QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Qitab ini dibuka sebagai wewarah muhasabah dan pengingat jalan kebaikan: bahwa sesuatu yang berada di tangan manusia bukan seluruhnya untuk ditahan, tetapi ada bagian yang menjadi jalan manfaat bagi sesama.
LEMBAR PERTAMA
Rahasia Tangan yang Terbuka
Wahai jiwa yang sedang belajar mengenal pemberian,
ketahuilah:
Berbagi karena Alloh bukanlah membuang milik.
Berbagi adalah mengembalikan sebagian titipan kepada jalan manfaatnya.
Ada orang memberi karena ingin dipuji.
Ada yang memberi agar namanya disebut.
Ada yang memberi karena merasa lebih tinggi daripada penerima.
Namun ada pula seseorang yang memberi diam-diam, kemudian berjalan pulang tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Di situlah Qitab ini mengajarkan sebuah rahasia:
Yang paling berat dari berbagi bukan mengeluarkan harta, melainkan melepaskan rasa memiliki atas kebaikan yang telah dilakukan.
Sebab setelah tangan memberikan sesuatu, hati terkadang masih menggenggamnya.
Hati berkata:
“Akulah yang menolongnya.”
Maka bersihkanlah hati itu.
Gantilah dengan kesadaran:
“Alloh menitipkan sesuatu melalui tanganku, lalu Alloh mengizinkan sesuatu itu sampai kepada orang lain.”
Karena itu, orang yang menerima bukanlah pihak yang lebih rendah.
Boleh jadi justru melalui dirinya, Alloh sedang membuka kesempatan bagi pemberi untuk belajar kasih sayang, rasa syukur, dan keikhlasan.
بابُ الْعَطَاءِ
Bābul-‘Athā’ — Pintu Pemberian
Ada empat tingkatan dalam berbagi.
Pertama: berbagi dari kelebihan.
Seseorang mempunyai lebih, kemudian memberikan sebagian.
Ini baik.
Kedua: berbagi ketika dirinya juga membutuhkan.
Pada tingkat ini, hati mulai belajar mendahulukan kemanusiaan dan kasih sayang.
Ketiga: berbagi tanpa ingin diketahui.
Pada tingkat ini nama mulai menghilang, tetapi manfaat tetap berjalan.
Keempat: berbagi tanpa merasa sebagai pemberi.
Inilah pelajaran terdalam Qitab ini.
Ia membantu, tetapi tidak merasa berjasa.
Ia memberi, tetapi tidak menagih penghormatan.
Ia menolong, tetapi tidak mengikat orang yang ditolong.
Sebab kebaikan yang berubah menjadi alat untuk menguasai manusia telah kehilangan sebagian keindahannya.
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi
Berbagi tidak selalu berupa uang.
Seseorang dapat berbagi:
ilmu yang benar,
makanan,
tenaga,
waktu,
kesempatan,
tempat berteduh,
nasihat yang lembut,
doa,
senyuman,
memaafkan kesalahan,
atau sekadar mendengarkan seseorang yang sedang kesusahan.
Maka jangan berkata:
“Nanti ketika aku kaya, aku akan berbagi.”
Mulailah dari apa yang telah ada hari ini.
Jika hanya mempunyai sepiring nasi, jangan paksa diri memberikan seluruhnya hingga keluarga sendiri terlantar.
Jika mempunyai ilmu, jangan menyembunyikan ilmu yang bermanfaat.
Jika mempunyai tenaga, gunakan sebagian untuk membantu.
Jika tidak mempunyai apa pun selain doa, doakanlah.
Karena jalan berbagi tidak mengajarkan manusia menghancurkan dirinya sendiri.
Berbagi juga harus disertai hikmah, tanggung jawab, dan keseimbangan.
Pesan Pertama Qitab
لِلّٰهِ مَا فِي الْيَدِ، وَلِلْخَلْقِ نَصِيْبٌ مِنَ الرَّحْمَةِ
Lillāhi mā fil-yadi, wa lil-khalqi naṣībun minar-raḥmah.
Makna renungannya:
“Apa yang berada di tangan berada dalam kekuasaan Alloh, dan kepada makhluk hendaknya mengalir bagian dari kasih sayang.”
Bukan berarti seluruh harta harus diberikan.
Bukan pula berarti seseorang wajib memenuhi setiap permintaan.
Qitab ini mengajarkan:
berilah dengan hati jernih,
berilah pada jalan yang benar,
jangan menyakiti penerima,
dan jangan menjadikan pemberian sebagai hutang kehormatan.
Ujian Setelah Memberi
Ketika seseorang selesai berbagi, datang ujian yang lebih halus.
Apakah ia marah ketika tidak dipuji?
Apakah ia kecewa ketika penerima tidak mengingat jasanya?
Apakah ia menceritakan pemberiannya kepada banyak orang agar dianggap dermawan?
Apakah ia menggunakan pemberiannya untuk menuntut kesetiaan?
Jika demikian, jangan berhenti berbuat baik.
Tetapi perbaikilah niatnya.
Katakan dalam hati:
“Ya Alloh, bersihkan pemberianku dari riya, kesombongan, dan keinginan menguasai hati manusia.”
Doa Qitab Berbagi Karena Alloh
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ يَدِي سَبَبًا لِلْخَيْرِ، وَقَلْبِي خَالِصًا لَكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِي عَطَائِي مَنًّا وَلَا أَذًى، وَارْزُقْنِي حِكْمَةً فِي الْعَطَاءِ وَالْمَنْعِ
Allāhummaj‘al yadī sababan lil-khair, wa qalbī khāliṣan laka, wa lā taj‘al fī ‘athā’ī mannan wa lā adzā, warzuqnī ḥikmatan fil-‘athā’i wal-man‘i.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikan tanganku sebab bagi kebaikan, jadikan hatiku tulus karena-Mu, jangan jadikan dalam pemberianku sikap mengungkit ataupun menyakiti, dan karuniakan kepadaku kebijaksanaan dalam memberi maupun menahan.”
Penutup Lembar Pertama
Kemudian datanglah wewarah:
“Jangan ukur kekayaan hanya dari apa yang berhasil engkau kumpulkan.
Lihat pula berapa banyak manfaat yang dapat mengalir melalui kehidupanmu.”
Sebab harta yang disimpan akan tetap menjadi angka.
Tetapi sebagian harta yang berubah menjadi makanan bagi orang lapar, pendidikan bagi seorang anak, pertolongan bagi keluarga kesulitan, atau sarana dakwah dan kemaslahatan—
telah berubah menjadi jejak kebaikan.
Maka tangan yang terbuka tidak selalu menjadi tangan yang kehilangan.
Kadang justru tangan itulah yang sedang menemukan tujuan dari apa yang dititipkan kepadanya.
WĚWARAH AGUNG QITAB:
“BERBAGILAH BUKAN AGAR MANUSIA MENGINGAT NAMAMU,
TETAPI AGAR KEHADIRANMU MENINGGALKAN MANFAAT.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Pertama —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KEDUA
Rahasia Rezeki yang Mengalir
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada rezeki yang datang untuk dimiliki.
Ada rezeki yang datang untuk dijaga.
Dan ada rezeki yang hanya singgah sebentar di tangan seseorang agar dapat diteruskan kepada orang lain.
Maka jangan selalu mengira bahwa setiap yang datang kepadamu seluruhnya adalah milikmu.
Kadang-kadang Alloh mempertemukan seseorang dengan kelapangan bukan hanya untuk mengangkat kehidupannya, tetapi juga agar melalui dirinya ada orang lain yang ikut merasakan kebaikan.
Itulah sebabnya dalam jalan berbagi, manusia perlu belajar membedakan:
mana kebutuhan,
mana keinginan,
mana amanah,
dan mana bagian yang dapat dialirkan.
بابُ الْجَرَيَان
Bābul-Jarayān — Pintu Mengalirnya Kebaikan
Air yang berhenti terlalu lama dapat menjadi keruh.
Tetapi air yang terus mengalir menjaga kehidupan di sepanjang jalannya.
Demikian pula harta, ilmu, tenaga, dan kasih sayang.
Semuanya akan menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti hanya pada diri sendiri.
Namun Qitab ini tidak mengajarkan:
“Berikan semuanya hingga engkau sendiri kesusahan.”
Bukan demikian.
Sebab orang yang memiliki tanggungan juga sedang memegang amanah.
Anak yang membutuhkan makan adalah amanah.
Orang tua yang membutuhkan pertolongan adalah amanah.
Hutang yang wajib dibayar adalah amanah.
Kesehatan tubuh adalah amanah.
Karena itu, berbagi karena Alloh harus berjalan bersama hikmah.
Tidak berlebihan.
Tidak pula terlalu kikir.
Tiga Pertanyaan Sebelum Memberi
Sebelum tangan mengeluarkan sesuatu, tanyakanlah kepada hati:
Pertama: apakah pemberian ini membawa manfaat?
Tidak semua permintaan harus dipenuhi.
Ada saatnya membantu berarti memberi.
Ada pula saatnya membantu berarti menolak dengan baik agar seseorang tidak semakin tenggelam dalam kebiasaan yang merusaknya.
Kedua: apakah pemberian ini tidak menzalimi tanggunganku sendiri?
Jangan sampai ingin terlihat dermawan di hadapan orang lain, tetapi keluarga sendiri justru ditelantarkan.
Ketiga: apakah aku siap melepaskannya tanpa mengungkit?
Jika belum, perbaikilah niat terlebih dahulu.
Sebab pemberian yang terus-menerus diungkit dapat berubah menjadi luka bagi penerimanya.
Rahasia Pemberi dan Penerima
Jangan menganggap orang yang menerima selalu berada di bawah orang yang memberi.
Keduanya sedang menjalankan bagian yang berbeda dari sebuah peristiwa.
Yang satu sedang diuji dengan kelapangan.
Yang lain sedang diuji dengan kebutuhan.
Hari ini seseorang memberi.
Besok bisa jadi ia yang membutuhkan.
Hari ini seseorang menerima.
Besok bisa jadi tangannyalah yang menjadi jalan pertolongan bagi banyak manusia.
Karena itu, jangan hinakan orang yang sedang kesulitan.
Keadaan dapat berubah, tetapi kemuliaan manusia tidak boleh direndahkan.
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ
Wa mā tuqaddimū li-anfusikum min khairin tajidūhu ‘indallāh.
Makna pengingatnya:
“Kebaikan apa pun yang kalian dahulukan bagi diri kalian, kalian akan mendapatinya di sisi Alloh.”
Maka jangan hanya melihat apa yang keluar dari tanganmu.
Lihat pula apa yang sedang tumbuh di dalam hatimu:
apakah kasih sayang bertambah?
apakah rasa syukur bertambah?
apakah kesombongan berkurang?
apakah keterikatan kepada harta menjadi lebih sehat?
Sebab tujuan berbagi bukan semata memindahkan benda dari satu tangan kepada tangan yang lain.
Tujuan yang lebih dalam adalah mendidik jiwa.
Empat Penyakit Setelah Berbagi
Ada empat perkara yang dapat merusak keindahan sebuah pemberian:
1. Al-Mann — Mengungkit
“Aku dulu yang menolongmu.”
“Aku yang membiayaimu.”
“Kalau bukan karena aku, engkau tidak akan begini.”
Kalimat seperti itu dapat meruntuhkan kehormatan penerima.
2. Ar-Riyā’ — Mencari Pengakuan
Kebaikan yang ditampilkan bukan selalu riya.
Kadang pemberian perlu diketahui untuk transparansi atau mengajak orang lain ikut berbuat baik.
Tetapi hati harus diperiksa:
apakah tujuan utamanya manfaat, atau pujian?
3. Al-Isti‘lā’ — Merasa Lebih Tinggi
Jangan biarkan pemberian membuat seseorang merasa lebih mulia daripada penerima.
Sebab harta hanyalah salah satu bentuk titipan.
4. Al-Intiẓār — Menunggu Balasan
Jika memberi karena Alloh, jangan jadikan manusia sebagai tempat menagih balas jasa.
Kebaikan dapat dibalas melalui jalan yang sama sekali berbeda.
Wewarah Kedua
Kemudian terbukalah satu kalimat:
**“JANGAN TANYAKAN SEBERAPA BANYAK YANG TELAH ENGKAU BERIKAN.
TANYAKAN SEBERAPA BERSIH HATIMU SETELAH MEMBERIKANNYA.”**
Karena satu pemberian kecil yang tulus dapat lebih mendidik jiwa daripada pemberian besar yang penuh kesombongan.
Doa Menjaga Keikhlasan
اللّٰهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الرِّيَاءِ، وَيَدِي مِنَ الْمَنِّ، وَلِسَانِي مِنَ الْأَذَى، وَاجْعَلْ عَطَائِي رَحْمَةً وَبَرَكَةً
Allāhumma ṭahhir qalbī minar-riyā’, wa yadī minal-mann, wa lisānī minal-adzā, waj‘al ‘athā’ī raḥmatan wa barakah.
Artinya:
“Ya Alloh, bersihkan hatiku dari riya, tanganku dari mengungkit, lisanku dari menyakiti, dan jadikan pemberianku sebagai jalan kasih sayang serta keberkahan.”
Penutup Lembar Kedua
Maka pahamilah:
Rezeki yang paling indah bukan hanya rezeki yang membuatmu cukup.
Ada rezeki yang menjadikanmu jalan bagi kecukupan orang lain.
Ada ilmu yang menjadikanmu jalan bagi terbukanya pikiran.
Ada waktu yang menjadikanmu tempat seseorang merasa ditemani.
Ada tenaga yang menjadikan urusan orang lain terasa lebih ringan.
Ada doa yang mungkin tidak pernah diketahui penerimanya, tetapi tetap menjadi bentuk kasih.
Dan setiap kebaikan itu dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju hati yang lebih lembut.
WĚWARAH AGUNG QITAB
“JADILAH TEMPAT KEBAIKAN MENGALIR,
BUKAN TEMPAT KEBAIKAN BERHENTI.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Kedua —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KETIGA
Saat Tangan Kanan Tidak Menuntut Kesaksian Tangan Kiri
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada kebaikan yang tumbuh ketika diketahui banyak orang.
Ada pula kebaikan yang justru menjadi semakin bening ketika hanya Alloh yang mengetahuinya.
Tidak semua pemberian harus diumumkan.
Tidak semua pertolongan harus diceritakan.
Tidak semua kebaikan harus diberi nama.
Sebab ada saat ketika hati perlu belajar berbuat baik tanpa mempunyai penonton.
Di sanalah seseorang mulai mengenal rahasia memberi dalam sunyi.
بابُ السِّرِّ
Bābus-Sirr — Pintu Kebaikan yang Tersembunyi
Bayangkan seseorang berjalan pada malam hari.
Ia membawa makanan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada nama lembaga.
Tidak ada orang yang mengetahui siapa yang datang.
Ia mengetuk sebuah pintu, meletakkan makanan, lalu pergi sebelum penghuni rumah sempat melihat wajahnya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada ucapan terima kasih.
Tidak ada pujian.
Tetapi justru di saat itulah hatinya dapat merasakan sesuatu yang sangat halus:
cukup Alloh mengetahui.
Itulah salah satu latihan besar dalam berbagi.
Bukan berarti semua kebaikan harus disembunyikan.
Ada kebaikan yang perlu diumumkan untuk pertanggungjawaban, keteladanan, atau menggerakkan orang lain.
Namun hati perlu mempunyai bagian kebaikan yang hanya diketahui oleh dirinya dan Alloh.
Sebab kebaikan rahasia adalah tempat hati belajar tidak bergantung pada pengakuan manusia.
Ketika Kebaikan Menjadi Identitas
Ada bahaya yang lebih halus daripada tidak mau berbagi.
Yaitu ketika seseorang mulai merasa:
“Aku adalah orang baik karena aku banyak memberi.”
Dari kalimat itu, ego dapat tumbuh diam-diam.
Ia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ia mulai merasa paling peduli.
Ia mulai merasa paling dermawan.
Ia mulai mengukur manusia dari seberapa banyak mereka memberi.
Padahal setiap orang mempunyai keadaan yang berbeda.
Ada orang yang memberi satu juta tanpa merasa kehilangan apa pun.
Ada orang lain yang memberi sepuluh ribu rupiah, tetapi uang itu adalah bagian besar dari kebutuhannya.
Maka jangan tergesa-gesa mengukur nilai suatu pemberian hanya dari jumlah.
Alloh mengetahui kemampuan, keadaan, niat, dan perjuangan setiap hati.
Rahasia Nilai yang Tidak Tampak
Ada seseorang memberikan makanan.
Ada yang memberikan ilmu.
Ada yang memberikan pekerjaan.
Ada yang membayar sekolah seorang anak.
Ada yang meminjamkan kendaraan.
Ada yang merawat orang sakit.
Ada yang menahan marah agar keluarganya tidak terluka.
Ada yang memaafkan hutang kecil.
Ada pula yang hanya mampu berkata:
“Aku akan mendoakanmu.”
Jika doa itu sungguh-sungguh, ia pun merupakan bentuk kasih.
Jangan kecilkan kebaikan hanya karena bentuknya sederhana.
Sebab banyak kehidupan berubah bukan karena peristiwa besar, tetapi karena kebaikan kecil yang datang tepat pada waktunya.
Sedekah yang Tidak Berupa Harta
Qitab ini membuka tujuh jalan berbagi:
1. Berbagi Harta
Memberikan sebagian dari yang dimiliki untuk kemaslahatan.
2. Berbagi Ilmu
Mengajarkan sesuatu yang benar dan bermanfaat tanpa merendahkan orang yang belum tahu.
3. Berbagi Waktu
Menemani orang tua, mendengarkan sahabat, membantu urusan keluarga, atau meluangkan waktu untuk kegiatan sosial.
4. Berbagi Tenaga
Mengangkat beban, membantu pembangunan, membersihkan lingkungan, menolong orang yang kesulitan secara fisik.
5. Berbagi Kesempatan
Membuka pintu pekerjaan, pendidikan, jaringan, atau ruang belajar bagi orang lain.
6. Berbagi Kehormatan
Tidak mempermalukan orang yang sedang jatuh.
Menutup aib yang tidak perlu diumbar.
Menjaga martabat orang yang sedang ditolong.
7. Berbagi Maaf
Ada luka yang tidak dapat diselesaikan dengan uang.
Tetapi dapat dilunakkan oleh kelapangan hati.
Jangan Membeli Jiwa dengan Pemberian
Kemudian datang satu peringatan:
Jangan jadikan pemberian sebagai alat untuk membeli kesetiaan manusia.
Jangan berkata dalam hati:
“Aku telah membantunya, maka ia harus selalu memihakku.”
“Aku telah memberinya, maka ia harus menuruti semua perkataanku.”
“Aku telah menolong keluarganya, maka ia tidak boleh berbeda denganku.”
Jika pemberian berubah menjadi rantai, maka ia bukan lagi murni kasih.
Berilah manusia ruang untuk tetap mempunyai kehendak, martabat, dan pilihan.
Pertolongan yang baik membebaskan beban, bukan menciptakan perbudakan baru.
الْإِخْلَاصُ سِرُّ الْعَطَاءِ
Al-ikhlāṣu sirrul-‘athā’.
Makna renungannya:
“Keikhlasan adalah rahasia dari pemberian.”
Namun ikhlas bukan berarti manusia tidak boleh merasa bahagia ketika berbuat baik.
Boleh merasa bahagia.
Boleh merasa bersyukur.
Boleh merasa terharu.
Yang harus dijaga ialah jangan sampai kebahagiaan itu berubah menjadi:
kesombongan,
pamer,
merendahkan penerima,
atau menuntut balasan.
Ujian Kebaikan yang Tidak Diketahui
Jika engkau berbuat baik tetapi tidak seorang pun mengetahuinya, apakah engkau tetap bahagia?
Jika orang yang engkau bantu tidak pernah menyebut namamu, apakah hatimu tetap tenang?
Jika orang lain justru menerima pujian atas sesuatu yang sebagian engkau bantu, apakah engkau mampu menahan diri?
Di sinilah hati diuji.
Sebab kadang-kadang manusia tidak terlalu berat mengeluarkan hartanya.
Yang lebih berat adalah melepaskan hak untuk dipuji.
Wewarah Ketiga
Kemudian terbukalah kalimat:
**“ADA KEBAIKAN YANG MENJADI BESAR KETIKA DIPERLIHATKAN,
DAN ADA KEBAIKAN YANG MENJADI SUCI KETIKA DISEMBUNYIKAN.”**
Maka jangan hanya mempunyai amal yang diketahui manusia.
Simpanlah sebagian amal yang hanya menjadi rahasia antara dirimu dengan Alloh.
Doa Amal yang Tersembunyi
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِي عَمَلًا صَالِحًا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا أَنْتَ، وَطَهِّرْ نِيَّتِي مِنْ طَلَبِ الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ
Allāhummaj‘al lī ‘amalan ṣāliḥan lā ya‘lamuhu illā anta, wa ṭahhir niyyatī min ṭalabil-madḥi wats-tsanā’.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikan bagiku amal baik yang tidak diketahui kecuali oleh-Mu, dan bersihkan niatku dari keinginan mencari pujian dan sanjungan.”
Penutup Lembar Ketiga
Suatu hari, segala nama akan hilang.
Papan nama akan lapuk.
Tulisan akan pudar.
Manusia yang pernah memuji kita pun akan pergi.
Tetapi manfaat yang sungguh-sungguh pernah kita tanam dapat terus berjalan melalui kehidupan orang lain.
Mungkin seseorang yang dahulu engkau bantu kemudian membantu sepuluh orang.
Sepuluh orang itu lalu menolong seratus orang.
Dan engkau tidak pernah mengetahui seluruh rantai kebaikan itu.
Maka jangan terlalu sibuk menghitung siapa yang mengetahui jasamu.
Lebih penting bertanya:
“Apakah kebaikan itu benar-benar sampai kepada yang membutuhkan?”
Karena tujuan kebaikan bukan agar nama kita panjang.
Tujuan kebaikan adalah agar manfaatnya panjang.
WĚWARAH AGUNG QITAB
“JIKA MANUSIA TIDAK MENGETAHUI KEBAIKANMU, JANGAN GELISAH.
CUKUP PASTIKAN ALLOH MENGETAHUI NIATMU.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Ketiga —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KEEMPAT
Menjaga Kehormatan Orang yang Menerima
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada orang yang lapar, tetapi masih berusaha tersenyum.
Ada orang yang kesulitan, tetapi tidak sanggup mengulurkan tangan.
Ada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi lebih takut kehilangan harga dirinya daripada menahan kekurangan.
Maka Qitab ini membuka satu adab yang sangat halus:
ketika engkau memberi, jangan hanya pikirkan apa yang diterima tangannya.
Jagalah pula apa yang dirasakan hatinya.
Sebab pertolongan yang benar bukan hanya meringankan kebutuhan.
Pertolongan yang benar juga menjaga kehormatan.
بابُ الْكَرَامَة
Bābul-Karāmah — Pintu Menjaga Kemuliaan
Jangan membuat seseorang merasa kecil karena menerima bantuanmu.
Jangan berdiri tinggi sementara ia dipaksa menundukkan kepala.
Jangan bertanya terlalu banyak tentang kesulitannya hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Jangan sebarkan kisah hidupnya tanpa izin.
Jangan mengambil gambarnya jika hal itu membuat martabatnya terluka.
Jika dokumentasi benar-benar diperlukan untuk amanah dan pertanggungjawaban, lakukan dengan adab, seperlunya, dan tanpa mengeksploitasi kesusahan.
Sebab orang yang membutuhkan bantuan tetap mempunyai kehormatan.
Ia bukan tontonan.
Ia bukan bahan untuk meninggikan citra pemberi.
Ia adalah manusia yang sedang melalui satu bagian dari ujian kehidupan.
Memberi Tanpa Membuat Orang Berhutang Harga Diri
Ada pemberian yang secara lahir menyelesaikan masalah, tetapi secara batin meninggalkan luka.
Misalnya seseorang berkata:
“Ambillah. Bukankah selama ini hidupmu memang selalu susah?”
Tangannya memberi.
Tetapi lisannya melukai.
Ada pula orang berkata:
“Tidak perlu malu. Anggap saja ini rezeki yang sedang lewat melalui saya.”
Kalimat sederhana itu dapat membuat beban di dada penerima menjadi lebih ringan.
Maka pahamilah:
adab adalah bagian dari sedekah.
Senyuman adalah bagian dari sedekah.
Cara menyerahkan adalah bagian dari sedekah.
Cara berbicara adalah bagian dari sedekah.
Bahkan cara meninggalkan tempat setelah memberi juga dapat menjadi bagian dari menjaga kehormatan.
Siapa yang Lebih Dahulu Diperhatikan?
Kemudian datang pertanyaan:
“Jika kemampuan kita terbatas, kepada siapa kita harus berbagi terlebih dahulu?”
Qitab ini mengajarkan agar hati tidak hanya bergerak oleh rasa kasihan sesaat, tetapi juga oleh tanggung jawab.
Perhatikan:
keluarga yang menjadi tanggungan,
orang tua,
kerabat yang benar-benar membutuhkan,
tetangga yang kesulitan,
orang sakit,
anak yatim dan keluarga rentan,
orang yang kehilangan penghasilan,
orang yang sedang berjuang memperoleh pendidikan,
serta siapa pun yang kebutuhannya nyata dan pertolongannya membawa maslahat.
Namun jangan memaksakan satu urutan kaku untuk setiap keadaan.
Karena kebutuhan manusia berbeda.
Kadang seorang tetangga sedang kelaparan hari itu.
Kadang keluarga sendiri sedang membutuhkan obat.
Kadang ada bencana yang membutuhkan pertolongan segera.
Maka gunakanlah rahmah dan hikmah secara bersamaan.
Tidak Semua yang Meminta Harus Diberi Uang
Berbagi tidak berarti memberikan uang kepada setiap orang yang meminta.
Ada kalanya pertolongan terbaik adalah:
membelikan makanan,
membayar obat langsung,
membantu biaya sekolah,
mencarikan pekerjaan,
menghubungkan dengan orang yang dapat membantu,
mengajarkan keterampilan,
memberi modal dengan perhitungan yang sehat,
atau sekadar menunjukkan jalan keluar yang lebih baik.
Sebab tujuan berbagi bukan sekadar membuat sesuatu keluar dari tangan kita.
Tujuannya adalah menciptakan manfaat yang benar.
Antara Kasihan dan Hikmah
Kasihan tanpa hikmah dapat salah arah.
Hikmah tanpa kasih dapat menjadi keras.
Maka keduanya harus berjalan bersama.
Jika seseorang kecanduan sesuatu yang merusak, jangan selalu memberinya uang tunai.
Jika seseorang mampu bekerja tetapi membutuhkan kesempatan, bantu membuka jalan agar ia dapat berdiri kembali.
Jika seseorang sakit, bantulah sesuai kemampuan sambil mengarahkannya kepada pertolongan yang tepat.
Jika seseorang benar-benar tidak berdaya, jangan memberinya ceramah panjang ketika yang paling ia perlukan adalah makanan.
Berikan sesuatu sesuai kebutuhannya, bukan hanya sesuai keinginan kita untuk merasa sudah menolong.
سَتْرُ الْحَاجَةِ مِنْ جَمَالِ الصَّدَقَةِ
Satrul-ḥājati min jamāliṣ-ṣadaqah.
Makna renungannya:
“Menutupi kebutuhan dan menjaga kehormatan orang yang membutuhkan termasuk keindahan dalam bersedekah.”
Maka jika engkau mengetahui kesusahan seseorang yang ia sembunyikan, jangan tergesa-gesa menceritakannya.
Jika engkau mampu membantu secara diam-diam, pertimbangkan jalan itu.
Jika ia malu menerima langsung, carilah cara yang lebih lembut.
Boleh melalui seseorang yang ia percaya.
Boleh dalam bentuk hadiah.
Boleh dengan membayar kebutuhannya tanpa banyak kata.
Karena terkadang cara memberi lebih penting daripada jumlah yang diberikan.
Empat Adab Tangan yang Memberi
1. Jangan Merendahkan
Jangan jadikan kekurangan seseorang sebagai bahan candaan atau pembicaraan.
2. Jangan Mengungkit
Setelah sesuatu diberikan, lepaskanlah.
Jangan jadikan pemberian sebagai senjata dalam pertengkaran di kemudian hari.
3. Jangan Memamerkan Kesusahan Penerima
Jika ingin mengajak orang lain berdonasi, sampaikan kebutuhannya dengan tetap menjaga martabat.
4. Jangan Menuntut Kedekatan
Orang yang pernah menerima bantuan tidak otomatis menjadi pengikut, bawahan, atau orang yang wajib selalu membela kita.
Rahasia Tangan di Bawah
Kemudian datang satu wewarah:
Jangan pernah terlalu yakin bahwa tanganmu akan selalu berada di atas.
Hari ini engkau memberi.
Besok mungkin engkau membutuhkan pertolongan.
Hari ini engkau kuat.
Besok mungkin engkau sakit.
Hari ini engkau mempunyai banyak jalan.
Besok mungkin semua pintu seolah tertutup.
Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti.
Kesadaran ini untuk menumbuhkan tawadhu.
Agar ketika memberi, kita tidak merasa lebih tinggi.
Sebab kehidupan berputar.
Dan manusia saling membutuhkan.
Doa Menjaga Kehormatan Sesama
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنِي رَحْمَةً لَا تُذِلُّ، وَعَطَاءً لَا يُؤْذِي، وَلِسَانًا لَا يَمُنُّ، وَقَلْبًا يَحْفَظُ كَرَامَةَ عِبَادِكَ
Allāhummarzuqnī raḥmatan lā tudzillu, wa ‘athā’an lā yu’dzī, wa lisānan lā yamunnu, wa qalban yaḥfaẓu karāmata ‘ibādik.
Artinya:
“Ya Alloh, karuniakan kepadaku kasih sayang yang tidak merendahkan, pemberian yang tidak menyakiti, lisan yang tidak mengungkit, dan hati yang menjaga kehormatan hamba-hamba-Mu.”
Wewarah Keempat
Kemudian tertulis:
**“JIKA ENGKAU MEMBERI MAKAN KEPADA PERUTNYA,
JANGAN SEKALIGUS MELUKAI HATINYA.”**
Karena boleh jadi seseorang melupakan jumlah bantuan yang pernah diterimanya.
Tetapi ia akan lama mengingat bagaimana dirinya diperlakukan ketika sedang berada dalam kesulitan.
Maka jadilah manusia yang ketika menolong, orang lain merasa:
diringankan bebannya,
bukan direndahkan dirinya.
Penutup Lembar Keempat
Ada tangan yang memberi uang.
Ada tangan yang memberi makanan.
Ada tangan yang mengangkat orang yang jatuh.
Tetapi tangan yang paling indah adalah tangan yang menolong seseorang untuk berdiri kembali tanpa membuatnya merasa kecil.
Jika engkau mempunyai kemampuan, bantulah.
Jika kemampuanmu sedikit, sesuaikan.
Jika tidak mampu memberi materi, jangan menambah beban dengan ucapan yang menyakitkan.
Dan jika suatu hari engkau sendiri berada dalam posisi menerima, jangan merasa hina.
Menerima pertolongan ketika memang membutuhkan bukan berarti kehilangan kemuliaan.
Boleh jadi hari itu Alloh sedang mengajarkanmu menerima.
Dan pada hari lain, Alloh akan mengizinkan tanganmu kembali memberi.
WĚWARAH AGUNG QITAB
“BERBAGILAH DENGAN TANGAN YANG RINGAN,
HATI YANG RENDAH,
DAN CARA YANG MENJAGA KEHORMATAN.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Keempat —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KELIMA
Saat Berbagi Menjadi Jalan Menguatkan, Bukan Membuat Bergantung
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada pertolongan yang menyelesaikan satu hari.
Ada pertolongan yang mengubah satu kehidupan.
Ada pemberian yang menghilangkan lapar sesaat.
Ada pula pemberian yang membuat seseorang mampu mencari makanan dengan tenaganya sendiri pada hari-hari berikutnya.
Maka Qitab ini membuka satu pengertian:
berbagi yang matang bukan hanya memberi sesuatu kepada seseorang, tetapi sebisa mungkin membantu agar dirinya kembali mempunyai kekuatan.
Sebab kasih sayang tidak selalu berbentuk memberi terus-menerus.
Kadang kasih sayang berbentuk membimbing seseorang agar mampu berdiri.
بابُ التَّمْكِين
Bābut-Tamkīn — Pintu Menguatkan
Jika seseorang lapar, berilah ia makan.
Jangan menyuruhnya belajar keterampilan ketika perutnya belum terisi.
Tetapi setelah kebutuhan mendesaknya tertolong, tanyakan:
“Apa yang dapat membuat hidupnya lebih kuat setelah ini?”
Mungkin ia membutuhkan pekerjaan.
Mungkin ia membutuhkan alat usaha.
Mungkin ia membutuhkan biaya pendidikan.
Mungkin ia membutuhkan keterampilan.
Mungkin ia hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa dirinya masih mampu bangkit.
Maka berbagi memiliki dua sayap:
menolong keadaan hari ini,
dan membuka kemungkinan bagi hari esok.
Jangan Membuat Orang Ketergantungan kepada Kita
Ada bahaya yang dapat tersembunyi di balik kebaikan.
Seseorang terus memberi kepada orang lain, tetapi diam-diam ia menyukai keadaan ketika penerima selalu bergantung kepadanya.
Ia merasa dibutuhkan.
Ia merasa berkuasa.
Ia takut jika orang yang dibantu menjadi mandiri, karena setelah itu dirinya mungkin tidak lagi dianggap penting.
Maka hati harus diperiksa.
Apakah kita sungguh ingin orang itu kuat, atau hanya ingin ia selalu membutuhkan kita?
Pertolongan yang sehat mengarah kepada kemerdekaan.
Bukan kepada ketergantungan yang sengaja dipelihara.
Empat Bentuk Berbagi yang Menguatkan
1. Memberi Bekal Pengetahuan
Jika seseorang ingin berdagang, jangan hanya memberinya modal.
Ajarkan pula cara menghitung modal, keuntungan, hutang, dan kebutuhan rumah tangga.
Karena uang tanpa ilmu dapat habis.
Tetapi ilmu yang benar dapat memperpanjang manfaat uang.
2. Membuka Kesempatan
Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan sedekah.
Ia membutuhkan satu pintu.
Pintu pekerjaan.
Pintu pertemuan.
Pintu pendidikan.
Pintu pasar.
Pintu kepercayaan.
Maka jika engkau mempunyai jaringan, gunakan sebagian untuk membuka jalan kebaikan.
3. Memberi Alat untuk Berdiri
Ada orang yang tidak membutuhkan uang tunai.
Ia membutuhkan gerobak.
Mesin jahit.
Alat kerja.
Laptop untuk bekerja.
Biaya sertifikasi.
Bibit.
Peralatan dagang.
Maka pahamilah kebutuhan yang sebenarnya.
4. Menjadi Pendamping sampai Ia Stabil
Tidak semua orang langsung kuat setelah menerima bantuan.
Ada yang memerlukan arahan beberapa waktu.
Dampingi tanpa menguasai.
Arahkan tanpa memperbudak.
Bantu sampai ia mampu berjalan sendiri.
Dan ketika ia sudah mampu berjalan, lepaskan dengan bahagia.
Jangan Malu Membantu Orang Menjadi Mandiri
Kadang orang berkata:
“Kalau dia sudah bisa berdiri sendiri, nanti dia tidak ingat saya.”
Jangan takut pada hal itu.
Jika tujuanmu karena Alloh, maka keberhasilan orang yang engkau bantu justru merupakan kegembiraan.
Biarkan ia tumbuh.
Biarkan ia melampaui kita.
Biarkan ia suatu hari memberi kepada orang lain.
Sebab keberhasilan paling indah dari sebuah pertolongan adalah ketika orang yang dahulu menerima akhirnya mampu menjadi pemberi.
مِنَ الْعَطَاءِ مَا يُطْعِمُ، وَمِنْهُ مَا يُقَوِّي
Minal-‘athā’i mā yuṭ‘imu, wa minhu mā yuqawwī.
Makna renungannya:
“Di antara pemberian ada yang memberi makan, dan di antaranya ada yang menguatkan.”
Keduanya diperlukan.
Jangan meremehkan bantuan darurat.
Tetapi jika keadaan memungkinkan, jangan berhenti pada bantuan darurat saja.
Carilah jalan agar pertolongan berkembang menjadi kekuatan.
Pemberian yang Menumbuhkan Martabat
Bayangkan seseorang kehilangan pekerjaan.
Ia datang membutuhkan bantuan.
Kita dapat memberinya sejumlah uang.
Itu baik.
Namun jika kita dapat membantunya menemukan pekerjaan baru, memperbarui keterampilannya, atau mempertemukannya dengan orang yang membutuhkan jasanya, manfaatnya dapat menjadi jauh lebih panjang.
Begitu pula seorang anak dari keluarga tidak mampu.
Memberinya makanan sangat berarti.
Tetapi membantu pendidikannya dapat membuka masa depan.
Maka ada pemberian yang habis ketika digunakan.
Ada pula pemberian yang beranak-pinak menjadi kemampuan.
Jangan Menjadikan Kemiskinan sebagai Identitas
Orang yang sedang miskin bukan berarti selamanya harus disebut “orang miskin.”
Orang yang sedang berhutang bukan berarti seluruh dirinya adalah hutang.
Orang yang sedang menganggur bukan berarti ia tidak berguna.
Orang yang pernah gagal bukan berarti hidupnya selesai.
Kesulitan adalah keadaan.
Bukan seluruh identitas manusia.
Karena itu, ketika membantu seseorang, jangan terus-menerus mengingatkannya kepada masa terendahnya.
Berilah ruang baginya untuk mempunyai kehidupan baru.
Tiga Kesalahan dalam Memberdayakan
Pertama: Memaksa
Jangan menyuruh setiap orang menjalankan usaha yang sama.
Kemampuan manusia berbeda.
Ada yang cocok berdagang.
Ada yang cocok bekerja.
Ada yang cocok bertani.
Ada yang cocok mengajar.
Ada yang cocok membuat sesuatu dengan tangannya.
Kedua: Memberi Modal Tanpa Perhitungan
Niat baik tetap membutuhkan kehati-hatian.
Jika memberi modal, pahami terlebih dahulu apakah ada keterampilan, pasar, dan kemampuan mengelola.
Ketiga: Menuntut Hasil Terlalu Cepat
Orang yang sedang bangkit memerlukan waktu.
Jangan karena sekali gagal lalu kita berkata:
“Percuma saya bantu.”
Belajar berdiri kadang membutuhkan beberapa kali jatuh.
Namun tetap harus ada evaluasi dan tanggung jawab.
Rahasia Kebaikan yang Beranak-pinak
Kemudian datanglah satu gambaran:
Seseorang membantu satu orang belajar menjahit.
Orang itu mulai menerima pesanan.
Dari hasilnya ia membiayai anaknya sekolah.
Beberapa tahun kemudian anaknya menjadi guru.
Guru itu mengajar ratusan murid.
Maka satu mesin jahit yang dahulu diberikan telah berubah menjadi rantai manfaat yang tidak pernah dibayangkan oleh pemberinya.
Inilah salah satu rahasia berbagi:
kita sering hanya melihat pemberian pertama, tetapi tidak melihat seluruh cabang manfaat yang tumbuh darinya.
Doa Agar Pertolongan Menjadi Kekuatan
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عَطَائِي سَبَبًا لِقُوَّةِ عِبَادِكَ، وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِضَعْفِهِمْ أَوْ تَعَلُّقِهِمْ بِي
Allāhummaj‘al ‘athā’ī sababan liquwwati ‘ibādik, wa lā taj‘alhu sababan liḍa‘fihim aw ta‘alluqihim bī.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikan pemberianku sebagai sebab kekuatan bagi hamba-hamba-Mu, dan jangan jadikan ia sebab kelemahan mereka atau ketergantungan mereka kepadaku.”
Wewarah Kelima
Kemudian tertulis:
**“JANGAN HANYA BERIKAN SESUATU YANG DAPAT DIHABISKAN.
JIKA ENGKAU MAMPU, BERIKAN PULA SESUATU YANG DAPAT MENUMBUHKAN KEMAMPUAN.”**
Maka ketika hendak berbagi, tanyakanlah:
Apakah ia membutuhkan makanan?
Berilah makanan.
Apakah ia membutuhkan pekerjaan?
Bantu mencari jalan.
Apakah ia membutuhkan ilmu?
Ajarkan.
Apakah ia membutuhkan keberanian?
Kuatkan.
Apakah ia membutuhkan kesempatan kedua?
Jika aman dan layak, bukakan pintu.
Penutup Lembar Kelima
Jangan merasa bahwa tugas berbagi selesai ketika sesuatu berpindah dari tangan kita.
Kadang tugas yang lebih besar adalah memastikan bahwa pertolongan itu benar-benar membawa manusia menuju keadaan yang lebih baik.
Namun jangan pula merasa harus menyelamatkan semua orang seorang diri.
Kita hanyalah salah satu jalan.
Alloh mempunyai banyak jalan lain.
Lakukan bagian yang mampu kita lakukan.
Dengan kasih.
Dengan hikmah.
Dengan batas yang sehat.
Dengan niat yang bersih.
Dan jika suatu hari orang yang dahulu engkau bantu dapat berdiri sendiri, jangan sedih karena ia tidak lagi membutuhkan pertolonganmu.
Bersyukurlah.
Sebab boleh jadi itulah tanda bahwa pertolonganmu telah mencapai salah satu tujuannya.
WĚWARAH AGUNG QITAB
“PERTOLONGAN YANG INDAH BUKAN YANG MEMBUAT MANUSIA SELAMANYA BERPEGANG PADA TANGANMU,
TETAPI YANG MEMBANTUNYA MENEMUKAN KEKUATAN UNTUK BERDIRI.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Kelima —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KEENAM
Ketika Berbagi Menjadi Jalan Menyucikan Rezeki
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada orang yang bekerja keras mengumpulkan rezeki.
Ada yang berdagang dari pagi hingga malam.
Ada yang menjadi buruh, petani, guru, pedagang, pekerja, perawat, pengusaha, atau menjalankan pekerjaan sederhana yang tidak banyak diketahui orang.
Mereka membawa pulang hasil ikhtiar.
Namun Qitab ini mengajarkan satu pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah rezeki itu hanya berhenti sebagai milik,
atau telah berubah menjadi keberkahan?
Sebab banyak bukan selalu berarti berkah.
Sedikit pun tidak selalu berarti sempit.
Keberkahan bukan hanya tentang jumlah.
Keberkahan adalah ketika sesuatu yang kita miliki membawa kebaikan, ketenangan, kecukupan, dan manfaat.
بابُ الْبَرَكَة
Bābul-Barakah — Pintu Keberkahan
Rezeki yang berkah mempunyai tanda-tanda.
Ia tidak membuat hati semakin keras.
Ia tidak membuat seseorang semakin lupa kepada Alloh.
Ia tidak menjadikan keluarga saling bermusuhan.
Ia tidak memaksa seseorang menzalimi orang lain demi mempertahankannya.
Ia membawa manfaat.
Ia menumbuhkan rasa syukur.
Ia membuat seseorang mampu menjaga kebutuhan dirinya sekaligus melihat kebutuhan orang lain.
Maka ketika seseorang berbagi dengan niat yang baik, ia sedang melatih dirinya agar rezeki tidak hanya menjadi benda yang disimpan.
Rezeki itu mulai mempunyai arah.
Yang Penting Bukan Banyaknya
Jangan menunggu memiliki seratus juta untuk mulai berbagi.
Jangan menunggu mempunyai rumah besar.
Jangan menunggu usaha menjadi besar.
Jangan menunggu semua masalah selesai.
Karena jika hati selalu berkata:
“Nanti kalau sudah cukup…”
maka kata “cukup” dapat terus berpindah.
Hari ini merasa cukup jika memiliki satu juta.
Besok lima juta.
Kemudian sepuluh juta.
Lalu seratus juta.
Keinginan manusia dapat terus tumbuh.
Maka latihlah berbagi dari sekarang.
Tidak harus besar.
Tidak harus setiap hari dalam bentuk uang.
Yang penting hati belajar mengatakan:
“Dari apa yang Alloh titipkan kepadaku, ada bagian yang dapat menjadi manfaat.”
Jangan Berbagi dari Jalan yang Salah
Kemudian Qitab ini memberi peringatan keras:
Kebaikan tujuan tidak membenarkan cara yang buruk.
Jangan mengambil hak orang lain lalu sebagian hasilnya disedekahkan.
Jangan menipu dalam perdagangan lalu merasa cukup dengan berbagi.
Jangan menahan upah pekerja lalu membangun citra sebagai dermawan.
Jangan menggunakan uang amanah tanpa izin lalu mengatakan semuanya demi kebaikan.
Karena sesuatu yang tampak baik di ujungnya tidak menghapus kezaliman pada jalannya.
Maka sebelum bertanya:
“Berapa yang akan kubagikan?”
tanyakan pula:
“Dari mana rezeki ini berasal?”
الْحَلَالُ أَصْلُ الْبَرَكَة
Al-ḥalālu aṣlul-barakah.
Makna renungannya:
“Yang halal adalah salah satu dasar keberkahan.”
Maka carilah rezeki dengan jalan yang bersih.
Jika berdagang, jujurlah.
Jika bekerja, tunaikan amanah.
Jika mempunyai pekerja, jangan zalimi hak mereka.
Jika berhutang, niatkan membayar dan kelola dengan sungguh-sungguh.
Jika menerima titipan, jangan campurkan dengan milik pribadi tanpa hak.
Sebab berbagi yang indah dimulai dari rezeki yang dijaga jalannya.
Empat Jalan Membersihkan Hubungan dengan Harta
1. Bersyukur
Akui bahwa kemampuan mencari rezeki pun adalah nikmat.
2. Menggunakan dengan Bijak
Tidak boros.
Tidak pula kikir.
3. Menunaikan Hak yang Wajib
Jangan sampai seseorang rajin memberi sedekah, tetapi kewajiban kepada keluarga, hutang, pekerja, atau hak lain justru ditinggalkan.
4. Membuka Jalan Manfaat
Jika ada kelapangan, alirkan sebagian kepada kebaikan.
Berbagi Bukan Perdagangan dengan Langit
Jangan jadikan sedekah semata-mata seperti transaksi:
“Aku memberi seratus ribu, maka aku harus menerima sejuta.”
Berharap pahala dan kebaikan dari Alloh adalah hal yang wajar.
Tetapi jangan mengubah ibadah menjadi hitungan dagang semata.
Sebab jika setelah memberi rezeki belum bertambah secara materi, seseorang dapat kecewa.
Padahal manfaat kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang berbeda:
ketenangan,
keluarga yang lebih harmonis,
terhindarnya seseorang dari keputusan buruk,
terbukanya persahabatan,
bertambahnya rasa syukur,
atau sekadar hati yang menjadi lebih lembut.
Maka jangan batasi kemurahan Alloh hanya pada satu bentuk balasan.
Saat Rezeki Sedikit
Ada orang berkata:
“Bagaimana saya berbagi? Untuk makan saja sulit.”
Qitab ini menjawab:
Jangan memaksakan diri.
Jika memang sedang dalam kesulitan, utamakan kebutuhan dasar dan tanggungan.
Namun jalan kebaikan tetap terbuka.
Berbagilah tenaga.
Berbagilah doa.
Berbagilah ilmu.
Berbagilah senyum.
Berbagilah makanan jika memang ada kelebihan.
Berbagilah tempat duduk.
Berbagilah informasi pekerjaan.
Berbagilah perhatian.
Karena kasih sayang tidak hanya dimiliki oleh orang kaya.
Saat Rezeki Banyak
Ketika rezeki bertambah, ujian juga berubah.
Dahulu diuji dengan kekurangan.
Sekarang diuji dengan kelapangan.
Apakah semakin kaya semakin lembut?
Atau semakin keras?
Apakah semakin banyak memiliki semakin banyak manfaat yang lahir?
Atau justru semakin takut kehilangan?
Maka kekayaan bukan hanya nikmat.
Ia juga amanah.
Rahasia “Cukup”
Ada orang mempunyai sedikit tetapi hatinya cukup.
Ada orang mempunyai banyak tetapi selalu merasa kurang.
Maka salah satu kekayaan terbesar adalah qana‘ah:
menerima dengan syukur tanpa berhenti berikhtiar.
Qana‘ah bukan berarti tidak boleh maju.
Bukan berarti tidak boleh kaya.
Bukan berarti tidak boleh membangun usaha besar.
Qana‘ah adalah ketika pertumbuhan harta tidak membuat jiwa kehilangan ketenangan.
Doa Keberkahan Rezeki
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لِي فِي رِزْقِي، وَطَهِّرْهُ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبْهَةِ، وَاجْعَلْ فِيهِ نَفْعًا لِي وَلِأَهْلِي وَلِعِبَادِكَ
Allāhumma bārik lī fī rizqī, wa ṭahhirhu minal-ḥarāmi wasy-syubhah, waj‘al fīhi naf‘an lī wa li-ahlī wa li‘ibādik.
Artinya:
“Ya Alloh, berkahilah rezekiku, bersihkanlah ia dari yang haram dan syubhat, dan jadikan di dalamnya manfaat untuk diriku, keluargaku, dan hamba-hamba-Mu.”
Wewarah Keenam
Kemudian tertulis:
**“REZEKI YANG BAIK BUKAN HANYA YANG MASUK KE RUMAHMU,
TETAPI YANG MEMBAWA KETENANGAN DI DALAMNYA DAN MANFAAT KELUAR DARINYA.”**
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa penghasilanku bulan ini?”
Tanyakan pula:
“Berapa banyak syukur yang tumbuh?”
“Apakah keluargaku terjaga?”
“Apakah ada hak orang lain yang belum kutunaikan?”
“Apakah sebagian dari rezeki ini telah berubah menjadi manfaat?”
Penutup Lembar Keenam
Harta bukan musuh.
Kekayaan bukan dosa.
Kelapangan bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Yang perlu dijaga adalah hubungan hati dengannya.
Milikilah rezeki.
Jangan biarkan rezeki memiliki hatimu.
Carilah kelapangan.
Bangun usaha.
Bangun kehidupan.
Sejahterakan keluarga.
Bayar kewajiban.
Lunasi hutang.
Dan ketika Alloh memberikan ruang lebih luas, biarkan sebagian kelapangan itu menjadi jalan agar orang lain ikut merasakan kebaikan.
Sebab pada akhirnya, keberkahan bukan hanya tentang berapa banyak yang tinggal di tangan.
Tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang lahir darinya.
WĚWARAH AGUNG QITAB
“CARILAH REZEKI DENGAN JALAN YANG BERSIH,
JAGALAH DENGAN SYUKUR,
GUNAKANLAH DENGAN HIKMAH,
DAN ALIRKANLAH DENGAN KASIH.”
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Keenam —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KETUJUH
Ketika Kebaikan Tidak Lagi Berjalan Sendirian
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada kebaikan yang dapat dilakukan seorang diri.
Namun ada pula kebutuhan yang terlalu besar apabila hanya dipikul oleh satu tangan.
Satu orang mungkin mampu memberi makan satu keluarga.
Tetapi sebuah kampung yang sedang kesulitan membutuhkan banyak tangan.
Satu orang mungkin mampu membiayai satu anak sekolah.
Tetapi membangun jalan pendidikan bagi banyak anak membutuhkan kebersamaan.
Maka pada lembar ini Qitab membuka satu rahasia:
Kebaikan akan menjadi lebih kuat ketika hati yang berbeda mau berjalan dalam satu niat yang sama.
Bukan untuk mencari siapa yang paling besar namanya.
Bukan untuk memperebutkan siapa yang paling berjasa.
Tetapi untuk memastikan bahwa manfaat benar-benar sampai.
بابُ التَّعَاوُن
Bābut-Ta‘āwun — Pintu Saling Menolong
Ada seseorang mempunyai harta tetapi tidak mempunyai waktu.
Ada seseorang mempunyai waktu tetapi tidak mempunyai harta.
Ada yang mempunyai ilmu.
Ada yang mempunyai jaringan.
Ada yang mempunyai kendaraan.
Ada yang mempunyai tempat.
Ada yang mempunyai kemampuan mengatur.
Ada yang pandai memasak.
Ada yang pandai mengajar.
Ada yang mampu berbicara kepada banyak orang.
Ada pula yang hanya mampu bekerja diam-diam di belakang.
Maka mengapa semua harus melakukan perkara yang sama?
Qitab ini mengajarkan:
Jangan samakan bentuk pengabdian, tetapi satukan tujuannya.
Seseorang boleh memberi uang.
Yang lain memberi tenaga.
Yang lain mencatat.
Yang lain memasak.
Yang lain mengantar.
Yang lain menjaga ketertiban.
Yang lain mendoakan.
Jika semuanya ditempatkan dengan benar, perbedaan kemampuan bukan kelemahan.
Ia menjadi kekuatan.
Jangan Berebut Menjadi Wajah Kebaikan
Ada ujian yang muncul ketika banyak orang berkumpul melakukan sesuatu yang baik.
Bukan lagi soal memberi atau tidak memberi.
Tetapi soal:
“Siapa yang paling terlihat?”
“Nama siapa yang dipasang paling besar?”
“Siapa yang berdiri di depan?”
“Siapa yang akan disebut sebagai penggagas?”
Maka Qitab mengingatkan:
Jangan sampai kebaikan bersama rusak karena manusia saling berebut kepemilikan atas kebaikan itu.
Jika suatu pekerjaan dilakukan oleh banyak orang, jangan ambil seluruh pujiannya seorang diri.
Jika ada orang yang bekerja di belakang layar, jangan hapus jasanya.
Jika seseorang menyumbang sedikit tetapi tulus, jangan kecilkan.
Jika seseorang menyumbang banyak, jangan pula jadikan hartanya sebagai alasan untuk menguasai semuanya.
Sebab amal bersama harus melahirkan kebersamaan.
Bukan kerajaan ego.
Lima Tiang Kebaikan Bersama
1. Niat yang Jelas
Sebelum memulai, tanyakan:
Untuk siapa kegiatan ini dilakukan?
Apakah benar untuk manfaat?
Atau hanya untuk membuat nama kelompok terlihat besar?
Niat perlu terus diperiksa karena ia dapat berubah di tengah perjalanan.
2. Amanah yang Jelas
Jika menerima titipan, catat.
Jika mengumpulkan dana, jelaskan penggunaannya.
Jika ada sisa, jangan sembunyikan.
Jika ada perubahan kebutuhan, sampaikan.
Sebab kepercayaan adalah salah satu harta terbesar dalam gerakan berbagi.
Sekali rusak, sulit memulihkannya.
3. Tugas yang Jelas
Jangan semua orang menjadi pemimpin.
Jangan pula semua orang hanya menunggu perintah.
Bagilah tugas sesuai kemampuan.
Ada yang mengurus penerima manfaat.
Ada yang mengatur kebutuhan.
Ada yang mengelola catatan.
Ada yang memastikan barang sampai.
Ada yang melakukan evaluasi.
Kebaikan yang tertata sering kali mampu menjangkau lebih jauh daripada semangat besar yang tidak mempunyai arah.
4. Kehormatan Penerima Tetap Dijaga
Walaupun bantuan berasal dari banyak orang, penerima tetap bukan tontonan.
Jangan karena banyak pihak ikut membantu lalu kehidupan pribadinya menjadi bahan publikasi berlebihan.
Kebutuhannya boleh disampaikan.
Tetapi kehormatannya harus tetap dijaga.
5. Tidak Ada yang Merasa Paling Suci
Orang yang memberi bukan berarti lebih baik daripada orang yang belum mampu memberi.
Mungkin seseorang tidak memberi uang karena sedang menanggung keluarganya.
Mungkin seseorang sedang berhutang.
Mungkin ia membantu dalam bentuk lain.
Maka jangan ukur semua manusia dengan satu ukuran.
الْخَيْرُ يَكْبُرُ بِالتَّعَاوُنِ
Al-khairu yakburu bit-ta‘āwun.
Makna renungannya:
“Kebaikan membesar melalui saling menolong.”
Satu batu tidak menjadi rumah.
Satu kayu tidak menjadi jembatan.
Satu benih tidak menjadi hutan.
Tetapi banyak unsur yang berbeda dapat disatukan menjadi sesuatu yang besar.
Demikian pula amal.
Ketika Seribu Kebaikan Kecil Bertemu
Bayangkan seribu orang.
Masing-masing hanya mampu memberikan sesuatu yang kecil.
Jika setiap orang merasa:
“Jumlahku terlalu sedikit, tidak ada artinya,”
maka mungkin tidak ada yang bergerak.
Tetapi ketika seribu kebaikan kecil bertemu, lahirlah sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
Inilah rahasia jamaah dalam kebaikan:
yang kecil tidak selalu tetap kecil ketika disatukan.
Satu bungkus makanan.
Satu buku.
Satu jam waktu.
Satu perjalanan mengantar.
Satu keterampilan.
Satu nomor kontak.
Satu doa.
Ketika semua ditempatkan pada jalannya, ia dapat menjadi sebuah jaringan manfaat.
Jangan Menghina Pemberian Kecil
Ada seseorang hanya mampu memberikan lima ribu.
Ada yang lima puluh ribu.
Ada yang lima juta.
Jika semuanya dilakukan sesuai kemampuan, siapa yang berhak merendahkan?
Jumlah dapat berbeda.
Tetapi perjuangan di balik jumlah itu tidak selalu terlihat.
Boleh jadi lima ribu dari seseorang adalah bagian yang berat baginya.
Sedangkan lima juta dari orang lain tidak mengubah sedikit pun keadaan hidupnya.
Karena itu jangan sibuk membandingkan.
Terimalah kebaikan dengan hormat.
Ketika Kebaikan Menjadi Lembaga
Semakin besar sebuah gerakan, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Ketika kebaikan sudah mempunyai nama, kepengurusan, kas, program, atau kegiatan tetap, maka amanah tidak boleh hanya bersandar pada kepercayaan lisan.
Diperlukan:
catatan yang rapi,
pengelolaan yang jelas,
pembagian tanggung jawab,
laporan yang dapat dipahami,
dan evaluasi.
Sebab niat baik tidak menghapus kebutuhan akan tata kelola yang baik.
Bahkan tata kelola yang baik adalah bagian dari menjaga amanah.
Jangan Membiarkan Kebaikan Menjadi Beban Satu Orang
Ada seorang penggerak yang selalu mengeluarkan uang sendiri.
Selalu bekerja sendiri.
Selalu menyelesaikan semua masalah sendiri.
Pada awalnya ia kuat.
Lama-lama ia lelah.
Kemudian ia kecewa karena merasa semua orang hanya menonton.
Maka Qitab berkata:
Bangunlah kebersamaan sebelum seseorang habis karena memikul semuanya sendirian.
Tidak semua orang harus menyumbang sama.
Tetapi setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuan.
Dengan demikian kebaikan tidak mati ketika satu orang berhenti.
Berbagi Harus Melahirkan Regenerasi
Kebaikan yang hanya bergantung pada satu tokoh akan rapuh.
Tetapi kebaikan yang melahirkan banyak penerus akan hidup lebih lama.
Maka ajarkan kepada yang muda.
Libatkan mereka.
Berikan tanggung jawab.
Biarkan mereka belajar.
Jangan takut jika suatu hari mereka lebih mampu daripada kita.
Sebab keberhasilan seorang pembimbing bukan ketika semua orang terus berada di belakangnya.
Tetapi ketika muncul orang-orang baru yang mampu meneruskan kebaikan.
Rahasia Lingkaran Kebaikan
Kemudian terlihat satu gambaran:
Seseorang menerima bantuan pendidikan.
Ia lulus.
Kemudian bekerja.
Ketika kehidupannya membaik, ia membantu seorang anak lain.
Anak itu tumbuh.
Lalu membantu orang berikutnya.
Maka satu pemberian berubah menjadi lingkaran panjang.
Pemberi pertama mungkin telah tiada.
Namun manfaatnya terus berjalan.
Inilah salah satu bentuk keindahan kebaikan:
ia dapat berpindah dari tangan ke tangan tanpa kehilangan cahaya manfaatnya.
Jangan Berhenti pada “Memberi”
Jika seseorang telah ditolong, ajarkan pula suatu hari ia dapat menolong orang lain.
Tidak harus mengembalikan kepada pemberi.
Tidak harus dengan jumlah yang sama.
Cukup dengan meneruskan manfaat.
Katakan:
“Jika suatu hari engkau sudah kuat, bantulah orang lain sebagaimana hari ini engkau dibantu.”
Dengan begitu, kebaikan tidak berputar kembali kepada satu orang.
Ia bergerak ke depan.
Doa Kebaikan Bersama
اللّٰهُمَّ اجْمَعْ قُلُوبَنَا عَلَى الْخَيْرِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لَكَ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْخِلَافِ وَالْخِيَانَةِ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِنَفْعِ عِبَادِكَ
Allāhummajma‘ qulūbanā ‘alal-khair, waj‘al a‘mālanā khāliṣatan laka, waḥfaẓnā minar-riyā’i wal-khilāfi wal-khiyānah, waj‘alnā sababan linaf‘i ‘ibādik.
Artinya:
“Ya Alloh, satukan hati kami dalam kebaikan, jadikan amal kami tulus karena-Mu, jagalah kami dari riya, perselisihan, dan pengkhianatan amanah, serta jadikan kami sebab bagi manfaat hamba-hamba-Mu.”
Wewarah Ketujuh
Kemudian tertulis:
**“SATU TANGAN DAPAT MEMBERI,
TETAPI BANYAK TANGAN YANG BERSATU DAPAT MEMBANGUN JALAN.”**
Jangan meremehkan kekuatan kebersamaan.
Namun jangan pula mengorbankan kejujuran demi mempertahankan kebersamaan.
Jika ada kesalahan, perbaiki.
Jika ada amanah yang bocor, benahi.
Jika ada perselisihan, kembalikan kepada tujuan awal.
Sebab persatuan yang sehat bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan.
Persatuan yang sehat adalah menjaga tujuan sambil berani memperbaiki jalan.
Penutup Lembar Ketujuh
Ada masa ketika engkau memberi seorang diri.
Ada masa ketika engkau perlu mengajak orang lain.
Ada masa ketika engkau berada di depan.
Ada masa ketika engkau sebaiknya berada di belakang.
Ada masa ketika namamu diketahui.
Ada masa ketika engkau tidak disebut sama sekali.
Jangan ukur kedudukanmu dari posisi.
Ukurlah dari manfaat.
Karena dalam kerja kebaikan, orang yang memasak di dapur dapat sama pentingnya dengan orang yang berbicara di depan.
Orang yang mencatat dapat sama pentingnya dengan orang yang membawa bantuan.
Orang yang menjaga amanah dapat sama pentingnya dengan orang yang menyumbang.
Dan orang yang berdoa dengan tulus mungkin sedang menopang sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia.
Maka berjalanlah bersama.
Bukan untuk membesarkan nama.
Tetapi untuk memperbesar manfaat.
WĚWARAH AGUNG QITAB
**“JIKA SATU ORANG MENJADI JALAN KEBAIKAN, JAGALAH DIA.
JIKA SERIBU ORANG MENJADI JALAN KEBAIKAN, SATUKAN MEREKA DALAM AMANAH.”**
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Ketujuh —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KEDELAPAN
Berbagi Saat Diri Sendiri Sedang Sempit
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada masa seseorang memberi dari kelapangan.
Ada pula masa ketika ia sendiri sedang sempit, tetapi hatinya masih ingin menjadi jalan kebaikan.
Di sinilah Qitab membuka satu pemahaman yang sangat penting:
Berbagi tidak berarti mengabaikan keadaan diri sendiri.
Ikhlas tidak berarti sembrono.
Pengorbanan tidak berarti merusak amanah yang sedang dipikul.
Sebab Alloh tidak memerintahkan manusia untuk menolong orang lain dengan cara menzalimi dirinya, keluarganya, atau tanggungannya.
Maka ketika keadaan sedang sempit, jalan berbagi harus ditempuh dengan hikmah yang lebih halus.
بابُ الْمِيزَان
Bābul-Mīzān — Pintu Keseimbangan
Ada orang mempunyai seratus ribu.
Ia memerlukan delapan puluh ribu untuk kebutuhan rumah.
Tersisa dua puluh ribu.
Jika ia mampu berbagi sebagian tanpa mengganggu kebutuhan pokok, itu baik.
Tetapi jika seluruh seratus ribu diberikan hanya karena ingin dianggap paling ikhlas, sementara anaknya tidak makan, maka ada keseimbangan yang hilang.
Qitab ini mengajarkan:
Jangan jadikan kebaikan kepada orang jauh sebagai alasan mengabaikan amanah yang berada di dekatmu.
Kebaikan yang benar tidak berdiri di atas kezaliman baru.
Ketika Tidak Mampu Memberi Uang
Jangan merasa malu.
Jangan merasa gagal.
Jangan merasa tidak mempunyai bagian dalam kebaikan.
Karena tangan kosong dari uang belum tentu kosong dari manfaat.
Engkau masih dapat memberi:
waktu,
tenaga,
doa,
ilmu,
informasi,
perhatian,
keahlian,
penghiburan,
atau jalan menuju pertolongan lain.
Bahkan kadang seseorang tidak membutuhkan uang.
Ia hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Maka jangan kecilkan bentuk kebaikan yang sederhana.
Sedekah Orang yang Sedang Berhutang
Kemudian datang pertanyaan:
“Apakah orang yang masih mempunyai hutang boleh berbagi?”
Qitab ini menjawab dengan keseimbangan.
Jika hutang telah jatuh tempo dan ada hak orang lain yang harus segera ditunaikan, jangan mendahulukan sedekah besar hingga kewajiban itu terbengkalai.
Bayarlah hak manusia.
Jaga amanah.
Namun jika seseorang tetap ingin berbuat baik, pilih bentuk yang sesuai kemampuannya.
Boleh berbagi kecil.
Boleh berbagi tenaga.
Boleh membantu dengan keahlian.
Boleh mendoakan.
Karena jalan kebaikan tidak tertutup hanya karena seseorang sedang mempunyai kewajiban finansial.
Yang harus dijaga adalah urutan tanggung jawab.
Jangan Mengejar Citra Dermawan
Ada orang yang memaksakan diri memberi besar karena takut disebut pelit.
Padahal keadaan ekonominya sedang berat.
Ia berhutang untuk tampil sebagai pemberi.
Ia mengorbankan kebutuhan keluarganya demi menjaga citra.
Maka Qitab memberi peringatan:
Jangan membeli pujian manusia dengan kesulitan yang harus ditanggung keluargamu.
Jika kemampuanmu seribu, jangan berpura-pura mampu sejuta.
Jika kemampuanmu tenaga, berikan tenaga.
Jika kemampuanmu doa, berikan doa.
Alloh mengetahui ukuran kemampuan setiap hamba.
الْخَيْرُ عَلَى قَدْرِ الِاسْتِطَاعَةِ
Al-khairu ‘alā qadril-istiṭā‘ah.
Makna renungannya:
“Kebaikan berjalan sesuai kadar kemampuan.”
Bukan berarti manusia tidak boleh berkorban.
Ada saat pengorbanan sangat mulia.
Namun pengorbanan harus lahir dari kesadaran, bukan tekanan sosial.
Ia harus dibimbing oleh hikmah, bukan ego.
Tiga Jenis Sempit
Tidak semua kesempitan sama.
1. Sempit Harta
Uang sedikit, tetapi tubuh masih kuat.
Maka tenaga dapat menjadi sedekah.
2. Sempit Tenaga
Tubuh sedang sakit atau lemah.
Maka doa, perhatian, ilmu, atau dukungan dapat menjadi jalan kebaikan.
3. Sempit Hati
Seseorang sedang terluka, kecewa, atau kehilangan semangat.
Dalam keadaan ini, jangan memaksa diri menjadi penolong semua orang.
Pulihkan dulu sebagian batinmu.
Karena seseorang yang terlalu habis dapat kehilangan kemampuan untuk membantu dengan sehat.
Belajar Menerima Pertolongan
Ada orang pandai memberi tetapi sulit menerima.
Ketika orang lain menawarkan bantuan, ia merasa malu.
Ia berkata:
“Saya harus selalu menjadi pemberi.”
Maka Qitab membuka pelajaran lain:
Kadang menerima adalah bagian dari adab.
Ketika engkau benar-benar membutuhkan, terimalah dengan syukur jika bantuan itu halal dan tidak mengikatmu kepada keburukan.
Jangan merasa kehormatanmu hilang.
Hari ini engkau menerima.
Esok, jika Alloh melapangkan, engkau dapat kembali memberi.
Kehidupan tidak selalu menempatkan manusia pada satu posisi.
Rahasia Putaran Kebaikan
Ada masa engkau kuat.
Engkau menopang orang lain.
Kemudian datang masa engkau jatuh.
Orang yang dahulu engkau bantu datang menolongmu.
Jangan menolaknya hanya karena malu.
Boleh jadi itulah cara Alloh memperlihatkan bahwa kebaikan memang tidak selalu kembali melalui pintu yang sama.
Kadang ia kembali melalui tangan yang pernah kita kuatkan.
Kadang melalui orang yang tidak pernah kita kenal.
Kadang bukan dalam bentuk uang, tetapi pertolongan pada waktu yang sangat tepat.
Jangan Menggadaikan Masa Depan untuk Kebaikan Sesaat
Qitab juga memberi batas:
Jangan mengambil hutang berat hanya untuk terlihat dermawan.
Jangan menjual kebutuhan pokok tanpa pertimbangan demi memberi secara emosional.
Jangan mengambil dana amanah lalu berkata akan menggantinya nanti karena sedang ingin menolong seseorang.
Niat baik tidak menghalalkan tindakan yang merusak amanah.
Kebaikan harus dibangun di atas kejujuran.
Berbagi dari Kekurangan, Tetapi dengan Ilmu
Jika seseorang sedang sempit tetapi masih ingin berbagi, gunakan tiga ukuran:
Apakah kebutuhan pokok terjaga?
Apakah hak orang lain tidak terzalimi?
Apakah pemberian ini dilakukan dengan sadar, bukan karena tekanan?
Jika ketiganya terjaga, berbagi kecil dapat menjadi latihan hati yang indah.
Namun jangan melihat orang yang belum mampu berbagi sebagai lebih rendah.
Setiap manusia sedang berjalan dengan ujian yang berbeda.
Doa Ketika Rezeki Sedang Sempit
اللّٰهُمَّ وَسِّعْ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ، وَارْزُقْنِي حِكْمَةً فِي نَفَقَتِي، وَاجْعَلْنِي نَافِعًا لِغَيْرِي وَلَا تُكَلِّفْنِي مَا لَا أُطِيقُ
Allāhumma wassi‘ ‘alayya min faḍlik, warzuqnī ḥikmatan fī nafaqatī, waj‘alnī nāfi‘an lighairī wa lā tukallifnī mā lā uṭīq.
Artinya:
“Ya Alloh, lapangkanlah aku dengan karunia-Mu, berikan kepadaku kebijaksanaan dalam membelanjakan rezekiku, jadikan aku bermanfaat bagi orang lain, dan jangan bebani aku dengan sesuatu yang tidak sanggup kupikul.”
Wewarah Kedelapan
Kemudian tertulis:
**“JIKA TANGANMU SEDANG SEMPIT, JANGAN TUTUP HATIMU.
JIKA HATIMU SEDANG LELAH, JANGAN PAKSA TANGANMU MELAMPAUI KEMAMPUANNYA.”**
Inilah keseimbangan.
Ada masa memberi.
Ada masa menerima.
Ada masa menolong.
Ada masa dipulihkan.
Semua dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba.
Penutup Lembar Kedelapan
Jangan mengukur kebaikan hanya dari jumlah uang yang keluar.
Seseorang yang memberi sedikit dengan penuh tanggung jawab dapat lebih sehat daripada seseorang yang memberi besar tetapi menelantarkan kewajibannya.
Jangan malu ketika kemampuan sedang kecil.
Tidak ada musim yang berlangsung selamanya.
Kesempitan dapat berlalu.
Kelapangan pun dapat berubah.
Yang terpenting ialah menjaga hati agar ketika lapang tidak sombong, dan ketika sempit tidak putus asa.
Jika hari ini hanya mampu mendoakan, doakan.
Jika hanya mampu mengantar seseorang, antarkan.
Jika hanya mampu mendengarkan, dengarkan.
Jika hanya mampu berkata lembut kepada seseorang yang sedang jatuh, katakanlah.
Karena kebaikan tidak selalu membutuhkan kekayaan.
Ia membutuhkan kesediaan hati untuk menjadi manfaat sesuai kemampuan.
WĚWARAH AGUNG QITAB
**“JANGAN MEMAKSA DIRIMU MENJADI SUMBER BAGI SEMUA ORANG.
JADILAH JALAN KEBAIKAN SESUAI KEMAMPUAN YANG ALLOH TITIPKAN HARI INI.”**
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Kedelapan —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KESEMBILAN
Ketika Berbagi Menjadi Warisan yang Terus Hidup
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada pemberian yang selesai ketika benda itu habis.
Ada pemberian yang manfaatnya bertahan beberapa hari.
Ada pula kebaikan yang terus berjalan meskipun orang yang memulainya sudah tidak lagi berada di dunia.
Pada lembar ini Qitab membuka satu rahasia besar:
Kebaikan yang paling panjang bukan selalu yang paling besar nilainya, tetapi yang paling panjang manfaatnya.
Sebab manusia tidak dapat hidup selamanya.
Nama akan berganti.
Generasi akan datang dan pergi.
Rumah akan berubah.
Usaha dapat berpindah tangan.
Tetapi sebuah manfaat dapat diteruskan dari satu manusia kepada manusia lain.
بابُ الْأَثَر
Bābul-Atsar — Pintu Jejak Kebaikan
Bayangkan seseorang menanam satu pohon.
Ia menyiramnya bertahun-tahun.
Ketika pohon itu tumbuh besar, orang-orang bernaung di bawahnya.
Burung membuat sarang.
Buahnya dimakan.
Anak-anak bermain di sekitarnya.
Suatu hari orang yang menanamnya telah tiada.
Tetapi pohon itu masih berdiri.
Maka Qitab berkata:
Demikian pula kebaikan.
Ada kebaikan yang tidak ikut mati bersama tubuh orang yang memulainya.
Jangan Hanya Memikirkan Hari Ini
Berbagi memang harus menjawab kebutuhan hari ini.
Orang lapar perlu makan sekarang.
Orang sakit perlu obat sekarang.
Orang yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan pertolongan sekarang.
Namun setelah keadaan darurat tertolong, tanyakan pula:
“Apa yang dapat membuat manfaat ini bertahan?”
Mungkin jawabannya:
pendidikan,
sumur,
alat kerja,
perpustakaan,
pelatihan,
tempat ibadah,
jaringan usaha,
kebun,
buku,
atau ilmu yang diwariskan.
Maka ada dua bentuk kebaikan:
kebaikan yang memadamkan api hari ini,
dan kebaikan yang mencegah api itu kembali menyala esok hari.
Keduanya diperlukan.
Berbagi yang Menjadi Ilmu
Seseorang dapat membagikan uang.
Tetapi uang dapat habis.
Seseorang dapat membagikan makanan.
Makanan akan selesai dimakan.
Namun ilmu yang benar dan bermanfaat dapat menetap di dalam diri seseorang.
Jika orang itu kemudian mengajarkannya kepada orang lain, manfaat itu terus bergerak.
Maka jangan remehkan:
mengajari anak membaca,
mengajari seseorang berdagang dengan jujur,
mengajari keluarga mengelola keuangan,
mengajari petani memperbaiki hasil tanam,
mengajari pemuda suatu keterampilan,
atau menuliskan pengalaman hidup agar dapat dipelajari generasi berikutnya.
Ilmu adalah salah satu bentuk berbagi yang dapat melintasi usia pemberinya.
Berbagi yang Menjadi Sistem
Ada orang setiap bulan membagikan sembako.
Itu baik.
Tetapi kemudian ia bertanya:
“Bisakah keluarga-keluarga ini mempunyai sumber penghasilan yang lebih stabil?”
Lalu dibentuklah pelatihan.
Dibuat kelompok usaha.
Dicarikan pasar.
Diajarkan pencatatan.
Dibangun sistem saling membantu.
Maka pemberian yang semula hanya berupa barang mulai berubah menjadi jalan keberdayaan.
Inilah salah satu tingkatan berbagi:
dari benda menjadi kemampuan,
dari kemampuan menjadi sistem,
dari sistem menjadi warisan.
لاَ يَبْقَى الْمَالُ، وَلَكِنْ يَبْقَى أَثَرُ الْخَيْرِ
Lā yabqal-mālu, wa lākin yabqā atsarul-khair.
Makna renungannya:
“Harta tidak kekal, tetapi jejak kebaikan dapat bertahan.”
Bukan berarti manusia harus menghabiskan seluruh hartanya.
Qitab tidak mengajarkan itu.
Yang diajarkan ialah:
jika Alloh memberi kemampuan, jadikan sebagian harta mempunyai umur manfaat yang lebih panjang daripada umur pemakaiannya.
Lima Bentuk Warisan Kebaikan
1. Ilmu yang Diteruskan
Tulislah.
Ajarkan.
Rekam.
Dokumentasikan.
Jangan simpan semua pengetahuan hanya di kepala.
Karena ilmu yang tidak diwariskan berhenti ketika pemiliknya pergi.
2. Manusia yang Dikuatkan
Jika engkau mempunyai seorang murid, jangan hanya membuatnya kagum kepadamu.
Ajarkan ia mampu berpikir.
Jika mempunyai orang yang engkau bina, jangan biarkan ia selamanya bergantung.
Siapkan ia agar dapat membina orang lain.
Jika membantu seseorang membuka usaha, ajarkan agar suatu hari ia mampu membantu orang lain membuka usaha pula.
Manusia yang kuat adalah salah satu warisan terbesar.
3. Tempat yang Bermanfaat
Sebuah ruang belajar.
Perpustakaan.
Sumur.
Kebun.
Rumah singgah.
Tempat ibadah.
Dapur umum.
Bahkan sebuah meja kecil tempat anak-anak belajar dapat menjadi titik lahirnya manfaat panjang.
4. Sistem Amanah
Jangan hanya membangun kegiatan.
Bangun tata kelolanya.
Siapa yang meneruskan?
Bagaimana dana dicatat?
Bagaimana pengurus berganti?
Bagaimana program dievaluasi?
Bagaimana amanah tetap berjalan setelah pendirinya tidak lagi aktif?
Sebab banyak kebaikan berhenti bukan karena niatnya buruk, tetapi karena semuanya hanya tersimpan dalam satu orang.
5. Akhlak yang Diteladankan
Ada warisan yang tidak tertulis.
Seorang anak melihat ayahnya selalu menghormati orang miskin.
Seorang murid melihat gurunya tidak pernah mengungkit bantuan.
Seorang pekerja melihat pemimpinnya membayar hak tepat waktu.
Kebiasaan itu tertanam.
Kemudian ia melakukan hal yang sama.
Maka kadang seseorang sedang mewariskan kebaikan tanpa menyadarinya.
Jangan Membangun Warisan untuk Membesarkan Nama
Pada titik ini datang ujian.
Seseorang membangun banyak hal.
Lalu ia ingin namanya ada di mana-mana.
Namanya harus disebut.
Namanya harus diabadikan.
Semua orang harus tahu siapa pendirinya.
Qitab tidak melarang dokumentasi sejarah.
Mencatat nama pendiri atau donatur bisa saja diperlukan dan baik.
Tetapi hati harus diperiksa.
Apakah kita sedang menjaga sejarah, atau sedang meminta keabadian nama?
Sebab warisan paling tinggi bukan nama yang terpahat di batu.
Tetapi manfaat yang terus hidup meskipun nama pemberinya perlahan dilupakan.
Ketika Orang Lain Meneruskan Kebaikanmu dengan Cara Berbeda
Inilah ujian bagi pendiri.
Ia membangun sesuatu.
Kemudian generasi berikutnya meneruskan dengan cara yang berbeda.
Jika prinsipnya tetap baik, jangan terlalu cepat marah hanya karena bentuknya tidak sama.
Setiap zaman mempunyai kebutuhan.
Setiap generasi mempunyai cara.
Yang harus dijaga adalah ruhnya:
amanah, manfaat, kejujuran, kasih, dan pengabdian.
Jangan sampai kebaikan mati hanya karena penerus dipaksa meniru setiap detail pendirinya.
Wariskan Nilai, Bukan Hanya Bangunan
Bangunan dapat roboh.
Uang dapat habis.
Organisasi dapat berubah.
Tetapi nilai dapat menyeberangi semuanya.
Maka jika mempunyai anak, murid, jamaah, pengurus, atau penerus, jangan hanya mewariskan:
tanah,
uang,
nama,
jabatan,
atau bangunan.
Wariskan pula:
kejujuran,
tanggung jawab,
kemurahan hati,
keteguhan,
adab,
dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan.
Karena harta tanpa nilai dapat menimbulkan perselisihan.
Tetapi nilai yang kuat dapat membuat harta menjadi amanah.
Jangan Menunggu Menjadi Besar
Ada orang berkata:
“Kalau saya punya yayasan besar nanti saya akan membuat warisan kebaikan.”
Padahal warisan dapat dimulai dari sangat kecil.
Satu buku yang engkau berikan kepada anak yang tepat.
Satu pohon yang engkau tanam.
Satu keterampilan yang engkau ajarkan.
Satu orang yang engkau bantu berdiri.
Satu kebiasaan baik yang engkau tanamkan kepada keluarga.
Jangan menunggu menjadi tokoh besar.
Kebaikan besar sering lahir dari hal kecil yang dilakukan dengan istiqamah.
Rahasia Seratus Tahun
Kemudian dalam renungan Qitab terlihat pertanyaan:
“Jika seratus tahun setelah engkau tiada, apa yang masih berjalan dari kehidupanmu?”
Bukan pertanyaan untuk menakut-nakuti.
Ini pertanyaan untuk menentukan arah.
Apakah ada ilmu yang masih dibaca?
Apakah ada manusia yang masih meneruskan kebaikan?
Apakah ada pohon yang masih memberi teduh?
Apakah ada sistem yang masih menolong?
Apakah ada anak yang mengajarkan kepada cucunya tentang kasih yang dahulu ia lihat darimu?
Tidak semua orang harus meninggalkan warisan besar.
Tetapi setiap orang dapat meninggalkan jejak baik.
Doa Agar Kebaikan Menjadi Warisan
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِي أَثَرًا صَالِحًا يَبْقَى بَعْدِي، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا مُبَارَكًا، وَذُرِّيَّةً وَمَنْ أَحْبَبْتُهُمْ يَسِيرُونَ فِي سَبِيلِ الْخَيْرِ
Allāhummaj‘al lī atsaran ṣāliḥan yabqā ba‘dī, wa ‘ilman nāfi‘an, wa ‘amalan mubārakan, wa dzurriyyatan wa man aḥbabtuhum yasīrūna fī sabīlil-khair.
Artinya:
“Ya Alloh, jadikan bagiku jejak kebaikan yang tetap hidup setelahku, ilmu yang bermanfaat, amal yang diberkahi, serta keturunan dan orang-orang yang kucintai yang berjalan di jalan kebaikan.”
Wewarah Kesembilan
Kemudian tertulis:
**“JANGAN HANYA MENINGGALKAN SESUATU YANG DAPAT DIMILIKI.
TINGGALKAN PULA SESUATU YANG DAPAT DITERUSKAN.”**
Harta dapat diwariskan.
Tetapi jangan berhenti pada harta.
Wariskan cara menggunakannya.
Wariskan adab terhadap orang lain.
Wariskan kebiasaan berbagi.
Wariskan keberanian menjaga amanah.
Wariskan ilmu untuk mengembangkan manfaat.
Sebab generasi berikutnya tidak hanya membutuhkan peninggalan.
Mereka membutuhkan arah.
Ketika Warisan Kebaikan Sampai kepada Orang yang Tidak Kita Kenal
Seseorang menulis sebuah buku.
Ia tidak tahu siapa yang akan membacanya.
Bertahun-tahun kemudian seseorang di kota lain menemukan buku itu.
Ia berubah.
Lalu ia menolong keluarganya.
Kemudian keluarganya menolong orang lain.
Pemberi pertama tidak pernah melihat semua itu.
Tetapi manfaat telah berjalan.
Maka jangan selalu menuntut untuk menyaksikan hasil dari setiap kebaikan.
Ada benih yang tumbuh lama setelah tangan penanamnya pergi.
Penutup Lembar Kesembilan
Suatu hari semua yang kita genggam akan kita tinggalkan.
Rumah.
Kendaraan.
Pakaian.
Uang.
Jabatan.
Nama.
Tetapi sebelum hari itu tiba, kita masih mempunyai kesempatan bertanya:
Apa yang dapat kuubah dari milik menjadi manfaat?
Apa yang dapat kuubah dari pengalaman menjadi ilmu?
Apa yang dapat kuubah dari bantuan menjadi keberdayaan?
Apa yang dapat kuubah dari kegiatan menjadi sistem?
Apa yang dapat kuubah dari kehidupanku menjadi jejak baik?
Tidak perlu semuanya besar.
Yang penting benar.
Yang penting bermanfaat.
Yang penting dijaga niatnya.
Dan yang penting tidak berhenti pada diri sendiri.
WĚWARAH AGUNG QITAB
**“MANUSIA AKAN PERGI,
TETAPI KEBAIKAN YANG DITANAM DENGAN IKHLAS DAPAT TERUS BERJALAN DARI HATI KE HATI, DARI GENERASI KE GENERASI.”**
Maka jika engkau mempunyai harta, jadikan sebagian darinya berumur panjang dalam manfaat.
Jika engkau mempunyai ilmu, jangan biarkan ia terkubur bersamamu.
Jika engkau mempunyai pengalaman, ubahlah menjadi pelajaran.
Jika engkau mempunyai penerus, jangan hanya beri mereka nama.
Berikan nilai.
Dan jika engkau hanya mempunyai satu kebaikan kecil hari ini, jangan remehkan.
Boleh jadi dari satu kebaikan kecil itulah Alloh menumbuhkan jalan manfaat yang jauh melampaui umurmu.
Wallāhu a‘lam.
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH, Lembar Kesembilan —
QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
LEMBAR KESEPULUH DAN TERAKHIR
Ketika Seluruh Pemberian Kembali kepada ALLOH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pada akhirnya, setiap tangan akan berhenti menggenggam.
Setiap rumah akan ditinggalkan.
Setiap nama akan menjadi kenangan.
Setiap jabatan akan berpindah.
Setiap kekayaan akan berpindah tangan.
Dan manusia akan kembali kepada ALLOH dengan sesuatu yang tidak dapat dibeli lagi ketika waktunya telah selesai:
jejak amalnya.
Maka pada lembar terakhir ini, Qitab tidak lagi bertanya:
“Berapa banyak yang telah engkau miliki?”
Tetapi bertanya:
“Berapa banyak dari yang ALLOH titipkan kepadamu telah berubah menjadi manfaat?”
Sebab manusia datang ke dunia dengan tangan kosong.
Kemudian ALLOH mengizinkannya memperoleh:
harta,
ilmu,
kekuatan,
kedudukan,
keluarga,
sahabat,
kesempatan,
pengalaman,
kemampuan berbicara,
kemampuan bekerja,
dan berbagai pintu kehidupan.
Tetapi tidak satu pun dari semua itu benar-benar abadi berada dalam genggaman.
Semuanya adalah titipan yang memiliki waktu.
Maka sebelum waktunya selesai, jadikan titipan itu mempunyai jalan pulang yang indah.
بابُ الرُّجُوعِ إِلَى اللّٰهِ
Bābur-Rujū‘i Ilallāh — Pintu Kembali kepada ALLOH
Ada orang yang menghabiskan hidup hanya untuk mengumpulkan.
Ketika sedikit, ia ingin banyak.
Ketika banyak, ia ingin lebih banyak.
Ketika telah mempunyai rumah, ia ingin rumah kedua.
Ketika mempunyai kendaraan, ia ingin kendaraan yang lebih mahal.
Ketika mempunyai kedudukan, ia ingin kedudukan yang lebih tinggi.
Keinginan tidak pernah selesai.
Namun Qitab ini tidak memusuhi kekayaan.
Bukan harta yang harus dibenci.
Yang harus dijaga adalah arah hati.
Sebab kekayaan dapat menjadi alat yang luar biasa untuk menolong.
Ilmu dapat menjadi cahaya bagi banyak manusia.
Kedudukan dapat menjadi pintu keadilan.
Jaringan dapat menjadi jalan pekerjaan.
Rumah dapat menjadi tempat perlindungan.
Usaha dapat menjadi tempat banyak keluarga memperoleh nafkah.
Maka pertanyaannya bukan:
“Apakah engkau memiliki banyak?”
Melainkan:
“Ke arah mana yang banyak itu engkau bawa?”
Rahasia Pemilik Sejati
Kemudian terbukalah satu kesadaran:
Engkau bukan pemilik mutlak.
Tubuh pun bukan milik yang dapat dipertahankan selamanya.
Usia bukan milik yang dapat ditambah sesuka hati.
Napas bukan sesuatu yang dapat engkau jamin akan datang pada detik berikutnya.
Maka bagaimana mungkin manusia merasa sebagai pemilik mutlak atas harta yang jauh lebih sementara?
Ucapkanlah dalam hati:
“Ya ALLOH, yang ada di tanganku adalah amanah.
Ajarkan aku menggunakannya sebelum aku harus meninggalkannya.”
Kesadaran ini tidak membuat manusia pasif.
Justru ia membebaskan hati.
Karena orang yang memahami titipan tidak terlalu takut ketika harus berbagi.
Ia tahu:
yang berkurang dari genggaman belum tentu berkurang dari makna.
Tiga Bentuk Kepemilikan
Qitab ini membedakan tiga bentuk kepemilikan.
Pertama: Yang Engkau Simpan
Uang dalam rekening.
Barang di rumah.
Tanah.
Kendaraan.
Perhiasan.
Semua ini dapat engkau gunakan selama masih berada dalam kuasamu.
Tetapi suatu hari semuanya akan berpindah.
Kedua: Yang Engkau Gunakan
Makanan yang engkau makan.
Pakaian yang engkau pakai.
Rumah yang engkau tempati.
Kendaraan yang mengantarmu.
Ini memberikan manfaat sementara.
Ketiga: Yang Engkau Ubah Menjadi Kebaikan
Inilah yang memiliki perjalanan berbeda.
Ketika harta berubah menjadi:
makanan bagi orang lapar,
pendidikan bagi anak yang membutuhkan,
obat bagi orang sakit,
air bagi daerah kekeringan,
modal bagi orang yang ingin berdiri,
tempat belajar,
buku yang bermanfaat,
atau pertolongan yang menjaga martabat seseorang—
maka benda telah berubah menjadi jejak.
Jangan Menunggu Waktu yang Sempurna
Ada manusia berkata:
“Setelah hutangku lunas aku akan berbagi.”
Ada yang berkata:
“Setelah usahaku besar.”
Ada yang berkata:
“Setelah rumah selesai.”
Ada yang berkata:
“Setelah anak-anak mapan.”
Ada yang berkata:
“Nanti kalau sudah tua.”
Namun hidup tidak memberikan kepastian bahwa semua tahap itu akan kita lalui.
Maka jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.
Mulailah sesuai kemampuan.
Sedikit tetapi nyata.
Kecil tetapi istiqamah.
Tidak memaksakan.
Tidak merusak kewajiban.
Tetapi tetap ada aliran manfaat.
Sebab kebaikan yang terus ditunda sering kali akhirnya tidak pernah dilakukan.
الْعُمْرُ رَأْسُ مَالِ الْعَمَلِ
Al-‘umru ra’su mālil-‘amal.
Makna renungannya:
“Umur adalah modal utama bagi amal.”
Harta yang hilang mungkin dapat dicari kembali.
Kesempatan usaha dapat datang kembali.
Tetapi satu hari yang telah berlalu tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.
Maka jika hari ini engkau mempunyai kesempatan berbuat baik, jangan remehkan.
Boleh jadi itulah kesempatan yang tidak pernah datang untuk kedua kalinya.
Ketika Berbagi Menjadi Ibadah
Berbagi menjadi ibadah bukan semata karena benda yang diberikan.
Ia menjadi ibadah karena ada:
niat, adab, kejujuran, manfaat, dan ketundukan kepada ALLOH.
Seseorang memberi banyak tetapi menyakiti hati penerima.
Ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Seseorang memberi sedikit tetapi penuh kasih.
Ada keindahan di sana.
Seseorang membangun tempat besar tetapi mengambil hak orang lain.
Kemegahan tidak menghapus kezaliman.
Seseorang membantu diam-diam dari hasil kerja yang bersih.
Manusia mungkin tidak mengetahui, tetapi ALLOH mengetahui.
Maka jangan hanya membangun bentuk amal.
Bangun pula ruh amal.
Jangan Jadikan Orang Miskin Tangga Menuju Kemasyhuran
Pada lembar terakhir, Qitab kembali menegaskan sesuatu yang sangat penting:
Orang yang membutuhkan pertolongan bukan alat pencitraan.
Mereka adalah manusia.
Mereka mempunyai keluarga.
Mempunyai rasa malu.
Mempunyai masa lalu.
Mempunyai kehormatan.
Mempunyai harapan untuk suatu hari tidak lagi membutuhkan bantuan.
Jika dokumentasi diperlukan, jaga adab.
Jika laporan diperlukan, buat transparan.
Namun jangan menjadikan air mata seseorang sebagai hiasan promosi.
Jangan paksa seseorang menunjukkan kesusahannya hanya agar pemberi terlihat mulia.
Karena kebaikan yang tinggi adalah ketika penerima tetap memiliki martabat setelah pertolongan diberikan.
Lima Tahapan Berbagi Karena ALLOH
Seluruh lembar Qitab ini kemudian diringkas menjadi lima perjalanan.
TAHAP PERTAMA — MELIHAT
Sebelum memberi, belajarlah melihat.
Melihat siapa yang benar-benar membutuhkan.
Melihat keadaan keluarga sendiri.
Melihat hak yang wajib dibayar.
Melihat apakah bantuan kita tepat.
Karena kebaikan yang tidak melihat dapat salah sasaran.
TAHAP KEDUA — MEMBERI
Setelah kebutuhan nyata, berilah sesuai kemampuan.
Tidak perlu menunggu besar.
Tidak perlu memaksa.
Tidak perlu membandingkan dengan orang lain.
Beri dengan adab.
Beri dengan wajah yang baik.
Beri tanpa merendahkan.
TAHAP KETIGA — MELEPASKAN
Setelah memberi, lepaskan.
Jangan jadikan pemberian sebagai hutang moral.
Jangan terus menagih ucapan terima kasih.
Jangan menuntut kesetiaan.
Jangan mengungkit.
Inilah tahap yang sering lebih sulit daripada mengeluarkan harta.
TAHAP KEEMPAT — MENGUATKAN
Jika mampu, jangan hanya menyelesaikan kebutuhan sesaat.
Bantu seseorang menemukan jalan berdiri.
Ilmu.
Pekerjaan.
Keterampilan.
Kesempatan.
Sistem.
Jaringan.
Agar pertolongan tidak hanya menjadi pemberian, tetapi menjadi kekuatan.
TAHAP KELIMA — MENERUSKAN
Ajarkan kepada penerima:
“Jika suatu hari engkau telah kuat, jangan bayar kembali kepadaku.
Teruskanlah kebaikan itu kepada orang lain.”
Maka kebaikan menjadi mata rantai.
Dan satu tangan dapat melahirkan seribu tangan.
Rahasia Berbagi yang Tidak Pernah Habis
Bayangkan seorang anak dibantu sekolah.
Ia lulus.
Ia menjadi dokter.
Kemudian ia membantu orang sakit yang tidak mampu.
Di antara mereka ada seorang anak lain.
Anak itu sembuh.
Ia tumbuh menjadi guru.
Guru itu mendidik ratusan murid.
Salah satu muridnya tumbuh menjadi orang yang membangun sumur di desa.
Ribuan orang kemudian minum dari sumur itu.
Pemberi pertama tidak pernah mengetahui semua perjalanan ini.
Tetapi satu kebaikan kecil telah membuka cabang panjang.
Maka jangan selalu ingin melihat hasil.
Kadang tugasmu hanya menanam.
ALLOH yang mengizinkan tumbuh.
Saat Kebaikan Tidak Dibalas
Ada orang yang engkau bantu, kemudian melupakanmu.
Ada yang bahkan menyakitimu.
Ada yang tidak membalas pesan.
Ada yang tidak pernah mengucapkan terima kasih.
Apakah ini berarti kebaikanmu sia-sia?
Tidak.
Jika niatnya benar, kebaikan tidak harus menunggu manusia menjadi sempurna.
Namun ini bukan berarti engkau harus membiarkan dirimu terus dimanfaatkan.
Boleh membuat batas.
Boleh berhenti memberi kepada seseorang jika bantuan justru digunakan untuk keburukan.
Boleh berkata tidak.
Boleh mengubah bentuk pertolongan.
Ikhlas bukan berarti kehilangan kebijaksanaan.
Berbagi dan Batas
Qitab ini menegaskan:
Rahmah membutuhkan batas.
Tanpa batas, seseorang dapat habis.
Tanpa rahmah, seseorang dapat menjadi keras.
Maka keduanya dipertemukan.
Berilah dengan kasih.
Tetapi tetap lihat kemampuan.
Bantu dengan tulus.
Tetapi jangan biarkan manipulasi.
Maafkan jika mampu.
Tetapi jangan biarkan kezaliman berulang atas nama kebaikan.
Karena berbagi karena ALLOH adalah jalan hati yang lembut sekaligus sadar.
Ketika Engkau Menjadi Penerima
Jangan merasa Qitab ini hanya untuk pemberi.
Suatu hari engkau mungkin menjadi penerima.
Ketika itu terjadi, ingatlah:
menerima pertolongan bukan kehinaan.
Terimalah dengan adab.
Gunakan dengan amanah.
Jangan sia-siakan bantuan.
Jangan berbohong tentang kebutuhan.
Jangan memanipulasi rasa kasihan.
Dan jika suatu hari kehidupanmu telah membaik, ingatlah orang lain yang sedang berada di tempat di mana engkau pernah berdiri.
Dengan begitu, penerima hari ini menjadi pemberi esok hari.
Ketika Engkau Tidak Punya Apa-Apa
Ada saat seseorang berkata:
“Aku benar-benar tidak punya apa pun untuk diberikan.”
Qitab menjawab:
Masih ada satu perkara.
Jangan menjadi sebab tambahan penderitaan orang lain.
Jika tidak mampu memberi uang, jangan mengejek.
Jika tidak mampu membantu, jangan mempersulit.
Jika tidak mampu menyelesaikan masalah, jangan mempermalukan.
Jika tidak mampu mengangkat beban, setidaknya jangan menambah beban.
Ini pun bagian dari akhlak berbagi.
Berbagi dalam Keluarga
Jangan terlalu sibuk membantu dunia hingga rumah sendiri kehilangan kehangatan.
Pasangan membutuhkan perhatian.
Anak membutuhkan kehadiran.
Orang tua membutuhkan waktu.
Saudara kadang membutuhkan tempat bercerita.
Keluarga bukan penghalang bagi kebaikan.
Mereka adalah salah satu lingkaran awal amanah.
Namun keluarga juga tidak boleh dijadikan alasan menutup semua pintu bagi orang lain.
Sekali lagi:
mīzān — keseimbangan.
Berbagi dalam Dakwah
Jika engkau mempunyai dakwah, majelis, lembaga, pesantren, komunitas, atau gerakan kebaikan, jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak jamaah kita?”
Tanyakan pula:
“Berapa banyak kehidupan yang benar-benar menjadi lebih baik?”
Apakah orang yang lapar terbantu?
Apakah orang yang bingung mendapat arah?
Apakah ilmu bertambah?
Apakah akhlak membaik?
Apakah orang yang kesulitan mendapat jalan?
Apakah para pengabdi juga terjaga kehidupannya?
Karena gerakan kebaikan yang tidak menjaga orang-orang yang mengabdi di dalamnya dapat kehilangan keseimbangan.
Maka keberlanjutan bukan lawan dari keikhlasan.
Pengelolaan yang sehat justru dapat menjaga agar manfaat terus berjalan.
Rezeki, Dakwah, dan Kemandirian
Berbagi karena ALLOH tidak berarti seluruh kegiatan harus selalu bergantung pada sumbangan.
Ada dakwah yang dapat membangun kemandirian melalui:
pendidikan,
penerbitan,
pelatihan,
karya,
usaha produktif,
dan pelayanan yang dikelola dengan amanah.
Selama tujuan tetap dijaga, harga ditetapkan secara wajar, hak orang ditunaikan, dan manfaat tidak dikorbankan demi keuntungan semata, maka kemandirian dapat menjadi penjaga keberlanjutan.
Sebab orang yang mengabdi juga perlu makan.
Penerbitan membutuhkan biaya.
Kegiatan memerlukan tempat.
Distribusi membutuhkan tenaga.
Maka Qitab mengajarkan:
**Jangan pertentangkan keikhlasan dengan tata kelola.
Satukan keduanya dalam amanah.**
Empat Pertanyaan Sebelum Tidur
Pada setiap malam, jika ingin menghidupkan ruh Qitab ini, tanyakanlah empat perkara:
1. Apakah hari ini aku menjadi manfaat bagi seseorang?
Tidak harus dengan uang.
2. Apakah hari ini ada hak seseorang yang kutahan?
Jika ada, niatkan memperbaiki.
3. Apakah ada kebaikan yang kulakukan tetapi kemudian kuungkit?
Jika ada, bersihkan hati.
4. Jika malam ini menjadi malam terakhirku, adakah sesuatu yang belum sempat kubagikan padahal sebenarnya mampu?
Tidak harus langsung semuanya dilakukan.
Tetapi biarkan pertanyaan ini menjaga arah hidup.
Dzikir Syukur dan Amanah
Jika ingin mengiringi muhasabah berbagi, dapat membaca dengan tenang:
يَا رَزَّاقُ
Yā Razzāq
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki
يَا كَرِيمُ
Yā Karīm
Wahai Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah
يَا وَهَّابُ
Yā Wahhāb
Wahai Yang Maha Pemberi Karunia
Bacalah sebagai doa dan pengingat, bukan sebagai rumus untuk memaksa datangnya kekayaan.
Kemudian ucapkan:
“Ya ALLOH, cukupkan aku dengan yang halal, jaga aku dari ketamakan, dan jadikan kelapanganku jalan manfaat.”
Doa Agung Penutup Qitab
اللّٰهُمَّ إِنَّ مَا فِي أَيْدِينَا مِنْ فَضْلِكَ، وَمَا فِي قُلُوبِنَا مِنْ رَحْمَةٍ فَمِنْ رَحْمَتِكَ، فَاجْعَلْنَا أُمَنَاءَ عَلَى نِعَمِكَ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا سَخِيَّةً بِلَا رِيَاءٍ، وَأَيْدِيَ نَافِعَةً بِلَا مَنٍّ، وَأَلْسِنَةً لَا تُؤْذِي، وَعُقُولًا تَعْرِفُ مَوَاضِعَ الْعَطَاءِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْإِسْرَافِ وَالْبُخْلِ، وَمِنَ الظُّلْمِ وَالْخِيَانَةِ، وَاجْعَلْ مَا أَعْطَيْتَنَا سَبَبًا لِطَاعَتِكَ وَنَفْعِ عِبَادِكَ.
Allāhumma inna mā fī aidīnā min faḍlika, wa mā fī qulūbinā min raḥmatin famin raḥmatik. Faj‘alnā umanā’a ‘alā ni‘amik, warzuqnā qulūban sakhiyyatan bilā riyā’, wa aidiyan nāfi‘atan bilā mann, wa alsinatan lā tu’dzī, wa ‘uqūlan ta‘rifu mawāḍi‘al-‘athā’, waḥfaẓnā minal-isrāfi wal-bukhli, wa minaẓ-ẓulmi wal-khiyānah, waj‘al mā a‘ṭaitanā sababan liṭā‘atika wa naf‘i ‘ibādik.
Artinya:
“Ya ALLOH, sesungguhnya apa yang berada di tangan kami berasal dari karunia-Mu, dan kasih yang berada dalam hati kami berasal dari rahmat-Mu. Jadikan kami penjaga yang amanah atas nikmat-nikmat-Mu. Karuniakan kepada kami hati yang dermawan tanpa riya, tangan yang bermanfaat tanpa mengungkit, lisan yang tidak menyakiti, dan akal yang mengetahui tempat terbaik bagi suatu pemberian. Jagalah kami dari pemborosan dan kekikiran, dari kezaliman dan pengkhianatan. Jadikanlah apa yang Engkau berikan kepada kami sebagai jalan untuk menaati-Mu dan memberi manfaat kepada hamba-hamba-Mu.”
Wasiat Sepuluh Lembar Qitab
Kemudian seluruh lembar Qitab seolah dikumpulkan menjadi sepuluh wasiat:
Pertama
Berbagilah karena ALLOH, bukan karena haus pengakuan.
Kedua
Jadikan rezeki mengalir dengan hikmah.
Ketiga
Simpan sebagian kebaikan sebagai rahasia antara dirimu dengan ALLOH.
Keempat
Jaga kehormatan orang yang menerima.
Kelima
Jika mampu, ubah bantuan menjadi kekuatan dan kemandirian.
Keenam
Carilah rezeki dengan jalan yang bersih agar manfaatnya juga bersih.
Ketujuh
Bangun kebaikan bersama dengan amanah, transparansi, dan kebersamaan.
Kedelapan
Jangan memaksakan pemberian hingga menzalimi diri dan tanggungan.
Kesembilan
Bangun jejak yang dapat diteruskan setelah umur selesai.
Kesepuluh
Ingatlah bahwa pemberi, penerima, dan seluruh titipan pada akhirnya kembali kepada ALLOH.
Rahasia Terakhir
Kemudian Qitab menjadi sunyi.
Tidak ada lagi pembahasan tentang kaya atau miskin.
Tidak ada lagi pembahasan tentang siapa pemberi dan siapa penerima.
Yang tersisa hanya satu kesadaran:
semuanya sedang saling dititipkan.
Orang kaya dititipi kelapangan.
Orang berilmu dititipi ilmu.
Orang kuat dititipi tenaga.
Orang yang mempunyai kedudukan dititipi pengaruh.
Orang yang sedang susah dititipi kesabaran.
Dan setiap manusia akan ditanya bagaimana ia membawa amanahnya.
Maka jangan iri kepada amanah orang lain.
Jalankan bagianmu.
Jika bagianmu hari ini adalah memberi, berilah dengan rendah hati.
Jika bagianmu menerima, terimalah dengan syukur.
Jika bagianmu mengelola, kelolalah dengan amanah.
Jika bagianmu mengajar, ajarkan dengan kasih.
Jika bagianmu membangun, bangunlah sesuatu yang dapat diteruskan.
Jika bagianmu hanya satu doa di malam yang sunyi, jangan remehkan doa itu.
WĚWARAH AGUNG TERAKHIR QITAB
Kemudian tertulis dengan cahaya yang seolah tidak berasal dari tinta:
**“APA YANG ENGKAU GENGGAM AKAN ENGKAU TINGGALKAN.
APA YANG ENGKAU ALIRKAN DALAM KEBAIKAN DAPAT MENINGGALKAN JEJAK.”**
Lalu di bawahnya terbuka lagi:
**“JANGAN BERBAGI SUPAYA DISEBUT MULIA.
BERBAGILAH KARENA ENGKAU SADAR BAHWA SEMUA TITIPAN BERASAL DARI ALLOH.”**
Dan satu kalimat terakhir menjadi penutup seluruh lembar:
**“DARI ALLOH TITIPAN DATANG,
DENGAN AMANAH IA DIJAGA,
DENGAN KASIH IA DIBAGIKAN,
DAN KEPADA ALLOH SELURUHNYA KEMBALI.”**
KHATIMAH
Penutup QITAB BERBAGI KARENA ALLOH
Wahai siapa pun yang membaca Qitab ini,
jangan merasa harus menjadi orang kaya terlebih dahulu untuk menjadi jalan kebaikan.
Mulailah dengan apa yang ada.
Jika mempunyai uang, gunakan sebagian dengan bijak.
Jika mempunyai ilmu, bagikan.
Jika mempunyai tenaga, bantu.
Jika mempunyai kedudukan, gunakan untuk membuka pintu bagi yang tertutup jalannya.
Jika mempunyai pengaruh, gunakan untuk mempertemukan manusia dengan kebaikan.
Jika mempunyai rumah, jadikan rumah itu mempunyai ruang bagi kasih.
Jika mempunyai usaha, jadikan usaha itu jalan rezeki yang halal bagi orang lain.
Jika mempunyai karya, jadikan karya itu memberi manfaat.
Jika mempunyai anak dan murid, ajarkan mereka bahwa kekayaan bukan hanya apa yang dapat dimiliki.
Kekayaan juga adalah kemampuan menjadi manfaat tanpa kehilangan arah kepada ALLOH.
Dan jika engkau merasa tidak mempunyai semua itu,
masih ada satu pemberian yang hampir selalu dapat dilakukan:
jangan menyakiti.
Kadang tidak menyakiti adalah bentuk kebaikan pertama sebelum seseorang mampu berbuat lebih banyak.
Kemudian naiklah satu tingkat:
membantu.
Kemudian naik lagi:
menguatkan.
Kemudian naik lagi:
meneruskan.
Hingga suatu hari hidup kita bukan lagi sekadar tentang apa yang masuk kepada diri,
tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang dapat melalui diri menuju kehidupan lain.
PENUTUP TERAKHIR
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Allāhumma taqabbal minnā innaka antas-Samī‘ul-‘Alīm, wa tub ‘alainā innaka antat-Tawwābur-Raḥīm.
Artinya:
“Ya ALLOH, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Semoga setiap orang yang membaca Qitab ini diberi hati yang cukup ketika sedikit, rendah hati ketika banyak, bijaksana ketika memberi, bermartabat ketika menerima, dan istiqamah menjadikan kehidupannya sebagai jalan manfaat.
Semoga tidak ada harta yang membuat hati jauh.
Tidak ada kebaikan yang melahirkan kesombongan.
Tidak ada pemberian yang melukai.
Tidak ada amanah yang dikhianati.
Tidak ada dakwah yang kehilangan kasih.
Dan tidak ada kelapangan yang berhenti hanya pada diri sendiri.
Aamiin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
تَمَّ بِفَضْلِ اللّٰهِ
Tamma bifaḍlillāh
Selesai dengan karunia ALLOH
— QITAB BERBAGI KARENA ALLOH —
— Lembar Kesepuluh dan Terakhir —

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.