PUISI BALDATTUN AL-ANZOR

 



PUISI BALDATTUN AL-ANZOR

Untuk kesejahteraan umat di seluruh jagat, manusia harus kembali ke qolbi yang terdalam.


Bait 1 — Qembali qe Qolbi


Wahai manusia yang berjalan di atas bumi,

jangan hanya memandang dunia dengan mata,

sebab mata terkadang tertutup oleh warna,

sedangkan qolbi melihat dengan cahaya.


Qetika jagat dipenuhi suara pertengkaran,

qembalilah qe ruang terdalam dalam dirimu.

Di sana tidak ada perebutan kekuasaan,

tidak ada kesombongan, kebencian, dan dendam,

hanya ada bisikan lembut yang menyeru:


“Berdamailah, sebab engkau berasal

dari satu cahaya penciptaan.”


Kesejahteraan umat tidak bermula

dari singgasana yang tinggi,

bukan pula dari banyaknya harta

yang dikumpulkan dan dikuasai.


Ia bermula dari qolbi yang bersih,

dari tangan yang berhenti menyakiti,

dari lisan yang menjaga kehormatan sesama,

dan dari jiwa yang rela berbagi kehidupan.


Wahai penghuni seluruh jagat,

qembalilah qe qolbi yang terdalam.

Sebab di sanalah Alloh menitipkan kasih,

menanam benih persaudaraan,

serta membukakan jalan kesejahteraan

bagi seluruh umat tanpa membedakan.


Apabila satu qolbi telah bercahaya,

ia akan menerangi sebuah keluarga.

Apabila keluarga-keluarga telah bercahaya,

sebuah negeri akan menemukan kedamaian.

Dan apabila seluruh negeri kembali qe qolbi,

maka jagat akan bersujud dalam kesejahteraan.


Bait 2 — Negeri Bermula dari Qolbi


Sebuah negeri tidak dibangun

hanya dengan batu, besi, dan kekuasaan,

tetapi dengan qolbi manusia

yang mengenal kasih dan tanggung jawab.


Apabila pemimpin qembali qe qolbinya,

ia tidak akan menindas rakyatnya.

Apabila orang kaya qembali qe qolbinya,

ia tidak akan melupakan yang lapar.

Apabila orang berilmu qembali qe qolbinya,

ilmunya akan menjadi penerang,

bukan alat untuk meninggikan dirinya.


Wahai umat di seluruh jagat,

jangan menunggu dunia berubah

sebelum engkau mengubah isi dada.

Sebab kerusakan yang tampak di bumi

sering bermula dari qolbi

yang dipenuhi keserakahan.


Bersihkanlah qolbi dari iri,

lepaskan dendam yang membelenggu,

padamkan api kebencian,

dan hidupkan kembali rasa kemanusiaan.


Sebab orang yang mengenal qolbinya

akan memahami penderitaan sesamanya.

Ia tidak tega melihat air mata,

tidak tenang ketika tetangganya kelaparan,

dan tidak berdiam diri

saat keadilan dipermainkan.


Baldattun Al-Anzor menyerukan:


Qesejahteraan bukan milik satu golongan,

bukan hak satu bangsa,

dan bukan hadiah bagi yang berkuasa.


Qesejahteraan adalah amanah Alloh

yang harus mengalir seperti mata air,

membasahi tanah yang kering,

menghidupkan harapan yang hampir mati,

serta menjangkau manusia

hingga ke penjuru bumi.


Maka qembalilah qe qolbi yang terdalam,

karena dari sanalah lahir kejujuran.

Dari kejujuran tumbuh keadilan.

Dari keadilan hadir kedamaian.

Dan dari kedamaian,

terbangunlah negeri yang dirahmati Alloh.


Bait 3 — Qetika Qolbi Menjadi Pusat Jagat


Wahai manusia yang menempuh perjalanan panjang,

engkau telah mencari kedamaian

ke berbagai penjuru dunia.

Engkau mendaki gunung yang tinggi,

menyeberangi lautan yang luas,

memasuki kota-kota yang bercahaya,

dan berdiri di hadapan pintu-pintu kekuasaan.


Namun setelah perjalanan itu,

mengapa jiwamu masih merasa haus?

Mengapa rumah-rumah semakin megah,

tetapi penghuninya kehilangan ketenteraman?

Mengapa ilmu semakin berkembang,

tetapi manusia semakin mudah

merendahkan dan melukai sesamanya?


Barangkali karena manusia terlalu jauh berjalan,

hingga melupakan jalan pulang

menuju qolbinya sendiri.


Baldattun Al-Anzor menyerukan:


Qembalilah qe qolbi yang terdalam,

bukan untuk meninggalkan dunia,

melainkan untuk menata dunia

dengan kesadaran yang lebih suci.


Masuklah ke ruang sunyi dalam dirimu,

tempat suara kesombongan tidak berkuasa,

tempat pujian manusia tidak lagi memabukkan,

dan tempat segala gelar

tidak mampu menyembunyikan kebenaran.


Di sanalah engkau akan melihat

siapa dirimu yang sebenarnya.


Bukan sekadar nama yang dipanggil manusia,

bukan hanya pakaian yang engkau kenakan,

bukan pula kedudukan yang engkau banggakan.

Engkau adalah seorang hamba

yang dititipi kehidupan,

diberi waktu yang terbatas,

dan diminta menghadirkan manfaat

bagi kehidupan yang lebih luas.


Qetika engkau telah mengenal qolbimu,

engkau tidak lagi merasa tinggi

di hadapan orang yang miskin.

Engkau tidak akan merasa lebih suci

di hadapan orang yang sedang berdosa.

Engkau tidak akan mudah menghukum

sebelum memahami luka

yang tersembunyi dalam hidup seseorang.


Sebab qolbi yang telah terjaga

tidak sibuk mencari kesalahan orang lain.

Ia sibuk membersihkan dirinya,

memperbaiki niatnya,

serta menjaga agar kehadirannya

tidak menjadi beban bagi sesama.


Wahai para pemimpin negeri,

qembalilah qe qolbi sebelum mengambil keputusan.

Jangan biarkan meja kekuasaan

menjauhkan telingamu dari tangisan rakyat.


Dengarkan suara petani

yang tanahnya mulai kehilangan kesuburan.

Dengarkan suara nelayan

yang pulang tanpa membawa hasil.

Dengarkan suara pekerja

yang tenaganya diperas

namun haknya dilupakan.


Dengarkan pula suara ibu

yang menahan lapar demi anak-anaknya,

suara orang tua

yang menghabiskan usia dalam kesendirian,

dan suara anak-anak

yang ingin bersekolah

namun terhalang oleh kemiskinan.


Qetika keputusan lahir dari qolbi,

kekuasaan akan menjadi pelayanan.

Jabatan akan menjadi amanah.

Hukum akan berdiri menjaga yang lemah,

bukan melindungi mereka

yang mampu membeli keadilan.


Wahai orang-orang yang dikaruniai harta,

qembalilah qe qolbi sebelum menghitung kekayaanmu.

Sebab harta yang tidak mengalir

akan menjadi tembok antara manusia.


Jangan biarkan makanan terbuang

ketika di luar rumahmu

ada seseorang yang menahan lapar.

Jangan biarkan pakaian bertumpuk

ketika ada tubuh-tubuh

yang menggigil dalam kesulitan.


Harta bukan sekadar yang engkau simpan,

tetapi yang engkau gunakan

untuk menyelamatkan kehidupan.


Apa yang engkau berikan

tidak akan menjadikanmu berkurang.

Ia justru membersihkan jalan rezekimu

dari kerak keserakahan

dan ketakutan kehilangan.


Wahai para pemilik ilmu,

qembalilah qe qolbi sebelum berbicara.

Jangan jadikan ilmu sebagai senjata

untuk mempermalukan orang yang belum memahami.


Ilmu adalah cahaya,

dan cahaya tidak memilih

siapa yang pantas diterangi.


Ajarkanlah dengan kesabaran.

Bimbinglah dengan kasih sayang.

Luruskanlah tanpa menghina,

dan tegurlah tanpa menghancurkan harga diri.


Sebab satu kalimat yang kasar

dapat menutup pintu hati seseorang,

sedangkan satu nasihat yang lembut

dapat menjadi awal perubahan

sepanjang hidupnya.


Wahai para penjaga agama,

qembalilah qe qolbi

sebelum mengatasnamakan kehendak Alloh.


Jangan membuat manusia menjauh

karena kerasnya tutur katamu.

Jangan jadikan agama

sebagai dinding pemisah,

sedangkan ia diturunkan

untuk membimbing manusia

menuju keselamatan dan kasih sayang.


Agama tanpa kelembutan

akan tampak seperti ancaman.

Ilmu tanpa akhlak

akan berubah menjadi kesombongan.

Ibadah tanpa kepedulian

akan kehilangan buahnya

dalam kehidupan sosial.


Qolbi yang dekat kepada Alloh

akan semakin lembut kepada manusia.

Semakin dalam sujud seseorang,

semestinya semakin rendah hatinya.

Semakin banyak dzikirnya,

semestinya semakin terjaga lisannya.

Semakin luas ilmunya,

semestinya semakin besar manfaatnya.


Wahai orang-orang yang sedang terluka,

qembalilah qe qolbi

namun jangan bersembunyi selamanya

di dalam kesedihan.


Air mata bukan tanda kelemahan.

Ia adalah sungai kecil

yang membersihkan debu kepedihan

dari ruang batin manusia.


Menangislah apabila perlu,

tetapi jangan menyerahkan hidupmu

kepada luka masa lalu.

Maafkanlah bukan karena perbuatan mereka benar,

melainkan agar jiwamu tidak terus terpenjara

oleh kesalahan orang lain.


Qolbimu terlalu mulia

untuk dijadikan tempat tinggal kebencian.

Jiwamu terlalu berharga

untuk menghabiskan umur

memelihara dendam.


Lepaskan perlahan-lahan,

meskipun tidak sekaligus.

Sebab penyembuhan bukan perlombaan,

melainkan perjalanan qembali

kepada dirimu yang utuh.


Wahai mereka yang pernah melakukan kesalahan,

jangan merasa pintu kebaikan telah tertutup.

Selama napas masih mengalir,

jalan pulang masih terbuka.


Akuilah kesalahanmu,

perbaikilah kerusakan yang engkau tinggalkan,

mintalah maaf kepada yang terluka,

dan jangan mengulang jalan

yang telah menghancurkan banyak hati.


Alloh tidak meminta manusia

menjadi makhluk yang tidak pernah jatuh.

Namun manusia diminta

untuk tidak menjadikan kejatuhan

sebagai rumah tempat tinggalnya.


Bangkitlah,

meskipun kakimu masih gemetar.

Berjalanlah,

meskipun langkahmu masih perlahan.

Sebab satu langkah menuju kebaikan

lebih berharga daripada seribu penyesalan

yang tidak pernah diwujudkan.


Wahai keluarga-keluarga di seluruh jagat,

jadikan rumahmu sebagai taman qolbi.

Jangan hanya dihiasi perabot yang indah,

tetapi hiasilah dengan perkataan yang lembut.


Jangan biarkan anak-anak tumbuh

dengan rasa takut kepada rumahnya sendiri.

Jangan jadikan pasangan

sebagai tempat melampiaskan kemarahan.

Jangan menunggu kehilangan

untuk menyadari betapa berharganya kebersamaan.


Peluklah sebelum terlambat.

Mintalah maaf sebelum hati mengeras.

Ucapkan terima kasih

meskipun untuk kebaikan yang sederhana.


Sebab kesejahteraan jagat

bermula dari rumah-rumah

yang di dalamnya manusia

saling menghormati dan menjaga.


Apabila rumah menjadi tempat perlindungan,

anak-anak akan tumbuh tanpa membawa luka

ke tengah masyarakat.

Apabila keluarga mengenal kasih sayang,

negeri akan memiliki generasi

yang tidak mudah menindas.


Wahai para pemuda,

jangan hanya mengejar sorotan dunia.

Tidak semua yang terlihat gemerlap

akan menenteramkan jiwamu.


Bangunlah kemampuan,

peliharalah kejujuran,

dan gunakanlah tenaga mudamu

untuk menciptakan kehidupan

yang lebih bermanfaat.


Jangan malu memulai dari bawah.

Pohon yang besar pun

pernah menjadi benih kecil

yang tersembunyi di dalam tanah.


Jangan takut berjalan perlahan.

Yang paling penting bukan

seberapa cepat engkau dikenal,

tetapi seberapa kuat akar kebaikanmu

menahan badai kehidupan.


Wahai manusia yang berbeda bangsa,

warna kulit, bahasa, dan jalan kehidupan,

jangan jadikan perbedaan

sebagai alasan untuk saling menghancurkan.


Langit tidak hanya menaungi satu golongan.

Matahari tidak memilih

siapa yang pantas menerima cahayanya.

Hujan turun membasahi bumi

tanpa bertanya kepada siapa tanah itu dimiliki.


Mengapa manusia membangun batas kebencian

di atas bumi yang sama-sama dititipkan?


Engkau boleh berbeda dalam pandangan,

tetapi jangan kehilangan kemanusiaan.

Engkau boleh menjaga keyakinan,

tetapi jangan merampas hak hidup sesama.


Perbedaan tidak selalu harus disatukan.

Namun ia harus dijaga

agar tidak berubah menjadi peperangan.


Duduklah bersama,

dengarkanlah sebelum membantah,

dan pahamilah sebelum menghakimi.

Sebab banyak permusuhan

lahir bukan karena manusia benar-benar berbeda,

melainkan karena mereka tidak pernah

mendengar qolbi satu sama lain.


Wahai seluruh penghuni bumi,

qesejahteraan tidak dapat dibangun

di atas penderitaan makhluk lain.


Jangan rusak hutan

demi keserakahan sesaat.

Jangan racuni sungai

yang menjadi sumber kehidupan.

Jangan biarkan udara penuh luka

karena manusia lupa batas.


Bumi bukan warisan

yang boleh dihabiskan sesuka hati.

Ia adalah titipan

yang harus diserahkan kepada generasi berikutnya

dalam keadaan tetap hidup.


Qetika pohon terakhir tumbang,

uang tidak dapat menggantikan udara.

Qetika mata air terakhir mengering,

kekuasaan tidak mampu menciptakan hujan.

Qetika tanah kehilangan kesuburannya,

gelar dan jabatan tidak dapat dimakan.


Jagalah bumi sebagaimana engkau menjaga tubuhmu,

karena tubuhmu pun berasal dari tanahnya.

Jagalah air sebagaimana engkau menjaga darahmu,

karena kehidupanmu mengalir bersamanya.


Maka qembalilah qe qolbi,

sebab qolbi yang hidup

akan mendengar rintihan alam.


Ia akan merasa sedih

melihat sungai menjadi hitam,

hutan menjadi sunyi,

dan hewan-hewan kehilangan tempat tinggalnya.


Qolbi yang hidup memahami

bahwa memayu hayuning bawana

bukan hanya kata-kata indah,

tetapi tanggung jawab

untuk menjaga keseimbangan kehidupan.


Wahai umat di seluruh jagat,

jangan menunggu seorang penyelamat

datang mengubah semuanya.


Jadilah satu cahaya kecil

di tempat engkau berdiri.


Berilah makan satu orang yang lapar.

Tenangkan satu hati yang gelisah.

Ajarkan satu ilmu yang bermanfaat.

Tanamlah satu pohon.

Damaikanlah satu pertengkaran.

Lindungilah satu orang yang dizalimi.

Dan jagalah satu amanah

dengan penuh kejujuran.


Jangan meremehkan kebaikan kecil,

sebab samudra pun terbentuk

dari butiran air

yang berkumpul tanpa kesombongan.


Apabila setiap manusia

menyalakan satu pelita dalam qolbinya,

kegelapan jagat akan kehilangan kuasanya.


Apabila setiap tangan

berhenti mengambil yang bukan haknya,

kemiskinan akan berkurang.


Apabila setiap lisan

berhenti menyebarkan kebencian,

persaudaraan akan tumbuh.


Apabila setiap pemimpin

mendahulukan kepentingan rakyat,

negeri akan menemukan martabatnya.


Dan apabila seluruh manusia

qembali qe qolbi yang terdalam,

maka batas-batas keserakahan akan runtuh,

pintu-pintu kasih sayang akan terbuka,

dan kesejahteraan tidak lagi menjadi mimpi

yang hanya diucapkan dalam pidato.


Ia akan menjelma menjadi makanan

di meja orang yang lapar,

menjadi obat bagi yang sakit,

menjadi sekolah bagi yang ingin belajar,

menjadi rumah bagi yang kehilangan tempat berlindung,

menjadi keadilan bagi yang tertindas,

serta menjadi kedamaian

bagi setiap jiwa yang hidup dalam ketakutan.


Inilah jalan Baldattun Al-Anzor:


Bukan jalan untuk menguasai jagat,

tetapi jalan untuk melayani kehidupan.

Bukan jalan untuk meninggikan nama sendiri,

tetapi jalan untuk mengangkat martabat manusia.

Bukan jalan untuk mencari banyak pengikut,

tetapi jalan untuk mengajak setiap jiwa

menemukan cahaya dalam qolbinya.


Qembalilah, wahai manusia.

Qembalilah sebelum dunia

membuatmu lupa kepada dirimu sendiri.


Qembalilah qe qolbi yang terdalam,

tempat kasih sayang masih bernapas,

tempat kejujuran masih bersuara,

tempat nurani belum dapat dibeli,

dan tempat Alloh mengingatkanmu:


“Engkau tidak diciptakan

hanya untuk hidup bagi dirimu sendiri,

tetapi untuk menjadi rahmat,

penjaga, dan pembawa kesejahteraan

bagi seluruh jagat.”


Bait 4 — Qembalinya Seluruh Jagat qe Qolbi yang Bercahaya


Pada akhirnya,

setelah manusia berjalan begitu jauh,

setelah kota-kota tumbuh menjulang,

setelah mesin-mesin bekerja tanpa mengenal lelah,

setelah ilmu menembus batas langit,

dan setelah dunia berada

dalam genggaman tangan yang kecil,

manusia tetap harus menjawab

satu pertanyaan yang paling sunyi:


“Apakah qolbimu telah menemukan kedamaian?”


Sebab tidak semua perjalanan

membawa manusia menuju tujuan.

Tidak semua kemenangan

membawa manusia menuju kebahagiaan.

Tidak semua kekayaan

mampu menyelamatkan seseorang

dari rasa sepi yang tersembunyi.


Ada manusia yang dikelilingi banyak orang,

namun merasa tidak pernah dipahami.

Ada manusia yang tinggal di rumah besar,

namun tidak memiliki tempat

untuk meletakkan kesedihannya.


Ada manusia yang dikenal seluruh negeri,

namun kehilangan dirinya sendiri.

Ada pula manusia sederhana

yang namanya tidak pernah disebut dunia,

tetapi qolbinya menjadi tempat

berteduhnya banyak jiwa.


Maka janganlah engkau mengukur kehidupan

hanya dari apa yang terlihat oleh mata.


Sebab yang tampak tinggi

belum tentu dekat kepada kebenaran.

Yang tampak kecil

belum tentu tidak memiliki cahaya.


Sebuah pelita kecil

mampu menembus ruangan yang gelap.

Satu tetes air

mampu menyelamatkan makhluk yang kehausan.

Satu perkataan lembut

mampu menahan seseorang

agar tidak menyerah kepada kehidupan.


Dan satu qolbi yang tulus

mampu menjadi awal perubahan

bagi sebuah keluarga,

sebuah kampung,

sebuah negeri,

bahkan seluruh jagat.


Baldattun Al-Anzor menyerukan:


Wahai seluruh umat manusia,

inilah saatnya qembali.


Qembali bukan berarti mundur.

Qembali bukan berarti menolak kemajuan.

Qembali bukan pula meninggalkan dunia

dan bersembunyi dari tanggung jawab.


Qembali adalah menemukan arah

di tengah jalan yang semakin bercabang.


Qembali adalah membersihkan tujuan

ketika ambisi mulai menguasai.


Qembali adalah mengingat

bahwa manusia tidak hidup sendirian,

tidak tumbuh sendirian,

tidak makan dari hasil dirinya sendirian,

dan tidak mungkin bertahan

tanpa kasih sayang makhluk lain.


Qembalilah qe qolbi yang terdalam.


Di sanalah engkau akan mengetahui

bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki,

tetapi juga tentang memberi.


Bukan hanya tentang berbicara,

tetapi juga mendengarkan.


Bukan hanya tentang menjadi benar,

tetapi juga menjaga agar kebenaran

tidak berubah menjadi kesombongan.


Bukan hanya tentang mencapai puncak,

tetapi juga menoleh ke bawah

dan mengulurkan tangan

kepada mereka yang masih tertinggal.


Wahai manusia,

engkau tidak akan menjadi miskin

karena berbagi kasih sayang.


Engkau tidak akan kehilangan martabat

karena meminta maaf.


Engkau tidak menjadi lemah

karena mengakui kesalahan.


Engkau tidak menjadi rendah

karena melayani sesama.


Justru qolbi yang mampu merendah

adalah qolbi yang telah mengenal kebesaran.


Sebab gunung yang tinggi

tidak pernah berteriak

agar manusia mengakui ketinggiannya.


Lautan yang luas

tidak pernah memamerkan kedalamannya.


Matahari yang menerangi seluruh bumi

tidak pernah meminta

agar namanya disebut setiap hari.


Ia hanya menjalankan amanahnya,

memberikan cahaya,

menghangatkan kehidupan,

dan membiarkan kebaikannya

dirasakan oleh seluruh makhluk.


Begitulah seharusnya manusia

menjalankan amanah kehidupan.


Berbuatlah baik

meskipun tidak disaksikan banyak mata.


Menolonglah

meskipun namamu tidak disebut.


Berjuanglah

meskipun hasilnya belum terlihat.


Sebab setiap kebaikan

memiliki jalannya sendiri

untuk pulang kepada pemiliknya.


Mungkin ia tidak kembali

dalam bentuk yang engkau harapkan,

tetapi ia dapat kembali

sebagai keselamatan,

ketenangan keluarga,

kesehatan qolbi,

pertemuan dengan orang-orang baik,

atau kekuatan untuk bertahan

di tengah ujian yang berat.


Wahai orang-orang yang sedang berjuang

menghidupi keluarganya,

jangan merasa pekerjaanmu tidak mulia

hanya karena dunia tidak memujinya.


Tangan yang mencari rezeki halal

adalah tangan yang sedang menjaga amanah.


Keringat yang jatuh

demi makanan anak-anakmu

adalah saksi cinta

yang tidak selalu mampu diucapkan.


Langkahmu yang berangkat

ketika langit masih gelap,

kelelahanmu ketika pulang

setelah matahari tenggelam,

dan kesabaranmu menghadapi kesulitan

adalah bagian dari doa

yang diwujudkan melalui perbuatan.


Namun jangan biarkan pekerjaan

mengambil seluruh jiwamu.


Pulanglah bukan hanya membawa penghasilan,

tetapi juga membawa kelembutan.


Sebab anak-anakmu tidak hanya membutuhkan

makanan dan pakaian.

Mereka membutuhkan pelukan,

perhatian,

dan perasaan bahwa kehadiran mereka

adalah anugerah.


Pasanganmu tidak hanya membutuhkan

rumah yang berdiri kokoh.

Ia juga membutuhkan perkataan

yang membuat qolbinya merasa aman.


Orang tuamu tidak selalu membutuhkan

banyak pemberian.

Terkadang mereka hanya ingin

engkau duduk di sampingnya,

mendengarkan cerita yang berulang,

dan membuatnya merasa

bahwa usia tua tidak menjadikannya

beban bagi keluarganya.


Wahai anak-anak yang telah dewasa,

jangan menunggu kehilangan

untuk menyadari nilai orang tuamu.


Jangan menunggu rumah menjadi sunyi

untuk merindukan suara mereka.


Jangan menunggu tangan mereka dingin

untuk ingin menggenggamnya.


Selama mereka masih hidup,

berikanlah penghormatan.


Selama mereka masih dapat mendengar,

ucapkanlah terima kasih.


Selama engkau masih diberi kesempatan,

mohonlah maaf

atas perkataan dan perbuatan

yang pernah melukai qolbi mereka.


Tidak ada manusia yang sempurna,

termasuk orang tua kita.


Namun di balik kekurangannya,

ada perjuangan yang mungkin

tidak pernah kita saksikan.


Ada malam-malam ketika mereka tidak tidur,

ada keinginan yang mereka kubur,

ada makanan yang mereka sisihkan,

dan ada air mata yang mereka sembunyikan

agar anak-anaknya tetap merasa tenang.


Qembalilah qe qolbi,

agar engkau mampu melihat

pengorbanan yang tidak pernah diumumkan.


Wahai para ayah,

jangan merasa harga dirimu berkurang

ketika menunjukkan kasih sayang.


Kelembutan bukan kelemahan.


Peluklah anakmu.

Bicaralah dengannya.

Dengarkan ketakutannya.

Ajarkan keteguhan tanpa kekerasan.

Ajarkan keberanian tanpa kesombongan.

Ajarkan tanggung jawab

tanpa menghancurkan harga dirinya.


Jangan wariskan luka

hanya karena dahulu engkau juga terluka.


Jangan berkata,

“Aku dahulu diperlakukan seperti itu

dan aku tetap hidup.”


Sebab tujuan kehidupan

bukan hanya membuat anak bertahan hidup,

tetapi membantunya tumbuh

dengan qolbi yang sehat.


Putuskan rantai kekerasan

pada generasimu.


Biarkan anak-anak sesudahmu

mewarisi kebijaksanaan,

bukan ketakutan.


Wahai para ibu,

engkau yang sering menyembunyikan lelah

di balik senyum dan doa,

ingatlah bahwa dirimu pun berharga.


Engkau tidak harus selalu terlihat kuat.


Beristirahat bukan dosa.

Menangis bukan kegagalan.

Meminta bantuan bukan tanda

bahwa engkau kehilangan kemampuan.


Qolbimu juga membutuhkan ruang

untuk dipeluk dan didengarkan.


Jangan sampai seluruh hidupmu

habis untuk menjaga orang lain,

sementara engkau melupakan

jiwa yang dititipkan Alloh kepadamu.


Rawatlah dirimu

agar kasih sayangmu tidak berubah

menjadi kelelahan yang tersembunyi.


Sebab keluarga yang sejahtera

bukan keluarga yang menuntut

satu orang berkorban tanpa batas,

melainkan keluarga yang saling menguatkan,

saling memahami,

dan saling menjaga.


Wahai anak-anak muda

yang sedang mencari jati diri,

jangan serahkan nilai dirimu

kepada ukuran dunia yang berubah-ubah.


Hari ini dunia memuji satu wajah,

besok ia mencari wajah yang lain.


Hari ini dunia mengangkat satu nama,

besok ia melupakannya.


Hari ini manusia bertepuk tangan,

besok mereka dapat berpaling

tanpa penjelasan.


Apabila harga dirimu bergantung

pada pujian manusia,

maka hidupmu akan selalu gelisah.


Bangunlah nilai dirimu

dari kejujuran,

kedisiplinan,

ilmu,

akhlak,

dan kesediaan untuk terus belajar.


Tidak masalah apabila perjalananmu

lebih lambat daripada orang lain.


Setiap jiwa memiliki musimnya.


Ada pohon yang berbuah cepat,

ada yang membutuhkan waktu panjang

untuk menguatkan akarnya.


Jangan menggali benihmu setiap hari

hanya untuk memastikan

apakah ia telah tumbuh.


Rawatlah dengan sabar.

Berikan air perjuangan.

Berikan cahaya harapan.

Jagalah dari penyakit putus asa.


Pada waktunya,

apa yang engkau tanam dengan tulus

akan menemukan jalannya menuju kehidupan.


Wahai mereka yang merasa tertinggal,

hidup bukan perlombaan

yang garis akhirnya sama bagi semua orang.


Ada orang yang menemukan jalannya

ketika masih muda.


Ada yang baru memahami dirinya

setelah melewati banyak kegagalan.


Ada yang harus kehilangan

agar belajar menghargai.


Ada yang harus berjalan dalam kesunyian

agar mampu mendengar suara qolbinya.


Jangan menghina perjalananmu sendiri.


Setiap luka dapat menjadi pelajaran

apabila engkau tidak membiarkannya

berubah menjadi kebencian.


Setiap kegagalan dapat menjadi jalan

apabila engkau bersedia

membaca pesan yang dibawanya.


Setiap kehilangan dapat mengajarkan

bahwa kehidupan ini hanyalah titipan.


Dan setiap pertemuan

dapat mengingatkan

bahwa tidak ada yang hadir

tanpa membawa makna.


Namun jangan pula memaksa

setiap peristiwa memiliki tanda yang rumit.


Terkadang sesuatu terjadi

karena manusia harus belajar lebih hati-hati.


Terkadang kegagalan datang

karena cara yang dipilih belum tepat.


Terkadang tubuh merasa lelah

karena ia membutuhkan istirahat,

bukan karena ada rahasia gaib

yang harus ditakuti.


Qolbi yang jernih

tidak membuat manusia kehilangan akal sehat.


Sebaliknya, ia mengajarkan

agar iman, ilmu, ikhtiar, dan kewaspadaan

berjalan berdampingan.


Apabila sakit, berdoalah

dan carilah pertolongan yang tepat.


Apabila bingung, bermusyawarahlah

dengan orang yang amanah.


Apabila menghadapi masalah,

jangan hanya menunggu keajaiban,

tetapi bangunlah jalan keluar

dengan usaha yang jujur.


Sebab tawakal bukan berdiam diri.


Tawakal adalah bekerja sebaik-baiknya,

kemudian menyerahkan hasilnya

kepada Alloh tanpa kehilangan adab.


Wahai para guru dan pendidik,

engkau tidak hanya mengajarkan huruf,

angka, ilmu, dan keterampilan.


Engkau sedang menyentuh masa depan

melalui qolbi anak-anak manusia.


Jangan hinakan murid

karena ia lambat memahami.


Jangan bandingkan satu anak

dengan anak lainnya

hingga ia kehilangan kepercayaan diri.


Di balik seorang murid yang diam,

mungkin ada rumah yang penuh pertengkaran.


Di balik anak yang sering terlambat,

mungkin ada tanggung jawab keluarga

yang belum engkau ketahui.


Di balik nilai yang rendah,

mungkin ada kecemasan,

lapar,

kelelahan,

atau luka batin

yang tidak mampu ia ceritakan.


Pendidikan bukan hanya memindahkan pengetahuan,

tetapi menyalakan harapan.


Ajarkanlah anak-anak

bahwa kecerdasan memiliki banyak bentuk.


Ada yang pandai membaca angka.

Ada yang terampil mengolah tanah.

Ada yang mampu menjaga orang sakit.

Ada yang memiliki tangan seni.

Ada yang pandai mendamaikan pertengkaran.

Ada pula yang diberi qolbi lembut

untuk memahami penderitaan sesama.


Semua memiliki tempat

dalam bangunan kehidupan.


Jangan biarkan sekolah

menjadi tempat yang hanya memuliakan

satu jenis kemampuan

dan merendahkan yang lainnya.


Sebab negeri yang sejahtera

membutuhkan ilmuwan,

petani,

nelayan,

guru,

perawat,

pengrajin,

pemimpin,

pekerja,

seniman,

dan orang-orang biasa

yang menjaga kejujuran dalam tugasnya.


Wahai para pemimpin,

dengarkanlah seruan terakhir puisi ini.


Jabatanmu bukan mahkota

yang diberikan agar engkau dipuja.


Ia adalah beban amanah

yang kelak akan ditanya.


Di balik satu tanda tanganmu,

ada kehidupan banyak manusia.


Di balik satu kebijakanmu,

ada keluarga yang dapat terselamatkan

atau justru kehilangan harapan.


Jangan hanya mendengar

orang-orang yang berdiri dekat dengan kursimu.


Turunlah ke tempat

di mana jalan masih rusak,

air bersih sulit ditemukan,

sekolah hampir roboh,

dan orang sakit menunda pengobatan

karena tidak memiliki biaya.


Lihatlah pasar tradisional

tempat para pedagang kecil

berjuang sejak dini hari.


Lihatlah ladang

yang semakin sulit ditanami.


Lihatlah kampung nelayan

yang menggantungkan hidupnya

kepada cuaca yang tidak menentu.


Lihatlah buruh

yang menghabiskan usia dan tenaga,

namun tetap cemas

memikirkan kebutuhan keluarganya.


Lihatlah para penyandang keterbatasan

yang masih sering dipandang

sebagai beban,

padahal mereka hanya membutuhkan

kesempatan dan akses yang adil.


Lihatlah para janda,

anak yatim,

orang lanjut usia,

korban bencana,

dan mereka yang hidup

di pinggir perhatian masyarakat.


Jangan biarkan mereka

hanya menjadi angka dalam laporan.


Mereka adalah manusia.


Mereka memiliki nama,

keluarga,

air mata,

harapan,

dan doa

yang mungkin tidak pernah sampai

ke ruang tempat keputusan dibuat.


Apabila engkau benar-benar pemimpin,

jadikanlah qolbimu jembatan

antara kekuasaan dan penderitaan rakyat.


Jangan bangun kemegahan

di atas perut yang lapar.


Jangan merayakan keberhasilan

ketika sebagian rakyat

masih kehilangan hak dasarnya.


Jangan bangga kepada pertumbuhan

apabila hasilnya hanya berputar

di antara mereka yang telah memiliki segalanya.


Kesejahteraan bukan sekadar angka

yang disampaikan di atas panggung.


Kesejahteraan adalah ketika seorang ibu

tidak takut anaknya sakit

karena layanan kesehatan dapat dijangkau.


Kesejahteraan adalah ketika petani

menerima harga yang layak

dari hasil tanahnya.


Kesejahteraan adalah ketika anak miskin

tetap dapat belajar

tanpa merasa rendah.


Kesejahteraan adalah ketika hukum

tidak tajam kepada yang lemah

dan tumpul di hadapan kekuasaan.


Kesejahteraan adalah ketika rakyat

berani berbicara

tanpa takut kehilangan keselamatan.


Kesejahteraan adalah ketika agama,

budaya,

ilmu,

dan pembangunan

tidak saling menghancurkan,

melainkan bekerja bersama

untuk menjaga martabat manusia.


Wahai para penegak hukum,

qembalilah qe qolbi

sebelum memutuskan nasib seseorang.


Hukum tanpa nurani

dapat berubah menjadi kekejaman.


Nurani tanpa hukum

dapat kehilangan arah.


Maka tegakkanlah keduanya

dengan keseimbangan.


Jangan biarkan uang

membeli keputusan.


Jangan biarkan kedekatan

menghapus kesalahan.


Jangan biarkan orang kecil

menanggung hukuman berat,

sementara pelaku besar

bersembunyi di balik pengaruh.


Keadilan bukan balas dendam.


Keadilan adalah menempatkan sesuatu

pada tempat yang benar,

melindungi korban,

mencegah kejahatan berulang,

dan memberi ruang perbaikan

bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat.


Sebab masyarakat tidak menjadi aman

hanya karena penjara penuh.


Masyarakat menjadi aman

ketika sebab-sebab kejahatan

juga disembuhkan:


kemiskinan,

kebodohan,

kekerasan dalam keluarga,

ketidakadilan,

ketergantungan,

dan hilangnya harapan.


Wahai para pemilik usaha dan perdagangan,

jangan melihat pekerja

hanya sebagai alat produksi.


Mereka adalah manusia

yang memiliki keluarga

dan kehidupan di luar tempat kerja.


Berikan haknya sebelum kering keringatnya.

Jangan mengurangi upah

demi memperbesar keuntungan.


Jangan menciptakan lingkungan

yang membuat manusia kehilangan kesehatan

hanya untuk mengejar target.


Keuntungan yang dibangun

di atas penderitaan orang lain

mungkin tampak besar dalam catatan dunia,

tetapi ia membawa kekeringan

ke dalam qolbi.


Usaha yang diberkahi

bukan hanya usaha yang menghasilkan banyak,

tetapi usaha yang memberi manfaat,

menjaga kejujuran,

menghidupi banyak keluarga,

dan tidak merusak bumi.


Wahai para pembeli,

ingatlah bahwa setiap barang murah

dapat menyimpan kisah

yang tidak pernah engkau lihat.


Mungkin ada pekerja

yang dibayar tidak layak.


Mungkin ada alam

yang dirusak tanpa pemulihan.


Mungkin ada hewan

yang diperlakukan dengan kejam.


Mungkin ada anak-anak

yang kehilangan masa belajar

karena dipaksa bekerja.


Belajarlah memilih

dengan tanggung jawab.


Sebab kesejahteraan seluruh jagat

tidak hanya ditentukan

oleh keputusan para pemimpin,

tetapi juga oleh kebiasaan kecil

jutaan manusia setiap hari.


Wahai para penjaga agama

dan pembimbing qolbi umat,

sampaikanlah kebenaran

dengan hikmah dan kasih sayang.


Jangan jadikan mimbar

sebagai tempat menyalakan kebencian.


Jangan mudah memecah umat

hanya karena perbedaan

yang masih memiliki ruang untuk dimusyawarahkan.


Jangan menjual ketakutan

demi mendapatkan pengaruh.


Jangan menanamkan keyakinan

bahwa setiap musibah

pasti disebabkan oleh dosa orang lain.


Sebab tidak semua penderitaan

boleh dijadikan bahan penghakiman.


Ada orang saleh yang diuji.

Ada orang lemah yang menjadi korban.

Ada anak kecil yang tidak bersalah

namun harus menanggung keadaan

yang tidak pernah dipilihnya.


Agama harus hadir

sebagai cahaya di tengah kesulitan.


Ia harus melindungi yang lemah,

menenangkan yang takut,

membimbing yang tersesat,

dan menegur yang berkuasa

ketika kekuasaan kehilangan keadilan.


Jangan hanya mengajarkan

cara manusia memandang langit.


Ajarkan pula cara memperlakukan

sesama manusia di bumi.


Jangan hanya membicarakan

pahala ibadah pribadi.


Bicarakan pula dosa menipu,

merampas hak,

merusak alam,

menghina yang miskin,

dan menyebarkan fitnah.


Sebab qolbi yang benar-benar mengenal Alloh

tidak akan merasa tenang

melihat penderitaan yang dapat ia kurangi.


Ibadah yang hidup

akan melahirkan akhlak.


Dzikir yang hidup

akan menjaga lisan.


Doa yang hidup

akan menggerakkan tangan untuk menolong.


Sujud yang hidup

akan menghancurkan kesombongan.


Dan ilmu yang hidup

akan menghadirkan manfaat

bagi seluruh makhluk.


Wahai para pencari jalan ruhani,

jangan mengejar pengalaman batin

hingga melupakan kewajiban nyata.


Jangan merasa lebih tinggi

hanya karena pernah melihat cahaya

dalam tafakurmu.


Jangan merasa terpilih

hanya karena memperoleh mimpi

yang tidak dialami orang lain.


Ukurlah perjalananmu

bukan dari banyaknya tanda,

tetapi dari perubahan akhlakmu.


Apakah engkau semakin sabar?


Apakah lisannya semakin terjaga?


Apakah engkau semakin jujur?


Apakah keluargamu merasa aman

berada di dekatmu?


Apakah engkau semakin ringan

memaafkan dan menolong?


Apakah engkau masih mudah marah

ketika pendapatmu tidak diterima?


Apakah engkau menggunakan nama ruhani

untuk merendahkan orang lain?


Apakah engkau merasa memiliki kedudukan

yang tidak dapat dinilai siapa pun?


Berhati-hatilah.


Kesombongan dapat mengenakan

pakaian kerendahan hati.


Keinginan dipuji

dapat bersembunyi

di balik kata-kata pengabdian.


Hasrat menguasai

dapat memakai nama perjuangan.


Dan hawa nafsu

dapat berbicara seolah-olah

ia adalah suara qolbi.


Karena itu, qembalilah

kepada ilmu,

syariat,

akal sehat,

musyawarah,

dan akhlak.


Jangan menerima setiap bisikan

sebagai perintah suci.


Jangan menganggap setiap kebetulan

sebagai kepastian takdir.


Jangan membuat keputusan besar

hanya berdasarkan mimpi

tanpa pertimbangan yang matang.


Cahaya sejati

tidak membawa manusia

kepada kesombongan, ketakutan,

atau tindakan yang membahayakan.


Cahaya sejati menghadirkan ketenangan,

tanggung jawab,

kasih sayang,

kejernihan,

dan penghormatan kepada kehidupan.


Wahai manusia yang hatinya sedang gelap,

engkau tidak harus menemukan

seluruh jawaban pada hari ini.


Terkadang jalan keluar

datang selangkah demi selangkah.


Hari ini mungkin engkau hanya mampu

bangun dari tempat tidur.


Itu sudah satu kemenangan.


Hari ini mungkin engkau hanya mampu

makan sedikit

dan membersihkan dirimu.


Itu pun sebuah usaha.


Hari ini mungkin engkau belum mampu

tersenyum seperti dahulu,

tetapi engkau masih memilih bertahan.


Itu adalah keberanian.


Jangan menghina kemajuan kecil.


Luka yang dalam

tidak selalu sembuh dengan cepat.


Carilah orang yang dapat dipercaya.

Ceritakan bebanmu.

Mintalah bantuan

kepada keluarga, sahabat,

pembimbing yang bijaksana,

atau tenaga profesional

ketika jiwamu terlalu berat menanggungnya.


Alloh menghadirkan pertolongan

melalui banyak jalan.


Terkadang melalui doa.


Terkadang melalui dokter.


Terkadang melalui obat.


Terkadang melalui seorang sahabat

yang duduk dan mendengarkan.


Terkadang melalui keberanianmu sendiri

untuk berkata:


“Aku sedang tidak baik-baik saja,

dan aku membutuhkan pertolongan.”


Jangan malu menyelamatkan dirimu.


Engkau pun bagian dari umat

yang harus disejahterakan.


Wahai orang-orang yang pernah dikhianati,

jangan jadikan pengkhianatan seseorang

sebagai ukuran bagi seluruh manusia.


Ada orang yang datang

untuk mengambil keuntungan.


Namun ada pula orang

yang benar-benar membawa ketulusan.


Belajarlah menjaga batas,

bukan menutup qolbi selamanya.


Berhati-hati bukan berarti membenci.


Memaafkan bukan berarti

membiarkan kesalahan terulang.


Kasih sayang bukan berarti

menyerahkan dirimu

untuk terus disakiti.


Qolbi yang sehat

mampu berkata lembut,

namun juga mampu berkata cukup.


Ia mampu menolong,

namun tidak membiarkan dirinya

dimanfaatkan tanpa batas.


Ia mampu memaafkan,

namun tetap mengambil pelajaran.


Ia mampu mencintai,

namun tidak kehilangan harga dirinya.


Wahai mereka yang memegang teknologi

dan ilmu pengetahuan,

gunakanlah kecerdasan

untuk mengangkat kehidupan,

bukan menghapus kemanusiaan.


Ciptakanlah alat

yang membantu orang sakit,

memudahkan pendidikan,

menjaga keselamatan,

dan memperbaiki lingkungan.


Jangan gunakan pengetahuan

untuk memanipulasi pikiran,

menyebarkan kebohongan,

merampas kebebasan,

atau memperbesar jurang ketidakadilan.


Teknologi tidak memiliki qolbi.


Manusialah yang harus memberikan arah.


Apabila ia dikendalikan keserakahan,

ia akan mempercepat kerusakan.


Apabila ia dibimbing kebijaksanaan,

ia dapat menjadi jalan

bagi kesejahteraan seluruh jagat.


Jangan biarkan manusia

menjadi budak dari alat

yang ia ciptakan sendiri.


Jangan biarkan layar kecil

mengambil seluruh waktu

yang seharusnya digunakan

untuk berbicara dengan keluarga.


Jangan biarkan jumlah tanda suka

menentukan nilai sebuah kehidupan.


Jangan biarkan berita palsu

memecah persaudaraan.


Periksalah sebelum menyebarkan.


Diamlah apabila belum mengetahui.


Sebab satu kebohongan

yang dikirim melalui tanganmu

dapat melukai ribuan qolbi

yang tidak pernah engkau jumpai.


Wahai para penulis, seniman,

penyair, dan pembawa cerita,

gunakanlah karya

untuk membangunkan nurani.


Jangan hanya menggambarkan keindahan,

tetapi bukalah mata manusia

terhadap penderitaan yang tersembunyi.


Tulislah tentang harapan

tanpa menutup kenyataan.


Tulislah tentang luka

tanpa mengajak manusia tenggelam.


Tulislah tentang cinta

yang menjaga kehormatan.


Tulislah tentang perjuangan

orang-orang yang tidak pernah masuk

ke dalam buku sejarah.


Ada ibu yang menjadi pahlawan

di rumah kecilnya.


Ada ayah yang menahan lelah

tanpa pernah menerima penghargaan.


Ada guru yang mengajar

di tempat terpencil.


Ada petugas kesehatan

yang menjaga pasien

ketika orang lain terlelap.


Ada relawan

yang datang ke tempat bencana.


Ada tetangga

yang diam-diam mengirim makanan.


Ada orang miskin

yang tetap berbagi

meskipun miliknya sangat sedikit.


Abadikanlah cahaya-cahaya kecil itu.


Sebab dunia tidak hanya dibangun

oleh nama-nama besar.


Dunia dipertahankan

oleh jutaan kebaikan sunyi

yang dilakukan setiap hari.


Wahai bangsa-bangsa di seluruh bumi,

berhentilah memandang peperangan

sebagai jalan menuju kehormatan.


Tidak ada kemenangan sejati

di atas tubuh anak-anak.


Tidak ada kejayaan

di atas rumah yang terbakar.


Tidak ada kemuliaan

di atas ibu yang kehilangan keluarga.


Tidak ada masa depan

di atas tanah yang dipenuhi kebencian.


Senjata mungkin mampu

menghentikan satu suara,

tetapi tidak dapat menghapus luka

dari ingatan generasi.


Perang tidak selesai

ketika tembakan berhenti.


Ia terus hidup

dalam mimpi buruk,

kemiskinan,

anak-anak tanpa orang tua,

tubuh yang kehilangan anggota,

dan qolbi yang sulit mempercayai manusia.


Duduklah di meja perdamaian

sebelum terlalu banyak kuburan

dibangun di atas bumi.


Menanglah tanpa menghancurkan.


Berbeda tanpa membunuh.


Berdebat tanpa menghilangkan martabat.


Jangan wariskan

dendam kepada anak-anak

yang bahkan belum memahami

mengapa mereka harus saling membenci.


Wahai umat beragama di seluruh jagat,

jagalah keyakinanmu

tanpa merampas hak orang lain.


Engkau tidak harus melepaskan iman

untuk menghormati manusia.


Engkau tidak harus membenarkan

semua pandangan

untuk hidup berdampingan.


Cukuplah memahami

bahwa setiap jiwa

memiliki kehormatan

yang tidak boleh diinjak.


Tunjukkan keindahan keyakinanmu

melalui akhlak,

bukan melalui kekerasan.


Sebab bunga tidak memaksa manusia

untuk mengakui keharumannya.


Ia hanya mekar,

dan keindahannya berbicara sendiri.


Wahai manusia yang tinggal

di negeri subur,

jangan lupa bahwa bumi

memiliki batas kesabaran.


Hutan yang ditebang tanpa kendali

akan mengirim banjir.


Gunung yang dilukai

akan melepaskan longsor.


Laut yang dipenuhi sampah

akan mengembalikan racun

ke dalam tubuh manusia.


Udara yang dikotori

akan masuk ke paru-paru

anak-anak kita sendiri.


Alam bukan musuh

yang harus ditaklukkan.


Ia adalah rumah besar

yang harus dijaga.


Tanamlah pohon

meskipun engkau belum tentu

menikmati seluruh buahnya.


Bersihkan sungai

meskipun sampah itu

bukan engkau yang membuangnya.


Hematlah air

meskipun hari ini sumbernya

masih mengalir.


Kurangi keserakahan

sebelum bumi memaksa manusia

membayar harga yang jauh lebih besar.


Jangan mengukur kemajuan

hanya dari banyaknya gedung.


Ukurlah pula

dari kejernihan air,

kesegaran udara,

kesuburan tanah,

dan keamanan makhluk hidup.


Sebab negeri yang kaya

tetapi kehilangan alamnya

sedang berjalan menuju kemiskinan

yang tidak dapat ditebus dengan uang.


Wahai manusia,

engkau bukan pemilik bumi.


Engkau hanyalah tamu

yang diberi waktu singkat.


Sebelum engkau datang,

bumi telah menjadi rumah

bagi generasi terdahulu.


Setelah engkau pergi,

ia akan menjadi rumah

bagi anak cucumu.


Apakah engkau akan meninggalkan

mata air atau kekeringan?


Hutan atau tanah tandus?


Kedamaian atau peperangan?


Ilmu atau kebodohan?


Persaudaraan atau dendam?


Inilah pertanyaan

yang harus dijawab

oleh setiap generasi.


Wahai orang-orang yang merasa kecil,

jangan berkata bahwa suaramu

tidak memiliki arti.


Satu suara jujur

dapat membuka kebohongan

yang telah lama disembunyikan.


Satu keberanian

dapat menguatkan banyak orang

yang sebelumnya memilih diam.


Satu perbuatan baik

dapat menjadi contoh

yang diteruskan oleh generasi.


Namun jangan pula merasa

bahwa dirimu harus menyelamatkan

seluruh jagat seorang diri.


Lakukanlah bagianmu.


Seorang petani menanam.


Seorang guru mengajarkan.


Seorang dokter merawat.


Seorang pemimpin mengayomi.


Seorang pedagang berlaku jujur.


Seorang ulama membimbing.


Seorang seniman membangunkan rasa.


Seorang tetangga menjaga tetangganya.


Seorang anak menghormati orang tuanya.


Seorang manusia menjaga qolbinya.


Apabila setiap orang

menjalankan amanahnya,

maka kehidupan akan menemukan keseimbangan.


Wahai qolbi yang telah lama lelah,

dengarkanlah suara terakhir

dari Baldattun Al-Anzor:


Engkau tidak harus menjadi sempurna

untuk menjadi cahaya.


Cukuplah jujur

dalam memperbaiki diri.


Engkau tidak harus memiliki banyak

untuk dapat berbagi.


Cukuplah memberikan

apa yang mampu engkau berikan.


Engkau tidak harus dikenal dunia

untuk memiliki kehidupan yang berarti.


Cukuplah kehadiranmu

membuat orang lain merasa aman.


Engkau tidak harus memenangkan

setiap perdebatan.


Terkadang menjaga persaudaraan

lebih mulia daripada memaksakan kemenangan.


Engkau tidak harus membalas

semua orang yang menyakitimu.


Terkadang menyerahkan urusan kepada Alloh

dan berjalan meninggalkan keburukan

adalah kemenangan yang paling besar.


Namun jangan salah memahami kesabaran.


Sabar bukan membiarkan kezaliman.


Sabar adalah menjaga diri

agar tidak berubah menjadi zalim

ketika melawan kezaliman.


Sabar bukan memendam

hingga jiwa hancur.


Sabar adalah mencari jalan keluar

tanpa kehilangan iman dan akhlak.


Sabar bukan pasrah kepada keadaan.


Sabar adalah bertahan, berusaha, berdoa,

dan terus bergerak

meskipun langkah terasa berat.


Wahai manusia yang sedang berada

di persimpangan hidup,

pilihlah jalan yang membuat qolbimu

tetap dapat menatap Alloh

tanpa menyembunyikan rasa malu.


Jangan mengambil sesuatu

yang bukan hakmu

meskipun tidak ada manusia yang melihat.


Jangan mengkhianati amanah

meskipun engkau memiliki kesempatan.


Jangan merendahkan orang lain

hanya agar dirimu terlihat tinggi.


Jangan menjual kebenaran

demi kenyamanan sementara.


Sebab setiap pilihan

meninggalkan jejak dalam qolbi.


Kebohongan yang terus diulang

akan membuat qolbi kehilangan kepekaan.


Keserakahan yang dipelihara

akan membuat manusia

tidak pernah merasa cukup.


Kebencian yang disiram setiap hari

akan membakar rumah batin sendiri.


Sebaliknya,

kejujuran akan menguatkan.


Syukur akan meluaskan rasa cukup.


Sedekah akan membersihkan keterikatan.


Memaafkan akan membuka penjara qolbi.


Dan kasih sayang

akan mengembalikan manusia

kepada kemuliaan asalnya.


Maka qembalilah qe qolbi.


Qembalilah ketika dunia memujimu,

agar engkau tidak lupa diri.


Qembalilah ketika dunia mencelamu,

agar engkau tidak kehilangan harga diri.


Qembalilah ketika engkau kaya,

agar harta tidak menjadi tuhanmu.


Qembalilah ketika engkau miskin,

agar kesulitan tidak membuatmu

menghalalkan segala cara.


Qembalilah ketika engkau berilmu,

agar ilmu tidak melahirkan kesombongan.


Qembalilah ketika engkau belum memahami,

agar ketidaktahuan tidak membuatmu

membenci kebenaran.


Qembalilah ketika engkau memimpin,

agar kekuasaan tetap menjadi pelayanan.


Qembalilah ketika engkau dipimpin,

agar kritikmu tetap memiliki adab.


Qembalilah ketika engkau mencintai,

agar cinta tidak menjadi kepemilikan.


Qembalilah ketika engkau kehilangan,

agar kesedihan tidak memutus harapan.


Qembalilah ketika engkau marah,

agar lidahmu tidak mengucapkan

sesuatu yang akan disesali.


Qembalilah ketika engkau takut,

agar ketakutan tidak menguasai keputusan.


Qembalilah ketika engkau bahagia,

agar kebahagiaan tidak membuatmu

melupakan mereka yang sedang menderita.


Qembalilah setiap hari,

sebab qolbi dapat berdebu

oleh perjalanan dunia.


Bersihkanlah dengan istighfar.

Terangilah dengan dzikir.

Kuatkanlah dengan ilmu.

Lembutkanlah dengan kasih sayang.

Buktikanlah dengan perbuatan.


Sebab cahaya yang hanya disimpan

tidak akan menerangi jalan.


Ilmu yang hanya dibicarakan

tidak akan mengenyangkan orang lapar.


Doa yang tidak diikuti usaha

dapat membuat manusia

menunggu tanpa bergerak.


Dan niat baik yang terus ditunda

tidak akan menjadi manfaat

sebelum diwujudkan.


Bangunlah, wahai umat manusia.


Bukan untuk saling mengalahkan,

tetapi untuk saling menguatkan.


Bukan untuk membangun satu golongan

di atas kehancuran golongan lain,

tetapi untuk menciptakan ruang

di mana setiap manusia

dapat hidup dengan bermartabat.


Bangunlah rumah-rumah

yang di dalamnya tidak ada ketakutan.


Bangunlah sekolah-sekolah

yang tidak mematikan rasa ingin tahu.


Bangunlah rumah ibadah

yang melahirkan kasih sayang.


Bangunlah pasar

yang menjunjung kejujuran.


Bangunlah pemerintahan

yang mendengar rakyatnya.


Bangunlah hukum

yang tidak dapat dibeli.


Bangunlah teknologi

yang melayani kemanusiaan.


Bangunlah pertanian

yang menjaga kesuburan bumi.


Bangunlah kota

yang masih menyediakan ruang

bagi pohon, sungai, anak-anak,

orang lanjut usia,

dan mereka yang berjalan kaki.


Bangunlah kehidupan

yang tidak membuat manusia

harus menghancurkan dirinya

demi sekadar bertahan.


Inilah kesejahteraan

yang dimaksud oleh puisi ini.


Bukan kemewahan tanpa batas.


Bukan pesta di atas penderitaan.


Bukan kesenangan sementara

yang meninggalkan kerusakan panjang.


Kesejahteraan adalah keseimbangan.


Antara kebutuhan tubuh

dan ketenteraman jiwa.


Antara kemajuan

dan kelestarian alam.


Antara hak pribadi

dan tanggung jawab sosial.


Antara keberanian berbicara

dan kebijaksanaan mendengarkan.


Antara berusaha keras

dan mengetahui waktu untuk beristirahat.


Antara mencintai dunia

sebagai amanah

dan tidak menjadikannya tujuan terakhir.


Wahai seluruh penghuni jagat,

bayangkanlah sebuah negeri

di mana tidak ada anak

yang tidur dalam kelaparan.


Bayangkanlah sebuah negeri

di mana orang sakit

tidak takut mencari pengobatan.


Bayangkanlah sebuah negeri

di mana guru dihormati,

petani disejahterakan,

pekerja dilindungi,

dan pemimpin tidak hidup

jauh dari kenyataan rakyat.


Bayangkanlah sebuah negeri

di mana perbedaan

tidak menjadi alasan pertumpahan darah.


Di mana orang kaya

tidak malu duduk bersama orang miskin.


Di mana ulama, ilmuwan, seniman,

pemimpin, dan rakyat

berjalan bersama menjaga kehidupan.


Di mana anak perempuan dan laki-laki

mendapatkan kesempatan belajar

dan tumbuh dengan aman.


Di mana orang lanjut usia

tidak ditinggalkan.


Di mana penyandang keterbatasan

tidak disingkirkan.


Di mana alam tidak diperlakukan

sebagai barang mati.


Di mana kejujuran tidak dianggap kebodohan

dan kecurangan tidak dipuji sebagai kecerdikan.


Negeri seperti itu

tidak lahir hanya dari satu pidato.


Ia tidak lahir

dari satu pemimpin.


Ia tidak lahir

dari satu kelompok.


Ia dibangun oleh qolbi-qolbi

yang memilih berbuat benar

setiap hari.


Oleh tangan yang tidak mengambil

yang bukan haknya.


Oleh lisan yang tidak menyebarkan fitnah.


Oleh mata yang tidak berpaling

dari penderitaan.


Oleh telinga yang mau mendengar.


Oleh pikiran yang mau belajar.


Oleh kaki yang bersedia berjalan

menuju tempat-tempat

yang membutuhkan pertolongan.


Dan oleh jiwa

yang tidak lelah berharap

kepada rahmat Alloh.


Mungkin engkau tidak akan melihat

seluruh perubahan itu

dalam masa hidupmu.


Namun tanamlah benihnya.


Generasi terdahulu

menanam pohon

yang buahnya kita nikmati hari ini.


Maka tanamlah pula

untuk mereka yang akan datang

setelah kita.


Ajarkan anak-anak

untuk mencintai kebenaran.


Ajarkan mereka menjaga alam.


Ajarkan mereka menghormati perbedaan.


Ajarkan mereka bahwa keberanian

bukan menyakiti yang lemah.


Ajarkan mereka bahwa laki-laki

tidak kehilangan kehormatan

karena berlaku lembut.


Ajarkan mereka bahwa perempuan

bukan makhluk yang boleh direndahkan.


Ajarkan mereka bahwa orang miskin

tidak kehilangan kemuliaan.


Ajarkan mereka bahwa kekayaan

adalah amanah,

bukan ukuran nilai manusia.


Ajarkan mereka bahwa agama

harus membuat manusia

semakin jujur, adil, dan penyayang.


Ajarkan mereka meminta maaf.


Ajarkan mereka berterima kasih.


Ajarkan mereka menerima kekalahan

tanpa membenci.


Ajarkan mereka memenangkan sesuatu

tanpa menghina.


Ajarkan mereka bahwa bumi ini

bukan milik satu generasi.


Apabila pendidikan qolbi itu dijaga,

maka masa depan

tidak akan sepenuhnya gelap.


Wahai generasi yang akan datang,

apabila suatu hari

engkau membaca puisi ini,

ketahuilah bahwa kami pernah hidup

dalam zaman yang penuh kecepatan,

namun sering kehilangan arah.


Kami mampu berbicara

kepada orang di tempat jauh,

namun terkadang lupa berbicara

kepada keluarga di samping kami.


Kami mampu mengumpulkan banyak informasi,

namun belum tentu memiliki kebijaksanaan.


Kami membangun gedung tinggi,

namun masih belajar

membangun akhlak.


Kami berbicara tentang perdamaian,

namun masih memelihara kebencian.


Kami menginginkan kesejahteraan,

namun sering takut berbagi.


Kami menjaga citra,

namun kadang mengabaikan qolbi.


Karena itu,

jangan ulangi seluruh kesalahan kami.


Ambillah ilmu yang bermanfaat.


Tinggalkan keserakahan.


Jagalah bumi yang tersisa.


Rawatlah persaudaraan.


Jangan biarkan teknologi

mengambil kemanusiaanmu.


Jangan biarkan kekuasaan

menguasai nuranimu.


Jangan biarkan perbedaan

menghapus kasih sayangmu.


Dan ketika engkau merasa kehilangan arah,

qembalilah qe qolbi yang terdalam.


Di sanalah engkau akan menemukan

suara yang tidak berteriak,

namun menunjukkan jalan.


Suara yang tidak menjanjikan

kemudahan tanpa perjuangan,

tetapi memberi kekuatan

untuk tetap berjalan.


Suara yang berkata:


Jangan berbuat zalim,

meskipun engkau pernah dizalimi.


Jangan menjadi penipu,

meskipun engkau pernah ditipu.


Jangan menjadi kasar,

meskipun engkau dibesarkan

di tengah kekasaran.


Jangan mewariskan kebencian,

meskipun engkau menerima luka.


Jadilah akhir dari rantai kegelapan

dan awal dari rantai cahaya.


Wahai qolbi manusia,

engkaulah medan perjuangan

yang paling dekat.


Sebelum menata dunia,

tatalah niatmu.


Sebelum menuntut orang lain jujur,

periksalah kejujuranmu.


Sebelum meminta pemimpin adil,

lihatlah apakah engkau telah adil

kepada keluarga, pekerja, tetangga,

dan mereka yang berbeda pendapat.


Sebelum mengajak orang bersedekah,

lihatlah apakah tanganmu sendiri

telah terbuka.


Sebelum mengutuk kebencian,

bersihkanlah kebencian

yang tersimpan dalam dadamu.


Sebelum menyalahkan zaman,

tanyakan apa yang telah engkau lakukan

untuk memperbaikinya.


Perubahan besar

tidak boleh menjadi alasan

untuk menunda kebaikan kecil.


Mulailah dari rumahmu.


Mulailah dari meja makanmu.


Mulailah dari cara engkau berbicara.


Mulailah dari utang

yang harus engkau lunasi.


Mulailah dari janji

yang harus engkau tepati.


Mulailah dari sampah

yang harus engkau buang pada tempatnya.


Mulailah dari kabar

yang tidak boleh engkau sebarkan

sebelum diperiksa.


Mulailah dari orang

yang harus engkau mintai maaf.


Mulailah dari satu anak

yang membutuhkan biaya belajar.


Mulailah dari satu pohon

yang dapat engkau tanam.


Mulailah dari satu tetangga

yang perlu ditolong.


Mulailah dari satu qolbi:


qolbimu sendiri.


Lalu biarkan cahaya itu

menjalar perlahan.


Dari qolbi menuju pikiran.


Dari pikiran menuju perkataan.


Dari perkataan menuju perbuatan.


Dari perbuatan menuju kebiasaan.


Dari kebiasaan menuju keluarga.


Dari keluarga menuju masyarakat.


Dari masyarakat menuju negeri.


Dari negeri menuju seluruh jagat.


Inilah rahasia besar

yang sering dicari manusia

di tempat yang jauh:


Jagat tidak akan menjadi damai

apabila manusia terus memelihara perang

di dalam qolbinya.


Negeri tidak akan menjadi adil

apabila manusia menganggap kecurangan kecil

sebagai hal yang biasa.


Umat tidak akan menjadi sejahtera

apabila setiap orang hanya bertanya,

“Apa yang akan aku dapatkan?”

dan tidak pernah bertanya,

“Apa yang dapat aku berikan?”


Maka ubahlah pertanyaannya.


Bukan hanya:


“Siapa yang akan menolongku?”


Tetapi juga:


“Siapa yang dapat kutolong hari ini?”


Bukan hanya:


“Mengapa hidupku sulit?”


Tetapi juga:


“Pelajaran apa yang dapat kuambil

dan jalan apa yang dapat kubangun?”


Bukan hanya:


“Mengapa manusia tidak memahamiku?”


Tetapi juga:


“Sudahkah aku belajar memahami mereka?”


Bukan hanya:


“Kapan dunia akan berubah?”


Tetapi juga:


“Kebaikan apa yang dapat kumulai sekarang?”


Wahai umat manusia,

jangan takut kepada cahaya

yang bermula kecil.


Fajar pun tidak datang

dengan seluruh terangnya sekaligus.


Ia dimulai dari garis tipis

di ujung langit.


Kemudian perlahan

malam kehilangan kekuasaan.


Begitu pula perubahan.


Mungkin hari ini

hanya satu orang yang memilih jujur.


Besok dua orang mengikutinya.


Kemudian sebuah keluarga berubah.


Lalu satu kampung bangkit.


Kemudian sebuah kota

menolak hidup dalam kecurangan.


Dan suatu hari,

sebuah negeri menemukan kembali

martabatnya.


Jangan meremehkan awal.


Bahtera besar

dimulai dari potongan kayu.


Kitab panjang

dimulai dari satu huruf.


Perjalanan jauh

dimulai dari satu langkah.


Dan kesejahteraan seluruh jagat

dimulai dari satu qolbi

yang berani dibersihkan.


Pada penutup bait terakhir ini,

Baldattun Al-Anzor

tidak memanggil manusia

untuk menjadi makhluk tanpa kesalahan.


Puisi ini memanggil manusia

agar selalu bersedia qembali

setiap kali tersesat.


Qembali dari kesombongan

menuju kerendahan hati.


Qembali dari keserakahan

menuju rasa cukup.


Qembali dari kebencian

menuju kasih sayang.


Qembali dari kebohongan

menuju kejujuran.


Qembali dari kezaliman

menuju keadilan.


Qembali dari keputusasaan

menuju harapan.


Qembali dari kelalaian

menuju kesadaran.


Qembali dari suara dunia

yang memekakkan

menuju suara qolbi

yang mengingatkan.


Dan qembali dari rasa memiliki

menuju kesadaran

bahwa segala sesuatu

hanyalah titipan Alloh.


Kelak,

ketika jabatan telah dilepaskan,

harta telah ditinggalkan,

rumah telah ditempati orang lain,

dan nama perlahan hilang

dari ingatan dunia,

yang tersisa bukanlah

berapa banyak yang engkau kuasai.


Yang tersisa adalah jejak.


Apakah kehadiranmu

pernah menenangkan orang yang takut?


Apakah tanganmu

pernah mengangkat orang yang jatuh?


Apakah hartamu

pernah mengenyangkan yang lapar?


Apakah ilmumu

pernah menerangi kebingungan?


Apakah kekuasaanmu

pernah melindungi yang lemah?


Apakah perkataanmu

pernah menyelamatkan harapan?


Apakah keluargamu

merasakan kasih sayang

selama hidup bersamamu?


Apakah bumi menjadi lebih baik

karena engkau pernah berjalan di atasnya?


Itulah kekayaan

yang tidak dapat dicuri.


Itulah kedudukan

yang tidak dapat dijatuhkan manusia.


Itulah cahaya

yang tetap hidup

meskipun tubuh telah qembali

kepada tanah.


Maka sebelum waktumu selesai,

hidupkanlah qolbimu.


Jangan tunggu esok

untuk melakukan kebaikan

yang dapat engkau lakukan hari ini.


Jangan tunggu kaya

untuk berbagi.


Jangan tunggu sempurna

untuk meminta maaf.


Jangan tunggu kehilangan

untuk menghargai.


Jangan tunggu tua

untuk mencari makna.


Jangan tunggu dunia damai

untuk menjadi pembawa kedamaian.


Engkau mungkin tidak memiliki

kekuasaan besar.


Namun engkau memiliki pilihan.


Pilihan untuk berkata benar.


Pilihan untuk tidak membalas kejahatan

dengan kejahatan.


Pilihan untuk bekerja dengan jujur.


Pilihan untuk menjaga amanah.


Pilihan untuk mendengarkan.


Pilihan untuk belajar.


Pilihan untuk berhenti menyebarkan kebencian.


Pilihan untuk menolong.


Pilihan untuk qembali.


Dan selama manusia masih memiliki

pilihan untuk qembali,

harapan belum mati.


Selama masih ada seorang ibu

yang mendoakan anaknya,

harapan belum mati.


Selama masih ada seorang ayah

yang mencari rezeki halal,

harapan belum mati.


Selama masih ada seorang guru

yang mengajar dengan tulus,

harapan belum mati.


Selama masih ada pemimpin

yang takut menzalimi rakyat,

harapan belum mati.


Selama masih ada pemuda

yang menolak kecurangan,

harapan belum mati.


Selama masih ada orang kaya

yang berbagi tanpa pamer,

harapan belum mati.


Selama masih ada orang miskin

yang tetap menjaga kehormatan,

harapan belum mati.


Selama masih ada manusia

yang menangis melihat penderitaan sesama,

harapan belum mati.


Dan selama qolbi manusia

masih dapat disentuh oleh kebenaran,

seluruh jagat masih mungkin

menemukan jalan menuju kesejahteraan.


Maka berdirilah, wahai umat.


Genggamlah tangan satu sama lain.


Jangan tanyakan dahulu

dari golongan mana ia berasal.


Tanyakanlah apakah ia lapar.


Jangan tanyakan dahulu

apa kedudukannya.


Tanyakanlah apakah ia membutuhkan pertolongan.


Jangan tanyakan dahulu

seberapa besar jasanya kepadamu.


Tanyakanlah apa yang dapat engkau lakukan

untuk meringankan bebannya.


Sebab kasih sayang sejati

tidak selalu menunggu

alasan untuk bergerak.


Ia bergerak

karena qolbi memahami

bahwa luka manusia

adalah panggilan bagi kemanusiaan.


Dan ketika satu manusia

menolong manusia lainnya,

di sanalah jagat

mulai menemukan keseimbangannya.


Ketika seorang pemimpin

mendengar rakyatnya,

di sanalah negeri mulai sembuh.


Ketika orang kaya

membuka tangannya,

di sanalah rezeki mulai mengalir.


Ketika orang berilmu

merendahkan qolbinya,

di sanalah pengetahuan menjadi cahaya.


Ketika keluarga

saling memaafkan,

di sanalah generasi baru

dibebaskan dari luka lama.


Ketika agama

melahirkan kasih sayang,

di sanalah manusia

mendekati tujuan ibadahnya.


Ketika bumi dijaga,

di sanalah anak cucu

menerima hak kehidupannya.


Dan ketika seluruh manusia

qembali qe qolbi yang terdalam,

di sanalah Baldattun Al-Anzor

tidak lagi hanya menjadi puisi.


Ia menjadi gerakan qolbi.


Ia menjadi makanan

bagi mereka yang lapar.


Ia menjadi ilmu

bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan.


Ia menjadi perlindungan

bagi mereka yang tertindas.


Ia menjadi rumah

bagi mereka yang kehilangan tempat pulang.


Ia menjadi obat

bagi tubuh yang sakit

dan penghiburan

bagi jiwa yang terluka.


Ia menjadi keadilan

yang berdiri tanpa dapat dibeli.


Ia menjadi tangan

yang menanam kembali hutan.


Ia menjadi suara

yang menghentikan peperangan.


Ia menjadi jembatan

antara manusia yang berbeda.


Ia menjadi cahaya

yang tidak hanya bersinar di langit,

tetapi hidup dalam perilaku

setiap penghuni bumi.


Inilah pesan terakhirnya:


Wahai manusia,

jangan mencari kesejahteraan jagat

dengan mengabaikan qolbi.


Sebab seluruh sistem

dibangun oleh manusia.


Seluruh keputusan

lahir dari manusia.


Seluruh peperangan

bermula dari keinginan manusia.


Dan seluruh perdamaian

juga dapat dimulai

dari kesadaran manusia.


Jagalah pusat itu.


Jagalah qolbi.


Jangan biarkan ia dikuasai

oleh iri, dendam, keserakahan,

kesombongan, dan ketakutan.


Penuhilah dengan dzikir,

ilmu, kejujuran,

kasih sayang, keberanian,

dan tanggung jawab.


Biarkan qolbi menjadi mata

yang melihat penderitaan.


Biarkan qolbi menjadi telinga

yang mendengar jeritan sunyi.


Biarkan qolbi menjadi tangan

yang menolong.


Biarkan qolbi menjadi kaki

yang berjalan menuju kebaikan.


Biarkan qolbi menjadi cahaya

yang memandu akal

agar tidak kehilangan arah.


Kemudian berjalanlah

di tengah dunia

tanpa melarikan diri darinya.


Bekerjalah.


Belajarlah.


Bangunlah.


Tanamlah.


Rawatlah.


Lindungilah.


Maafkanlah.


Perjuangkanlah keadilan.


Dan serahkanlah hasil akhirnya

kepada Alloh.


Apabila suatu hari

engkau kembali merasa lelah,

berhentilah sebentar.


Tariklah napas.


Ingatlah bahwa dirimu hanyalah hamba.


Tidak semua beban dunia

harus engkau selesaikan seorang diri.


Lakukan bagianmu

dengan sebaik-baiknya.


Kemudian qembalilah lagi

qe qolbi yang terdalam.


Di sana engkau akan mendengar

bisikan yang menenangkan:


“Tidak ada kebaikan yang sia-sia.

Tidak ada air mata tulus yang terlupakan.

Tidak ada perjuangan jujur yang hilang.

Dan tidak ada cahaya kecil

yang gagal melawan kegelapan.”


Maka teruslah menjadi cahaya.


Bukan cahaya yang menyilaukan

dan meminta manusia memujanya.


Tetapi cahaya yang lembut,

yang menunjukkan jalan,

menghangatkan yang kedinginan,

dan menemani mereka

yang berjalan dalam malam.


Jadilah seperti fajar

yang tidak berisik ketika datang,

namun membuat seluruh dunia

mengetahui bahwa malam

tidak akan berlangsung selamanya.


Jadilah seperti hujan

yang turun tanpa membedakan

atap rumah orang kaya

dan tanah milik orang miskin.


Jadilah seperti pohon

yang tetap memberi buah

meskipun pernah dilempari batu.


Jadilah seperti sungai

yang terus mengalir,

membersihkan,

menghidupkan,

dan tidak meminum airnya sendiri.


Jadilah manusia

yang qembali qe qolbi,

lalu membawa cahaya qolbinya

ke tengah kehidupan.


Sebab pada akhirnya,

kesejahteraan umat

di seluruh jagat

bukanlah sebuah pintu

yang hanya dapat dibuka

oleh orang-orang besar.


Ia adalah pintu

dengan jutaan kunci kecil.


Satu kunci berada

di tangan seorang pemimpin yang adil.


Satu kunci berada

di tangan seorang guru yang tulus.


Satu kunci berada

di tangan seorang pedagang yang jujur.


Satu kunci berada

di tangan seorang ayah yang lembut.


Satu kunci berada

di tangan seorang ibu yang sabar.


Satu kunci berada

di tangan seorang anak

yang menghormati orang tuanya.


Satu kunci berada

di tangan seorang pemuda

yang menjaga masa depannya.


Satu kunci berada

di tangan seorang ulama

yang menyatukan umat.


Satu kunci berada

di tangan seorang ilmuwan

yang menjaga kemanusiaan.


Satu kunci berada

di tangan seorang petani

yang merawat tanah.


Satu kunci berada

di tangan seorang tetangga

yang peduli.


Dan satu kunci

berada di dalam qolbimu.


Gunakanlah kunci itu.


Bukalah pintu kasih sayang.


Bukalah pintu keadilan.


Bukalah pintu ilmu.


Bukalah pintu pengampunan.


Bukalah pintu persaudaraan.


Bukalah pintu harapan.


Lalu ajaklah manusia masuk

bukan dengan paksaan,

tetapi melalui teladan.


Bukan dengan ancaman,

tetapi melalui kebijaksanaan.


Bukan dengan kesombongan,

tetapi melalui pelayanan.


Hingga suatu hari,

ketika seluruh kunci

digunakan bersama,

pintu kesejahteraan jagat

akan terbuka lebar.


Dan di balik pintu itu,

manusia tidak lagi bertanya

siapa yang paling tinggi.


Mereka bertanya:


“Siapa yang masih tertinggal

dan harus kita jemput bersama?”


Manusia tidak lagi berlomba

mengumpulkan sebanyak-banyaknya.


Mereka berlomba

memberikan manfaat sebesar-besarnya.


Pemimpin tidak lagi bersembunyi

di balik kemegahan.


Ia berdiri di tengah rakyatnya.


Orang berilmu tidak lagi sibuk

menjaga kehormatan gelarnya.


Ia sibuk menjadikan ilmunya

berguna bagi kehidupan.


Orang kaya tidak lagi takut

hartanya berkurang.


Ia takut hartanya

tidak menjadi jalan kebaikan.


Dan orang-orang biasa

tidak lagi merasa dirinya tidak berarti.


Mereka memahami

bahwa setiap perbuatan jujur

adalah tiang penyangga negeri.


Itulah negeri

yang dilihat oleh Baldattun Al-Anzor.


Negeri yang tidak hanya berdiri

di atas peta,

tetapi tumbuh

di dalam qolbi manusia.


Negeri tanpa batas kebencian.


Negeri yang menjadikan kemanusiaan

sebagai jembatan.


Negeri yang memahami

bahwa kesejahteraan satu golongan

tidak lengkap

apabila golongan lain

masih hidup dalam penderitaan.


Negeri yang memandang bumi

bukan sebagai barang rampasan,

tetapi sebagai amanah.


Negeri yang menjadikan kekuasaan

sebagai perlindungan.


Ilmu sebagai penerang.


Agama sebagai rahmat.


Budaya sebagai akar.


Teknologi sebagai alat.


Dan qolbi

sebagai pusat keseimbangan.


Maka dengarkanlah

seruan penutup ini,

wahai umat di seluruh jagat:


Qembalilah qe qolbi yang terdalam.


Qembalilah bukan seorang diri.


Ajaklah keluargamu.


Ajaklah tetanggamu.


Ajaklah pemimpinmu.


Ajaklah gurumu.


Ajaklah muridmu.


Ajaklah mereka yang kaya

dan mereka yang miskin.


Ajaklah mereka yang kuat

dan mereka yang sedang rapuh.


Ajaklah manusia

tanpa mencabut identitasnya.


Ajaklah melalui cinta,

kejujuran, dan keteladanan.


Lalu bersama-sama

bangunlah dunia

yang tidak hanya maju,

tetapi juga beradab.


Dunia yang tidak hanya terang

oleh lampu-lampu kota,

tetapi juga terang

oleh qolbi penghuninya.


Dunia yang tidak hanya ramai

oleh suara manusia,

tetapi juga mampu mendengar

suara orang-orang yang terpinggirkan.


Dunia yang tidak hanya menghitung

berapa banyak yang dihasilkan,

tetapi juga berapa banyak kehidupan

yang telah diselamatkan.


Dunia yang tidak hanya mewariskan

bangunan dan harta,

tetapi juga keadilan,

ilmu, kasih sayang,

dan bumi yang tetap layak dihuni.


Apabila dunia itu belum hadir,

janganlah berputus asa.


Jadilah bagian awalnya.


Apabila kedamaian belum sempurna,

jadilah pembawanya.


Apabila keadilan belum tegak,

jadilah suaranya.


Apabila qolbi manusia masih gelap,

jadilah pelitanya.


Sebab Alloh tidak menanyakan

apakah engkau mampu

mengubah seluruh jagat seorang diri.


Namun engkau akan ditanya

tentang amanah

yang pernah berada di tanganmu.


Maka jaga amanah itu.


Rawat qolbimu.


Perbaiki langkahmu.


Dan teruslah berjalan

dengan rendah hati.


Hingga pada batas terakhir perjalanan,

ketika napas perlahan qembali

kepada Pemiliknya,

semoga qolbimu dapat berkata:


“Ya Alloh,

aku memang tidak mampu

menyelesaikan seluruh luka dunia.

Namun aku telah berusaha

agar kehadiranku

tidak menambah lukanya.


Aku memang tidak mampu

menerangi seluruh jagat.

Namun aku telah menjaga

pelita kecil yang Engkau titipkan

di dalam qolbiku.


Aku memang tidak mampu

memberi makan seluruh manusia.

Namun aku tidak menutup tangan

ketika seseorang lapar

berdiri di dekatku.


Aku memang tidak mampu

menghapus seluruh kezaliman.

Namun aku berusaha

tidak menjadi bagian darinya.


Aku memang tidak sempurna.

Namun setiap kali tersesat,

aku berusaha qembali

qe jalan-Mu,

qe kasih-Mu,

dan qe qolbi yang Engkau hidupkan.”


Kemudian semoga seluruh jagat

menjadi saksi:


Bahwa pernah hidup seorang manusia

yang tidak hanya mencari kebahagiaan

untuk dirinya sendiri.


Ia membawa air

bagi yang kehausan.


Membawa makanan

bagi yang kelaparan.


Membawa ilmu

bagi yang kebingungan.


Membawa perlindungan

bagi yang ketakutan.


Membawa pengampunan

bagi yang menyesal.


Membawa keberanian

bagi yang hampir menyerah.


Dan membawa cahaya

bagi mereka yang berjalan

di tengah kegelapan.


Itulah manusia

yang telah memahami

rahasia Baldattun Al-Anzor.


Bahwa kesejahteraan umat

di seluruh jagat

tidak bermula

dari keinginan menguasai dunia.


Ia bermula

dari keberanian menguasai diri.


Ia tidak tumbuh

dari banyaknya harta yang dikumpulkan.


Ia tumbuh

dari banyaknya manfaat yang dialirkan.


Ia tidak berdiri

di atas kesombongan satu bangsa.


Ia berdiri

di atas persaudaraan seluruh manusia.


Ia tidak turun begitu saja

dari langit

tanpa usaha.


Ia lahir

dari doa yang bergerak,

ilmu yang diamalkan,

kekuasaan yang melayani,

harta yang dibagikan,

dan qolbi yang disucikan.


Inilah akhirnya.


Namun akhir puisi ini

bukan akhir perjalanan.


Ia adalah awal

bagi siapa pun

yang bersedia mendengarnya.


Maka tutuplah lembar ini

dengan satu janji dalam qolbi:


Aku akan berusaha

menjadi manusia

yang tidak hanya hidup di bumi,

tetapi juga menjaga bumi.


Aku akan berusaha

menjadi manusia

yang tidak hanya meminta kasih sayang,

tetapi juga memberikannya.


Aku akan berusaha

menjadi manusia

yang tidak hanya berbicara tentang cahaya,

tetapi menghadirkannya

dalam perbuatan.


Aku akan berusaha

menjadi manusia

yang setiap kali tersesat,

tidak malu untuk qembali.


Qembali qe kebenaran.


Qembali qe kasih sayang.


Qembali qe keadilan.


Qembali qe penghambaan.


Qembali qe qolbi yang terdalam.


Dan dari qolbi itulah,

biarkan kesejahteraan mengalir:


menuju rumah-rumah,

menuju kampung-kampung,

menuju kota-kota,

menuju negeri-negeri,

menyeberangi gunung dan lautan,

melampaui bahasa dan bangsa,

hingga memeluk seluruh makhluk

di bawah langit Alloh yang sama.


Semoga tidak ada qolbi

yang dibiarkan sendirian

dalam kesedihan.


Semoga tidak ada perut

yang dibiarkan kosong

di tengah kelimpahan.


Semoga tidak ada ilmu

yang disembunyikan

demi kekuasaan.


Semoga tidak ada hukum

yang diperdagangkan.


Semoga tidak ada agama

yang digunakan

untuk membenarkan kebencian.


Semoga tidak ada kekayaan

yang membuat manusia

melupakan saudaranya.


Semoga tidak ada kemajuan

yang menghancurkan alam.


Semoga tidak ada luka

yang diwariskan

tanpa usaha penyembuhan.


Semoga setiap manusia

menemukan jalan qembali.


Dan semoga ketika seluruh umat

qembali qe qolbi yang terdalam,

jagat ini berubah

menjadi taman kehidupan:


tempat manusia saling menjaga,

pemimpin saling melayani,

orang berilmu saling menerangi,

orang berharta saling berbagi,

yang kuat melindungi yang lemah,

yang terluka memperoleh pertolongan,

dan setiap makhluk

menerima hak untuk hidup

dengan aman dan bermartabat.


Inilah bait terakhir.


Inilah seruan terakhir.


Inilah doa terakhir

dari Puisi Baldattun Al-Anzor:


Ya Alloh,

qembalikanlah manusia

qe qolbinya yang jernih.


Lembutkanlah yang keras.

Terangkanlah yang gelap.

Kuatkanlah yang lemah.

Sadarkanlah yang lalai.

Damaikanlah yang bertikai.

Cukupkanlah yang kekurangan.

Lindungilah yang tertindas.

Bimbinglah yang memimpin.

Dan jadikanlah kami

pembawa manfaat

bagi seluruh jagat.


Jangan biarkan ilmu kami

kehilangan akhlak.


Jangan biarkan ibadah kami

kehilangan kasih sayang.


Jangan biarkan kekuasaan kami

kehilangan keadilan.


Jangan biarkan kekayaan kami

kehilangan keberkahan.


Jangan biarkan perjuangan kami

kehilangan ketulusan.


Dan jangan biarkan qolbi kami

kehilangan cahaya-Mu.


Sebab ketika qolbi kehilangan cahaya,

manusia akan melihat

namun tidak memahami.


Mendengar

namun tidak peduli.


Memiliki

namun tidak merasa cukup.


Berkuasa

namun tidak mampu mengayomi.


Beragama

namun tidak menghadirkan rahmat.


Namun ketika qolbi bercahaya,

mata akan melihat penderitaan.


Telinga akan mendengar kebenaran.


Tangan akan terbuka.


Kekuasaan akan merendah.


Ilmu akan mengalir.


Harta akan menjadi jalan manfaat.


Dan hidup akan menemukan

tujuan sucinya.


Maka jadikanlah qolbi kami

sebagai rumah cahaya.


Jadikanlah rumah kami

sebagai tempat kedamaian.


Jadikanlah negeri kami

sebagai tempat keadilan.


Dan jadikanlah seluruh jagat

sebagai tempat

di mana rahmat-Mu dirasakan

oleh setiap makhluk.


Baldattun Al-Anzor telah berseru.


Kini jawaban berada

di dalam diri setiap manusia.


Apakah kita akan terus berjalan

mengejar dunia

hingga kehilangan qolbi?


Ataukah kita akan qembali,

membersihkan diri,

mengulurkan tangan,

dan membangun kesejahteraan

bersama-sama?


Qembalilah.


Qembalilah.


Qembalilah qe qolbi yang terdalam.


Sebab di sanalah

cahaya pertama dinyalakan.


Di sanalah

kasih sayang dilahirkan.


Di sanalah

keadilan menemukan keberanian.


Di sanalah

manusia mengenal kemanusiaannya.


Dan dari sanalah

seluruh jagat

akan menemukan jalan pulangnya.


Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh