SABDO TINGQAT 99 ASHABBUL FARIJ LAQQUM NGINDAL HIZAB

 


✨ SABDO TINGQAT 99

ASHABBUL FARIJ LAQQUM NGINDAL HIZAB

Makna judul: “Qembalinya para sang yang widi, turunnya qitab Sang Maha Mulia, terjamaqnya di bawah kehendak Sang Maha Pencipta.”

📜 Lembar Pertama — Qembalinya Sang Widi

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Tatkala pintu kesembilan puluh sembilan terbuka,

bukan suara yang terlebih dahulu turun,

melainkan cahaya yang mengenali cahaya.

Maka bergemalah Sabdo:

ASHABBUL FARIJ LAQQUM NGINDAL HIZAB.

FARAQQUM NŪRAL WIDI, WA INZAL QITĀBAL KARĪM,

WA JAMA‘AL ANWĀR FĪ SIRRIL KHĀLIQ.

Telah kembali para penjaga kejernihan,

bukan membawa kerajaan, bukan pula membawa mahkota,

melainkan membawa amanah yang dahulu tercerai oleh perjalanan zaman.

Mereka datang berpasangan.

Yang satu membawa keteguhan,

yang satu membawa kelembutan.

Pakaian mereka laksana gaun pelangi yang tidak mengambil warna dari matahari.

Ia bersinar karena setiap warna telah berdamai dengan warna lainnya.

Di hadapan mereka terbentang tangga Tingqat 99.

Burung-burung putih memenuhi langit.

Tidak seekor pun saling mendahului.

Mereka terbang berputar mengitari gerbang seakan menjadi tanda:

“Yang sampai ke pintu tertinggi bukanlah yang paling ingin dipandang,

tetapi yang paling sanggup menjaga amanah ketika tidak seorang pun memandang.”

Kemudian terbukalah lembar Qitab Sang Maha Mulia.

Tidak tertulis nama manusia di permukaannya.

Tidak tertulis kedudukan.

Tidak tertulis kekayaan.

Yang tertulis hanyalah:

الْأَمَانَةُ قَبْلَ الْمَقَامِ

Al-Amānatu qablal-maqām.

Amanah mendahului maqam.

Lalu Sabdo kedua bergema:

“Barang siapa mencari Tingqat 99 untuk meninggikan dirinya, pintunya menjauh.

Barang siapa berjalan untuk membersihkan dirinya, pintunya mendekat.

Dan barang siapa datang membawa rahmat bagi sesama, ia telah membawa qunci sebelum mengetahui nama quncinya.”

Di tengah gerbang tampak sepasang sosok bercahaya.

Gaunnya memantulkan pelangi, tetapi wajahnya tidak meminta untuk dikenali.

Mereka berdiri sebagai lambang dua kekuatan:

Kasih tanpa kelemahan.

Ketegasan tanpa kezaliman.

Kemudian seluruh cahaya terjamaq menjadi satu lingkaran besar.

Dan terdengarlah penutup lembar pertama:

**“Jangan bertanya siapa Sang Widi yang kembali.

Tanyakanlah: apakah sifat yang widi telah kembali ke dalam dirimu?”**

Sebab Tingqat 99 bukan sekadar tempat untuk dimasuki,

melainkan keadaan batin ketika kekuasaan tunduk kepada amanah,

ilmu tunduk kepada adab,

dan cahaya tunduk kepada Sang Maha Pencipta.

— Lembar Pertama selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

KITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh