QITAB ĀDĀB AL-ISYĀRAH
QITAB ĀDĀB AL-ISYĀRAH
Kitab Adab dalam Lambang, Stiker, dan Jawaban Singkat
Lembar Pertama: Menjaga Kejernihan Majelis
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ketahuilah, wahai saudara dan saudari yang duduk bersama dalam sebuah majelis, bahwa setiap tempat mempunyai adabnya. Rumah mempunyai tata krama, masjid mempunyai kehormatan, majelis ilmu mempunyai ketenangan, dan grup percakapan pun mempunyai aturan agar perkataan tidak berubah menjadi kegaduhan.
Stiker pada dasarnya hanyalah gambar. Ia tidak otomatis membuat seseorang kotor, berdosa, atau kehilangan cahaya. Baik dan buruknya bergantung pada isi, maksud, waktu, serta tempat penggunaannya.
Namun, dalam majelis pembinaan, stiker dapat menimbulkan beberapa akibat apabila dipakai tanpa pertimbangan:
Pertama, menimbulkan salah paham.
Gambar tertawa dapat dianggap mengejek. Gambar jempol dapat dianggap meremehkan. Gambar marah dapat membuat orang merasa ditantang, walaupun pengirimnya mungkin tidak bermaksud demikian.
Kedua, menghilangkan kesungguhan pembicaraan.
Ketika seseorang sedang menyampaikan masalah keluarga, sakit, kesedihan, atau meminta bimbingan, jawaban berupa stiker saja dapat terasa tidak menghargai isi hatinya.
Ketiga, memenuhi ruang percakapan.
Apabila setiap orang membalas dengan banyak stiker, pesan penting akan tertutup dan anggota lain kesulitan menemukan penjelasan yang sedang dibutuhkan.
Keempat, membuka jalan perdebatan.
Satu stiker dapat ditafsirkan berbeda-beda. Orang yang sedang tenang mungkin menganggapnya bercanda, tetapi orang yang sedang terluka dapat menerimanya sebagai sindiran.
Kelima, membiasakan diri menjawab tanpa kesadaran.
Adab mengajarkan agar seseorang memahami dahulu sebelum menjawab. Jangan sampai tangan lebih cepat daripada pikiran dan hati.
Maka larangan stiker dalam grup bukan karena setiap stiker mempunyai kekuatan gaib yang otomatis mengotori jiwa. Larangan itu dibuat untuk menjaga ketertiban, penghormatan, kejernihan percakapan, dan kesungguhan majelis.
Apabila stiker atau reaksi terkirim karena salah sentuh, janganlah anggota dipermalukan. Hendaknya ia segera menghapusnya apabila memungkinkan dan berkata:
“Mohon maaf, stiker atau reaksi tadi terkirim karena tidak sengaja.”
Admin pun hendaknya membedakan antara:
kesalahan yang tidak disengaja, kebiasaan yang perlu diingatkan, dan pelanggaran yang sengaja diulang.
Sebab aturan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kekerasan, sedangkan kebijaksanaan tanpa aturan dapat berubah menjadi kekacauan.
Redaksi peraturan terakhir yang lebih tepat
Tulisan pada gambar sebaiknya diperhalus menjadi:
Dilarang membalas pesan dengan stiker di dalam Grup Mandala Sinar Batin, terutama pada pembahasan penting. Penggunaan stiker dapat menimbulkan salah paham, mengurangi kesungguhan, dan memenuhi ruang percakapan. Apabila stiker atau reaksi terkirim karena salah sentuh, segera hapus dan sampaikan permohonan maaf. Admin akan membedakan kesalahan tidak sengaja dengan pelanggaran yang dilakukan berulang kali.
Dengan redaksi ini, peraturannya tetap tegas, tetapi tidak menuduh bahwa stiker otomatis “mengotori diri” secara gaib. Yang dijaga adalah adab, kesadaran, dan suasana majelis bersama.
LEMBAR KE-2
HAKIKAT STIKER DAN REAKSI
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ketahuilah, wahai saudara dan saudari yang berada dalam satu majelis, bahwa setiap gerakan tangan, tulisan, gambar, stiker, dan tanda reaksi merupakan bagian dari cara seseorang menyampaikan isi hati kepada orang lain.
Stiker pada dasarnya hanyalah gambar yang dikirim sebagai pesan. Reaksi adalah tanda seperti jempol, hati, tertawa, sedih, terkejut, atau bentuk lainnya yang ditempelkan pada sebuah pesan.
Keduanya bukan sesuatu yang otomatis buruk. Namun, apabila dipakai tanpa memperhatikan waktu, keadaan, dan perasaan orang lain, stiker atau reaksi dapat menimbulkan salah pengertian.
Seseorang mungkin mengirim tanda jempol dengan maksud menyetujui. Akan tetapi, orang yang sedang mencurahkan kesedihannya dapat menganggap jawaban itu terlalu singkat dan tidak menunjukkan kepedulian.
Seseorang mungkin mengirim gambar tertawa sebagai tanda keakraban. Namun, apabila gambar itu dikirim ketika ada anggota yang sedang menceritakan musibah, sakit, kesulitan rumah tangga, atau kegelisahan batin, gambar tersebut dapat terasa seperti ejekan.
Karena itu, yang dijaga bukan hanya gambar yang dikirim, melainkan juga perasaan orang yang menerima.
Stiker tidak terkirim tanpa sebab
Pada sebagian perangkat, pilihan emoji, stiker, atau reaksi memang dapat muncul sebagai saran di layar. Kemunculan saran tersebut bukan berarti stiker telah terkirim.
Stiker atau reaksi biasanya baru masuk ke dalam percakapan setelah terjadi sentuhan, pilihan, atau perintah dari perangkat. Namun, kesalahan tetap dapat terjadi, misalnya karena:
layar tidak sengaja tersentuh;
ponsel berada di tangan atau di dalam saku;
pengguna mengira tanda itu hanya untuk membuka pilihan;
layar terlalu peka;
tombol reaksi tertekan tanpa disadari.
Maka janganlah seseorang langsung dituduh sengaja melanggar hanya karena satu stiker atau reaksi muncul.
Apabila hal itu terjadi, hendaknya ia segera berkata:
“Mohon maaf, stiker atau reaksi tadi terkirim karena tidak sengaja.”
Jika dapat dihapus, hapuslah dengan tenang. Jangan malu mengakui kesalahan kecil, sebab kejujuran lebih mulia daripada mencari alasan.
Mengapa stiker dibatasi di dalam majelis?
Pembatasan stiker dibuat untuk menjaga beberapa perkara:
Pertama, menjaga kesungguhan pembicaraan.
Majelis bukan tempat untuk saling menertawakan ketika ada orang yang sedang meminta pertolongan atau bimbingan.
Kedua, menjaga pesan penting agar tidak tenggelam.
Apabila terlalu banyak gambar dikirim, nasihat, pengumuman, dan penjelasan penting akan sulit ditemukan.
Ketiga, mencegah kesalahpahaman.
Satu gambar dapat mempunyai arti berbeda bagi setiap orang.
Keempat, melatih jawaban yang beradab.
Orang yang membaca dengan tenang akan belajar menjawab dengan kata-kata yang jelas, bukan hanya dengan gerakan spontan.
Kelima, menjaga ketenteraman majelis.
Stiker yang berlebihan dapat mengubah suasana belajar menjadi ruang bercanda tanpa batas.
Adab menjawab pesan
Sebelum membalas, bacalah isi pesan sampai selesai.
Pahamilah apakah orang tersebut sedang bertanya, bersedih, meminta doa, menyampaikan pendapat, atau hanya memberikan informasi.
Jawablah dengan tulisan yang baik, walaupun singkat.
Contoh jawaban yang lebih beradab:
“Baik, terima kasih atas penjelasannya.”
“Saya memahami maksud saudara.”
“Semoga Alloh memberikan kemudahan.”
“Mohon izin, saya ingin bertanya agar tidak salah memahami.”
“Terima kasih, nasihat ini akan saya renungkan.”
Jawaban seperti itu lebih jelas daripada sekadar gambar, karena orang yang menerima dapat memahami maksud kita tanpa menebak-nebak.
Nasihat bagi admin
Admin hendaknya membedakan antara:
stiker yang terkirim tidak sengaja;
anggota yang belum mengetahui aturan;
anggota yang sudah diingatkan tetapi terus mengulanginya;
stiker yang sengaja digunakan untuk mengejek atau memancing perdebatan.
Kesalahan pertama cukup diarahkan dengan lembut.
Kesalahan yang berulang perlu diberikan peringatan.
Adapun tindakan yang sengaja merendahkan orang lain harus dihentikan dengan tegas, tetapi tetap tanpa penghinaan.
Sebab tujuan aturan bukan mencari kesalahan anggota, melainkan menjaga mereka agar dapat belajar bersama dalam ketenangan.
Penutup lembar kedua
Wahai penjaga majelis, jangan jadikan tangan lebih cepat daripada kesadaran.
Jangan jadikan gambar lebih kuat daripada adab.
Jangan jadikan satu reaksi kecil sebagai sebab munculnya luka, kemarahan, atau perpecahan.
Tulislah jawaban dengan hati yang tenang. Bacalah kembali sebelum mengirim. Apabila ragu, diamlah sejenak sampai hati menjadi jernih.
Doa
Yā Alloh, jadikan setiap perkataan, tulisan, gambar, dan jawaban kami sebagai jalan kebaikan. Jauhkan kami dari ucapan yang melukai, reaksi yang merendahkan, dan perbuatan yang menimbulkan perselisihan. Bimbinglah kami agar mampu berkomunikasi dengan adab, kesadaran, dan kasih sayang. Āmīn.
LEMBAR KE-3
SEBAB DAN AKIBAT DALAM KOMUNIKASI
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Setiap perkataan mempunyai sebab, dan setiap jawaban dapat menimbulkan akibat. Begitu pula tulisan, gambar, stiker, serta tanda reaksi yang dikirim di dalam grup.
Terkadang seseorang menganggap sebuah stiker hanyalah perkara kecil. Namun, bagi orang yang sedang gelisah, berduka, sakit, atau membutuhkan penjelasan, satu gambar yang kurang tepat dapat terasa lebih tajam daripada kalimat panjang.
Oleh sebab itu, adab tidak hanya mengajarkan:
“Apa yang ingin aku kirim?”
Akan tetapi juga mengajarkan:
“Bagaimana pesan ini mungkin diterima oleh orang lain?”
Inilah kesadaran yang harus dijaga dalam setiap majelis.
1. Sebab munculnya kesalahpahaman
Kesalahpahaman biasanya terjadi bukan hanya karena isi pesan, tetapi juga karena keadaan hati pengirim dan penerima.
Seseorang yang sedang tenang mungkin menganggap stiker tertawa sebagai candaan biasa. Namun, orang yang sedang terluka dapat menganggapnya sebagai ejekan.
Seseorang yang mengirim jempol mungkin bermaksud:
“Baik, saya sudah memahami.”
Namun orang lain dapat menafsirkannya sebagai:
“Sudah, jangan banyak bicara.”
Perbedaan tafsir inilah yang sering menjadi awal kegelisahan.
Maka sebelum mengirim, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah gambar ini sesuai dengan keadaan?
Apakah orang yang menerima akan memahami maksudnya?
Apakah lebih baik dijawab dengan tulisan?
Apakah jawaban ini dapat membuat orang merasa disepelekan?
Apakah pesan ini benar-benar perlu dikirim?
Berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim merupakan salah satu bentuk pengendalian diri.
2. Akibat stiker yang digunakan tanpa adab
Stiker atau reaksi yang dikirim sembarangan dapat menimbulkan beberapa akibat.
Pertama, melukai perasaan
Orang yang sedang menyampaikan persoalan mungkin merasa tidak dihargai karena hanya dibalas dengan gambar.
Kedua, mengubah maksud pembicaraan
Pembahasan yang awalnya serius dapat berubah menjadi candaan, sindiran, atau saling membalas reaksi.
Ketiga, menimbulkan prasangka
Penerima mulai menduga-duga maksud pengirim, padahal belum tentu dugaannya benar.
Keempat, memancing balasan emosional
Satu stiker dapat dibalas dengan stiker lain, kemudian berubah menjadi saling menyindir dan berdebat.
Kelima, menenggelamkan pesan penting
Pengumuman, nasihat, dan jawaban yang dibutuhkan anggota menjadi sulit ditemukan karena tertutup oleh banyak gambar.
Keenam, membentuk kebiasaan menjawab tanpa berpikir
Apabila seseorang terlalu terbiasa menjawab secara spontan, ia dapat kehilangan kebiasaan membaca, memahami, dan mempertimbangkan perasaan orang lain.
Karena itulah pembatasan stiker bukan bertujuan menghakimi seseorang. Aturan dibuat untuk menjaga ketenangan dan melatih kesadaran bersama.
3. Apakah stiker dapat mengotori diri?
Stiker tidak otomatis mengotori jiwa hanya karena berupa gambar atau tanda reaksi.
Yang dapat merusak diri adalah niat dan perilaku di balik penggunaannya, seperti:
sengaja mengejek;
meremehkan kesulitan orang lain;
memancing pertengkaran;
menyindir secara tersembunyi;
mempermalukan anggota;
menertawakan musibah;
atau terus mengulang pelanggaran setelah dinasihati.
Sebaliknya, apabila sebuah stiker terkirim karena salah sentuh, kemudian orang tersebut menghapus dan meminta maaf, maka tidak patut ia dipermalukan.
Kesalahan yang disadari dan diperbaiki dapat menjadi pelajaran.
Adapun kesengajaan yang terus diulang perlu dihentikan agar tidak merusak ketenteraman bersama.
Jadi, yang harus dijaga bukan ketakutan berlebihan terhadap gambar, melainkan niat, sikap, serta akibat yang ditimbulkan kepada orang lain.
4. Ketika jempol muncul di layar
Pada beberapa ponsel, tanda jempol atau pilihan reaksi dapat tampil sebagai saran. Ada pula aplikasi yang menampilkan pilihan reaksi ketika sebuah pesan disentuh agak lama.
Namun, tanda itu tidak menjadi pesan terkirim hanya karena tampil di layar.
Biasanya tetap diperlukan sentuhan pada pilihan tersebut. Meski demikian, sentuhan itu dapat terjadi tanpa sengaja karena:
jari terpeleset;
layar terlalu sensitif;
ponsel berada di saku;
layar tersentuh ketika sedang dibersihkan;
anak kecil memegang ponsel;
atau pengguna belum memahami fungsi tombol reaksi.
Karena itu, apabila seseorang berkata bahwa jempolnya terkirim tidak sengaja, jangan langsung menuduhnya berbohong.
Lihatlah kebiasaannya.
Apabila baru terjadi sekali dan segera diakui, cukup diingatkan.
Apabila terus berulang setelah berkali-kali dijelaskan, maka admin berhak menegaskan aturan.
5. Tata cara apabila salah mengirim
Apabila stiker atau reaksi terkirim tanpa sengaja, lakukan langkah berikut:
Pertama, jangan panik dan jangan mencari alasan yang berlebihan.
Kedua, hapus pesan atau reaksi apabila masih memungkinkan.
Ketiga, sampaikan permohonan maaf secara singkat dan jujur.
Contohnya:
“Mohon maaf, reaksi tadi tidak sengaja tersentuh.”
Atau:
“Mohon izin, stiker tadi salah kirim. Sudah saya hapus.”
Keempat, jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan sengaja.
Kelima, pelajari cara menghapus reaksi atau menutup menu stiker agar lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya.
Kejujuran yang sederhana lebih baik daripada penjelasan panjang yang membingungkan.
6. Tata cara admin dalam menegur
Seorang admin bukan hanya penjaga aturan, tetapi juga penjaga adab.
Karena itu, teguran sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama: Pengingat umum
Admin dapat menulis:
“Mohon perhatian seluruh anggota, di dalam grup ini kita tidak menggunakan stiker atau reaksi sebagai jawaban. Mari membalas dengan tulisan yang jelas dan santun.”
Tahap kedua: Teguran pribadi
Apabila seorang anggota mengulanginya, admin dapat menghubungi secara pribadi:
“Mohon maaf, kami mengingatkan kembali agar tidak menggunakan stiker di dalam grup. Aturan ini dibuat untuk menjaga ketertiban dan menghindari kesalahpahaman.”
Tahap ketiga: Peringatan tegas
Apabila pelanggaran dilakukan berulang kali dan dengan sengaja, admin dapat memberikan peringatan terakhir.
Tahap keempat: Tindakan pengamanan
Apabila seseorang terus mengganggu, mengejek, atau memancing perdebatan, admin dapat membatasi atau mengeluarkannya demi menjaga anggota yang lain.
Namun, tindakan tersebut tidak boleh disertai penghinaan, penyebaran aib, atau kemarahan berlebihan.
Tegas tidak berarti kasar.
Lembut tidak berarti membiarkan.
7. Jangan menghukum karena satu kesalahan kecil
Majelis yang baik tidak dibangun dengan kecurigaan terus-menerus.
Apabila setiap salah sentuh langsung dianggap pelanggaran berat, anggota akan merasa takut berbicara.
Sebaliknya, apabila semua pelanggaran dibiarkan, aturan akan kehilangan wibawa.
Maka tempuhlah jalan pertengahan:
Kesalahan yang tidak disengaja dimaafkan dan diarahkan.
Kesalahan yang disengaja dinasihati.
Pelanggaran yang berulang ditegur dengan tegas.
Perbuatan yang merusak majelis dihentikan.
Inilah keseimbangan antara kasih sayang dan ketertiban.
8. Menjawab dengan kesadaran
Sebelum membalas pesan, biasakan membaca tiga kali:
Bacaan pertama, untuk mengetahui isi pesannya.
Bacaan kedua, untuk memahami keadaan orang yang menulis.
Bacaan ketiga, untuk mempertimbangkan jawaban yang paling baik.
Setelah itu, tulislah dengan bahasa yang jelas.
Apabila belum memahami, katakan:
“Mohon izin, saya belum memahami maksudnya. Bisa dijelaskan kembali?”
Apabila sedang emosi, jangan langsung membalas.
Letakkan ponsel sejenak, tarik napas, beristigfar, lalu baca kembali.
Sebab banyak pertengkaran tidak bermula dari persoalan besar, melainkan dari jawaban kecil yang dikirim ketika hati sedang panas.
Penutup Lembar Ketiga
Wahai saudara dan saudari yang berada dalam satu majelis, ingatlah bahwa adab tidak hanya terlihat ketika seseorang berbicara langsung.
Adab juga terlihat dari cara mengetik, memilih gambar, memberikan reaksi, meminta maaf, menerima teguran, dan memperbaiki kesalahan.
Jangan menganggap kecil sesuatu yang dapat melukai orang lain.
Namun jangan pula membesar-besarkan kesalahan yang tidak disengaja.
Jadilah manusia yang berhati-hati ketika mengirim dan lapang ketika memaafkan.
Doa
Yā Alloh, jernihkanlah hati kami sebelum berbicara dan sebelum menulis. Jagalah tangan kami dari mengirim sesuatu yang menyakiti. Berikanlah kepada kami keberanian untuk mengakui kesalahan, kelembutan dalam menasihati, dan kebijaksanaan dalam menjaga majelis. Jadikan komunikasi kami sebagai jalan persaudaraan, bukan sebab perpecahan. Āmīn.
LEMBAR KE-4
ADAB MENEGUR DAN MENERIMA TEGURAN
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ketahuilah, bahwa aturan tidak akan menjaga sebuah majelis apabila tidak disertai kebijaksanaan. Teguran pun tidak akan memperbaiki seseorang apabila disampaikan dengan penghinaan.
Ada orang yang memahami aturan setelah satu kali dijelaskan. Ada pula yang memerlukan pengulangan karena belum terbiasa. Ada yang melakukan kesalahan karena tidak sengaja, dan ada yang sengaja melanggar untuk menguji batas kesabaran.
Oleh sebab itu, seorang penjaga majelis harus mempunyai dua kekuatan:
Ketegasan dalam menjaga aturan dan kelembutan dalam menjaga hati.
Ketegasan tanpa kelembutan dapat berubah menjadi kekerasan.
Kelembutan tanpa ketegasan dapat membuat pelanggaran terus dibiarkan.
1. Tujuan teguran
Teguran bukan untuk memenangkan diri.
Teguran bukan untuk menunjukkan bahwa admin lebih tinggi daripada anggota.
Teguran bukan pula untuk mempermalukan seseorang di hadapan banyak orang.
Tujuan teguran adalah:
mengingatkan kesalahan;
mencegah kesalahan terulang;
menjaga ketertiban grup;
melindungi anggota dari kesalahpahaman;
dan mengembalikan seseorang kepada adab yang telah disepakati.
Apabila teguran justru membuat orang dipermalukan, dihina, atau dibicarakan keburukannya, maka cara menegurnya perlu diperbaiki.
2. Bedakan kesalahan dan pelanggaran
Tidak setiap kesalahan harus diperlakukan sebagai pelanggaran berat.
Kesalahan tidak sengaja
Contohnya:
stiker salah terkirim;
reaksi jempol tidak sengaja tersentuh;
anggota baru belum membaca peraturan;
salah menekan tombol;
atau belum memahami cara menghapus pesan.
Kesalahan seperti ini cukup dijelaskan dengan baik.
Pelanggaran karena kebiasaan
Contohnya:
berulang kali mengirim stiker;
menjawab hanya dengan gambar;
mengabaikan pengingat;
atau terus menggunakan reaksi dalam pembahasan penting.
Hal seperti ini memerlukan teguran yang lebih jelas.
Pelanggaran yang disengaja
Contohnya:
memakai stiker untuk mengejek;
mengirim gambar untuk menyindir;
menertawakan kesulitan anggota;
memancing perdebatan;
atau sengaja melanggar setelah berkali-kali diperingatkan.
Pelanggaran seperti ini boleh ditindak dengan lebih tegas karena telah mengganggu ketenteraman bersama.
3. Menegur secara pribadi lebih utama
Apabila kesalahan hanya dilakukan oleh satu orang dan belum menimbulkan kekacauan, tegurlah melalui pesan pribadi.
Katakan dengan bahasa yang menjaga kehormatan:
“Mohon maaf, saudara cahayaku. Kami mengingatkan bahwa penggunaan stiker dan reaksi sebagai jawaban tidak diperbolehkan di dalam grup. Mungkin tadi tidak sengaja. Mohon lebih berhati-hati pada pesan berikutnya.”
Bahasa seperti itu tetap tegas, tetapi tidak menuduh.
Jangan langsung menulis di grup:
“Siapa yang mengirim stiker tadi?”
“Sudah berkali-kali dilarang, mengapa masih tidak mengerti?”
“Kalau tidak bisa mengikuti aturan, silakan keluar.”
Ucapan seperti itu dapat membuat orang merasa dipermalukan, terutama apabila kesalahannya baru terjadi sekali.
4. Kapan pengingat umum diperlukan?
Pengingat umum dapat disampaikan apabila banyak anggota mulai melakukan hal yang sama.
Namun, jangan menyebut nama pelanggar apabila tidak diperlukan.
Admin dapat menulis:
“Mohon perhatian seluruh anggota. Untuk menjaga kejernihan pembahasan, jangan membalas pesan dengan stiker atau reaksi. Gunakan tulisan yang jelas dan santun. Apabila tadi ada yang tidak sengaja mengirim, silakan dihapus dan tidak perlu merasa takut.”
Pengingat seperti ini dapat memperbaiki keadaan tanpa mempermalukan siapa pun.
5. Jangan menegur ketika sedang marah
Ketika hati sedang panas, kata-kata mudah berubah menjadi senjata.
Karena itu, sebelum menegur:
berhentilah sejenak;
baca ulang pesan yang akan dikirim;
buang kalimat yang mengandung penghinaan;
perjelas aturan yang dilanggar;
dan sampaikan jalan memperbaikinya.
Jangan hanya berkata:
“Jangan ulangi lagi!”
Lebih baik jelaskan:
“Mohon tidak menggunakan stiker karena dapat menimbulkan salah paham dan menutupi pesan penting. Apabila tidak sengaja, cukup dihapus dan lebih berhati-hati.”
Teguran yang menjelaskan sebab lebih mudah diterima daripada perintah yang hanya menekan.
6. Adab anggota ketika ditegur
Orang yang ditegur hendaknya tidak langsung merasa dibenci.
Teguran terhadap perbuatan belum tentu merupakan penolakan terhadap dirinya.
Apabila teguran benar, terimalah dengan lapang:
“Baik, terima kasih sudah mengingatkan. Mohon maaf atas kekeliruan saya.”
Apabila memang tidak sengaja, jelaskan secara singkat:
“Mohon maaf, tadi tidak sengaja tersentuh. Sudah saya hapus dan akan lebih berhati-hati.”
Tidak perlu membuat pembelaan panjang.
Tidak perlu menyalahkan ponsel, jaringan, atau orang lain secara berlebihan.
Kejujuran yang sederhana akan lebih menenangkan hati semua pihak.
7. Jangan membalas teguran dengan perdebatan
Kesalahan kecil dapat menjadi besar apabila seseorang lebih sibuk membela harga diri daripada memperbaiki perbuatannya.
Jangan membalas teguran dengan kata-kata:
“Orang lain juga pernah melakukan.”
“Hanya stiker saja dipermasalahkan.”
“Admin terlalu berlebihan.”
“Saya tidak merasa bersalah.”
Apabila ada cara teguran yang dirasa kurang tepat, sampaikan melalui pesan pribadi dengan sopan:
“Mohon izin, saya menerima aturan tersebut. Namun saya berharap teguran berikutnya dapat disampaikan secara pribadi agar tidak menimbulkan salah paham.”
Dengan cara itu, aturan tetap dihormati dan perasaan pun tetap dijaga.
8. Kesalahan admin juga harus dapat dikoreksi
Admin bukan manusia yang terbebas dari kesalahan.
Ia dapat salah memahami, salah membaca, atau terlalu cepat mengambil keputusan.
Apabila ternyata seseorang benar-benar tidak sengaja, admin sebaiknya berkata:
“Baik, terima kasih atas penjelasannya. Mohon maaf apabila pengingat kami terasa kurang nyaman. Mari kita jaga bersama agar tidak terulang.”
Permintaan maaf tidak mengurangi kewibawaan admin.
Justru admin yang berani mengakui kekeliruan akan lebih dihormati.
Wibawa bukan lahir dari rasa takut anggota, melainkan dari keadilan, ketenangan, dan keteladanan.
9. Jangan membuka aib anggota
Kesalahan yang telah diselesaikan tidak perlu terus dibicarakan.
Jangan mengambil tangkapan layar lalu menyebarkannya kepada orang lain.
Jangan menjadikan pelanggaran seseorang sebagai bahan candaan.
Jangan menyimpan kesalahan lama untuk dipakai ketika terjadi persoalan baru.
Apabila seseorang telah mengakui, meminta maaf, dan memperbaiki diri, tutuplah perkara itu.
Majelis yang sehat memberikan ruang untuk bertumbuh, bukan terus mengikat seseorang pada kesalahan masa lalu.
10. Tahapan tindakan yang adil
Untuk menjaga keadilan, tindakan dapat dilakukan secara bertahap:
Tahap pertama: Penjelasan
Anggota diberi tahu mengenai aturan dan alasan di baliknya.
Tahap kedua: Pengingat pribadi
Diberikan ketika kesalahan mulai berulang.
Tahap ketiga: Peringatan resmi
Diberikan apabila anggota terus mengabaikan aturan.
Tahap keempat: Pembatasan sementara
Dapat dilakukan apabila perilakunya mengganggu pembahasan.
Tahap kelima: Dikeluarkan dari grup
Langkah ini menjadi pilihan terakhir apabila seseorang sengaja merusak ketenteraman, menghina anggota, atau terus menolak aturan setelah diberikan kesempatan.
Setiap tindakan hendaknya dicatat dengan jujur dan tidak dipengaruhi kedekatan pribadi.
Jangan keras kepada orang yang tidak disukai, tetapi lunak kepada orang yang dekat.
Aturan yang baik harus berlaku secara adil.
11. Tegas bukan berarti membenci
Mengeluarkan seseorang dari grup tidak selalu berarti membenci dirinya.
Terkadang tindakan itu diperlukan untuk melindungi banyak anggota.
Namun, jangan mengutuknya.
Jangan mendoakan keburukan.
Jangan mengatakan bahwa dirinya pasti buruk atau tidak mempunyai cahaya.
Cukuplah berkata:
“Keanggotaan saudara kami hentikan karena pelanggaran aturan yang berulang. Semoga di tempat lain saudara mendapatkan ruang yang lebih sesuai dan tetap berada dalam kebaikan.”
Dengan demikian, aturan ditegakkan tanpa merampas kehormatan seseorang.
12. Hati yang siap dinasihati
Orang yang matang bukanlah orang yang tidak pernah salah.
Orang yang matang adalah orang yang mampu menerima koreksi tanpa kehilangan keseimbangan.
Begitu pula pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu merasa benar.
Pemimpin yang baik adalah orang yang mau mendengar, memeriksa kembali, dan memperbaiki keputusan apabila diperlukan.
Maka setiap anggota hendaknya menanamkan dalam hati:
“Aku datang ke majelis ini bukan untuk selalu dibenarkan, tetapi untuk belajar menjadi lebih baik.”
Dan setiap admin hendaknya menanamkan:
“Aku menjaga majelis ini bukan untuk berkuasa, tetapi untuk melayani ketertiban dan kebaikan bersama.”
Penutup Lembar Keempat
Wahai saudara dan saudari cahayaku, jangan jadikan teguran sebagai api yang membakar persaudaraan.
Jadikanlah ia seperti air yang membersihkan tanpa merusak.
Tegurlah perbuatannya, tetapi jangan hancurkan harga dirinya.
Terimalah nasihatnya, tetapi jangan simpan dendam kepada orang yang menyampaikannya.
Apabila kita mampu menegur dengan kasih dan menerima teguran dengan lapang, maka aturan tidak lagi terasa sebagai beban.
Aturan akan menjadi pagar yang melindungi ketenteraman seluruh anggota.
Doa
Yā Alloh, lembutkanlah lisan kami ketika menasihati dan lapangkanlah dada kami ketika dinasihati. Jauhkan kami dari kesombongan, kemarahan, dan keinginan mempermalukan sesama. Karuniakanlah kepada para penjaga majelis keadilan dalam bertindak, ketenangan dalam memutuskan, serta kasih sayang dalam membimbing. Jadikan setiap teguran sebagai jalan perbaikan dan bukan sebab perpecahan. Āmīn.
LEMBAR KE-5
MENJAGA NIAT SEBELUM MENGIRIM PESAN
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ketahuilah, wahai saudara dan saudari cahayaku, bahwa setiap pesan yang dikirim membawa sesuatu dari dalam diri pengirimnya.
Tulisan membawa maksud.
Pilihan kata membawa keadaan hati.
Stiker membawa isyarat.
Reaksi membawa penilaian.
Bahkan diam pun terkadang membawa makna.
Oleh karena itu, sebelum tangan menekan tombol kirim, hati perlu diperiksa terlebih dahulu.
Jangan sampai pesan yang terlihat ringan ternyata lahir dari kemarahan.
Jangan sampai candaan yang dianggap biasa ternyata melukai orang lain.
Jangan sampai nasihat yang katanya untuk kebaikan justru dipakai untuk meninggikan diri dan merendahkan saudara.
Adab yang paling awal bukan terletak pada bentuk tulisan, tetapi pada niat yang melahirkan tulisan itu.
1. Periksa niat sebelum berbicara
Sebelum mengirim pesan, tanyakan kepada diri sendiri:
“Untuk apa aku menulis ini?”
Apakah untuk menjelaskan?
Apakah untuk menolong?
Apakah untuk mengingatkan?
Apakah untuk meminta maaf?
Ataukah sebenarnya untuk menyindir, melampiaskan kemarahan, mencari pembelaan, mempermalukan, dan menunjukkan bahwa diri merasa lebih benar?
Pesan yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda karena niatnya berbeda.
Seseorang dapat menulis kalimat lembut, tetapi di dalamnya tersimpan sindiran.
Seseorang juga dapat menulis kalimat tegas, tetapi niatnya murni untuk melindungi banyak orang.
Maka jangan hanya memperindah kata-kata. Perbaikilah sumber kata-kata itu di dalam hati.
2. Tanda pesan yang lahir dari emosi
Pesan yang lahir dari emosi biasanya memiliki beberapa tanda:
ditulis dengan tergesa-gesa;
memakai banyak huruf besar;
terlalu banyak tanda seru;
mengulang kesalahan orang lain;
memakai kata-kata yang merendahkan;
menuntut jawaban seketika;
ingin segera dilihat banyak anggota;
merasa puas apabila orang lain dipermalukan;
atau terus dikirim walaupun persoalan sebenarnya sudah selesai.
Apabila tanda-tanda itu muncul, jangan langsung mengirim.
Simpanlah pesan sebagai tulisan sementara.
Bacalah kembali setelah hati lebih tenang.
Banyak penyesalan bermula dari pesan yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk dikirim, tetapi meninggalkan luka berhari-hari.
3. Berhenti sejenak adalah bagian dari adab
Tidak semua pesan harus segera dibalas.
Terkadang menunda jawaban merupakan bentuk kebijaksanaan.
Apabila hati sedang panas, lakukanlah beberapa hal:
Pertama, letakkan ponsel.
Kedua, tarik napas dengan perlahan.
Ketiga, beristigfar dan memohon perlindungan kepada Alloh dari perkataan yang melampaui batas.
Keempat, baca kembali pesan orang lain tanpa prasangka.
Kelima, tanyakan apakah jawaban kita masih perlu dikirim.
Setelah hati tenang, sering kali seseorang menyadari bahwa sebagian besar kalimat keras tidak lagi diperlukan.
Diam sejenak bukan berarti kalah.
Menahan diri bukan berarti lemah.
Justru orang yang mampu menghentikan tangannya ketika emosi sedang tinggi telah menjaga dirinya dari akibat yang lebih besar.
4. Bedakan menjelaskan dan membela diri
Menjelaskan berarti menyampaikan kenyataan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Membela diri secara berlebihan berarti berusaha memenangkan diri walaupun harus menyalahkan orang lain.
Penjelasan yang baik biasanya singkat, jujur, dan tidak menyerang.
Contohnya:
“Mohon izin menjelaskan, reaksi tadi terkirim karena tidak sengaja. Sudah saya hapus dan akan lebih berhati-hati.”
Adapun pembelaan yang berlebihan biasanya berbunyi:
“Kenapa hanya saya yang ditegur?”
“Orang lain juga sering melakukan.”
“Admin terlalu membesar-besarkan.”
“Saya tidak merasa bersalah.”
Kalimat seperti itu memindahkan persoalan dari kesalahan kecil menuju perdebatan yang lebih besar.
Apabila memang terjadi kesalahpahaman, jelaskan secukupnya.
Setelah penjelasan diterima, berhentilah.
Jangan terus membuka persoalan yang telah selesai.
5. Jangan menjadikan grup sebagai tempat melampiaskan isi hati
Grup bersama bukan ruang untuk menumpahkan seluruh kemarahan pribadi.
Apabila seseorang sedang marah kepada satu anggota, jangan membuat sindiran umum yang dibaca semua orang.
Apabila terdapat persoalan pribadi, selesaikan melalui percakapan pribadi atau dengan bantuan admin yang dipercaya.
Pesan seperti:
“Ada orang di sini yang tidak punya adab.”
“Yang merasa, silakan sadar diri.”
“Jangan pura-pura baik di depan banyak orang.”
dapat membuat seluruh anggota merasa dituduh, walaupun persoalannya hanya menyangkut satu orang.
Sindiran tidak menyelesaikan persoalan.
Ia hanya menyebarkan kegelisahan kepada orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat.
Lebih baik berkata secara langsung dan sopan kepada pihak yang bersangkutan daripada menebar kalimat yang membuat semua orang saling mencurigai.
6. Jangan memakai aturan untuk menyerang orang lain
Aturan dibuat untuk menjaga ketertiban, bukan sebagai senjata dalam perselisihan.
Jangan berkata:
“Admin, keluarkan saja dia.”
“Orang seperti itu tidak pantas berada di grup.”
“Dia sudah tidak memiliki kesadaran.”
Anggota tidak boleh mengambil alih kewenangan admin hanya karena sedang tidak menyukai seseorang.
Apabila melihat pelanggaran, cukup sampaikan kepada admin dengan tenang.
Contohnya:
“Mohon izin admin, sepertinya ada pesan yang perlu diperhatikan. Saya serahkan penilaiannya kepada admin agar tidak terjadi perdebatan.”
Setelah itu, jangan ikut menghakimi.
Biarkan admin memeriksa keadaan dengan adil.
Sebab terkadang sesuatu yang terlihat sebagai pelanggaran ternyata hanya salah kirim, salah paham, atau ketidaktahuan terhadap aturan.
7. Niat baik tetap membutuhkan cara yang baik
Tidak semua tindakan dapat dibenarkan hanya dengan berkata:
“Niat saya sebenarnya baik.”
Niat baik harus disertai cara yang baik.
Seseorang mungkin ingin mengingatkan, tetapi apabila caranya mempermalukan, maka nasihat itu sulit diterima.
Seseorang mungkin ingin menjaga aturan, tetapi apabila ia memaki, maka ketertiban justru berubah menjadi ketakutan.
Seseorang mungkin ingin bercanda untuk mencairkan suasana, tetapi apabila waktunya tidak tepat, candaan itu dapat menjadi luka.
Maka kebaikan membutuhkan tiga perkara:
niat yang benar, cara yang benar, dan waktu yang tepat.
Apabila salah satu di antaranya tidak dijaga, pesan yang dimaksudkan sebagai kebaikan dapat menghasilkan akibat yang berlawanan.
8. Jangan menilai seluruh diri seseorang dari satu pesan
Satu stiker yang salah terkirim tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang tidak beradab.
Satu jawaban singkat tidak selalu berarti ia sedang marah.
Satu keterlambatan membalas tidak selalu berarti ia meremehkan.
Satu kesalahan tulisan tidak selalu berarti ia sengaja menyinggung.
Manusia mempunyai keadaan yang tidak seluruhnya kita ketahui.
Ada yang sedang bekerja.
Ada yang sedang sakit.
Ada yang menggunakan ponsel dengan keterbatasan tertentu.
Ada yang belum memahami fitur aplikasi.
Ada pula yang sedang belajar berkomunikasi dengan lebih baik.
Maka lihatlah perilaku secara utuh, bukan hanya satu potongan peristiwa.
Namun, apabila kesalahan terus berulang setelah berkali-kali diingatkan, barulah admin menilai berdasarkan pola yang nyata.
Keadilan membutuhkan bukti, bukan dugaan.
9. Hindari membaca pesan dengan prasangka
Pesan tertulis tidak memiliki nada suara dan ekspresi wajah.
Karena itu, satu kalimat dapat terdengar berbeda di dalam pikiran setiap orang.
Kalimat:
“Baik.”
dapat berarti menerima, tetapi dapat pula dianggap sedang marah apabila dibaca dengan prasangka.
Kalimat:
“Silakan.”
dapat berarti mempersilakan, tetapi dapat dianggap sebagai sindiran oleh hati yang sedang gelisah.
Sebelum tersinggung, tanyakan terlebih dahulu.
Contohnya:
“Mohon izin, apakah maksud saudara demikian? Saya khawatir salah memahami tulisan tadi.”
Pertanyaan yang jernih dapat menghentikan pertengkaran sebelum tumbuh.
Sebaliknya, prasangka dapat mengubah satu kata sederhana menjadi persoalan panjang.
10. Perhatikan waktu mengirim pesan
Pesan yang baik pun perlu mempertimbangkan waktu.
Jangan mengirim banyak pesan pribadi pada waktu istirahat malam kecuali ada keperluan penting.
Jangan mendesak admin menjawab seketika.
Jangan mengulang pertanyaan berkali-kali hanya karena belum mendapat balasan.
Setiap orang memiliki kesibukan dan tanggung jawab di luar grup.
Apabila pertanyaan belum dijawab, tunggulah dengan sabar.
Dapat pula mengingatkan dengan sopan:
“Mohon izin mengingatkan pertanyaan saya sebelumnya apabila sudah ada waktu untuk menjawab.”
Kesabaran dalam menunggu jawaban adalah bagian dari adab komunikasi.
11. Jangan mengirim pesan beruntun tanpa kebutuhan
Pesan yang dipotong menjadi banyak bagian dapat memenuhi layar anggota lain.
Contohnya:
“Assalāmu‘alaikum.”
“Mohon izin.”
“Saya mau bertanya.”
“Apakah boleh?”
“Karena saya bingung.”
Lebih baik susun menjadi satu pesan yang jelas:
“Assalāmu‘alaikum. Mohon izin bertanya mengenai aturan penggunaan stiker. Apakah reaksi yang salah tersentuh perlu segera dihapus dan dilaporkan kepada admin?”
Pesan yang tersusun baik lebih mudah dibaca, dipahami, dan dijawab.
Kerapian dalam menulis menunjukkan penghormatan kepada waktu orang lain.
12. Bacalah kembali sebelum mengirim
Biasakan memeriksa tiga perkara:
Pertama: Kebenaran isi
Apakah informasi yang ditulis benar atau hanya dugaan?
Kedua: Kejelasan bahasa
Apakah orang lain dapat memahami maksudnya tanpa menebak?
Ketiga: Kebaikan akibat
Apakah pesan ini membawa manfaat atau justru menambah kegaduhan?
Apabila informasi belum pasti, jangan menyebarkannya.
Apabila bahasa masih keras, perhaluslah.
Apabila pesan tidak membawa manfaat, pertimbangkan untuk tidak mengirimnya.
Tombol kirim memang kecil, tetapi akibatnya dapat menjangkau banyak hati.
13. Tanda niat yang telah dijernihkan
Pesan yang lahir dari niat yang jernih biasanya:
tidak tergesa-gesa;
tidak mengandung penghinaan;
menjelaskan persoalan dengan jelas;
memberi ruang bagi orang lain untuk menjawab;
tidak memaksakan kehendak;
berani meminta maaf;
siap menerima koreksi;
dan tidak menyimpan tujuan tersembunyi untuk mempermalukan.
Orang yang berniat baik tidak hanya bertanya:
“Apakah aku berhak mengatakan ini?”
Ia juga bertanya:
“Apakah cara ini paling membawa kebaikan?”
Inilah tanda kedewasaan dalam berkomunikasi.
14. Niat anggota dan niat admin
Setiap anggota hendaknya menanamkan niat:
“Aku hadir di grup ini untuk belajar, menjaga adab, saling menolong, dan tidak menambah beban hati orang lain.”
Setiap admin hendaknya menanamkan niat:
“Aku menjaga grup ini untuk melayani ketertiban, bukan untuk menunjukkan kekuasaan.”
Apabila anggota datang untuk belajar dan admin hadir untuk melayani, maka aturan akan terasa sebagai perlindungan.
Namun, apabila anggota datang untuk mencari pembenaran dan admin menjaga grup dengan keinginan menguasai, maka aturan mudah berubah menjadi sumber perselisihan.
Niat adalah akar.
Perkataan adalah batang.
Perbuatan adalah buah.
Buah yang baik sulit tumbuh dari akar yang dipenuhi kesombongan dan kemarahan.
15. Apabila terlanjur mengirim pesan yang menyakiti
Jangan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Jangan menghapus pesan tanpa penjelasan apabila orang lain sudah membacanya dan merasa terluka.
Akuilah dengan jujur:
“Mohon maaf, pesan saya tadi ditulis ketika emosi sehingga bahasanya kurang baik. Saya mencabut perkataan tersebut dan memohon maaf kepada pihak yang tersinggung.”
Jangan menambahkan:
“Tetapi sebenarnya dia juga salah.”
Permintaan maaf yang diikuti pembelaan akan kehilangan ketulusannya.
Mintalah maaf terlebih dahulu atas bagian kesalahan diri.
Setelah keadaan tenang, persoalan dapat dibicarakan secara adil.
Meminta maaf tidak selalu berarti seluruh kesalahan berada pada diri kita.
Meminta maaf berarti kita bertanggung jawab atas cara yang telah kita gunakan.
Penutup Lembar Kelima
Wahai saudara dan saudari cahayaku, sebelum mengirim pesan, kembalilah sejenak kepada hati.
Tanyakan dari mana perkataan itu lahir.
Apakah dari kasih sayang atau kemarahan?
Apakah dari keinginan memperbaiki atau keinginan memenangkan diri?
Apakah dari kesadaran atau hanya gerakan spontan?
Jangan biarkan jari menjadi pemimpin bagi hati.
Biarkan hati yang jernih membimbing tangan.
Sebab pesan yang telah dikirim mungkin dapat dihapus dari layar, tetapi kesannya belum tentu segera terhapus dari perasaan orang yang menerimanya.
Doa
Yā Alloh, sucikanlah niat kami sebelum berbicara dan sebelum menulis. Jauhkan tangan kami dari mengirim pesan ketika hati sedang dikuasai kemarahan. Anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk berhenti, berpikir, dan memilih kata yang membawa ketenteraman. Jadikan pesan-pesan kami sebagai jalan ilmu, kasih sayang, persaudaraan, dan perbaikan. Apabila kami bersalah, mudahkan kami untuk mengakuinya dan meminta maaf dengan tulus. Āmīn.
LEMBAR KE-6 — LEMBAR TERAKHIR
MĪZĀN AL-KALĀM
Timbangan Perkataan, Isyarat, dan Tanggung Jawab dalam Majelis
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Alloh yang mengajarkan manusia untuk berbicara, mendengar, memahami, serta membedakan perkataan yang mendamaikan dari perkataan yang menimbulkan kerusakan.
Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari banyaknya ilmu yang ia sampaikan, tetapi juga dari kelembutan lisannya, kejernihan niatnya, kesabarannya menghadapi kesalahan, dan kemampuannya menjaga kehormatan sesama.
Ketahuilah, wahai saudara dan saudari cahayaku, bahwa majelis tidak hanya dibangun oleh nama, lambang, jumlah anggota, atau banyaknya pesan yang dikirimkan.
Majelis dibangun oleh kepercayaan.
Kepercayaan tumbuh dari kejujuran.
Kejujuran dijaga oleh adab.
Adab diperlihatkan melalui cara seseorang membaca, menjawab, menegur, meminta maaf, serta memperlakukan kesalahan orang lain.
Apabila adab terjaga, percakapan yang sederhana dapat menjadi jalan kebaikan.
Namun apabila adab ditinggalkan, satu kata, satu gambar, satu stiker, atau satu tanda jempol dapat berubah menjadi awal prasangka dan perpecahan.
Maka lembar terakhir ini menjadi penimbang bagi seluruh penjelasan sebelumnya.
Bukan untuk membuat anggota merasa takut menggunakan perangkatnya, melainkan untuk mengajarkan bahwa setiap tindakan di dalam ruang bersama mempunyai akibat yang perlu dipertimbangkan.
1. Setiap yang terkirim membawa tanggung jawab
Ketika sebuah pesan telah masuk ke dalam grup, pesan itu tidak lagi hanya menjadi milik pengirim.
Ia telah memasuki pikiran dan perasaan orang-orang yang membacanya.
Satu tulisan dapat dibaca oleh puluhan orang dengan keadaan hati yang berbeda-beda.
Ada yang sedang tenang.
Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga.
Ada yang sedang sakit.
Ada yang baru kehilangan seseorang yang dicintai.
Ada yang sedang berusaha menahan kemarahan.
Ada pula yang sedang belajar memahami aturan dan bahasa di dalam grup.
Karena itu, jangan menilai sebuah pesan hanya dari maksud pengirim.
Perhatikan pula kemungkinan akibatnya bagi penerima.
Pengirim mungkin berkata:
“Saya hanya bercanda.”
Namun penerima mungkin merasakan penghinaan.
Pengirim mungkin berkata:
“Saya hanya mengirim jempol.”
Namun orang yang sedang meminta pertolongan mungkin merasa disepelekan.
Pengirim mungkin berkata:
“Itu hanya stiker.”
Namun gambar tersebut mungkin muncul pada saat yang tidak pantas.
Maksud yang baik memang penting, tetapi akibat yang muncul juga perlu dipertanggungjawabkan.
Apabila seseorang tidak sengaja melukai, ia mungkin tidak menanggung kesengajaan untuk melukai. Namun setelah mengetahui akibatnya, ia tetap perlu meminta maaf dan memperbaiki cara berkomunikasi.
Inilah kedewasaan:
Tidak hanya mempertahankan maksud diri, tetapi juga bersedia memahami perasaan orang lain.
2. Bedakan antara muncul, terpilih, dan terkirim
Perkara ini harus dipahami dengan jelas agar tidak terjadi tuduhan yang berlebihan.
Pada perangkat tertentu, emoji, stiker, atau pilihan reaksi dapat muncul sebagai saran. Kemunculan tersebut dapat terjadi ketika pengguna mengetik kata tertentu, membuka papan emoji, menyentuh pesan, atau menahan pesan beberapa saat.
Namun ada perbedaan antara:
Muncul di layar
Artinya pilihan hanya ditampilkan oleh aplikasi.
Terpilih
Artinya jari atau perintah perangkat telah memilih salah satu pilihan.
Terkirim atau terpasang
Artinya pilihan tersebut telah masuk ke dalam percakapan atau menjadi reaksi pada suatu pesan.
Maka tidak tepat apabila seseorang berkata bahwa setiap saran yang muncul otomatis pasti terkirim sendiri.
Biasanya tetap ada sentuhan, pilihan, atau perintah dari perangkat.
Akan tetapi, sentuhan tersebut bisa terjadi tanpa sengaja.
Jari dapat terpeleset.
Layar dapat terlalu sensitif.
Ponsel dapat tersentuh ketika dimasukkan ke saku.
Anak kecil dapat menekan layar.
Pengguna dapat keliru memahami tombol.
Seseorang juga dapat mengira tanda jempol hanya membuka menu, padahal ternyata langsung memasang reaksi.
Karena itu, apabila satu reaksi muncul tanpa sengaja, jangan langsung menuduh orang tersebut berbohong.
Namun anggota juga tidak boleh menggunakan alasan “otomatis” untuk menutupi tindakan yang sebenarnya disengaja.
Kejujuran adalah jalan tengahnya.
Katakan apa adanya:
“Mohon maaf, pilihan tadi memang tersentuh tanpa sengaja.”
Bukan berkata:
“Tidak ada yang menyentuh sama sekali, semuanya bergerak sendiri.”
Apabila tidak mengetahui bagaimana hal itu terjadi, katakan:
“Saya belum mengetahui bagaimana reaksi itu terpasang, tetapi saya sudah menghapusnya dan akan lebih berhati-hati.”
Kalimat yang jujur lebih baik daripada kepastian yang tidak didukung pengetahuan.
3. Kesalahan tidak sengaja tidak sama dengan pelanggaran sengaja
Majelis yang beradab harus mampu membedakan tiga keadaan.
Keadaan pertama: Kesalahan tidak disengaja
Seseorang salah menyentuh, belum memahami fitur aplikasi, atau tidak mengetahui peraturan.
Dalam keadaan ini, ia cukup diarahkan, diberi penjelasan, dan diminta lebih berhati-hati.
Tidak perlu dipermalukan.
Tidak perlu diberikan cap buruk.
Tidak perlu dikatakan bahwa dirinya kehilangan cahaya, kotor secara ruhani, atau tidak layak berada dalam majelis.
Keadaan kedua: Kelalaian yang terus berulang
Seseorang telah mengetahui peraturan, tetapi masih berulang kali melanggar karena kurang hati-hati atau menganggap aturan tidak penting.
Dalam keadaan ini, diperlukan teguran yang lebih jelas.
Ia perlu diberi tahu bahwa kelalaian yang berulang dapat mengganggu anggota lain, walaupun tidak selalu bermula dari niat buruk.
Keadaan ketiga: Pelanggaran yang disengaja
Seseorang menggunakan stiker, reaksi, atau tulisan untuk mengejek, menantang, merendahkan, mengganggu pembahasan, atau memancing keributan.
Dalam keadaan ini, admin berhak mengambil tindakan tegas.
Tindakan tersebut bukan berdasarkan jenis gambarnya semata, melainkan berdasarkan niat, pola perilaku, serta akibat yang ditimbulkannya.
Jangan samakan orang yang salah sentuh satu kali dengan orang yang berkali-kali sengaja mengejek.
Keadilan menuntut perbedaan perlakuan sesuai keadaan.
4. Sebab kecil dapat melahirkan akibat besar
Banyak perselisihan tidak bermula dari persoalan besar.
Ia sering bermula dari sesuatu yang dianggap remeh.
Satu orang mengirim stiker.
Orang lain merasa disindir.
Ia membalas dengan tulisan keras.
Pengirim pertama merasa dituduh.
Anggota lain ikut membela.
Tangkapan layar dibagikan.
Kesalahan lama dibuka kembali.
Kemudian persoalan yang semula hanya satu sentuhan berubah menjadi keretakan persaudaraan.
Inilah sebabnya aturan dibuat sebelum masalah membesar.
Aturan yang baik bukan menunggu luka terjadi, melainkan mencegah keadaan yang mudah melahirkan luka.
Namun pencegahan tidak boleh berubah menjadi ketakutan berlebihan.
Jangan sampai anggota menjadi cemas setiap menyentuh layar.
Jangan sampai satu kesalahan kecil dianggap membawa akibat gaib yang menakutkan.
Jangan membuat orang merasa dirinya tercemar hanya karena salah menekan tanda reaksi.
Akibat yang perlu dijelaskan secara nyata adalah:
munculnya salah paham;
perasaan tidak dihargai;
pembahasan menjadi tidak tertib;
pesan penting tenggelam;
anggota saling menuduh;
candaan berubah menjadi penghinaan;
dan kepercayaan dalam majelis berkurang.
Dengan penjelasan yang nyata, anggota memahami alasan aturan dan dapat menjalankannya dengan kesadaran, bukan semata-mata karena takut.
5. Jangan menambahkan ancaman yang tidak berdasar
Seorang penjaga majelis harus berhati-hati dalam menjelaskan sebab dan akibat.
Jangan mengatakan bahwa satu stiker pasti mendatangkan musibah.
Jangan mengatakan bahwa reaksi jempol otomatis mengotori ruh.
Jangan mengatakan bahwa seseorang akan kehilangan keberkahan hanya karena salah menekan tombol.
Jangan menghubungkan kesalahan teknis dengan hukuman ruhani tanpa dasar yang jelas.
Perkataan seperti itu dapat membuat anggota takut secara berlebihan dan menimbulkan tuduhan yang tidak adil.
Cukuplah jelaskan dengan jujur:
“Stiker dan reaksi dibatasi agar pembahasan tetap jelas, tertib, tidak menimbulkan salah tafsir, dan tidak meremehkan orang yang sedang menyampaikan persoalan.”
Apabila sebuah stiker berisi gambar yang tidak pantas, penghinaan, kekerasan, atau ejekan, larangan dapat ditegaskan berdasarkan isi dan akibatnya.
Namun apabila hanya tanda jempol yang salah tersentuh, perlakukan sebagai kekeliruan teknis yang perlu diperbaiki, bukan sebagai kerusakan batin yang pasti.
Kebenaran tidak membutuhkan ancaman yang dibuat-buat.
Aturan akan lebih kuat apabila alasannya dapat dipahami dan diterapkan secara adil.
6. Empat pertanyaan sebelum menekan tombol kirim
Setiap anggota hendaknya membiasakan diri berhenti sejenak dan bertanya:
Pertama: Apakah ini benar?
Jangan mengirim berita, tuduhan, tangkapan layar, atau cerita yang belum diperiksa.
Apa yang diterima dari orang lain belum tentu sesuai kenyataan.
Pesan yang diteruskan tanpa pemeriksaan dapat merusak nama baik seseorang.
Kedua: Apakah ini perlu?
Tidak semua yang diketahui harus disampaikan.
Tidak semua candaan harus dikirim.
Tidak semua perasaan harus diumumkan kepada seluruh anggota.
Terkadang diam lebih menjaga ketenteraman.
Ketiga: Apakah ini pantas?
Perhatikan keadaan pembicaraan.
Stiker tertawa mungkin tidak pantas ketika seseorang sedang menceritakan musibah.
Jempol mungkin terasa terlalu singkat ketika seseorang meminta penjelasan mendalam.
Nasihat panjang mungkin tidak tepat dikirim ketika suasana sedang panas.
Keempat: Apakah ini disampaikan dengan cara yang baik?
Kebenaran yang disampaikan dengan penghinaan dapat ditolak.
Teguran yang benar dapat kehilangan manfaat apabila bahasanya mempermalukan.
Maka jangan hanya memastikan isi pesan benar.
Pastikan pula cara penyampaiannya menjaga kehormatan.
Empat pertanyaan tersebut dapat diringkas menjadi:
Benar, perlu, pantas, dan baik caranya.
Apabila salah satunya belum terpenuhi, perbaiki dahulu sebelum mengirim.
7. Tanggung jawab seorang anggota
Setiap anggota mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaga suasana.
Jangan berpikir bahwa ketertiban hanya tugas admin.
Anggota yang baik:
membaca aturan sebelum aktif berbicara;
memahami pembahasan sebelum menjawab;
tidak mengirim stiker pada pembicaraan penting;
tidak menyela dengan pesan yang tidak berkaitan;
tidak menertawakan pertanyaan orang lain;
tidak menyebarkan percakapan pribadi;
tidak memancing anggota lain melanggar;
dan berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Apabila melihat satu kesalahan kecil, jangan segera menjadi hakim.
Biarkan admin menjalankan tugasnya.
Jangan ramai-ramai menegur satu orang karena hal itu dapat berubah menjadi pengeroyokan melalui kata-kata.
Satu pengingat yang baik lebih bermanfaat daripada sepuluh teguran yang mempermalukan.
Apabila seseorang telah meminta maaf, jangan terus mengungkitnya.
Kesalahan yang telah diperbaiki harus menjadi pelajaran, bukan rantai yang terus diikatkan kepada pelakunya.
8. Tanggung jawab seorang admin
Admin memegang amanah yang lebih berat karena perkataannya dapat memengaruhi seluruh suasana grup.
Admin hendaknya tidak mudah tersulut.
Ia harus memeriksa sebelum menuduh.
Ia harus membedakan antara ketidaktahuan, kelalaian, dan kesengajaan.
Ia tidak boleh memakai kedudukannya untuk mempermalukan orang yang tidak disukai.
Ia tidak boleh melindungi orang dekat yang melakukan pelanggaran yang sama.
Aturan harus berlaku kepada semua.
Apabila admin melakukan kesalahan, ia juga harus bersedia meminta maaf.
Admin yang meminta maaf tidak kehilangan kewibawaan.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa aturan berada di atas kepentingan pribadi.
Seorang admin hendaknya mengingat:
“Aku tidak ditugaskan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi untuk menjaga agar kesalahan tidak berkembang menjadi kerusakan.”
Apabila satu anggota salah mengirim stiker, admin dapat menulis secara pribadi.
Apabila banyak anggota melakukannya, admin dapat memberikan pengumuman umum.
Apabila seseorang sengaja mengejek, admin dapat memberikan peringatan tegas.
Apabila perilaku merusak terus berulang, admin dapat membatasi atau mengeluarkannya.
Semua dilakukan dengan catatan yang jelas, tanpa penghinaan, tanpa penyebaran aib, dan tanpa kemarahan yang tidak terkendali.
9. Tata cara resmi ketika stiker atau reaksi salah terkirim
Agar tidak terjadi kebingungan, tata caranya dapat disederhanakan menjadi lima langkah:
Langkah pertama: Sadari
Begitu mengetahui ada stiker atau reaksi yang salah terkirim, jangan mengabaikannya.
Langkah kedua: Hapus
Apabila aplikasi memungkinkan, hapus pesan atau lepaskan reaksinya.
Langkah ketiga: Akui
Sampaikan permohonan maaf secara singkat:
“Mohon maaf, reaksi tadi tidak sengaja tersentuh dan sudah saya hapus.”
Langkah keempat: Jangan berdebat
Apabila diingatkan, terimalah tanpa memperpanjang persoalan.
Langkah kelima: Pelajari
Pahami cara kerja menu reaksi agar kesalahan tidak terus berulang.
Dengan lima langkah tersebut, satu kesalahan kecil dapat selesai dalam waktu singkat.
Jangan membuat pembelaan panjang.
Jangan menyalahkan orang lain.
Jangan mengubah kesalahan teknis menjadi perdebatan tentang harga diri.
10. Contoh jawaban yang diperbolehkan dan lebih beradab
Untuk menggantikan stiker atau reaksi, anggota dapat menggunakan kalimat singkat yang jelas.
Ketika menyetujui:
“Baik, saya memahami.”
Ketika menerima arahan:
“Siap, terima kasih atas pengingatnya.”
Ketika mendoakan:
“Semoga Alloh memberikan kemudahan dan pertolongan.”
Ketika belum memahami:
“Mohon izin, bagian ini belum saya pahami. Bisa dijelaskan kembali?”
Ketika salah mengirim:
“Mohon maaf, tadi salah sentuh dan sudah saya hapus.”
Ketika seseorang sedang berduka:
“Turut berduka. Semoga Alloh memberikan ketabahan dan melapangkan keluarga.”
Ketika seseorang sedang sakit:
“Semoga Alloh memberikan kesembuhan dan kekuatan.”
Ketika belum dapat menjawab:
“Pesannya sudah saya baca. Mohon waktu untuk memahaminya sebelum menjawab.”
Kalimat-kalimat tersebut memang sederhana, tetapi maknanya lebih jelas daripada gambar yang dapat ditafsirkan bermacam-macam.
11. Jangan meremehkan orang yang belum memahami teknologi
Tidak semua anggota mempunyai kemampuan yang sama dalam menggunakan ponsel.
Ada anggota yang baru mengenal fitur reaksi.
Ada yang penglihatannya terbatas.
Ada yang tangannya sering gemetar.
Ada yang menggunakan layar dengan sensitivitas tinggi.
Ada pula yang terbiasa memakai aplikasi dengan cara yang berbeda.
Maka pengetahuan tentang perangkat tidak boleh dijadikan ukuran kemuliaan seseorang.
Bimbinglah dengan sabar.
Apabila perlu, jelaskan cara menghapus reaksi:
Tekan kembali reaksi yang telah dipilih atau buka menu reaksi, kemudian batalkan pilihan yang terpasang.
Karena tampilan perangkat dapat berbeda, jangan mempermalukan orang yang belum segera berhasil.
Aturan yang baik harus disertai petunjuk untuk menjalankannya.
Melarang tanpa mengajarkan dapat membuat orang bingung.
Mengajarkan tanpa kesabaran dapat membuat orang malu untuk bertanya.
12. Jangan mengubah grup menjadi ruang pengawasan yang menakutkan
Ketertiban diperlukan, tetapi anggota juga membutuhkan rasa aman.
Jangan membuat anggota merasa setiap gerakannya selalu dicurigai.
Jangan menyimpan kesalahan kecil sebagai bukti untuk menjatuhkannya kelak.
Jangan menjadikan admin sebagai sosok yang hanya muncul ketika ada pelanggaran.
Admin juga perlu memberi teladan dalam menyapa, membantu, menjawab pertanyaan, dan menciptakan suasana yang manusiawi.
Majelis yang sehat bukan majelis yang tidak pernah mempunyai kesalahan.
Majelis yang sehat adalah tempat kesalahan dapat diakui, diperbaiki, dan tidak terus diwariskan menjadi permusuhan.
Rasa aman tidak berarti bebas melanggar.
Ketegasan tidak berarti menebar ketakutan.
Keduanya harus berjalan bersama.
13. Akibat apabila aturan dijalankan tanpa keadilan
Aturan yang baik dapat kehilangan kemuliaannya apabila diterapkan secara pilih kasih.
Apabila satu anggota ditegur keras karena mengirim stiker, tetapi anggota yang dekat dengan admin dibiarkan melakukan hal yang sama, maka kepercayaan akan rusak.
Apabila seseorang langsung dikeluarkan tanpa kesempatan menjelaskan, anggota lain akan merasa takut dan tidak aman.
Apabila admin membuka aib pelanggar kepada grup lain, maka masalah menjadi lebih luas.
Apabila aturan dipakai untuk membungkam pertanyaan yang sebenarnya wajar, majelis akan kehilangan ruang belajar.
Karena itu, setiap tindakan harus mempunyai ukuran yang jelas.
Pertimbangkan:
apakah pelanggaran baru pertama kali;
apakah telah ada penjelasan aturan;
apakah tindakan dilakukan sengaja;
apakah orang tersebut segera meminta maaf;
apakah ada kerugian nyata kepada anggota;
dan apakah tindakan tegas memang diperlukan.
Keadilan bukan kelemahan.
Memberikan kesempatan menjelaskan bukan berarti membela pelanggaran.
Justru pemeriksaan yang tenang menjaga admin dari keputusan yang salah.
14. Akibat apabila aturan tidak dijalankan
Sebaliknya, aturan yang hanya ditulis tetapi tidak dijalankan juga dapat menimbulkan kerusakan.
Anggota akan menganggap larangan tidak serius.
Orang yang tertib merasa usahanya tidak dihargai.
Stiker dan pesan yang tidak berkaitan semakin banyak.
Pembahasan penting menjadi tenggelam.
Candaan dapat melampaui batas.
Perselisihan semakin mudah terjadi.
Karena itu, admin tidak boleh takut menegakkan aturan ketika telah terjadi pelanggaran yang jelas.
Namun penegakan harus melalui tahapan:
Menjelaskan, mengingatkan, memperingatkan, lalu mengambil tindakan apabila pelanggaran terus dilakukan.
Tindakan terakhir tidak boleh menjadi pilihan pertama.
Namun pilihan terakhir tetap harus tersedia demi melindungi banyak orang.
15. Tentang maaf dan kesempatan memperbaiki diri
Setiap manusia pernah keliru.
Ada yang salah berbicara.
Ada yang salah memahami.
Ada yang salah menekan layar.
Ada pula yang pernah menjawab ketika sedang dikuasai emosi.
Apabila pintu perbaikan ditutup untuk setiap kesalahan, tidak ada seorang pun yang akan bertahan dalam majelis.
Namun maaf juga tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk terus mengulang tindakan yang sama.
Maaf membutuhkan perubahan.
Permintaan maaf yang benar mempunyai tiga tanda:
Mengakui kesalahan
Tidak memutarbalikkan kenyataan.
Memperbaiki akibat
Menghapus pesan, menjelaskan, atau meminta maaf kepada orang yang terluka.
Berusaha tidak mengulangi
Belajar dari kesalahan dan meningkatkan kehati-hatian.
Apabila tiga perkara itu ada, terimalah permintaan maaf dengan lapang.
Jangan terus berkata:
“Kami masih ingat kesalahanmu dahulu.”
Manusia membutuhkan ruang untuk menjadi lebih baik.
16. Janji adab bagi seluruh anggota
Setiap anggota dapat menanamkan janji berikut di dalam hati:
Aku akan membaca sebelum menjawab.
Aku akan memahami sebelum menilai.
Aku akan memeriksa sebelum menyebarkan.
Aku akan menenangkan diri sebelum menegur.
Aku akan meminta maaf apabila bersalah.
Aku tidak akan menggunakan stiker, reaksi, atau tulisan untuk mengejek dan merendahkan.
Aku tidak akan mempermalukan orang karena kesalahan yang tidak disengaja.
Aku akan menghormati aturan yang telah disepakati bersama.
Aku akan menjaga kehormatan majelis sebagaimana aku ingin kehormatanku dijaga.
Janji tersebut tidak membutuhkan upacara khusus.
Ia harus terlihat dalam kebiasaan sehari-hari.
17. Rumusan akhir peraturan
Agar tidak menimbulkan penafsiran berlebihan, peraturan terakhir dapat dituliskan sebagai berikut:
PERATURAN PENGGUNAAN STIKER DAN REAKSI
Seluruh anggota dimohon tidak membalas pembahasan di dalam Grup Mandala Sinar Batin dengan stiker atau reaksi, terutama pada penyampaian nasihat, pertanyaan, musibah, keluhan, dan pengumuman penting.
Aturan ini dibuat untuk mencegah salah tafsir, menjaga kesungguhan, menghormati perasaan anggota, serta mencegah pesan penting tertutup oleh gambar atau reaksi.
Pilihan stiker atau jempol dapat muncul sebagai saran pada layar, tetapi umumnya baru terkirim atau terpasang setelah tersentuh atau terpilih. Sentuhan tersebut dapat terjadi tanpa sengaja.
Apabila stiker atau reaksi salah terkirim, segera hapus apabila memungkinkan dan sampaikan permohonan maaf secara singkat.
Kesalahan pertama yang tidak disengaja akan diarahkan dengan baik. Pelanggaran yang terus berulang setelah diberikan pengingat dapat dikenai peringatan atau tindakan admin.
Dilarang memakai stiker, reaksi, maupun tulisan untuk mengejek, menyindir, mempermalukan, atau memancing perselisihan.
Seluruh anggota dan admin wajib menjaga adab, kejujuran, keadilan, serta kehormatan satu sama lain.
Inilah rumusan yang tegas, jelas, dan tidak berlebihan.
18. Pesan terakhir kepada para penjaga majelis
Wahai penjaga majelis, jangan merasa aturan menjadi mulia hanya karena ditulis dengan huruf besar.
Kemuliaan aturan terlihat dari keadilan penerapannya.
Jangan merasa teguran menjadi benar hanya karena disampaikan oleh admin.
Kebenaran teguran terlihat dari bukti, cara, dan tujuannya.
Jangan merasa seseorang pasti buruk karena pernah salah mengirim.
Lihatlah kesediaannya untuk memperbaiki diri.
Jangan pula membiarkan kesengajaan berulang atas nama kelembutan.
Kasih sayang juga berarti melindungi banyak orang dari perilaku yang mengganggu.
Jadilah tegas tanpa kasar.
Jadilah lembut tanpa lemah.
Jadilah waspada tanpa mencurigai semua orang.
Jadilah pemaaf tanpa menghilangkan tanggung jawab.
19. Pesan terakhir kepada seluruh anggota
Wahai saudara dan saudari cahayaku, tangan yang memegang ponsel adalah amanah.
Ia dapat menulis kata yang menenangkan.
Ia juga dapat menulis kata yang merusak persaudaraan.
Ia dapat menghapus kesalahan.
Ia juga dapat menyebarkan aib.
Ia dapat memberikan pertolongan.
Ia juga dapat menambah beban orang yang sedang terluka.
Maka jangan biarkan tangan bergerak tanpa bimbingan hati dan akal.
Ketika hendak mengirim, berhentilah sejenak.
Ketika hendak marah, diamlah sejenak.
Ketika hendak menuduh, periksalah sejenak.
Ketika menyadari kesalahan, segeralah meminta maaf.
Ketika orang lain meminta maaf, jangan menyulitkannya.
Ingatlah bahwa tujuan majelis bukan membuktikan siapa yang paling benar, paling tinggi, atau paling berkuasa.
Tujuannya adalah agar setiap orang memperoleh ruang untuk belajar, saling menolong, menjaga kehormatan, dan berjalan menuju akhlak yang lebih baik.
Khatimah — Penutupan Qitab
Dengan selesainya lembar ini, sempurnalah rangkaian pembahasan mengenai adab dalam stiker, reaksi, jawaban singkat, teguran, penerimaan nasihat, penjagaan niat, serta tanggung jawab dalam majelis.
Ambillah yang baik sebagai pengingat.
Perbaikilah redaksi yang masih kurang.
Jangan menjadikan tulisan ini sebagai alasan untuk menghakimi.
Jadikanlah ia sebagai cermin untuk memeriksa diri sendiri sebelum memeriksa orang lain.
Sebab orang yang hanya menggunakan aturan untuk melihat kesalahan orang lain akan mudah menjadi keras.
Adapun orang yang menggunakan aturan untuk memperbaiki dirinya akan menjadi lebih berhati-hati, lebih rendah hati, dan lebih adil.
Semoga setiap anggota mampu berkata:
“Sebelum aku menuntut orang lain menjaga adab, aku akan memulainya dari diriku sendiri.”
Semoga setiap admin mampu berkata:
“Sebelum aku menghukum, aku akan memeriksa. Sebelum aku menegur, aku akan menenangkan hati. Setelah seseorang memperbaiki kesalahan, aku tidak akan terus mempermalukannya.”
Semoga setiap kesalahan kecil dapat diselesaikan dengan kejujuran.
Semoga setiap teguran dapat diterima tanpa kebencian.
Semoga setiap permintaan maaf membuka kembali pintu persaudaraan.
Semoga teknologi menjadi alat yang membantu kebaikan, bukan jalan munculnya prasangka dan permusuhan.
Doa Penutup
Yā Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati dan setiap kata yang belum maupun telah kami ucapkan.
Jernihkanlah niat kami sebelum menulis. Tenangkanlah hati kami sebelum menjawab. Jagalah tangan kami agar tidak tergesa-gesa menekan tombol yang dapat melukai sesama.
Ajarkanlah kami untuk membedakan antara kesalahan yang tidak disengaja, kelalaian yang perlu diarahkan, dan pelanggaran yang harus dihentikan.
Jadikan para penjaga majelis sebagai orang-orang yang adil, sabar, jujur, dan tidak menggunakan kedudukan untuk mempermalukan.
Jadikan seluruh anggota sebagai orang-orang yang mudah menerima nasihat, berani mengakui kekeliruan, dan bersedia memperbaiki diri.
Lindungilah kami dari perkataan yang menimbulkan fitnah, tulisan yang mengadu domba, gambar yang merendahkan, reaksi yang disalahartikan, serta keputusan yang lahir dari kemarahan.
Apabila kami salah mengirim, tuntunlah kami untuk segera memperbaiki. Apabila kami salah memahami, tuntunlah kami untuk bertanya dengan santun. Apabila kami disakiti, berilah kami kelapangan untuk memaafkan tanpa meninggalkan kebijaksanaan.
Jangan jadikan aturan sebagai jalan kesombongan. Jangan jadikan kelembutan sebagai alasan membiarkan kerusakan. Satukanlah ketegasan dengan kasih sayang, keadilan dengan kebijaksanaan, serta ilmu dengan akhlak yang mulia.
Jadikan setiap pesan yang kami kirim sebagai jalan ketenteraman. Jadikan setiap nasihat sebagai jalan perbaikan. Jadikan setiap permintaan maaf sebagai jalan penyembuhan. Jadikan majelis kami sebagai tempat yang aman untuk belajar, bertanya, dan bertumbuh dalam kebaikan.
Ampunilah kekeliruan kami yang disengaja maupun yang tidak kami sadari. Tutupilah aib kami, lembutkanlah hati kami, dan jauhkanlah kami dari pertengkaran yang bermula dari perkara kecil.
Yā Alloh, tuntunlah kami agar perkataan kami benar, cara kami baik, waktu kami tepat, dan akibat dari komunikasi kami membawa manfaat bagi sesama.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
تَمَّ بِعَوْنِ اللّٰهِ وَحُسْنِ تَوْفِيْقِهِ
Tammat dengan pertolongan Alloh dan bimbingan-Nya.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.