SABDO FILZAH AZZAQAR
KATA PENGANTAR
SABDO FILZAH AZZAQAR
Penghancuran Makhluk dalam Pengaquan Makrifat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji hanya bagi Alloh, Rabb semesta alam, Yang menciptakan manusia dari ketiadaan, memberinya kehidupan, kesadaran, akal, hati, serta kesempatan untuk kembali mengenal kedudukannya sebagai hamba.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh orang yang berjalan mengikuti petunjuk beliau dengan adab, ketundukan, serta kejernihan tauhid.
SABDO FILZAH AZZAQAR lahir sebagai sebuah renungan tentang salah satu bahaya paling halus dalam perjalanan ruhani: ketika pencarian terhadap Alloh perlahan berubah menjadi pencarian terhadap kebesaran diri sendiri.
Seseorang dapat meninggalkan banyak kesenangan dunia.
Ia dapat memperbanyak ibadah.
Ia dapat berbicara tentang tauhid, fana, makrifat, rahasia batin, dan perjalanan ruhani.
Namun semuanya belum tentu membebaskannya dari satu perkara:
ego yang ingin diakui.
Bahkan ego terkadang menjadi lebih berbahaya ketika memakai pakaian agama.
Ia tidak lagi berkata:
“Aku kaya.”
Tetapi berkata:
“Aku lebih zuhud.”
Ia tidak berkata:
“Aku lebih hebat.”
Tetapi berkata:
“Aku lebih makrifat.”
Ia tidak berkata:
“Pujilah aku.”
Tetapi diam-diam menginginkan manusia mengakui bahwa dirinya telah sampai kepada maqam yang tinggi.
Di sinilah Filzah Azzaqar menjadi sebuah simbol penghancuran.
Bukan penghancuran manusia.
Bukan penghancuran jasad.
Bukan penghancuran alam.
Dan bukan pula penghancuran syariat.
Yang dimaksud adalah penghancuran singgasana ego di dalam kesadaran manusia.
Penghancuran terhadap rasa:
“Aku yang mengetahui.”
“Aku yang memiliki.”
“Aku yang telah sampai.”
“Aku yang paling dekat.”
“Aku yang lebih suci.”
“Aku yang berbeda dari manusia lainnya.”
Sebab selama “aku” masih meminta mahkota dari perjalanan makrifat, maka makrifat itu dapat berubah menjadi tempat persembunyian ego.
Qitab sabdo ini mengajak pembaca memasuki wilayah yang lebih dalam:
bukan hanya bertanya tentang siapa Alloh,
tetapi juga berani bertanya,
“Siapa yang sedang berbicara di dalam diriku ketika aku mengaku mengenal Alloh?”
Apakah itu kerendahan seorang hamba?
Ataukah ego yang telah mempelajari bahasa makrifat?
Inilah pertanyaan yang tidak mudah.
Karena ego kasar mudah dikenali.
Kesombongan duniawi mudah terlihat.
Tetapi ego ruhani sangat halus.
Ia dapat bersembunyi di balik tasbih.
Ia dapat bersembunyi di balik pakaian sederhana.
Ia dapat bersembunyi di balik tangisan.
Ia dapat bersembunyi di balik kata “fana”.
Ia bahkan dapat bersembunyi di balik kalimat:
“Aku sudah tidak memiliki ego.”
Maka SABDO FILZAH AZZAQAR tidak ditujukan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi setelah membacanya.
Sebaliknya, semoga setiap lembar justru menjadi cermin.
Cermin yang tidak menunjukkan kehebatan diri,
melainkan menunjukkan bagian-bagian diri yang masih ingin dibesarkan.
Semoga pembaca semakin memahami bahwa puncak perjalanan bukanlah menjadi manusia yang paling banyak mengaku mengetahui rahasia.
Puncaknya adalah menjadi hamba yang semakin sadar akan kefakirannya di hadapan Alloh.
Semakin mengenal Alloh,
semakin tidak mudah mengagungkan diri.
Semakin dalam ilmu,
semakin halus adab.
Semakin luas pengalaman ruhani,
semakin kuat penjagaan terhadap tauhid.
Semakin tinggi perjalanan,
semakin kokoh kesadaran:
Alloh adalah Rabb.
Manusia tetaplah hamba.
Sabdo ini juga perlu dibaca dengan kejernihan.
Ia bukan wahyu baru.
Bukan pengganti Al-Qur'an.
Bukan pula dasar untuk membuat keyakinan baru.
Bahasa “sabdo”, “penghancuran”, “fana”, dan istilah-istilah lain di dalamnya digunakan sebagai bahasa renungan untuk menggambarkan perjuangan menundukkan ego dan membersihkan pengakuan diri.
Karena itu, setiap pengalaman batin tetap perlu ditempatkan di bawah tauhid, syariat, akhlak, dan adab.
Jangan sampai perjalanan yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Alloh justru membuat seseorang merasa menjadi bagian dari ke-Tuhanan.
Jangan sampai bahasa fana berubah menjadi hulul.
Jangan sampai makrifat menghapus batas antara Khāliq dengan makhluk.
Dan jangan sampai rahasia batin menjadi alasan meremehkan ibadah maupun manusia lainnya.
Makrifat yang sehat tidak menghancurkan kehambaan.
Ia justru menyempurnakannya.
Maka siapa pun yang membuka SABDO FILZAH AZZAQAR, bukalah bukan dengan pertanyaan:
“Rahasia apa yang akan aku dapatkan?”
Tetapi bukalah dengan keberanian bertanya:
“Pengakuan apa di dalam diriku yang masih harus dihancurkan?”
Jika satu lembar mampu membuat seseorang mengurangi kesombongannya,
jika satu kalimat mampu membuat seseorang berhenti merasa paling suci,
jika satu renungan membuat seseorang kembali merendahkan wajahnya di hadapan Alloh,
maka sabdo ini telah menemukan tempatnya.
Pada akhirnya, perjalanan bukan tentang membesarkan nama kita.
Bukan tentang berapa banyak manusia yang mengetahui maqam kita.
Bukan tentang berapa banyak pengalaman ruhani yang dapat kita ceritakan.
Perjalanan ini adalah tentang kembali.
Kembali sebagai hamba.
Datang tanpa mahkota.
Datang tanpa gelar.
Datang tanpa pengakuan.
Datang membawa kefakiran.
Dan berkata:
“Ya Alloh, segala yang baik adalah karunia-Mu.
Segala kekurangan adalah kelemahanku.
Jangan biarkan aku menjadikan perjalanan menuju-Mu sebagai jalan untuk membesarkan diriku sendiri.”
Semoga SABDO FILZAH AZZAQAR menjadi salah satu cermin untuk menjaga hati tetap tunduk, pikiran tetap jernih, tauhid tetap lurus, dan perjalanan tetap berada dalam adab kehambaan.
Allohu a‘lam bish-shawāb.
SABDO FILZAH AZZAQAR
Penghancuran Makhluk dalam Pengaquan Makrifat
SABDO FILZAH AZZAQAR
Penghancuran Makhluk dalam Pengaquan Makrifat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketika seorang hamba mulai berkata:
“Aku telah mengenal Alloh.”
“Aku telah sampai.”
“Aku telah melihat rahasia.”
“Aku telah terbuka.”
“Aku telah menjadi ahli makrifat.”
maka pada saat itulah ia harus lebih takut kepada “aku” daripada kepada gelapnya jalan.
Sebab banyak manusia tidak tersesat ketika belum mengetahui.
Mereka justru tersesat ketika merasa telah mengetahui.
Banyak manusia tidak jatuh ketika masih mencari.
Mereka jatuh ketika merasa telah sampai.
Dan banyak manusia tidak tertutup ketika masih menangis di pintu.
Mereka tertutup ketika mulai menganggap dirinya penghuni istana.
فِلْزَهْ أَزَّقَرْ
FILZAH AZZAQAR
Filzah adalah isyarat pecahnya lapisan pengakuan.
Azzaqar adalah isyarat dibakarnya kesombongan batin sampai manusia tidak lagi menjadikan dirinya pusat perjalanan.
Maka penghancuran pertama dalam jalan makrifat bukanlah penghancuran dunia.
Bukan penghancuran manusia.
Bukan penghancuran tubuh.
Bukan pula penghancuran syariat.
Yang dihancurkan adalah:
pengakuan.
Pengakuan bahwa aku lebih tahu.
Pengakuan bahwa aku lebih tinggi.
Pengakuan bahwa aku telah dipilih.
Pengakuan bahwa aku berbeda dari manusia biasa.
Pengakuan bahwa rahasia Alloh telah berada dalam genggamanku.
Pengakuan bahwa ibadah orang lain masih kulit sementara ibadahku telah sampai isi.
Di situlah berhala paling halus dilahirkan.
Bukan berhala dari batu.
Tetapi berhala bernama:
DIRI SENDIRI.
Wahai pencari jalan,
engkau dapat meninggalkan dunia tetapi masih membawa dirimu.
Engkau dapat meninggalkan harta tetapi masih membawa kebanggaan zuhudmu.
Engkau dapat meninggalkan pujian tetapi masih bangga karena merasa tidak membutuhkan pujian.
Engkau dapat berbicara tentang fana tetapi diam-diam mengabadikan nama dirimu sendiri.
Engkau dapat berkata:
“Aku sudah tiada.”
Namun siapa yang sedang berkata:
“Aku sudah tiada?”
Jika “aku” masih ingin diketahui sebagai orang yang telah fana, maka “aku” itu belum mati.
Ia hanya mengganti pakaian.
Dahulu memakai pakaian dunia.
Sekarang memakai pakaian makrifat.
PENGHANCURAN MAKHLUK
Jangan salah memahami kalimat ini.
Makhluk tidak dihancurkan keberadaannya.
Sebab makhluk tetap makhluk.
Hamba tetap hamba.
Alloh tetap Alloh.
Yang dihancurkan ialah penempatan makhluk sebagai tandingan dalam hati.
Ketika kekayaan menjadi tempat bergantung, hancurkan ketergantungannya.
Ketika guru menjadi tempat menggantungkan keselamatan secara mutlak, hancurkan pengkultusannya.
Ketika karomah menjadi ukuran kedekatan kepada Alloh, hancurkan kebanggaannya.
Ketika maqam menjadi gelar, hancurkan gelarnya.
Ketika pengalaman batin menjadi alasan merasa suci, hancurkan pengakuannya.
Ketika diri sendiri menjadi pusat segala kebenaran, hancurkan singgasananya.
Sebab makrifat tidak menobatkan manusia menjadi Tuhan.
Makrifat justru membuat manusia semakin sadar:
“Aku hanyalah hamba.”
SABDO PERTAMA
Jangan berkata:
“Aku mengenal Alloh,”
jika kalimat itu membuatmu memandang rendah manusia.
Jangan berkata:
“Aku telah fana,”
jika engkau masih marah ketika namamu tidak disebut.
Jangan berkata:
“Aku telah sampai,”
jika engkau masih membutuhkan pengakuan bahwa engkau telah sampai.
Jangan berkata:
“Aku telah melihat rahasia,”
jika rahasia itu membuatmu merasa lebih besar daripada saudaramu.
Karena pengetahuan yang benar tentang Alloh tidak membesarkan manusia.
Ia membesarkan Alloh dalam hati manusia.
Semakin besar Alloh dalam kesadaranmu,
semakin kecil tuntutan egomu.
Semakin dalam makrifatmu,
semakin berat lidahmu mengaku.
Semakin dekat hatimu kepada Alloh,
semakin takut engkau menjadikan pengalaman ruhani sebagai mahkota.
Makrifat bukan berkata:
“Aku adalah Dia.”
Makrifat adalah menangis karena mengetahui:
“Aku bukan siapa-siapa tanpa rahmat-Nya.”
Makrifat bukan menghapus batas antara Khāliq dan makhluk.
Makrifat justru menjernihkan batas itu:
Alloh adalah Rabb.
Aku adalah hamba.
Alloh tidak membutuhkan aku.
Akulah yang membutuhkan Alloh.
Alloh tidak menjadi sempurna karena ibadahku.
Akulah yang diselamatkan oleh rahmat-Nya.
FILZAH AZZAQAR BERBICARA
Hancurkanlah istana yang dibangun ego di dalam makrifatmu.
Hancurkan kursi tempat “aku” duduk sambil mengadili manusia.
Hancurkan mahkota yang membuatmu merasa paling mengetahui rahasia.
Hancurkan cermin yang membuatmu hanya melihat kehebatan dirimu dalam setiap ibadah.
Tetapi jangan hancurkan kasih sayang.
Jangan hancurkan syariat.
Jangan hancurkan adab.
Jangan hancurkan persaudaraan.
Jangan hancurkan kemanusiaan.
Karena tujuan fana bukan menjadi kosong dari akhlak.
Tujuan fana adalah kosong dari kesombongan agar hati penuh dengan penghambaan.
Maka apabila setelah perjalanan panjang engkau masih mampu berkata:
“Ya Alloh, aku tetap hamba-Mu.
Jika Engkau angkat aku, aku hamba.
Jika Engkau rendahkan aku, aku hamba.
Jika manusia memujiku, aku hamba.
Jika manusia melupakanku, aku hamba.
Jika Engkau beri pengalaman ruhani, aku hamba.
Jika Engkau tidak memberiku apa-apa, aku tetap hamba.”
maka pintu pertama Filzah Azzaqar mulai terbuka.
Sebab penghancuran terbesar bukan ketika alam runtuh di depan matamu.
Tetapi ketika berhala bernama ‘aku’ runtuh di dalam dadamu, sementara engkau tetap berdiri sebagai hamba di hadapan Alloh.
Allohu a‘lam.
MANFAAT BAGI YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI
SABDO FILZAH AZZAQAR
Penghancuran Makhluk dalam Pengaquan Makrifat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
SABDO FILZAH AZZAQAR tidak dimaksudkan hanya untuk dibaca dengan mata.
Ia perlu dibaca dengan kesadaran.
Diperiksa dengan hati.
Dihayati dengan kejujuran.
Dan dikembalikan kepada satu pertanyaan:
“Apakah perjalanan ruhani ini semakin menjadikanku hamba, atau justru semakin membesarkan diriku?”
Manfaat yang diharapkan dari membaca dan menghayatinya bukanlah merasa memiliki maqam tinggi, bukan merasa mendapatkan rahasia khusus, dan bukan pula memperoleh gelar batin.
Manfaat terbesarnya justru terletak pada keberanian melihat diri sendiri.
1. MENGENALI EGO YANG PALING HALUS
Ego kasar mudah dikenali.
Marah.
Sombong.
Haus pujian.
Merasa paling hebat.
Tetapi ego ruhani jauh lebih halus.
Ia dapat bersembunyi di balik ilmu.
Di balik dzikir.
Di balik kesederhanaan.
Di balik kata “makrifat”.
Di balik pengakuan fana.
Dengan menghayati sabdo ini, pembaca diajak lebih waspada terhadap ego yang memakai pakaian kesalehan.
2. MEMBEDAKAN MAKRIFAT DENGAN PENGAKUAN MAKRIFAT
Seseorang dapat banyak berbicara tentang makrifat tetapi belum tentu hidup dalam adab makrifat.
Sabdo ini membantu pembaca memahami bahwa makrifat bukan terutama tentang banyaknya istilah yang diketahui.
Bukan tentang pengalaman batin yang diceritakan.
Bukan tentang merasa memiliki rahasia yang tidak dimiliki orang lain.
Makrifat semestinya semakin menumbuhkan:
kerendahan hati,
ketundukan,
rasa butuh kepada Alloh,
dan kesadaran bahwa manusia tetaplah hamba.
3. MENGHANCURKAN RASA “AKU TELAH SAMPAI”
Salah satu jebakan perjalanan ruhani adalah merasa perjalanan telah selesai.
“Aku telah sampai.”
“Aku telah terbuka.”
“Aku telah mengenal.”
“Aku sudah berada di atas.”
Sabdo ini menjadi pengingat bahwa selama manusia masih hidup, ia tetap membutuhkan penjagaan, koreksi, taubat, ilmu, dan rahmat Alloh.
Kesadaran ini menjaga manusia dari berhenti belajar.
4. MENUMBUHKAN KERENDAHAN HATI
Orang yang benar-benar menghayati sabdo ini diharapkan tidak semakin sibuk menunjukkan dirinya.
Ia justru semakin mudah berkata:
“Aku masih belajar.”
“Aku masih banyak kekurangan.”
“Aku membutuhkan petunjuk Alloh.”
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara tidak sehat.
Kerendahan hati adalah mengetahui posisi:
Alloh adalah Rabb.
Aku adalah hamba.
5. MENJAGA TAUHID DARI PENYIMPANGAN HALUS
Bahasa ruhani terkadang dapat menyeret seseorang kepada kalimat-kalimat yang mengaburkan perbedaan antara Khāliq dengan makhluk.
Karena itu, SABDO FILZAH AZZAQAR mengingatkan:
fana bukan berarti manusia menjadi Alloh.
Makrifat bukan berarti manusia menyatu dengan Dzat Alloh.
Hilangnya ego bukan hilangnya kedudukan manusia sebagai makhluk.
Semakin dalam perjalanan, semakin perlu tauhid dijaga.
6. MENJAGA DIRI DARI KULTUS GURU DAN KULTUS DIRI
Guru dapat menjadi sebab seseorang belajar.
Tetapi guru bukan Tuhan.
Pengalaman seorang guru bukan dalil mutlak.
Demikian pula pengalaman batin diri sendiri.
Sabdo ini mengajarkan agar manusia menghormati guru tanpa menuhankan guru.
Menghargai pengalaman ruhani tanpa menjadikannya ukuran mutlak kebenaran.
Dan menghormati diri tanpa menobatkan diri sebagai pusat kebenaran.
7. MEMBERSIHKAN NIAT DALAM BERIBADAH
Kadang manusia beribadah tetapi diam-diam sedang membangun citra.
Ingin dilihat alim.
Ingin dikenal sebagai ahli dzikir.
Ingin dianggap memiliki maqam.
Ingin disebut memiliki keistimewaan.
Dengan menghayati sabdo ini, pembaca diajak kembali bertanya:
“Untuk siapa aku melakukan ini?”
Pertanyaan ini dapat menjadi pintu untuk memperbaiki niat.
8. MENGURANGI KEBIASAAN MENGHAKIMI ORANG LAIN
Semakin kuat ego ruhani, semakin mudah manusia membagi dunia:
“Dia masih awam.”
“Dia masih kulit.”
“Aku sudah isi.”
“Dia belum sampai.”
Sabdo ini berusaha menghancurkan singgasana semacam itu.
Sebab manusia tidak mengetahui isi hati manusia lain secara sempurna.
Yang kita ketahui dengan pasti hanyalah:
diri sendiri masih membutuhkan perbaikan.
9. MENJADIKAN ILMU SEBAGAI CERMIN, BUKAN SENJATA
Ada orang menggunakan ilmu untuk menundukkan dirinya.
Ada pula yang menggunakan ilmu untuk menundukkan orang lain.
Yang pertama menjadikan ilmu sebagai cermin.
Yang kedua menjadikannya sebagai senjata ego.
Menghayati SABDO FILZAH AZZAQAR membantu pembaca mengembalikan fungsi ilmu:
untuk memperbaiki diri sebelum menunjuk kesalahan orang lain.
10. MENUMBUHKAN ADAB DALAM BERBICARA TENTANG RAHASIA BATIN
Tidak setiap pengalaman harus diumumkan.
Tidak setiap lintasan batin harus disebut wahyu.
Tidak setiap mimpi menjadi petunjuk hukum.
Tidak setiap rasa menjadi kebenaran mutlak.
Sabdo ini mengajarkan kehati-hatian.
Semakin besar sesuatu dianggap sebagai rahasia, semakin besar pula kebutuhan terhadap adab.
11. MENGAJARKAN FANA YANG SEHAT
Fana bukan membenci keberadaan diri.
Bukan merusak tubuh.
Bukan menghilangkan tanggung jawab.
Bukan meninggalkan keluarga.
Bukan meninggalkan pekerjaan.
Bukan pula meninggalkan ibadah.
Fana yang sehat dapat dipahami sebagai semakin luruhnya kesombongan, rasa memiliki mutlak, dan keinginan menjadikan diri pusat segala sesuatu.
Yang dihancurkan adalah berhalanya.
Bukan manusianya.
12. MENJADIKAN IBADAH LEBIH TENANG
Ketika ego mulai berkurang, ibadah tidak terlalu sibuk menghitung:
“Sudah sampai mana maqamku?”
“Apakah aku lebih tinggi?”
“Apakah aku mendapat karomah?”
“Apakah aku sudah makrifat?”
Ibadah kembali sederhana.
Hamba beribadah karena memang ia hamba.
Alloh adalah Rabb-nya.
Di situlah ketenangan mulai tumbuh.
13. MENGAJARKAN UNTUK TIDAK MENGEJAR PENGAKUAN
Banyak penderitaan ruhani muncul bukan karena kehilangan Alloh, tetapi karena kehilangan pengakuan manusia.
Tidak dianggap.
Tidak dihormati.
Tidak disebut guru.
Tidak dipuji.
Tidak dipercaya memiliki kemampuan.
Sabdo ini mengajak pembaca belajar tetap tenang ketika tidak dikenal.
Sebab kemuliaan di hadapan Alloh tidak ditentukan oleh banyaknya manusia yang menyebut nama kita.
14. MENUMBUHKAN KEBERANIAN MENGOREKSI DIRI
Membaca adalah mudah.
Mengakui kesalahan jauh lebih sulit.
Sabdo ini dapat menjadi latihan untuk bertanya dengan jujur:
Apakah aku masih haus pujian?
Apakah aku tersinggung jika tidak dihormati?
Apakah aku merasa lebih tinggi karena ilmu?
Apakah aku menjadikan pengalaman batin sebagai kebanggaan?
Apakah aku mulai merendahkan orang yang tidak sepaham?
Pertanyaan semacam inilah yang membuat sabdo hidup.
15. MENGEMBALIKAN MAKRIFAT KEPADA AKHLAK
Jika makrifat tidak membuat seseorang lebih lembut, perlu diperiksa.
Jika makrifat membuat seseorang semakin kasar, perlu diperiksa.
Jika makrifat membuat seseorang semakin merasa suci, perlu diperiksa.
Jika makrifat membuat seseorang mudah menghina, perlu diperiksa.
Buah perjalanan ruhani semestinya terlihat pada akhlak:
lebih sabar,
lebih adil,
lebih jujur,
lebih rendah hati,
dan lebih menjaga lisan.
TANDA SABDO INI MULAI DIHAYATI
Sabdo ini belum benar-benar masuk hanya karena seseorang mampu menghafal kalimatnya.
Ia mulai masuk ketika:
pujian tidak lagi terlalu memabukkan,
kritik tidak langsung membuat diri terbakar,
nama tidak lagi harus ditinggikan,
perbedaan tidak selalu dianggap ancaman,
ilmu tidak dijadikan alasan untuk merendahkan,
pengalaman batin tidak dijadikan mahkota,
dan hati semakin mudah berkata:
“Alloh lebih mengetahui.”
MANFAAT TERBESAR
Manfaat terbesar SABDO FILZAH AZZAQAR bukan memperoleh sesuatu yang baru.
Tetapi berkurangnya sesuatu yang lama:
kesombongan,
pengakuan,
rasa paling benar,
rasa paling sampai,
rasa paling dipilih,
dan rasa bahwa segala sesuatu harus berputar mengelilingi diri.
Karena terkadang perjalanan menuju Alloh bukan tentang menambahkan banyak hal kepada diri.
Tetapi tentang melepaskan apa yang selama ini menutupi kejernihan hati.
Satu demi satu.
Lapisan demi lapisan.
Sampai manusia kembali mengetahui kedudukannya:
hamba.
Bukan pemilik cahaya.
Bukan pemilik rahasia.
Bukan pemilik maqam.
Bukan pemilik kebenaran mutlak.
Hanya seorang hamba yang hidup karena rahmat Alloh dan berharap kembali kepada-Nya dalam keadaan membawa hati yang lebih bersih.
Maka apabila setelah membaca SABDO FILZAH AZZAQAR seseorang menjadi semakin rendah hati, semakin berhati-hati berbicara tentang Alloh, semakin lembut kepada manusia, semakin kuat ibadahnya, semakin jernih tauhidnya, dan semakin kecil keinginannya untuk dipandang tinggi,
maka itulah salah satu buah terbaik dari menghayati sabdo ini.
Bukan menjadi besar di mata manusia.
Tetapi menjadi semakin kecil di hadapan kebesaran Alloh.
Allohu a‘lam bish-shawāb.
7 TANDA EGO MAKRIFAT MULAI HANCUR
SABDO FILZAH AZZAQAR
Penghancuran Makhluk dalam Pengaquan Makrifat
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada manusia yang merasa egonya telah mati hanya karena ia sudah tidak mengejar dunia.
Padahal ego dapat hidup tanpa harta.
Ego dapat hidup tanpa jabatan.
Ego dapat hidup tanpa kemewahan.
Bahkan ego dapat hidup di dalam tasbih, sajadah, ilmu, khalwat, dzikir, pengalaman batin, dan pembicaraan tentang makrifat.
Karena itu, jangan terlalu cepat berkata:
“Egoku telah hancur.”
Sebab terkadang yang hancur hanyalah bentuk kasarnya.
Sedangkan bentuk halusnya justru tumbuh lebih kuat.
Ia tidak lagi meminta kekayaan.
Ia meminta pengakuan.
Ia tidak lagi meminta jabatan dunia.
Ia meminta maqam ruhani.
Ia tidak lagi meminta manusia menyebutnya kaya.
Ia ingin manusia menyebutnya wali.
Ia tidak lagi ingin dikatakan berkuasa.
Ia ingin dikatakan telah sampai.
Maka penghancuran ego makrifat bukanlah satu peristiwa.
Ia adalah penjagaan seumur hidup.
Berikut tujuh tanda yang dapat dijadikan cermin.
Bukan untuk menilai orang lain.
Tetapi untuk memeriksa diri sendiri.
1. TIDAK TERGUNCANG KETIKA TIDAK DIAKUI
Tanda pertama ego makrifat mulai luruh adalah ketika seseorang tidak terlalu terguncang oleh hilangnya pengakuan manusia.
Namanya tidak disebut.
Ilmunya tidak dipuji.
Pengalamannya tidak dipercaya.
Nasihatnya tidak selalu diterima.
Ia tidak langsung marah.
Ia tidak merasa martabat ruhani telah dihancurkan.
Karena ia mulai memahami:
nilai seorang hamba tidak ditentukan oleh tepuk tangan manusia.
Ego berkata:
“Kenapa mereka tidak tahu siapa aku?”
Kesadaran berkata:
“Untuk apa mereka harus tahu?”
Ego berkata:
“Aku sudah banyak berjalan.”
Kesadaran berkata:
“Jika benar, biarkan perjalanan itu memperbaiki akhlakmu.”
Ego membutuhkan panggung.
Hamba membutuhkan Alloh.
Ketika tidak dikenal tidak lagi menjadi luka besar, ego makrifat mulai kehilangan makanannya.
2. TIDAK MERASA LEBIH TINGGI KARENA PENGALAMAN BATIN
Seseorang mungkin pernah mengalami mimpi yang kuat.
Merasa mendapat ilham.
Mengalami ketenangan luar biasa.
Menangis dalam dzikir.
Merasa melihat cahaya.
Mendapat pengalaman yang sulit dijelaskan.
Semua itu dapat menjadi pengalaman pribadi.
Tetapi bukan otomatis menjadi bukti bahwa dirinya lebih tinggi daripada manusia lain.
Tanda ego mulai hancur adalah ketika pengalaman batin membuat seseorang semakin rendah hati.
Bukan semakin banyak mengaku.
Ia tidak berkata:
“Aku melihat sesuatu yang kalian tidak lihat, maka aku lebih tinggi.”
Ia justru berkata dalam hati:
“Jika ini kebaikan, semoga Alloh menjagaku dari kesombongan karenanya.”
Sebab pengalaman bukan mahkota.
Pengalaman adalah ujian.
Yang diuji bukan hanya saat kegelapan datang.
Cahaya pun dapat menjadi ujian.
Apakah setelah merasakan cahaya seseorang semakin tunduk?
Atau justru mulai menyembah gambaran tentang dirinya sendiri?
3. MUDAH MENGAKUI KESALAHAN
Ego sangat menyukai posisi benar.
Terlebih ego yang memakai pakaian makrifat.
Ia dapat membisikkan:
“Aku memahami hakikat.”
“Yang lain masih kulit.”
“Karena aku sudah makrifat, pendapatku pasti lebih dalam.”
Inilah bahaya.
Tanda ego mulai luruh ialah seseorang tetap mampu berkata:
“Aku salah.”
Tanpa merasa kehormatannya runtuh.
Ia mampu memperbaiki ucapan.
Mampu meminta maaf.
Mampu menerima bahwa orang yang dianggap lebih awam pun dapat mengingatkannya pada kebenaran.
Sebab kebenaran tidak menjadi rendah hanya karena datang dari orang yang sederhana.
Dan kesalahan tidak menjadi benar hanya karena keluar dari mulut orang yang disebut guru.
Semakin matang seseorang, semakin sedikit kebutuhan untuk memenangkan semua perdebatan.
Ia lebih memilih kehilangan perdebatan daripada kehilangan adab.
4. TIDAK MUDAH MERENDAHKAN ORANG YANG BERBEDA JALAN
Ego makrifat mempunyai kalimat kesukaan:
“Dia belum sampai.”
“Dia masih syariat.”
“Dia belum mengenal hakikat.”
“Dia masih di kulit.”
Kalimat-kalimat seperti ini dapat menjadi pintu kesombongan.
Sebab seseorang mulai membangun tangga ruhani di dalam pikirannya, lalu menempatkan dirinya di anak tangga paling atas.
Tanda ego mulai hancur adalah ketika seseorang tidak sibuk menentukan maqam orang lain.
Ia menjaga ilmunya tanpa harus menghina.
Ia menjaga keyakinannya tanpa harus merendahkan.
Ia dapat berbeda tanpa merasa dirinya satu-satunya manusia yang memiliki cahaya.
Ia memahami bahwa manusia memiliki perjalanan, ujian, kemampuan, dan keadaan yang berbeda.
Dan hanya Alloh yang mengetahui kedalaman hati setiap hamba.
Makrifat yang sehat tidak membuat seseorang memiliki daftar manusia yang dianggap rendah.
Makrifat membuatnya semakin sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
5. SEMAKIN DALAM ILMU, SEMAKIN HATI-HATI BERBICARA
Orang yang sedikit mengetahui terkadang mudah memastikan banyak hal.
Orang yang semakin memahami justru semakin menyadari luasnya hal yang belum ia ketahui.
Maka salah satu tanda ego makrifat mulai hancur adalah berkurangnya keberanian untuk mengklaim sesuatu tanpa dasar.
Ia tidak mudah berkata:
“Alloh pasti mengatakan ini kepadaku.”
“Ini pasti wahyu.”
“Orang itu pasti wali.”
“Orang itu pasti sesat.”
“Aku mengetahui rahasia mutlaknya.”
Ia belajar membedakan antara:
rasa,
dugaan,
mimpi,
intuisi,
renungan,
penafsiran,
dan dalil.
Semakin besar kesadaran, semakin besar tanggung jawab lisan.
Ia tidak menjadikan setiap lintasan batin sebagai perintah langit.
Ia tidak menjadikan setiap pengalaman pribadi sebagai hukum bagi orang lain.
Sebab salah satu bentuk penghancuran ego adalah keberanian berkata:
“Aku belum tahu.”
Kalimat itu bukan kehinaan.
Kadang ia adalah bentuk ilmu yang paling jujur.
6. IBADAH TETAP HIDUP MESKI TIDAK ADA RASA ISTIMEWA
Ada masa seseorang merasakan dzikir sangat nikmat.
Ada masa hati terasa ringan.
Ada masa doa mengalir dengan air mata.
Tetapi ada pula masa hati terasa biasa.
Kering.
Sepi.
Tidak ada sensasi.
Tidak ada pengalaman khusus.
Di sinilah ego diuji.
Apakah seseorang hanya beribadah ketika mendapat rasa?
Apakah ia hanya dzikir ketika merasa mendapat cahaya?
Apakah ia hanya berdoa ketika batinnya terasa istimewa?
Tanda ego mulai hancur adalah ketika ia tetap beribadah meski tidak mendapat pengalaman yang dapat diceritakan.
Karena ia mulai mengerti:
ibadah bukan pertunjukan pengalaman batin.
Ia sholat karena hamba memang sholat.
Ia berdzikir karena ingin mengingat Alloh.
Ia berdoa karena ia membutuhkan Alloh.
Tidak ada cahaya yang terlihat?
Tetap beribadah.
Tidak ada getaran?
Tetap beribadah.
Tidak ada mimpi?
Tetap beribadah.
Tidak ada orang yang memuji?
Tetap beribadah.
Di situlah kehambaan menjadi lebih murni.
7. SEMAKIN MERASA KECIL DI HADAPAN ALLOH
Inilah tanda yang paling dalam.
Bukan rendah diri di hadapan manusia.
Bukan membenci diri.
Bukan merasa tidak berharga.
Tetapi menyadari betapa kecil kemampuan manusia di hadapan kebesaran Alloh.
Semakin memahami, semakin sadar bahwa akalnya terbatas.
Semakin berjalan, semakin sadar bahwa rahmat Alloh jauh lebih besar daripada amalnya.
Semakin beribadah, semakin takut jika ibadah itu dicemari kesombongan.
Semakin dipuji, semakin memohon perlindungan dari ujub.
Semakin memiliki ilmu, semakin sadar bahwa ilmu Alloh tidak bertepi.
Pada titik ini, hati mulai berkata:
“Aku tidak memiliki apa-apa secara mutlak.”
Ilmu adalah titipan.
Umur adalah titipan.
Napas adalah titipan.
Kemampuan adalah titipan.
Kesempatan adalah titipan.
Bahkan kemampuan menyebut nama Alloh pun adalah karunia.
Maka tidak ada alasan untuk berdiri dengan dada penuh kesombongan.
UJIAN PALING HALUS
Berhati-hatilah ketika setelah membaca tujuh tanda ini muncul pikiran:
“Berarti semua tanda itu sudah ada padaku.”
Karena bisa jadi ego sedang membaca bersama kita.
Ia dapat mengambil tulisan tentang penghancuran ego lalu menjadikannya alasan baru untuk merasa lebih tinggi.
Ia berkata:
“Aku tidak membutuhkan pengakuan.”
Lalu bangga karena merasa tidak membutuhkan pengakuan.
Ia berkata:
“Aku rendah hati.”
Lalu bangga dengan kerendahan hatinya.
Ia berkata:
“Aku sudah tidak punya ego.”
Dan di situlah ego tersenyum.
Karena itu jangan terlalu cepat memberi sertifikat kepada diri sendiri.
Biarkan hidup menguji.
Biarkan kritik menguji.
Biarkan kehilangan menguji.
Biarkan pujian menguji.
Biarkan ketidakadilan menguji.
Biarkan perbedaan menguji.
Biarkan waktu menunjukkan apakah ego benar-benar melemah atau hanya mengganti pakaian.
TIGA CERMIN FILZAH AZZAQAR
Jika ingin memeriksa diri, jangan bertanya:
“Seberapa tinggi maqamku?”
Tanyakan tiga hal:
Pertama: bagaimana aku ketika dipuji?
Apakah hati langsung membesar?
Kedua: bagaimana aku ketika dikritik?
Apakah seluruh diriku terbakar?
Ketiga: bagaimana aku ketika tidak dianggap?
Apakah aku tetap mampu berbuat baik?
Tiga keadaan ini sering membuka sesuatu yang tidak terlihat ketika manusia sedang sendirian dalam dzikir.
SABDO PENUTUP
Wahai pencari makrifat,
jangan takut jika dunia tidak mengetahui namamu.
Takutlah jika hatimu hanya hidup ketika namamu disebut.
Jangan takut jika manusia tidak mengetahui perjalananmu.
Takutlah jika perjalanan itu membuatmu merasa lebih besar daripada manusia.
Jangan takut jika engkau belum mendapatkan gelar ruhani.
Takutlah jika gelar menjadi lebih penting daripada akhlak.
Jangan terlalu sibuk ingin menjadi orang yang disebut “telah sampai.”
Lebih baik terus menjadi hamba yang mengetuk.
Sebab selama engkau mengetuk dengan rendah hati, engkau masih ingat bahwa pintu itu milik Alloh.
Tetapi ketika engkau merasa telah memiliki istana, berhati-hatilah.
Bisa jadi engkau sedang berdiri di dalam istana yang dibangun oleh ego sendiri.
Maka hancurkan istana itu.
Hancurkan mahkotanya.
Hancurkan singgasananya.
Hancurkan pengakuannya.
Bukan tubuhmu.
Bukan kehidupanmu.
Bukan kemanusiaanmu.
Yang dihancurkan adalah sesuatu yang selama ini berkata:
“Aku harus menjadi pusat.”
Dan ketika pusat itu runtuh,
semoga yang tersisa bukan kehampaan,
melainkan kehambaan.
Bukan keputusasaan,
melainkan ketundukan.
Bukan hilangnya diri secara fisik,
melainkan hilangnya kesombongan diri.
Hingga manusia mampu berjalan di bumi dengan tenang dan berkata:
“Aku tetap manusia.
Aku tetap hamba.
Aku tetap membutuhkan ampunan.
Aku tetap membutuhkan petunjuk.
Dan Alloh tetaplah Rabb-ku.”
Itulah salah satu makna terdalam dari:
FILZAH AZZAQAR.
Penghancuran bukan untuk menjadikan manusia tiada.
Penghancuran adalah agar kesombongan tidak lagi menjadi Tuhan kecil di dalam dada.
Allohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.