QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

 



KATA PENGANTAR

QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

Pelurusan Makrifat: Memisahkan Dalil, Rasa, Pengalaman Ruhani dan Klaim

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.

Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam, yang memberi manusia akal untuk memahami, hati untuk merasakan, ruh untuk menjalani amanah kehidupan, serta wahyu sebagai cahaya agar perjalanan manusia tidak kehilangan arah.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta siapa pun yang mengikuti jalan beliau dengan ilmu, adab dan ketundukan kepada Alloh sampai akhir zaman.

Qitab ini lahir dari satu kebutuhan yang sangat sederhana tetapi penting:

agar pembicaraan tentang makrifat tidak menjadi liar karena bercampurnya dalil, pengalaman, istilah tasawuf, nasihat guru, mimpi, kasyaf dan klaim-klaim yang tidak jelas sumbernya.

Makrifat adalah wilayah yang sangat halus.

Karena halus, ia mudah disalahpahami.

Karena dalam, ia mudah disederhanakan.

Karena menyentuh pengalaman batin, ia mudah membuat seseorang menganggap apa yang dirasakannya sebagai kebenaran mutlak.

Di sinilah kehati-hatian diperlukan.

Qitab ini tidak disusun untuk memusuhi tasawuf.

Tidak untuk merendahkan tarekat.

Tidak untuk menolak keberadaan mursyid.

Tidak pula untuk menertawakan pengalaman ruhani seseorang.

Sebaliknya, qitab ini ingin menjaga semuanya agar tetap berada di dalam pagar tauhid, ilmu, syariat dan adab.

Sebab pengalaman yang tidak diberi timbangan dapat berubah menjadi klaim.

Klaim yang tidak diperiksa dapat berubah menjadi keyakinan.

Dan keyakinan yang dibangun tanpa dasar dapat menyeret seseorang jauh dari maksud awalnya: mengenal Alloh.

Makrifat bukan sekadar banyaknya istilah.

Bukan banyaknya cerita kasyaf.

Bukan banyaknya mimpi.

Bukan banyaknya sanad yang disebut.

Bukan pula banyaknya pengikut.

Makrifat seharusnya melahirkan:

kerendahan hati,

kejujuran,

ketakwaan,

amanah,

kasih sayang,

dan semakin dalamnya rasa kehambaan.

Karena itu qitab ini memilih satu kaidah besar:

semakin tinggi pembicaraan tentang Alloh, semakin tinggi pula kewajiban menjaga ketepatan kalimat.

Jika suatu kalimat adalah hadis, sebutkan sebagai hadis dengan sumber yang jelas.

Jika ia ucapan ulama, sebutkan sebagai ucapan ulama.

Jika ia pengalaman pribadi, sebutkan sebagai pengalaman.

Jika ia bahasa simbolik tasawuf, jelaskan maksudnya.

Jika ia hanya nasihat, jangan dinaikkan menjadi sabda Rasululloh ﷺ.

Dengan cara demikian, kemuliaan ilmu justru terjaga.

Qitab ini juga mengingatkan bahwa mencintai Imam ‘Ali karromallohu wajhah tidak harus berarti merendahkan Abu Bakr, Umar dan Utsman.

Menghormati mursyid tidak harus berarti menganggapnya maksum.

Mengikuti tarekat tidak harus berarti meninggalkan syariat.

Berbicara tentang hakikat tidak harus berarti membatalkan hukum.

Berbicara tentang fana tidak harus berarti menyatukan makhluk dengan Khāliq.

Dan berbicara tentang ruh tidak harus berarti mengaku mengetahui sesuatu yang oleh Al-Qur’an sendiri disebut sebagai wilayah ilmu manusia yang sangat terbatas.

Dalam perjalanan qitab ini, pembaca akan diajak membedakan:

antara musyāhadah dan klaim melihat Dzat Alloh,

antara fanā’ dan hilangnya status kehambaan,

antara guru dan kultus guru,

antara ilmu dan kesombongan ilmu,

antara mencari rezeki dan diperbudak dunia,

antara tawakal dan kemalasan,

antara ridha dan pasrah terhadap kezaliman,

antara kasyaf dan wahyu,

antara mimpi dan dalil,

serta antara pengalaman ruhani dengan ketetapan agama.

Semua pelurusan ini tidak dimaksudkan untuk mematikan rasa.

Rasa tetap penting.

Hati tetap penting.

Pengalaman tetap dapat menjadi pelajaran.

Tetapi semuanya perlu berjalan bersama ilmu.

Karena rasa tanpa ilmu dapat tersesat.

Ilmu tanpa rasa dapat menjadi kering.

Akal tanpa adab dapat menjadi angkuh.

Dan pengalaman tanpa tauhid dapat berubah menjadi jebakan.

Maka qitab ini memilih jalan tengah:

wahyu sebagai dasar,
akal sebagai alat memahami,
hati sebagai tempat penghayatan,
guru sebagai pembimbing,
amal sebagai buah,
dan Alloh sebagai tujuan.

Bagi para pencari makrifat, qitab ini juga ingin menyampaikan satu pesan:

Jangan terlalu terburu-buru ingin disebut sampai.

Tidak semua orang harus mengalami hal luar biasa.

Tidak semua orang harus melihat cahaya.

Tidak semua orang harus bermimpi bertemu wali.

Tidak semua orang harus memiliki pengalaman yang sulit dijelaskan.

Boleh jadi makrifat justru tumbuh diam-diam:

ketika seseorang mampu menahan amarah,

ketika ia meminta maaf,

ketika ia berhenti berdusta,

ketika ia menjaga sholat,

ketika ia tidak lagi membutuhkan pujian,

ketika ia membantu orang lain tanpa ingin dikenal,

dan ketika dunia yang banyak tidak lagi mampu menguasai hatinya.

Di situlah makrifat menjadi hidup.

Qitab ini juga tidak mengklaim telah menghabiskan seluruh pembahasan makrifat.

Tidak.

Ilmu Alloh jauh lebih luas daripada lembar-lembar manusia.

Apa yang ada di sini hanyalah upaya menyusun pagar.

Agar orang yang berjalan memiliki arah.

Agar orang yang belajar tahu batas.

Agar orang yang berdiskusi tidak mudah menisbatkan sesuatu kepada Nabi tanpa bukti.

Agar pengalaman batin tetap dihormati tanpa harus disakralkan.

Dan agar makrifat tidak berubah menjadi alasan untuk meninggalkan status paling mulia seorang manusia:

‘abd — hamba Alloh.

Semoga siapa pun yang membaca qitab ini tidak menjadi semakin gemar berdebat.

Semoga justru menjadi semakin hati-hati.

Semakin lembut.

Semakin rendah hati.

Semakin mampu membedakan mana yang pasti dan mana yang masih perlu diteliti.

Semakin mampu menghormati guru tanpa kehilangan tauhid.

Semakin mampu mencintai jalan ruhani tanpa meninggalkan syariat.

Semakin mampu mencari dunia tanpa diperbudak dunia.

Dan semakin mampu mengucapkan:

“Wallohu a‘lam,”

ketika batas ilmu telah sampai.

Akhirnya, qitab ini dipersembahkan bukan bagi mereka yang ingin memenangkan pembicaraan tentang makrifat.

Tetapi bagi mereka yang ingin selamat dalam perjalanan makrifat.

Bukan bagi mereka yang ingin merasa lebih tinggi.

Tetapi bagi mereka yang ingin semakin layak menjadi hamba.

Semoga Alloh menjadikan setiap kata yang benar di dalam qitab ini sebagai manfaat.

Dan jika terdapat kekurangan, semoga Alloh mengampuni serta membukakan jalan koreksi.

Karena ilmu bukan milik manusia.

Manusia hanya dititipi.

Dan amanah ilmu yang paling indah adalah:

berani berkata benar ketika mengetahui,
dan berani berkata “aku belum tahu” ketika belum mengetahui.

Wallohu a‘lam bish-shawāb.

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Alloh.”

Semoga qitab ini menjadi cahaya pelurusan, bukan pedang untuk saling melukai; menjadi cermin untuk melihat diri, bukan alat untuk menghakimi orang lain.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

تَصْحِيْحُ الْمَعْرِفَةِ وَتَمْيِيْزُ الْحَقِيقَةِ عَنِ الدَّعْوَى

Pelurusan Makrifat: Memisahkan Dalil, Rasa, Pengalaman Ruhani dan Klaim

ṢAḤĪFAH AL-ŪLĀ

PINTU PERTAMA — JANGAN MENJADIKAN RASA SEBAGAI DALIL

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Makrifat bukanlah medan untuk berlomba mengatakan:

“Aku sudah sampai.”

“Aku sudah menyaksikan.”

“Aku sudah dibukakan.”

“Aku sudah bertemu diriku.”

“Aku mendapat tugas khusus.”

“Aku sudah berada di maqam tertinggi.”

Sebab semakin dalam seseorang mengenal Alloh, seharusnya semakin dalam pula kesadarannya bahwa dirinya adalah hamba.

Makrifat bukan membuat manusia keluar dari kehambaan.

Makrifat justru membuat manusia semakin sadar akan kehambaannya.

Rasa boleh hadir.

Kasyaf boleh diceritakan sebagai pengalaman.

Mimpi boleh direnungkan.

Getaran batin boleh dirasakan.

Pengalaman ruhani boleh menjadi pelajaran pribadi.

Tetapi semuanya tidak otomatis menjadi hujjah agama.

Di sinilah pintu pertama qitab ini dibuka:

Pengalaman ruhani harus ditimbang dengan wahyu; wahyu tidak ditimbang dengan pengalaman ruhani.


MAKRIFAT BUKAN HANYA “ILMU RASA”

Ada kalimat yang sering diucapkan:

“Makrifat itu ilmu rasa, sadar dan menyaksikan.”

Kalimat ini dapat diterima sebagai bahasa pendidikan ruhani apabila maksudnya adalah bahwa iman tidak berhenti pada hafalan, tetapi melahirkan kesadaran, kekhusyukan, takut, cinta, tawakal dan ihsan.

Namun jika maksudnya:

“Kalau sudah merasakan, dalil tidak diperlukan lagi,”

maka di situlah kekeliruan dimulai.

Rasululloh ﷺ sendiri ketika menjelaskan ihsan tidak mengatakan bahwa manusia melihat Dzat Alloh secara langsung di dunia.

Beliau bersabda bahwa ihsan adalah:

beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya; apabila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.

Itulah hadis Jibril yang sahih.

Jadi musyāhadah dalam pendidikan tasawuf harus dipahami dengan adab.

Bukan:

“Aku melihat Dzat Alloh.”

Tetapi:

“Hatiku begitu sadar akan pengawasan, kebesaran, kekuasaan dan tanda-tanda-Nya sehingga ibadahku seolah berada di hadapan-Nya.”

Al-Qur'an telah memberikan pagar:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. asy-Syūrā: 11)

Dan:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ

“Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya, sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan.”
(QS. al-An‘ām: 103)

Maka kalimat yang lebih aman adalah:

“Aku menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.”

Bukan:

“Aku menyaksikan Dzat-Nya dengan mata dunia.”


IMAM ‘ALI DAN PINTU MAKRIFAT

Imam ‘Ali bin Abi Ṭālib karromallohu wajhah adalah lautan ilmu.

Beliau keluarga Rasululloh ﷺ.

Beliau tumbuh dekat dengan Rasululloh ﷺ.

Beliau termasuk sahabat paling utama dan memiliki warisan ilmu, hikmah, keberanian, zuhud serta kedalaman tauhid yang luar biasa.

Mempelajari kalam Imam ‘Ali tentang tauhid sangatlah baik.

Dalam khotbah pertama Nahj al-Balāghah dinisbatkan kepada beliau kalimat yang sangat masyhur:

أَوَّلُ الدِّينِ مَعْرِفَتُهُ

“Permulaan agama adalah mengenal-Nya.”

Kemudian pembicaraan itu bergerak kepada pembenaran terhadap-Nya, tauhid, pemurnian tauhid dan penolakan terhadap membatasi Alloh sebagaimana makhluk.

Ini sangat dalam.

Tetapi harus dibedakan:

kalam yang dinisbatkan kepada Imam ‘Ali bukan otomatis hadis Rasululloh ﷺ.

Dan kecintaan kepada Imam ‘Ali tidak mengharuskan kita meniadakan ilmu yang diwariskan melalui Sayyidina Abu Bakr, Umar, Utsman dan sahabat lainnya.

Ada riwayat:

أَنَا دَارُ الْحِكْمَةِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

“Aku adalah rumah hikmah dan ‘Ali adalah pintunya.”

Riwayat ini terdapat dalam Jāmi‘ at-Tirmiżī no. 3723, tetapi Imam at-Tirmiżī sendiri menyebut riwayat tersebut gharīb munkar, dan dalam penilaian yang dicantumkan pada edisi tersebut statusnya dinilai lemah. Para ahli hadis kemudian memang berbeda pendapat terhadap sejumlah jalurnya. Karena itu, riwayat tersebut tidak layak dipakai untuk membangun klaim mutlak bahwa satu-satunya pintu seluruh makrifat hanyalah Imam ‘Ali dan tidak mungkin melalui sahabat lainnya.

Bahkan dalam sejarah tasawuf terdapat jalur tarekat yang menisbatkan silsilah keruhaniannya melalui Sayyidina Abu Bakr aṣ-Ṣiddīq. Tradisi Naqsyabandiyah, misalnya, secara eksplisit menelusuri silsilah tersebut melalui Abu Bakr.

Maka pelurusannya adalah:

Mencintai Imam ‘Ali: benar.

Mengambil hikmah tauhid dari Imam ‘Ali: benar.

Mengakui keluasan ilmu Imam ‘Ali: benar.

Tetapi mengatakan:

“Tidak ada pintu makrifat kecuali Imam ‘Ali, bukan Abu Bakr, bukan Umar, bukan Utsman,”

memerlukan dalil yang jauh lebih kuat daripada sekadar klaim silsilah.

Janganlah cinta kepada satu sahabat membuat kita harus mengecilkan cahaya sahabat lainnya.


MENCARI ILMU DAN JAMINAN JALAN MENUJU SURGA

Ada kalimat:

“Orang yang mencari ilmu sudah mendapat jaminan mati masuk surga.”

Kalimat ini perlu diperhalus.

Hadis yang benar-benar sahih berbunyi:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Alloh memudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.”

Hadis ini terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim no. 2699.

Perhatikan redaksinya.

Bukan:

“Begitu mencari ilmu, semua urusan selesai dan apa pun yang dilakukannya pasti masuk surga.”

Tetapi:

“Alloh memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Bahkan pada akhir hadis yang sama Rasululloh ﷺ mengingatkan bahwa orang yang tertinggal karena amalnya tidak akan dipercepat hanya karena nasabnya.

Artinya ilmu harus melahirkan:

iman,

amal,

adab,

ketakwaan,

kerendahan hati,

dan perubahan diri.

Ilmu adalah jalan menuju Jannah.

Bukan surat kekebalan dari pertanggungjawaban.


“MATI BELUM MAKRIFAT AKAN DIAJARI MALAIKAT”

Inilah contoh penting mengapa qitab ini diperlukan.

Apabila seseorang berkata:

“Orang yang meninggal ketika mencari ilmu tetapi belum mencapai makrifat nanti akan dilanjutkan pelajarannya oleh malaikat di alam kubur sampai makrifat.”

Kalimat itu mungkin terdengar indah.

Boleh saja seseorang menjadikannya sebagai harapan atau ungkapan hikmah apabila jelas disebut sebagai renungan.

Tetapi jangan mengatakan:

“Rasululloh bersabda demikian,”

sebelum bisa menunjukkan:

teks hadisnya,

kitab sumbernya,

sanadnya,

dan penilaian ahli hadis terhadapnya.

Dalam penelusuran dalil yang menjadi dasar qitab ini, yang ditemukan dengan jelas adalah hadis sahih tentang dimudahkannya jalan menuju surga bagi pencari ilmu, bukan redaksi tentang “malaikat menyempurnakan pelajaran makrifat orang yang meninggal.”

Maka kaidahnya:

Nasihat jangan dinaikkan menjadi hadis.

Kasyaf jangan dinaikkan menjadi wahyu.

Mimpi jangan dinaikkan menjadi syariat.

Pengalaman guru jangan otomatis dinisbatkan kepada Rasululloh ﷺ.

Inilah amanah ilmu.


RUH BUKAN BAGIAN DARI DZAT ALLOH

Al-Qur'an berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit.”

(QS. al-Isrā’: 85)

Ayat ini justru mengajari kerendahan hati epistemik.

Tentang ruh kita mengetahui apa yang Alloh dan Rasul-Nya ajarkan.

Di luar itu, jangan terlalu mudah memastikan hakikat yang tidak kita ketahui.

Al-Qur'an juga menggunakan ungkapan:

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

“Aku tiupkan kepadanya ruh ciptaan-Ku.”

Ungkapan “rūḥī — ruh-Ku” bukan berarti ruh manusia adalah serpihan Dzat Alloh.

Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran itu adalah penyandaran makhluk kepada Penciptanya sebagai pemuliaan, seperti istilah “Baitulloh”. Ruh tetap makhluk Alloh, bukan pecahan dari Dzat-Nya.

Maka ungkapan:

“Ruh adalah bagian dari Alloh lalu kembali menyatu kepada Alloh,”

tidak boleh diajarkan.

Alloh tetap Alloh.

Makhluk tetap makhluk.

Khāliq tidak berubah menjadi makhluk.

Makhluk tidak berubah menjadi Khāliq.


“INNĀ LILLĀHI” BUKAN BERARTI RUH ADALAH BAGIAN ALLOH

Kalimat:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

berarti:

“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nyalah kami kembali.”

(QS. al-Baqarah: 156)

Perhatikan:

milik Alloh, bukan bagian dari Alloh.

Kita berasal karena diciptakan oleh-Nya.

Kita hidup karena kehendak-Nya.

Kita mati dengan ketetapan-Nya.

Dan kita kembali kepada-Nya untuk dibangkitkan, dihisab dan diputuskan.

Bukan kembali dengan cara melebur menjadi Dzat Alloh.

Tauhid menjaga batas ini dengan sangat tegas.


APAKAH RUH “MEMECAH DIRI” MENJADI NAFS?

Kalimat:

“Setelah ruh masuk ke tubuh, ruh memecah dirinya menjadi nafs.”

tidak boleh dinyatakan sebagai fakta agama tanpa dalil.

Hadis sahih memang menerangkan proses penciptaan janin dan peniupan ruh. Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 3208 disebutkan tahapan perkembangan janin, pengutusan malaikat, penulisan beberapa ketetapan dan peniupan ruh.

Tetapi hadis itu tidak mengatakan bahwa ruh kemudian pecah menjadi nafs.

Hubungan antara istilah rūḥ, nafs, qalb dan ‘aql memang dibahas panjang dalam ilmu kalam dan tasawuf.

Para ulama berbeda dalam beberapa rincian istilahnya.

Karena itu tidak tepat membuat diagram metafisik sendiri kemudian berkata:

“Ini pasti struktur manusia menurut Alloh.”


NAFS TIDAK HANYA DUA

Ada pula pernyataan:

“Nafs hanya terbagi dua: nafs mutmainnah dan nafs lawwamah.”

Al-Qur'an sendiri memakai sekurang-kurangnya tiga ungkapan terkenal mengenai keadaan nafs.

Ada:

النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ

nafs yang mendorong kepada keburukan
(QS. Yūsuf: 53).

Ada:

النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ

jiwa yang mencela atau menyesali dirinya
(QS. al-Qiyāmah: 2).

Dan ada:

النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

jiwa yang tenang
(QS. al-Fajr: 27).

Sebagian ahli tasawuf kemudian mengembangkan tingkatan nafs lebih banyak lagi sebagai sistem pendidikan ruhani.

Itu boleh dipelajari sebagai terminologi disiplin tasawuf.

Namun jangan mengatakan bahwa pembagian teknis tertentu adalah satu-satunya pembagian eksplisit dari Al-Qur'an.


BERTEMU “DIRI SENDIRI”

Bagaimana dengan seseorang yang berkata:

“Saya melihat diri saya sendiri berdiri di depan saya seperti menjadi dua orang.”

Jangan buru-buru mengatakan:

“Itu pasti karunia Alloh.”

Jangan pula langsung berkata:

“Berarti ia mendapat tugas khusus.”

Bisa saja pengalaman tersebut hadir dalam mimpi, keadaan antara tidur dan sadar, pengalaman batin, atau bentuk persepsi tertentu.

Dalam ilmu neurologi bahkan dikenal istilah autoscopic phenomena, yaitu pengalaman ketika seseorang merasa melihat duplikat tubuh atau dirinya sendiri. Fenomena semacam itu telah dilaporkan dalam berbagai keadaan neurologis maupun perseptual.

Karena itu sikap seorang salik adalah:

tidak mendustakan pengalaman orang, tetapi juga tidak langsung mensakralkannya.

Pengalaman dapat direnungkan.

Tetapi pengalaman bukan sertifikat kewalian.

Apabila kejadian melihat “diri kedua” terjadi berulang kali ketika benar-benar terjaga, terlebih disertai pingsan, kejang, sakit kepala berat, kebingungan atau gangguan aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis juga merupakan ikhtiar yang masuk akal. Fenomena autoscopic memang tercatat dalam literatur neurologi, termasuk pada sebagian kasus yang berkaitan dengan aktivitas kejang.

Makrifat tidak takut kepada pemeriksaan.

Sebab kebenaran tidak akan runtuh hanya karena manusia memeriksa sebab.


“DEMI ALLOH” BUKAN TANDA MAQAM TERTINGGI

Ucapan:

“Sumpah dengan kalimat Demi Alloh adalah level tertinggi orang yang sudah maqam musyahadah.”

tidak memiliki dasar untuk dijadikan kaidah maqam.

Seseorang dapat mengatakan “Demi Alloh” ketika bersumpah secara benar.

Tetapi banyak bersumpah bukan bukti seseorang telah mencapai musyahadah.

Ukuran kedekatan kepada Alloh bukan seberapa tinggi istilah yang kita gunakan.

Rasululloh ﷺ mengingatkan bahwa Alloh melihat hati dan amal manusia.

Maka buah makrifat harus terlihat pada:

kejujuran,

amanah,

rendah hati,

kasih sayang,

kesabaran,

ibadah,

dan takut berbuat zalim.

Kalau seseorang mengaku telah melihat rahasia langit tetapi lisannya mudah menyakiti manusia, masih ada sesuatu yang harus dibereskan.


“SALIK TIDAK MEMBUTUHKAN SURGA”

Ada bahasa mahabbah:

“Aku beribadah bukan karena menginginkan surga, tetapi karena mencintai Alloh.”

Sebagai ungkapan cinta, kalimat itu dapat dipahami.

Namun jangan sampai ia berubah menjadi:

“Surga tidak penting.”

Sebab Alloh sendiri memerintahkan hamba-Nya bersegera menuju ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Mencari ridha Alloh tidak bertentangan dengan berharap Jannah.

Takut neraka tidak berarti ibadah seseorang rendah.

Mengharap surga tidak berarti seseorang gagal makrifat.

Khauf, rajā’ dan mahabbah dapat hidup bersama di hati seorang mukmin.


DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI

Kalimat:

“Sebanyak apa pun dunia yang dimiliki, cukup berada di tangan; jangan sampai masuk ke hati,”

adalah nasihat yang sangat baik apabila dimaksudkan sebagai sikap zuhud batin.

Kekayaan tidak otomatis menjauhkan seseorang dari Alloh.

Kemiskinan juga tidak otomatis mendekatkannya kepada Alloh.

Yang ditimbang adalah bagaimana harta diperoleh dan untuk apa ia digunakan.

Orang kaya dapat menjadi sangat dekat kepada Alloh apabila hartanya membuatnya semakin bersyukur, menolong keluarga, memberi makan orang miskin, membiayai ilmu dan menunaikan amanah.

Orang miskin pun dapat sangat dekat kepada Alloh melalui sabar dan tawakal.

Maka jangan mengatakan:

“Muslim harus kaya supaya dekat kepada Alloh.”

Dan jangan pula mengatakan:

“Muslim harus miskin supaya dekat kepada Alloh.”

Yang diperintahkan adalah:

jangan menjadi budak dunia.

Miliki dunia jika Alloh memberikannya.

Tetapi jangan biarkan dunia memiliki hatimu.


MAKRIFAT: KARUNIA ATAU IKHTIAR?

Makrifat adalah karunia Alloh.

Tetapi jalan menuju makrifat juga mengandung ikhtiar seorang hamba.

Hidayah dari Alloh.

Tetapi manusia tetap diperintah belajar.

Taufik dari Alloh.

Tetapi manusia tetap diperintah beramal.

Ikhlas adalah pertolongan Alloh.

Tetapi manusia tetap harus melatih dan membersihkan niat.

Karena itu jangan dipertentangkan:

“Makrifat sepenuhnya hak prerogatif Alloh, jadi manusia tidak perlu berusaha.”

Yang benar:

hasil berada pada kehendak Alloh; perjalanan berada dalam wilayah amanah dan ikhtiar hamba.

Guru dapat menunjukkan jalan.

Mursyid dapat membimbing adab.

Qitab dapat menerangkan arah.

Dzikir dapat melatih hati.

Tetapi tidak seorang guru pun dapat berkata:

“Aku menjamin engkau sampai kepada Alloh.”

Sebab pembukaan hati adalah milik Alloh.


PENUTUP PINTU PERTAMA

Wahai pencari makrifat,

jangan terlalu cepat ingin disebut ‘ārif.

Jangan terlalu cepat ingin mempunyai maqam.

Jangan terlalu cepat mengartikan setiap mimpi sebagai wahyu batin.

Jangan terlalu cepat mengartikan setiap getaran sebagai pesan langit.

Jangan terlalu cepat menganggap setiap keanehan sebagai karamah.

Jangan terlalu cepat menganggap kata guru sebagai hadis Nabi.

Dan jangan terlalu cepat menganggap orang yang berbeda pengalaman denganmu sebagai orang yang belum mengenal Alloh.

Makrifat sejati tidak membuat seseorang merasa menjadi Tuhan.

Makrifat membuatnya sadar bahwa ia hanyalah hamba Tuhan.

Makrifat tidak menghapus syariat.

Makrifat membuat syariat hidup dari dalam.

Makrifat tidak membatalkan akal.

Makrifat membuat akal tunduk kepada kebenaran.

Makrifat tidak menjadikan rasa sebagai nabi baru.

Makrifat membuat rasa dibimbing oleh wahyu.

Makrifat tidak membuat manusia berkata:

“Aku sudah sampai.”

Tetapi membuatnya semakin sering berkata:

“Yā Alloh, betapa sedikit pengetahuanku tentang-Mu, betapa banyak kekuranganku di hadapan-Mu.”

Sebab Alloh sendiri telah berfirman tentang ruh:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalian tidak diberi ilmu melainkan sedikit.”

Di situlah adab makrifat dimulai:

mengetahui sesuatu,

sekaligus mengetahui batas pengetahuan kita.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الْأُوْلَى

Bukan setiap yang dirasakan adalah makrifat.
Bukan setiap yang tersembunyi adalah sirr.
Bukan setiap yang menakjubkan adalah karamah.
Bukan setiap perkataan guru adalah hadis.
Dan bukan setiap orang yang banyak berbicara tentang Alloh telah mengenal Alloh.

Ukurlah ilmu dengan wahyu.
Ukurlah rasa dengan tauhid.
Ukurlah maqam dengan akhlak.
Ukurlah makrifat dengan semakin sempurnanya kehambaan.

Wallohu a‘lam bi murādih.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH ATS-TSĀNIYAH

PINTU KEDUA — IMAM ‘ALI, TAUHID, DAN ADAB MEMAHAMI MAKRIFAT

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah pada lembar pertama dijelaskan bahwa rasa, pengalaman batin, mimpi, kasyaf dan ucapan guru tidak boleh langsung dinaikkan menjadi dalil agama, maka sekarang kita masuk kepada satu nama besar yang sering disebut ketika pembahasan makrifat dibuka:

Sayyidina ‘Ali bin Abi Ṭālib karromallohu wajhah.

Tidak diragukan bahwa Imam ‘Ali adalah salah satu sumber besar ilmu, keberanian, hikmah, zuhud dan tauhid dalam sejarah Islam.

Beliau tumbuh dekat dengan Rasululloh ﷺ.

Beliau menyaksikan perjuangan Rasululloh ﷺ.

Beliau belajar langsung dari Rasululloh ﷺ.

Beliau termasuk keluarga Nabi.

Beliau termasuk sahabat utama.

Beliau termasuk orang yang sangat dalam pengetahuannya.

Namun justru karena kedudukannya tinggi, kita harus semakin berhati-hati agar tidak menisbatkan kepada beliau sesuatu yang tidak pasti berasal dari beliau.


APA MAKNA “PINTU IMAM ‘ALI”?

Dalam tradisi ruhani, banyak guru mengatakan bahwa jalur makrifat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Imam ‘Ali.

Pernyataan seperti ini dapat dipahami dalam beberapa tingkatan.

Pertama:

Imam ‘Ali adalah salah satu guru besar tauhid dan ma‘rifatullah.

Ini dapat diterima.

Kedua:

Banyak silsilah tarekat menisbatkan jalur ruhani mereka melalui Imam ‘Ali.

Ini juga dikenal dalam sejarah tasawuf.

Ketiga:

Semua rahasia makrifat hanya boleh melalui Imam ‘Ali dan tidak mungkin melalui Abu Bakr, Umar, Utsman atau sahabat lainnya.

Nah, pernyataan ketiga jauh lebih besar.

Ia membutuhkan dalil yang jauh lebih kuat.

Tidak cukup hanya mengatakan:

“Guru saya berkata demikian.”

Tidak cukup pula hanya karena satu silsilah tarekat berjalan melalui Imam ‘Ali.

Sebab silsilah ruhani adalah jalur pendidikan.

Ia bukan berarti seluruh ilmu Alloh hanya dititipkan melalui satu manusia saja.


JANGAN MEMPERTENTANGKAN CAHAYA PARA SAHABAT

Mencintai Imam ‘Ali tidak mengharuskan kita merendahkan Abu Bakr.

Mencintai Abu Bakr tidak mengharuskan kita mengurangi kemuliaan Imam ‘Ali.

Mencintai Umar tidak berarti meninggalkan Ahlul Bait.

Mencintai Utsman tidak berarti menutup pintu ilmu dari Imam ‘Ali.

Mereka adalah manusia-manusia besar yang masing-masing memiliki keutamaan.

Maka berhati-hatilah dengan kalimat:

“Bukan pintu Abu Bakr.”

“Bukan pintu Umar.”

“Bukan pintu Utsman.”

Karena kalimat seperti itu mudah berubah dari menjelaskan jalur tarekat menjadi mempertentangkan para sahabat.

Padahal orang yang mencari makrifat seharusnya semakin mampu menjaga adab.

Kalau jalan makrifat membuat seseorang gemar merendahkan orang-orang yang dicintai Rasululloh ﷺ, maka ada sesuatu yang harus diperiksa dalam pemahamannya.


KALAM IMAM ‘ALI TENTANG TAUHID

Salah satu kalimat yang sangat terkenal dan dinisbatkan kepada Imam ‘Ali adalah:

أَوَّلُ الدِّينِ مَعْرِفَتُهُ

“Permulaan agama adalah mengenal-Nya.”

Kalimat ini sangat dalam.

Tetapi jangan berhenti pada kata ma‘rifatuh — mengenal-Nya.

Sebab setelah itu pembahasan tauhid bergerak kepada pemurnian.

Mengenal Alloh bukan berarti membayangkan Dzat-Nya.

Mengenal Alloh bukan berarti melihat bentuk-Nya.

Mengenal Alloh bukan berarti merasa Dzat Alloh masuk ke dalam diri.

Mengenal Alloh bukan berarti ruh manusia adalah pecahan dari Dzat-Nya.

Mengenal Alloh adalah mengenal-Nya melalui apa yang Dia perkenalkan tentang Diri-Nya.

Bahwa Dia Esa.

Bahwa Dia tidak serupa dengan makhluk.

Bahwa Dia tidak membutuhkan tempat.

Bahwa Dia tidak menjadi bagian dari ciptaan.

Bahwa Dia tidak terbagi.

Bahwa Dia tidak berubah menjadi manusia.

Bahwa makhluk tidak berubah menjadi Dia.

Inilah salah satu pagar terpenting dalam makrifat.


TAUHID YANG MENGHANCURKAN BAYANGAN

Makrifat yang benar bukan memperbanyak gambaran tentang Alloh.

Justru makrifat membersihkan gambaran-gambaran itu.

Manusia memiliki kebiasaan membentuk sesuatu dalam pikirannya.

Ketika mendengar kata “raja”, muncul gambaran.

Ketika mendengar kata “langit”, muncul gambaran.

Ketika mendengar kata “cahaya”, muncul gambaran.

Tetapi Alloh tidak boleh dibatasi oleh gambaran.

Maka salah satu pelajaran tauhid adalah:

apa pun yang mampu dibayangkan oleh pikiran, Alloh tidak seperti bayangan itu.

Sebab bayangan adalah hasil kerja pikiran makhluk.

Sedangkan Alloh adalah Pencipta pikiran.

Karena itu orang yang mendalam dalam tauhid tidak semakin berani menggambarkan Alloh.

Ia justru semakin menjaga adab.


APAKAH MAKRIFAT BERARTI “MENYAKSIKAN ALLOH”?

Kata musyāhadah sering menimbulkan salah paham.

Ada yang mengatakan:

“Orang makrifat menyaksikan Alloh.”

Kalimat ini harus dijelaskan.

Kalau maksudnya:

menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Alloh, merasakan pengawasan-Nya, melihat hikmah-Nya dalam takdir, mengenali rahmat-Nya dalam kehidupan,

maka itu bahasa ruhani yang dapat dipahami.

Tetapi jika maksudnya:

melihat Dzat Alloh dengan mata jasmani di dunia seperti melihat benda, manusia atau cahaya,

maka ini bukan pengertian yang boleh ditetapkan begitu saja.

Karena itu ungkapan yang lebih selamat:

“Menyaksikan kekuasaan-Nya, bukan membatasi Dzat-Nya.”


MUSYĀHADAH BUKAN KEPEMILIKAN

Ada orang mengalami kedalaman dzikir lalu berkata:

“Aku merasa semua hilang kecuali Alloh.”

Ada orang mengalami ketenangan lalu berkata:

“Aku tidak melihat selain Alloh.”

Kalimat seperti ini kadang muncul sebagai bahasa fana dalam tradisi tasawuf.

Tetapi kalimat itu jangan dibaca secara harfiah seakan-akan dunia benar-benar berubah menjadi Alloh.

Yang hilang adalah perhatian ego.

Bukan keberadaan makhluk.

Yang tenggelam adalah kesadaran terhadap kepentingan diri.

Bukan batas antara Khāliq dan makhluk.

Yang fana adalah rasa keakuan.

Bukan hakikat bahwa manusia tetap hamba.

Maka bahkan dalam pengalaman ruhani yang sangat dalam:

Alloh tetap Alloh.

Hamba tetap hamba.


MAKNA “AKU MELIHAT ALLOH DALAM SEGALA SESUATU”

Kalimat seperti:

“Aku melihat Alloh dalam segala sesuatu.”

harus diluruskan menjadi:

“Aku melihat tanda-tanda kekuasaan Alloh dalam segala sesuatu.”

Bunga bukan Alloh.

Langit bukan Alloh.

Laut bukan Alloh.

Tubuh manusia bukan Alloh.

Ruh bukan Alloh.

Cahaya bukan Alloh.

Semua itu adalah ciptaan Alloh.

Tetapi semuanya dapat menjadi āyah, tanda yang menunjuk kepada kebesaran-Nya.

Di sinilah makrifat menjadi sehat.

Bukan menyatukan Tuhan dengan alam.

Tetapi membaca alam sebagai tanda menuju Tuhan.


APAKAH IMAM ‘ALI MENGAJARKAN “AKU ADALAH DIA”?

Banyak kalimat ekstrem beredar di media sosial dan grup-grup spiritual.

Kadang dinisbatkan kepada Imam ‘Ali.

Kadang kepada al-Ḥallāj.

Kadang kepada Ibn ‘Arabī.

Kadang kepada guru yang tidak jelas sumbernya.

Misalnya:

“Aku adalah Dia.”

“Dalam diriku ada Tuhan.”

“Aku melihat diriku lalu aku melihat Tuhan.”

“Tidak ada hamba dan Tuhan.”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak boleh langsung dijadikan aqidah.

Sebab bahasa pengalaman mistik sering bersifat simbolik, puitis dan sangat mudah disalahpahami.

Kalau penjelasannya bertentangan dengan tauhid, maka maknanya harus ditolak.

Kalau dapat ditakwil secara benar, maka jangan dibaca mentah.

Inilah sebabnya ilmu makrifat tidak boleh dipelajari hanya dari potongan kata.

Ia harus sistematis.

Harus memahami tauhid.

Harus memahami syariat.

Harus memahami bahasa tasawuf.

Harus memahami batas antara metafora dan aqidah.


MAKNA “RAHASIA” DALAM ILMU MAKRIFAT

Ada pula ucapan:

“Ilmu makrifat itu sirr, tidak boleh dibicarakan.”

Pernyataan ini juga perlu diperinci.

Ada hal yang memang bersifat pribadi.

Misalnya:

pengalaman dzikir,

mimpi,

rasa batin,

kasyaf pribadi,

keadaan ruhani seseorang.

Hal-hal seperti itu kadang lebih baik disimpan agar tidak menimbulkan riya, salah paham atau fitnah.

Tetapi dasar tauhid tidak boleh disembunyikan.

Ilmu yang dibutuhkan umat untuk mengenal Alloh, membedakan Khāliq dan makhluk, memahami syariat dan menjaga aqidah harus diajarkan.

Maka:

yang rahasia bukan seluruh makrifat.

Yang kadang perlu dirahasiakan adalah pengalaman pribadi.

Sedangkan prinsip tauhid justru harus diterangkan.


SEMAKIN TINGGI MAKRIFAT, SEMAKIN SEDIKIT KLAIM

Orang yang benar-benar mengenal keluasan ilmu Alloh akan semakin sadar betapa kecil ilmunya.

Ia tidak ringan berkata:

“Aku sudah puncak.”

“Aku maqam tertinggi.”

“Aku musyahadah.”

“Aku sudah selesai.”

“Aku tahu rahasia semua manusia.”

“Aku melihat siapa wali dan siapa bukan.”

Semakin matang seseorang, semakin hati-hati lisannya.

Karena maqam ruhani bukan medali.

Ia bukan gelar untuk dipamerkan.

Ia bukan jabatan untuk diumumkan.

Ia bukan alasan untuk meminta orang tunduk.


UKURAN MAKRIFAT BUKAN KEANEHAN

Jangan menilai seseorang tinggi hanya karena:

ia mengalami cahaya,

melihat bentuk aneh,

bertemu sosok dalam mimpi,

mendengar suara,

melihat dirinya sendiri,

merasakan getaran,

mengetahui sesuatu sebelum terjadi,

atau mengalami keadaan luar biasa.

Semua itu belum cukup.

Ukuran yang lebih aman adalah:

Apakah ia semakin jujur?

Apakah ia semakin amanah?

Apakah ia semakin lembut?

Apakah ia semakin menjaga sholat?

Apakah ia semakin jauh dari kesombongan?

Apakah ia semakin takut menzalimi orang?

Apakah ia semakin sedikit mengaku?

Apakah ia semakin besar kasih sayangnya?

Jika pengalaman ruhani tidak memperbaiki akhlak, maka pengalaman itu belum tentu membawa seseorang lebih dekat kepada Alloh.


PENUTUP PINTU KEDUA

Imam ‘Ali adalah salah satu samudera hikmah tauhid.

Tetapi mencintai beliau bukan berarti membangun klaim tanpa dalil.

Belajar dari beliau bukan berarti merendahkan sahabat lainnya.

Mengikuti jalur ruhani melalui beliau bukan berarti menutup seluruh jalur ilmu yang lain.

Dan menyebut makrifat bukan berarti bebas menggunakan kalimat apa saja tentang Alloh.

Makrifat justru menuntut ketelitian tertinggi.

Sebab kesalahan dalam urusan dunia hanya merusak urusan dunia.

Tetapi kesalahan dalam berbicara tentang Alloh dapat merusak tauhid.

Maka peganglah kaidah ini:

Semakin besar perkara yang dibicarakan, semakin besar tanggung jawab dalilnya.

Semakin tinggi klaim ruhani, semakin kuat pula kewajiban menjaga adabnya.

Semakin dalam seseorang menyebut makrifat, semakin tegas ia harus menjaga batas antara Khāliq dan makhluk.

Dan di hadapan keluasan Alloh, ucapan orang yang benar-benar belajar pada akhirnya bukan:

“Aku sudah mengetahui semuanya.”

Tetapi:

“Robbī zidnī ‘ilmā.”

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الثَّانِيَةِ

Makrifat bukan menghapus batas.
Makrifat meneguhkan tauhid.

Makrifat bukan meninggikan diri.
Makrifat merendahkan ego.

Makrifat bukan memperbanyak klaim.
Makrifat memperbanyak adab.

Dan siapa yang benar-benar belajar kepada Imam ‘Ali, hendaknya belajar bukan hanya keberanian beliau berbicara tentang tauhid, tetapi juga keberanian beliau menjaga kehambaan.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH ATS-TSĀLITSAH

PINTU KETIGA — RUH, NAFS, QALB DAN JASAD: JANGAN MENCAMPURKAN ISTILAH TANPA DALIL

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah membahas Imam ‘Ali dan pagar tauhid, pembahasan berikutnya harus masuk kepada satu wilayah yang sering menjadi sumber kekeliruan dalam percakapan makrifat:

Apa sebenarnya ruh?

Apa itu nafs?

Apa itu qalb?

Apa hubungan semuanya dengan jasad?

Di sinilah banyak orang mulai membuat bagan sendiri, lalu bagan itu lama-lama dianggap sebagai wahyu.

Ada yang mengatakan:

“Ruh masuk ke jasad lalu pecah menjadi nafs.”

Ada yang mengatakan:

“Nafs hanya ada dua.”

Ada yang mengatakan:

“Yang kembali kepada Alloh hanyalah ruh.”

Ada pula yang mengatakan:

“Yang dihukum hanyalah jiwa, bukan manusia.”

Semua ini harus diperiksa satu per satu.

Bukan karena pengalaman ruhani tidak boleh dibicarakan.

Tetapi karena istilah yang berasal dari Al-Qur’an harus diperlakukan dengan amanah.


PERTAMA: RUH ADALAH URUSAN ROBB

Alloh berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

(QS. al-Isrā’: 85)

Ayat ini sangat penting.

Karena ia bukan hanya memberi jawaban tentang ruh.

Ia juga memberi adab pengetahuan.

Seakan-akan Alloh berkata:

Ada wilayah yang memang kalian ketahui.

Ada wilayah yang hanya kalian ketahui sedikit.

Maka jangan mengisi ruang yang tidak diketahui dengan keyakinan buatan sendiri.

Kalau Alloh sendiri mengatakan bahwa pengetahuan manusia tentang ruh itu sedikit, maka seorang salik tidak pantas berkata dengan mudah:

“Aku tahu hakikat ruh sepenuhnya.”


RUH BUKAN PECAHAN DZAT ALLOH

Ada ayat:

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

“Aku tiupkan kepadanya dari ruh-Ku.”

Sebagian orang membaca ungkapan “ruh-Ku”, lalu membuat kesimpulan:

“Berarti ruh manusia adalah bagian dari Alloh.”

Ini tidak benar.

Kalau sesuatu disandarkan kepada Alloh, tidak selalu berarti sesuatu itu bagian dari Dzat-Nya.

Kita mengenal istilah:

Baitulloh — rumah Alloh.

Apakah Ka‘bah berarti bagian dari Dzat Alloh?

Tidak.

Itu penyandaran kemuliaan dan kepemilikan.

Demikian pula ruh adalah ciptaan Alloh.

Ruh dimuliakan.

Ruh berasal dari perintah-Nya.

Tetapi ruh bukan serpihan Alloh.

Maka harus ditegaskan:

Alloh tidak terpecah.

Alloh tidak terbagi.

Alloh tidak masuk ke dalam jasad.

Ruh manusia bukan bagian dari Dzat-Nya.

Tauhid berdiri tegak di sini.


KEDUA: NAFS BUKAN HASIL RUH YANG “PECAH”

Ada kalimat:

“Setelah ruh masuk ke tubuh, ruh memecah dirinya menjadi nafs.”

Kalimat ini tidak boleh dinyatakan sebagai ajaran pasti dari Al-Qur’an atau hadis.

Al-Qur’an memang menggunakan kata ruh.

Al-Qur’an juga menggunakan kata nafs.

Tetapi Al-Qur’an tidak mengatakan:

ruh masuk, lalu pecah menjadi nafs.

Itu adalah sebuah konstruksi penjelasan.

Kalau seorang guru memakainya sebagai ilustrasi pendidikan, harus disebut sebagai ilustrasi.

Jangan berubah menjadi:

“Begitulah hakikat penciptaan manusia menurut wahyu.”

Karena wahyu tidak mengatakan demikian.


APA ITU NAFS?

Kata nafs dalam Al-Qur’an mempunyai penggunaan yang luas.

Kadang berarti diri.

Kadang jiwa.

Kadang pribadi manusia.

Kadang menunjuk sisi batin yang memiliki keinginan, dorongan dan tanggung jawab moral.

Karena itu jangan mengunci kata nafs hanya kepada satu arti teknis.

Dalam Al-Qur’an kita menemukan:

1. AN-NAFS AL-AMMĀRAH BIS-SŪ’

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Sesungguhnya nafs benar-benar banyak menyuruh kepada keburukan.”

(QS. Yūsuf: 53)

Ini menggambarkan sisi diri yang mudah ditarik oleh hawa dan keburukan.


2. AN-NAFS AL-LAWWĀMAH

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Aku bersumpah dengan jiwa yang banyak mencela dirinya.”

(QS. al-Qiyāmah: 2)

Ini menggambarkan kesadaran yang mulai menegur dirinya sendiri.

Ia jatuh.

Tetapi kemudian menyesal.

Ia salah.

Tetapi kemudian mencela kesalahannya.


3. AN-NAFS AL-MUṬMA’INNAH

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

“Wahai jiwa yang tenang.”

(QS. al-Fajr: 27)

Ini menggambarkan jiwa yang memperoleh ketenteraman dalam ketaatan dan ketundukan kepada Alloh.

Maka mengatakan:

“Nafs hanya terdiri dari mutmainnah dan lawwamah,”

jelas terlalu menyederhanakan pembahasan.

Karena Al-Qur’an sendiri menyebut keadaan nafs yang lain.


TINGKATAN NAFS DALAM TASAWUF

Sebagian guru tasawuf menyusun tingkatan nafs menjadi:

nafs ammārah,

nafs lawwāmah,

nafs mulhamah,

nafs muṭma’innah,

nafs rāḍiyah,

nafs marḍiyyah,

dan sebagainya.

Pembagian seperti ini dapat dipakai sebagai peta pendidikan ruhani.

Tetapi harus diberi label dengan jujur:

ini sistem pedagogis tasawuf.

Jangan dikatakan:

“Al-Qur’an secara eksplisit membagi nafs menjadi tujuh tingkat.”

Karena teks Al-Qur’an tidak menyusunnya dalam bentuk tabel tujuh tingkat.

Perbedaannya kelihatan kecil.

Tetapi dalam amanah ilmu, perbedaan itu besar.


KETIGA: QALB BUKAN SEKADAR JANTUNG FISIK

Kemudian ada qalb.

Qalb dalam bahasa Al-Qur’an sering menunjuk pusat kesadaran batin manusia.

Tempat iman.

Tempat takut.

Tempat penyakit batin.

Tempat ketenangan.

Alloh berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.”

(QS. ar-Ra‘d: 28)

Qalb bukan hanya daging yang memompa darah.

Walaupun istilahnya berhubungan dengan “hati”, penggunaan Al-Qur’an jauh lebih dalam daripada organ biologis.

Karena itu ketika ulama berbicara tentang penyakit hati, yang dimaksud bukan penyakit jantung medis.

Yang dimaksud adalah:

sombong,

hasad,

riya,

munafik,

keras hati,

dan berbagai kerusakan batin.


QALB BISA BERUBAH

Kata qalb sendiri memiliki nuansa sesuatu yang berbolak-balik.

Hari ini tenang.

Besok gelisah.

Hari ini ikhlas.

Besok riya.

Hari ini tawakal.

Besok takut kepada makhluk.

Karena itu seorang salik jangan pernah berkata:

“Hatiku sudah bersih selamanya.”

Selama manusia hidup, penjagaan harus terus dilakukan.

Makrifat bukan garis finish yang membuat seseorang berhenti menjaga hati.

Justru semakin mengenal kelemahan hati, semakin ia meminta pertolongan Alloh.


KEEMPAT: JASAD BUKAN MUSUH RUH

Ada kecenderungan dalam sebagian percakapan ruhani untuk merendahkan jasad.

Seakan-akan:

ruh suci,

jasad kotor,

maka semakin membenci tubuh semakin tinggi maqam.

Ini tidak tepat.

Jasad adalah ciptaan Alloh.

Ia memiliki hak.

Ia membutuhkan makan.

Ia membutuhkan tidur.

Ia membutuhkan kesehatan.

Ia memiliki batas kemampuan.

Rasululloh ﷺ tidak mengajarkan pemusnahan jasad untuk mencapai makrifat.

Beliau justru mengajarkan keseimbangan.

Tubuhmu mempunyai hak atasmu.

Makrifat tidak menghapus kemanusiaan.

Makrifat menertibkan kemanusiaan.


RUH DAN JASAD BUKAN DUA TUHAN YANG BERTARUNG

Ada orang menggambarkan manusia seolah terdiri dari:

“ruh suci” melawan “jasad jahat”.

Padahal tubuh tidak otomatis jahat.

Tangan dapat digunakan untuk sedekah.

Kaki dapat berjalan ke masjid.

Mulut dapat berdzikir.

Mata dapat membaca Al-Qur’an.

Telinga dapat mendengar ilmu.

Tubuh dapat menjadi alat ketaatan.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kehendak dan nafs diarahkan.

Jadi jangan menyalahkan jasad atas semua dosa.

Karena jasad juga dapat menjadi kendaraan ibadah.


SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?

Ada kalimat:

“Yang bertanggung jawab atas semua perbuatan hanyalah nafs atau jiwa.”

Ini juga perlu diluruskan.

Al-Qur’an berbicara tentang manusia sebagai makhluk yang dimintai pertanggungjawaban.

Perbuatannya akan dihitung.

Alloh berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya.”

Dan:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya.”

(QS. az-Zalzalah: 7–8)

Bukan tugas kita membuat pembagian metafisik seakan nanti ruh berkata:

“Itu bukan saya.”

Jasad berkata:

“Itu bukan saya.”

Nafs berkata:

“Saya sendiri yang bertanggung jawab.”

Yang dihisab adalah manusia atas apa yang dilakukan dalam hidupnya sesuai ketentuan Alloh.


“INNĀ LILLĀHI” BERLAKU BAGI SIAPA?

Ada pula kalimat:

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn itu khusus ruh.”

Tidak ada dasar kuat untuk membatasinya hanya kepada ruh.

Al-Qur’an mengatakan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”

Kata kami menunjukkan manusia sebagai hamba.

Bukan hanya satu komponen metafisik dalam diri.

Maka maknanya lebih luas:

Aku milik Alloh.

Tubuhku milik Alloh.

Umurku milik Alloh.

Hartaku milik Alloh.

Keluargaku milik Alloh.

Dan seluruh diriku akan kembali kepada keputusan-Nya.


KEMBALI KEPADA ALLOH BUKAN BERARTI MENYATU

Ini sangat penting.

Kata kembali kepada Alloh jangan dimaknai:

“Ruh tadinya bagian dari Alloh lalu kembali melebur ke dalam Alloh.”

Tidak.

Kembali kepada Alloh berarti:

kembali kepada ketetapan-Nya,

kembali kepada pengadilan-Nya,

kembali untuk dibangkitkan,

dihisab,

dan menerima keputusan-Nya.

Khāliq tetap Khāliq.

Hamba tetap hamba.

Tidak ada peleburan Dzat.


“WAHAI JIWA YANG TENANG, KEMBALILAH”

Alloh berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”

(QS. al-Fajr: 27–28)

Ayat ini memang memanggil nafs al-muṭma’innah.

Tetapi jangan membuat kesimpulan berlebihan:

“Berarti hanya nafs yang kembali, ruh tidak.”

Al-Qur’an tidak sedang menyusun tabel anatomi ruhani pada ayat itu.

Ia sedang berbicara tentang jiwa yang tenang dan kehormatan kepulangannya kepada Robb.

Bahasa Al-Qur’an harus dibaca sesuai konteksnya.


JANGAN MEMAKSA SEMUA AYAT MENJADI DIAGRAM

Inilah penyakit sebagian pembahasan makrifat:

ayat sedikit,

diagramnya sangat banyak.

Satu kata “ruh” dibuat menjadi tujuh lapisan.

Satu kata “nafs” dibuat menjadi dunia metafisik lengkap.

Satu ayat tentang hati dibuat menjadi teori kosmos.

Satu mimpi guru dijadikan hukum umum.

Padahal semakin jauh kita melampaui teks, semakin besar kewajiban berkata:

“Ini penafsiran.”

“Ini istilah tasawuf.”

“Ini pengalaman.”

“Ini teori.”

Jangan semuanya diberi label:

“Ini firman Alloh.”


EMPAT ISTILAH, EMPAT ADAB

Maka pada tahap ini cukup kita pegang:

Ruh
adalah ciptaan Alloh yang hakikat lengkapnya tidak kita ketahui.

Nafs
adalah istilah Al-Qur’an yang dapat menunjuk diri atau keadaan jiwa manusia.

Qalb
adalah pusat batin yang menjadi tempat iman, niat, penyakit dan ketenteraman.

Jasad
adalah tubuh manusia, ciptaan Alloh dan kendaraan amal selama hidup di dunia.

Hubungan seluruhnya sangat dalam.

Tetapi jangan mengaku mengetahui rincian yang tidak diterangkan wahyu.


PELAJARAN MAKRIFAT YANG LEBIH PENTING

Daripada sibuk bertanya:

“Ruh berada di mana?”

“Nafs bentuknya apa?”

“Qalb lapisannya berapa?”

lebih penting bertanya:

Apakah ruhani kita semakin tunduk?

Apakah nafs kita semakin terkendali?

Apakah qalb kita semakin bersih?

Apakah jasad kita semakin digunakan untuk ketaatan?

Sebab ilmu yang tidak mengubah diri hanyalah informasi.

Sedangkan makrifat yang benar melahirkan penghambaan.


PENUTUP PINTU KETIGA

Jangan berkata tentang ruh melampaui apa yang kita ketahui.

Jangan menjadikan teori nafs sebagai wahyu.

Jangan menganggap qalb sudah suci hanya karena pernah merasakan cahaya.

Jangan merendahkan jasad yang Alloh ciptakan sebagai kendaraan amal.

Dan jangan mengubah kata kembali kepada Alloh menjadi teori penyatuan makhluk dengan Khāliq.

Semua datang karena kehendak Alloh.

Semua hidup dalam kekuasaan Alloh.

Semua berada dalam kepemilikan Alloh.

Dan semua akan kembali kepada keputusan Alloh.

Tetapi:

makhluk tetap makhluk.

Khāliq tetap Khāliq.

Inilah pagar makrifat.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الثَّالِثَةِ

Ruh bukan Alloh.
Nafs bukan Tuhan.
Qalb bukan singgasana Dzat.
Jasad bukan musuh yang harus dibenci.

Semuanya adalah bagian dari misteri penciptaan manusia yang berada di bawah kekuasaan Alloh.

Maka orang yang benar-benar belajar makrifat bukan sibuk membanggakan rahasia struktur dirinya.

Ia sibuk memperbaiki dirinya.

Ruhnya diarahkan kepada ketaatan.

Nafsnya dididik.

Qalbnya dibersihkan.

Jasadnya digunakan untuk ibadah.

Dan seluruh hidupnya berkata:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb seluruh alam.”


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AR-RĀBI‘AH

PINTU KEEMPAT — KASYAF, MIMPI, SUARA BATIN DAN MELIHAT DIRI SENDIRI

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah memahami ruh, nafs, qalb dan jasad, pembahasan berikutnya masuk ke wilayah yang paling sering membuat orang cepat mengambil kesimpulan:

pengalaman batin.

Ada yang melihat cahaya.

Ada yang bermimpi bertemu seorang guru.

Ada yang mendengar suara dalam hati.

Ada yang merasa mendapatkan pesan.

Ada yang melihat dirinya sendiri seperti menjadi dua.

Ada yang merasakan kehadiran tertentu ketika berdzikir.

Ada pula yang mengalami sesuatu yang sangat nyata sampai sulit dibedakan antara pengalaman batin dan keadaan inderawi.

Di sinilah seorang pencari makrifat harus memiliki dua hal sekaligus:

hati yang terbuka,

dan

akal yang tetap jernih.

Jangan semua pengalaman langsung ditolak.

Tetapi jangan pula semua pengalaman langsung disahkan sebagai karamah.


KASYAF BUKAN WAHYU

Dalam bahasa tasawuf, kasyaf sering dimaknai sebagai tersingkapnya sesuatu bagi hati seorang hamba.

Ia dapat berupa pemahaman.

Kejernihan.

Kesadaran.

Atau pengalaman batin tertentu.

Tetapi kasyaf bukan wahyu kenabian.

Wahyu syariat telah selesai dengan Rasululloh ﷺ.

Maka siapa pun yang berkata:

“Saya mendapat kasyaf, jadi hukum agama harus berubah,”

maka kasyafnya tidak dapat dijadikan dasar.

Begitu pula kalau seseorang berkata:

“Saya mendapat pesan batin bahwa kewajiban saya sudah gugur,”

maka pesan itu harus ditolak.

Karena pengalaman batin tidak boleh membatalkan syariat.


MIMPI DAPAT MENGHIBUR, TETAPI TIDAK MEMBUAT HUKUM

Mimpi adalah bagian dari pengalaman manusia.

Ada mimpi yang indah.

Ada mimpi yang membingungkan.

Ada mimpi yang muncul karena pikiran sehari-hari.

Ada mimpi yang membuat seseorang lebih semangat berbuat baik.

Tetapi mimpi tidak boleh dijadikan dasar hukum baru.

Jika seseorang bermimpi lalu menjadi lebih rajin sholat, lebih jujur dan lebih lembut, ambil manfaatnya.

Tetapi jika seseorang bermimpi lalu berkata:

“Mulai sekarang saya bebas dari aturan agama,”

maka mimpi itu tidak boleh diikuti.

Mimpi boleh menjadi nasihat pribadi.

Bukan dalil syariat.


SUARA BATIN HARUS DITIMBANG

Ada orang berkata:

“Saya mendengar suara dalam hati.”

Ada yang mengatakan:

“Lakukan ini.”

“Datanglah ke sana.”

“Kamu mendapat tugas.”

“Kamu sudah sampai.”

“Kamu adalah orang pilihan.”

Jangan buru-buru berkata:

“Itu pasti dari Alloh.”

Karena pikiran manusia dapat memunculkan banyak bentuk lintasan.

Ada ilham kebaikan.

Ada dorongan nafs.

Ada kecemasan.

Ada keinginan.

Ada sugesti.

Ada pikiran yang berasal dari apa yang sering dibaca atau didengar.

Maka timbanglah isi suara itu.

Jika isinya:

lebih jujur,

lebih sabar,

lebih amanah,

lebih menjaga ibadah,

lebih rendah hati,

maka ambil kebaikannya tanpa perlu mengklaim sumber gaibnya.

Tetapi jika suara itu memerintahkan:

menyakiti orang,

merendahkan orang lain,

melanggar syariat,

mengaku sebagai makhluk istimewa,

atau merasa tidak lagi terikat tanggung jawab,

maka jangan diikuti.


MELIHAT DIRI SENDIRI

Bagaimana jika seseorang merasa melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya?

Jangan langsung berkata:

“Itu pasti ruh keluar.”

Jangan langsung berkata:

“Itu tanda maqam tinggi.”

Jangan langsung berkata:

“Itu tugas khusus dari Alloh.”

Pengalaman seperti itu harus ditempatkan dengan tenang.

Bisa terjadi dalam mimpi.

Bisa terjadi ketika setengah tidur.

Bisa muncul dalam kondisi tubuh sangat lelah.

Bisa menjadi pengalaman persepsi yang sangat kuat.

Bisa pula menjadi pengalaman batin yang tidak mudah dijelaskan.

Tetapi satu pengalaman tidak cukup untuk menentukan status ruhani seseorang.


KARUNIA TIDAK SELALU BERUPA KEANEHAN

Ada orang yang tidak pernah melihat cahaya.

Tidak pernah mengalami mimpi besar.

Tidak pernah mendengar suara batin.

Tidak pernah melihat dirinya sendiri.

Tetapi ia sangat jujur.

Sangat amanah.

Sangat sabar.

Sangat tekun sholat.

Sangat lembut kepada keluarganya.

Sangat takut menzalimi manusia.

Orang seperti ini jangan dianggap “belum sampai” hanya karena hidupnya tidak dipenuhi pengalaman aneh.

Boleh jadi justru ketenangan dan istiqamahnya adalah karunia yang lebih besar.


KAROMAH BUKAN TUJUAN

Dalam tradisi Islam dikenal istilah karāmah, yaitu kejadian luar biasa yang Alloh berikan kepada sebagian hamba-Nya.

Tetapi karamah bukan target suluk.

Jangan berdzikir supaya melihat cahaya.

Jangan berpuasa supaya memperoleh kekuatan.

Jangan mencari guru hanya karena ingin mengalami sesuatu yang aneh.

Kalau tujuan seseorang berubah dari mencari ridha Alloh menjadi mencari pengalaman luar biasa, jalan ruhani dapat berubah menjadi jalan ambisi.

Makrifat bukan perlombaan keajaiban.


ISTIQAMAH LEBIH PENTING DARIPADA KAROMAH

Ada ungkapan para ulama:

Istiqamah lebih utama daripada mengejar karamah.

Maknanya sangat dalam.

Lebih baik sholat lima waktu dengan tenang daripada melihat cahaya tetapi lalai sholat.

Lebih baik jujur dalam berdagang daripada banyak cerita kasyaf tetapi menipu orang.

Lebih baik menjaga lisan daripada mengaku mengetahui rahasia batin orang lain.

Lebih baik merawat keluarga daripada sibuk mengejar maqam sementara amanah rumah ditinggalkan.

Karena buah makrifat adalah tertibnya hidup sebagai hamba.


JANGAN MENJADIKAN PENGALAMAN SEBAGAI IDENTITAS

Ada bahaya lain.

Seseorang pernah mengalami satu kejadian batin.

Kemudian kejadian itu diceritakan terus-menerus.

Lama-lama ia mulai dikenal karena pengalaman tersebut.

Lalu ia merasa harus terus memiliki pengalaman baru.

Di situlah ego dapat masuk melalui pintu yang sangat halus.

Awalnya pengalaman.

Kemudian kebanggaan.

Kemudian identitas.

Kemudian klaim.

Kemudian merasa lebih tinggi dari orang lain.

Padahal makrifat seharusnya mengecilkan ego.


BAGAIMANA MENIMBANG PENGALAMAN BATIN?

Gunakan beberapa ukuran sederhana.

Pertama:

Apakah pengalaman itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan ajaran Rasululloh ﷺ?

Kalau bertentangan, tinggalkan.

Kedua:

Apakah pengalaman itu membuat seseorang semakin rendah hati?

Kalau justru semakin sombong, waspadai.

Ketiga:

Apakah pengalaman itu memperbaiki akhlak?

Kalau tidak, jangan cepat menyebutnya karunia.

Keempat:

Apakah pengalaman itu membuat ibadah semakin tertib?

Kalau justru menjadi alasan meninggalkan kewajiban, ada masalah.

Kelima:

Apakah pengalaman itu aman bagi diri dan orang lain?

Kalau mendorong tindakan berbahaya, jangan diikuti.


BILA PENGALAMAN TERASA SANGAT NYATA

Ada pengalaman yang begitu nyata sampai seseorang takut.

Misalnya:

melihat sosok,

mendengar suara,

merasa keluar dari tubuh,

melihat dirinya dari luar,

atau mengalami peristiwa berulang ketika sedang terjaga.

Sikap yang bijak bukan langsung menuduh:

“Ini gangguan gaib.”

Dan bukan pula langsung mengejek:

“Itu hanya khayalan.”

Periksa keadaan dengan tenang.

Perhatikan:

apakah sedang kurang tidur?

apakah sedang sakit?

apakah sedang sangat tertekan?

apakah ada penggunaan obat tertentu?

apakah pengalaman berulang dan mengganggu aktivitas?

Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran tidak bertentangan dengan tawakal.

Kalau perlu, pemeriksaan medis adalah bagian dari ikhtiar.

Makrifat tidak melarang manusia memeriksa sebab.


GURU YANG AMAN TIDAK MEMBESARKAN KLAIM MURID

Kalau seorang murid berkata:

“Guru, saya melihat cahaya.”

Guru yang aman tidak buru-buru berkata:

“Kamu wali.”

Kalau murid berkata:

“Saya melihat diri saya sendiri.”

Guru yang aman tidak langsung berkata:

“Itu tanda kamu mendapat tugas langit.”

Kalau murid berkata:

“Saya mendengar suara.”

Guru yang aman akan bertanya:

Apa isi pesannya?

Apa dampaknya?

Apakah bertentangan dengan syariat?

Apakah membuatmu tenang atau justru kacau?

Karena tugas guru adalah membimbing.

Bukan memperbesar ego murid.


SIRR BUKAN ALASAN ANTI-KOREKSI

Ada pula orang berkata:

“Ini rahasia. Tidak boleh dipertanyakan.”

Kalimat itu berbahaya jika digunakan untuk menghindari koreksi.

Memang ada pengalaman pribadi yang tidak perlu diumbar.

Tetapi kalau suatu ajaran disampaikan kepada orang lain, memengaruhi ibadah orang lain, atau diklaim sebagai kebenaran agama, maka ia boleh ditanya.

Apa dalilnya?

Apa sumbernya?

Apa maksudnya?

Apa batasnya?

Pertanyaan bukan penghinaan.

Pertanyaan adalah penjaga amanah ilmu.


JANGAN MEMBUAT ORANG TERGANTUNG PADA GURU

Guru yang benar membantu murid dekat kepada Alloh.

Bukan membuat murid bergantung total kepada dirinya.

Kalau setiap pengalaman harus ditafsirkan hanya oleh satu guru,

setiap keputusan hidup harus menunggu “isyarat” guru,

setiap ketakutan harus dibayar dengan ritual tertentu,

setiap masalah dianggap gangguan gaib,

maka hubungan itu harus ditinjau.

Mursyid membimbing.

Bukan mengambil alih kehendak murid.


MAKRIFAT DAN KESEHATAN AKAL

Ada anggapan:

“Kalau sudah masuk makrifat, jangan pakai akal.”

Ini keliru.

Akal memang memiliki batas.

Tetapi batas bukan berarti harus dimatikan.

Akal membantu membedakan:

mana dalil,

mana dugaan,

mana simbol,

mana fakta,

mana pengalaman,

mana klaim.

Makrifat tanpa akal mudah berubah menjadi khayalan.

Akal tanpa hati dapat menjadi kering.

Maka keduanya harus berjalan dalam adab.


JANGAN TAKUT TIDAK PUNYA PENGALAMAN

Ada salik yang merasa sedih:

“Kenapa saya tidak pernah melihat cahaya?”

“Kenapa saya tidak pernah bermimpi bertemu wali?”

“Kenapa orang lain katanya dapat kasyaf, saya tidak?”

Jangan sedih.

Tujuan perjalanan bukan memperoleh tontonan batin.

Kalau hari ini engkau:

lebih jujur daripada kemarin,

lebih sabar daripada kemarin,

lebih sedikit menyakiti manusia,

lebih tertib beribadah,

maka engkau sedang berjalan.

Tidak perlu melihat sesuatu yang aneh untuk menjadi dekat kepada Alloh.


PENUTUP PINTU KEEMPAT

Kasyaf boleh terjadi.

Mimpi boleh datang.

Rasa boleh hadir.

Cahaya boleh terlihat dalam pengalaman seseorang.

Suara batin dapat terasa nyata.

Tetapi semuanya harus ditempatkan pada ukuran yang benar.

Jangan menjadikan pengalaman sebagai agama baru.

Jangan menjadikan keanehan sebagai ukuran kewalian.

Jangan menjadikan mimpi sebagai hukum.

Jangan menjadikan suara batin sebagai wahyu.

Jangan menjadikan kasyaf sebagai alat menguasai orang lain.

Dan jangan menjadikan sesuatu yang belum dipahami sebagai kesempatan untuk membuat klaim besar.

Makrifat sejati tidak membuat seseorang semakin sibuk mengejar fenomena.

Makrifat membuatnya semakin sibuk memperbaiki amanah.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الرَّابِعَةِ

Kalau engkau melihat cahaya, jangan lupa sumber segala cahaya adalah Alloh.

Kalau engkau bermimpi indah, jangan lupa bangunlah untuk beramal.

Kalau engkau merasakan sesuatu, jangan lupa menimbangnya dengan tauhid.

Kalau engkau tidak mengalami apa-apa, jangan merasa tertinggal.

Sebab jalan menuju Alloh bukan diukur dari banyaknya pengalaman aneh.

Ia diukur dari semakin bersihnya niat.

Semakin baiknya akhlak.

Semakin tertibnya ibadah.

Dan semakin kecilnya rasa “aku”.

Karamah bukan tujuan.

Istiqamah adalah jalan.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AL-KHĀMISAH

PINTU KELIMA — GURU MURSYID, SANAD, IJAZAH DAN BATAS KETAATAN

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah membahas pengalaman batin, kasyaf, mimpi dan berbagai fenomena ruhani, pembahasan berikutnya masuk kepada sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan tasawuf:

guru.

Banyak orang berkata:

“Makrifat harus punya guru.”

“Harus punya mursyid.”

“Harus ada sanad.”

“Harus tersambung sampai Rasululloh ﷺ.”

Kalimat-kalimat ini memiliki nilai penting dalam tradisi keilmuan Islam.

Tetapi sekali lagi:

harus dijelaskan dengan tertib.

Sebab guru dapat menjadi pintu ilmu.

Tetapi pengkultusan guru juga dapat menjadi pintu kesesatan.

Sanad dapat menjaga ilmu.

Tetapi klaim sanad tanpa bukti dapat menjadi alat legitimasi.

Ijazah dapat menjadi amanah.

Tetapi ijazah bukan jaminan seseorang pasti maksum.

Maka seorang pencari makrifat harus belajar membedakan:

menghormati guru

dengan

menuhankan guru.


APA ITU MURSYID?

Kata mursyid berasal dari makna memberi petunjuk atau membimbing.

Dalam perjalanan tasawuf, mursyid adalah guru yang membantu murid:

menertibkan dzikir,

melatih adab,

mengendalikan nafs,

membersihkan niat,

memahami tahapan suluk,

dan menghindari jebakan ego.

Mursyid bukan Tuhan.

Mursyid bukan nabi.

Mursyid bukan orang yang mengetahui segala sesuatu.

Mursyid adalah manusia.

Ia dapat memiliki ilmu yang luas.

Ia dapat memiliki pengalaman ruhani yang dalam.

Tetapi tetap:

ia adalah hamba Alloh.


GURU TIDAK MEMBERIKAN HIDAYAH

Ini adalah dasar.

Guru dapat mengajar.

Guru dapat menasihati.

Guru dapat menunjukkan jalan.

Guru dapat mendoakan.

Tetapi hidayah milik Alloh.

Karena itu jangan berkata:

“Tanpa guru ini, engkau tidak mungkin sampai kepada Alloh.”

Kalimat itu terlalu mutlak.

Yang benar:

guru dapat menjadi sebab pertolongan dalam perjalanan.

Tetapi sebab bukan sumber mutlak.

Alloh dapat memberi hidayah melalui guru.

Alloh dapat memberi hidayah melalui ayat.

Melalui musibah.

Melalui renungan.

Melalui orang biasa.

Bahkan melalui satu kalimat yang tidak pernah diduga.


SANAD ADALAH AMANAH, BUKAN HIASAN

Sanad adalah rantai transmisi ilmu.

Dalam hadis, sanad sangat penting untuk mengetahui dari siapa suatu riwayat berasal.

Dalam qira’ah, sanad menjaga bacaan.

Dalam tarekat, sanad digunakan untuk menunjukkan jalur pendidikan ruhani.

Maka sanad memiliki fungsi.

Tetapi jangan menjadikannya hiasan semata.

Ada orang menulis silsilah panjang sekali.

Nama demi nama.

Guru demi guru.

Sampai Rasululloh ﷺ.

Tetapi ketika ditanya:

apa sumber silsilah ini?

siapa yang mengijazahkan?

apa dokumennya?

bagaimana kesinambungannya?

tidak ada jawaban.

Sanad yang tidak diperiksa mudah berubah menjadi klaim.


SANAD BUKAN JAMINAN KEBENARAN SETIAP UCAPAN

Walaupun seorang guru memiliki sanad panjang, bukan berarti setiap kalimatnya otomatis benar.

Misalnya seorang guru mengatakan:

“Ini hadis Nabi.”

Maka tetap boleh ditanya:

hadis dari mana?

Siapa perawinya?

Apa statusnya?

Sanad tarekat tidak otomatis menjadi sanad hadis.

Ijazah dzikir tidak otomatis membuat semua penafsiran guru menjadi wahyu.

Inilah batas yang harus dijaga.


MURSYID YANG AMAN TIDAK TAKUT DITANYA

Guru yang aman tidak marah hanya karena murid bertanya:

“Dalilnya apa, Guru?”

“Ini hadis atau nasihat?”

“Ini pengalaman pribadi atau ajaran umum?”

“Ini wajib atau pilihan?”

Pertanyaan semacam itu justru dapat menunjukkan kesungguhan belajar.

Memang adab bertanya harus dijaga.

Tetapi adab tidak berarti membungkam akal.

Seorang guru tidak menjadi hina hanya karena diperiksa.

Justru ilmu yang kuat tidak takut kepada pemeriksaan.


TANDA BAHAYA PADA GURU

Waspadalah jika seorang guru:

mengaku tidak pernah salah,

melarang semua kritik,

meminta ketaatan mutlak,

meminta murid memutus hubungan dengan keluarga tanpa alasan syar‘i,

mengklaim mengetahui seluruh rahasia murid,

mengancam murid dengan bala jika keluar,

mengatakan semua yang tidak percaya pasti celaka,

meminta uang besar untuk “membuka maqam”,

atau mengatakan dirinya satu-satunya jalan menuju Alloh.

Itu bukan lagi bimbingan sehat.

Itu dapat berubah menjadi penguasaan.


IJAZAH BUKAN TIKET MAKRIFAT

Ijazah berarti izin atau transmisi tertentu.

Seorang guru dapat mengijazahkan:

dzikir,

wirid,

doa,

bacaan,

atau disiplin tertentu.

Tetapi ijazah bukan tiket otomatis menuju maqam.

Seseorang bisa punya seratus ijazah tetapi masih sombong.

Bisa punya banyak sanad tetapi masih suka menyakiti.

Bisa menghafal banyak wirid tetapi masih menipu.

Maka ukuran akhirnya tetap amal dan akhlak.


JANGAN MEMBELI MAQAM

Kalau ada yang berkata:

“Bayar sekian, maqam dibuka.”

“Bayar sekian, hijab diangkat.”

“Bayar sekian, ruh diaktifkan.”

“Bayar sekian, makrifat diturunkan.”

Maka seorang pencari ilmu harus sangat waspada.

Ilmu dapat memiliki biaya belajar.

Guru boleh menerima nafkah.

Lembaga boleh memiliki kebutuhan operasional.

Tetapi maqam ruhani bukan barang dagangan.

Kedekatan kepada Alloh tidak dijual seperti produk.


GURU BUKAN PEMILIK RUH MURID

Ada bahasa yang kadang berlebihan:

“Ruhmu milik gurumu.”

“Keselamatanmu ada di tangan gurumu.”

“Kalau guru marah, Alloh pasti murka.”

Kalimat seperti ini harus diluruskan.

Guru memiliki hak dihormati.

Tetapi ruh setiap manusia milik Alloh.

Keselamatan ada dalam rahmat Alloh.

Guru bukan pemilik nasib murid.

Maka jangan memindahkan sifat ketuhanan kepada manusia.


CINTA GURU DAN BATASNYA

Mencintai guru adalah hal yang baik.

Mendoakan guru adalah baik.

Menjaga adab adalah baik.

Melayani guru dalam kebaikan adalah baik.

Tetapi cinta harus tetap berada di bawah tauhid.

Kalau cinta membuat murid menganggap guru:

tahu segala yang ghaib,

bebas dari kesalahan,

dapat menyelamatkan siapa saja,

atau memiliki kuasa mandiri di luar kehendak Alloh,

maka cinta itu telah melampaui batas.


APAKAH SEMUA JALUR HARUS MELALUI IMAM ‘ALI?

Banyak tarekat memang menisbatkan sanad ruhani mereka melalui Imam ‘Ali karromallohu wajhah.

Itu bagian dari sejarah tradisi mereka.

Namun ada pula jalur yang menisbatkan transmisi melalui sahabat lain.

Maka jangan menjadikan satu silsilah sebagai alasan untuk meniadakan seluruh jalur lain.

Yang harus ditanya bukan hanya:

“Sanadnya melalui siapa?”

Tetapi juga:

“Apa yang diajarkan?”

Apakah tauhidnya lurus?

Apakah akhlaknya baik?

Apakah syariatnya dijaga?

Apakah gurunya amanah?

Apakah muridnya menjadi lebih baik?


GURU SEJATI MENGECILKAN DIRINYA

Guru yang matang tidak sibuk mengatakan:

“Akulah pintu.”

“Akulah pusat.”

“Tanpaku kalian tersesat.”

Ia justru menunjuk kepada Alloh.

Semakin besar ilmunya, semakin sedikit kebutuhan untuk membesarkan namanya sendiri.

Guru sejati membuat murid semakin bergantung kepada Alloh.

Bukan semakin bergantung secara emosional kepada gurunya.


MURID JUGA HARUS BERADAB

Pelurusan guru bukan berarti murid bebas kasar.

Tidak.

Murid harus menjaga:

sopan santun,

bahasa,

kesabaran,

kerendahan hati,

dan prasangka baik.

Jangan sedikit berbeda langsung menuduh guru sesat.

Jangan satu kekeliruan langsung menghapus seluruh jasa.

Adab tetap penting.

Tetapi adab dan kritik dapat berjalan bersama.


TIDAK SEMUA GURU HARUS DISEBUT MURSYID

Ada guru fiqih.

Ada guru tafsir.

Ada guru hadis.

Ada guru Qur’an.

Ada guru tasawuf.

Ada guru akhlak.

Semua memiliki fungsi.

Jangan memaksa semua orang masuk ke struktur tarekat tertentu.

Seseorang dapat memperoleh manfaat besar dari banyak guru tanpa harus menjadikan semua guru sebagai mursyid ruhani.


MURSYID TIDAK MENGGANTIKAN RASULULLOH ﷺ

Rasululloh ﷺ adalah teladan utama.

Guru setelah beliau mengikuti.

Bukan menggantikan.

Kalau ajaran guru bertentangan dengan ajaran Rasululloh ﷺ, yang didahulukan bukan guru.

Yang didahulukan adalah Rasululloh ﷺ.

Karena guru adalah pengantar.

Rasul adalah pembawa risalah.


SANAD YANG PALING BERAT ADALAH SANAD AKHLAK

Orang sering bangga sanad panjang.

Tetapi lupa satu pertanyaan:

Apakah akhlak Rasululloh ﷺ ikut tersambung?

Apa gunanya sanad dzikir sampai Rasululloh ﷺ kalau lisan masih kasar?

Apa gunanya sanad tarekat panjang kalau suka merendahkan?

Apa gunanya ijazah tinggi kalau amanah kecil saja ditinggalkan?

Sanad bukan hanya nama.

Sanad seharusnya menghasilkan karakter.

Kalau sanad ilmu tersambung tetapi akhlak terputus, maka ada pekerjaan besar yang belum selesai.


JANGAN TAKUT BELAJAR DARI BANYAK ULAMA

Makrifat tidak menuntut seseorang menutup telinga terhadap semua ulama selain gurunya.

Belajar fiqih dari satu guru.

Hadis dari guru lain.

Bahasa Arab dari guru lain.

Tasawuf dari guru lain.

Itu bukan pengkhianatan.

Justru keluasan ilmu membuat seseorang lebih matang.

Guru yang aman tidak takut muridnya membaca.

Tidak takut muridnya belajar.

Tidak takut muridnya membandingkan.

Karena kebenaran tidak takut kepada ilmu.


PELURUSAN TERHADAP KALIMAT “GURU MUTLAK”

Tidak ada manusia setelah Rasululloh ﷺ yang harus ditaati secara mutlak dalam setiap perkara.

Ketaatan kepada guru berada dalam kebaikan.

Jika guru memerintahkan kebaikan, hormati.

Jika guru menasihati, dengarkan.

Jika guru keliru, luruskan dengan adab.

Jika guru memerintahkan maksiat, jangan diikuti.

Tauhid mendidik kita agar tidak menyerahkan kedaulatan batin secara mutlak kepada manusia.


PENUTUP PINTU KELIMA

Mursyid dapat menjadi rahmat.

Sanad dapat menjadi penjaga.

Ijazah dapat menjadi amanah.

Tetapi semuanya harus tetap berada di bawah tauhid.

Jangan ubah guru menjadi berhala batin.

Jangan ubah sanad menjadi alat kesombongan.

Jangan ubah ijazah menjadi perdagangan maqam.

Jangan ubah adab menjadi ketakutan untuk berpikir.

Dan jangan ubah cinta menjadi pengkultusan.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الْخَامِسَةِ

Guru menunjukkan jalan.
Alloh yang memberi hidayah.

Guru mengajar dzikir.
Alloh yang membuka hati.

Guru memberi nasihat.
Alloh yang membolak-balikkan qalb.

Guru dapat menjadi sebab.
Tetapi sebab bukan Tuhan.

Maka hormatilah guru.

Cintailah guru.

Doakan guru.

Ambil ilmunya.

Jaga adab kepadanya.

Tetapi jangan serahkan tauhidmu kepada manusia.

Karena pada akhirnya:

mursyid sejati mengantarkan murid keluar dari ketergantungan kepada dirinya, lalu berdiri sebagai hamba yang hanya bersandar kepada Alloh.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AS-SĀDISAH

PINTU KEENAM — SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT: BUKAN EMPAT AGAMA, BUKAN EMPAT TINGKAT YANG SALING MEMBATALKAN

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah membahas guru mursyid, sanad dan batas ketaatan, sekarang kita masuk kepada empat istilah yang sangat sering disebut dalam pembahasan ruhani:

syariat,

tarekat,

hakikat,

dan

makrifat.

Empat istilah ini sering dipahami secara bertingkat.

Lalu timbul anggapan:

“Kalau sudah tarekat, syariat boleh ditinggalkan.”

“Kalau sudah hakikat, hukum lahir sudah tidak penting.”

“Kalau sudah makrifat, surga dan neraka bukan urusan lagi.”

“Kalau sudah sampai, ibadah hanya untuk orang awam.”

Inilah salah satu kekeliruan paling besar.

Karena empat istilah itu bukan empat agama.

Bukan pula empat tangga yang membuat tangga sebelumnya dibuang.

Yang benar:

semakin dalam perjalanan, semakin dalam pula penghambaan.


APA ITU SYARIAT?

Syariat adalah jalan lahir yang diajarkan agama.

Sholat.

Puasa.

Zakat.

Halal dan haram.

Muamalah.

Nikah.

Amanah.

Kejujuran.

Menjaga hak manusia.

Menjaga lisan.

Menjauhi kezaliman.

Jadi syariat bukan hanya gerakan tubuh.

Syariat adalah tatanan hidup.

Kalau seseorang mengaku makrifat tetapi menipu,

mengambil hak orang,

merendahkan orang lain,

mengabaikan kewajiban,

maka klaim makrifatnya harus diperiksa.


TAREKAT BUKAN AGAMA BARU

Tarekat berarti jalan.

Dalam tradisi tasawuf, tarekat adalah metode pendidikan ruhani.

Ada dzikir.

Ada muraqabah.

Ada latihan nafs.

Ada adab kepada guru.

Ada pembiasaan ibadah.

Ada disiplin batin.

Semua itu bertujuan membantu seorang murid menjalani agama secara lebih sadar.

Maka tarekat seharusnya:

menguatkan syariat,

bukan menggantikannya.

Kalau sebuah tarekat justru mengajarkan:

“Sholat tidak penting.”

“Puasa untuk orang awam.”

“Halal haram sudah lewat.”

maka itu bukan pendalaman.

Itu pembongkaran agama.


HAKIKAT BUKAN PEMBATALAN HUKUM

Hakikat berarti melihat kedalaman makna di balik amal.

Misalnya:

Syariat mengatakan:

sholatlah.

Hakikat mengajarkan:

siapa yang engkau sembah?

Syariat mengatakan:

bersedekahlah.

Hakikat mengajarkan:

siapa sebenarnya Pemilik harta?

Syariat mengatakan:

bersabarlah.

Hakikat mengajarkan:

siapa yang mengatur takdir?

Jadi hakikat bukan alasan untuk meninggalkan perintah.

Hakikat membuat perintah menjadi hidup.


MAKRIFAT BUKAN BEBAS DARI KEHAMBAAN

Makrifat adalah semakin dalam mengenal Alloh melalui iman, tauhid, ayat-ayat-Nya, nama dan sifat-Nya, serta penghambaan.

Tetapi makrifat tidak mengubah manusia menjadi Tuhan.

Tidak pula membuat manusia bebas dari kewajiban.

Semakin mengenal Alloh, semakin jelas:

aku bukan Dia.

Aku milik-Nya.

Aku hamba-Nya.

Inilah buah makrifat yang paling aman.


ANALOGI JALAN DAN AIR

Bayangkan seseorang ingin mengambil air dari mata air.

Syariat adalah jalan yang ditunjukkan.

Tarekat adalah langkah yang ditempuh.

Hakikat adalah ketika ia sampai dan melihat mata air itu.

Makrifat adalah ketika ia mengenal rasa air, manfaatnya dan sumber kehidupannya.

Tetapi setelah mengenal rasa air, apakah jalan menjadi salah?

Tidak.

Apakah kaki tidak diperlukan lagi?

Tidak.

Apakah sumber air boleh ditinggalkan?

Tidak.

Semua saling terhubung.


MASALAH “SUDAH SAMPAI”

Kalimat yang sangat berbahaya dalam perjalanan ruhani adalah:

“Saya sudah sampai.”

Sampai ke mana?

Selama manusia hidup, ia masih berada dalam ujian.

Masih ada nafs.

Masih ada ego.

Masih ada kesalahan.

Masih ada kewajiban.

Masih ada kemungkinan tergelincir.

Karena itu seorang salik tidak sibuk mengumumkan pencapaiannya.

Ia justru semakin berhati-hati.


RASULULLOH ﷺ TETAP BERIBADAH

Kalau ada orang mengatakan:

“Kalau makrifat sudah sempurna, ibadah tidak diperlukan.”

Maka tanyakan:

Siapa manusia yang paling mengenal Alloh?

Rasululloh ﷺ.

Lalu apakah beliau berhenti sholat?

Tidak.

Apakah beliau berhenti berdoa?

Tidak.

Apakah beliau berhenti istighfar?

Tidak.

Justru beliau adalah manusia yang paling dalam ibadahnya.

Maka makrifat yang membuat seseorang meninggalkan ibadah jelas bertentangan dengan teladan tertinggi.


IBADAH BUKAN TRANSAKSI MURAHAN

Ada pula kritik:

“Syariat itu transaksional.”

“Sholat supaya dapat surga.”

“Sedekah supaya dapat pahala.”

“Puasa supaya dapat balasan.”

Kritik ini ada bagian yang perlu dipahami.

Memang, ibadah yang hanya digerakkan oleh keuntungan pribadi perlu dinaikkan kualitasnya.

Tetapi jangan sampai kritik itu berubah menjadi penghinaan terhadap janji Alloh.

Alloh sendiri menjanjikan pahala.

Alloh sendiri menjanjikan surga.

Alloh sendiri memperingatkan neraka.

Jadi berharap pahala bukan dosa.

Takut neraka bukan kehinaan.

Mengharap surga bukan tanda gagal makrifat.

Yang perlu ditumbuhkan adalah keseimbangan:

khauf,

raja’,

dan

mahabbah.


CINTA BUKAN ALASAN MENOLAK SURGA

Ada orang berkata:

“Saya tidak butuh surga. Saya hanya butuh Alloh.”

Kalimat ini bisa menjadi ungkapan cinta.

Tetapi harus hati-hati.

Jangan sampai seolah-olah apa yang Alloh muliakan dianggap rendah.

Surga adalah karunia Alloh.

Mengharapkannya bukan cela.

Yang lebih baik adalah berkata:

“Aku mengharap ridha Alloh, rahmat-Nya, ampunan-Nya dan surga-Nya.”

Tidak perlu mempertentangkan cinta kepada Alloh dengan harapan kepada surga.


TAKUT NERAKA BUKAN IBADAH RENDAH

Demikian pula takut neraka.

Takut azab bukan berarti seseorang tidak mencintai Alloh.

Rasa takut dapat menjaga manusia dari kesombongan.

Harapan menjaga dari putus asa.

Cinta membuat ibadah terasa dekat.

Ketiganya dapat hidup dalam satu hati.


SYARIAT TANPA HAKIKAT BISA KERING

Tetapi qitab ini juga tidak mengajarkan syariat yang hanya formal.

Sholat tidak cukup sekadar gerak.

Puasa tidak cukup sekadar lapar.

Dzikir tidak cukup sekadar suara.

Sedekah tidak cukup sekadar perpindahan uang.

Karena itu hakikat penting.

Hakikat bertanya:

Apakah sholatmu membuatmu rendah hati?

Apakah puasamu membuatmu mampu menahan amarah?

Apakah dzikirmu membuatmu jujur?

Apakah sedekahmu membuatmu lebih peduli?

Kalau tidak, bentuknya ada.

Tetapi ruhnya belum hidup.


HAKIKAT TANPA SYARIAT BISA LIAR

Sebaliknya, orang yang hanya berbicara hakikat tanpa syariat mudah tersesat.

Ia dapat berkata:

“Yang penting hati.”

“Yang penting niat.”

“Yang penting rasa.”

Lalu halal haram diabaikan.

Amanah diabaikan.

Ibadah ditinggalkan.

Padahal hati yang benar akan mendorong amal yang benar.

Kalau “hakikat” justru menghancurkan kewajiban, yang terjadi bukan pendalaman.

Tetapi pembenaran diri.


TAREKAT TANPA ILMU BISA MENJADI TAKLID BUTA

Tarekat memerlukan ilmu.

Kalau hanya ikut-ikutan tanpa memahami dasar agama, murid mudah menerima apa saja.

Karena itu sebelum mengejar pengalaman batin, kuatkan:

tauhid,

fiqih dasar,

akhlak,

dan pemahaman Al-Qur’an.

Bukan untuk menjadi debat.

Tetapi agar punya timbangan.


MAKRIFAT TANPA ADAB ADALAH KLAIM

Ada orang fasih membicarakan:

fana,

baqa,

tajalli,

musyahadah,

sirr,

nur,

maqam,

tetapi lisannya kasar.

Ia suka merendahkan.

Ia merasa lebih tinggi dari orang awam.

Ia menganggap yang tidak sepaham sebagai belum sampai.

Itu bukan buah makrifat.

Makrifat tanpa adab hanyalah kosa kata.


ORANG AWAM BUKAN ORANG RENDAH

Jangan meremehkan istilah awam.

Boleh jadi seseorang tidak mengenal istilah fana dan baqa.

Tetapi ia:

jujur,

shalih,

menjaga keluarga,

menolong tetangga,

tidak mengambil hak orang,

dan istiqamah sholat.

Jangan merasa diri lebih tinggi hanya karena memahami istilah tasawuf.

Alloh menilai hati dan amal, bukan banyaknya istilah.


“SUDAH MAKRIFAT, TIDAK PERLU SURGA”

Pernyataan seperti ini seharusnya dihentikan.

Sebab ia mudah berubah menjadi kesombongan ruhani.

Yang lebih aman:

“Seorang salik beribadah bukan hanya karena ingin imbalan, tetapi karena cinta, syukur dan penghambaan; namun ia tetap mengharap rahmat dan surga Alloh.”

Ini lebih utuh.

Tidak menolak cinta.

Tidak merendahkan janji Alloh.


MAKRIFAT ADALAH MEMPERDALAM “ABDULLAH”

Ada orang ingin menjadi:

wali.

‘arif.

kutub.

abdal.

orang pilihan.

Tetapi gelar yang paling aman adalah:

‘abd — hamba.

Rasululloh ﷺ sendiri dimuliakan dengan kedudukan kehambaan.

Maka puncak makrifat bukan merasa keluar dari status hamba.

Puncaknya justru:

ridha menjadi hamba.


SYARIAT DAN MAKRIFAT BUKAN DUA KUBU

Jangan buat perang antara:

ahli fiqih

dan

ahli tasawuf.

Keduanya saling membutuhkan.

Fiqih menjaga amal.

Tasawuf menjaga hati.

Tauhid menjaga keyakinan.

Akhlak menjaga hubungan.

Kalau semuanya menyatu, agama menjadi utuh.


PELURUSAN EMPAT TINGKAT

Maka jika ingin memakai empat istilah ini, gunakan dengan pengertian:

Syariat: apa yang harus dilakukan.

Tarekat: bagaimana melatih diri untuk istiqamah melakukannya.

Hakikat: apa makna batin di baliknya.

Makrifat: kepada siapa seluruh penghambaan itu tertuju.

Semuanya saling menguatkan.

Bukan saling membatalkan.


JANGAN MENINGGALKAN BENTUK ATAS NAMA ISI

Ada orang berkata:

“Yang penting isi, bukan bentuk.”

Tetapi isi memerlukan bentuk.

Cinta kepada Alloh punya bentuk:

sholat.

Syukur punya bentuk:

ketaatan.

Taubat punya bentuk:

meninggalkan dosa.

Kasih sayang punya bentuk:

menolong.

Kejujuran punya bentuk:

berkata benar.

Hakikat tanpa bentuk sulit dibuktikan.


JANGAN PULA MENYEMBAH BENTUK

Namun bentuk juga bukan tujuan akhir.

Orang dapat sholat tetapi sombong.

Dapat berdzikir tetapi menyakiti.

Dapat bersedekah tetapi riya.

Maka bentuk harus dihidupkan dengan hati.

Di sinilah syariat dan hakikat bertemu.


MAKNA “DIAM DAN MENIKMATI”

Ada ungkapan:

“Ujung makrifat adalah diam dan menikmati anugerah-Nya.”

Kalimat ini dapat dipahami jika maksudnya:

tidak banyak klaim,

tidak banyak pamer pengalaman,

menikmati ketenangan bersama Alloh.

Tetapi jangan dipahami:

diam dari amar ma‘ruf,

diam dari menolong manusia,

diam dari kewajiban,

diam dari tanggung jawab.

Diam yang benar adalah:

diamnya ego.

Bukan diamnya amanah.


PUNCAK MAKRIFAT ADALAH KEMBALI MENJADI SEDERHANA

Setelah semua istilah tinggi,

seorang ‘arif kembali kepada sesuatu yang sederhana:

Sholat tepat waktu.

Makan halal.

Jujur.

Menepati janji.

Menjaga keluarga.

Tidak menyakiti.

Bersyukur.

Minta ampun.

Itulah keindahan makrifat.

Semakin tinggi pembahasannya, semakin sederhana buahnya.


PENUTUP PINTU KEENAM

Syariat bukan kulit yang dibuang.

Tarekat bukan jalan rahasia untuk melampaui agama.

Hakikat bukan alasan membatalkan hukum.

Makrifat bukan pangkat yang membebaskan manusia dari kehambaan.

Semua harus berjalan bersama.

Jika syariat adalah tubuh,

hakikat adalah ruh penghayatannya.

Jika tarekat adalah perjalanan,

makrifat adalah kesadaran kepada siapa perjalanan itu menuju.

Tetapi jangan salah:

selama hidup di dunia,

hamba tetap berjalan.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ السَّادِسَةِ

Jangan berkata:
“Aku sudah makrifat, maka aku tidak perlu syariat.”

Katakan:

“Semakin aku mengenal Alloh, semakin malu aku meninggalkan perintah-Nya.”

Jangan berkata:

“Aku sudah hakikat, maka bentuk tidak penting.”

Katakan:

“Aku ingin bentuk amal dan isi hatiku sama-sama hidup.”

Jangan berkata:

“Aku sudah sampai.”

Katakan:

“Selama nafas masih ada, perjalanan kehambaan belum selesai.”

Karena tanda makrifat bukan semakin jauh dari ibadah.

Tanda makrifat adalah:

ibadah semakin sadar,

hati semakin lembut,

ego semakin kecil,

dan pengakuan “aku” semakin hilang di hadapan kebesaran Alloh.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AS-SĀBI‘AH

PINTU KETUJUH — ILMU, AMAL, PAHALA DAN “JAMINAN SURGA” BAGI PENCARI ILMU

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah memahami bahwa syariat, tarekat, hakikat dan makrifat tidak saling membatalkan, kini kita kembali kepada salah satu pokok percakapan yang sejak awal menjadi pertanyaan:

“Benarkah orang yang mencari ilmu sudah dijamin mati masuk surga?”

Pertanyaan ini harus dijawab dengan sangat hati-hati.

Karena ada perbedaan antara:

janji Alloh,

sebab menuju surga,

dan

kepastian mutlak bahwa seseorang tertentu pasti masuk surga.

Kalau tiga hal ini dicampur, maka hadis yang indah dapat berubah menjadi klaim yang tidak pernah diucapkan Rasululloh ﷺ.


HADIS YANG BENAR-BENAR ADA

Rasululloh ﷺ bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Alloh akan memudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.”

Hadis ini terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim no. 2699.

Perhatikan baik-baik redaksinya:

سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Alloh memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Bukan:

“Begitu ia menjadi pencari ilmu, maka seluruh dosanya tidak lagi diperhitungkan.”

Bukan:

“Siapa pun yang pernah belajar pasti mati husnul khatimah.”

Dan bukan pula:

“Siapa yang mencari ilmu pasti masuk surga apa pun amalnya.”

Hadis memberi kabar gembira yang sangat besar.

Tetapi kita tidak boleh menambahkan redaksi yang tidak diucapkan Nabi ﷺ.


“DIMUDAHKAN JALAN” BUKAN BERARTI “SELESAI SEMUA URUSAN”

Bayangkan seseorang diberi jalan menuju sebuah tujuan.

Jalannya telah dibuka.

Arahnya telah ditunjukkan.

Kesulitannya dipermudah.

Tetapi apakah ia boleh berhenti berjalan?

Tidak.

Demikian pula ilmu.

Ilmu menunjukkan:

mana tauhid,

mana syirik,

mana halal,

mana haram,

mana hak,

mana batil,

mana akhlak,

mana kezaliman.

Maka ilmu adalah salah satu sebab agung yang mengarahkan manusia kepada keselamatan.

Tetapi ilmu harus dijalani.

Bukan hanya dimiliki.


HADIS ITU SENDIRI MENYEBUT AMAL

Menariknya, pada bagian akhir hadis yang sama terdapat peringatan:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Orang yang amalnya memperlambatnya tidak akan dipercepat hanya karena nasabnya.

Ini sangat penting.

Dalam satu hadis Rasululloh ﷺ menyandingkan:

keutamaan ilmu

dengan

pentingnya amal.

Seolah-olah kita diajarkan:

Jangan merasa cukup hanya dengan nama.

Jangan merasa cukup hanya dengan keturunan.

Dan jangan pula merasa cukup hanya dengan pengetahuan.


ILMU YANG TIDAK DIAMALKAN

Seseorang dapat mengetahui bahwa dusta itu haram.

Tetapi masih berdusta.

Mengetahui bahwa riba harus dihindari.

Tetapi masih mengambil yang haram.

Mengetahui bahwa kesombongan buruk.

Tetapi merasa paling tinggi.

Mengetahui makrifat.

Tetapi merendahkan orang lain.

Maka pengetahuan belum tentu menjadi cahaya jika tidak memasuki amal.

Karena itu tujuan mencari ilmu bukan sekadar:

“Saya tahu.”

Tetapi:

“Apa yang berubah setelah saya tahu?”


AL-QUR’AN MEMULIAKAN ORANG BERILMU

Alloh berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Alloh mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. al-Mujādilah: 11)

Perhatikan urutannya:

orang-orang yang beriman

dan

orang-orang yang diberi ilmu.

Ilmu dalam pandangan Islam bukan sekadar kecerdasan.

Ia berkaitan dengan iman dan tanggung jawab.


MALAIKAT DAN PENCARI ILMU

Ada pula hadis yang menyebut kemuliaan orang yang keluar mencari ilmu.

Dalam riwayat at-Tirmiżī disebutkan bahwa malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridhaan kepada pencari ilmu, dan para ulama disebut sebagai pewaris para nabi.

Ini adalah kemuliaan besar.

Tetapi sekali lagi:

kemuliaan pencari ilmu tidak berarti ia memperoleh kekebalan moral.

Justru semakin besar ilmu, semakin besar tanggung jawab.


BUKAN SEMUA “ILMU” OTOMATIS MENYELAMATKAN

Kata ilmu jangan dipahami secara sembarangan.

Ada orang belajar hanya untuk menang debat.

Ada orang belajar agama untuk dihormati.

Ada yang belajar supaya disebut guru.

Ada yang mempelajari rahasia ruhani agar merasa lebih tinggi.

Ada pula yang belajar untuk menguasai murid.

Maka persoalannya bukan sekadar:

“Apakah ia belajar?”

Tetapi juga:

“Apa yang ia cari melalui ilmunya?”

Ilmu yang membawa kepada Alloh seharusnya melahirkan kerendahan hati.


PENCARI ILMU DAN NIAT

Kalau seseorang mencari ilmu karena Alloh, maka ilmunya menjadi ibadah.

Kalau mencari ilmu untuk memperbaiki diri, itu mulia.

Kalau mencari ilmu untuk menolong umat, itu mulia.

Kalau mencari ilmu untuk membela kebenaran dengan adab, itu mulia.

Tetapi kalau ilmu dipakai hanya untuk:

mencari kedudukan,

menjatuhkan orang lain,

mengejar pujian,

atau membangun pengikut,

maka hati harus diperiksa.

Jangan sampai ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju surga berubah menjadi makanan ego.


JANGAN MEMBUAT “SURAT JAMINAN” SENDIRI

Kita boleh berkata:

“Rasululloh ﷺ memberi kabar gembira bahwa pencari ilmu dimudahkan jalan menuju surga.”

Tetapi jangan mengubahnya menjadi:

“Saya menjamin siapa saja yang belajar kepada saya pasti masuk surga.”

Atau:

“Selama seseorang menjadi pencari ilmu, semua dosanya pasti gugur.”

Atau:

“Kalau meninggal ketika belajar, pasti tidak mungkin diazab.”

Itu bukan redaksi hadis yang telah kita sebutkan.

Ada perbedaan antara:

berharap kuat kepada rahmat Alloh

dengan

mengeluarkan keputusan akhir atas nama Alloh.


BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG MENINGGAL SAAT MENCARI ILMU?

Kita boleh memiliki husnuzan yang sangat besar.

Kita boleh mendoakan:

“Semoga Alloh menerima perjuangannya.”

“Semoga langkahnya mencari ilmu menjadi sebab ampunan.”

“Semoga Alloh menyempurnakan kekurangannya.”

Itu doa yang indah.

Tetapi jangan berkata tanpa dalil:

“Pasti setelah wafat malaikat akan melanjutkan pelajaran makrifatnya sampai selesai.”

Kalau ada yang mengajarkan kalimat seperti itu sebagai hadis, maka mintalah:

teks Arabnya,

kitabnya,

nomor hadisnya,

sanadnya,

dan statusnya.

Sampai bukti itu ditemukan, sebutlah ia sebagai:

nasihat, harapan, atau penjelasan seorang guru.

Bukan hadis Rasululloh ﷺ.


KENAPA STATUS HADIS PENTING?

Karena Nabi ﷺ mempunyai kedudukan yang tidak dimiliki manusia lain.

Ucapan kita boleh salah.

Penafsiran guru boleh salah.

Pengalaman seorang wali sekalipun dapat dipahami berbeda.

Tetapi jika suatu kalimat dikatakan:

“Rasululloh bersabda,”

maka kita sedang membawa nama Nabi.

Karena itu amanahnya jauh lebih berat.

Jangan sampai karena ingin membuat nasihat terdengar kuat, nama Rasululloh ﷺ digunakan untuk membenarkan kalimat yang sumbernya tidak diketahui.


“TAPI MAKNA KALIMATNYA BAGUS”

Kadang orang menjawab:

“Walaupun tidak tahu hadisnya, maknanya bagus.”

Baik.

Kalau maknanya bagus, katakan:

“Ini nasihat yang bagus.”

Tidak perlu dipaksa menjadi hadis.

Nasihat tidak menjadi rendah hanya karena bukan hadis.

Kalam ulama tetap dapat bermanfaat.

Kata bijak tetap dapat menyentuh hati.

Pengalaman guru tetap dapat menjadi pelajaran.

Justru kejujuran menyebut sumber adalah bagian dari adab ilmu.


PARA SALIK TIDAK BUTUH SURGA?

Ada pula kalimat:

“Jaminan surga hanya untuk orang syariat. Para salik tidak membutuhkan itu.”

Kalimat ini harus diperhalus.

Seorang salik boleh mendidik dirinya agar tidak menjadikan ibadah sebagai transaksi semata.

Ia belajar beribadah karena:

cinta,

syukur,

penghambaan,

dan mencari ridha Alloh.

Itu bagus.

Tetapi seorang salik tetap hamba yang berharap rahmat Alloh.

Tidak perlu merendahkan surga.

Tidak perlu merasa lebih tinggi daripada orang yang menangis karena takut neraka.

Karena surga dan neraka adalah bagian dari berita yang Alloh sendiri sampaikan.


MAKRIFAT TIDAK MEMBATALKAN RAJĀ’

Semakin mengenal Alloh, seorang hamba semakin memahami luasnya rahmat-Nya.

Maka ia berharap.

Semakin memahami keadilan-Nya, ia takut berbuat zalim.

Maka ia takut.

Semakin memahami nikmat-Nya, ia mencintai.

Maka:

rajā’ — harapan,

khauf — takut,

dan

mahabbah — cinta

tidak perlu dipertentangkan.

Ketiganya dapat hidup dalam hati seorang ‘ārif.


ILMU YANG PALING DEKAT DENGAN MAKRIFAT

Ilmu yang membawa kepada makrifat bukan hanya banyaknya istilah.

Tetapi ilmu yang membuat seseorang semakin mengerti:

siapa dirinya,

siapa Robb-nya,

apa kewajibannya,

apa kelemahannya,

apa amanahnya.

Ia belajar lalu semakin rendah hati.

Ia membaca lalu semakin berhati-hati.

Ia berdiskusi lalu semakin mampu membedakan dalil dan pendapat.

Itulah ilmu yang mulai menjadi cahaya.


ORANG BERPENGETAHUAN BISA TERGELINCIR

Jangan berpikir bahwa orang berilmu tidak mungkin salah.

Ilmu tidak menghilangkan kehendak manusia.

Seorang alim tetap manusia.

Seorang mursyid tetap manusia.

Seorang murid tetap manusia.

Mereka dapat benar.

Mereka juga dapat keliru.

Karena itu jangan membangun agama di atas:

“Si fulan tidak mungkin salah.”

Yang tidak salah dalam penyampaian risalah adalah Rasululloh ﷺ dengan penjagaan Alloh.

Adapun manusia setelah beliau, perkataannya tetap ditimbang.


ILMU HARUS MEMBUAT TAKUT BERBICARA TANPA DASAR

Salah satu tanda ilmu matang adalah semakin sedikit keberanian berkata:

“Pasti.”

terhadap perkara yang belum pasti.

Orang berilmu tahu perbedaan:

qaṭ‘ī dan ẓannī,

yang jelas dan yang diperselisihkan,

hadis sahih dan hadis lemah,

dalil dan tafsir,

wahyu dan pengalaman.

Semakin banyak yang dipelajari, semakin ia memahami luasnya wilayah:

“Wallohu a‘lam.”


JANGAN MEREMEHKAN ORANG AWAM

Ada orang awam yang tidak mengetahui istilah sanad.

Tidak tahu istilah maqam.

Tidak tahu fana.

Tidak tahu musyahadah.

Tetapi ia datang ke majelis dengan ikhlas.

Belajar wudhu.

Memperbaiki sholat.

Belajar mencari nafkah halal.

Berusaha tidak menyakiti orang.

Jangan remehkan dia.

Boleh jadi satu ilmu kecil yang diamalkannya lebih berat daripada seribu istilah yang hanya menjadi bahan perdebatan.


APA JAMINAN YANG BOLEH KITA PEGANG?

Peganglah janji Rasululloh ﷺ sesuai redaksinya:

Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Alloh memudahkan baginya jalan menuju surga.

Itu sudah sangat agung.

Tidak perlu ditambah.

Tidak perlu dibesarkan dengan kalimat buatan.

Tidak perlu dikurangi.

Tugas kita adalah:

belajar,

meluruskan niat,

mengamalkan,

mengajarkan dengan amanah,

dan berharap kepada rahmat Alloh.


PENUTUP PINTU KETUJUH

Ilmu adalah jalan.

Bukan kesombongan.

Ilmu adalah amanah.

Bukan jaminan untuk berbuat sesuka hati.

Ilmu adalah cahaya.

Tetapi cahaya itu harus masuk ke dalam amal.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah pencari ilmu dijamin surga?”

Tanyakan pula:

“Apakah ilmu yang kucari sudah mengubah hidupku?”

Apakah setelah belajar aku lebih jujur?

Lebih tawadhu?

Lebih menjaga lisan?

Lebih takut berdusta atas nama Rasululloh ﷺ?

Lebih mudah menerima koreksi?

Lebih banyak memberi manfaat?

Jika iya, insya Alloh ilmu itu sedang menunjukkan jalan.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ السَّابِعَةِ

Jangan berkata lebih dari yang dikatakan Nabi.

Jika Nabi bersabda:

“Alloh memudahkan jalan menuju surga,”

maka berhentilah pada kemuliaan kalimat itu.

Jangan diubah menjadi:

“Pasti masuk surga apa pun yang terjadi.”

Karena adab kepada hadis bukan hanya menghafalkan kalimat Nabi.

Adab kepada hadis adalah:

tidak menambahinya,

tidak menguranginya,

dan tidak membuat kepastian atas nama Rasululloh ﷺ yang tidak pernah beliau ucapkan.

Maka carilah ilmu.

Amalkan ilmu.

Jangan sombong dengan ilmu.

Dan serahkan keputusan terakhir kepada Alloh.

Ilmu menunjukkan jalan.
Amal menapaki jalan.
Rahmat Alloh yang menyampaikan hamba kepada keselamatan.

Wallohu a‘lam.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH ATS-TSĀMINAH

PINTU KEDELAPAN — IKHLAS, DUNIA, KEKAYAAN DAN BATAS KEINGINAN

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah membahas ilmu, amal dan janji jalan menuju surga, sekarang kita masuk kepada persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

apakah orang yang dekat kepada Alloh harus miskin?

Apakah Muslim sebaiknya kaya?

Apakah mencari kehidupan nyaman berarti jauh dari makrifat?

Dan apa sebenarnya makna “dunia cukup di tangan, jangan sampai masuk ke hati”?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijernihkan.

Sebab ada dua kesalahan yang sama-sama berbahaya.

Yang pertama:

menganggap kekayaan sebagai bukti pasti kemuliaan.

Yang kedua:

menganggap kemiskinan sebagai bukti pasti kedekatan kepada Alloh.

Keduanya tidak tepat.


DUNIA BUKAN MUSUH

Dunia adalah tempat ujian.

Bukan musuh yang harus dibenci.

Rumah bukan musuh.

Uang bukan musuh.

Kendaraan bukan musuh.

Usaha bukan musuh.

Kenyamanan bukan musuh.

Yang berbahaya adalah ketika semuanya berubah menjadi tuan yang menguasai hati.

Maka masalahnya bukan:

punya atau tidak punya.

Masalahnya adalah:

siapa yang menguasai siapa?

Apakah engkau memiliki harta,

atau harta memiliki engkau?


“DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI”

Kalimat ini baik bila dipahami dengan benar.

Dunia di tangan berarti:

engkau menggunakannya.

Dunia di hati berarti:

engkau diperbudak olehnya.

Kalau harta bertambah lalu syukurmu bertambah,

maka harta menjadi alat.

Kalau harta bertambah lalu kesombonganmu bertambah,

maka harta mulai masuk ke hati.

Kalau kehilangan uang membuatmu sedih, itu manusiawi.

Tetapi kalau kehilangan uang membuatmu meninggalkan iman, menyakiti manusia dan kehilangan seluruh arah hidup, berarti dunia telah terlalu dalam menguasai batin.


APAKAH MUSLIM HARUS KAYA?

Tidak ada kewajiban bahwa setiap Muslim harus menjadi kaya raya.

Tetapi Islam juga tidak mengajarkan kemiskinan sebagai tujuan.

Seorang Muslim boleh bekerja keras.

Boleh membangun usaha.

Boleh memiliki rumah yang baik.

Boleh memiliki kendaraan.

Boleh mengembangkan harta.

Boleh ingin keluarganya hidup layak.

Semua itu dapat menjadi baik apabila caranya halal dan tujuannya benar.

Yang tidak tepat adalah mengubahnya menjadi rumus:

“Semakin kaya pasti semakin dekat kepada Alloh.”

Karena kedekatan kepada Alloh diukur dengan ketakwaan.

Bukan saldo rekening.


ORANG KAYA DAPAT MENJADI SANGAT DEKAT

Kekayaan dapat menjadi jalan besar menuju kebaikan.

Dengan harta seseorang dapat:

menafkahi keluarga,

menolong fakir,

membiayai pendidikan,

membangun tempat ibadah,

menolong orang sakit,

mendukung dakwah,

membayar pekerja dengan adil,

dan membuka lapangan kerja.

Maka harta yang berada di tangan orang amanah dapat menjadi rahmat.

Tetapi harta yang berada di tangan orang tamak dapat menjadi fitnah.

Jadi bukan hartanya yang menentukan.

Hati dan penggunaannya yang menentukan.


ORANG MISKIN JUGA DAPAT SANGAT DEKAT

Sebaliknya, kemiskinan bukan kehinaan.

Orang yang hidup sederhana tetapi sabar, jujur dan menjaga kehormatan dapat memiliki kedudukan yang sangat mulia.

Ia mungkin tidak banyak bersedekah dengan uang.

Tetapi ia bersedekah dengan tenaga.

Dengan waktu.

Dengan doa.

Dengan kesabaran.

Dengan menjaga amanah.

Jangan membuat agama hanya ramah kepada orang kaya.

Dan jangan pula menganggap kemiskinan sebagai maqam otomatis.


IKHLAS BUKAN BERARTI TIDAK PUNYA KEINGINAN

Ada orang berkata:

“Kalau ikhlas, jangan ingin apa-apa.”

Ini terlalu sederhana.

Manusia boleh memiliki keinginan.

Ingin sehat.

Ingin rumah.

Ingin usaha maju.

Ingin keluarga berkecukupan.

Ingin ilmu bertambah.

Ingin hidup tenang.

Keinginan tidak otomatis merusak ikhlas.

Yang harus diperiksa adalah:

apakah keinginan itu menguasai dirimu sampai melanggar batas?

Ikhlas bukan kehilangan seluruh cita-cita.

Ikhlas adalah menata niat dan menerima bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Alloh.


IKHLAS ITU SULIT

Benar bahwa ikhlas itu sulit.

Karena hati dapat berubah.

Hari ini melakukan sesuatu karena Alloh.

Besok senang dipuji.

Hari berikutnya kecewa karena tidak dihargai.

Karena itu ikhlas bukan satu keputusan yang selesai sekali.

Ikhlas perlu diperbarui.

Sebelum amal.

Saat amal.

Dan setelah amal.

Tetapi benar pula:

hidup tanpa keikhlasan jauh lebih berat.

Karena tanpa ikhlas manusia mudah diperbudak oleh penilaian orang.

Dipujinya manusia membuatnya terbang.

Dicela manusia membuatnya runtuh.

Ikhlas membebaskan hati dari ketergantungan berlebihan kepada penilaian makhluk.


IKHLAS BUKAN PASIF

Ada orang memakai kalimat:

“Saya ikhlas.”

Padahal yang terjadi sebenarnya:

menyerah,

tidak mau berusaha,

tidak mau memperbaiki keadaan.

Ini bukan makna ikhlas.

Ikhlas tidak membatalkan ikhtiar.

Orang sakit tetap berobat.

Orang miskin tetap bekerja.

Orang punya utang tetap berusaha membayar.

Orang punya masalah keluarga tetap mencari solusi.

Ikhlas bekerja di dalam hati.

Ikhtiar bekerja dalam tindakan.

Keduanya dapat berjalan bersama.


TAWAKAL BUKAN MENUNGGU

Tawakal bukan duduk sambil berkata:

“Kalau memang rezeki, nanti datang sendiri.”

Tawakal adalah:

berusaha,

berdoa,

mengambil sebab,

lalu tidak menyembah hasil.

Orang yang tawakal tetap bekerja.

Tetapi kalau hasil belum sesuai harapan, ia tidak kehilangan Alloh.

Inilah perbedaannya.


JANGAN MENGGUNAKAN TAKDIR UNTUK MEMATIKAN USAHA

Kalimat:

“Kalau memang takdir pasti ada jalannya,”

mengandung kebenaran jika maksudnya adalah menerima hasil setelah berusaha.

Tetapi berbahaya bila dijadikan alasan:

“Tidak perlu belajar.”

“Tidak perlu bekerja.”

“Tidak perlu merencanakan.”

“Tidak perlu memperbaiki diri.”

Takdir tidak meniadakan ikhtiar.

Ikhtiar juga bagian dari takdir.


AMBISI DAN CITA-CITA BERBEDA

Ada baiknya membedakan:

cita-cita

dengan

ambisi yang menelan hati.

Cita-cita berkata:

“Aku ingin berhasil, semoga Alloh bukakan jalan.”

Ambisi yang liar berkata:

“Aku harus berhasil dengan cara apa pun.”

Cita-cita masih tunduk kepada nilai.

Ambisi liar mengorbankan nilai.

Cita-cita dapat menerima perubahan jalan.

Ambisi liar merasa gagal berarti hidup selesai.

Maka bukan semua keinginan harus dibunuh.

Yang harus dijinakkan adalah keterikatan berlebihan kepada hasil.


HIDUP NYAMAN BUKAN DOSA

Ada orang merasa bersalah karena ingin hidup enak.

Padahal keinginan untuk hidup layak itu manusiawi.

Ingin makan cukup.

Punya tempat tinggal.

Punya pekerjaan baik.

Bisa menyekolahkan anak.

Bisa membantu orang tua.

Semua itu baik.

Yang perlu dijaga adalah:

jangan sampai kenyamanan menjadi tujuan tertinggi.

Karena kalau kenyamanan menjadi Tuhan baru, manusia akan takut kehilangan apa pun sampai rela melanggar prinsip.


MAKRIFAT TIDAK MENGAJARKAN ANTI-DUNIA

Makrifat mengajarkan melihat dunia secara proporsional.

Dunia penting.

Tetapi bukan abadi.

Harta berguna.

Tetapi bukan tujuan akhir.

Tubuh harus dijaga.

Tetapi kematian tetap datang.

Maka orang yang mengenal Alloh tidak harus meninggalkan dunia.

Ia belajar menggunakan dunia tanpa tenggelam di dalamnya.


KAYA TAPI TIDAK MERASA MEMILIKI

Inilah salah satu latihan batin yang dalam.

Engkau punya harta.

Tetapi sadar:

semua titipan.

Engkau punya jabatan.

Tetapi sadar:

semua sementara.

Engkau punya nama.

Tetapi sadar:

semua dapat hilang.

Engkau punya keluarga.

Tetapi sadar:

mereka milik Alloh.

Kesadaran ini bukan membuat hidup muram.

Justru membuat syukur menjadi lebih dalam.


MISKIN TAPI TIDAK MERASA RENDAH

Demikian pula orang yang belum punya banyak harta.

Jangan merasa dirinya rendah di hadapan Alloh.

Kemuliaan tidak dibeli dengan uang.

Kalau engkau jujur,

menjaga sholat,

menjaga harga diri,

tidak mengambil hak orang,

dan tetap berusaha,

maka jangan hina dirimu hanya karena keadaan ekonomi.

Makrifat memerdekakan manusia dari ukuran palsu dunia.


UKURAN BERKAH BUKAN JUMLAH

Berkah tidak selalu berarti banyak.

Kadang sedikit tetapi cukup.

Kadang sederhana tetapi tenteram.

Kadang penghasilan besar tetapi hidup penuh konflik.

Kadang rumah kecil tetapi penuh kasih.

Karena itu jangan menyamakan:

banyak = pasti berkah.

Berkah adalah ketika sesuatu membawa kebaikan dan mendekatkan kepada ketaatan.


KEKAYAAN TANPA AKHLAK ADALAH BEBAN

Kalau harta membuat seseorang:

merasa lebih mulia,

merendahkan orang miskin,

mengabaikan keluarga,

mengambil hak pekerja,

menipu,

maka harta itu belum menjadi jalan makrifat.

Karena makrifat bukan tentang seberapa banyak yang kita punya.

Tetapi bagaimana semuanya kembali menjadi amanah.


KEMISKINAN TANPA SABAR JUGA DAPAT MENJADI UJIAN

Jangan pula memuliakan kemiskinan secara romantis.

Kesulitan ekonomi dapat berat.

Dapat membuat orang tertekan.

Dapat membuat keluarga kesulitan.

Karena itu membantu orang keluar dari kesulitan adalah amal.

Agama tidak meminta kita membiarkan orang miskin lalu berkata:

“Ini maqammu.”

Justru kita diperintah membantu.


PELURUSAN KALIMAT “SEMAKIN BANYAK DUNIA SEMAKIN DEKAT KEPADA ALLOH”

Kalimat ini dapat dibenarkan hanya dengan syarat:

semakin banyak dunia,

semakin banyak manfaat,

semakin banyak syukur,

semakin banyak sedekah,

semakin banyak amanah,

dan semakin kecil kesombongan.

Tetapi tanpa syarat itu, kalimat tersebut tidak berlaku.

Banyak harta bisa mendekatkan.

Banyak harta juga bisa menjauhkan.

Sedikit harta bisa mendekatkan.

Sedikit harta juga bisa membuat seseorang putus asa.

Maka ukurannya tetap:

keadaan hati dan amal.


PELURUSAN MAKNA ZUHUD

Zuhud bukan berarti tidak punya apa-apa.

Zuhud berarti:

apa yang ada di tangan tidak menguasai hati.

Seseorang dapat kaya tetapi zuhud.

Seseorang dapat miskin tetapi sangat cinta dunia.

Karena cinta dunia bukan dihitung dari jumlah harta.

Tetapi dari tingkat keterikatan hati.

Orang tidak punya uang pun dapat sepanjang hari memikirkan dunia.

Sedangkan orang kaya dapat menggunakan hartanya sambil hatinya tetap tunduk kepada Alloh.


MAKRIFAT DAN REZEKI

Mencari rezeki bukan tanda rendahnya maqam.

Bekerja juga ibadah bila niat dan caranya benar.

Tetapi jangan membuat makrifat menjadi alat dagang:

“Amalkan ini pasti kaya.”

“Buka maqam ini pasti uang datang.”

“Bayar ritual ini pasti rezeki terbuka.”

Makrifat bukan mesin kekayaan.

Doa bukan kontrak dagang dengan Alloh.

Berdoalah.

Berikhtiarlah.

Tetapi jangan mengubah Tuhan menjadi alat untuk memenuhi seluruh keinginan.


JANGAN BERTRANSAKSI DENGAN ALLOH SECARA KASAR

Ada perbedaan antara berharap balasan dengan memperlakukan ibadah seperti transaksi mekanis.

Seseorang boleh berharap:

“Ya Alloh, lapangkan rezekiku.”

Tetapi jangan berkata dalam hati:

“Aku sudah berdzikir sekian kali, maka Alloh harus memberi sesuai keinginanku.”

Alloh bukan pihak yang dapat dipaksa.

Ibadah adalah penghambaan.

Doa adalah permohonan.

Hasil adalah hak Alloh.


IKHLAS DAN REZEKI BISA BERJALAN BERSAMA

Jangan takut meminta rezeki karena merasa itu tidak makrifat.

Berdoalah:

“Ya Alloh, berikan rezeki yang halal, luas dan berkah.”

Itu doa yang baik.

Kemudian tambahkan:

“Dan jangan jadikan harta itu hijab antara aku dengan-Mu.”

Di situlah keseimbangan.


PENUTUP PINTU KEDELAPAN

Makrifat tidak menyuruh manusia membenci dunia.

Makrifat mengajarkan:

jangan tenggelam di dalam dunia.

Kekayaan bukan dosa.

Kemiskinan bukan kemuliaan otomatis.

Kenyamanan bukan musuh.

Kesulitan bukan tiket kewalian.

Semua adalah keadaan yang dapat menjadi ujian.

Maka jika Alloh memberi banyak:

bersyukurlah.

Jika Alloh memberi sedikit:

jangan putus asa.

Jika ingin lebih baik:

berusahalah.

Jika hasil belum datang:

jangan kehilangan arah.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ الثَّامِنَةِ

Miliki dunia, tetapi jangan dimiliki dunia.

Cari rezeki, tetapi jangan menjadikan rezeki sebagai Tuhan.

Bangun kehidupan yang layak, tetapi jangan gadaikan hati untuk kenyamanan.

Berusahalah sungguh-sungguh, tetapi jangan menganggap hasil sebagai milikmu sepenuhnya.

Sebab makrifat bukan membuat manusia meninggalkan kehidupan.

Makrifat membuat manusia mampu hidup di tengah dunia tanpa kehilangan Alloh.

Dunia di tangan.
Syukur di lisan.
Amanah dalam perbuatan.
Dan Alloh tetap menjadi tujuan hati.

Wallohu a‘lam.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AT-TĀSI‘AH

PINTU KESEMBILAN — TAKDIR, DOA, IKHTIAR DAN RIDHA

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Setelah membahas dunia, kekayaan, rezeki dan ikhlas, sekarang kita masuk kepada satu persoalan yang sering membuat orang bingung:

Kalau semua sudah ditakdirkan, untuk apa berusaha?

Kalau Alloh sudah tahu hasilnya, untuk apa berdoa?

Kalau kita harus ridha, apakah berarti tidak boleh mengubah keadaan?

Pertanyaan ini sangat penting.

Sebab salah memahami takdir dapat membuat seseorang pasif.

Salah memahami ikhtiar dapat membuat seseorang sombong.

Salah memahami ridha dapat membuat seseorang menyerah sebelum berjuang.

Dan salah memahami doa dapat membuat seseorang memperlakukan Alloh seperti alat untuk memenuhi kehendaknya.

Maka empat hal ini harus ditempatkan bersama:

takdir,

ikhtiar,

doa,

dan

ridha.


TAKDIR BUKAN ALASAN UNTUK DIAM

Ada orang berkata:

“Kalau memang takdirku kaya, nanti kaya sendiri.”

“Kalau memang takdir sembuh, nanti sembuh sendiri.”

“Kalau memang takdir dapat ilmu, nanti datang sendiri.”

Kalimat seperti ini keliru jika dipakai untuk meninggalkan sebab.

Alloh menciptakan dunia dengan sunnatullah.

Ada sebab dan akibat.

Orang lapar makan.

Orang sakit berobat.

Orang ingin ilmu belajar.

Orang ingin rezeki bekerja.

Orang ingin rumah membangun.

Maka ikhtiar bukan tandingan takdir.

Ikhtiar juga bagian dari takdir.


TAKDIR TIDAK MEMBATALKAN TANGGUNG JAWAB

Kalau seseorang berbuat zalim lalu berkata:

“Ini kan takdir.”

Itu bukan alasan.

Karena manusia tetap diberi tanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya.

QS. az-Zalzalah 7–8 menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan sekecil apa pun akan diperlihatkan.

Maka takdir tidak boleh digunakan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab moral.


APA YANG SUDAH DITENTUKAN?

Alloh mengetahui seluruh yang akan terjadi.

Pengetahuan-Nya tidak terbatas.

Tetapi pengetahuan Alloh tentang pilihan manusia tidak berarti manusia berubah menjadi boneka tanpa tanggung jawab.

Kita tidak mengetahui seluruh rincian takdir.

Karena itu tugas kita bukan membongkar rahasia takdir sebelum terjadi.

Tugas kita adalah menjalani amanah.


JANGAN MENJADIKAN TAKDIR SEBAGAI RAMALAN

Ada orang terlalu sibuk bertanya:

“Apakah saya ditakdirkan kaya?”

“Apakah saya ditakdirkan jadi wali?”

“Apakah saya ditakdirkan menikah dengan orang ini?”

“Apakah saya ditakdirkan gagal?”

Padahal rahasia takdir bukan wilayah yang harus dikejar dengan spekulasi.

Lebih sehat bertanya:

Apa yang benar untuk kulakukan sekarang?

Karena manusia diperintah bertindak atas dasar ilmu dan amanah, bukan berdasarkan klaim mengetahui masa depan.


DOA JUGA BAGIAN DARI TAKDIR

Kalau seseorang bertanya:

“Kalau semua sudah tertulis, untuk apa berdoa?”

Jawabannya:

karena doa juga termasuk sebab yang Alloh ajarkan.

Alloh memerintahkan manusia berdoa.

Maka jangan memisahkan doa dari takdir.

Boleh jadi suatu kebaikan datang melalui doa.

Boleh jadi kesulitan menjadi ringan melalui doa.

Boleh jadi doa mengubah diri kita sebelum keadaan berubah.

Maka doa bukan bentuk protes terhadap takdir.

Doa adalah bentuk kehambaan di dalam takdir.


DOA BUKAN PERINTAH KEPADA ALLOH

Ini harus dijaga.

Berdoa bukan berarti berkata:

“Ya Alloh, aku sudah melakukan ini, maka Engkau wajib memberiku itu.”

Doa adalah permohonan.

Bukan ultimatum.

Hamba boleh meminta sangat spesifik.

Boleh meminta:

rezeki,

kesembuhan,

jodoh,

keturunan,

kemudahan,

perlindungan,

ilmu,

ketenangan.

Tetapi hati tetap berkata:

“Engkau lebih tahu apa yang terbaik.”

Inilah adab doa.


IKHTIAR TANPA DOA DAPAT MENJADI SOMBONG

Ada orang berkata:

“Semua karena kerja kerasku.”

Ini juga tidak utuh.

Benar, kita harus bekerja.

Tetapi siapa yang memberi:

kesehatan?

akal?

kesempatan?

pertemuan?

jalan?

kemampuan?

Maka ikhtiar seharusnya melahirkan syukur, bukan kesombongan.


DOA TANPA IKHTIAR DAPAT MENJADI PELARIAN

Sebaliknya, ada orang berdoa terus tetapi tidak mau bertindak.

Ingin rezeki tetapi tidak mau bekerja.

Ingin ilmu tetapi tidak mau belajar.

Ingin sehat tetapi mengabaikan semua sebab kesehatan.

Ini bukan tawakal yang sempurna.

Doa dan ikhtiar harus bertemu.


RIDHA BUKAN MENYUKAI SEMUA PENDERITAAN

Ridha sering disalahpahami.

Ada yang mengira ridha berarti:

tidak boleh sedih,

tidak boleh menangis,

tidak boleh merasa sakit,

tidak boleh kecewa.

Padahal manusia tetap manusia.

Menangis bukan berarti tidak ridha.

Sedih bukan berarti durhaka.

Yang penting adalah tidak berubah menjadi protes kepada Alloh dan tidak mengambil jalan haram karena keadaan sulit.


RIDHA BUKAN BERARTI DIAM TERHADAP KEZALIMAN

Ini penting.

Kalau seseorang dizalimi, lalu ada yang berkata:

“Sudah, ridha saja.”

Kalimat itu dapat menjadi sangat tidak adil.

Ridha kepada takdir bukan berarti membiarkan kezaliman.

Seseorang boleh menuntut hak.

Boleh mencari perlindungan.

Boleh melapor.

Boleh memperbaiki keadaan.

Boleh keluar dari situasi berbahaya.

Ridha bekerja di hati.

Keadilan tetap dijaga dalam tindakan.


SABAR BUKAN PASRAH TANPA GERAK

Sabar juga bukan berarti diam.

Sabar berarti bertahan dalam jalan yang benar.

Orang sakit sabar sambil berobat.

Orang miskin sabar sambil bekerja.

Orang dizalimi sabar sambil mencari keadilan.

Orang belajar sabar menghadapi kesulitan ilmu.

Maka sabar memiliki gerak.


TAKDIR SETELAH KEJADIAN

Salah satu adab yang baik adalah:

sebelum kejadian: ikhtiar.

setelah kejadian: evaluasi dan ridha.

Sebelum ujian:

belajar.

Setelah hasil keluar:

terima lalu perbaiki.

Sebelum sakit:

jaga kesehatan.

Saat sakit:

berobat.

Jika hasil tidak sesuai harapan:

jangan putus asa.

Inilah keseimbangan.


JANGAN MEMAKSA SEMUA HASIL

Ada manusia yang begitu kuat mengejar sesuatu sampai berkata:

“Aku harus mendapatkannya.”

Makrifat mendidik:

berusaha maksimal,

tetapi tidak mempertuhankan hasil.

Ada pintu yang tidak dibuka.

Ada rencana yang berubah.

Ada orang yang tidak jadi bersama kita.

Ada usaha yang gagal.

Tidak semua kegagalan berarti Alloh membenci.

Kadang perubahan jalan adalah perlindungan.


“KALAU TAKDIR PASTI ADA JALANNYA”

Kalimat ini dapat dipakai sebagai penghiburan setelah ikhtiar.

Tetapi jangan digunakan untuk menunggu tanpa tindakan.

Versi yang lebih utuh adalah:

“Kalau Alloh menakdirkan sesuatu, Dia mampu membuka jalan; tugasku adalah menempuh sebab yang halal dan benar.”

Ini lebih sehat.


JANGAN MEMBURU TAKDIR

Ada orang ingin sekali mengetahui:

siapa jodohnya,

berapa rezekinya,

kapan wafatnya,

apa maqamnya,

apa tugas gaibnya.

Lalu mencari ramalan, bisikan, simbol dan tafsir angka.

Makrifat bukan memburu rahasia masa depan.

Makrifat justru mengajarkan:

hidupkan amanah hari ini.

Karena besok belum diberikan.


TAWAKAL SETELAH IKHTIAR

Tawakal bukan lawan ikhtiar.

Tawakal adalah kondisi hati setelah sebab diambil.

Engkau belajar.

Lalu serahkan hasil.

Engkau bekerja.

Lalu serahkan rezeki.

Engkau berobat.

Lalu serahkan kesembuhan.

Engkau berdoa.

Lalu serahkan bentuk jawaban.

Itulah tawakal.


APAKAH DOA SELALU DIKABULKAN SESUAI PERMINTAAN?

Tidak selalu dalam bentuk yang kita minta.

Kadang diberikan segera.

Kadang ditunda.

Kadang diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Kadang kita baru memahami hikmahnya jauh kemudian.

Karena itu jangan menilai kasih sayang Alloh hanya dari satu permintaan yang belum terkabul sesuai keinginan.


MAKRIFAT DAN KONTROL

Salah satu jebakan ruhani adalah keinginan mengendalikan seluruh hidup.

Ingin tahu semuanya.

Ingin memastikan semuanya.

Ingin mengunci hasil.

Padahal makrifat mengajarkan satu hal yang sangat sulit:

tidak semua harus bisa kita kendalikan.

Ada wilayah ikhtiar.

Ada wilayah tawakal.

Mengetahui batas keduanya adalah kedewasaan ruhani.


JANGAN MEMBUAT RITUAL MENJADI MESIN HASIL

Ada orang berkata:

“Baca ini sekian kali, pasti hasilnya begini.”

“Puasa ini, pasti rezeki sekian.”

“Dzikir ini, pasti orang itu kembali.”

Hati-hati.

Dzikir adalah ibadah.

Doa adalah penghambaan.

Amalan boleh memiliki keutamaan.

Tetapi jangan mengubah ibadah menjadi formula mekanis yang seakan memaksa Alloh.

Alloh bukan mesin sebab-akibat yang dapat dikendalikan manusia.


MAKRIFAT MENGAJARKAN DUA KALIMAT

Saat berusaha:

“Aku bertanggung jawab.”

Saat menerima hasil:

“Alloh lebih mengetahui.”

Kedua kalimat ini harus hidup bersama.

Kalau hanya yang pertama, manusia bisa sombong.

Kalau hanya yang kedua, manusia bisa pasif.


RIDHA BUKAN BERHENTI BELAJAR

Jika gagal, jangan berkata:

“Sudah takdir.”

Lalu tidak memperbaiki apa pun.

Tanyakan:

Apa yang bisa dipelajari?

Apa yang harus diperbaiki?

Di mana kesalahan?

Ridha menerima kenyataan.

Tetapi hikmah mendorong perbaikan.


JANGAN MENYALAHKAN ALLOH ATAS PILIHAN SENDIRI

Kadang seseorang mengambil keputusan buruk.

Tidak mau mendengar nasihat.

Tidak memeriksa risiko.

Lalu ketika gagal berkata:

“Alloh menakdirkan begini.”

Benar, tidak ada sesuatu pun keluar dari ilmu dan ketetapan Alloh.

Tetapi manusia tetap harus mengakui pilihan dan kesalahannya.

Takdir bukan tempat bersembunyi dari evaluasi.


PELURUSAN MAKNA PASRAH

Pasrah yang benar adalah:

menyerahkan hasil, bukan menyerahkan tanggung jawab.

Kita serahkan:

hasil usaha,

masa depan,

umur,

rezeki,

kepada Alloh.

Tetapi tanggung jawab tetap kita jalani.


PENUTUP PINTU KESEMBILAN

Takdir bukan alasan malas.

Doa bukan alat memaksa Tuhan.

Ikhtiar bukan bukti bahwa manusia berkuasa sendiri.

Ridha bukan pasrah terhadap kezaliman.

Sabar bukan diam tanpa gerak.

Tawakal bukan meninggalkan sebab.

Semuanya bertemu pada satu titik:

hamba berusaha sebaik mungkin, lalu menyadari bahwa hasil berada dalam kekuasaan Alloh.

خَاتِمَةُ الصَّحِيْفَةِ التَّاسِعَةِ

Sebelum hasil datang: berikhtiarlah.

Saat berikhtiar: berdoalah.

Setelah hasil datang: bersyukurlah atau bersabarlah.

Jika gagal: belajarlah.

Jika berhasil: jangan sombong.

Jika jalan berubah: jangan putus asa.

Karena makrifat bukan mengetahui semua takdir sebelum terjadi.

Makrifat adalah mampu tetap menjadi hamba ketika takdir berjalan tidak sesuai keinginan.

Berusaha tanpa merasa paling berkuasa.

Berdoa tanpa memaksa.

Menerima tanpa menyerah.

Dan berjalan tanpa kehilangan Alloh.

Wallohu a‘lam.


QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

ṢAḤĪFAH AL-‘ĀSYIRAH AL-KHĀTIMAH

PINTU KESEPULUH — MUSYĀHADAH, FANĀ’, BAQĀ’, ITTIḤĀD, DAN PENUTUP BESAR PELURUSAN MAKRIFAT

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Sampailah kita pada lembar terakhir.

Setelah sebelumnya dibahas tentang:

dalil dan pengalaman,

Imam ‘Ali dan tauhid,

ruh dan nafs,

kasyaf dan mimpi,

guru mursyid dan sanad,

syariat dan hakikat,

ilmu dan amal,

dunia dan ikhlas,

takdir dan ikhtiar,

maka sekarang pembahasan ditutup pada wilayah yang paling dalam sekaligus paling rawan disalahpahami:

musyāhadah, fanā’, baqā’, ittiḥād, ḥulūl, dan bahasa-bahasa tinggi dalam makrifat.

Di sinilah seseorang bisa benar-benar tumbuh dalam tauhid.

Tetapi di sinilah pula seseorang bisa tergelincir jika istilah ruhani dibaca secara mentah.

Maka lembar terakhir ini harus dibaca dengan hati tenang.

Bukan untuk memenangkan perdebatan.

Bukan untuk menuduh siapa pun.

Tetapi untuk menjaga agar jalan makrifat tetap menjadi:

jalan tauhid,

jalan adab,

jalan kehambaan,

dan

jalan kembali kepada Alloh tanpa pernah menghapus batas antara Khāliq dan makhluk.


APA ITU MUSYĀHADAH?

Musyāhadah secara bahasa berarti menyaksikan.

Dalam bahasa tasawuf, musyāhadah sering dipakai untuk menggambarkan keadaan hati yang begitu sadar kepada Alloh.

Seseorang melihat alam, lalu hatinya ingat kepada Pencipta.

Melihat nikmat, lalu sadar kepada Pemberi nikmat.

Melihat ujian, lalu sadar kepada kebijaksanaan Alloh.

Melihat hidup, lalu sadar kepada kekuasaan-Nya.

Tetapi musyāhadah tidak boleh dipahami sebagai:

melihat Dzat Alloh dengan mata jasmani di dunia seperti melihat makhluk.

Maka ungkapan:

“Aku menyaksikan Alloh”

harus diperjelas.

Yang lebih aman:

“Hatiku menyaksikan tanda-tanda kekuasaan, rahmat dan pengawasan-Nya.”

Musyāhadah adalah kesadaran.

Bukan pembatasan Dzat.


MENYAKSIKAN KEKUASAAN-NYA, BUKAN MENYAKSIKAN BENTUK-NYA

Ada orang berkata:

“Saya melihat Alloh dalam cahaya.”

Ada pula yang berkata:

“Saya melihat Alloh dalam diri saya.”

Kalimat semacam ini perlu sangat berhati-hati.

Cahaya yang terlihat adalah ciptaan.

Bentuk yang terlihat adalah ciptaan.

Gambaran yang muncul dalam pikiran adalah ciptaan.

Alloh tidak terbatas pada gambaran-gambaran tersebut.

Maka kalau seseorang mengalami cahaya saat berdzikir, jangan berkata:

“Itulah Dzat Alloh.”

Katakan:

“Saya mengalami cahaya dalam keadaan ruhani saya.”

Perbedaannya sangat besar.

Yang pertama membuat klaim tentang Dzat Alloh.

Yang kedua hanya menjelaskan pengalaman pribadi.


FANĀ’ BUKAN HILANGNYA MANUSIA SECARA HAKIKI

Kata fanā’ sering dipahami sebagai “lenyap”.

Lalu ada yang berkata:

“Kalau sudah fana, diri sudah tidak ada.”

Apa maksudnya?

Kalau maksudnya:

hilangnya kesombongan,

hilangnya rasa memiliki,

hilangnya rasa paling penting,

hilangnya ego yang menuntut dipuji,

maka bahasa fanā’ dapat dipahami.

Tetapi kalau maksudnya:

hakikat manusia benar-benar berubah menjadi Alloh,

maka itu tidak dapat diterima.

Manusia tetap manusia.

Alloh tetap Alloh.

Fanā’ yang aman adalah:

fanā’ dari ego, bukan fanā’ dari status sebagai makhluk.


YANG MATI ADALAH EGO, BUKAN KEHAMBAAN

Kadang terdengar ungkapan:

“Orang makrifat sudah mati sebelum mati.”

Kalimat ini dapat dipahami sebagai bahasa ruhani.

Yang “mati” adalah:

kesombongan,

ketamakan,

rasa paling benar,

nafs untuk dipuji,

ketergantungan kepada manusia,

rasa memiliki mutlak.

Tetapi bukan:

syariatnya mati,

tanggung jawabnya mati,

ibadahnya mati,

akalnya mati.

Justru orang yang fanā’ dari ego semakin hidup dalam penghambaan.


BAQĀ’ SETELAH FANĀ’

Kalau fanā’ adalah lenyapnya dominasi ego, maka baqā’ dapat dipahami sebagai hidup kembali dalam ketaatan dengan kesadaran baru.

Ia tidak lagi beramal untuk membesarkan dirinya.

Ia beramal karena amanah.

Ia tidak lagi berkata:

“Aku paling tinggi.”

Ia berkata:

“Semoga Alloh menerima.”

Ia tidak lagi sibuk menjaga citra.

Ia sibuk menjaga niat.

Itulah salah satu cara aman memahami baqā’.


BAQĀ’ BUKAN MENJADI ABADI SEPERTI ALLOH

Jangan pula memahami baqā’ sebagai:

manusia menjadi kekal dengan kekekalan Dzat Alloh.

Tidak.

Alloh adalah al-Bāqī secara mutlak.

Makhluk memiliki keberadaan karena kehendak-Nya.

Makhluk tidak berubah menjadi Tuhan.

Maka istilah baqā’ dalam tasawuf adalah istilah pengalaman penghambaan.

Bukan perubahan ontologis manusia menjadi Ilahi.


APA ITU ITTIḤĀD?

Ittiḥād berarti penyatuan.

Istilah ini sangat berbahaya kalau digunakan tanpa penjelasan.

Kalau maksudnya:

“kehendakku kutundukkan kepada kehendak Alloh,”

itu dapat dipahami sebagai bahasa ketaatan.

Tetapi kalau maksudnya:

“Dzat manusia menyatu dengan Dzat Alloh,”

maka itu bertentangan dengan tauhid.

Alloh tidak bergabung dengan makhluk.

Makhluk tidak bergabung menjadi Alloh.

Yang benar adalah:

kesesuaian kehendak dalam ketaatan, bukan penyatuan Dzat.


APA ITU ḤULŪL?

Ḥulūl secara sederhana sering dipahami sebagai “Tuhan masuk ke dalam makhluk”.

Pemahaman ini harus ditolak.

Alloh tidak masuk ke tubuh manusia.

Tidak masuk ke pohon.

Tidak masuk ke batu.

Tidak masuk ke guru.

Tidak masuk ke wali.

Tidak masuk ke ruh.

Kalau seseorang berkata:

“Alloh ada di dalam diriku,”

maka harus dijelaskan maksudnya.

Kalau maksudnya:

ilmu, rahmat, hidayah, dan pengawasan Alloh meliputi diriku,

itu dapat diperjelas dengan bahasa yang aman.

Tetapi jika maksudnya Dzat Alloh berada secara fisik atau menyatu dalam tubuh, maka itu tidak benar.


“ALLOH LEBIH DEKAT DARIPADA URAT LEHER”

Ayat tentang kedekatan Alloh juga sering disalahpahami.

Kedekatan Alloh tidak harus dimaknai sebagai kedekatan jarak seperti dua benda.

Alloh dekat dengan ilmu-Nya.

Dekat dengan pengawasan-Nya.

Dekat dengan pertolongan-Nya.

Dekat dengan rahmat-Nya.

Jangan membayangkan kedekatan Alloh seperti benda berada di samping benda.

Makrifat justru membersihkan imajinasi kasar tentang Tuhan.


“AKU ADALAH DIA” DAN BAHASA SYAṬAḤĀT

Dalam sejarah tasawuf dikenal ungkapan-ungkapan ekstrem yang muncul dari sebagian tokoh dalam keadaan spiritual tertentu.

Ungkapan seperti itu sering disebut syaṭaḥāt.

Masalahnya, orang belakangan kadang mengambil satu kalimat ekstrem lalu menjadikannya aqidah.

Ini keliru.

Kalimat yang lahir dari keadaan spiritual tidak boleh otomatis dijadikan dasar tauhid.

Kalau dapat ditakwil dengan makna yang benar, tafsirkan dengan hati-hati.

Kalau makna zahirnya bertentangan dengan tauhid, jangan jadikan makna zahir itu sebagai keyakinan.


PUNCAK MAKRIFAT BUKAN “AKU”

Semakin tinggi orang berbicara tentang makrifat, seharusnya semakin berkurang kata:

aku.

Bukan:

“Aku sudah melihat.”

“Aku sudah sampai.”

“Aku sudah fana.”

“Aku sudah musyahadah.”

“Aku sudah dibuka.”

Tetapi:

“Alloh yang memberi.”

“Alloh yang menutup.”

“Alloh yang membimbing.”

“Alloh lebih mengetahui.”

Inilah tanda ego mulai mengecil.


JANGAN MENGUKUR MAQAM DIRI SENDIRI

Salah satu jebakan paling halus adalah sibuk mengukur:

“Aku sudah di maqam mana?”

“Apakah aku sudah mutmainnah?”

“Apakah aku sudah fana?”

“Apakah aku sudah musyahadah?”

Pertanyaan semacam itu mudah menjadi makanan ego.

Lebih baik bertanya:

Apakah hari ini aku lebih jujur?

Lebih sabar?

Lebih amanah?

Lebih sedikit menyakiti orang?

Lebih tertib ibadah?

Itu ukuran yang lebih nyata.


MAKrifat TIDAK BERTENTANGAN DENGAN KESADARAN DIRI

Ada yang mengira makrifat berarti membenci diri.

Tidak.

Makrifat mengajarkan menempatkan diri.

Tidak menuhankan diri.

Tidak merendahkan diri sampai putus asa.

Tidak membesarkan diri sampai sombong.

Engkau adalah hamba.

Dan menjadi hamba Alloh bukan kehinaan.

Itu kemuliaan.


“RAHASIA” BUKAN ALASAN UNTUK KEBAL KRITIK

Ada orang berkata:

“Ini ilmu sirr. Tidak dapat dinilai oleh orang biasa.”

Kalimat ini boleh berlaku untuk pengalaman pribadi.

Tetapi jika pengalaman itu berubah menjadi ajaran untuk orang lain, ia tetap harus diperiksa.

Makrifat tidak memiliki lisensi untuk berkata apa saja.

Semakin dalam pembahasan, semakin besar kehati-hatian.


ORANG YANG BENAR-BENAR DALAM TIDAK MUDAH MENUDUH

Orang yang matang tahu bahwa manusia memiliki perjalanan berbeda.

Ada yang kuat dalam fiqih.

Ada yang kuat dalam hadis.

Ada yang kuat dalam tasawuf.

Ada yang sederhana tetapi ikhlas.

Tidak perlu berkata:

“Dia belum sampai.”

“Dia masih syariat.”

“Dia masih awam.”

Boleh jadi yang disebut awam lebih dekat kepada Alloh karena kejujurannya.

Maka jangan menjadikan makrifat sebagai kasta spiritual.


JANGAN MERENDAHKAN SYARIAT

Kalimat:

“Syariat itu untuk orang bawah.”

harus ditinggalkan.

Siapa yang paling makrifat kepada Alloh?

Rasululloh ﷺ.

Dan beliau tetap sholat.

Tetap berpuasa.

Tetap berdoa.

Tetap beristighfar.

Tetap menunaikan amanah.

Maka semakin dalam makrifat seharusnya semakin hidup syariatnya.


JANGAN MERENDAHKAN PAHALA DAN SURGA

Demikian pula jangan berkata:

“Orang makrifat sudah tidak butuh pahala.”

“Orang makrifat tidak butuh surga.”

Bahasa cinta boleh tinggi.

Tetapi jangan merendahkan apa yang Alloh sendiri janjikan.

Surga adalah rahmat.

Pahala adalah karunia.

Takut neraka adalah bagian dari kesadaran.

Mengharap ridha Alloh adalah tujuan agung.

Semua dapat hidup bersama.


JANGAN MENJADIKAN “RASA” SEBAGAI HAKIM TERAKHIR

Rasa penting.

Tetapi rasa berubah.

Hari ini tenang.

Besok takut.

Hari ini yakin.

Besok ragu.

Karena itu rasa perlu dituntun ilmu.

Kalau rasa bertentangan dengan dalil, jangan ubah dalil demi rasa.

Timbang rasa.

Bukan wahyu yang ditimbang oleh rasa.


JANGAN MENJADIKAN AKAL SEBAGAI TUHAN

Tetapi jangan pula berlebihan di sisi lain.

Akal penting.

Namun akal memiliki batas.

Tidak semua misteri ketuhanan dapat diurai sepenuhnya.

Di titik tertentu seorang hamba berkata:

“Aku memahami sejauh yang Alloh izinkan.”

Itu bukan kebodohan.

Itu adab.


JALAN TENGAH MAKRIFAT

Maka jalan yang aman adalah:

wahyu sebagai dasar,

akal sebagai alat memahami,

hati sebagai tempat penghayatan,

guru sebagai pembimbing,

amal sebagai buah,

dan

Alloh sebagai tujuan.

Jika salah satunya dibuang, perjalanan menjadi timpang.


TENTANG IMAM ‘ALI

Setelah seluruh pembahasan ini, bagaimana posisi Imam ‘Ali?

Hormatilah beliau.

Pelajari hikmah beliau.

Pelajari tauhid beliau.

Pelajari keberanian beliau.

Pelajari zuhud beliau.

Pelajari kedalaman ilmu beliau.

Tetapi jangan jadikan cinta kepada beliau sebagai alasan untuk meniadakan sahabat lain.

Tidak perlu merendahkan Abu Bakr untuk memuliakan ‘Ali.

Tidak perlu merendahkan Umar.

Tidak perlu merendahkan Utsman.

Cinta yang sehat tidak membutuhkan penghinaan kepada yang lain.


TENTANG GURU MURSYID

Carilah guru yang:

membawa kepada Alloh,

bukan kepada kultus dirinya.

Guru yang mengajarkan adab.

Guru yang tidak takut diperiksa.

Guru yang mau berkata:

“Saya tidak tahu.”

Guru yang tidak menjual maqam.

Guru yang tidak menjadikan murid tergantung secara mutlak kepadanya.

Guru yang sanadnya membawa akhlak.

Bukan hanya nama.


TENTANG PENCARI ILMU

Carilah ilmu.

Karena Rasululloh ﷺ memberi kabar gembira besar kepada pencari ilmu.

Tetapi jangan berhenti pada kebanggaan:

“Aku pencari ilmu.”

Ilmu harus membuatmu semakin takut berbohong.

Semakin malu menisbatkan kalimat palsu kepada Nabi.

Semakin ringan menerima koreksi.

Semakin besar manfaatmu kepada manusia.

Kalau ilmu membuatmu merasa lebih tinggi, periksa lagi niatnya.


TENTANG ORANG YANG WAFAT SEBELUM “SAMPAI”

Jangan membuat klaim yang tidak jelas sumbernya.

Jangan berkata:

“Nanti malaikat pasti melanjutkan pelajaran makrifatnya.”

kalau tidak memiliki hadis yang jelas.

Lebih aman berkata:

“Semoga Alloh menyempurnakan rahmat-Nya kepada orang yang wafat dalam perjalanan mencari ilmu.”

Doa tidak membutuhkan hadis palsu.

Harapan tidak membutuhkan klaim.

Rahmat Alloh sudah cukup luas untuk kita mohon.


TENTANG RUH

Ruh adalah urusan Robb.

Ilmu kita sedikit.

Maka jangan membuat teori terlalu pasti.

Jangan berkata ruh adalah bagian Dzat Alloh.

Jangan berkata ruh pecah menjadi Tuhan kecil.

Jangan berkata ruh menyatu kembali dengan Dzat.

Ruh adalah ciptaan.

Mulia.

Misterius.

Tetapi tetap ciptaan.


TENTANG NAFS

Nafs bukan musuh yang harus dibunuh secara fisik.

Nafs harus dididik.

Dari dorongan buruk,

menuju penyesalan,

menuju ketenangan,

menuju kedewasaan ruhani.

Tetapi jangan sibuk mengklaim tingkatan.

Yang terpenting:

hari ini lebih baik daripada kemarin.


TENTANG DUNIA

Jangan membenci dunia.

Dunia adalah tempat beramal.

Cari nafkah.

Bangun kehidupan.

Didik anak.

Bantu keluarga.

Bangun usaha.

Sedekah.

Tetapi jangan jadikan dunia sebagai pusat hati.

Kaya tidak otomatis dekat.

Miskin tidak otomatis dekat.

Yang mendekatkan adalah ketakwaan.


TENTANG TAKDIR

Jangan berlindung di balik takdir untuk malas.

Berusahalah.

Berdoalah.

Ambil sebab.

Setelah itu serahkan hasil.

Jika berhasil, jangan sombong.

Jika gagal, jangan putus asa.

Takdir bukan alasan untuk berhenti menjadi manusia yang bertanggung jawab.


TENTANG PENGALAMAN BATIN

Kalau melihat cahaya, jangan langsung menyebutnya karamah.

Kalau mendengar suara, jangan langsung menyebutnya wahyu.

Kalau melihat diri sendiri, jangan langsung menyebutnya tugas langit.

Kalau bermimpi, jangan langsung membangun hukum.

Ambil hikmah.

Timbang dengan tauhid.

Dan kalau pengalaman berulang mengganggu kesehatan atau kehidupan, mencari pertolongan profesional juga merupakan ikhtiar yang sah.


TENTANG IKHLAS

Ikhlas bukan tidak punya keinginan.

Ikhlas adalah tidak menjadikan keinginan sebagai Tuhan.

Engkau boleh berharap kaya.

Boleh berharap sehat.

Boleh berharap bahagia.

Tetapi jangan menjual prinsip demi hasil.

Ikhlas adalah:

berusaha sebaik mungkin,

lalu tidak memaksa Alloh mengikuti seluruh kehendak kita.


TENTANG DIAM

Ada kalimat:

“Ujung makrifat adalah diam.”

Benar, jika maksudnya:

diam dari kesombongan,

diam dari pamer maqam,

diam dari klaim berlebihan,

diam dari merasa paling tahu.

Tetapi jangan diam dari:

kebenaran,

amanah,

keadilan,

dan tanggung jawab.

Diamnya ‘ārif adalah diam ego.

Bukan mati nurani.


TENTANG MENIKMATI

Ada pula ungkapan:

“Ujungnya tinggal menikmati anugerah Alloh.”

Nikmatilah:

nafas.

Keluarga.

Makanan.

Kesempatan.

Dzikir.

Sholat.

Ilmu.

Persahabatan.

Tetapi jangan menjadikan “menikmati” sebagai alasan berhenti beramal.

Syukur terbaik adalah menggunakan nikmat sesuai kehendak Pemberinya.


MAKRIFAT BUKAN PUNCAK KESOMBONGAN

Ada paradoks.

Orang belajar makrifat supaya mengenal Alloh.

Tetapi kadang justru berakhir merasa dirinya istimewa.

Merasa paling tahu.

Merasa paling dekat.

Merasa paling tinggi.

Kalau itu yang terjadi, mungkin yang bertambah bukan makrifat.

Tetapi ego dengan pakaian ruhani.

Karena ego sangat cerdas.

Dulu ia berkata:

“Aku kaya.”

Setelah belajar agama, ia berkata:

“Aku alim.”

Setelah belajar tasawuf, ia berkata:

“Aku ‘ārif.”

Maka musuh terakhir sering kali tetap sama:

rasa aku.


MAKRIFAT SEJATI MEMBUAT MANUSIA SEMAKIN MANUSIA

Orang yang mengenal Alloh tidak menjadi asing dari kehidupan.

Ia justru menjadi manusia yang lebih utuh.

Lebih sabar sebagai ayah.

Lebih lembut sebagai ibu.

Lebih amanah sebagai pemimpin.

Lebih jujur sebagai pedagang.

Lebih rendah hati sebagai guru.

Lebih sopan sebagai murid.

Lebih peduli sebagai tetangga.

Kalau makrifat tidak memperbaiki kemanusiaan, maka makrifat itu masih perlu diperiksa.


PUNCAKNYA: ‘UBŪDIYYAH

Setelah fanā’.

Setelah baqā’.

Setelah musyāhadah.

Setelah segala istilah tinggi.

Pada akhirnya semuanya kembali kepada satu kata:

‘abd.

Hamba.

Bukan Tuhan.

Bukan bagian Tuhan.

Bukan sekutu Tuhan.

Bukan pemilik kebenaran mutlak.

Hanya hamba.

Dan justru di situlah kemuliaan.

Rasululloh ﷺ pun dimuliakan sebagai hamba-Nya.

Maka jangan malu menjadi hamba.

Jangan buru-buru ingin menjadi “sesuatu”.

Cukuplah menjadi hamba yang dicintai Alloh.


SEPULUH PELURUSAN UTAMA QITAB INI

Maka seluruh qitab ini dapat diringkas dalam sepuluh pagar:

Pertama:
Makrifat harus tunduk kepada tauhid.

Kedua:
Pengalaman ruhani bukan wahyu.

Ketiga:
Imam ‘Ali sangat mulia, tetapi cinta kepadanya tidak perlu meniadakan sahabat lain.

Keempat:
Ruh adalah ciptaan Alloh, bukan pecahan Dzat-Nya.

Kelima:
Mursyid adalah pembimbing, bukan pemilik keselamatan murid.

Keenam:
Syariat tidak gugur karena hakikat atau makrifat.

Ketujuh:
Pencari ilmu mendapat kabar gembira jalan menuju surga, tetapi jangan menambah hadis dengan jaminan yang tidak disebutkan.

Kedelapan:
Kaya dan miskin sama-sama ujian; ukurannya adalah takwa.

Kesembilan:
Takdir tidak membatalkan ikhtiar.

Kesepuluh:
Puncak makrifat adalah semakin sempurnanya kehambaan.


KALIMAT YANG HARUS DIJAGA

Jangan mudah berkata:

“Aku telah menyatu.”

Katakan:

“Aku berusaha menundukkan kehendakku kepada Alloh.”

Jangan berkata:

“Aku melihat Dzat-Nya.”

Katakan:

“Aku menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.”

Jangan berkata:

“Ruhku bagian dari Alloh.”

Katakan:

“Ruhku adalah ciptaan dan amanah Alloh.”

Jangan berkata:

“Guruku pasti tidak pernah salah.”

Katakan:

“Aku menghormatinya dan tetap menimbang ajarannya dengan kebenaran.”

Jangan berkata:

“Aku sudah sampai.”

Katakan:

“Aku masih belajar menjadi hamba.”


JIKA ADA PERBEDAAN PENDAPAT

Qitab ini bukan dibuat untuk memukul orang yang berbeda.

Bila ada guru memakai istilah berbeda, tanyakan maksudnya.

Jangan langsung menuduh.

Boleh jadi perbedaannya hanya bahasa.

Tetapi kalau setelah dijelaskan memang bertentangan dengan tauhid, maka kita berhak tidak mengikuti.

Adab dan ketegasan dapat berjalan bersama.


JANGAN MENYERANG ORANG, LURUSKAN KALIMAT

Inilah etika penting.

Jangan berkata:

“Orangnya sesat.”

Lebih baik mulai dengan:

“Kalimat ini perlu dijelaskan.”

Jangan berkata:

“Guru itu pasti salah semuanya.”

Katakan:

“Bagian ini membutuhkan dalil.”

Jangan menjadikan pelurusan menjadi permusuhan.

Tujuannya adalah menyelamatkan pemahaman.

Bukan mempermalukan manusia.


ILMU YANG BENAR MEMBUAT SUASANA LEBIH TEDUH

Kalau diskusi makrifat semakin panas,

saling menghina,

saling mengkafirkan,

saling mengklaim paling tinggi,

maka kita harus bertanya:

Apakah ilmu ini membuat kita semakin dekat kepada Alloh atau hanya memberi senjata baru kepada ego?

Ilmu yang benar seharusnya membuat:

bahasa lebih hati-hati,

hati lebih rendah,

dan pergaulan lebih beradab.


DOA BAGI PARA PENCARI MAKRIFAT

Yā Alloh,

jangan jadikan ilmu kami hijab dari-Mu.

Jangan jadikan istilah tinggi membuat kami merasa tinggi.

Jangan jadikan pengalaman batin membuat kami lupa pada amanah lahir.

Jangan jadikan guru kami sebagai berhala di dalam hati.

Jangan jadikan cinta kepada guru mengalahkan cinta kepada kebenaran.

Jangan jadikan rasa sebagai alasan meninggalkan dalil.

Jangan jadikan akal sebagai alasan menolak segala yang tidak dapat dijangkaunya.

Berikan kami hati yang lembut.

Akal yang jernih.

Ilmu yang bermanfaat.

Guru yang amanah.

Sahabat yang saling mengingatkan.

Dan keberanian untuk berkata:

“Aku tidak tahu,”

ketika memang tidak tahu.


DOA AGAR ILMU MENJADI CAHAYA

Yā Alloh,

jadikan ilmu kami cahaya,

bukan kesombongan.

Jadikan dzikir kami kesadaran,

bukan tontonan.

Jadikan sholat kami perjumpaan penghambaan,

bukan sekadar gerak.

Jadikan kekayaan kami amanah,

bukan hijab.

Jadikan kemiskinan kami kesabaran,

bukan kehinaan.

Jadikan takdir kami jalan pendidikan.

Jadikan ujian kami pintu kedewasaan.

Jadikan hidup kami manfaat.

Dan jadikan akhir perjalanan kami berada dalam rahmat-Mu.


WASIAT TERAKHIR BAGI PENCARI MAKRIFAT

Kalau engkau ingin makrifat,

jangan mulai dengan mencari keajaiban.

Mulailah dengan kejujuran.

Kalau ingin kasyaf,

jangan mulai dengan mengejar cahaya.

Mulailah dengan membersihkan niat.

Kalau ingin menemukan guru,

jangan hanya lihat karamahnya.

Lihat akhlaknya.

Kalau ingin tahu maqammu,

jangan lihat seberapa banyak pengalamanmu.

Lihat bagaimana engkau memperlakukan manusia.

Kalau ingin tahu apakah ilmu masuk ke hati,

lihat apakah engkau semakin mudah meminta maaf.

Kalau ingin tahu apakah ego berkurang,

lihat apakah engkau semakin sedikit membutuhkan pujian.


TANDA MAKRIFAT YANG PALING SEDERHANA

Boleh jadi tanda makrifat bukan cahaya.

Tetapi ketika engkau mampu menahan satu kalimat kasar.

Boleh jadi bukan mimpi.

Tetapi ketika engkau mampu memaafkan.

Boleh jadi bukan kasyaf.

Tetapi ketika engkau mampu mengakui kesalahan.

Boleh jadi bukan kemampuan melihat yang ghaib.

Tetapi ketika engkau mampu melihat kelemahan dirimu sendiri.

Boleh jadi bukan maqam tinggi.

Tetapi ketika engkau tidak lagi merasa perlu disebut tinggi.


KETIKA SEMUA ISTILAH DILEPASKAN

Lepaskan sejenak kata:

fanā’.

baqā’.

musyāhadah.

tajallī.

sirr.

maqam.

kasyaf.

Lalu tanyakan:

Apakah aku mencintai Alloh?

Apakah aku menjaga perintah-Nya?

Apakah aku takut menzalimi hamba-Nya?

Apakah aku jujur?

Apakah aku bersyukur?

Kalau jawabannya masih lemah, maka perjalanan masih panjang.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena menjadi pencari lebih selamat daripada mengaku sudah sampai.


KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN

Pada awal pembahasan kita mengutip:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit.”

Di akhir qitab ini, ayat itu kembali menjadi cermin.

Bukan untuk mematikan pencarian.

Tetapi untuk menjaga kerendahan hati.

Belajarlah sebanyak mungkin.

Tetapi semakin banyak belajar, semakin sadar:

ilmu Alloh tidak bertepi.


DAN KEMBALI KEPADA NAFS AL-MUṬMA’INNAH

Perjalanan makrifat bukan untuk menjadi Tuhan.

Tetapi untuk pulang sebagai hamba.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

“Wahai jiwa yang tenang.”

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”

Pulang bukan melebur.

Pulang bukan menjadi Dzat-Nya.

Pulang adalah kembali kepada keputusan-Nya sebagai hamba yang ridha.


MAKRIFAT DAN KEMATIAN

Ketika ajal datang, gelar ruhani tidak dibawa.

Tidak ada:

mursyid,

salik,

‘ārif,

ahli kasyaf,

ahli maqam.

Yang dibawa adalah amal dan rahmat Alloh yang diharapkan.

Maka jangan terlalu sibuk membangun gelar ruhani.

Bangunlah bekal.


ILMU DAN KEMATIAN

Jika wafat saat mencari ilmu,

semoga langkah itu menjadi jalan rahmat.

Jika wafat sebelum merasa “sampai”,

jangan takut.

Karena yang menilai perjalanan bukan manusia.

Alloh mengetahui:

niat,

kesungguhan,

air mata,

usaha,

dan kejujuran.

Kita tidak perlu membuat hadis baru untuk menenangkan hati.

Cukuplah berharap kepada rahmat Alloh.


AKHIR PERJALANAN BUKAN MENGETAHUI SEMUA RAHASIA

Boleh jadi seseorang wafat tanpa pernah mengetahui:

hakikat ruh,

rahasia alam malakut,

tingkatan maqam,

atau pengalaman kasyaf.

Tetapi kalau ia wafat:

bertauhid,

menjaga sholat,

jujur,

berbuat baik,

dan berharap kepada Alloh,

maka jangan anggap ia gagal makrifat.

Makrifat bukan koleksi rahasia.

Makrifat adalah kematangan penghambaan.


PENUTUP BESAR

Wahai saudara cahayaku,

jika setelah membaca qitab ini engkau menjadi lebih hati-hati berbicara tentang Alloh,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau mulai membedakan hadis dengan nasihat,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau tetap mencintai guru tetapi tidak mengkultuskannya,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau tetap menghormati Imam ‘Ali tanpa merendahkan sahabat lain,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau mulai memahami bahwa kasyaf bukan tujuan,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau mulai menyadari bahwa dunia boleh dimiliki tanpa dimasukkan ke hati,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Jika engkau mulai memahami bahwa makrifat bukan alasan meninggalkan syariat,

maka qitab ini telah bermanfaat.

Dan jika setelah semua istilah tinggi itu engkau hanya ingin berkata:

“Yā Alloh, jadikan aku hamba-Mu yang benar,”

maka qitab ini telah sampai pada tujuannya.


KHĀTIMAH AL-KUBRĀ

Makrifat bukan menjadi Alloh.

Makrifat adalah semakin mengenal bahwa:

engkau bukan Alloh.

Engkau milik Alloh.

Engkau hidup karena Alloh.

Engkau kembali kepada Alloh.

Engkau beribadah kepada Alloh.

Dan seluruh hidupmu berada dalam genggaman Alloh.

Jangan mencari makrifat untuk menjadi istimewa.

Carilah makrifat agar menjadi benar.

Jangan mencari makrifat untuk mengetahui rahasia orang.

Carilah makrifat agar mengetahui penyakit dirimu.

Jangan mencari makrifat untuk mendapatkan gelar.

Carilah makrifat agar semakin layak disebut:

hamba.

Jangan cari cahaya untuk dipamerkan.

Carilah cahaya agar melihat kesalahan diri.

Jangan kejar maqam agar dihormati.

Berjalanlah agar hati semakin tunduk.

Jangan buru-buru berkata:

“Aku sudah sampai.”

Sebab selama nafas masih masuk dan keluar,

masih ada kesempatan:

untuk belajar,

untuk bertaubat,

untuk memperbaiki diri,

untuk mencintai,

untuk meminta maaf,

untuk bersujud,

dan untuk kembali.


وَصِيَّةُ الْخِتَام

Jika ilmu membuatmu sombong, kembali belajar.

Jika dzikir membuatmu merasa paling suci, kembali luruskan niat.

Jika makrifat membuatmu merendahkan syariat, kembali kepada Rasululloh ﷺ.

Jika cinta kepada guru membuatmu menutup akal, kembali kepada tauhid.

Jika pengalaman batin membuatmu merasa menjadi bagian Dzat Alloh, kembali kepada batas antara Khāliq dan makhluk.

Jika dunia membuatmu lupa kepada Alloh, lepaskan sebagian dari genggaman hati.

Jika kesulitan membuatmu putus asa, ingat rahmat-Nya.

Jika keberhasilan membuatmu besar kepala, ingat dari siapa semuanya datang.

Dan jika akhirnya engkau tidak tahu harus berkata apa lagi,

maka diamlah dalam adab,

lalu ucapkan:

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا

“Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami.”


خَاتِمَةُ قِتَابِ تَصْحِيْحِ الْمَعْرِفَةِ

Syariat menjaga langkah.

Tarekat mendidik perjalanan.

Hakikat menghidupkan makna.

Makrifat meneguhkan kehambaan.

Tauhid menjaga semuanya agar tidak tersesat.

Dan puncak segala perjalanan bukan:

“Aku adalah Dia.”

Tetapi:

“Aku adalah hamba-Nya.”

Bukan:

“Aku sudah sampai.”

Tetapi:

“Yā Alloh, tuntunlah aku sampai akhir hayat.”

Bukan:

“Aku mengetahui segala rahasia.”

Tetapi:

“Wallohu a‘lam.”

تَمَّ بِعَوْنِ اللَّهِ وَفَضْلِهِ

Selesai dengan pertolongan dan karunia Alloh.


MANFAAT BAGI YANG MEMBACA

QITAB TAṢḤĪḤ AL-MA‘RIFAH

Pelurusan Makrifat: Memisahkan Dalil, Rasa, Pengalaman Ruhani dan Klaim

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

Qitab ini disusun bukan sekadar untuk menambah istilah tentang makrifat, tetapi untuk membantu pembaca memiliki timbangan.

Timbangan antara rasa dan dalil.

Antara pengalaman dan wahyu.

Antara penghormatan kepada guru dan pengkultusan.

Antara cinta kepada tasawuf dan penjagaan tauhid.

Bagi siapa pun yang membacanya dengan hati tenang dan niat mencari kebenaran, insya Alloh terdapat beberapa manfaat penting.

1. MEMAHAMI BATAS ANTARA DALIL DAN NASIHAT

Pembaca akan belajar bahwa tidak semua kalimat indah adalah hadis.

Ada hadis.

Ada ayat.

Ada kalam ulama.

Ada istilah tasawuf.

Ada nasihat.

Ada pengalaman ruhani.

Ada pendapat pribadi.

Dengan memahami perbedaannya, seseorang tidak mudah mengatakan:

“Rasululloh bersabda...”

untuk kalimat yang sumbernya belum jelas.

Ini adalah salah satu bentuk amanah kepada ilmu dan kepada Nabi ﷺ.


2. MENJAGA MAKRIFAT AGAR TETAP BERDIRI DI ATAS TAUHID

Pembaca akan semakin memahami bahwa:

Alloh tetap Khāliq.

Manusia tetap makhluk.

Ruh bukan bagian Dzat Alloh.

Fanā’ bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan.

Musyāhadah bukan berarti melihat Dzat Alloh sebagai suatu bentuk.

Kembali kepada Alloh bukan berarti melebur ke dalam Dzat-Nya.

Dengan pagar ini, perjalanan ruhani menjadi lebih aman.


3. MEMAHAMI MAKNA MAKRIFAT SECARA LEBIH UTUH

Makrifat tidak hanya berarti:

melihat cahaya,

merasakan getaran,

mendapat kasyaf,

atau mengalami sesuatu yang luar biasa.

Makrifat adalah semakin mengenal Alloh dan semakin sadar sebagai hamba.

Buahnya terlihat pada:

kejujuran,

amanah,

ketakwaan,

kerendahan hati,

kesabaran,

dan akhlak.

Dengan demikian pembaca tidak lagi mengukur kedalaman ruhani hanya dari pengalaman yang aneh.


4. TIDAK MUDAH TERPESONA OLEH KLAIM MAQAM

Setelah membaca qitab ini, seseorang diharapkan tidak mudah percaya ketika mendengar:

“Saya sudah musyahadah.”

“Saya sudah sampai.”

“Saya mendapat tugas khusus.”

“Saya tahu rahasia orang lain.”

“Saya sudah berada di maqam tertinggi.”

Bukan berarti harus menuduh orang berbohong.

Tetapi pembaca belajar bersikap tenang:

menghormati pengalaman tanpa langsung menganggapnya sebagai kepastian agama.


5. MENEMPATKAN IMAM ‘ALI DENGAN CINTA DAN ADAB

Pembaca akan memahami kemuliaan Imam ‘Ali karromallohu wajhah sebagai salah satu samudera ilmu, hikmah dan tauhid.

Namun cinta kepada beliau tidak harus membuat seseorang merendahkan:

Sayyidina Abu Bakr,

Sayyidina Umar,

Sayyidina Utsman,

atau sahabat lainnya.

Dengan begitu cinta tidak berubah menjadi pertentangan.

Dan ilmu tidak berubah menjadi fanatisme.


6. MEMAHAMI RUH, NAFS, QALB DAN JASAD DENGAN LEBIH HATI-HATI

Qitab ini membantu pembaca membedakan istilah-istilah tersebut tanpa membuat klaim metafisik yang tidak memiliki dasar.

Pembaca belajar bahwa:

ruh adalah urusan Robb,

nafs memiliki beberapa keadaan,

qalb harus dijaga,

dan jasad adalah amanah.

Tujuannya bukan membangun teori yang semakin rumit.

Tetapi memperbaiki diri.


7. TIDAK MUDAH MENYEBUT PENGALAMAN BATIN SEBAGAI WAHYU

Mimpi dapat menghibur.

Kasyaf dapat menjadi pengalaman.

Suara batin dapat dirasakan.

Cahaya dapat terlihat dalam pengalaman seseorang.

Tetapi semua itu bukan wahyu kenabian.

Pembaca akan belajar menimbangnya dengan:

tauhid,

syariat,

akal sehat,

dan dampaknya terhadap akhlak.

Dengan begitu pengalaman ruhani tetap dihormati tanpa disakralkan.


8. MEMAHAMI FENOMENA “MELIHAT DIRI SENDIRI” DENGAN TENANG

Jika seseorang pernah melihat dirinya sendiri seperti menjadi dua, qitab ini mengajarkan agar tidak buru-buru mengatakan:

“Ini pasti ruh keluar.”

atau:

“Ini pasti tanda kewalian.”

Pengalaman itu dapat ditimbang dari berbagai sisi.

Ruhani boleh direnungkan.

Kondisi tubuh dan kesehatan juga boleh diperiksa.

Makrifat tidak melarang ikhtiar rasional.


9. MEMILIH GURU MURSYID DENGAN LEBIH BIJAK

Qitab ini tidak mengajarkan anti-guru.

Justru guru sangat berharga.

Tetapi pembaca belajar bahwa mursyid yang aman:

membimbing,

tidak menguasai,

tidak menuntut ketaatan mutlak,

tidak menjual maqam,

tidak takut ditanya,

dan membawa murid semakin bergantung kepada Alloh.

Bukan semakin bergantung kepada dirinya.


10. MEMAHAMI FUNGSI SANAD TANPA MENJADIKANNYA ALAT KESOMBONGAN

Sanad adalah amanah.

Bukan sekadar daftar nama.

Qitab ini membantu pembaca memahami bahwa sanad yang benar seharusnya membawa:

ilmu,

akhlak,

adab,

dan tanggung jawab.

Sanad yang panjang tidak otomatis membuat semua ucapan seseorang menjadi benar.

Setiap ajaran tetap dapat diperiksa.


11. MEMAHAMI SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT DAN MAKRIFAT SECARA MENYATU

Pembaca akan memahami bahwa empat istilah ini bukan empat agama.

Bukan pula empat tingkat yang saling membatalkan.

Syariat menjaga langkah.

Tarekat mendidik perjalanan.

Hakikat menghidupkan makna.

Makrifat meneguhkan pengenalan kepada Alloh.

Semakin dalam seseorang berjalan, semakin dalam pula kehambaannya.


12. TIDAK MUDAH TERJEBAK KALIMAT “SUDAH SAMPAI”

Qitab ini mengingatkan bahwa selama hidup:

masih ada ujian,

masih ada nafs,

masih ada kemungkinan salah,

masih ada kewajiban,

dan masih ada kesempatan bertaubat.

Maka pembaca diharapkan tidak sibuk mengejar gelar ruhani.

Lebih baik menjadi pencari yang jujur daripada mengaku telah sampai.


13. MEMAHAMI HADIS PENCARI ILMU SECARA PROPORSIONAL

Pembaca akan mengetahui perbedaan antara:

“dimudahkan jalan menuju surga”

dan

“pasti masuk surga apa pun yang dilakukan.”

Dengan demikian, kabar gembira Rasululloh ﷺ tetap dijaga kemuliaannya tanpa ditambah dengan klaim yang tidak terdapat dalam hadis.


14. TIDAK MUDAH MENGKLAIM HADIS TENTANG MALAIKAT DAN MAKRIFAT

Jika ada kalimat:

“Orang yang meninggal sebelum makrifat nanti diajari malaikat,”

pembaca akan tahu bagaimana bersikap:

jangan langsung menolak dengan kasar,

tetapi minta sumber.

Jika sumber hadisnya belum jelas, cukup sebut sebagai:

nasihat,

harapan,

atau penjelasan seorang guru.

Bukan hadis.

Ini membuat diskusi agama lebih jujur.


15. MEMAHAMI BAHWA ILMU HARUS MELAHIRKAN AMAL

Ilmu bukan sekadar hafalan.

Bukan sekadar perdebatan.

Bukan sekadar banyaknya istilah.

Ilmu yang bermanfaat seharusnya membuat seseorang:

lebih jujur,

lebih amanah,

lebih santun,

lebih takut menzalimi,

lebih mudah menerima koreksi.

Jika ilmu tidak mengubah akhlak, berarti pekerjaan ruhani belum selesai.


16. MEMAHAMI IKHLAS DENGAN LEBIH REALISTIS

Ikhlas bukan berarti manusia tidak boleh punya cita-cita.

Bukan berarti tidak boleh ingin sehat, kaya atau hidup nyaman.

Ikhlas adalah menata niat dan tidak menjadikan hasil sebagai Tuhan.

Seseorang tetap boleh berusaha.

Tetap boleh berharap.

Tetapi hatinya tidak diperbudak oleh hasil.


17. MENEMPATKAN DUNIA SECARA SEIMBANG

Qitab ini membantu pembaca memahami ungkapan:

“Dunia di tangan, bukan di hati.”

Kekayaan boleh dimiliki.

Kemiskinan bukan syarat kewalian.

Kenyamanan bukan dosa.

Tetapi dunia tidak boleh menguasai hati.

Dengan demikian, pembaca tidak menjadi anti-dunia.

Dan juga tidak menjadi budak dunia.


18. MEMAHAMI ZUHUD SECARA BENAR

Zuhud bukan berarti harus miskin.

Zuhud adalah tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.

Orang kaya dapat zuhud.

Orang miskin pun dapat sangat cinta dunia.

Maka ukuran zuhud bukan jumlah harta.

Tetapi keterikatan hati.


19. MEMAHAMI TAKDIR TANPA MENJADI PASIF

Pembaca akan memahami bahwa:

takdir tidak membatalkan ikhtiar.

Tawakal tidak membatalkan kerja.

Ridha tidak membatalkan perbaikan.

Sabar tidak berarti diam.

Doa tidak berarti memaksa Alloh.

Dengan pemahaman ini seseorang dapat:

berusaha tanpa sombong,

menerima tanpa menyerah,

dan berdoa tanpa menuntut.


20. TIDAK MUDAH MEMBURU RAMALAN TAKDIR

Qitab ini mengajak pembaca berhenti terlalu sibuk bertanya:

“Apakah saya akan kaya?”

“Apakah saya sudah wali?”

“Siapa jodoh saya?”

“Apakah ini pasti takdir saya?”

Lalu kembali kepada pertanyaan yang lebih penting:

“Apa amanah yang harus saya kerjakan hari ini?”

Karena makrifat bukan kemampuan membocorkan masa depan.

Makrifat adalah kemampuan menjalani hari ini sebagai hamba.


21. MEMAHAMI FANĀ’ TANPA TERJEBAK PENYATUAN DZAT

Fanā’ dapat dipahami sebagai lenyapnya dominasi ego.

Bukan lenyapnya batas antara Tuhan dan manusia.

Yang berkurang adalah:

rasa aku,

kesombongan,

kepemilikan,

dan ambisi ego.

Bukan kehambaan.

Dengan begitu bahasa tasawuf tetap dalam tanpa merusak tauhid.


22. MEMAHAMI BAQĀ’ SECARA LEBIH AMAN

Baqā’ bukan manusia menjadi kekal seperti Alloh.

Tetapi dapat dipahami sebagai hidup dalam ketaatan setelah ego ditertibkan.

Pembaca belajar membedakan bahasa pengalaman tasawuf dengan aqidah tentang Dzat Alloh.


23. MEMAHAMI BAHAYA ḤULŪL DAN ITTIḤĀD SECARA HARFIAH

Qitab ini menegaskan bahwa Alloh tidak masuk ke dalam tubuh manusia dan manusia tidak melebur menjadi Dzat Alloh.

Maka jika menemukan bahasa simbolik seperti:

“aku menyatu,”

“aku melihat Dia dalam diriku,”

pembaca tidak langsung mengartikannya secara harfiah.

Tauhid tetap menjadi pagar.


24. TIDAK MUDAH MENJADIKAN ISTILAH TINGGI SEBAGAI UKURAN KEMULIAAN

Seseorang dapat tidak tahu istilah:

fanā’,

baqā’,

musyāhadah,

tajallī,

tetapi sangat dekat kepada Alloh karena akhlaknya.

Qitab ini membantu pembaca menghargai orang sederhana.

Tidak lagi memandang rendah orang yang disebut “awam”.

Karena kedalaman seseorang bukan hanya terlihat dari kosa katanya.


25. LEBIH MUDAH MENGENALI EGO BERPAKAIAN RUHANI

Ego tidak selalu berkata:

“Aku kaya.”

Kadang ego berkata:

“Aku alim.”

Kadang:

“Aku mursyid.”

Kadang:

“Aku sudah makrifat.”

Qitab ini membantu pembaca melihat bahwa kesombongan bisa memakai pakaian agama.

Karena itu semakin tinggi ilmu, semakin perlu muhasabah.


26. MENJAGA DISKUSI MAKRIFAT AGAR TETAP BERADAB

Pembaca akan belajar meluruskan kalimat tanpa harus menghina orang.

Bukan:

“Orang itu pasti sesat.”

Tetapi:

“Kalimat itu membutuhkan penjelasan.”

Bukan:

“Gurumu salah semuanya.”

Tetapi:

“Bagian ini perlu diperiksa sumbernya.”

Inilah adab pelurusan.


27. BELAJAR BERANI BERKATA “SAYA TIDAK TAHU”

Salah satu manfaat terbesar qitab ini adalah melatih kerendahan hati ilmiah.

Tidak semua perkara ruh dapat dijelaskan.

Tidak semua pengalaman harus ditafsirkan.

Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban pasti.

Kadang kalimat paling ilmiah sekaligus paling ruhani adalah:

“Wallohu a‘lam.”


28. MENJADIKAN AKHLAK SEBAGAI UKURAN PERJALANAN

Daripada bertanya:

“Sudah maqam berapa?”

lebih baik bertanya:

Apakah semakin jujur?

Semakin sabar?

Semakin lembut?

Semakin mampu meminta maaf?

Semakin sedikit membutuhkan pujian?

Semakin baik menjaga amanah?

Inilah ukuran yang lebih nyata.


29. MENGHINDARKAN DIRI DARI KULTUS MANUSIA

Mencintai guru tidak salah.

Menghormati wali tidak salah.

Mengagungkan Rasululloh ﷺ adalah bagian dari cinta iman.

Tetapi tidak ada manusia yang boleh mengambil tempat Alloh di dalam hati.

Qitab ini membantu pembaca menjaga keseimbangan cinta dan tauhid.


30. MEMPERKUAT KESADARAN BAHWA PUNCAK MAKRIFAT ADALAH KEHAMBAAN

Inilah manfaat terbesar.

Setelah membaca semua lembar qitab ini, pembaca diharapkan tidak semakin ingin berkata:

“Aku istimewa.”

Tetapi semakin ingin berkata:

“Aku ingin menjadi hamba yang benar.”

Tidak semakin ingin disebut wali.

Tetapi semakin ingin dicintai Alloh.

Tidak semakin sibuk mengejar maqam.

Tetapi semakin sibuk memperbaiki amal.


BUAH AKHIR BAGI PEMBACA

Jika qitab ini benar-benar masuk ke dalam hati, maka pembaca akan belajar:

lebih teliti tanpa menjadi kaku,

lebih ruhani tanpa menjadi liar,

lebih mencintai guru tanpa mengkultuskan,

lebih mencintai tasawuf tanpa meninggalkan syariat,

lebih menghargai pengalaman tanpa menjadikannya wahyu,

lebih mencari ilmu tanpa menjadi sombong,

dan

lebih mengenal Alloh tanpa pernah lupa bahwa dirinya adalah hamba.


DOA BAGI PEMBACA

Yā Alloh,

jadikan siapa pun yang membaca qitab ini semakin dekat kepada kebenaran.

Jauhkan ia dari kesombongan ilmu.

Jauhkan ia dari kesombongan ruhani.

Berikan ia guru yang amanah.

Teman yang jujur.

Hati yang lembut.

Akal yang jernih.

Ilmu yang bermanfaat.

Rezeki yang halal.

Ibadah yang hidup.

Dan keberanian untuk memperbaiki diri.

Jangan jadikan qitab ini sebagai senjata untuk menyerang orang lain.

Jadikan ia sebagai cermin untuk melihat diri sendiri.


KHĀTIMAH MANFAAT

Jika setelah membaca qitab ini seseorang semakin banyak menghakimi, maka ia belum menangkap maksudnya.

Jika semakin merasa tinggi, maka ia perlu membacanya kembali.

Tetapi jika ia semakin berhati-hati berkata,

semakin lembut kepada manusia,

semakin jujur terhadap sumber ilmu,

semakin menjaga tauhid,

dan semakin malu mengaku sudah sampai,

maka insya Alloh ia telah menangkap sebagian dari ruh qitab ini.

Makrifat bukan menambah gelar pada diri.

Makrifat adalah mengurangi kesombongan dari diri.

Makrifat bukan membuat manusia merasa menjadi sesuatu.

Makrifat membuat manusia ridha menjadi hamba Alloh.

Wallohu a‘lam bish-shawāb.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh