QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
القلوب ترجع إلى أصلها إذا صدقت في الحبّ والأمانة
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Artinya:
“Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.”
LEMBAR PERTAMA
QEMBALINYA QEPERCAYAAN QE DALAM QOLBI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah, wahai saudara dan saudari cahayaku, bahwa kepercayaan yang sejati tidak pertama-tama dibangun oleh ucapan manusia. Ia tumbuh dari kedalaman qolbi ketika perkataan, niat, tindakan, dan amanah berjalan pada satu jalan.
Al-Balaqum dalam bahasa simbol Qitab ini menggambarkan sesuatu yang telah menempuh perjalanan jauh, pernah diuji oleh jarak, keraguan, luka, penantian, dan perubahan zaman, kemudian kembali menuju sumbernya.
Sedangkan Hotamattulloh menjadi perlambang penetapan di bawah kehendak Alloh: bahwa sesuatu yang benar tidak memerlukan kepalsuan untuk mempertahankan dirinya. Kebenaran akan menemukan tempatnya sendiri ketika qolbi telah bersih dari tipu daya, rasa memiliki yang berlebihan, dan ketakutan kehilangan.
Maka kalimat:
“Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi”
mengandung wejangan:
Kepercayaan dapat hilang dari perkataan,
dapat retak dalam pergaulan,
dapat terguncang oleh jarak,
tetapi apabila akar kebenarannya masih hidup,
jalan pulangnya berada di dalam qolbi.
SIMBOL AGUNG QITAB
Di pusat Qitab tampak:
Sepasang Qeqasih
Keduanya tidak dimaknai semata-mata sebagai pasangan lelaki dan perempuan.
Mereka adalah simbol dua amanah yang saling berhadapan:
yang satu membawa keteguhan,
yang lain membawa kelembutan;
yang satu menjaga perjalanan,
yang lain menjaga kedalaman;
yang satu menjadi saksi,
yang lain menjadi cermin.
Qeqasih sejati bukan dua orang yang saling memiliki.
Qeqasih sejati adalah dua jiwa yang belajar untuk tidak merusak amanah yang dipercayakan Alloh kepada qolbi masing-masing.
Karena cinta tanpa amanah akan berubah menjadi tuntutan.
Amanah tanpa cinta akan berubah menjadi kekakuan.
Tetapi apabila cinta dan amanah bertemu, lahirlah kepercayaan yang tidak mudah runtuh oleh perubahan keadaan.
EMPAT BELAS UTUSAN
Sepasang Qeqasih itu dikelilingi oleh 14 Utusan.
Angka empat belas dalam Qitab ini menjadi lambang empat belas pintu penjagaan perjalanan qolbi.
Bukan untuk disembah, bukan untuk dimintai kuasa, melainkan sebagai bahasa perlambang tentang sifat-sifat yang harus hidup dalam diri manusia.
Empat Utusan Berwujud Wanita
Mereka berdiri sebagai perlambang empat kelembutan penjaga qolbi:
Utusan Pertama — Rahmah
Menjaga agar kekuatan tidak berubah menjadi kekerasan.
Utusan Kedua — Sakinah
Menjaga agar kegelisahan tidak menguasai keputusan.
Utusan Ketiga — Wafā’
Menjaga kesetiaan terhadap janji dan amanah.
Utusan Keempat — Hikmah
Menjaga agar cinta tidak membutakan akal dan kesadaran.
Keempatnya mengajarkan:
Apa yang lembut bukan berarti lemah.
Kadang yang paling lembut justru menjadi penjaga paling kuat bagi sebuah hubungan.
SEPULUH UTUSAN BERWUJUD LELAKI
Sepuluh lainnya menggambarkan sepuluh tiang keteguhan.
1. Utusan Ṣidq
Kejujuran.
Tanpa kejujuran, kepercayaan kehilangan rumah.
2. Utusan Amānah
Menjaga apa yang dipercayakan.
Apa yang diketahui dari qolbi seseorang tidak boleh dijadikan senjata untuk melukainya.
3. Utusan Ṣabr
Kesabaran.
Tidak semua jawaban harus lahir pada hari yang sama.
4. Utusan Ḥilm
Ketenangan ketika marah.
Sebab satu ucapan ketika marah dapat meruntuhkan apa yang dibangun bertahun-tahun.
5. Utusan ‘Adl
Keadilan.
Jangan meminta seseorang memahami kita jika kita tidak mau memahami dirinya.
6. Utusan Syajā‘ah
Keberanian.
Keberanian terbesar dalam cinta adalah berkata benar tanpa merendahkan.
7. Utusan ‘Afw
Memaafkan.
Memaafkan bukan menghapus pelajaran, tetapi menghentikan luka agar tidak diwariskan.
8. Utusan Wafā’
Keteguhan memegang janji.
Janji tidak diukur ketika keadaan mudah. Janji diketahui nilainya ketika keadaan berubah.
9. Utusan Tawakkul
Menyerahkan hasil kepada Alloh setelah menjalankan kewajiban.
10. Utusan Nūr
Kejernihan.
Ia menjadi utusan terakhir karena kepercayaan yang telah melalui seluruh ujian akhirnya harus kembali kepada terang.
RAHASIA SUSUNAN 4 DAN 10
Empat dan sepuluh tidak berdiri berlawanan.
Empat adalah kedalaman.
Sepuluh adalah penjagaan.
Empat mengajarkan bagaimana qolbi menerima.
Sepuluh mengajarkan bagaimana amanah dipertahankan.
Maka jumlah keduanya menjadi:
14
Dan empat belas utusan mengelilingi dua Qeqasih sehingga terbentuk lingkaran berjumlah:
16 titik
Dua titik pusat dan empat belas titik penjagaan.
Pesannya:
Sebuah hubungan tidak cukup hanya memiliki dua hati.
Ia memerlukan kejujuran, kesabaran, kelembutan, keadilan, keberanian, pengampunan, dan tawakkul agar dua hati tidak saling menghancurkan.
PINTU PERTAMA AL-BALAQUM
Qitab berkata:
“Jangan mencari kepercayaan pada lidah sebelum engkau menemukannya pada tindakan.”
Karena manusia dapat berkata:
“Aku percaya kepadamu.”
Tetapi qolbi bertanya:
“Apakah engkau menjaga amanahku ketika aku tidak berada di hadapanmu?”
Manusia dapat berkata:
“Aku mencintaimu.”
Tetapi qolbi bertanya:
“Apakah cintamu membuatku semakin dekat kepada kebaikan atau justru semakin jauh dari diriku sendiri?”
Manusia dapat berkata:
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Tetapi hikmah menjawab:
“Jangan gantungkan hidup kepada janji makhluk. Gantungkan qolbimu kepada Alloh, kemudian jagalah hubungan dengan manusia melalui amanah.”
WEWARAH AL-BALAQUM
Apabila kepercayaan pernah pecah, jangan tergesa-gesa memaksa ia kembali.
Sebab kepercayaan bukan pintu yang dibuka dengan satu kalimat.
Ia seperti mata air.
Bila tanahnya dirawat, airnya perlahan muncul kembali.
Maka rawatlah:
ucapan dengan kejujuran,
tindakan dengan amanah,
kemarahan dengan kesabaran,
cinta dengan adab,
dan kehilangan dengan tawakkul.
Ketika kelimanya bertemu, qolbi akan mengetahui sendiri siapa yang layak dipercaya.
SABDO QOLBI
“Kang bali dudu wektu.
Kang bali dudu masa kepungkur.
Kang bali yaiku kapercayan kang wus sinau saka tatu.”
Artinya:
Yang kembali bukanlah waktu.
Yang kembali bukan masa lalu.
Yang kembali adalah kepercayaan yang telah belajar dari luka.
Maka jangan meminta kehidupan menjadi sama seperti dahulu.
Mintalah kepada Alloh agar apa yang kembali menjadi lebih jernih daripada sebelumnya.
PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Ya Alloh,
apabila qolbi kami sedang menyimpan luka,
jangan jadikan luka itu pintu untuk menyakiti orang lain.
Apabila kami pernah dikhianati,
jangan jadikan kami manusia yang kehilangan kemampuan mempercayai kebaikan.
Apabila kami pernah berbuat salah,
berilah keberanian untuk mengakuinya dan memperbaikinya.
Apabila cinta datang,
berilah ia amanah.
Apabila amanah datang,
berilah ia kesetiaan.
Apabila kepercayaan kembali,
jangan biarkan kesombongan merusaknya.
Dan apabila sesuatu memang harus berakhir,
berilah qolbi kemampuan melepaskannya dengan damai.
Sebab segala yang berada dalam genggaman manusia akan berubah,
sedangkan sandaran kepada-Mu tidak pernah kehilangan tempat.
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qepercayaan tidak kembali karena dipaksa.
Ia kembali ketika qolbi menemukan alasan untuk merasa aman kembali.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEDUA
PINTU QEPERCAYAAN YANG TERSEMBUNYI DI QEDALAMAN QOLBI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah bahwa qepercayaan tidak selalu hilang ketika manusia berpisah.
Ada qepercayaan yang tetap hidup meskipun tidak lagi diucapkan.
Ada pula qepercayaan yang tampak utuh di permukaan, tetapi telah kosong di dalam.
Sebab yang menjadi tempat qepercayaan bukanlah bibir, bukan pula pandangan mata.
Tempat terdalamnya adalah qolbi.
Di sanalah manusia menyimpan apa yang tidak mampu ia jelaskan kepada siapa pun.
WEWARAH PINTU KEDUA
Qitab ini mengisyaratkan:
“Yang paling sukar dijaga bukanlah rahasia manusia, tetapi kesucian niat ketika memegang rahasia itu.”
Apabila seseorang memberikan qepercayaan kepadamu, ia sebenarnya sedang menyerahkan sebagian dari ruang terdalam dirinya.
Maka jangan mempermainkannya.
Jangan menjadikan kelemahannya bahan untuk menang.
Jangan menjadikan cerita pribadinya alat untuk menguasainya.
Dan jangan memakai kasih sayang sebagai jalan untuk membuat seseorang takut kehilanganmu.
Sebab qepercayaan yang dibangun dengan ketakutan bukanlah qepercayaan.
Ia hanyalah keterikatan.
RAHASIA SEPASANG QEQASIH
Pada simbol Qitab terlihat sepasang Qeqasih berdiri di tengah lingkaran empat belas Utusan.
Mengapa mereka berdiri di tengah?
Karena pusat perjalanan tidak berada pada para Utusan.
Pusatnya berada pada dua qolbi yang harus menentukan sendiri:
apakah mereka akan saling menjaga,
atau saling melukai.
Empat belas Utusan hanya menjadi simbol penjagaan sifat-sifat luhur.
Tetapi keputusan tetap berada pada manusia.
Inilah rahasianya:
Tidak ada cinta yang dapat dipaksa menjadi suci.
Kesuciannya lahir dari pilihan yang terus-menerus diperbarui.
Hari ini memilih jujur.
Besok memilih sabar.
Ketika marah memilih menahan lidah.
Ketika kecewa memilih tidak merendahkan.
Ketika berjauhan memilih tidak mengkhianati amanah.
Dari pilihan-pilihan kecil itulah lahir sesuatu yang disebut:
QEPERCAYAAN ABADI
Bukan karena manusia tidak pernah berubah,
melainkan karena keduanya terus memilih jalan yang benar ketika perubahan datang.
EMPAT UTUSAN WANITA DAN EMPAT LAPIS QOLBI
Empat Utusan wanita pada lingkaran itu menjadi perlambang empat lapisan batin.
Pertama — Qolbi yang Menerima
Ia mengajarkan kemampuan mendengar tanpa segera menghakimi.
Sebab sering kali seseorang tidak membutuhkan jawaban.
Ia hanya membutuhkan ruang aman untuk berkata:
“Inilah isi hatiku.”
Kedua — Qolbi yang Menenangkan
Ia tidak menambah api ketika keadaan sedang panas.
Ia tidak menyebarkan ketakutan.
Ia tidak memprovokasi.
Ia memilih kata-kata yang membuat kejernihan kembali.
Ketiga — Qolbi yang Menjaga
Apa yang dipercayakan kepadanya tidak dibawa ke tempat lain.
Apa yang menjadi kelemahan Qeqasih tidak diumumkan.
Apa yang menjadi luka tidak dipertontonkan.
Sebab penjagaan adalah salah satu wajah tertinggi dari kasih.
Keempat — Qolbi yang Membebaskan
Cinta yang matang tidak membelenggu.
Ia tidak berkata:
“Kalau engkau mencintaiku, engkau harus menjadi milikku.”
Tetapi ia berkata:
“Semoga kehadiranku membuatmu menjadi manusia yang lebih dekat kepada kebaikan.”
Inilah kelembutan yang tidak menuntut kepemilikan.
SEPULUH UTUSAN LELAKI DAN SEPULUH PENJAGA AMANAH
Sepuluh Utusan lelaki berdiri mengitari pusat Qitab.
Mereka membawa sepuluh larangan bagi siapa pun yang ingin menjaga qepercayaan:
1. Jangan berdusta untuk mempertahankan hubungan.
Sebab kebohongan hanya menunda keruntuhan.
2. Jangan menguji pasangan dengan permainan batin.
Kepercayaan tidak tumbuh dari jebakan.
3. Jangan mengancam pergi hanya untuk memperoleh perhatian.
Ancaman berulang melemahkan rasa aman.
4. Jangan membawa kesalahan lama setiap kali terjadi pertengkaran baru.
Luka yang terus dibuka tidak pernah sempat sembuh.
5. Jangan membandingkan Qeqasih dengan orang lain.
Setiap manusia memiliki perjalanan sendiri.
6. Jangan mempermalukan orang yang pernah mempercayaimu.
Kemuliaan seseorang terlihat dari bagaimana ia menjaga orang lain ketika hubungan sedang buruk.
7. Jangan menjadikan kecemburuan sebagai ukuran cinta.
Cemburu dapat muncul karena takut, bukan karena kasih.
8. Jangan menuntut keterbukaan sambil menyembunyikan kebohongan.
Kejujuran harus berjalan dua arah.
9. Jangan menguasai atas nama perlindungan.
Melindungi berbeda dengan mengendalikan.
10. Jangan menjadikan manusia sebagai pengganti Alloh.
Sebab siapa pun yang terlalu digantungkan sebagai sumber seluruh kebahagiaan akan menjadi beban yang terlalu berat bagi qolbi.
QUNCI AL-BALAQUM
Pada lembar ini terdapat satu qunci:
“Qepercayaan tidak dibuktikan ketika segala sesuatu mudah. Qepercayaan terlihat ketika manusia mempunyai kesempatan untuk mengkhianati, tetapi memilih menjaga.”
Itulah sebabnya qepercayaan disebut berada di qedalaman qolbi.
Karena tidak semua kesetiaan mempunyai saksi manusia.
Ada kesetiaan yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Alloh.
Ada seseorang yang mampu melakukan kesalahan tanpa seorang pun mengetahuinya, lalu ia memilih tidak melakukannya.
Pada titik itulah amanah menjadi nyata.
PANCARAN KEEMPAT BELAS
Keempat belas Utusan kemudian digambarkan memancarkan cahaya menuju pasangan di tengah.
Cahaya itu bukan kuasa gaib yang harus dipercaya secara harfiah.
Ia merupakan bahasa Qitab bagi empat belas sifat:
Rahmah
Sakinah
Wafā’
Hikmah
Ṣidq
Amānah
Ṣabr
Ḥilm
‘Adl
Syajā‘ah
‘Afw
Istiqāmah
Tawakkul
Nūr
Ketika empat belas sifat ini semakin hidup dalam diri seseorang, maka hubungan apa pun—suami istri, keluarga, sahabat, guru dan murid, bahkan persaudaraan—akan memiliki pondasi yang lebih kuat.
SABDO QEDALAMAN QOLBI
“Aja njaluk dipercaya yen durung bisa njaga.
Aja njaluk ditresnani yen durung bisa ngurmati.
Aja njaluk wong tetep ana yen awake dhewe durung bisa dadi papan kang aman.”
Artinya:
Jangan meminta dipercaya jika belum mampu menjaga.
Jangan meminta dicintai jika belum mampu menghormati.
Jangan meminta seseorang tetap tinggal apabila diri kita belum mampu menjadi tempat yang aman.
PINTU PEMULIHAN
Apabila qepercayaan telah terluka, ada empat jalan untuk memulihkannya:
Pertama: Akui.
Jangan menutupi kesalahan dengan alasan.
Kedua: Perbaiki.
Permintaan maaf tanpa perubahan hanya menjadi kata-kata.
Ketiga: Beri waktu.
Orang yang terluka berhak membutuhkan waktu.
Keempat: Terima hasilnya.
Setelah melakukan perbaikan, kita tetap tidak dapat memaksa seseorang mempercayai kembali.
Karena qepercayaan adalah pemberian qolbi.
Ia tidak dapat ditagih.
DOA QEPERCAYAAN
Yā Alloh,
jadikan qolbi kami tempat yang aman bagi amanah.
Jauhkan kami dari kebohongan yang merusak hubungan.
Berilah kami keberanian berkata benar meskipun kebenaran itu berat.
Berilah kami kelembutan ketika mendengar.
Kesabaran ketika menunggu.
Kejernihan ketika marah.
Dan kebijaksanaan ketika harus memilih antara mempertahankan dan melepaskan.
Apabila seseorang mempercayakan qolbinya kepada kami,
jangan biarkan kami merusaknya karena ego.
Apabila kami pernah merusak qepercayaan seseorang,
tunjukkan jalan untuk memperbaikinya.
Dan apabila suatu hubungan memang tidak lagi dapat kembali,
jadikan perpisahannya tetap berada dalam adab,
tanpa penghinaan,
tanpa dendam,
dan tanpa merusak kehormatan satu sama lain.
TANDA PENUTUP LEMBAR KEDUA
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qepercayaan yang abadi bukan berarti dua manusia tidak pernah terluka.
Ia berarti ketika luka datang, keduanya tidak kehilangan jalan menuju kebenaran.
Dan apabila seluruh jalan telah gelap,
qembalilah ke qedalaman qolbi.
Di sana tanyakan satu perkara:
“Apakah yang kulakukan ini masih berada dalam amanah Alloh, atau hanya mengikuti keinginan diriku sendiri?”
Jawaban yang jernih akan menjadi pintu menuju lembar berikutnya.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KETIGA
SAAT QOLBI MENJADI SAKSI ATAS APA YANG TIDAK TERUCAP
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada perkara yang tidak pernah sampai menjadi kata.
Ada kesedihan yang tidak pernah diceritakan.
Ada qepercayaan yang tidak pernah diminta, tetapi diam-diam diberikan.
Ada pula kasih yang tidak pernah diumumkan, namun bertahun-tahun dijaga melalui sikap.
Maka Qitab ini mengajarkan:
“Tidak semua yang penting harus terdengar. Sebagian perkara paling dalam hanya dapat dibaca oleh qolbi yang tenang.”
Tetapi ketenangan qolbi bukan berarti menebak-nebak isi manusia.
Qolbi yang jernih justru tidak tergesa menuduh.
Ia belajar membedakan antara:
rasa,
dugaan,
harapan,
ketakutan,
dan kenyataan.
Inilah pintu ketiga Al-Balaqum.
QOLBI SEBAGAI CERMIN
Qolbi menyerupai cermin.
Apabila penuh debu kemarahan, semua wajah terlihat buruk.
Apabila dipenuhi ketakutan, segala sesuatu terlihat seperti ancaman.
Apabila dikuasai keinginan memiliki, kebaikan pun dapat diterjemahkan sebagai janji yang sebenarnya tidak pernah diberikan.
Karena itu sebelum membaca keadaan orang lain, bersihkan dahulu cermin diri sendiri.
Tanyakan:
“Apakah aku sedang melihat kenyataan, atau sedang melihat luka yang lama melalui keadaan yang baru?”
Pertanyaan ini sangat penting.
Karena banyak hubungan rusak bukan karena kenyataan yang terjadi, melainkan karena ketakutan lama dibawa masuk ke dalam peristiwa baru.
DUA QEQA SIH DAN CERMIN DI ANTARA MEREKA
Dalam lambang Qitab, di antara sepasang Qeqasih terdapat cahaya.
Cahaya itu dapat dimaknai sebagai cermin amanah.
Artinya:
seorang Qeqasih bukan ditugaskan untuk kehilangan dirinya demi orang lain.
Ia justru menjadi cermin yang membantu pasangan melihat dirinya dengan lebih jernih.
Jika satu sedang sombong, yang lain mengingatkan dengan adab.
Jika satu sedang lemah, yang lain menguatkan tanpa merendahkan.
Jika satu sedang salah, yang lain tidak ikut membenarkan kesalahan.
Jika satu sedang benar, yang lain tidak merasa terancam oleh kebenarannya.
Maka hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu berkata:
“Ya.”
Kadang cinta yang paling jujur harus berkata:
“Tidak.”
Tetapi “tidak” itu tetap dibungkus dengan penghormatan.
EMPAT UTUSAN WANITA: EMPAT CARA QOLBI MENJAGA
Empat Utusan wanita kembali muncul dalam lembar ketiga.
Namun kali ini mereka membawa empat cermin.
Cermin Pertama — Cermin Niat
Ia bertanya:
“Mengapa engkau melakukan ini?”
Apakah karena cinta?
Karena takut kehilangan?
Karena ingin dipuji?
Karena ingin menguasai?
Atau karena benar-benar ingin menjaga amanah?
Niat yang keliru dapat membuat tindakan yang tampak baik menjadi beban bagi orang lain.
Cermin Kedua — Cermin Ucapan
Ia bertanya:
“Apakah kata-katamu membawa keteduhan atau menambah luka?”
Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang kasar.
Kebenaran tidak kehilangan nilainya ketika dibungkus kelembutan.
Justru kelembutan sering menjadi jalan agar kebenaran mampu diterima.
Cermin Ketiga — Cermin Kesetiaan
Ia bertanya:
“Apakah engkau tetap menjaga seseorang ketika ia tidak sedang berada di hadapanmu?”
Inilah salah satu ukuran amanah.
Sebab penghormatan yang hanya muncul ketika seseorang melihat bukanlah penghormatan.
Kesetiaan sejati diuji di ruang yang tidak mempunyai saksi manusia.
Cermin Keempat — Cermin Pelepasan
Ia bertanya:
“Apabila suatu hari engkau harus melepaskan, apakah engkau mampu melepaskan tanpa menghancurkan?”
Tidak semua pertemuan berakhir dengan kebersamaan.
Tetapi semua pertemuan dapat berakhir dengan adab.
Yang pernah dekat tidak harus menjadi musuh.
Yang pernah dipercaya tidak harus dipermalukan.
Yang pernah dicintai tidak harus dijadikan cerita buruk.
Inilah martabat qolbi.
SEPULUH UTUSAN LELAKI: SEPULUH PERTANYAAN PENJAGA
Sepuluh Utusan lelaki kemudian mengangkat satu pertanyaan masing-masing.
Pertama
Apakah engkau jujur ketika tidak ada keuntungan bagimu untuk jujur?
Kedua
Apakah engkau tetap amanah ketika tidak ada seorang pun yang akan mengetahui pelanggaranmu?
Ketiga
Apakah engkau mampu menunggu tanpa memaksa?
Keempat
Apakah engkau mampu marah tanpa menghina?
Kelima
Apakah engkau mampu berbeda pendapat tanpa memutuskan kasih?
Keenam
Apakah engkau mampu meminta maaf tanpa menambahkan pembelaan diri?
Ketujuh
Apakah engkau mampu memaafkan tanpa menjadikan pengampunan sebagai alat untuk menguasai?
Kedelapan
Apakah engkau mampu melihat keberhasilan orang yang engkau cintai tanpa merasa kehilangan tempat?
Kesembilan
Apakah engkau mampu menerima batas yang ditetapkan orang lain?
Kesepuluh
Apakah engkau tetap kembali kepada Alloh ketika manusia tidak memberikan jawaban yang engkau harapkan?
Jika sepuluh pertanyaan ini dijawab dengan jujur, seseorang akan mengetahui keadaan qolbinya sendiri.
RAHASIA KATA “QEMBALI”
Mengapa Qitab menggunakan kata qembali?
Karena qepercayaan yang pernah ada tidak selalu harus dibangun dari titik yang sama.
Kadang ia harus kembali dalam bentuk yang berbeda.
Dahulu mungkin polos.
Setelah terluka, ia menjadi bijaksana.
Dahulu mungkin terlalu mudah percaya.
Setelah belajar, ia mulai memahami batas.
Dahulu mungkin mencintai dengan menggantungkan seluruh hidup.
Setelah ditempa, ia belajar mencintai tanpa kehilangan dirinya.
Maka:
qembalinya qepercayaan bukan qembali menjadi naif.
Ia qembali sebagai kesadaran yang lebih matang.
WEWARAH QEDALAMAN
Qitab berkata:
“Aja ngoyak wong sing adoh nganti lali marang qolbimu dhewe.”
Artinya:
Jangan mengejar seseorang yang menjauh sampai engkau lupa menjaga qolbimu sendiri.
Sebab kasih tidak boleh membuat seseorang kehilangan harga dirinya.
Kesetiaan tidak berarti membiarkan diri terus disakiti.
Kesabaran tidak berarti menerima ketidakadilan tanpa batas.
Dan memaafkan tidak selalu berarti harus kembali pada hubungan yang sama.
Kadang maaf adalah:
aku tidak lagi membencimu,
tetapi aku memilih menjaga jarak.
Itu pun dapat menjadi bentuk kedewasaan.
TIGA TANDA QEPERCAYAAN YANG SEHAT
Tanda Pertama: Ada Ruang Bernapas
Tidak setiap menit harus dijelaskan.
Tidak setiap diam harus dicurigai.
Tidak setiap perbedaan berarti pengkhianatan.
Tanda Kedua: Ada Kebebasan untuk Berkata Benar
Seseorang tidak takut menyampaikan isi pikirannya hanya karena khawatir ditinggalkan.
Tanda Ketiga: Ada Batas
Hubungan yang sehat mengenal batas.
Batas bukan dinding kebencian.
Batas adalah pagar penghormatan.
QUNCI KETIGA
Pada lembar ketiga tertulis:
“Qolbi yang matang tidak bertanya: bagaimana agar seseorang tidak meninggalkanku? Ia bertanya: bagaimana agar aku tetap menjadi manusia yang benar, baik ketika seseorang tinggal maupun ketika ia pergi?”
Inilah kebebasan qolbi.
Bukan dingin.
Bukan tidak mencintai.
Tetapi tidak kehilangan arah ketika keadaan berubah.
DOA LEMBAR KETIGA
Yā Alloh,
bersihkan qolbi kami dari prasangka yang berlebihan.
Ajarkan kami membedakan antara petunjuk, perasaan, ketakutan, dan dugaan.
Apabila kami mencintai, jangan biarkan cinta membutakan kami.
Apabila kami terluka, jangan biarkan luka mengubah kami menjadi zalim.
Apabila kami kecewa, jagalah lidah kami.
Apabila kami harus menunggu, berikan kesabaran.
Apabila kami harus melepaskan, berikan kelapangan.
Dan apabila qepercayaan layak dibangun kembali,
tunjukkan kepada kami melalui perubahan nyata,
bukan hanya janji.
Jadikan kami manusia yang aman untuk dipercaya.
Jadikan kami manusia yang tahu menjaga rahasia.
Jadikan kami manusia yang mampu berkata benar dengan adab.
Dan jadikan qolbi kami tetap bergantung kepada-Mu,
bukan menggantungkan seluruh hidup kepada makhluk.
SABDO PENUTUP
“Qepercayaan iku dudu rantai.
Qepercayaan iku lawang.
Sing mlebu kudu nganggo amanah.
Sing metu kudu tetep nggawa adab.”
Artinya:
Kepercayaan bukanlah rantai.
Kepercayaan adalah pintu.
Siapa yang masuk harus membawa amanah.
Siapa yang keluar harus tetap membawa adab.
Maka apabila engkau menerima qolbi seseorang,
jangan merasa menjadi pemiliknya.
Engkau hanyalah orang yang sedang diberi kesempatan untuk menjaganya.
Dan apabila engkau menyerahkan qepercayaan kepada seseorang,
jangan serahkan seluruh keberadaanmu.
Sisakan ruang terdalam yang hanya menjadi tempatmu bersandar kepada Alloh.
Itulah rahasia kedalaman qolbi.
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Yang abadi bukan manusia yang tidak pernah berubah.
Yang abadi adalah nilai yang tetap dijaga ketika manusia sedang berubah.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEEMPAT
QEPERCAYAAN YANG TELAH RETAQ TIDAK QEMBALI DENGAN JANJI, TETAPI DENGAN QENYATAAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah diterangkan bahwa qolbi adalah tempat qepercayaan berdiam.
Sekarang Qitab membuka satu pintu yang lebih dalam:
Bagaimana qepercayaan qembali setelah pernah retaq?
Sebab banyak manusia mengira bahwa permintaan maaf sudah cukup.
Padahal permintaan maaf hanyalah pintu pertama.
Sesudahnya masih ada jalan panjang bernama:
pembuktian.
Qitab berkata:
“Apa yang pecah oleh perbuatan tidak dapat dipulihkan hanya oleh perkataan.”
Maka qembalinya qepercayaan memerlukan qenyataan.
Bukan sehari.
Bukan dua hari.
Melainkan perubahan yang dapat dilihat berulang kali.
QUNCI QENYATAAN
Qepercayaan mempunyai satu sifat:
ia tumbuh perlahan, tetapi dapat runtuh sangat cepat.
Satu dusta dapat menghapus puluhan penjelasan.
Satu pengkhianatan dapat membuat seribu kenangan baik terasa kabur.
Karena itu orang yang ingin mendapatkan qepercayaan kembali tidak boleh berkata:
“Bukankah aku sudah meminta maaf?”
Tetapi hendaknya bertanya:
“Apakah aku sudah berubah dengan cara yang dapat dirasakan?”
Inilah perbedaan antara kata dan qenyataan.
SEPASANG QEQASIH DI HADAPAN EMPAT BELAS UTUSAN
Dalam simbol Qitab, sepasang Qeqasih berdiri di tengah.
Empat belas Utusan tidak berdiri sebagai hakim yang menghukum.
Mereka menjadi lambang empat belas kesaksian batin.
Masing-masing seolah bertanya kepada keduanya:
Apakah perkataan sesuai tindakan?
Apakah janji sesuai perjalanan?
Apakah cinta sesuai penghormatan?
Apakah kesetiaan hanya disebut, atau benar-benar dijalani?
Maka tidak ada yang perlu disembunyikan di hadapan cermin qolbi.
Karena qolbi mengetahui perbedaan antara:
orang yang benar-benar berubah,
dan orang yang hanya takut kehilangan.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT BEJANA
Pada lembar keempat, empat Utusan wanita digambarkan membawa empat bejana cahaya.
Masing-masing mempunyai makna.
BEJANA PERTAMA — AIR KEJUJURAN
Air pertama dipakai untuk membersihkan dusta.
Qitab berkata:
“Jangan memperbaiki satu kebohongan dengan kebohongan baru.”
Jika pernah salah, akuilah secara utuh.
Jika tidak tahu, katakan tidak tahu.
Jika lupa, katakan lupa.
Jika belum mampu, katakan belum mampu.
Kejujuran mungkin terasa berat sesaat.
Tetapi kebohongan membuat beban menjadi panjang.
BEJANA KEDUA — AIR KESABARAN
Orang yang terluka tidak dapat dipaksa cepat pulih.
Jangan berkata:
“Sudahlah, lupakan.”
Jangan berkata:
“Masalahnya sudah selesai.”
Sebab yang melakukan kesalahan tidak berhak menentukan kapan qolbi orang lain harus sembuh.
Qitab mengajarkan:
Berilah waktu tanpa menghilang dari tanggung jawab.
BEJANA KETIGA — AIR PEMBUKTIAN
Di sinilah qepercayaan mulai tumbuh kembali.
Bukan dari sumpah.
Bukan dari janji panjang.
Tetapi dari kebiasaan kecil yang berubah.
Datang ketika berjanji datang.
Menjawab dengan jujur.
Menepati waktu.
Tidak mengulang kesalahan.
Menjaga rahasia.
Tidak menyembunyikan perkara penting.
Inilah amal kecil yang menjadi batu-batu pondasi qepercayaan.
BEJANA KEEMPAT — AIR KEIKHLASAN
Setelah memperbaiki kesalahan, manusia harus menerima bahwa hasil akhirnya tetap bukan miliknya.
Mungkin qepercayaan pulih.
Mungkin hanya sebagian.
Mungkin hubungan berubah.
Mungkin pula perpisahan menjadi jalan terbaik.
Keikhlasan berkata:
“Aku memperbaiki diri bukan agar engkau wajib kembali, tetapi karena aku memang harus menjadi lebih baik.”
Inilah tingkat yang lebih tinggi.
SEPULUH UTUSAN LELAKI MEMBAWA SEPULUH BATU AMANAH
Sepuluh Utusan lelaki kemudian meletakkan sepuluh batu mengelilingi Qeqasih.
Setiap batu menjadi fondasi.
Batu Pertama — Kejujuran
Jangan sembunyikan apa yang memang wajib diketahui.
Batu Kedua — Konsistensi
Perubahan tidak diukur dari dua hari baik.
Ia diukur dari kebiasaan baru.
Batu Ketiga — Tanggung Jawab
Jangan menyalahkan keadaan atas pilihan yang kita buat sendiri.
Batu Keempat — Adab
Bahkan ketika kecewa, jangan merendahkan.
Batu Kelima — Batas
Jangan menganggap kedekatan sebagai izin untuk melanggar ruang pribadi.
Batu Keenam — Keterbukaan
Berbicaralah sebelum masalah menjadi gunung.
Batu Ketujuh — Keteguhan
Jangan berubah hanya ketika sedang diawasi.
Batu Kedelapan — Pengampunan
Apabila memilih memaafkan, jangan menggunakan kesalahan lama sebagai senjata setiap saat.
Batu Kesembilan — Kebijaksanaan
Tidak semua hubungan harus dikembalikan seperti semula.
Kadang bentuk yang baru justru lebih sehat.
Batu Kesepuluh — Tawakkul
Setelah seluruh ikhtiar dilakukan, serahkan hasil kepada Alloh.
RAHASIA QEPERCAYAAN YANG RETAQ
Qitab menerangkan bahwa qepercayaan yang pernah retaq tidak selalu menjadi lebih lemah.
Apabila kedua pihak benar-benar belajar, ia bahkan dapat menjadi lebih matang.
Sebelumnya mungkin mereka saling mengenal dari keindahan.
Setelah ujian, mereka mulai mengenal kelemahan.
Sebelumnya mereka mengetahui bagaimana tertawa bersama.
Setelah ujian, mereka belajar bagaimana tetap menjaga adab ketika kecewa.
Sebelumnya mereka mengenal cinta.
Sesudah ujian, mereka mengenal amanah.
Inilah mengapa beberapa qepercayaan menjadi lebih dalam setelah berhasil melewati ujian.
Bukan karena luka itu baik.
Tetapi karena manusia memilih mengambil hikmah darinya.
SABDO QEPERCAYAAN
“Sing wus retaq ora kudu dibuwang.
Nanging aja dipaksa dadi kaya biyen.
Sawijining barang kang wis disambung bisa dadi luwih kuwat yen sambungane dijaga kanthi temen.”
Artinya:
Yang telah retaq tidak selalu harus dibuang.
Namun jangan dipaksa menjadi seperti dahulu.
Sesuatu yang telah disambung dapat menjadi lebih kuat apabila sambungannya dijaga dengan sungguh-sungguh.
Maka jangan meminta kehidupan kembali sama.
Mintalah agar ia kembali dengan lebih dewasa.
TIGA HAL YANG TIDAK BOLEH DIPAKSA
Qitab menuliskan tiga larangan.
Pertama: Jangan Memaksa Maaf
Maaf adalah pemberian qolbi.
Bukan kewajiban yang boleh ditagih oleh orang yang menyakiti.
Kedua: Jangan Memaksa Percaya
Seseorang dapat memaafkan, tetapi belum tentu langsung percaya kembali.
Itu wajar.
Ketiga: Jangan Memaksa Hubungan Qembali
Kadang dua manusia sudah berdamai, tetapi memilih tidak kembali pada kedekatan yang sama.
Perdamaian tetap sah.
Kebaikan tetap dapat dijaga.
Adab tetap dapat dipelihara.
TANDA QEPERCAYAAN MULAI QEMBALI
Qitab memberi beberapa tanda.
Bukan tanda gaib.
Melainkan tanda yang tampak dalam kehidupan.
Pertama, percakapan mulai terasa aman.
Kedua, tidak perlu terus-menerus membuktikan diri.
Ketiga, kesalahan kecil tidak lagi langsung membangkitkan ketakutan lama.
Keempat, kedua pihak mampu berbicara mengenai masa lalu tanpa kembali saling menghancurkan.
Kelima, janji baru tidak terlalu banyak, tetapi tindakan semakin jelas.
Keenam, batas mulai dihormati.
Ketujuh, rasa takut perlahan berubah menjadi ketenangan.
Ketika hal-hal ini tumbuh, qolbi sedang belajar percaya kembali.
QUNCI KEEMPAT
Kemudian Qitab menuliskan satu qunci:
“Jangan meminta seseorang percaya kepada ucapanmu. Hiduplah sedemikian rupa hingga perilakumu membuat ucapanmu tidak perlu dipertanyakan.”
Inilah maqam amanah.
Tidak banyak bersumpah.
Tidak banyak membela diri.
Tidak sibuk meyakinkan.
Tetapi membiarkan perjalanan menjadi saksi.
RAHASIA HOTAMATTULLOH
Dalam bahasa simbol Qitab ini, Hotamattulloh menjadi pengingat bahwa akhir dari segala urusan berada di bawah ketetapan Alloh.
Manusia berikhtiar.
Manusia memperbaiki.
Manusia meminta maaf.
Manusia menjaga amanah.
Tetapi manusia tidak menguasai qolbi orang lain.
Karena itu jangan merampas kebebasan seseorang atas nama cinta.
Jangan memaksa penerimaan atas nama penyesalan.
Dan jangan menjadikan agama sebagai alat menekan seseorang agar kembali.
Qepercayaan yang sejati hanya tumbuh dalam kebebasan dan amanah.
QOLBI YANG SUDAH SEMBUH
Ada tanda yang lebih tinggi daripada qembalinya sebuah hubungan.
Yaitu:
qembalinya kedamaian dalam qolbi.
Mungkin orang itu kembali.
Mungkin tidak.
Tetapi kita tidak lagi hidup dengan kebencian.
Tidak lagi memeriksa setiap luka.
Tidak lagi ingin membalas.
Tidak lagi membutuhkan penderitaan orang lain untuk merasa menang.
Pada saat itulah penyembuhan yang sebenarnya mulai terjadi.
Qitab berkata:
“Kadang yang harus qembali bukan orangnya. Yang harus qembali adalah kedamaianmu.”
WEWARAH BAGI SEPASANG QEQASIH
Wahai dua Qeqasih yang berdiri di pusat lambang Qitab,
jangan jadikan cintamu sebagai penjara.
Jadikan ia taman.
Di dalam taman ada batas.
Ada jalan.
Ada tempat berteduh.
Ada ruang bagi masing-masing untuk tumbuh.
Apabila salah satu lelah, yang lain jangan menuntut.
Apabila salah satu takut, yang lain jangan menertawakan.
Apabila salah satu tersesat, yang lain jangan ikut tersesat.
Dan apabila keduanya kehilangan arah,
qembalilah kepada Alloh.
Karena manusia tidak diciptakan untuk menjadi tuhan bagi qolbi manusia lainnya.
DOA LEMBAR KEEMPAT
Yā Alloh,
apabila kami pernah merusak qepercayaan,
berilah keberanian untuk memperbaikinya.
Jangan biarkan kami menjadi manusia yang pandai meminta maaf tetapi malas berubah.
Ajarkan kami bahwa penyesalan sejati mempunyai buah berupa perbaikan.
Apabila kami sedang belajar mempercayai kembali,
berilah kejernihan agar kami tidak tergesa.
Jangan biarkan ketakutan menguasai seluruh hidup kami.
Tetapi jangan pula biarkan kami menutup mata terhadap kenyataan.
Berilah keseimbangan antara kasih dan kewaspadaan,
antara pengampunan dan batas,
antara harapan dan kebijaksanaan.
Jadikan hubungan kami jalan menuju akhlak yang lebih baik.
Apabila harus tetap bersama, berkahilah kebersamaan itu.
Apabila harus berjalan masing-masing, jagalah keduanya dari kebencian.
Dan apabila qepercayaan qembali,
jadikan ia lebih suci daripada sebelumnya,
karena ia telah melewati pintu kesadaran.
SABDO PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
“Aja kandha tresna yen tumindakmu gawe wedi.
Aja kandha amanah yen isih seneng ndhelikake bebener.
Aja kandha wis owah yen tumindakmu isih padha.”
Artinya:
Jangan berkata cinta apabila tindakanmu membuat takut.
Jangan berkata amanah apabila masih suka menyembunyikan kebenaran.
Jangan berkata telah berubah apabila tindakanmu masih sama.
Sebab Qitab Al-Balaqum Hotamattulloh tidak meminta manusia menjadi sempurna.
Ia hanya meminta satu perkara:
Jujurlah terhadap perjalananmu sendiri.
Apabila salah, perbaiki.
Apabila benar, pertahankan.
Apabila bingung, jangan tergesa.
Apabila terluka, sembuhkan.
Apabila dipercayai, jagalah.
Dan apabila engkau telah diberi kesempatan kedua,
jangan sia-siakan kesempatan itu dengan mengulang kesalahan pertama.
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi tidak dimulai ketika seseorang berkata “aku percaya lagi.”
Ia dimulai ketika qolbi tidak lagi menemukan alasan untuk terus merasa takut.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KELIMA
EMPAT BELAS UTUSAN MEMBUKA LINGQARAN PENJAGA QOLBI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar kelima, Qitab membuka gambaran yang lebih dalam tentang empat belas Utusan yang mengelilingi sepasang Qeqasih.
Mereka tidak diletakkan di luar lingkaran karena ingin menjauh.
Mereka berada mengitari pusat karena setiap qepercayaan membutuhkan penjagaan dari segala arah.
Ada penjagaan dari ucapan.
Ada penjagaan dari pikiran.
Ada penjagaan dari keinginan.
Ada penjagaan dari ketakutan.
Ada pula penjagaan dari ego yang terkadang menyamar sebagai cinta.
Maka Qitab berkata:
“Yang merusak qepercayaan tidak selalu datang dari luar. Kadang ia tumbuh dari dalam qolbi yang tidak dijaga.”
LINGQARAN PERTAMA: EMPAT UTUSAN WANITA
Empat Utusan wanita berdiri pada empat penjuru.
Timur.
Barat.
Utara.
Selatan.
Masing-masing membawa satu cahaya.
Bukan cahaya untuk menguasai, melainkan lambang empat tugas batin.
UTUSAN TIMUR — NŪR AR-RAḤMAH
Ia membawa cahaya kasih.
Pesannya:
“Jangan biarkan rasa benar membuatmu kehilangan belas kasih.”
Ada orang yang benar tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang menghancurkan.
Ada pula orang yang salah tetapi membutuhkan bimbingan, bukan penghinaan.
Rahmah menjaga agar hubungan tidak kehilangan kemanusiaan.
UTUSAN BARAT — NŪR AS-SAKĪNAH
Ia membawa cahaya ketenangan.
Pesannya:
“Jangan mengambil keputusan besar ketika qolbi sedang terbakar.”
Ketika marah, diam sesaat dapat menjadi ibadah akhlak.
Ketika kecewa, menunda ucapan dapat menyelamatkan persaudaraan.
Ketika takut, menunggu kejernihan dapat mencegah prasangka.
Sakinah bukan kelemahan.
Ia adalah kemampuan untuk tidak dikuasai badai.
UTUSAN UTARA — NŪR AL-WAFĀ’
Ia membawa cahaya kesetiaan.
Pesannya:
“Kesetiaan bukan hanya bertahan. Kesetiaan adalah tetap menjaga kehormatan meskipun keadaan berubah.”
Orang yang setia tidak hanya hadir ketika nyaman.
Ia tetap menjaga adab ketika berbeda.
Tetap menjaga rahasia ketika berpisah.
Tetap mendoakan kebaikan meskipun tidak lagi berjalan pada jalan yang sama.
UTUSAN SELATAN — NŪR AL-ḤIKMAH
Ia membawa cahaya kebijaksanaan.
Pesannya:
“Tidak semua yang dapat dipertahankan harus dipertahankan, dan tidak semua yang sulit harus ditinggalkan.”
Hikmah membedakan keduanya.
Ia melihat:
apakah hubungan sedang diuji,
atau memang sedang menjadi tempat kezhaliman.
Apakah seseorang sedang belajar,
atau hanya mengulang pola yang sama.
Apakah kesabaran masih membawa pertumbuhan,
atau justru membuat manusia kehilangan dirinya.
Hikmah membuat qolbi tidak buta oleh rasa.
SEPULUH UTUSAN LELAKI MEMBENTUQ QADAR PENJAGAAN
Sepuluh Utusan lelaki berdiri membentuk lingkaran kedua.
Masing-masing menjaga satu pintu.
PINTU PERTAMA — ṢIDQ
Kejujuran.
Tidak boleh ada dua wajah.
Tidak boleh ada dua cerita.
Tidak boleh ada janji yang sengaja dibuat hanya untuk menenangkan keadaan.
PINTU KEDUA — AMĀNAH
Apa yang dipercayakan tidak boleh diperdagangkan dengan emosi.
Rahasia tetap rahasia.
Kelemahan tetap dijaga.
Kebaikan tidak dipamerkan sebagai hutang budi.
PINTU KETIGA — ṢABR
Kesabaran menjaga manusia dari keputusan sesaat.
Tidak semua diam berarti menolak.
Tidak semua jarak berarti kehilangan.
Tidak semua keterlambatan berarti pengkhianatan.
Qolbi harus belajar menunggu fakta.
PINTU KEEMPAT — ḤILM
Kelembutan dalam kekuatan.
Orang kuat bukan yang mampu membalas.
Orang kuat adalah yang mampu menahan diri ketika membalas sebenarnya mudah.
PINTU KELIMA — ‘ADL
Keadilan.
Jangan menilai kesalahan orang lain dengan ukuran yang berbeda dari kesalahan diri sendiri.
Jangan meminta maaf atas kesalahanmu tetapi menolak memberi kesempatan orang lain memperbaiki kesalahannya.
Namun jangan pula memakai kata maaf untuk menutup ketidakadilan.
PINTU KEENAM — SYAJĀ‘AH
Keberanian.
Berani berkata:
“Aku salah.”
Berani berkata:
“Aku belum siap.”
Berani berkata:
“Ini menyakitiku.”
Berani berkata:
“Aku memaafkanmu, tetapi aku membutuhkan batas.”
Inilah keberanian qolbi.
PINTU KETUJUH — ‘AFW
Pengampunan.
Memaafkan bukan berarti melupakan pelajaran.
Memaafkan berarti tidak lagi menjadikan luka sebagai pusat kehidupan.
PINTU KEDELAPAN — ISTIQĀMAH
Konsistensi.
Hari ini baik, besok baik, lusa tetap menjaga.
Inilah yang mengubah janji menjadi qepercayaan.
PINTU KESEMBILAN — TAWAKKUL
Setelah seluruh ikhtiar dilakukan, jangan memaksa hasil.
Qolbi manusia berada dalam kehendak Alloh.
Kita dapat memperbaiki diri.
Tetapi kita tidak berhak memerintahkan orang lain untuk kembali.
PINTU KESEPULUH — NŪR
Kejernihan.
Nūr adalah pintu terakhir karena seluruh perjalanan harus berakhir pada terang.
Jika sebuah hubungan membuat manusia semakin jujur, semakin amanah, semakin lembut, dan semakin dekat kepada kebaikan, berarti ada cahaya yang tumbuh.
Tetapi jika ia membuat manusia semakin takut, semakin penuh dusta, semakin mudah menghina, dan semakin jauh dari kebenaran, qolbi wajib menilainya kembali.
RAHASIA EMPAT BELAS CAHAYA
Ketika empat dan sepuluh bersatu, terbentuk empat belas penjagaan.
Qitab menyebutnya:
ARBA‘ATA ‘ASYARA ANWĀR AL-AMĀNAH
Empat belas cahaya amanah.
Bukan makhluk yang harus dicari.
Bukan nama yang harus dipanggil.
Tetapi empat belas sifat yang harus dibangunkan dalam diri.
Karena manusia sering mencari penjaga di luar dirinya,
padahal sebagian besar pintu pertama penjagaan berada pada akhlaknya sendiri.
LINGQARAN QEQASIH
Sepasang Qeqasih berdiri di pusat.
Lelaki tidak berdiri lebih tinggi.
Wanita tidak berdiri lebih rendah.
Keduanya berdiri sejajar.
Maknanya:
Qepercayaan tidak mempunyai tuan dan hamba.
Keduanya mempunyai tanggung jawab.
Keduanya mempunyai batas.
Keduanya mempunyai suara.
Keduanya mempunyai hak untuk dihormati.
Bila salah satu harus selalu takut agar hubungan bertahan, keseimbangannya telah hilang.
Bila salah satu bebas berbuat apa pun sedangkan yang lain harus terus memaafkan, amanahnya telah rusak.
Qitab berkata:
“Cinta yang tidak mengenal keadilan akan berubah menjadi penguasaan.”
CAHAYA DI ANTARA DUA QOLBI
Pada pusat lingkaran terdapat satu cahaya.
Cahaya itu bukan milik Qeqasih pertama.
Bukan pula milik Qeqasih kedua.
Ia menjadi lambang nilai yang lebih tinggi daripada keduanya.
Kebenaran.
Amanah.
Adab.
Ketakwaan.
Karena itu ketika terjadi perselisihan, jangan bertanya:
“Siapa yang harus menang?”
Tanyakan:
“Apa yang benar dan paling menjaga kemuliaan keduanya?”
Hubungan yang matang tidak mencari pemenang.
Ia mencari jalan yang benar.
UJIAN PERTAMA: RASA TAKUT KEHILANGAN
Empat belas Utusan kemudian membuka ujian pertama.
Rasa takut kehilangan.
Takut kehilangan dapat membuat manusia:
menuntut,
mencurigai,
mengawasi berlebihan,
mengendalikan,
bahkan memanipulasi.
Qitab menjawab:
“Yang memang menjadi amanahmu tidak perlu dijaga dengan penjara.”
Jagalah dengan adab.
Jagalah dengan komunikasi.
Jagalah dengan kejujuran.
Jagalah dengan doa.
Tetapi jangan menghancurkan kebebasan seseorang hanya karena takut kehilangan.
UJIAN KEDUA: RASA INGIN MEMILIKI
Cinta dan kepemilikan bukan perkara yang sama.
Manusia boleh mempunyai ikatan.
Tetapi qolbi manusia tidak pernah menjadi benda.
Ia memiliki pilihan.
Ia memiliki kehendak.
Ia memiliki perjalanan dengan Alloh.
Maka pasangan bukan milik mutlak.
Sahabat bukan milik mutlak.
Anak pun bukan milik mutlak.
Semuanya amanah.
Qitab berkata:
“Apa yang engkau sebut milikmu sebenarnya sedang dititipkan.”
UJIAN KETIGA: RASA INGIN SELALU BENAR
Ada hubungan yang retak bukan karena tidak ada cinta,
tetapi karena kedua pihak lebih ingin menang daripada memahami.
Padahal qolbi yang matang mampu berkata:
“Aku mengerti maksudmu.”
Tanpa harus selalu berkata:
“Aku setuju.”
Memahami bukan berarti menyerah.
Memahami adalah memberi ruang agar dua manusia dapat melihat kenyataan dari dua sisi.
SABDO LINGQARAN
“Yen tresna mung nyekel, bakal kesel.
Yen tresna mung wedi kelangan, bakal peteng.
Yen tresna nganggo amanah, bakal ana papan kanggo loro-lorone tuwuh.”
Artinya:
Jika cinta hanya menggenggam, ia akan melelahkan.
Jika cinta hanya takut kehilangan, ia akan menjadi gelap.
Jika cinta dijalankan dengan amanah, akan tersedia ruang bagi keduanya untuk tumbuh.
QUNCI LEMBAR KELIMA
Qitab kemudian meletakkan satu qunci di tengah lingkaran:
“Qepercayaan tidak meminta penjagaan dua puluh empat jam. Ia meminta kepastian bahwa meskipun tidak diawasi, seseorang tetap memilih amanah.”
Di situlah kebebasan dan kesetiaan bertemu.
Kesetiaan yang hanya ada karena takut diketahui bukan kesetiaan yang matang.
Kesetiaan yang lahir dari pilihan sadar jauh lebih kuat.
DOA EMPAT BELAS PENJAGA
Yā Alloh,
hidupkan dalam qolbi kami rahmah ketika kami kuat.
Turunkan sakinah ketika kami marah.
Teguhkan wafā’ ketika jarak datang.
Berikan hikmah ketika kami bingung.
Jadikan kami jujur.
Jadikan kami amanah.
Jadikan kami sabar.
Jadikan kami lembut.
Jadikan kami adil.
Jadikan kami berani mengakui kesalahan.
Jadikan kami mampu memaafkan tanpa kehilangan pelajaran.
Jadikan kami istiqamah dalam perbaikan.
Jadikan kami bertawakkul setelah berikhtiar.
Dan terangilah qolbi kami dengan nūr-Mu agar kami mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya.
Jika cinta adalah amanah, ajarkan kami menjaganya.
Jika perpisahan adalah jalan yang lebih baik, ajarkan kami menerimanya dengan adab.
Jika qepercayaan masih dapat dipulihkan, tuntun kami menuju qenyataan yang membuktikan perubahan.
Dan jika tidak, qembalikan kedamaian ke dalam qolbi kami.
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Empat belas Utusan kembali berdiri pada lingkarannya.
Empat membawa kelembutan.
Sepuluh membawa keteguhan.
Di tengahnya, dua Qeqasih menundukkan qolbi.
Mereka memahami satu rahasia:
Tidak ada satu pun hubungan yang menjadi abadi hanya karena kata cinta.
Yang membuatnya bernilai adalah amanah yang terus dipilih.
Hari demi hari.
Kesalahan demi perbaikan.
Kesalahpahaman demi penjelasan.
Luka demi penyembuhan.
Dan apabila semua itu tetap dinaungi oleh adab kepada Alloh,
maka qepercayaan memperoleh tempatnya kembali.
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi, tetapi penjagaannya terlihat melalui qenyataan hidup sehari-hari.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEENAM
MAHQOTA QOLBI DAN JANJI YANG TIDAK BOLEH DIUCAPKAN SEMBARANGAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar keenam, empat belas Utusan tidak lagi berdiri menghadap keluar.
Mereka perlahan membalikkan arah.
Seluruhnya menghadap kepada sepasang Qeqasih yang berada di pusat lingqaran.
Mengapa?
Karena setelah seseorang belajar menjaga dunia di sekelilingnya, tibalah saatnya ia menghadap dirinya sendiri.
Tidak ada lagi yang harus disalahkan.
Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik alasan.
Qitab kemudian membuka kalimat:
“Janji yang paling berat bukan yang didengar manusia, tetapi yang diketahui qolbi ketika seseorang mengucapkannya.”
Sebab lidah dapat mengatakan banyak perkara.
Namun qolbi mengetahui mana yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya lahir karena keadaan sesaat.
MAHQOTA QOLBI
Di atas sepasang Qeqasih tampak sebuah mahqota cahaya.
Mahqota itu tidak turun ke kepala salah seorang.
Ia menggantung tepat di antara keduanya.
Inilah lambang penting.
Mahqota tidak menjadi milik lelaki.
Tidak menjadi milik wanita.
Tidak pula menjadi tanda siapa yang lebih tinggi.
Mahqota itu bernama:
MAHQOTATUL AMĀNAH
Mahqota Amanah.
Ia hanya tetap bercahaya apabila keduanya menjaga:
kejujuran,
kehormatan,
kesetiaan,
batas,
dan adab.
Apabila salah satunya mulai menjadikan cinta sebagai alat menguasai, cahayanya digambarkan meredup.
Apabila salah satunya berdusta, satu sisi mahqota menjadi gelap.
Apabila keduanya saling menjaga, sinarnya kembali menyatu.
Pesannya sederhana:
Kemuliaan sebuah hubungan tidak berada pada seberapa kuat seseorang memiliki pasangannya, tetapi seberapa baik keduanya menjaga amanah yang hadir di antara mereka.
EMPAT BELAS UTUSAN MENYAKSIKAN EMPAT BELAS JANJI
Pada lembar ini, setiap Utusan membawa satu lembar kosong.
Lembar itu bukan berisi sumpah gaib.
Ia adalah simbol empat belas janji akhlak.
JANJI PERTAMA
Aku tidak akan menggunakan cintamu untuk menguasaimu.
Karena cinta bukan izin untuk menghilangkan kebebasan.
JANJI KEDUA
Aku tidak akan menggunakan rahasiamu untuk melukaimu.
Apa yang diserahkan dalam kepercayaan harus tetap berada dalam penjagaan.
JANJI KETIGA
Aku akan berkata benar meskipun kebenaran itu tidak menguntungkan diriku.
Sebab satu kebenaran yang pahit lebih baik daripada ketenangan yang dibangun di atas dusta.
JANJI KEEMPAT
Aku akan menghormati batasmu.
Kedekatan tidak menghapus hak seseorang atas ruang pribadi.
JANJI KELIMA
Aku tidak akan menjadikan kecemburuan sebagai alasan untuk berlaku zalim.
Rasa dapat dibicarakan.
Tetapi rasa tidak boleh menjadi pembenaran untuk merendahkan.
JANJI KEENAM
Aku tidak akan mengancam pergi hanya untuk membuatmu takut kehilangan.
Sebab cinta yang sehat tidak tumbuh dari ancaman.
JANJI KETUJUH
Aku tidak akan memaksa qolbimu memberikan jawaban yang belum siap diberikannya.
Ada waktu untuk berbicara.
Ada waktu untuk menunggu.
Keduanya membutuhkan kebijaksanaan.
JANJI KEDELAPAN
Aku akan mengakui kesalahanku tanpa menjadikan masa lalumu sebagai pembelaan.
Kesalahan orang lain tidak membenarkan kesalahan kita.
JANJI KESEMBILAN
Aku akan menjaga namamu ketika engkau tidak berada di hadapanku.
Inilah wajah kesetiaan yang jarang diketahui.
JANJI KESEPULUH
Aku tidak akan mempermainkan ketakutanmu.
Jika seseorang pernah terluka, jangan gunakan lukanya sebagai alat agar ia patuh.
JANJI KESEBELAS
Aku akan mengingat bahwa engkau adalah amanah, bukan kepunyaanku secara mutlak.
Setiap manusia tetap menjadi hamba Alloh dengan perjalanan dan tanggung jawabnya sendiri.
JANJI KEDUABELAS
Aku akan berusaha menjadi tempat yang aman untuk berkata jujur.
Sebab orang yang terus takut berkata benar akhirnya akan memilih diam.
Dan diam yang terlalu panjang dapat mengubah kedekatan menjadi jarak.
JANJI KETIGABELAS
Jika harus berpisah, aku akan menjaga adab.
Tidak menyebarkan rahasia.
Tidak mempermalukan.
Tidak merusak nama.
Tidak memalsukan cerita agar diri sendiri tampak benar.
JANJI KEEMPATBELAS
Aku akan mengembalikan seluruh hasil kepada Alloh.
Sebab setelah manusia berikhtiar menjaga, tetap ada perkara yang berada di luar kuasanya.
RAHASIA JANJI KEEMPAT BELAS
Mengapa janji terakhir adalah tawakkul?
Karena manusia sering mampu menjaga tiga belas perkara pertama tetapi gagal pada yang terakhir.
Ia telah mencintai.
Ia telah bersabar.
Ia telah berusaha.
Lalu ia merasa:
“Karena aku sudah melakukan semuanya, orang itu harus tetap bersamaku.”
Di situlah keikhlasan diuji.
Qitab berkata:
“Amanah tidak memberi hak untuk menguasai hasil.”
Engkau dapat memberikan yang terbaik.
Tetapi hasil tetap berada dalam ketetapan Alloh.
Cinta yang telah dijalani dengan benar tidak menjadi sia-sia hanya karena akhirnya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Sebab kebaikan tetap tercatat sebagai kebaikan.
DUA CINCIN CAHAYA
Kemudian muncul dua cincin cahaya di telapak tangan sepasang Qeqasih.
Bukan cincin pernikahan secara harfiah.
Ia adalah simbol dua jenis qepercayaan.
CINCIN PERTAMA — PERCAYA KEPADA SESAMA
Aku percaya engkau akan berusaha menjaga amanah.
Namun aku tetap memahami bahwa engkau manusia.
Engkau dapat lelah.
Engkau dapat salah.
Engkau dapat berubah.
Karena itu kepercayaanku tidak boleh berubah menjadi pemujaan.
CINCIN KEDUA — PERCAYA KEPADA ALLOH
Inilah cincin yang lebih dalam.
Ketika manusia berubah, Alloh tetap menjadi tempat kembali.
Ketika rencana gagal, doa belum kehilangan arah.
Ketika seseorang pergi, hidup belum selesai.
Ketika sesuatu berakhir, pintu lain masih dapat dibukakan.
Maka Qitab berkata:
“Percayalah kepada manusia sesuai amanahnya. Bersandarlah kepada Alloh tanpa batas.”
RAHASIA QEQA SIH YANG SEJATI
Qitab kemudian membuka satu pengertian:
Qeqasih sejati bukan selalu orang yang tinggal paling lama.
Kadang seseorang hanya berada dalam perjalanan kita untuk mengajarkan satu perkara.
Keberanian.
Kesabaran.
Batas.
Pengampunan.
Atau bahkan bagaimana melepaskan.
Karena itu jangan mengukur nilai sebuah pertemuan hanya dari panjang waktunya.
Ukurlah dari:
apa yang ia bangunkan dalam dirimu.
Apakah setelah mengenalnya engkau menjadi lebih jujur?
Lebih sadar?
Lebih dekat kepada Alloh?
Lebih tahu menjaga orang?
Lebih mengetahui batas?
Jika demikian, pertemuan itu telah meninggalkan hikmah.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBUKA QORDEN QOLBI
Empat Utusan wanita kemudian membuka sebuah qorden bercahaya.
Di baliknya terlihat satu ruangan kosong.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada permata.
Tidak ada senjata.
Hanya sebuah tempat hening.
Utusan Rahmah berkata secara simbolik:
“Inilah ruang di mana manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri.”
Utusan Sakinah berkata:
“Jika ruang ini penuh kegaduhan, cinta apa pun akan terasa mengancam.”
Utusan Wafā’ berkata:
“Jika engkau tidak setia kepada nilai-nilaimu sendiri, engkau akan selalu menuntut orang lain menyelamatkanmu.”
Utusan Hikmah berkata:
“Masuklah ke ruang ini tanpa membawa kebencian.”
SEPULUH UTUSAN LELAKI MELETAKKAN SENJATA
Sepuluh Utusan lelaki kemudian meletakkan seluruh simbol senjata mereka di luar ruangan.
Maknanya:
Ada tempat di dalam qolbi yang tidak boleh dimasuki dengan pertahanan.
Di sanalah seseorang harus berkata jujur kepada dirinya sendiri:
Aku takut.
Aku kecewa.
Aku masih berharap.
Aku belum sembuh.
Aku memang melakukan kesalahan.
Aku belum siap melepaskan.
Tidak perlu malu.
Qolbi yang mengakui keadaannya lebih dekat kepada penyembuhan daripada qolbi yang terus berpura-pura kuat.
QUNCI KEENAM
Di tengah ruang hening terdapat satu qunci.
Tulisan pada qunci itu berbunyi:
“Orang yang mampu berkata jujur kepada dirinya sendiri akan lebih sulit menipu qolbi orang lain.”
Karena banyak kebohongan kepada orang lain sebenarnya bermula dari kebohongan kepada diri sendiri.
“Aku tidak cemburu.”
Padahal cemburu.
“Aku tidak sakit.”
Padahal terluka.
“Aku sudah memaafkan.”
Padahal masih ingin membalas.
“Aku sudah berubah.”
Padahal hanya sedang takut kehilangan.
Maka Qitab meminta:
jangan mempercepat nama bagi keadaan qolbi.
Biarkan proses berjalan dengan jujur.
LARANGAN MENGUCAP JANJI SAAT QOLBI BERGELORA
Lembar keenam memberikan satu peringatan.
Jangan mudah berjanji besar ketika sedang:
sangat bahagia,
sangat takut,
sangat marah,
atau sangat takut kehilangan.
Sebab keadaan yang sangat kuat dapat membuat manusia mengucapkan sesuatu yang belum mampu ia tanggung.
Qitab berkata:
“Janji lebih baik sedikit tetapi ditepati daripada indah tetapi menjadi hutang qolbi.”
Maka bila engkau berkata:
“Aku akan menjaga.”
Jagalah.
Bila berkata:
“Aku akan kembali.”
Pastikan engkau benar-benar berniat kembali.
Bila berkata:
“Aku tidak akan mengulanginya.”
Ubahlah kebiasaan yang memungkinkan kesalahan itu terulang.
Sebab setiap janji meminta bukti.
SABDO MAHQOTA QOLBI
“Janji iku dudu kembang kanggo nghias tembung.
Janji iku wiji kang kudu ditandur nganggo tumindak.
Yen mung diucapake nanging ora dirumat, bakal garing sadurunge dadi woh.”
Artinya:
Janji bukan bunga untuk menghiasi kata-kata.
Janji adalah benih yang harus ditanam dengan perbuatan.
Jika hanya diucapkan tetapi tidak dirawat, ia akan mengering sebelum menjadi buah.
QEPERCAYAAN DAN WAKTU
Qitab kemudian mengajarkan bahwa waktu mempunyai kedudukan penting.
Waktu membongkar kepalsuan.
Waktu juga membuktikan ketulusan.
Seseorang dapat berpura-pura selama sehari.
Mungkin seminggu.
Mungkin lebih lama.
Tetapi kebiasaan akhirnya berbicara.
Karena itu jangan menilai perubahan hanya dari satu momen.
Lihat perjalanan.
Apakah perubahan tetap ada ketika keadaan kembali normal?
Apakah kebaikan tetap dilakukan ketika tidak lagi ada ancaman kehilangan?
Apakah kejujuran tetap terjaga ketika tidak sedang diawasi?
Di situlah qenyataan menjadi hakim paling tenang.
DOA MAHQOTA AMANAH
Yā Alloh,
jangan biarkan lidah kami mengucapkan janji yang tidak sanggup kami jaga.
Apabila kami telah berjanji, kuatkan kami untuk menepatinya.
Apabila kami menyadari tidak mampu, berikan keberanian untuk berkata jujur sebelum kami melukai orang lain.
Jadikan kami manusia yang tidak mempermainkan qepercayaan.
Jadikan kami penjaga bagi rahasia yang dititipkan.
Jadikan kami lembut ketika kuat.
Jadikan kami jujur ketika terdesak.
Jadikan kami adil ketika kecewa.
Dan apabila qolbi kami sedang mencintai, jangan biarkan rasa itu menghapus akal dan adab.
Letakkan Mahqota Amanah di atas setiap hubungan yang Engkau ridhoi.
Bukan mahqota kesombongan.
Bukan mahqota kepemilikan.
Tetapi mahqota yang mengingatkan bahwa segala sesuatu yang kami miliki hanyalah titipan.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Empat belas Utusan kembali menutup lembar-lembar yang mereka bawa.
Mahqota cahaya masih menggantung di tengah.
Sepasang Qeqasih tidak mengambilnya.
Mereka hanya menundukkan kepala.
Karena mereka akhirnya mengetahui:
Mahqota Qolbi tidak dipakai oleh siapa yang paling dicintai.
Mahqota Qolbi diberikan kepada siapa yang paling mampu menjaga amanah.
Lalu Qitab menuliskan:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Tetapi keabadiannya tidak dijaga oleh sumpah.
Ia dijaga oleh qenyataan, kesetiaan, adab, dan keberanian untuk tetap benar ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan di bawahnya terdapat satu kalimat terakhir:
“Sing paling suci saka katresnan dudu genggemane, nanging amanah kang ora dikhianati.”
Yang paling suci dari kasih bukanlah genggamannya, melainkan amanah yang tidak dikhianati.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KETUJUH
QOLBI YANG TELAH DIBERSIHKAN TIDAK LAGI MENGEQAR QEPASTIAN, TETAPI MENJAGA QEBENARAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah Mahqota Amanah dibuka pada lembar keenam, lembar ketujuh membawa Qitab memasuki ruang yang lebih sunyi.
Tidak ada lagi keramaian.
Tidak ada lagi pembuktian kepada orang banyak.
Tidak ada lagi kebutuhan untuk selalu menjelaskan diri.
Karena pada tahap ini Qitab mulai mengajarkan satu perkara yang lebih dalam:
Qolbi yang matang tidak selalu meminta kepastian dari manusia. Ia belajar menjaga kebenaran meskipun belum mengetahui akhir perjalanan.
Inilah salah satu ujian paling berat dalam qepercayaan.
Manusia ingin tahu:
Apakah dia akan tetap tinggal?
Apakah janji itu benar?
Apakah hubungan ini akan berakhir baik?
Apakah pengorbananku akan dibalas?
Tetapi hidup tidak selalu memberikan jawaban lebih dahulu.
Kadang manusia harus berjalan beberapa langkah dalam ketidakpastian.
Maka Qitab berkata:
“Jangan gadaikan kebenaran hanya karena engkau ingin segera mengetahui hasil.”
LINGQARAN YANG MULAI TERBUQA
Pada lembar ketujuh, empat belas Utusan tidak lagi membentuk lingkaran tertutup.
Mereka perlahan membuka satu sisi.
Sepasang Qeqasih yang sebelumnya selalu berada di tengah kini melihat sebuah jalan memanjang keluar dari lingkaran.
Maknanya:
Qepercayaan yang sehat tidak membuat dua manusia terkurung hanya pada satu sama lain.
Mereka tetap mempunyai jalan hidup.
Mempunyai keluarga.
Mempunyai tugas.
Mempunyai tanggung jawab.
Mempunyai hubungan dengan Alloh.
Mempunyai ruang untuk bertumbuh.
Cinta yang matang tidak berkata:
“Duniamu hanya aku.”
Ia berkata:
“Jalani amanahmu dengan baik, dan jangan jadikan kedekatan kita alasan untuk meninggalkan tanggung jawab yang lebih besar.”
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT PELITA
Empat Utusan wanita kini membawa empat pelita.
Mereka tidak menerangi seluruh jalan.
Setiap pelita hanya menerangi beberapa langkah ke depan.
Inilah rahasianya.
Manusia sering meminta cahaya untuk seluruh masa depan.
Padahal sering kali yang dibutuhkan hanyalah cahaya untuk langkah berikutnya.
PELITA PERTAMA — QENING
Utusan pertama berkata secara simbolik:
“Jangan membuat keputusan besar hanya untuk menghentikan kecemasan sesaat.”
Kadang manusia ingin segera bertanya.
Segera menuntut jawaban.
Segera memutuskan.
Segera menarik kesimpulan.
Bukan karena keputusan itu benar,
tetapi karena qolbinya tidak tahan menghadapi ketidakpastian.
Pelita Qening mengajarkan:
diamkan kegaduhan dahulu.
Setelah tenang, lihat kembali keadaan.
PELITA KEDUA — QENYATAAN
Pelita kedua menerangi jejak kaki.
Artinya:
lihat apa yang benar-benar terjadi.
Bukan hanya apa yang ditakutkan.
Bukan apa yang diharapkan.
Bukan pula apa yang dibisikkan prasangka.
Tanyakan:
Apa faktanya?
Apa yang benar-benar diucapkan?
Apa yang benar-benar dilakukan?
Apa yang berubah?
Apa yang tetap sama?
Qitab berkata:
“Qolbi boleh merasa, tetapi keputusan harus tetap menghormati qenyataan.”
PELITA KETIGA — QESABARAN
Pelita ketiga sangat kecil.
Namun nyalanya stabil.
Ia mengajarkan:
yang kecil tetapi terus menyala lebih berguna daripada api besar yang cepat padam.
Kesabaran bukan berarti pasif.
Kesabaran adalah tetap menjalankan yang benar sambil memberikan waktu kepada keadaan untuk menampakkan bentuknya.
PELITA KEEMPAT — QERIDHOAN
Pelita terakhir tidak diarahkan ke jalan.
Ia diarahkan ke qolbi.
Karena setelah seluruh ikhtiar, manusia membutuhkan kemampuan menerima.
Bukan menyerah kepada ketidakadilan.
Tetapi menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi milik kita.
Qeridhoan berkata:
“Aku akan tetap menjadi manusia yang baik, bahkan ketika hasilnya tidak seperti yang kuharapkan.”
SEPULUH UTUSAN LELAKI MEMBUQA SEPULUH GERBANG
Di sepanjang jalan terdapat sepuluh gerbang.
Tidak semuanya harus dilewati sekaligus.
Setiap gerbang adalah ujian bagi qepercayaan.
GERBANG PERTAMA — DIAM
Bisakah engkau diam tanpa membuat cerita sendiri di dalam pikiran?
GERBANG KEDUA — JARAK
Bisakah engkau menghadapi jarak tanpa langsung menganggapnya pengkhianatan?
GERBANG KETIGA — PERBEDAAN
Bisakah engkau mencintai seseorang yang tidak selalu melihat dunia dengan cara yang sama?
GERBANG KEEMPAT — PERUBAHAN
Bisakah engkau menerima bahwa manusia yang engkau kenal bertahun-tahun lalu mungkin tidak lagi sama?
GERBANG KELIMA — KETIDAKPASTIAN
Bisakah engkau tetap benar meskipun belum tahu akhir cerita?
GERBANG KEENAM — KEHILANGAN
Bisakah engkau kehilangan sesuatu tanpa kehilangan dirimu sendiri?
GERBANG KETUJUH — PERTEMUAN KEMBALI
Jika seseorang kembali, bisakah engkau melihat perubahan nyata tanpa menutup mata karena rindu?
GERBANG KEDELAPAN — PENOLAKAN
Jika seseorang tidak memilihmu, bisakah engkau tetap menjaga kehormatannya dan kehormatanmu?
GERBANG KESEMBILAN — PENGAMPUNAN
Bisakah engkau memaafkan tanpa harus menghapus seluruh batas?
GERBANG KESEPULUH — PENYERAHAN
Bisakah engkau berkata:
“Yā Alloh, aku telah berusaha. Selanjutnya tuntunlah aku kepada yang paling baik.”
Inilah gerbang terakhir.
RAHASIA QEPASTIAN
Qitab kemudian membuka sebuah kesalahan yang sering dilakukan manusia.
Banyak orang mengira:
“Jika aku benar-benar dicintai, aku harus selalu mendapatkan kepastian.”
Padahal dalam kehidupan nyata, tidak setiap keadaan dapat langsung pasti.
Ada proses.
Ada perubahan.
Ada keputusan yang memerlukan waktu.
Ada keadaan keluarga.
Ada tanggung jawab.
Ada manusia yang sedang menyembuhkan luka.
Maka yang harus diperhatikan bukan hanya seberapa cepat seseorang memberi jawaban.
Tetapi:
apakah ia jujur selama proses itu?
Karena ketidakpastian yang jujur jauh lebih baik daripada kepastian palsu.
Seseorang yang berkata:
“Aku belum tahu.”
bisa lebih amanah daripada orang yang berkata:
“Aku pasti.”
tetapi sebenarnya hanya ingin menenangkan keadaan.
QUNCI KETUJUH
Pada salah satu gerbang terdapat tulisan:
“Lebih baik menerima jawaban yang belum pasti tetapi jujur, daripada menggenggam janji pasti yang dibangun di atas dusta.”
Inilah salah satu qunci besar Qitab Al-Balaqum.
Sebab qepercayaan bukan hanya tentang mendapatkan jawaban yang kita suka.
Qepercayaan adalah mengetahui bahwa orang lain tidak akan memalsukan jawaban hanya untuk membuat kita tenang.
RAHASIA QEQASIH DAN JARAK
Sepasang Qeqasih kemudian berjalan.
Untuk pertama kalinya dalam gambaran Qitab, mereka tidak berjalan berdampingan.
Yang satu berada beberapa langkah di depan.
Yang lain tertinggal sedikit.
Namun keduanya masih berada di jalan yang sama.
Maknanya:
Dalam hubungan, pertumbuhan tidak selalu terjadi dengan kecepatan yang sama.
Seseorang mungkin lebih cepat memahami.
Yang lain memerlukan waktu.
Seseorang lebih cepat memaafkan.
Yang lain masih terluka.
Seseorang lebih siap berbicara.
Yang lain membutuhkan keheningan.
Qitab berkata:
“Jangan paksa langkah orang lain menjadi sama dengan langkahmu. Yang penting adalah apakah kalian masih menuju arah yang benar.”
Tetapi jika arah sudah berbeda secara mendasar, hikmah harus berani mengakuinya.
Karena memaksakan dua jalan yang sudah berbeda hanya akan membuat keduanya terluka lebih lama.
LARANGAN MEMBAQA ISI QOLBI ORANG LAIN
Lembar ketujuh memberi peringatan khusus.
Jangan terlalu mudah berkata:
“Aku tahu sebenarnya dia masih mencintaiku.”
“Aku tahu batinnya begini.”
“Aku tahu dia sebenarnya ingin kembali.”
Perasaan semacam itu dapat muncul.
Tetapi Qitab mengingatkan:
Isi qolbi orang lain bukan wilayah yang boleh dipastikan hanya berdasarkan rasa.
Hormati ucapan.
Hormati tindakan.
Hormati pilihan.
Hormati batas.
Sebab qepercayaan akan rusak jika seseorang menolak kenyataan hanya karena ia lebih menyukai tafsirnya sendiri.
QOLBI YANG TIDAK LAGI MENGEQAR
Ada saatnya manusia kelelahan mengejar:
jawaban,
pengakuan,
penjelasan,
kepastian,
balasan,
atau seseorang.
Kemudian ia duduk.
Bukan karena menyerah.
Tetapi karena menyadari:
tidak semua pintu dibuka dengan mengejar.
Sebagian dibuka ketika kita berhenti mengetuk dan mulai memperbaiki diri.
Qitab berkata:
“Sing kudu dioyak dudu wong, nanging qebeneran ing sajroning awakmu.”
Artinya:
Yang harus dikejar bukan manusia, melainkan kebenaran di dalam dirimu.
TIGA QEMBALINYA QEPERCAYAAN
Pada lembar ketujuh, Qitab membedakan tiga macam qembali.
QEMBALI PERTAMA — QEMBALI QEPADA ORANG
Hubungan dipulihkan.
Dua orang mulai membangun kembali kedekatan.
QEMBALI KEDUA — QEMBALI QEPADA DIRI
Seseorang mungkin tidak kembali.
Tetapi rasa percaya kepada diri sendiri tumbuh lagi.
Kita tidak lagi mempertanyakan harga diri hanya karena pernah ditolak atau dikhianati.
QEMBALI KETIGA — QEMBALI QEPADA ALLOH
Ini yang terdalam.
Ketika manusia berhenti menjadikan hasil dunia sebagai ukuran apakah doanya didengar.
Ia mulai memahami bahwa kedekatan dengan Alloh tidak bergantung pada satu hubungan berhasil atau gagal.
Pada titik ini qolbi menjadi lebih merdeka.
SABDO JALAN TERBUQA
“Dalan kang bener ora mesthi dalan kang nggawa wong qembali marangmu.
Kadhang dalan kang bener justru nggawa awakmu qembali marang awakmu dhewe lan marang Gusti.”
Artinya:
Jalan yang benar tidak selalu menjadi jalan yang membawa seseorang kembali kepadamu.
Kadang jalan yang benar justru membawa dirimu kembali kepada dirimu sendiri dan kepada Alloh.
EMPAT BELAS UTUSAN MENUNDUQ
Setelah sepuluh gerbang terbuka, empat belas Utusan menundukkan kepala.
Mengapa?
Karena mereka telah selesai menjadi simbol penjagaan dari luar.
Sekarang tanggung jawab berada pada Qeqasih.
Ini adalah titik penting.
Nasihat hanya dapat menunjukkan.
Doa dapat menguatkan.
Orang lain dapat mendampingi.
Tetapi keputusan tetap harus diambil oleh manusia yang menjalani.
Qitab tidak mengajarkan ketergantungan kepada simbol.
Ia justru mengembalikan manusia kepada:
akal,
qolbi,
qenyataan,
akhlak,
doa,
dan tanggung jawab.
DOA LEMBAR KETUJUH
Yā Alloh,
apabila kami sedang berada dalam ketidakpastian,
jangan biarkan kegelisahan membuat kami berlaku zalim.
Ajarkan kami menunggu tanpa kehilangan arah.
Ajarkan kami bertanya tanpa memaksa.
Ajarkan kami mencintai tanpa menguasai.
Ajarkan kami mempercayai tanpa menutup mata terhadap qenyataan.
Apabila ada sesuatu yang harus kami ketahui, bukakan dengan cara yang baik.
Apabila masih harus menunggu, lapangkan qolbi kami.
Apabila sesuatu memang bukan jalan kami, berikan keberanian untuk menerimanya.
Dan apabila dua qolbi masih Engkau izinkan berjalan bersama,
jadikan perjalanan itu semakin jujur,
semakin amanah,
semakin lembut,
dan semakin dekat kepada-Mu.
Jangan jadikan kami pemburu kepastian palsu.
Jadikan kami penjaga qebenaran.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Di ujung jalan terdapat sebuah pintu.
Tidak tertulis siapa yang berada di baliknya.
Tidak tertulis apakah Qeqasih akan terus berjalan bersama.
Hanya ada satu kalimat:
“LUMAKUA KANTHI QEBENARAN.”
Berjalanlah dengan kebenaran.
Sepasang Qeqasih memahami.
Mereka tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk mengambil satu langkah yang benar hari ini.
Empat belas Utusan berdiri jauh di belakang mereka.
Empat pelita masih menyala.
Sepuluh gerbang telah terbuka.
Dan Qitab menutup lembar ketujuh dengan sabdo:
“Qepercayaan paling tinggi bukan kemampuan memastikan manusia tidak akan berubah. Qepercayaan paling tinggi adalah keberanian menjaga qebenaran meskipun manusia dan keadaan dapat berubah.”
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Dan qolbi yang telah menemukan tempat qembalinya tidak lagi memaksa dunia memberikan seluruh jawaban sekaligus.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEDELAPAN
QETIKA QEPERCAYAAN TIDAK LAGI BERGANTUNG PADA QEDEQATAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar kedelapan, jalan yang sebelumnya terbuka semakin panjang.
Sepasang Qeqasih tidak lagi selalu terlihat saling memandang.
Kadang mereka berjalan berdampingan.
Kadang yang satu berada di depan.
Kadang yang lain berhenti.
Kadang keduanya dipisahkan oleh jarak.
Namun Qitab membuka satu wejangan:
“Qepercayaan yang matang tidak selalu membutuhkan qedeqatan untuk membuktikan dirinya.”
Karena manusia sering salah memahami kedekatan.
Mereka mengira:
semakin sering bertemu berarti semakin setia,
semakin sering berbicara berarti semakin dipercaya,
semakin banyak mengetahui berarti semakin dekat.
Padahal tidak selalu demikian.
Ada orang yang setiap hari berada di dekat kita tetapi qolbinya jauh.
Ada pula yang terpisah jarak, namun tetap menjaga amanah.
Maka ukuran qepercayaan bukan hanya:
seberapa dekat jarak tubuh,
tetapi:
seberapa jauh amanah tetap dijaga ketika jarak terbuka.
LINGQARAN KEDELAPAN: QESAKSIAN TANPA PENGAWASAN
Empat belas Utusan kini tidak lagi mengelilingi Qeqasih secara rapat.
Mereka berdiri jauh.
Seolah memberikan ruang.
Mengapa?
Karena amanah yang sebenarnya baru terlihat ketika manusia tidak lagi merasa diawasi.
Qitab berkata:
“Jika kebaikan hanya hidup ketika ada mata yang melihat, maka ia belum menjadi watak.”
Maka lembar kedelapan menjadi ujian:
Apakah engkau tetap jujur ketika tidak ada yang memeriksa?
Apakah engkau tetap menjaga rahasia ketika hubungan sedang renggang?
Apakah engkau tetap menghormati seseorang ketika tidak lagi membutuhkan dirinya?
Apakah engkau tetap mengingat janji ketika tidak ada seorang pun yang dapat memaksamu?
Di situlah amanah menjadi cahaya yang sebenarnya.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT SELENDANG
Empat Utusan wanita membawa empat selendang.
Bukan untuk menutupi kebenaran.
Melainkan menjadi lambang empat jenis penjagaan.
SELENDANG PERTAMA — PENJAGA NAMA
Ia mengajarkan:
Jagalah nama orang yang pernah mempercayaimu.
Ketika hubungan berubah, jangan mengubah cerita agar dirimu terlihat paling benar.
Jangan sebarkan aib.
Jangan jadikan luka sebagai alasan mempermalukan.
Sebab kehormatan tetap kehormatan meskipun kedekatan telah berakhir.
SELENDANG KEDUA — PENJAGA RAHASIA
Apa yang pernah disampaikan dalam keadaan percaya tidak otomatis menjadi milikmu untuk disebarkan ketika hubungan retak.
Qitab berkata:
“Rahasia tidak kehilangan status amanah hanya karena hubungan berubah.”
Ini adalah salah satu ukuran tertinggi kesetiaan.
Bukan hanya setia kepada orang.
Tetapi setia kepada nilai.
SELENDANG KETIGA — PENJAGA BATAS
Kadang menjaga qepercayaan berarti menjaga jarak.
Bukan semua jarak adalah penolakan.
Sebagian jarak adalah perlindungan.
Sebagian menjadi ruang penyembuhan.
Sebagian menjadi cara agar dua pihak tidak saling melukai lebih jauh.
Qitab berkata:
“Batas yang sehat tidak memutus kasih. Ia menjaga agar kasih tidak berubah menjadi kerusakan.”
SELENDANG KEEMPAT — PENJAGA DOA
Ada hubungan yang tidak lagi dapat dijaga dengan kedekatan.
Namun masih dapat dijaga dengan doa.
Bukan doa untuk memaksa seseorang kembali.
Bukan doa agar seseorang tunduk kepada kehendak kita.
Melainkan doa:
“Yā Alloh, jagalah ia dalam kebaikan, meskipun jalannya tidak lagi bersamaku.”
Itulah doa yang telah melepaskan kepemilikan.
SEPULUH UTUSAN LELAKI DAN SEPULUH UJIAN JARAK
Sepuluh Utusan lelaki berdiri pada sepuluh batu jalan.
Setiap batu mewakili satu ujian.
UJIAN PERTAMA — TIDAK SEGERA MENDAPAT JAWABAN
Apakah engkau langsung menuduh?
Atau menunggu fakta?
UJIAN KEDUA — TIDAK SELALU DIUTAMAKAN
Apakah engkau memahami bahwa orang lain juga memiliki tanggung jawab?
Atau merasa harga dirimu runtuh karena tidak selalu menjadi pusat?
UJIAN KETIGA — BERBEDA KESIBUKAN
Bisakah kedekatan tetap hidup tanpa menuntut perhatian terus-menerus?
UJIAN KEEMPAT — BERBEDA PENDAPAT
Bisakah engkau tetap menghormati orang yang tidak memilih seperti dirimu?
UJIAN KELIMA — PERUBAHAN KEBIASAAN
Bisakah engkau bertanya sebelum menyimpulkan?
UJIAN KEENAM — KESUNYIAN
Bisakah engkau menjalani waktu sendiri tanpa menciptakan ketakutan baru?
UJIAN KETUJUH — RINDU
Bisakah rindu menjadi doa tanpa berubah menjadi tuntutan?
UJIAN KEDELAPAN — KECEMBURUAN
Bisakah engkau mengakui rasa tanpa menjadikannya alasan untuk menguasai?
UJIAN KESEMBILAN — KETIDAKHADIRAN
Bisakah engkau tetap menjaga amanah ketika orang itu tidak ada?
UJIAN KESEPULUH — QEIKHLASAN
Bisakah engkau menerima bahwa qepercayaan tidak selalu berarti memiliki?
Inilah ujian paling dalam.
RAHASIA QEDEQATAN
Qitab menerangkan:
Ada tiga macam qedeqatan.
QEDEQATAN JASAD
Dekat secara tempat.
Sering bertemu.
Sering berbicara.
Tetapi ini saja belum cukup.
QEDEQATAN QOLBI
Ada rasa aman.
Ada keterbukaan.
Ada penghormatan.
Ada kemampuan untuk jujur tanpa takut dipermalukan.
Ini lebih dalam.
QEDEQATAN NILAI
Inilah yang paling kuat.
Dua manusia mungkin berjauhan.
Namun keduanya sama-sama menjaga:
kejujuran,
amanah,
kesetiaan,
adab,
dan doa.
Qitab berkata:
“Qedeqatan yang paling tinggi bukan ketika dua tubuh selalu bersama, tetapi ketika dua manusia sama-sama menjaga qebenaran meskipun tidak saling melihat.”
SEPASANG QEQASIH DAN JEMBATAN CAHAYA
Pada lembar kedelapan, di antara sepasang Qeqasih tampak sebuah jembatan.
Jembatan itu tidak dibuat dari batu.
Ia dibuat dari tujuh pancaran cahaya.
Tujuh cahaya itu bernama:
Ṣidq — Kejujuran
Amānah — Penjagaan
Ṣabr — Kesabaran
Wafā’ — Kesetiaan
‘Afw — Pengampunan
Ḥikmah — Kebijaksanaan
Tawakkul — Penyerahan
Selama tujuh cahaya ini dijaga, jembatan tetap utuh.
Bila kejujuran hilang, satu bagian retak.
Bila amanah dikhianati, bagian lain meredup.
Bila ego menguasai, jalannya menjadi sempit.
Maka jembatan itu bukan lambang bahwa dua orang harus selalu kembali satu sama lain.
Ia adalah lambang:
jalan menuju saling menghormati.
QUNCI KEDELAPAN
Pada tengah jembatan terdapat sebuah qunci.
Tulisan pada qunci itu berbunyi:
“Jangan meminta bukti cinta dengan cara yang merusak qepercayaan.”
Sebab manusia terkadang menguji orang yang dicintainya.
Berpura-pura pergi.
Membuat cemburu.
Menyembunyikan sesuatu.
Membuat jebakan.
Mengurangi komunikasi dengan sengaja untuk melihat reaksi.
Qitab menolak permainan seperti itu.
Karena qepercayaan tidak tumbuh melalui jebakan.
Ia tumbuh melalui kejujuran.
Jika membutuhkan kepastian, bertanyalah.
Jika terluka, bicaralah.
Jika takut, akuilah.
Jika ada batas, nyatakan.
Itulah jalan yang lebih bersih.
RAHASIA QEPERCAYAAN TANPA MEMILIKI
Lembar kedelapan membuka satu maqam penting.
Yaitu:
mampu mempercayai tanpa merasa memiliki mutlak.
Qitab berkata:
“Manusia bukan benda yang dapat dimasukkan ke dalam genggaman.”
Pasangan tetap manusia.
Anak tetap manusia.
Sahabat tetap manusia.
Guru tetap manusia.
Murid tetap manusia.
Masing-masing mempunyai amanah kepada Alloh.
Maka mencintai seseorang bukan berarti menghapus haknya untuk berpikir, memilih, bertumbuh, dan bertanggung jawab.
Qepercayaan yang matang berkata:
“Aku menghormatimu sebagai amanah, bukan sebagai benda yang harus mengikuti seluruh kehendakku.”
TIGA TANDA CINTA TELAH BERUBAH MENJADI PENGUASAAN
Qitab memberikan peringatan.
Tanda Pertama
Kita mulai merasa berhak mengetahui seluruh hal.
Padahal tidak semua ruang pribadi harus dibuka tanpa batas.
Tanda Kedua
Kita mulai menganggap setiap perbedaan sebagai ancaman.
Padahal dua manusia dapat saling mencintai dan tetap berbeda.
Tanda Ketiga
Kita mulai mengukur cinta dari seberapa jauh seseorang meninggalkan dirinya demi kita.
Ini berbahaya.
Cinta yang sehat justru membantu seseorang tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab.
SABDO QEDEQATAN
“Cedhak ora mesti nyawiji.
Adoh ora mesti pisah.
Sing nyawiji yaiku amanah, lan sing misahake yaiku pengkhianatan marang qebenaran.”
Artinya:
Dekat belum tentu menyatu.
Jauh belum tentu berpisah.
Yang menyatukan adalah amanah, dan yang memisahkan adalah pengkhianatan terhadap kebenaran.
PINTU RINDU
Pada ujung jembatan terdapat sebuah pintu bernama:
BĀB ASY-SYAWQ — PINTU RINDU
Qitab mengajarkan bahwa rindu mempunyai dua wajah.
RINDU YANG JERNIH
Ia berkata:
“Aku mengingatmu dengan baik.”
“Aku berharap engkau selamat.”
“Aku ingin bertemu, tetapi aku tidak akan memaksamu.”
Rindu seperti ini mempunyai adab.
RINDU YANG MENGUASAI
Ia berkata:
“Karena aku merindukanmu, engkau harus datang.”
“Karena aku mencintaimu, engkau harus menjawab.”
“Karena aku menunggumu, engkau berhutang kepadaku.”
Inilah rindu yang telah berubah menjadi tuntutan.
Qitab berkata:
“Rindu adalah rasa. Ia bukan hak untuk menguasai keputusan orang lain.”
EMPAT BELAS UTUSAN MENARUH TANGAN DI DADA
Empat belas Utusan kemudian meletakkan tangan pada dada masing-masing.
Bukan sebagai ritual yang harus ditiru.
Ia adalah lambang bahwa seluruh penjagaan akhirnya harus kembali ke dalam diri.
Utusan pertama mengingatkan:
Jagalah ucapanmu.
Utusan kedua:
Jagalah niatmu.
Utusan ketiga:
Jagalah rahasia.
Utusan keempat:
Jagalah batas.
Utusan kelima:
Jagalah amarah.
Utusan keenam:
Jagalah janji.
Utusan ketujuh:
Jagalah pandanganmu terhadap manusia.
Utusan kedelapan:
Jagalah rasa memiliki.
Utusan kesembilan:
Jagalah kecemburuan.
Utusan kesepuluh:
Jagalah keputusan.
Utusan kesebelas:
Jagalah kesabaran.
Utusan keduabelas:
Jagalah pengampunan.
Utusan ketigabelas:
Jagalah doa.
Utusan keempatbelas:
Jagalah qolbimu agar tidak menggantikan Alloh dengan makhluk.
MAQAM QOLBI MERDEQA
Kemudian Qitab membuka istilah:
QOLBI MERDEQA
Qolbi merdeqa bukan qolbi yang tidak membutuhkan siapa pun.
Manusia tetap membutuhkan kasih, persahabatan, keluarga, dan kebersamaan.
Tetapi qolbi merdeqa tidak menjadikan satu manusia sebagai satu-satunya alasan untuk hidup.
Ia dapat mencintai tanpa kehilangan arah.
Ia dapat kehilangan tanpa kehilangan iman.
Ia dapat ditolak tanpa kehilangan harga diri.
Ia dapat menerima tanpa kehilangan batas.
Ia dapat memaafkan tanpa kembali kepada pola yang merusak.
Dan ia dapat berjalan sendiri untuk sementara tanpa menganggap dirinya ditinggalkan oleh Alloh.
DOA LEMBAR KEDELAPAN
Yā Alloh,
ajarkan kami qepercayaan yang tidak membelenggu.
Ajarkan kami qedeqatan yang tidak menguasai.
Ajarkan kami kesetiaan yang tidak bergantung pada pengawasan.
Apabila kami berjauhan dari orang yang kami sayangi,
jagalah qolbi kami dari prasangka.
Jagalah lidah kami dari tuduhan.
Jagalah pikiran kami dari cerita yang tidak mempunyai bukti.
Apabila ada sesuatu yang harus dibicarakan,
berikan keberanian untuk mengatakannya dengan jujur.
Apabila ada batas yang harus dihormati,
berikan kelapangan untuk menerimanya.
Apabila rindu datang,
jadikan ia doa,
bukan tuntutan.
Apabila cinta datang,
jadikan ia amanah,
bukan penjara.
Dan apabila perjalanan membawa dua manusia ke jalan yang berbeda,
jangan biarkan perbedaan jalan menghapus seluruh kebaikan yang pernah ada.
Qembalikan qolbi kami kepada-Mu,
agar kami mengetahui bahwa tidak ada kehilangan dunia yang mampu menghilangkan tempat qembali kepada Alloh.
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Sepasang Qeqasih berdiri pada dua sisi jembatan.
Mereka saling melihat.
Namun tidak ada tangan yang memaksa tangan lainnya.
Tidak ada rantai.
Tidak ada pintu terkunci.
Hanya jembatan cahaya.
Dan pada jembatan itu tertulis:
**“YEN AREP QEMBALI, QEMBALILAH QANTHI AMANAH.
YEN AREP NERUSQAKEN, NERUSQAKEN QANTHI QEBENARAN.”**
Artinya:
**“Jika hendak qembali, qembalilah dengan amanah.
Jika hendak melanjutkan, lanjutkanlah dengan qebenaran.”**
Empat belas Utusan tidak memaksa keduanya melangkah.
Karena cinta tanpa pilihan bukan cinta.
Qepercayaan tanpa kebebasan bukan qepercayaan.
Dan kesetiaan tanpa kesadaran hanya menjadi ketakutan.
Maka Qitab menutup lembar kedelapan dengan sabdo:
“Qepercayaan yang abadi tidak dibuktikan dengan seberapa erat manusia saling menggenggam, tetapi dengan seberapa suci amanah tetap dijaga ketika genggaman harus dilepas.”
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Dan qolbi yang telah matang mengetahui: dekat tidak selalu berarti memiliki, jauh tidak selalu berarti kehilangan.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KESEMBILAN
QETIKA MANUSIA BERUBAH, APAKAH QEPERCAYAAN MASIH DAPAT TETAP HIDUP?
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar kesembilan, Qitab tidak lagi memperlihatkan jarak antara sepasang Qeqasih.
Keduanya kembali berdiri berdekatan.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Wajah mereka tidak lagi sama seperti ketika pertama kali memasuki lingqaran.
Yang satu telah melewati luka.
Yang lain telah melewati penyesalan.
Yang satu menjadi lebih tenang.
Yang lain menjadi lebih berhati-hati.
Di sinilah Qitab membuka sebuah rahasia:
“Qepercayaan tidak hanya diuji ketika manusia berjauhan. Ia juga diuji ketika manusia yang kita kenal mulai berubah.”
Sebab perubahan adalah bagian dari perjalanan.
Manusia belajar.
Manusia terluka.
Manusia tumbuh.
Manusia dapat kehilangan sesuatu.
Manusia dapat menemukan sesuatu.
Dan setelah semua itu, ia mungkin tidak lagi menjadi orang yang sama seperti dahulu.
Maka pertanyaannya bukan:
“Bisakah kita mengembalikan semuanya seperti dulu?”
Tetapi:
“Bisakah kita mengenal satu sama lain kembali dengan qebenaran yang baru?”
CERMIN KESEMBILAN
Empat belas Utusan kemudian menghadirkan sebuah cermin besar di tengah lingqaran.
Sepasang Qeqasih diminta melihat ke dalamnya.
Namun cermin itu tidak memperlihatkan wajah mereka sekarang.
Ia memperlihatkan bayangan diri mereka dari masa lalu.
Qitab berkata:
“Banyak manusia kecewa bukan karena orang lain berubah menjadi buruk, tetapi karena ia masih memaksa orang itu menjadi seperti gambaran lama yang disimpannya.”
Padahal manusia bukan lukisan yang berhenti.
Manusia adalah perjalanan.
Maka mencintai seseorang juga berarti bersedia mengenalnya kembali.
Bukan membenarkan semua perubahan.
Tetapi memeriksanya dengan jernih.
Apakah perubahan itu membawa lebih banyak kebaikan?
Atau justru menjauhkan dari amanah?
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT BUNGA
Pada lembar kesembilan, empat Utusan wanita membawa empat bunga.
Setiap bunga mempunyai warna yang berbeda.
Ia menjadi simbol empat cara menghadapi perubahan.
BUNGA PERTAMA — MENERIMA
Menerima bahwa seseorang dapat berubah.
Ia mungkin tidak lagi menyukai hal yang sama.
Ia mungkin mempunyai cara berpikir baru.
Ia mungkin membutuhkan ruang yang berbeda.
Qitab berkata:
“Jangan tuntut manusia tetap sama hanya agar ingatanmu merasa nyaman.”
BUNGA KEDUA — MEMERIKSA
Tidak semua perubahan harus diterima begitu saja.
Periksa.
Apakah perubahan itu membuatnya lebih jujur?
Lebih bertanggung jawab?
Lebih baik?
Lebih bijaksana?
Atau justru lebih kasar?
Lebih manipulatif?
Lebih penuh dusta?
Inilah sebabnya kasih tetap membutuhkan akal.
BUNGA KETIGA — MENYESUAIKAN
Kadang hubungan dapat bertahan apabila keduanya mau menyesuaikan cara.
Cara berbicara.
Cara memberi ruang.
Cara menyelesaikan konflik.
Cara menunjukkan kasih.
Cara menjaga batas.
Karena metode yang dulu berhasil belum tentu selalu tepat untuk tahap kehidupan berikutnya.
BUNGA KEEMPAT — MELEPASKAN GAMBARAN LAMA
Bunga terakhir berwarna putih.
Ia melambangkan pelepasan.
Bukan melepaskan manusia.
Tetapi melepaskan tuntutan:
“Engkau harus menjadi persis seperti yang dulu kukenal.”
Qitab berkata:
“Seseorang tidak harus menjadi masa lalunya untuk tetap layak dicintai.”
Tetapi ia tetap harus menjaga qebenaran.
SEPULUH UTUSAN LELAKI DAN SEPULUH PERUBAHAN
Sepuluh Utusan lelaki membuka sepuluh lembar.
Masing-masing berisi satu bentuk perubahan yang sering mengguncang qepercayaan.
PERTAMA — PERUBAHAN CARA BERBICARA
Seseorang dahulu terbuka.
Sekarang lebih diam.
Jangan langsung menuduh.
Bisa jadi ia sedang letih.
Bisa jadi terluka.
Bisa pula memang sedang menjauh.
Maka lihat qenyataan secara utuh.
KEDUA — PERUBAHAN KESIBUKAN
Dahulu banyak waktu.
Sekarang sedikit.
Apakah itu karena tanggung jawab bertambah?
Atau karena prioritas berubah?
Qitab mengajarkan:
jangan hanya menghitung waktu.
Perhatikan kualitas kehadiran.
KETIGA — PERUBAHAN CARA MENUNJUKKAN KASIH
Ada yang dulu banyak berkata.
Kemudian menjadi lebih banyak bertindak.
Ada pula sebaliknya.
Maka jangan selalu memaksakan satu bahasa kasih menjadi satu-satunya ukuran.
KEEMPAT — PERUBAHAN KEYAKINAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Kadang setelah melewati luka, seseorang menjadi lebih tegas.
Ia mulai mengatakan:
“Tidak.”
Ia mulai menetapkan batas.
Jangan buru-buru menganggap itu dingin.
Bisa jadi ia sedang belajar menjaga dirinya.
KELIMA — PERUBAHAN SETELAH PENYESALAN
Orang yang benar-benar menyesal tidak hanya berbicara berbeda.
Ia hidup berbeda.
Qitab berkata:
“Perubahan yang nyata akan meninggalkan jejak.”
KEENAM — PERUBAHAN SETELAH KEHILANGAN
Kehilangan dapat membuat manusia lebih lembut.
Tetapi juga dapat membuatnya takut.
Berikan ruang.
Jangan paksa seseorang menjadi ringan ketika ia sedang membawa beban berat.
KETUJUH — PERUBAHAN TUJUAN HIDUP
Kadang dua manusia mulai dengan tujuan yang sama.
Lalu perjalanan membawa keduanya ke arah berbeda.
Di sinilah qepercayaan harus disertai kejujuran.
Jangan berpura-pura masih satu arah jika sebenarnya sudah berbeda.
KEDELAPAN — PERUBAHAN NILAI
Ini lebih dalam.
Jika seseorang berubah dalam hal prinsip dasar:
kejujuran,
amanah,
agama,
tanggung jawab,
atau cara memperlakukan manusia,
maka hubungan perlu dinilai ulang dengan serius.
Karena nilai adalah akar.
KESEMBILAN — PERUBAHAN AKIBAT KETAKUTAN
Ada manusia yang berubah bukan karena ia tidak mencintai.
Tetapi karena ia takut terluka lagi.
Ketakutan bisa membuat seseorang menjauh.
Di sini dibutuhkan komunikasi yang aman.
Bukan tekanan.
KESEPULUH — PERUBAHAN MENUJU KEDEWASAAN
Kadang seseorang menjadi lebih tenang.
Tidak lagi reaktif.
Tidak lagi banyak berjanji.
Tidak lagi terlalu dramatis.
Jangan salah mengira ketenangan sebagai hilangnya cinta.
Bisa jadi cinta telah berubah dari api menjadi cahaya.
QUNCI KESEMBILAN
Di bawah cermin terdapat sebuah qunci.
Tulisan padanya berbunyi:
“Jangan hanya bertanya apakah seseorang masih sama. Tanyakan apakah perubahan itu masih berjalan bersama qebenaran.”
Ini adalah qunci besar pada lembar kesembilan.
Karena manusia memang akan berubah.
Yang harus dijaga bukan bentuk luarnya.
Yang harus dijaga adalah nilai yang menjadi pusat.
SEPASANG QEQASIH DAN DUA BAYANGAN
Kemudian di belakang masing-masing Qeqasih muncul dua bayangan.
Bayangan pertama adalah dirinya dahulu.
Bayangan kedua adalah dirinya sekarang.
Qitab berkata:
“Jangan mencintai bayangan lama lebih daripada manusia yang hidup di hadapanmu.”
Jika engkau terus berbicara kepada masa lalu seseorang, ia akan merasa tidak pernah benar-benar dilihat.
Maka kenali kembali.
Tanyakan kembali.
Dengarkan kembali.
Karena manusia yang pernah kita kenal mungkin telah melewati perjalanan yang tidak kita saksikan.
EMPAT BELAS UTUSAN MEMBUQA QITAB QECIL
Empat belas Utusan kemudian masing-masing membuka satu Qitab kecil.
Pada setiap Qitab hanya terdapat satu kata.
- Dengarkan
- Lihat
- Tanyakan
- Jangan menuduh
- Jangan memaksa
- Periksa fakta
- Hormati batas
- Kenali perubahan
- Jaga amanah
- Perbaiki pola
- Jangan ulang luka
- Beri waktu
- Pilih qebenaran
- Bertawakkul
Keempat belas kata itu membentuk satu jalan.
Qitab menyebutnya:
ṬARĪQ AL-MA‘RIFAH AL-JADĪDAH
Jalan mengenal kembali.
RAHASIA MENGENAL QEMBALI
Banyak hubungan gagal bukan karena cinta habis.
Tetapi karena dua manusia berhenti saling mengenal.
Mereka menganggap sudah tahu.
Sudah hafal.
Sudah paham.
Padahal manusia terus berubah.
Qitab berkata:
“Jangan merasa telah selesai mengenal seseorang hanya karena engkau telah bersamanya bertahun-tahun.”
Tetap bertanya:
Apa yang sedang engkau rasakan?
Apa yang sekarang penting bagimu?
Apa yang berubah?
Apa yang sedang engkau takutkan?
Apa yang sekarang engkau butuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana dapat menyelamatkan hubungan dari prasangka.
QEPERCAYAAN DAN PEMBARUAN
Qepercayaan juga membutuhkan pembaruan.
Bukan karena yang lama selalu salah.
Tetapi karena keadaan berubah.
Qepercayaan dahulu mungkin berbentuk:
“Aku percaya engkau akan selalu ada.”
Setelah matang, ia dapat berubah menjadi:
“Aku percaya kita akan jujur apabila keadaan berubah.”
Ini lebih dalam.
Karena ia tidak menggantungkan qepercayaan kepada bentuk hasil.
Ia menggantungkan qepercayaan kepada qebenaran dalam proses.
QEPERCAYAAN YANG TERLALU KAKU
Qitab memperingatkan:
Qepercayaan yang terlalu kaku dapat berubah menjadi tuntutan.
Misalnya:
“Kalau engkau mencintaiku, engkau harus selalu seperti ini.”
“Kalau engkau setia, engkau tidak boleh berubah.”
Padahal perubahan tertentu justru diperlukan untuk tumbuh.
Karena itu bedakan:
perubahan yang sehat,
dan perubahan yang merusak.
Ukurnya bukan dari kenyamanan kita semata.
Ukur dari:
akhlak,
amanah,
kejujuran,
tanggung jawab,
dan dampaknya terhadap kehidupan.
SABDO PERUBAHAN
“Wong urip mesthi owah.
Sing kudu dijaga dudu wujude wingi, nanging qebeneran kang dadi oyode.”
Artinya:
Manusia hidup pasti berubah.
Yang harus dijaga bukan bentuk dirinya kemarin, melainkan kebenaran yang menjadi akarnya.
TIGA QESALAHAN SAAT MENGHADAPI PERUBAHAN
QESALAHAN PERTAMA — MEMAKSA MASA LALU QEMBALI
Tidak semua yang dahulu indah harus diulang persis.
Kadang bentuk baru lebih matang.
QESALAHAN KEDUA — MENGANGGAP SETIAP PERUBAHAN SEBAGAI PENGKHIANATAN
Perubahan tidak selalu berarti meninggalkan.
Bisa jadi pertumbuhan.
QESALAHAN KETIGA — MENUTUP MATA TERHADAP PERUBAHAN BURUK
Cinta bukan alasan untuk membenarkan dusta, kekerasan, penghinaan, manipulasi, atau pengkhianatan amanah.
Qitab berkata:
“Kasih membutuhkan belas kasih, tetapi belas kasih tidak boleh menghapus qebenaran.”
MAQAM QEQASIH YANG SALING MENGENAL QEMBALI
Pada tahap ini sepasang Qeqasih tidak berkata:
“Aku sudah mengenalmu.”
Mereka berkata:
“Aku bersedia terus mengenalmu.”
Inilah maqam yang lebih tinggi.
Karena kata “sudah” menutup pintu.
Sedangkan kata “terus” membuka ruang.
Qepercayaan menjadi perjalanan.
Bukan kesimpulan.
DOA LEMBAR KESEMBILAN
Yā Alloh,
apabila manusia di sekitar kami berubah,
jangan biarkan kami menilainya hanya dengan ketakutan.
Berikan kejernihan untuk membedakan perubahan yang membawa kebaikan dan perubahan yang membawa kerusakan.
Apabila kami sendiri berubah,
jangan biarkan perubahan itu menjauhkan kami dari qebenaran.
Jadikan kami lebih jujur.
Lebih amanah.
Lebih lembut.
Lebih bertanggung jawab.
Apabila seseorang sedang bertumbuh,
berilah kami keluasan untuk tidak mengurungnya dalam gambaran lama.
Apabila seseorang sedang tersesat,
berilah kami kebijaksanaan untuk mengingatkan tanpa merendahkan.
Dan apabila dua manusia harus mengenal satu sama lain kembali,
jadikan pertemuan baru itu lebih jernih daripada pertemuan sebelumnya.
Jangan biarkan kenangan menjadi penjara.
Jadikan ia pelajaran.
Jangan biarkan perubahan menjadi alasan untuk mengkhianati.
Jadikan ia jalan menuju kedewasaan.
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Cermin besar di tengah lingqaran kemudian retak menjadi dua bagian.
Tetapi bukan karena dihancurkan.
Ia sengaja dibuka.
Di baliknya terlihat jalan baru.
Sepasang Qeqasih melihat bahwa mereka tidak harus qembali menjadi manusia yang dahulu.
Mereka hanya perlu menentukan:
apakah diri mereka yang sekarang masih mampu berjalan bersama dalam qebenaran?
Empat belas Utusan kemudian mundur.
Empat bunga diletakkan di tanah.
Sepuluh lembar ditutup.
Dan Qitab menulis:
“Aja tresna marang kenangan nganti ora bisa ndeleng manungsa kang saiki ngadeg ana ngarepmu.”
Artinya:
“Jangan mencintai kenangan sampai engkau tidak mampu melihat manusia yang sekarang berdiri di hadapanmu.”
Kemudian kalimat terakhir diturunkan:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Namun qolbi yang hidup harus bersedia mengenal qembali, sebab manusia yang dipercaya hari ini mungkin telah tumbuh jauh dari dirinya yang kemarin.
Dan selama perubahan itu tetap berpijak pada qebenaran, amanah, dan adab,
qepercayaan tidak harus mati.
Ia dapat berubah bentuk,
bertumbuh,
dan menjadi lebih matang daripada sebelumnya.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KESEPULUH
PINTU PENGAMPUNAN: QETIKA QOLBI TIDAK LAGI INGIN MEMBALAS
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar kesepuluh, sepasang Qeqasih tidak lagi berdiri di hadapan cermin.
Cermin masa lalu telah dibuka.
Jalan baru telah tampak.
Namun sebelum keduanya melangkah lebih jauh, empat belas Utusan menghadirkan satu pintu yang tidak dapat dilewati dengan kemarahan.
Pada pintu itu tertulis:
BĀB AL-‘AFW — PINTU PENGAMPUNAN
Di bawahnya terukir satu sabdo:
“Memaafkan bukan berarti melupakan qebenaran. Memaafkan adalah melepaskan keinginan untuk membalas.”
Inilah salah satu rahasia besar Qitab Al-Balaqum Hotamattulloh.
Sebab banyak manusia salah memahami pengampunan.
Mereka mengira:
kalau memaafkan berarti harus kembali,
kalau memaafkan berarti harus melupakan,
kalau memaafkan berarti tidak boleh lagi berhati-hati,
atau bahkan harus membuka pintu yang sama kepada orang yang pernah merusaknya.
Qitab berkata:
Tidak.
Pengampunan adalah urusan kebersihan qolbi.
Sedangkan qepercayaan adalah urusan amanah.
Keduanya berhubungan,
tetapi tidak sama.
EMPAT BELAS UTUSAN MENURUNKAN EMPAT BELAS BEBAN
Setiap Utusan membawa satu batu.
Batu-batu itu adalah lambang beban yang sering dibawa qolbi setelah terluka.
Satu demi satu mereka meletakkannya di tanah.
BATU PERTAMA — KEMARAHAN
Kemarahan tidak selalu salah.
Kadang ia menjadi tanda bahwa batas telah dilanggar.
Tetapi jika dipelihara terlalu lama, kemarahan mulai memakan pemiliknya sendiri.
BATU KEDUA — KEINGINAN MEMBALAS
Inilah batu yang lebih berat.
Qitab berkata:
“Jika engkau menjadi sama buruknya dengan orang yang melukaimu, maka luka itu telah mendapatkan kemenangan kedua.”
BATU KETIGA — KEINGINAN MELIHAT ORANG LAIN MENDERITA
Qolbi yang terluka kadang berkata:
“Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan.”
Namun qolbi yang mulai sembuh berkata:
“Aku hanya ingin keluar dari lingkaran luka ini.”
Di sanalah pengampunan mulai lahir.
BATU KEEMPAT — RASA BERSALAH YANG TIDAK SEHAT
Tidak semua luka terjadi karena kesalahan kita.
Jangan mengambil seluruh kesalahan hanya karena ingin mempertahankan hubungan.
BATU KELIMA — MALU
Ada orang yang terluka lalu malu karena pernah percaya.
Qitab berkata:
“Pernah mempercayai bukan kehinaan. Yang harus dipelajari adalah bagaimana mempercayai dengan lebih jernih.”
BATU KEENAM — PENYESALAN
“Seandainya dahulu aku tidak…”
“Seandainya aku tahu…”
“Seandainya aku pergi lebih cepat…”
Penyesalan dapat menjadi guru.
Tetapi jangan biarkan ia menjadi penjara.
BATU KETUJUH — KEBENCIAN
Kebencian membuat orang yang telah pergi tetap hidup di dalam qolbi kita sebagai musuh.
Qitab berkata:
“Ada saatnya engkau harus melepaskannya bukan karena ia benar, tetapi karena qolbimu membutuhkan ruang untuk hidup.”
BATU KEDELAPAN — KECURIGAAN TERHADAP SEMUA ORANG
Satu pengkhianatan tidak berarti seluruh manusia akan mengkhianati.
Jangan biarkan kesalahan seseorang menghukum orang lain yang bahkan belum melakukan apa-apa.
BATU KESEMBILAN — RASA INGIN MENANG
Pengampunan tidak membutuhkan pemenang.
Kadang yang diperlukan hanya akhir yang bersih.
BATU KESEPULUH — KEBUTUHAN UNTUK DIPAHAMI
Tidak semua orang yang melukai kita akan suatu hari memahami seberapa besar luka itu.
Jika penyembuhan menunggu pengakuan mereka, qolbi dapat menunggu sangat lama.
BATU KESEBELAS — KEINGINAN MENGUBAH MASA LALU
Masa lalu tidak dapat diperbaiki.
Tetapi maknanya dapat diubah melalui pelajaran yang diambil.
BATU KEDUABELAS — RASA TAKUT MENGULANG
Takut boleh mengingatkan.
Tetapi jangan biarkan takut menutup seluruh pintu kehidupan.
BATU KETIGABELAS — IKATAN PADA CERITA LAMA
Ada manusia yang terus menceritakan dirinya sebagai korban sampai luka menjadi identitas.
Qitab mengajarkan:
Engkau pernah terluka, tetapi engkau lebih luas daripada luka itu.
BATU KEEMPATBELAS — MENYERAHKAN PENGADILAN KEPADA DIRI SENDIRI
Inilah batu terakhir.
Ada perkara yang memang membutuhkan keadilan.
Tetapi qolbi tidak harus terus menjadi ruang sidang tanpa akhir.
Serahkan keputusan akhir kepada Alloh.
Berbuat benar sesuai kemampuan.
Menjaga batas.
Dan berhenti memelihara dendam.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT AIR PENGAMPUNAN
Empat Utusan wanita kembali hadir.
Masing-masing membawa bejana.
Bukan air gaib.
Ia adalah lambang empat tahapan pengampunan.
AIR PERTAMA — MENGAKUI LUKA
Jangan memaksa diri berkata:
“Aku tidak apa-apa.”
Jika memang sakit, akui.
Jika kecewa, akui.
Jika marah, akui.
Qitab berkata:
“Pengampunan yang dibangun di atas penyangkalan hanya menutupi luka, bukan menyembuhkannya.”
AIR KEDUA — MEMISAHKAN ORANG DARI PERBUATANNYA
Seseorang dapat melakukan perbuatan buruk.
Namun perbuatannya tidak memberi kita izin untuk menghapus seluruh kemanusiaannya.
Kita boleh berkata:
“Yang engkau lakukan salah.”
Tanpa harus berkata:
“Engkau tidak memiliki nilai sebagai manusia.”
Inilah keadilan yang tidak kehilangan rahmah.
AIR KETIGA — MELEPASKAN KEWAJIBAN MEMBALAS
Ini bukan berarti tidak ada konsekuensi.
Batas tetap boleh dibuat.
Pertanggungjawaban tetap boleh diminta.
Tetapi qolbi berhenti berkata:
“Aku harus membuatnya menderita.”
Pada titik itu, dendam mulai kehilangan kuasa.
AIR KEEMPAT — MENYERAHKAN HASIL
Tidak semua pelaku kesalahan akan meminta maaf.
Tidak semua akan berubah.
Tidak semua akan memahami.
Namun penyembuhan kita tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada perubahan mereka.
Qitab berkata:
“Jangan serahkan qunci kesembuhanmu kepada tangan orang yang pernah melukaimu.”
SEPULUH UTUSAN LELAKI MEMBUQA SEPULUH PERBEDAAN
Pada lembar ini, sepuluh Utusan lelaki mengajarkan perbedaan-perbedaan penting.
PERTAMA
Memaafkan tidak sama dengan membenarkan.
KEDUA
Memaafkan tidak sama dengan melupakan.
KETIGA
Memaafkan tidak sama dengan mempercayai kembali.
KEEMPAT
Memaafkan tidak sama dengan kembali.
KELIMA
Memaafkan tidak sama dengan menghapus batas.
KEENAM
Memaafkan tidak menghilangkan tanggung jawab.
KETUJUH
Memaafkan bukan berarti harus berbicara kembali jika berbicara justru membuka luka yang berbahaya.
KEDELAPAN
Memaafkan tidak berarti berpura-pura tidak ada yang terjadi.
KESEMBILAN
Memaafkan dapat dilakukan meskipun hubungan berubah untuk selamanya.
KESEPULUH
Memaafkan adalah membebaskan qolbi dari kewajiban untuk terus membawa dendam.
Inilah inti pintu pengampunan.
SEPASANG QEQASIH DI DEPAN DUA JALAN
Setelah pintu terbuka, sepasang Qeqasih melihat dua jalan.
Jalan pertama bernama:
ṬARĪQ AL-IṢLĀḤ — JALAN PEMULIHAN
Jalan ini dilalui apabila:
kesalahan diakui,
perubahan nyata terlihat,
batas dihormati,
kejujuran tumbuh,
dan keduanya masih ingin membangun kembali.
Jalan kedua bernama:
ṬARĪQ AS-SALĀM — JALAN PERDAMAIAN
Jalan ini dilalui apabila:
pengampunan diberikan,
tetapi hubungan tidak lagi dilanjutkan seperti sebelumnya.
Keduanya bukan jalan kalah.
Keduanya dapat menjadi jalan benar.
Qitab berkata:
“Tidak setiap maaf harus berakhir dengan pelukan. Ada maaf yang berakhir dengan doa dan jarak yang damai.”
QUNCI KESEPULUH
Pada persimpangan terdapat satu qunci.
Tertulis:
“Apabila qolbi sudah tidak ingin membalas, maka pintu pengampunan telah mulai terbuka.”
Tidak harus langsung sempurna.
Kadang qolbi masih teringat.
Kadang masih sedih.
Kadang masih marah.
Pengampunan dapat menjadi proses.
Yang penting arah qolbi berubah:
dari ingin membalas,
menjadi ingin sembuh.
RAHASIA QEPERCAYAAN SETELAH MAAF
Qitab kemudian mengajarkan bahwa qepercayaan setelah pengampunan memiliki tiga kemungkinan.
QEPERCAYAAN DIBANGUN QEMBALI
Ini dapat terjadi apabila ada bukti perubahan yang konsisten.
QEPERCAYAAN DIBANGUN SEBAGIAN
Seseorang dapat diberi ruang tertentu tetapi tidak langsung diberikan akses seperti dahulu.
Ini bukan kejahatan.
Ini kehati-hatian.
QEPERCAYAAN TIDAK DIQEMBALIQAN
Ada keadaan di mana maaf diberikan tetapi qepercayaan tidak kembali.
Terutama apabila pola buruk terus berulang.
Qitab berkata:
“Pengampunan adalah rahmah. Tetapi qepercayaan tetap membutuhkan qenyataan.”
SABDO PENGAMPUNAN
“Ngapura ora ateges lali.
Ngapura ora ateges qembali.
Ngapura iku mbebasake qolbi supaya ora terus manggon ing omahe tatu.”
Artinya:
Memaafkan tidak berarti lupa.
Memaafkan tidak berarti qembali.
Memaafkan adalah membebaskan qolbi agar tidak terus tinggal di rumah luka.
MAQAM QOLBI TANPA DENDAM
Pada tahap ini, qolbi mulai mengalami perubahan.
Ia masih ingat.
Tetapi tidak lagi panas.
Ia masih mengetahui apa yang terjadi.
Tetapi tidak lagi ingin menghancurkan.
Ia masih memiliki batas.
Namun batas itu tidak dibuat dari kebencian.
Inilah yang disebut Qitab:
MAQĀM SALĀMAT AL-QALB
Keadaan qolbi yang menuju keselamatan dari dendam.
Bukan lupa.
Bukan lemah.
Tetapi tidak lagi membiarkan orang yang pernah melukai menguasai suasana batin setiap hari.
EMPAT BELAS UTUSAN MEMBUQA LINGQARAN
Pada lembar sebelumnya, empat belas Utusan menjaga sepasang Qeqasih.
Kini mereka membuka lingqaran sepenuhnya.
Artinya:
qolbi yang telah belajar mengampuni tidak lagi harus terus tinggal dalam cerita lama.
Ia boleh berjalan.
Boleh mencintai kembali.
Boleh percaya lagi dengan lebih bijaksana.
Boleh hidup tanpa membawa seluruh masa lalu ke setiap pintu baru.
Empat belas Utusan seakan berkata:
“Pelajaran boleh dibawa. Beban tidak harus.”
DOA LEMBAR KESEPULUH
Yā Alloh,
apabila qolbi kami pernah disakiti,
jangan biarkan luka itu mengubah kami menjadi manusia yang menyakiti.
Apabila kami masih marah,
bersihkan kemarahan kami dari keinginan berbuat zalim.
Apabila kami masih kecewa,
berikan ruang untuk menyembuhkan diri tanpa membenci.
Apabila kami pernah menjadi pihak yang menyakiti,
berikan keberanian untuk mengakui,
meminta maaf,
memperbaiki,
dan menerima konsekuensi.
Ajarkan kami pengampunan yang tidak membutakan.
Ajarkan kami batas yang tidak dipenuhi kebencian.
Ajarkan kami rahmah yang tetap berpijak pada qebenaran.
Jika qepercayaan dapat dibangun kembali,
tunjukkan melalui qenyataan.
Jika tidak,
izinkan qolbi tetap berdamai tanpa harus memaksa qembali.
Dan apabila masa lalu mengetuk lagi,
ingatkan kami bahwa kami tidak wajib tinggal di sana.
PENUTUP LEMBAR KESEPULUH
Sepasang Qeqasih berdiri pada persimpangan.
Tidak ada Utusan yang menentukan jalan mereka.
Tidak ada suara yang memaksa.
Karena pengampunan bukan paksaan.
Qepercayaan bukan paksaan.
Dan qembalinya dua manusia pun bukan paksaan.
Sebelum melangkah, keduanya melihat kembali batu-batu yang telah diletakkan.
Kemarahan.
Dendam.
Penyesalan.
Ketakutan.
Semua masih tampak di belakang.
Tetapi tidak lagi dibawa di pundak.
Lalu Qitab menurunkan sabdo:
“Sing wis kok apura ora kudu kok gawa maneh ing pundhakmu. Nanging pelajarane aja dibuwang saka qolbimu.”
Artinya:
“Apa yang telah engkau maafkan tidak harus terus engkau bawa di pundakmu. Tetapi pelajarannya jangan dibuang dari qolbimu.”
Dan pada bagian paling bawah tertulis:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Namun sebelum qepercayaan dapat tumbuh kembali, qolbi harus dibebaskan dari keinginan membalas.
Karena qolbi yang masih sibuk menghukum tidak mempunyai cukup ruang untuk membangun.
Sedangkan qolbi yang telah belajar mengampuni mulai mempunyai ruang untuk:
melihat,
menimbang,
memilih,
dan apabila memang layak—
mempercayai qembali tanpa kehilangan kebijaksanaan.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KESEBELAS
QETIKA WAKTU MENJADI SAQSI, DAN QEPERCAYAAN DIUJI TANPA SUMPAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah pintu pengampunan terbuka, sepasang Qeqasih tidak segera berjalan mendekat.
Mereka berhenti.
Bukan karena kehilangan kasih.
Bukan pula karena tidak ingin berdamai.
Tetapi karena Qitab mengajarkan satu perkara:
“Maaf dapat diberikan hari ini, tetapi qepercayaan membutuhkan waktu untuk menemukan bentuknya kembali.”
Di sinilah banyak manusia tergesa-gesa.
Mereka telah meminta maaf.
Lalu berharap semuanya kembali seperti dahulu.
Mereka telah menangis.
Lalu mengira air mata cukup menghapus akibat.
Mereka telah berjanji.
Lalu ingin qolbi orang lain segera tenang.
Namun Qitab berkata:
“Jangan meminta buah sebelum akar kembali hidup.”
Qepercayaan adalah akar.
Ia tidak tumbuh karena diperintah.
Ia tumbuh karena terus menerima air berupa:
kejujuran,
konsistensi,
amanah,
adab,
dan waktu.
JAM PASIR DI TENGAH LINGQARAN
Pada lembar kesebelas, empat belas Utusan menghadirkan sebuah jam pasir besar.
Pasirnya berwarna keemasan.
Setiap butir yang turun menjadi lambang satu hari.
Tidak ada seorang pun boleh membalik jam itu dengan paksa.
Pesannya:
Waktu mempunyai hukum sendiri.
Ada luka yang mulai ringan dalam beberapa hari.
Ada yang memerlukan bulan.
Ada yang meninggalkan bekas bertahun-tahun.
Maka orang yang benar-benar menyesal akan berkata:
“Aku akan menghormati waktumu.”
Bukan:
“Berapa lama lagi engkau akan curiga?”
Bukan:
“Aku sudah berubah, kenapa engkau belum percaya?”
Sebab penyembuhan bukan perlombaan.
EMPAT UTUSAN WANITA DAN EMPAT MUSIM QOLBI
Empat Utusan wanita kini berdiri membawa lambang empat musim.
MUSIM PERTAMA — HUJAN
Hujan adalah masa ketika qolbi masih banyak menangis.
Kenangan mudah datang.
Ucapan kecil dapat membangkitkan luka lama.
Pada masa ini, jangan menuntut terlalu banyak.
Rahmah diperlukan.
MUSIM KEDUA — TEDUH
Hujan mulai berhenti.
Namun tanah masih basah.
Qolbi mulai tenang, tetapi belum sepenuhnya aman.
Inilah masa di mana perubahan harus terus dibuktikan.
Tidak dengan kata-kata besar.
Tetapi dengan hal-hal sederhana.
MUSIM KETIGA — TUMBUH
Muncul tunas baru.
Percakapan mulai lebih ringan.
Ketakutan tidak lagi muncul pada setiap keadaan.
Rasa aman perlahan kembali.
Tetapi tunas tetap harus dijaga.
Sebab yang baru tumbuh masih rapuh.
MUSIM KEEMPAT — BUAH
Jika perjalanan dijaga cukup lama, perubahan mulai menghasilkan buah.
Qolbi tidak lagi hanya berkata:
“Aku melihat engkau berubah.”
Ia mulai berkata:
“Aku mulai merasa aman bersama perubahanmu.”
Inilah salah satu tanda qepercayaan mulai hidup kembali.
SEPULUH UTUSAN LELAKI MENJAGA SEPULUH HARI SIMBOLIK
Sepuluh Utusan lelaki membawa sepuluh tongkat.
Setiap tongkat mewakili satu penjagaan sepanjang perjalanan waktu.
HARI PERTAMA — JANGAN BERJANJI BERLEBIHAN
Perubahan tidak membutuhkan pidato panjang.
Ia membutuhkan tindakan.
HARI KEDUA — JANGAN MENUNTUT PUJIAN
Jika engkau benar-benar berubah, engkau tidak perlu terus berkata:
“Lihat, aku sudah lebih baik.”
Biarkan orang lain merasakannya sendiri.
HARI KETIGA — JANGAN MENYALAHKAN MASA LALU
Penjelasan boleh diberikan.
Tetapi jangan menjadikan masa lalu alasan untuk menghindari tanggung jawab.
HARI KEEMPAT — JAGA PERKATAAN QECIL
Kadang qepercayaan tidak runtuh karena pengkhianatan besar.
Ia retak karena janji kecil yang terus dilanggar.
HARI KELIMA — JAGA SAAT TIDAK DIAWASI
Perubahan sejati terlihat ketika tidak ada yang melihat.
HARI KEENAM — JAGA KETIKA TERTEQAN
Karakter lama sering kembali ketika manusia tertekan.
Jika pada masa sulit seseorang tetap menjaga adab, perubahan mulai mengakar.
HARI KETUJUH — JAGA KETIKA MARAH
Jangan kembali memakai luka lama sebagai senjata.
HARI KEDELAPAN — JAGA KETIKA QECEWA
Jangan menghukum dengan diam, ancaman, atau permainan emosi.
Bicarakan dengan jujur.
HARI KESEMBILAN — JAGA KETIKA MERASA SUDAH DIPERCAYA
Inilah ujian tersembunyi.
Ketika qepercayaan mulai kembali, jangan lengah dan mengulang pola lama.
HARI KESEPULUH — JAGA QETIKA TIDAK ADA QEUNTUNGAN
Amanah paling jernih adalah kebaikan yang tetap dijalankan meskipun tidak menghasilkan sesuatu bagi diri sendiri.
RAHASIA WAQTU
Qitab berkata:
“Waktu tidak menyembuhkan semua hal dengan sendirinya. Yang menyembuhkan adalah apa yang dilakukan manusia selama waktu itu berjalan.”
Ini penting.
Sebab ada luka yang dibiarkan bertahun-tahun tetapi tidak pernah dirawat.
Ada pula luka yang dalam, namun mulai pulih karena:
komunikasi diperbaiki,
batas dihormati,
kesalahan tidak diulang,
dan qebenaran dijaga.
Jadi jangan hanya berkata:
“Beri waktu.”
Tanyakan juga:
“Apa yang kulakukan selama waktu itu?”
QUNCI KESEBELAS
Di bawah jam pasir terdapat satu qunci.
Tertulis:
“Qepercayaan tidak qembali ketika waktu telah lama berlalu. Ia qembali ketika waktu telah dipenuhi qenyataan yang baru.”
Inilah qunci lembar kesebelas.
Karena umur hubungan tidak otomatis membuatnya sehat.
Lamanya menunggu tidak otomatis membuat seseorang berubah.
Yang menjadi ukuran adalah perjalanan nyata.
DUA JALAN SETELAH PENGAMPUNAN
Sepasang Qeqasih melihat dua jalan lagi.
JALAN PERTAMA — QEMBALI MEMBANGUN
Jalan ini dipilih jika:
ada perubahan,
ada keamanan,
ada komunikasi,
ada tanggung jawab,
dan kedua qolbi masih bersedia.
Jalan ini tidak kembali ke titik nol.
Ia membangun rumah baru dari pelajaran lama.
JALAN KEDUA — BERDAMAI TANPA QEMBALI
Jalan ini dipilih jika:
maaf sudah ada,
tetapi qepercayaan tidak cukup untuk membangun kedekatan yang sama.
Qitab berkata:
“Perdamaian tidak gagal hanya karena dua manusia tidak kembali bersama.”
Kadang keberhasilan terbesar adalah:
tidak ada lagi dendam,
tidak ada lagi perang,
dan masing-masing dapat berjalan dalam kebaikan.
TIGA LAPIS QEPERCAYAAN
Lembar kesebelas membagi qepercayaan menjadi tiga lapis.
LAPIS PERTAMA — QEPERCAYAAN UCAPAN
“Aku percaya engkau berkata benar.”
Ini tingkat awal.
LAPIS KEDUA — QEPERCAYAAN PERBUATAN
“Aku melihat ucapanmu sesuai dengan tindakan.”
Ini lebih kuat.
LAPIS KETIGA — QEPERCAYAAN QOLBI
“Aku merasa aman karena perjalananmu telah konsisten.”
Inilah lapis terdalam.
Qolbi tidak memperoleh tingkat ini melalui perintah.
Ia muncul sendiri setelah cukup banyak qenyataan.
EMPAT BELAS UTUSAN MENJADI SAQSI
Pada titik ini empat belas Utusan tidak memberi nasihat.
Mereka diam.
Mengapa?
Karena ada tahap di mana kata-kata harus berhenti.
Yang berbicara adalah kehidupan.
Hari demi hari menjadi saksi.
Cara berbicara menjadi saksi.
Cara marah menjadi saksi.
Cara meminta maaf menjadi saksi.
Cara menjaga rahasia menjadi saksi.
Cara menghadapi godaan menjadi saksi.
Cara menghormati batas menjadi saksi.
Qitab berkata:
“Qetika tindakan sudah berbicara, lidah tidak perlu terlalu banyak membela diri.”
RAHASIA JANJI YANG TIDAK DIUCAPKAN
Sepasang Qeqasih kemudian tidak lagi mengucapkan janji baru.
Mereka hanya berjalan.
Hari pertama saling menghormati.
Hari kedua tetap jujur.
Hari ketiga tidak mengungkit.
Hari keempat menjaga batas.
Hari kelima tetap amanah.
Hari keenam saling memberi ruang.
Hari ketujuh saling mengingatkan.
Qitab menyebut ini:
JANJI TANPA SUARA
Ia lebih berat daripada sumpah.
Karena ia harus dibuktikan tanpa sorak.
SABDO WAQTU
“Wektu ora njaluk sumpah.
Wektu mung ndeleng apa kang bola-bali kok tindakake.
Saka kono qolbi bakal ngerti apa sing owah iku nyata utawa mung tembung.”
Artinya:
Waktu tidak meminta sumpah.
Waktu hanya melihat apa yang berulang kali engkau lakukan.
Dari sanalah qolbi akan mengetahui apakah perubahan itu nyata atau hanya kata-kata.
TANDA PERUBAHAN TELAH MENJADI AKAR
Qitab memberikan tujuh tanda.
Pertama, seseorang tidak lagi berbuat baik hanya setelah pertengkaran.
Kedua, kejujuran tetap dijaga ketika qenyataan tidak menyenangkan.
Ketiga, tidak ada lagi permainan untuk membuat takut.
Keempat, batas dihormati tanpa perdebatan panjang.
Kelima, kata “maaf” diikuti perubahan pola.
Keenam, konflik tidak lagi selalu berakhir dengan ancaman.
Ketujuh, rasa aman perlahan lebih besar daripada rasa takut.
Jika tujuh hal ini tumbuh, perubahan mulai menjadi akar.
QESELAMATAN QOLBI
Namun Qitab tetap memberi peringatan:
Jangan mengejar qepercayaan sampai kehilangan keselamatan qolbi.
Jika perubahan tidak ada,
jika kebohongan terus berulang,
jika penghinaan menjadi kebiasaan,
jika ancaman terus dipakai,
maka waktu bukan alasan untuk terus menunggu tanpa batas.
Qitab berkata:
“Sabar bukan berarti menyerahkan qolbi kepada kerusakan.”
Waktu juga dapat menjadi saksi bahwa seseorang tidak berubah.
Dan ketika qenyataan sudah jelas, hikmah harus berani melihatnya.
MAQAM QEPERCAYAAN DEWASA
Pada tingkat ini, qepercayaan tidak lagi berkata:
“Aku yakin engkau tidak akan pernah salah.”
Tetapi:
“Aku percaya apabila engkau salah, engkau akan jujur, bertanggung jawab, dan memperbaikinya.”
Inilah bentuk qepercayaan yang lebih nyata.
Karena manusia tidak sempurna.
Yang membedakan bukan ada atau tidak adanya kesalahan.
Tetapi bagaimana manusia memperlakukan kesalahan setelah ia terjadi.
DOA LEMBAR KESEBELAS
Yā Alloh,
ajarkan kami menghormati waktu.
Jangan jadikan kami tergesa meminta qepercayaan yang belum pulih.
Jika kami pernah menyakiti,
berikan kesabaran untuk membuktikan perubahan tanpa menuntut balasan cepat.
Jika kami pernah terluka,
berikan kejernihan untuk melihat perubahan yang nyata tanpa menutup mata karena takut.
Jangan biarkan kami terperangkap di masa lalu.
Namun jangan pula biarkan kami melupakan pelajaran yang Engkau hadirkan melaluinya.
Jadikan hari-hari kami saksi bagi qebaikan.
Jadikan kebiasaan kami lebih kuat daripada janji kami.
Jadikan diam kami aman.
Ucapan kami jujur.
Tindakan kami dapat dipercaya.
Dan apabila waktu menunjukkan bahwa dua qolbi masih layak berjalan bersama,
satukan dalam amanah.
Apabila waktu menunjukkan bahwa jalan harus berbeda,
pisahkan tanpa kebencian.
PENUTUP LEMBAR KESEBELAS
Jam pasir akhirnya kosong pada bagian atas.
Semua butir telah turun.
Namun Qitab tidak menuliskan:
“Sekarang qepercayaan wajib kembali.”
Sebaliknya tertulis:
“SAQSI TELAH LENGQAP. QOLBI BOLEH MENILAI.”
Sepasang Qeqasih memandang perjalanan mereka.
Bukan sumpah yang dihitung.
Bukan air mata.
Bukan berapa kali kata cinta diucapkan.
Yang mereka lihat adalah:
apa yang benar-benar telah dilakukan.
Empat belas Utusan tetap diam.
Karena qenyataan tidak memerlukan banyak penjelasan.
Dan Qitab menutup lembar kesebelas:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
**Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Tetapi waktu adalah saqsi yang memperlihatkan apakah qepercayaan itu menemukan alasan untuk hidup kembali.**
Kemudian diturunkan sabdo terakhir:
“Aja njaluk dipercaya amarga sumpahmu. Uripna qebeneran nganti qolbi wong liya ora maneh kudu wedi marang tembungmu.”
Artinya:
“Jangan meminta dipercaya karena sumpahmu. Hiduplah dalam kebenaran sampai qolbi orang lain tidak lagi perlu takut kepada perkataanmu.”
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEDUABELAS
QETIKA QEPERCAYAAN SUDAH QEMBALI, JANGAN UBAH AMANAH MENJADI QESOMBONGAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar keduabelas, sesuatu yang lama ditunggu akhirnya mulai tampak.
Qolbi yang dahulu waspada mulai melunak.
Percakapan tidak lagi dipenuhi ketakutan.
Jarak tidak lagi selalu dibaca sebagai ancaman.
Kesalahan lama tidak lagi dibawa ke setiap pertemuan.
Qepercayaan mulai qembali.
Tetapi tepat pada saat itulah Qitab memberikan peringatan yang lebih halus.
Sebab manusia sering berhati-hati ketika sedang kehilangan.
Namun setelah memperoleh kembali apa yang diinginkan, ia mulai lengah.
Maka tertulis:
“QETIKA QEPERCAYAAN TELAH QEMBALI, UJIAN BELUM SELESAI.”
Karena memperoleh qepercayaan adalah satu amanah.
Menjaganya setelah ia kembali adalah amanah yang lebih berat.
SEPASANG QEQASIH QEMBALI BERDIRI DI SATU LINGQARAN
Pada lembar ini, sepasang Qeqasih kembali berdiri dalam satu lingqaran.
Tetapi mereka tidak lagi berdiri sangat rapat.
Di antara keduanya tetap ada ruang.
Ruang itu sengaja dibiarkan.
Mengapa?
Karena setelah melewati perjalanan panjang, mereka memahami:
Qedeqatan tidak berarti menghapus ruang.
Ruang diperlukan agar:
masing-masing dapat bernapas,
masing-masing dapat berpikir,
masing-masing dapat berdoa,
dan masing-masing tetap mengenal dirinya.
Qitab berkata:
“Qepercayaan yang telah pulih jangan diubah menjadi izin untuk kembali menguasai.”
EMPAT BELAS UTUSAN TIDAK LAGI MEMBENTUQ PAGAR
Empat belas Utusan kini berdiri lebih jauh.
Tidak lagi membuat pagar.
Tidak lagi mengelilingi pasangan secara rapat.
Sebab penjagaan yang sebenarnya kini harus hidup dalam diri keduanya.
Empat belas Utusan hanya menjadi pengingat.
Mereka tidak menggantikan tanggung jawab.
Inilah pelajaran besar:
nasihat dapat mendampingi, tetapi akhlak harus dijalankan sendiri.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT MAHQOTA KECIL
Keempat Utusan wanita membawa empat mahqota.
Namun mahqota itu tidak diletakkan di kepala.
Masing-masing diletakkan di tanah.
Maknanya:
setelah qepercayaan qembali, jangan merasa menang.
MAHQOTA PERTAMA — QERENDAHAN HATI
Utusan pertama berkata secara simbolik:
“Jangan berkata: akhirnya engkau percaya kepadaku lagi.”
Tetapi katakan dalam qolbi:
“Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk menjaga kembali.”
Sebab qepercayaan bukan piala.
Ia bukan kemenangan atas orang lain.
Ia adalah titipan.
MAHQOTA KEDUA — QEWASPADAAN
Bukan waspada terhadap pasangan.
Tetapi terhadap diri sendiri.
Karena pola lama dapat muncul lagi ketika manusia sudah merasa aman.
Kebohongan kecil.
Janji yang disepelekan.
Nada bicara lama.
Sikap meremehkan.
Semua dapat kembali jika tidak dijaga.
Maka Qitab berkata:
“Jangan hanya berjaga ketika hubungan hampir runtuh. Berjagalah ketika semuanya sedang baik.”
MAHQOTA KETIGA — QESYUQURAN
Syukur bukan hanya ucapan.
Syukur atas qembalinya qepercayaan berarti memperlakukan kesempatan kedua dengan lebih baik daripada kesempatan pertama.
Jika dahulu mudah mengabaikan,
sekarang belajar hadir.
Jika dahulu mudah berdusta,
sekarang menjaga qebenaran.
Jika dahulu mudah melukai dengan ucapan,
sekarang menjaga lidah.
Itulah syukur yang terlihat.
MAHQOTA KEEMPAT — QESETARAAN
Qepercayaan yang telah qembali tidak boleh membuat satu pihak merasa mempunyai kuasa lebih besar.
Jangan berkata:
“Karena aku memaafkanmu, engkau harus selalu menurut.”
Jangan pula berkata:
“Karena engkau qembali kepadaku, berarti aku benar seluruhnya.”
Qitab mengingatkan:
“Pengampunan tidak menciptakan tuan dan hamba.”
Keduanya tetap manusia yang sama-sama bertanggung jawab.
SEPULUH UTUSAN LELAKI MEMBUQA SEPULUH PENJAGA SETELAH QEMBALI
Sepuluh Utusan lelaki kemudian membuka sepuluh pintu kecil.
Inilah sepuluh perkara yang harus dijaga setelah qepercayaan mulai pulih.
PERTAMA — JANGAN MENGUNGQIT UNTUK MENANG
Masa lalu boleh dibicarakan untuk belajar.
Tetapi jangan digunakan sebagai senjata agar satu pihak selalu kalah.
KEDUA — JANGAN MENGUJI QEPERCAYAAN DENGAN JEBAQAN
Jangan sengaja membuat cemburu.
Jangan berbohong kecil hanya untuk melihat apakah ia akan percaya.
Jangan menciptakan skenario untuk menguji kesetiaan.
Qepercayaan yang diuji dengan permainan justru dapat rusak kembali.
KETIGA — JAGA JANJI QECIL
Sering kali qepercayaan kedua tidak runtuh oleh perkara besar.
Ia runtuh karena hal kecil yang kembali disepelekan.
KEEMPAT — JANGAN MENGANGGAP MAAF SEBAGAI LUPA
Orang yang memaafkan tetap dapat mempunyai batas.
Hormati itu.
KELIMA — JANGAN MENUNTUT QEDEQATAN SEPERTI DAHULU
Biarkan kedekatan menemukan bentuk barunya.
Mungkin lebih tenang.
Mungkin tidak lagi terlalu melekat.
Tetapi justru lebih sehat.
KEENAM — JAGA KETIKA TIDAK ADA MASALAH
Banyak manusia baru menjadi baik saat konflik terjadi.
Setelah tenang, ia kembali lalai.
Qitab berkata:
“Akhlak terbaik justru diuji ketika tidak ada ancaman kehilangan.”
KETUJUH — JANGAN MENGHITUNG-HITUNG PENGORBANAN
“Aku sudah melakukan ini.”
“Aku sudah mengalah.”
“Aku sudah memaafkan.”
Jika setiap kebaikan dijadikan tagihan, hubungan akan berubah menjadi pembukuan hutang.
KEDELAPAN — PELIHARA KOMUNIKASI
Masalah kecil yang dibicarakan lebih ringan daripada masalah kecil yang dipendam sampai menjadi gunung.
KESEMBILAN — TETAP JAGA DIRI SENDIRI
Qembalinya seseorang tidak berarti kita harus kembali kehilangan diri.
Tetap jaga ibadah.
Tanggung jawab.
Keluarga.
Pekerjaan.
Persahabatan.
Dan kesehatan qolbi.
KESEPULUH — QEMBALI QEPADA ALLOH SETIAP QALI QOLBI MULAI BERLEBIHAN
Jika rasa memiliki mulai terlalu kuat,
qembali.
Jika takut kehilangan mulai menguasai,
qembali.
Jika kesombongan muncul,
qembali.
Jika qepercayaan mulai dianggap sebagai hak mutlak,
qembali.
Karena sandaran terakhir tetap Alloh.
RAHASIA QESOMBONGAN SETELAH QEPERCAYAAN QEMBALI
Qitab membuka satu penyakit tersembunyi:
QESOMBONGAN QOLBI
Ia tidak selalu berkata:
“Aku lebih hebat.”
Kadang bentuknya jauh lebih halus:
“Dia akhirnya tidak bisa hidup tanpaku.”
“Dia pasti akan selalu qembali.”
“Sekarang aku tahu dia tidak akan meninggalkanku.”
Inilah bahaya.
Karena manusia tetap mempunyai pilihan.
Keadaan tetap dapat berubah.
Qitab berkata:
“Jangan ubah qepercayaan menjadi rasa aman palsu bahwa engkau tidak mungkin kehilangan.”
Yang perlu dijaga bukan keyakinan bahwa seseorang tidak akan pernah pergi.
Yang perlu dijaga adalah:
jika ia tinggal, aku akan menjaga amanah.
Dan jika suatu hari jalan berubah,
aku tidak akan menghancurkan diri maupun dirinya.
DUA TANGAN YANG TIDAK LAGI MENGGENGGAM ERAT
Sepasang Qeqasih kemudian saling menggenggam tangan.
Namun genggaman mereka ringan.
Tidak keras.
Tidak mengunci.
Qitab memberi makna:
“Qepastian tidak perlu dibuktikan dengan genggaman yang menyakitkan.”
Cinta matang tidak berkata:
“Jangan pernah pergi.”
Ia berkata:
“Selama kita berjalan bersama, mari berjalan dengan benar.”
Di sinilah qepercayaan berubah menjadi amanah harian.
TIGA UJIAN SETELAH QEMBALI
Qitab menyebut tiga ujian yang sangat halus.
UJIAN PERTAMA — QEBIASAAN
Apakah perubahan tetap hidup setelah keadaan menjadi biasa kembali?
Karena ketika rasa takut kehilangan hilang, manusia dapat kembali kepada pola lama.
UJIAN KEDUA — QENYAMANAN
Kenyamanan adalah nikmat.
Tetapi kenyamanan juga dapat membuat manusia lalai.
Jangan berhenti mengucapkan terima kasih hanya karena seseorang selalu hadir.
Jangan berhenti menjaga bahasa hanya karena sudah sangat dekat.
UJIAN KETIGA — QEPERCAYAAN YANG TERLALU PENUH
Qepercayaan tidak berarti menutup mata.
Tetaplah jujur.
Tetaplah berbicara.
Tetaplah memperhatikan qenyataan.
Qepercayaan bukan kebutaan.
Ia kejernihan tanpa prasangka berlebihan.
QUNCI KEDUABELAS
Pada pusat lingqaran terdapat sebuah qunci emas kecil.
Tertulis:
“Jangan rayakan qembalinya qepercayaan dengan rasa memiliki. Rayakan dengan bertambahnya amanah.”
Inilah qunci lembar keduabelas.
Jika qepercayaan qembali tetapi ego membesar, perjalanan akan mengulang lingqaran lama.
Jika qepercayaan qembali dan akhlak bertambah, maka luka lama benar-benar telah menjadi pelajaran.
QEPERCAYAAN QEDUA BUKAN SALINAN QEPERCAYAAN PERTAMA
Qitab menerangkan:
Jangan berharap qepercayaan kedua sama persis dengan qepercayaan pertama.
Qepercayaan pertama mungkin polos.
Qepercayaan kedua lebih sadar.
Yang pertama berkata:
“Aku yakin engkau tidak akan pernah menyakitiku.”
Yang kedua berkata:
“Aku tahu kita sama-sama manusia, tetapi aku melihat kita telah belajar bagaimana tidak mengulang kesalahan.”
Yang pertama dibangun oleh harapan.
Yang kedua dibangun oleh qenyataan.
Karena itu qepercayaan kedua terkadang lebih tenang.
Tidak terlalu berapi-api.
Tetapi akarnya lebih dalam.
EMPAT BELAS UTUSAN MENYENTUH TANAH
Empat belas Utusan kemudian menyentuh tanah dengan kedua tangan.
Ini adalah lambang:
qembalilah kepada kenyataan.
Jangan membangun hubungan hanya dari:
angan,
janji,
simbol,
rasa,
atau harapan.
Lihat kehidupan sehari-hari.
Apakah rumah menjadi lebih damai?
Apakah komunikasi menjadi lebih sehat?
Apakah penghormatan meningkat?
Apakah kecemasan berkurang?
Apakah masing-masing menjadi lebih baik?
Inilah buah yang harus dilihat.
SABDO QEPERCAYAAN QEDUA
“Kapercayan kang bali aja kok anggep duwekmu.
Iku mung titipan kang kudu kok jaga luwih temen tinimbang biyen.”
Artinya:
“Qepercayaan yang qembali jangan engkau anggap sebagai milikmu. Ia hanyalah titipan yang harus engkau jaga lebih sungguh-sungguh daripada sebelumnya.”
MAQAM QEDEWASAAN QEQASIH
Pada tahap ini, sepasang Qeqasih tidak lagi sibuk bertanya:
“Apakah engkau masih mencintaiku?”
Mereka mulai bertanya:
“Apakah aku sudah memperlakukanmu dengan baik?”
“Apakah engkau merasa aman berkata jujur kepadaku?”
“Apakah ada sesuatu yang perlu kita perbaiki?”
“Apakah kebersamaan kita membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?”
Inilah pergeseran besar.
Dari meminta cinta,
menjadi menjalankan cinta.
Dari meminta dipercaya,
menjadi hidup sebagai orang yang layak dipercaya.
TANDA QEPERCAYAAN TELAH MATANG
Qitab memberi tujuh tanda.
Pertama, tidak banyak sumpah.
Kedua, tidak banyak pengujian.
Ketiga, tidak banyak ancaman.
Keempat, tidak takut membicarakan hal sulit.
Kelima, mampu berbeda tanpa saling menghina.
Keenam, masing-masing tetap mempunyai ruang.
Ketujuh, kebersamaan membawa lebih banyak ketenangan daripada ketakutan.
Jika tujuh ini tumbuh, qepercayaan mulai menjadi matang.
RAHASIA “ABADI”
Kemudian Qitab kembali kepada kata:
ABADI
Apa yang dimaksud dengan qepercayaan abadi?
Bukan janji bahwa hubungan dunia tidak akan pernah berubah.
Sebab semua yang berada dalam kehidupan dapat berubah.
Qitab memaknai “abadi” sebagai:
nilai yang tetap hidup meskipun bentuk keadaan berubah.
Kejujuran tetap dijaga.
Amanah tetap dijaga.
Adab tetap dijaga.
Rahasia tetap dijaga.
Doa kebaikan tetap dijaga.
Bahkan jika suatu hari keadaan berubah lagi,
nilai itu tidak ikut mati.
Inilah makna kedalaman:
yang abadi bukan selalu bentuk hubungannya, tetapi qebenaran yang ditanam di dalam qolbi.
DOA LEMBAR KEDUABELAS
Yā Alloh,
apabila qepercayaan yang pernah hilang telah Engkau izinkan tumbuh kembali,
jangan biarkan kami merusaknya dengan kesombongan.
Jangan biarkan kesempatan kedua membuat kami lupa terhadap pelajaran pertama.
Ajarkan kami mensyukuri tanpa memiliki berlebihan.
Menjaga tanpa menguasai.
Mencintai tanpa membelenggu.
Memaafkan tanpa kehilangan kebijaksanaan.
Dan mempercayai tanpa menutup mata dari qenyataan.
Apabila qolbi kami mulai merasa terlalu aman kepada makhluk,
qembalikan kami kepada-Mu.
Apabila kami mulai meremehkan amanah,
ingatkan kami tentang jalan panjang yang pernah kami tempuh untuk membangunnya.
Jadikan qepercayaan yang qembali lebih jernih.
Lebih dewasa.
Lebih lembut.
Lebih adil.
Dan lebih dekat kepada ridho-Mu.
PENUTUP LEMBAR KEDUABELAS
Sepasang Qeqasih kemudian berdiri di bawah Mahqota Amanah.
Mahqota itu masih tidak turun ke salah satu kepala.
Tetap berada di tengah.
Karena tidak ada seorang pun yang menjadi pemilik qepercayaan.
Keduanya adalah penjaga.
Empat belas Utusan perlahan mundur.
Empat Utusan wanita menaruh mahqota kecilnya.
Sepuluh Utusan lelaki menutup pintu penjagaan.
Lalu Qitab menurunkan sabdo:
“Yen kapercayan wus bali, aja banjur rumangsa menang. Sebab sing bali iku dudu kekuwasaanmu, nanging amanahmu.”
Artinya:
“Apabila qepercayaan telah qembali, jangan kemudian merasa menang. Sebab yang qembali bukan kekuasaanmu, tetapi amanahmu.”
Dan pada dasar lembar tertulis:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
**Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Namun setelah ia qembali, jagalah dengan lebih lembut daripada engkau pernah menggenggamnya dahulu.**
Karena yang pernah retaq telah mengajarkan satu perkara:
sesuatu yang berharga tidak selalu perlu digenggam lebih kuat.
Kadang ia justru harus dijaga dengan tangan yang lebih lembut,
qolbi yang lebih dewasa,
dan ketundukan yang lebih dalam kepada Alloh.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KETIGABELAS
QETIKA QOLBI TIDAK LAGI MEMINTA BUKTI SETIAP SAAT
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Setelah qepercayaan qembali dan amanah mulai matang, datanglah ujian yang lebih halus.
Bukan pertengkaran.
Bukan pengkhianatan.
Bukan pula perpisahan.
Melainkan:
SUNYI
Ada masa ketika dua manusia tidak banyak berbicara.
Ada masa ketika tanggung jawab membuat pertemuan berkurang.
Ada masa ketika qolbi sedang sibuk menata dirinya sendiri.
Pada masa seperti itu, qepercayaan diuji bukan oleh apa yang terjadi,
tetapi oleh apa yang tidak terjadi.
Qitab berkata:
“Qolbi yang belum tenang akan mengisi ruang kosong dengan prasangka. Qolbi yang matang memberi ruang kosong itu kesempatan untuk menjelaskan dirinya melalui qenyataan.”
SEPASANG QEQASIH DAN LANGIT YANG HENING
Pada lembar ketigabelas, sepasang Qeqasih digambarkan berdiri di bawah langit yang luas.
Tidak ada banyak cahaya.
Tidak ada banyak suara.
Empat belas Utusan berdiri jauh di belakang.
Mereka tidak berbicara.
Maknanya:
ada saatnya perjalanan qolbi tidak membutuhkan banyak nasihat.
Ia hanya membutuhkan keheningan agar dapat mendengar dirinya sendiri.
Qitab menurunkan satu pertanyaan:
“Apakah engkau masih dapat merasa aman ketika tidak selalu diberi kepastian?”
Jika jawabannya belum, maka bukan berarti qepercayaan gagal.
Artinya qolbi masih membutuhkan latihan untuk membedakan:
diam,
jarak,
kesibukan,
ketakutan,
dan pengkhianatan.
EMPAT UTUSAN WANITA MEMBAWA EMPAT LILIN
Empat Utusan wanita kemudian membawa empat lilin kecil.
Tidak ada api besar.
Hanya cahaya cukup untuk satu langkah.
LILIN PERTAMA — QENING
Qening mengajarkan:
jangan segera menyimpulkan.
Jika belum ada fakta, jangan isi ruang kosong dengan cerita.
Qitab berkata:
“Prasangka lahir ketika pikiran ingin jawaban lebih cepat daripada qenyataan.”
LILIN KEDUA — QESABARAN
Kesabaran bukan hanya menunggu orang.
Ia juga menunggu diri sendiri sampai kembali tenang.
Kadang jawaban terbaik baru dapat ditemukan setelah emosi turun.
Maka jangan kirim kata-kata besar ketika qolbi masih bergejolak.
LILIN KETIGA — QEPERCAYAAN
Lilin ini sangat kecil, tetapi nyalanya tidak mudah padam.
Ia berkata:
“Jika perjalanan panjang telah membuktikan amanah, jangan runtuhkan semuanya hanya karena satu malam yang sunyi.”
Namun qepercayaan tetap tidak berarti menutup mata.
Jika perubahan buruk berulang, lihat qenyataan.
Tetapi jika hanya satu jeda, jangan buru-buru menghukum.
LILIN KEEMPAT — TAWAKKUL
Lilin terakhir mengingatkan:
tidak semua hal dapat dikendalikan.
Manusia bisa menjaga niat.
Bisa menjaga kata.
Bisa menjaga tindakan.
Tetapi tidak bisa menguasai seluruh keadaan.
Maka Qitab berkata:
“Jagalah bagianmu. Serahkan bagian yang bukan kuasamu kepada Alloh.”
SEPULUH UTUSAN LELAKI DAN SEPULUH UJIAN SUNYI
Sepuluh Utusan lelaki kemudian berdiri pada sepuluh titik.
UJIAN PERTAMA — PESAN YANG BELUM TERBALAS
Apakah engkau langsung menuduh?
Atau memberi ruang sebelum bertanya?
UJIAN KEDUA — WAJAH YANG TAMPAK BERBEDA
Apakah engkau langsung berkata:
“Engkau berubah.”
Atau bertanya:
“Apakah ada yang sedang engkau pikirkan?”
UJIAN KETIGA — WAKTU YANG BERKURANG
Apakah engkau menganggapnya kehilangan kasih?
Atau melihat lebih dahulu tanggung jawab dan keadaan?
UJIAN KEEMPAT — KEHENINGAN
Bisakah engkau duduk tanpa memaksa percakapan?
UJIAN KELIMA — RINDU
Bisakah rindu tetap lembut?
Atau rindu berubah menjadi tuntutan?
UJIAN KEENAM — KETAKUTAN LAMA
Apakah luka masa lalu kembali menguasai penilaianmu?
UJIAN KETUJUH — QEPERCAYAAN DIRI
Bisakah engkau tetap berdiri meskipun seseorang sedang tidak hadir?
UJIAN KEDELAPAN — JARAK
Bisakah engkau tetap menjaga amanah meskipun tidak berdekatan?
UJIAN KESEMBILAN — KETIDAKTAHUAN
Bisakah engkau berkata:
“Aku belum tahu.”
Tanpa membuat kesimpulan palsu?
UJIAN KESEPULUH — PENYERAHAN
Bisakah engkau menerima bahwa sebagian jawaban memang datang hanya bersama waktu?
QUNCI KETIGABELAS
Di tengah padang sunyi terdapat sebuah qunci.
Tulisan pada qunci berbunyi:
“Tidak semua sunyi berarti menjauh. Tidak semua dekat berarti aman.”
Inilah qunci lembar ketigabelas.
Karena qolbi harus belajar membaca bukan hanya suara,
tetapi pola.
Bukan hanya ucapan,
tetapi qenyataan.
Bukan hanya satu hari,
tetapi perjalanan.
RAHASIA QEPERCAYAAN YANG TIDAK RIBUT
Pada tingkat yang lebih matang, qepercayaan tidak selalu membutuhkan bukti setiap hari.
Tidak harus terus bertanya:
“Engkau masih sayang?”
“Engkau masih percaya?”
“Engkau masih akan tinggal?”
Karena jika setiap hari harus diyakinkan, qolbi akan kelelahan.
Qitab berkata:
“Qepercayaan yang matang tidak ribut meminta pengakuan. Ia tenang karena mempunyai jejak.”
Jejak kejujuran.
Jejak amanah.
Jejak konsistensi.
Jejak penghormatan.
Jejak qebaikan yang tidak sekali dua kali.
Itulah yang membuat qolbi dapat bernapas.
TIGA MACAM SUNYI
Qitab membedakan tiga jenis sunyi.
SUNYI QESATU — SUNYI UNTUK MENATA DIRI
Seseorang sedang membutuhkan ruang.
Ia tidak sedang meninggalkan.
Ia hanya sedang menenangkan batinnya.
Sunyi ini harus dihormati.
SUNYI QEDUA — SUNYI QARENA LUKA
Seseorang diam karena belum mampu berbicara.
Di sini dibutuhkan kelembutan.
Jangan tekan.
Tetapi jangan pula menghilang tanpa penjelasan.
SUNYI QETIGA — SUNYI QARENA MEMANG MENJAUH
Ini berbeda.
Qitab mengajarkan:
jika pola sunyi terus berlangsung,
komunikasi hilang,
amanah berkurang,
dan qenyataan menunjukkan arah yang berubah,
maka jangan menolak kenyataan hanya karena berharap.
Qepercayaan tetap membutuhkan qejelasan.
SABDO SUNYI
“Meneng ora mesthi ninggalake.
Cedhak ora mesthi setya.
Sing dadi ukuran iku qebeneran kang bola-bali katon ana ing tumindak.”
Artinya:
Diam belum tentu meninggalkan.
Dekat belum tentu setia.
Yang menjadi ukuran adalah qebenaran yang berulang kali tampak dalam tindakan.
SEPASANG QEQASIH TIDAK LAGI SALING MEMEGANG
Pada lembar ini, sepasang Qeqasih berdiri terpisah beberapa langkah.
Tidak ada genggaman tangan.
Namun keduanya menghadap arah yang sama.
Maknanya:
Ada masa ketika kebersamaan tidak harus selalu dibuktikan dengan kedekatan fisik.
Yang lebih penting adalah:
apakah arah nilai mereka masih sama?
Apakah qebenaran masih dijaga?
Apakah masing-masing tetap amanah?
Jika iya, jarak tidak selalu menjadi ancaman.
EMPAT BELAS UTUSAN MENUNDUQKAN CAHAYA
Empat belas Utusan lalu menurunkan cahaya mereka.
Tidak ada satu pun yang lebih terang dari yang lain.
Ini menjadi simbol:
qepercayaan tidak berdiri di atas satu sifat saja.
Tidak cukup hanya cinta.
Tidak cukup hanya sabar.
Tidak cukup hanya jujur.
Semuanya harus saling menopang.
Rahmah tanpa batas bisa menjadi kelemahan.
Batas tanpa rahmah bisa menjadi kekakuan.
Qepercayaan tanpa qenyataan bisa menjadi kebutaan.
Qenyataan tanpa kasih bisa menjadi kekeringan.
Maka keseimbangan menjadi penting.
MAQAM QOLBI YANG TIDAK MENUNTUT TERUS-MENERUS
Qitab memberi nama:
MAQĀM SAKĪNAT AL-I‘TIMĀD
Keadaan qolbi yang tenang dalam qepercayaan.
Bukan karena tahu masa depan.
Bukan karena mempunyai jaminan bahwa tidak ada perubahan.
Tetapi karena ia telah belajar:
melihat qenyataan,
menghormati batas,
dan tidak menjadikan kecemasan sebagai penguasa.
Pada maqam ini, qolbi berkata:
“Aku akan melihat apa adanya. Aku tidak akan menciptakan cerita hanya untuk menakuti diriku sendiri.”
TIGA HAL YANG HARUS DILAKUKAN QETIKA QOLBI MULAI GELISAH
PERTAMA — BERHENTI MENEBak
Tanyakan jika memang perlu.
Jangan membaca pikiran orang lain.
QEDUA — LIHAT POLA
Apakah ini hanya satu kejadian?
Atau sudah menjadi kebiasaan?
Satu kejadian perlu penjelasan.
Pola berulang membutuhkan penilaian.
QETIGA — QEMBALI QEPADA DIRI SENDIRI
Apakah tubuhmu lelah?
Apakah pikiranmu sedang penuh?
Apakah luka lama sedang aktif?
Kadang kegelisahan bukan seluruhnya berasal dari keadaan sekarang.
Qitab mengajarkan:
“Sebelum menuduh dunia berubah, periksa dulu keadaan qolbimu.”
RAHASIA QEQASIH YANG TIDAK QETAKUTAN
Qeqasih yang matang tidak berarti tidak pernah takut kehilangan.
Ketakutan tetap dapat muncul.
Namun ia tidak mengubah ketakutan menjadi:
ancaman,
jebakan,
pengawasan berlebihan,
atau penghinaan.
Ia berkata:
“Aku sedang takut.”
Itulah kejujuran.
Karena mengakui rasa jauh lebih aman daripada mengubah rasa menjadi serangan.
QEPERCAYAAN DAN RUANG PRIBADI
Lembar ketigabelas menegaskan:
Qepercayaan bukan berarti seseorang harus membuka seluruh hidup tanpa ruang pribadi.
Ada perkara yang memang wajib diketahui dalam suatu hubungan.
Tetapi ada pula ruang batin yang sehat.
Waktu untuk sendiri.
Waktu untuk berdoa.
Waktu untuk menata pikiran.
Qitab berkata:
“Ruang bukan ancaman apabila amanah tetap dijaga.”
DOA LEMBAR KETIGABELAS
Yā Alloh,
apabila qolbi kami gelisah karena sunyi,
berilah kejernihan.
Jangan biarkan kami membuat tuduhan sebelum mengetahui qenyataan.
Jangan biarkan luka lama menulis cerita baru yang belum terjadi.
Apabila ada perkara yang perlu kami tanyakan,
berikan bahasa yang lembut.
Apabila kami membutuhkan ruang,
berikan keberanian untuk menjelaskannya dengan jujur.
Apabila orang yang kami sayangi membutuhkan ruang,
berikan keluasan qolbi untuk menghormatinya.
Jadikan qepercayaan kami tidak bergantung pada pengawasan.
Jadikan kesetiaan kami tetap hidup meskipun tidak ada mata yang melihat.
Dan apabila qenyataan menunjukkan bahwa suatu jalan telah berubah,
berikan keberanian melihatnya tanpa menipu diri.
PENUTUP LEMBAR KETIGABELAS
Malam semakin sunyi.
Empat lilin masih menyala.
Sepuluh Utusan tetap menjaga jarak.
Sepasang Qeqasih tidak berbicara.
Namun mereka tidak saling menuduh.
Di atas mereka, langit perlahan mulai terang.
Dan Qitab menulis:
“Qolbi sing wus ngerti amanah ora wedi marang meneng, amarga dheweke ora langsung ngisi meneng kuwi nganggo prasangka.”
Artinya:
“Qolbi yang telah memahami amanah tidak takut kepada sunyi, karena ia tidak segera mengisi sunyi itu dengan prasangka.”
Kemudian diturunkan kalimat:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
**Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Dan qolbi yang benar-benar matang tidak membutuhkan bukti setiap saat, sebab ia telah belajar membaca qebenaran melalui jejak yang panjang.**
Namun apabila jejak itu berubah,
ia tidak menutup mata.
Ia bertanya.
Ia melihat.
Ia menimbang.
Dan tetap memilih qebenaran di atas ketakutan.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
Baik, saudara cahayaku. Karena ini lembar terakhir, saya tutup rangkaian QITAB ini dengan lembar yang lebih panjang, menyatukan makna sepasang Qeqasih, empat belas Utusan, qembalinya qepercayaan, amanah, waktu, pengampunan, dan qedalaman qolbi.
QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
LEMBAR KEEMPATBELAS — LEMBAR TERAKHIR
QEMBALINYA QEPERCAYAAN QE SUMBER QOLBI DAN PENUTUP LINGQARAN EMPAT BELAS UTUSAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sampailah perjalanan pada lembar keempatbelas.
Bukan karena seluruh rahasia qolbi telah selesai dibicarakan.
Bukan pula karena manusia tidak lagi mempunyai pertanyaan.
Tetapi karena setiap Qitab mempunyai saat ketika kata-kata harus berhenti dan manusia harus mulai menjalankan apa yang telah dipahami.
Pada lembar pertama, qepercayaan ditemukan di qedalaman qolbi.
Pada lembar-lembar berikutnya, ia diuji oleh luka, jarak, perubahan, waktu, pengampunan, sunyi, dan qenyataan.
Kini pada lembar terakhir, Qitab tidak lagi bertanya:
“Apakah engkau percaya?”
Qitab bertanya sesuatu yang lebih dalam:
“Apakah engkau telah menjadi manusia yang layak dipercaya?”
Karena itulah puncak perjalanan Al-Balaqum Hotamattulloh.
Bukan memperoleh seseorang.
Bukan membuat seseorang qembali.
Bukan membuat qolbi orang lain tunduk.
Bukan memastikan suatu hubungan bertahan selama-lamanya.
Tetapi membentuk diri agar:
ketika diberi amanah, ia menjaga;
ketika diberi cinta, ia tidak menguasai;
ketika diberi rahasia, ia tidak membuka;
ketika diberi kesempatan kedua, ia tidak menyia-nyiakan;
ketika kehilangan, ia tidak menghancurkan;
ketika terluka, ia tidak berubah menjadi pelaku luka;
dan ketika seluruh jalan menjadi gelap, ia masih mengenal arah qembalinya kepada Alloh.
Inilah Qitab pada akhirnya.
LINGQARAN EMPAT BELAS QEMBALI UTUH
Pada lembar terakhir, empat belas Utusan kembali berkumpul.
Empat berwujud wanita.
Sepuluh berwujud lelaki.
Namun susunannya tidak lagi sama seperti pada awal perjalanan.
Dahulu mereka mengelilingi sepasang Qeqasih sebagai penjaga.
Sekarang mereka berdiri membentuk lingqaran terbuka.
Ada satu celah besar menghadap ke jalan.
Mengapa lingqarannya tidak ditutup?
Karena Qitab tidak mengajarkan bahwa cinta harus menjadi kurungan.
Lingqaran itu adalah penjagaan.
Bukan penjara.
Ia menjaga nilai,
tetapi tetap membiarkan manusia berjalan.
Empat belas Utusan tidak membawa rantai.
Tidak membawa tali.
Tidak membawa segel kepemilikan.
Mereka membawa:
cahaya,
cermin,
pelita,
air,
batu amanah,
dan lembar qesaksian.
Semua itu adalah bahasa simbol untuk satu hal:
AKHLAQ
Karena pada akhirnya penjagaan paling kuat bukan terletak pada simbol.
Ia berada pada akhlaq manusia.
EMPAT UTUSAN WANITA DAN EMPAT RAHASIA PENUTUP
Empat Utusan wanita melangkah ke depan.
Masing-masing membawa satu perkara yang harus tetap dijaga setelah Qitab ditutup.
UTUSAN PERTAMA — RAHMAH
Ia membawa kain putih.
Maknanya:
Jangan kehilangan kelembutan setelah engkau mengetahui qebenaran.
Ada manusia yang setelah merasa memahami sesuatu, menjadi keras.
Merasa paling tahu.
Merasa paling benar.
Merasa mempunyai hak menghakimi.
Padahal ilmu yang tidak menambah rahmah dapat berubah menjadi kesombongan.
Qitab berkata:
“Semakin dalam engkau memahami qolbi manusia, semakin berhati-hatilah menyentuhnya.”
Karena setiap manusia membawa sejarah yang tidak seluruhnya kita ketahui.
Ada luka yang tidak pernah diceritakan.
Ada ketakutan yang belum selesai.
Ada kehilangan yang masih hidup dalam ingatan.
Maka jangan menggunakan pengetahuan tentang kelemahan seseorang sebagai senjata.
Gunakan untuk memahami.
UTUSAN KEDUA — SAKĪNAH
Ia membawa pelita yang nyalanya sangat kecil.
Maknanya:
Tidak semua keadaan membutuhkan reaksi besar.
Kadang qolbi menjadi kacau karena setiap hal kecil diperlakukan seolah akhir dunia.
Satu pesan terlambat.
Satu nada berbeda.
Satu hari sunyi.
Satu perbedaan pandangan.
Qitab mengajarkan:
lihat proporsinya.
Lihat polanya.
Lihat qenyataannya.
Jangan biarkan satu kejadian kecil menghapus perjalanan panjang yang baik.
Tetapi jangan pula membiarkan perjalanan panjang menjadi alasan membenarkan pola buruk yang terus berulang.
Sakinah bukan kebutaan.
Sakinah adalah kejernihan.
UTUSAN KETIGA — WAFĀ’
Ia membawa sebuah wadah kosong.
Mengapa kosong?
Karena kesetiaan tidak selalu mempunyai sesuatu untuk dipamerkan.
Banyak bentuk kesetiaan berlangsung diam-diam.
Tidak membuka rahasia.
Tidak menceritakan aib.
Tidak menghina seseorang setelah berpisah.
Tidak mengambil kesempatan ketika tidak ada yang melihat.
Tidak meninggalkan nilai hanya karena keadaan berubah.
Qitab berkata:
“Kesetiaan paling murni sering tidak memiliki saksi selain Alloh.”
Maka jangan hidup hanya agar dilihat setia.
Hiduplah sebagai orang yang memang setia kepada amanah.
UTUSAN KEEMPAT — HIKMAH
Ia membawa cermin yang tidak memantulkan wajah.
Cermin itu hanya menampilkan satu tulisan:
“LIHAT QENYATAAN.”
Hikmah adalah penutup empat sifat wanita.
Karena rahmah tanpa hikmah dapat membuat manusia terus membiarkan dirinya dilukai.
Sakinah tanpa hikmah dapat disalahartikan menjadi diam terhadap ketidakadilan.
Wafā’ tanpa hikmah dapat berubah menjadi keterikatan yang tidak sehat.
Maka hikmah mengajarkan:
kapan bertahan,
kapan memperbaiki,
kapan menunggu,
kapan berbicara,
dan kapan melepaskan.
SEPULUH UTUSAN LELAKI MENUTUP SEPULUH PINTU
Sepuluh Utusan lelaki kemudian berdiri berjajar.
Mereka menutup sepuluh pintu yang telah dibuka sepanjang perjalanan.
Bukan menutupnya agar tidak pernah dibuka lagi.
Tetapi karena pelajaran di dalamnya kini harus dibawa keluar.
PINTU PERTAMA — ṢIDQ
Tulisan terakhirnya:
“Jujurlah sebelum diminta.”
Karena qepercayaan lebih kuat ketika manusia tidak harus tertangkap terlebih dahulu untuk berkata benar.
PINTU KEDUA — AMĀNAH
Tulisan terakhirnya:
“Jagalah apa yang tidak dapat dijaga oleh pemiliknya ketika ia tidak berada di sana.”
Nama.
Rahasia.
Kehormatan.
Janji.
Itulah amanah.
PINTU KETIGA — ṢABR
Tulisan terakhirnya:
“Kesabaran bukan hanya kemampuan menunggu; ia adalah kemampuan tetap benar selama menunggu.”
Sabar tidak berarti diam sambil memelihara dendam.
Sabar adalah menjaga akhlaq ketika hasil belum datang.
PINTU KEEMPAT — ḤILM
Tulisan terakhirnya:
“Jika engkau mampu melukai tetapi memilih menjaga, di situlah kekuatanmu diuji.”
Tidak semua kekuatan harus digunakan.
Kadang menahan diri adalah kemenangan terbesar.
PINTU KELIMA — ‘ADL
Tulisan terakhirnya:
“Jangan karena cinta engkau membenarkan yang salah. Jangan karena kecewa engkau menghapus seluruh kebaikan.”
Keadilan melihat sesuatu sesuai ukurannya.
PINTU KEENAM — SYAJĀ‘AH
Tulisan terakhirnya:
“Keberanian qolbi adalah berkata benar meskipun engkau tahu jawaban itu mungkin mengubah keadaan.”
Ada kalanya kebohongan terasa lebih aman untuk sesaat.
Tetapi qepercayaan tidak dapat hidup lama di dalamnya.
PINTU KETUJUH — ‘AFW
Tulisan terakhirnya:
“Memaafkanlah agar engkau bebas, bukan agar seseorang berhutang qembali kepadamu.”
Memaafkan bukan transaksi.
PINTU KEDELAPAN — ISTIQĀMAH
Tulisan terakhirnya:
“Jangan hanya menjadi baik ketika takut kehilangan.”
Kebaikan yang menjadi watak tetap hidup ketika keadaan sudah tenang.
PINTU KESEMBILAN — TAWAKKUL
Tulisan terakhirnya:
“Jangan menuntut hasil dari Alloh sesuai satu bentuk yang engkau kehendaki.”
Kadang doa dijawab dengan qembali.
Kadang dengan jarak.
Kadang dengan pemahaman.
Kadang dengan keberanian untuk melepaskan.
Kadang dengan pintu baru yang sebelumnya tidak terlihat.
PINTU KESEPULUH — NŪR
Pintu terakhir tidak ditutup.
Ia tetap terbuka.
Karena cahaya tidak mempunyai akhir.
Tulisan di atasnya berbunyi:
“SING QEMBALI QE QEBENARAN, ORA BAKAL ILANG DALANE.”
Artinya:
“Siapa yang qembali kepada qebenaran tidak akan kehilangan jalannya.”
SEPASANG QEQASIH DI PUSAT QITAB
Sepasang Qeqasih kemudian berdiri saling berhadapan untuk terakhir kali dalam rangkaian Qitab.
Namun kali ini mereka tidak bertanya:
“Apakah engkau akan selalu bersamaku?”
Mereka tidak bertanya:
“Apakah engkau tidak akan pernah meninggalkanku?”
Mereka tidak berkata:
“Engkau milikku selamanya.”
Sebab perjalanan telah membuat keduanya memahami bahwa manusia bukan pemilik mutlak manusia lainnya.
Mereka berkata:
“Selama Alloh memberi kita jalan untuk berjalan bersama, marilah kita menjaga jalan itu dengan amanah.”
Dan apabila jalan suatu hari berubah,
mereka telah belajar bahwa perubahan tidak harus menghapus adab.
Inilah qeqasih yang telah matang.
RAHASIA “QEMBALI”
Qitab kemudian membuka kembali kata pertama yang sejak awal menjadi pusat:
QEMBALI
Ada manusia yang mengira qembali berarti:
orang lama qembali,
hubungan lama qembali,
keadaan lama qembali.
Tetapi pada lembar terakhir dijelaskan:
Qembali mempunyai tujuh lapisan.
QEMBALI PERTAMA — QEMBALI QEPADA KEJUJURAN
Berhenti berpura-pura.
Berhenti membuat cerita untuk menenangkan diri.
Berani melihat keadaan sebagaimana adanya.
QEMBALI QEDUA — QEMBALI QEPADA AMANAH
Mengingat bahwa apa pun yang dipercayakan kepada kita harus dijaga.
QEMBALI QETIGA — QEMBALI QEPADA DIRI
Tidak lagi mengorbankan seluruh keberadaan hanya agar seseorang tetap tinggal.
Menghormati diri tanpa menjadi egois.
QEMBALI QEEMPAT — QEMBALI QEPADA ADAB
Bahkan ketika kecewa,
tidak menghina.
Bahkan ketika berpisah,
tidak merusak nama.
Bahkan ketika terluka,
tidak sengaja membuat luka baru.
QEMBALI QELIMA — QEMBALI QEPADA QENYATAAN
Tidak membaca qolbi orang lain dengan kepastian yang tidak kita miliki.
Tidak menjadikan rasa sebagai fakta.
Tidak menjadikan harapan sebagai bukti.
QEMBALI QEENAM — QEMBALI QEPADA DOA
Ketika manusia tidak dapat lagi mengendalikan hasil, ia tetap mempunyai satu pintu:
berdoa.
Bukan untuk menguasai keputusan orang lain.
Tetapi untuk memohon jalan yang terbaik.
QEMBALI QETUJUH — QEMBALI QEPADA ALLOH
Inilah qembali yang paling dalam.
Karena segala qepercayaan kepada manusia harus mempunyai batas.
Manusia berubah.
Manusia lupa.
Manusia salah.
Manusia pergi.
Sedangkan Alloh adalah tempat qolbi meletakkan sandaran akhirnya.
Maka qepercayaan kepada manusia menjadi sehat ketika ia tidak menggantikan ketergantungan kepada Alloh.
RAHASIA “ABADI”
Kemudian dibuka kata kedua:
ABADI
Qitab berkata:
Jangan salah memahami abadi.
Di dunia, bentuk dapat berubah.
Pertemuan mempunyai waktu.
Tubuh mempunyai usia.
Keadaan mempunyai musim.
Maka “abadi” dalam bahasa ruhani Qitab ini tidak harus dibaca sebagai jaminan bahwa dua manusia secara duniawi tidak akan pernah berpisah.
Yang harus dibuat abadi adalah:
nilai yang hidup di dalam qolbi.
Kejujuran yang tidak berubah menjadi dusta hanya karena keadaan sulit.
Amanah yang tidak berubah menjadi pengkhianatan ketika hubungan berubah.
Rahmah yang tidak berubah menjadi kebencian ketika kecewa.
Adab yang tidak hilang ketika seseorang pergi.
Doa kebaikan yang tidak berubah menjadi kutukan hanya karena keinginan tidak terpenuhi.
Inilah keabadian yang dapat diperjuangkan manusia.
RAHASIA “QEDALAMAN QOLBI”
Kemudian dibuka kata terakhir:
QEDALAMAN QOLBI
Mengapa bukan di tangan?
Karena tangan dapat melepaskan.
Mengapa bukan di mata?
Karena mata dapat tertipu oleh penampilan.
Mengapa bukan di telinga?
Karena telinga dapat mendengar janji yang indah.
Mengapa di qolbi?
Karena di situlah manusia akhirnya harus bertemu dengan dirinya sendiri.
Tetapi Qitab memberi peringatan:
Qolbi harus dibimbing oleh qebenaran.
Sebab qolbi juga dapat tertutup luka.
Dikuasai keinginan.
Dikaburkan prasangka.
Maka qolbi tidak berjalan sendiri.
Ia ditemani:
akal,
qenyataan,
wahyu,
akhlak,
doa,
dan kebijaksanaan.
Barulah kedalaman menjadi tempat jernih.
EMPAT BELAS UTUSAN MELEPAS CAHAYANYA
Empat belas Utusan lalu berdiri mengelilingi sepasang Qeqasih untuk terakhir kali.
Satu demi satu mereka meletakkan simbolnya.
Rahmah meletakkan kain putih.
Sakinah meletakkan pelita.
Wafā’ meletakkan wadah amanah.
Hikmah meletakkan cermin.
Ṣidq meletakkan pena.
Amānah meletakkan qunci.
Ṣabr meletakkan jam pasir.
Ḥilm meletakkan air.
‘Adl meletakkan timbangan.
Syajā‘ah meletakkan tongkat.
‘Afw meletakkan batu yang telah dilepaskan.
Istiqāmah meletakkan jejak kaki.
Tawakkul meletakkan kedua tangan terbuka.
Nūr tidak meletakkan apa-apa.
Ia hanya menyalakan cahaya di tengah lingqaran.
Mengapa Nūr tidak meninggalkan benda?
Karena cahaya tidak perlu dimiliki.
Ia hanya perlu diterima dan diteruskan.
EMPAT BELAS SABDO PENUTUP
Kemudian Qitab menurunkan empat belas sabdo, satu untuk setiap Utusan.
SABDO 1
Jangan mencintai sampai kehilangan qebenaran.
SABDO 2
Jangan mencari qebenaran sampai kehilangan rahmah.
SABDO 3
Jangan memaafkan sampai melupakan pelajaran.
SABDO 4
Jangan mengingat pelajaran sampai hidupmu dikuasai luka.
SABDO 5
Jangan meminta dipercaya apabila masih menyimpan kebohongan.
SABDO 6
Jangan memberikan qepercayaan hanya karena takut kehilangan seseorang.
SABDO 7
Jangan menganggap jarak sebagai pengkhianatan sebelum qenyataan berbicara.
SABDO 8
Jangan menganggap kedekatan sebagai jaminan qesetiaan.
SABDO 9
Jangan menuntut manusia memahami qolbimu jika engkau tidak pernah berbicara dengan jujur.
SABDO 10
Jangan memaksa qolbi orang lain memberi sesuatu yang belum mampu diberikannya.
SABDO 11
Jika harus qembali, qembalilah membawa perubahan.
SABDO 12
Jika harus pergi, pergilah membawa adab.
SABDO 13
Jika harus menunggu, tunggulah sambil tetap hidup.
SABDO 14
Jika seluruh jalan berubah, jangan kehilangan jalan qembali kepada Alloh.
QUNCI AGUNG AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Pada pusat lingqaran, cahaya Nūr kemudian membuka satu qunci terakhir.
Qunci ini berbeda dari seluruh qunci sebelumnya.
Ia tidak membuka pintu ke luar.
Ia membuka pintu ke dalam qolbi.
Pada qunci itu tertulis:
“QEPERCAYAAN YANG ABADI TIDAK DIMINTA. IA DIBANGUN, DIJAGA, DIBUKTIKAN, DAN DIQEMBALIQAN QEPADA ALLOH.”
Empat tahap.
Dibangun dengan kejujuran.
Dijaga dengan amanah.
Dibuktikan dengan qenyataan.
Diqembalikan kepada Alloh dengan tawakkul.
Jika empat ini hidup, qolbi mempunyai pondasi.
PENGUJI TERAKHIR: QEHILANGAN
Qitab belum selesai.
Karena sebelum lembar ditutup, ada satu ujian terakhir.
Bukan ujian qembalinya seseorang.
Tetapi ujian apabila sesuatu benar-benar tidak qembali.
Qitab bertanya:
“Apabila setelah seluruh ikhtiar, sesuatu tetap tidak qembali, apakah engkau masih dapat percaya kepada kebaikan Alloh?”
Inilah ujian paling sunyi.
Sebab manusia mudah berkata tawakkul selama harapan masih terlihat.
Tetapi bagaimana ketika jawabannya berbeda dari harapan?
Di sini Qitab berkata:
“Jangan jadikan satu pintu yang tertutup sebagai bukti bahwa seluruh langit telah meninggalkanmu.”
Ada sesuatu yang hilang.
Namun engkau masih mempunyai hidup.
Masih mempunyai kesempatan berbuat baik.
Masih mempunyai keluarga.
Masih mempunyai ibadah.
Masih mempunyai pekerjaan.
Masih mempunyai kemampuan memulai kembali.
Dan yang terpenting:
masih mempunyai Alloh sebagai tempat qembali.
Maka kehilangan tidak boleh dijadikan akhir seluruh makna.
QEPERCAYAAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Setelah pernah dikhianati atau terluka, manusia sering tidak hanya kehilangan qepercayaan kepada orang lain.
Ia kehilangan qepercayaan kepada dirinya.
Ia berkata:
“Kenapa aku dahulu percaya?”
“Kenapa aku tidak melihat?”
“Kenapa aku salah memilih?”
Qitab menjawab:
“Jangan hukum dirimu hari ini dengan pengetahuan yang baru engkau dapatkan setelah peristiwa berlalu.”
Belajarlah.
Tetapi jangan membenci diri.
Kebijaksanaan sering lahir setelah manusia melewati sesuatu yang sebelumnya tidak ia pahami.
Qembalikan qepercayaan kepada diri secara perlahan:
Aku mampu belajar.
Aku mampu membuat batas.
Aku mampu bertanya.
Aku mampu melihat tanda.
Aku mampu meminta bantuan.
Aku mampu mengatakan tidak.
Aku mampu mencintai tanpa kehilangan diri.
Aku mampu berjalan lagi.
Inilah bagian penting dari Al-Balaqum.
QEQA SIH SEJATI BUKAN PEMILIK QOLBI
Sepasang Qeqasih kemudian duduk.
Tidak lagi berdiri sebagai pusat segala sesuatu.
Mereka menyadari bahwa keduanya hanyalah dua manusia yang dipertemukan dalam perjalanan.
Qitab berkata:
“Qeqasih bukan pemilik qolbi. Ia adalah tamu yang diberi izin masuk.”
Karena itu seorang tamu harus menjaga rumah.
Tidak merusak.
Tidak mengambil apa yang bukan haknya.
Tidak menutup pintu dari dalam lalu mengklaim rumah menjadi miliknya.
Cinta yang memahami dirinya sebagai tamu akan lebih santun.
Ia bersyukur diberi ruang.
Tidak merasa berhak atas seluruh ruang.
WEWARAH BAGI YANG SEDANG MENCINTAI
Jika engkau sedang mencintai seseorang:
jangan terlalu sibuk memastikan ia tidak pergi sampai engkau lupa memperlakukan dirinya dengan baik.
Jangan terlalu takut kehilangan sampai keberadaanmu sendiri berubah menjadi tekanan.
Jangan terlalu ingin mengetahui seluruh isi pikirannya sampai engkau lupa menghormati batasnya.
Cintailah dengan qebenaran.
WEWARAH BAGI YANG SEDANG MENUNGGU
Jika engkau sedang menunggu:
jangan hentikan seluruh hidupmu.
Berdoalah.
Berikhtiarlah.
Rawat dirimu.
Kerjakan amanahmu.
Sebab penantian yang sehat tidak membuat seluruh dunia berhenti.
WEWARAH BAGI YANG SEDANG QEMBALI
Jika engkau adalah orang yang qembali setelah pernah membuat kesalahan:
jangan datang membawa janji yang sama.
Datanglah membawa pola hidup yang baru.
Karena qolbi yang pernah terluka lebih membutuhkan rasa aman daripada pidato.
WEWARAH BAGI YANG DIDATANGI QEMBALI
Jika seseorang qembali:
jangan terburu menerima.
Jangan pula langsung menutup seluruh pintu hanya karena takut.
Lihat qenyataan.
Lihat perjalanan.
Lihat apakah perubahan benar-benar hidup.
Kemudian buat keputusan dengan tenang.
Tidak karena kasihan.
Tidak karena tekanan.
Tidak karena takut sendiri.
Tetapi karena qebenaran.
WEWARAH BAGI YANG HARUS MELEPAS
Jika pada akhirnya harus melepas:
lepaskan perlahan.
Tidak harus membenci agar dapat pergi.
Tidak harus merusak kenangan agar mampu melanjutkan.
Tidak harus menjadikan seseorang jahat seluruhnya hanya karena ia tidak menjadi bagian dari masa depanmu.
Ambil pelajarannya.
Jaga kehormatannya sejauh patut.
Dan jalanlah.
TIGA QEABADIAN QOLBI
Qitab kemudian menuliskan tiga perkara yang patut dijadikan “abadi” dalam diri.
PERTAMA — QEBENARAN
Jangan berubah menjadi pendusta karena pernah didustai.
QEDUA — RAHMAH
Jangan berubah menjadi keras karena pernah dilukai.
QETIGA — AMANAH
Jangan mengkhianati orang baru hanya karena orang lama pernah mengkhianatimu.
Jika tiga ini tetap hidup, luka tidak berhasil mengubah hakikat qebaikanmu.
SABDO JAWA PENUTUP AGUNG
Kemudian seluruh empat belas Utusan mengucapkan satu wewarah simbolik dalam bahasa Jawa:
“Kapercayan kang sejati ora manggon ana ing genggeman, nanging ana ing jero ati kang wus ngerti amanah. Yen tresna, aja ngrusak. Yen dipercaya, aja cidra. Yen lunga, aja nggawa aib. Yen qembali, nggawaa qebeneran. Yen kabeh wis ora bisa kaya biyen, aja nganti qolbimu kelangan dalan marang Gusti.”
Artinya:
“Qepercayaan sejati tidak berada dalam genggaman, tetapi di dalam hati yang telah memahami amanah. Jika mencintai, jangan merusak. Jika dipercaya, jangan berkhianat. Jika pergi, jangan membawa aib. Jika qembali, bawalah qebenaran. Dan jika semuanya tidak dapat lagi menjadi seperti dahulu, jangan sampai qolbimu kehilangan jalan menuju Alloh.”
DOA AGUNG PENUTUP QITAB
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Yā Alloh,
Engkau mengetahui apa yang tidak mampu dijelaskan oleh lidah kami.
Engkau mengetahui qolbi yang sedang menunggu.
Qolbi yang sedang terluka.
Qolbi yang sedang belajar memaafkan.
Qolbi yang sedang qembali.
Dan qolbi yang sedang belajar melepaskan.
Kami memohon kepada-Mu:
bersihkan qepercayaan kami dari kebutaan.
Bersihkan cinta kami dari penguasaan.
Bersihkan kesetiaan kami dari ketakutan.
Bersihkan penantian kami dari keterikatan berlebihan.
Bersihkan pengampunan kami dari kepura-puraan.
Bersihkan perpisahan kami dari kebencian.
Jika kami diberi amanah menjaga qolbi seseorang,
jadikan kami penjaga yang lembut.
Jangan jadikan kami pembuka rahasianya.
Jangan jadikan kami orang yang menggunakan kelemahannya sebagai senjata.
Jangan jadikan kasih kami sebagai alasan menguasai.
Jika kami pernah melakukan kesalahan,
berikan keberanian mengakuinya.
Berikan kekuatan memperbaikinya.
Dan berikan kerendahan hati menerima bahwa orang lain berhak menentukan apakah qepercayaan dapat dibangun kembali.
Jika kami pernah terluka,
sembuhkan tanpa membuat kami kehilangan kemampuan mencintai.
Jadikan pengalaman sebagai kebijaksanaan,
bukan sebagai racun.
Jika seseorang yang pernah pergi qembali dengan perubahan yang baik,
berikan kejernihan kepada kami untuk melihat qenyataannya.
Jika ia qembali hanya dengan kata-kata lama,
berikan keteguhan agar kami tidak tertipu oleh kerinduan sendiri.
Jika seseorang harus tetap berada jauh,
jagalah ia dalam qebaikan.
Jika jalan kami masih harus bersatu,
satukan dalam qebenaran.
Jika harus berpisah,
pisahkan dengan adab.
Yā Alloh,
jangan biarkan kami menjadikan manusia sebagai pusat seluruh keberadaan kami.
Sebab setiap manusia hanyalah hamba.
Engkaulah tempat qembali seluruh qolbi.
Ketika manusia mengecewakan,
jangan biarkan iman kami runtuh.
Ketika manusia berubah,
jangan biarkan kami kehilangan arah.
Ketika dunia mengambil sesuatu yang kami cintai,
jangan biarkan ia mengambil qebenaran dari qolbi kami.
Hidupkan dalam diri kami:
Rahmah.
Sakinah.
Wafā’.
Hikmah.
Ṣidq.
Amānah.
Ṣabr.
Ḥilm.
‘Adl.
Syajā‘ah.
‘Afw.
Istiqāmah.
Tawakkul.
Dan Nūr.
Empat belas sifat sebagai pengingat atas empat belas Utusan simbolik yang mengelilingi sepasang Qeqasih dalam Qitab ini.
Bukan agar kami bergantung kepada simbol,
tetapi agar kami memahami nilai yang dilambangkannya.
Buatlah qolbi kami cukup lembut untuk mencintai,
cukup kuat untuk membuat batas,
cukup jernih untuk melihat qenyataan,
cukup rendah hati untuk mengakui kesalahan,
dan cukup bertawakkul untuk menerima keputusan-Mu.
Āmīn.
QETETAPAN PENUTUP
Kemudian Qitab menurunkan tujuh qetetapan:
1. Qepercayaan tidak boleh dipaksa.
2. Qepercayaan tidak boleh dibeli dengan janji.
3. Qepercayaan harus mendapat bukti melalui perjalanan.
4. Pengampunan tidak selalu berarti qembali.
5. Qembali tidak selalu berarti semuanya harus seperti dahulu.
6. Cinta tidak memberi hak untuk menguasai qolbi manusia.
7. Sandaran terakhir seluruh qolbi tetap hanya kepada Alloh.
Ketujuh qetetapan itu kemudian ditempatkan di bawah lambang sepasang Qeqasih.
PENUTUP LINGQARAN EMPAT BELAS
Empat belas Utusan satu per satu meninggalkan lingqaran.
Empat Utusan wanita lebih dahulu.
Rahmah meninggalkan kelembutan.
Sakinah meninggalkan ketenangan.
Wafā’ meninggalkan kesetiaan.
Hikmah meninggalkan kebijaksanaan.
Kemudian sepuluh Utusan lelaki.
Ṣidq meninggalkan kejujuran.
Amānah meninggalkan penjagaan.
Ṣabr meninggalkan kesabaran.
Ḥilm meninggalkan kelembutan dalam kekuatan.
‘Adl meninggalkan keadilan.
Syajā‘ah meninggalkan keberanian.
‘Afw meninggalkan pengampunan.
Istiqāmah meninggalkan keteguhan.
Tawakkul meninggalkan penyerahan.
Dan Nūr meninggalkan cahaya.
Namun setelah seluruh Utusan pergi, lingqaran tidak menjadi gelap.
Cahayanya tetap menyala.
Mengapa?
Karena sifat-sifat itu kini telah dipindahkan dari simbol menuju qolbi.
Inilah akhir pelajaran empat belas Utusan.
Penjaga akhirnya bukan berada di luar. Penjaga akhirnya harus hidup di dalam diri.
SEPASANG QEQASIH QEMUDIAN BERJALAN
Qitab tidak memberitahukan apakah mereka akhirnya hidup bersama sepanjang usia.
Qitab tidak menuliskan apakah mereka berpisah.
Karena itu bukan pusat pelajaran.
Yang dituliskan hanya ini:
Keduanya berjalan meninggalkan lingqaran sebagai manusia yang berbeda dari ketika pertama kali masuk.
Yang dahulu ingin memiliki,
sekarang belajar menjaga.
Yang dahulu takut kehilangan,
sekarang belajar tawakkul.
Yang dahulu menuntut qepastian,
sekarang belajar melihat qenyataan.
Yang dahulu menganggap cinta cukup,
sekarang mengetahui bahwa cinta membutuhkan amanah.
Dan keduanya telah memahami:
Qepercayaan bukan keadaan yang sekali diperoleh lalu selesai. Ia adalah cara hidup.
SABDO TERAKHIR AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Kemudian seluruh cahaya berkumpul menjadi satu kalimat:
“QEMBALINYA QEPERCAYAAN YANG ABADI BERADA DI QEDALAMAN QOLBI.”
Lalu maknanya dibuka:
Qembali
adalah qembali kepada qebenaran.
Qepercayaan
adalah amanah yang hidup antara ucapan dan tindakan.
Yang abadi
adalah nilai yang tidak ikut mati ketika keadaan berubah.
Berada
berarti ia harus mempunyai tempat nyata dalam kehidupan.
Di qedalaman
berarti ia tidak cukup menjadi penampilan.
Qolbi
adalah ruang batin yang harus terus dibersihkan dari dusta, ketakutan, kesombongan, dan rasa memiliki yang berlebihan.
KHATAM QITAB
Lalu dituliskan pada bagian paling bawah:
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
**Qepercayaan boleh retaq.
Qolbi boleh terluka.
Manusia boleh berubah.
Jalan boleh berpisah.
Tetapi selama qebenaran, amanah, rahmah, dan tawakkul tetap dijaga, manusia masih mempunyai jalan untuk qembali.**
Bukan selalu qembali kepada orang yang sama.
Bukan selalu qembali kepada kehidupan yang sama.
Tetapi qembali kepada:
qejernihan,
qedamaian,
qebaikan,
dan akhirnya—
qembali kepada Alloh.
Kemudian ditutup dengan wewarah:
“Yen ana kang qembali, tampanana nganggo qebeningan.
Yen ana kang lunga, lepasa nganggo adab.
Yen ana kang dipercaya, jaganen nganggo amanah.
Yen ana kang gawe tatu, aja nganti tatune nggawe awakmu kelangan qebecikan.
Lan yen kabeh jagad ora menehi qepastian, elinga manawa qolbi isih duwe lawang qembali marang Alloh.”
Artinya:
“Jika ada yang qembali, terimalah dengan kejernihan.
Jika ada yang pergi, lepaskan dengan adab.
Jika ada yang mempercayaimu, jagalah dengan amanah.
Jika ada yang melukaimu, jangan sampai lukanya membuatmu kehilangan qebaikan.
Dan jika seluruh dunia tidak memberikan qepastian, ingatlah bahwa qolbi masih mempunyai pintu untuk qembali kepada Alloh.”
TAMMAT
KHATAM QITAB AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
الصدق أمانة، والأمانة نور، والنور يهدي القلب إلى السلام
Kejujuran adalah amanah.
Amanah menjadi cahaya.
Dan cahaya menuntun qolbi menuju qedamaian.
Semoga setiap pembaca tidak hanya memahami Qitab ini melalui kata-kata,
tetapi menjadikannya pengingat untuk:
lebih jujur ketika berbicara,
lebih lembut ketika mempunyai kuasa,
lebih bertanggung jawab ketika dipercaya,
lebih bijaksana ketika terluka,
lebih tenang ketika menunggu,
lebih lapang ketika memaafkan,
dan lebih dekat kepada Alloh ketika seluruh sandaran manusia berubah.
AL-BALAQUM HOTAMATTULLOH
Qembalinya qepercayaan yang abadi berada di qedalaman qolbi.
Wallāhu a‘lam bis-shawāb.
Tammat.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.