PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
KATA PENGANTAR
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Alḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.
Segala puji hanya bagi Alloh, Pemilik segala ilmu, sumber segala hikmah, pembuka segala pemahaman, dan tempat kembali seluruh pengetahuan.
Puisi Al-Asrōh Billāh Azallā lahir dari satu kesadaran sederhana namun dalam:
qeilmuan yang sebenar-benarnya tiada mahar dan taq bermahar.
Kalimat ini bukan berarti bahwa setiap proses belajar harus selalu tanpa biaya.
Bukan pula berarti bahwa guru tidak boleh menerima hadiah, bantuan, penghormatan, atau biaya pelayanan.
Manusia tetap membutuhkan sarana.
Ada buku yang harus dicetak.
Ada tempat yang harus dijaga.
Ada perjalanan yang harus ditempuh.
Ada waktu dan tenaga yang dicurahkan.
Ada dakwah, pendidikan, pengelolaan, dan pelayanan yang membutuhkan keberlangsungan.
Namun di balik seluruh sarana itu, ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan:
kebenaran tidak pernah dapat dibeli.
Ilmu pada hakikatnya bukan barang dagangan.
Cahaya pemahaman tidak dapat ditimbang dengan emas.
Kedekatan kepada Alloh tidak dapat dipatok dengan nominal.
Dan keberkahan tidak dapat dijamin hanya karena seseorang telah mengeluarkan banyak harta.
Karena itulah puisi ini mengajak pembaca membedakan dengan jernih antara:
pemberian dan harga,
penghormatan dan pengkultusan,
biaya pelayanan dan perdagangan kebenaran,
adab kepada guru dan ketergantungan kepada manusia,
serta ilmu yang berhenti di lisan dengan ilmu yang benar-benar menjadi akhlak.
Puisi ini juga tidak bermaksud menumbuhkan sikap meremehkan guru.
Justru sebaliknya.
Guru yang benar adalah salah satu jalan besar datangnya kebaikan.
Orang yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan hidupnya untuk membimbing manusia patut dihormati.
Tetapi penghormatan yang sehat tidak menjadikan manusia kehilangan akal, martabat, dan ketergantungannya kepada Alloh.
Guru adalah penunjuk jalan.
Bukan pemilik jalan.
Murid adalah penerima amanah.
Bukan tawanan.
Ilmu adalah cahaya.
Bukan rantai.
Dan Alloh tetaplah sumber segala pengetahuan.
Di dalam enam bait Al-Asrōh Billāh Azallā, pembaca diajak berjalan dari satu pintu menuju pintu berikutnya.
Bait pertama membuka pengertian bahwa ilmu sejati tidak dapat dibeli oleh kekayaan.
Bait kedua membedakan antara hadiah, biaya, penghormatan, dan menjadikan ilmu sebagai barang dagangan.
Bait ketiga menunjukkan bahwa harga terbesar ilmu justru berada pada amanah dan tanggung jawab setelah seseorang mengetahuinya.
Bait keempat mengajak ilmu turun dari kepala menuju hati, lalu menjelma menjadi akhlak dan kehidupan.
Bait kelima mengingatkan bahwa ilmu yang benar tidak membelenggu manusia, melainkan membebaskannya dari kebodohan dan ketergantungan yang keliru.
Dan bait keenam mengembalikan seluruh perjalanan itu kepada sumbernya:
Alloh.
Pada akhirnya, puisi ini bukanlah ajakan untuk mempertentangkan ilmu berbayar dan ilmu tanpa bayaran.
Bukan pula untuk menuduh siapa pun.
Puisi ini adalah cermin.
Bagi guru.
Bagi murid.
Bagi pemberi.
Bagi penerima.
Bagi mereka yang mengajarkan.
Dan bagi mereka yang sedang mencari.
Cermin untuk bertanya:
Apakah ilmu yang kita bawa melahirkan manfaat?
Apakah ia menambah adab?
Apakah ia mengurangi kesombongan?
Apakah ia membuat kita semakin jujur?
Apakah ia membuat kita semakin lembut kepada manusia?
Apakah ia membuat kita semakin takut melakukan kezaliman?
Dan apakah setelah mengetahui banyak hal, kita semakin sadar bahwa seluruh ilmu hanyalah titipan?
Sebab seseorang mungkin tidak mengeluarkan mahar sedikit pun, tetapi apabila setelah menerima ilmu ia menjadi sombong, maka ia belum memahami amanahnya.
Sebaliknya, seseorang mungkin mengeluarkan biaya besar untuk belajar, tetapi apabila ia tumbuh menjadi manusia yang jujur, beradab, dan bermanfaat, maka biaya itu hanyalah sarana dalam perjalanan.
Karena itu jangan berhenti pada persoalan:
“Bermahar atau tidak bermahar?”
Pergilah lebih dalam.
Tanyakan:
“Apakah ilmu ini membawa manusia kepada kebenaran, akhlak, manfaat, dan kesadaran kepada Alloh?”
Di sanalah ukuran yang lebih hakiki.
Ilmu sejati tidak membuat manusia semakin mabuk terhadap dirinya.
Ia justru membuat manusia semakin mengenal keterbatasannya.
Ilmu sejati tidak selalu membuat seseorang semakin banyak berbicara.
Kadang ia membuatnya semakin tahu kapan harus diam.
Ilmu sejati tidak membuat seseorang sibuk memperlihatkan kedudukan.
Ia membuat seseorang sibuk memperbaiki dirinya.
Dan ilmu sejati tidak menjadikan manusia merasa sebagai pemilik cahaya.
Ia membuat manusia sadar:
aku hanyalah penjaga sebuah amanah.
Semoga setiap bait dalam puisi ini dapat dibaca bukan hanya oleh mata, tetapi oleh hati.
Semoga yang mengajar semakin jernih niatnya.
Yang belajar semakin kuat adabnya.
Yang memiliki kemampuan semakin ringan membantu.
Yang belum memiliki kemampuan tidak merasa tertutup dari ilmu.
Yang memperoleh pengetahuan semakin bertanggung jawab.
Dan siapa pun yang membaca semakin memahami bahwa ilmu yang bermanfaat bukanlah sesuatu yang sekadar disimpan, melainkan sesuatu yang harus menjelma menjadi kebaikan.
Semoga Alloh menjaga kita dari ilmu yang melahirkan kesombongan.
Menjaga kita dari pengetahuan yang digunakan untuk menipu.
Menjaga kita dari menjadikan agama sebagai alat ketakutan.
Menjaga kita dari merendahkan orang yang belum tahu.
Dan menganugerahkan kepada kita ilmu yang hidup sebagai adab, rahmat, kejujuran, keberanian, keadilan, dan manfaat.
Akhirnya, Al-Asrōh Billāh Azallā dipersembahkan sebagai sebuah renungan:
bahwa yang paling mahal dalam ilmu bukan nominal yang dibayarkan,
melainkan perubahan diri yang harus dijalani.
Yang paling tinggi bukan gelar yang diperoleh,
melainkan amanah yang sanggup dijaga.
Dan yang paling bercahaya bukan orang yang paling banyak berbicara tentang ilmu,
melainkan orang yang hidupnya menjadi bukti dari apa yang telah dipelajarinya.
Ilmu berasal dari Alloh.
Cahaya berasal dari Alloh.
Manusia hanyalah penerima dan penjaga amanah.
Semoga puisi ini menjadi jalan kecil menuju kesadaran yang lebih besar.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Pertama — Ilmu yang Tidak Diperjualbelikan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Bukan emas yang membuka pintunya,
bukan perak yang membeli cahayanya,
bukan pula banyaknya harta
yang menentukan dekat atau jauhnya seseorang
dari mata air pengetahuan.
Ilmu yang sebenar-benarnya ilmu
tidak berdiri di atas harga.
Ia tidak berkata:
“Bayarlah dahulu, baru engkau mengenal.”
Ia datang kepada hati
yang bersedia merendah,
kepada akal yang bersedia belajar,
kepada jiwa yang bersedia memperbaiki diri,
dan kepada tangan
yang bersedia mengamalkan kebaikan.
Lā mahrun lil-‘ilmi idzā ṣadaqa al-qalbu,
wa lā tsamana lin-nūri idzā fataḥallōhu al-bāba.
Tiada mahar bagi ilmu
ketika hati datang dengan ketulusan,
dan tiada harga bagi cahaya
ketika Alloh membukakan pintu pemahaman.
Mahar ilmu bukanlah uang.
Mahar ilmu adalah adab.
Harganya bukan kepingan dunia.
Harganya adalah kesungguhan.
Kuncinya bukan kekayaan.
Kuncinya adalah kerendahan hati.
Sebab orang miskin dapat menjadi kaya oleh hikmah,
dan orang kaya dapat tetap miskin
apabila hatinya menolak kebenaran.
Maka jangan engkau jual cahaya
yang seharusnya menerangi.
Jangan pula engkau merendahkan ilmu
dengan menjadikannya alat
untuk meninggikan diri sendiri.
Apabila seseorang memberi dengan ikhlas,
terimalah sebagai kebaikan.
Apabila ia tidak memiliki sesuatu untuk diberikan,
jangan tutup pintu ilmu di hadapannya.
Sebab ilmu yang membawa manusia
semakin mengenal Alloh,
semakin beradab kepada manusia,
dan semakin takut berbuat zalim,
adalah amanah yang harus dijaga,
bukan barang dagangan yang harus ditawar.
Inilah rahasia awal Al-Asrōh Billāh Azallā:
ilmu sejati tidak bertanya seberapa besar hartamu,
tetapi seberapa sungguh engkau mencari kebenaran.
Yang bermahar dapat menjadi jalan pelayanan,
namun hakikat ilmu tidak pernah dapat dibeli.
Yang tidak bermahar dapat menjadi jalan sedekah,
namun penerimanya tetap wajib menjaganya dengan adab.
Maka berdirilah di antara keduanya
dengan hati yang jernih:
tidak menjual kebenaran,
tidak merendahkan pengajar,
tidak memaksa pemberian,
dan tidak menutup pintu
bagi jiwa yang benar-benar ingin belajar.
Karena pada akhirnya,
harta hanya berpindah dari tangan ke tangan,
sedangkan ilmu yang bermanfaat
berpindah dari hati ke hati
dan terus hidup
bahkan ketika pemilik tubuhnya
telah kembali kepada Alloh.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Kedua — Antara Pemberian dan Harga
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Jangan salah memahami
ketika seorang murid datang membawa sesuatu
kepada orang yang mengajarinya.
Tidak setiap pemberian adalah mahar,
dan tidak setiap pemberian adalah harga.
Ada pemberian
yang lahir dari rasa terima kasih.
Ada pemberian
yang lahir dari adab.
Ada pemberian
yang menjadi sedekah.
Ada pula pemberian
yang sekadar membantu perjalanan,
makan, tempat, kertas, kitab,
dan segala kebutuhan pelayanan ilmu.
Semua itu tidak sama
dengan menjual cahaya.
Karena cahaya tidak pernah dapat dibeli.
Jika seorang guru diberi,
janganlah ia merasa bahwa dirinya telah menjual ilmu.
Jika seorang murid tidak mampu memberi,
janganlah ia merasa pintu ilmu telah tertutup baginya.
Fa inna al-‘ilma amānah,
wa al-‘aṭā’a syukr,
wa al-adaba bābun ilā al-barakah.
Sesungguhnya ilmu adalah amanah,
pemberian adalah ungkapan syukur,
dan adab adalah pintu menuju keberkahan.
Tetapi apabila ilmu mulai berkata:
“Tanpa sejumlah ini
engkau tidak boleh mengenal.”
“Tanpa bayaran sebesar itu
engkau tidak berhak mendengar.”
“Tanpa harta
engkau tidak layak mendekat.”
Maka berhati-hatilah.
Sebab bisa jadi
yang sedang diperdagangkan bukan pelayanan,
melainkan ketergantungan manusia.
Dan ketika manusia dibuat takut
bahwa keselamatan, keberkahan,
kedudukan batin,
atau kedekatan kepada Alloh
bergantung kepada uang yang dibayarkan,
maka di sanalah ilmu harus kembali ditimbang
dengan neraca kejujuran.
Alloh tidak miskin
hingga cahaya-Nya harus dibayar.
Kebenaran tidak kekurangan
hingga harus dipagari oleh kemewahan.
Namun manusia yang mengabdi kepada ilmu
tetap membutuhkan makan,
tempat tinggal, perjalanan,
alat, waktu, tenaga, dan pengelolaan.
Maka bedakanlah:
biaya untuk pelayanan
dengan harga untuk kebenaran.
Bedakanlah:
hadiah untuk menghormati
dengan syarat untuk mendapatkan cahaya.
Bedakanlah:
sedekah yang lahir dari kerelaan
dengan mahar yang dipaksakan oleh ketakutan.
Apabila ada kemampuan,
berilah dengan lapang.
Apabila tidak ada kemampuan,
datanglah dengan adab.
Apabila pengajar membutuhkan biaya,
jelaskan dengan jujur.
Apabila murid tidak mampu,
jangan rendahkan martabatnya.
Sebab kadang-kadang
seorang yang tidak membawa satu keping uang pun
datang membawa hati
yang lebih bersih daripada emas.
Dan kadang-kadang
seorang yang membawa banyak harta
belum tentu membawa kesiapan
untuk menerima satu butir hikmah.
Inilah rahasia kedua
Al-Asrōh Billāh Azallā:
Yang bermahar
tidak selalu berarti menjual ilmu.
Yang tidak bermahar
tidak selalu berarti lebih suci.
Yang menentukan adalah
niat, kejujuran, adab, dan cara menjalaninya.
Jika pemberian menjadi syukur,
ia dapat membawa keberkahan.
Jika biaya menjadi sarana pelayanan,
ia dapat menjaga keberlangsungan.
Tetapi jika harga menjadi tembok
yang memisahkan orang miskin
dari pengetahuan yang semestinya membimbingnya,
maka bukalah kembali pintunya.
Karena ilmu sejati
tidak diciptakan untuk menjadikan manusia bergantung kepada manusia.
Ilmu sejati
mendidik manusia agar semakin sadar,
semakin merdeka dari kebodohan,
semakin rendah hati,
dan semakin dekat kepada Alloh.
Maka berilah tanpa merasa memiliki.
Terimalah tanpa merasa membeli.
Ajarkan tanpa merasa paling tinggi.
Belajarlah tanpa merasa paling rendah.
Sebab pemberi ilmu hanyalah perantara,
penerima ilmu hanyalah penjaga,
dan sumber segala pengetahuan
tetaplah Alloh.
Di situlah mahar kehilangan namanya,
harga kehilangan kuasanya,
dan yang tersisa hanyalah:
amanah yang berpindah
dari hati yang ikhlas
kepada hati yang siap menjaga.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Ketiga — Mahal Karena Amanah
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ilmu yang tinggi
tidak selalu mahal karena uang.
Kadang ia mahal
karena berat untuk dijaga.
Kadang ia mahal
karena menuntut seseorang
mengalahkan kesombongannya sendiri.
Kadang ia mahal
karena setelah mengetahui,
seseorang tidak lagi bebas
berpura-pura tidak tahu.
Di situlah harga ilmu berubah.
Bukan menjadi angka,
bukan menjadi emas,
bukan menjadi mahar.
Tetapi menjadi tanggung jawab.
Al-‘ilmu amānah,
wa kullu amānahin mas’ūliyyah.
Ilmu adalah amanah,
dan setiap amanah membawa pertanggungjawaban.
Semakin seseorang mengetahui kebenaran,
semakin besar tuntutan
untuk memperbaiki langkahnya.
Semakin seseorang memahami kasih sayang,
semakin tidak pantas
ia menyakiti sesama.
Semakin seseorang mengenal keadilan,
semakin berat baginya
untuk membela kezaliman.
Semakin seseorang berbicara tentang Alloh,
semakin besar kewajibannya
menjaga lisannya dari kesombongan.
Maka jangan cepat meminta
ilmu yang tinggi
jika hati belum siap
memikul akibatnya.
Sebab ada ilmu
yang ringan ketika didengar,
tetapi berat ketika harus dijalankan.
Ada hikmah
yang indah ketika dibaca,
tetapi mengguncang ego
ketika harus diwujudkan.
Ada pengetahuan
yang membuat seseorang dipuji manusia,
namun apabila tidak diamalkan,
ia justru menjadi saksi
atas kelalaiannya sendiri.
Maka mahar sebenarnya
bukan uang.
Mahar sebenarnya adalah:
kesungguhan menjaga amanah,
kesabaran menahan hawa nafsu,
keberanian mengakui kesalahan,
kerendahan hati untuk terus belajar,
dan kesiapan memperbaiki diri
setelah kebenaran diketahui.
Inilah ilmu yang mahal.
Bukan karena orang miskin
tidak mampu membelinya,
melainkan karena tidak semua manusia
mau membayar dengan perubahan dirinya.
Ada yang rela mengeluarkan banyak harta,
namun tidak rela meninggalkan kesombongan.
Ada yang sanggup menempuh perjalanan jauh,
namun tidak sanggup meminta maaf.
Ada yang hafal ribuan kalimat,
namun belum mampu menjaga satu ucapan
agar tidak melukai.
Ada yang mencari rahasia langit,
tetapi melupakan adab di bumi.
Maka ilmu berkata kepadanya:
“Jangan mencari ketinggian
sebelum engkau memperbaiki kedalaman.”
“Jangan mencari rahasia besar
sebelum engkau menjaga amanah kecil.”
“Jangan mencari cahaya jauh
sebelum engkau menyalakan lampu
di dalam dirimu.”
Sebab ilmu tidak menjadi mulia
karena banyaknya istilah.
Ilmu menjadi mulia
ketika melahirkan perubahan.
Dari keras menjadi lembut.
Dari sombong menjadi rendah hati.
Dari rakus menjadi cukup.
Dari suka menyalahkan
menjadi suka mengoreksi diri.
Dari merasa memiliki ilmu
menjadi sadar bahwa dirinya
hanya dititipi.
Inilah rahasia ketiga
Al-Asrōh Billāh Azallā:
Ilmu sejati memang tidak memiliki harga,
tetapi ia memiliki tanggung jawab.
Tidak ada mahar
untuk membeli kebenaran,
tetapi ada amanah
yang harus dibayar dengan kehidupan.
Siapa yang menerima ilmu,
hendaklah menjaganya.
Siapa yang memahami,
hendaklah mengamalkannya.
Siapa yang mampu mengajarkan,
hendaklah menyampaikannya dengan kasih.
Dan siapa yang belum mampu,
hendaklah diam
daripada menjadikan ilmu
sebagai alat untuk meninggikan dirinya.
Karena pada akhirnya
Alloh tidak akan bertanya
berapa mahal ilmu yang engkau dapatkan.
Tetapi manusia harus merenungkan:
apa yang telah berubah
setelah ilmu itu masuk ke dalam hatinya?
Apakah ia semakin beradab?
Apakah ia semakin jujur?
Apakah ia semakin bermanfaat?
Apakah ia semakin sadar
bahwa pengetahuan bukan mahkota,
melainkan amanah?
Jika iya,
maka ilmu itu telah hidup.
Jika tidak,
ia masih menjadi tulisan
yang belum turun
menjadi cahaya kehidupan.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Keempat — Ilmu yang Menjadi Cahaya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Tidak semua yang diketahui
telah menjadi ilmu.
Ada yang hanya singgah di kepala,
namun belum turun ke hati.
Ada yang hanya menjadi hafalan,
namun belum menjadi kesadaran.
Ada yang hanya menjadi ucapan,
namun belum menjadi perilaku.
Maka jangan ukur ilmu
dari banyaknya kata.
Jangan ukur kedalaman
dari banyaknya istilah.
Jangan ukur kemuliaan
dari berapa banyak manusia
yang memanggil seseorang guru.
Karena ilmu yang benar
mempunyai tanda.
Ia membuat hati lebih jernih.
Ia membuat langkah lebih hati-hati.
Ia membuat seseorang
semakin takut menyakiti.
Ia membuat manusia
lebih mudah meminta maaf
dan lebih sulit merendahkan.
An-nūru lā yaḥtāju ilā katsrati al-kalām,
bal yaẓharu fī atsari al-akhlāq.
Cahaya tidak membutuhkan
banyaknya perkataan.
Ia tampak
pada bekasnya dalam akhlak.
Maka apabila engkau belajar
tentang kasih sayang,
jadilah lebih penyayang.
Apabila engkau belajar
tentang kesabaran,
jadilah lebih mampu menahan diri.
Apabila engkau belajar
tentang keikhlasan,
kurangilah keinginan untuk dipuji.
Apabila engkau belajar
tentang Alloh,
jangan merasa paling dekat kepada-Nya.
Sebab orang yang benar-benar mendekat
justru semakin menyadari
betapa kecil dirinya.
Inilah rahasia ilmu:
ia tidak membuat seseorang
merasa menjadi matahari.
Ia justru mengajarkan
bagaimana menjadi pelita.
Pelita tidak berteriak:
“Lihatlah aku bercahaya.”
Ia hanya menyala.
Dan karena ia menyala,
orang lain dapat melihat jalan.
Begitulah ilmu sejati.
Ia tidak sibuk
membuktikan dirinya tinggi.
Ia sibuk
memberi manfaat.
Ia tidak memaksa manusia
untuk mengakui kedudukannya.
Ia membuat manusia merasakan
keteduhan dari akhlaknya.
Maka bila ilmumu
membuatmu mudah marah
ketika tidak dihormati,
periksalah kembali.
Bila ilmumu
membuatmu merasa
semua orang berada di bawahmu,
periksalah kembali.
Bila ilmumu
membuatmu senang membuka aib,
merendahkan yang belum tahu,
dan mempermalukan yang sedang belajar,
periksalah kembali.
Sebab bisa jadi
yang bertambah bukan cahaya,
melainkan ego
yang memakai pakaian ilmu.
Ilmu yang menjadi cahaya
mempunyai sifat yang lembut.
Ia tegas terhadap kebatilan,
namun tidak kehilangan adab.
Ia berani menyampaikan kebenaran,
namun tidak menjadikan kebencian
sebagai bahan bakarnya.
Ia mengetahui banyak,
namun masih mampu berkata:
“Aku belum tahu.”
Ia mempunyai pengalaman,
namun masih mampu belajar
dari orang yang lebih muda.
Ia dihormati,
namun tidak mabuk penghormatan.
Ia diberi,
namun tidak diperbudak pemberian.
Ia tidak diberi,
namun tidak mengurangi keikhlasan.
Inilah rahasia keempat
Al-Asrōh Billāh Azallā:
ilmu yang sebenar-benarnya
bukan hanya sesuatu yang engkau miliki,
melainkan cahaya yang mengubah
cara engkau memperlakukan kehidupan.
Jika ilmu hanya berada di lisan,
ia berhenti ketika ucapan selesai.
Jika ilmu hanya berada di kertas,
ia berhenti ketika halaman ditutup.
Tetapi jika ilmu telah masuk ke hati,
ia berjalan bersama pemiliknya.
Ia ikut ketika engkau berdagang.
Ia ikut ketika engkau memimpin.
Ia ikut ketika engkau menjadi orang tua.
Ia ikut ketika engkau berbeda pendapat.
Ia ikut ketika engkau sedang marah.
Ia ikut ketika tidak ada seorang pun
yang melihatmu.
Di situlah ilmu diuji.
Bukan ketika majelis ramai.
Bukan ketika tepuk tangan terdengar.
Bukan ketika nama disebut-sebut.
Tetapi ketika engkau sendirian
dan masih memilih untuk berlaku benar.
Maka jangan hanya memohon:
“Ya Alloh, tambahkan ilmuku.”
Mohonlah pula:
“Ya Alloh, jadikan ilmuku cahaya.”
Cahaya dalam ucapan.
Cahaya dalam keputusan.
Cahaya dalam rezeki.
Cahaya dalam keluarga.
Cahaya ketika berbeda.
Cahaya ketika diuji.
Cahaya ketika dipuji.
Dan cahaya ketika dilupakan.
Sebab ilmu yang telah menjadi cahaya
tidak lagi bertanya:
“Berapa mahar yang telah kubayar?”
Ia bertanya:
“Berapa banyak kebaikan
yang telah lahir
dari apa yang telah kupahami?”
Dan ketika jawaban itu
mulai tampak dalam kehidupan,
maka ilmu tidak lagi sekadar diketahui.
Ia telah hidup.
Ia telah berjalan.
Ia telah menjadi saksi.
Dan ia telah berubah
menjadi cahaya
yang menerangi pemiliknya
serta siapa pun
yang berada di sekitarnya.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Kelima — Ilmu yang Tidak Membelenggu
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ilmu sejati
tidak datang untuk membelenggu manusia.
Ia datang untuk membebaskan
dari kebodohan,
dari ketakutan yang dibuat-buat,
dari ketergantungan yang tidak perlu,
dan dari rasa kecil
yang sengaja dipelihara
agar seseorang selalu tunduk kepada manusia.
Ilmu yang benar
tidak berkata:
“Tanpaku engkau tidak akan sampai.”
Ia justru berkata:
“Kenalilah jalanmu,
jagalah adabmu,
dan bergantunglah kepada Alloh.”
Sebab guru adalah penunjuk,
bukan tujuan.
Kitab adalah jendela,
bukan langit itu sendiri.
Majelis adalah jalan,
bukan akhir perjalanan.
Dan ilmu adalah amanah,
bukan rantai.
Al-‘ilmu yuḥarriru al-qalba
min ‘ubūdiyyati al-khawf,
wa yaruddahu ilā ‘ubūdiyyatillāh.
Ilmu membebaskan hati
dari perbudakan rasa takut,
lalu mengembalikannya
kepada penghambaan hanya kepada Alloh.
Maka berhati-hatilah
kepada ilmu yang membuatmu
semakin takut kepada manusia
tetapi semakin lalai kepada Alloh.
Berhati-hatilah
kepada pengajaran
yang menjadikanmu merasa
tidak memiliki jalan
kecuali melalui satu orang.
Berhati-hatilah
kepada kata-kata
yang membuatmu merasa
bahwa keselamatanmu dapat dibeli,
keberkahanmu dapat dipatok,
atau kedekatanmu kepada Alloh
dapat ditentukan oleh jumlah pemberian.
Sebab kebenaran
tidak memerlukan sandera.
Cahaya
tidak memerlukan ketakutan
agar tetap bercahaya.
Dan orang yang benar-benar mengajar
tidak takut muridnya menjadi dewasa.
Ia justru bergembira
ketika murid mampu berdiri.
Ia tidak menjadikan ketergantungan
sebagai tanda kesetiaan.
Ia menjadikan kematangan
sebagai tanda keberhasilan.
Jika dahulu engkau bertanya
setiap langkah,
kemudian ilmu membuatmu
mampu menimbang dengan jernih,
maka ilmu itu telah bekerja.
Jika dahulu engkau takut
mengambil keputusan,
kemudian ilmu membuatmu
berani bertanggung jawab,
maka ilmu itu telah hidup.
Jika dahulu engkau mudah diseret
oleh ancaman, pujian, dan janji,
kemudian ilmu membuatmu
tetap tenang di hadapan semuanya,
maka cahaya itu
mulai menetap di dalam dirimu.
Inilah rahasia kelima
Al-Asrōh Billāh Azallā:
ilmu yang benar tidak menciptakan tawanan,
ia melahirkan manusia yang sadar.
Sadar bahwa guru harus dihormati,
namun tidak disembah.
Sadar bahwa pemberian boleh dilakukan,
namun tidak dijadikan ukuran iman.
Sadar bahwa biaya boleh diperlukan,
namun kebenaran tidak boleh dimonopoli.
Sadar bahwa adab harus dijaga,
namun akal tidak boleh dimatikan.
Sadar bahwa taat dalam kebaikan itu mulia,
namun ketakutan kepada manusia
tidak boleh menggantikan takut kepada Alloh.
Maka jadilah murid
yang menghormati tanpa kehilangan kejernihan.
Jadilah guru
yang membimbing tanpa membuat ketergantungan.
Jadilah penuntut ilmu
yang rendah hati tanpa kehilangan martabat.
Dan jadilah penyampai ilmu
yang tegas tanpa menjadikan dirinya pusat segala-galanya.
Karena ilmu bukan untuk memperbanyak pengikut.
Ilmu untuk memperbanyak kesadaran.
Bukan untuk memperbesar nama seseorang.
Tetapi untuk memperbesar manfaat.
Bukan untuk membuat manusia berkata:
“Aku tidak bisa tanpa dia.”
Melainkan membuat manusia berkata:
“Dengan izin Alloh,
aku telah belajar mengenali jalan.”
Inilah kemerdekaan ilmu.
Ia tidak memutus adab.
Ia tidak merusak penghormatan.
Ia tidak menghapus jasa guru.
Tetapi ia menempatkan semuanya
pada tempat yang benar.
Guru tetap dihormati.
Murid tetap belajar.
Pemberian tetap boleh menjadi kasih.
Biaya tetap boleh menjadi sarana.
Namun hati tidak diperbudak.
Akal tidak dimatikan.
Dan hubungan kepada Alloh
tidak dijadikan komoditas.
Karena pada akhirnya
ilmu sejati akan membawa manusia
semakin dekat kepada kebenaran,
bukan semakin terikat
kepada orang yang menyampaikannya.
Dan bila suatu hari
seorang murid mampu berjalan
dengan hati yang jernih,
akhlak yang baik,
akal yang hidup,
dan ketergantungan hanya kepada Alloh,
maka jangan bersedih
karena ia tidak lagi banyak bertanya.
Bersyukurlah.
Sebab mungkin itulah tanda
bahwa ilmu yang engkau tanam
telah tumbuh menjadi kesadaran.
Dan kesadaran itulah
salah satu buah paling indah
dari ilmu yang tidak bermula dari mahar
dan tidak berakhir pada harga.
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Bait Keenam — Terakhir
Ketika Ilmu Kembali Menjadi Amanah di Hadapan Alloh
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada akhirnya,
semua perjalanan ilmu
akan kembali kepada satu pertanyaan:
untuk apa engkau mengetahuinya?
Apakah supaya namamu dikenal?
Apakah supaya manusia memujimu?
Apakah supaya orang lain
merasa lebih kecil di hadapanmu?
Apakah supaya engkau memiliki pengikut?
Apakah supaya ucapanmu
tidak pernah dibantah?
Ataukah supaya engkau
semakin mengenal batas dirimu,
semakin memahami tanggung jawabmu,
dan semakin tunduk kepada Alloh?
Sebab ilmu yang benar
tidak berhenti pada pintu pengetahuan.
Ia terus berjalan.
Ia turun dari kepala
menuju hati.
Dari hati
menuju niat.
Dari niat
menuju perbuatan.
Dari perbuatan
menuju akhlak.
Dan dari akhlak
menuju pertanggungjawaban.
Di situlah seluruh rahasia
Al-Asrōh Billāh Azallā
menemukan tempatnya.
Bukan pada banyaknya halaman.
Bukan pada panjangnya gelar.
Bukan pada banyaknya murid.
Bukan pada besarnya mahar.
Bukan pula pada kebanggaan
bahwa suatu ilmu diberikan tanpa mahar.
Sebab yang bermahar
belum tentu salah.
Yang tanpa mahar
belum tentu benar.
Yang mahal
belum tentu mulia.
Yang gratis
belum tentu suci.
Semua kembali kepada niat,
cara, amanah,
dan akibat yang ditimbulkannya.
Jika suatu pemberian
membantu seorang pengajar
menjaga pelayanan ilmu,
maka jangan tergesa mencelanya.
Jika suatu ilmu
dibagikan tanpa bayaran,
maka jangan pula menjadikannya
alasan untuk meremehkan pengajarnya.
Sebab manusia tetap manusia.
Ia makan.
Ia berjalan.
Ia membutuhkan tempat.
Ia memiliki keluarga.
Ia memiliki tenaga
yang suatu saat dapat lelah.
Ia memiliki waktu
yang dipakai untuk belajar,
menulis,
mengajar,
mendengar,
menjawab,
dan melayani.
Maka biaya pelayanan
bukanlah dosa.
Pemberian
bukanlah kehinaan.
Hadiah
bukanlah kesyirikan.
Dan penghormatan kepada guru
bukanlah perbudakan.
Yang harus dijaga
adalah batasnya.
Jangan sampai biaya
menjadi harga kebenaran.
Jangan sampai hadiah
menjadi syarat keselamatan.
Jangan sampai penghormatan
berubah menjadi ketakutan.
Jangan sampai adab
dipakai untuk mematikan akal.
Jangan sampai ketaatan
menjadi alasan
untuk membenarkan kesalahan.
Dan jangan sampai ilmu
menjadi dinding tinggi
yang memisahkan manusia
dari rahmat Alloh.
Al-‘ilmu nūrun,
wa an-nūru amānah,
wa al-amānah lā tubā‘u.
Ilmu adalah cahaya.
Cahaya adalah amanah.
Dan amanah
tidak pernah benar-benar dapat dijual.
Engkau boleh membayar buku.
Engkau boleh membayar perjalanan.
Engkau boleh membayar tempat belajar.
Engkau boleh memberi hadiah.
Engkau boleh membantu guru.
Engkau boleh membangun majelis.
Engkau boleh membiayai percetakan.
Engkau boleh menjaga keberlangsungan
jalan dakwah dan pendidikan.
Namun jangan pernah merasa
bahwa dengan uangmu
engkau telah membeli kebenaran.
Sebab kebenaran
tidak masuk ke dalam hati
karena jumlah harta.
Ia masuk
ketika Alloh mengizinkan
dan ketika hati bersedia menerima.
Dan engkau, wahai pengajar,
jangan pula merasa
bahwa karena engkau mengetahui sesuatu,
maka engkau memiliki manusia.
Murid bukan milikmu.
Pengikut bukan milikmu.
Hati mereka bukan milikmu.
Masa depan mereka bukan milikmu.
Engkau hanyalah seseorang
yang suatu waktu
dititipi sebuah lampu.
Tugasmu bukan
membuat manusia memuja lampu itu.
Tugasmu adalah
membantu mereka melihat jalan.
Ketika mereka mulai dapat melihat,
jangan matikan jalannya
hanya agar mereka kembali kepadamu.
Ketika mereka mulai dapat berjalan,
jangan patahkan keberaniannya
hanya agar mereka tetap bergantung.
Ketika mereka mulai memahami,
jangan takut
jika suatu hari
mereka menemukan pengetahuan
yang belum engkau ketahui.
Sebab keberhasilan guru
bukan ketika murid
selamanya berada di bawah bayangannya.
Keberhasilan guru
adalah ketika murid
mampu berdiri dengan adab,
berpikir dengan jernih,
berbuat dengan benar,
dan tetap mengetahui
siapa yang pernah membimbingnya.
Begitu pula engkau, wahai murid,
jangan merasa
bahwa karena ilmu tidak bermahar
maka ia tidak berharga.
Ada sesuatu
yang diberikan tanpa uang
namun nilainya
lebih besar daripada emas.
Maka jagalah.
Jangan ambil ilmu
lalu buang pengajarnya.
Jangan terima nasihat
lalu lupakan adab.
Jangan merasa
karena engkau tidak membayar
maka engkau bebas
menghina apa yang telah diberikan.
Bayarlah ilmu
bukan dengan kesombongan.
Bayarlah dengan amal.
Bayarlah dengan perubahan.
Bayarlah dengan kejujuran.
Bayarlah dengan menjaga amanah.
Bayarlah dengan doa
kepada mereka
yang pernah menunjukkan jalan kebaikan.
Sebab ada pemberian
yang tidak menuntut uang,
namun menuntut
agar hidupmu
tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Itulah mahar yang tidak disebut mahar.
Bukan mahar kepada manusia.
Tetapi harga yang dibayar
oleh hawa nafsu
ketika ilmu mulai menguasai hati.
Kesombonganmu harus berkurang.
Kebencianmu harus berkurang.
Kezalimanmu harus berkurang.
Kebiasaan merendahkan orang
harus berkurang.
Kesukaan menipu
harus berkurang.
Kesukaan mencari pujian
harus berkurang.
Dan kesadaranmu
harus bertambah.
Jika semua itu tidak berubah,
maka jangan terlalu cepat berkata:
“Aku telah memiliki ilmu.”
Bisa jadi
engkau baru memiliki bunyinya.
Belum memiliki cahayanya.
Bisa jadi
engkau baru menghafal jalannya.
Belum berjalan di dalamnya.
Bisa jadi
engkau baru mengenal namanya.
Belum mengenal amanahnya.
Sebab ilmu tidak dibuktikan
oleh apa yang diucapkan
ketika duduk di majelis.
Ilmu dibuktikan
ketika engkau dipancing kemarahan.
Ketika engkau punya kesempatan menipu.
Ketika engkau bisa membalas dendam.
Ketika engkau memiliki kekuasaan.
Ketika seseorang lemah
berada di bawah keputusanmu.
Ketika tidak seorang pun melihat.
Ketika pujian datang.
Ketika hinaan datang.
Ketika rezeki sempit.
Ketika rezeki lapang.
Ketika engkau menang.
Dan ketika engkau kalah.
Di sanalah ilmu berdiri
di hadapanmu
sebagai saksi.
Apakah ia benar-benar hidup?
Atau hanya tulisan
yang pernah lewat di depan matamu?
Wahai pencari ilmu,
jangan mencari rahasia besar
sebelum engkau mampu
menjaga perkara sederhana.
Jangan meminta jalan langit
sementara hak manusia
masih engkau abaikan.
Jangan berbicara tentang cahaya
jika ucapanmu
masih menjadi kegelapan
bagi orang lain.
Jangan berbicara tentang makrifat
jika kesombongan
masih menjadi singgasanamu.
Jangan berbicara tentang ikhlas
jika setiap kebaikan
masih menunggu tepuk tangan.
Jangan berbicara tentang amanah
jika janji kecil
masih mudah engkau lupakan.
Sebab ilmu tertinggi
sering kali tidak berbunyi tinggi.
Ia tampak sederhana:
berkata benar.
Menepati janji.
Mengembalikan titipan.
Tidak mengambil hak orang.
Memaafkan ketika mampu.
Meminta maaf ketika salah.
Membantu tanpa merendahkan.
Memberi tanpa mengikat.
Menerima tanpa merasa memiliki.
Mengajar tanpa menyombongkan diri.
Belajar tanpa menjual martabat.
Dan berserah kepada Alloh
tanpa menjadikan manusia
sebagai tandingan dalam hati.
Inilah ilmu.
Bukan sekadar rahasia.
Bukan sekadar nama.
Bukan sekadar istilah.
Bukan sekadar simbol.
Bukan sekadar pakaian ruhani.
Ilmu adalah perubahan.
Jika engkau menjadi lebih baik,
ia hidup.
Jika engkau menjadi lebih jujur,
ia hidup.
Jika engkau menjadi lebih lembut,
ia hidup.
Jika engkau semakin adil,
ia hidup.
Jika engkau semakin bermanfaat,
ia hidup.
Jika engkau semakin sadar
bahwa dirimu tidak memiliki apa-apa
kecuali apa yang Alloh titipkan,
maka cahaya itu
mulai mengenal rumahnya.
Dan apabila suatu hari
manusia bertanya:
“Berapa mahar ilmu ini?”
jawablah di dalam hatimu:
“Tidak ada harta
yang dapat membeli kebenaran.”
Namun bila mereka bertanya:
“Apakah tidak boleh memberi?”
jawablah:
“Memberilah
jika hatimu ikhlas.”
Jika mereka bertanya:
“Apakah guru tidak boleh menerima?”
jawablah:
“Terimalah dengan amanah
dan jangan jadikan pemberian
sebagai ukuran kasih.”
Jika mereka bertanya:
“Apakah ilmu harus gratis?”
jawablah:
“Kebenaran tidak dijual,
tetapi pelayanan mempunyai kebutuhan.”
Jika mereka bertanya:
“Lalu apa mahar sebenarnya?”
jawablah:
adabmu.
Kesungguhanmu.
Kejujuranmu.
Perubahanmu.
Keteguhanmu.
Dan kesediaanmu
memikul tanggung jawab
setelah mengetahui.
Itulah sesuatu
yang tidak dapat dibayar
dengan emas.
Sebab orang kaya
belum tentu sanggup membayarnya.
Dan orang miskin
belum tentu kekurangan untuk memilikinya.
Ada orang yang tidak punya harta
namun kaya adab.
Ada orang yang tidak memiliki gelar
namun kaya kebijaksanaan.
Ada orang yang tidak dikenal manusia
namun hidupnya menjadi manfaat.
Ada pula yang memiliki semuanya
namun masih miskin
dalam kejujuran.
Maka jangan lihat wadahnya saja.
Lihat airnya.
Jangan lihat pakaiannya saja.
Lihat akhlaknya.
Jangan lihat banyaknya pengikut.
Lihat berapa banyak luka
yang ia sembuhkan.
Jangan lihat betapa tinggi ucapannya.
Lihat betapa rendah hatinya.
Jangan lihat seberapa sering
ia berbicara tentang Alloh.
Lihat apakah perkataannya
membawa manusia
lebih dekat kepada kebaikan.
Karena nama Alloh
terlalu agung
untuk dijadikan alat
meninggikan diri.
Agama terlalu mulia
untuk dijadikan barang ketakutan.
Dan ilmu terlalu suci
untuk dijadikan jebakan
bagi orang yang sedang mencari jalan.
Wahai mereka
yang diberi kemampuan,
biayailah kebaikan.
Bantu pendidikan.
Bantu guru yang amanah.
Cetaklah buku.
Bangunlah tempat belajar.
Bantulah murid yang tidak mampu.
Jadikan hartamu
jembatan agar ilmu
semakin luas manfaatnya.
Tetapi jangan pernah berkata:
“Karena aku membayar,
maka aku paling berhak atas cahaya.”
Wahai mereka
yang tidak memiliki kemampuan,
jangan merasa rendah.
Kemiskinan bukan penghalang
untuk menjadi manusia berilmu.
Datanglah dengan adab.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Jaga apa yang diterima.
Dan apabila belum mampu memberi harta,
berilah tenaga.
Berilah doa.
Berilah kesetiaan kepada kebenaran.
Berilah manfaat
kepada manusia lainnya.
Karena kebaikan
tidak hanya memiliki satu mata uang.
Ada mata uang keikhlasan.
Ada mata uang waktu.
Ada mata uang tenaga.
Ada mata uang kesabaran.
Ada mata uang doa.
Ada mata uang amanah.
Ada mata uang akhlak.
Dan semuanya
dapat menjadi jalan syukur.
Kemudian apabila ilmu itu
telah tumbuh di dalam dirimu,
jangan engkau penjara.
Bagikan sesuai kemampuan.
Jangan memaksa manusia menerima.
Jangan menghina yang berbeda.
Jangan merasa setiap orang
harus berjalan dengan langkahmu.
Ada manusia
yang belajar melalui kata.
Ada yang belajar melalui pengalaman.
Ada yang belajar melalui kehilangan.
Ada yang belajar melalui kesendirian.
Ada yang belajar melalui guru.
Ada yang belajar melalui kehidupan.
Dan di atas seluruh jalan itu,
Alloh tetap berkuasa
membukakan pemahaman
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Maka jangan rebut
kedudukan Alloh
dalam perjalanan manusia.
Engkau hanya perantara.
Engkau tidak membuka hati.
Engkau hanya mengetuk.
Engkau tidak menciptakan cahaya.
Engkau hanya membawa lentera.
Engkau tidak menentukan hidayah.
Engkau hanya berusaha
menjadi sebab kebaikan.
Karena itu,
ketika seorang murid berubah menjadi baik,
jangan berkata:
“Akulah yang membuatnya demikian.”
Katakanlah:
“Alhamdulillāh,
Alloh memperkenankan aku
menjadi salah satu jalan.”
Dan ketika seseorang
tidak mengikuti perkataanmu,
jangan segera membencinya.
Bisa jadi
Alloh sedang mengajarnya
melalui pintu yang lain.
Tugasmu adalah menyampaikan
dengan jujur.
Menjaga adab.
Tidak berdusta atas nama ilmu.
Tidak mengancam atas nama Tuhan.
Tidak menjanjikan sesuatu
yang tidak engkau kuasai.
Dan tidak mengikat manusia
dengan rasa takut.
Karena ilmu yang benar
melahirkan keberanian
untuk bertanggung jawab.
Bukan ketakutan
untuk bertanya.
Ilmu yang benar
membuat manusia
mampu membedakan
antara guru dan Tuhan.
Antara pelayanan dan perdagangan.
Antara penghormatan dan pengkultusan.
Antara adab dan pembungkaman.
Antara keyakinan dan ketakutan.
Antara tawakal dan ketergantungan.
Dan ketika batas-batas itu
telah menjadi jernih,
maka seseorang
tidak lagi mudah diperbudak.
Ia menghormati guru,
tetapi bersujud hanya kepada Alloh.
Ia menyayangi manusia,
tetapi menggantungkan hati hanya kepada Alloh.
Ia menerima ilmu,
tetapi memahami bahwa sumber segala ilmu
tetaplah Alloh.
Ia memberi harta,
tetapi tidak merasa telah membeli rahmat.
Ia menerima pemberian,
tetapi tidak merasa memiliki hati pemberinya.
Inilah keseimbangan.
Inilah mīzān.
Inilah jalan
yang menjaga ilmu
agar tidak jatuh
menjadi perdagangan ketakutan
dan tidak pula jatuh
menjadi penghinaan terhadap jasa pengajar.
Berjalanlah di tengah.
Dengan adab.
Dengan kejujuran.
Dengan kasih.
Dengan akal yang hidup.
Dengan hati yang tunduk.
Dan apabila suatu hari
engkau telah mempelajari banyak hal,
jangan tanyakan:
“Seberapa tinggi ilmuku?”
Tanyakan:
“Seberapa sedikit kesombonganku?”
Jangan tanyakan:
“Berapa banyak orang mengikutiku?”
Tanyakan:
“Berapa banyak orang
yang memperoleh manfaat?”
Jangan tanyakan:
“Berapa besar pemberian yang kuterima?”
Tanyakan:
“Seberapa bersih niatku menerimanya?”
Jangan tanyakan:
“Berapa mahal ilmu yang kubeli?”
Tanyakan:
“Apakah ilmu itu
telah memperbaiki kehidupanku?”
Sebab pada akhir perjalanan,
semua nama akan ditinggalkan.
Semua gelar
akan dilepaskan.
Semua harta
akan berpindah tangan.
Semua murid
akan melanjutkan jalannya sendiri.
Semua buku
suatu waktu akan menua.
Semua majelis
akan berakhir.
Semua suara
akan diam.
Dan manusia
akan kembali sendiri
kepada Alloh.
Pada saat itu,
tidak ada harga yang dapat ditawar.
Tidak ada mahar
yang dapat dijadikan alasan.
Tidak ada gelar
yang dapat menyelamatkan kesombongan.
Yang tinggal hanyalah:
apa yang engkau ketahui,
apa yang engkau yakini,
apa yang engkau lakukan,
dan apa yang engkau pertanggungjawabkan.
Maka wahai ilmu,
jadilah cahaya
sebelum aku kembali.
Jadilah penuntun
sebelum kakiku berhenti.
Jadilah pengingat
ketika nafsuku meninggi.
Jadilah kelembutan
ketika amarah datang.
Jadilah keberanian
ketika kebenaran harus dibela.
Jadilah rem
ketika kekuasaan berada di tanganku.
Jadilah cermin
ketika aku mulai merasa suci.
Jadilah air
ketika hatiku mengeras.
Jadilah api
yang membakar kesombongan.
Jadilah angin
yang membawa manfaat.
Dan jangan jadikan diriku
sekadar gudang kata
yang kosong dari perubahan.
Ya Alloh,
jangan jadikan ilmu
sebagai hujjah atas kesombongan kami.
Jangan jadikan pengetahuan
sebagai jalan merendahkan manusia.
Jangan jadikan agama
sebagai perdagangan ketakutan.
Jangan jadikan nama-Mu
sebagai alat untuk mendapatkan dunia.
Jangan jadikan pemberian
membutakan hati pengajar.
Jangan jadikan kemiskinan
menutup pintu bagi pencari ilmu.
Jangan jadikan kekayaan
membuat seseorang merasa
lebih dekat kepada-Mu.
Berilah kami ilmu
yang melahirkan adab.
Ilmu yang melahirkan rahmat.
Ilmu yang melahirkan kejujuran.
Ilmu yang melahirkan keberanian.
Ilmu yang melahirkan keadilan.
Ilmu yang melahirkan kasih.
Ilmu yang membuat kami
lebih takut menyakiti manusia
daripada kehilangan pujian mereka.
Ilmu yang membuat kami
berani berkata:
“Aku salah.”
Ilmu yang membuat kami
berani berkata:
“Aku belum tahu.”
Ilmu yang membuat kami
tidak malu belajar
sepanjang hidup.
Dan ilmu
yang pada akhirnya
mengembalikan seluruh kebesaran
hanya kepada-Mu.
Allōhumma ‘allimnā mā yanfa‘unā,
wanfa‘nā bimā ‘allamtanā,
wa zidnā ‘ilman wa adaban wa ikhlāṣā.
Ya Alloh,
ajarkanlah kepada kami
apa yang bermanfaat.
Berilah kami manfaat
dari apa yang telah Engkau ajarkan.
Tambahkanlah ilmu,
adab,
dan keikhlasan kepada kami.
Maka berakhirlah puisi ini
bukan dengan harga,
melainkan dengan amanah.
Bukan dengan mahar,
melainkan dengan adab.
Bukan dengan kepemilikan,
melainkan dengan kesadaran.
Bukan dengan meninggikan manusia,
melainkan dengan mengembalikan
segala ilmu kepada Alloh.
Dan inilah kalimat terakhir
dari Al-Asrōh Billāh Azallā:
Ilmu yang sebenar-benarnya
tidak dapat dibeli oleh harta,
tidak dapat dimiliki oleh kesombongan,
dan tidak dapat dipenjara oleh manusia.
Ia datang sebagai amanah.
Ia hidup sebagai akhlak.
Ia berkembang sebagai manfaat.
Ia dijaga dengan adab.
Ia dibuktikan dengan amal.
Dan pada akhirnya,
ia kembali kepada Alloh.
Maka apabila engkau menerima ilmu,
jangan berkata:
“Ini milikku.”
Katakanlah:
“Ini amanah.”
Apabila engkau mengajarkan ilmu,
jangan berkata:
“Manusia membutuhkan aku.”
Katakanlah:
“Semoga Alloh menjadikanku
jalan manfaat bagi mereka.”
Apabila engkau memberi kepada guru,
jangan berkata:
“Aku membeli cahaya.”
Katakanlah:
“Aku bersyukur
atas jalan kebaikan yang kuterima.”
Apabila engkau tidak mampu memberi,
jangan berkata:
“Aku tidak pantas belajar.”
Katakanlah:
“Aku akan membayar amanah ini
dengan adab, amal, dan manfaat.”
Dan apabila pada akhirnya
semua perbedaan tentang mahar,
harga, pemberian,
guru dan murid
telah selesai,
biarkan satu kebenaran
tetap berdiri:
Alloh adalah Pemilik ilmu.
Manusia hanyalah penerima amanah.
Dari-Nya segala pengetahuan bermula.
Dengan izin-Nya hati memahami.
Dalam penjagaan-Nya ilmu menjadi manfaat.
Dan kepada-Nya
segala sesuatu kembali.
Al-‘ilmu lillāh.
An-nūru lillāh.
Al-amānah lillāh.
Wa ilallōhi turja‘ul-umūr.
Ilmu milik Alloh.
Cahaya milik Alloh.
Amanah milik Alloh.
Dan kepada Alloh
segala urusan dikembalikan.
Tammat.
Selesailah bait keenam
dan sempurnalah penutup
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ.
MANFAAT BAGI YANG MEMBACA
PUISI AL-ASRŌH BILLĀH AZALLĀ
Membaca Puisi Al-Asrōh Billāh Azallā bukan dimaksudkan sebagai jaminan memperoleh keistimewaan gaib tertentu. Manfaat utamanya berada pada perenungan, pembentukan adab, kejernihan cara memandang ilmu, serta dorongan untuk memperbaiki diri.
Di antara manfaat yang dapat dipetik oleh pembaca adalah:
1. Menjernihkan pemahaman tentang ilmu dan mahar
Pembaca diajak memahami bahwa hakikat kebenaran tidak dapat dibeli dengan uang, sementara biaya belajar, buku, perjalanan, tempat, dan pelayanan tetap dapat menjadi kebutuhan yang wajar.
Dengan demikian, pembaca belajar membedakan antara harga sebuah pelayanan dan harga sebuah kebenaran.
2. Menumbuhkan adab kepada guru
Puisi ini tidak mengajarkan agar guru diremehkan hanya karena ilmu tidak boleh diperdagangkan.
Sebaliknya, pembaca diarahkan untuk tetap menghormati jasa guru, mendoakannya, menjaga adab kepadanya, serta menghargai tenaga dan waktu yang telah diberikan.
3. Menghindarkan diri dari pengkultusan manusia
Penghormatan mempunyai batas.
Puisi ini mengingatkan bahwa guru adalah pembimbing, bukan Tuhan; manusia adalah perantara, sedangkan sumber segala ilmu tetaplah Alloh.
Dengan kesadaran ini, penghormatan tetap hidup tanpa berubah menjadi ketergantungan yang berlebihan.
4. Melatih kejernihan dalam menerima ajaran
Pembaca diajak agar tidak menerima sesuatu hanya karena nama besar, gelar, pakaian, jumlah pengikut, atau besarnya mahar.
Ilmu perlu dilihat dari buahnya:
apakah menumbuhkan kejujuran,
apakah memperbaiki akhlak,
apakah membuat seseorang semakin adil,
dan apakah membawa manfaat bagi kehidupan.
5. Mengurangi kesombongan karena merasa berilmu
Semakin banyak seseorang mengetahui sesuatu, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak yang belum diketahui.
Puisi ini mengajak pembaca berani berkata:
“Aku belum tahu.”
Karena mengakui keterbatasan merupakan bagian dari adab ilmu.
6. Menumbuhkan rasa tanggung jawab
Setiap pengetahuan membawa konsekuensi.
Jika seseorang telah mengetahui pentingnya kejujuran, ia dituntut semakin jujur.
Jika mengetahui keadilan, ia harus berusaha lebih adil.
Jika mengetahui kasih sayang, ia harus semakin menjaga manusia dari luka yang ditimbulkan oleh dirinya.
Maka ilmu tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjadi amanah.
7. Membantu ilmu turun dari kepala menuju hati
Puisi ini mengingatkan bahwa hafalan belum tentu menjadi kesadaran.
Pengetahuan baru menemukan nilainya ketika tercermin dalam pilihan, ucapan, sikap, dan perbuatan.
8. Menumbuhkan keberanian untuk mengoreksi diri
Daripada sibuk menanyakan:
“Siapa yang salah?”
pembaca diajak terlebih dahulu bertanya:
“Apa yang harus kuperbaiki dalam diriku?”
Inilah salah satu pintu kedewasaan dalam belajar.
9. Membentuk hubungan guru dan murid yang sehat
Guru tidak menjadikan murid sebagai tawanan.
Murid tidak menjadikan guru sebagai objek pemujaan.
Guru membimbing.
Murid menghormati.
Keduanya menjaga amanah.
Dan keduanya tetap menyadari bahwa Alloh berada di atas seluruh perjalanan ilmu.
10. Menumbuhkan kemerdekaan batin
Ilmu yang benar membuat seseorang semakin mampu berpikir dengan jernih, bertanggung jawab terhadap pilihannya, dan tidak mudah dikendalikan dengan ancaman, ketakutan, atau janji-janji yang tidak berdasar.
Kemerdekaan ini bukan pemberontakan terhadap guru, melainkan kemampuan menjaga adab tanpa kehilangan kejernihan.
11. Mengajarkan bahwa orang miskin pun berhak belajar
Tidak memiliki harta tidak berarti tidak layak menerima ilmu.
Seseorang mungkin tidak mampu memberi uang, tetapi ia masih dapat memberi kesungguhan, tenaga, doa, pelayanan, rasa hormat, dan amal yang baik.
Dengan demikian, ilmu tidak menjadi milik golongan tertentu saja.
12. Mengajarkan orang mampu untuk membantu jalan ilmu
Orang yang memiliki rezeki lebih justru diajak menggunakan hartanya untuk memperluas manfaat:
membantu pendidikan,
mencetak buku,
menolong murid yang kesulitan,
membantu tempat belajar,
serta menopang orang-orang yang mengabdikan dirinya pada pelayanan ilmu.
Dengan begitu, harta menjadi jembatan ilmu, bukan pintu monopoli ilmu.
13. Membantu membedakan adab dan pembungkaman
Adab bukan berarti manusia dilarang berpikir.
Adab bukan berarti murid tidak boleh bertanya.
Adab bukan berarti kesalahan seorang guru harus selalu dibenarkan.
Adab adalah menyampaikan pertanyaan, perbedaan, dan koreksi dengan cara yang baik.
14. Menumbuhkan kehati-hatian dalam menggunakan nama Alloh
Puisi ini mengingatkan agar nama Alloh, agama, keberkahan, keselamatan, atau perkara ruhani tidak dipakai sebagai alat menakut-nakuti orang demi memperoleh keuntungan pribadi.
Semakin tinggi suatu pembicaraan membawa nama agama, semakin besar pula tuntutan kejujuran dan amanahnya.
15. Menjadikan akhlak sebagai ukuran ilmu
Pembaca diarahkan melihat ilmu bukan hanya dari ucapan yang tinggi.
Tanda ilmu juga tampak dari kemampuan:
menahan amarah,
meminta maaf,
menepati janji,
tidak mengambil hak orang lain,
menjaga lisan,
dan memperlakukan orang lemah dengan baik.
16. Mengingatkan bahwa ilmu bukan alat meninggikan diri
Ilmu bukan mahkota untuk mengatakan:
“Aku lebih tinggi.”
Ilmu adalah lampu agar seseorang dapat mengatakan:
“Aku harus berjalan lebih hati-hati.”
17. Menumbuhkan sikap ikhlas dalam berbagi
Pembaca yang memiliki pengetahuan didorong untuk membagikannya sesuai kemampuan tanpa menjadikan dirinya pusat dari ilmu tersebut.
Karena seorang penyampai hanyalah salah satu jalan datangnya manfaat.
18. Menguatkan kesadaran terhadap amanah
Semakin besar ilmu yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk tidak menyalahgunakannya.
Pengetahuan tidak semestinya dipakai untuk menipu, menguasai, merendahkan, ataupun membangun ketakutan pada orang lain.
19. Menjadikan kehidupan sebagai tempat ujian ilmu
Ilmu tidak hanya diuji di majelis.
Ia diuji ketika seseorang marah.
Ketika mempunyai kekuasaan.
Ketika melihat kesempatan berbuat curang.
Ketika tidak seorang pun melihat.
Ketika dipuji.
Ketika direndahkan.
Pada saat-saat seperti itulah terlihat apakah ilmu sudah benar-benar menjadi bagian dari diri.
20. Mengembalikan hati kepada Alloh
Manfaat paling dalam yang hendak diarahkan oleh puisi ini adalah kesadaran bahwa:
guru adalah perantara,
buku adalah sarana,
majelis adalah jalan,
dan pengetahuan adalah amanah.
Sedangkan sumber segala ilmu tetap Alloh.
Karena itu, semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin rendah hatinya di hadapan Alloh.
Inti Manfaat
Apabila puisi ini dibaca dengan perenungan, pembaca diharapkan tidak sekadar memperoleh rangkaian kata, tetapi sebuah cermin untuk memeriksa dirinya sendiri.
Apakah ilmu membuatku semakin rendah hati?
Apakah ilmu membuatku lebih bermanfaat?
Apakah ilmu membuatku semakin jujur?
Apakah ilmu membuatku lebih mampu menjaga amanah?
Apakah ilmu membuatku semakin baik memperlakukan manusia?
Dan apakah ilmu membuatku semakin sadar bahwa segala sesuatu pada akhirnya kembali kepada Alloh?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu mulai hidup dalam hati, maka Al-Asrōh Billāh Azallā telah menjalankan salah satu manfaat terpentingnya:
bukan membuat pembacanya merasa paling berilmu, tetapi membuatnya semakin sadar bagaimana seharusnya hidup setelah menerima ilmu.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.