PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

 




KATA PENGANTAR

PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

Perpaduan Sinar Qudus Pelangi Mengarungi Sinar Suci yang Jernih

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Alloh, sumber segala kehidupan, sumber segala petunjuk, dan tempat seluruh perjalanan kembali.

Puisi GHOLAQUM ALAZIRRULLOH lahir sebagai sebuah perjalanan simbolik tentang kejernihan batin. Pelangi, cahaya, samudra, tujuh warna, pintu-pintu keheningan, serta lautan yang jernih di dalam rangkaian puisi ini bukanlah sesuatu yang harus dipahami secara harfiah, melainkan sebagai bahasa perenungan tentang manusia dan perjalanan dirinya.

Pelangi menggambarkan keberagaman sifat yang hidup di dalam diri manusia.

Ada keberanian.
Ada kelembutan.
Ada pengetahuan.
Ada kasih.
Ada ketenangan.
Ada kedalaman.
Dan ada wilayah batin yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Namun setiap warna dapat menjadi keruh apabila bercampur dengan ego.

Keberanian dapat berubah menjadi kemarahan.

Pengetahuan dapat berubah menjadi kesombongan.

Kasih dapat berubah menjadi keinginan memiliki.

Ketenangan dapat berubah menjadi ketidakpedulian.

Bahkan pengalaman ruhani pun dapat berubah menjadi kebanggaan apabila manusia mulai merasa dirinya lebih suci daripada yang lain.

Karena itulah pusat perjalanan puisi ini bukanlah pencarian keajaiban.

Pusatnya adalah kejernihan.

Kejernihan untuk melihat diri sendiri.

Kejernihan untuk mengenali niat.

Kejernihan untuk mengakui kekurangan.

Kejernihan untuk membedakan antara cahaya yang benar-benar melahirkan kebaikan dengan cahaya yang hanya membuat seseorang merasa istimewa.

Di dalam puisi ini, istilah sinar qudus digunakan sebagai perlambang kesucian, kebaikan, dan dorongan batin menuju kehidupan yang lebih bersih. Sedangkan sinar suci yang jernih melambangkan kesadaran yang tidak dikotori keinginan untuk dipuji, dihormati, ataupun dianggap lebih tinggi.

Maka perjalanan GHOLAQUM ALAZIRRULLOH bukanlah perjalanan manusia meninggalkan dunia.

Justru sebaliknya.

Setelah menempuh lautan batin, manusia dikembalikan kepada kehidupan sehari-hari.

Kembali kepada keluarga.

Kembali kepada amanah.

Kembali kepada pekerjaan.

Kembali kepada sesama.

Kembali kepada bumi.

Sebab ukuran sebuah perjalanan batin bukanlah seberapa banyak rahasia yang dapat diceritakan, melainkan seberapa nyata perjalanan itu mengubah akhlak.

Apakah seseorang menjadi lebih sabar?

Lebih jujur?

Lebih rendah hati?

Lebih mampu menahan diri?

Lebih ringan menolong?

Lebih berhati-hati ketika berbicara?

Lebih lembut kepada orang yang berbeda dengannya?

Lebih berani mengakui kesalahannya sendiri?

Di situlah cahaya memperoleh maknanya.

Buku puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki cahaya secara mutlak.

Manusia hanyalah penerima, penjaga, dan penerus kebaikan yang Alloh izinkan hadir melalui kehidupannya.

Karena itu semakin terang perjalanan seseorang, semestinya semakin sedikit kebutuhan dirinya untuk berkata:

“Lihatlah aku.”

Sebaliknya, semakin dalam ia berjalan, semestinya semakin kuat doa di dalam hatinya:

“Ya Alloh, jangan jadikan cahaya yang Engkau titipkan kepadaku sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.”

Setiap lembar dalam puisi ini adalah undangan untuk berhenti sejenak.

Bukan berhenti dari kehidupan, tetapi berhenti dari kebisingan yang membuat kita sulit melihat diri sendiri.

Ada saatnya manusia perlu bertanya:

Apa yang sebenarnya sedang aku kejar?

Mengapa aku ingin diakui?

Apakah kebaikanku masih membutuhkan pujian?

Apakah ilmuku telah melahirkan adab?

Apakah cintaku membebaskan atau justru mengikat?

Apakah agamaku membuatku semakin lembut atau semakin mudah merendahkan?

Dan apakah kedekatanku kepada Alloh membuatku semakin baik kepada makhluk-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi arus tersembunyi di sepanjang puisi GHOLAQUM ALAZIRRULLOH.

Karena pada akhirnya, perjalanan menuju cahaya bukanlah perjalanan menjadi makhluk yang luar biasa.

Ia adalah perjalanan kembali menjadi manusia yang sadar.

Manusia yang mengetahui keterbatasannya.

Manusia yang bersyukur atas kelebihannya.

Manusia yang memperbaiki kesalahannya.

Manusia yang tidak malu meminta maaf.

Manusia yang tidak menjadikan ilmu sebagai senjata kesombongan.

Manusia yang mampu berdiri teguh tanpa kehilangan kelembutan.

Dan manusia yang memahami bahwa seluruh warna kehidupan pada akhirnya kembali kepada satu sumber.

Semoga setiap lembar puisi ini tidak hanya dibaca oleh mata, tetapi juga menjadi cermin bagi hati.

Jika ada bagian yang menyentuh, ambillah sebagai bahan perenungan.

Jika ada bagian yang belum dipahami, biarkan ia tinggal sejenak dalam keheningan.

Tidak seluruh makna harus ditemukan dalam satu waktu.

Ada kalimat yang baru terbuka setelah manusia melewati pengalaman tertentu dalam hidupnya.

Semoga GHOLAQUM ALAZIRRULLOH menjadi perjalanan yang mengingatkan kita bahwa:

Cahaya yang sejati tidak membuat manusia semakin ingin terlihat.

Cahaya yang sejati membuat manusia semakin mampu melihat.

Melihat dirinya sendiri.

Melihat sesamanya dengan kasih.

Melihat kehidupan sebagai amanah.

Dan melihat bahwa di balik seluruh perjalanan, seluruh warna, seluruh kesedihan, seluruh kegembiraan, dan seluruh pencarian—

ada satu tempat kembali:

Alloh.

Semoga hati kita senantiasa dijaga agar tetap jernih.

Semoga ilmu menjadi adab.

Semoga kekuatan menjadi perlindungan.

Semoga kasih menjadi rahmat.

Semoga perjalanan menjadi pengenalan.

Dan semoga cahaya yang kita terima tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir menjadi manfaat bagi kehidupan.

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH.

Perpaduan Sinar Qudus Pelangi Mengarungi Sinar Suci yang Jernih.

Selamat memasuki perjalanan.


PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

Perpaduan Sinar Qudus Pelangi Mengarungi Sinar Suci yang Jernih

Lembar Pertama — Saat Cahaya Mulai Berpadu

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH,
ketika warna tidak lagi bertengkar
tentang siapa yang paling terang,
merah menyerahkan keberaniannya,
jingga menyerahkan kehangatannya,
kuning menyerahkan kejernihannya,
hijau menyerahkan kehidupannya,
biru menyerahkan kedalamannya,
nila menyerahkan keheningannya,
dan ungu menyerahkan rahasianya.

Semua melebur
bukan untuk kehilangan warna,
tetapi menemukan
asal dari segala warna.

Di sanalah pelangi
tidak lagi membentang di langit,
melainkan menyeberangi dada manusia.

Ia berjalan perlahan
melintasi luka,
melintasi ingatan,
melintasi ketakutan,
melintasi keinginan untuk diakui,
hingga tiba pada sebuah mata air
yang tidak keruh oleh pujian
dan tidak hitam oleh cercaan.

Mata air itu bernama
kejernihan.

Dan ketika sinar qudus
menyentuh kejernihan itu,
jiwa mendengar suara tanpa suara:

"Jangan mencari cahaya
hanya di luar dirimu.
Bersihkanlah kaca batinmu,
maka engkau akan melihat
betapa banyak cahaya
selama ini tertutup oleh debumu sendiri."


Lembar Kedua — Sungai Sinar yang Jernih

Aku melihat sungai
tetapi tidak tersusun dari air.

Ia tersusun dari cahaya
yang mengalir tanpa suara.

Tiada lumpur.
Tiada gelombang kesombongan.
Tiada buih kebencian.

Yang terapung hanyalah
serpihan-serpihan doa
yang pernah diucapkan manusia
ketika hatinya benar-benar berserah.

Aku masuk ke dalam sungai itu.

Semakin jauh kuarungi,
semakin banyak nama dunia
tanggal dari tubuhku.

Nama pujian,
nama kehormatan,
nama kemenangan,
nama kekalahan,
nama kelompok,
nama kedudukan.

Semuanya hanyut.

Tersisa satu pertanyaan:

"Siapakah aku
ketika seluruh sebutan
telah dilepaskan?"

Pelangi di atas sungai menjawab:

"Engkau tidak menjadi kosong.
Engkau sedang dibersihkan
agar dapat memantulkan
cahaya dengan lebih jernih."


Lembar Ketiga — Qudus Bukan Sekadar Terang

Qudus bukan cahaya
yang membuat manusia merasa tinggi.

Qudus adalah cahaya
yang membuat manusia
semakin takut menyakiti.

Ia bukan mahkota
untuk membedakan diri dari sesama.

Ia adalah air bening
yang membersihkan tangan
agar tangan itu tidak merampas.

Ia membersihkan lidah
agar lidah tidak melukai.

Ia membersihkan mata
agar mata tidak memandang rendah.

Ia membersihkan hati
agar hati tidak menjadikan nama Tuhan
sebagai dinding bagi kesombongan.

Sebab cahaya yang benar-benar suci
tidak berkata:

"Lihatlah betapa bercahayanya aku."

Ia justru berkata:

"Semoga karena aku hadir,
orang lain dapat menemukan jalan."


Lembar Keempat — Tujuh Warna Menjadi Satu Kesadaran

Merah berkata:
"Jadilah berani membela kebenaran."

Jingga berkata:
"Tetapi jangan kehilangan kelembutan."

Kuning berkata:
"Jernihkan akalmu."

Hijau berkata:
"Hidupkan yang hampir mati."

Biru berkata:
"Dalamilah sebelum menghakimi."

Nila berkata:
"Diamlah ketika kata-kata hanya menambah luka."

Ungu berkata:
"Jangan bongkar seluruh rahasia
hanya untuk membuat dirimu terlihat istimewa."

Ketujuh warna kemudian bersujud
kepada cahaya putih.

Cahaya putih berkata:

"Aku bukan warna kedelapan.
Aku adalah pertemuan kalian
ketika tidak ada lagi
yang ingin menang sendiri."

Maka manusia pun mengerti:

Kesucian bukan pemisahan.

Kesucian adalah
ketika kekuatan, kasih, akal, kehidupan,
kedalaman, keheningan, dan kebijaksanaan
bertemu dalam satu hati.


Lembar Kelima — Mengarungi Cahaya

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Aku terus mengarungi
lautan tanpa tepian.

Tidak ada kapal.

Yang menjadi kapal adalah keyakinan.

Tidak ada dayung.

Yang menjadi dayung adalah kesadaran.

Tidak ada kompas.

Yang menjadi kompas adalah nurani
yang tidak diperjualbelikan.

Kadang datang kabut.

Kabut itu bernama takut.

Kadang datang badai.

Badai itu bernama ego.

Kadang datang ombak tinggi.

Ombak itu bernama keinginan
untuk selalu dianggap benar.

Tetapi semakin jauh perjalanan,
semakin jernih satu pengertian:

Tidak semua yang terang adalah cahaya.

Ada terang yang membutakan.

Tidak semua yang sunyi adalah kosong.

Ada keheningan
yang justru penuh kehadiran.

Tidak semua yang tersembunyi adalah rahasia.

Ada sesuatu yang tersembunyi
karena manusia belum cukup jernih
untuk melihatnya.


Lembar Keenam — Puncak Kejernihan

Pada akhirnya
pelangi itu tidak lagi berada di atas kepala.

Ia masuk ke dalam dada.

Warna-warnanya melebur
menjadi satu cahaya yang lembut.

Tidak menyilaukan.

Tidak membakar.

Tidak meminta disembah.

Ia hanya menerangi.

Di hadapan cahaya itu
aku melihat diriku sendiri
tanpa topeng.

Aku melihat kebaikanku,
tetapi juga kesalahanku.

Aku melihat doaku,
tetapi juga kesombonganku.

Aku melihat cintaku,
tetapi juga kepentinganku.

Lalu aku menangis.

Bukan karena takut pada kegelapan,
melainkan karena baru menyadari
betapa lama aku mencari cahaya
sementara jendela batinku sendiri
belum kubersihkan.

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Perpaduan sinar qudus pelangi
mengarungi sinar suci yang jernih.

Pada akhirnya aku mengerti:

Pelangi bukan tujuan.
Cahaya bukan kebanggaan.
Kejernihan bukan gelar.

Semua hanyalah jalan
agar manusia kembali menjadi manusia
yang lembut ketika kuat,
jujur ketika diuji,
rendah hati ketika dipuji,
tetap berbuat baik ketika tidak dilihat,
dan tidak menjadikan kesucian
sebagai alasan untuk meninggikan diri.

Ketika tujuh warna telah menyatu,
ketika air batin telah bening,
ketika suara ego telah reda,
maka jiwa tidak berkata:

"Aku telah sampai."

Ia hanya berbisik:

"Ya Alloh,
semakin banyak cahaya yang kulihat,
semakin kusadari
betapa luas rahasia-Mu
yang belum kupahami."

Dan di ujung perjalanan,
tiada suara kemenangan.

Hanya satu keheningan
yang sangat jernih.

Di dalam keheningan itu
pelangi melebur menjadi cahaya,
cahaya melebur menjadi bening,
dan bening melebur
menjadi rasa syukur
yang tidak lagi membutuhkan nama.


PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

Lembar 7–12

Pelangi Menembus Tujuh Pintu Batin

Lembar Ketujuh — Pintu Pertama: Keheningan

Ketika langkah berhenti mengejar suara,
aku tiba di sebuah pintu
yang tidak memiliki gagang.

Di atasnya tidak tertulis nama.

Hanya ada keheningan.

Aku mengetuknya dengan doa,
tetapi pintu itu tidak terbuka.

Aku mengetuknya dengan tangis,
tetapi pintu itu tetap diam.

Aku mengetuknya dengan pengetahuan,
namun keheningan tidak bergerak.

Akhirnya aku berhenti mengetuk.

Aku duduk.

Diam.

Dan ketika aku tidak lagi memaksa,
pintu itu terbuka sendiri.

Dari dalamnya keluar cahaya bening
yang berkata:

"Ada pintu yang tidak terbuka
karena kekuatanmu.
Ia terbuka ketika engkau berhenti
memaksakan kehendakmu."

Aku pun masuk.

Di sana tidak ada suara,
namun semua terasa berbicara.

Dindingnya terbuat dari ketenangan.

Lantainya seperti air yang tidak bergelombang.

Dan aku mulai memahami:

Keheningan bukan ketiadaan.

Keheningan adalah ruang
tempat suara terdalam
akhirnya dapat terdengar.


Lembar Kedelapan — Pintu Kedua: Kejujuran

Aku sampai pada cermin besar.

Namun cermin itu aneh.

Ia tidak memantulkan wajah.

Ia memantulkan niat.

Ketika aku tersenyum,
cermin tidak melihat senyumku.

Ia melihat apa yang tersembunyi
di belakang senyum.

Ketika aku berbuat baik,
cermin tidak melihat tanganku.

Ia melihat apakah kebaikan itu
menginginkan pujian.

Ketika aku berbicara tentang kebenaran,
cermin tidak mendengar suaraku.

Ia melihat apakah aku ingin membela kebenaran
atau sekadar ingin menang.

Aku gemetar.

Betapa banyak hal
yang selama ini terlihat terang
ternyata masih memiliki bayangan.

Aku ingin pergi.

Tetapi cermin berkata:

"Jangan takut melihat kekuranganmu.
Yang berbahaya bukan kekurangan,
melainkan ketidaksediaan
untuk mengakuinya."

Aku menunduk.

Lalu untuk pertama kalinya
aku berkata kepada diriku sendiri:

"Aku belum jernih."

Maka cermin itu pecah menjadi cahaya.

Dan dari pecahannya
muncul jalan menuju pintu berikutnya.


Lembar Kesembilan — Pintu Ketiga: Pelepasan

Di depan pintu ketiga
berdiri tujuh penjaga bayangan.

Mereka membawa sesuatu
yang selama ini kupegang erat.

Yang pertama membawa nama.

Yang kedua membawa kedudukan.

Yang ketiga membawa pujian.

Yang keempat membawa kenangan.

Yang kelima membawa ketakutan.

Yang keenam membawa harapan dunia.

Yang ketujuh membawa gambaran
tentang siapa diriku menurut orang lain.

Mereka berkata:

"Jika ingin masuk,
tinggalkan semuanya di sini."

Aku berkata:

"Kalau semuanya kulepaskan,
apa yang tersisa dariku?"

Mereka menjawab:

"Itulah yang akan kau ketahui."

Aku meletakkan nama.

Aku meletakkan pujian.

Aku meletakkan luka.

Aku meletakkan keinginan
untuk dipahami semua orang.

Satu demi satu.

Aneh.

Semakin banyak yang kulepaskan,
semakin ringan langkahku.

Hingga akhirnya
aku berdiri tanpa membawa apa pun.

Pintu ketiga terbuka.

Dan aku mendengar bisikan:

"Yang dilepaskan bukan kehidupanmu.
Yang dilepaskan adalah beban
yang selama ini kauanggap sebagai dirimu."


Lembar Kesepuluh — Pintu Keempat: Lautan Pelangi

Di balik pintu itu
tidak ada tanah.

Hanya lautan.

Namun airnya terdiri dari tujuh warna.

Merah mengalir bersama biru.

Hijau menari bersama ungu.

Kuning menyatu dengan nila.

Semua bercampur
tanpa saling menghilangkan.

Aku melangkah ke dalamnya.

Air pelangi menyentuh kaki.

Setiap warna membuka satu kenangan.

Merah menunjukkan keberanian
yang pernah berubah menjadi kemarahan.

Kuning menunjukkan kecerdasan
yang pernah berubah menjadi kesombongan.

Hijau menunjukkan kasih
yang pernah bercampur kepentingan.

Biru menunjukkan ketenangan
yang pernah menjadi sikap acuh.

Ungu menunjukkan rahasia
yang pernah membuat diri merasa lebih tinggi.

Semua diperlihatkan.

Tidak untuk menghukum.

Tetapi untuk menjernihkan.

Aku terus berjalan.

Semakin dalam aku masuk,
warna-warna itu semakin tipis.

Hingga akhirnya
semuanya menyatu menjadi putih.

Lautan pelangi berubah
menjadi lautan cahaya.

Dan aku mendengar:

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

"Jangan takut ketika warnamu melebur.
Hakikat cahaya tidak hilang
hanya karena ia kembali kepada kejernihannya."


Lembar Kesebelas — Pintu Kelima dan Keenam: Tanpa Nama

Aku sampai pada wilayah
di mana kata-kata mulai kehilangan kekuatannya.

Apa pun yang hendak kusebut
langsung terasa terlalu sempit.

Aku ingin berkata "cahaya",
tetapi yang hadir lebih dalam dari cahaya.

Aku ingin berkata "sunyi",
tetapi yang hadir lebih penuh dari sunyi.

Aku ingin berkata "cinta",
tetapi yang kurasakan
tidak meminta untuk dimiliki.

Di pintu kelima
aku kehilangan banyak kata.

Di pintu keenam
aku kehilangan keinginan
untuk menjelaskan semuanya.

Aku hanya berdiri.

Memandang.

Merasakan.

Di sana aku mengerti:

Tidak semua pengalaman
harus segera diberi nama.

Tidak semua kedalaman
harus dipamerkan menjadi cerita.

Ada wilayah batin
yang menjadi lebih suci
ketika dijaga dengan rendah hati.

Pelangi di atas kepalaku
semakin lembut.

Kini warnanya tidak lagi memancar keluar.

Ia memancar ke dalam.

Menyinari ruang-ruang tersembunyi
yang selama ini tak pernah kusentuh.

Dan setiap cahaya yang masuk
tidak membuatku merasa lebih besar.

Justru membuatku semakin kecil.

Semakin sadar.

Semakin hening.


Lembar Keduabelas — Pintu Ketujuh: Lautan Qudus Tanpa Tepi

Akhirnya aku tiba
di depan pintu ketujuh.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada tulisan.

Tidak ada ujian.

Tidak ada perintah.

Pintu itu sudah terbuka.

Di baliknya terbentang
lautan bening tanpa batas.

Tidak ada matahari,
tetapi semuanya terang.

Tidak ada bulan,
tetapi semuanya teduh.

Tidak ada pelangi,
namun seluruh warna ada di dalamnya.

Aku berdiri di tepi.

Lalu bertanya:

"Apakah ini akhir perjalanan?"

Keheningan menjawab:

"Tidak."

"Lalu apakah ini awal?"

Keheningan kembali menjawab:

"Bukan."

Aku terdiam.

Kemudian kusadari:

Selama ini aku selalu ingin mengetahui
di mana perjalanan dimulai
dan di mana ia berakhir.

Padahal ada perjalanan
yang bukan tentang jarak.

Ia adalah perubahan kejernihan.

Aku masuk ke lautan.

Airnya tidak membasahi tubuh.

Ia membasahi kesadaran.

Setiap langkah
meluruhkan satu kesombongan.

Setiap gelombang
membersihkan satu prasangka.

Setiap kedalaman
membuka satu lapisan kejujuran.

Semakin jauh aku mengarungi,
semakin aku tidak ingin berkata:

"Aku mengetahui."

Aku justru berkata:

"Aku sedang belajar melihat."

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Pelangi kini telah melebur.

Bukan hilang.

Melainkan kembali
kepada kejernihan asalnya.

Dan dalam lautan qudus itu
aku menemukan sebuah rahasia sederhana:

Cahaya tertinggi
tidak selalu membuat seseorang terlihat bercahaya.

Kadang ia justru tampak
sebagai kerendahan hati.

Sebagai kesabaran.

Sebagai tangan yang menolong
tanpa diketahui.

Sebagai lidah yang mampu diam
ketika diam lebih menyelamatkan.

Sebagai hati yang mampu memaafkan
tanpa merasa dirinya suci.

Sebagai manusia
yang semakin dekat kepada Alloh
namun semakin lembut kepada makhluk.

Di sanalah aku mengerti:

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH
bukan sekadar perjalanan menuju cahaya.

Ia adalah perjalanan
menghilangkan segala sesuatu dalam diri
yang menghalangi cahaya untuk lewat.

Dan ketika penghalang itu menipis,
manusia tidak berubah menjadi matahari.

Ia menjadi kaca yang bersih.

Tidak memiliki cahaya sendiri,
tetapi mampu meneruskan terang.

Lalu lautan tanpa tepi itu berbisik:

"Jadilah jernih.
Bukan agar dunia melihatmu,
tetapi agar kebaikan dapat melewatimu."


PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

Lembar 13–18

Tenggelamnya Tujuh Warna ke Dalam Samudra Rahasia

Lembar Ketigabelas — Ketika Warna Mulai Tenggelam

Aku kembali menatap lautan itu.

Tidak bertepi.

Tidak berombak.

Tidak pula diam.

Ia seolah hidup
namun tidak bergerak.

Tujuh warna yang dahulu menyertai perjalanan
mulai turun perlahan
ke dalam kedalaman.

Merah turun lebih dahulu.

Ia membawa seluruh keberanian
yang pernah kugenggam.

Lalu jingga.

Ia membawa seluruh kehangatan
yang pernah kubanggakan.

Kuning menyusul.

Membawa seluruh pengetahuan
yang pernah membuatku merasa tahu.

Hijau turun membawa kasih.

Biru membawa ketenangan.

Nila membawa kedalaman.

Ungu membawa rahasia.

Satu demi satu tenggelam.

Aku panik.

"Mengapa semuanya diambil?"

Lautan menjawab:

"Tidak ada yang diambil."

"Lalu mengapa semuanya hilang?"

Lautan berkata:

"Karena engkau sedang diajari
membedakan antara memiliki cahaya
dan menjadi jalan bagi cahaya."

Aku terdiam.

Saat itulah kusadari:

Selama warna masih kuanggap milikku,
aku masih berdiri di luar lautan.

Tetapi ketika warna berhenti kusebut milikku,
aku mulai benar-benar masuk.


Lembar Keempatbelas — Merah Menjadi Keberanian Tanpa Amarah

Di kedalaman pertama
aku menemukan merah.

Tetapi merah itu tidak lagi menyala liar.

Ia sangat tenang.

Aku bertanya:

"Mengapa engkau tidak membakar?"

Merah menjawab:

"Karena keberanian yang matang
tidak membutuhkan kemarahan
untuk membuktikan kekuatannya."

Aku melihat diriku sendiri.

Betapa sering
aku menyebut kemarahan sebagai keberanian.

Betapa sering
aku menyebut kerasnya suara sebagai ketegasan.

Betapa sering
aku merasa membela kebenaran
padahal diam-diam
aku sedang membela harga diri.

Merah lalu menyentuh dadaku.

Dan aku merasa
sebuah api lama padam.

Bukan api semangat.

Melainkan api ego.

Di tempat api itu padam
muncul cahaya baru:

keberanian untuk mengakui kesalahan.

Aku menangis.

Karena ternyata
keberanian terbesar
bukan selalu berdiri melawan dunia.

Kadang keberanian terbesar
adalah berdiri di depan diri sendiri
dan berkata:

"Di sini aku keliru."


Lembar Kelimabelas — Kuning Menjadi Pengetahuan yang Merendah

Aku turun lebih jauh.

Di sana kutemukan kuning.

Ia tidak lagi bersinar tajam.

Ia menyerupai cahaya fajar.

Lembut.

Tidak memaksa mata.

Kuning berkata:

"Pengetahuan yang belum matang
ingin terlihat."

"Pengetahuan yang matang
ingin berguna."

Aku melihat banyak lembaran
melayang di dalam lautan.

Tulisan.

Nama.

Istilah.

Ajaran.

Perdebatan.

Semua berputar
seperti daun yang terseret arus.

Aku mencoba menangkap satu.

Tetapi setiap kali kugenggam,
lembaran itu berubah menjadi air.

Kuning berkata:

"Ilmu yang hanya berhenti di kepala
akan mengering."

"Ilmu yang turun ke hati
akan menjadi adab."

Aku menunduk.

Karena ternyata
banyak hal yang kutahu
belum menjadi cara hidup.

Aku tahu tentang sabar
namun masih mudah tersulut.

Aku tahu tentang ikhlas
namun masih menunggu penghargaan.

Aku tahu tentang kasih
namun masih memilih siapa yang layak menerima.

Aku tahu tentang rendah hati
namun masih senang dianggap berbeda.

Kuning kemudian meredup.

Dan dalam keredupannya
aku justru melihat lebih jelas.


Lembar Keenambelas — Hijau Menjadi Kasih Tanpa Memiliki

Kedalaman berikutnya dipenuhi hijau.

Namun bukan hijau daun.

Bukan hijau taman.

Ia seperti kehidupan itu sendiri.

Hijau mendekat
dan berkata:

"Kasih yang belum jernih
selalu ingin memiliki."

"Kasih yang telah matang
ingin menjaga tanpa mengikat."

Aku melihat orang-orang
yang pernah kucintai.

Ada yang masih dekat.

Ada yang telah jauh.

Ada yang hadir sebagai kenangan.

Ada yang hanya pernah lewat.

Aku ingin memanggil mereka.

Tetapi lautan menghentikanku.

"Biarkan setiap jiwa berjalan."

"Tidak semua yang kaukasihi
harus menjadi milikmu."

Aku terdiam lama.

Kemudian kupahami:

Ada cinta yang menjadi murni
justru ketika ia berhenti menuntut balasan.

Ada kasih yang menjadi luas
ketika ia tidak lagi berkata:

"Tetaplah di sisiku."

Melainkan:

"Semoga jalanmu tetap terang,
meski tidak lagi bersamaku."

Hijau lalu melebur
ke dalam air yang bening.

Dan dadaku terasa luas.


Lembar Ketujuhbelas — Biru dan Nila Menjadi Kedalaman

Aku turun lebih dalam lagi.

Di sana warna biru
bertemu nila.

Keduanya tidak berbicara.

Mereka hanya membuka
sebuah ruang tanpa dasar.

Aku memandang ke bawah.

Gelap.

Namun bukan gelap yang menakutkan.

Ia seperti kedalaman malam
yang menyimpan bintang.

Aku bertanya:

"Apa yang ada di bawah sana?"

Biru menjawab:

"Segala sesuatu yang selama ini
engkau hindari dalam dirimu sendiri."

Nila berkata:

"Turunlah."

Aku takut.

Aku melihat luka.

Kegagalan.

Kecewa.

Penolakan.

Rasa tidak cukup.

Ketakutan kehilangan.

Ketakutan dianggap gagal.

Ketakutan tidak dikenang.

Semua ada di sana.

Aku ingin kembali ke permukaan.

Tetapi biru berkata:

"Kedalaman tidak dapat disembuhkan
dengan berpura-pura bahwa ia tidak ada."

Aku pun turun.

Semakin dalam.

Semakin gelap.

Hingga tiba-tiba
aku menemukan satu titik terang.

Kecil.

Sangat kecil.

Tetapi tidak pernah padam.

Aku bertanya:

"Apakah ini cahaya?"

Nila menjawab:

"Ini bagian dalam dirimu
yang tetap ingin kembali kepada kebaikan,
meski berkali-kali tersesat."

Aku memegang cahaya kecil itu.

Dan seluruh kedalaman
tidak lagi menakutkan.


Lembar Kedelapanbelas — Ungu Melebur Menjadi Rahasia Tanpa Nama

Di lapisan terdalam
aku bertemu ungu.

Ia berdiri sendiri.

Tidak berbentuk manusia.

Tidak berbentuk cahaya.

Tidak berbentuk apa pun
yang dapat disebutkan.

Aku hanya merasakannya.

Ungu berkata:

"Semakin dalam engkau berjalan,
semakin sedikit yang perlu diumumkan."

Aku bertanya:

"Mengapa?"

Ia menjawab:

"Karena rahasia yang benar-benar dalam
tidak selalu membutuhkan penonton."

Aku memandang seluruh perjalanan.

Tujuh warna.

Tujuh pintu.

Lautan.

Cermin.

Keheningan.

Luka.

Pelepasan.

Semuanya kini terasa
seperti satu kalimat panjang
yang belum selesai.

Aku ingin memberinya nama.

Namun setiap nama terasa terlalu kecil.

Aku ingin menjelaskannya.

Namun setiap penjelasan terasa terlalu sempit.

Akhirnya aku menyerah.

Bukan menyerah karena kalah.

Tetapi menyerah dari keinginan
untuk menguasai makna.

Aku berkata:

"Ya Alloh,
aku tidak harus memahami semuanya
untuk tetap bersyukur."

Pada saat itu
ungu melebur.

Seluruh warna hilang.

Seluruh suara hilang.

Seluruh bentuk hilang.

Tersisa kejernihan.

Sangat jernih.

Sampai aku tidak tahu
apakah aku sedang memandang cahaya
atau cahaya sedang memandangku.

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Di sanalah Samudra Rahasia
membuka satu pengertian:

Yang suci tidak selalu datang
dengan kegemparan.

Yang dalam tidak selalu membutuhkan
bahasa yang rumit.

Yang dekat kepada Alloh
tidak selalu banyak berbicara
tentang kedekatannya.

Kadang kedekatan itu tampak
sebagai seseorang yang lebih sabar.

Lebih adil.

Lebih jujur.

Lebih lembut.

Lebih mudah meminta maaf.

Lebih sedikit merendahkan.

Lebih ringan menolong.

Dan lebih takut
menyakiti hati makhluk.

Aku lalu menyadari:

Tujuh warna itu tidak hilang.

Mereka telah berubah.

Merah menjadi keberanian yang tenang.

Kuning menjadi ilmu yang beradab.

Hijau menjadi kasih yang tidak memiliki.

Biru menjadi kedalaman yang damai.

Nila menjadi kejujuran terhadap luka.

Ungu menjadi kebijaksanaan untuk menjaga rahasia.

Dan seluruhnya menyatu
ke dalam cahaya putih
yang tidak meminta nama.

Aku pun berbisik:

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Jika perjalanan ini masih panjang,
biarkan aku berjalan tanpa terburu-buru.

Jika lautan ini tidak memiliki tepi,
biarkan aku tidak sibuk mencari akhir.

Jika cahaya ini semakin jernih,
jangan biarkan aku semakin merasa tinggi.

Jadikan setiap cahaya
sebagai alasan untuk semakin rendah hati.

Jadikan setiap pengetahuan
sebagai alasan untuk semakin berhati-hati.

Jadikan setiap kedalaman
sebagai jalan untuk semakin menyayangi.

Sebab akhirnya aku mengerti:

Rahasia terbesar bukanlah
mengetahui apa yang tersembunyi.

Rahasia terbesar adalah
menjadi lebih baik
setelah mengetahui sedikit saja.


PUISI GHOLAQUM ALAZIRRULLOH

Lembar 19–24 — Penutup

Cahaya Putih Menembus Singgasana Kejernihan

Lembar Kesembilanbelas — Cahaya Putih Tanpa Bayangan

Setelah seluruh warna melebur,
aku memasuki suatu hamparan
yang tidak lagi mengenal merah,
tidak mengenal biru,
tidak mengenal hijau,
tidak mengenal ungu.

Semuanya putih.

Namun bukan putih yang kosong.

Putih itu memuat seluruh warna
tanpa mempertentangkannya.

Aku berjalan di dalamnya
tanpa mengetahui
apakah kakiku masih menyentuh tanah.

Setiap langkah terasa ringan.

Setiap napas terasa seperti doa
yang tidak perlu diucapkan.

Kemudian aku melihat bayanganku.

Namun semakin dekat aku berjalan
kepada cahaya putih itu,
bayanganku semakin tipis.

Aku bertanya:

"Mengapa bayanganku menghilang?"

Cahaya menjawab:

"Bayangan muncul
ketika sesuatu menghalangi cahaya."

Aku terdiam.

Lalu kupandang ke dalam diriku sendiri.

Berapa banyak bayangan
yang selama ini muncul
bukan karena dunia terlalu gelap,
melainkan karena egoku sendiri
berdiri di antara hati
dan cahaya kebenaran.

Maka aku berkata:

"Ya Alloh,
jika ada sesuatu dalam diriku
yang menghalangi cahaya kebaikan,
ajarilah aku mengenalinya."

Dan cahaya putih itu
menjadi semakin bening.


Lembar Keduapuluh — Singgasana yang Tidak Diduduki

Di ujung hamparan putih
aku melihat sebuah singgasana.

Sangat indah.

Tidak terbuat dari emas.

Tidak dihiasi permata.

Namun memancarkan keteduhan
yang membuat seluruh kemegahan dunia
terasa kecil.

Aku mendekatinya.

Tidak ada siapa-siapa.

Singgasana itu kosong.

Aku bertanya:

"Siapa yang seharusnya duduk di sini?"

Keheningan menjawab:

"Tidak setiap singgasana
diciptakan untuk diduduki."

"Lalu untuk apa ia ada?"

Jawabnya:

"Agar engkau belajar
bahwa tidak semua kedudukan
harus engkau miliki."

Aku menatapnya lama.

Betapa sering manusia
berebut kursi.

Berebut nama.

Berebut pengaruh.

Berebut pengakuan.

Bahkan dalam perjalanan batin
manusia masih dapat diam-diam berharap
menjadi yang dianggap paling dekat,
paling suci,
paling tahu,
paling tinggi.

Singgasana itu berkata:

"Jika cahaya menjadikanmu
ingin berada di atas orang lain,
periksa kembali cahaya itu."

Aku menunduk.

"Lalu siapakah yang paling dekat?"

Singgasana menjawab:

"Yang paling dekat
bukan yang paling banyak mengaku dekat,
tetapi yang semakin halus adabnya
ketika tidak ada manusia yang melihat."

Aku tidak lagi ingin duduk.

Aku justru membersihkan lantai
di sekitar singgasana itu.

Dan untuk pertama kalinya
aku mengerti:

Kadang kehormatan tertinggi
adalah tidak ingin dihormati.


Lembar Keduapuluh Satu — Air yang Membaca Hati

Di belakang singgasana
mengalir sungai jernih.

Airnya seperti kaca.

Ketika aku melihat ke dalamnya,
bukan wajahku yang muncul.

Melainkan seluruh perjalanan hidupku.

Aku melihat saat aku berbuat baik.

Aku melihat saat aku salah.

Aku melihat orang yang pernah kutolong.

Aku juga melihat orang
yang pernah kusakiti tanpa kusadari.

Aku melihat doa-doa
yang pernah kupanjatkan.

Aku melihat pula permintaan
yang dahulu kupaksa agar segera dikabulkan.

Air itu tidak menghakimi.

Ia hanya memperlihatkan.

Aku bertanya:

"Mengapa engkau menunjukkan semua ini?"

Air berkata:

"Karena kejernihan
bukan hanya melihat cahaya.
Kejernihan adalah berani melihat
apa yang perlu diperbaiki."

Aku memasukkan kedua tanganku.

Air menjadi hangat.

Lalu terdengar suara:

"Jangan jadikan masa lalu
sebagai rantai."

"Jadikan ia sebagai guru."

Aku membasuh wajah.

Air itu tidak menghapus kenangan.

Namun menghapus kepahitannya.

Ia tidak menghapus kesalahan.

Namun membuka jalan
untuk memperbaikinya.

Aku mulai mengerti:

Penyucian bukan berarti
menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Penyucian adalah
tidak menjadikan kesalahan
sebagai tempat tinggal.


Lembar Keduapuluh Dua — Ketika Pelangi Kembali Turun ke Bumi

Tiba-tiba langit terbuka.

Pelangi yang telah melebur
kembali muncul.

Namun kali ini
ia tidak naik menuju langit.

Ia turun ke bumi.

Merah turun
ke tangan orang yang berani melindungi yang lemah.

Jingga turun
ke rumah-rumah yang membutuhkan kehangatan.

Kuning turun
ke pikiran yang sedang mencari jalan keluar.

Hijau turun
ke tanah yang kering
dan hati yang kehilangan harapan.

Biru turun
ke dada mereka yang sedang berduka.

Nila turun
ke malam-malam panjang
orang yang sedang mencari makna.

Ungu turun
ke dalam keheningan orang
yang belajar menjaga amanah.

Aku bertanya:

"Mengapa pelangi kembali turun?"

Cahaya menjawab:

"Karena perjalanan batin
tidak selesai di dalam batin."

"Jika cahaya tidak membuatmu
lebih berguna bagi kehidupan,
maka engkau baru menikmati keindahannya,
belum memahami amanahnya."

Aku melihat bumi.

Ada yang lapar.

Ada yang kesepian.

Ada yang kehilangan arah.

Ada yang membutuhkan telinga
untuk mendengarkan.

Ada yang membutuhkan tangan
untuk membantu.

Ada yang membutuhkan kata-kata baik
agar tidak menyerah.

Dan aku baru mengerti:

Cahaya bukan untuk dikoleksi.

Cahaya harus menjadi manfaat.


Lembar Keduapuluh Tiga — Kembali Menjadi Manusia

Setelah perjalanan panjang
melewati tujuh warna,
tujuh pintu,
lautan,
kedalaman,
keheningan,
dan singgasana kejernihan,

aku kembali.

Tidak membawa mahkota.

Tidak membawa gelar.

Tidak membawa bukti
bahwa aku pernah memasuki samudra cahaya.

Aku hanya membawa
satu perubahan kecil:

Aku ingin menjadi manusia
yang lebih sadar.

Lebih hati-hati ketika berbicara.

Lebih lembut ketika berbeda pendapat.

Lebih jujur ketika melakukan kesalahan.

Lebih tenang ketika tidak dipuji.

Lebih teguh ketika tidak dipahami.

Lebih ringan membantu.

Lebih berat menyakiti.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih sedikit merasa
bahwa diriku lebih tinggi
dari siapa pun.

Aku bertanya kepada cahaya:

"Apakah perjalanan ini
akhirnya membuatku menjadi istimewa?"

Cahaya menjawab:

"Tidak."

"Lalu apa yang berubah?"

Cahaya berkata:

"Semoga engkau
menjadi lebih manusia."

Aku tersenyum.

Ternyata setelah berjalan
begitu jauh menuju rahasia,
aku justru dikembalikan
kepada perkara yang sangat sederhana:

Berbuat baik.

Menjaga amanah.

Mengendalikan diri.

Menghormati sesama.

Mencintai tanpa merusak.

Beribadah tanpa kesombongan.

Mengucapkan yang benar
tanpa menikmati kehancuran orang lain.

Menolong tanpa menghitung pujian.

Dan mengingat Alloh
tanpa merasa memiliki Alloh.


Lembar Keduapuluh Empat — TERAKHIR

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH — Lautan Cahaya yang Tidak Pernah Selesai

Pada malam terakhir perjalanan itu,
aku berdiri sendirian
di tepi samudra yang dahulu kutakuti.

Tidak ada ombak.

Tidak ada badai.

Tidak ada petir.

Langit sangat luas.

Bintang-bintang seolah menggantung
begitu dekat dengan bumi.

Di hadapanku
terbentang lautan jernih.

Aku mengenalinya.

Inilah lautan
yang dahulu kupikir merupakan tujuan terakhir.

Namun kini aku mengetahui:

Tidak ada tujuan terakhir
bagi manusia yang masih bernapas.

Selama napas masih masuk dan keluar,
selalu ada kesempatan
untuk menjadi lebih jernih.

Selalu ada kesombongan kecil
yang perlu dikenali.

Selalu ada luka
yang perlu diperdamaikan.

Selalu ada kesalahan
yang perlu diperbaiki.

Selalu ada manusia
yang perlu diperlakukan lebih baik.

Selalu ada nikmat
yang belum cukup disyukuri.

Aku menatap lautan itu.

Tiba-tiba seluruh perjalanan
kembali hadir sekaligus.

Aku melihat merah.

Aku melihat jingga.

Aku melihat kuning.

Aku melihat hijau.

Aku melihat biru.

Aku melihat nila.

Aku melihat ungu.

Tujuh warna itu bergerak
mengelilingi langit.

Perlahan-lahan mereka bertemu.

Bukan bertabrakan.

Bukan saling mengalahkan.

Mereka menyatu.

Lalu lahirlah cahaya putih.

Cahaya putih turun
menyentuh permukaan laut.

Laut menjadi terang.

Kemudian cahaya itu masuk
ke dalam air.

Semakin dalam.

Semakin bening.

Semakin jauh.

Sampai dasar laut pun
tidak lagi tampak gelap.

Aku mendengar suara:

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Perpaduan sinar qudus pelangi
mengarungi sinar suci yang jernih.

Aku mengulang kalimat itu.

Pelan.

Sangat pelan.

Kemudian aku menyadari
bahwa sejak awal
aku terlalu sibuk mencari arti perjalanan
di kejauhan.

Padahal perjalanan itu
sedang terjadi di dalam diriku sendiri.

Merah adalah keberanianku.

Jingga adalah kehangatanku.

Kuning adalah pikiranku.

Hijau adalah kasihku.

Biru adalah ketenanganku.

Nila adalah kedalamanku.

Ungu adalah ruang rahasiaku.

Tetapi semua warna itu
memiliki kemungkinan menjadi keruh.

Keberanian dapat berubah menjadi kemarahan.

Kehangatan dapat berubah menjadi keterikatan.

Pengetahuan dapat berubah menjadi kesombongan.

Kasih dapat berubah menjadi keinginan memiliki.

Ketenangan dapat berubah menjadi ketidakpedulian.

Kedalaman dapat berubah menjadi keterasingan.

Rahasia dapat berubah menjadi kebanggaan tersembunyi.

Maka kejernihanlah
yang menentukan ke mana warna akan pergi.

Cahaya tanpa kejernihan
dapat membuat manusia merasa tinggi.

Pengetahuan tanpa kejernihan
dapat menjadikan manusia gemar menghakimi.

Kekuatan tanpa kejernihan
dapat melahirkan penindasan.

Cinta tanpa kejernihan
dapat berubah menjadi penguasaan.

Agama tanpa kejernihan hati
dapat berubah menjadi simbol
yang kehilangan kasih.

Bahkan perjalanan ruhani
tanpa kejernihan
dapat menjadi tempat ego
mengenakan pakaian suci.

Aku menggigil mendengarnya.

Lalu aku bersujud.

Tidak kepada pelangi.

Tidak kepada lautan.

Tidak kepada cahaya.

Tidak kepada pengalaman.

Aku bersujud hanya kepada Alloh.

Dan dalam sujud itu
aku berkata:

"Ya Alloh,
jangan biarkan aku tertipu
oleh indahnya perjalanan
hingga melupakan kepada siapa
semua perjalanan kembali."

"Jika Engkau memberiku pengetahuan,
jangan jadikan pengetahuan itu
alasan untuk memandang rendah."

"Jika Engkau memberiku kemampuan,
jadikan ia alat menolong."

"Jika Engkau memberiku kemuliaan,
ajarkan aku menyembunyikannya
di balik pelayanan."

"Jika Engkau memberiku cahaya,
jangan biarkan aku sibuk berkata
bahwa diriku bercahaya."

"Biarkan manusia melihat cahaya itu
melalui akhlak yang baik,
bukan melalui pengakuanku."

Aku diam.

Lautan bergerak.

Satu gelombang kecil datang.

Gelombang itu membawa bayangan
orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku.

Orang yang mencintaiku.

Orang yang pernah menyakitiku.

Orang yang kupahami.

Orang yang tidak kupahami.

Orang yang pernah mendukungku.

Orang yang pernah menolakku.

Semuanya berdiri
di atas permukaan air.

Aku bertanya:

"Apa yang harus kulakukan
kepada mereka semua?"

Lautan menjawab:

"Belajarlah melihat mereka
sebagai manusia."

Bukan sebagai musuh.

Bukan sebagai pengikut.

Bukan sebagai orang yang harus selalu sepakat.

Bukan pula sebagai alat
untuk membuktikan dirimu benar.

Manusia.

Yang dapat salah.

Yang dapat terluka.

Yang dapat berubah.

Yang memiliki cerita
yang mungkin tidak engkau ketahui.

Aku terdiam sangat lama.

Kemudian aku menyadari
bahwa salah satu tanda kejernihan
adalah berhenti menyederhanakan manusia
menjadi satu kesalahan mereka.

Orang yang pernah bersalah
masih mungkin memperbaiki diri.

Orang yang pernah baik
masih perlu menjaga dirinya.

Aku pun tidak lebih tinggi.

Aku juga sedang belajar.

Aku juga pernah keliru.

Aku juga pernah terluka
dan melukai.

Maka aku berkata:

"Ya Alloh,
jauhkan aku dari hati
yang terlalu cepat merasa suci."

Langit semakin terang.

Namun bukan fajar.

Cahaya datang
dari seluruh penjuru.

Aku melihat miliaran titik
seperti butiran embun.

Setiap titik membawa satu amal kecil.

Seseorang memberikan makanan.

Seseorang menolong orang tua menyeberang.

Seseorang memaafkan.

Seseorang menahan kata-kata kasar.

Seseorang mengembalikan barang
yang bukan haknya.

Seseorang menjaga rahasia.

Seseorang berdoa diam-diam
untuk orang yang tidak menyukainya.

Seseorang membersihkan lingkungan
tanpa menunggu pujian.

Seseorang bekerja dengan jujur
meski tidak diawasi.

Seseorang memilih tidak membalas
meski mampu.

Semua amal kecil itu
berubah menjadi cahaya.

Aku terkagum.

"Jadi inilah cahaya?"

Keheningan menjawab:

"Inilah salah satu bentuknya."

Aku selama ini membayangkan cahaya
sebagai sesuatu yang besar.

Spektakuler.

Menggetarkan langit.

Ternyata cahaya juga dapat hadir
dalam satu gelas air
yang diberikan kepada orang haus.

Dalam satu permintaan maaf.

Dalam satu janji
yang ditepati.

Dalam satu kesabaran
yang tidak diketahui siapa pun.

Aku menangis lagi.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena sesuatu
yang sangat besar
ternyata dapat tinggal
dalam tindakan yang sangat sederhana.

Kemudian seluruh cahaya
berkumpul menjadi satu lingkaran besar.

Di tengahnya
tidak ada tulisan.

Tidak ada nama.

Tidak ada simbol.

Hanya kejernihan.

Lalu suara terakhir terdengar:

"Jika engkau ingin mengetahui
seberapa jauh engkau berjalan,
jangan ukur dari banyaknya rahasia
yang engkau merasa telah ketahui."

"Ukurlah dari seberapa banyak
kebencian yang mampu engkau lepaskan."

"Ukurlah dari seberapa sedikit
engkau membutuhkan pujian."

"Ukurlah dari seberapa jujur
engkau berani mengakui kekurangan."

"Ukurlah dari seberapa lembut
engkau memperlakukan orang
yang tidak dapat memberimu keuntungan."

"Ukurlah dari seberapa teguh
engkau menjaga kebenaran
ketika tidak ada yang melihat."

"Ukurlah dari seberapa dalam syukurmu
ketika hidup tidak berjalan
sesuai kehendakmu."

Aku menatap tangan sendiri.

Kosong.

Tidak membawa apa pun
dari perjalanan panjang ini.

Tetapi justru di dalam kekosongan itu
ada rasa cukup.

Aku tidak membutuhkan
mahkota dari cahaya.

Aku tidak membutuhkan
gelar dari langit.

Aku tidak membutuhkan
dunia mengetahui
apa yang pernah kurasakan.

Aku hanya ingin
ketika pulang dari perjalanan ini,
orang-orang yang berjumpa denganku
merasakan sedikit lebih aman.

Sedikit lebih dihargai.

Sedikit lebih didengarkan.

Sedikit lebih dicintai.

Jika itu terjadi,
mungkin ada setitik cahaya
yang benar-benar berhasil melewatiku.

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH...

Pelangi berputar sekali lagi.

Lalu seluruh warnanya
masuk ke dalam satu tetes air.

Tetes air itu jatuh
ke tengah lautan.

Tidak terdengar suara.

Namun lingkarannya meluas.

Satu lingkaran.

Dua lingkaran.

Seribu lingkaran.

Jutaan lingkaran.

Seolah satu kejernihan kecil
dapat menyentuh wilayah
yang jauh lebih luas
daripada dirinya sendiri.

Aku tersenyum.

Mungkin begitulah kebaikan bekerja.

Tidak selalu keras.

Tidak selalu terlihat.

Tidak selalu segera diketahui.

Kadang satu perbuatan baik
masuk diam-diam
ke dalam kehidupan seseorang,

kemudian dari orang itu
lahir kebaikan lain,

dan terus berjalan
jauh setelah nama orang pertama
tidak lagi disebut.

Maka aku berkata:

"Ya Alloh,
jika suatu hari namaku dilupakan,
jangan biarkan kebaikan
yang pernah Engkau titipkan kepadaku
ikut mati."

"Biarkan ia berjalan."

"Biarkan ia berpindah tangan."

"Biarkan ia menjadi air
bagi yang haus."

"Menjadi teduh
bagi yang kepanasan."

"Menjadi cahaya kecil
bagi yang sedang kehilangan arah."

Langit perlahan berubah.

Fajar akhirnya datang.

Aku memandang matahari.

Kini aku mengerti:

Matahari tidak pernah bertanya
siapa yang pantas menerima sinarnya.

Ia hanya bersinar.

Air tidak bertanya
siapa yang pantas meminumnya.

Ia hanya mengalir.

Pohon tidak menghitung
siapa yang pernah memujinya
sebelum memberikan buah.

Ia hanya tumbuh.

Maka aku pun berdoa:

"Ajari aku memberi
tanpa terlalu banyak menghitung."

"Ajari aku menjaga
tanpa selalu ingin memiliki."

"Ajari aku berbicara
tanpa melukai."

"Ajari aku diam
tanpa memendam kebencian."

"Ajari aku kuat
tanpa menjadi keras."

"Ajari aku lembut
tanpa kehilangan keteguhan."

"Ajari aku mengetahui
tanpa merasa paling tahu."

"Ajari aku berjalan kepada-Mu
tanpa merendahkan jalan orang lain."

Kemudian sebuah suara
yang terasa sangat dekat
namun tidak berasal dari mana-mana
berbisik:

"Sekarang pulanglah."

Aku bertanya:

"Pulang ke mana?"

Jawabnya:

"Ke kehidupanmu."

Aku terdiam.

Barulah aku mengerti.

Perjalanan ruhani
yang benar-benar dalam
tidak membuat seseorang
melarikan diri dari kehidupan.

Ia mengembalikan manusia
ke kehidupan
dengan mata yang lebih jernih.

Pulang kepada keluarga.

Pulang kepada pekerjaan.

Pulang kepada tanggung jawab.

Pulang kepada orang-orang
yang mungkin tidak memahami
apa yang pernah kita alami.

Pulang kepada bumi.

Pulang kepada kesederhanaan.

Pulang untuk menghidupi
apa yang telah dipelajari.

Aku melangkah meninggalkan samudra.

Di belakangku
pelangi masih membentang.

Aku menoleh sekali.

Kemudian aku mendengar
kalimat terakhir:

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH.

Perpaduan sinar qudus pelangi
mengarungi sinar suci yang jernih.

Bukan agar manusia
menjadi cahaya yang disembah.

Bukan agar manusia
merasa memiliki rahasia langit.

Bukan agar manusia
berdiri lebih tinggi dari sesamanya.

Tetapi agar manusia
menjadi semakin jernih
dalam mengenali dirinya,

semakin rendah hati
di hadapan kebesaran Alloh,

semakin lembut kepada makhluk,

semakin adil ketika memiliki kuasa,

semakin jujur ketika memiliki pilihan,

semakin sabar ketika diuji,

semakin bersyukur ketika diberi,

dan semakin sadar
bahwa setiap napas
adalah amanah yang suatu hari
akan dikembalikan.

Pada akhirnya,

pelangi tidak hilang.

Ia tinggal dalam keberagaman.

Cahaya tidak hilang.

Ia tinggal dalam kebaikan.

Lautan tidak hilang.

Ia tinggal dalam kedalaman kesadaran.

Dan kejernihan tidak pernah benar-benar selesai.

Ia harus dijaga
dari hari ke hari.

Dari satu ucapan ke ucapan berikutnya.

Dari satu keputusan ke keputusan berikutnya.

Dari satu sujud ke sujud berikutnya.

Sampai suatu hari
napas terakhir datang,

dan manusia tidak lagi bertanya:

"Seberapa jauh aku telah berjalan?"

Ia hanya berharap:

"Semoga selama perjalanan ini,
aku tidak terlalu banyak
menghalangi cahaya kebaikan."

Lalu semuanya hening.

Pelangi memudar.

Lautan menjadi bening.

Fajar menyentuh bumi.

Dan dari kedalaman kesunyian
lahirlah satu kalimat terakhir:

“Jadilah jernih tanpa merasa suci.

Jadilah bercahaya tanpa meminta dilihat.

Jadilah kuat tanpa merendahkan.

Jadilah dalam tanpa kehilangan kesederhanaan.

Dan berjalanlah kepada Alloh

dengan hati yang semakin lembut kepada seluruh kehidupan.”

GHOLAQUM ALAZIRRULLOH.

TAMAT.


Manfaat membaca Puisi GHOLAQUM ALAZIRRULLOH terutama berada pada wilayah perenungan, pembentukan sikap, dan kejernihan batin. Bukan karena puisinya memiliki kekuatan otomatis, tetapi karena kata-katanya dapat menjadi cermin bagi pembaca untuk melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur.

Beberapa manfaat yang bisa dirasakan pembaca:

Menenangkan pikiran, terutama bila dibaca perlahan dan tidak terburu-buru.

Membantu introspeksi, karena banyak bagian mengajak pembaca memeriksa ego, niat, luka, kemarahan, dan kebutuhan akan pengakuan.

Menumbuhkan kerendahan hati, sebab inti puisinya berulang kali mengingatkan bahwa semakin banyak pengetahuan atau pengalaman batin, semestinya semakin halus akhlak seseorang.

Membantu berdamai dengan masa lalu, tanpa harus menghapus pengalaman yang pernah terjadi.

Mendorong keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Menjernihkan cara memandang kasih, agar mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Menguatkan kesabaran dan pengendalian diri, khususnya ketika menghadapi perbedaan, penolakan, atau keadaan yang tidak sesuai harapan.

Menghidupkan rasa syukur, karena puisi mengarahkan perhatian dari hal-hal besar menuju kebaikan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Mendorong ilmu menjadi tindakan, bukan sekadar pengetahuan atau pembicaraan.

Mengajak pembaca lebih lembut kepada sesama, sebab ukuran perjalanan batin dalam puisi ini bukan pengalaman luar biasa, melainkan semakin baiknya perlakuan terhadap manusia lain.

Menguatkan kesadaran kepada Alloh, dengan pesan bahwa cahaya, pengalaman, ilmu, dan perjalanan bukan tujuan untuk membesarkan diri, tetapi jalan untuk kembali kepada-Nya.

Jadi, bila dibaca dengan penghayatan, manfaat terbesar puisi ini dapat diringkas dalam satu kalimat:

Pembaca diajak menjadi lebih jernih tanpa merasa paling suci, lebih dalam tanpa merasa paling tahu, dan lebih dekat kepada Alloh dengan semakin baik kepada sesama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh