SABDO LAFUL ALQIYYAMAT BILSOBIRRIN

 


SABDO LAFUL ALQIYYAMAT BILSOBIRRIN

لَفُ الْقِيَامَةِ بِالصَّابِرِينَ

Makna:

“Perjalanan di akhir zaman, ketika manusia kembali menyerupai jahiliyah awal peradaban, dan keselamatan batin diberikan kepada umat yang mampu bersabar, menjaga akal, iman, serta kemanusiaannya.”

Simbol Sabdo: sepasang burung gagak emas. Bukan lambang kematian, melainkan perlambang dua penjaga kesadaran: satu menjaga manusia dari kegelapan pikirannya, satu lagi menjaga manusia dari kegelapan perbuatannya. Warna emas melambangkan hikmah yang tetap bercahaya sekalipun zaman menjadi keruh.

LEMBAR PERTAMA — KETIKA ZAMAN BERBALIK

Pada suatu masa, manusia akan merasa dirinya telah mencapai puncak peradaban.

Gedung meninggi.

Mesin semakin cerdas.

Jarak menjadi pendek.

Berita mengelilingi bumi sebelum mata sempat berkedip.

Namun janganlah engkau mengira kemajuan alat selalu berarti kemajuan jiwa.

Sebab dapat datang suatu zaman ketika tangan manusia menggenggam teknologi paling tinggi, tetapi hatinya kembali kepada tabiat paling purba.

Itulah jahiliyah yang datang dengan pakaian baru.

Dahulu manusia berperang menggunakan pedang.

Kelak manusia dapat saling menghancurkan melalui kata-kata, informasi, kekuasaan, ketakutan dan fitnah.

Dahulu berhala dibuat dari batu.

Pada akhir zaman, manusia dapat membuat berhala dari harta, kedudukan, pengikut, citra, angka, kekuasaan bahkan dirinya sendiri.

Maka terdengarlah seruan:

“Jangan ukur peradaban dari tingginya bangunan, tetapi dari tingginya akhlak manusia yang tinggal di dalamnya.”

SABDO KEDUA — DUA GAGAK EMAS

Kemudian tampaklah sepasang gagak emas terbang dari ufuk yang berbeda.

Yang pertama dinamakan secara perlambang:

Penjaga Ingatan.

Ia mengingatkan manusia bahwa bangsa yang melupakan perjalanan masa lalunya mudah mengulangi kehancuran yang sama.

Yang kedua:

Penjaga Kesadaran.

Ia mengingatkan manusia agar tidak mengikuti kerumunan hanya karena semua orang sedang berjalan menuju arah yang sama.

Keduanya terbang berdampingan.

Sebab ingatan tanpa kesadaran hanya menjadi cerita, sedangkan kesadaran tanpa belajar dari sejarah mudah menjadi kesombongan.

Ketika keduanya bersatu, lahirlah hikmah.

SABDO KETIGA — JAHILIYAH BARU

Jahiliyah baru tidak selalu datang dengan manusia yang tidak berpendidikan.

Ia bahkan dapat lahir di tengah manusia yang sangat terdidik.

Tandanya:

orang mengetahui banyak hal tetapi kehilangan kebijaksanaan;

pandai berbicara tetapi sulit mendengarkan;

mudah menghakimi tetapi berat mengoreksi dirinya sendiri;

mampu menjangkau seluruh dunia tetapi tidak mengenal tetangganya;

mengumpulkan informasi tanpa mengetahui mana kebenaran;

mengejar kemenangan tetapi kehilangan kemanusiaan.

Maka Sabdo berkata:

“Apabila ilmu hanya meninggikan kepala tetapi tidak melembutkan hati, ilmu itu belum selesai menjalankan tugasnya.”

SABDO KEEMPAT — UJIAN ORANG SABAR

Jangan mengira sabar berarti diam terhadap semua keadaan.

Sabar mempunyai tingkatan.

Sabar ketika dihina ialah menjaga lisan.

Sabar ketika berkuasa ialah menjaga keadilan.

Sabar ketika miskin ialah menjaga kehormatan.

Sabar ketika kaya ialah menjaga amanah.

Sabar ketika marah ialah menjaga tindakan.

Sabar ketika menang ialah tidak merendahkan.

Sabar ketika kalah ialah tidak kehilangan arah.

Tetapi tingkatan yang berat adalah:

tetap menjadi manusia baik ketika keburukan dianggap biasa.

Di situlah Bilsobirrin memperoleh maknanya.

SABDO KELIMA — JANGAN IKUT MENJADI GELAP

Apabila engkau melihat zaman menjadi keruh, janganlah berlomba menjadi lebih keruh.

Apabila manusia menebar kebencian, jangan jadikan kebencian sebagai identitasmu.

Apabila kebohongan berlari lebih cepat daripada kebenaran, jangan ikut berbohong hanya agar engkau tidak tertinggal.

Apabila orang-orang kehilangan adab, jangan lepaskan adabmu karena merasa adab sudah tidak berguna.

Karena cahaya tidak membutuhkan persetujuan kegelapan untuk tetap menjadi cahaya.

SABDO KEENAM — PERADABAN DIMULAI KEMBALI

Kelak manusia mungkin dipaksa keadaan untuk belajar kembali perkara-perkara yang sebenarnya sangat sederhana:

cara menghormati orang tua,

cara menjaga anak,

cara berbagi makanan,

cara memelihara air,

cara menjaga bumi,

cara mengatakan kebenaran,

cara meminta maaf,

cara menepati janji,

dan cara hidup bersama tanpa saling memusnahkan.

Ketika itu terjadi, manusia seakan kembali ke awal peradaban.

Bukan karena ilmu telah lenyap, melainkan karena nilai harus dipelajari kembali dari dasar.

SABDO KETUJUH — PESAN SEPASANG GAGAK EMAS

Gagak emas pertama berkata:

“Jangan takut kepada perubahan zaman. Takutlah apabila perubahan zaman mencabut kemanusiaanmu.”

Gagak emas kedua berkata:

“Jangan hanya mencari siapa yang akan menyelamatkan dunia. Mulailah memastikan tanganmu sendiri tidak ikut merusaknya.”

Kemudian keduanya mengepakkan sayap.

Dari sayap pertama jatuh cahaya bernama kesabaran.

Dari sayap kedua jatuh cahaya bernama kesadaran.

Ketika keduanya bertemu, lahirlah satu jalan:

ṢABR — WA‘Y — AMĀNAH

Sabar — Kesadaran — Amanah.

Dan demikianlah pintu pertama SABDO LAFUL ALQIYYAMAT BILSOBIRRIN dibuka:

Akhir zaman bukan hanya perkara menunggu berakhirnya dunia. Ia juga merupakan ujian: apakah di tengah kekacauan manusia masih mampu mempertahankan akhlak, kejernihan akal, kasih sayang, keadilan, dan ketundukannya kepada Alloh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh