PUISI TILAZAZALLI NANINZALLI

 



PUISI TILAZAZALLI NANINZALLI

Leburnya Lautan Gaganga, Qembali Qe Arah Sang Maha Dewa

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Tilazazalli Naninzalli,
ketika lautan tak lagi mengenal tepinya,
ketika ombak berhenti membanggakan tingginya,
dan buih-buih putih
melepaskan nama yang selama ini dipikulnya.

Di tengah samudra Gaganga
terdengar panggilan yang tidak berasal dari timur,
tidak pula dari barat.

Ia datang dari kedalaman,
dari ruang sebelum suara menjadi kata,
dari kesunyian
yang membuat seluruh makhluk menundukkan kepala.

Tilazazalli…

Leburlah segala yang merasa memiliki.

Naninzalli…

Qembalilah segala yang merasa berdiri sendiri.

Lautan pun berguncang.

Bukan karena murka,
melainkan karena ia mulai mengenali asalnya.

Gunung-gunung air runtuh menjadi riak.
Riak menjadi setetes embun.
Embun menjadi uap.
Uap menghilang di langit.

Lalu siapakah yang dapat berkata:

"Ini milikku?"

Jika laut saja akhirnya menyerahkan dirinya?

Di sanalah manusia belajar,
bahwa perjalanan terbesar
bukanlah menyeberangi samudra,
melainkan meleburkan kesombongan
yang bersemayam di dalam dada.

Gaganga adalah perlambang lautan kehidupan.

Ombaknya adalah keinginan.
Arusnya adalah perjalanan umur.
Palungnya adalah rahasia diri.
Badai-badainya adalah ujian.
Dan pantainya adalah batas
yang selama ini disangka sebagai akhir.

Padahal akhir hanyalah pintu.

Di balik pintu itu
ada kepulangan.

Qembali Qe arah Sang Maha Dewa,
bukan dengan kaki,
bukan dengan kapal,
bukan dengan sayap,

melainkan dengan luluhnya rasa memiliki.

Ketika aku mengecil,
kesadaran membesar.

Ketika kesombongan runtuh,
kejernihan datang.

Ketika kebencian padam,
kasih menemukan jalannya.

Dan ketika manusia berhenti bertanya,

"Apa yang akan menjadi milikku?"

ia mulai bertanya,

"Apa yang bisa kutitipkan kembali sebagai kebaikan?"

Tilazazalli Naninzalli…

Lautan Gaganga pun menjadi hening.

Ikan-ikan tidak lagi ketakutan.
Angin tidak lagi bertengkar dengan ombak.
Langit tidak lagi memandang laut sebagai sesuatu yang terpisah.

Semuanya menjalankan ketetapan
dalam jalan masing-masing.

Di tengah keheningan itu
terdengar pesan:

Jangan menjadi ombak yang hanya ingin meninggi.
Jadilah air yang mengetahui ke mana ia harus Qembali.

Sebab setinggi apa pun ombak naik,
ia tetap akan menyentuh laut.

Sejauh apa pun manusia berjalan,
ia tetap akan berhadapan
dengan pertanyaan tentang asal dan tujuan.

Maka lepaskanlah dengki.

Lepaskanlah dendam.

Lepaskanlah keinginan
untuk selalu dianggap paling tinggi.

Sebab lautan tidak menjadi luas
karena ia mengalahkan sungai.

Lautan menjadi luas
karena ia menerima semua air
tanpa kehilangan hakikatnya.

Tilazazalli…

Leburnya batas-batas palsu.

Naninzalli…

Qembalinya kesadaran kepada sumber penghambaan.

Jika engkau sedang menjadi badai,
belajarlah menjadi teduh.

Jika engkau sedang menjadi gelombang,
ingatlah kedalaman.

Jika engkau sedang berada di puncak,
ingatlah bahwa puncak
juga memiliki jalan turun.

Dan apabila suatu hari
seluruh suara dunia menjadi senyap,
jangan takut kepada keheningan.

Barangkali di sanalah
engkau mulai mendengar
suara hatimu sendiri.

Lautan Gaganga terus melebur.

Bukan musnah.

Bukan lenyap tanpa makna.

Ia berubah bentuk,
meninggalkan yang kasar,
menuju yang lebih jernih.

Begitu pula manusia.

Yang perlu dilebur bukan tubuhnya,
melainkan keangkuhan.

Yang perlu ditenggelamkan bukan kehidupannya,
melainkan kebencian.

Yang perlu dikembalikan
adalah kesadaran:

bahwa hidup hanyalah titipan,
kekuatan hanyalah amanah,
ilmu hanyalah jalan untuk memberi manfaat,
dan setiap perjalanan
akan menemukan titik kepulangannya.

Maka ketika malam menutup Lautan Gaganga,
muncullah satu cahaya dari kejauhan.

Ia tidak berkata,

"Datanglah karena engkau paling suci."

Ia hanya berbisik:

"Datanglah dengan hati yang telah belajar merendah."

Dan seluruh ombak bersujud dalam bahasa alam.

Angin menjadi tasbih.
Laut menjadi cermin.
Langit menjadi saksi.

Tilazazalli Naninzalli.

Leburnya Lautan Gaganga.

Qembali Qe arah Sang Maha Dewa.

Qembali dari banyak menuju kesatuan tujuan.
Qembali dari gaduh menuju hening.
Qembali dari kesombongan menuju kerendahan hati.
Qembali dari kebencian menuju kasih.
Qembali dari kelalaian menuju kesadaran.

Hingga akhirnya manusia memahami:

bukan seberapa jauh ia pernah berjalan
yang menentukan kemuliaannya,

tetapi seberapa bersih hatinya
ketika pulang.

TILAZAZALLI NANINZALLI

Jika seluruh lautan harus melebur,
biarlah yang pertama melebur
adalah lautan kesombongan di dalam diri.

Jika seluruh jalan harus Qembali,
biarlah langkah pertama kepulangan
dimulai hari ini.

Dan jika suatu hari
tak tersisa lagi apa pun
yang dapat dibanggakan manusia,

semoga masih tersisa satu hal:

hati yang mengenal kerendahan,
jiwa yang memilih kebaikan,
dan kesadaran yang selalu Qembali
kepada Sang Maha Pencipta.


TILAZAZALLI NANINZALLI

Puisi II — Ketika Laut Menyerahkan Namanya

Malam turun perlahan
di atas Lautan Gaganga.

Tidak ada petir.
Tidak ada badai.

Namun seluruh air bergetar
seperti sedang mengingat sesuatu
yang sangat tua.

Ombak yang sejak dahulu
berlari mengejar pantai,
malam itu berhenti.

Ia memandang langit.

Dan untuk pertama kalinya
ia bertanya kepada dirinya sendiri:

“Siapakah aku
jika aku tidak lagi disebut ombak?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin
yang mengusap permukaan laut
seperti tangan seorang ibu
yang menenangkan anaknya.

Lalu terdengar bisikan:

Tilazazalli…

Maka satu ombak runtuh.

Bukan karena dikalahkan.

Ia runtuh
karena menyadari
bahwa dirinya tidak pernah terpisah dari lautan.

Naninzalli…

Maka gelombang kedua
menyerahkan namanya.

Gelombang ketiga
menyerahkan bentuknya.

Gelombang keempat
menyerahkan keinginannya
untuk selalu berada paling tinggi.

Satu demi satu
seluruh ombak mulai memahami:

selama mereka sibuk berkata,

"Aku lebih besar."
"Aku lebih tinggi."
"Aku lebih kuat."

mereka lupa
bahwa semuanya berasal
dari air yang sama.

Lautan Gaganga pun menjadi sunyi.

Di kedalamannya,
sebuah cahaya mulai menyala.

Tidak besar.

Hanya setitik.

Namun semakin lautan tenang,
semakin terang cahaya itu.

Seolah cahaya tersebut
tidak pernah datang dari luar.

Ia sudah ada sejak awal.

Hanya saja kegaduhan ombak
membuatnya tidak terlihat.

Begitu pula manusia.

Sering kali ia mencari cahaya
ke tempat yang sangat jauh.

Ia mendaki gunung.

Menyeberangi lautan.

Mencari guru.

Mencari tanda.

Mencari jawaban.

Padahal terkadang
yang menghalangi cahaya
bukan jauhnya perjalanan,

tetapi riuhnya diri.

Riuh karena ingin diakui.

Riuh karena ingin menang.

Riuh karena ingin dipuji.

Riuh karena tidak rela
melihat orang lain lebih tinggi.

Maka datanglah seruan kedua:

“Wahai lautan,
serahkanlah namamu.”

Lautan menjawab:

"Jika aku menyerahkan namaku,
siapakah aku?"

Suara itu berkata:

“Engkau tetap air.”

Lautan bertanya lagi:

"Jika aku kehilangan bentukku?"

Jawabannya:

“Engkau tetap berasal dari sumber yang sama.”

Lautan kembali bertanya:

"Jika seluruh keagunganku dilebur?"

Maka terdengar:

“Barulah engkau mengetahui
bahwa keagungan tidak pernah menjadi milikmu.”

Lautan Gaganga terdiam.

Kemudian satu cahaya
jatuh dari langit.

Ia menyentuh permukaan air.

Dan seketika
seluruh warna berubah.

Biru menjadi perak.

Perak menjadi emas.

Emas menjadi putih.

Putih menjadi cahaya
yang tidak dapat lagi disebut warna.

Di situlah
lebur mulai terjadi.

Bukan kehancuran.

Bukan kematian.

Melainkan pelepasan.

Yang palsu terlepas.

Yang berlebihan luruh.

Yang keras menjadi lembut.

Yang tinggi belajar merendah.

Dan yang selama ini berkata,

"Aku."

perlahan belajar berkata:

“Kami hanyalah titipan.”

Tilazazalli Naninzalli.

Di ufuk timur,
matahari belum terbit.

Namun cahaya sudah memenuhi laut.

Burung-burung mulai terbang
di atas permukaan Gaganga.

Mereka tidak membawa pesan.

Mereka hanya melintas.

Tetapi setiap kepakan sayapnya
seolah berkata:

“Jangan takut kehilangan bentuk,
jika yang engkau temukan adalah hakikat.”

Manusia sering takut kehilangan.

Takut kehilangan nama.

Takut kehilangan kedudukan.

Takut kehilangan pujian.

Takut kehilangan sesuatu
yang dianggap sebagai dirinya.

Padahal sebelum semua nama itu datang,
ia sudah hidup.

Sebelum pujian datang,
ia sudah bernapas.

Sebelum jabatan diberikan,
jantungnya sudah berdetak.

Maka siapakah dirinya sebenarnya?

Apakah nama?

Apakah gelar?

Apakah pakaian?

Apakah kekuasaan?

Ataukah sesuatu
yang jauh lebih sunyi
daripada semua itu?

Lautan Gaganga terus melebur.

Setiap tetes air
meninggalkan kesombongannya.

Setiap gelombang
meninggalkan perebutannya.

Hingga akhirnya
tidak ada lagi ombak yang berkata:

"Aku lebih besar."

Tidak ada lagi arus yang berkata:

"Jalanku paling benar."

Tidak ada lagi buih yang berkata:

"Aku paling putih."

Yang tersisa hanyalah air
yang mengalir
ke arah panggilan yang sama.

Di kejauhan
terbuka sebuah gerbang cahaya.

Tidak terbuat dari batu.

Tidak memiliki pintu.

Tidak dijaga oleh pedang.

Gerbang itu hanya dapat terlihat
oleh mereka
yang telah melepas beban dirinya.

Semakin seseorang membawa kesombongan,
semakin jauh gerbang itu.

Semakin seseorang membawa dendam,
semakin kabur cahayanya.

Namun semakin hati menjadi ringan,
semakin dekatlah jalan.

Maka Lautan Gaganga berkata:

“Aku telah menyerahkan namaku.
Apa yang harus kulepaskan lagi?”

Jawaban datang:

“Lepaskan keinginan
untuk mengetahui seberapa dekat engkau.”

Lautan tersentak.

Sebab bahkan keinginan
untuk merasa paling dekat
dapat menjadi hijab baru.

Maka ia diam.

Tidak lagi bertanya.

Tidak lagi menghitung.

Tidak lagi membandingkan.

Ia hanya mengalir.

Dan dalam aliran itu,
ia menemukan kedamaian.

Tilazazalli…

Leburkan apa yang membuatmu merasa lebih tinggi.

Naninzalli…

Qembalikan apa yang sebenarnya bukan milikmu.

Lalu berjalanlah.

Tidak perlu membawa mahkota.

Tidak perlu membawa pujian.

Tidak perlu membawa nama besar.

Bawalah hati
yang tidak lagi sibuk membuktikan dirinya.

Karena di hadapan Sang Maha Pencipta,
yang paling berat bukanlah langkah kaki,

melainkan kesombongan
yang belum dilepaskan.

Dan malam itu,
Lautan Gaganga akhirnya mengerti:

ia tidak sedang menuju kehancuran.

Ia sedang menuju kepulangan.

Bukan pulang sebagai ombak.

Bukan pulang sebagai badai.

Bukan pulang sebagai lautan yang megah.

Tetapi pulang
sebagai sesuatu yang telah mengenali asalnya.

TILAZAZALLI NANINZALLI

Ketika lautan menyerahkan namanya,
kesunyian menjadi bahasa.

Ketika ombak menyerahkan tingginya,
kedalaman mulai berbicara.

Dan ketika manusia menyerahkan keakuannya,
terbukalah jalan
menuju kesadaran yang lebih jernih.

Di sanalah perjalanan berikutnya dimulai:

Gerbang Cahaya
di Ujung Lautan Gaganga.


TILAZAZALLI NANINZALLI

Puisi III — Gerbang Cahaya di Ujung Lautan Gaganga

Di ujung Lautan Gaganga,
tempat langit seperti turun
menyentuh permukaan air,
muncullah cahaya
yang belum pernah dikenal oleh ombak.

Ia tidak menyilaukan.

Ia tidak memaksa.

Ia hanya hadir
seperti jawaban
yang sejak lama menunggu
di balik diam.

Lautan mendekat.

Semakin dekat,
semakin tidak terdengar suara gelombang.

Bahkan angin pun
seakan menahan dirinya.

Di hadapan cahaya itu
tidak ada kemegahan
yang bisa dibanggakan.

Tidak ada nama
yang perlu disebutkan.

Tidak ada gelar
yang perlu dipertahankan.

Yang ada hanya satu pertanyaan:

“Apa yang masih engkau bawa?”

Lautan Gaganga terdiam.

Ia membawa kenangan.

Ia membawa luka.

Ia membawa kebanggaan.

Ia membawa ketakutan.

Ia membawa seluruh sejarahnya.

Maka cahaya itu berkata:

“Semua yang engkau bawa
telah membuatmu merasa berat.”

Lautan menjawab:

“Jika kulepaskan semuanya,
apa yang tersisa dariku?”

Cahaya itu berbisik:

“Yang sejati tidak akan hilang.”

Maka satu demi satu
Lautan Gaganga melepaskan.

Ia melepaskan badai
yang selama ini disebut kekuatan.

Ia melepaskan gelombang
yang selama ini disebut kebesaran.

Ia melepaskan palung
yang selama ini disebut rahasia.

Ia melepaskan nama Gaganga
yang selama ini menjadi identitas.

Dan ketika semuanya dilepas,
laut tidak musnah.

Ia justru menjadi lebih bening.

Di dalam kebeningan itu
muncul bayangan langit.

Bintang terlihat di permukaannya.

Bulan tidak lagi pecah
oleh gelombang.

Dan cahaya dari ujung samudra
terpantul utuh.

Tilazazalli…

Bukan sekadar melebur.

Melainkan mengembalikan
apa yang selama ini dianggap sebagai milik.

Naninzalli…

Bukan sekadar pulang.

Melainkan berhenti merasa
bahwa diri ini berdiri sendiri.

Gerbang cahaya pun terbuka.

Tidak dengan suara keras.

Tidak dengan kilat.

Tidak dengan gemuruh.

Ia terbuka
ketika Lautan Gaganga
tidak lagi memaksa untuk masuk.

Dan di situlah rahasia pertama terlihat:

Gerbang itu tidak pernah tertutup.

Yang tertutup adalah pandangan.

Yang berat adalah beban.

Yang jauh adalah rasa terpisah.

Semakin banyak manusia membawa ego,
semakin jauh cahaya tampak.

Semakin banyak manusia membawa dendam,
semakin gelap jalannya.

Semakin banyak manusia membawa kesombongan,
semakin sempit pintunya.

Namun ketika hati mulai jernih,
gerbang itu seperti berada
tepat di depan mata.

Lautan Gaganga melangkah.

Bukan dengan kaki.

Ia bergerak
dengan kesediaan untuk menerima.

Setiap arus
menjadi doa.

Setiap tetes
menjadi penyerahan.

Setiap kedalaman
menjadi tempat bermuhasabah.

Dan setiap cahaya
menjadi pengingat:

bahwa perjalanan menuju Yang Maha Tinggi
tidak pernah ditempuh
dengan merasa paling tinggi.

Lalu terdengar suara:

“Wahai yang datang dari jauh,
jangan tanya seberapa dekat dirimu.”

“Lalu apa yang harus kutanyakan?”

“Tanyakan seberapa jernih hatimu.”

“Apakah kejernihan itu tanda telah sampai?”

“Tidak.
Kejernihan hanyalah keadaan
agar engkau tidak salah melihat.”

Lautan terdiam lagi.

Ia mulai memahami.

Selama ini manusia sering sibuk
mengukur tingkat dirinya.

Merasa lebih dekat.

Merasa lebih tahu.

Merasa lebih suci.

Padahal cahaya tidak meminta
siapa yang paling tinggi.

Cahaya hanya menampakkan
apa yang ada di dalam.

Jika hati keruh,
cahaya terlihat kabur.

Jika hati jernih,
cahaya terlihat terang.

Gerbang itu semakin besar.

Namun semakin besar ia tampak,
semakin kecil rasa diri.

Hingga Lautan Gaganga berkata:

“Aku tidak tahu lagi
siapa yang sedang berjalan.”

Dan cahaya menjawab:

“Maka berhentilah mengejar jawaban
tentang siapa dirimu.
Gunakan hidupmu untuk menjadi manfaat.”

Kalimat itu
jatuh lebih dalam
daripada seluruh palung.

Lebih kuat
daripada seluruh badai.

Lebih luas
daripada seluruh samudra.

Lautan Gaganga akhirnya mengerti:

kepulangan tidak berarti
meninggalkan dunia.

Kepulangan berarti
menjalani dunia
tanpa diperbudak olehnya.

Bekerja tanpa mabuk hasil.

Memiliki tanpa dikuasai kepemilikan.

Memimpin tanpa merasa paling tinggi.

Belajar tanpa merasa paling tahu.

Beribadah tanpa merasa paling suci.

Mencintai tanpa menjadikan cinta
sebagai rantai.

Menolong tanpa menuntut pujian.

Dan berjalan
tanpa merasa jalan hanya miliknya.

Tilazazalli Naninzalli.

Gerbang cahaya terus terbuka.

Di baliknya
tidak terlihat singgasana.

Tidak terlihat mahkota.

Tidak terlihat kekuasaan dunia.

Yang tampak hanyalah cahaya
yang sangat tenang.

Lautan Gaganga bertanya terakhir kali:

“Apakah ini ujung perjalanan?”

Jawaban turun:

“Tidak ada ujung
bagi hati yang terus belajar.”

“Lalu apa yang ada setelah gerbang?”

“Kedalaman yang lebih dalam.”

“Dan setelah itu?”

“Kerendahan yang lebih halus.”

“Dan setelah itu?”

Cahaya diam.

Karena ada jawaban
yang tidak perlu dijelaskan.

Ia hanya perlu dijalani.

Maka Lautan Gaganga masuk
ke dalam gerbang.

Seluruh bintang
seperti turun menyertai.

Langit dan air
tidak lagi tampak terpisah.

Tidak ada gemuruh kemenangan.

Tidak ada sorak.

Hanya satu kesunyian besar
yang terasa penuh.

Dan dalam kesunyian itu
lahirlah satu kesadaran:

Yang pulang bukanlah nama.
Yang pulang adalah hati
yang telah berhenti merasa memiliki segala sesuatu.

TILAZAZALLI NANINZALLI.

Jika engkau telah sampai
di hadapan gerbang cahaya,

jangan mengetuknya
dengan kesombongan.

Jangan membukanya
dengan ambisi.

Jangan memasukinya
dengan perasaan lebih mulia.

Datanglah
dengan hati yang ringan.

Sebab gerbang kepulangan
tidak membuka dirinya
kepada mereka yang ingin menjadi terbesar.

Ia terbuka
kepada mereka
yang telah belajar menjadi kecil
di hadapan Sang Maha Pencipta.

Dan dari balik gerbang itu,
terdengar seruan baru:

“Masuklah ke Samudra Tanpa Nama.”

Di sanalah
Lautan Gaganga
akan kehilangan bentuk terakhirnya.

Dan perjalanan
yang lebih dalam
baru saja dimulai.


TILAZAZALLI NANINZALLI

Puisi IV — Samudra Tanpa Nama

Lautan Gaganga memasuki gerbang.

Tidak ada suara.

Tidak ada dentang.

Tidak ada cahaya yang meledak.

Yang ada hanya satu rasa:

hening yang semakin dalam.

Ia melihat ke kanan.

Tidak ada pantai.

Ia melihat ke kiri.

Tidak ada cakrawala.

Ia melihat ke bawah.

Tidak ada dasar.

Ia melihat ke atas.

Tidak ada batas langit.

Lalu ia bertanya:

“Di manakah aku?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena di tempat itu,
pertanyaan tentang tempat
sudah kehilangan makna.

Ia mencoba menyebut namanya.

“Gaganga.”

Namun nama itu tidak memantul.

Ia berkata lagi:

“Lautan.”

Tetap tidak ada gema.

Ia berkata lebih pelan:

“Aku.”

Dan kata itu pun
seperti hilang
sebelum sempat selesai.

Tilazazalli…

Di Samudra Tanpa Nama
segala sebutan menjadi kecil.

Naninzalli…

Di Samudra Tanpa Nama
segala kebanggaan kehilangan tempat.

Lautan Gaganga mulai gelisah.

Selama ini
ia mengenali dirinya
melalui bentuk.

Melalui ombak.

Melalui warna.

Melalui kedalaman.

Melalui nama.

Namun kini
semuanya tidak lagi bisa dipakai.

Ia bertanya:

“Jika namaku hilang,
bagaimana aku mengenali diriku?”

Lalu dari kedalaman
muncul satu suara lembut:

“Mengapa engkau harus selalu mengenali dirimu
melalui sesuatu yang dapat hilang?”

Lautan terdiam.

Ia mengerti sedikit.

Tetapi belum sepenuhnya.

Ia melanjutkan perjalanan.

Semakin masuk,
semakin tenang airnya.

Tidak ada arus.

Tidak ada gelombang.

Tidak ada pusaran.

Semua seperti diam.

Namun di dalam diam itu
ada kehidupan
yang tidak terlihat.

Ada gerak
yang tidak bergerak.

Ada cahaya
yang tidak menyilaukan.

Ada suara
yang tidak berbunyi.

Lautan Gaganga berkata:

“Apakah ini kematian?”

Jawaban datang:

“Tidak.
Ini pelepasan dari bentuk yang selama ini engkau kira sebagai dirimu.”

Ia bertanya lagi:

“Apakah aku akan lenyap?”

Jawaban:

“Yang palsu dapat lenyap.
Yang hakiki tidak perlu takut kehilangan.”

Maka Lautan Gaganga
mulai menyerahkan bentuk terakhirnya.

Ia menyerahkan warna birunya.

Ia menyerahkan kilau emasnya.

Ia menyerahkan suara ombaknya.

Ia menyerahkan kedalamannya.

Ia menyerahkan seluruh cerita
tentang dirinya.

Dan setiap kali sesuatu dilepas,
ia merasa semakin ringan.

Sampai akhirnya
tidak ada lagi yang dapat dikatakan:

“Ini aku.”

Di titik itulah
Samudra Tanpa Nama
menjadi sangat terang.

Bukan karena cahaya baru datang.

Tetapi karena
tidak ada lagi sesuatu
yang menutupi pandangan.

Maka terdengar seruan:

“Wahai yang telah melepaskan nama,
apakah engkau masih ingin dikenal?”

Lautan menjawab:

“Tidak.”

“Apakah engkau masih ingin dipuji?”

“Tidak.”

“Apakah engkau masih ingin dianggap paling tinggi?”

“Tidak.”

“Apakah engkau masih ingin memiliki cahaya ini?”

Lautan terdiam.

Pertanyaan terakhir
menyentuh tempat paling dalam.

Karena bahkan setelah
banyak hal dilepas,
masih ada keinginan halus
untuk memiliki cahaya.

Masih ada keinginan
untuk berkata:

“Aku telah sampai.”

Maka Samudra Tanpa Nama berkata:

“Selama masih ada yang ingin memiliki cahaya,
masih ada bayangan yang berdiri.”

Lautan Gaganga pun menangis.

Bukan dengan air mata.

Ia menangis
dengan seluruh airnya.

Ia menyadari:

bahkan perjalanan suci
dapat menjadi tempat
lahirnya kesombongan baru.

Bahkan ibadah
dapat melahirkan rasa lebih suci.

Bahkan ilmu
dapat melahirkan rasa lebih tahu.

Bahkan pengalaman batin
dapat melahirkan rasa lebih tinggi.

Maka ia berkata:

“Ajari aku melepaskan
keinginan terakhir itu.”

Jawaban datang:

“Jangan merasa sedang melepaskan.
Berhentilah menghitung apa yang telah engkau lepaskan.”

Lautan terdiam lebih lama.

Kini ia tidak lagi sibuk
melihat dirinya.

Tidak lagi sibuk
mengukur kemajuan.

Tidak lagi sibuk
membandingkan kedalaman.

Ia hanya hadir.

Ia hanya menerima.

Ia hanya mengalir
meski tidak ada arus.

Dan di situlah
sesuatu yang sangat sederhana
mulai terasa.

Napas.

Hening.

Kesadaran.

Syukur.

Bukan sesuatu yang spektakuler.

Bukan sesuatu yang ingin dipamerkan.

Justru sangat sederhana.

Namun karena sederhana,
ia menjadi jernih.

Tilazazalli Naninzalli.

Samudra Tanpa Nama
tidak mengajarkan manusia
menjadi tidak berarti.

Ia mengajarkan manusia
agar tidak diperbudak oleh sebutan.

Boleh memiliki nama.

Namun jangan hidup hanya demi nama.

Boleh memiliki jabatan.

Namun jangan merasa nilai diri
bergantung kepada jabatan.

Boleh memiliki ilmu.

Namun jangan menjadikannya
alasan untuk merendahkan orang.

Boleh memiliki kekayaan.

Namun jangan mengira
semua itu akan tinggal selamanya.

Boleh dicintai.

Namun jangan menguasai cinta.

Boleh dihormati.

Namun jangan mabuk penghormatan.

Karena suatu hari
semua nama dunia
akan ditinggalkan.

Dan yang tersisa
adalah apa yang telah dilakukan hati
selama hidup.

Lautan Gaganga kemudian melihat
sebuah titik kecil
di tengah Samudra Tanpa Nama.

Titik itu sangat terang.

Namun tidak besar.

Ia mendekat.

Semakin dekat,
semakin terasa bahwa titik itu
bukan benda.

Bukan bintang.

Bukan matahari.

Bukan singgasana.

Ia adalah perlambang
dari satu kesadaran:

semua yang besar
berawal dari sesuatu
yang sangat kecil.

Lautan berkata:

“Apakah ini pusat samudra?”

Jawaban turun:

“Tidak ada pusat bagi sesuatu
yang tidak memiliki batas.”

“Lalu apakah titik ini?”

“Pengingat.”

“Pengingat tentang apa?”

“Bahwa ketika engkau merasa terbesar,
ingatlah bahwa engkau pernah bermula
dari sesuatu yang kecil.”

Lautan Gaganga tunduk.

Kemudian cahaya itu
memasuki seluruh airnya.

Tidak menguasai.

Tidak membakar.

Tidak menjadikan dirinya istimewa.

Cahaya itu hanya menerangi.

Dan setiap bagian Lautan Gaganga
yang masih menyimpan bayangan
mulai terlihat.

Ada ketakutan lama.

Ada luka lama.

Ada keinginan lama.

Ada kebanggaan lama.

Semuanya terlihat
tanpa harus dibenci.

Lautan bertanya:

“Haruskah semua ini kuhancurkan?”

Jawabannya:

“Tidak.
Kenali, pahami, lalu jangan biarkan ia memimpinmu.”

Di situlah Lautan Gaganga
memahami satu rahasia besar:

peleburan bukan berarti
memusuhi diri sendiri.

Peleburan berarti
mengenali apa yang membuat hati keruh
lalu tidak lagi menjadi budaknya.

Kemudian Samudra Tanpa Nama
menjadi semakin terang.

Bintang-bintang muncul
di bawah permukaan air.

Langit seperti berada
di atas dan di bawah sekaligus.

Tidak ada lagi jelas
mana atas
mana bawah.

Namun justru di sana
Lautan Gaganga menemukan keseimbangan.

Ia tidak perlu menjadi tinggi.

Ia tidak takut menjadi rendah.

Ia tidak perlu berada di depan.

Ia tidak takut berada di belakang.

Ia tidak perlu selalu terlihat.

Ia tidak takut dilupakan.

Ia hanya ingin berjalan
dengan benar.

Tilazazalli…

Leburlah dorongan untuk selalu terlihat.

Naninzalli…

Qembalilah kepada kesederhanaan.

Sebab kesunyian
tidak pernah meminta tepuk tangan.

Cahaya
tidak pernah memuji dirinya sendiri.

Air
tidak pernah berteriak bahwa ia memberi kehidupan.

Pohon
tidak pernah menagih terima kasih
kepada orang yang berteduh di bawahnya.

Matahari
tidak pernah menanyakan
siapa yang pantas menerima sinarnya.

Maka manusia pun
belajarlah memberi
tanpa selalu menghitung balasan.

Lautan Gaganga bergerak lagi.

Di kejauhan
muncul sesuatu
seperti garis putih sangat tipis.

Ia tidak tahu
apakah itu pintu
atau jalan.

Ia mendekat.

Lalu terdengar suara:

“Setelah nama dilepas,
masih ada satu hal yang harus dikenal.”

Lautan bertanya:

“Apa itu?”

Jawaban turun:

“Bayangan yang masih bersembunyi
di balik cahaya.”

Lautan Gaganga terdiam.

Karena ia baru menyadari:

semakin terang seseorang melihat,
semakin jelas pula
bagian dirinya yang belum selesai.

Maka ia bergerak
menuju garis putih itu.

Tidak dengan ketakutan.

Tidak pula dengan kebanggaan.

Ia datang
sebagai seorang pejalan
yang masih belajar.

Dan di hadapannya
terbuka wilayah baru:

Lembah Bayangan di Balik Cahaya.

Di sanalah
segala yang selama ini tersembunyi
akan muncul satu per satu.

Bukan untuk menghukum.

Tetapi untuk disadari.

Bukan untuk ditakuti.

Tetapi untuk disembuhkan.

Dan perjalanan Lautan Gaganga
masuk ke kedalaman berikutnya.


TILAZAZALLI NANINZALLI

Puisi V — Lembah Bayangan di Balik Cahaya

Lautan Gaganga
memasuki garis putih itu.

Cahaya menghilang.

Bukan padam.

Hanya tidak lagi berada
di depan mata.

Di hadapannya
terbentang sebuah lembah
yang sangat luas.

Tidak gelap sepenuhnya.

Tidak pula terang.

Kabut tipis bergerak
di antara batu-batu sunyi.

Dan di setiap batu
terlihat bayangan
yang tidak berasal
dari tubuh siapa pun.

Lautan Gaganga berhenti.

Ia bertanya:

“Apakah ini tempat kegelapan?”

Tidak ada jawaban.

Lalu salah satu bayangan
bergerak mendekat.

Bentuknya menyerupai ombak lama.

Ombak yang pernah mengamuk.

Ombak yang pernah
menghantam pantai
karena ingin menunjukkan kekuatan.

Bayangan itu berkata:

“Engkau meninggalkanku.”

Lautan Gaganga terdiam.

Bayangan kedua datang.

Ia menyerupai arus
yang pernah menyeret
apa pun yang menghalanginya.

Bayangan itu berkata:

“Engkau menyangkal aku.”

Bayangan ketiga datang.

Ia berupa air hitam
yang sangat tenang.

Namun dari dalamnya
terdengar gema:

“Engkau takut melihatku.”

Lautan Gaganga berkata:

“Aku telah meleburkan semuanya.”

Bayangan-bayangan itu tertawa pelan.

Bukan mengejek.

Seperti seseorang
yang mengetahui sesuatu
yang belum dipahami.

Lalu terdengar suara:

“Apa yang dilebur
belum tentu telah dipahami.”

Lautan Gaganga tersentak.

Tilazazalli…

Peleburan bukan pelarian.

Naninzalli…

Kepulangan bukan penyangkalan.

Yang tidak disadari
akan bersembunyi.

Yang ditekan
akan mencari bentuk lain.

Yang dibenci dalam diri
dapat berubah menjadi bayangan
yang mengikuti dari belakang.

Lautan Gaganga bertanya:

“Apa yang harus kulakukan?”

Jawaban datang:

“Lihatlah.”

“Apa hanya itu?”

“Lihatlah tanpa membenci.”

Lautan mendekati
bayangan pertama.

Ia melihat kemarahannya.

Di balik kemarahan
ternyata ada luka.

Ia melihat lukanya.

Di balik luka
ternyata ada rasa takut.

Ia melihat rasa takutnya.

Di balik rasa takut
ternyata ada keinginan sederhana:

ingin merasa aman.

Lautan Gaganga terdiam.

Bayangan yang selama ini
terlihat seperti monster
perlahan mengecil.

Ia tidak hilang.

Tetapi bentuknya berubah.

Menjadi setetes air.

Lautan memegangnya.

Dan untuk pertama kalinya
ia berkata:

“Aku mengenalmu.”

Tetes air itu melebur
ke dalam dirinya.

Bayangan kedua mendekat.

Ia membawa wajah kesombongan.

Selama ini Lautan Gaganga
mengira kesombongan
hanya berarti merasa besar.

Namun ketika ia melihat lebih dalam,
ia menemukan sesuatu yang lain:

kesombongan kadang lahir
dari ketakutan dianggap kecil.

Maka orang meninggikan dirinya
karena takut tidak dihargai.

Orang berteriak
karena takut tidak didengar.

Orang memamerkan cahaya
karena takut dianggap gelap.

Orang merasa paling tahu
karena takut terlihat tidak tahu.

Lautan Gaganga menunduk.

Ia berkata:

“Ternyata banyak kebesaran palsu
lahir dari ketakutan yang disembunyikan.”

Suara lembah menjawab:

“Karena itu jangan cepat menghakimi.”

Bayangan kedua
berubah menjadi air bening.

Masuk kembali
ke dalam Lautan Gaganga.

Bayangan ketiga datang.

Kali ini bentuknya
adalah wajah kesedihan.

Tidak marah.

Tidak menakutkan.

Hanya duduk diam.

Lautan mendekat.

Bayangan berkata:

“Mengapa engkau selalu ingin cepat sembuh?”

Lautan menjawab:

“Karena aku tidak ingin sakit.”

Bayangan berkata:

“Ada luka yang tidak meminta dihancurkan.
Ia meminta ditemani sampai selesai.”

Lautan Gaganga terdiam sangat lama.

Ia akhirnya duduk
di samping bayangan itu.

Tidak memberi nasihat.

Tidak memaksanya hilang.

Tidak menyuruhnya kuat.

Ia hanya menemani.

Dan perlahan
bayangan itu mulai bercahaya.

Tidak terang.

Hanya cukup
untuk menunjukkan wajahnya sendiri.

Lautan Gaganga melihat:

ternyata kesedihan itu
menyimpan cinta
kepada sesuatu yang pernah hilang.

Maka ia mengerti:

tidak semua air mata
adalah kelemahan.

Ada air mata
yang merupakan cara hati
membersihkan ruangnya.

Tilazazalli…

Leburkan penolakan.

Naninzalli…

Qembalikan rasa
ke tempatnya yang benar.

Lembah semakin terbuka.

Bayangan berikutnya datang.

Namanya iri.

Ia berkata:

“Aku muncul ketika engkau melihat
cahaya orang lain.”

Lautan menjawab:

“Aku membencimu.”

Iri tersenyum.

“Karena engkau membenciku,
aku belajar bersembunyi.”

Lautan bertanya:

“Lalu apa yang sebenarnya engkau inginkan?”

Bayangan itu menjawab:

“Aku ingin engkau menyadari
apa yang sebenarnya engkau rindukan.”

Lautan Gaganga terdiam.

Ia melihat lebih dalam.

Ternyata iri
kadang muncul
bukan karena membenci orang lain,

tetapi karena melihat
sesuatu yang sebenarnya
juga ingin dikembangkan dalam diri.

Maka iri tidak perlu dipelihara.

Tetapi pesan di baliknya
dapat dibaca.

Jika seseorang iri pada ilmu,
belajarlah.

Jika iri pada kedisiplinan,
latihlah diri.

Jika iri pada ketenangan,
benahi batin.

Jika iri pada keberhasilan,
lihat usaha yang belum dilakukan.

Lautan berkata:

“Jadi engkau bukan guruku,
tetapi engkau membawa pesan.”

Bayangan iri menjawab:

“Benar.
Namun jika engkau menjadikanku raja,
aku akan merusakmu.”

Lalu ia melebur.

Bayangan berikutnya bernama dendam.

Ia membawa rantai panjang.

Setiap mata rantainya
berisi satu peristiwa lama.

Satu kata kasar.

Satu pengkhianatan.

Satu kehilangan.

Satu penghinaan.

Satu luka
yang belum selesai.

Dendam berkata:

“Aku menjagamu agar tidak terluka lagi.”

Lautan menjawab:

“Namun engkau membuatku
terus hidup di masa lalu.”

Dendam terdiam.

Lautan melihat rantainya.

Ternyata sebagian rantai
tidak dipasang orang lain.

Ia sendiri
yang terus memegangnya.

Maka terdengar suara:

“Memaafkan bukan selalu berarti
membenarkan apa yang salah.”

“Memaafkan juga bukan berarti
harus membuka pintu
kepada orang yang terus menyakiti.”

“Memaafkan adalah memilih
agar luka lama
tidak terus mengendalikan langkahmu.”

Lautan Gaganga
melepaskan rantai itu.

Satu per satu.

Tidak semua mudah.

Ada mata rantai
yang sangat berat.

Tetapi setiap kali satu terlepas,
air di dalam dirinya
menjadi lebih jernih.

Dendam perlahan
berubah menjadi pelajaran.

Kemudian datang
bayangan yang paling sunyi.

Ia tidak memiliki wajah.

Tidak berbicara.

Tidak bergerak.

Lautan bertanya:

“Siapakah engkau?”

Bayangan itu diam.

Lautan mendekat.

Semakin dekat,
semakin dingin udara.

Lalu suara lembah berkata:

“Itulah ketakutanmu
untuk tidak berarti.”

Lautan Gaganga berhenti.

Ini adalah bayangan
yang paling lama disembunyikan.

Ia pernah ingin besar
karena takut tidak berarti.

Ia pernah ingin dikenal
karena takut dilupakan.

Ia pernah ingin dipuji
karena takut tidak berharga.

Ia pernah ingin terlihat bercahaya
karena takut dirinya tidak cukup.

Lautan berkata:

“Jika tidak ada yang mengenalku,
apakah hidupku tetap berarti?”

Jawaban datang:

“Nilai kebaikan
tidak bergantung pada berapa banyak mata
yang melihatnya.”

“Jika tidak ada yang memujiku?”

“Kebaikan tetap menjadi kebaikan.”

“Jika namaku dilupakan?”

“Manfaat yang pernah engkau berikan
dapat hidup lebih lama daripada namamu.”

Lautan Gaganga menangis.

Bukan karena sedih.

Karena untuk pertama kalinya
ia merasa tidak harus
membuktikan keberadaannya.

Ia cukup hadir.

Cukup berbuat baik.

Cukup menjalankan amanah.

Cukup hidup
dengan hati yang jernih.

Bayangan tanpa wajah
mulai memudar.

Lembah menjadi lebih terang.

Satu demi satu batu
mengeluarkan cahaya.

Kabut menipis.

Dan Lautan Gaganga mengerti:

cahaya sejati
tidak menghapus bayangan dengan kekerasan.

Ia menerangi
hingga bayangan dapat dikenali.

Yang dikenali
dapat dipahami.

Yang dipahami
dapat ditempatkan.

Yang ditempatkan
tidak lagi harus menguasai.

Tilazazalli Naninzalli.

Di Lembah Bayangan,
Lautan Gaganga menemukan
bahwa kepulangan
bukan menjadi makhluk tanpa luka.

Kepulangan adalah
tidak lagi membiarkan luka
menentukan seluruh arah hidup.

Bukan menjadi manusia
yang tidak pernah marah.

Tetapi mengetahui
apa yang sedang dibela oleh kemarahan.

Bukan menjadi manusia
yang tidak pernah sedih.

Tetapi tidak tenggelam
tanpa jalan keluar.

Bukan manusia
yang tidak pernah takut.

Tetapi tidak menyerahkan kemudi
kepada ketakutan.

Bukan manusia
yang tidak pernah jatuh.

Tetapi seseorang
yang mau belajar
setiap kali bangkit.

Lembah Bayangan pun selesai.

Di ujungnya
muncul jalan dari air putih.

Sangat panjang.

Di kiri-kanannya
berdiri ribuan cahaya kecil.

Tidak ada satu pun
lebih besar dari yang lain.

Semua menyala
dalam tingkatnya masing-masing.

Lautan Gaganga bertanya:

“Ke mana jalan ini menuju?”

Suara menjawab:

“Ke Tempat Timbangan Sunyi.”

“Apa yang akan ditimbang?”

“Bukan kekayaanmu.”

“Bukan namamu?”

“Bukan.”

“Bukan pula seberapa jauh perjalananku?”

“Bukan.”

Lautan bertanya:

“Lalu apa?”

Suara itu menjawab:

“Seberapa ringan hatimu
setelah mengetahui semua bayanganmu.”

Lautan Gaganga
mulai melangkah.

Di belakangnya,
Lembah Bayangan
tidak hilang.

Ia tetap ada.

Namun kini
tidak lagi menjadi tempat menakutkan.

Ia menjadi tempat
yang telah dikenal.

Dan di depan sana
berdiri sebuah gerbang baru.

Tanpa mahkota.

Tanpa penjaga.

Tanpa tulisan.

Hanya sebuah timbangan
dari cahaya putih.

Lautan Gaganga mendekat.

Dan perjalanan selanjutnya dimulai:

Timbangan Sunyi —
Tempat Hati Tidak Bisa Berdusta.


TILAZAZALLI NANINZALLI

Puisi VI — Timbangan Sunyi dan Qembalinya Lautan Gaganga

Lautan Gaganga tiba
di hadapan Timbangan Sunyi.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada suara terompet.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada barisan makhluk
yang menyambut kedatangannya.

Hanya cahaya putih
yang berdiri seperti dua telapak tangan
yang terbuka.

Di tengahnya
terdapat timbangan.

Sangat sederhana.

Namun semakin Lautan Gaganga
mendekat,

semakin terasa
bahwa tidak ada sesuatu pun
yang dapat disembunyikan di sana.

Bukan karena seseorang sedang mengawasi.

Tetapi karena di tempat itu
hati melihat dirinya sendiri.

Lautan Gaganga berhenti.

Ia berkata:

“Apa yang harus kutaruh
di atas timbangan ini?”

Suara dari kedalaman menjawab:

“Apa yang masih engkau bawa.”

Lautan melihat dirinya.

Ia merasa telah melepaskan banyak hal.

Nama.

Kebanggaan.

Dendam.

Ketakutan.

Keinginan untuk selalu terlihat.

Namun ketika ia memandang lebih dalam,
ternyata masih ada benda-benda kecil
yang tersimpan di dasar.

Benda itu tidak berkilau.

Tidak besar.

Tetapi berat.

Yang pertama bernama:

keinginan untuk dianggap telah sampai.

Lautan Gaganga mengambilnya.

Ternyata berat sekali.

Ia meletakkannya
di atas Timbangan Sunyi.

Timbangan miring.

Lalu suara berkata:

“Perjalanan ruhani dapat menjadi hijab
jika seseorang menjadikannya alasan
untuk merasa lebih tinggi.”

Lautan menunduk.

Ia kemudian mengambil benda kedua.

Namanya:

keinginan untuk dipahami semua orang.

Ia meletakkannya.

Timbangan bergerak lagi.

Suara berkata:

“Tidak semua orang harus memahami perjalananmu.
Tugasmu bukan memaksa semua mata melihat seperti matamu.”

Lautan semakin diam.

Benda ketiga muncul.

Namanya:

keinginan agar kebaikan selalu dibalas kebaikan.

Lautan memegangnya.

Ia berkata:

“Bukankah wajar
mengharapkan kebaikan?”

Suara menjawab:

“Berharap bukan salah.
Tetapi jika engkau hanya berbuat baik
agar dunia membalas sesuai keinginanmu,
hatimu akan mudah kecewa.”

Maka benda itu diletakkan.

Benda keempat:

keinginan untuk menang dalam setiap perdebatan.

Benda kelima:

keinginan membuktikan diri kepada mereka
yang pernah meremehkan.

Benda keenam:

keinginan agar luka lama
dibayar dengan penyesalan orang lain.

Benda ketujuh:

keinginan mengetahui seluruh rahasia
sebelum waktunya.

Satu demi satu
semuanya masuk ke timbangan.

Dan Lautan Gaganga mulai mengerti:

yang membuat manusia berat
bukan selalu dosa besar
yang terlihat oleh dunia.

Kadang justru
benda-benda kecil
yang terus dipeluk oleh hati.

Satu rasa ingin dipuji.

Satu rasa tidak terima.

Satu kalimat yang belum dimaafkan.

Satu kegagalan
yang terus dibawa ke mana-mana.

Satu kenangan
yang setiap malam dibangunkan kembali.

Satu perbandingan
dengan kehidupan orang lain.

Satu keinginan
untuk selalu mendapatkan jawaban.

Semuanya kecil.

Namun jika dikumpulkan,
ia menjadi gunung.

Tilazazalli…

Leburkan beban
yang tidak lagi harus dibawa.

Naninzalli…

Qembalikan hati
kepada tempatnya yang sederhana.

Lautan Gaganga berdiri
di hadapan Timbangan Sunyi.

Untuk pertama kalinya
kedua sisi timbangan menjadi seimbang.

Namun tidak terjadi apa-apa.

Lautan bertanya:

“Apakah aku telah lulus?”

Tidak ada jawaban.

Ia bertanya lagi:

“Apakah perjalananku telah selesai?”

Tetap tidak ada jawaban.

Kemudian ia menyadari:

bahkan pertanyaan tentang kelulusan
masih menyimpan keinginan
untuk mendapatkan gelar batin.

Maka ia tersenyum.

Ia tidak bertanya lagi.

Saat itulah
Timbangan Sunyi berubah menjadi cahaya.

Bukan karena Lautan Gaganga menang.

Bukan pula karena ia menjadi sempurna.

Tetapi karena ia berhenti
mengukur dirinya sendiri.

Cahaya itu menyelimuti air.

Dan terdengarlah suara:

“Sekarang berjalanlah.”

Lautan bertanya:

“Ke mana?”

“Qembali.”

“Qembali ke mana?”

Jawaban itu datang perlahan:

“Qembali kepada kehidupan.”

Lautan Gaganga terkejut.

Ia mengira setelah perjalanan sejauh ini
ia akan masuk ke tempat
yang tidak lagi bersentuhan dengan dunia.

Ia mengira akan tinggal selamanya
di samudra cahaya.

Ia mengira kepulangan berarti
meninggalkan bumi.

Namun suara itu berkata:

“Qembalilah.”

“Kenapa?”

“Karena cahaya yang hanya disimpan
tidak memberi manfaat.”

“Bukankah aku datang
untuk meninggalkan segala sesuatu?”

“Engkau datang untuk melepaskan keterikatan,
bukan meninggalkan tanggung jawab.”

Lautan Gaganga diam.

Suara melanjutkan:

“Qembalilah kepada manusia.”

“Untuk apa?”

“Untuk menjadi air.”

Lautan bertanya:

“Bukankah aku memang air?”

Jawaban:

“Dahulu engkau ingin menjadi ombak terbesar.
Sekarang jadilah air
yang memberi kehidupan.”

Maka terbukalah jalan pulang.

Tidak seperti gerbang sebelumnya.

Jalan itu sangat sederhana.

Tidak ada istana.

Tidak ada bintang berjatuhan.

Tidak ada mahkota cahaya.

Jalan itu justru mengarah
kepada bumi.

Kepada rumah-rumah sederhana.

Kepada orang-orang yang bekerja.

Kepada ibu yang menggendong anak.

Kepada ayah yang pulang dalam kelelahan.

Kepada petani yang menunggu hujan.

Kepada orang sakit
yang membutuhkan penghiburan.

Kepada orang lapar
yang membutuhkan makanan.

Kepada orang kesepian
yang membutuhkan teman.

Kepada orang marah
yang membutuhkan ruang untuk tenang.

Kepada orang tersesat
yang membutuhkan petunjuk.

Kepada orang putus asa
yang membutuhkan harapan.

Lautan Gaganga berkata:

“Apakah ini tempat tujuan?”

Suara menjawab:

“Inilah tempat amal.”

“Lalu seluruh cahaya tadi?”

“Untuk menerangi langkahmu di sini.”

“Seluruh perjalanan tadi?”

“Untuk mengajarkan bagaimana engkau memperlakukan kehidupan.”

“Samudra Tanpa Nama?”

“Agar engkau tidak mabuk nama.”

“Lembah Bayangan?”

“Agar engkau tidak menghakimi luka orang lain
sebelum mengenali lukamu sendiri.”

“Timbangan Sunyi?”

“Agar engkau belajar
bahwa hati dapat menjadi berat
oleh hal-hal yang tidak terlihat.”

Lautan Gaganga menunduk.

Ia mulai mengerti.

Perjalanan menuju cahaya
tidak membuat manusia
berhak meninggalkan manusia lain.

Semakin dalam seseorang memahami dirinya,
semestinya semakin lembut
ia kepada sesama.

Semakin banyak ilmu,
semestinya semakin sedikit
kesombongannya.

Semakin tinggi kedudukan,
semestinya semakin besar
tanggung jawabnya.

Semakin banyak harta,
semestinya semakin luas
manfaatnya.

Semakin kuat dirinya,
semestinya semakin aman
orang lemah berada di dekatnya.

Semakin dekat seseorang
kepada nilai kebaikan,

semestinya semakin jauh
ia dari penghinaan terhadap sesama.

Tilazazalli Naninzalli.

Lautan Gaganga pulang.

Namun ia tidak lagi
seperti dahulu.

Dahulu ia pulang
membawa ombak.

Sekarang ia pulang
membawa kejernihan.

Dahulu ia ingin diketahui.

Sekarang ia ingin bermanfaat.

Dahulu ia ingin menjadi terbesar.

Sekarang ia ingin menjadi cukup luas
untuk menerima sungai-sungai
tanpa menghina asalnya.

Dahulu ia takut menjadi kecil.

Sekarang ia tahu
bahwa setetes air pun
dapat menyelamatkan kehidupan.

Maka ketika ia kembali
ke pantai pertama,

ombak-ombak muda bertanya:

“Apa yang kau temukan
di balik Gerbang Cahaya?”

Lautan Gaganga menjawab:

“Aku menemukan diriku
dan kemudian belajar untuk tidak terlalu sibuk
dengan diriku.”

Ombak bertanya:

“Apakah engkau melihat Sang Maha Dewa?”

Lautan diam lama.

Kemudian menjawab:

“Aku belajar bahwa Sang Maha Pencipta
tidak dapat dibatasi oleh gambar
yang dibuat oleh pikiranku.”

“Apa yang kau bawa dari sana?”

“Kesadaran untuk merendah.”

“Apakah engkau mendapat kekuatan?”

“Aku belajar menahan kekuatan
agar tidak melukai.”

“Apakah engkau mendapat ilmu?”

“Aku belajar bahwa ilmu
yang tidak membuatku lebih beradab
hanya menambah beban.”

“Apakah engkau mendapat rahasia?”

Lautan tersenyum.

“Rahasia yang paling sulit
adalah mengetahui kapan harus berbicara
dan kapan harus diam.”

Ombak-ombak itu terdiam.

Kemudian salah satu bertanya:

“Apakah semua orang
harus menempuh perjalanan sepertimu?”

Lautan menjawab:

“Tidak semua orang berjalan
melalui jalan yang sama.”

“Ada yang belajar melalui kesunyian.”

“Ada yang belajar melalui keluarga.”

“Ada yang belajar melalui kehilangan.”

“Ada yang belajar melalui pekerjaan.”

“Ada yang belajar melalui sakit.”

“Ada yang belajar melalui keberhasilan.”

“Ada yang belajar melalui kegagalan.”

“Ada yang belajar melalui cinta.”

“Ada yang belajar melalui perpisahan.”

“Ada yang belajar melalui ilmu.”

“Ada yang belajar melalui pelayanan.”

“Tetapi semua manusia
dapat belajar satu hal yang sama:”

jangan biarkan ego
menjadi pusat seluruh kehidupan.

Matahari kemudian terbit.

Cahaya menyapu
seluruh Lautan Gaganga.

Namun kali ini
laut tidak berusaha menangkapnya.

Ia membiarkan cahaya
memantul di permukaannya.

Burung terbang.

Nelayan mulai turun.

Perahu kecil bergerak
membelah air.

Anak-anak bermain
di tepian.

Dan Lautan Gaganga memahami:

kesucian tidak selalu berada
di tempat yang jauh.

Ia dapat hadir
ketika seseorang memberikan air
kepada yang haus.

Ketika seorang anak
memeluk orang tuanya.

Ketika seseorang menahan ucapan
yang dapat melukai.

Ketika seorang pemimpin
mendahulukan keadilan.

Ketika orang kaya
mengingat orang miskin.

Ketika seseorang
meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Ketika dua orang
yang berbeda pandangan
tetap menjaga kehormatan satu sama lain.

Ketika manusia menjaga sungai.

Menjaga pohon.

Menjaga laut.

Menjaga hewan.

Menjaga bumi
yang menjadi tempat hidup bersama.

Karena mencintai Sang Pencipta
tidak boleh menjadi alasan
untuk merusak ciptaan.

Tilazazalli…

Peleburan terakhir
bukan hilangnya dunia.

Melainkan hilangnya kesombongan
yang membuat manusia
merasa dunia hanya miliknya.

Naninzalli…

Kepulangan terakhir
bukan lari dari bumi.

Melainkan Qembali
menjalani kehidupan
dengan kesadaran yang baru.

Hari berganti malam.

Malam berganti pagi.

Lautan Gaganga tetap mengalir.

Kadang tenang.

Kadang bergelombang.

Kadang badai datang kembali.

Dan Lautan Gaganga sadar:

perjalanan batin
tidak membuat badai kehidupan hilang.

Namun sekarang ia tahu
cara mengenali badai
tanpa menjadi badai itu sendiri.

Ketika marah datang,
ia berkata:

“Aku sedang merasakan marah,
tetapi aku bukan hanya kemarahanku.”

Ketika sedih datang:

“Aku sedang mengalami kesedihan,
tetapi kesedihan tidak akan tinggal selamanya.”

Ketika takut datang:

“Aku mendengar pesan ketakutan ini,
tetapi aku tidak harus menyerahkan seluruh kemudi kepadanya.”

Ketika pujian datang:

“Terima kasih,
tetapi aku masih harus belajar.”

Ketika hinaan datang:

“Aku akan melihat apakah ada sesuatu
yang perlu kuperbaiki,
tanpa membiarkan hinaan menentukan seluruh nilai diriku.”

Ketika keberhasilan datang:

“Ini amanah.”

Ketika kegagalan datang:

“Ini pelajaran.”

Ketika kehilangan datang:

“Aku akan berduka,
tetapi aku tidak akan berhenti hidup.”

Ketika cinta datang:

“Aku akan menjaganya
tanpa menjadikannya kepemilikan.”

Begitulah Lautan Gaganga
menjalani hari-harinya.

Tidak sempurna.

Tetapi sadar.

Tidak selalu tenang.

Tetapi tahu cara Qembali.

Tidak selalu kuat.

Tetapi tidak malu mengakui kelemahan.

Tidak selalu mengerti.

Tetapi tidak lagi berpura-pura tahu semuanya.

Dan inilah makna kepulangan:

bukan tidak pernah tersesat,
melainkan mengenali arah ketika tersesat.

Bukan tidak pernah jatuh.

Melainkan mengetahui
bagaimana berdiri tanpa menyalahkan seluruh dunia.

Bukan tidak pernah terluka.

Melainkan tidak mewariskan luka
kepada orang lain.

Bukan menjadi manusia tanpa ego.

Melainkan mengetahui
kapan ego mulai mengambil alih.

Bukan meninggalkan keinginan.

Melainkan mengetahui
mana keinginan yang harus diarahkan
dan mana yang harus dilepaskan.

Bukan meninggalkan dunia.

Melainkan menempatkan dunia
di tangan,

bukan di dalam pusat hati.

Tilazazalli Naninzalli.

Pada suatu malam,
ketika bulan penuh
terpantul di permukaan Gaganga,

seorang anak datang ke pantai.

Ia bertanya kepada lautan:

“Wahai laut,
mengapa engkau begitu luas?”

Laut menjawab:

“Karena aku menerima banyak sungai.”

“Mengapa engkau tidak menjadi sombong?”

“Karena setiap hari
aku melihat langit yang lebih luas.”

“Mengapa engkau terus bergerak?”

“Karena air yang berhenti terlalu lama
dapat kehilangan kejernihannya.”

“Mengapa kadang engkau marah?”

Laut tersenyum:

“Aku tidak marah.
Aku hanya memiliki gelombang.
Tetapi manusia perlu belajar
membaca cuaca sebelum berlayar.”

Anak itu tertawa.

Kemudian bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Lautan Gaganga menjadi sangat hening.

Ia tidak menunjuk dirinya.

Tidak menunjuk langit.

Tidak menunjuk bintang.

Ia hanya berkata:

“Carilah dengan iman yang jernih,
dengan ilmu yang benar,
dengan hati yang rendah,
dan dengan perbuatan yang membawa kebaikan.
Jangan mengurung Yang Maha Besar
ke dalam gambaran kecil buatan pikiranmu.”

Anak itu melihat bulan.

Lalu pulang.

Dan Lautan Gaganga
kembali menjalankan tugasnya.

Memberi hujan melalui uap.

Memberi jalan kepada kapal.

Menjadi tempat hidup makhluk.

Menyimpan kedalaman
tanpa harus memamerkannya.

Di situlah Lautan Gaganga
akhirnya memahami
mengapa ia harus Qembali.

Karena puncak perjalanan
bukan berada jauh dari kehidupan.

Puncaknya adalah
ketika kesadaran
menjadi akhlak.

Ketika pengetahuan
menjadi kebijaksanaan.

Ketika dzikir
menjadi kelembutan.

Ketika doa
menjadi tindakan.

Ketika cinta kepada Sang Maha Pencipta
menjadikan seseorang
lebih menjaga ciptaan.

Ketika cahaya batin
membuat tangan
lebih ringan menolong,

lidah lebih hati-hati berbicara,

pikiran lebih jernih menimbang,

dan hati lebih lambat menghakimi.

TILAZAZALLI NANINZALLI.

Inilah leburnya Lautan Gaganga.

Bukan laut yang dihancurkan.

Bukan bumi yang ditinggalkan.

Bukan manusia yang kehilangan dirinya.

Yang dilebur
adalah rasa menjadi pusat segala sesuatu.

Yang dikembalikan
adalah amanah kepada Pemiliknya.

Yang disucikan
adalah niat.

Yang dijaga
adalah hati.

Yang diarahkan
adalah langkah.

Yang ditinggalkan
adalah kesombongan.

Yang dibawa pulang
adalah kesadaran.

Maka apabila suatu hari
engkau berdiri di tepi lautan,

dengarkan ombak.

Mungkin ia sedang berkata:

Tilazazalli…

Lepaskan yang tidak perlu.

Dengarkan ketika ombak kembali
ke tengah laut.

Mungkin ia berkata:

Naninzalli…

Qembalilah.

Qembalilah dari kebencian
menuju pengertian.

Qembalilah dari kesombongan
menuju kerendahan.

Qembalilah dari iri
menuju pembenahan diri.

Qembalilah dari dendam
menuju kebebasan hati.

Qembalilah dari kebisingan
menuju kejernihan.

Qembalilah dari merasa memiliki
menuju rasa menjaga amanah.

Qembalilah dari mengejar pengakuan
menuju kebermanfaatan.

Qembalilah dari rasa paling tahu
menuju kesediaan belajar.

Qembalilah dari keinginan menguasai
menuju kemampuan merawat.

Qembalilah dari banyaknya nama
menuju satu kesadaran:

hidup ini tidak selamanya.

Maka sebelum waktunya selesai,

buatlah kehadiranmu
menjadi rahmat bagi sekitarmu.

Jika mampu menenangkan,
jangan menambah kegaduhan.

Jika mampu menyatukan,
jangan menikmati perpecahan.

Jika memiliki ilmu,
bagikan dengan adab.

Jika memiliki kekuatan,
gunakan untuk melindungi.

Jika memiliki harta,
jadikan jalan manfaat.

Jika memiliki kedudukan,
jadikan jalan pelayanan.

Jika memiliki cinta,
jangan ubah menjadi penjara.

Jika memiliki luka,
jangan jadikan alasan
untuk melukai.

Jika memiliki cahaya,
jangan gunakan cahaya itu
untuk membuat orang lain
terlihat lebih gelap.

Karena cahaya yang sejati
tidak membutuhkan kegelapan orang lain
untuk membuktikan bahwa ia terang.

Dan jika suatu hari
engkau tidak mengetahui
jalan mana yang harus dipilih,

berhentilah sejenak.

Bukan untuk menyerah.

Tetapi untuk mendengar kembali:

mana suara ketakutan,

mana suara kesombongan,

mana suara luka,

dan mana suara nurani
yang mengajak kepada kebaikan.

Kemudian pilihlah
jalan yang membuatmu
lebih bertanggung jawab,

lebih jernih,

lebih beradab,

lebih bermanfaat,

dan lebih rendah hati
di hadapan Sang Maha Pencipta.

Inilah akhir puisi.

Tetapi bukan akhir perjalanan.

Karena setiap pagi
Timbangan Sunyi kembali berdiri
di dalam hati manusia.

Setiap keputusan
adalah satu timbangan.

Setiap ucapan
adalah satu timbangan.

Setiap kekuasaan
adalah satu timbangan.

Setiap cinta
adalah satu timbangan.

Setiap kemarahan
adalah satu timbangan.

Setiap kesempatan menolong
adalah satu timbangan.

Dan setiap malam,
sebelum tidur,

manusia dapat bertanya:

“Hari ini,
apakah aku menjadi ombak
yang hanya ingin meninggi,
atau menjadi air
yang memberi kehidupan?”

Tidak perlu menjawab
kepada dunia.

Jawablah kepada hati sendiri.

Lalu perbaiki esok hari.

Sebab kesadaran
bukan tentang menjadi sempurna dalam satu malam.

Ia adalah keberanian
untuk terus membenahi arah.

Hari demi hari.

Sedikit demi sedikit.

Sampai pada suatu masa
ketika perjalanan dunia selesai,

semoga yang tertinggal
bukan hanya nama,

bukan hanya cerita,

bukan hanya pujian,

melainkan jejak kebaikan
yang pernah membuat kehidupan
sedikit lebih teduh.

Dan di sanalah
Lautan Gaganga akhirnya diam.

Tidak karena kehilangan suara.

Tetapi karena telah memahami
bahwa beberapa kebenaran
lebih indah dijaga
dengan keheningan.

Bulan masih bersinar.

Bintang masih bergerak.

Ombak masih datang dan pergi.

Dan dari kedalaman samudra
terdengar bisikan terakhir:

TILAZAZALLI NANINZALLI

Leburlah apa yang membuat hati membatu.

Qembalikan apa yang bukan milikmu.

Rawat apa yang telah dipercayakan.

Maafkan yang dapat dimaafkan.

Perbaiki yang dapat diperbaiki.

Tinggalkan yang harus ditinggalkan.

Jaga mereka yang dipercayakan kepadamu.

Jangan merasa paling suci.

Jangan merasa paling tinggi.

Jangan merasa telah selesai.

Tetaplah belajar.

Tetaplah merendah.

Tetaplah mengingat.

Dan teruslah berjalan
hingga setiap langkah kehidupan
menjadi jalan Qembali
kepada Sang Maha Pencipta.

TAMAT

TILAZAZALLI NANINZALLI

Leburnya Lautan Gaganga
Qembali Qe arah Sang Maha Dewa

Yang melebur bukan kehidupan,
melainkan kesombongan.

Yang hilang bukan diri,
melainkan kepalsuan yang menutupinya.

Yang Qembali bukan tubuh menuju suatu tempat,
melainkan hati menuju kesadaran, penghambaan,
dan amanah kepada Sang Maha Pencipta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh