QITAB ARZA’AH AL-NISAH
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Pertama — Gerbang Kepulangan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Dengan nama Alloh Yang Maha Menuntun setiap langkah,
Yang menyembunyikan kasih-Nya di balik ujian,
Yang memanggil hamba-Nya melalui kerinduan,
dan Yang membuka pintu kepulangan bagi hati yang telah lama berjalan.
Ketahuilah, wahai hamba yang sedang menempuh perjalanan, bahwa hidup bukan sekadar berangkat dari kelahiran menuju kematian. Hidup adalah perjalanan dari Alloh, bersama pertolongan Alloh, dan pada akhirnya kembali menghadap Alloh.
Manusia sering menyangka bahwa dirinya sedang mencari dunia, mencari pasangan, mencari kemuliaan, mencari ketenteraman, ataupun mencari tempat untuk bersandar. Padahal, jauh di kedalaman qalbinya, ia sedang mencari jalan pulang menuju Rahmatulloh.
Ada perjalanan yang ditempuh oleh kaki.
Ada perjalanan yang ditempuh oleh pikiran.
Ada pula perjalanan yang hanya dapat dilalui oleh hati yang telah dilembutkan.
Perjalanan kaki akan berhenti ketika tubuh merasa lelah.
Perjalanan pikiran akan berhenti ketika jawaban tidak ditemukan.
Namun perjalanan qalbi akan terus berlangsung hingga sang hamba menemukan bahwa tempat kepulangannya bukanlah dunia, melainkan keridhaan Alloh.
Pasal Pertama — Hamba yang Terlupa
Pada awalnya, hati manusia diciptakan dalam keadaan jernih. Ia mengenal kelembutan, merasakan kasih, dan mudah tersentuh ketika nama Alloh disebutkan. Namun ketika perjalanan dunia semakin panjang, debu keinginan mulai menutupi kejernihannya.
Sang hamba mulai mengejar apa yang tampak, lalu melupakan apa yang tidak tampak. Ia menjaga wajahnya di hadapan manusia, tetapi lupa menjaga qalbinya di hadapan Alloh. Ia takut kehilangan dunia, tetapi tidak merasa takut ketika kehilangan ketenangan jiwa.
Maka Alloh membiarkan beberapa pintu tertutup.
Bukan karena Alloh membenci sang hamba, melainkan agar ia berhenti mengetuk pintu makhluk dan mulai mengetuk pintu Rahmatulloh.
Alloh membiarkan sebagian harapan tertunda.
Bukan karena doa tidak didengar, melainkan karena hati sang hamba masih perlu dibersihkan agar mampu menerima jawaban tanpa menjadi sombong.
Alloh membiarkan sang hamba mengalami kehilangan.
Bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk memperlihatkan bahwa segala sesuatu yang berada dalam genggaman manusia dapat terlepas, sedangkan kasih Alloh tidak pernah meninggalkannya.
Pasal Kedua — Panggilan dari Dalam Qalbi
Ketika kesunyian mulai terasa lebih dalam daripada keramaian, ketika air mata jatuh tanpa diketahui sebabnya, dan ketika dunia tidak lagi mampu memenuhi ruang kosong di dalam jiwa, saat itulah panggilan kepulangan mulai terdengar.
Panggilan itu tidak selalu berbentuk suara.
Kadang ia hadir sebagai kegelisahan.
Kadang sebagai kerinduan untuk memperbaiki diri.
Kadang sebagai rasa bersalah setelah melakukan kesalahan.
Kadang pula sebagai keinginan untuk bersujud lebih lama di hadapan Alloh.
Jangan engkau membenci kegelisahan yang membawamu kepada taubat. Sebab tidak setiap ketenangan merupakan rahmat, dan tidak setiap kegelisahan merupakan hukuman.
Ada ketenangan yang membuat manusia terlena.
Ada kegelisahan yang menyelamatkan manusia dari kelalaian.
Apabila kegelisahan membuatmu mengingat Alloh, maka ia adalah utusan rahmat yang mengetuk pintu qalbimu.
Pasal Ketiga — Makna Seorang Pendamping
Dalam perjalanan hidup, Alloh terkadang mempertemukan seorang hamba dengan hamba lainnya. Mereka dipertemukan bukan semata-mata untuk saling memiliki, tetapi untuk saling mengingatkan arah kepulangan.
Laki-laki tidak diciptakan untuk menguasai perempuan.
Perempuan tidak diciptakan untuk kehilangan dirinya di hadapan laki-laki.
Keduanya dipertemukan agar belajar menjaga amanah, menutup kekurangan, merawat luka, dan menguatkan langkah menuju keridhaan Alloh.
Pakaian mereka boleh berbeda.
Jalan hidup mereka boleh tidak sama.
Sifat dan cara berpikir mereka pun boleh berlainan.
Namun apabila qalbi keduanya menghadap kepada Alloh, perbedaan itu tidak menjadi jurang, melainkan menjadi jalan untuk saling menyempurnakan akhlak.
Pendamping sejati bukanlah orang yang menjanjikan kehidupan tanpa kesedihan. Pendamping sejati ialah orang yang tetap mengajak kembali kepada Alloh ketika kesedihan datang.
Ia tidak berkata, “Bersandarlah sepenuhnya kepadaku.”
Namun ia berkata melalui sikapnya:
“Mari kita saling menjaga, tetapi jangan menjadikan satu sama lain sebagai pengganti Alloh.”
Sebab cinta yang tidak diarahkan kepada Alloh dapat berubah menjadi tuntutan. Sedangkan cinta yang diletakkan dalam Rahmatulloh akan tumbuh menjadi kesabaran, kesetiaan, dan doa yang tidak terputus.
Pasal Keempat — Jalan Menuju Rahmatulloh
Jalan kembali kepada Rahmatulloh tidak selalu ditandai oleh perkara luar biasa. Ia sering tersembunyi dalam amal yang sederhana:
Meminta maaf ketika diri merasa benar.
Memaafkan meskipun luka belum sepenuhnya sembuh.
Menahan ucapan yang dapat menyakiti.
Menolong tanpa menuntut balasan.
Bersujud ketika hati sedang hancur.
Dan tetap berbaik sangka kepada Alloh ketika kehidupan belum berjalan sesuai harapan.
Wahai sang hamba, jangan menunggu dirimu menjadi sempurna untuk kembali kepada Alloh. Kepulangan bukan hadiah bagi manusia yang tidak pernah bersalah. Kepulangan adalah jalan bagi manusia yang menyadari kesalahannya lalu mengetuk pintu ampunan.
Datanglah kepada Alloh dengan kelemahanmu.
Datanglah dengan air matamu.
Datanglah dengan kegagalanmu.
Datanglah sekalipun amalmu masih sedikit.
Sebab Alloh tidak menunggu keindahan penampilanmu. Alloh melihat kejujuran qalbi yang ingin berubah.
Pesan Penutup Lembar Pertama
Wahai jiwa yang telah lama berjalan, jangan mengira engkau terlalu jauh untuk pulang. Selama napas masih bergerak, pintu Rahmatulloh belum tertutup.
Jangan berkata:
“Aku terlalu kotor untuk menghadap Alloh.”
Sebab air ampunan-Nya lebih luas daripada seluruh kesalahanmu.
Jangan berkata:
“Aku telah terlalu sering terjatuh.”
Sebab yang dinilai bukan berapa kali engkau jatuh, melainkan berapa kali engkau kembali berdiri dan mengarahkan wajah kepada-Nya.
Maka berjalanlah perlahan.
Tidak perlu terburu-buru untuk terlihat suci.
Cukuplah jujur dalam memperbaiki diri.
Karena pada akhirnya, perjalanan sang hamba bukanlah perjalanan untuk menjadi lebih tinggi daripada manusia lain, melainkan perjalanan untuk menjadi semakin rendah hati di hadapan Alloh.
Doa Pembuka Qitab
Yā Alloh, tuntunlah langkah kami ketika jalan terasa gelap.
Lembutkanlah qalbi kami ketika dunia menjadikannya keras.
Pertemukanlah kami dengan orang-orang yang membawa kami mendekat kepada-Mu.
Ampunilah perjalanan kami yang pernah tersesat,
dan qembalikanlah jiwa kami qe dalam luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Kedua — Jalan yang Dibersihkan oleh Air Mata
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Ketahuilah, wahai hamba yang sedang belajar pulang, bahwa tidak semua air mata merupakan tanda kelemahan. Ada air mata yang menjadi bahasa qalbi ketika lisan tidak sanggup menjelaskan luka. Ada pula air mata yang Alloh izinkan turun untuk membersihkan kesombongan, penyesalan, dan beban yang terlalu lama disimpan.
Air mata yang jatuh karena dunia mungkin akan berhenti ketika keinginan terpenuhi. Namun air mata yang jatuh karena kerinduan kepada Alloh akan meninggalkan kelembutan yang panjang di dalam jiwa.
Maka janganlah engkau merasa hina ketika menangis dalam kesendirian. Bisa jadi, pada saat itulah dinding keras di dalam dirimu sedang diruntuhkan, agar cahaya rahmat dapat memasuki ruang qalbi yang selama ini tertutup.
Pasal Kelima — Luka yang Membuka Pintu
Sebagian manusia mengenal Alloh melalui kebahagiaan. Sebagian lainnya justru mulai bersungguh-sungguh mendekat setelah mengalami kehilangan.
Ada yang kembali kepada Alloh setelah cintanya ditolak.
Ada yang kembali setelah hartanya berkurang.
Ada yang kembali setelah tubuhnya melemah.
Ada yang kembali setelah dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya.
Janganlah segera menyebut setiap luka sebagai hukuman. Sebab terkadang luka hanyalah sebuah pintu yang mengubah arah perjalanan.
Sebelum terluka, manusia mungkin merasa mampu berdiri sendiri. Ia mengira kekuatan berada pada harta, kedudukan, pasangan, keluarga, ataupun pujian manusia. Namun ketika semua sandaran itu berguncang, barulah ia menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung yang benar-benar kokoh selain Alloh.
Luka menjadi berbahaya apabila membuat seseorang membenci kehidupan, menyakiti sesama, atau menjauh dari Alloh. Namun luka dapat menjadi cahaya apabila membuatnya lebih rendah hati, lebih lembut, dan lebih memahami penderitaan orang lain.
Maka jangan bertanya hanya:
“Mengapa luka ini diberikan kepadaku?”
Tetapi bertanyalah pula:
“Akhlak apakah yang sedang Alloh ajarkan melalui perjalanan ini?”
Mungkin luka itu sedang mengajarkan kesabaran.
Mungkin kehilangan sedang mengajarkan keikhlasan.
Mungkin penantian sedang mengajarkan tawakal.
Mungkin kesendirian sedang mengajarkan bahwa Alloh tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Pasal Keenam — Perempuan sebagai Penjaga Rahmat
Dalam perjalanan kehidupan, seorang perempuan sering memikul banyak hal yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Ia menyimpan kecemasan di balik senyuman.
Ia menahan air mata agar keluarganya tidak ikut lemah.
Ia mengalah bukan karena tidak memiliki suara, tetapi karena sedang menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Namun ketahuilah, menjaga bukan berarti membiarkan diri terus disakiti. Kesabaran bukan berarti menerima kezaliman tanpa batas. Kelembutan bukan berarti kehilangan kehormatan.
Seorang perempuan adalah hamba Alloh sebelum ia menjadi istri, ibu, anak, saudari, ataupun pendamping seseorang. Maka kemuliaannya tidak ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh iman, ketulusan, dan akhlaknya di hadapan Alloh.
Apabila ia mencintai, hendaknya cintanya tidak menghapus harga dirinya.
Apabila ia berkorban, hendaknya pengorbanannya tidak membuat dirinya kehilangan hubungan dengan Alloh.
Apabila ia memaafkan, hendaknya maaf itu lahir dari kekuatan qalbi, bukan karena ketakutan untuk ditinggalkan.
Perempuan yang berjalan menuju Rahmatulloh bukanlah perempuan yang tidak pernah menangis. Ia adalah perempuan yang menjadikan tangisnya sebagai doa, lukanya sebagai pelajaran, dan kelembutannya sebagai jalan untuk menebarkan kebaikan.
Pasal Ketujuh — Laki-Laki sebagai Penjaga Amanah
Seorang laki-laki tidak dimuliakan hanya karena suaranya keras, tubuhnya kuat, ataupun kedudukannya tinggi. Kemuliaannya tampak ketika ia mampu menjaga amanah tanpa merendahkan orang yang berada di sisinya.
Kepemimpinan bukanlah hak untuk memerintah sesuka hati. Kepemimpinan adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab ketika orang lain merasa lelah.
Laki-laki yang berjalan menuju Rahmatulloh tidak menjadikan perempuan sebagai bayangan yang harus selalu berada di belakangnya. Ia melihatnya sebagai amanah yang harus dihormati, didengarkan, dan dijaga kehormatannya.
Ia tidak malu meminta maaf.
Ia tidak merasa rendah ketika membantu pekerjaan keluarganya.
Ia tidak menggunakan agama untuk menutupi kekerasan akhlaknya.
Ia tidak menuntut penghormatan tanpa terlebih dahulu memberikan kasih sayang.
Ketegasan tanpa kasih akan melahirkan ketakutan.
Kasih tanpa ketegasan akan kehilangan arah.
Maka pemimpin yang baik adalah ia yang mampu menyatukan keduanya dalam kebijaksanaan.
Apabila seorang laki-laki mencintai karena Alloh, ia tidak hanya menjaga tubuh pasangannya. Ia juga menjaga perasaan, kehormatan, ketenangan, dan jalan ibadahnya.
Pasal Kedelapan — Ketika Dua Hamba Berjalan Bersama
Pernikahan dan kebersamaan bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah permulaan sebuah madrasah panjang bagi dua jiwa yang berbeda.
Di dalamnya, kesabaran akan diuji.
Kejujuran akan ditimbang.
Kesetiaan akan dibuktikan.
Dan ego akan dipertemukan dengan kenyataan.
Dua manusia tidak disatukan agar tidak pernah berselisih. Mereka disatukan agar belajar menyelesaikan perselisihan tanpa saling menghancurkan.
Apabila satu sedang marah, yang lain hendaknya tidak menambah api.
Apabila satu sedang lemah, yang lain hendaknya menjadi tempat berteduh.
Apabila keduanya sedang terluka, hendaknya mereka kembali duduk di hadapan Alloh sebelum mengambil keputusan.
Jangan membawa setiap masalah rumah tangga kepada banyak telinga. Sebab tidak semua pendengar mampu menjaga rahasia, dan tidak semua pemberi nasihat memahami kedalaman persoalan.
Bicaralah dengan jujur.
Dengarkan tanpa memotong.
Bedakan antara kesalahan yang dapat diperbaiki dan kezaliman yang tidak boleh dibiarkan.
Cinta yang dewasa bukan hanya berkata, “Aku membutuhkanmu.”
Cinta yang dewasa berkata:
“Aku akan menjaga diriku agar tidak menjadi sumber luka bagimu, dan aku akan menemanimu menjadi hamba yang lebih dekat kepada Alloh.”
Pasal Kesembilan — Memaafkan Tanpa Qembali Terluka
Memaafkan adalah kemuliaan. Namun memaafkan tidak selalu berarti mengembalikan segala sesuatu seperti semula.
Ada orang yang harus dimaafkan, tetapi tidak lagi diberi ruang yang sama.
Ada hubungan yang dapat disembuhkan.
Ada pula hubungan yang harus diberi batas agar kezaliman tidak berulang.
Qalbi yang bersih bukanlah qalbi yang tidak memiliki batas. Qalbi yang bersih adalah qalbi yang tidak memelihara dendam, tetapi tetap belajar dari pengalaman.
Memaafkan berarti melepaskan racun kebencian dari dalam diri. Ia bukan izin bagi orang lain untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Apabila engkau pernah disakiti, jangan terburu-buru mengambil keputusan ketika amarah sedang memuncak. Tenangkan dirimu. Mintalah petunjuk kepada Alloh. Bicaralah dengan orang bijaksana yang dapat dipercaya.
Jangan membalas luka dengan luka. Sebab ketika engkau membalas dengan cara yang sama, engkau sedang membiarkan kesalahan orang lain menentukan akhlakmu.
Tetaplah baik, tetapi jangan kehilangan kewaspadaan.
Tetaplah memaafkan, tetapi jangan menutup mata terhadap kezaliman.
Tetaplah lembut, tetapi jangan membiarkan kehormatanmu diinjak.
Pasal Kesepuluh — Tanda Seorang Hamba Mulai Pulang
Seorang hamba yang mulai qembali qe Rahmatulloh tidak selalu terlihat dari pakaian ataupun banyaknya perkataan agama.
Tandanya justru hadir dalam perubahan yang sederhana:
Ia mulai berhati-hati menjaga lisannya.
Ia tidak lagi menikmati aib orang lain.
Ia lebih mudah meminta maaf.
Ia mulai mengurangi kesombongan.
Ia semakin takut menyakiti orang yang lemah.
Ia tetap berbuat baik meskipun tidak dipuji.
Ia juga menyadari bahwa ibadah bukan hanya gerakan tubuh, melainkan latihan agar akhlaknya berubah.
Apabila shalatnya belum membuatnya lebih lembut, ia tidak menyalahkan shalat. Ia memeriksa kembali kekhusyukan dan kejujuran dirinya.
Apabila dzikirnya belum menenangkan, ia tidak segera mencari amalan yang lebih banyak. Ia lebih dahulu membersihkan dendam, iri, kebohongan, dan hak manusia yang belum diselesaikan.
Sebab terkadang yang menghalangi cahaya bukan kurangnya bacaan, melainkan beratnya beban yang masih disembunyikan di dalam qalbi.
Wejangan Lembar Kedua
Wahai jiwa yang sedang menata diri, jangan malu dengan masa lalumu apabila engkau telah bersungguh-sungguh memperbaikinya.
Masa lalu adalah tempat mengambil pelajaran, bukan tempat mendirikan rumah.
Engkau tidak harus tinggal selamanya di dalam penyesalan. Taubat yang benar tidak membuat seseorang terus-menerus membenci dirinya. Taubat menjadikannya rendah hati, berhati-hati, dan lebih menyayangi manusia yang juga sedang berjuang.
Jangan merasa lebih suci karena telah menemukan jalan. Sebab siapa pun dapat tersesat apabila Alloh tidak menjaganya.
Dan jangan menghina orang yang masih berjalan perlahan. Bisa jadi langkahnya kecil, tetapi kejujurannya lebih besar daripada orang yang tampak berlari.
Doa Lembar Kedua
Yā Alloh, bersihkanlah qalbi kami dari dendam yang tersembunyi.
Sembuhkanlah luka kami tanpa menjadikan kami keras kepada sesama.
Ajarkanlah kami memaafkan dengan kebijaksanaan,
mencintai tanpa kehilangan kehormatan,
serta menjaga amanah tanpa berlaku zalim.
Apabila kami tersesat dalam cinta dunia,
qembalikanlah kami qe cinta yang mendekatkan kepada-Mu.
Apabila air mata kami jatuh,
jadikanlah ia sebagai pembasuh jalan kepulangan.
Tuntunlah laki-laki dan perempuan di antara kami
agar saling menjaga dalam kebaikan,
saling menutupi kekurangan,
dan berjalan bersama menuju luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Ketiga — Ketika Qalbi Belajar Melepaskan
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang sedang berjalan menuju Rahmatulloh, ketahuilah bahwa tidak semua yang engkau cintai ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Ada manusia yang hanya dihadirkan untuk menemanimu melewati satu musim. Ada keadaan yang diberikan untuk mengajarkan kesabaran. Ada kenikmatan yang dititipkan agar engkau belajar bersyukur sebelum ia kembali kepada Pemiliknya.
Kehidupan tidak selalu meminta manusia untuk memiliki. Terkadang kehidupan justru mengajarkannya untuk melepaskan dengan penuh adab.
Melepaskan bukan berarti tidak mencintai. Melepaskan berarti menyadari bahwa cinta kepada makhluk tidak boleh mengalahkan kepasrahan kepada Alloh.
Barang siapa menggenggam dunia terlalu erat, tangannya akan terluka ketika dunia harus terlepas. Namun barang siapa menggenggamnya sebagai amanah, ia akan mampu mengembalikannya dengan doa ketika waktunya telah tiba.
Pasal Kesebelas — Segala Sesuatu Hanyalah Titipan
Tubuh adalah titipan.
Umur adalah titipan.
Keluarga adalah titipan.
Harta, kedudukan, kecantikan, kekuatan, dan kemampuan pun hanyalah titipan.
Tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik manusia.
Bahkan napas yang sedang engkau gunakan untuk membaca lembar ini adalah pemberian yang dapat berhenti tanpa meminta izin kepada kehendakmu.
Maka janganlah terlalu sombong terhadap sesuatu yang tidak dapat engkau pertahankan selamanya. Jangan merendahkan orang lain hanya karena titipanmu tampak lebih banyak daripada miliknya.
Hari ini seseorang mungkin memiliki kekuatan, tetapi esok tubuhnya dapat melemah. Hari ini seseorang mungkin dikelilingi banyak manusia, tetapi esok ia dapat menjalani kesunyian seorang diri.
Apabila engkau memiliki kelebihan, gunakanlah untuk menguatkan, bukan merendahkan.
Apabila engkau memiliki ilmu, gunakanlah untuk menerangi, bukan untuk memenangkan setiap perdebatan.
Apabila engkau memiliki harta, jadikanlah ia jalan berbagi, bukan tembok yang memisahkanmu dari penderitaan sesama.
Sebab setiap titipan akan ditanya: untuk apakah ia digunakan selama berada di tanganmu?
Pasal Kedua Belas — Melepaskan yang Tidak Lagi Sejalan
Ada hubungan yang dahulu terasa indah, tetapi perlahan menjauhkanmu dari kebaikan. Ada lingkungan yang dahulu membuatmu nyaman, tetapi kemudian mengajarkan kebiasaan yang merusak qalbi.
Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena engkau takut sendirian.
Kesendirian yang mendekatkanmu kepada Alloh lebih baik daripada keramaian yang membuatmu kehilangan arah.
Namun jangan pula menggunakan alasan perjalanan ruhani untuk memutuskan hubungan dengan kasar. Pergilah dengan adab. Jelaskan dengan lembut apabila penjelasan masih memungkinkan. Jangan meninggalkan luka yang sebenarnya dapat dihindari.
Melepaskan tidak harus disertai penghinaan.
Engkau dapat menjauh tanpa membenci.
Engkau dapat berhenti tanpa membalas.
Engkau dapat menutup pintu tanpa menyebarkan aib orang yang pernah berada di dalamnya.
Sebab kemuliaan akhlak seseorang paling jelas terlihat ketika sebuah hubungan berakhir.
Jangan mengubah kenangan baik menjadi buruk hanya karena akhirnya tidak sesuai dengan harapanmu. Ambillah pelajarannya, simpan kebaikannya, dan serahkan sisanya kepada Alloh.
Pasal Ketiga Belas — Qalbi yang Terikat pada Penilaian Manusia
Sebagian manusia hidup bukan untuk menjalankan kebenaran, melainkan untuk menghindari penilaian orang lain.
Ia takut dianggap gagal.
Ia takut terlihat miskin.
Ia takut disebut lemah.
Ia takut pilihannya tidak diterima.
Maka sepanjang hidupnya, ia membangun penampilan agar manusia menyukainya, sementara qalbinya semakin jauh dari ketenangan.
Wahai hamba, manusia akan tetap berbicara, baik engkau berbuat maupun tidak berbuat. Mereka akan menilai berdasarkan apa yang terlihat, sedangkan hanya Alloh yang mengetahui perjuangan yang tersembunyi.
Jangan jadikan pujian sebagai makanan utama jiwamu. Sebab apabila pujian berhenti, engkau akan merasa kehilangan nilai.
Jangan pula menjadikan celaan sebagai penentu langkahmu. Selama engkau telah bermusyawarah, memperbaiki niat, dan tidak melanggar kebenaran, lanjutkan perjalananmu dengan tawakal.
Bukan berarti engkau menolak setiap nasihat. Dengarkanlah nasihat yang jujur. Namun bedakan antara nasihat yang ingin memperbaiki dan ucapan yang hanya ingin merendahkan.
Qalbi yang merdeka bukan qalbi yang tidak peduli kepada siapa pun. Qalbi yang merdeka adalah qalbi yang menimbang perkataan manusia dengan hikmah, tetapi tetap menjadikan keridhaan Alloh sebagai tujuan utama.
Pasal Keempat Belas — Mahkota Seorang Perempuan
Mahkota seorang perempuan bukan hanya perhiasan di kepalanya. Mahkota sejatinya adalah kehormatan yang dijaga, ilmu yang dipelajari, kelembutan yang disertai keteguhan, serta keberanian untuk tetap berada dalam kebenaran.
Kecantikan wajah dapat berubah seiring berjalannya umur. Namun kecantikan akhlak akan semakin bercahaya ketika diuji oleh kehidupan.
Seorang perempuan tidak harus menjadi keras untuk disebut kuat. Ia dapat tetap lembut tanpa menjadi mudah diperdaya. Ia dapat berbicara halus sambil menjaga batas. Ia dapat memaafkan tanpa menyerahkan dirinya kembali kepada perlakuan yang merendahkan.
Jangan mengukur kemuliaan perempuan hanya dari apakah ia telah menikah, memiliki anak, ataupun memperoleh kedudukan tertentu.
Ada perempuan yang sedang menjaga orang tuanya.
Ada yang sedang membesarkan anak seorang diri.
Ada yang sedang berjuang menyembuhkan dirinya.
Ada pula yang sedang menanti ketetapan Alloh sambil tetap menjaga kehormatan.
Masing-masing memiliki jalan pengabdian yang berbeda.
Maka janganlah satu perempuan merendahkan perempuan lainnya hanya karena perjalanan mereka tidak sama. Kemuliaan tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya seseorang mencapai satu keadaan duniawi.
Kemuliaan tumbuh dari ketakwaan, ketulusan, dan manfaat yang ia tinggalkan bagi sesama.
Pasal Kelima Belas — Jubah Seorang Laki-Laki
Jubah kebesaran seorang laki-laki bukan terletak pada pakaian mahal, gelar tinggi, ataupun banyaknya orang yang tunduk kepadanya.
Jubah sejatinya adalah tanggung jawab.
Ia menutupi keluarganya dari rasa takut.
Ia menjaga lisannya dari penghinaan.
Ia mencari rezeki dengan cara yang baik.
Ia tidak menggunakan kekuatan untuk menyakiti yang lemah.
Laki-laki yang kuat bukan hanya yang mampu mengalahkan orang lain, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika amarah memuncak.
Ia berani mengakui kesalahan.
Ia tidak malu belajar.
Ia tidak menyembunyikan kelemahan di balik kekerasan.
Apabila ia menjadi suami, ia tidak menuntut pelayanan sambil melupakan kasih sayang. Apabila ia menjadi ayah, ia tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga memberikan kehadiran, teladan, dan rasa aman.
Apabila ia belum berkeluarga, ia menjaga dirinya agar kelak tidak membawa luka yang belum disembuhkan ke dalam rumah tangga.
Sebab banyak rumah menjadi berat bukan karena kurangnya harta, tetapi karena dua qalbi masuk ke dalamnya sambil membawa luka yang tidak pernah diakui.
Pasal Keenam Belas — Luka dari Masa Lalu
Masa lalu dapat menjadi guru, tetapi ia tidak boleh menjadi penguasa.
Apabila masa lalu terus memerintahkanmu untuk takut, curiga, marah, ataupun membenci dirimu sendiri, maka engkau belum sepenuhnya mengambil hikmah darinya.
Ada luka yang tidak sembuh hanya dengan melupakannya. Ia perlu diakui, dipahami, dan diletakkan di tempat yang benar.
Katakanlah kepada dirimu:
“Peristiwa itu memang pernah terjadi, tetapi ia tidak berhak menentukan seluruh masa depanku.”
Jangan menyalahkan dirimu atas segala sesuatu yang dahulu tidak engkau pahami. Pada masa itu, mungkin engkau mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan dan kekuatan yang engkau miliki.
Belajarlah, lalu perbaiki.
Namun apabila engkau pernah menyakiti orang lain, jangan menggunakan luka masa lalumu sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Mintalah maaf. Perbaiki kerusakan yang masih dapat diperbaiki. Bayarlah hak yang belum tertunaikan.
Penyembuhan bukan sekadar merasa lebih tenang. Penyembuhan juga berarti berani bertanggung jawab atas jejak yang pernah ditinggalkan.
Pasal Ketujuh Belas — Ketika Doa Belum Terjawab
Ada doa yang segera dikabulkan.
Ada doa yang ditunda.
Ada doa yang jawabannya datang dalam bentuk berbeda.
Manusia sering mengira bahwa Alloh tidak menjawab karena hasil yang diterimanya tidak sama dengan keinginannya.
Padahal bisa jadi, apa yang diminta belum baik bagi dirinya. Bisa jadi waktunya belum tepat. Bisa jadi qalbinya sedang dipersiapkan agar sanggup menerima tanpa kehilangan arah.
Jangan jadikan doa sebagai tuntutan kepada Alloh.
Doa adalah pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan-Nya. Ia bukan perjanjian bahwa setiap keinginan harus dipenuhi sesuai waktu yang ditetapkan oleh manusia.
Apabila engkau meminta pasangan, mintalah pula kesiapan untuk menjadi pasangan yang baik.
Apabila engkau meminta rezeki, mintalah qalbi yang tidak diperbudak oleh harta.
Apabila engkau meminta kedudukan, mintalah kekuatan untuk menanggung amanahnya.
Apabila engkau meminta kesembuhan, tempuhlah pula jalan pengobatan yang baik dan pertahankan harapan kepada Alloh.
Doa yang belum terjawab bukan alasan untuk meninggalkan ibadah. Justru pada masa penantian itulah ketulusan seorang hamba sedang diperlihatkan.
Apakah ia menyembah hanya ketika keinginannya dipenuhi, atau tetap bersujud karena menyadari bahwa Alloh memang layak disembah dalam setiap keadaan?
Pasal Kedelapan Belas — Berjalan Tanpa Membandingkan
Setiap hamba memiliki waktu yang berbeda.
Ada yang menikah lebih dahulu.
Ada yang memperoleh keturunan setelah penantian panjang.
Ada yang menemukan jalan hidupnya pada usia muda.
Ada pula yang baru memahami dirinya setelah melewati banyak kegagalan.
Jangan membandingkan lembar hidupmu dengan lembar hidup orang lain. Engkau hanya melihat hasil yang mereka tampilkan, bukan seluruh perjuangan yang mereka sembunyikan.
Perbandingan yang berlebihan akan membuatmu lupa mensyukuri apa yang telah diberikan Alloh.
Apabila melihat orang lain memperoleh nikmat, doakanlah keberkahan baginya. Jangan meminta nikmat itu dicabut hanya agar dirimu merasa lebih baik.
Kebahagiaan orang lain tidak mengurangi bagianmu.
Langit tidak kehilangan cahaya hanya karena banyak bintang bersinar bersamaan.
Demikian pula manusia. Engkau tidak perlu meredupkan orang lain agar dirimu terlihat bercahaya.
Tumbuhlah sesuai jalanmu. Perbaiki langkahmu. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai pengingat bahwa pertolongan Alloh dapat datang melalui banyak jalan.
Pasal Kesembilan Belas — Rumah yang Dibangun di Dalam Qalbi
Sebelum membangun rumah bersama orang lain, bangunlah terlebih dahulu rumah yang tenang di dalam dirimu.
Rumah batin itu memiliki pintu bernama kejujuran.
Dindingnya adalah kesabaran.
Atapnya adalah tawakal.
Cahayanya adalah dzikir dan doa.
Penjaganya adalah akhlak.
Apabila rumah batinmu dipenuhi amarah yang tidak diolah, engkau akan membawa kebisingannya ke mana pun pergi.
Apabila rumah batinmu dipenuhi rasa rendah diri, engkau akan terus meminta orang lain meyakinkan bahwa dirimu berharga.
Apabila rumah batinmu bergantung sepenuhnya kepada perhatian manusia, engkau akan ketakutan setiap kali mereka menjauh.
Maka mulailah menjadi tempat yang aman bagi dirimu sendiri.
Bukan dengan merasa tidak membutuhkan siapa pun, tetapi dengan mengetahui bahwa nilai dirimu tidak hilang hanya karena seseorang tidak memilihmu.
Engkau tetaplah hamba Alloh.
Engkau tetap memiliki jalan.
Engkau tetap dapat tumbuh dan memberi manfaat.
Ketika dua manusia yang telah belajar menata rumah batinnya dipertemukan, mereka tidak saling menuntut untuk menyembuhkan seluruh luka. Mereka saling membantu, namun tetap menyadari bahwa penyembuh sejati adalah Alloh.
Pasal Kedua Puluh — Adab dalam Kepulangan
Semakin dekat seorang hamba kepada Alloh, seharusnya semakin baik pula adabnya kepada manusia.
Jangan mengaku menempuh jalan ruhani apabila ucapanmu kasar, janji mudah dilanggar, dan hak manusia diabaikan.
Jangan merasa tinggi hanya karena memiliki banyak pengalaman batin. Pengalaman tidak selalu menjadi tanda kemuliaan. Ukuran yang lebih nyata adalah perubahan akhlak.
Apakah engkau semakin sabar?
Apakah engkau semakin jujur?
Apakah engkau semakin mampu menahan diri dari menyebarkan aib?
Apakah kehadiranmu membuat orang lain merasa aman?
Apabila tidak, maka perjalananmu masih memerlukan penataan.
Cahaya yang benar tidak menjadikan seseorang haus dipuja. Cahaya membuatnya sadar bahwa segala kebaikan berasal dari Alloh dan setiap kelemahan tetap harus diperbaiki.
Berjalanlah tanpa merasa telah sampai.
Sebab orang yang merasa telah sampai sering berhenti belajar, sedangkan orang yang menyadari kelemahannya akan terus memohon bimbingan.
Wejangan Lembar Ketiga
Wahai hamba yang sedang belajar melepaskan, jangan mengira bahwa setiap kehilangan adalah kehancuran.
Daun yang gugur memberi ruang bagi tunas baru.
Malam yang gelap mempersiapkan datangnya fajar.
Pintu yang tertutup dapat menyelamatkanmu dari jalan yang tidak baik.
Percayalah bahwa sesuatu yang meninggalkanmu tidak selalu membawa seluruh kebaikan pergi bersamanya.
Masih ada Alloh.
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Masih ada jalan yang belum engkau tempuh.
Masih ada rahmat yang belum engkau kenali.
Maka lepaskanlah apa yang memang harus dilepaskan. Namun jangan melepaskan iman, harapan, dan adabmu.
Jangan pula memaksa sesuatu tinggal hanya karena engkau takut menghadapi perubahan. Apa yang ditakdirkan menjadi milikmu tidak akan kehilangan jalan untuk mendatangimu. Dan apa yang tidak ditetapkan bagimu tidak akan menjadi milikmu hanya karena engkau menggenggamnya dengan air mata.
Doa Lembar Ketiga
Yā Alloh, ajarkanlah kami memegang amanah tanpa merasa memilikinya.
Ajarkanlah kami mencintai tanpa melupakan-Mu,
menjaga tanpa mengekang,
serta melepaskan tanpa menyimpan kebencian.
Apabila sesuatu harus pergi dari kehidupan kami,
jagalah iman kami agar tidak ikut pergi bersamanya.
Apabila sesuatu belum Engkau berikan,
peliharalah qalbi kami dari iri dan keputusasaan.
Sembuhkanlah luka masa lalu kami.
Berilah keberanian untuk mengakui kesalahan,
kekuatan untuk memperbaikinya,
dan kelembutan untuk memaafkan diri setelah bertaubat.
Jadikanlah laki-laki dan perempuan di antara kami
sebagai hamba yang menjaga kehormatan,
menunaikan amanah,
serta saling menuntun tanpa saling menguasai.
Bangunlah rumah ketenteraman di dalam qalbi kami.
Terangilah ia dengan iman,
lindungilah dengan adab,
dan qembalikanlah seluruh perjalanan kami
qe dalam luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Keempat — Menjaga Cahaya di Tengah Perjalanan Dunia
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang sedang berjalan menuju Rahmatulloh, ketahuilah bahwa menemukan jalan pulang bukan berarti engkau tidak akan lagi menghadapi ujian.
Justru ketika arah telah ditemukan, engkau akan belajar menjaga langkah agar tidak kembali tersesat.
Ada manusia yang mudah menangis ketika pertama kali mengenal taubat, tetapi perlahan kembali lalai ketika kehidupannya terasa tenang. Ada pula yang rajin berdoa ketika sedang membutuhkan pertolongan, namun mulai melupakan Alloh setelah pintu kemudahan dibukakan.
Maka jangan hanya meminta agar jalan dibukakan.
Mintalah pula qalbi yang mampu bertahan di atasnya.
Sebab memulai perjalanan membutuhkan keberanian, sedangkan menjaganya memerlukan kesabaran, kejujuran, dan istiqamah.
Pasal Kedua Puluh Satu — Cahaya yang Harus Dijaga
Cahaya iman tidak selalu hadir dalam perasaan yang menggetarkan. Terkadang ia tumbuh dalam kesetiaan melakukan kebaikan meskipun qalbi sedang biasa saja.
Jangan mengukur kedekatanmu kepada Alloh hanya dari air mata ketika berdoa, kehangatan ketika berdzikir, ataupun mimpi yang engkau alami.
Perasaan dapat datang dan pergi.
Hari ini engkau mungkin merasakan ketenangan yang dalam. Esok engkau dapat merasa kering, lelah, dan kehilangan semangat.
Namun ibadah tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada perasaan.
Apabila engkau hanya beribadah ketika qalbi terasa nyaman, engkau sedang mengikuti suasana hati, bukan melatih kesetiaan sebagai seorang hamba.
Tetaplah shalat ketika hati terasa ringan.
Tetaplah shalat ketika pikiran sedang penuh.
Tetaplah berdoa ketika jawaban belum terlihat.
Tetaplah berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang memujimu.
Cahaya yang dijaga dengan istiqamah akan menjadi pelita dalam kehidupan. Sedangkan cahaya yang hanya dicari melalui pengalaman luar biasa akan mudah padam ketika keadaan berubah.
Pasal Kedua Puluh Dua — Bahaya Merasa Telah Suci
Salah satu ujian terbesar dalam perjalanan ruhani adalah ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih bersih daripada orang lain.
Ia memandang ibadahnya sebagai bukti bahwa dirinya lebih mulia. Ia melihat kekurangan manusia lain, tetapi lupa memeriksa kesombongan yang tumbuh di dalam qalbinya.
Ketahuilah bahwa dosa yang disesali dapat membawa seseorang menuju taubat, sedangkan amal yang dibanggakan dapat menumbuhkan kesombongan.
Jangan berkata dalam qalbimu:
“Aku lebih baik daripada mereka.”
Engkau tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini masih tersesat akan bertaubat dengan sungguh-sungguh, sedangkan engkau yang merasa telah berada di jalan justru tergelincir oleh rasa tinggi hati.
Apabila melihat orang melakukan kesalahan, jangan membenarkan perbuatannya. Namun jangan pula mencabut kehormatannya sebagai manusia.
Nasihatilah dengan adab.
Doakan dalam kesunyian.
Jangan menjadikan kesalahannya sebagai hiburan dalam percakapan.
Orang yang benar-benar mengenal kelemahan dirinya tidak akan mudah merendahkan orang lain.
Pasal Kedua Puluh Tiga — Ibadah yang Menjadi Akhlak
Shalat seharusnya mengajarkan kedisiplinan.
Puasa mengajarkan pengendalian diri.
Zakat dan sedekah mengajarkan kepedulian.
Dzikir mengajarkan kesadaran bahwa Alloh selalu mengetahui keadaan hamba-Nya.
Apabila ibadah bertambah tetapi akhlak tidak berubah, jangan merasa telah selesai. Periksalah kembali niat dan cara engkau menjalankannya.
Ada orang yang banyak membaca doa, tetapi mudah menyakiti keluarganya.
Ada yang terlihat khusyuk di hadapan manusia, tetapi berlaku kasar kepada orang yang dianggap lebih rendah.
Ada yang berbicara tentang kasih sayang, tetapi tidak mampu mendengarkan keluhan orang terdekatnya.
Ibadah bukan sekadar tanda yang diperlihatkan. Ibadah adalah pendidikan bagi qalbi agar semakin jujur, lembut, bertanggung jawab, dan takut berbuat zalim.
Jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak amalku?”
Bertanyalah pula:
“Akhlak apakah yang telah tumbuh dari amal itu?”
Sebab buah dari pohon yang baik akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pasal Kedua Puluh Empat — Ketika Dunia Datang Mendekat
Tidak semua kekayaan menjauhkan manusia dari Alloh, sebagaimana tidak semua kemiskinan membuat manusia menjadi dekat kepada-Nya.
Yang menentukan adalah keadaan qalbi.
Harta dapat menjadi jalan menuju Rahmatulloh apabila digunakan untuk menolong, menafkahi, membangun kebaikan, dan menjaga kehormatan.
Namun harta dapat pula menjadi hijab apabila membuat seseorang sombong, rakus, dan melupakan hak orang lain.
Apabila dunia datang mendekat kepadamu, jangan segera merasa bahwa engkau lebih dicintai daripada manusia lain.
Nikmat juga merupakan ujian.
Kekurangan menguji kesabaran.
Kelebihan menguji rasa syukur.
Keduanya dapat mendekatkan ataupun menjauhkan, bergantung pada cara manusia menyikapinya.
Maka ketika rezeki bertambah, tambahkanlah rasa syukur.
Ketika kedudukan meningkat, tambahkanlah kerendahan hati.
Ketika manusia mulai menghormati, ingatlah bahwa Alloh mengetahui seluruh kekurangan yang tidak mereka lihat.
Pasal Kedua Puluh Lima — Ketika Dunia Menjauh
Ada masa ketika usaha belum menghasilkan. Pintu yang diketuk tidak segera terbuka. Pertolongan terasa lambat, sedangkan kebutuhan terus mendesak.
Pada masa seperti itu, jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu yang merusak kehormatan dan imanmu.
Rezeki yang lambat datang tidak menjadi alasan untuk menipu.
Kesepian tidak menjadi alasan untuk menerima hubungan yang merendahkan.
Kebutuhan tidak menjadi alasan untuk mengambil hak orang lain.
Bertahan dalam jalan yang baik ketika keadaan sulit adalah bagian dari kemuliaan seorang hamba.
Namun tawakal bukan berarti berhenti berusaha.
Carilah jalan yang halal.
Belajarlah dari kegagalan.
Mintalah pertolongan apabila benar-benar membutuhkan.
Kurangi gengsi yang menghalangi langkah.
Alloh dapat membuka rezeki melalui jalan yang tidak pernah engkau perhitungkan. Namun engkau tetap diperintahkan untuk bergerak, berikhtiar, dan menjaga kejujuran.
Pasal Kedua Puluh Enam — Menjaga Rahasia Rumah Tangga
Setiap rumah memiliki ruang yang tidak boleh dibuka kepada sembarang manusia.
Perselisihan kecil yang terus disebarkan dapat berubah menjadi luka besar. Kekurangan pasangan yang diumumkan kepada banyak orang dapat meruntuhkan kehormatannya meskipun masalah telah selesai.
Maka jagalah rahasia rumah tangga dengan bijaksana.
Namun menjaga rahasia bukan berarti menyembunyikan kekerasan, ancaman, ataupun kezaliman yang membahayakan jiwa.
Apabila engkau mengalami perlakuan yang membahayakan, carilah bantuan dari keluarga yang aman, tokoh yang terpercaya, tenaga profesional, atau pihak yang dapat memberikan perlindungan.
Adab tidak memerintahkan seseorang untuk bertahan dalam bahaya tanpa pertolongan.
Dalam persoalan biasa, selesaikanlah dengan percakapan yang jujur dan tenang. Dalam persoalan berat, jangan takut mencari bantuan yang tepat.
Kebijaksanaan adalah mengetahui mana yang harus disimpan dan mana yang harus disampaikan demi keselamatan serta perbaikan.
Pasal Kedua Puluh Tujuh — Bahasa Cinta yang Menenteramkan
Cinta tidak hanya diucapkan melalui kata-kata indah.
Cinta hadir ketika seseorang mau mendengarkan tanpa meremehkan.
Cinta terlihat ketika janji dijaga, nafkah ditunaikan, kesetiaan dipelihara, dan kelemahan pasangan tidak dijadikan bahan penghinaan.
Ada manusia yang berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi ucapannya penuh ancaman.
Ada yang memberikan hadiah, tetapi tidak memberikan rasa aman.
Ada yang menuntut pengertian, tetapi tidak pernah berusaha memahami.
Maka jangan menilai cinta hanya dari ucapan.
Nilailah dari tanggung jawab, kejujuran, kesediaan memperbaiki kesalahan, dan ketenangan yang tumbuh dalam kebersamaan.
Cinta yang sehat tidak membuat seseorang selalu ketakutan kehilangan dirinya sendiri. Ia memberikan ruang untuk bertumbuh tanpa memutus tali kasih.
Apabila cintamu benar, engkau tidak akan memaksa orang lain meninggalkan jalan kebaikan demi memenuhi seluruh keinginanmu.
Pasal Kedua Puluh Delapan — Perempuan dan Cahaya Kelembutan
Kelembutan perempuan bukanlah kelemahan.
Melalui kelembutan, rumah yang keras dapat menjadi teduh. Anak yang takut dapat merasa aman. Laki-laki yang lelah dapat memperoleh tempat untuk berbagi tanpa kehilangan kehormatan.
Namun kelembutan harus dijaga oleh ilmu dan kebijaksanaan.
Janganlah seorang perempuan memberikan seluruh kasihnya kepada orang yang terus-menerus merendahkan dirinya tanpa menunjukkan perubahan.
Jangan menjadikan pengorbanan sebagai alasan untuk melupakan kesehatan, kehormatan, dan hubungan dengan Alloh.
Perempuan yang baik bukanlah ia yang selalu diam.
Terkadang kebaikan membuatnya harus berbicara.
Terkadang kasih sayang membuatnya harus menegur.
Terkadang menjaga keluarga membuatnya harus menetapkan batas.
Diam dapat menjadi kesabaran. Namun diam juga dapat menjadi tempat kezaliman berkembang apabila digunakan pada keadaan yang salah.
Maka mintalah hikmah agar mengetahui kapan harus bersabar, kapan harus berbicara, dan kapan harus mencari perlindungan.
Pasal Kedua Puluh Sembilan — Laki-Laki dan Cahaya Tanggung Jawab
Seorang laki-laki sering diajarkan untuk terlihat kuat. Karena itu, sebagian menyembunyikan kesedihan, ketakutan, dan kelemahannya hingga semua berubah menjadi amarah.
Ketahuilah bahwa mengakui kelelahan bukanlah kehinaan.
Meminta bantuan bukanlah tanda gagal.
Berbicara jujur tentang beban tidak mengurangi kemuliaan seorang laki-laki, selama ia tidak menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk melalaikan tanggung jawab.
Laki-laki yang matang tidak menggunakan amarah sebagai satu-satunya bahasa.
Ia belajar menjelaskan tanpa mengancam.
Ia belajar menegur tanpa menghina.
Ia belajar memimpin tanpa merampas hak orang lain.
Kekuatan seorang laki-laki tidak hanya terlihat ketika ia menghadapi musuh. Kekuatan sejatinya tampak ketika ia mampu menahan ego di hadapan orang yang mencintainya.
Ia tidak malu memeluk anaknya.
Ia tidak gengsi meminta maaf kepada istrinya.
Ia tidak merasa rendah ketika menerima nasihat yang benar.
Tanggung jawab bukan mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Pasal Ketiga Puluh — Saat Dua Qalbi Sama-Sama Terluka
Dalam sebuah hubungan, terkadang bukan hanya satu pihak yang terluka.
Keduanya mungkin sama-sama membawa kecewa. Keduanya merasa tidak didengar. Keduanya menganggap dirinya telah berkorban lebih banyak.
Apabila masing-masing hanya sibuk membuktikan bahwa dirinya paling menderita, penyelesaian akan semakin jauh.
Berhentilah sejenak.
Jangan berbicara ketika amarah telah menguasai lisan. Ambillah waktu untuk menenangkan diri tanpa menggunakan diam sebagai hukuman.
Setelah qalbi lebih tenang, bicarakan masalahnya, bukan menyerang pribadi.
Katakan:
“Perbuatan itu membuatku terluka.”
Bukan:
“Engkau selalu menjadi manusia yang buruk.”
Pisahkan kesalahan dari harga diri seseorang.
Apabila kesalahan masih dapat diperbaiki, susunlah langkah yang nyata. Jangan berhenti pada permintaan maaf tanpa perubahan.
Maaf memerlukan kejujuran.
Kepercayaan memerlukan waktu.
Perubahan memerlukan bukti.
Dan apabila kedua pihak telah berusaha tetapi persoalan tetap berat, carilah penengah yang adil, matang, dan mampu menjaga rahasia.
Pasal Ketiga Puluh Satu — Jangan Menjadikan Anak sebagai Tempat Luka
Anak bukan tempat orang tua melepaskan amarah.
Ia tidak boleh dijadikan perantara dalam pertengkaran suami istri. Ia juga tidak boleh dipaksa memilih salah satu pihak ketika rumah tangga sedang menghadapi masalah.
Anak mungkin belum mampu menjelaskan ketakutannya, tetapi qalbinya menyimpan suasana rumah dengan sangat dalam.
Ucapan kasar dapat tinggal lebih lama daripada yang disadari orang tua. Perbandingan dengan anak lain dapat melukai harga dirinya. Ancaman yang dianggap sepele dapat menjadi ketakutan yang dibawa hingga dewasa.
Didiklah dengan ketegasan, tetapi jangan merendahkan.
Koreksi kesalahannya tanpa memberi label bahwa dirinya buruk.
Ajarkan tanggung jawab tanpa membuatnya merasa tidak dicintai ketika gagal.
Seorang anak membutuhkan aturan, tetapi ia juga membutuhkan pelukan, penjelasan, kehadiran, dan teladan.
Jangan hanya memintanya menjadi anak yang baik. Tunjukkanlah bagaimana menjadi orang dewasa yang baik.
Pasal Ketiga Puluh Dua — Berbakti Tanpa Membenarkan Kezaliman
Berbakti kepada orang tua adalah kemuliaan. Namun berbakti tidak berarti membenarkan setiap tindakan yang salah.
Apabila orang tua melakukan kekeliruan, sampaikanlah dengan bahasa yang sopan. Jangan menghina, mempermalukan, ataupun membalas dengan kekerasan.
Tetapi apabila ada tindakan yang membahayakan dirimu, pasanganmu, atau anak-anakmu, menetapkan batas dapat menjadi bagian dari tanggung jawab.
Batas bukan selalu tanda kebencian.
Terkadang batas diperlukan agar hubungan tidak semakin rusak.
Tetap doakan mereka.
Tetap jaga adab.
Tetap bantu sesuai kemampuan.
Namun jangan menggunakan nama bakti untuk membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Kebijaksanaan terletak pada kemampuan menjaga dua perkara sekaligus: penghormatan kepada orang tua dan perlindungan terhadap amanah yang berada dalam tanggung jawabmu.
Pasal Ketiga Puluh Tiga — Menolong Tanpa Menguasai
Ketika engkau menolong seseorang, jangan membuatnya merasa bahwa hidupnya kini menjadi milikmu.
Kebaikan yang terus diungkit akan kehilangan keindahannya. Pertolongan yang digunakan untuk mengendalikan dapat berubah menjadi beban.
Berilah karena Alloh.
Bantulah tanpa mempermalukan.
Jangan mengumumkan kesulitan orang yang telah engkau ringankan.
Namun menolong juga memerlukan batas.
Jangan terus-menerus mengambil alih tanggung jawab orang lain hingga ia tidak pernah belajar berdiri.
Pertolongan terbaik bukan selalu memberikan semua yang diminta. Terkadang pertolongan terbaik adalah menemani seseorang memahami jalan keluar, menguatkannya untuk berusaha, dan mengingatkannya agar tidak mengulangi kesalahan.
Kasih sayang harus disertai hikmah agar tidak berubah menjadi ketergantungan.
Pasal Ketiga Puluh Empat — Ketika Pujian Menjadi Ujian
Pujian terasa manis, tetapi ia dapat menjadi ujian yang halus.
Ketika manusia memuji kebaikanmu, jangan biarkan qalbimu merasa bahwa seluruhnya berasal dari kemampuan dirimu sendiri.
Alloh yang memberikan kesempatan.
Alloh yang menutupi kekurangan.
Alloh yang menggerakkan qalbi manusia untuk melihat kebaikanmu.
Maka qembalikanlah pujian kepada rasa syukur.
Jangan berpura-pura merendah hanya agar dipuji lebih banyak. Jangan pula menolak semua penghargaan dengan cara yang menyakiti orang yang memberikannya.
Terimalah dengan sopan, lalu berdoalah agar dirimu menjadi lebih baik daripada penilaian mereka.
Apabila suatu hari pujian berubah menjadi celaan, jangan segera hancur. Penilaian manusia dapat berubah secepat arah angin.
Tetaplah memperbaiki diri berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan sorakan.
Pasal Ketiga Puluh Lima — Kesunyian yang Menumbuhkan
Tidak semua kesunyian harus diisi dengan keramaian.
Ada waktu ketika seorang hamba perlu duduk sendiri untuk memeriksa arah hidupnya.
Dalam kesunyian, ia dapat mendengar kegelisahan yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Ia dapat melihat luka yang terus disembunyikan. Ia dapat mengakui keinginan yang tidak sehat dan niat yang perlu diluruskan.
Namun jangan membiarkan kesunyian berubah menjadi tempat pikiran menyiksa diri.
Gunakanlah untuk bermuhasabah, bukan menghukum dirimu tanpa akhir.
Bacalah doa.
Tuliskan apa yang engkau rasakan.
Beristirahatlah apabila tubuhmu lelah.
Bicaralah kepada orang yang dapat dipercaya apabila beban terlalu berat.
Alloh tidak memerintahkan manusia memikul seluruh beban sendirian.
Kesunyian yang baik akan mengembalikanmu kepada kehidupan dengan qalbi yang lebih jernih, bukan menjauhkanmu dari manusia dan membuatmu kehilangan harapan.
Pasal Ketiga Puluh Enam — Rahmat yang Menjadi Perilaku
Rahmatulloh bukan hanya sesuatu yang engkau harapkan untuk dirimu. Ia juga harus tampak melalui cara engkau memperlakukan makhluk-Nya.
Apabila engkau mengharapkan ampunan, belajarlah memaafkan.
Apabila engkau meminta kelembutan, janganlah berlaku kasar kepada yang lemah.
Apabila engkau memohon rezeki, jangan menutup jalan rezeki orang lain dengan penipuan dan kedengkian.
Apabila engkau meminta qalbi yang tenang, jangan menjadi sebab kegelisahan bagi keluarga dan lingkunganmu.
Seorang hamba yang sedang qembali qe Rahmatulloh akan berusaha menjadi jalan rahmat bagi sekitarnya.
Bukan berarti ia selalu mampu menyelesaikan seluruh masalah. Namun kehadirannya tidak menambah luka.
Lisannya dijaga.
Tangannya tidak digunakan untuk menyakiti.
Kekuasaannya tidak dipakai untuk menindas.
Ilmunya tidak digunakan untuk membingungkan dan menakut-nakuti.
Ia membawa ketegasan ketika dibutuhkan, tetapi ketegasannya tidak kehilangan kasih.
Wejangan Lembar Keempat
Wahai sang hamba, jangan hanya mencari cahaya yang terlihat indah di dalam bayanganmu.
Jadilah cahaya melalui perbuatan yang nyata.
Jadilah cahaya ketika engkau memilih jujur padahal kebohongan tampak lebih menguntungkan.
Jadilah cahaya ketika engkau menahan lisan dari menyebarkan aib.
Jadilah cahaya ketika engkau memperlakukan pasangan, anak, orang tua, pekerja, tetangga, dan orang asing dengan kehormatan.
Sebab perjalanan menuju Alloh tidak hanya terjadi di atas sajadah.
Ia juga terjadi di meja makan, di tempat bekerja, di jalan raya, di tengah perselisihan, dan ketika engkau memiliki kesempatan untuk membalas tetapi memilih jalan yang lebih baik.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memberi manfaat.
Mulailah dari perkara kecil.
Senyuman yang tulus.
Ucapan yang menenangkan.
Janji yang ditepati.
Kesalahan yang diakui.
Hak yang dikembalikan.
Dan doa yang dipanjatkan tanpa diketahui siapa pun.
Itulah jejak-jejak kecil yang menuntun seorang hamba qembali qe Rahmatulloh.
Doa Lembar Keempat
Yā Alloh, jagalah cahaya iman di dalam qalbi kami.
Jangan biarkan ia padam oleh kesombongan,
pujian manusia, cinta dunia, ataupun kelalaian kami sendiri.
Jadikanlah ibadah kami berbuah akhlak yang baik.
Lembutkan lisan kami,
jujurkan perbuatan kami,
dan jauhkan tangan kami dari menyakiti makhluk-Mu.
Apabila Engkau memberi kami kelapangan,
jadikanlah kami hamba yang bersyukur dan suka berbagi.
Apabila Engkau menguji dengan kesempitan,
kuatkanlah kami agar tetap berada di jalan yang halal dan terhormat.
Jagalah rumah-rumah kami dari pertengkaran yang merusak.
Ajarkanlah suami dan istri berbicara dengan kasih,
menjaga rahasia dengan amanah,
serta menyelesaikan luka tanpa saling menghancurkan.
Lindungilah anak-anak kami dari ucapan dan perbuatan
yang meninggalkan luka di dalam qalbi mereka.
Jadikanlah kami teladan yang menghadirkan rasa aman,
bukan ketakutan.
Yā Alloh, ajarkanlah kami menolong tanpa menguasai,
memimpin tanpa menindas,
mencintai tanpa kehilangan adab,
dan menetapkan batas tanpa memelihara kebencian.
Jadikanlah rahmat yang kami mohon
berubah menjadi rahmat yang kami sebarkan.
Tuntunlah setiap langkah kami,
hingga seluruh kehidupan ini benar-benar menjadi perjalanan
sang hamba qembalinya qe Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Kelima — Ketika Amanah Cinta Diuji oleh Waktu
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang sedang menempuh jalan kepulangan, ketahuilah bahwa cinta tidak hanya diuji ketika dua insan dipisahkan. Cinta juga diuji ketika keduanya masih berada dalam satu rumah, tetapi kesibukan, kelelahan, dan perbedaan perlahan menciptakan jarak di antara qalbi mereka.
Pada awal perjumpaan, manusia mudah memberikan perhatian. Namun setelah waktu berjalan, perhatian dapat berubah menjadi kebiasaan, sedangkan kebiasaan yang tidak dirawat dapat kehilangan kehangatannya.
Maka cinta yang benar bukan hanya rasa yang muncul ketika semuanya terasa indah. Cinta adalah amanah yang tetap dijaga ketika wajah mulai menua, keadaan berubah, rezeki mengalami pasang surut, dan kelemahan satu sama lain semakin terlihat.
Cinta tidak harus selalu berbicara dengan kata-kata besar. Ia sering hadir melalui kesediaan untuk tetap duduk bersama, mendengarkan, memperbaiki kesalahan, dan tidak meninggalkan seseorang sendirian ketika hidup sedang terasa berat.
Pasal Ketiga Puluh Tujuh — Waktu yang Membuka Wajah Sejati
Waktu akan memperlihatkan sesuatu yang tidak tampak pada perjumpaan pertama.
Pada awalnya, manusia melihat keindahan. Setelah hidup berjalan, ia mulai melihat kelemahan, kebiasaan buruk, ketakutan, dan luka yang selama ini disembunyikan.
Di sinilah kedewasaan cinta diuji.
Apakah engkau mencintai seseorang hanya karena ia mampu memenuhi harapanmu? Ataukah engkau bersedia mengenalnya sebagai manusia yang juga sedang belajar, terjatuh, dan memperbaiki dirinya?
Menerima kelemahan bukan berarti membenarkan seluruh kesalahan. Cinta tetap membutuhkan batas, nasihat, dan tanggung jawab.
Namun jangan menuntut kesempurnaan dari makhluk, sedangkan dirimu sendiri masih memiliki banyak kekurangan.
Lihatlah pasanganmu dengan kejujuran, tetapi jangan kehilangan kasih sayang.
Apabila ada kekurangan, bicarakanlah untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan. Apabila ada kesalahan, tegurlah perbuatannya tanpa menghancurkan harga dirinya.
Sebab banyak hubungan menjadi retak bukan hanya karena besarnya kesalahan, tetapi karena cara kesalahan itu dibicarakan tanpa adab.
Pasal Ketiga Puluh Delapan — Ketika Perhatian Mulai Berkurang
Ada luka yang tidak berasal dari pengkhianatan besar. Ia tumbuh dari perkara kecil yang terus dibiarkan.
Sapaan yang dahulu hangat menjadi singkat.
Percakapan berubah menjadi perintah.
Keluhan tidak lagi didengarkan.
Kehadiran tubuh masih ada, tetapi qalbi terasa jauh.
Jangan menunggu hubungan menjadi dingin untuk kembali memberikan perhatian.
Tanyakanlah keadaan orang yang berada di sisimu. Dengarkan jawabannya, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara.
Perhatian tidak selalu memerlukan hadiah mahal. Kadang seseorang hanya membutuhkan kehadiran yang sungguh-sungguh, tatapan yang tidak sibuk dengan urusan lain, dan kalimat sederhana:
“Aku melihat perjuanganmu. Terima kasih karena masih bertahan.”
Jangan menganggap pasangan pasti mengetahui isi qalbimu. Kasih sayang perlu disampaikan melalui ucapan dan tindakan.
Namun jangan pula menuntut perhatian tanpa belajar memberikan perhatian.
Hubungan yang sehat bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling banyak berkorban. Ia adalah kesediaan dua manusia untuk saling melihat, saling memahami, dan bersama-sama memperbaiki kekurangan.
Pasal Ketiga Puluh Sembilan — Kelelahan yang Tidak Terucapkan
Sebagian pertengkaran bukan bermula dari kebencian. Ia lahir dari tubuh yang lelah, pikiran yang penuh, dan beban yang terlalu lama disimpan.
Seseorang yang lelah dapat menjadi lebih mudah marah. Ia dapat salah memahami perkataan, kehilangan kesabaran, dan mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.
Karena itu, janganlah setiap perubahan sikap segera ditafsirkan sebagai hilangnya cinta.
Bertanyalah dengan lembut:
“Apakah engkau sedang lelah? Adakah sesuatu yang dapat kita bicarakan?”
Namun kelelahan bukan alasan untuk menyakiti.
Apabila dirimu sedang penuh, mintalah waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara. Jangan menjadikan orang terdekat sebagai tempat membuang seluruh amarah yang engkau bawa dari luar rumah.
Belajarlah mengatakan:
“Aku sedang lelah dan takut berbicara dengan cara yang salah. Berilah aku waktu, setelah itu kita selesaikan dengan baik.”
Kalimat yang jujur dapat menyelamatkan hubungan dari banyak luka yang tidak diperlukan.
Pasal Keempat Puluh — Rezeki dan Kehormatan dalam Rumah Tangga
Rezeki sering menjadi ujian bagi sebuah rumah.
Ketika rezeki lapang, manusia diuji oleh kesombongan dan pemborosan. Ketika rezeki sempit, manusia diuji oleh kesabaran, kejujuran, serta kemampuan untuk tetap saling menghormati.
Jangan mengukur nilai seorang suami hanya dari banyaknya harta yang dapat ia bawa pulang. Lihat pula kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawabnya.
Namun seorang laki-laki tidak boleh menggunakan kalimat, “Yang penting aku sudah berusaha,” sebagai alasan untuk berhenti belajar, bermalas-malasan, ataupun mengabaikan kebutuhan keluarganya.
Demikian pula, jangan mengukur nilai seorang istri hanya dari pekerjaan yang terlihat. Banyak perempuan memikul pekerjaan rumah, mengasuh anak, menjaga emosi keluarga, dan mengatur kebutuhan tanpa memperoleh penghargaan yang cukup.
Hargailah pekerjaan yang menghasilkan uang dan pekerjaan yang menjaga rumah tetap hidup.
Bicarakan keuangan dengan terbuka. Jangan menyembunyikan utang, pengeluaran besar, ataupun keputusan yang dapat memengaruhi seluruh keluarga.
Kejujuran tentang rezeki akan melahirkan rasa aman. Sedangkan rahasia yang terus ditumpuk dapat meruntuhkan kepercayaan.
Apabila keadaan sempit, susunlah kebutuhan berdasarkan kemampuan. Jangan mempertahankan gengsi dengan utang yang tidak dipikirkan.
Rumah sederhana yang dipenuhi kejujuran lebih tenteram daripada rumah megah yang dibangun di atas kebohongan dan kecemasan.
Pasal Keempat Puluh Satu — Ketika Salah Satu Berubah
Dalam perjalanan hidup, manusia dapat berubah.
Ada yang menjadi lebih matang setelah melalui ujian. Ada pula yang berubah menjadi keras karena luka dan kekecewaan.
Ketika seseorang yang engkau cintai berubah, jangan segera merindukan masa lalu tanpa berusaha memahami apa yang telah terjadi.
Mungkin ada beban yang tidak pernah ia ceritakan.
Mungkin ada ketakutan yang tidak mampu ia ungkapkan.
Mungkin pula ia sedang kehilangan arah dan membutuhkan nasihat.
Namun perubahan yang merusak tidak boleh terus-menerus dibenarkan hanya karena cinta.
Apabila seseorang mulai melakukan kekerasan, penipuan, pengkhianatan, ataupun perilaku yang membahayakan, cinta tidak memerintahkanmu untuk diam tanpa batas.
Nasihatilah dengan cara yang baik. Mintalah bantuan dari orang yang aman dan bijaksana. Susunlah batas yang jelas.
Perubahan membutuhkan bukti, bukan sekadar janji.
Jangan tertipu oleh permintaan maaf yang terus diulang tanpa usaha nyata untuk memperbaiki diri.
Taubat memiliki tanda: kesalahan dihentikan, penyesalan hadir, hak diperbaiki, dan jalan menuju kesalahan dijauhi.
Pasal Keempat Puluh Dua — Cemburu dan Rasa Takut Kehilangan
Cemburu dapat muncul karena cinta, tetapi apabila tidak diarahkan dengan kebijaksanaan, ia dapat berubah menjadi prasangka dan pengekangan.
Jangan memeriksa, menuduh, dan mengawasi seseorang tanpa dasar hanya karena dirimu takut kehilangan.
Ketakutan yang tidak disembuhkan akan membuatmu melihat ancaman pada perkara yang sebenarnya biasa.
Namun jangan pula meremehkan kegelisahan pasangan apabila memang ada sikapmu yang melampaui batas.
Jagalah cara berhubungan dengan orang lain. Jangan menyembunyikan percakapan yang seharusnya dapat dijelaskan. Jangan sengaja menumbuhkan kecemburuan untuk menguji rasa cinta.
Kesetiaan bukan hanya tidak melakukan pengkhianatan besar.
Kesetiaan juga berarti menjaga pintu-pintu kecil yang dapat membawa kepada rusaknya kepercayaan.
Apabila cemburu muncul, bicarakanlah dengan jujur tanpa menuduh:
“Aku merasa tidak tenang ketika melihat keadaan itu. Bantulah aku memahaminya.”
Percakapan yang terbuka lebih baik daripada prasangka yang tumbuh dalam diam.
Pasal Keempat Puluh Tiga — Ketika Masa Lalu Datang Kembali
Ada kalanya masa lalu datang mengetuk pintu kehidupan.
Seseorang yang pernah pergi mungkin kembali membawa permintaan maaf. Kenangan lama dapat muncul ketika keadaan sekarang sedang tidak baik.
Pada saat itu, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan kerinduan.
Tanyakanlah kepada dirimu: apakah yang engkau rindukan benar-benar orang itu, ataukah perasaan yang dahulu engkau rasakan bersamanya?
Masa lalu sering terlihat lebih indah karena manusia mengingat bagian yang menyenangkan dan melupakan sebab-sebab yang membuatnya berakhir.
Apabila seseorang kembali dengan niat memperbaiki, lihatlah perubahan pada perilakunya, bukan hanya pada kata-katanya.
Jangan membuka pintu yang sama apabila di baliknya masih terdapat luka yang sama dan tidak ada tanda perubahan.
Namun apabila engkau telah memilih kehidupan baru, jagalah pilihan itu dengan kehormatan. Jangan membandingkan pasanganmu dengan seseorang dari masa lalu.
Cinta yang sekarang tidak boleh terus-menerus membayar kesalahan orang yang dahulu.
Pasal Keempat Puluh Empat — Kesetiaan ketika Tidak Ada yang Melihat
Kesetiaan sejati terlihat ketika tidak ada manusia yang menyaksikan.
Mudah bagi seseorang terlihat baik di hadapan pasangannya. Namun kesetiaan diuji ketika ia memiliki kesempatan untuk berkhianat dan tidak ada orang yang akan segera mengetahuinya.
Pada saat itulah ingatan kepada Alloh menjadi penjaga.
Jangan bermain-main dengan kepercayaan seseorang yang telah menyerahkan qalbinya kepadamu.
Sekali kepercayaan dihancurkan, ia mungkin dapat dibangun kembali, tetapi membutuhkan waktu panjang dan usaha yang sungguh-sungguh.
Apabila engkau mulai tertarik kepada seseorang yang bukan hakmu, jangan memelihara kedekatan tersebut.
Jauhkan pintu yang membawa kepada kerusakan sebelum langkahmu masuk terlalu dalam.
Tidak semua perasaan harus diikuti. Tidak semua ketertarikan harus diperjuangkan.
Kemuliaan seorang hamba tampak ketika ia mampu memilih kebenaran meskipun keinginannya mengajak ke arah lain.
Pasal Keempat Puluh Lima — Meminta Maaf dengan Benar
Permintaan maaf bukan kalimat untuk menghentikan pembicaraan.
Meminta maaf berarti mengakui kesalahan tanpa mencari alasan untuk membenarkan diri.
Jangan berkata:
“Aku meminta maaf, tetapi engkau juga salah.”
Kalimat itu belum sepenuhnya meminta maaf. Ia masih berusaha memindahkan sebagian tanggung jawab.
Katakanlah dengan jelas:
“Aku telah melakukan kesalahan. Aku memahami bahwa perbuatanku melukaimu. Aku akan memperbaikinya melalui langkah ini.”
Setelah meminta maaf, berikan ruang kepada orang yang terluka untuk memulihkan dirinya.
Jangan memaksanya segera kembali percaya hanya karena engkau telah mengucapkan satu kalimat.
Kepercayaan tidak pulih karena tekanan. Ia pulih melalui waktu, keterbukaan, dan perubahan yang terus dijaga.
Apabila engkau yang menerima permintaan maaf, engkau berhak melihat kesungguhan. Memaafkan dapat dilakukan hari ini, tetapi kepercayaan mungkin membutuhkan proses yang lebih panjang.
Pasal Keempat Puluh Enam — Qalbi yang Selalu Ingin Dimengerti
Setiap manusia ingin dimengerti. Namun hubungan akan menjadi berat apabila keduanya hanya menuntut untuk dipahami tanpa belajar memahami.
Jangan berkata:
“Apabila ia benar-benar mencintaiku, seharusnya ia mengerti tanpa perlu aku menjelaskan.”
Manusia tidak mampu membaca seluruh isi qalbi.
Belajarlah menyampaikan kebutuhan dengan jelas dan sopan.
Jangan menunggu hingga kecewa menumpuk, lalu mengeluarkan seluruhnya dalam kemarahan.
Katakanlah apa yang engkau butuhkan sebelum ia berubah menjadi luka:
“Aku membutuhkan waktu bersamamu.”
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Aku merasa tidak dihargai ketika perkataanku diabaikan.”
Kejujuran yang disampaikan dengan adab lebih baik daripada diam yang berubah menjadi dendam.
Namun setelah menyampaikan kebutuhan, dengarkan pula keadaan orang lain. Bisa jadi ia tidak menolakmu, tetapi sedang memiliki keterbatasan yang perlu dipahami bersama.
Pasal Keempat Puluh Tujuh — Cinta kepada Diri yang Tidak Menjadi Kesombongan
Mencintai diri bukan berarti merasa lebih penting daripada semua orang. Mencintai diri berarti menjaga amanah tubuh, qalbi, dan kehidupan yang Alloh titipkan.
Engkau diperbolehkan beristirahat.
Engkau diperbolehkan menetapkan batas.
Engkau diperbolehkan menolak sesuatu yang merusak.
Namun jangan menggunakan kalimat “mencintai diri” sebagai alasan untuk mengabaikan tanggung jawab, melukai orang lain, ataupun menolak setiap nasihat.
Cinta kepada diri yang sehat akan membuatmu semakin bertanggung jawab.
Engkau menjaga kesehatan agar mampu menjalankan amanah. Engkau menyembuhkan luka agar tidak menumpahkannya kepada orang yang tidak bersalah. Engkau belajar berkata tidak agar tidak menyimpan kebencian karena terus memaksakan diri.
Hargailah dirimu tanpa merendahkan manusia lain.
Sebab engkau dan mereka sama-sama hamba yang sedang berjalan menuju Alloh.
Pasal Keempat Puluh Delapan — Ketika Rumah Tidak Lagi Terasa Aman
Rumah seharusnya menjadi tempat kembali, bukan tempat seseorang hidup dalam ketakutan.
Apabila rumah dipenuhi ancaman, penghinaan, kekerasan, atau tekanan yang membahayakan, jangan menganggap semuanya sebagai ujian yang harus ditanggung tanpa pertolongan.
Kesabaran tidak berarti membiarkan keselamatan dirimu dan anak-anak terus terancam.
Carilah bantuan dari orang yang dapat dipercaya. Simpan bukti apabila diperlukan. Dahulukan keselamatan ketika keadaan menjadi berbahaya.
Jangan takut dianggap gagal karena berusaha melindungi diri dari kezaliman.
Kegagalan bukanlah ketika seseorang mencari pertolongan. Kegagalan adalah ketika pelaku kezaliman terus menolak berubah dan menggunakan cinta sebagai alasan untuk menguasai.
Namun jangan mengambil keputusan besar hanya karena pertengkaran sesaat. Bedakan antara masalah yang masih dapat diperbaiki melalui komunikasi dan keadaan yang benar-benar mengancam keselamatan.
Mintalah petunjuk Alloh, gunakan akal yang jernih, dan carilah nasihat dari pihak yang aman serta berilmu.
Pasal Keempat Puluh Sembilan — Menjaga Kehormatan Setelah Berpisah
Tidak semua perjalanan dua manusia berakhir dengan tetap bersama.
Ada perpisahan karena kematian. Ada pula perpisahan karena jalan kehidupan tidak lagi dapat dilanjutkan bersama.
Apabila perpisahan terjadi, jagalah kehormatan orang yang pernah menjadi bagian dari hidupmu.
Jangan menyebarkan rahasianya hanya untuk memenangkan simpati.
Jangan menjadikan anak sebagai alat untuk membalas rasa sakit.
Jangan menghapus seluruh kebaikan hanya karena akhir perjalanan terasa pahit.
Berpisahlah dengan adab sejauh keadaan memungkinkan.
Ambillah hakmu tanpa berlaku zalim. Sampaikan kebenaran apabila dibutuhkan, tetapi jangan menambahkan kebohongan untuk merendahkan.
Sebab engkau tidak hanya bertanggung jawab atas bagaimana sebuah hubungan dimulai. Engkau juga akan dimintai pertanggungjawaban atas cara mengakhirinya.
Pasal Kelima Puluh — Cinta yang Qembali kepada Alloh
Pada akhirnya, setiap cinta harus qembali kepada Alloh.
Engkau mencintai pasangan bukan karena ia sempurna, tetapi karena melalui hubungan itu engkau belajar amanah, sabar, dan menunaikan hak.
Engkau mencintai anak bukan untuk menguasai masa depannya, melainkan untuk membimbingnya hingga mampu menjadi hamba yang bertanggung jawab.
Engkau mencintai orang tua dengan bakti, tetapi tetap menyadari bahwa semua manusia akan qembali kepada Pemilik kehidupan.
Cinta yang qembali kepada Alloh tidak membuat manusia kehilangan akal.
Ia tidak membenarkan kezaliman.
Ia tidak menuntut kepemilikan tanpa batas.
Ia tidak membuat seseorang menyembah makhluk melalui ketergantungan.
Cinta itu menumbuhkan doa:
“Yā Alloh, apabila kebersamaan ini baik, jagalah kami dalam kebaikan. Apabila kami diuji, ajarkanlah kami menyelesaikannya dengan adab. Jangan biarkan cinta kami menjauhkan kami dari-Mu.”
Wejangan Lembar Kelima
Wahai hamba yang sedang menjaga amanah cinta, jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai seseorang.
Selagi masih ada waktu, ucapkanlah terima kasih.
Selagi masih dapat berbicara, selesaikanlah kesalahpahaman.
Selagi pintu perbaikan masih terbuka, turunkanlah ego dan masuklah ke dalamnya.
Namun jangan pula mempertahankan sesuatu yang terus menghancurkanmu hanya karena takut memulai kembali.
Cinta bukan alasan untuk kehilangan kehormatan. Kesetiaan bukan izin bagi kezaliman. Dan memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan yang sama terus diulang tanpa perubahan.
Jagalah cinta dengan ilmu.
Jagalah kedekatan dengan adab.
Jagalah kesetiaan dengan ingatan kepada Alloh.
Sebab cinta manusia akan mengalami perubahan, tetapi Rahmatulloh tetap menjadi tempat qembali bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Doa Lembar Kelima
Yā Alloh, jagalah cinta kami dari kebohongan, pengkhianatan, kesombongan, dan kelalaian.
Ajarkanlah kami memperhatikan sebelum kehilangan,
mendengarkan sebelum menghakimi,
meminta maaf sebelum luka semakin dalam,
dan memperbaiki diri sebelum waktu memisahkan.
Lapangilah rezeki rumah-rumah kami dengan jalan yang halal.
Jauhkanlah kami dari utang yang lahir karena gengsi,
dari harta yang membawa perselisihan,
dan dari rahasia yang meruntuhkan kepercayaan.
Lindungilah laki-laki dan perempuan di antara kami
dari hubungan yang merendahkan kehormatan.
Berilah keberanian untuk menetapkan batas,
kebijaksanaan untuk memperbaiki,
dan kekuatan untuk mencari perlindungan ketika keselamatan terancam.
Apabila kami bersalah, lembutkanlah qalbi kami untuk mengakuinya.
Apabila kami disakiti, jauhkanlah kami dari keinginan membalas dengan kezaliman.
Jadikanlah setiap kebersamaan sebagai jalan ibadah,
setiap perbedaan sebagai tempat belajar,
setiap luka sebagai pintu perbaikan,
dan setiap cinta sebagai jalan qembalinya sang hamba
qe luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Keenam — Menyucikan Niat di Balik Setiap Langkah
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang sedang menapaki jalan kepulangan, ketahuilah bahwa dua perbuatan yang tampak sama dapat memiliki nilai yang berbeda karena niat yang bersemayam di dalam qalbi.
Ada orang yang memberi agar dipuji.
Ada yang diam agar dianggap bijaksana.
Ada yang menolong agar manusia merasa berutang kepadanya.
Ada pula yang beribadah agar dipandang sebagai orang yang dekat dengan Alloh.
Perbuatannya mungkin tampak indah di hadapan manusia, tetapi hanya Alloh yang mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya.
Maka sebelum memperbanyak langkah, periksalah arah.
Sebelum meninggikan bangunan amal, kuatkanlah dasar niat. Sebab amal yang besar dapat menjadi ringan apabila dipenuhi kesombongan, sedangkan amal kecil dapat menjadi mulia ketika dilakukan dengan tulus dan tidak diketahui siapa pun.
Niat bukan hanya sesuatu yang diucapkan sebelum memulai. Ia harus dijaga selama perbuatan berlangsung dan setelah amal selesai.
Pada awalnya engkau mungkin menolong karena Alloh. Namun ketika manusia memuji, qalbimu dapat berubah. Pada awalnya engkau mungkin menyampaikan kebaikan dengan tulus, tetapi ketika banyak orang mulai mendengarkan, dirimu dapat haus pengakuan.
Karena itu, penyucian niat bukan pekerjaan satu kali. Ia adalah penjagaan sepanjang perjalanan.
Pasal Kelima Puluh Satu — Amal yang Tidak Meminta Saksi
Belajarlah memiliki kebaikan yang hanya diketahui oleh Alloh.
Doa yang tidak engkau ceritakan.
Sedekah yang tidak engkau umumkan.
Tangis yang tidak engkau jadikan tanda kesalehan.
Pertolongan yang tidak pernah engkau ungkit kembali.
Amal rahasia menjaga qalbi dari ketergantungan kepada pujian.
Manusia boleh mengetahui sebagian kebaikanmu apabila memang ada manfaat dan bukan untuk membanggakan diri. Namun jangan biarkan seluruh amalmu membutuhkan mata manusia agar terasa berarti.
Apabila tidak ada yang melihat, apakah engkau tetap akan melakukannya?
Apabila tidak ada yang memuji, apakah engkau tetap akan bertahan?
Apabila orang yang engkau bantu bahkan tidak mampu berterima kasih, apakah engkau akan menyesali pertolonganmu?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuka keadaan niatmu.
Jangan takut apabila engkau menemukan bahwa niatmu belum sepenuhnya bersih. Akuilah, lalu perbaiki. Qalbi manusia dapat berubah, tetapi ia dapat terus dilatih untuk qembali kepada ketulusan.
Pasal Kelima Puluh Dua — Kebaikan yang Diungkit Menjadi Beban
Jangan merusak kebaikan dengan mengungkitnya.
Ketika engkau memberikan sesuatu, lalu terus mengingatkan penerimanya, kebaikan itu dapat berubah menjadi beban yang menekan harga dirinya.
Jangan berkata:
“Tanpa diriku, engkau tidak akan menjadi seperti sekarang.”
Sebab bisa jadi engkau hanyalah jalan kecil yang Alloh gunakan untuk menyampaikan pertolongan-Nya.
Apabila engkau telah menolong, qembalikanlah perbuatan itu kepada Alloh.
Jangan menuntut orang lain tunduk kepadamu karena pernah menerima bantuan. Jangan meminta rahasianya, kesetiaannya, atau seluruh hidupnya sebagai balasan.
Pertolongan bukan alat untuk memiliki manusia.
Apabila engkau memberi karena Alloh, balasan manusia tidak lagi menjadi syarat ketenanganmu.
Namun ketulusan juga tidak menghapus kebijaksanaan. Engkau boleh berhenti membantu apabila bantuanmu terus disalahgunakan. Berhenti bukan selalu tanda kebencian; terkadang itu diperlukan agar seseorang belajar memikul tanggung jawabnya sendiri.
Pasal Kelima Puluh Tiga — Ketika Ilmu Menjadi Hijab
Ilmu adalah cahaya apabila membuat seseorang semakin rendah hati. Namun ilmu dapat menjadi hijab apabila membuatnya merasa paling mengetahui.
Jangan menilai kedalaman ilmu hanya dari banyaknya istilah yang mampu diucapkan. Lihatlah bagaimana ilmu itu membentuk sikapnya terhadap orang yang belum memahami.
Orang yang benar-benar berilmu tidak menikmati kebingungan manusia lain.
Ia menjelaskan dengan sabar.
Ia tidak mempermalukan orang yang bertanya.
Ia berani berkata, “Aku belum mengetahui,” ketika memang belum memiliki jawaban.
Ketahuilah bahwa mengakui ketidaktahuan lebih mulia daripada menyampaikan sesuatu tanpa dasar hanya untuk menjaga wibawa.
Jangan pula menjadikan pengalaman ruhani sebagai ukuran kebenaran bagi semua manusia. Apa yang engkau rasakan tidak selalu menjadi hukum bagi orang lain.
Mimpi, ilham, firasat, ataupun sensasi batin harus ditimbang dengan akal sehat, ilmu, syariat, serta akibatnya terhadap kehidupan.
Apabila sebuah pengalaman membuatmu semakin sombong, menakut-nakuti manusia, mengabaikan kewajiban, ataupun merendahkan orang lain, maka periksalah kembali jalanmu.
Cahaya yang benar akan menambah adab, bukan menumbuhkan keangkuhan.
Pasal Kelima Puluh Empat — Diam yang Bernilai dan Diam yang Melukai
Diam dapat menjadi ibadah ketika digunakan untuk menahan ucapan buruk. Namun diam juga dapat melukai apabila digunakan untuk menghukum orang lain.
Ada saatnya engkau perlu diam agar amarah mereda. Beritahukanlah dengan baik:
“Aku memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Setelah itu kita akan berbicara.”
Itulah diam yang menjaga.
Namun apabila engkau sengaja tidak berbicara berhari-hari agar orang lain merasa takut, bersalah, dan memohon-mohon, diam itu telah berubah menjadi alat kekuasaan.
Demikian pula ketika melihat kezaliman. Diam bukan selalu kebijaksanaan. Ada keadaan yang memerlukan suara, pembelaan, dan tindakan.
Mintalah hikmah agar mengetahui:
Kapan lisan harus ditahan.
Kapan nasihat perlu disampaikan.
Kapan rahasia harus dijaga.
Dan kapan kebenaran tidak boleh dibiarkan sendirian.
Banyak luka lahir bukan hanya dari perkataan yang salah, tetapi juga dari kebenaran yang tidak disampaikan pada waktunya.
Pasal Kelima Puluh Lima — Menilai Diri Sebelum Menilai Orang Lain
Manusia lebih mudah melihat noda pada pakaian orang lain daripada debu yang menutupi qalbinya sendiri.
Sebelum mengkritik seseorang, tanyakanlah:
“Apakah aku telah melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabku?”
Seorang suami dapat mengeluhkan istrinya, tetapi lupa bahwa ia jarang memberikan perhatian.
Seorang istri dapat mengeluhkan suaminya, tetapi lupa bahwa kata-katanya sering merendahkan.
Orang tua dapat menuntut anak menghormati, tetapi tidak pernah memberi ruang aman untuk berbicara.
Seorang anak dapat menyalahkan orang tua, tetapi menolak melihat pengorbanan yang telah mereka lakukan.
Muhasabah bukan berarti menyalahkan diri atas seluruh masalah. Ada kesalahan yang memang berasal dari orang lain. Namun muhasabah mencegahmu merasa selalu suci dan selalu benar.
Periksa bagianmu, perbaiki yang mampu engkau perbaiki, lalu bicarakan bagian orang lain dengan adab.
Pasal Kelima Puluh Enam — Ketika Nasihat Ditolak
Tidak semua nasihat akan segera diterima.
Ada qalbi yang masih keras.
Ada manusia yang belum siap mengakui kesalahan.
Ada pula nasihat yang benar, tetapi disampaikan dengan cara yang membuat penerimanya merasa dihina.
Maka periksalah bukan hanya isi nasihatmu, tetapi juga waktu, bahasa, dan keadaan orang yang menerima.
Jangan menasihati seseorang di hadapan banyak orang apabila persoalannya dapat disampaikan secara pribadi.
Jangan berbicara panjang ketika ia sedang dikuasai amarah.
Jangan memakai kelemahannya sebagai alat untuk menunjukkan bahwa dirimu lebih baik.
Setelah nasihat disampaikan dengan benar, jangan merasa engkau memiliki kuasa untuk mengubah qalbinya. Tugasmu adalah menyampaikan dengan adab. Hidayah berada dalam kehendak Alloh.
Apabila nasihatmu ditolak, jangan segera membenci. Doakan, beri waktu, dan jagalah batas apabila perilakunya membahayakan.
Namun jangan pula terus memaksa masuk ke dalam kehidupan seseorang yang telah jelas menolak dan tidak meminta pertolonganmu.
Tidak semua pintu harus engkau ketuk tanpa henti.
Pasal Kelima Puluh Tujuh — Menjaga Lisan di Tengah Perselisihan
Perselisihan memperlihatkan apa yang tersembunyi di dalam diri.
Ketika tenang, manusia mudah terlihat baik. Namun ketika marah, batas-batas akhlaknya diuji.
Jangan menggunakan rahasia yang pernah dipercayakan kepadamu sebagai senjata ketika bertengkar.
Jangan menghina keluarga, masa lalu, keadaan tubuh, pekerjaan, ataupun kekurangan yang tidak berkaitan dengan masalah.
Selesaikan persoalan tanpa meruntuhkan seluruh harga diri seseorang.
Ucapan yang keluar dalam beberapa detik dapat tinggal di qalbi selama bertahun-tahun.
Karena itu, apabila amarah telah menguasai, berhentilah berbicara.
Ambillah wudhu.
Berpindahlah tempat.
Tarik napas dengan perlahan.
Tundalah percakapan hingga lisan kembali berada dalam kendali.
Menunda pembicaraan untuk menenangkan diri berbeda dengan melarikan diri dari tanggung jawab. Qembalilah setelah tenang dan selesaikan masalahnya.
Jangan membiarkan persoalan menumpuk hanya karena keduanya takut berbicara.
Pasal Kelima Puluh Delapan — Prasangka yang Memakan Qalbi
Tidak semua yang engkau takutkan benar-benar terjadi.
Pikiran dapat menciptakan cerita dari sedikit tanda, lalu qalbi mempercayainya sebagai kenyataan.
Seseorang terlambat menjawab pesan, lalu engkau mengira ia tidak peduli.
Seseorang berubah diam, lalu engkau menganggapnya menyimpan kebencian.
Seseorang berhasil, lalu engkau menyangka ia memperoleh semuanya melalui jalan yang tidak baik.
Prasangka yang terus dipelihara akan merusak hubungan sebelum kebenaran diketahui.
Tanyakanlah dengan baik. Periksa kenyataan. Jangan menjadikan ketakutan masa lalu sebagai dasar untuk menghukum orang yang berada di hadapanmu sekarang.
Namun berbaik sangka bukan berarti mengabaikan tanda-tanda bahaya.
Apabila kebohongan berulang, janji terus dilanggar, dan perilaku membahayakan, jangan menutup mata hanya karena ingin disebut sebagai orang yang sabar.
Hikmah berada di antara prasangka buta dan kepercayaan tanpa batas.
Pasal Kelima Puluh Sembilan — Menjaga Tubuh sebagai Amanah
Tubuhmu bukan musuh yang harus terus dipaksa.
Ia adalah amanah yang memerlukan makanan, istirahat, kebersihan, gerak, dan perawatan.
Jangan mengabaikan sakit dengan menganggap seluruhnya hanya gangguan batin. Berdoalah dan berdzikirlah, tetapi tempuh pula pemeriksaan serta pengobatan yang diperlukan.
Alloh dapat memberikan kesembuhan melalui doa, obat, tenaga medis, perubahan kebiasaan, ataupun gabungan dari semuanya.
Tidak ada kehinaan dalam mencari pertolongan.
Demikian pula dengan kelelahan pikiran dan qalbi. Apabila kesedihan berkepanjangan, kecemasan mengganggu kehidupan, tidur rusak, atau pikiran terasa membahayakan, berbicaralah kepada orang yang dapat dipercaya dan tenaga profesional yang tepat.
Iman tidak menuntut manusia berpura-pura kuat.
Menjaga kesehatan adalah bagian dari mensyukuri kehidupan.
Pasal Keenam Puluh — Ibadah Tanpa Merusak Keseimbangan
Jangan menjadikan ibadah sunnah sebagai alasan untuk melalaikan kewajiban kepada tubuh, keluarga, pekerjaan, dan orang yang berada dalam tanggung jawabmu.
Ada orang yang mengejar banyak amalan, tetapi keluarganya merasa tidak diperhatikan.
Ada yang berjaga sepanjang malam, lalu menjadi mudah marah karena tubuhnya kurang istirahat.
Ada yang menyampaikan nasihat kepada banyak orang, tetapi hak orang terdekatnya belum ditunaikan.
Kebaikan memerlukan keseimbangan.
Beribadahlah dengan sungguh-sungguh, namun jangan meremehkan tidur, mencari nafkah, mendidik anak, merawat pasangan, dan menjaga kesehatan.
Semua dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang baik.
Jangan mengejar pengalaman ruhani hingga kehidupan nyata terbengkalai.
Jalan menuju Alloh tidak memerintahkanmu melarikan diri dari amanah dunia. Ia mengajarkanmu menunaikannya tanpa menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Pasal Keenam Puluh Satu — Ketika Kehilangan Datang Tanpa Persiapan
Ada kehilangan yang memberi tanda sebelum datang. Ada pula yang hadir tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan.
Seseorang dapat pergi sebelum engkau selesai meminta maaf. Kesempatan dapat tertutup sebelum engkau berani melangkah. Tubuh dapat berubah sebelum engkau belajar mensyukuri kesehatannya.
Karena itu, jangan menunda seluruh kebaikan.
Hubungi orang tua selagi masih ada waktu.
Peluk anakmu sebelum ia tumbuh dan menjauh.
Minta maaf sebelum malam berganti.
Tunaikan hak sebelum kematian menutup kesempatan.
Namun apabila kehilangan telah terjadi dan engkau masih membawa penyesalan, jangan menghukum dirimu tanpa akhir.
Lakukan kebaikan yang masih mungkin.
Doakan yang telah pergi.
Sambung hubungan dengan orang yang dicintainya.
Perbaiki dirimu sebagai bentuk penghormatan terhadap pelajaran yang ditinggalkannya.
Penyesalan seharusnya menggerakkan perbaikan, bukan mengubur manusia dalam rasa bersalah selamanya.
Pasal Keenam Puluh Dua — Berduka Tanpa Kehilangan Harapan
Duka memiliki waktunya sendiri.
Jangan memaksa seseorang segera tersenyum hanya karena engkau tidak nyaman melihat air matanya.
Ada qalbi yang membutuhkan hari.
Ada yang membutuhkan bulan.
Ada pula luka yang tetap terasa meskipun tahun telah berlalu.
Menguatkan bukan berarti berkata:
“Sudahlah, jangan menangis.”
Terkadang penguatan terbaik adalah duduk di sisinya dan mengatakan:
“Aku tidak dapat menghapus dukamu, tetapi engkau tidak harus melewatinya sendirian.”
Bagi orang yang berduka, jangan merasa bersalah karena masih menangis.
Tangisan bukan tanda bahwa engkau menolak ketetapan Alloh. Ia adalah bagian dari kasih yang sedang belajar menerima kehilangan.
Namun jagalah agar duka tidak memutus seluruh hubunganmu dengan kehidupan.
Makanlah meskipun sedikit.
Beristirahatlah.
Berbicaralah kepada orang yang aman.
Qembalilah perlahan kepada kegiatan yang baik.
Engkau tidak sedang melupakan orang yang telah pergi ketika mulai hidup kembali. Engkau sedang melanjutkan amanah umur yang masih diberikan.
Pasal Keenam Puluh Tiga — Mendidik Tanpa Memindahkan Luka
Banyak orang tua mendidik anak dengan cara yang dahulu mereka terima, meskipun cara tersebut pernah melukai mereka.
Mereka berkata:
“Aku dahulu diperlakukan demikian dan tetap tumbuh.”
Namun bertahan hidup tidak selalu berarti tidak terluka.
Jangan memindahkan luka lama kepada generasi berikutnya hanya karena engkau belum sempat menyembuhkannya.
Ketegasan diperlukan, tetapi penghinaan tidak mendidik.
Hukuman boleh menjadi batas, tetapi ketakutan yang berlebihan dapat mematikan kejujuran anak.
Ajarkan akibat dari perbuatan. Dengarkan penjelasannya. Berikan kesempatan memperbaiki kesalahan.
Jangan membandingkannya dengan saudara atau anak orang lain.
Setiap anak memiliki kekuatan, kelemahan, dan waktu tumbuh yang berbeda.
Kata-kata orang tua dapat menjadi suara yang dibawa anak hingga dewasa. Maka tanamlah suara yang mengingatkannya:
“Engkau tetap dicintai, tetapi perbuatanmu harus diperbaiki.”
Pasal Keenam Puluh Empat — Menerima Usia dan Perubahan
Wajah akan berubah.
Tenaga akan berkurang.
Anak-anak akan tumbuh.
Rumah yang dahulu ramai dapat menjadi sunyi.
Jangan memusuhi usia.
Setiap masa memiliki amanah dan keindahannya sendiri.
Masa muda memiliki kekuatan untuk bergerak. Masa tua memiliki keluasan untuk memandang kehidupan dengan pengalaman.
Jangan mengukur nilai dirimu hanya dari kecantikan, ketampanan, ataupun kemampuan fisik yang perlahan berubah.
Nilai seorang hamba tumbuh melalui akhlak, hikmah, dan manfaat yang tetap ia berikan.
Rawatlah tubuhmu tanpa membenci tanda-tanda perjalanan.
Rambut yang memutih mengingatkan bahwa waktu tidak berhenti. Garis di wajah menjadi saksi atas tawa, tangis, dan perjuangan yang pernah dilalui.
Persiapkan usia lanjut bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan hubungan yang baik, kebiasaan ibadah yang seimbang, ilmu yang bermanfaat, dan qalbi yang tidak terlalu menggantungkan diri kepada dunia.
Pasal Keenam Puluh Lima — Ketika Anak Memiliki Jalannya Sendiri
Anak adalah amanah, bukan salinan dari keinginan orang tuanya.
Bimbinglah ia, tetapi jangan memaksanya hidup hanya untuk memenuhi mimpi yang dahulu tidak sempat engkau capai.
Orang tua boleh memberi arah, batas, pendidikan, dan nasihat. Namun anak akan tumbuh sebagai manusia yang memiliki pilihan dan pertanggungjawabannya sendiri.
Jangan menggunakan kalimat pengorbanan untuk menguasai seluruh masa depannya.
“Kami telah membesarkanmu, maka engkau harus mengikuti seluruh keinginan kami.”
Pengorbanan orang tua memang besar, tetapi kasih yang tulus tidak menjadikan anak sebagai pembayaran.
Ajarkan anak menghormati, tetapi berikan ruang agar ia dapat berbicara dengan jujur.
Apabila pilihannya baik tetapi berbeda dari harapanmu, belajarlah memahami.
Apabila pilihannya salah, nasihati dengan tegas, doakan, dan biarkan ia belajar dari akibat yang tidak membahayakan keselamatannya.
Mendidik adalah mempersiapkan seorang anak agar mampu berjalan tanpa terus-menerus dipegang tangannya.
Pasal Keenam Puluh Enam — Persaudaraan yang Tidak Dipenuhi Persaingan
Saudara dapat menjadi tempat perlindungan, tetapi dapat pula menjadi sumber luka ketika perbandingan dan iri memenuhi rumah.
Jangan membandingkan rezeki, pernikahan, anak, pekerjaan, ataupun kedudukan antar-saudara.
Setiap manusia memiliki bagian dan ujian yang berbeda.
Orang yang tampak berhasil mungkin memikul beban yang tidak terlihat. Orang yang berjalan lebih lambat mungkin sedang menjaga kesabaran yang besar di hadapan Alloh.
Apabila saudaramu memperoleh nikmat, doakan keberkahan.
Apabila ia mengalami kesulitan, bantulah tanpa merendahkan.
Jangan menjadikan kasih orang tua sebagai hadiah yang harus diperebutkan.
Dan bagi orang tua, jangan menumbuhkan persaingan dengan menunjukkan kasih secara tidak adil atau terus-menerus membandingkan anak.
Rumah yang dipenuhi perbandingan akan menghasilkan orang dewasa yang terus merasa tidak cukup.
Pasal Keenam Puluh Tujuh — Qalbi yang Tidak Lagi Menuntut Dunia Sempurna
Sebagian manusia menunda ketenangan karena menunggu seluruh keadaan menjadi sempurna.
Ia berkata:
“Aku akan tenang setelah memiliki rumah.”
“Aku akan bersyukur setelah menikah.”
“Aku akan beribadah lebih baik setelah masalah selesai.”
“Aku akan bahagia ketika semua orang memahami diriku.”
Namun dunia tidak pernah sepenuhnya selesai.
Setelah satu persoalan teratasi, persoalan lain dapat datang. Setelah satu keinginan terpenuhi, keinginan baru tumbuh.
Ketenangan bukan hadiah dari kehidupan tanpa masalah. Ketenangan lahir ketika qalbi memiliki tempat qembali di tengah perubahan.
Syukurilah yang ada sambil tetap memperbaiki yang kurang.
Berbahagialah dengan hal kecil tanpa berhenti berusaha.
Jangan menunggu seluruh langit cerah untuk mulai berjalan. Terkadang engkau harus melangkah di bawah hujan sambil percaya bahwa perjalanan tetap memiliki arah.
Pasal Keenam Puluh Delapan — Kepulangan yang Dimulai Hari Ini
Jangan berkata bahwa engkau akan bertaubat setelah tua.
Engkau tidak mengetahui apakah umur akan menunggu.
Jangan berkata bahwa engkau akan meminta maaf ketika keadaan lebih tenang. Bisa jadi kesempatan tidak datang dua kali.
Jangan berkata bahwa engkau akan menjadi baik setelah manusia lain berubah. Perubahanmu tidak harus menunggu perubahan mereka.
Kepulangan selalu dimulai dari langkah yang dapat dilakukan hari ini.
Satu shalat yang dijaga.
Satu hak yang dikembalikan.
Satu kebohongan yang dihentikan.
Satu hubungan buruk yang diberi batas.
Satu qalbi yang dimaafkan.
Satu kesalahan yang diakui.
Jangan meremehkan langkah kecil.
Perjalanan panjang tidak dibangun oleh satu lompatan besar, melainkan oleh langkah-langkah yang terus diarahkan menuju tujuan.
Wejangan Lembar Keenam
Wahai hamba yang sedang menyucikan niat, janganlah terlalu sibuk memperindah pandangan manusia hingga lupa memperbaiki keadaanmu di hadapan Alloh.
Engkau tidak perlu terlihat sempurna.
Akuilah bahwa dirimu masih belajar.
Akuilah bahwa qalbimu dapat berubah.
Akuilah bahwa niatmu perlu terus diperbarui.
Kejujuran terhadap kelemahan bukan kehinaan. Ia adalah pintu perbaikan.
Jangan pula merasa bahwa perjalananmu sia-sia hanya karena engkau pernah terjatuh pada kesalahan yang sama. Bangkitlah kembali, tetapi jangan mengulangi cara yang sama tanpa perubahan.
Cari sebab jatuhmu.
Tutup pintu yang membawamu ke sana.
Mintalah bantuan apabila diperlukan.
Dan jangan berhenti memohon penjagaan Alloh.
Kepulangan bukan perjalanan manusia yang tidak pernah salah. Ia adalah perjalanan orang yang setiap kali tersesat, kembali mencari arah dengan lebih jujur.
Bersihkan niat ketika hendak memulai.
Jaga niat ketika sedang menjalani.
Serahkan hasil ketika amal telah selesai.
Jangan menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk membanggakan diri. Jangan pula menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.
Alloh melihat usaha yang tersembunyi, air mata yang tidak diketahui manusia, dan perlawananmu terhadap hawa nafsu yang tidak memperoleh tepuk tangan.
Teruslah berjalan.
Sebab mungkin engkau belum sampai, tetapi setiap langkah yang jujur telah membawamu semakin dekat kepada luasnya Rahmatulloh.
Doa Lembar Keenam
Yā Alloh, sucikanlah niat kami sebelum beramal,
jagalah ia ketika kami sedang berjalan,
dan lindungilah qalbi kami dari kesombongan setelah kebaikan selesai dilakukan.
Berilah kami amal rahasia
yang hanya Engkau ketahui.
Jauhkanlah kami dari pujian yang menyesatkan,
dari pertolongan yang diungkit,
serta dari ilmu yang menjadikan kami merendahkan manusia.
Ajarkanlah kami berbicara ketika kebenaran harus disampaikan,
diam ketika lisan dapat melukai,
dan meminta maaf ketika kesalahan berada pada diri kami.
Jagalah qalbi kami dari prasangka,
tetapi berikan pula kebijaksanaan
agar kami tidak menutup mata terhadap kebohongan dan bahaya.
Yā Alloh, sehatkanlah tubuh kami,
tenangkanlah pikiran kami,
dan bukakan jalan pertolongan
ketika beban tidak lagi mampu kami pikul seorang diri.
Jadikanlah ibadah kami seimbang,
agar ia tidak membuat kami melupakan keluarga,
pekerjaan, kesehatan, serta amanah yang Engkau titipkan.
Hiburkanlah qalbi yang sedang berduka.
Ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami.
Berilah kekuatan kepada mereka yang kehilangan,
agar tetap mampu menjalani umur dengan harapan.
Lindungilah anak-anak kami dari luka yang diwariskan.
Lembutkan orang tua dalam mendidik,
kuatkan anak-anak dalam berbakti,
dan satukan keluarga kami tanpa iri serta persaingan.
Ajarkanlah kami menerima perubahan usia,
mensyukuri apa yang masih ada,
dan mempersiapkan kepulangan sebelum waktu berakhir.
Jangan biarkan kami menunda taubat,
menunda kasih sayang,
menunda penyelesaian hak,
ataupun menunda langkah menuju-Mu.
Qembalikanlah setiap niat, ucapan, cinta, perjuangan, dan perjalanan kami
qe dalam keridhaan serta luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Ketujuh — Saat Jiwa Belajar Menjadi Tempat Teduh
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang sedang melanjutkan perjalanan, ketahuilah bahwa tidak setiap orang yang datang kepadamu membutuhkan jawaban. Ada yang hanya membutuhkan telinga yang tidak menghakimi, qalbi yang tidak tergesa-gesa, dan kehadiran yang tidak menuntutnya segera menjadi kuat.
Dunia telah dipenuhi manusia yang ingin didengar, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh bersedia mendengarkan.
Banyak orang mampu berbicara tentang kesabaran, tetapi tidak mampu duduk menemani orang yang sedang bersedih. Banyak yang cepat memberi nasihat, namun tidak pernah bertanya seberapa berat beban yang sedang dipikul.
Maka jadilah tempat teduh.
Bukan tempat yang membuat manusia bergantung kepadamu, melainkan tempat singgah yang mengingatkan mereka bahwa Rahmatulloh masih luas, pertolongan masih mungkin, dan kehidupan belum selesai.
Namun untuk menjadi tempat teduh bagi orang lain, engkau harus belajar mengenali batas dirimu sendiri. Pohon yang tidak merawat akarnya akan tumbang ketika terlalu banyak manusia berlindung di bawahnya.
Kasih sayang memerlukan ketulusan.
Ketulusan memerlukan kebijaksanaan.
Dan kebijaksanaan memerlukan keseimbangan.
Pasal Keenam Puluh Sembilan — Mendengarkan dengan Qalbi
Mendengarkan bukan hanya membiarkan suara masuk ke telinga. Mendengarkan adalah memberi ruang agar seseorang merasa keberadaannya diakui.
Jangan memotong cerita hanya karena engkau telah mengalami sesuatu yang mirip.
Jangan segera berkata:
“Aku juga pernah merasakan yang lebih berat.”
Ucapan itu mungkin benar, tetapi belum tentu dibutuhkan.
Setiap luka memiliki kedalamannya sendiri. Dua orang dapat menghadapi kejadian yang sama, tetapi merasakan dampak yang berbeda.
Apabila seseorang bercerita, dengarkanlah lebih dahulu.
Tanyakan:
“Apa yang paling berat bagimu?”
“Apa yang engkau butuhkan saat ini?”
“Apakah engkau ingin didengarkan atau membutuhkan saran?”
Pertanyaan yang lembut dapat menyelamatkan seseorang dari perasaan sendirian.
Namun mendengarkan tidak berarti engkau harus menyetujui seluruh perkataannya. Engkau dapat tetap memiliki pandangan berbeda tanpa merendahkan perasaannya.
Akui perasaannya, lalu bantu ia melihat kenyataan dengan perlahan.
Pasal Ketujuh Puluh — Jangan Menjadikan Rahasia sebagai Bahan Cerita
Ketika seseorang mempercayakan rahasianya kepadamu, ia sedang menyerahkan bagian rapuh dari dirinya.
Jagalah.
Jangan menceritakannya kepada orang lain hanya untuk mengisi percakapan. Jangan menyamarkan nama tetapi memberikan begitu banyak ciri hingga semua orang mengetahui siapa yang dimaksud.
Rahasia yang dibuka tanpa izin dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Namun ada keadaan ketika rahasia tidak boleh dipendam sendirian, terutama apabila terdapat ancaman terhadap nyawa, kekerasan, bahaya kepada anak, atau kemungkinan seseorang mencelakai dirinya maupun orang lain.
Dalam keadaan demikian, mencari pertolongan bukanlah pengkhianatan.
Sampaikan hanya kepada pihak yang mampu membantu. Jangan menyebarkan lebih luas daripada yang diperlukan.
Amanah bukan berarti menutup jalan keselamatan.
Kebijaksanaan adalah menjaga kehormatan seseorang sambil tetap mencegah bahaya.
Pasal Ketujuh Puluh Satu — Menolong Orang yang Tidak Mau Ditolong
Ada manusia yang mengeluhkan keadaan, tetapi menolak setiap jalan perbaikan.
Engkau mungkin telah menasihati, membantu, memberikan waktu, bahkan berkorban. Namun ia tetap kembali kepada kebiasaan yang sama.
Ketahuilah bahwa engkau tidak dapat berjalan menggantikan langkah orang lain.
Engkau dapat menunjukkan pintu, tetapi tidak dapat memaksanya masuk.
Engkau dapat memberikan tangan, tetapi tidak dapat menarik seseorang yang terus memilih memegang sesuatu yang menenggelamkannya.
Jangan menyalahkan dirimu atas perubahan yang tidak terjadi pada orang lain.
Selama engkau telah membantu dengan cara yang benar, sisanya berada di antara dirinya dan Alloh.
Tetapkan batas agar perjuangannya tidak menghancurkan kehidupanmu.
Kasih sayang tidak selalu berkata, “Aku akan terus menyelamatkanmu.”
Terkadang kasih sayang berkata:
“Aku mencintaimu, tetapi aku tidak dapat terus mendukung pilihan yang merusak dirimu dan orang-orang di sekitarmu.”
Pasal Ketujuh Puluh Dua — Ketika Kebaikanmu Tidak Dihargai
Tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.
Ada orang yang engkau bantu, lalu melupakanmu. Ada yang engkau lindungi, tetapi kemudian menyalahkanmu. Ada pula yang menerima ketulusanmu sebagai sesuatu yang memang wajib engkau berikan.
Janganlah kecewa hingga berhenti menjadi baik.
Namun jangan pula terus memberikan dirimu kepada orang yang hanya mengambil tanpa menghormati batas.
Kebaikan bukan kebodohan.
Ketulusan bukan kelemahan.
Memaafkan bukan kewajiban untuk kembali pada pola yang sama.
Lakukan kebaikan karena Alloh, lalu lepaskan tuntutan agar manusia membalas sesuai harapanmu.
Apabila mereka berterima kasih, syukurilah.
Apabila mereka melupakan, biarkan Alloh menjadi saksi.
Tetapi ambillah pelajaran agar kebaikan berikutnya disertai hikmah, bukan hanya dorongan perasaan.
Pasal Ketujuh Puluh Tiga — Qalbi yang Lelah karena Selalu Mengalah
Mengalah dapat menjadi kemuliaan apabila dilakukan untuk menjaga kebaikan.
Namun apabila hanya satu pihak yang selalu mengalah sementara pihak lain terus menuntut, hubungan itu akan dipenuhi luka yang tidak terlihat.
Jangan bangga menjadi orang yang terus menekan kebutuhan sendiri hingga akhirnya meledak dalam kemarahan.
Sampaikan batasmu sebelum qalbi dipenuhi kebencian.
Katakan:
“Aku bersedia memahami, tetapi aku juga ingin didengarkan.”
“Aku dapat membantu, tetapi tidak dengan cara yang menghancurkan diriku.”
“Aku memaafkan, tetapi keadaan ini harus berubah.”
Orang yang benar-benar menyayangimu mungkin tidak selalu langsung mengerti, tetapi ia akan bersedia belajar menghormati batas.
Sedangkan orang yang hanya ingin menguasai akan marah ketika engkau mulai menjaga dirimu.
Jangan merasa bersalah karena menetapkan batas yang sehat.
Batas bukan tembok kebencian. Ia adalah pintu yang mengatur bagaimana seseorang dapat memasuki kehidupanmu dengan adab.
Pasal Ketujuh Puluh Empat — Menghadapi Orang yang Suka Merendahkan
Ada manusia yang meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain.
Ia mengejek kekurangan, mengungkit kesalahan, dan mempermalukan seseorang di depan banyak orang. Ia merasa kuat ketika orang lain terdiam.
Jangan balas penghinaan dengan penghinaan.
Berbicaralah tegas:
“Aku bersedia membicarakan masalahnya, tetapi bukan dengan cara merendahkan.”
Apabila ia terus mengulanginya, menjauhlah dari percakapan.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Ada kemenangan yang justru terletak pada kemampuan menjaga lisan dan meninggalkan tempat yang tidak lagi memiliki adab.
Namun jangan menyimpan setiap penghinaan sebagai kebenaran tentang dirimu.
Perkataan orang lain sering lahir dari luka, iri, ketakutan, atau ketidakmatangan mereka sendiri.
Periksa apakah ada nasihat yang benar. Ambil yang bermanfaat. Buang racun penghinaan yang menyertainya.
Nilai dirimu tidak ditentukan oleh mulut orang yang tidak mengenal seluruh perjalananmu.
Pasal Ketujuh Puluh Lima — Ketika Diri Sendiri Menjadi Hakim yang Kejam
Sebagian manusia dapat memaafkan orang lain, tetapi tidak mampu memaafkan dirinya sendiri.
Ia mengingat kesalahan bertahun-tahun lalu, lalu mengulanginya di dalam pikiran seolah-olah peristiwa itu baru terjadi.
Ia berkata:
“Aku tidak layak dicintai.”
“Aku selalu gagal.”
“Aku tidak akan pernah berubah.”
Ketahuilah bahwa penyesalan berbeda dengan kebencian kepada diri.
Penyesalan berkata:
“Aku telah berbuat salah dan harus memperbaikinya.”
Sedangkan kebencian kepada diri berkata:
“Aku adalah kesalahan dan tidak memiliki harapan.”
Taubat tidak memerintahkanmu menghina ciptaan Alloh yang bernama dirimu sendiri.
Akuilah kesalahan, tunaikan tanggung jawab, perbaiki akibatnya, lalu izinkan dirimu tumbuh.
Jangan jadikan masa lalu sebagai penjara setelah Alloh membuka pintu perbaikan.
Pasal Ketujuh Puluh Enam — Kesalahan yang Terus Diulang
Memaafkan diri bukan berarti meremehkan kesalahan yang berulang.
Apabila engkau terus jatuh pada tempat yang sama, jangan hanya berkata, “Aku memang lemah.”
Periksa jalannya.
Apa yang selalu terjadi sebelum kesalahan itu dilakukan?
Dengan siapa engkau berada?
Keadaan apakah yang membuatmu kehilangan kendali?
Pintu kecil manakah yang terus engkau biarkan terbuka?
Taubat memerlukan perubahan dalam lingkungan dan kebiasaan.
Apabila pergaulan membawamu kepada kerusakan, kurangi dan tinggalkan.
Apabila akses tertentu menjadi pintu maksiat, tutuplah.
Apabila tekanan membuatmu kembali kepada kebiasaan buruk, carilah cara sehat untuk menghadapi tekanan tersebut.
Jangan hanya meminta Alloh menguatkanmu sambil terus berdiri di tempat yang sama dengan sumber kelemahan.
Doa perlu disertai langkah.
Pasal Ketujuh Puluh Tujuh — Qalbi yang Haus Pengakuan
Keinginan untuk dihargai adalah bagian dari manusia. Namun apabila seluruh ketenanganmu bergantung kepada pengakuan, engkau akan mudah dipermainkan oleh pujian dan penolakan.
Hari ini engkau merasa tinggi karena banyak orang memuji. Esok engkau hancur karena satu orang mencela.
Qalbi seperti itu belum memiliki tempat berpijak.
Berlatihlah melakukan sesuatu tanpa segera memberitahukan kepada semua orang.
Nikmati proses tanpa selalu mempertontonkan hasil.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua kesedihan harus dipublikasikan.
Ada hal-hal yang menjadi lebih suci ketika disimpan antara dirimu dan Alloh.
Namun jangan pula menutup diri sepenuhnya. Manusia tetap membutuhkan dukungan, saksi kebaikan, dan perayaan bersama orang-orang terdekat.
Yang harus dijaga adalah niat: apakah engkau berbagi untuk memberi manfaat, atau karena tidak merasa berharga sebelum memperoleh perhatian?
Pasal Ketujuh Puluh Delapan — Berbicara Baik kepada Diri Sendiri
Perhatikanlah bagaimana engkau berbicara kepada dirimu.
Apakah engkau mengucapkan kata-kata yang tidak akan engkau katakan kepada orang yang engkau cintai?
Ketika gagal, engkau berkata:
“Aku bodoh.”
Ketika lelah, engkau berkata:
“Aku lemah.”
Ketika melakukan kesalahan, engkau berkata:
“Aku tidak berguna.”
Kalimat yang diulang terus-menerus akan membentuk cara qalbi memandang dirinya.
Gantilah dengan kejujuran yang tetap berbelas kasih:
“Aku melakukan kesalahan, tetapi aku dapat belajar.”
“Aku sedang lelah dan membutuhkan istirahat.”
“Aku belum berhasil, tetapi perjalanan belum selesai.”
Berbicara lembut kepada diri bukan berarti menghindari tanggung jawab.
Justru ketika seseorang tidak sibuk membenci dirinya, ia memiliki lebih banyak kekuatan untuk berubah.
Pasal Ketujuh Puluh Sembilan — Ketika Kesendirian Menjadi Teman
Kesendirian tidak selalu berarti kesepian.
Ada manusia yang berada di tengah keramaian tetapi qalbinya terasa kosong. Ada pula yang duduk seorang diri tetapi dipenuhi ketenangan.
Belajarlah berteman dengan kesendirian agar engkau tidak menerima sembarang hubungan hanya karena takut ditinggalkan.
Gunakan waktu sendiri untuk membaca, berdoa, merawat tubuh, belajar, menulis, dan mengenali isi qalbi.
Namun jangan jadikan kesendirian sebagai benteng untuk menghindari seluruh kedekatan.
Luka mungkin membuatmu berkata:
“Aku tidak membutuhkan siapa pun.”
Padahal manusia diciptakan untuk saling mengenal, membantu, dan menguatkan.
Jangan menutup seluruh pintu hanya karena beberapa orang pernah datang dengan cara yang salah.
Bukalah perlahan kepada mereka yang membawa adab, kejujuran, dan rasa aman.
Pasal Kedelapan Puluh — Sahabat yang Membawa Arah
Sahabat bukan hanya orang yang tertawa bersamamu. Sahabat adalah orang yang berani mengingatkan ketika engkau mulai keluar dari jalan.
Ia tidak membiarkanmu terus melakukan kesalahan hanya agar hubungan tetap nyaman.
Namun nasihatnya tidak merendahkan. Ia menegur secara pribadi, menjaga rahasiamu, dan tetap berada di sisimu ketika engkau bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Pilihlah sahabat yang tidak hanya hadir ketika hidupmu terang.
Perhatikan siapa yang tetap menghormati ketika engkau tidak memiliki sesuatu untuk diberikan.
Jangan pula menuntut sahabat selalu tersedia. Mereka memiliki kehidupan, keluarga, beban, dan keterbatasan.
Persahabatan yang dewasa tidak diukur dari seberapa sering berkomunikasi, tetapi dari ketulusan, kepercayaan, dan kesediaan hadir pada saat yang benar-benar diperlukan.
Pasal Kedelapan Puluh Satu — Meminta Pertolongan Tanpa Merasa Hina
Ada orang yang lebih memilih tenggelam daripada mengakui bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
Ia takut dianggap lemah. Ia takut merepotkan. Ia takut kebaikan orang lain akan diungkit.
Ketahuilah bahwa meminta pertolongan pada keadaan yang benar bukanlah kehinaan.
Manusia memang saling membutuhkan.
Hari ini engkau menerima bantuan. Esok mungkin engkau menjadi jalan pertolongan bagi orang lain.
Mintalah dengan jujur dan jelas. Jangan memanipulasi, memaksa, atau menggunakan rasa bersalah agar orang lain menuruti keinginanmu.
Terimalah pula apabila seseorang belum mampu membantu.
Ketidakmampuan mereka bukan selalu tanda bahwa mereka tidak peduli.
Dan ketika pertolongan datang, berterima kasihlah tanpa merasa harga dirimu hilang.
Harga diri tidak terletak pada kemampuan melakukan semua hal sendirian. Ia terletak pada kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan bangkit setelah dibantu.
Pasal Kedelapan Puluh Dua — Memberi Ruang bagi Orang yang Sedang Berubah
Seseorang yang sedang memperbaiki diri tidak selalu langsung menjadi sempurna.
Ia dapat mundur satu langkah, lalu maju kembali. Ia dapat melakukan kesalahan lama, tetapi kali ini lebih cepat menyadari dan memperbaikinya.
Berilah ruang bagi perubahan, tetapi jangan menutup mata.
Lihat arah perjalanannya.
Apakah ia sungguh-sungguh belajar?
Apakah kesalahan semakin berkurang?
Apakah tanggung jawab mulai ditunaikan?
Apakah ia mencari bantuan yang diperlukan?
Jangan menuntut hasil seketika, tetapi jangan pula tertipu oleh janji yang tidak pernah menjadi tindakan.
Perubahan sejati berjalan melalui bukti kecil yang terus dijaga.
Apabila engkau sedang berubah, jangan marah ketika orang lain belum langsung mempercayaimu. Mungkin mereka masih membawa luka dari perbuatanmu.
Bersabarlah. Biarkan konsistensi menjawab keraguan mereka.
Pasal Kedelapan Puluh Tiga — Ketika Orang Tidak Memaafkanmu
Engkau dapat meminta maaf dengan sungguh-sungguh, tetapi orang lain tetap belum mampu memaafkan.
Itu berada di luar kuasamu.
Tugasmu adalah mengakui, memperbaiki, dan tidak mengulangi.
Jangan memaksa seseorang memaafkan hanya agar dirimu segera merasa lega.
Ia mungkin membutuhkan waktu. Ia mungkin memilih menjauh. Ia mungkin tidak pernah qembali memberikan tempat yang sama.
Hormatilah keputusannya.
Taubatmu tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada apakah hubungan akan kembali seperti dahulu.
Perbaikilah dirimu karena Alloh dan karena kebenaran, bukan hanya agar seseorang kembali menerimamu.
Apabila haknya masih dapat dikembalikan, kembalikan.
Apabila kerusakan masih dapat diperbaiki, perbaiki.
Setelah itu, serahkan penilaian manusia dan hasil akhirnya kepada Alloh.
Pasal Kedelapan Puluh Empat — Qalbi yang Memaafkan tetapi Tetap Mengingat Pelajaran
Memaafkan bukan menghapus ingatan.
Ada pengalaman yang tetap engkau ingat agar tidak kembali masuk ke dalam bahaya yang sama.
Jangan merasa bersalah karena masih berhati-hati setelah memaafkan.
Qalbi boleh bersih dari dendam, tetapi akal tetap menyimpan pelajaran.
Apabila seseorang pernah berbohong, kepercayaan harus dibangun kembali.
Apabila ia pernah melakukan kekerasan, keselamatan harus didahulukan.
Apabila ia pernah mengkhianati amanah, tanggung jawab baru tidak boleh diberikan tanpa bukti perubahan.
Memaafkan adalah melepaskan keinginan untuk membalas.
Mempercayai kembali adalah keputusan yang memerlukan pertimbangan.
Keduanya tidak selalu terjadi pada waktu yang sama.
Pasal Kedelapan Puluh Lima — Menjadi Cahaya Tanpa Membakar Diri
Ada orang yang ingin menolong semua manusia hingga melupakan dirinya.
Ia menerima semua keluhan, menyelesaikan semua masalah, memberikan waktu, tenaga, dan harta tanpa batas. Pada akhirnya ia lelah, marah, dan merasa tidak dihargai.
Ketahuilah bahwa menjadi cahaya bukan berarti membakar dirimu hingga habis.
Bahkan pelita memerlukan minyak. Tubuh memerlukan istirahat. Qalbi memerlukan kesunyian. Pikiran memerlukan ruang dari persoalan orang lain.
Engkau boleh berkata:
“Aku peduli, tetapi hari ini aku belum mampu mendengarkan dengan baik.”
“Aku ingin membantu, tetapi aku memiliki batas.”
“Persoalan ini memerlukan orang yang lebih ahli.”
Tidak semua masalah harus engkau tanggung.
Mengetahui batas bukan tanda kurangnya kasih. Ia menjaga agar kasihmu tetap sehat dan tidak berubah menjadi kepahitan.
Pasal Kedelapan Puluh Enam — Pelayanan yang Tidak Menjadi Perbudakan
Melayani keluarga, guru, masyarakat, atau orang yang membutuhkan adalah amal mulia.
Namun pelayanan tidak boleh digunakan oleh pihak lain untuk menghapus hak dan kehormatanmu.
Jangan biarkan kata “pengabdian” menjadi alasan bagi seseorang untuk menuntut tanpa batas, merendahkan, atau mengambil keuntungan dari ketulusanmu.
Pengabdian sejati dilakukan dalam kebaikan, bukan dalam kezaliman.
Orang yang menerima pelayanan juga memiliki kewajiban menjaga orang yang mengabdi.
Ia harus menghargai waktu, tenaga, kesehatan, dan kebutuhan mereka.
Seorang pemimpin yang membiarkan pengikutnya kelelahan demi meninggikan namanya belum memahami amanah.
Seorang guru yang menuntut ketaatan buta telah melampaui batas.
Ketaatan kepada manusia selalu berada dalam kebaikan dan tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Alloh.
Pasal Kedelapan Puluh Tujuh — Ketika Agama Digunakan untuk Menakut-nakuti
Agama adalah petunjuk, rahmat, peringatan, dan jalan pembentukan akhlak.
Jangan menggunakan agama untuk menguasai qalbi manusia melalui ketakutan yang berlebihan.
Jangan mudah menyatakan bahwa setiap kesulitan adalah hukuman, setiap mimpi adalah pertanda, atau setiap penyakit merupakan gangguan yang tidak terlihat.
Sebagian masalah memerlukan doa. Sebagian memerlukan percakapan. Sebagian memerlukan ilmu, pengobatan, perlindungan hukum, atau bantuan profesional.
Jangan membuat orang takut kepada manusia yang mengaku memiliki kelebihan ruhani.
Jangan pula mengajarkan bahwa keselamatan mereka bergantung kepada dirimu.
Hamba qembali kepada Alloh, bukan menjadi tawanan manusia.
Seorang pembimbing yang baik akan menguatkan iman, akal, tanggung jawab, dan keberanian seseorang untuk menjalani kehidupan dengan benar.
Ia tidak membuat pengikutnya kehilangan daya berpikir.
Pasal Kedelapan Puluh Delapan — Tanda Cahaya yang Menyehatkan
Cahaya yang sehat membuat seseorang lebih tenang, rendah hati, dan bertanggung jawab.
Ia tidak merasa paling istimewa. Ia tidak sibuk mencari pengakuan bahwa dirinya memiliki kedudukan tertentu.
Ia semakin menjaga shalat, keluarga, pekerjaan, ucapan, dan hak manusia.
Apabila sebuah pemahaman membuatmu menjauh dari kenyataan, meninggalkan kewajiban, merasa lebih tinggi, atau takut tanpa alasan yang jelas, berhentilah dan periksalah kembali.
Petunjuk tidak bertentangan dengan tanggung jawab.
Kedalaman ruhani tidak menghapus kebutuhan untuk berpikir jernih.
Dan cinta kepada Alloh tidak membuat seseorang mengabaikan ciptaan-Nya yang berada dalam amanahnya.
Ukurlah perjalanan bukan dari seberapa banyak hal luar biasa yang engkau rasakan, tetapi dari seberapa baik akhlakmu ketika tidak ada seorang pun melihat.
Pasal Kedelapan Puluh Sembilan — Ketika Umur Menjadi Semakin Pendek
Setiap hari yang berlalu tidak akan qembali.
Manusia sering merasa masih memiliki banyak waktu. Ia menunda meminta maaf, menunda ibadah, menunda menjaga kesehatan, dan menunda mengunjungi orang yang dicintainya.
Lalu waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan.
Jangan hidup dalam ketakutan kepada kematian. Namun ingatlah kematian agar engkau tidak menyia-nyiakan kehidupan.
Tanyakanlah:
Apabila hari ini menjadi hari terakhir, adakah hak yang belum engkau tunaikan?
Adakah seseorang yang perlu engkau maafkan?
Adakah keluarga yang terlalu lama engkau abaikan?
Adakah kebohongan yang harus dihentikan?
Mengingat akhir perjalanan bukan untuk mematikan kegembiraan.
Justru ia mengajarkanmu mencintai dengan lebih jujur, bekerja dengan lebih amanah, dan mensyukuri waktu yang masih tersedia.
Pasal Kesembilan Puluh — Bekal yang Menemani Kepulangan
Pada akhirnya, harta akan ditinggalkan. Rumah akan ditempati orang lain. Pakaian akan dibagikan. Nama perlahan tidak lagi sering disebut.
Yang menemani perjalanan adalah amal, doa, kebaikan yang memberi manfaat, serta hak manusia yang telah diselesaikan.
Maka jangan hanya sibuk mempersiapkan peninggalan materi.
Tinggalkan pula akhlak yang dikenang dengan baik.
Didik anak agar mengenal kasih dan tanggung jawab.
Bagikan ilmu yang bermanfaat.
Tanam kebaikan yang terus hidup meskipun tubuhmu telah beristirahat.
Jangan menunggu kaya untuk memberi.
Senyuman dapat menjadi sedekah. Ilmu sederhana dapat membantu. Waktu dan tenaga dapat meringankan beban.
Yang dinilai bukan hanya besarnya pemberian, tetapi kejujuran dan manfaatnya.
Wejangan Lembar Ketujuh
Wahai hamba yang sedang belajar menjadi tempat teduh, janganlah menjadi hujan bagi semua manusia tetapi membiarkan tanah qalbimu sendiri mengering.
Rawatlah dirimu agar mampu terus memberi tanpa kehilangan arah.
Dengarkan manusia, tetapi jangan memikul seluruh hidup mereka.
Bantulah, tetapi jangan menguasai.
Cintailah, tetapi jangan menghilangkan dirimu.
Maafkanlah, tetapi jangan membuang pelajaran.
Bersikaplah lembut, tetapi jangan membiarkan kezaliman menggunakan kelembutanmu sebagai pintu.
Perjalanan menuju Rahmatulloh bukanlah perjalanan untuk menjadi manusia yang disukai semua orang.
Ia adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang jujur, amanah, beradab, dan bermanfaat meskipun tidak selalu dipahami.
Ada saatnya engkau berjalan bersama banyak orang.
Ada saatnya hanya satu atau dua orang yang tetap berada di sisimu.
Ada pula saatnya engkau harus berjalan sendiri sambil menggenggam doa dan keyakinan.
Jangan takut.
Selama arahmu qembali kepada Alloh, kesendirian bukan kehilangan jalan.
Jadilah tempat teduh, tetapi jangan mengaku sebagai sumber kesejukan.
Sebab seluruh ketenangan, pertolongan, dan kekuatan pada hakikatnya berasal dari Alloh.
Engkau hanyalah jalan kecil yang dipilih untuk mengantarkan sebagian rahmat-Nya kepada sesama.
Doa Lembar Ketujuh
Yā Alloh, jadikanlah qalbi kami tempat yang teduh,
bukan tempat tumbuhnya penghakiman, kesombongan, dan kebencian.
Ajarkanlah kami mendengarkan dengan kasih,
menjaga rahasia dengan amanah,
serta berbicara pada waktu yang tepat dengan bahasa yang baik.
Berilah kami hikmah ketika menolong,
agar kami tidak membuat manusia bergantung kepada kami,
tidak menguasai kehidupan mereka,
dan tidak menghancurkan diri sendiri karena melewati batas kemampuan.
Lindungilah kami dari orang yang merendahkan,
dan lindungilah lisan kami agar tidak membalas penghinaan dengan penghinaan.
Ampunilah kesalahan masa lalu kami.
Berikan kekuatan untuk bertanggung jawab,
memperbaiki kerusakan,
dan memaafkan diri setelah bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Jauhkanlah qalbi kami dari haus pengakuan.
Cukupkanlah kami dengan pengetahuan bahwa Engkau melihat
setiap amal yang tersembunyi dan perjuangan yang tidak dipahami manusia.
Pertemukanlah kami dengan sahabat yang jujur,
pembimbing yang amanah,
keluarga yang saling menjaga,
dan lingkungan yang membawa kami mendekat kepada kebaikan.
Jauhkanlah kami dari pengabdian yang berubah menjadi perbudakan,
dari ketaatan yang menghapus akal,
serta dari agama yang digunakan untuk menakut-nakuti dan menguasai manusia.
Jadikanlah cahaya yang kami rasakan
berbuah ketenangan, akhlak, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Ingatkanlah kami bahwa umur terus berjalan.
Berilah keberanian untuk meminta maaf sebelum terlambat,
menunaikan hak sebelum kesempatan tertutup,
serta menanam kebaikan yang tetap hidup setelah kami qembali.
Yā Alloh, jangan jadikan kami sumber ketergantungan,
tetapi jadikanlah kami jalan kecil bagi pertolongan-Mu.
Qembalikanlah seluruh cinta, pelayanan, persahabatan,
luka, pengampunan, dan perjalanan hidup kami
qe dalam keridhaan serta luasnya Rahmatulloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Kedelapan — Menapaki Jalan Ridha di Tengah Ketidakpastian
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Wahai hamba yang masih melanjutkan perjalanan, ketahuilah bahwa hidup tidak selalu memberikan kepastian sebelum engkau harus melangkah.
Ada jalan yang baru tampak setelah kaki bergerak. Ada jawaban yang baru dipahami setelah seseorang melewati penantian. Ada hikmah yang baru terbuka ketika luka telah berhenti menguasai pandangan.
Manusia ingin mengetahui seluruh hasil sebelum memulai.
Ia ingin memastikan bahwa cintanya tidak akan gagal, usahanya tidak akan sia-sia, doanya segera dikabulkan, dan pilihannya tidak akan membawa penyesalan.
Namun apabila seluruh perjalanan telah diperlihatkan sejak awal, manusia tidak lagi belajar tawakal.
Maka Alloh menyembunyikan sebagian hari esok agar seorang hamba belajar berjalan dengan iman, ilmu, ikhtiar, dan doa.
Bukan mengetahui seluruh jawaban yang membuat seorang hamba kuat. Kekuatan tumbuh ketika ia tetap memilih jalan yang baik meskipun belum mengetahui bagaimana akhirnya.
Pasal Kesembilan Puluh Satu — Ketidakpastian Bukan Tanda Ditinggalkan
Ketika jalan belum terlihat, jangan segera menganggap Alloh telah meninggalkanmu.
Bisa jadi engkau sedang diminta berhenti sejenak agar tidak memasuki pintu yang salah.
Bisa jadi sebuah keterlambatan sedang melindungimu dari sesuatu yang belum engkau ketahui.
Bisa pula jawaban belum datang karena dirimu sedang dipersiapkan untuk menerima amanah yang lebih besar.
Jangan menafsirkan seluruh penundaan sebagai penolakan.
Namun jangan pula menggunakan tawakal sebagai alasan untuk tidak mengambil keputusan.
Kumpulkan informasi.
Mintalah nasihat.
Pertimbangkan akibat.
Laksanakan istikharah dan doa.
Kemudian pilihlah jalan yang paling mendekati kebaikan.
Setelah itu, jangan terus menyiksa diri dengan pertanyaan:
“Bagaimana apabila pilihanku salah?”
Manusia dapat berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap memiliki keterbatasan.
Apabila engkau telah memilih dengan niat yang baik dan pertimbangan yang benar, jalani dengan tanggung jawab. Apabila kemudian terbukti keliru, ambillah pelajaran dan perbaiki arah.
Kesalahan yang disadari bukan akhir perjalanan. Ia dapat menjadi penunjuk bagi langkah berikutnya.
Pasal Kesembilan Puluh Dua — Ridha Bukan Berhenti Berusaha
Sebagian manusia mengira bahwa ridha berarti menerima apa pun tanpa bergerak.
Padahal ridha bukan menyerah kepada kezaliman, kemalasan, ataupun keadaan yang masih dapat diperbaiki.
Ridha adalah menerima bahwa hidup berada dalam ketetapan Alloh, sambil tetap menunaikan bagian ikhtiar yang dipercayakan kepadamu.
Apabila sakit, berobatlah.
Apabila hakmu dirampas, tempuhlah jalan yang baik untuk memperjuangkannya.
Apabila hubungan rusak, upayakan perbaikan selama masih aman dan memungkinkan.
Apabila pekerjaan tidak mencukupi kebutuhan, belajarlah, carilah peluang, dan susunlah langkah baru.
Ridha tidak mematikan gerak. Ridha membersihkan gerak dari keputusasaan.
Seorang hamba yang ridha berkata:
“Aku menerima bahwa keadaan ini sedang terjadi, tetapi aku tetap akan berusaha menjalankan tanggung jawabku dengan sebaik-baiknya.”
Ia tidak menghabiskan tenaga untuk menyangkal kenyataan. Ia menggunakan tenaganya untuk memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki dan menyerahkan apa yang tidak mampu dikuasainya kepada Alloh.
Pasal Kesembilan Puluh Tiga — Menerima Bukan Berarti Menyukai
Ada keadaan yang harus diterima meskipun tidak engkau sukai.
Kehilangan tetap menyakitkan.
Kegagalan tetap mengecewakan.
Perpisahan tetap meninggalkan ruang kosong.
Penyakit tetap dapat membuat tubuh dan qalbi merasa lelah.
Menerima tidak berarti mengatakan bahwa semua itu menyenangkan.
Menerima berarti berhenti berperang melawan kenyataan yang tidak lagi dapat diubah.
Engkau boleh menangis.
Engkau boleh merasa kecewa.
Engkau boleh membutuhkan waktu.
Namun jangan membiarkan seluruh hidup berhenti pada satu kejadian.
Katakanlah:
“Aku tidak menyukai apa yang terjadi, tetapi aku akan belajar menjalaninya tanpa menghancurkan diriku.”
Penerimaan membuka ruang bagi penyembuhan. Penolakan yang terus-menerus membuat luka selalu terasa baru.
Pasal Kesembilan Puluh Empat — Ketika Rencana Tidak Berjalan
Manusia menyusun rencana karena ia diberi akal. Namun ia tidak diberi kuasa untuk menentukan seluruh hasil.
Ada rencana yang berhasil. Ada yang berubah. Ada pula yang runtuh sebelum sempat dimulai.
Ketika rencanamu gagal, jangan segera menyebut seluruh usaha sebagai kesia-siaan.
Mungkin hasilnya tidak sesuai harapan, tetapi prosesnya telah mengajarkan keterampilan, ketekunan, batas diri, dan siapa yang benar-benar berada di sisimu.
Evaluasilah dengan jujur.
Apakah tujuanmu masih baik?
Apakah caranya perlu diubah?
Apakah waktunya belum tepat?
Apakah engkau harus berhenti dan memilih jalan lain?
Berhenti dari satu rencana bukan selalu tanda menyerah.
Terkadang keberanian terbesar adalah mengakui bahwa sebuah jalan tidak lagi membawa kepada kebaikan.
Namun jangan berpindah arah setiap kali menemui kesulitan kecil. Bedakan antara jalan yang memang salah dan jalan benar yang hanya membutuhkan kesabaran lebih panjang.
Pasal Kesembilan Puluh Lima — Takut Memulai Kembali
Ada orang yang bertahan dalam keadaan buruk bukan karena ia masih percaya, melainkan karena takut memulai kembali.
Ia takut usianya terlalu jauh.
Ia takut kehilangan kenyamanan.
Ia takut dinilai gagal.
Ia takut tidak menemukan jalan yang lebih baik.
Wahai hamba, umur yang telah berlalu tidak harus menjadi alasan untuk menghabiskan sisa umur di tempat yang merusakmu.
Memulai kembali memang tidak mudah. Engkau mungkin harus belajar dari awal, mengakui kesalahan, menata keuangan, memperbaiki kebiasaan, atau membangun kepercayaan baru.
Tetapi setiap hari yang masih diberikan adalah pintu.
Tidak ada kehinaan dalam memulai dari langkah kecil.
Kehinaan bukan pada kehilangan kedudukan. Kehinaan muncul ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi terus memilih kebohongan hanya untuk mempertahankan penampilan.
Mulailah dengan apa yang mampu dilakukan hari ini.
Jangan menunggu dirimu tidak takut. Berjalanlah dengan takut yang telah diletakkan dalam doa dan kehati-hatian.
Pasal Kesembilan Puluh Enam — Qalbi yang Terlalu Lama Menunggu Izin Manusia
Ada keputusan yang memang memerlukan musyawarah. Namun ada pula kehidupan yang tertunda karena seseorang terus menunggu semua manusia menyetujuinya.
Ia ingin berubah, tetapi takut keluarga mencela.
Ia ingin belajar, tetapi takut dianggap terlambat.
Ia ingin meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi takut kehilangan kelompoknya.
Ia ingin menjalani jalan yang lebih baik, tetapi terlalu sibuk memikirkan bagaimana manusia akan menilainya.
Dengarkan orang yang bijaksana. Hormati orang tua. Pertimbangkan keadaan keluarga.
Namun jangan menyerahkan seluruh arah hidupmu kepada penilaian manusia.
Pada akhirnya, engkau yang akan menanggung akibat dari keputusanmu.
Mintalah restu dengan adab, tetapi jangan menggunakan ketidaksetujuan manusia sebagai alasan untuk terus berada dalam kesalahan yang jelas.
Ketaatan kepada manusia tidak boleh membawa kepada rusaknya iman, keselamatan, dan kehormatan.
Pasal Kesembilan Puluh Tujuh — Ketika Keberhasilan Datang Terlambat
Tidak semua benih tumbuh pada musim yang sama.
Ada orang yang menemukan jalan hidupnya sejak muda. Ada yang baru memperoleh kemantapan setelah melewati banyak pekerjaan, kegagalan, dan penantian.
Jangan merasa hidupmu tertinggal hanya karena hasilmu belum sama dengan orang lain.
Waktu yang panjang tidak selalu berarti engkau gagal. Bisa jadi engkau sedang membangun dasar yang tidak terlihat.
Namun jangan hanya menunggu sambil mengatakan bahwa waktumu belum tiba.
Tanyakanlah dengan jujur:
Apakah engkau benar-benar sedang mempersiapkan diri?
Apakah engkau belajar?
Apakah engkau mencoba?
Apakah engkau memperbaiki kesalahan yang sama?
Kesabaran bukan tidur di depan pintu. Kesabaran adalah terus bergerak sambil menerima bahwa hasil memiliki waktunya sendiri.
Ketika keberhasilan akhirnya datang, jangan menghina perjalanan yang lambat. Bisa jadi kelambatan itu telah menyelamatkanmu dari kesombongan dan mengajarkanmu menghargai setiap langkah.
Pasal Kesembilan Puluh Delapan — Kegagalan yang Menjaga Manusia dari Kesombongan
Ada keberhasilan yang membuat seseorang bersyukur. Ada pula keberhasilan yang membuatnya merasa tidak membutuhkan siapa pun.
Maka terkadang kegagalan datang untuk mengingatkan batas manusia.
Ia memperlihatkan bahwa kecerdasan tidak menjamin seluruh hasil.
Ia menunjukkan bahwa kerja keras tetap memerlukan pertolongan Alloh, keadaan yang mendukung, dan kebaikan banyak orang.
Jangan membenci seluruh kegagalan.
Sebagian kegagalan membongkar niat yang salah. Sebagian lainnya memaksa seseorang belajar lebih dalam. Ada pula yang memindahkannya dari jalan yang akan merusak kehidupan.
Namun jangan membungkus kelalaian dengan kata “takdir”.
Apabila engkau gagal karena tidak mempersiapkan diri, akuilah.
Apabila engkau jatuh karena mengabaikan nasihat, belajarlah.
Apabila engkau terlambat karena menunda, jangan menyalahkan waktu.
Kerendahan hati tumbuh ketika seseorang mampu mengakui bagian yang menjadi kesalahannya tanpa kehilangan harapan kepada rahmat Alloh.
Pasal Kesembilan Puluh Sembilan — Jangan Menghukum Hari Ini dengan Kesalahan Kemarin
Masa lalu memberikan pelajaran, tetapi jangan biarkan ia merampas setiap kesempatan baru.
Seseorang yang pernah dikhianati dapat menganggap semua manusia akan berkhianat.
Seseorang yang pernah gagal dapat takut mencoba apa pun.
Seseorang yang pernah dipermalukan dapat menutup diri dari seluruh hubungan.
Ketakutan itu dapat dipahami, tetapi jangan membiarkannya menjadi penguasa.
Orang yang berada di hadapanmu hari ini bukan selalu orang yang menyakitimu kemarin.
Kesempatan yang datang sekarang tidak selalu akan berakhir seperti kesempatan sebelumnya.
Berhati-hatilah, tetapi jangan menutup seluruh pintu.
Gunakan pengalaman sebagai lampu, bukan sebagai tembok.
Lampu membantu melihat bahaya. Tembok membuatmu tidak pernah melihat jalan baru.
Pasal Keseratus — Ketika Qalbi Mulai Tenang
Ketenangan bukan berarti seluruh persoalan telah hilang.
Tanda qalbi mulai tenang adalah ketika masalah masih ada, tetapi engkau tidak lagi kehilangan seluruh dirimu karenanya.
Engkau dapat memikirkan jalan keluar tanpa tenggelam dalam kepanikan.
Engkau dapat mendengar pendapat berbeda tanpa merasa harga dirimu hancur.
Engkau dapat menerima bahwa tidak semua orang memahami pilihanmu.
Engkau mampu beristirahat tanpa merasa bersalah, bekerja tanpa diperbudak hasil, serta berdoa tanpa terus mendikte bagaimana Alloh harus menjawab.
Qalbi yang tenang tidak selalu diam. Ia tetap dapat menangis, menyampaikan keberatan, dan memperjuangkan kebenaran.
Namun tindakannya tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh ketakutan, amarah, dan keinginan untuk membalas.
Ketenangan adalah kekuatan yang tidak banyak berbicara tetapi menjaga arah.
Pasal Keseratus Satu — Menjaga Diri dari Kebisingan Dunia
Tidak semua informasi perlu masuk ke dalam pikiranmu.
Terlalu banyak mendengar pertengkaran, kabar buruk, perbandingan hidup, dan penilaian manusia dapat membuat qalbi kehilangan kejernihan.
Pilihlah apa yang engkau lihat dan dengar.
Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, tetapi agar pikiran tidak terus-menerus dipenuhi sesuatu yang tidak dapat engkau tangani.
Kurangi percakapan yang hanya menyebarkan aib.
Jauhkan diri dari tontonan yang membuatmu terus merasa kurang.
Berhentilah membaca komentar yang hanya menumbuhkan amarah apabila tidak ada manfaat yang dapat engkau lakukan.
Berikan ruang bagi kesunyian, ilmu, ibadah, keluarga, alam, pekerjaan yang nyata, dan percakapan yang menyehatkan.
Qalbi juga memiliki pintu. Jangan biarkan semua suara masuk tanpa penjagaan.
Pasal Keseratus Dua — Jangan Menjadikan Kesibukan sebagai Pelarian
Ada orang yang terus bekerja bukan hanya karena tanggung jawab, tetapi karena takut berhadapan dengan dirinya sendiri.
Ia memenuhi setiap waktu agar tidak mendengar kesedihan yang disimpan. Ia membantu semua orang agar tidak perlu memikirkan lukanya sendiri.
Kesibukan dapat membuat manusia terlihat kuat, tetapi luka yang tidak pernah diperhatikan akan tetap mencari jalan untuk muncul.
Berhentilah sejenak.
Tanyakan:
“Apa yang sebenarnya sedang kuhindari?”
Mungkin engkau perlu berduka.
Mungkin ada percakapan yang harus dilakukan.
Mungkin tubuhmu meminta istirahat.
Mungkin engkau membutuhkan pertolongan, bukan pekerjaan tambahan.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menjadikan pekerjaan sebagai tempat bersembunyi dari qalbi.
Pasal Keseratus Tiga — Beristirahat Tanpa Kehilangan Tujuan
Istirahat bukan kemunduran.
Tanah juga memerlukan jeda sebelum kembali ditanami. Tubuh memerlukan tidur. Pikiran memerlukan waktu tanpa tuntutan.
Jangan menunggu jatuh sakit untuk memberi dirimu kesempatan berhenti.
Namun istirahat berbeda dengan meninggalkan seluruh tanggung jawab tanpa batas.
Tentukan waktunya. Gunakan untuk memulihkan tenaga, bukan untuk semakin menjauh dari kehidupan.
Setelah beristirahat, qembalilah dengan langkah yang lebih teratur.
Tidak perlu langsung berlari.
Mulailah dari satu tugas.
Satu percakapan.
Satu ibadah yang dijaga.
Satu kebiasaan kecil yang diperbaiki.
Perjalanan tidak selalu memerlukan kecepatan. Ia memerlukan keberlanjutan.
Pasal Keseratus Empat — Ketika Orang Lain Tidak Memahami Perjalananmu
Ada bagian hidup yang sulit dijelaskan kepada orang lain.
Mereka melihat keputusanmu, tetapi tidak mengetahui malam-malam yang engkau lalui sebelum mengambilnya.
Mereka melihatmu menjauh, tetapi tidak mengetahui berapa lama engkau mencoba bertahan.
Mereka melihatmu memulai kembali, tetapi tidak mengetahui seberapa besar ketakutan yang engkau hadapi.
Jangan habiskan seluruh tenaga untuk meyakinkan setiap orang.
Jelaskan kepada mereka yang berhak mengetahui dan benar-benar berkaitan dengan keputusanmu.
Untuk yang lainnya, biarkan waktu dan akhlakmu menjadi penjelasan.
Namun jangan menggunakan kalimat “mereka tidak memahami” untuk menolak seluruh kritik.
Bisa jadi ada bagian yang memang perlu engkau dengar.
Kerendahan hati mampu melakukan dua hal: tidak diperbudak penilaian manusia dan tetap terbuka terhadap nasihat yang benar.
Pasal Keseratus Lima — Berdamai dengan Hal yang Tidak Mendapat Penutup
Tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban.
Ada orang yang pergi tanpa menjelaskan. Ada hubungan yang berakhir tanpa percakapan terakhir. Ada kesalahan yang tidak pernah diakui pelakunya.
Menunggu penutup dari orang lain dapat membuatmu tetap berdiri di depan pintu yang telah lama tertutup.
Terkadang engkau harus menciptakan penutup di dalam dirimu sendiri.
Bukan dengan mengarang jawaban, tetapi dengan menerima bahwa sebagian hal akan tetap tidak diketahui.
Katakanlah:
“Aku mungkin tidak akan memahami seluruh sebabnya, tetapi aku memilih tidak lagi menyerahkan hidupku kepada pertanyaan ini.”
Doakan kebaikan sejauh qalbimu mampu.
Lepaskan keinginan untuk memaksa seseorang menjelaskan sesuatu yang tidak ingin atau tidak mampu ia jelaskan.
Penutup sejati tidak selalu datang dari percakapan. Ia dapat datang dari keputusan untuk berhenti mengulang luka yang sama di dalam pikiran.
Pasal Keseratus Enam — Ketika Keadilan Belum Terlihat
Ada kezaliman yang segera terbuka. Ada pula yang tampak seolah-olah tidak memperoleh balasan.
Pelaku terlihat tenang, sedangkan orang yang disakiti masih berjuang memulihkan diri.
Keadaan itu dapat membuat qalbi bertanya:
“Di manakah keadilan?”
Wahai hamba, janganlah kerinduan kepada keadilan berubah menjadi izin untuk melakukan kezaliman baru.
Tempuhlah jalan yang tersedia.
Sampaikan kebenaran.
Cari saksi dan bukti.
Mintalah perlindungan.
Gunakan jalan hukum atau musyawarah yang tepat.
Namun apabila hasil belum sesuai harapan, jangan biarkan hidupmu sepenuhnya dikendalikan oleh pelaku.
Keadilan penting, tetapi pemulihanmu juga penting.
Engkau tidak mengkhianati kebenaran ketika mulai tersenyum kembali.
Engkau tidak membenarkan kezaliman ketika memilih melanjutkan hidup.
Serahkan perkara yang berada di luar kemampuanmu kepada keadilan Alloh, sambil tetap menjalankan langkah yang benar di dunia.
Pasal Keseratus Tujuh — Tidak Semua Pertempuran Harus Dimasuki
Ada perdebatan yang dapat memberi manfaat. Ada pula yang hanya menghabiskan tenaga dan mengotori qalbi.
Sebelum menjawab, tanyakan:
Apakah orang ini benar-benar ingin memahami?
Apakah perkataanku akan memperbaiki keadaan?
Apakah masalah ini berada dalam tanggung jawabku?
Apakah diam dan pergi justru lebih menjaga kebaikan?
Tidak setiap tuduhan membutuhkan pembelaan panjang.
Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan kepada semua orang.
Terkadang kebenaran cukup disampaikan kepada pihak yang berkaitan, lalu biarkan waktu memperlihatkannya.
Namun jangan menggunakan ketenangan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab ketika penjelasan memang diperlukan.
Hikmah adalah mengetahui pertempuran mana yang harus dimasuki, mana yang harus diselesaikan dengan damai, dan mana yang harus ditinggalkan.
Pasal Keseratus Delapan — Ketika Hati Ingin Membalas
Keinginan membalas biasanya muncul ketika seseorang merasa kehormatannya dirampas.
Qalbi berkata:
“Ia harus merasakan apa yang kurasakan.”
Namun luka yang dibalas dengan luka tidak selalu menghasilkan keadilan. Sering kali ia hanya melahirkan rantai baru.
Menahan diri bukan berarti engkau tidak memiliki kekuatan.
Justru kekuatan tampak ketika engkau mampu memilih tindakan berdasarkan kebenaran, bukan berdasarkan ledakan amarah.
Ambillah hakmu dengan cara yang baik. Tetapkan batas. Laporkan kezaliman apabila diperlukan.
Tetapi jangan menambah kebohongan, penghinaan, ataupun tindakan yang menjadikanmu serupa dengan orang yang menyakitimu.
Jangan menyerahkan akhlakmu kepada tangan musuh.
Biarkan kesalahan mereka menjadi tanggung jawab mereka. Jangan jadikan luka itu alasan untuk menambah kesalahan pada dirimu sendiri.
Pasal Keseratus Sembilan — Memaafkan Kehidupan yang Tidak Berjalan Sesuai Harapan
Terkadang yang perlu dimaafkan bukan hanya manusia, tetapi gambaran hidup yang tidak pernah terwujud.
Engkau mungkin pernah membayangkan keluarga yang berbeda.
Pekerjaan yang lebih tinggi.
Tubuh yang lebih sehat.
Anak yang tumbuh sesuai harapan.
Pasangan yang mampu memahami seluruh dirimu.
Ketika kenyataan berbeda, qalbi dapat menyimpan kemarahan kepada kehidupan.
Ia terus berkata:
“Seharusnya hidupku tidak seperti ini.”
Wahai hamba, engkau berhak berduka atas impian yang tidak terwujud. Namun jangan biarkan bayangan hidup yang ideal membuatmu membenci seluruh nikmat yang masih ada.
Lihatlah kenyataan dengan jujur.
Apa yang masih dapat diperbaiki, perbaikilah.
Apa yang harus diterima, terimalah perlahan.
Apa yang telah hilang, serahkanlah.
Hidupmu mungkin tidak sama dengan yang dahulu engkau bayangkan, tetapi itu tidak berarti ia kehilangan seluruh makna.
Pasal Keseratus Sepuluh — Jalan Ridha yang Tidak Berisik
Ridha tidak selalu tampak melalui ucapan besar.
Kadang ia hadir ketika seorang ibu tetap menyiapkan makanan meskipun hatinya sedang lelah.
Ketika seorang ayah tetap mencari nafkah dengan jujur walaupun hasilnya belum banyak.
Ketika seseorang tetap merawat tubuhnya di tengah penyakit.
Ketika seorang hamba tetap shalat meskipun doanya belum memperoleh jawaban yang ia harapkan.
Ridha tumbuh dalam perkara kecil yang terus dilakukan tanpa banyak disaksikan.
Ia bukan perasaan yang datang sekali lalu menetap selamanya.
Hari ini engkau dapat merasa lapang. Esok rasa berat mungkin kembali.
Maka qembalilah lagi.
Qembalilah kepada doa.
Qembalilah kepada napas yang tenang.
Qembalilah kepada orang yang aman.
Qembalilah kepada tugas yang berada di hadapanmu.
Qembalilah kepada Alloh.
Jalan ridha adalah jalan kepulangan yang ditempuh berulang kali hingga qalbi memahami bahwa ketenangan tidak berasal dari kemampuan mengendalikan seluruh dunia, melainkan dari keyakinan bahwa dirinya tetap berada dalam pengetahuan dan penjagaan Alloh.
Wejangan Lembar Kedelapan
Wahai hamba yang sedang menapaki jalan ridha, jangan menunggu seluruh ketidakpastian hilang untuk mulai hidup.
Lakukan apa yang dapat engkau lakukan.
Jaga ibadahmu.
Rawat tubuhmu.
Tunaikan pekerjaanmu.
Perbaiki hubungan yang masih dapat diperbaiki.
Jauhkan diri dari bahaya yang harus dijauhi.
Dan lepaskan apa yang tidak lagi berada dalam kuasamu.
Jangan merasa bahwa tawakal berarti engkau tidak boleh takut.
Keberanian bukan tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah dengan hati-hati meskipun takut masih berada di dalam dada.
Jangan pula menganggap ridha berarti tidak boleh menangis.
Air mata dapat turun sementara qalbi tetap percaya.
Duka dapat hadir sementara iman tetap berdiri.
Pertanyaan dapat tersisa sementara seorang hamba tetap bersujud.
Alloh tidak meminta engkau mengetahui seluruh jalan.
Engkau hanya diminta menjaga langkah yang sedang berada di hadapanmu.
Apabila hari esok belum jelas, jangan biarkan ketidakjelasannya merampas kebaikan hari ini.
Apabila masa lalu masih memanggil, jawablah dengan pelajaran, bukan dengan kembali tinggal di dalamnya.
Apabila manusia tidak memahami, tetaplah menjaga adab.
Apabila hasil belum datang, teruslah memperbaiki ikhtiar.
Sebab perjalanan sang hamba bukan tentang seberapa cepat ia sampai, melainkan seberapa jujur ia terus qembali ketika arah mulai kabur.
Doa Lembar Kedelapan
Yā Alloh, kuatkanlah kami berjalan di tengah ketidakpastian.
Jangan biarkan ketakutan menghentikan seluruh langkah kami,
dan jangan biarkan keberanian berubah menjadi kecerobohan.
Berilah kami ilmu sebelum memilih,
kejernihan ketika mempertimbangkan,
keberanian ketika harus melangkah,
serta kerendahan hati untuk memperbaiki arah ketika keliru.
Ajarkanlah kami ridha tanpa menjadi pasif,
berusaha tanpa merasa menguasai hasil,
serta menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Apabila rencana kami gagal,
bukakan hikmah dan jalan pengganti.
Apabila keberhasilan kami tertunda,
jagalah kami dari iri, malas, dan keputusasaan.
Sembuhkanlah ketakutan yang lahir dari masa lalu.
Jangan biarkan luka kemarin menghukum orang, kesempatan,
dan kehidupan yang hadir pada hari ini.
Tenangkanlah qalbi kami dari kebisingan dunia.
Lindungilah pikiran kami dari prasangka, perbandingan,
serta informasi yang merampas kejernihan dan rasa syukur.
Ajarkanlah kami beristirahat tanpa meninggalkan amanah,
bekerja tanpa melupakan diri,
dan menolong tanpa menjadikan kesibukan sebagai pelarian dari luka.
Yā Alloh, apabila manusia tidak memahami perjalanan kami,
cukupkanlah kami dengan bimbingan-Mu.
Namun jangan jadikan kami keras terhadap nasihat yang benar.
Berilah kami kedamaian terhadap perkara
yang tidak memperoleh penjelasan dan penutup.
Lepaskan qalbi kami dari pertanyaan yang tidak lagi membawa perbaikan.
Apabila kami dizalimi, tunjukkan jalan keadilan yang benar.
Lindungilah kami dari balasan yang melampaui batas,
dan jangan biarkan perbuatan orang lain merampas akhlak kami.
Ajarkanlah kami menerima kehidupan
yang tidak selalu berjalan sesuai harapan,
serta melihat nikmat yang masih Engkau tinggalkan
di tengah kehilangan dan perubahan.
Tumbuhkanlah ridha yang lembut di dalam qalbi kami,
ridha yang tidak membunuh ikhtiar,
tidak membenarkan kezaliman,
dan tidak menjauhkan kami dari tanggung jawab.
Qembalikanlah rasa takut kami menjadi doa,
keraguan kami menjadi kehati-hatian,
kegagalan kami menjadi pelajaran,
dan seluruh ketidakpastian kami
qe dalam ketenangan serta luasnya Rahmatulloh.
QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh
Lembar Kesembilan dan Terakhir — Gerbang Kepulangan Sang Hamba
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Segala puji bagi Alloh yang menciptakan kehidupan sebagai perjalanan, menjadikan setiap perjumpaan sebagai pelajaran, setiap kehilangan sebagai pengingat, setiap air mata sebagai pembasuh qalbi, dan setiap taubat sebagai pintu kepulangan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembawa risalah kasih, penuntun manusia dari gelapnya kebingungan menuju cahaya iman, dari kerasnya qalbi menuju kelembutan akhlak, serta dari kesombongan diri menuju ketundukan kepada Alloh.
Wahai hamba yang telah berjalan bersama lembar demi lembar qitab ini, kini engkau telah sampai pada bagian terakhir. Namun jangan mengira bahwa berakhirnya tulisan adalah berakhirnya perjalanan.
Tulisan boleh selesai, tetapi kehidupan masih harus dijalani.
Nasihat boleh ditutup, tetapi qalbi masih harus dijaga.
Doa boleh mencapai kalimat terakhir, tetapi permohonan seorang hamba kepada Alloh tidak pernah memiliki batas.
Lembar terakhir ini bukanlah tanda bahwa engkau telah sampai pada kesempurnaan. Ia adalah gerbang agar engkau kembali memasuki kehidupan dengan pandangan yang lebih jernih, langkah yang lebih tenang, serta niat yang lebih bersih.
Engkau tetap akan menghadapi hari yang berat.
Engkau mungkin kembali menangis.
Engkau mungkin melakukan kesalahan.
Engkau mungkin menemukan dirimu berada di persimpangan yang tidak pernah engkau perkirakan.
Namun semoga setelah membaca perjalanan ini, engkau mengetahui satu perkara:
Tidak ada keadaan yang terlalu gelap selama seorang hamba masih mengetahui arah untuk qembali kepada Alloh.
Pasal Keseratus Sebelas — Kehidupan Adalah Amanah, Bukan Kepemilikan
Wahai hamba, janganlah engkau menjalani kehidupan seakan-akan seluruhnya berada dalam kuasamu.
Engkau tidak memilih kapan dilahirkan.
Engkau tidak dapat memastikan berapa lama umur diberikan.
Engkau tidak dapat menahan orang yang waktunya telah tiba untuk pergi.
Engkau pun tidak mampu memaksa seluruh rencana berjalan sesuai kehendakmu.
Kehidupan adalah amanah yang diberikan dalam waktu terbatas.
Tubuhmu adalah tempat sementara.
Rumahmu adalah tempat singgah.
Keluargamu adalah titipan.
Harta dan kedudukanmu adalah ujian.
Nama yang dihormati manusia pun suatu hari akan menjadi kenangan.
Karena itu, jangan menjadikan titipan sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Apabila diberikan kekuatan, gunakanlah untuk melindungi.
Apabila diberikan ilmu, gunakanlah untuk membimbing tanpa merendahkan.
Apabila diberikan harta, jadikanlah ia jalan pertolongan.
Apabila diberikan cinta, jagalah dengan kesetiaan dan adab.
Dan apabila sesuatu diambil kembali, menangislah apabila qalbimu perlu menangis, tetapi jangan menuduh Pemilik kehidupan telah berlaku zalim.
Segala sesuatu berasal dari-Nya dan pada akhirnya qembali kepada-Nya.
Pasal Keseratus Dua Belas — Jangan Menunda Menjadi Manusia yang Baik
Banyak manusia menunggu keadaan ideal untuk berubah.
Ia berkata:
“Aku akan menjadi lebih baik setelah masalahku selesai.”
Padahal masalah tidak pernah benar-benar selesai.
Satu urusan berlalu, urusan lain datang. Satu pintu terbuka, tanggung jawab baru menyertainya.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan menunggu memiliki banyak ilmu untuk berbagi kebaikan.
Jangan menunggu usia tua untuk memperbaiki ibadah.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kehadiran seseorang.
Kebaikan selalu dapat dimulai dari perkara yang berada dalam kemampuanmu hari ini.
Senyum kepada orang yang sedang kesulitan.
Mengucapkan terima kasih kepada orang yang selama ini membantu.
Meminta maaf atas ucapan yang melukai.
Menghentikan satu kebiasaan yang merusak.
Menjaga satu waktu shalat dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada langkah yang terlalu kecil apabila arahnya menuju keridhaan Alloh.
Pasal Keseratus Tiga Belas — Taubat yang Menghidupkan, Bukan Menyiksa
Taubat bukanlah penjara tempat manusia terus-menerus menghukum dirinya.
Taubat adalah pintu agar seseorang keluar dari kesalahan menuju perbaikan.
Jangan mengaku bertaubat tetapi terus mengulangi kesalahan tanpa usaha menutup jalannya.
Namun jangan pula mengaku bertaubat lalu membenci dirimu sepanjang hidup.
Akuilah apa yang telah terjadi.
Sesali dengan kejujuran.
Hentikan perbuatannya.
Perbaiki hak manusia yang telah dirusak.
Bangun kebiasaan baru yang menjauhkanmu dari pintu lama.
Setelah itu, berjalanlah.
Jangan terus berdiri di hadapan masa lalu seolah-olah Alloh tidak memiliki ampunan.
Penyesalan yang baik akan melahirkan tanggung jawab.
Penyesalan yang berlebihan tanpa perbaikan hanya akan melemahkan jiwa.
Apabila engkau jatuh kembali, jangan menyerah.
Periksa mengapa engkau jatuh.
Mungkin doamu belum disertai perubahan lingkungan. Mungkin niatmu kuat, tetapi jalan menuju kesalahan masih terbuka. Mungkin engkau membutuhkan bantuan yang selama ini engkau tolak karena gengsi.
Taubat bukan hanya tangisan malam. Taubat adalah perubahan yang terlihat pada siang hari.
Pasal Keseratus Empat Belas — Rahmatulloh Lebih Luas daripada Masa Lalumu
Ada manusia yang merasa kesalahannya terlalu besar.
Ia takut mendekat kepada Alloh karena malu dengan apa yang pernah dilakukan.
Ia menganggap dirinya tidak pantas berdoa, tidak pantas dicintai, dan tidak pantas memperoleh kesempatan baru.
Wahai hamba, rasa malu yang membawamu kepada perbaikan adalah cahaya. Namun rasa malu yang membuatmu menjauh dari Alloh adalah perangkap keputusasaan.
Jangan mengukur rahmat Alloh dengan sempitnya pikiranmu.
Jangan mengira dosamu lebih besar daripada ampunan-Nya.
Namun jangan pula menggunakan keluasan rahmat sebagai alasan untuk meremehkan maksiat.
Harapan harus berjalan bersama rasa takut berbuat salah.
Cinta kepada Alloh harus melahirkan ketaatan.
Dan keyakinan terhadap ampunan harus menghasilkan taubat yang bersungguh-sungguh.
Datanglah kepada Alloh dengan seluruh kerusakanmu.
Jangan menunggu menjadi bersih untuk mencari-Nya.
Engkau mencari-Nya justru agar dibersihkan.
Pasal Keseratus Lima Belas — Perempuan yang Qembali kepada Kemuliaannya
Wahai perempuan, engkau bukan sekadar wajah yang dinilai, tubuh yang diperbandingkan, atau peran yang ditentukan oleh perkataan manusia.
Engkau adalah hamba Alloh yang memiliki kehormatan, akal, amanah, dan jalan pengabdian.
Jangan membiarkan masyarakat membuatmu merasa tidak bernilai hanya karena perjalananmu berbeda.
Apabila engkau belum menikah, engkau tetap memiliki kemuliaan.
Apabila engkau belum dikaruniai anak, kehidupanmu tetap dapat dipenuhi manfaat.
Apabila engkau pernah gagal dalam rumah tangga, engkau bukan manusia yang kehilangan seluruh masa depan.
Apabila engkau pernah disakiti, luka itu tidak menghapus harga dirimu.
Mahkotamu bukan hanya perhiasan yang tampak.
Mahkotamu adalah kemampuan menjaga diri tanpa membenci.
Keberanian berkata benar tanpa kehilangan kelembutan.
Kesediaan mengasihi tanpa menyerahkan kehormatan kepada orang yang zalim.
Ketekunan menjalankan amanah meskipun tidak memperoleh banyak pujian.
Jangan menjadi keras hanya karena pernah terluka.
Namun jangan tetap membuka pintu kepada orang yang tidak menghormati batas.
Berjalanlah dengan kasih yang dijaga oleh ilmu.
Lembutlah, tetapi jangan mudah dikuasai.
Tegaslah, tetapi jangan dipenuhi kebencian.
Dan apabila dunia tidak mampu memahami perjalananmu, cukupkanlah qalbimu dengan pengetahuan bahwa Alloh mengetahui segala perjuangan yang tersembunyi.
Pasal Keseratus Enam Belas — Laki-Laki yang Qembali kepada Amanahnya
Wahai laki-laki, kemuliaanmu tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia takut kepadamu.
Kemuliaanmu terlihat dari seberapa aman orang lain berada di dekatmu.
Kekuatan bukan hanya kemampuan memerintah.
Kekuatan adalah kemampuan mengendalikan amarah, menjaga janji, mengakui kesalahan, dan tetap jujur ketika tidak ada manusia yang melihat.
Apabila engkau menjadi suami, jadilah tempat yang menghadirkan keamanan, bukan ketakutan.
Apabila engkau menjadi ayah, hadirkan dirimu bukan hanya melalui nafkah, tetapi juga melalui kasih, pelukan, arahan, dan teladan.
Apabila engkau menjadi pemimpin, jangan menggunakan kedudukan untuk menuntut penghormatan tanpa menunaikan tanggung jawab.
Jangan berlindung di balik agama untuk membenarkan kekerasan akhlak.
Jangan menyebut kekasaran sebagai ketegasan.
Jangan menyebut penguasaan sebagai perlindungan.
Laki-laki yang mulia tidak takut meminta maaf.
Ia tidak kehilangan kehormatan ketika mengakui kelemahan.
Ia tidak malu mencari pertolongan ketika beban telah melampaui kemampuannya.
Ia memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti memikul semua hal seorang diri.
Menjadi kuat adalah mengetahui kapan berdiri, kapan menundukkan ego, serta kapan meminta tangan orang lain agar tidak terjatuh lebih jauh.
Pasal Keseratus Tujuh Belas — Pernikahan sebagai Madrasah Qalbi
Dua manusia tidak disatukan agar salah satunya kehilangan diri.
Mereka disatukan untuk belajar amanah, kesabaran, kejujuran, pengorbanan, dan rahmat.
Pernikahan bukan panggung untuk memperlihatkan siapa yang paling berkuasa.
Ia adalah tempat dua orang belajar saling menjaga tanpa saling menguasai.
Jangan menuntut pasangan memahami seluruh isi qalbimu tanpa engkau berbicara.
Jangan menumpuk kecewa lalu mengeluarkannya dalam penghinaan.
Bicarakan kebutuhan sebelum ia berubah menjadi luka.
Dengarkan sebelum membela diri.
Pisahkan perbuatan yang salah dari harga diri seseorang.
Apabila pasanganmu melakukan kesalahan, jangan menghapus seluruh kebaikannya.
Namun apabila ia melakukan kekerasan dan terus menolak berubah, jangan membungkus bahaya dengan nama kesabaran.
Cinta membutuhkan maaf.
Tetapi cinta juga membutuhkan batas.
Pernikahan yang sehat tidak dibangun oleh satu pihak yang terus mengalah dan satu pihak yang terus mengambil.
Ia dibangun oleh dua manusia yang bersedia memperbaiki diri, menunaikan hak, dan qembali kepada Alloh ketika ego mereka mulai bertabrakan.
Pasal Keseratus Delapan Belas — Ketika Kebersamaan Harus Berakhir
Tidak semua kebersamaan berakhir sesuai harapan.
Ada perpisahan karena ajal.
Ada perpisahan karena keadaan.
Ada pula perpisahan karena sebuah hubungan tidak lagi dapat dipertahankan tanpa menghancurkan keselamatan dan kehormatan.
Apabila perpisahan terjadi, jangan jadikan rasa sakit sebagai izin untuk menyebarkan seluruh rahasia.
Jangan memfitnah hanya agar manusia berpihak kepadamu.
Jangan menggunakan anak sebagai alat untuk menghukum orang yang pernah menjadi pasanganmu.
Ambillah hakmu dengan jalan yang benar.
Sampaikan fakta apabila keselamatan dan keadilan memerlukannya.
Namun jangan menambahkan kebohongan.
Seseorang yang mampu menjaga adab ketika berpisah menunjukkan kedalaman akhlaknya.
Engkau tidak harus qembali membuka hubungan yang telah membahayakanmu untuk membuktikan bahwa engkau telah memaafkan.
Engkau boleh mendoakan dari kejauhan.
Engkau boleh melepaskan dendam sambil tetap menutup pintu.
Memaafkan tidak selalu berarti qembali.
Terkadang memaafkan berarti melanjutkan hidup tanpa lagi membawa kebencian, tetapi tetap menjaga pelajaran agar luka tidak terulang.
Pasal Keseratus Sembilan Belas — Anak adalah Amanah, Bukan Milik Mutlak
Anak bukanlah lembar kosong tempat orang tua menuliskan seluruh impian yang tidak sempat dicapai.
Ia adalah jiwa yang dititipkan untuk dibimbing hingga mampu berjalan dengan tanggung jawabnya sendiri.
Ajarkanlah iman tanpa menakut-nakuti secara berlebihan.
Ajarkanlah disiplin tanpa penghinaan.
Ajarkanlah tanggung jawab tanpa mencabut rasa aman.
Ketika ia salah, koreksilah perbuatannya tanpa mengatakan bahwa dirinya adalah anak yang buruk.
Ketika ia gagal, dampingi agar belajar, bukan membuatnya takut mencoba kembali.
Jangan membandingkan anak dengan saudaranya.
Perbandingan dapat menumbuhkan iri, luka, dan persaingan yang dibawa hingga dewasa.
Berikan kasih dengan adil.
Dengarkan ketika ia berbicara.
Jangan menganggap seluruh pertanyaannya sebagai pembangkangan.
Anak yang merasa aman untuk berbicara akan lebih mudah datang kepada orang tuanya ketika dunia di luar rumah membuatnya bingung.
Jangan hanya menyiapkan harta untuk masa depannya.
Siapkan pula ingatan bahwa rumah adalah tempat ia dicintai, ditegur dengan adab, serta diterima tanpa kehilangan batas.
Pasal Keseratus Dua Puluh — Berbakti sebelum Waktu Menutup Pintu
Selagi orang tuamu masih hidup, jangan menunggu penyesalan untuk menunjukkan kasih.
Hubungi mereka.
Dengarkan cerita yang mungkin telah berulang.
Bantu sesuai kemampuan.
Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa suara mereka suatu hari tidak lagi dapat engkau dengar.
Namun bakti tidak berarti membiarkan dirimu terus disakiti tanpa batas.
Apabila ada tindakan yang membahayakan, sampaikan dengan adab dan tetapkan perlindungan yang diperlukan.
Hormati tanpa membenarkan kezaliman.
Bantu tanpa menghancurkan amanah kepada pasangan dan anak-anakmu.
Apabila orang tuamu telah tiada, jangan merasa pintu bakti sepenuhnya tertutup.
Doakan mereka.
Lanjutkan kebaikan yang dahulu mereka cintai.
Sambung hubungan dengan orang yang mereka hormati.
Bayar hak dan kewajiban mereka apabila engkau mengetahui dan mampu menunaikannya.
Dan jadikan hidupmu yang lebih baik sebagai salah satu hadiah bagi mereka.
Pasal Keseratus Dua Puluh Satu — Jangan Mewariskan Luka yang Tidak Engkau Sembuhkan
Luka yang tidak disadari sering berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Seorang anak yang dahulu sering dimarahi tumbuh menjadi orang tua yang mudah membentak.
Seseorang yang dahulu tidak pernah didengarkan tumbuh menjadi pasangan yang sulit mendengarkan.
Orang yang pernah ditinggalkan dapat menjadi terlalu mengekang karena takut kehilangan.
Jangan berkata:
“Aku memang seperti ini karena dahulu diperlakukan demikian.”
Masa lalu menjelaskan sebagian perilakumu, tetapi tidak selalu membenarkannya.
Engkau tetap memiliki tanggung jawab untuk memutus rantai luka.
Kenali pola yang berulang.
Akui saat engkau mulai menyerupai orang yang dahulu menyakitimu.
Mintalah maaf kepada orang yang terkena dampaknya.
Belajarlah cara baru untuk berbicara, mendidik, mencintai, serta menyelesaikan perselisihan.
Penyembuhanmu bukan hanya untuk dirimu.
Ia dapat menjadi perlindungan bagi anak, pasangan, sahabat, dan manusia yang akan datang setelahmu.
Pasal Keseratus Dua Puluh Dua — Tubuh yang Akan Menjadi Saksi
Tubuhmu menyimpan seluruh perjalanan.
Ia merasakan kelelahan yang engkau sembunyikan.
Ia menerima makanan yang engkau pilih.
Ia menanggung kurangnya tidur, tekanan pikiran, serta kebiasaan yang terus diulang.
Jangan mengabaikan tubuh dengan alasan sedang mengejar ibadah atau pekerjaan.
Tubuh juga memiliki hak.
Istirahat bukan kemalasan apabila memang diperlukan.
Berobat bukan tanda kurang iman.
Meminta bantuan ketika pikiran dan emosi tidak lagi terkendali bukanlah kehinaan.
Doa dan ikhtiar tidak saling bertentangan.
Berdzikirlah, tetapi tetaplah mencari pemeriksaan apabila tubuh sakit.
Berdoalah, tetapi jangan menolak pertolongan medis dan psikologis yang tepat.
Alloh dapat menurunkan kesembuhan melalui banyak jalan.
Jangan menjadikan seluruh rasa sakit sebagai pertanda gaib. Sebagian penyakit memerlukan ilmu, obat, perubahan kebiasaan, serta perawatan yang teratur.
Menjaga tubuh berarti menghormati amanah kehidupan.
Pasal Keseratus Dua Puluh Tiga — Hati yang Bersih Tidak Selalu Tanpa Luka
Qalbi yang bersih bukan qalbi yang tidak pernah terluka.
Ia adalah qalbi yang tidak membiarkan luka mengubahnya menjadi sumber kezaliman.
Engkau boleh mengingat.
Engkau boleh berhati-hati.
Engkau boleh menjauh dari seseorang yang terus merusak.
Namun jangan menjadikan pengalaman buruk sebagai alasan untuk membenci seluruh manusia.
Jangan menghukum orang baru atas kesalahan orang lama.
Jangan menutup semua pintu hanya karena satu pintu pernah membawamu ke ruang yang gelap.
Belajarlah membedakan antara kewaspadaan dan kecurigaan.
Kewaspadaan memperhatikan tanda dengan akal yang jernih.
Kecurigaan membuatmu menciptakan bahaya sebelum kenyataan terbukti.
Qalbi yang bersih tidak kehilangan kebijaksanaan.
Ia memaafkan, tetapi tetap mengingat pelajaran.
Ia mencintai, tetapi tidak kehilangan batas.
Ia percaya, tetapi tidak menyerahkan akal.
Pasal Keseratus Dua Puluh Empat — Jangan Menggunakan Agama untuk Menguasai Manusia
Agama diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat, bukan alat untuk membuat manusia takut kepada dirimu.
Jangan mengaku sebagai pembimbing apabila engkau membuat orang merasa keselamatannya bergantung kepadamu.
Jangan menuntut ketaatan buta.
Jangan melarang orang bertanya hanya karena khawatir wibawamu berkurang.
Seorang pembimbing yang amanah akan mengarahkan manusia kepada Alloh, bukan menjadikan dirinya sebagai pusat seluruh ketergantungan.
Ia menguatkan akal sehat.
Ia menghormati batas.
Ia tidak memanfaatkan kelemahan, harta, atau ketakutan orang yang sedang mencari pertolongan.
Ia berani berkata:
“Aku tidak mengetahui,”
ketika memang belum memiliki ilmu.
Ia tidak menjadikan mimpi, firasat, atau pengalaman batin sebagai hukum mutlak untuk mengendalikan hidup orang lain.
Ukurilah ajaran dari buahnya.
Apakah ia membuat manusia lebih jujur?
Lebih bertanggung jawab?
Lebih baik kepada keluarga?
Lebih tenang dan rendah hati?
Ataukah justru membuatnya takut, bergantung, kehilangan akal, serta merasa lebih suci daripada orang lain?
Cahaya yang benar tidak mematikan pikiran.
Cahaya yang benar menghidupkan akhlak.
Pasal Keseratus Dua Puluh Lima — Jangan Tertipu oleh Keistimewaan
Manusia mudah tertarik pada sesuatu yang terlihat luar biasa.
Mimpi yang menakjubkan.
Sensasi ketika berdzikir.
Perasaan memperoleh pesan khusus.
Pengakuan tentang kedudukan ruhani.
Namun jangan menjadikan semua itu sebagai ukuran kemuliaan.
Pengalaman batin dapat terjadi, tetapi ia harus ditimbang dengan ilmu, akal sehat, syariat, dan akibat nyata.
Apabila pengalaman itu membuatmu semakin rendah hati, menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, serta bertanggung jawab, ambillah kebaikannya tanpa membanggakan diri.
Namun apabila ia membuatmu merasa lebih tinggi, mengabaikan kewajiban, takut tanpa alasan, atau merendahkan manusia lain, berhentilah dan periksalah kembali.
Tidak semua yang terasa luar biasa merupakan petunjuk.
Dan tidak semua petunjuk datang dalam bentuk luar biasa.
Terkadang petunjuk hadir sebagai keinginan sederhana untuk meminta maaf.
Sebagai keberanian menghentikan kebohongan.
Sebagai dorongan bekerja dengan jujur.
Sebagai kesadaran bahwa keluarga membutuhkan kehadiranmu.
Jangan mengejar langit hingga melupakan amanah yang berada di bumi.
Pasal Keseratus Dua Puluh Enam — Rezeki yang Membawa Berkah
Rezeki bukan hanya jumlah yang masuk ke tangan.
Rezeki adalah sesuatu yang memberi manfaat, ketenteraman, dan kemampuan menjalankan amanah.
Harta yang banyak tetapi dipenuhi pertengkaran belum tentu membawa kelapangan.
Harta yang sederhana tetapi mencukupi kebutuhan, menjaga kehormatan, serta menguatkan keluarga dapat menjadi keberkahan besar.
Carilah rezeki melalui jalan yang halal.
Jangan menipu karena takut kekurangan.
Jangan mengambil hak orang lain hanya karena melihat mereka memiliki lebih banyak.
Jangan membangun penampilan di atas utang yang tidak mampu engkau tanggung.
Apabila rezeki sedang sempit, kurangi gengsi sebelum mengurangi kejujuran.
Bicarakan keadaan kepada keluarga dengan terbuka.
Susun kebutuhan.
Pisahkan keinginan dari keperluan.
Teruslah belajar dan mencari peluang.
Dan ketika kelapangan datang, jangan segera menaikkan seluruh gaya hidup hingga tidak ada ruang untuk berbagi.
Rezeki yang paling indah adalah rezeki yang membuatmu semakin bersyukur, bukan semakin sombong.
Pasal Keseratus Dua Puluh Tujuh — Harta yang Ditinggalkan dan Nama yang Dilupakan
Suatu hari, rumah yang engkau banggakan akan ditempati orang lain.
Pakaianmu akan dibagikan.
Barang yang engkau jaga akan berpindah tangan.
Sebagian manusia akan mengenangmu untuk beberapa waktu, lalu hidup mereka kembali berjalan.
Jangan bersedih karena kenyataan itu.
Engkau memang tidak diciptakan untuk tinggal selamanya di dunia.
Karena itu, persiapkan sesuatu yang dapat terus memberi manfaat setelah tubuhmu berhenti bergerak.
Didik anak dengan akhlak.
Tanamkan ilmu yang benar.
Bangun kebaikan yang dapat dilanjutkan orang lain.
Bantulah manusia berdiri, bukan bergantung kepadamu.
Selesaikan hak sebelum kematian membuatmu tidak lagi mampu menjelaskannya.
Tulislah wasiat apabila diperlukan.
Jangan meninggalkan utang dan perselisihan yang sebenarnya dapat engkau selesaikan hari ini.
Kematian bukan untuk ditakuti hingga engkau berhenti hidup.
Ia untuk diingat agar engkau menjalani hidup dengan lebih bertanggung jawab.
Pasal Keseratus Dua Puluh Delapan — Ketika Nama Tidak Lagi Disebut
Sebagian manusia hidup untuk memperoleh nama.
Ia ingin dikenang.
Ia ingin dipuji setelah pergi.
Ia ingin manusia mengakui jasa dan kedudukannya.
Padahal nama manusia dapat hilang dari ingatan.
Namun kebaikan dapat tetap hidup meskipun pelakunya tidak lagi dikenal.
Jangan terlalu sibuk memastikan namamu tertulis besar.
Pastikan manfaatmu benar-benar dirasakan.
Ada orang yang namanya tidak pernah disebut di hadapan banyak manusia, tetapi doanya menjaga keluarganya, tangannya menolong tetangga, dan akhlaknya menjadi teladan bagi anak-anak.
Alloh tidak membutuhkan manusia mengenal namamu untuk mengetahui amalmu.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menjadikan pengakuan sebagai tujuan utama.
Apabila namamu dikenal, jadikan itu amanah.
Apabila tidak dikenal, jangan merasa amalmu hilang.
Tidak ada kebaikan yang tersembunyi dari pengetahuan Alloh.
Pasal Keseratus Dua Puluh Sembilan — Memaafkan Sebelum Tidur Panjang
Jangan membawa terlalu banyak kebencian menuju akhir umur.
Kebencian mengikatmu kepada orang yang mungkin telah lama melanjutkan hidup.
Memaafkan bukan berarti engkau menyetujui apa yang mereka lakukan.
Ia berarti engkau tidak lagi menyerahkan seluruh ketenanganmu kepada kesalahan mereka.
Namun sebelum memaafkan orang lain, beranilah mengakui apabila engkau juga pernah menjadi sumber luka.
Hubungi orang yang dapat engkau hubungi.
Mintalah maaf tanpa memaksa mereka menerimamu kembali.
Kembalikan hak.
Hentikan kebiasaan yang merusak.
Jangan menunggu sakit keras untuk menjadi rendah hati.
Jangan menunggu manusia pergi untuk mengakui bahwa engkau mencintainya.
Malam dapat datang tanpa peringatan.
Maka biasakanlah menyelesaikan pertengkaran sebelum tidur apabila keadaan memungkinkan.
Apabila belum dapat selesai, setidaknya jangan tidur dengan niat membalas.
Titipkan perkara kepada Alloh dan jaga lisan agar tidak menambah luka.
Pasal Keseratus Tiga Puluh — Kematian Bukan Akhir Rahmatulloh
Wahai hamba, kematian adalah kepastian yang sering manusia hindari pembicaraannya.
Padahal mengingat kematian dapat melembutkan hati.
Ia mengajarkan bahwa pertengkaran yang dibesarkan hari ini mungkin tidak lagi berarti ketika waktu berakhir.
Ia mengingatkan bahwa harta, kedudukan, kecantikan, serta kekuatan tidak mampu menahan satu napas apabila ketetapan telah datang.
Namun jangan memandang kematian hanya dengan ketakutan.
Bagi seorang hamba yang terus memperbaiki diri, kematian adalah pintu qembali kepada Pemilik kehidupan.
Persiapkanlah dengan iman dan amal, tetapi jangan merasa putus asa karena belum sempurna.
Tidak ada manusia yang qembali membawa kesempurnaan.
Yang dapat dibawa adalah taubat yang jujur, amal yang diusahakan, hak yang diselesaikan, dan harapan kepada Rahmatulloh.
Berdoalah memohon akhir yang baik.
Namun jangan hanya meminta akhir yang baik tanpa menjalani hari-hari dengan baik.
Akhir perjalanan dibangun oleh kebiasaan langkah.
Pasal Keseratus Tiga Puluh Satu — Ketika Orang yang Dicintai Mendahului
Apabila seseorang yang engkau cintai telah pergi, jangan merasa bahwa cintamu harus ikut dikubur.
Cinta dapat berubah menjadi doa.
Kerinduan dapat berubah menjadi sedekah dan kebaikan.
Kenangan dapat menjadi pengingat agar engkau menjalani umur dengan lebih baik.
Engkau boleh menangis ketika mengingatnya.
Duka tidak memiliki waktu yang sama bagi setiap orang.
Jangan memaksa dirimu melupakan.
Yang perlu engkau pelajari bukan menghapus kenangan, melainkan hidup berdampingan dengannya tanpa kehilangan seluruh harapan.
Doakan yang telah pergi.
Jangan terlalu menggantungkan diri kepada mimpi atau tanda-tanda yang tidak jelas.
Cukupkan cintamu melalui doa, amal baik, serta pelajaran yang mereka tinggalkan.
Apabila engkau masih membawa rasa bersalah, lakukan perbaikan yang masih dapat dilakukan.
Bantu orang yang mereka cintai.
Tunaikan janji yang baik.
Dan jadilah manusia yang lebih lembut sebagai penghormatan atas kehadiran mereka dalam hidupmu.
Pasal Keseratus Tiga Puluh Dua — Hari Tua sebagai Musim Kepulangan
Usia tua bukan sekadar masa berkurangnya kekuatan.
Ia dapat menjadi musim ketika manusia melepaskan perlahan apa yang selama ini digenggam.
Anak-anak mulai memiliki kehidupan sendiri.
Tubuh tidak lagi sekuat dahulu.
Lingkaran pertemanan mengecil.
Kecepatan hidup berubah.
Jangan memandang usia tua sebagai kehinaan.
Ia adalah kesempatan untuk memperbanyak kebijaksanaan, memperbaiki hubungan, membagikan ilmu, dan mempersiapkan qalbi.
Bagi yang masih muda, hormatilah orang tua tanpa merendahkan kemampuan mereka.
Dengarkan pengalaman, tetapi bantu mereka memahami perubahan zaman dengan sabar.
Bagi yang telah menua, jangan merasa tidak berguna.
Selama napas masih ada, doa, nasihat yang baik, senyum, dan keteladanan tetap memiliki nilai.
Jangan hanya mempersiapkan tabungan hari tua.
Persiapkan pula hati yang tidak dipenuhi penyesalan, keluarga yang tidak saling bermusuhan, serta amal yang menjadi teman dalam kesunyian.
Pasal Keseratus Tiga Puluh Tiga — Qalbi yang Siap Qembali
Qalbi yang siap qembali bukanlah qalbi yang tidak memiliki dosa.
Ia adalah qalbi yang terus-menerus memohon dibersihkan.
Ia tidak merasa aman dari kesalahan, tetapi tidak pula putus asa dari rahmat.
Ia masih memiliki cinta kepada dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai tuhan.
Ia mencintai keluarga, tetapi menyadari bahwa semua akan qembali kepada Alloh.
Ia menjaga harta, tetapi siap melepaskannya ketika amanah berakhir.
Ia berusaha memperbaiki tubuh, tetapi menerima bahwa tubuh tidak kekal.
Tanda qalbi mulai siap adalah ketika ia lebih takut membawa hak manusia daripada kehilangan pujian.
Ia lebih ingin memperbaiki akhlak daripada terlihat istimewa.
Ia tidak sibuk membuktikan kedudukannya.
Ia memilih menyelesaikan perselisihan, menunaikan amanah, dan memohon ampun.
Qalbi yang siap qembali tidak selalu mengetahui kapan ajal tiba.
Namun ia berusaha agar setiap malam dapat menjadi malam terakhir tanpa meninggalkan terlalu banyak hak yang belum diselesaikan.
Pasal Keseratus Tiga Puluh Empat — Wasiat bagi Sang Hamba yang Masih Berjalan
Apabila setelah membaca qitab ini engkau hanya mengingat beberapa perkara, ingatlah pesan berikut:
Jangan menyakiti atas nama cinta.
Jangan menguasai atas nama perlindungan.
Jangan merendahkan atas nama nasihat.
Jangan menakut-nakuti atas nama agama.
Jangan memaksakan keinginan atas nama bakti.
Jangan membiarkan kezaliman atas nama kesabaran.
Jangan mengabaikan tubuh atas nama kekuatan.
Jangan meninggalkan tanggung jawab atas nama tawakal.
Jangan membanggakan pengalaman batin hingga kehilangan akhlak.
Dan jangan pernah menganggap dirimu terlalu jauh untuk qembali kepada Alloh.
Apabila engkau mampu menjaga pesan-pesan itu, perjalananmu akan lebih jernih.
Bukan berarti hidupmu akan bebas masalah.
Tetapi engkau akan memiliki cara yang lebih baik untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan dirimu dan tanpa menambah luka bagi orang lain.
Pasal Keseratus Tiga Puluh Lima — Qembali kepada Alloh dengan Membawa Rahmat
Kepulangan kepada Alloh bukan hanya terjadi ketika tubuh meninggalkan dunia.
Setiap kali engkau memilih kebenaran setelah hampir berbohong, engkau sedang qembali.
Setiap kali engkau meminta maaf setelah ego menahanmu, engkau sedang qembali.
Setiap kali engkau berhenti menyakiti diri dan mulai merawat amanah kehidupan, engkau sedang qembali.
Setiap kali engkau memilih tidak membalas kezaliman dengan kezaliman baru, engkau sedang qembali.
Setiap kali engkau bersujud dalam keadaan lelah dan berkata:
“Yā Alloh, aku tidak mengetahui seluruh jalan, tetapi aku tidak ingin menjauh dari-Mu,”
engkau sedang qembali.
Jangan menunggu kematian untuk memulai kepulangan.
Qembalilah setiap hari.
Qembalilah setelah marah.
Qembalilah setelah lalai.
Qembalilah setelah berhasil agar tidak sombong.
Qembalilah setelah gagal agar tidak putus asa.
Qembalilah setelah dicintai agar tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada makhluk.
Qembalilah setelah ditinggalkan agar engkau mengingat bahwa Alloh tetap ada.
Seorang hamba yang terus qembali akan menemukan bahwa Rahmatulloh bukan hanya tujuan di akhir perjalanan.
Rahmatulloh juga merupakan cahaya yang menemaninya selama berjalan.
Khatimah Qitab — Jalan Pulang Tidak Pernah Tertutup
Wahai jiwa yang pernah tersesat,
wahai qalbi yang pernah terluka,
wahai manusia yang pernah merasa tidak pantas untuk dicintai dan diampuni—
Dengarkanlah penutup ini dengan tenang.
Engkau tidak harus menyelesaikan seluruh hidup dalam satu hari.
Engkau tidak harus menyembuhkan seluruh luka dalam satu malam.
Engkau tidak harus memperoleh semua jawaban sebelum berani melangkah.
Cukuplah engkau jujur tentang keadaanmu.
Cukuplah engkau memulai dari satu perkara yang dapat diperbaiki.
Cukuplah engkau terus mengetuk pintu Alloh meskipun suaramu bergetar.
Ada hari ketika engkau merasa kuat.
Gunakanlah kekuatan itu untuk melindungi yang lemah.
Ada hari ketika engkau merasa rapuh.
Gunakanlah kerapuhan itu untuk belajar menerima pertolongan.
Ada masa ketika manusia berada di sekelilingmu.
Syukurilah dan jaga mereka dengan adab.
Ada masa ketika engkau harus berjalan sendirian.
Jangan mengira kesendirian berarti Alloh meninggalkanmu.
Bisa jadi, dalam kesunyian itulah engkau sedang diajari bahwa tidak semua tempat bergantung dapat bertahan selamanya.
Jangan mencari manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Carilah manusia yang berani bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahan.
Jangan pula menuntut dirimu tidak pernah jatuh.
Tuntutlah dirimu agar tidak berhenti bangkit.
Engkau akan tetap menjadi manusia.
Engkau dapat lelah, takut, marah, kecewa, dan menangis.
Semua itu tidak otomatis membuatmu jauh dari Alloh.
Yang menjauhkan adalah ketika engkau membiarkan keadaan itu menjadi alasan untuk menolak kebenaran, menyakiti manusia, dan berhenti memohon petunjuk.
Maka jagalah qalbimu.
Bukan dengan menutupnya dari seluruh dunia, tetapi dengan memilih apa dan siapa yang layak masuk.
Jagalah lisanmu.
Bukan dengan selalu diam, tetapi dengan mengetahui kapan harus berbicara, menasihati, membela, meminta maaf, serta berhenti sebelum ucapan menjadi luka.
Jagalah tubuhmu.
Bukan karena engkau takut mati, tetapi karena selama hidup, tubuh adalah kendaraan amanahmu.
Jagalah keluargamu.
Bukan dengan menguasai, tetapi dengan menghadirkan kasih, aturan, tanggung jawab, dan rasa aman.
Jagalah ibadahmu.
Bukan untuk terlihat suci, tetapi agar qalbimu memiliki tempat qembali ketika dunia membuatmu kehilangan arah.
Dan jagalah harapanmu.
Sebab selama engkau masih bernapas, pintu perbaikan belum tertutup.
Wasiat Penutup bagi Laki-Laki dan Perempuan
Wahai laki-laki dan perempuan yang berjalan bersama atau masing-masing berjalan dalam kesendirian, janganlah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Laki-laki memiliki amanahnya.
Perempuan memiliki amanahnya.
Keduanya sama-sama hamba yang akan berdiri membawa amalnya sendiri.
Tidak ada yang dimuliakan hanya karena jenis kelaminnya.
Kemuliaan tumbuh dari iman, akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab.
Laki-laki membutuhkan kelembutan agar kekuatannya tidak berubah menjadi kekerasan.
Perempuan membutuhkan keteguhan agar kelembutannya tidak dimanfaatkan.
Keduanya membutuhkan ilmu agar cinta tidak tersesat.
Keduanya membutuhkan doa agar ego tidak menguasai.
Apabila dipertemukan dalam pernikahan, jadilah pakaian yang menutup aib, menghangatkan dalam kesulitan, dan menjaga kehormatan.
Apabila belum dipertemukan, jangan merasa hidup kehilangan makna.
Gunakan waktu untuk memperbaiki diri, menata rezeki, menjaga kehormatan, serta belajar menjadi pendamping yang tidak membawa luka tanpa disadari.
Apabila telah berpisah, jangan biarkan masa lalu merampas seluruh masa depan.
Ambillah pelajaran.
Sembuhkan luka.
Jaga anak dan hak yang masih menjadi amanah.
Kemudian lanjutkan langkah tanpa memelihara kebencian.
Wasiat Penutup bagi Orang Tua dan Anak
Wahai orang tua, anakmu tidak akan selamanya berada di bawah atapmu.
Suatu hari ia akan membawa suara dan perlakuanmu ke dalam rumahnya sendiri.
Maka berikanlah kepadanya suara yang membangun:
“Engkau dicintai, tetapi engkau tetap harus bertanggung jawab.”
Jangan hanya meninggalkan harta.
Tinggalkan cara mencintai yang sehat.
Tinggalkan contoh meminta maaf.
Tinggalkan kebiasaan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Tinggalkan keyakinan bahwa rumah adalah tempat berlindung.
Wahai anak, orang tuamu juga manusia.
Mereka dapat salah.
Mereka membawa luka dan keterbatasan dari zaman mereka sendiri.
Hormatilah tanpa menjadikan kesalahan sebagai kebenaran.
Nasihati dengan adab.
Bantu sesuai kemampuan.
Dan jangan menunggu kepergian mereka untuk menyadari bahwa waktu bersama tidak dapat diulang.
Wasiat Penutup bagi Orang yang Sedang Terluka
Wahai jiwa yang terluka, jangan membuat keputusan besar ketika amarah sedang mencapai puncaknya.
Tenangkan tubuhmu.
Cari tempat yang aman.
Bicaralah kepada orang yang dapat dipercaya.
Apabila engkau berada dalam bahaya, dahulukan keselamatan.
Kesabaran tidak mewajibkanmu tinggal dalam kekerasan.
Apabila pikiranmu menjadi sangat gelap dan engkau merasa dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain, jangan menghadapi semuanya seorang diri.
Carilah pertolongan segera dari keluarga yang aman, tenaga profesional, layanan kesehatan, atau pihak yang dapat melindungimu.
Meminta bantuan bukan tanda imanmu lemah.
Ia adalah usaha menjaga kehidupan yang Alloh titipkan.
Lukamu bukan seluruh identitasmu.
Engkau pernah terluka, tetapi engkau bukan hanya luka.
Engkau pernah gagal, tetapi engkau bukan hanya kegagalan.
Engkau pernah disakiti, tetapi engkau tidak harus menjadi orang yang menyakiti.
Jangan tergesa-gesa menuntut dirimu sembuh.
Berjalanlah perlahan, tetapi jangan berhenti.
Wasiat Penutup bagi Orang yang Pernah Menyakiti
Wahai hamba yang menyadari bahwa dirimu pernah menjadi sumber luka, jangan hanya merasa bersalah dalam diam.
Datanglah dengan tanggung jawab.
Minta maaf tanpa menuntut dimaafkan.
Jangan berkata:
“Lupakanlah, itu sudah lama.”
Waktu yang lama tidak selalu menghapus dampak.
Akui perbuatanmu dengan jelas.
Kembalikan hak.
Ubah perilaku.
Jangan meminta kepercayaan sebelum engkau memberikan bukti.
Apabila orang yang engkau sakiti memilih menjauh, hormatilah.
Perbaikanmu tetap memiliki nilai meskipun hubungan tidak qembali seperti dahulu.
Taubat sejati bukan usaha menjaga nama baik.
Taubat adalah keberanian memperbaiki diri meskipun tidak memperoleh tepuk tangan dan tidak selalu mendapatkan kembali apa yang telah hilang.
Wasiat Penutup bagi Para Pembimbing
Wahai orang yang dipercaya memberikan nasihat, jagalah amanah manusia yang datang kepadamu.
Jangan merasa seluruh masalah dapat engkau jawab.
Jangan memberikan kepastian pada perkara yang tidak engkau ketahui.
Jangan membuat orang semakin takut agar mereka terus bergantung kepadamu.
Arahkan kepada pertolongan yang tepat.
Masalah kesehatan memerlukan tenaga kesehatan.
Masalah hukum memerlukan bantuan hukum.
Masalah kekerasan memerlukan perlindungan.
Masalah psikologis dapat memerlukan profesional yang terlatih.
Doa dapat menyertai seluruh ikhtiar, tetapi jangan gunakan doa untuk menggantikan tindakan yang memang diperlukan.
Jadilah pembimbing yang membuat manusia lebih mandiri, bertanggung jawab, dan dekat kepada Alloh.
Bukan manusia yang kehilangan akal dan keberanian setelah mengenalmu.
Pesan Terakhir Qitab
Apabila suatu hari engkau melupakan seluruh kalimat di dalam qitab ini, ingatlah satu pesan:
Qembalilah kepada Alloh tanpa membawa kezaliman kepada makhluk-Nya.
Sebab tidak cukup seseorang berkata mencintai Alloh apabila lisannya terus melukai.
Tidak cukup seseorang mengaku dekat kepada Alloh apabila ia mengabaikan hak keluarga.
Tidak cukup seseorang banyak berdzikir apabila ia menggunakan kedudukan untuk merendahkan manusia.
Cinta kepada Alloh harus menumbuhkan rahmat.
Dzikir harus menjaga lisan.
Shalat harus membentuk tanggung jawab.
Ilmu harus melahirkan kerendahan hati.
Dan perjalanan ruhani harus membuat manusia semakin jujur menghadapi kehidupan nyata.
Jangan hanya mencari cahaya di balik mata yang terpejam.
Carilah cahaya ketika matamu terbuka dan engkau harus memilih antara jujur atau menipu, memaafkan atau membalas, menjaga atau mengkhianati, serta bertanggung jawab atau melarikan diri.
Di sanalah perjalananmu diuji.
Di sanalah isi qitab ini harus hidup.
Doa Khatam QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Yā Alloh, Tuhan yang menggenggam awal dan akhir perjalanan,
kami datang kepada-Mu membawa qalbi yang belum sempurna,
amal yang masih sedikit,
kesalahan yang tidak seluruhnya mampu kami hitung,
serta harapan yang hanya kami sandarkan kepada Rahmat-Mu.
Ampunilah dosa yang kami ingat
dan dosa yang telah kami lupakan.
Ampunilah kesalahan yang kami lakukan dalam kesendirian
maupun yang diketahui manusia.
Ampunilah ucapan yang melukai,
janji yang kami ingkari,
amanah yang kami lalaikan,
serta hak manusia yang pernah kami abaikan.
Yā Alloh, jangan biarkan penyesalan kami berhenti menjadi air mata.
Jadikanlah ia keberanian untuk memperbaiki,
kekuatan untuk mengembalikan hak,
dan keteguhan untuk meninggalkan jalan yang salah.
Bersihkan qalbi kami dari kesombongan yang tersembunyi,
dari iri terhadap nikmat orang lain,
dari dendam yang mengikat langkah,
dari ketergantungan kepada pujian,
serta dari keinginan terlihat suci di hadapan manusia.
Jadikanlah kami hamba yang memiliki amal rahasia,
kebaikan yang tidak membutuhkan tepuk tangan,
serta doa yang tetap hidup ketika tidak ada manusia yang melihat.
Yā Alloh, sembuhkanlah luka kami tanpa membuat kami keras.
Ajarkanlah kami mengingat pelajaran tanpa memelihara kebencian.
Berikanlah keberanian untuk menetapkan batas,
kebijaksanaan untuk memaafkan,
serta kejernihan untuk membedakan kasih sayang dari penguasaan.
Lindungilah perempuan-perempuan di antara kami.
Jagalah kehormatan, kesehatan, dan keselamatan mereka.
Kuatkan mereka yang sedang membesarkan anak seorang diri,
yang sedang menunggu ketetapan-Mu,
yang sedang merawat keluarga,
dan yang sedang berjuang menyembuhkan luka yang tidak diketahui manusia.
Jadikan kelembutan mereka sebagai rahmat,
bukan jalan bagi manusia zalim untuk memanfaatkan.
Berilah mereka suara ketika harus berbicara,
kesabaran ketika harus menunggu,
serta perlindungan ketika bahaya mendekat.
Yā Alloh, bimbinglah laki-laki di antara kami.
Jadikan kekuatan mereka sebagai perlindungan,
bukan ancaman.
Jadikan kepemimpinan mereka sebagai pelayanan,
bukan kesombongan.
Lembutkan lisan mereka kepada keluarga,
kuatkan tanggung jawab mereka,
dan jauhkan mereka dari kekerasan, pengkhianatan, serta kelalaian.
Ajarkan laki-laki untuk berani meminta maaf,
mengakui kelemahan,
mencari pertolongan,
dan menjaga orang yang berada dalam amanahnya.
Yā Alloh, jagalah rumah tangga kami.
Jauhkanlah dari kebohongan, kekerasan, pengkhianatan,
rahasia yang meruntuhkan kepercayaan,
serta rezeki yang diperoleh melalui jalan yang tidak baik.
Ajarkan suami dan istri saling mendengarkan,
saling menghargai pekerjaan dan pengorbanan,
berbicara sebelum luka menumpuk,
dan qembali kepada-Mu ketika ego mereka mulai menguasai.
Apabila sebuah hubungan masih dapat diperbaiki,
bukakan jalan perbaikan yang nyata.
Apabila keselamatan terancam,
bukakan jalan perlindungan.
Apabila perpisahan menjadi ketetapan,
ajarkanlah berpisah tanpa menambah kezaliman dan permusuhan.
Yā Alloh, lindungilah anak-anak kami.
Jangan biarkan amarah orang dewasa menjadi luka yang mereka bawa hingga tua.
Jadikan rumah mereka tempat yang aman,
tempat mereka boleh bertanya,
mengakui kesalahan,
belajar bertanggung jawab,
dan tetap merasa dicintai.
Bimbinglah orang tua agar mendidik tanpa merendahkan,
menegur tanpa menghancurkan,
dan memberikan kasih tanpa membandingkan.
Bimbinglah anak-anak agar berbakti,
menghormati,
membantu,
dan tidak melupakan jasa orang tua ketika kehidupan mereka telah berubah.
Yā Alloh, sehatkanlah tubuh kami.
Berilah petunjuk ketika kami sakit.
Pertemukanlah dengan pengobatan dan pertolongan yang tepat.
Jauhkan kami dari keputusasaan,
serta dari keyakinan keliru yang membuat kami menolak ikhtiar.
Tenangkanlah pikiran yang penuh kecemasan.
Hiburkanlah qalbi yang berduka.
Kuatkanlah mereka yang merasa sendirian.
Bukakan jalan bagi siapa pun yang sedang berada dalam bahaya,
kekerasan, tekanan, atau pikiran yang mengancam keselamatannya.
Yā Alloh, lapangkan rezeki kami melalui jalan yang halal.
Berkahilah yang sedikit sehingga mencukupi.
Jaga kami ketika memperoleh kelapangan
agar tidak sombong, boros, dan melupakan yang membutuhkan.
Ketika rezeki sempit,
jauhkanlah kami dari penipuan, riba, mengambil hak,
dan keputusan yang lahir hanya karena gengsi.
Ajarkan kami bekerja, belajar, bermusyawarah,
dan tetap menjaga kehormatan.
Yā Alloh, jadikan ilmu kami bermanfaat.
Jangan biarkan ilmu berubah menjadi hijab.
Berikan keberanian untuk berkata tidak mengetahui.
Jauhkan kami dari menyampaikan sesuatu tanpa dasar,
menakut-nakuti manusia,
dan menggunakan agama untuk memperoleh kekuasaan.
Jadikan pengalaman ruhani kami berbuah akhlak.
Apabila suatu perasaan membawa kepada kesombongan dan kelalaian,
bukakan mata kami untuk memeriksanya.
Apabila sebuah petunjuk benar-benar berasal dari kebaikan,
jadikan ia menambah tanggung jawab, ketenangan, dan kasih sayang.
Yā Alloh, ajarkan kami menerima masa lalu tanpa tinggal di dalamnya.
Ajarkan kami mempersiapkan masa depan tanpa menyembah kekhawatiran.
Dan ajarkan kami hidup pada hari ini dengan amanah.
Apabila rencana kami gagal,
jangan biarkan harapan ikut hancur.
Apabila doa kami ditunda,
jangan biarkan iman kami surut.
Apabila keinginan tidak Engkau berikan,
bukakan pemahaman bahwa penolakan-Mu dapat menjadi perlindungan.
Yā Alloh, ketika umur kami semakin pendek,
ingatkanlah kami untuk menyelesaikan hak,
memperbaiki hubungan,
menulis wasiat yang diperlukan,
dan menyiapkan amal yang terus memberi manfaat.
Jangan ambil nyawa kami ketika kami sedang menzalimi.
Jangan akhirkan umur kami dalam kesombongan dan kelalaian.
Berilah kesempatan bertaubat sebelum ajal.
Berilah kejernihan ketika sakaratul maut mendekat.
Dan qembalikan kami dalam keadaan membawa harapan kepada Rahmat-Mu.
Ampunilah orang tua kami,
keluarga kami,
guru-guru yang mengajarkan kebaikan,
sahabat yang pernah menemani,
serta orang-orang yang telah mendahului kami.
Luaskan tempat peristirahatan mereka.
Terimalah amal baik mereka.
Maafkan kekurangan mereka.
Dan pertemukan kami kembali dalam rahmat serta ridha-Mu.
Yā Alloh, apabila kami pernah menyakiti seseorang yang tidak lagi mampu kami temui,
bukakan jalan agar kami dapat memperbaiki melalui kebaikan.
Jangan biarkan hak manusia menjadi beban yang tidak kami sadari.
Jadikan sisa umur kami lebih baik daripada masa yang telah berlalu.
Jadikan hari terakhir kami sebagai hari terbaik dalam kepulangan.
Jadikan kalimat terakhir kami sebagai kesaksian iman.
Ketika semua manusia meninggalkan,
jangan tinggalkan kami dari Rahmat-Mu.
Ketika seluruh harta terlepas,
cukupkanlah kami dengan ampunan-Mu.
Ketika tubuh diletakkan dalam kesunyian,
terangilah dengan cahaya kasih-Mu.
Yā Alloh, kami bukan hamba yang pantas membanggakan amal.
Kami hanyalah hamba yang mengetuk pintu dengan kekurangan.
Jangan melihat sedikitnya bekal kami,
tetapi lihatlah harapan yang kami gantungkan kepada-Mu.
Qembalikanlah setiap air mata menjadi penyucian.
Qembalikan setiap luka menjadi kebijaksanaan.
Qembalikan setiap kegagalan menjadi pelajaran.
Qembalikan setiap cinta menjadi jalan pengabdian.
Qembalikan setiap kehilangan menjadi ingatan kepada-Mu.
Dan ketika seluruh perjalanan kami telah selesai,
qembalikanlah jiwa kami
bukan kepada kegelapan keputusasaan,
melainkan qe luasnya ampunan,
keridhaan,
perlindungan,
serta Rahmatulloh yang tidak memiliki batas.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Penutup QITAB ARZA’AH AL-NISAH
Dengan selesainya lembar kesembilan ini, berakhirlah susunan QITAB ARZA’AH AL-NISAH — Perjalanan Sang Hamba, Qembalinya qe Rahmatulloh.
Namun perjalanan sang hamba belum selesai selama napas masih diberikan.
Bawalah isi qitab ini ke dalam perbuatan.
Jadikan kasih sebagai akhlak.
Jadikan doa sebagai kekuatan.
Jadikan ilmu sebagai petunjuk.
Jadikan luka sebagai kebijaksanaan.
Jadikan keluarga sebagai amanah.
Jadikan dunia sebagai tempat menanam.
Dan jadikan Alloh sebagai tujuan akhir seluruh kepulangan.
Dari Alloh kehidupan bermula.
Bersama pertolongan Alloh perjalanan ditempuh.
Dan qe dalam Rahmatulloh seluruh jiwa qembali.
Tammat bi ‘aunillāh wa raḥmatih.
Selesai dengan pertolongan dan Rahmat Alloh.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.