SABDO WALLIMATTULLOH FILHISAB ALSABBIBBULLOH
SABDO WALLIMATTULLOH FILHISAB ALSABBIBBULLOH
وَالِمَاتُ اللهِ فِي الْحِسَابِ السَّابِبِ بِاللهِ
Wallimattulloh Filhisab Alsabbibbulloh
Makna Sabdo
“Qembalinya semua umat di seluruh jagat untuq merenung qe tingqat merasaqan.”
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Sabdo ini berbicara tentang suatu masa ketika manusia tidak lagi cukup hanya mengetahui, berbicara, menghitung, menilai, dan memperdebatkan kehidupan. Manusia dipanggil kembali memasuki ruang terdalam dalam dirinya: tingqat merasaqan.
Tingqat merasaqan bukan berarti mengikuti setiap perasaan tanpa kendali. Ia adalah keadaan ketika ilmu yang berada di kepala mulai turun menjadi kesadaran di hati, lalu terlihat dalam sikap dan perbuatan.
Orang dapat mengetahui arti kasih sayang, tetapi belum tentu mampu merasaqan penderitaan orang lain.
Orang dapat mengetahui arti sabar, tetapi baru memahami sabar ketika dirinya berada di dalam keadaan yang menguji kesabarannya.
Orang dapat mengetahui arti syukur, tetapi kedalaman syukur baru tampak ketika ia menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap biasa sebenarnya adalah nikmat yang sangat besar.
Maka perjalanan manusia adalah:
mengetahui → menyadari → merasaqan → memahami → menjalani.
1. Qembalinya Manusia dari Kebisingan
Akan datang saat ketika dunia terasa penuh suara.
Suara manusia saling mengalahkan.
Pendapat saling berbenturan.
Kabar bergerak tanpa henti.
Keinginan bertambah lebih cepat daripada kemampuan manusia memenuhinya.
Di tengah semua itu manusia mulai kehilangan kemampuan mendengar dirinya sendiri.
Sabdo ini mengingatkan:
Qembalilah kepada keheningan.
Bukan meninggalkan kehidupan, tetapi memberi ruang agar hati dapat melihat kembali apa yang selama ini tertutup oleh kebisingan.
2. Filhisab — Masa Menghitung Diri
Filhisab dalam Sabdo ini menjadi lambang perhitungan terhadap diri sendiri.
Sebelum menghitung kesalahan orang lain, manusia diminta menghitung dirinya.
Berapa banyak ucapan yang telah menyakiti?
Berapa banyak kesempatan berbuat baik yang dilewati?
Berapa banyak nikmat yang diterima tetapi tidak disadari?
Berapa banyak waktu yang habis hanya untuk membuktikan bahwa diri sendiri benar?
Inilah hisab kesadaran.
Bukan untuk membuat manusia tenggelam dalam rasa bersalah, melainkan agar ia mengetahui arah mana yang perlu diperbaiki.
3. Tingqat Merasaqan
Ada tingqat ketika manusia berkata:
“Aku tahu.”
Ada tingqat ketika manusia berkata:
“Aku mengerti.”
Tetapi ada tingqat yang lebih dalam ketika manusia berkata:
“Sekarang aku merasaqan.”
Saat itulah pengetahuan berubah menjadi pengalaman batin.
Ketika melihat orang lapar, ia tidak hanya mengetahui arti kelaparan, tetapi hatinya tergerak untuk berbagi.
Ketika melihat orang bersedih, ia tidak sekadar memberikan nasihat, tetapi mampu hadir tanpa menghakimi.
Ketika memperoleh nikmat, ia tidak hanya mengucapkan syukur dengan lisan, tetapi menggunakan nikmat itu untuk kebaikan.
Inilah salah satu makna tingqat merasaqan.
4. Seluruh Jagat Adalah Tempat Belajar
Sabdo ini tidak membatasi perjalanan kesadaran kepada satu bangsa, satu golongan, satu kedudukan, atau satu lapisan manusia.
Raja belajar.
Rakyat belajar.
Orang kaya belajar.
Orang miskin belajar.
Orang berilmu belajar.
Orang yang baru mengenal ilmu pun belajar.
Sebab selama manusia masih hidup, masih ada sesuatu yang dapat diperbaiki dalam dirinya.
Tidak ada manusia yang terlalu tinggi untuk bermuhasabah.
5. Qembalinya Hati
Manusia sering mencari jawaban sangat jauh.
Padahal sebagian pertanyaan terbesar dalam hidup justru harus diperiksa melalui hati yang jernih.
Mengapa aku mengejar ini?
Siapa yang terluka karena tindakanku?
Apakah sesuatu yang aku perjuangkan benar-benar bermanfaat?
Jika hari ini menjadi hari terakhirku, apakah ada seseorang yang seharusnya aku maafkan?
Pertanyaan seperti inilah yang membawa manusia kembali kepada dirinya.
Dan ketika manusia mampu melihat dirinya dengan jujur, ia mulai mengenal kerendahan hati.
6. Dari Merasaqan Menjadi Perbuatan
Sabdo tidak berhenti pada rasa.
Sebab rasa yang benar harus melahirkan gerak.
Jika merasaqan kasih sayang, jadilah penyayang.
Jika merasaqan syukur, gunakan nikmat dengan benar.
Jika merasaqan kesalahan, perbaiki.
Jika merasaqan ada orang yang membutuhkan pertolongan, bantulah semampunya.
Jika merasaqan hati mulai keras, lembutkan dengan doa, dzikir, sedekah, dan pelayanan kepada sesama.
Karena kesadaran yang tidak pernah menjadi amal hanya akan tinggal sebagai pikiran.
7. Sabdo untuk Akhir Perjalanan
Pada akhirnya manusia akan mengetahui bahwa tidak semua kemenangan adalah memperoleh sesuatu.
Kadang kemenangan adalah mampu melepaskan kesombongan.
Kadang kemenangan adalah meminta maaf.
Kadang kemenangan adalah tidak membalas keburukan.
Kadang kemenangan adalah menerima bahwa manusia tidak mengetahui segala sesuatu.
Dan kadang perjalanan terbesar bukan berjalan mengelilingi bumi, tetapi berjalan dari kepala menuju hati, lalu dari hati menuju perbuatan.
Penutup Sabdo
Wallimattulloh Filhisab Alsabbibbulloh.
Qembalilah.
Bukan qembali ke masa lalu, tetapi qembali kepada kesadaran.
Renungkanlah.
Bukan untuk takut kepada kehidupan, tetapi agar memahami amanah kehidupan.
Merasaqanlah.
Bukan sekadar mengikuti emosi, tetapi melatih hati agar semakin peka terhadap kebenaran, kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab.
Apabila seluruh jagat mampu memasuki tingqat merasaqan ini, manusia tidak lagi hanya bertanya:
“Apa yang dapat aku ambil dari dunia?”
Tetapi mulai bertanya:
“Kebaikan apa yang dapat aku tinggalkan sebelum qembali kepada Alloh?”
TAMAT SABDO

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.