꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Kita buka QITAB 43 CERITA BARU — QISAH LANGIT, dimulai dari Qisah Pertama sebagai kisah perlambang dan piwulang batin.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH PERTAMA
“KETIKA SEBUTIR CAHAYA MENOLAK MENJADI BINTANG”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada suatu masa yang tidak dihitung oleh kalender manusia, ketika pagi belum mempunyai nama dan malam belum mengenal gelap, terbentanglah sebuah langit yang sangat luas.
Di sana tidak terdengar suara manusia.
Tidak ada pasar.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada emas yang diperebutkan.
Tidak pula ada nama yang dibanggakan.
Yang ada hanyalah keluasan, keheningan, dan berjuta-juta titik cahaya yang bergerak menurut ketetapan Alloh.
Di antara lautan cahaya itu terdapat sebutir cahaya kecil.
Ia tidak sebesar bintang.
Ia tidak mempunyai ekor seperti komet.
Ia tidak mempunyai cincin seperti planet.
Bahkan cahaya-cahaya lain hampir tidak memperhatikannya.
Namun setiap kali ia bergerak, ia selalu mengucapkan:
“Aku tidak ingin menjadi paling terang. Aku hanya ingin tidak kehilangan arah.”
Pada suatu ketika datanglah sebuah bintang besar kepadanya.
Bintang itu berkata:
“Wahai cahaya kecil, mengapa engkau tidak memohon agar dijadikan besar sepertiku? Lihatlah, dari tempat yang sangat jauh pun aku terlihat.”
Cahaya kecil menjawab:
“Terlihat belum tentu mengetahui jalan.”
Bintang itu terdiam.
Kemudian datang bintang kedua.
Ia berkata:
“Tidakkah engkau ingin dipuji oleh seluruh penghuni langit?”
Cahaya kecil menjawab:
“Jika pujian membuatku lupa kepada Yang memberi cahaya, lebih baik aku tetap kecil.”
Bintang kedua pun berlalu.
Datang lagi cahaya ketiga yang jauh lebih indah.
Ia berkata:
“Aku mempunyai berjuta-juta cahaya yang mengikuti perjalananku. Engkau tidak mempunyai pengikut satu pun.”
Cahaya kecil tersenyum.
Katanya:
“Apabila aku berjalan menuju kebenaran, sendirian pun aku tidak merasa sepi. Tetapi apabila aku meninggalkan kebenaran, ditemani berjuta-juta cahaya pun aku tetap tersesat.”
Maka langit menjadi sangat hening.
Seolah-olah seluruh gugusan bintang sedang mendengarkan.
Lalu terjadilah sesuatu yang tidak pernah diduga.
Langit berubah.
Kabut hitam muncul dari kejauhan.
Bintang-bintang besar yang selama ini membanggakan cahayanya mulai kehilangan arah.
Sebagian berlari ke timur.
Sebagian ke barat.
Sebagian mengikuti cahaya yang mereka kira paling kuat.
Namun semakin mereka mengejarnya, semakin dalam mereka memasuki kabut.
Cahaya kecil tidak bergerak tergesa-gesa.
Ia berhenti.
Ia menundukkan seluruh kesombongan yang bahkan belum sempat tumbuh dalam dirinya.
Kemudian ia berkata:
“Yā Alloh, aku tidak mengetahui jalan. Engkaulah Yang Maha Mengetahui. Jangan biarkan aku mengikuti terang yang menjauhkan aku dari-Mu.”
Saat itulah cahaya kecil melihat sesuatu.
Bukan pintu emas.
Bukan istana.
Bukan mahkota.
Hanya sebuah garis cahaya sangat tipis di tengah gelap.
Begitu tipis sehingga hampir tidak terlihat.
Cahaya kecil mengikutinya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin ia mengikuti garis itu, semakin ia menyadari:
Jalan yang benar tidak selalu menjadi jalan yang paling ramai.
Petunjuk tidak selalu datang sebagai ledakan cahaya.
Kadang petunjuk hadir sebagai ketenangan kecil di dalam hati yang tidak mau berdusta.
Ia terus berjalan.
Di tengah perjalanan ia menemukan sebuah bintang besar yang dahulu pernah mengejeknya.
Bintang itu tersesat.
Cahayanya hampir padam.
Bintang itu berkata:
“Wahai cahaya kecil, tinggalkan aku. Aku dahulu meremehkanmu.”
Cahaya kecil menjawab:
“Kalau aku membiarkanmu tersesat hanya karena engkau pernah meremehkanku, berarti aku sedang mengikuti kesombonganku sendiri.”
Ia mendekati bintang itu.
Sedikit cahaya yang dimilikinya ia gunakan untuk menunjukkan garis tipis tadi.
Mereka berjalan bersama.
Tidak lama kemudian ditemukan bintang kedua.
Kemudian bintang ketiga.
Lalu puluhan.
Ratusan.
Akhirnya ribuan cahaya mengikuti garis kecil tersebut.
Namun cahaya kecil selalu berkata:
“Jangan mengikuti aku. Ikutilah jalan yang benar. Jika suatu hari aku menyimpang, jangan ikut penyimpanganku.”
Kalimat itu menggema sangat jauh.
Bintang-bintang mulai memahami.
Pemimpin sejati bukan orang yang memerintahkan semua manusia mengikutinya.
Pemimpin sejati adalah orang yang berani menunjukkan arah, tetapi tidak menjadikan dirinya sebagai tujuan.
Setelah perjalanan panjang, kabut pun berakhir.
Terbukalah sebuah hamparan langit yang jauh lebih terang.
Bintang-bintang bergembira.
Mereka mengangkat cahaya kecil itu dan berkata:
“Engkaulah yang pantas menjadi bintang terbesar di antara kami.”
Tetapi cahaya kecil menjawab:
“Jangan.”
Mereka bertanya:
“Mengapa?”
Ia berkata:
“Dahulu aku selamat karena tidak ingin menjadi besar. Janganlah keselamatan itu sekarang kalian ubah menjadi ujian bagiku.”
Maka ia kembali menempati tempatnya.
Kecil.
Hening.
Tanpa mahkota.
Tanpa singgasana.
Namun sejak hari itu seluruh langit mengetahui:
Ada cahaya yang menjadi besar karena ukurannya.
Ada cahaya yang menjadi besar karena banyak pengikutnya.
Ada pula cahaya yang menjadi besar justru karena tidak pernah merasa dirinya besar.
Dan di penghujung perjalanan terdengarlah piwulang:
“Aja kesengsem marang padhanging awakmu dhewe, amarga saben cahya mung titipan. Sing kudu digoleki dudu supaya awakmu katon padhang, nanging supaya padhangmu ora nyasarake wong liya.”
Artinya:
Jangan terpesona oleh terang yang ada pada dirimu sendiri, sebab setiap cahaya hanyalah titipan. Yang harus dicari bukan bagaimana dirimu terlihat paling terang, melainkan bagaimana cahayamu tidak menyesatkan orang lain.
꧁ Piwulang Qisah Pertama ꧂
Ada manusia yang mengejar kedudukan hingga lupa arah.
Ada manusia yang mengejar pengikut hingga lupa tujuan.
Ada manusia yang mengejar pengakuan sampai tidak lagi mengenali dirinya.
Tetapi orang yang benar-benar mengenal perjalanan akan memahami:
Nama boleh dikenal manusia, tetapi hati jangan sampai meminta disembah oleh pujian.
Ilmu boleh tinggi, tetapi adab harus lebih tinggi.
Cahaya boleh terang, tetapi ia tetap berasal dari Alloh.
Amanah boleh besar, tetapi manusia tetaplah hamba.
Sebab ketika seseorang mulai menganggap dirinya sebagai sumber cahaya, pada saat itulah ia sedang melupakan Sang Pemberi Cahaya.
Dan ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya hanyalah pembawa lentera, ia akan lebih berhati-hati agar lentera itu tidak membakar orang yang sedang ia tuntun.
꧁ Sandhi Langit Pertama ꧂
“Sing cilik aja rumangsa ora guna.
Sing gedhe aja rumangsa tanpa wates.
Cahya ora diukur saka padhange,
nanging saka sepira adoh dheweke bisa nuntun tanpa njaluk disembah.”
Yang kecil jangan merasa tidak berguna.
Yang besar jangan merasa tidak terbatas.
Cahaya tidak hanya dinilai dari seberapa terang ia bersinar,
tetapi dari seberapa jauh ia mampu menunjukkan jalan tanpa meminta dirinya dijadikan tujuan.
꧁ Penutup Qisah ꧂
Maka Qisah Langit pertama bukanlah cerita tentang bagaimana cahaya kecil menjadi raja di antara bintang-bintang.
Justru sebaliknya.
Ia adalah cerita tentang cahaya yang diberi kesempatan menjadi besar, tetapi memilih tetap menjadi penunjuk jalan.
Sebab tidak semua yang diberi mahkota harus memakainya.
Tidak semua yang dipuji harus mempercayai pujian.
Tidak semua yang diikuti harus merasa menjadi pemilik jalan.
Dan tidak semua cahaya harus menjadi matahari.
Kadang-kadang Alloh cukup menjadikan seseorang sebagai sebutir cahaya kecil di persimpangan, agar seorang musafir yang hampir tersesat dapat menemukan jalan pulang.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الأولى
KHATAM QISAH PERTAMA
“Cahaya sejati tidak berteriak: lihatlah aku.
Ia hanya menerangi jalan, lalu membiarkan manusia berjalan menuju Alloh.”
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA
“GERBANG YANG TIDAK TERBUKA OLEH KEKUATAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di atas langit yang tidak dikenal oleh peta manusia, terdapat sebuah gerbang tua.
Tidak ada yang mengetahui siapa pertama kali melihatnya.
Tidak ada tulisan nama kerajaan.
Tidak ada penjaga bersenjata.
Tidak ada rantai.
Tidak ada gembok.
Namun gerbang itu tidak pernah terbuka.
Beribu-ribu pengembara langit pernah mendatanginya.
Ada yang datang membawa ilmu.
Ada yang datang membawa kekayaan.
Ada yang membawa kekuasaan.
Ada pula yang datang dengan ribuan pengikut.
Semua mencoba membukanya.
Tidak berhasil.
Gerbang itu tetap diam.
Pada permukaannya hanya terdapat satu tulisan:
لَا يُفْتَحُ بِالْقُوَّةِ
“Gerbang ini tidak dibuka dengan kekuatan.”
Tetapi manusia sering membaca sesuatu dengan mata tanpa memahami dengan hati.
Maka datanglah seorang raja.
Ia membawa seratus pasukan.
“Dorong!”
Seratus pasukan mendorong.
Gerbang tidak bergerak.
Ditambah menjadi seribu pasukan.
Gerbang tetap diam.
Raja marah.
“Dobrak!”
Palu-palu besar dihantamkan.
Langit bergetar.
Tetapi gerbang tidak mengalami goresan sedikit pun.
Raja akhirnya pergi.
Datanglah seorang saudagar kaya.
Ia membawa peti emas, perak, mutiara, dan batu-batu berharga.
Ia berkata:
“Setiap pintu pasti mempunyai harga.”
Ia menumpuk seluruh hartanya di depan gerbang.
Tetapi gerbang tidak terbuka.
Saudagar itu berkata:
“Mungkin kurang.”
Ia kembali membawa hartanya.
Namun semakin banyak harta ditumpuk, semakin berat hatinya meninggalkan gerbang tersebut.
Sampai akhirnya ia terikat oleh hartanya sendiri.
Gerbang tetap tertutup.
Kemudian datang seorang ahli ilmu.
Ia membaca tulisan pada gerbang.
Ia menghitung hurufnya.
Ia meneliti bentuknya.
Ia membuat puluhan kitab tentang gerbang tersebut.
Banyak murid datang mendengarkan penjelasannya.
Namun ketika seorang murid bertanya:
“Guru, apakah gerbang itu pernah terbuka untukmu?”
Ahli ilmu itu terdiam.
Gerbang tetap tertutup.
Lalu datang seseorang yang terkenal memiliki banyak pengikut.
Ia berdiri di depan gerbang dan berkata:
“Lihatlah! Jika ribuan orang berjalan bersamaku, tentu gerbang ini akan menghormati kedudukanku.”
Ribuan manusia menyerukan namanya.
Langit dipenuhi suara.
Tetapi gerbang tetap diam.
Orang itu mulai marah.
Ia menyalahkan pengikutnya.
“Suara kalian kurang keras!”
Mereka berteriak lebih keras.
Gerbang tetap tertutup.
Satu demi satu pengikutnya kelelahan dan pulang.
Akhirnya orang itu berdiri sendirian.
Pada saat itulah ia menyadari bahwa keramaian ternyata tidak dapat menggantikan kebenaran.
Hari berganti hari.
Gerbang tetap tertutup.
Hingga suatu senja datang seorang musafir tua.
Pakainya sederhana.
Tidak ada pasukan.
Tidak membawa emas.
Tidak membawa kitab.
Tidak memiliki pengikut.
Ia membawa sebuah kendi kecil berisi air.
Musafir itu melihat keadaan sekitar.
Di depan gerbang terdapat banyak orang kelelahan karena terlalu lama mencoba membukanya.
Ia tidak langsung mendekati gerbang.
Ia malah menuangkan air dari kendinya kepada mereka.
Seorang bertanya:
“Bukankah engkau datang untuk membuka gerbang?”
Musafir menjawab:
“Aku melihat orang kehausan terlebih dahulu.”
Setelah seluruh air habis, ia duduk.
Seorang pemuda berkata:
“Sekarang bukalah gerbang itu.”
Musafir menjawab:
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membukanya.”
Orang-orang tertawa.
“Kalau begitu mengapa engkau datang?”
Musafir menjawab:
“Aku hanya berjalan mengikuti jalan yang ditunjukkan kepadaku.”
Malam turun.
Udara langit menjadi dingin.
Musafir tua melihat seorang anak kecil menggigil.
Ia melepaskan jubahnya dan memberikannya kepada anak itu.
Sekarang ia sendiri kedinginan.
Namun ia tidak mengeluh.
Ia duduk di depan gerbang.
Tidak mengetuk.
Tidak mendorong.
Tidak membaca mantra.
Ia hanya mengangkat kedua tangannya.
“Yā Alloh, jika gerbang ini bukan jalanku, jauhkan aku darinya dengan baik. Jika ia memang jalanku, bukakanlah bukan karena aku pantas, tetapi karena rahmat-Mu.”
Setelah berdoa, ia menundukkan kepala.
Tidak terjadi apa-apa.
Orang-orang berkata:
“Lihat! Doamu juga tidak berhasil.”
Musafir tersenyum.
“Aku berdoa bukan untuk memerintah Alloh.”
Malam semakin larut.
Satu per satu manusia tertidur.
Musafir tetap duduk.
Kemudian terdengar suara kecil.
Bukan suara petir.
Bukan gemuruh.
Bukan ledakan.
Krek.
Gerbang bergerak sedikit.
Musafir mendongak.
Ia tidak berdiri.
Tidak berlari.
Ia justru berkata:
“Yā Alloh, lindungilah hatiku agar tidak mengira bahwa ini karena diriku.”
Gerbang bergerak lagi.
Krek…
Krek…
Perlahan-lahan terbuka.
Semua orang terbangun.
Mereka terkejut.
“Bagaimana caramu membukanya?!”
Musafir itu berdiri.
Ia menatap tulisan yang berada di atas gerbang.
Kemudian terlihat tulisan kedua yang sebelumnya tidak pernah tampak.
إِنَّمَا يُفْتَحُ لِمَنْ لَا يَرَى نَفْسَهُ صَاحِبَ الْبَابِ
Artinya:
“Gerbang ini dibuka bagi orang yang tidak merasa dirinya sebagai pemilik gerbang.”
Mereka semua terdiam.
Raja yang pernah datang dengan pasukan baru memahami.
Saudagar yang membawa emas baru memahami.
Ahli ilmu yang menulis banyak kitab baru memahami.
Orang yang membawa ribuan pengikut pun baru memahami.
Mereka selama ini datang membawa satu kesalahan yang sama:
Mereka datang dengan keyakinan bahwa sesuatu yang besar dalam diri mereka harus membuat gerbang tunduk.
Musafir tua tidak membawa apa-apa.
Karena itulah tidak ada sesuatu dalam dirinya yang ia jadikan alat untuk menuntut.
Seseorang bertanya:
“Apakah engkau sekarang akan masuk?”
Musafir memandang orang-orang di belakangnya.
Ia melihat seorang perempuan tua.
Ia melihat anak kecil.
Ia melihat orang sakit.
Ia melihat orang-orang yang telah menunggu bertahun-tahun.
Kemudian ia berkata:
“Silakan mereka terlebih dahulu.”
Semua orang semakin heran.
“Engkaulah yang membuka gerbang.”
Musafir menjawab:
“Kalau gerbang ini dibuka oleh rahmat Alloh, mengapa aku harus mengklaim bahwa aku lebih berhak?”
Maka anak kecil masuk pertama.
Kemudian orang tua.
Kemudian orang sakit.
Kemudian mereka yang lemah.
Musafir berdiri di sisi gerbang membantu semua orang melewatinya.
Ketika orang terakhir telah masuk, ia melangkah.
Namun sebelum kakinya melewati gerbang, ia menoleh sekali lagi.
Di sana masih terdapat kendi kosong miliknya.
Ia kembali mengambil kendi itu.
Seseorang bertanya:
“Mengapa benda kosong itu masih engkau bawa?”
Musafir menjawab:
“Karena kendi kosong mengingatkanku bahwa apa pun yang pernah bisa kuberikan kepada orang lain sebenarnya telah lebih dahulu diisi oleh Alloh.”
Lalu ia masuk.
Gerbang pun tertutup kembali.
Tetapi sejak saat itu, tulisan ketiga muncul:
“Yang memaksa akan kelelahan.
Yang menuntut akan kecewa.
Yang merendahkan hati akan belajar bahwa tidak semua pintu harus didobrak.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA ꧂
Dalam kehidupan manusia terdapat banyak gerbang.
Gerbang rezeki.
Gerbang ilmu.
Gerbang jodoh.
Gerbang kedudukan.
Gerbang ketenangan.
Gerbang pengampunan.
Gerbang perubahan.
Tidak semua gerbang dibuka dengan tenaga yang lebih besar.
Sebagian justru membutuhkan ego yang lebih kecil.
Manusia sering berpikir:
“Aku telah berusaha, maka aku harus memperoleh.”
“Aku telah berdoa, maka harus dikabulkan sesuai keinginanku.”
“Aku telah berilmu, maka orang harus mendengarkanku.”
“Aku telah berjasa, maka aku harus dihormati.”
Di sinilah hati perlu diperiksa.
Sebab usaha adalah kewajiban.
Doa adalah penghambaan.
Sedangkan hasil tetap menjadi wilayah ketetapan Alloh.
Maka jangan menjadikan ibadah sebagai transaksi kesombongan.
Jangan menjadikan amal sebagai alat menagih Alloh.
Dan jangan menjadikan ilmu sebagai palu untuk memaksa semua pintu terbuka.
Kadang-kadang jawaban sebuah pintu adalah:
belum.
Kadang:
bukan di sini.
Kadang:
lepaskan dahulu sesuatu yang engkau genggam.
Dan kadang:
silakan masuk.
Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui bagaimana mengetuk pintu.
Kebijaksanaan juga mengetahui kapan harus menunggu, kapan harus berjalan ke pintu lain, dan kapan harus menerima bahwa pintu tersebut memang tidak diperuntukkan bagi kita.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA ꧂
“Lawang kang sejati ora tansah kalah dening tangan kang kuwat.
Ana lawang kang mung mbukak nalika manungsa wis leren rumangsa paling kuwasa.”
Artinya:
Pintu yang sejati tidak selalu tunduk kepada tangan yang kuat. Ada pintu yang baru terbuka ketika manusia berhenti merasa dirinya paling berkuasa.
Dan satu sandhi lagi:
“Sing digawa menyang lawang langit dudu gumedhe, nanging sumarah.
Dudu tuntutan, nanging pangabekti.
Dudu rumangsa nduweni dalan, nanging nyuwun diparingi pituduh.”
Yang dibawa menuju gerbang langit bukan kesombongan, melainkan kepasrahan.
Bukan tuntutan, melainkan pengabdian.
Bukan merasa memiliki jalan, melainkan memohon agar diberikan petunjuk.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA ꧂
Maka ingatlah:
Apabila satu pintu belum terbuka, jangan langsung menganggap Alloh meninggalkanmu.
Bisa jadi engkau sedang diajarkan mengetuk dengan cara yang berbeda.
Bisa jadi waktunya belum tiba.
Bisa jadi terdapat jalan yang lebih selamat.
Bisa jadi tanganmu terlalu penuh sehingga tidak mampu menerima sesuatu yang baru.
Kosongkan kesombongan.
Kuatkan ikhtiar.
Jaga adab.
Perbaiki niat.
Berdoalah tanpa memaksa.
Lalu berjalanlah.
Sebab seorang hamba tidak diperintah untuk menguasai seluruh pintu.
Ia hanya diperintah untuk terus mencari jalan yang diridhai Alloh.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثانية
KHATAM QISAH KEDUA
“Ora kabeh lawang kudu didobrak.
Ana lawang kang mbukak nalika ati wis cukup lembut kanggo ora meksa.”
Tidak semua pintu harus didobrak. Ada pintu yang terbuka ketika hati telah cukup lembut untuk berhenti memaksa.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA
“MATA AIR DI ATAS AWAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada suatu masa, jauh di atas hamparan awan, terdapat sebuah mata air yang tidak pernah kering.
Airnya jernih.
Tidak berwarna.
Tidak berbau.
Tidak pula berkilau seperti emas.
Namun siapa pun yang meminumnya dengan hati bersih akan merasa seolah beban panjang di dalam dadanya diluruhkan sedikit demi sedikit.
Anehnya, mata air itu tidak berada di lembah.
Tidak pula di pegunungan.
Ia berada di sebuah tempat yang hampir mustahil didatangi:
di atas awan ketujuh.
Banyak pengembara langit mendengar kisah tentang mata air tersebut.
Sebagian mencarinya untuk memperoleh kekuatan.
Sebagian berharap menjadi terkenal.
Sebagian ingin menyembuhkan luka.
Sebagian lain hanya ingin membuktikan bahwa mata air itu benar-benar ada.
Maka berangkatlah banyak manusia.
Mereka membawa perbekalan.
Membawa peta.
Membawa tali.
Membawa tongkat.
Membawa berbagai alat.
Namun semakin tinggi mereka mendaki, semakin tebal kabut yang mereka temui.
Di awan pertama, mereka masih bisa melihat jalan.
Di awan kedua, pandangan mulai kabur.
Di awan ketiga, angin bertiup sangat kuat.
Di awan keempat, suara-suara aneh mulai terdengar.
Ada suara yang berkata:
“Pulanglah.”
Ada yang berbisik:
“Kau tidak akan sampai.”
Ada pula suara yang memuji:
“Engkau paling hebat di antara para pendaki.”
Sebagian takut lalu pulang.
Sebagian justru mabuk oleh pujian.
Mereka mendirikan tenda di awan keempat dan mengaku telah sampai.
Orang-orang di bawah kemudian mempercayai mereka.
Mereka berkata:
“Kami telah melihat mata air langit.”
Padahal mereka belum pernah melihatnya.
Tahun demi tahun berlalu.
Cerita palsu semakin banyak.
Sampai suatu hari datang seorang pemuda sederhana.
Ia tidak terkenal.
Tidak memiliki murid.
Tidak membawa banyak bekal.
Hanya sebuah wadah tanah liat kecil.
Ketika ditanya:
“Untuk apa wadah itu?”
Ia menjawab:
“Kalau aku menemukan airnya, aku hanya ingin membawa cukup untuk orang yang benar-benar membutuhkan.”
Orang-orang tertawa.
“Mata air langit tidak mungkin dibawa dengan wadah tanah.”
Pemuda itu menjawab:
“Kalau memang tidak bisa, setidaknya aku tidak datang dengan tangan penuh kesombongan.”
Ia mulai mendaki.
Di awan pertama, ia melihat banyak jejak kaki.
Di awan kedua, ia menemukan tongkat-tongkat patah.
Di awan ketiga, ia menemukan kain-kain milik para pengembara yang menyerah.
Di awan keempat, ia bertemu orang-orang yang mengaku telah sampai.
Mereka berkata:
“Berhentilah di sini. Inilah puncaknya.”
Pemuda itu bertanya:
“Di mana mata airnya?”
Mereka menjawab:
“Mata air itu tidak perlu dilihat. Kami sudah menjelaskannya.”
Pemuda itu berkata:
“Kalau sesuatu belum kita lihat dan belum kita ketahui, bukankah lebih baik mengatakan: aku belum tahu?”
Mereka marah.
“Engkau meragukan kami?”
Pemuda itu menjawab:
“Aku hanya takut menganggap sebuah tempat sebagai tujuan sebelum benar-benar sampai.”
Ia melanjutkan perjalanan.
Di awan kelima, ia bertemu seorang lelaki tua yang duduk sendirian.
Lelaki itu kelaparan.
Pemuda tersebut membuka bekalnya.
Ia membagi makanan terakhirnya.
Lelaki tua bertanya:
“Kalau makananmu habis, bagaimana engkau melanjutkan perjalanan?”
Pemuda menjawab:
“Kalau aku sampai ke mata air tetapi membiarkan orang kelaparan di jalan, aku takut perjalananku tidak membawa kebaikan.”
Lelaki tua tersenyum.
“Teruslah naik.”
Pemuda bergerak lagi.
Di awan keenam, angin bertiup sangat keras.
Wadah tanah liat yang dibawanya hampir terlepas.
Ia memeluk wadah itu.
Kemudian terlintas dalam hatinya:
“Bukankah wadah ini hanya benda? Mengapa aku begitu takut kehilangannya?”
Ia berhenti.
Kemudian meletakkan wadah itu.
Ia berkata:
“Yā Alloh, kalau Engkau menghendaki aku membawa air, Engkau mampu memberiku wadah lagi. Jangan biarkan aku lebih mencintai alat daripada tujuan.”
Begitu ia melepaskan wadah tersebut, angin langsung mereda.
Ia terkejut.
Tetapi ia tidak mencoba memahami semuanya.
Ia terus berjalan.
Akhirnya ia sampai pada awan ketujuh.
Tidak ada istana.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada cahaya menyilaukan.
Hanya hamparan putih yang sangat sunyi.
Di tengahnya terdapat mata air kecil.
Sangat kecil.
Pemuda itu hampir kecewa.
“Ini?”
Ia membayangkan mata air besar seperti sungai.
Namun yang dilihat hanya aliran lembut keluar dari sela batu.
Ia mendekat.
Kemudian terdengar suara dalam batinnya:
“Kau datang mencari air, tetapi apa yang sebenarnya kau bawa ke sini?”
Pemuda itu terdiam.
Ia memeriksa dirinya.
Tidak ada bekal.
Tidak ada wadah.
Tidak ada teman.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian ia menjawab:
“Aku membawa kebutuhan.”
Suara itu bertanya:
“Apa lagi?”
Ia menjawab:
“Ketidaktahuanku.”
“Apa lagi?”
Pemuda menunduk.
“Kesalahan-kesalahanku.”
“Apa lagi?”
Air mata mulai jatuh.
“Harapan agar Alloh tidak meninggalkanku.”
Mata air itu mendadak menjadi sangat jernih.
Pemuda berlutut.
Ia menangkupkan kedua tangannya lalu minum.
Air itu terasa biasa.
Tidak manis.
Tidak dingin berlebihan.
Tidak menimbulkan kekuatan ajaib.
Namun setelah menelannya, ia mulai menangis.
Bukan karena sakit.
Bukan karena takut.
Ia baru menyadari bahwa sepanjang hidupnya ia membawa banyak luka yang bahkan tidak pernah ia akui.
Luka karena diremehkan.
Luka karena ditinggalkan.
Luka karena gagal.
Luka karena kehilangan.
Luka karena harapan yang tidak tercapai.
Luka karena ingin terlihat kuat.
Semua muncul satu per satu.
Pemuda menangis lama.
Mata air tidak berbicara.
Awan tidak bergerak.
Langit hanya membiarkannya menangis.
Setelah tangisnya reda, ia merasa ringan.
Kemudian ia berkata:
“Aku ingin membawa air ini untuk orang-orang di bawah.”
Terdengar jawaban:
“Bawalah.”
Pemuda melihat tangannya.
“Aku tidak lagi mempunyai wadah.”
Jawaban itu datang:
“Engkau mempunyai sesuatu yang lebih luas daripada wadah.”
“Apa?”
“Perilakumu.”
Pemuda belum mengerti.
Suara itu menjelaskan:
“Jika air ini hanya kau bawa dalam wadah, ia akan habis.
Jika kau bawa dalam akhlak, ia akan mengalir melalui hidupmu.”
Pemuda terdiam.
Kemudian ia turun.
Di awan keenam, ia menemukan seorang yang ketakutan.
Ia menenangkannya.
Di awan kelima, ia menemukan seseorang yang kehabisan makanan.
Ia membantunya.
Di awan keempat, orang-orang yang mengaku telah sampai mengejeknya.
“Mana air langitmu?”
Pemuda menjawab:
“Aku tidak membawanya dalam botol.”
Mereka tertawa.
“Berarti kau gagal.”
Pemuda tidak marah.
Ia berkata:
“Mungkin.”
Lalu melanjutkan perjalanan.
Di awan ketiga, ia menemukan orang terluka.
Ia merawatnya.
Di awan kedua, ia menemukan seorang anak muda yang ingin menyerah.
Ia berkata:
“Beristirahatlah. Tidak semua perjalanan harus diselesaikan dalam satu hari.”
Di awan pertama, ia bertemu orang tua yang kehilangan arah.
Ia mengantarnya pulang.
Hari demi hari, banyak orang mulai berkata:
“Ada sesuatu yang berbeda pada pemuda itu.”
Tetapi tidak ada yang tahu bahwa ia pernah sampai ke mata air.
Pemuda itu juga tidak pernah menceritakannya.
Sampai bertahun-tahun kemudian, seorang anak bertanya:
“Guru, benarkah ada mata air di atas awan?”
Pemuda yang kini telah menjadi tua tersenyum.
Ia menjawab:
“Ada.”
“Apakah Guru pernah sampai?”
Lelaki tua itu menatap langit.
Lalu berkata:
“Yang lebih penting bukan apakah aku pernah sampai. Yang lebih penting: apakah setelah kembali aku membawa kesejukan bagi orang lain.”
Anak itu terdiam.
Lalu bertanya:
“Kalau saya ingin mencari mata air itu, apa yang harus saya bawa?”
Lelaki tua menjawab:
“Bawalah hati yang bersedia mengakui bahwa ia haus.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA ꧂
Banyak manusia mencari sesuatu yang tinggi.
Ilmu tinggi.
Kedudukan tinggi.
Pengalaman ruhani tinggi.
Nama besar.
Pengakuan.
Kisah yang luar biasa.
Namun semakin tinggi perjalanan seseorang, semakin besar pula bahaya kesombongan.
Sebab ada orang yang belum sampai tetapi sudah mengaku sampai.
Ada orang yang memperoleh sedikit pengalaman lalu menjadikannya mahkota.
Ada orang yang mempelajari tanda-tanda, tetapi lupa memperbaiki akhlaknya.
Padahal perjalanan batin yang benar seharusnya membuat manusia:
lebih jujur,
lebih lembut,
lebih rendah hati,
lebih mudah mengakui kesalahan,
lebih ringan membantu,
dan semakin sadar bahwa dirinya tetap membutuhkan rahmat Alloh.
Apabila perjalanan spiritual justru membuat seseorang semakin mudah merendahkan orang lain, mungkin yang bertambah bukan kejernihan, melainkan rasa besar terhadap dirinya sendiri.
Mata air langit adalah pralambang.
Airnya adalah kejernihan.
Wadahnya adalah diri manusia.
Dan perjalanan menuju mata air adalah perjalanan membersihkan apa yang menutup hati.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA ꧂
“Aja mung nggoleki banyu saka langit.
Dadia banyu kanggo wong kang ngelak.”
Jangan hanya mencari air dari langit.
Jadilah kesejukan bagi mereka yang sedang kehausan.
Dan:
“Wong kang wis ngombe saka sumber sejati ora perlu rame nyritakake sumber.
Kasegerane bakal katon saka cara dheweke urip.”
Orang yang telah minum dari sumber yang baik tidak perlu sibuk membanggakan sumbernya.
Kesejukan itu akan tampak dari cara ia menjalani hidup.
꧁ RAHASIA WADAH TANAH ꧂
Mengapa pemuda membawa wadah tanah?
Karena manusia juga berasal dari tanah.
Wadah tanah bisa retak.
Begitu pula hati manusia.
Namun wadah yang retak bukan selalu tidak berguna.
Kadang dari celah retaknya, air menetes sepanjang jalan dan menumbuhkan bunga-bunga yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
Maka jangan terlalu membenci bagian hidupmu yang pernah retak.
Rawatlah.
Perbaikilah.
Ambillah pelajarannya.
Bisa jadi luka yang telah sembuh membuatmu lebih mampu memahami luka orang lain.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA ꧂
Jika suatu hari engkau merasa haus, jangan malu mengaku haus.
Jika engkau lelah, jangan malu beristirahat.
Jika engkau belum tahu, jangan takut berkata:
“Aku belum tahu.”
Jika engkau belum sampai, jangan mengatakan telah sampai.
Sebab kejujuran adalah salah satu mata air yang paling jernih.
Dan apabila Alloh memberimu ilmu, pengalaman, rezeki, kedudukan, atau kemudahan, jangan hanya bertanya:
“Apa yang kudapat?”
Tanyakan pula:
“Siapa yang dapat disejukkan melalui apa yang Alloh titipkan kepadaku?”
Sebab mungkin bukan banyaknya air yang menentukan nilai perjalanan.
Melainkan berapa banyak kehidupan yang tumbuh ketika air itu melewati kita.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثالثة
KHATAM QISAH KETIGA
“Sing tekan sumber durung mesthi dadi bening.
Sing nggawa kebeningan menyang uripe wong liya, kuwi tandha yen dheweke wis sinau saka sumber.”
Orang yang sampai kepada sumber belum tentu menjadi jernih.
Tetapi orang yang membawa kejernihan ke dalam kehidupan sesamanya telah mulai memahami makna sumber itu.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT
“LENTERA YANG PADAM DI TENGAH SIANG”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang berada di antara gunung dan langit, hiduplah seorang penjaga lentera.
Setiap malam ia berjalan dari satu ujung kampung ke ujung lainnya.
Di tangannya ada sebuah lentera tua.
Kacanya tidak lagi sempurna.
Pegangannya telah berkarat.
Api di dalamnya pun kecil.
Namun setiap kali malam turun, lentera itulah yang membantu para musafir melihat jalan.
Orang-orang mengenalnya sebagai:
Penjaga Cahaya Malam.
Tidak ada yang mengetahui nama aslinya.
Ia sendiri tidak pernah memperkenalkan diri.
Jika orang bertanya:
“Siapa namamu?”
Ia menjawab:
“Nama tidak terlalu penting. Yang penting jangan sampai jalan ini gelap.”
Setiap petang ia menyalakan lentera.
Ia berjalan melewati jembatan.
Melewati pasar.
Melewati rumah-rumah tua.
Melewati kuburan.
Melewati jalan hutan.
Kadang hujan turun sangat deras.
Kadang angin hampir memadamkan api.
Kadang ia diganggu orang mabuk.
Kadang dilempari anak-anak nakal.
Namun ia tetap berjalan.
Sampai suatu masa, penduduk mulai membuat lentera-lentera baru.
Lebih terang.
Lebih besar.
Lebih indah.
Sebagian terbuat dari perak.
Sebagian dihiasi batu-batu berkilau.
Sebagian bahkan dapat menyala tanpa minyak.
Orang-orang mulai berkata:
“Lentera tua itu sudah tidak berguna.”
Penjaga lentera mendengarnya.
Ia tidak marah.
Ia hanya berkata:
“Kalau jalan sudah cukup terang, berarti tugasku berkurang.”
Namun dalam hatinya ternyata muncul sesuatu.
Sangat kecil.
Hampir tidak ia sadari.
Ia mulai merasa sedih karena tidak lagi dibutuhkan.
Malam berikutnya ia berjalan.
Jalan telah dipenuhi cahaya.
Tidak ada orang memanggilnya.
Tidak ada yang meminta bantuannya.
Ia pulang lebih cepat.
Malam berikutnya sama.
Hari demi hari.
Kemudian suatu malam ia berkata dalam hati:
“Dahulu orang-orang selalu menungguku.”
Lalu muncul suara lain:
“Sekarang mereka bahkan tidak menoleh kepadamu.”
Ia menatap lenteranya.
Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa lentera tersebut bukan hanya alat.
Ia telah menjadikannya bagian dari harga dirinya.
Ia mulai berpikir:
“Kalau aku tidak lagi membawa cahaya, lalu siapakah aku?”
Pertanyaan itu terus menghantuinya.
Beberapa hari kemudian datang seorang pengembara tua.
Ia melihat penjaga lentera duduk sendirian.
Pengembara bertanya:
“Mengapa wajahmu murung?”
Penjaga menjawab:
“Tidak ada apa-apa.”
Pengembara tersenyum.
“Orang yang berkata tidak ada apa-apa biasanya sedang membawa sesuatu yang terlalu berat untuk disebutkan.”
Penjaga lentera akhirnya berkata:
“Dahulu aku berguna bagi banyak orang. Sekarang tidak.”
Pengembara bertanya:
“Apakah engkau ingin berguna, atau ingin dikenal sebagai orang yang berguna?”
Pertanyaan itu menancap sangat dalam.
Penjaga tidak menjawab.
Pengembara lalu berkata:
“Besok siang, bawalah lenteramu ke puncak bukit.”
Penjaga merasa aneh.
“Untuk apa membawa lentera di siang hari?”
“Datanglah.”
Keesokan harinya ia naik ke bukit.
Matahari bersinar sangat terang.
Pengembara tua telah menunggu.
Ia berkata:
“Nyalakan lenteramu.”
Penjaga tertawa.
“Tidak ada gunanya.”
“Nyalakan.”
Ia menyalakannya.
Api kecil muncul.
Tetapi hampir tidak terlihat karena cahaya matahari jauh lebih terang.
Pengembara bertanya:
“Apakah lenteramu sekarang tidak memiliki cahaya?”
Penjaga menjawab:
“Masih memiliki.”
“Lalu mengapa tidak terlihat?”
“Karena matahari jauh lebih terang.”
Pengembara mengangguk.
“Apakah lenteramu merasa dihina oleh matahari?”
Penjaga tersenyum.
“Tentu tidak. Lentera tidak memiliki perasaan.”
Pengembara berkata:
“Namun pemilik lentera memilikinya.”
Penjaga terdiam.
Lalu pengembara berkata:
“Ada masa ketika Alloh menjadikan kita perantara cahaya bagi orang lain. Ada masa ketika orang lain menjadi perantara cahaya bagi kita. Jangan marah ketika tugas berpindah tangan.”
Angin bertiup pelan.
Api lentera bergerak.
Pengembara melanjutkan:
“Kesalahanmu bukan karena membawa lentera.”
“Lalu apa?”
“Engkau mulai mengira bahwa jalan menjadi terang karena dirimu.”
Penjaga menunduk.
Ia tahu perkataan itu benar.
Pengembara berkata:
“Lentera yang baik tidak iri kepada matahari.”
Penjaga menjawab pelan:
“Karena tujuan keduanya sama: menerangi.”
“Benar.”
Kemudian pengembara meniup lentera.
Api padam.
Penjaga spontan berkata:
“Mengapa dipadamkan?”
Pengembara menunjuk matahari.
“Apakah jalan menjadi gelap?”
“Tidak.”
“Berarti cahaya tidak berhenti hanya karena lenteramu padam.”
Penjaga menatap lentera mati di tangannya.
Untuk pertama kalinya ia merasa lega.
Bertahun-tahun ia takut kehilangan peranan.
Padahal jalan tidak pernah menjadi miliknya.
Cahaya pun bukan miliknya.
Ia hanya ditugasi membawa sebagian kecil cahaya pada waktu tertentu.
Hari itu ia pulang tanpa menyalakan lentera.
Ketika malam datang, sesuatu terjadi.
Hujan besar turun.
Angin kencang merusak banyak lentera baru.
Sebagian padam.
Sebagian pecah.
Seluruh kampung mendadak gelap.
Orang-orang panik.
“Di mana penjaga lentera tua?”
Mereka mencarinya.
Penjaga lentera keluar dari rumah.
Ia membawa lentera tuanya.
Seseorang berkata:
“Cepat! Nyalakan! Kami membutuhkanmu!”
Penjaga menatap mereka.
Dahulu kalimat itu akan membuat dadanya membesar.
Kini ia hanya tersenyum.
Ia menyalakan lentera.
Lalu berkata:
“Ambillah api ini.”
Orang-orang terkejut.
“Bukankah engkau yang akan berjalan membawa lentera?”
Ia menjawab:
“Tidak harus.”
Ia membagikan api lenteranya kepada banyak orang.
Satu lentera menjadi dua.
Dua menjadi empat.
Empat menjadi puluhan.
Tidak lama kemudian seluruh jalan kembali terang.
Seorang pemuda bertanya:
“Tidakkah engkau takut tidak lagi dibutuhkan setelah semua orang memiliki api?”
Penjaga menjawab:
“Dulu aku takut. Sekarang aku mengerti: tujuan cahaya bukan membuat orang bergantung kepada pembawanya, tetapi membuat mereka mampu melihat jalan.”
Malam itu ia tidak berjalan di depan.
Ia berjalan di tengah orang-orang.
Tidak ada yang mengetahui siapa yang membawa api pertama.
Dan ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan.
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT ꧂
Ada masa seseorang dibutuhkan.
Ada masa ia harus mundur.
Ada masa ia berada di depan.
Ada masa ia harus memberikan tempat kepada orang lain.
Tidak setiap pergantian adalah kehilangan.
Kadang itu tanda bahwa amanah telah tumbuh.
Guru yang baik tidak ingin muridnya selamanya bergantung.
Pemimpin yang baik tidak takut ketika orang lain mulai mampu berdiri.
Orang tua yang baik suatu hari harus membiarkan anak berjalan sendiri.
Dan orang berilmu seharusnya bahagia ketika ilmunya melahirkan orang lain yang bahkan lebih baik darinya.
Kesulitan muncul ketika manusia mencampuradukkan:
amanah dengan identitas,
pelayanan dengan kebutuhan dipuji,
dan manfaat dengan kebutuhan untuk selalu dianggap penting.
Padahal kita tidak harus menjadi pusat agar tetap memiliki nilai.
Tidak harus menjadi yang paling terang agar tetap membawa kebaikan.
꧁ RAHASIA LENTERA YANG PADAM ꧂
Lentera yang padam pada siang hari tidak kehilangan nilainya.
Ia hanya sedang berada pada waktu ketika cahayanya tidak diperlukan.
Begitu pula manusia.
Ada masa ketika kemampuanmu dipakai.
Ada masa ketika engkau harus belajar.
Ada masa ketika engkau didengar.
Ada masa ketika engkau harus lebih banyak mendengar.
Jangan menilai seluruh hidup hanya dari satu musim.
Jika hari ini orang lain lebih menonjol, tidak berarti cahayamu dirampas.
Mungkin Alloh sedang mengajarimu bentuk pengabdian yang tidak membutuhkan panggung.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT ꧂
“Damar ora meri marang srengenge.
Srengenge ora gumunggung marang damar.
Saben cahya nduweni wektu lan panggonane dhewe.”
Artinya:
Lentera tidak perlu iri kepada matahari. Matahari tidak perlu menyombongkan diri di hadapan lentera. Setiap cahaya mempunyai waktu dan tempatnya sendiri.
Dan:
“Yen pepadhangmu bisa nyulut pepadhange wong liya, aja wedi pepadhangmu dadi ora katon.”
Jika cahayamu mampu menyalakan cahaya orang lain, jangan takut apabila setelah itu namamu tidak lagi terlihat.
꧁ PENUTUP QISAH KEEMPAT ꧂
Jangan takut apabila suatu hari perananmu berubah.
Jangan takut apabila orang lain mampu melakukan sesuatu yang dahulu hanya engkau lakukan.
Jangan takut apabila tepuk tangan berpindah.
Sebab amanah sejati bukan tentang berapa lama manusia bergantung kepadamu.
Amanah sejati adalah apakah setelah engkau pergi, kebaikan masih terus berjalan.
Jika engkau seorang guru, tanamlah ilmu.
Jika engkau seorang pemimpin, tumbuhkan penerus.
Jika engkau memiliki rezeki, bukakan jalan.
Jika engkau memiliki pengalaman, wariskan hikmah.
Jika engkau memegang lentera, jangan hanya meminta orang berjalan di belakangmu.
Ajarkan mereka menyalakan lenteranya sendiri.
Sebab suatu hari tangan kita akan lelah.
Suatu hari langkah kita akan berhenti.
Namun cahaya yang telah dibagikan dapat terus berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk warisan yang paling indah:
bukan banyaknya orang yang mengingat siapa kita,
melainkan banyaknya kebaikan yang tetap hidup meskipun nama kita telah lama tidak disebut.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الرابعة
KHATAM QISAH KEEMPAT
“Aja dadi cahya supaya kabeh wong ndeleng awakmu.
Dadia cahya supaya wong liya bisa ndeleng dalane.”
Jangan menjadi cahaya agar semua orang melihat dirimu. Jadilah cahaya agar orang lain mampu melihat jalannya.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KELIMA
“BURUNG PUTIH YANG MENOLAK SANGKAR EMAS”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kerajaan yang berdiri di antara dua gunung, hiduplah seorang raja yang memiliki segala sesuatu.
Istana luas.
Kebun penuh bunga.
Kolam dipenuhi ikan.
Gudang emas tidak pernah kosong.
Para pelayan berdiri di setiap pintu.
Namun ada satu hal yang tidak dimiliki sang raja:
ketenangan hati.
Setiap malam ia sulit tidur.
Setiap pagi ia bangun dengan rasa kosong.
Maka ia memanggil para penasihat.
“Apa yang harus kulakukan agar hatiku tenteram?”
Penasihat pertama berkata:
“Bangunlah istana yang lebih besar.”
Raja melakukannya.
Namun hatinya tetap kosong.
Penasihat kedua berkata:
“Tambah kekayaan.”
Raja mengumpulkan emas lebih banyak.
Hatinya tetap tidak tenang.
Penasihat ketiga berkata:
“Adakan pesta selama empat puluh hari.”
Pesta digelar.
Musik dimainkan.
Makanan dihidangkan.
Namun setelah semua orang pulang, kesunyian kembali memenuhi kamar sang raja.
Suatu pagi raja berjalan sendirian di taman istana.
Di sebuah pohon tua ia melihat seekor burung putih.
Bulunya sederhana.
Tidak sebesar rajawali.
Tidak seindah merak.
Tetapi suaranya sangat lembut.
Ketika burung itu bernyanyi, raja merasakan sesuatu yang telah lama hilang:
ketenteraman.
Raja memanggil penjaga.
“Tangkap burung itu.”
Burung putih pun ditangkap.
Raja memerintahkan dibuatkan sangkar dari emas murni.
Sangkarnya besar.
Di dalamnya diletakkan makanan terbaik.
Air paling jernih.
Biji-bijian pilihan.
Bahkan ranting-rantingnya dihias permata.
Raja berkata:
“Sekarang bernyanyilah.”
Burung putih diam.
Raja menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Sampai malam.
Burung tetap tidak bersuara.
Hari berikutnya sama.
Raja mulai gelisah.
Ia memanggil ahli burung.
“Kenapa burung ini tidak bernyanyi?”
Ahli pertama berkata:
“Mungkin makanannya kurang mahal.”
Diganti dengan makanan yang lebih baik.
Burung tetap diam.
Ahli kedua berkata:
“Sangkarnya kurang indah.”
Ditambah mutiara.
Burung tetap diam.
Ahli ketiga berkata:
“Mungkin ia perlu dilatih.”
Datanglah pelatih terbaik.
Setiap hari burung diajarkan berbagai nada.
Namun ia tetap tidak bernyanyi.
Raja marah.
“Aku telah memberikan segala sesuatu! Mengapa ia tidak mau bernyanyi?”
Seorang pelayan tua yang berdiri di sudut berkata pelan:
“Paduka, mungkin karena segala sesuatu yang Paduka berikan bukanlah yang ia butuhkan.”
Raja menoleh.
“Apa maksudmu?”
Pelayan itu berkata:
“Paduka memberinya emas. Tetapi mungkin ia membutuhkan langit.”
Raja terdiam.
Ia tidak suka mendengar jawaban itu.
“Bukankah sangkar ini lebih aman daripada hutan?”
“Benar, Paduka.”
“Bukankah makanannya lebih baik?”
“Benar.”
“Bukankah ia terlindungi dari hujan?”
“Benar.”
“Lalu apa yang kurang?”
Pelayan itu menjawab:
“Kebebasan.”
Raja tersinggung.
“Kebebasan? Aku telah menyelamatkannya dari banyak bahaya!”
Pelayan menunduk.
“Kadang perlindungan yang berlebihan berubah menjadi penjara.”
Raja tidak menjawab.
Malam itu ia tidak dapat tidur.
Ia mendatangi sangkar.
Burung putih masih diam.
Raja duduk di depannya.
Kemudian berkata:
“Aku hanya ingin mendengar suaramu.”
Burung tidak menjawab.
Raja melanjutkan:
“Aku memberimu makanan terbaik.”
Burung tetap diam.
“Aku memberimu rumah dari emas.”
Tidak ada jawaban.
Raja akhirnya berkata:
“Apakah engkau membenciku?”
Burung putih menatap raja.
Lalu untuk pertama kalinya ia berbicara.
“Tidak.”
Raja terkejut.
“Engkau bisa berbicara?”
Burung menjawab:
“Sejak awal.”
“Kalau begitu mengapa kau diam?”
Burung berkata:
“Karena engkau tidak datang untuk mendengarkan. Engkau datang untuk membuatku melakukan apa yang engkau inginkan.”
Raja terdiam.
Burung melanjutkan:
“Engkau mencintai nyanyianku, tetapi tidak mencintai kehidupanku.”
Raja bertanya:
“Apa bedanya?”
Burung menjawab:
“Engkau ingin suaraku membuatmu tenteram. Tetapi engkau tidak bertanya apa yang membuatku tenteram.”
Kalimat itu mengenai hati sang raja.
Ia melihat sangkar emas.
Tiba-tiba semua kemewahan itu tampak berbeda.
Ia menyadari:
Ia telah mengira bahwa memberi banyak berarti memahami kebutuhan makhluk lain.
Raja bertanya:
“Kalau kubuka pintu ini, apakah kau akan kembali?”
Burung menjawab:
“Aku tidak tahu.”
Raja menjadi takut.
“Kalau kau tidak kembali, aku tidak akan pernah mendengar suaramu lagi.”
Burung berkata:
“Kalau begitu engkau harus memilih: apakah engkau mencintai suaraku, atau mencintaiku.”
Raja menangis.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami bahwa cinta tidak selalu berarti memiliki.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu sangkar.
Burung putih tidak langsung terbang.
Ia berdiri di ambang pintu.
Menatap raja.
Kemudian berkata:
“Sekarang engkau mulai belajar.”
Burung itu mengepakkan sayap.
Terbang keluar.
Melewati taman.
Melewati tembok.
Naik tinggi menuju langit.
Raja berdiri memandanginya sampai menjadi titik putih.
Kemudian hilang.
Hari itu raja merasa kehilangan.
Tetapi anehnya, di balik kehilangan itu muncul sedikit ketenangan.
Ia sadar:
Ada sesuatu yang harus dilepaskan bukan karena tidak berharga,
tetapi justru karena terlalu berharga untuk dipenjarakan.
Hari berganti.
Burung putih tidak kembali.
Raja tetap menunggu.
Seminggu.
Sebulan.
Setahun.
Namun selama masa itu, raja berubah.
Ia mulai mengurangi pajak rakyat.
Ia membebaskan tahanan yang dipenjara karena kesalahan ringan.
Ia memberikan kesempatan kepada anak-anak memilih bidang belajar yang mereka sukai.
Ia tidak lagi memaksa putranya menjadi seperti dirinya.
Ia mulai mendengar pendapat orang lain.
Bahkan kepada para pelayan ia berkata:
“Jika aku salah, katakan.”
Orang-orang heran.
Kerajaan yang sebelumnya penuh ketakutan mulai berubah.
Pada suatu pagi, ketika raja sedang duduk di taman, terdengar suara yang sangat dikenalnya.
Merdu.
Lembut.
Menentramkan.
Ia mendongak.
Burung putih berada di pohon tua.
Raja tidak memanggil penjaga.
Tidak mengambil sangkar.
Tidak mendekat.
Ia hanya tersenyum.
Burung bernyanyi.
Lama sekali.
Setelah selesai, burung berkata:
“Sekarang engkau dapat mendengar nyanyianku tanpa perlu memilikinya.”
Raja menjawab:
“Aku baru mengerti. Suaramu lebih indah ketika aku tidak memaksamu tinggal.”
Burung berkata:
“Karena sesuatu yang lahir dari kebebasan berbeda dengan sesuatu yang lahir dari ketakutan.”
Raja bertanya:
“Apakah engkau akan tinggal?”
Burung menjawab:
“Aku akan datang ketika aku ingin datang. Dan pergi ketika waktunya pergi.”
Anehnya, raja tidak sedih.
Ia berkata:
“Kalau begitu, terbanglah sejauh yang kau mau.”
Burung putih terbang.
Sejak itu ia sering datang.
Kadang pagi.
Kadang sore.
Kadang berbulan-bulan tidak terlihat.
Namun setiap kali datang, ia selalu bernyanyi.
Dan setiap kali pergi, raja tidak lagi merasa ditinggalkan.
Karena ia telah memahami:
yang benar-benar dekat tidak selalu harus berada dalam genggaman.
꧁ PIWULANG QISAH KELIMA ꧂
Banyak manusia berkata:
“Aku mencintaimu.”
Tetapi di balik kalimat itu kadang tersembunyi:
“Jadilah seperti yang kuinginkan.”
“Jangan pergi ke mana-mana.”
“Jangan berubah.”
“Jangan memiliki jalan selain jalanku.”
Padahal cinta yang sehat tidak mengubah orang lain menjadi milik.
Orang tua perlu menjaga anak, tetapi suatu hari harus memberinya ruang bertumbuh.
Guru membimbing murid, tetapi bukan menjadikan murid salinan dirinya.
Pemimpin mengatur amanah, tetapi tidak boleh memenjarakan kehendak orang dengan ketakutan.
Suami dan istri saling menjaga, tetapi bukan saling menguasai.
Persahabatan pun tidak tumbuh dari paksaan.
Cinta yang baik mempunyai batas, adab, tanggung jawab, dan kebebasan yang sehat.
Ia berkata:
“Aku ingin engkau berada dalam kebaikan, meskipun tidak semua langkahmu harus berada di bawah kehendakku.”
꧁ RAHASIA SANGKAR EMAS ꧂
Sangkar emas adalah pralambang sesuatu yang terlihat baik dari luar tetapi dapat menjadi penjara ketika tidak ada ruang bernapas.
Ada sangkar yang dibuat dari harta.
Ada yang dibuat dari pujian.
Ada yang dibuat dari rasa takut.
Ada yang dibuat dari utang budi.
Ada pula sangkar yang dibuat dari kalimat:
“Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu.”
Kalimat itu bisa mulia.
Tetapi harus diperiksa.
Apakah benar demi kebaikan orang lain?
Atau sebenarnya demi keinginan kita agar ia selalu berada di bawah kendali kita?
Tidak semua sangkar memiliki jeruji besi.
Sebagian dibangun dari rasa bersalah.
꧁ SANDHI LANGIT KELIMA ꧂
“Tresna kang sejati ora nyekel swiwi nganti ora bisa mabur.”
Artinya:
Cinta sejati tidak menggenggam sayap sampai ia tidak dapat terbang.
Dan:
“Yen tresnamu mung tentrem nalika wong liya manut marang kekarepanmu, priksa maneh: kuwi tresna apa rasa kepengin nduweni.”
Jika cintamu hanya tenang ketika orang lain mengikuti seluruh kehendakmu, periksalah kembali: apakah itu cinta, atau keinginan untuk memiliki?
꧁ RAHASIA BURUNG PUTIH ꧂
Mengapa burung itu berwarna putih?
Bukan karena putih selalu berarti suci.
Dalam qisah ini, putih menjadi pralambang niat yang perlu dijaga agar tidak dikotori keinginan menguasai.
Cinta yang pada awalnya baik dapat berubah ketika dicampuri:
ketakutan kehilangan,
kecemburuan tanpa batas,
keinginan mengendalikan,
dan rasa bahwa orang lain harus membayar semua kebaikan kita dengan ketaatan.
Maka menjaga cinta juga berarti menjaga niat.
Kadang manusia perlu bertanya kepada dirinya:
“Apakah aku sedang menjaga, atau sedang mengurung?”
“Apakah aku sedang membimbing, atau sedang memaksa?”
“Apakah aku sedang mencintai, atau hanya takut kehilangan?”
Pertanyaan seperti itu tidak selalu mudah dijawab.
Namun orang yang berani memeriksa hatinya akan lebih selamat daripada orang yang selalu merasa benar.
꧁ PENUTUP QISAH KELIMA ꧂
Jangan terlalu cepat membangun sangkar untuk sesuatu yang engkau cintai.
Berikan perlindungan, tetapi jangan hilangkan langitnya.
Berikan nasihat, tetapi jangan cabut haknya untuk berpikir.
Berikan kasih sayang, tetapi jangan jadikan kasih sayang sebagai utang yang harus dibayar dengan kepatuhan buta.
Dan apabila suatu hari sesuatu yang engkau sayangi harus pergi, jangan selalu menganggap kepergiannya sebagai pengkhianatan.
Ada burung yang pergi karena waktunya mencari langit.
Ada anak yang pergi karena waktunya dewasa.
Ada murid yang berjalan sendiri karena pelajarannya telah cukup.
Ada amanah yang berpindah karena musimnya telah selesai.
Belajarlah melepas tanpa membenci.
Belajarlah menjaga tanpa menguasai.
Belajarlah mencintai tanpa menghilangkan ruang hidup orang yang dicintai.
Sebab cinta yang matang tidak berkata:
“Engkau milikku.”
Ia berkata:
“Engkau adalah amanah Alloh. Semoga aku tidak menyakitimu hanya karena aku takut kehilanganmu.”
Dan ketika burung putih kembali ke pohon kerajaan, sang raja akhirnya memahami rahasia yang selama bertahun-tahun tidak dapat dibeli oleh seluruh emasnya:
Ketenangan tidak datang ketika semua yang kita cintai berada dalam genggaman.
Ketenangan datang ketika hati mampu mencintai tanpa menjadikan dirinya sebagai penjara.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الخامسة
KHATAM QISAH KELIMA
“Bukak lawange yen pancen tresna.
Yen dheweke bali, sambut kanthi syukur.
Yen dheweke kudu mabur luwih adoh, aja ngrusak swiwine mung amarga awakmu wedi kelangan.”
Bukalah pintunya jika memang mencintai. Jika ia kembali, sambutlah dengan syukur. Jika ia harus terbang lebih jauh, jangan rusak sayapnya hanya karena dirimu takut kehilangan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEENAM
“JEMBATAN YANG HANYA MUNCUL KETIKA LANGKAH DIMULAI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah lembah luas yang dikelilingi gunung batu, terdapat dua daratan yang dipisahkan jurang sangat dalam.
Di sisi pertama berdiri sebuah kampung tua.
Di sisi seberang terlihat tanah hijau, mata air, pepohonan buah, dan ladang yang subur.
Penduduk kampung sering berdiri di tepi jurang memandang tanah seberang.
Mereka berkata:
“Seandainya ada jembatan, hidup kita pasti berubah.”
Namun tidak ada jembatan.
Tidak ada tali.
Tidak ada jalan memutar.
Jurang itu begitu dalam sehingga batu yang dilemparkan ke bawah tidak pernah terdengar jatuh.
Sejak zaman leluhur, beredar sebuah cerita:
“Jembatan menuju tanah seberang akan muncul bagi orang yang benar-benar berani berjalan.”
Sebagian menganggapnya dongeng.
Sebagian percaya.
Sebagian lagi memperdebatkannya selama bertahun-tahun.
Ada kelompok yang berkata:
“Jembatan pasti terbuat dari batu.”
Kelompok lain berkata:
“Tidak mungkin. Pasti dari cahaya.”
Kelompok ketiga berkata:
“Mungkin sebenarnya jembatan itu tidak pernah ada.”
Mereka membuat pertemuan.
Membuat catatan.
Membuat gambar.
Mengukur jarak jurang.
Menghitung arah angin.
Namun tidak seorang pun melangkah.
Sampai suatu tahun, kemarau panjang datang.
Sumur kampung mulai mengering.
Ladang gagal panen.
Persediaan makanan menipis.
Orang-orang kembali memandang tanah hijau di seberang.
Seorang pemuda bernama Salim berkata:
“Aku akan mencoba menyeberang.”
Orang-orang langsung melarang.
“Jangan bodoh.”
“Jurangnya terlalu dalam.”
“Tidak ada jembatan.”
“Kalau cerita itu benar, mengapa tidak terlihat?”
Salim sendiri takut.
Ia bukan pemberani besar.
Kakinya gemetar setiap kali mendekati tepi jurang.
Tetapi ia melihat ibunya mulai membagi makanan agar anak-anak kecil mendapat bagian lebih banyak.
Ia melihat orang tua kehausan.
Ia melihat anak-anak mencari buah liar yang hampir habis.
Maka ia berkata:
“Aku tidak tahu apakah cerita itu benar. Tetapi kalau kita hanya berdiri di sini, kita juga akan terus kesulitan.”
Keesokan pagi, Salim datang ke tepi jurang.
Banyak orang mengikuti dari belakang.
Bukan untuk menyeberang.
Mereka ingin melihat apakah ia jatuh.
Salim berdiri lama.
Di depannya hanya ruang kosong.
Ia menarik napas.
Kemudian berkata:
“Yā Alloh, aku tidak meminta mengetahui seluruh jalan. Aku hanya meminta diberi keberanian untuk mengambil langkah yang benar.”
Ia mengangkat kaki kanan.
Orang-orang menahan napas.
Salim mengulurkan kaki ke depan.
Tepat ketika telapak kakinya melewati tepi jurang—
muncullah sebuah pijakan batu kecil.
Salim terkejut.
Orang-orang berteriak.
“Lihat!”
“Benar-benar muncul!”
Namun hanya satu batu.
Di depan batu itu kembali kosong.
Salim berdiri di atas pijakan pertama.
Kakinya gemetar lebih keras.
Ia berkata:
“Di mana jembatannya?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian ia memahami:
Jembatan itu tidak muncul sekaligus.
Ia harus melangkah lagi.
Salim mengangkat kaki.
Muncul batu kedua.
Langkah ketiga.
Muncul batu ketiga.
Begitu seterusnya.
Setiap pijakan baru hanya muncul ketika ia benar-benar menggerakkan langkah.
Orang-orang di belakang mulai bersorak.
“Terus!”
“Sedikit lagi!”
Namun setelah beberapa langkah, angin menjadi kencang.
Salim melihat ke bawah.
Kesalahan besar.
Jurang yang sangat dalam membuat kepalanya pusing.
Ia berhenti.
Pijakan berikutnya tidak muncul.
Ia menunggu.
Tetap tidak muncul.
Ia berteriak ke kampung:
“Jembatannya berhenti!”
Seorang lelaki tua menjawab:
“Apakah engkau sudah melangkah?”
Salim melihat kakinya.
Belum.
Ia baru menunggu agar batu berikutnya muncul terlebih dahulu.
Salim berkata:
“Bagaimana aku melangkah kalau belum ada tempat berpijak?”
Lelaki tua menjawab:
“Bukankah sejak awal memang begitu?”
Salim terdiam.
Ia sadar.
Pada langkah pertama ia belum memiliki bukti.
Sekarang setelah diberi beberapa pijakan, ia justru meminta jaminan lebih banyak.
Ia menutup mata sejenak.
Kemudian berdoa.
Lalu melangkah.
Batu berikutnya muncul.
Perjalanan berlanjut.
Di tengah jurang datang kabut tebal.
Salim tidak lagi bisa melihat tanah seberang.
Bahkan kampung asalnya hilang dari pandangan.
Ia merasa benar-benar sendirian.
Suara-suara mulai muncul dalam pikirannya:
“Bagaimana kalau jalan ini salah?”
“Bagaimana kalau tanah seberang ternyata tidak seperti yang terlihat?”
“Bagaimana kalau jembatan tiba-tiba hilang?”
Ia hampir berbalik.
Namun ketika menoleh ke belakang, ia melihat sesuatu yang aneh.
Batu-batu yang telah dilewatinya masih ada.
Ia berkata kepada dirinya:
“Aku belum tahu langkah yang akan datang. Tetapi aku tidak boleh melupakan pertolongan yang telah datang pada langkah-langkah sebelumnya.”
Ia melanjutkan.
Satu langkah.
Satu batu.
Satu langkah.
Satu batu.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Akhirnya kabut terbuka.
Tanah seberang semakin dekat.
Salim mengambil langkah terakhir.
Kakinya menyentuh rumput.
Ia berhasil.
Penduduk kampung bersorak dari kejauhan.
Namun sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi.
Begitu Salim sampai, semua batu pijakan tadi menjadi terlihat jelas.
Jembatan itu sekarang utuh.
Seorang perempuan dari kampung mencoba menyeberang.
Ia menginjak batu pertama.
Tetapi ketika sampai di tengah, beberapa batu di depannya menghilang.
Ia ketakutan.
Salim berteriak dari seberang:
“Jangan hanya mengikuti jejakku!”
Perempuan itu bingung.
Salim berkata:
“Jembatan ini tidak dibangun untuk kakiku saja. Engkau juga harus melangkah dengan keberanianmu sendiri.”
Perempuan itu memahami.
Ia mengambil langkah.
Batu muncul.
Kemudian orang kedua.
Orang ketiga.
Sedikit demi sedikit penduduk menyeberang.
Namun tidak semua memiliki jalan yang persis sama.
Ada yang pijakannya muncul sedikit ke kanan.
Ada yang ke kiri.
Ada yang harus berjalan lambat.
Ada yang berhenti lama di tengah.
Ada yang kembali dahulu karena belum siap.
Salim mulai memahami:
Jembatan itu bukan sekadar jembatan.
Ia seperti pelajaran.
Setiap orang mempunyai bagian keberaniannya sendiri.
Beberapa bulan kemudian kampung lama dan tanah baru terhubung.
Mereka membawa benih.
Membuat saluran air.
Mendirikan tempat berteduh.
Kemarau pun tidak lagi terlalu menakutkan.
Orang-orang kemudian ingin membangun monumen untuk Salim.
Mereka berkata:
“Engkaulah pembuka jembatan.”
Salim menjawab:
“Tidak.”
“Tetapi engkau orang pertama.”
Salim berkata:
“Aku hanya orang pertama yang cukup takut tetapi tetap mencoba melangkah.”
Mereka tertawa.
“Bukankah orang berani tidak merasa takut?”
Salim menjawab:
“Tidak. Orang berani juga takut. Bedanya, ia tidak selalu membiarkan ketakutan menentukan semua langkahnya.”
꧁ PIWULANG QISAH KEENAM ꧂
Banyak manusia menunggu seluruh jalan terlihat sebelum memulai.
Mereka berkata:
“Nanti kalau sudah yakin seratus persen.”
“Nanti kalau semua risiko hilang.”
“Nanti kalau semua orang mendukung.”
“Nanti kalau aku tidak takut lagi.”
Padahal dalam kehidupan, tidak semua jalan diberikan sekaligus.
Ada jalan yang baru menjadi jelas setelah langkah pertama.
Ada kemampuan yang baru muncul setelah dicoba.
Ada pertolongan yang baru terlihat ketika ikhtiar benar-benar dimulai.
Namun ini bukan berarti manusia harus bertindak ceroboh.
Keberanian bukan menutup mata terhadap risiko.
Keberanian adalah:
berpikir,
menimbang,
berdoa,
mencari nasihat,
lalu bergerak ketika memang sudah waktunya bergerak.
Sebab ada perbedaan antara tawakal dan nekat.
Tawakal tetap memakai akal.
Tetap menghitung kemampuan.
Tetap berhati-hati.
Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, ia tidak membiarkan ketakutan menjadi raja.
꧁ RAHASIA PIJAKAN YANG MUNCUL ꧂
Mengapa batu hanya muncul saat kaki bergerak?
Karena sebagian jawaban dalam hidup tidak diberikan kepada orang yang hanya berdiri di tepi.
Orang dapat membaca seribu buku tentang berenang.
Namun ada pengetahuan tertentu yang baru dipahami ketika tubuh menyentuh air.
Orang dapat mempelajari usaha bertahun-tahun.
Namun ada pelajaran yang baru muncul ketika benar-benar mulai berdagang.
Orang dapat membaca tentang memaafkan.
Namun maknanya menjadi berbeda ketika ia sendiri harus menghadapi luka.
Begitu pula jalan hidup.
Ada pengetahuan yang datang sebelum langkah.
Ada pula pengetahuan yang datang karena langkah.
Keduanya dibutuhkan.
꧁ RAHASIA KABUT DI TENGAH JALAN ꧂
Mengapa kabut muncul setelah Salim sudah berjalan cukup jauh?
Karena ujian tidak selalu datang di awal.
Kadang awal perjalanan terasa mudah.
Baru setelah manusia berada di tengah, keraguan muncul.
Pada saat seperti itu jangan hanya melihat apa yang belum ada.
Ingatlah pula apa yang telah dilewati.
Jika engkau pernah mendapatkan pertolongan,
ingatlah.
Jika engkau pernah melewati masa sulit,
ingatlah.
Jika sebuah pintu pernah terbuka setelah kesabaran panjang,
ingatlah.
Bukan untuk memastikan bahwa masa depan pasti sama.
Tetapi agar hati tidak mudah berkata:
“Selama ini aku selalu sendirian.”
Padahal mungkin ada banyak nikmat yang telah terlupakan karena kita terlalu sibuk menatap ketakutan berikutnya.
꧁ SANDHI LANGIT KEENAM ꧂
“Dalan ora tansah katon sadurunge sikil lumaku.”
Artinya:
Jalan tidak selalu terlihat sebelum kaki mulai berjalan.
Dan:
“Aja ngenteni wedi ilang kabeh. Yen dalane wis ditimbang kanthi wening, lumakua kanthi ati-ati lan pasrah marang Alloh.”
Jangan menunggu seluruh ketakutan hilang. Bila jalan telah dipertimbangkan dengan jernih, berjalanlah dengan hati-hati dan berserah kepada Alloh.
꧁ PIWULANG TENTANG LANGKAH ORANG LAIN ꧂
Ada satu kesalahan lain yang sering terjadi.
Karena seseorang berhasil melewati jalan tertentu, ia menganggap semua orang harus berjalan dengan cara yang sama.
Padahal pijakan Salim tidak selalu sama dengan pijakan orang berikutnya.
Pengalaman dapat diwariskan sebagai hikmah.
Tetapi pengalaman tidak selalu boleh dipaksakan menjadi cetakan.
Guru menunjukkan arah.
Orang tua memberi bekal.
Sahabat memberi nasihat.
Namun setiap manusia tetap harus menjalani bagian hidupnya sendiri.
Maka jangan berkata:
“Karena aku berhasil dengan cara ini, engkau pasti harus melakukan persis seperti aku.”
Lebih baik berkata:
“Ini pelajaran dari jalanku. Ambil yang bermanfaat, lalu timbanglah dengan keadaanmu sendiri.”
꧁ PENUTUP QISAH KEENAM ꧂
Jika hari ini engkau sedang berdiri di hadapan sebuah keputusan besar, jangan buru-buru melangkah hanya karena takut tertinggal.
Tetapi jangan pula selamanya berdiri hanya karena takut gagal.
Kumpulkan informasi.
Mintalah nasihat kepada orang yang layak dipercaya.
Pertimbangkan manfaat dan mudarat.
Berdoalah.
Kemudian bila jalannya baik dan kemampuan telah disiapkan, ambillah langkah yang mampu engkau tanggung.
Tidak perlu melihat seratus langkah.
Kadang tugas hari ini hanyalah menyelesaikan satu langkah yang benar.
Besok mungkin jalan berikutnya terlihat.
Dan jika belum terlihat, jangan malu berhenti sejenak untuk kembali menimbang.
Sebab perjalanan yang baik bukan perlombaan siapa paling cepat.
Perjalanan yang baik adalah siapa yang mampu terus menjaga arah.
Salim akhirnya memahami:
Ia tidak pernah diberi seluruh jembatan sejak awal.
Ia hanya diberi pijakan sesuai langkahnya.
Dan mungkin begitulah sebagian kehidupan.
Alloh tidak selalu memperlihatkan seluruh perjalanan kepada manusia.
Agar manusia belajar bahwa iman bukan berarti mengetahui semua yang akan terjadi.
Iman adalah tetap berusaha berbuat benar meskipun tidak memegang seluruh jawaban.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السادسة
KHATAM QISAH KEENAM
“Siji langkah kang bener luwih migunani tinimbang sewu rencana kang ora nate dilakoni.”
Satu langkah yang benar lebih berguna daripada seribu rencana yang tidak pernah dimulai.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETUJUH
“JAM PASIR YANG TIDAK BISA DIPUTAR KEMBALI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah menara tinggi yang berdiri di ujung langit, tersimpan sebuah jam pasir tua.
Tidak ada yang mengetahui sejak kapan jam itu berada di sana.
Bingkainya terbuat dari kayu sederhana.
Kacanya bening.
Pasir di dalamnya sangat halus.
Anehnya, tidak seorang pun dapat membalik jam itu.
Ketika pasir telah jatuh dari ruang atas menuju ruang bawah, ia tidak pernah kembali naik.
Di bagian bawah jam tertulis:
مَا مَضَى لَا يَعُودُ، وَلَكِنْ مَا بَقِيَ مَا زَالَ أَمَانَةً
Artinya:
“Yang telah berlalu tidak kembali, tetapi yang masih tersisa tetap merupakan amanah.”
Banyak orang mendatangi menara tersebut.
Ada yang datang karena kehilangan.
Ada yang datang karena penyesalan.
Ada yang datang karena berharap dapat mengulang masa lalu.
Mereka membawa berbagai permintaan.
Seorang saudagar berkata:
“Jika aku bisa kembali sepuluh tahun, aku tidak akan mengambil keputusan yang membuatku bangkrut.”
Seorang ayah berkata:
“Jika aku bisa kembali, aku akan lebih banyak menemani anak-anakku.”
Seorang pemuda berkata:
“Jika aku bisa kembali, aku tidak akan mengucapkan kalimat yang menghancurkan persahabatanku.”
Seorang perempuan berkata:
“Jika waktu dapat diulang, aku akan meminta maaf sebelum orang yang kucintai pergi.”
Tetapi jam pasir tetap diam.
Hari demi hari orang mencoba membaliknya.
Ada yang menggunakan kekuatan.
Ada yang menggunakan ilmu.
Ada yang menggunakan doa untuk meminta masa lalu dikembalikan persis seperti dahulu.
Tidak berhasil.
Di menara itu tinggal seorang penjaga tua bernama Rahman.
Tugasnya hanya satu:
menjaga agar tidak ada orang memecahkan jam tersebut karena kemarahan.
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Malik.
Wajahnya sangat letih.
Ia membawa sebuah surat tua.
Malik berkata:
“Aku ingin kembali tiga tahun.”
Rahman bertanya:
“Mengapa?”
Malik menggenggam surat itu.
“Aku bertengkar dengan ayahku.”
Rahman diam.
Malik melanjutkan:
“Aku pergi dari rumah dengan marah. Ayah memanggilku, tetapi aku tidak menoleh.”
“Lalu?”
“Dua hari kemudian beliau meninggal.”
Suara Malik bergetar.
“Sejak itu aku selalu mengingat langkah terakhirku keluar dari rumah.”
Rahman menatapnya dengan lembut.
Malik berkata:
“Aku hanya ingin satu menit.”
“Satu menit untuk apa?”
“Untuk berbalik.”
Malik mulai menangis.
“Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak benar-benar membencinya.”
Rahman tidak mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Ia juga tidak menyuruh Malik melupakan.
Ia hanya duduk di sampingnya.
Setelah tangis Malik reda, Rahman bertanya:
“Kalau jam ini bisa dibalik, engkau ingin kembali?”
“Ya.”
“Kalau diberi kesempatan kembali, apakah engkau yakin tidak akan membuat kesalahan lain?”
Malik terdiam.
Rahman berkata:
“Manusia sering membayangkan bahwa jika masa lalu dapat diulang, dirinya akan membawa kebijaksanaan hari ini ke masa kemarin.”
“Bukankah begitu?”
“Belum tentu. Kebijaksanaanmu hari ini justru lahir karena engkau telah melewati kemarin.”
Malik memandang jam pasir.
Ia tidak suka jawaban itu.
“Berarti aku harus menerima bahwa aku tidak akan pernah bisa memperbaikinya?”
Rahman menjawab:
“Tidak semua yang tidak dapat diulang berarti tidak dapat ditebus dengan kebaikan.”
Malik menoleh.
“Maksudmu?”
Rahman menunjuk pasir yang masih berada di bagian atas jam.
“Lihat.”
Masih ada cukup banyak pasir yang belum jatuh.
Rahman berkata:
“Engkau terlalu lama memandangi pasir yang sudah berada di bawah sampai lupa bahwa masih ada pasir yang belum jatuh.”
Malik menjawab:
“Tetapi yang di bawah adalah ayahku.”
Rahman menggeleng.
“Tidak. Yang di bawah adalah waktu yang telah berlalu.”
“Lalu ayahku?”
“Beliau berada dalam urusan Alloh. Tetapi hubunganmu dengan kenangan, doa, amal baik, dan pelajaran dari beliau masih dapat engkau jaga.”
Malik terdiam lama.
Rahman kemudian berkata:
“Apakah engkau memiliki ibu?”
“Masih.”
“Saudara?”
“Dua.”
“Apakah ada orang yang sekarang masih menunggu kabarmu?”
Malik menunduk.
Ada.
Ibunya sering mengirim pesan.
Adiknya beberapa kali meminta ia pulang.
Malik selalu menjawab:
“Nanti.”
Rahman berkata:
“Jangan sampai penyesalan terhadap satu orang yang telah pergi membuatmu mengabaikan orang yang masih ada.”
Kalimat itu membuat Malik terkejut.
Selama tiga tahun ia merasa bersalah kepada ayahnya.
Namun rasa bersalah itu membuatnya semakin menjauh dari seluruh keluarganya.
Rahman berkata:
“Penyesalan yang sehat mengubah cara kita hidup. Penyesalan yang tidak dijaga hanya membuat kita terus menghukum diri tanpa memperbaiki apa pun.”
Malik bertanya:
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Rahman menjawab:
“Pertama, akui kesalahanmu.”
“Aku sudah mengakuinya.”
“Kedua, mohon ampun kepada Alloh.”
Malik mengangguk.
“Ketiga, bila masih ada hak manusia yang dapat diselesaikan, selesaikan.”
“Lalu?”
“Keempat, jangan ulangi kesalahan yang sama kepada orang-orang yang masih hidup.”
Malik menangis lagi.
Kali ini tangisnya berbeda.
Bukan hanya karena masa lalu.
Tetapi karena baru menyadari masih ada banyak pintu yang belum tertutup.
Malam itu ia pulang.
Untuk pertama kali setelah lama, ia mengetuk pintu rumah ibunya.
Ibunya membuka.
Malik berdiri tanpa kata.
Ibunya bertanya:
“Kenapa pulang malam-malam?”
Malik berkata:
“Karena aku terlalu lama berkata nanti.”
Ibunya tidak memahami seluruh maksudnya.
Namun ia memeluk anaknya.
Malik menangis di bahunya.
Sejak hari itu ia mulai sering pulang.
Ia menemani ibunya makan.
Ia memperbaiki hubungan dengan adik-adiknya.
Ia menyelesaikan utang lama.
Ia mengunjungi makam ayahnya dan berdoa.
Namun sesuatu masih belum selesai.
Setiap tahun Malik kembali ke menara.
Ia selalu melihat jam pasir.
Suatu hari ia bertanya kepada Rahman:
“Apakah rasa sesal akan benar-benar hilang?”
Rahman menjawab:
“Mungkin tidak seluruhnya.”
Malik heran.
“Lalu bagaimana aku hidup?”
Rahman berkata:
“Jangan meminta setiap luka untuk hilang. Mintalah agar luka itu tidak lagi mengendalikan arah hidupmu.”
Malik mulai memahami.
Tahun-tahun berlalu.
Rahman semakin tua.
Suatu pagi Malik datang dan menemukan penjaga itu sedang sakit.
Rahman memberikan kunci menara kepadanya.
Malik berkata:
“Apa ini?”
“Mulai besok engkau yang menjaga.”
“Aku?”
“Ya.”
“Tapi aku datang ke sini sebagai orang yang ingin memutar waktu.”
Rahman tersenyum.
“Itulah sebabnya engkau cukup memahami orang-orang yang akan datang.”
Keesokan harinya Rahman meninggal.
Malik menjadi penjaga jam pasir.
Tidak lama kemudian datang seorang perempuan muda.
Ia menangis di depan jam.
“Aku ingin kembali lima tahun.”
Malik bertanya:
“Untuk apa?”
“Aku menyia-nyiakan hidupku.”
Malik menatap pasir.
Kini ia mengerti mengapa Rahman dahulu tidak langsung memberi nasihat.
Ia duduk terlebih dahulu.
Mendengarkan.
Setelah perempuan itu selesai, Malik menunjuk bagian atas jam.
“Lihat pasir yang masih tersisa.”
Perempuan itu berkata:
“Tapi yang telah jatuh sangat banyak.”
Malik menjawab:
“Benar. Karena itulah jangan sia-siakan yang belum jatuh hanya untuk menangisi yang sudah jatuh.”
Perempuan itu terdiam.
Maka pelajaran dari jam pasir diteruskan dari satu manusia ke manusia berikutnya.
꧁ PIWULANG QISAH KETUJUH ꧂
Manusia tidak memiliki kuasa untuk mengulang waktu.
Ucapan yang telah keluar tidak bisa ditarik kembali seperti sebelum diucapkan.
Kesempatan yang telah berlalu tidak selalu dapat dikembalikan dalam bentuk yang sama.
Orang yang telah pergi tidak selalu dapat kita temui lagi.
Karena itulah waktu adalah amanah yang sangat halus.
Ia tidak bersuara ketika meninggalkan kita.
Satu hari terasa biasa.
Satu minggu terasa singkat.
Satu tahun berlalu.
Lalu suatu ketika manusia menoleh dan berkata:
“Sudah sejauh ini?”
Namun Qisah Ketujuh tidak mengajarkan manusia hidup dalam ketakutan terhadap waktu.
Ia mengajarkan:
jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Hubungi orang tua selagi masih bisa mendengar suaranya.
Minta maaf selagi pintu komunikasi masih terbuka.
Peluk anak sebelum ia terlalu besar untuk selalu berada di rumah.
Belajarlah selagi akal masih kuat.
Beribadahlah selagi tubuh masih mampu.
Dan jika pernah gagal, jangan habiskan seluruh sisa hidup hanya untuk mengutuk kegagalan.
꧁ RAHASIA PASIR YANG TELAH JATUH ꧂
Pasir di bawah bukan musuh.
Ia adalah sejarah.
Ada yang pahit.
Ada yang indah.
Ada yang memalukan.
Ada yang membanggakan.
Semua menjadi bagian perjalanan.
Tetapi manusia tidak diperintah tinggal di dalam sejarahnya.
Ia diperintah mengambil pelajaran darinya.
Orang yang terus memandang masa lalu bisa kehilangan hari ini.
Orang yang melupakan masa lalu bisa mengulangi kesalahannya.
Maka jalan tengahnya adalah:
ingat sebagai guru, bukan sebagai penjara.
꧁ EMPAT PINTU MEMPERBAIKI PENYESALAN ꧂
Jika kesalahan telah terjadi, lakukan empat perkara:
Pertama — Akui.
Jangan menyembunyikan kesalahan di balik alasan.
Kedua — Bertaubat kepada Alloh.
Mohon ampun dengan sungguh-sungguh dan niat memperbaiki diri.
Ketiga — Perbaiki hak manusia jika ada.
Mintalah maaf, kembalikan hak, selesaikan kewajiban sejauh masih mungkin.
Keempat — Jangan wariskan kesalahan yang sama kepada hari esok.
Sebab taubat bukan hanya menangisi kemarin.
Taubat adalah mengubah langkah berikutnya.
꧁ SANDHI LANGIT KETUJUH ꧂
“Wektu kang wus tiba ora bisa dijupuk maneh, nanging wektu kang isih ana aja nganti dipateni dening getun.”
Artinya:
Waktu yang telah jatuh tidak dapat diambil kembali, tetapi waktu yang masih ada jangan sampai dibunuh oleh penyesalan.
Dan:
“Aja nganti kowe ngenteni wong dadi kenangan sadurunge sinau ngurmati rawuhe.”
Jangan menunggu seseorang menjadi kenangan sebelum belajar menghargai kehadirannya.
꧁ RAHASIA SATU MENIT ꧂
Malik hanya meminta satu menit bersama ayahnya.
Tetapi ketika ayahnya masih hidup, mungkin ia pernah mempunyai ribuan menit yang terasa biasa.
Begitulah manusia.
Sesuatu terasa kecil ketika tersedia.
Ia menjadi sangat mahal ketika hilang.
Maka satu menit bersama orang yang kita sayangi jangan selalu dianggap biasa.
Satu kali makan bersama.
Satu percakapan.
Satu salam.
Satu kesempatan meminta maaf.
Satu kesempatan mengatakan terima kasih.
Kelak bisa menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.
꧁ PENUTUP QISAH KETUJUH ꧂
Jika engkau mempunyai masa lalu yang berat, jangan pura-pura bahwa ia tidak pernah terjadi.
Akui.
Pelajari.
Perbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.
Kemudian lanjutkan hidup.
Jangan menjadikan satu kesalahan sebagai dalil bahwa seluruh dirimu tidak mempunyai nilai.
Namun jangan pula menganggap kesalahan tidak penting.
Biarkan penyesalan menjadi guru yang membuat langkahmu lebih lembut.
Jika pernah berkata kasar kepada seseorang, jadikan itu alasan untuk menjaga lisan.
Jika pernah mengabaikan keluarga, jadikan itu alasan untuk lebih hadir.
Jika pernah menyia-nyiakan kesempatan, jadikan itu alasan untuk menghargai kesempatan berikutnya.
Jika pernah jatuh dalam dosa, jadikan pintu taubat sebagai jalan kembali kepada Alloh.
Jangan habiskan seluruh pasir yang tersisa hanya untuk memandangi pasir yang telah jatuh.
Karena selama manusia masih diberi napas,
masih ada kesempatan untuk:
berdoa,
meminta maaf,
berbuat baik,
mencintai,
mengabdi,
memperbaiki,
dan pulang kepada Alloh dengan keadaan yang lebih baik daripada kemarin.
Suatu hari seluruh pasir memang akan berada di bawah.
Ketika hari itu tiba, manusia tidak akan bertanya:
“Mengapa aku tidak memiliki waktu tanpa akhir?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Apa yang telah kulakukan dengan waktu yang pernah dititipkan kepadaku?”
Maka jagalah hari ini.
Sebab hari ini adalah sesuatu yang dahulu disebut masa depan, dan esok ia akan berubah menjadi masa lalu.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السابعة
KHATAM QISAH KETUJUH
“Aja njaluk wektu bali.
Jaluk marang Alloh supaya wektu kang isih ana diparingi berkah, lan langkah kang isih bisa dilakoni diparingi arah.”
Jangan meminta waktu kembali. Mohonlah kepada Alloh agar waktu yang masih tersisa diberkahi, dan langkah yang masih dapat dijalani diberi arah.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDELAPAN
“SUMUR YANG MENYIMPAN SUARA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang dikelilingi bukit-bukit batu, terdapat sebuah sumur tua.
Sumur itu tidak terlalu dalam.
Airnya pun tidak terkenal paling jernih.
Namun orang-orang menjaga sumur tersebut dengan sangat hati-hati.
Bukan karena airnya.
Melainkan karena sebuah keanehan:
sumur itu menyimpan setiap suara yang dilemparkan ke dalamnya.
Jika seseorang berdiri di tepi sumur lalu berkata:
“Aku membencimu,”
beberapa saat kemudian dari dasar sumur terdengar kembali:
“Aku membencimu…”
Jika seseorang berkata:
“Aku memaafkanmu,”
sumur akan menjawab:
“Aku memaafkanmu…”
Anak-anak sering bermain di sana.
Mereka berteriak:
“Halo!”
Sumur menjawab:
“Halo…”
Mereka tertawa.
Tetapi para orang tua tahu bahwa sumur itu menyimpan pelajaran yang jauh lebih dalam.
Di kampung tersebut hiduplah seorang pemuda bernama Zahir.
Zahir dikenal cerdas.
Tangannya terampil.
Ia bekerja keras.
Namun lidahnya sangat tajam.
Jika marah, kata-katanya seperti anak panah.
Ia mudah mengatakan:
“Bodoh!”
“Tidak berguna!”
“Aku menyesal mengenalmu!”
“Pergilah!”
Setelah kemarahannya reda, ia sering berkata:
“Aku kan cuma bicara.”
Namun orang-orang yang mendengarnya tidak selalu mampu melupakan.
Suatu hari Zahir bertengkar dengan adiknya.
Karena persoalan kecil, ia berteriak:
“Kalau bukan karena keluarga, aku tidak mau mengenal orang sepertimu!”
Adiknya diam.
Tidak membalas.
Ia hanya pergi.
Malam itu Zahir merasa sedikit bersalah.
Tetapi kesombongannya berkata:
“Nanti juga dia kembali sendiri.”
Hari berikutnya adiknya tidak pulang.
Dua hari.
Tiga hari.
Seminggu.
Barulah Zahir mulai gelisah.
Ia mencari ke rumah kerabat.
Tidak ada.
Ia mencari ke pasar.
Tidak ada.
Ia mendatangi sahabat-sahabat adiknya.
Salah seorang berkata:
“Dia pergi bekerja ke kota seberang.”
Zahir terdiam.
“Kenapa tidak bilang?”
Sahabat itu menjawab:
“Katanya dia merasa keberadaannya tidak diinginkan.”
Kalimat itu menampar hati Zahir.
Malamnya ia berjalan tanpa arah sampai tiba di sumur tua.
Di sana duduk seorang perempuan lanjut usia yang dikenal sebagai penjaga sumur.
Namanya Maryam.
Maryam bertanya:
“Mengapa engkau datang malam-malam?”
Zahir menjawab:
“Aku ingin mengambil air.”
Maryam melihat ember di tangannya.
“Kau tidak membawa wadah.”
Zahir baru sadar.
Ia memang tidak membawa apa pun.
Maryam tersenyum.
“Berarti bukan air yang kau cari.”
Zahir duduk.
Lama ia diam.
Akhirnya berkata:
“Aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan.”
Maryam bertanya:
“Kepada siapa?”
“Adikku.”
“Sudah minta maaf?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Zahir menjawab:
“Dia pergi.”
Maryam mengangguk.
Kemudian ia berdiri di tepi sumur.
“Coba katakan kembali apa yang kau ucapkan.”
Zahir malu.
“Untuk apa?”
“Ucapkan.”
Dengan suara kecil Zahir berkata:
“Aku tidak mau mengenal orang sepertimu.”
Sumur menjawab:
“…tidak mau mengenal orang sepertimu…”
Suara itu terdengar dari kedalaman.
Zahir merasa tidak nyaman.
Maryam berkata:
“Sekali lagi.”
Zahir mengulang.
Sumur menjawab lagi.
Maryam berkata:
“Sekarang bayangkan kalimat itu tidak kembali kepadamu, tetapi tinggal di hati orang yang mendengarnya.”
Zahir terdiam.
Maryam lalu berkata:
“Banyak manusia mengira kata-kata hilang setelah suara berhenti.”
“Bukankah memang begitu?”
Maryam menggeleng.
“Suara berhenti. Bekasnya belum tentu.”
Ia mengambil sebuah batu kecil.
Menjatuhkannya ke dalam sumur.
Pluk.
Permukaan air bergetar.
Maryam berkata:
“Lihat. Batu itu sudah tenggelam, tetapi gelombangnya masih bergerak.”
Zahir mulai memahami.
Maryam berkata:
“Lisan adalah salah satu tangan yang tidak terlihat. Ia dapat mengusap, tetapi juga dapat memukul.”
Zahir bertanya:
“Kalau begitu bagaimana aku menarik kembali kata-kataku?”
Maryam menjawab:
“Tidak bisa.”
Wajah Zahir berubah.
“Tapi aku menyesal.”
“Penyesalan tidak membuat kata itu belum pernah diucapkan.”
“Lalu tidak ada gunanya meminta maaf?”
Maryam berkata:
“Justru sangat berguna. Kita tidak dapat menghapus kemarin, tetapi kita dapat berhenti menambahkan luka baru dan berusaha memperbaiki yang lama.”
Maryam kemudian meminta Zahir melakukan sesuatu.
“Besok pagi, bawa sekantong biji gandum.”
Keesokan harinya Zahir datang.
Maryam berkata:
“Sebarkan biji ini sepanjang jalan menuju bukit.”
Zahir menurut.
Ia berjalan sambil menebarkan biji.
Setelah selesai, Maryam berkata:
“Sekarang kumpulkan semuanya kembali.”
Zahir tertawa.
“Mustahil. Ada yang jatuh di rumput. Ada yang dimakan burung. Ada yang masuk sela batu.”
Maryam menjawab:
“Begitulah kata-kata.”
Zahir terdiam.
“Begitu keluar, kita tidak lagi menguasai seluruh perjalanan mereka.”
Kalimat yang kita ucapkan bisa tinggal di ingatan seseorang.
Bisa diceritakan kepada orang lain.
Bisa membuat seseorang kehilangan keberanian.
Bisa pula menjadi kalimat yang menolongnya bertahan.
Zahir mulai merasa sangat menyesal.
Maryam berkata:
“Jangan hanya menyesal. Belajarlah.”
“Bagaimana?”
“Mulai hari ini, sebelum mengucapkan sesuatu ketika marah, tanyakan tiga hal.”
“Apa?”
Maryam mengangkat tiga jari.
“Apakah benar?”
“Apakah perlu?”
“Apakah cara mengatakannya baik?”
Zahir berkata:
“Kalau semuanya tidak?”
“Diam dahulu.”
Zahir bertanya:
“Kalau aku tetap harus menegur?”
“Tegur perbuatannya tanpa menghancurkan harga dirinya.”
Maryam memberi contoh:
Jangan berkata:
“Kau manusia tidak berguna.”
Katakan:
“Perbuatan ini salah dan harus diperbaiki.”
Jangan berkata:
“Kau selalu gagal.”
Katakan:
“Bagian ini belum berhasil. Mari cari cara lain.”
Jangan berkata:
“Aku membencimu.”
Jika sebenarnya yang dimaksud adalah marah, katakan:
“Aku sedang sangat marah. Aku butuh waktu agar tidak berbicara dengan buruk.”
Zahir mengangguk.
Namun hatinya masih berat.
“Aku tetap ingin menemui adikku.”
“Pergilah.”
“Bagaimana kalau dia tidak memaafkan?”
Maryam menjawab:
“Minta maaf adalah kewajibanmu. Waktu untuk sembuh adalah haknya.”
Zahir berangkat ke kota seberang.
Setelah mencari dua hari, ia menemukan adiknya bekerja di sebuah bengkel.
Adiknya melihat Zahir.
Wajahnya langsung berubah.
Zahir mendekat.
Biasanya ia pandai berbicara.
Kali ini lidahnya terasa berat.
Ia akhirnya berkata:
“Aku datang bukan untuk meminta kau segera pulang.”
Adiknya diam.
“Aku datang untuk mengakui bahwa kata-kataku salah.”
Masih diam.
Zahir melanjutkan:
“Aku marah, tetapi kemarahanku tidak membenarkanku merendahkanmu.”
Mata adiknya mulai basah.
Zahir berkata:
“Kalau kau belum bisa memaafkan, aku mengerti. Tetapi aku ingin kau tahu bahwa rumah tetap rumahmu, dan aku menyesal membuatmu merasa tidak diinginkan.”
Adiknya tidak langsung memeluk.
Tidak langsung memaafkan.
Ia hanya berkata:
“Aku butuh waktu.”
Zahir mengangguk.
“Ambillah waktu yang kau perlukan.”
Ia pulang sendiri.
Namun kali ini ia pulang dengan pelajaran.
Bulan demi bulan berlalu.
Zahir mulai berubah.
Ketika marah, ia sering berjalan keluar sebentar.
Ia tidak lagi menjadikan kemarahan sebagai izin menyakiti.
Kadang ia masih gagal.
Kadang kata keras masih keluar.
Namun sekarang ia segera mengakui.
Tidak bersembunyi di balik kalimat:
“Memang aku begini.”
Suatu sore adiknya kembali.
Tidak banyak bicara.
Ia hanya meletakkan tas di rumah.
Zahir melihat.
Adiknya berkata:
“Aku belum lupa semuanya.”
Zahir menjawab:
“Aku tidak meminta kau lupa.”
“Tapi aku ingin mencoba memperbaiki hubungan kita.”
Zahir tersenyum.
“Terima kasih.”
Sejak hari itu hubungan mereka tumbuh kembali.
Tidak persis seperti dahulu.
Tetapi lebih jujur.
Mereka belajar bahwa memaafkan bukan berarti luka tidak pernah terjadi.
Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan luka terus menjadi satu-satunya cerita.
꧁ RAHASIA SUMUR SUARA ꧂
Bertahun-tahun kemudian Zahir kembali menemui Maryam.
Penjaga sumur itu sudah sangat tua.
Zahir berkata:
“Aku sekarang baru mengerti mengapa sumur ini menyimpan suara.”
Maryam tersenyum.
“Benarkah?”
“Karena semua yang kita keluarkan akan kembali kepada kita.”
Maryam berkata:
“Tidak selalu dengan bentuk yang sama.”
Zahir menatapnya.
Maryam melanjutkan:
“Kadang kata kasar tidak kembali sebagai kata kasar. Ia kembali sebagai hubungan yang menjauh.”
“Kadang pujian kembali sebagai keberanian seseorang.”
“Kadang fitnah kembali sebagai hilangnya kepercayaan.”
“Kadang doa baik kembali sebagai ketenangan yang bahkan tidak kita tahu asalnya.”
Zahir bertanya:
“Jadi sumur ini bukan tentang gema?”
Maryam menjawab:
“Gema hanyalah lambangnya.”
Lalu ia berkata:
“Setiap manusia memiliki sumur di dalam dirinya. Kata-kata orang lain dapat jatuh ke sana dan tinggal sangat lama.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDELAPAN ꧂
Lidah tidak bertulang.
Namun satu kalimat dapat lebih berat daripada batu.
Satu ucapan dapat menjadi sebab seseorang tersenyum sepanjang hari.
Satu ucapan juga dapat membuat seseorang mengingat luka bertahun-tahun.
Karena itu menjaga lisan bukan berarti tidak boleh tegas.
Kebenaran tetap harus disampaikan.
Kesalahan tetap boleh ditegur.
Tetapi ketegasan tidak harus berubah menjadi penghinaan.
Ada perbedaan antara:
menegur dan merendahkan,
jujur dan kasar,
tegas dan menyakiti,
memberi nasihat dan mempermalukan.
Tidak semua yang benar harus disampaikan pada waktu yang sama.
Tidak semua yang diketahui harus diceritakan.
Tidak semua kemarahan harus diberikan suara.
Kadang diam beberapa saat adalah bentuk penjagaan.
꧁ TIGA TIMBANGAN LISAN ꧂
Sebelum kata keluar, timbanglah:
1. Apakah benar?
Jangan menyebarkan sesuatu hanya karena mendengarnya.
2. Apakah perlu?
Ada perkara yang benar tetapi tidak membawa manfaat bila disampaikan.
3. Apakah cara dan waktunya baik?
Nasihat yang benar bisa ditolak jika disampaikan dengan cara yang merendahkan.
Maka kata yang baik bukan hanya soal isi.
Ia juga soal niat, waktu, tempat, dan cara.
꧁ RAHASIA KATA “MAAF” ꧂
Ada orang yang berkata:
“Aku sudah minta maaf, kenapa dia belum baik seperti dulu?”
Qisah ini mengajarkan:
Permintaan maaf bukan tombol yang memaksa luka orang lain hilang seketika.
Permintaan maaf yang matang berkata:
“Aku mengakui kesalahanku, aku berusaha memperbaikinya, dan aku menghormati prosesmu untuk pulih.”
Jangan meminta maaf lalu menuntut korban segera membuat kita nyaman.
Sebab kadang kata maaf adalah awal perbaikan, bukan akhir.
꧁ SANDHI LANGIT KEDELAPAN ꧂
“Tembung iku kaya wiji. Sawise disebar, kowe ora mesthi bisa njupuk kabeh maneh.”
Artinya:
Kata-kata seperti benih. Setelah ditebar, engkau tidak selalu mampu mengumpulkannya kembali.
Dan:
“Yen lisanmu bisa dadi banyu, aja digawe geni. Yen kudu dadi pedhang, gunakna kanggo motong salah, dudu ngiris martabate wong.”
Jika lisanmu dapat menjadi air, jangan jadikan ia api. Jika harus menjadi pedang, gunakan untuk memotong kesalahan, bukan mengiris martabat manusia.
꧁ PENUTUP QISAH KEDELAPAN ꧂
Jika engkau pernah menyakiti seseorang dengan kata-kata, jangan hanya berkata:
“Aku memang orangnya ceplas-ceplos.”
Perbaiki.
Jika pernah menyebarkan sesuatu yang tidak benar, luruskan.
Jika pernah mempermalukan seseorang di depan banyak orang, jangan takut meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Jika sedang marah, beri ruang antara rasa dan ucapan.
Karena tidak semua hal harus dijawab saat itu juga.
Kadang lima menit diam menyelamatkan hubungan lima tahun.
Kadang satu malam menenangkan diri menyelamatkan keluarga dari pertengkaran panjang.
Dan jika engkau diberi kemampuan berbicara, gunakanlah sebagai amanah.
Ucapkan terima kasih sebelum terlambat.
Ucapkan maaf sebelum jarak terlalu jauh.
Ucapkan cinta kepada keluarga selama masih dapat mendengarnya.
Berikan semangat kepada orang yang sedang jatuh.
Doakan orang dengan kebaikan.
Sebab dunia sudah memiliki cukup banyak suara yang membuat manusia merasa kecil.
Jadilah salah satu suara yang membuat orang lain ingat bahwa mereka masih memiliki harapan.
Pada suatu malam, Zahir berdiri kembali di depan sumur tua.
Ia berkata pelan:
“Semoga Alloh menjaga lisanku agar tidak menjadi sumber luka.”
Sumur menjawab:
“…sumber luka…”
Kemudian Zahir menambahkan:
“Dan semoga kata-kataku menjadi jalan kebaikan.”
Sumur menjawab:
“…jalan kebaikan…”
Zahir tersenyum.
Kini ia mengerti.
Sumur tidak memilih suara apa yang akan dikembalikan.
Manusialah yang memilih suara apa yang dilemparkan ke dalamnya.
Begitu pula kehidupan.
Banyak hal yang kembali kepada kita dimulai dari sesuatu yang pernah kita lepaskan ke dunia.
Maka sebelum suara meninggalkan bibir, ingatlah:
kata mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bekasnya dapat tinggal bertahun-tahun.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثامنة
KHATAM QISAH KEDELAPAN
“Aja mung nyesel marang gema kang bali. Priksa luwih dhisik swara apa kang kok lebokake menyang sumur urip.”
Jangan hanya menyesali gema yang kembali. Periksalah lebih dahulu suara apa yang kita masukkan ke dalam sumur kehidupan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KESEMBILAN
“POHON YANG MENUMBUHKAN BUAH SETELAH DITINGGALKAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah lembah luas, berdirilah sebuah pohon tua yang sangat besar.
Batangnya kokoh.
Akarnya menembus tanah sangat dalam.
Cabangnya menjulur ke segala arah.
Namun ada satu hal yang membuat orang-orang mengejeknya:
pohon itu tidak pernah berbuah.
Tahun pertama, ia hanya menumbuhkan daun.
Tahun kedua, tetap daun.
Tahun ketiga, beberapa bunga muncul, tetapi gugur sebelum menjadi buah.
Orang-orang mulai berkata:
“Pohon ini sia-sia.”
“Tanah yang dipakainya terlalu luas.”
“Lebih baik ditebang.”
Namun seorang petani tua bernama Karim selalu melarang.
Ia berkata:
“Belum tentu yang belum berbuah berarti tidak berguna.”
Penduduk menertawakannya.
“Sudah bertahun-tahun!”
Karim tetap merawat pohon itu.
Ia menggemburkan tanah.
Membersihkan akar yang tersumbat.
Memotong dahan yang sakit.
Memberi air ketika kemarau.
Namun pohon itu tetap tidak berbuah.
Suatu hari anak Karim bertanya:
“Ayah, mengapa masih dirawat?”
Karim menjawab:
“Karena tugasku merawat. Bukan memaksa pohon memberikan hasil sebelum waktunya.”
Anaknya berkata:
“Bagaimana kalau pohon ini memang tidak akan pernah berbuah?”
Karim tersenyum.
“Kalau begitu setidaknya selama hidupnya ia pernah diberi kesempatan tumbuh dengan baik.”
Tahun-tahun berlalu.
Karim semakin tua.
Tubuhnya tidak sekuat dahulu.
Namun setiap pagi ia tetap datang.
Ia duduk di bawah pohon.
Kadang tidak melakukan apa-apa.
Hanya melihat daun bergerak diterpa angin.
Pada suatu pagi ia berkata kepada pohon itu:
“Aku mungkin tidak akan melihat buahmu.”
Tentu saja pohon tidak menjawab.
Karim melanjutkan:
“Tapi tidak apa-apa.”
Ia mengusap batangnya.
“Tidak semua yang kutanam harus kunikmati sendiri.”
Beberapa hari kemudian Karim sakit.
Ia tidak lagi datang ke kebun.
Anaknya menggantikan tugasnya.
Sebulan kemudian Karim meninggal.
Penduduk kembali berkata:
“Sekarang tidak ada lagi alasan mempertahankan pohon itu.”
Anak Karim hampir menyetujuinya.
Ia mengambil kapak.
Berdiri di depan pohon.
Saat hendak menebang, ia melihat sesuatu.
Di salah satu cabang terdapat sebuah bunga kecil.
Ia menurunkan kapak.
“Baiklah. Satu musim lagi.”
Hari-hari berikutnya bunga bertambah.
Puluhan.
Ratusan.
Tidak lama kemudian muncul buah-buah kecil.
Pohon yang selama puluhan tahun dianggap mandul akhirnya berbuah.
Musim panen tiba.
Buahnya banyak.
Rasanya manis.
Aromanya harum.
Penduduk berdatangan.
Seseorang berkata:
“Sayang sekali Karim tidak melihatnya.”
Anaknya menjawab:
“Mungkin benar. Tapi tanpa dirinya, tidak akan ada buah yang kita lihat hari ini.”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Buah dibagikan.
Sebagian diberikan kepada fakir miskin.
Sebagian ditanam kembali.
Dari biji-bijinya tumbuh pohon-pohon baru.
Beberapa tahun kemudian lembah itu dipenuhi kebun.
Anak Karim sering berjalan di antara pepohonan tersebut.
Suatu hari cucunya bertanya:
“Kakek, pohon mana yang ditanam oleh buyut?”
Ia menunjuk pohon tua di tengah kebun.
“Yang itu.”
Cucunya heran.
“Hanya satu pohon?”
Anak Karim tersenyum.
“Awalnya memang satu.”
“Tapi sekarang banyak sekali.”
“Karena satu pohon yang dirawat dengan sabar bisa melahirkan kebun yang tidak pernah dilihat oleh orang yang pertama merawatnya.”
Cucunya terdiam.
Lalu bertanya:
“Apakah Buyut sedih karena tidak melihat hasilnya?”
Anak Karim menatap langit.
“Aku rasa tidak.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang benar-benar menanam kebaikan tidak selalu menuntut dirinya menjadi orang pertama yang memetik hasil.”
꧁ PIWULANG QISAH KESEMBILAN ꧂
Banyak manusia ingin melihat hasil dengan cepat.
Menanam hari ini.
Besok ingin memetik.
Berdoa hari ini.
Besok ingin jawaban.
Mengajar hari ini.
Besok ingin murid berubah.
Mendidik anak hari ini.
Besok ingin melihatnya dewasa.
Membangun lembaga hari ini.
Besok ingin besar.
Padahal sebagian amanah bekerja dalam waktu panjang.
Ada benih yang cepat tumbuh.
Ada yang membutuhkan musim.
Ada pula yang baru berbuah setelah orang pertama yang menanamnya sudah tidak berada di sana.
Karena itu jangan selalu mengukur kebaikan hanya dari hasil yang dapat kita lihat.
Ada amal yang buahnya terlihat sekarang.
Ada amal yang baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Ada nasihat yang saat disampaikan ditolak, tetapi baru dipahami setelah orang yang mendengarnya mengalami hidup sendiri.
Ada pendidikan orang tua yang baru disadari nilainya setelah anak menjadi dewasa.
Ada karya yang baru berguna setelah pembuatnya tiada.
꧁ RAHASIA POHON YANG LAMBAT BERBUAH ꧂
Mengapa pohon itu lama sekali berbuah?
Karena selama bertahun-tahun ia sedang memperkuat sesuatu yang tidak terlihat:
akar.
Manusia sering kagum pada buah.
Jarang memperhatikan akar.
Padahal pohon yang tinggi membutuhkan akar yang dalam.
Begitu pula kehidupan.
Ada masa ketika seseorang tampak tidak bergerak jauh.
Padahal ia sedang membangun dasar:
belajar,
memperbaiki akhlak,
menata hutang,
menguatkan keluarga,
memulihkan diri,
mengasah keterampilan,
memperbaiki niat.
Semua itu mungkin tidak terlihat seperti keberhasilan.
Tetapi tanpa akar, keberhasilan besar mudah roboh ketika diterpa angin.
Maka jangan malu apabila musim hidupmu saat ini lebih banyak membangun akar daripada menunjukkan buah.
꧁ RAHASIA KARIM ꧂
Karim tidak tahu apakah pohon itu akan berbuah.
Ia tidak memiliki jaminan.
Namun ia tetap merawat.
Di situlah amanah menjadi murni.
Sebab mudah berbuat baik ketika hasil sudah terlihat.
Yang lebih berat adalah menjaga sesuatu ketika belum ada kepastian bahwa diri kita akan menikmati hasilnya.
Orang yang menanam pohon untuk generasi berikutnya memahami satu perkara:
hidup tidak hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang kita tinggalkan.
꧁ SANDHI LANGIT KESEMBILAN ꧂
“Sing nandur ora kudu dadi wong sing methik.”
Artinya:
Orang yang menanam tidak harus menjadi orang yang memetik.
Dan:
“Aja mandheg nandur kabecikan mung amarga wohé durung katon.”
Jangan berhenti menanam kebaikan hanya karena buahnya belum terlihat.
꧁ TIGA MUSIM AMANAH ꧂
Dalam setiap amanah biasanya ada tiga musim.
Musim pertama: menanam.
Belum ada hasil.
Hanya kerja, niat, dan kesabaran.
Musim kedua: merawat.
Di sinilah banyak orang menyerah.
Karena hasil belum besar, tetapi tenaga terus keluar.
Musim ketiga: berbuah.
Kadang kita melihatnya.
Kadang anak kita.
Kadang murid kita.
Kadang generasi setelah kita.
Dan bila hasil itu benar-benar kebaikan, tidak mengapa siapa yang pertama memetik.
꧁ TENTANG DOA YANG BELUM TERLIHAT HASILNYA ꧂
Ada pula doa yang terasa lama.
Manusia berkata:
“Sudah berulang kali aku memohon.”
Tetapi belum ada perubahan seperti yang diharapkan.
Qisah ini tidak berarti semua keinginan pasti akan diberikan persis seperti yang diminta.
Tidak.
Doa tetap berada dalam hikmah dan ketetapan Alloh.
Kadang diberikan.
Kadang ditunda.
Kadang diarahkan kepada sesuatu yang berbeda.
Kadang manusia baru memahami jawabannya setelah waktu yang panjang.
Karena itu berdoalah dengan harap.
Tetapi jangan mengubah doa menjadi tuntutan.
Katakan:
“Yā Alloh, aku memohon yang baik. Jika apa yang kuminta baik bagiku, mudahkanlah. Jika tidak, arahkanlah aku kepada yang lebih baik menurut ilmu-Mu.”
꧁ RAHASIA BUAH YANG DIBAGIKAN ꧂
Ketika pohon akhirnya berbuah, anak Karim tidak menyimpan semuanya.
Ia membagikan buah.
Lalu menanam bijinya.
Inilah rahasia keberkahan.
Kebaikan yang hanya berhenti pada diri sendiri mudah selesai.
Kebaikan yang diwariskan dapat menjadi rantai panjang.
Satu guru mengajar satu murid.
Murid itu mengajar sepuluh.
Sepuluh mengajar seratus.
Satu orang menanam pohon.
Pohon itu memberi ribuan biji.
Maka jangan meremehkan satu kebaikan kecil yang dapat diteruskan.
꧁ JANGAN MENEBANG TERLALU CEPAT ꧂
Ada perkara yang memang harus dihentikan jika jelas merusak.
Tetapi ada pula sesuatu yang sebenarnya baik, hanya belum matang.
Manusia perlu kebijaksanaan membedakan keduanya.
Jangan mempertahankan kesalahan hanya atas nama sabar.
Tetapi jangan pula membuang sesuatu yang sehat hanya karena hasilnya lambat.
Timbanglah.
Lihat apakah akarnya hidup.
Apakah ada pertumbuhan.
Apakah arah usahanya baik.
Apakah cara yang dipakai benar.
Jika perlu, ubah cara merawat.
Namun jangan menebang hanya karena iri melihat pohon orang lain sudah lebih dahulu berbuah.
Setiap pohon mempunyai musim.
꧁ PENUTUP QISAH KESEMBILAN ꧂
Jika hari ini engkau sedang membangun sesuatu yang baik tetapi hasilnya belum terlihat, jangan buru-buru menganggap semuanya sia-sia.
Periksa kembali niatmu.
Perbaiki caramu.
Belajarlah.
Bersabarlah.
Dan teruslah menanam sejauh jalan itu memang baik.
Mungkin engkau sedang membangun sesuatu yang hasilnya tidak hanya untuk dirimu.
Mungkin anak-anakmu yang akan merasakannya.
Mungkin muridmu.
Mungkin orang yang bahkan belum lahir hari ini.
Jangan takut jika namamu tidak tertulis pada buah yang kelak tumbuh.
Sebab pohon tidak menuliskan nama petani pada setiap buahnya.
Namun tanpa tangan yang menanam, buah itu tidak pernah ada.
Karim meninggal sebelum panen.
Tetapi setiap kali anak-anak bermain di bawah kebun yang tumbuh dari pohonnya, kebaikannya seakan masih berjalan.
Dan di situlah manusia memahami:
umur tubuh terbatas, tetapi manfaat yang ditanam dengan benar dapat berjalan lebih jauh daripada usia penanamnya.
Maka tanamlah sesuatu yang pantas tetap hidup setelah engkau pergi.
Tanamlah ilmu.
Tanamlah adab.
Tanamlah kasih sayang.
Tanamlah amal baik.
Tanamlah kejujuran.
Tanamlah pohon.
Tanamlah sesuatu yang membuat bumi sedikit lebih baik daripada ketika engkau pertama kali datang.
Dan ketika suatu hari engkau belum sempat melihat buahnya, jangan terlalu bersedih.
Bisa jadi Alloh menakdirkan tangan lain yang memetik, sementara pahala menanam tetap menjadi bagian dari perjalananmu.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة التاسعة
KHATAM QISAH KESEMBILAN
“Woh iku mung katon sedhela, nanging oyot nggarap lemah kanthi meneng nganti pirang-pirang mangsa.”
Buah hanya tampak ketika musimnya tiba, sedangkan akar bekerja diam-diam jauh sebelumnya.
“Nandura kabecikan sanajan kowe durung mesthi dadi wong sing lungguh ing sangisoring wit nalika wohé mateng.”
Tanamlah kebaikan meskipun engkau belum tentu menjadi orang yang duduk di bawah pohonnya ketika buah itu matang.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KESEPULUH
“PINTU KECIL DI BALIK SINGGASANA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kerajaan besar, berdirilah istana yang terkenal karena kemegahannya.
Pintunya tinggi.
Tiangnya berlapis ukiran.
Lantainya dari batu yang dipoles sampai mengilap.
Di ruang utama berdiri sebuah singgasana besar.
Orang-orang yang datang dari jauh selalu terpukau melihatnya.
Mereka berkata:
“Di sinilah pusat kerajaan.”
“Di sinilah kekuasaan berada.”
“Siapa yang duduk di sana, dialah orang paling tinggi.”
Namun di balik singgasana itu terdapat sebuah pintu kecil.
Sangat kecil.
Tidak berhias.
Tidak memiliki penjaga.
Bahkan sebagian besar penghuni istana tidak pernah menyadarinya.
Di atas pintu itu tertulis:
مَنْ صَغُرَ عِنْدَ نَفْسِهِ اتَّسَعَ لَهُ الطَّرِيقُ
Artinya:
“Barang siapa mampu mengecilkan kesombongan dirinya, jalannya akan dilapangkan.”
Raja kerajaan itu bernama Harun.
Ia bukan raja yang kejam.
Namun ia sangat mencintai kehormatan.
Setiap upacara harus sempurna.
Setiap orang harus membungkuk.
Setiap namanya disebut, pujian harus menyertainya.
Ia sering berkata:
“Aku tidak meminta disembah. Aku hanya meminta dihormati.”
Tetapi lama-kelamaan ia tidak lagi dapat membedakan antara penghormatan yang wajar dan kebutuhan untuk selalu dianggap lebih tinggi.
Suatu hari datang seorang utusan dari negeri jauh.
Utusan itu membawa pesan:
“Di balik gunung utara sedang terjadi bencana. Banyak desa membutuhkan pertolongan.”
Raja langsung memerintahkan rapat besar.
Para pejabat berkumpul.
Satu orang berkata:
“Kita kirim bantuan.”
Yang lain berkata:
“Kita harus mengadakan upacara keberangkatan agar rakyat melihat kemurahan Paduka.”
Raja setuju.
Dibuatlah spanduk.
Dipasang lambang kerajaan.
Pasukan diatur.
Pidato panjang disiapkan.
Namun karena terlalu sibuk menyiapkan kemegahan, bantuan terlambat berangkat.
Tiga hari berlalu.
Utusan datang lagi.
“Paduka, desa-desa membutuhkan air dan obat, bukan upacara.”
Raja tersinggung.
“Kau menganggap kami tidak peduli?”
Utusan menunduk.
“Saya hanya mengingatkan bahwa kebutuhan mereka lebih cepat daripada kehormatan kita.”
Kalimat itu membuat suasana tegang.
Raja memerintahkan utusan keluar.
Malam itu Harun duduk sendirian di singgasana.
Ia masih marah.
Kemudian terdengar suara kecil dari belakang.
Tok… tok… tok…
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Suara itu terdengar lagi.
Tok… tok…
Harun berdiri.
Ia memeriksa belakang singgasana.
Barulah ia melihat pintu kecil yang selama ini tidak pernah diperhatikannya.
“Apa ini?”
Ia mencoba membukanya.
Pintu terbuka.
Di baliknya ada lorong sempit.
Harun memanggil penjaga.
“Bawa obor. Kita periksa.”
Penjaga mencoba masuk.
Tidak bisa.
Lorong itu terlalu sempit untuk orang yang membawa pedang, baju zirah, dan perlengkapan kerajaan.
Harun berkata:
“Lepaskan semuanya.”
Penjaga melepas pedang.
Masih sempit.
Melepas zirah.
Baru bisa masuk.
Harun mencoba.
Mahkotanya tersangkut di kusen.
Ia kesal.
“Pintu ini dibuat terlalu rendah.”
Penjaga berkata:
“Paduka mungkin harus menunduk.”
Raja menatapnya.
Tidak ada orang yang biasa mengatakan itu kepadanya.
Harun akhirnya melepas mahkota.
Ia membungkuk.
Baru dapat masuk.
Lorong itu panjang.
Semakin jauh, semakin sempit.
Raja harus melepaskan mantel kebesarannya.
Kemudian cincin besar.
Kemudian tongkat kerajaan.
Sampai akhirnya ia berjalan tanpa atribut apa pun.
Hanya seorang manusia biasa.
Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan kecil.
Tidak ada emas.
Tidak ada permata.
Hanya sebuah cermin tua.
Di depan cermin tertulis:
“Masuklah tanpa gelar.”
Harun berdiri di depan cermin.
Ia melihat dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak melihat raja.
Tidak melihat mahkota.
Tidak melihat tanda kekuasaan.
Hanya wajah seorang lelaki yang mulai tua.
Ia berkata pelan:
“Siapa aku jika semua tanda ini dilepas?”
Terdengar suara dari ruangan:
“Itulah pertanyaan yang selama ini kau hindari.”
Harun menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Suara itu melanjutkan:
“Gelar adalah amanah. Bukan tubuhmu. Kekuasaan adalah tugas. Bukan jiwamu.”
Raja terdiam.
Suara itu berkata:
“Ketika semua orang membungkuk kepadamu, apakah engkau masih mampu membungkukkan hati kepada kebenaran?”
Harun menunduk.
Ia teringat utusan tadi.
Ia teringat berapa kali ia lebih sibuk menjaga wibawa daripada menyelesaikan masalah.
Ia teringat orang-orang yang takut memberinya kabar buruk.
Ia teringat para pejabat yang selalu berkata:
“Benar, Paduka.”
Bukan karena setuju.
Tetapi karena takut.
Harun bertanya:
“Apakah aku sudah menjadi raja yang buruk?”
Suara itu menjawab:
“Orang yang mau bertanya seperti itu belum terlambat untuk memperbaiki dirinya.”
Harun duduk.
Lama sekali.
Kemudian ia menangis.
Bukan karena kehilangan.
Tetapi karena baru sadar:
Semakin tinggi singgasananya, semakin sedikit orang yang berani mengatakan kebenaran kepadanya.
Keesokan paginya Harun memanggil utusan yang kemarin ia usir.
Ia berkata:
“Aku salah.”
Seluruh pejabat terkejut.
Raja jarang mengucapkan dua kata itu.
Utusan menunduk.
Harun melanjutkan:
“Kirim bantuan sekarang. Tidak perlu upacara.”
Seorang pejabat berkata:
“Tapi Paduka, rakyat harus tahu bahwa bantuan berasal dari istana.”
Harun menjawab:
“Kalau orang yang kelaparan harus menunggu namaku dipasang pada karung makanan, berarti yang sedang kuberi makan sebenarnya bukan mereka, tetapi kesombonganku.”
Ruangan menjadi hening.
Hari itu bantuan berangkat.
Tanpa musik.
Tanpa pidato panjang.
Tanpa lambang besar.
Hanya gerobak, air, obat, makanan, dan orang-orang yang bekerja.
Beberapa minggu kemudian Harun mengubah satu aturan istana.
Ia memerintahkan agar setiap rapat selalu ada satu orang yang tugasnya khusus:
menyampaikan keberatan.
Para pejabat bingung.
Harun berkata:
“Aku tidak membutuhkan orang yang selalu membenarkanku. Aku membutuhkan orang yang membantu mencegahku salah.”
Ia juga membuat kebiasaan baru.
Sekali dalam sepekan ia melepas pakaian kerajaan dan berjalan ke pasar dengan pakaian sederhana.
Tidak untuk menyamar secara dramatis.
Tetapi untuk mendengar percakapan tanpa semua orang takut.
Di sana ia mengetahui hal-hal yang tidak pernah sampai ke ruang singgasana.
Harga pangan.
Jalan rusak.
Petugas yang kasar.
Petani yang kesulitan.
Ia mulai mengerti:
semakin jauh seorang pemimpin dari kehidupan orang biasa, semakin mudah ia menganggap laporannya sebagai kenyataan.
Tahun-tahun berlalu.
Harun menjadi raja yang lebih tenang.
Ia masih memakai mahkota ketika tugas mengharuskan.
Ia masih duduk di singgasana.
Tetapi kini ia tidak lagi mengira mahkota membuat dirinya lebih berharga sebagai manusia.
Suatu hari putranya bertanya:
“Ayah, mengapa ada pintu kecil di belakang singgasana?”
Harun tersenyum.
“Karena setiap orang yang duduk terlalu lama di tempat tinggi perlu memiliki jalan untuk kembali menjadi kecil.”
Putranya tertawa.
“Apa maksudnya?”
Harun menjawab:
“Singgasana mengajar kita bagaimana memimpin orang lain. Pintu kecil mengajar kita bagaimana memimpin diri sendiri.”
꧁ PIWULANG QISAH KESEPULUH ꧂
Semakin tinggi amanah seseorang, semakin besar bahaya ia hanya mendengar suara yang menyenangkan.
Guru dapat dikelilingi murid yang takut mengoreksi.
Pemimpin dapat dikelilingi bawahan yang hanya mengatakan “ya”.
Orang kaya dapat dikelilingi orang yang memuji karena membutuhkan sesuatu.
Tokoh dapat dikelilingi pengikut yang menganggap semua perkataannya pasti benar.
Di sinilah manusia membutuhkan pintu kecil.
Pintu kecil adalah pralambang ruang untuk:
mengoreksi diri,
mendengar kritik,
mengaku salah,
dan kembali mengingat bahwa manusia tetap manusia.
꧁ RAHASIA MAHKOTA YANG TERSANGKUT ꧂
Mahkota Harun tersangkut karena ada beban tertentu yang tidak dapat dibawa masuk ke ruang kejujuran.
Bukan berarti jabatan buruk.
Bukan berarti kekuasaan harus dibuang.
Yang harus dilepas adalah anggapan:
“Karena aku memiliki jabatan, maka aku pasti lebih benar.”
Gelar tidak menjadikan kesalahan berubah menjadi kebenaran.
Jumlah pengikut tidak mengubah kebohongan menjadi kenyataan.
Banyaknya orang yang setuju tidak selalu menjadi bukti bahwa sebuah keputusan benar.
Karena itu, ketika memasuki ruang muhasabah, lepaskan dahulu mahkota di dalam hati.
꧁ EMPAT TANDA SINGGASANA MULAI MENUTUP HATI ꧂
Waspadalah apabila:
Pertama: engkau marah setiap kali dikoreksi.
Kedua: hanya senang kepada orang yang selalu menyetujui.
Ketiga: lebih takut kehilangan wibawa daripada memperbaiki kesalahan.
Keempat: mulai menganggap pelayanan orang lain sebagai hak pribadi, bukan bagian amanah.
Jika tanda-tanda itu muncul, carilah pintu kecil.
Bukan pintu untuk melarikan diri.
Tetapi pintu untuk kembali jernih.
꧁ SANDHI LANGIT KESEPULUH ꧂
“Sing lungguh ing dhuwur kudu luwih kerep ndeleng ngisor, dudu supaya rumangsa luwih gedhe, nanging supaya ora lali sapa kang dititipi.”
Artinya:
Orang yang duduk di tempat tinggi harus lebih sering melihat ke bawah, bukan agar merasa lebih besar, tetapi agar tidak lupa kepada siapa amanah itu ditujukan.
Dan:
“Makutha iku kanggo sirah, dudu kanggo nutupi kuping saka pitutur.”
Mahkota dipakai di kepala, bukan untuk menutup telinga dari nasihat.
꧁ RAHASIA ORANG YANG BERANI BERKATA “AKU SALAH” ꧂
Banyak orang mengira kalimat:
“Aku salah.”
akan mengecilkan kewibawaan.
Padahal kadang justru sebaliknya.
Orang sulit mempercayai pemimpin yang berpura-pura tidak pernah salah.
Manusia tahu bahwa manusia dapat keliru.
Yang memberi kepercayaan bukan ketidaksempurnaan yang disembunyikan.
Melainkan kesediaan memperbaikinya.
Mengaku salah bukan berarti kehilangan kehormatan.
Jika dilakukan dengan jujur, itu adalah bentuk keberanian.
꧁ PINTU KECIL DALAM DIRI ꧂
Setiap orang perlu mempunyai pintu kecil.
Bukan hanya raja.
Ketika marah kepada pasangan, masuklah ke pintu kecil dan bertanya:
“Apakah aku benar-benar ingin menyelesaikan masalah, atau hanya ingin menang?”
Ketika menegur anak:
“Apakah aku sedang mendidik, atau melampiaskan emosi?”
Ketika memberi nasihat:
“Apakah aku ingin membantu, atau ingin terlihat paling tahu?”
Ketika beribadah:
“Apakah ini mendekatkanku kepada Alloh, atau membuatku merasa lebih suci daripada orang lain?”
Pintu kecil itu bernama:
muhasabah.
꧁ PENUTUP QISAH KESEPULUH ꧂
Jangan takut memperoleh amanah besar.
Tetapi semakin besar amanah, semakin kuat pula kebutuhan untuk merendahkan hati.
Jika suatu hari engkau dipercaya menjadi pemimpin, jangan hanya membangun singgasana.
Bangunlah juga pintu kecil.
Miliki orang yang berani mengoreksimu.
Dengarkan orang yang hidupnya terdampak oleh keputusanmu.
Jangan hukum pembawa kabar hanya karena kabarnya tidak menyenangkan.
Dan bila engkau salah, jangan habiskan tenaga untuk membuktikan bahwa engkau tidak mungkin salah.
Gunakan tenaga itu untuk memperbaiki.
Sebab kehormatan tidak selalu tumbuh karena manusia tidak pernah jatuh.
Kadang kehormatan justru tumbuh karena setelah jatuh, ia berani berkata:
“Aku salah. Mari kita perbaiki.”
Harun tetap menjadi raja.
Namun sejak menemukan pintu kecil, ia memahami sesuatu yang lebih tinggi daripada singgasana:
kekuasaan atas orang lain tidak akan banyak berarti jika manusia tidak mampu menguasai kesombongan dirinya sendiri.
Dan pada akhir hidupnya, ketika mahkota diserahkan kepada putranya, Harun hanya memberikan satu pesan:
“Jangan biarkan semua pintu istana menjadi besar. Sisakan satu pintu yang memaksamu menunduk.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة العاشرة
KHATAM QISAH KESEPULUH
“Singgasana bisa nggawe awakmu katon dhuwur. Nanging mung andhap asor kang bisa njaga atimu supaya ora tiba luwih jero.”
Singgasana dapat membuat seseorang terlihat tinggi. Namun hanya kerendahan hati yang dapat menjaga hatinya agar tidak jatuh lebih dalam.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KESEBELAS
“CERMIN DI DASAR DANAU”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah lembah yang sangat sunyi, terdapat sebuah danau yang terkenal karena kejernihannya.
Airnya begitu bening hingga batu-batu kecil di dasar dapat terlihat dari tepi.
Namun orang-orang datang ke sana bukan hanya untuk melihat air.
Di dasar danau konon terdapat sebuah cermin tua.
Tidak ada yang mengetahui siapa yang meletakkannya.
Tidak ada yang tahu sejak kapan ia berada di sana.
Yang dipercaya orang hanyalah satu:
cermin itu tidak menunjukkan wajah luar manusia, tetapi memperlihatkan apa yang paling sering ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Karena itulah banyak orang ingin melihatnya.
Namun banyak pula yang takut.
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Faris.
Faris dikenal baik.
Ia rajin membantu.
Pandai berbicara.
Disukai banyak orang.
Jika ada orang bertanya tentang dirinya, hampir semua akan berkata:
“Faris orang baik.”
Faris sendiri juga percaya bahwa dirinya baik.
Ia berkata dalam hati:
“Aku tidak punya banyak hal yang perlu diperbaiki.”
Namun ia penasaran dengan cermin danau.
Maka ia pergi.
Di tepi danau duduk seorang penjaga tua bernama Luqman.
Faris bertanya:
“Benarkah ada cermin di dasar?”
Luqman menjawab:
“Ada.”
“Apakah semua orang boleh melihatnya?”
“Boleh.”
“Bagaimana caranya?”
Luqman menunjuk air.
“Menyelamlah.”
Faris tertawa.
“Hanya itu?”
“Hanya itu.”
Faris melepas sandalnya.
Masuk ke air.
Ia menyelam.
Namun baru beberapa depa, air menjadi keruh.
Ia naik lagi.
“Kenapa tiba-tiba keruh?”
Luqman bertanya:
“Bagaimana cara engkau menyelam?”
Faris menjawab:
“Seperti biasa.”
Luqman berkata:
“Engkau menendang dasar terlalu keras.”
Faris menyelam lagi.
Kali ini ia mencoba lebih pelan.
Namun semakin dekat ke dasar, semakin ia gelisah.
Tangannya menyentuh lumpur.
Air kembali keruh.
Ia naik.
“Sulit sekali.”
Luqman berkata:
“Danau ini tidak sulit. Engkau yang terlalu tergesa ingin melihat.”
Faris sedikit tersinggung.
Ia berkata:
“Aku hanya ingin cepat tahu.”
Luqman menjawab:
“Orang yang terlalu cepat ingin mengetahui isi dirinya sering kali justru mengaduk lumpur yang membuat semuanya semakin tidak jelas.”
Faris duduk.
Menunggu air tenang.
Satu jam.
Dua jam.
Kemudian Luqman berkata:
“Sekarang masuklah, tetapi jangan mengejar cermin.”
Faris bingung.
“Bukankah tujuanku cermin?”
“Benar. Tetapi jangan kejar bayanganmu sendiri.”
Faris masuk lagi.
Kali ini perlahan.
Tidak menendang dasar.
Tidak meraih apa pun.
Ketika sampai dekat dasar, ia melihat benda berkilau.
Cermin.
Ia mendekat.
Awalnya yang terlihat adalah wajahnya.
Lalu gambar berubah.
Ia melihat dirinya sedang membantu orang miskin.
Faris tersenyum.
“Benar. Aku memang sering membantu.”
Namun gambar berganti.
Ia melihat dirinya setelah memberi bantuan.
Ia melihat dirinya kecewa karena tidak ada yang memuji.
Faris terdiam.
Gambar berikutnya muncul.
Ia melihat dirinya menasihati seorang teman.
Nasihatnya benar.
Tetapi setelah temannya pergi, Faris berkata dalam hati:
“Untung aku lebih paham daripada dia.”
Wajah Faris berubah.
Gambar terus berjalan.
Ia melihat dirinya memaafkan seseorang.
Tetapi selama bertahun-tahun ia masih menceritakan kesalahan orang itu kepada orang lain.
Ia melihat dirinya diam ketika sedang marah.
Namun diamnya bukan karena sabar.
Ia diam agar orang lain merasa bersalah.
Ia melihat dirinya memberikan hadiah.
Namun diam-diam berharap orang itu menjadi lebih tunduk kepadanya.
Faris ingin berpaling.
Tetapi cermin terus menunjukkan.
Ia mulai marah.
“Ini tidak adil!”
Air berguncang.
Cermin menjadi kabur.
Faris naik dengan tergesa.
Begitu sampai di tepi, ia berkata kepada Luqman:
“Cermin itu bohong!”
Luqman tidak membantah.
Ia hanya bertanya:
“Apa yang kau lihat?”
Faris tidak menjawab.
Luqman berkata:
“Kalau cermin menunjukkan wajahmu dan engkau tidak menyukainya, apakah memecahkan cermin akan mengubah wajahmu?”
Faris terdiam.
“Aku bukan orang seperti itu.”
Luqman menjawab:
“Mungkin tidak seluruhnya.”
Faris menoleh.
Luqman melanjutkan:
“Cermin tidak berkata bahwa dirimu hanya buruk. Ia hanya menunjukkan bagian yang tidak ingin kau lihat.”
Faris bertanya:
“Kalau begitu apa gunanya?”
“Supaya engkau dapat memperbaiki sesuatu sebelum ia tumbuh lebih besar.”
Faris duduk lama.
Ia mulai memahami.
Selama ini ia lebih mudah melihat kesalahan orang lain.
Ketika orang sombong, ia cepat tahu.
Ketika orang haus pujian, ia cepat menilai.
Ketika orang bermuka dua, ia cepat mengkritik.
Tetapi ketika sifat-sifat kecil itu muncul dalam dirinya, ia memiliki banyak alasan.
“Aku kan cuma ingin dihargai.”
“Aku cuma tegas.”
“Aku cuma jujur.”
“Aku cuma ingin dia belajar.”
Hari itu Faris tidak kembali menyelam.
Ia pulang.
Namun cermin danau terus mengikuti pikirannya.
Beberapa hari kemudian seorang sahabat datang meminta bantuan.
Faris menolong.
Setelah itu muncul keinginan kecil:
“Semoga dia tahu siapa yang paling berjasa.”
Faris langsung teringat cermin.
Ia berkata kepada dirinya:
“Ini dia.”
Untuk pertama kalinya ia tidak langsung membenarkan dirinya sendiri.
Ia memeriksa.
Lalu berkata:
“Yā Alloh, luruskan niatku.”
Hari berikutnya ia menasihati adiknya.
Ketika adiknya membantah, Faris merasa marah.
Ia hampir berkata:
“Kau memang tidak pernah mau dengar.”
Namun teringat cermin.
Ia berhenti.
Ia berkata:
“Aku mungkin benar dalam isi nasihat, tetapi caraku mulai salah.”
Perlahan-lahan sesuatu berubah.
Faris tidak menjadi manusia sempurna.
Ia masih marah.
Masih memiliki ego.
Masih kadang iri.
Masih pernah ingin dipuji.
Namun sekarang ia lebih cepat mengenali.
Dan karena dikenali, sifat-sifat itu tidak selalu sempat menguasainya.
Setahun kemudian Faris kembali ke danau.
Luqman masih ada.
“Sudah siap melihat cermin lagi?”
Faris tersenyum.
“Kali ini aku lebih takut.”
Luqman tertawa.
“Itu tanda yang lebih baik daripada terlalu yakin.”
Faris menyelam.
Air tenang.
Ia sampai ke dasar.
Cermin kembali menunjukkan banyak gambar.
Masih ada kekurangan.
Masih ada kesalahan.
Namun ada pula sesuatu yang baru.
Ia melihat dirinya mengaku salah.
Ia melihat dirinya menahan satu ucapan kasar.
Ia melihat dirinya membantu seseorang tanpa menceritakannya.
Ia melihat dirinya membatalkan niat membalas dendam.
Faris menangis di dalam air.
Ketika naik, Luqman bertanya:
“Apa yang berubah?”
Faris menjawab:
“Cerminnya masih sama.”
“Lalu?”
“Aku yang mulai berani melihat.”
Luqman mengangguk.
Kemudian berkata:
“Orang yang mengenal dirinya bukan orang yang hanya tahu kelebihannya. Ia juga berani menyentuh bagian yang membuatnya malu, lalu membawanya kepada Alloh untuk diperbaiki.”
꧁ PIWULANG QISAH KESEBELAS ꧂
Muhasabah bukan pekerjaan mencari-cari keburukan diri sampai membenci diri.
Muhasabah adalah keberanian melihat diri dengan jujur.
Ada orang yang hanya melihat kekurangan lalu putus asa.
Ada pula yang hanya melihat kelebihan lalu sombong.
Keduanya kehilangan keseimbangan.
Yang lebih sehat adalah berkata:
“Di dalam diriku ada kebaikan yang harus disyukuri, dan ada kekurangan yang harus diperbaiki.”
Jangan menganggap setiap kritik sebagai penghinaan.
Namun jangan pula menelan semua kritik tanpa menimbang.
Ambil yang benar.
Tinggalkan yang tidak benar.
Dan bila sebuah teguran terasa sangat menyakitkan, tanyakan:
“Apakah aku sakit karena teguran itu salah, atau karena ia menyentuh sesuatu yang memang belum ingin kuakui?”
꧁ RAHASIA AIR YANG KERUH ꧂
Mengapa air menjadi keruh ketika Faris tergesa-gesa?
Karena hati juga begitu.
Ketika marah, takut, iri, atau sangat ingin membenarkan diri, penilaian mudah menjadi keruh.
Karena itu tidak semua keputusan baik dibuat saat emosi sedang tinggi.
Diam sejenak.
Berwudhu.
Berjalan.
Tidur dahulu jika perlu.
Berdoa.
Berikan jarak antara rasa dan keputusan.
Sebab air yang dibiarkan tenang akan mulai memperlihatkan apa yang sebelumnya tertutup lumpur.
꧁ RAHASIA CERMIN ꧂
Cermin tidak menambah noda pada wajah.
Ia hanya menunjukkan.
Begitu pula orang yang memberi nasihat.
Kadang kita marah kepada orang yang menunjukkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada.
Tetapi tentu tidak semua orang yang mengkritik benar.
Karena itu timbang dengan ilmu dan kejujuran.
Namun jika beberapa orang yang terpercaya mengingatkan hal yang sama, jangan terlalu cepat menganggap seluruh dunia sedang salah.
Mungkin ada sesuatu yang memang perlu dilihat.
꧁ EMPAT PERTANYAAN CERMIN BATIN ꧂
Sebelum tidur, sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
Pertama:
Apa yang hari ini kulakukan dengan baik dan patut kusyukuri?
Kedua:
Siapa yang hari ini mungkin terluka karena ucapan atau perbuatanku?
Ketiga:
Apakah ada amal baik yang diam-diam kujadikan jalan mencari pujian?
Keempat:
Apa satu perkara yang bisa kuperbaiki esok hari?
Tidak perlu seratus.
Satu pun cukup.
Sebab perubahan besar sering tumbuh dari perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.
꧁ SANDHI LANGIT KESEBELAS ꧂
“Cermin ora nggawe rai dadi ala. Cermin mung nuduhake apa kang wis ana.”
Artinya:
Cermin tidak membuat wajah menjadi buruk. Cermin hanya menunjukkan apa yang telah ada.
Dan:
“Wani ndeleng pepetenging awake dhewe luwih utama tinimbang sibuk nggoleki petenge wong liya.”
Berani melihat kegelapan dalam diri sendiri lebih utama daripada sibuk mencari gelapnya orang lain.
꧁ RAHASIA ORANG YANG TERLALU SUCI DI MATANYA SENDIRI ꧂
Salah satu bahaya terbesar adalah ketika seseorang mulai berpikir:
“Aku pasti berada di pihak benar karena aku merasa niatku baik.”
Niat baik penting.
Tetapi niat baik tidak selalu membuat semua cara menjadi benar.
Seseorang dapat ingin membimbing tetapi menjadi kasar.
Ingin menjaga tetapi berubah menguasai.
Ingin membela kebenaran tetapi kehilangan adab.
Ingin menolong tetapi diam-diam membangun ketergantungan.
Karena itu niat perlu ditemani ilmu, akhlak, dan muhasabah.
꧁ PENUTUP QISAH KESEBELAS ꧂
Jika engkau ingin mengetahui seberapa jauh perjalanan batinmu, jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak ilmu yang kutahu?”
“Berapa banyak orang yang mengenalku?”
“Berapa banyak pengalaman yang pernah kurasakan?”
Tanyakan pula:
“Apakah aku lebih mudah mengaku salah?”
“Apakah lisanku lebih terjaga?”
“Apakah aku semakin sulit merendahkan orang?”
“Apakah aku lebih jujur terhadap niat sendiri?”
“Apakah ketika dipuji aku masih ingat bahwa semua kebaikan adalah karunia Alloh?”
Cermin di dasar danau tidak pernah menjadikan Faris sempurna.
Ia memberinya sesuatu yang lebih penting:
kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Dan manusia yang terus memperbaiki dirinya mungkin lebih selamat daripada orang yang sudah terlalu yakin bahwa dirinya tidak lagi perlu diperbaiki.
Jangan takut melihat kekuranganmu.
Tetapi jangan berhenti pada rasa malu.
Bawalah kekurangan itu kepada taubat.
Bawalah kepada doa.
Bawalah kepada latihan.
Bawalah kepada perubahan.
Sebab cermin diberikan bukan agar manusia berdiri selamanya memandangi noda.
Cermin diberikan agar setelah melihat noda,
manusia tahu bagian mana yang perlu dibersihkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الحادية عشرة
KHATAM QISAH KESEBELAS
“Sing wani ndeleng awake dhewe kanthi jujur, wis miwiti dalan dawa kanggo dadi luwih bening.”
Orang yang berani melihat dirinya sendiri dengan jujur telah memulai perjalanan panjang menuju kejernihan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA BELAS
“KAPAL YANG BERLAYAR TANPA MEMBAWA PELABUHAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di tepi sebuah lautan yang sangat luas, berdirilah sebuah pelabuhan tua.
Pelabuhan itu menjadi tempat berangkatnya banyak kapal.
Ada kapal dagang.
Ada kapal pencari ilmu.
Ada kapal pembawa keluarga.
Ada pula kapal kecil yang hanya membawa satu orang.
Setiap kapal mempunyai tujuan berbeda.
Namun di antara semuanya terdapat satu kapal tua bernama Sakinah.
Kapal itu tidak besar.
Layarnya pun tidak semegah kapal kerajaan.
Tetapi ia terkenal karena satu hal:
ia selalu mampu kembali dari badai.
Nakhodanya bernama Idris.
Idris sudah puluhan tahun mengarungi laut.
Ia mengetahui arah angin.
Mengenali perubahan warna langit.
Memahami gelombang.
Namun ada satu kalimat yang selalu ia ajarkan kepada para pelaut muda:
“Jangan membawa pelabuhan ke atas kapal.”
Orang-orang sering tertawa.
“Apa maksudnya?”
Idris menjawab:
“Pelabuhan adalah tempat berangkat dan pulang. Tetapi kapal diciptakan untuk bergerak.”
Para pelaut tidak terlalu memahami.
Sampai suatu hari datang seorang pemuda bernama Naim.
Naim baru pertama kali ikut berlayar.
Ia sangat takut meninggalkan daratan.
Sebelum kapal berangkat, ia memeriksa semuanya berulang kali.
Tali.
Bekal.
Air.
Kompas.
Peta.
Pakaian.
Semua diperiksa.
Idris berkata:
“Cukup.”
Naim menjawab:
“Bagaimana kalau ada yang tertinggal?”
Idris bertanya:
“Apakah semua yang ada di pelabuhan ingin kau bawa?”
Naim menjawab:
“Kalau bisa.”
Idris tertawa.
“Kalau begitu kapalnya akan tenggelam sebelum berangkat.”
Akhirnya kapal meninggalkan pelabuhan.
Hari pertama laut tenang.
Naim mulai menikmati perjalanan.
Ia melihat burung laut.
Ikan melompat.
Langit luas.
Namun pada hari ketiga, daratan sudah tidak terlihat.
Naim mulai gelisah.
Ia bertanya:
“Nakhoda, pelabuhan masih ada, kan?”
Idris menjawab:
“Ada.”
“Bagaimana kalau hilang?”
“Pelabuhan tidak hilang hanya karena tidak terlihat.”
Naim terdiam.
Malam berikutnya badai datang.
Angin sangat kencang.
Gelombang menghantam lambung kapal.
Para pelaut bekerja keras.
Naim panik.
Ia berteriak:
“Kita kembali saja!”
Idris menjawab:
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Angin terlalu kuat. Memaksa kembali justru lebih berbahaya.”
Naim berkata:
“Tapi pelabuhan aman!”
Idris menjawab:
“Benar. Namun keamanan yang berada jauh di belakang tidak selalu dapat dipakai untuk menyelesaikan badai yang sedang berada di depan.”
Mereka terus berlayar.
Satu layar robek.
Beberapa peti terlepas.
Air masuk ke geladak.
Idris memerintahkan:
“Buang barang yang tidak perlu!”
Naim terkejut.
“Barang-barang itu mahal!”
Idris berkata:
“Kalau semuanya dipertahankan, kapal tenggelam.”
Para pelaut mulai membuang muatan.
Peti.
Kayu.
Peralatan berlebih.
Naim memeluk sebuah peti miliknya.
Di dalamnya ada pakaian terbaik, benda kenangan, dan berbagai barang yang ia anggap penting.
Idris berkata:
“Buang.”
Naim menggeleng.
“Ini milikku.”
“Jika kau tetap menyimpannya, kapal terlalu berat.”
“Tapi benda-benda ini berharga.”
Idris menjawab:
“Tidak semua yang berharga harus dibawa melewati setiap badai.”
Naim menangis.
Ia membuka petinya.
Mengambil satu kain kecil milik ibunya.
Sisanya ia lemparkan ke laut.
Kapal terasa lebih ringan.
Badai terus mengamuk.
Namun perlahan mereka melewatinya.
Pagi berikutnya laut menjadi tenang.
Naim duduk menatap laut.
Ia masih sedih karena kehilangan barang-barangnya.
Idris duduk di sampingnya.
“Masih memikirkannya?”
Naim mengangguk.
Idris berkata:
“Wajar.”
“Kenapa hidup memaksa kita kehilangan sesuatu?”
Idris menjawab:
“Hidup tidak selalu memaksa kehilangan. Tetapi kadang perjalanan membuat kita tahu mana yang harus tetap dibawa dan mana yang harus dilepas.”
Naim bertanya:
“Bagaimana cara membedakannya?”
Idris menunjuk kain kecil di tangan Naim.
“Kenapa kau memilih itu?”
“Karena ini pemberian ibu.”
“Apakah ibumu ada di dalam kain itu?”
“Tidak.”
“Kalau kain ini hilang, apakah kasih ibumu juga hilang?”
Naim terdiam.
Idris berkata:
“Kadang manusia terlalu lama menyamakan sesuatu dengan maknanya.”
“Rumah dengan rasa aman.”
“Benda dengan kenangan.”
“Jabatan dengan harga diri.”
“Orang tertentu dengan seluruh masa depan.”
“Padahal makna bisa tetap hidup meskipun bentuknya berubah.”
Perjalanan dilanjutkan.
Beberapa hari kemudian mereka sampai di sebuah pulau.
Penduduk pulau sedang mengalami kekurangan pangan.
Idris membuka sebagian muatan kapal untuk dibagikan.
Naim berkata:
“Bukankah kita membutuhkan bekal itu?”
Idris menjawab:
“Kita membutuhkan. Tetapi mereka lebih membutuhkan.”
Naim mulai memahami bahwa kapal bukan hanya tempat menjaga milik sendiri.
Ia juga bisa menjadi sarana membawa manfaat.
Setelah beristirahat beberapa hari, mereka kembali berlayar.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu sebuah kapal kecil yang rusak.
Penumpangnya berteriak meminta pertolongan.
Seorang pelaut berkata:
“Kalau kita menolong, perjalanan kita akan terlambat.”
Idris menjawab:
“Tujuan bukan alasan untuk membiarkan orang tenggelam.”
Mereka menolong.
Penumpang kapal kecil dinaikkan.
Perjalanan menjadi lebih lambat.
Namun semua selamat.
Naim bertanya:
“Nakhoda, apakah kita tidak takut kehilangan waktu?”
Idris berkata:
“Waktu memang berharga. Tetapi waktu yang dipakai untuk menyelamatkan manusia tidak selalu dapat disebut hilang.”
Akhirnya setelah berminggu-minggu, pelabuhan tujuan terlihat.
Semua orang bersorak.
Namun Naim justru merasa aneh.
Ia telah begitu lama merindukan daratan.
Sekarang ketika melihatnya, ia menyadari dirinya sudah berubah.
Di pelabuhan baru, orang-orang bertanya:
“Apa yang kau bawa dari perjalanan?”
Naim memeriksa barangnya.
Tidak banyak.
Sebagian hilang.
Sebagian dibagikan.
Sebagian rusak.
Ia hampir menjawab:
“Aku tidak membawa apa-apa.”
Tetapi Idris berkata:
“Periksa lagi.”
Naim berpikir.
Ia membawa pengalaman.
Keberanian.
Kemampuan menghadapi takut.
Pelajaran tentang melepaskan.
Pelajaran tentang menolong.
Pelajaran tentang tidak memaksa pulang ketika angin sedang menutup jalan.
Ia tersenyum.
“Aku membawa sesuatu yang tidak muat dalam peti.”
Idris mengangguk.
Beberapa tahun kemudian Naim menjadi nakhoda.
Suatu hari seorang pelaut muda bertanya:
“Guru, apa nasihat pertama untuk perjalanan jauh?”
Naim menjawab:
“Jangan membawa pelabuhan ke atas kapal.”
Pelaut muda tertawa.
Naim melanjutkan:
“Pelabuhan memberimu tempat untuk memulai. Tetapi kalau kau ingin kapal tetap berada seperti di pelabuhan—tanpa guncangan, tanpa perubahan, tanpa risiko—maka lebih baik jangan berlayar.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA BELAS ꧂
Hidup adalah perjalanan.
Manusia memerlukan pelabuhan:
keluarga,
rumah,
nilai,
doa,
keyakinan,
orang-orang yang dipercaya.
Tetapi jangan salah memahami pelabuhan.
Pelabuhan bukan tempat untuk menghindari seluruh perubahan.
Ia adalah tempat menguatkan diri agar mampu menghadapi perjalanan.
Ada orang yang terlalu takut berubah karena ingin semua tetap seperti dahulu.
Ia ingin anak tidak tumbuh.
Ingin hubungan tidak berubah.
Ingin pekerjaan selalu sama.
Ingin keadaan selalu terkendali.
Padahal sebagian perubahan adalah bagian kehidupan.
Yang perlu dijaga bukan agar segala sesuatu tidak berubah.
Yang perlu dijaga adalah arah dan nilai ketika perubahan datang.
꧁ RAHASIA MUATAN YANG DIBUANG ꧂
Mengapa kapal harus membuang muatan?
Karena manusia juga sering membawa terlalu banyak hal:
dendam lama,
rasa bersalah,
ambisi yang sudah tidak sehat,
kebiasaan yang merusak,
hubungan yang hanya memenjarakan,
keinginan untuk selalu terlihat benar,
dan kenangan yang terus dijadikan alasan untuk tidak melangkah.
Tidak semua harus dibuang.
Ada kenangan yang menjadi pelajaran.
Ada luka yang perlu dirawat.
Ada tanggung jawab yang memang harus diselesaikan.
Tetapi ada pula beban yang hanya dipertahankan karena manusia takut mengakui bahwa musimnya telah selesai.
Maka bertanyalah:
“Apakah ini masih bekal, atau sudah menjadi beban?”
꧁ RAHASIA PELABUHAN YANG TIDAK TERLIHAT ꧂
Ketika Naim berada jauh di laut, pelabuhan tidak terlihat.
Namun itu tidak berarti pelabuhan hilang.
Begitu pula dalam hidup.
Kadang manusia melewati masa ketika rasa tenang tidak terasa.
Doa terasa sunyi.
Jalan terasa asing.
Orang yang biasanya membantu tidak ada.
Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua kebaikan telah meninggalkanmu.
Tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Pada saat seperti itu, gunakan apa yang masih engkau miliki:
akal,
doa,
pengalaman,
orang terpercaya,
dan keberanian untuk menjalani hari satu demi satu.
꧁ RAHASIA BADAI ꧂
Badai tidak selalu datang untuk menghancurkan.
Kadang badai memperlihatkan bagian kapal yang perlu diperbaiki.
Dalam kehidupan, kesulitan dapat memperlihatkan:
siapa yang benar-benar setia,
kebiasaan mana yang rapuh,
keuangan mana yang perlu ditata,
hubungan mana yang membutuhkan kejujuran,
dan bagian diri mana yang belum matang.
Bukan berarti manusia harus mencari badai.
Tetapi jika badai datang, jangan pulang darinya dengan tangan kosong.
Bawalah pelajarannya.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA BELAS ꧂
“Prahu digawe kanggo lumaku, dudu kanggo nggendhong pelabuhan.”
Artinya:
Kapal dibuat untuk berlayar, bukan untuk memikul pelabuhan.
Dan:
“Ora kabeh kang tau kok gawa kudu kok gawa nganti tekan pungkasan.”
Tidak semua yang pernah engkau bawa harus dibawa sampai akhir perjalanan.
꧁ TIGA PEGANGAN PELAUT BATIN ꧂
Pertama — Jagalah arah.
Ketika keadaan berubah, jangan mudah kehilangan nilai yang menjadi pegangan.
Kedua — Ringankan muatan.
Jika ada sesuatu yang jelas merusak perjalanan, beranilah memperbaiki atau melepaskannya.
Ketiga — Jangan lewatkan manusia demi tujuan.
Kesuksesan tidak layak dibangun dengan membiarkan orang lain tenggelam hanya agar perjalanan kita lebih cepat.
꧁ RAHASIA TIDAK MEMAKSA KEMBALI ꧂
Ada waktu ketika manusia ingin kembali ke masa sebelum masalah muncul.
Ia berkata:
“Aku ingin semuanya seperti dulu.”
Namun tidak semua keadaan dapat dikembalikan.
Anak tumbuh.
Orang menua.
Hubungan berubah.
Tempat berganti.
Kesempatan berlalu.
Kadang jalan terbaik bukan memaksa kembali.
Melainkan bertanya:
“Dengan keadaan yang sekarang, bagaimana aku menjalani hidup ini secara benar?”
Ini bukan menyerah.
Ini adalah menerima kenyataan agar tenaga tidak habis melawan sesuatu yang memang sudah berubah.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA BELAS ꧂
Jika suatu hari kehidupan membawamu jauh dari keadaan yang pernah engkau kenal, jangan langsung menganggap dirimu tersesat.
Periksa arah.
Periksa kompas batin.
Periksa niat.
Jika memang salah arah, kembalilah.
Tetapi jika jalan itu memang bagian dari pertumbuhan, jangan selalu memaksa kembali hanya karena masa lalu terasa lebih akrab.
Belajarlah seperti kapal.
Ia mencintai pelabuhan.
Tetapi tidak meminta laut berubah menjadi daratan.
Ia menerima bahwa perjalanan mempunyai gelombang.
Ada cuaca terang.
Ada badai.
Ada kehilangan.
Ada pertemuan.
Ada benda yang harus dibuang.
Ada manusia yang harus ditolong.
Dan ada saatnya kembali.
Yang terpenting bukan berapa banyak barang yang tiba bersama kita.
Tetapi menjadi manusia seperti apa kita setelah perjalanan itu selesai.
Sebab orang dapat meninggalkan rumah dengan peti penuh, lalu kembali dengan peti kosong tetapi hati jauh lebih kaya.
Atau sebaliknya:
pulang membawa banyak harta, tetapi kehilangan dirinya sendiri di tengah perjalanan.
Maka ketika berlayar, jagalah satu hal:
jangan sampai tujuan membuatmu lupa kepada Alloh, kepada adab, dan kepada manusia yang ditemui sepanjang jalan.
Dan jika badai membuatmu harus melepaskan sesuatu, jangan selalu melihat tangan yang kosong.
Lihat pula kapal yang masih terapung.
Napas yang masih ada.
Orang-orang yang masih bersamamu.
Dan jalan yang masih mungkin dilanjutkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثانية عشرة
KHATAM QISAH KEDUA BELAS
“Pelabuhan iku panggonan bali, nanging urip ora diwenehake supaya manungsa mung wedi budhal.”
Pelabuhan adalah tempat untuk pulang, tetapi hidup tidak diberikan agar manusia hanya takut untuk berangkat.
“Gawanen nilai, aja nggawa kabeh beban. Gawanen arah, aja maksa kabeh dalan padha kaya biyen.”
Bawalah nilai, jangan membawa seluruh beban. Bawalah arah, jangan memaksa semua jalan tetap seperti dahulu.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGABELAS
“ANAK TANGGA YANG HILANG DI UJUNG MENARA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota tua yang dikelilingi padang luas, berdirilah sebuah menara tinggi.
Menara itu begitu tinggi sehingga puncaknya sering tersembunyi oleh awan.
Konon siapa pun yang berhasil mencapai puncak dapat melihat seluruh kota, seluruh lembah, bahkan garis laut yang sangat jauh.
Maka banyak orang berlomba menaikinya.
Di bagian bawah menara terdapat sebuah tulisan:
“Naiklah setinggi mungkin, tetapi jangan lupa mengapa engkau mulai mendaki.”
Orang-orang membaca tulisan itu.
Namun tidak semuanya memahami.
Di kota tersebut hidup seorang pemuda bernama Rafiq.
Sejak kecil ia selalu memandang menara itu.
Ia berkata:
“Suatu hari aku akan sampai paling atas.”
Ayahnya bertanya:
“Untuk apa?”
Rafiq menjawab:
“Agar semua orang tahu bahwa aku mampu.”
Ayahnya tersenyum.
“Kalau hanya itu alasannya, mungkin puncak akan terasa lebih sempit daripada yang kau bayangkan.”
Rafiq tidak mengerti.
Ketika cukup umur, ia mulai mendaki.
Tangga pertama mudah.
Tangga kedua juga.
Semakin tinggi, angin semakin kuat.
Beberapa orang berhenti.
Sebagian turun.
Namun Rafiq terus naik.
Ia bangga.
Setiap kali bertemu orang yang turun, ia bertanya:
“Kenapa menyerah?”
Ada yang menjawab:
“Aku sudah menemukan cukup pemandangan.”
Ada yang berkata:
“Keluargaku menungguku di bawah.”
Ada yang berkata:
“Aku sadar aku tidak perlu sampai puncak.”
Rafiq menertawakan mereka dalam hati.
“Lemah.”
Ia terus naik.
Pada tingkat kesepuluh, ia menemukan sebuah balkon.
Dari sana kota terlihat indah.
Orang-orang di bawah tampak kecil.
Rafiq merasa hebat.
Ia berteriak:
“Lihat aku!”
Suara itu terbawa angin.
Tidak ada yang menjawab.
Namun ia tetap naik.
Di tingkat kedua puluh, ia bertemu seorang lelaki tua.
Lelaki itu sedang duduk sambil mengatur napas.
Rafiq berkata:
“Apakah kau berhenti?”
Lelaki itu menjawab:
“Untuk sementara.”
“Kalau sering berhenti, kau tidak akan sampai.”
Lelaki tua bertanya:
“Apakah sampai adalah satu-satunya tujuan?”
Rafiq berkata:
“Tentu.”
Lelaki itu tersenyum.
“Kalau begitu hati-hati. Bisa jadi suatu hari kakimu sampai, tetapi hatimu tertinggal jauh di bawah.”
Rafiq mengabaikannya.
Ia naik lagi.
Tingkat tiga puluh.
Empat puluh.
Lima puluh.
Semakin tinggi, tangga semakin sempit.
Namun sesuatu mulai terjadi.
Rafiq hampir tidak lagi memperhatikan pemandangan.
Ia hanya menghitung:
“Berapa anak tangga lagi?”
Ia mulai marah jika ada orang di depannya berjalan lambat.
Ia menyuruh mereka minggir.
Ia tidak lagi menikmati perjalanan.
Ia hanya ingin menjadi yang paling cepat.
Pada tingkat enam puluh, seorang anak kecil sedang menangis.
Ibunya kelelahan.
Anak itu berkata:
“Kak, bantu kami sedikit.”
Rafiq berhenti sejenak.
Namun ia melihat dua pendaki lain melewatinya.
Ia berpikir:
“Kalau aku membantu, mereka akan lebih dulu.”
Ia berkata:
“Maaf, aku sedang buru-buru.”
Lalu ia pergi.
Beberapa tingkat kemudian hatinya terasa tidak nyaman.
Namun ia berkata:
“Nanti setelah sampai puncak aku bisa membantu banyak orang.”
Ia terus naik.
Di tingkat tujuh puluh, ia bertemu sahabat lamanya, Hasan.
Hasan berkata:
“Rafiq! Sudah lama kita tidak bertemu.”
Rafiq hanya berkata:
“Kita bicara nanti. Aku sedang mengejar puncak.”
Hasan tertawa.
“Apakah puncak akan lari?”
Rafiq tidak menjawab.
Ia melanjutkan.
Tingkat delapan puluh.
Sembilan puluh.
Kabut mulai tebal.
Napasnya berat.
Kakinya sakit.
Tetapi ia menolak berhenti.
Ia berkata:
“Sedikit lagi.”
Akhirnya ia sampai pada tangga terakhir.
Di depannya terdapat pintu menuju puncak.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Anak tangga paling akhir tidak ada.
Ada jarak cukup lebar antara tempat ia berdiri dan pintu puncak.
Rafiq bingung.
Ia mencari ke kanan.
Tidak ada jalan.
Ke kiri.
Tidak ada.
Ia berteriak:
“Siapa yang menghilangkan tangga terakhir?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba melompat.
Terlalu jauh.
Ia hampir jatuh.
Ia duduk kelelahan.
Setelah bertahun-tahun mendaki, ia hanya terpisah satu langkah dari puncak.
Namun satu langkah itu tidak mungkin dilalui.
Ia menjadi marah.
“Tidak adil!”
Ia memukul dinding.
“Aku sudah mengorbankan semuanya!”
Terdengar suara dari atas:
“Apa yang kau korbankan?”
Rafiq menengadah.
Tidak terlihat siapa pun.
Ia berkata:
“Waktu! Tenaga! Kesempatan! Semua!”
Suara itu bertanya:
“Untuk apa?”
Rafiq menjawab:
“Agar sampai!”
“Dan setelah sampai?”
Rafiq terdiam.
Ia tidak pernah memikirkan itu.
Suara itu bertanya lagi:
“Siapa yang kau tinggalkan sepanjang jalan?”
Rafiq teringat anak kecil.
Ibunya.
Hasan.
Lelaki tua.
Orang-orang yang ia dorong agar menepi.
Ia mulai diam.
Suara itu berkata:
“Tangga terakhir tidak dibuat dari batu.”
“Lalu dari apa?”
“Dari sesuatu yang telah kau tinggalkan selama perjalanan.”
Rafiq bingung.
“Apa?”
“Kemanusiaanmu.”
Ia membeku.
Suara itu berkata:
“Turunlah.”
Rafiq terkejut.
“Turun? Setelah sejauh ini?”
“Turun.”
“Aku hampir sampai!”
“Justru karena hampir sampai, kau harus tahu apakah dirimu masih pantas masuk.”
Rafiq marah.
Namun tidak ada pilihan.
Ia mulai turun.
Langkah pertama terasa seperti kekalahan.
Tingkat sembilan puluh.
Delapan puluh.
Ia malu jika bertemu orang lain.
Tetapi semakin turun, ia mulai melihat kembali hal-hal yang dulu dilewatinya.
Di tingkat tujuh puluh, Hasan masih ada.
Hasan terkejut.
“Kau belum sampai?”
Rafiq menjawab:
“Belum.”
“Kenapa turun?”
Rafiq diam.
Kemudian berkata:
“Aku kehilangan sesuatu.”
Hasan bertanya:
“Apa?”
Rafiq menjawab:
“Aku sendiri.”
Hasan menepuk bahunya.
Mereka turun bersama beberapa tingkat.
Di tingkat enam puluh, Rafiq menemukan anak kecil dan ibunya.
Mereka masih beristirahat.
Rafiq mendekat.
“Maaf.”
Ibu itu bingung.
“Untuk apa?”
“Dulu kalian meminta bantuan, aku pergi.”
Ia membantu membawakan tas mereka.
Berjalan pelan.
Untuk pertama kali ia tidak memikirkan siapa yang lebih dulu sampai.
Di tingkat lima puluh, ia membantu seorang tua berdiri.
Di tingkat empat puluh, ia berbagi air.
Di tingkat tiga puluh, ia berhenti lama di balkon.
Ia melihat kota.
Langit.
Burung-burung.
Ia tiba-tiba berkata:
“Selama ini pemandangan ini indah. Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
Hasan menjawab:
“Karena matamu selalu berada di anak tangga berikutnya.”
Mereka tertawa.
Beberapa hari kemudian Rafiq turun sampai dasar.
Ayahnya sudah tua.
Ketika melihat anaknya kembali, ia bertanya:
“Sudah sampai puncak?”
Rafiq menjawab:
“Belum.”
Ayahnya tersenyum.
“Bagus.”
Rafiq heran.
“Bagus?”
“Sekarang mungkin engkau siap mendaki.”
Rafiq terdiam.
Beberapa bulan kemudian ia mendaki lagi.
Kali ini berbeda.
Ia masih ingin sampai.
Tetapi tidak terburu-buru.
Jika ada yang membutuhkan bantuan, ia membantu.
Jika lelah, ia istirahat.
Jika bertemu pemandangan indah, ia menikmatinya.
Jika bertemu orang yang turun, ia tidak mengejek.
Ketika sampai di tingkat sembilan puluh, ia menemukan seorang pemuda yang sangat lelah.
Pemuda itu berkata:
“Silakan duluan. Aku akan memperlambatmu.”
Rafiq menjawab:
“Puncaknya tidak ke mana-mana.”
Mereka berjalan bersama.
Akhirnya Rafiq sampai lagi ke tangga terakhir.
Tangga itu masih hilang.
Ia tidak marah.
Ia hanya berdiri.
Kemudian berkata:
“Kalau aku memang tidak boleh sampai, aku menerima.”
Tiba-tiba terdengar suara.
“Mengapa engkau masih ingin naik?”
Rafiq menjawab:
“Bukan lagi agar semua orang melihatku.”
“Lalu?”
“Aku ingin melihat lebih luas supaya aku tidak menilai dunia hanya dari tempatku berdiri.”
Hening.
Lalu sesuatu muncul.
Bukan batu.
Bukan kayu.
Sebuah pijakan tipis terbentuk dari cahaya.
Rafiq melangkah.
Ia mencapai puncak.
Di sana tidak ada singgasana.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada tulisan:
“Engkau yang terbaik.”
Hanya langit luas.
Kota terlihat kecil.
Gunung terlihat kecil.
Menara lain terlihat kecil.
Bahkan dirinya terasa kecil.
Ia akhirnya mengerti.
Puncak tidak membuatnya besar.
Puncak membuatnya menyadari betapa luas dunia dan betapa kecil dirinya di dalamnya.
Ia menangis.
Suara itu kembali berkata:
“Sekarang engkau boleh turun.”
Rafiq tersenyum.
Dulu ia akan kecewa.
Sekarang ia berkata:
“Ya.”
Ia turun.
Bukan sebagai orang yang telah mengalahkan menara.
Tetapi sebagai orang yang telah dikalahkan kesombongannya sendiri.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGABELAS ꧂
Tidak semua orang yang naik sedang tumbuh.
Tidak semua yang tinggi berarti matang.
Ada manusia yang naik dalam ilmu, tetapi turun dalam adab.
Naik dalam jabatan, tetapi turun dalam kepedulian.
Naik dalam kekayaan, tetapi turun dalam rasa syukur.
Naik dalam pengaruh, tetapi turun dalam kemampuan mendengar.
Karena itu jangan hanya bertanya:
“Seberapa tinggi aku sudah naik?”
Tanyakan pula:
“Apa yang berubah dalam diriku selama mendaki?”
Jika semakin tinggi membuat hati semakin lembut, perjalanan itu membawa manfaat.
Jika semakin tinggi membuat manusia semakin merendahkan yang lain, mungkin ia sedang kehilangan sesuatu di jalan.
꧁ RAHASIA TANGGA TERAKHIR ꧂
Tangga terakhir hilang karena beberapa tempat tidak dapat dicapai hanya dengan ambisi.
Ada pintu yang membutuhkan:
adab,
kesabaran,
kerendahan hati,
dan kesediaan menerima bahwa tidak semua pencapaian adalah hak kita.
Ambisi dapat membawa manusia sangat jauh.
Tetapi hanya karakter yang menentukan apakah ia pantas memegang apa yang telah dicapai.
꧁ RAHASIA TURUN KEMBALI ꧂
Turun bukan selalu gagal.
Kadang turun adalah bagian dari penyelamatan.
Ada orang yang harus turun dari jabatan agar keluarganya kembali utuh.
Ada orang yang harus mengurangi ambisi agar kesehatan terjaga.
Ada orang yang harus kembali belajar dari awal.
Ada orang yang harus mengakui:
“Aku mengambil jalan yang salah.”
Tidak semua kemunduran adalah kehinaan.
Kadang mundur satu langkah adalah satu-satunya cara agar tidak jatuh seratus langkah.
꧁ EMPAT TANDA MANUSIA KEHILANGAN DIRI SAAT MENDAKI ꧂
Waspadalah jika:
Pertama: engkau mulai menganggap orang yang lebih lambat sebagai tidak berharga.
Kedua: engkau tidak lagi mempunyai waktu untuk orang yang dahulu berjalan bersamamu.
Ketiga: semua hal dinilai hanya dari apakah membantu pencapaianmu.
Keempat: ketika berhasil, engkau tidak lagi tahu untuk apa keberhasilan itu digunakan.
Jika empat tanda ini muncul, berhentilah sejenak.
Bukan untuk menyerah.
Tetapi untuk memastikan bahwa kakimu masih membawa hati yang sama.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGABELAS ꧂
“Aja nganti sikilmu tekan pucuk, nanging atimu ketinggalan ing ngisor.”
Artinya:
Jangan sampai kakimu mencapai puncak sementara hatimu tertinggal di bawah.
Dan:
“Pucuk ora digawe supaya manungsa rumangsa paling gedhe. Pucuk digawe supaya dheweke bisa ndeleng luwih jembar.”
Puncak bukan untuk membuat manusia merasa paling besar. Puncak memberi kesempatan agar ia melihat lebih luas.
꧁ RAHASIA MELIHAT DARI KETINGGIAN ꧂
Dari puncak, rumah besar dan rumah kecil tampak hampir sama.
Orang kaya dan miskin tidak dapat dibedakan.
Garis batas yang diperebutkan manusia terlihat sangat kecil.
Ini adalah perlambang:
semakin luas pandangan seseorang, seharusnya semakin kecil pula kesombongannya.
Ilmu yang luas semestinya membuat manusia sadar betapa banyak yang belum diketahui.
Perjalanan yang jauh membuat manusia sadar bahwa dunia tidak hanya seperti kampungnya.
Pengalaman panjang membuat manusia tahu bahwa setiap orang membawa cerita yang tidak terlihat.
Maka keluasan seharusnya melahirkan kelapangan.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGABELAS ꧂
Naiklah.
Belajarlah.
Berkaryalah.
Bangunlah.
Carilah ilmu.
Perbaiki kehidupan.
Tidak salah mempunyai cita-cita tinggi.
Namun bawa bersama:
adab,
keluarga,
rasa syukur,
kepedulian,
dan kemampuan berhenti sejenak.
Jangan sampai demi satu puncak engkau menginjak orang lain.
Jangan sampai demi dikenal banyak manusia engkau menjadi asing bagi orang-orang yang mencintaimu.
Jangan sampai demi memenangkan perlombaan engkau kehilangan alasan mengapa dahulu mulai berlari.
Dan bila suatu hari engkau benar-benar mencapai tempat tinggi, jangan hanya melihat ke bawah untuk menghitung seberapa jauh engkau telah mengalahkan orang lain.
Lihatlah lebih jauh.
Lihatlah betapa luas ciptaan Alloh.
Lihatlah betapa banyak manusia yang masih membutuhkan kebaikan.
Lalu tanyakan:
“Dengan keluasan yang sekarang kulihat, manfaat apa yang bisa kubawa kembali ke bawah?”
Karena perjalanan menuju puncak belum selesai ketika manusia berhasil naik.
Ia baru sempurna ketika ia mampu turun kembali membawa kebijaksanaan.
Rafiq akhirnya mengerti:
Tangga terakhir bukan hilang.
Tangga itu sejak awal berada di dalam dirinya.
Dan ia baru muncul ketika kesombongan cukup mengecil untuk memberi tempat kepada kerendahan hati.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثالثة عشرة
KHATAM QISAH KETIGABELAS
“Munggaha nganti dhuwur yen kuwi amanahmu, nanging aja nganti dhuwure panggonan nggawe kowe lali carane andhap asor.”
Naiklah setinggi yang menjadi amanahmu, tetapi jangan biarkan ketinggian tempat membuatmu lupa cara merendahkan hati.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT BELAS
“BINTANG YANG TERLAMBAT TERBIT”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah langit yang luas, terdapat ribuan bintang.
Ada yang muncul sejak senja.
Ada yang baru terlihat menjelang tengah malam.
Ada pula yang hanya tampak sebentar sebelum fajar.
Di antara semua bintang itu, terdapat satu bintang kecil bernama Najm.
Najm mempunyai satu kegelisahan:
ia selalu terlambat terbit.
Ketika bintang-bintang lain telah bersinar, Najm masih tertutup kabut tipis.
Ketika gugusan besar mulai dipuji para pengamat di bumi, Najm belum terlihat.
Ia sering mendengar bintang-bintang lain berbicara.
“Aku terlihat paling awal.”
“Aku dipakai pelaut menentukan arah.”
“Aku menjadi tanda musim.”
“Aku disebut dalam syair-syair manusia.”
Najm diam.
Dalam hatinya muncul pertanyaan:
“Mengapa aku tidak seperti mereka?”
Malam demi malam ia mencoba muncul lebih cepat.
Ia memaksa cahayanya.
Namun semakin dipaksa, semakin lemah sinarnya.
Suatu malam ia bertanya kepada bintang tua yang berada tidak jauh darinya.
Namanya Hikmah.
Najm berkata:
“Apakah ada yang salah denganku?”
Hikmah bertanya:
“Mengapa kau berpikir begitu?”
“Aku selalu terlambat.”
“Dibanding siapa?”
Najm menunjuk gugusan bintang di timur.
“Mereka.”
Hikmah berkata:
“Apakah engkau dan mereka mempunyai perjalanan yang sama?”
Najm terdiam.
Ia tidak pernah memikirkan itu.
Hikmah melanjutkan:
“Engkau terlalu sering memakai waktu orang lain untuk mengukur perjalananmu sendiri.”
Najm berkata:
“Tapi mereka sudah bersinar.”
Hikmah menjawab:
“Benar.”
“Aku belum.”
“Benar.”
“Bukankah itu berarti aku tertinggal?”
Hikmah tersenyum.
“Belum tentu yang datang kemudian berarti tertinggal. Kadang ia memang mempunyai waktu terbit yang berbeda.”
Najm belum puas.
Ia tetap ingin terbit lebih cepat.
Suatu malam, ketika bintang-bintang besar mulai muncul, Najm memaksakan seluruh cahayanya.
Ia berhasil terlihat lebih awal.
Najm sangat gembira.
“Akhirnya!”
Namun tak lama kemudian cahayanya meredup.
Saat malam semakin gelap, ketika cahayanya sebenarnya paling dibutuhkan, ia justru hampir padam.
Hikmah mendekat.
Najm berkata:
“Aku berhasil muncul lebih awal, tapi kenapa aku tidak bisa bertahan?”
Hikmah menjawab:
“Karena kau menghabiskan tenaga untuk mengejar waktu yang bukan milikmu.”
Najm sedih.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Belajarlah menunggu tanpa berhenti mempersiapkan diri.”
Najm bingung.
“Menunggu berarti diam.”
Hikmah menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Menunggu yang baik bukan tidur. Menunggu adalah mematangkan diri sebelum waktunya tiba.”
Sejak malam itu Najm berhenti memaksa.
Ketika bintang lain terbit, ia tidak lagi memusuhi dirinya sendiri.
Ia belajar menguatkan cahayanya.
Belajar menjaga arah.
Belajar memahami awan yang sering menutupinya.
Belajar menerima bahwa tidak setiap malam mempunyai keadaan sama.
Namun perjuangan itu tidak mudah.
Suatu malam ia mendengar bintang muda berkata:
“Lihat Najm. Sampai sekarang belum terlihat.”
Bintang lain tertawa.
“Mungkin ia memang tidak cukup terang.”
Najm terluka.
Ia hampir kembali memaksakan diri.
Hikmah berkata:
“Apakah kau akan merusak waktumu hanya untuk menjawab ejekan?”
Najm diam.
Hikmah berkata:
“Orang yang belum memahami perjalananmu akan mudah menilainya dari permukaan.”
Najm bertanya:
“Apakah aku harus menjelaskan?”
“Jika perlu, jelaskan.”
“Kalau mereka tetap tidak mengerti?”
“Teruslah bertumbuh.”
Najm bertanya:
“Bagaimana kalau aku benar-benar gagal?”
Hikmah menjawab:
“Gagal dan belum waktunya adalah dua hal berbeda. Jangan mencampurkannya.”
Malam berganti.
Musim berganti.
Najm tetap terbit lebih lambat daripada bintang lain.
Namun cahayanya mulai menjadi lebih jernih.
Suatu malam terjadi sesuatu.
Kabut tebal menutupi langit sejak senja.
Bintang-bintang yang biasanya muncul lebih awal tidak terlihat.
Para pelaut di laut mulai kehilangan arah.
Mereka menunggu.
Namun awan belum terbuka.
Lewat tengah malam, angin mengubah arah.
Sebagian kabut tersibak.
Saat itulah Najm terbit.
Cahayanya tidak paling besar.
Tetapi posisinya tepat berada di celah langit yang terbuka.
Seorang pelaut tua melihatnya.
“Itu dia.”
Ia menggunakan posisi Najm untuk mengoreksi arah kapal.
Beberapa kapal lain mengikuti.
Mereka akhirnya selamat melewati malam.
Najm tidak tahu semua itu.
Ia hanya bersinar sesuai waktunya.
Pagi hampir datang.
Hikmah berkata:
“Sekarang apakah kau masih merasa terlambat?”
Najm menjawab:
“Aku muncul setelah yang lain.”
“Itu bukan pertanyaanku.”
Najm terdiam.
Hikmah bertanya lagi:
“Apakah cahayamu datang ketika dibutuhkan?”
Najm menoleh ke bumi.
Ia melihat kapal-kapal telah mengubah arah.
Barulah ia memahami.
Nilai sebuah cahaya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia muncul.
Kadang yang penting adalah:
apakah ia hadir pada saat yang tepat.
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT BELAS ꧂
Manusia sering membandingkan waktu hidupnya.
Teman sudah menikah.
Aku belum.
Orang lain sudah mapan.
Aku belum.
Teman seangkatan sudah memiliki rumah.
Aku masih berjuang.
Orang lain sudah dikenal.
Aku masih belajar.
Orang lain sudah berhasil.
Aku masih mencoba.
Perbandingan seperti ini dapat menjadi racun apabila tidak dijaga.
Sebab setiap manusia membawa keadaan berbeda:
keluarga berbeda,
kesehatan berbeda,
kesempatan berbeda,
beban berbeda,
rezeki berbeda,
dan jalan berbeda.
Membandingkan hasil tanpa memahami perjalanan dapat membuat manusia berlaku tidak adil kepada dirinya sendiri.
꧁ RAHASIA TERLAMBAT ꧂
Tidak semua keterlambatan adalah kegagalan.
Namun tidak semua keterlambatan juga boleh dibenarkan.
Ada orang terlambat karena memang belum waktunya.
Ada pula yang terlambat karena terus menunda.
Maka bedakan.
Jika belum berhasil karena masih belajar, teruslah belajar.
Jika belum sampai karena jalannya panjang, teruslah melangkah.
Tetapi jika tidak bergerak karena malas, jangan menamai kemalasan sebagai “belum waktunya”.
Kesabaran bukan alasan untuk berhenti berusaha.
꧁ TIGA PERTANYAAN BAGI ORANG YANG MERASA TERTINGGAL ꧂
Ketika melihat orang lain lebih dahulu sampai, tanyakan:
Pertama:
Apakah aku benar-benar tidak bergerak, atau hanya jalanku lebih panjang?
Kedua:
Apakah ada sesuatu yang bisa kuperbaiki hari ini?
Ketiga:
Apakah aku sedang mengejar tujuan yang memang penting bagiku, atau hanya mengejar supaya tidak kalah dari orang lain?
Tiga pertanyaan ini dapat menyelamatkan hati dari perlombaan yang sebenarnya tidak pernah perlu dimasuki.
꧁ RAHASIA CAHAYA YANG DIPAKSA ꧂
Najm menjadi redup ketika memaksa terbit lebih awal.
Begitu pula manusia.
Ada orang yang terlalu cepat ingin terlihat berhasil.
Maka ia memaksakan gaya hidup.
Memaksakan jabatan.
Memaksakan hubungan.
Memaksakan usaha.
Memaksakan citra.
Akhirnya tenaga habis untuk terlihat matang, padahal akar belum kuat.
Tidak mengapa tumbuh perlahan.
Yang penting nyata.
Lebih baik kemajuan kecil tetapi kokoh daripada tampak besar tetapi rapuh.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT BELAS ꧂
“Ora kabeh lintang kudu metu bebarengan.”
Artinya:
Tidak semua bintang harus terbit pada waktu yang sama.
Dan:
“Wektumu dudu wektune wong liya. Nanging nalika wektu teka, aja nganti kowe durung nyiapake pepadhangmu.”
Waktumu bukan waktu orang lain. Namun ketika waktumu tiba, jangan sampai engkau belum mempersiapkan cahayamu.
꧁ RAHASIA MENUNGGU ꧂
Ada dua jenis menunggu.
Menunggu yang mati:
hanya berharap,
tanpa belajar,
tanpa usaha,
tanpa memperbaiki diri.
Dan menunggu yang hidup:
berlatih,
menabung,
belajar,
berdoa,
menjaga kesehatan,
memperbaiki akhlak,
menata rencana,
dan terus bergerak sesuai kemampuan.
Menunggu yang hidup membuat manusia siap ketika pintu akhirnya terbuka.
꧁ JANGAN MEREMEHKAN BINTANG YANG BELUM TERBIT ꧂
Ada pula pelajaran bagi orang yang sudah lebih dahulu berhasil.
Jangan mengejek orang yang masih berjuang.
Jangan menganggap orang yang belum sampai sebagai tidak mampu.
Engkau tidak mengetahui seluruh jalannya.
Orang yang hari ini berjalan paling belakang mungkin suatu hari menjadi orang yang menolong ketika yang lain sudah kehabisan tenaga.
Orang yang belajar lambat bisa menjadi guru yang sangat sabar.
Orang yang pernah gagal berkali-kali bisa menjadi penolong terbaik bagi orang yang sedang jatuh.
Setiap perjalanan meninggalkan bekal yang berbeda.
꧁ PENUTUP QISAH KEEMPAT BELAS ꧂
Jika hari ini engkau merasa tertinggal, jangan langsung menghukum dirimu.
Lihat kembali perjalanan.
Apakah engkau masih bergerak?
Apakah engkau masih belajar?
Apakah engkau masih memperbaiki?
Jika iya, teruskan.
Jangan memaksa dirimu menjadi fotokopi perjalanan orang lain.
Mintalah kepada Alloh keberkahan waktu.
Mintalah petunjuk agar tidak terlambat karena kelalaian.
Dan mintalah ketenangan agar tidak tergesa hanya karena melihat orang lain lebih dahulu sampai.
Karena tujuan hidup bukan menjadi manusia tercepat.
Tujuan hidup adalah menjalankan amanah dengan benar.
Ada bunga yang mekar pagi.
Ada bunga yang mekar malam.
Ada pohon yang berbuah muda.
Ada yang baru berbuah setelah bertahun-tahun.
Ada bintang yang terbit sejak senja.
Ada yang muncul menjelang fajar.
Langit tidak menjadi kurang indah karena semua cahaya tidak muncul bersamaan.
Justru keindahannya tumbuh dari keteraturan waktu masing-masing.
Najm akhirnya tidak pernah lagi berkata:
“Mengapa aku terlambat?”
Ia menggantinya dengan pertanyaan:
“Apa yang harus kupersiapkan agar ketika waktuku datang, aku benar-benar mampu memberi cahaya?”
Dan mungkin itulah pertanyaan yang lebih berguna.
Bukan:
“Kapan aku seperti mereka?”
Tetapi:
“Apa yang harus kulakukan hari ini agar menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin?”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الرابعة عشرة
KHATAM QISAH KEEMPAT BELAS
“Lintang ora meri marang lintang liyane amarga wektu metune beda. Dheweke mung nyiapake cahya nganti tekan wayah kang wus diparingake.”
Bintang tidak perlu iri kepada bintang lain karena waktu terbitnya berbeda. Ia hanya perlu menyiapkan cahayanya sampai tiba waktunya.
“Aja wedi yen durung katon. Sing luwih penting: aja mandheg tuwuh nalika durung ana wong sing ndeleng.”
Jangan takut jika belum terlihat. Yang lebih penting, jangan berhenti bertumbuh ketika belum ada seorang pun yang melihat.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KELIMA BELAS
“HUJAN YANG TURUN DI TANAH YANG MENOLAK BASAH”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang sangat luas, terdapat dua lembah yang berdampingan.
Lembah pertama disebut Lembah Basah.
Tanahnya hitam.
Pohon-pohonnya rindang.
Rumput tumbuh subur.
Sungainya mengalir.
Sedangkan lembah kedua disebut Lembah Batu.
Tanahnya keras.
Retak-retak.
Hampir tidak ada tanaman.
Orang-orang heran.
Sebab kedua lembah itu mendapat hujan dari langit yang sama.
Awan yang sama melewati keduanya.
Air yang turun pun sama.
Namun hasilnya berbeda.
Di Lembah Basah, hujan menjadi kehidupan.
Di Lembah Batu, air hanya mengalir di permukaan lalu pergi.
Di antara kedua lembah itu tinggal seorang pemuda bernama Safa.
Safa sangat penasaran.
Ia berkata:
“Kalau hujannya sama, mengapa hasilnya berbeda?”
Ia pergi menemui seorang petani tua bernama Salman.
Salman menjawab:
“Karena bukan hanya langit yang menentukan apakah air masuk. Tanah juga mempunyai keadaan.”
Safa belum mengerti.
Salman mengajaknya ke Lembah Batu.
Ia mengambil kendi berisi air.
Dituangkannya ke tanah.
Air mengalir.
Tidak meresap.
Salman berkata:
“Lihat.”
Kemudian ia mengambil cangkul.
Ia menggemburkan sebagian tanah.
Menghancurkan permukaan yang keras.
Membuang batu.
Membuat lubang kecil.
Setelah itu air dituangkan lagi.
Kali ini sebagian meresap.
Safa berkata:
“Jadi tanahnya harus dibuka?”
Salman menjawab:
“Benar. Hujan boleh turun sebanyak apa pun. Kalau permukaan terlalu keras, air sulit masuk.”
Safa tiba-tiba terdiam.
Ia merasa perkataan itu tidak hanya tentang tanah.
Beberapa hari kemudian, datang seorang guru ke kampung.
Guru itu memberi nasihat tentang sabar.
Banyak orang mendengarkan.
Sebagian menangis.
Sebagian mengangguk.
Namun setelah pulang, ada orang yang berkata:
“Nasihat itu cocok untuk orang lain, bukan untukku.”
Yang lain berkata:
“Aku sudah tahu.”
Ada pula yang berkata:
“Tidak mungkin dia memahami masalahku.”
Safa teringat tanah keras.
Ia bertanya kepada Salman:
“Apakah hati juga bisa seperti tanah?”
Salman tersenyum.
“Bisa.”
“Bagaimana?”
“Ketika terlalu lama menolak nasihat.”
“Ketika selalu merasa benar.”
“Ketika luka membuat seseorang menutup seluruh pintu.”
“Ketika kecewa membuat hati tidak mau percaya lagi.”
“Ketika kesombongan membuat ilmu tidak dapat masuk.”
Safa bertanya:
“Berarti hati yang keras itu hati yang jahat?”
Salman menggeleng.
“Tidak selalu.”
“Kadang hati mengeras karena terlalu banyak terluka.”
Kalimat itu membuat Safa berpikir.
꧁ ORANG YANG MENOLAK HUJAN ꧂
Di Lembah Batu tinggal seorang lelaki bernama Marwan.
Ia hidup sendirian.
Dahulu ia memiliki keluarga besar.
Namun bertahun-tahun sebelumnya ia kehilangan istri dan anaknya karena wabah.
Sejak itu ia menjadi sangat pendiam.
Orang-orang mencoba menolong.
Ia menolak.
Jika ada yang membawa makanan, ia berkata:
“Aku tidak butuh.”
Jika seseorang berkata:
“Semoga Alloh memberi kesabaran,”
ia menjawab:
“Jangan bicara kepadaku tentang sabar.”
Jika sahabat mengajaknya kembali berkumpul, ia berkata:
“Aku lebih baik sendiri.”
Safa sering melihat Marwan.
Suatu hari ia bertanya kepada Salman:
“Apakah Marwan hatinya keras?”
Salman menjawab:
“Jangan terlalu cepat menilai tanah sebelum mengetahui musim apa yang telah melewatinya.”
Safa berkata:
“Tapi dia menolak semua orang.”
Salman menjawab:
“Bisa jadi ia bukan menolak manusia. Ia sedang takut kehilangan lagi.”
Hari berikutnya Safa datang ke rumah Marwan.
Ia tidak membawa nasihat.
Tidak membawa banyak pertanyaan.
Hanya membawa sepotong roti.
Marwan berkata:
“Aku tidak butuh.”
Safa menjawab:
“Baik.”
Ia duduk di luar rumah.
Marwan bertanya:
“Kenapa tidak pulang?”
Safa berkata:
“Aku mau makan roti ini sendiri. Di sini anginnya enak.”
Marwan tidak menjawab.
Safa makan.
Lalu pulang.
Besoknya Safa datang lagi.
Tidak mengatakan apa-apa.
Hanya duduk sebentar.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Seminggu.
Marwan akhirnya bertanya:
“Kenapa kau terus datang?”
Safa menjawab:
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu.”
Marwan sedikit heran.
“Bukankah semua orang selalu punya nasihat?”
Safa menjawab:
“Aku takut nasihatku malah menambah bebanmu.”
Marwan menatapnya.
Untuk pertama kalinya wajahnya melunak.
Ia berkata:
“Orang-orang selalu berkata aku harus melupakan.”
Safa menjawab:
“Aku tidak akan mengatakan itu.”
“Mereka bilang aku harus kuat.”
“Aku juga tidak akan mengatakan itu.”
“Kenapa?”
Safa berkata:
“Karena aku tidak tahu seberapa berat yang kau bawa.”
Marwan diam.
Kemudian berkata:
“Aku kehilangan mereka dalam tiga hari.”
Safa mendengarkan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Marwan menceritakan semuanya.
Tentang istrinya.
Tentang anaknya.
Tentang rumah yang dulu ramai.
Tentang satu mangkuk yang sampai sekarang masih ia simpan.
Tentang malam terakhir.
Tentang rasa marah.
Tentang rasa bersalah karena ia tetap hidup.
Safa tidak menyela.
Tidak berkata:
“Sudah.”
Tidak berkata:
“Jangan menangis.”
Ia hanya mendengarkan.
Marwan menangis lama.
Setelah selesai, ia berkata:
“Maaf.”
Safa bertanya:
“Untuk apa?”
“Aku menangis seperti anak kecil.”
Safa menjawab:
“Air mata tidak mempunyai umur.”
Marwan tersenyum kecil.
꧁ TANAH MULAI RETAK DENGAN CARA YANG BERBEDA ꧂
Hari-hari berikutnya Safa masih datang.
Marwan perlahan mulai keluar rumah.
Tidak langsung kembali seperti dahulu.
Kadang ia masih menolak bicara.
Kadang marah.
Kadang mengurung diri beberapa hari.
Safa tidak memaksanya.
Suatu hari hujan turun sangat deras.
Safa melihat Marwan berdiri di depan rumah.
Ia mengulurkan tangannya.
Merasakan air.
Marwan berkata:
“Dulu anakku suka hujan.”
Safa tidak menjawab.
Marwan tersenyum sambil menangis.
Lalu berkata:
“Selama ini aku membenci hujan karena mengingatkanku kepadanya.”
Safa bertanya:
“Sekarang?”
Marwan menatap langit.
“Sekarang aku juga ingat dia pernah tertawa di bawah hujan.”
Untuk pertama kalinya kenangan yang sama tidak hanya membawa luka.
Ia juga membawa cinta.
Salman kemudian berkata kepada Safa:
“Lihat. Tanah keras tidak selalu perlu dipukul lebih keras. Kadang ia perlu diberi waktu, air, dan tangan yang sabar.”
꧁ KETIKA HUJAN MENJADI BANJIR ꧂
Namun di sisi lain lembah, muncul masalah berbeda.
Orang-orang di Lembah Basah terlalu bangga karena tanah mereka subur.
Mereka berkata:
“Semakin banyak air, semakin baik.”
Maka mereka menutup saluran pembuangan.
Mereka menahan semua air hujan.
Tidak lama kemudian hujan besar datang.
Air tidak dapat keluar.
Ladang tergenang.
Akar membusuk.
Tanaman mati.
Safa kembali bertanya:
“Bukankah air itu rahmat?”
Salman menjawab:
“Ya.”
“Lalu kenapa merusak?”
“Karena sesuatu yang baik pun membutuhkan tempat, ukuran, dan cara menerima yang benar.”
Safa mulai memahami.
Nasihat yang baik jika diberikan terlalu banyak kepada orang yang sedang rapuh bisa menjadi beban.
Teguran yang benar jika diberikan pada waktu salah bisa terasa seperti pukulan.
Bantuan yang baik jika membuat seseorang selamanya tidak mampu berdiri sendiri dapat menumbuhkan ketergantungan.
Bahkan ilmu yang banyak bila tidak disertai adab dapat menumbuhkan kesombongan.
꧁ PIWULANG QISAH KELIMA BELAS ꧂
Hujan adalah pralambang:
rahmat,
nasihat,
ilmu,
kasih sayang,
pertolongan,
dan kesempatan.
Namun apa yang turun dari langit perlu bertemu kesiapan di bumi.
Banyak orang berkata:
“Aku sudah menasihatinya berkali-kali. Kenapa dia tidak berubah?”
Mungkin bukan nasihatnya salah.
Mungkin hatinya sedang terlalu penuh.
Mungkin waktunya belum tepat.
Mungkin caranya terlalu keras.
Mungkin ia membutuhkan didengar sebelum diajari.
Mungkin luka lama membuat setiap nasihat terdengar seperti tuduhan.
Karena itu jangan hanya bertanya:
“Apa yang harus kukatakan?”
Tanyakan pula:
“Dalam keadaan apa orang ini sedang menerima perkataanku?”
꧁ RAHASIA TANAH KERAS ꧂
Tidak semua hati keras lahir dari kesombongan.
Sebagian lahir dari:
kehilangan,
pengkhianatan,
kegagalan,
rasa malu,
ketakutan,
atau terlalu sering dikecewakan.
Ini tidak berarti semua sikap buruk harus dibenarkan.
Tetapi memahami sebab membantu kita memilih cara yang lebih bijak.
Ada orang yang perlu ditegur.
Ada yang perlu didengarkan.
Ada yang perlu diberi batas.
Ada yang perlu ruang.
Ada yang perlu bantuan ahli.
Kebijaksanaan adalah tidak menggunakan satu cara untuk semua luka.
꧁ RAHASIA CANGKUL ꧂
Cangkul yang menggemburkan tanah adalah pralambang muhasabah dan keberanian membuka diri.
Kadang hati perlu dicangkul oleh pertanyaan:
“Apakah aku terlalu keras?”
“Apakah aku menolak semua orang hanya karena satu orang pernah menyakitiku?”
“Apakah aku menolak nasihat karena salah, atau karena egoku terluka?”
“Apakah aku menyimpan sesuatu terlalu lama?”
Pertanyaan yang benar dapat membuka tanah yang lama mengeras.
Tetapi cangkul juga harus digunakan hati-hati.
Jika dipukul terlalu keras, akar dapat rusak.
Begitu pula menegur manusia.
꧁ RAHASIA HUJAN YANG TIDAK DIPAKSA ꧂
Langit tidak memaksa tanah meminum seluruh air sekaligus.
Sebagian air meresap.
Sebagian mengalir.
Sebagian menguap.
Begitu pula dakwah dan nasihat.
Tugas manusia adalah menyampaikan dengan ilmu, akhlak, dan cara baik.
Hidayah tetap milik Alloh.
Jangan berubah kasar hanya karena seseorang belum menerima perkataan kita.
Jangan menganggap kegagalan orang lain mengikuti nasihat sebagai penghinaan terhadap diri kita.
Mungkin benih itu baru tumbuh bertahun-tahun kemudian.
꧁ EMPAT CARA MENJADI HUJAN YANG MENYEJUKKAN ꧂
Pertama — Dengarkan sebelum berbicara.
Tidak setiap orang membutuhkan jawaban secepat mungkin.
Kedua — Pilih waktu.
Nasihat terbaik pun bisa kehilangan manfaat jika diberikan ketika emosi sedang memuncak.
Ketiga — Jangan merendahkan.
Air turun dari langit, tetapi tidak mengejek tanah yang berada di bawah.
Keempat — Jangan merasa sebagai sumber.
Kita hanya perantara. Kebaikan datang dengan izin Alloh.
꧁ SANDHI LANGIT KELIMA BELAS ꧂
“Udan kang padha ora mesthi nuwuhake woh kang padha, amarga saben lemah duwe kahanan dhewe.”
Artinya:
Hujan yang sama tidak selalu menumbuhkan buah yang sama, sebab setiap tanah memiliki keadaannya sendiri.
Dan:
“Ati kang atos aja tansah dipukul. Kadhang mung butuh wektu, pangrungon, lan tetes banyu kang sabar.”
Hati yang keras jangan selalu dipukul. Kadang ia hanya membutuhkan waktu, seseorang yang mau mendengar, dan tetes air yang sabar.
꧁ RAHASIA AIR MATA MARWAN ꧂
Ketika Marwan menangis, tanah batinnya tidak sedang menjadi lemah.
Ia sedang mulai menerima air.
Ada orang yang bertahun-tahun terlihat kuat karena tidak pernah menangis.
Padahal di dalamnya terdapat banyak hal yang belum selesai.
Menangis bukan selalu tanda runtuh.
Kadang ia adalah bahasa tubuh ketika kata-kata tidak lagi cukup.
Namun setelah menangis, hidup tetap perlu diteruskan.
Air mata membasahi tanah.
Tetapi manusia masih perlu menanam.
꧁ PENUTUP QISAH KELIMA BELAS ꧂
Jika engkau sedang menasihati seseorang dan ia belum menerima, jangan langsung membencinya.
Periksa caramu.
Periksa waktumu.
Periksa niatmu.
Dan bila engkau sendiri sedang merasa keras terhadap dunia, jangan malu mengakui:
“Ada bagian dalam diriku yang belum sembuh.”
Carilah orang yang aman untuk diajak bicara.
Berdoalah.
Belajarlah membuka sedikit demi sedikit.
Tidak harus sekaligus.
Tanah yang bertahun-tahun mengeras tidak selalu menjadi lembut hanya dengan satu kali hujan.
Tetapi hujan yang datang dengan sabar dapat mengubah lembah.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun, Lembah Batu mulai berubah.
Bukan menjadi sama persis dengan Lembah Basah.
Ia memiliki bentuk sendiri.
Di celah-celah batu tumbuh rumput.
Kemudian semak.
Kemudian beberapa pohon.
Marwan menanam satu pohon di depan rumahnya.
Safa bertanya:
“Pohon apa itu?”
Marwan menjawab:
“Pohon yang dulu disukai anakku.”
Safa tersenyum.
Marwan berkata:
“Aku tidak menanamnya supaya masa lalu kembali.”
“Lalu?”
“Aku menanamnya supaya cinta yang pernah ada tidak berhenti hanya menjadi luka.”
Hujan turun pelan.
Marwan tidak masuk ke rumah.
Ia berdiri di bawahnya.
Membiarkan air membasahi wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sangat lama, ia tidak merasa bahwa langit sedang mengambil sesuatu darinya.
Ia merasa langit sedang mengajarinya satu perkara:
air yang sama dapat menjadi kenangan, tangis, kehidupan, dan awal yang baru.
Tergantung bagaimana tanah menerimanya.
Maka jangan hanya memohon:
“Yā Alloh, turunkanlah rahmat.”
Mohon pula:
“Yā Alloh, lembutkanlah hatiku agar mampu menerima rahmat-Mu dengan benar.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الخامسة عشرة
KHATAM QISAH KELIMA BELAS
“Udan ora salah nalika lemah durung bisa nampa. Lemah uga ora kudu dihina amarga atos. Sing dibutuhake yaiku wektu, pangreksan, lan cara kang pas supaya banyu bisa mlebu.”
Hujan tidak bersalah ketika tanah belum mampu menerima. Tanah pun tidak perlu dihina karena keras. Yang dibutuhkan adalah waktu, perawatan, dan cara yang tepat agar air dapat meresap.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEENAM BELAS
“LONCENG YANG HANYA BERBUNYI KETIKA MANUSIA BERHENTI MEMUKULNYA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah lembah tua yang dikelilingi tujuh bukit, berdirilah sebuah menara batu.
Di puncaknya tergantung sebuah lonceng besar.
Lonceng itu tidak terbuat dari emas.
Tidak dihiasi permata.
Warnanya kusam dimakan usia.
Namun masyarakat menyebutnya:
Lonceng Wening.
Menurut cerita turun-temurun, lonceng itu hanya akan berbunyi ketika seseorang benar-benar menemukan ketenangan dalam dirinya.
Karena itulah banyak orang mendatanginya.
Ada yang datang mencari jawaban.
Ada yang ingin memperoleh tanda.
Ada yang ingin membuktikan bahwa dirinya telah mencapai ketenangan.
Tetapi ada satu keanehan.
Semakin keras lonceng itu dipukul,
semakin ia tidak mengeluarkan suara.
Palu besar pernah digunakan.
Tidak berbunyi.
Batu pernah dihantamkan.
Tidak berbunyi.
Puluhan orang pernah menarik talinya bersamaan.
Tetap tidak berbunyi.
Seorang raja pernah datang membawa ahli logam.
Mereka memeriksa lonceng.
“Tidak rusak.”
“Tidak retak.”
“Tidak ada yang salah.”
Namun ketika dipukul—
hening.
Di kaki menara tinggal seorang penjaga tua bernama Halim.
Ia tidak pernah menjelaskan rahasia lonceng.
Jika seseorang bertanya:
“Bagaimana membuatnya berbunyi?”
Ia hanya menjawab:
“Mungkin masalahnya bukan pada lonceng.”
꧁ PEMUDA YANG MENCARI JAWABAN ꧂
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Rasyid.
Ia membawa banyak pertanyaan.
Tentang pekerjaannya.
Tentang keluarganya.
Tentang masa depan.
Tentang mengapa beberapa doanya terasa belum terjawab.
Tentang jalan mana yang harus dipilih.
Begitu sampai, Rasyid berkata kepada Halim:
“Aku perlu mendengar lonceng itu.”
Halim bertanya:
“Untuk apa?”
“Supaya aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Halim berkata:
“Apakah lonceng akan berbicara kepadamu?”
Rasyid menjawab:
“Katanya siapa yang mendengar bunyinya akan menemukan jawaban.”
Halim tersenyum.
“Orang sering menambahkan cerita kepada sesuatu yang belum dipahaminya.”
Namun Rasyid tetap bersikeras.
Ia menaiki menara.
Mengambil tali.
Menarik sekuat tenaga.
Tidak berbunyi.
Ia menarik lagi.
Tidak berbunyi.
Ia mulai marah.
Ia menggunakan tongkat.
Memukul badan lonceng.
Hening.
Rasyid turun.
“Lonceng ini rusak.”
Halim menjawab:
“Mungkin.”
“Bukankah engkau penjaganya?”
“Benar.”
“Kenapa tidak diperbaiki?”
Halim berkata:
“Karena kadang yang perlu diperbaiki bukan bendanya.”
Rasyid kesal.
Ia merasa lelaki tua itu sengaja berbicara dengan teka-teki.
꧁ SUARA YANG TERLALU BANYAK ꧂
Malam itu Rasyid menginap di dekat menara.
Ia tidak bisa tidur.
Pikirannya ramai.
Suara ayahnya terbayang:
“Pilih pekerjaan yang aman.”
Suara temannya:
“Ambil kesempatan besar. Jangan takut.”
Suara orang lain:
“Di umurmu seharusnya sudah berhasil.”
Suara lain:
“Kau terlalu lambat.”
Suara dirinya sendiri:
“Bagaimana kalau aku salah?”
“Bagaimana kalau aku gagal?”
“Bagaimana kalau semua orang kecewa?”
“Bagaimana kalau kesempatan ini tidak datang lagi?”
Ia bangun.
Menemui Halim.
“Aku tidak bisa tidur.”
Halim bertanya:
“Karena suara apa?”
Rasyid berkata:
“Tidak ada suara. Semuanya sunyi.”
Halim menggeleng.
“Justru kepalamu sedang sangat berisik.”
Rasyid terdiam.
Halim berkata:
“Ada orang yang hidup di tempat sunyi tetapi batinnya penuh keributan. Ada pula orang yang hidup di tengah pasar tetapi hatinya tetap mempunyai ruang hening.”
Rasyid bertanya:
“Bagaimana cara membuat semuanya diam?”
Halim menjawab:
“Jangan membuat semuanya diam.”
“Lalu?”
“Belajarlah membedakan suara mana yang perlu didengar.”
꧁ TUJUH HARI TANPA MEMUKUL LONCENG ꧂
Halim memberi satu syarat.
“Tinggallah tujuh hari.”
“Lalu?”
“Jangan menyentuh lonceng.”
Rasyid heran.
“Aku datang untuk membunyikannya.”
“Justru itu.”
Hari pertama, Rasyid gelisah.
Setiap kali melihat menara ia ingin naik.
Namun ia menahan diri.
Halim menyuruhnya menyapu halaman.
Rasyid berkata:
“Aku datang mencari jawaban, bukan menyapu.”
Halim menjawab:
“Kalau menyapu halaman saja membuatmu marah, mungkin engkau belum siap menyapu keributan dalam dirimu.”
Rasyid akhirnya menyapu.
Hari kedua, ia diminta mengambil air dari mata air.
Hari ketiga, membantu seorang petani tua memperbaiki pagar.
Hari keempat, memasak bersama para musafir.
Hari kelima, duduk menemani seorang anak yang sedang menunggu ibunya pulang.
Hari keenam, Halim berkata:
“Hari ini jangan melakukan apa-apa selama satu jam.”
Rasyid tertawa.
“Itu mudah.”
Ternyata tidak.
Lima menit pertama ia ingin berdiri.
Sepuluh menit kemudian ia memikirkan pekerjaan.
Lima belas menit kemudian ia mengambil batu.
Memainkannya.
Halim berkata:
“Letakkan.”
Rasyid berkata:
“Aku bosan.”
Halim menjawab:
“Engkau bukan bosan. Engkau belum terbiasa berada bersama dirimu sendiri tanpa gangguan.”
Rasyid akhirnya duduk.
Ia mulai mendengar suara angin.
Daun bergesekan.
Burung.
Aliran air.
Napasnya sendiri.
Setelah beberapa lama, pikirannya masih datang.
Tetapi ia tidak lagi mengejar semuanya.
Ada pikiran:
“Kau harus cepat.”
Ia membiarkannya lewat.
Ada pikiran:
“Kau akan gagal.”
Ia membiarkannya lewat.
Ada pikiran:
“Orang lain lebih maju.”
Ia membiarkannya lewat.
Lalu untuk pertama kalinya muncul satu pertanyaan sederhana:
“Apa sebenarnya yang paling aku takutkan?”
Rasyid terdiam.
Jawabannya muncul perlahan:
“Aku takut dianggap gagal.”
Ia terkejut.
Selama ini ia mengira masalahnya adalah pekerjaan.
Ternyata banyak kegelisahannya berasal dari rasa takut terhadap penilaian orang.
Hari ketujuh, Halim berkata:
“Sekarang naiklah ke menara.”
Rasyid naik.
Tangannya menyentuh tali.
Halim berteriak dari bawah:
“Jangan tarik.”
Rasyid bertanya:
“Lalu?”
“Duduk saja.”
Rasyid duduk di bawah lonceng.
Angin bertiup.
Tidak terjadi apa-apa.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Setengah jam.
Rasyid mulai tidak sabar.
Kemudian ia tertawa sendiri.
Ia berkata:
“Bahkan sekarang aku masih menunggu sesuatu terjadi.”
Perlahan ia berhenti menunggu.
Ia hanya duduk.
Tidak meminta tanda.
Tidak meminta suara.
Tidak memaksa jawaban.
Dan ketika ia benar-benar berhenti berharap lonceng berbunyi—
angin lembut masuk melalui jendela menara.
Tali lonceng bergerak sedikit.
Lonceng bergoyang.
Nnnnggggg……
Suara panjang memenuhi lembah.
Rasyid membeku.
Ia tidak menyentuh apa pun.
Lonceng berbunyi sekali.
Hanya sekali.
Namun gema suaranya menyebar sampai bukit jauh.
Rasyid turun dengan wajah terkejut.
“Halim! Aku mendengarnya!”
Halim menjawab:
“Aku juga.”
“Apa artinya?”
Halim tersenyum.
“Engkau masih ingin seseorang memberikan artinya?”
Rasyid terdiam.
Kemudian ia ikut tersenyum.
꧁ RAHASIA LONCENG WENING ꧂
Rasyid akhirnya bertanya:
“Kenapa lonceng baru berbunyi ketika aku berhenti mencoba membunyikannya?”
Halim menjawab:
“Karena sejak awal engkau tidak ingin mendengar lonceng. Engkau ingin memaksanya menjawab sesuai keinginanmu.”
“Bukankah aku memang membutuhkan jawaban?”
“Benar. Tetapi hati yang terlalu sibuk memaksa jawaban sering tidak mampu melihat apa yang sebenarnya sudah jelas.”
Rasyid berkata:
“Apa yang sudah jelas bagiku?”
Halim menjawab:
“Engkau takut memilih bukan hanya karena jalannya sulit. Engkau takut dianggap gagal.”
Rasyid terkejut.
“Bagaimana engkau tahu?”
Halim berkata:
“Aku tidak tahu. Engkau sendiri yang baru mengetahuinya.”
Rasyid terdiam lama.
Ia mulai memahami:
bukan semua masalah membutuhkan pertanda luar.
Sebagian membutuhkan kejujuran ke dalam.
꧁ PIWULANG QISAH KEENAM BELAS ꧂
Manusia sering mencari jawaban dalam keramaian.
Bertanya kepada banyak orang.
Membaca banyak pendapat.
Membandingkan banyak pilihan.
Semua itu dapat bermanfaat.
Tetapi ada satu tahap ketika terlalu banyak suara justru membuat manusia semakin bingung.
Pada saat seperti itu, seseorang membutuhkan ruang untuk:
diam,
berdoa,
menimbang,
dan mendengarkan kembali apa yang sebenarnya ia ketahui.
Hening bukan berarti semua masalah langsung selesai.
Hening memberi ruang agar masalah dapat dilihat dengan lebih jernih.
꧁ RAHASIA PALU ꧂
Palu adalah perlambang keinginan manusia memaksa jawaban.
“Aku harus tahu sekarang.”
“Harus terjadi seperti ini.”
“Harus sesuai waktuku.”
“Harus ada tanda.”
Namun kehidupan tidak selalu memberikan kepastian sebanyak yang diinginkan manusia.
Ada keputusan yang tetap mengandung risiko.
Ada pertanyaan yang jawabannya baru dipahami setelah dijalani.
Ada doa yang tidak datang dengan penjelasan langsung.
Karena itu jangan memukul kehidupan terlalu keras hanya karena ia belum mengeluarkan suara yang kita inginkan.
꧁ RAHASIA DIAM ꧂
Diam bukan berarti pasif.
Ada diam karena takut.
Ada diam karena menyerah.
Ada pula diam karena sedang menata hati.
Diam yang baik tetap ditemani:
akal,
doa,
ilmu,
musyawarah,
dan tindakan yang tepat.
Setelah Rasyid menemukan kejernihan, ia tetap harus memilih.
Lonceng tidak memilihkan pekerjaan untuknya.
Lonceng tidak mengatakan:
“Ke kanan.”
Atau:
“Ke kiri.”
Ia tetap harus menimbang.
Tetapi kini ia menimbang bukan hanya berdasarkan ketakutan terhadap penilaian manusia.
꧁ LIMA SUARA YANG PERLU DIBEDAKAN ꧂
Dalam hidup, manusia sering mendengar lima jenis suara:
Pertama — suara kebenaran.
Ia kadang tidak nyaman, tetapi mengajak kepada kejujuran dan tanggung jawab.
Kedua — suara ketakutan.
Ia membayangkan semua kemungkinan buruk seolah pasti terjadi.
Ketiga — suara ego.
Ia selalu ingin menang, dipuji, dan terlihat paling benar.
Keempat — suara pengalaman.
Ia membawa pelajaran masa lalu, tetapi jangan sampai masa lalu dijadikan penjara.
Kelima — suara orang lain.
Ada yang perlu didengar, ada yang perlu ditimbang, dan ada yang perlu dilepaskan.
Kebijaksanaan bukan membuat semua suara hilang.
Kebijaksanaan adalah mengetahui mana yang layak dijadikan arah.
꧁ SANDHI LANGIT KEENAM BELAS ꧂
“Ora kabeh swara kudu diwales. Ora kabeh sepi iku kosong.”
Artinya:
Tidak semua suara harus dijawab. Tidak semua keheningan berarti kosong.
Dan:
“Yen atimu rame banget, aja langsung nggoleki swara anyar. Kadhang sing dibutuhake yaiku papan supaya swara lawas bisa leren.”
Jika hatimu terlalu ramai, jangan langsung mencari suara baru. Kadang yang dibutuhkan adalah ruang agar suara-suara lama dapat mereda.
꧁ TIGA LANGKAH WENING ꧂
Ketika pikiran sangat penuh:
Pertama — berhenti sejenak dari keputusan yang tidak mendesak.
Jangan menentukan perkara besar saat emosi berada di puncak.
Kedua — pisahkan fakta dari ketakutan.
Tanyakan:
“Apa yang benar-benar terjadi?”
Dan:
“Apa yang hanya aku khawatirkan akan terjadi?”
Ketiga — tentukan satu langkah kecil yang berada dalam kemampuanmu.
Tidak semua masalah harus diselesaikan dalam satu malam.
Kadang satu keputusan kecil yang jernih lebih baik daripada sepuluh keputusan yang lahir dari panik.
꧁ KETIKA LONCENG TIDAK BERBUNYI ꧂
Rasyid bertanya kepada Halim:
“Bagaimana kalau setelah tujuh hari lonceng tetap tidak berbunyi?”
Halim menjawab:
“Apakah tujuh hari itu menjadi sia-sia?”
Rasyid berpikir.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tetap belajar sesuatu.”
Halim mengangguk.
“Inilah yang banyak orang lupa.”
Kadang manusia terlalu terpaku kepada tanda sehingga melupakan perubahan yang sudah terjadi dalam dirinya.
Ia meminta jawaban besar.
Padahal selama menunggu, ia sudah menjadi lebih sabar.
Ia meminta pintu terbuka.
Padahal selama mencari, ia belajar ilmu baru.
Ia meminta masalah hilang.
Padahal selama menghadapi masalah, ia menemukan kekuatan yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Maka jangan menilai seluruh perjalanan hanya dari apakah lonceng berbunyi.
꧁ PENUTUP QISAH KEENAM BELAS ꧂
Beberapa hari kemudian Rasyid meninggalkan lembah.
Halim bertanya:
“Sudah tahu apa keputusanmu?”
Rasyid menjawab:
“Belum sepenuhnya.”
“Lalu mengapa wajahmu lebih tenang?”
Rasyid tersenyum.
“Karena sekarang aku tahu aku tidak harus memiliki seluruh jawaban sebelum mengambil satu langkah.”
Halim berkata:
“Itu cukup.”
Rasyid bertanya:
“Apakah aku akan kembali?”
“Jika perlu.”
“Apakah aku boleh membunyikan lonceng lagi?”
Halim tertawa.
“Engkau masih belum belajar?”
Mereka tertawa bersama.
Rasyid berjalan pulang.
Di tengah jalan ia tidak mendengar lonceng.
Tetapi langkahnya lebih ringan.
Kini ia tahu:
kejernihan bukan keadaan ketika semua pertanyaan hilang.
Kejernihan adalah ketika manusia dapat berdiri di antara pertanyaan-pertanyaan itu tanpa kehilangan arah.
Maka jika suatu hari pikiranmu penuh suara,
jangan selalu mencari suara yang lebih keras.
Kadang jawabannya justru mulai terlihat ketika engkau berhenti memukul segala sesuatu agar segera berbicara.
Berdoalah.
Tenangkan hati.
Carilah ilmu.
Mintalah nasihat orang yang terpercaya.
Kemudian diamlah sejenak.
Bukan untuk menghindari kehidupan.
Tetapi agar ketika kembali melangkah, engkau tidak digerakkan hanya oleh keributan.
Sebab air yang terus diaduk tidak dapat memantulkan langit dengan jernih.
Dan lonceng yang terus dipukul mungkin membuat manusia terlalu sibuk dengan tangannya sendiri sampai lupa mendengarkan angin.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السادسة عشرة
KHATAM QISAH KEENAM BELAS
“Wening dudu nalika donya mandheg muni. Wening yaiku nalika atimu ora maneh dikuwasani saben swara kang liwat.”
Kejernihan bukan ketika dunia berhenti bersuara. Kejernihan adalah ketika hatimu tidak lagi dikuasai oleh setiap suara yang lewat.
“Kadhang jawaban ora teka amarga swarane kurang banter, nanging amarga kita durung cukup meneng kanggo ngrungokake.”
Kadang jawaban bukan tidak datang karena suaranya terlalu pelan, melainkan karena kita belum cukup hening untuk mendengarkan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETUJUH BELAS
“KUNCI YANG TIDAK MEMBUKA PINTU, TETAPI MEMBUKA TANGAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota tua yang dikelilingi tembok batu, hiduplah seorang penjaga gudang kerajaan bernama Yusuf.
Tugasnya sederhana:
menjaga satu ruangan besar yang tidak pernah dibuka selama puluhan tahun.
Di pintu ruangan itu tergantung tujuh gembok.
Masing-masing terbuat dari logam yang berbeda.
Ada besi.
Ada tembaga.
Ada perak.
Ada kuningan.
Ada baja hitam.
Ada logam merah.
Dan satu gembok paling kecil yang tidak diketahui bahannya.
Menurut cerita, di balik pintu tersebut tersimpan sebuah harta langit.
Tidak ada yang tahu bentuknya.
Sebagian berkata emas.
Sebagian berkata kitab rahasia.
Sebagian berkata permata.
Sebagian bahkan berkata terdapat sesuatu yang dapat membuat seseorang tidak pernah miskin lagi.
Karena cerita itu, banyak orang mencoba membuka pintunya.
Tidak berhasil.
Kerajaan mempunyai ribuan kunci.
Tidak satu pun cocok.
Pandai besi mencoba memecah gembok.
Palu mereka retak.
Ahli logam mencoba membakar rantai.
Api padam.
Para cerdik pandai mengukur lubang kunci.
Tetap tidak berhasil.
Maka gudang itu dibiarkan.
Yusuf menjadi penjaga berikutnya setelah ayahnya meninggal.
Sebelum meninggal, sang ayah hanya memberi satu benda:
sebuah kunci kecil.
Kuncinya kusam.
Tidak indah.
Ayahnya berkata:
“Jaga ini.”
Yusuf bertanya:
“Ini kunci pintu gudang?”
Ayahnya menjawab:
“Mungkin.”
“Gembok yang mana?”
Ayahnya tersenyum.
“Suatu hari engkau akan tahu.”
Lalu ia meninggal.
꧁ KUNCI YANG TIDAK COCOK ꧂
Hari pertama menjadi penjaga, Yusuf langsung mencoba.
Ia memasukkan kunci itu ke gembok pertama.
Tidak cocok.
Kedua.
Tidak.
Ketiga.
Tidak.
Sampai gembok ketujuh.
Tetap tidak cocok.
Yusuf kecewa.
“Ayah memberiku kunci yang salah.”
Namun karena pesan terakhir ayahnya, ia tetap menyimpannya.
Tahun pertama berlalu.
Tidak terjadi apa-apa.
Tahun kedua.
Tetap sama.
Yusuf setiap hari duduk di depan gudang.
Ia melihat pedagang lewat.
Tentara lewat.
Pejabat lewat.
Orang miskin lewat.
Kadang ia merasa pekerjaannya sia-sia.
“Menjaga pintu yang bahkan tidak bisa kubuka.”
Suatu hari datang seorang saudagar kaya.
Ia berkata:
“Aku dengar engkau memiliki kunci.”
Yusuf terkejut.
“Dari mana kau tahu?”
“Orang-orang bicara.”
Saudagar menawarkan seratus keping emas.
Yusuf menolak.
“Seribu.”
Yusuf menolak.
“Sepuluh ribu.”
Yusuf mulai tergoda.
Namun teringat pesan ayahnya.
“Jaga ini.”
Ia berkata:
“Tidak dijual.”
Saudagar pergi.
Malamnya Yusuf memegang kunci.
Ia berpikir:
“Kalau kunci ini bahkan tidak bisa membuka apa pun, kenapa aku menolaknya?”
Ia hampir menyesal.
꧁ TANGAN YANG SEMAKIN MENGGENGGAM ꧂
Sejak hari itu Yusuf menjadi sangat takut kehilangan kunci.
Ia menggantungnya di leher.
Tidur dengan tangan menggenggamnya.
Jika ada orang mendekat, ia waspada.
Jika seseorang bertanya tentang kunci, ia marah.
Kunci yang dahulu hanya amanah, perlahan berubah menjadi sumber ketakutan.
Ia tidak lagi menjaga kunci.
Ia justru merasa kunci itu yang menguasainya.
Suatu pagi datang seorang anak kecil.
Anak itu membawa seekor burung yang terluka.
“Paman Yusuf, bantu aku.”
Yusuf berkata:
“Aku sedang menjaga gudang.”
“Burung ini berdarah.”
Yusuf melihat tangannya.
Satu tangan memegang tongkat.
Satu lagi menggenggam kunci.
“Aku tidak bisa.”
Anak itu bertanya:
“Kenapa?”
Yusuf berkata:
“Aku tidak boleh melepaskan kunci.”
Anak itu pergi.
Beberapa hari kemudian datang perempuan tua membawa keranjang.
Keranjangnya jatuh.
Buah-buahan berserakan.
“Yusuf, bantu sebentar.”
Ia hendak membantu.
Namun lagi-lagi satu tangannya memegang kunci erat.
Ia hanya membantu dengan satu tangan.
Buah banyak menggelinding.
Perempuan tua berkata:
“Kenapa tanganmu tidak dilepas?”
Yusuf menjawab:
“Ada sesuatu yang harus kujaga.”
Perempuan itu menatap genggamannya.
Kemudian berkata:
“Hati-hati. Jangan sampai sesuatu yang engkau jaga membuat tanganmu tidak lagi mampu menolong.”
Kalimat itu tinggal di pikiran Yusuf.
꧁ DATANGNYA PENJAGA TUA ꧂
Beberapa bulan kemudian datang seorang lelaki tua bernama Basyir.
Ia pernah menjadi sahabat ayah Yusuf.
Basyir melihat Yusuf duduk dengan tangan menggenggam.
“Apa itu?”
“Kunci ayah.”
“Masih kau simpan?”
“Iya.”
“Sudah dicoba?”
“Semua gembok. Tidak satu pun cocok.”
Basyir tersenyum.
“Lalu kenapa masih kau genggam?”
“Karena ayah menyuruh menjaganya.”
Basyir bertanya:
“Menjaga dan menggenggam terus-menerus itu sama?”
Yusuf terdiam.
Basyir berkata:
“Coba buka tanganmu.”
Yusuf ragu.
“Kenapa?”
“Buka saja.”
Yusuf membuka sedikit.
Basyir berkata:
“Lebih lebar.”
Akhirnya telapak tangan terbuka.
Di sana ada bekas luka kecil.
Kulitnya merah karena bertahun-tahun menggenggam kunci terlalu keras.
Basyir berkata:
“Lihat.”
Yusuf melihat.
Kunci itu telah meninggalkan bekas.
Basyir berkata:
“Ada amanah yang rusak bukan karena dilepas, tetapi karena digenggam dengan cara yang salah.”
Yusuf mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu?”
“Engkau mengira setia berarti tidak pernah melepaskan. Padahal kesetiaan juga membutuhkan kebijaksanaan.”
꧁ PINTU YANG TIDAK TERLIHAT ꧂
Basyir lalu berkata:
“Besok pagi ikut aku.”
Mereka berjalan ke belakang gudang.
Yusuf telah bertahun-tahun menjaga bagian depan, tetapi hampir tidak pernah memeriksa belakang.
Di sana terdapat dinding tertutup tanaman liar.
Basyir membersihkan semak.
Di baliknya terlihat sebuah ukiran kecil.
Bentuknya seperti telapak tangan.
Yusuf terkejut.
“Ini bukan pintu.”
Basyir berkata:
“Coba tempelkan tanganmu.”
Yusuf menempelkan telapak tangan kanan.
Tidak terjadi apa-apa.
“Tangan satunya.”
Yusuf ragu.
Tangan kirinya masih memegang kunci.
Basyir berkata:
“Letakkan kuncinya.”
Yusuf menolak.
“Ayah menyuruh menjaganya.”
Basyir menjawab:
“Letakkan di tanah tepat di depanmu. Tidak ada yang mengambil.”
Yusuf sangat berat melakukannya.
Akhirnya ia meletakkan kunci.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kedua tangannya kosong.
Ia menempelkan kedua telapak tangan pada ukiran.
Terdengar suara:
Krrrk…
Dinding bergetar.
Sebuah celah terbuka.
Yusuf terkejut.
Di baliknya terdapat lorong menuju bagian dalam gudang.
Ia menatap kunci di tanah.
“Jadi kunci itu tidak dipakai?”
Basyir menjawab:
“Belum tentu.”
Mereka masuk.
Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan kecil.
Di tengah ruangan berdiri sebuah peti.
Peti itu tidak dikunci.
Yusuf membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar tulisan:
“Kunci pertama adalah melepaskan genggaman.”
Yusuf bingung.
“Hanya ini?”
Basyir berkata:
“Baca bagian bawah.”
Yusuf membaca:
“Tangan yang penuh tidak mampu menerima. Tangan yang terlalu menggenggam tidak mampu memberi.”
Yusuf terdiam lama.
꧁ TUJUH GENGGAMAN ꧂
Di dinding ruangan terdapat tujuh tulisan.
Masing-masing sejajar dengan tujuh gembok di pintu depan.
Gembok Pertama: Rasa Memiliki.
Tulisan:
“Apa yang dititipkan kepadamu bukan selalu menjadi milikmu.”
Gembok Kedua: Takut Kehilangan.
“Ketakutan dapat membuat manusia merusak sesuatu sebelum benar-benar kehilangan.”
Gembok Ketiga: Dendam.
“Tangan yang memegang dendam terlalu penuh untuk menerima kedamaian.”
Gembok Keempat: Pujian.
“Jika engkau menggenggam pujian, engkau akan takut melakukan kebenaran yang membuat orang tidak menyukaimu.”
Gembok Kelima: Masa Lalu.
“Kenangan adalah guru, bukan rantai.”
Gembok Keenam: Kendali.
“Tidak semua yang engkau cintai harus bergerak sesuai kehendakmu.”
Gembok Ketujuh: Diri Sendiri.
“Genggaman paling sulit dilepaskan adalah keyakinan bahwa semuanya harus berpusat pada dirimu.”
Yusuf membaca semuanya.
Kemudian bertanya:
“Jadi harta langit itu apa?”
Basyir menunjuk tulisan terakhir di ujung dinding.
Yusuf membacanya:
“Harta terbesar bukan sesuatu yang berhasil kau genggam, tetapi kemampuan mengetahui apa yang harus dipegang dan apa yang harus dilepaskan.”
Yusuf duduk.
Selama bertahun-tahun ia mengira harta itu berada di balik tujuh gembok.
Ternyata tujuh gembok adalah perlambang tujuh genggaman di dalam manusia.
꧁ RAHASIA KUNCI AYAH ꧂
Yusuf kembali mengambil kunci.
Sekarang ia tidak menggenggamnya.
Ia hanya menaruhnya di telapak tangan.
Basyir berkata:
“Perhatikan bentuknya.”
Baru sekarang Yusuf benar-benar melihat.
Di gagang kunci terdapat ukiran:
اَلْأَمَانَةُ لَيْسَتْ مِلْكًا
Artinya:
“Amanah bukan kepemilikan.”
Yusuf menangis.
Ayahnya tidak pernah memberinya kunci untuk membuka gembok.
Ayahnya memberinya benda untuk mengajarkan cara menjaga amanah.
Basyir berkata:
“Sekarang kau mengerti kenapa ayahmu berkata ‘jaga’, bukan ‘miliki’.”
Yusuf mengangguk.
꧁ KETIKA TUJUH GEMBOK TERBUKA ꧂
Mereka kembali ke pintu depan.
Aneh.
Ketika Yusuf mendekat dengan tangan tidak lagi menggenggam kunci, gembok pertama jatuh sendiri.
Clak.
Kemudian kedua.
Ketiga.
Satu demi satu.
Sampai gembok ketujuh.
Pintu terbuka.
Namun di baliknya tidak ada gunungan emas.
Yang ada hanyalah gudang besar berisi:
benih,
alat pertanian,
obat-obatan,
kain,
air bersih,
buku,
dan persediaan makanan.
Yusuf tertawa kecil.
“Ini harta langit?”
Basyir berkata:
“Menurutmu tidak?”
Yusuf memandang seluruh isi gudang.
Benda-benda itu dapat memberi makan ribuan orang.
Menolong orang sakit.
Membantu petani.
Mengajar anak-anak.
Tiba-tiba ia memahami:
harta itu disimpan bukan supaya seseorang menjadi kaya.
Harta itu disimpan supaya banyak tangan dapat menerima manfaat.
Di bagian dalam pintu tertulis:
“Harta yang hanya berhenti di tangan penjaga telah kehilangan sebagian maknanya.”
꧁ PIWULANG QISAH KETUJUH BELAS ꧂
Manusia membutuhkan kemampuan menggenggam.
Tanpa menggenggam, kita tidak dapat menjaga amanah.
Tidak dapat memegang janji.
Tidak dapat mempertahankan prinsip.
Tidak dapat merawat keluarga.
Tetapi manusia juga membutuhkan kemampuan melepaskan.
Karena tidak semua hal harus dipertahankan selamanya.
Ada masa memegang.
Ada masa menyerahkan.
Ada masa menjaga.
Ada masa berbagi.
Ada masa memperjuangkan.
Ada masa menerima bahwa sebuah musim telah selesai.
Kebijaksanaan hidup berada di antara keduanya.
꧁ JANGAN SALAH MEMAHAMI MELEPASKAN ꧂
Melepaskan bukan selalu berarti meninggalkan tanggung jawab.
Jangan berkata:
“Aku melepaskan,”
padahal sedang lari dari kewajiban.
Utang tetap harus diselesaikan.
Anak tetap harus dirawat.
Janji harus ditunaikan.
Kesalahan harus diperbaiki.
Melepaskan yang dimaksud adalah membuang keterikatan yang tidak sehat:
keinginan menguasai,
dendam,
kesombongan,
ketakutan berlebihan,
dan sesuatu yang jelas sudah merusak.
꧁ RAHASIA TANGAN KOSONG ꧂
Tangan kosong sering dianggap tanda tidak punya apa-apa.
Padahal tangan kosong memiliki kemungkinan.
Ia dapat:
menerima,
menolong,
memeluk,
menanam,
berdoa,
dan bekerja.
Tangan yang penuh emas tidak dapat memegang tangan orang yang sedang jatuh jika tidak bersedia menggeser sebagian emasnya.
Begitu pula hati.
Kadang hati bukan kekurangan berkah.
Ia terlalu penuh oleh sesuatu yang tidak lagi perlu dipertahankan.
꧁ LIMA HAL YANG PERLU DIPERIKSA ꧂
Sesekali tanyakan:
Pertama:
Apa yang sedang kugenggam karena amanah?
Kedua:
Apa yang kugenggam hanya karena takut kehilangan?
Ketiga:
Apakah sesuatu yang dahulu menjadi bekal kini telah berubah menjadi beban?
Keempat:
Apakah rasa memiliki membuatku sulit berbagi?
Kelima:
Jika Alloh mengubah keadaan, apakah aku masih mampu menjaga adab ketika harus melepaskan?
Tidak semua jawabannya harus ditemukan dalam satu malam.
Tetapi pertanyaan itu dapat membuka telapak batin sedikit demi sedikit.
꧁ SANDHI LANGIT KETUJUH BELAS ꧂
“Tangan kang kakehan nggenggem ora bisa nampa kanthi lega.”
Artinya:
Tangan yang terlalu banyak menggenggam tidak dapat menerima dengan lapang.
Dan:
“Sing dijaga aja tansah kok anggep duwekmu. Ana amanah kang mung mampir ing tanganmu supaya bisa diterusake.”
Jangan menganggap semua yang kau jaga sebagai milikmu. Ada amanah yang hanya singgah di tanganmu agar dapat diteruskan.
꧁ RAHASIA GUDANG LANGIT ꧂
Mengapa harta gudang berupa makanan, obat, benih, kain, dan ilmu?
Karena harta tidak selalu berkilau.
Air bagi orang kehausan lebih berharga daripada permata.
Obat bagi orang sakit lebih berharga daripada emas.
Ilmu bagi anak yang tidak bisa membaca lebih berharga daripada perhiasan.
Benih bagi petani dapat menjadi kehidupan satu keluarga.
Maka nilai sesuatu tidak hanya ditentukan oleh harga pasarnya.
Nilai juga ditentukan oleh manfaatnya pada saat dibutuhkan.
꧁ PENUTUP QISAH KETUJUH BELAS ꧂
Sejak hari itu Yusuf tidak lagi duduk di depan gudang hanya sebagai penjaga.
Ia menjadi pengatur amanah.
Ia mencatat apa yang masuk.
Mencatat apa yang keluar.
Membagikan sesuai kebutuhan.
Menjaga agar tidak ada yang mengambil berlebihan.
Ia tetap menyimpan kunci ayahnya.
Tetapi bukan lagi di genggaman.
Ia menggantungnya di dinding ruang kerja.
Di bawahnya ia menulis:
“Jaga tanpa merasa memiliki.”
Suatu hari seorang anak bertanya:
“Paman Yusuf, kalau kunci itu tidak membuka pintu, kenapa masih disimpan?”
Yusuf tersenyum.
“Karena ia membuka sesuatu yang lebih sulit.”
“Apa?”
Yusuf membuka telapak tangannya.
“Ini.”
Anak itu tertawa.
“Tangan?”
Yusuf mengangguk.
“Tangan yang terbuka.”
Lalu ia berkata:
“Dulu aku mengira kekuatan adalah mampu mempertahankan sesuatu sekeras mungkin.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu, kekuatan juga berarti mengetahui kapan harus membuka tangan.”
Sebab ada manusia yang hancur bukan karena tidak mendapatkan sesuatu.
Tetapi karena tidak mampu menerima ketika sesuatu berubah.
Ada pula manusia yang hidupnya menjadi luas ketika ia memahami:
apa yang benar-benar harus dipertahankan,
apa yang sebaiknya dibagikan,
dan apa yang sudah waktunya dilepaskan.
Maka berdoalah:
“Yā Alloh, kuatkan tanganku untuk menjaga amanah yang harus kujaga, dan lembutkan tanganku untuk melepaskan apa yang memang harus kulepaskan.”
Sebab hidup tidak hanya mengajarkan manusia cara mendapatkan.
Hidup juga mengajarkan seni:
menjaga tanpa menguasai,
mencintai tanpa memenjarakan,
memiliki tanpa diperbudak oleh milik,
dan melepaskan tanpa kehilangan arah.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السابعة عشرة
KHATAM QISAH KETUJUH BELAS
“Kunci sejati ora tansah mbukak lawang. Kadhang dheweke mung mulang tangan supaya ora terus nggenggem.”
Kunci sejati tidak selalu membuka pintu. Kadang ia hanya mengajarkan tangan agar tidak terus menggenggam.
“Amanah iku dijaga, dudu dikuasai. Nalika wayahe diterusake, bukak tanganmu kanthi ikhlas.”
Amanah dijaga, bukan dikuasai. Ketika waktunya diteruskan, bukalah tanganmu dengan ikhlas.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDELAPAN BELAS
“JALAN YANG BERCAHAYA SETELAH JEJAK DIHAPUS HUJAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri pegunungan, terdapat sebuah jalan tua yang menghubungkan dua desa.
Jalan itu sempit.
Berliku.
Di kanan kirinya terdapat jurang dan hutan.
Karena sulit dilalui, orang-orang menandai jalannya dengan batu putih.
Setiap beberapa langkah ada satu batu.
Batu-batu itulah yang membantu musafir agar tidak tersesat.
Selama puluhan tahun, semua orang mengikuti tanda yang sama.
Tidak ada yang mempersoalkannya.
Sampai suatu malam turun hujan yang sangat besar.
Petir menyambar.
Tanah longsor.
Sungai meluap.
Sebagian batu tanda hanyut.
Sebagian tertutup lumpur.
Sebagian berpindah tempat.
Keesokan paginya, jalan yang selama ini dikenal mendadak tampak asing.
Penduduk panik.
“Bagaimana kita menuju desa seberang?”
“Jejaknya hilang!”
“Batu penunjuk sudah tidak ada!”
Di antara penduduk itu ada seorang pemuda bernama Amin.
Amin sering melewati jalan tersebut bersama ayahnya ketika masih kecil.
Ayahnya sudah meninggal.
Namun Amin merasa hafal jalannya.
Ia berkata:
“Aku tahu jalan ini.”
Orang-orang bertanya:
“Yakin?”
“Yakin.”
Mereka pun mengikutinya.
꧁ KETIKA INGATAN MENJADI TERLALU PERCAYA DIRI ꧂
Amin berjalan cepat.
Ia menunjuk ke depan.
“Di sini belok kanan.”
Seorang lelaki tua berkata:
“Dulu memang kanan, tapi longsor semalam mungkin mengubah jalur.”
Amin menjawab:
“Aku sudah puluhan kali lewat.”
Ia tetap berbelok.
Mereka mengikuti.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di jalan buntu.
Di depan mereka terdapat jurang baru akibat longsor.
Semua orang berhenti.
Seorang berkata:
“Kita salah.”
Amin merasa malu.
Ia berkata:
“Tidak mungkin.”
Ia mencoba mencari batu putih.
Tidak ada.
Ia melihat pohon besar yang dulu menjadi tanda.
Pohon itu tumbang.
Amin mulai gelisah.
Seorang perempuan berkata:
“Kita kembali.”
Amin menjawab:
“Tunggu. Aku pasti bisa menemukan jalan.”
Ia tidak ingin mengakui bahwa ingatannya tidak lagi cukup.
Mereka berjalan ke arah lain.
Salah lagi.
Matahari mulai turun.
Orang-orang kelelahan.
Akhirnya lelaki tua yang sejak awal mengingatkan berkata:
“Amin, tidak ada yang memalukan dari mengatakan: jalan telah berubah.”
Amin diam.
Lelaki tua melanjutkan:
“Yang berbahaya bukan tidak tahu jalan. Yang berbahaya adalah terus memimpin seolah-olah tahu ketika keadaan sudah berubah.”
Amin menunduk.
Ia berkata:
“Baik. Aku tidak tahu.”
Anehnya, setelah kalimat itu keluar, hatinya justru terasa lebih ringan.
꧁ MENCARI JALAN BARU ꧂
Mereka sepakat berhenti.
Tidak ada yang berjalan sendiri.
Mereka mengamati keadaan.
Seseorang menemukan aliran air kecil.
Yang lain melihat bekas pijakan hewan.
Seorang perempuan tua berkata:
“Kalau desa seberang berada di lembah timur, kita bisa mengikuti arah matahari terbit besok pagi.”
Mereka bermalam di tempat aman.
Malam itu Amin tidak bisa tidur.
Ia teringat ayahnya.
Dulu setiap melewati jalan, ayahnya selalu berkata:
“Jangan hanya hafalkan batu.”
Amin kecil pernah bertanya:
“Lalu apa yang harus kuhafal?”
Ayahnya menjawab:
“Pahami arah.”
Amin baru memahami maksudnya sekarang.
Selama ini ia menghafal tanda.
Bukan memahami perjalanan.
Ia tahu batu putih.
Tahu pohon.
Tahu belokan.
Namun ketika semuanya berubah, ia kehilangan pegangan.
Pagi berikutnya mereka mulai berjalan lagi.
Kali ini tidak ada yang memimpin sendirian.
Mereka berdiskusi.
Mengamati arah.
Mendengar suara sungai.
Memeriksa kemiringan tanah.
Beberapa kali mereka harus kembali.
Namun mereka tidak malu.
Setelah setengah hari, mereka menemukan jalan kecil.
Di tanah terdapat bekas roda.
Amin berkata:
“Mungkin ini menuju desa.”
Lelaki tua bertanya:
“Yakin?”
Amin tersenyum.
“Tidak. Tapi ada alasan untuk memeriksanya.”
Semua tertawa.
Mereka mengikuti jalan itu dengan hati-hati.
Akhirnya dari kejauhan terlihat asap dapur.
Mereka bersorak.
Desa seberang ditemukan.
Namun jalan yang mereka lalui bukan jalan lama.
Ia jalan baru.
Lebih panjang sedikit.
Tetapi lebih aman setelah longsor.
꧁ KETIKA ORANG-ORANG INGIN MENGEMBALIKAN SEMUA SEPERTI DULU ꧂
Beberapa hari kemudian penduduk berkumpul.
Sebagian berkata:
“Kita harus mengembalikan semua batu putih ke tempat lama.”
Amin menjawab:
“Tidak semua tempat lama masih aman.”
Orang-orang berkata:
“Tapi itulah jalan leluhur.”
Amin menjawab:
“Benar. Kita harus menghormati jalan yang dahulu menolong kita. Tetapi menghormati bukan berarti berpura-pura bahwa tanah tidak pernah berubah.”
Seorang tua bertanya:
“Jadi kita buang semua tanda lama?”
Amin menggeleng.
“Tidak. Kita pelajari.”
“Lalu?”
“Kita ambil yang masih benar. Kita pindahkan yang sudah tidak sesuai. Kita tambahkan tanda baru.”
Semua terdiam.
Lelaki tua yang ikut perjalanan berkata:
“Warisan bukan benda mati yang harus ditempatkan persis seperti semula. Warisan adalah kebijaksanaan yang harus tetap menuntun ketika keadaan berubah.”
Mereka akhirnya sepakat.
Batu-batu putih yang masih dapat dipakai dikumpulkan.
Sebagian ditempatkan pada jalan baru.
Sebagian dibiarkan di jalan lama sebagai penanda sejarah.
Di samping salah satu batu tua, Amin menulis:
“Di sini pernah ada jalan. Hormati jejaknya, tetapi jangan memaksa kaki melewati jurang yang kini terbuka.”
꧁ RAHASIA JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN ꧂
Beberapa bulan kemudian, hujan turun lagi.
Kali ini tidak sebesar sebelumnya.
Amin berdiri di jalan baru.
Ia melihat tanah basah.
Bekas kaki para musafir perlahan hilang.
Namun ketika malam datang, terjadi sesuatu.
Air hujan yang mengalir di sela batu memperlihatkan batu-batu kecil berwarna pucat.
Terkena cahaya bulan, batu itu tampak berkilau.
Jalan baru seolah mempunyai garis cahaya tipis.
Amin teringat ayahnya.
“Pahami arah.”
Ia tersenyum.
Jejak bisa hilang.
Tanda bisa berubah.
Tetapi jika manusia memahami arah, ia dapat membuat jejak baru yang lebih sesuai dengan keadaan.
꧁ PIWULANG QISAH KEDELAPAN BELAS ꧂
Dalam kehidupan, manusia membutuhkan tanda.
Tradisi.
Pengalaman.
Nasihat orang tua.
Pelajaran guru.
Kebiasaan yang sudah terbukti baik.
Semua itu penting.
Namun dunia berubah.
Keadaan berubah.
Usia berubah.
Teknologi berubah.
Kebutuhan manusia berubah.
Maka kita perlu membedakan antara:
nilai yang harus dijaga
dan
cara yang mungkin perlu disesuaikan.
Kejujuran harus dijaga.
Tetapi cara menyampaikan bisa berubah.
Adab harus dijaga.
Tetapi bentuk komunikasi bisa berubah.
Amanah harus dijaga.
Tetapi sistem pengelolaan bisa diperbaiki.
Tujuan kebaikan tetap.
Tetapi jalan menuju tujuan kadang membutuhkan pembaruan.
꧁ RAHASIA BATU PUTIH ꧂
Batu putih adalah perlambang metode.
Metode membantu.
Tetapi metode bukan tujuan.
Kesalahan terjadi ketika manusia mulai menganggap:
“Karena dahulu cara ini berhasil, maka selamanya hanya cara ini yang benar.”
Padahal bisa jadi keadaan sudah berubah.
Sebaliknya, jangan pula terlalu mudah berkata:
“Semua yang lama harus dibuang.”
Itu juga tidak bijak.
Yang lama perlu ditimbang.
Ada yang masih sangat baik.
Ada yang perlu disesuaikan.
Ada yang memang harus ditinggalkan karena sudah tidak membawa maslahat.
Kebijaksanaan tidak memuja masa lalu.
Kebijaksanaan juga tidak menghina masa lalu.
Ia belajar darinya.
꧁ RAHASIA KALIMAT “AKU TIDAK TAHU” ꧂
Amin baru bisa menemukan jalan ketika berani berkata:
“Aku tidak tahu.”
Ada kekuatan besar dalam kalimat itu jika diucapkan dengan jujur.
Guru tidak kehilangan kehormatan ketika berkata:
“Aku belum tahu jawabannya.”
Pemimpin tidak kehilangan wibawa ketika berkata:
“Data kita belum cukup.”
Orang tua tidak gagal ketika berkata kepada anak:
“Ayah/Ibu juga sedang belajar.”
Justru berbahaya jika manusia merasa harus selalu memiliki jawaban.
Sebab ketidaktahuan yang diakui dapat mencari ilmu.
Ketidaktahuan yang disembunyikan di balik kesombongan dapat membawa banyak orang ke jalan buntu.
꧁ EMPAT CARA MEMBACA JALAN YANG BERUBAH ꧂
Ketika keadaan hidup berubah, lakukan empat perkara:
Pertama — Jangan panik hanya karena tanda lama hilang.
Berhenti.
Amati.
Jangan mengambil keputusan besar hanya karena takut.
Kedua — Pegang nilai dasarnya.
Tanyakan:
“Apa yang sebenarnya ingin dijaga?”
Ketiga — Periksa kenyataan baru.
Jangan memaksa peta lama kepada tanah yang telah berubah.
Keempat — Berani memperbarui cara tanpa membuang hikmah lama.
Ini berlaku dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, organisasi, dan banyak perkara kehidupan.
꧁ RAHASIA JALAN LELUHUR ꧂
Menghormati orang yang terdahulu tidak selalu berarti meniru seluruh langkah lahiriah mereka.
Jika orang terdahulu berjalan kaki karena belum ada jembatan, kita tidak harus menolak jembatan hanya agar dianggap setia.
Yang perlu diwarisi adalah:
kejujuran,
keberanian,
ketekunan,
iman,
adab,
dan kebijaksanaan mereka dalam menghadapi zamannya.
Lalu kebijaksanaan itu dibawa menghadapi zaman kita.
Karena anak yang hanya meniru bentuk tanpa memahami ruh mudah kehilangan arah ketika bentuk tidak lagi dapat dipakai.
꧁ SANDHI LANGIT KEDELAPAN BELAS ꧂
“Aja mung ngapalake watu tandha. Ngertenana arahe.”
Artinya:
Jangan hanya menghafal batu penunjuk. Pahamilah arahnya.
Dan:
“Tilas lawas pantes diajeni, nanging aja dipaksa dadi dalan yen bumi wis owah.”
Jejak lama pantas dihormati, tetapi jangan dipaksa menjadi jalan jika bumi telah berubah.
꧁ KETIKA JALAN BARU TIDAK BERARTI KEBENARAN BARU ꧂
Ada satu perkara yang harus dijaga.
Jalan baru bukan berarti semua nilai harus dibuat baru.
Kebenaran tidak berubah hanya karena zaman berubah.
Yang berubah sering kali adalah cara menerapkan, menjelaskan, atau mengelola.
Maka jangan menggunakan kalimat:
“Ini zaman baru,”
untuk membenarkan kebohongan,
ketidakadilan,
pengkhianatan,
atau hilangnya adab.
Pembaruan yang sehat bukan meninggalkan nilai.
Pembaruan yang sehat justru mencari cara agar nilai tetap hidup dalam keadaan baru.
꧁ PENUTUP QISAH KEDELAPAN BELAS ꧂
Bertahun-tahun kemudian Amin menjadi penjaga jalan.
Namun ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai orang yang paling tahu.
Jika ada longsor, ia memeriksa kembali.
Jika sungai berpindah, ia memperbarui peta.
Jika musafir menemukan jalan lebih aman, ia mendengarkan.
Suatu hari seorang anak bertanya:
“Guru Amin, mana jalan yang paling benar?”
Amin menjawab:
“Menuju mana?”
Anak itu tertawa.
Amin berkata:
“Pertanyaan tentang jalan selalu membutuhkan tujuan.”
“Kalau tujuannya desa seberang?”
Amin menunjuk jalan baru.
“Yang ini sekarang paling aman.”
“Sekarang?”
“Ya.”
“Berarti suatu hari bisa berubah?”
“Bisa.”
Anak itu bertanya:
“Lalu apa yang tidak berubah?”
Amin menatap matahari di ufuk timur.
Ia berkata:
“Arah yang benar harus terus dicari, meskipun jalan menuju ke sana berubah.”
Anak itu mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
Amin kemudian memberikan satu batu putih kepadanya.
“Untuk apa?”
“Sebagai pengingat.”
“Pengingat apa?”
Amin menjawab:
“Tanda dibuat untuk menolong manusia menemukan jalan. Jangan sampai suatu hari manusia justru lupa jalan karena terlalu sibuk menyembah tandanya.”
Hujan turun pelan.
Jejak kaki mereka hilang sedikit demi sedikit.
Namun jalan tidak hilang.
Karena jalan tidak hanya hidup di tanah.
Ia hidup pula dalam pengetahuan, kebijaksanaan, dan keberanian manusia untuk membaca keadaan dengan jujur.
Maka jika suatu hari jejak lama hilang, jangan langsung menganggap seluruh warisan musnah.
Bisa jadi Alloh sedang mengajarkan:
jangan hanya menjadi pengikut jejak. Jadilah manusia yang memahami arah, agar ketika tanda hilang, engkau tetap mampu berjalan dengan ilmu, adab, dan pertimbangan yang jernih.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثامنة عشرة
KHATAM QISAH KEDELAPAN BELAS
“Jejak bisa dihapus hujan, tetapi arah tidak hilang bagi orang yang mau membaca langit, tanah, dan kenyataan dengan jernih.”
“Ajeni dalan lawas, nanging aja wedi gawe pijakan anyar nalika dalan lawas wis ketutup jurang.”
Hormatilah jalan lama, tetapi jangan takut membuat pijakan baru ketika jalan lama telah tertutup jurang.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KESEMBILAN BELAS
“API KECIL DI RUMAH YANG DITINGGALKAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di ujung sebuah desa tua, berdirilah sebuah rumah kayu yang sudah lama tidak dihuni.
Atapnya bocor.
Pintunya miring.
Jendelanya berdebu.
Halaman depannya dipenuhi rumput liar.
Orang-orang menyebutnya:
Rumah Sunyi.
Dahulu rumah itu milik seorang perempuan tua bernama Aminah.
Ia dikenal sederhana.
Tidak kaya.
Tidak mempunyai kebun luas.
Tidak pula memiliki banyak ternak.
Namun setiap malam, dari jendela rumahnya selalu terlihat satu cahaya kecil.
Sebuah lampu minyak.
Aminah tidak pernah membiarkannya padam.
Orang-orang sering bertanya:
“Untuk apa lampu itu dinyalakan sepanjang malam?”
Aminah menjawab:
“Barangkali ada musafir yang lewat dan membutuhkan tanda bahwa di sini masih ada rumah.”
Mereka tertawa.
“Siapa yang berjalan malam-malam sejauh ini?”
Aminah hanya tersenyum.
“Kalau tidak ada, tidak apa-apa. Lampu ini tetap membuat rumah tidak sepenuhnya gelap.”
Bertahun-tahun kemudian Aminah meninggal.
Rumah itu kosong.
Anak-anaknya sudah tinggal jauh.
Tidak ada yang ingin menempatinya.
Maka pintu dikunci.
Halaman dibiarkan.
Rumah Sunyi perlahan dilupakan.
Namun ada satu keanehan.
Setiap malam, beberapa orang bersumpah melihat cahaya kecil dari jendelanya.
Tidak terang.
Hanya redup.
Seperti lampu minyak.
Orang-orang mulai membuat cerita.
Ada yang berkata rumah itu berhantu.
Ada yang berkata Aminah masih menjaga rumah.
Ada pula yang takut melintas.
Sampai suatu hari datang seorang pemuda bernama Fahim.
Ia tidak percaya cerita itu.
Fahim berkata:
“Pasti ada penjelasan.”
Malam hari ia datang.
Benar.
Dari celah jendela terlihat cahaya.
Ia membuka pintu dengan kunci lama yang diberikan kepala desa.
Di dalam, rumah penuh debu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tetapi di sudut ruangan terdapat lampu minyak kecil.
Dan lampu itu menyala.
Fahim terkejut.
Ia mendekat.
Minyaknya hampir habis.
Ia berpikir:
“Siapa yang mengisinya?”
Ia mencari seluruh rumah.
Tidak ada orang.
Akhirnya ia memadamkan lampu.
“Cukup.”
Ia pulang.
Namun malam berikutnya cahaya itu muncul lagi.
Fahim datang.
Lampu menyala.
Ia memadamkan lagi.
Hari ketiga sama.
Akhirnya ia mulai kesal.
“Apa rahasianya?”
Di bawah lampu terdapat sebuah laci kecil.
Fahim membukanya.
Di dalam ada catatan tua milik Aminah.
Tulisan pertama berbunyi:
“Jangan tanyakan siapa yang menyalakan lampu sebelum bertanya siapa yang memerlukan cahayanya.”
Fahim membaca ulang.
Ia tidak mengerti.
꧁ MUSAFIR PERTAMA ꧂
Beberapa malam kemudian hujan sangat deras.
Angin bertiup kencang.
Fahim kebetulan berada dekat rumah itu.
Ia melihat seorang lelaki tua berjalan tertatih-tatih di jalan.
Lelaki itu basah kuyup.
Fahim bertanya:
“Mau ke mana?”
“Saya tersesat. Saya hendak menuju desa seberang.”
Fahim berkata:
“Jalan terlalu gelap. Istirahat dahulu.”
Ia membuka Rumah Sunyi.
Lelaki itu masuk.
Lampu kecil masih menyala.
Mereka duduk.
Fahim membuat api kecil.
Memberi air.
Lelaki tua berkata:
“Syukurlah ada cahaya di jendela. Kalau tidak, saya mungkin terus berjalan ke arah jurang.”
Fahim terdiam.
Ia melihat lampu.
Untuk pertama kalinya ia memahami sebagian maksud catatan Aminah.
Cahaya itu bukan hanya soal lampu.
Ia adalah tanda:
ada tempat untuk berhenti.
꧁ RUMAH YANG MULAI HIDUP KEMBALI ꧂
Sejak malam itu Fahim tidak lagi memadamkan lampu.
Ia justru membersihkan rumah.
Menyapu lantai.
Memperbaiki satu kursi.
Menambal atap.
Tidak untuk tinggal.
Hanya agar musafir dapat berteduh.
Beberapa orang desa mengejek.
“Untuk apa memperbaiki rumah orang mati?”
Fahim menjawab:
“Karena orang hidup masih bisa menggunakannya.”
Lama-kelamaan rumah itu menjadi tempat singgah.
Pedagang yang kemalaman.
Petani yang kehujanan.
Anak muda yang tersesat.
Orang tua yang kelelahan.
Mereka masuk.
Istirahat.
Minum.
Kemudian melanjutkan perjalanan.
Tidak ada tarif.
Tidak ada papan nama besar.
Hanya sebuah lampu kecil.
꧁ KETIKA FAHIM MULAI INGIN DIKENAL ꧂
Beberapa tahun kemudian orang-orang mulai mengetahui rumah itu.
Mereka berkata:
“Fahim baik sekali.”
“Fahim membangun tempat singgah.”
“Fahim menolong banyak musafir.”
Pujian mulai sampai kepadanya.
Awalnya ia tidak memikirkan.
Namun perlahan sesuatu berubah.
Ia memasang papan:
“Rumah Singgah Fahim.”
Kemudian papan itu diperbesar.
Ia mulai mencatat berapa orang datang.
Jika seseorang tidak mengucapkan terima kasih, ia merasa kecewa.
Jika orang hanya menyebut Aminah sebagai pemilik rumah lama, ia merasa sedikit terganggu.
Ia berkata dalam hati:
“Bukankah aku yang memperbaikinya?”
Suatu malam datang seorang anak kecil.
Ia bertanya:
“Paman, siapa yang pertama menyalakan lampu di sini?”
Fahim menjawab cepat:
“Aku yang menjaganya sekarang.”
Anak itu bertanya lagi:
“Tapi siapa yang pertama?”
Fahim diam.
Ia teringat Aminah.
Malam itu ia membuka kembali catatan lama.
Ada tulisan kedua:
“Hati-hati. Orang yang menjaga api bisa mulai mengira api berasal dari dirinya.”
Fahim merasa tertampar.
Ia duduk lama.
Kemudian melihat papan besar namanya.
Besok pagi papan itu ia turunkan.
Orang bertanya:
“Kenapa?”
Fahim menjawab:
“Rumah ini bukan tentang namaku.”
Ia mengganti papan dengan tulisan kecil:
“Tempat Berteduh. Masuklah bila perlu.”
꧁ API YANG HAMPIR PADAM ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Fahim menua.
Suatu malam ia sakit.
Tidak ada yang mengisi minyak.
Lampu mulai redup.
Fahim memandangnya dari tempat tidur.
Ia berkata:
“Kalau aku meninggal, mungkin api ini ikut mati.”
Tiba-tiba pintu terbuka.
Masuklah seorang pemuda.
Ia dahulu pernah berteduh di rumah itu ketika masih kecil.
Namanya Salman.
Ia membawa minyak.
Tanpa banyak bicara, ia mengisi lampu.
Fahim bertanya:
“Kenapa kau datang?”
Salman menjawab:
“Dulu ketika aku tersesat, lampu ini yang membuatku menemukan rumah.”
Fahim tersenyum.
“Siapa yang menyuruhmu mengisinya?”
Salman menjawab:
“Tidak ada.”
“Lalu?”
“Saya pikir, kalau dulu saya menerima cahaya, mungkin sekarang giliran saya menjaganya.”
Fahim menangis.
Ia akhirnya mengerti:
api tidak perlu dimiliki agar tetap hidup.
Ia hanya perlu diteruskan.
꧁ RAHASIA API KECIL ꧂
Beberapa hari kemudian Fahim meninggal.
Salman menjadi penjaga berikutnya.
Bukan pemilik.
Bukan pewaris gelar.
Hanya penjaga.
Di bawah lampu kini terdapat tiga tulisan:
Pertama: “Jangan tanyakan siapa yang menyalakan lampu sebelum bertanya siapa yang memerlukan cahayanya.”
Kedua: “Orang yang menjaga api jangan mengira api berasal dari dirinya.”
Ketiga: “Jika engkau pernah dihangatkan, suatu hari jadilah orang yang menghangatkan.”
꧁ PIWULANG QISAH KESEMBILAN BELAS ꧂
Banyak kebaikan dalam hidup tidak dimulai oleh kita.
Kita menerima:
ilmu dari guru,
doa dari orang tua,
jalan dari pendahulu,
kesempatan dari orang lain,
fasilitas dari orang yang bekerja sebelum kita,
dan pengalaman dari orang yang lebih dahulu melewati kesulitan.
Kesalahan manusia adalah ketika datang belakangan lalu berkata:
“Semua ini karena aku.”
Padahal mungkin ia hanya melanjutkan sesuatu yang telah lama dinyalakan.
Maka dalam setiap amanah, tanyakan:
“Apa yang kuterima sebelum aku datang?”
Dan:
“Apa yang harus kutinggalkan agar orang setelahku dapat melanjutkan?”
꧁ RAHASIA RUMAH YANG DITINGGALKAN ꧂
Rumah kosong bukan berarti tidak berguna.
Kadang sesuatu selesai dalam satu bentuk, tetapi manfaatnya dapat hidup dalam bentuk lain.
Sebuah rumah keluarga dapat berubah menjadi tempat belajar.
Sebuah pengalaman pahit dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.
Sebuah usaha yang gagal dapat meninggalkan pengetahuan.
Sebuah generasi pergi, tetapi nilai baiknya dapat dilanjutkan.
Maka jangan hanya melihat:
“Siapa yang masih tinggal?”
Lihat pula:
“Apa yang masih dapat digunakan untuk kebaikan?”
꧁ RAHASIA CAHAYA DI JENDELA ꧂
Cahaya kecil itu tidak menyelamatkan musafir dengan sendirinya.
Ia hanya memberi tanda:
“Ada tempat di sini.”
Begitu pula manusia.
Kita tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh masalah orang lain.
Kadang yang bisa dilakukan hanya:
mendengarkan,
menunjukkan arah,
memberi tempat aman sementara,
memberi sedikit makanan,
memberi kalimat penguat,
atau hadir.
Jangan meremehkan pertolongan kecil.
Bagi orang yang sedang berada dalam gelap, cahaya kecil bisa sangat berarti.
꧁ EMPAT PENJAGA API ꧂
Agar kebaikan dapat diteruskan, jagalah empat perkara:
Pertama — Niat.
Jangan biarkan pelayanan berubah menjadi kebutuhan dipuji.
Kedua — Amanah.
Rawat apa yang dititipkan.
Ketiga — Penerus.
Jangan menyimpan semua pengetahuan hanya pada dirimu.
Keempat — Kerendahan hati.
Ingat bahwa sebelum engkau datang, ada orang yang telah menyiapkan jalan.
꧁ SANDHI LANGIT KESEMBILAN BELAS ꧂
“Geni cilik ora takon sapa sing paling misuwur. Dheweke mung menehi anget marang sapa wae sing nyedhak.”
Artinya:
Api kecil tidak bertanya siapa yang paling terkenal. Ia hanya memberi kehangatan kepada siapa pun yang mendekat.
Dan:
“Yen kowe tau nemu pepadhang nalika kesasar, aja lali sawijining dina dadi pepadhang kanggo wong liya.”
Jika engkau pernah menemukan cahaya ketika tersesat, jangan lupa suatu hari menjadi cahaya bagi orang lain.
꧁ RAHASIA NAMA YANG DITURUNKAN DARI PAPAN ꧂
Fahim tidak salah karena memperbaiki rumah.
Yang mulai salah adalah ketika manfaat itu perlahan dijadikan cermin bagi harga dirinya.
Nama boleh ditulis.
Orang boleh mengetahui siapa yang bekerja.
Penghargaan tidak selalu buruk.
Tetapi hati perlu dijaga.
Jika nama menjadi lebih penting daripada manfaat, arah mulai berubah.
Jika seseorang marah karena amal baiknya tidak disebut, periksalah kembali niat.
Sebab kebaikan yang benar tidak menjadi sia-sia hanya karena manusia lupa siapa yang melakukannya.
꧁ PENUTUP QISAH KESEMBILAN BELAS ꧂
Malam demi malam berlalu.
Rumah Sunyi tidak lagi benar-benar sunyi.
Kadang ada satu musafir.
Kadang lima.
Kadang tidak ada siapa pun.
Tetapi lampu tetap dijaga.
Bukan karena setiap malam pasti dibutuhkan.
Melainkan karena tidak ada yang tahu malam mana seseorang akan sangat membutuhkan cahaya itu.
Begitu pula amal baik.
Tidak semua hasil terlihat segera.
Satu nasihat mungkin dilupakan bertahun-tahun lalu tiba-tiba teringat ketika seseorang menghadapi kesulitan.
Satu kebaikan kepada anak mungkin baru dipahami ketika ia dewasa.
Satu ilmu yang diajarkan dapat hidup lama setelah gurunya tiada.
Satu pohon yang ditanam memberi teduh kepada orang yang tidak pernah mengenal penanamnya.
Maka jangan hanya menyalakan cahaya untuk hari ini.
Nyalakan sesuatu yang dapat diteruskan.
Ajarkan ilmu.
Siapkan penerus.
Rawat tempat.
Tulis pengalaman.
Tanam pohon.
Bangun kebiasaan baik.
Dan jangan jadikan dirimu pusat dari semua itu.
Sebab suatu hari kita semua akan meninggalkan rumah.
Pertanyaannya bukan apakah rumah akan tetap menyebut nama kita.
Pertanyaannya:
“Adakah api kecil yang masih menyala setelah kita pergi?”
Jika ada, biarkan generasi berikutnya mengisinya dengan minyak mereka sendiri.
Jangan paksa mereka menyebut nama kita setiap kali api itu menyala.
Karena amanah yang benar tidak membutuhkan manusia tetap berada di tengahnya selamanya.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menerima api dengan hati-hati,
menjaganya,
lalu menyerahkannya kembali ketika waktunya tiba.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة التاسعة عشرة
KHATAM QISAH KESEMBILAN BELAS
“Aja mung ninggalake jeneng. Ninggalna pepadhang.”
Jangan hanya meninggalkan nama. Tinggalkanlah cahaya.
“Lan yen pepadhang kuwi terus urip tanpa jenengmu disebut, syukurilah. Tegese amanah wis luwih gedhe tinimbang wong sing tau nggawa.”
Dan jika cahaya itu terus hidup tanpa namamu disebut, bersyukurlah. Itu berarti amanah telah menjadi lebih besar daripada orang yang pernah membawanya.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH
“SUNGAI YANG LUPA JALAN PULANG KE LAUT”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang luas, mengalirlah sebuah sungai besar bernama Nahrul Huda.
Ia lahir dari mata air kecil di kaki gunung.
Pada awalnya airnya jernih.
Alirannya tenang.
Ia melewati batu-batu.
Membasahi akar pohon.
Memberi minum rusa.
Mengisi sumur penduduk.
Menyuburkan sawah.
Sejak kecil, sungai itu selalu mendengar satu bisikan dari gunung:
“Mengalirlah. Pada akhirnya engkau akan kembali kepada laut.”
Sungai tidak pernah melihat laut.
Namun ia percaya.
Ia terus mengalir.
Melewati lembah.
Melewati hutan.
Melewati desa.
Semakin jauh perjalanan, sungai semakin besar.
Anak-anak sungai bergabung dengannya.
Airnya bertambah.
Namanya mulai dikenal.
Orang-orang membangun jembatan di atasnya.
Pedagang menggunakan arusnya.
Petani mengambil air darinya.
Penduduk mulai berkata:
“Tanpa sungai ini, desa kita tidak akan hidup.”
Nahrul Huda mendengar.
Awalnya ia bersyukur.
Tetapi lama-kelamaan muncul perasaan lain.
Ia mulai berpikir:
“Aku sangat penting.”
Kemudian:
“Akulah sumber kehidupan lembah ini.”
Dan akhirnya:
“Mengapa aku harus pergi ke laut? Bukankah semua orang justru datang kepadaku?”
Bisikan gunung yang dahulu selalu ia ingat mulai terdengar semakin jauh:
“Mengalirlah…”
Namun sungai menjawab dalam dirinya:
“Aku sudah sampai.”
꧁ SUNGAI YANG INGIN MENJADI DANAU ꧂
Pada suatu tempat, Nahrul Huda tiba di sebuah dataran luas.
Di sana alirannya seharusnya terus menuju selatan.
Namun ia melihat tanah lapang yang indah.
Ia berkata:
“Aku akan tinggal di sini.”
Ia memperlambat arus.
Air berkumpul.
Semakin lama semakin luas.
Sungai berubah menjadi seperti danau.
Penduduk senang.
Mereka berkata:
“Lihat! Air semakin banyak.”
Rumah-rumah dibangun di sekelilingnya.
Perahu kecil dibuat.
Orang-orang menamainya:
Danau Agung Nahrul Huda.
Sungai merasa bangga.
“Aku tidak perlu laut.”
Tahun pertama semuanya tampak baik.
Tahun kedua air masih cukup jernih.
Namun karena hampir tidak ada aliran keluar, sesuatu mulai berubah.
Daun-daun busuk menumpuk.
Lumpur menebal.
Air mulai berbau.
Nyamuk berkembang.
Ikan berkurang.
Penduduk mulai mengeluh.
“Ada apa dengan air kita?”
Nahrul Huda marah.
“Aku telah memberikan begitu banyak. Mengapa mereka mengeluh?”
Seorang petani tua bernama Hakim berkata:
“Karena air yang tidak bergerak terlalu lama dapat kehilangan kejernihannya.”
Sungai menjawab melalui gemericik kecil:
“Aku tidak ingin pergi.”
Hakim bertanya:
“Mengapa?”
“Karena di sini aku dibutuhkan.”
Hakim berkata:
“Dibutuhkan tidak berarti harus berhenti.”
Sungai tidak menjawab.
꧁ MATA AIR KECIL DATANG ꧂
Suatu malam turun hujan.
Dari bukit kecil datang aliran air yang masih sangat jernih.
Ia bergabung dengan Nahrul Huda.
Namanya Aynus Shafa.
Aynus Shafa berkata:
“Saudaraku, mengapa engkau berhenti?”
Nahrul Huda menjawab:
“Aku tidak berhenti. Aku sedang menetap.”
“Bukankah jalanmu menuju laut?”
“Aku sudah menemukan tempatku.”
Aynus Shafa melihat air yang mulai keruh.
Ia berkata:
“Apakah tempatmu benar-benar membuatmu hidup?”
Nahrul Huda tersinggung.
“Lihat betapa besarnya aku.”
Aynus Shafa menjawab:
“Besar tidak selalu berarti mengalir.”
“Aku memberi kehidupan kepada ribuan manusia.”
“Benar.”
“Lalu apa masalahnya?”
Aynus Shafa berkata:
“Engkau lupa bahwa air dapat memberi kehidupan karena ia menerima dan meneruskan.”
Nahrul Huda terdiam.
Aynus Shafa melanjutkan:
“Gunung memberimu air.”
“Hujan menambahmu.”
“Anak-anak sungai bergabung denganmu.”
“Lalu engkau menganggap semuanya berhenti padamu?”
Kalimat itu membuat sungai bergolak.
꧁ KETIKA AIR MULAI MELUAP ꧂
Musim hujan besar datang.
Air dari gunung turun sangat deras.
Karena Nahrul Huda menutup jalan keluarnya, air terus menumpuk.
Danau meluap.
Sawah terendam.
Rumah-rumah kebanjiran.
Orang-orang panik.
Sungai berkata:
“Aku tidak bermaksud menyakiti!”
Hakim berdiri di tepi air.
Ia berkata:
“Kebaikan yang ditahan terlalu lama dapat berubah menjadi beban.”
Penduduk kemudian menggali saluran agar air kembali mengalir ke selatan.
Nahrul Huda takut.
“Jangan! Airku akan berkurang!”
Hakim berkata:
“Benar.”
“Aku akan menjadi lebih kecil.”
“Mungkin.”
“Orang-orang tidak lagi melihatku sebesar ini.”
Hakim menjawab:
“Bisa jadi.”
Sungai bertanya:
“Lalu kenapa aku harus membiarkan airku pergi?”
Hakim menjawab:
“Karena tujuan air bukan terlihat banyak, tetapi terus memberi kehidupan sepanjang jalannya.”
Penduduk membuka saluran.
Air mulai bergerak.
Pada awalnya Nahrul Huda merasa kehilangan.
Permukaan air menurun.
Tepi danau menyusut.
Namun beberapa minggu kemudian sesuatu terjadi.
Air yang sebelumnya keruh perlahan jernih.
Ikan kembali.
Bau hilang.
Tanaman tumbuh.
Dan yang paling mengejutkan:
desa-desa di hilir yang selama bertahun-tahun kekeringan mulai menerima air.
Anak-anak berlari di sepanjang aliran baru.
Para petani bersujud syukur.
Nahrul Huda melihat semua itu.
Untuk pertama kalinya ia mengerti:
ketika air keluar dari dirinya, manfaatnya tidak berkurang—justru meluas.
꧁ PERJALANAN MENUJU TEMPAT YANG BELUM DIKENAL ꧂
Sungai melanjutkan perjalanan.
Kini ia tidak sebesar ketika menjadi danau.
Tetapi alirannya lebih hidup.
Ia melewati padang gersang.
Orang-orang menggali kanal kecil.
Airnya dibagi.
Nahrul Huda sempat takut:
“Semakin banyak yang mengambil, aku akan habis.”
Aynus Shafa berkata:
“Lihat ke belakang.”
Nahrul Huda melihat.
Mata air lain bergabung.
Hujan turun.
Sungai kecil masuk.
Ia terus menerima.
Aynus Shafa berkata:
“Engkau tidak diminta memberi tanpa menerima. Engkau diminta jangan menghentikan aliran.”
Nahrul Huda semakin memahami.
Namun setelah perjalanan panjang, ia tiba di daerah gurun.
Tanah menyerap air sangat cepat.
Sungai mulai mengecil.
Ia takut.
“Aku benar-benar akan habis.”
Aynus Shafa berkata:
“Teruslah.”
“Aku tidak melihat laut.”
“Teruslah.”
“Bagaimana kalau gunung salah?”
Aynus Shafa menjawab:
“Gunung tidak pernah menjanjikan bahwa perjalananmu akan selalu terasa penuh.”
Nahrul Huda mengalir.
Lebih kecil.
Lebih kecil.
Sampai pada suatu hari ia hanya menjadi aliran tipis.
Ia hampir putus asa.
Kemudian terdengar suara.
Bukan suara manusia.
Suara besar dan panjang.
Huuuuussssshhhh…
Udara membawa aroma asin.
Burung-burung laut terbang di atasnya.
Nahrul Huda bertanya:
“Apa itu?”
Aynus Shafa tersenyum.
“Laut.”
꧁ KETIKA SUNGAI TAKUT KEHILANGAN NAMA ꧂
Nahrul Huda semakin dekat.
Ia melihat bentangan air yang tidak berujung.
Untuk pertama kalinya ia merasa sangat kecil.
Ia berhenti.
“Aku tidak mau masuk.”
Aynus Shafa bertanya:
“Kenapa?”
“Kalau aku masuk ke laut, namaku hilang.”
“Benar.”
“Aku tidak lagi disebut Nahrul Huda.”
“Mungkin.”
“Aku tidak lagi mempunyai bentuk sendiri.”
“Benar.”
Sungai berkata:
“Jadi selama ini aku berjalan hanya untuk kehilangan diriku?”
Aynus Shafa menjawab:
“Atau mungkin selama ini engkau berjalan untuk memahami bahwa dirimu tidak pernah terpisah dari sumber yang lebih luas.”
Nahrul Huda gemetar.
Ia memandang laut.
Lalu menoleh ke belakang.
Terbayang gunung.
Lembah.
Desa.
Danau.
Banjir.
Padang.
Gurun.
Semua perjalanan.
Ia bertanya:
“Kalau aku masuk ke laut, apa yang tersisa dariku?”
Terdengar suara dari kejauhan:
“Air.”
Sungai terdiam.
Nama berubah.
Bentuk berubah.
Namun hakikat air tidak hilang.
꧁ PERTEMUAN DENGAN LAUT ꧂
Nahrul Huda akhirnya mengalir.
Pelan-pelan air tawarnya bertemu air asin.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada suara yang berkata:
“Selamat, engkau telah sampai.”
Hanya pertemuan.
Sungai yang selama ini merasa besar sekarang menjadi bagian dari keluasan yang tidak dapat diukur.
Ia merasa takut.
Lalu tenang.
Seolah mengingat sesuatu yang sangat lama:
“Mengalirlah. Pada akhirnya engkau akan kembali kepada laut.”
Ia akhirnya memahami.
Selama perjalanan, ia tidak pernah benar-benar kehilangan.
Setiap tetes yang menguap naik menjadi awan.
Awan kembali menjadi hujan.
Hujan turun ke gunung.
Gunung melahirkan mata air.
Mata air menjadi sungai.
Sungai kembali ke laut.
Dan perjalanan dimulai lagi.
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH ꧂
Sungai adalah pralambang manusia.
Kita menerima banyak hal:
umur,
ilmu,
rezeki,
kesempatan,
kasih sayang,
tenaga,
jabatan,
dan pengalaman.
Semua itu mengalir melalui kita.
Masalah muncul ketika manusia mulai berkata:
“Ini semua milikku.”
Lalu menahannya.
Ilmu tidak dibagikan.
Harta tidak pernah digunakan untuk manfaat.
Jabatan tidak memberi ruang penerus.
Cinta berubah menjadi kepemilikan.
Pengalaman tidak diwariskan.
Amanah berhenti di satu orang.
Ketika itu terjadi, air batin dapat mulai tergenang.
꧁ RAHASIA AIR YANG BERHENTI ꧂
Tidak semua berhenti itu buruk.
Manusia perlu beristirahat.
Perlu menabung.
Perlu menjaga cadangan.
Perlu memiliki batas.
Tetapi berhenti berbeda dengan menutup seluruh aliran.
Istirahat membuat manusia siap bergerak kembali.
Sedangkan keterikatan membuat manusia takut bergerak sama sekali.
Maka bertanyalah:
“Apakah aku sedang beristirahat, atau sebenarnya takut melanjutkan?”
꧁ RAHASIA MEMBERI DAN MENERIMA ꧂
Ada pula orang yang salah memahami kisah sungai.
Ia terus memberi sampai dirinya habis.
Itu bukan maksudnya.
Sungai memberi karena ia juga menerima.
Hujan.
Mata air.
Anak sungai.
Begitu pula manusia.
Orang yang terus menolong juga perlu beristirahat.
Orang tua perlu ruang menjaga kesehatan.
Pengajar perlu belajar.
Pemimpin perlu memiliki orang yang menopangnya.
Orang yang mencintai orang lain tetap perlu menjaga dirinya.
Memberi tanpa batas yang sehat dapat berubah menjadi kelelahan dan luka.
Maka aliran yang sehat mempunyai dua arah:
menerima dengan syukur, memberi dengan bijak.
꧁ RAHASIA BANJIR ꧂
Mengapa air yang banyak justru merusak?
Karena kelimpahan tanpa saluran dapat menjadi beban.
Begitu pula harta tanpa pengelolaan.
Kekuasaan tanpa aturan.
Ilmu tanpa adab.
Emosi tanpa jalan sehat untuk diproses.
Bahkan semangat yang besar tanpa kebijaksanaan dapat membuat manusia terburu-buru.
Karena itu jangan hanya meminta banyak.
Mintalah pula kemampuan mengelola.
꧁ LIMA ALIRAN YANG JANGAN DIBUNTUKAN ꧂
Pertama — Aliran Ilmu.
Jika mengetahui sesuatu yang bermanfaat, ajarkan dengan benar.
Kedua — Aliran Kebaikan.
Jika menerima pertolongan, jangan lupa menolong ketika mampu.
Ketiga — Aliran Regenerasi.
Amanah jangan berhenti hanya karena satu orang merasa tidak tergantikan.
Keempat — Aliran Maaf.
Jangan menyimpan seluruh hidup sebagai tempat menampung dendam.
Kelima — Aliran Syukur.
Nikmat yang diterima jangan berhenti pada rasa memiliki; jadikan ia jalan menuju pengabdian.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH ꧂
“Banyu urip amarga mili.”
Artinya:
Air hidup karena mengalir.
Dan:
“Apa kang kok tampa aja kabeh kok bendung. Ana sing kudu dijaga, ana sing kudu diterusake.”
Apa yang engkau terima jangan seluruhnya dibendung. Ada yang harus dijaga, ada yang harus diteruskan.
꧁ RAHASIA LAUT ꧂
Laut dalam qisah ini bukan gambaran bahwa manusia menjadi bagian dari zat Alloh—bukan demikian.
Alloh tetap Maha Pencipta dan manusia tetap makhluk.
Laut di sini hanyalah pralambang keluasan tujuan: bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan dirinya sendiri sebagai ujung seluruh amanah.
Kita hidup dari karunia Alloh.
Berjalan dengan karunia-Nya.
Dan akhirnya kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dititipkan.
Maka jangan biarkan sungai kehidupan hanya berputar mengelilingi ego.
꧁ RAHASIA NAMA YANG HILANG ꧂
Nahrul Huda takut kehilangan nama.
Begitu pula manusia.
Kita ingin dikenang.
Ingin disebut.
Ingin nama tertulis.
Itu manusiawi.
Namun jangan sampai nama menjadi lebih penting daripada manfaat.
Sebuah sungai boleh kehilangan namanya ketika memasuki laut.
Tetapi airnya tetap menjalankan perjalanan.
Begitu pula amal.
Bisa jadi suatu hari orang lupa siapa yang memulai.
Tetapi bila kebaikannya terus berjalan, jangan bersedih.
Manfaat tidak menjadi lebih kecil hanya karena nama pembawanya sudah tidak disebut.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH ꧂
Jika hari ini Alloh memberimu sesuatu, tanyakan:
“Untuk apa ini dititipkan?”
Jika ilmu, sebarkan dengan adab.
Jika rezeki, gunakan dengan tanggung jawab.
Jika kedudukan, jadikan pelayanan.
Jika pengalaman, jadikan hikmah.
Jika cinta, jadikan penjagaan.
Jika waktu, jadikan amal.
Jika kesempatan, jangan sia-siakan.
Jangan menjadi sungai yang terlalu takut kehilangan air sampai lupa mengalir.
Jangan pula menjadi sungai yang memberi tanpa pernah menjaga sumbernya.
Mengalirlah dengan keseimbangan.
Ada saat menampung.
Ada saat melepas.
Ada saat menerima.
Ada saat memberi.
Ada saat berhenti sejenak.
Ada saat kembali bergerak.
Dan bila suatu hari jalanmu terasa semakin kecil, jangan langsung menganggap hidupmu sedang menyusut.
Mungkin engkau sedang mendekati sesuatu yang lebih luas daripada yang pernah engkau bayangkan.
Nahrul Huda akhirnya tidak lagi takut kepada laut.
Karena ia memahami:
tujuan perjalanan bukan menjadi sungai terbesar.
Tujuan perjalanan adalah menjalankan fungsi air dengan benar sepanjang jalan.
Maka hiduplah demikian.
Jangan bertanya hanya:
“Seberapa besar aku?”
Tanyakan:
“Seberapa banyak kehidupan yang tumbuh ketika amanah Alloh melewati tanganku?”
Dan ketika waktunya tiba untuk kembali kepada-Nya, semoga kita dapat berkata:
“Yā Alloh, apa yang Engkau titipkan tidak semuanya kubendung untuk diriku. Semampuku, aku telah mencoba mengalirkannya menjadi kebaikan.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة العشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH
“Kali ora dadi mulya amarga banyune ditahan. Kali dadi migunani amarga ngerti kapan nyimpen lan kapan mili.”
Sungai tidak menjadi mulia karena menahan airnya. Sungai menjadi bermanfaat karena mengetahui kapan menyimpan dan kapan mengalir.
“Aja wedi yen kabecikanmu mili adoh saka jenengmu. Yen isih nggawa urip, tegese banyu iku durung muspra.”
Jangan takut bila kebaikanmu mengalir jauh dari namamu. Selama masih membawa kehidupan, berarti air itu tidak sia-sia.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH SATU
“BURUNG YANG MEMBAWA SEBUTIR LANGIT DI PARUHNYA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang sangat jauh dari laut, terdapat sebuah padang tandus.
Tanahnya pecah-pecah.
Pepohonan jarang.
Angin panas berjalan siang dan malam.
Penduduknya terbiasa hidup dalam kekurangan.
Air harus diambil dari tempat yang sangat jauh.
Anak-anak tumbuh dengan mengenal debu lebih dahulu daripada mengenal bunga.
Di tengah padang itu tinggal seorang anak bernama Nabil.
Setiap sore Nabil duduk di atas batu besar.
Ia memandang langit.
Bukan karena ia mengerti rahasia bintang.
Bukan karena ia mencari tanda.
Ia hanya menyukai warna biru.
Suatu hari ia berkata kepada ibunya:
“Ibu, apakah langit bisa jatuh?”
Ibunya tertawa.
“Kalau langit jatuh, kita semua akan kebingungan.”
Nabil berkata:
“Aku hanya ingin sedikit saja.”
“Untuk apa?”
“Supaya tanah kita punya warna selain coklat.”
Ibunya mengusap kepalanya.
“Langit tidak bisa dibawa pulang, Nak.”
Nabil mengangguk.
Tetapi sejak hari itu ia mempunyai satu keinginan aneh:
membawa sedikit langit ke tanah.
꧁ BURUNG DARI ARAH UTARA ꧂
Pada suatu pagi, ketika matahari belum tinggi, seekor burung kecil terbang dari utara.
Bulunya kelabu.
Sayapnya tidak terlalu indah.
Namun di paruhnya terdapat sesuatu yang berkilau biru.
Burung itu turun di depan Nabil.
Menjatuhkan benda kecil.
Nabil mengambilnya.
Ternyata hanya sebutir biji.
Warnanya biru kehitaman.
Nabil kecewa.
“Aku kira kau membawa sepotong langit.”
Burung itu memiringkan kepala.
Lalu terbang.
Nabil hampir membuang biji tersebut.
Namun ibunya berkata:
“Kalau sudah diberikan, coba tanam.”
“Di sini?”
“Ya.”
“Tanah ini kering.”
“Benar.”
“Tidak akan tumbuh.”
Ibunya tersenyum.
“Kalau tidak ditanam, kita sudah tahu hasilnya.”
Nabil menggali tanah dengan jari.
Biji itu ditanam.
Ia menyiramnya dengan setengah cangkir air.
Ibunya terkejut.
“Itu jatah minummu.”
Nabil berkata:
“Aku masih bisa menahan haus sedikit.”
Ibunya tidak melarang.
Hari pertama, tidak terjadi apa-apa.
Hari kedua, tidak.
Hari ketiga, tetap tanah.
Nabil mulai kesal.
“Biji bodoh.”
Ia hampir berhenti menyiram.
Namun burung kelabu datang lagi.
Kali ini tidak membawa apa-apa.
Hanya berdiri di dekat tanah.
Nabil berkata:
“Kenapa kau datang? Biji itu tidak tumbuh.”
Burung itu mematuk tanah sekali.
Lalu terbang.
Nabil menggali sedikit.
Di bawah permukaan terlihat akar putih kecil.
Ia terkejut.
“Ternyata hidup.”
꧁ SESUATU YANG TUMBUH TANPA TERLIHAT ꧂
Nabil mulai memahami:
tidak semua pertumbuhan terjadi di atas tanah.
Kadang sesuatu sedang tumbuh di tempat yang belum dapat dilihat.
Ia terus menyiram.
Sedikit.
Tidak berlebihan.
Beberapa hari kemudian muncul tunas kecil.
Warnanya hijau pucat.
Penduduk desa melihat.
Mereka tertawa.
“Hanya satu tanaman.”
“Tidak akan mengubah padang.”
“Lebih baik airnya diminum.”
Nabil malu.
Malamnya ia berkata kepada ibunya:
“Mereka benar. Satu tanaman tidak berarti apa-apa.”
Ibunya bertanya:
“Berarti karena belum menjadi hutan, ia tidak layak hidup?”
Nabil terdiam.
Ibunya berkata:
“Jangan meminta benih membuktikan seluruh masa depannya pada hari pertama.”
Nabil tetap merawat.
Tunas tumbuh.
Menjadi batang.
Kemudian muncul satu bunga kecil.
Warnanya biru.
Biru seperti langit pagi.
Nabil berteriak:
“Ibu! Langit turun!”
Ibunya tertawa.
“Bukan langit yang turun. Kau hanya menemukan warna yang selama ini kau rindukan.”
Namun bagi Nabil, bunga itu terasa seperti keajaiban.
꧁ KETIKA SEMUA ORANG MENGINGINKAN BUNGA ꧂
Penduduk mulai berdatangan.
“Indah sekali.”
“Bolehkah aku memetik?”
Nabil langsung melarang.
“Tidak!”
Ia menjaga bunga siang malam.
Jika anak-anak mendekat, ia mengusir.
Jika seseorang menyentuh daun, ia marah.
Ia memasang pagar.
Kemudian pagar kedua.
Lalu pagar lebih tinggi.
Ibunya bertanya:
“Kenapa?”
“Aku takut bunga ini rusak.”
“Benar.”
“Aku tidak ingin siapa pun mengambilnya.”
Ibunya berkata:
“Lalu siapa yang akan melihatnya?”
“Aku.”
Nabil menjawab cepat.
Ibunya tidak berkata apa-apa.
Beberapa minggu kemudian bunga layu.
Nabil menangis.
“Kenapa?”
Ibunya menunjukkan sesuatu di bawah bunga.
Ada kantong kecil berisi biji-biji baru.
Nabil terdiam.
Ibunya berkata:
“Bunga tidak gagal ketika layu jika ia meninggalkan benih.”
Nabil membuka kantong.
Terdapat puluhan biji.
Ia menggenggam semuanya.
Kemudian berkata:
“Aku akan menyimpannya.”
“Untuk apa?”
“Supaya aman.”
Ibunya menatapnya.
“Aman dari apa?”
“Dari orang.”
“Dan dari tanah?”
Nabil terdiam.
Ia mulai mengerti.
Benih yang terlalu aman di dalam genggaman tidak pernah menjadi bunga.
꧁ HARI KETIKA BENIH DIBAGIKAN ꧂
Keesokan pagi, Nabil memanggil anak-anak.
Ia membagikan biji.
Satu kepada setiap keluarga.
Orang-orang bertanya:
“Bagaimana cara menanamnya?”
Nabil mengajarkan.
“Tanam agak dalam.”
“Jangan terlalu banyak air.”
“Tunggu.”
“Kalau belum tumbuh?”
“Jangan langsung digali setiap hari.”
Seorang anak bertanya:
“Kalau gagal?”
Nabil menjawab:
“Coba lagi.”
Beberapa biji memang gagal.
Ada yang dimakan burung.
Ada yang busuk.
Ada yang tidak tumbuh.
Namun beberapa berhasil.
Musim berikutnya, bunga biru mulai muncul di berbagai sudut.
Tidak banyak.
Tetapi cukup membuat padang berubah.
Nabil berjalan dari rumah ke rumah.
Setiap kali melihat bunga, ia merasa bahagia.
Anehnya, bunga-bunga yang bukan miliknya terasa sama indahnya.
Ia mulai memahami sesuatu yang dulu sulit:
keindahan tidak berkurang ketika dimiliki bersama.
꧁ BURUNG KELABU KEMBALI ꧂
Beberapa tahun kemudian, burung kelabu datang lagi.
Nabil sudah lebih besar.
Burung itu hinggap di batu tempat ia biasa duduk.
Nabil berkata:
“Dulu aku kira kau membawa sepotong langit.”
Burung diam.
Nabil melanjutkan:
“Ternyata kau membawa biji.”
Burung memiringkan kepala.
Nabil tersenyum.
“Sekarang aku mengerti. Mungkin langit memang tidak perlu dibawa turun seluruhnya.”
Angin bergerak.
Puluhan bunga biru bergoyang.
Nabil berkata:
“Kadang cukup satu benih yang mengingatkan manusia bahwa tanah tandus belum tentu selamanya tandus.”
Burung mengepakkan sayap.
Terbang tinggi.
Dan untuk sesaat, warna sayap kelabunya menyatu dengan biru langit.
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH SATU ꧂
Manusia sering menginginkan perubahan besar.
Ingin seluruh keadaan segera berubah.
Ingin masalah selesai sekaligus.
Ingin hasil cepat.
Ingin dunia menjadi seperti harapan.
Namun banyak perubahan besar bermula dari sesuatu yang kecil:
satu kebiasaan,
satu keputusan,
satu ilmu,
satu pohon,
satu permintaan maaf,
satu orang yang mulai jujur,
satu anak yang dididik dengan baik,
satu keluarga yang memutus rantai kebiasaan buruk.
Jangan meremehkan benih hanya karena belum menjadi hutan.
꧁ RAHASIA SEBUTIR LANGIT ꧂
Mengapa biji itu disebut “sebutir langit”?
Karena manusia kadang mencari sesuatu yang sangat besar, padahal Alloh memberi permulaan dalam bentuk kecil.
Kita meminta rezeki besar.
Yang datang mungkin satu kesempatan belajar.
Kita meminta jalan terbuka.
Yang datang mungkin satu pertemuan.
Kita meminta perubahan hidup.
Yang datang mungkin keberanian membuat satu keputusan.
Jangan hanya mencari jawaban dalam bentuk besar.
Kadang jawaban datang sebagai benih.
Tugas manusia adalah mengenalinya, menanamnya, dan merawatnya.
꧁ RAHASIA AKAR YANG TIDAK TERLIHAT ꧂
Ada masa ketika usaha seperti tidak menghasilkan.
Belajar tetapi belum mahir.
Menabung tetapi jumlah masih kecil.
Mendidik anak tetapi perubahan belum terlihat.
Memperbaiki diri tetapi masih jatuh pada kebiasaan lama.
Jangan terlalu cepat menyimpulkan tidak ada pertumbuhan.
Periksa akarnya.
Apakah ada kemajuan kecil?
Apakah lebih sadar daripada dahulu?
Apakah lebih cepat bangkit?
Apakah ilmu bertambah?
Jika ya, bisa jadi akar sedang bekerja.
Namun tetaplah jujur.
Jika memang tidak ada usaha, jangan menamai diam sebagai “akar sedang tumbuh”.
꧁ RAHASIA AIR SETENGAH CANGKIR ꧂
Nabil tidak memiliki banyak air.
Tetapi ia menggunakan sebagian kecil.
Ini mengajarkan:
kebaikan tidak selalu menunggu kelimpahan.
Ada orang berkata:
“Nanti kalau kaya aku akan berbagi.”
“Nanti kalau punya banyak waktu aku akan membantu.”
“Nanti kalau pintar aku akan mengajar.”
Padahal bisa jadi hari ini sudah ada sesuatu yang dapat diberikan.
Sedikit waktu.
Sedikit perhatian.
Sedikit ilmu yang benar.
Sedikit tenaga.
Tidak harus besar.
Yang penting tidak merusak kewajiban utama dan diberikan secara bijak.
꧁ RAHASIA PAGAR ꧂
Nabil membangun pagar karena ingin menjaga.
Menjaga adalah baik.
Tetapi jika semua dijaga sampai tidak dapat berkembang, penjagaan berubah menjadi penahanan.
Begitu pula ilmu.
Ada ilmu yang memang harus dijaga dari penyalahgunaan.
Tetapi ilmu bermanfaat yang disembunyikan hanya karena takut orang lain menjadi setara dapat kehilangan keberkahannya.
Ada pula kasih sayang yang harus menjaga.
Namun jangan sampai perlindungan menghalangi pertumbuhan.
Pagar diperlukan.
Tetapi pagar dibuat untuk melindungi kebun, bukan menghalangi seluruh kehidupan masuk.
꧁ LIMA BENIH LANGIT ꧂
Dalam kehidupan, tanamlah lima benih:
Pertama — Benih Kejujuran.
Berani berkata benar meskipun tidak selalu menguntungkan.
Kedua — Benih Ilmu.
Belajar sesuatu yang berguna lalu ajarkan dengan adab.
Ketiga — Benih Kebaikan Kecil.
Jangan menunggu tindakan besar.
Keempat — Benih Kesabaran.
Rawat proses tanpa memaksa hasil.
Kelima — Benih Harapan.
Jangan menolak kemungkinan baik hanya karena hari ini keadaan masih tandus.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH SATU ꧂
“Aja ngremehake wiji amarga durung dadi alas.”
Artinya:
Jangan meremehkan benih hanya karena belum menjadi hutan.
Dan:
“Langit ora tansah mudhun minangka cahya gedhe. Kadhang dheweke teka minangka wiji cilik sing kudu kok tandur dhewe.”
Langit tidak selalu hadir sebagai cahaya besar. Kadang ia datang sebagai benih kecil yang harus engkau tanam sendiri.
꧁ RAHASIA BUNGA YANG LAYU ꧂
Setiap bunga mempunyai musim.
Jangan menganggap semua akhir adalah kegagalan.
Ada pekerjaan yang selesai tetapi meninggalkan keterampilan.
Ada pertemuan yang singkat tetapi meninggalkan hikmah.
Ada orang yang hadir sebentar tetapi mengubah arah hidup.
Ada program yang selesai tetapi melahirkan penerus.
Maka ketika sesuatu berakhir, tanyakan:
“Benih apa yang ditinggalkannya?”
Bukan hanya:
“Mengapa bunganya layu?”
꧁ RAHASIA BERBAGI BENIH ꧂
Satu bunga milik Nabil membuatnya takut kehilangan.
Puluhan bunga milik seluruh desa membuatnya justru lebih tenang.
Begitulah sebagian amanah.
Jika semua kemampuan hanya berada pada satu orang, semua bergantung pada satu orang.
Tetapi ketika ilmu dibagikan, banyak orang mampu menjaga.
Ketika tugas didelegasikan, amanah menjadi lebih kuat.
Ketika penerus disiapkan, kebaikan tidak mudah berhenti.
Jangan takut melahirkan orang yang lebih baik darimu.
Sebab tujuan seorang penanam bukan menjadi satu-satunya pohon di kebun.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH SATU ꧂
Bertahun-tahun kemudian padang itu tidak lagi sepenuhnya tandus.
Ia belum menjadi hutan.
Masih ada tanah retak.
Masih ada kemarau.
Masih ada hari ketika bunga gagal tumbuh.
Tetapi kini ketika musim tiba, warna biru muncul di berbagai tempat.
Orang-orang menamainya:
Bunga Langit.
Anak-anak yang lahir kemudian tidak pernah mengetahui bahwa dahulu hanya ada satu bunga.
Mereka mengira bunga itu selalu tumbuh di sana.
Nabil tidak marah karena namanya tidak dikenal sebagai orang pertama yang menanam.
Ia justru tersenyum.
Suatu hari seorang anak bertanya:
“Paman Nabil, siapa yang menanam semua bunga ini?”
Nabil menjawab:
“Banyak orang.”
“Tapi siapa yang pertama?”
Nabil melihat langit.
Kemudian melihat tanah.
Ia berkata:
“Yang pertama bukan yang paling penting.”
Anak itu bertanya:
“Lalu apa?”
Nabil menjawab:
“Yang penting, ketika sebuah benih sampai ke tanganmu, apakah engkau menyimpannya sampai kering atau menanamnya supaya kehidupan berlanjut.”
Sore itu burung-burung terbang di atas padang.
Bunga biru bergoyang.
Langit di atas.
Tanah di bawah.
Dan di antara keduanya berdiri manusia yang akhirnya memahami:
mungkin tugas manusia bukan menarik seluruh langit ke bumi.
Cukup menerima satu benih kebaikan,
menanamnya,
merawatnya,
membagikannya,
lalu membiarkan Alloh menentukan seberapa luas kebun itu kelak tumbuh.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الحادية والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH SATU
“Ora kabeh sing cilik iku sepele. Ana wiji cilik sing nyimpen alas ing njero awake.”
Tidak semua yang kecil itu sepele. Ada benih kecil yang menyimpan kemungkinan sebuah hutan di dalam dirinya.
“Yen Alloh maringi siji benih kabecikan, aja mung digenggem. Tandura, rawata, lan yen wis wayahe, bagekna wijine.”
Jika Alloh memberimu satu benih kebaikan, jangan hanya menggenggamnya. Tanamlah, rawatlah, dan ketika waktunya tiba, bagikanlah benihnya.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH DUA
“PENUNGGU FAJAR YANG TIDAK PERNAH MEMERINTAH MATAHARI TERBIT”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang berada di balik pegunungan panjang, malam selalu terasa sangat lama.
Penduduknya terbiasa menunggu fajar.
Mereka mengetahui bahwa setelah gelap, matahari akan kembali.
Namun suatu tahun terjadi musim yang aneh.
Kabut turun berhari-hari.
Awan tebal menutupi langit.
Pagi datang, tetapi matahari hampir tidak terlihat.
Hari-hari menjadi muram.
Orang-orang mulai gelisah.
Sebagian berkata:
“Barangkali matahari tidak akan terbit lagi.”
Sebagian berkata:
“Kita harus melakukan sesuatu.”
Di desa itu terdapat sebuah menara kecil.
Di puncaknya tinggal seorang lelaki tua bernama Shabir.
Tugasnya sejak muda adalah mengamati ufuk timur.
Setiap menjelang pagi ia menyalakan lampu.
Bukan untuk menggantikan matahari.
Hanya sebagai tanda bagi penduduk:
“Fajar sedang ditunggu.”
Karena itulah orang-orang memanggilnya:
Penunggu Fajar.
꧁ ORANG-ORANG YANG MULAI TIDAK SABAR ꧂
Pada hari ketujuh kabut belum juga pergi.
Penduduk berkumpul di bawah menara.
Mereka berteriak:
“Shabir!”
“Kenapa matahari belum terlihat?”
Shabir turun.
Ia menjawab:
“Karena awan masih tebal.”
Seorang pedagang berkata:
“Bukankah kau Penunggu Fajar?”
“Benar.”
“Berarti lakukan sesuatu!”
Shabir bertanya:
“Apa yang kalian inginkan?”
“Panggil matahari!”
Shabir tersenyum.
“Aku menunggu matahari. Aku bukan yang memerintahkannya.”
Orang-orang kecewa.
“Kalau begitu apa gunanya kau berada di menara?”
Shabir menjawab:
“Menunggu bukan berarti menguasai apa yang ditunggu.”
Namun mereka tidak puas.
꧁ RAJA YANG INGIN MEMBELI PAGI ꧂
Berita tentang kabut sampai kepada raja.
Raja datang membawa para ahli.
Ada ahli cuaca.
Ahli hitung.
Ahli bintang.
Dan tukang-tukang terbaik.
Raja berkata:
“Jika matahari tidak terlihat, kita buat matahari sendiri.”
Maka dibangunlah ribuan lampu besar.
Minyak dibakar.
Cermin dipasang.
Seluruh kota menjadi terang.
Orang-orang bersorak.
“Lihat! Kita tidak membutuhkan matahari.”
Untuk beberapa malam mereka gembira.
Namun segera masalah muncul.
Minyak mulai habis.
Asap memenuhi udara.
Lampu tidak memberi kehangatan seperti matahari.
Tanaman tetap layu.
Burung kehilangan irama.
Raja marah.
“Tambah lampu!”
Shabir berkata:
“Paduka, lampu berguna. Tetapi lampu bukan matahari.”
Raja menjawab:
“Kalau kita membuatnya cukup besar, apa bedanya?”
Shabir menunjuk sebuah pohon.
“Lampu bisa menolong manusia melihat jalan malam ini. Tetapi ia tidak dapat menggantikan semua yang diberikan matahari.”
Raja terdiam.
Shabir berkata:
“Alat bantu menjadi berbahaya ketika manusia memaksanya menjadi pengganti dari sesuatu yang memang bukan tugasnya.”
꧁ PEMUDA YANG BERDIRI SETIAP MALAM ꧂
Di antara penduduk ada seorang pemuda bernama Fajr.
Ayahnya sedang sakit.
Setiap hari ia berharap matahari muncul karena udara dingin membuat kondisi ayahnya semakin berat.
Fajr datang kepada Shabir.
“Guru, aku tidak tahan menunggu.”
Shabir berkata:
“Aku mengerti.”
“Aku sudah berdoa.”
“Teruslah berdoa.”
“Aku sudah menunggu.”
“Teruskan.”
Fajr mulai marah.
“Mengapa jawabanmu selalu begitu?”
Shabir tidak marah.
Fajr berkata:
“Ayahku bisa meninggal sebelum matahari kembali!”
Shabir menatapnya.
Lalu berkata:
“Kalau begitu jangan habiskan seluruh waktumu memandangi ufuk.”
Fajr terkejut.
“Maksud Guru?”
“Pulanglah. Hangatkan ayahmu.”
Fajr diam.
Shabir melanjutkan:
“Cari kayu bakar.”
“Buatkan makanan hangat.”
“Panggil tabib.”
“Duduk di sisinya.”
“Doakan.”
Fajr berkata:
“Tapi aku sedang menunggu matahari.”
Shabir menjawab:
“Menunggu sesuatu yang belum dapat kau kendalikan jangan sampai membuatmu meninggalkan sesuatu yang masih dapat kau kerjakan.”
Fajr segera pulang.
꧁ DUA JENIS PENANTIAN ꧂
Malam berikutnya Shabir mengajak Fajr naik ke menara.
Mereka duduk memandang timur.
Shabir berkata:
“Ada dua orang menunggu hujan.”
“Yang pertama duduk di rumah dan berkata: ‘Kalau hujan datang, aku akan menanam.’”
“Yang kedua menyiapkan tanah, memperbaiki saluran, memilih benih, lalu menunggu.”
“Ketika hujan turun, siapa yang lebih siap?”
Fajr menjawab:
“Yang kedua.”
Shabir berkata:
“Itulah bedanya menunggu dengan kosong dan menunggu dengan amanah.”
Fajr bertanya:
“Berarti kita harus terus bekerja meskipun belum tahu kapan fajar terlihat?”
“Ya.”
“Bagaimana kalau tidak datang sesuai harapan kita?”
Shabir berkata:
“Kita tetap tidak kehilangan hari yang digunakan untuk berbuat benar.”
꧁ KETIKA PENANTIAN BERUBAH MENJADI KEMARAHAN ꧂
Hari kesepuluh.
Kabut masih tebal.
Sebagian penduduk mulai menyalahkan satu sama lain.
Kelompok pertama berkata:
“Matahari tidak muncul karena kalian kurang berdoa.”
Kelompok kedua membalas:
“Tidak! Karena para penjaga langit tidak bekerja.”
Kelompok lain menuduh raja.
Yang lain menuduh para petani.
Kota semakin gaduh.
Shabir berdiri di lapangan.
Ia berkata:
“Berhenti menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk saling menuduh.”
Seorang lelaki berteriak:
“Lalu siapa yang salah?”
Shabir menjawab:
“Tidak setiap kesulitan membutuhkan seorang kambing hitam.”
Lapangan sunyi.
Ia melanjutkan:
“Jika ada sebab nyata, cari dan perbaiki.”
“Jika ada kesalahan manusia, akui.”
“Namun jangan mengarang kesalahan seseorang hanya karena kalian takut menghadapi kenyataan bahwa sebagian hal berada di luar kendali kita.”
꧁ LAMPU DI MENARA PADAM ꧂
Pada malam kedua belas, angin besar datang.
Lampu di menara Shabir padam.
Penduduk melihat menara gelap.
Mereka panik.
“Lampu penjaga padam!”
“Ini pertanda buruk!”
Mereka berlari ke sana.
Shabir sedang memperbaiki sumbu.
Seorang perempuan berkata:
“Apakah ini berarti fajar tidak datang?”
Shabir tertawa kecil.
“Tidak.”
“Tapi lampunya padam.”
“Lampuku tidak menentukan matahari.”
Perempuan itu terdiam.
Shabir berkata:
“Jangan memberikan kekuasaan terlalu besar kepada tanda.”
“Lampu ini hanya membantu kalian mengingat.”
“Kalau lampu padam, matahari tidak kehilangan jalannya.”
Keesokan harinya lampu diperbaiki.
Tetapi Shabir menambahkan sebuah tulisan pada pintu menara:
“Tanda membantu menunggu. Tanda bukan penguasa dari apa yang ditunggu.”
꧁ FAJAR YANG DATANG TANPA PENGUMUMAN ꧂
Hari ketiga belas.
Menjelang pagi, Fajr sedang berada di rumah merawat ayahnya.
Shabir duduk sendirian di menara.
Tidak ada suara.
Tidak ada petir.
Tidak ada gong.
Kabut perlahan menipis.
Sedikit demi sedikit ufuk berubah warna.
Hitam menjadi kelabu.
Kelabu menjadi biru pucat.
Kemudian muncul garis keemasan.
Matahari terbit.
Shabir tidak berteriak.
Ia hanya tersenyum.
Di rumah, Fajr melihat cahaya masuk melalui jendela.
Ia berlari keluar.
“Guru! Matahari!”
Seluruh desa keluar.
Orang-orang menangis.
Anak-anak tertawa.
Petani membuka pintu lumbung.
Burung mulai berkicau.
Raja memerintahkan pesta.
Namun Shabir berkata:
“Tidak perlu pesta besar.”
Raja bertanya:
“Kenapa? Matahari kembali!”
Shabir menjawab:
“Matahari tidak kembali karena kita menang.”
“Lalu?”
“Ia berjalan menurut ketetapan Alloh.”
꧁ RAHASIA FAJAR ꧂
Fajr bertanya:
“Guru, selama tiga belas hari apakah matahari sebenarnya tidak terbit?”
Shabir menjawab:
“Matahari tetap ada. Yang menutup pandangan kita adalah kabut.”
Fajr terdiam.
Shabir berkata:
“Ada masa dalam hidup ketika manusia mengira cahaya hilang, padahal ia hanya tidak dapat melihatnya.”
“Apakah semua kesulitan seperti itu?”
“Tidak selalu.”
“Tapi sebagian?”
“Ya.”
Ada masa ketika harapan terasa jauh.
Ada masa ketika pertolongan belum terlihat.
Ada masa ketika jalan terasa tertutup.
Namun belum melihat jawaban bukan berarti manusia boleh menyimpulkan semua kebaikan sudah berakhir.
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH DUA ꧂
Kesabaran bukan kemampuan duduk tanpa rasa.
Orang sabar tetap bisa sedih.
Bisa takut.
Bisa lelah.
Bisa menangis.
Kesabaran adalah kemampuan tetap menjaga arah meskipun hati sedang berat.
Sabar bukan berkata:
“Aku tidak apa-apa,”
ketika sebenarnya hancur.
Sabar bisa berkata:
“Aku sedang berat, tetapi aku tidak ingin mengambil jalan yang salah karena berat ini.”
꧁ RAHASIA MENUNGGU FAJAR ꧂
Ada doa yang belum terjawab sesuai harapan.
Ada pekerjaan yang belum datang.
Ada kesembuhan yang membutuhkan proses.
Ada utang yang belum selesai.
Ada usaha yang belum berkembang.
Ada hubungan yang masih diperbaiki.
Ada ilmu yang belum matang.
Dalam keadaan seperti itu, manusia boleh berharap.
Tetapi sambil berharap, kerjakan bagian yang berada dalam kemampuan.
Jika menunggu pekerjaan, tingkatkan keterampilan.
Jika menunggu hasil usaha, perbaiki pelayanan.
Jika menunggu rekonsiliasi, perbaiki diri dan hormati batas orang lain.
Jika menunggu kesehatan membaik, ikuti ikhtiar medis yang semestinya.
Jika menunggu pintu terbuka, jangan berhenti mempersiapkan diri.
꧁ JANGAN MEMERINTAH MATAHARI ꧂
Ada perbedaan antara meminta dan memaksa.
Doa adalah permohonan hamba kepada Alloh.
Bukan perintah kepada Alloh agar hidup mengikuti jadwal kita.
Manusia boleh berdoa dengan sungguh-sungguh.
Boleh berharap besar.
Boleh menangis.
Namun tetap katakan dalam hati:
“Yā Alloh, Engkau lebih mengetahui apa yang tidak kuketahui.”
Sebab ada sesuatu yang kita inginkan cepat tetapi belum baik jika datang cepat.
Ada pula yang kita takutkan ternyata justru membuka jalan baru.
꧁ RAHASIA LAMPU PENUNGGU ꧂
Lampu Shabir adalah pralambang amal kecil yang menjaga hati selama masa gelap.
Ketika fajar belum datang, manusia memerlukan lampu:
shalat,
doa,
keluarga,
teman yang baik,
rutinitas sehat,
ilmu,
pekerjaan,
sedekah,
dan kebiasaan sederhana yang membuat hidup tetap bergerak.
Lampu kecil tidak menggantikan matahari.
Tetapi ia dapat menolong kita agar tidak tersandung saat masih malam.
꧁ EMPAT ADAB MENUNGGU ꧂
Pertama — Jangan tinggalkan ikhtiar.
Penantian bukan alasan untuk berhenti bekerja.
Kedua — Jangan menetapkan waktu kepada Alloh.
Berharap boleh. Memaksa ketetapan tidak.
Ketiga — Jangan membuat kambing hitam tanpa dasar.
Ketakutan mudah melahirkan tuduhan.
Keempat — Rawat yang masih ada.
Jangan sampai terlalu sibuk menunggu sesuatu yang belum datang hingga lupa mensyukuri dan menjaga apa yang sudah berada di tangan.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH DUA ꧂
“Wong sing ngenteni fajar ora perlu mrentah srengenge.”
Artinya:
Orang yang menunggu fajar tidak perlu memerintah matahari.
Dan:
“Nalika esuk durung katon, uripna lampu sing ana ing tanganmu.”
Ketika pagi belum terlihat, nyalakanlah lampu yang ada di tanganmu.
꧁ RAHASIA AYAH FAJR ꧂
Beberapa hari setelah matahari terlihat kembali, ayah Fajr belum langsung sembuh.
Fajr sempat kecewa.
Ia berkata:
“Aku kira setelah matahari muncul, Ayah akan membaik.”
Shabir menjawab:
“Matahari bukan obat untuk semua perkara.”
Fajr mengangguk.
Ia tetap memanggil tabib.
Memberi obat.
Merawat ayahnya.
Beberapa minggu kemudian kondisi ayahnya perlahan membaik.
Fajr memahami:
kadang manusia mengikat terlalu banyak harapan pada satu kejadian.
Ia berkata:
“Kalau ini terjadi, semuanya akan beres.”
Padahal hidup lebih rumit.
Satu pintu terbuka tidak otomatis menyelesaikan semua hal.
Karena itu jangan jadikan satu kejadian sebagai satu-satunya syarat untuk merasa hidup.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH DUA ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Shabir semakin tua.
Fajr kemudian menjadi penerus penjaga menara.
Pada malam pertama tugasnya, Shabir memberikan lampu tua kepadanya.
Fajr bertanya:
“Apa pesan Guru?”
Shabir berkata:
“Jaga lampu. Tapi jangan pernah mengira engkau menjaga matahari.”
Fajr tersenyum.
Shabir melanjutkan:
“Kalau kabut datang, jangan panik.”
“Kalau orang takut, tenangkan.”
“Kalau mereka bertanya kapan fajar datang, jangan mengarang jawaban.”
“Kalau engkau tidak tahu, katakan tidak tahu.”
“Dan selama menunggu, ingatkan mereka untuk tetap hidup.”
Fajr mengangguk.
Malam itu ia duduk di atas menara.
Di bawahnya desa telah tidur.
Ia memandang timur.
Belum ada cahaya.
Namun ia tidak gelisah.
Ia menyalakan lampu.
Lalu berkata pelan:
“Aku tidak mampu memerintahkan fajar. Tetapi aku bisa menjaga agar malam ini tidak kulewati dengan sia-sia.”
Dan itulah rahasia seorang penunggu fajar.
Bukan orang yang mengetahui kapan semua kesulitan akan selesai.
Bukan orang yang mampu memaksa cahaya datang.
Tetapi orang yang menjaga dirinya agar tidak kehilangan arah selama cahaya belum terlihat.
Maka jika engkau sedang berada dalam malam panjang kehidupan, jangan menjanjikan dirimu bahwa besok pasti semuanya selesai.
Janji seperti itu tidak selalu dapat kita pegang.
Berikan janji yang lebih jujur:
“Selama aku masih diberi napas, aku akan mencoba menjalani hari ini dengan benar.”
Berdoa bila bisa.
Berusaha bila mampu.
Istirahat bila lelah.
Minta bantuan bila perlu.
Dan jangan merasa gagal hanya karena fajar tidak datang sesuai jam yang engkau harapkan.
Kabut bisa lama.
Tetapi tugas manusia bukan menguasai langit.
Tugasnya adalah menjaga amanah di bumi sambil tetap menengadah kepada Alloh.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثانية والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH DUA
“Sabar dudu lungguh tanpa tumindak. Sabar yaiku tetep njaga arah nalika wektu durung menehi jawaban.”
Sabar bukan duduk tanpa bertindak. Sabar adalah tetap menjaga arah ketika waktu belum memberikan jawaban.
“Aja mrentah fajar supaya cepet teka. Uripna lampu, jaga dalan, lan pasrahna wektune marang Alloh.”
Jangan memerintahkan fajar agar segera datang. Nyalakan lampu, jagalah jalan, dan serahkan waktunya kepada Alloh.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH TIGA
“GUNUNG YANG TIDAK PERNAH MEMANGGIL DIRINYA TINGGI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang luas, berdirilah sebuah gunung yang sangat tinggi.
Puncaknya sering tertutup awan.
Lerengnya dipenuhi hutan.
Dari tubuhnya mengalir mata air yang menghidupi banyak desa.
Orang-orang menamakannya:
Jabal Hening.
Sejak zaman dahulu, para musafir datang untuk melihatnya.
Ada yang mendaki.
Ada yang hanya memandang dari kejauhan.
Ada yang membuat lukisan.
Ada pula yang menulis syair tentang keagungannya.
Namun gunung itu tidak pernah berkata:
“Aku tinggi.”
Tidak pernah berkata:
“Lihatlah betapa besar diriku.”
Tidak pernah pula membandingkan dirinya dengan bukit-bukit kecil di sekitarnya.
Ia hanya berdiri.
Menerima hujan.
Menahan tanah.
Mengalirkan air.
Menjadi tempat tumbuh pohon.
Dan tetap diam.
꧁ PEMUDA YANG INGIN MENJADI SETINGGI GUNUNG ꧂
Di kaki Jabal Hening tinggal seorang pemuda bernama Samir.
Samir sejak kecil sangat mengagumi gunung.
Setiap pagi ia memandang puncaknya.
Ia berkata:
“Suatu hari aku ingin menjadi seperti gunung.”
Ayahnya bertanya:
“Dalam hal apa?”
Samir menjawab:
“Tinggi.”
Ayahnya tersenyum.
“Gunung itu tidak hanya tinggi.”
“Tapi semua orang melihat tingginya.”
Ayahnya menjawab:
“Karena bagian itu yang paling mudah terlihat.”
Samir tidak memahami.
Ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat ambisius.
Ia ingin dikenal.
Ingin memiliki kedudukan.
Ingin suaranya didengar.
Jika seseorang dipuji, ia merasa harus lebih baik.
Jika seorang sahabat berhasil, hatinya gelisah.
Ia sering berkata:
“Aku harus naik.”
Namun ia jarang bertanya:
“Untuk apa?”
꧁ PENDAKIAN PERTAMA ꧂
Suatu hari Samir memutuskan mendaki Jabal Hening.
Ia membawa banyak perlengkapan.
Baju terbaik.
Tongkat ukir.
Bendera dengan namanya sendiri.
Seorang sahabat bertanya:
“Untuk apa bendera itu?”
Samir menjawab:
“Akan kutancapkan di puncak supaya orang tahu aku pernah sampai.”
Mereka mulai naik.
Di lereng pertama, Samir melihat seorang petani sedang memperbaiki saluran air.
Petani berkata:
“Bantu sebentar?”
Samir menjawab:
“Maaf, aku ingin sampai puncak sebelum malam.”
Ia terus naik.
Di lereng berikutnya ada seorang anak membawa kayu.
Kayunya jatuh.
Samir melihat.
Namun ia berkata dalam hati:
“Kalau berhenti terus, aku tidak akan sampai.”
Ia melanjutkan.
Semakin tinggi, jalan makin sulit.
Namun ia bangga.
Setiap beberapa ratus langkah ia menoleh ke bawah.
“Sudah jauh.”
Ia merasa semakin besar.
꧁ PERTEMUAN DENGAN PENJAGA MATA AIR ꧂
Di pertengahan gunung, Samir menemukan mata air.
Di sampingnya duduk seorang tua bernama Yahya.
Yahya adalah penjaga sumber air.
Ia bertanya:
“Ke mana tujuanmu?”
“Puncak.”
“Untuk apa?”
Samir menjawab:
“Agar aku bisa melihat dunia dari tempat paling tinggi.”
Yahya bertanya:
“Lalu?”
Samir diam.
Yahya berkata:
“Minumlah dulu.”
Samir minum.
Airnya dingin dan segar.
Ia berkata:
“Air ini luar biasa.”
Yahya menjawab:
“Air ini berasal dari atas.”
Samir tersenyum.
“Tepat. Yang dari atas memang lebih tinggi.”
Yahya tertawa.
“Air dari atas justru turun.”
Samir terdiam.
Yahya melanjutkan:
“Sesuatu yang benar-benar berada di tempat tinggi tidak selalu sibuk mempertahankan dirinya di atas. Kadang justru ia turun agar memberi kehidupan.”
Samir tidak suka mendengar itu.
Ia berpamitan.
Terus naik.
꧁ PUNCAK YANG TIDAK MEMBERI MAHKOTA ꧂
Setelah perjalanan panjang, Samir akhirnya sampai di puncak.
Angin sangat kuat.
Awan bergerak di bawahnya.
Desa-desa terlihat seperti titik.
Samir bersorak.
“Aku berhasil!”
Ia mengeluarkan bendera.
Menancapkannya.
Di bendera tertulis namanya dengan huruf besar.
Ia menunggu.
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada suara langit.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada makhluk yang memuji.
Hanya angin.
Samir berkata:
“Sekarang aku lebih tinggi daripada semua orang di desa.”
Terdengar suara dari belakang.
“Secara tempat, mungkin.”
Samir terkejut.
Yahya berdiri tidak jauh.
“Bagaimana kau sampai di sini?”
Yahya menjawab:
“Aku sudah sering naik.”
Samir berkata:
“Kenapa kau tidak pernah cerita?”
“Untuk apa?”
Samir bingung.
Yahya berdiri di tepi puncak.
Kemudian menunjuk ke bawah.
“Lihat mata air itu.”
Samir tidak dapat melihat jelas.
“Yang mana?”
“Air yang tadi kau minum.”
“Ya.”
Yahya berkata:
“Puncak ini menerima hujan. Air masuk ke tanah. Lalu turun melewati batu dan keluar sebagai mata air.”
Samir mengangguk.
Yahya bertanya:
“Kalau gunung menahan semua air di puncak agar tetap tinggi, apa yang terjadi pada desa?”
“Orang-orang kekurangan air.”
“Jadi apa yang membuat gunung bermanfaat?”
Samir berkata pelan:
“Yang turun darinya.”
Yahya mengangguk.
꧁ BATU BESAR DAN AKAR KECIL ꧂
Yahya kemudian menunjuk sebuah pohon kecil yang tumbuh di dekat batu.
“Mana yang lebih penting, batu besar atau akar kecil?”
Samir menjawab:
“Tergantung.”
“Bagus. Kenapa tidak langsung menjawab batu?”
“Karena batu besar belum tentu berguna bagi pohon.”
Yahya berkata:
“Begitulah manusia.”
“Ada yang terlihat besar.”
“Ada yang bekerja diam-diam.”
“Orang sering mengagumi yang tampak.”
“Namun banyak kehidupan justru ditopang oleh sesuatu yang tersembunyi.”
Samir memandang ke bawah.
Ia teringat petani yang memperbaiki saluran.
Anak yang mengangkat kayu.
Orang-orang yang mungkin tidak pernah berdiri di puncak.
Namun pekerjaan mereka membuat desa hidup.
꧁ BADAI DI PUNCAK ꧂
Menjelang sore, langit mendadak gelap.
Angin berubah kasar.
Yahya berkata:
“Kita harus turun.”
Samir berkata:
“Aku ingin tinggal sebentar lagi.”
Yahya melihat benderanya.
“Karena bendera?”
Samir diam.
Petir menyambar jauh.
Angin menghantam puncak.
Bendera Samir terlepas.
Terbang ke jurang.
Ia berteriak:
“Benderaku!”
Yahya menahan tangannya.
“Jangan mengejar.”
“Itu namaku!”
Yahya berkata:
“Namamu masih bersamamu.”
Samir membeku.
Untuk pertama kalinya ia sadar betapa banyak harga diri ia titipkan kepada selembar kain.
Mereka segera turun.
Hujan deras.
Jalan licin.
Di tengah perjalanan Samir terpeleset.
Tongkat ukirnya jatuh.
Ia panik.
Yahya berkata:
“Lepaskan.”
“Tapi ini mahal.”
“Pilih tongkat atau tangan yang memegang batu.”
Samir melepaskannya.
Tongkat hilang.
Mereka selamat.
꧁ SAAT KETINGGIAN MENJADI BEBAN ꧂
Malam mulai turun.
Samir lelah.
Ia bertanya:
“Kenapa turun terasa lebih sulit?”
Yahya menjawab:
“Karena naik membuatmu bersemangat oleh tujuan. Turun menguji apa yang kau bawa dari tujuan itu.”
Samir bertanya:
“Maksudnya?”
“Banyak orang mampu mencapai tempat tinggi.”
“Namun tidak semua mampu turun dengan hati yang lebih baik.”
Mereka akhirnya kembali ke mata air.
Samir minum.
Kali ini ia menatap air lebih lama.
Air itu turun dari tempat yang tinggi.
Tidak kehilangan nilainya karena turun.
Justru karena turun, ia memberi hidup.
Samir berkata:
“Sekarang aku mengerti sedikit.”
Yahya tersenyum.
“Sedikit cukup, kalau diamalkan.”
꧁ PENDAKIAN KEDUA YANG TIDAK MENUJU PUNCAK ꧂
Beberapa bulan berlalu.
Samir tidak langsung mendaki lagi.
Ia membantu petani memperbaiki saluran.
Ia menanam pohon.
Membantu anak-anak membawa kayu.
Ia masih mempunyai cita-cita.
Masih ingin berhasil.
Namun sesuatu berubah.
Ia tidak lagi selalu ingin berada di depan.
Suatu hari seorang pemuda berkata:
“Aku ingin mendaki puncak. Kau mau ikut?”
Samir menjawab:
“Mungkin nanti.”
“Kenapa?”
Samir menunjuk saluran air.
“Ini belum selesai.”
Pemuda itu tertawa.
“Kau dulu sangat ingin puncak.”
Samir menjawab:
“Aku masih suka puncak.”
“Lalu?”
“Sekarang aku tahu tidak semua perjalanan ke atas lebih penting daripada pekerjaan yang harus dilakukan di bawah.”
꧁ KETIKA SAMIR DIPERCAYA MEMIMPIN ꧂
Tahun demi tahun berlalu.
Karena ketekunannya, penduduk memilih Samir menjadi kepala pengelola air desa.
Orang-orang berkata:
“Sekarang kau sudah menjadi orang penting.”
Samir langsung teringat Jabal Hening.
Ia berkata:
“Kalau jabatan ini membuat air berhenti mengalir, berarti aku gagal.”
Dalam rapat pertama ia tidak duduk di kursi paling tinggi.
Ia berkata:
“Yang tahu keadaan sawah adalah petani. Yang tahu pipa rusak adalah pekerja lapangan. Dengarkan mereka.”
Seseorang berkata:
“Tapi engkau pemimpinnya.”
Samir menjawab:
“Pemimpin bukan selalu orang yang paling banyak berbicara. Kadang ia adalah orang yang memastikan suara yang penting tidak tenggelam.”
꧁ RAHASIA GUNUNG ꧂
Pada suatu sore Samir kembali menemui Yahya.
“Guru, sekarang aku tahu mengapa gunung tidak pernah menyebut dirinya tinggi.”
Yahya bertanya:
“Kenapa?”
Samir menjawab:
“Karena ia tidak perlu.”
“Lalu?”
“Puncaknya terlihat tanpa harus diumumkan.”
Yahya tersenyum.
Samir melanjutkan:
“Dan mungkin yang lebih penting bukan puncaknya.”
“Apa?”
“Apa yang mengalir darinya.”
Yahya mengangguk.
“Ketinggian paling selamat adalah ketinggian yang membuat manfaat mengalir ke bawah, bukan kesombongan mengalir ke segala arah.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH TIGA ꧂
Tidak salah menjadi tinggi.
Tidak salah mempunyai kedudukan.
Tidak salah mempunyai ilmu.
Tidak salah menjadi kaya.
Tidak salah dikenal.
Tidak salah memiliki pengaruh.
Yang perlu dijaga adalah:
apa yang mengalir dari ketinggian itu.
Jika ilmu membuat manusia semakin rendah hati, ia seperti mata air.
Jika kekayaan menghidupi keluarga dan membantu kebaikan, ia seperti hujan yang turun.
Jika jabatan menjadi pelayanan, ia seperti gunung yang menahan air untuk kemudian mengalirkannya.
Namun jika ketinggian hanya membuat manusia semakin haus dipuji, puncak berubah menjadi tempat yang berbahaya.
꧁ RAHASIA AIR YANG TURUN ꧂
Air selalu mencari tempat yang lebih rendah.
Dalam qisah ini, air menjadi pralambang manfaat.
Ilmu seharusnya turun menjadi penjelasan yang bisa dipahami.
Kekayaan turun menjadi nafkah dan manfaat.
Kekuasaan turun menjadi perlindungan.
Pengalaman turun menjadi nasihat.
Kasih sayang turun menjadi tindakan.
Kalau semua berhenti di atas, banyak orang di bawah akan kehausan.
꧁ RAHASIA BENDERA YANG TERBANG ꧂
Bendera Samir adalah perlambang kebutuhan untuk selalu dikenali.
Nama bukan sesuatu yang salah.
Identitas perlu.
Karya boleh diberi nama.
Tanggung jawab perlu jelas.
Namun masalah muncul ketika manusia merasa:
“Kalau namaku tidak disebut, kebaikan ini tidak berarti.”
Padahal mata air tidak menuliskan nama gunung pada setiap cangkir yang diminum manusia.
Ia hanya mengalir.
꧁ EMPAT UJIAN ORANG YANG BERADA DI TEMPAT TINGGI ꧂
Pertama — Ujian Pujian.
Apakah engkau masih mampu melihat kekurangan ketika semua orang memuji?
Kedua — Ujian Jarak.
Apakah engkau masih mendengar keadaan orang di bawah?
Ketiga — Ujian Kepemilikan.
Apakah engkau mulai merasa amanah tidak dapat berjalan tanpa dirimu?
Keempat — Ujian Turun.
Jika suatu hari jabatan, kekayaan, pengaruh, atau kekuatan berkurang, apakah engkau masih tahu siapa dirimu?
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH TIGA ꧂
“Gunung ora tau muni: aku paling dhuwur. Wong liya sing ndeleng pucuke.”
Artinya:
Gunung tidak pernah berkata: aku yang paling tinggi. Orang lainlah yang melihat puncaknya.
Dan:
“Sing saka dhuwur kudu bisa mudhun dadi manfaat.”
Apa yang berada di tempat tinggi harus mampu turun menjadi manfaat.
꧁ RAHASIA TURUN DARI PUNCAK ꧂
Ada manusia yang pandai naik tetapi tidak siap turun.
Ketika masih mempunyai jabatan, semua baik.
Ketika masa jabatan selesai, ia marah.
Ketika masih kuat, ia bahagia.
Ketika usia mengurangi kekuatannya, ia kehilangan diri.
Ketika masih dikenal, ia tenang.
Ketika perhatian berpindah, ia merasa tidak berguna.
Karena itu latihan kerendahan hati bukan dimulai ketika sudah kehilangan.
Mulailah ketika masih memiliki.
Saat masih berkuasa, dengarkan.
Saat masih kaya, berbagi.
Saat masih kuat, bantu.
Saat masih dikenal, siapkan penerus.
Dengan begitu, ketika waktu turun datang, hati tidak terlalu terkejut.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH TIGA ꧂
Pada akhir hidupnya, Yahya meninggal.
Samir datang ke mata air.
Ia duduk di tempat guru tua itu biasa berada.
Seorang anak mendekat.
“Paman Samir, benarkah gunung ini yang paling tinggi di negeri kita?”
Samir menjawab:
“Mungkin.”
“Kenapa gunung tidak pernah jatuh karena sombong?”
Samir tertawa.
“Karena gunung tidak tahu cara sombong.”
Anak itu berkata:
“Kalau manusia?”
Samir menatap puncak.
Kemudian mata air.
Lalu berkata:
“Manusia diberi akal dan hati. Karena itu kita bisa menjadi rendah hati, tetapi juga bisa memilih sebaliknya.”
Anak itu mengambil air.
Minum.
Samir bertanya:
“Air ini dari mana?”
“Dari gunung.”
“Sekarang berada di mana?”
“Di tanganku.”
“Sebentar lagi?”
Anak itu tertawa.
“Di perutku.”
Samir berkata:
“Begitulah manfaat. Ia tidak tinggal selamanya di tempat tinggi.”
Sore turun.
Puncak Jabal Hening berubah keemasan terkena matahari.
Tidak ada suara.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada bendera.
Namun air tetap mengalir.
Hutan tetap tumbuh.
Desa tetap hidup.
Dan Samir akhirnya memahami sepenuhnya:
tinggi bukanlah ketika banyak orang berada di bawah kita.
Tinggi adalah ketika semakin banyak amanah yang kita terima, semakin luas pula manfaat yang mampu kita alirkan.
Maka jika Alloh mengangkat kedudukanmu, jangan jadikan ketinggian sebagai tembok.
Jadikan ia tempat melihat lebih jauh.
Membaca kebutuhan lebih luas.
Dan mengalirkan manfaat lebih banyak.
Sebab gunung yang hanya tinggi adalah batu besar.
Tetapi gunung yang menampung hujan, menumbuhkan hutan, dan mengalirkan mata air menjadi rahmat bagi lembah di sekitarnya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثالثة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH TIGA
“Dhuwur iku dudu supaya katon gedhe. Dhuwur iku supaya bisa ndeleng luwih adoh lan ngirim manfaat luwih jembar.”
Tinggi bukan agar terlihat besar. Tinggi adalah kesempatan melihat lebih jauh dan mengalirkan manfaat lebih luas.
“Yen Alloh maringi puncak, aja mung ngadeg ing kono. Goleka dalan supaya banyune bisa tekan lembah.”
Jika Alloh memberimu puncak, jangan hanya berdiri di sana. Carilah jalan agar airnya sampai ke lembah.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH EMPAT
“TAMAN YANG MEKAR SETELAH PENJAGANYA BERHENTI MENGHITUNG BUNGA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang berada di antara dua sungai, terdapat sebuah taman luas bernama Rawḍatul Amanah.
Taman itu terkenal karena bunga-bunganya.
Ada mawar.
Melati.
Kenanga.
Teratai.
Bunga liar.
Dan berbagai tanaman yang tidak ditemukan di tempat lain.
Namun yang paling menarik bukan keindahan bunganya.
Melainkan seorang penjaga bernama Latif.
Latif sangat mencintai taman itu.
Setiap pagi ia datang sebelum matahari terbit.
Ia menyiram.
Membersihkan rumput.
Memotong ranting kering.
Menggemburkan tanah.
Tidak pernah terlambat.
Tahun-tahun pertama, taman tumbuh sangat indah.
Orang-orang datang dari berbagai tempat.
Mereka berkata:
“Latif benar-benar penjaga yang hebat.”
Awalnya Latif hanya tersenyum.
Ia menjawab:
“Tanah, air, matahari, dan pertumbuhan semuanya karunia Alloh. Aku hanya merawat.”
Namun lama-kelamaan pujian mulai masuk lebih dalam ke hatinya.
Ia mulai mencatat:
berapa bunga yang mekar hari ini,
berapa pengunjung yang datang,
berapa orang yang memuji,
berapa tanaman yang berhasil ia kembangkan.
Ia membuat sebuah buku besar bernama:
Catatan Keberhasilan Taman.
Setiap sore ia menghitung.
“Seratus dua puluh bunga.”
“Besok harus seratus tiga puluh.”
Jika jumlah bunga berkurang, ia gelisah.
Jika bunga milik taman lain lebih banyak, ia iri.
Jika pengunjung berkata:
“Taman di desa sebelah juga indah,”
Latif merasa tersinggung.
Tanpa disadari, ia tidak lagi hanya merawat taman.
Ia mulai berlomba dengan taman itu sendiri.
꧁ KETIKA BUNGA DIPAKSA MEKAR ꧂
Suatu musim, bunga-bunga terlambat mekar.
Cuaca lebih dingin.
Hujan datang tidak teratur.
Beberapa tanaman membutuhkan waktu lebih lama.
Latif panik.
“Kenapa belum mekar?”
Ia menambah air.
Terlalu banyak.
Beberapa akar membusuk.
Ia menambah pupuk.
Terlalu banyak.
Sebagian daun terbakar.
Ia menarik kuncup bunga dengan tangan agar terbuka.
Kelopaknya rusak.
Seorang petani tua bernama Rahim melihat.
Ia berkata:
“Latif, apa yang kau lakukan?”
Latif menjawab:
“Aku sedang membantu bunga mekar.”
Rahim mengambil satu kuncup yang rusak.
“Bunga ini belum siap.”
“Kalau menunggu, jumlahnya kalah.”
Rahim bertanya:
“Kalah kepada siapa?”
Latif menunjuk bukunya.
“Tahun lalu di tanggal yang sama sudah ada tiga ratus bunga.”
Rahim tersenyum.
“Apakah bunga membaca kalendermu?”
Latif terdiam.
Rahim berkata:
“Merawat pertumbuhan berbeda dengan memaksa pertumbuhan.”
Latif tidak suka mendengar itu.
Ia merasa Rahim tidak memahami tanggung jawabnya.
꧁ BUNGA YANG TIDAK PERNAH DIHITUNG ꧂
Beberapa hari kemudian Rahim mengajak Latif ke bagian paling belakang taman.
Tempat itu jarang dikunjungi.
Tidak ada jalan batu.
Tidak ada papan nama.
Hanya rerumputan dan tanah lembap.
Di sana tumbuh bunga-bunga kecil berwarna putih.
Latif berkata:
“Tanaman apa ini?”
Rahim menjawab:
“Tidak tahu.”
“Siapa yang menanam?”
“Mungkin angin.”
Latif berjongkok.
Bunga-bunga itu sangat sederhana.
Tetapi indah.
Rahim bertanya:
“Berapa jumlahnya?”
Latif spontan ingin menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
Namun jumlahnya terlalu banyak.
Ia menyerah.
Rahim bertanya:
“Apakah karena tidak dapat dihitung, bunga-bunga ini menjadi kurang indah?”
Latif menjawab:
“Tidak.”
“Apakah karena tidak masuk bukumu, mereka tidak berarti?”
Latif mulai memahami ke mana arah pembicaraan itu.
Rahim berkata:
“Tidak semua yang bernilai harus masuk hitunganmu.”
꧁ HARI KETIKA TAMAN DITUTUP ꧂
Musim berikutnya datang badai besar.
Banyak tanaman rusak.
Pagar roboh.
Jalan taman tertutup ranting.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, taman harus ditutup.
Latif merasa sangat terpukul.
Ia duduk di depan gerbang.
Tidak ada pengunjung.
Tidak ada pujian.
Tidak ada bunga yang dapat dihitung.
Ia berkata:
“Apa gunaku sekarang?”
Rahim yang duduk di sampingnya bertanya:
“Apakah tugasmu hanya berguna jika orang datang melihat?”
Latif tidak menjawab.
“Apa yang harus kulakukan?”
Rahim berkata:
“Rawat yang rusak.”
“Tapi tidak ada yang akan melihat.”
“Bunga tetap membutuhkan air meskipun tidak ada penonton.”
Latif terdiam.
Hari berikutnya ia masuk ke taman.
Sendirian.
Ia mulai memperbaiki.
Tidak mencatat jumlah.
Tidak memotret.
Tidak membuat pengumuman.
Hanya bekerja.
Ia memangkas ranting patah.
Menyangga tanaman.
Menutup akar yang terbuka.
Hari demi hari.
Anehnya, tanpa tekanan harus memenuhi angka tertentu, Latif mulai kembali menikmati pekerjaan.
Ia memperhatikan warna daun.
Aroma tanah setelah hujan.
Suara serangga.
Burung yang datang pagi-pagi.
Ia menyadari:
selama bertahun-tahun, ia begitu sibuk menghitung bunga sampai hampir lupa melihat bunga.
꧁ SEORANG ANAK DAN SATU BUNGA PATAH ꧂
Suatu sore seorang anak berhasil masuk melalui pagar yang masih rusak.
Ia memegang satu bunga patah.
“Paman, bisa diselamatkan?”
Latif melihat.
Batangnya hampir putus.
Dulu mungkin ia akan berkata:
“Buang saja. Kita punya ratusan.”
Namun kali ini ia menjawab:
“Kita coba.”
Ia memasang penyangga kecil.
Mengikat batang.
Anak itu bertanya:
“Kalau tidak sembuh?”
Latif menjawab:
“Setidaknya kita sudah merawatnya.”
Anak itu tersenyum.
Beberapa hari kemudian batang itu memang tidak selamat.
Namun dari bagian bawah tumbuh tunas baru.
Latif memandangnya lama.
Ia teringat sesuatu:
yang tampak gagal belum tentu akhir dari pertumbuhan.
꧁ TAMAN DIBUKA KEMBALI ꧂
Beberapa bulan kemudian taman pulih.
Tidak sama persis seperti sebelumnya.
Beberapa bunga lama hilang.
Tanaman baru tumbuh.
Sebagian sudut dibiarkan lebih alami.
Latif tidak lagi memaksa semua bagian terlihat sempurna.
Ketika gerbang dibuka, pengunjung datang.
Seseorang berkata:
“Bunganya sekarang lebih sedikit.”
Dulu kalimat itu akan menyakitinya.
Sekarang Latif menjawab:
“Mungkin.”
Orang itu berkata:
“Tapi rasanya taman ini lebih hidup.”
Latif tersenyum.
Ia tahu maksudnya.
꧁ KETIKA BUKU CATATAN DIBUKA UNTUK TERAKHIR KALI ꧂
Malam itu Latif membuka buku Catatan Keberhasilan Taman.
Halaman-halamannya penuh angka.
Jumlah bunga.
Jumlah pengunjung.
Jumlah pujian.
Jumlah tanaman.
Ia membalik satu demi satu.
Tiba-tiba ia bertanya:
“Di mana aku mencatat anak yang tersenyum tadi?”
Tidak ada.
“Di mana aku mencatat satu tanaman yang berhasil pulih setelah badai?”
Tidak ada.
“Di mana aku mencatat ketenangan saat menyiram subuh-subuh?”
Tidak ada.
“Di mana aku mencatat burung yang kembali bersarang?”
Tidak ada.
Ia akhirnya memahami:
angka berguna.
Tetapi angka tidak pernah mampu menampung seluruh makna.
Ia menutup buku itu.
Tidak membuangnya.
Sebab catatan tetap penting untuk mengelola taman.
Namun pada sampulnya ia menulis:
“Angka adalah alat melihat sebagian kenyataan. Bukan seluruh kenyataan.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH EMPAT ꧂
Manusia perlu ukuran.
Pedagang perlu menghitung keuntungan dan kerugian.
Lembaga perlu menghitung anggaran.
Petani perlu mengukur panen.
Pemimpin perlu melihat data.
Guru perlu mengetahui perkembangan murid.
Semua itu baik.
Namun bahaya muncul ketika yang dapat dihitung dianggap sebagai satu-satunya yang bernilai.
Tidak semua hal penting mudah menjadi angka.
Kepercayaan.
Kasih sayang.
Adab.
Ketenangan.
Kesetiaan.
Rasa aman.
Kebijaksanaan.
Semua memiliki nilai, tetapi tidak selalu dapat diringkas ke dalam hitungan sederhana.
꧁ RAHASIA BUNGA YANG DIPAKSA ꧂
Latif menarik kuncup agar cepat terbuka.
Ia merusaknya.
Begitu pula manusia.
Orang tua dapat terlalu cepat menuntut anak menjadi dewasa.
Guru dapat terlalu cepat menuntut murid memahami.
Pemimpin dapat memaksa perubahan tanpa menyiapkan orang-orangnya.
Seseorang dapat memaksa dirinya sembuh sebelum luka sempat diproses.
Ada proses yang memang tidak bisa diseret.
Tugas kita adalah menyediakan keadaan yang sehat:
air,
cahaya,
ilmu,
bimbingan,
batas,
dan waktu.
Kemudian biarkan pertumbuhan berjalan.
꧁ RAHASIA MUSIM ꧂
Tidak semua musim menghasilkan bunga.
Ada musim pertumbuhan akar.
Ada musim gugur.
Ada musim pemulihan.
Ada musim berbunga.
Jika manusia hanya mencintai musim berbunga, ia akan membenci sebagian besar proses kehidupan.
Maka jangan selalu bertanya:
“Mengapa sekarang belum panen?”
Tanyakan pula:
“Musim apa yang sedang kujalani?”
Mungkin sekarang waktu belajar.
Mungkin waktu menyembuhkan.
Mungkin waktu menata dasar.
Mungkin waktu memangkas sesuatu yang tidak sehat.
꧁ RAHASIA TAMAN YANG DITUTUP ꧂
Ketika taman ditutup, Latif kehilangan penonton.
Di situlah niatnya diuji.
Apakah ia merawat karena taman membutuhkan perawatan?
Atau karena manusia melihat?
Begitu pula amal.
Ada kebaikan yang dilakukan di depan banyak orang.
Ada yang dilakukan tanpa saksi manusia.
Keduanya dapat baik.
Namun hati perlu ditanya:
“Kalau tidak ada seorang pun yang tahu, apakah aku masih bersedia melakukannya?”
Tidak semua amal harus tersembunyi.
Tetapi mempunyai beberapa kebaikan yang hanya diketahui Alloh dapat membantu menjaga hati dari ketergantungan kepada pujian.
꧁ EMPAT HAL YANG TAK SELALU MASUK HITUNGAN ꧂
Pertama — Kedalaman.
Seratus percakapan tidak selalu lebih berarti daripada satu percakapan yang benar-benar menyembuhkan hubungan.
Kedua — Kejujuran.
Banyak pengikut tidak selalu berarti banyak kepercayaan.
Ketiga — Pertumbuhan batin.
Seseorang mungkin belum mendapat hasil besar, tetapi sudah menjadi jauh lebih sabar dan matang.
Keempat — Manfaat jangka panjang.
Satu benih kecil bisa melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar setelah bertahun-tahun.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH EMPAT ꧂
“Aja nganti kowe kesuwen ngetung kembang nganti lali nyawang kaendahane.”
Artinya:
Jangan terlalu lama menghitung bunga sampai lupa melihat keindahannya.
Dan:
“Sing bisa diitung iku penting, nanging urip ora kabeh bisa dilebokake angka.”
Apa yang dapat dihitung itu penting, tetapi kehidupan tidak seluruhnya dapat dimasukkan ke dalam angka.
꧁ RAHASIA PENJAGA TAMAN ꧂
Seorang penjaga bukan pencipta bunga.
Ia hanya merawat kondisi agar bunga dapat tumbuh.
Begitu pula guru.
Ia tidak menciptakan akal murid.
Orang tua tidak memiliki masa depan anak.
Pemimpin tidak memiliki seluruh kehidupan orang yang dipimpinnya.
Manusia membantu.
Mengarahkan.
Menjaga.
Namun pertumbuhan tidak seluruhnya berada di tangannya.
Kesadaran ini mengurangi dua penyakit:
kesombongan ketika berhasil,
dan keputusasaan berlebihan ketika hasil tidak sesuai harapan.
꧁ TENTANG TARGET DAN AMANAH ꧂
Qisah ini bukan mengajarkan hidup tanpa target.
Target membantu manusia bekerja.
Tetapkan tujuan.
Buat ukuran.
Evaluasi.
Namun gunakan angka sebagai peta, bukan sebagai tuhan.
Jika angka naik tetapi manusia di dalam sistem rusak, ada sesuatu yang salah.
Jika keuntungan meningkat tetapi kejujuran hilang, keberhasilan perlu diperiksa.
Jika jumlah murid bertambah tetapi kualitas bimbingan menurun, jangan hanya bersukacita kepada jumlah.
Jika organisasi membesar tetapi amanah mengecil, pertumbuhan itu belum tentu sehat.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH EMPAT ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Latif semakin tua.
Ia kemudian melatih penjaga muda bernama Salman.
Pada hari pertama, Salman membawa buku catatan besar.
“Aku akan mencatat semua bunga.”
Latif tersenyum.
“Bagus.”
“Semua pengunjung juga.”
“Bagus.”
“Jumlah air.”
“Bagus.”
“Jumlah benih.”
“Bagus.”
Salman bingung.
“Kukira Guru akan melarangku menghitung.”
Latif menjawab:
“Tidak. Hitunglah.”
“Lalu apa pesannya?”
Latif membawanya ke bagian belakang taman.
Bunga liar putih masih tumbuh.
Latif berkata:
“Setelah selesai menghitung, tutup bukumu. Lalu lihat taman dengan matamu sendiri.”
Salman terdiam.
Latif melanjutkan:
“Data akan memberitahumu berapa banyak bunga.”
“Tetapi tidak selalu memberitahumu bunga mana yang sedang sakit.”
“Data memberitahumu berapa orang datang.”
“Tetapi belum tentu siapa yang datang membawa kesedihan.”
“Data memberitahumu berapa air yang digunakan.”
“Tetapi belum tentu apakah satu akar tertentu masih kehausan.”
Salman mengangguk.
Latif menyerahkan kunci taman.
Lalu berkata:
“Rawat apa yang dapat dihitung. Hormati pula apa yang tidak dapat dihitung.”
Sore itu Latif meninggalkan taman.
Ia berhenti sejenak di gerbang.
Menoleh.
Ada bunga yang mekar.
Ada yang masih kuncup.
Ada daun gugur.
Ada tanah kosong.
Dan untuk pertama kalinya ia tidak ingin mengetahui jumlah semuanya.
Ia hanya berkata:
“Alhamdulillāh.”
Sebab ia akhirnya mengetahui:
taman yang hidup bukan taman yang seluruh bunganya dipaksa mekar pada hari yang sama.
Taman yang hidup adalah taman yang setiap tumbuhan diberi ruang menjalani musimnya,
sementara penjaganya tetap setia merawat tanpa mengira dirinya pemilik kehidupan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الرابعة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH EMPAT
“Ngetung iku perlu supaya amanah ora semrawut. Nanging sawise ngetung, aja lali ngrasa.”
Menghitung diperlukan agar amanah tidak berantakan. Tetapi setelah menghitung, jangan lupa merasakan dan memahami.
“Kembang ora mekar kanggo ngisi angka. Dheweke mekar nalika wektu, lemah, banyu, lan pangreksane wis cukup.”
Bunga tidak mekar untuk memenuhi angka. Ia mekar ketika waktu, tanah, air, dan perawatannya telah cukup.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH LIMA
“BURUNG YANG BELAJAR TERBANG SETELAH SAYAPNYA TERLUKA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah hutan luas yang berbatasan dengan tebing-tebing tinggi, hiduplah seekor burung muda bernama Rafi.
Rafi terkenal sebagai burung yang sangat cepat.
Ia mampu terbang menembus celah pepohonan.
Mengejar angin.
Menyambar buah sebelum burung lain datang.
Ia sangat bangga pada sayapnya.
Setiap pagi ia berkata:
“Selama aku masih memiliki sayap, tidak ada tempat yang terlalu jauh.”
Burung-burung tua sering mengingatkannya.
“Terbanglah cepat, tetapi pahami pula arah angin.”
Rafi tertawa.
“Yang lambat memang selalu punya banyak nasihat.”
Suatu hari ia melihat puncak batu yang sangat tinggi.
Tidak ada burung muda yang berani mendekatinya.
Angin di sekitarnya terkenal berubah tiba-tiba.
Rafi berkata:
“Aku akan terbang ke sana.”
Seekor burung tua bernama Halim berkata:
“Jangan hari ini.”
“Kenapa?”
“Angin sedang tidak stabil.”
Rafi menjawab:
“Aku lebih kuat daripada angin.”
Halim tidak membantah.
Ia hanya berkata:
“Kekuatan yang tidak mau membaca keadaan sering berubah menjadi kecerobohan.”
Namun Rafi sudah terbang.
꧁ ANGIN YANG BERBALIK ARAH ꧂
Pada awalnya perjalanan mudah.
Rafi melesat.
Ia semakin tinggi.
Semakin dekat dengan puncak, ia semakin bangga.
Kemudian angin tiba-tiba berubah.
Dari samping datang hembusan sangat kuat.
Rafi kehilangan keseimbangan.
Ia mencoba melawan.
Semakin ia melawan, tubuhnya semakin terbawa.
Ia berputar.
Sayap kirinya menghantam batu.
Rafi jatuh.
Ia berhasil mendarat di sebuah semak.
Namun sayapnya terluka.
Ia mencoba mengepak.
Sakit.
Mencoba lagi.
Tidak bisa.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Rafi tidak dapat terbang.
Ia menangis.
Bukan hanya karena sakit.
Tetapi karena sesuatu yang lebih dalam:
ia tidak tahu siapa dirinya tanpa kemampuan terbang.
꧁ HARI-HARI DI TANAH ꧂
Halim menemukan Rafi.
Ia membawanya ke tempat aman.
Sayapnya dirawat.
Beberapa hari pertama Rafi terus bertanya:
“Kapan aku bisa terbang lagi?”
Halim menjawab:
“Belum tahu.”
“Besok?”
“Belum.”
“Seminggu?”
“Belum tahu.”
Rafi marah.
“Aku tidak bisa hanya diam!”
Halim menjawab:
“Tidak semua diam adalah sia-sia.”
Rafi berkata:
“Aku burung. Tugasku terbang.”
Halim bertanya:
“Apakah burung hanya hidup ketika terbang?”
Rafi tidak menjawab.
Hari-hari di tanah terasa panjang.
Ia melihat burung lain melintas di atas.
Setiap kali itu terjadi, hatinya sakit.
Ia merasa tertinggal.
Burung-burung muda yang dahulu berada di belakangnya kini terbang bebas.
Sebagian bahkan mulai mencapai tempat yang dahulu ingin ia taklukkan.
Rafi menjadi pahit.
Ia berkata:
“Mereka maju. Aku terjebak.”
Halim menjawab:
“Jangan mengukur seluruh hidupmu hanya dari bagian yang sekarang tidak bisa kau lakukan.”
꧁ PELAJARAN PERTAMA DARI TANAH ꧂
Karena tidak bisa terbang, Rafi mulai berjalan.
Awalnya ia membenci tanah.
Namun dari bawah ia melihat hal-hal yang dulu tidak pernah diperhatikannya.
Ia melihat semut membawa makanan.
Melihat akar pohon mencengkeram tanah.
Melihat burung kecil yang bersarang rendah.
Melihat mata air tersembunyi di balik semak.
Suatu hari ia bertemu seekor anak burung yang belum bisa terbang.
Anak burung itu takut.
Rafi berkata:
“Aku dulu juga pernah kecil.”
Anak itu bertanya:
“Bagaimana caranya agar tidak takut?”
Rafi hendak menjawab:
“Terbang saja.”
Namun ia berhenti.
Ia sekarang tahu bahwa kalimat itu tidak cukup.
Ia berkata:
“Mulailah dari lompatan kecil.”
Anak burung mencoba.
Jatuh.
Mencoba lagi.
Rafi menemaninya.
Beberapa hari kemudian anak burung itu berhasil terbang pendek.
Ia berkata:
“Terima kasih.”
Rafi merasa sesuatu di dalam hatinya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak terluka, ia merasa berguna lagi.
Padahal ia belum terbang.
꧁ SAYAP YANG MULAI PULIH ꧂
Minggu berganti.
Luka sayap Rafi mulai sembuh.
Halim berkata:
“Coba gerakkan.”
Rafi mengepak perlahan.
Masih sakit sedikit.
“Jangan dipaksa.”
Rafi mengangguk.
Dulu ia pasti memaksa.
Sekarang ia belajar.
Hari pertama hanya satu kepakan.
Hari berikutnya dua.
Kemudian melompat dari batu rendah.
Lalu terbang beberapa depa.
Satu hari ia jatuh lagi.
Rafi sangat kecewa.
“Aku kira aku sudah sembuh.”
Halim berkata:
“Pulih tidak selalu berarti kembali lurus tanpa kemunduran.”
“Jadi aku gagal?”
“Tidak. Tubuhmu sedang belajar lagi.”
Rafi bertanya:
“Berapa lama?”
Halim menjawab:
“Selama yang dibutuhkan.”
꧁ KETIKA TAKUT MUNCUL SETELAH SEMBUH ꧂
Akhirnya tiba hari ketika sayap Rafi cukup kuat.
Halim membawanya ke tepi bukit.
“Terbanglah.”
Rafi berdiri.
Namun kali ini ia tidak langsung melompat.
Ia menatap jurang.
Tubuhnya gemetar.
Halim bertanya:
“Kau takut?”
Rafi mengangguk.
Dulu ia malu mengaku takut.
Sekarang ia berkata:
“Ya.”
Halim menjawab:
“Bagus.”
Rafi heran.
“Bagus?”
“Karena sekarang kau tahu takut bukan musuh. Ia bisa menjadi pesan agar engkau lebih hati-hati.”
Rafi bertanya:
“Bagaimana kalau aku jatuh lagi?”
Halim menjawab:
“Bisa saja.”
Rafi terdiam.
Ia berharap Halim berkata:
“Tidak akan.”
Tetapi tidak.
Halim berkata:
“Keberanian bukan jaminan bahwa engkau tidak akan jatuh. Keberanian adalah kesediaan untuk melangkah setelah memahami risikonya dengan lebih jernih.”
Rafi menarik napas.
Ia mengepak.
Melompat.
Tubuhnya turun sebentar.
Kemudian angin menangkap sayapnya.
Ia terbang.
Pelan.
Tidak cepat.
Namun stabil.
Air matanya jatuh terbawa angin.
꧁ TERBANG DENGAN CARA YANG BARU ꧂
Rafi tidak lagi mengejar kecepatan.
Ia mulai membaca arah angin.
Menggunakan hembusan.
Beristirahat ketika lelah.
Menghindari badai.
Tidak malu kembali jika cuaca buruk.
Burung-burung muda heran.
“Bukankah dulu kau paling berani?”
Rafi menjawab:
“Aku dulu paling nekat.”
Mereka tertawa.
Salah satu berkata:
“Bedanya apa?”
Rafi menjawab:
“Dulu aku mengira keberanian adalah tidak mendengar peringatan. Sekarang aku tahu keberanian juga berarti tahu kapan tidak perlu membuktikan apa-apa.”
꧁ KEMBALI KE TEBING ꧂
Beberapa tahun kemudian Rafi kembali ke tebing tempat ia pernah jatuh.
Halim ikut dari jauh.
Rafi berhenti sebelum arus angin berbahaya.
Ia menunggu.
Mengamati.
Satu jam kemudian arah angin berubah lebih baik.
Barulah ia terbang.
Ia mencapai puncak.
Namun tidak bersorak.
Tidak berkata:
“Aku mengalahkan gunung.”
Ia hanya duduk.
Memandang hutan.
Halim datang.
“Bagaimana rasanya?”
Rafi menjawab:
“Berbeda.”
“Kenapa?”
“Dulu aku ingin sampai untuk membuktikan bahwa aku lebih kuat.”
“Sekarang?”
Rafi berkata:
“Sekarang aku hanya bersyukur masih diberi kesempatan melihat pemandangan ini.”
꧁ RAHASIA SAYAP YANG TERLUKA ꧂
Halim bertanya:
“Kalau kau bisa menghapus kecelakaan dulu, mau?”
Rafi terdiam lama.
“Aku tidak tahu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin terluka lagi. Tetapi banyak hal kupelajari karena itu.”
Halim mengangguk.
Rafi melanjutkan:
“Kalau aku bilang luka itu baik, rasanya tidak jujur. Sakit tetap sakit.”
“Benar.”
“Tapi aku juga tidak bisa mengatakan semuanya sia-sia.”
Halim tersenyum.
“Itulah kebijaksanaan. Tidak perlu memuji luka agar bisa mengambil pelajarannya.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH LIMA ꧂
Tidak semua musibah harus disebut berkah.
Tidak semua luka harus dianggap indah.
Ada pengalaman yang memang menyakitkan.
Ada kehilangan yang tetap kehilangan.
Ada kegagalan yang tetap terasa berat.
Tetapi manusia masih dapat bertanya:
“Apa yang dapat kupelajari agar luka ini tidak hanya menjadi luka?”
Ini berbeda dengan menyangkal rasa sakit.
Manusia boleh sedih.
Boleh kecewa.
Boleh membutuhkan waktu.
Namun perlahan ia dapat mengubah pengalaman menjadi kebijaksanaan.
꧁ RAHASIA IDENTITAS Rafi ꧂
Rafi dahulu merasa:
“Aku adalah burung yang terbang cepat.”
Ketika tidak bisa terbang, ia merasa tidak menjadi siapa-siapa.
Begitu pula manusia dapat terlalu melekat kepada satu identitas:
“Aku adalah pekerjaanku.”
“Aku adalah jabatanku.”
“Aku adalah kekayaanku.”
“Aku adalah kemampuan tubuhku.”
“Aku adalah pengakuan orang.”
Jika sesuatu itu hilang, seluruh diri terasa runtuh.
Padahal manusia lebih luas daripada satu peran.
Kita boleh mencintai kemampuan.
Tetapi jangan menggantungkan seluruh harga diri pada satu kemampuan yang bisa berubah.
꧁ RAHASIA PEMULIHAN ꧂
Pemulihan bukan perlombaan.
Ada yang cepat.
Ada yang lambat.
Ada hari baik.
Ada hari mundur.
Jangan menghina diri hanya karena belum kembali seperti dahulu.
Mungkin tujuan pemulihan bukan selalu kembali menjadi persis seperti dulu.
Kadang manusia sembuh menjadi versi yang berbeda:
lebih hati-hati,
lebih lembut,
lebih tahu batas,
lebih mampu memahami penderitaan orang lain.
꧁ RAHASIA TAKUT ꧂
Rafi takut ketika kembali ke tebing.
Takut bukan selalu tanda lemah.
Kadang takut adalah ingatan tubuh terhadap bahaya.
Yang penting adalah bagaimana mengelolanya.
Jika takut memiliki dasar nyata, siapkan perlindungan.
Jika takut terlalu besar sampai menghambat hidup, carilah bantuan.
Jangan memaksa diri demi gengsi.
Dan jangan pula membiarkan setiap ketakutan menjadi penjara permanen.
꧁ EMPAT PELAJARAN SAYAP ꧂
Pertama — Jangan remehkan peringatan.
Pengalaman orang lain dapat menyelamatkan kita dari luka yang tidak perlu.
Kedua — Beri waktu untuk pulih.
Jangan memaksa sesuatu yang masih luka melakukan pekerjaan yang belum mampu dilakukan.
Ketiga — Jangan ukur nilai diri dari satu kemampuan.
Manusia tetap mempunyai nilai meskipun sedang lemah.
Keempat — Kembali dengan kebijaksanaan, bukan gengsi.
Jika diberi kesempatan kedua, jangan mengulangi kecerobohan hanya untuk membuktikan diri.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH LIMA ꧂
“Swiwi sing tau tatu ora kudu isin mabur alon.”
Artinya:
Sayap yang pernah terluka tidak perlu malu terbang lebih pelan.
Dan:
“Waras ora tansah bali dadi kaya biyen. Kadhang waras iku dadi luwih wicaksana tinimbang biyen.”
Pulih tidak selalu berarti kembali persis seperti dahulu. Kadang pulih berarti menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
꧁ RAHASIA ANAK BURUNG ꧂
Ketika Rafi tidak bisa terbang, ia justru mampu membantu anak burung belajar.
Ini adalah salah satu rahasia pengalaman manusia.
Orang yang pernah gagal dapat memahami orang yang takut mencoba.
Orang yang pernah kehilangan dapat menjadi pendengar yang lebih lembut.
Orang yang pernah bangkrut dapat lebih bijak mengingatkan orang tentang risiko.
Orang yang pernah tersesat dapat memberi tanda pada jalan.
Bukan karena penderitaan otomatis membuat seseorang bijaksana.
Tetapi jika direnungkan dengan jujur, pengalaman dapat menjadi ilmu yang tidak ditemukan dalam buku.
꧁ JANGAN MENGAGUNGKAN LUKA ꧂
Ada satu perkara penting.
Jangan sengaja mencari luka demi merasa lebih kuat.
Jangan menganggap penderitaan sebagai syarat kemuliaan.
Jika bahaya dapat dihindari, hindari.
Jika penyakit dapat diobati, berobat.
Jika hubungan merusak, cari batas yang sehat.
Jika kesalahan dapat dicegah dengan ilmu, belajarlah.
Qisah ini bukan memuji jatuh.
Ia mengajarkan apa yang bisa dilakukan setelah jatuh.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH LIMA ꧂
Pada akhir musim, Rafi kembali ke hutan.
Kini banyak burung muda datang kepadanya.
Mereka berkata:
“Ajari kami terbang cepat.”
Rafi menjawab:
“Aku bisa mengajari kalian terbang.”
“Cepat?”
“Itu nanti.”
Ia membawa mereka ke tepi bukit.
Mengajarkan membaca angin.
Mengajarkan cara mendarat.
Mengajarkan kapan harus kembali.
Mengajarkan bahwa langit luas bukan alasan untuk lupa bahwa tubuh mempunyai batas.
Seorang anak burung bertanya:
“Guru, apakah bekas luka di sayapmu masih sakit?”
Rafi melihat sayap kirinya.
Ada garis kecil yang tidak pernah hilang.
“Kadang saat cuaca dingin.”
“Apakah Guru malu?”
Rafi tersenyum.
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang itu hanya bagian dari ceritaku.”
Anak burung bertanya:
“Apa bekas luka membuat Guru lebih kuat?”
Rafi menjawab:
“Bukan lukanya.”
“Lalu?”
“Cara aku belajar setelah terluka.”
Langit sore berubah keemasan.
Rafi mengepakkan sayap.
Bekas luka masih ada.
Tetapi sayap itu tetap mampu membawa tubuhnya ke udara.
Ia terbang.
Bukan sebagai burung yang tidak pernah jatuh.
Tetapi sebagai burung yang pernah jatuh, pernah takut, pernah belajar dari tanah, lalu kembali ke langit tanpa perlu berpura-pura bahwa ia tidak pernah terluka.
Dan mungkin begitulah sebagian perjalanan manusia.
Tidak semua orang diberi hidup tanpa retak.
Namun retak tidak harus menjadi akhir.
Dengan ikhtiar, waktu, pertolongan, dan rahmat Alloh, sesuatu yang pernah terluka dapat menemukan cara baru untuk bergerak.
Tidak selalu sama seperti dahulu.
Tetapi cukup untuk melanjutkan perjalanan.
Maka jika hari ini sayapmu sedang lelah, jangan paksa dirimu berlomba dengan mereka yang sedang terbang tinggi.
Rawat.
Belajar.
Istirahat.
Mintalah pertolongan bila perlu.
Dan ketika waktunya tiba untuk kembali terbang, jangan malu jika langkahmu lebih pelan.
Sebab tujuan bukan menjadi burung tercepat.
Tujuan adalah tetap mengenal arah dan kembali menggunakan sayap sebagai amanah, bukan sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الخامسة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH LIMA
“Tatu ora kudu dadi jenengmu. Nanging aja uga lali piwulang sing ditinggalake.”
Luka tidak harus menjadi namamu. Namun jangan pula melupakan pelajaran yang ditinggalkannya.
“Yen swiwimu wis waras, mabura maneh. Ora kanggo mbuktekake yen kowe ora tau tiba, nanging kanggo mensyukuri yen Alloh isih maringi langit.”
Jika sayapmu telah pulih, terbanglah kembali. Bukan untuk membuktikan bahwa engkau tidak pernah jatuh, tetapi untuk mensyukuri bahwa Alloh masih memberimu langit.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH ENAM
“JUBAH YANG SEMAKIN BERAT SETIAP KALI DIPUJI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota tua yang terkenal sebagai kota para penuntut ilmu, hiduplah seorang pemuda bernama Naufal.
Ia bukan berasal dari keluarga besar.
Rumahnya kecil.
Ayahnya seorang pembuat sandal.
Ibunya menjahit pakaian untuk tetangga.
Namun sejak kecil Naufal sangat gemar belajar.
Ia membaca ketika teman-temannya tidur.
Ia bertanya ketika orang lain malu bertanya.
Jika tidak memahami sesuatu, ia tidak gengsi berkata:
“Aku belum tahu.”
Karena ketekunannya, sedikit demi sedikit ilmunya bertambah.
Orang mulai datang meminta pendapat.
Awalnya hanya satu dua orang.
Kemudian puluhan.
Kemudian ratusan.
Naufal sering berkata:
“Jangan terlalu percaya kepadaku. Timbanglah perkataanku. Kalau salah, koreksi.”
Orang-orang menyukai kerendahan hatinya.
Namun suatu hari seorang saudagar kaya memberikan hadiah kepadanya.
Sebuah jubah panjang berwarna putih.
Pinggirannya disulam benang emas.
Saudagar berkata:
“Pakailah ini ketika mengajar. Engkau sudah menjadi orang yang dihormati.”
Naufal menerimanya.
Pada hari pertama memakai jubah itu, ia merasa biasa saja.
Namun ketika berjalan menuju tempat mengajar, orang-orang menoleh.
“Lihat, Guru Naufal.”
“Betapa berwibawanya.”
“Memang pantas.”
Naufal tersenyum.
Ada rasa hangat muncul di dadanya.
Ia tidak menyadari bahwa sejak hari itu terjadi sesuatu pada jubah tersebut.
Jubah itu bertambah sedikit lebih berat.
꧁ PUJIAN PERTAMA ꧂
Setelah pengajian, seorang pemuda berkata:
“Guru, penjelasanmu lebih mudah dipahami daripada semua guru yang pernah kudengar.”
Naufal menjawab:
“Jangan berkata begitu. Banyak orang lebih berilmu.”
Tetapi jauh di dalam hati muncul bisikan kecil:
“Mungkin memang benar.”
Ketika pulang, jubah terasa lebih berat.
Naufal mengira ia lelah.
Hari berikutnya seorang perempuan tua berkata:
“Seandainya semua orang seperti engkau, kota ini pasti damai.”
Naufal tersenyum.
Jubah bertambah berat.
Hari berikutnya seorang pejabat berkata:
“Tidak ada orang sebijaksana dirimu.”
Jubah semakin berat.
Namun karena penambahannya sedikit demi sedikit, Naufal terbiasa.
Ia tidak sadar.
꧁ KETIKA PUJIAN MULAI DICARI ꧂
Bulan berlalu.
Naufal masih mengajar.
Tetapi cara hatinya menerima orang mulai berubah.
Jika seseorang memuji, ia senang.
Jika seseorang hanya mengucapkan terima kasih biasa, ia sedikit kecewa.
Jika ada yang bertanya kepada guru lain, ia merasa terganggu.
Jika seorang murid berkata:
“Pendapat guru lain berbeda,”
Naufal mulai menjawab:
“Mungkin dia belum memahami persoalannya sedalam aku.”
Dulu ia berkata:
“Mari kita periksa.”
Sekarang ia mulai berkata:
“Percayalah kepadaku.”
Jubahnya semakin berat.
Namun anehnya, semakin berat jubah itu, semakin enggan ia melepasnya.
Sebab jubah sudah menjadi bagian dari cara orang melihat dirinya.
꧁ SEORANG ANAK DI PINGGIR JALAN ꧂
Suatu sore Naufal pulang setelah mengajar.
Di pinggir jalan seorang anak membawa sekeranjang buku.
Anak itu tersandung.
Buku-bukunya jatuh.
“Guru, tolong.”
Naufal hendak membungkuk.
Tetapi jubahnya begitu berat sehingga sulit bergerak.
Ia berkata:
“Tunggu.”
Ia mencoba lagi.
Tidak mampu.
Seorang tukang sapu datang.
Ia meletakkan sapunya.
Membantu anak tersebut.
Buku terkumpul.
Anak itu berkata:
“Terima kasih, Paman.”
Naufal berdiri diam.
Untuk pertama kalinya ia merasa malu kepada jubahnya sendiri.
꧁ PENJAHIT TUA ꧂
Malam itu Naufal pergi menemui seorang penjahit tua bernama Salimah.
Ia menunjukkan jubah.
“Bibi, jubah ini semakin berat.”
Salimah memegang kainnya.
“Bahannya tidak berubah.”
“Tapi ketika kupakai, rasanya seperti membawa batu.”
Salimah bertanya:
“Kapan mulai terasa berat?”
Naufal berpikir.
“Sudah lama.”
“Coba pakai.”
Naufal mengenakannya.
Tubuhnya langsung condong.
Salimah melihat bagian dalam jubah.
Anehnya, di sana terdapat tulisan-tulisan kecil yang sebelumnya tidak pernah ada.
“Engkau paling bijaksana.”
“Tidak ada yang sepertimu.”
“Semua orang membutuhkanmu.”
“Engkau tidak mungkin salah.”
“Tanpa dirimu mereka akan tersesat.”
Naufal terkejut.
“Apa ini?”
Salimah menjawab:
“Pujian yang terlalu lama kau simpan.”
Naufal berkata:
“Aku tidak menulisnya.”
“Benar.”
“Lalu siapa?”
Salimah menunjuk dadanya.
“Yang menyimpannya bukan tanganmu.”
꧁ PUJIAN TIDAK SELALU RACUN ꧂
Naufal bertanya:
“Berarti semua pujian buruk?”
Salimah menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Pujian dapat menjadi terima kasih.”
“Dapat menjadi penghargaan.”
“Dapat menjadi penyemangat.”
“Yang membuatnya berat adalah ketika hati mengubah pujian menjadi ukuran harga diri.”
Naufal berkata:
“Bagaimana cara meringankan jubah ini?”
Salimah mengambil gunting.
“Aku tidak bisa memotongnya.”
“Kenapa?”
“Karena yang harus dilepas bukan kainnya.”
“Lalu apa?”
Salimah menjawab:
“Keinginanmu untuk mempercayai semua yang membuat dirimu terasa besar.”
꧁ TUJUH HARI TANPA JUBAH ꧂
Salimah berkata:
“Selama tujuh hari, jangan pakai jubah ini.”
Naufal terkejut.
“Aku harus mengajar.”
“Mengajarlah tanpa jubah.”
“Orang akan bertanya.”
“Biarkan.”
Hari pertama, Naufal memakai pakaian sederhana.
Beberapa orang berkata:
“Guru, mana jubahmu?”
“Sedang kusimpan.”
Pengajian berjalan.
Anehnya, tanpa jubah ia merasa sedikit lebih ringan.
Namun setelah mengajar, tidak banyak orang memuji.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang.
Hari kedua, seorang murid justru mengkritik.
“Guru, penjelasan bagian tadi kurang jelas.”
Dulu Naufal mungkin tersinggung.
Kali ini ia hampir membalas.
Namun teringat tulisan di dalam jubah.
Ia berkata:
“Bagian mana?”
Murid menjelaskan.
Naufal membaca kembali catatannya.
Ternyata memang ada kekeliruan.
Ia berkata:
“Benar. Aku salah menyusun penjelasan.”
Ruangan hening.
Sebagian murid terkejut.
Naufal melanjutkan:
“Terima kasih sudah mengingatkan.”
Malam itu ketika ia melihat jubahnya, satu tulisan di bagian dalam menghilang:
“Engkau tidak mungkin salah.”
꧁ HARI KETIGA: MURID YANG LEBIH PANDAI ꧂
Pada hari ketiga datang seorang pemuda bernama Faruq.
Ia menguasai satu cabang ilmu lebih baik daripada Naufal.
Seorang murid bertanya sesuatu.
Naufal tidak tahu jawabannya.
Semua menunggu.
Dulu ia mungkin mencoba berbicara panjang agar tidak terlihat tidak tahu.
Kali ini ia berkata:
“Dalam perkara ini Faruq lebih memahami. Silakan dia menjelaskan.”
Faruq terkejut.
Ia kemudian menjelaskan dengan baik.
Murid-murid memperoleh manfaat.
Naufal merasakan sesuatu yang baru:
ketika orang lain bersinar, cahayanya tidak berkurang.
Malam itu satu tulisan lagi hilang:
“Semua orang membutuhkanmu.”
꧁ HARI KEEMPAT: TIDAK DIUNDANG ꧂
Hari keempat terdapat pertemuan besar di kota.
Naufal mengira dirinya akan diundang.
Ternyata tidak.
Ia menunggu sampai sore.
Tidak ada undangan.
Hatinyapun panas.
“Apa mereka sudah lupa siapa aku?”
Kemudian ia tersenyum pahit.
Kalimat itu terdengar sangat jelas.
Siapa aku?
Ia membuka jubah.
Tulisan:
“Tanpa dirimu mereka akan tersesat.”
masih ada.
Naufal tertawa kepada dirinya sendiri.
“Kota ini sudah berdiri sebelum aku lahir.”
Ia pergi membantu ayahnya di bengkel sandal.
Ayahnya berkata:
“Tidak ada pengajian?”
“Tidak hari ini.”
Mereka bekerja bersama.
Tidak ada yang memanggilnya guru.
Tidak ada yang meminta nasihat.
Ayahnya hanya berkata:
“Pegang bagian ini.”
Naufal memegang.
Untuk beberapa jam ia kembali menjadi anak seorang pembuat sandal.
Dan anehnya, ia merasa damai.
꧁ HARI KELIMA: NAMA YANG TIDAK DISEBUT ꧂
Hari kelima Naufal mendengar seorang murid mengutip pelajaran yang pernah diajarkannya.
Tetapi murid itu tidak menyebut namanya.
Orang-orang memuji isi pelajaran tersebut.
Naufal hampir berkata:
“Itu sebenarnya dariku.”
Namun ia menahan.
Ia bertanya kepada dirinya:
“Apakah pelajaran itu menjadi kurang benar karena namaku tidak disebut?”
Tidak.
“Apakah manfaatnya berkurang?”
Tidak.
Ia diam.
Malamnya tulisan:
“Engkau harus selalu dikenang.”
yang bahkan sebelumnya tidak ia sadari, lenyap dari jubah.
꧁ HARI KEENAM: ORANG YANG TIDAK SETUJU ꧂
Hari keenam datang seorang lelaki tua.
Ia berbeda pendapat dengan Naufal.
Diskusi berlangsung.
Naufal mulai panas.
Namun lelaki itu tetap sopan.
Naufal sadar:
berbeda bukan berarti menghina.
Ia berkata:
“Dalam perkara ini aku memegang pandangan berbeda. Tapi aku memahami alasanmu.”
Mereka berpisah dengan baik.
Malam itu jubah terasa semakin ringan.
꧁ HARI KETUJUH: KEMBALI KE SALIMAH ꧂
Pada hari ketujuh Naufal kembali kepada Salimah.
“Bibi, boleh kupakai lagi?”
Salimah menjawab:
“Coba.”
Naufal mengenakan.
Jubah ringan seperti dahulu.
Ia tersenyum.
“Sudah sembuh.”
Salimah berkata:
“Jubahnya tidak pernah sakit.”
Naufal tertawa.
Salimah melanjutkan:
“Dan jangan mengira ujian selesai.”
“Kenapa?”
“Besok orang bisa memujimu lagi.”
Naufal berkata:
“Berarti aku harus menolak semua pujian?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Salimah menjawab:
“Terimalah penghargaan dengan syukur, tetapi jangan jahitkan setiap pujian ke dalam identitasmu.”
꧁ KETIKA NAUFAL DIPUJI KEMBALI ꧂
Hari berikutnya setelah mengajar, seorang pemuda berkata:
“Guru, penjelasan hari ini sangat bagus.”
Naufal tersenyum.
“Alhamdulillāh. Semoga bermanfaat.”
Ia tidak memukul dirinya dengan penolakan palsu.
Tidak berkata:
“Aku tidak punya ilmu sama sekali.”
Ia juga tidak membiarkan pujian itu tumbuh menjadi mahkota.
Ia hanya menerimanya sebagai ungkapan manusia.
Lalu melanjutkan hidup.
Seorang lain berkata:
“Guru pasti lebih alim daripada semua orang.”
Naufal menjawab:
“Jangan ukur manusia seperti itu. Ada banyak hal yang tidak aku ketahui.”
Dan kali ini ia benar-benar mengatakannya dari hati.
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH ENAM ꧂
Pujian bukan selalu musuh.
Manusia boleh menghargai kerja baik.
Guru boleh diberi ucapan terima kasih.
Anak boleh dipuji atas usahanya.
Pekerja boleh diapresiasi.
Pemimpin boleh dihormati.
Namun orang yang menerima pujian mempunyai satu amanah:
jangan mengubah penghargaan menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak lagi mungkin salah.
Karena ketika pujian berubah menjadi candu, manusia mulai membutuhkan lebih banyak.
Hari ini cukup satu orang.
Besok ingin sepuluh.
Kemudian seratus.
Akhirnya ia tidak lagi bekerja untuk amanah.
Ia bekerja untuk menjaga gambaran tentang dirinya.
꧁ RAHASIA JUBAH ꧂
Jubah dalam qisah ini adalah perlambang citra diri.
Semua manusia mempunyai jubah tertentu.
Ada yang dikenal sebagai:
orang alim,
orang kuat,
orang baik,
orang kaya,
orang sabar,
orang pintar,
orang pemberani,
pemimpin,
guru,
atau penolong.
Tidak ada yang salah dengan sebutan itu selama sesuai kenyataan.
Tetapi hati-hati.
Jangan sampai seseorang begitu takut kehilangan label “orang baik” sehingga tidak mampu mengakui kesalahannya.
Jangan sampai label “orang kuat” membuatnya malu meminta bantuan.
Jangan sampai label “guru” membuatnya berhenti belajar.
Jangan sampai label “pemimpin” membuatnya tidak mampu mendengar.
꧁ RAHASIA KALIMAT “AKU BELUM TAHU” ꧂
Salah satu kalimat yang membuat jubah ringan adalah:
“Aku belum tahu.”
Bukan semua orang mudah mengucapkannya.
Terutama ketika telah dianggap ahli.
Padahal ilmu yang benar justru membuat manusia menyadari betapa luas yang belum diketahuinya.
Mengakui keterbatasan bukan merendahkan ilmu.
Itu bagian dari amanah ilmu.
꧁ PUJIAN DAN CELAAN ADALAH DUA ANGIN ꧂
Salimah pernah berkata kepada Naufal:
“Kalau kau terbang terlalu tinggi karena pujian, kau juga akan jatuh terlalu keras karena celaan.”
Naufal bertanya:
“Kenapa?”
“Karena keduanya datang dari mulut manusia.”
Hari ini orang memuji.
Besok bisa mengkritik.
Jika harga diri seluruhnya ditaruh di tangan manusia, hati akan terus dipermainkan oleh perubahan suara mereka.
Maka dengarkan pujian yang wajar.
Periksa kritik yang benar.
Tetapi jangan menyerahkan seluruh nilai diri kepada keduanya.
꧁ EMPAT CARA MENJAGA JUBAH TETAP RINGAN ꧂
Pertama — Ingat sumber karunia.
Ilmu, kemampuan, kesempatan, dan kesehatan adalah karunia Alloh yang perlu disyukuri.
Kedua — Pelihara orang yang berani mengoreksi.
Jangan hanya dikelilingi orang yang selalu mengatakan “benar”.
Ketiga — Lakukan sebagian kebaikan tanpa perlu diumumkan.
Agar hati tetap mengenal amal yang tidak bergantung pada penonton.
Keempat — Tetap menjadi murid.
Selama hidup, selalu ada sesuatu yang belum kita ketahui.
꧁ RAHASIA ORANG YANG MERENDAHKAN DIRI SECARA PALSU ꧂
Ada pula bentuk kesombongan yang lebih halus.
Seseorang dipuji lalu berkata:
“Aku bukan siapa-siapa.”
Tetapi dalam hati berharap orang menjawab:
“Tidak, Guru! Engkau luar biasa!”
Itulah kerendahan hati yang sedang meminta pujian kedua.
Maka tidak perlu bermain dengan kata-kata.
Jika mendapat pujian yang wajar, cukup katakan:
“Alhamdulillāh, terima kasih. Semoga bermanfaat.”
Lalu lanjutkan amanah.
Kerendahan hati bukan membenci diri.
Kerendahan hati adalah menempatkan diri secara benar.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH ENAM ꧂
“Pangajab pujian iku kaya watu cilik ing jubah. Siji ora krasa, nanging yen diklumpukake saben dina, sawijining wektu nggawe pundhakmu membungkuk.”
Artinya:
Keinginan terhadap pujian seperti batu kecil di dalam jubah. Satu hampir tidak terasa, tetapi jika dikumpulkan setiap hari, suatu saat membuat pundakmu membungkuk.
Dan:
“Ajining diri aja kabeh kok titipake marang ilate wong.”
Jangan menitipkan seluruh harga dirimu kepada lidah manusia.
꧁ KETIKA MURID MENJADI LEBIH BESAR ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Faruq, murid yang dulu pernah diminta menjelaskan, berkembang menjadi guru besar.
Orang mulai datang kepadanya lebih banyak daripada kepada Naufal.
Seorang murid lama berkata:
“Guru, apakah tidak sedih? Sekarang banyak orang lebih memilih Faruq.”
Naufal menatap dari kejauhan.
Faruq sedang mengajar.
Ia tersenyum.
“Dulu aku pernah mengajarnya.”
“Justru itu. Sekarang dia lebih terkenal.”
Naufal menjawab:
“Kalau murid harus selalu lebih kecil daripada gurunya, berarti guru sedang menanam pohon lalu memotongnya setiap kali tumbuh terlalu tinggi.”
Murid itu diam.
Naufal melanjutkan:
“Kalau Faruq membawa manfaat lebih besar, bukankah itu baik?”
Ia menatap jubahnya.
Masih putih.
Masih bersulam emas.
Namun ringan.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH ENAM ꧂
Pada akhir hidupnya Naufal masih mengajar.
Tidak sebesar dahulu.
Tidak seramai dahulu.
Sebagian murid lama telah menjadi guru.
Sebagian pergi ke negeri lain.
Suatu sore ia duduk bersama Salimah yang kini sangat tua.
Naufal berkata:
“Bibi, aku baru mengerti. Jubah ini sebenarnya tidak perlu kubuang.”
Salimah tersenyum.
“Benar.”
“Aku hanya harus tahu cara memakainya.”
“Benar.”
“Jadi yang berat bukan kehormatan?”
“Bukan.”
“Yang berat adalah ketika hati merasa harus terus mempertahankan kehormatan itu.”
Salimah mengangguk.
Kemudian berkata:
“Pakailah jubah ketika amanah membutuhkanmu memakainya. Tetapi jangan pernah lupa bahwa ketika jubah dilepas, engkau tetap seorang hamba.”
Malam turun.
Naufal pulang.
Di tengah jalan seorang anak tidak mengenalnya.
Anak itu bertanya:
“Paman, bisa bantu mengangkat keranjang ini?”
Naufal tersenyum.
Ia melepas jubah.
Melipatnya.
Meletakkan di bahu.
Kemudian mengangkat keranjang dengan kedua tangannya.
Anak itu berkata:
“Terima kasih, Paman.”
Tidak “Guru”.
Tidak “orang besar”.
Tidak “orang alim”.
Hanya:
Paman.
Naufal merasa sangat ringan.
Karena akhirnya ia memahami:
nama boleh tinggi,
kedudukan boleh besar,
pakaian boleh indah,
pujian boleh datang,
tetapi tidak satu pun harus membuat tangan kehilangan kemampuan membungkuk untuk menolong.
Maka jika suatu hari manusia memujimu, bersyukurlah.
Jika mereka menghargai karyamu, terimalah dengan adab.
Namun setelah itu periksa jubah batinmu.
Apakah masih ringan?
Apakah engkau masih mampu berkata:
“Aku salah.”
Apakah masih mampu belajar dari orang yang lebih muda?
Apakah masih mampu membantu pekerjaan sederhana?
Apakah tetap berbuat baik ketika tidak disebut?
Jika jawabannya mulai hilang, mungkin ada terlalu banyak pujian yang telah dijahitkan ke dalam jubah.
Bukalah jahitannya.
Kembalikan semua karunia kepada rasa syukur.
Lalu berjalanlah kembali sebagai hamba.
Sebab manusia tidak menjadi kecil karena rendah hati.
Justru dengan merendahkan ego, ia membuat amanah mempunyai ruang yang lebih luas.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السادسة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH ENAM
“Jubah kehormatan kena dienggo, nanging aja nganti dadi kulitmu.”
Jubah kehormatan boleh dipakai, tetapi jangan sampai menjadi kulitmu.
“Yen pujian teka, tampanen kanthi syukur. Yen jubah wiwit abot, elinga maneh: kabeh sing apik iku amanah saka Alloh, dudu alasan kanggo rumangsa luwih dhuwur.”
Jika pujian datang, terimalah dengan syukur. Jika jubah mulai terasa berat, ingatlah kembali: segala kebaikan adalah amanah dari Alloh, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH TUJUH
“PETA YANG HANYA TERBACA OLEH ORANG YANG BERSEDIA TERSESAT”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang terletak di antara tiga pegunungan, terdapat sebuah peta tua.
Peta itu tidak disimpan di istana.
Tidak dijaga oleh tentara.
Tidak pula dihiasi emas.
Ia hanya tergulung di sebuah rumah kecil milik seorang penjaga jalan bernama Hasyim.
Orang-orang menyebutnya:
Peta Langit.
Konon peta itu menunjukkan jalan menuju sebuah lembah tersembunyi bernama Wadi al-Bayan, lembah yang terkenal memiliki mata air jernih, tanah subur, dan jalan keluar menuju banyak negeri.
Namun ada satu keanehan:
siapa pun yang membuka peta itu pertama kali hanya akan melihat kertas kosong.
Tidak ada gunung.
Tidak ada sungai.
Tidak ada garis.
Tidak ada nama tempat.
Banyak orang kecewa.
Seorang pedagang berkata:
“Ini penipuan.”
Seorang pejabat berkata:
“Peta tanpa gambar bukan peta.”
Seorang pengembara berkata:
“Bagaimana mungkin sesuatu yang kosong disebut petunjuk?”
Hasyim hanya menjawab:
“Peta itu tidak diberikan untuk orang yang hanya ingin melihat jalan dari tempat duduknya.”
꧁ PEMUDA YANG TIDAK PERNAH INGIN SALAH JALAN ꧂
Di kota itu hidup seorang pemuda bernama Qasim.
Qasim sangat berhati-hati.
Ia tidak pernah mengambil keputusan sebelum memiliki kepastian.
Jika hendak bepergian, ia bertanya kepada sepuluh orang.
Jika hendak membeli sesuatu, ia membandingkan puluhan pilihan.
Jika ada dua jalan, ia bisa berdiri lama karena takut memilih yang salah.
Orang-orang berkata:
“Qasim jarang membuat kesalahan.”
Namun ada sisi lain yang tidak mereka lihat.
Qasim juga jarang memulai sesuatu yang belum pasti.
Banyak kesempatan ia lewatkan.
Banyak perjalanan ia batalkan.
Banyak ilmu ia tunda karena takut gagal.
Suatu hari ia mendengar tentang Wadi al-Bayan.
Ia mendatangi Hasyim.
“Aku ingin meminjam Peta Langit.”
Hasyim memberikannya.
Qasim membuka.
Kosong.
Ia berkata:
“Di mana jalannya?”
Hasyim menjawab:
“Mulailah berjalan.”
Qasim mengerutkan dahi.
“Bagaimana aku mulai kalau belum tahu jalan?”
Hasyim berkata:
“Pergilah ke gerbang utara.”
“Lalu?”
“Setelah itu lihat lagi petanya.”
Qasim tidak puas.
“Apa setelah itu jalannya terlihat semua?”
Hasyim tersenyum.
“Tidak.”
Qasim hampir mengembalikan peta.
Tetapi rasa ingin tahunya lebih besar.
Ia akhirnya berangkat.
꧁ GARIS PERTAMA ꧂
Qasim sampai di gerbang utara.
Ia membuka peta.
Kini muncul sebuah titik kecil.
Di sampingnya tertulis:
“Engkau berada di sini.”
Qasim berseru:
“Hanya itu?”
Ia menunggu.
Tidak ada tambahan.
Ia melihat ke depan.
Ada dua jalan.
Satu menuju hutan.
Satu menuju bukit.
Ia panik.
“Peta tidak menjelaskan jalan mana.”
Ia kembali ke rumah Hasyim.
Hasyim bertanya:
“Kenapa sudah pulang?”
“Ada dua jalan.”
“Lalu?”
“Peta tidak memberi jawaban.”
Hasyim berkata:
“Apakah kau memeriksa keadaan?”
Qasim terdiam.
“Tidak.”
“Apakah bertanya kepada orang yang mengenal daerah itu?”
“Tidak.”
“Apakah melihat matahari, jejak, atau arah lembah?”
“Tidak.”
Qasim berkata:
“Aku kira peta yang harus memberitahu semuanya.”
Hasyim menjawab:
“Petunjuk tidak membebaskan manusia dari kewajiban menggunakan akal.”
꧁ JALAN YANG SALAH ꧂
Qasim kembali.
Ia bertanya kepada seorang penggembala.
Penggembala berkata:
“Kalau menuju lembah utara, ambil jalur bukit. Jalan hutan sekarang tertutup karena banjir.”
Qasim mengikuti.
Beberapa jam kemudian ia sampai di persimpangan lain.
Tidak ada orang.
Ia memilih kiri.
Setelah berjalan jauh, ia menemukan jalan buntu.
Qasim marah.
“Aku salah!”
Ia membuka peta.
Anehnya, muncul garis baru.
Garis itu menunjukkan perjalanan yang baru saja ia tempuh.
Di ujungnya tertulis:
“Jalan ini tidak menuju tujuanmu.”
Qasim semakin kesal.
“Kenapa peta baru memberi tahu setelah aku salah?”
Terdengar suara dari seorang tua yang sedang mengumpulkan kayu tidak jauh darinya.
“Karena sekarang kau tahu dengan tubuhmu, bukan hanya dengan teori.”
Qasim menoleh.
Orang tua itu berkata:
“Apakah jalan buntu itu sia-sia?”
“Tentu. Aku kehilangan waktu.”
“Benarkah hanya kehilangan?”
Qasim terdiam.
Ia melihat sekeliling.
Sekarang ia tahu jalur kiri tidak dapat dipakai.
Ia juga menemukan mata air kecil di tempat itu.
Orang tua berkata:
“Kesalahan yang dipahami dapat berubah menjadi bagian dari peta.”
꧁ KETAKUTAN UNTUK MELANGKAH LAGI ꧂
Namun setelah salah jalan, Qasim menjadi lebih takut.
Di persimpangan berikutnya ia berdiri sangat lama.
Ia berkata:
“Aku tidak mau salah lagi.”
Berjam-jam ia tidak bergerak.
Matahari mulai turun.
Akhirnya seorang perempuan penjual rempah lewat.
Ia bertanya:
“Kenapa berdiri di sini?”
Qasim menjawab:
“Aku takut memilih jalan yang salah.”
Perempuan itu berkata:
“Kalau berdiri sampai malam, itu juga pilihan.”
Qasim terdiam.
Perempuan itu melanjutkan:
“Tidak memilih bukan berarti tidak mengambil risiko.”
Qasim bertanya:
“Lalu bagaimana kalau salah?”
“Periksa. Belajar. Koreksi.”
Ia menunjuk salah satu jalan.
“Aku menuju arah itu. Kalau mau, ikut sampai desa berikutnya.”
Qasim ikut.
꧁ PETA MULAI TERISI ꧂
Setiap kali Qasim berjalan, peta berubah.
Jalur yang telah dilewati muncul.
Tempat berbahaya diberi tanda.
Mata air mulai terlihat.
Desa-desa muncul.
Bahkan nama orang-orang yang pernah membantunya tidak tertulis, tetapi di beberapa titik muncul simbol kecil berbentuk tangan.
Qasim bertanya kepada dirinya:
“Mengapa peta ini tidak memberikan semua sejak awal?”
Ia mulai memahami.
Kalau seluruh jalan terlihat sejak pertama, ia mungkin hanya akan menghafal.
Sekarang setiap garis mempunyai cerita.
Di sinilah ia salah jalan.
Di sini ia ditolong.
Di sini ia harus kembali.
Di sini ia belajar bertanya.
Di sini ia terlalu cepat.
Di sini ia terlalu takut.
Peta itu perlahan berubah menjadi rekaman perjalanan.
꧁ PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG PUNYA PETA BERBEDA ꧂
Suatu sore Qasim bertemu seorang pengembara bernama Nadir.
Nadir juga membawa Peta Langit.
Qasim berkata:
“Coba lihat petamu.”
Mereka membandingkan.
Aneh.
Petanya berbeda.
Jalan Qasim melewati bukit.
Peta Nadir melewati sungai.
Qasim berkata:
“Peta siapa yang salah?”
Nadir menjawab:
“Mungkin tidak ada.”
“Bagaimana mungkin? Tujuan kita sama.”
Nadir berkata:
“Karena kita berangkat dari tempat berbeda.”
Qasim terdiam.
Nadir melanjutkan:
“Dan kita membawa keadaan berbeda.”
Qasim melihat kaki Nadir.
Ia pincang sedikit.
Nadir berkata:
“Aku tidak bisa melewati tanjakan tinggi. Karena itu jalanku memutar melalui lembah.”
Qasim akhirnya mengerti:
tujuan yang sama tidak selalu menuntut jalur yang sama.
꧁ ORANG YANG MEMAKSA PETA ORANG LAIN ꧂
Di desa berikutnya, mereka bertemu seorang pemimpin rombongan bernama Jabir.
Jabir berkata:
“Semua harus mengikuti jalanku. Ini jalur tercepat.”
Nadir berkata:
“Tidak untukku.”
Jabir menjawab:
“Kalau tidak mengikuti, berarti kau tidak sungguh-sungguh.”
Qasim hampir setuju.
Namun ia teringat peta Nadir.
Ia berkata:
“Jalan cepat untuk satu orang bisa menjadi jalan berbahaya bagi orang lain.”
Jabir marah.
“Berarti semua orang boleh membuat aturan sendiri?”
Qasim menjawab:
“Tidak. Arah tetap harus benar. Tetapi cara menempuhnya perlu mempertimbangkan keadaan.”
Jabir tidak suka.
Ia pergi.
Qasim mulai merasakan sesuatu:
dulu ia begitu takut berbeda karena mengira hanya ada satu bentuk perjalanan.
Kini ia tahu perbedaan jalan tidak otomatis berarti perbedaan arah.
꧁ JEMBATAN YANG RUNTUH ꧂
Beberapa hari kemudian Qasim tiba di sebuah sungai besar.
Peta menunjukkan ada jembatan.
Namun ketika sampai—
jembatan itu sudah runtuh.
Qasim bingung.
“Peta ini salah.”
Seorang penduduk berkata:
“Jembatan roboh minggu lalu.”
Qasim menatap peta.
Ia kecewa.
“Berarti peta tidak bisa dipercaya.”
Penduduk itu menjawab:
“Peta menunjukkan apa yang pernah ada. Kenyataan menunjukkan apa yang sekarang ada.”
Qasim terdiam.
Ia teringat Qisah jalan lama.
Ia berkata:
“Jadi aku harus membaca peta dan keadaan.”
“Benar.”
Mereka mencari jalan lain.
Lebih jauh.
Lebih melelahkan.
Namun aman.
Peta kemudian menggambar jalur baru.
Di bekas jembatan yang runtuh muncul tulisan:
“Petunjuk lama perlu dibaca bersama kenyataan baru.”
꧁ LEMBAH YANG AKHIRNYA DITEMUKAN ꧂
Setelah perjalanan panjang, Qasim sampai di puncak sebuah bukit.
Dari sana ia melihat lembah hijau.
Sungai mengalir.
Pepohonan memenuhi dataran.
Ia tahu:
itulah Wadi al-Bayan.
Qasim menangis.
Ia membuka peta.
Sekarang seluruh perjalanan terlihat.
Tidak sempurna.
Ada garis berputar.
Ada jalan buntu.
Ada bagian kembali.
Ada tanda salah.
Ada jalur panjang.
Tetapi semuanya membentuk sesuatu yang utuh.
Qasim berkata:
“Kalau aku tahu jalannya sejak awal, perjalanan ini pasti lebih mudah.”
Terdengar suara Hasyim dalam ingatannya:
“Peta itu tidak diberikan untuk orang yang hanya ingin melihat jalan dari tempat duduknya.”
Qasim tersenyum.
Ia akhirnya memahami.
Peta tidak hanya menunjukkan ke mana ia pergi.
Peta mengajarkan bagaimana ia belajar berjalan.
꧁ KEMBALI KEPADA HASYIM ꧂
Berbulan-bulan kemudian Qasim pulang.
Ia mengembalikan peta.
Hasyim membuka.
Kini peta penuh.
Hasyim bertanya:
“Apa yang paling penting kau temukan?”
Qasim menjawab:
“Wadi al-Bayan.”
Hasyim tersenyum.
“Itu tempatnya. Aku bertanya pelajarannya.”
Qasim berpikir lama.
Kemudian menjawab:
“Aku tidak harus tahu seluruh jalan untuk memulai, tetapi aku harus cukup jujur untuk mengoreksi arah ketika ternyata salah.”
Hasyim mengangguk.
“Lagi?”
Qasim menjawab:
“Salah jalan bukan sesuatu yang perlu dicari, tetapi ketika terjadi, ia tidak harus menjadi sia-sia.”
“Lagi?”
“Peta orang lain dapat menjadi pelajaran, tetapi tidak selalu menjadi cetakan hidupku.”
Hasyim tersenyum.
“Sekarang peta itu boleh kau simpan.”
Qasim terkejut.
“Kenapa?”
“Karena peta yang sudah kau jalani tidak lagi hanya kertas. Ia telah menjadi pengalaman.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH TUJUH ꧂
Manusia ingin kepastian.
Itu wajar.
Kita ingin tahu:
pekerjaan mana yang benar,
usaha mana yang berhasil,
pilihan mana yang aman,
hubungan mana yang bertahan,
dan jalan mana yang tidak akan membawa penyesalan.
Namun hidup tidak selalu memberikan peta lengkap.
Kita diberi:
akal,
ilmu,
nilai,
nasihat,
pengalaman,
doa,
dan kenyataan yang perlu dibaca.
Lalu manusia tetap harus memilih.
Tidak semua pilihan akan sempurna.
Karena itu kebijaksanaan bukan kemampuan untuk tidak pernah salah.
Kebijaksanaan adalah kemampuan:
menimbang sebelum melangkah,
mengakui ketika salah,
dan memperbaiki arah tanpa terlalu lama membela kesalahan.
꧁ RAHASIA KERTAS KOSONG ꧂
Kertas kosong bukan berarti tidak ada petunjuk.
Ia menjadi perlambang bagian hidup yang memang belum tertulis.
Ada masa depan yang belum kita ketahui.
Kita tidak perlu mengisinya dengan ketakutan.
Cukup tulis satu langkah yang benar.
Hari ini.
Kemudian langkah berikutnya.
Sebab sering kali perjalanan baru dapat dipahami setelah beberapa bagian dijalani.
꧁ RAHASIA SALAH JALAN ꧂
Kesalahan tidak perlu dicari.
Jangan sengaja bertindak ceroboh lalu berkata:
“Aku sedang belajar dari pengalaman.”
Itu bukan kebijaksanaan.
Tetapi ketika kesalahan sudah terjadi:
akui,
periksa sebabnya,
perbaiki dampaknya,
dan ambil pelajarannya.
Jangan bayar satu kesalahan dua kali:
pertama dengan akibatnya,
kedua dengan menolak belajar darinya.
꧁ RAHASIA PETA ORANG LAIN ꧂
Pengalaman orang lain sangat berharga.
Belajarlah.
Namun jangan lupa:
orang berbeda.
Keadaan berbeda.
Kemampuan berbeda.
Waktu berbeda.
Tanggung jawab berbeda.
Karena itu nasihat perlu ditimbang dengan kenyataan.
Ambil hikmah.
Jangan menyalin seluruh bentuk tanpa memahami alasan.
꧁ EMPAT TANDA PETUNJUK YANG SEHAT ꧂
Ketika memilih jalan, periksa empat perkara:
Pertama — Arah.
Apakah tujuan itu baik?
Kedua — Cara.
Apakah cara yang dipakai benar dan tidak merusak?
Ketiga — Kenyataan.
Apakah keadaan sekarang mendukung atau memerlukan penyesuaian?
Keempat — Kesediaan dikoreksi.
Apakah kita masih mampu berkata: “Aku perlu mengubah arah”?
Orang yang tidak bisa dikoreksi mudah tersesat meskipun memegang peta.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH TUJUH ꧂
“Peta ora kanggo ngganteni sikil.”
Artinya:
Peta tidak dibuat untuk menggantikan kaki.
Dan:
“Kesasar sedhela ora mesthi ngrusak perjalanan, yen kowe gelem ngakoni lan bali marang arah.”
Tersesat sebentar tidak selalu menghancurkan perjalanan, jika engkau bersedia mengakui dan kembali kepada arah yang benar.
꧁ RAHASIA ORANG YANG TAKUT SALAH ꧂
Takut salah dapat membuat manusia berhati-hati.
Itu baik.
Tetapi bila berlebihan, takut salah bisa membuat manusia tidak pernah hidup sepenuhnya.
Ada orang tidak pernah memulai usaha karena takut rugi.
Tidak pernah belajar hal baru karena takut terlihat bodoh.
Tidak meminta maaf karena takut ditolak.
Tidak mengambil peluang karena menunggu kepastian mutlak.
Padahal beberapa hal baru menjadi jelas setelah dicoba secara bertanggung jawab.
Jangan nekat.
Tetapi jangan pula menjadikan kebutuhan akan kepastian sebagai alasan untuk terus berdiri di gerbang.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH TUJUH ꧂
Setelah pulang, Qasim berubah.
Ia tetap berhati-hati.
Tetapi tidak lagi lumpuh oleh kehati-hatian.
Jika harus memilih, ia mengumpulkan informasi.
Bertanya.
Berdoa.
Menimbang.
Lalu membuat keputusan.
Jika ternyata salah, ia tidak lagi menghabiskan seluruh tenaga untuk berkata:
“Aku seharusnya tidak pernah salah.”
Ia bertanya:
“Apa yang sekarang bisa diperbaiki?”
Suatu hari seorang pemuda datang kepadanya.
“Aku takut memulai.”
Qasim bertanya:
“Sudah dipikirkan?”
“Sudah.”
“Sudah bertanya kepada orang yang paham?”
“Sudah.”
“Risikonya?”
“Masih ada.”
Qasim tersenyum.
“Kalau kau menunggu dunia tanpa risiko, mungkin kau akan menunggu sangat lama.”
Pemuda itu bertanya:
“Bagaimana kalau aku salah jalan?”
Qasim membuka Peta Langit.
Menunjukkan garis-garis berputar perjalanan lamanya.
Ia berkata:
“Usahakan jangan salah. Tetapi jika suatu hari ternyata salah, jangan jadikan rasa malu lebih penting daripada arah. Berbaliklah.”
Pemuda itu mengangguk.
Qasim menutup peta.
Lalu menatap jalan di depannya.
Kini ia tahu:
hidup bukan tentang memperoleh peta yang membuat manusia tidak mungkin tersesat.
Hidup adalah belajar menjaga arah ketika peta tidak lengkap,
menerima bahwa beberapa bagian hanya akan dipahami setelah dijalani,
dan tetap rendah hati untuk kembali ketika langkah mulai menyimpang.
Maka jangan hanya berdoa:
“Yā Alloh, tunjukkan seluruh jalan kepadaku.”
Berdoalah pula:
“Yā Alloh, beri aku kejernihan ketika memilih, keberanian ketika harus melangkah, dan kerendahan hati ketika harus kembali.”
Karena orang yang tidak pernah mau mengakui tersesat dapat berjalan sangat jauh menjauhi tujuan.
Sedangkan orang yang bersedia memeriksa arah dapat menemukan jalan pulang meskipun sempat salah belok.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السابعة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH TUJUH
“Aja njaluk peta supaya kowe ora nate salah. Jaluk kawicaksanan supaya yen salah, kowe ora isin bali.”
Jangan meminta peta agar engkau tidak pernah salah. Mintalah kebijaksanaan agar ketika salah, engkau tidak malu untuk kembali.
“Dalan kang bener ora tansah dalan kang ora tau nduweni belokan. Kadhang dalan bener yaiku dalan sing terus dikoreksi supaya ora kelangan tujuan.”
Jalan yang benar tidak selalu jalan tanpa belokan. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang terus dikoreksi agar tidak kehilangan tujuan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH DELAPAN
“RUMAH TANPA PINTU YANG HANYA BISA DIMASUKI DENGAN MENGURANGI BEBAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi awan putih, berdirilah sebuah rumah tua.
Rumah itu aneh.
Tidak memiliki pintu.
Tidak memiliki jendela.
Dindingnya utuh.
Atapnya sederhana.
Namun dari dalam selalu terlihat cahaya lembut yang merembes melalui celah-celah batu.
Orang-orang menyebutnya:
Baytus Sakinah — Rumah Ketenangan.
Konon siapa pun yang berhasil masuk akan menemukan satu ruang sunyi yang membuat hati mampu mendengar dirinya sendiri tanpa kebisingan.
Banyak orang mencoba masuk.
Ada yang membawa tangga.
Ada yang memanjat atap.
Ada yang mencoba menggali tanah.
Ada yang memukul dinding.
Tidak berhasil.
Di depan rumah terdapat satu batu kecil dengan tulisan:
“Yang ingin masuk, jangan mencari pintu. Kurangilah apa yang engkau bawa.”
Banyak orang membaca.
Sedikit yang memahami.
꧁ SAUDAGAR DENGAN SERATUS PETI ꧂
Suatu hari datang seorang saudagar kaya bernama Mahfuz.
Ia membawa seratus peti.
Emas.
Kain.
Buku.
Perhiasan.
Dokumen.
Dan banyak barang penting.
Ia berkata:
“Aku ingin masuk ke Rumah Ketenangan.”
Penjaga tempat itu, seorang lelaki tua bernama Rauf, bertanya:
“Mengapa membawa semua peti?”
Mahfuz menjawab:
“Ini semua milikku.”
“Apakah rumah itu meminta?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku tidak bisa meninggalkannya.”
Rauf berkata:
“Coba mendekat.”
Mahfuz berjalan menuju rumah.
Semakin dekat, petinya terasa semakin berat.
Akhirnya ia berhenti.
“Aneh. Kenapa berat sekali?”
Rauf menjawab:
“Mungkin kau sedang membawa lebih banyak daripada yang diperlukan.”
Mahfuz berkata:
“Kalau aku tinggalkan, siapa yang menjaga?”
Rauf menjawab:
“Kalau semua harus dibawa ke mana pun engkau pergi, apakah itu masih milikmu atau justru engkau yang dimiliki olehnya?”
Mahfuz terdiam.
Ia pulang tanpa berhasil masuk.
꧁ PEMUDA YANG MEMBAWA BANYAK SUARA ꧂
Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda bernama Imran.
Ia tidak membawa barang.
Hanya satu tas kecil.
Rauf bertanya:
“Apa yang kau bawa?”
Imran menjawab:
“Hampir tidak ada.”
“Benarkah?”
“Ya.”
Rauf menyuruhnya berdiri di depan rumah.
Tidak terjadi apa-apa.
Imran berkata:
“Lihat? Aku sudah ringan.”
Rauf bertanya:
“Apa yang ada di kepalamu?”
Imran mulai menyebut:
“Aku memikirkan pekerjaan.”
“Utang.”
“Pendapat keluargaku.”
“Apa kata teman-teman.”
“Kegagalan tahun lalu.”
“Bagaimana masa depanku.”
“Apakah aku dihargai.”
“Kenapa orang itu meninggalkanku.”
“Bagaimana kalau aku gagal lagi.”
Rauf tersenyum.
“Engkau datang tanpa banyak barang, tetapi membawa satu pasar penuh suara.”
Imran terdiam.
꧁ BEBAN YANG TIDAK TERLIHAT ꧂
Rauf mengajak Imran duduk.
Ia berkata:
“Ada beban yang dipikul pundak.”
“Ada beban yang dipikul pikiran.”
“Ada beban yang dipikul hati.”
Imran bertanya:
“Mana yang paling berat?”
Rauf menjawab:
“Yang tidak disadari.”
Imran berkata:
“Bagaimana cara menurunkannya?”
Rauf mengambil tiga batu.
Ia meletakkan satu di depan Imran.
“Batu pertama: sesuatu yang masih harus kau selesaikan.”
Batu kedua:
“sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan.”
Batu ketiga:
“sesuatu yang sudah selesai tetapi terus kau bawa.”
Imran bertanya:
“Bedanya?”
Rauf menjawab:
“Yang pertama perlu tindakan. Yang kedua perlu tawakal. Yang ketiga perlu dilepaskan.”
꧁ TIGA KERANJANG ꧂
Rauf lalu memberi Imran tiga keranjang.
Pada keranjang pertama tertulis:
KERJAKAN.
Keranjang kedua:
SERAHKAN.
Keranjang ketiga:
LEPASKAN.
Rauf berkata:
“Setiap pikiran yang datang, taruh pada tempatnya.”
Imran mulai.
“Utang.”
“Kerjakan.”
“Pendapat orang tentangku.”
“Sebagian mungkin perlu didengar, sebagian serahkan.”
“Kegagalan tiga tahun lalu.”
“Kalau sudah diambil pelajarannya?”
“Sudah.”
“Lepaskan.”
“Takut masa depan.”
“Kerjakan apa yang bisa, serahkan sisanya.”
“Kesalahan kepada sahabat.”
“Kalau masih bisa diperbaiki?”
“Masih.”
“Kerjakan.”
Imran mulai memahami.
Tidak semua beban harus diperlakukan sama.
꧁ RUMAH MULAI MENAMPAKKAN CELAH ꧂
Setelah beberapa hari melakukan latihan itu, Imran kembali ke rumah.
Ia berdiri di depan dinding.
Aneh.
Muncul satu garis tipis cahaya.
Seperti celah.
Ia berkata:
“Rauf! Aku melihat sesuatu.”
Rauf menjawab:
“Jangan terlalu senang. Teruskan.”
Imran mendekat.
Celah itu masih terlalu sempit.
Rauf bertanya:
“Apa yang masih kau bawa?”
Imran menjawab:
“Aku ingin masuk supaya bisa mengatakan kepada orang-orang bahwa aku pernah masuk.”
Rauf tertawa.
“Nah, satu beban lagi.”
Imran malu.
Ia berkata:
“Jadi keinginanku untuk dianggap berhasil juga beban?”
“Kalau menjadi alasan utama, iya.”
Imran duduk.
Ia melepaskan keinginan untuk membuktikan diri.
Celah cahaya membesar.
꧁ KETIKA RASA BERSALAH MENJADI BEBAN PALSU ꧂
Namun Imran masih tidak bisa masuk.
Ia merasa ada sesuatu yang menahannya.
Rauf bertanya:
“Apa lagi?”
Imran menangis.
“Aku pernah melakukan kesalahan kepada ibuku sebelum beliau meninggal.”
Rauf tidak langsung berkata “lepaskan”.
Ia bertanya:
“Sudahkah engkau meminta ampun kepada Alloh?”
“Sudah.”
“Sudahkah engkau memperbaiki yang masih bisa diperbaiki?”
“Aku bersedekah atas namanya, mendoakan, dan memperbaiki hubungan dengan keluarga.”
Rauf mengangguk.
“Lalu mengapa masih menghukum dirimu?”
Imran berkata:
“Karena kalau aku berhenti merasa bersalah, aku takut seolah-olah menganggap kesalahanku tidak penting.”
Rauf menjawab:
“Taubat bukan memelihara hukuman terhadap diri selamanya. Taubat adalah membiarkan kesalahan mengubah arah hidupmu.”
Imran menangis lama.
Lalu berkata:
“Aku tidak ingin lupa.”
Rauf menjawab:
“Jangan lupa pelajarannya. Lepaskan cambuknya.”
Celah rumah kembali membesar.
꧁ PINTU YANG TIDAK PERNAH ADA ꧂
Akhirnya celah cahaya menjadi cukup lebar untuk tubuh Imran.
Ia masuk.
Tidak ada pintu.
Tidak pernah ada.
Dinding seolah membuka ruang hanya ketika bebannya berkurang.
Di dalam, ruangan sangat sederhana.
Tidak ada emas.
Tidak ada singgasana.
Hanya satu tikar.
Satu lampu kecil.
Satu kendi air.
Dan satu tulisan di dinding:
“Ketenangan tidak selalu datang ketika hidup menjadi ringan. Kadang ia datang ketika hati belajar membawa hidup dengan cara yang benar.”
Imran duduk.
Tidak terjadi keajaiban besar.
Tidak ada suara gaib.
Tidak ada penglihatan luar biasa.
Ia hanya merasa:
untuk pertama kali, semua persoalan tidak datang menyerbu sekaligus.
Satu demi satu tampak lebih jelas.
Ada yang harus ia selesaikan.
Ada yang harus ia tunggu.
Ada yang harus ia serahkan.
Ada yang memang sudah waktunya ia lepaskan.
꧁ KETIKA IMRAN KELUAR ꧂
Setelah beberapa lama, Imran keluar.
Rauf bertanya:
“Bagaimana?”
Imran menjawab:
“Rumah itu sangat sederhana.”
“Kecewa?”
“Tidak.”
“Apa yang kau temukan?”
Imran berkata:
“Aku selama ini mengira ketenangan adalah tidak punya masalah. Ternyata ketenangan adalah tidak membiarkan seluruh masalah duduk di atas dadaku pada waktu yang sama.”
Rauf tersenyum.
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH DELAPAN ꧂
Manusia tidak selalu bisa memilih semua yang datang.
Ada kewajiban.
Kehilangan.
Tanggung jawab.
Kekhawatiran.
Perubahan.
Kesalahan.
Harapan.
Namun manusia dapat belajar membedakan:
mana yang harus dikerjakan,
mana yang harus diterima,
mana yang perlu ditunggu,
dan mana yang sudah waktunya dilepaskan.
Banyak kelelahan lahir karena semua hal diperlakukan sebagai urusan yang harus diselesaikan hari ini.
Padahal tidak semuanya.
꧁ RAHASIA RUMAH TANPA PINTU ꧂
Mengapa rumah tidak mempunyai pintu?
Karena ketenangan tidak selalu ditemukan dengan mencari tempat baru.
Kadang pintunya muncul setelah sesuatu di dalam diri berubah.
Manusia bisa pergi sangat jauh.
Ke gunung.
Ke pantai.
Ke tempat sunyi.
Tetapi jika keramaian batin dibawa, tempat sunyi pun bisa terasa bising.
Sebaliknya, orang yang mulai bisa menata batin dapat menemukan ruang tenang bahkan di tengah kesibukan.
꧁ RAHASIA TIGA KERANJANG ꧂
Ketika hati terlalu penuh, gunakan tiga pertanyaan:
KERJAKAN:
Apa yang benar-benar bisa kulakukan sekarang?
SERAHKAN:
Apa yang berada di luar kendaliku setelah ikhtiar?
LEPASKAN:
Apa yang terus kubawa meskipun tugasnya sudah selesai?
Tiga pertanyaan sederhana ini tidak menyelesaikan semua masalah.
Tetapi dapat membantu masalah berdiri di tempat masing-masing.
꧁ RAHASIA BEBAN MASA LALU ꧂
Ada orang membawa masa lalu seperti batu.
Ia berkata:
“Aku harus terus mengingat agar tidak mengulangi.”
Benar.
Tetapi mengingat pelajaran berbeda dengan hidup sebagai tahanan.
Ambil hikmah.
Jika ada hak manusia, perbaiki.
Jika berdosa, bertaubat.
Jika luka membutuhkan pertolongan, carilah bantuan.
Namun jangan mengira penderitaan tanpa akhir adalah satu-satunya bukti bahwa kita benar-benar menyesal.
꧁ RAHASIA KEINGINAN UNTUK TERLIHAT TENANG ꧂
Ada pula orang yang ingin tampak tenang.
Ia menahan tangis.
Menolak meminta bantuan.
Berkata:
“Aku baik-baik saja.”
Padahal dirinya kewalahan.
Itu bukan selalu ketenangan.
Kadang itu hanya kelelahan yang disembunyikan.
Ketenangan tidak menuntut manusia pura-pura kuat.
Ia dapat berkata:
“Aku sedang berat.”
Dan tetap memilih langkah yang sehat.
꧁ EMPAT TANDA BEBAN SUDAH TERLALU BANYAK ꧂
Waspadalah jika:
Pertama: pikiran tidak pernah berhenti meskipun tubuh sudah lelah.
Kedua: masalah kecil mulai terasa seperti bencana besar.
Ketiga: mudah marah kepada orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Keempat: merasa harus menyelesaikan semua sendiri.
Saat itu, mungkin bukan hidup yang harus langsung diubah seluruhnya.
Mungkin beban perlu mulai dipilah.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH DELAPAN ꧂
“Ora kabeh sing kok gawa kudu kok gawa bebarengan.”
Artinya:
Tidak semua yang engkau bawa harus dibawa pada waktu yang sama.
Dan:
“Ana beban sing kudu ditindakake, ana sing kudu dipasrahake, lan ana sing wis wayahe dilepas.”
Ada beban yang harus dikerjakan, ada yang harus diserahkan, dan ada yang sudah waktunya dilepaskan.
꧁ RAHASIA MAHFUZ ꧂
Bertahun-tahun kemudian saudagar Mahfuz kembali.
Ia tidak lagi membawa seratus peti.
Hanya satu tas kecil.
Rauf bertanya:
“Ke mana petimu?”
Mahfuz tertawa.
“Sebagian kubagikan.”
“Sebagian?”
“Sebagian kutinggalkan di rumah.”
“Tidak takut?”
“Masih.”
“Lalu?”
“Aku baru tahu bahwa menjaga harta tidak berarti membawanya ke setiap tempat.”
Mahfuz berdiri di depan rumah.
Celah cahaya mulai muncul.
Ia menangis.
Ternyata setiap manusia mempunyai jenis beban berbeda.
Dan setiap beban mempunyai cara berbeda untuk diletakkan.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH DELAPAN ꧂
Imran kemudian menjadi penolong bagi banyak musafir.
Namun jika seseorang datang dan berkata:
“Ajari aku cara masuk ke Rumah Ketenangan,”
ia tidak langsung memberikan jawaban.
Ia bertanya:
“Apa yang sedang kau bawa?”
Karena ada orang membawa utang.
Ada membawa kehilangan.
Ada membawa rasa malu.
Ada membawa ambisi.
Ada membawa dendam.
Ada membawa ketakutan terhadap masa depan.
Ada membawa tanggung jawab yang memang tidak boleh dilepas.
Maka tidak semua orang harus meletakkan hal yang sama.
Ketenangan bukan membuang seluruh beban.
Kalau seluruh tanggung jawab dibuang, itu bukan damai.
Itu lari.
Ketenangan adalah membawa apa yang memang harus dibawa dengan cara yang lebih jernih.
Maka jika hatimu sedang penuh, jangan memaksa menemukan semua jawaban sekaligus.
Ambil satu perkara.
Tanyakan:
“Apakah ini tugas hari ini?”
Jika ya, kerjakan semampunya.
Jika tidak berada dalam kuasamu, serahkan kepada Alloh setelah ikhtiar.
Jika perkara itu sudah selesai tetapi masih engkau bawa sebagai hukuman tanpa akhir, pelajari lalu perlahan lepaskan.
Sebab rumah ketenangan mungkin tidak jauh.
Bisa jadi engkau sudah berdiri tepat di depannya.
Hanya saja tangan, pundak, dan hatimu terlalu penuh untuk melihat celah masuknya.
Kurangi.
Bukan amanahnya.
Bukan kewajibannya.
Tetapi beban-beban yang tidak lagi harus dipanggul.
Dan ketika ruang mulai terbuka, engkau akan mengerti:
kedamaian bukan hidup tanpa berat, melainkan hati yang tahu apa yang harus diangkat dan apa yang harus diletakkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثامنة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH DELAPAN
“Ketenangan ora tansah teka amarga urip dadi entheng. Kadhang teka amarga atimu wis sinau milah endi sing kudu digawa lan endi sing kudu dilebokake.”
Ketenangan tidak selalu datang karena hidup menjadi ringan. Kadang ia datang karena hatimu telah belajar memilah apa yang harus dibawa dan apa yang harus diletakkan.
“Omah tentrem ora duwe lawang, amarga lawange katon nalika bebanmu wis cukup dikurangi.”
Rumah ketenangan tidak mempunyai pintu, sebab pintunya baru tampak ketika bebanmu telah cukup dikurangi.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEDUA PULUH SEMBILAN
“LILIN YANG MENOLAK MENYALA SENDIRI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota kecil yang sering diliputi kabut malam, terdapat sebuah bangunan tua bernama Balairung Cahaya.
Bangunan itu digunakan oleh para musafir untuk beristirahat.
Di tengah ruangannya berdiri sebuah tempat lilin besar.
Namun hanya ada satu lilin di sana.
Lilin itu tinggi.
Putih.
Belum pernah dinyalakan.
Menurut cerita, lilin tersebut hanya akan menyala apabila orang yang membawanya memahami satu rahasia:
cahaya tidak diciptakan untuk berhenti pada satu sumbu.
Banyak orang mencoba menyalakannya.
Ada yang membawa api besar.
Ada yang membawa obor.
Ada yang membawa bara.
Namun anehnya, setiap kali api didekatkan, sumbu lilin tetap tidak menyala.
Orang-orang heran.
Seorang pedagang berkata:
“Lilin ini rusak.”
Seorang penjaga berkata:
“Mungkin dibuat dari bahan yang salah.”
Seorang ahli lilin berkata:
“Tidak. Lilin ini sempurna.”
“Lalu?”
Ia tidak tahu.
꧁ PEMUDA YANG INGIN MENJADI PEMBAWA CAHAYA ꧂
Di kota itu hidup seorang pemuda bernama Siraj.
Sejak kecil ia sangat menyukai cahaya.
Jika melihat lampu padam, ia menyalakannya.
Jika melihat jalan gelap, ia membawa lentera.
Ia bercita-cita menjadi penjaga Balairung Cahaya.
Suatu hari ia berkata:
“Aku akan menyalakan lilin itu.”
Orang-orang tertawa.
“Banyak orang lebih pandai sudah mencoba.”
Siraj menjawab:
“Aku tetap ingin belajar.”
Ia datang ke balairung.
Membawa sebuah lentera kecil.
Ia menyalakan api.
Mendekatkan ke sumbu.
Tidak menyala.
Ia mencoba lagi.
Tidak.
Siraj kecewa.
Ia bertanya kepada penjaga tua bernama Munir.
“Kenapa?”
Munir menjawab:
“Mungkin engkau terlalu sibuk menyalakan lilin.”
Siraj bingung.
“Bukankah itu tujuan aku datang?”
Munir berkata:
“Kadang orang terlalu fokus kepada cahaya besar sampai tidak melihat kegelapan kecil di sekitarnya.”
꧁ LENTERA YANG DIPINJAM SEORANG ANAK ꧂
Malam itu Siraj hendak pulang.
Di depan balairung ia melihat seorang anak kecil.
Anak itu berkata:
“Kak, boleh pinjam lentera?”
“Untuk apa?”
“Ibuku sakit. Jalan ke rumah gelap.”
Siraj melihat lentera.
Ia membutuhkannya untuk mencoba menyalakan lilin besok.
Ia hampir menolak.
Namun akhirnya berkata:
“Ambillah. Tapi kembalikan besok.”
Anak itu pergi.
Siraj pulang tanpa lentera.
Keesokan hari anak tersebut belum kembali.
Siraj kesal.
Ia berkata:
“Kalau begini aku tidak bisa mencoba.”
Munir bertanya:
“Apakah lentera itu sekarang tidak berguna?”
Siraj menjawab:
“Aku tidak tahu.”
Munir berkata:
“Cobalah cari.”
Siraj pergi ke rumah anak itu.
Ia menemukan ibunya masih lemah.
Namun di rumah sederhana itu, lentera Siraj menyala.
Anak tersebut berkata:
“Maaf belum mengembalikan. Semalam ibu demam tinggi. Cahaya ini membantu kami menyiapkan obat.”
Siraj terdiam.
Ia tidak marah lagi.
Untuk pertama kalinya ia melihat:
cahayanya sedang bekerja di tempat yang tidak direncanakannya.
꧁ SATU CAHAYA MENJADI TIGA ꧂
Siraj membawa lentera pulang.
Namun sebelum pergi, seorang tetangga berkata:
“Boleh pinjam apinya sebentar?”
“Untuk apa?”
“Lampu rumah kami padam.”
Siraj mendekatkan sumbu tetangga.
Api berpindah.
Satu lentera menjadi dua cahaya.
Kemudian tetangga lain datang.
Menjadi tiga.
Siraj memperhatikan.
Api pertama tidak menjadi lebih kecil ketika menyalakan api kedua.
Ia kembali ke Munir.
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Api bisa dibagikan tanpa kehilangan dirinya.”
Munir tersenyum.
“Teruskan belajar.”
꧁ ORANG YANG TAKUT ILMUNYA DIAMBIL ꧂
Di kota itu ada seorang ahli pembuat lentera bernama Qadir.
Ia sangat pandai.
Lenteranya terkenal paling tahan angin.
Namun ia tidak pernah mengajarkan cara membuatnya.
Ia berkata:
“Kalau semua orang tahu, aku tidak lagi istimewa.”
Ketika ia tua, tangannya mulai gemetar.
Pesanan tetap banyak.
Tetapi ia tidak sanggup bekerja.
Orang-orang memintanya mengajarkan murid.
Ia menolak.
“Rahasia ini milikku.”
Beberapa tahun kemudian Qadir meninggal.
Tidak seorang pun benar-benar mengetahui tekniknya.
Banyak pola hilang.
Siraj melihat itu.
Ia bertanya kepada Munir:
“Apakah menjaga rahasia selalu salah?”
Munir menjawab:
“Tidak.”
“Ada ilmu yang memang harus dijaga dari orang yang menyalahgunakannya.”
“Ada amanah yang tidak boleh dibuka sembarangan.”
“Tapi?”
“Ilmu yang bermanfaat juga dapat mati jika dijaga hanya karena takut orang lain menjadi sama baiknya.”
꧁ KELAS KECIL DI BAWAH POHON ꧂
Siraj kemudian mulai mengajari anak-anak membuat lampu sederhana.
Tidak semua.
Hanya dasar.
Cara memasang sumbu.
Cara menjaga minyak.
Cara menutup lampu dari angin.
Seorang teman berkata:
“Kenapa engkau ajarkan semua itu?”
“Supaya mereka bisa menyalakan lampu sendiri.”
“Bukankah nanti mereka tidak membutuhkanmu?”
Siraj teringat Qadir.
Ia menjawab:
“Kalau tujuan mengajar adalah membuat orang selamanya tidak mampu tanpa gurunya, itu bukan cahaya. Itu ketergantungan.”
Anak-anak belajar.
Beberapa gagal.
Ada sumbu terlalu pendek.
Ada minyak tumpah.
Ada kaca pecah.
Siraj tidak marah.
Ia mengajarkan lagi.
Beberapa bulan kemudian, salah satu anak bernama Nura membuat lentera yang lebih baik daripada milik Siraj.
Temannya berkata:
“Bukankah kau malu? Muridmu mengalahkanmu.”
Siraj tersenyum.
“Kalau seorang guru takut muridnya menjadi lebih baik, untuk apa ia mengajar?”
꧁ LILIN BALAI MULAI BERUBAH ꧂
Suatu malam Siraj kembali ke Balairung Cahaya.
Ia mendekati lilin besar.
Masih tidak menyala.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di sumbunya muncul titik kecil keemasan.
Munir melihat.
“Sudah mulai.”
Siraj berkata:
“Aku tidak melakukan apa-apa pada lilin.”
Munir menjawab:
“Benar.”
“Lalu kenapa berubah?”
Munir berkata:
“Karena barangkali sumbu itu tidak menunggu api dari tanganmu. Ia menunggu perubahan dalam cara engkau memahami cahaya.”
꧁ KETIKA SIRAJ MULAI DIKENAL ꧂
Tahun berlalu.
Siraj semakin dikenal.
Banyak rumah menggunakan lentera buatan murid-muridnya.
Orang mulai berkata:
“Siraj adalah pembawa cahaya kota.”
Awalnya ia bersyukur.
Namun sedikit demi sedikit muncul rasa bangga.
Ia mulai berkata:
“Semua ini berawal dariku.”
Nura mendengarnya.
Ia tidak berkata apa-apa.
Suatu malam badai besar datang.
Banyak lampu padam.
Siraj berlari ke balairung.
Ia berkata:
“Aku harus menyalakan semuanya.”
Namun jumlah rumah terlalu banyak.
Ia tidak mungkin datang satu per satu.
Kemudian dari berbagai arah muncul cahaya.
Satu rumah menyalakan tetangga.
Tetangga menyalakan rumah berikutnya.
Anak-anak yang dulu belajar sudah menjadi dewasa.
Mereka membagikan api.
Tidak lama kemudian kota kembali terang.
Siraj berdiri.
Tidak melakukan apa-apa.
Nura datang.
Ia berkata:
“Guru, lihat.”
Siraj menjawab:
“Mereka tidak membutuhkan aku.”
Nura bertanya:
“Apakah itu buruk?”
Siraj terdiam.
Lalu tersenyum.
“Tidak.”
Ia akhirnya memahami:
keberhasilan seorang pembawa cahaya bukan ketika semua orang selalu datang kepadanya, tetapi ketika banyak orang sudah mampu membawa cahaya tanpa dirinya.
꧁ LILIN AKHIRNYA MENYALA ꧂
Malam berikutnya Siraj kembali ke balairung.
Ia membawa satu lampu.
Namun kali ini ia tidak berniat menyalakan lilin.
Ia hanya duduk.
Munir berkata:
“Kenapa tidak mencoba?”
Siraj menjawab:
“Aku sudah mengerti sedikit.”
“Apa?”
“Kalau lilin itu tidak pernah menyala pun, cahaya sudah tersebar.”
Munir tersenyum.
Siraj kemudian mematikan lentera di tangannya.
Ruangan menjadi gelap.
Beberapa detik kemudian—
sumbu lilin besar bersinar.
Api kecil muncul.
Tidak ada tangan menyentuhnya.
Lalu nyalanya membesar perlahan.
Seluruh ruangan diterangi.
Siraj berdiri tertegun.
Di bawah lilin muncul sebuah tulisan yang sebelumnya tidak pernah terlihat:
“Cahaya pertama menjadi sempurna ketika tidak takut melahirkan cahaya berikutnya.”
Siraj menangis.
꧁ RAHASIA LILIN YANG MENOLAK MENYALA SENDIRI ꧂
Munir berkata:
“Sekarang apakah kau tahu mengapa lilin ini tidak mau menyala dahulu?”
Siraj menjawab:
“Karena aku ingin menjadikannya bukti bahwa akulah yang berhasil menyalakan.”
Munir mengangguk.
“Lalu?”
“Sekarang aku tahu cahaya tidak membutuhkan satu nama untuk tetap hidup.”
꧁ PIWULANG QISAH KEDUA PULUH SEMBILAN ꧂
Ada manusia yang memiliki ilmu.
Ada yang memiliki rezeki.
Ada yang memiliki pengalaman.
Ada yang memiliki jaringan.
Ada yang memiliki keterampilan.
Semua itu dapat menjadi cahaya.
Namun pertanyaannya:
Apakah cahaya itu hanya dipakai untuk membuat diri sendiri terlihat terang, atau juga untuk menyalakan kemampuan orang lain?
Ilmu yang hanya membuat orang bergantung belum selesai tugasnya.
Pemimpin yang tidak menyiapkan penerus sedang membangun kelemahan.
Orang tua yang tidak mengajarkan kemandirian kepada anak dapat membuat kasih sayang berubah menjadi ketergantungan.
Guru yang baik suatu hari harus rela muridnya berjalan sendiri.
꧁ RAHASIA API YANG DIBAGIKAN ꧂
Api memiliki perlambang yang indah.
Satu api dapat menyalakan seratus lilin tanpa kehilangan nyalanya.
Demikian pula ilmu.
Ketika diajarkan, ia tidak habis.
Kebaikan.
Ketika dicontohkan, dapat berkembang.
Doa.
Ketika diajarkan, dapat menjadi kebiasaan keluarga.
Adab.
Ketika diwariskan, dapat hidup melampaui satu generasi.
Maka jangan terlalu takut berbagi sesuatu yang memang layak dibagikan.
꧁ RAHASIA DAN AMANAH ꧂
Namun tidak semua hal harus disebarkan tanpa batas.
Ada pengetahuan yang membutuhkan kesiapan.
Ada data yang harus dijaga.
Ada rahasia pribadi yang wajib dihormati.
Ada kekuasaan yang tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak amanah.
Karena itu berbagi harus disertai kebijaksanaan.
Qisah ini tidak mengajarkan:
“Berikan semua kepada semua orang.”
Ia mengajarkan:
“Jangan menyembunyikan manfaat hanya karena takut orang lain bertumbuh.”
꧁ RAHASIA MURID YANG MELAMPAUI GURU ꧂
Nura menjadi lebih pandai daripada Siraj dalam membuat lentera.
Itulah salah satu keberhasilan pendidikan.
Guru tidak menjadi kecil karena muridnya besar.
Orang tua tidak gagal karena anak mampu melampaui kemampuan orang tuanya.
Pemimpin tidak kehilangan kehormatan karena penerusnya lebih baik.
Justru mungkin di situlah keberhasilan terbesar:
yang datang sesudah kita tidak harus mengulang seluruh kesulitan dari titik nol.
꧁ LIMA CARA MENYALAKAN CAHAYA ORANG LAIN ꧂
Pertama — Ajarkan cara, bukan hanya hasil.
Jangan hanya memberi ikan; pada keadaan yang tepat, ajarkan pula cara mendapatkannya.
Kedua — Beri ruang mencoba.
Orang tidak belajar mandiri jika semua selalu dikerjakankan.
Ketiga — Izinkan kesalahan yang aman menjadi pelajaran.
Tidak semua kegagalan kecil harus dicegah sampai seseorang tidak pernah belajar mengambil keputusan.
Keempat — Beri kepercayaan bertahap.
Amanah tumbuh melalui latihan.
Kelima — Relakan orang lain mendapatkan pujian.
Tidak semua hasil yang lahir dari ajaran kita harus selalu membawa nama kita.
꧁ SANDHI LANGIT KEDUA PULUH SEMBILAN ꧂
“Cahya ora suda nalika dienggo nyumet cahya liyane.”
Artinya:
Cahaya tidak berkurang ketika digunakan untuk menyalakan cahaya lain.
Dan:
“Guru kang sejati ora wedi nalika muride wis bisa mlaku tanpa dicekel tangane.”
Guru sejati tidak takut ketika muridnya telah mampu berjalan tanpa terus digandeng tangannya.
꧁ RAHASIA KOTA YANG TERANG TANPA SIRAJ ꧂
Ketika badai datang, Siraj tidak dapat menyalakan semua rumah.
Tetapi jaringan cahaya yang ia bantu bangun mampu melakukannya.
Inilah rahasia sistem yang sehat.
Jangan buat semua amanah bergantung kepada satu orang.
Sebab satu orang dapat sakit.
Pergi.
Menua.
Lelah.
Atau meninggal.
Kebaikan yang ingin bertahan membutuhkan:
penerus,
sistem,
catatan,
pelatihan,
dan pembagian tanggung jawab.
Amanah yang hanya diketahui satu orang adalah amanah yang rapuh.
꧁ PENUTUP QISAH KEDUA PULUH SEMBILAN ꧂
Bertahun-tahun kemudian Munir meninggal.
Siraj menjadi penjaga Balairung Cahaya.
Namun ia tidak menjalankan semuanya sendirian.
Ia melatih tiga orang.
Kemudian tiga orang itu melatih yang lain.
Lilin besar tetap menyala setiap malam.
Namun tidak ada yang mengklaim:
“Ini cahayaku.”
Di bawahnya dipasang tulisan:
“Ambillah cahaya secukupnya. Bawalah ke tempat yang membutuhkan. Dan bila engkau bertemu lampu yang padam, jangan hanya menyuruhnya datang ke sini—jika mampu, ajarkan cara menyalakannya kembali.”
Suatu malam seorang anak bertanya:
“Guru Siraj, kalau semua orang sudah bisa menyalakan lampunya sendiri, apakah penjaga balairung masih dibutuhkan?”
Siraj tersenyum.
“Masih.”
“Untuk apa?”
“Untuk menjaga agar api tidak disalahgunakan, merawat tempat belajar, dan membantu mereka yang belum tahu.”
Anak itu bertanya:
“Kalau suatu hari tidak ada lagi yang membutuhkan Guru?”
Siraj menatap lilin besar.
Kemudian menjawab:
“Maka itu bukan hari yang menyedihkan. Mungkin itu tanda sebagian tugasku telah selesai dengan baik.”
Anak itu tersenyum.
Siraj memandang kota dari jendela.
Ribuan cahaya kecil terlihat.
Tidak ada satu yang paling penting.
Namun bersama-sama mereka membuat gelap tidak lagi terasa terlalu luas.
Dan Siraj akhirnya memahami sepenuhnya:
manusia tidak harus menjadi matahari bagi seluruh dunia.
Kadang cukup menjadi lilin.
Menyalakan satu.
Lalu satu itu menyalakan yang lain.
Dan jika suatu hari orang lupa lilin pertama berasal dari mana, jangan bersedih.
Sebab tugas cahaya bukan memastikan asalnya selalu disebut.
Tugas cahaya adalah memastikan kegelapan tidak menang hanya karena semua orang takut membagikan nyala.
Maka jagalah ilmu.
Bagikan yang bermanfaat.
Siapkan penerus.
Berikan ruang.
Dan jika orang yang pernah kau ajar kelak mampu membawa cahaya lebih jauh daripada dirimu, jangan merasa berkurang.
Bersyukurlah.
Sebab mungkin Alloh sedang memperlihatkan bahwa nyala kecil yang dahulu engkau jaga telah berubah menjadi jalan terang yang jauh melampaui tanganmu.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة التاسعة والعشرين
KHATAM QISAH KEDUA PULUH SEMBILAN
“Aja mung dadi cahya. Dadiya sabab supaya cahya liyane bisa urip.”
Jangan hanya menjadi cahaya. Jadilah sebab agar cahaya-cahaya lain dapat hidup.
“Nalika wong liya wis bisa madhangi dalane dhewe, aja rumangsa ditinggal. Bisa jadi amanahmu wis ngasilake cahya kang sejati.”
Ketika orang lain telah mampu menerangi jalannya sendiri, jangan merasa ditinggalkan. Bisa jadi amanahmu telah melahirkan cahaya yang sejati.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH
“JENDELA YANG BARU TERBUKA SETELAH RUMAH BERHENTI MENYALAHKAN ANGIN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah lembah yang hampir selalu berangin, berdirilah sebuah rumah tua.
Rumah itu besar.
Dindingnya tebal.
Atapnya tinggi.
Namun semua jendelanya tertutup rapat.
Sebagian dipaku.
Sebagian ditutup papan.
Sebagian dilapisi kain tebal.
Orang-orang menyebutnya:
Baytul Ghalq — Rumah yang Menutup Diri.
Dahulu rumah itu tidak seperti itu.
Jendelanya terbuka.
Cahaya masuk setiap pagi.
Udara mengalir.
Burung-burung terdengar dari dalam.
Namun bertahun-tahun sebelumnya pernah datang badai besar.
Satu jendela pecah.
Air hujan masuk.
Beberapa barang rusak.
Sejak hari itu, pemilik rumah bernama Hamid memutuskan:
“Angin tidak dapat dipercaya.”
Ia menutup satu jendela.
Kemudian jendela lain.
Lalu seluruhnya.
Awalnya ia merasa aman.
Tidak ada debu.
Tidak ada hujan.
Tidak ada angin kencang masuk.
Namun sedikit demi sedikit rumah menjadi gelap.
Udara pengap.
Dinding lembap.
Kayu mulai berjamur.
Hamid berkata:
“Ini karena cuaca buruk.”
Padahal cuaca di luar sudah lama membaik.
꧁ ANAK YANG BERTANYA TENTANG CAHAYA ꧂
Hamid tinggal bersama putrinya, Laila.
Laila lahir setelah badai itu terjadi.
Ia hampir tidak pernah melihat rumah dengan jendela terbuka.
Suatu pagi ia menemukan celah kecil pada papan penutup.
Sinar matahari masuk.
Membentuk garis keemasan di lantai.
Laila meletakkan tangannya di cahaya itu.
“Abah, ini apa?”
Hamid menjawab:
“Sinar matahari.”
“Kenapa hanya sedikit?”
“Karena jendela ditutup.”
“Kenapa?”
“Karena angin berbahaya.”
Laila melihat celah.
“Apakah semua angin berbahaya?”
Hamid menjawab cepat:
“Jangan banyak bertanya.”
Namun pertanyaan anak itu tinggal di kepalanya.
꧁ TAMU DARI RUMAH SEBERANG ꧂
Di seberang rumah tinggal seorang perempuan tua bernama Sakinah.
Rumahnya mempunyai banyak jendela.
Namun setiap jendela memiliki pengait kuat.
Jika cuaca baik, dibuka.
Jika hujan besar, ditutup.
Jika angin kencang, dibuka sedikit atau diberi penahan.
Suatu hari Sakinah berkunjung.
Begitu masuk, ia berkata:
“Gelap sekali.”
Hamid menjawab:
“Lebih baik gelap daripada rusak.”
Sakinah tidak membantah.
Ia duduk.
Beberapa saat kemudian berkata:
“Udara juga berat.”
“Setidaknya aman.”
Sakinah bertanya:
“Aman dari apa?”
“Dari angin.”
“Apakah angin sedang datang?”
Hamid diam.
Tidak.
Hari itu justru sangat tenang.
Sakinah berkata:
“Kadang kita terus melindungi diri dari badai yang sudah lama berlalu.”
Hamid langsung tersinggung.
“Engkau tidak tahu apa yang pernah terjadi di rumah ini.”
Sakinah menjawab:
“Benar. Aku tidak mengalaminya.”
“Kalau begitu jangan menasihati.”
Sakinah mengangguk.
“Aku tidak akan memaksa.”
Sebelum pulang, ia berkata:
“Kalau suatu hari ingin membuka satu jendela, panggil aku.”
꧁ RUMAH MULAI SAKIT ꧂
Musim berganti.
Laila mulai sering batuk karena udara lembap.
Perabot kayu rusak.
Kain-kain berbau.
Hamid memanggil seorang tukang.
Tukang memeriksa.
Ia berkata:
“Rumah ini butuh udara.”
Hamid menjawab:
“Perbaiki tanpa membuka jendela.”
Tukang menggeleng.
“Bisa diperbaiki sebagian. Tapi kalau udara tidak bergerak, masalah akan kembali.”
Hamid marah.
“Semua orang ingin aku membuka jendela.”
Tukang berkata:
“Karena rumah dibuat untuk mempunyai pertukaran udara.”
Hamid berkata:
“Kalau angin datang lagi?”
Tukang menjawab:
“Kita perkuat jendelanya. Bukan menghapus fungsi jendela.”
Kalimat itu berbeda dari semua nasihat sebelumnya.
Hamid terdiam.
꧁ SATU JENDELA ꧂
Beberapa hari kemudian Hamid memanggil Sakinah.
“Bantu aku membuka satu.”
Mereka memilih jendela kecil di dapur.
Paku dilepas.
Papan diangkat.
Engsel berkarat.
Butuh tenaga cukup lama.
Akhirnya jendela terbuka sedikit.
Udara segar masuk.
Laila tertawa.
“Abah! Rumahnya bernapas!”
Hamid hampir menutupnya kembali.
Namun Sakinah berkata:
“Tidak perlu lebar.”
Mereka memasang pengait.
Jendela hanya terbuka setelapak tangan.
Hari pertama, Hamid terus memeriksanya.
Hari kedua, sedikit lebih tenang.
Hari ketiga ia mulai menyadari:
udara segar membuat dapur tidak lagi terlalu lembap.
Seminggu kemudian ia membuka lebih lebar.
꧁ KETIKA ANGIN DATANG LAGI ꧂
Namun suatu sore angin benar-benar bertiup kencang.
Daun-daun beterbangan.
Langit menggelap.
Hamid panik.
“Cepat tutup semuanya!”
Jendela kecil ditutup.
Ia gemetar.
Laila bertanya:
“Abah takut?”
Hamid tidak ingin mengaku.
Namun akhirnya berkata:
“Ya.”
Laila menggenggam tangannya.
“Tidak apa-apa ditutup kalau badai.”
Hamid menatap anaknya.
Kalimat sederhana itu terasa sangat penting.
Ia baru memahami:
membuka diri tidak berarti harus membiarkan semua hal masuk setiap saat.
Ada waktu membuka.
Ada waktu menutup.
Ada batas.
Ada penjagaan.
Ada penilaian keadaan.
Setelah badai selesai, Hamid masih ragu.
Jendela tetap tertutup dua hari.
Pada hari ketiga Laila bertanya:
“Badainya sudah pergi?”
“Sudah.”
“Kenapa jendelanya belum dibuka?”
Hamid diam lama.
Kemudian bangkit.
Membukanya kembali.
꧁ JENDELA KEDUA ꧂
Beberapa minggu kemudian Hamid membuka jendela ruang tengah.
Cahaya masuk lebih banyak.
Ia terkejut melihat dinding.
Ada noda yang selama ini tidak terlihat karena gelap.
Hamid berkata:
“Rumah ini ternyata lebih rusak daripada yang kukira.”
Sakinah berkata:
“Cahaya tidak membuat kerusakannya.”
“Lalu?”
“Cahaya hanya membuatmu bisa melihat.”
Hamid mengangguk.
Mereka mulai membersihkan jamur.
Mengganti kayu.
Mengecat ulang.
Laila membantu.
Rumah perlahan berubah.
꧁ RAHASIA LUKA LAMA ꧂
Suatu malam Hamid duduk dengan Sakinah.
Ia berkata:
“Aku sebenarnya bukan hanya takut pada angin.”
Sakinah mendengarkan.
Hamid melanjutkan:
“Pada malam badai dulu, istriku ada di rumah.”
Sakinah diam.
“Dia terluka saat jendela pecah.”
Hamid menunduk.
“Beberapa bulan kemudian dia meninggal karena sakit lain. Tapi sejak itu, setiap suara angin mengingatkanku kepada malam tersebut.”
Sakinah berkata:
“Jadi yang kau tutup bukan hanya jendela.”
Hamid mengangguk.
“Aku pikir kalau semua tertutup, aku tidak akan merasakan itu lagi.”
“Apakah berhasil?”
“Tidak.”
Hamid menatap ruang yang mulai terang.
“Justru rumah menjadi seperti kuburan.”
Sakinah berkata pelan:
“Luka yang tidak diberi jalan keluar kadang membuat seluruh hidup ikut ditutup.”
Hamid menangis.
Tidak lama.
Tetapi cukup untuk membuka sesuatu yang lebih dalam daripada jendela.
꧁ TIDAK SEMUA ORANG BOLEH MASUK ꧂
Setelah rumah mulai terang, Hamid membuat kesalahan lain.
Ia berpikir:
“Kalau membuka itu baik, berarti semuanya harus terbuka.”
Ia membuka semua jendela.
Membiarkan pintu tidak terkunci.
Siapa pun boleh masuk.
Beberapa orang baik datang.
Namun ada pula yang mengambil barang.
Ada yang membuat kekacauan.
Hamid marah.
“Aku sudah mencoba terbuka, malah disakiti.”
Sakinah berkata:
“Terbuka bukan berarti tanpa batas.”
“Bukankah menutup diri salah?”
“Menutup seluruh hidup karena takut salah. Tetapi tidak memiliki batas juga tidak bijak.”
Hamid bertanya:
“Jadi bagaimana?”
Sakinah menjawab:
“Jendela mempunyai pengait. Pintu mempunyai kunci. Rumah yang sehat bukan rumah tanpa batas, melainkan rumah yang tahu kapan membuka dan kepada siapa.”
Hamid mulai memahami tingkatan lain dari pelajaran itu.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH ꧂
Ada manusia yang pernah terluka.
Dikhianati.
Ditinggalkan.
Dipermalukan.
Ditipu.
Kepercayaannya rusak.
Setelah itu ia berkata:
“Aku tidak akan percaya siapa pun lagi.”
Awalnya keputusan itu terasa melindungi.
Namun jika terlalu lama, perlindungan dapat berubah menjadi penjara.
Satu orang menyakiti.
Lalu seluruh dunia dihukum.
Satu hubungan gagal.
Lalu semua kedekatan dianggap ancaman.
Satu kepercayaan dikhianati.
Lalu hati tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun.
Qisah ini tidak meminta manusia menjadi mudah percaya.
Ia mengajarkan:
belajarlah membangun jendela yang lebih kuat, bukan hidup selamanya tanpa cahaya.
꧁ RAHASIA BADAI ꧂
Badai nyata ada.
Tidak semua ketakutan hanya pikiran.
Ada orang yang memang berbahaya.
Ada situasi yang perlu dihindari.
Ada hubungan yang membutuhkan batas.
Karena itu jangan membuka jendela ketika badai sedang menghantam.
Tetapi setelah badai berlalu, periksa kembali:
apakah bahaya masih ada, atau tubuh dan hati hanya sedang mengingat bahaya lama?
Pertanyaan itu penting.
꧁ RAHASIA PENGAIT JENDELA ꧂
Pengait adalah pralambang batas yang sehat.
Membuka diri tidak berarti:
menceritakan semua rahasia kepada semua orang,
memaafkan lalu membiarkan penyalahgunaan berulang,
menerima siapa pun tanpa pertimbangan,
atau terus tinggal dalam keadaan yang merusak.
Batas dapat berupa:
mengurangi komunikasi,
mengatakan tidak,
meminta waktu,
memilih siapa yang dipercaya,
mencari bantuan,
dan menjauh jika keamanan memang terancam.
Batas bukan kebencian.
Kadang justru batas adalah bentuk penjagaan.
꧁ RAHASIA CAHAYA YANG MENUNJUKKAN NODA ꧂
Ketika jendela dibuka, Hamid melihat dinding berjamur.
Begitu pula ketika hati mulai pulih.
Kadang setelah keadaan sedikit tenang, justru emosi lama muncul.
Sedih.
Marah.
Kecewa.
Rasa bersalah.
Itu tidak selalu berarti keadaan memburuk.
Bisa jadi cahaya baru membuat sesuatu yang lama tersembunyi menjadi terlihat.
Yang terlihat kemudian dapat dirawat.
Yang tidak pernah dilihat sulit diperbaiki.
꧁ EMPAT JENDELA BATIN ꧂
Ada empat jendela yang perlu dijaga:
Pertama — Jendela Kepercayaan.
Jangan buka kepada semua orang, tetapi jangan tutup kepada semua orang.
Kedua — Jendela Nasihat.
Izinkan orang terpercaya mengingatkanmu.
Ketiga — Jendela Kasih Sayang.
Jangan biarkan luka lama membuatmu kehilangan kemampuan menerima kebaikan baru.
Keempat — Jendela Harapan.
Pengalaman buruk tidak selalu menjadi ramalan untuk seluruh masa depan.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH ꧂
“Aja nutup kabeh jendhela mung amarga tau ana badai.”
Artinya:
Jangan menutup seluruh jendela hanya karena pernah datang badai.
Dan:
“Waspada iku perlu, nanging aja nganti kewaspadaan nggawe cahya ora bisa mlebu maneh.”
Kewaspadaan diperlukan, tetapi jangan sampai kewaspadaan membuat cahaya tidak dapat masuk lagi.
꧁ RAHASIA ANAK YANG BERKATA “RUMAHNYA BERNAPAS” ꧂
Laila tidak memahami seluruh luka ayahnya.
Tetapi ia melihat sesuatu dengan sederhana:
rumah yang tertutup terlalu lama terasa tidak bernapas.
Begitu pula manusia.
Kita memerlukan ruang untuk bernapas:
berbicara,
menangis,
beristirahat,
bertemu orang aman,
berdoa,
tertawa,
dan mengalami sesuatu yang baru tanpa selalu dibandingkan dengan luka lama.
Tidak semua orang memerlukan cara pemulihan yang sama.
Namun hati membutuhkan ruang agar hidup tidak selamanya dikuasai satu peristiwa.
꧁ KETIKA JENDELA TERBUKA SEPENUHNYA ꧂
Bertahun-tahun kemudian seluruh jendela Rumah Hamid kembali berfungsi.
Tidak selalu terbuka.
Jika hujan, sebagian ditutup.
Jika angin sepoi, dibuka lebar.
Jika malam, dikunci.
Jika pagi, cahaya dibiarkan masuk.
Rumah tidak kembali persis seperti sebelum badai.
Beberapa jendela sudah diganti.
Beberapa kayu berbeda warna.
Ada bekas perbaikan pada dinding.
Tetapi rumah itu hidup lagi.
Hamid tidak menyembunyikan bekas-bekasnya.
Suatu hari Laila yang kini sudah dewasa bertanya:
“Abah, kenapa bekas retak ini tidak ditutup cat?”
Hamid menjawab:
“Bisa ditutup.”
“Kenapa tidak?”
“Supaya aku ingat bahwa rumah ini pernah rusak dan diperbaiki.”
Laila tersenyum.
“Sebagai kenangan badai?”
Hamid menjawab:
“Bukan hanya badai. Sebagai kenangan bahwa setelah badai, kita pernah berani membuka jendela lagi.”
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH ꧂
Jika engkau pernah terluka, engkau tidak harus buru-buru membuka seluruh jendela.
Mulailah kecil.
Satu celah.
Satu orang terpercaya.
Satu percakapan jujur.
Satu kesempatan baru.
Satu langkah.
Jika belum siap, tidak perlu memaksa.
Tetapi jangan pula menjadikan luka lama sebagai sumpah bahwa tidak ada lagi kebaikan yang boleh masuk.
Periksa cuaca hari ini.
Bukan hanya cuaca bertahun-tahun lalu.
Jika masih ada badai, lindungi diri.
Jika keadaan telah aman, mungkin sudah waktunya mencoba membuka sedikit.
Dan bila rasa takut datang kembali, jangan malu menutup jendela sementara.
Yang penting jangan lupa:
sementara bukan selamanya.
Rumah membutuhkan dinding.
Membutuhkan pintu.
Membutuhkan kunci.
Tetapi juga membutuhkan jendela.
Sebab perlindungan tanpa cahaya dapat berubah menjadi kesepian.
Dan keterbukaan tanpa batas dapat berubah menjadi kerusakan.
Kebijaksanaan berada di antara keduanya.
Menjaga tanpa mengurung.
Membuka tanpa menyerahkan seluruh keselamatan.
Mengingat badai tanpa hidup selamanya di dalam badai.
Hamid akhirnya tidak pernah lagi berkata:
“Angin tidak dapat dipercaya.”
Ia menggantinya dengan:
“Aku harus belajar membaca angin.”
Ada angin yang membawa badai.
Ada angin yang membawa hujan.
Ada angin yang membawa udara segar.
Ada angin yang membawa aroma bunga dari taman.
Bukan semua angin sama.
Dan bukan semua hari adalah hari ketika jendela harus ditutup.
Maka berdoalah:
“Yā Alloh, berilah aku kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus menjaga batas, kapan harus membuka hati, dan jangan biarkan luka kemarin menutup seluruh cahaya yang Engkau kirim hari ini.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH
“Omah sing sehat ora tansah mbukak, lan ora tansah nutup. Dheweke ngerti wektu.”
Rumah yang sehat tidak selalu terbuka dan tidak selalu tertutup. Ia mengetahui waktunya.
“Aja urip ing badai sing wis liwat. Jaga jendhelamu, nanging nalika langit wis teduh, wenehana cahya dalan kanggo mlebu maneh.”
Jangan terus hidup di dalam badai yang telah berlalu. Jagalah jendelamu, tetapi ketika langit telah teduh, berilah cahaya jalan untuk masuk kembali.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH SATU
“SEPATU TUA YANG TETAP BERJALAN MESKI JALANNYA BERUBAH”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota yang dikelilingi jalan-jalan panjang, hiduplah seorang pembuat sepatu tua bernama Karim.
Tokonya kecil.
Tidak memiliki papan besar.
Tidak pula dihiasi lampu mewah.
Namun hampir semua musafir mengenalnya.
Sebab Karim tidak hanya membuat sepatu.
Ia selalu berkata kepada orang yang datang:
“Sepatu yang baik bukan yang paling indah. Sepatu yang baik adalah yang sanggup menemani kaki tanpa membuat kaki lupa merasakan tanah.”
Di dinding tokonya tergantung sepasang sepatu tua.
Kulitnya sudah menghitam.
Jahitannya beberapa kali diperbaiki.
Solnya tebal karena berlapis-lapis tambalan.
Namun Karim tidak pernah menjualnya.
Orang-orang bertanya:
“Sepatu siapa itu?”
Karim menjawab:
“Sepatu perjalanan.”
“Perjalanan siapa?”
“Perjalanan orang yang belum selesai belajar berjalan.”
Mereka tertawa.
Namun Karim tidak menjelaskan lebih jauh.
꧁ PEMUDA YANG INGIN SEPATU TERBAIK ꧂
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Fathan.
Ia hendak bepergian menuju kota di balik gunung.
Fathan berkata:
“Aku ingin sepatu terbaik yang kau punya.”
Karim bertanya:
“Terbaik untuk apa?”
“Untuk perjalanan jauh.”
“Jalannya seperti apa?”
Fathan menjawab:
“Aku tidak tahu.”
Karim mengangguk.
“Kalau begitu aku juga tidak bisa langsung menentukan sepatu terbaik.”
Fathan heran.
“Bukankah sepatu mahal pasti lebih baik?”
Karim menjawab:
“Sepatu untuk jalan batu berbeda dengan sepatu untuk lumpur.”
“Sepatu untuk kota berbeda dengan sepatu untuk gunung.”
“Yang terbaik bukan yang paling mahal.”
“Yang terbaik adalah yang sesuai perjalanan.”
Fathan berkata:
“Buatkan yang bisa dipakai di semua tempat.”
Karim tertawa.
“Manusia selalu ingin satu jawaban untuk semua keadaan.”
Fathan sedikit tersinggung.
Namun ia tetap memesan.
꧁ SEPATU BARU DAN JALAN YANG LAMA ꧂
Beberapa hari kemudian sepatu selesai.
Indah.
Kuat.
Kulitnya halus.
Fathan sangat bangga.
Ia mulai perjalanan.
Hari pertama jalannya rata.
Sepatu nyaman.
Ia berkata:
“Karim memang hebat.”
Hari kedua jalannya berbatu.
Masih cukup baik.
Hari ketiga ia memasuki tanah berlumpur.
Sepatu berat.
Lumpur menempel.
Fathan marah.
“Katanya sepatu terbaik!”
Ia terus berjalan.
Kemudian datang hujan besar.
Jalan yang biasanya kering berubah menjadi aliran air.
Fathan terpeleset.
Ia jatuh.
Sepatunya robek di samping.
Ia menatapnya dengan kecewa.
“Baru beberapa hari sudah rusak.”
Seorang musafir tua yang lewat berkata:
“Sepatunya rusak atau perjalananmu berubah?”
Fathan menjawab:
“Dua-duanya mungkin.”
Musafir itu berkata:
“Kalau perjalanan berubah, cara berjalan juga harus berubah.”
Fathan berkata:
“Bukankah seharusnya sepatu menyesuaikan aku?”
Orang tua itu tersenyum.
“Kadang manusia terlalu sibuk meminta dunia menyesuaikan dirinya sampai lupa bahwa dirinya juga diberi kemampuan menyesuaikan langkah.”
꧁ MENAMBAL DI TENGAH PERJALANAN ꧂
Fathan mencari tempat berteduh.
Di sebuah dusun kecil terdapat seorang perempuan pembuat sandal bernama Hana.
Ia melihat sepatu Fathan.
“Bisa diperbaiki.”
Fathan berkata:
“Aku lebih baik membeli baru.”
Hana bertanya:
“Kenapa?”
“Sudah rusak.”
Hana memeriksa.
“Yang rusak hanya satu jahitan.”
Fathan berkata:
“Kalau sudah rusak, bukankah kualitasnya sudah berkurang?”
Hana menjawab:
“Tidak semua yang pernah rusak menjadi tidak layak dipakai.”
Ia menjahit bagian samping.
Menambahkan lapisan.
Sepatu itu justru menjadi lebih kuat di titik yang sebelumnya lemah.
Fathan bertanya:
“Apakah bekas jahitan ini bisa disembunyikan?”
Hana berkata:
“Bisa.”
“Kalau begitu sembunyikan.”
Hana menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena bekas perbaikan bukan aib.”
Fathan menatap jahitan itu.
Untuk pertama kalinya ia memandang kerusakan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai pengetahuan tentang bagian mana yang perlu diperkuat.
꧁ JALAN BERCABANG ꧂
Beberapa hari kemudian Fathan sampai di persimpangan.
Ada papan:
Jalan Cepat — 2 Hari.
Dan:
Jalan Aman — 4 Hari.
Fathan ingin cepat.
Ia memilih jalan dua hari.
Tidak lama kemudian ia menemukan tanjakan curam.
Kakinya mulai sakit.
Sepatu bergesekan.
Ia memaksa.
Seorang penggembala berkata:
“Kalau membawa beban berat, jalur ini tidak baik.”
Fathan menjawab:
“Aku sudah terlanjur memilih.”
Penggembala berkata:
“Masih bisa kembali.”
Fathan malu.
“Kalau kembali, berarti aku salah.”
Penggembala menjawab:
“Mengubah pilihan setelah mengetahui keadaan baru bukan selalu kelemahan. Kadang itu bentuk kecerdasan.”
Fathan tetap melanjutkan beberapa jam.
Kakinya lecet.
Akhirnya ia menyerah.
Ia kembali.
Hari itu memang kehilangan waktu.
Namun di jalan aman ia dapat berjalan lebih stabil.
Ia mulai memahami:
bukan hanya sepatu yang harus dirawat.
Cara berjalan juga harus diperbaiki.
꧁ KETIKA ORANG LAIN BERJALAN LEBIH CEPAT ꧂
Di jalan aman ia melihat banyak musafir lain.
Ada yang berjalan cepat.
Ada yang lambat.
Ada yang memakai sandal tipis.
Ada yang bertelanjang kaki.
Fathan mulai membandingkan.
“Kenapa orang tua itu bisa lebih cepat dariku?”
Ia mempercepat langkah.
Kakinya kembali sakit.
Seorang perempuan tua berkata:
“Kenapa terburu-buru?”
“Aku tidak ingin tertinggal.”
“Apakah tujuan kita sama?”
“Tidak tahu.”
“Waktu sampai kita harus sama?”
“Tidak.”
“Lalu siapa yang kau kejar?”
Fathan terdiam.
Perempuan itu berkata:
“Kalau terus memakai langkah orang lain, sepatu yang cocok untuk kakimu pun akan terasa salah.”
Fathan memperlambat.
꧁ SEPATU MULAI MENJADI TEMAN ꧂
Hari berganti hari.
Sepatu baru itu tidak lagi terlihat baru.
Ada debu.
Ada bekas lumpur.
Ada jahitan.
Ada goresan.
Namun sekarang Fathan justru menyukainya.
Setiap bekas mengingatkan satu bagian perjalanan.
Goresan pertama:
hujan.
Jahitan pertama:
dusun Hana.
Noda merah:
tanah gunung.
Bekas sol miring:
jalan curam yang akhirnya ia tinggalkan.
Sepatu itu tidak lagi sekadar barang.
Ia menjadi catatan perjalanan.
꧁ KETIKA SATU SEPATU HILANG ꧂
Suatu malam Fathan tidur di dekat sungai.
Ketika bangun, satu sepatu hilang terbawa air.
Ia panik.
Ia mencari sepanjang tepi sungai.
Tidak ditemukan.
Ia duduk.
“Bagaimana aku melanjutkan?”
Seorang anak desa datang.
Ia berkata:
“Pakai sandal ini.”
Sandalnya sederhana.
Terbuat dari serat dan kulit tipis.
Fathan menjawab:
“Sepatuku jauh lebih baik.”
Anak itu berkata:
“Tapi sepatumu tidak ada.”
Fathan terdiam.
Ia memakai sandal.
Tidak senyaman sepatu.
Namun cukup untuk berjalan sampai desa berikutnya.
Hari itu ia belajar lagi:
jangan terlalu memuja alat sampai ketika alat hilang, kita merasa kemampuan juga hilang.
꧁ KEMBALI KE KARIM ꧂
Berbulan-bulan kemudian Fathan pulang.
Ia datang ke toko Karim.
Kakinya memakai dua benda berbeda.
Satu sepatu lama.
Satu sandal.
Karim tertawa.
“Perjalananmu menarik.”
Fathan menjawab:
“Sepatu buatanmu rusak.”
Karim berkata:
“Aku lihat.”
“Dan satu hilang.”
“Aku lihat.”
Fathan berkata:
“Aku dulu datang meminta sepatu terbaik.”
Karim bertanya:
“Sekarang?”
Fathan menjawab:
“Sekarang aku ingin belajar membuat sepatu.”
Karim terdiam.
“Kenapa?”
“Karena aku baru mengerti: perjalanan selalu berubah. Aku tidak ingin hanya tahu memakai. Aku ingin tahu memperbaiki.”
Karim tersenyum.
Kemudian menunjuk sepatu tua yang selama ini tergantung di dinding.
“Sekarang kau siap mengetahui milik siapa itu.”
Fathan mendekat.
“Siapa?”
Karim menjawab:
“Milikku.”
Fathan terkejut.
Karim berkata:
“Aku memakainya ketika masih muda.”
“Kenapa disimpan?”
“Karena ia mengingatkanku bahwa sebelum menjadi pembuat sepatu, aku adalah orang yang berkali-kali salah memilih jalan.”
Fathan melihat tambalan-tambalan.
Karim berkata:
“Setiap jahitan mengajariku sesuatu.”
꧁ RAHASIA SEPATU TUA ꧂
Karim menurunkan sepatu itu.
“Lihat bagian ini.”
Ada tambalan kasar.
“Ini ketika aku menolak berhenti meskipun kakiku sudah luka.”
Bagian lain.
“Ini ketika aku mengejar rombongan orang lain dan jatuh.”
Bagian lain.
“Ini ketika aku terlalu bangga dan tidak mau menerima sandal pinjaman.”
Fathan tersenyum.
Karim berkata:
“Orang yang sudah lama berjalan seharusnya bukan hanya memiliki jarak lebih jauh. Ia seharusnya memiliki cara berjalan yang lebih bijak.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH SATU ꧂
Banyak manusia menginginkan hidup yang tidak berubah.
Pekerjaan tetap.
Tubuh tetap kuat.
Hubungan tetap sama.
Rencana berjalan persis seperti yang disusun.
Namun kehidupan bergerak.
Kadang jalan menjadi licin.
Kadang menanjak.
Kadang rusak.
Kadang jalur lama ditutup.
Karena itu kemampuan penting manusia bukan hanya mempunyai rencana.
Tetapi juga mampu menyesuaikan cara tanpa kehilangan arah dan nilai.
꧁ RAHASIA SEPATU ꧂
Sepatu adalah pralambang cara.
Cara sangat penting.
Tetapi cara bukan tujuan.
Jika satu cara tidak lagi efektif, jangan selalu menganggap tujuan harus dibuang.
Mungkin metode yang perlu diperbaiki.
Jika cara belajar lama tidak berhasil, cari cara lain.
Jika sistem kerja tidak sehat, perbaiki sistem.
Jika komunikasi keluarga terus menimbulkan luka, ubah cara berbicara.
Nilai boleh tetap.
Cara dapat berkembang.
꧁ RAHASIA TAMBALAN ꧂
Tambalan bukan simbol kegagalan semata.
Ia adalah bukti bahwa sesuatu pernah diuji dan diperbaiki.
Dalam organisasi, prosedur baru sering lahir karena kesalahan lama.
Dalam keluarga, aturan baru bisa muncul setelah konflik.
Dalam diri, batas baru sering lahir setelah pengalaman tidak menyenangkan.
Jangan malu memiliki tambalan.
Yang perlu ditanya:
apakah tambalan itu membuat kita lebih kuat, atau hanya menutupi kerusakan tanpa memperbaiki sebabnya?
꧁ RAHASIA KAKI YANG LECET ꧂
Kadang masalah bukan pada jalan atau sepatu.
Kadang tubuh kita sendiri sedang kelelahan.
Manusia sering menyalahkan semua hal:
pekerjaan,
keluarga,
lingkungan,
keadaan.
Padahal sebagian kesulitan datang karena dirinya sudah terlalu lelah.
Maka sebelum membuat keputusan besar, tanyakan:
“Apakah aku sedang melihat masalah dengan jernih, atau sedang sangat lelah?”
Istirahat tidak menyelesaikan semua persoalan.
Tetapi kelelahan dapat membuat persoalan terasa lebih besar daripada bentuk sebenarnya.
꧁ RAHASIA JALAN CEPAT ꧂
Tidak semua yang cepat lebih baik.
Ada jalur cepat yang cocok bagi seseorang.
Ada yang tidak.
Kesuksesan orang lain tidak selalu harus disalin waktunya.
Kita boleh belajar dari orang yang lebih cepat.
Tetapi jangan membebani diri dengan perjalanan yang tidak sesuai kapasitas hanya karena takut dianggap lambat.
꧁ RAHASIA SATU SEPATU YANG HILANG ꧂
Ketika alat utama hilang, Fathan merasa perjalanan selesai.
Padahal masih ada alternatif.
Begitu pula manusia.
Seseorang kehilangan pekerjaan.
Bukan berarti seluruh kemampuan hilang.
Sebuah usaha tutup.
Pengalaman tetap ada.
Satu jalan hubungan selesai.
Kemampuan mencintai tidak otomatis ikut mati.
Satu rencana gagal.
Tujuan hidup belum tentu gagal.
Jangan samakan alat dengan seluruh kemungkinan.
꧁ LIMA ADAB PEJALAN ꧂
Pertama — Rawat kakimu.
Jangan mengorbankan kesehatan tanpa kebutuhan yang benar.
Kedua — Rawat sepatumu.
Perbaiki metode dan alat yang masih berguna.
Ketiga — Baca jalan.
Keadaan berubah; jangan berjalan hanya dari hafalan.
Keempat — Jangan malu berbalik.
Jika jelas salah jalan, koreksi.
Kelima — Terima bantuan ketika perlu.
Tidak semua perjalanan harus diselesaikan sendirian.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH SATU ꧂
“Sepatu kudu manut karo dalan, nanging sikil aja nganti lali arah.”
Artinya:
Sepatu perlu menyesuaikan jalan, tetapi kaki jangan sampai melupakan arah.
Dan:
“Aja isin nganggo tambalan yen tambalan iku nggawe perjalanan bisa diterusake.”
Jangan malu memakai tambalan jika tambalan itu membuat perjalanan dapat diteruskan.
꧁ RAHASIA BELAJAR MEMPERBAIKI ꧂
Fathan akhirnya menjadi murid Karim.
Ia belajar:
mengukur kaki,
memilih kulit,
menjahit,
menambal,
membaca bentuk telapak,
dan memahami kebutuhan pemakai.
Karim selalu berkata:
“Jangan membuat semua orang memakai model yang sama.”
Fathan bertanya:
“Kenapa?”
Karim menjawab:
“Karena tugas pembuat sepatu bukan membuat semua kaki menjadi seragam.”
“Tapi?”
“Membantu setiap kaki berjalan dengan lebih baik.”
Itulah salah satu rahasia kebijaksanaan:
bimbingan bukan membuat seluruh manusia menjadi salinan kita.
Bimbingan adalah membantu mereka berjalan menuju kebaikan sesuai keadaan yang benar.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH SATU ꧂
Bertahun-tahun kemudian Karim meninggal.
Fathan meneruskan toko.
Ia tidak mengganti namanya menjadi toko besar.
Ia hanya menambahkan satu tulisan kecil di pintu:
“Masuklah dengan jalanmu. Kita cari alas kaki yang sesuai.”
Suatu hari datang seorang pemuda.
Ia berkata:
“Aku ingin sepatu terbaik.”
Fathan tersenyum.
Ia teringat dirinya dahulu.
Ia bertanya:
“Terbaik untuk jalan yang mana?”
Pemuda itu bingung.
Fathan tertawa.
Kemudian ia menunjukkan sepatu tua Karim yang sekarang tergantung di dinding.
Di sampingnya ada sepatu sebelah milik Fathan yang tidak pernah hilang.
Dua sepatu dari dua perjalanan.
Tidak sama.
Tidak sempurna.
Tetapi penuh pelajaran.
Fathan berkata kepada pemuda itu:
“Engkau mungkin berharap menemukan sesuatu yang akan membuat perjalanan selalu mudah.”
Pemuda mengangguk.
Fathan berkata:
“Tidak ada sepatu seperti itu.”
“Lalu apa yang paling penting?”
Fathan menjawab:
“Miliki arah yang benar, kaki yang mau belajar, dan keberanian memperbaiki cara ketika jalan berubah.”
Sebab tidak semua perjalanan dapat disiapkan sempurna sebelum berangkat.
Ada yang hanya dapat dipelajari ketika debu sudah menempel.
Ketika hujan turun.
Ketika jahitan robek.
Ketika satu jalan harus ditinggalkan.
Ketika kita menerima sandal sederhana dari tangan orang lain.
Maka jangan takut jika hidupmu memiliki tambalan.
Tidak semua tambalan harus disembunyikan.
Bisa jadi setiap jahitan adalah bukti bahwa engkau pernah berkata:
“Aku belum selesai. Aku akan memperbaiki dan melanjutkan.”
Dan jika Alloh masih memberikan jalan, jangan terlalu sibuk meratapi bahwa sepatu tidak lagi baru.
Lebih baik sepatu tua yang telah menemani banyak langkah benar daripada sepatu indah yang tidak pernah meninggalkan rak.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الحادية والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH SATU
“Urip ora njaluk sepatu sing ora tau rusak. Urip njaluk kawicaksanan supaya nalika rusak, kowe ngerti apa sing kudu didandani.”
Hidup tidak menuntut sepatu yang tidak pernah rusak. Hidup meminta kebijaksanaan agar ketika sesuatu rusak, engkau mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
“Dalan bisa owah, sepatu bisa tambalan, nanging aja nganti arahmu ilang.”
Jalan dapat berubah, sepatu dapat bertambal, tetapi jangan sampai arahmu hilang.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH DUA
“TIMBANGAN YANG RUSAK KARENA SEMUA HAL DIANGGAP SAMA BERAT”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota dagang bernama Madinatul Mīzān, hampir setiap rumah memiliki timbangan.
Pedagang menimbang gandum.
Tabib menimbang ramuan.
Pandai besi menimbang logam.
Pembuat roti menimbang tepung.
Karena itulah penduduk kota sangat menghormati ketepatan ukuran.
Di tengah pasar utama berdiri sebuah timbangan tua yang sangat besar.
Orang-orang menyebutnya:
Mīzānul Hikmah — Timbangan Kebijaksanaan.
Timbangan itu tidak digunakan untuk emas.
Tidak untuk gandum.
Tidak pula untuk batu.
Menurut cerita turun-temurun, timbangan tersebut dibuat untuk mengajarkan manusia satu perkara:
tidak semua yang datang kepada hidup mempunyai bobot yang sama.
Namun bertahun-tahun berlalu dan orang mulai lupa maknanya.
Mereka hanya menganggapnya benda tua.
Sampai suatu hari datang seorang pemuda bernama Adib.
꧁ PEMUDA YANG INGIN MENYELESAIKAN SEMUANYA ꧂
Adib dikenal sebagai orang yang rajin.
Kalau ada yang meminta bantuan, ia hampir selalu berkata:
“Ya.”
Jika tetangga memanggil, ia datang.
Jika teman mengajak, ia ikut.
Jika pekerjaan tambahan datang, ia terima.
Jika keluarga meminta sesuatu, ia berusaha memenuhi.
Jika ada pesan masuk, ia merasa harus segera menjawab.
Jika seseorang kecewa kepadanya, ia tidak bisa tidur.
Orang-orang memuji:
“Adib baik sekali.”
“Adib selalu bisa diandalkan.”
“Adib tidak pernah menolak.”
Awalnya ia senang.
Namun lambat laun hidupnya menjadi penuh.
Pagi bekerja.
Siang membantu orang.
Sore mengurus urusan lain.
Malam menjawab pesan.
Tidur sedikit.
Bangun dalam keadaan lelah.
Ketika ibunya berkata:
“Nak, duduklah sebentar.”
Adib menjawab:
“Tidak bisa, Bu. Banyak yang harus selesai.”
Ibunya berkata:
“Apakah semuanya harus selesai hari ini?”
Adib menjawab:
“Semua penting.”
Ibunya menatapnya lama.
Lalu berkata:
“Kalau semua kau anggap penting, suatu hari engkau tidak lagi tahu mana yang benar-benar penting.”
꧁ SERATUS BATU ꧂
Suatu pagi Adib melewati Mīzānul Hikmah.
Seorang penjaga tua bernama Hakim sedang membersihkannya.
Hakim berkata:
“Kau terlihat lelah.”
Adib menjawab:
“Banyak amanah.”
Hakim menunjuk seratus batu kecil.
“Bantu aku menimbang.”
Adib mengangguk.
Hakim berkata:
“Anggap setiap batu sebagai urusan hidupmu.”
Adib mulai menyebut:
“Pekerjaan.”
Satu batu.
“Orang tua.”
Satu batu.
“Teman.”
Satu batu.
“Pesan yang belum dibalas.”
Satu batu.
“Pendapat orang tentangku.”
Satu batu.
“Tagihan.”
Satu batu.
“Undangan.”
Satu batu.
“Keinginan membeli sesuatu.”
Satu batu.
“Janji kepada keluarga.”
Satu batu.
“Kesehatan.”
Satu batu.
“Gosip orang.”
Satu batu.
“Kesalahan masa lalu.”
Satu batu.
Terus begitu.
Hakim berkata:
“Sekarang timbang.”
Adib meletakkan semuanya pada satu sisi.
Timbangan langsung jatuh.
“Rusak!”
Hakim tertawa.
“Bukan timbangannya.”
“Lalu?”
“Cara kau menaruh semuanya.”
꧁ BATU YANG TIDAK SAMA BERAT ꧂
Hakim mengambil tiga batu.
Satu besar.
Satu sedang.
Satu kecil.
Ia berkata:
“Mana lebih berat?”
Adib menunjuk batu besar.
“Jelas.”
Hakim berkata:
“Dalam hidup, kenapa engkau memberi berat yang sama kepada semuanya?”
Adib bingung.
Hakim mengambil batu bertuliskan:
Kesehatan.
Kemudian:
Komentar orang asing.
Ia berkata:
“Apakah keduanya sama berat?”
“Tidak.”
Hakim mengambil:
Janji kepada ibu.
Dan:
Undangan yang sebenarnya bisa ditolak.
“Apakah sama?”
“Tidak.”
Hakim mengambil:
Utang jatuh tempo.
Dan:
Pesan yang bisa dijawab besok.
“Apakah sama?”
Adib mulai tertunduk.
Hakim berkata:
“Kelelahanmu bukan hanya karena banyaknya perkara. Sebagian karena engkau memberikan kepentingan besar kepada hal-hal kecil.”
꧁ EMPAT MANGKUK TIMBANGAN ꧂
Hakim membawa empat mangkuk.
Pada mangkuk pertama tertulis:
WAJIB DIJAGA.
Kedua:
PENTING, TAPI BISA DIATUR.
Ketiga:
BOLEH DITUNDA.
Keempat:
TIDAK PERLU DIBAWA.
Hakim berkata:
“Sekarang masukkan urusanmu.”
Adib mengambil batu:
Kesehatan.
“Wajib dijaga.”
Orang tua.
“Wajib dijaga.”
Pekerjaan utama.
“Wajib dijaga.”
Belajar.
“Penting, bisa diatur.”
Teman mengajak bertemu malam ini.
“Bisa ditunda.”
Orang asing tidak menyukaiku.
Adib ragu.
Hakim bertanya:
“Apakah engkau telah berbuat salah kepadanya?”
“Tidak.”
“Apakah pendapatnya menentukan amanahmu?”
“Tidak.”
Adib meletakkannya di:
Tidak perlu dibawa.
Untuk pertama kalinya ia tersenyum.
꧁ RASA BERSALAH KETIKA BERKATA TIDAK ꧂
Hari berikutnya seorang teman datang.
“Adib, bantu aku mengantar barang.”
Adib bertanya:
“Kapan?”
“Sekarang.”
Adib sedang menemani ibunya ke tabib.
Dulu ia pasti mencoba memenuhi keduanya.
Sekarang ia berkata:
“Maaf, hari ini aku tidak bisa.”
Temannya mengerutkan dahi.
“Biasanya kau selalu bisa.”
Adib merasa bersalah.
Hampir membatalkan urusan ibunya.
Namun ia teringat timbangan.
Ia berkata:
“Aku bisa bantu besok pagi.”
Temannya kecewa.
Namun pergi.
Sepanjang jalan Adib gelisah.
Ia bertanya kepada ibunya:
“Apakah aku menjadi orang buruk karena menolak?”
Ibunya berkata:
“Menolak karena malas berbeda dengan menolak karena sedang menjaga amanah lain.”
Adib terdiam.
꧁ ORANG BAIK YANG KEHILANGAN TENAGA ꧂
Beberapa hari kemudian Hakim berkata:
“Ada orang yang ingin menjadi baik kepada semua orang sampai akhirnya tidak punya tenaga untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Adib merasa kalimat itu mengenai dirinya.
Hakim melanjutkan:
“Air sumur yang diambil terus tanpa diberi waktu terisi akan kering.”
“Berarti aku harus mementingkan diri?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Rawat dirimu agar engkau mempunyai kekuatan untuk menjalankan amanah.”
Hakim berkata lagi:
“Beristirahat bukan selalu kemalasan.”
“Makan bukan kemewahan.”
“Tidur bukan pemborosan.”
“Batas bukan kebencian.”
“Semua tergantung tempat dan ukurannya.”
꧁ TIMBANGAN YANG MULAI SEIMBANG ꧂
Adib mulai membuat perubahan kecil.
Ia tidak menjawab semua pesan saat itu juga.
Ia membuat waktu khusus bekerja.
Waktu keluarga.
Waktu belajar.
Waktu istirahat.
Tidak sempurna.
Kadang jadwal berantakan.
Kadang ia kembali menerima terlalu banyak.
Namun sekarang ia mulai sadar ketika timbangannya miring.
Suatu malam seseorang mengirim pesan panjang berisi kritik.
Dulu Adib mungkin tidak tidur.
Sekarang ia membaca.
Ia bertanya:
“Apakah ada yang benar?”
Ada satu bagian.
Ia catat.
Sisanya hanya kemarahan orang tersebut.
Adib berkata:
“Yang benar akan kuperbaiki. Yang bukan milikku tidak perlu kubawa.”
Malam itu ia tidur.
꧁ SAAT HAL KECIL MENJADI BESAR ꧂
Namun Hakim memperingatkan:
“Jangan salah memahami pelajaran.”
“Kenapa?”
“Hal kecil bisa menjadi besar jika diabaikan.”
Adib bertanya:
“Contohnya?”
“Luka kecil jika infeksi.”
“Utang kecil jika dibiarkan berbunga.”
“Kebohongan kecil jika menjadi kebiasaan.”
“Retak kecil jika berada pada tiang utama.”
Adib berkata:
“Jadi tidak cukup melihat ukuran?”
Hakim mengangguk.
“Lihat juga akibat.”
Sesuatu tampak kecil hari ini, tetapi mungkin penting karena dampaknya besar.
Karena itu kebijaksanaan bukan sekadar membagi:
besar dan kecil.
Tetapi memahami:
mana yang mendesak, mana yang penting, mana yang berdampak, dan mana yang hanya berisik.
꧁ ORANG YANG SELALU MENDESAK ꧂
Di pasar ada seorang pedagang bernama Rasyad.
Setiap kali membutuhkan sesuatu, ia berkata:
“Sekarang juga!”
“Penting!”
“Darurat!”
Lama-kelamaan orang panik setiap kali ia datang.
Suatu hari Hakim berkata kepada Adib:
“Perhatikan.”
Rasyad berteriak:
“Adib! Aku butuh bantuan sekarang!”
Adib bertanya:
“Apa yang terjadi?”
“Aku butuh orang menata kain.”
“Apakah toko terbakar?”
“Tidak.”
“Apakah barang akan rusak?”
“Tidak.”
“Apakah harus selesai sekarang?”
Rasyad terdiam.
“Sebenarnya besok juga bisa.”
Adib tersenyum.
Hakim berkata kemudian:
“Nada yang keras tidak otomatis membuat sebuah perkara menjadi penting.”
꧁ SUARA LONCENG DARI RUMAH ꧂
Suatu sore saat bekerja di pasar, lonceng kecil dari arah rumah Adib berbunyi.
Itu tanda ibunya membutuhkan bantuan.
Pada saat sama seorang pembeli besar datang.
Pemilik toko berkata:
“Adib, jangan pergi. Ini pelanggan penting.”
Adib bertanya:
“Bisa ditangani orang lain?”
“Bisa, tetapi kau paling pandai.”
Adib melihat arah rumah.
Ia mengambil keputusan.
“Aku pulang sebentar.”
Pemilik toko kecewa.
Adib pulang.
Ternyata ibunya terpeleset.
Tidak parah, tetapi membutuhkan bantuan.
Setelah memastikan keadaan aman, Adib kembali bekerja.
Pemilik toko berkata:
“Kita kehilangan sedikit waktu.”
Adib menjawab:
“Benar.”
“Menyesal?”
“Tidak.”
Sebab ia sudah belajar:
prioritas bukan perkara melakukan semuanya. Prioritas adalah berani menentukan apa yang tidak boleh dikorbankan ketika dua hal bertabrakan.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH DUA ꧂
Hidup manusia penuh dengan tuntutan.
Sebagian nyata.
Sebagian hanya terasa mendesak.
Sebagian datang dari kewajiban.
Sebagian dari kebiasaan ingin menyenangkan semua orang.
Sebagian dari rasa takut mengecewakan.
Sebagian dari ego.
Karena itu hati membutuhkan timbangan.
Tidak semua harus dijawab.
Tidak semua harus diterima.
Tidak semua harus diselesaikan hari ini.
Tidak semua pendapat harus dibawa pulang.
Tidak semua kesempatan harus diambil.
꧁ RAHASIA MĪZĀN ꧂
Timbangan adalah perlambang kemampuan menempatkan sesuatu sesuai kadarnya.
Keadilan tidak berarti memperlakukan semua perkara sama.
Keadilan justru berarti memberi sesuatu sesuai hak dan tempatnya.
Tubuh mempunyai hak.
Keluarga mempunyai hak.
Pekerjaan mempunyai hak.
Ibadah mempunyai hak.
Istirahat mempunyai hak.
Dan tiap hak perlu ditempatkan secara seimbang sesuai keadaan.
꧁ RAHASIA KATA “SEMUA PENTING” ꧂
Kalimat:
“Semua penting”
terdengar bertanggung jawab.
Namun jika benar-benar semua dianggap sama penting, manusia kehilangan kemampuan memilih.
Jika rumah terbakar, kita tidak berhenti menyapu halaman dulu.
Jika seseorang sakit berat, kita tidak mendahulukan membalas pesan biasa.
Jika amanah utama belum selesai, jangan selalu mengorbankannya demi hal tambahan hanya karena orang lain mendesak.
Prioritas membutuhkan keberanian.
Sebab setiap “ya” kepada satu hal sering berarti “tidak” kepada hal lain.
꧁ EMPAT BATU BESAR ꧂
Hakim mengajarkan Adib empat batu besar yang perlu diperiksa:
Pertama — Kebenaran.
Apakah yang dilakukan benar dan halal?
Kedua — Amanah.
Apakah ini tanggung jawab yang memang berada di pundakku?
Ketiga — Dampak.
Apa akibat jika dilakukan atau ditinggalkan?
Keempat — Waktu.
Apakah harus sekarang, atau dapat dilakukan nanti?
Empat pertanyaan ini tidak membuat hidup selalu mudah.
Tetapi membantu hati tidak tertipu oleh suara yang paling keras.
꧁ RAHASIA BERKATA “TIDAK” ꧂
Tidak adalah kata kecil.
Namun bagi sebagian orang, sangat berat.
Mereka takut dianggap jahat.
Takut tidak disukai.
Takut mengecewakan.
Padahal “tidak” yang benar dapat melindungi “ya” yang lebih penting.
Tidak kepada pekerjaan tambahan bisa berarti ya kepada kesehatan.
Tidak kepada undangan tertentu bisa berarti ya kepada keluarga.
Tidak kepada pemborosan bisa berarti ya kepada kebutuhan masa depan.
Tidak kepada hubungan yang merusak bisa berarti ya kepada keselamatan.
Karena itu jangan menilai kata “tidak” hanya dari bunyinya.
Lihat apa yang sedang ia lindungi.
꧁ RAHASIA ISTIRAHAT ꧂
Adib dahulu menganggap istirahat sebagai tanda kelemahan.
Namun Hakim berkata:
“Pisau yang tidak pernah diasah akhirnya membutuhkan tenaga lebih besar untuk memotong.”
Tubuh juga demikian.
Pikiran.
Hati.
Semua memiliki batas.
Beristirahat agar mampu kembali menjalankan kewajiban adalah bagian dari menjaga amanah.
Tetapi istirahat juga perlu ukuran.
Jangan menamai kemalasan sebagai pemulihan.
Sebagaimana jangan menamai kelelahan terus-menerus sebagai perjuangan.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH DUA ꧂
“Yen kabeh kok anggep abot, pundhakmu bakal lali endi beban sing tenan kudu digawa.”
Artinya:
Jika semua engkau anggap berat, pundakmu akan lupa beban mana yang benar-benar harus dibawa.
Dan:
“Sing muni paling banter durung mesthi sing paling penting.”
Yang bersuara paling keras belum tentu yang paling penting.
꧁ RAHASIA TIMBANGAN YANG RUSAK ꧂
Suatu hari Adib bertanya:
“Hakim, kenapa timbangan ini dulu disebut rusak?”
Hakim tersenyum.
“Karena orang datang membawa semua batu sekaligus, lalu menyalahkan timbangan.”
“Padahal?”
“Yang rusak adalah cara mereka memberi bobot.”
Adib tertawa.
Hakim berkata:
“Banyak manusia melakukan hal yang sama kepada hidup.”
“Bagaimana?”
“Mereka memenuhi hari dengan seratus perkara, lalu berkata hidup tidak memberi cukup waktu.”
“Padahal kadang bukan waktunya yang kurang.”
“Tapi?”
“Kemampuan memilihnya yang belum terlatih.”
꧁ KETIKA ADIB MENJADI PENJAGA TIMBANGAN ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Hakim semakin tua.
Ia menyerahkan penjagaan Mīzānul Hikmah kepada Adib.
Sebelum pergi ia berkata:
“Jangan ajari orang membuang semua beban.”
Adib mengangguk.
“Ajari mereka menimbang.”
“Kenapa?”
“Karena manusia yang membuang seluruh beban bukan bebas. Ia bisa jadi sedang meninggalkan amanah.”
Hakim melanjutkan:
“Dan jangan pula membuat mereka takut terhadap semua beban.”
“Sebab?”
“Beberapa beban justru membuat manusia mulia karena dipikul dengan benar.”
Adib mengerti.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH DUA ꧂
Pada suatu pagi datang seorang pemuda membawa karung sangat besar.
Ia berkata:
“Guru Adib, hidupku terlalu berat.”
Adib tidak langsung memberi nasihat.
Ia membuka karung.
Di dalamnya ada banyak batu bertuliskan:
Harus disukai semua orang.
Harus selalu cepat.
Harus selalu benar.
Tidak boleh mengecewakan siapa pun.
Harus menjawab semuanya.
Harus berhasil sekarang.
Harus menyelesaikan semua sendiri.
Adib mengambil satu batu.
“Apakah ini benar-benar amanahmu?”
Pemuda itu diam.
Adib mengambil batu lain.
“Apakah ini kewajiban atau ketakutan?”
Pemuda mulai menangis.
Mereka menimbang satu demi satu.
Beberapa tetap di karung.
Karena memang harus dibawa.
Beberapa dipindahkan ke jadwal lain.
Beberapa dikembalikan kepada orang yang sebenarnya bertanggung jawab.
Dan beberapa diletakkan di tanah untuk selamanya.
Ketika selesai, karung itu masih mempunyai isi.
Tetapi cukup ringan untuk dipikul.
Pemuda bertanya:
“Kenapa tidak kau kosongkan semuanya?”
Adib menjawab:
“Karena hidup yang baik bukan hidup tanpa beban. Hidup yang baik adalah hidup yang membawa beban yang benar dengan ukuran yang benar.”
Pemuda mengangguk.
Adib memandang timbangan tua.
Kini ia tahu:
kedamaian tidak selalu datang karena seluruh urusan selesai.
Kadang kedamaian lahir ketika manusia akhirnya mengetahui:
mana yang harus didahulukan,
mana yang bisa menunggu,
mana yang harus dibagi,
mana yang harus ditolak,
dan mana yang sejak awal tidak pernah menjadi miliknya.
Maka sebelum berkata:
“Aku tidak sanggup membawa semuanya,”
tanyakan dahulu:
“Apakah semuanya memang harus kubawa?”
Dan sebelum mengejar semua hal yang bersuara memanggilmu, periksa kembali:
apakah suara itu datang dari amanah,
dari kebutuhan,
dari ketakutan,
atau hanya dari keinginan untuk tidak mengecewakan siapa pun.
Sebab manusia tidak diberi hidup agar memenuhi seluruh tuntutan dunia.
Manusia diberi hidup untuk menjalankan amanahnya dengan benar di hadapan Alloh.
Dan ketika timbangan batin kembali seimbang, langkah yang sama beratnya pun terasa lebih jernih.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثانية والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH DUA
“Urip ora dadi entheng amarga kabeh beban dibuwang. Urip dadi luwih jernih nalika saben beban diparingi bobot lan panggonan kang bener.”
Hidup tidak menjadi ringan hanya karena semua beban dibuang. Hidup menjadi lebih jernih ketika setiap beban diberi bobot dan tempat yang benar.
“Aja menehi bobot gedhe marang perkara cilik nganti amanah gedhe malah ora kebagian tenaga.”
Jangan memberi bobot besar kepada perkara kecil hingga amanah yang besar justru tidak kebagian tenaga.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH TIGA
“BENANG YANG PUTUS KARENA DUA TANGAN SAMA-SAMA MENARIK”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang terkenal dengan kain-kain indah, terdapat sebuah kampung bernama Qaryatul Khuyūṭ — Kampung Benang.
Hampir setiap rumah mempunyai alat tenun.
Pagi hari terdengar bunyi kayu beradu:
tak… tik… tak… tik…
Para ibu memintal.
Para lelaki menyiapkan pewarna.
Anak-anak belajar mengenali benang yang kuat dan benang yang rapuh.
Di kampung itu terdapat seorang penenun tua bernama Umar.
Tangannya sudah berkerut.
Matanya tidak lagi setajam dahulu.
Namun ia dapat mengetahui keadaan sebuah benang hanya dengan menyentuhnya.
Orang-orang berkata:
“Umar bisa mendengar benang.”
Tentu bukan benar-benar mendengar suara.
Ia hanya sangat memahami pekerjaannya.
Jika benang terlalu tegang, ia tahu.
Jika terlalu longgar, ia tahu.
Jika seratnya mulai rusak, ia tahu.
Umar selalu berkata:
“Kain yang kuat tidak lahir dari benang yang ditarik sekeras-kerasnya. Ia lahir dari ketegangan yang tepat.”
꧁ DUA SAUDARA ꧂
Umar mempunyai dua murid.
Mereka bersaudara.
Yang tua bernama Hasan.
Yang muda bernama Husain.
Keduanya pandai.
Hasan teliti.
Husain kreatif.
Hasan menyukai pola lama yang sudah terbukti.
Husain senang membuat corak baru.
Jika bekerja bersama, hasil mereka sangat indah.
Hasan menjaga kekuatan kain.
Husain memberi keindahan.
Umar sering berkata:
“Kalau kalian dapat menjaga perbedaan ini, kalian akan menjadi penenun hebat.”
Namun seiring waktu, sesuatu berubah.
Orang-orang mulai membandingkan.
Seorang pembeli berkata kepada Hasan:
“Pola Husain lebih indah.”
Pembeli lain berkata kepada Husain:
“Tapi kain Hasan lebih kuat.”
Awalnya mereka tertawa.
Lama-lama hati mulai menyimpan.
Hasan berkata dalam hati:
“Dia hanya mengejar keindahan.”
Husain berkata dalam hati:
“Kakakku terlalu kaku.”
Mereka masih bekerja bersama.
Tetapi benang di antara hati mereka mulai kusut.
꧁ SEHELAI KAIN UNTUK ISTANA ꧂
Suatu hari datang utusan kerajaan.
Raja memesan sehelai kain besar untuk ruang pertemuan istana.
Kain itu harus kuat.
Indah.
Dan mampu bertahan bertahun-tahun.
Umar berkata:
“Ini pekerjaan kalian berdua.”
Hasan tersenyum.
Husain juga.
Namun masing-masing sudah mempunyai rancangan sendiri.
Hasan berkata:
“Kita pakai pola lama. Sudah terbukti.”
Husain menjawab:
“Kesempatan sebesar ini harus menghasilkan sesuatu yang baru.”
Hasan berkata:
“Jangan bereksperimen pada pesanan raja.”
Husain membalas:
“Kalau selalu takut mencoba, kita tidak akan berkembang.”
Perdebatan semakin keras.
Umar mendengarkan.
Ia tidak langsung campur tangan.
Akhirnya ia berkata:
“Ambil satu malam. Besok bicarakan lagi.”
Namun malam itu keduanya tidak benar-benar berpikir.
Mereka hanya menyiapkan argumen baru untuk memenangkan perdebatan.
꧁ BENANG MERAH ꧂
Keesokan hari Umar meletakkan satu gulung benang merah di atas meja.
“Tarik.”
Hasan memegang satu ujung.
Husain memegang ujung lain.
Umar berkata:
“Sekarang kalian masing-masing tarik ke arah kalian.”
Hasan menarik.
Husain menarik.
Benang menegang.
Umar bertanya:
“Apa yang terjadi?”
“Menegang,” jawab Hasan.
“Tarik lagi.”
Mereka menarik lebih kuat.
Serat mulai bergetar.
“Lebih keras.”
Mereka menarik.
Tak!
Benang putus.
Umar mengambil kedua potongan.
Kemudian bertanya:
“Siapa yang menang?”
Hasan diam.
Husain diam.
Umar berkata:
“Ada perselisihan yang berakhir bukan karena satu pihak menang, tetapi karena hubungan di tengahnya putus.”
꧁ MASING-MASING MERASA HANYA MEMPERTAHANKAN DIRI ꧂
Hasan berkata:
“Tetapi Guru, kalau aku tidak menarik, dia akan menarik benangnya ke arahnya.”
Husain langsung berkata:
“Itulah yang kupikirkan juga.”
Umar tersenyum.
“Sekarang kalian mulai melihat masalahnya.”
Hasan bertanya:
“Jadi kita tidak boleh mempertahankan pendapat?”
“Boleh.”
“Tidak boleh tegas?”
“Boleh.”
“Lalu?”
Umar mengangkat benang yang putus.
“Tegas berbeda dengan terus menambah tarikan hanya karena pihak lain menarik.”
Kadang manusia tidak lagi berbicara untuk mencari kebenaran.
Ia berbicara untuk membalas tekanan.
Yang satu meninggikan suara.
Yang lain lebih tinggi.
Yang satu mengungkit.
Yang lain mengungkit lebih lama.
Yang satu berkata:
“Kau selalu begini.”
Yang lain menjawab:
“Kau lebih parah.”
Akhirnya persoalan awal hilang.
Yang tersisa hanya keinginan agar lawan merasakan sakit yang sama.
꧁ SIMPUL PERTAMA ꧂
Umar mengambil benang lain.
Benang itu kusut.
Ada satu simpul kecil.
Ia memberikannya kepada Hasan.
“Buka.”
Hasan menarik kedua sisi.
Simpul semakin rapat.
“Sulit.”
Umar memberikannya kepada Husain.
Husain juga menarik.
Semakin rapat.
Umar mengambil.
Ia tidak menarik.
Ia justru mendorong sedikit benang menuju simpul.
Ketegangan mengendur.
Dengan jarum kecil, ia membuka simpul perlahan.
Simpul terlepas.
Hasan bertanya:
“Kenapa kami tidak bisa?”
Umar menjawab:
“Karena kalian mengira semua simpul harus diselesaikan dengan menarik lebih keras.”
꧁ RAHASIA MENGENDURKAN ꧂
Husain bertanya:
“Kalau dalam hubungan manusia, apa artinya mengendurkan?”
Umar menjawab:
“Kadang berarti berhenti menjawab ketika emosi terlalu tinggi.”
“Kadang mendengarkan sampai selesai.”
“Kadang mengakui bagian yang memang salah.”
“Kadang berkata: ‘Aku belum memahami maksudmu.’”
“Kadang memberi waktu.”
“Kadang menurunkan nada suara.”
Hasan bertanya:
“Apakah itu berarti mengalah?”
Umar menjawab:
“Mengendurkan simpul bukan selalu mengalah. Kadang justru itu satu-satunya cara agar benang tidak putus.”
꧁ PERSELISIHAN YANG LEBIH DALAM ꧂
Umar kemudian bertanya:
“Hasan, apa sebenarnya yang membuatmu marah kepada adikmu?”
Hasan menjawab:
“Dia terlalu berani mengubah pola.”
Umar berkata:
“Itu pendapatmu tentang pekerjaan. Aku bertanya apa yang membuat hatimu marah.”
Hasan diam.
Lama.
Kemudian berkata:
“Aku merasa… sejak orang memuji karyanya, aku seperti tidak lagi dibutuhkan.”
Husain terkejut.
Umar berpaling kepada Husain.
“Dan engkau?”
Husain menunduk.
“Aku merasa Kak Hasan selalu melihatku seperti anak kecil yang tidak mampu membuat keputusan.”
Hasan menatap adiknya.
Untuk pertama kali mereka mendengar sesuatu yang tidak pernah dikatakan.
Ternyata pertengkaran tentang pola kain hanya permukaan.
Di bawahnya ada:
ketakutan kehilangan tempat,
dan rasa tidak dipercaya.
꧁ BANYAK PERTENGKARAN BUKAN TENTANG APA YANG DIUCAPKAN ꧂
Umar berkata:
“Sekarang lihat.”
“Kalian berdebat tentang pola.”
“Padahal hati kalian berdebat tentang penghargaan.”
Hasan dan Husain diam.
Umar melanjutkan:
“Banyak manusia bertengkar tentang satu hal, padahal luka sebenarnya berada di tempat lain.”
Suami istri bertengkar tentang piring.
Padahal mungkin yang sakit adalah merasa tidak dihargai.
Saudara bertengkar tentang pembagian tugas.
Padahal mungkin ada luka lama tentang perlakuan yang dianggap tidak adil.
Teman bertengkar karena pesan tidak dibalas.
Padahal mungkin yang lebih dalam adalah rasa ditinggalkan.
Karena itu tidak semua perselisihan selesai dengan membahas permukaan.
Kadang perlu bertanya:
“Apa sebenarnya yang sedang terluka?”
꧁ KAIN YANG DITENUN DENGAN DUA POLA ꧂
Setelah pembicaraan itu, Umar berkata:
“Sekarang buat rancangan baru.”
Hasan bertanya:
“Pola siapa?”
“Bukan milik Hasan.”
“Bukan milik Husain.”
“Buat pola ketiga.”
Mereka bingung.
Umar menjelaskan:
“Ambil kekuatan dari rancangan Hasan.”
“Ambil keberanian dari rancangan Husain.”
“Jangan sibuk mencari siapa yang mendapatkan lebih banyak.”
Mereka mulai bekerja.
Hari pertama sulit.
Hasan beberapa kali berkata:
“Menurutku begini.”
Husain hampir membalas keras.
Namun ia belajar bertanya:
“Kenapa Kakak memilih cara itu?”
Hasan menjelaskan.
Kadang alasannya kuat.
Kadang setelah dijelaskan ternyata tidak.
Husain juga menjelaskan idenya.
Beberapa terlalu berisiko.
Sebagian sangat bagus.
Perlahan mereka menemukan bentuk baru.
Kain yang lahir tidak sama dengan rancangan awal keduanya.
Justru lebih baik.
꧁ TIDAK SEMUA KONFLIK HARUS BERAKHIR DI TENGAH ꧂
Namun Umar memberi satu peringatan penting.
“Jangan salah memahami.”
Hasan bertanya:
“Bagaimana?”
“Tidak setiap perselisihan harus diselesaikan dengan membagi dua.”
“Kenapa?”
“Karena kalau satu orang berkata dua tambah dua adalah empat, dan satu berkata delapan, jawabannya bukan enam agar terasa adil.”
Mereka tertawa.
Umar berkata:
“Kompromi tidak boleh mengorbankan kebenaran yang jelas.”
“Ada perkara yang perlu bukti.”
“Ada perkara yang mempunyai batas benar dan salah.”
“Ada amanah yang tidak boleh ditawar.”
“Tapi ketika wilayahnya adalah pilihan, cara, selera, atau hal yang sama-sama memiliki alasan, jangan cepat mengubah perbedaan menjadi permusuhan.”
꧁ SAAT BENANG MEMANG HARUS DIPUTUS ꧂
Husain bertanya:
“Guru, apakah benang selalu harus dipertahankan?”
Umar diam sebentar.
Kemudian menjawab:
“Tidak.”
Mereka terkejut.
“Ada benang yang sudah rapuh sampai membahayakan kain.”
“Ada hubungan yang terus diisi kekerasan.”
“Ada kerja sama yang diisi penipuan.”
“Ada orang yang berkali-kali melanggar batas dan tidak mau memperbaiki.”
“Kadang jarak diperlukan.”
“Kadang kerja sama harus dihentikan.”
“Kadang keselamatan lebih penting daripada mempertahankan bentuk hubungan.”
Hasan bertanya:
“Lalu bedanya dengan menyerah?”
Umar menjawab:
“Jangan memutus hanya karena ego tidak mendapat kemenangan. Tetapi jangan pula mempertahankan sesuatu hanya karena takut disebut gagal.”
꧁ KAIN ISTANA SELESAI ꧂
Berbulan-bulan kemudian kain pesanan kerajaan selesai.
Warnanya dalam.
Strukturnya kuat.
Pola tradisional mengelilingi corak baru di tengah.
Ketika dibentangkan, semua orang terdiam.
Utusan kerajaan berkata:
“Siapa yang merancang?”
Hasan melihat Husain.
Husain melihat Hasan.
Dahulu keduanya mungkin berebut menjelaskan.
Sekarang Hasan berkata:
“Kami mengerjakannya bersama.”
Utusan bertanya:
“Siapa yang lebih banyak?”
Husain tertawa.
“Kalau benangnya ditanya, mungkin dia tidak tahu.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH TIGA ꧂
Perselisihan bukan selalu tanda hubungan gagal.
Dua manusia dapat mencintai dan tetap berbeda.
Dua sahabat dapat berbeda pandangan.
Dua saudara dapat mempunyai cara berbeda.
Dua orang baik dapat menilai suatu perkara secara berbeda.
Yang menentukan bukan hanya apakah konflik terjadi.
Tetapi:
bagaimana konflik dijalani.
Apakah manusia masih mampu mendengar?
Masih mampu mengakui salah?
Masih membedakan persoalan dengan harga diri?
Masih menjaga batas?
Masih ingin mencari penyelesaian?
Atau hanya ingin menang?
꧁ RAHASIA DUA TANGAN ꧂
Ketika dua tangan sama-sama menarik, masing-masing dapat merasa:
“Aku hanya mempertahankan diriku.”
Namun dari sudut pandang benang, keduanya menambah ketegangan.
Dalam konflik, tanyakan:
“Apakah tindakanku sedang menyelesaikan persoalan, atau hanya membalas tekanan?”
Pertanyaan itu dapat mengubah arah percakapan.
꧁ RAHASIA SIMPUL ꧂
Simpul kecil yang segera dibuka mudah diselesaikan.
Simpul yang dibiarkan bertahun-tahun mengeras.
Begitu pula masalah.
Jangan simpan semua ketidakpuasan sampai menjadi daftar panjang.
Bicarakan dengan waktu dan cara yang baik.
Namun jangan pula membicarakan setiap rasa kesal kecil seolah bencana.
Kebijaksanaan perlu menimbang.
Ada yang perlu dikomunikasikan.
Ada yang cukup dimaafkan.
Ada yang perlu diberi batas.
꧁ RAHASIA MENDENGARKAN ꧂
Mendengar tidak berarti setuju.
Mendengar berarti memberi kesempatan kepada manusia lain menjelaskan apa yang sebenarnya ia maksud.
Banyak konflik membesar karena manusia menjawab kalimat yang belum selesai.
Atau menjawab maksud yang sebenarnya hanya asumsi.
Sebelum berkata:
“Jadi maksudmu…”
cobalah bertanya:
“Apakah ini yang engkau maksud?”
Satu pertanyaan kadang menyelamatkan banyak kesalahpahaman.
꧁ EMPAT PERTANYAAN SEBELUM MENARIK BENANG ꧂
Ketika perselisihan mulai memanas, tanyakan empat hal:
Pertama — Apa persoalan sebenarnya?
Jangan bertengkar dengan bayangan masalah.
Kedua — Apa bagian yang mungkin benar dari pihak lain?
Tidak harus semuanya.
Cukup periksa dengan jujur.
Ketiga — Apa yang sedang ingin kulindungi: kebenaran atau harga diri?
Keduanya sering tercampur.
Keempat — Apakah cara bicaraku membantu penyelesaian atau hanya menambah luka?
Nada adalah bagian dari pesan.
꧁ RAHASIA KATA “MAAF” ꧂
Ada orang takut meminta maaf karena mengira:
“Kalau aku minta maaf, berarti seluruh kesalahan milikku.”
Tidak selalu.
Seseorang dapat berkata:
“Aku tetap berbeda pendapat, tetapi aku minta maaf atas caraku menyampaikan.”
Atau:
“Aku tidak bermaksud menyakitimu, tetapi ternyata ucapanku menyakitkan. Aku minta maaf.”
Permintaan maaf tidak harus menipu kebenaran.
Ia hanya perlu jujur terhadap bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita.
꧁ RAHASIA ORANG KETIGA ꧂
Jika dua tangan sudah terlalu keras menarik benang, kadang diperlukan tangan ketiga yang netral.
Bukan untuk memenangkan salah satu.
Tetapi membantu melihat simpul.
Mediator.
Sesepuh.
Guru.
Konselor.
Orang terpercaya.
Namun pilihlah pihak ketiga yang membantu menjernihkan, bukan yang menuangkan minyak ke api.
Tidak semua orang yang bersedia mendengar pantas menjadi penengah.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH TIGA ꧂
“Yen loro-lorone mung narik, benange sing bakal pedhot.”
Artinya:
Jika keduanya hanya terus menarik, benanglah yang akhirnya putus.
Dan:
“Simpul ora tansah mbukak amarga ditarik luwih kuwat. Kadhang kudu dikendhori dhisik.”
Simpul tidak selalu terbuka karena ditarik lebih kuat. Kadang ia harus dikendurkan terlebih dahulu.
꧁ KETIKA HASAN DAN HUSAIN MENJADI GURU ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Umar wafat.
Hasan dan Husain meneruskan rumah tenun.
Mereka masih berbeda pendapat.
Bahkan sering.
Namun sekarang para murid melihat sesuatu yang aneh.
Kadang Hasan berkata:
“Kali ini ide Husain lebih baik.”
Kadang Husain berkata:
“Untuk bagian ini kita pakai cara Hasan.”
Seorang murid bertanya:
“Apakah Guru tidak malu mengakui pendapat orang lain lebih baik?”
Hasan menjawab:
“Dulu iya.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku lebih takut kain rusak hanya karena aku ingin namaku yang menang.”
꧁ SATU BENANG MERAH DI DINDING ꧂
Di tempat kerja mereka tergantung sepotong benang merah.
Benang itu disambung di tengah.
Itulah benang yang dahulu diputus ketika mereka menarik dari dua sisi.
Seorang anak bertanya:
“Kenapa benang putus ini disimpan?”
Husain menjawab:
“Untuk mengingatkan kami.”
“Tentang apa?”
Hasan berkata:
“Bahwa tidak semua yang putus harus dibuang, tetapi jangan menunggu sesuatu putus untuk belajar mengurangi tarikan.”
Anak itu bertanya:
“Apakah benang yang disambung sama kuatnya?”
Husain menjawab:
“Tidak selalu.”
“Berarti rusak?”
“Bekasnya tetap ada.”
Hasan menambahkan:
“Karena itu lebih baik menjaga sebelum putus.”
꧁ RAHASIA HUBUNGAN YANG PERNAH RETAK ꧂
Beberapa hubungan dapat diperbaiki setelah konflik.
Namun perbaikan membutuhkan waktu.
Kepercayaan tidak selalu kembali hanya karena satu permintaan maaf.
Jika engkau pernah merusak kepercayaan seseorang, jangan berkata:
“Aku sudah minta maaf, kenapa belum seperti dulu?”
Berikan ruang.
Buktikan perubahan.
Hormati batas.
Karena luka mempunyai waktu yang tidak selalu mengikuti keinginan orang yang melukainya.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH TIGA ꧂
Pada suatu malam Hasan dan Husain duduk setelah semua murid pulang.
Di hadapan mereka terbentang kain pertama yang dibuat untuk istana.
Sudah tua.
Warnanya sedikit pudar.
Tetapi masih utuh.
Husain berkata:
“Kak, dulu aku yakin kalau idemu dipakai, kain ini pasti buruk.”
Hasan tertawa.
“Aku juga yakin kalau idemu dipakai, kain ini akan hancur.”
“Lucu.”
“Kenapa?”
“Kita berdua merasa memiliki seluruh kebenaran.”
Hasan menatap benang merah di dinding.
Kemudian berkata:
“Untung Guru Umar tidak memilih siapa yang menang.”
Husain mengangguk.
“Ia menyelamatkan benangnya.”
Mereka terdiam.
Dan malam itu mereka memahami kembali sebuah rahasia:
hubungan tidak selalu perlu kesamaan.
Yang dibutuhkan adalah ruang agar perbedaan tidak berubah menjadi penghinaan.
Kejujuran tanpa kekejaman.
Batas tanpa kebencian.
Ketegasan tanpa merendahkan.
Permintaan maaf tanpa kepalsuan.
Dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa terkadang yang kita sebut “membela kebenaran” hanyalah ego yang takut kalah.
Maka jika suatu hari engkau sedang memegang satu ujung benang sementara seseorang memegang ujung lainnya, jangan langsung menarik lebih keras.
Lihat benangnya.
Lihat simpulnya.
Lihat tanganmu.
Tanyakan:
“Apa yang sedang kupertahankan?”
Jika kebenaran memang harus dijaga, jagalah dengan adab.
Jika hanya gengsi yang sedang terluka, turunkan sedikit tarikan.
Jika ada salahmu, akui.
Jika pihak lain memerlukan batas, hormati.
Dan jika hubungan memang masih layak diselamatkan, jangan jadikan kemenangan sesaat sebagai harga yang harus dibayar dengan putusnya sesuatu yang bertahun-tahun dibangun.
Karena pada akhirnya,
banyak kain indah tidak lahir dari satu benang.
Ia lahir dari banyak benang berbeda yang bersedia berada dalam ketegangan yang tepat,
saling silang,
saling menopang,
dan tidak memaksa seluruh kain mempunyai satu warna.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثالثة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH TIGA
“Aja narik benang mung amarga tangan liyane uga narik. Delengen dhisik apa sing bakal pedhot ing tengah.”
Jangan menarik benang hanya karena tangan yang lain juga menarik. Lihatlah dahulu apa yang mungkin putus di tengah.
“Menang ing rembugan durung mesthi menang ing urip. Kadhang wong menang omongan, nanging kelangan sedulur.”
Menang dalam perdebatan belum tentu kemenangan dalam kehidupan. Kadang seseorang memenangkan perkataan, tetapi kehilangan saudaranya.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH EMPAT
“JAM TUA YANG BERHENTI KARENA MANUSIA TERLALU SIBUK MENGEJAR WAKTU”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota yang semua penduduknya terkenal rajin, berdirilah sebuah menara tinggi.
Di puncaknya terdapat jam besar.
Jam itu dapat terlihat dari seluruh penjuru kota.
Orang bangun ketika mendengar dentangnya.
Pedagang membuka toko menurut jarumnya.
Petani berangkat ke ladang.
Anak-anak pergi belajar.
Pintu kota ditutup ketika malam tiba.
Jam itu begitu penting sampai orang-orang mulai berkata:
“Selama jam menara berjalan, kota kita akan baik-baik saja.”
Penjaga jam bernama Zaman.
Ia sudah tua.
Rambutnya putih.
Tangannya kasar karena puluhan tahun merawat roda-roda mesin.
Setiap pagi ia naik ratusan anak tangga.
Membersihkan debu.
Memberi minyak.
Memeriksa bandul.
Mengencangkan baut.
Ia sering berkata:
“Jam tidak menciptakan waktu. Ia hanya membantu manusia mengenali perjalanannya.”
Namun kebanyakan orang tidak terlalu memperhatikan kalimat itu.
Mereka terlalu sibuk.
꧁ KOTA YANG SEMAKIN CEPAT ꧂
Tahun demi tahun kota berkembang.
Toko bertambah.
Kereta kuda semakin banyak.
Pasar dibuka lebih lama.
Orang mulai menginginkan semuanya lebih cepat.
Pedagang berkata:
“Kalau bisa selesai besok, kenapa menunggu lusa?”
Pemimpin berkata:
“Kalau bisa dikerjakan dalam satu hari, kenapa dua?”
Para pekerja mulai berlomba.
Orang yang berjalan cepat dianggap rajin.
Orang yang berhenti sebentar dianggap malas.
Orang makan sambil bekerja.
Berbicara sambil berjalan.
Beristirahat sambil memikirkan pekerjaan.
Bahkan ketika bersama keluarga, sebagian hati masih berada di tempat lain.
Di kota itu hidup seorang pemuda bernama Sa’id.
Sa’id terkenal paling sibuk.
Pagi bekerja di gudang.
Siang berdagang.
Sore mengurus catatan.
Malam belajar.
Jika ibunya berkata:
“Nak, duduklah sebentar.”
Ia menjawab:
“Nanti, Bu.”
Jika adiknya berkata:
“Kak, temani aku.”
Sa’id menjawab:
“Besok.”
Jika seorang sahabat berkata:
“Sudah lama kita tidak berbicara.”
Sa’id menjawab:
“Aku sedang mengejar waktu.”
Ia sering berkata:
“Kalau nanti semua urusanku selesai, barulah aku akan hidup dengan tenang.”
Tetapi urusan tidak pernah selesai.
꧁ HARI KETIKA JAM MENARA BERHENTI ꧂
Suatu pagi kota terbangun dalam keheningan.
Tidak ada dentang.
Orang melihat ke atas.
Jarum jam berhenti.
Tepat pukul enam.
Panik menyebar.
“Jam mati!”
“Bagaimana kita bekerja?”
“Bagaimana tahu waktunya?”
Pemimpin kota memanggil Zaman.
“Perbaiki sekarang.”
Zaman naik.
Memeriksa mesin.
Tidak ada roda patah.
Tidak ada tali putus.
Bandul masih baik.
Namun jam tetap diam.
Pemimpin bertanya:
“Apa kerusakannya?”
Zaman menjawab:
“Belum tahu.”
“Berapa lama?”
“Belum tahu.”
Pemimpin marah:
“Kota tidak bisa menunggu!”
Zaman menjawab:
“Jam memang berhenti. Waktu tidak.”
꧁ KOTA YANG TIBA-TIBA KEHILANGAN UKURAN ꧂
Hari itu menjadi kacau.
Pedagang membuka toko terlalu pagi.
Sebagian terlambat.
Orang bertanya kepada matahari.
Sebagian memakai jam kecil.
Sebagian bertanya kepada tetangga.
Namun kekacauan terbesar justru bukan karena mereka tidak tahu jam.
Melainkan karena mereka menyadari betapa banyak hidup telah diserahkan kepada dentang menara.
Sa’id sangat gelisah.
Ia bertanya setiap beberapa saat:
“Sekarang jam berapa?”
Ibunya menjawab:
“Baru saja kau bertanya.”
“Aku takut terlambat.”
“Untuk apa?”
“Semua.”
Ibunya tertawa kecil.
“Bagaimana mungkin terlambat untuk semua?”
Sa’id tidak bisa menjawab.
꧁ SATU HARI TANPA DENTANG ꧂
Karena jam belum dapat diperbaiki, Zaman meminta warga menjalani satu hari tanpa dentang menara.
“Gunakan matahari.”
“Gunakan tanda alam.”
“Gunakan jam masing-masing jika ada.”
“Tapi terutama, lihat apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan.”
Orang-orang merasa aneh.
Ketika makan siang, Sa’id duduk bersama ibunya.
Biasanya ia makan cepat.
Hari itu ibunya berkata:
“Jam menara sedang mati. Tidak ada yang mengejarmu dari dinding.”
Sa’id tersenyum.
Ia makan perlahan.
Baru kali itu ia menyadari rasa makanan yang selama ini selalu ditelannya terburu-buru.
Adiknya bercerita.
Sa’id mendengarkan.
Tidak sambil menulis.
Tidak sambil membaca catatan.
Benar-benar mendengar.
Malamnya ia berkata:
“Aneh. Hari ini terasa lebih panjang.”
Ibunya menjawab:
“Waktunya sama.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kali ini kau berada di dalam waktumu sendiri.”
꧁ ZAMAN MEMBUKA MESIN JAM ꧂
Hari kedua, Sa’id menemui Zaman.
“Boleh aku membantu?”
Zaman mengangguk.
Mereka naik menara.
Di dalam mesin terdapat ratusan roda gigi.
Zaman berkata:
“Lihat ini.”
Satu roda kecil hampir tidak bergerak.
Sa’id berkata:
“Ini penyebabnya?”
“Sebagian.”
“Kenapa?”
“Karena terlalu kering.”
“Bukankah ukurannya kecil?”
“Ya.”
“Jam sebesar ini berhenti karena roda sekecil itu?”
Zaman tersenyum.
“Yang kecil tidak selalu tidak penting.”
Sa’id teringat waktu tidur.
Waktu makan.
Percakapan dengan ibu.
Hal-hal kecil yang selama ini terus ia kurangi.
Zaman memberi minyak.
Roda mulai bergerak sedikit.
Namun jam belum berjalan.
꧁ BANDUL YANG TIDAK DIBERI RUANG ꧂
Zaman menunjuk bandul.
“Apa yang membuat bandul bekerja?”
Sa’id menjawab:
“Ia bergerak.”
“Ke mana?”
“Ke kiri dan kanan.”
“Apakah selalu maju?”
“Tidak.”
Zaman berkata:
“Bahkan jam yang menunjukkan kemajuan waktu memerlukan gerakan kembali.”
Sa’id terdiam.
Zaman melanjutkan:
“Manusia kadang menganggap hidup hanya boleh maju.”
“Kerja.”
“Tambah.”
“Capai.”
“Bangun.”
“Kejar.”
“Padahal ada waktu kembali.”
“Kembali kepada keluarga.”
“Kembali kepada tubuh.”
“Kembali kepada diam.”
“Kembali kepada doa.”
“Kembali mengevaluasi arah.”
“Bandul yang dipaksa hanya bergerak ke satu sisi akan berhenti.”
꧁ ISTIRAHAT BUKAN BERHENTI HIDUP ꧂
Sa’id bertanya:
“Jadi aku harus bekerja lebih sedikit?”
Zaman menjawab:
“Belum tentu.”
“Lalu?”
“Bekerjalah sesuai amanah. Tetapi jangan menganggap semua jeda sebagai musuh.”
Sa’id berkata:
“Aku takut kalau berhenti, orang lain akan melewatiku.”
Zaman bertanya:
“Ke mana mereka pergi?”
Sa’id diam.
Zaman berkata:
“Kalau engkau bahkan tidak tahu tujuan perlombaan, mengapa begitu takut tertinggal?”
Kalimat itu tinggal lama di dalam diri Sa’id.
꧁ TIGA JENIS WAKTU ꧂
Zaman kemudian menggambar tiga lingkaran.
Pada yang pertama ia menulis:
WAKTU AMANAH.
Pada kedua:
WAKTU HADIR.
Pada ketiga:
WAKTU PEMULIHAN.
Sa’id bertanya:
“Apa bedanya?”
Zaman berkata:
“Waktu amanah adalah waktu untuk mengerjakan kewajiban.”
“Waktu hadir adalah ketika engkau benar-benar bersama apa yang sedang kau jalani.”
“Dan waktu pemulihan adalah jeda untuk mengembalikan tenaga.”
“Apakah ketiganya harus ada?”
“Selama keadaan memungkinkan, ya.”
“Kalau tidak?”
“Keseimbangan tidak selalu berarti jumlahnya sama. Tetapi jangan sampai salah satunya hilang terus-menerus.”
꧁ SA’ID MENEMUI SAHABAT LAMANYA ꧂
Sore itu Sa’id menemui sahabatnya, Rafiq.
Rafiq terkejut.
“Bukankah kau sibuk?”
“Masih.”
“Lalu?”
“Aku ingin bicara.”
Mereka duduk.
Awalnya canggung.
Rafiq berkata:
“Aku dulu sempat marah.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali aku datang, kau selalu berkata nanti.”
Sa’id menunduk.
“Aku mengira sedang membangun masa depan.”
Rafiq berkata:
“Tidak salah.”
“Tapi?”
“Kadang engkau membangun masa depan dengan mengambil semua batu dari hari ini.”
Sa’id terdiam.
Mereka berbicara lama.
Tidak ada masalah besar yang diselesaikan.
Namun persahabatan yang hampir mengering mulai mendapat air kembali.
꧁ JAM DIPERBAIKI, TETAPI BELUM DINYALAKAN ꧂
Pada hari ketiga Zaman berhasil memperbaiki mesin.
Semua roda bergerak.
Namun ia belum membunyikan jam.
Pemimpin kota bertanya:
“Kenapa?”
Zaman menjawab:
“Aku ingin mengubah satu hal.”
“Apa?”
“Dentangnya.”
Dulu jam berbunyi setiap jam.
Zaman menambahkan satu dentang lembut menjelang malam.
Bukan penanda kerja.
Bukan penanda pasar.
Pada plat kecil di bawah menara tertulis:
“Ketika dentang ini berbunyi, tanyakan: apakah hari ini engkau hanya melewati waktu, atau benar-benar hadir di dalamnya?”
Sebagian orang menertawakan.
Namun banyak yang mulai menggunakannya sebagai pengingat.
꧁ KETIKA JAM KEMBALI BERJALAN ꧂
Pada pagi keempat jarum bergerak kembali.
Dentang terdengar.
Kota bersorak.
Orang kembali bekerja.
Pasar kembali teratur.
Tidak semuanya berubah.
Sebagian tetap sibuk.
Sebagian kembali terburu-buru.
Namun bagi Sa’id, suara jam tidak lagi terdengar seperti cambuk.
Ia mulai memahami:
jam membantu mengatur waktu.
Ia tidak berhak menentukan nilai setiap detik kehidupan.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH EMPAT ꧂
Waktu adalah amanah.
Menyia-nyiakannya bukan perkara kecil.
Tetapi menghargai waktu tidak berarti mengisi setiap detik dengan pekerjaan.
Ada waktu bekerja.
Ada waktu belajar.
Ada waktu ibadah.
Ada waktu keluarga.
Ada waktu tidur.
Ada waktu diam.
Ada waktu menyembuhkan tubuh dan hati.
Kesibukan tidak selalu sama dengan kebermanfaatan.
Dan istirahat tidak selalu sama dengan kemalasan.
Yang perlu dicari adalah ukuran.
꧁ RAHASIA JAM YANG BERHENTI ꧂
Jam berhenti agar manusia menyadari:
alat pengukur waktu bukan pemilik waktu.
Kita dapat membuat jadwal.
Agenda.
Target.
Kalender.
Namun hidup tidak seluruhnya bisa dikuasai jadwal.
Ada anak yang tiba-tiba membutuhkan kita.
Ada orang tua yang menua.
Ada tubuh yang meminta istirahat.
Ada peristiwa yang mengubah rencana.
Kebijaksanaan adalah mampu menjaga amanah sambil menerima bahwa hidup tidak selalu tunduk pada tabel.
꧁ RAHASIA RODA KECIL ꧂
Jam besar berhenti karena roda kecil kering.
Begitu pula hidup.
Hal kecil yang diabaikan berulang dapat menghentikan banyak hal:
tidur yang kurang,
makan yang kacau,
percakapan yang selalu ditunda,
utang kecil yang tak ditata,
kebiasaan menunda,
amarah kecil yang disimpan.
Jangan hanya merawat perkara besar.
Kadang keberlangsungan hidup bergantung pada hal-hal sederhana yang dilakukan dengan teratur.
꧁ RAHASIA BANDUL ꧂
Bandul bergerak ke dua sisi.
Ia mengajarkan:
maju tidak selalu berarti bergerak lurus tanpa jeda.
Ada saatnya kembali untuk menguatkan langkah.
Muhasabah bukan mundur.
Istirahat bukan menyerah.
Memperbaiki kesalahan bukan kehilangan waktu.
Kembali kepada keluarga bukan meninggalkan cita-cita.
Kadang justru dari “kembali” itulah manusia memperoleh tenaga untuk melanjutkan.
꧁ EMPAT PENCURI WAKTU ꧂
Waspadai empat perkara:
Pertama — Kesibukan tanpa arah.
Banyak kegiatan tidak selalu berarti banyak kemajuan.
Kedua — Penundaan terhadap yang penting.
Selalu berkata “nanti” kepada keluarga, kesehatan, atau kewajiban dapat menjadi utang waktu.
Ketiga — Perbandingan.
Mengejar kecepatan orang lain dapat membuat kita lupa perjalanan sendiri.
Keempat — Hadir setengah hati.
Tubuh berada di satu tempat, tetapi pikiran selalu berada di tempat berikutnya.
꧁ RAHASIA KALIMAT “NANTI” ꧂
“Nanti” adalah kata yang diperlukan.
Tidak semua hal harus sekarang.
Namun ada bahaya:
jika terlalu sering dipakai untuk hal yang sebenarnya penting.
“Nanti aku telepon Ibu.”
“Nanti aku minta maaf.”
“Nanti aku istirahat.”
“Nanti aku mulai memperbaiki kesehatan.”
“Nanti aku belajar.”
Tidak semua “nanti” akan mendapatkan kesempatan kedua.
Karena itu timbanglah.
Yang bisa ditunda, tunda dengan sadar.
Yang tidak layak ditunda, jangan terus dipindahkan ke hari yang belum tentu kita miliki.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH EMPAT ꧂
“Jam mung nuduhake wektu, nanging ora bisa mulang carane urip ing njero wektu.”
Artinya:
Jam hanya menunjukkan waktu, tetapi tidak dapat mengajarkan bagaimana hidup di dalam waktu.
Dan:
“Aja kesuwen ngoyak sesuk nganti dina iki mung dadi dalan sing kok liwati tanpa kok rasakake.”
Jangan terlalu lama mengejar hari esok sampai hari ini hanya menjadi jalan yang engkau lewati tanpa pernah benar-benar engkau rasakan.
꧁ KETIKA SA’ID MENJADI TUA ꧂
Puluhan tahun kemudian Sa’id menjadi pedagang berhasil.
Ia tetap bekerja keras.
Namun satu kebiasaan ia jaga.
Setiap sore menjelang dentang khusus dari menara, ia menutup buku sebentar.
Jika sedang bersama keluarga, ia melihat wajah mereka.
Jika sedang bekerja, ia bertanya:
“Apakah aku masih mengerjakan yang memang perlu?”
Jika terlalu lelah, ia berhenti.
Jika ada janji yang lama ditunda, ia mencatat.
Suatu hari cucunya bertanya:
“Kakek, kenapa setiap sore diam?”
Sa’id menjawab:
“Aku sedang memastikan aku tidak hanya hidup di kalender.”
Cucunya bingung.
Sa’id tertawa.
“Suatu hari kau akan mengerti.”
꧁ DENTANG TERAKHIR ZAMAN ꧂
Zaman sang penjaga jam akhirnya meninggal.
Sebelum wafat, ia meninggalkan pesan:
“Kalau suatu hari jam ini berhenti lagi, jangan langsung takut. Perbaiki mesinnya. Tetapi periksa juga apakah yang lebih dahulu rusak adalah jam atau cara kalian menjalani waktu.”
Pesan itu dipahat pada dinding menara.
Tidak semua orang membacanya.
Namun orang yang membaca biasanya berhenti sejenak.
Dan mungkin berhenti sejenak itulah yang selama ini sedang diajarkan oleh menara.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH EMPAT ꧂
Manusia sering berkata:
“Aku kekurangan waktu.”
Padahal semua manusia menerima hari dengan panjang yang sama.
Yang berbeda adalah:
amanah,
keadaan,
kekuatan,
dan cara mengisinya.
Ada masa hidup memang sangat padat.
Ada saat kewajiban menumpuk.
Jangan menyalahkan diri hanya karena tidak semua hari dapat seimbang sempurna.
Tetapi jangan pula menjadikan kesibukan sebagai kebanggaan yang tidak pernah diperiksa.
Sebab orang dapat begitu sibuk mengurus hidup sampai lupa mengalami hidup.
Maka ketika engkau mengejar sesuatu, berhentilah sesekali.
Bukan untuk meninggalkan tujuan.
Tetapi untuk memastikan tujuan itu masih layak dikejar.
Lihat orang-orang di sekitarmu.
Lihat tubuhmu.
Lihat hatimu.
Lihat amanahmu.
Dan bertanyalah:
“Apa yang sedang kubangun, dan apa yang tanpa sadar sedang kukorbankan?”
Jangan sampai ketika semua yang dikejar akhirnya berada di tangan, ternyata banyak hal yang dahulu paling berharga sudah tidak lagi menunggu.
Waktu yang berlalu tidak harus disesali seluruhnya.
Gunakan yang tersisa.
Hubungi orang yang perlu dihubungi.
Perbaiki yang bisa diperbaiki.
Istirahat ketika perlu.
Kerjakan amanah dengan sungguh-sungguh.
Dan hadir ketika sedang bersama seseorang.
Sebab masa depan dibangun oleh hari ini.
Tetapi hari ini bukan hanya bahan mentah untuk masa depan.
Hari ini juga bagian dari hidup yang layak dijalani.
Maka jangan memerintahkan waktu berhenti.
Ia tidak akan.
Jangan pula mencoba berlari lebih cepat darinya.
Tidak mungkin.
Berjalanlah bersamanya.
Dengan arah.
Dengan amanah.
Dengan syukur.
Dan dengan kesadaran bahwa setiap detik yang diberikan Alloh bukan hanya untuk dikejar, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan dan dihidupi.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الرابعة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH EMPAT
“Aja mung pinter ngitung wektu. Sinaua uga manggon ing wektu.”
Jangan hanya pandai menghitung waktu. Belajarlah pula benar-benar hadir di dalam waktu.
“Sesuk perlu disiapake, nanging aja nganti sesuk mangan kabeh dina iki.”
Hari esok perlu dipersiapkan, tetapi jangan sampai hari esok memakan seluruh hari ini.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH LIMA
“BAYANGAN YANG MENJADI RAKSASA KETIKA MANUSIA MEMBELAKANGI CAHAYA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota yang dibangun di kaki bukit, terdapat sebuah jalan panjang menuju gerbang barat.
Jalan itu biasa dilalui para pedagang, penggembala, dan musafir.
Pada siang hari, tidak ada yang istimewa.
Namun menjelang senja, matahari berada rendah di ufuk timur dan setiap orang yang berjalan ke arah barat akan melihat bayangannya memanjang jauh di hadapan.
Anak kecil terlihat seperti manusia tinggi.
Tongkat kecil berubah seperti tombak panjang.
Seekor kambing tampak seperti binatang raksasa.
Penduduk kota sudah terbiasa.
Namun suatu sore datang seorang pemuda bernama Ammar.
Ia baru pertama kali melewati jalan tersebut.
Ketika matahari mulai turun, Ammar melihat sesuatu bergerak di depannya.
Sangat panjang.
Hitam.
Mengikuti setiap langkah.
Ammar berhenti.
Bayangan itu berhenti.
Ia melangkah.
Bayangan bergerak.
Ammar mulai takut.
“Apa itu?”
Tidak ada jawaban.
Ia mempercepat langkah.
Bayangan ikut memanjang di depan.
Ammar berlari.
Bayangan seolah mengejar.
Ia berteriak:
“Jangan ikuti aku!”
Semakin ia panik, semakin besar bayangan itu terasa.
꧁ PENJAGA JALAN ꧂
Tidak jauh dari sana duduk seorang tua bernama Basir.
Ia menjaga sumur kecil bagi para musafir.
Basir melihat Ammar berlari.
“Berhenti!”
Ammar menoleh.
“Jangan mendekat! Ada sesuatu mengejarku!”
Basir bertanya:
“Di mana?”
Ammar menunjuk.
“Di depan!”
Basir melihat tanah.
Kemudian tertawa kecil.
“Itu bayanganmu.”
Ammar tersinggung.
“Aku tahu bentuk bayangan. Tapi ini terlalu besar.”
Basir berkata:
“Bayangan memang bisa lebih besar daripada tubuh yang melahirkannya.”
Ammar memandang kembali.
Benar.
Bayangan itu panjang berkali-kali lipat dibanding tubuhnya.
“Bagaimana cara menghilangkannya?”
Basir berkata:
“Berbaliklah.”
Ammar berbalik menghadap cahaya senja.
Kini bayangannya jatuh di belakang.
Ia tidak melihatnya lagi.
Ammar terdiam.
꧁ BUKAN BERARTI BAYANGAN HILANG ꧂
Ammar berkata:
“Sudah hilang.”
Basir menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Masih ada di belakangmu.”
Ammar menoleh.
Benar.
Basir berkata:
“Menghadap cahaya tidak selalu membuat bayangan tidak ada. Tetapi membuatmu berhenti menjadikan bayangan sebagai seluruh pandangan.”
Ammar menyimpan kalimat itu.
Namun ia belum sepenuhnya memahami.
꧁ KOTA YANG TAKUT PADA KABAR ꧂
Beberapa hari kemudian Ammar tiba di kota.
Ia bekerja di pasar.
Suatu pagi muncul kabar:
“Jembatan utara akan runtuh!”
Orang-orang panik.
Pedagang menutup toko.
Sebagian mengangkut barang.
Harga makanan naik.
Orang-orang berkata:
“Kita akan terputus dari dunia luar!”
Ammar ikut takut.
Ia membeli banyak persediaan.
Sore harinya diketahui bahwa yang retak hanya satu papan kecil di sisi jembatan.
Jembatan memang perlu diperbaiki.
Tetapi tidak hampir runtuh.
Ammar teringat bayangan di jalan.
Satu retakan nyata telah berubah menjadi raksasa di dalam cerita manusia.
꧁ KETAKUTAN YANG MEMAKAN KEJELASAN ꧂
Ammar menemui Basir.
“Apakah semua ketakutan hanya bayangan?”
Basir menjawab:
“Tidak.”
“Jembatan tadi benar-benar retak.”
“Benar.”
“Kalau begitu takutnya juga wajar?”
“Wajar.”
“Lalu di mana kesalahannya?”
Basir menjawab:
“Kesalahannya ketika manusia berhenti memeriksa ukuran kenyataan karena pikirannya sudah lebih dahulu memperbesar kemungkinan buruk.”
Ia mengambil sebatang kayu kecil.
Menancapkannya ke tanah.
Saat senja, bayangannya panjang.
Basir berkata:
“Kayunya satu hasta.”
“Bayangannya?”
“Beberapa hasta.”
“Mana yang harus diperbaiki jika kayu ini retak?”
“Kayunya.”
Basir tersenyum.
“Begitu pula masalah. Perbaikilah bendanya, jangan hanya bertarung dengan bayangannya.”
꧁ SATU KESALAHAN MENJADI SERATUS CERITA ꧂
Ammar kemudian bekerja bersama seorang pedagang bernama Latif.
Suatu hari Latif terlambat membayar upahnya sehari.
Ammar pulang dengan pikiran penuh.
“Mungkin dia sengaja.”
“Mungkin usahanya bangkrut.”
“Mungkin dia tidak menghargai aku.”
“Mungkin besok aku tidak dibayar.”
“Mungkin aku harus pergi.”
“Mungkin semua orang memanfaatkanku.”
Dalam satu malam, satu keterlambatan berubah menjadi seratus cerita.
Keesokan pagi Latif berkata:
“Maaf, kemarin catatan uang belum selesai. Ini upahmu.”
Ammar terdiam.
Tidak semua kekhawatirannya salah untuk dipertimbangkan.
Namun hampir semuanya belum memiliki bukti.
Ia kembali mengingat:
bayangan bisa jauh lebih panjang daripada bendanya.
꧁ RAHASIA TIGA PERTANYAAN ꧂
Basir kemudian mengajari Ammar tiga pertanyaan.
Jika ketakutan membesar, tanyakan:
Pertama — Apa yang benar-benar aku ketahui?
Bukan dugaan.
Bukan cerita.
Bukan kemungkinan.
Apa faktanya?
Kedua — Apa yang sedang kubayangkan?
Mungkin saja terjadi.
Tetapi belum terjadi.
Ketiga — Apa yang dapat kulakukan sekarang?
Bukan semua kemungkinan sepuluh tahun ke depan.
Satu langkah nyata hari ini.
Ammar mulai mempraktikkan.
Ketika ada masalah, ia menulis dua kolom:
KENYATAAN.
dan
BAYANGAN.
Ia terkejut.
Sering kali kolom bayangan jauh lebih panjang.
꧁ TETAPI BAYANGAN JUGA MEMILIKI GUNA ꧂
Suatu hari Ammar bertanya:
“Kalau begitu apakah bayangan tidak berguna?”
Basir menjawab:
“Berguna.”
“Bagaimana?”
“Bayangan menunjukkan ada sesuatu yang menghalangi cahaya.”
Ammar berpikir.
Basir melanjutkan:
“Ketakutan kadang memberi tanda.”
Takut kehilangan uang dapat mengingatkan kita menata keuangan.
Takut sakit dapat mengingatkan menjaga kesehatan.
Takut gagal dapat mendorong persiapan.
Takut keselamatan terancam dapat membuat manusia menjauh dari bahaya.
“Tapi?”
“Gunakan takut sebagai pemberi pesan, jangan angkat dia menjadi penguasa.”
꧁ ANAK YANG TAKUT POHON ꧂
Di dekat rumah Ammar tinggal seorang anak bernama Naim.
Setiap malam ia takut melewati halaman.
Ada pohon tua.
Saat diterangi bulan, bayangannya tampak seperti tangan-tangan besar.
Naim berkata:
“Ada makhluk di sana.”
Ammar tidak menertawakannya.
Ia membawa lampu.
Mereka mendekat bersama.
Naim melihat:
yang dianggap tangan hanyalah cabang.
Yang dianggap kepala hanyalah sarang burung.
Ammar berkata:
“Takutmu tadi nyata.”
Naim bertanya:
“Berarti makhluknya nyata?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Perasaan takut bisa nyata meskipun kesimpulan yang dibuat oleh rasa takut belum tentu benar.”
Naim mengangguk.
Kalimat itu kemudian menjadi salah satu pelajaran paling penting bagi Ammar sendiri.
꧁ KETIKA BAHAYA MEMANG NYATA ꧂
Beberapa bulan kemudian terjadi sesuatu yang berbeda.
Seorang penjaga menemukan retakan besar pada dinding penahan air di bukit.
Sebagian orang berkata:
“Jangan panik. Mungkin hanya bayangan ketakutan.”
Basir segera berkata:
“Tidak.”
Mereka memeriksa.
Retaknya nyata.
Jika dibiarkan, berbahaya.
Penduduk dievakuasi dari bagian tertentu.
Pekerja memperkuat dinding.
Ammar bertanya:
“Kenapa kali ini kita bertindak cepat?”
Basir menjawab:
“Karena kejernihan bukan mengecilkan semua bahaya. Kejernihan adalah memberi bahaya ukuran yang sebenarnya.”
Jangan memperbesar yang kecil.
Tetapi jangan pula mengecilkan yang besar.
Itulah keseimbangan.
꧁ ORANG YANG HIDUP DI DALAM KEMUNGKINAN BURUK ꧂
Di kota itu ada seorang lelaki bernama Salman.
Ia selalu memikirkan apa yang mungkin terjadi.
Kalau anaknya bepergian:
“Bagaimana kalau kecelakaan?”
Kalau usaha membaik:
“Bagaimana kalau besok jatuh?”
Kalau tubuh sehat:
“Bagaimana kalau ternyata ada penyakit yang belum ketahuan?”
Jika langit mendung:
“Bagaimana kalau banjir?”
Akhirnya ia tidak menikmati keadaan baik karena terus berlatih menderita untuk kejadian yang belum datang.
Basir berkata kepadanya:
“Persiapan terhadap kemungkinan buruk itu perlu. Tetapi jangan membayar musibah sebelum musibah itu benar-benar datang.”
Salman terdiam.
“Bagaimana aku menghentikan pikiran?”
“Tidak selalu bisa langsung dihentikan.”
“Lalu?”
“Jangan perlakukan setiap pikiran sebagai ramalan.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH LIMA ꧂
Pikiran manusia mempunyai kemampuan luar biasa:
membayangkan masa depan.
Karena kemampuan itu manusia dapat:
merencanakan,
mengantisipasi,
membangun,
dan melindungi diri.
Namun kemampuan yang sama dapat membuat manusia menderita oleh sesuatu yang belum terjadi.
Satu pesan tidak dibalas.
Muncul seribu dugaan.
Satu kesalahan.
Dibayangkan menjadi kehancuran seluruh hidup.
Satu gejala tubuh.
Dibayangkan sebagai penyakit paling buruk.
Satu kegagalan.
Disimpulkan:
“Aku akan selalu gagal.”
Maka jangan langsung percaya kepada ukuran yang dibuat oleh bayangan.
Periksa bendanya.
꧁ RAHASIA CAHAYA ꧂
Cahaya dalam qisah ini bukan benda gaib dan bukan klaim bahwa manusia menyatu dengan Alloh.
Ia adalah perlambang:
kebenaran, kejernihan, pengetahuan, dan petunjuk yang membuat sesuatu terlihat menurut ukurannya.
Alloh tetap Sang Pencipta.
Manusia tetap hamba dan makhluk-Nya.
Dalam kehidupan nyata, “menghadap cahaya” berarti berusaha kembali kepada:
fakta,
ilmu,
nasihat yang dapat dipercaya,
doa,
dan pertimbangan yang jernih.
꧁ RAHASIA BAYANGAN PANJANG ꧂
Bayangan menjadi paling panjang ketika cahaya berada rendah.
Begitu pula ketika manusia:
sangat lelah,
sedang terluka,
kurang informasi,
atau berada dalam tekanan,
sebuah masalah bisa terasa jauh lebih besar.
Karena itu sebelum membuat kesimpulan besar, periksa keadaan diri.
Mungkin masalahnya nyata.
Tetapi ukuran yang sedang kita rasakan bisa dipengaruhi oleh keadaan batin.
꧁ EMPAT CARA MENGUKUR BAYANGAN ꧂
Pertama — Cari fakta.
Apa yang benar-benar terjadi?
Kedua — Pisahkan kemungkinan dari kepastian.
“Mungkin” bukan “pasti”.
Ketiga — Cari tindakan yang proporsional.
Jangan membakar rumah untuk membunuh satu nyamuk.
Keempat — Minta pandangan lain jika pikiran sudah terlalu penuh.
Kadang orang lain melihat ukuran benda yang tidak lagi mampu kita lihat dengan jernih.
꧁ RAHASIA PRASANGKA ꧂
Tidak semua bayangan datang dari ketakutan.
Ada yang datang dari prasangka.
Seseorang tidak menyapa.
Kita berkata:
“Dia sombong.”
Padahal mungkin ia tidak melihat.
Seseorang diam.
Kita berkata:
“Dia marah.”
Padahal mungkin ia lelah.
Seseorang menolak permintaan.
Kita berkata:
“Dia tidak peduli.”
Padahal mungkin ia sedang menjaga batasnya.
Jangan isi ruang kosong dengan tuduhan hanya karena kita tidak mengetahui jawabannya.
Jika penting, tanyakan.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH LIMA ꧂
“Bayangan bisa luwih gedhe tinimbang barang kang gawe bayangan.”
Artinya:
Bayangan dapat lebih besar daripada benda yang melahirkan bayangan.
Dan:
“Aja perang karo bayangan sadurunge kowe mriksa barang sing sejati ana ing ngarepmu.”
Jangan berperang dengan bayangan sebelum engkau memeriksa benda yang sebenarnya berada di hadapanmu.
꧁ RAHASIA MENGHADAP CAHAYA ꧂
Suatu sore Ammar kembali melewati jalan tempat ia pertama kali ketakutan.
Bayangannya muncul lagi.
Panjang.
Sangat panjang.
Kali ini ia tidak berlari.
Ia tersenyum.
Ia melihat tubuhnya.
Kemudian melihat bayangan.
“Engkau lebih besar daripada aku,” katanya.
“Tapi aku tahu asalmu.”
Basir yang berjalan di belakangnya tertawa.
Ammar berkata:
“Sekarang aku paham, Guru. Masalah bukan karena bayangan itu ada.”
“Lalu?”
“Masalahnya ketika aku lupa bahwa ia hanya bayangan.”
Basir mengangguk.
꧁ KETIKA MALAM BENAR-BENAR DATANG ꧂
Ammar kemudian bertanya:
“Bagaimana kalau malam datang dan tidak ada bayangan?”
Basir berkata:
“Kalau gelap, gunakan lampu.”
“Kalau lampu kecil?”
“Cukup untuk beberapa langkah.”
“Kalau belum tahu jauh di depan?”
“Tidak selalu perlu.”
Ammar teringat banyak qisah perjalanan sebelumnya.
Kadang manusia memang tidak melihat seluruh jalan.
Tetapi satu langkah yang cukup terang lebih berguna daripada seratus bayangan yang dibayangkan.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH LIMA ꧂
Bertahun-tahun kemudian Ammar menjadi penjaga jalan menggantikan Basir.
Setiap senja ia melihat musafir baru.
Sebagian terkejut melihat bayangan mereka sendiri.
Ia tidak menertawakan.
Sebab ia pernah mengalami hal yang sama.
Suatu hari seorang pemuda berlari.
“Pak! Ada raksasa di depanku!”
Ammar berkata:
“Berhenti dulu.”
Pemuda itu gemetar.
Ammar membawa lampu dan berdiri di sampingnya.
“Lihat kakimu.”
Pemuda melihat.
“Sekarang lihat bentuk yang panjang itu.”
“Iya.”
“Gerakkan tanganmu.”
Pemuda mengangkat tangan.
Bayangan mengangkat tangan.
Ia mulai tersenyum malu.
Ammar berkata:
“Tidak perlu malu.”
“Kenapa?”
“Karena manusia sering takut kepada sesuatu sebelum sempat melihat bentuk aslinya.”
Pemuda bertanya:
“Bagaimana supaya tidak takut lagi?”
Ammar menjawab:
“Aku tidak bisa menjanjikan engkau tidak akan takut. Tetapi belajarlah memeriksa apa yang sebenarnya ada.”
Kemudian ia berkata:
“Kalau bahaya itu nyata, hadapi dengan ikhtiar.”
“Kalau hanya kemungkinan, persiapkan secukupnya.”
“Kalau hanya prasangka, jangan hukum manusia dengannya.”
“Kalau hanya bayangan, jangan jadikan ia raksasa.”
Matahari terus turun.
Bayangan semakin panjang.
Ammar memandangnya tanpa cemas.
Karena sekarang ia mengetahui rahasianya:
semakin panjang bayangan, belum tentu semakin besar bendanya.
Begitu pula dalam kehidupan.
Semakin keras ketakutan berteriak, belum tentu semakin besar kenyataan.
Semakin banyak dugaan, belum tentu semakin banyak fakta.
Semakin buruk sesuatu terasa, belum tentu semua jalan telah tertutup.
Maka ketika hati mulai dipenuhi bayangan, jangan segera berlari.
Berhenti.
Lihat.
Tanyakan.
Periksa.
Berdoa.
Cari pengetahuan.
Ambil langkah yang perlu.
Dan jangan memberikan kekuasaan kepada kemungkinan yang belum datang melebihi kenyataan yang benar-benar ada di hadapanmu.
Karena manusia membutuhkan kewaspadaan untuk menjaga hidup.
Tetapi ia juga membutuhkan kejernihan agar kewaspadaan tidak berubah menjadi penjara.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الخامسة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH LIMA
“Wedi iku bisa nyata, nanging apa sing kok wedeni durung mesthi kaya sing digambarake pikiranmu.”
Rasa takut bisa nyata, tetapi apa yang engkau takutkan belum tentu seperti yang digambarkan oleh pikiranmu.
“Madhep marang cahya ora mesthi ngilangi bayangan, nanging nggawe kowe ngerti ukurane lan saka ngendi dheweke teka.”
Menghadap kepada cahaya tidak selalu menghilangkan bayangan, tetapi membuatmu memahami ukurannya dan dari mana ia berasal.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH ENAM
“LAYANG-LAYANG YANG MEMUTUS TALINYA KARENA MENGIRA IKATAN ADALAH PENJARA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah desa yang berdiri di atas dataran luas, setiap datang musim angin anak-anak menerbangkan layang-layang.
Langit dipenuhi warna.
Merah.
Biru.
Putih.
Hijau.
Ada berbentuk burung.
Ada berbentuk bulan.
Ada pula yang sederhana, hanya dua batang bambu dan selembar kertas.
Di antara semua pembuat layang-layang, ada seorang tua bernama Amin.
Ia terkenal karena layang-layang buatannya dapat terbang sangat tinggi.
Namun Amin selalu berkata:
“Aku tidak membuat layang-layang agar terlihat indah ketika tergantung di rumah. Aku membuatnya agar mengenal angin tanpa kehilangan jalan pulang.”
Di bengkel kecilnya terdapat sebuah layang-layang berwarna biru tua.
Namanya Sama’.
Sama’ dibuat sangat ringan.
Bingkainya lentur.
Ekornya seimbang.
Talinya kuat namun tipis.
Ketika pertama kali diterbangkan, ia naik lebih tinggi daripada layang-layang lain.
Anak-anak bersorak:
“Lihat! Sama’ paling tinggi!”
Sama’ menari di udara.
Ia merasa sangat bangga.
Dari atas, manusia tampak kecil.
Rumah-rumah seperti kotak.
Sawah seperti hamparan kain.
Ia berkata dalam hati:
“Aku dilahirkan untuk langit.”
Namun beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu menarik tubuhnya dari bawah.
Tali.
Sama’ mulai terganggu.
꧁ TALI YANG DIANGGAP MUSUH ꧂
Setiap kali angin mengangkatnya lebih tinggi, tali menegang.
Sama’ berkata:
“Kenapa aku selalu ditahan?”
Angin bertiup.
Tubuhnya naik.
Tali menarik.
Sama’ semakin kesal.
Ia melihat burung-burung melintas.
Tidak ada tali pada kaki mereka.
Ia iri.
“Burung bebas.”
“Aku tidak.”
Seekor burung pipit lewat.
Sama’ berkata:
“Wahai burung, bagaimana rasanya terbang tanpa diikat?”
Burung menjawab:
“Begitulah cara burung hidup.”
Sama’ berkata:
“Aku juga ingin.”
Burung melihat tali yang menjulur ke bawah.
“Kau bukan burung.”
Sama’ tersinggung.
“Aku berada di langit sepertimu.”
Burung menjawab:
“Benar. Tetapi cara kita berada di langit berbeda.”
Burung pergi.
Sama’ tidak puas.
Ia memandang tali.
Semakin hari tali itu terasa seperti penghinaan.
꧁ BISIKAN ANGIN ꧂
Pada suatu sore angin bertiup lebih kuat.
Sama’ naik sangat tinggi.
Angin seolah berbisik:
“Kalau bukan karena tali itu, kau bisa terbang jauh sekali.”
Sama’ bertanya:
“Benarkah?”
Angin mendorongnya.
Tali kembali menahan.
“Lihat? Ia selalu menarikmu kembali.”
Sama’ mulai membenci tangan Amin yang memegang gulungan tali di bawah.
Ia berkata:
“Amin mengaku ingin aku terbang, tetapi kenapa tidak melepaskanku?”
Hari itu ia mengambil keputusan:
suatu saat aku akan memutus tali ini.
꧁ PERINGATAN DARI LAYANG-LAYANG TUA ꧂
Tidak jauh darinya terbang layang-layang tua bernama Hadi.
Kertasnya sudah bertambal.
Warnanya pudar.
Namun terbangnya stabil.
Sama’ berkata:
“Hadi, kenapa kau membiarkan dirimu terus diikat?”
Hadi menjawab:
“Karena tali ini bagian dari caraku terbang.”
Sama’ tertawa.
“Itu perkataan orang yang sudah terbiasa diperbudak.”
Hadi tidak marah.
Ia bertanya:
“Kalau talimu diputus, apa yang akan kau lakukan?”
“Bebas!”
“Setelah itu?”
“Terbang ke mana pun.”
“Dengan mengendalikan apa?”
Sama’ diam.
Hadi berkata:
“Angin?”
“Ya.”
“Apakah angin selalu menuju tempat yang kau inginkan?”
Sama’ tidak menjawab.
Hadi berkata:
“Tidak semua yang menahanmu adalah penjara. Ada yang menjadi penyeimbang.”
Sama’ tidak mau mendengar.
Baginya Hadi hanya takut kebebasan.
꧁ HARI KETIKA TALI PUTUS ꧂
Beberapa hari kemudian datang angin besar.
Amin hampir tidak menerbangkan Sama’.
Namun langit masih cukup aman.
Ia memperkuat simpul.
Sama’ naik.
Angin semakin besar.
Tali menegang.
Inilah kesempatan yang ditunggu.
Sama’ menggoyangkan tubuhnya ke arah tertentu.
Talinya bergesekan dengan ujung bambu yang tajam.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Serat mulai putus.
Hadi yang melihat berteriak:
“Berhenti!”
Sama’ menjawab:
“Hari ini aku akan bebas!”
Tak!
Tali putus.
Sesaat Sama’ merasa luar biasa.
Tidak ada lagi tarikan.
Tidak ada lagi batas.
Ia melesat tinggi.
“AKU BEBAS!”
Ia tertawa.
Angin membawa lebih cepat.
Lebih jauh.
Desa mengecil.
Sama’ merasa seperti penguasa langit.
Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
꧁ KETIKA BEBAS TIDAK SAMA DENGAN MAMPU MENGARAHKAN DIRI ꧂
Angin berubah.
Sama’ ingin bergerak ke kiri.
Tetapi dibawa ke kanan.
Ia mencoba naik.
Tubuhnya justru berputar.
Ia ingin kembali ke desa.
Tidak bisa.
“Angin! Bawa aku kembali!”
Angin tidak menjawab.
Sama’ terombang-ambing.
Baru saat itulah ia memahami fungsi tarikan yang selama ini dibencinya.
Ketika tali tegang, Amin sebenarnya bukan hanya menahan.
Dengan tali itu, sudut tubuh Sama’ terhadap angin tetap terjaga.
Tegangan membuat permukaannya dapat menangkap angin dengan benar.
Tanpa itu, Sama’ bukan semakin mampu menguasai langit.
Ia justru semakin dikuasai angin.
꧁ JATUH DI LADANG ASING ꧂
Menjelang senja angin melemah.
Sama’ kehilangan ketinggian.
Ia jatuh di sebuah ladang jauh dari desa.
Kertasnya sobek sedikit.
Salah satu bambunya retak.
Malam datang.
Untuk pertama kali tidak ada Amin yang menggulung tali membawanya pulang.
Sama’ melihat bintang.
Dulu ia bermimpi tidur di bawah langit tanpa tali.
Sekarang ia berkata:
“Aku tidak tahu jalan pulang.”
Kebebasan yang ia bayangkan indah telah berubah menjadi kehilangan arah.
꧁ PETANI YANG MENEMUKANNYA ꧂
Pagi hari seorang petani bernama Salman menemukan Sama’.
Ia mengangkatnya.
“Layang-layang bagus. Dari mana kau datang?”
Tentu Sama’ tidak dapat menjawab seperti manusia.
Namun dalam qisah ini, hatinya mendengar.
Salman melihat sisa tali.
“Ah, putus.”
Ia membawanya ke rumah.
Menambal kertas.
Memperbaiki bambu.
Lalu memasang tali baru.
Sama’ terkejut dalam hati.
Tali lagi.
Namun kali ini ia tidak langsung marah.
Salman menerbangkannya.
Ketika tali menegang, Sama’ merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah ia sadari:
stabilitas.
Ia dapat kembali menghadap angin.
Dapat naik.
Dapat turun.
Dapat diarahkan.
Tarikan itu bukan sekadar menahan.
Tarikan itu memberinya hubungan dengan bumi.
꧁ KEBEBASAN DAN ARAH ꧂
Beberapa hari kemudian Salman membawa Sama’ ke pasar.
Kebetulan Amin sedang mencarinya.
Begitu melihat layang-layang birunya, Amin berlari.
“Ini milikku!”
Salman menyerahkannya.
Amin memeriksa.
Ia tersenyum lega.
“Sudah kutemukan.”
Sama’ kembali diterbangkan di desa.
Hadi masih ada.
Sama’ berkata:
“Aku salah.”
Hadi menjawab:
“Dalam hal apa?”
“Aku pikir tali menghalangiku terbang.”
Hadi bertanya:
“Sekarang?”
Sama’ berkata:
“Ternyata tali menghalangiku terseret.”
꧁ RAHASIA TEGANG DAN KENDUR ꧂
Namun Hadi berkata:
“Jangan belajar setengah.”
“Maksudmu?”
“Tali juga tidak boleh selalu ditarik sekeras mungkin.”
Sama’ bingung.
Hadi menjelaskan:
“Kalau terlalu kencang, kita bisa robek.”
“Kalau terlalu kendur, kita kehilangan kestabilan.”
“Amin kadang memberi tali.”
“Kadang menarik.”
“Kadang menahan.”
“Kenapa?”
“Karena langit berubah.”
Sama’ mulai memahami rahasia baru:
batas yang sehat tidak hanya tahu kapan menahan, tetapi juga kapan memberi ruang.
꧁ ANAK YANG MEMEGANG TALI TERLALU KUAT ꧂
Suatu hari Amin mengajari cucunya, Yusuf, menerbangkan Sama’.
Yusuf takut layang-layang lepas.
Ia menggenggam tali sangat kuat.
Setiap angin menarik, Yusuf langsung menarik balik.
Sama’ hampir kehilangan keseimbangan.
Amin berkata:
“Jangan lawan semua tarikan.”
“Nanti lepas, Kakek.”
“Pegang, tetapi rasakan.”
Yusuf mengendurkan sedikit.
Sama’ naik.
Amin berkata:
“Menjaga bukan berarti mengendalikan setiap gerakan.”
Yusuf perlahan belajar.
Kadang menggulung.
Kadang melepas tali.
Sama’ merasakan kebebasan yang berbeda.
Bukan kebebasan tanpa hubungan.
Tetapi kebebasan yang mempunyai ruang sekaligus arah.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH ENAM ꧂
Manusia sering menggunakan kata:
bebas.
Namun kebebasan perlu dipahami.
Apakah bebas berarti melakukan apa pun yang diinginkan?
Tidak selalu.
Sebab manusia yang tidak mampu mengendalikan keinginan justru dapat menjadi budak keinginannya.
Orang yang berkata:
“Aku bebas membelanjakan uang sesukaku,”
dapat akhirnya diperbudak utang.
Orang yang berkata:
“Aku bebas berkata apa saja,”
dapat merusak kepercayaan dan hubungan.
Orang yang berkata:
“Aku tidak membutuhkan aturan,”
bisa kehilangan arah.
Kebebasan yang matang bukan hidup tanpa batas.
Ia adalah kemampuan memilih dengan sadar sambil menerima tanggung jawab dari pilihan tersebut.
꧁ RAHASIA TALI ꧂
Tali dalam qisah ini mempunyai banyak makna.
Ia dapat melambangkan:
disiplin,
komitmen,
adab,
aturan yang benar,
tanggung jawab,
janji,
batas,
dan hubungan yang menjaga arah.
Tidak semua tali baik.
Ada ikatan yang zalim.
Ada kontrol yang berlebihan.
Ada hubungan yang mengekang.
Ada aturan yang tidak adil.
Hal seperti itu memang perlu diperiksa, diperbaiki, bahkan ditinggalkan jika membahayakan.
Tetapi jangan membuat kesalahan sebaliknya:
menganggap setiap batas sebagai penindasan hanya karena ia membatasi keinginan kita.
꧁ RAHASIA BURUNG DAN LAYANG-LAYANG ꧂
Sama’ iri kepada burung.
Padahal burung memiliki sistemnya sendiri.
Sayap.
Otot.
Naluri.
Kemampuan memilih arah.
Layang-layang memiliki cara berbeda.
Ini mengajarkan:
jangan meniru bentuk kebebasan orang lain tanpa memahami struktur yang menopangnya.
Seseorang terlihat bebas bekerja sendiri.
Mungkin ia memiliki disiplin bertahun-tahun.
Seseorang terlihat bebas secara ekonomi.
Mungkin ia telah lama mengatur pengeluaran.
Seseorang terlihat tenang membuat keputusan.
Mungkin ia telah belajar menerima konsekuensi.
Kita sering melihat kebebasannya.
Tidak melihat latihan di belakangnya.
꧁ RAHASIA TALI DALAM DIRI ꧂
Ada tali yang tidak dipegang orang lain.
Kita sendiri yang harus memegangnya.
Misalnya:
bangun ketika harus bangun,
berhenti ketika sesuatu sudah berlebihan,
menjaga ucapan meskipun marah,
menabung meskipun ingin membeli,
belajar meskipun tidak ada yang mengawasi,
menjaga ibadah bukan hanya ketika suasana hati baik.
Inilah disiplin diri.
Orang yang tidak mampu memegang tali dirinya sering membutuhkan dunia luar untuk terus menahannya.
꧁ KETIKA TALI MEMANG HARUS DIPUTUS ꧂
Sama’ bertanya kepada Hadi:
“Apakah ada tali yang benar-benar harus diputus?”
Hadi menjawab:
“Ada.”
“Tali apa?”
“Tali yang mengikatmu kepada kebiasaan buruk.”
“Tali dendam.”
“Tali kebohongan.”
“Tali ketergantungan yang merusak.”
“Tali rasa takut yang tidak lagi menjaga, hanya memenjarakan.”
“Tali kepada orang yang memaksa, menyakiti, dan tidak menghormati keselamatanmu.”
Sama’ bertanya:
“Bagaimana membedakan tali penjaga dan tali penjara?”
Hadi menjawab:
“Lihat ke mana ia membawamu, bagaimana ia memperlakukanmu, dan apakah ia menjaga kehidupan atau justru menghancurkannya.”
꧁ EMPAT TANDA TALI YANG SEHAT ꧂
Pertama — Memberi arah, bukan menghapus kehendak.
Batas yang sehat membantu memilih, bukan menjadikan manusia benda.
Kedua — Dapat dijelaskan alasannya.
Aturan yang baik memiliki tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga — Ada ruang pertumbuhan.
Semakin matang seseorang, kepercayaan dan ruang dapat bertambah.
Keempat — Menjaga, bukan mempermalukan.
Disiplin bertujuan memperbaiki, bukan menghancurkan harga diri.
꧁ RAHASIA ORANG TUA DAN ANAK ꧂
Amin pernah berkata kepada Yusuf:
“Ketika anak kecil belajar, talinya pendek.”
“Ketika makin mampu, tali dapat diberikan lebih panjang.”
Yusuf bertanya:
“Kenapa tidak langsung dilepas?”
“Karena kebebasan juga perlu kemampuan.”
“Kalau tidak pernah dilepas lebih panjang?”
“Anak tidak belajar.”
Maka mendidik bukan hanya memberi batas.
Tetapi juga perlahan memberikan tanggung jawab.
Batas tanpa ruang melahirkan ketergantungan.
Ruang tanpa bimbingan dapat melahirkan kekacauan.
Keduanya perlu berjalan bersama.
꧁ RAHASIA JANJI ꧂
Janji adalah salah satu tali paling halus.
Ketika seseorang berkata:
“Aku akan datang.”
“Aku akan membayar.”
“Aku akan menjaga.”
“Aku akan mengerjakan.”
Ia mengikat sebagian kebebasannya sendiri.
Bukan karena kehilangan martabat.
Tetapi karena ia memilih menjadi manusia yang dapat dipercaya.
Orang yang menganggap setiap janji sebagai penghalang kebebasan akhirnya bisa memiliki banyak pilihan tetapi sedikit kepercayaan dari orang lain.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH ENAM ꧂
“Ora kabeh tali iku pakunjaran. Ana tali sing njaga supaya kowe ora keseret angin.”
Artinya:
Tidak semua tali adalah penjara. Ada tali yang menjaga agar engkau tidak terseret angin.
Dan:
“Merdeka iku dudu ora duwe wates. Merdeka iku bisa milih dalan kanthi sadar lan gelem nanggung akibaté.”
Merdeka bukan berarti tidak mempunyai batas. Merdeka adalah mampu memilih jalan dengan sadar dan bersedia menanggung akibatnya.
꧁ RAHASIA ANGIN ꧂
Angin adalah pralambang keadaan yang terus berubah.
Keinginan.
Tren.
Pujian.
Tekanan kelompok.
Kesempatan.
Ketakutan.
Semua dapat bertiup seperti angin.
Jika tidak mempunyai pegangan, manusia mudah terseret.
Hari ini ingin ke satu arah karena semua orang menuju sana.
Besok berpindah karena suara lain lebih keras.
Orang yang mempunyai nilai dan disiplin tidak berarti tidak terpengaruh.
Ia tetap merasakan angin.
Tetapi tidak harus mengikuti semua arah angin.
꧁ KEMBALI KE LANGIT YANG SAMA DENGAN HATI BERBEDA ꧂
Musim angin berikutnya tiba.
Sama’ kembali diterbangkan sangat tinggi.
Tali menegang.
Dulu ia membencinya.
Sekarang ia merasakan tarikan itu dengan berbeda.
Ia berkata:
“Di bawah sana ada rumahku.”
Hadi yang terbang tidak jauh berkata:
“Masih ingin memutus?”
Sama’ tertawa.
“Tidak hari ini.”
“Karena takut jatuh?”
“Bukan hanya itu.”
“Lalu?”
“Karena sekarang aku tahu bahwa hubungan dengan bumi tidak membuat langitku menjadi lebih kecil.”
꧁ KETIKA ANGIN MENJADI TERLALU BESAR ꧂
Tiba-tiba angin membesar.
Amin melihat awan bergerak cepat.
Ia mulai menggulung tali.
Sama’ turun.
Dulu ia akan berpikir:
“Kenapa diturunkan? Aku masih ingin terbang.”
Sekarang ia memahami.
Ada saatnya turun bukan kekalahan.
Melainkan perlindungan.
Beberapa menit setelah seluruh layang-layang diturunkan, badai besar datang.
Sama’ berada aman di bengkel.
Ia melihat hujan melalui jendela.
Dan untuk pertama kalinya ia bersyukur karena seseorang berani berkata:
“Cukup. Sekarang waktunya pulang.”
꧁ RAHASIA KATA “CUKUP” ꧂
Ada kebebasan dalam mampu berkata:
“Cukup.”
Cukup bekerja untuk hari ini.
Cukup membeli.
Cukup membalas perdebatan.
Cukup mengejar pengakuan.
Cukup memaksakan tubuh.
Cukup menonton sesuatu yang menghabiskan waktu.
Manusia yang tidak mampu berkata cukup dapat terus bergerak tetapi kehilangan kendali.
Batas tidak selalu mengambil kebahagiaan.
Kadang bataslah yang membuat nikmat tetap menjadi nikmat.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH ENAM ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Amin semakin tua.
Yusuf mengambil alih bengkel.
Sama’ tidak lagi sering diterbangkan karena kertasnya mulai rapuh.
Ia digantung di dinding.
Di bawahnya Yusuf menulis:
“Layang-layang ini pernah mengira tali adalah musuhnya.”
Anak-anak yang datang sering bertanya:
“Lalu kenapa talinya masih disimpan?”
Yusuf menjawab:
“Karena justru tali itulah yang membantu ia pulang.”
Suatu hari seorang anak bertanya:
“Kalau aku ingin bebas, apa aku harus punya tali?”
Yusuf tersenyum.
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Engkau harus tahu mana tali yang menjaga dan mana tali yang mengekang.”
“Bagaimana caranya?”
Yusuf menunjuk langit.
“Belajar.”
“Dengar orang yang bijak.”
“Periksa akibat.”
“Kenali dirimu.”
“Dan jangan mengambil keputusan hanya karena sesuatu terasa membatasi keinginanmu.”
Anak itu masih belum sepenuhnya mengerti.
Yusuf lalu mengambil layang-layang baru.
Ia menerbangkannya.
Tali dilepas sedikit demi sedikit.
Layang-layang naik.
Anak itu berkata:
“Kalau talinya tidak ditarik, dia bisa naik jauh.”
Yusuf menjawab:
“Benar.”
“Kalau diputus?”
Yusuf memandang langit.
Kemudian berkata:
“Naik jauh belum tentu berarti menuju arah yang benar.”
Anak itu diam.
Di atas mereka, layang-layang menari.
Tali terlihat sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun tetap menghubungkan langit dan bumi.
Dan di situlah tersembunyi satu rahasia kehidupan:
manusia membutuhkan ruang untuk tumbuh,
tetapi juga membutuhkan nilai yang menjaganya.
Membutuhkan kebebasan,
tetapi juga tanggung jawab.
Membutuhkan keberanian melepaskan ikatan yang merusak,
namun juga kebijaksanaan untuk tidak memutus komitmen baik hanya karena sesaat terasa berat.
Sebab kebebasan tanpa arah dapat berubah menjadi hanyut.
Dan aturan tanpa ruang dapat berubah menjadi penjara.
Maka carilah keseimbangannya.
Pegang yang harus dipegang.
Longgarkan yang perlu dilonggarkan.
Putuskan yang memang merusak.
Dan rawat ikatan yang membuatmu tetap dapat pulang.
Karena tidak semua yang menghubungkanmu dengan bumi menghalangi perjalanan menuju langit.
Ada tali yang justru membuat sayap kertas mampu bertahan menghadapi angin.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السادسة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH ENAM
“Aja cepet nyebut kabeh tali minangka pakunjaran. Delengen dhisik: apa tali iku nyegah kowe urip, utawa njaga supaya kowe ora keseret.”
Jangan cepat menyebut semua tali sebagai penjara. Periksalah dahulu: apakah tali itu menghalangimu hidup, atau menjaga agar engkau tidak terseret.
“Langit iku jembar, nanging wong sing pengin mabur uga kudu ngerti dalan bali.”
Langit itu luas, tetapi siapa yang ingin terbang juga harus mengetahui jalan pulang.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH TUJUH
“TANGGA YANG SELALU DIPINDAHKAN KETIKA TINGGAL SATU ANAK TANGGA”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota tua yang dipenuhi rumah-rumah beratap tinggi, tinggallah seorang pemuda bernama Nashir.
Nashir mempunyai banyak kemampuan.
Ia cepat belajar.
Cepat memahami.
Cepat bersemangat.
Jika melihat orang membuat meja, ia ingin menjadi tukang kayu.
Jika mendengar orang berdagang, ia ingin membuka toko.
Jika bertemu penulis, ia ingin menulis buku.
Jika melihat kebun yang indah, ia ingin bertani.
Orang-orang berkata:
“Nashir berbakat.”
Dan memang benar.
Masalahnya bukan pada kemampuannya untuk memulai.
Masalahnya adalah:
ia hampir selalu berhenti sebelum selesai.
Di halaman rumahnya terdapat sebuah bangunan kecil dengan atap sangat tinggi.
Atap itu bocor.
Setiap hujan, air masuk.
Ibunya berkata:
“Nak, perbaikilah.”
Nashir menjawab:
“Tentu.”
Ia membeli tangga.
Hari pertama ia naik tiga anak tangga.
Hari kedua lima.
Hari ketiga hampir mencapai atap.
Namun dari atas ia melihat rumah tetangganya sedang dicat.
Warnanya sangat indah.
Nashir turun.
Ia berkata:
“Sepertinya rumah kita lebih baik dicat dahulu.”
Tangga dipindahkan ke dinding lain.
Atap tetap bocor.
꧁ PROYEK BARU YANG SELALU TERASA LEBIH INDAH ꧂
Nashir membeli cat.
Hari pertama ia mengecat satu dinding.
Hari kedua setengah dinding lainnya.
Hari ketiga ia mendengar seorang saudagar bercerita tentang keuntungan menjual rempah-rempah.
Nashir berpikir:
“Cat bisa menunggu. Ini kesempatan besar.”
Ia meninggalkan kuas.
Membeli rempah.
Membuat rak.
Membuka usaha kecil.
Dua minggu kemudian seorang temannya datang membawa alat ukir.
Nashir terpikat.
“Indah sekali.”
Temannya berkata:
“Kalau kau belajar, mungkin cepat bisa.”
Nashir langsung belajar mengukir.
Toko rempah menjadi sepi.
Cat mengering di kaleng.
Tangga berdebu.
Dan ketika musim hujan datang—
atap masih bocor.
꧁ IBUNYA MELETAKKAN EMBER ꧂
Malam itu hujan sangat lebat.
Air menetes dari atap.
Tik.
Tik.
Tik.
Ibunya meletakkan ember.
Nashir berkata:
“Besok akan kuperbaiki.”
Ibunya tidak marah.
Ia hanya berkata:
“Sudah berapa kali kau mengatakan besok?”
Nashir terdiam.
Ibunya menunjuk ember.
“Air ini tidak jatuh karena kau tidak punya kemampuan memperbaiki atap.”
“Lalu?”
“Air ini jatuh karena kemampuanmu selalu pergi ke pekerjaan berikutnya sebelum pekerjaan sebelumnya selesai.”
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada teguran.
꧁ TUKANG TANGGA ꧂
Keesokan pagi Nashir membawa tangganya kepada seorang tukang tua bernama Tsabit.
“Paman, periksa tangga ini.”
Tsabit melihat.
“Tidak rusak.”
“Kenapa aku tidak pernah sampai?”
Tsabit menatapnya.
“Kau jatuh?”
“Tidak.”
“Takut ketinggian?”
“Tidak.”
“Anak tangganya patah?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa tangganya disalahkan?”
Nashir terdiam.
Tsabit berkata:
“Bawa aku ke rumahmu.”
Mereka pergi.
Tsabit melihat bekas-bekas proyek Nashir.
Dinding setengah dicat.
Rak toko setengah kosong.
Ukiran setengah selesai.
Atap bocor.
Ia tertawa kecil.
“Rumahmu penuh dengan permulaan.”
Nashir malu.
꧁ SATU ANAK TANGGA TERAKHIR ꧂
Tsabit meletakkan tangga di bawah bagian atap yang bocor.
“Naik.”
Nashir naik.
Satu.
Dua.
Tiga.
Semakin tinggi.
Ketika tinggal satu anak tangga untuk mencapai atap, ia melihat dari kejauhan kerumunan orang sedang membangun sesuatu.
Nashir berkata:
“Paman, sepertinya ada proyek baru di alun-alun.”
Tsabit menjawab:
“Dan?”
“Mungkin aku bisa melihat sebentar.”
Tsabit menatapnya.
“Turun kalau kau memang ingin turun.”
Nashir terkejut.
“Kau tidak melarang?”
“Tidak.”
“Tapi atap?”
“Bocor seperti kemarin.”
Nashir memandang kerumunan.
Lalu atap.
Untuk pertama kalinya ia menyadari pola hidupnya.
Setiap kali hampir menyelesaikan sesuatu, hal baru terasa lebih menarik.
Ia menarik napas.
Menginjak anak tangga terakhir.
Naik ke atap.
Dan memperbaiki kebocoran.
Pekerjaan itu ternyata hanya membutuhkan waktu tidak terlalu lama.
Ketika selesai, Nashir duduk di atas atap.
Ia tertawa sendiri.
“Selama ini aku membiarkan hujan masuk berbulan-bulan untuk pekerjaan yang bisa selesai dalam satu pagi.”
Tsabit menjawab dari bawah:
“Banyak beban menjadi panjang bukan karena pekerjaannya terlalu besar, tetapi karena kita terlalu sering meninggalkannya sebelum tuntas.”
꧁ RAHASIA SEMANGAT AWAL ꧂
Setelah turun, Nashir bertanya:
“Kenapa memulai selalu terasa menyenangkan?”
Tsabit menjawab:
“Karena awal penuh kemungkinan.”
“Dan akhir?”
“Akhir menuntut kesetiaan.”
Nashir terdiam.
Tsabit melanjutkan:
“Ketika memulai, engkau masih bisa membayangkan semuanya sempurna.”
“Ketika sudah berjalan, muncul kesulitan.”
“Kebosanan.”
“Kesalahan.”
“Bagian yang tidak menarik.”
“Di situlah banyak orang berpaling kepada sesuatu yang baru agar dapat merasakan semangat awal sekali lagi.”
Nashir berkata:
“Jadi mencari hal baru buruk?”
“Tidak.”
“Tapi?”
“Hal baru menjadi pelarian jika engkau memakainya untuk terus menghindari bagian sulit dari hal lama.”
꧁ TIGA JENIS PEKERJAAN ꧂
Tsabit kemudian memberi Nashir tiga papan kayu.
Pada papan pertama ia menulis:
SELESAIKAN.
Pada kedua:
HENTIKAN DENGAN SADAR.
Pada ketiga:
SIMPAN UNTUK NANTI.
Nashir bertanya:
“Kenapa tidak semuanya harus selesai?”
Tsabit menjawab:
“Karena istiqamah bukan keras kepala.”
“Ada pekerjaan yang memang harus diteruskan.”
“Ada yang setelah diperiksa ternyata salah, boros, atau tidak lagi berguna.”
“Itu boleh dihentikan.”
“Dan ada ide baik yang belum waktunya.”
“Simpan.”
Nashir mulai memahami.
Menuntaskan bukan berarti memaksa seluruh hal yang pernah dimulai.
Yang penting adalah:
jangan meninggalkan sesuatu secara tidak sadar hanya karena semangat baru datang.
꧁ DINDING SETENGAH CAT ꧂
Nashir berdiri di depan dinding.
“Apa yang harus kulakukan?”
Tsabit bertanya:
“Apakah masih perlu dicat?”
“Ya.”
“Apakah ada biaya?”
“Sudah ada.”
“Apakah ada pekerjaan lebih mendesak?”
“Tidak.”
“Berarti?”
“Selesaikan.”
Nashir mengambil kuas.
Hari pertama menyelesaikan satu sisi.
Hari kedua sisi berikutnya.
Pada hari ketiga ia mulai bosan.
Tiba-tiba seorang penjual alat musik lewat.
Nashir tertarik.
Tangannya hampir meletakkan kuas.
Namun ia berkata kepada dirinya:
“Tidak semua ketertarikan membutuhkan tindakan hari ini.”
Ia mencatat:
“Belajar alat musik — nanti.”
Lalu kembali mengecat.
Dinding selesai.
Ada kepuasan yang berbeda.
Tidak seledak semangat memulai.
Tetapi lebih dalam.
꧁ TOKO REMPAH YANG HARUS DIPUTUSKAN ꧂
Kemudian Nashir memeriksa toko rempah.
Ia bertanya:
“Apakah aku benar-benar ingin berdagang?”
Setelah jujur, jawabannya:
“Tidak terlalu.”
Ia hanya terbawa cerita keuntungan orang lain.
Tsabit berkata:
“Kalau begitu jangan pertahankan hanya karena sudah dimulai.”
Nashir menjual stok dengan tertib.
Melunasi kewajiban.
Menutup usaha.
Ia berkata:
“Aku gagal.”
Tsabit menggeleng.
“Menutup sesuatu yang setelah diperiksa memang bukan jalanmu berbeda dengan meninggalkan sesuatu karena bosan.”
Nashir mengerti.
Ada pekerjaan yang diselesaikan dengan menuntaskannya.
Ada pula yang diselesaikan dengan menutupnya secara bertanggung jawab.
꧁ UKIRAN SETENGAH JADI ꧂
Ukiran berbeda.
Nashir sebenarnya mencintainya.
Ia hanya berhenti ketika bagian sulit datang.
Ia kembali kepada temannya.
“Aku ingin melanjutkan.”
Temannya berkata:
“Sudah lama.”
“Aku tahu.”
“Harus mulai beberapa bagian lagi.”
“Tidak apa-apa.”
Nashir belajar.
Hari demi hari.
Tidak selalu semangat.
Kadang hanya satu jam.
Kadang sedikit.
Namun ia terus kembali.
Bulan kemudian ukiran pertama selesai.
Tidak sempurna.
Ada garis miring.
Ada bagian kasar.
Namun ia menyimpannya.
Karena itu adalah benda pertama yang mengajarkannya:
selesai lebih mendidik daripada sempurna yang hanya tinggal dalam bayangan.
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH TUJUH ꧂
Banyak orang bukan kekurangan ide.
Mereka kekurangan kesetiaan kepada satu arah yang sudah dipilih dengan benar.
Awal selalu menarik.
Resolusi baru.
Program baru.
Buku baru.
Usaha baru.
Latihan baru.
Namun buah jarang tumbuh pada hari pertama.
Ada masa biasa.
Ada pengulangan.
Ada kejenuhan.
Ada bagian yang tidak dipuji siapa pun.
Di situlah istiqamah bekerja.
꧁ RAHASIA TANGGA ꧂
Tangga adalah perlambang proses bertahap.
Tidak ada satu anak tangga yang tampak sangat besar.
Namun jika terus dinaiki, seseorang berpindah ketinggian.
Begitu pula:
belajar sedikit setiap hari,
menabung sedikit,
melatih keterampilan,
menata kesehatan,
memperbaiki hubungan,
membangun karya.
Hasil besar sering merupakan tumpukan langkah yang tidak terlihat luar biasa ketika dilakukan satu per satu.
꧁ RAHASIA ANAK TANGGA TERAKHIR ꧂
Ada masa ketika seseorang justru ingin menyerah saat hampir selesai.
Kenapa?
Karena penyelesaian membawa konsekuensi.
Karya selesai berarti bisa dinilai.
Usaha selesai berarti hasilnya nyata.
Keputusan selesai berarti pilihan lain harus dilepas.
Karena itu sebagian orang tanpa sadar menjaga sesuatu tetap “dalam proses” agar tidak pernah menghadapi penilaian akhir.
Maka tanyakan:
“Apakah aku benar-benar belum siap, atau aku takut melihat hasil sebenarnya?”
꧁ RAHASIA KEBOSANAN ꧂
Kebosanan bukan selalu tanda salah jalan.
Kadang hanya tanda bahwa sesuatu telah memasuki fase rutin.
Petani tidak menggali benih setiap pagi untuk mencari sensasi baru.
Ia menyiram.
Mengulang.
Menunggu.
Istiqamah banyak dibangun dari pekerjaan yang tidak selalu menggembirakan.
Namun jangan pula menggunakan istiqamah untuk membenarkan sesuatu yang jelas merusak.
Periksa arah secara berkala.
Jika benar, lanjutkan.
Jika salah, koreksi.
꧁ RAHASIA IDE BARU ꧂
Ide baru tidak harus dibunuh.
Catat.
Simpan.
Biarkan beberapa hari.
Tanyakan:
“Apakah ini benar-benar panggilan baru, atau hanya pelarian dari bagian sulit pekerjaan sekarang?”
Jika setelah diperiksa masih baik, jadwalkan.
Dengan begitu, kreativitas tidak hilang.
Namun ia juga tidak merampas tenaga dari setiap amanah yang belum selesai.
꧁ EMPAT PERTANYAAN SEBELUM MEMINDAHKAN TANGGA ꧂
Sebelum meninggalkan sebuah pekerjaan, tanyakan:
Pertama — Apakah arah awalnya masih benar?
Jika tidak, berani koreksi.
Kedua — Apakah ada alasan nyata untuk berhenti, atau aku hanya sedang bosan?
Beda besar.
Ketiga — Apa biaya jika kutinggalkan sekarang?
Waktu, uang, kepercayaan, atau amanah mungkin ikut terbuang.
Keempat — Apakah pekerjaan baru benar-benar lebih penting atau hanya lebih menarik?
Yang menarik belum tentu yang penting.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH TUJUH ꧂
“Aja kerep mindhah tangga nalika pucuk wis cedhak.”
Artinya:
Jangan terlalu sering memindahkan tangga ketika puncak sudah dekat.
Dan:
“Semangat mbukak lawang, nanging istiqamah sing nggawa sikil nganti tekan njero.”
Semangat membuka pintu, tetapi istiqamahlah yang membawa kaki benar-benar masuk ke dalam.
꧁ RAHASIA “SELESAI” ꧂
Selesai bukan berarti sempurna.
Ada pekerjaan selesai dengan kekurangan.
Ada buku selesai dan masih perlu revisi.
Ada bangunan selesai lalu butuh pemeliharaan.
Ada pendidikan selesai di satu tingkat tetapi belajar terus berlangsung.
Kata selesai hanya berarti:
satu amanah telah mencapai bentuk yang cukup utuh untuk memasuki tahap berikutnya.
Orang yang menunggu sempurna sebelum menyelesaikan bisa tidak pernah sampai.
꧁ NASHIR MULAI MEMILIH LEBIH SEDIKIT ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Nashir tidak lagi mempunyai dua puluh proyek sekaligus.
Ia memilih sedikit.
Namun lebih banyak selesai.
Orang bertanya:
“Bukankah dulu engkau jauh lebih banyak melakukan hal?”
Nashir menjawab:
“Dulu aku banyak memulai.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku belajar membangun.”
Perbedaan itu tampak kecil.
Tetapi sangat besar.
꧁ MURID YANG MEMBAWA SEPULUH TANGGA ꧂
Suatu hari seorang pemuda datang kepada Nashir.
Ia membawa banyak rencana.
“Aku ingin menjadi pedagang.”
“Penulis.”
“Penenun.”
“Pembuat kapal.”
“Guru.”
“Petani.”
“Dan mungkin pengembara.”
Nashir tersenyum.
Ia melihat dirinya dahulu.
“Bagus. Banyak ketertarikan bukan dosa.”
“Jadi aku mulai semuanya?”
Nashir mengambil satu tangga.
Meletakkannya pada dinding.
“Pilih satu yang paling layak dimulai sekarang.”
“Yang lain?”
“Catat.”
“Kalau aku takut kehilangan kesempatan?”
Nashir berkata:
“Kadang manusia kehilangan lebih banyak kesempatan karena terlalu banyak membuka pintu sampai tidak pernah benar-benar memasuki satu ruangan pun.”
꧁ RAHASIA ISTIQAMAH ꧂
Istiqamah bukan berarti gerakan besar setiap hari.
Ada hari engkau mampu banyak.
Ada hari hanya sedikit.
Yang penting arah tidak selalu diganti setiap kali perasaan berubah.
Satu halaman.
Satu langkah.
Satu perbaikan.
Satu latihan.
Kadang itu cukup.
Konsistensi kecil yang hidup lebih berguna daripada ledakan besar yang hanya berlangsung tiga hari.
꧁ KETIKA HUJAN DATANG LAGI ꧂
Bertahun-tahun setelah atap pertama diperbaiki, hujan besar datang.
Nashir sudah memiliki keluarga.
Anaknya berkata:
“Ayah, ada sedikit bocor.”
Nashir melihat.
Satu genteng bergeser.
Ia mengambil tangga.
Anaknya bertanya:
“Besok saja?”
Nashir tersenyum.
Ia teringat ibunya.
“Kalau bisa diperbaiki dengan aman sekarang, kita selesaikan.”
Mereka naik.
Memperbaiki.
Turun.
Tidak ada ember yang perlu diletakkan malam itu.
Nashir memandang atap dengan rasa syukur.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang sederhana:
banyak ketenangan bukan datang dari hidup tanpa masalah.
Tetapi dari kebiasaan menyelesaikan masalah kecil sebelum berubah menjadi urusan panjang.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH TUJUH ꧂
Manusia tidak harus menyelesaikan semuanya.
Tidak semua gagasan harus diwujudkan.
Tidak semua jalan harus ditempuh.
Tidak semua pintu harus dimasuki.
Tetapi ketika sebuah amanah telah dipilih dengan pertimbangan yang benar, jangan terlalu mudah meninggalkannya hanya karena bagian awal yang menyenangkan telah selesai.
Jangan mencari semangat baru setiap kali pekerjaan memasuki musim sepi.
Ada masa menanam.
Ada masa merawat.
Ada masa menunggu.
Dan ada masa menuntaskan.
Jika arah masih benar, naiklah satu anak tangga lagi.
Jika lelah, beristirahatlah tanpa memindahkan tangga.
Jika perlu bantuan, mintalah.
Jika cara salah, perbaiki.
Jika tujuan ternyata keliru, turunlah dengan sadar.
Tetapi jangan terus-menerus membangun kehidupan dari tumpukan pekerjaan setengah jadi hanya karena hal baru selalu tampak lebih berkilau.
Sebab tidak semua cahaya yang berkilau di kejauhan adalah jalan baru yang harus dikejar.
Kadang amanahmu justru berada tepat di hadapanmu:
satu anak tangga terakhir yang selama ini selalu kau tinggalkan.
Maka ketika tanganmu ingin memindahkan tangga sekali lagi, berhentilah sejenak.
Lihat ke atas.
Lihat ke bawah.
Tanyakan:
“Apakah aku sedang mengubah arah karena hikmah, atau hanya melarikan diri dari bagian yang membutuhkan kesetiaan?”
Jika jawabannya hanya kebosanan—
bertahanlah sedikit lagi.
Bisa jadi di balik satu langkah terakhir itulah tersimpan pelajaran yang tidak pernah bisa diberikan oleh seribu permulaan baru.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة السابعة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH TUJUH
“Akeh miwiti durung mesthi akeh ngasilake. Woh kerep teka marang wong sing gelem ngopeni nganti rampung.”
Banyak memulai belum tentu banyak menghasilkan. Buah sering datang kepada orang yang bersedia merawat sesuatu sampai tuntas.
“Yen tanggamu wis ana ing dalan kang bener, aja dipindhah mung amarga anak tangga pungkasan ora maneh nyenengake.”
Jika tanggamu telah berada pada jalan yang benar, jangan memindahkannya hanya karena anak tangga terakhir tidak lagi terasa menyenangkan.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH DELAPAN
“MENARA BAMBU YANG SELAMAT KARENA TIDAK MALU BERGOYANG”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri yang terletak di antara laut dan pegunungan, berdirilah sebuah desa bernama Wadi ar-Rīḥ — Lembah Angin.
Nama itu diberikan bukan tanpa alasan.
Angin di sana dapat berubah dengan cepat.
Pagi lembut.
Siang kencang.
Sore tenang.
Malam kadang datang membawa badai dari arah laut.
Penduduk desa telah hidup bersama angin selama berabad-abad.
Rumah-rumah mereka tidak terlalu tinggi.
Atap dibuat miring.
Pepohonan ditanam berkelompok.
Dan di tengah desa berdiri sebuah menara pengawas yang sangat aneh.
Menara itu tidak terbuat dari batu.
Tidak dari besi.
Tidak pula dari kayu besar.
Ia terbuat dari bambu.
Batang-batang bambu diikat silang.
Tali-tali kuat menghubungkan satu bagian dengan bagian lain.
Ketika angin datang, menara itu bergoyang.
Ke kiri.
Ke kanan.
Kadang cukup jauh.
Orang yang pertama kali melihat sering ketakutan.
“Menara itu hampir roboh!”
Namun penduduk lama hanya tersenyum.
Sebab menara itu telah berdiri puluhan tahun.
Penjaganya bernama Salim.
Seorang lelaki tua yang selalu berkata:
“Menara ini bertahan bukan karena ia menolak angin, tetapi karena ia tahu bagaimana menerima tenaga angin tanpa kehilangan akarnya.”
꧁ PEMUDA YANG MALU MELIHAT MENARA BERGOYANG ꧂
Di desa itu hidup seorang pemuda bernama Jabir.
Ia baru pulang setelah belajar membangun di kota besar.
Di sana ia melihat gedung batu.
Menara tinggi.
Tiang-tiang kokoh.
Ia kembali ke desa membawa banyak pengetahuan baru.
Ketika melihat menara bambu, ia merasa malu.
“Ini sudah kuno.”
Salim bertanya:
“Apanya?”
“Menaranya.”
“Masih berfungsi?”
“Berfungsi.”
“Masih aman?”
“Sejauh ini.”
“Lalu?”
Jabir menunjuk menara yang sedang digoyang angin.
“Lihat! Ia bergerak.”
Salim tertawa.
“Memangnya kenapa?”
“Bangunan yang kuat seharusnya diam.”
Salim menjawab:
“Benarkah semua yang kuat harus diam ketika dunia bergerak?”
Jabir tidak menjawab.
꧁ MENARA BATU ꧂
Jabir kemudian mengusulkan pembangunan menara baru.
“Buat dari batu.”
“Lebih tinggi.”
“Lebih kokoh.”
“Tidak bergoyang.”
Beberapa penduduk setuju.
Mereka ingin desa terlihat maju.
Maka dibangunlah menara batu di samping menara bambu.
Pondasinya besar.
Dindingnya tebal.
Puncaknya dihiasi ukiran.
Ketika selesai, orang bersorak.
Menara batu berdiri tegak.
Angin bertiup.
Ia tidak bergerak sedikit pun.
Jabir tersenyum bangga.
“Lihat, Paman Salim. Inilah keteguhan.”
Salim memandang kedua menara.
Kemudian berkata:
“Semoga benar.”
Jabir merasa Salim hanya iri.
꧁ ANGIN PERTAMA ꧂
Beberapa minggu kemudian datang angin kencang.
Menara bambu bergoyang.
Menara batu tetap diam.
Jabir berkata:
“Sudah terbukti.”
Namun Salim justru turun dari menara bambu dan memeriksa semua ikatan.
Jabir bertanya:
“Kenapa diperiksa? Bukankah sudah puluhan tahun berdiri?”
Salim menjawab:
“Lentur bukan berarti boleh lalai.”
Ia mengencangkan tali.
Mengganti satu ruas bambu yang mulai lapuk.
Memperbaiki satu sambungan.
Jabir berkata:
“Menara batu tidak membutuhkan semua itu.”
Salim menjawab:
“Setiap bangunan membutuhkan perawatan. Hanya bentuk perawatannya berbeda.”
꧁ BADAI BESAR DARI LAUT ꧂
Pada akhir musim datang kabar dari nelayan:
“Badai besar sedang menuju lembah.”
Penduduk mulai bersiap.
Atap diperkuat.
Perahu ditarik ke daratan.
Hewan dimasukkan kandang.
Jabir naik ke menara batu.
“Aku akan berjaga dari sini.”
Salim berkata:
“Turun jika angin mulai terlalu besar.”
Jabir menjawab:
“Menara ini kuat.”
Salim berkata:
“Yang kuat pun memiliki batas.”
Namun Jabir tetap percaya.
Malam turun.
Badai datang.
Angin menghantam lembah.
Wuuusshhh!
Pohon-pohon bergerak.
Atap bergetar.
Menara bambu mulai bergoyang sangat jauh.
Jabir melihat dari menara batu.
Ia tertawa tegang.
“Sebentar lagi bambu itu patah.”
Tetapi setiap kali angin menghantam—
menara bambu membungkuk.
Lalu kembali.
Membungkuk.
Lalu kembali.
Tidak melawan seluruh tenaga angin.
꧁ SUARA RETAK ꧂
Beberapa saat kemudian terdengar suara kecil dari dinding menara batu.
Krek.
Jabir menoleh.
Ada garis tipis.
Ia menyentuhnya.
“Tidak apa-apa.”
Angin menghantam lagi.
KRAK!
Retakan membesar.
Jabir mulai panik.
Menara batu tidak bergerak.
Tetapi seluruh tekanan angin diterima oleh tubuhnya.
Dinding yang sangat kaku mulai menyimpan beban.
Salim berteriak dari bawah:
“Jabir! Turun!”
Jabir berlari menuju tangga.
Ketika ia sampai tanah, bagian atas menara batu retak besar.
Tidak seluruhnya roboh.
Namun cukup untuk membuat semua orang sadar:
tidak bergerak bukan selalu tanda tidak terluka.
꧁ PAGI SETELAH BADAI ꧂
Badai berlalu.
Desa rusak di beberapa tempat.
Pohon tumbang.
Atap terlepas.
Menara batu retak.
Menara bambu masih berdiri.
Miring sedikit.
Beberapa tali putus.
Satu batang patah.
Tetapi strukturnya tetap utuh.
Jabir berdiri menatapnya.
“Bagaimana mungkin?”
Salim berkata:
“Karena menara bambu tidak mempunyai cita-cita untuk membuktikan bahwa angin tidak dapat menggerakkannya.”
Jabir diam.
Salim melanjutkan:
“Ia bergerak supaya tidak harus patah.”
꧁ MEMBUNGKUK TIDAK SAMA DENGAN MENYERAH ꧂
Jabir bertanya:
“Berarti kita harus selalu mengikuti tekanan?”
Salim menggeleng.
“Tidak.”
“Bukankah bambu mengikuti angin?”
“Lihat akarnya.”
Jabir memandang bagian bawah.
Menara tetap tertambat kuat.
Salim berkata:
“Bagian atas bergerak.”
“Dasarnya tetap.”
“Di situlah rahasianya.”
“Yang lentur adalah cara menghadapi tekanan. Yang dijaga adalah dasar.”
Jabir mulai memahami.
Fleksibel bukan berarti tidak memiliki prinsip.
Menyesuaikan cara tidak sama dengan menjual nilai.
꧁ BATANG BAMBU DAN BATU ꧂
Salim membawa Jabir ke sungai.
Ia mengambil sebatang bambu kecil dan sepotong ranting kering.
“Bengkokkan bambu.”
Jabir melakukannya.
Bambu melengkung.
Kemudian kembali.
“Sekarang ranting.”
Jabir membengkokkannya.
Krek.
Patah.
Salim berkata:
“Ranting itu keras.”
“Tapi rapuh.”
Jabir menjawab.
Salim mengangguk.
“Kadang manusia menyangka keras adalah lawan dari lemah.”
“Padahal ada sesuatu yang keras sekaligus rapuh.”
“Dan ada sesuatu yang lentur sekaligus kuat.”
꧁ ORANG YANG TIDAK MAU MENGUBAH CARA ꧂
Di desa itu ada seorang petani bernama Qadir.
Ia menanam dengan cara yang sama selama tiga puluh tahun.
Suatu musim pola hujan berubah.
Petani lain memperbaiki saluran.
Mengubah waktu tanam.
Qadir menolak.
“Dari dulu begini.”
Anaknya berkata:
“Tapi keadaan berubah.”
Qadir menjawab:
“Kalau cara lama benar, kenapa harus berubah?”
Hasil panennya menurun.
Ia mengeluh:
“Zaman sekarang rusak.”
Salim berkata:
“Belum tentu nilai lamamu yang salah.”
“Lalu?”
“Mungkin caramu menerapkan nilai itu perlu membaca keadaan baru.”
Qadir akhirnya mencoba memperbaiki saluran.
Tanamannya membaik.
Ia tetap petani.
Tetap menjaga tanah.
Namun cara bekerja berubah.
꧁ ORANG YANG TERLALU MUDAH BERUBAH ꧂
Jabir kemudian berkata:
“Kalau begitu berubah selalu baik.”
Salim segera menggeleng.
“Jangan belajar setengah.”
Ia menunjuk daun kering yang terbang terbawa angin.
“Lihat.”
Daun itu bergerak ke mana pun angin pergi.
“Apakah itu kelenturan?”
Jabir menjawab:
“Mungkin.”
Salim berkata:
“Tidak. Itu kehilangan pegangan.”
Daun tidak memilih.
Hanya terseret.
“Kelenturan yang sehat mempunyai akar. Orang yang mengikuti semua angin bukan lentur; ia kehilangan arah.”
꧁ TIGA BAGIAN YANG HARUS DIBEDAKAN ꧂
Salim menggambar tiga lingkaran di tanah.
Yang pertama:
AKAR.
Yang kedua:
BATANG.
Yang ketiga:
DAUN.
Ia berkata:
“Dalam hidup, bedakan tiga perkara.”
Akar: nilai utama yang tidak mudah dijual.
Kejujuran.
Amanah.
Keimanan.
Keadilan.
Adab.
Batang: prinsip kerja yang menjaga arah tetapi masih dapat dikembangkan.
Daun: bentuk, metode, kebiasaan, alat, gaya, dan cara-cara yang paling mudah berubah.
Jabir berkata:
“Jadi masalah muncul ketika kita memperlakukan daun seperti akar?”
Salim tersenyum.
“Atau akar seperti daun.”
꧁ KETIKA METODE DIANGGAP SUCI ꧂
Salim berkata:
“Sebagian orang menerima satu metode yang pernah berhasil.”
“Kemudian metode itu menjadi kebiasaan.”
“Lama-lama kebiasaan dianggap satu-satunya bentuk kebenaran.”
“Ketika orang mengusulkan cara baru, mereka mengira nilai sedang diserang.”
Jabir bertanya:
“Padahal?”
“Bisa jadi yang berubah hanya bungkus.”
Salim menambahkan:
“Tetapi ada juga orang sebaliknya.”
“Karena mengejar sesuatu yang baru, ia membuang nilai yang sebenarnya harus dijaga.”
“Jadi dua-duanya bisa salah?”
“Ya.”
“Jangan terlalu mencintai bentuk sampai kehilangan ruhnya. Jangan pula mengejar bentuk baru sampai kehilangan akarnya.”
꧁ MENARA BATU TIDAK DIHANCURKAN ꧂
Jabir merasa malu.
“Aku akan merobohkan menara batu.”
Salim berkata:
“Kenapa?”
“Karena gagal.”
“Siapa bilang semuanya gagal?”
Jabir terkejut.
Salim memeriksa struktur.
“Bagian bawah masih baik.”
“Kita bisa memperbaiki.”
“Tambahkan penguat.”
“Beri sambungan yang memungkinkan sedikit pergerakan.”
Jabir bertanya:
“Kita pertahankan?”
“Ya.”
“Bukankah menara bambu lebih baik?”
“Untuk beberapa hal.”
“Menara batu juga mempunyai kelebihan.”
Jabir tersenyum.
Ia kembali belajar:
kebijaksanaan tidak selalu mengganti yang lama dengan yang baru. Kadang ia mengambil kebaikan dari keduanya.
꧁ MENARA KETIGA ꧂
Mereka merancang ulang menara.
Dasarnya batu.
Bagian tengah kayu lentur.
Puncaknya menggunakan struktur bambu.
Jabir berkata:
“Ini bukan menara kota.”
“Bukan juga menara lama desa.”
Salim menjawab:
“Memang.”
“Lalu namanya apa?”
Salim tersenyum.
“Menara yang belajar.”
Ketika angin datang, bangunan baru bergerak sedikit.
Cukup untuk melepaskan tekanan.
Tetapi tetap kokoh.
Jabir berdiri di atasnya dan untuk pertama kalinya tidak malu ketika lantai bergerak sedikit.
Ia berkata:
“Bergerak bukan berarti kehilangan pijakan.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH DELAPAN ꧂
Manusia sering menghadapi keadaan yang berubah.
Usia berubah.
Teknologi berubah.
Pekerjaan berubah.
Keluarga berubah.
Lingkungan berubah.
Kemampuan tubuh berubah.
Jika manusia menuntut semua hal tetap seperti dahulu, ia dapat patah melawan kenyataan.
Namun jika berubah mengikuti segala sesuatu tanpa nilai, ia dapat terseret.
Maka kehidupan membutuhkan dua kemampuan sekaligus:
teguh pada akar, lentur pada cara.
꧁ RAHASIA BAMBU ꧂
Bambu tidak menjadi lemah karena membungkuk.
Ia justru menggunakan kelenturan untuk mengurangi tekanan.
Dalam manusia, kelenturan dapat berarti:
mau mendengar,
mengubah strategi,
mengakui informasi baru,
memperbaiki jadwal,
menyesuaikan peran,
menerima bahwa cara lama tidak selalu cocok untuk setiap keadaan.
Itu bukan kelemahan.
Selama nilai yang benar tidak dikorbankan.
꧁ RAHASIA AKAR ꧂
Kelenturan tanpa akar menjadi mudah terombang-ambing.
Karena itu seseorang perlu mengetahui:
“Apa yang tidak ingin kutukar?”
Kejujuran?
Amanah?
Kesetiaan kepada kebenaran?
Keselamatan?
Adab?
Nilai-nilai itulah akar.
Cara menjalankannya mungkin berubah.
Tetapi akar membuat perubahan tidak kehilangan arah.
꧁ RAHASIA BADAI ꧂
Badai adalah pralambang tekanan hidup.
Tidak semua tekanan harus dilawan secara frontal.
Ada masalah yang diselesaikan dengan ketegasan.
Ada yang membutuhkan kesabaran.
Ada yang perlu ditinggalkan.
Ada yang perlu diterima sementara.
Ada yang perlu dicari jalan memutar.
Kebijaksanaan bukan mempunyai satu tanggapan untuk semua badai.
Kebijaksanaan adalah membaca jenis angin sebelum menentukan cara berdiri.
꧁ RAHASIA MANUSIA YANG TERLALU KAKU ꧂
Kekakuan kadang memakai nama yang mulia:
“Aku konsisten.”
“Aku punya prinsip.”
“Aku tidak berubah.”
Namun perlu diperiksa.
Apakah itu benar-benar prinsip?
Atau hanya ketakutan belajar sesuatu yang baru?
Apakah itu keteguhan?
Atau ego yang tidak mau mengakui metode lama tidak lagi bekerja?
Orang yang matang mampu berkata:
“Nilai ini tetap kujaga, tetapi cara menjalankannya perlu kuperbaiki.”
꧁ RAHASIA MANUSIA YANG TERLALU MUDAH BERUBAH ꧂
Sebaliknya, jangan bangga karena selalu mengikuti yang terbaru.
Baru belum tentu lebih baik.
Populer belum tentu benar.
Banyak orang melakukan sesuatu bukan bukti bahwa kita harus ikut.
Sebelum berubah, tanyakan:
“Apakah ini membuat amanah lebih baik?”
“Apakah lebih benar?”
“Lebih adil?”
“Lebih bermanfaat?”
Atau hanya ingin terlihat mengikuti zaman?
꧁ EMPAT UJIAN KELENTURAN ꧂
Pertama — Bisakah engkau mengubah cara tanpa merasa harga dirimu runtuh?
Mengakui metode kurang tepat tidak membuat manusia menjadi kecil.
Kedua — Bisakah engkau tetap berkata tidak ketika tekanan mengajak pada yang salah?
Kelenturan mempunyai batas.
Ketiga — Bisakah engkau mendengar generasi baru tanpa langsung meremehkannya?
Mereka mungkin melihat keadaan yang tidak pernah kita alami dahulu.
Keempat — Bisakah engkau menghormati pengalaman lama tanpa menjadikannya penjara bagi masa depan?
Yang lama dapat menjadi akar.
Tidak harus menjadi rantai.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH DELAPAN ꧂
“Pring ora kalah nalika mbungkuk. Dheweke mung ngerti carane ora pedhot.”
Artinya:
Bambu tidak kalah ketika membungkuk. Ia hanya mengetahui cara agar tidak patah.
Dan:
“Oyod kudu jejeg, nanging pang kudu ngerti arah angin.”
Akar harus teguh, tetapi ranting perlu memahami arah angin.
꧁ RAHASIA MEMINTA MAAF ꧂
Suatu hari Jabir menemui para pekerja yang dahulu membangun menara batu.
Ia berkata:
“Aku pernah terlalu yakin caraku pasti paling benar.”
Seorang pekerja berkata:
“Tapi ilmu dari kota juga banyak gunanya.”
Jabir mengangguk.
“Benar. Kesalahanku bukan membawa ilmu baru.”
“Lalu?”
“Aku menganggap sesuatu yang berbeda dari pengetahuanku pasti lebih rendah.”
Itulah bentuk kekakuan lain.
Bukan hanya tidak mau berubah.
Tetapi tidak mau percaya bahwa kebenaran praktis dapat datang dari pengalaman orang yang berbeda.
꧁ SALIM MENYERAHKAN TALI ꧂
Salim semakin tua.
Suatu sore ia menyerahkan satu gulung tali pengikat bambu kepada Jabir.
“Untuk apa?”
“Sekarang kau yang merawat menara.”
Jabir berkata:
“Aku sudah mengerti semuanya.”
Salim tertawa.
“Itu kalimat yang berbahaya.”
Jabir ikut tertawa.
“Baik. Aku masih belajar.”
Salim berkata:
“Bagus.”
“Periksa tali setelah badai.”
“Periksa bambu setelah kemarau.”
“Periksa batu setelah getaran.”
“Dan?”
“Periksa juga keyakinanmu setelah menemukan kenyataan baru.”
꧁ KETIKA SALIM WAFAT ꧂
Beberapa tahun kemudian Salim wafat.
Penduduk ingin membuat patung batu untuk mengenangnya.
Jabir berkata:
“Tidak perlu.”
“Lalu bagaimana kita mengenangnya?”
Ia mengambil satu batang bambu.
Menanamnya di dekat menara.
Di bawahnya ditulis:
“Yang teguh tidak harus menjadi keras. Yang lentur tidak harus kehilangan arah.”
Bambu itu tumbuh.
Kemudian bertunas.
Menjadi rumpun.
Setiap badai datang, batang-batangnya bergoyang bersama.
Tidak semuanya sama tinggi.
Tidak semuanya bergerak dengan sudut yang sama.
Namun akar mereka saling menguatkan.
꧁ RAHASIA RUMPUN BAMBU ꧂
Jabir melihat sesuatu.
Satu batang bambu sendirian jauh lebih mudah terguncang.
Dalam rumpun, akarnya saling bertaut.
Ia berkata kepada murid-muridnya:
“Kelenturan pribadi juga memerlukan lingkungan yang baik.”
Manusia membutuhkan:
keluarga,
sahabat,
guru,
masyarakat,
dan orang terpercaya
yang mengingatkan ketika mulai terlalu keras atau terlalu mudah terseret.
Keteguhan bukan selalu pekerjaan seorang diri.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH DELAPAN ꧂
Pada suatu malam badai kembali datang.
Jabir sudah tua.
Ia berdiri di dalam menara yang pernah ia rancang bersama Salim.
Bangunan bergoyang.
Seorang murid muda ketakutan.
“Guru, menaranya bergerak!”
Jabir tersenyum.
“Biarkan.”
“Bagaimana kalau jatuh?”
“Kita tetap memeriksa.”
“Tapi Guru tidak takut?”
“Takut sedikit.”
“Kenapa tersenyum?”
Jabir memegang tiang bambu.
Kemudian berkata:
“Karena sekarang aku tahu bahwa bergerak bukan selalu tanda akan roboh.”
Mereka menunggu badai.
Menara bergerak.
Tali menegang.
Bambu melengkung.
Batu menerima sebagian beban.
Setelah berjam-jam, angin melemah.
Fajar datang.
Menara masih berdiri.
Jabir keluar.
Rumpun bambu di dekatnya basah oleh hujan.
Sebagian membungkuk sangat rendah.
Namun perlahan, ketika angin reda, batang-batang itu kembali tegak.
Jabir berkata kepada muridnya:
“Lihat.”
“Semalam mereka membungkuk.”
“Sekarang tegak lagi.”
Murid berkata:
“Apakah begitu manusia seharusnya?”
Jabir menjawab:
“Dalam sebagian perkara, ya.”
Jika kehidupan mendesakmu untuk mengubah cara, jangan langsung merasa kalah.
Jika tubuhmu membutuhkan istirahat, beristirahatlah.
Jika strategi tidak bekerja, ubahlah.
Jika satu peran selesai, belajarlah menjalani peran baru.
Jika engkau menerima pengetahuan yang lebih benar, jangan malu memperbaiki pendapat.
Tetapi jangan cabut akarmu hanya agar dapat mengikuti setiap arah angin.
Jagalah nilai.
Jagalah amanah.
Jagalah kebenaran yang telah jelas.
Dan lenturkan cara ketika keadaan memang membutuhkan.
Sebab manusia tidak dituntut menjadi batu yang tidak pernah bergerak.
Ia juga tidak diminta menjadi daun kering yang pergi ke mana pun angin membawa.
Ia dapat menjadi seperti bambu:
berakar dalam, berdiri teguh, tetapi cukup lentur untuk melewati badai tanpa harus kehilangan dirinya.
Maka jika hari ini engkau sedang dipaksa keadaan untuk membungkuk sedikit, jangan cepat berkata:
“Aku telah kalah.”
Periksa dahulu.
Mungkin Alloh sedang mengajarkanmu bukan cara menyerah—
tetapi cara bertahan tanpa patah.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثامنة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH DELAPAN
“Pring kang kuwat dudu pring sing ora tau obah, nanging pring sing bisa mbungkuk tanpa kelangan oyod.”
Bambu yang kuat bukan bambu yang tidak pernah bergerak, melainkan bambu yang mampu membungkuk tanpa kehilangan akar.
“Aja ganti oyod mung amarga angin owah. Nanging aja uga meksa pang tetep kaku nganti pedhot.”
Jangan mengganti akar hanya karena angin berubah. Namun jangan pula memaksa ranting tetap kaku sampai akhirnya patah.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KETIGA PULUH SEMBILAN
“SURAT YANG TIDAK DIBUKA KARENA SAMPULNYA TERLALU KUSAM”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri bernama Darul Risālah, masyarakat sangat menghormati surat.
Keputusan kerajaan dikirim melalui surat.
Pedagang membuat perjanjian dengan surat.
Guru mengirim pelajaran kepada murid jauh melalui surat.
Keluarga yang terpisah menjaga hubungan melalui surat.
Karena itu, para pembuat sampul menjadi orang-orang penting.
Ada sampul dari sutra.
Ada yang dihiasi emas.
Ada yang diberi cap kerajaan.
Ada yang menggunakan kertas wangi.
Lama-kelamaan terjadi sesuatu yang aneh.
Orang mulai menilai penting atau tidaknya sebuah surat sebelum membacanya.
Jika sampulnya mahal, langsung dibuka.
Jika capnya terkenal, disimpan dengan hormat.
Jika dibawa utusan berpakaian indah, orang-orang berkumpul.
Tetapi jika sampulnya kusam—
sering diletakkan di sudut.
Di kota itu hiduplah seorang kepala arsip bernama Fahmi.
Ia terkenal pandai.
Ruang kerjanya dipenuhi ribuan surat.
Fahmi mempunyai satu kebiasaan:
ia mengurutkan surat berdasarkan penampilan.
Surat bercap emas:
sangat penting.
Surat bersampul putih:
penting.
Surat biasa:
nanti.
Surat kusam:
kalau sempat.
Ia tidak menyadari bahwa suatu hari kebiasaan kecil itu hampir membuat seluruh kotanya kehilangan kesempatan besar.
꧁ UTUSAN BERPAKAIAN DEBU ꧂
Suatu sore datang seorang lelaki tua.
Pakaiannya penuh debu perjalanan.
Sandarnya sederhana.
Ia membawa satu surat.
“Saya ingin menyerahkan ini kepada kepala arsip.”
Penjaga melihat sampulnya.
Cokelat.
Kusut.
Sudutnya terlipat.
Tidak ada emas.
Tidak ada pita.
Hanya satu cap kecil yang hampir pudar.
Penjaga bertanya:
“Dari siapa?”
“Dari penjaga bendungan utara.”
Penjaga mengangkat alis.
“Taruh saja.”
Lelaki tua berkata:
“Mohon dibaca malam ini.”
“Kenapa?”
“Penting.”
Penjaga melihat sampul sekali lagi.
“Semua orang bilang suratnya penting.”
Ia meletakkannya di tumpukan bawah.
Lelaki tua pergi.
꧁ SURAT DARI ISTANA ꧂
Beberapa menit kemudian datang utusan kerajaan.
Bajunya merah.
Kudanya dihiasi kain emas.
Ia membawa sebuah surat besar dengan cap kerajaan.
Semua orang langsung berdiri.
“Surat istana!”
Surat itu segera dibawa kepada Fahmi.
Ia membuka dengan hati-hati.
Isinya:
Undangan perjamuan kerajaan tujuh hari lagi.
Fahmi tersenyum.
“Persiapkan pakaian terbaikku.”
Ia meletakkan undangan di meja utama.
Kemudian pulang.
Surat kusam dari bendungan tetap berada di bawah tumpukan.
Tidak dibaca.
꧁ HUJAN DI PEGUNUNGAN ꧂
Malam itu hujan besar turun di pegunungan utara.
Air sungai naik.
Penjaga bendungan yang mengirim surat telah melihat retakan kecil pada pintu air.
Belum berbahaya.
Tetapi jika hujan berlanjut, perlu tindakan segera.
Itulah isi surat kusam tersebut.
Pagi berikutnya hujan masih turun.
Utusan yang sama datang kembali.
“Apakah surat kemarin sudah dibaca?”
Penjaga berkata:
“Belum tahu.”
“Tolong periksa.”
“Banyak surat lain.”
Lelaki tua berkata:
“Bendungan perlu diperiksa.”
Penjaga mulai memperhatikan.
Namun kemudian datang kereta seorang saudagar besar membawa peti-peti dokumen.
Kesibukan kembali terjadi.
Utusan tua menunggu.
Tidak ada yang melayaninya.
Ia akhirnya pergi.
꧁ ANAK PENYAPU YANG MEMBACA JUDUL ꧂
Di kantor arsip bekerja seorang anak muda bernama Amin.
Tugasnya membersihkan ruangan.
Ia bukan juru tulis.
Bukan pejabat.
Bukan pula orang berpendidikan tinggi.
Ketika menyapu, ia melihat surat kusam jatuh dari tumpukan.
Di bagian depan terdapat tulisan kecil:
“Untuk dibaca sebelum hujan hari kedua berakhir.”
Amin terkejut.
Ia membawa surat itu kepada Fahmi.
“Tuan, sepertinya ini perlu dilihat.”
Fahmi sedang memeriksa undangan istana.
“Dari siapa?”
“Penjaga bendungan.”
Fahmi melihat sampul.
“Nanti.”
Amin berkata:
“Tapi ada tulisan harus dibaca sebelum hari kedua—”
Fahmi mengangkat tangan.
“Amin, tugasmu menyapu.”
Amin terdiam.
Ia meletakkan surat kembali.
Namun hatinya tidak tenang.
꧁ KETIKA ORANG RENDAH KEDUDUKAN MEMBAWA PERINGATAN ꧂
Sore harinya Amin datang lagi.
“Tuan, mohon maaf.”
Fahmi mulai kesal.
“Ada apa?”
“Surat bendungan.”
“Kau masih membicarakannya?”
Amin berkata:
“Ya.”
“Apakah kau ahli bendungan?”
“Tidak.”
“Pejabat?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa begitu yakin?”
Amin menjawab:
“Saya tidak yakin isi suratnya benar, Tuan. Saya hanya yakin kita belum membacanya.”
Fahmi terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Amin tidak berkata:
“Surat ini pasti benar.”
Ia hanya berkata:
“Kita belum tahu karena kita belum memeriksa.”
Fahmi akhirnya mengambil surat.
Membukanya.
Wajahnya berubah.
꧁ ISI SURAT KUSAM ꧂
Surat itu berbunyi:
“Retakan ditemukan pada pintu air sisi timur. Dalam keadaan biasa masih aman. Jika hujan pegunungan berlangsung dua hari atau lebih, kirim pekerja dan kurangi tekanan air melalui saluran selatan sebelum malam ketiga.”
Fahmi berdiri.
“Hari ini hari kedua?”
Amin mengangguk.
“Ya.”
Fahmi segera memanggil petugas.
Berita dikirim.
Pekerja berangkat.
Pintu air diperiksa.
Retakan memang mulai melebar.
Saluran selatan dibuka.
Tekanan air berkurang.
Kerusakan diperbaiki.
Kota selamat dari banjir yang mungkin terjadi jika surat itu ditunda satu hari lagi.
꧁ SAMPUl TIDAK MENENTUKAN ISI ꧂
Malam itu Fahmi duduk lama.
Di mejanya ada dua surat.
Satu berlapis emas.
Isinya undangan makan malam.
Satu kusam.
Isinya peringatan yang dapat menyelamatkan banyak rumah.
Fahmi berkata kepada dirinya:
“Aku hampir menentukan nilai sebuah pesan dari pakaian yang dipakainya.”
Keesokan harinya ia memanggil Amin.
“Kenapa kau bersikeras?”
Amin menjawab:
“Karena batas waktunya tertulis jelas.”
“Apakah kau tidak takut aku marah?”
“Takut.”
“Kenapa tetap datang?”
Amin menjawab:
“Kalau saya salah, paling saya ditegur. Kalau surat itu benar dan saya diam, akibatnya bisa lebih besar.”
Fahmi menunduk.
Ia berkata:
“Hari ini aku belajar dari orang yang kemarin kusuruh hanya menyapu.”
Amin tersenyum canggung.
꧁ GURU DENGAN PAKAIAN BIASA ꧂
Beberapa minggu kemudian Fahmi melakukan perjalanan.
Ia berhenti di sebuah rumah teh.
Di sana seorang lelaki sederhana sedang berbicara kepada beberapa petani tentang cara menyimpan dokumen agar tidak rusak oleh lembap.
Fahmi mendengarkan.
Penjelasannya sangat baik.
Ia bertanya:
“Dari mana kau belajar?”
Lelaki itu menjawab:
“Aku dulu penjaga perpustakaan.”
Fahmi terkejut.
Ia mengira lelaki itu hanyalah petani.
Hari itu ia kembali belajar:
ilmu tidak selalu datang dengan pakaian yang kita bayangkan.
꧁ TETAPI TIDAK SEMUA SURAT HARUS DIPERCAYA ꧂
Amin suatu hari bertanya:
“Berarti mulai sekarang semua surat harus kita percaya?”
Fahmi menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena sampul kusam tidak membuat isi otomatis benar, sebagaimana sampul indah tidak membuat isi otomatis benar.”
Amin mengangguk.
“Lalu apa yang kita lakukan?”
Fahmi menjawab:
“Baca. Periksa. Timbang.”
Jika surat membawa berita penting:
cek sumbernya.
Jika ada perintah:
lihat kewenangannya.
Jika ada tuduhan:
cari bukti.
Jika ada nasihat:
timbang dengan ilmu dan kenyataan.
Jangan meremehkan karena pembawanya sederhana. Tetapi jangan pula menerima begitu saja hanya karena pesannya terdengar menggetarkan.
꧁ SURAT PALSU DENGAN CAP EMAS ꧂
Pelajaran itu segera diuji.
Suatu hari datang surat bersampul sangat mewah.
Capnya tampak seperti cap kerajaan.
Isinya memerintahkan kas kota menyerahkan sejumlah besar uang kepada seorang utusan.
Dulu Fahmi mungkin langsung percaya.
Sekarang ia memeriksa.
Bentuk cap sedikit berbeda.
Nomor arsip tidak sesuai.
Ia menghubungi istana.
Ternyata surat itu palsu.
Fahmi berkata kepada Amin:
“Lihat.”
“Dulu aku tertipu karena sampul kusam.”
“Sekarang hampir tertipu karena sampul indah.”
Amin menjawab:
“Jadi masalahnya bukan sampul.”
“Benar.”
“Masalahnya?”
“Ketika mata berhenti pada penampilan sebelum akal sempat memeriksa isi.”
꧁ PIWULANG QISAH KETIGA PULUH SEMBILAN ꧂
Manusia mudah menilai dari tanda luar.
Pakaian.
Gelar.
Usia.
Jabatan.
Jumlah pengikut.
Kekayaan.
Cara bicara.
Tempat asal.
Semua dapat memberikan informasi tertentu.
Tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kebenaran.
Orang berpakaian sederhana bisa membawa nasihat yang benar.
Orang bergelar tinggi tetap bisa salah.
Anak muda dapat mengetahui sesuatu yang orang tua belum tahu.
Orang tua dapat mempunyai pengalaman yang buku belum ajarkan.
Karena itu:
nilai pesan dan pembawa pesan dengan adil.
Jangan merendahkan manusia karena tampilannya.
Dan jangan mengangkat pendapat menjadi kebenaran hanya karena yang mengucapkannya terkenal.
꧁ RAHASIA SAMPUl ꧂
Sampul adalah pralambang penampilan luar.
Penampilan memang mempunyai fungsi.
Kerapian penting.
Adab penting.
Identitas sumber penting.
Tetapi sampul tidak boleh menggantikan isi.
Banyak manusia menghabiskan tenaga memperindah sampul:
ingin terlihat pintar,
terlihat kaya,
terlihat saleh,
terlihat berhasil,
terlihat kuat.
Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah:
apa isi yang dibawa?
꧁ RAHASIA UTUSAN BERDEBU ꧂
Utusan bendungan datang dengan pakaian kotor karena perjalanan.
Debu yang dianggap tanda rendah justru menunjukkan bahwa ia telah menempuh jalan jauh untuk membawa peringatan.
Begitu pula dalam kehidupan.
Kadang seseorang tampak tidak sempurna karena sedang bekerja di medan yang berat.
Jangan terlalu cepat menilai keadaan seseorang tanpa mengetahui jalannya.
꧁ RAHASIA AMIN ꧂
Amin bukan ahli bendungan.
Ia tidak berpura-pura menjadi ahli.
Ia hanya melihat satu fakta:
surat mempunyai batas waktu dan belum dibaca.
Ini adalah bentuk kerendahan hati yang sehat.
Tidak berkata:
“Aku tahu semuanya.”
Tetapi juga tidak berkata:
“Karena aku bukan siapa-siapa, aku tidak boleh menyampaikan apa pun.”
Jika melihat sesuatu yang penting, sampaikan sesuai kadar pengetahuan.
꧁ EMPAT PENYARING PESAN ꧂
Sebelum menerima sebuah pesan penting, gunakan empat penyaring:
Pertama — Sumber.
Dari mana pesan itu berasal?
Kedua — Isi.
Apa sebenarnya yang dikatakan?
Ketiga — Bukti.
Apa dasar yang mendukungnya?
Keempat — Dampak.
Apa akibat jika kita menerima atau menolaknya?
Dengan demikian kita tidak menjadi orang yang mudah tertipu oleh kemasan maupun mudah meremehkan kebenaran.
꧁ RAHASIA GELAR ꧂
Gelar dapat menunjukkan pendidikan, amanah, atau kedudukan tertentu.
Hormatilah sesuai tempatnya.
Namun gelar bukan jaminan seseorang selalu benar.
Sebaliknya, tidak memiliki gelar bukan bukti bahwa seseorang tidak mempunyai pengalaman atau pengetahuan yang bermanfaat.
Adab kepada ahli tetap diperlukan.
Tetapi adab tidak meminta manusia mematikan kemampuan menimbang.
꧁ RAHASIA KRITIK DARI ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI ꧂
Salah satu surat paling sulit dibuka adalah kritik dari orang yang tidak kita sukai.
Manusia sering berkata:
“Dia siapa menasihatiku?”
Padahal pertanyaan pertama seharusnya:
“Apakah ada bagian yang benar?”
Jika tidak benar, tinggalkan dengan adab.
Jika benar, ambil kebenarannya meskipun kita tidak menyukai cara atau orang yang menyampaikannya.
Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena datang melalui mulut orang yang tidak kita senangi.
Tetapi ini juga tidak berarti segala tuduhan harus diterima.
Tetap periksa.
꧁ SANDHI LANGIT KETIGA PULUH SEMBILAN ꧂
“Aja maca isi saka sampule wae.”
Artinya:
Jangan membaca isi hanya dari sampulnya.
Dan:
“Bebener ora dadi cilik amarga digawa tangan sing sederhana, lan salah ora dadi bener amarga nganggo cap emas.”
Kebenaran tidak menjadi kecil karena dibawa oleh tangan yang sederhana, dan kesalahan tidak menjadi benar karena memakai cap emas.
꧁ RAHASIA SURAT YANG TIDAK DISUKAI ꧂
Kadang sebuah pesan terasa tidak nyaman.
Seorang tabib berkata:
“Kebiasaan ini harus diubah.”
Seorang sahabat berkata:
“Caramu menyakiti orang.”
Seorang guru berkata:
“Engkau perlu belajar lagi.”
Seorang pekerja berkata:
“Sistem ini tidak berjalan baik.”
Kita mungkin tidak menyukai isi.
Namun ketidaknyamanan bukan bukti bahwa pesan itu salah.
Sebaliknya, pesan yang sangat menyenangkan juga belum tentu benar.
Jangan hanya memilih surat yang menyenangkan hati.
꧁ KETIKA FAHMI MENGUBAH SISTEM ARSIP ꧂
Setelah peristiwa bendungan, Fahmi mengubah aturan.
Surat tidak lagi diurutkan berdasarkan kemewahan sampul.
Setiap surat terlebih dahulu diberi tanda:
mendesak,
penting,
biasa,
atau
perlu verifikasi.
Yang menentukan bukan warna kertas.
Tetapi isi awal, sumber, batas waktu, dan dampaknya.
Seorang pejabat berkata:
“Ini lebih rumit.”
Fahmi menjawab:
“Sedikit lebih rumit daripada melihat sampul.”
“Kenapa perlu?”
“Karena penampilan cepat. Keadilan membutuhkan sedikit lebih banyak usaha.”
꧁ SURAT DARI SEORANG ANAK ꧂
Beberapa tahun kemudian Fahmi menerima surat kecil.
Tulisan tangannya tidak rapi.
Dari seorang anak sekolah.
Isinya:
“Tuan Kepala Arsip, atap ruang baca anak-anak bocor. Beberapa buku basah ketika hujan. Kami sudah bilang kepada penjaga, tetapi mungkin beliau lupa.”
Dulu surat itu mungkin masuk tumpukan terakhir.
Kini Fahmi memeriksa.
Ternyata benar.
Atap diperbaiki.
Puluhan buku terselamatkan.
Ia menyimpan surat anak itu.
Bukan karena tulisannya indah.
Tetapi karena ia menjadi pengingat:
ukuran orang yang berbicara tidak menentukan besar kecilnya masalah yang ia tunjukkan.
꧁ PENUTUP QISAH KETIGA PULUH SEMBILAN ꧂
Fahmi menjadi tua.
Amin kemudian menggantikannya sebagai kepala arsip.
Pada hari penyerahan jabatan, Fahmi memberikan dua sampul kepadanya.
Satu berlapis emas.
Satu kusam.
Amin bertanya:
“Isinya apa?”
Fahmi tersenyum.
“Buka.”
Amin membuka sampul emas.
Di dalamnya hanya selembar kertas kosong.
Ia membuka sampul kusam.
Di dalamnya tertulis:
“Jangan putuskan nilai sesuatu sebelum engkau cukup mengenalnya.”
Amin tersenyum.
“Guru masih menguji saya.”
Fahmi berkata:
“Bukan menguji. Mengingatkan.”
Kemudian ia menambahkan:
“Jangan pula berbalik menjadi orang yang menganggap semua yang sederhana pasti lebih suci.”
Amin mengangguk.
Fahmi berkata:
“Karena itu hanya prasangka dalam pakaian baru.”
Ia kemudian berjalan keluar dari ruang arsip.
Tidak membawa jabatan.
Tidak membawa cap.
Hanya tongkat sederhana.
Seorang pegawai muda yang belum mengenalnya bertanya:
“Kakek, apakah perlu bantuan?”
Fahmi tersenyum.
“Tidak, terima kasih.”
Pemuda itu tidak tahu bahwa lelaki tua tersebut pernah menjadi salah satu orang terpenting di kantor itu.
Fahmi justru merasa damai.
Sebab hidup telah mengajarinya:
manusia dapat memiliki sampul yang berubah berkali-kali.
Muda.
Tua.
Kaya.
Miskin.
Pejabat.
Pensiun.
Dikenal.
Dilupakan.
Tetapi yang paling penting bukan bagaimana dunia membungkus kita pada suatu musim.
Melainkan:
isi apa yang kita bawa ketika sampul itu akhirnya dilepas.
Maka jika seseorang datang membawa pesan, jangan buru-buru menolak hanya karena tangannya berdebu.
Dengarkan seperlunya.
Periksa.
Timbang.
Dan jika ternyata benar, jangan malu belajar.
Bahkan dari orang yang lebih muda.
Dari bawahan.
Dari orang asing.
Dari kegagalan.
Dari orang yang pernah kita remehkan.
Sebab hikmah tidak meminta izin kepada kesombongan kita sebelum datang.
Dan kadang surat yang paling perlu dibaca justru datang tanpa pita, tanpa emas, tanpa kemegahan—
hanya membawa satu kebenaran sederhana yang akan terlewat jika kita terlalu sibuk mengagumi sampul.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة التاسعة والثلاثين
KHATAM QISAH KETIGA PULUH SEMBILAN
“Aja ngukur surat saka regane sampul. Bukak, waca, banjur timbang isine.”
Jangan mengukur surat dari mahalnya sampul. Bukalah, bacalah, kemudian timbang isinya.
“Bebener ora butuh sandhangan mewah supaya tetep bebener.”
Kebenaran tidak membutuhkan pakaian mewah untuk tetap menjadi kebenaran.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT PULUH
“TONGKAT YANG RETAK KARENA TAK PERNAH DISERAHKAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah negeri berbukit, terdapat sebuah jalur panjang yang menghubungkan tujuh desa.
Jalur itu sempit.
Sebagian melewati lereng.
Sebagian melintasi sungai.
Sebagian masuk hutan.
Selama puluhan tahun, para musafir mengenal satu orang bernama Mansur.
Ia adalah penjaga jalur.
Tugasnya sederhana, tetapi penting:
memeriksa jembatan kecil,
membersihkan batu jatuh,
menandai jalan,
memperingatkan bahaya,
dan membantu orang yang tersesat.
Mansur selalu membawa sebuah tongkat kayu tua.
Tongkat itu dibuat oleh gurunya.
Di bagian atasnya terukir kalimat:
“Amanah bukan milik tangan yang memegangnya.”
Namun semakin lama Mansur memegang tongkat itu, semakin ia melupakan makna ukiran tersebut.
꧁ PENJAGA YANG MULAI DIANGGAP TAK TERGANTIKAN ꧂
Mansur bekerja sangat baik.
Penduduk menghormatinya.
Jika jalur tertutup, orang memanggil Mansur.
Jika ada jembatan rusak, Mansur.
Jika musafir hilang, Mansur.
Jika ada perdebatan tentang arah, Mansur.
Orang-orang berkata:
“Tanpa Mansur, jalur ini tidak akan berjalan.”
Awalnya ia menjawab:
“Jangan berkata begitu.”
Namun lama-lama kalimat itu terasa menyenangkan.
Ia mulai percaya sedikit demi sedikit:
“Mungkin memang hanya aku yang bisa.”
Ketika seseorang ingin membantu, ia berkata:
“Belum cukup pengalaman.”
Ketika pemuda ingin belajar, ia berkata:
“Nanti.”
Ketika ada usul membuat catatan jalur, ia menjawab:
“Aku sudah hafal semuanya.”
Ketika ada yang bertanya:
“Kalau suatu hari engkau sakit?”
Mansur berkata:
“Insya Alloh aku masih kuat.”
꧁ MURID BERNAMA NAJI ꧂
Di desa ketiga tinggal seorang pemuda bernama Naji.
Ia sering menemani Mansur.
Naji rajin.
Ia belajar membaca jejak.
Mengenali batu rapuh.
Mengukur arus sungai.
Membedakan kabut biasa dengan kabut berbahaya.
Suatu hari Naji berkata:
“Guru, izinkan aku memeriksa jalur timur sendiri.”
Mansur langsung menjawab:
“Belum.”
“Kenapa?”
“Jalurnya sulit.”
“Aku sudah ikut delapan tahun.”
“Masih banyak yang belum kau tahu.”
Naji diam.
Beberapa bulan kemudian ia bertanya lagi.
Jawabannya sama.
Tahun berikutnya:
sama.
Akhirnya Naji berkata:
“Guru, kapan seseorang dianggap siap?”
Mansur menjawab:
“Ketika aku yakin.”
Naji bertanya:
“Bagaimana Guru akan yakin kalau aku tidak pernah diberi kesempatan berjalan sendiri?”
Mansur tidak menjawab.
꧁ TONGKAT YANG MULAI RETAK ꧂
Suatu pagi Mansur mendengar suara kecil.
Krek.
Ia melihat tongkatnya.
Ada retakan tipis dekat pegangan.
Naji berkata:
“Guru, tongkat itu perlu diperbaiki.”
Mansur menjawab:
“Masih kuat.”
Ia terus memakai.
Hari berikutnya retakan bertambah.
Naji berkata:
“Kita bisa mengganti bagian atas.”
Mansur menolak.
“Ini tongkat guruku.”
“Justru karena itu harus dirawat.”
Mansur berkata:
“Tidak semua yang lama harus diganti.”
Naji menjawab:
“Benar. Tetapi yang retak perlu diperiksa.”
Mansur tersinggung.
Entah kenapa ucapan tentang tongkat terasa seperti ucapan tentang dirinya sendiri.
꧁ HARI KETIKA MANSUR JATUH SAKIT ꧂
Musim hujan datang.
Mansur terserang demam.
Pada saat yang sama, terjadi longsor kecil di jalur utara.
Penduduk datang.
“Pak Mansur, jalurnya tertutup.”
Mansur mencoba bangun.
Tubuhnya lemah.
“Aku akan pergi.”
Naji berkata:
“Guru, istirahat. Biar aku.”
Mansur menjawab:
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Jalur utara berbahaya.”
“Aku sudah mempelajarinya.”
“Tidak sama.”
Penduduk gelisah.
Longsor harus segera ditangani sebelum hujan berikutnya.
Naji akhirnya berkata:
“Guru, kalau semua harus menunggu Guru sehat, berarti kita tidak punya sistem. Kita hanya punya ketergantungan.”
Mansur menatapnya tajam.
Namun tubuhnya terlalu lemah untuk pergi.
Ia akhirnya berkata:
“Pergilah. Tapi lakukan seperti yang selalu kuajarkan.”
꧁ NAJI BERANGKAT ꧂
Naji membawa empat orang.
Ia memeriksa longsor.
Tidak gegabah.
Memasang tanda bahaya.
Membuka jalur kecil sementara.
Mengalihkan musafir ke rute aman.
Kemudian mengirim kabar:
“Bagian besar perlu diperbaiki setelah hujan reda.”
Ia tidak mencoba terlihat hebat.
Ia justru mengikuti dasar yang selama ini diajarkan Mansur.
Dua hari kemudian ia pulang.
Mansur bertanya:
“Semua selamat?”
“Alhamdulillāh.”
“Ada kesalahan?”
“Ada satu.”
Mansur langsung duduk.
“Apa?”
“Aku terlalu cepat menempatkan tanda di satu sisi. Setelah diperiksa, angin bisa merobohkannya. Jadi kami pindahkan.”
Mansur bertanya:
“Kenapa kau cerita?”
Naji menjawab:
“Karena Guru selalu mengajarkan agar jalur dicatat apa adanya, bukan dibuat seolah sempurna.”
Mansur terdiam.
꧁ RASA TAKUT YANG SEBENARNYA ꧂
Malam itu Mansur memanggil Naji.
“Aku akan bertanya jujur.”
“Ya, Guru.”
“Apakah selama ini aku terlalu menahanmu?”
Naji tidak langsung menjawab.
Kemudian berkata:
“Kadang.”
Mansur menunduk.
“Aku pikir aku sedang menjaga amanah.”
Naji berkata:
“Mungkin memang begitu.”
“Tapi?”
“Kadang Guru juga takut kehilangan peran.”
Mansur menatapnya.
Kalimat itu menyakitkan karena benar.
Ia berkata:
“Kalau aku tidak lagi dibutuhkan, lalu aku siapa?”
Naji menjawab pelan:
“Tetap Mansur. Guru saya. Penjaga jalur yang membangun banyak hal. Hanya perannya yang berubah.”
Mansur diam lama.
꧁ RAHASIA AMANAH ꧂
Keesokan hari Mansur membaca lagi ukiran di tongkat:
“Amanah bukan milik tangan yang memegangnya.”
Ia telah membacanya ribuan kali.
Baru hari itu ia merasa memahami.
Amanah bukan harta pribadi.
Bukan gelar.
Bukan alasan agar semua orang terus membutuhkan satu orang.
Amanah harus dijaga.
Tetapi juga harus dipersiapkan agar tetap berjalan ketika penjaganya berubah.
꧁ MANSUR MULAI MENCATAT ꧂
Setelah sembuh, Mansur tidak langsung menyerahkan semuanya.
Ia mulai dengan hal kecil.
Ia dan Naji membuat buku jalur.
Di dalamnya dicatat:
letak mata air,
jembatan yang rawan,
musim longsor,
jalur alternatif,
nomor rumah penolong di tiap desa,
tempat perlindungan saat badai,
dan pelajaran dari kesalahan masa lalu.
Seorang penduduk berkata:
“Kenapa baru sekarang dicatat?”
Mansur tersenyum pahit.
“Karena selama ini aku terlalu percaya kepada ingatanku.”
Ia kemudian melatih tiga pemuda lain.
Tidak semua belajar hal yang sama.
Satu ahli jembatan.
Satu pandai tanda jalan.
Satu memahami cuaca.
Mansur mulai melihat sesuatu:
ketika amanah dibagi dengan benar, ia tidak mengecil.
Justru menjadi lebih kuat.
꧁ KETIKA NAJI MEMBUAT CARA BERBEDA ꧂
Namun ujian belum selesai.
Naji mengusulkan tanda jalur baru.
Lebih sederhana.
Lebih mudah dilihat saat kabut.
Mansur menolak spontan.
“Tanda lama sudah dipakai puluhan tahun.”
Naji berkata:
“Kita tetap pakai makna yang sama. Hanya bentuknya diperjelas.”
Mansur hampir berkata:
“Cara saya sudah benar.”
Namun ia berhenti.
Ia teringat tongkat.
Mereka mencoba beberapa titik.
Ternyata tanda baru lebih mudah dikenali.
Mansur berkata:
“Pakai.”
Naji tersenyum.
Mansur menambahkan:
“Penerus bukan orang yang mengulang semua gerakan pendahulunya. Penerus menjaga amanah, lalu memperbaiki cara sesuai kebutuhan.”
꧁ TETAPI PENERUS JUGA BISA SALAH ꧂
Beberapa bulan kemudian Naji membuat keputusan terburu-buru.
Ia membuka jalur setelah hujan sebelum tanah benar-benar stabil.
Untung tidak terjadi kecelakaan.
Mansur memanggil.
“Kau terlalu cepat.”
Naji mengaku.
“Benar.”
Mansur berkata:
“Jangan merasa karena aku sedang belajar melepaskan, berarti semua keputusanmu otomatis benar.”
Naji mengangguk.
“Penerus juga tetap perlu koreksi.”
“Benar.”
Di situlah keduanya belajar:
regenerasi bukan memindahkan kesombongan dari orang tua ke orang muda.
Ia adalah perpindahan amanah yang tetap membutuhkan ilmu, adab, evaluasi, dan tanggung jawab.
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT PULUH ꧂
Banyak amanah rusak bukan karena tidak ada orang baik.
Tetapi karena tidak ada persiapan untuk penerus.
Satu orang memegang semua pengetahuan.
Semua kontak.
Semua keputusan.
Semua kunci.
Semua catatan berada di kepalanya.
Ketika ia sakit atau pergi—
semuanya ikut berhenti.
Itu bukan selalu tanda kepemimpinan kuat.
Kadang justru tanda sistem terlalu rapuh.
꧁ RAHASIA TONGKAT ꧂
Tongkat melambangkan amanah dan peran.
Ia membantu berjalan.
Tetapi tongkat bukan tubuh.
Begitu pula jabatan.
Jabatan membantu seseorang menjalankan tugas.
Namun jabatan bukan seluruh identitas.
Jika suatu hari tongkat berpindah tangan, nilai manusia tidak otomatis hilang.
Ia masih dapat:
menasihati,
mendoakan,
mengawasi,
mengajarkan pengalaman,
atau membuka ruang bagi generasi berikutnya.
꧁ RAHASIA RETAK ꧂
Retak pada tongkat adalah tanda bahwa sesuatu perlu dievaluasi.
Retak kecil bukan selalu alasan membuang.
Tetapi juga bukan alasan pura-pura semuanya baik.
Dalam organisasi, retak bisa berupa:
kelelahan satu orang,
informasi yang hanya diketahui satu pihak,
tidak adanya dokumentasi,
penerus yang tak pernah dilatih,
atau keputusan yang selalu menunggu satu figur.
Jika retak sudah terlihat, perbaiki sebelum benar-benar patah.
꧁ EMPAT TANDA AMANAH TERLALU TERPUSAT ꧂
Waspadai jika:
Pertama — Semua keputusan menunggu satu orang.
Kedua — Tidak ada orang lain yang tahu cara menjalankan tugas penting.
Ketiga — Pengetahuan tidak dicatat atau diajarkan.
Keempat — Setiap penerus dianggap ancaman terhadap kehormatan pemegang amanah lama.
Jika itu terjadi, mungkin yang sedang dijaga bukan lagi amanah saja.
Mungkin ego ikut bersembunyi di dalamnya.
꧁ RAHASIA MENYERAHKAN BERTAHAP ꧂
Mansur tidak menyerahkan semua dalam satu malam.
Ia memberi kesempatan bertahap.
Mengamati.
Mengoreksi.
Menambah tanggung jawab.
Ini penting.
Regenerasi yang sehat bukan:
“Ini semua, ambillah.”
Tetapi:
“Coba bagian ini.”
“Belajar.”
“Evaluasi.”
“Naikkan amanah.”
Dengan begitu penerus tumbuh dalam tanggung jawab, bukan hanya menerima gelar.
꧁ RAHASIA GURU DAN MURID ꧂
Guru yang baik tidak hanya bangga ketika murid menghafal ucapannya.
Ia juga siap ketika murid mampu:
menimbang,
memperbaiki,
dan membawa amanah lebih jauh.
Tetapi murid juga harus menjaga adab.
Tidak meremehkan pengalaman lama.
Tidak menganggap yang tua sudah selesai berguna.
Generasi baru mempunyai tenaga.
Generasi lama mempunyai jejak.
Jika keduanya saling merendahkan, amanah kehilangan salah satu sayapnya.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT PULUH ꧂
“Amanah dudu duweke tangan sing lagi nyekel.”
Artinya:
Amanah bukan milik tangan yang sedang memegangnya.
Dan:
“Tongkat kudu diwarisake sadurunge tangan sing nyekel ora kuwat maneh.”
Tongkat perlu diwariskan sebelum tangan yang memegangnya tidak lagi kuat.
꧁ HARI PENYERAHAN TONGKAT ꧂
Setelah beberapa tahun, Mansur mengumpulkan penduduk.
Ia membawa tongkat tua.
Retaknya sudah diperbaiki dengan ikatan logam tipis.
Ia memanggil Naji.
“Mulai hari ini, engkau menjadi penjaga utama jalur.”
Naji terkejut meskipun tahu hari itu akan datang.
Mansur menyerahkan tongkat.
Tangannya gemetar.
Bukan karena lemah.
Karena hati.
Naji menerima dengan dua tangan.
“Guru, saya takut.”
Mansur tersenyum.
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Karena sedikit takut membuatmu ingat bahwa amanah ini bukan mainan.”
Naji bertanya:
“Bagaimana kalau saya salah?”
“Periksa. Akui. Perbaiki.”
“Kalau saya tidak tahu?”
“Bertanya.”
“Kalau cara saya berbeda dari Guru?”
Mansur berkata:
“Kalau lebih benar dan lebih bermanfaat, jangan rusakkan hanya karena ingin menghormatiku.”
Naji menunduk.
꧁ KETIKA MANSUR TIDAK LAGI DIPANGGIL PERTAMA ꧂
Beberapa bulan kemudian terjadi jembatan rusak.
Penduduk langsung mencari Naji.
Mansur mendengar dari rumah.
Dulu ia mungkin akan tersinggung.
Ada rasa kecil muncul:
“Mereka tidak memanggilku.”
Namun kemudian ia tersenyum.
Ia berkata kepada istrinya:
“Berarti sistemnya bekerja.”
Hari itu ia tidak pergi ke jembatan.
Ia menunggu.
Sore hari Naji datang.
“Guru, jembatannya sudah ditangani.”
“Bagus.”
“Saya ingin meminta pendapat untuk perbaikan permanen.”
Mansur membantu.
Ia akhirnya mengerti:
mundur dari posisi utama tidak selalu berarti keluar dari amanah. Kadang amanah hanya berubah bentuk.
꧁ TONGKAT YANG TIDAK LAGI RETAK ꧂
Aneh.
Setelah tongkat diserahkan, retaknya tidak pernah bertambah.
Bukan karena kayunya menjadi baru.
Tetapi karena tongkat tidak lagi dipaksa menanggung semua beban sendirian.
Kini ada banyak tangan.
Banyak catatan.
Banyak penjaga.
Banyak mata yang memeriksa jalur.
Tongkat menjadi simbol, bukan satu-satunya penopang.
꧁ PENUTUP QISAH KEEMPAT PULUH ꧂
Pada akhir usianya, Mansur duduk di tepi jalur yang dahulu dijaganya.
Seorang anak kecil lewat bersama ayahnya.
Anak itu bertanya:
“Kakek, apakah Kakek dulu penjaga jalan?”
Mansur menjawab:
“Dulu.”
“Sekarang?”
“Sekarang banyak orang menjaganya.”
“Apakah Kakek sedih?”
Mansur melihat tanda-tanda jalur baru.
Jembatan yang diperbaiki.
Buku catatan yang dibawa para penjaga.
Pemuda-pemuda yang sedang belajar.
Ia berkata:
“Dulu aku takut jalur ini tidak bisa berjalan tanpa aku. Sekarang aku justru bersyukur karena ia bisa.”
Anak itu berkata:
“Berarti Kakek tidak penting lagi?”
Mansur tertawa.
“Penting itu tidak harus berarti selamanya berada di depan.”
Ia mengambil sepotong kayu kecil.
Menggambar garis di tanah.
“Lihat jalan ini.”
“Ya.”
“Orang pertama membuat jejak.”
“Orang kedua memperlebar.”
“Orang ketiga membuat jembatan.”
“Orang keempat memberi tanda.”
“Kalau semuanya ingin disebut orang pertama, jalan tidak akan pernah maju.”
Anak itu diam.
Mansur memandang langit sore.
Lalu berkata:
“Amanah yang baik harus lebih panjang daripada umur orang yang memegangnya.”
Itulah mengapa ilmu perlu diwariskan.
Tugas perlu dibagikan.
Catatan perlu dibuat.
Penerus perlu dilatih.
Dan ego perlu belajar mundur.
Maka jika Alloh memberimu amanah besar, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana aku menjaganya hari ini?”
Tanyakan pula:
“Bagaimana amanah ini tetap hidup ketika suatu hari aku tidak lagi berada di tempat ini?”
Siapkan orang.
Siapkan sistem.
Siapkan ilmu.
Siapkan catatan.
Siapkan ruang bagi generasi setelahmu untuk tumbuh.
Jangan menunggu tangan benar-benar gemetar sebelum mulai menyerahkan tongkat.
Sebab amanah bukan warisan untuk mempertahankan nama.
Amanah adalah jalan yang harus tetap bisa dilalui meskipun nama para penjaganya berganti.
Dan ketika suatu hari engkau mampu melihat kebaikan berjalan tanpa harus selalu memanggil namamu, jangan merasa kehilangan.
Bisa jadi itulah salah satu tanda bahwa yang engkau bangun tidak berhenti pada dirimu.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الأربعين
KHATAM QISAH KEEMPAT PULUH
“Amanah sing sehat ora mati nalika penjagane ganti.”
Amanah yang sehat tidak mati ketika penjaganya berganti.
“Aja nyekel tongkat nganti retak mung amarga wedi wong liya bisa mlaku tanpa tanganmu.”
Jangan menggenggam tongkat sampai retak hanya karena takut orang lain mampu berjalan tanpa tanganmu.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT PULUH SATU
“MANGKUK YANG DIREKATKAN DENGAN EMAS TETAPI TIDAK DIPAKAI UNTUK MENAMPUNG RACUN LAGI”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di sebuah kota pengrajin bernama Madinatul Jabr, tinggal seorang pembuat mangkuk bernama Rahman.
Ia membuat mangkuk dari tanah liat.
Ada yang kecil.
Ada yang lebar.
Ada yang digunakan untuk air.
Ada yang untuk makanan.
Ada yang hanya dijadikan hiasan.
Namun Rahman terkenal karena satu keahliannya:
memperbaiki mangkuk yang pecah.
Ia tidak selalu menyembunyikan retaknya.
Kadang justru ia mengisi garis pecah dengan campuran berkilau seperti emas.
Orang-orang bertanya:
“Kenapa tidak dibuat seolah tidak pernah pecah?”
Rahman menjawab:
“Karena diperbaiki tidak selalu berarti harus berpura-pura tidak pernah retak.”
꧁ MANGKUK MILIK MARYAM ꧂
Suatu hari datang seorang perempuan bernama Maryam.
Ia membawa mangkuk putih yang pecah menjadi lima bagian.
Rahman bertanya:
“Ini mangkuk biasa?”
Maryam menggeleng.
“Pemberian ibu saya.”
“Sudah lama?”
“Sejak saya menikah.”
Rahman memeriksa.
Pecahannya masih lengkap.
“Bisa diperbaiki.”
Maryam berkata:
“Tolong buat seperti baru.”
Rahman menjawab:
“Bisa mendekati. Tapi garis retaknya mungkin tetap terlihat.”
Maryam langsung berkata:
“Saya tidak ingin melihat bekasnya.”
Rahman tidak membantah.
Ia mulai bekerja.
Namun sebelum merekatkan, ia bertanya:
“Bagaimana mangkuk ini pecah?”
Maryam diam.
Kemudian berkata:
“Dilempar seseorang.”
Rahman berhenti.
“Apakah orang itu masih ada di rumahmu?”
Maryam menatap tanah.
“Sudah tidak.”
꧁ PECah BUKAN SELALU KARENA JATUH ꧂
Rahman berkata:
“Pecah karena jatuh berbeda dengan pecah karena dilempar.”
Maryam mengangkat wajah.
“Apa bedanya untuk mangkuk?”
“Untuk tanah liat mungkin sedikit.”
“Untuk manusia?”
Maryam diam.
Rahman berkata:
“Kalau sesuatu pecah karena kesengajaan, perbaikan juga perlu memikirkan keselamatan, bukan hanya keindahan.”
Maryam berkata:
“Saya sudah memaafkan.”
Rahman mengangguk.
“Bagus jika itu benar-benar membantu hatimu.”
“Berarti semua harus kembali seperti dulu?”
Rahman bertanya.
Maryam terdiam.
꧁ LIMA PECAHAN ꧂
Rahman menyusun lima bagian mangkuk.
Ia berkata:
“Lihat.”
“Yang ini masih kuat.”
“Yang ini retaknya dalam.”
“Yang ini perlu penyangga.”
“Yang ini tidak bisa langsung dipaksa menempel.”
Maryam berkata:
“Kenapa lama?”
Rahman menjawab:
“Karena kalau direkatkan terlalu cepat, ia bisa pecah lagi pada garis yang sama.”
Kemudian ia berkata:
“Hubungan juga kadang demikian. Kata ‘maaf’ dapat diucapkan dalam satu hari. Kepercayaan mungkin membutuhkan waktu lebih lama.”
꧁ MAAF DAN KEMBALI PERCAYA ADALAH DUA HAL BERBEDA ꧂
Maryam bertanya:
“Kalau saya memaafkan tetapi belum percaya, apakah maaf saya palsu?”
Rahman menjawab:
“Tidak selalu.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena memaafkan adalah keputusan hati untuk tidak terus memelihara balas dendam.”
“Sedangkan percaya membutuhkan bukti bahwa sesuatu memang telah berubah.”
Maryam terdiam lama.
Rahman melanjutkan:
“Kau boleh melepaskan racun dari hatimu tanpa harus menyerahkan mangkukmu kembali ke tangan yang sama.”
꧁ GARIS EMAS ꧂
Beberapa hari kemudian Rahman mulai merekatkan.
Ia menggunakan bahan berkilau di setiap retak.
Maryam berkata:
“Kenapa emas?”
“Bukan karena retak itu indah.”
“Lalu?”
“Karena aku tidak ingin retak dianggap aib yang harus disembunyikan.”
Ia menambahkan:
“Bekas luka tidak harus dipamerkan. Tapi juga tidak harus dibenci.”
Ketika selesai, mangkuk terlihat indah.
Namun bentuknya tidak sama persis.
Ada garis-garis keemasan di tubuhnya.
Maryam menyentuh perlahan.
“Ini berbeda.”
Rahman menjawab:
“Ya.”
“Lebih kuat?”
“Di beberapa bagian. Tapi tetap harus dijaga.”
꧁ JANGAN MENGISI RACUN KE DALAM MANGKUK YANG SUDAH DIPERBAIKI ꧂
Maryam hendak membawa pulang.
Rahman bertanya:
“Untuk apa mangkuk ini akan digunakan?”
“Seperti dulu.”
“Dulu untuk apa?”
Maryam diam.
Kemudian berkata:
“Untuk menjamu orang yang pernah melemparkannya.”
Rahman menatapnya.
“Apakah orang itu sudah berubah?”
Maryam menjawab:
“Katanya begitu.”
“Sudah ada bukti?”
“Belum banyak.”
Rahman berkata:
“Memaafkan bukan kewajiban untuk menguji mangkuk yang baru diperbaiki dengan cara paling berbahaya.”
Maryam mulai mengerti.
꧁ MAWAR DAN DURI ꧂
Di halaman rumah Rahman tumbuh bunga mawar.
Ia memetik satu.
Memberikannya kepada Maryam.
“Pegang.”
Maryam menerima.
“Indah?”
“Ya.”
“Punya duri?”
“Ya.”
“Apakah karena berduri berarti mawar harus dibuang?”
“Tidak.”
“Apakah karena indah berarti durinya harus dipeluk?”
Maryam tersenyum kecil.
Rahman berkata:
“Mencintai kebaikan tidak meminta kita menyangkal bahaya.”
꧁ ORANG YANG MEMINTA MAAF TETAPI TIDAK MAU BERUBAH ꧂
Beberapa minggu kemudian seorang lelaki datang ke rumah Rahman.
Ia berkata:
“Saya sudah minta maaf berkali-kali, tapi dia belum kembali percaya.”
Rahman bertanya:
“Apa yang sudah kau ubah?”
Lelaki itu diam.
“Aku sudah bilang menyesal.”
“Selain kata?”
“Apa maksudmu?”
Rahman mengambil mangkuk kosong.
Ia menjatuhkan satu batu kecil ke dalamnya.
“Maaf.”
Lalu menjatuhkan batu lagi.
“Maaf.”
Lagi.
“Maaf.”
Mangkuk mulai penuh batu.
Rahman berkata:
“Kalau tindakan yang menyakiti terus diulang, kata maaf bisa kehilangan ruang untuk dipercaya.”
Lelaki itu tertunduk.
꧁ RAHASIA PERUBAHAN ꧂
Rahman berkata:
“Permintaan maaf mempunyai kaki.”
Lelaki itu bingung.
“Kaki?”
“Ya.”
“Apakah ia berjalan menuju perubahan?”
“Apakah kebiasaan diperbaiki?”
“Apakah batas dihormati?”
“Apakah kerusakan ditanggung?”
“Apakah pola lama dihentikan?”
“Kalau tidak, maaf hanya suara.”
꧁ MARYAM KEMBALI ꧂
Bulan berlalu.
Maryam datang lagi membawa mangkuk.
Rahman khawatir.
“Pecah lagi?”
Maryam tersenyum.
“Tidak.”
Ia meletakkan mangkuk.
Sekarang mangkuk itu berisi bunga-bunga kering harum.
Rahman bertanya:
“Tidak dipakai untuk makan?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Maryam menjawab:
“Karena aku menemukan fungsi baru.”
Rahman tersenyum.
“Bagaimana hatimu?”
“Lebih tenang.”
“Orang yang dulu menyakitimu?”
“Saya tidak membencinya.”
“Apakah kembali seperti dulu?”
Maryam menggeleng.
“Tidak.”
Rahman bertanya:
“Menyesal?”
Maryam menjawab:
“Tidak. Saya pikir dulu memaafkan berarti harus kembali ke bentuk lama. Sekarang saya tahu kedamaian tidak selalu membutuhkan pengulangan hubungan lama.”
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT PULUH SATU ꧂
Memaafkan adalah perkara mulia.
Namun sering disalahpahami.
Memaafkan bukan berarti:
menganggap luka tidak terjadi,
membenarkan perbuatan salah,
menyerahkan kepercayaan tanpa bukti,
atau membiarkan bahaya berulang.
Memaafkan adalah upaya melepaskan diri dari racun kebencian dan dendam.
Tetapi batas masih boleh ada.
Jarak masih boleh diperlukan.
Kepercayaan masih boleh dibangun perlahan.
꧁ RAHASIA GARIS EMAS ꧂
Garis emas bukan berarti:
“Luka itu bagus.”
Bukan.
Luka tetap menyakitkan.
Namun manusia dapat mengambil hikmah tanpa harus memuliakan penderitaan.
Bekas luka dapat menjadi pengingat:
“Di sini aku pernah rusak.”
“Di sini aku belajar.”
“Di sini aku membangun batas baru.”
“Di sini aku menemukan kekuatan yang sebelumnya tidak kukenal.”
꧁ RAHASIA MANGKUK ꧂
Mangkuk melambangkan hati dan kepercayaan.
Ia dibuat untuk menampung sesuatu.
Jika berulang kali diisi racun, jangan salahkan mangkuk ketika akhirnya retak.
Begitu pula hati.
Jika sebuah hubungan terus diisi:
penghinaan,
kebohongan,
kekerasan,
manipulasi,
atau pengkhianatan,
jangan menganggap orang yang terluka “kurang sabar” hanya karena akhirnya membuat batas.
꧁ RAHASIA PERBAIKAN ꧂
Perbaikan hubungan membutuhkan lebih dari emosi.
Ia membutuhkan:
pengakuan yang jujur,
perubahan tindakan,
waktu,
kesediaan memperbaiki akibat,
dan penghormatan terhadap batas.
Jika hanya satu pihak terus memperbaiki sementara pihak lain terus memecahkan, itu bukan pemulihan.
Itu pengulangan.
꧁ EMPAT LAPIS PEMAAFAN ꧂
Pertama — Mengakui kenyataan.
Jangan mengecilkan apa yang terjadi.
Kedua — Melepaskan keinginan membalas.
Tidak berarti harus dekat kembali.
Ketiga — Menata batas.
Tentukan apa yang aman dan tidak.
Keempat — Membuka kemungkinan masa depan tanpa memaksa bentuk lama.
Kadang hubungan pulih. Kadang berubah. Kadang selesai dengan damai.
꧁ RAHASIA KEPERCAYAAN ꧂
Kepercayaan seperti air dalam mangkuk.
Sulit dikumpulkan.
Mudah tumpah.
Jika tumpah, tidak cukup berkata:
“Masukkan lagi.”
Air perlu diambil kembali.
Sedikit demi sedikit.
Begitu pula kepercayaan.
Ia dibangun melalui konsistensi.
Bukan desakan.
Orang yang sungguh berubah akan menghormati bahwa orang lain mungkin membutuhkan waktu.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT PULUH SATU ꧂
“Ngapura ora ateges menehi racun panggonan kaping pindho ing mangkuk sing wis kok dandani.”
Artinya:
Memaafkan bukan berarti memberi racun tempat kedua di dalam mangkuk yang telah engkau perbaiki.
Dan:
“Retak kang wis ditambal ora kudu disingkiri, nanging uga ora perlu diuji maneh nganggo tangan sing padha yen tangane durung sinau.”
Retak yang telah diperbaiki tidak harus dibenci, tetapi juga tidak perlu diuji kembali oleh tangan yang sama jika tangan itu belum belajar.
꧁ RAHASIA ORANG YANG BELUM MAMPU MEMAAFKAN ꧂
Ada orang berkata:
“Aku belum bisa memaafkan.”
Jangan langsung menghakimi.
Luka mempunyai kedalaman berbeda.
Ada yang membutuhkan waktu.
Ada yang membutuhkan percakapan.
Ada yang membutuhkan jarak.
Ada yang membutuhkan dukungan profesional.
Yang penting jangan menjadikan kebencian sebagai rumah permanen.
Bila belum mampu mengatakan:
“Aku sudah memaafkan,”
mungkin mulai dari:
“Aku tidak ingin luka ini menguasai seluruh hidupku.”
Itu pun langkah.
꧁ RAHASIA MEMAAFKAN DIRI ꧂
Kadang orang yang paling sulit dimaafkan adalah diri sendiri.
Kesalahan lama terus diputar.
Manusia berkata:
“Aku seharusnya tahu.”
“Aku bodoh.”
“Aku gagal.”
Jika sudah bertaubat, memperbaiki yang bisa diperbaiki, dan belajar—
jangan jadikan diri sendiri tahanan selamanya.
Tanggung jawab penting.
Tetapi hukuman tanpa akhir tidak selalu menghasilkan perbaikan.
Belajarlah membedakan antara:
menyesali kesalahan
dan
membenci seluruh dirimu karena pernah salah.
꧁ MANGKUK YANG BUKAN KEMBALI BARU ꧂
Seorang anak bertanya kepada Rahman:
“Paman, apakah mangkuk yang diperbaiki menjadi seperti baru?”
Rahman menjawab:
“Tidak.”
“Berarti gagal?”
“Tidak juga.”
“Lalu?”
“Menjadi sesuatu yang berbeda.”
Anak itu bertanya:
“Lebih baik atau lebih buruk?”
Rahman tersenyum.
“Tidak semua hal harus dibandingkan dengan bentuk sebelumnya. Yang penting: apakah sekarang ia bisa hidup dengan baik dalam bentuk barunya.”
꧁ HARI KETIKA RAHMAN SENDIRI MEMECAHKAN MANGKUK ꧂
Suatu sore, Rahman menjatuhkan mangkuk kesayangannya.
Pecah.
Ia terdiam.
Muridnya berkata:
“Guru pasti bisa memperbaiki.”
Rahman berkata:
“Bisa.”
Namun kali ini ia tidak langsung bekerja.
Ia mengumpulkan pecahan.
Duduk.
Muridnya bertanya:
“Kenapa menunggu?”
Rahman menjawab:
“Karena bahkan orang yang tahu cara memperbaiki tetap boleh sedih ketika sesuatu pecah.”
Itulah pelajaran lain.
Keterampilan memulihkan bukan berarti manusia tidak merasakan kehilangan.
꧁ PENUTUP QISAH KEEMPAT PULUH SATU ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Bengkel Rahman dipenuhi mangkuk yang telah diperbaiki.
Tidak ada dua yang sama.
Ada garis emas tipis.
Ada garis tebal.
Ada yang hanya hiasan.
Ada yang kembali dipakai sehari-hari.
Ada yang dipindahkan fungsinya.
Rahman tidak pernah memaksa satu bentuk pemulihan.
Suatu hari seorang pemuda bertanya:
“Guru, mana mangkuk terbaik di sini?”
Rahman menunjuk rak.
“Tidak tahu.”
“Bukankah Guru yang membuatnya?”
“Ya.”
“Kenapa tidak tahu?”
Rahman menjawab:
“Karena terbaik untuk satu mangkuk belum tentu terbaik untuk yang lain.”
Ada yang aman kembali digunakan.
Ada yang sebaiknya tidak lagi menerima panas tinggi.
Ada yang menjadi hiasan.
Ada yang cukup kuat untuk penggunaan baru.
Begitu pula manusia.
Jangan paksa seluruh luka pulih dengan bentuk yang sama.
Ada hubungan yang bisa dibangun ulang.
Ada yang hanya bisa ditutup dengan maaf dan jarak.
Ada yang membutuhkan waktu panjang.
Ada yang meninggalkan bekas selamanya.
Tetapi bekas tidak harus berarti hidup berhenti.
Maka jika engkau sedang memegang hati yang pernah pecah, jangan buru-buru bertanya:
“Bagaimana supaya semuanya kembali seperti dulu?”
Tanyakan:
“Bagaimana supaya setelah ini aku dapat hidup dengan lebih sehat, lebih jernih, dan lebih amanah?”
Jika perlu memaafkan, maafkan sejauh engkau mampu dengan jujur.
Jika perlu batas, buatlah batas.
Jika perlu waktu, berikan waktu.
Jika pihak yang melukai sungguh berubah, lihat perubahan melalui tindakan.
Dan bila suatu hubungan tidak kembali ke bentuk lama, jangan otomatis menyebut pemulihan gagal.
Bisa jadi mangkuk itu tidak ditakdirkan kembali untuk menampung isi yang sama.
Bisa jadi ia menemukan fungsi baru.
Karena sembuh tidak selalu berarti kembali menjadi sebelum luka.
Kadang sembuh berarti:
mampu melihat retak tanpa terus berdarah dari retak itu.
Dan mampu berkata:
“Ini bagian dari kisahku.”
“Bukan seluruh diriku.”
“Bukan pula alasan untuk terus mengisi hidup dengan racun yang sama.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الحادية والأربعين
KHATAM QISAH KEEMPAT PULUH SATU
“Ngapura iku ngeculake racun saka ati, dudu menehi racun hak kanggo mlebu maneh.”
Memaafkan adalah melepaskan racun dari hati, bukan memberikan racun hak untuk masuk kembali.
“Waras ora mesthi bali kaya biyen. Kadhang waras iku urip kanthi bentuk anyar tanpa terus diperintah dening retak lawas.”
Pulih tidak selalu berarti kembali seperti dahulu. Kadang pulih berarti hidup dalam bentuk baru tanpa terus diperintah oleh retakan lama.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT PULUH DUA
“KOMPAS YANG TETAP MENUNJUK UTARA KETIKA SELURUH ROMBONGAN BERLARI KE SELATAN”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di antara dua kerajaan terdapat sebuah gurun bernama Shahrā’ al-Mīzān.
Gurun itu luas.
Bukit pasirnya selalu berubah.
Jejak kaki dapat hilang dalam satu malam.
Jalan yang kemarin tampak jelas dapat tertutup angin keesokan harinya.
Karena itu para musafir tidak hanya mengandalkan jalan.
Mereka membawa:
air,
peta,
kompas,
pengetahuan tentang bintang,
dan biasanya seorang pemandu yang mengenal wilayah tersebut.
Di sebuah kota perbatasan hiduplah seorang pemuda bernama Rasyid.
Ayahnya dahulu seorang pembuat kompas.
Sebelum meninggal, ayahnya memberikan satu kompas kecil berbingkai kayu.
Di bagian belakangnya terukir kalimat:
“Arah tidak berubah hanya karena orang banyak berlari ke tempat lain.”
Rasyid sering membaca kalimat itu.
Namun ia baru benar-benar memahami maknanya bertahun-tahun kemudian.
꧁ ROMBONGAN SERATUS MUSAFIR ꧂
Suatu musim, Rasyid bergabung dengan rombongan besar menuju kota Nurabad di sebelah utara gurun.
Ada seratus orang.
Pedagang.
Pengembara.
Keluarga.
Pencari ilmu.
Dan beberapa penjaga.
Pemimpin rombongan bernama Jamal.
Ia berpengalaman.
Hari pertama perjalanan berjalan baik.
Mereka menuju utara.
Kompas Rasyid menunjukkan arah yang sama.
Hari kedua pun demikian.
Namun pada hari ketiga datang badai pasir.
Langit tertutup.
Matahari tidak terlihat.
Rombongan berhenti.
Ketika badai reda, bentuk gurun telah berubah.
Bukit-bukit pasir berpindah.
Bekas jalan hilang.
Jamal membuka peta.
Ia mencoba menentukan arah.
Seorang pedagang berkata:
“Aku ingat kita harus berjalan ke sana.”
Ia menunjuk selatan.
Orang lain berkata:
“Benar. Sepertinya tadi kita datang dari arah sana, berarti Nurabad di sebelahnya.”
Beberapa orang mengangguk.
Kemudian semakin banyak.
Dalam beberapa menit hampir seluruh rombongan sepakat:
selatan adalah jalan yang benar.
꧁ JARUM KECIL YANG BERBEDA DENGAN SERATUS SUARA ꧂
Rasyid membuka kompas.
Jarumnya menunjuk arah sebaliknya.
Utara.
Ia memeriksa lagi.
Tetap.
Ia menggoyangkan kompas.
Menunggu.
Jarum kembali ke utara.
Rasyid berkata:
“Maaf, menurut kompas kita harus ke arah sebaliknya.”
Beberapa orang tertawa.
Seorang pedagang berkata:
“Kami seratus orang.”
“Kompasmu hanya satu.”
Orang lain berkata:
“Mungkin rusak terkena badai.”
Rasyid terdiam.
Mungkin mereka benar.
Ia tidak ingin merasa hebat hanya karena berbeda.
Maka ia berkata:
“Mungkin. Mari kita periksa dahulu.”
Jamal bertanya:
“Bagaimana?”
Rasyid menjawab:
“Jangan percaya kepadaku hanya karena aku memegang kompas. Kita cari tanda lain.”
꧁ BERBEDA BUKAN OTOMATIS BENAR ꧂
Rasyid mengambil mangkuk kecil berisi air.
Ia meletakkan kompas di permukaan rata.
Jarumnya tetap sama.
Kemudian ia mencari tanda tumbuhan yang biasanya tumbuh dekat jalur air utara.
Belum ditemukan.
Ia menunggu malam.
Beberapa orang marah.
“Kita membuang waktu!”
Namun Jamal berkata:
“Satu malam lebih murah daripada tersesat beberapa hari.”
Ketika malam datang, awan mulai terbuka.
Seorang ahli bintang bernama Najmuddin mengamati langit.
Ia berkata:
“Rasyid benar. Utara berada di sana.”
Rombongan terdiam.
Rasyid tidak tersenyum bangga.
Ia justru merasa lega.
Karena ia tidak ingin benar sendirian.
Ia ingin arah mereka benar.
꧁ ORANG YANG MARAH KARENA MAYORITAS SALAH ꧂
Seorang pedagang bernama Bahr merasa malu.
Dialah yang pertama menunjuk selatan.
Ia berkata:
“Kompas itu kebetulan saja benar.”
Rasyid menjawab:
“Mungkin kompas juga bisa rusak.”
Bahr terkejut.
“Kau tidak membela kompasmu?”
Rasyid berkata:
“Aku membela arah yang dapat diperiksa, bukan egoku sebagai pemilik kompas.”
Najmuddin tersenyum.
Ia berkata:
“Orang yang benar-benar mencari arah tidak takut memeriksa alatnya sendiri.”
꧁ PERJALANAN DILANJUTKAN ꧂
Mereka kembali bergerak ke utara.
Beberapa jam kemudian mereka menemukan batu penanda jalur lama.
Sekarang semuanya yakin.
Namun terjadi perubahan di dalam Rasyid.
Dulu ia hanya berpikir:
“Jangan ikut orang banyak jika mereka salah.”
Sekarang ia memahami pelajaran yang lebih lengkap:
jangan ikut orang banyak hanya karena banyak, tetapi jangan pula melawan orang banyak hanya karena ingin berbeda.
Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah.
Tetapi perbedaan juga bukan bukti kebenaran.
꧁ DESA FATAMORGANA ꧂
Hari berikutnya, dari kejauhan terlihat sesuatu seperti air.
Beberapa musafir berteriak:
“Danau!”
Semua kelelahan.
Mereka hampir kehabisan air.
Orang mulai berlari.
Rasyid melihat.
Ia juga ingin percaya.
Namun Najmuddin berkata:
“Berhenti.”
“Kenapa?”
“Itu mungkin fatamorgana.”
Bahr berkata:
“Kali ini aku melihat dengan mataku sendiri!”
Najmuddin menjawab:
“Mata adalah alat yang luar biasa, tetapi dalam keadaan tertentu ia juga membutuhkan pemeriksaan.”
Mereka mengamati lebih lama.
Benar.
Air itu tidak ada.
Hanya cahaya dan panas yang membentuk ilusi.
Bahr berkata:
“Jadi kita tidak boleh percaya mata?”
Najmuddin tertawa.
“Kalau begitu bagaimana kau melihat jalan?”
“Lalu?”
“Gunakan mata. Tetapi pahami batas mata.”
꧁ KETIKA RASYID SENDIRI TERNYATA SALAH ꧂
Beberapa hari kemudian mereka sampai di persimpangan dua lembah.
Kompas tetap menunjukkan utara.
Rasyid berkata:
“Ambil lembah kiri. Itu lebih dekat ke arah utara.”
Seorang penggembala lokal yang mereka temui berkata:
“Jangan.”
Rasyid bertanya:
“Kenapa?”
“Lembah itu berakhir di tebing.”
Rasyid melihat kompas.
“Tapi utara memang ke sana.”
Penggembala menjawab:
“Benar. Tetapi kau tidak bisa melewati gunung itu.”
Rasyid terdiam.
Penggembala menunjuk lembah kanan.
“Kalian harus ke timur dahulu, lalu memutar ke utara.”
Bahr tersenyum.
“Sekarang kompasmu salah?”
Rasyid menjawab:
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku yang salah mengira arah tujuan sama dengan bentuk jalan yang harus ditempuh.”
Najmuddin berkata:
“Bagus.”
꧁ ARAH DAN JALAN ADALAH DUA HAL ꧂
Malam itu Rasyid memikirkan pelajaran tersebut.
Kompas dapat menunjukkan utara.
Namun ia tidak menunjukkan:
gunung,
jurang,
banjir,
jembatan,
atau jalan tertutup.
Arah adalah prinsip.
Jalan adalah penerapannya.
Kadang untuk tetap menuju utara, manusia harus berjalan sebentar ke timur.
Kadang memutar.
Kadang menunggu.
Kadang kembali beberapa langkah.
Tidak setiap belokan adalah penyimpangan.
Yang penting jangan kehilangan arah akhir.
꧁ KETIKA ROMBONGAN MULAI MEMUJA KOMPAS ꧂
Setelah beberapa kali kompas Rasyid membantu, orang-orang mulai berkata:
“Tidak perlu bertanya lagi. Ikuti saja Rasyid.”
Rasyid justru khawatir.
Ia berkata:
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kompas bukan peta.”
“Dan aku bukan orang yang mengetahui seluruh gurun.”
Bahr bertanya:
“Bukankah kompasmu selalu benar?”
Rasyid menjawab:
“Jarumnya menunjukkan arah. Tetapi keputusan perjalanan membutuhkan lebih banyak hal.”
Jamal mengangguk.
Mereka tetap memeriksa:
peta,
cuaca,
persediaan,
informasi penduduk,
dan bintang.
Rasyid belajar:
alat yang benar pun dapat disalahgunakan jika manusia memberinya pekerjaan yang bukan kemampuannya.
꧁ SATU ROMBONGAN MEMISAHKAN DIRI ꧂
Di tengah perjalanan mereka bertemu kelompok lain.
Kelompok itu juga menuju Nurabad.
Pemimpinnya bernama Qasim.
Qasim berkata:
“Kami menemukan jalur tercepat.”
Ia menunjuk ke barat laut.
Jamal bertanya:
“Apakah sudah diperiksa?”
“Semua orang kami setuju.”
Rasyid bertanya:
“Ada pemandu lokal?”
“Tidak perlu.”
“Peta?”
“Tidak.”
“Bagaimana tahu?”
Qasim berkata:
“Kami yakin.”
Rasyid tidak mengejek.
Ia hanya berkata:
“Keyakinan yang kuat tidak mengubah gurun.”
Qasim tersinggung.
Rombongannya pergi.
Beberapa orang dari kelompok Rasyid ingin mengikuti karena jalurnya terlihat lebih pendek.
Jamal berkata:
“Kita tetap pada jalur yang sudah diperiksa.”
꧁ TIGA HARI KEMUDIAN ꧂
Tiga hari kemudian mereka menemukan beberapa anggota rombongan Qasim kembali dari arah lain.
Mereka kehabisan tenaga.
Ternyata jalur tersebut tertutup jurang panjang.
Mereka harus memutar.
Qasim sendiri kemudian datang.
Ia malu.
Rasyid memberinya air.
Qasim berkata:
“Kau boleh berkata aku salah.”
Rasyid menjawab:
“Yang penting sekarang kita kembali menentukan arah.”
Qasim bertanya:
“Kau tidak ingin menang?”
Rasyid berkata:
“Kalau seseorang tersesat, saat itu ia membutuhkan jalan lebih daripada seseorang yang berkata: aku sudah bilang.”
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT PULUH DUA ꧂
Manusia hidup di tengah suara banyak orang.
Keluarga berkata sesuatu.
Teman berkata sesuatu.
Masyarakat mempunyai kebiasaan.
Zaman mempunyai tren.
Kelompok mempunyai tekanan.
Jumlah besar dapat membuat sesuatu terasa benar.
Namun ramainya suara bukan ukuran terakhir kebenaran.
Sebaliknya, jangan pula terjebak kesombongan:
“Karena aku berbeda, pasti aku lebih benar.”
Bisa jadi kita memang salah.
Maka keteguhan perlu ditemani pemeriksaan.
Keberanian perlu ditemani kerendahan hati.
꧁ RAHASIA KOMPAS ꧂
Kompas melambangkan prinsip dan arah dasar.
Dalam hidup manusia membutuhkan kompas:
nilai,
iman,
kejujuran,
keadilan,
amanah,
ilmu yang benar.
Tanpa kompas, manusia mudah terseret keramaian.
Tetapi memiliki kompas belum cukup.
Ia perlu tahu cara membacanya.
Dan perlu memahami medan.
꧁ RAHASIA ROMBONGAN ꧂
Rombongan bukan musuh.
Berjalan bersama justru banyak manfaatnya.
Ada pertolongan.
Perlindungan.
Pengetahuan.
Persahabatan.
Masalah muncul jika manusia menyerahkan seluruh akalnya kepada kerumunan.
Kalimat:
“Semua orang juga begitu”
bukan alasan yang cukup untuk melakukan sesuatu.
Tanyakan:
“Apakah memang benar?”
“Apakah baik?”
“Apakah adil?”
“Apakah sesuai amanah?”
꧁ RAHASIA MENJADI MINORITAS ꧂
Berada sendirian dalam suatu pendapat bisa berat.
Manusia takut:
ditertawakan,
dianggap aneh,
ditinggalkan,
atau dimusuhi.
Jika engkau mempunyai dasar yang kuat dan perkara itu penting, mungkin engkau perlu berdiri.
Tetapi tetaplah rendah hati.
Periksa ulang.
Cari orang berilmu.
Cari bukti.
Jangan jadikan kesendirian sebagai mahkota.
Karena minoritas juga bisa salah.
꧁ RAHASIA MAYORITAS ꧂
Mayoritas juga tidak selalu salah.
Kadang banyak orang sepakat karena memang ada alasan yang kuat.
Karena itu jangan menjadi orang yang otomatis menolak apa pun yang umum.
Sikap sehat bukan:
“Ikuti semua.”
Bukan pula:
“Lawan semua.”
Tetapi:
“Timbang semua.”
꧁ EMPAT CARA MEMERIKSA ARAH ꧂
Pertama — Periksa dasar.
Mengapa aku meyakini ini?
Kedua — Cari bukti lain.
Jangan hanya menggunakan satu tanda jika akibatnya besar.
Ketiga — Dengarkan ahli dan orang yang mengenal medan.
Pengalaman mempunyai tempat.
Keempat — Bersedia mengubah kesimpulan jika kenyataan membuktikan kita salah.
Keteguhan pada kebenaran berbeda dengan keterikatan pada pendapat pribadi.
꧁ RAHASIA BERBALIK ꧂
Ada orang tahu dirinya salah tetapi malu berbalik karena terlalu banyak orang melihat.
Ia berkata:
“Sudah terlanjur.”
Padahal semakin lama melanjutkan jalan salah, semakin jauh biaya untuk pulang.
Berbalik bukan selalu kekalahan.
Kadang ia adalah kemenangan akal atas ego.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT PULUH DUA ꧂
“Arah ora owah mung amarga wong akeh mlayu menyang panggonan liya.”
Artinya:
Arah tidak berubah hanya karena banyak orang berlari ke tempat lain.
Dan:
“Aja melu rame mung amarga rame, nanging aja uga nglawan rame mung supaya katon beda.”
Jangan mengikuti keramaian hanya karena ramai, tetapi jangan pula melawan keramaian hanya agar terlihat berbeda.
꧁ RAHASIA BINTANG DAN KOMPAS ꧂
Najmuddin pernah berkata:
“Kalau kompas dan bintang tampak bertentangan, jangan langsung pilih yang paling kau sukai.”
Rasyid bertanya:
“Lalu?”
“Periksa keduanya.”
“Mungkin kompas dekat logam.”
“Mungkin engkau salah membaca bintang.”
“Mungkin peta diputar terbalik.”
Inilah adab terhadap keyakinan:
semakin penting keputusan, semakin besar kesediaan untuk memeriksa.
꧁ KETIKA NURABAD AKHIRNYA TERLIHAT ꧂
Pada hari kesekian, dari puncak bukit mereka melihat menara-menara Nurabad.
Rombongan bersorak.
Bahr datang kepada Rasyid.
“Kalau hari ketiga dulu kita mengikuti arah selatan, mungkin kita belum sampai.”
Rasyid menjawab:
“Mungkin.”
Bahr berkata:
“Kompasmu menyelamatkan kita.”
Rasyid menatap benda kecil di tangannya.
Kemudian berkata:
“Kompas membantu.”
“Yang menyelamatkan perjalanan adalah kita bersedia berhenti, memeriksa, mendengar ahli bintang, lalu mengubah keputusan sebelum terlambat.”
Jamal mendengar.
Ia berkata:
“Itulah sebabnya perjalanan tidak boleh diletakkan pada satu suara saja.”
꧁ AYAH RASYID DAN UKIRAN LAMA ꧂
Malam pertama di Nurabad, Rasyid kembali membaca tulisan ayahnya:
“Arah tidak berubah hanya karena orang banyak berlari ke tempat lain.”
Kini ia menambahkan satu kalimat kecil di bawahnya:
“Tetapi periksalah kompasmu sebelum menuduh seluruh rombongan tersesat.”
Ia tersenyum.
Dua kalimat itu harus berjalan bersama.
Yang pertama mencegahnya menjadi pengikut buta.
Yang kedua mencegahnya menjadi orang sombong yang selalu merasa paling benar.
꧁ KETIKA RASYID MENJADI PEMANDU ꧂
Bertahun-tahun kemudian Rasyid menjadi pemandu gurun.
Ia membawa murid-murid.
Pada perjalanan pertama, ia memberikan sebuah kompas kepada seorang pemuda.
“Ini menunjukkan utara.”
Pemuda berkata:
“Berarti aku sudah bisa memimpin?”
Rasyid tertawa.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kau baru tahu satu arah.”
Ia kemudian mengajarkan:
membaca langit,
mengenali air,
menilai badai,
mendengar penduduk,
menakar bekal,
dan yang paling sulit:
mengakui ketika keputusan sendiri perlu diperbaiki.
꧁ RAHASIA PEMIMPIN ꧂
Pemimpin sering menghadapi dua bahaya.
Pertama:
terlalu mudah mengikuti suara terbanyak demi disukai.
Kedua:
terlalu yakin bahwa kedudukannya membuat ia selalu mengetahui arah.
Keduanya berbahaya.
Pemimpin perlu mendengar.
Namun bukan sekadar menghitung suara.
Ia perlu menimbang:
nilai,
kenyataan,
dampak,
keahlian,
dan amanah.
꧁ PENUTUP QISAH KEEMPAT PULUH DUA ꧂
Pada suatu senja, Rasyid duduk bersama muridnya di tengah gurun.
Murid itu bertanya:
“Guru, mana yang lebih sulit: berjalan sendirian melawan seratus orang, atau mengakui bahwa seratus orang ternyata benar dan kita salah?”
Rasyid tertawa.
Kemudian diam cukup lama.
“Aku kira yang kedua kadang lebih sulit.”
“Kenapa?”
“Karena ketika kita berdiri sendiri, kita dapat merasa berani.”
“Sedangkan ketika harus mengakui salah?”
“Kita harus menundukkan ego.”
Murid mengangguk.
Rasyid melihat kompas.
Jarumnya tenang.
Tidak berteriak.
Tidak berdebat.
Tidak marah kepada selatan.
Ia hanya menunjuk.
Rasyid berkata:
“Belajarlah dari jarum ini. Ia tidak perlu menghina arah lain untuk mengetahui ke mana utara.”
Murid itu tersenyum.
Malam datang.
Bintang mulai tampak.
Rasyid melanjutkan:
“Dan jangan jadikan kompasmu berhala baru.”
“Gunakan.”
“Periksa.”
“Bandingkan.”
“Baca medan.”
“Lalu berjalan.”
Sebab hidup bukan sekadar mempunyai pendapat.
Hidup adalah menanggung akibat dari arah yang dipilih.
Maka ketika seluruh orang di sekitarmu berlari ke satu arah, jangan langsung ikut.
Tetapi jangan pula langsung berdiri melawan.
Tenangkan hati.
Lihat kompas.
Periksa bintang.
Baca tanda.
Dengarkan orang yang benar-benar mengetahui medan.
Dan berdoalah kepada Alloh agar diberi kejernihan.
Jika ternyata arah yang benar berbeda dari keramaian, jangan takut berjalan dengan adab.
Jika ternyata engkau yang salah, jangan malu berbalik.
Karena tujuan perjalanan bukan membuktikan bahwa kita selalu benar.
Tujuan perjalanan adalah sampai kepada arah yang benar tanpa kehilangan kejujuran selama menempuhnya.
Dan mungkin di situlah salah satu bentuk keberanian paling sunyi:
mampu berdiri ketika harus berdiri,
mampu mengikuti ketika memang benar,
dan mampu kembali ketika kenyataan menunjukkan bahwa kaki kita sendirilah yang sedang menjauh.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثانية والأربعين
KHATAM QISAH KEEMPAT PULUH DUA
“Aja ngukur arah saka akehe sikil sing mlaku menyang kono.”
Jangan mengukur kebenaran arah hanya dari banyaknya kaki yang berjalan ke sana.
“Jejeg nalika bener, lan wani bali nalika salah. Loro-lorone mbutuhake ati kang ora dadi budhake gengsi.”
Berdirilah teguh ketika benar, dan beranilah kembali ketika salah. Keduanya membutuhkan hati yang tidak menjadi budak gengsi.
꧁ QITAB 43 CERITA BARU ꧂
QISAH LANGIT
QISAH KEEMPAT PULUH TIGA — QISAH PAMUNGKAS
“BALAI EMPAT PULUH TIGA PELITA YANG PINTUNYA TERBUKA KETIKA SEORANG MUSAFIR BERHENTI MENCARI CERITA BARU”
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Di penghujung sebuah negeri yang tidak tercantum pada peta kerajaan, terdapat sebuah dataran tinggi.
Dataran itu tidak terkenal karena emas.
Tidak karena istana.
Tidak pula karena pasar yang besar.
Orang-orang mengenalnya karena di puncaknya berdiri sebuah bangunan tua yang bernama:
DĀRUL ‘IBRAH
Balai Pelajaran
Tidak seorang pun mengetahui pasti siapa yang pertama membangunnya.
Bangunannya sederhana.
Dinding batu.
Tiang kayu.
Atap tinggi.
Di dalamnya terdapat empat puluh tiga tempat pelita.
Namun hanya empat puluh dua pelita yang terlihat.
Tempat pelita terakhir kosong.
Di atas pintu tertulis:
“Barang siapa datang hanya untuk menambah cerita, akan pulang membawa cerita. Barang siapa datang untuk memperbaiki hidup, mungkin pulang membawa jalan.”
Banyak orang membaca.
Sedikit yang memahami.
꧁ MUSAFIR BERNAMA SAFAR ꧂
Di sebuah kota jauh, hiduplah seorang pemuda bernama Safar.
Namanya berarti perjalanan.
Dan hidupnya memang penuh perjalanan.
Ia gemar mencari guru.
Mendatangi tempat-tempat jauh.
Mendengar kisah.
Mencatat nasihat.
Mengumpulkan perumpamaan.
Ia mempunyai puluhan buku catatan.
Jika ada orang berkata:
“Di gunung sebelah ada seorang bijak,”
Safar pergi.
Jika mendengar:
“Di desa utara ada manuskrip tua,”
ia mencarinya.
Jika ada orang membawa cerita baru, ia duduk sampai malam.
Orang-orang menganggap Safar sangat berilmu.
Namun ibunya pernah bertanya:
“Nak, dari semua yang kau pelajari, apa yang sudah berubah dalam hidupmu?”
Safar menjawab:
“Banyak.”
“Apa contohnya?”
Safar terdiam.
Ia dapat menjelaskan ratusan pelajaran.
Tetapi ketika ibunya meminta satu perubahan nyata—
ia kesulitan menjawab.
꧁ BANYAK MENGETAHUI, SEDIKIT MENJALANI ꧂
Safar mengetahui bahwa waktu berharga.
Tetapi ia masih sering menunda meminta maaf.
Ia mengetahui bahwa kesombongan berbahaya.
Tetapi masih tersinggung jika pendapatnya tidak dipakai.
Ia mengetahui pentingnya istirahat.
Tetapi tubuhnya sering dipaksa.
Ia mengetahui bahwa orang tidak boleh dinilai dari penampilan.
Namun masih mudah menganggap orang sederhana kurang tahu.
Ia mengetahui pentingnya regenerasi.
Tetapi semua catatan penting hanya ia sendiri yang memahami.
Ia mengetahui bahwa tidak semua harus dilakukan sekaligus.
Tetapi setiap pekan ia menambah proyek baru.
Safar memiliki banyak cahaya di kepala.
Namun sebagian besar belum turun menjadi langkah di kaki.
꧁ KABAR TENTANG DĀRUL ‘IBRAH ꧂
Suatu malam seorang musafir tua menginap di rumah Safar.
Ia bercerita tentang Balai Empat Puluh Tiga Pelita.
Safar langsung bersemangat.
“Apakah di sana ada ajaran rahasia?”
Musafir menjawab:
“Mungkin.”
“Kitab?”
“Bisa jadi.”
“Manuskrip?”
“Entahlah.”
“Guru besar?”
“Ada seorang penjaga.”
Safar bertanya:
“Siapa namanya?”
“Tidak penting.”
Safar semakin penasaran.
“Bagaimana cara masuk?”
Musafir tua menjawab:
“Datanglah dengan membawa semua pelajaran yang kau miliki.”
Safar mengira maksudnya membawa buku.
Maka ia mengemas tiga peti catatan.
꧁ PERJALANAN MENUJU BALAI ꧂
Perjalanan berlangsung berminggu-minggu.
Safar membawa buku, gulungan, pena, dan catatan.
Semakin mendekati dataran tinggi, jalan semakin curam.
Ia mulai mengeluh.
“Kenapa tempat ilmu selalu dibangun jauh?”
Seorang petani yang berpapasan berkata:
“Mungkin agar orang tahu apa yang sungguh ingin dibawa.”
Safar tidak memahami.
Peti pertama terlalu berat.
Ia meninggalkan beberapa buku yang isinya sudah ia hafal.
Peti kedua masih berat.
Ia menyederhanakan.
Akhirnya ia tiba hanya membawa satu tas.
Namun bahkan tas itu masih penuh catatan.
꧁ PENJAGA BALAI ꧂
Di depan Dārul ‘Ibrah duduk seorang lelaki tua bernama Abdul Hadi.
Tidak memakai pakaian khusus.
Tidak memiliki mahkota.
Tidak membawa tongkat besar.
Ia sedang memperbaiki sandal.
Safar bertanya:
“Apakah engkau penjaga Balai Pelajaran?”
“Ya.”
“Aku datang dari jauh.”
“Selamat datang.”
“Aku ingin mengetahui rahasia pelita keempat puluh tiga.”
Abdul Hadi bertanya:
“Kenapa?”
Safar menjawab:
“Aku telah mendengar banyak cerita. Aku ingin cerita terakhir.”
Penjaga memandangnya.
Kemudian berkata:
“Kalau begitu engkau belum siap.”
Safar terkejut.
“Aku bahkan belum masuk.”
“Itulah sebabnya.”
꧁ EMPAT PULUH DUA PELITA ꧂
Safar memohon.
“Apa yang harus kulakukan?”
Abdul Hadi membuka pintu.
“Mari.”
Mereka masuk.
Di dinding berjajar empat puluh dua pelita.
Setiap pelita berbeda.
Ada kecil.
Ada tinggi.
Ada bertutup kaca.
Ada dari tanah.
Ada dari logam.
Ada yang terlihat sangat tua.
Safar berkata:
“Indah sekali.”
Abdul Hadi menunjuk pelita pertama.
“Jangan hanya lihat.”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Baca.”
Di bawah masing-masing pelita terdapat satu kalimat.
Tidak panjang.
Hanya inti pelajaran.
Safar berjalan perlahan.
Ia mulai membaca.
Tentang cahaya yang tidak menjadikan dirinya tujuan.
Tentang gerbang yang tidak dapat dipaksa.
Tentang mata air yang harus berubah menjadi manfaat.
Tentang lentera yang rela tidak menjadi pusat.
Tentang burung yang tidak dapat dicintai dengan cara dikurung.
Tentang langkah yang perlu dimulai.
Tentang waktu yang tidak kembali.
Tentang kata-kata yang meninggalkan gema.
Tentang menanam meski bukan kita yang memanen.
Tentang pemimpin yang harus mampu membungkuk.
Tentang cermin yang membuat manusia berani melihat niatnya.
Tentang kapal yang tidak perlu membawa seluruh pelabuhan.
Tentang menara yang kehilangan satu anak tangga.
Tentang bintang yang mempunyai waktunya.
Tentang tanah yang perlu siap menerima hujan.
Tentang sunyi yang tidak dapat dipaksa.
Tentang tangan yang terbuka.
Tentang jalan lama yang perlu dibaca bersama kenyataan.
Tentang api yang tetap hidup ketika diwariskan.
Tentang sungai yang harus tetap mengalir.
Tentang benih kecil.
Tentang fajar yang tidak dapat diperintah.
Tentang gunung yang mengalirkan air ke lembah.
Tentang taman yang tidak hanya dinilai dari jumlah bunga.
Tentang sayap yang pernah terluka.
Tentang jubah yang menjadi berat karena pujian.
Tentang peta yang diisi oleh perjalanan.
Tentang rumah ketenangan yang membutuhkan pengurangan beban.
Tentang lilin yang menyalakan lilin lain.
Tentang jendela yang dibuka kembali setelah badai.
Tentang sepatu yang ditambal.
Tentang timbangan yang harus membedakan bobot.
Tentang benang yang tidak boleh terus ditarik.
Tentang jam yang mengajarkan hadir.
Tentang bayangan yang tidak selalu sebesar kenyataan.
Tentang layang-layang dan tali.
Tentang tangga yang tidak boleh terus dipindahkan.
Tentang bambu yang membungkuk tanpa kehilangan akar.
Tentang surat yang perlu dibaca sebelum menilai sampul.
Tentang tongkat amanah yang harus diwariskan.
Tentang mangkuk retak yang tidak harus diisi racun lagi.
Tentang kompas yang tidak mengikuti keramaian.
Safar berhenti.
Dadanya bergetar.
Ia berkata:
“Aku pernah mendengar pelajaran-pelajaran seperti ini.”
Abdul Hadi bertanya:
“Bagus. Mana yang sudah kau jalani?”
Safar diam.
꧁ PELITA YANG PADAM SATU PER SATU ꧂
Tiba-tiba Abdul Hadi memadamkan pelita pertama.
Safar terkejut.
“Kenapa?”
“Karena engkau sudah membacanya.”
Pelita kedua dipadamkan.
Kemudian ketiga.
Keempat.
Safar panik.
“Jangan! Nanti ruangan gelap.”
Abdul Hadi terus memadamkan.
Satu demi satu.
Safar berkata:
“Bukankah ini Balai Cahaya?”
Abdul Hadi menjawab:
“Pelita ini dibuat agar engkau belajar menyalakan sesuatu dalam hidupmu, bukan agar selamanya berdiri memandangi apinya.”
Empat puluh dua pelita akhirnya padam.
Ruangan gelap.
Safar tidak melihat apa-apa.
꧁ PELITA KEEMPAT PULUH TIGA ꧂
Safar berkata:
“Di mana pelita terakhir?”
Abdul Hadi menjawab dari kegelapan:
“Di tanganmu.”
Safar meraba.
Tidak ada.
“Aku tidak memegang apa-apa.”
“Benar.”
“Lalu?”
“Pelita keempat puluh tiga tidak disediakan oleh balai.”
Safar bingung.
“Siapa yang membuat?”
“Engkau.”
꧁ SAFAR MARAH ꧂
Safar merasa tertipu.
“Aku datang jauh-jauh untuk ini?”
“Ya.”
“Tidak ada cerita terakhir?”
“Ada.”
“Di mana?”
Abdul Hadi berkata:
“Besok pagi, ketika engkau pulang dan memilih satu pelajaran untuk benar-benar dijalankan—itulah permulaan Qisah Keempat Puluh Tiga.”
Safar berkata:
“Itu bukan cerita.”
“Belum.”
“Lalu kapan menjadi cerita?”
“Ketika hidupmu menjawabnya.”
꧁ ILMU YANG BELUM MENJADI AMAL ꧂
Abdul Hadi menyalakan satu lilin kecil.
Bukan salah satu dari empat puluh dua pelita.
Ia berkata:
“Safar, apa guna mengetahui tentang waktu jika engkau tetap menunda hal penting?”
“Apa guna mengetahui kerendahan hati jika satu kritik membuatmu marah tiga hari?”
“Apa guna mengetahui tentang amanah jika engkau tidak menyiapkan orang lain?”
“Apa guna mengetahui batas jika engkau masih mengatakan ya kepada semua orang lalu marah karena kelelahan?”
“Apa guna mengetahui tentang memaafkan jika hatimu masih memelihara daftar orang yang ingin kau kalahkan?”
Safar menunduk.
Penjaga berkata:
“Ilmu yang benar adalah rahmat. Tetapi ilmu yang hanya dikumpulkan untuk membesarkan citra diri dapat berubah menjadi beban.”
꧁ TIGA BAHAYA PENCARI CERITA ꧂
Abdul Hadi berkata:
“Ada tiga bahaya bagi orang yang terus mencari pelajaran.”
“Pertama?”
“Merasa sedang tumbuh hanya karena terus menerima hal baru.”
“Padahal?”
“Belum tentu ada perubahan.”
“Kedua?”
“Menggunakan ilmu untuk menilai orang lain lebih banyak daripada menilai diri sendiri.”
“Ketiga?”
“Menjadi kecanduan permulaan.”
Safar teringat tangga yang terus dipindah.
Ia mengangguk.
Abdul Hadi berkata:
“Setiap nasihat baru terasa segar. Tetapi perubahan sejati sering lahir dari mengulang pelajaran lama sampai menjadi kebiasaan.”
꧁ SATU MALAM TANPA CERITA ꧂
Safar harus menginap di balai.
Ia meminta Abdul Hadi menceritakan sesuatu.
Penjaga berkata:
“Tidak malam ini.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin engkau sudah terlalu penuh.”
“Lalu apa yang kulakukan?”
“Diam.”
Safar gelisah.
Ia terbiasa mengisi keheningan.
Dengan buku.
Cerita.
Pertanyaan.
Diskusi.
Malam itu tidak ada apa-apa.
Hanya suara angin.
Dan untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Safar mulai mendengar sesuatu yang selama ini tertutup oleh banyak pelajaran:
dirinya sendiri.
Ia teringat ibunya.
Berapa kali ia berkata nanti.
Ia teringat adiknya.
Berapa kali tidak mendengarkan.
Ia teringat seorang sahabat yang dikritiknya dengan keras tetapi tidak pernah ia datangi untuk meminta maaf.
Ia teringat pekerja yang pernah memberinya saran dan ia abaikan karena orang itu lebih muda.
Safar menangis.
Bukan karena menemukan rahasia langit.
Tetapi karena menemukan daftar pekerjaan bumi yang selama ini ditinggalkannya.
꧁ PAGI TANPA PELITA ꧂
Fajar datang.
Abdul Hadi membuka semua jendela.
Cahaya pagi memenuhi ruangan.
Safar berkata:
“Kenapa sekarang tidak perlu menyalakan pelita?”
Abdul Hadi menjawab:
“Karena matahari sudah cukup.”
Safar memandang empat puluh dua pelita yang padam.
Ia berkata:
“Jadi ajaran tidak diperlukan lagi?”
“Jangan salah memahami.”
“Lalu?”
“Pelita sangat penting ketika gelap. Tetapi jangan mencintai pelita sampai lupa tujuan cahaya adalah membuatmu dapat melihat jalan.”
꧁ RAHASIA PELITA KEEMPAT PULUH TIGA ꧂
Sebelum Safar pulang, ia bertanya lagi:
“Apa sebenarnya pelita keempat puluh tiga?”
Abdul Hadi menjawab:
“Pelita keempat puluh tiga adalah laku.”
“Laku?”
“Ya.”
“Ilmu yang turun menjadi tindakan.”
“Nasihat yang berubah menjadi adab.”
“Kesadaran yang berubah menjadi keputusan.”
“Doa yang disertai ikhtiar.”
“Cinta yang berubah menjadi penjagaan.”
“Amanah yang berubah menjadi manfaat.”
Safar terdiam.
Abdul Hadi berkata:
“Empat puluh dua pelita dapat diberikan kepadamu. Pelita terakhir harus engkau nyalakan sendiri.”
꧁ SAFAR MEMINTA AMALAN BESAR ꧂
Safar kemudian berkata:
“Berikan aku tugas besar.”
Abdul Hadi tertawa.
“Kenapa harus besar?”
“Agar layak menjadi penutup perjalanan.”
Penjaga bertanya:
“Siapa yang mengajarimu bahwa penutup harus megah?”
Safar diam.
Abdul Hadi berkata:
“Pulang.”
“Temui ibumu.”
“Duduk bersamanya tanpa tergesa-gesa.”
“Temui sahabatmu.”
“Minta maaf jika memang salah.”
“Selesaikan satu pekerjaan yang lama kau tinggalkan.”
“Ajarkan satu pengetahuan penting kepada orang yang dapat meneruskan.”
“Tidurlah cukup.”
“Dan selama empat puluh tiga hari, jangan mencari pelajaran baru sebelum satu pelajaran lama benar-benar kau latih.”
Safar hampir kecewa.
Tugas itu terlalu biasa.
Abdul Hadi melihat wajahnya.
“Hati-hati. Ego sering menyukai tugas besar karena tampak agung. Padahal Alloh dapat menguji amanah melalui pekerjaan yang sangat sederhana.”
꧁ KEMBALI KE RUMAH ꧂
Safar pulang.
Ibunya terkejut.
“Cepat sekali?”
“Sudah selesai.”
“Apa yang kau dapat?”
Safar meletakkan tas.
Kemudian duduk.
“Aku ingin mendengar Ibu.”
Ibunya tersenyum.
“Mendengar apa?”
“Apa pun yang Ibu ingin ceritakan.”
Untuk pertama kali dalam waktu lama, Safar tidak membuka buku sambil ibunya berbicara.
Tidak memeriksa catatan.
Tidak buru-buru menjawab.
Ia mendengarkan.
Pelita pertama mulai menyala.
Bukan di balai.
Di rumah.
꧁ MEMINTA MAAF ꧂
Hari berikutnya Safar mendatangi sahabatnya, Naim.
Mereka lama tidak berbicara.
Safar berkata:
“Aku dulu mengoreksimu di depan banyak orang. Isinya mungkin ada yang benar, tapi caraku merendahkan.”
Naim diam.
Safar melanjutkan:
“Aku minta maaf.”
Naim tidak langsung memeluk.
Tidak langsung berkata semuanya baik.
Ia hanya berkata:
“Aku menghargai engkau datang.”
Safar tidak memaksa.
Ia teringat mangkuk retak.
Kepercayaan mempunyai waktu.
Pelita kedua menyala.
꧁ MENYELESAIKAN YANG TERBENGKALAI ꧂
Safar kemudian membuka gudang.
Di sana terdapat buku yang sudah dua tahun ingin ia selesaikan.
Bukan buku besar.
Hanya kumpulan catatan praktis untuk murid-muridnya.
Ia selalu meninggalkannya setiap kali menemukan ide baru.
Selama beberapa minggu ia menulis.
Tidak membuka proyek baru.
Tidak mencari judul baru.
Ia menyelesaikan.
Tidak sempurna.
Tetapi selesai.
Pelita ketiga menyala.
꧁ BERBAGI KUNCI ꧂
Safar mempunyai sistem catatan yang hanya ia pahami.
Jika ia pergi, tidak ada orang yang tahu tempat dokumen penting.
Ia memilih dua murid.
Mengajarkan.
Menulis petunjuk.
Membagi tanggung jawab.
Salah seorang murid berkata:
“Guru, bukankah semua ini rahasia kerja Guru?”
Safar tersenyum.
“Kalau amanah harus terus hidup, sebagian kunci tidak boleh mati bersama pemiliknya.”
Pelita berikutnya menyala.
꧁ BELAJAR BERISTIRAHAT ꧂
Ini justru sulit.
Safar terbiasa merasa bersalah jika berhenti.
Suatu malam tubuhnya sangat lelah.
Ada undangan diskusi.
Dulu ia pasti datang.
Kini ia menolak dengan sopan.
“Aku perlu beristirahat.”
Ia tidur.
Bangun lebih jernih.
Tidak ada langit runtuh.
Tidak ada ilmu hilang.
Ia tertawa sendiri.
Pelita lain menyala.
꧁ HARI KEEMPAT PULUH TIGA ꧂
Empat puluh tiga hari berlalu.
Safar tidak berubah menjadi manusia sempurna.
Ia masih kadang marah.
Masih lupa.
Masih menunda beberapa hal.
Masih tergoda proyek baru.
Masih suka pujian.
Namun ada perbedaan.
Sekarang ia lebih cepat sadar.
Lebih berani mengoreksi.
Lebih jarang membela kesalahan hanya karena sudah terlanjur.
Pada hari keempat puluh tiga ia duduk di bawah pohon.
Membuka buku kosong.
Di halaman pertama ia menulis:
QISAH KEEMPAT PULUH TIGA
“Hari Ketika Aku Berhenti Mengira Pelajaran Selesai Setelah Dibaca.”
Kemudian ia menutup buku.
Tidak menulis cerita panjang.
Karena kali ini ia ingin hidup terlebih dahulu.
꧁ KEMBALI KE DĀRUL ‘IBRAH ꧂
Setahun kemudian Safar kembali ke balai.
Abdul Hadi masih ada.
“Kau datang mencari cerita baru?”
Safar menjawab:
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku datang membawa laporan.”
Penjaga tertawa.
Mereka masuk.
Empat puluh dua pelita masih padam.
Tempat keempat puluh tiga masih kosong.
Abdul Hadi bertanya:
“Di mana pelitamu?”
Safar menunjuk dadanya.
Kemudian segera menggeleng.
“Bukan di sini saja.”
Ia menunjuk tangannya.
“Kupikir lebih tepat di sini.”
Abdul Hadi tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kalau hanya tinggal di hati dan kepala, belum tentu dunia menerima manfaatnya.”
꧁ PELITA KEEMPAT PULUH TIGA AKHIRNYA DILETAKKAN ꧂
Safar membawa sebuah pelita sederhana.
Tidak besar.
Tidak indah.
Ia membuatnya sendiri dari tanah.
Di bagian bawahnya tertulis satu kata:
AMAL
Ia meletakkan pada tempat kosong.
Abdul Hadi menyalakannya.
Sekarang jumlahnya lengkap.
Empat puluh tiga.
Namun Abdul Hadi segera berkata:
“Jangan terlalu senang.”
Safar tertawa.
“Aku tahu.”
“Apa?”
“Besok harus dijalani lagi.”
Penjaga mengangguk.
꧁ PIWULANG QISAH KEEMPAT PULUH TIGA ꧂
Tidak ada ilmu yang selesai hanya karena dibaca.
Tidak ada nasihat yang menjadi akhlak hanya karena disukai.
Tidak ada doa yang menggantikan seluruh ikhtiar.
Tidak ada cerita yang otomatis mengubah manusia.
Cerita hanya dapat:
mengetuk,
mengingatkan,
menunjukkan,
memantulkan.
Yang harus membuka adalah manusia sendiri.
꧁ RAHASIA EMPAT PULUH TIGA PELITA ꧂
Pelita-pelita itu bukan benda sakti.
Bukan pula perlambang wahyu baru.
Ia adalah simbol pendidikan:
bahwa manusia belajar melalui banyak jalan.
Kadang dari keberhasilan.
Kadang kegagalan.
Kadang guru.
Kadang murid.
Kadang anak kecil.
Kadang orang yang tidak kita sukai.
Kadang sebuah luka.
Kadang sebuah kesalahan.
Kadang diam.
Tetapi semua pelajaran harus ditimbang dengan iman, ilmu, akal sehat, kenyataan, dan adab.
꧁ RAHASIA CERITA ꧂
Cerita mempunyai kekuatan.
Ia dapat membuat manusia melihat dirinya tanpa merasa langsung dituduh.
Gunung dapat mengajarkan kerendahan hati.
Bambu dapat mengajarkan kelenturan.
Sungai mengajarkan aliran manfaat.
Kompas mengajarkan arah.
Mangkuk mengajarkan pemulihan.
Namun jangan berhenti mengagumi perumpamaan.
Jika kisah tentang jembatan selesai—
bangunlah jembatan dalam hubungan yang rusak.
Jika kisah tentang cahaya selesai—
jadilah manusia yang membawa manfaat.
Jika kisah tentang amanah selesai—
jalankan amanah.
꧁ TUJUH TANDA ILMU MULAI TURUN MENJADI LAKU ꧂
Pertama — Engkau lebih mudah mengakui “aku belum tahu”.
Ilmu tidak hanya menambah jawaban, tetapi juga membuat manusia mengenali batas pengetahuannya.
Kedua — Engkau lebih cepat mengakui kesalahan.
Bukan karena harga diri hilang, tetapi karena kebenaran lebih penting daripada gengsi.
Ketiga — Orang terdekat merasakan perubahan.
Bukan hanya orang jauh yang mendengar nasihatmu.
Keempat — Engkau lebih mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya ramai.
Timbangan batin mulai bekerja.
Kelima — Engkau menyiapkan penerus.
Ilmu tidak dipenjara dalam satu tangan.
Keenam — Engkau tetap belajar meskipun sudah dihormati.
Jubah tidak menjadi terlalu berat.
Ketujuh — Kebaikanmu tidak selalu menuntut nama disebut.
Air tetap mengalir meski tidak membawa papan nama sungai.
꧁ RAHASIA ORANG TERDEKAT ꧂
Abdul Hadi berkata kepada Safar:
“Kadang orang jauh mengira kita bijaksana karena hanya bertemu satu jam.”
“Orang rumah?”
“Melihat kita ketika lelah.”
“Ketika marah.”
“Ketika tidak dipuji.”
“Ketika rencana gagal.”
“Karena itu jangan hanya tanyakan kepada pengikutmu apakah engkau sudah baik.”
“Tanyakan juga kepada orang yang hidup paling dekat denganmu apakah cahaya itu benar-benar terasa.”
Safar menyimpan kalimat tersebut.
꧁ RAHASIA AMAL KECIL ꧂
Manusia suka amal besar karena mudah dikenang.
Namun banyak kehidupan ditopang oleh sesuatu yang sederhana:
menepati janji,
mengembalikan barang,
membayar kewajiban,
mendengar anak bicara,
mengunjungi orang tua,
mengakui kesalahan,
tidak menyebarkan kabar yang belum jelas,
beristirahat sebelum tubuh rusak,
menolak uang yang bukan haknya,
dan berbuat baik meski tidak ada kamera.
Jangan menunggu panggung besar untuk menjadi manusia yang amanah.
꧁ RAHASIA PENCARIAN TANPA AKHIR ꧂
Ada manusia yang terus mencari guru baru karena belum mau mengamalkan nasihat guru lama.
Terus mencari buku baru karena belum mempraktikkan satu halaman.
Terus mencari tanda karena takut mengambil keputusan.
Terus mencari pembenaran karena tidak menyukai jawaban yang sudah jelas.
Pencarian ilmu adalah mulia.
Tetapi pencarian dapat berubah menjadi pelarian jika tidak pernah menghasilkan laku.
꧁ SANDHI LANGIT KEEMPAT PULUH TIGA ꧂
“Piwulang ora rampung nalika diwaca. Piwulang wiwit urip nalika tumindakmu owah.”
Artinya:
Pelajaran tidak selesai ketika dibaca. Pelajaran mulai hidup ketika tindakanmu berubah.
Dan:
“Cahya ing buku mung dadi pituduh. Sikilmu dhewe sing kudu mlaku.”
Cahaya di dalam buku hanyalah petunjuk. Kakimu sendirilah yang harus berjalan.
꧁ RAHASIA AKHIR ꧂
Safar bertanya:
“Guru, apakah setiap perjalanan harus memiliki akhir?”
Abdul Hadi berkata:
“Setiap bagian memiliki akhir.”
“Lalu hidup?”
“Selama manusia masih hidup, amanah masih bergerak.”
“Berarti empat puluh tiga cerita belum benar-benar selesai?”
Abdul Hadi menjawab:
“Tulisannya selesai. Piwulangnya tidak.”
Safar tersenyum.
꧁ KETIKA ABDUL HADI MENYERAHKAN KUNCI BALAI ꧂
Tahun-tahun berlalu.
Abdul Hadi semakin tua.
Suatu pagi ia memberikan kunci Dārul ‘Ibrah kepada Safar.
Safar berkata:
“Aku belum layak.”
Penjaga menjawab:
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Orang yang merasa terlalu layak memegang amanah biasanya perlu lebih banyak berhati-hati.”
Safar menerima.
Ia bertanya:
“Apa tugas penjaga?”
“Menjaga pelita.”
“Menyalakannya?”
“Jika perlu.”
“Menceritakan kisah?”
“Jika bermanfaat.”
“Lalu yang paling penting?”
Abdul Hadi menjawab:
“Jangan membuat orang bergantung pada balai.”
Safar terkejut.
“Kenapa?”
“Karena tujuan balai adalah mengirim mereka kembali ke kehidupan.”
꧁ PINTU KELUAR YANG LEBIH BESAR DARIPADA PINTU MASUK ꧂
Baru saat menjadi penjaga, Safar menyadari sesuatu.
Pintu belakang Dārul ‘Ibrah jauh lebih besar daripada pintu depan.
Ia bertanya:
“Kenapa?”
Abdul Hadi berkata:
“Orang datang satu-satu membawa pertanyaan.”
“Dan keluar?”
“Seharusnya membawa manfaat yang lebih luas.”
Maka pintu keluarnya dibuat lebih besar.
꧁ ORANG PERTAMA YANG DATANG KEPADA SAFAR ꧂
Setelah Abdul Hadi wafat, datang seorang pemuda.
“Tuan Penjaga, aku ingin mendengar empat puluh tiga cerita.”
Safar tersenyum.
“Boleh.”
“Mulai sekarang?”
“Ya.”
“Tapi sebelum itu aku ingin bertanya.”
“Apa?”
“Untuk apa engkau ingin mendengarnya?”
Pemuda berkata:
“Supaya aku menjadi bijaksana.”
Safar tertawa lembut.
“Kisah tidak dapat menjanjikan itu.”
“Lalu?”
“Bisa jadi kisah hanya memberimu cermin.”
“Yang harus bercermin?”
“Engkau.”
꧁ EMPAT PULUH TIGA PELITA DINYALAKAN KEMBALI ꧂
Malam itu Safar menyalakan semua pelita.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai empat puluh tiga.
Ruangan menjadi terang.
Pemuda itu kagum.
Namun Safar berkata:
“Jangan terlalu lama melihat nyala.”
“Kenapa?”
“Besok pagi matahari terbit.”
Pemuda tidak mengerti.
Safar tersenyum.
Ia pun dahulu tidak mengerti.
꧁ PENUTUP BESAR QITAB 43 CERITA BARU ꧂
Wahai musafir yang membaca sampai lembar terakhir:
jika engkau telah berjalan bersama empat puluh tiga qisah ini,
jangan tanyakan hanya:
“Cerita berikutnya apa?”
Tanyakan pula:
“Pelajaran mana yang paling perlu kuhidupkan?”
Mungkin engkau tidak perlu membawa semuanya sekaligus.
Pilih satu.
Jika engkau sedang mudah marah—
jagalah kata.
Jika sedang lelah—
belajarlah menimbang beban.
Jika terlalu takut—
periksa bayangan dan kenyataan.
Jika sedang memegang amanah—
siapkan penerus.
Jika pernah terluka—
rawat retak tanpa memberi racun hak untuk kembali.
Jika semua orang berlari ke satu arah—
periksa kompas.
Jika terlalu banyak memulai—
selesaikan satu tangga.
Jika zaman berubah—
jadilah bambu yang berakar.
Jika dipuji—
periksa jubah.
Jika merasa paling tahu—
bukalah surat kusam.
Jika ingin bebas—
periksa tali mana yang menjaga dan mana yang memenjarakan.
Jika jalanmu hilang—
jangan malu mengaku belum tahu.
Jika sedang berada di tempat tinggi—
alirkan air ke lembah.
Jika waktumu terasa habis—
hadirlah pada hari ini.
Jika memiliki cahaya—
nyalakan cahaya lain.
Dan jika suatu hari semua pelita di luar dirimu padam—
jangan panik.
Kembali kepada Alloh.
Kembali kepada kebenaran.
Kembali kepada ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kembali kepada amanah.
Kembali kepada adab.
Lalu ambillah satu langkah yang masih dapat dilakukan.
Tidak harus besar.
Tidak harus dilihat dunia.
Karena kehidupan bukan perlombaan untuk menjadi tokoh utama dari semua kisah.
Cukuplah menjadi hamba yang berusaha menunaikan bagiannya dengan baik.
꧁ WĚWARAH PAMUNGKAS ꧂
Jangan jadikan QITAB ini mahkota untuk merasa lebih tinggi daripada orang yang belum membacanya.
Jangan jadikan kisah sebagai alat untuk menghakimi:
“Orang itu seperti tokoh buruk di cerita.”
Mulailah dari diri.
Jika menemukan kesombongan—
periksa dirimu.
Jika membaca tentang amanah—
periksa amanahmu.
Jika membaca tentang maaf—
periksa dendammu.
Jika membaca tentang waktu—
periksa penundaanmu.
Sebab cerita paling berbahaya adalah cerita yang membuat seseorang merasa sudah berubah padahal yang berubah hanya kosa katanya.
꧁ RAHASIA QISAH LANGIT ꧂
Mengapa disebut Qisah Langit?
Bukan karena manusia telah menembus rahasia ghaib yang tidak diketahui.
Bukan karena kisah-kisah ini ditempatkan setara dengan wahyu.
Tidak.
Al-Qur’an tetap mempunyai kedudukan sucinya sebagai Kalam Alloh dalam keyakinan Islam.
Qisah-qisah ini hanyalah karya perumpamaan dan piwulang manusia:
mengajak hati melihat ke atas agar langkah di bumi menjadi lebih baik.
“Langit” menjadi pralambang luasnya pandangan.
Sedangkan tugas manusia tetap berada di bumi:
menjaga keluarga,
menjalankan amanah,
mencari yang halal,
menolong,
belajar,
bertaubat,
memaafkan,
membangun,
dan kembali kepada Alloh sebagai hamba.
꧁ PELITA TERAKHIR ꧂
Pada suatu malam terakhir sebelum Safar menjadi sangat tua, ia berjalan sendirian di balai.
Empat puluh tiga pelita menyala.
Ia berhenti di pelita terakhir.
Di bawahnya tertulis:
AMAL
Safar tersenyum.
Kemudian ia memadamkannya.
Seorang murid yang melihat berteriak:
“Guru! Itu pelita terakhir!”
Safar menjawab:
“Aku tahu.”
“Kenapa dipadamkan?”
Safar membuka pintu balai.
Di luar fajar mulai merekah.
Ia berkata:
“Karena sekarang waktunya keluar.”
Murid itu terdiam.
Safar berjalan keluar.
Ia tidak membawa satu pun pelita.
Hanya membawa tongkat sederhana.
Di jalan, ia melihat seorang petani kesulitan mendorong gerobak.
Safar mendekat.
Meletakkan tongkat.
Membantu mendorong.
Murid yang mengikutinya tersenyum.
Mungkin itulah jawaban dari seluruh QITAB.
Bukan cahaya spektakuler.
Bukan rahasia yang membuat manusia merasa lebih tinggi.
Hanya seorang tua yang setelah mempelajari banyak perkara masih bersedia meletakkan tongkatnya dan membantu orang lain mendorong gerobak.
꧁ KHATAM AGUNG ꧂
Dan ketika gerobak itu akhirnya bergerak, Safar berkata:
“Sekarang aku mengerti mengapa pelita terakhir tidak pernah disediakan sejak awal.”
Murid bertanya:
“Kenapa, Guru?”
Safar menjawab:
“Karena tidak seorang pun dapat mengamalkan pelajaran untuk orang lain.”
Matahari muncul.
Balai di belakang mereka semakin jauh.
Empat puluh tiga kisah telah selesai dituturkan.
Namun jalan di depan masih panjang.
Safar berkata kepada muridnya:
“Mulai hari ini jangan tanyakan kapan Qisah Keempat Puluh Empat ditulis.”
Murid bertanya:
“Kenapa?”
Safar tersenyum.
“Karena Qisah Keempat Puluh Empat adalah kehidupanmu sendiri—dan tidak ada seorang pun yang dapat menuliskannya sepenuhnya sebelum engkau menjalaninya.”
Mereka terus berjalan.
Tidak ada dentang.
Tidak ada pintu langit terbuka.
Tidak ada suara yang mengumumkan mereka telah sampai.
Hanya pagi.
Tanah.
Jalan.
Manusia.
Amanah.
Dan kesempatan baru untuk menjalani satu hari dengan lebih baik daripada kemarin.
Maka tamatlah tulisan.
Namun jangan tamatkan laku.
Tutup lembarannya jika perlu.
Istirahatkan mata.
Kemudian bangun.
Temui kehidupan.
Sebab di sanalah seluruh pelajaran akan diuji.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
ختم القصة الثالثة والأربعين
KHATAM QISAH KEEMPAT PULUH TIGA
꧁ KHATAM QITAB 43 CERITA BARU — QISAH LANGIT ꧂
“Piwulang kang mung mandheg ing tembung iku kaya pelita ing kamar kosong. Cahyané ana, nanging durung nuduhake dalan marang sapa-sapa.”
Pelajaran yang berhenti pada kata-kata seperti pelita di ruangan kosong. Cahayanya ada, tetapi belum menunjukkan jalan kepada siapa pun.
“Sawise maca, lumakua. Sawise ngerti, lakonana. Sawise duwe cahya, aja mung katon padhang—dadia manfaat.”
Setelah membaca, berjalanlah. Setelah memahami, amalkanlah. Setelah memiliki cahaya, jangan hanya terlihat terang—jadilah manfaat.
Dan Wěwarah Pamungkas:
“Qisah rampung ing lembar iki, nanging amanah ora rampung nganti napas pungkasan.”
Kisah selesai pada lembar ini, tetapi amanah tidak selesai sampai napas terakhir.
الحمد لله رب العالمين
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
تَمَّتْ بِعَوْنِ اللّٰهِ
꧁ TAMAT — KHATAM QITAB 43 CERITA BARU ꧂

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.