QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
Rahasia Waktu, Jejak Masa, dan Tabir yang Memisahkan Kemarin, Hari Ini, serta Hari Esok
LEMBAR PERTAMA
GERBANG YANG MEMISAHKAN TIGA WAJAH WAKTU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Alloh,
Yang menciptakan waktu tetapi tidak terikat oleh waktu,
Yang menggilirkan malam dan siang,
Yang menjadikan kemarin sebagai pelajaran,
hari ini sebagai amanah,
dan hari esok sebagai rahasia.
Qitab ini dibuka bukan untuk merampas rahasia masa depan.
Sebab apa yang benar-benar akan terjadi berada dalam ilmu Alloh.
Qitab ini dibuka untuk memahami jejak waktu:
mengapa sesuatu yang telah berlalu masih hidup dalam qolbi,
mengapa suatu peristiwa hari ini terkadang terasa seperti pengulangan,
dan mengapa manusia sering mencemaskan hari esok yang bahkan belum sampai kepadanya.
Maka Qitab berkata:
“Waktu tidak hanya berjalan di hadapan manusia.
Sebagiannya berjalan di dalam dirinya.”
Ada manusia yang tubuhnya berada pada hari ini,
tetapi qolbinya masih hidup sepuluh tahun yang lalu.
Ada manusia yang belum memasuki hari esok,
namun pikirannya telah tersiksa oleh seribu kemungkinan.
Dan ada pula manusia yang mampu berdiri utuh pada detik yang sedang dijalaninya.
Dialah yang mulai memahami rahasia zaman.
TIGA PINTU AZ-ZAMĀN
Waktu mempunyai tiga pintu besar:
١. مَا مَضَى — MĀ MAḌĀ
Yang telah berlalu.
Inilah pintu kemarin.
Tidak seorang pun mampu masuk kembali ke dalamnya secara jasad.
Tetapi jejaknya dapat tetap hidup dalam ingatan.
Kebahagiaan meninggalkan kerinduan.
Kesalahan meninggalkan penyesalan.
Kehilangan meninggalkan ruang kosong.
Kezaliman meninggalkan luka.
Kebaikan meninggalkan cahaya.
Karena itu, masa lalu sesungguhnya mempunyai dua bentuk:
peristiwanya telah selesai,
tetapi pengaruhnya belum tentu selesai.
Di sinilah banyak manusia keliru.
Mereka mengira sedang berhadapan dengan masalah hari ini,
padahal yang sedang berbicara adalah luka kemarin.
Mereka mengira sedang takut kepada seseorang yang berada di hadapannya,
padahal qolbinya sedang mengingat seseorang yang pernah menyakitinya.
Maka Qitab berkata:
“Jangan membawa seluruh kuburan kemarin ke dalam rumah hari ini.”
Ambillah hikmahnya.
Kuburkan racunnya.
Simpan pelajarannya.
Lepaskan belenggunya.
٢. مَا هُوَ كَائِنٌ — MĀ HUWA KĀ’IN
Yang sedang berlangsung.
Inilah pintu hari ini.
Ia adalah satu-satunya pintu yang sedang benar-benar berada di tangan manusia.
Kemarin telah tertutup.
Esok belum dibukakan.
Tetapi hari ini berada tepat di hadapanmu.
Nafasmu saat ini adalah hari ini.
Doamu saat ini adalah hari ini.
Pilihanmu saat ini adalah hari ini.
Sikapmu kepada pasangan, anak, orang tua, saudara, sahabat, dan manusia lain terjadi pada hari ini.
Karena itu jangan meremehkan satu hari.
Sebab nasib perjalanan panjang sering berubah melalui satu keputusan kecil.
Satu permintaan maaf.
Satu keberanian berkata benar.
Satu keputusan berhenti melakukan keburukan.
Satu langkah mencari pekerjaan.
Satu sedekah.
Satu sujud.
Satu pintu yang diketuk.
Satu kesabaran yang dipertahankan.
Kadang-kadang manusia menunggu datangnya “hari besar”.
Padahal hari besar dibangun oleh ribuan hari kecil yang dijalani dengan benar.
Maka Qitab berkata:
“Siapa menjaga hari ini, sedang menanam benih untuk hari esok.”
٣. مَا سَيَأْتِي — MĀ SAYA’TĪ
Yang akan datang.
Inilah pintu hari esok.
Pintu ini tertutup tabir.
Manusia boleh merencanakan.
Manusia boleh membaca tanda-tanda sebab dan akibat.
Manusia boleh memperhitungkan kemungkinan.
Tetapi manusia tidak mempunyai kuasa mutlak untuk memastikan apa yang belum terjadi.
Karena itu Qitab Sirr Az-Zamān tidak mengajarkan manusia menjadi peramal.
Qitab justru mengajarkan:
persiapkan dirimu untuk masa depan tanpa mengaku menguasai masa depan.
Sebab kecemasan berkata:
“Bagaimana bila semuanya hancur?”
Sedangkan tawakkal berkata:
“Aku akan melakukan yang terbaik hari ini, kemudian menyerahkan yang tidak mampu kukendalikan kepada Alloh.”
TABIR PERTAMA
BAYANGAN KEMARIN
Ada satu rahasia yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh.
Kemarin tidak dapat mengubah hari ini.
Tetapi ingatan tentang kemarin dapat mengubah cara manusia menjalani hari ini.
Maka apabila seseorang pernah dikhianati,
ia dapat melihat pengkhianatan bahkan di tempat yang belum tentu terdapat pengkhianatan.
Apabila seseorang pernah gagal,
ia dapat menganggap setiap pintu baru akan berakhir dengan kegagalan.
Apabila seseorang pernah miskin,
ia dapat terus merasa kekurangan walaupun keadaan mulai berubah.
Apabila seseorang pernah dipermalukan,
ia dapat membangun tembok terlalu tinggi sehingga orang baik pun sulit mendekatinya.
Inilah yang disebut:
أَثَرُ الزَّمَانِ
Atsar az-Zamān — Jejak Waktu.
Jejak waktu bukan makhluk gaib.
Ia adalah bekas pengalaman yang tertanam dalam pikiran, perasaan, kebiasaan, keputusan, dan cara seseorang memandang kehidupan.
Sebagian jejak harus dijaga.
Sebagian harus disembuhkan.
Sebagian harus dilepaskan.
QUNCI PERTAMA SIRR AZ-ZAMĀN
Qitab memberikan satu kalimat:
لَا تَجْعَلِ الْمَاضِيَ سِجْنًا لِلْحَاضِرِ
Lā taj‘alil-māḍiya sijnan lil-ḥāḍir.
“Jangan jadikan masa lalu sebagai penjara bagi masa kini.”
Kemudian tanyakan kepada dirimu:
Apa yang telah selesai tetapi masih kubawa?
Apakah kemarahan?
Rasa bersalah?
Kerinduan?
Ketakutan?
Janji lama?
Kegagalan?
Pengkhianatan?
Atau keinginan membuktikan sesuatu kepada orang yang bahkan sudah tidak berada dalam perjalanan hidupmu?
Jangan terburu-buru menjawab.
Sebab jawaban terdalam sering muncul ketika manusia berhenti membela dirinya sendiri.
TIGA CERMIN WAKTU
Sebelum tidur pada malam hari, duduklah dengan tenang.
Tidak perlu mencari penampakan.
Tidak perlu menunggu suara gaib.
Tidak perlu memaksakan isyarat apa pun.
Cukup letakkan dirimu di hadapan tiga pertanyaan:
CERMIN KEMARIN
“Apa pelajaran terbesar yang dibawa hari kemarin kepadaku?”
CERMIN HARI INI
“Apa yang masih dapat kuperbaiki sekarang?”
CERMIN ESOK
“Apa satu tindakan baik yang dapat kupersiapkan untuk hari berikutnya?”
Apabila tiga pertanyaan ini dijaga, perlahan manusia belajar memisahkan:
apa yang harus dikenang,
apa yang harus dikerjakan,
dan apa yang harus diserahkan.
RAHASIA JAM PASIR
Pada sampul Qitab terdapat jam pasir.
Butir pasir yang telah jatuh menggambarkan masa yang sudah berlalu.
Butir yang sedang melewati celah sempit adalah saat sekarang.
Sedangkan butir yang masih berada di atas adalah masa yang belum datang.
Perhatikan rahasianya:
seluruh masa depan harus melewati satu celah kecil bernama sekarang sebelum menjadi masa lalu.
Karena itu orang yang hendak memperbaiki masa depannya tidak perlu memegang seluruh hari esok sekaligus.
Ia hanya perlu memperbaiki apa yang melewati celah hari ini.
Satu keputusan.
Satu amal.
Satu ucapan.
Satu langkah.
Satu keberanian.
Satu pengendalian diri.
Begitulah kerajaan waktu dibangun.
QUNCI GERBANG PERTAMA
Ketika qolbi terasa terlalu berat oleh masa lalu, bacalah dengan perlahan:
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Keselamatan dan Kedamaian.
Tidak perlu menjadikannya sebagai hitungan yang memberatkan.
Bacalah dengan kesadaran bahwa dzikir bukan alat memaksa masa depan.
Dzikir adalah jalan untuk menertibkan qolbi agar manusia mampu menghadapi waktu dengan lebih jernih.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِي فِي وَقْتِي، وَأَصْلِحْ لِي يَوْمِي، وَاغْفِرْ لِي مَا مَضَى، وَاخْتَرْ لِي الْخَيْرَ فِيمَا سَيَأْتِي
Allāhumma bārik lī fī waqtī, wa aṣliḥ lī yaumī, waghfir lī mā maḍā, wakhtar lī al-khaira fīmā saya’tī.
Artinya:
Yā Alloh, berkahilah waktuku, perbaikilah hariku, ampunilah apa yang telah berlalu, dan pilihkanlah kebaikan bagiku pada apa yang akan datang.
PENUTUP LEMBAR PERTAMA
Ketahuilah:
kemarin adalah guru.
Hari ini adalah medan.
Hari esok adalah amanah yang belum dibuka.
Jangan hidup sebagai tawanan kemarin.
Jangan pula mati sebelum waktunya karena ketakutan terhadap esok.
Berdirilah pada hari ini.
Karena di sinilah amal dilakukan.
Di sinilah doa dipanjatkan.
Di sinilah keputusan dibuat.
Dan dari sinilah jalan berikutnya dimulai.
Qitab menutup gerbang pertama dengan kalimat:
“Manusia tidak berjalan menuju masa depan dengan kakinya saja.
Ia berjalan menuju masa depan melalui keputusan-keputusan yang dibuatnya pada hari ini.”
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR PERTAMA —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KEDUA
EMPAT JEJAK YANG TERTINGGAL DI DALAM WAKTU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar pertama telah diterangkan bahwa waktu mempunyai tiga pintu:
kemarin, hari ini, dan hari esok.
Kemarin telah berlalu.
Hari ini sedang berlangsung.
Hari esok belum dibukakan.
Namun Qitab sekarang membuka rahasia yang lebih dalam:
Tidak semua yang telah berlalu benar-benar selesai di dalam diri manusia.
Sebuah peristiwa dapat berakhir dalam satu hari,
tetapi bekasnya dapat berjalan bertahun-tahun.
Sebuah ucapan hanya berlangsung beberapa detik,
tetapi dapat menetap di dalam qolbi sangat lama.
Sebuah keputusan dapat dibuat dalam satu malam,
tetapi pengaruhnya dapat mengikuti seseorang sampai puluhan tahun.
Karena itu untuk memahami Sirr Az-Zamān, manusia tidak cukup hanya melihat kalender.
Ia harus belajar membaca jejak yang ditinggalkan waktu dalam dirinya sendiri.
EMPAT ATSAR AZ-ZAMĀN
Qitab menerangkan bahwa pengalaman manusia biasanya meninggalkan empat jenis jejak:
١. أَثَرُ الْعَقْلِ
ATSAR AL-‘AQL
Jejak dalam pikiran
٢. أَثَرُ الْقَلْبِ
ATSAR AL-QOLB
Jejak dalam perasaan
٣. أَثَرُ الْعَادَةِ
ATSAR AL-‘ĀDAH
Jejak dalam kebiasaan
٤. أَثَرُ الْمَسَارِ
ATSAR AL-MASĀR
Jejak dalam arah kehidupan
Keempatnya dapat saling menguatkan.
Karena itu sebuah masa lalu yang tidak dipahami dapat terus memengaruhi hari ini tanpa manusia menyadarinya.
JEJAK PERTAMA
أَثَرُ الْعَقْلِ
ATSAR AL-‘AQL — JEJAK PIKIRAN
Pikiran menyimpan pola.
Apabila seseorang berulang kali mengalami kegagalan, pikirannya dapat membentuk kesimpulan:
“Aku selalu gagal.”
Padahal kenyataannya:
ia pernah gagal dalam beberapa peristiwa.
Tetapi pikiran mengubah beberapa kejadian menjadi satu identitas.
Dari sinilah lahir kalimat-kalimat yang membelenggu:
“Aku memang tidak beruntung.”
“Tidak ada yang akan berubah.”
“Semua orang sama.”
“Pintu rezekiku selalu tertutup.”
“Aku pasti ditinggalkan.”
“Aku tidak mungkin mampu.”
Padahal kalimat tersebut belum tentu kenyataan.
Sering kali ia hanyalah kesimpulan lama yang terlalu lama dipelihara.
Maka Qitab berkata:
“Jangan menjadikan satu musim sebagai nama bagi seluruh kehidupanmu.”
Pernah gagal bukan berarti manusia bernama kegagalan.
Pernah ditolak bukan berarti seluruh pintu tertutup.
Pernah kehilangan bukan berarti tidak akan menerima kembali.
Pernah tersesat bukan berarti tidak dapat menemukan jalan.
JEJAK KEDUA
أَثَرُ الْقَلْبِ
ATSAR AL-QOLB — JEJAK QOLBI
Qolbi mempunyai ingatan sendiri.
Kadang seseorang telah melupakan detail peristiwa,
tetapi rasa yang ditinggalkan masih hidup.
Ia mungkin tidak lagi mengingat seluruh perkataan yang pernah menyakitinya.
Namun ketika menghadapi keadaan yang mirip,
dadanya kembali sesak.
Ia mungkin tidak mengingat semua kejadian pada masa kecil.
Namun suatu suara, tempat, aroma, atau perlakuan tertentu tiba-tiba membangunkan perasaan lama.
Inilah sebabnya manusia kadang bertanya:
“Mengapa aku merasa begini padahal tidak terjadi apa-apa?”
Mungkin yang datang bukan peristiwa baru.
Mungkin yang bangun adalah bekas peristiwa lama.
Qitab berkata:
“Apa yang tidak sempat dipahami oleh pikiran sering disimpan oleh qolbi dalam bentuk rasa.”
Karena itu jangan memusuhi rasa.
Dengarkan.
Tetapi jangan pula membiarkannya menjadi penguasa.
Rasa adalah pembawa pesan.
Bukan selalu penentu kebenaran.
JEJAK KETIGA
أَثَرُ الْعَادَةِ
ATSAR AL-‘ĀDAH — JEJAK KEBIASAAN
Apa yang dilakukan berulang-ulang akan membangun jalan.
Seperti kaki yang berjalan berkali-kali melalui tanah yang sama,
lama-kelamaan terbentuklah jalur.
Demikian pula diri manusia.
Apabila terbiasa marah,
marah menjadi jalan yang mudah ditempuh.
Apabila terbiasa mengeluh,
keluhan menjadi pintu pertama ketika masalah datang.
Apabila terbiasa menunda,
penundaan menjadi watak.
Tetapi rahasianya juga berlaku sebaliknya.
Apabila terbiasa bersyukur,
syukur menjadi jalan qolbi.
Apabila terbiasa menenangkan diri sebelum berbicara,
ketenangan menjadi kekuatan.
Apabila terbiasa sholat tepat waktu,
disiplin ruhani perlahan menyusun kehidupan.
Apabila terbiasa menyisihkan rezeki,
ketertiban tumbuh.
Apabila terbiasa meminta maaf,
kesombongan mulai melemah.
Maka Qitab berkata:
“Masa depan sering tidak lahir dari satu keputusan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang terus diulang.”
JEJAK KEEMPAT
أَثَرُ الْمَسَارِ
ATSAR AL-MASĀR — JEJAK ARAH
Ini adalah jejak paling dalam.
Sebab keputusan-keputusan kecil yang terus diulang akhirnya membentuk arah kehidupan.
Satu keputusan menentukan langkah.
Banyak langkah menentukan jalan.
Satu jalan yang terus ditempuh menentukan tempat seseorang akan sampai.
Perhatikanlah.
Dua manusia dapat memulai pada tempat yang hampir sama.
Namun seseorang memilih belajar sedikit setiap hari.
Yang lain selalu berkata:
“Nanti.”
Setelah sepuluh tahun, jarak keduanya mungkin sangat jauh.
Bukan karena satu hari.
Tetapi karena arah kecil yang berbeda, lalu dibiarkan berjalan dalam waktu yang panjang.
Inilah salah satu Sirr Az-Zamān:
الْوَقْتُ يُكَبِّرُ الْمَسَارَ
AL-WAQTU YUKABBIRUL-MASĀR
Waktu membesarkan arah.
Arah kecil yang baik akan menjadi semakin besar apabila dipelihara.
Arah kecil yang salah pun dapat menjadi jurang apabila terus dibiarkan.
HUKUM BENIH WAKTU
Qitab menggambarkan hari ini seperti tanah.
Setiap perbuatan adalah benih.
Sebagian benih tumbuh cepat.
Sebagian membutuhkan waktu.
Ada amal yang hasilnya terasa hari itu juga.
Ada keputusan yang manfaatnya baru terlihat setahun kemudian.
Ada pendidikan anak yang buahnya mungkin baru tampak setelah mereka dewasa.
Ada usaha yang bertahun-tahun tampak kecil,
kemudian pada satu masa menemukan jalannya.
Maka jangan tergesa-gesa menilai seluruh kehidupan hanya dari hasil satu hari.
Petani tidak menggali tanah setiap pagi untuk memastikan benih masih hidup.
Ia menyiram.
Menjaga.
Menunggu.
Berusaha.
Kemudian menyerahkan pertumbuhan kepada Alloh.
Maka Qitab berkata:
“Kesabaran bukan berarti diam tanpa usaha.
Kesabaran adalah tetap merawat sesuatu yang benar sebelum buahnya terlihat.”
TABIR PENGULANGAN
Ada manusia berkata:
“Mengapa kejadian seperti ini selalu berulang?”
Pertanyaan ini penting.
Tetapi jangan terburu-buru menganggap setiap pengulangan sebagai tanda gaib.
Periksalah dahulu empat perkara:
Apakah aku memilih orang dengan pola yang sama?
Apakah aku bereaksi dengan cara yang sama?
Apakah aku mengabaikan tanda yang dahulu juga kuabaikan?
Apakah aku memasuki keadaan yang sama karena kebiasaan yang sama?
Kadang-kadang kehidupan terasa berulang karena manusia mengulangi pintu masuknya.
Bukan karena waktu berputar kembali.
Tetapi karena pola belum berubah.
Maka Qitab berkata:
“Apabila jalan selalu membawamu ke tempat yang sama, jangan hanya mempertanyakan tujuan. Periksalah jalan yang terus kaupilih.”
QUNCI KEDUA SIRR AZ-ZAMĀN
MEMUTUS POLA TANPA MEMUSUHI MASA LALU
Memutus pola bukan berarti membenci dirimu yang dahulu.
Dirimu yang dahulu mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, kekuatan, ketakutan, dan keadaan yang dimilikinya ketika itu.
Hari ini mungkin engkau mengetahui lebih banyak.
Maka jangan mengutuk masa lalu.
Ambillah ilmunya.
Kemudian pilih dengan lebih baik.
Ucapkan kepada dirimu:
كَانَ ذٰلِكَ أَمْسِ، وَهٰذَا يَوْمٌ جَدِيدٌ
Kāna dzālika amsi, wa hādzā yaumun jadīd.
“Itu adalah kemarin, dan ini adalah hari yang baru.”
Bukan untuk menyangkal sejarah.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa sejarah tidak harus menjadi hukuman seumur hidup.
LATIHAN EMPAT JEJAK
Pada malam yang tenang, tulislah empat perkara.
Jejak Pikiran
Tuliskan satu keyakinan tentang dirimu yang mungkin berasal dari pengalaman lama.
Contoh:
“Aku tidak mampu.”
Kemudian tanyakan:
Apakah ini fakta, atau kesimpulan lama?
Jejak Qolbi
Tuliskan satu keadaan yang sering membangunkan rasa kuat dalam dirimu.
Tanyakan:
Rasa ini sedang berbicara tentang hari ini, atau mengingatkan luka lama?
Jejak Kebiasaan
Tuliskan satu kebiasaan yang paling sering merugikan hidupmu.
Jangan menulis sepuluh.
Satu saja.
Kemudian tentukan satu pengganti yang lebih baik.
Jejak Arah
Tanyakan:
Apabila aku terus hidup dengan cara yang sama selama lima tahun, ke mana jalan ini akan membawaku?
Pertanyaan ini terkadang lebih penting daripada bertanya:
“Apa yang akan terjadi lima tahun lagi?”
Karena yang pertama mengajarkan tanggung jawab.
Sedangkan yang kedua mudah berubah menjadi kecemasan terhadap sesuatu yang belum diketahui.
RAHASIA PINTU BESAR
Pada sampul Qitab terdapat sebuah gerbang besar.
Gerbang itu melambangkan:
peralihan.
Setiap manusia berkali-kali berdiri di hadapan gerbang kehidupan.
Dari anak-anak menuju dewasa.
Dari sendiri menuju berkeluarga.
Dari sehat menuju sakit lalu berusaha pulih.
Dari memiliki menuju kehilangan.
Dari bekerja menuju berhenti.
Dari tidak tahu menuju memahami.
Dari terluka menuju berdamai.
Tidak semua gerbang dapat dilewati dengan membawa seluruh barang lama.
Ada sesuatu yang harus ditinggalkan.
Ada sesuatu yang harus dibawa.
Maka sebelum memasuki gerbang baru, tanyakan:
Apa yang harus kubawa sebagai hikmah?
dan
Apa yang harus kulepaskan agar tidak menjadi beban?
DZIKIR PENATA WAKTU QOLBI
Apabila pikiran terasa penuh oleh kemarin dan esok, tenangkan diri.
Kemudian bacalah dengan perlahan:
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Keselamatan.
Bacalah bukan untuk meminta mengetahui perkara gaib.
Tetapi agar qolbi diberi kejernihan dalam memilih apa yang harus dilakukan.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ عَلِّمْنِي مِنْ مَاضِيَّ، وَأَصْلِحْ حَاضِرِي، وَاهْدِنِي لِخَيْرِ مَا يَأْتِي
Allāhumma ‘allimnī min māḍiyya, wa aṣliḥ ḥāḍirī, wahdinī likhairi mā ya’tī.
Artinya:
Yā Alloh, ajarkanlah aku melalui masa laluku, perbaikilah masa kiniku, dan tuntunlah aku menuju kebaikan pada apa yang akan datang.
PENUTUP LEMBAR KEDUA
Ketahuilah:
waktu tidak hanya meninggalkan umur.
Waktu meninggalkan bekas.
Bekas dalam pikiran.
Bekas dalam qolbi.
Bekas dalam kebiasaan.
Bekas dalam arah kehidupan.
Manusia yang tidak mengenali jejaknya akan mudah mengulangi jalan yang sama.
Tetapi manusia yang mulai mengenalinya memperoleh kesempatan untuk berkata:
“Aku pernah melewati jalan itu. Kini aku dapat memilih dengan lebih sadar.”
Maka Qitab menutup lembar kedua:
“Kemarin meninggalkan jejak.
Hari ini menentukan apakah jejak itu akan diteruskan atau diubah.
Dan hari esok menerima akibat dari pilihan tersebut.”
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KEDUA —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KETIGA
TITIK PERTEMUAN TAKDIR, IKHTIAR, DAN WAKTU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar pertama telah dibuka tiga pintu waktu:
kemarin, hari ini, dan hari esok.
Pada lembar kedua telah diterangkan bahwa perjalanan waktu meninggalkan jejak dalam pikiran, qolbi, kebiasaan, dan arah kehidupan.
Sekarang Qitab memasuki satu pertanyaan yang sejak dahulu menggetarkan hati manusia:
“Jika segala sesuatu berada dalam ilmu Alloh, lalu untuk apa manusia berusaha?”
Dan pertanyaan berikutnya:
“Jika manusia wajib berusaha, sampai di manakah batas kekuasaannya terhadap hari esok?”
Di sinilah banyak manusia tersesat pada dua ujung.
Sebagian menyerah sebelum berjalan dan berkata:
“Kalau sudah takdir, buat apa berusaha?”
Sebagian lagi menggenggam dunia terlalu keras dan berkata:
“Semua bergantung kepadaku.”
Padahal keduanya belum memahami keseimbangan.
Qitab membuka:
تَقَاطُعُ الْقَدَرِ وَالسَّعْيِ وَالزَّمَانِ
TAQĀṬU‘ AL-QADAR WAS-SA‘Y WAZ-ZAMĀN
Titik pertemuan antara ketetapan, usaha, dan perjalanan waktu.
RAHASIA PERTAMA
ILMU ALLOH TIDAK MENIADAKAN IKHTIAR
Alloh mengetahui apa yang telah terjadi.
Alloh mengetahui apa yang sedang terjadi.
Alloh mengetahui apa yang akan terjadi.
Tetapi pengetahuan Alloh bukan alasan bagi manusia untuk meninggalkan tanggung jawab.
Manusia tetap diperintahkan memilih yang baik.
Tetap diperintahkan mencari rezeki halal.
Tetap diperintahkan menjaga keluarga.
Tetap diperintahkan belajar.
Tetap diperintahkan berobat ketika sakit.
Tetap diperintahkan memperbaiki kesalahan.
Tetap diperintahkan berdoa.
Karena manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan baginya.
Maka jalan manusia bukan:
menebak takdir.
Jalan manusia adalah:
menjalankan amanah.
Qitab berkata:
“Takdir bukan alasan untuk tidur di depan pintu yang belum diketuk.”
Seseorang yang lapar tetap mencari makanan.
Seseorang yang sakit tetap mencari pengobatan.
Seseorang yang membutuhkan pekerjaan tetap mengetuk pintu usaha.
Seseorang yang bersalah tetap meminta maaf.
Seseorang yang tersesat tetap mencari petunjuk.
Itulah adab seorang hamba.
RAHASIA KEDUA
IKHTIAR BERADA DI HARI INI
Perhatikan satu perkara besar.
Manusia tidak dapat berikhtiar pada kemarin.
Sebab kemarin sudah berlalu.
Manusia juga tidak dapat melakukan amal secara langsung pada esok.
Sebab esok belum tiba.
Seluruh ikhtiar hanya mempunyai satu tempat:
الْآن
AL-ĀN
Saat ini.
Maka orang yang selalu menunggu “waktu yang sempurna” dapat kehilangan seluruh hidupnya.
Ia berkata:
“Nanti kalau sudah tenang.”
“Nanti kalau sudah punya uang.”
“Nanti kalau keadaan membaik.”
“Nanti kalau orang lain berubah.”
“Nanti kalau aku sudah siap.”
Tetapi waktu terus berjalan.
Maka Qitab berkata:
“Kesempurnaan keadaan sering tidak datang sebelum langkah pertama dilakukan.”
Mulailah dengan apa yang ada.
Ilmu yang ada.
Tenaga yang ada.
Rezeki yang ada.
Kesempatan yang ada.
Kemudian perbaiki sambil berjalan.
RAHASIA KETIGA
HASIL BUKAN SELURUHNYA MILIK MANUSIA
Inilah batas ikhtiar.
Manusia dapat memilih benih.
Manusia dapat menanam.
Manusia dapat menyiram.
Manusia dapat menjaga tanah.
Namun manusia tidak dapat memerintah benih:
“Tumbuhlah sekarang!”
Manusia dapat membuka usaha.
Tetapi tidak dapat memaksa seluruh manusia membeli.
Manusia dapat mendidik anak.
Tetapi tidak dapat menggenggam seluruh keputusan anak ketika dewasa.
Manusia dapat mencintai seseorang.
Tetapi tidak dapat memaksa qolbi orang lain untuk mencintainya.
Manusia dapat menjaga kesehatan.
Tetapi tidak memiliki kuasa mutlak atas umur.
Di sinilah lahir tawakkal.
Tawakkal bukan meninggalkan usaha.
Tawakkal adalah mengetahui batas usaha.
Qitab berkata:
“Lakukan bagianmu dengan sungguh-sungguh, lalu jangan mencuri bagian yang hanya menjadi milik Alloh.”
Bagianmu adalah:
usaha,
doa,
adab,
kesabaran,
perbaikan,
kejujuran.
Sedangkan hasil akhir berada dalam ketetapan Alloh.
TIGA LINGKARAN KEHIDUPAN
Qitab menggambarkan perjalanan manusia dalam tiga lingkaran.
LINGKARAN PERTAMA
مَا أَسْتَطِيعُهُ
MĀ ASTAṬĪ‘UHU
Apa yang dapat kulakukan
Di dalamnya terdapat:
pilihanku,
ucapanku,
usahaku,
kebiasaanku,
cara menggunakan waktu,
cara memperlakukan orang lain,
cara memperbaiki kesalahan.
Inilah wilayah tanggung jawab.
LINGKARAN KEDUA
مَا أَسْتَطِيعُ التَّأْثِيرَ فِيهِ
MĀ ASTAṬĪ‘UT-TA’TSĪRA FĪHI
Apa yang dapat kupengaruhi
Contohnya:
hubungan,
pekerjaan,
usaha,
pendidikan anak,
keadaan keluarga,
lingkungan.
Manusia dapat memengaruhi.
Tetapi tidak menguasai sepenuhnya.
LINGKARAN KETIGA
مَا لَيْسَ بِيَدِي
MĀ LAISA BIYADĪ
Apa yang tidak berada dalam tanganku
Di dalamnya terdapat banyak hal:
masa lalu,
isi qolbi orang lain,
kematian,
seluruh kejadian alam,
dan keputusan-keputusan yang berada di luar kuasa kita.
Masalah besar muncul ketika manusia menghabiskan seluruh tenaga pada lingkaran ketiga,
tetapi melalaikan lingkaran pertama.
Ia cemas terhadap sesuatu yang tidak dapat dikendalikan,
namun tidak memperbaiki sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan hari ini.
Maka Qitab mengajarkan:
“Kembalikan tenaga kepada wilayah amanahmu.”
PINTU ANTARA DOA DAN WAKTU
Ada manusia bertanya:
“Aku sudah berdoa lama. Mengapa belum terjadi?”
Qitab tidak menjanjikan bahwa setiap permintaan akan datang pada waktu yang kita tentukan.
Sebab doa bukan jam yang dapat diperintah.
Doa adalah hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Kadang sesuatu datang cepat.
Kadang datang setelah penantian panjang.
Kadang diganti dengan bentuk kebaikan lain.
Kadang sesuatu yang diminta ternyata justru dijauhkan.
Maka berhati-hatilah ketika mengukur kasih sayang Alloh hanya dengan kecepatan terkabulnya satu keinginan.
Qitab berkata:
“Jangan menjadikan jam manusia sebagai ukuran bagi seluruh hikmah langit.”
Manusia melihat satu halaman.
Alloh mengetahui seluruh kitab perjalanan.
TIGA JENIS PENANTIAN
Tidak semua menunggu memiliki nilai yang sama.
PENANTIAN PERTAMA
MENUNGGU TANPA BERGERAK
Ini adalah penantian kosong.
Seseorang ingin perubahan,
tetapi tidak memperbaiki apa pun.
Ia meminta pekerjaan,
tetapi tidak mencari.
Ia meminta rezeki,
tetapi tidak menata usaha.
Ia meminta hubungan membaik,
tetapi tidak mengubah perilaku.
Ini bukan tawakkal.
Ini adalah penundaan yang diberi nama suci.
PENANTIAN KEDUA
MENUNGGU SAMBIL MEMAKSA
Seseorang telah berusaha,
tetapi hatinya berkata:
“Harus begini. Harus dari pintu ini. Harus pada waktu ini.”
Ketika kenyataan berbeda sedikit saja,
ia hancur.
Karena ternyata yang dicintainya bukan hanya hasil baik,
tetapi satu bentuk tertentu dari hasil tersebut.
Qitab berkata:
“Kadang manusia tidak sedang meminta jalan. Ia sedang memaksa satu jalan.”
PENANTIAN KETIGA
MENUNGGU SAMBIL MENJAGA AMANAH
Inilah penantian yang matang.
Ia tetap bekerja.
Tetap berdoa.
Tetap belajar.
Tetap memperbaiki diri.
Tetapi tidak memerintah Alloh menentukan hasil sesuai kehendaknya.
Inilah:
صَبْرٌ مَعَ سَعْيٍ
ṢABRUN MA‘A SA‘Y
Sabar yang disertai usaha.
RAHASIA GERBANG DAN JAM PASIR
Pada sampul Qitab terlihat sebuah gerbang besar,
dan di hadapannya berdiri jam pasir.
Mengapa jam pasir berada sebelum gerbang?
Karena sebagian gerbang hanya terbuka setelah waktu tertentu.
Namun ada perkara yang lebih dalam:
menunggu gerbang terbuka tidak berarti duduk tanpa mempersiapkan diri.
Ketika seseorang menunggu musim panen,
ia tetap merawat ladang.
Ketika seseorang menunggu pekerjaan,
ia tetap meningkatkan kemampuan.
Ketika seseorang menunggu pasangan yang baik,
ia tetap memperbaiki dirinya.
Ketika seseorang menunggu kesembuhan,
ia tetap berobat dan menjaga tubuh.
Maka waktu tunggu tidak boleh menjadi ruang kosong.
Jadikan ia:
ruang persiapan.
QUNCI KETIGA SIRR AZ-ZAMĀN
MEMBEDAKAN WAKTU MENUNGGU DAN WAKTU BERHENTI
Tanyakan kepada dirimu:
“Apakah aku sedang menunggu, atau sebenarnya berhenti?”
Perbedaannya sederhana.
Orang yang menunggu masih bergerak pada wilayah yang dapat dikerjakan.
Orang yang berhenti menyerahkan semua hal kepada keadaan.
Qitab berkata:
“Menunggu yang benar masih mempunyai langkah.”
EMPAT PERTANYAAN DI HADAPAN TAKDIR
Ketika menghadapi perkara besar, tanyakan empat hal:
Pertama:
Apa yang dapat kulakukan hari ini?
Kedua:
Apa yang belum kuketahui dan perlu kupelajari?
Ketiga:
Apa yang berada di luar kuasaku?
Keempat:
Apa yang harus kuserahkan kepada Alloh setelah aku berusaha?
Empat pertanyaan ini menjaga manusia dari dua penyakit:
putus asa
dan
kesombongan.
Putus asa berkata:
“Aku tidak bisa melakukan apa pun.”
Kesombongan berkata:
“Aku bisa menentukan semuanya.”
Sedangkan hikmah berkata:
“Ada bagian yang harus kukerjakan, dan ada bagian yang harus kuserahkan.”
TENTANG PENYESALAN
Ada manusia yang terus berkata:
“Andai dahulu aku memilih berbeda.”
Perkataan “andai” terkadang berguna apabila menjadi pelajaran.
Tetapi ia berubah menjadi racun apabila menjadi tempat tinggal.
Kemarin tidak dapat diedit.
Namun akibat kemarin masih dapat ditanggapi hari ini.
Apabila dahulu berhutang,
hari ini dapat mulai menyusun pelunasan.
Apabila dahulu menyakiti,
hari ini dapat meminta maaf.
Apabila dahulu lalai,
hari ini dapat memperbaiki ibadah.
Apabila dahulu menyia-nyiakan tubuh,
hari ini dapat mulai menjaganya.
Apabila dahulu salah memilih jalan,
hari ini dapat berbelok.
Maka Qitab berkata:
“Jangan meminta pintu kemarin dibuka kembali. Mintalah petunjuk untuk langkah hari ini.”
DZIKIR PENYERAHAN DAN IKHTIAR
Ketika qolbi berada di antara usaha dan ketidakpastian, bacalah dengan tenang:
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
يَا وَكِيلُ
Yā Wakīl
Wahai Yang Maha Memelihara dan tempat berserah.
Kemudian ucapkan:
حَسْبِيَ اللّٰهُ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ
Ḥasbiyallohu wa ‘alaihi tawakkaltu.
“Cukuplah Alloh bagiku, dan kepada-Nya aku bertawakkal.”
Lalu berdoalah:
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنِي لِمَا أَسْتَطِيعُ، وَأَعِنِّي عَلَى مَا يَجِبُ، وَارْزُقْنِي الرِّضَا بِمَا لَيْسَ فِي يَدِي
Allāhumma waffiqnī limā astaṭī‘u, wa a‘innī ‘alā mā yajibu, warzuqnī ar-riḍā bimā laisa fī yadī.
Artinya:
Yā Alloh, berilah aku taufik untuk melakukan apa yang mampu kulakukan, bantulah aku menjalankan apa yang menjadi kewajibanku, dan karuniakan kepadaku keridhoan terhadap apa yang tidak berada dalam tanganku.
PENUTUP LEMBAR KETIGA
Ketahuilah:
takdir bukan alasan untuk meninggalkan langkah.
Ikhtiar bukan alasan untuk merasa menjadi penguasa hasil.
Dan waktu adalah tempat keduanya bertemu.
Hari ini engkau menanam.
Hari ini engkau memilih.
Hari ini engkau memperbaiki.
Hari ini engkau berdoa.
Hari ini engkau menyerahkan.
Esok tetap menjadi rahasia.
Tetapi engkau tidak perlu mengetahui seluruh esok untuk menjalani hari ini dengan benar.
Maka Qitab menutup lembar ketiga dengan kalimat:
“Berjalanlah seolah setiap langkah adalah amanahmu.
Berserahlah seolah seluruh hasil adalah milik Alloh.
Di antara keduanya, qolbi menemukan ketenangan.”
Dan satu rahasia terakhir dituliskan pada gerbang ketiga:
لَيْسَ كُلُّ تَأَخُّرٍ حِرْمَانًا
LAISA KULLU TA’AKHKHURIN ḤIRMĀNAN
“Tidak setiap keterlambatan berarti penolakan.”
Ada pintu yang lambat terbuka karena engkau sedang dipersiapkan.
Ada jalan yang tertunda karena arah lain sedang disusun.
Ada keinginan yang tidak diberikan karena perlindungan datang dalam bentuk yang belum engkau pahami.
Maka berusahalah tanpa sombong.
Menunggulah tanpa mati.
Berdoalah tanpa memaksa.
Dan berjalanlah sampai waktu memperlihatkan halaman berikutnya.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KETIGA —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KEEMPAT
SIMPUL WAKTU DAN PERISTIWA YANG BELUM SELESAI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah diterangkan pertemuan antara:
takdir, ikhtiar, dan waktu.
Bahwa manusia mempunyai bagian untuk berusaha,
tetapi tidak mempunyai kuasa mutlak atas hasil.
Sekarang Qitab membuka satu pintu yang lebih sunyi.
Sebuah pintu yang sering tidak terlihat oleh mata,
tetapi terasa berat di dalam qolbi.
Yaitu:
عُقَدُ الزَّمَانِ
‘UQAD AZ-ZAMĀN
Simpul-simpul waktu.
Apakah simpul waktu itu?
Ia bukan tali gaib.
Bukan makhluk yang mengikat perjalanan manusia.
Bukan pula kekuatan tersembunyi yang menentukan nasib seseorang.
Simpul waktu adalah nama hikmah bagi:
peristiwa yang secara lahir telah berlalu, tetapi belum selesai secara batin.
Ada pertemuan yang telah berakhir,
tetapi percakapannya masih berulang di kepala.
Ada seseorang yang telah pergi,
tetapi pertanyaan tentang dirinya masih hidup.
Ada kesempatan yang telah terlewat,
tetapi penyesalannya belum dilepaskan.
Ada luka yang telah lama terjadi,
tetapi kemarahannya masih dibawa memasuki hari-hari baru.
Maka Qitab berkata:
“Ada manusia yang telah meninggalkan suatu tempat dengan kakinya, tetapi belum meninggalkannya dengan qolbinya.”
Di situlah simpul terbentuk.
SIMPUL PERTAMA
KALIMAT YANG TIDAK SELESAI
Sebagian simpul lahir dari percakapan.
Seseorang ingin meminta maaf,
tetapi tidak sempat.
Seseorang ingin berkata jujur,
tetapi terlambat.
Seseorang ditinggalkan tanpa penjelasan.
Seseorang kehilangan orang tercinta sebelum sempat mengucapkan sesuatu.
Lalu qolbi terus berkata:
“Seandainya waktu itu aku berkata…”
Kalimat itu berulang.
Tahun berganti.
Keadaan berubah.
Namun percakapan lama tetap berlangsung di dalam pikiran.
Qitab mengingatkan:
“Tidak semua percakapan masa lalu dapat diselesaikan dengan orang yang sama. Sebagian harus diselesaikan di dalam dirimu sendiri.”
Apabila orang tersebut masih ada dan keadaan memungkinkan,
selesaikan dengan cara yang baik.
Mintalah maaf.
Jelaskan.
Berdamailah.
Tetapi apabila pintu itu telah tertutup,
jangan menghukum hidupmu hanya karena satu kalimat tidak sempat terucapkan.
Tulislah.
Doakan.
Ambil pelajaran.
Kemudian serahkan kepada Alloh.
SIMPUL KEDUA
JANJI YANG MASIH MEMBELENGGU
Ada janji yang harus ditepati.
Tetapi ada pula ucapan masa lalu yang terus dibawa meskipun keadaan telah berubah seluruhnya.
Manusia pernah berkata:
“Aku tidak akan pernah memaafkan.”
Lalu ucapan tersebut berubah menjadi penjara.
Atau berkata:
“Aku tidak akan pernah mencintai lagi.”
Padahal ucapan itu lahir ketika sedang terluka.
Atau:
“Aku harus membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa.”
Lalu seluruh hidupnya berubah menjadi perlombaan untuk memperoleh pengakuan.
Qitab berkata:
“Berhati-hatilah terhadap sumpah yang lahir dari luka. Jangan menjadikan kemarahan sesaat sebagai hukum bagi seluruh umur.”
Tidak semua ucapan emosional harus menjadi arah kehidupan.
Manusia boleh bertumbuh.
Manusia boleh berubah.
Manusia boleh melihat sesuatu dengan lebih matang daripada dirinya sepuluh tahun lalu.
SIMPUL KETIGA
RASA BERSALAH
Rasa bersalah mempunyai dua wajah.
Wajah pertama membawa manusia kepada taubat.
Ia berkata:
“Aku salah. Aku harus memperbaiki.”
Ini adalah rasa bersalah yang membuka pintu.
Tetapi wajah kedua berkata:
“Aku salah. Maka aku tidak layak memperoleh kebaikan lagi.”
Ini adalah rasa bersalah yang berubah menjadi hukuman tanpa akhir.
Qitab membedakan keduanya.
Rasa bersalah yang sehat:
mengakui kesalahan,
meminta ampun,
memperbaiki kerusakan jika mampu,
belajar,
kemudian melanjutkan hidup dengan lebih baik.
Rasa bersalah yang merusak:
mengulang kesalahan di kepala,
membenci diri sendiri,
menolak setiap kesempatan baik,
dan merasa masa depan harus selalu membayar masa lalu.
Maka Qitab berkata:
“Taubat menghadap masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Kebencian kepada diri sendiri hanya membuat manusia tinggal di dalam kesalahan.”
Apabila engkau pernah salah,
jangan menyangkal.
Tetapi jangan pula menjadikan kesalahan sebagai nama dirimu.
SIMPUL KEEMPAT
KEHILANGAN
Kehilangan adalah salah satu guru waktu yang paling berat.
Kita kehilangan manusia.
Kita kehilangan rumah.
Kita kehilangan pekerjaan.
Kita kehilangan kesehatan.
Kita kehilangan masa muda.
Kita kehilangan kesempatan.
Kadang sesuatu kembali dalam bentuk lain.
Kadang tidak.
Di sinilah qolbi belajar bahwa kehidupan tidak hanya berisi mendapatkan.
Ia juga berisi melepaskan.
Qitab tidak mengatakan:
“Lupakan.”
Sebab ada sesuatu yang memang tidak perlu dilupakan.
Orang yang kita cintai boleh tetap dikenang.
Kenangan baik boleh tetap disimpan.
Tetapi kenangan tidak harus berubah menjadi rantai.
Qitab berkata:
“Melepaskan tidak selalu berarti melupakan. Kadang melepaskan berarti berhenti menuntut agar masa lalu kembali menjadi seperti dahulu.”
SIMPUL KELIMA
PERTANYAAN “MENGAPA?”
Ada peristiwa yang meninggalkan satu pertanyaan:
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Pertanyaan ini dapat menjadi jalan ilmu.
Tetapi juga dapat menjadi lorong tanpa ujung.
Karena tidak semua “mengapa” memperoleh jawaban lengkap di dunia.
Manusia dapat memahami sebab-sebab.
Dapat meneliti kesalahan.
Dapat membaca pelajaran.
Namun sebagian hikmah baru tampak setelah waktu berjalan jauh.
Sebagian bahkan mungkin tidak pernah dipahami sepenuhnya.
Di sinilah Qitab mengajarkan satu perubahan pertanyaan:
Daripada terus bertanya:
“Mengapa ini terjadi?”
sesekali tanyakan:
“Setelah ini terjadi, siapa yang hendak kujadikan diriku?”
Pertanyaan pertama mencari penjelasan.
Pertanyaan kedua mencari arah.
Keduanya penting.
Tetapi ketika penjelasan tidak ditemukan,
arah masih dapat dipilih.
EMPAT TANDA SIMPUL WAKTU
Bagaimana seseorang mengetahui bahwa masa lalu masih mempunyai simpul?
Qitab menyebut empat tanda.
١. PENGULANGAN PIKIRAN
Peristiwa lama terus diputar tanpa menghasilkan pemahaman baru.
Hari berubah,
tetapi cerita yang sama terus berulang.
٢. REAKSI YANG TERLALU BESAR
Peristiwa kecil hari ini memunculkan emosi yang jauh lebih besar daripada kejadian itu sendiri.
Kadang ini terjadi karena hari ini menyentuh luka kemarin.
٣. KETIDAKMAMPUAN MENERIMA YANG BARU
Peluang datang,
tetapi manusia menolaknya bukan karena peluang itu buruk,
melainkan karena takut mengalami masa lalu kembali.
٤. HIDUP UNTUK MEMBUKTIKAN MASA LALU
Setiap keputusan dibuat agar seseorang dari masa lalu menyesal,
terkesan,
takjub,
atau mengakui kesalahannya.
Padahal orang tersebut mungkin sudah lama tidak memikirkan kita.
Maka Qitab berkata:
“Jangan serahkan masa depanmu kepada seseorang hanya karena ia pernah berada di masa lalumu.”
QUNCI KEEMPAT SIRR AZ-ZAMĀN
MEMBUKA SIMPUL TANPA MEMUTUS HIKMAH
Ada dua kesalahan ketika menghadapi masa lalu.
Yang pertama:
menggenggam semuanya.
Yang kedua:
membuang semuanya.
Padahal yang benar adalah memilah.
Ambil hikmahnya.
Tinggalkan racunnya.
Simpan ilmunya.
Lepaskan dendamnya.
Kenang kebaikannya.
Jangan hidup kembali di dalam lukanya.
Inilah:
فَكُّ الْعُقْدَةِ مَعَ حِفْظِ الْعِبْرَةِ
FAKKUL-‘UQDAH MA‘A ḤIFẒIL-‘IBRAH
Membuka simpul sambil menjaga pelajaran.
LATIHAN GERBANG EMPAT
Ambillah selembar kertas.
Bagi menjadi empat bagian.
BAGIAN PERTAMA
APA YANG TERJADI
Tuliskan peristiwanya tanpa terlalu banyak menilai.
Contoh:
“Aku kehilangan pekerjaan.”
“Aku ditinggalkan.”
“Aku pernah membuat kesalahan besar.”
BAGIAN KEDUA
APA YANG KURASAKAN
Tuliskan rasa yang masih tersisa.
Marah.
Sedih.
Takut.
Malu.
Rindu.
Menyesal.
Kecewa.
BAGIAN KETIGA
APA YANG KUPERLAJARI
Di sinilah peristiwa berubah menjadi ilmu.
Apa yang sekarang engkau pahami?
Batas apa yang harus dijaga?
Kesalahan apa yang tidak ingin diulang?
Kebaikan apa yang ternyata perlu dihargai?
BAGIAN KEEMPAT
APA YANG AKAN KULAKUKAN SEKARANG
Inilah bagian terpenting.
Bukan apa yang seharusnya dilakukan sepuluh tahun lalu.
Tetapi:
apa yang dapat dilakukan sekarang?
Minta maaf?
Memaafkan?
Berhenti menghubungi?
Mulai kembali bekerja?
Menyelesaikan hutang sedikit demi sedikit?
Mencari pengobatan?
Membangun batas yang sehat?
Belajar?
Berdoa?
Atau sekadar menerima bahwa satu bab memang telah selesai?
TENTANG MEMAAFKAN
Memaafkan sering disalahpahami.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain benar.
Bukan berarti harus kembali dekat.
Bukan berarti menghapus batas.
Bukan berarti menyerahkan diri untuk disakiti kembali.
Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membawa racun peristiwa itu ke seluruh masa depan.
Ada hubungan yang dapat dipulihkan.
Ada yang harus diberi batas.
Ada yang cukup didoakan dari jauh.
Ada pula yang memang harus ditinggalkan.
Qitab berkata:
“Memaafkan membuka qolbi. Kebijaksanaan menentukan apakah pintu hubungan dibuka kembali atau tetap dijaga.”
TENTANG MEMAAFKAN DIRI SENDIRI
Ini lebih sulit bagi sebagian manusia.
Mereka dapat memaafkan orang lain,
tetapi tidak dapat memaafkan dirinya sendiri.
Mereka terus berkata:
“Seharusnya aku tahu.”
“Seharusnya aku tidak melakukan itu.”
“Seandainya aku lebih kuat.”
Tetapi Qitab bertanya:
Apakah dirimu yang dahulu mempunyai pengetahuan yang engkau miliki hari ini?
Apakah kekuatanmu sama?
Apakah keadaanmu sama?
Jika tidak,
maka gunakan ilmu hari ini untuk memperbaiki langkah berikutnya,
bukan untuk menyiksa dirimu yang dahulu.
Bertanggung jawablah.
Tetapi jangan menjadikan tanggung jawab sebagai kebencian kepada diri sendiri.
RAHASIA JAM PASIR YANG KEDUA
Jam pasir mengajarkan satu perkara:
pasir yang telah jatuh tidak naik kembali dengan sendirinya.
Tetapi jam pasir dapat dibalik.
Simbol ini bukan berarti waktu kembali.
Ia berarti:
kehidupan dapat memasuki siklus baru.
Masa lalu tetap masa lalu.
Namun cara kita memandangnya dapat berubah.
Luka dapat menjadi ilmu.
Kegagalan dapat menjadi kehati-hatian.
Kehilangan dapat menjadi penghargaan.
Kesendirian dapat menjadi kedewasaan.
Kesalahan dapat menjadi taubat.
Maka Qitab berkata:
“Engkau tidak dapat mengubah apa yang terjadi. Tetapi engkau masih dapat mengubah apa yang lahir darinya.”
GERBANG TENGAH
ANTARA KENANGAN DAN IDENTITAS
Perhatikan perbedaan:
“Aku pernah gagal.”
berbeda dengan:
“Aku adalah orang gagal.”
“Aku pernah dikhianati.”
berbeda dengan:
“Aku adalah orang yang selalu akan dikhianati.”
“Aku pernah miskin.”
berbeda dengan:
“Aku ditakdirkan tidak akan pernah mempunyai apa-apa.”
Peristiwa adalah bagian dari sejarah.
Ia tidak harus menjadi identitas.
Qitab menuliskan:
الْحَادِثَةُ جُزْءٌ مِنْ قِصَّتِكَ، وَلَيْسَتْ كُلَّك
AL-ḤĀDITSATU JUZ’UN MIN QIṢṢATIKA, WA LAISAT KULLAK
“Sebuah peristiwa adalah bagian dari kisahmu, bukan keseluruhan dirimu.”
DZIKIR PELEPAS SIMPUL QOLBI
Apabila qolbi terasa berat oleh masa lalu,
duduklah dengan tenang.
Tidak perlu membayangkan sesuatu yang gaib.
Tidak perlu menunggu pertanda.
Bacalah perlahan:
يَا غَفُورُ
Yā Ghafūr
Wahai Yang Maha Pengampun.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Kedamaian.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ اشْفِ قَلْبِي مِنْ أَثَرِ مَا مَضَى، وَعَلِّمْنِي حِكْمَتَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ قَيْدًا لِمَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِي
Allāhumma isyfi qolbī min atsari mā maḍā, wa ‘allimnī ḥikmatahu, wa lā taj‘alhu qaydan limā baqiya min ‘umrī.
Artinya:
Yā Alloh, sembuhkanlah qolbiku dari bekas apa yang telah berlalu, ajarkan kepadaku hikmahnya, dan jangan jadikan ia belenggu bagi sisa umurku.
Kemudian diamlah sejenak.
Tarik nafas perlahan.
Dan ucapkan dalam qolbi:
مَا مَضَى قَدْ مَضَى، وَالْيَوْمُ أَمَانَةٌ
MĀ MAḌĀ QAD MAḌĀ, WAL-YAUMU AMĀNAH
“Yang telah berlalu telah berlalu, dan hari ini adalah amanah.”
PERTANYAAN GERBANG KEEMPAT
Sebelum menutup lembar ini, Qitab memberikan tujuh pertanyaan:
Apa yang masih kuharapkan dari masa lalu?
Siapa yang masih ingin kubuktikan sesuatu kepadanya?
Peristiwa apa yang masih kuputar berulang-ulang?
Apakah aku masih menghukum diriku sendiri?
Apakah ada permintaan maaf yang harus kusampaikan?
Apakah ada batas yang harus kubangun?
Apa satu simpul yang siap kulepaskan hari ini?
Jangan menjawab semuanya sekaligus.
Satu jawaban yang benar-benar jujur lebih berharga daripada seratus jawaban yang hanya indah.
PENUTUP LEMBAR KEEMPAT
Ketahuilah:
masa lalu tidak selalu meminta dilupakan.
Kadang ia meminta dipahami.
Tidak setiap luka meminta dihapus.
Kadang ia meminta disembuhkan.
Tidak setiap kehilangan meminta diganti.
Kadang ia meminta diterima.
Tidak setiap pertanyaan memperoleh jawaban.
Kadang ia meminta diserahkan.
Maka jangan menyeret seluruh kemarin menuju hari esok.
Bawalah apa yang menjadi hikmah.
Tinggalkan apa yang menjadi racun.
Sebab perjalanan masih panjang.
Dan manusia yang terus memegang pintu lama dengan kedua tangannya,
tidak mempunyai tangan yang bebas untuk membuka pintu baru.
Maka Qitab menutup lembar keempat dengan sabda hikmah:
“Yang paling berat bukan masa lalu itu sendiri, melainkan ketika manusia memaksanya tetap hidup dalam setiap hari yang baru.”
Lalu tertulis pada gerbang:
أَطْلِقْ مَا انْتَهَى، وَاحْفَظْ مَا عَلَّمَكَ
AṬLIQ MĀ INTAHĀ, WAḤFAẒ MĀ ‘ALLAMAKA
“Lepaskan apa yang telah selesai, dan jagalah apa yang telah mengajarimu.”
Karena setelah simpul-simpul waktu mulai terbuka,
manusia akan memasuki rahasia yang lebih dalam:
mengapa sebagian peristiwa terasa datang pada waktu yang tepat, sebagian terasa terlambat, dan sebagian baru dipahami setelah bertahun-tahun berlalu.
Itulah gerbang berikutnya:
مِيقَاتُ الْحِكْمَةِ
MĪQĀT AL-ḤIKMAH
Waktu datangnya hikmah.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KEEMPAT —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KELIMA
مِيقَاتُ الْحِكْمَةِ
MĪQĀT AL-ḤIKMAH
WAKTU DATANGNYA HIKMAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah dibuka tentang:
‘Uqad az-Zamān — simpul-simpul waktu.
Bahwa ada peristiwa yang telah selesai secara lahir, tetapi belum selesai di dalam qolbi.
Sekarang Qitab memasuki pintu yang lebih dalam.
Sebab setelah sebuah simpul mulai terurai, manusia sering menoleh ke belakang lalu berkata:
“Sekarang aku baru mengerti.”
Dahulu ia marah.
Sekarang ia memahami.
Dahulu ia merasa ditinggalkan.
Sekarang ia menyadari bahwa kepergian itu menyelamatkannya dari jalan yang salah.
Dahulu ia merasa satu pintu tertutup sebagai kehancuran.
Bertahun-tahun kemudian ia mengetahui bahwa tertutupnya pintu tersebut justru mengarahkannya menuju pintu lain.
Maka Qitab berkata:
“Tidak seluruh hikmah datang bersamaan dengan peristiwanya.”
Ada peristiwa yang datang hari ini.
Tetapi maknanya baru terbuka sepuluh tahun kemudian.
Inilah:
مِيقَاتُ الْحِكْمَةِ
MĪQĀT AL-ḤIKMAH
Waktu ketika sebuah hikmah mulai dapat dipahami.
RAHASIA PERTAMA
PERISTIWA DAN MAKNA TIDAK SELALU LAHIR BERSAMA
Ketika hujan turun, manusia langsung melihat air.
Tetapi ia belum tentu langsung mengetahui apa yang akan tumbuh karenanya.
Demikian pula kehidupan.
Ada peristiwa yang dampaknya langsung tampak.
Ada pula peristiwa yang menjadi benih.
Ia masuk ke dalam tanah kehidupan.
Diam.
Gelap.
Tidak terlihat.
Kemudian bertahun-tahun setelahnya, sesuatu tumbuh darinya.
Pengalaman pahit melahirkan kebijaksanaan.
Kegagalan melahirkan ketelitian.
Kehilangan melahirkan penghargaan.
Kesendirian melahirkan pengenalan terhadap diri.
Kesulitan melahirkan kemampuan yang dahulu tidak diketahui manusia ada dalam dirinya.
Maka jangan terlalu cepat memberi nama kepada sebuah bab.
Apa yang hari ini engkau sebut:
“akhir”
mungkin beberapa tahun kemudian engkau kenal sebagai:
“peralihan.”
Apa yang hari ini engkau sebut:
“kegagalan”
mungkin kelak menjadi:
“pelajaran yang menyelamatkan.”
Qitab berkata:
“Jangan buru-buru menuliskan kesimpulan pada halaman yang belum selesai.”
RAHASIA KEDUA
HIKMAH MEMERLUKAN JARAK
Ketika manusia berdiri terlalu dekat dengan sebuah peristiwa, pandangannya sering tertutup oleh rasa.
Marah.
Takut.
Kecewa.
Sedih.
Rindu.
Malu.
Semua itu dapat memenuhi seluruh ruang pandang.
Tetapi waktu memberikan jarak.
Dan jarak kadang memberi kejernihan.
Seseorang yang dahulu berkata:
“Mengapa ini terjadi?”
setelah bertahun-tahun mungkin berkata:
“Sekarang aku memahami bagian dari alasannya.”
Bukan karena masa lalu berubah.
Tetapi karena dirinya telah bertumbuh.
Maka Qitab berkata:
“Sebagian jawaban tidak terlambat. Kita yang dahulu belum cukup jauh untuk melihatnya.”
Inilah sebabnya jangan memaksa diri memahami seluruh peristiwa pada hari yang sama ketika luka terjadi.
Ada masa untuk menangis.
Ada masa untuk bertahan.
Ada masa untuk menyusun kembali.
Dan ada masa untuk memahami.
EMPAT TINGKAT PEMAHAMAN WAKTU
Qitab membuka empat maqām renungan.
TINGKAT PERTAMA
حَدَثَ
ḤADATSA
“Ini telah terjadi.”
Pada tingkat ini manusia hanya melihat kejadian.
Ia belum memahami makna.
Contoh:
“Aku kehilangan pekerjaan.”
“Aku berpisah.”
“Aku gagal.”
“Aku jatuh sakit.”
Peristiwa masih berdiri sebagai peristiwa.
TINGKAT KEDUA
شَعَرْتُ
SYA‘ARTU
“Aku merasakan.”
Manusia mulai mengenali apa yang peristiwa itu lakukan kepada qolbinya.
“Aku takut.”
“Aku kecewa.”
“Aku merasa tidak berharga.”
“Aku kehilangan arah.”
Di sinilah manusia belajar jujur terhadap rasa.
TINGKAT KETIGA
فَهِمْتُ
FAHIMTU
“Aku mulai memahami.”
Manusia mulai melihat hubungan sebab, pilihan, kebiasaan, dan akibat.
Ia mungkin menyadari:
“Aku terlalu lama mengabaikan tanda.”
“Aku tidak menjaga batas.”
“Aku mengambil keputusan ketika sedang marah.”
“Aku terlalu bergantung kepada satu pintu.”
“Aku tidak merawat tubuhku.”
Di sinilah pengalaman berubah menjadi ilmu.
TINGKAT KEEMPAT
نَضَجْتُ
NAḌIJTU
“Aku bertumbuh karenanya.”
Inilah tingkat yang lebih matang.
Manusia tidak hanya memahami peristiwa.
Ia berubah.
Menjadi lebih sabar.
Lebih teliti.
Lebih tegas.
Lebih lembut.
Lebih berhati-hati.
Lebih berserah.
Lebih mampu menjaga dirinya.
Maka Qitab berkata:
“Hikmah sempurna bukan ketika engkau mampu menjelaskan masa lalu, tetapi ketika masa lalu membuatmu menjalani masa kini dengan lebih baik.”
RAHASIA KETIGA
TIDAK SEMUA HIKMAH BERARTI PERISTIWANYA BAIK
Ini penting.
Jangan menyebut kezaliman sebagai kebaikan hanya karena seseorang kemudian menjadi kuat.
Jangan menyebut pengkhianatan sebagai hal baik hanya karena kemudian seseorang belajar menjaga batas.
Kesalahan tetap kesalahan.
Kezaliman tetap kezaliman.
Kehilangan tetap menyakitkan.
Tetapi manusia dapat mengambil kebaikan setelah sesuatu yang buruk terjadi.
Inilah perbedaan yang harus dijaga.
Qitab berkata:
“Hikmah tidak selalu berarti membenarkan peristiwanya. Hikmah berarti menemukan cara agar keburukan tidak memperoleh hak untuk menghancurkan seluruh masa depan.”
MISTERI “TERLAMBAT”
Ada manusia berkata:
“Mengapa jawaban ini baru datang sekarang?”
Mungkin karena dahulu ia belum siap mendengarnya.
Mungkin karena dahulu ia masih mempertahankan sesuatu yang sekarang telah dilepas.
Mungkin karena pengalaman tambahan diperlukan agar satu pengertian menjadi utuh.
Mungkin pula karena tidak semua jawaban memang dapat diperoleh.
Qitab tidak mengajarkan menebak perkara gaib.
Qitab mengajarkan adab:
ketika belum memahami, jangan memalsukan jawaban.
Katakan:
“Aku belum tahu.”
Kalimat itu lebih suci daripada membangun kepastian palsu.
Sebab tidak mengetahui bukan kehinaan.
Kadang ia adalah pintu menuju ilmu.
TIGA MACAM KETERLAMBATAN
KETERLAMBATAN PERTAMA
BELUM WAKTUNYA
Benih belum menjadi pohon.
Anak belum menjadi dewasa.
Ilmu belum matang.
Proses belum selesai.
Di sini manusia membutuhkan sabar.
KETERLAMBATAN KEDUA
BELUM SIAPNYA MANUSIA
Ada kesempatan yang sebenarnya tersedia, tetapi manusianya belum siap memikul.
Kedudukan tanpa kesiapan dapat merusak.
Harta tanpa kedewasaan dapat membakar.
Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan.
Maka Qitab bertanya:
“Apabila apa yang engkau minta diberikan hari ini, sudahkah dirimu siap menjaganya?”
KETERLAMBATAN KETIGA
ARAH YANG HARUS DIUBAH
Ada sesuatu yang tidak datang bukan karena harus menunggu lebih lama, tetapi karena jalan memang harus diganti.
Inilah sebabnya sabar tidak sama dengan keras kepala.
Manusia perlu membedakan:
apakah aku sedang istiqomah,
atau
aku sedang memaksa satu pintu yang berkali-kali menunjukkan bahwa arahnya harus ditinjau kembali?
Untuk mengetahui perbedaannya diperlukan doa, musyawarah, ilmu, kenyataan, serta keberanian mengevaluasi diri.
QUNCI KELIMA SIRR AZ-ZAMĀN
JANGAN MENUNGGU HIKMAH UNTUK MULAI HIDUP
Ada manusia berkata:
“Aku belum bisa melangkah karena belum mengerti mengapa ini terjadi.”
Padahal tidak semua pemahaman harus datang lebih dahulu.
Kadang manusia harus berjalan sambil belum memahami.
Ia tetap makan.
Tetap bekerja.
Tetap sholat.
Tetap merawat anak.
Tetap menjaga kesehatan.
Tetap memenuhi kewajiban.
Lalu sedikit demi sedikit pemahaman datang.
Maka Qitab berkata:
“Jika jawaban belum datang, jangan hentikan amanah.”
GERBANG LIMA
PERISTIWA — JARAK — HIKMAH
Bayangkan tiga titik:
Peristiwa.
Jarak.
Hikmah.
Di antara peristiwa dan hikmah sering terdapat wilayah yang tidak nyaman.
Di situlah manusia belum mengetahui.
Belum selesai.
Belum memahami.
Namun justru wilayah itulah yang sering melahirkan kedewasaan.
Qitab menamakannya:
بَرْزَخُ الْفَهْمِ
BARZAKH AL-FAHM
Ruang antara mengalami dan memahami.
Bukan alam gaib.
Tetapi istilah hikmah bagi masa ketika manusia sedang memproses sebuah pengalaman.
Di wilayah itu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan besar hanya berdasarkan gelombang emosi.
Berikan waktu.
Cari ilmu.
Bicaralah kepada orang terpercaya.
Berdoalah.
Amati kenyataan.
TENTANG PERTEMUAN YANG DATANG “TEPAT WAKTU”
Kadang manusia bertemu seseorang pada masa ketika ia sedang membutuhkan nasihat.
Membaca satu kalimat ketika sedang kehilangan arah.
Menemukan pekerjaan setelah masa sulit.
Bertemu guru setelah lama mencari.
Namun Qitab mengingatkan:
jangan buru-buru mengubah setiap kebetulan menjadi klaim rahasia gaib.
Ambillah manfaatnya.
Syukuri kebaikannya.
Tetapi tetap jaga akal.
Sebab hikmah tidak membutuhkan khayalan untuk menjadi indah.
Satu pertemuan yang baik sudah cukup menjadi nikmat tanpa harus dipaksa menjadi ramalan.
JAM PASIR KETIGA
BUTIR YANG BARU TERLIHAT SETELAH JATUH
Pada jam pasir, kita sering baru menyadari banyaknya pasir yang telah jatuh setelah melihat bagian bawah mulai penuh.
Demikian pula kehidupan.
Ketika menjalani hari-hari kecil, manusia tidak selalu melihat perubahan.
Tetapi lima tahun kemudian ia menoleh dan berkata:
“Ternyata aku sudah jauh berjalan.”
Karena itu jangan hanya menilai pertumbuhan dari perubahan besar.
Perhatikan perubahan kecil:
dulu mudah marah, sekarang mulai mampu diam.
Dulu takut berkata tidak, sekarang mulai menjaga batas.
Dulu menyerah ketika gagal, sekarang mencoba lagi.
Dulu mengabaikan kesehatan, sekarang mulai merawat.
Dulu hanya berdoa meminta hasil, sekarang mulai berdoa meminta petunjuk.
Itulah butir-butir kecil waktu.
LATIHAN MĪQĀT AL-ḤIKMAH
Pilih satu peristiwa lama.
Bukan yang lukanya masih terlalu berat jika engkau belum siap.
Pilih satu yang sudah cukup jauh.
Kemudian tuliskan:
1. APA YANG KUPIKIRKAN KETIKA ITU?
Tuliskan cara pandangmu dahulu.
2. APA YANG KUPAHAMI SEKARANG?
Adakah sesuatu yang berubah?
3. APA YANG TERNYATA TIDAK SEPERTI DUGAANKU?
Inilah pintu koreksi.
4. KEKUATAN APA YANG LAHIR DARINYA?
Kesabaran?
Ketegasan?
Ilmu?
Batas?
Kemandirian?
5. APA YANG MASIH BELUM KUPAHAMI?
Jangan malu menuliskan:
“Aku belum tahu.”
Itu juga bagian dari hikmah.
DOA KETIKA HIKMAH BELUM TERBUKA
Bacalah dengan tenang:
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
يَا عَلِيمُ
Yā ‘Alīm
Wahai Yang Maha Mengetahui.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا لَطِيفُ
Yā Laṭīf
Wahai Yang Maha Lembut.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ إِنْ لَمْ أَفْهَمْ حِكْمَةَ مَا جَرَى، فَاهْدِنِي إِلَى مَا يَنْفَعُنِي، وَاحْفَظْ قَلْبِي مِنَ الظَّنِّ وَالْيَأْسِ
Allāhumma in lam afham ḥikmata mā jarā, fahdinī ilā mā yanfa‘unī, waḥfaẓ qolbī minaẓ-ẓanni wal-ya’s.
Artinya:
Yā Alloh, apabila aku belum memahami hikmah dari apa yang telah terjadi, tuntunlah aku kepada apa yang bermanfaat bagiku dan jagalah qolbiku dari prasangka serta keputusasaan.
TANDA HIKMAH MULAI MATANG
Qitab menyebut beberapa tanda.
Engkau dapat mengingat peristiwa tanpa kembali tenggelam di dalamnya.
Engkau tidak lagi sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Engkau mampu melihat kesalahanmu sendiri tanpa membenci diri.
Engkau mampu melihat kesalahan orang lain tanpa harus hidup dalam dendam.
Engkau mulai menggunakan pengalaman itu untuk memilih dengan lebih baik.
Dan yang paling halus:
engkau tidak lagi membutuhkan masa lalu berubah agar dirimu dapat melanjutkan hidup.
Maka Qitab berkata:
“Ketika kenangan tidak lagi memerintah keputusanmu, waktu mulai kembali menjadi sahabat.”
PENUTUP LEMBAR KELIMA
Ketahuilah:
ada hikmah yang datang bersama peristiwa.
Ada hikmah yang datang setelah air mata mengering.
Ada hikmah yang baru terlihat setelah jalan berbelok.
Ada hikmah yang baru dipahami ketika usia bertambah.
Dan ada rahasia yang mungkin tetap berada dalam ilmu Alloh.
Maka jangan memaksa seluruh waktu memberikan jawabannya sekaligus.
Berjalanlah.
Belajarlah.
Berdoalah.
Jaga amanah hari ini.
Sebab manusia tidak harus memahami seluruh perjalanan untuk tetap berjalan dengan benar.
Maka Qitab menutup lembar kelima:
لِكُلِّ حِكْمَةٍ مِيقَاتٌ
LIKULLI ḤIKMATIN MĪQĀT
“Setiap hikmah mempunyai waktunya untuk mulai dipahami.”
Dan di balik gerbang kelima tampak satu lingkaran besar seperti roda yang terus berputar.
Pada lingkaran itu tertulis:
دَوَرَانُ الْأَيَّامِ
DAWARĀN AL-AYYĀM
Perputaran Hari-Hari.
Di sanalah Qitab berikutnya akan membuka rahasia:
mengapa kehidupan mempunyai musim; mengapa ada masa naik, masa turun, masa menanam, masa menunggu, masa kehilangan, dan masa menerima; serta mengapa manusia tidak boleh mengira satu musim akan berlangsung selamanya.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KELIMA —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KEENAM
دَوَرَانُ الْأَيَّامِ
DAWARĀN AL-AYYĀM
PERPUTARAN HARI-HARI DAN PERGANTIAN MUSIM KEHIDUPAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah diterangkan:
مِيقَاتُ الْحِكْمَةِ
MĪQĀT AL-ḤIKMAH
bahwa tidak semua hikmah datang bersamaan dengan peristiwa.
Sebagian baru terbuka setelah manusia memperoleh jarak, pengalaman, dan kejernihan.
Sekarang Qitab memasuki satu rahasia berikutnya:
“Hari-hari tidak berhenti pada satu keadaan.”
Ada saat manusia berada dalam kelapangan.
Ada saat ia berada dalam kesempitan.
Ada masa datang.
Ada masa pergi.
Ada musim membangun.
Ada musim menunggu.
Ada musim kehilangan.
Ada musim menemukan.
Ada musim ketika pintu seolah terbuka dari banyak arah.
Dan ada musim ketika satu demi satu pintu terasa tertutup.
Qitab menamai pergantian ini:
دَوَرَانُ الْأَيَّامِ
DAWARĀN AL-AYYĀM
Perputaran hari-hari.
Bukan berarti kehidupan berputar dengan pola yang selalu sama.
Bukan pula berarti manusia dapat meramalkan kapan suatu keadaan akan berubah.
Tetapi ia mengajarkan satu kesadaran:
tidak ada keadaan dunia yang patut dianggap kekal.
RAHASIA PERTAMA
SATU MUSIM BUKAN SELURUH HIDUP
Apabila manusia sedang berada dalam kesulitan, ia mudah berkata:
“Hidupku memang begini.”
Padahal mungkin ia sedang melewati satu musim.
Ketika sedang berhasil, manusia pun dapat berkata:
“Keadaan ini pasti akan terus berlangsung.”
Padahal dunia selalu berubah.
Karena itu Qitab berkata:
“Jangan memberi nama seluruh kehidupan berdasarkan satu musim.”
Musim hujan bukan seluruh tahun.
Musim kemarau bukan seluruh bumi.
Malam bukan akhir cahaya.
Siang pun tidak menghentikan datangnya malam.
Demikian pula kehidupan manusia.
Ada fase.
Ada pergantian.
Ada pertumbuhan.
Ada penyusutan.
Ada permulaan.
Ada penyelesaian.
EMPAT MUSIM KEHIDUPAN
Qitab menggambarkan perjalanan manusia melalui empat musim simbolik.
Bukan ramalan.
Bukan pembagian nasib.
Tetapi cermin agar manusia mengenali keadaan dirinya.
MUSIM PERTAMA
مَوْسِمُ الْبَذْرِ
MAUSIM AL-BADZR
MUSIM MENANAM
Ini adalah masa ketika hasil belum terlihat.
Manusia belajar.
Membangun.
Menabung.
Mendidik.
Berlatih.
Mencari pengalaman.
Menyusun usaha.
Memperbaiki hubungan.
Menguatkan ibadah.
Pada musim ini, manusia sering merasa:
“Mengapa belum ada hasil?”
Padahal tugasnya memang belum memanen.
Tugasnya adalah menanam dengan benar.
Qitab berkata:
“Jangan meminta buah dari benih yang baru engkau tanam kemarin.”
Musim menanam membutuhkan:
kesabaran,
ketekunan,
disiplin,
dan kesediaan melakukan sesuatu yang belum langsung mendapat pujian.
MUSIM KEDUA
مَوْسِمُ النُّمُوِّ
MAUSIM AN-NUMUWW
MUSIM PERTUMBUHAN
Benih mulai hidup.
Tetapi belum menjadi pohon besar.
Ada tanda-tanda kemajuan.
Usaha mulai mempunyai pelanggan.
Ilmu mulai berguna.
Hubungan mulai membaik.
Tubuh mulai lebih terawat.
Kebiasaan baik mulai terbentuk.
Namun musim pertumbuhan adalah masa yang mudah rusak oleh ketergesa-gesaan.
Sebab manusia melihat hasil kecil lalu ingin memetik semuanya.
Qitab mengingatkan:
“Apa yang sedang tumbuh memerlukan penjagaan lebih daripada kebanggaan.”
Ketika sesuatu mulai berhasil,
jangan berhenti belajar.
Ketika rezeki bertambah,
jangan kehilangan adab.
Ketika nama mulai dikenal,
jangan kehilangan kerendahan hati.
Ketika hubungan membaik,
jangan mengulang luka lama.
Pertumbuhan harus dijaga.
MUSIM KETIGA
مَوْسِمُ الْحَصَادِ
MAUSIM AL-ḤAṢĀD
MUSIM MEMANEN
Ada masa ketika usaha mulai memberikan buah.
Keringat bertahun-tahun mulai terlihat hasilnya.
Doa yang lama dijaga bertemu dengan jalan yang terbuka.
Pekerjaan membuahkan kestabilan.
Anak yang dididik mulai menunjukkan kedewasaan.
Ilmu yang dipelajari mulai dapat memberi manfaat.
Tetapi musim panen juga mempunyai ujian.
Manusia dapat lupa kepada masa menanam.
Ia dapat menganggap hasil sebagai bukti bahwa dirinya sepenuhnya berkuasa.
Ia dapat boros karena merasa musim panen tidak akan berakhir.
Maka Qitab berkata:
“Ketika panen datang, simpan sebagian benih untuk musim berikutnya.”
Secara lahir:
jaga harta.
Jaga kesehatan.
Jaga hubungan.
Jaga ilmu.
Secara batin:
jaga syukur.
Jaga adab.
Jaga kerendahan hati.
Sebab panen bukan hanya waktu menikmati.
Ia juga waktu mempersiapkan keberlanjutan.
MUSIM KEEMPAT
مَوْسِمُ السُّكُونِ
MAUSIM AS-SUKŪN
MUSIM DIAM DAN PEMULIHAN
Tidak semua masa harus dipenuhi ekspansi.
Ada masa manusia perlu berhenti dari pertumbuhan besar.
Bukan menyerah.
Tetapi memulihkan.
Tanah yang terus dipaksa menghasilkan tanpa istirahat akan kehilangan kesuburan.
Tubuh yang terus dipaksa akan melemah.
Pikiran yang tidak pernah tenang akan kehilangan kejernihan.
Qolbi yang terus menerima tekanan akan membutuhkan ruang untuk kembali tertata.
Qitab berkata:
“Diam yang tepat bukan kemunduran. Kadang ia adalah cara kehidupan mengumpulkan tenaga.”
Pada musim ini:
tidurlah dengan cukup.
Kurangi perkara yang tidak perlu.
Selesaikan kewajiban satu per satu.
Jangan memaksa diri terlihat kuat setiap saat.
Jangan merasa bersalah karena membutuhkan jeda.
Tetapi ingat:
jeda berbeda dengan menyerah.
Pemulihan mempunyai tujuan:
agar manusia dapat kembali berdiri.
RAHASIA KEDUA
KESALAHAN MEMBACA MUSIM
Banyak kegelisahan lahir bukan karena keadaan itu sendiri,
tetapi karena manusia melakukan pekerjaan yang salah pada musim yang salah.
Ketika waktunya menanam,
ia menuntut panen.
Ketika waktunya menjaga pertumbuhan,
ia justru menghamburkan hasil.
Ketika waktunya beristirahat,
ia memaksa dirinya berlari.
Ketika waktunya bergerak,
ia terus berlindung di balik alasan “belum siap”.
Maka Qitab bertanya:
فِي أَيِّ مَوْسِمٍ أَنْتَ؟
FĪ AYYI MAUSIMIN ANTA?
“Pada musim apa engkau sedang berada?”
Pertanyaan itu tidak membutuhkan ramalan.
Lihat kenyataan hidupmu.
Apa yang sedang paling diperlukan?
Menanam?
Menjaga?
Memanen?
Atau memulihkan?
RAHASIA KETIGA
JANGAN IRI KEPADA MUSIM ORANG LAIN
Salah satu penderitaan zaman adalah ketika manusia membandingkan musimnya dengan musim orang lain.
Engkau sedang menanam,
tetapi melihat orang lain sedang memanen.
Lalu engkau berkata:
“Mengapa dia sudah sampai, sedangkan aku belum?”
Padahal engkau tidak melihat berapa lama ia menanam.
Atau mungkin jalannya memang berbeda.
Seseorang menikah pada usia tertentu.
Yang lain belum.
Seseorang berhasil dalam usaha.
Yang lain sedang mulai.
Seseorang mempunyai rumah.
Yang lain sedang melunasi hutang.
Seseorang terlihat sedang berada di puncak.
Tetapi mungkin ia sedang membawa beban yang tidak tampak.
Qitab berkata:
“Jangan mengukur perjalananmu dengan kalender kehidupan orang lain.”
Setiap manusia mempunyai tanggung jawab masing-masing.
Perbandingan yang berlebihan membuat manusia lupa mengurus ladangnya sendiri.
RODA HARI-HARI
Bayangkan sebuah roda besar.
Ketika roda berputar, titik yang berada di atas suatu saat turun.
Titik yang berada di bawah suatu saat naik.
Tetapi Qitab mengingatkan:
simbol roda bukan janji bahwa setiap kesulitan otomatis berubah menjadi kekayaan,
atau setiap orang yang berada di bawah pasti memperoleh keadaan tertentu.
Ia hanya mengajarkan:
keadaan dapat berubah.
Karena itu jangan sombong ketika berada di atas.
Dan jangan menganggap seluruh masa depan telah mati ketika berada di bawah.
QUNCI KEENAM SIRR AZ-ZAMĀN
JANGAN MEMBUAT KEPUTUSAN ABADI DARI KEADAAN SEMENTARA
Ketika sedih, manusia dapat mengambil keputusan terlalu keras.
Ketika marah, ia dapat memutus hubungan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.
Ketika berhasil, ia dapat mengambil beban terlalu besar karena merasa keberhasilan akan terus berlangsung.
Ketika takut, ia dapat menolak kesempatan yang sebenarnya baik.
Maka Qitab berkata:
“Keadaan yang berubah-ubah jangan selalu diberi kuasa membuat keputusan yang sulit dibalikkan.”
Tunggulah sampai qolbi lebih tenang.
Cari fakta.
Musyawarahkan.
Hitung kemampuan.
Kemudian putuskan.
TANDA MUSIM SEDANG BERGANTI
Pergantian musim kehidupan sering tidak datang dengan suara besar.
Kadang ia terlihat melalui tanda-tanda sederhana.
Sesuatu yang dahulu berjalan mudah mulai membutuhkan cara baru.
Kesempatan lama mulai berkurang.
Kemampuan baru mulai muncul.
Orang-orang baru mulai masuk dalam lingkaran kehidupan.
Prioritas berubah.
Tubuh meminta ritme berbeda.
Tanggung jawab bertambah.
Cara lama tidak lagi menghasilkan hasil yang sama.
Ketika itu terjadi, jangan langsung takut.
Tanyakan:
“Apakah hidup sedang meminta aku menyesuaikan cara berjalan?”
Qitab berkata:
“Kebijaksanaan bukan hanya keteguhan memegang sesuatu, tetapi juga kemampuan mengetahui kapan cara lama perlu diperbarui.”
MUSIM KEHILANGAN
Ada musim yang terasa kosong.
Seseorang kehilangan pekerjaan.
Hubungan selesai.
Usaha jatuh.
Anak meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Usia mengubah kekuatan tubuh.
Orang tercinta wafat.
Dalam keadaan demikian, jangan memaksa diri mengatakan:
“Semua baik-baik saja.”
Jika sakit, akuilah sakitnya.
Jika berduka, berilah tempat kepada duka.
Tetapi jangan pula berkata:
“Karena sesuatu telah hilang, maka tidak ada lagi yang tersisa.”
Selama hidup masih berlangsung,
masih ada amanah yang perlu dijalankan.
MUSIM KELAPANGAN
Sebaliknya, ketika pintu terbuka dan keadaan membaik,
Qitab mengajarkan tiga perkara:
SYUKUR
Jangan merasa semua terjadi karena kemampuan diri semata.
SIMPAN
Jangan habiskan seluruh hasil.
Baik harta, tenaga, maupun kesempatan.
BAGIKAN
Kebaikan yang hanya berhenti pada diri sendiri mudah berubah menjadi kesombongan.
Gunakan sebagian untuk memberi manfaat.
RAHASIA MALAM DAN SIANG
Qitab kemudian mengajak melihat pergantian paling dekat:
malam dan siang.
Malam tidak memusuhi siang.
Siang tidak menghina malam.
Keduanya menjalankan fungsi.
Malam memberi ruang untuk tenang.
Siang memberi ruang untuk bergerak.
Maka manusia pun tidak harus selalu berada dalam satu bentuk kekuatan.
Ada kekuatan dalam bergerak.
Ada kekuatan dalam diam.
Ada kekuatan dalam berkata.
Ada kekuatan dalam menahan kata.
Ada kekuatan dalam memulai.
Ada kekuatan dalam mengakhiri.
Ada kekuatan dalam mempertahankan.
Ada kekuatan dalam melepaskan.
Yang diperlukan adalah mengetahui:
mana yang tepat pada waktunya.
LATIHAN MEMBACA MUSIM
Tuliskan empat jawaban.
1. APA YANG SEDANG TUMBUH DALAM HIDUPKU?
Mungkin pekerjaan.
Ilmu.
Hubungan.
Ibadah.
Kesehatan.
Usaha.
2. APA YANG SEDANG MENURUN ATAU SELESAI?
Tidak semua yang selesai adalah kegagalan.
Ada sesuatu yang memang telah menyelesaikan fungsinya.
3. APA YANG HARUS KURAWAT?
Sesuatu yang berharga tidak cukup hanya ditemukan.
Ia harus dijaga.
4. APA YANG HARUS KUPERSIAPKAN?
Inilah pertanyaan masa depan yang sehat.
Bukan:
“Apa yang pasti akan terjadi?”
tetapi:
“Untuk kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal, apa yang dapat kupersiapkan sekarang?”
DZIKIR DALAM PERGANTIAN MUSIM
Ketika keadaan berubah dan qolbi membutuhkan keteguhan, bacalah perlahan:
يَا حَيُّ
Yā Ḥayyu
Wahai Yang Maha Hidup.
يَا قَيُّومُ
Yā Qayyūm
Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menegakkan segala sesuatu.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Kedamaian.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِي فِي تَقَلُّبِ أَيَّامِي، وَاهْدِنِي لِمَا يَنْبَغِي فِي كُلِّ حَالٍ، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي أَسِيرًا لِحَالٍ زَائِلٍ
Allāhumma bārik lī fī taqallubi ayyāmī, wahdinī limā yanbaghī fī kulli ḥālin, wa lā taj‘al qolbī asīran liḥālin zā’il.
Artinya:
Yā Alloh, berkahilah aku dalam pergantian hari-hariku, tuntunlah aku kepada apa yang tepat dalam setiap keadaan, dan jangan jadikan qolbiku tawanan keadaan yang akan berlalu.
TIGA ADAB KETIKA KEADAAN BERUBAH
KETIKA NAIK
Jangan merendahkan yang sedang berada di bawah.
Sebab engkau tidak mengetahui perjalanan hari esok.
KETIKA TURUN
Jangan kehilangan martabat dan harapan.
Nilai dirimu tidak hanya ditentukan oleh kedudukan, pekerjaan, harta, atau pujian manusia.
KETIKA BERPINDAH
Jangan terlalu lama menatap pintu yang tertutup hingga tidak melihat pintu lain yang perlu diperiksa.
RAHASIA YANG LEBIH DALAM
Qitab kemudian membuka satu kalimat:
لَا يَعُودُ الْيَوْمُ، وَلَكِنْ قَدْ تَعُودُ الدُّرُوسُ
LĀ YA‘ŪDUL-YAUMU, WALĀKIN QAD TA‘ŪDUD-DURŪS
“Hari yang sama tidak kembali, tetapi pelajaran yang serupa dapat datang kembali.”
Inilah perbedaan antara:
waktu yang berulang
dan
pola yang berulang.
Hari Selasa yang telah berlalu tidak kembali.
Usiamu kemarin tidak kembali.
Tetapi ujian tentang kesabaran dapat muncul lagi.
Ujian tentang kejujuran dapat datang lagi.
Ujian tentang batas diri dapat datang melalui orang berbeda.
Ujian tentang pengelolaan harta dapat datang pada keadaan lain.
Maka apabila pola tertentu muncul kembali, jangan buru-buru berkata:
“Waktu berputar kembali.”
Mungkin kehidupan hanya sedang memperlihatkan pelajaran yang belum selesai dipelajari.
GERBANG ENAM
LINGKARAN DAN GARIS
Di balik simbol roda, Qitab menunjukkan sebuah garis panjang.
Roda menggambarkan pola yang dapat berulang.
Garis menggambarkan bahwa umur tetap bergerak ke depan.
Manusia dapat menghadapi pelajaran serupa,
tetapi ia tidak pernah benar-benar kembali menjadi manusia yang sama.
Setiap hari menambahkan pengalaman.
Setiap pilihan meninggalkan bekas.
Setiap usia membawa tanggung jawab baru.
Maka Sirr Az-Zamān bukan ilmu untuk kembali ke masa lalu.
Ia adalah ilmu hikmah untuk:
mengenali pengulangan, tetapi tetap bergerak ke depan.
PENUTUP LEMBAR KEENAM
Ketahuilah:
tidak semua hari berwarna sama.
Dan memang tidak harus.
Ada hari untuk menanam.
Ada hari untuk merawat.
Ada hari untuk menikmati hasil.
Ada hari untuk memulihkan diri.
Ada hari untuk menangis.
Ada hari untuk tersenyum.
Ada hari untuk bertahan.
Ada hari untuk memulai kembali.
Jika engkau sedang berada pada musim sulit,
jangan menjadikan kesulitan sebagai ramalan sepanjang umur.
Jika engkau sedang berada dalam kelapangan,
jangan menjadikan kelapangan sebagai alasan melupakan kehati-hatian.
Qitab menutup lembar keenam dengan kalimat:
“Jangan takut hanya karena musim berubah.
Yang harus dijaga bukan agar seluruh hari tetap sama,
melainkan agar qolbi tetap mengenal arah ketika keadaan berubah.”
Kemudian pada ujung roda waktu muncul sebuah lorong panjang.
Di ujungnya terdapat banyak pintu.
Sebagian terbuka.
Sebagian tertutup.
Sebagian bahkan belum terlihat jelas.
Pada lorong itu tertulis:
أَبْوَابُ الِاحْتِمَالِ
ABWĀB AL-IḤTIMĀL
PINTU-PINTU KEMUNGKINAN
Di sanalah Qitab berikutnya akan membuka rahasia:
mengapa masa depan mempunyai banyak kemungkinan, bagaimana sebuah pilihan menutup sebagian jalan dan membuka jalan lainnya, serta bagaimana manusia mengambil keputusan tanpa mengaku mengetahui perkara yang belum terjadi.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KEENAM —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KETUJUH
أَبْوَابُ الِاحْتِمَالِ
ABWĀB AL-IḤTIMĀL
PINTU-PINTU KEMUNGKINAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah dibuka:
دَوَرَانُ الْأَيَّامِ
DAWARĀN AL-AYYĀM
bahwa kehidupan mempunyai musim.
Ada masa menanam.
Ada masa bertumbuh.
Ada masa memanen.
Ada masa diam dan memulihkan.
Dan telah diterangkan pula bahwa keadaan dapat berubah, tetapi manusia tetap berjalan maju dalam umur.
Sekarang Qitab membawa kita menuju sebuah lorong.
Di sepanjang lorong itu terdapat banyak pintu.
Ada pintu yang terbuka.
Ada pintu yang tertutup.
Ada pintu yang belum terlihat jelas.
Ada pintu yang tampak indah tetapi ternyata tidak sesuai.
Ada pintu yang dahulu diabaikan, tetapi kemudian menjadi jalan yang sangat berarti.
Qitab menamai lorong ini:
أَبْوَابُ الِاحْتِمَالِ
ABWĀB AL-IḤTIMĀL
Pintu-pintu kemungkinan.
Qitab berkata:
“Masa depan bukan halaman yang boleh dikarang sesuka manusia, tetapi manusia tetap diberi amanah untuk memilih langkah sebelum mengetahui seluruh hasilnya.”
Di sinilah keberanian hidup diuji.
Sebab manusia ingin kepastian.
Namun kehidupan sering memberi pilihan sebelum memberi jawaban.
RAHASIA PERTAMA
TIDAK SEMUA PINTU DAPAT DIMASUKI SEKALIGUS
Manusia sering ingin mempertahankan semua kemungkinan.
Ia ingin bekerja di sini,
tetapi tidak ingin melepas pilihan lain.
Ia ingin menjalani satu hubungan,
tetapi masih terus menoleh pada pintu lain.
Ia ingin memulai usaha,
tetapi ingin tetap memiliki seluruh jaminan bahwa tidak akan rugi.
Ia ingin memilih,
tetapi tidak ingin kehilangan apa pun.
Padahal sebuah pilihan selalu mempunyai harga.
Ketika engkau memilih satu jalan,
engkau sedang meninggalkan jalan yang lain—setidaknya untuk suatu masa.
Qitab berkata:
“Tidak memilih pun adalah sebuah pilihan, dan waktu tetap berjalan ketika manusia berdiri di depan pintu.”
Terlalu lama menunggu kepastian mutlak dapat membuat kesempatan berlalu.
Tetapi tergesa-gesa pun dapat membawa penyesalan.
Maka yang dibutuhkan bukan kepastian mutlak.
Yang dibutuhkan adalah:
kejernihan yang cukup untuk memilih dengan bertanggung jawab.
RAHASIA KEDUA
KEMUNGKINAN BUKAN KEPASTIAN
Qitab membedakan dua perkara:
اِحْتِمَال
IḤTIMĀL
Kemungkinan
dan
يَقِين
YAQĪN
Kepastian
Kesalahan manusia adalah mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Ia berkata:
“Kalau aku mengambil jalan ini, pasti berhasil.”
Atau:
“Kalau aku gagal sekali, pasti akan gagal lagi.”
Atau:
“Kalau dia terlambat membalas, pasti dia sudah tidak peduli.”
Padahal belum tentu.
Maka Qitab berkata:
“Jangan mengenakan pakaian kepastian kepada sesuatu yang masih berupa kemungkinan.”
Kemungkinan boleh dipertimbangkan.
Risiko boleh dihitung.
Tanda boleh diamati.
Tetapi yang belum terjadi tetap berada di balik tabir.
Dan tabir itu harus dihormati.
TIGA MACAM PINTU
Qitab membagi pintu kemungkinan menjadi tiga.
PINTU PERTAMA
بَابٌ ظَاهِرٌ
BĀBUN ẒĀHIR
PINTU YANG JELAS
Ini adalah pilihan yang kenyataannya dapat diperiksa.
Contohnya:
pekerjaan yang benar-benar ditawarkan,
usaha yang modal dan risikonya dapat dihitung,
tempat tinggal yang benar-benar tersedia,
hubungan yang telah menunjukkan perilaku nyata,
pengobatan yang mempunyai dasar dan pemeriksaan jelas.
Pada pintu seperti ini, Qitab berkata:
lihat kenyataan sebelum mendengar ketakutan.
Periksa.
Tanyakan.
Hitung.
Pelajari.
Musyawarahkan.
Jangan hanya menggunakan firasat untuk perkara yang faktanya sebenarnya dapat diperiksa.
PINTU KEDUA
بَابٌ مُحْتَمَلٌ
BĀBUN MUḤTAMAL
PINTU YANG MUNGKIN
Ada tanda.
Ada peluang.
Tetapi belum pasti.
Misalnya seseorang sedang menunggu panggilan pekerjaan.
Lamaran telah masuk.
Proses berjalan.
Namun keputusan belum keluar.
Di sini manusia tidak boleh bertindak seakan-akan hasil telah pasti.
Tetapi juga tidak perlu bersikap seakan-akan peluang itu tidak ada.
Qitab mengajarkan:
sediakan rencana utama dan rencana cadangan.
Sebab tawakkal tidak melarang kesiapan.
PINTU KETIGA
بَابٌ مَوْهُومٌ
BĀBUN MAUHŪM
PINTU YANG HANYA DIBENTUK OLEH DUGAAN
Ini adalah pintu yang bahkan belum mempunyai kenyataan cukup.
Ia tumbuh karena:
ketakutan,
prasangka,
harapan berlebihan,
atau khayalan.
Contoh:
“Pasti semua orang sedang membicarakanku.”
“Pasti akan terjadi musibah.”
“Pasti orang itu adalah jawaban takdirku.”
“Pasti rezeki akan datang dari arah ini.”
Padahal bukti tidak ada.
Maka Qitab berkata:
“Jangan membangun rumah kehidupan di atas pintu yang hanya ada dalam dugaan.”
RAHASIA KETIGA
SATU PILIHAN MELAHIRKAN RANTAI
Satu keputusan jarang berhenti pada dirinya sendiri.
Engkau memilih sebuah pekerjaan.
Lalu pekerjaan itu menentukan lingkungan.
Lingkungan memengaruhi kebiasaan.
Kebiasaan memengaruhi kesehatan dan pikiran.
Pendapatan memengaruhi pilihan berikutnya.
Waktu kerja memengaruhi keluarga.
Maka satu pintu dapat melahirkan banyak pintu.
Qitab menamai ini:
سِلْسِلَةُ الْأَثَرِ
SILSILAT AL-ATSAR
RANTAI AKIBAT
Karena itu, ketika memilih jangan hanya bertanya:
“Apa yang akan kudapat?”
Tanyakan pula:
“Jika aku masuk ke pintu ini, kehidupan macam apa yang perlahan akan terbentuk?”
Itulah pertanyaan yang lebih dalam.
TUJUH PERTIMBANGAN SEBELUM MEMBUKA PINTU
Qitab memberikan tujuh pertanyaan.
١. APA KENYATAANNYA?
Pisahkan fakta dari prasangka.
٢. APA RISIKONYA?
Jangan hanya melihat manfaat.
٣. APA YANG HARUS KUKORBANKAN?
Waktu?
Tenaga?
Harta?
Hubungan?
Ketenangan?
٤. APAKAH AKU SIAP MENANGGUNG AKIBATNYA?
Pilihan yang matang menerima bahwa setiap jalan mempunyai konsekuensi.
٥. APAKAH PILIHAN INI SESUAI DENGAN NILAI YANG KUJAGA?
Rezeki besar tidak selalu berarti pintu yang baik jika cara memperolehnya merusak amanah.
٦. APA YANG TERJADI JIKA AKU TIDAK MEMILIHNYA?
Kadang manusia takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
٧. APA LANGKAH KECIL YANG DAPAT KUUJI SEBELUM BERKOMITMEN BESAR?
Tidak semua keputusan harus langsung sebesar mungkin.
Kadang satu langkah percobaan memberi banyak jawaban.
QUNCI KETUJUH SIRR AZ-ZAMĀN
UJI PINTU SEBELUM MENYERAHKAN SELURUH HIDUP
Jika pintu itu dapat diuji,
ujilah.
Jika pekerjaan baru ditawarkan,
pelajari kontraknya.
Jika usaha baru hendak dibuka,
mulai dari skala yang masuk akal.
Jika hubungan hendak dibangun,
lihat konsistensi, bukan hanya kata-kata.
Jika keputusan besar menyangkut keluarga,
musyawarahkan.
Qitab berkata:
“Hikmah bukan hanya keberanian membuka pintu, tetapi juga kecerdasan memeriksa apa yang berada di baliknya.”
RAHASIA PINTU YANG TERTUTUP
Tidak semua pintu tertutup adalah hukuman.
Ada pintu tertutup karena kita datang pada waktu yang salah.
Ada yang tertutup karena syarat belum terpenuhi.
Ada yang tertutup karena orang lain mempunyai hak untuk berkata tidak.
Ada pula yang tertutup karena memang bukan jalan yang dapat diteruskan.
Kesalahan manusia adalah memaksa semua pintu.
Ia menggedor.
Menendang.
Menghabiskan seluruh tenaga.
Padahal beberapa pintu memang meminta manusia berpindah.
Qitab berkata:
“Tidak setiap keteguhan adalah istiqomah; kadang keras kepala hanya membuat manusia terlambat melihat pintu lain.”
Namun jangan pula terlalu cepat menyerah.
Bedakan:
pintu yang perlu diketuk lagi
dan
pintu yang sudah berkali-kali memberi kenyataan bahwa jalannya harus ditinggalkan.
EMPAT TANDA PINTU PERLU DIEVALUASI
PERTAMA
Biayanya terus membesar, tetapi tidak ada kemajuan yang masuk akal.
KEDUA
Pintu itu menuntutmu mengkhianati nilai yang seharusnya dijaga.
KETIGA
Semua bukti nyata menunjukkan arah buruk, tetapi engkau tetap bertahan hanya karena takut kehilangan.
KEEMPAT
Engkau tidak lagi mengejar kebaikan, tetapi hanya ingin membuktikan bahwa pilihanmu dahulu tidak salah.
Di sinilah ego dapat menyamar sebagai kesetiaan.
PINTU YANG TERBUKA TERLALU MUDAH
Qitab juga memperingatkan:
tidak semua kemudahan otomatis berarti pilihan terbaik.
Sesuatu dapat mudah karena memang cocok.
Tetapi sesuatu juga dapat mudah karena kita belum melihat konsekuensinya.
Maka jangan menilai pintu hanya dari:
mudah atau sulit.
Nilai juga dari:
benar atau salah, sehat atau merusak, amanah atau tidak, masuk akal atau tidak.
Qitab berkata:
“Kesulitan tidak selalu tanda penolakan, dan kemudahan tidak selalu tanda pembenaran.”
PINTU YANG DATANG TIBA-TIBA
Kadang hidup menghadirkan sesuatu yang tidak direncanakan.
Pertemuan.
Tawaran.
Perubahan pekerjaan.
Perpindahan.
Tanggung jawab.
Kehilangan.
Jangan buru-buru memberi label:
“Ini pasti pertanda.”
Periksa terlebih dahulu apa yang benar-benar ada.
Karena sesuatu dapat bermakna tanpa harus dijadikan ramalan.
Qitab mengajarkan adab:
syukuri pertemuan baik, tetapi jangan memaksa seluruh kebetulan menjadi pesan gaib.
PINTU RASA TAKUT
Ada pintu yang baik,
tetapi manusia takut membukanya.
Bukan karena pintu itu buruk.
Tetapi karena ia membawa sesuatu yang baru.
Qitab berkata:
“Takut bukan selalu tanda untuk berhenti. Kadang takut hanya berarti engkau sedang meninggalkan wilayah yang dikenal.”
Maka periksa ketakutanmu.
Apakah ketakutan berasal dari bahaya nyata?
Atau hanya berasal dari ketidakbiasaan?
Jika bahaya nyata,
jaga diri.
Jika hanya ketidakbiasaan,
mungkin yang dibutuhkan adalah langkah kecil dan persiapan.
PINTU PENYESALAN
Setelah memilih, manusia kadang melihat pintu lain lalu berkata:
“Seandainya aku memilih itu.”
Qitab mengingatkan:
manusia sering membandingkan kenyataan jalan yang dijalani dengan fantasi terbaik dari jalan yang tidak dipilih.
Itu perbandingan yang tidak adil.
Engkau mengetahui masalah dari jalanmu.
Tetapi engkau tidak mengetahui masalah dari jalan yang tidak kaujalani.
Maka Qitab berkata:
“Jangan bandingkan kenyataanmu dengan khayalan sempurna tentang hidup yang tidak pernah terjadi.”
Jika pilihanmu salah,
perbaiki.
Jika masih dapat berbelok,
berbeloklah.
Tetapi jangan menghukum diri dengan dunia alternatif yang hanya ada dalam pikiran.
LORONG TAKDIR DAN IKHTIAR
Pada titik ini Qitab mengingatkan lembar ketiga.
Manusia memilih.
Tetapi manusia tidak menguasai seluruh akibat.
Ia dapat membuka pintu.
Namun apa yang ditemukan setelah itu dapat berbeda dari perkiraan.
Maka pilihan terbaik bukan pilihan yang dijamin tanpa risiko.
Sebab itu hampir tidak ada.
Pilihan terbaik adalah yang dibuat dengan:
ilmu yang cukup,
niat yang baik,
pertimbangan yang sehat,
musyawarah,
doa,
dan kesiapan memperbaiki bila ternyata keliru.
ISTIKHĀRAH DAN ADAB MEMILIH
Ketika seorang Muslim berada dalam perkara mubah yang membingungkan, ia dapat melakukan istikhārah.
Istikhārah bukan cara memaksa munculnya mimpi.
Bukan pula kewajiban menunggu tanda warna, suara, atau kejadian aneh.
Ia adalah doa memohon agar Alloh memudahkan yang baik dan menjauhkan yang buruk.
Sesudahnya manusia tetap:
menimbang,
memeriksa,
bermusyawarah,
dan mengambil keputusan.
Qitab berkata:
“Doa tidak menghapus akal. Akal tidak menghapus doa. Keduanya dapat berjalan bersama dalam adab seorang hamba.”
LATIHAN TIGA PINTU
Jika engkau sedang menghadapi pilihan, buat tiga bagian.
PINTU A
Tuliskan:
manfaat,
risiko,
biaya,
konsekuensi,
dan apa yang belum diketahui.
PINTU B
Lakukan hal yang sama.
PINTU C
Tuliskan kemungkinan bila untuk sementara engkau tidak memilih keduanya.
Kadang manusia lupa bahwa:
menunda secara sadar untuk mengumpulkan informasi
berbeda dengan
menunda karena takut.
TIMBANGAN LIMA BATU
Bayangkan sebuah timbangan dengan lima batu.
BATU PERTAMA — NILAI
Apakah ini benar dan baik menurut prinsip yang kujaga?
BATU KEDUA — KENYATAAN
Apa buktinya?
BATU KETIGA — KEMAMPUAN
Apakah aku mempunyai tenaga, waktu, dan sumber daya yang cukup?
BATU KEEMPAT — AKIBAT
Siapa yang ikut terdampak?
BATU KELIMA — KETENANGAN SETELAH BERPIKIR
Bukan rasa nyaman sesaat.
Tetapi ketenangan setelah fakta dipertimbangkan dengan matang.
Jika kelima batu itu mulai seimbang,
maka keputusan menjadi lebih jernih.
DZIKIR DI HADAPAN PILIHAN
Ketika berada dalam kebingungan, bacalah perlahan:
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
يَا فَتَّاحُ
Yā Fattāḥ
Wahai Yang Maha Membukakan.
يَا عَلِيمُ
Yā ‘Alīm
Wahai Yang Maha Mengetahui.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنِي اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنِي الْخَطَأَ خَطَأً وَارْزُقْنِي اجْتِنَابَهُ، وَاهْدِنِي إِلَى أَحْسَنِ الْخِيَارَاتِ
Allāhumma arinil-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnittibā‘ahu, wa arinil-khaṭa’a khaṭa’an warzuqnijtīnَābahu, wahdinī ilā aḥsanil-khiyārāt.
Artinya:
Yā Alloh, perlihatkanlah kepadaku yang benar sebagai kebenaran dan karuniakan aku kemampuan untuk mengikutinya; perlihatkan kepadaku yang salah sebagai kesalahan dan karuniakan aku kemampuan untuk menjauhinya; serta tuntunlah aku kepada pilihan yang terbaik.
RAHASIA KETIKA PILIHAN TELAH DIBUAT
Setelah memilih,
jangan terus-menerus membuka pintu yang telah ditutup oleh keputusanmu sendiri.
Ada waktunya mengevaluasi.
Tetapi ada pula waktunya menjalani.
Jika setiap hari manusia membatalkan pilihannya di dalam pikiran,
ia tidak akan pernah hadir penuh pada jalan yang dipilih.
Qitab berkata:
“Setelah memilih dengan matang, berilah keputusanmu kesempatan untuk menunjukkan buahnya.”
Namun bila kenyataan baru muncul dan menunjukkan kesalahan besar,
jangan takut mengoreksi arah.
Mengubah keputusan berdasarkan ilmu baru bukan selalu tanda kelemahan.
Kadang itu justru bentuk kedewasaan.
PINTU YANG TIDAK BOLEH DIBUKA
Tidak semua kemungkinan layak dicoba.
Ada pintu yang secara jelas membawa kepada kerusakan.
Kezaliman.
Penipuan.
Pengkhianatan.
Eksploitasi.
Perbuatan yang melukai diri atau orang lain.
Pada pintu semacam ini tidak diperlukan keberanian untuk mencoba.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berkata:
“Tidak.”
Qitab berkata:
“Kebebasan memilih bukan alasan untuk mencoba setiap pintu.”
RAHASIA MASA DEPAN
Masa depan tersembunyi bukan agar manusia hidup dalam ketakutan.
Justru karena masa depan tidak diketahui, manusia belajar:
berdoa,
berencana,
bersiap,
dan rendah hati.
Jika seluruh masa depan terlihat jelas, banyak sifat manusia tidak akan pernah teruji.
Kesabaran tidak memiliki tempat.
Tawakkal kehilangan makna.
Keberanian kehilangan ruang.
Harapan tidak lagi diperlukan.
Maka sebagian tabir adalah bagian dari pendidikan qolbi.
GERBANG KETUJUH
SATU PINTU, SERIBU AKIBAT
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besar.
Pada pintu itu tidak tertulis nama tempat.
Hanya ada satu kalimat:
كُلُّ خِيَارٍ بَذْرَةٌ
KULLU KHIYĀRIN BADZRAH
“Setiap pilihan adalah benih.”
Sebab setelah pilihan dibuat,
waktu mulai bekerja.
Satu pilihan kecil hari ini dapat menjadi kebiasaan.
Kebiasaan menjadi karakter.
Karakter memengaruhi arah.
Arah bertemu waktu.
Dan waktu membesarkan akibat.
Di sinilah seluruh lembar sebelumnya kembali bertemu.
PENUTUP LEMBAR KETUJUH
Ketahuilah:
hidup tidak selalu memberikan jalan dengan papan penunjuk yang sempurna.
Kadang manusia harus memilih dengan informasi yang terbatas.
Tetapi keterbatasan bukan alasan untuk sembarangan.
Periksa apa yang dapat diperiksa.
Hitung apa yang dapat dihitung.
Musyawarahkan apa yang perlu dimusyawarahkan.
Berdoalah.
Kemudian pilih.
Setelah itu,
jangan menghabiskan seluruh umur menyesali pintu yang tidak dimasuki.
Jalani amanah yang berada di depanmu.
Jika jalan baik,
jagalah.
Jika jalan salah,
perbaikilah.
Jika harus kembali,
kembalilah dengan ilmu.
Jika harus berbelok,
berbeloklah tanpa malu.
Karena Qitab berkata:
“Kebijaksanaan bukan mengetahui seluruh masa depan sebelum melangkah. Kebijaksanaan adalah melangkah sebaik mungkin tanpa mengaku mengetahui apa yang hanya diketahui Alloh.”
Kemudian Qitab menuliskan satu kalimat di ambang pintu:
خُذْ بِالْأَسْبَابِ وَلَا تَدَّعِ عِلْمَ الْغَيْبِ
KHUDZ BIL-ASBĀBI WA LĀ TADDA‘I ‘ILMAL-GHAIB
“Tempuhlah sebab-sebab, tetapi jangan mengaku mengetahui perkara gaib.”
Di balik pintu ketujuh terlihat sebuah bayangan panjang.
Bayangan itu mengikuti manusia yang sedang berjalan.
Kadang berada di belakang.
Kadang berada di depan.
Kadang memanjang.
Kadang memendek.
Pada tanah di bawahnya tertulis:
ظِلُّ الْمُسْتَقْبَلِ
ẒILL AL-MUSTAQBAL
BAYANG-BAYANG MASA DEPAN
Di sanalah lembar berikutnya akan membuka:
bagaimana ketakutan terhadap masa depan terbentuk, mengapa manusia sering menderita karena sesuatu yang belum terjadi, bagaimana membedakan kewaspadaan dengan kecemasan, dan bagaimana menjaga qolbi agar mampu mempersiapkan hari esok tanpa hidup sebagai tawanan hari esok.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KETUJUH —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KEDELAPAN
ظِلُّ الْمُسْتَقْبَلِ
ẒILL AL-MUSTAQBAL
BAYANG-BAYANG MASA DEPAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah dibuka:
أَبْوَابُ الِاحْتِمَالِ
ABWĀB AL-IḤTIMĀL
pintu-pintu kemungkinan.
Bahwa manusia harus memilih tanpa mengetahui seluruh hasil.
Bahwa kemungkinan bukan kepastian.
Bahwa ikhtiar harus berjalan bersama doa, ilmu, musyawarah, dan kerendahan hati.
Sekarang Qitab membuka satu rahasia yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Sesuatu yang belum terjadi,
tetapi kadang telah membuat dada sesak.
Sesuatu yang belum datang,
tetapi kadang telah merampas tidur.
Sesuatu yang bahkan mungkin tidak pernah terjadi,
tetapi telah terasa nyata di dalam pikiran.
Qitab menamainya:
ظِلُّ الْمُسْتَقْبَلِ
ẒILL AL-MUSTAQBAL
Bayang-bayang masa depan.
Qitab berkata:
“Manusia terkadang tidak terluka oleh hari esok, tetapi oleh bayangan yang dibuat pikirannya tentang hari esok.”
Hari esok belum datang.
Namun qolbi sudah takut.
Belum ada kehilangan.
Tetapi manusia telah berduka.
Belum ada kegagalan.
Tetapi dirinya telah merasa kalah.
Belum ada penolakan.
Tetapi ia telah merasa ditinggalkan.
Di sinilah Sirr Az-Zamān mengajarkan:
jangan menyamakan bayangan dengan kenyataan.
RAHASIA PERTAMA
BAYANGAN SELALU MEMBESAR KETIKA CAHAYA DATANG DARI ARAH TERTENTU
Perhatikan bayangan tubuh.
Kadang pendek.
Kadang panjang.
Bentuk tubuh tetap sama.
Tetapi sudut cahaya membuat bayangannya berubah.
Demikian pula ketakutan.
Satu masalah kecil dapat terasa sangat besar ketika pikiran sedang lelah.
Satu ketidakpastian dapat terasa seperti kehancuran ketika qolbi sedang terluka.
Satu keterlambatan dapat terasa seperti penolakan ketika manusia sedang sangat berharap.
Karena itu Qitab berkata:
“Besarnya rasa takut tidak selalu sama dengan besarnya bahaya.”
Ada rasa takut yang memang memperingatkan.
Tetapi ada rasa takut yang membesarkan sesuatu melampaui kenyataannya.
Maka manusia harus belajar membedakan keduanya.
DUA WAJAH KETAKUTAN
WAJAH PERTAMA
خَوْفٌ يُنَبِّهُ
KHAUFUN YUNABBIHU
KETAKUTAN YANG MEMPERINGATKAN
Ini adalah rasa takut yang membuat manusia lebih berhati-hati.
Takut kehilangan pekerjaan membuatnya menyiapkan cadangan.
Takut sakit membuatnya memeriksa kesehatan.
Takut hutang bertambah membuatnya menata pengeluaran.
Takut hubungan rusak membuatnya memperbaiki komunikasi.
Ketakutan seperti ini menghasilkan tindakan yang sehat.
Ia berkata:
“Ada risiko. Apa yang dapat kupersiapkan?”
Qitab tidak memusuhi ketakutan semacam ini.
Sebab kewaspadaan adalah bagian dari hikmah.
WAJAH KEDUA
خَوْفٌ يَسْجُنُ
KHAUFUN YASJUNU
KETAKUTAN YANG MEMENJARAKAN
Ini berbeda.
Ia tidak lagi membantu manusia mempersiapkan diri.
Ia justru membuat manusia berputar pada kemungkinan buruk tanpa akhir.
“Apa kalau gagal?”
“Apa kalau ditinggalkan?”
“Apa kalau sakit?”
“Apa kalau semuanya hancur?”
Setelah satu pertanyaan dijawab,
muncul sepuluh pertanyaan baru.
Tidak ada ujung.
Qitab berkata:
“Kewaspadaan mencari langkah. Kecemasan yang tidak terkendali mencari kepastian yang tidak mungkin diberikan oleh dunia.”
QUNCI PERTAMA BAYANG-BAYANG MASA DEPAN
TANYAKAN: “APA YANG BENAR-BENAR TERJADI SEKARANG?”
Ketika pikiran berlari terlalu jauh ke depan,
kembalikan kepada kenyataan.
Tanyakan:
Apa yang benar-benar terjadi sekarang?
Bukan:
“Bagaimana kalau bulan depan aku kehilangan semuanya?”
Tetapi:
“Apakah hari ini aku masih mempunyai pekerjaan?”
Bukan:
“Bagaimana kalau hubungan ini berakhir?”
Tetapi:
“Apa kenyataan hubungan kami hari ini?”
Bukan:
“Bagaimana kalau penyakitku semakin berat?”
Tetapi:
“Apa hasil pemeriksaan yang sebenarnya? Apa yang dapat kulakukan sekarang?”
Qitab berkata:
“Hari esok boleh dipersiapkan, tetapi hari ini harus tetap dihuni.”
Jangan meninggalkan hari ini hanya karena pikiran sedang berkelana menuju hari esok.
TIGA LAPIS KEKHAWATIRAN
Qitab membagi kekhawatiran menjadi tiga.
LAPIS PERTAMA
خَطَرٌ حَاضِرٌ
KHAṬARUN ḤĀḌIR
RISIKO YANG NYATA SAAT INI
Contohnya:
tagihan telah jatuh tempo,
tubuh menunjukkan gejala yang perlu diperiksa,
pekerjaan resmi akan berakhir,
hubungan sedang mengalami konflik nyata.
Pada lapis ini diperlukan tindakan.
Bukan hanya ketenangan.
LAPIS KEDUA
خَطَرٌ مُحْتَمَلٌ
KHAṬARUN MUḤTAMAL
RISIKO YANG MUNGKIN TERJADI
Ada kemungkinan,
tetapi belum pasti.
Contohnya:
perusahaan mungkin mengurangi pekerja,
usaha mungkin mengalami penurunan,
perubahan cuaca mungkin mengganggu perjalanan.
Di sini diperlukan:
rencana cadangan,
tabungan jika mampu,
informasi,
dan kesiapan.
LAPIS KETIGA
خَطَرٌ مُتَوَهَّمٌ
KHAṬARUN MUTAWAHHAM
BAHAYA YANG DIBENTUK OLEH DUGAAN
Tidak ada bukti cukup.
Namun pikiran membentuk cerita lengkap.
Seseorang belum membalas pesan,
lalu pikiran berkata:
“Dia sudah membenciku.”
Atasan memanggil,
lalu pikiran berkata:
“Aku pasti dipecat.”
Tubuh terasa berbeda sedikit,
lalu pikiran langsung membayangkan penyakit paling berat.
Qitab berkata:
“Jangan memberikan hukuman kepada hari esok berdasarkan bukti yang belum ada.”
EMPAT PERTANYAAN UNTUK MEMBEDAKAN FAKTA DAN BAYANGAN
Ketika hati takut, tanyakan:
١. APA FAKTANYA?
Tuliskan hanya apa yang benar-benar diketahui.
٢. APA DUGAANKU?
Pisahkan apa yang hanya diperkirakan.
٣. APA KEMUNGKINAN LAIN?
Jangan biarkan pikiran hanya membangun satu skenario terburuk.
٤. APA YANG DAPAT KULAKUKAN SEKARANG?
Di sinilah kekuatan kembali kepada tanganmu.
RAHASIA KEDUA
PIKIRAN INGIN MENYELESAIKAN HARI ESOK PADA HARI INI
Manusia sering berkata:
“Aku baru tenang kalau sudah tahu hasilnya.”
Tetapi banyak hasil memang belum dapat diketahui.
Maka bila ketenangan bergantung kepada pengetahuan tentang seluruh masa depan,
manusia tidak akan pernah benar-benar tenang.
Qitab berkata:
“Ketenangan bukan selalu datang karena masa depan telah diketahui. Kadang ketenangan datang ketika manusia menerima bahwa sebagian masa depan memang belum dapat diketahui.”
Di sinilah tawakkal mempunyai tempat.
Bukan karena manusia berhenti berpikir.
Tetapi karena ia mengetahui batas pikiran.
MENGAPA PIKIRAN SELALU MENUJU SKENARIO BURUK?
Karena pikiran mempunyai tugas menjaga manusia dari bahaya.
Ia mencoba memprediksi.
Ia mencari pola.
Ia mengingat pengalaman buruk.
Namun ketika tugas itu tidak teratur,
ia dapat menciptakan terlalu banyak peringatan.
Seperti penjaga yang membunyikan lonceng setiap kali daun bergerak.
Akhirnya manusia lelah.
Maka Qitab mengajarkan:
jangan memusuhi pikiranmu.
Didiklah.
Berilah fakta.
Berilah batas.
Berilah waktu istirahat.
BAYANGAN DARI MASA LALU
Sebagian ketakutan tentang masa depan sebenarnya berasal dari kemarin.
Pernah ditinggalkan,
maka takut setiap hubungan akan berakhir.
Pernah kehilangan pekerjaan,
maka setiap perubahan kecil di tempat kerja terasa seperti ancaman.
Pernah sakit berat,
maka setiap sensasi tubuh menimbulkan ketakutan.
Pernah dikhianati,
maka ketenangan pun terasa mencurigakan.
Inilah saat lembar kedelapan bertemu dengan lembar keempat.
Simpul masa lalu dapat memproyeksikan bayangan ke masa depan.
Qitab berkata:
“Kadang yang engkau takutkan bukan hari esok. Engkau hanya takut kemarin datang kembali dengan pakaian baru.”
QUNCI KEDUA BAYANG-BAYANG MASA DEPAN
BEDAKAN PERSIAPAN DAN PENDERITAAN
Persiapan berkata:
“Aku mungkin menghadapi kesulitan, maka aku menyiapkan langkah.”
Penderitaan sebelum waktunya berkata:
“Kesulitan itu pasti terjadi, dan aku mulai hancur sekarang.”
Perbedaannya besar.
Jika engkau khawatir kehilangan pekerjaan:
perbarui kemampuan,
susun CV,
cari informasi,
jaga tabungan bila mampu.
Itu persiapan.
Tetapi jika setiap malam membayangkan dirimu jatuh miskin padahal belum ada kepastian,
itu bukan lagi persiapan.
Engkau sedang membayar rasa sakit untuk kejadian yang belum tentu terjadi.
Qitab berkata:
“Jangan membayar hutang penderitaan kepada hari yang belum datang.”
BAYANGAN REZEKI
Ketakutan tentang rezeki adalah salah satu bayangan paling besar.
Manusia bertanya:
“Besok makan apa?”
“Bagaimana biaya sekolah?”
“Bagaimana hutang?”
“Bagaimana bila usaha sepi?”
Pertanyaan ini nyata.
Maka jangan menjawabnya hanya dengan:
“Tenang saja.”
Ketenangan harus ditemani tindakan.
Hitung pemasukan.
Hitung pengeluaran.
Bedakan kebutuhan dan keinginan.
Bicarakan hutang secara jujur.
Cari sumber pendapatan yang halal.
Jangan malu meminta nasihat.
Tetapi setelah bagian ikhtiar dilakukan,
jangan biarkan qolbi terus dibakar oleh perkara yang berada di luar kuasa.
BAYANGAN KEHILANGAN
Mencintai membuat manusia mempunyai sesuatu yang ia takut kehilangan.
Keluarga.
Pasangan.
Orang tua.
Anak.
Sahabat.
Kesehatan.
Rumah.
Kedudukan.
Namun apabila rasa takut kehilangan terlalu kuat,
manusia dapat berhenti menikmati apa yang masih dimiliki.
Qitab berkata:
“Jangan kehilangan hari ini hanya karena engkau takut kehilangan sesuatu pada hari esok.”
Peluk orang yang engkau cintai hari ini.
Berbuat baik hari ini.
Sampaikan terima kasih hari ini.
Selesaikan pertengkaran bila mampu.
Karena ketakutan tidak memperpanjang umur kebersamaan.
Tetapi kasih sayang dapat memperindah waktu yang ada.
BAYANGAN PENYAKIT
Tubuh berubah dari waktu ke waktu.
Ada gejala yang perlu diperiksa.
Di sinilah Qitab memberikan adab yang jelas:
jika ada keluhan kesehatan yang menetap atau mengkhawatirkan, carilah pemeriksaan tenaga kesehatan.
Doa boleh berjalan.
Dzikir boleh berjalan.
Tetapi keduanya tidak menggantikan pemeriksaan yang memang dibutuhkan.
Qitab berkata:
“Menjaga tubuh termasuk amanah; jangan mengganti pengetahuan yang dapat diperiksa dengan dugaan.”
BAYANGAN KEMATIAN
Ada satu kepastian yang tidak dapat ditolak manusia:
setiap kehidupan dunia mempunyai batas.
Tetapi waktu batas itu tidak berada dalam pengetahuan biasa manusia.
Maka kesadaran akan kematian seharusnya tidak membuat manusia berhenti hidup.
Justru ia membuat hari menjadi berharga.
Minta maaf sebelum terlambat.
Berbuat baik sebelum tenaga berkurang.
Gunakan waktu sebelum berlalu.
Qitab berkata:
“Mengingat akhir bukan berarti menolak kehidupan. Ia mengajarkan agar kehidupan tidak disia-siakan.”
RAHASIA KETIGA
BAYANGAN TIDAK DAPAT MELUKAI TANPA TUBUH YANG MENGIKUTINYA
Jika engkau melihat bayangan di tanah,
engkau tidak perlu berkelahi dengan bayangan.
Engkau cukup memperhatikan apa yang membuatnya terbentuk.
Demikian pula kecemasan.
Jangan hanya berkata:
“Aku tidak boleh takut.”
Cari sumbernya.
Kurang informasi?
Kurang persiapan?
Luka lama?
Tubuh kelelahan?
Masalah nyata yang ditunda?
Kurang tidur?
Tekanan terlalu besar?
Dengan mengenali sumber,
bayangan mulai memperoleh ukuran sebenarnya.
QUNCI KETIGA BAYANG-BAYANG MASA DEPAN
WAKTU KHUSUS UNTUK MEMIKIRKAN MASALAH
Jika pikiran terus mengulang satu kekhawatiran sepanjang hari,
berilah batas.
Tentukan waktu untuk duduk dan memikirkan masalah secara serius.
Misalnya:
tulis masalahnya,
tulis pilihan,
tulis langkah.
Setelah selesai,
kembalilah kepada tugas hari itu.
Qitab berkata:
“Masalah harus diberi tempat, tetapi tidak harus diberi seluruh rumah.”
LIMA JANGKAR HARI INI
Ketika pikiran terlalu jauh menuju hari esok, kembalilah kepada lima jangkar.
JANGKAR PERTAMA
NAFAS
Sadari bahwa engkau berada di sini.
Tidak perlu dibuat menjadi ritual rumit.
Tarik nafas perlahan.
Buang perlahan.
JANGKAR KEDUA
TUBUH
Apakah tubuhmu lapar?
Haus?
Kurang tidur?
Tegang?
Kadang ketakutan membesar karena tubuh sudah terlalu lelah.
JANGKAR KETIGA
FAKTA
Apa yang benar-benar diketahui?
JANGKAR KEEMPAT
AMANAH
Apa satu tugas yang harus diselesaikan hari ini?
JANGKAR KELIMA
DOA
Serahkan perkara yang tidak mampu engkau pegang.
RAHASIA TENTANG “PERTANDA”
Ketika manusia sangat cemas tentang masa depan,
ia mudah melihat setiap kejadian sebagai tanda.
Nomor tertentu.
Mimpi.
Suara.
Burung.
Jam.
Pertemuan.
Kebetulan.
Qitab mengingatkan:
“Jangan membiarkan kecemasan mengubah segala sesuatu menjadi ramalan.”
Mimpi dapat direnungkan.
Perasaan dapat diperhatikan.
Tetapi keputusan besar sebaiknya tidak dibangun hanya di atas tafsir pertanda yang tidak pasti.
Periksa kenyataan.
Gunakan akal.
Musyawarahkan.
Berdoalah.
Sebab ketenangan tidak membutuhkan kepastian palsu.
BAYANGAN YANG DATANG PADA MALAM HARI
Malam sering membuat kekhawatiran terasa lebih besar.
Suasana sunyi.
Tubuh lelah.
Tidak banyak aktivitas untuk mengalihkan pikiran.
Maka masalah yang siang hari terasa kecil dapat menjadi besar.
Jika itu terjadi, Qitab mengajarkan:
jangan mengambil keputusan besar ketika pikiran sedang sangat lelah.
Catat apa yang perlu diingat.
Istirahat.
Lihat kembali pada pagi hari.
Kadang sesuatu yang terasa seperti jurang pada pukul dua malam,
setelah tidur yang cukup terlihat sebagai masalah yang masih dapat diselesaikan.
DZIKIR KETIKA BAYANGAN ESOK TERLALU BERAT
Duduklah dengan tenang.
Bacalah perlahan:
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Kedamaian.
يَا حَفِيظُ
Yā Ḥafīẓ
Wahai Yang Maha Menjaga.
يَا وَكِيلُ
Yā Wakīl
Wahai Yang Maha Memelihara dan tempat berserah.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
Kemudian bacalah:
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
ḤASBUNALLOHU WA NI‘MAL-WAKĪL
“Cukuplah Alloh bagi kami, dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ لَا تُحَمِّلْ قَلْبِي هَمَّ غَدٍ لَمْ يَأْتِ، وَوَفِّقْنِي لِعَمَلِ الْيَوْمِ، وَارْزُقْنِي حُسْنَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
Allāhumma lā tuḥammil qolbī hamma ghadin lam ya’ti, wa waffiqnī li‘amalil-yaum, warzuqnī ḥusnat-tawakkuli ‘alaik.
Artinya:
Yā Alloh, jangan biarkan qolbiku memikul kegelisahan hari esok yang belum datang. Berilah aku taufik untuk menjalankan amal hari ini dan karuniakan kepadaku tawakkal yang baik kepada-Mu.
LATIHAN BAYANGAN DAN KENYATAAN
Tuliskan satu ketakutan.
Contoh:
“Aku takut pekerjaanku hilang.”
Kemudian buat empat baris.
YANG KUTAKUTKAN
Tuliskan skenario yang ada di pikiran.
YANG KUKETAHUI
Tuliskan fakta.
YANG DAPAT KUPERSIAPKAN
Tuliskan langkah nyata.
YANG HARUS KUSERAHKAN
Tuliskan apa yang tidak dapat dikendalikan.
Inilah latihan kecil untuk mengembalikan batas antara:
ikhtiar
dan
tawakkal.
TIGA KALIMAT PENJAGA QOLBI
Ketika pikiran terlalu jauh, ingatlah:
SATU
“Belum terjadi bukan berarti pasti terjadi.”
DUA
“Risiko dapat dipersiapkan tanpa harus ditakuti sepanjang hari.”
TIGA
“Aku hanya diminta menjalankan amanah pada waktu yang telah sampai kepadaku.”
GERBANG KEDELAPAN
BAYANGAN DAN CAHAYA
Pada ujung lorong tampak satu cahaya.
Ketika cahaya berada di belakang manusia,
bayangan berada di depan.
Manusia mengejar bayangannya,
tetapi bayangan selalu menjauh.
Ketika ia berbalik menghadap cahaya,
bayangan berpindah ke belakang.
Qitab menggunakan gambaran ini sebagai hikmah:
“Ketika kehidupan hanya berpusat pada ketakutan terhadap apa yang belum terjadi, manusia terus mengejar bayangan. Ketika ia kembali kepada nilai, amanah, doa, dan tindakan hari ini, bayangan tetap ada tetapi tidak lagi memimpin jalan.”
Bayangan tidak harus hilang seluruhnya.
Manusia tetap mempunyai rasa takut.
Tetapi rasa takut dapat ditempatkan di belakang,
bukan di kursi pengemudi kehidupan.
PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN
Ketahuilah:
masa depan mempunyai tabir.
Tabir itu bukan musuh.
Ia menjaga manusia agar tidak hidup sebagai pemilik kepastian palsu.
Tidak seluruh kekhawatiran harus dihapus.
Sebagian perlu diubah menjadi persiapan.
Tidak seluruh rasa takut harus dilawan.
Sebagian perlu didengar.
Tetapi jangan membiarkan sesuatu yang belum terjadi merampas seluruh kebaikan yang masih ada hari ini.
Qitab berkata:
“Hari esok mempunyai hak untuk dipersiapkan, tetapi tidak mempunyai hak untuk mencuri seluruh ketenangan hari ini.”
Apabila bahaya nyata,
bertindaklah.
Apabila risiko mungkin,
bersiaplah.
Apabila hanya dugaan,
periksalah.
Apabila berada di luar kuasa,
serahkanlah.
Lalu kembali kepada hari ini.
Sebab hanya di sini kaki dapat melangkah.
Hanya di sini tangan dapat bekerja.
Hanya di sini mulut dapat meminta maaf.
Hanya di sini amal dapat dilakukan.
Maka Qitab menutup lembar kedelapan dengan kalimat:
لَا تَسْكُنْ فِي غَدٍ لَمْ يَأْتِ
LĀ TASKUN FĪ GHADIN LAM YA’Tِ
“Jangan tinggal di dalam hari esok yang belum datang.”
Dan setelah bayang-bayang itu memendek,
muncullah sebuah jam tua di tengah lorong.
Jarumnya bergerak,
tetapi manusia di hadapannya merasakan waktu dengan cara yang berbeda.
Satu menit dapat terasa sangat panjang ketika menunggu.
Satu jam dapat terasa singkat ketika bahagia.
Satu tahun masa kecil terasa panjang.
Namun ketika usia bertambah, tahun-tahun terasa berlari.
Di bawah jam itu tertulis:
إِحْسَاسُ الزَّمَانِ
IḤSĀS AZ-ZAMĀN
RASA TERHADAP WAKTU
Di sanalah Qitab berikutnya akan membuka rahasia:
mengapa waktu yang sama dapat terasa cepat atau lambat, bagaimana perhatian dan keadaan qolbi memengaruhi rasa terhadap waktu, mengapa usia terasa semakin cepat berlalu, dan bagaimana manusia menghadirkan dirinya agar umur tidak hanya lewat tanpa benar-benar dijalani.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KEDELAPAN —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KESEMBILAN
إِحْسَاسُ الزَّمَانِ
IḤSĀS AZ-ZAMĀN
RASA TERHADAP WAKTU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Pada lembar sebelumnya telah diterangkan tentang:
ظِلُّ الْمُسْتَقْبَلِ
ẒILL AL-MUSTAQBAL
bayang-bayang masa depan.
Bahwa manusia kadang menderita bukan karena sesuatu yang telah terjadi, tetapi karena bayangan tentang sesuatu yang belum terjadi.
Sekarang Qitab membuka satu pintu yang lebih halus.
Sebab manusia tidak hanya hidup di dalam waktu.
Manusia juga merasakan waktu.
Satu menit tetap enam puluh detik.
Namun satu menit menunggu kabar penting dapat terasa sangat panjang.
Satu jam bersama orang yang dicintai dapat terasa sangat singkat.
Satu malam ketika sakit dapat terasa seperti tidak selesai-selesai.
Tetapi bertahun-tahun masa muda kadang baru terasa cepat setelah semuanya berlalu.
Di sinilah Qitab membuka:
إِحْسَاسُ الزَّمَانِ
IḤSĀS AZ-ZAMĀN
Rasa manusia terhadap perjalanan waktu.
Qitab berkata:
“Jam mengukur waktu dari luar, tetapi qolbi merasakan waktu dari dalam.”
Maka dua manusia dapat berada pada ruangan yang sama,
melihat jam yang sama,
menunggu selama waktu yang sama,
tetapi mengalami waktu dengan rasa yang sangat berbeda.
RAHASIA PERTAMA
WAKTU JAM DAN WAKTU QOLBI
Ada dua hal yang perlu dibedakan.
وَقْتُ السَّاعَةِ
WAQT AS-S‘AH
Waktu menurut jam
Ini dapat dihitung.
Detik.
Menit.
Jam.
Hari.
Bulan.
Tahun.
Ia berjalan dengan ukuran yang tetap.
Tetapi manusia juga mempunyai:
وَقْتُ الْإِحْسَاسِ
WAQT AL-IḤSĀS
Waktu menurut rasa
Inilah waktu yang terasa:
cepat,
lambat,
berat,
ringan,
panjang,
atau seakan menghilang.
Qitab berkata:
“Yang berubah bukan selalu waktunya; terkadang yang berubah adalah keadaan manusia yang sedang melewatinya.”
MENGAPA MENUNGGU TERASA LAMA?
Ketika manusia menunggu,
perhatiannya tertuju kepada sesuatu yang belum datang.
Ia melihat jam.
Memeriksa pesan.
Menunggu telepon.
Menunggu seseorang.
Menunggu hasil.
Menunggu keputusan.
Setiap menit menjadi terlihat.
Karena perhatian manusia sedang tertuju kepada waktu itu sendiri.
Qitab berkata:
“Semakin manusia menatap jam sambil menunggu, semakin ia merasakan setiap butir waktu yang jatuh.”
Inilah sebabnya lima menit menunggu dapat terasa lebih panjang daripada tiga puluh menit ketika sedang sibuk.
MENGAPA KEBAHAGIAAN TERASA CEPAT?
Ketika manusia menikmati sesuatu,
perhatiannya tidak lagi tertuju kepada jam.
Ia hadir kepada pengalaman.
Percakapan.
Tawa.
Pekerjaan yang dicintai.
Perjalanan.
Pertemuan.
Maka waktu seolah menghilang dari kesadaran.
Tiba-tiba ia berkata:
“Sudah malam?”
Padahal jam tetap berjalan sebagaimana biasanya.
Qitab berkata:
“Ketika qolbi hadir penuh kepada suatu pengalaman, manusia berhenti menghitung detik dan mulai menghidupi detik.”
RAHASIA KEDUA
WAKTU MENJADI LAMBAT KETIKA MANUSIA MENDERITA
Rasa sakit membuat perhatian menyempit.
Ketika tubuh sakit,
manusia memperhatikan rasa sakit.
Ketika hati sedih,
pikiran kembali kepada kesedihan.
Ketika takut,
perhatian terus mencari ancaman.
Akibatnya setiap menit dapat terasa panjang.
Maka seseorang yang sedang sakit mungkin berkata:
“Malam ini rasanya lama sekali.”
Padahal malam itu tidak lebih panjang daripada malam sebelumnya.
Yang berbeda adalah beratnya pengalaman yang sedang dibawa.
Karena itu Qitab mengajarkan kelembutan kepada orang yang sedang menderita.
Jangan berkata:
“Ah, sebentar saja.”
Sebab sesuatu yang singkat menurut jam belum tentu singkat menurut qolbi.
WAKTU DAN KESEPIAN
Kesepian mempunyai hubungan yang aneh dengan waktu.
Ketika tidak ada aktivitas,
tidak ada percakapan,
tidak ada tujuan,
manusia dapat menjadi sangat sadar terhadap berjalannya waktu.
Satu sore terasa panjang.
Satu malam terasa sunyi.
Namun kesunyian tidak selalu buruk.
Ada dua jenis kesunyian.
KESUNYIAN YANG KOSONG
Manusia tidak tahu harus melakukan apa.
Pikiran berputar.
Hari terasa berat.
KESUNYIAN YANG BERISI
Manusia membaca.
Merenung.
Berdoa.
Menulis.
Beristirahat.
Memperhatikan dirinya.
Qitab berkata:
“Sepi menjadi berat ketika manusia hanya menunggu waktu lewat; sepi menjadi ruang ketika manusia mengetahui apa yang hendak dilakukan di dalamnya.”
RAHASIA KETIGA
MENGAPA MASA KECIL TERASA PANJANG?
Ketika seseorang masih kecil,
satu tahun adalah bagian besar dari seluruh umur yang telah ia jalani.
Banyak pengalaman masih baru.
Tempat baru.
Wajah baru.
Pelajaran baru.
Peristiwa baru.
Karena banyak hal belum dikenal, ingatan mencatat banyak detail.
Maka masa itu terasa luas ketika dikenang.
Ketika usia bertambah,
banyak hari menjadi serupa.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Tidur.
Berulang.
Ingatan tidak selalu menyimpan setiap hari sebagai pengalaman yang berbeda.
Kemudian ketika seseorang menoleh ke belakang,
tahun-tahun terasa seperti terlipat menjadi satu.
Qitab berkata:
“Waktu yang tidak diberi perhatian mudah berlalu tanpa meninggalkan banyak tanda di dalam ingatan.”
RAHASIA KEEMPAT
BUKAN UMUR YANG SELALU BERLARI — PERHATIANLAH YANG TERPECAH
Manusia zaman ini dapat berada pada satu tempat,
tetapi pikirannya berada di banyak tempat.
Tubuh sedang makan,
tetapi tangan memegang layar.
Sedang berbicara dengan keluarga,
tetapi perhatian berada pada pesan lain.
Sedang berjalan,
tetapi pikirannya berada pada pekerjaan.
Sedang beribadah,
tetapi pikirannya masih menghitung urusan dunia.
Ketika perhatian terus terpecah,
hari dapat berlalu tanpa benar-benar dirasakan.
Pada malam hari manusia berkata:
“Hari ini habis ke mana?”
Qitab menjawab:
“Waktu tidak hilang. Perhatianmu yang tersebar membuatmu tidak menyadari bagaimana engkau melewatinya.”
QUNCI KESEMBILAN SIRR AZ-ZAMĀN
HADIRLAH PADA WAKTU YANG SEDANG BERADA DI HADAPANMU
Hadir bukan berarti melupakan masa lalu.
Bukan berarti tidak merencanakan masa depan.
Hadir berarti:
ketika makan,
sadari bahwa engkau sedang makan.
Ketika berbicara,
dengarkan orang yang berada di hadapanmu.
Ketika bekerja,
kerjakan pekerjaan.
Ketika beristirahat,
izinkan tubuh beristirahat.
Ketika sholat,
kembalikan qolbi sebanyak mungkin kepada ibadah.
Qitab berkata:
“Satu waktu yang dihuni sepenuhnya lebih hidup daripada seratus waktu yang dilewati dengan tubuh hadir tetapi qolbi selalu berada di tempat lain.”
LIMA PENCURI RASA WAKTU
Qitab menyebut lima perkara yang membuat umur terasa berjalan tanpa isi.
PENCURI PERTAMA
PENUNDAAN
“Nanti.”
Besok.
Minggu depan.
Bulan depan.
Tahun depan.
Sedikit demi sedikit, sesuatu yang terus ditunda dapat mengikuti manusia sampai usia berubah.
Qitab berkata:
“Banyak umur habis bukan karena pekerjaan terlalu berat, tetapi karena langkah pertama terus dipindahkan ke hari berikutnya.”
PENCURI KEDUA
KEBIASAAN TANPA KESADARAN
Rutinitas diperlukan.
Tetapi ketika seluruh hari menjadi otomatis,
manusia berhenti memperhatikan hidupnya.
Maka berilah perhatian kepada hal kecil.
Secangkir air.
Percakapan keluarga.
Udara pagi.
Pekerjaan yang sedang diselesaikan.
Bukan untuk menjadi puitis setiap saat.
Tetapi agar hidup tidak seluruhnya berubah menjadi daftar tugas.
PENCURI KETIGA
PERHATIAN YANG TERUS TERPECAH
Satu menit melihat sesuatu.
Lalu berpindah.
Lalu membuka yang lain.
Lalu kembali.
Pikiran tidak pernah benar-benar tinggal.
Hasilnya:
banyak rangsangan,
sedikit kedalaman.
Qitab berkata:
“Perhatian adalah salah satu bentuk pemberian umur. Kepada apa engkau memberikan perhatian, kepada itulah sebagian umurmu sedang diberikan.”
PENCURI KEEMPAT
PENYESALAN TANPA AKHIR
Hari ini dihabiskan untuk mengulang kemarin.
Maka hari ini pun akhirnya menjadi kemarin berikutnya yang disesali.
Qitab mengingatkan:
ambil pelajaran, lalu kembali.
PENCURI KELIMA
KECEMASAN TERHADAP ESOK
Hari ini dihabiskan untuk hidup pada skenario esok.
Ketika esok benar-benar datang,
manusia kembali mencemaskan hari setelahnya.
Akhirnya ia selalu berada satu hari di depan kehidupannya sendiri.
Qitab berkata:
“Orang yang terus hidup pada hari esok tidak pernah benar-benar sampai di mana pun, sebab ketika esok tiba ia telah pindah lagi kepada esok berikutnya.”
RAHASIA LIMA MENIT
Jangan meremehkan waktu pendek.
Lima menit dapat digunakan untuk:
mendoakan orang tua,
merapikan sesuatu,
membaca beberapa halaman,
menghubungi orang yang perlu ditanya kabarnya,
menenangkan diri,
menyusun satu keputusan,
atau sekadar duduk tanpa membiarkan pikiran terus berlari.
Qitab berkata:
“Umur yang besar disusun dari bagian-bagian waktu yang kecil.”
Manusia sering menunggu mempunyai dua jam kosong.
Padahal lima belas menit yang dijaga setiap hari dapat menjadi puluhan jam dalam beberapa bulan.
RAHASIA SATU JAM
Satu jam sehari terlihat kecil.
Tetapi apabila diberikan kepada satu perkara secara terus-menerus,
dalam satu tahun ia menjadi ratusan jam.
Di sinilah waktu memperlihatkan sifatnya:
ia membesarkan apa yang dilakukan berulang kali.
Satu jam membaca.
Satu jam belajar keterampilan.
Satu jam bersama keluarga tanpa gangguan.
Satu jam merawat usaha.
Satu jam berjalan dan menjaga tubuh.
Bukan berarti semua manusia harus mempunyai jadwal yang sama.
Tetapi Qitab mengajak bertanya:
“Kepada apakah jam-jam terbaik dalam hidupmu sedang diberikan?”
TIGA JENIS WAKTU DALAM SATU HARI
Qitab membagi hari sebagai cermin sederhana.
وَقْتُ الْوَاجِب
WAQT AL-WĀJIB
WAKTU KEWAJIBAN
Pekerjaan.
Belajar.
Mengurus keluarga.
Tanggung jawab.
وَقْتُ الرَّاحَة
WAQT AR-RĀḤAH
WAKTU ISTIRAHAT
Tidur.
Makan.
Pemulihan.
Menjaga tubuh.
وَقْتُ الرُّوح
WAQT AR-RŪḤ
WAKTU QOLBI DAN RUHANI
Doa.
Dzikir.
Membaca.
Muhasabah.
Diam yang menenangkan.
Berbuat baik.
Bersama orang yang membuat qolbi kembali jernih.
Jika satu bagian menelan seluruh bagian lain,
keseimbangan dapat terganggu.
Bekerja tanpa istirahat melemahkan tubuh.
Istirahat tanpa amanah membuat kehidupan mandek.
Kesibukan lahir tanpa ruang batin membuat qolbi mudah kering.
TENTANG WAKTU YANG “TERBUANG”
Manusia kadang menoleh ke belakang lalu berkata:
“Aku telah membuang bertahun-tahun.”
Berhati-hatilah dengan kalimat ini.
Jika memang ada masa yang tidak digunakan dengan baik,
akuilah.
Tetapi jangan membuang tahun berikutnya hanya untuk meratapi tahun yang lalu.
Qitab berkata:
“Waktu yang benar-benar terbuang adalah ketika kesalahan masa lalu membuat manusia menolak menggunakan waktu yang masih tersisa.”
Mungkin engkau terlambat.
Tetapi terlambat tidak sama dengan tidak mungkin.
Mulai dari umur yang ada.
Dari tenaga yang ada.
Dari keadaan yang ada.
RAHASIA USIA
Setiap fase umur mempunyai pintunya sendiri.
Ada kemampuan masa muda yang tidak sama dengan masa tua.
Ada kedalaman usia matang yang belum dimiliki masa muda.
Maka jangan meminta dirimu yang sekarang menjadi persis seperti dirimu dua puluh tahun lalu.
Tubuh berubah.
Prioritas berubah.
Pengalaman bertambah.
Yang diperlukan adalah:
menjalani usia yang sedang diberikan dengan adab yang sesuai.
Qitab berkata:
“Jangan hanya menghitung berapa tahun telah berlalu. Tanyakan pula apa yang telah tumbuh bersamamu ketika tahun-tahun itu berlalu.”
WAKTU BERSAMA ORANG YANG DICINTAI
Ada waktu yang baru diketahui nilainya setelah ia tidak tersedia lagi.
Makan bersama orang tua.
Percakapan dengan sahabat.
Anak yang masih kecil.
Pasangan yang masih berada di sisi.
Saudara yang masih dapat ditemui.
Karena itu Qitab mengingatkan:
jangan menunggu kehilangan untuk mulai hadir.
Kadang tidak diperlukan acara besar.
Duduk.
Mendengarkan.
Menanyakan kabar.
Makan bersama.
Mengucapkan terima kasih.
Hal-hal kecil itu adalah bentuk pemberian waktu.
Dan waktu yang diberikan kepada manusia adalah bagian dari hidup yang tidak dapat ditarik kembali.
RAHASIA KENANGAN
Mengapa beberapa hari dari puluhan tahun masih begitu jelas?
Karena ingatan tidak mencatat semua waktu dengan ukuran yang sama.
Peristiwa yang mempunyai emosi kuat,
makna kuat,
atau perhatian penuh,
lebih mudah menjadi tanda di dalam ingatan.
Maka untuk membuat hidup terasa lebih hadir,
manusia tidak perlu mengejar kejadian luar biasa setiap hari.
Cukup:
perhatikan apa yang sedang dijalani.
Karena perhatian membantu pengalaman meninggalkan jejak.
LATIHAN TIGA WAKTU
Setiap malam, tanyakan tiga hal.
PERTAMA
WAKTU APA YANG PALING KUSADARI HARI INI?
Apa saat yang benar-benar engkau jalani dengan hadir?
KEDUA
WAKTU APA YANG PALING BANYAK TERPECAH?
Apakah pekerjaan?
Percakapan?
Ibadah?
Istirahat?
KETIGA
SATU WAKTU APA YANG INGIN KUJAGA BESOK?
Tidak perlu mengubah seluruh hidup sekaligus.
Pilih satu.
Misalnya:
dua puluh menit tanpa telepon ketika berbicara dengan keluarga.
Atau:
sepuluh menit membaca.
Atau:
waktu tertentu untuk doa.
Atau:
waktu tidur yang lebih teratur.
TENTANG BOSAN
Kebosanan membuat waktu terasa lambat.
Tetapi tidak semua kebosanan harus segera dibunuh dengan hiburan.
Kadang kebosanan adalah pesan:
engkau membutuhkan tujuan,
tantangan,
gerak,
atau istirahat yang benar.
Manusia modern mudah mengisi setiap celah dengan rangsangan.
Padahal dari celah yang tidak segera diisi,
kadang muncul:
ide,
renungan,
kreativitas,
dan kesadaran terhadap diri sendiri.
Qitab berkata:
“Tidak setiap ruang kosong harus segera dipenuhi. Sebagian ruang kosong adalah tempat sesuatu yang baru mulai berbicara.”
TENTANG TERBURU-BURU
Ada manusia yang hidup seakan selalu terlambat.
Makan terburu-buru.
Berjalan terburu-buru.
Berbicara terburu-buru.
Berdoa terburu-buru.
Bahkan beristirahat pun memikirkan pekerjaan berikutnya.
Qitab tidak mengajarkan kelambanan.
Ada keadaan yang memang membutuhkan kecepatan.
Tetapi jika seluruh hidup dijalani dalam rasa tergesa,
manusia tidak pernah sampai dengan qolbi.
Tubuh sudah berada di satu tempat,
pikiran sudah menuju tempat berikutnya.
Maka Qitab berkata:
“Cepat dalam langkah tidak harus berarti tergesa dalam qolbi.”
TENTANG WAKTU DAN IBADAH
Sholat menandai hari dengan perhentian-perhentian.
Ia mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang mengejar urusan dunia tanpa jeda.
Di antara kesibukan,
ada panggilan untuk kembali.
Maka salah satu hikmah waktu ibadah adalah:
memutus arus kesibukan agar manusia tidak seluruhnya ditelan oleh dunia.
Ketika waktunya tiba,
berhentilah sejenak dari urusan lain jika keadaan memungkinkan.
Berdiri.
Hadap.
Kembali.
Lalu berjalan lagi.
DZIKIR PENJAGA WAKTU
Ketika merasa hari-hari berlalu terlalu cepat dan qolbi kehilangan arah, bacalah perlahan:
يَا حَيُّ
Yā Ḥayyu
Wahai Yang Maha Hidup.
يَا قَيُّومُ
Yā Qayyūm
Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menegakkan segala sesuatu.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
يَا نُورُ
Yā Nūr
Wahai Yang Maha Memberi Cahaya.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لِي فِي وَقْتِي، وَاجْعَلْ أَيَّامِي مَمْلُوءَةً بِمَا يُرْضِيكَ وَيَنْفَعُنِي، وَلَا تَجْعَلْ عُمْرِي يَمُرُّ وَقَلْبِي غَافِلٌ
Allāhumma bārik lī fī waqtī, waj‘al ayyāmī mamlū’atan bimā yurḍīka wa yanfa‘unī, wa lā taj‘al ‘umrī yamurru wa qolbī ghāfilun.
Artinya:
Yā Alloh, berkahilah waktuku, jadikan hari-hariku terisi dengan apa yang Engkau ridhoi dan yang bermanfaat bagiku, serta jangan biarkan umurku berlalu sementara qolbiku berada dalam kelalaian.
TUJUH PENJAGA UMUR
Qitab memberikan tujuh pengingat:
Jangan tunda semua kebaikan.
Jangan berikan seluruh perhatian kepada perkara yang tidak penting.
Jangan membawa pekerjaan ke setiap ruang kehidupan.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kebersamaan.
Jangan menghabiskan hari ini menghukum kemarin.
Jangan menghabiskan hari ini mencemaskan seluruh esok.
Jangan hanya menghitung umur—isi umur.
GERBANG KESEMBILAN
JAM TANPA ANGKA
Di ujung lorong Qitab terlihat sebuah jam.
Namun jam itu tidak mempunyai angka.
Hanya terdapat satu titik di tengahnya.
Qitab bertanya:
“Apakah artinya?”
Lalu tertulis:
مَرْكَزُ الْآنِ
MARKAZ AL-ĀN
Pusat Saat Ini.
Sebab manusia mempunyai kalender,
tetapi kehidupan selalu berlangsung pada satu titik:
sekarang.
Kemarin hanya dapat dikenang sekarang.
Esok hanya dapat direncanakan sekarang.
Doa hanya dapat dibaca sekarang.
Perubahan hanya dapat dimulai sekarang.
Maka Qitab berkata:
“Seluruh perjalanan waktu melewati satu pintu yang sama: saat yang sedang engkau jalani.”
RAHASIA TERDALAM LEMBAR KESEMBILAN
Manusia sering ingin memperpanjang umur.
Tetapi ia tidak selalu menjaga kedalaman umur.
Dua manusia dapat hidup jumlah tahun yang sama,
namun salah satunya hadir pada banyak hari,
sementara yang lain melewati hari-harinya dalam kelalaian, penundaan, dan pikiran yang selalu berada di tempat lain.
Maka panjang waktu dan hidupnya waktu adalah dua perkara berbeda.
Qitab berkata:
لَيْسَ الْعُمْرُ بِكَثْرَةِ السِّنِينَ فَقَطْ، بَلْ بِبَرَكَةِ مَا فِيهَا
LAISAL-‘UMRU BIKATSRATIS-SINĪNA FAQAṬ, BAL BIBARAKATI MĀ FĪHĀ
“Umur bukan hanya banyaknya tahun, tetapi juga keberkahan yang terdapat di dalam tahun-tahun itu.”
PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN
Ketahuilah:
waktu menurut jam berjalan dengan ukuran.
Tetapi waktu menurut qolbi mempunyai rasa.
Ada menit yang terasa panjang.
Ada tahun yang terasa singkat.
Ada hari yang tampaknya biasa,
tetapi kemudian menjadi kenangan paling berharga.
Karena itu jangan menunggu hidup menjadi luar biasa untuk mulai memperhatikannya.
Perhatikan hidup ketika ia masih sederhana.
Ketika orang tua masih dapat diajak bicara.
Ketika anak masih memanggil.
Ketika tubuh masih mampu berjalan.
Ketika sahabat masih dapat ditemui.
Ketika pintu taubat masih terbuka.
Ketika pekerjaan masih dapat dilakukan.
Ketika hari ini masih berada di tangan.
Qitab menutup lembar kesembilan dengan sabda hikmah:
“Jangan hanya berusaha mempunyai lebih banyak waktu. Belajarlah hadir lebih penuh di dalam waktu yang telah diberikan.”
Kemudian jarum jam berhenti pada satu titik.
Bukan karena waktu berhenti.
Tetapi karena di balik jam itu terbuka sebuah ruang hening.
Di dalam ruang tersebut tertulis:
سُكُونُ اللَّحْظَةِ
SUKŪN AL-LAḤẒAH
KEHENINGAN SATU DETIK
Di sanalah Qitab berikutnya akan membuka:
rahasia jeda di antara dua tindakan, kekuatan diam sebelum menjawab, bagaimana satu detik dapat mengubah keputusan, mengapa manusia membutuhkan ruang antara dorongan dan perbuatan, serta bagaimana qolbi menemukan kejernihan ketika tidak semua hal langsung diberi reaksi.
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.
— TAMAT LEMBAR KESEMBILAN —
QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
قِتَابُ سِرِّ الزَّمَانِ
LEMBAR KESEPULUH — TERAKHIR
سُكُونُ اللَّحْظَةِ
SUKŪN AL-LAḤẒAH
KEHENINGAN SATU DETIK, PUSAT SELURUH PERJALANAN WAKTU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Alloh,
Yang menggilirkan malam dan siang,
Yang menjadikan waktu sebagai tempat manusia belajar,
Yang membiarkan kemarin menjadi pelajaran,
hari ini menjadi amanah,
dan hari esok tetap berada di balik tabir ilmu-Nya.
Pada sembilan lembar sebelumnya Qitab telah membawa manusia melewati banyak gerbang.
Dari jejak masa lalu,
menuju ikhtiar dan takdir,
kemudian kepada simpul-simpul yang belum selesai,
waktu datangnya hikmah,
perputaran musim kehidupan,
pintu-pintu kemungkinan,
bayang-bayang hari esok,
hingga akhirnya manusia belajar tentang:
إِحْسَاسُ الزَّمَانِ
IḤSĀS AZ-ZAMĀN
rasa terhadap waktu.
Sekarang Qitab sampai pada lembar terakhir.
Dan di lembar terakhir ini,
tidak ada lagi lorong panjang.
Tidak ada lagi sepuluh pintu.
Tidak ada lagi roda besar.
Tidak ada lagi bayangan masa depan.
Yang tersisa hanyalah satu titik.
Satu detik.
Satu jeda.
Satu ruang yang sangat kecil,
tetapi di dalam ruang kecil itulah banyak nasib kehidupan manusia dapat berubah.
Qitab menamainya:
سُكُونُ اللَّحْظَةِ
SUKŪN AL-LAḤẒAH
Keheningan satu detik.
Qitab berkata:
“Di antara sesuatu yang terjadi dan jawaban manusia terhadapnya, terdapat satu ruang kecil. Di ruang itulah akal, adab, dan kebijaksanaan dapat dilahirkan.”
RAHASIA PERTAMA
MANUSIA SERING MENYESAL BUKAN KARENA TIDAK TAHU, TETAPI KARENA TIDAK MEMBERI JEDA
Berapa banyak perkataan yang ingin ditarik kembali setelah diucapkan?
Berapa banyak pesan yang ingin dihapus setelah dikirim?
Berapa banyak keputusan yang dibuat ketika marah lalu disesali setelah qolbi tenang?
Berapa banyak hubungan rusak bukan karena masalahnya terlalu besar,
tetapi karena manusia bereaksi terlalu cepat?
Seseorang menghina.
Kita langsung membalas.
Seseorang terlambat.
Kita langsung menuduh.
Seseorang berbeda pendapat.
Kita langsung memutuskan bahwa ia musuh.
Seseorang tidak membalas pesan.
Pikiran langsung membentuk kesimpulan.
Qitab berkata:
“Tidak semua perkara membutuhkan jawaban pada detik pertama.”
Ada perkara yang membutuhkan tindakan cepat.
Tetapi ada pula perkara yang justru rusak apabila langsung dijawab dengan emosi pertama.
Maka salah satu kekuatan besar manusia adalah:
menciptakan jarak kecil sebelum bereaksi.
DETIK PERTAMA
Qitab menamai detik pertama setelah sebuah kejadian:
لَحْظَةُ الْاِنْفِعَالِ
LAḤẒAT AL-INFI‘ĀL
Detik reaksi.
Pada detik ini,
emosi sering lebih cepat daripada pemikiran.
Marah muncul.
Takut muncul.
Malu muncul.
Kecewa muncul.
Tubuh menegang.
Nafas berubah.
Pikiran mencari jawaban paling cepat.
Qitab tidak menganggap emosi sebagai musuh.
Emosi adalah bagian dari manusia.
Tetapi Qitab mengingatkan:
“Apa yang pertama kali dirasakan belum tentu harus menjadi apa yang pertama kali dilakukan.”
Engkau boleh marah.
Tetapi tidak setiap kemarahan harus berubah menjadi penghinaan.
Engkau boleh takut.
Tetapi tidak setiap ketakutan harus berubah menjadi pelarian.
Engkau boleh kecewa.
Tetapi tidak setiap kekecewaan harus berubah menjadi keputusan permanen.
RAHASIA KEDUA
JEDA ADALAH GERBANG ANTARA DORONGAN DAN PERBUATAN
Bayangkan ada dua titik.
Titik pertama:
الدَّافِعُ
AD-DĀFI‘
Dorongan.
Titik kedua:
الْفِعْلُ
AL-FI‘L
Perbuatan.
Di antara keduanya terdapat ruang.
Kadang hanya satu detik.
Kadang sepuluh detik.
Kadang satu malam.
Namun ruang itu sangat penting.
Sebab tanpa ruang,
manusia menjadi budak dari setiap dorongan.
Marah — membalas.
Ingin — mengambil.
Takut — lari.
Tersinggung — menyerang.
Rindu — kembali kepada sesuatu yang telah merusaknya.
Qitab berkata:
“Kebebasan manusia tidak selalu tampak ketika ia dapat melakukan apa saja. Kadang kebebasan terbesar tampak ketika ia mampu tidak melakukan sesuatu yang sedang sangat ingin ia lakukan.”
EMPAT JEDA
Qitab membukakan empat jenis jeda.
JEDA PERTAMA
سُكُوتُ اللِّسَانِ
SUKŪT AL-LISĀN
JEDA LISAN
Ketika kata-kata panas telah sampai di ujung lidah,
diamlah sebentar.
Tanyakan:
Apakah kalimat ini akan memperbaiki keadaan atau hanya memindahkan luka dari dadaku ke dada orang lain?
Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang kasar.
Tidak semua pembelaan diri membutuhkan serangan.
Kadang satu kalimat yang ditahan menyelamatkan bertahun-tahun hubungan.
Qitab berkata:
“Lisan yang dapat berbicara adalah kemampuan. Lisan yang mengetahui kapan harus diam adalah kebijaksanaan.”
JEDA KEDUA
سُكُونُ الْيَدِ
SUKŪN AL-YAD
JEDA TANGAN
Pada zaman ketika manusia dapat menulis dan mengirimkan sesuatu dalam beberapa detik,
tangan mempunyai kekuatan yang besar.
Satu pesan dapat menyembuhkan.
Satu pesan dapat merusak.
Satu unggahan dapat memberi manfaat.
Satu unggahan dapat meninggalkan penyesalan.
Maka ketika emosi sedang tinggi,
jangan selalu biarkan jari menjadi utusan pertama.
Qitab berkata:
Tulis bila perlu.
Tetapi tidak semua yang ditulis harus segera dikirim.
Berilah jarak.
Baca kembali setelah qolbi lebih tenang.
JEDA KETIGA
سُكُونُ الْخُطْوَةِ
SUKŪN AL-KHUṬWAH
JEDA LANGKAH
Ada keputusan yang sulit dibalik.
Keluar dari pekerjaan.
Memutus hubungan.
Menjual harta.
Meminjam uang besar.
Meninggalkan rumah.
Menandatangani perjanjian.
Dalam perkara semacam ini,
jangan biarkan satu ledakan emosi menentukan jalan panjang.
Jika keadaan aman dan masih memungkinkan,
berikan waktu untuk memeriksa.
Qitab berkata:
“Semakin panjang akibat sebuah keputusan, semakin layak ia diberi ruang sebelum diputuskan.”
JEDA KEEMPAT
سُكُونُ الْقَلْبِ
SUKŪN AL-QOLB
JEDA QOLBI
Ini adalah jeda paling dalam.
Bukan hanya mulut yang diam.
Bukan hanya tangan yang berhenti.
Tetapi manusia memberi ruang kepada qolbi untuk kembali jernih.
Ia tidak langsung mempercayai seluruh pikirannya.
Ia tidak langsung menolak seluruh pikirannya.
Ia hanya mengamati.
“Aku sedang marah.”
“Aku sedang takut.”
“Aku sedang terluka.”
“Aku sedang ingin membalas.”
Dengan mengenali keadaan diri,
manusia mulai memperoleh jarak darinya.
Qitab berkata:
“Ketika engkau mampu berkata ‘aku sedang marah’, engkau mulai menyadari bahwa dirimu lebih luas daripada kemarahan itu.”
RAHASIA KETIGA
SATU DETIK DAPAT MENGUBAH RANTAI WAKTU
Satu detik tidak terlihat besar.
Tetapi satu detik dapat memutus rantai.
Seseorang hampir membalas dengan penghinaan,
lalu berhenti.
Satu konflik tidak membesar.
Seseorang hampir menandatangani sesuatu tanpa membaca,
lalu berhenti.
Ia menemukan satu bagian penting.
Seseorang hampir menyebarkan kabar,
lalu memeriksa.
Ternyata kabar itu salah.
Seseorang hampir memukul,
lalu mundur.
Satu kehidupan dapat terhindar dari luka panjang.
Maka Qitab berkata:
لَحْظَةٌ مِنَ الْوَعْيِ قَدْ تَحْفَظُ سِنِينَ مِنَ النَّدَمِ
LAḤẒATUN MINAL-WA‘YI QAD TAḤFAẒU SINĪNA MINAN-NADAM
“Satu saat kesadaran dapat menjaga manusia dari bertahun-tahun penyesalan.”
RAHASIA KEEMPAT
KEHENINGAN BUKAN KEKOSONGAN
Banyak manusia takut kepada diam.
Ia merasa harus selalu mengisi.
Dengan suara.
Pesan.
Percakapan.
Pekerjaan.
Hiburan.
Padahal ada jenis keheningan yang bukan kosong.
Ia adalah tempat untuk:
menata,
mendengar,
merasakan,
dan menimbang.
Qitab berkata:
“Air yang terus diaduk sulit memantulkan wajah. Air yang tenang mulai memperlihatkan apa yang berada di atasnya.”
Begitu pula qolbi.
Ketika terus menerima rangsangan,
ia sulit melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
SUKŪN BUKAN PASIF
Qitab memberi peringatan penting.
Keheningan bukan alasan untuk tidak bertindak ketika tindakan diperlukan.
Jika ada bahaya,
bertindaklah.
Jika ada kezaliman,
carilah jalan yang aman dan benar untuk menghentikannya.
Jika sakit,
carilah pengobatan.
Jika hutang jatuh tempo,
hadapi kenyataannya.
Jika hubungan membutuhkan pembicaraan,
berbicaralah.
Jeda bukan melarikan diri.
Jeda adalah:
menyusun tindakan agar tidak diperintah oleh kekacauan.
Qitab berkata:
“Diam yang bijak menyiapkan tindakan. Diam yang menjadi alasan menghindari tanggung jawab bukanlah hikmah.”
RAHASIA KELIMA
ADA WAKTU UNTUK BERKATA DAN ADA WAKTU UNTUK DIAM
Qitab tidak memuliakan diam secara mutlak.
Ada waktu ketika diam menjadi adab.
Ada waktu ketika diam menjadi pengecut.
Ada waktu ketika bicara menjadi keberanian.
Ada waktu ketika bicara menjadi kesombongan.
Maka yang dicari bukan:
diam atau bicara.
Tetapi:
apa yang benar pada waktunya.
Qitab menulis:
لِكُلِّ كَلَامٍ وَقْتٌ، وَلِكُلِّ سُكُوتٍ حِكْمَةٌ
LIKULLI KALĀMIN WAQTUN, WA LIKULLI SUKŪTIN ḤIKMAH
“Setiap perkataan mempunyai waktunya, dan setiap diam dapat mempunyai hikmahnya.”
TIGA GERBANG SEBELUM BERBICARA
Sebelum kalimat penting keluar,
Qitab mengajarkan tiga gerbang.
GERBANG PERTAMA
أَحَقٌّ؟
AḤAQQU?
Apakah benar?
Apakah yang hendak kukatakan adalah fakta?
Atau hanya dugaan?
GERBANG KEDUA
أَنَافِعٌ؟
ANĀFI‘UN?
Apakah bermanfaat?
Kebenaran yang disampaikan pada tempat yang salah dapat menjadi senjata.
GERBANG KETIGA
أَهٰذَا وَقْتُهُ؟
AHĀDZĀ WAQTUHU?
Apakah sekarang waktunya?
Kalimat yang benar pada waktu yang salah dapat gagal mencapai qolbi.
RAHASIA KEENAM
SATU MALAM DAPAT MENYELAMATKAN SATU KEPUTUSAN
Ada keputusan yang tidak harus dibuat malam ini.
Ketika tubuh lelah,
qolbi lebih mudah rapuh.
Pikiran lebih mudah memandang sempit.
Masalah yang dapat diselesaikan besok terasa seperti akhir dunia.
Maka jika keputusan tidak mendesak,
Qitab mengajarkan:
tidurlah dahulu.
Bukan karena tidur menyelesaikan semua masalah.
Tetapi karena tubuh yang pulih dapat melihat masalah dengan cara berbeda.
Qitab berkata:
“Jangan selalu meminta pikiran yang kelelahan memberikan keputusan bagi seluruh masa depan.”
TENTANG MARAH
Marah mempunyai tenaga.
Ia dapat memberi manusia keberanian untuk menjaga batas.
Tetapi ketika tidak diatur,
ia dapat membuat manusia menghancurkan sesuatu yang sebenarnya ingin dijaga.
Saat marah:
jangan langsung mengirim pesan panjang.
Jangan langsung menyebarkan aib.
Jangan membuat ancaman.
Jangan mengambil keputusan yang sulit dibalik.
Berilah tubuh waktu untuk turun dari gelombang pertama.
Qitab berkata:
“Marah adalah tamu. Jangan serahkan kepadanya kunci rumah.”
TENTANG TAKUT
Takut juga mempunyai tenaga.
Ia dapat menyelamatkan manusia dari bahaya.
Namun rasa takut sering ingin menjadikan semua jalan sebagai ancaman.
Maka ketika takut:
periksa faktanya.
Lihat apakah bahaya benar-benar ada.
Jika ada,
lindungi diri.
Jika belum ada,
jangan memperlakukan dugaan seperti kenyataan.
Qitab berkata:
takut boleh memberi peringatan, tetapi jangan selalu diberi hak untuk membuat keputusan.
TENTANG RINDU
Rindu juga dapat mengacaukan waktu.
Seseorang merindukan orang yang telah pergi.
Lalu kenangan lama terlihat hanya dalam bagian-bagian indah.
Ia lupa luka.
Lupa alasan berpisah.
Lupa pola yang merusak.
Maka Qitab berkata:
“Rindu mengingat apa yang ingin diingat qolbi; kebijaksanaan mengingat keseluruhan cerita.”
Jangan mengambil keputusan besar hanya karena malam sedang sepi.
TENTANG KEBAHAGIAAN
Bukan hanya emosi buruk yang membutuhkan jeda.
Kegembiraan besar pun dapat membuat manusia mengambil keputusan terlalu cepat.
Mendapat uang besar,
langsung menghabiskan.
Mendapat tawaran,
langsung menerima.
Mendapat perhatian,
langsung menganggapnya sebagai kepastian hubungan.
Maka Qitab berkata:
“Jangan hanya berhenti ketika sedih. Berhentilah pula sejenak ketika terlalu gembira agar syukur tidak berubah menjadi kecerobohan.”
LIMA DETIK PENJAGA
Qitab memberikan latihan sederhana.
Ketika sebuah keadaan mengguncangmu:
DETIK PERTAMA
Diam.
Jangan langsung menjawab.
DETIK KEDUA
Sadari nafas.
DETIK KETIGA
Kenali rasa.
“Ini marah.”
“Ini takut.”
“Ini malu.”
DETIK KEEMPAT
Tanyakan fakta.
“Apa yang benar-benar terjadi?”
DETIK KELIMA
Pilih tindakan.
Bukan sekadar reaksi.
Latihan ini tidak harus selalu tepat lima detik.
Intinya adalah:
menciptakan ruang.
RAHASIA KETUJUH
KEPUTUSAN TERBAIK TIDAK SELALU DATANG DARI SUARA YANG PALING KERAS
Di dalam diri manusia ada banyak suara.
Suara takut.
Suara marah.
Suara kebiasaan.
Suara gengsi.
Suara luka lama.
Suara keinginan.
Kadang suara paling keras bukan suara paling benar.
Qitab berkata:
“Jangan memilih hanya berdasarkan suara yang paling berisik di dalam qolbi.”
Berilah waktu sampai suara-suara itu menurun.
Kemudian lihat:
apa nilai yang hendak dijaga?
Apa kenyataan?
Apa akibat?
Apa yang paling mendekati kebaikan?
SUKŪN DAN DOA
Dalam keheningan,
manusia tidak hanya mendengar dirinya.
Ia juga dapat kembali kepada doa.
Bukan untuk menunggu suara rahasia.
Bukan untuk mencari ramalan.
Tetapi untuk mengembalikan dirinya kepada Alloh.
Qitab berkata:
“Doa bukan alat memaksa jawaban datang. Doa adalah cara agar qolbi tidak berjalan sendirian ketika jawaban belum jelas.”
DZIKIR SUKŪN AL-LAḤẒAH
Ketika qolbi berguncang dan manusia membutuhkan ketenangan sebelum mengambil keputusan, bacalah perlahan:
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Wahai Sumber Kedamaian.
يَا حَلِيمُ
Yā Ḥalīm
Wahai Yang Maha Penyantun.
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
Wahai Yang Maha Bijaksana.
يَا هَادِي
Yā Hādī
Wahai Yang Maha Memberi Petunjuk.
Kemudian berdoalah:
اَللّٰهُمَّ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ فِي قَلْبِي، وَاحْفَظْ لِسَانِي عِنْدَ الْغَضَبِ، وَاهْدِنِي إِلَى الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ الْأَحْسَنِ
Allāhumma anzilis-sakīnata fī qolbī, waḥfaẓ lisānī ‘indal-ghaḍab, wahdinī ilal-qauli wal-fi‘lil-aḥsan.
Artinya:
Yā Alloh, turunkanlah ketenangan ke dalam qolbiku, jagalah lisanku ketika marah, dan tuntunlah aku kepada perkataan serta perbuatan yang lebih baik.
RAHASIA KEDELAPAN
MANUSIA TIDAK PERLU MENJAWAB SELURUH KEHIDUPAN SEKALIGUS
Ada masa ketika manusia bertanya:
“Bagaimana seluruh masa depanku?”
“Bagaimana sepuluh tahun ke depan?”
“Apa yang akan terjadi?”
Qitab menjawab:
Engkau tidak harus menyelesaikan seluruh umur hari ini.
Hari ini mempunyai satu amanah.
Besok akan datang dengan amanahnya sendiri.
Kadang manusia lelah karena mencoba memikul sepuluh tahun dalam satu malam.
Maka Qitab berkata:
“Jangan meminta satu hari membawa beban seluruh umur.”
Kerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini.
Persiapkan yang masuk akal untuk esok.
Kemudian serahkan apa yang tidak dapat dikendalikan.
RAHASIA KESEMBILAN
WAKTU TIDAK DAPAT DIPEGANG, TETAPI DAPAT DIISI
Manusia berkata:
“Waktu berlalu.”
Tetapi apakah sebenarnya yang berlalu?
Detik tidak dapat disimpan.
Hari tidak dapat dimasukkan ke dalam kotak.
Tahun tidak dapat dipanggil kembali.
Namun manusia dapat mengisi apa yang sedang lewat dengan:
amal,
ilmu,
kasih sayang,
kerja,
taubat,
doa,
dan kebaikan.
Qitab berkata:
“Engkau tidak mempunyai kuasa menahan waktu, tetapi engkau mempunyai amanah menentukan dengan apa sebagian waktumu diisi.”
RAHASIA KESEPULUH
WAKTU TIDAK MENUNGGU MANUSIA SIAP
Ada orang menunggu percaya diri sebelum mulai.
Menunggu sempurna sebelum belajar.
Menunggu tidak takut sebelum melangkah.
Menunggu tidak pernah gagal sebelum mencoba.
Tetapi waktu tetap bergerak.
Qitab berkata:
“Kesiapan sering tidak datang sebelum perjalanan dimulai.”
Maka jangan menunggu menjadi manusia tanpa takut.
Berjalanlah sambil mengelola takut.
Jangan menunggu menjadi manusia tanpa kekurangan.
Belajarlah sambil memperbaiki kekurangan.
Jangan menunggu segala sesuatu sempurna.
Mulailah dengan adab dan kemampuan yang tersedia.
SEPULUH QUNCI SIRR AZ-ZAMĀN
Pada lembar terakhir ini, Qitab mengumpulkan seluruh perjalanan menjadi sepuluh qunci.
QUNCI PERTAMA
KEMARIN ADALAH GURU
Ambil pelajarannya.
Jangan tinggal di dalamnya.
QUNCI KEDUA
HARI INI ADALAH AMANAH
Kerjakan yang dapat dikerjakan.
QUNCI KETIGA
ESOK ADALAH TABIR
Persiapkan tanpa mengaku mengetahui.
QUNCI KEEMPAT
JEJAK LAMA DAPAT MEMPENGARUHI LANGKAH BARU
Kenali pola sebelum mengulanginya.
QUNCI KELIMA
TIDAK SEMUA HIKMAH LANGSUNG TERLIHAT
Berikan jarak kepada pengalaman.
QUNCI KEENAM
KEHIDUPAN MEMPUNYAI MUSIM
Jangan menyebut satu musim sebagai seluruh nasib.
QUNCI KETUJUH
SETIAP PILIHAN ADALAH BENIH
Pikirkan akibat sebelum menanam.
QUNCI KEDELAPAN
BAYANGAN ESOK BUKAN ESOK ITU SENDIRI
Bedakan fakta dari dugaan.
QUNCI KESEMBILAN
PERHATIAN ADALAH CARA MANUSIA MENGHUNI WAKTU
Hadir pada apa yang sedang dijalani.
QUNCI KESEPULUH
JEDA ADALAH PINTU KEBIJAKSANAAN
Tidak semua dorongan harus langsung menjadi tindakan.
SEPULUH LEMBAR, SATU JALAN
Sekarang seluruh lembar Qitab bertemu.
LEMBAR PERTAMA
Gerbang tiga wajah waktu.
Kemarin.
Hari ini.
Esok.
LEMBAR KEDUA
Empat jejak waktu.
Pikiran.
Qolbi.
Kebiasaan.
Arah.
LEMBAR KETIGA
Takdir, ikhtiar, dan waktu.
Kerjakan bagianmu.
Serahkan hasilnya.
LEMBAR KEEMPAT
Simpul waktu.
Selesaikan yang dapat diselesaikan.
Lepaskan yang harus dilepas.
LEMBAR KELIMA
Mīqāt al-Ḥikmah.
Tidak semua makna datang pada hari yang sama.
LEMBAR KEENAM
Dawarān al-Ayyām.
Tidak ada musim dunia yang patut dianggap kekal.
LEMBAR KETUJUH
Abwāb al-Iḥtimāl.
Masa depan mempunyai kemungkinan.
Pilih dengan ilmu dan adab.
LEMBAR KEDELAPAN
Ẓill al-Mustaqbal.
Jangan menderita dua kali:
sekali dalam bayangan,
dan sekali bila kenyataan benar-benar datang.
LEMBAR KESEMBILAN
Iḥsās az-Zamān.
Jam mengukur waktu.
Qolbi merasakannya.
LEMBAR KESEPULUH
Sukūn al-Laḥẓah.
Di antara kejadian dan tindakan,
terdapat pintu kecil bernama jeda.
PUNCAK SIRR AZ-ZAMĀN
RAHASIA TERDALAM BUKAN MENGETAHUI ESOK
Setelah manusia membaca seluruh lembar,
mungkin ia masih bertanya:
“Lalu apa rahasia terbesar waktu?”
Apakah dapat melihat masa depan?
Tidak.
Apakah dapat kembali ke masa lalu?
Tidak.
Apakah dapat menghentikan usia?
Tidak.
Apakah dapat mengetahui seluruh takdir?
Tidak.
Qitab kemudian membuka jawabannya:
“Rahasia terbesar waktu bukan memiliki waktu. Rahasia terbesar waktu adalah menyadari bahwa waktu yang berada di tangan manusia hanyalah saat yang sedang diberikan kepadanya.”
Masa lalu berada dalam ingatan.
Masa depan berada dalam kemungkinan.
Tetapi kehidupan berada pada:
الْآن
AL-ĀN
Sekarang.
Sekarang engkau dapat meminta maaf.
Sekarang engkau dapat berhenti menyakiti.
Sekarang engkau dapat belajar.
Sekarang engkau dapat mencari pengobatan.
Sekarang engkau dapat memperbaiki hubungan.
Sekarang engkau dapat mencari rezeki halal.
Sekarang engkau dapat sholat.
Sekarang engkau dapat berdoa.
Sekarang engkau dapat memaafkan.
Sekarang engkau dapat membuat batas.
Sekarang engkau dapat memilih satu langkah baru.
Tidak semuanya.
Tetapi satu langkah.
Dan sering kali hidup berubah bukan karena manusia melihat dua puluh tahun ke depan,
melainkan karena ia melakukan satu tindakan yang benar pada hari ini.
QITAB TENTANG PENYESALAN TERAKHIR
Bayangkan seorang manusia telah berumur panjang.
Ia menoleh ke belakang.
Apa yang paling mungkin disesalinya?
Bukan selalu kekurangan harta.
Bukan selalu kedudukan yang tidak dicapai.
Kadang yang disesali justru sederhana:
“Mengapa dahulu aku tidak meminta maaf?”
“Kenapa aku terlalu sibuk ketika anak-anak masih kecil?”
“Kenapa aku tidak menjaga kesehatan?”
“Kenapa aku terus menunda?”
“Kenapa aku menghabiskan bertahun-tahun membenci?”
“Kenapa aku takut mencoba?”
“Kenapa aku tidak mengatakan terima kasih ketika mereka masih ada?”
Qitab berkata:
“Gunakan bayangan penyesalan bukan untuk menakut-nakuti diri, tetapi untuk memperjelas apa yang penting selama waktu masih tersedia.”
TENTANG ORANG YANG TELAH PERGI
Ada waktu yang berhenti dalam bentuk kenangan.
Seseorang wafat.
Seseorang berpisah.
Seseorang pergi jauh.
Lalu manusia berkata:
“Seandainya ada satu hari lagi.”
Qitab tidak dapat mengembalikan hari itu.
Tetapi Qitab memberi satu amanah:
perlakukan orang yang masih ada seakan waktu bersama mereka benar-benar berharga.
Jangan tunggu kehilangan untuk berkata:
“Aku mencintaimu.”
“Terima kasih.”
“Maafkan aku.”
“Bagaimana keadaanmu?”
Kalimat kecil itu tidak membutuhkan umur panjang.
Hanya membutuhkan keberanian pada satu saat.
TENTANG DIRI YANG AKAN MENUA
Bicaralah kepada dirimu yang akan datang.
Bayangkan dirimu dua puluh tahun dari sekarang.
Ia tidak meminta kesempurnaan.
Mungkin ia hanya meminta:
“Jagalah tubuhku.”
“Jangan habiskan seluruh uangmu.”
“Belajarlah.”
“Jangan rusak hubungan yang baik karena gengsi.”
“Berhentilah mengejar pengakuan semua orang.”
“Gunakan waktu dengan orang tua selama masih ada.”
“Jangan tunda seluruh hidup sampai nanti.”
Qitab berkata:
“Masa depan tidak membutuhkan ramalan dari dirimu. Ia membutuhkan tanggung jawabmu hari ini.”
QITAB TENTANG BAROKAH WAKTU
Barokah waktu tidak selalu berarti mempunyai hari yang terasa panjang.
Kadang waktu yang singkat menghasilkan manfaat besar.
Satu pertemuan mengubah cara berpikir.
Satu buku membuka ilmu.
Satu nasihat mencegah kesalahan.
Satu keputusan menyelamatkan keluarga.
Satu jam bersama orang tua menjadi kenangan seumur hidup.
Maka jangan hanya berdoa meminta panjang umur.
Berdoalah pula agar umur diberi:
arah,
manfaat,
kesehatan,
amal baik,
dan barokah.
DOA PENUTUP SIRR AZ-ZAMĀN
Bacalah dengan tenang:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا مَا مَضَى، وَأَعِنَّا عَلَى أَمَانَةِ يَوْمِنَا، وَاهْدِنَا لِخَيْرِ مَا سَيَأْتِي
Allāhumma bārik lanā fī awqātinā, wa aṣliḥ lanā mā maḍā, wa a‘innā ‘alā amānati yauminā, wahdinā likhairi mā saya’tī.
Artinya:
Yā Alloh, berkahilah waktu-waktu kami, perbaikilah bagi kami apa yang telah berlalu, bantulah kami menjalankan amanah hari ini, dan tuntunlah kami menuju kebaikan pada apa yang akan datang.
Kemudian:
اَللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَيَّامَنَا تَمْضِي فِي غَفْلَةٍ، وَلَا أَعْمَارَنَا تَنْقَضِي بِلَا خَيْرٍ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
Allāhumma lā taj‘al ayyāmanā tamḍī fī ghaflatin, wa lā a‘māranā tanqaḍī bilā khairin, waj‘al khaira a‘mālinā khawātīmahā, wa khaira ayyāminā yauma nalqāk.
Artinya:
Yā Alloh, jangan biarkan hari-hari kami berlalu dalam kelalaian, dan jangan biarkan umur kami berakhir tanpa kebaikan. Jadikanlah akhir amal kami sebagai bagian terbaiknya, dan jadikan hari terbaik kami sebagai hari ketika kami menghadap kepada-Mu.
DZIKIR PENUTUP SEPULUH LEMBAR
Sebagai penutup renungan, bacalah dengan tenang:
يَا نُورُ
Yā Nūr
يَا هَادِي
Yā Hādī
يَا حَكِيمُ
Yā Ḥakīm
يَا سَلَامُ
Yā Salām
Tidak perlu mencari penampakan.
Tidak perlu menunggu suara gaib.
Tidak perlu menentukan masa depan melalui perasaan sesaat.
Biarkan dzikir menjadi:
pengingat,
penata qolbi,
dan jalan kembali kepada Alloh.
Kemudian diamlah.
Satu menit.
Tidak perlu meminta apa pun.
Cukup sadari:
aku masih diberi waktu.
WASIAT QITAB SIRR AZ-ZAMĀN
Sebelum Qitab ditutup, terdapat dua belas wasiat.
WASIAT PERTAMA
Jangan membawa seluruh masa lalu ke dalam setiap hari baru.
WASIAT KEDUA
Jangan mengaku mengetahui masa depan yang berada dalam ilmu Alloh.
WASIAT KETIGA
Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
WASIAT KEEMPAT
Jangan menganggap ikhtiar memberimu kuasa mutlak atas hasil.
WASIAT KELIMA
Jangan menilai seluruh umur dari satu musim.
WASIAT KEENAM
Jangan menjadikan kemungkinan sebagai kepastian.
WASIAT KETUJUH
Jangan membayar penderitaan kepada hari yang belum datang.
WASIAT KEDELAPAN
Jangan membiarkan perhatianmu diberikan seluruhnya kepada perkara yang tidak bernilai.
WASIAT KESEMBILAN
Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai.
WASIAT KESEPULUH
Jangan jadikan emosi sesaat sebagai hukum bagi seluruh masa depan.
WASIAT KESEBELAS
Jika bingung, berhenti sejenak.
Periksa.
Berdoa.
Lalu berjalan.
WASIAT KEDUA BELAS
Ketika satu hari berakhir, jangan hanya bertanya:
“Apa yang kudapat?”
Tanyakan pula:
“Menjadi manusia seperti apakah aku melalui hari ini?”
PENUTUP TERAKHIR
GERBANG YANG TERNYATA BUKAN BERADA DI DEPAN
Pada akhir perjalanan, manusia melihat kembali seluruh lorong.
Gerbang-gerbang yang dahulu tampak jauh mulai menghilang.
Jam pasir berhenti terlihat.
Roda musim menghilang.
Bayangan masa depan memendek.
Jam tanpa angka kembali menjadi titik.
Kemudian manusia menyadari:
gerbang terakhir ternyata tidak pernah berada di ujung lorong.
Ia selalu berada bersama manusia.
Di setiap saat.
Di setiap keputusan.
Di setiap nafas.
Gerbang itu bernama:
هٰذِهِ اللَّحْظَةُ
HĀDZIHI AL-LAḤẒAH
Saat ini.
Dan pada gerbang terakhir tertulis:
“Kemarin telah menjadi ilmu.
Esok masih menjadi rahasia.
Hari ini adalah amanah.”
Lalu tertulis lagi:
مَنْ أَصْلَحَ لَحْظَتَهُ أَصْلَحَ مَسَارَهُ
MAN AṢLAḤA LAḤẒATAHU AṢLAḤA MASĀRAHU
“Siapa yang memperbaiki saatnya, ia sedang memperbaiki arah perjalanannya.”
Bukan berarti satu detik dapat menguasai takdir.
Tetapi satu detik yang digunakan untuk memilih kebaikan dapat menjadi awal dari langkah berikutnya.
Langkah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan menjadi arah.
Arah berjalan bersama waktu.
Dan ketika tahun-tahun berlalu,
manusia akan menemukan bahwa apa yang disebut kehidupan ternyata dibangun dari berjuta-juta saat yang dahulu tampak kecil.
Maka jangan remehkan satu saat.
Satu saat untuk menahan amarah.
Satu saat untuk berkata benar.
Satu saat untuk meminta maaf.
Satu saat untuk tidak menyerah.
Satu saat untuk kembali kepada Alloh.
Satu saat untuk memilih tidak menyakiti.
Satu saat untuk memulai.
Mungkin saat itulah yang kelak memisahkan dua jalan kehidupan.
KHĀTIMAH QITAB
Qitab Sirr Az-Zamān tidak ditutup dengan ramalan.
Tidak pula ditutup dengan janji bahwa manusia dapat menguasai waktu.
Ia ditutup dengan pengakuan:
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالسِّرِّ وَالزَّمَانِ وَالْمَصِيرِ
WALLOHU A‘LAMU BIS-SIRRI WAZ-ZAMĀNI WAL-MAṢĪR
“Alloh lebih mengetahui segala rahasia, perjalanan waktu, dan tempat kembali.”
Maka apabila engkau telah sampai di lembar ini,
jangan bertanya:
“Bisakah aku mengetahui seluruh hari esok?”
Tetapi tanyakan:
“Apa satu kebaikan yang dapat kulakukan pada waktu yang masih ada?”
Sebab pertanyaan itulah yang mengembalikan manusia kepada amanahnya.
Dan ketika jawaban telah ditemukan,
berdirilah.
Lakukan.
Jangan hanya menjadi pembaca waktu.
Jadilah penjaga amanah di dalam waktu.
SABDA PENUTUP QITAB
“Waktu tidak meminta manusia menjadi penguasa atas esok.
Waktu hanya meminta manusia tidak menyia-nyiakan hari yang sedang berada di tangannya.”
“Kemarin tidak dapat diulang.
Esok belum dapat disentuh.
Tetapi satu kebaikan masih dapat dilakukan sekarang.”
“Dan ketika manusia memahami hal itu, ia tidak lagi mengejar waktu.
Ia mulai berjalan bersamanya.”
Wallohu a‘lam bi sirriz-zamān.
Alloh lebih mengetahui seluruh rahasia waktu.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.