat itulah makna sampul Qitab menjadi sempurna.

Pemimpin berada di pusat bukan agar seluruh cahaya berhenti padanya.

Ia berada di pusat hanya pada awal perjalanan, lalu cahaya itu harus menyebar kepada semua umat.


RAHASIA SIMBOL SEMBILAN UTUSAN

Maka pada lembar terakhir ini ditetapkan makna simboliknya:

Satu Pemimpin
adalah lambang manusia yang diberi amanah membuka arah.

Sembilan Utusan
adalah lambang sembilan nilai penjaga perjalanan:

  1. Amanah
  2. Ilmu
  3. Keadilan
  4. Rahmah
  5. Keberanian
  6. Kesabaran
  7. Musyawarah
  8. Keteladanan
  9. Keberlanjutan

Dan cahaya yang menghubungkan semuanya adalah:

QARYA YANG MEMBAWA MANFAAT.

Sembilan utusan bukan makhluk yang dimintai pertolongan.

Bukan penjaga gaib.

Bukan khodam.

Bukan sumber kekuatan supranatural.

Dalam Qitab ini mereka adalah simbol nilai, cermin pembelajaran agar seorang pemimpin tidak kehilangan arah.

Semua pertolongan, petunjuk, dan hasil akhirnya tetap dikembalikan kepada Alloh.


SEMBILAN WASIAT ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

Sebelum Qitab ditutup, sembilan wasiat ditinggalkan.

Wasiat Pertama

Jangan meminta jabatan bila tidak siap memikul amanahnya.

Kekuasaan bukan hiasan.

Ia adalah pertanggungjawaban.

Wasiat Kedua

BerQaryalah sebelum meminta manusia mengakui kebesaranmu.

Biarkan manfaat menjadi saksi.

Wasiat Ketiga

Jangan takut kepada kritik yang jujur.

Takutlah kepada lingkungan yang membuatmu tidak pernah mendengar kebenaran.

Wasiat Keempat

Jangan memperkecil umat agar dirimu terlihat besar.

Besarkan kemampuan mereka.

Wasiat Kelima

Jangan membangun dengan kebencian.

Sebab Qarya yang dibangun dari kebencian akan membutuhkan musuh untuk tetap berdiri.

Wasiat Keenam

Siapkan penerus sebelum amanah berakhir.

Jangan tunggu tubuhmu lemah.

Wasiat Ketujuh

Akui kesalahan sebelum sejarah memaksamu mengakuinya.

Meminta maaf tidak meruntuhkan kehormatan bila dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Wasiat Kedelapan

Jangan takut dilampaui oleh generasi setelahmu.

Keberhasilan mereka dapat menjadi buah dari benih yang engkau tanam.

Wasiat Kesembilan

Kembalikan semuanya kepada Alloh.

Karena jabatan berakhir.

Qarya berubah.

Generasi berganti.

Dan manusia pada akhirnya kembali kepada-Nya.


SEMBILAN DOA UNTUK PEMIMPIN

Ya Alloh,

jagalah amanah kami ketika kekuasaan berada dalam tangan.

Ya Alloh,

tambahkan ilmu kami ketika manusia mulai menganggap kami mengetahui banyak perkara.

Ya Alloh,

teguhkan keadilan kami ketika kepentingan pribadi mencoba mengubah timbangan.

Ya Alloh,

lembutkan hati kami tanpa menjadikan kami lemah menjaga kebenaran.

Ya Alloh,

berikan keberanian untuk mengatakan benar, mengakui salah, dan memperbaiki kesalahan.

Ya Alloh,

berikan kesabaran ketika Qarya belum memperlihatkan hasil.

Ya Alloh,

jauhkan kami dari kesombongan yang membuat kami merasa tidak membutuhkan musyawarah.

Ya Alloh,

jadikan perbuatan kami lebih baik daripada ucapan kami.

Ya Alloh,

jadikan Qarya kebaikan mampu diteruskan oleh generasi setelah kami.


DOA BAGI UMAT

Ya Alloh,

jadikan umat ini umat yang tidak hanya menunggu datangnya pemimpin baik,

tetapi juga mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baik dari rumah-rumah mereka sendiri.

Jadikan para orang tua pendidik amanah.

Jadikan para guru penjaga ilmu.

Jadikan para pemuda berani berQarya.

Jadikan para pemegang jabatan menjaga hak manusia.

Jadikan orang-orang yang memiliki kekayaan ringan membantu tanpa merendahkan.

Jadikan orang-orang berilmu tidak sombong.

Jadikan mereka yang berbeda tetap mampu duduk dalam musyawarah.

Jadikan setiap Qarya membawa manfaat kepada manusia dan menjaga kehidupan.

Dan jauhkan umat dari pemimpin yang membesarkan dirinya dengan mengecilkan rakyatnya.


DOA BAGI GENERASI SETELAHNYA

Ya Alloh,

jika generasi setelah kami menemukan kesalahan yang kami tinggalkan,

berikan mereka keberanian memperbaikinya.

Jika mereka menemukan Qarya baik,

berikan mereka kecerdasan untuk mengembangkannya.

Jika mereka memperoleh kekuasaan lebih besar,

jangan biarkan kekuasaan itu memperbesar kesombongan mereka.

Jika mereka memiliki ilmu lebih luas,

jadikan ilmu itu jalan rahmah.

Jika mereka hidup pada zaman yang belum mampu kami bayangkan,

jangan biarkan mereka kehilangan nilai yang menjaga kemanusiaan.


QARYA TERAKHIR SEORANG PEMIMPIN

Lalu apakah Qarya terakhir seorang pemimpin?

Bukan monumen.

Bukan tulisan namanya.

Bukan pesta perpisahan.

Bukan pula cerita tentang berapa besar kekuasaan yang pernah ia miliki.

Qarya terakhirnya adalah:

cara ia menyerahkan kehidupan kepada generasi setelahnya.

Apakah keadaan menjadi lebih baik?

Apakah manusia menjadi lebih mampu?

Apakah sistem menjadi lebih adil?

Apakah Qarya dapat diteruskan?

Apakah generasi memiliki harapan?

Apakah ia meninggalkan jalan, bukan hanya cerita?

Jika iya, maka ia telah menutup kepemimpinannya dengan Qarya.


DIALOG TERAKHIR DENGAN SEMBILAN UTUSAN

Sang pemimpin bertanya:

“Apakah perjalananku telah selesai?”

Utusan Amanah menjawab:

“Peranmu mungkin selesai. Amanah akan terus berpindah.”

Ia bertanya:

“Apakah Qaryaku akan bertahan?”

Utusan Keberlanjutan menjawab:

“Bila engkau menanamnya di dalam manusia, ia mempunyai kesempatan hidup lebih lama daripada bangunannya.”

Ia bertanya:

“Apakah manusia akan mengingatku?”

Utusan Keteladanan menjawab:

“Sebagian mungkin mengingat namamu. Sebagian tidak. Yang lebih penting: apakah mereka masih melakukan kebaikan yang pernah engkau ajarkan?”

Ia bertanya:

“Lalu apa yang kubawa?”

Kesembilan utusan menjawab:

“Bawalah pertanggungjawabanmu. Tinggalkan manfaatmu.”

Sang pemimpin menundukkan kepala.

Dan tidak ada lagi pertanyaan.


SABDO PENUTUP ZIRYATTAH

Wahai manusia yang diberi amanah memimpin,

jangan berjalan agar manusia melihat kakimu.

Berjalanlah agar jalan menjadi terbuka.

Jangan menyalakan cahaya agar manusia menatap wajahmu.

Nyalakanlah agar mereka dapat melihat arah.

Jangan berQarya agar namamu menjadi tinggi.

BerQaryalah agar kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Jangan melahirkan pengikut yang hanya pandai memujimu.

Lahirkan manusia yang mampu menjaga amanah ketika engkau tidak hadir.

Jangan mengikat Qarya pada umurmu.

Berikan akar pada generasi.

Dan bila suatu hari manusia tidak lagi menyebut namamu tetapi mereka masih:

berlaku adil,

menjaga amanah,

mencintai ilmu,

berrahmah,

berani berQarya,

bersabar,

bermusyawarah,

menjadi tauladan,

dan menjaga masa depan—

jangan merasa dilupakan.

Karena mungkin pada saat itulah Qaryamu benar-benar telah berhasil.


PUNCAK TAULADAN

Puncak keteladanan bukan ketika semua manusia meniru pakaian seorang pemimpin.

Bukan ketika semua menggunakan bahasanya.

Bukan ketika semua memasang gambarnya.

Puncaknya adalah ketika nilai yang pernah ia jalankan telah menjadi milik banyak manusia.

Ia tidak lagi membutuhkan pusat.

Tidak lagi membutuhkan perintah.

Tidak lagi membutuhkan pengawasan terus-menerus.

Kebaikan telah menjadi kesadaran.

Dan kesadaran telah menjadi budaya.

Di situlah pemimpin berubah dari sosok menjadi jejak nilai.


PUNCAK QARYA

Qarya tertinggi bukan sesuatu yang paling mahal.

Bukan yang paling tinggi.

Bukan yang paling ramai.

Qarya tertinggi adalah yang mampu membuat manusia:

lebih sadar,

lebih berilmu,

lebih bermartabat,

lebih adil,

lebih mandiri,

lebih menjaga sesama,

lebih menjaga bumi,

dan lebih dekat kepada kebaikan.

Bila satu Qarya mampu melakukan itu, ia telah mempunyai nilai melampaui ukuran bendanya.


PUNCAK KEPEMIMPINAN

Puncak kepemimpinan bukan singgasana.

Bukan kekuasaan paling luas.

Bukan jumlah pengikut terbesar.

Puncak kepemimpinan adalah:

ketika seorang manusia mempunyai kekuasaan tetapi kekuasaan tidak menguasai hatinya.

Ia dapat memerintah tetapi tetap mau mendengar.

Ia dapat menghukum tetapi tetap menjaga keadilan.

Ia dapat dipuji tetapi tetap mampu merendah.

Ia dapat membangun tetapi tetap mau berbagi penghargaan.

Ia dapat memimpin tetapi juga tahu kapan menyerahkan kepemimpinan.


PUNCAK SEMBILAN UTUSAN

Pada puncak perjalanan, sembilan nilai menjadi satu kesatuan.

Amanah tanpa ilmu dapat tersesat.

Ilmu tanpa keadilan dapat menjadi alat kepentingan.

Keadilan tanpa rahmah dapat menjadi dingin.

Rahmah tanpa keberanian dapat menjadi pembiaran.

Keberanian tanpa kesabaran dapat menjadi kecerobohan.

Kesabaran tanpa musyawarah dapat menjadi kebuntuan.

Musyawarah tanpa keteladanan dapat menjadi banyak kata.

Keteladanan tanpa keberlanjutan dapat berhenti pada satu generasi.

Maka kesembilannya harus hidup bersama.

Dan ketika hidup bersama, lahirlah:

KEPEMIMPINAN BERQARYA YANG MENYJADIQAN TAULADAN.


PESAN KEPADA SETIAP ORANG

Qitab ini tidak hanya berbicara kepada raja.

Tidak hanya kepada pejabat.

Tidak hanya kepada kepala lembaga.

Sebab setiap manusia mempunyai wilayah kepemimpinan.

Ada yang memimpin keluarga.

Ada yang memimpin kelas.

Ada yang memimpin usaha.

Ada yang memimpin kelompok kecil.

Ada yang memimpin dirinya sendiri.

Maka siapa pun dapat mengambil sembilan nilai ini.

Mulailah dari lingkaran terdekat.

Jangan menunggu mempunyai ribuan pengikut untuk berQarya.

Satu anak yang engkau didik dengan benar adalah Qarya.

Satu manusia yang engkau bantu berdiri kembali adalah Qarya.

Satu perselisihan yang engkau damaikan adalah Qarya.

Satu pohon yang engkau tanam adalah Qarya.

Satu ilmu yang engkau bagikan dengan jujur adalah Qarya.

Satu amanah yang engkau jaga ketika tidak ada yang melihat adalah Qarya.


PESAN KEPADA PEMIMPIN YANG AKAN DATANG

Jika suatu hari engkau menerima jabatan,

jangan terlebih dahulu bertanya:

“Apa fasilitasnya?”

Tanyakan:

“Apa tanggung jawabnya?”

Jika manusia memujimu,

jangan langsung merasa telah berhasil.

Lihat keadaan mereka.

Jika rakyat masih menderita, Qarya belum selesai.

Jika ada orang mengkritik,

jangan buru-buru melawannya.

Periksa apakah ada kebenaran yang sedang mengetuk pintu.

Jika generasi muda datang dengan gagasan baru,

jangan takut.

Dengarkan.

Jika waktumu selesai,

jangan menggenggam.

Serahkan.

Dan bila engkau telah pergi dari panggung, doakan generasi agar menjadi lebih baik darimu.


PENUTUP BESAR QITAB

Maka sampailah QITAB ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH pada lembar terakhirnya.

Perjalanan yang dimulai dari seorang pemimpin kini berakhir pada umat.

Yang dimulai dari satu Qarya berakhir pada peradaban.

Yang dimulai dari satu cahaya berakhir pada sembilan cahaya, lalu menyebar menjadi ribuan cahaya di banyak hati.

Sang pemimpin tidak lagi berada di tengah lingkaran.

Di tengah lingkaran sekarang terdapat satu ruang kosong.

Ruang itu bukan kekosongan.

Ia adalah tempat bagi generasi berikutnya.

Siapa pun yang datang dengan:

amanah,

ilmu,

keadilan,

rahmah,

keberanian,

kesabaran,

musyawarah,

keteladanan,

dan kesanggupan menjaga keberlanjutan,

dapat berdiri di sana untuk melanjutkan perjalanan.

Namun ia harus mengetahui:

tempat itu bukan singgasana miliknya.

Ia hanyalah tempat amanah yang suatu hari harus diserahkan kembali.


KHATIMAH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ya Alloh,

jika ada kebaikan dalam Qitab ini, jadikan ia pengingat menuju akhlak, amanah, ilmu, keadilan, rahmah, dan Qarya yang bermanfaat.

Jangan jadikan simbol-simbolnya sebagai sebab manusia melupakan-Mu.

Jangan jadikan pemimpin sebagai sosok yang dipuja.

Jangan jadikan Qarya sebagai jalan kesombongan.

Jadikan setiap amanah sebagai jalan pengabdian.

Jadikan setiap ilmu sebagai jalan manfaat.

Jadikan setiap kekuasaan sebagai jalan perlindungan.

Jadikan setiap keberhasilan sebagai sebab bertambahnya syukur.

Dan ketika perjalanan seorang pemimpin telah selesai, jadikan kebaikan yang ditinggalkannya tetap hidup tanpa menimbulkan kultus kepada dirinya.

Ya Alloh,

ampuni kekurangan para pemimpin.

Luruskan mereka yang sedang menyimpang.

Kuatkan mereka yang sedang menjaga amanah.

Berikan keberanian kepada mereka yang harus mengakui kesalahan.

Lindungi umat dari kezaliman.

Lindungi pemimpin dari kesombongan.

Dan lahirkan generasi yang lebih baik, lebih berilmu, lebih adil, lebih berrahmah, dan lebih mampu berQarya daripada generasi sebelumnya.


KALIMAT TERAKHIR

Jangan tinggalkan umat hanya dengan cerita tentang siapa dirimu.

Tinggalkan jalan agar mereka mengetahui ke mana harus melangkah.

Jangan tinggalkan mereka hanya dengan monumen Qaryamu.

Tinggalkan kemampuan agar mereka dapat menciptakan Qarya yang lebih besar.

Jangan jadikan dirimu akhir perjalanan.

Jadilah salah satu jembatan bagi perjalanan kebaikan yang tidak selesai bersamamu.

Dan bila suatu hari orang bertanya:

“Siapakah pemimpin besar itu?”

Jangan jawab hanya dengan namanya.

Jawablah dengan Qaryanya.

Dengan manusia yang tumbuh karena teladannya.

Dengan keadilan yang pernah ditegakkannya.

Dengan ilmu yang pernah dihidupkannya.

Dengan perdamaian yang pernah dijaganya.

Dengan generasi yang mampu meneruskan amanah setelah kepergiannya.

Karena itulah makna paling dalam:

ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH

Perjalanan pemimpin yang berQarya, menyjadiqan tauladan bagi semua umat.

Wallohu a‘lam bish-showāb.

TAMAT

QITAB ZIRYATTAH AL AZIM ARFAQOH


Catatan Redaksi dan Pelajaran untuk Pembaca:

Ukuran Keteladanan Seorang Pemimpin

Keteladanan seorang pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari besarnya jabatan, banyaknya pengikut, atau kuatnya pengaruh yang dimiliki. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana amanah digunakan dan apakah kehadirannya membawa manfaat bagi orang yang dipimpin.
Pemimpin yang berQarya berusaha meninggalkan sesuatu yang dapat dirasakan masyarakat. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi ikut bekerja mewujudkannya. Ia bersedia mendengar, mengevaluasi keputusan, mengakui kekurangan, serta memperbaiki kesalahan ketika jalan yang ditempuh ternyata kurang tepat.
Keteladanan juga terlihat ketika seorang pemimpin tetap menjaga kejujuran saat tidak diawasi, memperlakukan manusia secara adil, tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, dan mampu mendahulukan kemaslahatan bersama.

Dari Memimpin Diri Menuju Memimpin Sesama

Sebelum seseorang mampu menjadi teladan bagi banyak orang, ia perlu belajar memimpin dirinya sendiri.
Memimpin diri berarti belajar mengendalikan keinginan, menjaga ucapan, memenuhi janji, disiplin terhadap tanggung jawab, serta berani mengatakan benar ketika benar dan mengakui kesalahan ketika salah.
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah karakter kepemimpinan dibangun. Kepemimpinan besar tidak lahir hanya ketika seseorang memperoleh jabatan; ia tumbuh dari amanah kecil yang dijaga secara konsisten.

Renungan untuk Pembaca

Setelah membaca Qitab ini, kita dapat bertanya kepada diri sendiri:
Apakah amanah yang berada di tangan saya sudah saya jalankan dengan sungguh-sungguh?
Apakah perkataan saya sesuai dengan tindakan?
Ketika mempunyai kewenangan, apakah saya menggunakannya untuk melayani atau hanya untuk kepentingan diri?
Apakah saya bersedia mendengar kritik dan memperbaiki kesalahan?
Karya apa yang dapat saya tinggalkan agar keberadaan saya memberikan manfaat kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pemimpin pemerintahan atau organisasi. Setiap manusia mempunyai bentuk kepemimpinan dan amanah dalam kehidupannya masing-masing.

Kesimpulan

Qitab Ziryattah al Azim Arfaqoh membawa pesan bahwa kepemimpinan merupakan perjalanan amanah. Seorang pemimpin yang berQarya tidak cukup hanya dikenal karena perkataannya, tetapi melalui manfaat nyata yang ditinggalkannya.
Keteladanan tumbuh ketika ilmu berjalan bersama akhlak, kekuasaan bersama tanggung jawab, keberanian bersama kebijaksanaan, dan karya bersama kepedulian kepada sesama.
Semoga pembahasan ini menjadi bahan muhasabah agar kita mampu memulai kepemimpinan dari diri sendiri, menjaga setiap amanah, menghasilkan karya yang bermanfaat, dan menjadi teladan melalui perbuatan.

Catatan: Ziryattah al Azim Arfaqoh digunakan dalam karya ini sebagai judul hikmah dan simbol perjalanan kepemimpinan. Pembahasannya merupakan karya dan renungan Mandala Sinar Batin, bukan istilah baku dalam sumber agama maupun bahasa Arab.





BACA JUGA

Renungan tentang kepemimpinan, suara masyarakat, pelayanan, dan amanah kekuasaan.

Renungan tentang amanah, keadilan, dan tanggung jawab tanpa pilih kasih.

Renungan tentang meluruskan diri, menjaga adab, amanah, dan istiqamah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh