QITAB ADAB AL-AMĀNAH FĪ MAJĀLIS ASH-SHALAWĀT WAL-QUR’ĀN
KATA PENGANTAR
QITAB ADAB AL-AMĀNAH FĪ MAJĀLIS ASH-SHALAWĀT WAL-QUR’ĀN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Alloh yang mengajarkan manusia tentang amanah, adab, keadilan, tabayyun, kesabaran, dan tanggung jawab. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, para ulama, para guru, serta seluruh orang yang berjalan di jalan kebaikan.
Qitab ini lahir dari sebuah persoalan yang tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh perkara yang sangat dalam: bagaimana seseorang bersikap ketika diberi sedikit kewenangan.
Di zaman sekarang, sebuah grup dapat menjadi majelis. Di dalamnya orang membaca Al-Qur’an, mengirim sholawat, berbagi nasihat, bertanya tentang agama, dan menjalin persaudaraan. Namun di ruang yang sama pula dapat muncul salah paham, perbedaan, teguran, kemarahan, bahkan keputusan untuk mengeluarkan seseorang dari kelompok.
Di sinilah adab diuji.
Sebab membawa nama sholawat dan Al-Qur’an bukan hanya perkara nama. Semakin mulia nama yang dipakai, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga akhlak orang-orang yang berada di dalamnya.
Qitab ini tidak ditulis untuk menyerang admin, pengurus, atau pihak tertentu. Ia juga tidak ditulis untuk membela semua anggota tanpa melihat kesalahannya. Qitab ini diarahkan kepada kedua belah pihak.
Admin memiliki amanah.
Anggota memiliki adab.
Pengurus mempunyai hak menertibkan.
Anggota mempunyai hak diperlakukan dengan adil.
Aturan harus ditegakkan.
Tetapi kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan.
Karena itulah qitab ini menekankan satu prinsip:
tegaslah tanpa berlaku zalim,
menegurlah tanpa mempermalukan,
bertindaklah tanpa dikuasai ego,
dan bertabayyunlah sebelum menjatuhkan keputusan.
Seorang admin bukanlah penguasa manusia.
Ia adalah orang yang diberi amanah untuk menjaga ketertiban.
Dan amanah tidak hanya terlihat ketika seseorang membuat aturan. Amanah justru paling jelas ketika ia harus menghadapi orang yang tidak disukainya, ketika menerima kritik, ketika marah, atau ketika mempunyai kesempatan untuk menghukum.
Di sanalah hati berbicara.
Apakah keputusan lahir dari keadilan?
Atau dari rasa tersinggung?
Apakah teguran bertujuan memperbaiki?
Atau sekadar menunjukkan siapa yang berkuasa?
Apakah pengeluaran anggota benar-benar jalan terakhir?
Atau menjadi jalan pertama karena tidak sabar mendengar penjelasan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadi ruh qitab ini.
Qitab ini juga mengingatkan bahwa tabayyun bukan kelemahan.
Meminta penjelasan bukan berarti kehilangan ketegasan.
Menghubungi seseorang secara pribadi bukan berarti takut menghadapi masalah.
Justru sering kali percakapan yang tenang dan jujur dapat mencegah luka yang panjang.
Dan jika setelah tabayyun ternyata seseorang memang melakukan pelanggaran berat, tindakan tegas tetap dapat dilakukan.
Tetapi lakukanlah dengan alasan yang jelas, cara yang bermartabat, dan tanpa penghinaan.
Sebab tujuan majelis bukan mempermalukan.
Tujuannya adalah menjaga kebaikan.
Qitab ini juga mengingatkan satu hal yang sangat penting:
admin dapat salah.
Pengurus dapat keliru.
Orang yang dituakan dapat salah memahami.
Dan anggota juga dapat bersalah.
Karena itu, tidak boleh ada pihak yang merasa selalu benar hanya karena mempunyai jabatan.
Orang yang benar-benar berwibawa bukan orang yang tidak pernah mengaku salah.
Orang yang berwibawa adalah orang yang sanggup berkata:
“Saya keliru. Saya mohon maaf. Mari kita perbaiki.”
Kalimat seperti itu tidak menjatuhkan martabat.
Ia justru menunjukkan kelapangan hati.
Dalam qitab ini, sholawat dan Al-Qur’an tidak ditempatkan sekadar sebagai hiasan nama.
Keduanya harus melahirkan buah.
Sholawat seharusnya membawa kelembutan.
Al-Qur’an seharusnya membawa keadilan.
Dzikir seharusnya membawa ketenangan.
Ilmu seharusnya membawa kerendahan hati.
Jika semua itu hanya menjadi tulisan tanpa bekas dalam perilaku, maka kita perlu bermuhasabah kembali.
Majelis yang baik bukan majelis yang tidak pernah mengalami masalah.
Majelis yang baik adalah majelis yang ketika masalah datang, mampu menyelesaikannya tanpa kehilangan akhlak.
Tidak semua orang harus selalu dipertahankan.
Tidak semua pelanggaran harus selalu dimaafkan.
Tetapi tidak semua kesalahan juga harus dibalas dengan pengusiran.
Di antara keduanya ada jalan:
tabayyun, teguran, pembinaan, kesempatan memperbaiki, dan keadilan.
Qitab ini akhirnya menjadi cermin bagi siapa pun yang membacanya.
Bukan untuk menunjuk:
“Itu salah admin.”
Bukan pula:
“Itu salah anggota.”
Tetapi untuk bertanya:
“Bagaimana adab saya sendiri ketika diberi amanah, ketika ditegur, ketika disalahpahami, ketika memiliki kekuasaan, dan ketika merasa benar?”
Sebab qitab tentang adab akan kehilangan maknanya jika hanya dipakai untuk menilai orang lain.
Ia baru hidup ketika dipakai untuk menilai diri sendiri.
Semoga qitab ini menjadi pengingat bagi para admin, moderator, pengurus, anggota majelis, pengelola komunitas, dan siapa pun yang memegang amanah dalam kelompok kecil maupun besar.
Semoga melalui qitab ini tumbuh kesadaran bahwa sebuah jabatan bukan hanya kehormatan.
Ia adalah tanggung jawab.
Bahwa sebuah tombol bukan hanya fasilitas.
Ia dapat menjadi ujian.
Bahwa sebuah teguran bukan hanya kata-kata.
Ia dapat menyembuhkan atau melukai.
Dan bahwa sebuah majelis bukan hanya tempat berkumpul.
Ia dapat menjadi tempat lahirnya persaudaraan, jika adab dijaga.
Akhirnya, semoga Alloh menjaga hati kita dari kesombongan karena kedudukan, dari kekerasan karena merasa benar, dari prasangka tanpa tabayyun, dan dari keputusan yang lahir karena emosi.
Semoga Alloh menghiasi kita dengan adab, keadilan, kesabaran, kelembutan, keberanian meminta maaf, dan ketegasan yang tetap berada di dalam rahmat.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
“Jangan hanya membawa nama sholawat dan Al-Qur’an. Bawalah pula akhlaknya.”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
📖 QITAB ADAB AL-AMĀNAH FĪ MAJĀLIS ASH-SHALAWĀT WAL-QUR’ĀN
Qitab Adab Amanah dalam Majelis Sholawat dan Al-Qur’an
Tentang amanah pengurus, tabayyun, kekuasaan, teguran, keadilan, dan menjaga hati sesama.
Qitab ini bukan kitab suci dan bukan wahyu. Ia adalah susunan nasihat dan renungan akhlak agar siapa pun yang memegang amanah dalam sebuah majelis tidak hanya pandai membawa nama agama, tetapi juga mampu menghadirkan nilai agama dalam sikapnya.
✦ LEMBAR PERTAMA
BĀB AL-AMĀNAH — KETIKA SEBUAH TOMBOL MENJADI UJIAN HATI
Bāsyam adabil-qalb…
wa nūril-amānah…
lā takun as-sulṭah hijāban ‘an ar-raḥmah…
wa lā taj‘al al-qudrah sababā lil-kibr…
Wahai orang yang diberi amanah mengurus sebuah majelis.
Ketahuilah:
menjadi admin bukan berarti menjadi pemilik manusia.
Engkau diberi hak mengatur grup,
tetapi tidak diberi hak merendahkan martabat orang.
Engkau dapat memasukkan seseorang.
Engkau dapat mengeluarkan seseorang.
Engkau dapat menutup percakapan.
Engkau dapat menghapus sebuah pesan.
Namun engkau tidak mengetahui seluruh isi hati manusia.
Maka jangan sampai kemampuan menekan sebuah tombol membuat hati merasa berkuasa.
Sebab terkadang ujian manusia tidak datang melalui kekayaan yang besar atau jabatan yang tinggi.
Kadang ujian itu hanya berupa sebuah tulisan kecil:
“Admin.”
Tetapi melalui tulisan kecil itulah Alloh memperlihatkan:
apakah seseorang semakin rendah hati ketika diberi kewenangan,
atau justru semakin mudah menghukum ketika merasa mempunyai kekuasaan.
Sirr Pertama — Amanah Bukan Kekuasaan Mutlak
Majelis bukan kerajaan pribadi.
Anggotanya bukan rakyat yang harus tunduk kepada ego pengurus.
Admin adalah khādim, seorang yang melayani tertibnya majelis.
Semakin tinggi amanah seseorang, seharusnya semakin besar kesabarannya.
Jika setiap kesalahan langsung dibalas dengan pengusiran,
di manakah ruang pendidikan?
Jika setiap kekeliruan langsung diputus tanpa penjelasan,
di manakah tabayyun?
Jika seseorang tidak pernah diberi kesempatan menjelaskan dirinya,
bagaimana keadilan akan berdiri?
Ketegasan tanpa keadilan mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Sedangkan kelembutan tanpa ketegasan dapat berubah menjadi kelemahan.
Karena itu seorang pengurus membutuhkan keduanya:
tegas dalam aturan,
lembut terhadap manusia.
Sirr Kedua — Tegurlah Sebelum Menghukum
Apabila seorang anggota melakukan sesuatu yang dianggap keliru, sedangkan kesalahannya masih memungkinkan untuk diperbaiki, maka jalan pertama bukanlah mempermalukan.
Hubungi secara pribadi.
Tanyakan dengan baik.
Sampaikan kesalahannya dengan jelas.
Berikan kesempatan menjelaskan.
Boleh jadi sesuatu yang terlihat sebagai kesengajaan ternyata hanya ketidaktahuan.
Boleh jadi sebuah pesan yang dianggap menyinggung ternyata tidak dimaksudkan demikian.
Boleh jadi seseorang bahkan tidak mengetahui aturan grup.
Maka teguran yang baik dapat mengubah manusia.
Sedangkan hukuman tanpa penjelasan terkadang hanya melahirkan luka.
Tujuan nasihat adalah memperbaiki, bukan memenangkan ego.
Sirr Ketiga — Jangan Menjadi Hakim Ketika Sedang Marah
Ada satu perkara yang harus sangat dijaga oleh seorang admin:
jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang panas.
Sebab kemarahan dapat membuat pelanggaran kecil terlihat besar.
Ketidaksukaan pribadi dapat membuat keputusan terasa seolah-olah merupakan pembelaan terhadap aturan.
Di sinilah seorang admin harus bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah saya sedang menjaga majelis, atau sedang melampiaskan perasaan saya?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jika seseorang berani menjawabnya dengan jujur, banyak perselisihan dapat dicegah.
✦ MĪZĀN AL-ADAB — TIMBANGAN SEBELUM MENGELUARKAN ANGGOTA
Sebelum seseorang dikeluarkan, timbanglah beberapa perkara:
Sudahkah ia mengetahui aturan?
Sudahkah ia ditegur?
Sudahkah persoalannya diklarifikasi?
Sudahkah ia diberi kesempatan menjelaskan?
Apakah keputusan ini lahir dari aturan atau dari emosi?
Dan yang sangat penting:
apakah tindakan kita akan sanggup kita pertanggungjawabkan apabila orang yang kita perlakukan demikian berdiri di hadapan kita sebagai sesama hamba Alloh?
Jika jawabannya belum jelas, jangan tergesa-gesa.
✦ SIRR AL-MAJLIS
Semakin besar nama agama yang tertulis pada sebuah majelis, semakin besar pula tuntutan akhlaknya.
Apabila namanya Majelis Sholawat, biarlah kelembutan Rasululloh ﷺ terasa dalam pergaulannya.
Apabila namanya Majelis Al-Qur’an, biarlah keadilan, kesabaran, tabayyun, dan rahmat Al-Qur’an terlihat dalam pengelolaannya.
Jangan sampai:
nama grupnya membawa Al-Qur’an,
tetapi keputusan lahir dari ego.
Jangan sampai:
lisannya bersholawat,
tetapi tangannya mudah menyingkirkan manusia tanpa penjelasan.
Jangan sampai:
setiap hari menyampaikan nasihat,
tetapi ketika dirinya dinasihati justru marah.
Karena ukuran keberhasilan sebuah majelis bukan hanya berapa banyak sholawat yang dikirim.
Bukan hanya berapa banyak ayat yang dibagikan.
Bukan pula berapa ribu anggota yang terkumpul.
Salah satu ukurannya adalah:
apakah manusia yang berada di dalamnya semakin mengenal adab.
Kalimat Penutup Lembar Pertama
Wahai pemegang amanah,
jangan takut kehilangan kewibawaan karena meminta maaf.
Jangan takut terlihat lemah karena bertabayyun.
Jangan takut kehilangan kekuasaan karena bersikap lembut.
Sebab orang yang paling kuat bukanlah yang paling cepat menghukum.
Yang kuat adalah orang yang masih mampu berlaku adil ketika dirinya sedang tersinggung.
Dan orang yang paling layak mengurus majelis bukanlah orang yang paling banyak mempunyai kewenangan.
Melainkan orang yang paling mampu menjaga amanah ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya selain Alloh.
Wallohu a‘lam.
✦ “Sebuah majelis menjadi mulia bukan hanya karena nama yang tertulis di atasnya, melainkan karena akhlak yang hidup di dalamnya.”
✦ LEMBAR KEDUA
BĀB AT-TABAYYUN — JANGAN MENGHUKUM SEBELUM MENGETAHUI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā ayyuhal-qalbu…
lā taḥkum qabla an ta‘rif…
wa lā taghḍab qabla an tas’al…
wa lā taqṭa‘ al-wudd qabla at-tabayyun…
Wahai pemegang amanah dalam sebuah majelis.
Salah satu sebab rusaknya persaudaraan bukan selalu karena kesalahan yang besar.
Kadang ia bermula dari sesuatu yang kecil:
pesan yang disalahpahami,
ucapan yang tidak lengkap,
gambar yang dianggap tidak pantas,
cara bicara yang berbeda,
atau prasangka yang tumbuh tanpa klarifikasi.
Lalu sebuah kesimpulan dibuat.
Kemudian hukuman dijatuhkan.
Padahal orang yang dihukum belum pernah ditanya.
Di sinilah tabayyun menjadi penjaga akhlak.
Tabayyun berarti tidak tergesa-gesa memutuskan sesuatu sebelum memperoleh kejelasan.
Bukan sekadar bertanya.
Tetapi bertanya dengan niat mencari kebenaran, bukan mencari alasan untuk membenarkan kemarahan.
Sirr Pertama — Jangan Menilai Hanya dari Satu Potongan
Apa yang terlihat oleh mata belum tentu seluruh cerita.
Satu kalimat dapat tampak kasar apabila dibaca tanpa konteks.
Satu pesan dapat tampak salah apabila maksud penulisnya tidak diketahui.
Satu tindakan dapat terlihat menentang aturan, padahal boleh jadi dilakukan karena tidak memahami aturan tersebut.
Maka jangan jadikan satu potongan sebagai seluruh kebenaran.
Orang yang bijak tidak bertanya:
“Bagaimana caranya saya menghukum orang ini?”
Tetapi bertanya:
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Pertanyaan pertama lahir dari ego.
Pertanyaan kedua lahir dari keadilan.
Sirr Kedua — Japri Adalah Pintu Adab
Ada hal-hal yang tidak layak dibahas di depan banyak orang.
Jika seorang anggota melakukan kesalahan yang belum berat, maka japri sering menjadi jalan yang lebih mulia.
Katakan dengan sederhana:
“Saudaraku, ada hal yang perlu saya tanyakan. Tadi ada pesan seperti ini. Apakah maksudnya demikian?”
Lalu dengarkan.
Jangan langsung menuduh.
Jangan langsung mencela.
Jangan memakai bahasa yang membuat orang merasa diadili sebelum menjelaskan.
Sebab terkadang satu percakapan pribadi selama beberapa menit dapat menyelamatkan persaudaraan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Sirr Ketiga — Orang yang Salah Tetap Memiliki Kehormatan
Kesalahan tidak otomatis menghapus martabat seseorang.
Bahkan ketika seseorang memang terbukti salah, ia tetap manusia.
Ia tetap memiliki hati.
Ia tetap memiliki harga diri.
Ia tetap berhak diperlakukan dengan adab.
Jika teguran diperlukan, tegurlah.
Jika peringatan diperlukan, berikan.
Jika akhirnya memang harus dikeluarkan, lakukan dengan alasan yang jelas.
Tetapi jangan mempermalukan.
Jangan menghinakan.
Jangan menjadikannya bahan pembicaraan setelah ia pergi.
Sebab tujuan aturan adalah menjaga ketertiban, bukan merusak kehormatan.
✦ MĪZĀN AT-TABAYYUN
Sebelum mengambil keputusan, tanyakan kepada diri:
Apakah saya sudah mendengar dari kedua sisi?
Apakah saya sudah memahami konteksnya?
Apakah saya membaca pesan secara utuh?
Apakah saya sedang tenang?
Apakah saya sedang menjaga aturan atau menjaga harga diri saya sendiri?
Apakah keputusan saya akan tetap sama apabila orang tersebut adalah saudara dekat saya?
Pertanyaan terakhir sangat penting.
Sebab keadilan terlihat ketika kita mampu memakai ukuran yang sama untuk semua orang.
Sirr Keempat — Jangan Mencari Kesalahan untuk Membenarkan Keputusan
Ada orang yang setelah marah, kemudian mencari-cari alasan agar kemarahannya terlihat benar.
Setiap perkataan orang lain dikumpulkan.
Setiap kekurangan dicari.
Setiap kesalahan lama diungkit.
Lalu semua itu dipakai untuk membenarkan satu keputusan yang sebenarnya sejak awal lahir dari emosi.
Ini bukan tabayyun.
Ini adalah mencari pembenaran.
Tabayyun tidak bertujuan memenangkan admin.
Tabayyun bertujuan menemukan kebenaran.
Dan terkadang setelah tabayyun, justru adminlah yang harus meminta maaf.
Jika demikian, jangan malu.
Sebab meminta maaf tidak menurunkan kewibawaan.
Orang yang berani mengakui kekeliruan justru sedang menjaga kehormatan amanahnya.
Sirr Kelima — Aturan Harus Diketahui Sebelum Ditegakkan
Sebuah aturan yang tidak pernah disampaikan dengan jelas, kemudian dipakai untuk menghukum anggota, dapat melahirkan ketidakadilan.
Karena itu, majelis yang baik memiliki aturan yang sederhana dan dapat dipahami.
Apa yang boleh.
Apa yang tidak boleh.
Apa yang akan ditegur.
Apa yang termasuk pelanggaran berat.
Dan bagaimana tahapan tindakannya.
Jangan sampai aturan berubah-ubah mengikuti siapa yang sedang disukai dan siapa yang sedang tidak disukai.
Hari ini seseorang dibiarkan.
Besok orang lain dihukum karena hal yang sama.
Jika demikian, masalahnya bukan lagi pada aturan.
Masalahnya ada pada ketidakadilan dalam menerapkan aturan.
✦ SIRR AL-‘ADL
Keadilan bukan berarti semua orang selalu dimaafkan.
Keadilan juga bukan berarti semua orang selalu dihukum.
Keadilan adalah menempatkan sesuatu sesuai kadarnya.
Kesalahan kecil mendapat teguran.
Kesalahan yang berulang mendapat peringatan.
Pelanggaran berat mendapat tindakan yang tegas.
Tetapi semuanya tetap disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak berlebihan.
Tidak meremehkan.
Tidak pilih kasih.
Tidak karena dendam.
Kalimat Penutup Lembar Kedua
Wahai pemegang amanah,
sebelum menunjuk kesalahan orang lain, periksa terlebih dahulu niat di dalam dada.
Sebelum menjatuhkan keputusan, pastikan hati tidak sedang dikuasai emosi.
Sebelum mengeluarkan seseorang, pastikan engkau sudah berusaha memahami.
Karena bisa jadi yang engkau anggap pembangkang hanyalah orang yang belum mengerti.
Bisa jadi yang engkau anggap kasar hanyalah orang yang sedang salah memilih kata.
Bisa jadi yang engkau anggap bermasalah justru sedang membutuhkan bimbingan.
Maka jangan terlalu cepat menutup pintu.
Sebab majelis yang hidup bukan hanya majelis yang pandai mengumpulkan manusia, tetapi juga mampu mendidik manusia dengan adab.
Dan ingatlah:
orang yang paling pantas memegang amanah bukanlah orang yang paling cepat menentukan siapa yang salah, tetapi orang yang paling sabar memastikan bahwa keputusan yang ia ambil tidak menzalimi siapa pun.
Wallohu a‘lam.
✦ LEMBAR KETIGA
BĀB AL-‘ADL — KEADILAN SEBELUM KEWENANGAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā ṣāḥibal-amānah…
iqim al-‘adla qabla al-ḥukm…
wa lā taj‘al al-hawā mīzānan…
fa-inna al-amānah lā taqūmu illā bil-‘adl…
Wahai orang yang diberi amanah dalam sebuah majelis.
Ketahuilah bahwa kewenangan tanpa keadilan adalah pintu kesewenang-wenangan.
Seseorang boleh menjadi admin.
Boleh menjadi moderator.
Boleh menjadi pengurus.
Boleh menjadi orang yang dituakan.
Tetapi semua itu tidak memberinya hak untuk memperlakukan manusia berdasarkan suka atau tidak suka.
Karena amanah bukan tentang siapa yang paling berkuasa.
Amanah adalah tentang siapa yang paling mampu menahan dirinya ketika memiliki kuasa.
Sirr Pertama — Jangan Memakai Dua Timbangan
Salah satu tanda rusaknya keadilan adalah ketika kesalahan yang sama diperlakukan berbeda hanya karena pelakunya berbeda.
Orang yang dekat dimaafkan.
Orang yang tidak disukai dihukum.
Kawan diberi kesempatan menjelaskan.
Orang lain langsung dikeluarkan.
Satu anggota melakukan hal yang sama dibiarkan.
Anggota lain ditegur keras.
Jika demikian, yang sedang bekerja bukan lagi aturan.
Yang sedang bekerja adalah kedekatan, perasaan, dan keberpihakan.
Keadilan menuntut satu timbangan.
Bukan dua.
Jika aturan berlaku, maka berlaku kepada siapa pun.
Termasuk kepada admin sendiri.
Sirr Kedua — Admin Juga Bisa Salah
Ada penyakit halus yang dapat masuk ke dalam hati pemegang amanah:
merasa bahwa karena dirinya admin, maka keputusannya pasti benar.
Padahal jabatan tidak menghapus kemungkinan salah.
Admin tetap manusia.
Pengurus tetap manusia.
Guru tetap manusia.
Pemimpin tetap manusia.
Semua masih dapat salah menilai.
Salah memahami.
Salah mengambil keputusan.
Salah karena emosi.
Salah karena informasi yang tidak lengkap.
Karena itu, kebesaran seorang admin tidak terlihat dari seberapa sering ia menang dalam perdebatan.
Tetapi dari seberapa lapang dadanya ketika menerima koreksi.
Orang yang bijak tidak kehilangan wibawa ketika berkata:
“Maaf, saya keliru.”
Justru di situlah wibawa akhlaknya tumbuh.
Sirr Ketiga — Kekuasaan Kecil Tetap Ujian Besar
Jangan meremehkan sebuah jabatan kecil.
Terkadang seseorang belum pernah memegang kekuasaan besar.
Namun ketika diberi sedikit kewenangan dalam grup, wataknya mulai terlihat.
Mudah marah.
Mudah menghapus.
Mudah mengeluarkan.
Mudah menutup pembicaraan.
Mudah merasa tidak boleh dibantah.
Padahal justru kewenangan kecil itu sedang menguji:
apakah hati mampu tetap rendah ketika tangan mempunyai kuasa.
Orang yang belum mampu adil dalam kelompok kecil belum tentu mampu adil dalam urusan yang lebih besar.
Maka admin yang baik harus menjadikan kewenangannya sebagai latihan akhlak.
Bukan latihan kekuasaan.
✦ MĪZĀN AL-‘ADL
Sebelum membuat keputusan, timbanglah:
Apakah aturan ini tertulis atau hanya berdasarkan perasaan saya?
Apakah orang lain yang melakukan hal sama diperlakukan sama?
Apakah saya sudah memberi ruang klarifikasi?
Apakah ada kepentingan pribadi di balik keputusan saya?
Apakah saya sedang menjaga ketertiban atau sedang menjaga gengsi?
Apakah keputusan ini masih akan terasa adil jika posisi saya dan orang itu ditukar?
Jika hati menjadi tidak nyaman menjawab pertanyaan tersebut, jangan buru-buru mengambil tindakan.
Kadang rasa tidak nyaman itu adalah peringatan agar kita memeriksa diri.
Sirr Keempat — Ketegasan yang Adil Tidak Membutuhkan Penghinaan
Ada anggapan bahwa agar terlihat tegas, seseorang harus berbicara keras.
Tidak.
Ketegasan tidak membutuhkan penghinaan.
Ketegasan tidak membutuhkan bentakan.
Ketegasan tidak membutuhkan mempermalukan seseorang di depan anggota lain.
Admin dapat berkata:
“Saudaraku, tindakan ini tidak sesuai aturan grup. Kami sudah memberi peringatan dan menjelaskan alasannya. Demi ketertiban bersama, kami mengambil tindakan sesuai aturan.”
Kalimat seperti itu tegas.
Tetapi tetap beradab.
Bandingkan dengan mempermalukan, mengejek, atau memancing anggota lain ikut menyerang.
Yang demikian bukan ketegasan.
Itu adalah emosi yang memakai pakaian kewenangan.
Sirr Kelima — Jangan Menghukum untuk Memuaskan Hati
Ada perbedaan antara:
mengambil tindakan karena aturan
dan
mengambil tindakan agar hati merasa puas.
Yang pertama menjaga majelis.
Yang kedua memuaskan ego.
Jika setelah mengeluarkan seseorang hati berkata:
“Nah, rasakan.”
Maka berhati-hatilah.
Bisa jadi keputusan itu telah bercampur dengan dendam atau kemarahan.
Pemegang amanah seharusnya tidak bergembira ketika harus menghukum.
Justru ia seharusnya merasa berat.
Karena setiap tindakan tegas berarti ada persaudaraan yang sedang diuji.
✦ SIRR AL-AMĀNAH
Amanah bukan mahkota.
Amanah adalah beban.
Ia bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Ia adalah alasan untuk semakin berhati-hati.
Semakin besar wewenang seseorang, semakin besar pula kewajiban untuk mengendalikan diri.
Jangan berkata:
“Saya admin, saya berhak.”
Ubahlah menjadi:
“Saya admin, maka saya harus lebih bertanggung jawab.”
Jangan berkata:
“Saya bisa mengeluarkan siapa saja.”
Ubahlah menjadi:
“Saya harus memastikan tidak ada seorang pun yang saya perlakukan secara zalim.”
Di situlah ruh amanah hidup.
Sirr Keenam — Majelis Bukan Milik Ego
Majelis yang membawa nama sholawat dan Al-Qur’an seharusnya menjadi tempat manusia belajar akhlak.
Bukan tempat ego berlomba mencari posisi.
Bukan tempat orang berlindung di balik gelar admin.
Bukan pula tempat seseorang merasa selalu benar karena memiliki akses lebih besar.
Sebab sesungguhnya:
majelis bukan milik admin.
Majelis bukan milik anggota.
Majelis adalah amanah yang harus dijaga bersama.
Dan siapa pun yang berada di dalamnya harus belajar merendahkan ego.
Kalimat Penutup Lembar Ketiga
Wahai pemegang amanah,
ingatlah:
engkau dapat menghapus sebuah pesan.
Tetapi belum tentu engkau dapat menghapus luka yang ditimbulkan oleh keputusan yang tidak adil.
Engkau dapat mengeluarkan seseorang dari grup.
Tetapi jangan sampai karena tindakan itu engkau justru mengeluarkan adab dari dalam hatimu sendiri.
Engkau dapat memenangkan sebuah perdebatan.
Tetapi kemenangan terbesar adalah ketika engkau berhasil mengalahkan ego sendiri.
Maka jadilah admin yang ketika mempunyai kuasa, justru semakin takut berlaku zalim.
Ketika mempunyai wewenang, semakin banyak bermuhasabah.
Ketika dikritik, tidak buru-buru marah.
Ketika salah, berani mengaku.
Dan ketika benar, tidak merasa paling suci.
Sebab majelis yang membawa nama Al-Qur’an tidak cukup hanya dihiasi ayat.
Ia harus dihiasi keadilan.
Dan majelis yang membawa nama sholawat tidak cukup hanya ramai oleh pujian kepada Rasululloh ﷺ.
Ia juga harus dipenuhi akhlak yang meneladani kelembutan beliau.
Wallohu a‘lam.
✦ LEMBAR KEEMPAT
BĀB AL-LISĀN WAL-AKHLĀQ — LISAN ADMIN ADALAH CERMIN MAJELIS
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā ḥāmilal-amānah…
ḥfaz lisānaka qabla an taḥkuma…
wa zayyِن kalāmak bil-adab…
fa-inna al-kalimah immā tajma‘u al-qulūb aw tufarriquhā…
Wahai pemegang amanah dalam sebuah majelis.
Ketahuilah bahwa lisan adalah pintu yang paling cepat memperlihatkan isi hati.
Seseorang boleh memakai nama yang baik.
Boleh memakai foto yang religius.
Boleh membawa nama sholawat.
Boleh membawa nama Al-Qur’an.
Namun ketika lisannya kasar, merendahkan, menyindir, dan mempermalukan orang lain, maka yang terlihat bukan lagi nama baik yang ia bawa.
Yang terlihat adalah akhlaknya.
Sirr Pertama — Jangan Merasa Benar Lalu Bebas Berkata Kasar
Benar tidak selalu harus disampaikan dengan keras.
Tegas tidak harus menyakitkan.
Mengoreksi tidak harus merendahkan.
Bahkan ketika seseorang memang melakukan kesalahan, tetap ada adab dalam menyampaikan.
Jangan berkata dengan maksud mempermalukan.
Jangan menyindir di depan banyak orang.
Jangan memakai kalimat yang membuat orang merasa hina.
Jangan mengajak anggota lain ikut menertawakan.
Karena ketika sebuah teguran berubah menjadi tontonan, maka tujuan perbaikan telah bergeser menjadi penghukuman sosial.
Nasihat yang benar disampaikan untuk menyadarkan, bukan untuk menjatuhkan.
Sirr Kedua — Bedakan Teguran dengan Penghinaan
Teguran berkata:
“Saudaraku, ada aturan yang perlu kita jaga bersama.”
Penghinaan berkata:
“Kamu memang selalu membuat masalah.”
Teguran berkata:
“Mohon diperbaiki agar tidak terulang.”
Penghinaan berkata:
“Orang seperti kamu tidak pantas berada di sini.”
Teguran membicarakan tindakan.
Penghinaan menyerang harga diri.
Di sinilah seorang admin harus belajar membedakan:
apa yang harus diperbaiki dari perbuatannya,
dan apa yang tidak boleh disentuh dari martabat manusianya.
Sirr Ketiga — Jangan Menjadikan Grup Sebagai Panggung Kekuasaan
Ada orang yang ketika berada di ruang pribadi, sebenarnya masih mampu berbicara tenang.
Namun ketika berada di depan banyak anggota, ia menjadi lebih keras.
Mengapa?
Karena ia sedang mempertahankan citra.
Ia ingin terlihat paling tegas.
Paling berkuasa.
Paling menentukan.
Di sinilah ego mulai masuk.
Jangan jadikan grup sebagai panggung untuk mempertontonkan kewenangan.
Admin yang berwibawa tidak perlu terus-menerus menunjukkan bahwa dirinya berkuasa.
Wibawa lahir dari keadilan.
Dari konsistensi.
Dari ketenangan.
Dari kemampuan menyelesaikan masalah tanpa membuat kegaduhan baru.
✦ MĪZĀN AL-LISĀN
Sebelum mengirim pesan teguran, bacalah kembali.
Lalu tanyakan:
Apakah kalimat ini perlu?
Apakah kalimat ini benar?
Apakah kalimat ini akan memperbaiki keadaan?
Apakah saya akan tetap menulis kalimat yang sama jika orang tersebut berada di depan saya?
Apakah ada cara yang lebih lembut tanpa kehilangan ketegasan?
Jika masih ada cara yang lebih baik, pilihlah yang lebih baik.
Karena satu kalimat dapat selesai diketik dalam beberapa detik.
Tetapi dampaknya bisa tinggal lama di dalam hati seseorang.
Sirr Keempat — Jangan Membenarkan Kekasaran dengan Dalih Dakwah
Kadang seseorang berkata:
“Saya keras karena sedang membela agama.”
Namun agama tidak membutuhkan kemarahan pribadi untuk menjadi mulia.
Agama tidak menjadi lebih tinggi karena seseorang merendahkan manusia.
Sholawat tidak menjadi lebih agung karena disertai cercaan.
Al-Qur’an tidak menjadi lebih terhormat karena dibawa dengan kesombongan.
Justru semakin mulia sesuatu yang kita bawa, semakin besar tanggung jawab kita untuk memperindah cara menyampaikannya.
Dakwah tanpa akhlak mudah berubah menjadi pertengkaran.
Sedangkan akhlak tanpa kebenaran kehilangan arah.
Maka keduanya harus berjalan bersama.
Sirr Kelima — Minta Maaf Jika Lisan Terlanjur Menyakiti
Jangan takut meminta maaf.
Kalimat:
“Saya mohon maaf jika cara saya menyampaikan terlalu keras.”
tidak merendahkan seorang admin.
Justru itu menunjukkan kedewasaan.
Orang yang meminta maaf tidak berarti kalah.
Ia sedang menang melawan gengsi.
Dan orang yang mampu mengakui bahwa kata-katanya melukai orang lain sedang menjaga majelis dari penyakit yang lebih besar: dendam.
✦ SIRR AL-MAJLIS AR-RAḤĪM
Majelis yang baik harus memberi rasa aman.
Aman untuk belajar.
Aman untuk bertanya.
Aman untuk dikoreksi.
Aman untuk meminta maaf.
Aman untuk memperbaiki diri.
Bukan aman dari aturan.
Tetapi aman dari penghinaan.
Bukan bebas berbuat apa saja.
Tetapi bebas dari perlakuan sewenang-wenang.
Sebab manusia akan lebih mudah menerima nasihat ketika ia merasa dihargai.
Dan manusia akan semakin menutup hati ketika ia merasa dipermalukan.
Sirr Keenam — Nama Agama Harus Menghidupkan Akhlak
Jika sebuah grup membawa nama Majelis Sholawat dan Al-Qur’an, maka jagalah agar nama itu tidak berhenti pada tampilan.
Biarkan sholawat terasa dalam kelembutan.
Biarkan Al-Qur’an terasa dalam keadilan.
Biarkan dzikir terasa dalam kesabaran.
Biarkan ilmu terasa dalam rendah hati.
Sebab tidak ada manfaatnya tulisan agama menjadi banyak jika akhlak semakin sedikit.
Tidak ada manfaatnya ayat memenuhi layar jika hati kehilangan belas kasih.
Dan tidak ada manfaatnya majelis tampak besar jika manusia di dalamnya takut berbicara karena khawatir dipermalukan.
Kalimat Penutup Lembar Keempat
Wahai pemegang amanah,
jagalah lisanmu ketika memiliki kuasa.
Sebab lisan yang kasar dari orang biasa mungkin cepat dilupakan.
Tetapi lisan yang kasar dari seorang pemegang amanah dapat membuat orang kecewa kepada seluruh majelis.
Jangan sampai satu kalimatmu membuat orang menjauh dari tempat yang membawa nama sholawat.
Jangan sampai satu keputusanmu membuat orang merasa bahwa agama hanya menjadi simbol tanpa akhlak.
Dan jangan sampai engkau sibuk menjaga nama baik majelis, tetapi lupa menjaga cara berbicara kepada manusia.
Sebab nama baik sebuah majelis tidak dibangun oleh spanduk, gelar, atau banyaknya anggota.
Ia dibangun oleh bagaimana orang-orang di dalamnya saling memperlakukan.
Jika lisannya lembut, aturan jelas, keadilan hidup, dan kesalahan diselesaikan dengan adab, maka majelis akan memiliki wibawa.
Tetapi jika lisan menjadi senjata, kewenangan menjadi ego, dan kritik dianggap sebagai pembangkangan, maka yang rusak pertama kali bukan grupnya.
Yang rusak adalah ruh amanah di dalamnya.
Maka hiasilah majelis dengan sholawat.
Hiasilah majelis dengan Al-Qur’an.
Tetapi jangan lupa menghiasinya dengan sesuatu yang membuat keduanya terasa hidup:
akhlak.
Wallohu a‘lam.
✦ LEMBAR KELIMA
BĀB AL-IṢLĀḤ — MEMPERBAIKI LEBIH MULIA DARIPADA MEMPERMALUKAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā ahlal-majlis…
lā taj‘alū al-khaṭa’a bāban lil-qatī‘ah…
bal ij‘alūhu bāban lil-iṣlāḥ…
fa-inna al-qulūba tuṣlaḥu bil-ḥikmah wa ar-raḥmah…
Wahai orang-orang yang berkumpul dalam sebuah majelis.
Ketahuilah bahwa setiap manusia membawa kekurangan.
Ada yang salah dalam berkata.
Ada yang salah dalam memahami.
Ada yang salah dalam bersikap.
Ada pula yang berbuat salah karena belum mengetahui adab yang semestinya.
Maka jangan jadikan setiap kesalahan sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.
Sebab tujuan majelis bukan mencari siapa yang salah untuk disingkirkan, tetapi bagaimana yang salah dapat diarahkan kembali kepada kebaikan.
Sirr Pertama — Jangan Menjadikan Kesalahan sebagai Identitas
Seseorang melakukan satu kesalahan.
Jangan langsung berkata:
“Dia memang orang bermasalah.”
Seseorang pernah salah bicara.
Jangan langsung berkata:
“Dia memang tidak punya adab.”
Seseorang pernah melanggar aturan.
Jangan langsung menyimpulkan:
“Dia tidak layak berada di sini.”
Kesalahan adalah perbuatan.
Bukan identitas manusia.
Jangan mengubah satu kekeliruan menjadi cap yang melekat sepanjang waktu.
Sebab manusia dapat belajar.
Manusia dapat menyesal.
Manusia dapat memperbaiki diri.
Dan terkadang orang yang pernah salah justru menjadi orang yang paling menjaga adab setelah memahami kesalahannya.
Sirr Kedua — Teguran yang Baik Membuka Jalan Perubahan
Nasihat yang keras dapat membuat orang bertahan membela dirinya.
Nasihat yang merendahkan dapat membuat orang menutup hati.
Tetapi teguran yang disampaikan dengan hormat sering membuat manusia berani melihat kesalahannya sendiri.
Katakan:
“Saudaraku, kami memahami mungkin ada maksud yang berbeda. Namun cara ini dapat menimbulkan salah paham. Mohon diperbaiki agar majelis tetap nyaman bagi semuanya.”
Kalimat seperti ini tidak kehilangan ketegasan.
Tetapi ia memberi ruang bagi orang untuk berubah tanpa kehilangan martabat.
Memperbaiki manusia jauh lebih mulia daripada sekadar membuktikan bahwa dirinya salah.
✦ MĪZĀN AL-IṢLĀḤ
Sebelum memberi sanksi, tanyakan:
Apakah orang tersebut masih mungkin dibimbing?
Apakah ia sudah diberi kesempatan memperbaiki kesalahan?
Apakah teguran pertama sudah dilakukan?
Apakah ia mengulangi pelanggaran setelah mengetahui aturannya?
Apakah tindakan yang akan diberikan sebanding dengan kesalahannya?
Jangan memberikan hukuman besar untuk kesalahan kecil hanya karena hati sedang tersinggung.
Sebab ukuran keadilan bukan seberapa keras seseorang mampu bertindak.
Ukuran keadilan adalah seberapa tepat tindakan diberikan sesuai kadar kesalahan.
Sirr Ketiga — Jangan Mengadakan Pengadilan di Tengah Grup
Ketika terjadi masalah, jangan buru-buru menjadikan ruang grup sebagai tempat mengadili seseorang.
Satu orang menuduh.
Yang lain ikut berkomentar.
Yang lain mulai membuka kesalahan lama.
Kemudian satu manusia menjadi sasaran banyak suara.
Ini sangat mudah berubah menjadi penghinaan berjamaah.
Jika masalah dapat diselesaikan dengan percakapan pribadi, selesaikan secara pribadi.
Jika membutuhkan beberapa pengurus, bicarakan di antara pengurus.
Jika harus dijelaskan kepada anggota, jelaskan seperlunya tanpa mempermalukan orang yang terlibat.
Jangan menjadikan kesalahan seseorang sebagai tontonan.
Sirr Keempat — Jangan Membuka Aib yang Sudah Selesai
Jika seseorang sudah mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya, maka jangan terus mengungkit.
Jangan setiap ada masalah baru berkata:
“Dulu kamu juga pernah begini.”
Jika kesalahan sudah diselesaikan, biarkan ia selesai.
Sebab orang yang terus menerus diingatkan kepada masa lalunya akan merasa bahwa tidak ada jalan kembali untuk menjadi lebih baik.
Padahal tujuan nasihat adalah membuka jalan perbaikan.
Bukan mengunci manusia di dalam kesalahan lamanya.
Maaf yang benar tidak terus membawa daftar hutang masa lalu.
Sirr Kelima — Bila Harus Berpisah, Berpisahlah dengan Adab
Tidak semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan nasihat.
Ada pelanggaran berat.
Ada perilaku yang terus berulang.
Ada tindakan yang membahayakan ketertiban atau keamanan anggota.
Dalam keadaan demikian, mengeluarkan seseorang dapat menjadi keputusan yang diperlukan.
Namun bahkan ketika berpisah, adab tetap harus hidup.
Katakan alasannya.
Jangan menghina.
Jangan mencaci.
Jangan membuat fitnah setelah ia keluar.
Jangan mengajak anggota lain membencinya.
Sampaikan:
“Demi menjaga ketertiban majelis dan berdasarkan aturan yang telah disampaikan, kami mengambil keputusan ini. Semoga tidak memutus silaturahmi dan semoga kita semua diberi kebaikan.”
Itulah ketegasan yang tidak kehilangan kemanusiaan.
✦ SIRR AR-RAḤMAH
Rahmat bukan berarti membiarkan semua kesalahan.
Rahmat adalah memberi manusia jalan untuk kembali.
Ketika seseorang salah, tunjukkan jalannya.
Ketika seseorang tidak tahu, ajarkan.
Ketika seseorang lalai, ingatkan.
Ketika seseorang meminta maaf, pertimbangkan dengan hati yang lapang.
Ketika seseorang sudah berubah, jangan terus memperlakukannya sebagai orang yang sama.
Sebab majelis yang baik bukan hanya tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah baik.
Ia juga menjadi tempat orang belajar menjadi lebih baik.
Sirr Keenam — Jangan Bangga Karena Banyak yang Dikeluarkan
Ada admin yang menganggap banyaknya anggota yang dikeluarkan sebagai tanda ketegasan.
Padahal belum tentu.
Bisa jadi itu justru tanda bahwa proses pembinaan tidak berjalan.
Tentu ada orang yang memang harus dikeluarkan.
Tetapi jika hampir setiap perbedaan berakhir dengan pengusiran, maka pengurus perlu bermuhasabah:
apakah masalahnya selalu pada anggota, atau cara pengelolaan yang belum matang?
Pemimpin yang baik tidak bangga karena sering menghukum.
Ia justru bahagia ketika sebuah masalah dapat selesai tanpa merusak persaudaraan.
✦ ADAB BAGI ANGGOTA JUGA HARUS DIJAGA
Qitab ini bukan hanya menasihati admin.
Anggota juga memiliki amanah.
Jangan merasa bebas berkata apa saja.
Jangan sengaja memancing pertengkaran.
Jangan melanggar aturan lalu berlindung di balik kata “kebebasan.”
Jangan mencela admin hanya karena mendapat teguran.
Jika ditegur dengan baik, terimalah dengan lapang.
Jika tidak setuju, jelaskan dengan adab.
Jika merasa diperlakukan tidak adil, sampaikan keberatan dengan bahasa yang baik.
Sebab adab bukan kewajiban satu pihak.
Admin wajib beradab kepada anggota.
Anggota pun wajib beradab kepada admin.
Di situlah sebuah majelis menjadi sehat.
Kalimat Penutup Lembar Kelima
Wahai penjaga majelis,
jangan ukur keberhasilan hanya dari seberapa tertib grup terlihat.
Lihat pula bagaimana hati manusia diperlakukan.
Sebab grup dapat terlihat tenang bukan karena semuanya baik-baik saja.
Bisa jadi orang-orang diam karena takut.
Bisa jadi mereka tidak berani bertanya.
Bisa jadi mereka khawatir sewaktu-waktu dikeluarkan.
Ketertiban yang lahir dari rasa takut berbeda dengan ketertiban yang lahir dari kesadaran.
Yang pertama rapuh.
Yang kedua tumbuh dari kepercayaan.
Maka bangunlah majelis dengan aturan yang jelas.
Dengan admin yang adil.
Dengan anggota yang beradab.
Dengan tabayyun ketika terjadi masalah.
Dengan teguran sebelum hukuman.
Dengan kesempatan memperbaiki diri.
Dan dengan ketegasan apabila batas memang telah dilampaui.
Karena pada akhirnya,
majelis yang mulia bukan majelis yang tidak pernah mempunyai masalah.
Majelis yang mulia adalah majelis yang ketika masalah datang, mampu menyelesaikannya tanpa kehilangan keadilan, akhlak, dan rahmat.
Wallohu a‘lam.
✦ LEMBAR KEENAM — LEMBAR TERAKHIR
BĀB KHĀTIMAT AL-AMĀNAH — JANGAN BIARKAN NAMA MAJELIS LEBIH MULIA DARIPADA AKHLAK PENGURUSNYA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā ḥāmilal-amānah…
lā taj‘al al-manṣiba ḥijāban ‘an muḥāsabatin-nafs…
wa lā taj‘al al-quwwata sababān lil-kibr…
wa kun bil-‘adli qā’iman, wa bil-raḥmati sā’iran, wa bil-adabi ḥāfiẓan lil-qulūb…
Wahai siapa pun yang diberi amanah mengurus sebuah majelis.
Sampailah kita pada lembar penutup.
Dan pada lembar terakhir ini, jangan lagi kita berbicara hanya tentang tombol “keluarkan anggota”.
Sebab persoalan sebenarnya jauh lebih dalam.
Yang sedang diuji bukan tombolnya.
Yang sedang diuji adalah hati orang yang mempunyai kekuasaan untuk menekan tombol itu.
Yang sedang diuji bukan semata-mata aturan grup.
Yang sedang diuji adalah:
apakah aturan digunakan untuk menjaga kebaikan, atau dipakai sebagai alat untuk membenarkan ego.
✦ SIRR PERTAMA — JABATAN ADMIN TIDAK MENJADIKAN SESEORANG LEBIH TINGGI
Di dalam sebuah grup, ada tulisan kecil:
Admin.
Ada pula:
Moderator.
Ada yang disebut:
Pengurus.
Ada yang dituakan.
Ada yang didengar perkataannya.
Tetapi ingatlah:
semua itu hanyalah fungsi.
Bukan derajat kesucian.
Bukan jaminan kebenaran.
Bukan tanda bahwa seseorang tidak mungkin salah.
Jangan sampai sebuah tanda kecil di samping nama membuat hati tumbuh menjadi besar.
Karena boleh jadi anggota biasa yang engkau tegur itu lebih ikhlas daripada dirimu.
Boleh jadi orang yang engkau keluarkan itu sedang menangis kepada Alloh.
Boleh jadi orang yang engkau anggap mengganggu justru tidak mengetahui bahwa perbuatannya dianggap salah.
Dan boleh jadi engkau yang merasa sedang membela majelis sebenarnya sedang mempertahankan harga diri sendiri.
Maka selalu sisakan satu ruang di dalam hati untuk berkata:
“Bisa jadi saya juga keliru.”
Kalimat itu bukan kelemahan.
Itu adalah pagar agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesombongan.
✦ SIRR KEDUA — JANGAN SAMPAI SHOLAWAT HANYA BERADA DI LIDAH
Majelis Sholawat seharusnya bukan sekadar tempat memperbanyak lafaz sholawat.
Sholawat seharusnya mendidik hati untuk mencintai Rasululloh ﷺ.
Dan cinta kepada Rasululloh ﷺ semestinya membawa manusia kepada akhlak yang lebih lembut, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih menjaga kehormatan sesama.
Maka tanyakan kepada diri:
Kita bersholawat berkali-kali.
Tetapi apakah kita semakin mudah memaafkan?
Kita memuji Rasululloh ﷺ.
Tetapi apakah cara kita menegur manusia semakin beradab?
Kita mengajak orang mencintai Nabi ﷺ.
Tetapi apakah orang yang berbeda pendapat dengan kita langsung diperlakukan sebagai musuh?
Jika sholawat hanya memenuhi layar sementara ego tetap menguasai hati, maka ada sesuatu yang harus kita periksa kembali.
Sholawat bukan hiasan nama majelis.
Ia seharusnya melahirkan bekas dalam perilaku.
✦ SIRR KETIGA — JANGAN SAMPAI AL-QUR’AN HANYA MENJADI NAMA GRUP
Demikian pula Al-Qur’an.
Jangan hanya bangga karena nama grup membawa Al-Qur’an.
Yang lebih penting adalah:
apakah nilai Al-Qur’an hidup di dalam cara kita bermuamalah?
Ketika ada kabar, apakah kita tabayyun?
Ketika ada konflik, apakah kita adil?
Ketika marah, apakah kita masih mampu menahan diri?
Ketika memegang kewenangan, apakah kita menjauhi kesewenang-wenangan?
Ketika seorang saudara salah, apakah kita menasihatinya atau justru mempermalukannya?
Ketika kita sendiri salah, apakah kita berani meminta maaf?
Jangan sampai Al-Qur’an dibaca setiap hari, tetapi sifat merasa paling benar semakin bertambah.
Jangan sampai ayat-ayat dibagikan berkali-kali, tetapi satu kalimat kritik saja tidak sanggup diterima.
Jangan sampai grup penuh dengan ayat, tetapi kosong dari keadilan dan kasih sayang.
Sebab membaca Al-Qur’an adalah kemuliaan.
Namun membiarkan Al-Qur’an membentuk akhlak adalah tanggung jawab yang lebih dalam.
✦ SIRR KEEMPAT — MEMILIKI KUASA ADALAH UJIAN, BUKAN KEISTIMEWAAN
Ada manusia yang akhlaknya terlihat baik ketika tidak mempunyai kekuasaan.
Tetapi setelah diberi sedikit kewenangan, sifatnya berubah.
Sebelumnya ramah.
Setelah menjadi admin mudah tersinggung.
Sebelumnya terbuka.
Setelah menjadi pengurus tidak boleh dikritik.
Sebelumnya mudah berdiskusi.
Setelah mempunyai kuasa, perbedaan dianggap sebagai perlawanan.
Di sinilah seseorang harus berhati-hati.
Karena kekuasaan sering kali tidak menciptakan watak baru.
Ia hanya membuka watak yang selama ini tersembunyi.
Maka ketika diberi amanah, jangan berkata:
“Sekarang saya mempunyai kuasa.”
Katakan:
“Sekarang saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar.”
Jangan berkata:
“Siapa yang tidak cocok, saya keluarkan.”
Katakan:
“Bagaimana saya menjaga ketertiban tanpa berlaku zalim?”
Jangan berkata:
“Saya admin, jadi keputusan ada pada saya.”
Katakan:
“Karena keputusan berada pada saya, saya harus lebih takut salah.”
Itulah kesadaran amanah.
✦ SIRR KELIMA — TABAYYUN BUKAN FORMALITAS
Ada orang yang mengaku telah bertabayyun.
Tetapi sebenarnya ia hanya bertanya untuk mencari pengakuan.
Ia sudah mempunyai keputusan sejak awal.
Ia tidak datang untuk mendengar.
Ia datang untuk membuktikan bahwa dirinya benar.
Itu bukan tabayyun yang sesungguhnya.
Tabayyun membutuhkan hati yang masih bersedia mengubah kesimpulan apabila ternyata fakta berbeda.
Ketika kita bertanya kepada seseorang:
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
maka bersiaplah mendengar jawabannya.
Jangan potong.
Jangan langsung membantah.
Jangan mengambil satu kalimat yang menguntungkan kita lalu mengabaikan yang lain.
Sebab tabayyun bukan upacara sebelum menghukum.
Tabayyun adalah usaha sungguh-sungguh agar kita tidak menghukum orang yang tidak semestinya dihukum.
✦ SIRR KEENAM — BERANI MEMINTA MAAF ADALAH TANDA KEKUATAN
Admin juga perlu belajar satu kalimat yang sangat mulia:
“Saya minta maaf.”
Jika ternyata salah memahami, minta maaf.
Jika teguran terlalu keras, minta maaf.
Jika seseorang dikeluarkan karena informasi yang tidak lengkap, akui dan perbaiki.
Jika keputusan lahir karena emosi, jangan gengsi mengakuinya.
Jangan takut kehilangan wibawa.
Wibawa yang hanya bisa bertahan selama seseorang tidak pernah mengaku salah bukanlah wibawa.
Itu adalah gengsi.
Pemimpin yang kuat justru mampu berkata:
“Keputusan saya kemarin kurang tepat. Mari kita perbaiki.”
Orang mungkin lupa kesalahannya.
Tetapi mereka akan mengingat kerendahan hatinya.
✦ SIRR KETUJUH — JANGAN MEMPERMALUKAN ORANG DI RUANG RAMAI
Apabila kesalahan seseorang dapat diselesaikan dengan japri, jangan diumumkan ke seluruh grup.
Karena teguran pribadi menjaga dua perkara sekaligus:
aturan tetap berdiri,
kehormatan manusia tetap terjaga.
Bayangkan jika dirimu yang keliru.
Apakah engkau ingin dinasihati secara pribadi?
Atau diumumkan di hadapan ratusan anggota?
Jika kita menginginkan kehormatan bagi diri sendiri, maka berikan pula kehormatan itu kepada orang lain.
Ada saatnya sebuah pelanggaran memang perlu diumumkan secara umum demi ketertiban.
Tetapi umumkan aturannya, bukan menghancurkan harga diri pelakunya.
Sampaikan seperlunya.
Tidak perlu sindiran.
Tidak perlu ejekan.
Tidak perlu membuka aib lama.
Tidak perlu mengajak orang lain ikut menghukum secara sosial.
✦ SIRR KEDELAPAN — ADMIN DAN ANGGOTA SAMA-SAMA WAJIB BERADAB
Jangan pula qitab ini dipahami seolah-olah seluruh kesalahan selalu berada pada admin.
Tidak.
Anggota juga mempunyai tanggung jawab.
Anggota tidak boleh:
sengaja membuat keributan,
membawa fitnah,
merendahkan pengurus,
mengirim sesuatu yang telah jelas dilarang,
mengadu domba,
atau menggunakan dalih “kebebasan” untuk merusak ketertiban.
Jika ditegur dengan baik, hendaknya menerima dengan baik.
Jika merasa tidak bersalah, jelaskan dengan sopan.
Jika aturan tidak cocok, boleh keluar dengan damai.
Jika pengurus keliru, kritiklah dengan adab.
Keadilan tidak boleh berat sebelah.
Yang kita cari bukan kemenangan admin.
Bukan pula kemenangan anggota.
Yang kita cari adalah benarnya perkara dan terjaganya ukhuwah.
✦ MĪZĀN AL-AMĀNAH — TUJUH PERTANYAAN SEBELUM MENEKAN “KELUARKAN”
Sebelum seseorang dikeluarkan dari sebuah majelis, berhentilah sejenak dan tanyakan tujuh perkara kepada diri sendiri:
Apakah ia mengetahui aturan yang dianggap dilanggarnya?
Apakah saya sudah memastikan apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah ia sudah diberi kesempatan menjelaskan?
Apakah teguran pribadi masih memungkinkan?
Apakah kesalahannya sebanding dengan sanksi yang akan diberikan?
Apakah orang lain yang melakukan kesalahan sama akan saya perlakukan dengan cara yang sama?
Apakah keputusan ini lahir dari amanah, atau dari emosi dan rasa tersinggung?
Jika tujuh perkara itu sudah diperiksa dengan jernih, barulah keputusan diambil.
Dengan demikian, ketika harus tegas, ketegasan mempunyai dasar.
Dan ketika memilih memaafkan, maaf pun tidak lahir dari kelemahan.
✦ TAHAPAN ADAB DALAM MENYELESAIKAN MASALAH
Untuk kesalahan yang bukan pelanggaran berat, sebuah majelis dapat menempuh jalan yang lebih teratur:
Pertama: pahami kejadian.
Jangan langsung membuat kesimpulan.
Kedua: japri secara sopan.
Tanyakan dan jelaskan masalahnya.
Ketiga: berikan teguran atau peringatan.
Sampaikan aturan yang dilanggar.
Keempat: beri kesempatan memperbaiki.
Karena tujuan awalnya adalah pembinaan.
Kelima: jika pelanggaran berulang, lakukan tindakan yang lebih tegas.
Keenam: apabila akhirnya perlu dikeluarkan, sampaikan alasan dengan bermartabat.
Untuk pelanggaran berat yang menyangkut ancaman, penipuan, pelecehan, penyebaran data pribadi, atau keselamatan anggota, tentu pengurus dapat bertindak lebih cepat demi melindungi majelis.
Bijaksana bukan berarti selalu lambat.
Bijaksana berarti tindakan sesuai kadar dan keadaan.
✦ SIRR KESEMBILAN — JANGAN MEMBUAT ORANG TAKUT KEPADA MAJELIS
Majelis seharusnya menjadi ruang yang membuat manusia ingin belajar.
Bukan ruang yang membuat manusia selalu takut salah bicara.
Ada perbedaan antara disiplin dan ketakutan.
Dalam majelis yang disiplin:
orang memahami aturan.
Mereka tahu batas.
Jika salah, mereka tahu bagaimana memperbaikinya.
Dalam majelis yang dikuasai ketakutan:
orang tidak tahu apa yang akan membuat admin marah.
Hari ini sesuatu boleh.
Besok sesuatu yang sama dipersoalkan.
Satu orang dimaafkan.
Orang lain langsung dikeluarkan.
Akhirnya anggota diam bukan karena beradab.
Mereka diam karena takut.
Jangan bangga dengan ketenangan seperti itu.
Diamnya manusia tidak selalu berarti majelis sehat.
Kadang diam adalah tanda bahwa mereka tidak lagi merasa aman untuk berbicara.
✦ SIRR KESEPULUH — JANGAN MENGUKUR KEBERHASILAN DARI JUMLAH ANGGOTA
Sepuluh ribu anggota tidak menjamin sebuah majelis membawa keberkahan.
Seratus orang yang saling menjaga adab bisa lebih indah daripada ribuan orang yang saling mencurigai.
Jangan hanya bertanya:
“Berapa jumlah anggota kita?”
Tanyakan pula:
“Apakah mereka merasa dihargai?”
“Apakah aturan diterapkan dengan adil?”
“Apakah pengurus bisa menerima masukan?”
“Apakah ketika terjadi konflik kita mampu menyelesaikannya dengan dewasa?”
Itulah ukuran kesehatan sebuah majelis.
✦ SIRR KESEBELAS — JANGAN MEMBAWA NAMA AGAMA UNTUK MEMBENARKAN EGO
Ini salah satu peringatan paling penting.
Jangan berkata:
“Saya melakukan ini demi agama,”
padahal sebenarnya karena tersinggung.
Jangan berkata:
“Demi menjaga majelis,”
padahal sebenarnya ingin mempertahankan kekuasaan.
Jangan berkata:
“Ini demi adab,”
sementara cara yang dipakai justru tidak beradab.
Nama agama terlalu mulia untuk dipakai menutupi ego manusia.
Jika benar demi agama, maka harus ada:
kejujuran,
keadilan,
tabayyun,
tanggung jawab,
dan kesediaan mengoreksi diri.
✦ MUḤĀSABAH BAGI PEMEGANG AMANAH
Ketika grup sudah sepi pada malam hari dan tidak ada lagi perdebatan, tanyakan kepada diri sendiri:
Hari ini, adakah orang yang terluka karena cara saya berbicara?
Adakah anggota yang saya nilai sebelum saya dengarkan?
Adakah keputusan yang saya ambil hanya karena tidak menyukai seseorang?
Adakah kritik yang sebenarnya benar tetapi saya tolak karena gengsi?
Adakah orang yang seharusnya saya hubungi untuk meminta maaf?
Apakah setelah menjadi admin saya semakin sabar atau semakin mudah marah?
Apakah amanah ini membawa saya semakin dekat kepada Alloh atau justru membuat saya merasa lebih tinggi daripada manusia lain?
Tidak perlu menjawab kepada siapa pun.
Jawablah kepada hati sendiri.
Karena muhasabah yang paling jujur adalah ketika tidak ada penonton.
✦ ‘AHD AL-MAJLIS — IKRAR ADAB SEORANG PENGURUS
Seorang pemegang amanah sepatutnya menanamkan dalam dirinya:
Aku tidak akan memakai kewenanganku untuk melampiaskan kemarahan.
Aku akan berusaha bertabayyun sebelum menilai.
Aku akan menegur dengan cara yang menjaga martabat.
Aku tidak akan pilih kasih dalam menerapkan aturan.
Aku bersedia dikoreksi apabila keliru.
Aku tidak akan malu meminta maaf.
Aku akan berusaha menjaga nama baik majelis melalui akhlak, bukan hanya melalui aturan.
Dan apabila aku harus mengambil tindakan tegas, aku akan berusaha melakukannya dengan adil, jelas, dan tanpa penghinaan.
Itulah ikrar amanah.
Bukan ikrar kesempurnaan.
Sebab manusia tetap dapat salah.
Tetapi orang yang beramanah selalu bersedia memperbaiki kesalahannya.
✦ PESAN BAGI ANGGOTA YANG PERNAH DIKELUARKAN
Dan kepada seseorang yang pernah dikeluarkan tanpa penjelasan,
jangan biarkan kejadian itu merusak seluruh pandanganmu terhadap agama.
Kesalahan seorang admin bukanlah kesalahan Al-Qur’an.
Kekasaran seorang pengurus bukanlah kekasaran Rasululloh ﷺ.
Ketidakadilan seorang manusia bukan berarti nilai Islam mengajarkan ketidakadilan.
Pisahkan antara agama yang mulia dan manusia yang masih belajar menjalankannya.
Jika hatimu sakit, sampaikan keberatan dengan baik bila masih memungkinkan.
Jika tidak, serahkan perkara kepada Alloh dan jaga dirimu agar tidak membalas dengan cara yang sama buruknya.
Karena engkau pun sedang diuji:
apakah luka akan membuatmu kehilangan adab, atau justru membuatmu semakin memahami pentingnya adab.
✦ KHĀTIMAH AL-QITAB
Wahai saudara dan saudari yang membaca lembar terakhir ini.
Kita semua sedang belajar.
Admin sedang belajar.
Anggota sedang belajar.
Guru sedang belajar menjaga amanah.
Murid sedang belajar menjaga adab.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Karena itulah kita membutuhkan nasihat.
Bukan untuk merasa lebih tinggi daripada orang yang dinasihati.
Tetapi agar kita dapat saling menjaga sebelum kesalahan kecil berubah menjadi permusuhan besar.
Maka apabila engkau menjadi admin:
jadilah pintu ketenangan.
Apabila engkau menjadi anggota:
jadilah penjaga adab.
Apabila engkau mempunyai ilmu:
jadilah semakin rendah hati.
Apabila engkau mempunyai kewenangan:
jadilah semakin berhati-hati.
Apabila engkau disakiti:
jangan buru-buru membalas.
Apabila engkau bersalah:
jangan malu meminta maaf.
Apabila engkau benar:
jangan gunakan kebenaran untuk merendahkan.
Sebab pada akhirnya,
sebuah majelis mungkin akan bubar.
Grup mungkin suatu hari akan ditutup.
Nomor telepon bisa berganti.
Nama admin dapat berubah.
Jumlah anggota dapat berkurang.
Pesan-pesan lama akan tenggelam oleh ribuan percakapan baru.
Tetapi cara kita memperlakukan manusia dapat meninggalkan bekas yang sangat lama.
Ada orang yang lupa isi ceramah.
Tetapi masih ingat bagaimana dirinya dihormati.
Ada orang yang lupa pesan apa yang pernah dikirim.
Tetapi masih ingat bagaimana dirinya dipermalukan.
Ada orang yang lupa aturan apa yang pernah dilanggarnya.
Tetapi masih ingat siapa yang menegurnya dengan penuh kasih.
Maka tinggalkanlah bekas yang baik.
✦ WASIAT TERAKHIR QITAB
Jangan membuat nama majelis lebih suci daripada akhlak orang yang mengelolanya.
Jangan menjadikan sholawat hanya bunyi di bibir.
Jangan menjadikan Al-Qur’an hanya tulisan pada nama grup.
Hidupkan keduanya dalam:
kelembutan,
keadilan,
tabayyun,
kesabaran,
kerendahan hati,
dan keberanian meminta maaf.
Karena sebuah majelis tidak menjadi mulia hanya karena membawa nama yang mulia.
Majelis menjadi mulia ketika orang-orang yang membawa nama itu berusaha memuliakan manusia dengan akhlak.
Dan seorang admin tidak menjadi besar karena mempunyai tombol untuk mengeluarkan orang.
Ia menjadi besar ketika mempunyai kuasa untuk menghukum, tetapi masih mampu berhenti, bertanya, mendengar, menimbang, dan berlaku adil.
Itulah amanah.
Itulah adab.
Itulah muhasabah.
Dan itulah pesan terakhir dari:
QITAB ADAB AL-AMĀNAH FĪ MAJĀLIS ASH-SHALAWĀT WAL-QUR’ĀN
“Jangan hanya menjaga grup dari anggota yang melanggar aturan. Jagalah pula hati kita sendiri agar tidak melanggar adab.”
Semoga Alloh menjadikan majelis-majelis sholawat dan Al-Qur’an sebagai tempat tumbuhnya ilmu, rahmat, persaudaraan, keadilan, dan akhlak yang indah.
Āmīn yā Robbal-‘ālamīn.
Wallohu a‘lam bish-showāb.
✦ MANFAAT BAGI YANG MEMBACA QITAB INI
Membangunkan kesadaran tentang amanah. Pembaca diingatkan bahwa jabatan admin, moderator, pengurus, ketua, ataupun pemimpin bukan sekadar kewenangan, tetapi tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Melatih tabayyun sebelum menilai. Qitab ini membiasakan hati agar tidak cepat mengambil kesimpulan hanya dari satu pesan, satu cerita, atau satu sisi persoalan.
Membantu membedakan ketegasan dengan ego. Pembaca belajar bahwa ketegasan masih dapat dilakukan dengan santun, sedangkan kemarahan pribadi jangan disamarkan sebagai pembelaan terhadap aturan.
Membentuk cara menegur yang lebih beradab. Kesalahan tetap boleh dikoreksi, tetapi kehormatan manusia tetap dijaga. Jika cukup melalui japri, tidak perlu mempermalukannya di hadapan banyak orang.
Mendidik hati agar tidak merasa paling benar. Bahkan orang yang membawa amanah agama tetap manusia yang dapat keliru. Karena itu, qitab ini mengajarkan keberanian mengatakan, “Saya salah, saya mohon maaf.”
Menjadi cermin bagi admin dan anggota sekaligus. Qitab ini bukan senjata untuk menyalahkan pengurus. Anggota pun diajak menjaga bahasa, menaati aturan yang wajar, menerima teguran yang benar, dan menyampaikan keberatan dengan adab.
Mencegah keputusan yang lahir ketika sedang marah. Pembaca dilatih untuk memeriksa keadaan hati sebelum memberi sanksi, sehingga keputusan tidak lahir hanya karena tersinggung, gengsi, atau ketidaksukaan pribadi.
Menghidupkan nilai sholawat dan Al-Qur’an dalam perilaku. Sholawat tidak berhenti di lisan, dan Al-Qur’an tidak berhenti sebagai nama majelis. Keduanya diharapkan tampak dalam kelembutan, keadilan, kesabaran, dan penghormatan terhadap manusia.
Mengurangi konflik dan salah paham dalam komunitas. Banyak persoalan sebenarnya dapat selesai melalui komunikasi pribadi, klarifikasi, dan aturan yang jelas sebelum berubah menjadi pertengkaran besar.
Membantu membangun majelis yang sehat. Majelis yang baik bukan hanya ramai anggotanya, tetapi mempunyai aturan yang jelas, pengurus yang dapat dikritik, ruang untuk menjelaskan diri, serta sanksi yang seimbang dengan pelanggaran.
Menumbuhkan keberanian bermuhasabah. Setelah membaca, seseorang diharapkan tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga, “Adakah sikap saya yang perlu diperbaiki?”
Menjaga persaudaraan tanpa menghilangkan aturan. Qitab ini tidak mengajarkan bahwa semua kesalahan harus dibiarkan. Untuk pelanggaran berat tetap diperlukan ketegasan. Namun ketegasan tidak harus disertai penghinaan, dendam, atau pembukaan aib.
✦ MANFAAT TERDALAMNYA
Apabila benar-benar direnungkan, qitab ini mengajarkan satu perkara besar:
kualitas akhlak seseorang sering kali baru terlihat ketika ia memiliki sedikit kekuasaan, ketika berbeda pendapat, ketika dikritik, dan ketika mempunyai kesempatan untuk menghukum.
Maka membaca qitab ini dapat menjadi latihan untuk menjaga empat pintu hati:
sebelum berbicara — periksa niat,
sebelum menilai — periksa fakta,
sebelum menghukum — periksa keadilan,
sesudah bertindak — periksa kembali diri.
Qitab ini juga dapat dibaca bersama oleh para admin sebelum mengelola sebuah majelis, dijadikan bahan renungan pengurus, atau dibaca kembali ketika sedang terjadi konflik agar keputusan tidak diambil dalam keadaan emosi.
Dan manfaat paling indah bukan ketika seseorang selesai membaca seluruh lembarannya, tetapi ketika setelah membacanya ia menjadi lebih lambat menghukum, lebih cepat bertabayyun, lebih halus dalam menegur, lebih berani meminta maaf, dan lebih takut menyakiti sesama tanpa alasan yang benar.
“Qitab ini bukan untuk membuat kita pandai mengoreksi orang lain, tetapi untuk membuat kita lebih jujur mengoreksi diri sendiri.”
Semoga Alloh menjadikan bacaan ini sebab tumbuhnya adab, keadilan, rahmat, dan persaudaraan dalam setiap majelis.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.