SABDO ALLOH HU HIL HIZABBI’AH
SABDO ALLOH HU HIL HIZABBI’AH
Sadarnya Seluruh Mahluq ketika Turun Sinar Maha Agung Qebenaran
Catatan adab: Lafaz SABDO ALLOH HU HIL HIZABBI’AH di sini diperlakukan sebagai judul hikmah dan bahasa simbolik ruhani, bukan ayat Al-Qur’an, bukan hadis, dan bukan wahyu baru.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Lembar Pertama — Turunnya Sinar Penyadaran
Ketika seluruh suara dunia menjadi riuh,
manusia mengira qebenaran harus datang dengan gelegar,
dengan kekuasaan, kemenangan, dan tanda-tanda yang menakjubkan.
Padahal Sinar Maha Agung tidak selalu turun
dalam bentuk yang dapat dilihat oleh mata.
Terkadang ia turun sebagai rasa malu
setelah seseorang menyakiti sesamanya.
Terkadang ia turun sebagai air mata
ketika hati menyadari jauhnya perjalanan dari Alloh.
Terkadang ia turun sebagai keberanian
untuk mengakui kesalahan, meminta maaf,
dan mengembalikan sesuatu yang bukan haknya.
Itulah awal kesadaran seluruh mahluq:
bukan ketika langit terbelah di hadapan mata,
melainkan ketika kesombongan terbelah di dalam dada.
Makna Sabdo
ALLOH
adalah nama yang mengembalikan seluruh kesadaran
kepada Sang Pencipta, Pemilik segala cahaya dan kehidupan.
HU
adalah isyarat kepada Dia Yang Mahahadir,
namun tidak dapat diserupakan dengan bentuk, rupa,
tempat, arah, maupun bayangan makhluk.
HIL HIZABBI’AH
dalam sabdo ini menjadi lambang terbukanya hijab-hijab batin:
hijab kesombongan, kebencian, ketamakan, ketakutan,
pengakuan palsu, dan keinginan menguasai manusia lain.
Maka keseluruhan sabdo ini membawa pesan:
Ketika Alloh membukakan cahaya kesadaran,
tabir kebatilan dalam diri mulai runtuh,
sehingga mahluq mengenali kelemahannya
dan kembali tunduk kepada qebenaran.
Sabdo Pertama — Cahaya Tidak Menjadikanmu Lebih Tinggi
Wahai manusia,
jangan mengaku menerima cahaya
apabila setelahnya engkau semakin merendahkan orang lain.
Sebab cahaya yang sejati
tidak membesarkan keakuan.
Ia justru memperlihatkan
betapa kecilnya diri di hadapan Alloh.
Barang siapa mengaku membawa cahaya,
namun lisannya melukai,
tangannya menzalimi,
dan hatinya haus penghormatan,
sesungguhnya ia masih terbungkus bayangan dirinya sendiri.
Cahaya tidak berkata:
“Aku lebih suci daripada kalian.”
Cahaya berbisik:
“Aku pun seorang hamba yang masih harus dibersihkan.”
Sabdo Kedua — Turunnya Qebenaran
Qebenaran turun ke dalam hati
bukan untuk menciptakan pertengkaran,
melainkan untuk memisahkan yang jernih dari yang keruh.
Ketika qebenaran datang:
yang sombong merasa terusik,
yang tulus merasa ditenangkan,
yang berdusta merasa takut,
dan yang terluka mulai berani melihat dirinya.
Namun janganlah setiap kegelisahan
langsung disebut sebagai tanda gaib.
Periksalah dahulu:
apakah tubuh sedang kelelahan,
apakah pikiran sedang terbebani,
apakah hati sedang terluka,
atau ada masalah yang belum diselesaikan.
Sebab menjaga akal, kesehatan, dan kejernihan
adalah bagian dari amanah Alloh.
Sabdo Ketiga — Sadarnya Seluruh Mahluq
Sadarnya mahluq bukan berarti
seluruh manusia harus mempunyai pengalaman yang sama.
Ada yang sadar melalui ibadah.
Ada yang sadar melalui kehilangan.
Ada yang sadar melalui sakit.
Ada yang sadar setelah memaafkan.
Ada pula yang sadar
setelah kehidupan meruntuhkan seluruh kebanggaannya.
Jangan mencela jalan kesadaran orang lain,
selama ia tidak meninggalkan syariat,
tidak merugikan sesama,
dan tidak mengangkat dirinya sebagai penguasa jiwa manusia.
Kesadaran yang benar akan melahirkan:
kelembutan tanpa kelemahan,
ketegasan tanpa kekejaman,
ilmu tanpa kesombongan,
dan cinta tanpa penguasaan.
Sabdo Keempat — Pancuran Sinar Maha Agung
Sinar Maha Agung tidak dapat dimiliki.
Ia bukan mahkota dunia.
Bukan gelar keturunan.
Bukan pula alat untuk meminta orang lain bersujud.
Ia adalah karunia petunjuk
yang menuntut tanggung jawab lebih besar.
Semakin seseorang merasakan cahaya,
semakin ia wajib menjaga lisannya.
Semakin luas pengetahuannya,
semakin ia wajib melindungi yang lemah.
Semakin tinggi kedudukannya,
semakin rendah ia menundukkan keakuannya.
Sebab pemimpin cahaya
bukan orang yang paling banyak dilayani,
melainkan yang paling siap melayani.
Sabdo Kelima — Hijab Terakhir
Hijab terakhir bukan selalu dunia.
Hijab terakhir terkadang adalah
perasaan telah sampai kepada Alloh.
Manusia merasa dirinya terpilih,
merasa seluruh tanda ditujukan kepadanya,
lalu perlahan berhenti menerima nasihat.
Di situlah cahaya bercampur dengan bayangan.
Maka janganlah berkata:
“Aku telah sampai.”
Katakanlah:
“Aku masih berjalan,
semoga Alloh tidak membiarkanku tersesat oleh diriku sendiri.”
Jangan berkata:
“Aku telah mengetahui seluruh rahasia.”
Katakanlah:
“Ilmuku sedikit,
sedangkan ilmu Alloh meliputi segala sesuatu.”
Amanah Sabdo
Barang siapa membaca sabdo ini,
hendaklah ia menguji dirinya melalui lima pertanyaan:
Apakah kehadiranku membuat orang lain merasa aman?
Apakah ilmuku membuatku semakin rendah hati?
Apakah ibadahku melahirkan akhlak yang lebih baik?
Apakah aku berani mengakui kesalahan?
Apakah aku tetap menerima nasihat ketika merasa benar?
Apabila jawabannya belum sempurna,
jangan berputus asa.
Sebab kesadaran bukan pintu
yang dibuka hanya sekali.
Ia adalah pintu yang harus diketuk
setiap hari melalui taubat, ibadah, kejujuran,
belajar, bekerja, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Dzikir Penjernih Kesadaran
Dibaca perlahan setelah sholat atau menjelang tidur:
يَا نُورُ — Yā Nūr — 33×
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Cahaya.
يَا هَادِي — Yā Hādī — 33×
Wahai Alloh Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا حَقُّ — Yā Ḥaqq — 33×
Wahai Alloh Yang Mahabenar.
Kemudian berdoa:
Yā Alloh, terangilah hatiku dengan petunjuk-Mu.
Bukakan hijab kesombongan, kebencian, dan kebodohanku.
Jangan jadikan pengalaman batinku sebagai sebab aku merasa lebih tinggi.
Jadikan cahaya yang Engkau karuniakan sebagai akhlak, amanah,
pertolongan bagi sesama, dan jalan kembali menuju ridho-Mu. Āmīn.
Penutup Lembar Pertama
Ketika Sinar Maha Agung turun,
yang pertama kali diterangi bukan singgasana,
melainkan ruang paling tersembunyi di dalam dada.
Di sanalah manusia melihat:
mana cinta dan mana keinginan memiliki,
mana petunjuk dan mana bisikan keakuan,
mana pengabdian dan mana pencarian pujian.
Apabila ia berani membersihkan semuanya,
maka sabdo itu hidup di dalam perilakunya:
diamnya menjadi kedamaian,
ucapannya menjadi penjernihan,
tangannya menjadi pertolongan,
dan langkahnya menjadi jalan pulang kepada Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.