📜 SABDO 939 — HOLZAH BILAFAL ILLAIQA 939
📜 SABDO 939 — HOLZAH BILAFAL ILLAIQA 939
Sinar Sebenar-benarnya Sinar, Qembali qe Nūrullāh, Menyjelma Raḥmatullāh, Menuju Karramallāh, Tertuju Sang Maha Al-Ḥaqq
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sabdo ini dibuka sebagai bahasa ruhani dan perenungan Batin.
✦ Pembukaan SABDO
939 — HOLZAH BILAFAL ILLAIQA — 939
«“Ketika sinar mengenali asal sinarnya, ia tidak lagi mencari dirinya di luar.
Ia qembali kepada Nūrullāh, membawa rahmat di dalam perjalanannya, meninggalkan kemuliaan pada setiap jejaknya, lalu tunduk di hadapan Al-Ḥaqq.”»
Alip berdiri.
Tidak condong ke timur.
Tidak condong ke barat.
Ia menjadi perlambang satu arah kesadaran:
dari Alloh, dengan pertolongan Alloh, dan qembali kepada Alloh.
---
✦ SABDO PERTAMA — HOLZAH
Holzah adalah perlambang terbukanya sinar setelah batin melewati gelapnya ketidaktahuan.
Bukan sinar yang menjadikan manusia lebih tinggi daripada manusia lain.
Bukan sinar yang membuat seseorang merasa telah mengetahui seluruh rahasia.
Tetapi sinar yang membuat hati mampu berkata:
“Aku masih seorang hamba.”
Ketika kesadaran ini hidup, cahaya tidak berubah menjadi kesombongan.
Cahaya berubah menjadi adab.
Semakin terang seseorang memahami dirinya, semakin ia mengenali keterbatasannya.
Dan semakin ia mengenali keterbatasannya, semakin ia membutuhkan Alloh.
Itulah awal Holzah.
---
✦ SABDO KEDUA — BILAFAL
Bilafal adalah sinar yang tidak berhenti menjadi pengetahuan.
Ia harus turun menjadi perbuatan.
Jika cahaya berada di lidah, ia menjadi ucapan yang baik.
Jika cahaya berada di tangan, ia menjadi pertolongan.
Jika cahaya berada di mata, ia menjaga pandangan.
Jika cahaya berada di hati, ia menjadi kasih sayang.
Jika cahaya memasuki rezeki, ia melahirkan keberkahan.
Jika cahaya memasuki kekuasaan, ia melahirkan keadilan.
Sebab sinar yang sebenar-benarnya sinar bukan yang hanya terlihat terang, tetapi yang mampu menerangi kehidupan orang lain tanpa membakar mereka.
---
✦ SABDO KETIGA — ILLAIQA
Illaiqa adalah panggilan qembali.
Setelah seseorang berjalan jauh mencari rahasia langit, ia akhirnya menemukan satu pintu paling dekat:
hatinya sendiri.
Namun hati bukan tujuan akhir.
Hati hanyalah tempat manusia mendengar panggilan untuk qembali kepada Alloh.
Maka jangan berhenti pada pengalaman batin.
Jangan berhenti pada mimpi.
Jangan berhenti pada isyarat.
Jangan berhenti pada nama.
Jangan berhenti pada cahaya.
Sebab segala sesuatu yang tercipta tetaplah makhluk.
Lewatilah seluruh tanda itu hingga kesadaran berkata:
“Yang kucari bukan tanda-Nya. Yang kucari adalah keridaan-Nya.”
---
✦ RAHASIA SINAR SEBENAR-BENARNYA SINAR
Ada cahaya matahari.
Ada cahaya bulan.
Ada cahaya api.
Ada cahaya ilmu.
Ada cahaya akhlak.
Ada cahaya kasih sayang.
Tetapi dalam bahasa SABDO ini, “sinar sebenar-benarnya sinar” bukan benda yang dapat dimiliki.
Ia adalah kesadaran bahwa semua kebaikan berasal dari karunia Alloh.
Maka ketika manusia memperoleh ilmu, jangan berkata:
“Aku telah menjadi cahaya.”
Tetapi katakan:
“Ya Alloh, jadikan ilmu ini jalan agar aku semakin taat kepada-Mu.”
Di situlah cahaya menjadi selamat.
---
✦ QEMBALI QE NŪRULLĀH
Qembali qe Nūrullāh bukan berarti manusia melebur menjadi Alloh.
Hamba tetap hamba.
Alloh tetap Al-Khāliq.
Makna qembali di sini adalah:
qembali kepada petunjuk-Nya, qembali kepada tauhid, qembali kepada fitrah, qembali kepada taubat, qembali kepada kasih sayang, dan qembali kepada jalan yang diridai-Nya.
Ketika amarah menguasai diri:
qembalilah.
Ketika kesombongan tumbuh:
qembalilah.
Ketika dunia membuat hati lupa:
qembalilah.
Ketika seseorang merasa telah mencapai maqam tertinggi:
qembalilah lebih dalam kepada kerendahan hati.
Karena perjalanan menuju Alloh bukan perjalanan menjadi besar.
Ia adalah perjalanan menyadari betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran-Nya.
---
✦ MENYJELMA RAḤMATULLĀH
Inilah ujian setiap perjalanan ruhani.
Apakah setelah seseorang merasa dekat dengan Alloh, ia menjadi semakin lembut?
Apakah keluarganya merasakan kasih sayangnya?
Apakah orang miskin memperoleh manfaat darinya?
Apakah ia semakin mudah memaafkan?
Apakah lisannya semakin terjaga?
Apakah kehadirannya membawa ketenteraman?
Jika jawabannya ya, maka buah perjalanan batinnya mulai tampak sebagai rahmah.
Tetapi bila seseorang semakin merasa paling suci, paling mengetahui, paling tinggi, dan paling berhak menghakimi manusia lain, maka ia perlu memeriksa kembali jalannya.
Karena cahaya yang benar melahirkan kasih.
Raḥmatullāh tidak menjadikan hati keras.
Raḥmatullāh menjadikan hati luas.
---
✦ MENUJU KARRAMALLĀH
Kemuliaan bukan mahkota.
Kemuliaan bukan gelar.
Kemuliaan bukan banyaknya orang yang mengikuti.
Kemuliaan adalah ketika Alloh menjaga manusia melalui ketakwaannya.
Karramallāh dalam SABDO ini adalah perjalanan menuju kemuliaan akhlak:
mulia ketika memiliki kekuasaan,
mulia ketika tidak memiliki apa-apa,
mulia saat dipuji,
mulia saat dicela,
mulia ketika memperoleh rezeki,
dan tetap mulia ketika diuji.
Karena kemuliaan sejati tidak dibangun dari pandangan manusia.
Ia tumbuh dari hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
---
✦ TERTUJU SANG MAHA AL-ḤAQQ
Di penghujung perjalanan, semua nama menjadi sunyi.
Semua simbol menjadi sunyi.
Semua pengalaman menjadi sunyi.
Yang tersisa hanyalah pengakuan:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ
Kebenaran berasal dari Tuhanmu.
Maka seorang pencari tidak menjadikan dirinya sebagai pusat.
Ia tidak mengatakan:
“Aku adalah tujuan.”
Ia berkata:
“Alloh adalah tujuan penghambaan, dan keridaan-Nya adalah yang kucari.”
Di hadapan Al-Ḥaqq, ego harus mengecil.
Keakuan harus tunduk.
Kesombongan harus gugur.
Dan cinta harus berubah menjadi pengabdian.
---
✦ SABDO PENUTUP 939
939 — HOLZAH BILAFAL ILLAIQA — 939
Sinar datang bukan agar engkau dipandang.
Sinar datang agar engkau mampu melihat jalan.
Jalan terbuka bukan agar engkau merasa sampai.
Jalan terbuka agar engkau semakin sadar betapa panjang perjalanan seorang hamba.
Bila engkau menemukan cahaya, qembalikan kepada Alloh.
Bila engkau menemukan ilmu, jadikan ia manfaat.
Bila engkau menemukan kemuliaan, bungkus dengan tawaduk.
Bila engkau memperoleh kekuatan, gunakan untuk melindungi.
Bila engkau memperoleh rezeki, jadikan sebagian sebagai rahmat bagi sesama.
Dan bila seluruh pintu telah terbuka, jangan berkata:
“Aku telah sampai.”
Katakanlah:
“Yā Alloh, tuntunlah aku agar tetap berada di jalan-Mu sampai akhir hayat.”
939
HOLZAH — sinar mengenali asal.
BILAFAL — sinar menjadi amal.
ILLAIQA — sinar qembali kepada arah penghambaan kepada Alloh.
Dari sinar menuju rahmat.
Dari rahmat menuju kemuliaan.
Dari kemuliaan menuju ketundukan.
Dan seluruh ketundukan tertuju kepada Sang Maha Al-Ḥaqq.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.