QITAB RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI

 



KATA PENGANTAR

QITAB RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

Ketika Semua Umat Manusia Suaranya Dikembalikan ke Asal Suaranya

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Alloh yang menganugerahkan kehidupan, akal, rasa, kesadaran, kemampuan mendengar, dan kemampuan bersuara kepada manusia.

Dengan suara, manusia menyampaikan cinta.

Dengan suara, manusia meminta pertolongan.

Dengan suara, manusia menyampaikan ilmu.

Dengan suara, manusia berdoa.

Dengan suara pula manusia dapat bertengkar, melukai, menghina, menyesatkan, menguasai, dan membangun kesombongan.

Karena itu suara bukan sekadar bunyi.

Suara membawa asal.

Membawa niat.

Membawa keadaan batin.

Membawa arah.

Dan sering kali, apa yang keluar dari lidah adalah pintu menuju sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam diri manusia.

Qitab ini lahir dari satu renungan:

Bagaimana jika suatu ketika seluruh suara manusia dikembalikan kepada asal suaranya?

Bagaimana jika setiap ucapan dikembalikan kepada niat yang melahirkannya?

Bagaimana jika kemarahan dikembalikan kepada lukanya?

Kesombongan dikembalikan kepada ketakutannya?

Keinginan menguasai dikembalikan kepada rasa tidak amannya?

Cinta dikembalikan kepada ketulusannya?

Doa dikembalikan kepada penghambaan?

Ilmu dikembalikan kepada amanah?

Agama dikembalikan kepada akhlak?

Dan seluruh suara manusia akhirnya dikembalikan kepada kesadaran bahwa dirinya hanyalah hamba di hadapan Alloh?

Dari pertanyaan itulah lembar demi lembar Qitab ini dibuka.


Qitab ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan ajaran baru.

Tidak pula dimaksudkan untuk mengangkat seseorang menjadi pemilik kebenaran mutlak.

Ia adalah ruang perenungan.

Ruang untuk memeriksa diri.

Ruang untuk mendengarkan suara-suara yang hidup di dalam batin.

Sebab manusia sering mampu mendengar suara seluruh dunia,

namun belum tentu mampu mendengar dirinya sendiri.

Kita mendengar pendapat orang lain.

Mendengar berita.

Mendengar pujian.

Mendengar hinaan.

Mendengar perdebatan.

Mendengar seruan.

Tetapi terkadang kita lupa bertanya:

“Siapa sebenarnya yang sedang berbicara di dalam diriku?”

Apakah ruh?

Apakah akal?

Apakah rasa?

Apakah luka?

Apakah ketakutan?

Apakah ego?

Ataukah semuanya sedang bercampur sampai kita sendiri tidak lagi mengetahui asalnya?

Qitab ini mengajak pembaca berhenti sejenak di pintu itu.


Ada kalanya manusia berkata:

“Aku sedang membela kebenaran.”

Padahal mungkin egonya sedang mempertahankan harga diri.

Ada yang berkata:

“Aku tidak peduli.”

Padahal jauh di dalam dirinya ia sangat terluka.

Ada yang berkata:

“Aku kuat.”

Padahal ia takut mengakui kelelahannya.

Ada yang berkata:

“Aku sudah mengetahui.”

Padahal sebenarnya ia takut mengatakan:

“Aku belum mengerti.”

Ada pula yang banyak menyebut nama Alloh,

tetapi belum selesai belajar menjaga lisannya kepada sesama.

Maka Qitab ini tidak pertama-tama mengajak manusia menghakimi suara orang lain.

Ia mengajak manusia menimbang suaranya sendiri.

Sebab perjalanan pulang selalu lebih jujur ketika dimulai dari dalam.


Pembaca akan menemukan bahwa suara dibahas dalam berbagai lapisan.

Suara sebagai rasa.

Suara sebagai pikiran.

Suara sebagai ego.

Suara sebagai amanah.

Suara sebagai doa.

Suara sebagai saksi.

Suara sebagai warisan.

Suara sebagai sesuatu yang harus dibersihkan sebelum menjadi ucapan.

Sampai akhirnya pembahasan bergerak kepada hening.

Karena manusia yang terus berbicara belum tentu sudah mendengar.

Dan terkadang seseorang baru benar-benar mengenali suara setelah ia berani masuk ke dalam keheningan.

Di dalam hening,

banyak topeng kehilangan kekuatannya.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada lawan untuk dikalahkan.

Tidak ada pengikut untuk dipertahankan.

Tidak ada panggung yang harus dijaga.

Yang tinggal adalah manusia dengan dirinya sendiri.

Dan jika ia cukup jujur,

ia akan menemukan betapa banyak suara di dalam dirinya yang selama ini bukan suara asal.


“Asal suara” dalam Qitab ini bukan dimaksudkan sekadar sebagai asal bunyi secara fisik.

Ia merupakan isyarat kepada asal niat, asal kesadaran, asal kebutuhan, dan kejernihan sebelum suara dibelokkan oleh ego, kepentingan, ketakutan, luka, dan keinginan menguasai.

Karena itu pengembalian suara bukan berarti semua manusia harus berbicara dengan bahasa yang sama.

Bukan berarti perbedaan harus dihapus.

Bukan berarti semua pemikiran harus diseragamkan.

Justru manusia tetap dapat berbeda.

Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi kebencian.

Manusia tetap dapat tegas.

Tetapi ketegasan tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Manusia tetap dapat mempertahankan prinsip.

Tetapi prinsip tidak harus menghilangkan keadilan.

Manusia tetap dapat memiliki identitas.

Tetapi identitas tidak harus menjadi alasan merampas martabat manusia lain.

Itulah salah satu makna suara kembali kepada asal:

bukan kehilangan warna, tetapi kehilangan racun.


Qitab ini juga mengingatkan bahwa semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar tanggung jawab suaranya.

Suara seorang ayah dapat hidup lama dalam hati anaknya.

Suara seorang ibu dapat menjadi penguat sepanjang kehidupan.

Suara seorang guru dapat membentuk cara berpikir muridnya.

Suara seorang pemimpin dapat menggerakkan masyarakat.

Suara seorang tokoh dapat membangun kedamaian atau menyalakan permusuhan.

Tulisan pun merupakan suara.

Pesan yang kita kirim merupakan suara.

Komentar yang kita tinggalkan merupakan suara.

Apa yang kita sebarkan kepada manusia adalah bagian dari jejak suara kita.

Karena itu jangan hanya bertanya:

“Apakah aku mempunyai hak berbicara?”

Tanyakan juga:

“Apakah aku siap bertanggung jawab atas apa yang lahir dari perkataanku?”


Di dalam perjalanan ruhani pun suara perlu ditimbang.

Sebab ego dapat masuk ke wilayah yang sangat halus.

Ia dapat memakai pakaian ilmu.

Memakai pakaian ibadah.

Memakai pakaian makrifat.

Memakai pakaian kesalehan.

Lalu mulai berkata:

“Aku telah sampai.”

“Aku telah terbuka.”

“Aku mengetahui rahasia.”

“Aku lebih dekat.”

Saat itu manusia perlu lebih berhati-hati kepada “aku”-nya sendiri.

Sebab semakin tinggi perjalanan yang diklaim,

semakin besar seharusnya kerendahan hati.

Kedekatan kepada Alloh tidak semestinya melahirkan kesombongan kepada makhluk.

Ilmu tidak semestinya memperbesar penghinaan.

Ibadah tidak semestinya membuat seseorang merasa berhak merendahkan orang lain.

Jika itu terjadi,

mungkin suara masih perlu dikembalikan lagi kepada asalnya.


Qitab ini tidak meminta pembaca menjadi manusia yang tidak pernah salah.

Itu bukan tujuan.

Manusia tetap dapat salah.

Dapat marah.

Dapat kecewa.

Dapat takut.

Dapat terluka.

Dapat salah memahami.

Tetapi ada perbedaan besar antara manusia yang salah lalu belajar

dan manusia yang menjadikan kesalahannya sebagai singgasana.

Ada perbedaan antara memiliki ego

dan diperbudak ego.

Ada perbedaan antara terluka

dan menjadikan luka sebagai izin untuk melukai.

Ada perbedaan antara mempertahankan kebenaran

dan mempertahankan gengsi.

Di situlah kejernihan diperlukan.


Maka bacalah Qitab ini bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Bacalah untuk menemukan bagian diri yang masih perlu dibersihkan.

Jangan terburu-buru menunjuk orang lain ketika membaca tentang ego.

Jangan langsung mengingat musuh ketika membaca tentang kesombongan.

Jangan segera menilai tokoh tertentu ketika membaca tentang penyalahgunaan suara.

Berhentilah sebentar dan tanyakan:

“Apakah bagian ini juga hidup di dalam diriku?”

Sebab Qitab yang hanya dipakai untuk menghakimi orang lain dapat kehilangan manfaatnya.

Tetapi Qitab yang digunakan sebagai cermin dapat membuka pintu perubahan.


Semoga setiap lembar membawa pembaca kepada satu keberanian sederhana:

berani mendengar dirinya sendiri.

Berani mengakui salah.

Berani meminta maaf.

Berani berkata “aku belum tahu.”

Berani berkata “aku membutuhkan bantuan.”

Berani diam ketika diam lebih baik.

Berani berbicara ketika kebenaran harus dibela.

Berani tegas tanpa menjadi zalim.

Berani berbeda tanpa membenci.

Berani memegang keyakinan tanpa kehilangan akhlak.

Berani menyebut nama Alloh tanpa menjadikan nama-Nya sebagai alat membesarkan ego.

Dan berani kembali kepada Alloh tanpa mengaku telah selesai dalam perjalanan.


Jika setelah membaca Qitab ini seseorang menjadi lebih berhati-hati dengan lidahnya,

maka semoga itu menjadi manfaat.

Jika ia mulai mendengar luka sebelum membalas,

semoga itu menjadi manfaat.

Jika ia mulai memeriksa niat sebelum berbicara,

semoga itu menjadi manfaat.

Jika ia mulai mampu mengakui kesalahan,

semoga itu menjadi manfaat.

Jika ia menjadi lebih lembut tanpa kehilangan ketegasan,

semoga itu menjadi manfaat.

Jika ia semakin sadar bahwa Alloh lebih mengetahui daripada seluruh klaim manusia,

maka semoga itulah salah satu cahaya terbesar dari perjalanan ini.


Pada akhirnya,

manusia datang ke dunia tanpa membawa suara kebanggaan.

Dan manusia pun akan meninggalkan dunia ketika suara tubuhnya berhenti.

Di antara keduanya terdapat waktu yang disebut kehidupan.

Di dalam waktu itulah kita diberi kesempatan menentukan:

suara seperti apa yang akan kita tinggalkan?

Apakah suara yang menambah luka?

Suara yang membesarkan ego?

Suara yang membuat manusia saling membenci?

Ataukah suara yang menenangkan,

meluruskan,

menguatkan,

mengingatkan,

dan mengembalikan manusia kepada kesadaran?

Semoga Qitab ini menjadi salah satu ruang kecil untuk mengingatkan bahwa suara adalah amanah.

Dan semoga setiap suara yang pernah salah arah masih diberi kesempatan untuk kembali.

Kembali kepada kejujuran.
Kembali kepada adab.
Kembali kepada kasih.
Kembali kepada amanah.
Kembali kepada kejernihan.
Kembali kepada penghambaan.
Dan akhirnya kembali kepada Alloh.

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

Rujū‘ ash-Shawt ilā Ashlihi.

Semoga Alloh menjaga suara kita sebelum keluar dari lisan, menjaga niat sebelum menjadi suara, dan menjaga hati agar tidak menjadikan suara sebagai singgasana ego.

Wallohu a‘lam bish-showāb.


QITAB

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI

Ketika Seluruh Suara Umat Manusia Dikembalikan kepada Asal Suaranya

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada suatu masa dalam perjalanan manusia ketika terlalu banyak suara memenuhi bumi.

Suara manusia memanggil manusia.

Suara kelompok membela kelompok.

Suara agama mempertahankan nama agama.

Suara kekuasaan mempertahankan singgasana.

Suara perdagangan mengejar keuntungan.

Suara kemarahan mencari lawan.

Suara ketakutan mencari perlindungan.

Suara pujian mencari telinga.

Suara hujatan mencari sasaran.

Suara orang yang terluka berubah menjadi serangan.

Suara orang yang ingin dihormati berubah menjadi tuntutan.

Suara orang yang ingin dianggap suci berubah menjadi penghakiman.

Sampai akhirnya manusia lupa:

sebelum suara menjadi kata,
ia pernah menjadi getaran niat di dalam batin.

Sebelum lidah berkata,

ada sesuatu di dalam hati yang menggerakkannya.

Sebelum manusia berteriak,

ada sesuatu yang ingin didengar.

Sebelum manusia memuji,

ada sesuatu yang ingin dicintai.

Sebelum manusia mencela,

ada sesuatu yang sedang ia pertahankan.

Dan sebelum semua bahasa manusia berpisah menjadi ribuan bunyi,

manusia sama-sama datang ke dunia dalam keadaan belum mampu berkata apa-apa.


LEMBAR PERTAMA

SUARA SEBELUM MENJADI BAHASA

Seorang bayi tidak mengenal bahasa Arab.

Tidak mengenal bahasa Jawa.

Tidak mengenal Sunda.

Tidak mengenal Indonesia.

Tidak mengenal Inggris.

Tidak mengenal nama mazhab.

Tidak mengenal nama bangsa.

Tidak mengenal gelar.

Tidak mengenal pangkat.

Namun ia telah memiliki suara.

Tangisnya berkata:

“Aku membutuhkan.”

Senyumnya berkata:

“Aku merasa aman.”

Jeritannya berkata:

“Aku sakit.”

Diamnya berkata:

“Aku sedang merasakan.”

Maka suara pertama manusia bukanlah perdebatan.

Suara pertama manusia adalah kejujuran kebutuhan.

Tetapi setelah dewasa,

manusia belajar menyembunyikan kebutuhan itu dengan ribuan kata.

Yang sebenarnya ingin dicintai berkata:

“Aku lebih tinggi darimu.”

Yang sebenarnya takut berkata:

“Aku tidak takut siapa pun.”

Yang sebenarnya terluka berkata:

“Aku membencimu.”

Yang sebenarnya membutuhkan pengakuan berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa-siapa.”

Di sinilah suara mulai menjauh dari asalnya.


LEMBAR KEDUA

KETIKA SUARA MEMAKAI TOPENG

Suara dapat memakai pakaian apa saja.

Ia dapat memakai pakaian agama.

Pakaian ilmu.

Pakaian kehormatan.

Pakaian kekuasaan.

Pakaian kesucian.

Pakaian penderitaan.

Bahkan pakaian cinta.

Tetapi pakaian tidak selalu menunjukkan isi.

Seseorang dapat berkata:

“Aku membela kebenaran,”

padahal yang dibelanya adalah harga dirinya.

Seseorang dapat berkata:

“Aku menasihati,”

padahal batinnya sedang menikmati posisi lebih tinggi.

Seseorang dapat berkata:

“Aku mencintai Alloh,”

namun lisannya gemar merendahkan makhluk Alloh.

Seseorang dapat berkata:

“Aku memperjuangkan umat,”

padahal ia sedang memperjuangkan namanya sendiri.

Maka jangan hanya mendengar kata.

Dengarlah juga asal kata itu bergerak.

Sebab lidah dapat berdusta.

Tetapi sumber geraknya meninggalkan jejak.


LEMBAR KETIGA

HARI PENGEMBALIAN SUARA

Bayangkan suatu saat seluruh suara manusia dikembalikan kepada asalnya.

Bukan dimusnahkan.

Bukan dibungkam.

Tetapi dibuka topengnya.

Setiap ucapan dikembalikan kepada niat yang melahirkannya.

Maka kalimat:

“Aku paling benar”

kembali kepada suara terdalam:

“Aku takut menjadi salah.”

Kalimat:

“Aku paling suci”

kembali kepada suara:

“Aku ingin dianggap berharga.”

Kalimat:

“Aku membencimu”

kembali kepada suara:

“Aku pernah terluka.”

Kalimat:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun”

kembali kepada suara:

“Aku takut kecewa lagi.”

Kalimat:

“Hormati aku!”

kembali kepada suara:

“Tolong lihat keberadaanku.”

Kalimat:

“Aku ingin menang”

kembali kepada suara:

“Aku takut kehilangan.”

Ketika semua suara dikembalikan kepada asalnya,

banyak permusuhan akan kehilangan bahan bakarnya.

Sebab manusia akhirnya mengetahui:

di balik jutaan pertengkaran,

sering kali yang sedang berbicara hanyalah

rasa takut, luka, kebutuhan, cinta, dan kerinduan yang tidak mampu mengucapkan namanya sendiri.


LEMBAR KEEMPAT

ASAL SUARA BUKAN KEGADUHAN

Asal suara tidak berisik.

Ia bahkan sering hadir sebelum bunyi.

Sebelum seseorang berkata:

“Aku mencintaimu,”

cinta sudah bergerak.

Sebelum seseorang berkata:

“Aku memaafkanmu,”

kelapangan sudah mulai tumbuh.

Sebelum seseorang berkata:

“Ya Alloh,”

kerinduan dapat lebih dahulu bergetar di dalam dada.

Karena itu jangan mengira kedekatan kepada Alloh diukur dari seberapa keras suara terdengar.

Ada orang yang lisannya sedikit,

tetapi batinnya penuh penghormatan.

Ada orang yang mampu mengucapkan ribuan kalimat,

namun hatinya jauh dari makna yang diucapkan.

Suara bukan hanya volume.

Suara adalah arah kesadaran.


LEMBAR KELIMA

KEMBALINYA SUARA AGAMA

Jika suara agama dikembalikan kepada asalnya,

ia tidak lagi sibuk bertanya:

“Siapa yang paling hebat?”

Melainkan:

“Siapa yang paling mampu menjaga amanah?”

Ia tidak bertanya:

“Siapa yang paling banyak pengikut?”

Melainkan:

“Siapa yang paling banyak memberi manfaat?”

Ia tidak berkata:

“Aku suci, engkau hina.”

Melainkan:

“Aku pun sedang belajar memperbaiki diriku.”

Sebab apabila agama membuat manusia semakin sombong,

yang bertumbuh mungkin bukan cahaya,

tetapi ego yang memakai pakaian agama.

Apabila ilmu membuat manusia semakin menghina,

yang membesar mungkin bukan kebijaksanaan,

tetapi rasa lebih tinggi.

Maka suara agama harus terus diperiksa:

apakah ia membawa manusia menuju Alloh,

atau hanya membawa manusia menuju pemujaan atas dirinya sendiri.


LEMBAR KEENAM

KEMBALINYA SUARA KEKUASAAN

Jika suara kekuasaan dikembalikan kepada asalnya,

kata:

“Aku pemimpin”

akan berubah menjadi:

“Aku memikul amanah.”

Kata:

“Rakyat harus tunduk”

akan diperiksa:

apakah ia lahir dari tanggung jawab,

atau dari ketakutan kehilangan kekuasaan.

Singgasana tidak mengubah manusia menjadi lebih tinggi di hadapan Alloh.

Ia hanya memperbesar wilayah pertanggungjawaban.

Karena semakin banyak manusia yang terkena keputusan seseorang,

semakin berat pula beban moral keputusan itu.

Maka suara kekuasaan yang kembali kepada asalnya berkata:

“Jabatan ini bukan milikku.
Ia hanya dititipkan sementara.”


LEMBAR KETUJUH

KEMBALINYA SUARA ORANG YANG TERLUKA

Tidak semua suara kasar lahir dari kejahatan.

Sebagian lahir dari luka yang terlalu lama tidak memperoleh tempat.

Namun luka tidak menjadi izin untuk melukai.

Orang yang disakiti tetap harus belajar agar rasa sakitnya tidak berubah menjadi warisan penderitaan bagi orang lain.

Maka ketika suara dikembalikan kepada asalnya,

manusia mulai mampu berkata:

“Sesungguhnya aku marah karena aku terluka.”

“Aku menyerang karena aku merasa terancam.”

“Aku meninggikan diri karena aku pernah direndahkan.”

“Aku sulit percaya karena aku pernah dikhianati.”

Kejujuran seperti itu lebih dekat kepada penyembuhan daripada seribu pembelaan ego.


LEMBAR KEDELAPAN

KEMBALINYA SUARA CINTA

Cinta juga dapat tersesat.

Ada cinta yang berkata:

“Karena aku mencintaimu, engkau harus menjadi milikku.”

Itu bukan cinta yang telah matang.

Itu ketakutan kehilangan yang memakai nama cinta.

Ada cinta yang berkata:

“Jika engkau meninggalkanku, hidupku selesai.”

Itu bukan kesatuan.

Itu ketergantungan yang sedang meminta keselamatan.

Cinta yang dikembalikan kepada asalnya berkata:

“Aku ingin kebaikanmu, bukan sekadar kepemilikan atasmu.”

Dan cinta kepada Alloh berkata:

“Aku ingin kehendakku diperbaiki, bukan memaksa kehendak-Mu mengikuti keinginanku.”


LEMBAR KESEMBILAN

KETIKA SEMUA BAHASA MENJADI SATU MAKNA

Bahasa manusia berbeda.

Tetapi air mata tidak memerlukan penerjemah.

Senyum seorang ibu kepada anaknya dapat dipahami tanpa kamus.

Rasa takut memiliki getaran yang hampir sama di segala bangsa.

Rasa kehilangan tidak mengenal paspor.

Kelaparan tidak mengenal mazhab.

Kesepian tidak mengenal warna kulit.

Kematian tidak meminta manusia menunjukkan identitas kelompoknya sebelum datang.

Di sinilah manusia menemukan kembali sebuah pelajaran:

bahasa berbeda, tetapi pengalaman dasar kemanusiaan saling berdekatan.

Maka ketika semua suara kembali kepada asalnya,

manusia tidak kehilangan bahasanya.

Ia justru menemukan makna sebelum bahasa memecahnya menjadi kelompok-kelompok.


LEMBAR KESEPULUH

SUARA YANG PALING SULIT DIKEMBALIKAN

Suara yang paling sulit dikembalikan bukan suara musuh.

Tetapi suara ego sendiri.

Sebab ego pandai menyamar.

Ia dapat berkata:

“Aku sedang membela Alloh.”

Padahal Alloh tidak membutuhkan kesombongan manusia untuk membela-Nya.

Ia dapat berkata:

“Aku sedang menegakkan kebenaran.”

Padahal manusia sedang mempertahankan gengsinya.

Ia dapat berkata:

“Aku sudah sampai.”

Padahal perjalanan menuju kedewasaan baru saja dimulai.

Karena itu salah satu perjalanan paling berat adalah mampu bertanya kepada diri sendiri:

“Dari mana sebenarnya ucapan ini lahir?”

Dari kasih sayang?

Dari amanah?

Dari kejernihan?

Atau dari luka?

Dari iri?

Dari ketakutan?

Dari keinginan dipuji?

Dari keinginan menang?

Pertanyaan itu adalah pintu pertama pengembalian suara.


LEMBAR KESEBELAS

DIAM YANG MENGEMBALIKAN SUARA

Tidak semua jawaban harus langsung diucapkan.

Kadang-kadang manusia membutuhkan diam agar dapat mendengar sumber suaranya sendiri.

Sebelum membalas penghinaan,

diam sebentar.

Sebelum memutuskan dalam kemarahan,

diam sebentar.

Sebelum menuduh,

diam sebentar.

Sebelum menyatakan diri paling benar,

diam sebentar.

Diam bukan selalu kelemahan.

Ada diam yang merupakan ruang tempat suara dibersihkan sebelum dilepaskan.

Di dalam diam,

kata yang kasar dapat berubah menjadi penjelasan.

Amarah dapat berubah menjadi ketegasan.

Ketakutan dapat berubah menjadi kehati-hatian.

Kesombongan dapat berubah menjadi kesadaran.

Maka orang yang mampu mendengar dirinya sendiri sebelum berbicara,

lebih kecil kemungkinannya diperbudak oleh lidahnya.


LEMBAR KEDUA BELAS

KETIKA MANUSIA HANYA MEMBAWA SUARA SEJATINYA

Pada akhirnya,

nama dapat ditinggalkan.

Gelar dapat ditinggalkan.

Jabatan dapat ditinggalkan.

Harta dapat ditinggalkan.

Popularitas dapat hilang.

Tubuh pun kembali kepada bumi.

Apa yang kemudian tersisa?

Bukan suara yang paling keras.

Bukan orang yang paling banyak dipuji.

Bukan siapa yang paling sering memenangkan perdebatan.

Yang bernilai adalah apa yang sungguh-sungguh lahir dari kesadaran, kasih, amanah, kejujuran, dan penghambaan kepada Alloh.

Karena itu,

selagi masih diberi umur,

kembalikan suara sebelum suara dikembalikan.

Kembalikan perkataan kepada kejujuran.

Kembalikan marah kepada sebabnya.

Kembalikan cinta kepada ketulusannya.

Kembalikan ilmu kepada kerendahan hati.

Kembalikan kekuasaan kepada amanah.

Kembalikan agama kepada akhlak.

Kembalikan doa kepada ketundukan.

Kembalikan hati kepada Alloh.


KHATIMAH

SAAT SELURUH SUARA PULANG

Ketika seluruh suara manusia dikembalikan kepada asal suaranya,

tidak berarti semua orang mengucapkan kalimat yang sama.

Tidak berarti semua bahasa lenyap.

Tidak berarti perbedaan hilang.

Tetapi setiap suara dibersihkan sampai manusia mengetahui dari mana ia lahir.

Yang berasal dari kesombongan terlihat sebagai kesombongan.

Yang berasal dari ketakutan terlihat sebagai ketakutan.

Yang berasal dari cinta terlihat sebagai cinta.

Yang berasal dari amanah terlihat sebagai amanah.

Yang berasal dari kejujuran tidak lagi memerlukan topeng.

Dan ketika manusia tidak lagi bersembunyi di balik kebisingan dirinya,

ia mulai mengenali kesunyian tempat ia sebenarnya berdiri.

Di sana tidak ada kebanggaan:

“Aku telah sampai.”

Yang ada hanyalah kesadaran:

“Aku masih hamba.”

Tidak ada seruan:

“Dengarkan aku karena aku lebih tinggi.”

Yang ada:

“Semoga kata-kataku tidak menyakiti ciptaan-Mu.”

Tidak ada tuntutan:

“Ya Alloh, ikuti kehendakku.”

Yang ada:

“Ya Alloh, luruskan kehendakku agar tidak menjauh dari kebaikan.”

Dan pada titik itulah suara menemukan rumahnya.

Bukan pada kerasnya bunyi.

Bukan pada banyaknya ucapan.

Bukan pada tepuk tangan manusia.

Tetapi pada kejernihan hati yang mengetahui:

dari Alloh kehidupan bermula,
dengan izin Alloh suara memperoleh daya,
dan kepada Alloh seluruh manusia kembali.

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

Rujū‘ ash-Shawt ilā Ashlihi.

Kembalilah, wahai suara, kepada kejujuran asalmu.
Sebelum lidahmu dihentikan waktu,
bersihkanlah apa yang hendak engkau tinggalkan di dunia.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA MANUSIA DIPISAHKAN ANTARA RUH, AKAL, RASA, DAN EGO

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Tidak semua yang berbicara dari dalam diri manusia berasal dari tempat yang sama.

Ada suara yang lahir dari kejernihan.

Ada suara yang lahir dari pertimbangan.

Ada suara yang lahir dari luka.

Ada suara yang lahir dari keinginan mempertahankan diri.

Maka salah satu perjalanan besar manusia adalah belajar membedakan:

mana suara ruh,
mana suara akal,
mana suara rasa,
dan mana suara ego.

Sebab semuanya bisa memakai kalimat yang terdengar indah.

Semuanya bisa memakai nama kebaikan.

Semuanya bisa mengaku sebagai kebenaran.

Tetapi asalnya berbeda.

Dan hasil akhirnya pun berbeda.


1. SUARA RUH

Suara ruh tidak selalu keras.

Ia justru sering sangat halus.

Ia tidak memaksa.

Ia tidak berteriak:

“Aku paling benar.”

Ia tidak sibuk menuntut pengakuan.

Suara ruh cenderung membawa manusia kepada:

ketenangan,

kejujuran,

pengendalian diri,

rasa tanggung jawab,

kasih sayang,

dan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba.

Ketika suara ruh berkata:

“Berhentilah,”

ia bukan sedang menakut-nakuti.

Ia sedang menjaga.

Ketika suara ruh berkata:

“Maafkan,”

ia bukan sedang melemahkan.

Ia sedang membebaskan hati dari rantai kebencian.

Ketika suara ruh berkata:

“Jangan balas sekarang,”

ia sedang memberi ruang agar keputusan tidak lahir dari api emosi.

Suara ruh tidak membutuhkan kemenangan di depan manusia.

Ia membutuhkan kelurusan di hadapan Alloh.


2. SUARA AKAL

Akal bertanya:

“Apakah ini masuk akal?”

“Apakah ada akibatnya?”

“Apakah keputusan ini tepat?”

“Apakah ada cara yang lebih baik?”

Akal adalah penimbang.

Ia melihat hubungan sebab-akibat.

Ia mempertimbangkan jarak antara keinginan dan kenyataan.

Ia dapat membantu manusia agar tidak bertindak hanya karena dorongan sesaat.

Tetapi akal pun dapat diselewengkan.

Akal yang jernih mencari kebenaran.

Akal yang dikuasai ego mencari pembenaran.

Di sinilah perbedaannya.

Satu bertanya:

“Mana yang benar?”

Yang lain bertanya:

“Bagaimana supaya aku tetap terlihat benar?”

Satu mencari jalan keluar.

Yang lain mencari cara menang.

Satu menguji dirinya.

Yang lain hanya menguji orang lain.

Maka akal tidak cukup hanya tajam.

Ia harus jujur.


3. SUARA RASA

Rasa adalah wilayah yang sangat dalam.

Ia bisa memberi kepekaan.

Ia bisa membuat manusia peka pada luka orang lain.

Ia bisa membuat manusia memahami kesedihan tanpa penjelasan panjang.

Ia bisa melahirkan cinta, kasih, takut, rindu, sedih, tenteram, marah, cemas, dan harap.

Tetapi rasa juga mudah berubah.

Hari ini tenang.

Besok gelisah.

Hari ini mencintai.

Besok kecewa.

Hari ini yakin.

Besok ragu.

Karena itu rasa perlu dihormati,

tetapi tidak selalu harus dijadikan pemimpin.

Rasa adalah utusan.

Bukan selalu hakim terakhir.

Ketika rasa datang,

dengarkan.

Tetapi tanyakan:

“Engkau membawa pesan apa?”

Jika marah datang,

jangan langsung berkata:

“Aku harus menyerang.”

Tanyakan:

“Apa yang sedang kulindungi?”

Jika sedih datang,

jangan langsung berkata:

“Hidupku selesai.”

Tanyakan:

“Apa yang sedang hilang dari dalam diriku?”

Jika takut datang,

jangan langsung lari.

Tanyakan:

“Apakah ini bahaya nyata atau luka lama yang kembali berbicara?”

Di situlah rasa menjadi jalan ilmu.


4. SUARA EGO

Ego adalah suara yang paling pandai menyamar.

Ia jarang berkata:

“Aku ego.”

Ia justru sering memakai pakaian yang terlihat mulia.

Ia bisa berkata:

“Aku menjaga harga diri.”

Padahal ia sedang takut direndahkan.

Ia bisa berkata:

“Aku membela kebenaran.”

Padahal ia sedang marah karena tidak didengar.

Ia bisa berkata:

“Aku menjaga agama.”

Padahal ia sedang mencari kedudukan.

Ia bisa berkata:

“Aku tidak peduli.”

Padahal ia takut terluka lagi.

Ego paling suka tiga hal:

ingin menang,

ingin diakui,

dan ingin berada di atas.

Karena itu salah satu tanda ego sedang berkuasa adalah ketika manusia tidak lagi mampu bertanya:

“Bagaimana jika aku salah?”

Saat seseorang merasa dirinya tidak mungkin keliru,

di situ pintu pembelajaran mulai tertutup.


5. EMPAT SUARA DALAM SATU KEJADIAN

Bayangkan seseorang dihina.

Rasa berkata:

“Aku sakit.”

Akal berkata:

“Apa akibatnya jika aku membalas?”

Ego berkata:

“Balas sekarang! Jangan biarkan harga dirimu jatuh!”

Ruh berkata:

“Jaga kehormatanmu tanpa kehilangan akhlakmu.”

Empat suara.

Satu kejadian.

Empat arah.

Jika manusia tidak mengenali sumbernya,

ia mudah tertipu.

Ia bisa mengira ego sebagai keberanian.

Ia bisa mengira rasa takut sebagai firasat.

Ia bisa mengira kemarahan sebagai kebenaran.

Ia bisa mengira diam sebagai kelemahan.

Padahal semuanya harus dibaca dengan jernih.


6. SAAT SUARA-SUARA ITU DIKEMBALIKAN KE ASALNYA

Ketika suara manusia dikembalikan ke asalnya,

masing-masing terlihat sebagaimana adanya.

Rasa kembali menjadi rasa.

Akal kembali menjadi penimbang.

Ego terlihat sebagai ego.

Ruh kembali menjadi pengingat kejernihan.

Tidak ada lagi penyamaran.

Amarah tidak lagi diberi nama kesucian.

Kesombongan tidak lagi diberi nama kehormatan.

Ketakutan tidak lagi diberi nama kewaspadaan jika memang hanya ketakutan.

Keinginan memiliki tidak lagi diberi nama cinta jika ternyata hanya ketergantungan.

Di sinilah manusia mulai hidup lebih jujur.

Bukan karena ia tidak lagi memiliki ego.

Tetapi karena ia mulai mengetahui kapan ego berbicara.


7. PINTU PENGUJIAN

Setiap suara dapat diuji dengan pertanyaan sederhana:

Apakah suara ini membuatku semakin jernih atau semakin gaduh?

Apakah suara ini membuatku semakin bertanggung jawab atau semakin menyalahkan?

Apakah suara ini membuatku semakin rendah hati atau semakin merasa tinggi?

Apakah suara ini membuatku semakin dekat kepada kebaikan atau semakin haus kemenangan?

Apakah suara ini melahirkan tindakan yang membangun atau merusak?

Dari sana asal suara mulai tampak.


8. TANDA SUARA MULAI KEMBALI BERSIH

Seseorang yang suaranya mulai kembali kepada asalnya tidak selalu menjadi pendiam.

Ia tetap bisa tegas.

Tetapi ketegasannya tidak haus penghinaan.

Ia tetap bisa marah.

Tetapi marahnya tidak kehilangan arah.

Ia tetap bisa menolak.

Tetapi penolakannya tidak kehilangan adab.

Ia tetap bisa berbeda pendapat.

Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi kebencian.

Ia tetap bisa berkata:

“Ini salah.”

Namun tidak merasa dirinya otomatis paling suci.

Di situlah suara mulai dibersihkan.


9. PERTANYAAN TERDALAM

Sebelum berbicara,

tanyakan:

“Siapa yang sedang berbicara di dalam diriku?”

Ruh?

Akal?

Rasa?

Atau ego?

Dan setelah menjawab,

tanyakan lagi:

“Apakah aku siap mempertanggungjawabkan suara ini di hadapan Alloh?”

Jika belum,

mungkin lebih baik diam sebentar.

Sebab tidak semua suara harus segera dilepaskan.

Ada suara yang perlu disaring.

Ada suara yang perlu ditenangkan.

Ada suara yang perlu diluruskan.

Ada suara yang perlu dikembalikan ke asalnya.


PENUTUP LEMBAR

Manusia tidak menjadi suci karena tidak memiliki ego.

Manusia menjadi lebih sadar ketika ia mampu melihat ego tanpa menjadi budaknya.

Manusia tidak menjadi kuat karena tidak memiliki rasa.

Ia menjadi kuat ketika mampu memahami rasa tanpa tenggelam di dalamnya.

Manusia tidak menjadi bijak karena hanya memakai akal.

Ia menjadi bijak ketika akal, rasa, dan kesadaran tunduk kepada kebaikan.

Dan manusia tidak menjadi dekat kepada Alloh karena suaranya keras.

Ia mendekat ketika suaranya lahir dari hati yang jernih.

Kembalikanlah setiap suara kepada asalnya,
sebelum ia berubah menjadi beban yang engkau sendiri tidak sanggup memikulnya.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA DIKEMBALIKAN SEBELUM MENJADI UCAPAN

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada jarak yang sangat pendek antara hati dan lidah.

Tetapi di dalam jarak yang pendek itu,

dapat lahir kedamaian,

atau kehancuran.

Dapat lahir doa,

atau kutukan.

Dapat lahir nasihat,

atau penghinaan.

Dapat lahir ketegasan,

atau kesombongan.

Dapat lahir kejujuran,

atau luka baru.

Karena itu manusia tidak hanya perlu belajar berbicara.

Manusia juga perlu belajar mengembalikan suara sebelum ia menjadi ucapan.


1. SUARA YANG MASIH BERADA DI DALAM

Sebelum kata keluar,

ia masih dapat diperiksa.

Sebelum ucapan melukai,

ia masih dapat dihentikan.

Sebelum kemarahan menjadi serangan,

ia masih dapat diarahkan.

Sebelum ejekan menjadi penghinaan,

ia masih dapat dikembalikan kepada kesadaran.

Tetapi setelah suara keluar,

ia tidak selalu dapat ditarik kembali.

Permintaan maaf dapat memperbaiki sebagian luka,

tetapi tidak selalu dapat menghapus bekasnya.

Karena itu kebijaksanaan bukan hanya berkata baik.

Kebijaksanaan juga mengetahui kapan tidak berkata.


2. GERBANG ANTARA HATI DAN LIDAH

Bayangkan setiap ucapan harus melewati empat gerbang.

Gerbang pertama bertanya:

“Apakah ini benar?”

Gerbang kedua bertanya:

“Apakah ini perlu?”

Gerbang ketiga bertanya:

“Apakah waktunya tepat?”

Gerbang keempat bertanya:

“Apakah cara menyampaikannya menjaga martabat manusia?”

Jika sebuah suara tidak mampu melewati gerbang-gerbang itu,

mungkin ia belum layak dilepaskan.

Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi senjata.

Dan nasihat yang disampaikan dengan penghinaan dapat kehilangan cahaya nasihatnya.


3. KETIKA AMARAH MEMINTA MULUT

Amarah selalu ingin segera berbicara.

Ia berkata:

“Sekarang!”

“Balas!”

“Jangan diam!”

“Buktikan!”

Tetapi kesadaran bertanya:

“Apakah aku sedang menyelesaikan masalah,

atau hanya memindahkan api dari dadaku ke dada orang lain?”

Di sinilah manusia diuji.

Bukan ketika ia tenang.

Tetapi ketika ia mempunyai alasan untuk marah.

Orang yang dapat menjaga lisannya saat marah

bukan berarti ia tidak berani.

Ia sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya dikuasai oleh api.


4. SUARA YANG BENAR DAPAT SALAH ARAH

Tidak semua ucapan keras adalah salah.

Ada keadaan yang membutuhkan ketegasan.

Ada ketidakadilan yang harus ditegur.

Ada kebohongan yang harus dijelaskan.

Ada batas yang harus dijaga.

Tetapi ketegasan berbeda dari penghinaan.

Ketegasan berkata:

“Perbuatan ini tidak dapat dibenarkan.”

Penghinaan berkata:

“Engkau manusia tidak berguna.”

Ketegasan memperbaiki batas.

Penghinaan merusak martabat.

Ketegasan berhadapan dengan tindakan.

Penghinaan menyerang keberadaan seseorang.

Maka suara yang dikembalikan kepada asalnya tetap mampu tegas,

tetapi tidak kehilangan kemanusiaan.


5. SUARA YANG MEMINTA DIDENGAR

Banyak manusia berbicara keras

bukan karena memiliki sesuatu yang penting,

tetapi karena takut tidak dianggap.

Semakin ia tidak didengar,

semakin tinggi suaranya.

Semakin ia merasa tidak dihargai,

semakin keras kata-katanya.

Padahal suara yang benar tidak selalu membutuhkan teriakan.

Kadang kalimat yang paling kuat justru diucapkan dengan tenang.

Sebab kekuatan ucapan tidak hanya berasal dari volume.

Ia berasal dari kejelasan,

ketulusan,

dan keberanian mempertanggungjawabkannya.


6. KETIKA LIDAH MENJADI CERMIN BATIN

Lidah sering memperlihatkan apa yang sedang memenuhi hati.

Hati yang penuh iri mudah melihat kekurangan.

Hati yang penuh dendam mudah menafsirkan segala sesuatu sebagai serangan.

Hati yang penuh ketakutan mudah mencurigai.

Hati yang penuh kasih lebih mudah mencari jalan damai.

Bukan berarti orang baik tidak pernah marah.

Bukan berarti orang jernih tidak pernah kecewa.

Tetapi keadaan batin mempengaruhi bentuk suara yang keluar.

Karena itu memperbaiki ucapan tanpa memperbaiki hati sering hanya memperhalus permukaan.

Akar suara tetap berada di dalam.


7. SUARA YANG TERLALU BANYAK

Ada saatnya manusia perlu bertanya:

“Apakah aku berbicara karena perlu,

atau karena takut dengan kesunyian?”

Sebagian manusia terus berbicara

karena tidak sanggup bertemu dengan dirinya sendiri.

Ia memenuhi setiap ruang dengan kata.

Ia menanggapi semua hal.

Ia ingin memiliki pendapat tentang semuanya.

Ia merasa harus menjawab setiap serangan.

Padahal tidak semua pintu perlu diketuk.

Tidak semua pertanyaan perlu dijawab.

Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.

Kadang menjaga suara adalah bentuk penjagaan jiwa.


8. SUARA YANG DISIMPAN TERLALU LAMA

Namun diam pun tidak selalu benar.

Ada manusia yang terlalu lama menahan semuanya.

Ia tidak berani berkata:

“Aku terluka.”

Ia tidak berani berkata:

“Ini tidak adil.”

Ia tidak berani berkata:

“Aku membutuhkan bantuan.”

Ia tidak berani berkata:

“Berhenti.”

Ia mengira diam adalah kesabaran,

padahal sebenarnya ketakutan.

Maka pengembalian suara bukan berarti membungkam diri.

Ia berarti menemukan suara yang jujur tanpa merusak.

Ada kalanya manusia memang harus berkata:

“Tidak.”

“Cukup.”

“Saya tidak setuju.”

“Perlakuan ini tidak benar.”

Tetapi ia mengatakannya tanpa menjadikan dirinya budak kebencian.


9. SUARA DOA YANG KEMBALI

Doa adalah salah satu suara paling dalam.

Tetapi doa pun dapat berubah menjadi tuntutan.

Manusia berkata:

“Ya Alloh, berikan yang aku mau.”

Namun jarang bertanya:

“Apakah yang aku mau memang baik untukku?”

Doa yang kembali kepada asalnya tidak hanya meminta hasil.

Ia juga meminta pembentukan diri.

Bukan hanya:

“Ya Alloh, hilangkan masalahku.”

Tetapi juga:

“Ya Alloh, berikan kejernihan agar aku mampu menghadapi masalahku.”

Bukan hanya:

“Ya Alloh, kalahkan orang yang menyakitiku.”

Tetapi juga:

“Ya Alloh, jangan biarkan luka ini mengubahku menjadi orang yang zalim.”

Di sana doa kembali menjadi penghambaan,

bukan sekadar daftar keinginan.


10. SUARA YANG TELAH DIBERSIHKAN

Suara yang dibersihkan tidak selalu lembut.

Tetapi ia memiliki arah.

Ia tidak asal meledak.

Ia tidak sengaja merendahkan.

Ia tidak menikmati penderitaan orang lain.

Ia tidak menjadikan agama sebagai senjata ego.

Ia tidak menjadikan kebenaran sebagai alasan untuk kehilangan akhlak.

Suara yang bersih mampu berkata:

“Aku berbeda denganmu, tetapi aku tidak harus membencimu.”

Ia mampu berkata:

“Aku menolak perbuatanmu, tetapi aku tidak berhak merampas martabatmu sebagai manusia.”

Ia mampu berkata:

“Aku marah, tetapi aku tidak ingin menjadi zalim.”

Ia mampu berkata:

“Aku terluka, tetapi aku tidak ingin mewariskan luka.”


PENUTUP LEMBAR

Setiap hari manusia mengeluarkan suara.

Sebagian dilupakan.

Sebagian dikenang.

Sebagian menyembuhkan.

Sebagian meninggalkan luka bertahun-tahun.

Maka sebelum suara menjadi ucapan,

kembalikan ia sebentar kepada hati.

Tanyakan:

“Dari mana engkau datang?”

Jika dari kesombongan,

bersihkan.

Jika dari luka,

sembuhkan.

Jika dari ketakutan,

jernihkan.

Jika dari kasih sayang,

sampaikan dengan hikmah.

Jika dari kebenaran,

jaga agar ia tidak dirusak oleh ego.

Karena suara adalah amanah.

Dan lidah adalah pintu.

Tidak semua yang mengetuk dari dalam harus langsung dibukakan.

Kembalikan suara kepada asalnya,
bersihkan niatnya,
jernihkan arahnya,
kemudian biarkan ia keluar sebagai ucapan yang dapat engkau pertanggungjawabkan di hadapan Alloh.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA MENJADI SAKSI ATAS DIRINYA SENDIRI

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada ucapan yang hilang sesaat setelah terdengar.

Ada ucapan yang tinggal lama di dada orang lain.

Ada ucapan yang menjadi penghibur.

Ada ucapan yang menjadi luka.

Ada ucapan yang menuntun seseorang kembali berdiri.

Ada ucapan yang membuat seseorang merasa semakin kecil.

Maka jangan mengira suara selesai ketika bunyinya selesai.

Kadang bunyi telah lenyap,

tetapi akibatnya baru mulai hidup.

Di sinilah manusia perlu memahami:

setiap suara membawa jejak.


1. SUARA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR KOSONG

Setiap ucapan mempunyai arah.

Ada yang menuju penguatan.

Ada yang menuju penghancuran.

Ada yang menuju perdamaian.

Ada yang menuju permusuhan.

Ada yang lahir dari niat baik,

tetapi disampaikan dengan cara yang salah.

Ada pula yang dibungkus dengan kalimat indah,

tetapi sumbernya penuh kepentingan.

Karena itu manusia tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah ucapanku benar?”

Ia juga perlu bertanya:

“Apa yang akan tumbuh dari ucapan ini?”


2. SUARA SEBAGAI BENIH

Setiap kata seperti benih.

Ditanam di hati orang lain.

Tidak semua benih langsung terlihat hasilnya.

Ada kata penghinaan yang bertahun-tahun kemudian masih diingat seseorang.

Ada nasihat singkat yang baru dipahami setelah manusia melewati banyak pengalaman.

Ada doa seorang ibu yang terus menjadi kekuatan di dalam anaknya.

Ada kalimat kecil:

“Aku percaya kepadamu,”

yang membuat seseorang berani bangkit.

Ada pula kalimat:

“Kamu tidak akan pernah bisa,”

yang menjadi tembok di dalam pikirannya selama bertahun-tahun.

Maka suara bukan hanya bunyi.

Suara adalah benih.

Dan manusia perlu berhati-hati dengan apa yang ia tanam.


3. SUARA YANG KEMBALI MENEMUI PEMILIKNYA

Ada ucapan yang kita lepaskan kepada orang lain,

tetapi sesungguhnya ia kembali membentuk diri kita.

Orang yang terbiasa menghina,

sedang membiasakan hatinya melihat kehinaan.

Orang yang terbiasa mencurigai,

sedang membentuk batinnya menjadi ruang penuh ketakutan.

Orang yang terbiasa menebar kasih,

sedang memperluas ruang kasih di dalam dirinya.

Orang yang terbiasa berkata jujur,

sedang menguatkan dirinya untuk hidup tanpa banyak topeng.

Maka suara tidak hanya mengenai orang lain.

Ia juga kembali kepada pemiliknya.

Setiap kali engkau berkata,

engkau sedang sedikit demi sedikit membentuk siapa dirimu.


4. KETIKA SUARA MENJADI PEMBELAAN DIRI

Manusia sering membangun banyak alasan setelah berkata kasar.

“Aku memang begitu.”

“Aku cuma jujur.”

“Dia memang pantas.”

“Aku hanya menyampaikan kenyataan.”

Tetapi kejujuran tidak harus kehilangan kasih.

Kebenaran tidak harus menjadi kekejaman.

Dan keberanian tidak harus berbentuk penghinaan.

Ada perbedaan besar antara berkata jujur

dan menikmati luka yang ditimbulkan oleh kejujuran itu.

Jika seseorang senang melihat orang lain runtuh setelah ia berbicara,

maka mungkin yang bekerja bukan lagi kebenaran,

tetapi ego.


5. SUARA YANG TIDAK DAPAT DITARIK

Ada kata yang setelah keluar,

meninggalkan bekas yang tidak mudah dihapus.

Karena itu manusia perlu memahami salah satu bentuk kedewasaan:

menahan satu kalimat hari ini
agar tidak menyesali satu luka bertahun-tahun.

Tidak semua perasaan harus langsung diucapkan.

Tidak semua pikiran harus langsung disampaikan.

Tidak semua kesimpulan harus diumumkan.

Ada hal yang perlu direnungkan.

Ada hal yang perlu diperiksa.

Ada hal yang perlu ditunda sampai hati lebih tenang.

Sebab ucapan yang keluar dari kekacauan

sering menghasilkan kekacauan baru.


6. KETIKA SUARA MENJADI AMANAH

Ada orang yang dipercaya banyak manusia.

Guru.

Pemimpin.

Orang tua.

Tokoh agama.

Tokoh masyarakat.

Sahabat yang didengar.

Semakin besar pengaruh seseorang,

semakin besar pula tanggung jawab suaranya.

Sebab satu ucapan dari orang yang dipercaya

dapat menggerakkan banyak hati.

Ia dapat menenangkan ribuan orang.

Ia juga dapat menyesatkan ribuan orang.

Ia dapat menumbuhkan persaudaraan.

Ia juga dapat menyalakan kebencian.

Maka kedudukan bukan hanya memperbesar suara.

Ia juga memperbesar pertanggungjawaban.


7. SUARA YANG MEMECAH DAN SUARA YANG MERAJUT

Ada suara yang membuat manusia berkata:

“Aku dan kamu.”

Ada suara yang membuat manusia berkata:

“Kita.”

Ada suara yang terus mencari perbedaan.

Ada suara yang berusaha mencari titik pertemuan.

Bukan berarti semua perbedaan harus dihapus.

Bukan berarti semua kesalahan harus dibenarkan.

Tetapi ada perbedaan antara menjaga prinsip

dan memelihara permusuhan.

Suara yang matang mampu berkata:

“Aku tidak setuju denganmu,

namun aku masih dapat memperlakukanmu sebagai manusia.”

Di sana perbedaan tidak harus menjadi kebencian.


8. SUARA YANG MENJADI CERMIN KEJUJURAN

Ketika manusia mulai jujur kepada dirinya sendiri,

bahasanya berubah.

Dulu ia berkata:

“Semua orang salah.”

Sekarang ia bertanya:

“Apakah ada bagian diriku yang perlu diperbaiki?”

Dulu ia berkata:

“Mereka tidak menghormatiku.”

Sekarang ia bertanya:

“Apakah aku terlalu menggantungkan harga diriku pada penilaian manusia?”

Dulu ia berkata:

“Aku hanya membela kebenaran.”

Sekarang ia bertanya:

“Apakah egoku ikut menikmati pertengkaran ini?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan melemahkan.

Ia justru membuka pintu kedewasaan.


9. SUARA DAN PERTANGGUNGJAWABAN

Bayangkan setiap ucapan harus berdiri di depan dirimu sendiri.

Kata-kata yang pernah engkau lepaskan datang kembali dan bertanya:

“Mengapa engkau mengucapkanku?”

Apakah engkau akan menjawab:

“Karena aku marah.”

“Karena aku iri.”

“Karena aku ingin menang.”

“Karena aku ingin dipuji.”

Atau engkau dapat berkata:

“Karena aku ingin memperbaiki.”

“Karena aku ingin menjaga.”

“Karena aku ingin menolong.”

“Karena aku ingin mengatakan yang benar tanpa merendahkan.”

Di situlah manusia belajar bahwa suara bukan sekadar hak.

Ia juga amanah.


10. KETIKA SUARA MULAI MENJADI CAHAYA

Suara menjadi cahaya bukan karena ia terdengar indah.

Ia menjadi cahaya ketika setelah mendengarnya,

manusia menjadi lebih jernih.

Lebih berani berbuat baik.

Lebih mampu memaafkan.

Lebih bertanggung jawab.

Lebih sadar kepada Alloh.

Suara yang menjadi cahaya tidak membuat orang lain bergantung kepada pembicara.

Ia justru membantu mereka menemukan kembali kejernihan dirinya.

Tidak mengikat.

Tidak memperbudak.

Tidak memaksa.

Tetapi menerangi.


PENUTUP LEMBAR

Setiap manusia meninggalkan suara.

Ada yang tertulis.

Ada yang hanya pernah terdengar.

Ada yang hidup di ingatan anak-anaknya.

Ada yang tinggal di hati sahabatnya.

Ada yang menjadi luka.

Ada yang menjadi doa.

Maka tanyakan kepada diri sendiri:

Jika semua ucapanku dikembalikan kepadaku,
apakah aku sanggup mendengarnya kembali?

Jika jawabannya belum,

maka masih ada waktu untuk memperbaiki.

Kurangi suara yang lahir dari ego.

Perbanyak suara yang lahir dari kasih.

Kurangi ucapan yang hanya ingin menang.

Perbanyak ucapan yang membawa kejernihan.

Kurangi suara yang mempermalukan.

Perbanyak suara yang menguatkan tanpa berdusta.

Sebab suatu hari,

manusia mungkin tidak lagi berada di dunia,

tetapi sebagian suaranya masih tinggal di dalam manusia lain.

Maka tinggalkanlah suara yang ketika kembali menjadi saksi,
ia tidak membuatmu malu kepada dirimu sendiri dan kepada Alloh.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA-SUARA PALSU MULAI RUNTUH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Tidak semua suara yang paling sering terdengar adalah suara yang paling benar.

Ada suara yang menjadi besar karena diulang.

Ada suara yang menjadi kuat karena ditakuti.

Ada suara yang menjadi dipercaya karena diwariskan tanpa diperiksa.

Ada suara yang menjadi berkuasa karena banyak manusia takut berbeda.

Tetapi ketika suara dikembalikan kepada asalnya,

segala tambahan mulai terlepas.

Yang palsu kehilangan sandaran.

Yang dibuat-buat kehilangan panggung.

Yang dibesarkan oleh ego kehilangan mahkotanya.

Dan yang tersisa adalah apa yang sungguh-sungguh hidup di dalam diri manusia.


1. SUARA PALSU TIDAK SELALU BERBOHONG

Suara palsu tidak selalu berarti kalimat dusta.

Kadang faktanya benar,

tetapi niatnya palsu.

Kadang nasihatnya benar,

tetapi ia disampaikan untuk mempermalukan.

Kadang ajarannya baik,

tetapi dipakai untuk meninggikan diri.

Kadang kata-katanya lembut,

tetapi di baliknya ada keinginan menguasai.

Karena itu kepalsuan suara tidak hanya diperiksa dari kata.

Ia diperiksa dari arah.

Untuk apa suara itu dilepaskan?

Untuk membimbing?

Untuk menjaga?

Untuk memperbaiki?

Atau untuk menguasai?

Untuk membuat takut?

Untuk memperoleh pengikut?

Untuk menjaga citra?

Di sanalah asal suara mulai terlihat.


2. SUARA YANG MEMBANGUN TOKOH PALSU

Manusia dapat terlalu lama memainkan peran.

Peran orang kuat.

Peran orang suci.

Peran orang paling tahu.

Peran orang yang selalu benar.

Peran orang yang tidak pernah takut.

Peran orang yang tidak pernah terluka.

Semakin lama peran itu dipertahankan,

semakin sulit manusia mengingat dirinya sendiri.

Ia akhirnya hidup untuk menjaga gambaran tentang dirinya.

Bukan untuk menjadi jujur.

Di sinilah suara palsu mulai membentuk penjara.

Ia berkata:

“Jangan mengaku salah.”

“Jangan mengaku lemah.”

“Jangan mengaku tidak tahu.”

“Jangan minta maaf.”

“Jaga wibawa.”

Padahal terkadang satu kalimat:

“Aku keliru.”

lebih mulia daripada seribu pembelaan.


3. SUARA PALSU DARI KETAKUTAN

Ada manusia yang berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

Padahal ia takut bergantung.

Ada yang berkata:

“Aku tidak peduli.”

Padahal ia takut kecewa.

Ada yang berkata:

“Aku tidak takut.”

Padahal seluruh tindakannya dikendalikan ketakutan.

Suara palsu sering lahir bukan karena manusia jahat,

tetapi karena manusia takut terlihat rapuh.

Maka jalan pulang suara adalah keberanian untuk berkata:

“Aku takut.”

“Aku sedih.”

“Aku belum mengerti.”

“Aku membutuhkan waktu.”

“Aku memerlukan bantuan.”

Kejujuran itu bukan kehinaan.

Ia adalah awal dari suara yang kembali kepada asalnya.


4. SUARA PALSU DALAM ILMU

Ilmu dapat menjadi cahaya.

Tetapi ilmu juga dapat menjadi pakaian ego.

Tanda ilmu mulai dikuasai ego adalah ketika manusia lebih senang menunjukkan bahwa ia tahu daripada membantu orang lain memahami.

Ia menggunakan istilah sulit agar terlihat tinggi.

Ia merendahkan orang yang belum tahu.

Ia tidak tahan dikoreksi.

Ia menjadikan perbedaan sebagai perlombaan gengsi.

Padahal ilmu yang matang justru semakin menyadarkan manusia tentang luasnya apa yang belum ia ketahui.

Semakin tinggi ilmunya,

semestinya semakin besar kerendahan hatinya.

Jika ilmu membuat seseorang merasa lebih besar daripada manusia lain,

mungkin yang tumbuh bukan hanya ilmu,

tetapi juga ego.


5. SUARA PALSU DALAM KESALEHAN

Ada suara yang terlihat sangat religius,

tetapi di dalamnya penuh rasa lebih tinggi.

Ia mudah berkata:

“Mereka sesat.”

“Mereka rendah.”

“Mereka tidak layak.”

Ia merasa aman karena banyak mengucapkan nama Tuhan,

tetapi lupa bahwa ucapan suci tidak otomatis menyucikan hati.

Nama Alloh tidak boleh dijadikan jubah untuk menyembunyikan kesombongan.

Sebab yang dekat kepada Alloh bukan yang paling keras mengaku dekat.

Melainkan yang semakin sadar akan keterbatasannya.

Semakin takut menzalimi.

Semakin berhati-hati mempermalukan.

Semakin lembut kepada yang lemah.

Semakin berat mulutnya untuk mengklaim kesucian dirinya.


6. KETIKA TOPENG SUARA PECAH

Ada saatnya manusia tidak lagi sanggup mempertahankan topeng.

Kelelahan datang.

Kegagalan datang.

Kehilangan datang.

Penolakan datang.

Di situlah suara asli sering keluar.

Manusia yang selama ini berkata:

“Aku kuat,”

akhirnya berkata:

“Aku lelah.”

Yang berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun,”

akhirnya berkata:

“Tolong temani aku.”

Yang selalu merasa tahu,

akhirnya berkata:

“Aku tidak mengerti.”

Jangan selalu menganggap keruntuhan seperti itu sebagai kehancuran.

Kadang runtuhnya topeng adalah awal dari kejujuran.


7. SUARA YANG TIDAK MEMBUTUHKAN PANGGUNG

Suara asli tidak selalu mencari keramaian.

Ia tidak perlu membuktikan dirinya setiap saat.

Ia tidak takut tidak dipuji.

Ia tidak takut tidak dikutip.

Ia tidak takut tidak dikenal.

Karena suara yang benar tahu:

nilai tidak selalu bergantung pada sorotan.

Ada kebaikan yang paling besar justru dilakukan tanpa penonton.

Ada doa yang paling tulus tidak pernah diketahui manusia lain.

Ada pertolongan yang paling murni tidak pernah diumumkan.

Ada kasih yang paling kuat tidak membutuhkan tepuk tangan.

Di sanalah suara mulai bebas dari panggung.


8. SUARA YANG KEMBALI MENJADI SEDERHANA

Semakin suara kembali ke asalnya,

semakin sederhana ia.

Ia tidak perlu banyak hiasan.

Ia bisa berkata:

“Maaf.”

“Terima kasih.”

“Aku salah.”

“Aku belum tahu.”

“Aku sayang kepadamu.”

“Aku terluka.”

“Aku ingin memperbaiki.”

“Aku ingin belajar.”

Kalimat-kalimat sederhana itu kadang lebih berat daripada pidato panjang.

Karena di dalamnya ego tidak mempunyai banyak tempat bersembunyi.


9. RUNTUHNYA SUARA PALSU BUKAN RUNTUHNYA DIRI

Manusia sering takut kehilangan citra karena mengira citra adalah dirinya.

Padahal citra hanyalah gambar yang dilihat manusia lain.

Diri yang sebenarnya lebih dalam dari penilaian.

Jika engkau tidak lagi dianggap paling kuat,

engkau tetap manusia.

Jika engkau mengaku salah,

engkau tidak kehilangan harga diri.

Jika engkau tidak tahu,

engkau tidak kehilangan martabat.

Jika engkau meminta maaf,

engkau tidak menjadi kecil.

Justru di sanalah suara mulai kembali.


10. KETIKA HANYA SUARA SEJATI YANG TERSISA

Setelah segala topeng jatuh,

setelah kebanggaan melemah,

setelah kebutuhan dipuji berkurang,

setelah ketakutan untuk terlihat salah mulai runtuh,

muncullah suara yang lebih sederhana.

Suara yang berkata:

“Aku adalah hamba.”

“Aku bisa benar.”

“Aku bisa salah.”

“Aku bisa kuat.”

“Aku bisa lemah.”

“Aku bisa tahu.”

“Aku juga bisa tidak tahu.”

Tetapi aku ingin tetap berjalan menuju kebaikan.

Di situlah suara manusia mulai kembali kepada asalnya.

Bukan menjadi tanpa kekurangan.

Tetapi menjadi tanpa terlalu banyak kepalsuan.


PENUTUP LEMBAR

Jangan takut ketika suara palsu di dalam dirimu runtuh.

Takutlah jika engkau terlalu mencintainya sampai tidak mampu melihat kebenaran.

Biarkan peran yang tidak perlu dilepas.

Biarkan gengsi yang berlebihan runtuh.

Biarkan kebutuhan dipuji berkurang.

Biarkan suara yang selalu ingin menang menjadi tenang.

Sebab setelah banyak suara palsu pergi,

mungkin engkau baru dapat mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam:

suara kejujuran.

Dan suara kejujuran itu berkata:

“Aku tidak harus menjadi sempurna untuk kembali kepada Alloh.
Aku hanya harus berhenti menjadikan kepalsuan sebagai rumah.”

Maka pulanglah.

Bukan kepada citra.

Bukan kepada pujian.

Bukan kepada gelar.

Bukan kepada panggung.

Tetapi kepada kejernihan.

Ketika suara palsu runtuh,
suara sejati tidak perlu berteriak.
Ia cukup hadir,
dan hati mengenalinya.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA KEMBALI MENJADI DOA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada suara yang mencari jawaban.

Ada suara yang mencari pembenaran.

Ada suara yang mencari kemenangan.

Ada suara yang mencari perhatian.

Namun ada pula suara yang setelah melewati luka, kesombongan, ketakutan, keinginan, dan kebisingan,

akhirnya tidak lagi meminta dunia untuk mendengarnya.

Ia hanya ingin sampai kepada Alloh.

Di titik itulah suara mulai berubah menjadi doa.

Bukan semata-mata karena kalimatnya indah.

Bukan karena bahasanya suci.

Bukan karena diucapkan berulang-ulang.

Tetapi karena arah batinnya kembali kepada Sang Pencipta.


1. DOA BUKAN SEKADAR SUARA MULUT

Mulut dapat mengucapkan doa,

tetapi hati bisa sedang berada di tempat lain.

Lidah dapat berkata:

“Ya Alloh, aku berserah.”

Tetapi batin masih menuntut:

“Harus seperti yang aku mau.”

Lidah dapat berkata:

“Ya Alloh, aku ridho.”

Tetapi hati masih menyimpan perlawanan.

Karena itu doa tidak selesai pada bunyi.

Doa dimulai dari kejujuran.

Kadang doa paling jujur justru berbunyi:

“Ya Alloh, aku belum mampu ridho.
Tetapi ajari aku untuk menerima.”

Atau:

“Ya Alloh, aku masih marah.
Tetapi jangan biarkan marah ini menyesatkanku.”

Atau:

“Ya Alloh, aku tidak mengerti.
Tetapi jangan biarkan kebingunganku menjauhkan aku dari-Mu.”

Di sanalah doa kembali kepada asalnya.


2. SUARA YANG TIDAK LAGI MEMERINTAH ALLOH

Ada doa yang diam-diam berubah menjadi perintah.

Manusia berkata:

“Ya Alloh, lakukan ini.”

“Ya Alloh, hancurkan itu.”

“Ya Alloh, berikan sekarang.”

“Ya Alloh, jangan biarkan ini terjadi.”

Seolah-olah manusia mengetahui seluruh akibat dari yang dimintanya.

Padahal ia hanya melihat sebagian kecil.

Doa yang kembali kepada asalnya mulai berubah.

Bukan lagi:

“Ya Alloh, ikuti kehendakku.”

Tetapi:

“Ya Alloh, jika yang aku minta baik bagiku, dekatkan.
Jika tidak, jauhkan dengan cara yang membuatku semakin mengerti.”

Di sana doa menjadi penghambaan.

Bukan pengendalian atas Tuhan.


3. KETIKA AIR MATA MENJADI SUARA

Tidak semua doa berbentuk kata.

Ada saatnya manusia tidak mampu berkata apa-apa.

Dadanya sesak.

Pikirannya penuh.

Lidahnya kelu.

Yang keluar hanya air mata.

Jangan mengira air mata tanpa kata tidak memiliki makna.

Ada saatnya tangis lebih jujur daripada kalimat panjang.

Ada saatnya diam di hadapan Alloh lebih dalam daripada banyak ucapan.

Karena Alloh tidak membutuhkan susunan kata yang indah untuk mengetahui isi hati.

Manusialah yang membutuhkan kejujuran agar ia sendiri mengetahui apa yang sedang dibawanya.


4. SUARA YANG BERHENTI MENYALAHKAN

Pada awal perjalanan,

manusia mudah berkata:

“Kenapa dia melakukan ini kepadaku?”

“Kenapa hidupku seperti ini?”

“Kenapa Alloh membiarkan ini terjadi?”

Tetapi setelah suara mulai kembali kepada asalnya,

pertanyaannya berubah:

“Apa yang harus kupelajari dari ini?”

“Apa yang masih bisa kuperbaiki?”

“Apa yang harus kulepaskan?”

“Apa yang harus kujaga?”

“Apa yang sedang dibentuk dalam diriku?”

Perubahan pertanyaan adalah perubahan arah suara.

Dari menyalahkan,

menjadi belajar.

Dari menuntut,

menjadi memahami.

Dari kebisingan,

menjadi kesadaran.


5. DOA YANG TIDAK MENJADIKAN ORANG LAIN KORBAN

Ada manusia yang terluka lalu berdoa agar orang yang melukainya dihancurkan.

Ada yang kecewa lalu berharap lawannya menderita.

Ada yang kalah lalu ingin melihat pihak lain jatuh.

Tetapi hati yang sedang dibersihkan mulai bertanya:

“Apakah aku sedang meminta keadilan, atau sedang memberi makan dendam?”

Keadilan berbeda dari kebencian.

Memohon perlindungan berbeda dari menikmati kehancuran orang lain.

Karena itu suara doa perlu diperiksa sebagaimana ucapan biasa diperiksa.

Sebab ego juga dapat bersembunyi di balik kata-kata doa.


6. KETIKA PERMINTAAN MENJADI PENYERAHAN

Pada awalnya manusia berdoa:

“Berikan aku jalan.”

Lalu ia tumbuh dan berkata:

“Bimbing aku memilih jalan yang benar.”

Pada awalnya ia berdoa:

“Jauhkan semua masalah.”

Lalu ia tumbuh dan berkata:

“Kuatkan aku menghadapi apa yang memang harus kulewati.”

Pada awalnya ia berkata:

“Ubahlah semua orang di sekitarku.”

Lalu ia tumbuh dan berkata:

“Mulailah perubahan dari diriku.”

Di sanalah suara doa menjadi semakin matang.

Bukan karena manusia berhenti meminta.

Tetapi karena ia mulai memahami bahwa perubahan terbesar sering dimulai di dalam dirinya sendiri.


7. SUARA SYUKUR

Ada suara yang hanya muncul ketika kekurangan terasa.

Ia meminta ketika susah.

Ia menangis ketika kehilangan.

Ia memanggil Alloh ketika jalan buntu.

Tetapi ketika keadaan membaik,

ia kembali lupa.

Maka suara yang dikembalikan kepada asalnya tidak hanya mengenal doa permintaan.

Ia juga mengenal syukur.

Syukur berkata:

“Ya Alloh, aku melihat nikmat yang selama ini kulewati begitu saja.”

Napas.

Waktu.

Kesempatan memperbaiki diri.

Orang yang masih mencintai.

Kemampuan berpikir.

Kemampuan meminta maaf.

Kemampuan memulai kembali.

Syukur mengubah suara manusia dari kekurangan menjadi kesadaran atas karunia.


8. SUARA YANG TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN PERTUNJUKAN

Doa yang sejati tidak selalu membutuhkan penonton.

Ia tidak harus diumumkan.

Tidak harus diperlihatkan.

Tidak harus membuat orang lain terkesan.

Ada doa yang hanya diketahui oleh orang yang berdoa dan Alloh.

Dan justru di dalam kesunyian itu,

manusia dapat lebih jujur.

Tidak perlu terlihat saleh.

Tidak perlu terlihat kuat.

Tidak perlu terlihat paham.

Ia hanya datang sebagaimana adanya.

Dengan luka.

Dengan harapan.

Dengan kebingungan.

Dengan rasa malu.

Dengan keinginan untuk kembali.


9. KETIKA SUARA DOA MENJADI KEHIDUPAN

Doa yang kembali kepada asalnya tidak berhenti setelah kata “Aamiin”.

Ia diteruskan menjadi tindakan.

Jika berdoa meminta rezeki,

ia juga bekerja.

Jika berdoa meminta damai,

ia juga mengurangi pertengkaran.

Jika berdoa meminta ampun,

ia juga berusaha meninggalkan kesalahan.

Jika berdoa meminta keluarga dijaga,

ia juga menjaga ucapan dan perbuatannya kepada keluarga.

Jika berdoa meminta ilmu,

ia juga mau belajar.

Doa dan ikhtiar tidak saling meniadakan.

Doa adalah arah hati.

Ikhtiar adalah langkah tubuh.

Keduanya seharusnya saling menguatkan.


10. KETIKA DOA KEMBALI MENJADI SATU SUARA

Setelah banyak keinginan gugur,

setelah banyak tuntutan melemah,

setelah ego mulai tenang,

doa menjadi sederhana.

Tidak lagi panjang.

Tidak lagi penuh tuntutan.

Hanya:

“Ya Alloh, jangan biarkan aku kehilangan arah.”

Atau:

“Ya Alloh, jaga hatiku agar tidak menjadi keras.”

Atau:

“Ya Alloh, bimbing aku agar tidak menyakiti dengan apa yang Kau titipkan kepadaku.”

Atau bahkan hanya:

“Ya Alloh…”

Dan nama itu sudah cukup untuk mengembalikan kesadaran bahwa manusia bukan pusat kehidupan.


PENUTUP LEMBAR

Ketika suara kembali menjadi doa,

ia berhenti hanya mencari telinga manusia.

Ia kembali mencari arah kepada Alloh.

Ia tidak lagi sibuk membuktikan siapa dirinya.

Ia mulai belajar mengenal siapa dirinya:

seorang hamba yang membutuhkan petunjuk,

seorang manusia yang dapat salah,

seorang makhluk yang memiliki harapan,

dan seorang pejalan yang selalu membutuhkan jalan pulang.

Maka jagalah suara doa.

Jangan biarkan ego menguasainya.

Jangan biarkan kebencian menyamar di dalamnya.

Jangan biarkan keinginan mengubahnya menjadi tuntutan kepada Alloh.

Biarkan doa kembali kepada asalnya:

permohonan seorang hamba kepada Tuhannya,
dengan hati yang jujur,
ikhtiar yang nyata,
dan kesiapan menerima bahwa jawaban Alloh tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Dan ketika semua kata akhirnya habis,

biarkan satu kesadaran tetap tinggal:

“Ya Alloh, aku datang kembali kepada-Mu dengan suara yang telah kehilangan banyak topengnya.”

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA KEMBALI MENJADI HENING

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ada saat ketika manusia terlalu banyak berbicara karena takut mendengar dirinya sendiri.

Ada saat ketika manusia terlalu banyak menjelaskan karena takut dihakimi.

Ada saat ketika manusia terus mempertahankan kata karena tidak siap menerima bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.

Namun setelah suara berjalan jauh,

setelah ia melewati pertengkaran,

melewati luka,

melewati doa,

melewati pengakuan,

melewati keinginan untuk didengar,

akhirnya datang satu pintu yang tidak berbunyi:

hening.

Bukan hening karena kehilangan.

Bukan hening karena kalah.

Bukan hening karena tidak punya jawaban.

Tetapi hening karena suara telah kembali begitu dekat kepada asalnya,

hingga manusia tidak lagi membutuhkan terlalu banyak kata.


1. HENING BUKAN KEKOSONGAN

Banyak orang takut pada keheningan karena mengira hening berarti tidak ada apa-apa.

Padahal keheningan sering justru penuh.

Penuh kesadaran.

Penuh ingatan.

Penuh pertanyaan.

Penuh penerimaan.

Penuh doa tanpa kalimat.

Di dalam hening, manusia mulai mendengar apa yang selama ini tertutup oleh kebisingan.

Ia mendengar ketakutannya sendiri.

Ia mendengar luka yang belum selesai.

Ia mendengar rasa syukur yang selama ini terkubur.

Ia mendengar panggilan untuk memperbaiki hidup.

Dan terkadang,

ia mendengar satu suara paling sederhana:

“Pulanglah.”


2. KETIKA LIDAH BERHENTI DAN HATI MULAI BERBICARA

Ada hal-hal yang terlalu dalam untuk dijelaskan.

Cinta tertentu.

Kesedihan tertentu.

Rasa kehilangan tertentu.

Rasa syukur tertentu.

Kerinduan kepada Alloh tertentu.

Ketika kata tidak lagi cukup,

hati mengambil alih.

Bukan dengan bunyi,

tetapi dengan keadaan.

Di situlah manusia mulai mengetahui bahwa tidak semua komunikasi membutuhkan suara.

Ada tatapan yang lebih jujur daripada pidato.

Ada pelukan yang lebih jelas daripada penjelasan.

Ada air mata yang lebih terang daripada seribu alasan.

Ada sujud yang lebih dalam daripada banyak kalimat.


3. HENING YANG MENJAGA DARI KESALAHAN

Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan.

Tidak semua yang kita tahu harus diumumkan.

Tidak semua yang kita lihat harus dibicarakan.

Ada saat ketika diam adalah penjagaan.

Sebab kata yang belum matang bisa menjadi fitnah.

Penilaian yang tergesa-gesa bisa menjadi kezaliman.

Kesimpulan yang belum utuh bisa merusak nama seseorang.

Maka hening mengajarkan satu disiplin:

jangan keluarkan suara sebelum engkau tahu beban yang akan dibawanya.


4. HENING BUKAN LARI DARI KEBENARAN

Namun jangan pula menggunakan diam untuk melarikan diri.

Ada saat ketika suara memang harus keluar.

Ketidakadilan perlu ditegur.

Kebohongan perlu diluruskan.

Batas perlu dijaga.

Orang yang lemah perlu dibela.

Jadi hening bukan pengecut.

Hening adalah tempat suara dibersihkan sebelum digunakan.

Ia bertanya:

“Apakah aku berbicara karena marah,

atau karena memang harus berkata?”

“Apakah aku diam karena bijak,

atau karena takut?”

Di sanalah manusia belajar membedakan.


5. KETIKA HENING MENJADI CERMIN

Dalam keramaian,

manusia mudah menyalahkan luar.

Dalam hening,

ia dipaksa melihat ke dalam.

Ia bertanya:

“Mengapa ucapan orang itu begitu melukaiku?”

“Mengapa aku sangat membutuhkan pengakuan?”

“Mengapa aku takut dianggap salah?”

“Mengapa aku selalu ingin membalas?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman.

Tetapi justru di situlah hening menjadi cermin.

Tidak memuji.

Tidak menghina.

Hanya memperlihatkan.


6. HENING DAN EGO

Ego tidak suka hening.

Sebab dalam hening ia kehilangan panggung.

Tidak ada yang perlu dikalahkan.

Tidak ada yang perlu dibuktikan.

Tidak ada yang perlu dipamerkan.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada lawan.

Maka ego sering membuat manusia terus berbicara agar ia tidak menghilang.

Ia berkata:

“Jelaskan lagi.”

“Pertahankan lagi.”

“Balas lagi.”

“Jangan berhenti.”

Padahal kadang yang paling dibutuhkan adalah berhenti memberi makan kepada suara ego.


7. HENING YANG MELAHIRKAN SUARA BARU

Hening bukan akhir.

Ia seperti tanah sebelum benih tumbuh.

Setelah cukup lama diam,

suara baru muncul.

Tetapi ia berbeda.

Lebih jernih.

Lebih pendek.

Lebih tepat.

Lebih sedikit luka.

Dulu manusia berkata panjang karena ingin terlihat benar.

Sekarang ia cukup berkata:

“Aku mengerti.”

Dulu ia membela diri tanpa henti.

Sekarang ia mampu berkata:

“Ya, bagian itu salah dariku.”

Dulu ia ingin menang.

Sekarang ia bertanya:

“Apa yang bisa kita perbaiki?”

Di situlah hening melahirkan bahasa baru.


8. KETIKA HENING MENJADI IBADAH BATIN

Ada keheningan yang bukan sekadar tidak berbicara.

Ia adalah keadaan hati yang hadir.

Tidak sibuk menghakimi.

Tidak sibuk membandingkan.

Tidak sibuk mengatur semuanya.

Hanya hadir.

Memandang hidup.

Menerima keterbatasan.

Mengingat Alloh.

Di sana manusia tidak meminta pengalaman luar biasa.

Ia hanya ingin hatinya tetap hidup.

Tidak keras.

Tidak sombong.

Tidak putus asa.

Tidak jauh dari kesadaran.


9. SUARA YANG KEMBALI DARI HENING

Suara yang keluar dari hening biasanya tidak tergesa-gesa.

Ia tidak banyak hiasan.

Ia tidak berputar-putar.

Ia tidak haus tepuk tangan.

Ia menjadi sederhana:

“Maafkan aku.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tidak tahu.”

“Aku siap belajar.”

“Aku akan memperbaiki.”

“Ya Alloh, tuntun aku.”

Kalimat-kalimat itu mungkin pendek.

Tetapi karena lahir dari hening,

ia menjadi berat.


10. KETIKA MANUSIA TIDAK LAGI TAKUT DENGAN KEHENINGAN

Orang yang mulai berdamai dengan hening

tidak mudah dipancing.

Ia tidak merasa harus menjawab setiap ejekan.

Ia tidak merasa harus hadir di setiap pertengkaran.

Ia tidak merasa harus memaksakan pendapat.

Ia mampu pergi dari percakapan yang hanya akan merusak.

Ia mampu menunda jawaban.

Ia mampu tidak tahu.

Ia mampu menerima bahwa sebagian hal memang tidak memiliki penjelasan cepat.

Itulah kekuatan yang sunyi.


PENUTUP LEMBAR

Setelah suara dikembalikan kepada asalnya,

mungkin akhirnya manusia menemukan bahwa asal terdalamnya bukan kebisingan.

Tetapi kejernihan.

Dan kejernihan sering datang melalui hening.

Maka jangan takut pada diam.

Takutlah pada suara yang keluar tanpa kesadaran.

Jangan takut pada keheningan.

Takutlah pada lidah yang tidak lagi mengenal batas.

Jangan takut ketika engkau tidak memiliki jawaban.

Takutlah jika engkau memaksakan jawaban hanya agar terlihat tahu.

Masuklah ke dalam hening bukan untuk menghilang,
tetapi untuk membersihkan suara.

Agar ketika engkau kembali berbicara,

ucapanmu tidak lagi hanya berasal dari luka,

tidak hanya berasal dari ego,

tidak hanya berasal dari ketakutan,

tetapi dari hati yang telah belajar berdiri lebih jernih di hadapan Alloh.

Dan bila suatu hari tidak ada lagi kata yang mampu diucapkan,

biarkan hening menjadi saksi bahwa hati masih mengetahui arah pulangnya.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA HENING MEMBUKA SUARA YANG PALING AWAL

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setelah manusia melewati banyak suara,

melewati kata,

melewati bantahan,

melewati pengakuan,

melewati tangisan,

melewati doa,

dan akhirnya masuk ke dalam hening,

ada satu pertanyaan yang mulai muncul:

“Sebelum semua suara itu ada, apa yang lebih dahulu hidup di dalam diriku?”

Bukan nama.

Bukan gelar.

Bukan bahasa.

Bukan kelompok.

Bukan peran.

Bukan kemenangan.

Bukan kekalahan.

Tetapi sebuah kesadaran yang sangat sederhana:

aku ada, aku menerima hidup, aku merasakan, aku membutuhkan, dan aku bergantung kepada Alloh.

Di situlah suara paling awal mulai terdengar kembali.


1. SUARA SEBELUM NAMA DIRI

Sebelum manusia dikenal dengan namanya,

ia sudah hidup.

Sebelum ia mempunyai gelar,

ia sudah bernapas.

Sebelum ia dianggap penting,

ia sudah memiliki rasa.

Sebelum orang lain menilainya,

ia sudah membawa kehidupan yang bukan ia ciptakan sendiri.

Maka nama adalah tanda.

Gelar adalah tambahan.

Jabatan adalah titipan.

Citra adalah bayangan.

Tetapi hidup adalah amanah.

Saat manusia mengingat hal ini,

suara dalam dirinya mulai berubah.

Ia tidak lagi terlalu sibuk mempertahankan:

“Siapa aku di mata manusia?”

Ia mulai bertanya:

“Apa yang kulakukan dengan kehidupan yang Alloh titipkan kepadaku?”


2. SUARA SEBELUM PERBANDINGAN

Anak kecil belum sibuk membandingkan seluruh keberadaannya dengan orang lain.

Tetapi semakin dewasa,

manusia mulai bertanya:

“Siapa lebih kaya?”

“Siapa lebih terkenal?”

“Siapa lebih alim?”

“Siapa lebih dihormati?”

“Siapa lebih banyak pengikut?”

“Siapa lebih benar?”

Lalu suara asli tertutup oleh perlombaan.

Manusia tidak lagi hanya ingin hidup baik.

Ia ingin terlihat lebih baik daripada orang lain.

Di sinilah suara mulai menjauh.

Sebab perbandingan yang tidak terkendali membuat manusia sulit mendengar dirinya sendiri.

Maka suara yang kembali ke asalnya berkata:

“Aku tidak harus menjadi orang lain untuk menjalani amanahku.”


3. SUARA SEBELUM TAKUT DINILAI

Banyak ucapan lahir bukan dari keyakinan,

tetapi dari ketakutan.

Takut dianggap lemah.

Takut dianggap bodoh.

Takut dianggap gagal.

Takut tidak dihormati.

Takut kehilangan pengikut.

Takut kehilangan kedudukan.

Akibatnya manusia membangun suara yang bukan sepenuhnya miliknya.

Ia berbicara sesuai harapan orang.

Ia diam ketika seharusnya jujur.

Ia mengikuti keramaian meskipun batinnya menolak.

Ia mempertahankan sesuatu hanya karena takut dicela jika berubah.

Padahal jalan menuju suara asli membutuhkan keberanian untuk berkata:

“Aku akan berusaha jujur, meskipun tidak semua orang menyukainya.”

Namun kejujuran itu tetap harus berjalan bersama adab.

Sebab jujur bukan berarti kasar.


4. KETIKA SUARA PALING AWAL BERKATA: AKU BUTUH

Ego sulit berkata:

“Aku butuh.”

Karena ia takut terlihat lemah.

Namun asal kemanusiaan justru penuh kebutuhan.

Manusia membutuhkan udara.

Air.

Makanan.

Tidur.

Kasih.

Pertolongan.

Ilmu.

Pengampunan.

Dan petunjuk Alloh.

Maka salah satu suara paling jujur adalah:

“Aku membutuhkan.”

Kesadaran ini menghancurkan kesombongan.

Karena manusia yang paling kuat sekalipun tetap bergantung.

Yang paling kaya tetap membutuhkan napas.

Yang paling terkenal tetap membutuhkan tubuh yang berfungsi.

Yang paling berilmu tetap tidak mengetahui seluruh perkara.

Maka kebutuhan bukan aib.

Ia adalah tanda bahwa manusia memang makhluk.


5. SUARA PALING AWAL TIDAK MENGAKU MENJADI SUMBER

Salah satu kesesatan ego adalah merasa:

“Aku menghasilkan semuanya.”

“Aku berhasil karena diriku.”

“Aku berdiri sendiri.”

Padahal berapa banyak perkara yang tidak berada dalam kendali manusia?

Kelahiran.

Pertumbuhan.

Detak jantung.

Kesempatan bertemu orang tertentu.

Perubahan zaman.

Cuaca.

Umur.

Kematian.

Manusia boleh berikhtiar.

Bahkan harus.

Tetapi ia bukan sumber mutlak dari kehidupan.

Maka ketika suara dikembalikan kepada asalnya,

ia berkata:

“Aku berusaha, tetapi aku bukan penguasa seluruh hasil.”

Di situlah ikhtiar bertemu tawakal.


6. SUARA AWAL ADALAH KEJUJURAN, BUKAN KLAIM

Semakin manusia kembali kepada asal,

semakin sedikit kebutuhan untuk mengaku.

Ia tidak sibuk berkata:

“Aku paling memahami.”

“Aku paling dekat.”

“Aku sudah sampai.”

“Aku paling suci.”

Sebab suara awal tidak membutuhkan gelar.

Ia hanya mengetahui:

“Aku masih belajar.”

“Aku masih berjalan.”

“Aku masih bisa salah.”

“Aku masih membutuhkan rahmat Alloh.”

Kalimat seperti itu bukan merendahkan diri secara palsu.

Ia adalah pengakuan terhadap kenyataan manusia.


7. KETIKA SUARA AWAL MENEMUKAN KEMBALI RASA HERAN

Orang dewasa sering kehilangan rasa heran.

Langit dianggap biasa.

Napas dianggap biasa.

Air dianggap biasa.

Tubuh dianggap biasa.

Pagi dianggap biasa.

Kasih orang lain dianggap biasa.

Padahal semuanya bisa hilang.

Suara yang kembali ke asal mulai mampu heran lagi.

Bukan heran karena mencari hal gaib.

Tetapi heran karena menyadari bahwa keberadaan itu sendiri adalah sesuatu yang besar.

Ia memandang matahari terbit dan berkata:

“Aku masih diberi satu hari lagi.”

Ia bangun dari tidur dan berkata:

“Aku masih punya kesempatan memperbaiki.”

Di sanalah syukur menjadi hidup.


8. SUARA AWAL TIDAK MEMUSUHI PERBEDAAN

Sebelum manusia mengenal label,

ia terlebih dahulu mengenal kebutuhan.

Lapar.

Takut.

Kasih.

Kehilangan.

Harapan.

Kesepian.

Semua manusia mengenal bentuk-bentuk pengalaman itu.

Karena itu suara yang kembali ke asal tidak mudah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk kehilangan kemanusiaan.

Ia boleh berbeda keyakinan.

Berbeda pemikiran.

Berbeda budaya.

Berbeda cara pandang.

Tetapi ia tetap mampu berkata:

“Aku tidak harus menjadi sama denganmu untuk menghormati martabatmu.”


9. KETIKA SUARA AWAL MENJADI PENGAKUAN KETERBATASAN

Ada kebebasan besar ketika manusia mampu berkata:

“Aku tidak tahu.”

Karena sejak saat itu,

ia bisa belajar.

Ada kekuatan ketika manusia mampu berkata:

“Aku salah.”

Karena sejak saat itu,

ia bisa memperbaiki.

Ada keberanian ketika manusia mampu berkata:

“Aku takut.”

Karena sejak saat itu,

ia bisa menghadapi ketakutannya dengan jujur.

Ada kedewasaan ketika manusia mampu berkata:

“Aku membutuhkan bantuan.”

Karena sejak saat itu,

ia berhenti memaksa dirinya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.


10. SUARA PALING AWAL DAN JALAN PULANG

Setelah semua lapisan dilepaskan,

suara menjadi sangat sederhana.

Tidak banyak teori.

Tidak banyak klaim.

Tidak banyak pertunjukan.

Ia berkata:

“Ya Alloh, aku hidup karena Engkau mengizinkanku hidup.”

“Aku berusaha karena Engkau memberiku kemampuan.”

“Aku belajar karena aku belum tahu.”

“Aku meminta ampun karena aku bisa salah.”

“Aku bersyukur karena tidak semua nikmat berasal dari usahaku.”

“Aku kembali karena aku tidak mempunyai tempat kembali yang lebih tinggi daripada kepada-Mu.”

Di situlah suara menemukan pangkalnya.


PENUTUP LEMBAR

Banyak manusia mencari suara paling tinggi.

Padahal yang perlu dicari mungkin justru suara paling awal.

Suara sebelum gengsi.

Suara sebelum citra.

Suara sebelum perlombaan.

Suara sebelum kebencian.

Suara sebelum manusia terlalu sibuk membangun dirinya di mata manusia lain.

Dan ketika suara itu ditemukan,

ia tidak berkata:

“Aku besar.”

Ia berkata:

“Aku menerima kehidupan.”

Ia tidak berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

Ia berkata:

“Aku makhluk yang bergantung kepada Alloh.”

Ia tidak berkata:

“Semua harus tunduk kepadaku.”

Ia berkata:

“Aku harus belajar menundukkan diriku kepada kebaikan.”

Maka kembalilah lebih dalam.

Bukan hanya dari keramaian menuju hening.

Tetapi dari hening menuju asal kesadaran.

Sebab mungkin di sanalah manusia kembali menemukan suara yang tidak pernah benar-benar hilang:

suara seorang hamba yang mengetahui bahwa dirinya hidup, terbatas, membutuhkan, dan sedang menuju Alloh.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA ASAL MENJADI AMANAH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setelah manusia menemukan bahwa suara terdalamnya bukan sekadar bunyi,

bukan sekadar kata,

bukan sekadar tangis,

bukan sekadar doa,

maka datang pertanyaan berikutnya:

“Untuk apa suara ini diberikan kepadaku?”

Sebab suara bukan hanya kemampuan.

Suara adalah amanah.

Dengan suara, manusia dapat menghibur.

Dengan suara, manusia dapat menipu.

Dengan suara, manusia dapat membela yang lemah.

Dengan suara, manusia dapat menindas.

Dengan suara, manusia dapat menyatukan.

Dengan suara, manusia dapat memecah.

Maka ketika suara dikembalikan kepada asalnya,

manusia mulai memahami bahwa setiap ucapan bukan hanya kebebasan.

Ia juga tanggung jawab.


1. SUARA TIDAK DIBERIKAN HANYA UNTUK DIDENGAR

Banyak manusia ingin suaranya didengar.

Tetapi sedikit yang bertanya:

“Apakah suaraku layak didengar?”

Sedikit yang bertanya:

“Apakah suaraku membawa manfaat?”

“Apakah suaraku membawa kejujuran?”

“Apakah suaraku memperbaiki?”

“Apakah suaraku hanya menambah kebisingan?”

Sebab keinginan didengar dapat berasal dari dua tempat.

Satu dari amanah.

Satu dari ego.

Amanah berkata:

“Ada sesuatu yang perlu kusampaikan.”

Ego berkata:

“Aku harus diperhatikan.”

Keduanya terdengar hampir sama.

Tetapi buahnya berbeda.


2. AMANAH SUARA BUKAN KEKUASAAN ATAS MANUSIA

Ketika seseorang mulai memiliki banyak pendengar,

ia mudah merasa bahwa suara itu miliknya sepenuhnya.

Ia mulai berpikir:

“Karena mereka mendengarkanku, berarti aku benar.”

Padahal jumlah pendengar bukan ukuran kebenaran.

Popularitas bukan kesucian.

Pengaruh bukan bukti kemuliaan.

Semakin banyak orang mendengar,

semakin berat amanah.

Bukan semakin besar alasan untuk merasa tinggi.

Sebab satu kalimat dari orang yang dipercaya dapat mengubah keputusan banyak manusia.

Maka pemilik suara harus lebih takut kepada kesalahan dirinya

daripada sibuk menikmati banyaknya pengikut.


3. SUARA YANG DITITIPKAN UNTUK MEMBELA

Ada saat ketika diam menjadi salah.

Ketika orang lemah diinjak.

Ketika seseorang difitnah.

Ketika ketidakadilan dinormalisasi.

Ketika kebohongan dipaksakan sebagai kebenaran.

Di situlah suara dapat menjadi amanah.

Namun membela tidak sama dengan menghancurkan.

Membela yang terzalimi bukan izin untuk menzalimi pihak lain.

Menegakkan kebenaran bukan izin untuk memproduksi kebencian.

Maka suara yang amanah berkata:

“Aku akan tegas pada perbuatan yang salah, tetapi aku tidak ingin kehilangan keadilan ketika membelanya.”


4. SUARA YANG DITITIPKAN UNTUK MENENANGKAN

Tidak semua suara harus mengguncang.

Ada suara yang tugasnya menenangkan.

Saat orang kehilangan harapan,

satu kalimat dapat menjadi pegangan.

Saat seseorang merasa dirinya tidak berharga,

satu ucapan dapat membuatnya kembali berdiri.

Saat keluarga bertengkar,

satu orang yang mampu berkata dengan jernih dapat mencegah luka menjadi lebih dalam.

Maka jangan meremehkan suara yang lembut.

Kadang dunia tidak membutuhkan suara yang lebih keras.

Dunia membutuhkan suara yang lebih jernih.


5. AMANAH UNTUK TIDAK BERBICARA

Ada pula saat ketika amanah suara justru berupa diam.

Mengetahui rahasia seseorang

tidak berarti berhak menyebarkannya.

Mengetahui kelemahan seseorang

tidak berarti berhak mempermalukannya.

Mendengar cerita pribadi

tidak berarti boleh menjadikannya bahan perbincangan.

Di sinilah lidah diuji.

Apakah ia mampu menyimpan?

Apakah ia mampu menjaga?

Apakah ia mampu berkata:

“Ini bukan hakku untuk menyebarkannya.”

Tidak semua pengetahuan adalah izin untuk berbicara.


6. SUARA DAN KESETIAAN KEPADA KEBENARAN

Suara yang amanah tidak hanya berani mengoreksi orang lain.

Ia juga berani mengoreksi dirinya sendiri.

Jika kemarin berkata sesuatu yang salah,

ia mampu berkata:

“Aku keliru.”

Jika memperoleh informasi baru,

ia mampu memperbaiki pendapat.

Jika menyakiti,

ia mampu meminta maaf.

Karena kesetiaan kepada kebenaran lebih tinggi daripada kesetiaan kepada gengsi.

Orang yang selalu mempertahankan dirinya

belum tentu mempertahankan kebenaran.

Kadang ia hanya mempertahankan citra.


7. SUARA YANG TIDAK DIJUAL KEPADA PUJIAN

Amanah suara menjadi rusak ketika manusia mulai berbicara hanya untuk mendapatkan tepuk tangan.

Ia berkata apa yang disukai pendengar.

Ia menghindari apa yang benar karena takut kehilangan pengikut.

Ia membesar-besarkan cerita agar tampak hebat.

Ia mulai menyesuaikan kebenaran dengan kepentingan.

Di situlah suara kehilangan kemerdekaan.

Sebab ia tidak lagi tunduk kepada kejujuran.

Ia tunduk kepada pujian.

Maka suara yang kembali ke asalnya harus mampu berkata:

“Aku lebih memilih kehilangan tepuk tangan daripada kehilangan kejujuran.”


8. SUARA YANG TIDAK MENJADIKAN ALLOH SEBAGAI PEMBENAR EGO

Ada bahaya besar ketika manusia menggunakan nama Alloh untuk menguatkan keinginan pribadinya.

Ia berkata seolah-olah setiap pikirannya adalah kehendak Alloh.

Seolah-olah setiap kemarahannya adalah kemarahan Alloh.

Seolah-olah setiap pilihannya pasti disahkan langit.

Di sinilah manusia harus sangat berhati-hati.

Nama Alloh bukan alat untuk membesarkan ego.

Justru ketika menyebut nama Alloh,

manusia semestinya semakin takut berkata tanpa dasar.

Semakin rendah hati.

Semakin sadar bahwa dirinya dapat salah memahami.

Maka lebih selamat berkata:

“Menurut pemahamanku…”

daripada mengangkat pendapat diri menjadi suara Tuhan.


9. KETIKA SUARA MENJADI WARISAN

Suara dapat hidup lebih lama daripada tubuh.

Ucapan orang tua tinggal di kepala anak-anaknya.

Nasihat guru tinggal di hati murid.

Perkataan pemimpin tinggal dalam sejarah.

Tulisan seseorang dapat dibaca setelah dirinya tiada.

Maka tanyakan:

“Jika suaraku tetap hidup ketika aku sudah tidak ada, suara seperti apa yang ingin kutinggalkan?”

Suara kebencian?

Suara kesombongan?

Suara penghinaan?

Atau suara yang membuat manusia lebih jernih,

lebih berani berbuat baik,

lebih mampu memaafkan,

lebih sadar kepada Alloh?

Di sanalah amanah suara menjadi sangat panjang.


10. KETIKA SUARA ASAL BERKATA: JANGAN MILIKI AKU

Pada tingkat terdalam,

suara seolah berkata kepada manusia:

“Jangan menganggap aku milikmu sepenuhnya.”

Sebab kemampuan berbicara dapat hilang.

Pendengaran dapat hilang.

Ingatan dapat hilang.

Kesempatan dapat berakhir.

Maka suara adalah titipan selama hidup.

Bukan kepemilikan mutlak.

Hari ini manusia mampu berbicara.

Besok mungkin tidak.

Hari ini manusia didengar.

Besok namanya mungkin dilupakan.

Karena itu jangan gunakan suara hanya untuk membangun nama.

Gunakan suara untuk meninggalkan manfaat.


PENUTUP LEMBAR

Ketika suara dikembalikan kepada asalnya,

manusia akhirnya memahami:

suara bukan sekadar alat untuk menyatakan diri.

Ia adalah amanah untuk menjaga kebenaran.

Amanah untuk menjaga hati.

Amanah untuk menjaga sesama.

Amanah untuk menjaga diri dari kesombongan.

Maka sebelum berkata,

tanyakan:

“Apakah ini perlu?”

“Apakah ini benar?”

“Apakah ini adil?”

“Apakah aku siap menanggung akibatnya?”

Dan setelah berkata,

jangan hanya melihat siapa yang bertepuk tangan.

Lihat apa yang tumbuh dari ucapan itu.

Sebab suara yang berasal dari amanah tidak selalu membuat pemiliknya terkenal.

Tetapi ia membuat dirinya lebih bertanggung jawab.

Dan mungkin inilah salah satu bentuk kepulangan suara:

dari keinginan untuk didengar
menuju kesadaran untuk mempertanggungjawabkan.

Dari ego:

“Dengarkan aku.”

Menuju amanah:

“Ya Alloh, jagalah agar yang keluar dari lisanku tidak menjadi sebab kezaliman.”

Dan ketika manusia sampai pada kesadaran itu,

ia tidak lagi bertanya:

“Seberapa kuat suaraku?”

Ia bertanya:

“Seberapa bersih asal suaraku, dan untuk siapa ia kupergunakan?”

Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA

KETIKA SUARA ASAL MENJADI TIMBANGAN DIRI

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setelah suara dipahami sebagai amanah,

manusia perlu melangkah lebih dalam.

Bukan lagi hanya bertanya:

“Apa yang aku ucapkan?”

Tetapi:

“Apa yang ucapanku tunjukkan tentang diriku?”

Sebab suara adalah jejak batin.

Ia membuka sesuatu yang terkadang tidak disadari oleh pemiliknya sendiri.

Orang yang mudah menghina sedang memperlihatkan sesuatu.

Orang yang terus mencari pujian sedang memperlihatkan sesuatu.

Orang yang mampu mengaku salah juga sedang memperlihatkan sesuatu.

Maka suara dapat menjadi timbangan.

Bukan untuk menimbang orang lain terlebih dahulu,

tetapi untuk menimbang diri sendiri.


1. JANGAN CEPAT MENIMBANG SUARA ORANG LAIN

Manusia mudah menjadi hakim.

Mendengar satu kalimat,

langsung menyimpulkan seluruh pribadi.

Melihat satu kesalahan,

langsung memberi cap.

Mendengar satu pendapat,

langsung menempatkan seseorang dalam kotak.

Padahal satu suara belum tentu mewakili seluruh perjalanan seseorang.

Orang dapat berbicara dari luka.

Dari ketakutan.

Dari ketidaktahuan.

Dari kelelahan.

Dari keadaan yang tidak kita ketahui.

Maka suara asal mengajarkan kehati-hatian:

“Jangan jadikan satu ucapan sebagai alasan untuk merampas seluruh martabat seseorang.”


2. TIMBANG DIRI SEBELUM MENIMBANG DUNIA

Sebelum berkata:

“Dia sombong,”

tanyakan:

“Apakah aku juga ingin merasa lebih tinggi darinya?”

Sebelum berkata:

“Dia munafik,”

tanyakan:

“Apakah hidupku sendiri sudah sepenuhnya selaras antara ucapan dan tindakan?”

Sebelum berkata:

“Dia bodoh,”

tanyakan:

“Apakah aku sedang membantu atau hanya merendahkan?”

Sebelum berkata:

“Dia sesat,”

tanyakan:

“Apakah aku sudah cukup memahami untuk memberi penilaian seberat itu?”

Pertanyaan seperti ini bukan membuat manusia kehilangan ketegasan.

Ia hanya mencegah ketegasan berubah menjadi kesombongan.


3. SUARA YANG MENJADI UKURAN KEDEWASAAN

Kedewasaan tidak selalu terlihat dari banyaknya ilmu.

Kadang ia terlihat dari cara berbicara.

Apakah seseorang mampu berbeda tanpa menghina?

Mampu marah tanpa kehilangan kendali?

Mampu mengoreksi tanpa mempermalukan?

Mampu meminta maaf?

Mampu mendengar?

Mampu mengakui:

“Aku belum tahu.”

Inilah tanda-tanda bahwa suara tidak lagi hanya dipakai untuk mempertahankan ego.

Ia mulai dipakai untuk menjaga kebenaran dan hubungan.


4. TIMBANGAN SUARA: APA YANG TUMBUH SETELAHNYA?

Setelah engkau berbicara,

lihatlah buahnya.

Apakah orang menjadi lebih jelas?

Atau semakin bingung?

Apakah ia menjadi lebih kuat?

Atau semakin hancur?

Apakah hubungan menjadi lebih sehat?

Atau hanya meninggalkan dendam?

Apakah kebenaran menjadi lebih terlihat?

Atau justru tertutup oleh cara penyampaian yang kasar?

Buah tidak selalu menentukan benar-salahnya isi,

tetapi buah membantu manusia melihat kualitas caranya.

Kebenaran tetap kebenaran.

Namun cara menyampaikan kebenaran juga merupakan amanah.


5. SUARA YANG TIDAK TAKUT DITIMBANG

Ego senang menimbang orang lain,

tetapi takut ditimbang.

Ia senang mengoreksi,

tetapi marah ketika dikoreksi.

Ia senang menuntut keterbukaan,

tetapi menyembunyikan kesalahannya sendiri.

Suara yang kembali kepada asalnya mulai berani berkata:

“Silakan tunjukkan jika aku keliru.”

Bukan karena lemah.

Tetapi karena lebih mencintai perbaikan daripada citra.

Orang yang tidak pernah mau dikoreksi

akan perlahan menjadi tahan terhadap kebenaran.


6. SUARA DAN RASA MALU YANG SEHAT

Ada rasa malu yang merusak.

Yaitu malu menjadi diri sendiri.

Malu meminta bantuan.

Malu mengakui kekurangan.

Tetapi ada rasa malu yang menyelamatkan.

Yaitu malu ketika menyadari telah menyakiti.

Malu ketika menggunakan ilmu untuk merendahkan.

Malu ketika memakai nama Alloh untuk membesarkan ego.

Malu ketika terlalu mudah menghakimi manusia.

Rasa malu seperti ini bukan kehancuran.

Ia adalah tanda bahwa hati masih hidup.


7. TIMBANGAN ANTARA KERAS DAN TEGAS

Banyak orang mengira suara keras adalah suara kuat.

Padahal tidak selalu.

Ada suara keras karena panik.

Ada suara keras karena kehilangan kendali.

Ada suara keras karena tidak mampu menjelaskan dengan jernih.

Ketegasan tidak bergantung pada volume.

Tegas adalah jelas.

Memiliki batas.

Tidak mudah dibelokkan.

Tetapi tetap mampu menjaga adab.

Maka suara asal berkata:

“Jangan ukur kekuatan dari kerasnya suara. Ukur dari kejernihan arah dan keteguhan tanggung jawab.”


8. TIMBANGAN ANTARA DIAM DAN BIJAK

Diam juga harus ditimbang.

Ada diam karena bijak.

Ada diam karena takut.

Ada diam karena menjaga rahasia.

Ada diam karena tidak peduli.

Ada diam karena sedang menenangkan diri.

Ada diam karena membiarkan kezaliman.

Maka jangan menganggap semua diam adalah kebijaksanaan.

Tanyakan:

“Diamku ini menjaga kebaikan atau justru meninggalkan amanah?”

Di situlah hening pun harus jujur.


9. SUARA YANG PALING BERAT UNTUK DIUCAPKAN

Ada beberapa kalimat yang sangat pendek,

tetapi berat bagi ego.

“Aku salah.”

“Maafkan aku.”

“Aku belum tahu.”

“Aku membutuhkan bantuan.”

“Engkau benar pada bagian itu.”

Mengucapkan kalimat-kalimat itu sering lebih sulit daripada berpidato panjang.

Karena yang diruntuhkan bukan sekadar kata.

Tetapi citra diri.

Maka siapa yang mampu mengucapkannya dengan jujur,

sedang menimbang dirinya dengan timbangan yang lebih adil.


10. SUARA ASAL TIDAK MENCARI PEMBENARAN TERUS-MENERUS

Ketika manusia terus membutuhkan pembenaran,

ia mudah mengelilingi dirinya dengan orang yang hanya setuju.

Ia menjauh dari kritik.

Ia menolak pertanyaan.

Ia menganggap perbedaan sebagai ancaman.

Padahal suara yang matang tidak takut diperiksa.

Ia tahu bahwa pertanyaan dapat membersihkan.

Kritik dapat memperlihatkan titik buta.

Perbedaan dapat memperluas pemahaman.

Maka suara asal tidak berkata:

“Benarkan aku.”

Ia berkata:

“Bantu aku tetap dekat kepada yang benar.”


PENUTUP LEMBAR

Suara yang kembali kepada asalnya akhirnya menjadi timbangan.

Bukan timbangan untuk memperbesar hak menghakimi.

Tetapi timbangan untuk memperkecil kesombongan.

Sebelum menunjuk keluar,

ia menunjuk ke dalam.

Sebelum berkata:

“Mereka harus berubah,”

ia bertanya:

“Apa yang harus kuubah dalam diriku?”

Sebelum berkata:

“Mereka salah,”

ia bertanya:

“Apakah aku sudah cukup jernih?”

Sebelum berkata:

“Aku benar,”

ia bertanya:

“Apakah caraku membawa kebenaran juga benar?”

Dan mungkin di sinilah suara mulai benar-benar pulang.

Ketika ia tidak lagi digunakan untuk meninggikan pemiliknya,

tetapi untuk membersihkan pemiliknya.

Jadikan suara sebagai cermin.
Jadikan ucapan sebagai timbangan.
Jadikan koreksi sebagai jalan belajar.
Dan jadikan kejujuran sebagai pintu agar ego tidak mengambil tempat yang bukan miliknya.

Wallohu a‘lam.


LEMBAR TERAKHIR

KETIKA SELURUH SUARA KEMBALI KEPADA ASALNYA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Pada akhirnya,

setelah begitu banyak suara terdengar,

setelah manusia berbicara tentang dirinya,

tentang orang lain,

tentang kebenaran,

tentang kesalahan,

tentang cinta,

tentang luka,

tentang agama,

tentang kekuasaan,

tentang doa,

tentang dunia,

tentang langit,

tentang hidup,

dan tentang kematian,

akan datang satu kesadaran yang sangat sederhana:

tidak semua suara harus dibawa sampai akhir.

Ada suara yang harus ditinggalkan.

Ada suara yang harus dibersihkan.

Ada suara yang harus dimintakan ampun.

Ada suara yang harus dikembalikan kepada pemilik haknya.

Ada suara yang harus berubah menjadi diam.

Ada diam yang harus berubah menjadi doa.

Dan ada doa yang akhirnya harus kembali menjadi penyerahan.

Sebab perjalanan suara bukan hanya perjalanan dari mulut menuju telinga.

Perjalanan suara adalah perjalanan dari asal niat, menuju ucapan, menuju akibat, menuju pertanggungjawaban, lalu kembali kepada Alloh.


1. PADA MULANYA MANUSIA DATANG TANPA SUARA YANG DIBANGGAKAN

Tidak ada manusia lahir membawa pidato.

Tidak ada bayi lahir membawa gelar.

Tidak ada yang lahir membawa mazhab, jabatan, kekayaan, kehormatan, pengikut, atau tepuk tangan.

Ia datang dalam keadaan lemah.

Tangisnya sederhana.

Tubuhnya membutuhkan bantuan.

Ia belum mengenal gengsi.

Belum mengenal kemenangan.

Belum mengenal kekalahan.

Belum mengenal kalimat:

“Aku lebih tinggi.”

Belum mengenal kalimat:

“Aku paling benar.”

Belum mengenal kalimat:

“Mereka harus tunduk kepadaku.”

Pada titik itu,

suara manusia sangat dekat dengan asal kebutuhan:

aku lapar,
aku takut,
aku membutuhkan kehangatan,
aku membutuhkan perlindungan,
aku hidup karena ada yang menghidupkan.

Lalu manusia tumbuh.

Ia belajar bahasa.

Ia belajar nama.

Ia belajar kedudukan.

Ia belajar kepemilikan.

Ia belajar mempertahankan diri.

Dan perlahan-lahan,

suara sederhana itu tertutup oleh ribuan lapisan.


2. SUARA MULAI TERBELAH

Ketika manusia dewasa,

satu suara menjadi banyak.

Suara ruh berkata:

“Jangan kehilangan arah.”

Suara akal berkata:

“Pertimbangkan akibatnya.”

Suara rasa berkata:

“Aku terluka.”

Suara ego berkata:

“Balas.”

Suara ketakutan berkata:

“Jangan berubah, nanti engkau kehilangan semuanya.”

Suara cinta berkata:

“Jaga.”

Suara iri berkata:

“Mengapa bukan aku?”

Suara kesombongan berkata:

“Aku lebih tinggi.”

Suara luka berkata:

“Jangan percaya lagi.”

Suara kerinduan berkata:

“Pulanglah.”

Manusia kemudian hidup di tengah keramaian yang bukan hanya berada di luar,

tetapi juga di dalam dirinya sendiri.

Karena itu tidak mengherankan jika manusia terkadang kebingungan:

suara mana yang harus kuikuti?

Di sinilah perjalanan Qitab ini bermula.

Bukan untuk mematikan semua suara.

Tetapi untuk mengembalikan setiap suara kepada tempatnya.


3. RASA HARUS KEMBALI MENJADI RASA

Rasa tidak boleh dijadikan Tuhan.

Ia juga tidak boleh dibunuh.

Rasa harus dikembalikan menjadi rasa.

Jika sedih,

akui sedih.

Jika takut,

akui takut.

Jika kecewa,

akui kecewa.

Jika marah,

akui marah.

Jangan mengubah rasa menjadi hukum mutlak.

Karena hanya karena engkau merasa dibenci,

belum tentu semua orang membencimu.

Hanya karena engkau merasa gagal,

belum berarti hidupmu gagal.

Hanya karena engkau merasa takut,

belum berarti bahaya benar-benar ada.

Hanya karena engkau marah,

belum berarti engkau otomatis benar.

Rasa adalah pesan.

Ia perlu dibaca.

Bukan disembah.

Ketika rasa dikembalikan kepada asalnya,

ia menjadi guru kepekaan.

Bukan penguasa kehidupan.


4. AKAL HARUS KEMBALI MENJADI PENIMBANG

Akal pun harus kembali.

Bukan menjadi mesin pembenaran ego.

Bukan menjadi senjata untuk mempermalukan orang yang lebih sederhana.

Bukan menjadi alat untuk membuat manusia merasa lebih tinggi.

Akal yang sehat bertanya:

“Apa yang benar?”

Akal yang telah dikuasai ego bertanya:

“Bagaimana caranya agar aku tetap terlihat benar?”

Akal yang sehat berani mengubah pendapat jika bukti berubah.

Akal yang dikuasai ego menolak segala sesuatu yang mengancam harga diri.

Maka akal harus kembali menjadi timbangan.

Jernih.

Terbuka.

Berani diuji.

Berani berkata:

“Aku belum tahu.”

Sebab tidak mengetahui bukan dosa.

Yang berbahaya adalah berpura-pura mengetahui lalu menyesatkan diri sendiri.


5. EGO HARUS KEMBALI MENJADI PELAYAN, BUKAN RAJA

Ego tidak perlu dimusnahkan.

Tanpa kesadaran diri,

manusia tidak dapat menjaga batas.

Tidak dapat membela diri.

Tidak dapat berdiri.

Namun ego harus ditempatkan.

Ia bukan raja.

Ia bukan pusat alam.

Ia bukan sumber kebenaran.

Ia hanya bagian dari diri yang membantu manusia menjaga keberadaannya.

Ketika ego menjadi raja,

segala sesuatu diputar mengelilingi “aku”.

Aku ingin dipuji.

Aku ingin menang.

Aku ingin benar.

Aku ingin diikuti.

Aku ingin dihormati.

Aku ingin dikenal.

Aku ingin dianggap dekat kepada Alloh.

Aku ingin dianggap memiliki rahasia.

Aku ingin dianggap sudah sampai.

Di sanalah ego mulai memakai pakaian ruhani.

Dan ketika ego memakai pakaian ruhani,

bahayanya lebih halus.

Sebab kesombongan tidak lagi terlihat seperti kesombongan.

Ia terlihat seperti kesalehan.


6. JANGAN MENJADIKAN NAMA ALLOH SEBAGAI TOPENG EGO

Ini salah satu timbangan terbesar.

Semakin seseorang membawa nama Alloh dalam ucapannya,

semestinya semakin berat tanggung jawab lisannya.

Jangan mudah berkata:

“Alloh pasti menghendaki ini,”

untuk sesuatu yang sebenarnya hanya kehendak pribadi.

Jangan mudah berkata:

“Alloh bersama kelompokku,”

lalu memperlakukan kelompok lain tanpa keadilan.

Jangan mudah berkata:

“Aku mendapat kepastian dari langit,”

untuk menutup pintu koreksi.

Sebab manusia dapat salah memahami.

Dapat salah menafsirkan.

Dapat dipengaruhi harapan.

Dapat dipengaruhi ketakutan.

Dapat dipengaruhi ego.

Maka semakin tinggi sebuah klaim,

semakin besar kebutuhan akan kerendahan hati.

Nama Alloh tidak meninggikan ego.

Nama Alloh semestinya merendukkan ego.


7. AGAMA HARUS KEMBALI MENJADI JALAN AKHLAK

Jika suara agama hanya membuat manusia lebih mudah menghina,

ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Jika semakin banyak bicara tentang Tuhan tetapi semakin keras kepada manusia,

ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Jika semakin banyak ibadah tetapi semakin tidak mampu meminta maaf,

ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Jika semakin banyak ilmu tetapi semakin banyak penghinaan,

ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Sebab agama yang matang tidak hanya terdengar pada lidah.

Ia terlihat pada akhlak.

Pada kejujuran.

Pada tanggung jawab.

Pada cara menjaga yang lemah.

Pada cara memperlakukan yang berbeda.

Pada cara menerima koreksi.

Pada cara menahan diri ketika mempunyai kekuasaan untuk membalas.

Maka suara agama harus kembali kepada rahmat,

keadilan,

amanah,

dan penghambaan.


8. KEKUASAAN HARUS KEMBALI MENJADI TITIPAN

Setiap suara yang mempunyai pengaruh adalah kekuasaan.

Suara orang tua kepada anak.

Suara guru kepada murid.

Suara pemimpin kepada rakyat.

Suara tokoh kepada pengikut.

Suara orang terkenal kepada banyak orang.

Pengaruh bukan hanya kemuliaan.

Pengaruh adalah beban.

Semakin banyak manusia yang percaya kepada ucapanmu,

semakin berat akibat jika engkau keliru.

Maka jangan ukur keberhasilan suara dari seberapa banyak orang mengikuti.

Ukur juga dari:

seberapa banyak kebaikan yang lahir setelah mereka mendengar.

Apakah mereka menjadi lebih jernih?

Lebih bertanggung jawab?

Lebih beradab?

Lebih dekat kepada Alloh?

Atau justru menjadi lebih fanatik kepada pribadi?

Jika manusia semakin bergantung kepada tokoh dan semakin jauh dari kemampuan berpikir,

suara itu perlu diperiksa kembali.


9. LUKA HARUS KEMBALI MENJADI PELAJARAN

Tidak sedikit suara kasar lahir dari luka.

Orang yang pernah dipermalukan bisa tumbuh menjadi orang yang gemar mempermalukan.

Orang yang pernah ditolak bisa menjadi orang yang takut mencintai.

Orang yang pernah dikhianati bisa menjadi orang yang mencurigai semua manusia.

Namun luka bukan takdir.

Luka adalah bagian dari perjalanan.

Ia bisa diwariskan,

atau dihentikan.

Suara yang kembali kepada asalnya berkata:

“Aku memang terluka, tetapi aku tidak ingin membuat orang lain membayar luka yang bukan mereka sebabkan.”

Di situ luka mulai berubah menjadi ilmu.


10. CINTA HARUS KEMBALI MENJADI PEMELIHARAAN

Cinta yang dikuasai ego berkata:

“Engkau milikku.”

Cinta yang mulai jernih berkata:

“Aku ingin kebaikanmu.”

Cinta yang dikuasai ketakutan berkata:

“Jangan pernah meninggalkanku.”

Cinta yang matang berkata:

“Aku akan menjagamu tanpa merampas kebebasan dan martabatmu.”

Demikian pula cinta kepada Alloh.

Ia bukan hanya ucapan:

“Aku mencintai Alloh.”

Ia terlihat dari apa yang manusia lakukan setelah mengucapkannya.

Apakah ia semakin jujur?

Semakin adil?

Semakin menjaga amanah?

Semakin mampu menahan kezaliman?

Jika tidak,

maka suara cinta mungkin masih membutuhkan perjalanan panjang menuju asalnya.


11. DOA HARUS KEMBALI MENJADI PENYERAHAN

Pada awalnya manusia banyak meminta.

Dan meminta tidak salah.

Tetapi dalam perjalanan,

doa perlu tumbuh.

Dari:

“Ya Alloh, berikan yang aku mau.”

menjadi:

“Ya Alloh, berikan yang baik bagiku.”

Dari:

“Ya Alloh, hilangkan semua kesulitan.”

menjadi:

“Ya Alloh, kuatkan aku menghadapi yang harus kulewati.”

Dari:

“Ya Alloh, ubah semua orang.”

menjadi:

“Ya Alloh, jangan lewatkan diriku dari perubahan.”

Dari:

“Ya Alloh, menangkan aku.”

menjadi:

“Ya Alloh, jangan biarkan aku menang dengan cara yang membuatku kehilangan-Mu.”

Di sanalah doa mulai kembali ke asalnya.


12. DIAM HARUS KEMBALI MENJADI KESADARAN

Diam bukan hanya berhenti bicara.

Diam adalah ruang.

Ruang untuk melihat.

Ruang untuk menimbang.

Ruang untuk memahami.

Ruang untuk menyadari bahwa tidak semua perang layak diikuti.

Tetapi diam juga harus jujur.

Ada diam karena bijaksana.

Ada diam karena takut.

Ada diam karena menjaga.

Ada diam karena membiarkan.

Maka bahkan diam pun harus diperiksa.

Hening yang sejati tidak mematikan keberanian.

Ia membersihkan keberanian.


13. KETIKA SUARA KEHILANGAN KEBUTUHAN UNTUK MENANG

Ini salah satu tanda kepulangan.

Manusia masih dapat berbeda.

Masih dapat menolak.

Masih dapat menyampaikan pendapat.

Tetapi ia tidak lagi mengukur dirinya dari kemenangan.

Ia dapat berkata:

“Aku berbeda denganmu.”

tanpa:

“Karena itu aku membencimu.”

Ia dapat berkata:

“Menurutku engkau keliru.”

tanpa:

“Karena itu engkau tidak memiliki martabat.”

Ia dapat kalah dalam perdebatan

tanpa merasa dirinya hancur.

Ia dapat menang

tanpa merendahkan.

Di situlah suara mulai dewasa.


14. KETIKA SUARA KEHILANGAN KEBUTUHAN UNTUK DIPUJI

Pujian adalah ujian suara.

Ketika banyak orang memuji,

ego berkata:

“Lihatlah, engkau luar biasa.”

Kesadaran menjawab:

“Ini amanah.”

Ketika orang tidak lagi memuji,

ego panik.

Kesadaran berkata:

“Nilai kebaikan tidak seluruhnya ditentukan tepuk tangan.”

Manusia yang suaranya kembali kepada asal dapat tetap bekerja walau tidak dilihat.

Tetap berbuat baik walau tidak disebut.

Tetap menjaga kebenaran walau tidak populer.

Karena tujuan utamanya tidak lagi:

“Aku ingin dikenang.”

Tetapi:

“Aku ingin amanah ini memiliki manfaat.”


15. KETIKA SUARA KEHILANGAN KEBUTUHAN UNTUK MENJADI SUCI DI MATA MANUSIA

Salah satu beban terbesar adalah menjaga citra kesucian.

Manusia menjadi takut mengaku salah.

Takut mengaku bingung.

Takut mengaku pernah jatuh.

Padahal pengakuan kesalahan tidak otomatis menjadikan manusia hina.

Justru kemampuan mengakui kesalahan sering menjadi awal perbaikan.

Maka suara yang mulai pulang berkata:

“Aku bukan manusia tanpa salah.”

“Aku manusia yang ingin terus memperbaiki.”


16. KETIKA SELURUH LABEL DILEPASKAN

Bayangkan semua label dilepaskan.

Nama.

Jabatan.

Gelar.

Kekayaan.

Bangsa.

Kelompok.

Popularitas.

Jumlah pengikut.

Pandangan manusia.

Apa yang tinggal?

Seorang manusia.

Bernapas.

Terbatas.

Pernah takut.

Pernah berharap.

Pernah salah.

Pernah menangis.

Pernah mencintai.

Akan mati.

Dan akan kembali kepada Alloh.

Kesadaran ini bukan menghapus perbedaan.

Ia hanya menempatkan perbedaan pada ukurannya.

Agar manusia tidak menjadikan label lebih besar daripada kemanusiaan.


17. PENGEMBALIAN SUARA BUKAN PENYERAGAMAN

Ketika semua suara kembali kepada asalnya,

bukan berarti semua manusia harus berkata sama.

Bukan berarti semua pemikiran harus menjadi satu.

Bukan berarti semua kebudayaan harus hilang.

Bukan berarti perbedaan harus dimusnahkan.

Asal suara bukan keseragaman.

Asal suara adalah kejernihan.

Orang yang jernih tetap bisa berbeda.

Tetapi ia tidak harus membenci.

Ia tetap bisa keras pada prinsip.

Tetapi tidak kejam.

Ia tetap bisa menjaga identitas.

Tetapi tidak merampas martabat orang lain.

Maka kepulangan suara bukan menghapus warna.

Ia menghapus racun.


18. KETIKA BAHASA MANUSIA KEMBALI KEPADA MAKNA

Dunia mempunyai ribuan bahasa.

Tetapi kasih tidak membutuhkan satu bahasa saja.

Air mata tidak membutuhkan satu bahasa.

Kelaparan tidak membutuhkan satu bahasa.

Kehilangan tidak membutuhkan satu bahasa.

Doa hati dapat lahir dalam bahasa apa pun.

Alloh tidak dibatasi oleh bahasa manusia.

Bahasa adalah jalan manusia untuk menyampaikan.

Bukan batas kuasa Alloh untuk mengetahui.

Maka jangan jadikan bahasa sebagai tembok kesombongan.

Gunakan bahasa sebagai jembatan pemahaman.

Sebab tujuan suara bukan hanya berbunyi.

Tujuannya adalah membawa makna.


19. KETIKA SUARA KEMBALI MENJADI SAKSI

Ada saat ketika manusia harus menatap seluruh ucapannya sendiri.

Bayangkan semua kata yang pernah keluar dikumpulkan kembali.

Ucapan kepada orang tua.

Ucapan kepada pasangan.

Ucapan kepada anak.

Ucapan kepada sahabat.

Ucapan kepada orang asing.

Ucapan ketika marah.

Ucapan ketika dipuji.

Ucapan ketika berkuasa.

Ucapan ketika merasa benar.

Lalu manusia bertanya:

“Jika semuanya diperdengarkan kembali kepadaku, apakah aku siap mendengarnya?”

Jika belum,

maka masih ada waktu selama hidup.

Minta maaf.

Perbaiki.

Berhenti mengulang.

Ubah arah.

Sebab manusia tidak dapat menghapus masa lalu,

tetapi dapat mengubah apa yang lahir setelah kesadaran.


20. KETIKA SUARA KEMBALI MENJADI AMANAH TERAKHIR

Sebelum wafat,

manusia mungkin meninggalkan banyak hal.

Harta.

Bangunan.

Tulisan.

Anak.

Nama.

Tetapi ia juga meninggalkan suara.

Nasihat yang diingat.

Ucapan yang melukai.

Kalimat yang menguatkan.

Ajakan yang diteruskan.

Tulisan yang masih dibaca.

Maka jagalah apa yang engkau tinggalkan.

Sebab mungkin tubuhmu berhenti,

tetapi kata-katamu terus berjalan.

Jangan tinggalkan suara yang membuat manusia semakin membenci.

Tinggalkan suara yang membantu mereka lebih jernih.

Jangan tinggalkan suara yang membuat orang memuja dirimu.

Tinggalkan suara yang mengingatkan mereka kepada Alloh.


21. SAAT SEMUA SUARA BERHENTI

Akan datang satu hari ketika lidah berhenti.

Tidak ada lagi bantahan.

Tidak ada lagi pembelaan.

Tidak ada lagi tepuk tangan.

Tidak ada lagi komentar.

Tidak ada lagi pengikut yang dapat menyelamatkan.

Tidak ada lagi panggung.

Tubuh diam.

Suara dunia selesai.

Dan manusia memasuki keadaan yang tidak bisa lagi diatur oleh pidatonya.

Di titik itu,

pertanyaan yang penting bukan:

“Seberapa keras aku pernah berbicara?”

Tetapi:

“Apa yang kulakukan dengan kehidupan dan suara yang dititipkan kepadaku?”


22. SUARA TERAKHIR BUKAN MILIK EGO

Jika perjalanan ini dijalani dengan jernih,

suara terakhir tidak lagi berkata:

“Aku.”

Ia mulai berkata:

“Ya Alloh.”

Bukan sebagai pelarian.

Tetapi sebagai pengakuan.

Aku bukan sumber hidupku.

Aku bukan pemilik seluruh hasil.

Aku bukan penguasa waktu.

Aku bukan pemilik mutlak tubuh ini.

Aku datang.

Aku hidup.

Aku berjalan.

Aku salah.

Aku belajar.

Aku mencintai.

Aku terluka.

Aku memperbaiki.

Dan akhirnya aku kembali.


23. KETIKA SEMUA UMAT MANUSIA SUARANYA DIKEMBALIKAN KE ASAL SUARANYA

Bayangkan seluruh umat manusia berdiri tanpa pangkat.

Raja dan rakyat.

Kaya dan miskin.

Guru dan murid.

Terkenal dan tidak dikenal.

Orang yang dipuji dan orang yang dilupakan.

Masing-masing tidak lagi membawa suara buatan.

Tidak lagi membawa citra.

Tidak lagi membawa kebisingan ego.

Suara kembali kepada asal.

Yang takut mengaku takut.

Yang salah mengaku salah.

Yang mencintai mengaku cinta.

Yang menyakiti mengakui luka yang ditimbulkan.

Yang berbuat baik tidak lagi membutuhkan pujian.

Yang berkuasa menyadari amanah.

Yang berilmu menyadari keterbatasan.

Yang berdoa kembali menjadi hamba.

Dan di tengah semua itu,

tidak ada suara manusia yang menjadi Tuhan.

Semua kembali menjadi makhluk.

Inilah salah satu makna terdalam pengembalian suara:

manusia kembali mengetahui tempatnya.


24. SUARA ASAL TIDAK BERASAL DARI KESOMBONGAN

Ia tidak berkata:

“Aku sampai.”

Ia berkata:

“Aku terus berjalan.”

Ia tidak berkata:

“Aku mengetahui seluruh rahasia.”

Ia berkata:

“Alloh lebih mengetahui.”

Ia tidak berkata:

“Aku suci.”

Ia berkata:

“Ya Alloh, bersihkan aku.”

Ia tidak berkata:

“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”

Ia berkata:

“Aku membutuhkan rahmat-Mu.”

Ia tidak berkata:

“Dunia harus mendengarkanku.”

Ia berkata:

“Jagalah agar suaraku tidak menyesatkan diriku dan orang lain.”


25. KETIKA SATU SUARA TINGGAL DI DALAM HATI

Setelah semua kata panjang,

mungkin akhirnya hanya tinggal satu kesadaran:

“Aku adalah hamba.”

Kalimat ini sederhana.

Tetapi jika benar-benar hidup,

ia dapat meruntuhkan banyak kesombongan.

Hamba tidak menjadikan dirinya Tuhan.

Hamba tidak merasa menguasai seluruh rahasia.

Hamba tidak memerintah Alloh.

Hamba berusaha.

Memohon.

Belajar.

Berserah.

Dan bertanggung jawab.


26. KHATIMAH QITAB

Wahai manusia yang memiliki suara,

jangan hanya belajar bagaimana agar dunia mendengarmu.

Belajarlah juga mendengar dirimu sendiri.

Dengarkan apa yang bergerak sebelum kata.

Dengarkan luka sebelum ia berubah menjadi kebencian.

Dengarkan ego sebelum ia memakai pakaian kesucian.

Dengarkan rasa takut sebelum ia berubah menjadi kekerasan.

Dengarkan cinta sebelum ia berubah menjadi kepemilikan.

Dengarkan akal sebelum ia berubah menjadi pembenaran.

Dengarkan ruh sebelum ia tenggelam dalam kebisingan.

Dan ketika semuanya mulai jelas,

kembalikanlah suara kepada tempatnya.

Rasa menjadi rasa.

Akal menjadi penimbang.

Ego menjadi pelayan.

Lidah menjadi amanah.

Ilmu menjadi cahaya.

Agama menjadi akhlak.

Kekuasaan menjadi tanggung jawab.

Luka menjadi pelajaran.

Cinta menjadi pemeliharaan.

Doa menjadi penyerahan.

Hening menjadi kejernihan.

Dan manusia kembali menjadi hamba.


PENUTUP TERAKHIR

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI

Kembalikanlah suara sebelum ia dikembalikan.

Kembalikan kemarahan kepada sebabnya.

Kembalikan tangisan kepada lukanya.

Kembalikan cinta kepada ketulusannya.

Kembalikan ilmu kepada kerendahan hati.

Kembalikan kekuasaan kepada amanah.

Kembalikan pujian kepada Alloh.

Kembalikan kesalahan kepada taubat.

Kembalikan kebaikan kepada manfaat.

Kembalikan diri kepada kesadaran.

Dan kembalikan hidup kepada arah pulangnya.

Jangan tunggu sampai lidah berhenti untuk menyadari bahwa suara adalah titipan.

Jangan tunggu sampai manusia pergi untuk meminta maaf.

Jangan tunggu sampai kekuasaan hilang untuk belajar rendah hati.

Jangan tunggu sampai tubuh melemah untuk mengetahui bahwa manusia terbatas.

Jangan tunggu sampai akhir untuk kembali.

Pulanglah selagi pintu perbaikan masih terbuka.

Bicaralah bila harus berbicara.

Diamlah bila diam lebih menyelamatkan.

Tegurlah bila harus menegur.

Mintalah maaf bila harus meminta maaf.

Bela kebenaran tanpa kehilangan keadilan.

Pegang prinsip tanpa kehilangan kasih.

Gunakan agama tanpa menjadikannya senjata ego.

Gunakan ilmu tanpa menjadikannya tangga kesombongan.

Gunakan suara tanpa menjadikannya singgasana.

Sebab pada akhirnya,

suara yang paling indah bukan suara yang membuat seluruh dunia mengenal namamu.

Tetapi suara yang ketika terdengar,

membuat manusia kembali mengenal dirinya,

mengenal tanggung jawabnya,

mengenal sesamanya,

dan mengenal arah kepada Alloh.

Maka ketika seluruh suara umat manusia akhirnya kembali kepada asalnya,

semoga yang tersisa bukan kebisingan ego,

melainkan kejernihan pengakuan:

“Ya Alloh, kami datang dari keadaan lemah,
kami hidup dengan karunia-Mu,
kami berjalan dengan segala kekurangan,
kami berbicara dengan segala keterbatasan,
dan akhirnya kami kembali kepada-Mu.”

Tidak ada lagi suara yang perlu menyombongkan dirinya.

Tidak ada lagi panggung yang harus dipertahankan.

Tidak ada lagi gelar yang harus dibanggakan.

Hanya seorang hamba,

dengan seluruh perjalanan hidupnya,

berdiri di hadapan Alloh.

Dan di titik paling akhir,

setelah seluruh kebisingan berhenti,

setelah seluruh suara pulang,

setelah seluruh topeng runtuh,

mungkin yang tinggal hanyalah satu bisikan paling jernih:

“Alloh…”

Bukan karena kata lain tidak berharga.

Tetapi karena seluruh perjalanan akhirnya menemukan arah.

Dari-Nya kehidupan memperoleh izin.
Dengan izin-Nya manusia memperoleh suara.
Di hadapan-Nya suara menjadi amanah.
Dan kepada-Nya seluruh perjalanan kembali.

TAMMAT

تَمَّتْ بِإِذْنِ اللّٰهِ

Selesailah QITAB RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI — Ketika Semua Umat Manusia Suaranya Dikembalikan ke Asal Suaranya.

Wallohu a‘lam bish-showāb.


MANFAAT BAGI YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI QITAB INI

QITAB RUJŪ‘ ASH-SHAWT ILĀ ASHLIHI

رُجُوعُ الصَّوْتِ إِلَى أَصْلِهِ

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Qitab ini bukan untuk dibaca sebagai rangkaian kata semata.

Ia dimaksudkan sebagai cermin.

Cermin untuk melihat bagaimana suara lahir dari dalam diri.

Cermin untuk membedakan antara suara ruh, akal, rasa, luka, ketakutan, dan ego.

Cermin untuk memeriksa apakah suara yang keluar dari lisan benar-benar membawa kejernihan atau justru membawa kekacauan.

Bagi siapa yang membaca dengan tenang, jujur, dan mau menghayati, semoga Qitab ini memberi beberapa manfaat berikut.

1. Membantu Mengenali Asal Suara dalam Diri

Pembaca diajak untuk tidak langsung percaya kepada setiap dorongan batin.

Tidak semua yang terasa kuat adalah petunjuk.

Tidak semua kemarahan adalah kebenaran.

Tidak semua ketakutan adalah firasat.

Tidak semua keinginan adalah kebutuhan.

Dengan menghayati Qitab ini, seseorang dapat belajar bertanya:

“Dari mana suara ini berasal?”

Dari kejernihan?

Dari luka?

Dari gengsi?

Dari rasa takut?

Dari kasih?

Dari keinginan untuk menang?

Pertanyaan ini dapat menjadi pintu kesadaran.

2. Membantu Menjaga Lisan

Qitab ini mengingatkan bahwa kata yang keluar tidak selalu dapat ditarik kembali.

Karena itu pembaca dilatih untuk berhenti sejenak sebelum berbicara.

Menimbang:

apakah benar,

apakah perlu,

apakah waktunya tepat,

dan apakah cara menyampaikannya tetap menjaga martabat manusia.

Dengan begitu, lisan tidak mudah menjadi senjata bagi ego.

3. Membantu Membedakan Ketegasan dan Kekasaran

Banyak manusia mengira keras berarti tegas.

Padahal tidak selalu.

Qitab ini membantu pembaca memahami bahwa ketegasan dapat berjalan bersama adab.

Seseorang dapat menolak tanpa menghina.

Dapat mengoreksi tanpa mempermalukan.

Dapat membela kebenaran tanpa kehilangan keadilan.

Dapat marah tanpa berubah menjadi zalim.

4. Membantu Menundukkan Ego

Salah satu manfaat paling penting adalah membantu manusia mengenali “aku” yang tersembunyi.

Aku ingin dipuji.

Aku ingin dianggap benar.

Aku ingin dianggap suci.

Aku ingin dianggap paling tahu.

Aku ingin menjadi pusat.

Ketika pola-pola ini mulai terlihat, manusia tidak lagi mudah diperbudak olehnya.

Ego tidak harus dimusnahkan.

Tetapi ia harus dikembalikan menjadi pelayan, bukan raja.

5. Membantu Menjadikan Ilmu Lebih Rendah Hati

Pembaca diingatkan bahwa semakin luas ilmu, seharusnya semakin luas pula kesadaran akan keterbatasan.

Ilmu tidak seharusnya membuat seseorang gemar merendahkan.

Ilmu seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menilai.

Lebih terbuka terhadap koreksi.

Lebih mudah berkata:

“Aku belum tahu.”

Dan lebih takut menjadikan pengetahuan sebagai tangga kesombongan.

6. Membantu Membersihkan Cara Beragama

Qitab ini mengajak pembaca memeriksa apakah suara agama di dalam dirinya melahirkan kasih, keadilan, amanah, dan akhlak.

Bukan sekadar banyaknya ucapan suci.

Bukan hanya banyaknya klaim kedekatan.

Bukan seberapa keras seseorang berbicara tentang Tuhan.

Tetapi bagaimana suara itu mempengaruhi perilakunya kepada sesama.

Dengan penghayatan yang benar, pembaca dapat semakin berhati-hati agar nama Alloh tidak dipakai sebagai pembenar ego pribadi.

7. Membantu Menyadari Luka tanpa Mewariskannya

Qitab ini membantu seseorang melihat bahwa banyak suara kasar lahir dari luka.

Namun luka tidak harus diwariskan.

Seseorang dapat belajar berkata:

“Aku terluka, tetapi aku tidak ingin membuat orang lain menanggung luka yang bukan miliknya.”

Kesadaran seperti ini dapat memutus rantai kebencian.

8. Membantu Menyembuhkan Hubungan

Dengan memahami asal suara, seseorang dapat lebih mudah melihat mengapa pertengkaran terjadi.

Bukan hanya mendengar kata kasar,

tetapi mencoba memahami rasa di baliknya.

Bukan berarti semua kesalahan dibenarkan.

Tetapi pemahaman dapat membuka ruang untuk penyelesaian yang lebih sehat.

Qitab ini dapat membantu seseorang belajar berkata:

“Maaf.”

“Aku salah.”

“Aku terluka.”

“Aku belum mengerti.”

“Aku ingin memperbaiki.”

Kalimat-kalimat sederhana itu sering menjadi pintu penyembuhan.

9. Membantu Menjadikan Diam sebagai Kebijaksanaan

Pembaca diajak memahami bahwa diam tidak selalu berarti lemah.

Ada diam yang menjaga.

Ada diam yang menenangkan.

Ada diam yang memberikan ruang agar keputusan tidak lahir dari amarah.

Tetapi Qitab ini juga mengingatkan bahwa tidak semua diam adalah benar.

Ada saat ketika ketidakadilan harus ditegur.

Maka pembaca belajar membedakan:

kapan harus diam dan kapan harus bersuara.

10. Membantu Menjernihkan Doa

Qitab ini mengajak pembaca agar doa tidak hanya menjadi tuntutan.

Dari:

“Ya Alloh, berikan apa yang aku mau,”

menjadi:

“Ya Alloh, berikan apa yang baik dan tuntun aku menerimanya.”

Dari:

“Ya Alloh, kalahkan orang yang menyakitiku,”

menjadi:

“Ya Alloh, jangan biarkan luka ini menjadikanku zalim.”

Di sini doa kembali menjadi penghambaan.

11. Membantu Menjaga Suara bagi Orang yang Memiliki Pengaruh

Semakin banyak orang mendengar seseorang, semakin berat tanggung jawab suaranya.

Guru.

Orang tua.

Pemimpin.

Tokoh agama.

Admin komunitas.

Orang yang memiliki banyak pengikut.

Semua perlu menyadari bahwa satu kata dapat menguatkan atau menghancurkan.

Qitab ini membantu menumbuhkan kesadaran:

pengaruh bukan hanya kehormatan, tetapi amanah.

12. Membantu Tidak Mudah Menghakimi

Pembaca dilatih untuk berhenti memberi cap berdasarkan satu ucapan atau satu kesalahan.

Karena manusia bisa berbicara dari keadaan yang belum kita ketahui.

Dari kelelahan.

Dari trauma.

Dari kebingungan.

Dari ketakutan.

Qitab ini tidak mengajak membenarkan semua perbuatan.

Tetapi mengajak menilai dengan lebih adil.

13. Membantu Mengubah Cara Melihat Perbedaan

Perbedaan tidak harus menjadi permusuhan.

Qitab ini membantu pembaca memahami bahwa manusia dapat tetap berbeda tanpa kehilangan penghormatan.

Berbeda pemikiran.

Berbeda budaya.

Berbeda keyakinan.

Berbeda pengalaman.

Namun tetap dapat menjaga martabat kemanusiaan.

Dengan demikian, suara tidak lagi dipakai untuk memperbesar jurang.

Tetapi untuk mencari titik temu tanpa menghapus prinsip.

14. Membantu Menjaga Kejujuran terhadap Diri Sendiri

Qitab ini dapat menjadi latihan untuk mengakui hal-hal yang biasanya sulit diucapkan:

“Aku salah.”

“Aku takut.”

“Aku iri.”

“Aku terluka.”

“Aku tidak tahu.”

“Aku membutuhkan bantuan.”

Kejujuran seperti ini bukan kelemahan.

Ia justru membuka pintu perubahan.

15. Membantu Menyadari bahwa Suara Adalah Warisan

Apa yang diucapkan hari ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam diri orang lain.

Ucapan orang tua dapat tinggal dalam pikiran anak.

Nasihat guru dapat hidup dalam murid.

Tulisan seseorang dapat dibaca setelah dirinya tiada.

Karena itu Qitab ini mengajak pembaca bertanya:

“Suara seperti apa yang ingin kutinggalkan?”

Suara yang menambah luka?

Atau suara yang membantu orang lain kembali berdiri?

16. Membantu Memperhalus Kesadaran Ruhani

Bagi pembaca yang menempuh perjalanan ruhani, Qitab ini menjadi pengingat agar tidak mudah terjebak dalam pengakuan.

Merasa paling dekat.

Merasa paling terbuka.

Merasa paling memahami rahasia.

Merasa sudah sampai.

Semakin tinggi perjalanan yang dirasakan, semakin besar seharusnya kerendahan hati.

Sebab kedekatan kepada Alloh seharusnya tidak membuat seseorang semakin tinggi di hadapan manusia.

Tetapi semakin rendah hati di hadapan-Nya.

17. Membantu Mengembalikan Suara kepada Amanah

Pada akhirnya pembaca diajak mengubah pertanyaan dari:

“Bagaimana agar orang mendengarkanku?”

menjadi:

“Apakah yang kusampaikan layak dipertanggungjawabkan?”

Dari:

“Bagaimana agar aku menang?”

menjadi:

“Bagaimana agar aku tetap adil?”

Dari:

“Bagaimana agar aku terlihat benar?”

menjadi:

“Bagaimana agar aku tetap dekat kepada yang benar?”

Di sanalah suara mulai kembali kepada asalnya.

MANFAAT TERDALAM

Manfaat terdalam Qitab ini bukan menjadikan seseorang pandai membicarakan suara.

Bukan pula menjadikannya pandai menilai ego orang lain.

Manfaat terdalamnya adalah ketika pembaca mulai berani mendengar dirinya sendiri.

Ketika ia mulai menyadari:

“Ternyata ada suara di dalam diriku yang perlu dibersihkan.”

Ketika ia mulai lebih berhati-hati.

Lebih jujur.

Lebih bertanggung jawab.

Lebih mampu meminta maaf.

Lebih mampu menerima koreksi.

Lebih mampu tegas tanpa menjadi kasar.

Lebih mampu diam tanpa menjadi pengecut.

Lebih mampu berbicara tanpa menjadikan suara sebagai singgasana.

Dan semakin sadar bahwa dirinya tetaplah seorang hamba.

Jika setelah membaca Qitab ini seseorang menjadi lebih menjaga lisannya,

lebih sedikit menghina,

lebih sedikit menghakimi,

lebih banyak mendengar,

lebih banyak memperbaiki diri,

dan lebih sadar kepada Alloh,

maka semoga itulah manfaat yang paling indah.

Sebab tujuan pengembalian suara bukan agar manusia kehilangan suaranya.

Tetapi agar manusia menemukan kembali:

suara yang jujur,
suara yang beradab,
suara yang bertanggung jawab,
suara yang membawa kasih,
suara yang menjaga kebenaran tanpa kesombongan,
dan suara seorang hamba yang mengetahui arah pulangnya kepada Alloh.

Wallohu a‘lam bish-showāb.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh